Ceritasilat Novel Online

Pecut Sakti Bajrakirana 4

Eps 4 Pecut Sakti Bajrakirana - Kho Ping Hoo

Baca online Pecut Sakti Bajrakirana - Kho Ping Hoo

Cersil Pecut Sakti Bajrakirana - Kho Ping Hoo.

Biarpun Resi Ekomolo merupakan murid tertua dan memiliki ilmu kepandaian tertinggi, namun Maha Resi Jatikusumo tidak begitu menyukainya karena wataknya yang keras dan juga akhir-akhir ini menunjukkan bahwa dia seorang yang masih menjadi hamba nafsu-nafsunya sendiri.

Oleh karena itu, diam-diam Resi Jatikusumo memberikan dua buah pusaka berikut ilmunya kepada Resi Limut Manik.

Dua buah pusaka itu pertama adalah Pecut Bajrakirana berikut ilmunya dan Pedang Kartika Sakti berikut ilmunya.

Bahkan Pecut Sakti Bajrakirana dijadikan lambang kebesaran perguruan Jatikusumo dan Resi Jatikusumo mengumumkan kepada semua muridnya bahwa barang siapa memegang dan memiliki pecut itu, maka berarti dia memiliki kekuasaan penuh di Jatikusumo dan harus, ditaati semua murid lain!

Sebagai pemilik Pecut Sakti Bajrakirana dan Pedang Kartika Sakti Sang Resi Limut Manik menggantikan kedudukan sebagai ketua perguruan Jatikusumo setelah Resi Jatikusuma meninggal dunia.

Resi Ekomolo yang menjadi murid tertua, tentu saja merasa tidak senang, iri hati dan marah sekali, Akan tetapi karena hal itu sudah menjadi peraturan yang dipesankan guru mereka, dia tidak dapat menentangnya, Akan tetapi, setelah gurunya meninggal dunia, Resi Ekomolo semakin menjadi liar.

Dia semakin dalam terperosok ke dalam cengkeraman nafsu-nafsunya sehingga dia melakukan segala macam perbuatan sesat.

Dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, tidak ada yang dapat menghalangi perbuatannya.

Merampas harta benda orang, merampas isteri atau anak gadis orang, babkan memperkosa wanita menjadi kebiasaannya sehingga namanya tersohor sebagai seorang penjabat yang amat kejam, mudah saja membunuhi orang yang tidak berdosa.

Resi Limut Manik sebagai ketua Jatikusumo dengan segala kesabarannya berusaha untuk memberi nasihat dan peringatan kepada kakak seperguruannya yang menyeleweng itu.

namun semua nasihatnya tidak diturut, bahkan perbuatan jahat Resi Ekomolo semakin nekat dan liar.

Ketika Resi Ekomolo memperkosa beberapa orang murid wanita Jatikusumo dan membunuh beberapa orang murid pria, kesabaran Resi Limut Manik sudah di batas kemampuannya.

Siapapun yang menjadi penghalang bagi Resi Ekomolo tentu dibunuhnya dan Resi Limut Manik tahu bahwa kalau hal itu dibiarkannya saja, maka akan semakin banyak jatuh korban yang tidak berdosa.

Yang paling akhir dari kejahatan Resi Ekomolo dan yang membuat Resi Limut Manik tidak dapat bersabar lagi adalah ketika Resi Ekomolo berusaha menggagahi isteri Resi Limut Manik namun gagal karena wanita itu lebih dulu membunuh diri dengan sebatang keris.

Wanita itu memilih mati daripada tubuhnya dijamah Resi Ekomolo.

"Wah, jahat sekali........!! seru Rahmini ketika mendengar penuturan gurunya itu.

"Sungguh kejam!"

Kata pula Cangak Awu. Maheso Seto diam saja dan Priyadi yang mendengarkan ini membayangkan keadaan Resi Ekomolo sekarang, yang sudah menjadi gurunya.

"Memang jahat dan kejam sekali Resi Ekomolo seolah telah merubah menjadi iblis karena merasa tidak ada yang berani menghalangi perbuatannya. Bapa Guru Resi Limut Manik yang kematian isterinya itu lalu bertindak, menegur kakak seperguruannya itu akan tetapi Uwa Resi Ekomolo malah menantangnya. Terjadilah perkelahian yang dahsyat. Keduanya sama sakti mandraguna, bahkan Bapa Guru Resi Limut Manik nyaris kalah karena saktinya Uwa Resi Ekomolo. Mereka bertanding sampai setengah hari dan akhirnya Bapa Guru terdesak. Karena dirinya terancam bahaya maut Bapa Guru lalu mengeluarkan Aji Bajrakirana, menggunakan pecut sakti itu. Dengan aji kesaktian yang amat hebat ini, barulah Uwa Resi Ekomolo dapat dikalahkan. Kedua kakinya terkena lecutan pecut sakti dan menjadi lumpuh. Bapa Guru Resi Limut Manik masih tidak tega untuk membunuhnya, hanya menyingkirkannya dari dunia ramai agar dia tidak membuat ulah yang jahat lagi karena biarpun kedua kakinya sudah lumpuh, namun dia tetap saja memiliki kesaktian yang tidak sembarang orang mampu menandinginya. Nah, begitulah ceritanya. Karena itu, maka untuk berjaga-jaga, Bapa Guru Limut Manik tidak menurunkan kedua ilmu yang merupakan pusaka itu kepada para muridnya. Bahkan aku sendiri tidak diajari kedua ilmu itu."

Setelah Bhagawan Sindusakti selesai bercerita, suasana menjadi hening sekali.

Empat orang murid itu terkesan sekali oleh cerita itu.

Tak disangkanya bahwa di perguruan Jatikusumo ada riwayat yang demikian mencemarkan nama besar perguruan mereka.

"Dan sekarang, di mana adanya Uwa Eyang Guru yang bernama Resi Ekomolo itu, Bapa Guru?"

Tanya Priyadi dengan suara yang wajar. Sampai lama Bhagawan Sindusakti tidak menjawab, melainkan menghela napas panjang. Akhirnya dia berkata dengan suara datar.

"Tidak ada yang tahu di mana dia berada, sudah meninggal dunia ataukah masih hidup. Sudahlah, kita tidak perlu memikirkan dia yang sudah menerima hukumannya dan mudah-mudahan cerita ini dapat menjadi contoh bagi kalian agar jangan sampai melakukan tindakan yang menyimpang dari kebenaran dan kebaikan."

Diam-diam Priyadi mencatat bahwa orang lumpuh yang kini menjadi gurunya adalah seorang yang amat jahat, licik dan juga kejam.

Dia harus berhati-hati menghadapi orang Seperti itu, walaupun orang itu telah menjadi gurunya dan kini sedang menurunkan ilmu-ilmu simpanannya kepadanya.

Pada saat itu terdengar suara orang-orang bicara di depan pondok dan muncullah seorang murid Jatikusumo melapor kepada Bhagawan Sindusakti.

"Paman Guru Bhagawan Jaladara datang berkunjung!"

Mendengar laporan ini, Bhagawan Sindusakti mengangguk-angguk dan berkata.

"Kebetulan sekali dia, datang! Silakan masuk!"

Murid Jatikusumo itu lalu keluar dan tak lama kemudian Bhagawan Jaladara muncul.

Melihat betapa dia disambut pandang mata yang tajam menyelidik dan alis berkerut dari kakak seperguruan dan para murid keponakannya, Bhagawan Jaladara hanya tersenyum lebar.

Mukanya yang hitam itu tidak membayangkan sesuatu dan tubuhnya yang tinggi besar melangkah dengan tegapnya ke dalam ruangan itu.

"Kakang Sindusakti, aku menguapkan salam!"

Kata Bhagawan Jaladara dengan suara lantang dan ramah.

"Terima kasih, Adi Jaladara. Kebetulan sekali engkau datang. Kami memang sedang membicarakan tentang engkau dan perbuatanmu yang membuat aku sungguh merasa heran dan tidak mengerti."

"Eh? Perbuatanku yang manakah yang membuat engkau merasa heran dan tidak mengerti, Kakang Sindusakti?"

Tanya Bhagawan Jaladara dengan mata terbelalak dan pandang mata penuh pertanyaan.

"Mengapa engkau begitu tega hati mengeroyok dan membunuh Bapa Guru Resi Limut Manik?"

Tanya Bhagawan Sindusakti dengan sinar mata tajam penuh selidik. Bhagawan Jaladara terlonjak dari tempat duduknya.

"Hei! Siapa yang mengatakah hal itu?"

Teriaknya penasaran.

"Tiga orang muridku ini yang menceritakan kepadaku, yaitu Maheso Seto, Rahmini, dan Cangak Awu."

Bhagawan Jaladara memandang kepada mereka bertiga dan berseru kepada Maheso Seto.

"Maheso Seto. aku selama ini mengenalmu sebagai seorang pendekar yang gagah perkasa. Kenapa sekarang engkau menceritakan kebohongan di depan gurumu? Apakah engkau menyaksikan sendiri aku membunuh Bapa Guru Limut Manik?"

"Sesungguhnya kami bertiga tidak melihatnya sendiri, Paman Bhagawan Jaladara. Kami hanya mendengar keterangan dari Sutejo dan diajeng Puteri Wandansari bahwa paman dan tiga orang lain telah mengeroyok Eyang Resi sehingga Eyang Resi terluka dan meninggal dunia."

"Itu fitnah besar! Kakang Sindusakti, sekarang aku mengerti para muridmu hanya mendengar fitnah itu dari Sutejo dan Wandansari. Hal ini tidak aneh karena sebetulnya yang membunuh Bapa Guru Resi Limut Manik, bukan lain adalah Sutejo dan Wandansari sendiri!"

Ucapan ini tentu saja membuat Bhagawan Sindusakti dan empat orang muridnya menjadi terkejut bukan main.

Kalau mendengar Sutejo yang membunuh, hal itu tidaklah amat mengherankan karena pemuda itu bukan langsung murid Jatikusumo.

Akan tetapi Puteri Wandansari?

Membunuh eyang gurunya sendiri?

"Adi Jaladara!

Bagaimana engkau bisa menuduh Wandansari yang melakukan pembunuhan terhadap Bapa Guru?

Apa buktinya?

Jangan sembarangan menuduh tanpa bukti!"

Kata Bhagawan Sindusakti yang tentu saja membela muridnya.

"Tenanglah, kakang Sindusakti. Aku bukan hanya sembarangan menuduh tanpa alasan yang kuat. Dengarkan ceritaku. Engkau tentu sudah mendengar betapa Mataram bersikap sewenang-wenang terhadap para adipati dan bupati di daerah timur, di antaranya Wirosobo. Karena itu Wirosobo berusaha untuk membebaskan diri dari cengkeraman Matarama. Sebagai kawula Wirosobo tentu saja aku membela Wirosobo. Aku menghadap Bapa Guru dan engkaupun tahu bahwa Bapa Guru Resi Limut Manik berasal dari daerah Wirosobo, sehingga dia menjadi kawula Wirosobo pula. Maka sudah sepatutnya kalau Bapa Guru juga membela dan berpihak kepada Wirosobo. Beliau menyatakan ini kepadaku, bahkan Bapa Guru menyerahkan Pecut Sakti Bajrakirana untuk disampaikan kepada Kakang Sindusakti sebagai ketua Jatikusumo dan untuk dipergunakan berjuang membela Wirosobo dari penjajah Mataram!"

Kata-kata Jaladara ini diucapkan penuh semangat.

"Akan tetapi mana pusaka itu? Kenapa engkau tidak jug"

Menyerahkannya kepadaku?"

Tuntut Bhagawan Sindusakti.

"Aku memang tidak berani membawanya, Kakang Sindusakti. Aku takut kalau-kalau Sutejo dan Wandansari akan menghadangku dan merampas Pecut Bajrakirana itu. Aku masih menyimpannya di rumahku, akan tetapi sudah pasti akan kuserahkan kepadamu. Sekarang kulanjutkan ceritaku. Ketika untuk kedua kalinya aku datang berkunjung ke padepokan Bapa Guru, aku melihat kedua cantrik Penggik dan Pungguk sudah menggeletak tewas di depan pondok, dan Bapa Guru juga telah tewas di dalam pondok. Dan di situ terdapat Sutejo dan Wandansari! Tidak salah lagi, kedua orang pengkhianat itu yang telah membunuh eyang guru mereka sendiri!"

"Akan tetapi apa sebabnya? Apa alasannya untuk memperkuat tuduhanmu itu?"

"Alasannya mudah dan wajar saja, Kakang Sindusakti. Tentu saja Wandansari membela kerajaan ayahnya dan agaknya Sutejo juga membela Mataram. Keduanya membela Mataram, maka mereka tentu saja memusuhi Bapa Guru yang membela Wirosobo! Itulah sebabnya mengapa mereka membunuh Bapa Guru."

Bhagawan Sindusakti menggeleng-geleng kepala, mengerutkan alis, hatinya masih bimbang ragu.

Alasan itu belum kuat.

Bagaimanapun juga, Mataram belum berperang secara terbuka melawan Wirosobo, mengapa mereka harus membunuh Bapa Guru yang berpihak kepada Wirosobo?"

"Maaf, Bapa Guru. Saya kira saya menemukan alasan yang amat kuat untuk itu"

Kata Priyadi tiba-tiba kepada gurunya. Semua orang memandang kepada pemuda ini.

"Alasan apa itu, Priyadi?"

"Bapa Guru, kalau benar Sutejo dan diajeng Wandansari yang membunuh Eyang Resi Limut Manik, (Lanjut ke

Jilid 11) Pecut Sakti Bajrakirana (Seri ke 01 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 11 tentu alasannya untuk merampas dua pusaka Jatikusumo itu.

Bukankah buktinya Pedang Pusaka Kartika Sakti berikut kitabnya sudah berada di tangan diajeng Wandansari, sedangkan kitab Pecut Bajrakirana berada di tangan Sutejo?"

"Tepat sekali perkiraan itu dan aku yakin memang itu juga merupakan alasan yang amat kuat selain sikap permusuhan mereka terhadap Bapa Guru karena Bapa Guru berpihak kepada Wirosobo. Kakang Sindusakti, kita harus merampas kedua kitab pusaka dan Pedang Kartika Sakti itu! Adapun Pecut Sakti Bajrakirana yang sudah berada di tanganku, akan kuserahkan kepadamu dengan pengawalan ketat agar tidak ada yang merampasnya di tengah perjalanan. Akan tetapi karena aku mengemban perintah mendiang Bapa Guru bahwa Pecut Sakti Bajrakirana itu harus dipergunakan untuk membela Wirosobo maka aku minta keyakinan dari Kakang Sindusakti bahwa kakang akan bersedia membantu Wirosobo dan menentang Mataram."

Bhagawan Sindusakti mengangguk-angguk.

Mendengar alasan yang dikemukakan Priyadi itu, diapun mulai percaya bahwa Sutejo dan Wandansari yang telah membunuh Resi Limut Manik untuk menguasai dua kitab pusaka itu.

"Baiklah, Adi Jaladara. Aku berjanji akan membantu Wirosobo karena mendiang Bapa Guru telah memerintahkan demikian. Cepat bawa ke sini Pecut Sakti Bajrakirana dan aku akan mengerahkan para muridku untuk merampas kembali pusaka Kartika Sakti dan dua kitab pelajaran itu dari tangan para pengkhianat itu."

Setelah menerima jamuan makan dari kakak seperguruannya, Bhagawan Jaladara lalu berpamit dan meninggalkan perkampungan Jatikusumo di pantai Laut Kidul daerah Pacitan itu.

Bhagawan Sindusakti sudah termakan hasutan Bhagawan Jaladara.

Dia mulai percaya akan dugaan Priyadi bahwa yang membunuh Resi Limut Manik adalah Sutejo dan Wandansari, karena agaknya tidak mungkin kalau gurunya itu mewariskan doa pusaka itu kepada cucu muridnya Kalau hendak diwariskan dua aji yang dirahasiakan itu, tentu akan diwariskan kepadanya, bukan kepada Sutejo atau Wandansari.

Dia lalu berunding lagi dengan empat orang muridnya.

"Sekarang kalian harus berbagi tugas. Maheso Seto dan Rahmini, kalian kuserahi tugas untuk mengunjungi Puteri Wandansari dan bujuklah ia dengan halus, katakan bahwa aku yang minta agar ia suka menyerahkan Pedang Kartika Sakti dan kitab pelajarannya. Ingatkan ia bahwa ia adalah murid Jatikusumo dan bahwa pusaka itu milik perguruan Jatikusumo, maka baru dikembalikan kepadaku. Dan kalian berdua, Priyadi dan Cangak Awu, kalian kuserahi tugas untuk mencari Sutejo. Kalau dapat, kalian juga bujuk dia agar menyerahkan kitab pelajaran ilmu Pecut Bajrakirana kepadaku. Kalau menolak, kalian boleh mempergunakan kekerasan untuk menundukkan dia dan merampas kitab itu."

Empat orang murid itu menyatakan kesanggupan mereka dan setelah berkemas membawa bekal perjalanan yang mungkjn memakan waktu lama dan jauh itu, mereka lalu pergi meninggalkan perkampungan Jatikusumo, Maheso Seto dan Rahmini mengambil jalan mereka sendiri karena tujuan mereka sudah pasti, yaitu kerajaan Mataram mengunjungi Puteri Wandansari yang tentu berada di istana Sultan Agung di Mataram.

Priyadi dan Cangak Awu tidak mempunyai tujuan tertentu karena mereka tidak tahu di mana adanya Sutejo.

Mereka harus mencarinya.

"Adi Cangak Awu,"

Kata Priyadi setelah mereka keluar dari perkampungan Jatikusumo.

"Karena dia berpihak kepada Mataram, maka aku yakin bahwa Sutejo tentu berada di daerah Mataram. Kita mencari dia ke sana, Akan tetapi karena Mataram itu luas. maka kurasa paling baik kalau kita berpencar. Dengan berpencar kita mendapat lebih banyak kemungkinan bertemu dengan Sutejo. Kurasa murid Paman Bhagawan Sidik Paningal itu bukan merupakan lawan yang terlalu kuat untuk kita, Adi Cangak Awu. Kalau engkau atau aku bertemu dengan dia, kita minta baik-baik kitab Bajrakirana, kalau dia tidak mau memberikan jangan takut, serang saja dan rampas kitabnya dari tangannya."

Cangak Awu tidak sependapat dengan kakak seperguruannya.

Dia tidak berani memandang ringan kepada Sutejo.

Akan tetapi karena tidak ingin dianggap takut oleh Priyadi, diapun setuju saja.

Demikianlah, keduanya berpisah.

Sama sekali Cangak Awu tidak pernah menduga bahwa Priyadi sama sekali tidak pergi ke Mataram, melainkan diam-diam dia menuju ke balik bukit di belakang perkampungan Jatikusumo, menemui Resi Ekomolo.

Karena dia tahu bahwa Bhagawan Sindusakti tentu mengira dia sedang melakukan perjalanan mencari Sutejo, maka kini dia dapat siang malam berada di guha bersama Resi Ekomolo, berlatih dengan rajin.

Dia bercita-cita besar, tidak saja menjadi ketua Jatikusumo, akan tetapi juga kalau ilmu-ilmunya sudah sempurna, dia akan merampas dua buah pusaka Jatikusumo bersama kitab-kitabnya.

Dua pusaka berikut ajinya itu yang ditakuti Resi Ekomolo, maka dia harus menguasai kedua pusaka itu agar benar-benar menjadi jagaan nomor satu di seluruh nusantara.

"Ha-ha-ha-ha! Bagas sekali, Priyadi! Puas sekali hatiku sekarang. Engkaulah yang akan mengangkat kembali nama besar Resi Ekomolo!"

Kakek lumpuh itu duduk di atas batu dan bertepuk tangan saking gembiranya setelah Priyadi selesai bersilat seperti yang diajarkan selama beberapa bulan ini.

Gerakan Priyadi memang tangkas bukan main karena dia sudah menguasai sepenuhnya Aji Tunggang Maruto.

"Coba kerahkan Aji Margopati pada pohon itu, Priyadi. Aku ingin melibat kekuatanmu."

Kata kakek yang kegirangan itu.

Priyadi lalu melakukan gerakan menyembah ke angkasa, kemudian kedua tangan yang menyembah itu turun dan dari samping kedua tangan terbuka itu mendorong ke depan, mulutnya mengeluarkan teriakan melengking.

"Hyaaaaehhhhh ....... Braaakkkk!"

Pohon itu tumbang disambar Aji Margopati yang amat dahsyat itu. Kembali Resi Ekomolo bertepuk tangan memuji.

"Bagus! Berlatih tekun sedikit lagi engkau sudah akan mampu mengimbangi kekuatanku, Priyadi. Aku yakin bahwa Aji Pengasihan Mimi Mintuno dan Aji Pengirepan Begonondo juga sudah kau kuasai dengan baik. Sekarang aku ingin menguji Aji Jerit Nogo yang kau kuasai. apakah sudah cukup kuat untuk menolak pengaruh sihir yang kuat. Nah, bersiaplah!"

Priyadi mempersiapkan diri, diam-diam membaca mantra dan memandang kepada gurunya dengan sinar mata mencorong.

Kakek itu mengembangkan kedua lengannya, lalu dengan kedua telapak tangan menghadap Priyadi dia membentak.

"Priyadi, lihat, aku adalah Sang Bathara Kolo, berlututlah engkau!"

Priyadi terbelalak karena tiba-tiba saja di atas batu itu bukan gurunya yang duduk dengan kaki lumpuh, melainkan seorang raksasa yang besar sekali sedang berdiri dan bersikap hendak menyerangnya.

Ketika terdengar suara "berlututlah"

Tadi, tiba-tiba saja kedua lututnya menjadi lemas seperti tidak bertulang dan dengan sendirinya kedua lutut itu tertekuk untuk berlutut.

Pada saat itulah dia teringat akan Aji Jerit Nogo yang dikuasainya dan yang tadi mantramnya sudah dia baca.

Maka dia lalu mengerahkan tenaga saktinya dan tiba-tiba dia mengeluarkan pekik yang menyeramkan.

"Aaaaiiiiiigggghhhh!!"

Pekik itu menggetarkan seluruh bukit dan tiba-tiba "raksasa"

Di depannya telah berubah lagi menjadi Resi Ekomolo dan kedua kakinya yang tadinya lemas itu telah pulih kembali.

Hal ini berarti bahwa ajinya Jerit Nogo telah berhasil memunahkan sihir yang dikerahkan Resi Ekomolo tadi.

"Ha-ha ha-ha, bagus, bagus sekali! Engkau sudah dapat menolak dan memunahkan sihirku berarti Aji Jerit Nogo yang kau kuasai sudah cukup sempurna. Nah, sekaranglah tiba saatnya untuk engkau menguasai perguruan Jatikusumo. Hayo, Priyadi, hayo kita ke perkampungan Jatikusumo. Dengan bantuanmu, aku akan merampas kedudukan ketua dan kelak engkau yang akan menjadi penggantiku."

"Tapi, eyang......"

Priyadi hendak menyatakan keberatan hatinya karena kehendak gurunya itu tidak sesuai dengan rencananya.

Dia memang bermaksud menjadi ketua Jatikusumo, akan tetapi hal itu baru akan dilakukan setelah Pecut Sakti Bajrakirana berada di tangannya, berikut Pedang Kartika Sakti.

Untuk mendapatkan dua pusaka itu, biarlah saudara-saudara seperguruannya yang berusaha mendapatkannya.

Setelah semua pusaka berada di perguruan Jatikusumo, barulah dia akan merebut kedudukan ketua.

Sementara itu dia akan mematangkan dan menyempurnakan dulu ilmu-ilmu yang baru dipelajarinya dari Resi Ekomolo.

Selain itu, dari penuturan Bhagawan Sindusakti dia dapat mengambil kesimpulan bahwa Resi Ekomolo adalah seorang yang amat jahat, licik dan kejam.

Kalau kakek itu bersikap baik kepadanya, hal itu karena ada pamrihnya.

Kalau dia sudah tidak dibutuhkan lagi, sangat boleh jadi kakek itu akan mendepaknya atau bahkan membunuhnya.

Sukar ditebak apa yang berada dalam pikiran yang sudah tidak waras itu.

Dan kakek itulah kini satu-satunya orang yang mungkin memiliki kemampuan untuk menandinginya, karena itu patut dilenyapkan agar kelak tidak menjadi penghalang baginya!

"Tidak ada tapi, Priyadi.

Mari kita berangkat.

Kalau Sindusakti menolak dan banyak ribut, habisi saja dia!"

Kata Resi Ekomolo sambil melompat turun dari atas batu.

"Hayo tunjukkan jalannya, aku sudah lupa lagi jalan menuju ke perkampungan Jatikusumo!"

"Baik, marilah, eyang!"

Akhirnya Priyadi tidak membantah lagi, bahkan ada kemantapan dalam suaranya.

"Mereka berdua lalu meninggalkan guha itu menuju ke puncak. Sekali ini biarpun Resi Ekomolo mengerahkan kekuatannya untuk bergerak cepat dengan cara melompat-lompat seperti seekor katak, Priyadi yang sudah memiliki tenaga sakti yang kuat sekali, menggunakan Aji Tunggang Maruto, mampu mengimbangi kecepatan gerakan kakek itu. Tak lama kemudian mereka berdua sudah tiba di dekat sumur tua yang disebut neraka oleh Resi Ekomolo, tempat di mana dia dipenjara sampai tiga puluh tahun lebih lamanya! "Nanti dulu, eyang. Saya ingin menjenguk lagi sumur yang menjadi tempat tinggal eyang selama puluhan tahun itu."

Kata Priyadi dan dia menghampiri sumur lalu menjenguk ke dalam.

Resi Ekomolo juga tidak dapat menahan keinginannya untuk menjenguk sekali lagi tempat itu, Dengan beberapa lompatan dia sudah tiba di tepi sumur dan menjenguk ke dalamnya.

Pada saat itu, tiba-tiba saja Priyadi menggunakan Aji Margapati untuk memukul punggungnya dari belakang!

Bukan main kagetnya Resi Ekomolo.

Tidak ada kesempatan baginya untuk mengelak karena datangnya pukulan itu demikian mendadak dan tidak terduga-duga.

Satu-satunya jalan baginya untuk melindungi dirinya hanyalah dengan menggerakkan kedua tangannya dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk menangkis pukulan dengan Aji Margapati yang dahsyat itu.

"Wuuuuuutttt.... desss......!!"

Hebat sekali pertemuan antara kedua tenaga itu sehingga tubuh Priyadi sampai terdorong ke belakang dan terhuyung-huyung.

Akan tetapi tubuh kakek itupun terpental dan tanpa dapat dicegah lagi dia terjatuh ke dalam sumur tua!

Terdengar jerit panjang dari dalam sumur.

Priyadi mengambil pernapasan untuk memulihkan getaran dalam dadanya, lalu dia melompat mendekati sumur.

Lapat-lapat dia mendengar suara Resi Ekomolo yang lemah dan lirih, namun mengandung kemarahan dan kebencian yang teramat mendalam.

"Priyadi...... jahanam keparat...... terkutuk engkau....... terkutuk! Matimu lebih mengerikan daripada matiku.......!!"

Priyadi tertawa senang.

Dia sudah terbebas dari kakek yang amat berbahaya itu.

Sama sekali tidak terdapat penyesalan di dalam hatinya akan apa yang telah diperbuatnya terhadap kakek itu.

Demikianlah perbuatan manusia kalau sudah diperhamba nafsunya sendiri.

Segala hal yang dilakukan manusia budak nafsu adalah berdasarkan keuntungan bagi dirinya sendiri.

Demikian hebat kekuasaan nafsu yang telah menguasai diri manusia sehingga nafsu yang sudah mencengkeram hati akal pikiran itu membuat hati akal pikiran bahkan menjadi pembela dari pada perbuatan yang didorong nafsu.

Hati akal pikiran membenarkan semua perbuatan itu dengan segala macam alasannya yang dicari-cari.

Priyadi tidak merasa berdosa, tidak merasa bersalah walaupun dia telah membalas budi Resi Ekomolo dengan pembunuhan.

Dalam hati akal pikirannya hanya ada alasan yang membenarkan tindakannya itu.

Dia menganggap kakek itu jahat dan kejam, maka berbahaya sekali bagi dirinya, bahkan menjadi penghalang dari semua cita-citanya, karena itu harus dilenyapkan!

Dengan demikian, dia akan tetap dapat menyimpan rahasia bahwa kini kepandaiannya telah meningkat sedemikian tingginya sehingga tidak akan ada orang di Jatikusuma yang akan mampu menandinginya.

Dia akan menguasai Jatikusumo berikut pusaka-pusaka dan ajiannya.

Dengan tenang saja bagaikan tidak pernah terjadi sesuatu, Priyadi melenggang, menuju ke perkampungan Jatikusumo yang telah ditinggalkan selama kurang lebih dua bulan itu.

Ketika dia memasuki perkampungan dia mendengar dari para murid di situ bahwa kedua kakak seperguruannya, Maheso Seto dan Rahmini, telah kembali.

Demikian pula adik seperguruannya.

Cangak Awu sudah tiba kembali.

Dengan sikap tenang dan biasa saja dia lalu menghadap Bhagawan Sindusakti dan tiga orang murid yang lain juga sedang menghadap guru mereka itu.

Setelah menerima sembah dari Priyadi, Bhagawan Sindusakti berkata kepada Priyadi.

"Nah, ini Priyadi sudah pulang. Bagaimana hasilmu mencari Sutejo?"

Priyadi menoleh kepada Cangak Awu dan berkata.

"Maaf, Bapa Guru. Setelah berpisah dari Adi Cangak Awu untuk berpencar mencari Sutejo, Saya telah melakukan perjalanan jauh mencari-cari, akan tetapi tidak menemukan jejak Sutejo, juga tidak dapat bertemu kembali dengan Adi Cangak Awu. Karena itu, saya lalu kembali saja untuk melapor kepada Bapa Guru dan ternyata Adi Cangak Awu telah berada di sini."

Cangak Awu berkata kepada Priyadi.

"Ah, kakang Priyadi. Kalau saja kita tidak berpencar, tentu kita berdua sudah dapat menundukkan Sutejo dan mungkin sekali sudah dapat merampas Kitab Bajrakirana yang berada padanya."

"Ah, benarkah, Adi Cangak Awu? Engkau sudah bertemu dengan dia?"

Tanya Priyadi.

"Cangak Awu, ceritakanlah kembali pengalamanmu agar Priyadi mengetahuinya."

Kata Bhagawan Sindusakti.

Cangak Awu lalu bercerita, Cangak Awu melakukan perjalanan seorang diri keluar masuk kota dan dusun, naik turun gunung dan keluar masuk hutan.

Pemuda perkasa yang bertubuh tinggi besas ini menuju ke daerah Mataram.

Di sepanjang perjalanan diapun bertanya-tanya, barangkali ada orang yang pernah melihat atau mengenal Sutejo yang dicarinya.

Namun semua usahanya sia-sia belaka.

telah sebulan lebih dia merantau tanpa hasil.

Pada suatu pagi, karena perutnya terasa lapar, ketika melihat sebuah warung nasi di dalam sebuah dusun yang cukup besar dan ramai, diapun masuk ke dalam warung nasi itu, dan memesan nasi pece!

dan air minum.

Warung itu telah penuh tamu yang duduk berjajar di bangku panjang dan mereka sedang bercakap-cakap dengan asyiknya.

"Memang hebat sekali pemuda, itu. Dengan satu tangan saja dia mampu menahan kuda yang sedang kabur."

Kata seorang yang bertubuh, kurus.

"Kalau tidak ada dia, tentu putera Ki Demang itu dapat celaka!"

Kata yang lain, yang matanya lebar.

"Hebatnya, dia tidak mau menerima hadiah dari Ki Demang!"

Kata yang lain lagi.

"Ya, padahal melihat pakaiannya, dia bukanlah seorang pemuda yang kaya, agaknya seorang pemuda petani biasa saja."

"Akan tetapi jelas bukan orang daerah ini karena di antara kita tidak ada yang mengenalnya."

"Katanya dia mengaku namanya kepada Ki Demang. Betulkah? Siapa nama pemuda itu?"

Tanya seseorang yang agaknya tidak menyaksikan sendiri peristiwa itu.

"Namanya Sutejo."

Hampir saja nasi yang tertelan Cangak Awu membuatnya tersedak ketika dia mendengar kalimat, terakhir ini. Sutejo? Dia segera menoleh ke arah orang yang menyebutkan nama itu dan bertanya.

"Ki Sanak, di manakah terjadinya peristiwa itu?"

Karena yang bertanya seorang pemuda tinggi besar yang asing bagi mereka, orang itu menjawab dengan gembira. Karena dia menyaksikan peristiwa itu, maka dia merasa bangga untuk bercerita.

"Terjadi baru saja di luar dusun ini. Putera Ki Demang Gedangan yang usianya baru lima tahun, ketika menunggang kudanya yang besar, tiba-tiba dilarikan kuda itu yang membedal entah mengapa. Kami semua merasa ngeri dan tidak dapat berbuat sesuatu. Akan tetapi tiba-tiba seorang pemuda meloncat dari samping, menyambar kendali kuda dan dengan sentakan tangan kirinya yang kuat kuda itu dipaksa berhenti dan putera Ki Demang selamat."

"Dan penolong itu bernama Sutejo?"

"Demikianlah menurut pengakuannya ketika dia ditanya Ki Demang. Dia tidak mau menerima hadiah apapun."

"Bagaimana rupa dan perawakannya?"

Tanya pula Cangak Awu.

"Dia masih muda, paling banyak dua puluh dua tahun usianya, wajahnya tampan kulitnya kuning dan perawakannya sedang dan tegap."

Jawab pencerita itu. Cukuplah sudah bagi Cangak Awu. Dia sudah pernah bertemu dan melihat bagaimana rupa dan perawakan Sutejo dan gambaran itu cocok benar dengan apa yang diceritakan orang itu.

"Ke mana sekarang Sutejo itu pergi?"

Tanyanya lagi dengan suara sambil lalu seolah tidak ada maksud lain dalam pertanyaannya kecuali tertarik dan ingin tahu.

"Begitu Ki Demang dan orang-orang datang mengerumuninya, orang itu langsung pergi meninggalkan tempat itu menuju ke barat."

Cangak Awu lalu membayar harga nasi dan minuman, kemudian keluar dari warung itu.

Dengan langkah lebar dan cepat dia lalu Keluar dari dalam dusun dan setelah berada di luar dusun yang sunyi, dia lalu mengerahkan Aji Harina Legawa dan berlari cepat seperti terbang menuju ke barat untuk mengejar orang yang bernama Sutejo seperti diceritakan orang dalam warung nasi tadi.

Setelah dia tiba di luar sebuah hutan, di atas jalan yang sunyi sepi itu di depan dia melihat seorang pemuda sedang berjalan dengan tenang.

Melihat ini, hatinya merasa girang bukan main dan dia mempercepat larinya sehingga sebentar saja dia sudah dapat menyusul pemuda itu.

Dia mendahuluinya, menengok dan segera mengenal Sutejo yang pernah dilihatnya ketika dia dan dua orang kakak seperguruannya berkunjung ke padepokan eyang gurunya Resi Limut Manik.

Dia lalu berhenti dan menghadang.

Sutejo tadinya merasa heran ada seorang laki-laki muda tinggi besar menghadang di tengah perjalanannya.

Akan tetapi segera dia mengenal pemuda tinggi besar itu.

Dia mengenal Cangak Awu yang mendatangkan kesan baik dalam hatinya karena pemuda raksasa itulah yang dulu mencegah Maheso Seto dan Rahmini yang hendak menyerang dia dan Puteri Wandansari.

"Adi Sutejo! Engkau masih mengenalku?"

Tanya Cangak Awu dengan suaranya yang lantang. Sutejo tersenyum ramah. Dia membungkuk untuk menghormati pemuda tinggi besar itu dan berkata lembut.

"Tentu saja aku masih mengenalmu, Kakang Cangak Awu. Sungguh kebetulan sekali kita dapat saling bertemu di sini."

"Bukan kebetulan, Adi Sutejo. Aku memang sengaja mengejarmu. Di dusun belakang sana aku mendengar tentang engkau yang menyelamatkan putera demang. Untung engkau menyebutkan namamu sehingga mereka tahu bahwa yang menolong putera demang adalah seorang pemuda bernama Sutejo. Karena aku memang sedang mencarimu, maka mendengar cerita penduduk dusun itu aku segera mengejar dan menyusulmu."

"Kakang Cangak Awu, Mengapa engkau mencari aku? Ada kepentingan apakah, kakang? Apa yang dapat kubantu untukmu?"

"Adi Sutejo. Engkau seorang yang berwatak satria, hal ini terbukti ketika engkau menolong dan menyelamatkan putera demang tanpa mau menerima hadiah. Aku peryaca bahwa engkau seorang yang berbudi baik. Karena itu, engkaupun tentu akan tunduk kepada perintah para pinisepuh. Aku mencarimu karena diutus oleh Bapa Guru Bhagawan Sindusakti. Beliau sebagai ketua Jatikusumo memerintahkan aku untuk mencarimu."

"Ada maksud apakah Paman Bhagawan Sindusakti mencariku, kakang?"

"Bapa Guru Bhagawan Sindusakti minta agar engkau suka menyerahkan kitab Bajrakirana kepadaku untuk dihaturkan kepadanya."

"Akan tetapi....."

"Harap jangan membantah dulu, Adi Sutejo dan dengarkan kata-kataku. Ketahuilah bahwa Pecut Sakti Bajrakirana dan kitab pelajarannya merupakan pusaka perguruan Jatikusumo dan harus berada di perguruan Jatikusumo sebagai pusaka yang dikeramatkan. Juga Pecut Sakti Bajrakirana menjadi lambang kebesaran perguruan Jatikusumo. Karena sekarang yang menjadi ketua Jatikusumo adalah Bapa Guru Sindusakti, maka sudah sewajarnyalah kalau beliau minta agar pusaka itu diserahkan kepadanya. Engkau yang hanya murid tidak berhak memilikinya. Oleh karena itu, Adi Sutejo, aku minta dengan hormat dan sangat atas pengertianmu dan suka menyerahkan kitab itu dengan suka rela hati kepadaku untuk kusampaikan kepada Bapa Guru."

Melihat sikap dan mendengar ucapan Cangak Awu yang lembut, Sutejo agaknya juga tidak ingin memanaskan suasana dan ingin mengajaknya bicara baik-baik.

"Marilah kita duduk di bawah pohon itu dan bicara dengan santai bertukar pikiran, Kakang Cangak Awu."

Cangak Awu mengangguk dan keduanya lalu berjalan menuju ke bawah sebatang pohon waru yang teduh dan duduk di atas batu besar. Setelah duduk berhadapan, Sutejo berkata.

"Kakang Cangak Awu, aku gembira sekali bertemu denganmu karena sesungguhnya di antara kita masih ada pertalian saudara seperguruan walaupun tidak secara resmi aku menjadi murid aliran Jatikusumo. Apa yang kau katakan tadi benar sekali. Engkau diutus gurumu dan tentu saja engkau harus menaatinya. Memang sebagai seorang murid Jatikusumo, walaupun tidak resmi dari perguruan Jatikusumo, aku harus menghormati dan taat kepada perintah ketua Jatikusumo, yaitu Paman Bhagawan Sindusakti. Kalau saja aku mendapatkan Kitab Bajrakirana dari tangan orang lain, atau menemukannya, maka tentu akan kuserahkan kepada yang berhak, dalam hal ini adalah Paman Bhagawan Sindusakti. Akan tetapi, kakang, coba pertimbangkan baik baik. Aku menerima kitab itu dari tangan mendiang Eyang Resi Limut Manik sendiri. Dia memberikan kitab itu kepadaku, bahkan mengutus aku untuk merampas kembali Pecut Sakti Bajrakirana dari tangan Paman Bhagawan Jaladara. Eyang Resi sendiri yang meninggalkan pesan terakhir sebelum kematiannya bahwa pecut dan kitabnya diberikan kepadaku. Oleh karena itu, maka kitab ini adalah milikku dan menjadi hakku. Kalau kuserahkan kepada orang lain, berarti aku mengingkari pesan terakhir Sang Resi Limut Manik."

"Jadi tegasnya tidak akan kau berikan kitab Bajrakirana itu kepadaku, Adi Sutejo?"

Sutejo menggeleng kepalanya.

"Menyesal, sekali tidak, kakang. Tidak akan kuberikan kepadamu, kepada Paman Bhagawan Sindusakti atau kepada siapapun juga."

"Hemmm.....!"

Cangak Awu bangkit berdiri, tubuhnya yang tinggi besar itu berdiri dengan kaki terpentang, tangan kirinya bertolak pinggang, sikapnya gagah sekali, seperti Raden Werkudoro.

Sepasang matanya mencorong dan dia berkata dengan suaranya yang lantang.

"Adi Sutejo! Engkau tentu tahu akan beratnya seorang murid melaksanakan perintah gurunya, suatu kewajiban yang kalau perlu dilaksanakan dengan taruhan nyawa! Bapa Guru telah memberi wewenang kepadaku untuk mempergunakan kekerasan apa bila engkau tidak mau menyerahkan kitab Bajrakirana dengan baik. Dan penolakanmu ini memperkuat dugaan kami bahwa engkau telah bersekutu dengan diajeng Wandansari membunuh Eyang Resi Limut Manik dan mencuri pusaka dan kitab."

Sutejo melompat berdiri, alisnya berkerut mendengar tuduhan berat itu.

"Kakang Cangak Awu. apa yang kau tuduhkan ini? Sungguh fitnah keji, aku dan diajeng Wandansari tidak membunuh Eyang Resi Limut Manik!"

"Membunuh atau tidak, dengan tidak mau menyerahkan kitab Bajrakirana yane menjadi pusaka Jatikusumo, berarti engkau sudah menjadi seorang murid yang khianat! Adi Sutejo, tidak perlu banyak cakap lagi. Kau serahkan kepadaku atau tidak kitab itu?"

"Tidak, Kakang Cangak Awu."

"Berani engkau melawan aku?"

"Aku sama sekali tidak bermaksud untuk melawanmu, Kakang Cangak Awu, akan tetapi kalau engkau memaksa, aku harus membela diri."

"Bagus! Sambut seranganku!"

Cangak Awu sudah menerjang dan begitu menyerang dia sudah menggunakan Aji Gelap Musti karena dia dapat menduga bahwa Sutejo tentu merupakan lawan yang tidak lemah karena dia telah mempelajari ilmu-ilmu aliran Jatikusumo.

Menghadapi serangan ini, terpaksa Sutejo melakukan perlawanan.

Dia cepat mengelak ke kiri.

Akan tetapi celakannya itu disambut dengan tendangan kaki Cangak Awu yang besar dan panjang.

"Wuuuuuttt.......!"

Kembali Sutejo mengelak.

Ketika serangan susulan terus mengejarnya secara bertubi-tubi, dia mengelak sampai lima kali dan ketika kembali Cangak Awu melancarkan pukulan dengan Aji Gelap Musti, diapun menangkis dengan aji yang sama.

Akan tetapi karena dia tidak ingin melukai kakak seperguruannya itu, maka Sutejo hanya mengerahkan sebagian saja dari tenaganya.

"Wuuuutttt.....desss.....! Dua pasang telapak tangan yang sama-sama mengandung tenaga sakti itu bertemu di udara dan akibatnya, tubuh kedua orang muda itu terdorong ke belakang sampai lima langkah. Diam-diam Cangak Awu terkejut. Kiranya Sutejo telah memiliki tenaga sakti yang mampu menandinginya! Akan tetapi Sutejo yang tidak ingin berkelahi dengan Cangak Awu, melompat jauh ke belakang.

"Selamat tinggal, Kakang Cangak Awu. Aku tidak ingin bertanding denganmu!"

Katanya sambil berlari meninggalkan tempat itu.

"Nanti dulu, Sutejo! Berikan kepadaku dulu kitab Bajrakirana!"

Cangak Awu mengejar.

"Kelak pada suatu hari aku akan menerangkan sendiri kepada Paman Bhagawan Sindusakti!"

Teriak Sutejo dan dia mempercepat larinya.

Keduanya berkejaran dan menggunakan Aji Harina Legawa.

Akan tetapi, Sutejo telah menghilang ke dalam hutan dan tidak dapat ditemukan Cangak Awu yang terpaksa keluar dari hutan setelah beberapa lamanya dia mencari-cari dalam hutan itu tanpa hasil.

"Demikianlah, Kakang Priyadi, aku tidak berhasil menangkapnya. Hutan itu lebat sekali dan dia telah menghilang. Aku merasa menyesal sekali. Kalau saja engkau ada bersamaku, tentu kita berdua akan dapat menangkapnya."

Cangak Awu mengakhiri ceritanya.

"Akan tetapi andaikata aku ada dan kita berhasil menangkapnya, belum tentu kitab Bajrakirana berada padanya. Mungkin telah dia sembunyikan."

Kata Priyadi.

"Biarpun ada kemungkinan demikian, akan tetapi kalau kita sudah menangkapnya, kita dapat mengancam dan memaksanya untuk menunjukkan di mana adanya kitab itu dan menyerahkannya kepada kita."

Bantah Cangak Awu. Suaranya menunjukkan kekesalan hatinya bahwa karena dia berpencar dari Priyadi, maka dia tidak dapat me"nangkap Sutejo.

"Maafkan aku, Adi Cangak Awu. Siapa tahu sebelumnya bahwa secara kebetulan engkau dapat bertemu dengan Sutejo. Yang aku herankan, bagaimana dia dapat menandingimu?"

Kata Priyadi.

"Kami hanya bertanding selama beberapa jurus saja dan dia sudah keburu larikan diri ke dalam hutan. Aku yakin kalau kami bertanding terus, aku akan mampu mengalahkannya."

"Sudahlah, hal yang sudah lewat tidak perlu disesalkan lagi. Betapapun juga. Sutejo tidak dapat menghilang begitu saja dan pada suatu waktu kita tentu akan dapat menemukannya dan memaksanya mengembalikan kitab Bajrakirana kepada Jatikusumo."

Kata Bhagawan Sindusakti.

"Sekarang, sebaiknya kalau engkau ceritakan lagi pengalamanmu membujuk Puteri Wandansari, Maheso Seto, agar Priyadi juga mengetahuinya."

"Baiklah. Bapa Guru, sungguhpun menceritakan kembali pengalaman itu sungguh membuat hati kami berdua merasa menyesal sekali. Adi Priyadi, beginilah pengalaman kami di istana Mataram ketika kami menemui diajeng Wandansari."

Maheso Seto lalu bercerita.

Dengan melakukan perjalanan cepat, dalam waktu yang tidak terlalu lama Maheso Seto bersama isterinya.

Rahmini, dapat tiba di ibu kota Mataram.

Mereka segera menuju ke istana kerajaan dan langsung mengunjungi keputren di mana Puteri Wandansari tinggal.

Tentu saja mereka berdua dihentikan oleh para pengawal yang berjaga di luar pintu gerbang taman keputren yang menjadi bagian depan dari keputren.

"Berhenti! Siapakah andika berdua dan ada kepentingan apa datang berkunjung ke keputren yang merupakan daerah larangan bagi orang luar?"

Bentak kepala jaga sambil melintangkan tombaknya menghalangi suami isteri itu memasuki pintu gapura.

"Kami adalah, suami isteri Maheso Seto dan Rahmini. Kami masih terhitung kakak-kakak seperguruan dari Puteri Wandansari dan kedatangan kami adalah untuk berkunjung kepada Puteri Wandansari."

"Hemm, tidak mudah Untuk menghadap Sang Puteri tanpa ijin dari istana Andika berdua pergi saja menghadap para pengawal istana untuk mendapatkan ijin itu yang akan diberikan oleh Kepala Pengawal dengan restu Sang Prabu."

Rahmini mengerutkan alisnya.

"Kami adalah kakak-kakak seperguruan diajeng Wandansari. Sebaiknya seorang di antara kalian pergi melapor kepada Sang Puteri dan pasti ia akan suka menerima kami. Kalau nanti Sang Puteri mendengar bahwa kalian menolak kunjungan kami, kalian tentu akan mendapat marah besar dari Sang Puteri."

Mendengar ucapaan Rahmini itu, kepala jaga memandang ragu dan akhirnya dia berpesan kepada anak buahnya untuk berjaga-jaga.

"Silakan andika berdua menunggu di sini, aku akan melaporkan kepada Gusti Puteri."

Katanya kepada Maheso Seto dan Rahmini.

Dua orang suami isteri itu mengangguk dan mengucapkan terima kasih.

Kepala jaga itu masuk ke dalam taman, lalu ke belakang di ujung taman.

Tak lama kemudian dia muncul dan bergegas keluar menemui Maheso Seto dan Rahmini.

"Gusti Puteri berkenan menerima andika berdua. Silakan masuk ke dalam taman. Di sana Gusti Puteri telah menunggu."

Dia menuding ke arah bangunan bertembok putih.

"Terima kasih."

Kata Maheso Seto dan bersama Rahmini dia lalu melangkah, memasuki taman yang indah dan luas itu dan pergi ke arah bangunan seperti yang ditunjuk oleh kepala jaga.

Dua orang laki-laki yang bekerja sebagai juru taman memandang kepada suami isteri itu dengan heran.

Mereka merasa heran mengapa ada seorang pria yang diijinkan masuk, pada hal keputren itu merupakan tempat yang terlarang bagi pria dari luar.

Akan tetapi karena pria itu datang bersama seorang wanita dan mereka melihat kepala jaga tadi sudah melapor ke dalam, merekapun tidak dapat berbuat sesuatu dan hanya melanjutkan pekerjaan mereka merawat tanaman bunga-bunga yang memenuhi taman itu.

Setelah tiba di dekat bangunan, mereka berdua melihat Puteri Wandansari duduk seorang diri di bawah bangunan terbuka yang berada di tepi sebuah kolam ikan yang penuh dengan bunga teratai dan ikan emas.

Puteri Wandansari agaknya sedang memberi makan ikan emas, menaburkan makanan itu ke air dan banyak sekali ikan emas berwarna merah, kuning putih dan hitam berebutan makanan membuat air berkecipak.

Sang Puteri segera bangkit berdiri ketika melihat munculnya dua orang itu.

Ia menyambut mereka dengan sikap yang tidak terlalu gembira, akan tetapi juga dengan senyum lembut.

Agaknya ia belum dapat melupakan betapa ketika berada di pondok Resi Limut Manik, kedua kakak seperguruan ini pernah menyangkanya berbuat yang bukan-bukan dengan Sutejo, dan hendak memaksanya untuk menyerahkan pedang pusaka Kartika Sakti dan kitab pelajarannya.

"Ah, kiranya Kakang Maheso Seto dan Mbakayu Rahmini yang datang berkunjung! Bagaimana kabarnya dengan keadaan Bapa Guru?"

Ia bertanya tentang keadaan gurunya, bukan tentang keadaan mereka berdua.

Pertanyaan ini saja sudah menunjukkan bahwa hatinya tidak begitu seoang menyambut kunjungan mereka berdua dan tentu saja terasa oleh Maheso Seto dan Rahmini.

"Keadaan Bapa Guru baik-baik dan sehat saja, diajeng Wandansari."

Kata Maheso Seto.

"Bahkan kedatangan kami ini adalah untuk melaksanakan perintah Bapak Guru!"

Kata Rahmini dengan suara agak ketus karena iapun merasakan sikap Puteri Wandansari yang menyambut mereka dengan tawar itu.

"Hemm begitukah?"

Kata Puteri Wandansari tanpa mempersilakan mereka duduk.

"Apakah perintah Bapa Guru itu ada sangkut pautnya dengan aku?"

Suara Puteri Wandansari juga terdengar ketus, mengimbangi suara Rahmini.

Melihat sikap kedua orang wanita itu sudah mendatangkan suasana panas, Maheso Seto lalu berkata dengan suara tenang dan sikap sabar.

"Sesungguhnya begini, diajeng Wandansari. Kami berdua hanyalah utusan Bapa Guru untuk menemuimu."

"Menemuiku? Ada urusan apakah Bapa Guru mengutus kalian untuk menemuiku?"

"Bukan lain, urusan Pedang Pusaka Kartika Sakti, diajeng. Bapa Guru mengutus kami untuk minta kepadamu agar engkau suka menyerahkan pedang pusaka dan kitab pelajarannya itu kepada kami untuk kami serahkan kepada Bapa Guru. Pusaka itu adalah pusaka perguruan Jatikusumo, diajeng. maka yang berhak menyimpan hanya Bapa Guru sebagai ketua perguruan Jatikusumo."

"Dan engkau sebagai murid termuda harus mematuhi perintah Bapa Guru!"

Sambung Rahmini.

Mereka bicara sambil berdiri saja dan kini puteri Wandansari menegakkan tubuhnya dan matanya mengeluarkan sinar penuh keberanian "Sudah kukatakan saat kita saling bertemu di pondok Eyang Guru Resi Limut Manik dahulu, Kakang Maheso Seto dan Mbakayu Rahmini, bahwa pedang dan kitab Kartika Sakti itu adalah pemberian Eyang Resi kepadaku.

Eyang Resi member kan benda pusaka itu sebagai pesan terakhir sebelum meninggal dunia, dengan pesan agar aku memiliki pusaka itu dan mempergunakannya untuk menentang kejahatan dan terutama untuk membela kerajaan Mataram.

Aku tidak berani menentang pesan Eyang Resi.

Pedang pusaka dan kitabnya itu adalah hakku, diberikan langsung oleh Eyang Resi.

Karena itu tentu saja tidak akan kuserahkan kepada siapapun juga!"

"Akan tetapi andika adalah murid Jatikusumo dan yang minta pusaka itn adalah guru kita. ketua Jatikusumo! Pedang pusaka itu merupakan pusaka perguruan Jatikusumo! Diajeng, ingatlah, apakah andika hendak berkhianat terhadap perguruan sendiri?"

Kata Maheso Seto yang mulai marah karena seperti yang dia khawatirkan sebelumnya, Puteri Wandansari tidak mau menyerahkan pusaka itu.

"Aku tidak mengkhianati siapapun juga. Bahkan, kalau kuserahkan pusaka itu kepada seseorang, berarti aku telah mengkhianati Eyang Resi. Tidak, Kakang Maheso Seto, aku tidak memberikan pusaka itu kepadamu."

"Ah, kalau begitu jelaslah sekarang. Sikapmu ini menunjukkan bahwa engkau memusuhi Jatikusumo, maka ada benarnyalah dugaan bahwa engkau telah bersekongkol dengan Sutejo untuk membunuh Eyang Resi dan mencuri dua pusaka itu, yaitu kitab Bajrakirana dan kitab Kartika Sakti berikut pedangnya!"

Teriak Rahmini sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka Puteri Wandansari.

Merah sepasang pipi yang halus itu, berkerut sepasang alis yang hitam kecil melengkung itu dan sepasang mata bintang itu mengeluarkan sinar kemarahan.

"Mbakyu Rahmini, tutup mulutmu yang lancang itu! Kalau kalian berdua datang hanya untuk membikin ribut, aku usir kalian. Keluarlah dari sini!"

"Engkau berani mengusir kami, kakak-kakak seperguruanmu yang dulu ikut mengajarmu? Aku tidak akan pergi sebelum membawa pedang dan kitab Kartika Sakti. Kalau perlu akan kuambil dengan kekerasan karena kami telah memperoleh purbawasesa dari Eyang Guru!"

"Sesukamulah! Kalau engkau menggunakan kekerasan, akan kulawan!"

Jawab Puteri Wandansari.

"Wandansari, berani engkau melawan aku?"

Bentak Rahmini.

"Engkau yang mulai, mengapa harus takut?"

"Hemmm, murid murtad! Akulah yang akan mewakili Bapa Guru untuk menghajarmu! Sambut pukulanku!"

Rahmini sudah menerjang dengan ganasnya.

Wanita ini adalah murid kedua dari Bhagawan Sindusakti, maka tentu saja ilmu kepandaiannya sudah mencapai tingkat tinggi, hanya sedikit di bawah tingkat kepandaian suaminya yang menjadi murid pertama.

"Wuuuutttt.....!"

Akan tetapi pukulan itu dapat dihindarkan dengan mudah oleh Wandansari yang mengelak dengan gerakan ringan sekali. Ketika pukulan kedua menyambar, Wandansari menangkis dengan lengannya.

"Wuuuutttt..... dukkk!"

Dua lengan itu bertemu dan akibatnya, Rahmini terdorong mundur beberapa langkah.

Hal ini amat mengejutkan Rahmini, Juga Maheso Seto.

Tidak mungkin Wandansari yang merupakan murid ke lima itu mampu menandingi tenaga sakti Rahmini!

Kedua orang suami isteri ini tidak tahu bahwa dalam kitab Kartika Sakti bukan hanya diajarkan ilmu pedang, melainkan juga ilmu menghimpun tenaga sakti.

Setelah berlatih beberapa bulan lamanya, kini tenaga sakti Wandansari bertambah besar dan iapun dapat bergerak dengan cepat.

Rahmini menjadi penasaran sekali dan juga amat marah.

Kalau tadinya ia hanya menyerang untuk menundukkan Wandansari, kini ia menyerang dengan sungguh-sungguh dengan niat untuk merobohkan adik seperguruannya yang dianggapnya murtad dan membandel itu.

Ia lalu mengerahkan Aji Gelap Musti, menyerang dengan dorongan kedua tangannya.

"Haaiiiiitt!"

Ia melengking nyaring dan dorongan kedua tangannya dengan Aji Gelap Musti itu mengeluarkan angin menderu ke arah Wandansari.

Akan tetapi puteri inipun mengerahkan tenaganya dan menyambut pukulan itu dengan Aji Gelap Musti pula.

Ia cepat merendahkan tubuhnya, mendorongkan kedua telapak tangannya ke depan sambil memekik nyaring.

"Yaaaaaaattt!"

"Desss......!"

Kedua pasang telapak tangan itu bertemu di udara dan kembali tubuh Rahmini terdorong ke belakang!

Ternyata dalam hal mengadu Aji Gelap Musti, iapun kalah kuat.

Maheso Seto yang melihat ini, ikut terkejut.

Tadinya dia berniat melarang isterinya menyerang dengan hebat sehingga membahayakan keselamatan nyawa puteri itu.

Akan tetapi melihat betapa isterinya bahkan terdorong mundur dan kalah kuat, diapun melompat maju.

Rahmini juga sudah siap kembali lalu bersama suaminya melancarkan pukulan Gelap Musti lagi.

Akan tetapi kini mereka menggabungkan tenaga dan dalam saat yang bersamaan mereka mendorongkan kedua telapak tangan ke arah Wandansari.

Suami isteri yang sudah sehati sepikiran itu menyerang secara berbareng dengan Aji Gelap Musti!

Tidak ada pilihan lain bagi Puteri Wandansari untuk menghadapi serangan ganda ini kecuali dengan tangkisan.

Maka iapun mengerahkan seluruh tenaganya dan menyambut serangan itu dengan Aji Gelap Musti pula.

"Wuuuuttt...... dessss!"

Betapapun besarnya kemajuan dalam hal tenaga sakti yang diperoleh Puteri Wandansari setelah ia melatih diri dengan ilmu dari kitab Kartika Sari, namun menghadapi dua tenaga yang digabung dari suami isteri itu, ia masih kalah kuat dan tubuhnya terdorong mundur sampai terhuyung-huyung.

"Duh Gusti......!"

Seruan ini muncul dari mulut seorang pria yang sudah berada di situ dan dia melihat Puteri Wandansari terhuyung.

Dia lalu menggunakan tangan kirinya untuk mendorong ke depan, menyambut dorongan dua pasang tangan suami isteri itu.

Dorongan tangan kiri pria itu sungguh amat dahsyat.

Angin bagaikan badai bertiup ke depan menyambut pukulan ganda dengan Aji Gelap Musti dari suami isteri itu dan terjadilah benturan tenaga sakti yang amat dahsyat.

"Blaaarrrrr........!"

Akibatnya, Maheso Seto danRahmini terlempar sampai empat meter jauhnya dan terbanting ke atas tanah.

Tidak kuat mereka menahan tenaga dorongan yang keluar dari telapak tangan pria itu.

Mereka tidak terluka namun terkejut bukan main.

Guru mereka sendiri saja tidak mungkin dapat menyambut tenaga mereka yang dipersatukan dalam Aji Gelap Musti, apa lagi hanya dengan tangan kiri dan menyebabkan mereka terpental sampai jauh!

Maklumlah mereka bahwa mereka berhadapan dengan seorang yang amat sakti mandraguna.

Mereka merangkak bangun, saling bantu dan keduanya memandang kepada pria itu.

Dia seorang pria yang berusia sekitar lima puluh tahun, berwajah tampan dan bundar, sepasang matanya mencorong seperti mata seekor naga sakti, gerak geriknya lembut dan pada wajah yang tampan dan halus itu terkandung wibawa yang teramat kuat.

Pakaiannya sederhana, namun masih dapat dikenali sebagai pakaian seorang raja.

Tahulah Maheso Seto dan Rahmini dengan siapa mereka berhadapan.

Pria yang demikian tampan dan berwibawa, memiliki kesaktian yang hebat, tentu bukan lain adalah Sang Prabu Pandan Cokrokusumo atau Sultan Agung Mataram sendiri!

Tanpa terasa sepasang kaki mereka gemetar.

Sultan Agung memandang kepada puterinya dan merasa lega melihat puterinya tidak terluka.

"Wandansari, siapakah kedua orang ini dan apa yang telah terjadi di sini?"

Puteri Wandansari bukan seorang dara yang cengeng.

Ia tidak ingin mengadukan sikap kedua orang itu kepada ayahandanya.

Bagaimanapun juga mereka adalah kakak-kakak seperguruannya dan urusannya dengan mereka adalah urusan pribadi yang tidak ada sangkut pautnya dengan ayahnya.

Maka ia tidak ingin ayahnya yang menjadi raja yang agung Itu mencampuri urusan pribadinya.

"Kanjeng Rama, mereka adalah Kakang Maheso Seto dan Mbakayu Rahmini, dua orang kakak seperguruan hamba sendiri. Mereka datang untuk suatu urusan pribadi dan terjadi sengketa di antara kami."

Sang Prabu yang arif bijaksana itu segera mengetahui bahwa puterinya tidak ingin dia mencampuri urusannya, maka diapun memandang kepada suami isteri itu dan berkata dengan suara lembut namun penuh wibawa.

"Mengingat bahwa kalian adalah kakak-kakak seperguruan puteri kami, maka sekali ini kami mengampuni kalian berdua. Pergilah dan jangan kembali lagi! Sekali lagi kami mendapatkan kalian datang ke sini dan membuat kekacauan, kami akan menangkap kalian dan memasukkan kalian dalam penjara! Pergilah!"

Suami isteri itu membungkuk, menyembah lalu memutar tubuh, meninggalkan taman sari itu dengan kepala ditundukkan dan hati merasa jerih.

Keangkuhan yang sudah meujadi watak suami isteri ini tenggelam lenyap ke dalam wibawa yang teramat kuat dari Sultan Agung itu.

"Demikianlah, Adi Priyadi. Kami berdua terpaksa meninggalkan diajeng Wandansari, tidak kuat menghadapi kesaktian dan wibawa Sang Prabu yang teramat kuat. Terpaksa kami kembali ke sini dengan tangan hampa."

"Tidak aneh,"

Sang Bhagawan Sindusakti berkata sambil menarik napas panjang.

"Tidak mungkin kalian akan mampu menandingi kesaktian Sang Prabu di Mataram. Akan tetapi sudahlah, kalau Pedang Pusaka Kartika Sakti dan kitabnya sudah berada di Mataram, kita boleh relakan saja pedang itu menjadi pusaka Mataram, Akan tetapi yang terpenting adalah Pecut Sakti Bajrakirana dan kitab pelajarannya, Pecut itu merupakan pusaka utama yang harus dihormati dan ditaati oleh seluruh murid Jatikusumo. Adi Bhagawan Jaladara sudah menjanjikan akan menyerahkan pecut itu kepadaku, hanya tinggal merampas kitabnya dari tangan Sutejo. Hal ini harus kita usahakan benar-benar karena pecut pusaka dan kitabnya itu teramat penting bagi perguruan kita."

"Akan tetapi, Bapa Guru. Kalau benar Sutejo dan diajeng Wandansari telah melakukan pembunuhan terhadap Eyang Resi Limut Manik, apakah kita dapat tinggal diam saja? Perbuatan itu harus dibalas dan pelaku pembunuhan itu harus dihukum!"

Kata Priyadi.

"Hemm, kita tidak boleh sembrono. Itu hanya merupakan tuduhan perkiraan Adi Jaladara saja. Dia menuduh kedua orang muda itu yang membunuh Bapa Guru Resi Limut Manik, akan tetapi sebaliknya Sutejo dan Wandansari mengatakan bahwa Adi Jaladara dan taman-temannya yang membunuh Bapa Resi. Sebelum mendapatkan bukti-buktinya, tidak boleh kita menjatuhkan tuduhan kepada siapapun juga."

"Akan tetapi bagaimana kita akan mampu mencari buktinya, Bapa Guru? Bukti maupun saksi atas pembunuhan terhadap Eyang Resi Limut Manik dan kedua orang cantriknya itu sama sekali tidak ada dan kedua pihak yang dituduh telah menyangkal melakukan pembunuhan itu. Siapakah di antara kedua pihak itu yang harus kita percaya?"

Tanya pula Priyadi.

"Melihat betapa dua buah kitab pusaka dan pedang Kartika Sakti berada di tangan Sutejo dan Wandansari, sudah merupakan bukti bahwa mereka berdua itu yang telah membunuh Eyang Resi!"

Kata Rahmini yang masih panas hatinya karena dikalahkan oleh Wandansari ketika bertanding satu lawan satu.

"Hemm, kita tidak boleh mengambil kesimpulan dengan alasan yang masih mengambang. Kita lihat saja perkembangannya nanti. Akhirnya yang bersalah tentu akan tampak juga."

Kata Bhagawan Sindusakti.

Kita akan melihat perkembangannya, kata Priyadi dalam hati.

Aku akan melihat perkembangannya.

Aku tidak boleh tergesa-gesa dan tidak akan bertindak sebelum Pecut Sakti Bajrakirana kembali ke perguruan Jatikusumo, demikian pemuda isi berpikir dan mengambil keputusan.

Priyadi tmelanlutkan latihan-latihannya di malam hari, di tempat tersembunyi, jauh di luar perkampungan Jatikusumo.

Sikapnya masih biasa saja sehingga baik gurunya maupun para saudara seperguruannya tidak ada yang mengetahui rahasianya.

Sutejo menjadi penasaran sekali.

Kalau dia dimusuhi oleh para murid Jatikusumo karena mereka hendak merampas kitab Bajrakirana, hal itu masih dianggapnya wajar saja.

Diapun dapat memaklumi dan percaya bahwa Pecut Sakti Bajrakirana memang sejak dahulu menjadi pusaka perguruan Jatikusumo sehingga karena amat menjunjung tinggi pusaka itu dan mungkin patuh akan sumpah sebagai murid Jatikusumo, mendiang gurunya, Bhagawan Sidik Paningal tidak berani melawan ketika Bhagawan Jaladara menghajarnya dengan pecut pusaka Itu.

Bahkan Sang Resi Limut Manik sendiripun agaknya segan melawan ketika dia dikeroyok oleh Bhagawan Jaladara yang memegang Pecut Sakti Bajrakirana bersama kawan-kawannya.

Akan tetapi, hal yang membuat dia penasaran sekali adalah tuduhan mereka bahwa dia bersama Puteri Wandansari telah membunuh Resi Limut Manik!

Tuduhan keji, pikirnya.

Diapun mengerti bahwa semua ini tentu ulah Bhagawan Jaladara yang memutar-balikkan kenyataan.

Hatinya menjadi panas sekali.

Dia telah menerima pesan terakhir Resi Limut Manik.

Selain menerima kitab Bajrakirana dan harus menguasai ilmu itu, diapun harus merampas Pecut Sakti Bajrakirana yang kini berada di tangan Bhagawan Jaladara.

Bukan itu saja.

Diapun harus membalas kematian gurunya, Bhagawan Sidik Paningal dan Eyang gurunya, Resi Limut Manik yang telah tewas di tangan Bhagawan Jaladara dan kawan-kawannya.

Dia harus mencari Bhagawan Jaladara dan harus melenyapkan orang itu dari permukaan bumi selain merampas Pecut Sakti Bajrakirana.

Orang seperti itu amat berbahaya bagi orang lain kalau dibiarkan hidup!

Tidak, dia bukan semata-mata benci kepada Bhagawan Jaladara.

Kalau dia hendak membunuhnya adalah karena orang itu memang jahat sekali, dan berbahaya bagi Mataram, berbahaya bagi orang-orang lain.

Seorang yang sakti akan tetapi tidak menggunakan kesaktiannya untuk menentang kejahatan adalah seorang yang amat berbahaya bagi umum, karena kalau dia mempergunakan kesaktiannya untuk melakukan kejahatan, maka akibatnya akan hebat dan mendatangkan malapetaka bagi orang-orang lain.

Siang hari itu tidaklah terik seperti kemarin.

Langit penuh awan mendung yang tebat menghitam sehingga sinar matahari tidak dapat menembus sepenuhnya.

Cuaca menjadi gelap.

Dia melanjutkan perjalanannya dengan cepat, akan tetapi daerah itu jarang terdapat dusun, bahkan setelah hari menjadi sore dan turun hujan deras, dia berada di jalan yang menerobos hutan lebat.

Biarpun malam baru saja datang, cuaca sudah gelap sekali.

Hujan turun bagaikan dituang dari langit.

Sutejo berteduh di bawah sebatang pohon dadap yang besar.

Akan tetapi daun pohon itu tidak cukup lebat untuk melindunginya, bahkan air yang berjatuhan melalui daun-daun pohon itu besar-besar.

Melihat ada sebatang pohon pisang tak jauh dari situ, dia lalu meraih sehelai daun pisang dan mempergunakan daun itu sebagai payung.

Payung daun pisang itu lumayan juga, dapat melindungi kepala dan mukanya.

Hujan semakin deras.

Kini datang angin.

Badai yang amat kuat sehingga pohon-pohon besar di hutan itu seperti mabok, seperti penari yang mabok, condong ke kanan dan ke kiri, seperti hendak ambruk, seperti ratusan raksasa yang hendak menubruknya.

Kadang tampak kilat bercahaya disusul geledek menyambar dengan suara menggelegar.

Dalam cahaya kilat itu sejenak Sutejo dapat melibat keadaan, akan tetapi hanya sekilat lalu gelap kembali.

Guntur dan kilat semakin sering dan badai tidak mereda.

Titik-titik air yang menyerangnya terasa di badan seperti tusukan jarum-jarum.

Pakaian Sutejo basah kuyup.

Bukan hanya yang melekat di tubuhnya.

Bahkan buntalan pakaiannya juga basah dan tentu menembus, membasahi semua pakaian bekalnya.

Karena maklum bahwa dengan berdiri di situ, diapun tetap kehujanan dan tidak akan ada gunanya, (Lanjut ke

Jilid 12) Pecut Sakti Bajrakirana (Seri ke 01 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 12 apa lagi malam telah tiba.

maka Sutejo lalu melangkah maju.

menggunakan cahaya kilat yang sering menerangi segalanya itu untuk tetap melangkah di atas jalan yang becek itu.

Dia harus mencari tempat perlindungan, untuk menghindarkan serangan hujan, untuk bermalam.

Sukur kalau dia dapat menemukan sebuah dusun, atau setidaknya sebuah gardu untuk tempat berteduh dan beristirahat.

Dia melangkah maju terus, kadang-kadang terpaksa harus berhenti untuk menunggu sinar kilat agar dia tidak terperosok ke dalam parit atau solokan.

Tiba-tiba, diantara suara menggelegarnya guntur yang bersahut-sahutan dia mendengar jerit suara wanita!

Tak salah lagi, yang menjerit itu adalah wanita.

Datangnya dari arah kiri, dari dalam hutan.

Jerit itu terdengar lagi.

Sutejo tidak ragu-ragu lagi lalu melompat ke kiri di bawah sinar kilat.

Sambil meraba-raba dan mengandalkan penerangan halilintar, dia terus berlari ke depan, ke arah suara tadi.

Akhirnya, dia melihat cahaya berkelap-kelip di kejauhan!

Tentu ada sebuah rumah dengan penerangannya di sana!

Dia maju terus, meraba-raba dan kadang lari dan melompat kalau ada cahaya terang.

Akhirnya dia tiba di luar sebuah pondok yang amat sederhana, terbuat dari bilik anyaman bambu, tihang-tihangnya juga dari bambu, payonnya dari daun klatas.

Jendela rumah itu terbuka dan dari situlah sinar sebuah lampu menyorot keluar dan tampak oleh Sutejo tadi.

Dia lalu menghampiri jendela, tidak perlu melangkah hati-hati karena suara badai yang menggerakkan pohon-pohonan cukup hiruk pikuk menutupi suara jejak kakinya.

Ada tiga orang laki laki di pondok itu, mereka duduk di atas bangku-bangku kayu mengelilingi sebuah meja yang, sederhana.

Di sudut tampak sebuah dipan bambu dan di atas dipan bambu itu tampak seorang gadis muda mendeprok setengah rebah telungkup dengan ketakutan.

Pakaiannya sudak koyak-koyak memperlihatkan kulit yang putih mulus dan matanya seperu mata seekor kelinci dalam cengkeraman harimau.

Terbelalak ketakutan.

Seorang gadis yang putih kuning dan berwajah manis sekali, berusia paling banyak enam belas tahun.

Pandang mata Sutejo kembali kepada tiga orang laki-laki itu.

Mereka berotot dan tampak bertubuh kuat, kasar.

Wajah mereka jelas membayangkan orang-orang yang terbiasa dengan tindak kekerasan, kasar dan liar seperti gerombolan penjahat yang biasa,memaksakan kehendaknya kepada orang lain mengandalkan kekerasan dan kekuatan.

Di pinggang mereka tergantung golok.

Mereka ternyata sedang memutar dadu, seperti biasa kalau orang-orang sedang bermain judi.

"Kita masing-masing memutar satu kali. Yang mendapatkan angka terbanyak, dia menang dan mendapat giliran pertama. Yang keluar sebagai pemenang kedua, mendapatkan giliran kedua dan yang paling kalah mendapat bagian terakhir."

Kata seorang di antara mereka yang mempunyai luka codet melintang di mukanya.

"Aku mulai memutar lebih dulu!"

Setelah berkata demikian, di bawah sinar lampu yaag tidak begitu terang, dia memutar dadu di atas meja.

Tiga pasang mata mengikuti putaran dadu dengan terbelalak dan setelah dadu berhenti berputar, si codet bersorak.

"Angka lima!"

Angka pada dadu yang terbanyak adalah enam, maka mendapatkan angka lima, si codet bergembira karena harapan untuk mendapatkan giliran pertama cukup besar.

"Sekarang aku yang memutar!"

Kata orang yang bermuka hitam seperti arang. Dia lalu memutar dadu itu, dan setelah dadu berhenti berputar, dia berseru.

"Angka empat!"

"Ha-ha-ha engkau kalah, giliranmu sesudah aku, ha-ha!"

Tawa si codet.

"Masih ada aku!"

Kata orang ke tiga yang bibirnya tebal sekali. Dia hendak memutar dadu, akan tetapi tiba-tiba ada suara orang dari arah pintu.

"Apa yang kalian pertaruhkan itu? Hayo bebaskan gadis itu, atau aku terpaksa akan menghajar kalian bertiga!"

Tiga orang itu berlompatan dan memutar tubuh menghadap ke pintu.

Ternyata pintu pondok itu telah terbuka dan di ambang pintu berdiri seorang pemuda yang berpakaian sederhana dan ringkas.

Baju lengan pendek sebatas siku, celana hitam sebatas lutut dan sehelai sarung dilingkarkan ke pundak.

Punggungnya menggendong buntalan dan pakaiannya basah kuyup, dari rambut yang tertutup kain pengikat rambut sampai ke kakinya.

Melihat seorang pemuda berpakaian sederhana seperti petani berdiri dengan kaki terpentang, sikapnya tenang dan gagah, si codet berkata.

"Ki sanak, kami sedang bersenang-senang, tidak menghendaki keributan. Maka. jangan engkau mengganggu kami Kalau engkau mau, mari ikut bersenang-senang dengan perawan ini dan engkau mendapatkan gliran yang terakhir. Bagaimana, Ki sanak?"

"Ha ha-ha, kawan. Engkau beruntung. Tanpa ikut bersusah-payah ikut menikmati daging kijang muda, ha-ha-ha!"

Si bibir tebal menyeringai. Sutejo menjadi muak dan mukanya berubah kemerahan, sinar matanya berapi.

"Keparat busuk kalian! Nimas, cepat engkau lari keluar dari sini!"

Katanya sambil menguak pintu lebar-lebar.

Gadis yang sedang ketakutan itu dengan tubuh menggigil turun dari dipan, memegangi kain yang robek di bagian dadanya, lalu berlari hendak keluar dari pintu.

Akan tetapi si muka hitam sudah melompat dan menghalanginya, hendak menangkapnya.

Akan tetapi pada saat itu, kaki Sutejo mencuat dan tepat menghantam pinggul si muka hitam.

"Dukkk!"

Tubuh si muka hitam terjerembab dan terbanting menelungkup, Gadis itu terus berlari keluar dari pintu yang terbuka menghambur ke dalam kegelapan malam.

"Jahanam!"

Si bibir tebal dan si codet menjadi marah, mencabut golok masing-masing dan menyerang kepada Sutejo.

Akan tetapi dengan cepat Sutejo mengelak ke samping, lalu dari samping kedua tangannya menyambar, yang kiri menonjok dada bibir tebal, yang kanan menampar leher si codet.

"Dukk! Plakkk!"

Kedua orang itu terpelanting seperti disambar petir. Sebelum mereka dapat bangkit kembali, Sutejo sudah menyusulkan dua kali tendangan ke arah mereka.

"Dess! Dess.....!"

"Tobaaat......!"

Doa orang itu berseru kesakitan dan pada saat itu, si Muka Hitam sudah menghantam lampu gantung dengan goloknya.

Lampu itu pecah dan padam sehingga keadaan dalam pondok itu gelap pekat.

Keadaan ini dipergunakan oleh tiga pencoleng itu untuk melarikan diri.

berhamburan keluar, tidak berani lagi melawan pemuda yang digdaya itu.

Sutejo mengejar keluar.

Dia bingung karena malam gelap sekali dan dia tidak dapat melihat ke mana larinya gadis tadi, juga ke mana larinya ketiga orang jahat itu.

Dia masih mengkhawatirkan keselamatan gadis yang tadi hampir menjadi korban perkosaan.

Tiba-tiba terdengar lagi jeritan wanita.

Jeritan itu yang menolong Sutejo menentukan arah.

Dia melangkah dengan kedua lengan dijulurkan ke depan agar jangan sampai menubruk pohon.

Ketika kilat bercahaya dia dapat melihat tubuh wanita itu di depan, tubuh yang meronta-ronta dari cengkeraman dua tangan kasar pria.

Kilat padam dan dalam kegelapan diapun melompat ke depan.

Tangannya bertemu dengan kulit daging yang lembut, yaitu bagian perut wanita itu.

Tangannya meraba terus dan bertemu dengan sebuah lengan kokoh yang merangkul wanita itu.

Cepat ditangkapnya lengan itu dan direnggutnya lepas dari rangkumannya terhadap wanita itu.

Kilat menyambar dan bercahaya kembali.

Tepat pada saat itu dia melihat betapa seorang laki-laki vang bercodet di mukanya itu mengayun tangannya yang memegang golok ke arah kepalanya.

Sutejo cepat menggerakkan tangan kirinya menyambut tangan yang memegang golok itu.

Ditangkapnya tangan itu pada pergelangannya dan pada saat itu kilat padam lagi.

Dalam kegelapan, Sutejo mengerahkan tenaganya dan menekuk lengan itu.

Orang itu menggeram dan mengerahkan tenaganya, namun mana mungkin dia dapat melawan tenaga Sutejo yang penuh hawa sakti itu?

Lengan, itu tertekuk dan tiba-tiba orang itu mengeluarkan pekik kesakitan lalu roboh terguling.

Sutejo melepaskan pegangannya dan hanya mendengar orang itu bergulingan di atas tanah.

Ketika kilat bercahaya lagi, dia melihat orang itu merangkak pergi melarikan diri dan pada saat itu, dua lengan yang kecil mungil merangkulnya dengan menggigil.

"Tolonglah aku, selamatkan aku.....!"

Suara wanita itu gemetar dan ia melekatkan tubuhnya pada tubuh Sutejo minta perlindungan.

Sutejo tiba-tiba merasa sesuatu yang aneh.

Jantungnya berdebar ketika tubuh yang lunak dan hangat itu menempel di tubuhnya, ketika debar jantung wanita itu terasa olehnya.

Belum pernah selama hidupnya dia berdekatan dengan wanita dan pengalaman ini membuatnya berdebar tidak karuan.

Akan tetapi cepat dia dapat mengatasi kebingungannya dan cepat tangannya mendorong kedua pundak wanita itu dengan gerakan lembut agar tubuh wanita itu tidak lagi melekat pada tubuhnya.

"Engkaukah ini, nimas? Engkau yang tadi berada di pondok?"

"Benar........ tolong selamatkanlah aku......."

Terdengar wanita itu berkata lirih, suaranya masih gemetar bercampur isak.

Tentu ia ketakutan setengah mati, merasa ngeri karena baru saja terbebas dari dekapan seorang laki-laki yang sudah berubah liar seperti seekor srigala.

"Jangan takut, nimas. Orang jahat itu telah pergi. Mari kita masuk ke pondok itu, hujan masih amat derasnya dan di luar gelap bukan main."

Ketika kilat bercahaya, Sutejo dapat melihat pondok itu dan dia menuntun gadis itu menuju ke pondok.

Akan tetapi karena ketakutan yang amat sangat, gadis itu merapatkan tubuhnya pada Sutejo seperti seorang anak kecil minta perlindungan ibunya.

Terpaksa dia merangkul pundak gadis itu untuk menenteramkan hatinya dan menuntunnya masuk ke dalam pondok yang pintunya terbuka lebar itu.

Mereka masuk ku dalam pondok dan Sutejo meraba-raba sampai tangannya menyentuh ujung meja.

Dia meraba-raba, dengan girang menemukan sebuah geretan pembuat api di atas meja.

Segera dibuatnya api dan di bawah penerangan kecil ini dia mengambil lampu yang tadi dipukul pecah oleh penjahat.

Ternyata lampu itu masih dapat dipergunakan, Yang pecah hanya semprongnya saja.

Tempat minyak dari kuningan itu tidak rusak dan masih mengandung minyak hampir penuh.

Lalu disulutnya lampu itu.

Sementara itu, gadis tadi tidak pernah melepaskan lengan Sutejo!

Seperti seekor lintah ia melekat pada Sutejo.

Setelah menaruh lampu di atas meja dan menutup daun pintu dan jendela agar lampu yang tidak bersemprong lagi itu tidak padam oleh angin, baru dia merasa betapa gadis itu masih terus memegangi lengannya dan ikut ke manapun dia bergerak.

"Lepaskan lenganku, nimas. Jangan takut, bahaya sudah lewat."

"Aiih, denmas......jangan tinggalkan aku sendiri..... ke manapun andika pergi, aku ikut......"

Sutejo tersenyum.

"Aku tidak akan meninggalkanmu malam ini dan jangan panggil aku denmas. Aku seorang biasa seperti engkau. Jangan takut, aku akan menjaga di sini sampai pagi dan kalau tiga orang itu berani kembali ke sini, tentu akan kuhajar! Duduklah di atas dipan itu, aku akan membuat api unggun untuk mengusir hawa dingin."

Sutejo menarik lengannya terlepas dari pegangan gadis itu dan gadis itu lalu melangkah ke dipan dan duduk di situ sambil tiada hentinya memandang kepada Sutejo.

Dua di antara tiga buah kursi kayu itu dipatah-patahkan oleh Sutejo, ditumpuk kemudian dibakar, dibuat api unggun.

Setelah api unggun bernyala dengan baik sehingga pondok itu menjadi terang dan ada sedikit hawa hangat mengurangi kedinginan, Sutejo tampak puas dan barulah dia duduk di bangku atau di kursi kayu yang tinggal sebuah itu.

Ketika dia mengangkat muka.

pandang matanya bertemu dengan pandang mata gadis itu.

Sepasang mata yang bening dan indah menatapnya dan Sutejo agak terpesona.

Tak disangkanya bahwa gadis itu seorang yang cantik manis.

Wajahnya ayu dan manis sekali.

Tubuhnya yang terbungkus kain yang koyak di sana sini terutama di bagian dada sehingga tangan kiri gadis itu selalu memegangi dan merapatkan kain yang basah kuyup itu, tampak membayang di balik kain yang basah.

Tubuh yang sintal dan padat, kulitnya putih kuning mulus Seorang gadis dusun yang benar manis.

Ketika pandang mata mereka bertemu, gadis itu menundukkan mukanya yang berubah kemerahan dan ia tersipu.

"Kakangmas ..... saya mengucapkan banyak terima kasih kepadamu..... engkau telah membebaskan saya dari cengkeraman iblis, dari malapetaka yang lebih mengerikan daripada maut. Entah bagaimana saya akan dapat membalas budi kebaikan kakangmas ini......."

Gadis itu terisak karena terharu.

"Sudahlah, nimas, Apa yang kulakukan itu hanyalah pemenuhan kawajibanku. Aku berkewajiban untuk menolong wanita mana saja yang terancam bahaya seperti yang kau alami tadi. Kalau hendak berterima kasih, berterima kasihlah kepada Gusti Allah yang menuntunku ke sini sehingga aku dapat menolongmu. Hanya Gusti Allah yang memungkinkan aku menolongmu, yang memberi kekuatan kepadaku untuk menolongmu. Engkau Siapakah, nimas? Dan mengapa pula bisa sampai di sini dan terjatuh ke tangan tiga orang penjahat itu?"

"Namaku Sumarni, aku dari dusun di timur itu. Aku baru pulang dari dusun tetangga, pulang dari mengunjungi kerabatku. Akan tetapi aku kemalaman dan di tengah perjalanan turun hujan. Aku terpaksa berteduh di bawah pohon, lalu muncul tiga orang itu. Mereka menangkapku dan menyeretku ke dalam hutan lalu ke pondok ini."

Dia menggigil teringat akan pengalamannya itu.

"Dan ...... kalau aku boleh bertanya, andika sendiri siapakah, kakangmas?"

"Namaku Sutejo, seorang perantau yang tidak tentu tempat tinggalnya."

Jawab Sutejo dan agar perhatiannya terhadap gadis itu dapat beralih, dia lalu membuka buntalan pakaiannya, memeras pakaian itu sampai airnya habis dan merentangkan pakaian yang masih lembab itu ke dekat api unggun agar menjadi kering.

Asyik benar dia dengan pekerjaannya ini sehingga dia tidak tahu betapa Sumarni mengamatinya dengan sinar mata penuh kagum.

Pemuda itu demikian tampan dan gagah, mengingatkan ia akan seorang pemuda yang selama ini tidak pernah ia lupakan, akan tetapi yang selalu mendatangkan perasaan tertusuk nyeri dalam hatinya kalau teringat.

Ia TERINGAT kepada pemuda yang mengaku bernama Permadi dan mengaku pula.

sebagai dewa sungai, pemuda yang merayunya dan menjatuhkan hatinya sehingga ia menyerahkan diri begitu saja dengan suka rela.

Pemuda yang berjanji akan menikahinya, akan tetapi setelah merenggut kehormatannya, tidak pernah muncul kembali dan barulah ia tahu bahwa ia telah ditipu.

Kini, bertemu dengan Sutejo, ia teringat kepada pemuda itu, Akan tetapi, biarpun sama-sama muda dan tampan, sama-sama sakti, alangkah bedanya antara mereka berdua!

Pemuda yang ini sama sekali tidak memperlihatkan sikap merayu, bahkan seperti tidak perduli akan dirinya, tidak melihat kecantikannya, tidak melihat tubuhnya yang menggairahkan, yang hanya tertutup kain yang sudah koyak-koyak di sana sini.

Pemuda itu seolah tidak melihat itu semua dan diam-diam Sumarni menjadi penasaran!

Ia, merasa dirinya tidak menarik lagi!

Padahal, ia adalah kembang dusunnya dan semua pemuda, tergila-gila kepadanya.

Direntangkan dekat api unggun yang panas itu, pakaian Sutejo cepat menjadi kering dan hangat.

Dia mendahulukan sehelai sarung dan setelah pakaian ini menjadi kering benar, dia lalu bangkit berdiri dan menghampiri gumami sambil membawa sarung yang kering itu.

Gadis itu masih duduk di atas dipan, memegangi kainnya yang terkoyak di bagian dadanya, biarpun berusaha sedapatnya untuk menutupkan kembali kain itu, tetap saja tampak sebagian dadanya yang berbentuk indah dan berkulit putih mulus itu.

"Kau bergantilah pakaian dengan sarung ini, Nimas. Sarung ini sudah kering. Kalau engkau terus memakai pakaian yang basah itu, engkau akan mudah masuk angin."

Kata Sutejo sambil menjulurkan tanganaya yang memegang sarung kepada gadis itu.

Sumarni menerima uluran sarung itu dan mengambilnya dari tangan Sutejo, akan tetapi ia menjadi ragu karena bagaimana ia dapat berganti pakaian di depan seorang pria?

Agaknya Sutejo maklum akan hal lini.

Dia menatap wajah gadis ayu itu dan berkata.

"Engkau bergantilah pakaian dan Jangan hiraukan aku, nimas. Bergantilah agar engkau tidak menjadi kedinginan."

Setelah berkata demikian, Sutejo duduk di atas kursi yang tinggal sebuah itu, membelakangi meja dan menghadap api unggun sambil merentangkan pakaian lain dekat api unggun biar kering karena diapun perlu berganti pakaian yang telah basah kuyup dan membuat tubuh merasa tidak enak terbungkus pakaian basah itu.

Biarpun kedua matanya tidak melihat, namun kedua telinganya mendengar gemersik pakaian yang dipakai ganti oleh Sumarni.

Matanya menatap api unggun, akan tetapi pikirannya membayangkan hal-hal yang membuat dia tidak lagi melihat api unggun.

Terbayang olehnya betapa hangat dan lunak tubuh Sumarni ketika tadi mendekapnya dalam keadaan ketakutan, juga terbayang olehnya ketika dalam gelap, secara tidak disengaja tangannya menyentuh perut gadis itu yang berada dalam rangkulan penjahat.

Terbayang pula di depan matanya wajah yang ayu, mata yang bening, mulut yang menggairahkan itu.

Mata yang memandangnya penuh rasa syukur dan terima kasih.

"Alangkah ayunya ia......"

Terdengar suara dalam telinganya, suara yang datangnya entah dari mana, seolah terdengar dari belakangnya dan membisikkan kata-kata pujian itu.

"Hemm, biarlah ayu-ayunya sendiri!"

Hatinya membantah suara itu karena suara itu mengandung dorongan untuk menarik hatinya.

"Matanya begitu indah bening, hidungnya mancung dan mulutnya! Ah, tak pernah aku melihat mulut seindah itu, demikian menggairahkan, Dan ia telah berhutang budi kepadamu, budi yang besar sekali."

Suara itu berceloteh terus.

"Aku tidak pernah melepas budi, semua yang kulakukan adalah kewajiban!"

Kata pula hatinya, agak geram karena suara itu mengutik hatinya.

"Akan tetapi ia menganggapnya sebagai budi, ia berhutang budi, berhutang keselamatan yang melebihi nyawa. Bukankah ia bilang bahwa engkau telah menyelamatkannya dari bahaya yang lebih mengerikan dari pada maut? Lihat tubuhnya! Begitu indah, begitu sintal, begitu denok! Dan ia menanti uluran tanganmu, menanti rayuanmu. Ah. betapa akan mesra dan nikmatnya! Bisikan itu merayu.

"Hushh!"

Hatinya meronta.

"Ini tidak sopan! Seorang berjiwa satria tidak akan melakukan hal itu, tidak akan mempergunakan kesempatan dalam kesempitan, tidak akan menuruti nafsunya sendiri!"

"Ha-ha-ha, engkau munafik! Engkau berpura-pura! Pada hal, harimu tertarik sekali kepada gadis ini. Cantiknya! Hangatnya! Apa salahnya kalau engkau mencumbunya? Ia tentu akan senang karena ia berhutang budi kepadamu. Ia tentu akan menyambutmu dengan kedua lengan terbuka."

Bisikan itu menjadi-jadi.

"Hushh! Diam kau, jahanam!"

Maki hatinya, marah kepada diri sendiri yang membiarkan suara itu bicara berlarut-larut.

Akan tetapi bisikan kuat itu semakin jelas "Kalau engkau rangkul ia dan menciumnya, siapa yang akan melihatnya?

Kalian hanya berdua saja di tempat sunyi ini.

Ia pasti senang menyambutmu.

Ah, betapa akan mesranya.....!

Lihat, ia sudah menanti-nantimu!"

Bisik suara itu.

Tanpa dapat ditahan lagi Sutejo memutar tubuhnya menghadapi gadis itu dan benar saja.

Dia melihat Sumarni memandang kepadanya dengan sinar mata bening akan tetapi mulut tersenyum kecil, tersipu malu.

Dalam penglihatannya, gadis itu seperti menantangnya, mengharapkan rayuan dan belaiannya.

"Nah, lihat! Ia sudah siap menerimamu, bukan? Engkau boleh memilikinya, seluruhnya boleh kau miliki, malam ini ia milikmu sepenuhnya..... cepat hampiri ia, rangkul dan rebahkan ia....."

Sutejo memutar tubuhnya dan menggunakan tenaga sakti memukul ke belakang, seolah hendak memukul yang berbisik-bisik itu. Tanpa disadarinya, pukulannya itu menimpa meja yang berada di dekatnya.

"Braaakkkkk....!!"

Terkena pukulannya, meja yang terbuat dari papan tebal itu pecah berantakan. Sumarni membelalakkan kedua matanya, memandang kepada pemuda itu dan bertanya, agak takut.

"Kakangmas Sutejo..... apa..... apa yang kau lakukan itu? Mengapa engkau memukul meja sampai hancur?"

Barulah Sutejo teringat dan sadar bahwa dia telah melakukan sesuatu yang tampak tolol sekali.

"Aku..... aku..... ah, maaf kalau aku mengejutkanmu, nimas Sumarni. Aku.....aku ingin membuat meja ini menjadi kayu bakar untuk memberi umpan api unggun yang hampir padam!"

Lalu dia mengambil beberapa potong pecahan meja dan dilemparkannya ke api unggun sehingga nyala api membesar kembali.

"Kau tolol! Ada makanan lezat tidak dimakan, pada hal engkau lapar! Engkau munafik! Munafiiiiik.....!"

Suara itu makin melemah dan lenyap, seolah-olah iblis yang bersuara itu kini menjauhkan diri.

Sutejo merasa hatinya tenteram.

Teringatlah dia akan wejangan yang pernah didengarnya dari eyang gurunya, mendiang resi Limut Manik.

"Ingatlah engkau selalu, kulup, bahwa tidak ada musuh atau lawan yang lebih tangguh dan berbahaya dari pada nafsu-nafsumu sendiri. Nafsu mendorong dan menyeret kita ke dalam duka melalui kenikmatan dan kesenangan badan. Amatlah sukar untuk dapat mengendalikan nafsu sendiri yang teramat kuat, dan hanya Kekuasaan, Gusti Allah saja yang akan mampu mengalahkannya. Karena itu, bersandarlah kepada Kekuasaan Gusti Allah dengan penyerahan diri yang mutlak. Hanya dengan begitu engkau akan menerima bimbingan dan kekuatan untuk menundukkan nafsu-nafsumu sendiri."

Sadarlah dia bahwa yang berbisik-bisik tadi bukanlah setan, bukanlah iblis, melainkan nafsunya sendiri yang selalu haus akan kenikmatan dan kesenangan badan.

Dia menghela napas panjang dan dalam hatinya dia memuji syukur ke hadirat Allah yang telah memberi dia kekuatan untuk membebaskan diri daii seretan nafsu.

Kalau saja dia lemah dan tadi tidak kuat menundukkan nafsunya sendiri, tentu telah digaulinya gadis itu, secara suka rela atau paksa, secara kasar atau halus dan akhirnya dia akan merasa menyesal selama hidupnya!

Sunyi setelah itu.

Sutejo termenung memandang api unggun.

Waktu merayap lambat sekali.

"Kakangmas Sutejo......"

Sutejo tidak berani memutar tubuhnya, tidak berani memandang gadis itu karena takut kalau-kalau suara itu akan datang menggodanya lagi. Tanpa menoleh dia menjawab.

"Ada apakah, nimas?"

"Kakangmas Sutejo, engkau mengingatkan aku akan seseorang. Kenalkah engkau kepada orang itu. kakangmas?"

"Hemm, siapakah orang itu nimas?"

"Orangnya masih muda, mungkin sedikit lebih tua dari padamu, kakangmas. Tampan dan gagah, juga sakti. Namanya Permadi. Kenalkah engkau kepadanya, kakangmas Sutejo?"

Suara itu penuh harap.

Sutejo memutar tubuhnya.

Dia kini melihat gadis itu sudah mengenakan sarungnya, diikatkan sebatas bawah pangkal lengan.

Rambutnya terurai lepas dari gelungan, mungkin untuk membiarkan rambut itu mengering maka sengaja dilepas dari sanggulnya.

Tampak ayu manis, akan tetapi tidak lagi menggairahkan hatinya, tidak lagi mengganggu dan kini dia dapat menatap wajah itu dengan bati lega dan bebas dari pada cengkeraman nafsu berahi.

"Aku tidak mengenal orang yang bernama Permadi, nimas. Nama yang bagus, seperti nama Raden Janoko. Apamukah orang itu, nimas?"

Ditanya demikian, tiba-tiba Sumarni menangis, air matanya bertetesan di atas sepasang pipinya.

Sutejo mendiamkannya saja, maklum bahwa bagi seorang wanita, pelampiasan perasaan hatinya banyak melalui air matanya dan biasanya air mata itu dapat merupakan jalan keluar dari himpitan duka.

Tidak lama Sumarni menangis.

Ia menyusut air matanya dan sudah dapat menenangkan hatinya kembali.

Entah bagaimana, timbul kepercayaan besar sekali dalam hatinya terhadap Sutejo, semenjak Sutejo memberikan sarung kepadanya tadi.

Sebelum itu, hatinya masih ragu-ragu apakah Sutejo tidak akan melakukan apa yang telah dilakukan oleh Permadi kepadanya.

Akan tetapi setelah melihat Sutejo sama sekali tidak mempunyai niat mendekatinya, bahkan setelah menyerahkan sarung lalu membelakanginya dan tidak memperdulikannya lagi, timbul kepercayaan besar bahwa pemuda ini adalah seorang yang dapat dipercaya sepenuhnya.

Karet a itu, baru satu kali ini ia mendapatkan kesempatan untuk mencurahkan semua penguneg-uneg hatinya keluar.

Pada hal, kepada ayah ibunya sendiripun ia tidak pernah bercerita tentang Permadi.

"Kalau engkau berkeberatan menceritakan, janganlah ceritakan, nimas,"

Kata Sutejo.

"Tidak, kakangmas. Aku bahkan ingin menceritakan semuanya kepadamu. Kurang lebih enam bulan yang lalu ketika aku sedang mandi di sungai, muncul seorang pemuda yang tampan. Dia mengaku sebagai Dewa Sungai dan mengaku bernama Permadi. Dia amat menarik hati dan dia memikat aku dengan bujuk rayunya. Aku jatuh...... aku menyerah karena dia berjanji akan mengawiniku. Akan tetapi setelah dia pergi, dia tidak pernah muncul kembali........ahh, aku menyesal sekali kakangmas, akan tetapi........ aku sungguh mencintanya sepenuh jiwaku. Kalau engkau kebetulan bertemu dengan dia, tolonglah, bujuk dia agar dia mau menemuiku, kakangmas."

Sutejo mengerutkan alisnya.

Di dalam hatinya dia mengutuk pemuda perayu yang berhati palsu itu.

Akan tetapi diapun diam diam menyalahkan Sumarni yang demikian mudah terbujuk dan mudah menyerahkan diri.

Seorang gadis seharusnya teguh mempertahankan kehormatannya dan tidak mau menyerahkan diri kepada pria manapun sebelum dinikahinya.

Kalau ia dengan mudah menyerahkan diri kepada seorang pria kemudian pria itu tidak mau bertanggung jawab dan meninggalkannya, seperti halnya Sumarni, maka akan hancurlah masa depan gadis itu!

"Baiklah, nimas Sumarni,"

Dia berjanji.

"Aku pasti akan mengatakannya kepadanya kalau aku dapat bertemu dengan dia."

"Orangnya tampan, kakangmas. Ketampanan dan ketegapan tubuhnya seperti kakangmas, dan dia mempunyai sebuah tahi lalat di dagunya."

"Akan kuingat itu, nimas. Nah, hujan rupanya telah terhenti dan dengar, itu sudah terdengar suara ayam jantan berkeruyuk. Sebentar lagi akan datang pagi dan aku akan mengantarmu pulang ke dusunmu."

Sumarni bernapas lega.

"Sekali lagi terima kasih kakangmas Sutejo. Engkau sungguh baik hati."

Tiba-tiba terdengar suara ramai banyak orang.

Sutejo dan Sumarni menuju ke pintu dan Sutejo membuka daun pintu dari bambu itu dan memandang keluar.

Dari jauh tampak belasan orang dusun berdatangan menghampiri pondok itu, ada yang membawa tampah, tutup panci dan barang-barang lain yang dipukuli beramai-ramai, dan di antara mereka banyak pula yang membawa tombak dan pentungan.

"Mereka adalah penduduk dusunku!"

Kata Sumarni sambil melangkah keluar menyambut. Ketika para orang dusun itu melihat Sumarni keluar dari pondok itu dan ada seorang pemuda berdiri di ambang pintu, mereka segera berlarian datang.

"Itu ia Sumarni!"

"Wah, pemuda itu tentu yang menculiknya!"

"Hayo pukul orang kurang ajar itu!"

Semua orang sudah berkumpul di situ, berhadapan dengan Sumarni dan Sutejo.

"Para paman dan saudara sekalian. Sabar dan tenang dulu!"

Seru Sumarni yang masih mengenakan sarung yang dipinjung sampai ke atas dadanya.

"Ki sanak ini sama sekali tidak menculikku, bahkan dia telah menolongku dari tangan tiga orang penjahat yang menculikku!"

Seorang pria setengah tua melangkah maju.

"Sumarni, apa yang telah terjadi? Semalam hujan badai dan engkau tidak pulang, maka pagi ini kami ramai-ramai mencarimu, Siapa pemuda ini dan apa yang terjadi?"

Melihat ayahnya, Sumarni lalu berlari menghampiri dan memegang lengan ayahnya.

"Bapa, Jangan salah mengerti. Semalam, ketika pulang dari bertandang ke dusun Kandangan, hujan turun dengan lebatnya, pada hal hari sudah mulai gelap. Aku berteduh di bawah pohon dan muncullah tiga orang yang menyeramkan dan jahat. Mereka menangkap aku dan menyeretku ke dalam hutan, ke pondok ini. Aku terancam bahaya yang lebih mengerikan daripada maut, bapa. Kemudian tiba-tiba muncul ki sanak ini yang bernama Kakangmas Sutejo. Dia menghajar tiga orang itu sehingga mereka melarikan diri. Karena hujan turun disertai badai selama semalam suntuk, terpaksa kami berteduh di gubug ini, menunggu hujan reda sampai pagi."

"Akan tetapi, engkau mengenakan sarung siapa itu?"

"Pakaianku sudah dikoyak-koyak oleh tiga orang jahanam itu, bapa, dan Kakangmas Sutejo sudah begitu baik untuk memanggang pakaiannya dan setelah kering memberikan sarung ini untuk mengganti pakaianku yang koyak-koyak dan basah kuyup."

"Tidak mungkin! Seorang pemuda dan seorang gadis berduaan saja di dalam pondok kosong selama satu malam penuh! Tidak mungkin pemuda itu tidak berbuat mesum terhadap Sumarni!"

Terdengar suara seorang laki-laki, marah.

Suara ini meracuni hati semua orang dan segera mereka menyerbu dengan tombak dan pentungan ke arah Sutejo.

Sutejo menggerakkan kedua lengannya dan semua tombak dan ntungan itu terpental dan terlepas dari tangan para pemegangnya dan ketika dia mendorong ke depan, enam orang terdorong mundur dan terhuyung-huyung!

"Dengar kalian semua, orang-orang bodoh!

Aku bukan seorang hina seperti yang kalian duga!

Kalau kalian hendak benar-benar membela nimas Sumarni dan membersihkan dusun kalian dari ancaman orang jahat, carilah tiga orang penjahat yang semalam menculik Sumarni.

Mereka itu dipimpin oleh seorang yang mukanya codet.

Nah, aku tidak mau berurusan dengan kalian lagi."

Setelah berkata demikian, sekali melompat Sutejo telah lenyap dari depan mata orang-orang dusun itu.

"Kakangmas Sutejo.......! Sumarni berseru akan tetapi Sutejo tidak memperdulikannya dan telah pergi jauh. Sumarni membalikkan tubuhnya menghadapi orang orang dusun itu.

"Kalian semua ini memang bodoh dan keterlaluan, tidak dapat mengenal orang baik atau jahat. Kakangmas Sutejo adalah seorang yang sakti mandraguna dan juga bijaksana. Kalau dia tadi marah, apakah kalian akan mampu menandinginya? Kalau dia mau, tentu kalian semua telah dibunuhnya! Aku yang telah dia tolong sehingga pagi hari ini masih dapat bernapas, tidak dapat membalas kebaikannya malah kalian membalasnya dengan pengeroyokan. Sungguh menyebalkan!!"

Orang-orang dusun itu hanya saling pandang dan merasa menyesal mengapa tadi mereka terburu nafsu.

Beramai-ramai mereka lalu membakar pondok yang agaknya milik para penjahat sebagai tempat persembunyian dalam hutan itu, lalu mereka pulang ke dusun.

Sutejo yang tadi sudah menyambar buntalan pakaiannya sebelum meninggalkan pondok, kini berlari cepat keluar diri hutan itu dan melanjutkan perjalanannya.

Ada sesuatu yang mengganjal hatinya.

Bukan urusan Sumarni.

Urusan gadis itu dan orang-orang dusun sudah dilupakan.

Hal itu dianggapnya urusan kecil yang tidak ada gunanya dipikirkan lagi.

Yang membuat hatinya mengganjal adalah pertemuannya dengan Cangak Awu.

Murid Jatikusumo itu hendak memaksanya menyerahkan kitab Bajrakirana.

Hal inipun tidak membuat dia resah karena dia sudah mengambil keputusan untuk menaati pesan mendiang Resi Limut Manik, tidak akan menyerahkan kitab itu kepada siapapun juga.

Akan tetapi yang meresahkan hatinya adalah tuduhan bahwa dia dan Puteri Wandansari telah membunuh Resi Limut Manik dan dua orang cantriknya itu.

Tuduhan yang semena-mena dan urutan ini teramat penting.

Harus segera dipecahkan dan dibikin terang.

Untuk itu, dia harus pergi ke perguruan Jatikusumo, menghadap ketua Jatikusumo, paman gurunya sendiri.

Bhagawan Sindusakti, untuk menjelaskan duduk persoalannya.

Untuk memberitahukan bahwa bukan dia dan Puteri Wandansari yang membunuh Resi Limut Manik., melainkan Bhagawan Jaladara dan kawan-kawannya.

Dia dapat menduga bahwa tentu Bhagawan Jaladara yang mempunyai ulah licik dan palsu itu, memutar-balikkan kenyataan dan sengaja menjatuhkan fitnah terhadap dirinya.

Dengan hati mantap dia lalu menujukan langkahnya ke selatan, menuju ke daerah Pacitan, di pantai Laut Selatan.

Dua orang kakek itu berdiri di depan gapura perkampungan Jatikusumo.

Yang seorang adalah seorang kakek berusia lima puluhan tahun yang bertubuh tinggi besar, bermuka brewok seperti muka singa dan pakaiannya seperti pakaian seorang pertapa.

Dia ini bukan lain adalah KI Klabangkolo, kakek yang menjadi tokoh golongan sesat itu.

Adapun orang kedua adalah seorang kakek yang usianya sudah enam puluh lima tahun lebih, tubuhnya tinggi kurus, rambutnya sudah putih semua akan tetapi mukanya masih tampak seperti muka orang muda.

Matanya tajam seperti mata burung elang ketika dia melayangkan pandangan dan menyapu keadaan sebelah dalam perkampungan Jatikusumo melalui pintu gerbang yang terbuka.

Melihat dua orang kakek longok-longok di depan gapura, lima orang murid Jatikusumo yang berjaga di garda penjagaan dekat pintu gerbang, segera menghampiri.

Seperti yang telah menjadi watak para murid Jatikusumo yang terdidik baik, melihat dua orang kakek tua, para murid itu bersikap menghormat dan seorang di antara mereka yang menjadi kepala jaga menyapa, suaranya halus.

"Paman berdua hendak mencari siapakah?"

Ki Klabangkolo memandang pemuda yang bertanya itu dengan alis berkerut, akan tetapi mulutnya menyeringai lebar.

"Heh-heh, apakah engkau murid Jatikusumo?"

"Benar, paman."

Kata pemuda yang usianya sekitar dua puluh lima tahun itu.

"Bagus, perlihatkan kepandaianmu!"

Tiba-tiba Ki Klabangkolo mendorongkan tangan kirinya ke arah dada murid Jatikusumo itu.

Pemuda itu terkejut ketika ada angin menyambar ke arahnya.

Dia mencoba untuk mengelak, akan tetapi tidak dapat menghindarkan sambaran angin pukulan yang membuat dia terjengkang dan terguling-guling.

Biarpun dia tidak terluka namun kulit tubuhnya lecet lecet karena dia terguling-guling itu.

Empat orang kawannya menjadi terkejut dan mereka segera maju menghadapi dua orang kakek itu.

Akan tetapi Ki Klabangkolo sudah melangkah maju dan kembali tangannya digerakkan mendorong ke depan sambil berseru.

"Lawanlah kami satu lawan satu, jangan main keroyokan seperti segerombolan srigala!"

Suara itu bergema di seluruh perkampungan.

Bhagawan Sindusakti yang menerima laporan lima orang murid yang menjaga di gapura itu menjadi marah sekali.

Diapun bergegas keluar dan mendengar teriakan itu.

Hatinya semakin panas dan pada saat itu, murid-muridnya juga bermunculan dari semua penjuru.

Maheso Seto, Rahmini, Priyadi dan Cangak Awu juga muncul dan mereka berempat itu menyertai guru mereka menuju ke gapura.

Di belakang mereka, tiga puluh orang lebih para murid juga mengikuti keluar.

Pada saat itu, dari luar gapura masuk seorang pemuda yang bukan lain adalah Sutejo.

Dia berkunjung ke perguruan Jatikusumo untuk memberi keterangan tentang fitnah yang dijatuhkan atas dirinya dan Puteri Wandansari, yang dituduh membunuh mendiang Resi Limut Manik.

Dia melihat dua orang kakek berdiri di depan gapura.

Karena tidak ada urusan dengan mereka walaupun dia mengenal Ki Klabangkolo sebagai kakek yang membikin keributan di dalam pesta ulang tahun perguruan Welut Ireng di mana kakek itu dikalahkan oleh pengeroyokan Maheso Seto dan Rahmini, dan melihat di gardu penjagaan itu tidak ada yang berjaga, dia lalu masuk saja ke dalam perkampungan.

Kedua orang kakek itu yang tidak mengenai Sutejo, juga mendiamkannya saja, mengira bahwa pemuda itu tentu seorang di antara para murid di situ.

Setelah memasuki pintu gapura, Sutejo bertemu dengan rombongan Bhagawan Sindusakti dan empat orang muridnya serta puluhan orang murid yang berada di belakang mereka.

Melihat Maheso Seto, Rahmini dan Cangak Awu yang sudah dikenalnya, Sutejo dapat menduga bahwa kakek tua berwajah penuh wibawa dan bertubuh sedang itu tentu paman gurunya, Bhagawan Sindusakti.

Melihat sikap mereka seperti orang sedang marah, diapun dapat menduga apa yang terjadi.

Tentu dua orang kakek di luar itu datang membikin ribut dan pimpinan perguruan Jatikusumo ini tentu sedang keluar untuk menyambut dua orang kakek itu.

Dia lalu melangkah maju menghadang dan memberi hormat sembah sambil berdiri kepada Bhagawan Sindusakti.

"Paman Guru, saya Sutejo menghaturkan sembah."

Bhagawan Sindusakti berhenti melangkah dan menatap wajah Sutejo dengan penuh perhatian.

Dia tidak mengenal pemuda ini, akan tetapi ketika Sutejo memperkenalkan namanya, dia segera dapat menduga bahwa tentu inilah Sutejo murid mendiang Bhagawan Sidik Paningal itu.

"Murid Jatikusumo tidak ada isinya!"

Dorongannya kini semakin kuat dan empat orang itu merasa seperti disambar angin badai.

Mereka tidak dapat bertahan dan keempatnya terjengkang dan terbanting sampai terguling guling.

Lima orang murid Jatikusumo itu terkejut.

Mereka maklum bahwa mereka berhadapan dengan seorang kakek yang amat sakti dan sama sekali bukan lawan mereka.

Maka, mereka lalu berlari masuk ke dalam perkampungan untuk melapor kepada ketua mereka.

Sementara itu Ki Klabangkolo yang melihat lima orang murid Jatikusumo itu lari memasuki perkampungan, tertawa bergelak.

Kemudian dia menengadah dan mengerahkan Aji Pekik Singanada.

Terdengarlah suara gerengan yang dahsyat sekali, menggetarkan seluruh perkampungan Jatikusumo, kemudian disusul suaranya yaug mengguntur.

"Haiiii, wong Jatikusumo! Kalau di antara kalian ada yaag memiliki kepandaian, keluarlah dan "Ada keperluan apakah engkau datang berkunjung?"

Tanya Bhagawan Sindusakti dengan suara ketus karena memang dia sedang marah mendengar, tantangan dari luar tadi.

"Maaf. paman. Saya datang hendak membicarakan tentang kitab Bajrakirana dan tentang kematian Eyang Resi Limut Manik."

Kata Sutejo dengan sikap tenang.

"Nanti snja. Kami sedang ada urusan penting!"

Kata Bhagawan Sindusakti dan dia melanjutkan langkahnya menuju keluar gapura. Maheso Seto dan Rahmini iuga melangkah dan ketika tiba dekat Sutejo, Rahmini membentaknya.

"Minggir kau! Dan tunggu sampai Bapa Guru"

Memanggilmu!"

Maheso Seto hanya memandang kepada Sutejo dengan alis berkerut.

Priyadi yang belum mengenal Sutejo, memandang penuh perhatian, akan tetapi Cangak Awu juga mengerutkan alisnya yang tebal ketika memandang kepada Sutejo.

Mereka semua menuju keluar, meninggalkan Sutejo.

Akhirnya Sutejo terpaksa mengikati keluar pula, sebagai yang terakhir, setelah tiba di luar, Sutejo menyelinap di antara para murid Jatikusumo yang tanpa diperintah telah mengepung dua orang kakek itu dan membuat lingkaran besar.

Dari belakang punggung para murid yang mengepung tempat itu, sutejo memandang ke dalam lingkaran.

Dia melibat betapa dua orang kakek itu berdiri dengan kaki terpentang lebar dan sikap mereka menantang sekali.

Dia sudah tahu betapa saktinya Ki Klabangkkolo yang baru bertema tanding setelah Maheso Seto dan Rahmini mengeroyoknya.

Akan tetapi, Sutejo memandang kepada kakek kedua penuh perhatian.

Dia melihat betapa sepasang mata kakek yang kedua itu seperti mata elang, amat tajam dan memiliki pengaruh yang amat kuat.

Jupa muka itn masih seperti seorang pemuda saja.

Dari sini dia dapat menduga bahwa kakek itu tentu memiliki kesaktian yang lebih hebat dibanding Ki Klabangkolo.

Kalau tidak demikian, kiranya Ki Klabangkolo tidak akan berani menantang perguruan Jatikusumo karena dia sudah pernah dikalahkan oleh pengeroyokan dua orang murid kepala Jatikusumo.

Agaknya kakek itu kini berani datang berkunjung untuk membalas kekalahannya, tentu ada yang diandalkan dan agaknya kakek tinggi kurus itulah yang menjadi andalannya.

Melihat Ki Klabangkolo, Rahmini tidak dapat menahan kemarahannya lagi dan ia menudingkan telunjuk kanannya ke arah muka kakek itu sambil berseru.

"Kiranya engkau, Ki Klabangkolo! Apakah engkau minta mati, maka berani datang menentang kami setelah engkau kami kalahkan dulu itu?"

"Ha-ha-ha, Bhagawan Sindusakti, agaknya di perguruan Jatikusumo ini, engkau hanya pandai mengajarkan ilmu keroyokan kepada murid-muridmu, seperti ilmunya segerombolan srigala yang pengecut!"

Disindir begitu, Rahmini menjadi merah wajahnya. Akan tetapi Bhagawan Sindusakti masih bersikap tenang dan sabar walaupun mukanya berubah kemerahan.

"Andika berdua siapakan, Kisanak? Dan apa sebabnya datang-datang memukuli murid kami?"

"Heh-heh, ternyata telingamu tidak dapat mendengar dan matamu tidak dapat melihat sampai jauh. Ketahuilah, aku bernama Ki Klabangkolo dan ini adalah kakak sepergumanku yang bernama Resi Wisangkolo dari Lembah Brantas."

Diam-diam Bhagawan Sindusakti terkejut.

Dia baru mendengar nama Ki Klabangkolo dari kedua orang muridnya, yaitu Maheso Seto dan Rahmini yang baru dapat mengalahkannya setelah mereka berdua mengeroyoknya Diapun sudah pernah mendengar akan nama besar Resi Wisangkolo dari Lembah Brantas yang kabarnya merupakan seorang yang sakti mandraguna.

Akan tetapi dia masih bersikap tenang.

"Ah, kiranya Ki Klabangkolo dan Resi Wisangkolo yang datang berkunjung. Tidak tahu ada keperluan apakah andika berdua berkunjung ke perguruan Jatikusumo?"

"Bhagawan Sindusakti, kami berdua menantang perguruan Jatikusumo untuk melakukan pertandingan adu kesaktian. Akan tetapi, kalau memang perguruan Jatikusumo mempunyai orang-orang pandai dan kalau berani, jangan main keroyokan, melainkan bertanding "atu lawan satu! Aku tidak terima karena tempo hari aku pernah dikeroyok oleh dua orang muridmu ini. Aku sekarang menantang untuk bertanding satu lawan satu Akan tetapi kalau memang perguruan Jatikusumo terdiri dari orang orang pengecut dan beraninya hanya main keroyokan, kamipun tidak takut!"

Kata-kata yang penuh tantangan dan kesombongan itu tentu saja membakar hati Bhagawan Sindusakti dan pnra muridnya.

Terutama sekali Cangak Awu yang berwatak keras, jujur dan kasar.

Dia sudah melompat ke depan sambil membawa tongkatnya.

"Ki Klabangkolo! Andika ini orang sudah tua akan tetapi masih sombong dan tidak tahu aturan! Apakah kau kira di duuia ini hanya engkau saja yang memiliki kepandaian? Kami orang-orang Jatikusumo bukan bangsa pengecut. Akulah yang berani menandingimu satu lawan satu!"

Maheso Seto dan Rahmini yang sudah mengetahui akan kesaktian Ki Klabangkolo, memandang dengan khawatir, akan tetapi karena adik seperguruan itu sudah maju, meeka tidak dapat menghalanginya.

Juga Bhagawan Sindusakti tidak dapat mencegah muridnya yang hendak menandingi musuh itu Ki Klabangkolo tertawa, melihat majunya Cangak Awu.

Sejenak dia memandang kepada pemuda tinggi besar itu, lalu katanya lantang.

"Bocah masih berbau popok berani melawan aku? Minggirlah dan suruh gurumu saja yang maju, karena melawan murid Jatikusumo terlalu tanggung bagiku!"

Cangak Awu menjadi semakin marah.

"Tua bangka sombong, lihat tongkatku!"

Serunya dan mulailah dia menyerang.

Tongkatnya menyambar dan mengeluarkan suara mengiuk ketika menyambar ke arah kepala Ki Klabangkolo.

Akan tetapi kakek ini dengan tenang mundur selangkah dan ketika tangan kirinya bergerak ke atas, dia sudah menangkis tongkat itu dengan lengannya.

"Dukkk!"

Tongkat yang keras itu bertemu lengan, dan akibatnya Cangak Awu terdorong dan terhuyung ke belakang.

Akan tetapi pemuda yang pemberani ini tidak menjadi gentar dan dia menyerang terus dengan nekat dan dahsyat.

Gerakannya memang amat kuat dan pemuda ini sudah mencapai tingkat tinggi dalam perguruan Jatikusumo.

Ki Klabangkolo melawan dengan seenaknya.

Biarpun dia tidak memegang senjata apapun, akan tetapi kedua lengannya mampu menangkis tongkat dan kalau dia mengelebatkan lengan bajunya yang lebar, ujung lengan baju itu menyambar dan merupakan serangan yang amat berbahaya bagi Cangak Awu.

Agaknya dia mempermainkan Cangak Awu untuk memamerkan kepandaiannya Tampaknya saja Cangak Awu banyak menyerang, akan tetapi kenyataannya dia terdesak.

Hal itu adalah karena setiap kali menangkis, kakek itu langsung membalas dan setiap serangannya, baik dengan ujung lengan bajunya atau tamparan tangannya, merupakan serangan yang amat berbahaya bagi Cangak Awu sehingga pemuda itu terdesak mundur.

Akan tetapi dasar pemuda yang berwatak keras dan pantang mundur.

Cangak Awu menjadi semakin penasaran dan pada suatu saat yang baik dia mempergunakan tongkatnya untuk menusuk ke, arah dada Ki Klabangkolo.

"Dukkk"

Ki Klabangkolo menangkis sehingga tongkat itu terpental, akan tetapi secepat kilat Cangak Awu membalik tongkatnya dan mempergunakan ujung yang lain untuk ditusukkan ke arah perut lawan dengan pengerahan tenaga sekuatnya.

"Wuuuuttt .... cappp ....!!"

Tongkat itu seolah menancap ke dalam perut Ki Klabangkolo!

Akan tetapi kakek itu malah terkekeh dan ketika Cangak Awu menarik tongkatnya, dia tidak mampu mencabut tongkat yang tampaknya seperti menancap ke dalam perut itu.

Pada hal, ujung tongkat itu tidak menancap melainkan tersedot "masuk"

Dan terlepit, tidak dapat ditarik lagi oleh Cangak Awu.

Pemuda itu menjadi penasaran dan menarik lagi dengan tenaga sepenuhnya.

Pada saat itu, Ki Klabangkolo melepaskan jepitan perutnya dan berbareng menendang dengan kaki kiri yang mengenai dada Cangak Awu.

"Desss........!"

Tak dapat ditahan lagi, tubuh Cangak Awu yang terbawa tenaga betotannya sendiri, ditambah tenaga tendangan lawan, terlempar sampai jauh ke belakang dan jatuh terbanting keras!

Untung tubuh pemuda itu kuat dan kebal sehingga dia tidak terluka parah, akan tetapi tetap saja kepalanya pening dan napasnya agak terengah ketika dia bangkit berdiri dengan terhuyung.

Priyadi menyambar lengannya dan membantu adik seperguruan itu agar dapat berdiri tegak.

"Kakek sombong, akulah lawanmu!"

Terdengar bentakan nyaring dan Rahmini sudah melompat ke depan sebelum dapat dicegah suaminya.

Melihat adik seperguruannya terpental dan roboh, wanita yang keras hati dan galak ini tidak dapat menahan kemarahannya.

"Sambutlah cambukku ini!"

Ia mencabut cambuk dan pinggangnya dan memutar lalu meledakkan cambuk itu di atas kepalanya.

"Tar-tar-tar.......! Pecut itu meledak-ledak, kemudian menyambar turun mematuk ubun-ubun kepala Ki Klabangkolo! Serangan itu dahsyat dan berbahaya sekail, namun Ki Klabangkolo tidak menjadi gentar, bahkan dengan tenangnya dia mengibaskan tangan kirinya dan ujung lengan baju yang panjang itu menangkis sambaran ujung cambuk yang melecut ke arah kepalanya.

"Prattt......!!"

Ujung cambuk bertemu ujung lengan baju dan ujung cambuk itu terpental ke atas!

Akan tetapi dengan putaran pergelangan tangan, Rahmini sudah dapat menyerang lagi dengan lecutan ke arah dada.

Lecutan ini bukan sembarang lecutan karena dengan penggunaan tenaga saktinya ia dapat membuat ujung cambuk itu melecut tegang, ujungnya menjadi kaku dan keras sehingga dapat menotok jalan darah atau urat yang penting di dada dan kalau mengenai sasaran dapat membuat bagian atas tubuh menjadi lumpuh.

Namun, Ki Klabangkolo mengenal serangan yang dahsyat ini maka dengan menggeser kaki ke kiri dan menyampok dengan tangan kanan, dia dapat mengelak sekaligus menangkis ujung pecut itu.

Kini dia membalas dengan tamparan dari kiri ke arah tengkuk Rahmini.

Cepat dan kuat bukan main tamparan ini sehingga terpaksa Rahmini yang diserang dari sebelah kanannya itu membuang diri ke kiri dengan loncatan Untuk mencegah agar lawan tidak mendesaknya, ia memutar pecutnya yang berubah menjadi gulungan sinar yang seolah menjadi perisai bagi dirinya.

Pertandingan berjalan seru, akan tetapi biarpun tingkat kepandaian Rahmini masih lebih tinggi dan matang dibandingkan tingkat yang dimiliki Cangak Awu, tetap saja ia masih belum mampu menandingi Ki Klabangkolo.

Bahkan kadang-kadang lecutan cambuknya yang tidak terlalu berbahaya, diterima begitu saja oleh tangan Ki Klabangkolo dan beberapa kali ujung pecutnya dapat tertangkap jari-jari tangan Ki Klabangkolo dan setelah terjadi tarik menarik, ujung pecut itu putus sampai tiga kali!

Ki Klabangkolo yang agaknya tidak ingin lebih lama menandingi Rahmini, tiba-tiba merendahkan tubuhnya dan kedua tangannya didorongkan ke depan sambil mengeluarkan auman seperti singa yang marah.

"Haunggggg...... wirrrr......!"

Angin keras sekali menyambar ke arah Rahmini.

Wanita itu cepat menyambut dengan dorongan kedua tangannya karena tidak sempat mengelak lagi Akibat benturan dua tenaga sakti itu, tubuh Rahmini terjengkang dan untung ia dapat berjungkir balik sampai tiga kali sehingga tidak sampai terbanting seperti Cangak Awu.

Akan tetapi napasnya agak terengah dan wajahnya pucat sekali.

Maheso Seto marah melihat kekalahan isterinya.

Dia melompat ke depan dan dengan halus menarik tangan isterinya, disuruhnya mundur.

Rahmini yang sudah merasa kalah, tidak membantah dan berdiri di dekat guru dan saudara-saudara seperguruannya, menonton dengan hati tegang karena ia maklum bahwa suaminya belum tentu akan mampu menandingi Ki Klabangkolo yang demikian saktinya.

Dahulupun kalau suaminya tidak mendapat bantuannya sehingga mereka berdua yang mengeroyok Ki Klabangkolo, belum tentu kakek itu dapat dipukul mundur.

Maheso Seto juga maklum bahwa lawannya adalah seorang yang sakti mandraguna, oleh karena itu diam-diam dia sudah mengerahkan semua tenaga saktinya, disalurkan lewat kedua tangannya.

Bhagawan Sindusakti yang melihat kekalahan Cangak Awu dan Rahmini, dapat menduga pula bahwa Maheso Seto sukar untuk mencapai kemenangan melawan Ki Klabangkolo.

Akan tetapi dia tidak melarang murid kepala itu maju karena dia sendiri perlu untuk menyaksikan dan meneliti ilmu yang dipergunakan Ki Klabangkolo agar nanti dia dapat menguasai keadaan apa bila dia yang bertanding melawan kakek sombong itu.

Sementara itu, sejak tadi Sutejo mengamati jalannya pertandingan.

Dia melihat bahwa dalam hal ilmu Silat, agaknya Cangak Awu bahkan Rahmini tidak kalah oleh Ki Klabangkolo.

Ilmu silat para murid Jatikusumo itu memiliki dasar yang lebih baik dan lebih kuat.

Juga dia melihat bahwa baik Cangak Awu maupun Rahmini telah menguasai ilmu-ilmu dari perguruan Jatikusumo seperti Aji Sihung Nila, Harina Legawa, dan Gelap Musti, dengan amat baiknya.

Akan tetapi mereka berdua itu masih lemah dalam hal penggunaan tenaga sakti dibandingkan Ki Klabangkolo.

Inilah yang membuat mereka kalah.

Dia harus mengakui bahwa Ki Klabangkolo agaknya memiliki tenaga sakti yahg amat kuat, juga memiliki kekebalan tubuh yang luar biasa.

Maheso Seto adalah seorang murid kepala Jatikusumo yang sudah mencapai tingkat tinggi.

Di samping wataknya yang gagah berani dan suka menentang kejahatan, diapun adil dan keras, sayang dia memiliki keangkuhan yang timbul dari kedudukannya sebagai murid kepala.

Maka dia maju menghadapi Ki Klabangkolo dengan tangan kosong, karena dia tidak ingin disebut licik kalau meraih kemenangan mempergunakan senjatanya melawan orang yang tidak bersenjata!

Biarpun kalah, dia harus kalah dalam keadaan yang gagah!

Demikianlah, dia menghadapi Klabangkolo dengan tangan kosong pula.

Ki Klabangkolo mengerutkan alisnya melihat Maheso Seto maju hendak melawannya.

"Hemm, engkau pernah mengalahkan aku, akan tetapi dengan pengeroyokan. Sekarang tiba saatnya aku membalas kekalahanmu itu!"

"Boleh kau coba, Ki Klabangkolo. Akulah lawanmu!"

"Ha-ha-ha, lebih baik engkau mundur dan suruh gurumu saja yang maju menghadapiku!"

Kata pula Ki Klabangkolo dengan suara tawa mengejek.

"Jangan banyak cakap, akulah yang akan menandingimu!"

Kata Maheso Seto sambil membuat pasangan kuda-kuda Jatikusumo yang amat gagah.

Dia mengangkat kaki kanan ke atas, kedua tangan merangkap sebagai sembah ke depan dada dan kepalanya menoleh ke kanan menghadapi lawannya.

(Lanjut ke

Jilid 13) Pecut Sakti Bajrakirana (Seri ke 01 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 13

"Ha-ha-ha, engkau mencari penyakit, orang muda. Majulah!"

"Sambut seranganku!"

Maheso Seto menyerang dengan cepat dan kuat sekali, menggunakan tangan kirinya menampar ke arah muka dan tangan kanan menyusulkan pukulan ke arah dada.

Gerakannya tangkas, cepat dan bertenaga sehingga pukulan-pukulannya mendatangkan angin yang bersiutan.

Ki Klabangkolo maklum bahwa lawannya ini tidak dapat disamakan dengan dua orang lawannya yang lalu, maka diapun mengerahkan tenaganya dan cepat menghindar dari kedua serangan itu, membalikkan tubuh ke belakang kemudian dia membalik lagi, kakinya menyambar bagaikan palu godam ke arah muka Maheso Seto.

"Plakk!"

Maheso Seto terpaksa menangkis karena untuk mengelak dia sudah tidak sempat lagi, demikian cepatnya kaki lawan itu menyambar ke arah mukanya.

Akan tetapi tangkisan itu bertemu dengan kaki yang mengandung tenaga besar sekali sehingga Maheso Seio terpaksa melompat ke belakang untuk mencegah dirinya terhuyung.

Maheso Seto tidak menjadi jerih dan dia mendahului lawannya lagi, maju menyerang dengan kecepatan kilat.

Dalam sedetik saja kedua tangannya sudah melakukan serangan beruntun ke arah dada dan lambung.

Biarpun dia memiliki kekebalan tubuh yang hebat, namun Ki Klabangkolo tidak berani menerima serangan lawan itu dengan mengandalkan kekebalannya.

Hal itu akan terlalu berbahaya melihat betapa pukulan-pukulan itu mendatangkan angin yang menerpa keras sekali.

Maka diapun menggunakan kedua lengannya untuk menangkisi semua pukulan Maheso Seto, kemudian membalas pula dengan pukulan tangannya yang ampuh.

Terdengar dak-duk dak-duk dan plak-plak yang keras dan menggetarkan ketika dua pasang lengan itu seringkah bertemu di udara.

Akan tetapi Maheso Seto harus mengakui dalam hatinya bahwa dalam bal tenaga sakti dia masih kalah kuat dibandingkan lawannya.

Beberapa kali kalau mereka beradu tenaga sakti, dia terdorong mundur beberapa langkah sedangkan lawannya masih tegar berdiri kokoh di atas kedua kakinya.

Lambat laun diapun terdesak mundur dan mundur terus walaupun dia masih mampu menangkis semua pukulan lawan.

"Mundurlah, Maheso Seto!"

Bhagawan Sindusakti membentak ketika melihat murid kepala itu tidak mampu menandingi lawan.

Akan tetapi dasar watak Maheso Seto yang keras dan sukar baginya untuk mundur dan mengaku kalah begitu saja, pada saat itu dia sudah mengumpulkan semua tenaganya dan menyerang lawan dengan pukulan jarak jauh, yaitu Aji Gelap Musti.

Lawannya juga merendahkan diri dan menyambut pukulan itu dengan Aji Singorodra.

Dua pasang tangan saling dorong dan dua tenaga sakti jarak jau..

saling bertumbukan di udara dengan hebatnya.

"Blarrr......!"

Semua orang merasakan pertemuan dua tenaga sakti yang membuat tempat itu seolah tergetar.

Akibatnya sungguh hebat.

Tubuh Maheso Seto terlempar ke belakang seperti daun kering tertiup angin, sedangkan Ki Klabangkolo masih berdiri tegak dan hanya napasnya sedikit terengah.

Rahmini cepat menyambar tangan suaminya 4an membantunya berdiri tegak agar tidak sampai terbanting roboh.

Akan tetapi Maheso Seto mengerutkan alisnya dan wajahnya pucat sekali, kemudian dia menjatuhkan diri duduk bersila untuk mengatur pernapasan karena di sebelah dalam dadanya terguncang hebat yang dapat menimbulkan luka parah kalau tidak cepat dip lihkan dengan hawa murni.

"Ha-ha-ha, cuma sebegitu saja kedigdayaan para murid Jatikusumo?"

Bhagawan Sindusakti memandang dengan alis berkerut.

Tahulah dia bahwa kedatangan dua orang pendeta sesat itu merupakan malapetaka bagi perguruan Jatikusumo.

Dia tahu bahwa tingkat kepandaian murid kepala Maheso Seto sudah mencapai tingkat tinggi.

Semua ilmu yang dia kuasai sudah dia ajarkan kepada murid kepala ini dan tingkat kepandaian Maheso Seto sudah sejajar dengan tingkatnya.

Kalau Maheso Seto dapat dikalahkan Ki Klabangkolo sedemikian mudahnya, dia tahu bahwa dia sendiripun tidak akan mampu menandingi pendeta sesat itu.

Akan tetapi dia tidak mempunyai pilihan lain.

Dia harus maju menandingi Ki Klabangkolo dan Resi Wisangkolo untuk mempertahankan nama dan kehormatan perguruan Jatikusumo.

Akan tetapi ketika dia bergerak ke depan, dengan nekat hendak melawan Ki Klabangkolo, tiba-tiba seseorang melompat dari kelompok para murid yang mengepung tempat itu.

Orang ini ternyata adalah Sutejo yang sudah menghadap Bhagawan Sindusakti dan menyembah sambil berdiri membungkuk.

"Paman, perkenankan saya untuk menghadapi Ki Klabangkolo dan menandinginya !"

Kata Sutejo.

Bhagawan Sindusakti mengerutkan alisnya dan memandang ragu.

Kalau muridnya yang maju membela nama perguruan Jatikusumo, hal itu adalah sewajarnya.

Akan tetapi Sutejo bukan murid langsung Jatikusumo, kalau sampai pemuda ini tewas dalam menandingi Ki Klabangkolo, sungguh dia akan merasa sangat tidak enak.

Pemuda ini boleh dianggap sebagai orang luar.

Pula, bagaimana mungkin Sutejo mampu menandingi Ki Klabangkolo sedangkan para muridnya juga tidak mampu?

Bahkan dia tidak menyalahkan dan tidak mengharapkan Priyadi untuk maju karena selain hal itu percuma, juga membahayakan keselamatan muridnya itu.

"Sutejo, engkau tidak berhak mencampuri urusan kami perguruan Jatikusumo!"

Tiba-tiba Rahmini berseru ketus.

"Lagi pula, apamukah yang kau andalkan untuk menandingi lawan sedangkan kami semua juga telah dikalahkannya? Mundurlah engkau dan jangan mengganggu Bapa Guru!"

Mendengar ucapan Rahmini itu, melihat sikap para murid Jatikusumo yang agaknya membenarkan ucapan itu dan melihat keraguan dalam pandang mata Bhagawan Sindusakti, Sutejo maklum bahwa kalau dia menanti perkenan dari pihak perguruan Jatikusumo, dia tidak akan pernah dapat menandingi Ki Klabangkolo yang masih berdiri dengan congkaknya.

"Ki Klabangkolo, melibat kesombonganmu membuat semua orang merasa muak dan aku sendiripun merasa penasaran. Aku bukanlah murid langsung dari Jatikusumo akan tetapi masih ada hubungan dekat karena guruku adalah adik seperguruan Paman Bhagawan Sindusakti. Sekarang aku, atas namaku sendiri, menantangmu untuk bertanding, Kalau aku terluka atau mati dalam pertandingan ini, hal itu tidak ada sangkut pautnya dengan perguruan Jatikusumo dan aku seudiri yang bertanggung jawab. Bagaimana, Ki Klabangkolo apakah engkau berani menyambut tantangan ku?"

Ki Klabangkolo tertawa bergelak memandang kepada Sutejo.

"Bocah cilik! Sepantasnya engkau masih menyusu di dada ibumu, tidak keluyuran sampai ke sini dan minta mati di tanganku!"

"Ki Klabangkolo, tidak perlu mengumbar kesombonganmu melalui mulutmu yang lebar. Katakan saja terus terang kalau engkau tidak berani yang akan menunjukkan bahwa engkau tiada lain hanyalah seorang pengecut hina!"

Sepasang mata Ki Klabangkolo terbelalak lebar dan mukanya yang penuh brewok itu berubah merah, kumis dan jenggotnya seolah-olah berdiri saking marahnya mendengar ucapan yang amat menghina dan merendahkannya itu.

"Jahanam Sutejo! Kalau aku tidak mampu merobek mulutmu dan melumatkan kepalamu, jangan panggil aku Ki Klabangkolo lagi!"

Bentaknya dan dia sudah mengangkat kedua tangannya ke atas dan jari-jari tangan itu membentuk cakar harimau, kemudian dia mengeluarkan gerengan dengan Aji Singanada.

Suaranya menggetarkan seluruh tempat itu dan para murid Jatikusumo sampai melangkah mundur, hampir tidak kuat menahan guncangan jantung mereka akibat getaran yang ditimbulkan gerengan Aji Singanada itu.

Akan tetapi Sutejo yang diserang langsung, diam-diam mengerahkan tenaga saktinya untuk menolak serangan itu dan dia melambaikan tangan sambil tersenyum dan berkata.

"Sudahlah, Ki Klabangkolo. Gerenganmu itu hanya untuk menakut-nakuti anak kecil saja. Tidak ada gunanya kau perlihatkan di sini, menambah buruk mukamu saja!"

Diam-diam Bhagawan Sindusakti merasa heran dan terkejut sekali.

Dia sendiri merasakan getaran hebat dari gerengan itu dan Sutejo yang diserang langsung masih enak-enak saja malah mengeluarkan kata-kata mengejek lawan.

Mulailah dia memandang pemuda itu dengan perhatian penuh dan diam-diam muncul harapan dalam hatinya bahwa pemuda itu akan dapat menghindarkan perguruan Jatikusumo dari kehancuran dua orang kakek itu.

Ki Klabangkolo juga terkejut melihat pemuda itu tegar dan biasa saja menghadapi serangan pekik saktinya seolah tidak merasakan apa-apa.

Hal ini membuatnya menjadi penasaran dan semakin marah.

"Mampuslah!"

Bentaknya dan kedua tangan yang diangkat ke atas membentuk cakar itu tiba-tiba menghunjam ke bawah, menerkam ke arah tubuh Sutejo!

Bhagawan Sindusakti dan para muridnya memandang dengan mata terbelalak dan hati tegang karena maklum betapa dahsyatnya Serangan yang dikeluarkan Ki Klabangkolo itu.

Akan tetapi tubuh Sutejo bergerak dengan ringan dan cepat sekali sehingga terkaman Ki Klabangkolo itu hanya mengenai tempat kosong belaka karena tubuh pemuda itu sudah menghindar dengan kecepatan kilat.

Ki Klabangkolo memutar tubuh dan cepat dia sudah menyerang lagi, kini menggunakan ujung lengan baju kirinya yang menyambar ke arah dada Sutejo dan disusul tangan kanan yang menampar ke arah kepala pemuda itu.

Akan tetapi, kembali serangannya gagal sama sekali karena kedua serangan itupun hanya mengenai angin saja dan tubuh Sutejo telah menyelinap dengan cepatnya dan tahu-tahu telah berada di belakangnya!

Biarpun tubuh Ki Klabangkolo tinggi besar seperti raksasa, namun ternyata dia dapat bergerak dengan gesit pula.

Begitu tubuh Sutejo berkelebat dan lenyap, lolos dari dua serangannya, dia sudah dapat menduga bahwa lawannya itu tentu berada di belakangnya maka secepat kilat dia sudah membalikkan tubuh lagi dan menghadapi Sutejo.

Ki Klabangkolo menyerang lagi secara bertubi-tubi, namun Sutejo tetap mengandalkan keringanan dan kelincahan tubuhnya untuk mengelak ke sana sini dan semua serangan berantai itu tidak pernah mengenai sasaran.

Melihat gerakan pemuda yang selalu mengelak itu, Ki.

Klabangkolo menduga bahwa pemuda yang menjadi lawannya itu hanya memiliki keringanan tubuh yang hebat dan hanya mengandalkan kelincahannya untuk terus mengelak dan menghindar.

Dia menganggap bahwa Sutejo tidak memiliki ilmu kepandaian lain kecuali mengelak dengan lincahnya.

Karena iiu dia menyerang semakin hebat dan bertubi tubi karena merasa yakin bahwa lambat laun tentu terkamannya akan mengenai sasaran juga dan pemuda itu tentu akan roboh kalau terkena satu kali tamparannya saja.

Bhagawan Sindusakti dan empat orang murid utamanya mengikuti gerakan Sutejo dan mereka terkagum-kagum.

Mereka mengenal gerakan itu sebagai gerakan dasar aliran Jatikusumo dan mengandalkan Aji Harina Legawa yang membuat orang dapat bergerak ringan dan cepat.

Akan tetapi, biarpun mereka sendiri telah menguasai aji itu, tak pernah mereka dapat membayangkan betapa Aji Harina Legawa dapat membuat orang bergerak seringan dan secepat itu.

Mereka semua tidak tahu bahwa Sutejo telah menerima peralihan tenaga sakti dari tubuh mendiang Resi Limut Manik ke dalam tubuhnya sendiri.

Dia seolah kini telah menjadi Resi Limut Manik muda!

"Keparat!

Kalau engkau memang gagah, Jangan hanya lari mengelak saja.

Hadapi dan sambutlah serangankut"

Bentak Ki Klabangkolo yang merasa penasaran dan pening juga setelah semua serangannya hanva mengenai tempat kosong.

Hal ini amat melelahkan karena tenaga yang dikeluarkan melalui serangan-serangannya tak pernah mengenai sasaran.

Pengerahan tenaga yang mengenai tempat kosong ini amat melelahkan, karena bagaimanapun Juga dia berusaha selalu saja gagal maka dia lalu mengeluarkan makian itu.

"Kau kira aku takut menyambut seranganmu? Kau lihat saja!"

Kata Sutejo dan dia mengerahkan tenaga saktinya, disalurkan ke arah kedua lengannya.

Pada saat itu tamparan tangan kiri Ki Klabangkolo sudah menyambar lagi ke arah mukanya.

Untuk membuktikan ucapannya, Sutejo tidak lagi mengelak dan dia menggerakkan lengan kanannya oan bawah ke atas untuk menangkis tamparan tangan kiri lawan itu.

"Wuuuttt...... dukkkk!"

Kedua lengan bertemu dengan kerasnya dan keduanya tergetar hebat, akan tetapi kalau Sutejo hanya melangkah ke belakang satu langkah saja, Ki Klabangkolo terhuyung mun"dur sampai tiga langkah!

Semua orang terkejut dan heran.

Bhagawan Sindusakti hampir tidak percaya akan apa yang dilihatnya, Bagaimana mungkin Sutejo dapat menandingi bahkan melebihi kekuatan tenaga sakti Ki Klabangkolo yang demikian besar?

Juga Maheso Seto yang kini sudah bangkit berdiri dan menonton bersama isterinya dan adik-adiknya, dibuat tercengang menyaksikan perlawanan Sutejo kepada Ki Klabangkolo.

Rahmini menonton dengan kedua pipi berubah kemerahan.

Ia merasa malu kepada diri sendiri kalau teringat betapa tadi ia memandang rendah dan menghina pemuda itu.

Ki Klabangkolo sendiri terkejut bukan main ketika mendapat kenyataan bahwa pemuda yang menjadi lawannya itu bukan hanya memliki.

kelincahan yang luar biasa, melainkan juga memilik tenaga yang mampu menandingi bahkan melampaui tenaga saktinya!

Dia semakin penasaran Kalau seandainya dia dikalahkan oleh Bhagawan Sindusakti, hal itu masih belum memalukan karena Bhagawan Sindusakti, adalah ketua Jatikusumo dan usianya bahkan sudah jauh lebih tua darinya.

Akan tetapi pemuda ini?

Patut menjadi anak atau keponakannya, atau muridnya!

Maka dia menjadi penasaran dan segera dia mengerahkan tenaganya dan merendahkan tubuhnya, hendak mengeluarkan aji yang paling diandalkan, yaitu Aji Singakroda yang mengandung tenaga dalam yang dapat dipergunakan untuk merobohkan lawan dan jarak jauh!

"Arrgghhhh......!"

Dia menggereng dan kedua tangannya dengan telapak tangan menghadap ke depan didorongkan ke arah Sutejo.

Pemuda ini sudah maklum akan kedahsyatan serangan jarak jauh itu, maka diapun mengerahkan tenaganya dan menekuk kedua lututnya, mendorong kedua tangannya ke depan dengan Aji Gelap Musti.

"Wuitttt....... blaarrrr ....!!"

Dua tenaga sakti bertemu di udara dan sekali ini Ki Klabangkolo benar-benar bertemu tanding.

Tubuhnya terjengkang dan dia roboh lalu bergulingan sampai ke dekat kaki Resi wisangkolo.

Resi ini menggunakan sebatang tongkat ular hitam yang berada di tangan kanannya untuk menahan tubuh kawannya yang bergulingan itu Ki Klabangkolo bangkit berdiri dengan muka pucat dan dari ujung mulutnya keluar darah, tanda bahwa dia telah terluka di sebelah dalam tubuhnya.

Sutejo sendiri tetap berdiri kokoh seperti batu karang, hanya napasnya saja yang memburu sedikit karena pengerahan tenaga dalam yang amat besar tadi.

Terdengar sorak sorai dari semua murid Jatikusumo yang mengepung tempat itu.

Rasa lega dan girang meledak di hati mereka yang sejak tadi amat tegang dan prihatin melihat betapa para murid kepala Jatikusumo berturut-turut mengalami kekalahan.

Kini, biarpun Sutejo bukan murid langsung perguruan Jatikusumo namun pemuda itu masih mengaku bahwa dia murid Jatikusumo maka tentu saja para murid itu merasa gembira bukan main melihat betapa Sutejo mampu mengalahkan Ki Klabangkolo.

Maheso Seto Rahmini dan Cangak Awu tidak bersorak, akan tetapi wajah mereka juga berseri penuh kegembiraan dan kekaguman.

Bhagawan Sindusakti mengangguk-angguk, ikut bangga.

Hanya Priyadi yang menyambut kemenangan Sutejo itu dengan wajah dingin, alisnya berkerut sedikit dan dia membuat perbandingan apakah sekiranya Sutejo akan mampu menandinginya yang kini telah memiliki ilmu-ilmu yang ampuh.

Akan tetapi dia diam saja dan menanti perkembangan lebih lanjut karena di situ masih terdapat seorang musuh lain yang agaknya lebih tangguh dibandingkan Ki Klabangkolo, yaitu Resi Wisangkolo.

Resi Wisangkolo menepuk tiga kali tengkuk adik seperguruannya dan dengan jari tangan kiri mengurut punggung Ki Klabangkolo.

Setelah itu dia berkata, suaranya kecil tinggi seperti suara wanita.

"Mundur dan mengasolah, Klabangkolo. Biar aku yang memberi hajaran kepada bocah ini."

Ki Klabangkolo mundur dan Resi Wisangkolo menancapkan tongkat ular hitamnya di atas tanah, kemudian meninggalkan tempat itu dan melangkah maju menghampiri Sutejo.

Wajahnya yang masih halus seperti wajah orang muda itu tersenyum dan mata elangnya bersinar penuh selidik ke arah wajah Sutejo.

"Sutejo, engkau masih muda sudah memiliki ilmu kepandaian yang lumayan. Akan tetapi sayang, hari Ini semua ilmumu akan musnah!"

"Sang Resi Wisangkolo, bagaimanapun juga, pada akhirnya kesesatan akan kalah melawan kebenaran. Engkau membela kesesatan, karena itu aku berani melawanmu dan siapa yang akan kalah atau menang, kita sama lihat saja nanti!"

Jawab Sutejo dengan tenang.

"Sutejo, aku dapat menghilang dari pandang mata orang! Lihat, aku sudah menghilang!"

Dan kakek itu mengeluarkan suara pekik melengking dan tiba-tiba tubuhnya hilang terbungkus asap hitam yang tebal.

Keadaan ini tentu saja amat berbahaya bagi Sutejo karena kalau lawan menyerang dia tidak dapat melihat gerakannya.

Bukan Sutejo saja yang melihat kakek itu lenyap terbungkus asap hitam tebal, bahkan Bhagawan Sindusakti dan semua muridnya juga melihat demikian.

Mereka terkejut dan merasa khawatir sekali.

Akan tetapi Sutejo bersikap tenang, mengikatkan sarungnya di pinggang, kemudian dia melolos ikat kepalanya yang lebar dan panjang dan menghantamkan kain ikat kepala itu ke arah asap hitam tebal sambil membentak nyaring.

"Haiiiittt.....!"

Kain ikat kepala itu menyambar dengan amat kuatnya mendatangkan angin bersiutan.

"Wuusssss......!"

Asap hitam tebal itu seketika membuyar dan tampaklah lagi tubuh Resi Wisangkolo yang tinggi kurus, rambutnya yang putih semua.

Senyum yang tadinya menghias wajah Resi Wisangkolo menghilang dan dia membelalakkan matanya memandang kepada Sutejo, seolah masih tidak dapat percaya bahwa pemuda itu dapat memunahkan aji sihirnya sedemikian mudah.

Dia lalu menggunakan kedua tangannya untuk melepas ikatan tali pinggangnya dan sekarang tali pinggang itu merupakan kolor bercabang dua yang panjang.

"Sambutlah kolor pusakaku!"

Bentaknya dan begitu kedua tangannya bergerak, dua helai kolor itu telah menyambar, sehelai ke arah kepala dan sehelai lagi ke arah dada!

Dan dua serangan itu dahsyat bukan main, kuat dan cepat sekali sehingga lenyap bentuk tali kotor, berubah menjadi sinar putih yang menyambar bagaikan kilat ke arah dua bagian tubuh Sutejo.

Akan tetapi Sutejo tidak pernah lengah.

Diapun memaklumi benar bahwa dia berhadapan dengan seorang lawan yang sama sekali tidak boleh dipandang ringan, seorang yang sakti mandraguna dan berhati kejam, tidak ragu untuk mempergunakan segala ilmunya untuk membunuhnya.

Karena itu, melihat dua sinar putih meluncur ke arahnya, diapun menggerakkan kain pengikat kepalanya dan begitu kain itu diputarnya, saking cepatnya yang tampak hanyalah sinar kelabu yang bergulung-gulung dan membentuk perisai di depan tubuhnya.

Ketika dua sinar putih itu bertemu dengan gulungan sinar kelabu yang membentuk perisai, dua sinar putih itu mental kembali karena sudah tertangkis kain ikat kepala.

Sutejo tidak berhenti sampai di situ saja.

Setelah kain pengikat kepalanya berhasil menangkis serangan lawan, dia langsung membalas.

Dengan gerakan pergelangan tangannya, ujung kain pengikat kepala itu melejit dan mengeluarkah suara berciutan ketika menyambar ke arah dada Resi Wisangkolo.

Biarpun yang dipergunakan untuk menyerang hanya sehelai kain, akan tetapi sama sekali tidak boleh dipandang rendah serangan ini karena ujung kain pengikat kepala itu telah disaluri tenaga sakti yang membuat ujung kain dapat menjadi kaku dan keras seperti baja!

Resi Wisangkolo juga mengenal serangan ampuh, maka dia mundur ke belakang menghindarkan diri sehingga ujung kain pengikat kepala itu hanya menyambar angin.

Dua orang itu bertarung dengan seru sekali.

Saling serang dan gerakan mereka sedemikian ringan dan cepatnya sehingga bentuk tubuh mereka tidak dapat tampak jelas lagi.

Yang tampak hanyalah dua bayang-bayang berkelebatan di antara gulungan sinar putih dan kelabu.

Dan pertarungan mereka itu terasa oleh semua orang karena injakan kaki kedua bayang-bayang itu menggetarkan sekeliling tempat pertempuran sampai belasan meter.

Bhagawan Sindusakti berkali-kali menghela napas panjang.

Dia melihat jelas bahwa semua gerakan ilmu silat yang dilakukan Sutejo adalah ilmu silat yang berdasarkan ilmu silat murni dari perguruan Jatikusumo.

Akan tetapi gerakan itu sedemikian hebat dan sampurnanya sehingga dia seolah melihat mendiang gurunya, Resi Limut Manik sendiri, dalam usia yang masih muda, yang bersilat melawan Resi Wisangkolo!

Hal ini membuat alisnya berkerut dan dalam pikirannya terbayang akan cerita Bhagawan Jaladara bahwa Resi Limuk Manik tewas di tangan Sutejo dan Puteri Wandansari.

Kalau seperti ini kehebatan ilmu silat Sutejo, sama sekali bukan hal yang mustahil kalau pemuda ini bersama Puteri Wandansari berhasil membunuh kakek guru mereka.

Akan tetapi, benarkah Sutejo yang membunuhnya?

Pemuda yang kini dengan mati-matian mau membela nama dan kehormatan Jatikusumo dari kehancuran?

Hal itu tidak boleh dia terima begitu saja tanpa ada bukti-buktinya.

Akan tetapi renungannya ini segera tersita oleh pertarungan yang amat hebat itu.

Dia segera memperhatikan jalannya pertandingan dengan penuh perhatian dan di dalam hatinya tentu saja dia mengharapkan agar Sutejo keluar sebagai pemenang.

Pertarungan itu berjalan semakin hebat dan seru.

Lecut-melecut dengan cepatnya seperti kilat menyambar, kadang terdengar semacam ledakan dari ujung kolor atau ujung kain pengikat kepala memukul udara, bahkan kadang tampak asap mengepul seolah senjata mereka mengeluarkan api.

Akan tetapi semua serangan kedua pihak tidak pernah berhasil mengenai sasaran.

Kalau tidak dielakkan tentu ditangkis.

Telah lewat lima puluh jurus mereka saling serang dan keadaan menjadi amat menegangkan, Seolah-olah setiap saat mereka akan melihat seorang di antara kedua orang yang bertarung itu akan roboh dan menggeletak mati.

Sutejo menyelinap di antara sinar kelabu, menyuruk ke bawah dan tiba-tiba saja dia mengirim lecutan dengan kain pengikat kepala itu ke arah dada Resi Wisangkolo.

"Wuuuuttt. .... plak!"

Resi Wisangkolo sekali ini tidak mengelak maupun menangkis, melainkan menyambut lecutan itu dengan dadanya yang kerempeng.

Semua orang melihat ini dan menjadi terkejut karena lecut m ujung kain pengikat kepala itu seolah tidak terasa sama sekali oleh kakek tinggi kurus itu Dadanya seolah berubah menjadi baja yang amat kuat sehingga tidak mempan disambar lecutan kain pengikat kepala yang sudah terisi tenaga sakti itu.

Kiranya kakek itu memamerkan kekebalan tubuhnya.

Begitu menerima sabetan kain pengikut kepala itu, sehelai di antara dua kolor Resi Wisangkolo sudah menyambar ke arah perut Sutejo.

"Syuuuuttt...... plakk!"

Sutejo agaknya tidak mau kalah.

Diapun telah mengerahkan Aji kekebalan Kawoco sehingga ketika kolor menghantam perutnya, senjata istimewa yang ampuh itu terpental kembali seolah memukul dinding baja yang tebal dan kokoh.

Kini terjadilah adu kekebalan.

Senjata mereka silih berganti menghantam tubuh lawan, akan tetapi tidak pernah mereka berdua menangkis ataupun mengelak, melainkan menerima semua serangan itu dengan mengandalkan aji kekebalan mereka Baju keduanya sudah terkoyak-koyak oleh serangan itu, namun tidak ada sedikitpun kulit mereka yang lecet apa lagi terluka!

Agaknya Resi Wisangkolo maklum betul, biar.

pun dengan perasaan yang mengandung kekejutan dan penasaran, bahwa di luar dugaannya, pemuda itu dapat menandinginya dan sama sekali dia tidak mampu mendesaknya!

Belum pernah selama hidupnya dia bertemu dengan lawan semuda ini akan tetapi sesakti ini.

Dia menjadi penasaran sekali.

Lawannya yang masih muda itu mampu menahan pukulan kolor pusakanya dengan mengandalkan aji kekebalannya, tidak ada gunanya lagi mengandalkan kolornya, pikirnya.

Dia lalu melompat ke belakang dan membelitkan dua helai ujung kolor itu di pinggangnya, kemudian dia menyambar tongkat ular hitam yang tadi ditancapkan di atas tanah dan memutar-mutar tongkat itu.

Tampak sinar hitam bergulung gulung, terdengar suara anuin berdesir dan bercuitan dan semua orang mencium bau amis yang memuakkan!

Sutejo terkejut juga.

Dia dapat menduga bahwa senjata tongkat kakek itu ampuh dan berbahaya sekali dan agaknya kakek itupun memiliki ilmu tongkat yang hebat.

Teringatlah dia akan Aji Bajrakirana yang telah dikuasainya.

Akan tetapi Pecut Sakti Bajrakirana tidak berada di tangannya, dan untuk dapat memanfaatkan Aji Bajrakirana, setidaknya dia harus memiliki atau memegang sebatang pecut yang baik!

Sutejo memandang ke sekelilingnya dan berseru.

"Siapakah di antara saudara saudara yang memiliki sebatang senjata pecut? Kalau boleh, hendak saya pinjam sebentar untuk melawan Resi Wisangkolo!"

Tiba-tiba saja Rahmini berseru.

"Terimalah dan pergunakan pecutku ini!"

Wanita yang tadinya bersikap galak terhadap Sutejo itu sudah melemparkan pecutnya ke arah Sutejo.

"Terima kasih!"

Sutejo berseru sambil menyambar pecut itu dengan tangan kanannya.

Pecut itu ujungnya sudah putus tiga kali, ketika Rahmini bertandang melawan Ki Klabangkolo.

Akan tetapi setelah memegang dan mencoba memutarnya, Sutejo dengan girang mendapat kenyataan bahwa pecut itu masih cukup baik baginya, untuk dipakai bersilat menurut ilmu pecut Bajrakirana yang telah dipelajari dan dikuasainya.

Maka dia lalu menghadapi Resi Wisangkolo kembali dan memutar-mutar pecut itu di atas kepalanya.

Melihat pemuda itu memegang sebatang pecut, Resi Wisangkolo lalu menerjang dengan tongkat ular hitamnya.

Gerakannya dahsyat sekali dan ujung tongkat ular hitam itu seperti seekor ular hidup mematuk ke arah muka Sutejo, diantara kedua matanya.

Dahsyat dan berbahaya sekali serangan ini, merupakan serangan maut kalau mengenai sasaran.

Akan tetapi, Sutejo sudah siap sedia menghadapi serangan yang paling ampuh sekalipun.

Dengan sebatang pecut di tangan kanannya, dia merasa mantap dan tenang.

Biarpun pecut itu bukan Pecut Sakti Bajrakirana, akan tetapi pecut itu adalah senjata pegangan Rahmini, tentu saja merupakan senjata yang cukup baik, lebih baik daripada pecut biasa yang suka dipergunakan Sutejo kalau dia berlatih ilmu dari Kitab Bajrakirana.

Dia menggerakkan pergelangan tangan kanannya dan pecut itu menyambar ke depan, menangkis ujung tongkat.

"Tarr......!"

Ujung cambuk melecut dan meledak, kemudian menyambar ke arah tongkat.

"Prattt......! Tongkat itu ujungnya terpental ketika tertangkis ujung pecut. Akan tetapi Resi Wisangkolo sudah cepat menggerakkan tongkatnya untuk menyerang lagi. Gerakannya amat cepat sehingga sinar tongkatnya bergulung-gulung dan dari gulungan hitam itu kadang mencuat ujung tongkat untuk menyerang dengan tusukan, totokan atau pukulan. Akan tetapi Sutejo sudah mulai memainkan ilmu silat Bajrakirana. Gerakannya tangkas bukan main. Pecutnya juga menciptakan sinar merah yang bergulung-gulung. Pecut itu memang berwarna merah dan ke manapun tongkat itu menyerang, selalu tertangkis oleh pecut dan sebaliknya pecut itu juga menyambar-nyambar ganas dalam serangan balasannya. Terjadilah pertandingan yang lebih seru dari pada tadi ketika keduanya mempergunakan kolor dan kain ikat kepala sebagai senjata. Kini mereka berdua mempergunakan senjata yang lebih ampuh dan mereka berdua mengerahkan segala kemampuan untuk mengalahkan lawan, bukan sekadar mengalahkan, bahkan serangan-serangan itu merupakan tangan maut yang menyambar-nyambar hendak merenggut nyawa! Bau amis dari tongkat Resi Wisangkolo itu saja sudah cukup untuk merobohkan lawan. Namun, gerakan cambuk Sutejo mendatangkan angin yang demikian kuat menyambar ke depan sehingga bau amis itu dapat terusir. Mereka saling serang, saling desak, kadang maju kadang mundur dan pertarungan itu semakin seru dan menegangkan semua orang yang menontonnya. Ki Klabangkolo sendiri sudah pulih kembali dan diapun menonton dengan mata terbelalak. Sekarang dia tidak merasa penasaran mengapa dirinya kalah oleh Sutejo. Kiranya pemuda itu sedemikian saktinya sehingga mampu menandingi Resi Wisangkolo! Mulailah hati Ki Klabangkolo menjadi resah. Kalau kakak seperguruannya tidak mampu mengalahkan Sutejo, jelas bahwa kedudukan dia dan kakak seperguruannya itu terancam bahaya. Kalau guru dan para murid Jatikusumo serentak maju, bagaimana dia akan mampu menandingi mereka? Mulailah dia menonton dengan hati gelisah. Priyadi yang sejak tadi menonton, semakin terkejut kepadi Sutejo. Pemuda itu benar benar merupakan lawan tangguh. Yang amat menarik hatinya adalah ilmu pecut yang dimainkan Sutejo. Bukan main hebatnya ilmu pecut itu dan diapun dapat menduga bahwa tentu itu yang disebut Aji Bajrakirana dan yang menjadi ilmu rahasia dari Jatikusumo yang tidak pernah diajarkan kepada para murid. Bahkan gurunya sendiripun tidak pernah mempelajarinya. Dan kini ilmu itu telah dikuasai Sutejo. Pada hal Sutejo hanya menggunakan pecut milik Rahmini. Kalau dia memegang Pecut Sakti Bajrakirana, tentu akan lebih hebat dan dahsyat lagi permainan pecutnya. Timbul keinginan hatinya untuk dapat menguasai ilmu itu! Pertandingan sudah berjalan lebih dari lima puluh jurus dan keadaan mereka berdua masih seimbang. Hanya bedanya kalau keadaan tubuh Sutejo masih segar dan tidak berkurang kegesitannya, Sebaliknya Resi Wisangkolo mulai mandi keringat dan uap putih mengepul di atas ubun-ubunnya, menandakan bahwa kakek itu sudah mulai kelelah an. Dalam pertandingan, di mana tenaga maupun tingkat kepandaian mereka seimbang, soal usia memang memegang peran penting. Resi Wisangkolo yang sudah berusia enam puluh tahun itu tentu saja tidak memiliki daya tahan tubuh sekuat Sutejo yang baru berusia dua puluh dua tahun! Resi Wisangkolo menjadi penasaran bukan main. Dia akan mendapat malu dan nama besarnya akan runtuh kalau dia tidak mampu keluar sebagai pemenang, mengalahkan lawan yang masih muda ini, Bagaimana mungkin dia sampai kalah oleh seorang murid muda dari perguruan Jatikusumo? Dia mulai merasa lelah, napasnya terengah dan dia sadar bahwa kalau dilanjutkan, dia akan semakin kehabisan napas dan kalau sudah begitu, tentu saja dia akan kalah. Karena itu, sebelum teuaganya terkuras, dia akan mempergunakan aji pamungkasnya, yaitu aji terakhir yang merupakan simpanannya dan juga andalannya. Dia melompat ke belakang lalu menancapkan tongkat ular hitamnya ke atas tanah.

"Heh, Sutejo! Kalau engkau memang digdaya, mari kita hentikan adu senjata ini dan mari kita mengadu tenaga sakti!"

Melihat sikap dan mendengar ucapan lawan ini, Sutejo maklum bahwa lawan hendak menyimpan tenaga dan hendak mempergunakan aji pamungkas untuk memaksakan kemenangan.

Tadi beberapa kali mereka sudah saling mengadu tenaga sakti lewat senjata, maka diapun tidak merasa gentar dan dia lalu menyelipkan gagang pecut itu ke ikat pinggang di bagian punggung.

"Resi Wisangkolo! Engkau yang datang menantang, aku hanya melayani tantanganmu. Keluarkanlah semua ilmumu akan kulayani!"

Kata Sutejo, diam-diam siap dengan pengumpulan tenaganya karena dia maklum bahwa dia akan menghadapi benturan tenaga yang amat kuat.

"Sambut pukulan Aji Guntur Bumi!"

Kata Resi Wisangkolo sambil merendahkan tubuhnya sampai hampir berjongkok dan kedua telapak tangannya terbuka, menempel pada tanah di depannya.

Ketika dia mengerahkan tenaga, seolah menyedot tenaga dari bumi, tubuhnya menggigil, wajahnya perlahan-lahan berubah menghitam dan ketika dia mengangkat kedua tangannya untuk didorongkan ke depan, ke arah Sutejo, maka pada saat itu bumi bergoyang seperti terjadi gempa bumi yang amat kuat!

Serangkum tenaga yang membawa getaran dahsyat menyergap ke arah Sutejo!

Pemuda ini dengan tenang, segera mengerahkan Aji Gelap Musti, merendahkan tubuh dengan menekuk kedua lutut dan setelah menyembah ke atas, kedua telapak tangannya didorongkan untuk me"nyambut serangan lawan.

"Wuuuuuttt...... bresssss......!"

Dua tenaga sakti yang bebat bertemu di udara, di antara mereka.

Benturan tenaga ini terasa oleh semua orang yang menonton sehingga mereka terdorong ke belakang dan melangkah sampai tiga empat kali untuk mencegah agar jangan sampai terjengkang.

Akan tetapi mata mereka tetap memandang ke arah kedua orang yang mengadu tenaga sakti itu.

Sutejo terdorong ke belakang sampai dua depa, akan tetapi kedua kakinya masih memasang kuda-kuda, berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang.

Kedua kakinya tak pernah terangkat, akan tetapi dia terdorong ke belakang sehingga dua kakinya membuat guratan yang cukup dalam di atas tanah sepanjang dua depa, Akan tetapi Resi Wisangkolo juga terdorong mundur, bahkan terhuyung sampai lima langkah dan wajahnya menjadi pucat, keringatnya membasahi muka dan leher!

Resi Wisangkolo masib penasaran.

Dia masih memiliki sebuah aji kesaktian lagi yang amat ampuh, maka dia lalu melangkah lagi maju lima langkah.

"Sutejo, ternyata engkau memang pantas menjadi lawanku. Aku masih memiliki sebuah aji simpanan. Beranikah engkau menyambutnya?"

"Silakan, Resi Wisangkolo. Semua kehendakmu akan kulayani."

Kata Sutejo dan diapun maju sejauh dua depa sehingga mereka berdua kini berhadapan dalam jarak seperti tadi.

Kini kakek itu mengangkat kedua tangannya ke atas, dengan telapak tangan menghadap ke atas seolah hendak menyedot hawa sakti dari angkasa, kemudian dia menurunkan kedua tangan itu dan dengan telapak tangannya dia mendorong ke depan, ke arah Sutejo sambil berteriak nyaring.

"Aji Guntur Geni!!"

Sutejo masih tenang, akan tetapi sejak tadi dia sudah mengerahkan tenaga saktinya dan menghadapi serangan itu, diapun berseru.

"Aji Bromo kendali!!"

Dan diapun mendorongkan kedua telapak tangannya ke depan. Dua tenaga sakti yang lebih dahsyat dan pada tadi kembali bertumbukan di udara dan sekali ini bahkan mengeluarkan suara ledakan keras.

"Wuuuuuttt......blarrrr.....!"

Banyak murid Jatikusumo terpental dan terpelanting seolah ada halilintar menyambar mereka.

Demikian dahsyat pertemuan dua tenaga yang berlawanan itu.

Akibatnya juga hebat.

Sutejo terhuyung ke belakang dan wajahnya menjadi pucat, napasnya memburu, akan tetapi dia masih dapat mengatur keseimbangan tubuhnya dan tetap berdiri tegak.

Akan tetapi Resi Wisangkolo terpelanting keras dan terbanting roboh.

Lalu dia bergulingan sampai jauh, lalu bangkit duduk bersila dan mengatur, pernapasan karena dia telah menderita luka dalam yang cukup parah!

Kekalahan Resi Wisangkolo sudah jelas.

Ki Klabangkolo sadar akan hal ini dan kekalahan ini menghancurkan keangkuhannya.

Tanpa berkata apa-apa dia lalu menghampiri kakak seperguruannya, mengangkat dan memondong tubuh tinggi kurus yang kini tampak lemah itu, lalu dia membawanya pergi tanpa menoleh lagi!

Suasana hening sejenak, kemudian pecahlah kegembiraan para murid Jatikusumo dan mereka bersorak atas kemenangan Sutejo yang telah berhasil mengusir dua orang' musuh yang sakti mandraguna itu.

Sutejo menghampiri Rahmini dan menyerahkan kembali pecut itu sambil berkata.

"Banyak terima kasih, mbakyu Rahmini. Pecut ini amat baik."

Rahmini menerima pecut dan masih belum dapat mengeluarkan kata-kata seperti halnya suaminya dan yang lain-lain, Bahkan Bhagawan Sindusakti masih berdiri terhenyak saking heran dan kagumnya menyaksikan kemenangan Sutejo menandingi dua orang kakek itu.

Ketua Jatikusumo ini merasa serba salah.

Di satu pihak dia masih terpengaruh kata-kata Bhagawan Jaladara bahwa Resi Limut Manik dibunuh oleh Sutejo dan Puteri Wandansari, akan tetapi di lain pihak sekarang ternyata bahwa yang menyelamatkan Jatikusumo dari kehancuran adalah Sutejo!

"Sutejo, engkau telah berhasil mempertahankan kehormatan dan nama besar Jatikusumo.

Mari kita bicara di dalam."

Bhagawan Sindusakti berkata lembut.

Sutejo mengangguk dan mengikuti paman gurunya itu yang memasuki gapura lalu menuju ke rumah induk sebagai tempat tinggalnya, Maheso Seto, Rahmini, Priyadi, dan Cangak Awu mengikuti dari belakang.

Mereka semua memasuki ruangan depan rumah Bhagawan Sindusakti dan mengambil tempat duduk.

Bhagawan Sindusakti duduk di atas kursinya dan empat orang murid kepala duduk di kanan kirinya sedangkan Sutejo duduk di atas kursi yang berhadapan dengan ketua itu.

"Sutejo sebelum kita membicarakan urusan penting lainnya, terlebih dulu aku hendak mengucapkan terima kasih atas bantuanmu sehingga perguruan Jatikusumo terhindar dari penghinaan Ki Klabangkolo dan Resi Wisangkolo. Sungguh kami menghargai sekali bantuanmu itu dan sama sekali kami tidak pernah dapat menyangka bahwa engkau akan mampu menandingi dan mengalahkan mereka berdua."

"Maafkan aku yang pernah memandang rendah kepadamu, Adi Sutejo."

Kata pula Cangak Awu yang masih terkagum-kagum melihat sepak terjang Sutejo tadi.

"Tidak ada vang perlu dimaafkan, Kakangmas Cangak Awu."

Jawab Sutejo sambil memandang kepada pria tinggi besar itu.

"Kami juga merasa menyesal dan kecelik telah memandang rendah kepadamu, Adi Sutejo."

Kata Maheso Seto dengan muka berubah kemerahan, sementara itu Rahmini hanya menundukkan muka.

"Aku tidak merasa dipandang rendah, Kakangmas Maheso Seto. Sebaiknya urusan yang lalu itu kita lupakan saja. Seperti yang pernah dikatakan Kakang Cangak Awu, bagaimanapun juga di antara kita masih ada ikatan perguruan."

"Sutejo, tadi engkau mengatakan bahwa kedatanganmu adalah untuk bicara tentang Kitab Bajrakirana dan tentang kematian Bapa Resi Limut Manik. Sungguh kebetulan tekali karena akupun ingin sekali bicara denganmu tentang itu. Dan karena engkau juga menyadari bahwa engkau masih terhitung murid perguruan Jatikusumo, maka aku percaya bahwa engkau tentu akan bicara sejujurnya sebagai seorang murid yang baik."

"Paman Bhagawan, sesunguhnya saya merasa amat terkejut dan penasaran mendengar tuduhan yang diucapkan Kakang Cangak Awu bahwa saya dan Diajeng Wandansari telah membunuh Eyang Resi Limut Manik. Juga sama sekali saya tidak pernah merampas atau mencuri Kitab Bajrakirana. Semua itu adalah fitnah keji yang dijatuhkan kepada saya dan Diajeng Wandansari, Paman Bhagawan."

"Sutejo, kami tidak pernah menjatuhkan fitnah, kami hanya mendengar hal itu dan Adi Bhagawan Jaladara. Sebetulnya bagaimanakah? Menurut engkau, siapa yang telah membunuh Bapa Resi Limut Manik?"

Tanya Bhagawan Sindusakti.

"Paman Bhagawan, agaknya Paman Jaladara telah memutar-balikkan kenyataan dan perbuatannya itu lebih membuktikan lagi betapa jahatnya Paman Bhagawan Jaladara. Sebelumnya dia telah membunuh Bapa Guru Bhagawan Sidik Paningal."

"Hemm, apakah engkau melihat sendiri ketika Adi Jaladara membunuh Adi Sidik Paningal?"

Tanya Bhagawan Sindusakti dengan suara ragu.

"Kalau benar demikian, apa alasannya maka Adi Jaladara membunuh gurumu?"

"Begini permulaannya, Paman Bhagawan. Pada suatu malam Bapa Guru dan saya menghadapi serangan orang dengan ilmu Hitam santet. Akan tetapi Bapa Guru telah dapat menolaknya dan kami berdua terbebas dari ancaman bahaya. Pada keesokan harinya, muncul Paman Jaladara bersama dua orang anak buahnya, yaitu Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda, keduanya merupakan jagoan dari Wirosobo. Paman Jaladara hendak memaksa Bapa Guru melakukan dua hal. Pertama agar Bapa Guru membantu gerakan di Wirosobo yang hendak memberontak, dan kedua agar Bapa Guru tidak mempelajari Agama Islam. Tuntutan ini ditolak oleh Bapa Guru sehingga timbul perkelahian karena Paman Jaladara memaksakan kehendaknya. Bapa Guru dapat memukul mundur Paman Jaladara dan dua orang kawannya itu. Akan tetapi tiba-tiba Paman Jaladara mengeluarkan Pecut Sakti Bajrakirana dan melibat pecut pusaka itu Bapa Guru tidak berani melawan lagi dan membiarkan dirinya dihajar oleh Paman Jaladara. Ketika saya membela Bapa Guru, sayapun dihajarnya dan Bapa Guru melarang saya melawan karena kami harus menghormati dan tunduk kepada pemegang Pecut Sakti Bajrakirana. Akhirnya setelah puas memukuli Bapa Guru, Paman Jaladara pergi dan meninggalkan pesan bahwa kalau dalam waktu sebulan Bapa Guru tidak memenuhi permintaan permintaannya tadi, dia akan datang kembali untuk membunuh Bapa Guru."

"Hemm, bagaimana sampai dapat terjadi hal seperti itu?"

Kata Bhagawan Sindusakti sambil mengerutkan alisnya.

"Kemudian bagaimanakah, Sutejo?"

"Bapa Guru menderita luka-luka, akan tetapi dapat pulih kembali. Beliau mengutus sava untuk pergi ke puncak Gunung Semeru menghadap Eyang Resi Limut Manik dan melaporkan tentang perbuatan Paman Jaladara. Setelah menghadap Eyang Resi, saya mendengar dari Eyang Resi bahwa Pecut Sakti Bajrakirana memang dicuri oleh Paman Jaladara dari padepokan Eyang Resi. Mendengar akan perbuatan Paman Jaladara, Eyang Resi menurunkan tenaga saktinya kepada saya dan memerintahkan saya untuk merampas Pecut Sakti Bajrakirana dari tangan Paman Jaladara."

Bhagawan Sindusakti mengelus-elus jenggotnya yang putih dan mengangguk-angguk.

"Pantas engkau memiliki tenaga sakti yang demikian kuat, kiranya eyang gurumu telah menurunkan tenaga saktinya kepadamu. Engkau sungguh beruntung, Sutejo. Kemudian bagaimana? Lanjutkan ceritamu ."

"Setelah meninggalkan padepokan Eyang Resi Limut Manik, dalam perjalanan saya bertemu dengan Paman Jaladara. Kami bertengkar dan berkelahi. Paman Bhagawan Jaladara mempergunakan Pecut Sakti Bajrakirana dan akhirnya saya dapat merampas pecut pusaka itu dari tangannya."

Sutejo berhenti dan teringat kepada Retno Susilo yang melarikan pecut itu akan tetapi kemudian dapat kembali ke tangannya.

"Lalu bagaimana, Sutejo? Lanjutkan ceritamu kata Bhagawan Sindusakti dengan hati tertarik.

"Setelah berhasil mendapatkan Pecut Sakti Bajrakirana, saya cepat kembali ke padepokan Bapa Guru di Lereng Gunung Kawi."

Dia tidak menceritakan tentang pertemuannya dengan Retno Susilo yang membuat dia terlambat kembali ke padepokan gurunya sehingga dia terlambat pula melindungi gurunya dari serangan Bhagawan Jala"dara dan teman-temannya.

"Setelah tiba di sana, kiranya Paman Bhagawan Jaladara telah berada di sana pula bersama Ki Warok Petak, Ki Baka Kroda dan seorang lagi, Tumenggung Janurmendo, seorang senopati Wirosobo yang sakti. Dalam pertandingan melawan Tumenggung Janurmendo, Bapa Guru terluka parah dan dia masih disiksa oleh Bhagawan Jaladara. Saya segera membantu Bapa Guru dan hendak melawan mereka, akan tetapi Bhagawan Jaladara telah mengancam akan membunuh Bapa Guru yang telah berada dalam cengkeramannya kalau saya tidak menyerahkan Pecut Sakti Bajrakirana kepadanya. Melihat keadaan Bapa Guru yang terancam maut, terpaksa saya menyerahkan pecut pusaka itu dan sebagai penukarannya, Bapa Guru dibebaskan. Setelah Bapa Guru dibebaskan, saya mengamuk dan berusaha untuk merampas kembali Pecut Sakti Bajrakirana, akan tetapi mereka melarikan diri membawa pecut pusaka itu. Demikianlah, Paman Bhagawan Sindusakti. Bapa Guru terluka parah dan meninggal dunia dan memesan kepada saya untuk merampas kembali Pecut Sakti Bajrakirana."

"Kejam sekali Paman Bhagawan Jaladara!"

Kata Maheso Seto dengan suara penuh geram.

"Kejam dan jahat!"

Kata pula Rahmini.

"Perbuatan itu tidak boleh didiamkan saja!"

Kata pula Cangak Awu dengan marah.

"Kakang Maheso Seto, Mbakayu Rahmini dan Adi Cangak Awu, kita hanya mendengar cerita ini dari satu pihak. Harap andika semua tenang dulu. Cerita Paman Jaladara lain lagi dan masih perlu dibuktikan kelak siapa di antara mereka berdua yang bicara benar dan siapa pula pembohong."

Kata Priyadi dengan suara tenang. Bhagawan Sindusakti mengangguk-angguk, agaknya setuju dengan pendapat Priyadi ini. Sambil mengelus jenggotnya dan memandang kepada Sutejo, dia berkata.

"Sutejo, ceritakanlah bagaimana selanjutnya pengalamanmu, tentang kematian Bapa Resi Limut Manik dan tentang Kitab Bajrakirana."

"Baik. Paman Bhagawan. Saya akan bercerita sejujurnya dan terserah kepada paman dan para saudara untuk menilai benar tidaknya cerita saya ini. Setelah Bapa Guru meninggal dunia, saya pergi merantau dan pada suatu hari saya naik ke Gunung Semeru untuk menghadap Eyang Resi Limut Manik. Setibanya di sana, saya melihat kedua cantrik Penggik dan Pungguk sudah tewas, Eyang Resi Limut Manik menderita luka-luka parah dan diajeng Wandansari menghadapi pengeroyokan empat orang yang bukan lain adalah Paman Bhagawan Jaladara dan tiga orang rekannya yang juga mengeroyok dan menewaskan Bapa Guru itu. Saya lalu membantu diajeng Wandansari dan kami berdua berhasil mengusir keempat orang jahat itu. Akan tetapi keadaan Eyang Resi Limut Manik sudah payah dan hanya dapat bertahan selama beberapa hari saja. Akan tetapi waktu beberapa hari itu dia pergunakan untuk memberi petunjuk kepada saya untuk mempelajari Kitab Bajrakirana dan diajeng Wandansari mempelajari Kitab Kartika Sakti. Eyang Resi memberikan Kitab Bajrakirana kepada saya dan memberikan pedang pusaka Kartika Sakti dan kitabnya kepada diajeng Wandansari. Juga beliau memesan agar saya merampas kembali Pecut Sakti Bajrakirana dari tangan Paman Bhagawan Jaladara. Demikianlah, Paman Bhagawan, keadaan sebenarnya bagaimana Eyang Resi Limut Manik menemui kematiannya dan bagaimana pula kedua Kitab Pusaka itu diberikan kepada saya dan diajeng Wandansari."

"Akan tetapi, kurasa Bapa Guru Resi Limut Manik tentu memesan kepadamu untuk menyerahkan Pecut Sakti dan Kitab Bajrakirana kepadaku karena pusaka itu adalah pusaka perguruan Jatikusumo. Kedua pusaka itu sejak dahulu telah dipergunakan untuk membela perguruan Jatikusumo."

Kata Bhagawan Sindusakti dengan suara lembut.

"Maafkan kalau saya menyangkal, Paman Bhagawan. Akan tetapi Eyang Resi Limut Manik memesan wanti-wanti kepada kami berdua untuk mempergunakan kedua pusaka itu, pertama untuk membela Mataram yang menghadapi banyak pemberontakan, dan mempergunakan pula untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Karena itulah maka saya tidak dapat memenuhi kehendak Kakang Cangak Awu ketika dia minta agar pusaka yang berada pada saya, yaitu Kitab Bajrakirana, diserahkan kepadanya untuk dihaturkan kepada paman."

"Kalau begitu sebagai seorang murid Jatikusumo, engkau hendak mengingkari kewajibanmu untuk berbakti kepada perguruan. Seharusnya kitab Bajrakirana yang ada padamu itu diserahkan kepada Bapa Guru sebagai Ketua perguruan Jatikusumo!"

Berkata Maheso Seto.

"Maaf, Kakang Maheso Seto. Karena saya menerima pesan wasiat langsung dari mendiang Eyang Resi, dan saya tidak merupakan murid perguruan Jatikusumo, maka terpaksa saya lebih mengutamakan ketaatan kepada mendiang Eyang Resi daripada yang lain."

"Sudahlah, urusan Kitab Bajrakirana kita tunda dulu. Yang terpenting kami harus mengetahui dengan jelas siapa yang telah membunuh Bapa Resi Limut Manik dan sesungguhnya kepada siapakah mendiang Bapa Guru menyerahkan Pecut Sakti Bajrakirana, karena buktinya pecut itu berada di tangan Adi Bhagawan Jaladara."

Kata Bhagawan Sindusakti melerai.

"Saya akan berusaha untuk merampas kembali pecut pusaka Itu, Paman Bhagawan Sindusakti!"

Kata Sutejo dengan tegas.

"Akan tetapi kalau pusaka itu sudah berada di tangan kami, pusaka itu menjadi hak kami dan siapapun juga tidak boleh mengambilnya dari tangan kami."

Kata Bhagawan Sindusakti.

"Karena pusaka itu adalah pusaka lambang kejayaan perguruan Jatikusumo."

"Kita sama lihat saja nanti, paman. Sekarang ijinkan saya mengundurkan diri dan melanjutkan perjalanan saya."

Bhagawan Sindusakti mengangguk.

Hatinya merasa tidak enak.

Sebetulnya dia harus menahan Sutejo dan menuntut agar Kitab Bajrakirana diserahkan kepadanya.

Akan tetapi bagaimana dia dapat memaksa?

Bagaimanapun juga, baru saja Sutejo telah menyelamatkan nama dan kehormatan perguruan Jatikusumo, dan untuk memaksa pemuda itu menyerahkan kitab, siapa di antara murid Jatikusumo yang akan mampu menandinginya?

Diapun mengangguk ketika Sutejo menyembah dan meninggalkan perkampungan Jatikusumo.

Dua orang penunggang kuda itu melarikan kudanya menerabas hutan yang lebat itu.

Dari cara mereka duduk dengan tegak di atas punggung kuda yang berlari cepat itu, dapat diduga bahwa mereka adalah dua orang penunggang kuda yang mahir.

Yang melarikan kuda di depan adalah seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih, bertubuh sedang dan tegap, wajahnya tampan gagah dan sepasang matanya mencorong penuh wibawa.

Kumisnya yang melintang seperti kumis Raden Gatotkaca itu menambah keangkeran dan kegagahan wajahnya.

Sebatang keris terselip di pinggangnya, dan dari pakaiannya yang gemerlapan dengan tanda-tanda pangkat, dapat diduga bahwa orang ini adalah seorang ponggawa kerajaan yang berpangkat tinggi.

Dugaan ini benar karena pria itu adalah Ki Mertoloyo, seorang senopati besar kerajaan Mataram, seorang di antara para ponggawa yang menjadi kepercayaan Sultan Agung Penunggang kuda kedua yang melarikan kudanya di belakang Ki Mertoloyo lebih mengagumkan lagi.

Ia adalah seorang wanita muda, seorang gadis berusia delapan belas tahun yang berwajah cantik manis sekali.

Rambutnya yang hitam disanggul agak mawut tertiup angin sehingga sebagian rambutnya terjurai menutupi sebagian mukanya.

Matanya lebar dan bersinar tajam, mulutnya yang manis itu menyungging senyuman lembut.

Hidungnya yang kecil mancung menambah kemanisan wajahnya.

Gadis ini adalah Winarti, puteri Ki Mertoloyo.

Dari ayahnya yang gagah perkasa dan sakti mandraguna, gadis ini sejak kecil juga mendapat gemblengan olah kanuragan sehingga kini ia menjadi seorang gadis yang digdaya.

Cara ia menunggang kuda juga sudah membayangkan ketangkasannya.

Sebagai seorang senopati besar, Ki Mertoloyo mendapat tugas dari Sultan Agung untuk mempersiapkan pertahanan di daerah perbatasan, untuk bersiap siaga kalau-kalau ada para pemberontak yang melakukan gerakan menyerbu daerah Mataram.

Untuk keperluan itu, Ki Mertoloyo mengadakan perjalanan ke daerah perbatasan, menghubungi kepala-kepala daerah lurah dan demang, untuk menyusun dan memperkuat pertahanan di daerah itu.

Baca Juga: Suling Emas 33

Baca Juga: Suling Emas 19

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert