Ceritasilat Novel Online

Pecut Sakti Bajrakirana 3

Eps 3 Pecut Sakti Bajrakirana - Kho Ping Hoo

Baca online Pecut Sakti Bajrakirana - Kho Ping Hoo

Cersil Pecut Sakti Bajrakirana - Kho Ping Hoo.

"Crakkk......!"

Kembali batang pohon itu terpotong dan pada saat itu kaki kanan Retno mencuat dengan amat cepatnya ke arah perut Ki Klabangkolo.

"Wuuuut...... desss......!!"

Ki Klabangkolo terpental ke belakang.

Akan tetapi ternyata dia kebal dan tidak roboh, hanya terhuyung dan agaknya dia kini menyadari bahwa dia tidak akan mampu menandingi dua orang.

Pengeroyok yang tangguh itu, maka sambil mengeluarkan Suara teriakan yang mirip tawa juga mirip tangis, dia lalu melarikan diri meninggalkan tempat itu dengan cepat seperti terbang menuruni lereng.

Pemuda itu dan Retno Susilo tidak mengejar, Mereka terengah-engah dan mandi keringat.

Kakek itu sungguh tangguh bukan main.

Setelah mengeluarkan semua kepandaian dan mengerahkan seluruh tenaga, barulah mereka dapat mengusir kakek itu.

"Berbahaya sekali....! Dia sungguh digdaya!"

Kata pemuda itu sambil mengusap keringatnya.

"Hemm, dia sungguh tangguh dan berbahaya, akan tetapi juga amat jahat!"

"Akan tetapi, dia seperti seorang yang tidak waras pikirannya. Seperti orang gila"

Kata pemuda itu. Retno Susilo menatap wajah yang tampan itu dan ia berkata.

"Ki Sanak, engkau tadi belum menjawab pertanyaanku. Siapakan andika ini dan bagaimana dapat datang ke sini dan menolongnya?"

Pemuda itu tersenyum dan wajahnya sungguh tampan kalau dia tersenyum.

"Namaku Priyadi. Aku seorang murid perguruan Jatikusumo yang berada di Pantai Laut Selatan di daerah Pacitan. Tadi secara kebetulan aku lewat di dusun di mana diadakan pesta pernikahan itu dan aku melihat keributan yang terjadi ketika engkau dikeroyok orang. Aku masih ragu untuk membantumu karena aku tidak tahu apa urusannya. Akan tetapi aku melihat engkau ditawan oleh mereka mempergunakan jaring itu. Sewaktu aku hendak menolong, kakek itu telah turun tangan menolongmu bahkan telah membunuh orang tinggi kurus yang mempergunakan senjata rantai baja itu, dan merobohkan banyak pengeroyok. Melihat dia memasuki rumah dan keluar lagi memanggulmu yang berada dalam keadaan terikat kaki tanganmu, aku menjadi curiga terhadap kakek itu dan diam-diam aku membayangi dan mengikutinya masuk ke dalam hutan ini. Aku mendengar semua kata-katanya dan ketika dia meninggalkanmu di guha ini, aku lalu datang menolongmu."

Retno menghela napas panjang.

"Untung engkau datang, kakangmas Priyadi. Kalau tidak, entah bagaimana dengan nasib diriku. Kakek itu agaknya memang tidak waras pikirannya. Dia gila dan mengerikan. Akan tetapi, pernahkah engkau mendengar akan nama Ki Klabangkolo yang mengaku sebagai bahurekso Pegunungan Ijen?"

Priyadi menggeleng kepalanya.

"Tidak, aku tidak pernah mendengarnya. Mungkin dia seorang tokoh sesat yang telah lama menyembunyikan dirinya. Akan tetapi dia jahat dan berbahaya. Orang seperti itu sepatutnya dienyahkan dari muka bumi ini."

"Akan tetapi dia tangguh sekali, dia sakti mandraguna. Aku sendiri rasanya tidak akan mampu menandinginya."

Kata Retno.

"Akupun akan sukar mengalahkannya. Akan tetapi kita berdua berhasil mengalahkannya dan mengusirnya. Kalau kita bekerja sama, dan dia tidak melarikan diri, pasti kita dapat membunuhnya. Nimas, engkau belum menceritakan siapa namamu dan bagaimana engkau sampai dikeroyok di rumah yang mengadakan pesta pernikahan itu."

"Namaku Retno Susilo, aku puteri ayahku yang menjadi ketua perkumpulan Sardulo Cemeng di Hutan Kebojambe Aku sedang dalam perjalanan ke daerah Ngawi ketika aku melihat rombongan pengantin wanita, yang hendak diboyong ke dusun tempat tinggal Prabowo hartawan yang mengadakan pesta pernikahan itu. Karena aku mendengar pengantin wanita menangis dengan sedih aku lalu menahan rombongan itu dan menghajar lima orang pengawalnya. Kemudian aku menanyai pengantin wanita yang mengaku bahwa ia hendak dipaksa menjadi selir yang ke lima. Ia tidak mau, akan tetapi terpaksa karena ayahnya telah mempunyai banyak hutang kepada Raden Prabowo. Aku lalu menyuruh gadis itu pulang dan menggantikan kedudukannya dalam joli dan aku membiarkan diriku dibawa ke rumah yang sedang mengadakan pesta pernikahan itu. Di sana aku lalu mengamuk akan tetapi dikeroyok kemudian ditangkap secara curang oleh mereka dengan menggunakan jaring Aku dibawa ke dalam kamar dan diikat kaki tanganku sampai muncul kakek itu yang membawaku pergi dengan memanggulku. Nah, selanjutnya engkau sudah mengetahui, kakangmas Priyadi."

"Nimas Retno Susilo aku melihat ketika engkau dikeroyok itu, dan ketika tadi engkau bersamaku menandingi Ki klabangkolo, ilmu pedangmu hebat dan dahsyat sekali. Apakah engkau mempelajari ilmumu dari ayahmu? Tentu beliau memiliki ilmu kepandaian yang hebat sekali"

"Selain mempelajari dari ayah sendiri, akupun mempunyai seorang guru lain, kakangmas,"

"Guruku berjuluk Nyi Rukmo Petak yang tinggal di Bukit Ular pegunungan Anjasmoro."

Priyadi mengerutkan alisnya, mengingat-ingat lalu menggeleng kepalanya.

"Aku tidak pernah mendengar nama julukan gurumu itu. Akan tetapi, guruku tentu mengenalnya, atau para kakak seperguruanku."

"Siapakah gurumu yang menjadi ketua perguruan Jatikusumo itu, kakangmas Priyadi ?"

"Guruku bernama Bhagawan Sindusakti."

"Tentu seorang pendeta yang sakti mandraguna."

Kata Retno.

"Sekarang engkau hendak ke mana nimas?"

"Ketika tertawan, pakaianku dalam buntalan ikut terampas, tentu masih berada di kamar rumah Prabowo itu Aku akan mengambilnya dan sekalian memberi hajaran kepada Prabowo dan anak buahnya. Aku sekarang telah mengetahui tentang jaring-jaring itu dan tidak akan dapat dicurangi lagi. Aku harus menghajar Prabowo yang jahat itu!"

"Aku akan menemanimu, nimas. Kalau ada bahaya menghadang, biarlah kita hadapi bersama."

"Baiklah, kakangmas Priyadi. Akan tetapi terhadap Prabowo biaraku sendiri yang akan menghajarnya. Hartawan mata keranjang itu harus kuhajar sampai taubat betul dan tidak berani lagi mempergunakan hartanya untuk memaksa seorang gadis menjadi selirnya"

"Baik, nimas Retno Susilo. Terserah kepadamu."

Keduanya lalu meninggalkan tempat itu dan keluar dari dalam hutan menuju ke dusun di mana tinggal Raden Prabowo, adik lurah dusun Sintren, Ketika mereka tiba di depan rumah itu, keadaan di situ sunyi.

Agaknya penduduk dusun itu masih panik oleh kejadian siang tadi di mana terjadi perkelahian di dalam tempat pesta.

Rumah Prabowo juga tampak sunyi, akan tetapi di bagian depan dan di pekarangan terdapat belasan orang penjaga yang merupakan tukang-tukang pukul atau jagoan-jagoan Prabowo.

Setelah tiba d luar rumah itu, Retno berbisik kepada Priyadi.

"Kakangmas, harap engkau saja yang masuk pekarangan dan menghadapi para tukang pukul. Hajar mereka kalau mereka berani menyerangmu. Aku akan mengambil jalan memutar dari belakang karena aku khawatir kalau-kalau Prabowo akan melarikan diri lewat pintu belakang."

Priyadi mengangguk dan merasa kagum akan kecerdikan dara itu yang memperhitungkan segala kemungkinan.

Maka, setelah Retno menyelinap melalui jalan samping, diapun memasuki pekarangan dan terus maju ke arah pendopo.

Belasan orang penjaga segera menghadangnya dan mereka tampak bengis.

Mereka itu masih panik dengan peristiwa siang tadi, maka untuk menutupi rasa jerihnya, mereka bersikap bengis kepada orang-orang luar.

Melihat seorang pemuda tampan memasuki pekarangan dan menuju ke pendopo, seorang yang bermata juling, pemimpin para penjaga, segera melangkah maju menghadapinya dan menghardik.

"Ki Sanak, siapakah andika dan mau apa datang ke sini?"

"Aku bernama Priyadi dan ingin bertemu dengan Prabowo."

"Andika maksudkan Raden Prabowo? Mau apa ingin bertemu dengan Raden Prabowo?"

"Pendeknya aku ingin bertemu dengan dia, ingin menegur agar dia jangan lagi-lagi berani mempergunakan harta kekayaannya untuk memaksa seorang gadis menjadi selir barunya!"

Sengaja Priyadi mengeluarkan kata-kata itu dengan suara lantang agar terdengar oleh Prabowo yang dia yakin tentu berada di dalam rumah.

Para tukang pukul itu memang jerih terhadap Retno Susilo, akan tetapi pemuda ini tidak mereka kenal dan tentu saja mereka sama sekali tidak takut.

Serentak mereka mencabut senjata golok dari pinggang mereka dan mengepung Priyadi.

Akan tetapi begitu tubuhnya bergerak, Priyadi telah menerjang mereka, mempergunakan kaki tangannya dan setiap kali kakinya atau tangannya menyambar, tentu ada seorang pengeroyok yang terpelanting jatuh.

Prabowo yang mengintai dari dalam, melihat kehebatan pemuda itu menghajar, para tukang pukulnya, menjadi ketakutan dan dia segera melarikan diri melalui pintu belakang.

Akan tetapi baru saja dia tiba di taman belakang rumah, tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu Retno Susilo telah berdiri di depannya sambil bertolak pinggang dan tersenyum dingin.

"Hendak lari ke mana kau, jahanam Prabowo?"

Bentak Rento Susilo.

Prabowo memandang dengan mata terbelalak dan wajah pucat.

Cepat dia memutar tubuhnya hendak melarikan diri akan tetapi kaki kiri Retno mencuat dan Prabowo tertendang pinggangnya, roboh terpelanting.

Karena tidak dapat melarikan diri, Prabowo lain bangkit berlutut dan menyembah-nyembah ketakutan.

"Ampun...... ampunkan saya......"

Ratapnya.

"Enak saja minta ampun Engkau selalu mempergunakan harta dan kekuasaanmu untuk bertindak sewenang-wenang terhadap orang-orang dusun yang miskin dan bodoh, engkau merampasi gadis-gadis untuk kau paksa menjadi setirmu. Orang macam engkau ini sepatutnya dibasmi dari muka bumi!"

Retno Susilo mencabut pedangnya. Melihat hal ini, Prabowo menangis dan saking takutnya dia sampai terkencing-kencing.

"Ampunkan saya......jangan bunuh saya....."

Pedang di tangan Retno Susilo berkelebat menyambar dan putuslah sebagian bukit hidung Prabowo.

"Aduhh......!"

Darah bercucuran dari hidung itu dan Prabowo mempergunakan kedua tangannya untuk mendekap mukanya.

"Sekali ini aku hanya memotong hidungmu agar menjadi pelajaran dan peringatan bagimu. Akan tetapi kalau lain kali aku lewat di sini dan mendapatkan bahwa engkau masih juga melakukan perbuatan sewenang-wenang, aku akan memotong lehermu!"

"Ampun...... ampunkan saya......"

Dengan suara sengau Prabowo menangis ketakutan dan kesakitan.

"Mulai sekarang engkau harus menjadi seorang hartawan yang dermawan. Pergunakan sebagian hartamu untuk menolong orang-orang miskin, bebaskan semua hutang para penduduk dusun dan jangan sekali-kali berani lagi memaksa seorang gadis menjadi selirmu!"

"Baik...... baik......!"

Prabowo berjanji dan menyembah -nyembah saking takutnya.

Ketika dia mengangkat muka, dia hanya melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu gadis perkasa itu telah lenyap dari depannya.

Sambil menutupi hidungnya yang berdarah dengan kedua tangannya, Prabowo lari masuk ke dalam rumah terus ke bagian depan untuk memanggil para tukang pukulnya.

Akan tetapi dia terbelalak melihat betapa para tukang pukulnya dihajar habis-habisan oleh Priyadi dan Retno Susilo yang ternyata sudah tiba di depan rumah dan membantu Priyadi mengamuki Baru menghadapi Priyadi seorang saja para tukang pukul itu sudah kewalahan.

Apa lagi kini muncul Retno yang mengamuk seperti seekor harimau betina.

Akan tetapi kedua orang ini tidak membunuh para tukang pukul dan hal ini dapat terjadi karena Retno Susilo meneriaki Priyadi agar jangan membunuh orang!

Gadis ini memang banyak berkurang keganasannya setelah bergaul dengan Sutejo, tidak lagi suka membunuh orang dengan seenaknya.

Dengan tamparan dan tendangan, Retno dan Priyadi menghajar belasan orang tukang pukul itu sehingga mereka kocar kacir dan akhirnya, sambil terpincang pincang dan babak belur para tukang pukul itu melarikan diri.

Melihat ini, Prabowo menjadi semakin ketakutan.

Akan tetapi hatinya lega ketika dia melihat kedua orang itu pergi.

Di dalam hatinya, dia telah bertaubat dan tidak akan mengulangi lagi perbuatannya yang memaksa gadis menjadi selirnya dengan kekuatan uangnya.

Pula, gadis mana yang sudi menjadi selirnya?

Hidungnya sudah terpotong dan dia akan menjadi seorang yang wajahnya mengerikan dan menjijikkan Mereka berhenti di bawah pohon yang lebat daunnya sehingga tempat di bawah pohon itu teduh sekali terlindung dari sengatan terik matahari.

Mereka duduk di atas batu besar yang berada di bawah pohon itu.

Priyadi mengangkat muka memandang Retno Susilo.

Gadis itu sedang mempergunakan sehelai saputangan untuk menyusut keringatnya yang membasahi leber dan muka.

Mata yang tampak semringah kemerahan sehingga menjadi semakin ayu dan manis.

Mulut yang menggairahkan beutuknya itu tersenyum ketika Retno juga memandang kepada pemuda itu sehingga mereka saling bertemu pandang.

"Hatiku sudah puas dapat menghajar Prabowo dan antek-anteknya! Mudah-mudahan dia sudah benar-benar bertaubat sekarang dan tidak lagi berani mengganggu gadis-gadis dusun anak orang miskin."

Kata Retno dengan wajah berseri dan sepasang matanya ikut tersenyum.

"Kau apakan dia, nimas Retni?"

Tanya Priyadi.

"Kubuntungi bukit hidungnya. Sekarang dia menjadi seorang laki laki yang berwajah menyeramkan dan buruk. Kalau tadinya dia seorang laki-laki hidung belang, sekarang menjadi setan hidung buntung!"

Retno tersenyum senang.

Dalam keadaan seperti itu, Retno tampak demikian jelitanya sehingga Priyadi memandang terpesona dan bengong.

Karena Priyadi diam saja tidak bersuara, Retno menatap wajahnya dan melihat betapa pemuda itu memandangnya dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.

"Eh, kakangmas Priyadi, kenapa engkau memandangku sepeni itu?"

Retno menegur heran. Priyadi tersadar dari pesona.

"Eh.....ohh..... tidak apa apa, nimas, akin tetapi engkau..... hemm..... engkau begini cantik jelita, amat mengagumkan hatiku....."

Retno Susilo tersenyum, wajahnya berubah semakin kemerahan.

"Ah, kakangmas Priyadi, engkau terlalu memuji."

"Tidak, nimas, Belum pernah aku melihat seorang wanita seperti engkau ini selama hidupku. Engkau gagah perkasa, digdaya, cantik jelita, agaknya semua kebaikan dalam diri wanita kau borong semua. Engkau membuat aku terpesona, nimas dan aku meraskan sesuatu dalam hatiku yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kukira beginilah yang dikatakan orang kalau jatuh cinta. Agaknya aku...... aku telah jatuh cinta kepadamu, nimas Retno Susilo."

Retno tersenyum lebar.

"Wah, kakangmas Priyadi. Jangan berkata begitu, kita baru saja saling jumpa dan berkenalan!"

"Tidak, nimas, bagiku engkau seakan-akan telah kukenal lama sekali. Engkaulah wanita seperti yang selalu kubayangkan, wanita yana memenuhi semua harapan dan seleraku. Selama ini aku tidak pernah tertarik kepada wanita, akan tetapi setelah bertemu denganmu, seolah-olah aku telah bertemu dengan wanita yang selalu menjadi idaman hatiku, menjadi bunga mimpiku. Nimas Retno Susilo, sudikah engkau menerima uluran tanganku, memenuhi harapan hatiku? Sudikah engkau menerima cintaku?"

"Aku tidak tahu, kakangmas. Engkau kuanggap sebagai seorang sahabat baru yang baik dan yang telah menyelamatkan diriku dari ancaman yang lebih mengerikan dari pada maut. Aku berterima kasih kepadamu, akan tetapi mengenai cinta, aku belum memikirkan dan tidak sempat mempertimbangkan karena kita baru saja saling bertemu. Jangan bicarakan tentang itu, mas. Engkau membuat aku bingung."

"Maafkan aku, nimas. Baiklah, untuk sementara aku tidak akan membicarakan dan menyinggung soal perasaan hatiku kepadamu. Biarlah kita berkenalan lebih lama dan untuk memperdalam persahabatan kita, aku akan menemanimu dalam perjalananmu sehingga kita berkesempatan untuk saling mengenal lebih baik lagi. Engkau pernah mengatakan bahwa engkau sedang dalam perjalanan ke Ngawi, hendak ke manakah engkau nimas?"

"Kakangmas Priyadi, aku mempunyai urusan pribadi yang tidak dapat dicampuri orang lain, karena itu tidak dapat kuceritakan kepadamu. Sebaiknya kita berpisah di sini saja dulu kangmas. Mudah-mudahan kita akan dapat saling berjumpa lagi dan aku mengucapkan banyak terima kasih atas pertolonganmu."

"Nimas Retno Susilo, aku ingin lebih dalam mengenalmu. Apakah kita tidak dapat melakukan perjalanan bersama selama beberapa hari sebelum kita saling berpisah?"

Desak Priyadi sambil memandang wajah dara itu penuh gairah.

Memang dia tidak berbohong Selama ini belum pernah dia tertarik kepada wanita.

Akan tetapi entah mengapa, sekali ini dia seperti tergila-gila kepada dara ini.

Seolah ada daya tarik yang luar biasa pada diri Retno Susilo yang membuat dia ingin terus berdekatan.

"Maaf. kakangmas Priyadi. Terpaksa kita harus berpisah dan aku halus segera berangkat pergi karena urusan pribadiku itu penting sekali. Sudah, selamat tinggal Kakangmas!"

Setelah berkata demikian, Retno Susilo segera, memutar tubuhnya dan meninggalkan tempat itu dengan menggunakan Aji Kluwung Sakti yang membuat tubuhnya menjadi ringan sekali sehingga ia dapat berlari amat cepatnya.

Berulang kali Priyadi menghela napas panjang untuk menekan perasaan kecewanya.

Dia merasa kehilangan sekali ketika Retno Susilo berlari pergi.

Akhirnya dia tidak dapat menahan desakan hatinya dan diapun melompat cepat dan lari mengejar dan membayangi Retno Susilo!

Perguruan silat Nogo Dento berpusat di tepi Bengawan Solo tak jauh dari Ngawi.

Perguruan Nogo Dento memilih tempat di lereng sebuah bukit, jauh dari dusun dan merupakan perkampungan tersendiri di mana murid muridnya yang berjumlah kurang lebih lima puluh orang dan masih belajar tinggal di perkampungan itu.

Mereka tinggal di pondok-pondok kecil yang berada di sebelah belakang sebuah rumah besar yang menjadi tempat tinggal guru atau ketua mereka.

Ketua perguruan silat Nogo Dento adalah seorang laki-laki berusia empat puluh lima tahun, berwajah tampan dan gagah perkasa, bertubuh tinggi besar.

Namanya adalah Harjodento dan dia terkenal sekali sebagai seorang pendekar besar yang ditakuti lawan disegani kawan.

Dia tidak pernah mencampuri urusan orang-orang kalangan persilatan, namun dia disegani orang karena gagah perkasa, bijaksana dan terkenal sakti mandraguna.

Bukan banya Harjodento yang terkenal gagah perkasa, namun isterinya yang bernama Padmosari juga terkenal sebagai seorang wanita yang digdaya, walaupun kemampuannya tidak setinggi kemampuan suaminya.

Namun suami isteri ini hanya hidup berdua tanpa anak dan mereka menganggap para murid sebagai anak-anak mereka sendiri.

Namun sayang, di antara sekian banyaknya murid, tidak ada seorangpun yang memiliki bakat besar sehingga tidak ada, yang menonjol.

Karena itu belum ada seorangpun yang dapat mewarisi aji-aji simpanan kedua suami isteri itu, melainkan hanya mempelajari ilmu-ilmu silat yang tingkatnya hanya pertengahan saja.

Walaupun demikan, para murid Nogo Dento juga disegani orang karena para murid itu rata-rata patuh kepada guru mereka dan bersikap baik sekali diluaran, tidak pernah membuat ribut dan bersikap gagah menentang kejahatan.

Karena itu.

para penduduk di dusun-dusun sekitarnya amat menghormati perkumpulan Nogo Dento, bahkan nama Nogo Dento terkenal sampai ke Ngawi, bahkan ke kadipaten-kadipaten lain sebagai perkumpulan orang orang yang pantas disebut pendekar.

Perguruan silat Nogo Dento terletak di lereng bukit yang indah dan tanahnya subur.

Para murid yang tinggal mondok di perguruan itu, setiap hari bekerja sebagai petani atau kadang-kadang juga menjala ikan di bengawan, yaitu di musim kemarau di mana ikan-ikan berkumpul di kedung-kedung.

Hasil pertanian itu cukup untuk biaya kehidupan mereka setiap hari dan sebagai sekadar bayaran mereka kepada guru mereka yang mengajarkan ilmu kanuragan.

Perkampungan itu cukup luas dan dikelilingi pagar bambu yang kokoh.

Di bagan depan terdapat sebuah pintu gapura besar dan di atas gardu penjagaan di depan pintu gapura terdapat sebuah bendera yang berwarna hitam dengan lukisan seekor naga putih di tengahnya.

Siang malam ada Sedikitnya lima orang murid berjaga di gardu itu.

Tempat itu tampak sejuk menyenangkan karena perguruan yang sudah hampir dua puluh lima tahun berada di situ, telah menanam banyak pohon-pohon yang kini telah menjadi besar.

Banyak pohon buah-buahan sehingga selain dapat memberi kesejukan dan kesegaran, setiap musim buah juga dapat menghasilkan buah untuk makan sendiri dan selebihnya di jual.

Kehidupan di perkampungan perkumpulan Nogo Dento tampak tenteram dan sejahtera.

Latihan-latihan silat yang dilakukan oleh para murid lebih dimaksudkan untuk menjaga kesehatan, Sebagai olah raga dari pada untuk bekal berkelahi.

Sudah bertahun-tahun lamanya tidak pernah ada di antara mereka yang berkelahi dengan pihak lain.

Bahkan di sekitar perkampungan Nogo Dento tidak pernah ada penjahat berani beraksi karena mereka merasa jerih akan nama besar Nogo Dento yang selalu menentang perbuatan jahat.

Pada suatu siang yang cerah dan matahari bersinar dengan teriknya, di depan pintu gapura perkampungan Nogo Dento muncul seorang wanita muda yang cantik jelita.

Melihat sebatang pedang tergantung di punggungnya, mudah diduga bahwa gadis itu adalah seorang wanita yang biasa merantau seorang diri dan memiliki ilmu kanuragan.

Dugaan itu memang tepat karena gadis itu bukan lain adalah Retno Susilo.

Ketika baru saja berpisah dari Priyadi, Retno Susilo terkenang kepada pemuda itu.

Di dalam hatinya ia mengakui bahwa pemuda itu ganteng, gagah perkasa dan sikapnya amat sopan dan menarik hati.

Alangkah mudahnya untuk jatuh cinta kepada Priyadi.

Akan tetapi di dalam hatinya telah penuh dengan bayangan Sutejo.

Kalau saja tidak ada Sutejo yang sudah membuat ia jatuh cinta agaknya iapun akan mudah menerima cinta pemuda seperti Priyadi!

Teringat akan Sutejo, bayangan Priyadi segera menghilang dari lamunannya.

Setelah berkeliaran di sepanjang daerah Ngawi beberapa hari lamanya dan bertanya-tanya, akhirnya pada siang hari itu ia berhasil menemukan tempat yang dicari-carinya, yaitu tempat tinggal Harjodento, ketua dari perkumpulan Nogo Dento.

Empat orang pemuda yang berjaga di gardu yang berdiri di samping pintu gerbang, memandang dengan heran dan keempatnya berdiri dari bangku yang mereka duduki.

Empat orang murid Nogo Dento ini adalah pemuda-pemuda gagah perkasa yang selalu menentang kejahatan.

Mereka selalu bersikap sopan.

Akan tetapi bagaimanapun juga mereka adalah orang-orang muda sedangkan Retno Susilo adalah seorang dara yang amat cantik jelita.

Maka tidaklah mengherankan kalau empat orang pemuda itu kini berdiri melongo dan terpesona Sehingga sejenak mereka tidak dapat mengeluarkan (Lanjut ke

Jilid 08) Pecut Sakti Bajrakirana (Seri ke 01 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 08 kata-kata, hanya memandang dengan mata terbelalak.

Setelah kemudian mereka sadar, empat orang itu lalu menjadi salah tingkah dan masing-masing berusaha untuk bergaya agar menarik perhatian!

Yang berkumis mengelus kumisnya, ada pula yang merapikan rambutnya, ada yang membusungkan dadanya yang bidang dan ada pula yang merapikan Pakaiannya.

Kemudian seperti berlumba mereka keluar dari gardu untuk menyambut Retno Susilo, memasang senyum Semanis mungkin dan dengan langkah segagah mungkin.

Sikap ini sama sekali tidak berarti bahwa mereka adalah pemuda-pemuda yang kurang ajar, melainkan sudah lajim dirasakan oleh pemuda yang manapun juga.

Mereka tertarik, terpesona dan berusaha untuk menarik hati gadis itu.

"Selamat siang nona. Dapatkah saya membantu nona?"

Tanya mereka dengan suara saling sahutan.

Retno Susilo sudah terbiasa, menghadapi sikap para pria yang bertema dengannya maka Iapun menganggap hal itu biasa saja.

Ia memandang ke arah bendera yang bergambar seekor naga putih itu dan bertanya.

"Apakah di sini tempat perkumpulan Nogo Dento?"

"Benar sekali, nona,"

Jawab yang berkumis.

"Ini adalah perkampungan Nogo Dento."

"Apakah ketuanya bernama Harjodento?"

Tanya pula Retna Susilo.

"Kembali dugaanmu benar, nona, Ada keperluan apakah nona datang berkunjung?"

"Aku ingin bertemu dengan Harjodento, harap kalian suka laporkan kepadanya dan minta dia menemuiku."

"Akan tetapi apakah keperluan nona?"

Tanya si kumis melintang. Retno Susilo mengerutkan alisnya.

"Engkau tidak perlu tahu!"

"Akan tetapi, agar kami dapat memberi laporan yang lengkap kepada bapa guru, harap nona memberitahukan kepada kami apa keperluan nona."

"Katakan saja bahwa aku ingin bertemu dan bicara dengan dia. Urusannya akan kubicarakan sendiri dengan dia, kalian tidak perlu tahu!"

Kata pula Retno Susilo dan suaranya terdengar ketus. Melihat sikap yang kaku ini, si kumis tidak berani membantah lagi.

"Baiklah, silakan duduk menanti di sini, nona. Aku hendak melaporkan kepada bapa guru di dalam."

Si kumis lalu melangkah memasuki pintu gapura.

Tiga orang murid yang lain dengan ramah dan sopan lalu mempersilakan Retno duduk menanti di atas bangku yang terdapat dalam gardu penjagaan.

Karena melihat sikap mereka ramah dan sopan.

Retno juga tidak menolak dan duduklah ia menanti di situ.

Murid Nogo Dento yang berkumis itu melaporkan kepada Harjodento yang sedang duduk bercakap-cakap dengan isterinya.

Harjodento adalah seorang pria berusia enam puluh lima tahun yang gagah perkasa, dan isterinya berusia jauh lebih muda, kurang lebih empat puluh lima tahun, cantik dan gerak geriknya menakjubkan bahwa ia seorang wanita yang tangkas.

Mendengar laporan muridnya bahwa di luar pintu gapura datang, seorang gadis cantik yang ingin bertemu dan bicara dengannya, Harjodento mengerutkan alisnya yang tebal dan dia menegur muridnya.

"Apa keperluannya?"

"Sudah saya tanyakan akan tetapi ia tidak, mau mengaku, bapa guru. Ia hanya mengatakan bahwa ia ingin bertemu dan bicara sendiri dengan, bapa guru. Dan tampaknya ia bukan, seorang gadis biasa, karena ia membawa sebatang pedang di punggungnya."

"Hemmm, aneh dan mencurigakan benar."

Harjodento bergumam.

"Siapakah ia?"

"Daripada menduga-duga, lebih baik kita keluar dan lihat siapa adanya gadis itu."

Kata Padmosari.

Suaminya mengangguk.

Mereka bangkit berdiri dan keluar dari rumah, didahului oleh si kumis.

Setelah tiba di luar pintu gapura, Harjodento dan Padmosari memandang Retno Susilo yang sudah keluar dari gardu penjagaan.

Mereka menjadi semakin heran karena merasa tidak pernah mengenal gadis cantik jelita itu.

Sebaliknya Retno Susilo memandang kepada suami isteri itu dengan sinar mata penuh selidik.

Kemudian Retno Susilo me langkah maju menghampiri mereka dan dengan lantang bertanya.

"Apakah andika yang bernama Harjodento, dan ia itu bernama Padmosari?"

Biarpun sikapnya dibuat kaku karena kedatangannya adalah untuk membunuh kedua orang itu, namun di lubuk hatinya Retno merasa tidak enak sekali.

Dua orang itu tampak demikian gagah dan anggun, sama sekali bukan macam orang-orang jahat dan ia harus membunuh mereka!

Akan tetapi ini adalah tugas yang diberikan oleh gurunya dan ia harus mengakui bahwa ia telah berhutang banyak budi dari Nyi Rukmo Petak.

"Benar sekali, nona. Andika ini siapakah dan ada keperluan apakah datang berkunjung?"

Tanya Harjodento dengan heran sambil mengamati wajah yang ayu itu.

"Aku bernama Retno Susilo dan kedatanganku ini adalah untuk menantang kalian!"

Kata Retno Susilo secara langsung dan terus terang. Suami isteri itu terbelalak, lalu saling pandang dan Padmosari juga menggeleng kepala kepada suaminya sebagai pernyataan bahwa iapun tidak mengerti.

"Nona, agaknya ada kesalah-pahaman di sini. Marilah kita masuk ke dalam rumah kami dan di sana kita dapat bicara dengan baik."

Kata Padmosari untuk mendinginkan suasana, Akan tetapi Retno Susilo menggeleng kepalanya.

"Tidak usah, di sinipun kita dapat bicara dan menyelesaikan persoalan di antara kita."

Harjodento mengerutkan alisnya.

"Akan tetapi, nona. Kenapa engkau datang-datang menantang kami?"

"Karena aku harus membunuh kalian berdua."

Jawab Retno dengan Jujur.

Hatinya merasa tidak enak dan ia ingin cepat-cepat menyelesaikan tugasnya yang tidak menyenangkan hatinya ini.

Kembali suami isteri itu membelalakkan mata dan saling pandang.

Padmosari lalu menatap wajah Retno dengan alis berkerut dan wanita ini mulai panas hatinya.

Bagaimana hatinya tidak akan panas mendengar dirinya ditantang dan akan dibunuh tanpa alasan sama sekali?

"Hei, gadis muda!

Enak saja engkau membuka mulut hendak membunuh kami!

Apakah engkau sudah menjadi gila?

Kalau tidak, tentu engkau mau menceritakan sebab sebabnya mengapa engkau menantang dan hendak membunuh kami yang sama sekali tidak mengenalmu!"

"Aku juga tidak mengenal kalian dan baru kali ini aku bertemu dengan kalian."

Kata Retno tenang.

"Nona, siapakah yang sedang mimpi? Engkau ataukah kami? Kalau engkau tidak mengenal Kami, kamipun tidak mengenalmu, berarti di antara kita tidak terdapat persoalan apapun. Bagaimana engkau datang-datang hendak membunuh kami? Apakah kesalahan kami terhadap dirimu? Jelaskan dululah, nona. Sebelum engkau membunuh kami"

Kata Harjodento sambil tersenyum, akan tetapi nada suaranya sungguh sungguh tidak bermaksud mengejek.

"Aku memang tidak mempunyai urusan dengan kalian, akan tetapi aku mendapat tugas dari guruku untuk membunuh kalian. Sudahlah, Harjodento dan Padmosari, bersiaplah kalian untuk menandingi aku dan tewas di tanganku."

Setelah berkata demikian, Retno Susilo mencabut pedang Nogo Wilis sehingga tampak sinar kehijauan berkelebat.

Tadinya Harjodento dan isterinya masih menganggap bahwa gadis itu tidak bicara serius dan hanya main-main saja.

Akan tetapi melihat gadis itu mencabut sebatang pedang yang mengeluarkan sinar kehijauan, mereka terkejut bukan main.

"Nanti dulu, nona! Siapa nama gurumu itu dan mengapa dia menyuruh engkau membunuh kami?"

Tanya Harjodento.

"Guruku adalah Nyi Rukmo Petak dari Guha Tengkorak Bukit Ular pegunungan Anjasmoro. Ia mengutus aku untuk membunuh kalian karena kalian telah menyakiti hatinya.

"Akan tetapi, kami tidak mengenal Nyi Rukmo Petak, apa lagi menyakiti hatinya!"

Seru Harjodento. Retno Susilo tertegun sejenak mendengar Jawaban itu. Akan tetapi ia tidak perduli dan mengelebatkan pedangnya.

"Masa bodoh, aku tidak tahu akan hal itu, aku hanya menaati perintah guruku. Sudahlah. Harjodento dan Padmosari, bersiaplah kalian untuk menandingi aku!"

"Retno Susilo, engkau seorang gadis muda yang keras hati. Akan tetapi karena engkau memenuhi perintah gurumu, akupun tidak menyalahkanmu. Aku tidak ingin bertanding dengan siapapun. Akan tetapi hal itu bukan berarti bahwa aku takut menandingi siapapun juga. Engkau telah menantangku, tentu saja akan kulayani kehendakmu Kami tidak perlu maju berdua, biarlah aku saja yang menandingimu!"

Setelah berkata demikian.

Harjodento mengambil sebatang diantara beberapa batang tombak yang berada di depan pondok, bersandar pada bangku.

Tombak itu diputar beberapa kali di antara kedua tangannya, kemudian dia berdiri dengan gagahnya, kakinya terpentang dan tombak itu didirikan di depannya, dipegang dengan tangan kiri.

"Nah, aku sudah siap, Retno Susilo!"

Katanya lantang.

"Bagus, sambutlah seranganku! Retno berseru dan pedangnya berkelebat menyerang dengan dahsyatnya. Ia sudah menduga bahwa lawan ini tentu tangguh sekali, hal ini dapat dilihat dari cara dia menggunakan dan memainkan tombak tadi. Karena itu, begitu menyerang, Retno sudah menyerang dengan dahsyat. Gerakannya amat cepat dan ringan, sedangkan pedangnya didukung oleh tenaga sakti yang amat kuat. Harjodento adalah seorang pendekar yang tangguh. Dia terkejut melihat serangan pedang Retno Susilo karena dia mengenal serangan yang amat berbahaya. Tak disangkanya seorang gadis yang masih demikian muda telah memiliki ilmu pedang yang demikian hebat dan juga tenaga sakti yang membuat pedang itu menyambar bagaikan kilat, berdesing dan mendengung! Harjodento cepat melangkah mundur untuk mengelak, akan tetapi begitu pedang luput mengenai sasaran, dengan cepat sekali pedang itu sudah membalik dan menyerang lagi, kini membabat ke arah leher! Melihat ini, Harjodento tidak berani memandang ringan dan diapun memutar tombaknya untuk menangkis sambil mengerahkan tenaganya.

"Tranggg......!!"

Bunga api berpijar ketika dua senjata bertemu, Retno merasakan tangan kanannya yang memegang pedang tergetar hebat, akan tetapi Harjodento juga terkejut karena ujung tombaknya patah ketika bertemu dengan pedang kehijauan itu.

Maklumlah bahwa lawannya menggunakan sebatang pedang pusaka.

Akan tetapi dia tidak menjadi gentar.

Dari pertemuan senjata tadi dia tahu bahwa dalam hal tenaga sakti, dia masih lebih kuat.

Maka, diapun tetap memainkan tombak yang sudah buntung itu dengan cepat mengimbangi permainan pedang Retno.

Retno sendiri juga menyerang dengan hati-hati.

Ia maklum akan kehebatan tenaga lawan, maka ia berjaga-jaga agar senjatanya tidak bertemu dengan senjata lawan, agar ia tidak usah mengadu tenaga.

Hal inipun dikehendaki oleh Harjodento yang tidak ingin tombaknya terpotong lagi.

Demikianlah, kedua orang itu bertanding dengan hebatnya, saling serang dengan cepat sekali sehingga para murid Nogo Dento yang kini berdatangan mengurung tempat itu dan menonton menjadi pening.

Begitu cepat gerakan kedua orang itu sehingga yang nampak hanya dua bayangan berkelebatan di antara gulungan sinar kehijauan dan sinar tombak yang berwarna abu-abu.

Mereka merasa heran sekali mengapa guru mereka yang selama ini tidak pernah berkelahi, kini bertanding melawan seorang gadis cantik jelita dan lebih heran lagi melihat betapa gadis yang masih muda itu dapat mengimbangi kedigdayaan guru mereka.

Padmosari yang juga memiliki kedigdayaaa dan ilmu kanuragaan yang hanya kalah sedikit dari pada suaminya, juga merasa heran dan kagum melihat gadis yang masih muda itu mampu melawan suaminya.

Akan tetapi ia tidak merasa khawatir karena ia yakin bahwa suaminya pasti akan dapat mengalahkan gadis itu.

Dari sikap Retno yang selalu menghindarkan beradu tenaga, ia dapat maklum bahwa gadis itu jerih akan tenaga sakti suaminya dan biatpun gadis itu dapat bergerak dengan tangkas dan lincah seperti seekor burung walet, namun suaminya dapat mengimbanginya.

Dugaan Padmosari memang tepat karena setelah lewat lima puluh jurus mulailah Retno Susilo terdesak.

Ketika pedangnya menyambar dari atas untuk membacok kepala lawan Harjodento sengaja memalangkan tongkatnya, menerima bacokan itu pada tengah-tengah tongkatnya.

"Tranggg....!"

Tongkat itu patah menjadi dua potong dan memang hal ini yang dikehendaki oleh Harjodento.

Kini dia memegang dua potong gagang tombak itu sebagai seorang yang memainkan sepasang golok!

Dan ternyata permainannya dengan sepasang senjata ini lebih hebat daripada permainan tombaknya tadi.

Dia menyerang dengan kedua senjatanya, memukul dan menusuk sehingga Retno Susilo kini sibuk menghindarkan diri dengan elakan dan tangkisan.

Gadis itu terdesak dan main mundur.

Pada saat itu terdengar bentakan.

"Diajeng Retno Susilo jangan khawatir aku datang membantumu!"

Sesosok bayangan berkelebat dan seorang pemuda sudah terjun ke dalam gelanggang pertandingan.

Pemuda itu bukan lain adalah Priyadi!

Begitu kakinya menginjak tanah, pemuda itu sudah mencabut kerisnya dan menyerang Harjodento yang sedang mendesak Retno!

Harjodento terkejut bukan main.

Tusukan itu bukan main dahsyatnya, amat berbahaya, Terpaksa dia membuang diri ke belakang dan berjungkir balik tiga kali.

Pada saat itu pedang Retno Susilo menyambar lalu disusul tamparan tangan kiri gadis itu yang menggunakan Aji Gelap Sewu!

"Wuuuuttt.....!"

Hawa panas menyambar ke arah muka Harjodento yang menjadi terkejut sekali.

Dia mengenal pukulan sakti, maka diapun mengelak lagi.

Namun keris di tangan Priyadi sudah menyambutnya dan sekali ini Harjodento menangkis dengan potongan tombaknya.

"Tranggg.....!"

Hebat bukan main pertemuan antara kedua senjata itu dan keduanya sama-sama terhuyung ke belakang.

Priyadi terkejut dan maklum akan kehebatan lawan, maka diapun cepat menubruk dan menyerang lagi.

Harjodento mengelak dan balas menyerang.

Di dalam hatinya.

Retno merasa tidak senang mengeroyok Harjodento, akan tetapi karena Priyadi sudah turun tangan dan bertanding melawan Harjodento, iapun tidak dapat tinggal diam dan menggunakan pedangnya untuk menyerang lagi.

Harjodento menjadi kewalahan dan dia terpaksa harus mengerahkan seluruh tenaganya, memainkan sepasang potongan tombak untuk membela diri.

Melibat suaminya dikeroyok dua Padmosari menjadi marah.

Ia mencabut sebatang keris lalu terjun ke dalam gelanggang perkelahian.

Ia menyerang Retno dengan hebat.

Retno menangkis dan kedua orang wanita ini saling serang dengan seru.

Perkelahian terbagi dua.

Retno melawan Padmosari dan Priyadi melawan Harjodento.

Para murid Nogo Dento kini sudah berkumpul di situ.

Jumlah mereka ada tiga puluhan orang karena yang lain sedang bekerja di ladang sehingga tidak melihat adanya perkelahian itu.

Tiga puluh lebih murid Nogo Dento it sudah bersiap-siap, ada yang memegang tombak, ada yang memegang golok atau keris, siap untuk mengeroyok dua orang muda yang mengacau itu.

Mereka telah mengepung tempat itu, Priyadi melihat ini.

Lawannya amat tangguh, juga wanita yang dilawan Retno amat tangguh sehingga gadis itu belum juga dapat mendesaknya.

Kalau para murid Nogo Dento itu maju mengeroyok, tentu mereka berdua akan celaka.

Oleh karena itu, dia mengerahkan tenaga sakti dari Aji Gelap Musti, melancarkan pukulan itu sambil berteriak nyaring.

"Hyaaaaattt......!!!"

Harjodento terkejut sekali, pukulan itu sungguh dahsyat dan angin pukulannya saja terasa amat kuat menghantamnya.

Maklum bahwa dia menghadapi pukulan maut yang amat berbahaya.

Harjodento melompat jauh ke belakang untuk menghindarkan diri.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Priyadi untuk melompat ke dekat Retno, menangkap tangan kiri gadis itu dan ditariknya, diajak lari.

"Kita pergi, diajeng!"

Katanya sambil menarik.

Retno Susilo terpaksa mengikutinya karena tarikan tangan itu kuat sekali.

Empat orang murid Nogo Dento yang menghadang di depan, mereka robohkan dengan tendangan kaki sehingga yang lain mundur dan jerih.

Mereka berlompatan dan melarikan diri dari situ, tidak dikejar oleh Harjodento dan isterinya.

Harjodento berdiri bertolak pinggang melihat bayangan dua orang muda itu melarikan diri.

Setelah kedua bayangan itu hilang dari penglihatannya, dia menghela napas panjang dan berkata.

"Sungguh aneh. Dua orang muda yang berilmu tinggi. Datang untuk membunuh kita. Siapa gerangan Nyi Rukmo Petak yang mengutus mereka itu?"

Padmosari mengerutkan alisnya.

"Tentu seorang di antara musuh -musuh kita. Akan tetapi selama ini tidak ada orang yang mengganggu kita. Sayang kita tidak dapat menangkap mereka untuk ditanyai lebih jelas lagi"

"Aku seperti mengenal pukulan sakti yang dilancarkan pemuda tadi kepadaku. Kalau melihat dia memutar pergelangan tangan sebelum mendorong, gerakan itu seperti pukulan sakti Gelap Musti."

"Gelap Musti?"

Tanya isterinya.

"Pukulan sakti dari aliran mana itu?"

"Gelap Musti adalah aji pukulan dari perguruan Jatikusumo. Akan tetapi di antara perguruan Jatikusumo dan perguruan kita tidak pernah terdapat keributan tidak pernah bertentangan dan bahkan selama ini di antara kita terdapat tali persahabatan. Mengapa pula murid Jatikusumo memusuhiku? Rasanya tidak mungkin. Kalau ada ganjalan atau urusan, tentu Bhagawan Sindusakti yang menjadi pemimpin perguruan Jatikusumo akan langsung bertemu dengan aku dan membicarakan permasalahan itu Bukan menyuruh seorang dua orang muridnya untuk menyerangku."

"Apakah gadis itupun murid perguruan Jatikusumo?"

"Entahlah, akan tetapi kurasa bukan. Gerakannya sama sekali berlainan dengan gerakan pemuda itu. Bahkan ketika ia melancarkan pukulan sakti dengan tangan kiri yang mendatangkan hawa panas, gerakannya berbeda dari Aji Gelap Musti. Entah dari aliran mana gadis itu."

Suami isteri itu merasa penasaran sekali.

Mulai hari itu.

mereka memesan kepada pada murid untuk melakukan penjagaan lebih ketat dan memesan agar mereka tidak mencari keributan atau berkelahi di luaran.

Priyadi menggandeng dan menarik tangan Retno Susilo melarikan diri dari perkampungan Nogo Dento.

Mereka lari di sepanjang bengawan dan setelah tiba di tempat yang cukup jauh dari perkampungan itu, barulah dia melepaskan tangan Retno.

Retno berhenti berlari, diturut oleh Priyadi.

Mereka duduk di atas batu di tepi bengawan dan Retno memandang kepada pemuda itu dengan alis berkerut dan mulut cemberut.

"Kakangmas Priyadi, kenapa engkau menarik aku dan mengajakku melarikan diri?"

Tanyanya dengan penasaran. Priyadi maklum dan sikap Retno bahwa gadis itu marah kepadanya. Dia tersenyum dan berkata lembut.

"Maafkan aku diajeng. Akan tetapi aku melihat bahaya besar mengancam kita. Selain suami isteri itu tangguh sekali, juga aku melihat puluhan orang anak buah mereka sudah siap untuk mengeroyok. Kalau terjadi demikian, bagaimana mungkin kita dapat menandingi mereka?"

"Salahmu, kakangmas. Kalau engkau tidak datang membantuku dan mengeroyok Harjodento belum tentu mereka akan mengeroyok!"

"Sekali lagi maafkan aku, diajeng Retno. Aku bermaksud baik. Aku tahu siapa Paman Harjodento. Dia adalah ketua Nogo Dento dan seorang yang digdaya sekali. Karena aku khawatir engkau akan celaka atau terluka di tangannya, maka aku lancang turun tangan membantumu. Akan tetapi mengapa engkau memusuhi ketua Nogo Dento itu, diajeng? Setahuku, dia adalah seorang pendekar yang gagah perkasa, dihormati kawan disegani lawan. Mengapa engkau berkelahi dengannya? Apakah ini yang kau maksudkan dengan urusan pribadimu itu?"

Retno Susilo menjawab singkat.

"Ini adalah urusan pribadi, kakangmas. Tidak ada sangkut pautnya dengan orang lain."

"Akan tetapi aku bukan orang lain, diajeng! Bukankah kita telah bersahabat?"

Retno Susilo memandang kepada pemuda itu dengan alis berkerut dan pandang mata tajam.

"Jadi engkau membayangi aku sampai ke tempat ini kakangmas?"

"Maafkan aku. Terus terang saja, setelah kita berpisah, aku seperti kehilangan semangat hidup, kehidupan terasa hambar dan sunyi sepi. Aku tidak tahan lagi lalu diam diam membayangimu, diajeng, Maafkan aku. Ketika aku melihat engkau bertanding melawan Paman Harjodento, tadinya aku mendiamkannya saja karena aku merasa bimbang. Di satu pihak aku mendengar bahwa Paman Harjodento bukan orang jahat, di lain pihak tentu saja aku condong membantumu. Setelah aku merasa yakin bahwa engkau dapat terancam bahaya, baru aku membantumu karena kebetulan Paman Harjodento tidak mengenalku. Akupun belum pernah bertemu dengannya hanya mendengar namanya saja. Sekali lagi, diajeng Aku bukan orang lain. Karena itu, kalau Sekiranya engkau mempunyai persoalan dengan Paman Harjodento. katakanlah kepadaku dan akulah yang akan menghadap dia dan akan menyelesaikan masalah ini dengan cara damai"

"Engkau tidak perlu membantu aku kakangmas. Aku tidak membutuhkan bantuanmu."

Kata pula Retno Susilo dengan ketus.

"Tapi aku akan membantumu diajeng. Aku harus membantumu, biarpun untuk itu aku berkorban nyawa sekalipun!"

"Hemm, apakah engkau juga akan membantuku kalau aku hendak membunuh Harjodento dan isterinya?"

Priyadi membelalakkan matanya dan terkejut sekali.

"Membunuh mereka? Akan tetapi mengapa?"

"Nah, engkau tentu mundur kalau aku hendak membunuh mereka, bukan?"

"Tidak diajeng. Aku tadi hanya heran sekali mendengar engkau hendak membunuh mereka. Bahkan untuk itupun aku akan membantumu! Akan tetapi engkau tentu tidak berkeberatan untuk menjelaskan mengapa engkau hendak membunuh mereka?"

"Sudahlah kakangmas Priyadi Ini adalah Urusan pribadiku. Engkau tidak boleh mencampurinya. Aku telah gagal dalam tugasku. Selamat tinggal!"

Retno Susilo lalu melompat dan melarikan diri.

"Diajeng.....! Tunggu...!"

Priyadi mengejar. Retno tiba-tiba berhenti dan memutar tubuhnya menghadapi pemuda itu.

"Kakangmas Priyadi. Hentikan pengejaranmu ini. Kalau engkau nekat membayangku, aku akan benci kepadamu!"

Setelah berkata demikian Retno susilo mengerahkan Aji Kluwung Sakti dan tubuhnya seperti diterbangkan angin, demikian cepat larinya.

Priyadi termangu-mangu, tidak berani mengejar setelah diancam bahwa kalau dia membayangi, gadis itu akan menbencinya.

Dia lalu menarik napas panjang dan memutar tubuhnya, pergi dari situ dengan lemas dan dia merasa kehilangan dan kesepian sekali.

Sutejo berjalan seorang diri di jalan raya itu.

Di kanan kirinya terbentang sawah yang amat luasnya.

Siang hari itu panasnya bukan main, dan dia melihat beberapa orang pelani mengaso setelah sejak pagi menggarap sawah.

Mereka itu makan minum bawaan isteri mereka yang mengantarnya ke sawab.

Mereka makan dengan lahap sambil bercakap-cakap, suasananya gembira sekali.

Orang-orang miskin itu tampak begitu bahagia, pikirnya.

Kenapa dia tidak dapat seperti mereka?

Menggarap sawah, setelah siang menerima kiriman nasi dengan lauk sekadarnya, kemudian berhenti bekerja untuk makan nasi sederhana dan minum air dari kendi yang terasa sejuk segar dan nikmat?

Tidak, dia harus memenuhi tugas kewajibannya yang masih banyak.

Mencari ayah bundanya, mencari dan merampas kembali pecut Bajrakirana, menuntut balas atas kematian bapa guru dan eyang gurunya yang keduanya mati di tangan paman gurunya sendiri, yaitu Bhagawan Jaladara dan kawan kawannya, terutama Tumenggung Janurmendo.

Kemudian, kewajibannya yang terakhir adalah menghambakan dirinya kepada Mataram untuk membantu Mataram menghadapi para adipati dan bupati yang memberontak.

Tidak, belum waktunya untuk hidup penuh tenteram dan damai seperti para petani itu!

Setelah meninggalkan daerah persawahan itu, dia memasuki sebuah hutan.

Jalan itu memang melalui sebuah hutan yang penuh dengan pohon-pohon raksasa.

Jalan di dalam hutan itu teduh karena daun-daunan menjadi perisai terhadap sinar matahari yang terik.

Tiba-tiba dia mendengar suara Orang-orang berkelahi dari arah kiri.

Suara teriakan-teriakan bercampur degan berdentingnya senjata yang Beradu dan teriakan kesakitan.

Dia merasa tertarik sekali dan cepat menuju ke tempat dari mana datangnya suara perkelahian itu.

Dengan menggunakan kecepatannya, dia lari menyusup semak-semak dan akhirnya tibalah dia di tempat terbuka, di mana terdapat dua orang sedang dikeroyok oleh belasan orang.

Dia segera menonton dengan hati tertarik.

Dua orang yans dikeroyok itu adalah seorang laki-laki berusia lima puluhan tahun dan seorang gadis berusia kurang lebih delapan belas tahun.

Kedua orang itu memegang sebatang Keris dan menghadapi pengeroyokan lima belas orang laki-laki kasar yang tampaknya bengis dan kuat.

Sutejo melihat bahwa kakek dan gadis itu keduanya dapat memainkan keris mereka dengan baik Untuk menghadapi pengeroyokan belasan orang yang memegang golok itu, bahkan sudah melukai beberapa orang.

Akan tetapi tetap saja mereka terdesak hebat.

Akhirnya kedua orang itu saling membelakangi untuk menghindarkan serangan dari belakang dan dengan repot sekali mereka menghalau semua serangan yang datang bagaikan hujan dari depan, kanan dan kiri.

Melihat segerombolan orang kasar Itu mengeroyok dan sikap mereka bengis seperti segerombolan srigala, Sutejo mengerutkan alisnya dan dia tidak perlu berpikir terlalu lama untuk berpihak yang mana.

Akan tetapi sebelum dia turun tangan, tiba-tiba terdengar bentakan dari belakang gerombolan pengeroyok itu.

"Mundur semua!"

Mendengar bentakan ini, para pengeroyok itu berloncatan ke belakang dan menghentikan pengeroyokan mereka.

Kini kakek dan gadis itu berhadapan dengan orang yang berseru tadi, seorang laki-laki berusia empat puluh dua tahun yang bertubuh tinggi besar, Sepasang matanya besar dan bulat hidungnya pesek dan mulutnya lebar.

Raksasa ini memandang kepada kedua orang itu, kemudian pandang matanya berhenti dan seolah mengerayangi tubuh gadis yang cantik manis itu.

Kemudian dia tertawa bergelak sehingga tubuhnya terguncang semua, Tangan kirinva mengurut kumisnya yang jarang dan pendek.

"Ha-ha-ha-ha! Ki Sanak siapakah andika yang berani melawan pengeroyokan anak buahku?"

Kakek itu berdiri tegak dan menjawab dengan lantang, maklum bahwa dia berhadapan dengan kepala gerombolan itu.

"Aku adalah Joyosudiro dari Kediri dan ini anakku bernama Jayanti. Kami berdua tidak melakukan kesalahan apa apa kebetulan lewat di jalan dalam hutan ini. tiba-tiba saja kami dihadang belasan orang anak buahmu. Mereka minta agar semua barang bawaan kami ditinggalkan berikut pakaian yang kami pakai. Tentu saja kami tidak menuruti permintaan mereka lalu kami dikeroyok!"

"Hem, hal itu sudah merupakan peraturan di sini. Siapa lewat di sini, harus membayar pajak kepada kami!"

"Peraturan siapa itu?"

Tanya Joyosudiro, sedikitpun tidak merasa gentar walaupun tadi dia dan puterinya sudah dikeroyok dan didesak.

"Ha-ha-ha, akulah. Maheso Kroda, yang membuat peraturan itu dan siapapun juga orangnya yang melewati jalan dalam hutan ini harus menaatinva, Akan tetapi aku akan memberi kelonggaran kepadamu. Joyosudiro. Biarpun usiaku sudah empat puluh tahun lebih, aku belum beristeri, dan aku melihat puterimu ini begini ayu menarik. Maka kami tidak akan mengganggumu, bahkan ingin menarikmu sebagai ayah mertuaku, dan puterimu menjadi isteriku!"

"Maheso Kroda, tutup mulutmu yang busuk itu! Aku tidak sudi menjadi isterimu!"

Tiba-tiba Jayanti berseru, suaranya juga lantang dan penuh keberanian.

"Ha-ha-ha, sekarang begini saja, Joyosudiro. Mari kita tentukan melalui pertandingan. Kita bertanding dan kalau aku kalah, kalian boleh le wat tanpa gangguan, akan tetapi kalau engkau yang kalah, puterimu harus diberikan kepadaku untuk menjadi isteriku. Bagaimana?"

"Bapa. biar kuhajar mulut yang lancang itu!"

Jayanti berseru sambil mengacungkan kerisnya. Akan tetapi Joyosudiro melambaikan tangan menyuruh puterinya mundur.

"Mundurlah dan jaga saja jangan sampai aku dikeroyok,"

Kata Joyosudiro sambil menyarungkan kerisnya, lalu menghadapi Maheso Kroda "Maheso Kroda, biar apapun juga yang terjadi, puteriku tidak sudi menjadi isterimu.

Apa yang hendak kau lakukan, terserah, akan kulayani!"

"Babo-babo. engkau belum mengenal kehebatan Maheso Kroda! Marilah Joyosudiro, kita mengadu tebalnya kulit kerasnya tulang!"

"Sesukamu, Maheso Kroda, aku tidak takut menandingimu!"

"Pecah dadamu!"

Bentak Maheso Kroda sambil menyerang dengan pukulan yang dahsyat ke arah dada Joyosudiro.

Pendekar dari Kediri ini melihat datangnya pukulan yang dahsyat, kuat dan cepat, maka diapun cepat mengelak ke kiri dan dari kiri dia membalas dengan hantaman menggunakan telapak tangannya ke arah lambung lawan.

Maheso Kroda yang pukulan pertamanya luput, cepat menarik kembali tanganaya dan ditekuk untuk menangkis serangan balasan Joyosudiro.

"Dukkk......!!"

Dua lengan bertemu dengan kuatnya dan akibat pertemuan dua tenaga raksasa ini, Joyosudiro terpental ke belakang!

Akan tetapi dia tidak sampai terjatuh dan pada saat itu Maheso Kroda sudah menerjangnya lagi dengan tamparan ke arah kepala.

Joyosudiro maklum bahwa lawannya memiliki tenaga yang amat besar maka dia tidak berani menangkis dan mengadu tenaga, melainkan mengelak dengan cepat, lalu membalas dengan kaki kanan menyerampang kaki lawan.

Maheso Kroda yang bertubuh tinggi besar itu ternyata memiliki kegesitan juga.

Dia melompat ke atas sehingga serampangan kaki lawan lewat dan dari atas.

kembali lengannya yang panjang terjulur dan tangan kirinya menyambar dengan tamparan keras ke arah kepala lawan.

Terjadilah serang menyerang yang seru, akan tetapi karena Joyosudiro tidak berani mengadu tenaga, maka dia menjadi terdesak dan harus berloncatan ke sana sini untuk menghindarkan tamparan, pukulan dan tendangan kaki Maheso Kroda yang datang secara bertubi-tubi.

Dia terdesak mundur.

Melihat betapa ayahnya terdesak hebat, Jayanti mengerutkan alisnya dan ia mengikuti jalannya pertandingan dengan khawatir sekali.

Kepala perampok itu ternyata tangguh sekali sehingga ayahnya kewalahan.

Untuk maju membantu ayahnya ia tidak berani, karena kalau ia lakukan hai itu tentu belasan orang anak buah perampok itu akan maju mengeroyok pula sehingga keadaan ia dan ayahnya akan menjadi semakin berbahaya.

Ia bergidik ngeri kalau teringat akan ucapan Maheso Kroda yang ingin mengambilnya sebagai isteri.

Ia tidak sudi dan seandainya ayahnya kalah, ia tetap tidak akan sudi diambil isteri, dan untuk itu ia bersiap untuk mempertahankan kehormatannya sampai titik darah terakhir!

Berpikir demikian, dara itu meraba gagang kerisnya.

Sementara itu, ketika mendengar percakapan mereka tadi.

Sutejo sudah menjadi marah.

Dia tahu bahwa Maheso Kroda adalah seorang kepala perampok yang hendak memaksakan kehendaknya, hendak mengambil gadis yang ayu manis itu sebagai isterinya.

Akan tetapi dia menahan diri karena ingin melibat bagaimana perkembangannya apakah Joyosudiro yang kelihatannya juga tangguh itu akan mampu menandingi Maheso Kroda.

Setelah pertandingan berlangsung dan dia melihat betapa Joyosudiro terdesak hebat.

Sutejo lalu muncul keluar dari balik semak belukar di mana dia bersembunyi dan mengintai dan sekali meloncat dia sudah tiba di dekat dua orang yang sedang bertanding.

Pada saat itu, Maheso Kroda melakukan serangan dahsyat, tubuhnya merendah dengan menekuk kedua lututnya dan kedua tangannya didorongkan ke arah dada Jovosudiro.

Dia mengeluarkan hantaman dahsyat ketika kedua tangan itu mendorong.

Angin pukulan itu menyambar dengan kuatnya.

Joyosudiro terkejut, tidak sempat mengelak.

Terpaksa diapun menyambut pukulan itu dengan kedua tangannya yang Juga didorongkan dengan kedua telapak tangan terbuka.

"WUuuuttt..... desss......"

Tubuh Joyosudiro terpental ke belakang dan tentu dia akan terpelanting roboh kalau tidak ada tangan yang menyambar lengannya sehingga dia tidak terjatuh.

Dia merasa dadanya sesak, akan tetapi untung tidak sampai terluka parah.

Ketika dia melihat bahwa yang menyambar tangannya itu seorang pemuda tampan yang entah kapan telah berada di situ, dia menjadi heran.

"Paman, silakan mundur. Biarkan saya yang akan menandingi raksasa jahat ini."

Karena merasa bahwa dia telah kalah, Joyosudiro mengangguk dan mundur ke dekat puterinya yang juga memandang kepada Sutejo dengan heran, akan tetapi dengan pandang mata penuh harapan.

Maheso Kroda memandang kepada Sutejo dengan sinar mata penuh kemarahan.

Dia mendengar tadi betapa pemuda itu menyebutnya "raksasa jahat!"

Dia mengepal kedua tangannya dengan geram, memandang kepada Sutejo yang berdiri didepannya lalu suaranya terdengar parau dan kaku.

"Heh, bocah cilik! Mau apa engkau maju menghadapiku? Siapakah engkau dan mau apa engkau mencampuri urusanku?"

"Maheso Kroda, andika adalah seorang kepala perampok yang suka mengganggu siapa saja yang lewat di tempat ini. Aku Sutejo, dan melihat kejahatan yang kaulakukan ini, tentu saja aku tidak dapat tinggal diam saja. Hentikanlah perbuatan jahatmu ini, bubarkan anak buahmu dan bertaubatlah agar tidak sampai terpaksa aku menghajarmu!"

"Babo-babo, Sutejo keparat Ubun-ubunmu masih berbau kencur dan engkau berani menantang Maheso Kroda? Agaknya engkau sudah bosan hidup! "

"Majulah, Maheso Kroda. Akulah lawanmu!"

"Keparat, kulumatkan kepalamu!"

Maheso Kroda sudah menyerang dengan tamparan tangan kanannya yang lebar dan besar.

Tamparan itu kuat sekali dan tangan itu terisi tenaga sakti yang mampu menghancurkan batu karang.

Bukan tidak mungkin bahwa tangan itu akan melumatkan kepala orang yang kena dihantamnya.

Namun dengan gerakan ringan dan mudah saja Sutejo mengelak.

Hanya sedikit saja dia membuat gerakan dengan kepalanya yang ditundukkan dan tamparan itu sudah lewat di atas kepalanya, Begitu tangan itu menyambar lewat, Sutejo menggerakkan tangan kirinya ke atas.

jari-jari tangannya mengetuk lengan yang besar itu, tepat di bawah sikunya.

"Tuk......."

Dua jari tangan mengetuk bawah siku.

"Aduh.....!"

Tak tertahankan lagi Maheso Kroda berteriak karena lengannya Seketika menjadi lumpuh.

Uratnya telah kena ditotok sehingga terasa nyeri bukan main.

Akan tetepi hanya sebentar rasa nyeri dan kelumpuhan itu.

Dia sudah pulih kembali karena tubuhnya terlindung aji kekebalan yang cukup kuat.

Marahlah dia.

Sambil menggereng seperti seekor singa, dia menerkam dengan kedua lengan dikembangkan.

Namun dia hanya menubruk angin karena pemuda itu sudah dapat menyelinap dan mengelak, dengan lebih cepat dari pada terkamannya.

Maheso Kroda yang sudah marah sekali, melancarkan serangan secara bertubi-tubi, namun semua Serangannya itu luput, dapat dielakkan oleh Sutejo yang bergerak lincah sekali.

Tubuh Maheso Kroda sampai berputaran saking terlalu bernafsu untuk dapat merobohkan lawannya, namun ke manapun dia menyerang, selalu dia menghantam atau menubruk tempat kosong.

Ketika kembali dia menubruk Sutejo yang berada di depannya, pemuda itu menggeser keki ke samping sehingga tubrukan itu luput, selagi tubuh buh Maheso Kroda condong ke depan karena daya tubrukannya tadi kaki Sutejo menendang lututnya.

"Aduhhh......!"

Nyeri sekali rasanva sambungan lutut yang tertendang itu dan tak dapat dicegah lagi tubuh yang tinggi besar itu.

roboh.

Sutejo tidak menyusulkan serangan, melainkan berdiri memandang sambil tersenyum.

Bukan main kagumnya hati Joyosudiro dan Jayanti melibat betapa dengan mudahnya Sutejo mempermainkan dan merobohkaa lawan.

Sepasang mata Jayanti berbinar-binar takjub.

Akan tetapi Maheso Kroda sudah menjadi semakin marah.

Dicabutnya senjatanya yang menyeramkan, yaitu sebatang keris yang besar dan panjang.

"Sutejo, lihatlah apa yang kupegang. Engkau akan mampus dengan usus terburai!"

Bentak Maheso Kroda dengan sepasang mata berubah kemerahan.

"Hemm, belum lecet kulitmu, belum patah tulangmu, engkau sudah mengeluarkan pusaka. Majulah dengan kerismu itu, Maheso Kroda. Aku tidak takut menghadapi keris pemotong leher ayam itu!"

"Keparat, mampuslah kau!"

Maheso Kroda membentak marah.

"Majuuu......!"

Dia memberi aba-aba dan semua anak buahnya bergerak maju dengan senjata masing-masing untuk mengeroyok Sutejo.

Maheso Kroda sendiri sudah menubruk dan menyerang dengan tusukan kerisnya ke arah perut Sutejo.

Pemuda ini mengelak cepat sehingga tusukan itu mengenal tempat kosong.

Melihat Maheso Kroda mengerahkan anak buahnya untuk mengeroyok, Joyosudiro dan Jayanti tidak tinggal diam Mereka berdua segera berloncatan maju dan mengamuk di antara para anak buah perampok.

Terjadilah pertempuran yang seru dan kacau.

Sutejo juga marah melihat kecurangan Maheso Kroda.

Ketika kepala perampok itu menusukkan kerisnya lagi, dia menghindar ke samping dan ketika keris meluncur lewat, dia cepat menampar dengan Aji Gelap Musti.

"Wuuuttt...... dess......!"

Biarpun tubuh kepala perampok itu kebal, namun ketika pundaknya dihajar pukulan itu tubuhnya terpelanting berputar dan diapun roboh!

Dia merasa pundak kanannya seperti remuk dan kerisnya yang besar panjang itu telah terlempar entah ke mana.

Habislah semua nyali dalam hati perampok itu dan tanpa banyak cakap lagi, dia meloncat berdiri lalu melarikaa diri, tidak memperdulikan lagi kepada anak buahnya.

Akan tetapi para anak buah perampok itu melihat betapa kepala perampok itu melarikan diri, maka seperti dikomando saja, mereka semua lari cerai berai den tunggang langgang!

Mereka meninggalkan teman-teman yang terluka.

Sutejo tidak mengejar Maheso Kroda.

Ketika Jayanti yang marah hendak melakukan pengejaran terhadap para perampok.

Ki Joyosudiro mencegahnya.

Tidak perlu dikejar, biarkan saja mereka melarikan diri"

Para perampok yang terluka dan ditinggalkan lari teman-temannya, kini merangkak bangkit dan menyusul teman, teman mereka, berjalan terhuyung-huyung tanpa diganggu oleh Sutejo, Ki Joyosudiro dan Jayanti.

Ayah dan anak itu kini berdiri menghadapi Sutejo dengan pandang mata bersukur dan kagum.

"Anakmas Sutejo, kami ayah dan anak sungguh beruntung sekali mendapat bantuan andika sehingga kami terlepas dari ancaman bahaya di tangan para perampok itu. Kami sangat berterima kasih kepadamu, anakmas Sutejo."

Kata Joyosudiro sambil mengamati wajah yang tampan itu.

"Paman, harap jangan berterima kasih kepada saya. Kalau hendak mengucap sukur dan terima kasih, katakanlah itu kepada Allah Yang Maha Kasih, yang selalu melindungi orang yang melangkah di jalan yang benar."

"Engkau benar, anakmas Sutejo. Akan tetapi Allah Yang Maha Kuasa telah memberi pertolonganNya lewat tenaga anakmas sehingga kami dapat tertolong dan selamat."

Kata pula Joyosudiro.

"Semua apa yang saya lakukan adalah kewajiban saya, paman. Melihat paman dan puteri paman diganggu penjahat, maka sudah menjadi kewajiban saya untuk turun tangan membantu paman berdua menentang penjahat."

"Lhadalah.......! Bijaksana benar tindakan dan ucapanmu, anakmas Sutejo. Kalau boleh aku mengetahui, siapakah orang tuamu dan siapa pula gurumu? "Maafkan saya, paman Joyosudiro, Semenjak kecil saya berpisah dari orang tua saya sehingga saya belum sempat mengenal nama dan wajah mereka. Adapun guru yang selama ini membimbing saya adalah mendiang Bapa Bhagawan Sidik Paningal dari Gunung Kawi."

"Bhagawan Sidik Paningal, tokoh dari Perguruan Jatikusumo itu? Apakah beliau telah meninggal dunia?"

"Benar, paman, belum lama ini bapa guru telah meninggal dunia."

"Dan kalau boleh kami mengetahui, andika hendak pergi ke manakah, anakmas Sutejo? Kenapa kebetulan dapat lewat di sini?"

"Saya sedang merantau, paman."

Jawab Sutejo yang tentu saja tidak ingin menceritakan semua tugas kewajiban yang dipikulnya.

"Apakah andika hendak mengunjungi pesta ulang tahun Perguruan Welut Ireng yang berada di Pegunungan Wilis?"

"Perguruan Welut ireng? Saya tidak mengetahuinya, paman. Apakah paman berdua hendak pergi ke sana?"

Ki Joyosudiro tersenyum.

"Ah, aku hanya menghujanimu dengan pertanyaan sehingga lupa untuk menceritakan tentang diri kami sendiri. Ketahuilah, anakmas Sutejo. Aku bernama Joyosudiro dan di daerah Kediri namaku setidaknya cukup dikenal sebagai seorang pendekar yang selalu menentang kejahatan. Ini adalah anakku satu-satunya, bernama Jayanti Kami berdua memang menerima undangan dari Perguruan Welut Ireng yang merayakan hari ulang tahunnya yang ke lima puluh dan kami sengaja ke sana, selain untuk memenuhi undangan, juga dengan maksud lain, yaitu mencarikan...... jodoh untuk puteriku Jayanti ini."

"Ihhh, bapa......!"

Jayanti mencela dan wajahnya berubah kemerahan. Akan tetapi Ki Joyosudiro tidak memperdulikan protes puterinya dan melanjutkan.

"Sebetulnya, di Kediri terdapat banyak pemuda yang telah mengajukan pinangan terhadap puteriku, anakmas Sutejo. Akan tetapi di antara mereka tidak ada seorangpun yang memenuhi selera kami. Kami, terutama aku menghendaki agar Jayanti berjodoh dengan seorang pendekar muda yang digdaya dan budiman. Dan setelah kami bertemu denganmu, anakmas, hemmm......agaknya kami telah menemukan orangnya. Anakmas Sutejo, maafkan kelancanganku, akan tetapi, apakah anakmas sudah beristeri?"

Wajah Sutejo berubah kemerahan dan dia menggeleng kepalanya.

"Bagus sekali kalau begitu! Anakmas Sutejo, kami akan berbahagia sekali kalau anakmas mau menerima Jayanti menjadi jodohmu. Engkau tentu setuju, bukan, Jayanti?"

"Ah, bapa.....!"

Jayanti menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali, akan tetapi dari senyum yang menghias mulutnya mudah diketahui bahwa gadis itu setuju sekali.

"Maafkan saya, paman Bukan sekali-kali saya menolak maksud baik dari paman, akan tetapi saya masih ingin merantau meluaskan pengalaman dan menambah pengetahuan. Saya sama sekali belum memikirkan tentang perjodohan. Karena itu, maafkan kalau saya terpaksa tidak dapat menerima uluran tangan paman dan saya mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan hati paman."

"Oh, tidak apa-apa. anakmas Sutejo. Ini hanya pernyataan yang jujur dan setulusnya dari hati kami. Tentu saja kami tidak memaksa. Bagaimanapun juga aku percaya akan takdir Ilahi, anakmas. Jodoh adalah takdir, maka kalau memang sudah berjodoh, kelak tentu akan dipertemukan, juga. Untuk sementara itu, cukup kalau anakmas mengetahui bahwa kami akan selalu mengharapkan anakmas menerima uluran tangan kami."

"Terima kasih atas pengertian paman yang bijaksana. Sekarang saya mohon diri, paman, hendak melanjutkan perjalanan perantauan saya."

"Nanti dulu, anakmas Sutejo. Andika tadi mengatakan bahwa andika merantau untuk menambah pengalaman dan pengetahuan. Nah, sekarang ini kesempatan baik sekali untuk menambah pengalaman dengan mengunjungi pesta ulang tahun Perkumpulan Welut Ireng di Pegunungan Wilis yang sudah tidak berapa jauh dari sini itu,"

"Pengalaman dan pengetahuan apa yang bisa saya dapatkan di sana, paman?"

Tanya Sutejo yang memang kurang pengalaman.

"Wah, di sana andika akan dapat bertemu dengan semua pendekar dari empat penjuru dan yang lebih dari itu, biasanya dalam pesta seperti, itu ada saja pihak-pihak yang menggunakan kesempatan itu untuk mencari nama sehingga timbul persaingan, pertentangan dan adu kedigdayaan. Dengan demikian, bukankah hal itu menarik sekali dan menambah luasnya pengalamanmu? Juga biasanya golongan sesat menggunakan arena itu untuk mengukur kekuatan mereka berhadapan dengan pihak yang menentang mereka, yaitu kaum pendekar."

"Hemm, kedengarannya menarik sekali."

Kata Sutejo, tertarik.

"Akan tetapi saya tidak mendapatkan undangan, bagaimana saya dapat berkunjung, paman?"

Tiba-tiba Jayanti berkata dan suaranya agak malu-malu.

"Undangan seperti itu tidak terbatas, kakangmas Sutejo. Kita boleh datang dalam rombongan berapa orang saja dan engkau dapat menjadi anggauta rombongan kami yang hanya dua orang."

"Itu benar sekali, anakmas Sutejo. Marilah engkau ikut dengan kami."

Bujuk Ki Joyosudiro yang sebetulnya ingin menahan pemuda itu agar lebih lama bersama mereka dan memberi kesempatan kepada pemuda itu untuk mengenal Jayanti lebih baik.

Kalau pemuda itu bergaul lebih dekat dengan Jayanti dan persahabatan mereka menjadi akrab, mustahil kalau pemuda itu tidak jatuh hati kepada puterinya yang ayu manis.

Bukankah cinta kasih tumbuh di atas pergaulan yang akrab?

Sutejo memang sudah tertarik sekali mendengar tentang pertemuan antara para pendekar itu, maka dia menyambut tawaran itu dengan gembira.

"Baiklah, paman, asalkan saja tidak akan merepotkan paman dan diajeng Jayanti."

"Ah, merepotkan apa, kakangmas Sutejo? Bukankah engkau berjalan di atas kedua kakimu sendiri?"

Kata Jayanti yang sudah mulai hilang rasa rikuhnya dan menjadi agak berani.

Mereka bertiga lalu meninggalkan hutan itu dan mulai melakukan perjalanan ke perkampungan Welut Ireng di lereng Pegunungan Wilis.

Perguruan Welut Ireng adalah sebuah perkumpulan atau perguruan silat yang sudah terkenal di daerah Madiun sebagai sebuah perkumpulan yang tua.

Perguruan ini mempunyai nama baik karena para muridnya bersikap sebagai pendekar-pendekar yang menentang kejahatan.

Pada waktu itu, yang menjadi ketuanya adalah Ki Bargowo yang berusia lima puluh lima tahun, Dia hidup berdua dengan isterinya dan tidak mempunyai keturunan.

Akan tetapi kehidupan kedua orang suami isteri ini tidak kesepian karena mereka mempunyai banyak murid dari anak-anak sampai dewasa sehingga mereka merasa seolah-olah mempunyai banyak anak.

Para murid yang masih belajar dan tinggal di perkampungan Welut Ireng tidak kurang dari lima puluh orang banyaknya.

Pada hari itu, sejak pagi sekali, para murid Welut Ireng sibuk menghias perkampungan mereka, terutama rumah besar tempat tinggal Ki Bargowo.

Semua orang tampak sibuk dan bergembira karena hari itu di perkampungan mereka akan diadakan pesta ulang tahun ke lima puluh dari perkumpulan Welut Ireng Di sepanjang lorong mulai dari pintu gapura serupai ke rumah Ki Bargowo dihiasi dengan janur kuning.

Umbul-umbul, bunga dan kain beraneka warna menghias perkampungan itu sehingga tampak meriah.

Mengapa perguruan silat itu memakai nama yang aneh seperti itu?

Perguruan Welut Ireng (Be"lut Hitam) mengambil nama itu dari ilmu silat yang diajarkan di situ, yang berdasarkan dari Aji Welut Ireng.

Ilmu Silat ini mengandalkan kecepatan dan kelincahan gerakan sehingga membuat pesilatnya licin bagaikan belut yang sukar ditangkap ataupun diserang.

Sejak pagi suasana di depan rumah Ki Bargowo tampak meriah dan wajah wajah para murid tampak gembira.

Di depan rumah itu, di pekarangan yang luas didirikan tarub dan di tengah-tengah didirikan sebua panggung.

Bagian kiri panggung ditempati para penabuh gamelan berikut tiga orang waranggana (pesinden) yang cantik-cantik.

Sejak pagi, gamelan itu sudah dimainkan para penabuhnya, perlahan dan lambat, belum mengiringi para pesinden yang belum mulai bertembang.

Setelah matahari mulai menerangi tanah, mulailah para tamu berdatangan.

Perguruan Welut Ireng adalah perguruan yang terpandang, dan surat undangan yang disebar cukup banyak, maka banyaklah tamu yang berdatangan.

Selain para pamong praja di sekitar Madiun, juga para jagoan dan pendekar sama berdatangan, baik para pendekar golongan bersih maupun para jago silat golongan kotor.

Gamelan ditabuh bertalu talu untuk menyambut datangnya para tamu.

Ki Bargowo sendiri bersama lima orang murid kepala menyambut di depan tarup, dan para murid lain mengantar para tamu menuju ke tempat duduk mereka yang sudah disediakan menurut kedudukan dan derajat mereka.

Para pamong praja di suatu sisi panggung, para datuk persilatan dan para ketua perkumpulan silat yang besar di sisi yang lain, Sisanya untuk para tamu yang lain.

Suasananya amat ramai, karena suara gamelan itu bertumbuk dengan suara para tamu yang riuh rendah saling bersalam salaman dalam pertemuan di tempat itu.

Setelah para tamu memenuhi tempat itu, KI Bargowo lalu naik ke atas panggung.

Semua mata para tamu menatapnya dan suasana menjadi tenang karena para tamu menghentikan pembicaraan mereka, juga para penabuh gamelan menghentikan permainan mereka.

Ki Bargowo tampak berwibawa ketika berdiri di tengah panggung itu.

Tubuhnya tinggi kurus, berdiri tegak dan tampak masih kokoh kuat walaupun usianya sudah lima puluh lima tahun.

Di pinggangnya terselip sebatang keris dan di punggungnya tergantung sebatang pedang.

Wajahnya berwibawa dengan sepasang mata yang tajam berpengaruh, dan kumisnya yang melintang.

Dengan suara lantang dia berkata untuk menyambut kedatangan para tamu.

"Para pinisepuh, para datuk, para pendekar dan saudara sekalian yang kami hormati! Hari ini kami (Lanjut ke

Jilid 09) Pecut Sakti Bajrakirana (Seri ke 01 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 09 keluarga Welut Ireng merayakan ulang tahun yang ke lima puluh.

Atas kunjungan andika sekalian yang telah memenuhi undangan kami, kami mengucapkan selamat datang, salam hormat dan terima kasih kami.

Juga terima kasih kami ucapkan atas segala macam sumbangan yang diberikan kepada kami.

Kami persilakan andika sekalian untuk bergembira bersama kami, menikmati sekadar hidangan yang kami suguhkan dan sebentar lagi akan diadakan tayuban untuk menggembirakan suasana.

Sementara itu, kalau terdapat kekurangan dalam sambutan dan pelayanan kami, kami mohon maaf sebesar-besarnya."

Sambutan yang singkat dari ketua Welut Ireng ini disambut tepuk sorak oleh para tamu, terutama mereka yang duduk di bawah panggung, yang se bagian besar adalah orang-orang muda.

Mereka yang duduk di tempat terhormat, di panggung sisi kanan dan kiri, hanya mengangguk angguk.

Ketika Ki Joyosudiro, Jayanti dan Sutejo datang, mereka disambut dengan gembira oleh Ki Bargowo yang sudah mengenal Ki Joyosudiro dengan baik dan karena Ki Joyosudiro dianggap sebagai seorang pendekar ternama dari Kediri, maka mereka bertiga mendapatkan tempat terhormat di atas panggung.

Dari tempat duduknya di atas itu Sutejo dapat melihat ke arah para tamu yang berada di bagian bawah, dan melihat pula siapa-siapa yang datang menjadi tamu.

Setelah Ki Bargowo berbicara di atas panggung, maka yang bertugas menyambut tamu yang mungkin masih datang terlambat adalah para murid kepala.

Adapun Ki Bargowo sendiri juga duduk di atas panggung, melayani bicara dengan para pamong praja dan para datuk yang dihormati.

Tiba -tiba Sutejo terkejut melihat datangnya serombongan tamu.

Mereka terdiri dari tiga orang.

Yang seorang adalah seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh enam tahun, pemuda tampan gagah yang tidak dikenalnya.

Akan tetapi dua orang lain segera dikenalnya karena mereka itu bukan lain adalah Maheso Seto dan isterinya, Rahmini, dua orang murid perguruan Jatikusumo atau masih terhitung kakak-kakak seperguruannya yang galak itu.

Orang ke tiga yang tidak dikenal Sutejo itu bukan lain adalah Priyadi, pemuda gagah perkasa yang sudah kita kenal.

Setelah kembali ke perguruan Jatikusumo di pantai Laut Kidul, kebetulan datang undangan dari Welut Ireng, maka Priyadi.

lalu menemani kedua kakak seperguruannya, Maheso Seto dan Rahmini, untuk mewakili perguruan Jatikusumo menghadiri pesta ulang tahun itu.

Cangak Awu, saudara termuda mereka, tidak ikut dan bertugas melatih para murid tingkat rendahan.

Sutejo melihat betapa Maheso Seto dan Rahmini mengerutkan alisnya ketika para murid kepala Welut Ireng mempersilakan mereka bertiga duduk di bawah panggung bersama para tamu lain.

Akan tetapi pemuda tampan yang datang bersama suami isteri itu hanya tersenyum saja.

Sutejo merasa senang bahwa dia duduk di atas panggung, jauh dari para murid Jatikusumo itu.

Kalau dia duduk di bawah dan terlihat oleh mereka, tentu dia akan merasa tidak enak sekali.

Dia dapat menduga betapa tak senang rasa hati Mahesa Seto dan Rahmini yang berwatak angkuh itu diberi tempat duduk di bawah panggung.

Agaknya para murid kepala Welut Ireng tidak mengenal siapa mereka.

Pada hal perguruan Jatikusumo adalah sebuah perguruan yang besar dan terkenal sekali.

Sekali lagi Sutejo memandang penuh perhatian ketika dua orang tampak baru datang dan disambut para murid kepala Welut Ireng di pintu depan, Sutejo tidak mengenal dua orang itu, akan tetapi keadaan mereka sungguh menarik hati.

Yang seorang adalah seorang kakek berusia kurang lebih lima puluh tahun, mukanya penuh brewok seperti seekor singa, tubuhnya tinggi besar dan pakaiannya jubah seperti pakaian pertapa atau pendeta.

Sepasang mata kakek itu mencorong penuh kekuatan dalam sehingga Sutejo dapat menduga bahwa aorang ini tentu memiliki kesaktian.

Adapun orang kedua yang datang bersamanya adalah seorang wanita berusia kurang lebih tiga puluh tahun, berwajah cantik dan pesolek, tubuhnya padat menggairahkan dengan pinggang yang kecil sekali dan pinggul yang bulat menonjol besar seperti juga dadanya yang menonjol dan menantang.

Pakaiannya pesolek, akan tetapi adanya sebatang pedang di punggungnya menunjukkan bahwa wanita ini bukan seorang yang lemah.

Kembali para murid kepala Welut Ireng yang tidak mengenal keduanya, mempersilakan mereka duduk di bawah panggung.

Bukan hanya Sutejo yang memperhatikan dua orang itu.

Akan tetapi juga Priyadi.

Pemuda ini terkejut bukan main ketika mengenal kakek itu yang bukan lain adalah Ki Klabangkolo yang pernah ditandinginya ketika dia menolong Retno Susilo yang ditawan kakek itu.

Akan tetapi dia tidak mengenal wanita cantik yang mata dan mulutnya amat genit itu.

Mungkin ia murid atau anak Ki Klabangkolo?

Begitu kakek itu muncul Priyadi menduga bahwa tentu di tempat itu akan terjadi keributan, mengingat akan watak kakek itu yang liar dan ganas.

Akan tetapi sekali ini dia tidak merasa gentar.

Biarpun kakek itu berbahaya dan sakti mandraguna, akan tetapi dia datang bersama kedua orang kakak seperguruannya yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, yaitu Maheso Seto dan Rahmini, maka dia memandang dengan sikap tenang.

Ketika Ki Klabangkolo dan wanita cantik itu dipersilahkan duduk di bagian bawah panggung, wanita itu menyapu ruangan dengan kerling matanya.

Kebetulan sekali ia memandang wajah Pri"yadi dan sepasang mata itu mengeluarkan sinar, wajahnya berseri, mulutnya tersenyum dan tanpa berkata sesuatu ia sudah melangkah menghampiri Priyadi dan duduk di dekatnya!

Dan setelah du"duk, ia memainkan matanya, memandang kepada Priyadi, mengedip ngedipkan matanya, atau me"lempar kerling yang menyambar wajah Priyadi dan tersenyum manis sekali.

Priyadi mengerutkan alis"nya dan setelah yakin bahwa wanita itu menga"jaknya main mata, diapun menundukkan muka nya, kemudian memperhatikan ke depan, ke arah panggung.

Akan tetapi tidak seperti wanita itu yapg segera mengambil tempat duduk di dekat Priyadi, Ki Klabangkolo tidak duduk dan seperti sudah dikhawatirkan Priyadi, dia membuat ulah.

Dengan langkah tegap dia maju mendekati panggung, lalu berseru dengan lantang sekali karena dia menggunakan Aji Pekik Singanada sehingga suaranya bagaikan auman seekor singa.

"Ki Bargowo ketua Welut Ireng sungguh tidak menghormati orang. Dia memberi tempat kehormatan hanya kepada para bangsawan dan hartawan saja, Sebaliknya berani memandang rendah kepadaku yang hanya disambut para murid dan disuruh duduk di bawah, Apakah Ki Bargowo sudah mempunyai tiga kepala dan enam tangan maka berani memandang rendah kepada Klabangkolo?"

Teriakan lantang ini amat mengejutkan para tamu.

Priyadi yang membenci Klabangkolo atas apa yang dilakukannya terhadap Retno Susilo, hampir saja menodai gadis itu, segera bangkit berdiri dan berseru lantang sekali karena diapun mengerahkan tenaga saktinya.

"Seorang tamu yang tidak menurut aturan tuan rumah adalah seorang yang tidak tahu aturan dan tidak layak menjadi tamu. Sebaiknya dia pergi saja dari ruangan ini!"

Kembali semua orang terkejut dan memandang kepada Priyadi yang sudah bangkit berdiri. Maheso Seto dan Rahmini juga terkejut dan heran melihat sikap adik seperguruan mereka itu.

"Adi Priyadi, mengapa engkau mencampuri urusan orang lain?"

Rahmini mencela.

"Priyadi, engkau mencari gara-gara!"

Cela pula Maheso Seto "Kakang Maheso Seto dan mbakayu Rahmini, orang itu adalah Klabangkolo, seorang yang amat jahat dan sudah pernah bentrok dengan aku.

Aku tidak senang dia membuat keributan di tempat ini."

Jawab Priyadi.

Sementara itu, ketika Klabangkolo mendengar orang mencelanya di depan banyak orang, mukanya berubah merah dan matanya terbelalak memandang ke arah pembicara.

Agaknya dia lupa kepada Priyadi yang pernah bertanding dengannya ketika menolong Retno Susilo.

Dia marah dan menantang.

"Bagus! Orang muda yang lancang mulut. Engkau sudah bosan hidup!"

Akan tetapi pada saat itu, wanita cantik yang duduk dekat Priyadi sudah melompat ke dekat Ki Klabangkolo dan dengan suara lantang ia berkata kepada kakek bermuka singa itu.

"Bapa Guru, biarkan aku yang menghadapi pemuda itu. Setelah berkata demikian, ia menggerakkan kedua kakinya dan tubuhnya melayang seperti terbang saja ke atas panggung! Gerakannya amat indah dan menunjukkan ilmu meringankan tubuh yang tinggi. Setelah berada di atas panggung wanita itu memandang ke arah Priyadi yang masih berdiri.

"Aku bernama Sekarsih dan Ki Klabangkolo adalah guruku. Orang muda yang lancang mulut, kalau engkau memiliki kepandaian, naiklah ke panggung ini dan mari kita bertanding, dari pada banyak bicara di sana!"

Ditantang begitu tentu saja Priyadi menjadi marah. Pantang bagi seorang satria untuk menolak sebuah tantangan, apa lagi datangnya tantangan dari seorang wanita.

"Adi Priyadi mau apa kau?"

Maheso seto menegur Priyadi yang sudah melangkah.

"Aku ditantang kakang. Tak mungkin diam saja."

Priyadi sudah menuju ke panggung dan setelah tiba di bawah panggung dia meloncat ke atas.

Sebagai seorang yang mengenal aturan, Priyadi tidak berani meninggalkan tata cara sopan santun sebagai seorang tamu.

maka dia lalu lebih dulu menghadap ke arah Ki Bargowo yang duduk bersama para pejabat dan para datuk di tempat kehormatan, membungkuk sambil merangkap kedua tangan melakukan sembah.

"Paman Bargowo, saya adalah seorang murid Perguruan Jatikusumo bernama Priyadi. Perkenankanlah saya menyambut tantangan wanita ini yang hendak mengganggu ketenangan pesta."

Ki Bargowo tersenyum dan mengangguk, senang dengan sikap yang sopan itu.

Dia sudah terbiasa menghadapi pertandingan adu kepandaian seperti itu.

Merupakan hal biasa saja dah alasannya memang macam-macam, Biasanya, yang menjadi alasan pertandingan adalah perebutan penari pada waktu tayuban.

Akan tetapi sekali ini, pesta belum dimulai sudah akan ada pertandingan.

Dan alasannya juga luar biasa.

Kakek bernama Klabangkolo itu mencacinya dan wanita cantik itu adalah murid Klabangkolo yang kini memandang Priyadi yang berada di pihaknya, mencela perbuatan Klabangkolo.

Karena itu dapat dibilang, bahwa Priyadi mewakilinya memberi hajaran kepada tamu yang kurang ajar itu.

"Silakan, anakmas Priyadi. Pertandingan bahkan akan menyemarakkan pesta ini."

Dia lalu memerintahkan para penabuh gamelan untuk memainkan gamelan mereka untuk mengiringi pertandingan antara Priyadi dan wanita yang mengaku bernama Sekarsih.

Gamelan ditabuh dan suasana menjadi meriah namun menegangkan.

Semua mata ditujukan ke arah dua orang di atas panggung itu dengan penuh perhatian.

Dua orang itu bagaikan dua orang pemain wayang yang sedang berlagak di atas panggung.

Yang pria ganteng dan gagah, juga gerak geriknya lemah lembut bagaikan Arjuna, sedangkan wanitanya cantik jelita, manis dan cekatan bagaikan Srikandi.

Keduanya saing berhadapan dan yang membuat Priyadi merasa rikuh dan tidak enak adalah sikap wanita itu yang tersenyum manis dan mengerling tajam.

Di antara suara gamelan, suara wanita itu tidak dapat terdengar jelas oleh para tamu, akan tetapi tentu saja dapat terdengar jelas oleh Priyadi yang berdiri di depannya.

"Aku girang sekali engkau mau maju dan naik ke sini, wong bagus! Aku dapat menduga bahwa seorang murid Perguruan Jatikusumo. Seperti engkau tentu memiliki kedigdayaan. Karena itu aku ingin sekali bertanding denganmu untuk sekedar berkenalan dan main-main."

"Main-main? Tidak, aku tidak main-main, Kalau engkau menantangku, jangan dikira aku takut! Sebagai tamu, gurumu sungguh tidak tahu aturan!"

"Priyadi, namamu Priyadi. bukan? Nama yang bagus, seperti orangnya. Sebetulnya kita lebih cocok untuk menjadi kawan, bukan menjadi lawan."

"Sudahlah Sekarsih, jangan banyak cakap. Aku sudah datang memenuhi tantanganmu!"

"Berhati-hatilah. Priyadi, sungguh sayang kalau engkau sampai tewas atau terluka parah terkena aji pukulanku yang ampuh"

"Keluarkan semua kepandaianmu, aku siap melayanimu!"

Kata Priyadi yang sudah marah.

"Haiiiittt.....!!"

Sekarsih mengeluarkan teriakan melengking dan mulailah ia menyerang.

Serangannya cukup dahsyat sehingga Priyadi tidak berani memandang ringan.

Dia mengelak cepat dan balas menyerang yang juga dapat dihindarkan dengan elakan oleh Sekarsih yang bergerak gesit sekali.

Terjadilah serang menyerang yang seru.

Tukang penabuh gendang sibuk memainkan gendangnya.

Dia memang pandai sehingga dapat menyesuaikan hentakan gendangnya dengan gerakan kedua orang itu sehingga setiap serangan tampak semakin mantap dan dahsyat.

Gamelanpun dipukul gencar dan para tamu yang menonton menjadi semakin bersemangat dan tegang.

Ternyata Priyadi dan Sekarsih memiliki kecepatan gerakan yang seimbang, bahkan ketika kedua tangan kanan mereka bertemu, keduanya terpental ke belakang, menunjukkan bahwa dalam hal kekuatan tenaga dalam, merekapun seimbang.

Diam-diam Sutejo yang mengikuti gerakan kedua orang itu penuh perhatian, menjadi kagum.

Dari gerakan Priyadi, tahulah dia bahwa Priyadi adalah seorang murid perguruan, Jatikusumo yang tangguh.

Priyadi dapat menggunakan Aji Harina Legawa dengan baik sehingga tubuhnya demikian lincah dan cekatan seperti seekor kijang muda.

dan kedua tangannya mengandung tenaga sakti yang cukup kuat ketika dia bersilat dengan Aji Gelap Musti.

Priyadi merupakan seorang murid aliran Jatikusumo yang baik.

Akan tetapi Sutejo mengerutkan alisnya menyaksikan sepak terjang lawan pemuda itu, yaitu Sekarsih.

Sama sekali tidak disangkanya bahwa wanita cantik dan genit itu ternyata lincah bukan main dan juga memiliki tenaga yang cukup hebat sehingga mampu menandingi Priyadi!

Dan yang lebih mengkhawatirkan hatinya, wanita itu agaknya mengalah dan tidak sungguh-sungguh menyerang Priyadi, lebih banyak mempertahankan diri saja.

Agaknya kalau wanita itu membalas dengan serangan sungguh-sungguh seperti yang dilakukan Priyadi, pemuda itu ada kemungkinan besar akan kalah.

Yang paling gembira menyaksikan pertandingan ini adalah para tamu muda yang memang senang melihat pertandingan silat.

Bahkan di antara mereka banyak yang diam-diam bertaruh.

Akan tetapi Ki Klabangkolo mengerutkan alisnya.

Dia merasa sama sekali tidak senang karena melihat betapa sampai demikian lamanya Sekarsih belum juga mampu mengalahkan pemuda itu.

Dan dia memang ingin menonjolkan diri di tempat pesta yang dikunjungi para jagoan dari empat penjuru itu.

ingin memperlihatkan diri siapa dia, kalau perlu dengan mengalahkan banyak lawan, Akan tetapi sebagai permulaan, Sekarsih mengecewakan, Pada hal dia dapat melihat bahwa kalau Sekarsih mau, tentu akan dapat merobohkan pemuda itu dengan pukulan ampuh dan berbahaya.

Karena sudah tidak dapat menahan rasa penasaran dan kemarahannya lagi.

menduga bahwa Sekarsih memang sengaja mengalah terhadap pemuda yang tampan dan ganteng itu, Ki Klabangko lalu menggerakkan tubuhnya dan dia sudah melayang naik ke atas panggung, begitu dia menggerakkan tubuhnya, menyelinap di antara keduanya sambil mendorongkan kedua tangan ke kanan kiri, Priyadi dan Sekarsih berloncatan mundur dan menghentikan pertandingan mereka.

"Sekarsih! memalukan sekali engkau, tidak dapat merobohkan pemuda seperti ini. Hayo turunlah, biar aku sendiri yang turun tangan!"

Bentaknya marah dan melihat kemarahan gurunya, Sekarsih tidak berani membantah.

Ia melempar kerling dan senyuman kepada Priyadi lalu melompat turun dari atas panggung.

Kini Priyadi berhadapan dengan Ki Klabangkolo.

Priyadi berkata dengan lantang, mengatasi suara gamelan yang kini ditabuh perlahan karena pertandingan telah terhenti, dengan maksud agar dapat terdengar semua tamu yang hadir di situ.

"Ki Klabangkolo, di mana-mana engkau hanya mendatangkan kekacauan dengan perbuatan jahatmu!"

Kini Ki Klabangkolo teringat kepada pemuda yang pernah menggagalkan dia memiliki gadis cantik dan gagah yang telah ditawannya dan dibawa ke dalam guha tengah hutan itu.

Bukan main marahnya setelah dia mengenal Priyadi.

"Jadi engkaukah itu, engkau murid Jatikusumo berani menentangku?"

Dia membuat gerakan ke depan, tubunnya condong kedepan, kedua tangannya didorongkan ke arah dada Priyadi dan mulutnya mengeluarkan pekik yang menggetarkan seluruh tempat pesta.

"Aurrghhh......!"

Kedua tangan yang didorongkan itu mendatangkan angin yang amat kuat dan itulah Aji Singorodra yang menjadi andalannya.

Tadi Sekarsih pun sudah mengeluarkan aji ini, akan tetapi kehebatannya tidak seperti sekarang ketika dikerahkan oleh Ki Klabangkolo.

Priyadi terkejut sekali dan cepat dia menghindar dengan loncatan ke samping.

Dari samping dia membalas dengan pukulan Aji Gelap Musti, akan tetapi pukulannya ini dapat ditangkis oleh Ki Klabangkolo sehingga tangannya yang memukul terpental ke samping.

Terjadi pertandingan yang seru dan gamelanpun ditabuh kembali dengan kerasnya mengiringi pertandingan kedua orang itu.

Sutejo menonton dengan penuh perhatian.

Dia tahu bahwa kakek itu tangguh sekali dan agaknya pemuda yang dia yakin adalah seorang tokoh Jatikusumo yang tangguh itupun agaknya terdesak hebat.

Dia merasa khawatir.

Untuk kesekian kalinva Ki Klabangkolo menyerang dengan Aji Singorodra disertai pekik yang menggetarkan jantung lawan, pekik yang disebut Aji Singanada.

Priyadi mengerahkan tenaga saktinya untuk melawan pengaruh pekik itu, akan tetapi kedudukannya tidak memungkinkan baginya untuk mengelak lagi.

Karena itu terpaksa dia menyambut pukulan itu dengan dorongan kedua tangannya pula sambil mengerahkan Aji Gelap Musti.

"Wuuuuttt....... desss......!!"

Hebat sekali pertemuan antara dua tenaga sakti itu.

Akan tetapi kalau tubuh Ki Klabangkolo hanya terdorong mundur tiga langkah, tubuh Priyadi terpental sampai keluar dari panggung!

Pemuda itu merasa dadanya sesak, akan tetapi dia masih cukup gesit untuk mematahkan luncuran tubuhnya ke bawah panggung dengan berjungkir balik.

Ketika kedua kakinya menginjak tanah, dia terhuyung dan terpaksa dia harus mengakui keunggulan Ki Kla bangkolo dan dia kembali kepada kedua orang kakaknya.

Klabangkolo tertawa bergelak di atas panggung dan dia berteriak nyaring.

"Ha-ha-ha, kiranya hanya sebegitu saja kedigdayaan murid Jatikusumo? Kalau hanya sebegitu, biar sepuluh orang murid Jatikusumo maju, aku akan sanggup menandingi dan mengalahkan mereka!"

Sutejo mengerutkan alisnya dan hatinya menjadi panas.

Biarpun tidak secara langsung, dia sendiripun murid aliran Jatikusumo sehingga ucapan Ki Klabangkolo itu juga menusuk perasaannya dan membuat dia merasa penasaran sekali.

Dia bangkit berdiri dari tempat duduknya.

"Anakmas Sutejo, engkau hendak ke mana?"

Tanya Ki Joyosudiro.

"Aku akan menghadapi raksasa yang sombong dan besar mulut itu, paman"

Jawab Sutejo dan dia sudah melangkah lebar ke tengah panggung. Melihat seorang pemuda datang dan menghadapinya, Ki Klabangkolo tertawa mengejek.

"Ha-ha-ha, engkau ini anak kecil maju ke sini mau apa?"

"Mau menutup mulutmu yang terlalu lebar!"

Jawab Sutejo.

"Babo-babo, pulang sajalah ke pangkuan ibumu. Panggil ayahmu untuk melawan aku. Engkau masih terlalu muda dan lunak ha-ha!"

Pada saat itu tampak dua bayangan berkelebat cepat dan tahu-tahu Maheso Seto dan Rahmini telah berada di atas panggung. Maheso Seto memandang Sutejo dan berkata angkuh.

"Sutejo, mundurlah. Engkau bukan lawannya, hanya akan membikin malu nama besar Jatikusumo, Biar kami yang menghadapi si sombong ini!"

Sutejo tidak berani membantah dan hanya dapat mengangguk lalu kembali ke tempat duduknya semula.

Ki Joyosudiro menyambutnya dengan hati lega karena tadi dia khawatir sekali akan keselamatan pemuda itu.

"Siapakah mereka itu, anakmas?"

Tanyanya sambil memandang ke arah panggung.

"Mereka berdua adalah kakak-kakak seperguruanku, paman."

"Ahh......!"

Ki Joyosudiro memandang Sutejo sudah begitu tangguh apa lagi kakak seperguruannya.

Sementara itu, Maheso Seto yang bertubuh tinggi besar dan gagah itu bersama isterinya sudah berhadapan dengan Ki Klabangkolo.

Pendekar itu berkata suaranya tegas dan nyaring.

"Ki Klabangkolo, benarkah bahwa tadi engkau menantang para murid Jatikusumo?"

Ki Klabangkolo yang mata keranjang itu memandang kepada Rahmini dengan sinar mata seperti hendak melahap wanita cantik itu, lalu berkata sambil tertawa.

"Benar sekali, siapakah kalian ini!"

"Aku adalah Maheso Seto, murid kepala dari perguruan Jatikusumo dan ini adalah isteriku, Juga murid Jatikusumo! Kami berdua menerima tantanganmu, ataukah engkau takut menghadapi kami berdua?"

"Ha-ha-ha!"

Ki Klabangkolo tertawa sombong.

"Kalian boleh maju berdua, bertiga atau berlima! Atau guru kalian boleh maju, semua akan kuhajar!"

Maheso Seto adalah seorang yang berwatak keras, juga isterinya, Rahmini memiliki watak galak sekali. Mendengar ucapan itu, keduanya sudah menjadi marah bukan main.

"Raksasa busuk, engkau sudah bosan hidup!"

Teriak Rahmini.

"Sambutlah seranganku!"

Wanita itu sudah menyerang dan begitu menyerang ia sudah menggunakan Aji Gelap Musti yang merupakan aji andalan dari perguruan Jatikusumo.

"Wuuuttt......plakk!"

Ki Klabangkolo menangkis dan dia merasa betapa lengannya tergetar, sama seperti yang dirasakan Rahmini sehingga keduanya maklum akan kebesaran tenaga lawan.

Akan tetapi Ki Klabangkolo masih juga menyombong.

"Ha-ha ha, lunak sekali lenganmu, manis!"

Tentu saja Maheso Seto menjadi marah sekali.

Dia menyerang dengan dahsyat dan tahu akan kehebatan pukulan itu, KI Klabangkolo menghindarkan diri dengan mengelak.

Terjadilah pertandingan yang amat seru.

Ki Klabangkolo kini tidak lagi dapat mengumbar suaranya karena desakan dua orang suami isteri itu menyita seluruh perhatiannya dan dia harus mengeluarkan seluruh kepandaiannya, mengerahkan seluruh tenaganya untuk dapat membendung gelombang serangan yang dilakukan mereka berdua.

Diapun membalas dengan pukulan-pukulan ampuh.

Namun, yang dihadapinya kini adalah murid pertama dan kedua dari Bhagawan Sindusakti.

Tingkat kepandaian mereka sudah tinggi, mendekati tingkat guru mereka.

Bahkan Maheso Seto sudah mencapai tingkat yang seimbang dengan gurunya!

Kalau saja mereka berdua itu harus menandingi Ki Klabangkolo satu lawan satu, kiranya merekapun akan mengalami kesukaran menundukkan raksasa itu.

Akan tetapi karena mereka maju berdua, Ki Klabangkolo yang kini terdesak hebat.

Ketika terdesak mundur, tiba-tiba Ki Klabangkolo memutar-mutar tubuhnya sehingga berpusing seperti gasing dan dari pusingan itu kadang mencuat kaki atau tangannya melakukan penyerangan.

Gaya silat seperti ini membuat suami isteri itu berhati-hati dan mereka terpaksa mengubah serangan menjadi pertahanan sambil mengamati dan mempelajari gerakan lawan yang aneh itu.

Sementara itu, Priyadi yang duduk seorang diri dihampiri Sekarsih yang dengan beraninya kini duduk di atas kursi yang tadi diduduki Maheso Seto, tepat di samping Priyadi.

"Priyadi, ternyata engkau tidak mampu mengalahkan guruku."

Kata Sekarsih sambil tersenyum ramah, sama sekali bukan senyum mengejek dan sikapnya seperti seorang sahabat saja.

"Hemm, akan tetapi aku tidak kalah olehmu!"

Kata Priyadi yang merasa diejek.

"Eh? Benarkah engkau tidak merasa kalah olehku? Tadi engkau sudah hampir kalah olehku ketika guruku naik ke panggung."

"Siapa bilang? Engkaulah yang hampir kalah olehku!"

Bantah Priyadi.

"Ah, agaknya engkau masih penasaran. Bagaimana kalau kita buktikan sekarang?"

"Maksudmu?"

"Kita lanjutkan pertarungan yang tadi terhenti karena munculnya guruku."

"Aku tidak ingin membikin ribut di sini dengan bertanding melawanmu."

"Tentu saja tidak di sini. Kita keluar, mencari tempat yang sepi. Hayo ikuti aku kalau memang engkau berani!"

Tantang Sekarsih sambil bangkit dan melangkah keluar.

Ditantang demikian, hati Priyadi yang masih panas karena kekalahannya melawan Ki Klabangkolo tadi, tidak dapat menahan lagi kemarahannya.

Apa lagi ketika melirik ke atas panggung, dia melihat bahwa dua orang kakak seperguruannya tidak kalah bahkan dapat mendesak lawan.

Dia yakin bahwa kedua orang kakaknya itu akan menang mengingat bahwa dulu, dia dan Retno Susilo yang mengeroyok raksasa tua itupun dapat mengusirnya.

Diapun yakin akan mampu mengalahkan Sekarsih yang sama sombongnya dengan Ki Klabangkolo.

Maka diapun mengejar keluar dari situ.

Semua tamu yang sedang memperhatikan pertandingan di atas panggung, tidak melihat kepergian dua orang itu.

Pertandingan di atas panggung berjalan semakin seru.

Gaya silat Ki Klabangkolo dengan tubuh berpusing itu tidak menguntungkannya setelah sepasang suami isteri itu mengubah daya serang mereka dengan daya tahan suami isteri itu tidak lagi menyerang, melainkan hanya mengelak atau menangkis kalau dari tubuh yang berpusing itu mencuat kaki atau tangan yang menyerang.

Karena tidak mendapat sambutan, Ki Klabangkolo menjadi pusing sendiri dan membuang tenaga sia-sia.

Maka dia menghentikan gerakan berpusing itu dan tiba-tiba dia mencondongkan tubuhnya ke depan dan melancarkan serangan Aji Singorodro ke arah sepasang suami isteri itu.

Melihat ini, Maheso Seto dan Rahmini juga menekuk lutut mereka dan keduanya mendorongkan tenaga ke depan menyambut seraDgan lawan dengan menyatukan tenaga.

"Wuuuuttt.... dessss....!!"

Tenaga dorongan Singorodro bertemu dengan dua tenaga dorongan Gelap Musti.

Kalau satu lawan satu, tentu Ki Klabangkolo lebih kuat.

Akan tetapi sekali ini dikeroyok dua tenaga yang disatukan, dia terdorong mundur terus sampai terpaksa melompat turun dari atas panggung!

Karena maklum bahwa kalau dilanjutkan dia tidak akan menang, Ki Klabangkolo meninggalkan tempat itu tanpa pamit lagi dan dengaa langkah lebar.

Tidak ada orang yang berani menghalanginya.

Melihat betapa sepasang suami isteri itu dapat mengalahkan dan mengusir Ki Klabangkolo, Ki Bargowo sebagai tuan rumah segsra menghampiri suami isteri itu dengan sikap hormat.

"Andika berdua telah dapat mengusir perusuh dan membikin terang muka kami. kami mengucapkan terima kasih dan silakan andika berdua mengambil tempat duduk di panggung kehormatan."

"Hemm, pantaskah bagi kami untuk duduk di panggung kehormatan, paman Bargowo?"

Kata Maheso Seto dengan suara yang angkuh mengandung teguran.

"Harap anakmas suka memaafkan saya. Karena tidak tahu siapa anakmas berdua, maka saya tidak mempersilakan andika berdua duduk di sini, Sekarang, silakah duduk di panggung kehormatan."

Dengan langkah angkuh Maheso Seto dan Rahmini melangkah ke arah panggung kehormatan, diantar oleh Ki Bargowo. Ketika tiba di depan Sutejo, Rahmini berkata kepada pemuda itu.

"Untung engkau belum sempat bertanding tadi, kalau sudah, tentu engkau hanya akan membikin malu kepada kami dan merendahkan nama besar Jatikusumo!"

Sutejo tidak menjawab, hanya tersenyum saja. Setelah suami isteri itu duduk, agak jauh dari tempat duduk Sutejo, Jayanti yang duduk di sebelah ayahnya berkata lirih kepada Sutejo.

"Kakangmas Sutejo, engkau mendapat marah dari kakak seperguruanmu?"

Sutejo tersenyum.

"Tidak mengapa. Sudah sepantasnya seorang kakak seperguruan memberi teguran kepada adik seperguruannya bukan?"

Maheso Seto dan Rahmini mencari-cari dengan pandang matanya ke bawah panggung untuk mencari Priyadi, akan tetapi mereka tidak melihat adik seperguruan mereka itu.

Mengira Priyadi sudah meninggalkan tempat pesta karena malu atas kekalahannya tadi, merekapun tidak memperdulikannya lagi.

Pesta dilanjutkan dalam suasana gembira.

Ketika diadakan tayuban, mereka menari bergantian dengan meriah, akan tetapi tidak terjadi lagi keributan.

Agaknya mereka yang suka membuat ribut segan melakukan keributan di situ setelah melihat betapa Ki Klabangkolo yang demikian saktinya dapat dikalahkan dan diusir dari tempat itu ketika mengadakan keributan.

Sampai pesta bubar Priyadi tidak tampak kembali.

Semua tamu bubaran dan ketika Sutejo bersama Ki Joyosudiro dan Jayanti keluar dari tempat pesta, dia menggunakan kesempatan itu untuk mengatakan selamat berpisah dari Joyosudiro dan puterinya.

"Paman Joyosudiro dan diajeng Jayanti, sekarang saya mohon diri untuk melanjutkan perjalanan saya. Terima kasih atas ajakan paman sehingga saya dapat menghadiri pesta ulang tahun ini. Selamat tinggal."

Berat hati mereka, apa lagi Jayanti untuk berpisah dari pemuda yang membangkitkan rasa kagum dalam hati mereka itu.

Akan terapi karena tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk menahannya, maka merekapun tidak dapat mencegah.

"Selamat berpisah, anakmas Sutejo. Kami hanya mengharap agar anakmas tidak melupakan kami dan tidak lupa akan usut perjodohan yang pernah kunyatakan kepadamu."

"Selamat jalan, kakangmas Sutejo. Semoga kelak kita akan dapat bertemu kembali."

Kata pula Jayanti.

Merekapun berpisahan.

Kalau Sutejo berjalan lurus ke depan tanpa menengok lagi, adalah Jayanti yang beberapa kali memutar tubuh dan menoleh ke belakang untuk memandang ke arah perginya Sutejo.

Dara ini merasa kehilangan sekali dan ia tahu benar bahwa ia telah benar-benar jatuh cinta kepada pemuda perkasa yang pendiam dan lembut itu.

Mari kita ikuti Priyadi yang pergi dan tidak kembali lagi ke dalam tempat pesta sampai pesta di.

rumah Ki Bargowo itu bubaran.

Seperti kita ketahui, dia ditantang oleh Sekarsih dan ketika wanita itu pergi meninggalkan tempat pesta, diapun mengikuti karena hatinya panas dan marah ditantang wanita itu.

Sekarsih berjalan cepat setengah berlari dan Priyadi terus mengikutinya dengan berjalan cepat pula.

Sekarsih memasuki sebuah hutan di lereng bukit yang sunyi.

Agaknya ia sudah hafal benar akan keadaan di situ sehingga larinya tanpa ragu lagi menuju ke tengah hutan.

Priyadi terus mengikutinya.

Setelah tiba di tengah hutan, ternyata di situ terdapat sebuah tempat terbuka dan terdapat sebuah gubuk dari bambu yang agaknya belum lama didirikan orang.

Sampai di situ, Sekarsih berhenti berlari, memutar tubuh dan menanti datangnya Priyadi sambil tersenyum dan matanya memandang genit.

Priyadi tiba di situ dan berdiri berhadapan dengan Sekarsih.

Sambil tersenyum manis Sekarsih berkata.

"Nah, kita sekarang telah berada di sini, hanya kita berdua saja di sini dan tidak ada orang lain. Sekarang apa yang akan kita lakukan, Priyadi?"

Priyadi mengerutkan alisnya.

"Apa yang akan kita lakukan? Tentu saja bertanding sampai seorang di antara kita kalah. Bukankah engkau tadi menantangku?"

"Priyadi, tadi kita sudah bertanding dan ternyata kemampuan"

Kita seimbang.

Untuk apa lagi kita bertanding?

Anggap saja tidak ada yang menang maupun kalah di antara kita.

Kita ini sama kuat dan kita serasi benar, bukan ?

Daripada kita bermusuhan, lebih baik kita bersahabat, bukankah akan lebih menyenangkan?

Priyadi, engkau sungguh tampan dan ganteng, aku suka sekali padamu."

Priyadi melangkah mundur dengan sendirinya ketika melihat wanita itu melangkah maju mendekatinya.

Selama hidupnya belum pernah dia bergaulan dengan wanita, dan pertama kali dia tertarik dan merasa jatuh cinta kepada wanita hanyalah kepada Retno Susilo.

Maka, sikap menantang Sekarsih itu membuat dia merasa ngeri.

"Sekarsih, apa yang kau kehendaki? Engkau tadi telah menghinaku, bahkan menantangku. Nah, marilah kita bertanding untuk menentukan siapa di antara kita yang lebih tangguh!"

"Tidak, aku tidak ingin melukaimu atau kau lukai. Bukankah lebih baik kita bermesraan daripada berkelahi? Priyadi, aku Sekarsih amat suka kepadamu, aku kagum dan cinta padamu, ingin menjadi sahabat baikmu."

Wanita itu melangkah maju dan mengulurkan kedua tangannya, seperti hendak memeluk.

"Jangan main gila! Aku bukan macam laki-laki yang mudah terjatuh ke dalam rayuanmu. Aku tidak sudi melayani kehendakmu yang mesum!"

Priyadi mendamprat.

"Hi-hi-hik, engkau malu malu dan takut? Agaknya engkau seorang perjaka sejati. Aku menjadi semakin kagum. Engkau belum pernah berdekatan dengan wanita? Mari, sayang. Tidak ada orang lain yang melihatnya, kita dapat bersenang-senang sepuasnya di sini."

Kembali Sekarsih maju dan menubruk.

Akan tetapi Priyadi mengelak lalu mengirim tamparan keras ke arah muka wanita itu, Hampir saja pipi kanan Sekarsih kena disambar tangan kiri Priyadi.

Akan tetapi Sekarsih sudah mengelak dengan menarik kepalanya ke belakang ia mengeluarkan sebuah botol kecil dan cepat membuka tutupnya lalu menyiramkan isi botol ke muka Priyadi.

Gerakannya amat cepat dan Priyadi sama sekali tidak menyangka akan diserang dengan isi botol yang merupakan cairan seperti air.

Mokanya terkena percikan air yang terasa dingin dan tiba-tiba dia tertegun, memandang kepada wanita di depannya itu dengan mata terbelalak, seperti orang terpesona.

Dia tidak tahu bahwa isi botol itu adalah semacam alat guna-guna atau aji pengasihan yang disebut Tirta Asmara.

Disertai kekuatan sihir atau guna-guna yang memancar keluar melalui mata Sekarsih, begitu muka Priyadi terkena percikan Tirta Asmara, dia seperti ling-lung, kehilangan kesadarannya.

Dalam pandang matanya, Sekarsih tampak sebagai seorang dewi dari kahyangan yang teramat cantik jelita, membuat dia terkagum-kagum dan sekaligus jatuh cinta.

Daya tarik wanita di depannya itu jauh lebih kuat dari pada daya tarik Retno Susilo yang pernah membuatnya jatuh cinta.

Sekarsih yang melihat serangannya berhasil baik, tersenyum lebar sehingga tampak deretan gigi putih di antara "epasang bibir yang merak menantang.

Priyadi menjadi silau oleh kecantikan itu dan dia menjadi lemas dan tidak berdaya ketika Sekarsih mendekatinya dan memegang kedua tangannya.

"Priyadi, wong bagus kekasihku.....!"

Bisiknya dan dia merangkul leher Priyadi, ditariknya ke bawah sehingga muka Priyadi menunduk dan wanita itu menciumnya dengan penuh kemesraan dan penuh gairah nafsu.

Priyadi yang selama hidupnya belum pernah berdekatan dengan wanita merasa dirinya melayang-layang dan dia menurut saja seperti seekor kerbau dituntun memasaki tempat penyembelihan ketika Sekarsih menuntunnya masuk ke dalam gubuk itu.

Nafsu daya rendah bagaikan harimau yang sudah siap untuk sewaktu-waktu menerkam kita kalau kita lengah.

Priyadi adalah seorang pemuda yang berbatin kuat.

Akan tetapi terkena Aji Tirta Asmara, pertahanannya ambruk dan dia membiarkan dirinya dikuasai nafsu.

Ketika berada di dalam gubuk, daya pengaruh Tirta Asmara mulai menipis, akan tetapi Priyadi sudah berada dalam kekuasaan nafsunya sendiri, terbuai nafsu asmara sehingga dia lupa diri dan yang ada hanyalah menikmati anggur asmara yang memabokkan.

Apa lagi dia mendapatkan seorang guru dalam permainan asmara yang pandai dan berpengalaman seperti Sekarsih, maka membuat dia semakin dalam tenggelam dan mabok.

Selama dua hari dua malam mereka berdua tenggelam ke dalam lautan asmara, membiarkan diri dibuai dan dipermainkan nafsu.

Setelah pada hari ketiga, pagi-pagi benar mereka sudah terbangun dan Priyadi teringat akan dua orang kakak seperguruannya.

"Sekarsih, aku harus pergi sekarang. Kalau tidak, dua orang kakak seperguruanku tentu akan menjadi curiga dan mencariku. Aku harus kembali ke Pacitan."

Sekarsih tersenyum dan merangkul pemuda itu, ia sudah mempermainkan pemuda itu sepuas hatinya.

Ia sudah biasa mencari dan mendapatkan pemuda-pemuda tampan untuk memuaskan nafsu berahinya yang tidak dapat disalurkan melalui hubungannya dengan Ki Klabangkolo yang menjadi gurunya dan juga kekasihnya itu.

Ki Klabangkolo tahu akan kebiasaan murid dan kekasihnya itu, akan tetapi diapun tidak perduli karena diapun sewaktu waktu dapat mengambil wanita mana saja Untuk dijadikan kekasihnya.

Cara hidup guru dan murid ini memang sudah bejat.

Sambil mengusap dagu Priyadi Sekarsih berkata.

"Kalau memang begitu, pergilah Priyadi. Akan tetapi kuharap engkau tidak pernah melupakan Sekarsih dan mudah-mudahan saja kita akan dapat sering saling bertemu untuk melampiaskan kerinduan hati."

Setelah puas bermesraan sebagai perpisahan, Priyadi lalu meninggalkan hutan itu.

Dia sibuk memikirkan alasan kalau nanti bertemu dua orang kakak seperguruannya yang galak, yang tentu akan bertanya ke mana saja dia pergi setelah meninggalkan tempat pesta ulang tahun perkumpulan Welut Ireng di daerah Madiun.

Akan tetapi hanya sebentar saja dia memikirkan kakak seperguruannya dan mengkhawatirkan dirinya sendiri.

Segera semua pengalaman dengan Sekasih terbayang di pelupuk matanya.

Semua yang dialaminya terbayang dari hal yang sekecil-kecilnya dan bayangan itu menimbulkan gairah.

Ingatan adalah alat nafsu.

Dengan pikiran yang mengingat-ingat pengalaman yang menyenangkan dan dihikmati, maka pikiran seakan-akan mengunyah kembali makanan yang enak itu sehingga menimbulkan gairah baru untuk mengulang apa yang pernah dialami dan yang menimbulkan kenikmatan itu.

Bahkan biasanya kenangan Ini terasa lebih nikmat dari pada pengalaman yang sesungguhnya.

Pikiran yang mengingat-ingat ini yang merupakan dorongan kuat untuk mengejar pelaksanaan dan pemuasan gairah nafsu.

Adalah wajar dan alami kalau seorang pemuda seperti Priyadi yang sudah berusia dua puluh enam tahun mulai terusik oleh nafsu berahi yang timbul dari dalam dirinya.

Selama menjadi murid Jatikusumo, dia dapat bertahan terhadap godaan nafsu berahi, terutama sekali karena tidak mendapatkan peluang.

Akan tetapi setelah bertemu dengan Sekarsih yang menyeretnya ke dalam pemuasan nafsu berahi, maka nafsu itu membakar dirinya sehingga berkobar-kobar, mendatangkan gairah nafsu yang menuntut pemuasan.

Seperti juga segala macam nafsu daya rendah lainnya, maka nafsu berahi merupakan anugerah dari Tuhan yang sepatutnya kita syukuri, karena tanpa adanya nafsu berahi ini, bagaimana mungkin manusia akan dapat berkembang biak?

Nafsu berahi mempunyai tugas yang teramat penting bagi kelangsungan kehidupan manusia di permukaan bumi.

Dan Tuhan telah demikian Maha Kasih dan Maha Murah sehingga nafsu berahi mengandung kenikmatan bagi manusia sehingga manusia suka melakukan hubungan badan sebagai pelampiasan nafsu berahi.

Namun, di samping tugasnya yang suci dan tujuannya yang baik, sebagai peserta dalam kehidupan manusia yang amat berguna bagi perkembangan manusia, di lain pihak seperti juga semua nafsu, memiliki sifat merusak yang amat hebat.

Seperti juga dengan nafsu daya rendah lainnya, nafsu berahi dapat menyeret manusia ke dalam perbuatan yang penuh kemaksiatan dan kejahatan.

Hal ini terjadi kalau manusia tidak dapat menguasai nafsu berahinya dan Sebaliknya nafsu berahi yang menguasainya sehingga manusia menjadi budak nafsu berahi.

Kalau sudah begini keadaannya, manusia dapat saja diseret oleh nafsu berahi untuk melakukan perbuatan sesat sehingga terjadilah perjinaan, pelacuran dan pemerkosaan.

Tidak ada lagi pantangan bagi nafsu berahi yang sudah mendesak dan menuntut pemuasan dan manusia yang telah menjadi budaknya telah kehilangan kesadarannya, kehilangan pertimbangannya!

Kalau sudah begitu, nafsu tidak lagi menjadi peserta atau pembantu yang baik, melainkan menjadi musuh yang paling jahat dan paling berbahaya bagi manusia.

Satu-satunya cara untuk mencegah terjadinya hal ini kalau kita mampu mengendalikan nafsu sehingga tidak menjadi liar melainkan jinak dan menjadi pelayan kita yang baik.

Akan tetapi sayangnya, mengendalikan nafsu ini lebih mudah dibicarakan dari pada dilaksanakan, Hati akal pikiran kita sejak kita kecil sudah dikuasai nafsu sehingga kita hampir tidak mungkin menggunakan hati akal pikiran untuk menundukkan dan mengen"dalikan nafsu.

Lalu bagaimana baiknya?

Apa yang dapat kita manusia yang lemah ini lakukan untuk dapat mengembalikan nafsu ke tugasnya yang semula, yaitu menjadi peserta dan nelayan kita?

Siapa yang akan mampu mengendalikan nafsu yang liar dan kuat itu?

Tiada lain yang dapat menundukkan nafsu kecuali kekuasaan Tuban Sang Maha pencipta, Tuhan yang menciptakan nafsu, maka Tuhan sajalah yang akan mampu menundukkannya.

Oleh karena itu, bagi kita manusia, jalan satu-satunya hanyalah berserah diri kepada Tuhan secara total, lahir batin dan sepenuhnya, mohon bimbingan Tuhan karena hanya dengan bimbingan Tuhan sajalah maka kita akan dapat mengendalikan nafsu, atau dengan kekuasaan Tuhan, nafsu dalam diri kita tidak akan menjadi liar lagi.

Priyadi tidak dapat mengusir bayangan-bayangan yang mendatangkan kenikmatan itu, bahkan makin diusahakan untuk mengusirnya bayangan-bayangan itu menjadi semakin jelas sehingga gairahnya terbakar, berkobar-kobar dan timbul keinginan besar sekali dalam dirinya untuk mengulang semua pengalaman yang nikmat bersama Sekarsih itu.

Karena pikirannya melayang-layang itulah dia tidak memperdulikan lagi ke mana kakinya melangkah.

Niatnya semula hendak pulang ke perkampungan Jatikusumo di daerah Pacitan, akan tetapi tanpa disadari lagi kakinya melangkah menuju ke timur!

Ketika dia tiba di tepi sungai yang mengalir ke timur, dia menyusuri sungai itu seperti orang yang sedang mimpi, tidak menyadari bahwa dia menyimpang jauh dari tujuannya hendak pulang ke perkampungan Jatikusumo!

Tiba-tiba dia mendengar suara tawa merdu dan kecipak air, suara wanita-wanita sedang bersenda-gurau, tertawa dan menjerit kecil.

Priyadi tertarik dan cepat dia menyelinap di antara pohon-pohon, mendekati tepi sungai dari mana suara itu datang dan bersembunyi di balik semak-semak sambil mengintai, Jantungnya berdebar aneh ketika dia melihat lima orang gadis sedang mandi di sungai.

Gadis-gadis itu mengenakan kain sebatas dada dan mereka bergembira sekali, saling memercikkan air dan mereka tertawa-tawa, menjerit-jerit kalau muka mereka terpercik air.

Di tepi sungai terdapat keranjang-keranjang berisi pakaian yang habis dicuci.

Dahulu sebelum bertemu dengan Sekarsih.

menghadapi penglihatan seperti ini dia tentu akan membuang muka dan menyingkir karena dianggapnya tidak sopan untuk mengintai wanita yang sedang mandi.

Akan tetapi sekarang, sungguh aneh dan dia sendiri tidak menyadari akan perubahan pada dirinya ini dia merasa tertarik sekali dan jantungnya berdebar penuh gairah dan ketegangan ketika dia melihat tubuh-tubuh wanita muda itu.

Setiap kali mereka bangkit berdiri, tampak kain yang basah itu mencetak dada mereka sehingga seolah mereka tidak mengenakan pakaian.

Pandang mata Priyadi segera melekat pada seorang di antara mereka yang paling manis dan berkulit putih mulus.

Dalam pandangannya, gadis itu tampak demikian cantik Jelitanya sehingga dia merasa tertarik sekali.

Muncul bayangan dalam benaknya betapa akan senangnya merangkul dan mencumbu gadis itu.

Bayangan ini seolah minyak yang disiramkan kepada api gairah berahinya sehingga berulang kali dia menelan ludah dan lehernya menjadi basah oleh keringat.

Dari percakapan mereka yang bersenda gurau itu dia mendengar bahwa nama gadis yang menarik perhatiannya itu bernama Sumarni.

Bagaikan seorang anak kecil yang mendapatkan sebuah mainan baru, Priyadi terus mengintai para gadis dusun itu selesai mandi dan menukar kain mereka yang basah kuyup dengan kain yang baru, lalu mencuci kain yang basah itu, kemudian sambil tertawa-tawa riang mereka naik ke daratan dan sambil menjinjing keranjang pakaian mereka pergi meninggalkan sungai.

Priyadi diam-diam membayangi mereka, terutama gadis bernama Sumarni tadi.

Dapat dibayangkan betapa senang hatinya ketika melihat bahwa Sumarni berpisah dari kawan-kawannya dan menuju ke sebuah dusun yang sudah tampak dari situ.

Sumarni melenggang seorang diri, tidak tahu bahwa dia diamati orang dari belakang.

Lenggangnya yang santai dan wajar itu sungguh menarik hati Priyadi dan menimbulkan gairah.

Pemuda itu membayangkan dia bermesraan dengan Sumarni seperti ketika dia bermesraan dengan Sekarsih dan bayangan ini memacu berahinya.

Dia mempercepat langkahnya dan sebentar saja dia sudah menyusul Sumarni, mendahuluinya lalu memutar tubuh menghadangnya.

Gadis dusun bermata bening itu terbelalak ketika melihat seorang pemuda tampan, berpakaian bukan seperti pemuda dusun, menghadang perjalanannya.

Saking heran, terkejut, takut dan malu ia hanya berdiri terbelalak menatap wajah yang tampan itu.

Priyadi tersenyum dan wajahnya tampak semakin tampan.

"Nimas, jangan kaget atau takut, aku ingin bercakap-cakap denganmu."

Katanya dengan lembut sehingga lenyap rasa takut dari hati Sumarni terganti rasa heran dan malu. Karena maklum bahwa dia berhadapan dengan orang kota, mungkin bangsawan, iapun hormat.

"Denmas......mau......apakah menghadang perjalanan saya.....?"

"Namamu Sumarni, bukan? Nama yang indah, seindah orangnya"

Sumarni terbelalak heran.

"Bagaimana denmas dapat mengetahuinya?"

Priyadi tersenyum lebar.

"Tentu saja aku tahu, Sumarni. Aku adalah dewa menjaga sungai, seringkali aku melihat engkau mandi di sungai."

"Ahhh......!"

Gadis itu terkejut dan terbelalak. Orang sedusunnya adalah orang yang percaya akan tahyul, maka kini dia memandang "dewa"

Itu dengan sinar mata takjub dan takut.

"Denmas...... main-main......!"

Ia masih membantah.

Priyadi tersenyum, menghampiri sebatang pohon sebesar paha orang dan sekali dia mengayun tangan ke arah batang pohon itu, terdengar suara keras dan batang pohon itu tumbang!

"Kau percaya sekarang, cah ayu?"

Sumarni memandang terbelalak dan sekarang ia tidak ragu-ragn lagi.

Pria tampan dan halus di depannya ini memang benar dewa penjaga sungai!

"Ampunkan saya......

kalau saya membuat kesalahan di sungai......"

Ia melepaskan keranjang pakaiannya dan menyembah.

"Jangan engkau takut. Sumarni. Aku tidak marah kepadamu, sebaliknya, aku suka sekali kepadamu. Sumarni, aku menginginkan engkau untuk menjadi isteriku."

Priyadi melangkah maju mendekat.

Sumarni memandang dengan mata terbelalak dan kedua pipi berubah kemerahan.

Ia terkejut, heran, akan tetapi juga girang dan bangga.

Seorang pria muda, tampan dan gagah seperti seorang bangsawan, bahkan ternyata dia seorang dewa sungai, jatuh cinta kepadanya dan ingin mempersuntingnya sebagai isteri.

Akan tetapi ada juga rasa takut dan malu teraduk dalam hatinya.

Sambil menundukkan mukanya yang kemerahan iapun menjawab lirih.

"Pukulun.....!"

Mendengar sebutan untuk para dewa ini. Priyadi tertawa.

"Sumarni wong manis, jangan sebut aku demikian. Aku lebih senang kalau engkau menyebut aku denmas atau kakangmas."

"........denmas ...... kalau begitu......saya persilakan denmas bicara saja dengan orang tuaku..."

"Untuk meminangmu! Tentu saja, nimas Sumarni. Aku akan segera mengajukan pinangan kepada orang tuamu, akan tetapi aku ingin melepas rinduku kepadamu dulu."

Setelah berkata demikian tiba-tiba dengan gerakan lembut Priyadi merangkul gadis itu.

Sumarni tersipu, seluruh tubuhnya gemetar, akan tetapi ia tidak menolak, jantungnya berdebar kencang membuat tenggorokannya seperti tersumbat.

Apa lagi ketika Priyadi menciumnya, hampir pingsan ia dibuatnya, akan tetapi ada rasa bangga dan senang di sudut hatinya Karena itu, ketika Priyadi mengangkat dan memondong tubuhnya, iapun hanya memejamkan kedua matanya.

"Marilah, manis.....!"

Priyadi memondong tubuh gadis itu dan membawanya ke dalam hutan yang berada di tepi sungai.

Gadis dusun yang lugu itu terlena oleh rayuan Priyadi.

Yang merayunya adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah, bukan pemuda dusun biasa melainkan seorang dewa!

Apa lagi berulang kali Priyadi menjanjikan akan mengajukan pinangan kepada orang tuanya, maka gadis itupun jatuh dan menurut saja, pasrah saja apa yang dilakukan pe"muda itu terhadap dirinya.

Priyadi tenggelam semakin dalam dicengkeram oleh nafsunya sendiri.

Nafsu tidak pernah merasa cukup, tidak pernah kenyang.

Makin dituruti, ia menjadi semakin lapar.

Priyadi sudah mulai mabok dan lupa diri, lupa akan pelajaran tentang kebenaran yang dia terima dari perguruan Jatikusumo.

Dia membiarkan dirinya terseret oleh nafsu berahi, bahkan dia menyeret pula erang lain untuk menjadi korban.

Sumarni gadis dusun yang lugu itu jatuh oleh rayuannya dan menyerahkan diri dan kehormatannya begitu saja.

Gadis itu terlalu percaya kepada "dewa"nya.

Bagi seorang gadis dusun seperti ia.

Ia percaya bahwa mustahil seorang pemuda bangsawan yang ganteng seperti Priyadi, seorang dewa pula akan menipunya.

"Kakangmas, engkau belum memperkenalkan namamu kepadaku,"

Bisik Sumarni lirih sambil menyandarkan kepalanya yang rambutnya terurai lepas itu ke atas dada Priyadi. Priyadi yang memeluk Sutmrni di atas pangkuannya menjawab dengan suara sungguh-sungguh.

"Sumarni, namaku adalah Permadi. Sekarang engkau pulanglah lebih dulu. manis."

"Akan tetapi bukankah engkau akan pergi ke rumah orang tuaku bersamaku, kakangmas? Untuk meminangku?"

"Tentu saja aku akan menghadap orang tuamu untuk meminangmu. Akan tetapi aku harus berganti pakaian yang pantas dulu. Sebaiknya engkau pulang lebih dulu. Sudah terlalu lama engkau pergi ke sungai. Tunggulah aku, sore nanti pasti aku datang menghadap orang tuamu untuk melamarmu."

"Benarkah itu, kakangmas?"

Tanya Sumarni manja. Priyadi menciumnya, lalu melepaskannya dari atas pangkuannya.

"Tentu saja benar, wong ayu. Aku amat mencintamu dan aku ingin engkau menjadi isteriku. Nah, pulanglah agar orang tuamu tidak merasa khawatir. Nantikan aku sampai sore nanti."

"Baik, kakangmas. Aku akan menantimu."

Dengan langkah gontai dan tubuh lelah Sumarni membawa keranjang pakaiannya berjalan pulang, diikuti oleh pandang mata Priyadi.

Ia tidak tahu betapa pemuda itu memandangnya dengan senyum kepuasan di bibirnya.

Setelah Sumarni pergi, Priyadi lalu memutar tubuhnya dan berlari cepat meninggalkan tempat itu.

Sore hari itu Sumarni menanti-nanti dengan hati gembira dan penuh harapan.

Akan tetapi kegembiraannya makin menipis dan harapannya berubah menjadi kegelisahan setelah yang dinanti-nanti tidak kunjung muncul.

Malam itu gadis dusun yang lugu ini menangis di dalam kamarnya.

(Lanjut ke

Jilid 10) Pecut Sakti Bajrakirana (Seri ke 01 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 10 Penantiannya diulang sampai berhari hari berikutnya dan kalau malam ia menangis, menyesali nasibnya.

Akan tetapi ia tidak berani menceritakan apa yang telah dialaminya itu kepada ayah bundanya.

Tentu ayah bundanya akan marah bukan main kalau mendengar bahwa ia telah menyerahkan diri dan kehormatannya begitu saja kepada seorang pemuda yang baru saja dikenalnya.

Sumarni masih berusaha untuk bersembahyang di tepi sungai, mengharapkan kemunculan dewa penjaga sungai.

Namun semua itu sia-sia belaka.

Yang dinanti-nanti, diharap-harapkan tidak kunjung muncul.

Setelah lewat beberapa hari barulah Sumarni kehilangan harapannya dan timbullah perasaan duka dan penyesalan yang mendalam.

Sesal kemudian tidak ada gunanya, bahkan hanya mendatangkan duka.

Kejadian seperti yang dialami Sumarni itu terjadi di mana-mana sejak jaman dahulu sampai sekarang.

Suatu peringatan yang harus diperhatikan oleh tiap orang wanita muda, terutama gadis-gadis, Kebanyakan dari mereka itu terlampau mudah terbujuk rayu, terlampau percaya kepada janji-janji muluk yang keluar dari mulut pria.

Dengan mudahnya mereka minum secawan anggur yang disodorkan oleh pria kepadanya, menikmati anggur manis yang terasa nikmat.

Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa seteguk dua teguk anggur semanis madu itu mengandung racun yang akan merusakkan kehidupannya.

Memang tidak dapat disangkal bahwa banyak pria yang bertanggung jawab, menikahi gadis yang telah dipersuntingnya sebelum menikah.

Akan tetapi betapa lebih banyak lagi yang ingkar janji, habis manis sepah dibuang, seperti halnya Priyadi yang hanya ingin memiliki tubuh Sumarni untuk dinikmatinya, bukan untuk dicinta dan dijadikan isterinya.

Kalau hubungan yang sepenuhnya didorong oleh nafsu berahi itu tidak membuahkan hasil, masih mending.

Akan tetapi bagaimana kalau sampai hubungan itu membuat si gadis menjadi hamil?

Dan laki-laki itu pergi begitu saja tanpa pamit, tanpa tanggung jawab?

Si gadislah yang akan menanggung segala resikonya.

Malu dan nama buruk sebagai wanita murahan.

Priyadi berlari cepat dan baru dia berhenti berlari setelah tiba jauh dari tempat di mana dia berpisah dari Sumarni.

Mulutnya menyungging senyuman, senyum kepuasan.

Ada juga terasa sedikit penyesalan dalam hatinya, perasaan yang timbul dari kesadaran bahwa dia telah melakukan suatu perbuatan yapg tidak baik dan bersalah.

Akan tetapi perasaan ini hanya tipis saja, dan segera lenyap tertutup oleh bayangan kemesraan yang dinikmatinya bersama Sumarni.

Kepuasan memenuhi hatinya, kepuasan yang berujung kerinduan untuk mengulang kemesraan itu, untuk mendapatkan lebih banyak lagi.

Bukan hanya dari Sumarni atau Sekarsih, melainkan dari siapa saja, asalkan ia seorang wanita yang muda dan cantik jelita!

Dia tahu bahwa dia pulang terlambat beberapa hari dibandingkan kedua kakak seperguruannya, maka teringat ini dia segera mempercepat langkahnya menuju ke daerah Pacitan untuk pulang ke perkampungan perguruan Jatikusumo.

Setelah senja barulah dia memasuki perkampungan Jatikusumo dan menghadap gurunya, Bhagawan Sindusakti yang menjadi ketua Jatikusumo.

Pertapa yang berusia enam puluh tujuh tahun dan bertubuh sedang bersikap lembut ini sedang duduk dan di situ menghadap pula Maheso Seto dan Rahmi Di.

Melibat kedatangan Priyadi, Maheso Seto mengerutkan alisnya dan Rahmini cemberut kepadanya.

Priyadi lalu menghadap gurunya dan menghaturkan sembah.

"Engkau baru pulang, Priyadi? Ke mana sajakah engkau pergi? Mengapa tidak berbarengan dengan kedua orang kakakmu?"

Sang Bhagawan Sindusakti menegurnya dengan halus.

"Maafkan saya, Bapa Guru. Saya memang meninggalkan Kakang Maheso Seto dan Mbakayu Rahmini karena saya mengejar wanita jahat yang membikin kerusuhan di rumah Paman Bargowo."

"Hemm, begitukah? Dan bagaimana kesudahannya?"

Tanya Bhagawan Sindusakti.

Sejak menjadi murid Bhagawan Sindusakti, Priyadi belum pernah sekalipun membohongi gurunya.

Akan tetapi sekarang, bagaimana dia dapat menceritakan semua pengalamannya dengan Sekarsih?

Tidak ada lain jalan baginya kecuali berbohong.

Satu perbuatan tidak benar biasanya memang disusul oleh perbuatan tidak benar selanjutnya.

Satu kebohongan mau tidak mau disusul oleh kebohongan lain.

"Sayang sekali ia menghilang, Bapa Guru. Saya sudah mencari-carinya sampai dua hari namun tetap tidak dapat saya temukan. Barulah saya pulang."

"Priyadi,"

Kata Bhagawan Sindusakti dan kini suaranya terdengar tegas.

"Engkau telah membuat kesalahan yang besar sekali!"

Priyadi terkejut.

Segera terlintas di benaknya peristiwa yang dialaminya dengan Sekarsih, kemudian dengan Sumarni.

Apakah gurunya mengetahui akan hal itu?

Akan tetapi tidak mungkin!

"A......

apakah maksud Bapa Guru?

Kesalahan apa yang saya lakukan?

Saya tidak merasa melakukan kesalahan apapun."

"Engkau berani menyangkal kesalahanmu, Adi Priyadi?"

Kata Rahmini dengan ketus.

"Kalau saja tidak ada kami, bukankah engkau telah menghancurkan nama dan kehormatan perguruan kita Jatikusumo?"

"Adi Priyadi, engkau telah lancang memancing perkelahian dalam pesta Paman Bargowo dan engkau telah dikalahkan oleh Ki Klabangkolo. Kalau tidak ada kami berdua yang membalas kekalahanmu itu dengan mengalahkan Ki Klabangkolo, bukankah nama besar Jatikusumo akan jatuh di depan banyak pendekar? Engkau harus mengukur kemampuanmu sendiri dulu sebelum bertindak, Adi Priyadi! Lebih baik mulai sekarang engkau berlatih lebih tekun agar kemampuanmu meningkat sehingga lain kali tidak akan membikin malu Jatikusumo!"

"Apa yang dikatakan kakangmu benar, Priyadi. Jangan suka melagak di depan umum kalau engkau tidak yakin akan dapat mengatasi keadaan. Kalau engkau sampai dikalahkan orang jahat di depan umum, hal itu memang menjatuhkan nama besar Jatikusumo!"

Bhagawan Sindusakti juga menegur.

Ditegur oleh dua orang kakak seperguruannya dan oleh gurunya, Priyadi hanya menundukkan mukanya.

Akan tetapi dia merasa malu dan terpukul.

Dia tahu bahwa Maheso Seto dan Rahmini, keduanya merasa iri kepadanya karena biasanya Bhagawan Sindusakti amat sayang kepadanya.

Karena itu, mendapat kesempatan baik, kedua orang suami isteri itu memburukkan dirinya di depan guru mereka.

Hemm, gerutunya dalam hati.

Kalianpun kalau tidak maju bersama mengeroyok Ki Klabangkolo juga tidak akan dapat menandinginya.

Akan tetapi mulutnya tidak mengatakan sesuatu.

Malam itu Priyadi tidak dapat tidur.

Bermacam-macam bayangan bermain di benaknya.

Bayangan tentang kemesraannya yang dia nikmati dari hubungannya dengan Sekarsih, kemudian dengan Sumarni yang menyenangkan.

Akan tetapi diseling bayangan ketika dia ditegur kedua orang kakak seperguruan dan juga gurunya yang membuat hatinya merasa penasaran dan tidak senang.

Akhirnya dia membuka pintu kamarnya dan keluar dari dalam kamar, terus keluar dari rumah.

Hawa dingin dan sinar bulan menyambutnya di luar ramah.

Dia menggigil.

Bukan main dinginnya, malam mi, pikirnya.

Akan tetapi suasananya menyenangkan karena sinar bulan purnama.

Dia lalu berjalan-jalan menuju ke belakang pondok.

Banyak pondok berdiri di belakang rumah besar tempat kediaman gurunya.

Pondok-pondok ini adalah tempat tinggal para murid Jatikusumo.

Suasananya sepi sekali.

Agaknya para murid sudah tidur.

Memang lebih enak berdiam di dalam rumah daripada di luar yang amat dingin itu.

Di belakang perkampungan Jatikusumo terdapat sebuah bukit dan seperti juga semua murid Jatikusumo, dia tahu bahwa di bukit itu terdapat sebuah sumur tua yang kering.

Sumur ini dianggap keramat, oleh Bhagawan Sindusakti, dan dia, melarang para murid untuk mendekati sumur itu.

"Sumur itu telah dikutuk oleh eyang guru kalian, karena itu kalian jangan mendekatinya dan jangan mengganggunya. Sumur itu dapat mendatangkan malapetaka kepada siapa yang mendekatinya."

Demikian pesan Bhagawan Sindusakti.

Oleh karena itu, para murid Jatikusumo tidak ada yang berani mendekati dan menganggap sumur itu sebagai tempat tinggal iblis yang jahat.

Apa lagi setiap malam Jumat Bhagawan Sindusakti menyuruh para murid melemparkan nasi kuning dan ingkung ayam yang di bungkus rapi ke dalam sumur, katanya untuk memberi hidangan kepada yang "mbaurekso"

Sumur itu.

Semua murid menganggap sumur itu tempat yang keramat dan menyeramkan.

Akan tetapi pada malam hari yang terang dan dingin itu, seperti ada sesuatu yang mendorong Priyadi untuk mendaki bukit dan pergi ke sumur tua itu.

Dia merasa penasaran dan juga berduka karena ditegur oleh kedua orang kakak seper"guruannya dan oleh gurunya, merasa rendah diri.

Ingin dia memiliki ilmu kepandaian yang paling tinggi di antara mereka semua agar dia jangan diperhina lagi, jangan dipandang rendah lagi.

Setelah tiba di tepi sumur tua, Priyadi duduk di atas batu besar yang terdapat di dekat sumur dan dia duduk bersila sambil termenung dengan prihatin.

Iiba-tiba dia mendengar suara seperti gerengan yang keluar dari dalam sumur kering yang tua itu.

Tentu saja dia terkejut sekali dan bulu tengkuknya meremang, Pantasnya itu suara iblis dari dalam sumur, pikirnya.

Akan tetapi kemurungannya mendatangkan keberanian yang nekat.

Dia tidak melarikan diri melainkan mendengarkan lebih teliti, mencurahkan segenap perhatiannya terhadap suara itu.

"Heemmmm......hemmmm.....hemmmm.....!"

Suara itu berbunyi lagi, suara yang gemetar, menggigil seperti orang yang kedinginan.

Priyadi turun dari atas batu, berdiri dekat sumur, menghadapinya dan siap untuk membela diri kalau ada iblis keluar dari sumur dan menyerangnya.

Sementara itu, kedaa telinganya mendengarkan dengan penuh perhatian.

Suara itu terdengar lagi dan alangkah herannya ketika suara gerengan itu disusul kata-kata yang menggigil kedinginan.

"Hemmm........ hemm........aduh dinginnya....... hemm......kejam sekali si Limut Manik.......! Heemmmm..... mati aku........ mati kedinginan......!"

Priyadi merasa betapa tengkuknya menjadi tebal dan dingin.

Akan tetapi ditekannya rasa takutnya dan dia lalu menjenguk ke dalam sumur.

Gelap di dalam sumur karena sinar bulan masih berada di timur sehingga hanya menerangi permukaan sumur itu.

Dia mempertajam pandangannya, akan tetapi tidak melihat ada gerakan dalam sumur.

Dengan jantung berdebar dia lalu mengerahkan tenaga lalu berseru ke dalam sumur.

"Siapakah yang berada dalam sumur? Seorang manusiakah yang mengeluarkan kata-kata tadi?"

Hening sejenak dan terdengar gaung suaranya yang membalik setelah menyentuh dasar sumur, terdengar mengerikan seperti suara dari alam lain.

Akan tetapi Priyadi telah dapat menenangkan batinnya dan dia bertekad untuk menyelidiki.

Agaknya sumur ini mengandung rahasia pikirnya.

Siapa tahu di dalam sumur benar-benar ada orangnya.

Tiba-tiba terdengar suara dari dalam sumur.

"Siapa di atas? Engkaukah itu, Limut Manik? Jangan siksa aku lebih lama lagi. Turunlah dan bunuh saja aku, dari pada kau siksa begini, aku sudah tidak tahan lagi!"

Jantung Priyadi berdebar penuh ketegangan.

Tak salah lagi.

Di bawah sana ada orangnya!

Orang yang ada hubungannya dengan mendiang eyang gurunya, Resi Limut Manik.

Orang itu menyebut nama eyang gurunya begitu saja, tentu mempunyai hubungan yang dekat sekali!

"Tunggu, aku akan turun!"

Teriaknya dengan nekat dan dia lalu berlari cepat kembali ke pondok untuk mengambil gulungan tali yang cukup panjang.

Lalu diikatkannya ujung tali itu ke sebatang pohon yang tumbuh dekat sumur, kemudian dengan penuh keberanian dia lalu turun ke dalam sumur melalui tali itu!

Kakinya menyentuh dasar sumur yang kering, akan tetapi gelap.

Ketika dia meraba-raba, dia mendapat kenyataan bahwa sumur itu menembus ke sebuah terowongan yang cukup besar.

"Ah, engkau benar-benar sudah turun ke dalam sumur? Cepat ke sinilah!"

Terdengar suara itu. suara yang menggigil.

"Aku kedinginan dan hampir mati, tak dapat bergerak lagi....."

Priyadi sambil meraba-raba lalu melangkah ke arah suara dari sebelah dalam terowongan.

Tiba-tiba, setelah melangkah agak lama dan jauh, dia melihat sebuah ruangan yang remang-remang, agaknya mendapat penerangan dari atas.

Dia memasuki ruangan itu dan karena matanya sudah terbiasa, dia dapat melihat seorang kakek tua renta duduk di atas batu.

Keadaan kakek itu menyedihkan sekali.

Dia bertelanjang bulat, hanya mengenakan cawat dari kain yang sudah lusuh, tubuhnya kurus kering seperti jerangkong, akan tetapi sepasang matanya demikian tajam seperti mata harimau yang mencorong dalam kegelapan.

"Limut Manik, aku kedinginan tidak mampu turun dari sini, akan tetapi aku masih dapat membunuhmu!"

Setelah berkata demikian, tiba-tiba dua buah lengan yang tinggal tulang terbungkus kulit itu didorongkan ke depan, ke arah Priyadi dan ada hawa pukulan yang dahsyat sekali menyambar disertai suara bercuitan!

Priyadi terkejut bukan main, mengenal pukulan jarak jauh yang ampuh sekali, maka diapun cepat-cepat memasang kuda-kuda dan mendorongkan kedua tangannya dengan Aji Gelap Musti.

Priyadi terlempar bagaikan daun kering tertiup angin dan tubuh belakangnya menghantam dinding terowongan dengan kuat sekali.

Untung dia telah mengerahkan aji kekebalannya sehingga punggungnya tidak remuk.

Akan tetapi dia merasa dadanya sesak.

"Ha-ha-ha-ha! Aku masih kuat, bukan? Engkaupun tidak mampu menahan pukulanku, padahal aku sudah sekarat, ha-ha-ha!"

Jerangkong hidup itu tertawa-tawa dengan riangnya. Priyadi merangkak bangkit.

"Maaf, saya bukan Eyang Resi Limut Manik. Eyang Resi Limut Manik telah meninggal dunia."

Kata Priyadi, tidak berani mendekat lagi.

"Hah? Siapa andika?"

Tanya kakek itu dan agaknya dia baru melihat jelas bahwa orang yang datang itu bukan Resi Limut Manik seperti yang disangkanya semula.

"Andika masih amat muda. Siapa andika?"

Jerangkong itu bertanya dengan suara menggigil dan tubuhnya juga menggigil kedinginan.

Memang hawa di dalam situ teramat dinginnya sehingga Priyadi juga merasakannya.

Timbul rasa kasihan dalam hatinya.

Dia mengenakan baju rangkap ketika keluar dari pondokannya tadi karena hawa amat dingin.

"Nama saya Priyadi, saya murid perguruan Jatikusumo, eyang."

"Hemmm, Siapa gurumu? Siapa ketua Jatikusumo sekarang?"

"Guru saya adalah Sang Bhagawan Sindusakti yang menjadi ketua Jatikusumo."

"Hemmm..... Sindusakti? Dan engkau muridnya? Memalukan sekali, Jatikusumo hanya sebegitu saja tenaganya!"

Tiba-tiba Priyadi mendapat sebuah pikiran yang baik sekali, dia membuka baju luarnya dan menghampiri kakek itu.

"Eyang, mari pakailah baju saya ini agar tidak terlalu dingin."

Dia sendiri menyelimutkan baju itu di atas kedua pundak kakek itu.

"Hemm, engkau boleh juga. Akan tetapi, kaki tanganku kedinginan sampai sukar digerakkan, agaknya darahku sudah membeku........."

Kata kakek itu sambil menggigil.

Tanpa diminta Priyadi segera memijati kaki tangan kakek itu dan mengurut-urut agar jalan darahnya normal kembali.

Setelah kakek itu dapat menggerakkan kaki tangannya, tiba-tiba sekali tangan kiri kakek itu, yang hanya tinggal tulang dan kulit, telah mencengkeram tengkuk Priyadi.

Kuku-kuku yang tajam runcing menusuk kulit tengkuknya.

"Namamu Priyadi? Hayo cepat bawa aku naik dan keluar dari sumur ini. Awas, sekali saja engkau membuat gerakan mencurigakan dan tidak menaati perintahku, sekali cengkeram lehermu akan patah dan engkau akan mati konyol!"

Priyadi dapat merasakan betapa kuatnya tangan yang mencengkeram tengkuk itu. Akan tetapi dia masih bersikap tenang dan dia berkata.

"Eyang ini sungguh aneh. Eyang seorang yang maha sakti, kalau hendak keluar dari sumur apa sih sukarnya, Mengapa harus menyuruh aku?"

"Bodoh! Kedua kakiku sudah lumpuh, dibikin lumpuh oleh si jahanam Limut Manik! Kalau kedua kakiku tidak lumpuh, apakah engkau kira aku betah tinggal di neraka ini sampai puluhan tabun lamanya? Hayo, jangan banyak cakap. Gendong aku di punggungmu dan bawa aku keluar dari sini!"

Berkata demikian, kakek itu memperkuat cengkeramannya pada tengkuk sehingga Priyadi meringis kesakitan. Agaknya aji kekebalannya tidak mempan terhadap tangan kakek yang seperti jerangkong itu.

"Baiklah, eyang, akan tetapi jangan cekik saya keras-keras. Kalau kesakitan, bagaimana saya dapat menggendongmu?"

Ternyata kedua kaki kakek itu tergantung lemas tidak dapat digerakkan, akan tetapi sekali tubuhnya bergerak, tubuh itu sudah melayang ke atas punggung Priyadi dan tangan ktn tetap mencekik tengkuk, sedangkan tangan kanan memegang pundak.

Priyadi merasa betapa ringannya tubuh kakek itu, seringan tubuh kanak-kanak saja.

Akan tetapi, sungguh luar biasa, betapa kuat tenaganya ketika memukulnya tadi.

Dan kakek ini tentu seorang yang amat jahat!

Pikiran ini tiba-tiba saja timbul dalam benaknya.

Selain wataknya yang jahat dapat dirasakannya ketika kakek itu memaksanya membawa keluar dari situ, juga kenyataan bahwa eyang gurunya melumpuhkan kakinya dan memenjarakannya di sumur tua tentu karena orang ini jahat sekali.

Akan tetapi, biarpun jahat, dia amat sakti mandraguna.

Dan hal ini menguntungkan dirinya kalau saja kakek itu mau menurunkan ilmu-ilmunya kepadanya.

Mendadak dia mendapat pikiran yang dianggapnya amat baik.

Setelah tiba di dasar sumur, dia berhenti dan berkata.

"Eyang, aku tidak mau membawamu naik!"

Cengkeraman pada tengkuknya menguat.

"Keparat, mengapa tidak mau?"

Bentak kakek itu.

"Sama saja eyang mau bunuh saya di sini atau di atas. Aku yakin bahwa kalau kita sudah sampai ke atas sumur, eyang akan membunuhku juga."

"Ha-ha-ha, engkau pandai membaca pikiran orang. Memang tadinya aku berpikir begitu. Akan tetapi sekarang tidak. Kalau engkau mau membawaku keluar dari semua ini, aku tidak akan membunuhmu!"

"Bersumpahlah dulu, eyang!"

Priyadi berani menuntut karena dia yakin bahwa kakek itu membutuhkan dia, maka tentu tidak akan membunuhnya.

"Jahanam berani engkau tidak percaya kepadaku? Ingat, aku ini jelek-jelek adalah uwa eyang gurumu. Limut Manik adalah adik seperguruanku, tahu?"

"Biar tenang hatiku, eyang. Bersumpahlah dulu."

"Hemm, baiklah. Aku bersumpah tidak akan membunuhmu setelah engkau membawa aku keluar dari sumur ini."

"Masih ada lagi, eyang. Aku minta agar setelah eyang kubawa keluar dari sumur, eyang akan mengangkat aku sebagai murid."

"Apa? Engkau sudah mempelajari semua aji dari Jatikusumo? Apa lagi yang dapat kuajarkan?"

"Aji pukulan yang eyang pergunakan tadi, aku ingin eyang mengajarkannya kepadaku setelah aku membawa eyang keluar dari sini."

"Gila! Aji pukulan Margapati yang kulatih selama puluhan tahun kuajarkan kepadamu? Enak saja!"

"Dengan Aji Margapati ini, aku ingin menjadi pendekar nomor satu di dunia! Dan aku dapat menjadi pembantu eyang yang setia, pembantu dan murid yang akan mengangkat nama eyang tinggi-tinggi!"

"Tidak, aku tidak akan mengajarkan Aji Margapati kepada siapapun juga. Kepadamu pun tidak."

Kata kakek itu dengan kukuh.

"Kalau begitu aku tidak mau membawamu, naik dan keluar dari neraka ini!"

Kata Priyadi sama kukuhnya. Cengkeraman tangan di tengkuknya itu menguat.

"Kau akan kubunuh!"

"Biarlah aku mati bersamamu di neraka ini, eyang. Kalau eyang mau berjanji dengan sumpah bahwa eyang akan mengajarkan Aji Margapati kepadaku, baru aku akan membawa eyang naik."

Hening sejenak dan tiba-tiba kakek itu tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha-ha! Engkau penuh keberanian! Engkau juga licik. Engkau seperti aku, di luarnya tampak bodoh akan tetapi sebetulnya mengandung kecerdikan luar biasa. Baiklah, aku akan mengajarkan Margapati kepadamu, Priyadi,"

"Bersumpahlah dulu, eyang agar kalau eyang nanti melanggar sumpah dan membunuhku, biar aku mati, akan tetapi Eyang akan dikejar-kejar sumpah sendiri sehingga hidupmu tidak akan tenteram."

"Sialan! baiklah. Aku bersumpah akan mengajarkan Margapati kepadamu setelah engkau membawaku keluar dari sini."

"Nah, begitu baru baik, eyang. Kita sama-sama untung. Apa eyang berpikir akan dapat hidup sendiri di luar sana? Eyang lumpuh, dan tidak mempunyai apa-apa. Siapa yang akan merawat dan melayanimu. Akan tetapi kalau eyang mengangkatku sebagai murid, aku akan mencarikan tempat tinggal yang tersembunyi bagi eyang, aku yang akan mencarikan makanan dan minuman untuk eyang, dan mencarikan pakaian untuk melindungi tubuh eyang dari bawa dingin."

"Heh-heh-ha-ha, untung engkau mengingatkan aku akan hal itu, Priyadi. Kalau aku sudah terburu -buru membunuhmu, tentu aku akan rugi besar, Hayo kita naik!"

"Pegang pundakku kuat-kuat, eyang!"

Kata Priyadi, lalu dia memegang tali itu dan merayap naik dengan cepat.

Beban tubuh kakek itu seperti tidak terasa olehnya.

Dengan waktu cepat dia sudah tiba di atas sumur tua.

Tiba -tiba kakek itu membuat gerakan dan tubuhnya sudah meloncat turun dari atas punggung Priyadi.

Di bawah sinar bulan yang cukup terang Priyadi kini dapat melihat kakek itu dengan jelas.

Keadaan kakek itu memang mengerikan.

Tubuh yang seperti jerangkong itu saja sudah mengerikan.

Wajahnya seperti tengkorak hidup, akan tetapi sepasang matanya mencorong.

Kini Priyadi dapat melihat dia "berdiri", bukan berdiri di atas kedua kaki seperti biasa, melainkan bersimpuh.

Kedua kakinya ditekuk tidak berdaya.

Agaknya dia lumpuh dari paha ke bawah.

Akan tetapi ketika dia mendekati Priyadi, tubuhnya mencelat seperti seekor katak saja, ringan dan cepat.

Kiranya kakek ini dapat leluasa bergerak dengan berloncatan, akan tetapi tentu saja kemampuan itu tidak cukup untuk membuat dia dapat keluar dari dalam sumur yang cukup dalam itu.

"Priyadi, aku harus tinggal di mana? Jangan sampai terlihat orang lain, aku tidak ingin menjadi perhatian orang sebelum dapat berpakaian dan muncul secara wajar di depan orang banyak."

Kata kakek itu, agak bingung.

"Nah, jelaslah bahwa eyang membutuhkan aku, bukan? Jangan khawatir, eyang. Mari kita pergi ke balik bukit. Di sana terdapat banyak guha dan tempat itu jarang didatangi orang. Eyang dapat tinggal di sebuah di antara guha-guba itu untuk sementara waktu. Apakah eyang minta digendong lagi?"

"Tidak perlu. Setelah berada di sini, aku dapat bergerak sendiri. Apa kau kira akan dapat berlari lebih cepat daripada aku? Hayo tunjukkan ke mana kita akan menuju!"

Priyadi menunjuk ke puncak bukit.

"Kita akan melalui puncak bukit itu. lalu turun ke balik puncak "

"Bagus. Mari kita berlumba, siapa yang dapat sampai ke puncak itu lebih dulu!"

Tentu saja Priyadi memandang rendah kepada kakek itu.

Sesakti-saktinya, kakek yang kedua kakinya sudah lumpuh itu mana mampu berlari cepat?

"Engkau akan kalah, eyang.

Aku sudah mempelajari Aji Harina Legawa dan dapat berlari cepat seperti seekor kijang."

"Ha-ha-ha. Aji Harina Legawa? Aku menguasai aji kecepatan yang jauh lebih dari itu. Kusebut aji itu Aji Tunggang Maruto. Hayo kita berlumba. Berangkatlah engkau lebih dulu, nanti kususul!"

Priyadi tidak percaya akan tetapi juga merasa girang.

Kalau benar kata kakek itu, berarti dia akan dapat mempelajari banyak ilmu yang hebat-hebat dari kakek ini!

Maka dia mengerahkan tenaganya, menggunakan Aji Harina Legawa dan tubuhnya sudah melesat bagaikan kijang melompat ke depan dan dia berlari cepat ke arah puncak bukit.

Akan tetapi ketika dia berada di puncak bukit dengan napas agak terengah karena dia sudah mengerahkan seluruh tenaganya, dia melihat kakek lumpuh itu sudah berdiri atau duduk di atas sebuah batu sambil tertawa tawa.

"Ha-ha-ha, larimu lambat sekali, Priyadi!"

Priyadi yang cerdik langsuog saja menjatuhkan dirinya berlutut di depan kakek itu sambil menyembah.

"Saya yang bodoh mohon banyak petunjuk dari eyang yang sakti mandraguna."

"Ha-ha-ha, jangan khawatir, bocah bagus. Dalam waktu yang tidak lama engkau akan menjagoi di seluruh nusantara!"

Mereka lalu menuruni puncak dan menuju ke balik bukit itu.

Priyadi membawa kakek itu ke daerah yang berbatu-batu dan benar saja di dinding bukit itu terdapat banyak guha.

Mereka memilih sebuah guha terbesar dan di situlah kakek itu tinggal untuk sementara waktu.

Priyadi lain mengumpulkan rumput dan jerami kering untuk dijadikan tilam di lantai guha, membersihkan guha itu dan menjelang subuh dia berpamit.

"Eyang, sekarang saya mohon diri lebih dulu, karena kalau saya tidak pulang, tentu bapak guru dan para saudara seperguruan akan mencari saya dan mencurigai saya. Siang nanti saya akan mencari kesempatan untuk berkunjung kesini membawa makanan dan minuman untuk eyang, juga akan saya bawakan seperangkat pakaian untuk eyang. Sebelum saya pergi, bolehkah saya mengetahui nama eyang?"

"Heh-heh-heh, anak baik. Aku girang tidak membunuhmu. Ternyata engkau memang amat berguna bagiku. Ketahuilah, aku masih terhitung kakak seperguruan mendiang Resi Limut Manik, adapun nama julukanku dahulu adalah Resi Ekomolo. Nama besarku terkenal di seluruh Mataram, bahkan di Mataram aku dijuluki orang Alap-alap Mataram. Nah, pergilah dan cepat kembali membawa makanan yang enak-enak. Di neraka itu, aku hanya makan jamur-jamur mentah dan lumut lumut dan hanya setiap malam Jumat gurumu mengirimkan makanan yang pantas. Aku ingin sekali makan daging sapi atau daging kambing."

Priyadi meninggalkan tempat itu, menyeberangi puncak bukit dan sebelum ayam berkokok dia sudah kembali ke dalam kamar di pondoknya.

Dia bekerja di ladang bersama para murid lain seperti biasa dan setelah dia memperoleh kesempatan, dia membawa makanan dan juga seperangkat pakaiannya sendiri untuk diberikan kepada Resi Ekomolo.

Resi Ekomolo gembira sekali.

Pakaian bersih segera dikenakan di tubuhnya dan diapun makan minum dengan lahapnya.

Setelah kenyang, diapun memandang kepada pemuda itu dan berkata.

"Aku suka padamu, Priyadi. Aku akan mengajarkan ilmu-ilmuku yang hebut kepadamu Mulai sekarang engkau harus mempelajari dan melatih ilmu-ilmu yang kuajarkan dengan baik."

"Terima kasih, eyang. Akan tetapi saya harus mencari waktu yang luang. Sebaiknya setiap malam, kalau semua orang sudah tidur, saya datang ke sini dan belajar ilmu dari eyang. Kalau tidak demikian, tentu akan ada orang yang mengetahuinya."

"Baik, memang aku tidak ingin ada orang mengetahuinya. Engkau adalah murid Jatikusumo dan kulihat engkau sudah mempelajari ilmu-ilmu aliran Jatikusumo dengan baik. Karena ilmu-ilmu yang kurangkai juga berdasarkan aliran Jatikusumo, maka aku yakin dalam waktu cepat engkau akan dapat menguasainya. Kalau engkau sudah mewarisi ilmu-ilmu yang kuajarkan, engkau harus menjadi ketua Jatikusumo, karena tidak akan ada orang di Jatikusumo yang akan mampu menandingimu. Bahkan gurumu sendiri Bhagawan Sindusakti tidak akan dapat mengalahkanmu!"

"Akan tetapi, eyang!"

Seru Priyadi dengan mata terbelalak karena terkejut mendengar kata-kata Itu. Bagaimana mungkin saya akan mampu mengalahkan Bapa Guru?"

"Ha-ha-ha. engkau masih meragukan kemampuanku? Dengar! Dahulu, di antara perguruan kami, tingkat kepandaianku yang paling tinggi! Sampai kemudian guru kami menurunkan dua pu"saka berikut ilmunya kepada Resi Limut Manik sehingga terpaksa aku kalah olehnya. Resi Limut Manik dapat mengalahkan aku berkat dua ilmu yang dirahasiakan guru kami dan kemudian diturunkan kepada Resi Limut Manik. Kalau tidak oleh kedua ilmu itu, tidak ada yang mampu menandingiku!"

"Dua pusaka dan ilmunya itu, apa saja, eyang?"

"Ada dua buah pusaka yang oleh Bapa Guru diberikan kepada Resi Limut Manik berikut ilmunya. Yang pertama adalah Pedang Kartika Sakti berikut ilmu pedangnya dan yang kedua adalah Pecut Bajrakirana berikut ilmu pecutnya. Ilmu-ilmu dan pusaka itu merupakan pusaka dan ilmu rahasia, maka tentu Resi Limut Manik tidak akan memberikan kepada para muridnya dan gurumu tentu juga tidak memiliki pusaka dan menguasai ilmunya. Akan tetapi tentang ilmu pedang Kartiko Sakti, engkau tidak perlu khawatir karena aku telah merangkai ilmu Margapati yang mampu mengalahkan lima pedang Kartika Sakti. Hanya yang kukhawatirkau Pecut Sakti Bajrakirana itu! Pecut itu hebat sekali, demikian pula ilmu pecutnya dan agaknya akan sukar sekali dapat mengalahkan ilmu itu. Karena itu, engkau harus menyelidiki di mana adanya dua pusaka berikut ilmu-ilmunya yang tertulis dalam kitab. Kalau engkau mampu menguasai kedua ilmu itu, bukan saja semua murid Jatikusumo tidak mampu menandingimu, bahkan seluruh pendekar di nusantara tidak ada yang akan mampu mengalahkanmu!"

Priyadi teringat akan Cerita Maheso Seto dan Rahmmi tentang kedua macam pusaka dan ilmu-ilmunya itu.

Setelah Sang Resi Limut Manik meninggal dunia dua macam pusaka dan ilmunya itu telah terjatuh ke tangan dua orang cucu muridnya, yaitu Puteri Wandansari dan seorang pemuda bernama Sutejo!

Pedang dan ilmu pedang Kartika Sakti telah dikuasai oleh Puteri Wandansari, adik seperguruannya sendiri, sedangkan pecut sakti Bajrakirana berikut kitabnya telah dikuasai Sutejo!

Akan tetapi hal ini tidak diceritakannya kepada Resi Ekomolo dan disimpannya sendiri sebagai rahasia hatinya.

Kalau disampaikan sekarang, hal itu tentu akan meresahkan sang resi dan jangan-jangan akan mengubah niatnya untuk mewariskan ilmu-ilmunya kepadanya.

Karena itu diapun menyembah dan menjawab.

"Baik, eyang. Semua pesan eyang akan saya perhatikan dan junjung tinggi. Setelah menerima ilmu-ilmu dari eyang, saya akan berusaha untuk mencari dan mendapatkan dua pusaka dan ilmunya itu."

"Mulai malam nanti, datanglah ke sini. Aku akan mulai mengajarkan ilmu-ilmu simpananku kepadamu. Akan tetapi pesanku yang tidak boleh kau langgar, yaitu sebelum aku menyatakan ilmu-ilmumu sudah sempurna dan tamat belajar, engkau tidak boleh sekali-kali mempergunakan ilmu itu untuk bertanding dengan orang lain sehingga ilmu itu akan diketahui orang "

"Baiklah, eyang saya berjanji akan melaksanakan perintah eyang."

Demikianlah, mulai malam hari itu Priyadi digembleng oleh Resi Ekomolo dan karena memang dia telah menguasai dasar ilmu silat aliran, Jatikusumo sedangkan ilmu-ilmu yang dirangkai oleh kakek itu juga berdasarkan aliran Jatikusumo, maka dia dapat menguasai ilmu-ilmu yang diajarkan dengan mudah.

Memang pada dasarnya pemuda ini juga memiliki bakat yang amat baik.

Dia menerima ilmu-ilmu yang langka, seperti ilmu keringanan dan kecepatan tubuh Tunggang Maruto yang membuat dia dapat bergerak seperti angin cepatnya, Aji Pukulan Margopati yang hebat bukan kepalang karena angin pukulannya saja sudah cukup untuk membunuh lawan.

Selain itu, yang membuat Priyadi girang bukan main adalah ketika kakek itu mengajarkaa dia Aji Pengasihan Mimi Muntuno dan Aji Penyirepan Begonondo!

Juga dia diberi Aji Jerit Nogo, yaitu semacam ilmu pekik yang dapat membuat lawan runtuh semangatnya dan juga membuat semua serangan sihir menjadi punah.

Setiap malam Priyadi mendatangi guha itu dan berlatih dengan tekun, juga di waktu siang, apa bila terdapat kesempatan menyendiri di kamarnya, dia berlatih dengan rajin sekali.

Bhagawan Sindusakti dihadap keempat orang muridnya, yaitu Maheso Seto, Rahmini, Priyadi dan Cangak,Awu.

Bhagawan Sindusakti yang sudah tua, berusia hampir tujuh puluh tahun itu sudah mulai lemah dan sakit-sakitan.

Menyadari akan hal ini, dia lalu memanggil semua muridnya, yaitu murid kepala yang semua berjumlah lima orang bersama Puteri Wandansari.

Karena sang puteri tidak berada di situ dan sudah pulang ke Mataram, maka dia hanya memanggil empat orang muridnya itu.

Mereka berkumpul di ruangan depan yang luas.

Bhagawan Sindusakti duduk bersila di atas sebuah dipan dan empat orang muridnya duduk bersimpuh di atas lantai.

"Murid-muridku, sekarang kukira sudah tiba saatnya bagi kita untuk membicarakan soal perguruan kita Jatikusumo. Aku sudah mulai tua dan lemah, tidak bersemangat lagi untuk bekerja keras pada hal untuk memajukan perguruan, kita membutuhkan semangat muda yang bernyala-nyala. Akan tetapi sebelum kedudukan ketua kuserahkan kepada kalian murid-muridku, terutama sekali tentu saja kepada Maheso Seto sebagai murid kepala yang pertama, aku ingin membicarakan tentang pusaka-pusaka Jatikusumo yang kini telah lepas dari tangan mendiang eyang guru kalian Resi Limut Manik. Kalian sudah yakinkah, Maheso Seto, Rahmini dan Cangak Awu, bahwa pusaka Pedang Kartika Sakti dan kitab pelajaran ilmu pedang Kartika Sakti berada di tangan Puteri Wandanuri, dan kitab pelajaran ilmu pecut Bajrakirana berada di tangan murid mendiang Adi Bhagawan Sidik Paningal yang bernama Sutejo?"

"Kami bertiga mendengar sendiri pengakuan mereka berdua. Bapa Guru. Pedang dan kitab Kartika Sakti berada di tangan diajeng Wandansari dan kitab Bajrakirana berada di tangan Sutejo murid mendiang Paman Bhagawan Sidik Paningal itu. Sedangkan Pecut Sakti Bajrakirana menurut keterangan mereka berdua di tangan Paman Bhagawan Jaladara."

"Hemm, aku masih merasa heran dan aneh sekali mendengar betapa Adi Bhagawan Jaladara mengeroyok dan membunuh Bapa Guru Resi Limut Manik"

Kata Bhagawan Sindusakti sambil mengelus jenggotnya yang putih.

"Akan tetapi, kedua pusaka dan kitabnya itu seharusnya berada di sini, karena dua benda berharga itu merupakan pusaka perguruan Jatikusumo. Karena itu kalian berempat mempunyai kewajiban untuk mendapatkan kembali benda-benda itu agar perguruan Jatikusumo tidak kehilangan pusakanya. Untuk mendapatkan kembali Pedang Kartika Sakti dan kitabnya, kurasa tidaklah sukar karena kedua benda itu berada di tangan Puteri Wandansari, adik seperguruan kalian sendiri. Kalian dapat membujuknya untuk mengembalikannya ke sini. Adapun tentang Pecut Bajrakirana, kalian temuilah paman kalian Bhagawan Jaladara dan katakan bahwa aku yang minta agar dia menyerahkan pecut pusaka itu kepada perguruan kita, sedangkan kitab pelajaran Pecut Bajrakirana dapat kalian minta dari tangan Sutejo. Kalau dia tidak mau menyerahkannya, kalian boleh menggunakan kekerasan, karena dia sebagai murid aliran Jatikusumo berarti telah menentang perguruan sendiri."

"Ketika itu, saya dan diajeng Rahmini juga sudah ingin merampas kedua kitab dan pedang Kartika Sakti dari tangan Sutejo dan diajeng Wandansari dengan kekerasan, akan tetapi Adi Cangak Awu mencegah dan mengatakan bahwa tidak baik ribut dengan saudara seperguruan sendiri dan menyarankan agar kami melapor kepada Bapa Guru."

"Hemm, memang benar pendapat Cangak Awu. Akan tetapi kalau mereka tidak mau menyerahkan pusaka dan kitab yang sudah menjadi hak perguruan Jatikusumo itu, terpaksa kita harus mempergunakan kekerasan! Nah, sekarang selagi kita berkumpul, kalau sekiranya ada sesuatu yang hendak kalian tanyakan, maka katakanlah?"

"Saya hendak bertanya, Bapa Guru untuk membujuk diajeng Wandansari mengembalikan pedang dan kitabnya, tentu saja merupakan hal yang mudah dilakukan. Apa lagi kalau kami katakan bahwa Bapa Guru yang memerintahkan, tentu ia akan menurut dan menyerahkan pusaka itu. Untuk mengambil kembali kitab Bajrakirana dari tangan Sutejo juga bukan hal yang sukar karena kalau pemuda itu tidak mau menyerahkan, dan kami menggunakan kekerasan, tentu dia tidak dapat menolak lagi dan tidak akan mampu melawan kami. Akan tetapi bagaimana kalau Paman Bhagawan Jaladara menolak untuk memberikan pecut Bajrakirana kepada kami? Kami tidak berani me lawannya dan tentu akan kalah."

Kata Mahesa Seto.

Kata-kata bantahan sudah berada di ujung lidah Priyadi.

Hampir saja dia mengatakan bahwa dia sanggup untuk menandingi dan menang melawan paman guru mereka, Bhagawan Jaladara.

Akan tetapi segera dia teringat akan pesan Resi Ekomolo, maka dia menahan diri dan diam saja sambil menundukkan mukanya.

"Hemm, kalau pamanmu Bhagawan Jaladara menolak untuk menyerahkan pecut Bajrakirana, biar aku sendiri yang akan menghadapinya."

Kata Bhagawan Sindusakti.

"Akan tetapi aku sungguh tidak mengerti dan masih merasa heran sekali mendengar bahwa mendiang Bapa Guru Limut Manik menyerahkan kitab-kitab pelajaran pecut Bajrakirana dan pedang Kartika Sakti kepada Sutejo dan Wandansari. Pada hal Bapa Guru pernah bercerita bahwa kedua ilmu simpanan dari aliran Jatikusumo itu tidak akan diturunkan kepada siapapun Juga. karena kedua ilmu itulah yang sanggup menundukkan iblis itu."

Priyadi terkejut dan teringat akan gurunya yang masih menjadi rahasia.

"Bapa Guru, siapa yang Bapa Guru maksudkan dengan iblis yang hanya dapat ditundukkan oleh kedua ilmu pusaka itu?"

Tanyanya. Bhagawan Sindusakti tampak terkejut, dan dia merasa bahwa dia telah kelepasan bicara.

"Ah, tidak..... dia adalah seorang jahat yang sakti mandraguna, akan tetapi telah ditundukkan oleh mendiang eyang guru kalian,"

Jawabnya mengelak.

Akan tetapi Priyadi tidak merasa puas.

Dia yakin bahwa apa yang disinggung gurunya itu mengenai diri Resi Ekomolo, maka diapun mengejar dengan hati-hati agar jangan membocorkan rahasianya.

"Bapa guru, saya telah mengenal saudara-saudara seperguruan Bapa guru, yaitu mendiang Paman Bhagawan Sidik Paningal dan Paman Bhagawan Jaladara. Akan tetapi saya tidak mengenal siapa saudara seperguruan mendiang Eyang Resi Limut Manik. Jatikusumo adalah sebuah perguruan besar, kiranya tidak mungkin kalau yang mewarisi hanya mendiang Eyang Guru seorang. Saya kira perlu sekali bagi saya untuk mengenal siapa adanya para paman eyang guru agar kelak kalau bertemu dengan murid-murid dan keturunan mereka tidak akan menjadi asing. Bapa Guru."

Bhagawan Sindusakti menghela napas dan sampai beberapa lamanya tidak dapat menjawab.

"Apa yang dikatakan Kakang Priyadi itu ada benarnya, Bapa Guru. Saya sendiri juga ingin sekali mengetahui siapa adanya para paman eyang guru saya."

Kata Cangak Awu, raksasa muda itu.

"Kami berdua juga ingin sekali mendengar riwayatnya, Bapa Guru.' kata Muheso seto dan isterinya, Rahmini mengangguk menyetujui. Beberapa kali Bhagawan Sindusakti menghela napas panjang.

"Hemm, agaknya riwayat itu memang sudah semestinya kalian ketahui agar dapat kalian jadikan contoh. Baiklah, akan kuceritakan semuanya mengapa kedua pusaka itu tidak diajarkan kepada para murid, dan mengapa pula Pecut Sakti Bajrakirana menjadi pusaka lambang kebenaran Jatikusumo"

Kembali Bhagawan Sindusakti berhenti sampai lama dan beberapa kali menghela napas panjang.

Sementara itu, empat orang muridnya menunggu dau mendengarkan dengan penuh perhatian.

Dengan suaranva yang lembut dia lalu bercerita, Beginilah ceritanya.

Resi Jatikusumo pendiri dari perguruan Jatikusumo, memiliki dua orang murid kepala, yaitu Resi Limut Manik dan Resi Ekomolo.

Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 22

Baca Juga: Pendekar Super Sakti 15

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert