Ceritasilat Novel Online

Pecut Sakti Bajrakirana 5

Eps 5 Pecut Sakti Bajrakirana - Kho Ping Hoo

Baca online Pecut Sakti Bajrakirana - Kho Ping Hoo

Cersil Pecut Sakti Bajrakirana - Kho Ping Hoo.

Untuk melaksanakan tugas berkeliling dan melakukan pemeriksaan ini, senopati yang gagah perkasa itu tidak membawa pasukan pengawal, melainkan hanya ditemani puterinya, Winarti yang gagah perkasa.

Berdua dengan puterinya, senopati itu merasa sudah cukup kuat untuk menghadapi ancaman bahaya dari manapun datangnya.

Dan buktinya, selama melakukan pemeriksaan di perbatasan sebulan lebih lamanya, dia dan puterinya tidak pernah menemui halangan yang berarti.

Pada siang hari itu, mereka membalapkan kuda menerobos hutan menuju ke dusun Pamrican, sebuah dusun yang berada di ujung utara daerah perbatasan.

Pamrican adalah sebuah dusun kademangan dan yang menjabat demang di situ adalah Ki Demang Sengkali, Senopati Mertoloyo mengenal baik Ki Sengkali, maka kini dia hendak berkunjung ke Pamrican dan membicarakan tentang pertahanan Timur Laut itu dengan Ki Demang, Perjalanan ke Pamrican melalui daerah berhutan yang jaraknya hanya belasan pal dari Pamrican.

Karena matahari telah naik tinggi dan dia tidak ingin terlalu larut tiba di Pamrican maka Senopati Mertoloyo membalapkan kudanya dan Winarti mengikuti dari belakang, Gadis ini sudah mahir sekali menunggang kuda sehingga ia dapat mengikuti ayahnya tanpa kesulitan.

Tiba-tiba mereka berdua melihat kobaran api menghadang di tengah jalan yang mereka lalui.

"Tahan......!"

Kata Ki Mertoloyo sambil menarik kendali kuda dan mengangkat tangan kiri memberi isarat kepada puterinya untuk menahan larinya kuda.

Dua ekor kuda yang ditahan itu meringkik ketika kendali ditarik oleh penunggangnya, juga karena terkejut melihat kobtran api.

Setelah dua ekor kuda berhenti berlari, tiba-tiba dari empat penjuru berloncatan dari balik batang pohon dan semak belukar belasan orang yang kelihatan kasar dan bengis.

Mereka semua memegang senjata, ada yang membawa golok, pedang atau keris dan mereka segera mengepung ayah dan anak yang menjadi terkejut itu.

Ada sebagian orang dari mereka memadamkan api dengan menginjak-injak ranting dan daun kering yang tadi mereka bakar untuk menghentikan larinya dua ekor kuda itu.

Melihat dia dan puterinya dikepung orang-orang bersenjata yang jumlahnya hampir dua puluh orang itu, Ki Mertoloyo lalu melompat turun dari atas punggung kuda, diturut oleh Winarti yang juga melompat turun dari atas kudanya.

Dua ekor kuda yang dilepas kendalinya itu mundur-mundur ketakutan melibat banyak orang dan mereka lalu ditangkap oleh dua orang pengepung dan dibawa keluar dari kepungan.

Mertoloyo dan Winarti tidak dapat mencegah dirampasnya dua ekor kuda mereka itu karena mereka harus berjaga diri melihat belasan orang itu mengancam mereka.

(Lanjut ke

Jilid 14) Pecut Sakti Bajrakirana (Seri ke 01 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 14 Ki Mertoloyo mengerutkan alisnya, sikapnya tenang dan sama sekali tidak gentar.

Dia melangkah maju menghampiri seorang di antara mereka yang bermuka hitam dan agaknya menjadi pemimpin mereka melihat pakaiannya yang berbeda dari yang lain.

Pakaiannya agak mewah dan dia membawa sebatang keris yang sarungnya terukir indah terselip di pinggangnya.

"Ki Sanak,"

Tegur Ki Mertoloyo sambil mengamati wajah orang-orang yang berhadapan dengannya.

"Andika sekalian ini siapakah dan apa maksud andika sekalian menghadang perjalanan kami?"

Si muka hitam yang usianya sekitar empat puluh tahun itu mengelebatkan golok di tangannya dan tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, kawan-kawan ! Dia masih bertanya mengapa kita menghadangnya, ha-ha-ha!"

Seorang lain yang mukanya brewok, berusia kurang lebih empat puluh tahun Juga tertawa.

"Ha-ha-ha, mau kenal nama kami? Aku adalah Klabang Lorek, jagoan Wirosobo!"

Dia mengamangkan goloknya.

"Dan aku adalah Klabang Belang, Juara Wirosobo!"

Kata yang bermuka hitam.

Ki Mertoloyo memandang tajam penuh selidik.

Melihat sikap kedua orang ini agaknya mereka itu bukan perampok biasa.

Mungkin mereka adalah kaki tangan Kadipaten Wirosobo yang sudah mengetahui siapa dia dan sengaja menghadang dan mengganggu.

"Kalian mau apakah menghadang perjalanan kami?"

Tanyanya.

"Tinggalkan gadis ini dan dua ekor kudamu, baru engkau boleh lewat di jalan ini!"

Kata Klabang Belang sambil mengerling ke arah Winarti dan menyeringai. Wajah Ki Mertoloyo berubah merah, kumisnya tergetar dan sepasang matanya mengeluarkan sinar kemarahan.

"Klabang Belang dan Klabang Lorek, buka lebar-lebar mata dan telingamu! Aku adalah Senopati Mertoloyo dari Mataram! Apakah kalian sudah bosan hidup, berani menghadang dan mengganggu kami ayah dan anak?"

"Senopati Mertoloyo, kalau engkau tidak mau menyerahkan puterimu, kami akan merampasnya dengan paksa dan membunuhmu!"

Setelah berseru demikian, Klabang Belang memberi isarat dengan tangan kirinya yang diangkat ke atas, menyuruh anak buahnya mengeroyok Ki Mertoloyo dan menangkap gadis cantik itu.

Para anak buah itu menggerakkan senjata mereka menerjang Ki Mertoloyo, sedangkan Klabang Belang dan Klabang Lorek seperti berlomba hendak menangkap gadis yang cantik manis itu.

Ki Mertoloyo tidak mengkhawatirkan puterinya karena diapun maklum bahwa puterinya sudah memiliki bekal kedigdayaan yang memadai, yang tidak perlu khawatir kalau hanya dikeroyok dua orang kasar seperti Klabang Belang dan Klabang Lorek itu.

Apa lagi kedua orang itu tidak berniat membunuhnya, melainkan menangkapnya, maka tentu akan lebih mudah bagi puterinya untuk membela diri.

Akan tetapi, enam belas orang anak buan gerombolan itu menerjang dan mengeroyoknya dengan niat membunuh.

Hal ini dapat dilihat dari cara mereka maju menyerang, demikian ganas mereka mempergunakan senjata untuk menyerangnya.

Dari empat penjuru mereka datang menyerangnya.

Beberapa batang tombak, pedang, golok dan keris meluncur ke arah tubuhnya dalam serangan maut.

Akan tetapi dia tidak menjadi jerih.

Sambil mengeluarkan bentakan nyaring, Ki Mertoloyo menyambut para pengeroyoknya dengan tendangan dan tamparan kedua kaki tangannya.

Dia bahkan tidak menghindarkan tangan dan kakinya bertemu dengan senjata tajam runcing mereka.

Ternyata kedua lengan dan kakinya dilindungi Aji Kekebalan yang amat kuat, yang membuat kulit tubuhnya Seperti terbuat dari baja dan semua senjata yang bertemu dengan kaki dan tangannya terpental.

Terdengar pekik-pekik kesakitan dan tubuh para pengeroyok itu berpelantingan.

Akan tetapi agaknya mereka mengandalkan jumlah banyak, maka mereka yang jatuh digantikan oleh kawan dan yang tidak terluka parah segera bangkit dan mengeroyok kembali.

Ki Mertoloyo mengamuk bagaikan seekor harimau yang dikeroyok segerombolan anjing serigala.

Dia adalah seorang senopati yang sudah banyak pengalaman dalam pertempuran, dan dia seorang senopati besar.

Dia tidak mau sembarangan membunuh orang, dan hanya membuat para pengeroyok jungkir balik dan berpelantingan, tanpa menggunakan kerisnya atau pukulan mautnya.

Klabang Belang dan Klabang Lorek juga kecelik sekali.

Ketika tadi mereka maju menghampiri Winarti, mereka mengira akan dapat segera merangkul dan mendekap gadis yang cantik manis itu.

Akan tetapi ketika Klabang Belang menubruk, gadis itu dengan lincahnya mengelak sehingga tubrukan itu mengenai tempat kosong.

Ketika Klabang Lorek menyambut dari depan untuta menangkap lengan Winarti, gadis ini menangkis dengan gerakan tangan kiri ke atas.

Tangkisannya demikian kuat sehingga tangan kanan Klabang Lorek yang meraih itu terpental dan sebelum Klabang Lorek dapat mengelak, kaki kanan gadis itu mencuat dengan kecepatan kilat.

"Bukkk!"

Perut Klabang Lorek yang agak gendut itu terkena tendangan dan dia terjengkang, walaupun tidak sampai roboh akan tetapi dia terhuyung-huyung ke belakang sambil memegangi perutnya Perutnya terasa mulas sekali, melilit-lilit, mungkin usus buntunya yang terkena tendangan kaki mungil Winarti!

Melihat temannya tertendang.

Klabang Belang masih belum menyadari akan kehebatan gadis itu.

Dia malah menertawakan Klabang Lorek yang meringis sambil mengelus perutnya.

"Ha-ha ha!"

Dia tertawa dan tiba-tiba saja dia menubruk ke arah Winarti, dengan keyakinan bahwa sekali ini dia tentu akan mampu mendekap gadis yang menggairahkan hatinya itu.

Namun kembali dia menubruk angin karena entah bagaimana caranya, gadis itu telah menyelinap dan mengelak dengan lincah sekali dan tahu-tahu gadis itu telah berada di belakangnya.

Winarti menggerakkan tangan kirinya menempiling ke arah belakang telinga Klabang Belang "Prattt ......

Wahupun yang menempiling itu hanya sebuah tangan yang kecil dan berkulit halus, namun nyatanya Klabang Belang merasa seolah ada halilintar menyambar kepalanya.

Dia terpusing dan jatuh duduk, memegangi kepalanya karena rasanya kepalanya berpusing atau bumi di sekelilingnya berputar aneh.

Sekali ini giliran Klabang Lorek yang menertawakannya.

Si brewok gendut yang rasa nyeri di perutnya sudah mereda ini, berdiri sambil tertawa dan telunjuk kirinya menuding ke arah kawannya yang masih terduduk sambil memegangi kepalanya.

"Ha-ha ha-ha!"

Klabang Lorek tertawa, akan tetapi pada saat itu diapun menyadari bahwa gadis yang mereka keroyok berdua itu ternyata adalah seorang gadis yang tangguh dan sakti!

Dia menyadari hal ini lalu mengeluarkan senjatanya, sebatang golok besar yang tadi diselipkan di pinggang ketika dia hendak menangkap Winarti dengan kedua tangan kosong.

Klabang Belang juga sudah dapat bangkit berdiri biarpun kepalanya masih sedikit pening.

Melihat kawannya mencabut golok, diapun mencabut goloknya dan berseru marah.

"Gadis yang tak tahu disayang orang! Engkau agaknya memilih mati dari pada hidup senang dengan kami!"

Bentak Klabang Belang.

Dia lalu menyerang dengan goloknya, disusul terjangan yang dilakukan Klabang Lorek ke arah kepala Winarti.

Gadis itu mengelak ke belakang dengan cepat sekali sehingga luput dari sambaran dua batang golok para pengeroyoknya.

Sambil melompat mundur itu Winarti mencabut kerisnya.

Pada saat itu, golok di tangan Klabang Belang telah menyambar lagi.

Agaknya Si muka hitam ini merasa penasaran sekali ketika serangan pertamanya tadi dapat dielakkan dengan mudahnya oleh gadis jelita itu.

Kini dia melompat ke depan sambil mengayun goloknya membacok ke arah kepala Winarti.

Pada detik berikutnya, golok di tangan Klabang Lorek yang mukanya brewokan itupun menyambar dengan tusukan ke arah dada gadis itu!

Akan tetapi dengan sigapnya Winarti miringkan kepalanya sehingga bacokan Klabang Belang luput dan ia menggerakkan kerisnya dari kiri ke kanan dengan putaran pergelangan tangan sambil menggerakkan tenaganya untuk menangkis tusukan golok ke arah dadanya.

"Wuuuttt...... trangggg....!"

Golok di tangan Klabang Lorek terpental dan hampir terlepas dari tangan pemegangnya. Pada saat itu, kaki kiri Winarti mencuat dan menendang ke arah perut gendut Klabang Lorek.

"Bukk......!"

Tubuh yang tinggi besar itu terjengkang dan terbanting keras. Pantatnya menghantam tanah sampai mengebulkan debu dan Klabang Lorek meringis, merasa sakit pada perut dan pantatnya.

"Singgg......!"

Golok Klabang Belang menyambar dahsyat.

Akan tetapi Winarti yang sudah siap siaga itu mengelak ke belakang dan ketika golok menyambar turun, secepat kilat kerisnya meluncur dan menikam tangan yang menggenggam gagang golok.

"Crott.....!"

Darah mengucur, golok terlepas dan Klabang Belang terhuyung ke belakang sambil memegangi tangan kanan yang terluka itu dengan tangan kirinya.

Masih untung baginya bahwa keris di tangan gadis itu tidak mengandung racun sehingga dia hanya merasakan kepedihan karena kulit dagingnya terobek saja.

Melihat dua orang pimpinan mereka roboh, para anak buah lalu maju membantu sehingga di lain saat Winarti sudah dikeroyok banyak orang seperti juga ayahnya.

Ayah dan anak ini mengamuk hebat dan para pengeroyok kocar-kacir tidak dapat menahan amukan ayah dan anak yang sakti itu.

"Mundur semua, biar aku yang menghadapinya!"

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

Mendengar suara yang membentak ini, Klabang Lorek dan Klabang Belang berteriak kepada anak buahnya untuk mundur.

Ki Mertoloyo, Senopati Mataram yang sakti itu.

bersama puterinya, Winarti, berdiri mengangkat muka memandang orang yang baru datang.

Ki Mertoloyo terkejut karena dia mengenal siapa yang datang itu.

Bukan lain adalah Tumenggung Janurmendo yang sakti mandraguna!

Ki Tumenggung Janurmendo yang tampan dan gagah itu melangkah maju sambil tersenyum.

"Ah, kiranya Ki Senopati Mertoloyo yang mengamuk di sini. Dan ini puterimu ! Sungguh cantik jelita puterimu. Ki Mertoloyo!"

"Tumenggung Janurmendo! Sudah kuduga bahwa gerombolan Ini bukan perampok biasa. Setelah sekarang andika muncul, tahulah aku bahwa mereka adalah orang-orang Wirosobo yang hendak memberontak! Tumenggung Janurmendo, apa maksudmu mengerahkan orang orangmu untuk mengeroyok kami?"

Suara Ki Mertoloyo terdengar lantang dan marah. Tumenggung Janurmendo tertawa.

"Ha-ha-ha, engkau berada di perbatasan Wirosobo dan keadaanmu telah terkepung, akan tetapi masih dapat bersuara lantang! Ki Mertoloyo, lebih baik andika menaluk saja, menjadi tawanan kami. Kalau andika mau membantu Wirosobo, tentu andika akan memperoleh kedudukan yang tinggi."

"Janurmendo! Jangan asal dapat membuka mulut! Aku adalah Senopati Mataram yang setia dan aku siap membela Mataram dengan taruhan nyawaku. Biarpun andika telah mempersiapkan anak buah kami tidak akan mundur selangkahpun !"

Tantang Ki Mertoloyo.

"Hemm, Ki Mertoloyo. Kegagahanmu tidak ada artinya. Apakah engkau tega melihat puterimu celaka di tangan kami? Menyerahlah dan kalian berdua akan kami perlakukan dengan baik. kami hadapkan kepada Gusti Adipati di Wirosobo."

"Keparat! Aku tidak sudi mendengar ocehanmu lebih lanjut!"

Bentak Senopati Ki Mertoloyo.

Tumenggung Janurmendo menjadi marah sekali.

Dia memberi isarat kepada dua orang pembantunya.

Klabang Lorek dan Klabang Belang.

Dua orang ini lalu mengerahkan sisa anak buahnya untuk Mengepung ayah dan anak itu.

"Ki Mertoloyo, agaknya andika sudah bosan hidup!"

Kata Tumenggung Janurmendo yang segera menerjang maju dengan pukulan tangan kirinya yang ampuh dan mendatangkan hawa panas sekali karena dia telah menggunakan Aji Wisang Geni.

Ki Mertoloyo adalah senopati Mataram yang sakti.

Dia mengenal pukulan ampuh itu, maka dia cepat mengelak dan balas memukul dari samping.

Tumenggung Janurmendo juga tidak berani memandang ringan lawannya dan dia sudah melompat ke belakang untuk menghindar, lalu dia mencabut kerisnya.

Sinar yang mengandung hawa mengerikan terasa ketika keris pusaka Jalu Sarpo dicabut.

Keris pemberian Adipati Wirosobo ini memang merupakan pusaka yang ampuh.

Melihat ini, Ki Mertoloyo juga mencabut kerisnya dan ketika lawan menyerang dengan tusukan kerisnya, dia menangkis sambil mengerahkan tenaganya.

"Tringgg......!"

Tampak api berpijar ketika dua batang keris bertemu dan keduanya terdorong mundur.

Akan tetapi mereka segera saling terjang lagi dan terjadilah perkelahian antara dua orang senopati itu dengan hebatnya.

Sementara itu, Winarti sudah dikeroyok oleh belasan orang yang dipimpin oleh Klabang Lorek dan Klabang Belang.

Gadis itu mengamuk dengan keris di tangannya, akan tetapi pihak lawan terlalu banyak sehingga sebentar saja ia sibuk mengelak dan menangkisi hujan senjata yang menyambar-nyambar tanpa ada kesempatan untuk balas menyerang.

Keadaan Ki Mertoloyo juga tidak lebih baik dari pada puterinya.

Sebetulnya, tingkat ilmu kepandaiannya tidak berselisih jauh dibandingkan dengan tingkat Tumenggung Janurmendo.

Akan tetapi senjata kerisnya kalah ampuh sehingga dia mulai terdesak.

Lawannya tidak memberi kesempatan kepadanya dan terus mendesak dengan tusukan tusukan maut yang amat dahsyat.

Kedua orang ayah dan anak itu berada dalam keadaan gawat.

Mereka sudah berada di ambang kekalahan.

Pada saat itu, tiba-tiba muncul seorang pemuda kurang lebih dua puluh tiga tahun.

Tubuhnya tinggi tegap, dadanya bidang Pundak dan kedua lengannya kokoh, wajahnya tampan, dengan alis tebal mata lebar bersemangat, hidungnya mancung dan mulutnya seLilu mengandung senyum ramah.

Kulitnya putih kemuning.

Rambutnya panjang digelung ke atas dan diikat dengan kain kepala berwarna biru.

Bajunya berlengan pendek sebatas siku dan celananya hitam setinggi bawah lutut.

Sehelai sarung dikalungkan di pundak.

Pemuda ini bukan lain adalah Sutejo!

Melihat seorang laki-laki setengah tua bertanding melawan Tumenggung Janurmendo dan seorang gadis muda dikeroyok banyak orang dan keduanya terdesak hebat, mudah saja bagi Sutejo untuk memihak yang mana.

Tentu saja dia menentang pihak Tumenggung Janurmendo yang pernah membantu Bhagawan Jaladara untuk menyerang guru yang juga ayah angkatnya, Bhagawan Sidik Paningal, kemudian menyerang pula eyang gurunya.

Sang Resi Limut Manik.

"Janurmendo andika selalu berlaku curang dan jahat, mengeroyok orang mengandilkan banyak kawan!"

Bentak Sutejo dan dia segera menerjang maju ke arah Tumenggung Janurmendo.

Diserang Sutejo yang menggunakan Aji Gelap Musti.

Janurmendo terkejut bukan main.

apa lagi ketika dia mengenal pemuda ilu yang amat sakti ketika pemuda itu bersama Puteri Wandansari membela dan melindungi Sang Resi Limut Manik, Akan tetapi karena ketika itu dia sedang bertanding melawan Ki Mertoloyo yang juga cukup tangguh, dia tidak sempat mengelak lagi dan terpaksa menyambut pukulan Sutejo itu dengan dorongan tangannya sambil mengerahkan Aji Wisang Geni.

"Wuuuuttt......blaarrrr.......!"

Benturan hebat sekali terjadi antara dua kekuatan sakti itu dan akibatnya Tumenggung Janurmendo terjengkang dan terbanting roboh.

Akan tetapi Tumenggung Janurmendo ternyata memiliki kekebalan yang cukup kuat sehingga dia tidak terluka parah.

Melihat betapa bantuan Sutejo kepada pihak lawan akan membuat dia terancam bahaya, senopati Wirosobo ini lalu meloncat dan cepat lari meninggalkan tempat itu memasuki hutan dan menyelinap di antara pohon dan semak belukar.

Sutejo melompat untuk mengejar, akan tetapi pada saat itu dia mendengar teriakan Ki Mertoloyo.

"Winarti.....! Di mana engkau.....?"

Sutejo menahan petakannya dan membalik.

Dia melihat Ki Mertoloyo berdiri kebingungan, para pengeroyok sudah tidak berada di situ kecuali mereka yang terluka dan tidak mampu lari Akan tetapi gadis yang tadi mengamuk dan dikeroyok itupun sudah tidak tampak lagi.

"Paman, apa yang telah terjadi?"

Tanya Sutejo sambil menghampiri Ki Mertoloyo.

"Entahlah, anakku Winarti menghilang........! Mungkin dia tertawan dan dilarikan para penjahat."

Kata Ki Mertoloyo dengan wajah gelisah.

Sutejo menoleh dan melibat beberapa orang anak buah gerombolan yang terluka, dia segera menyambar lengan seorang di antara mereka yang terluka pundaknya, menariknya berdiri mencengkeram lengan itu sehingga orang itu menyeringai kesakitan.

"Hayo katakan di mana sarang kalian!"

Bentaknya.

"Kalau tidak mengaku, akan kupecahkan kepalamu!"

"Ampun...... ampun....."

Orang itu meratap.

"Sarang kami di dalam hutan itu....."

Dia menunjuk ke arah hutan lebat ke mana tadi Tumenggung Janurmendo melarikan diri.

"Hayo antarkan aku ke sana!"

Bentak Sutejo dan dia mendorong orang itu untuk menjadi penunjuk jalan.

Sambil menyeringai karena pundaknya yang nyeri, orang itu terhuyung-huyung berjalan di depan, diikuti oleh Sutejo.

Ki Mertoloyo juga mengikuti di belakang.

Tumenggung janurmendo dan anak buahnya yang tadi melarikan diri ke dalam hutan, tiba di sebuah rumah kayu besar yang berdiri di tengah hutan itu.

Winarti berada pula di antara mereka, dipanggul oleh Klabang Lorek.

Gadis itu dalam keadaan pingsan.

Tadi ketika Sutejo datang membantu ayahnya, gadis itu telah berada dalam keadaan gawat sekali.

Munculnya Sutejo bahkan membuat ia lengah karena ia menoleh ke arah pemuda itu dan sebuah hantaman tangan Klabang Lorek yang besar dan kuat itu mengenai batang lehernya.

Gadis itu terkulai pingsan tanpa sempat berteriak lagi.

Klabang Lorek cepat menyambar tubuhnya dan memanggulnya.

Melihat Tumenggung Janurmendo melarikan diri, Klabang Lorek dan Klabang Belang lalu melompat dan melarikan diri pula, diikuti oleh para anak buah yang tidak terluka.

Winarti masih terbawa dan terpanggul oleh Klabang Lorek dalam keadaan pingsan.

Janurmendo, Klabang Lorek dan Klabang Belang memasuki rumah di tengah hutan itu sedangkan para anak buahnya tinggal di luar, bergabung dengan beberapa orang anak buah lain yang tidak ikut menghadang Ki Mertoloyo sehingga jumlah mereka kini tidak kurang dari dua puluh orang.

Bhagawan Jaladara, Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda ternyata telah berada di rumah itu, menyambut kedatangan tiga orang itu.

Ki Klabang Lorek lalu menurunkan tubuh Winarti dari atas pundaknya, merebahkannya ke atas sebuah dipan bambu dan mengambil tali lalu mengikat kaki tangan gadis itu agar kalau siuman dari pingsannya tidak akan dapat mengamuk.

Melihat kedatangan Janurmendo, Klabang Lorek dan Klabang Belang dalam keadaan tergesa-gesa, napas memburu dan wajah agak pucat itu, Bhagawan Jaladara merasa heran.

Akan tetapi melihat bahwa mereka pulang sambil membawa tawanan seorang gadis, dia merasa lega karena hal itu menunjukkan bahwa mereka telah berhasil dalam tugas mereka.

"Bagaimana, Adi Tumenggung, sudah matikah Senopati Mertoloyo?"

Tanyanya kepada Tumeng"gung Janurmendo yang menyambar sebuah kendi dan minum airnya yang segar. Tumenggung Janurmendo meletakkan kembali kendi itu, lalu memandang kepada Bhagawan Jaladara dan berkata.

"Celaka, Kakang. Bhagawan. Tak tersangka-sangka ketika saya sudah hampir dapat membunuh Ki Mertoloyo, muncul pemuda setan itu!"

Katanya dengan gemas dan penasaran.

"Pemuda setan yang mana?"

Tanya Bhagawan Jaladara.

"Siapa lagi kalau bukan Sutejo murid Bhagawan Sidik Paningal itu? Dia muncul dengan tiba-tiba dan menggagalkan usaha kami untuk membunuh Ki Mertoloyo. Akan tetapi kami berhasil menawan puterinya!"

Kata Tumenggung Janurmendo sambil menuding ke arah gadis yang rebah miring dalam keadaan terbelenggu kaki tangannya di atas dipan bambu itu.

"Ahh! Dia yang muncul?"

Seru Bhagawan Jaladara terkejut karena dia sendiri sudah beberapa kali bertemu dan bertanding dengan Sutejo dan dia harus mengakui ketangguhan pemuda yang sebetulnya masih murid keponakannya sendiri itu.

"Paman Bhagawan, gadis ini saya yang menangkapnya, Karena itu saya mohon agar diserahkan kepada saya!"

Kata Klabang Lorek sambil menyeringai.

"Klabang Lorek, lancang mulutmu!"

Bentak Ki Warok Petak marah.

"Apa kau ingin kurobek mulutmu yang lebar itu?"

Dibentak demikian oleh Ki Warok Petak yang ditakutinya, Klabang Lorek terdiam dan mukanya menjadi merah. Bhagawan Jaladara berkata.

"Tidak ada yang boleh mengganggu puteri Ki Mertoloyo itu. Ia adalah seorang tawanan penting. Kita dapat mempergunakannya untuk memaksa Ki Mertoloyo taluk kepada kita."

"Akan tetapi, saya kira Ki Mertoloyo dan Sutejo tidak akan tinggal di wn dan akan mengejar kami sampai ke sint untuk membebaskan gadis ini"

Kata Tumenggung Janurmendo yang merasa jerih terhadap Sutejo.

"Biarkan mereka datangi Kita telah siap menyambut mereka. Dengan adanya aku, Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda yang membantu, mustahil kita tidak akan mampu mengalahkan mereka. Sekali ini Sutejo akan dapat kita bunuh! Anak itu merupakan penghalang besar bagi kita."

Kata Bhagawan Jaladara.

"Benar, kita harus atur sekarang juga untuk menghadapi mereka!"

Kata Janurmendo yang timbul semangatnya mengingat bahwa dia kini mempunyai banyak kawan yang membantu.

Dengan adanya dia, Bhagawan Jaladara, Warok Petak, Baka Kroda, Klabang Lorek, Klabang Belang dan dua puluhan orang anak buah, kiranya mustahil kalau mereka tidak akan mampu mengalahkan Ki Mertoloyo dan Sutejo!

"Bawa gadis itu ke kamar belakang dan lima orang anak buah harus menjaganya dengan ketat.

Kemudian para anak buah yang lain berjaga di bagian depan.

Kalau mereka berdua muncul, cepat laporkan agar kita berlima dapat menyambut mereka."

Kata Bhagawan Jaladara yang memimpin rombongan orang Wirosobo itu.

Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda yang menjadi pembantu-pembantu Bhagawan Jaladara, segera melaksanakan perintah itu.

Winarti diangkat dan dibawa ke dalam kamar belakang, kemudian lima orang anak buah menjaga di luar kamar itu dengan senjata siap di tangan.

Winarti sudah siuman dari pingsannya akan tetapi setelah ia melihat bahwa ia rebah di atas sebuah dipan dalam kamar dengan kaki tangan terbelenggu sehingga ia tidak mampu menggerakkan kaki tangannya, iapun diam saja.

Ia membalikkan tubuhnya yang tadinya menghadap ke dinding dan melihat ke arah pintu.

Di luar pintu itu terdapat beberapa orang laki-laki yang duduk melakukan penjagaan.

Tahulah ia bahwa ia telah tertawan dan dimasukkan dalam sebuah kamar dan dijaga ketat.

Ia mengingat-ingat.

Teringat ia ketika dikeroyok tadi, ia melihat seorang pemuda muncul membantu ayahnya.

Ia menengok untuk memandang pemuda itu dan pada saat ia menengok itu, lehernya terkena pukulan keras dan ia tidak ingat apa-apa lagi.

Tahu tahu ia telah berada di dalam kamar ini.

Matahari telah naik tinggi ketika Ki Mertoloyo dan Sutejo yang ditunggu-tunggu oleh gerombolan orang-orang dari Wirosobo itu tiba di luar pagar rumah itu.

Belasan orang anak buah Bhagawan Jaladara menghadang mereka dengan senjata golok di tangan.

"Panggil Tumenggung Janurmendo keluar! Kalau tidak, akan kami obrak abrik tempat ini!"

Bentak Ki Mertoloyo marah teringat akan puterinya yang hilang dan yang dia yakin tentu telah diculik oleh Janurmendo dan anak buahnya, Sutejo lalu mendorong orang tangkapannya yang menjadi penunjuk jalan.

Orang itu terdorong jatuh tertelungkup, lalu merangkak berkumpul dengan teman-temannya.

Tiba-tiba terdengar suara lantang dan barisan anak buah yang belasan orang banyaknya itu tersibak dan terbukalah jalan.

Dari belakang mereka muncul lima orang itu.

Bhagawan Jaladara, Janurmendo, Ki Warok Petak, Ki Baka Kroda, Klabang Lorek dan Klabang Belang.

Melihat Bhagawan Jaladara yang tertawa-tawa, Sutejo menjadi marah sekali.

"Bhagawan Jaladara, kiranya andika yang berdiri di belakang gerombolan ini!"

Sutejo merasa kecewa karena tidak melihat Bhagawan Jaladara membawa Pecut Sakti Bajrakirana.

Kakek itu memegang tongkat hitamnya yang ampuh.

Janurmendo juga sudah memegang keris pusaka Jalu Sarpo.

Ki Warok Petak memegang goloknya, Ki Baka Kroda memegang kerisnya yang besar dan tiga batang pisau tajam runcing terselip di pinggangnya Klabang Lorek dan Klabang Belang memegang golok masing-masiog.

Mereka berlima agaknya sudah siap untuk bertempur dan mengeroyok.

Setelah lima orang pimpinan itu muncul, belasan orang anak buah itu cepat bergerak membuat kepungan sehingga Sutejo dan Ki Mertoloyo terkepung ketat Akan tetapi baik Sutejo maupun Ki Mertoloyo tidak merasa gentar.

Bahkan Ki Mertoloyo menudingkan telunjuknya ke muka Janurmendo dan membentak marah.

"Tumenggung Janurmendo! Perbuatanmu menunjukkan bahwa andika bukan seorang jantan yang gagah perkara! Engkau menggunakan pengeroyokan dan menculik anakku. Hayo kembalikan anakku Winarti!"

Janurmendo diam saja. Yang menjawab adalah Bhagawan Jaladara.

"Ki Mertoloyo dan engkau Sutejo. Kami memang menawan gadis itu, akan tetapi kami tidak mengganggunya dan kami tentu dengan senang hati akan membebaskannya kembali asalkan kalian berdua suka menaluk kepada Kadipaten Wirosobo dan suka membantu kami. Sutejo,kalau engkau berjanji mau membantu Wirosobo, aku akan memaafkan kesalahanmu yang lalu, bahkan aku akan menyerahkan Pecut Bajrakirana kepadamu!"

"Bhagawan Jaladara tidak perlu menggunakan lidahmu yang beracun antuk membujuk aku! Engkau telah mencuri pecut Bajrakirana Engkau telah menyebabkan kematian Bapa Guru dan Eyang Guru, dan sekarang engkau membujuk aku untuk menaluk dan membantumu? Hemm, jangan harap. Manusia iblis macam engkau ini sepantasnya kalau menerima hukuman yang berat!"

"Keparat! Kalau begitu engkau akan mampus hari ini di tangan kami! Bagaimana dengan andika, Ki Mertoloyo? Apakah andika tidak sayang kepada puteri andika dan tega melihat ia mati di tangan kami? Kalau andika menaluk dan membantu Wirosobo, kami akan membebaskan puterimu dan andika akan memperoleh kedudukan tinggi di Wirosobo. Akan tetapi kalau andika menolak, terlebih dulu puteri andika akan kami bunuh, kemudian andika juga!"

Dapat dibayangkan betapa gelisah rasa hati Ki Mertoloyo.

Sebagai seorang senopati besar, tentu saja dia tidak gentar menghadapi ancaman maut bagi dirinya sendiri.

Akan tetapi sebagai seorang ayah yang hanya mempunyai seorang anak yaitu Winarti, mendengar bahwa anaknya itu akan dibunuh dalam keadaan tidak berdaya, tentu saja hatinya menjadi bingung dan gelisah sekali.

Akan tetapi menaluk dan membantu Wirosobo?

Sampai matipun dia tidak akan sudi melakukannya.

Hal itu berarti mengkhianati Mataram!

Akan tetapi bagaimana dengan puterinya?

Dia tidak mampu menyelamatkannya!

Tiba-tiba tampak cahaya terang dan asap mengepul tebal yang datangnya dari rumah itu bagian belakang.

Semua orang terkejut dan menengok ke arah belakang rumah.

Kini kelihatan kobaran api yang membubung tinggi.

"Kebakaran! "

Terdengar teriakan para anak buah gerombolan itu. Keadaan menjadi kacau dan tiba-tiba tampak sesosok bayangan berkelebat dari belakang rumah itu.

"Bapa, jangan menyerah kepada mereka!"

Bayangan itu yang ternyata adalah seorang gadis, berseru.

"Winarti!"

Ki Mertoloyo berteriak girang bukan main.

Kiranya puterinya telah dapat meloloskan diri, bahkan membuat kebakaran di rumah itu bagian belakang.

Seperti mendapat aba-aba saja.

Ki Mertoloyo dan Sutejo sudah menerjang ke depan.

Ki Mertoloyo menggunakan kerisnya dan Sutejo mempergunakan kain pengikat rambutnya yang berwarna biru.

Dengan kain pengikat kepala biru itu dia bersilat dengan Aji Sihung Nila, menerjang ke arah Janurmendo yang dia anggap paling berbahaya di antara mereka semua.

Janurmendo yang memang sudah merasa jerih terhadap Sutejo, mengelak dan melompat ke belakang Bhagawan Jaladara agar kakek itu membantunya.

Sutejo mengebutkan kain pengikat kepalanya dan kini dia menyerang ke arah Bhagawan Jaladara yang menghadang antara dia dan Janurmendo.

Bhagawan Jaladara melompat ke samping sambil menangkis dengan tongkatnya.

Pada saat itu, Janurmendo sudah menerjang dari samping dan Sutejo sudah dikeroyok oleh dua orang itu.

Sementara itu, Ki Mertoloyo mengamuk, dikeroyok oleh Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda, Biarpun tingkat kepandaian senopati Mataram ini lebih tinggi dari tingkat kedua orang jagoan Wirosobo itu, akan tetapi karena dikeroyok dua, keadaan mereka menjadi seimbang.

Mereka bertanding dengan seru dan beberapa kali senjata mereka beradu menimbulkan percikan bu"nga api.

Winarti sendiri sudah berhasil merobohkan seorang anak buah gerombolan, merampas goloknya dan dengan golok rampasan ini Winarti mengamuk, dikeroyok oleh Klabang Lorek dan Klabang Belang yang dibantu oleh belasan orang anak buahnya.

Tiba-tiba muncul seorang yang berpakaian ringkas dan mukanya ditutup sehelai saputangan merah sehingga tidak dapat dikenali karena yang tampak hanya sepasang mata yang mencorong tajam.

Orang ini gerakannya gesit dan ringan sekali, bagaikan seekor burung menyambar nyambar dan ke manapun tubuhnya menyambar dan kedua tangannya bergerak, tentu ada dua orang pengeroyok yang roboh dan tidak mampu bangkit kembali!

Pukulan kedua tangan orang itu sungguh amat ampuh dan dalam waktu singkat saja dia sudah merobohkan delapan orang!

Klabang Lorek dan Klabang Belang terkejut sekali, dan mereka menjadi gentar sehingga gerakan mereka kurang sigap.

Golok di tangan Winarti menyambar dan Klabang Lorek berteriak keras dan roboh terpelanting dengan mandi darah yang mengucur deras dari luka parah di pundaknya yang terbacok golok!

Klabang Belang terkejut dan saking jerihnya dia melompat untuk melarikan diri.

Akan tetapi sial baginya, dia melompat ke dekat Orang bertopeng merah itu dan sekali orang itu menggerakkan tangan kirinya, Klabang Belang tersungkur dan terbanting ke atas tanah, tidak mampu bangkit lagi!

Sementara itu, pertandingan antara Sutejo yang dikeroyok oleh Bhagawan Jaladara dan Tumenggung Janurmendo berlangsung seru.

Akan tetapi, dua orang yang memang sudah gentar itu segera terdesak oleh sambaran sinar kain pengikat rambut biru yang bergulung-gulung itu.

Ketika Bhagawan Jaladara dan Janurmendo yang sudah kewalahan itu lalu nekat mengeluarkan aji pukulan mereka yang amat ampuh, yaitu Bhagawan Jaladara menghantam dengan Aji Gelap Musti, sedangkan Janurmendo menggunakan Aji Wisang Geni, Sutejo lalu menyambut pukulan mereka dengan Aji Bromokendali.

"Wuuuutttt......blaarrrr......!!"

Akibatnya, Bhagawan Jaladara dan Janurmendo terpental seperti layang layang putus talinya.

Mereka terhuyung ke belakang, kemudian mengerahkan sisa tenaganya dan menahan nyeri di dadanya untuk melompat dan melarikan diri.

Melihat ini, Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda yang tadinya masih ramai dan seimbang mengeroyok Ki Mertoloyo, juga cepat meninggalkan lawan dan melarikan diri secepat mungkin!

Sutejo tidak mengejar lawan yang sudah melarikan diri.

Juga Ki Mertoloyo tidak mengejar karena puterinya sudah bebas.

Dia lalu berlari menghampiri Winarti yang juga ditinggal pergi para pengeroyoknya yang tinggal beberapa orang lagi.

Dia mendapatkan puterinya itu memandang ke kanan kiri mencari-cari.

"Di mana dia......? Ah, di mana dia tadi?"

Winarti bicara seorang diri seperti kehilangan.

Ki Mertoloyo memegang lengan puterinya dan menariknya agak menjauhi rumah yang mulai berkobar besar itu, mendekati Sutejo yang juga sudah menjauhi kobaran api yang melahap rumah yang tadinya dijadikan sarang gerombolan orang-orang Wirosobo itu.

"Di mana dia tadi, bapa?"

Winarti masih mencari cari dengan pandang matanya. Ki Mertoloyo memandang khawatir kepada puterinya, memegang pundak puterinya dan bertanya.

"Winarti, siapkah yang kau cari?"

"Orang bertopeng tadi, bapa!"

Kata Winarti yang membuat Ki Mertoloyo menjadi semakin bingung.

Dia tadi repot melayani pengeroyokan Warok Petak dan Baka Kroda sehingga tidak sempat menyaksikan ketika Winarti yang menghadapi pengeroyokan banyak anak buah itu dibantu oleh seorang yang bertopeng merah.

"Paman, tadi aku juga melihat Nimas Winarti dibantu oleh seorang yang bertopeng."

Kata Sutejo yang tadi melihat ketangkasan penolong itu.

"Siapakah dia, Winarti?"

Tanya Ki Mertoloyo heran.

"Dan bagaimana engkau dapat meloloskan diri dan membakar rumah itu?"

"Orang bertopeng itulah yang melakukan, bapa. Tadi aku berada dalam sebuah kamar di bagian belakang rumah itu, terbelenggu kaki tanganku dan rebah di atas sebuah dipan bambu. Aku tidak mampu menggerakkan kaki tanganku. Bahkan aku tidak mampu berteriak karena mereka melibatkan kain penutup di depan mulutku. Aku mendengar akan kedatangan bapa, akan tetapi aku tidak berdaya. Bahkan aku mendengar terjadinya perkelahian di sini. Selagi aku kebingungan, aku melihat keributan di luar kamarku. Lima orang penjaga yang berjaga di luar kamarku berkelahi dengan seseorang. Dalam waktu singkat saja kelimanya roboh dan tidak dapat bergerak lagi, Kemudian muncullah dia, seorang yang mengenakan topeng merah di depan mukanya Hanya tampak sepasang matanya yang mencorong. Tanpa berkata sepatahpun dia melepaskan ikatan kaki tangan dan kain yang membalut mulutku. Kemudian kami keluar dan dia membakar rumah bagian belakang itu. Aku berlari ke sini dan melihat Bapa dan Ki sanak ini dikeroyok maka lalu aku terjun membantu. Aku segera dikepung dan dikeroyok banyak anak buah gerombolan. Akan tetapi dia muncul lagi, mengamuk dan merobohkan banyak penjahat. Ketika para penjahat itu melarikan diri, tahu-tahu diapun sudah menghilang, maka kucari-cari bapa."

Winarti berada di ambang keraguan.

Ia mencinta Sutejo akan tetapi ia tidak tahu apakah pemuda itu juga mencintanya.

Apakah pemuda itu menyambut cintanya.

Ia berada dalam harap-harap cemas.

Hatinya penuh harapan untuk dapat hidup bersama sama Sutejo, sebagai pasangan yang saling mencinta, Akan tetapi dalam harapan ini terselip kecemasan kalau-kalau Sutejo akan menolak cintanya sehingga cintanya seperti bertepuk sebelah tangan.

Tiba tiba terdengar suara dan jendela kamarnya terbuka dari luar.

Winarti terkejut dan heran, lalu bangkit dari pembaringan, akan tetapi tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat dan seseorang melompat memasuki kamarnya melalui jendela yang terbuka.

Gerakan orang itu sedemikian cepatnya sehingga Winarti tidak sempat berbuat sesuatu, tahu-tahu orang itu telah menodongkan sebatang pedang.

Cepat sekali gerakannya dan Winarti merasa betapa kulit lehernya ditempel benda yang dingin.

Ia tahu bahwa sekali tangan yang memegang pedang itu bergerak, lehernya akan tertembus atau terpenggal!

Ia terbelalak memandang dan menjadi lebih heran lagi melihat bahwa yang menodongnya adalah seorang wanita muda yang amat cantik.

Wajah yang jelita dengan mata dan mulut yang indah, akan tetapi sinar matanya dingin dan menyeramkan.

"Siapa engkau? Mau apa engkau?"

Tanya Winarti sambil menenangkan hatinya.

Ia memang seorang yang tabah.

Biarpun nyawanya berada di ujung pedang lawan, namun ia tidak merana gugup atau gentar.

Ia menentang pandang mata gadis itu dengan berani dan penuh selidik.

Gadis itu mengedipkan kepalanya dan bicara dengan suara yang dingin dan ketus.

"Tidak perlu kau tahu siapa aku. Yang perlu kau tahu, aku datang kesini untuk memperingatkan kau. Jangan sekali-kali kamu berani mencoba untuk merayu Sutejo. Jangan coba-coba untuk merebut hati Sutejo! Kalau kamu nekat melakukan itu, pedangku ini akan memenggal lehermu seperti ini!"

Pedang berkelebat mengeluarkan sinar kehijauan.

"Crak-crak-crakk!"

Tiga kali pedang membacok dan meja di dalam kamar itu telah terbelah menjadi empat potong!

Ketika potongan-potongan meja itu runtuh, wanita itu berkelebat dan lenyap melalui jendela seperti ketika ia datang.

Winarti sejenak tertegun.

Akan tetapi karena pada dasarnya ia seorang gadis pemberani, segera ia dapat memulihkan ketenangannya dan cepat ia pun melompat keluar dari jendela itu sambil berteriak nyaring.

"Ada penjahat! Tangkap!"

Dan iapun berusaha mengejar.

Akan tetapi ketika ia tiba di luar kamarnya, bayangan wanita itu tidak tampak lagi.

Teriakannya yang nyaring membuat Sutejo dan Ki Mertoloyo terbangun dan cepat kedua orang ini sudah keluar dari kamar mereka.

Winarti yang merasa penasaran melakukan pengejaran keluar dari rumah Ki Demang dan melihat ini.

Sutejo juga mengejarnya dengan cepat.

Seluruh isi rumah Ki Demang terbangun dan Ki Demang bertanya kepada Ki Mertoloyo apa yang telah terjadi.

"Agaknya ada penjahat memasuki rumah. Sekarang sedang dikejar oleh puteriku dan anak mas Sutejo."

Kata Ki Mertoloyo yang tidak ikut mengejar karena dia yakin bahwa puterinya dan Sutejo cukup untuk menandingi musuh yang bagaimanapun juga tangguhnya.

Akan tetapi Winarti dan Sutejo kehilangan jejak.

Mereka tidak dapat menemukan Wanita yang mengganggu Winarti tadi dan terpaksa berhenti di luar dusun itu.

Sutejo juga berhenti ketika melihat Winarti tidak melakukan pengejaran lagi.

"Nimas Winarti, apakah sesungguhnya yang terjadi?"

Tanya Sutejo ketika mereka berdiri di luar dusun, di bawah sinar bulan yang cukup terang.

Sinar bulan yang redup tidak dapat memperlihatkan warna merah di wajah Winarti.

Gadis ini marah dan mendongkol sekali kepada wanita yang mengancamnya tadi dan ia mendongkol pula kepada Sutejo, dengan perkiraan bahwa tentu wanita itu tadi kekasih Sutejo yang merasa cemburu kepadanya.

"Kakangmas Sutejo, kenapa engkau tidak mengajarkan sopan santun kepada kekasihmu itu?"

Ia menegur dengan marah. Sutejo tertegun dan memandang bingung.

"Apa maksudmu, nimas? Mengajar sopan santun kepada siapa? Kekasihku? Kekasihku yang mana? Aku tidak mempunyai kekasih, nimas!"

Kemudian dia meninggikan suaranya bertanya.

"Kenapa engkau berkata seperti itu?"

"Tadi ada seorang wanita muda memasuki kamarku, mengancam akan membunuhku kalau aku berani merebut hatimu, kakangmas! Siapa lagi orang yang menaruh cemburu seperti itu kepadaku kalau ia bukan kekasihmu?"

"Sungguh mati! Aku tidak mempunyai kekasih, nimas. Entah siapa wanita yang berbuat seperti itu terhadap dirimu."

"Apakah tidak ada wanita yang kau cinta?"

Sutejo meragu dan wajah Puteri Wandansari dan Retno Susilo berkelebat di dalam benaknya.

Akan tetapi tidak mungkin dia membuka rahasia hatinya ini kepada Winarti atau kepada siapapun juga.

Dia menggeleng kepalanya tanpa menjawab.

"Biarpun engkau tidak mencinta wanita manapun, akan tetapi aku percaya bahwa ada wanita yang mencintaimu. Wanita yang mengancamku tadi pasti mencintaimu, dan aku ....."

"Engkau, kenapa nimas Winarti?"

Tanya Sutejo melibat Winarti tiba-tiba menundukkan mukanya dan pundaknya berguncang sedikit. Gadis itu menangis! Sutejo maju selangkah menghampiri gadis itu.

"Nimas, ada apakah?"

Tanyanya. Winarti menahan isaknya dan sambil tetap menunduk ia berkata.

"Aku........ aku akan malu sekali...... setelah peristiwa malam ini, setelah aku diancam...... kalau aku tidak dapat merebut cintamu, kakangmas. Seolah-olah aku takut terhadap ancaman itu.... aku harus dapat menjadi calon isterimu !"

Sutejo demikian terkejut sampai dia mundur lagi tiga langkah.

"Nimas Winarti...... !"

"Kakangmas Sutejo Tidak pantaskah bagi seorang waaita untuk mengaku cinta? Apakah engkau tidak dapat menerima cintaku? Apakah cinta itu sudah dimiliki wanita yang mengancamku tadi?"

"Nimas, aku masih ingin bebas, belum mau mengikatkan diri dengan perjodohan. Tugasku masih amat banyak karena itu, aku tidak mau bicara tentang cinta dan perjodohan. Akan tetapi, wanita yang mengancammu itu, seperti apakah ia!"

"Orangnya cantik, usianya sebaya dengan aku, matanya ganas dan ia membawa pedang yang mengeluarkan sinar kehijauan, yang ia pakai untuk menodong dan mengancam aku! Ah, kalau saja aku dapat bertemu kembali dengannya, tentu akan kuajak bertanding sampai seorang di antara kami mati!"

Kata Winarti dengan gemas. Sutejo terkejut sekali. Retno Susilo! Siapa lagi kalau bukan gadis itu yang menggunakan pedang bersinar hijau! Pedang Pusaka Nogo Wilis tentu saja, milik Retno Susilo.

"Terlalu sekali orang itu! Nimas Winarti. aku akan mencari orang itu! Tolong sampaikan dan pamitkan kepada Paman Mertoloyo!"

Sutejo membalikkan tubuhnya dan hendak lari.

"Kakangmas Sutejo! Engkau hendak ke manakah?"

Winarti mengejar.

"Aku akan melanjutkan perjalanan dan mencari orang tadi. Aku akan mengambil pakaianku dulu!"

Kata pula Sutejo dan diapun lalu mengerahkaa tenaganya, menggunakan Aji Harina Legawa dan berlari seperti kijang cepatnya meninggalkan gadis itu.

Dia tidak mendengar lagi betapa beberapa kali Winarti memanggil namanya.

Tanpa diketahui siapapun, Sutejo memasuki kamarnya, mengambil buntalan pakaiannya dan keluar lagi, berlari cepat pergi ke arah larinya gadis yang tadi mengganggu Winarti.

Dia hampir yakin bahwa gadis itu tentu Retno Susilo dan ia ingin menyusul dara itu dan menegur perbuatannya terhadap Winarti.

Ki Mertoloyo terheran-heran dan khawatir ketika dia melihat Winarti pulang ke rumah Ki Demang dengan mata basah dan merah.

Gadis itu tampak berduka.

"Bagaimana, Winarti? Dapat tersusulkah orang itu ? Dan mana anak mas Sutejo ?"

Tanya Ki Mertoloyo.

Akan tetapi yang ditanya tidak menjawab melainkan langsung saja pergi ke kamarnya.

Ki Mertoloyo cepat mengikuti puterinya dan ketika dia memasuki kamar puterinya, dia melihat Winarti rebah menelungkup di atas pembaringan dan menangis!

"Nini apakah yang terjadi?

Kenapa engkau menangis ?"

Tanya ayah itu dengan heran dan khawatir, lalu duduk di tepi pembaringan.

Winarti tidak menjawab melainkan terus menangis sesenggukan.

Ki Mertoloyo yang sudah berpengalaman itu membiarkan puterinya menangis karena hanya tangis yang dapat menjadi penyalur kedukaan yang menyesak di dada.

Setelah tangis gadis itu mereda, Ki Mertoloyo berkata sambil mengelus kepala anaknya.

"Winarti, katakanlah kepada bapa, apakah yang terjadi dan mengapa engkau menangis. Apakah engkau dan anak mas Sutejo tidak berhasil mengejar penjahat itu?"

Winarti bangkit duduk lalu menghapus air mata yang membasahi pipinya.

"Sebetulnya apa yang tadi terjadi dalam kamarmu ini? Kulihat meja telah terpotong-potong. Siapakah penjahat itu?"

Setelah dapat menenangkan hatinya, Winarti lalu berkata.

"Bapa, tadi aku belum tidur ketika tiba-tiba daun jendela dibuka orang dari luar. Sebelum aku dapat betbuat sesuatu, seorang gadis dengan amat cepatnya melompat masuk dan telah menodongkan pedangnya di leherku sehingga aku tidak berdaya."

"Siapa ia? Apa maunya?"

Ki Mertoloyo bertanya khawatir.

"Apakah ia anak buah orang Wirosobo?"

"Aku tidak tahu, bapa. ia tidak mau mengaku namanya. Akan tetapi ia mengancam kepadaku......"

Gadis itu kembali menghapus air matanya dan berhenti bercerita.

"Mengancam bagaimana?"

"Ia memperingatkan aku agar tidak merebut hati kakangmas Sutejo. Ia mengancam dan dengan pedangnya ia membacoki meja itu, mengatakan bahwa kalau aku tidak menurut, ia akan membunuhku. Kemudian ia melompat keluar dan aku lalu mengejarnya sambil berteriak tadi."

"Dan anak mas Sutejo ikut mengejarnya. Aku tidak ikut mengejar karena aku yakin engkau dan anak mas Sutejo akan mampu menangkapnya. Jadi kalian berdua tidak dapat menangkapnya?"

"Kami kehilangan jejak, bapa. Orang itu menghilang dan kami tidak tahu ke arah mana ia lari."

"Akan tetapi kenapa engkau menangis?"

Winarti tidak menjawab hanya menundukkan mukanya. Tentu saja sukar baginya untuk mengatakan mengapa ia menangis.

"Dan engkau pulang seorang diri. Ke mana anak mas Sutejo?"

"Ia telah pergi.........."

Jawab Winarti lirih dan datar.

"Pergi? Pergi ke mana?"

"Katanya hendak mencari gadis itu dan dia minta disampaikan pamit kepadamu, bapa."

"Pamit? Jadi dia tidak akan kembali ke sini?"

Winarti menggeleng kepalanya.

"Tidak, dia....., katanya akan melanjutkan perjalanannya....."

Ki Mertoloyo mengangguk-angguk, Kiai mengertilah dia. Puterinya menangis sedih karena ditinggalkan Sutejo! "Nini, engkau mencintai anak mas Sutejo?"

Tanyanya sambil memegang kedua pundak, Winarti menangis lagi di atas dada ayahnya.

Retno Susilo berjalan seorang diri di pagi hari itu, mendaki bukit dengan langkah santai, indah nian suasana dan pemandangan di pagi hari itu, di kala matahari muda memuntahkan sinarnya yang masih lembut kemerahan ke permukaan bumi, mengusir kabut yang membumbung dari tanah yang basah oleh embun.

Burung-burung sibuk membuat persiapan untuk bekerja pada hari itu, mendendangkan puja-puji kepada Yang Maha Pencipta dengan kicau mereka yaug saling sahutan.

Jauh di depan sana, melalui bentangan sawah yang luas di depan kakinya, Retno Susilo melihat sebuah dusun dan dari dusun itu sudah terdengar suara-suara yang tidak asing bagi telinganya, suara-suara yang mendatangkan rasa damai di hati.

Suara ayam berkeruyuk, berkokok dan berkotek, diseling suara kambing mengembik dan suara lembu.

Sayup sampai terdengar pula suara kanak-kanak berteriak.

Dusun itu agaknya sudah mulai hidup dan sibuk pula menyambut datangnya hari, siap untuk melakukan pekerjaan masing-masing.

Retno Susilo berhenti melangkah dan menggeliat memutar-mutar pinggangnya yang terasa pegal, semalam terpaksa ia harus melewatkan malam di dalam sebuah gubuk bambu di tengah sawah.

Ia kemalaman di jalan sebelum dapat sampai ke sebuah dusun, maka ia terpaksa bermalam di gubuk kecil itu.

la harus rebah di atas lantai bambu yang kasar sehingga kini pinggangnya terasa pegal.

Pemandangan dari lereng bukit Itu sungguh indah.

Matahari tampak masih lembut, belum terlalu menyilaukan dau sinarnya juga hangat nyaman, belum menyengat.

Hawa udara sejuk segar dan hangat.

Pemandangan dan suasana seperti itu mendatangkan rasa damai dan tenteram di hati.

Retno Susilo lalu duduk di atas sebuah batu dan melayangkan penglihatannya ke bawah di mana terbentang luas tanah persawahan dan tegalan.

Pemandangan itu membuat hatinya terhibur dan ia telah lupa akan kegelisahan dan kemurungan yaug menggodanya semalam dan membuatnya tidak dapat tidur nyenyak di gubuk itu.

Semalam hatinya terasa panas seperti dibakar.

Siapa yang tidak akan panas hatinya melihat Sutejo bermesraan berdua dengan seorang gadis dalam taman kademangan itu?

Pemuda yang dicari-carinya, dengan penuh kerinduan dan juga penuh penasaran, tahu-tahu telah didapatinya bermesraan dengan seorang gadis lain!

Menurutkan panasnya hati sebetulnya ingin ia membunuh gadis itu.

Akan tetapi ia masih ragu, belum yakin benar bahwa Sutejo bercinta-cintaan dengan gadis itu, maka setelah berhasil memasuki kamar gadis itu, ia hanya mengancam saja.

Kemudian ia melarikan diri dan setelah keluar dari kademangan Wonojati.

memasuki hutan dan setelah keluar dari dalam hutan dan tiba di persawahan ia berhenti dan bermalam di sebuah gubuk itu.

Hatinya panas dan gelisah sehingga malam itu ia merasa tersiksa lahir batinnya.

Gubuk itu merupakan tempat yang sama sekali tidak enak untuk ditiduri dan hatinya demikian panas memikirkan Sutejo.

Akan tetapi ketika ia duduk di atas batu itu, tenggelam ke dalam suasana pennh kedamaian dan ketenteraman yang indah itu, ia sudahi melupakan semuanya itu dan meneguk kenikmatan suasana pagi yang permai itu sepuasnya.

Bukit Ular sudah tampak dari situ, sebuah bukit di Pegunungan Anjasmoro.

Melihat bukit itu, teringatlah ia akan gurunya dan semua kedamaian dan keindaban itupun lenyap.

Pikirannya sudah disibukkan lagi oleh ingatan dan kenangan.

Ia telah gagal (Lanjut ke

Jilid 15) Pecut Sakti Bajrakirana (Seri ke 01 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 15 melaksanakan tugas yang diberikan gurunya itu.

Gurunya, Nyi Rukmo Petak, Setelah menurunkan semua ilmu simpanannya kepadanya, menugaskan agar ia membunuh musuh gurunya yang bernama Harjodento dan isterinya bernama Padmosari yang tinggal di daerah Ngawi, di tepi Bengawan Solo.

Akan tetapi ia telah gagal!

Ia telah menghadapi dan menantang mereka, akan tetapi ia harus mengakui ketangguhan dan keunggulan Harjodento.

Ia telah kalah dan gagal melaksanakan tugas yang diberikan gurunya kepadanya!

Bahkan hampir saja ia celaka di tangan suami isteri itu dan anak buah mereka.

Untung muncul seorang pemuda yang menolongnya, yaitu Priyadi.

Akan tetapi ia merasa tidak suka kepada pemuda yang tampan dan digdaya itu karena ada sesuatu dalam pandang matanya yang mendatangkan rasa tidak suka dan tidak percaya dalam hatinya.

Teringat akan semua ini, terutama sekali akan kegagalannya melaksanakan tugas yang diperintahkan gurunya, kedukaan timbul dalam hati gadis itu dan segala keindahan dan kebahagiaan yang tadi menyelimuti perasaannyapun menghilang!

Pikiranlah yang meniadakan kebahagiaan!

Kebahagiaan adalah anugerah Tuhan kepada manusia yang mengalir tiada hentinya.

Kebahagiaan itu selalu sudah ada dalam batin manusia.

Akan tetapi pikiran yang mengingat ingat, mengenangkan masa lalu, membayangkan masa depan, menimbulkan persoalan-persoalan, problem-problema yang meresahkan hati, menimbulkan duka dan kekhawatiran dan kalau semua problema yang didatangkan pikiran itu sudah menguasai batin, maka dengan sendirinya kebahagiaanpun tidak terasa lagi.

Bagaikan sinar matahari yang selalu ada, namun tertutup mendung sehingga tidak tampak lagi, pikiran ini selalu menghantui kita.

Bahkan dalam tidur sekalipun, keadaan yang sesungguhnya membuat kita berbahagia, pikiran masih mengulurkan kuku-kukunya berupa mimpi-mimpi yang terkadang buruk sehingga amat mengganggu ketenteraman batin kita.

Hati akal pikiran yang telah dicengkeram napsu itu selalu merasa tidak puas, selalu mengejar apa yang kita anggap menyenangkan.

Pada akhirnya bahkan menjerumuskan kita ke dalam kedukaan dan kesengsaraan.

Hati akal pikiran memang merupakan alat hidup yang mutlak perlu, bahkan membantu sekali kepada kita, karena tanpa hati akal pikiran, kita akan hidup seperti binatang.

Namun hati akal pikiran menjadi sarangnya nafsu dan kalau kita tidak waspada dan membiarkannya merajalela, kita akan diperhamba.

Kita tidak akan dapat berdaya sama sekali karena pengaruh hati akal pikiran yang bergelimang nafsu memang teramat kuat.

Satu-satunya jalan untuk membebaskan diri dari pengaruh hati akal pikiran yang bergelimang nafsu hanyalah dengan penyerahan diri yang sepenuhnya dan tulus ikhlas kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa, memohon bimbinganNya.

Karena hanya kekuasaan Tuhan yang akan mampu menundukkan kemurkaan nafsu, Tuhan yang memberi nafsu kepada kita, menjadi peserta kita sejak kita lahir.

Tuhan yang mengadakan nafsu, maka hanya kekuasaan Tuhan yang akan mampu menundukkan nafsu dan mengembalikan nafsu ke dalam tugasnya semula, yaitu menjadi peserta dan pembantu manusia yang berguna dan mengandung kebaikan, bukan menjadi penggoda yang membuat manusia, mengerjakan kejahatan dan menjerumuskan manusia ke dalam kesengsaraan.

"Diajeng Retno Susilo?"

Retno Susilo tersentak dari lamunannya.

Ia melompat turun dari atas batu sambil membalikkan tubuhnya dan ia telah berhadapan dengan Sutejo!

Sejenak kedua orang itu berdiri saling berhadapan dalam jarak lima meter dan saling berpandangan tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

Berbagai macam perasaan bergejolak dalam hati Retno Susilo.

Ada perasaan gembira yang luar biasa bertemu dengan pemuda yang amat dirindukannya itu, akan tetapi ada pula perasaan menyesal bahwa pemuda itu meninggalkannya dan tidak mau mengajaknya pergi merantau, ada pula perasaan marah teringat akan gadis dalam taman kademangan Wonojati yang pada malam tadi bercakap-cakap dengan mesra dengan Sutejo.

Semua perasaan ini teraduk menjadi satu membuatnya tidak mampu bicara.

Sedangkan dalam dada Sutejo juga terjadi pergolakan.

Dia melihat betapa Retno Susilo menjadi semakin cantik jelita dan memiliki daya tarik yang amat kuat.

Tak dapat disangkal bahwa hatinya bergembira sekali bertemu dengan gadis ini.

Akan tetapi juga terdapat perasaan marah kalau dia teringat akan perbuatan gadis ini terhadap Winarti yang tidak berdosa Bagaimanapun juga, di sudut hatinya terdapat kesadaran bahwa apa yang dilakukan Retno Susilo itu adalah akibat dari kecemburuan hatinya vang menandakan bahwa gadis ini amat mencintanya!

"Kau....kakang Sutejo....!"

Akhirnya Retno Susilo berkata lirih "Sudah kuduga, tentu engkau orangnya yang mengancam nimas Winarti dan membikin ribut di kademangan Wonojati."

Kata Sutejo sambil tersenyum, memandang gagang pedang yang tersembul di belakang pundak gadis itu.

Mendengar ucapan itu, Retno Susilo mengedikkan kepalanya dan membusungkan dadanya, sikapnya menantang sekali.

"Benar! Aku yang melakukannya! Apakah engkau datang mencariku untuk membalaskan dendam nimasmu yang bernama Winarti itu! Aku tidak takut!"

Melihat gadis itu wajahnya merah dan matanya seperti bernyala karena marahnya dan menantang, Sutejo tersenyum "Sabar dan tenanglah, diajeng Retno Susilo.

Aku sama sekali bukan mencarimu untuk membalaskan dendam.

Aku hanya ingin memberitahukan kepadamu bahwa apa yang kau lakukan semalam itu sesungguhnya tidak benar.

Ketahuilah bahwa engkau mengancam dan membikin kaget seorang gadis yang sama sekali tidak berdosa.

Ia tidak bersalah apa-apa."

Dia meragu sebentar lalu melanjutkan.

"Ia tidak bermaksud merebut hatiku......"

"Huh, apa kau kira aku ini sudah buta? Aku telah mengintai ketika kalian berdua bercakap-cakap dalam taman itu. Suaranya ketika bicara kepadamu, tatapan matanya ketika memandang kepadamu, jelas sekali menunjukkan bahwa ia telah jatuh cinta kepadamu!"

"Akan tetapi andaikata benar begitu, kenapa engkau menjadi marah kepadanya dan mengancam hendak membunuhnya?"

Sepasang mata itu mencorong marah.

"Aku membunuh ia atau siapapun juga, engkau perduli apa? Kakang Sutejo, kebetulan sekali engkau datang, karena sesungguhnya telah lama aku mencarimu. Aku hendak menantangmu bertanding, aku ingin membalas kekalahanku darimu tempo lalu!"

Setelah berkata demikian Retno Susilo sudah mencabut pedang Nogo Wilis dari sarung pedangnya di belakang punggungnya.

Tampak sinar kehijauan berkelebat ketika ia mencabut pedangnya itu dan gerakannya sedemikian cepatnya sehingga diam-diam Sutejo merasa kagum dan juga terkejut.

"Eh, diajeng. Kenapa begini? Kenapa engkau menantangku bertanding? Di antara kita tidak terdapat permusuhan, bahkan aku bersahabat dengan orang tuamu, bersahabat denganmu."

"Aku menantangmu bertanding untuk melihat siapa di antara kita yang lebih unggul untuk menebus kekalahanku yang lalu, bukan untuk bermusuhan. Hayo, keluarkan senjatamu, kakang Sutejo?"

"Tidak, aku tidak akan bertanding melawanmu, diajeng. Biarlah aku mengaku kalah kepadamu."

"Tidak bisa! Kelakuanmu ini berarti penghinaan bagiku. Aku ingin menguji kepandaianku sendiri yang dengan susah payah kuusuhakan untuk memperoleh kemajuan. Mari, kakang Sutejo, atau aku akan menyerangmu begitu saja!"

Sutejo merasa tertarik.

Jadi selama ini Retno Susilo telah memperdalam ilmunya dengan maksud untuk dapat mengalahkannya?

Ingin sekali dia melihat sampai di mana kemajuan yang diperoleh gadis berwatak liar penuh Keberanian dan kegagahan ini.

Sambil tersenyum dan timbul kegembiraannya karena Retno Susilo sendiri mengatakan dengan tegas bahwa pertandingan ini hanya untuk menguji Kepandaian, bukan bermusuhan.

Sutejo lalu meloloskan kain pengikat rambutnya Dia berdiri di depan gadis itu dan berkata.

"Nah, aku sudah siap untuk bertanding denganmu, saling menguji kemampuan masing-masing, diajeng Retno Susilo!"

Retno Susilo yang sudah siap sejak tadi, bergerak cepat sambil berseru.

"Awas seranganku!"

Dan pedangnya sudah menyambar dengan kecepatan seperti kilat sehingga yang tampak hanya sinar kehijauan meluncur ke arah leher Sutejo!

Pemuda itu kembali terkejut dan kagum.

Gerakan ini benar-benar cepat bukan main!

Namun dia dapat mengelak dengan merendahkan tubuhnya sehingga pedang menyambar di atas kepalanya.

Akan tetapi cepat sekali pedang itu membalik dan menyambar dari kiri ke arah perutnya!

Sutejo mengelak lagi dengan langkah mundur sehingga ujung pedang menyambar lewat di depan perutnya.

Akan leiapi dengan gerakan yang lincah bukan main pedang itu bagaikan seekor burung sikatan kembali telah meluncur dan kini merupakan serangan tusukan ke arah dadanya!

"Bagus!"

Sutejo memuji karena gerakan ini benar-benar indah dan juga berbahaya sekali bagi lawannya.

Demikian cepatnya perubahan serangan itu, tadinya menyambar dan kiri ke kanan berupa bacokan, kini tiba-tiba saja sudah meluncur datang menusuk dadanya.

Dia mengerahkan tenaga dan menggunakan kain pengikat kepalanya untuk menangkis.

Dengan penyaluran tenaga saktinya, kain yang lemas itu berubah menjadi kaku dan keras, seperti sebatang pedang saja menangkis pedang Nogo Wilis di tangan gadis itu.

"Plakk !"

Pedang di tangan Retno Susilo terpental, akan tetapi Sutejo juga merasa betapa tangannya yang memegang kain pengikat rambut itu tergetar keras, menandakan bahwa tenaga dalam gadis itupun kini menjadi kuat bukan main.

Tangkisan Sutejo itu membuat Retno Susilo menjadi penasaran sekali.

Ia lalu menggerakkan pedangnya dengan cepat sehingga senjata itu berubah menjadi sinar kehijauan yang bergulung-gulung dan dari dalam gulungan sinar pedang itu kadang-kadang mencuat sinar kilat dari serangan pedangnya.

Akan tetapi selalu Sutejo dapat menghindarkan diri dengan elakan atau tangkisan kain pengikat rambutnya.

Setelah menyerang selama lima puluh jurus lebih dan tidak pernah satu kalipun serangannya mengenai sasaran, selalu terelakkan atau tertangkis oleh pemuda itu, Retno Susilo menjadi penasaran sekali.

Biarpun hanya merupakan sehelai kain pengikat rambut, namun setelah berada di tangan Sutejo benda itu menjadi sebuah senjata yang ampuh bukan main dapat menjaga tubuh pemuda itu melebihi perisai yang terbaik.

Sementara itu, biarpun dia tidak pernah membalas, namun diam-diam harus mengakui bahwa kegesitan dan tenaga Retno Susilo telah memperoleh kemajuan pesat dan besar sekali sehingga dia menjadi kagum.

Tiba-tiba Retno Susilo melompat ke belakang dan menyarungkan pedangnya di belakang punggung.

Matanya bersinar-sinar menatap wajah Sutejo.

Melihat ini, Sutejo juga mengikatkan kain yang dijadikan senjata tadi di kepalanya sambil tersenyum senang karena agaknya Retno Susilo akan mengakhiri pertandingan itu.

"Kakang Sutejo, biarpun senjata pedangku tidak pernah depat menyentuhmu, akan terapi aku belum mengaku kalah Aku tidak akan mau mengaku kalah kalau belum kau robohkan. Sekarang sambutlah ajiku ini!"

Ia berdiri dengan kedua kaki terpentang, lutut agak ditekuk kedua tangan membuat gerakan seperti menyembah dengan kedua telapak tangan dipertemukan di depan hidung, lalu kedua tangan itu dikembangkan ke kanan kiri, lengannya lurus dengan pundak, kemudian kedua tangan itu dari kanan kiri mendorong atau memukul ke depan dengan telapak tangan menghadap ke depan dan mulutnya mengeluarkan teriakan melengking.

"Aji Gelap Sewu...."

Sutejo terkejut bukan main. Serangan dari jarak jauh itu hebat bukan main. Mendatangkan angin dahsyat dan ada hawa pukulan yang ganas menyambar ke arah dirinya.

"Aji Gelap Musti......!"

Diapun berteriak sambil mengerahkan aji itu, kedua tangannya juga didorongkan ke depan menyambut serangan gadis itu. Dua tenaga sakti bertemu di udara "Wuuuttt...... desss......!!"

Retno Susilo terpental dan untung baginya bahwa Sutejo tidak mengerahkan seluruh tenaganya sehingga gadis itu tidak sampai menderita luka dalam, hanya terpental dan terkejut saja Ia terhuyung ke belakang.

Sutejo cepat melangkah maju menghampiri.

"Diajeng Retno Susilo....... engkau tidak apa-apa, bukan?"

"Tidak, aku belum mengaku kalah, kakang Sutejo. Mari kita lanjutkan!"

"Sudahlah, diajeng. untuk apa kita bertanding terus? Tingkat kepandaianmu telah maju pesat dan biarlah aku yang mengaku kalah."

"Tidak! Sekarang coba sambut aji pamungkasku ini!"

Gadis itu merendahkai tubuhnya sampai hampir berjongkok, kedua lengannya membuat gerakan seperti dua ekor ular mengeliat-geliat.

Itulah gerakan untuk menghimpun tenaga sakti dari Aji Wiso Sarpo yang baru saja dipelajarinya dari Nyi Rukmo Petak, aji pukulan yang mengandung hawa beracun dari ular-ular berbisa.

Setelah menggerakkan kedua lengan menggeliat-geliat seperti ular.

kedua tangan itu lalu memukul ke depan.

"Aji Wiso Sarpo......!"

Teriaknya melengking.

Kembali Sutejo terkejut.

Ada hawa panas menerpanya dan tercium bau wengur seolah-olah di situ terdapat banyak ular berbisa!

Maklumlah dia bahwa pukulan jarak jauh yang dilakukan Retno Susilo itu berbisa dan amat berbahaya.

Karena dia harus melindungi tubuhnya dan khawatir kalau-kalau Aji Gelap Musti tidak akan mampu menolak serangan berbisa itu, diapun lalu berseru dengan nyaring.

"Aji Bromokendali!"

Dari kedua tangan yang didorongkan itu mengalir keluar hawa yang panas sekali menyambut hawa pukulan Retno Susilo dan dua tenaga sakti kembali bertemu di udara.

"Wuuuuttt......blaarrrr......!"

Tubuh Retno Susilo terlempar ke belakang dan ia terbanting jatuh ke atas tanah! Sutejo terkejut dan cepat meloncat mendekati gadis itu. Suaranya tergetar ketika dia bicara.

"Diajeng......! Diajeng Retno Susilo.....! Aku..... aku tidak melukaimu, bukan?"

Retno Susilo bangkit duduk, menutupi mukanya dengan kedua tangan dan ia menangis!

Menangis sesenggukan, pundaknya bergoyang-goyang dan air matanya mengalir melalui celah-celah jari tangan yang menutupi mukanya.

Sutejo merasa menyesal sekali telah membuat gadis itu roboh.

Mengapa dia tadi tidak mengalah saja dan membiarkan dirinya yang roboh oleh pukulan Retno Susilo?

"Diajeng Retno Susilo, maafkan aku.

Aku menyesal sekali, maafkan aku, diajeng"

Katanya lembut, tangannya sudah bergerak hendak menyentuh pundak gadis itu, akan tetapi sebelum menyentuhnya, dia menarik kembali tangannya karena takut kalau-kalau gadis itu akan menjadi semakin marah kalau pundaknya tersentuh tangannya.

Akan tetapi ucapannya itu membuat Retno Susilo menangis semakin sedih sampai terisak-isak.

Setelah tangisnya agak reda, ia berkata dengan suara terputus-putus.

"....... bunuh saja aku...... aku tidak mampu membalaskan sakit hati guruku....... dan sekarang aku kalah olehmu....... tidak ada gunanya lagi hidupku di dunia ini..... bunuhlah saja aku.....!!"

Ia menangis lagi sesenggukan seperti seorang anak kecil.

"Diajeng Retno Susilo, kalah olehku bukan berarti habis segala-segalanya. Ilmu kepandaianmu sudah tinggi sekali. Tadi aku hampir saja tidak kuat menahan seranganmu yang terakhir itu. Kedua ajimu, Gelap Sewu dan Wiso Sarpo itu hebat dan dahsyat. Agaknya tidak banyak orang yang akan mampu menandingimu, diajeng."

"Tidak perlu membujuk! Aku sudah kalah bertanding melawan musuh guruku. Aku, tidak akan mampu membalaskan sakit hati guruku. Aku murid yang tidak ada gunanya......!"

Ia menutupi lagi mukanya dan menangis lagi.

"Jangan menangis, diajeng. Siapakah musuh gurumu itu? Kalau memang dia itu jahat, aku pasti mau membantumu untuk menandinginya."

Kata Sutejo menghibur. Tiba-tiba terdengar suara lantang bersama dengan berkelebatnva sesosok bayangan orang.

"Tentu saja dia jahat! Dia sejahat jahatnya orang, lelaki yang paling jahat dan palsu di dunia ini!"

Sutejo cepat membalikkan tubuhnya dan dia melihat seorang nenek yang rambutnya sudah putih semua seperti kapas, namun wajah itu masih bebas dari keriput dan dapat dilihat bahwa wanita tua ini dahulunya tentu cantik sekali.

Retno Susilo juga menoleh dan melihat bahwa yang datang adalah Nyi Rukmo Petak, ia lalu menubruk Ke arah kaki nenek itu dan menangis lagi sambil berkata.

"Maafkan saya....... saya tidak dapat memenuhi tugas.... saya telah kalah melawan Harjodento dan isterinya....."

Nyi Rukmo Petak mengangguk-angguk.

"Bangkitlah, Retno. Aku tidak merasa heran kalau engkau telah dikalahkannya pula mereka memang tangguh. Akan tetapi pemuda ini telah menyanggupi untuk membantumu dan kulihat tadi bahwa dia memiliki kemampuan yang cukup untuk menandingi Harjodento dan Padmosari. Dan dia sudah berjanji untuk membantumu, Eh, orang muda yang gagah perkasa, siapakah namamu?"

"Nama saya Sutejo, bibi."

"Nama yang bagus! Aku senang sekali mendengar andika bersedia membantu Retno Susilo untuk menandingi musuh besar kami itu. Benarkah?"

"Saya sudah berjanji dan tentu akan saya pegang teguh janji itu, bibi. Akan tetapi saya mau membantu menghadapi orang-orang itu dengan satu syarat, yaitu kalau orang-orang itu jahat. Saya hanya menentang orang-orang yang jahat, bibi, tidak mau memusuhi orang baik-baik."

"Jahat? Mereka jahat? Ahh, si Harjodento dengan isterinya, Padmosari, bukan hanya jahat. Mereka keji dan kejam! Mereka telah merusak hatiku, merusak kebahagiaanku, merusak kehidupanku!"

Nyi Rukmo Petak berseru dan membanting-banting kaki kanannya seperti orang yang merasa gemas sekali.

"Apakah yang telah mereka perbuat sehingga bibi dapat mengatakan bahwa mereka itu jahat dan kejam?"

Tanya Sutejo yang tidak mau menerima keterangan sepihak begitu saja.

"Apa yang telah mereka perbuat terhadap diriku sehingga aku mendendam dan ingin agar muridku Retno Susilo membalaskan sakit hati ini? Wah, perbuatan Harjodento itu kejam dan keji sekali. Dengar ceritaku. Dua puluh tahun lebih yang lalu, aku dan Harjodento merupakan pasangan yang selalu hidup bersama walaupun kami belum terikat pernikahan yang sah. Di mana ada dia tentu ada aku dan di mana ada aku tentu ada dia. Kami tidak terpisahkan oleh apapun juga. Suka sama dinikmati duka sama ditanggung, setiap tantangan sama ditanggulangi. Kami saling mencinta dan bersumpah untuk hidup bersama sampai mati. Kami telah hidup bersama selama belasan tahun, saling mencinta dan saling setia sampai kami berdua berusia empat puluh tahun lebih. Kami malang melintang membuat nama besar di dunia disegani kawan ditakuti lawan. Akan tetapi pada suatu hari dia bertemu dengan seorang gadis berusia dua puluh tahun lebih bernama Padmosari dan dia tergila-gila. Dia jatuh cinta, bahkan meminang Padmosari lalu menikah dengannya. Ketika aku datang memrotes, Harjodento dibantu oleh Padmosari malah mengusir dan menyerangku. Hampir mati aku dipukuli mereka dan mereka menghinaku dengan kata-kata yang kotor. Mereka mengatakan aku perampas suami orang wanita tak tahu malu dan sebagainya lagi. Sampai berbulan-bulan aku jatuh sakit karena siksaan mereka. Setelah sembuh aku memperdalam ilmu silat dan beberapa kali aku berusaha untuk membalas dendam, akan tetapi aku selalu dikalahkan mereka. Karena aku merasa diri sudah tua dan lemah, maka aku menugaskan muridku Retno Susilo untuk membalaskan sakit hatiku, akan tetapi apa daya, ternyata iapun gagal dan kalah."

Sampai di sini, Nyi Rukmo Petak berhenti dan terisak menangis. Retno Susilo menghampiri dan memeluk gurunya.

"Nyi Dewi, ampunkan aku muridmu yang tiada guna, telah gagal membalaskan sakit hatimu."

Melihat keadaan mereka, Sutejo merasa iba juga.

"Hemm, agaknya mereka itu sewenang-wenang dan kejam "

Katanya. Mendengar ucapan Sutejo, Nyi Rukmo Petak mengusap air matanya dan memandang kepada pemuda itu.

"Anak mas Sutejo, aku yakin, kalau andika mau membantu Retno Susilo menghadapi mereka, pasti engkau akan mampu menandingi dan mengalahkan mereka. Aku melihat tadi ilmu kepandaianmu tinggi sekali. Siapakah gurumu, anak mas Sutejo?"

"Guru saya adalah mendiang Bhagawan Sidik Paningal"

"Ah, Bhagawan Sidik Paningal dari Gunung Kawi?"

"Benar, bibi. Apakah bibi sudah mengenalnya?"

Sepasang mata Nyi Rukmo Petak yang masih tajam sinarnya itu mengamati wajah Sutejo penuh perhatian.

"Bhagawan Sidik Paningal? Siapa tidak mengenalnya? Pantas andika digdaya anak mas Sutejo. Kiranya andika adalah muridnya!"

Tiba-tiba suaranya menjadi lembut penuh permohonan.

"Anak mas Sutejo, kalau andika suka membantu kami mengalahkan mereka aku akan selalu berterima kasih kepadamu, takkan kulupakan seumur hidupku. Anak mas Sutejo, andika tentu tidak tega membiarkan seorang wanita tua seperti aku ini tersiksa dan menanggung derita batin yang sudah kutanggung selama puluhan tahun lamanya ini"

Kembali wanita itu menangis terisak-isak.

Retno Susilo sendiri sampai menjadi terheran-heran.

Selama bertahun-tahun menjadi murid wanita berambut putih itu, belum pernah ia melihat gurunya ini menangis.

Gurunya bahkan memperlihatkan kekerasan hati yang luar biasa.

Akan tetapi kini gurunya itu menangis terisak-isak seperti anak kecil!

Ia merasa iba dan ia menghadapi Sutejo lalu berkata dengan lembut sambil menentang pandang mata pemuda itu.

"Kakangmas Sutejo, maukah engkau membantu Nyi Dewi? Kalau engkau tidak mau membantu guruku, aku yang minta tolong kepadamu. Bantulah aku menghadapi Harjodento dan isterinya, serta anak buah mereka. Apakah sekali ini engkau juga akan menolak permintaanku ini, kakangmas Sutejo?"

Dalam suara gadis itu terkandung kesedihan dan Sutejo merasa iba sekali.

Dia pernah mengecewakan gadis ini dengan menolaknya ketika ia minta agar diperbolehkan ikut.

Bagaimana kini dia dapat menolak permintaannya, sedangkan tadi dia telah menyatakan kesanggupannya antuk membantu ?

Memang dia meragu untuk membantu Nyi Rukmo Petak yang sama sekali tidak dikenalnya dan dia tidak tabu presis bagaimana sebenarnya persoalan antara nenek itu dan keluarga Harjodento.

Dia hanya mendengarkan keterangan sepihak saja.

Akan tetapi kalau Retno Susilo yang meminta kepadanya untuk membantu, dia tidak dapat menolak.

"Baiklah, diajeng Retno Susilo. Seperti kukatakan tadi, aku akan membantumu menghadapi mereka."

Mendengar ini, Nyi Rukmo Petak kelihatan girang sekali. Wajahnya berseri-seri, matanya bersinar-sinar "Aduh, terima kasih banyak, anak mas Sutejo!"

Serunya dan ia lalu maju merangkul Retno Susilo dan mencium kening gadis itu.

"Retno, terima kasih, aku merasa berbahagia sekali sekarang! Anak mas Sutejo akan menentang dan melawan mereka! Ah, betapa senang dan puas rasa hatiku membayangkan mereka berdua itu kalah dan roboh di tangan anak mas Sutejo!"

Nenek itu kelihatan demikian girang luar biasa sehingga Retno Susilo kembali merasa heran.

Biasanya gurunya ini adalah seorang wanita tua yang berhati dingin, tidak mudah tertawa, apa lagi menangis.

Pertemuannya dengan Sutejo membuatnya demikian berubah.

Akan tetapi iapun ikut bergembira melihat betapa gurunya tampak begitu berbahagia.

"Kalau begitu, kami akan berangkat sekarang juga, Nyi Dewi. Kami mohon pamit."

Kata gadis itu.

"Mari, kakangmas Sutejo, kita berangkat."

"Selamat jalan kalian berdua! Selamat bertugas. Aku mengiringkan dengan doa restuku!"

Kata nenek itu dengan suara gembira.

"Marilah, kakangmas Sutejo!"

Kata Retno Susilo dan suara gadis itupun terdengar amat bergembira karena di dalam hatinya, ia merasa senang sekali karena kini ia mendapat kesempatan untuk melakukan perjalanan bersama pria yang telah menalukkan hatinya, satu-satunya pria yang pernah dicintanya.

Sesungguhnya kegirangan hatinya itu bukan karena Sutejo mau membantu gurunya untuk membalaskan sakit hati, melainkan karena pemuda itu mau melakukan perjalanan bersamanya!

Karena takut membayangkan bahwa ia baru segera berpisah lagi dari Sutejo, Retno Susilo yang menjadi penunjuk jalan, berjalan dengan santai dan seenaknya.

Bahkan ia sengaja mengambil jalan memutar agar perjalanan itu memakan waktu lebih lama sehingga ia dapat lebih lama pula melakukan perjalanan bersama Sutejo!

"Kakangmas Sutejo, itu di depan ada warung, nasi.

Kita berhenti dulu dan makan di sana, perutku sudah terasa lapar."

Kata Retno Susilo kepada Sutejo ketika mereka memasuki sebuah dusun yang cukup besar dan ramai.

Di tepi jalan itu, sebelah kiri, terdapat sebuah kedai nasi dan di waktu senja itu tidak binyak tamu yang berada di warung itu.

Hanya ada empat orang saja yang sedang makan.

Penjaga kedai nasi itu seorang wanita berusia kurang lebih tiga puluh tahun.

Sutejo dan Retno Susilo memasuki kedai itu, disambut dengan senyuman ramah oleh penjaga kedai.

Biarpun Sutejo mengenakan pakaian sederhana, akan tetapi melihat Retno Susilo yang cantik jelita dengan pakaian yang cukup indah, penjaga warung itu menyambut dengan hormat.

"Den mas dan den roro, silakan duduk. Andika berdua hendak makan? Atau banya minum?"

"Kami mau makan,"

Kata Retno Susilo.

"harap hidangkan nasi dua dan air teh dua "

Penjaga warung itu mengangguk dan melangkah masuk ke bagian dalam rumah itu, ke dapur untuk menyediakan pesanan tamunya.

Retno Susilo dan Sutejo duduk di atas bangku menghadapi meja.

Di dapur rumah yang bagian depannya dijadikan warung nasi itu duduk seorang anak perempuan berusia kurang lebih sepuluh tahun.

Ia adalah anak perempuan pemilik warung nasi itu.

"sarti buatkan air teh untuk dua orang."

Kata ibunya.

"Baik, ibu."

Jawab anak itu sambil turun dari bangku yang tadi didudukinya.

Akan tetapi tiba-tiba pada saat itu tampak sesosok bayangan berkelebat masuk dari pintu belakang dan seorang wanita cantik sudah menyambar ke arah anak itu.

Tangan kirinya menangkap pundak itu dan begitu tangan kanannya menekan tengkuk, anak itu terkulai pingsan.

Pemilik warung terbelalak dan hendak berteriak, akan tetapi wanita cantik itu menghardik dengan suara setengah berbisik.

"Jangan berteriak atau aku akan bunuh anakmu ini!"

Katanya sambil mencabut pedang dan menempelkan pedang yang berkilauan saking tajamnya itu ke leher Sarti, anak perempuan itu. Tentu saja ibunya menjadi ketakutan dan seluruh tubuhnya menggigil.

"Jangan...... jangan bunuh anak saya......"

Ia meratap.

"Aku tidak akan membunuh anakmu asal saja engkau menaati perintahku."

Kata wanita cantik itu.

"Baik, saya akan mentati......"

Kata pemilik warung nasi itu dengan suara gemetar. Wanita cantik itu mengeluarkan sebuah bungkusan kecil, lalu berkata.

"Cepat sediakan dua piring nasi seperti yang dipesan pemuda dan gadis itu!"

Dengan kedua tangan gemetar penjaga warung nasi itu segera menyediakan dua piring nasi dengan lauk pauknya, serta dua gelas air teh.

Wanita cantik itu menuangkan isi bungkusan kecil, yaitu bubuk berwarna putih ke dalam sebuah di antara dua piring nasi itu.

"Ingat!"

Katanya mengancam.

"Engkau harus memberikan piring nasi yang ini kepada pemuda itu dan yang lain kepada si gadis. Awas jangan sampai tertukar. Kalau engkau sudah melaksanakan perintahku itu dengan baik dan nasi dalam piring yang ini termakan oleh pemuda itu, baru anakmu akan kubebaskan. Untuk sementara ini aku menahan anakmu di sini. Cepat hidangkan dan awas jangan tertukar, jangan keliru!"

Wanita itu hanya dapat mangangguk-angguk, lalu menggunakan baki untuk membawa hidangan itu keluar.

Ia menaruh piring nasi yang sudah diberi bubuk putih itu di sebelah kiri agar tidak sampai tertukar.

Setelah ia melirik ke arah anak perempuannya yang masih pingsan lalu membawa hidangan itu keluar.

Wajahnya menjadi agak pucat dan kedua tangannya agak gemetar ketika ia meletakkan dua piring nasi dan dua gelas air teh itu ke atas meja, di depan kedua orang tamunya itu.

Keadaannya ini tidak terlepas dari pengamatan kedua orang muda yang digdaya itu.

"Mbakayu, apakah engkau sakit? Wajahmu pucar dan Kedua tanganmu gemetar."

Tegur Retno Susilo sambil mengamati wajah pemilik warung nasi itu.

"Ah. tidak, den roro, saya tidak sakit, hanya mungkin.... masuk angin saja...."

Kata wanita itu sambil melangkah mnsuk lagi ke belakang.

"Mari, kakangms. Kita makan, setelah itu baru kita mencari tempat untuk menginap dan melewatkan malam ini."

Ajak Retno Susilo.

Sutejo mengangguk dan kedua orang itu lalu makan.

Karena mereka tidak makan sejak pasi tadi dan perut mereka memang lapar, keduanya makan dengan enak walaupun sayur teman nasi yang mereka makan amat sederhana.

Sesungguhnyalah.

Perut lapar dan hati tenteram merupakan lauk pauk yang amat melezatkan segala macam makanan!

Sehabis makan Retno Susilo segera membayar harga makanan dan cepat mereka meninggalkan warung itu karena mereka tidak ingin kemalaman sebelum mendapatkan tempat untuk menginap.

Wanita pemilik warung itu merasa lega bukan main.

Anaknya telah dibebaskan, wanita cantik yang mengancamnya itu telah pergi, dan dua orang tamunya tidak apa-apa seperti yang ia khawatirkan.

Ketika Sutejo dan Retno Susilo tiba di jalan di luar warung nasi itu, tiba-tiba Sutejo mengangkat kedua tangannya, memegangi kepalanya dan mengeluh, menghentikan langkahnya.

"Eh, kenapakah engkau, kakangmas Sutejo?"

Tanya Retno Susilo dengan heran dan juga khawatir.

"Kepalaku... tiba-tiba pening sekali...."

Sutejo mengambil napas panjang dan tiba-tiba saja dia menyadari keadaannya.

"Celaka......Aku....... agaknya aku keracunan....."

"Kakangmas.....!"

Retno Susilo terkejut bukan main melihat Sutejo tiba-tiba terhuyung lalu roboh pingsan!

Ia cepat melompat untuk menolongnya, akan tetapi pada saat itu muncul empat orang laki-laki yang tinggi besar dan kasar menubruknya seperti empat ekor harimau memperebutkan seekor domba.

Jelas bahwa mereka itu menyerang untuk menangkapnya, sambil menyeringai kurang ajar.

Retno Susilo cepat melompat ke samping, mengelak dan menghadapi empat orang itu dengan alis berkerut dan mata mencorong.

"Heii! Siapa kalian dan apu yang kalian lakukan ini?"

Bentaknya.

"Ha-ha-ha, manis! Mari ikut saja dengan kami dan engkau tentu akan hidup senang!"

Kata seorang di antara mereka dan dia sudah menubruk lagi Untuk meringkus Retno Susilo diikuti oleh tiga orang kawannya.

Agaknya empat orang ini sama sekali belum mengenal siapa Retno Susilo maka mereka berempat memandang rendah dan mengira bahwa mereka akan dapat dengan mudah menangkap gadis itu.

Akan tetapi empat orang itu kecelik karena tubrukan mereka hanya mengenai tempat kosong saja karena Retno Susilo sudah bergerak dengan amat cepatnya mengelak dari terkaman mereka.

Sambil melompat ke samping untuk mengelak, Retno Susilo tidak memberi kesempatan kepada mereka, tidak membiarkan mereka menyerang tanpa dibalas.

Tangannya menampar, kakinya menendang dan empat orang itu terpelanting ke kanan kiri!

Empat orang itu terkejut dan agaknya baru menyadari bahwa gadis cantik jelita itu bukanlah mangsa yang empuk.

Mereka sudah mencabut golok yang bergantung di pinggang mereka dan kini mereka menerjang Retno Susilo, tidak lagi bermaksud menangkap, melainkan berniat membunuh!

Empat batang golok itu menyambar-nyambar, menghujani tubuh Retno Susilo.

Namun tidak ada serangan yang mengenai sasaran semua hanya mengenai udara kosong saja.

Tubuh gadis itu berkelebatan amat cepatnya, menyusup di antara gulungan sinar empat batang golok.

Empat orang itu merasa seolah-olah mereka berhadapan dengan seekor burung walet yang amat cepat gerakannya sehingga semua serangan mereka sia-sia belaka.

Pada saat itu, tampak sesosok bayangan berkelebat dan Retno Susilo melihat betapa ada seorang wanita cantik menyambar tubuh Sutejo yang pingsan dan membawanya lari cepat meninggalkan tempat itu.

Tentu saja ia menjadi terkejut dan marah sekali.

Akaa tetapi empat orang pengeroyoknya mengepung dan menyerangnya dengan semakin gencar sehingga terpaksa ia harus mencurahkan perhatiannya kepada mereka yang mengeroyoknya.

Karena marah sekali melihat Sutejo yang pingsan diculik orang, Retno Susilo mengamuk.

Sebetulnya, dengan ilmu biasa saja yang ia kuasai, ia sudah akan dapat merobohkan empat orang pengeroyoknya.

Akan tetapi dalam kemarahannya, Retno Susilo mengerahkan ajinya yang paling ampuh, aji pamungkasnya, yaitu Aji Gelap Sewu.

"Yaaahh!"

Berbareng dengan terlontarnya pekik melengking ini, kedua tangannya mendorong ke depan dan empat orang pengeroyoknya itu terlempar dan terbanting jatuh seperti disambar petir!

Tiga orang tewas seketika dan yang seorang lagi masih dapat bergerak dan mencoba untuk bangkit duduk.

Retno Susilo menggerakkan kedua kakinya dan sekali melompat ia sudah tiba dekat orang yang belum tewas itu, menjambak rambutnya dan menghardik.

"Hayo katakan, siapa yang menculik pemuda tadi dan di mana ia berada!"

Orang yang sudah setengah mati itu menjadi ketakutan dan harus mengerahkan seluruh sisa tenaganya yang masih ada untuk menjawab.

"Ia...... Ia...... Ni Dewi Sekarsih.... ia berada di..... hutan lereng itu...."

Dia menuding.

"Tunjukkan kepadaku di mana tempat itu Hayo!"

Ia menjambak rambut orang itu sehingga bangkit berdiri dan memaksanya untuk berjalan cepat melakukan pengejaran terhadap wanita yang telah menculik Sutejo yang dalam keadaan pingsan.

Biarpun dia telah menderita luka parah akibat pukulan Gelap Sewu yang dilakukan Retno Susilo dan membuat tiga orang rekannya tadi tewas seketika.

Orang itu yang kebetulan tidak terkena pukulan secara telak dan menderita luka parah, akan tetapi karena rasa takutnya terhadap Retno Susilo dia memaksa diri menjadi penunjuk jalan.

Ternyata dia agaknya hafal benar dengan tempat itu karena biarpun cuaca mulai gelap, dia dapat melangkah maju tanpa ragu menyusup di antara pohon-pohon dan semak belukar.

Wanita cantik yang memaksa pemilik warung nasi untuk menaruh obat bubuk dalam makanan yang dihidangkan kepada Sutejo itu bukan lain adalah Sekarsih, murid atau juga kekasih klabangkolo, tokoh sesat yang sakti mandraguna itu.

Sekarsih adalahh seorang wanita yang telah menjadi hamba nafsunya sendiri di antaranya yang mencengkramnya adalah nafsu berahi yang membuatnya menjadi seorang wanita yang mata keranjang.

Dimanapun ia berada, ia mengumbar nafsunya mencari korban di antara pemuda-pemuda yang dirayunya mengandalkan, kecantikannya atau kalau ia mendapatkan pemuda yang menolak rayuannya, ia mempergunakan aji pengasihan dibantu obat-obat yang merupakan racun perangsang.

Di samping ilmu kanuragan yang, dikuasainya, wanita inipun seorang ahli dalam mempergunakan racun.

Secara kebetulan saja ia melihat Sutejo dan Retno Susilo memasuki dusun itu.

Hatinya segera tertarik oleh ketampanan dan kegagahan Sutejo, maka timbul niatnya untuk mendapatkan pemuda itu.

Akan tetapi ia melihat sikap dua orang muda itu seperti orang-orang yang memiliki ilmu maka ia bersikap hati-hati.

Ia menghubungi empat orang perampok yang dikenalnya dan yang bersaing di hutan luar dusun itu dan ia menyuruh mereka untuk menguasai Retno Susilo, agar ia dengan mudah dapat menangkan pemuda yang menarik hatinya itu.

Setelah empat orang anak buahnya itu siap, ia lalu memaksa pemilik warung nasi untuk menghidangkan nasi yang sudah ditaburi racun kepada pemuda itu dengan mengancam anak pemilik warung nasi.

Semua berjalan mulus seperti yang dikehendakinya, Ketika ia melihat Sutejo roboh pingsan di luar warung nasi, ia segera memberi isarat kepada empat orang anak buahnya untuk menyerbu.

Empat orang itu adalah perampok-perampok keji dan kasar.

Melihat Retno Susilo yang cantik jelita, dan mereka sudah mendapat ijin dari Sekarsih untuk menguasai gadis itu, tentu saja mereka bergairah sekali dan segera mereka menyergap hendak menangkap Retno Susilo.

Dalam keadaan yang kacau ketika Retno Susilo dikeroyok empat orang perampok itulah Sekarsih bergerak cepat, menyambar tubuh gutejo dan memanggulnya, dibawa lari memasuki hutan yang menjadi sarang keempat orang perampok itu.

Setelah tiba di sebuah pondok di dalam hutan itu, Sekarsih membawa tawanannya memasuki pondok yang terbuat dari kayu dan bambu itu.

Ia menyalakan sebuah lampu gantung setelah merebahkan Sutejo di atas sebuah dipan kayu.

Wajahnya berseri dan mulutnya tersenyum senang melibat pemuda calon mangsanya itu menggeletak di situ rebah terlentang dalam keadaan tidak sadar.

Akan tetapi ia bersikap hati-hati.

Ia tidak ingin nanti dikecewakan oleh penolakan pemuda tampan itu, maka ia lalu mengeluarkan sebuah botol kecil, memercikkan cairan yang terdapat dalam botol kecil ke muka Sutejo.

Itulah racun perangsang yang disebut Tirto Asmoro.

Racun perangsang ini kuat sekali.

Baru tercium saja sudah cukup membuat seseorang terangsang nafsu teraniaya.

Setelah memercikkan racun perangsang ini, Sekarsih lalu mengambil air dan memercikkan air dingin ke muka dan kepala Sutejo.

Pemuda itu mengeluh dan membuka matanya.

Dia masih agak nanar dan mengejap-ngejapkan matanya mengusir kepeningan.

Sutejo merasa heran dan terkejut sekali ketika melihat dirinya rebah di atas sebuah dipan, dirangkul dan dicumbu oleh seorang wanita cantik.

Otomatis dia hendak meronta dan melepaskan diri, akan tetapi pada saat itu, dia merasa betapa ada dorongan kuat sekali dari dalam dirinya yang membuat dia membalas rangkulan wanita itu dan merasakan kenikmatan ketika wanita menciuminya!

Sutejo merasa dirinya seperti terayun-ayun di angkasa, seperti dalam mimpi yang mengasyikkan.

Tiba-tika saja terdengar suara keras.

"Brakkkkk !!"

Pintu depan pondok itu jebol diterjang Retno Susilo.

Gadis ini setelah memaksa tawanannya sampai di depan pondok, lalu mengayun tangannya menampar tawanan itu yang terguling dan tewas seketika.

Kemudian ia menerjang daun pintu hingga jebol dan matanya terbelalak melihat Sutejo sedang berangkulan dengan seorang wanita cantik di atas dipan!

Wajahnya terasa panas, hatinya juga panas sekali.

"Perempuan iblis yang hina!"

Bentaknya sambil mencabut Pedang Naga Wilis dari punggungnya.

Melihat Retno Susilo.

Sekarsih teringat bahwa, ia adalah gadis yang tadi makan bersama Sutejo dan yang ia serahkan kepada empat orang, perampok untuk dibuat sesuka hati mereka Kiranya gadis itu telah menyusul ke sini dan mengancamnya dengan pedang di tangan!

"Dari mana datangnya bocah yang berani menggangguku?

Engkau sudah bosan hidup agaknya!"

Bentak Sekarsih dan pada saat itu Sutejo seperti telah menemukan Kesadarannya kembali dan cepat merenggutkan dirinya terlepas dari pelukan sekarsih dan melompat turun dari pembaringan, Akan tetapi dia terhuyung-huyung karena kepalanya terasa pening.

Dia cepat menjatuhkan dirinya duduk bersila di atas lantai dan mencerahkan tenaga sakti Bromokendali untuk mengusir hawa beracun yang menguasainya.

Sekarsih yang merasa terganggu menjadi demikian marahnya sehingga ia sudah melompat dan menerjang dengan sambaran pedangnya, ke arah leher Retno Susilo.

Akan tetapi Retno Susilo yang juga marah sekali itu menggerakkan pedangnya menyambut sambil mengerahkan tenaga saktinya.

"Cringggg... !!"

Dua batang pedang itu bertemu di udara dan bunga api berpijar menyilaukan mata, sekilat menerangi kamar atau ruangan pondok yang remang-remang itu.

Sekarsih terkejut, bukan main ketika merasa tangan kanannya tergetar hebat, ia melompat ke belakang dan dengan mata terbelalak memandang lawannya.

Hampir ia tidak dapat percaya bahwa lawannya yang masih demikian muda memiliki tenaga yang demikian kuatnya.

Dan pedang lawannya itu!

Mencorong kehijauan dan mengerikan.

Biasanya, pedang seorang lawan tentu akan patah-patah kalau bertemu dengan pedangnya yang terbuat dari baja pilihan dan ia gerakkan dengan pengerahan tenaga saktinya.

Karena terkejut dan heran, ia menjadi penasaran dan semakin marah.

"Haiiittttt....!!"

Ia berseru melengking dan tubuhnya sudah menerjang maju mengirim serangan kuat yang bertubi-tubi ke arah tubuh Retno Susilo.

Akan tetapi gadis ini dapat bergerak dengan tangkas dan cepat bukan main, mengelak ke sana sini dan kadang pedangnya menangkis dengan kekuatan yang besar sehingga beberapa kali pedang di tangan Sekarsih terpental.

Dua orang Wanita itu bertanding dengan seru di dalam ruangan pondok itu.

Retno Susilo kini tidak hanya bertahan saja, melainkah juga membalas serangan lawan sehingga mereka saling serang dengan tusukan dan bacokan pedang yang dapat mendatangkah maut.

Keduanya sama lincahnya dan dalam, hal tenaga sakti, biarpun Retno Susilo lebih kuat, namun selisihnya tidak banyak sehingga pertandingan itu menjadi seru sekali.

Semakin lama, hati Sekasih menjadi semakin tidak enak.

Diam-diam ia mengeluh dan merasa kecelik sekali.

Sama sekali tidak disangkanya bahwa sekali ini ia bertumbuk dengan batu!

Gadis yang menjadi lawannya itu demikian tangguhnya dan tiba-tiba ia teringat kepada pemuda yang tadi dirayunya.

Kalau gadis ini demikian tangguhnya, tentu pemuda itn juga bukan orang sembarangan!

Ia mulai merasa khawatir, apa lagi setelah ia mengerling dan melihat pemuda itu duduk bersila dan uap putih mengeepul dari atas kepalanya.

Tahulah ia bahwa pemuda itu sedang mempergunakan tenaga saktinya untuk mengusir pengaruh hawa beracun dari tubuhnya.

Hal ini merupakan tanda bahwa pemuda itu benar-benar seorang yang memiliki kesaktian.

Kalau dia sampai pulih kembali dan ikut maju mengeroyoknya, akan celakalah ia!

Karena hatinya mulai gentar, Sekarsih lalu mengerahkan aji andalannya, mengisi tangan kirinya dengan Aji Singarodra.

kemudian ia mengeluarkan lengkingan nyaring dan mendorongkan tangan kirinya ke arah Retno Susilo.

Akan tetapi gadis ini menyambut serangan pukulan jarak jauh itu dengan Aji Gelap Sewu yang amat dahsyat.

"Wuuuttt...... desss........!"

Tubuh Sekarsih terpental ke arah pintu depan dan ia pun menahan rasa sesak di dadanya, terus melompat keluar dan menghilang dalam kegelapan malam.

Retno Susilo mengejar keluar, akan tetapi kegelapan malam di hutan itu telah menelan lenyap bayangan lawannya.

Terpaksa ia masuk kembali ke dalam rumah itu.

Ketika memasuki pondok itu, Retno Susilo melihat Sutejo bangkit dari duduknya dan pemuda itu memandangnya dengan sinar mata membayangkan rasa syukur.

"Terima kasih atas pertolonganmu, diajeng Retno Susilo. Perempuan iblis itu sungguh berbahaya. Tentu ia yang telah menaruh racun ke dalam makananku. Mana sekarang iblis itu? Apakah engkau telah mengusirnya?"

Retno Susilo teringat akan pemandangan yang dilihatnya tadi, ketika Sutejo berpelukan dengan wanita iblis yang oleh perampok yang ditawannya tadi dikatakan bernama Ni Dewi Sekarsih.

Kemarahan menyesak di dadanya ketika ia membayangkan penglihatan tadi.

"Engkau...... engkau tidak tahu malu !"

Bentaknya iapun membalikkan tubuh, dengan marah melangkah keluar.

Ketika melewati lampu gantung yang bergantung dekat pintu, tangannya meraih dan ia telah mengambil lampu gantung itu dan membawanya keluar.

"Diajeng Retno.....!"

Sutejo mengejarnya keluar.

"Engkau tahu, aku berada dalam keadaan tidak sadar, keracunan.....!"

Akan tetapi Retno Susilo tidak menjawab melainkan melemparkan lampu gantung ke atap pondok .itu. Lampu itu meledak dan api berkobar cepat melahap pondok yang terbuat dari kayu dan bambu itu.

"Ah kenapa engkau lakukan itu, diajeng? Kita memerlukan pondok itu malam ini, untuk melewatkan malam."

Sutejo menegur.

"Aku.....aku benci pondok itu!"

Jawab Retno Susilo sambil memandang ke arah api yang berkobar besar.

Sutejo mengamati wajah gadis itu yang tampak jelas di bawah sinar api yang berkobar.

Wajah yang cantik jelita dan di bawah sinar api yang berkobar, wajah itu tampak seperti wajah seorang bidadari dari kahyangan!

"Diajeng Retno Susilo, sebenarnya apakah yang telah terjadi?

Ketika kita keluar dari warung nasi, tiba-tibu kepalaku pening, pandang mataku gelap dan aku tidak ingat apa-apa lagi.

Apa yang telah terjadi?

Begitu sadar aku mendapatkan diriku di dalam pondok bersama perempuan iblis itu.

Aku .....

aku sungguh tidak menyadari keadaan dan barulah aku sadar benar setelah aku berhasil meng usir hawa beracun yang menguasai diriku.

Ceritakanlah, diajeng, apa yang telah terjadi?"

Mulut yang indah bentuknya itu masih cemberut. Matanya mengerling ke arah Sutejo sejenak, lalu ia membuang muka.

"Engkau marah kepadaku, diajeng? Maafkanlah aku kalau aku telah membuatmu tidak senang dan marah. Aku menyadari apa yang kau lihat tadi, akan tetapi aku berada dalam keadaan tidak sadar, tidak wajar dan terpengaruh racun."

Akhirnya Retno Susilo dapat memaklumi dan ia menghela napas panjang, mencoba untuk mendinginkan hatinya yaug panas, menenteramkan pikirannya yang membayangkan penglihatan yang membuatnya marah tadi.

"Ketika engkau jatuh pingsan, tiba-tiba muncul empat orang laki-laki kasar yang mengeroyok dan hendak menangkap aku. Tentu saja aku menghajar mereka dan selagi aku berkelahi melawan pengeroyokan empat orang itu, aku melibat wanita iblis itu membawamu lari. Aku menjadi marah dan kubunuh tiga oraag pengeroyok, yang seorang lagi kutangkap dan kupaksa menunjukkan ke mana perempuan itu melarikanmu. Dia membawaku ke sini dan aku lalu membunuhnya pula. Ketika aku menjebol pintu pondok, Aku melihat engkau dan perempuan itu....."

Retno Susilo tidak dapat melanjutkan ceritanya, karena hatinya sudah menjadi panas kembali.

"Aku ingat sekarang. Kemunculan dan bentakanmu itu menyadarkan aku, diajeng. Yang mengherankan aku, siapakah perempuan itu? Kulihat tadi ilmu kepandaiannya cukup tinggi."

"Aku sendiri juga tidak mengenalnya. Akan tetapi menurut orang yang kujadikan tawanan dan penunjuk jalan tadi, ia bernama Ni Dewi Sekarsih. Memang ilmu kepandaiannya cukup tinggi, dan beruntung aku dapat mengatasinya."

Karena mereka berada di tengah hutan dan malam itu gelap sekali, mereka tidak mungkin dapat keluar dari hutan tanpa bahaya tersesat.

Maka terpaksa mereka melewatkan malam di dalam hutan itu, di dekat pondok yang kini lelah dimakan api.

Akan tetapi Retno Susilo telah menemukan kegembiraannya kembali, kegembiraan dapat melakukan perjalanan bersama Sutejo.

Kegembiraan ini tadi sempat terusik oleh perasaan cemburu dan marah melihat Sutejo dibelai Sekarsin.

Ia kini menyadari benar bahwa ketika itu Sutejo berada dalam keadaan tidak sadar dua dipengaruhi hawa beracun.

Sutejo membuat api unggun di bawah sebatang pohon yang tumbuh tak jauh dan pondok itu.

Retno Susilo mengumpulkan daun kering dan menaruhnya di bawah pohon untuk menjadi semacam tiiam.

Ia lalu duduk di atas rumput dan daun kering itu sambil memandang kepada Sutejo yang sedang membuat api unggun.

Api yang membakar pondok masih bernyala sehingga menerangi bawah pohon itu.

Retno Susilo duduk bersandar batang pohon.

Hatinya merasa senang bukan main.

Ia menyadari sepenuhnya bahwa ,ia amat mencinta pemuda itu.

Dalam keadaan bagaimanapun juga, kalau bersama Sutejo, ia akan selalu merasa senang dan berbahagia.

Sutejo telah berhasil menyalakan api unggun dan pemuda itupun duduk di atas tumpukan daun kering, berhadapan dengan Retno susilo dalam jarak dua meter.

Mereka saling pandang di bawah sinar api unggun dan api yang membakar pondok dan melihat wajah Retno Susilo yang cerah dan mulutnya yang terhias senyum manis, hati Sutejo merasa lega.

Gadis itu sudah tidak marah lagi.

pikirnya.

Dia merasa mukanya panas kalau membayangkan pengalamannya tadi.

Biarpun tadi terpengaruh hawa beracun, namun dia lapat-lapat masin teringat betapa tadi dia hanyut dan hampir saja bertekuk lutut menyerah terhadap cengkeraman dan dorongan hasrat yang merangsangnya ketika dia dirangkul dan dicium perempuan bernama Sekarsih itu!

Cepat dia mengusir kenangan itu dan mengajak Retno Susilo bercakap-cakap untuk mengalihkan perhatian.

"Diajeng. untung kita tadi telah makan. Kalau tidak, kita bisa kelaparan malam ini di sini."

Akan tetapi, ucapan itu justeru mengingatkan kembali Retno Susilo akan peristiwa vang mereka alami tadi.

"Kakangmas Sutejo mbakyu penjaga warung nasi itu tentu mempunyai hubungan dengan Sekarsih itu! Ia yang meracunimu tadi, Besok aku akan mendatanginya dan membei hajaran kepadanya!"

"Nanti dulu, diajeng. Jangan terburu nafsu. Sebaiknya besok kita selidiki dulu mengenal racun yang dicampurkan ke dalam nasi yang kumakan. Herannya, mengapa hanya dalam nasi yang disuguhkan kepadaku saja yang beracun, sedangkan yang kau makan tidak."

Kata Sutejo, Retno Susilo mengangguk-angguk "Engkau benar.

Akupun sangsi apakah penjaga warung itu dapat melakukan kejahatan.

Tampaknya ia orang baik-baik.

seorang wanita penjaga warung nasi yang sederhana dan ramah."

"Sudahlah, diajeng, Tidak ada gunanya membicarakan peristiwa tadi. Besok kita tentu akan mengetahuinya. Aku ingin engkau bicara dan bercerita tentang musuh besar gurumu itu. Kita akan menghadapi mereka, maka aku ingin mengetahui keadaan mereka "

"Apa yang ingin kau tanyakan,kakangmas?"

"Siapa pula nama musuh besar gurumu itu?"

"Namanya Harjodento dan isterinya bernama Padmosari."

"Bagaimana keadaan orangnya? Berapa usianya."

"Harjodento itu seorang laki-laki berusia kurang lebih enam puluh lima tahun, tampaknya gagah perkasa den isterinya yang bernama Padmosari berusia kurang lebih empat puluh lima tahun. Mereka berdua memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, terutama sekali Harjodento itu. Kalau melawan isterinya aku masih mampu menandinginya, akan tetapi menghadapi Harjodento, aku harus mengakui keunggulannya. Dia tangguh sekali, dan memiliki tenaga yang amat kuat."

"Di mana mereka tinggal?"

"Mereka tinggal di tepi Bengawan Solo di daerah Ngawi." (Lanjut ke

Jilid 16) Pecut Sakti Bajrakirana (Seri ke 01 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 16

"Benarkah mereka itu jahat sekali, diajeng?"

Retno Susilo mengerutkan alisnya.

"Aku tidak tahu, kakangmas. Menurut guruku mereka jahat sekali terhadap guruku Akan tetapi apakah mereka itu orang jahat, aku tidak tahu. Harjodento itu adalah seorang ketua dari sebuah perkumpulan yang bernama Nogo Dento. Ketika aku berhadapan dengan Harjodento aku katakan terus terang bahwa aku ingin membunuhnya untuk membalaskan sakit hati guruku, Nyi Rukmo Petak. Akan tetapi Harjodento menyangkal dan mengatakah bahwa dia tidak mengenal Nyi Rukmo Petak. Aku paksa dia bertanding. Dia hadapi pedangku dengan senjata tombak dan ternyata dia tangguh sekali. Aku terdesak oleh tombaknya yang dahsyat. Dalam keadaan terdesak itu muncul seorang pemuda yang pernah kukenal dalam perjalanan. Dia membantuku menghadapi Harjodento."

"Siapakah pemuda itu, diajeng?"

"Namanya Priyadi......"

"Ahh.....! Orangnya tampan dan gagah, gerak geriknya lembut?"

"Benar. Engkau mengenalnya, kakangmas?"

"Tentu saja. Dia itu murid perguruan Jatikusumo. Gurunya adalah uwa guruku. Lalu bagaimana setelah Kakang Priyadi muncul membantumu?"

"Kami dapat menandingi Harjodento akan tetapi isterinya, Padmosari lalu maju membantu suaminya. Aku menghadapi Padmosari dan Kakangmas Priyadi melawan Harjodento. Keadaan kami seimbang, akan tetapi karena kami dikepung anak buah Nogo Dento yang banyak jumlahnya, Kakangmas Priyadi lalu mengajakku untuk melarikan diri sebelum kami dikeroyok dan dalam bahaya."

"Hemm, agaknya keluarga itu digdaya dan sukar dikalahkan."

Kata Sutejo.

"Apa lapi mereka mempunyai banyak anak buah."

"Kalau sudah tiba di sana, aku akan menantang mereka untuk mengadu ilmu dan bertanding satu lawan satu. Apakah engkau gentar menghadapi mereka, kakangmas Sutejo?"

Sutejo tersenyum dan menggeleng kepalanya.

"Tentu saja tidak, diajeng. Aku hanya meragu, khawatir salah menentang orang-orang yang tidak jahat. Akan tetapi hal itu bagaimana nanti sajalah, kita lihat kalau sudah berhadapan dengan mereka. Yang mengherankan adalah mengapa mereka itu tidak mengenal gurumu, pada hal menurut gurumu, mereka telah membuat gurumu sengsara karena dikhianati cintanya. Bagaimana engkau dapat berkenalan dengan Kakangmas Priyadi diajeng?"

"Kalau kuingat peristiwa yang mengerikan itu, aku masih bergidik Ketika itu, aku menolong dan membebaskan seorang gadis dusun yang hendak dipaksa menikah dan menjadi selir seorang hartawan di Kalurahan Sintren, sebagai selir ke lima. Aku menghajar hartawan mata keranjang itu dan ketika aku dikeroyok para tukang pukulnya, aku mengamuk. Akan tetapi seorang di antara para tamu itu maju menghadapiku. Dan tahukah engkau siapa orang itu, kakangmas? Bukan lain adalah Mahesa Meta, perampok tunggal tokoh Gunung Kelud itu!"

"Ah. yang dulu memusuhi ayahmu itu?"

Tanya Sutejo.

"Benar dia! Agaknya dia masih ingat kepadamu, maka hendak membalas dendam dan dia bersama banyak anak buah hartawan itu berhasil menawanku menggunakan jala. Aku tertawan dan nyaris tertimpa bencana Mendadak muncul seorang kakek yang amat menggiriskan. Dia membunuh Mahesa Meta dan dia membawaku pergi dari rumah hartawam di mana aku ditawan itu dan membawaku ke dalam hutan, ke sebuah guha yang menyeramkan. Kakek itu sungguh menyeramkan dan seperti orang setengah gila yang agaknya mempunyai niat yang buruk terhadap diriku."

"Hemm, siapakah kakek itu?"

"Orangnya menyeramkan, usianya kurang lebih lima puluh tahun, mukanya brewok seperti muka singa, tinggi besar dam pakaiannya seperti pakaian pertapa."

"Ah, dia memiliki sebuah tahi lalat besar di dagunya ? "Ya, benar"

"Dia itu Ki Klabangkolo, seorang yang sakti mandraguna."

"Memang dia sakti sekali, kakangmas. Aku sudah hampir putus asa karena tidak dapat melepaskan ikatan kaki tanganku ketika aku ditinggalkannya di guha itu dan dia katanya hendak mencari makanan. Untung pada saat dia pergi itu, muncul Kakangmas Priyadi yang membebaskan aku."

"Bagaimana dia dapat berada di hutan itu?"

"Menurut ceritanya, dia melihat ketika aku mengamuk di rumah hartawan itu dan melihat pula aku tertawan, kemudian ketika kakek itu membawaku pergi, dia membayangi sampai ke dalam hutan. Ketika kakek itu meninggalkan aku untuk mencari makan, Kakangmas Priyadi lalu muncul dan membebaskan ikatan kaki tanganku. Untung pedangku Nogo Wilis oleh kakek itu ditinggalkan di situ, maka dapat kupergunakan untuk membela diri."

"Kemudian bagaimana, diajeng ? Ceritamu semakin menarik !"

Kata Sutejo.

"Kakek itu muncul dan aku bersama Kakangmas Priyadi mengeroyoknya. Kalau kami maju satu satu, tentu kami tidak akan mampu menandingi kakek yang amat sakti itu. Akan tetapi dengan maju bersama, kakek itu dapat kami desak dan dia melarikan diri."

"Lalu Kakangmas Priyadi menemanimu pergi menemui Harjodento?"

"Tidak! kami berpisah dan aku meninggalkannya aku lalu pergi seorang diri ke tepi Bengawan Solo dan bertemu dengan Harjodento, menantangnya bertanding. Aku terdesak dan kewalahan, dan tiba-tiba muncul Kakangmas Priyadi tanpa diminta membantuku. Seperti telah kuceritakan tadi, kami terpaksa melarikan diri karena terdesak dan akan terancam bahaya kalau anak buahnya ikut mengeroyok. Setelah itu kami saling berpisah lagi dan melakukan perjalanan hendak menghadap guruku menceritakan kegagalanku ketika aku melihat engkau menoloug gadis itu!"

Suaranya tersendat dan gadis itu tiba-tiba berhenti bicara.

Di bawah sinar api unggun yang kemerahan, keadaan tidak begitu terang lagi karena api yang melahap pondok itu sudah hampir padam setelah menghabiskan seluruh bagian pondok, Sutejo melihat betapa mulut gadis itu cemberut dan sepasang mata itu berapi.

Sutejo tersenyum, maklum bahwa lagi-lagi Retno Susilo merasa cemburu kepada gadis itu, yaitu Winarti puteri Senopati Mertoloyo!

"Diajeng Retno, ketahuilah bahwa antara aku dan nimas Winarti tidak ada hubungan apa apa kecuali hubungan persahabatan.

Ia adalah puteri Paman Mertoloyo, seorang senopati besar dan Mataram.

Kebetulan saja aku melihat Paman Mertoloyo dan puterinya dikeroyok banyak orang Wirosobo sehingga aku turun tangan membantu mereka"

"Aku tidak perduli gadis puteri senopati atau bahkan puteri raja sekalipun, akan tetapi gadis itu demikian memperhatikanmu dan engkau .... engkau begitu baik kepada gadis itu, sedangkan kepadaku engkau tidak perduli sama sekeli!"

"Ini tidak benar, diajeng Retno Susilo. Bukankah sekarang ini kita melakukan perjalanan bersama dan aku akan membantumu menghadapi musuh besar gurumu?"

Retno Susilo menundukkan mukanya dan suasana menjadi lengang.

Yang terdengar hanya kerik jangkerik dan nyanyian kutu-kutu walang ataga diseling bunyi letupan ranting kering dimakan api unggun.

Agaknya ucapan Sutejo itu menyadarkan Retno Susilo dan meredakan rasa cemburunya.

"Engkau memang bersikap baik sekurang kepadaku, kakangmas Sutejo. Kuharapkan sekali mudah-mudahan engkau melanjutnya akan bersikap baik kepadaku "

Katanya lirih.

"Tentu Saja, diajeng Bukankah sudah lama sekali kita menjadi sahabat? Sudah banyak pula peristiwa penting kita alami bersama. Sekarang mengaso dan tidurlah, diajeng. Biar aku yang menjaga api unggun ini agar tidak sampai padam karena kalau sampai padam tentu banyak nyamuk akan menyerang kita."

"Baik aku akan tidur lebih dulu, kakangmas. Nanti kalau aku terbangun, aku akan menggantikanmu menjaga api unggun dan engkau boleh mengaso."

Kata gadis itu sambil menyandarkan tubuhnya pada batang pohon dan memejamkan matanya.

Agaknya gadis itu memang lelah sekali karena sebentar saja pernapasannya menjadi halus dan teratur, tanda bahwa ia telah tertidur.

Sutejo menambahkan ranting pada api unggun dan ketika api bernyala lebih terang, ia memandang api dan termenung.

Teringatlah dia akan semua wejangan yang pernah didengarnya dari mulut mendiang gurunya, Sang Bhagawan Sidik Paningal.

Seolah terngiang di telinganya kata-kata mendiang gurunya ketika memberi wejangan kepadanya.

Hidup adalah perjuangan, demikian antara lain gurunya berkata.

Perjuangan menghadapi segala macam tantangan berbentuk permasalahan, persoalan dan problema-problema.

Segala tantangan itu harus dihadapi dengan tabah, dengan dasar pemasrahan diri lahir batin kepada Tuhan, dengan penuh kepercayaan bahwa Kekuasaan Tuhan pasti akan memberi bimbingan.

Menghadapi segala tantangan itu, tidak melarikan diri, melainkan menanggulangi dan mengatasi.

Hati akal pikiran adalah sarang suka dan duka yang datang silih berganti, dan itulah romantika kehidupan yang harus kita terima dengan penuh kesadaran bahwa yang disebut suka dan duka itu bukan lain hanya sekadar penilaian dari hati akal pikiran, sesungguhnya semua yang terjadi adalah suatu kewajaran, terjadi karena memang telah digariskan demikian, terjadi karena sudah DIKEHENDAKI Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kita tidak boleh tenggelam ke dalam duka di kala menghadapi peristiwa yang pada akhirnya merugikan, juga kita tidak boleh mabok dan lupa diri dalam suka dikala menghadapi peristiwa yang pada lahirnya menguntungkan.

Dengan menjenguk dan melihat hikmah dari segala peristiwa yang menimpa diri kita, dengan penuh keyakinan bahwa segala yang terjadi itu dapat terjadi hanya karena telah dikehendaki Tuhan, maka kita akan terbebas dari seretan gelombang suka dan duka.

Hidup adalah pelaksanaan kewajiban-kewajiban.

Kewajiban sebagai seorang ayah atau ibu, sebagai seorang anak sebagai seorang saudara, sebagai seorang sahabat, sebagai seorang warga negara, sebagai seorang manusia.

Semua kewajiban itu harus dilaksanakan sebaik mungkin, menjadi ayah yang baik, menjadi ibu yang baik, menjadi anak yang baik dan seterusnya.

Dan untuk melaksanakan kewajiban dengan sebaiknya kita harus berusaha, berikhtiar sekuat kemampuan kita.

Menyerahkan diri lahir batin kepada Tuhan bukan berarti kita lalu tidak acuh, bukan berarti kepasrahan yang pasip atau penyerahan yang mati.

Kita wajib berikhtiar, berusaha sekuat kemampuan kita.

Namun semua usaha itu didasari kepasrahan, penyerahan kepada Tuhan dengan penuh keikhlasan dau ketawakalan.

Kepasrahan yang disertai keyakinan sebulatnya bahwa Tuhan pasti akan memberi bimbingan kepada kita, dalam keadaan bagaimanapun juga.

Yang mendorong kita bergerak dalam kehidupan ini adalah nafsu-nafsu kita.

Tanpa adanya nafsu, kita tidak mungkin hidup sebagai manusia yang demikian maju dalam keduniawian.

Akan tetapi, tanpa bimbingan Tuhan, tanpa adanya Kekuasaan Tuhan yang bekerja dalam diri kita, kita dapat terseret oleh nafsu-nafsu kita sendiri yang mengakibatkan kehancuran lahir batin.

Jiwa kita akan tertutup dan tak tampak sinarnya seperti sinar matahari yang tertutup awan mendung.

Namun, dengan Kekuasaan Tuhan yang bekerja dalam diri kita.

Kekuasaan yang membimbing, digerakkan oleh kepasrahan kita yang total, maka nafsu-nafsu kita tidak akan meliar dan bersimaharajalela!

Hanya Tuhan yang dapat menjinakkan daya-daya rendah sehingga nafsu-nafsu itu kembali kepada fungsinya semula, yalah menjadi peserta dan pelayan kita dalam kehidupan di dunia ini.

Sutejo menghela napas panjang ketika teringat akan semua ini.

Betapa mudahnya dipikirkan dan dibicarakan.

Namun, betapa sukarnya untuk menyerah!

Menyerah lahir batin, berarti penyerahan tanpa ikutnya hati akal pikiran karena kalau yang menyerah itu hati akal pikiran, pasti di situ muncul pamrihnya.

Menyerah agar begini dan begitu, pokoknya agar menguntungkan lahir maupun batin!

Penyerahan seperti itu jelas bukan penyerahan namanya, melainkan penyuapan!

Penyogokan!

Menyogok dengan kepasrahan untuk mendapatkan sesuatu yang tentu saja menyenangkan dan menguntungkan.

Nafsu yang dibiarkan meliar melahirkan keinginan-keinginan.

Keinginan akan sesuatu yang lebih membuat apa saja yang telah didapatkan kehilangan keindahannya sehingga kita tidak lagi dapat menikmati apa yang telah kita dapatkan.

Ini berarti bahwa kita tidak dapat menyukuri apa yang diberikan Tuhan kepada kita.

Karena keinginan untuk mendapatkan yang lebih membuat apa yang berada di tangan tampak tidak berharga, tidak cukup dan kurang menyenangkan.

Keinginan akan hal yang lebih membuat kita tidak pernah dapat merasakan kepuasan.

Keinginan jugalah yang menyeret kita untuk melakukan pengejaran dan seringkah terjadi, dalam pengejaran ini kita lupa diri.

mementingkan pengejarannya sehingga menghalalkan segala cara.

Pada hal, bukan TUJUAN yang terpenting, melainkan CARA mencapai tujuan.

Berbahagialah orang yang tidak mengejar keinginan apapun juga.

Karena orang demikian itu akan selalu menerima apa yang ada dengan penuh rasa sukur dan berterima kasih kepada Tuhan.

Orang demikian itu melihat keindahan pada apa yang didapatkannya dan dapat menikmati segala macam hasil pekerjaannya.

Sutejo tersenyum sendiri.

Dia teringat akan kehidupan para petani di dusun-dusun.

Para petani itu tidak mempunyai banyak keinginan dan karenanya dapat menikmati apa yang mereka dapatkan sehingga pada umumnya kehidupan mereka tenteram.

Makin sederhana kehidupan seseorang, semakin sederhana pula kebutuhan hidupnya sehingga mudah terjangkau.

Sebaliknya, orang-orang yang berkedudukan tinggi dan berharta memiliki kebutuhan yang semakin tinggi pula sehingga sukar dijangkau dan karenanya menimbulkan kesengsaraan batin.

Tanpa terasa tengah malam telah lewat.

Sutejo mendengar gerakan di belakangnya.

Dia menoleh dan melihat Retno Susilo menggeliat seperti seekor kucing manja.

Dalam keadaan baru setengah sadar gadis itu menggeliat dan Sutejo terpaksa harus membuang muka dau tidak berani memandang lebih lama lagi karena penglihatan itu demikian menarik hatinya, membuat jantungnya berdebar.

Dia pura-pura tidak tahu saja bahwa gadis itu hampir terbangun.

"Kakangmas Sutejo......"

Terdengar gadis itu menyapanya. Sutejo menoleh.

"Ah, engkau terbangun, diajeng Retno? Tidurlah kembali, malam semakin larut."

"Tidak, kakangmas Aku harus menggantikanmu menjaga api unggun. Engkau mengasolah!"

Gadis itu bangkit berdiri dan menghampiri api unggun, lalu duduk berhadapan dengan Sutejo, terhalang api unggun.

"Diajeng Retno, engkau adalah seorang wanita dan aku seorang pria. Sepantasnya kalau wanita mengaso dan tidur sedangkan pria melakukan penjagaan. Aku tidak mengantuk, biarlah aku yang berjaga sampai pagi."

"Aku sudah mengaso dan tidur. Sudah cukup bagiku dan sekarang aku tidak lelah atau mengantuk lagi. Pria atau wanita sama saja dalam hal menjaga keamanan, kakangmas. Apa lagi aku bukan seorang wanita lemah yang selalu harus dilindungi, melainkan seorang wanita yang mampu melindungi diri sendiri. Engkau tidurlah. Besok kalau kita berhadapan dengan Harjodento, engkau membutuhkan tenaga sepenuhnya. Retno Susilo membujuk dan karena kata-katanya tegas dan agaknya tidak dapat dibantah lagi, Sutejo mengangguk kemudian dia duduk di bawah pohon, bersandar pada pohon dan mengaso. Priyadi berjalan menghampiri pondok bambu itu. Wajahnya berseri dan mulutnya terhias senyuman yang makin melebar ketika dia melihat seorang wanita cantik keluar dari pondok itu dan berlari menyambutnya dengan kedua lengan dikembangkan. Priyadi juga mengembangkan kedua lengannya dan ketika dua orang itu bertemu, mereka saling berangkulan dengan mesra. Wanita itu bukan lain adalah Sekarsih yang telah beberapa lamanya menjadi kekasih Priyadi.

"Kau tampak semakin cantik saja, Sekarsih!"

Puji Priyadi setelah mencium wanita itu. Sekarsih merenggut tubuhnya terlepas dari pelukan Priyadi dan mulutnya cemberut manja.

"Kau bocah nakal! Mengapa sampai berbulan-bulan tidak muncul? Aku susah payah mencarimu tanpa hasil, Ke mana saja engkau pergi? Apakah engkau telah melupakan aku?"

"Aku sama sekali tidak pernah dapat melupakanmu, sayang. Bagaimana mungkin aku dapat melupakan wanita cantik jelita yang Juga menjadi guruku dalam seni bercinta? Tidak, aku pergi karena untnk memperdalam ilmuku dan aku telah berhasil baik. Aku sekarang bahkan ingin agar engkau menguji kepandaianku, Sekarsih. Aku ingin melihat sampai di mana kemajuanku, maka engkaulah orang yang tepat untuk mengujiku. Dahulu, sukar sekali bagiku untuk menandingimu, terus terang saja aku masih kalah setingkat olehmu. Akan tetapi sekarang, mari kita coba-coba, Sekarsih."

Wajah wanita itu berseri dan matanya bersinar-sinar.

"Ah, benarkah? Aku girang sekali kalau engkau memperoleh kemajuan dalam ilmu kanuragan, Priyadi. Mari aku mengujimu. Siap dan sambut seranganku!"

Setelah berkata demikian, sambil tersenyum gembira Sekarsih menyerang dengan cengkeraman tangan kirinya yang membentuk cakar singa ke arah pundak Priyadi.

Wanita ini mengira bahwa ilmu kepandaian Priyadi hanya maju begitu saja dan mengira bahwa pemuda itu tentu belum mampu menandinginya.

Ia memang menyerang dengan Aji Singarodra, ilmu silat yang gerakannya seperti seekor singa, dengan membentak kedua tangan menjadi seperti cakar.

Akan tetapi dalam penyerangannya, ia hanya mempergunakan sebagian kecil saja dari tenaganya.

Priyadi melihat ini.

Dia tahu bahwa kekasihnya itu masih belum percaya bahwa dia telah menguasai ilmu ilmu yang hebat, maka melihat serangan yang lemah saja itu, dia lalu memutar lengannya dan menangkis ke atas dengan pengerahan tenaga.

"Wuuutt ......desss ......!!"

Tubuh Sekarsih terpelanting dan hampir saja ia jatuh. Ia terkejut sekali dan memandang kepada pemuda itu dengan mata terbelalak.

"Salahmu sendiri Sekarsih. Bagkau terlalu memandang rendah kepadaku. Sudah kukatakan bahwa kepandaianku telah maju pesat. Untuk dapat mengujiku dengan baik, engkau harus mengeluarkan semua ilmu simpananmu dan mengerahkan seluruh tenagamu. Mari seranglah, makin hebat makin baik!"

Timbul kegembiraan di hati Sekarsih, juga penasaran. Ia tahu benar bahwa biasanya, tingkat kepandaiannya masih lebih tinggi sedikit dibandingkan ilmu kepandaian Priyadi.

"Baik, Priyadi Awas, aku akan menyerangmu dengan Aji Singarodra. Haiiiit!"

Ia kini menerjang dengan dahsyatnya gerakannya seperti seekor harimau menerkam domba.

Namun Priyadi yang kini telah memiliki tenaga sakti hebat, dapat bergerak cepat dan tahu-tahu dia sudah mengelak dengan mudah.

Biarpun dia bersilat dengan Aji Gelap Musti dari aliran Jatikusumo, namun gerakannya kini jauh berbeda dengan dahulu.

Gerakannya cepat bukan main seolah tubuhnya itu menjadi ringan sekali, dan gerakan tangannya mendatangkan angin yang amat kuat, tanda bahwa dia kini memiliki tenaga dalam yang hebat sekali.

Sekarsih dapat melihat dan merasakan ini.

Wanita itu menjadi kagum dan juga girang, namun juga penasaran dan ia sudah mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan ilmu-ilmu simpanannya untuk mencoba mengalahkan Priyadi.

Namun semua serangannya dapat dihindarkan Priyadi dengan elakan atau tangkisan dan setiap kali lengannya bertemu dengan lengan Priyadi yang menangkisnya, Sekarsih tentu terpental dan terhuyung!

Setelah lewat tiga puluh jurus, tiba tiba Priyadi berseru.

"Sekarsih, sekarang aku akan membalas. Sambutlah!"

Tangannya menampar dengan kecepatan kilat.

Dia menggunakan Aji Margopati akan tetapi membatasi tenaganya karena dia tidak ingin mencelakai kekasihnya itu.

Melihat tamparan yang demikian dahsyat, Sekarsih cepat mengerahkan tenaganya dan menangkis.

"Wuuuttt...... desss.....!!"

Tubuh Sekarsih terlempar sampai jauh dan ia terpelanting jatuh.

Priyadi sudah melompat dekat dan mengulurkan tangannya membantu wanita itu bangkit Sekarsih meringis, dadanya terasa agak sesak akan tetapi ia memandang kepada Priyadi dengan mata terbelalak.

"Bukan main.....! Engkau hebat sekali, Priyadi! Dari mana engkau memperoleh kemajuan yang demikian hebatnya dalam waktu hanya beberapa bulan saja?"

Priyadi tersenyum.

"Itu rahasiaku sendiri, Sekarsih. Tamparanku tadi mengandung kekuatan Aji Margopati, hanya kupergunakan setengahnya saja. Kalau aku mengerahkan seluruh tenagaku, tentu engkau sudah rebah untuk tidak dapat bangkit kembali. Akan tetapi bukan hanya itu ilmn-ilmu yang kukuasai. Coba kau pertahankan aji penyirepanku kalau engkau mampui"

Priyadi lalu membungkuk untuk mengambil segenggam tanah, berkemak-kemik membaca mantra sambil mengerahkan kekuatan batinnya, kemudian dia menaburkan tanah itu ke arah Sekarsih.

Tiba-tiba saja Sekarsih terkulai dan jatuh ke atas tanah dalam keadaan tidur pulas!

Priyadi tertawa bergelak sambil menengadahkan kepala.

Hatinya merasa girang dan bangga sekali.

Semenjak memperoleh ilmu-ilmu yang ampuh dari Resi Ekomolo, dia belum pernah mencoba ilmu-ilmu itu.

Sekarang, dia dapat mencobanya kepada Sekarsih.

Kalau seorang seperti Sekarsih yang dia tahu memiliki kesaktian dapat dia tundukkan dengan ilmu-ilmunya, hal itu berarti bahwa semua ilmu yang dikuasainya itu benar-benar ampuh dan dahsyat!

Dia menggunakan Aji Penyirepan Begonondo membuat Sekarsih seketika jatuh tertidur, dan tadi dia menggunakan sedikit tenaga dari Margopati yang membuat wanita itu terlempar dan terjatuh!

Sambil tersenyum dengan wajah berseri Priyadi lalu menyadarkan Sekarsih dengan ilmunya itu.

Sekarsih terbangun dan mengusap-usap.

kedua matanya.

Ia bangkit dan dibantu berdiri oleh Priyadi.

"Apa yang telah terjadi......? Apa yang terjadi padaku.....?"

Sekarsih bertanya, agak bingung. Priyadi tertawa.

"Ha-ha-ha, engkau tadi tertidur pulas. Sekarsih. Engkau tidak tahan menghadapi Aji Penyirepan Begoncndo yang kulepaskan padamu."

Sekarsih terkejut, terheran juga kagum sekali. Ia merangkul pemuda itu.

"Priyadi, engkau sungguh hebat! Dua macam aji kesaktianmu tadi benar-benar telah mengalahkan aku!"

"Bukan hanya itu, Sekarsih. Masih ada aji-aji lain lagi yang kukuasai. Di antaranya ada yang akan membahagiakanmu. Mari kita masuk ke dalam pondokmu, di dalam pondok engkau nanti akan menikmati aji lain yang kukuasai, yaita Aji Pengasihan Mimi Mintuno!"

Mereka masuk ke dalam pondok sambil bergandeng tangan.

Di daiana pondok itu Priyadi mencoba ajinya yang lain, mengerahkan Aji Pengasihan Mimi Mintuno dan Sekarsih demikian terpengaruh sehingga ia hampir gila tenggelam ke dalam buaian asmara sehingga Ia semakin tergila-gila kepada Priyadi.

Tanpa menggunakan aji apapun Sekarsih memang sudah tergila-gila kepada Priyadi.

Ia mencinta pemuda itu.

Belum pernah wanita ini jatuh cinta dalam arti yang sebenarnya, Biasanya, para pria yang jatuh ke dalam pelukannya hanya menjadi permainannya saja, pemuas nafsunya.

Akan tetapi kepada Priyadi ia benar-benar jatuh cinta dan rasanya ia mau melakukan apa saja untuk pemuda ini.

mau membelanya dengan taruhan nyawa sekalipun.

Apa lagi setelah Priyadi menggunakan Aji Pengasihan Mimi Mintuno, wanita itu jatuh benar-benar dan rasanya rela menjadi budak dan pemuda itu.

Lebih lagi setelah kini ia tahu bahwa Priyadi memiliki kepandaian yang amat tinggi, sakti mandraguna, membuat Ia tunduk dan takluk.

"Sekarsih,"

Kata Priyadi setelah mereka puas berkasih mesra.

"aku membutuhkan bantuanmu "

Sekarsih bangkit duduk dan memandang dengan wajah berseri.

"Membutuhkan bantuanku? Katakanlah, Priyadi, bantuan apa yang dapat kuberikan kepadamu? Aku akan mengerahkan seluruh kemampuanku untuk membantumu!"

Sikapnya penuh gairah seolah permintaan bantuan itu merupakan suatu hal yang amat menggembirakan hatinya.

"Kau sungguh mau membantuku sampai aku berhasil?"

"Aku mau membantumu, biarpun aku harus menyeberangi lautan api dan mempertaruhkan nyawa untuk itu!"

Kata Sekarsih penuh semangat. Priyadi tersenyum.

"Tidak perlu engkau harus mempertaruhkan nyawa, sayang. Aku hanya ingin engkau membantuku untuk membujuk gurumu, Ki Klabangkolo dan Resi Wisangkolo itu agar mereka mau bersekutu denganku."

Sekarsih mengerutkan alisnya dan menjawab.

"Tentu saja aku mau memenuhi permintaanmu untuk membujuk mereka. Akan tetapi, guruku dan Resi Wisangkolo adalah orang-orang yang berwatak aneh. Perguruan Jatikusumo pernah bermusuhan dengan mereka bahkan mereka telah dipukul mundur Engkau adalah murid Jatikusumo, bagaimana mungkin mereka mau bersekutu denganmu, Priyadi?"

"Aku akan menguasai perguruan Jatikusumo. Aku yang akan menjadi ketua Jatikusumo dan aku sebagai ketua berhak memutuskan bahwa Jatikusumo tidak lagi menganggap mereka sebagai musuh, melainkan sebagai sahabat."

"Akan tetapi engkau bukan murid kepala Jatikusomo dan perguruan itu masih dipimpin oleh Bhagawan Sindusakti, gurumu."

"Aku akan mengambil alih kedudukan ketua Jatikusumo!"

"Dengan kekerasan?"

"Kalau perlu dengan kekerasan!"

"Engkau akan melawan gurumu dan saudara-saudara seperguruanmu sendiri?"

"Apa boleh buat. Untuk mencapai cita-cita, kalau perlu harus mengorbankan sesuatu."

"Bagus sekali! Engkau memang hebat, kekasihku! Kalau engkau sudah menjadi ketua Jatikusumo, tentu guruku dan Resi Wisangkolo akan memandangmu sebagai orang yang sederajat. Akan tetapi aku mengenal watak mereka yang aneh. Mereka tentu akan menguji lebih dulu apakah engkau pantas untuk menjadi sekutu mereka."

"Aku siap untuk menguji kesaktian melawan mereka."

Kata Priyadi penuh kepercayaan kepada diri sendiri.

"Akupun percaya bahwa engkau akan mampu menandingi mereka, Priyadi. Akan tetapi, apa maksudmu mengajak mereka untuk bersekutu denganmu? Apa tujuannya?"

"Hemm, mereka adalah orang-orang sakti mandraguna yang patut untuk kujadikan sekutu. Bersama mereka aku dapat meraih kedudukan tinggi. Kita dapat membantu gerakan kadipaten Wirosobo untuk bersama para kadipaten lain meruntuhkan Mataram. Kalau usaha itu berhasil, aku akan dapat meraih kedudukan tinggi. Selain itu, aku juga ingin disebut pendekar tanpa tanding di seluruh nusantara!"

"Bagus sekali cita-citamu. Aku akan membantumu sekuat kemampuanku, Akan tetapi apakah engkau sudah mengadakan hubungan dengan pihak kadipaten Wirosobo?"

Tanya Sekarsih, merasa gembira sekali mendengar cita-cita Priyadi yang muluk-muluk itu.

Cita cita semuluk itu tidak pernah terpikirkan oleh Sekarsih.

Guiunya juga tidak pernah memiliki cita-cita setinggi itu sehingga kini ia merasa gembira bukan main.

"Tantang kadipaten Wirosobo, mudah. Seorang paman guruku, Bhagawan Jaladara telah menjadi seorang pembantu Wirosobo yang berpengaruh. Kalau aku dapat membujuk dan meyakinkannya sehingga pusaka Jatikusumo yaitu Pecut Sakti Bajrakirana dapat dia serahkan kepadaku, maka kadipaten Wirosobo temu akan menerima bantuanku dengan senang hati. Sekarang kita membagi tugas, Sekarsih. Eagkau temuilah gurumu dan Resi Wisangkolo. membujuk meieka agar mau bergabung dan membantuku. Aku sendiri akan pergi menemui Paman Guru Bhagawan Jaladara di kadipaten Wirosobo."

"Jangan sekarang, Priyadi!"

Sekarsih membujuk sambil merangkul.

"Biar malam ini kita bersama di sini, besok baru kita berpisah melakukan tugas masing-masing"

Priyadi tertawa dan diapun menuruti kehendak wanita yang sudah tergila-gila kepadanya itu.

Dia merasa gembira sekali.

Dalam diri Sekarsih dia menemukan seorang kekasih yang amat mencintanya dan amat menyenangkan hatinya, juga sebagai seorang pembantu yang boleh diandalkan dan dapat dipercaya kesetiaannya.

Bhagawan Jaladara lelah diangkat menjadi penasihat oleh Adipati Wirosobo.

Pangkat ini cukup tinggi dan berpengaruh, bahkan lebih tinggi dari pada pangkat senopati karena dalam banyak hal, Sang Adipati Wirosobo banyak minta pendapat dan nasihat Bhagawan Jaladara.

Diapun mendapatkan sebuah rumah gedung sebagai sempat tinggalnya.

Dua orang yang sejak semula membantunya, yaitu Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda, juga tinggal di gedung itu dan ikut membonceng kemuliaan yang dinikmati Bhagawan Jaladara.

Bhagawan Jaladara adalah seorang yang memiliki keinginan muluk.

Dia ingin menjadi seorang yang memiliki kekuasaan karena dia tahu benar bahwa kekuasaan dapat mendatangkan kemuliaan, dapat mendatangkan kekayaan dan kesenangan.

Biarpun sejak mudanya dia sudah mendapat gemblengan dan mendiang Resi Limut Manik, bukan hanya gemblengan jasmani melainku juga gemblengan rohani namun nafsunya yang merajalela, menyeretnya kedalam pengejaran kesenangan dengan menghalalkan segala cara.

Dia bukan lupa akan semua pelajaran tentang budi pekerti itu, melainkan dia sengaja tidak mengacuhkannya karena semua anggauta jasmaninya, termasuk hati akal pikirannya, telah dikuasai oleh nafsunya sendiri sehingga apapun yang dilakukannya untuk mengejar kesenangan, dibenarkan belaka oleh hati akal pikirannya.

Manusia yang berada dalam keadaan seperti itu seperti orang mabok, bisikan hati nuraninya sudah amat lemah, hanya bisik-bisik dan lapat-lapat sehingga hampir tidak terdengar.

Kalah oleh suara bujukan yang lantang dan manis dari nafsu daya rendah yang memegang tampuk kendali.

Rumah kediaman Bhagawan Jaladara besar dan megah.

Di pintu halaman terdapat sebuah gardu yang siang malam dijaga oleh lima orang perajurit, sebagaimana layaknya seorang pejabat tinggi atau orang penting.

Juga dia mempunyai belasan orang pelayan wanita, masih muda-muda dan cantik-cantik yang siap melayaninya untuk keperluan apapun juga dikehendakinya.

Pada suatu pagi yang cerah.

Lima orang perajurit baru saja datang untuk menggantikan lima orang perajurit yang telah berjaga sepanjang malam di gardu depan pekarangan rumah gedung Bhagawan Jaladara itu.

Karena baru saja memulai dengan tugas mereka hari itu, lima orang perajurit ini masih segar dan bersemangat.

Mereka berdiri menjaga di depan gardu, tegak dan gagah, memegang tombak dan berwajah keren sehingga tampak menyeramkan bagi orang-orang yang berlalu lalang di jalan raya depan gedung itu.

Kepala jaga, seorang laki-laki tinggi besar dan gagah yang membawa sebatang pedang di pinggangnya duduk di atas bangku sambil mengamati orang yang berlalu-lalang dengan sikap angkuh.

Pada saat seperti itu, sadar akan kekuasaan yang dipegangnya dalam regunya yang melakukan penjagaan, dia tidak merasa sebagai seorang kepala jaga biasa, melainkan merasa sebagai seorang senopati yang memimpin sepasukan perajurit!

Priyadi melangkah dengan tenang menghampiri gardu di depan pekarangan rumah Bhagawan Jaladara.

Para penjaga segera memalangkan tombaknya menghadang dan mata mereka memandang kepada Priyadi dengan melotot galak.

"Ki sanak, siapakah engkau dan mau apa engkau datang ke sini?"

Tanya kepala jaga yang tinggi besar dan kumisnya sekepal sebelah itu, tangan kanannya meraba gagang pedang dengan sikap mengancam. Priyadi tetap bersikap tenang.

"Aku bernama Priyadi dan aku datang untuk menghadap Paman Bhagawan Jaladara dan bicara dengannya. Harap laporkan kedatanganku kepadanya"

Kepala jaga itu mengerutkan alisnya yang tebal dan sepasang matanya mengamati wajah Priyadi penuh kecurigaan.

"Mau apa engkau hendak menghadap Sang Bhagawan?"

Priyadi tersenyum.

"Aku mempunyai urusan pribadi yang penting dengan dia dan aku hanya dapat membicarakan urusan itu dengan dia, tidak dengan orang lain."

"Hemm kau kira mudah saja hendak bertemu dengan Sang Bhagawan? Tidak mudah sobat!"

"Hemm, apa syaratnya untuk dapat bertemu dengan Sang Bhagawan?"

"Engkau harus membawa surat ijin dari seorang pejabat tinggi di sini,"

"Akan tetapi aku tidak mempunyai kenalan pejabat tinggi, Sobat, harap laporkan saja kepada Paman Bhagawan bahwa Priyadi hendak menghadap. Tentu dia akan menerimaku."

Kepala jaga itu tampak ragu-ragu.

"Akan tetapi sepagi ini dia belum bangun. Sebaiknya engkau kembali siang nanti saja."

"Akan tetapi aku perlu bicara sekarang."

"Tidak bisa. Pergilah dan kembali nanti siang saja?"

Hardik kepala Jaga itu.

"Kalau aku nekat masuk?"

Kepala jaga itu mencabut pedangnya.

"Berarti engkau mencari penyakit. Kami akan menangkapmu sebagai seorang penjahat!"

Priyadi tersenyum, membungkuk dan mengambil segenggam tanah.

Dia memandang lima orang perajurit yang menghadapinya dengan sikap galak itu dan diam-diam dia mengerahkan Aji Penyirepan Begonondo.

Lalu menyebarkan tanah itu ke arah muka lima orang iiu.

Lima orang perajurit itu terkejut dan hendak menyerang, akan tetapi tiba-tiba mereka semua terhuyung.

Kepala jaga memasuki gardu dan menjatuhkan diri di atas bangku, meletakkan kepala di atas meja dan tidur mendengkur.

Fmpat orang anak buahnya juga sudah terkulai, ada yang duduk di atas lantai bersandarkan gardu, ada yang menjatuhkan diri di atas bangku dan semuanya sudah tertidur.

Sungguh merupakan penglihatan yang lucu sekali melihat semua penjaga itu tertidur di pasi hari itu.

Orang-orang yang berlalu lalang di jalan depan gedung itu memandang dengan terheran-heran, juga ada yang menahan ketawa melihat lima orang penjaga itu tidur mendengkur di pos penjagaan mereka.

Tidak ada yang melihat ketika Priyadi menyerang mereka dengan Aji Penyirepan Begonondo tadi.

Dengan langkah tenang Priyadi memasuki halaman rumah.

Ketika dia tiba di ruangan depan, seorang pelayan wanita melihatnya dan pelayan ini ketakutan melihat seorang asing memasuki ruangan depan.

Ia segera berlari masuk ke dalam dan memberi laporan kepada Bhagawan Jaladara yang baru saja terbangun dari tidurnya.

Melihat pelayan wanita itu berlari-lari, Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda segera mengejarnya dan memasuki ruangan di mana Bhagawan Jaladara sedang duduk menghadapi minuman panas.

Pelayan wanita yang berlari-larian itu lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Bhagawan Jaladara.

Kakek itu mengerutkan alisnya dan menjadi semakin heran melihat Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda juga berlari memasuki ruangan itu.

"Eh, ada apakah ini? Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda, kenapa kalian berlarian masuk ke ruangan ini tanpa dipanggil?"

"Kami melihat pelayan wanita ini berlari-lari, maka kami mengejar dan ingin tahu apa yang telah terjadi."

Kata Ki Warok Petak.

"Heii kamu! Kenapa berlari-larian seperti dikejar setan?"

"Ampun, Kanjeng Bhagawan. Ada seorang pemuda asing memasuki ruangan depan. Karena curiga dan khawatir maka saya datang melaporkan."

"Siapa dia?"

Bhagawan Jaladara berseru kaget.

"Aku yang datang menghadap, Paman Bhagawan Jaladara!"

Terdengar jawab"n dan Priyadi muncul di pintu ruangan itu. Tiga orang Jagoan Wirosobo itu terkejut, akan tetapi Bhagawan Jaladara segera mengenal Priyadi.

"Hemm, bukankah engkau murid Jatikusumo, murid Kakang Bhagawan Sindusakti?"

Tanyanya.

"Benar, Paman Bhagawan. Aku adalah Priyadi. murid Jatikusumo."

"Hei, orang muda! Berani engkau masuk tanpa ijin? Engkau hendak membuat kekacauan di sini?"

Bentak Ki Warok Petak yang berwatak brangasan dan dia sudah melangkah lebar menghampiri Priyadi dengan sikap mengancam.

"Ki Warok Petak, mundurlah! Dia adalah murid keponakanku sendiri!"

Bentak Bhagawan Jaladara dan mendengar ini, Ki Warok Petak menahan langkahnya dan mundur.

"Maafkan aku, Paman Bhagawan Jaladara kalau kunjunganku ini mengganggu dan mengagetkan paman."

Kata Priyadi dengan sikap lembut.

"Ah, tidak mengapa, Priyadi. Engkau sama sekali tidak mengganggu. Akan tetapi bagaimana engkau dapat masuk ke sini. Bukankah di luar terdapat para perajurit berjaga di gardu?"

Tanya Bhagawan Jaladara. Pada saat itu, seorang laki-laki yang bekerja sebagai tukang kebun datang dengan wajah pucat dan napas terengah.

"Celaka, Kanjeng..... para perajurit yang berjaga di gardu itu...... mereka semua tertidur pulas.....!"

Bhagawan Jaladara mengerutkan alisnya, akan tetapi dia lalu menoleh kepada Priyadi.

"Engkau yang melakukan itu, Priyadi?"

"Maaf, paman. Mereka tadi tidak memperkenankan aku masuk. Terpaksa aku menggunakan aji penyirepan untuk membuat mereka tertidur."

Bhagawan Jaladara tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, ampuh sekali aji penyirepanmu itu, Priyadi. Sekarang bangunkan mereka!"

Priyadi mengambil segenggam tanah dari pot bunga yang berada di ruangan itu dan meniupnya, lalu menyerahkannya kepada tukang kebun.

"Taburkan tanah ini ke muka mereka dan mereka akan terbangun."

Katanya. Tukang kebun menerima segenggam tanah Itu dan bergegas keluar dari ruangan.

"Ha-ha-ha, engkau pantas menjadi murid Jatikusumo, Priyadi. Aku kagum kepadamu. Sekarang, katakan apa keperluanmu datang menghadapku? Apakah engkau diutus oleh Kakang Bhagawan Sindusakti?"

"Tidak, paman. Aku datang atas kehendakku sendiri karena ada hal yang teramat penting hendak kubicarakan dengan paman."

"Ah, begitukah? Urusan penting apakah itu? Cepat katakan!"

Priyadi melirik ke arah dua orang pembantu Bhagawan Jaladara dan wanita pembantu yang masih berlutut di situ. Bhagawan Jaladara mengerti akan isarat ini.

"Engkau mundurlah!"

Katanya kepada wanita pembantu yang segera menyembah dan mengundurkan diri. Ketika melihat Priyadi masih melirik kepada Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda, dia berkata dengan halus kepada mereka berdua.

"Kalian mundurlah dulu, ako hendak bicara berdua saja dengan murid keponakanku ini,"

Dua orang jagoan itu mengerutkan alisnya memandang kepada Priyadi, akan tetapi mereka tidak berani membantah lalu keluar dari ruangan itu.

"Nah, sekarang katakan apa sebenarnya yang hendak kau bicarakan, Priyadi?"

Dia berhenti sebentar, menduga-duga.

"Tentu gurumu yang mengutusmu untuk mengatakan bahwa dia sudah menyetujui usulku untuk membantu Wirosobo, bukan?"

"Sayang sekali tidak begitu, Paman Bhagawan."

Kata Priyadi sambil menggeleng kepalanya.

"Lalu apa yang hendak kau bicarakan? Duduklah."

Priyadi duduk di atas sebuah bangku berhadapan dengan Bhagawan Jatadara, kemudian dia berkata dengan sikap tenang.

"Justeru Sebaliknya, paman. Bapa guru mengajak kami para muridnya berbincang-bincang mengenai penawaran paman, Bapa Bhagawan Sindusakti, didukung oleh Kakang Maheso Seto, Mbakayu Rahmini dan Adi Cangak Awu, menyatakan bahwa mereka itu setia kepada Mataram dan sekali-kali tidak mau membantu Wirosobo yang dianggap memberontak."

Bhagawan Jaladara mengerutkan alisnya.

"Akan tetapi di depanku Kakang Sindusakti tidak menyatakan demikian!"

"Tentu saja, paman. Bapa Guru menyatakan setuju karena dia menghendaki agar paman menyerahkan Pecut Bajrakirana! Kalau pecut pusaka itu telah paman serahkan, baru Bapa Guru akan menyatakan pendiriannya dan menentang paman."

"Akan tetapi mengapa bisa demikian?"

"Karena Sutejo telah datang dan pemuda itu yang mengadu kepada Bapa Guru bahwa Paman Bhagawan Jaladara yang membunuh Eyang Resi Limut Manik dan mencuri Pecut Sakti Bajrakirana."

Bhagawan Jaladara bangkit berdiri dengan marah.

"Ahh! Bedebah Sutejo itu! Dan gurumu percaya?"

"Harap paman duduk dengan tenang. Agaknya Bapa Guru percaya walaupun masih meragu. Akan tetapi yang jelas, Bapa Guru menghendaki agar paman menyerahkan Pecut Bajrakirana dan aku yakin Bapa Guru tidak akan mau membantu Wirosobo. Bahkan ada tanda-tandanya Bapa Guru dan para muridnya, kecuali aku, akan menentang paman."

"Kenapa kecuali engkau, Priyadi? Setelah gurumu dan semua saudara seperguruanmu menentangku, kenapa engkau tidak dan mau apa pula engkau datang menemui aku?"

Sepasang mata Bhagawan Jaladara mengamati wajah Priyadi penuh selidik.

"Aku tidak sependapat dengan Bapa Guru dan para saudara seperguruanku. Aku datang menemui paman untuk mengajak bekerja sama! Aku dapat menghimpun tenaga dan kelak membantu Kadipaten Wirosobo menggempur Mataram."

"Hemm, engkau orang muda dapat berbuat apakah? Apa usulmu dalam kerja sama ini?"

Tanya Bhagawan Jaladara yang tentu saja memandang rendah murid keponakannya yang masih muda itu.

"Paman, aku mengusulkan agar paman suka menyerahkan Pecut Bajrakirana kepadaku."

"Hemm, enak saja kaukatakan demikian! Lalu apa yang dapat kau lakukan untukku?"

"Aku dapat menguasai Jatikusumo dan mengangkat diriku menjadi ketua Jatikusumo dan aku dapat menarik Ki Klabangkolo dan Resi Wisangkolo, dua orang yang sakti mandraguna, untuk bergabung dan membantu gerakan Kadipaten Wirosobo!"

Kata Priyadi dengan suara mengandung penuh keyakinan. Bhagawan Jaladara tertawa.

"Ha-ha-ha, sumbarmu seperti geledek di tenga hari terik, Priyadi! Apa yang dapat kau lakukan terhadap Kakang Bhagawan Sindusakti, Maheso Seto, Rahmini dan Cangak Awu? Engkau tidak akan mampu menandingi gurumu dan kakak-kakak seperguruanmu sendiri! Belum lagi para murid perguruan Jatikusumo yang tentu saja akan membela guru mereka dan menentangmu."

"Aku dapat mengalahkan Bapa Guru dan para saudara seperguruanku, dan dengan Pecut Bajrakirana di tanganku, akan dapat kukuasai semua anak buah Jatikusumo, Paman Bhagawan Jaladara."

"Hemm, jangan main-main dan jangan mempermainkan aku, Priyadi. Aku sendiri saja tidak akan mampu menandingi Kakang Bhagawan Sindusakti, apa lagi engkau! Apa yang kau andalkan?"

"Paman, aku telah mempelajari banyak ilmu yang akan cukup untuk mengalahkan Bapa Guru Sindusakti. Kalau paman tidak percaya, paman boleh menguji kemampuanku."

Bhagawan Jaladara mengerutkan alisnya.

"Benarkah itu? Baik, aku akan mengujimu. Akan tetapi jangan salahkan aku kalau engkau cedera karena hal itu pantas untuk menghukummu yang mempermainkan seorang tua."

Bhagawan Jaladara bertepuk tangan tiga kali dan muncullah Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda, dua orang pembantunya yang setia dan tangguh.

Dua orang pembantu itu memandang heran kepada atasan mereka.

Di situ tidak ada bahaya apapun, mengapa Bhagawan Jaladara memberi isarat panggilan seperti dalam keadaan bahaya?

"Kakang Bhagawan memanggil kami?"

Tanya Ki Warok Petak yang bertubuh tinggi besar dan kumisnya tebal sekepal sebelah itu.

"Benar,"

Kata Bhagawan Jaladara.

"Aku memanggil kalian berdua karena ada keperluan penting. Priyadi beranikah engkau menghadapi mereka. Priyadi mengangguk tanang.

"Tentu saja aku berani, paman."

"Nah. Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda. Aku ingin menguji kedigdayaan murid keponakanku ini dan kalian sudah mendengar sendiri. Dia berani menghadapi pengeroyokan kalian berdua. Coba kalian maju bersama menguji sampai di mana kemampuannya dan jangan sungkan, keluarkan semua kemampuan kalian untuk merobohkan dan mengalahkannya."

KI Warok Petak saling pandang dengan Ki Baka Kroda lalu mereka tertawa.

"Ah, kakang Bhagawan harap jangan main-main! Mana bisa kami berdua harus maju mengeroyok pemuda ini? Seorang dari kami saja kiranya sudah cukup untuk menandinginya!"

Kata Ki Baka Kroda yang bertubuh pendek kecil namun gerak geriknya gesit sekali.

"Tidak, kalau Priyadi hanya mampu mengalahkan seorang di antara kalian, itu masih belum ada artinya bagiku. Akan tetapi kalau sudah mampu mengalahkan pengeroyokan kalian berdua, barulah aku mau percaya bahwa dia memang digdaya dan aku sendiri yang akan mengujinya. Priyadi, sekali lagi aku bertanya, beranikah engkau menandingi pengeroyokan mereka berdua ini?"

"Tentu saja aku berani, paman. Kedua paman ini tampaknya tangguh dan sakti, akan tetapi aku yakin akan dapat menandingi dan mengalahkan mereka."

Jawab Priyadi dengan sikap tenang dan serius.

Dua orang jagoan itu merasa ditantang.

Mereka sebenarnya merasa tidak senang diharuskan mengeroyok seorang pemuda.

Hal ini mereka anggap merendahkan martabat mereka sebagai jagoan-jagoan terkenal di Wirosobo.

Akan tetapi karena ini merupakan perintah Bhagawan Jaladara, tentu saja mereka tidak berani menolak dan mereka ingin melampiaskan kedongkolan hati mereka kepada Priyadi.

Pemuda yang mereka anggap sombong itu perlu diberi hajaran biar tahu rasai Demikian pikir mereka.

"Kakang Bhagawan, kapan kita harus mengujinya dan di mana?"

Tanya Ki Warok Petak.

"Sekarang juga dan di ruangan ini cukup luas untuk mengadu ilmu. Bersiaplah engkau menghadapi mereka berdua, Priyadi!"

Priyadi bangkit dari bangku yang didudukinya dap berdiri di tengah ruangan yang luas itu.

"Aku sudah siap, paman."

Katanya, berdiri santai dengan kedua tangan bergantung di kanan kiri tubuhnya.

"Nah, kalian boleh mulai dan ingat, Jangan sungkan dan main-main, kerahkan semua tenaga dan keluarkan semua kepandaian kalian! Mulailah!"

Kata Bhagawan Jaladara.

Biarpun merasa direndahkan karena barut mengeroyok seorang pemuda.

Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda tidak berani membantah dan diam-diam mereka mengambil keputusan untuk cepat merobohkan pemuda sombong itu.

"Orang muda, waspadalah dan sambut serangan kami!"

Ki Warok Petak berseru dan diapun sudah menerjang'maju dengan pukulan tangan kiri ke arah kepala Priyadi.

Kepalan tangan Ki Warok Petak ini hampir sebesar kepala Priyadi dan menyambar dengan dahsyat sehingga kalau mengenai sasaran, sangat boleh jadi kepala pemuda itu akan menjadi pecah!

Namun dengan sikap tenang sekali Priyadi menarik bagian tubuh atasnya ke belakang sehingga pukulan itu banya mengenai tempat kosong.

Akan tetapi pada detik berikutnya, tamparan tangan kanan Ki Baka Kroda sudah menyambar ke arah lebernya.

Biarpun tubuhnya pendek kecil, namun Ki Baka Kroda dapat menggerakkan tangannya yang kecil itu dengan tenaga yang dahsyat, tidak kalah berbahaya serangan itu dibandingkan serangan Ki Warok Petak tadi, bahkan datangnya lebih cepat lagi.

Priyadi melihat betapa cepat gerakan Ki Baka Kroda, Juga serangan Ki, Warok Petak tadi cukup berbahaya.

Dia tidak dapat melindungi dirinya hanya dengan mengelak saja.

Maka diapun menggerakkan tangan kiri menangkis sambaran tangan kanan Ki Baka Kroda yang menamparnya.

"Wuuuut... dukkkk!"

Tangkisan yang dilakukan Priyadi itu mengandung tenaga Aji Margopati yng demikian kuatnya sehingga tubuh Ki Baka Kroda terpental dan terdorong ke belakang sehingga terhuyung huyung!

Pada saat itu serangan Ki Warok Petak sudah datang lagi, dengan tamparan tangan kanan ke atah pelipis Priyadi dan tangan kirinya menyambar dalam bentuk cengkeraman ke arah dada.

Serangan berganda yang bebat sekali.

Namun Priyadi yang telah membuat Ki Baka Kroda terhuyung itu menghadapinya dengan tenang saja.

Sekali ini dia tidak mengelak.

Tamparan tangan Ki Warok Petak itu ditangkisnya dengan tangan kiri.

sedangkan tangan kanannya menyambar dan menangkap pergelangan tangan kiri lawan yang tangannya mencengkeram ke arah pundaknya itu.

"Plakk ! Plakk !"

Tamparan Ki Warok Petak itu tertangkis dan tahu-tahu tangan kirinya telah ditangkap oleh Priyadi sehingga tidak mampu bergerak. Ki Warok Petak mengerahkan tenaga untuk merenggut (Lanjut ke

Jilid 17) Pecut Sakti Bajrakirana (Seri ke 01 -Serial Pecut Sakti Bajrakirana) Karya". Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 17 lepas tangannya yang tertangkap, namun tidak berhasil Tangan Priyadi yang menangkap pergelangan lengan itu sepetti jepitan baja saja.

Ki Warok Petak menjadi penasaran.

Dia terkenal dengan tenaga badaknya, bagaimana mungkin kini tangannya itu dipegang oleh seorang pemuda dan dia tidak mampu merenggutnya lepas?

Dia mengerahkan lagi seluruh tenaganya dan membetot, dan pada saat itu, Priyadi melepas tangkapannya sambil mendorong dengan kuatnya.

Tak dapat tertahankan lagi, tubuh KI Warok Petak terlempar ke belakang dan terbanting keras ke atas tanah, di dekat tubuh Ki Baka Kroda yang tadi telah roboh terlebih dulu!

Dua orang jagoan itu terkejut bukan main.

Baru beberapa gebrakan saja mereka berdua telah dapat dirobohkan oleh pemuda itu!

Mereka menjadi penasaran sekali dan mereka merangkak bangkit sambil meraba gagang senjata mereka.

Ki Warok Petak meraba gagang golok yang menempel di punggungnya sedangkan Ki Baka Kroda meraba gagang kerisnya.

Akan tetapi mereka tidak berani mencabut senjata seoelum mendapat perkenan Bhagawan Jaladara.

Maka, mereka hanya meraba gagang senjata sambil memandang ke arah sang bhagawan.

Bhagawan Jaladara sendiri terbelalak heran dan hampir saja dia tidak dapat mempercayai penglihatannya sendiri.

Mungkinkah kedua orang pembantunya yang tangguh itu dirobohkan Priyadi hanya dalam beberapa gebrakan saja?

Bagaimana mungkin ini?

Ataukah hal itu hanya kebetulan saja karena kedua orang pembantunya memandang rendah dan kurang berhati-hati?

Melihat dua orang pembantunya meraba gagang senjata dan memandang kepadanya dia lalu mengangguk.

Biarlah mereka menguji Priyadi karena diapun ingin sekali melihat apakah benar-benar pemuda ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sehingga pemuda ini berani bersumbar untuk mengalahkan Bhagawan Sindusakti.

"Priyadi, keluarkanlah senjatamu untuk melawan senjata mereka!"

Teriaknya kepada pemuda itu.

Akan tetapi Priyadi memandang ke arah kedua orang lawannya itu dan tersenyum sambil menggeleng kepalanya.

Tentu saja dia kini sudah dapat mengukur tingkat kepandaian dua orang pengeroyoknya itu dan merasa sanggup untuk mengalahkan mereka walaupun mereka berdua menggunakan senjata dan dia sendiri bertangan kosong.

"Paman berdua boleh menggunakan senjata, akan kuhadapi dengan tangan kosong. Silakan!"

Katanya sambil tersenyum dan berdiri tegak di depan kedua orang itu.

Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda menjadi marah sekali.

Wajah mereka berubah kemerahan karena sekali Ini mereka benar-benar merasa dipandang rendah sekali oleh seorang pemuda.

Akan tetapi karena mereka harus mengakui bahwa dengan bertangan kosong mereka telah kalah, keduanya melupakan rasa malunya dan mencabut senjata masing-masing.

"Bocah sombong jangan sesalkan kami kalau nanti engkau tewas di ujung senjata kami!"

Bentak Ki Warok Petak.

"Sambutlah ini, bocah sombong!"

Ki Baka Kroda berseru dan kedua tangannya bergerak bergantian.

Tiga sinar menyambar ke arah Priyadi!

Ternyata jagoan yang kecil pendek itu telah mempergunakan tiga batang cundrik terbangnya yang kini menyambar berturut-turut ke arah tubuh Priyadi.

Yaug dijadikan sasaran, adalah leber, dada, dan perut!

Priyadi tidak mengelak dari sambaran tiga batang cundrik terbang itu.

Dia hanya menggerakkan kedua tangannya dengan cepat sekali dan tahu-tahu tiga batang cundrik itu telah ditangkapnya, dua dengan tangan kanan dan satu dengan tangan kiri.

Sambil tersenyum dia lalu membuang tiga batang senjata rahasia itu ke atas lantai sehingga menimbulkan suara berdencing.

Dia lalu memandang kepada dua orang lawannya sambil tersenyum.

Ki Warok Petak mengeluarkan suara menggereng seperti seekor harimau dan tiba-tiba tubuhnya melompat ke depan dan dia sudah menerjang Priyadi dengan bacokan goloknya.

Ki Baka Kroda juga bergerak kedepan sambil menggerakkan keris di tangan kanannya untuk menyerang.

Akan tetapi tiba-tiba mereka kehilangan pemuda yang mereka serang, Demikian cepatnya gerakan Priyadi yang menggunakan Aji Tunggang Maruto sehingga tubuhnya berkelebat dan tahu-tahu telah tiba di belakang dua orang pengeroyoknya.

Dia berdeham seperti memberi tanda kepada kedua orang lawannya yang tampak bingung kehilangan dia.

Dua orang jagoan Wirosobo itu cepat memutar tubuh dan melihat Priyadi ternyata telah berdiri di belakang mereka, keduanya lalu menyerang lagi dengan dahsyat dan cepat.

Priyadi ingin memperlihatkan kesaktiannya di depan Bhagawan Jaladara, maka dia lalu mengerahkan Aji Tunggang Maruto.

Tubuhnya berkelebatan dengan cepat menyelinap di antara gulungan sinar golok dan keris lawan yang menyambar-nyambar.

Dua orang jagoan Wirosobo itu menjadi penasaran sekati karena ke manapun senjata mereka menyerang, selalu mengenai tempat kosong belaka, tidak pernah dapat menyentuh tubuh Priyadi!

Bhagawan Jaladara terbelalak kaget dan kagum.

Dari mana Priyadi mendapatkan semua ilmu itu?

Dia sendiri akan berpikir dua kali untuk menghadapi pengeroyokan Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda yang bersenjata itu dengan tangan kosong saja.

Akan tetapi pemuda itu agaknya malah dapat mempermainkan kedua orang pengeroyoknya!

"Roboh!"

Tiba-tiba terdengar bentakan suara Priyadi.

Tiba-tiba tangannya yang kiri membuat gerakan membacok, dengan tangan miring ia memukul dan tepat mengenai pergelangan tangan kanan Ki Warok Petak.

Keras sekali pukulan ini sehingga Ki Warok Petak berseru dan goloknya terlepas dari pegangan.

Pada saat itu kaki Priyadi mencuat dalam tendangan yang mengenai perut Ki Warok Petak.

"Bukk......!"

Tubuh Ki Warok Petak terjengkang dan terlempar lalu jatuh terbanting ke atas lantai.

Ki Baka Kroda merasa mendapat kesempatan.

Dia cepat menerjang maju dari samping dan menusukkan kerisnya ke arah lambung Priyadi.

Akan tetapi dengan cekatan sekali Priyadi memutar tubuh ke kanan, menangkap pergelangan tangan yang memegang keris itu, menekuknya dan selagi mereka bersitegang mengadu tenaga, Priyadi mengangkat lutut kirinya dengan sentakan tiba-tiba tekukan lututnya mengenai perut Ki Baka Kroda.

"Ngekk....!"

Ki Baka Kroda terjengkang dan roboh pula.

Dua orang jagoan itu sudah jelas kalah, akan tetapi mereka masih merasa penasaran.

Mereka seolah tidak dapat percaya bahwa mereka berdua yang bersenjata dapat dikalahkan pemuda itu.

Dengan wajah geram mereka merangkak bangkit.

Bhagawan Jaladara bangkit dari tempat duduknya, mengangkat kedua tangan ke atas dan berseru.

"Cukup! Kalian berdua mundurlah!"

Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda mengundurkan diri dengan wajah berubah kemerahan. Selama hidup baru sekali ini mereka merasa kecil dan tidak berguna.

"Paman Bhagawan Jaladara, apakah paman sudah percaya akan kemampuanku sekarang?"

Tanya Priyadi sambil tersenyum.

"Engkau memang hebat, Priyadi. Akan tetapi untuk menerimamu sebagai sekutu, aku sendiri harus mengujimu lebih dulu. Aku akan menyerangmu dengan kekuatan Aji Gelap Musti. Sambutlah agar aku dapat mengukur tenaga saktimu!"

Sang Bhagawan itu lalu merendahkan tubuhnya dan dia mengerahkan tenaga Aji Gelap Musti, lalu mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah Priyadi.

Angin pukulan yang amat dahsyat menyambar ke arah Priyadi.

Pemuda ini sudah siap.

Diapun menggunakan Aji Gelap Musti untuk menandingi paman gurunya, menyambut serangan dengan tenaga sakti itu dengan dorongan kedua telapak tangannya.

"Syuuuttt......dess.......!"

Dua tenaga sakti bertemu di udara dan akibatnya, tubuh Bhagawan Jaladara terdorong mundur sampai lima langkah sedangkan Priyadi masih berdiri tegak!

Bhagawan Jaladara hampir tidak percaya.

Kenyataan ini menjadi bukti bahwa pemuda itu memiliki tenaga sakti yang jauh lebih kuat dari pada tenaga saktinya!

Akan tetapi dia belum yakin benar.

Dia harus menguji sampai dia yakin benar bahwa pemuda ini memang sakti mandraguna dan boleh diandalkan.

Di situ tidak ada orang lain kecuali mereka berdua.

Ki Warok Petak dan Ki Baka Kroda sudah disuruh mengundurkan diri keluar dari ruangan itu.

"Priyadi, coba engkau menyerangku dengan ajimu yang paling tinggi. Aku ingin mendapat keyakinan bahwa engkau memang berharga untuk menjadi sekutuku!"

Katanya sambil berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang dan dia mengerahkan tenaga saktinya untuk menjaga diri, bahkan mengerahkan Aji Kawoco, yaitu aji kekebalan yang membuat tubuhnya seolah terlapis baja.

"Paman Bhagawan, bersiaplah. Aku menyerang dengan Aji Margopati!"

Seru Priyadi dan diapun menerjang dengan aji pukulan yang amat ampuh itu yang dipelajarinya dari Resi Ekomolo.

Akan tetapi karena dia membutuhkan Bhagawan Jaladara yang dapat dia manfaatkan untuk meraih cita-citanya, maka dia tidak mengerahkan seluruh tenaganya melainkan membatasi agar jangan sampai membunuh bhagawan itu.

"Wuuuutttt......blarrrr......!"

Bhagawan Jaladara merasa seolah dirinya disambar geledek.

Biarpun dia telah mengerahkan seluruh tenaga untuk menahan, bahkan telah melindungi tubuhnya dengan Aji Kawoco, tetap saja dia merasa seluruh tenaga seperti lenyap dan tanpa dapjt dipertahankan lagi tubuhnya terkulai roboh!

"Paman!

Engkau tidak apa-apa......?"

Priyadi lari menghampiri dan membantunya bangkit berdiri.

Untung Priyadi membatasi tenaganya, kalau tidak, keampuhan Aji Margopati tentu telah merenggut nyawa Bhagawan Jaladara.

Bhagawan itu bangkit dengan tubuh lemas dan dia dituntun oleh Priyadi sehingga dapat duduk kembali di atas kursinya.

Dia memejamkan kedua matanya, mengatur pernapasan sejenak.

Setelah guncangan dalam dadanya mulai tenang, dia membuka matanya dan memandang kepada pemuda itu dengan penuh keheranan.

"Priyadi, sekarang aku percaya kepadamu. Akan tetapi bagaimana engkau dapat memiliki kesaktian seperti itu? Aji Gelap Musti yang kau kerahkan tadi dahsyat bukan main dan tenaga pukulan terakhir tadi aji apakah itu dan dari siapa engkau mempelajarinya?"

Priyadi tidak ingin membuka rahasia Resi Ekomolo, maka dia tersenyum dan menjawab.

"Aku secara kebetulan menemukan kitab-kitab kuno dari kitab-kitab itulah aku belajar semua aji kesaktian tadi, paman. Bagaimana tanggapan paman tentang usulku tadi? Ingat, paman. Paman mempunyai seorang musuh yang amat tangguh, yaitu Sutejo dan kiranya hanya akulah seorang yang akan mampu menandinginya. Kalau aku sudah menjadi ketua Jatikusumo dan memegang Pecut Bajrakirana, bergabung dengan paman dan dengan dua orang sakti yaitu Ki Klabangkolo dan Resi Wisangkolo, membunuh Sutejo merupakan hal yang amat mudah bagiku. Dan dengan kekuatan kita bersama, kita pasti akan mampu menghan"curkan Mataram! Kadipaten Wirosobo akan menjadi jaya!"

Bhagawan Jaladara mengangguk-angguk.

"Aku percaya padamu, Priyadi. Akan tetapi aku belum yakin akan maksud baikmu sebelum aku melihat engkau merampas kedudukan sebagai ketua Jatikusumo. Setelah engkau menjadi ketua, baru aku akan menyerahkan Pecut Bajrakirana kepadamu."

"Baik, paman. Aku akan membuktikan janjiku, akan tetapi kalau saatnya tiba, aku mengharapkan bantuan paman, selain untuk menjadi saksi, juga untuk membantu kalau-kalau aku menghadapi pengeroyokan."

"Aku setuju. Kalau saatnya tiba, beritahukan padaku dan aku akan membawa para pembantuku untuk membantumu. Priyadi."

"Kalau begitu aku mohon pamit, paman. Aku akan menghubungi kedua orang sakti yang kuceritakan tadi, yaitu Ki Klabangkolo dan Resi Wisangkolo untuk mengajak mereka bergabung dengan kita."

Priyadi lalu meninggalkan Kadipaten Wirosobo.

Setelah keluar dari Kadipaten, dia melakukan perjalanan cepat sekali, langsung menuju ke tempat tinggal Sekarsih.

Sekarsih menyambut kedatangannya dengan gembira karena wanita itu sudah amat rindu kepadanya.

Setelah keduanya melepaskan kerinduan masing-masing, Priyadi bertanya tentang tugas yang diserahkan kepada wanita kekasihnya itu.

"Bagaimana hasilnya usahamu menghubungi dan membujuk Ki Klabangkolo dan Resi Wisangkolo untuk bekerja sama dengan aku Sekarsih? "Seperti yang telah kuduga sebelumnya, mereka ingin melihat dulu orang macam apa yang mengajak mereka untuk bekerja sama. Mereka ingin melihat dulu kemampuanmu untuk mempertimbangkan apakah engkau pantas untuk menjadi sekutu mereka."

"Hemm, mereka tidak percaya kepadaku! Apakah engkau belum bercerita kepada mereka akan kemampuanku?"

"Sudah, Priyadi. Akan tetapi orang-orang seperti mereka itu bagaimana dapat mempercayai sesuatu kalau mereka belum membuktikan sendiri?"

"Baiklah! Aku akan memperlihatkan kemampuanku kepada mereka. Di mana mereka sekarang?"

"Mereka berdua berada di padepokan Resi Wisangkolo yang berada di Lembah Kali Brantas."

"Mari kita ke sana. Sekarsih."

Keduanya lalu berangkat pada hari itu juga, menuju ke Lembah Brantas.

Baca Juga: Mutiara Hitam 13

Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 14

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert