Eps 8 Anak Rajawali - Chin Yung
Baca online Anak Rajawali - Chin Yung
Cersil Anak Rajawali - Chin Yung.
Sedangkan ke tiga orang lawan mereka sudah tidak terlihat lagi mata hidungnya.
Diwaktu itu Liang Tie dan ke dua kawannya entah telah pergi ke mana.
Liang Tie rupanya mempergunakan kesempatan di saat alat peledaknya itu menaburkan asap, telah melarikan diri dengan ke dua orang kawannya itu.
Maka begitu asap itu menipis, di waktu Cing Kiang Wie dan Kang Wei bisa melihat lebih jelas, maka mereka sudah tidak melihat ke tiga orang lawan mereka.
Di waktu itu Kang Wei segera melompat ke dekat Cing Kiang Wie.
"Cing Toako...... mereka cukup tinggi kepandaiannya…… kita selanjutnya harus lebih hati-hati, boleh jadi akan banyak orangorang setangguh mereka akan mengeroyok kita!" Cing Kiang Wie yang masih penasaran mendengus, dia bilang.
"Hemmmmm, biarlah semuanya muncul. Nanti akan kuberesi semuanya!"
Baru saja dia berkata begitu, dari tempat gelap terdengar suara tertawa dingin.
"Hemmm, bicara sih memang enak, cuma menggoyangkan lidah!"
Kata orang itu dengan suara yang dingin mengandung ejekan.
"Tetapi justeru aku telah melihat dan menyaksikan dengan mataku sendiri, bahwa kalian merupakan anjing-anjing tidak punya guna!"
Cing Kiang Wie dan Kang Wei bersiap-siap dengan senjata mereka, karena mengetahui bahwa di tempat gelap itu telah bersembunyi lawan baru.
Tentunya lawan itu memiliki gin-kang dan kepandaian yang tinggi, entah seorang diri atau berkumpul dengan kawan-kawannya dalam jumlah yang banyak.
"Siapa kau, mengapa menyembunyikan ekor, terus tidak mau memperlihatkan diri?!"
Bentak Kang Wie dengan suara yang menyeramkan dan bengis.
"Hemmmm, sejak tadi aku telah memperlihatkan diri, kalian berdua yang merupakan anjing-anjing kudis buta, mana bisa melihat? Sungguh kasihan! "
Cing dan Kang Ciangkun, rupanya kalian telah melupakan asalmu, merupakan kacang yang lupa pada kulit, sehingga kalian benar-benar memang ingin berkhianat dan telah bekerja di bawah tindasan dari kaum penjajah itu!"
Hahahaha, yang seorang adalah komandan dari Gie-lim-kun, sedangkan yang seorang adalah Komandan Kim-ie-wie sekarang telah diutus buat membasmi kawan-kawannya sendiri, buat menumpas orang-orang sebangsanya.......
Hahaha!
Sungguh perbuatan yang sangat bagus!"
Waktu orang itu mengejek seperti itu, Kiang Wie dan Kang Wei kaget bukan main, karena orang itu mengetahui bahwa mereka adalah komandan dari Gie-lim-kun dan Kim-ie-wie.
"Siapa kau, cepat perlihatkan dirimu! Jangan bersikap pengecut seperti itu hanya menyembunyikan ekor.....!"
Bentak Cing Kiang Wie yang habis sabar.
"Aku di sini……!"
Menyahuti orang itu, yang segera melangkah keluar dari tempat gelap itu. Segera terlihat seorang kakek tua dengan pakaian penuh tambalan.
"Hemmm, engkau pengemis busuk?!"
Bentak Cing Kiang Wie setelah melihat kakek pengemis tersebut yang tampaknya dikenalnya.
"Thio Kim Beng! Mengapa engkau demikian usil mencampuri urusan Kami? Atau memang engkau sudah bosan hidup! Lebih baik engkau meninggalkan pekerjaan hina yang setiap hari buat makan saja harus mengemis ke sana ke mari meminta belas kasihan orang! "
Jika memang engkau mengetahui selatan, maka kami akan memperkenalkan kau kepada Hong-siang.
Akan kami pujikan engkau sehingga bisa memperoleh pangkat dan harta!
Kau memiliki kepandaian yang tinggi tetapi menjadi pengemis yang hina, apakah engkau tidak merasa harus dibuat sayang dan merasa hina?"
Pengemis tua yang baru muncul itu ternyata memang tidak lain dari Thio Kim Beng, tertawa mendengus ketika mendengar ejekan Cing Kiang Wie yang menyerupai juga bujukan buatnya!
"Justeru aku tidak mau menjadi manusia hina dina seperti kalian!
Aku lebih baik mengemis dari pada harus mengkhianati bangsa sendiri!"
"Setan manusia tidak tahu diuntung!"
Bentak Cing Kiang Wie tidak bisa mempertahankan kemarahannya, tubuhnya dengan gesit sekali telah menerjang dan menikam dengan pedangnya kepada pengemis tua itu.
Cing Kiang Wie mengetahui bahwa Thio Kim Beng merupakan tokoh Kay-pang yang memiliki kepandaian tinggi, karena telah cukup lama dia mendengar ketenaran nama pengemis tua itu, yang liehay ilmunya.
Karena dari itu, dia menikamnya dengan hati-hati dan penuh perhitungan.
Dalam keadaan seperti itu, si pengemis tua Thio Kim Beng sama sekali tidak berusaha mengelak, dia berdiri tenang, cuma tongkat bambu hijaunya belaka yang digerakkan perlahan menyampok pedang lawannya.
Memang tongkat di tangan pengemis tua itu terbuat dari bambu hijau, akan tetapi di tangan Tnio Kim Beng, tongkat bambu hijau tersebut menjadi kuat sekali, sehingga waktu saling bentur dengan pedang lawannya, bambu hijau itu seperti juga baja kuatnya, segera tergetar tangan dari lawannya.
Cing Kiang Wie cepat-cepat menarik pulang pedangnya, beruntun tiga kali dia menyerang.
Hebat tikamannya dan dia juga mempergunakan jurus-jurus simpanan dari ilmu pedangnya.
Thio Kim Beng sekarang tidak bisa berdiri diam di tempatnya seperti tadi dengan lincah dia menghiadarkan diri berulang kali.
Tapi sejauh itu dia belum balas menyerang.
Kang Wei juga tidak mau membuang-buang waktu, tubuhnya melesat cepat sekali, di mana dia telah menyerang dengan hebat, cambuknya itu membelatar tidak hentinya, menimbulkan suara yang seperti juga hendak merobek-robek keheningan malam.
Thio Kim Beng sama sekali tidak jeri biarpun dikeroyok dua orang lawan tangguh.
Tubuhnya dengan lincah telah bergerak ke sana ke mari, malah tongkat bambu hijaunya itu bergerak sangat hebat, mengancam ke dua lawannya secara bergantian.
Setiap kali bambu hijau di tangan si kakek pengemis tersebut meluncur menyerang, maka yang diincar sebagai sasarannya adalah bagian-bagian yang bisa mematikan di tubuh lawannya Cing Kiang Wie dan Kang Wei yang memang telah mengetahui Thio Kim Beng merupakan tokoh Kay-pang yang memiliki ilmu lihay, menyerang dengan penuh perhitungan.
Dalam waktu yang singkat, ke tiga orang itu, satu lawan dua, telah melewati enampuluh jurus lebih.
Dan di waktu itu juga, Thio Kim Beng merobah cara bertempurnya.
Jika sebelumnya dia lebih banyak berkelit dan hanya membalas menyerang sekali-kali saja, justeru belakangan ini, tongkat bambu hijaunya itu beruntun telah menyerang, dengan cara menotok, menabas dan mengemplang.
Tentu saja semua serangannya itu bukan serangan sembarangan, karena disertai dengan lweekang yang sangat kuat!
Hebat bukan main pengemis ini, karena walaupun ke dua orang lawannya yang mengeroyok itu merupakan lawan-lawan yang tangguh memiliki kepandaian tinggi, dia sama sekali tidak terdesak, dia bisa memberikan perlawanan dengan baik-baik.
Bambu hijau di tangannya berobah menjadi senjata yang ampuh dan hebat sekali mendesak ke dua lawannya.
Diam-diam Cing Kiang Wie berpikir di dalam hatinya.
"Jika memang pengemis ini termasuk salah seorang anggota pemberontak itu, niscaya akan merepotkan sekali, tentu masih banyak jago-jago lainnya yang berada di belakang pengemis ini! Hemmm, jika demikian, tentu dengan hanya berdua Kang Wei, tidak mungkin kami berdua bisa meneruskan tugas ini……" Karena berpikir begitu, semangat bertempur dari Cing Kiang Wie menurun, menyebabkan dia semakin terdesak. Sedangkan Kang Wei semakin ganas dengan cambuknya, karena dia berusaha menyerang Thio Kim Beng dengan cambuknya bertambah hebat. Setiap kali cambuknya itu bergerak, angin tajam menyambar Thio Kim Beng, tapi selalu cambuk itu bisa dielakkan atau dihalau oleh tongkat bambu hijau si pengemis tua tersebut. Ketika suatu kali Thio Kim Beng tengah menyampok dengan tongkat bambu hijaunya, tiba-tiba cambuk Kang Wei telah melibatnya, kemudian Kang Wei telah menggentaknya dengan kuat. Si pengemis tua telah mengerahkan tenaga lweekangnya, dia mencekal kuat sekali, dengan demikian tongkatnya tidak sampai kena dirampas. Di saat itu, mereka telah berusaha mengerahkan tenaga dalam masing-masing. Si pengemis tua juga berusaha untuk mempertahankan tongkatnya, sedangkan Kang Wei berusaha menariknya terus. Ke dua orang ini jadi mengadu kekuatan sin1372 kang masing-masing dan mereka telah berusaha untuk dapat menindih kekuatan lawannya. Di antara dua kekuatan tersebut, yang saling menarik satu dengan yang lainnya, tampak Cing Kiang Wie bermaksud hendak menarik keuntungan dari keadaan seperti itu. Dia telah melompat dengan cepat sekali, menikam ke punggung si pengemis. Tikamannya itu juga merupakan tikaman yang sangat dahsyat sekali. Pedangnya itu tergeletar, sehingga tampaknya pedang tersebut seperti juga telah berobah menjadi puluhan batang. Thio Kim Beng memperdengarkan dengusan, dia tidak jeri. Dia masih tetap mencekal tongkat bambu hijaunya, dan waktu mata pedang Cing Kiang Wie hampir mengenai pundaknya, segera dia membungkukan tubuhnya sedikit, kaki kanannya bergerak menendang. Sebat sekali tendangannya, mengincar ketiak lawannya. Jika memang Cing Kiang Wie tidak menarik tikamannya, niscaya dia akan terluka di dalam yang tidak ringan. Karena dari itu Cing Kiang Wie yang rupanya mengenal bahaya tengah mengancam dirinya, segera juga dia telah menarik pulang pedangnya. Kang Wei mempergunakan kesempatan itu telah menggentak dengan mengerahkan tenaga sepenuhnya. Thio Kim Beng sendiri melakukan gerakannya tadi dengan penuh perhitungan, di mana dia mengetahui, kalau saja dia berusaha menahan terus tongkatnya, niscaya kuda-kuda ke dua kakinya tergempur, karena tadi dia mempergunakan kaki kanannya buat menendang, sehingga kekuatan ke dua kakinya tidak sepenuhnya lagi. Dan di waktu dia merasakan tarikan yang kuat sekali dari Kang Wei, dia juga tidak membuang-buang waktu, segera menjejakkan ke dua kakinya, tubuhnya melesat dengan cepat sekali meluncur di tengah udara, dan ujung tongkatnya dipakai buat menotok biji mata lawannya! Bukan main kagetnya Kang Wei, karena dia tidak menyangka bahwa lawannya bisa berlaku senekad seperti itu. Dia sendiri bersenjata cambuk, karena dia menarik kuat sekali, dan lawannya tidak memberikan tenaga melawan, juga di waktu itu dia telah meluncur mendatangi, maka cambuk itu jadi kendor dan tidak bisa dipergunakan menahan meluncurnya tongkat lawannya. Sedangkan mata tongkat itu, ujung yang tajam dan runcing sekali, tengah mengancam ke arah matanya. Tampak Kang Wei berusaha menghindar dengan membuang diri ke samping kanannya, tapi dia tidak sampai perlu bergulingan di tanah, dia hanya terhuyung dengan tubuh terbungkuk, kemudian dengan mengempos semangatnya, dia menggentak tangannya, maka cambuknya telah membeletar menghantam ke punggung si pengemis. Thio Kim Beng sendiri juga tidak menyangka bahwa serangannya yang begitu tiba-tiba masih bisa gagal dan dia sekarang diserang lawannya. Dia sudah tidak bisa menghindar dari cambuk lawannya, karena di waktu itu tubuhnya sendiri tengah melambung di tengah udara.
"Tarrr!"
Punggungnya kena dihantam oleh cambuk Kang Wei.
Memang pedih dan sakit bukan main, namun dia masih bisa hinggap di tanah dengan ke dua kakinya.
Dia memutar tongkatnya, untuk melindungi tubuhnya menjaga kalau-kalau ke dua lawannya itu akan menyusuli dengan serangan lainnya.
Dikala itu memang Cing Kiang Wie yang penasaran, tengah menubruk dan menyerang lagi dengan pedangnya, tapi semua serangannya itu kena ditangkis dan dihalau oleh ujung tongkat si pengemis.
Kang Wei yang juga tengah diliputi perasaan marah sebab matanya tadi hampir saja kena ditotok buta oleh ujung tongkat si pengemis.
Maka begitu dia berhasil menghantam punggung si pengemis dengan cambuknya, dia jadi girang bukan main, semangatnya terbangun.
Cambuknya itu menyambar-nyambar tidak hentinya menyerang Thio Kim Beng.
Sedangkan Thio Kim Beng terus memutar tongkatnya, sehingga senjata lawan-lawannya, tidak ada yang bisa menerobos pertahanannya itu.
Malam semakin larut, ramainya suara benturan senjata mereka telah terdengar berulang kali.
Sedangkan Kang Wei waktu itu sudah memaki.
"Jika kami tidak dapat membunuhmu, tua bangka mesum, hemmm, hemmm, selanjutnya kami akan meletakkan jabatan dan mengundurkan diri buat hidup mengasingkan diri duapuluh tahun meyakinkan ilmu silat kami!" Setelah berteriak begitu, cepat sekali cambuknya seperti hujan gencarnya, menyerang tidak hentinya ke bagian-bagian yang mematikan di tubuh Thio Kim Beng. Kepandaian Kang Wei memang telah mencapai tingkat yang tinggi. Dengan demikian dia dapat membuat cambuknya itu lemas, juga dengan mempergunakan sin-kangnya dapat menjadikan cambuk itu keras, tegak dan lurus yang bisa dipakai menotok. Karena dari itu, betapa berbahayanya senjata tesebut. Jika di waktu lemas, dia bisa mempergunakannya buat membelit merampas senjata lawan atau juga melibat leher lawannya. Kalau sampai berhasil demikian, selain senjata lawan kemungkinan besar bisa dirampas, juga akan membuat leher lawan menjadi putus, kena tercekik oleh cambuknya yang luar biasa. Dan dikala diluruskan karena pengerahan tenaga lweekangnya, membuat cambuk itu sepertt pentungan yang dapat dipakai buat menotok jalan darah yang mematikan. Di waktu itu Thio Kim Beng mengempos semangatnya. Dia telah mengadakan pembelaan diri yang rapat. Di dalam hatinya si pengemis berpikir juga.
"Hemm, ternyata tidak percuma nama besar mereka yang cukup menggetarkan rimba persilatan kepandaian mereka ternyata memang benar-benar tangguh..... aku harus menghadapi mereka lebih hati-hati!"
Thio Kim Beng berpikir seperti itu, karena dia telah merasakan, walaupun dia telah mempergunakan seluruh kepandaiannya tokh dia masih tidak bisa mendesak ke dua lawannya.
Malah sebaliknya, tampaknya dia yang terdesak.
Karena dari itu, dia telah mengerahkan seluruh tenaga lweekangnya dan ilmu tongkatnya.
Sementara itu Thio Kim Beng telah membatasi diri buat tidak menyerang ke dua lawannya, dia hanya berkelit dan mengelak ke sana ke mari.
Gerakannya begitu cepat dan ringan sekali, tenaga lweekang yang dipergunakannya juga sangat kuat luar biasa.
Begitulah, dalam waktu yang singkat, ke tiga orang itu telah bertempur ratusan jurus.
Sedangkan Thio Kim Beng suatu kali berseru nyaring, dia memutar tongkatnya itu dalam bentuk garis tengah yang cukup lebar, memaksa ke dua lawannya berhenti menyerangnya karena mereka harus melompat mundur menjauhi diri dari tongkat si pengemis yang lihay.
"Berhenti, ada yang ingin kukatakan!"
Teriak si pengemis dengan suara yang nyaring.
Cing Kiang Wie dan Kang Wei memang tidak menyerang lagi, mereka masing-masing menahan senjata mereka.
Cing Kiang Wie dengan suara menghina berkata mengejek.
"Hemmmm, sekarang engkau baru mengetahui akan kelihayan kami, sehingga engkau ingin mengatakan memohon ampun dari kami agar membiarkan engkau pergi! Bukankah begitu!"
Diejek seperti itu, Thio Kim Beng tidak memperlihatkan sikap marah. Dia hanya mendengus memperdengarkan suara tertawa dingin. Lalu katanya dengan sikap yang sangat menghina.
"Sesungguhnya, jika memang aku jeri pada kalian, tentu aku tidak akan menghadang mencari urusan dengan kalian. Dan jika memang kalian berdua merasa kepandaian kalian telah tangguh, memiliki nama besar di dalam kalangan Kang-ouw, apakah dengan cara mengeroyok seperti ini tidak menurunkan pamor kalian? "
Hemmm, memang kalian bicara enak saja..........
Bagaimana jika kalian maju satu-satu, kita bertempur buat menentukan siapa di antara kita yang benar-benar memiliki kepandaian sejati?!" Sambil berkata begitu, segera si pengemis mengibas-ngibas tongkat bambu hijaunya, seperti juga dia tengah menantang dengan sikap menghina.
Bukan kepalang gusarnya Cing Kiang Wie dan Kang Wei, karena mereka berdua dianggap sebagai manusia-manusia pengecut oleh pengemis tersebut.
Maka Cing Kiang Wie telah membentak.
"Baik! Baik! Mari kita bertempur sampai ada penentuannya!"
Dan dia telah menjejakkan kakinya, tubuhnya mencelat dengan cepat sekali. Dia menghampiri si pengemis dan bersikap menyerang dengan pedangnya.
"Cing Toako, tunggu!"
Panggil Kang Wie Cing Kiang Wie yang baru saja hendak merangsek, mendengar panggilan rekannya, segera menahan pedangnya, dia menoleh. Kang Wie melambaikan tangannya.
"Ke marilah Cing Toako…… Aku ingin memberitahukan sesuatu kepadamu!"
Cing Kiang Wie waktu itu tengah gusar bukan main, namun terhadap rekannya ini, walaupun memang lebih muda usianya, tapi dia menaruh rasa segannya dan menghormati.
Karena dari itu, dia tidak menerjang terus, dia telah membatalkan maksud hendak menyerang si pengemis.
Melainkan dia menjejakkan kakinya mencelat mundur kembali ke sisi Kang Wei.
Sedangkan Kang Wei telah menarik tangannya, membawa Cing Kiang Wie mundur jauh dari si pengemis, kemudian mereka berdua tampak bisik-bisik.
Cing Kiang Wie tampak ragu, namun tidak lama kemudian mengangguk-angguk beberapa.
Kang Wei tersenyum puas dan menepuk-nepuk pundaknya.
Thio Kim Beng hanya memperhatikan sambil memperdengarkan tertawa mengejek, sampai akhirnya ketika dia melihat ke dua perwira tinggi kerajaan itu mash kasak-kusuk saja, hilang kesabarannya.
Dia mengejek.
"Mengapa kasuk-kusuk seperti wanita saja? Ayo…… mari kita main-main buat menentukan siapa di antara kita yang lebih kosen! Hemmm, atau memang kalian jeri dan bermaksud hendak angkat kaki!" Bukan Cing Kiang Wie yang melayani ejekan si pengemis, melainkan Kang Wei yang telah melangkah maju mendekati pengemis itu. Dia bilang dengan suara yang lantang dan nyaring.
"Dengarlah Thio Kim Beng! Memang kami akui kepandaianmu tidak rendah! Sayang sekali engkau mensia-siakan kesempatan baik, di mana engkau lebih mau hidup sebagai manusia hina, karena jika saja engkau bisa mengetahui, betapa nikmatnya hidup sebagai seorang pembesar tinggi, tentu engkau akan berlutut memohon-mohon kepada kami, agar kami memujikan engkau kepada Hong-siang! Hemmm, tapi kami selalu ingin berbuat baik terhadap siapa saja! "
Terhadap engkau juga, Thio Kim Beng!
Jika memang engkau bersedia menerima uluran tangan kami, di mana engkau bersedia menerima pertolongan kami, maka kami bisa mengangkat derajatmu…… Engkau tidak akan menjadi rendah lagi, tidak akan menjadi manusia hina, di mana setiap hari hanya kerjanya memohon belas kasihan orang lain!
Sedangkan engkau sendiri memiliki kepandaian yang cukup tinggi.
"Sekali saja kami pujikan engkau di hadapan Hong-siang, tentu engkau akan menerima pangkat yang tinggi…… Dengan demikian selanjutnya engkau bisa hidup senang! Bagaimana, engkau mau kami pujikan kepada Hong-siang?"
Mendengar perkataan Kang Wei, Thio Kim Beng tertawa bergelakgelak.
"Sungguh suatu penawaran yang menarik!"
Katanya kemudian, lalu tertawa bergelak-gelak lagi. Kang Wei tersenyum, karena dia menduga hati si pengemis telah tergerak.
"Bagaimana, apakah engkau setuju agar kami memujikan engkau di hadapan Hong-siang. Jangan kuatir, kami tidak akan menuntut budi kepadamu, karena bukankah engkaupun akan menjadi rekan kami yang baik?"
Kata Kang Wei kemudian dengan tersenyumsenyum dan mengawasi si pengemis tua Thio Kim Beng dengan sorot mata yang tajam.
Thio Kim Beng tertawa bergelak-gelak, sedangkan Kang Wei dan Cing Kiang Wie menantikan jawabannya sambil mengawasi dengan sorot mata yang tajam.
Mereka yakin pengemis tua Kaypang ini akan dapat dipengaruhi oleh mereka.
Bukankah sekarang ia merupakan pengemis melarat yang tidak memiliki apa-apa, yang hidupnya bersengsara dan selalu harus mengemis dan menghiba memohon akan belas kasihan orang?
Jelas di dalam perkumpulan Kay-pang walaupun bagaimana enaknya dan tinggi derajatnya, tetap saja dia harus hidup sebagai pengemis yang melarat, yang tidak mungkin dapat menikmati keasyikan dunia ini.
Sedangkan jika ia bekerja kepada kerajaan, memperoleh pangkat dan kedudukan serta harta yang berlimpah, niscaya setiap hari, setiap detik, ia akan hidup bahagia dan senang, di mana sekelilingnya dilimpahi oleh kemewahan.
Namun dugaan ke dua orang perwira tinggi kerajaan tersebut ternyata meleset sama sekali, di mana setelah tertawa bergelakgelak tampak betapa Thio Kim Beng telah menjejakkan ke dua kakinya, tubuhnya melesat sangat cepat di mana tongkat bambu hijaunya telah digerakkan buat menotok dahsyat kepada Kang Wei yang berdiri paling dekat dengannya.
"Aku justeru menginginkan jiwa kalian berdua!"
Berseru pengemis tua Kay-pang itu.
Kang Wei tidak menyangka Thio Kim Beng akan menyerangnya mendadak begitu.
Dia pun berdiri dalam jarak dekat sekali, membuatnya kaget dan cepat-cepat berkelit, cuma saja, karena dia diserang begitu cepat, juga Thio Kim Beng mempergunakan jurus ilmu tongkatnya yang paling liehay, biarpun Kang Wei telah mengelak secepat-cepatnya, tetap saja pundaknya kena tergores oleh ujung tongkat Thio Kim Beng.
Dengan muka merah padam memandang gusar, Kang Wei berkata bengis.
"Pengemis tidak tahu diuntung. Kami bermaksud buat mengajak engkau ke dunia kesenangan, tapi engkau tetap memilih kemelaratan. Baiklah, kami akan melayani keinginanmu buat pergi ke neraka. Kami akan berusaha tidak mengecewakan harapan engkau!"
Sambil herkara begitu cambuknya bergerak menggeletar sangat nyaring menyambar kepada Thio Kim Beng, demikian juga pedang Cing Kiang Wie.
Mereka bertiga bertempur lagi dengan seru, sedangkan Thio Kim Beng berulangkali memperdengarkan suara tertawa bergelak mengejek.
"Hemmm, walaupun kami menempuh kehidupan ini dengan cara mengemis, tetapi kami jauh lebih berharga dari pada kalian anjing-anjing pengkhianat bangsa! Kami lebih mulia, kami lebih luhur dari jiwa kalian yang kotor……!"
Kang Wei dan Kiang Wie tidak memperdulikan ejekan si pengemis, mereka berusaha menyerang semakin hebat buat mendesak pengemis itu, namun disebabkan kepandaian Thio Kim Beng memang hebat dan tinggi sekali sulit mereka mendesak pengemis itu apa lagi untuk merubuhkannya.
Dalam waktu yang sangat singkat tigapuluh jurus lebih telah dilewatkan.
Thio Kim Beng memang sesungguhnya merupakan pengemis yang berhati luhur dan setiap tindakannya juga sangat mulia.
Itulah sebabnya mengapa Yeh-lu Chi, pangcu Kay-pang telah mengangkatnya sebagai salah seorang Tiang-lo, untuk berkelana dan memeriksa cabang-cabang Kay-pang, guna meneliti apakah di antara anggota-anggota Kay-pang ada yang menyeleweng dan melakukan tindakan yang tidak terpuji.
Thio Kim Beng selain duduk sebagai salah seorang Tiang-lo pengemis, di dalam rimba persilatan iapun sangat dihargai sekali oleh jago-jago rimba persilatan.
Dengan kepandaiannya yang tinggi, sulit sekali orang menandinginya.
Karena dari itu, diapun boleh dibilang hampir sama sekali jarang bertempur bersungguh-sungguh.
Di dalam perkumpulan Kay-pang ia memiliki kekuasaan yang sangat besar sekali, kekuasaan buat menghukum berat kepada anggota Kay-pang yang diketahuinya menyeleweng, tanpa perlu meminta pertimbangan dari Pangcu.
Waktu di Heng-san bertemu dengan Swat Tocu sebagai seorang tokoh Kay-pang, walaupun ia mengetahui Swat Tocu seorang tokoh sakti dalam rimba persilatan, namun si pengemis tua ini masih memiliki harga diri sehingga dia tidak mau terlalu menyembah-nyembah bersikap bermuka kepada Swat Tocu.
Ia mengambil sikap yang wajar saja.
Siapa tahu justeru Swat Tocu tengah uring-uringan, sehingga ia kena diperlakukan kurang baik dari Swat Tocu.
Seumur hidupnya, barulah kali itu, Thio Kim Beng memperoleh perlakuan seperti itu.
Jika menuruti hati kecilnya, dia akan bertempur sampai mati menyerang Swat Tocu, buat menebus perlakuan Swat Tocu yang dianggapnya sangat menghinanya.
Akan tetapi pertimbangan ratio atau pemikiran yang sehat, telah menyebabkan dia akhirnya surut sendirinya meninggalkan tempat itu.
Walaupun di dalam hatinya dia masih menaruh perasaaan penasaran dan tekad, kelak suatu saat dia akan mengadu ilmu dengan Swat Tocu.
Memang di dalam hati kecilnya juga si pengemis mengakui dan mengagumi kepandaian Swat Tocu.
Dia jika bertempur dengan Swat Tocu, sehingga terluka atau terbinasa, pasti akan menanam permusuhan di kalangan Kay-pang.
Semua anggota Kay-pang pasti akan memusuhi Swat Tocu dan akan berusaha membalas sakit hati Thio Kim Beng.
Hal itulah yang tidak diinginkan oleh Thio Kim Beng, karena akan membuat Kay-pang akan mengalami kerusakan tidak kecil.
Bukankah Swat Tocu memiliki kepandaian yang sangat tinggi dan lihay sekali?
Juga pertimbangan lainnya bahwa Swat Tocu merupakan seorang tokoh sakti rimba persilatan yang memiliki hubungan dekat dengan Sin-tiauw-tay-hiap, salah seorang tokoh sakti yang memiliki hubungan sangat dekat dengan Pangcu Kay-pang.
Itulah, dengan menelan penasaran dan kemendongkolan hatinya, Thio Kim Beng meninggalkan Heng-san.
Dia berkelana dari tempat yang satu ke tempat yang lainnya.
Sampai akhirnya dia mendengar perihal perjuangan orang-orang gagah di Lam-yang, maka dia menuju ke kota itu.
Dia menyaksikan persiapan-persiapan yang tengah dilakukan oleh orang-orang gagah pecinta negeri, yang bercita-cita ingin berjuang mengusir penjajah.
Hati Thio Kim Beng gembira karena senang sekali dia mengetahui masih cukup banyak para Ho-han pencinta negeri yang ingin berjuang buat mengusir penjajah!
Dan diam¬-diam dia mengikuti perkembangan yang ada pada perhimpunan itu.
Hati Thio Kim Beng tambah gembira setelah mengetahui bahwa para pemimpin orang-orang gagah itu, yang hendak melakukan perjuangan tersebut, adalah seorang yang benar-benar berjiwa patriot.
Karena dari itu, dia bertekad, jika saja sudah tiba waktunya, tentu ia akan membantu perjuangan orang-orang gagah itu.
Jika memang diperlukan, diapun akan meminta ijin dari pangcunya dan semua Tiang-lo Kay-pang buat mengerahkan anggotaanggota Kay-pang, guna mengadakan, perlawanan kepada kerajaan penjajah, membantu perjuangan pada Ho-han itu, agar perjuangan para pencinta negeri tersebut berhasil dengan baik.
Terlebih lagi memang mengingat Kay-pang sangat dimusuhi Kublai Khan, kaisar Mongolia yang telah berhasil menguasai daratan Tiong-goan sebagai penjajah.
Tapi, pada suatu malam, ketika pengemis tua yang gagah ini tengah tidur di dahan sebatang pohon dalam hutan itu, dia sempat menyaksikan pertempuran Liang Tie bertiga dengan Cing Kiang Wie dan Kang Wei, membuatnya jadi gusar sekali, karena mengetahui Cing Kiang Wie dan Kang Wei adalah orang-orang kerajaan, bangsa Han yang bekerja kepada kerajaan Mongolia sebagai Komandan Gie-lim-kun dan Kim-ie-wie.
Setelah Liang Tie bertiga mengundurkan diri, buat mencegah Cing Kiang Wie mengejar, Thio Kim Beng muncul memperlihatkan diri dan bertempur dengan ke dua perwira kerajaan tersebut.
Cing Kiang Wie semakin lama semakin penasaran, dia berdua dengan rekannya, Kang Wei, yang memiliki kepandaian setingkat dengannya, namun masih tidak bisa merubuhkan pengemis itu.
Jagankan buat merubuhkan atau membinasakannya, sedangkan mendesak saja mereka pun masih belum sanggup, dimana mereka bertempur sama berimbang.
Akhirnya Kang Wei berseru.
"Baiklah, karena kami masih memiliki urusan penting, kami tidak bisa menemani engkau terlalu lama! Jika memang engkau mau, merobah pikiran menerima tawaran kami buat kami pujikan engkau kepada Hong-siang, kau boleh datang ke kota raja menemui, nanti kami membantu kau?"
Sambil berkata begitu, tampak Kang Wei telah memutar cambuknya cepat sekali seperti titiran, dan dia melompat ke belakang menjauhi diri dari Thio Kim Beng.
Sedangkan Cing Kiang Wie juga telah membarengi melompat menjauhi diri dari lawannya.
Si pengemis tua Thio Kim Beng sama sekali tidak mengejar, dia berdiri tegak dengan tongkat bambu hijaunya yang digerakgerakkan dan tertawa bergelak.
"Manusia-manusia hina dina bangsa pengecut tidak kenal malu!"
Mencaci pengemis tersebut.
Kang Wei dan Cing Kiang Wie tidak memperdulikan makian si pengemis, mereka telah berlari-lari pesat buat kembali ke dalam kota.
Mereka batal buat menyatroni sarang dari kaum pemberontak.
Dan mereka kembali ke rumah penginapan.
Thio Kim Beng melihat ketiga lawannya melarikan diri, dia tertawa bergelak-gelak senang karena merasa telah dapat mempermainkan ke dua perwira kerajaan tersebut.
Tapi setelah puas tertawa dia menghela napas dalam-dalam.
Tampaknya Kublai Khan memang tidak bermaksud main-main menumpas semua orang-orang gagah di daratan Tiong-goan, karena ke dua orang itu saja telah memiliki kepandaian yang tinggi, dan terus di istana Kublai Khan masih terdapat para pahlawannya yang memiliki kepandaian lebih liehay, baik dari orang Han bangsa hina dina yang berkhianat menganggap Kublai Khan sebagai majikannya, atau juga jago-jago Mongolia yang dibawanya.
Tampaknya memang tidak mudah buat para orang-orang gagah itu melakukan perjuangan, sebab mereka akan menghadapi kesulitan yang tidak kecil.
Menghadapi ke dua orang perwira itu tadi saja jika memang bukan kepandaianku benar-benar tinggi, tentu sulit aku menghadapi keroyokan mereka berdua!
Kembali Thio Kim Beng menghela napas dalam-dalam setelah menggumam seperti dia menjejakkan ke dua kakinya, tubuhnya melompat ke atas cabang pohon, dan merebahkan tubuhnya di situ buat tidur.
Malam semakin larut dan keadaan di dalam hutan itu sepi sekali, hanya terdengar suara binatang malam belaka yang berdiam di dalam hutan, di mana binatang hutan yang tengah berkeliaran mencari mangsa atau burung-burung yang terbang pindah tempat.
Namun pengemis tua itu yakin, ke dua perwira tersebut tidak akan muncul lagi……!
◄Y► Apa yang diduga oleh Thio Kim Beng memang benar, karena Cing Kiang Wie dan Kang Wei langsung pulang ke rumah penginapan mereka, di mana ke dua perwira tersebut telah merundingkannya, langkah-langkah apa yang harus mereka lakukan.
Ke duanya merupakan komandan pasukan khusus dari istana Kaisar, dengan demikian, mereka sangat cerdik dan licik.
Melihat apa yang baru ini mereka alami, telah memperlihatkan di antara para pemberontak itu memang banyak yang memiliki kepandaian tinggi.
Si pengemis tua Thio Kim Beng justeru mereka duga sebagai salah seorang anggota pemberontak itu.
"Memang benar apa yang diduga oleh Hong-siang sebelumnya, Kay-pang merupakan perkumpulan yang cukup membahayakan. Karena jika Kay-pang dibiarkan terus hidup, berarti sama saja dengan duri di dalam daging…… Tidak terlalu mengherankan jika belum lama yang lalu Hong-siang telah perintahkan agar semua orang-orang Kay-pang disapu bersih! "
Seperti kita telah alami tadi, si pengemis tua itu pasti tokoh Kaypang.
Dia bekerja buat pemberontak-pemberontak itu!
Karenanya, kita pun harus melaporkan semuanya ini kepada Hong-siang, agar Hong-siang lebih memperkeras lagi perintahnya dalam membasmi Kay-pang!
Hemmm…… hemmm!"
Tampaknya Kang Wei bukan main kecewa dan marahnya.
Karena dia penasaran sekali tadi bersama-sama dengan Cing Kiang Wie, di mana mereka di istana Kaisar merupakan jago-jago yang sangat disegani dan kepandaian mereka tinggi sekali, ternyata tidak sanggup buat merubuhkan si pengemis tua Kay-pang itu, sedangkan buat mendesak Thio Kim Beng saja mereka pun tidak dapat.
Cing Kiang Wie pun sangat penasaran.
Dia sampai memukul meja berulang kali, buat melampiaskan kemendongkolannya itu.
Dia bilang dengan hati diliputi perasaan gusar dan penasaran.
"Kita harus berusaha menangkapnya! Agar kita bisa menggusurnya kehadapan Kaisar. Jika memang kita pulang tanpa menggusur orang-orang dari kaum pemberontak tersebut, niscaya kepercayaan Hong-siang pada kita akan berkurang.........!" "Tapi mereka terdiri dari orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi! Di luar dugaan kita sebelumnya, bahwa kita berdua akan dapat mengacaukan kesanggupan ke mereka arah ternyata itu...... kita Karenanya, tidak kita memiliki harus mempergunakan taktik lain yaitu kita harus dapat mengerahkan pasukan yang cukup besar, guna menumpas kaum pemberontak!"
Cing Kiang Wie menghela napas dalam-dalam, wajahnya murung sekali.
"Hemm, sebelum berangkat kita telah berjanji pada Hong-siang, bahwa kita berdua akan sanggup mengobrak-abrik kaum pemberontak itu, namun kenyataan yang ada sekarang ini justeru memperlihatkan, kita tidak memiliki kesanggupan ke arah itu.....!"
Katanya kecewa. Kang Wei tersenyum, bilangnya.
"Bukan tidak ada kesanggupan buat mengobrak-abrik mereka. Tapi jika memang kita harus mempertaruhkan jiwa menempuh bahaya yang terlalu besar, buat apa? Jika kita gugur, paling tidak hanya dapat penghargaan dari Hong-siang, lalu kedudukan kita akan diganti oleh orang lain! "
Dengan demikian masih tidak apa-apa, tapi jika kita dapat lolos dari pada kematian, kemudian kira bercacad. Bukankah seumur hidup kita akan menyesal!"
Kekuatan tentara kerajaan sangat besar, kita minta pada Hongsiang agar mengerahkan pasukan perang dalam jumlah besar.
Niscaya kaum pemberontak itu dapat ditumpas.
Mustahil kekuatan angkatan perang Kaisar tidak dapat menumpas mereka, yang jumlahnya hanya sekian ribu orang?
Sedangkan Tiong-goan saja telah dapat direbut oleh Hong-siang.....!"
Cing Kiang Wie beranggapan kata-kata kawannya itu ada benarnya juga, karenanya dia mengangguk beberapa kali. Dia bilang kemudian.
"Hanya saja justeru Hong-siang tidak menginginkan penumpasan secara besar-besaran, sehingga menimbulkan kekuatiran dan kekacauan di kalangan rakyat! Sekarang Hong-siang tengah memupuk simpati rakyat, agar rakyat menyukai kerajaan yang diperintahnya, dan rakyat tidak memiliki perasaan kurang senang pada Hong-siang! "
Secara politiknya, memang kita dapat menerima apa yang digariskan dalam kebijaksanaan Hong-siang.
Biar bagaimana Kay1396 pang harus dilenyapkan, ditumpas habis, karena hanya merupakan manusia-manusia melarat yang merongrong belaka!"
Begitulah, ke dua Komandan dari Gie-lim-kun dan Kim-ie-wie telah berunding.
Akhirnya mereka sepakat buat coba-coba menghimpun pasukan tentara kerajaan yang berada di Lam-yang, guna dikerahkan menumpas kaum pemberontak.
Memang dari Kaisar, merekapun telah menerima kuasa sepenuhnya, dimana mereka dapat mempergunakan tentara kerajaan yang ada di Lam-yang jika mereka membutuhkan dalam menumpas kaum pemberontak.
Tadinya hanya disebabkan harga diri belaka menyebabkan mereka yakin dengan berdua saja dapat mengacaukan kaum pemberontak dan menangkap pemimpinnya, karena mereka yakin kepandaian mereka yang tinggi.
Namun apa jadinya?
Belum lagi mereka tiba di sarang pemberontak itu mereka telah menghadapi banyak kesukaran dan ke dua perwira kerajaan itu baru memaklumi bawa mereka tidak mungkin berhasil jika memang hanya bekerja berdua belaka.
Disebabkan itu pula akhirnya mereka memutuskan buat memakai tentara kerajaan di Lam-yang, yang jumlahnya lebih dari sepuluhribu orang, untuk menumpas kaum pemberontak.
Jika memang usaha itu gagal, maka mereka baru akan kembali kekota raja, buat melaporkan kepada Hong-siang, dan meminta Kaisar bertindak lebih tegas dengan perintahkan Menteri Angkatan Perangnya yaitu Peng-po-siang-sie, buat mengerahkan pasukan perang dalam jumlah yang besar dan kuat, buat menumpas kaum pemberontak itu!
◄Y► Pagi itu cerah sekali dengan matahari memancarkan sinarnya yang cemerlang.
Dalam kota Lam-yang tampak tenang seperti biasa tidak terlihat sesuatu yang menarik perhatian rakyat.
Namun di balik tembok-tembok yang tinggi dari beberapa gedung dan markas pembesar kerajaan, terlihat kesibukan yang sangat.
Karena semuanya tengah mengadakan pertemuan, buat merundingkan permintaan dari Cing Kiang Wie dan Kang Wei, agar mengerahkan pasukan tentara kerajaan menumpas kaum pemberontak.
Para pembesar di kota Lam-yang, umumnya memang hendak bermuka-muka, mereka bermaksud buat mendirikan pahala, agar memperoleh pujian dari Kaisar dan memperoleh kenaikan pangkat, sehingga kedudukan mereka lebih tinggi.
Itulah sebabnya, mengapa setelah mereka diperlihatkan firman Kaisar, agar mereka membantu Cing Kiang Wie dan Kang Wei dalam hal mengerahkan pasukan angkatan perang di Lam-yang, mereka bekerja sibuk sekali mengatur segala sesuatunya.
Para tentara kerajaan yang sebelumnya menganggur, di mana mereka sebelumnya hanya mondar-mandir di kota Lam-yang tanpa memiliki pekerjaan apapun juga, sekarang tampak mulai sibuk, mengatur diri dalam kesatuan-kesatuan mereka masingmasing, karena tidak lama lagi mereka akan dikerahkan buat menumpas pasukan para pemberontak yang diduga berjumlah limaribu orang itu!
Memang Cing Kiang Wie dan Kang Wei telah berpesan, agar semua persiapan itu dilakukan dengan cermat sekali dan rahasia, karena jangan sampai kaum pemberontak itu mengendus dan mengetahui mereka akan diserang buat ditumpas dengan kekerasan.
Sekali saja rencana akan penyerbuan tersebut bocor, niscaya akan membuat kaum pemberontak itu mengadakan persiapan.
Berarti tentara kerajaan itu akan menghadapi kesukaran tidak sedikit, juga perlawanan yang lebih berat.
Cing Kiang Wie dan Kang Wei memang bermaksud membuka serangan secara mendadak dan tiba-tiba sekali, agar kaum pemberontak itu, tidak memiliki persiapan lagi, hingga mereka pun akan dapat ditumpas dengan mudah.
Semuanya dilakukan dengan tertutup, sampai penduduk Lamyang sendiri tidak menyadari dan tidak mengetahui.
Tentara kerajaan di kota tersebut tengah dipersiapkan buat perang!
Dalam keadaan seperti itulah Cing Kiang Wie dan Kang Wei memperlihatkan keterampilan mereka.
Ke dua orang ini memang merupakan komandan dari pasukan khusus di istana yang menjamin keselamatan Kaisar, karena dari itu, segala macam taktik dan cara mereka banyak sekali.
Dalam rencana penumpasan pemberontak, mereka juga telah mentrapkan cara-cara mereka, pasukan dibagi menjadi delapan bagian.
Setiap bagian terdiri dari seribu orang.
Dengan demikian, mereka akan menyerang dari delapan penjuru, hal ini memperkecil kesempatan kaum pemberontak melarikan diri dari kepungan mereka kelak.
Juga, agar kaum pemberontak tidak bisa menduga berapa besar kekuatan tentara kerajaan yang dikerahkan.
Sehingga para pemberontak hanya dapat menduga bahwa tentara kerajaan yang dikerahkan hanya seribu orang belaka.
Dan tahu-tahu dari berbagai penjuru telah bermunculan pula tentara kerajaan dalam jumlah besar.
Taktik yang dipergunakan oleh Kiang Wie dan Kang Wei merupakan cara pat-kwa.
Mereka juga bermaksud menyediakan duaribu orang tentara kerajaan buat menyerang dari garis depan.
Begitulah, semua rencana dan taktik telah diatur, dan Cing Kiang Wie berdua dengan Kang Wei yakin, kaum pemberontak itu dapat ditumpas.
Sedikitnya dapat dihancurkan.
Terlebih lagi, perlengkapan senjata dari para tentara kerajaan diperlengkapi dengan senjata-senjata yang baik dan lengkap, termasuk juga setiap tentara kerajaan selalu membawa golok, dan senjata rahasia, juga harus membawa panah!
Jika diperlukan, Cing Kiang Wie dan Kang Wei hendak menjadikan pasukan tentara kerajaan itu sebagai barisan pemanah.
Buat penyediaan anak panah, jelas sangat banyak sekali.
Di gudang senjata dalam Kota Lam-yang, belum lagi mencukupi, segera dibuat anak-anak panah dengan mengerahkan ahli-ahli panah, sehingga meminta waktu buat menyiapkan anak-anak panah itu dengan jumlah yang diinginkan selama seminggu lamanya.
Tetapi persiapan yang diadakan buat penyerbuan kepada sarang pemberontak itu telah matang benar.
Juga Kiang Wie dan Kang Wei telah perintahkan beberapa orang ahli silat kelas satu yang membantu An-busu atau Penguasa Kota Lam-yang, buat pergi menyelidiki, juga puluhan orang tentara yang terampil diperintahkan mengadakan penyelidikan di sekitar Kota Lam-yang.
Laporan-laporan telah sampai di tangan Cing Kiang Wie dan Kang Wei, mereka mempelajari semua laporan itu.
Dan mereka memperoleh kesimpulan bahwa para pemberontak itu tidak memperlihatkan tanda-tanda mengadakan persiapan buat menyambut penyerbuan itu, membuktikan juga bahwa kaum pemberontak itu rupanya belum lagi mengetahui perihal rencana penyerbuan tersebut.
"Bagus!"
Berseru Cing Kiang Wie dengan suara nyaring.
"Inilah sangat baik sekali…… karena dengan mereka tidak bersiap-siap, kita akan dapat menghancurkan mereka lebih mudah!" Kang Wei juga mengangguk-angguk senang, mereka bekerja dengan dibantu oleh beberapa orang panglima perang yang berada di Kota Lam-yang. Karena Cing Kiang Wie berdua membawa firman kaisar yang memberikan kekuasaan sepenuhnya pada mereka, semua panglima perang di kota itu dan juga semua perwira tingginya, tunduk pada perintah Cing Kiang Wie berdua. Mereka berdua sebagai panglima tertingginya dalam penyerangan kepada kaum pemberontak itu, dan semuanya harus patuh. ◄Y► Pengemis tua Thio Kim Beng ketika matahari memancarkan sinarnya cukup terang, baru terbangun dari tidurnya. Dia teringat semalam telah bertempur dengan ke dua orang perwira tinggi kerajaan, yaitu Cing Kiang Wie dan Kang Wei, yang masingmasing memiliki kepandaian lihay sekali. Dengan begitu, besar dugaan dari Thio Kim Beng, ke dua orang tersebut tentu kembali ke Lam-yang buat menghimpun kekuatan. Dan dalam beberapa hari akan menimbulkan kekacauan lagi, guna memusuhi orang-orang gagah yang bermaksud berjuang mengusir kaum penjajah. Karena dari itu, setelah berlatih ilmu tongkatnya beberapa saat di dalam hutan itu, buat mempersegarkan dirinya, tampak Thio Kim Beng dengan tubuh yang agak dibungkukkan, dan langkah yang perlahan-lahan ke luar dari hutan itu. Dia menuju ke Kota Lamyang, karena memang Thio Kim Beng bermaksud menyelusup ke dalam kota buat melakukan penyelidikan. Dalam keadaan seperti ini, Thio Kim Beng memang telah bermaksud menyelidiki segalanya, yang kelak hasil penyelidikannya itu akan disampaikan kepada kaum orang gagah yang tengah berjuang untuk membela tanah air mereka yang terjajah. Di dalam Kota Lam-yang ramai sekali. Penduduk tampak dalam keadaan seperti biasa, di mana mereka berdagang, bekerja dan rumah-rumah makan tetap buka seperti biasanya. Thio Kim Beng tidak melihat ada kelainan di dalam kota, dan juga tidak terlihat kegiatan-kegiatan dalam menghadapi sesuatu kerusuhan. Mereka, semua penduduk itu dalam keadaan tenang saja, melakukan tugas mereka masing-masing. Tetapi sebagai seorang berpengalaman, Thio Kim Beng segera memaklumi, bahwa pihak tentara kerajaan tentu tengah mempersiapkan diri diam-diam. Mungkin mereka tidak ingin diketahui oleh rakyat tentang maksud mereka yang ingin menumpas kaum pemberontak. Mereka tidak menginginkan jika rakyat mengetahui akan menimbulkan kekacauan, dan kemungkinan besar, sebagian besar dari rakyat, akan berpihak kepada para orang gagah pembela tanah air, berbalik mengadakan perlawanan kepada tentara kerajaan di Lam-yang. Dengan demikian akibat itu membuat tentara kerajaan menghadapi lawan yang tidak sedikit. Jika saja seluruh rakyat di Lam-yang mengadakan kerja sama yang kompak dan mempersatukan diri mengadakan perlawanan kepada tentara kerajaan, niscaya mereka akan merupakan suatu kekuatan yang tidak kecil. Penduduk Kota Lam-yang hampir meliputi duapuluh ribu jiwa lebih……!"
"Aku harus menyelidikinya di tempat-tempat para pembesar Boan, di markas-markas mereka……!"
Berpikir Thio Kim Beng.
Dan dia segera berusaha menyelidiki di mana kantor-kantor Kerajaan Pemerintah Boan, terutama sekali pembesar yang khusus mengurus tentara kerajaan.
Namun di saat dia tengah berjalan di jalan raya, dengan tubuh yang sengaja dibungkukkan dan kepala tertunduk dalam-dalam, sebab dia tidak mau kalau sampai ada orang yang mengenalinya, terutama sekali Cing Kiang Wie daa Kang Wei, dia terpikir lainnya lagi.
"Atau lebih baik aku pergi menyelidiki di rumah-rumah makan. Bukankah banyak kaum pembesar yang bersenang-senang di rumah makan, meminum arak sampai mabok dan kemudian mengoceh tidak karuan. Dengan demikian tentu akan membuat mereka mengeluarkan segala apa yang mereka ketahui…..
"Karena dari itu, walaupun bagaimana jelas aku bisa mengorek keterangan yang lebih jelas lagi. Aku bisa menawannya, dan kemudian mengkompresnya, memaksanya agar dia memberikan keterangan yang lebih terperinci! Para Pembesar Boan-ciu umumnya merupakan gentong-gentong nasi yang sayang akan jiwanya. Mereka tentu akan ketakutan setengah mati dan menceritakan sejelas-jelasnya apa yang mereka ketahui…..!"
Karena berpikir begitu, segera juga Thio Kim Beng mengalihkan langkah kakinya, menuju kepada sebuah rumah makan yang terletak tidak jauh dari jalan itu.
Rumah makan itu memasang merek "Ang-tiauw-tiam", merupakan sebuah rumah makan yang tidak terlalu besar.
Namun di rumah makan yang bertingkat dua tersebut, sangat ramai sekali.
Dan disamping itu, memang tampaknya orang-orang yang berkunjung ke rumah makan tersebut terdiri dari bermacam-macam golongan.
Thio Kim Beng berdiri di depan pintu rumah makan itu, di sebelah pinggir kanan dia berdiri dengan tubuh yang dibungkukkan walaupun matanya tajam mengawasi keadaan di sekitarnya.
Dia telah pura-pura berdiri di situ seperti tengah menantikan sisa makanan yang akan diberikan pelayan.
Dua orang pelayan melihat kehadirannya Thio Kim Beng, tampaknya tidak senang.
Mereka beranggapan tentu dengan adanya pengemis mesum dan kotor itu, merupakan halangan yang tidak kecil buat rumah makan ini, di mana para tamu tentu akan merasa segan buat memasuki rumah makan tersebut.
Karenanya, ke dua nelayan itu menghampiri Thio Kim Beng, katanya dengan sikap tidak senang.
"Pengemis bau, jika engkau menghendaki makanan, engkau jangan menghalangi jalan masuk di pintu ini. Pergilah engkau di samping sana! Jika nanti telah ada sisa makanan, kami tentu akan memberikannya kepadamu! Jika engkau berdiri di sini, tentu para tamu akan segan masuk ke rumah makan kami! Selain kami akan rugi, juga sisa makanan tidak ada!"
Thio Kim Beng menyeringai, dan ia berkata dengan suara yang sabar.
"Sebetulnya..... di dalam hal itu merupakan urusan yang tidak terlalu penting, karena biar bagaimana jelas aku tidak akan mengganggu para tamu..... karena dari itu, biarlah aku di sini. Siapa tahu ada tamu yang memang berkasihan kepadaku, dan akan memberikan derma dan amal mereka……!"
Setelah berkata begitu, kembali Thio Kim Beng tertawa menyeringai, katanya.
"Tuan-tuan, tentu sangat baik hati dan membiarkan aku mencari hidup di sini bukan?"
Ke dua pelayan itu mengerutkan sepasang alisnya, tadi mereka berusaha mengusir pengemis tua ini dengan baik hati, dengan cara yang halus, agar pengemis itu tidak tersinggung.
Namun sekarang melihat Thio Kim Beng bersikeras untuk berdiri di depan pintu itu.
Karena dari tempatnya itu Thio Kim Beng memang dapat melihat jelas semua tamu yang berada di dalam rumah makan tersebut, tidak mau pindah tempat beranjak dari situ, membuat ke dua pelayan itu tambah tidak senang, maka mereka berdua hampir berbareng telah berkata dengan suara yang tidak senang.
"Jika memang engkau tidak bisa diberitahukan dengan baik-baik, kami akan menyingkirkan engkau dengan cara paksa!"
Thio Kim Beng tertawa.
"Jangan begitu tuan-tuan…… aku si pengemis melarat hanya mencari sekedar hidup di sini....."
Katanya kemudian seperti juga pengemis yang tidak berdaya.
Salah seorang pelayan itu mengulurkan tangannya.
Dia mencekal tangan Thio Kim Beng maksudnya hendak menarik Thio Kim Beng menyingkir ke samping rumah makan itu.
Thio Kim Beng membiarkan tangannya dicekal, sama sekali dia tidak memberikan perlawanan.
Sampai akhirnya waktu pelayan itu menariknya dengan kuat, dia jadi kaget sendirinya.
Pelayan itu sampai mengeluarkan suara seruan tertahan.
Karena biarpun dia menarik cukup kuat, pengemis tua yang kurus kering dan tampaknya lemah itu tidak bergeming dari tempatnya.
Pelayan itu segera menariknya lebih kuat lagi, namun tetap saja tidak bisa me narik tubuh si pengemis tua tersebut.
Kawannya, pelayan yang seorangnya lagi, ketika melihat rekannya tidak dapat menarik pengemis tua itu, segera bantu menariknya.
Tetap saja Thio Kim Beng berdiri tenang-tenang di tempatnya, tubuhnya tidak bergeming.
Dia membiarkan saja ke dua pelayan itu menarik-nariknya, namun dia sama sekali tidak bergeming atau beranjak dari tempatnya berada.
Ke dua pelayan itu jadi tambah penasaran.
Mereka segera mengerahkan seluruh tenaga mereka, tapi tetap saja, walau mereka menariknya dengan kuat, tidak berhasil menarik pengemis tersebut.
Malah tidak lama kemudian, mereka merasakan dari lengan pengemis tua itu, yang dicekal oleh tangan mereka, seperti mengepul hawa panas bukan main, sehingga ke dua pelayan itu merasakan tangannya pedih sekali.
Kaget dan heran, ke dua pelayan itu melepaskan cekalan mereka dan memandang termangu-mangu kepada pengemis tua itu.
Hati kecil mereka segera menduga bahwa pengemis tua di hadapan mereka itu tentunya seorang pengemis yang tangguh dan memiliki ilmu yang lihay, karena segera juga ke dua pelayan rumah makan itu menduga, tentunya pengemis ini anggota Kay-pang.
Memang banyak orang telah mengetahui, umumnya pengemis yang masuk dalam anggota Kay-pang, dan mereka juga biasanya memiliki kepandaian yang tidak rendah.
Karena memiliki dugaan tersebut, ke dua pelayan itu, yang telah gagal dengan usaha mereka buat menarik menyingkir pengemis tua tersebut, memandang dengan sorot mata tidak senang, tapi mereka tidak berani memaksa Thio Kim Beng menyingkir lagi.
Si pengemis tua tersenyum-senyum belaka.
Waktu itulah tampak di jalan raya berlari-lari dua ekor kuda, yang berhenti di depan rumah makan tersebut.
Ke dua penunggang kuda tersebut adalah sepasang muda-mudi.
Seorang pemuda yang tampan dan gagah dengan seorang gadis jelita yang tampak keren dengan gagang pedang tersembul dari pundaknya!
Matanya jeli, hidungnya bangir dan bibirnya tipis yang selalu tersenyum, namun memperlihatkan kekerasan hatinya.
Mereka melompat ringan sekali turun dari kudanya masing-masing dan si pelayan telah menghampiri mereka buat menerima kuda ke dua tamu ini.
Thio Kim Beng melihat sepasang muda-mudi tersebut, jadi tercekat hatinya.
Dia kenal dengan mereka.
Ternyata ke dua pemudapemudi tersebut yang bertemu dengannya di puncak Heng-san.
Siapakah mereka?
Tentu pembaca telah dapat menduganya.
Benar!
Mereka adalah Ko Tie dan Giok Hoa!
Mengapa mereka tibatiba sekali bisa berada di Lam-yang?
Dan melakukan perjalanan tampaknya hanya berdua?
Ini ada ceritanya tersendiri.
◄Y► Seperti diketahui Giok Hoa ingin sekali merantau, namun tidak berani mengemukakannya di hadapan gurunya mengenai maksudnya itu.
Karenanya, ia selalu gelisah sendirinya, sampai pada malam itu dia telah mengutarakan isi hatinya dan perasaannya pada Ko Tie.
Sedangkan Ko Tie pada malam itu juga telah membuka isi hatinya, malah lebih dari segalanya.
Dia telah menyatakan perasaan cintanya pada gadis tersebut yang memang telah dapat menggetarkan kalbu dan jiwanya!
Pagi itu Ko Tie terbangun agak siang dan dia baru saja salin pakaian.
Gurunya telah duduk menghadapinya dengan tatapan mata yang agak luar biasa.
Gurunya duduk di pembaringannya, yang berseberangan dengan pembaringan Ko Tie.
Dia menyaksikan muridnya tengah salin pakaian, sampai akhirnya setelah Ko Tie selesai dan waktu muridnya itu canggung ditatapi terus seperti itu, Swat Tocu telah tersenyum memanggilnya.
"Ko Tie, ke mari kau!"
Panggilnya sambil menunjuk ke sampingnya, agar pemuda itu duduk di tepi pembaringan di dekatnya.
Ko Tie menghampiri gurunya, dia memberi hormat sambil menanyakan kesehatan gurunya.
Barulah dia duduk di dekat gurunya dengan hati agak berdebar.
"Aku ingin menyampaikan sesuatu kepadamu!"
Kata Swat Tocu.
"Silahkan suhu!"
"Kulihat beberapa hari ini engkan gelisah sekali, apa yang engkau rasakan?!" Merah muka Ko Tie mendengar pertanyaan gurunya seperti itu, cepat-cepat dia memaksakan diri buat tersenyum, katanya.
"Tidak suhu..... tidak...... tidak ada yang dipikirkan tecu!"
Kata-kata itu agak tergetar, karena dia kuatir justeru rahasia hatinya diketahui gurunya. Swat Tocu tersenyum.
"Muridku, aku sebagai gurumu, telah cukup lama hidup bersamamu. Aku telah mengenal tabiat dan watakmu, sifatsifatmu! Karena dari itu, engkau jangan coba-coba mendustai aku! Dan aku pun ingin menanyakan kepadamu, apakah menurut anggapanmu puncak Heng-san ini sesuai denganku……!"
"Tecu...... tecu tidak mengetahui dengan pasti, tetapi menurut tecu justeru tempat ini cukup baik!"
"Bagus! Jika demikian. Apakah engkau menghendaki kita tinggal di sini?!"
Mendengar perkataan "kita"
Yang diucapkan gurunya dengan tekanan nada yang lebih panjang, mulut Ko Tie berobah merah lagi.
"Terserah pada suhu, jika memang suhu cocok dengan tempat ini, tecu hanya menurut saja.
Tapi menurut tecu memang tempat ini cukup baik buat suhu.....!"
"Hemmmm, engkau memperlihatkan Heng-san sebagai tempat yang baik buatku. Apakah dibalik semua ini terkandung maksudmaksud tertentu?"
Pipi Ko Tie berobah merah lagi.
"Ti…… tidak suhu!"
"Sungguh?!"
Ko Tie tidak berani berdusta, memang sejak dia dididik oleh Swat Tocu, dia mengenal baik watak gurunya ini, yang paling tidak senang jika dia berdusta.
Maka dia segera juga bangun dari duduknya, dan menekuk ke dua kakinya, dia berlutut di hadapan gurunya.
"Suhu..... ampunilah tecu, memang sesungguhnya tecu mengharapkan suhu dapat menerima Heng-san sebagai tempat hidup mengasingkan diri melewati hari tua, itu memang menjadi harapan tecu!" "Mengapa begitu?!"
"Karena…… karena tempat ini sangat indah dan cocok sekiranya dipergunakan sebagai tempat mengasingkan diri."
"Bohong.....!"
Kata Swat Tocu tersenyum, tapi tidak memperlihatkan kemarahan pada wajahnya.
"Engkau telah mendustai aku lagi!"
Muka Ko Tie berobah merah untuk sekian kalinya, hatinya berdebar.
"Sesungguhnya suhu…… sesungguhnya suhu, jika memang kita tinggal di puncak Heng-san, kita tidak akan kesepian, karena di sini ada Yo Cici dan Giok...... Giok Hoa!"
"Hemm, memang telah kuduga!"
Kata Swat Tocu sambil mengangguk-angguk.
Ko Tie tetap berlutut tanpa berani mengangkat kepalanya menatap gurunya, hatinya tergoncang keras dan dia sangat malu sekali terpaksa telah membuka isi hatinya.
"Sesungguhnya, aku mengerti bahwa engkau adalah seorang pemuda, yang tentu tidak dapat hidup senang dan gembira di tempat yang sunyi! Itu memang kuketahui! Dan engkaupun memang perlu merantau, buat menambah pengetahuan dan pengalaman! "
Dengan mempelajari kepandaian yang tinggi, tetapi tanpa pengalaman, maka kepandaian yang telah engkau pelajari itu, tidak ada gunanya!
Juga kepandaian yang liehay setelah engkau miliki tanpa diamalkan melakukan perbuatan menolong orangorang yang membutuhkan pertolongan dan bantuanmu, itulah bukan perbuatan seorang ho-han......
Karenanya, akupun ingin menyampaikan kepadamu, bahwa aku memang merasa cocok dengan tempat ini!"
"Suhu?!"
Ko Tie mengangkat kepalanya memandang kepada gurunya.
"Benarkah…… benarkah itu, suhu?"
"Ya……"
Mengangguk Swat Tocu.
"Aku memang telah menetapkan untuk berdiam di puncak Heng-san ini……!"
"Oh suhu……!"
Ko Tie girang bukan main.
"Bangunlah muridku, duduklah di sini, aku ingin menyampaikan kepadamu banyak persoalan dan kata-kata!" Ko Tie bangun dari berlututnya, dia telah duduk di samping gurunya. Swat Tocu memandanginya beberapa saat barulah dia bilang.
"Muridku, engkau seorang pemuda yang cerdik dan juga memiliki kepandaian yang tinggi! Karena dari itu, engkau harus pandaipandai membawa diri! Engkaupun seorang pemuda yang tampan, yang tentu banyak sekali gadis-gadis yang menghendakimu...... hanya satu pesanku, untuk sementara ini, engkau tidak boleh melibatkan diri dalam percintaan! "
Engkau boleh mencintai seorang gadis, tetapi engkau tidak boleh membiarkan dirimu dilibat oleh cinta!
Engkau masih memerlukan waktu yang cukup panjang, guna berjuang!
Tahukah engkau, bahwa di daratan Tiong-goan sekarang ini banyak para penjajah?
"Waktu aku berada dalam perjalanan ke Heng-san, aku telah bertemu seorang sahabat lama.
Dia menyatakan keinginannya memohon agar aku turun tangan membantu perhimpunan orang gagah, guna membantu mereka berjuang!"
Sayang hatiku telah tawar.
Aku hanya ingin hidup menyendiri di sini......
Namun biarpun aku menolak permintaannya, aku telah mengatakan kepada sahabatku itu, bahwa aku akan mengirim muridku sebagai wakilku!"
Ko Tie mengawasi gurunya beberapa saat lamanya kemudian dia bilang.
"Jika demikian...... jika demikian suhu hendak perintahkan tecu pergi turun gunung buat membantu Ho-han itu?"
"Tidak salah!"
Menyahuti Swat Tocu.
"Karena dari itu, ingatlah pesanku, bahwa sekarang ini bukan waktunya buat bermain cinta!"
Pipi Ko Tie terasa panas, dia merasa telah tersindir oleh gurunya.
"Ya, ya……!"
Menyahuti pemuda itu.
"Dengarlah baik-baik Ko Tie! Aku telah melihat gerak-gerikmu, atau juga gerak-gerik Giok Hoa. Di antara kalian berdua seperti juga masing-masing memiliki perasaan sama! "
Aku mengetahui bahwa kalian merupakan remaja yang membutuhkan cinta kasih.
Kalian juga wajar jika saling menyintai!
"Tetapi yang engkau harus ingat, kalian tidak boleh terperosok oleh perbuatan hina.
Karena itu, kau harus menjaga hubunganmu dengan nona Giok Hoa baik-baik!
Kelak jika memang telah waktunya dan di waktu itu engkau telah mengenal lebih baik lagi sifat-sifat dari nona Giok Hoa, barulah kalian menikah!
Mengertikah engkau, Ko Tie?"
Ko Tie mengangguk.
"Mengerti suhu……!"
Menyahuti Ko Tie sambil menunduk.
"Sekarang ini yang terpenting engkau harus mengerahkan seluruh perhatianmu buat membantu perjuangan para Ho-han, yang akan berusaha mengusir kaum penjajah itu……!"
Menegaskan Swat Tocu.
"Engkau tentu ingat betapa perjuangan Kay-pang, juga perjuangan para tokoh-tokoh sakti seperti Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko, Kwee Ceng, Oey Yok Su, dan lain-lainnya. Karena dari itu, sebagai murid tunggalku, engkau harus memperlihatkan kepada dunia, bahwa Swat Tocu tidak percuma memelihara dan mendidik seorang murid, sebab muridnya itu akan menjadi manusia yang berjiwa luhur dan lihay, yang berjuang membantu para kaum pendekar dalam hal mengusir penjajah! Engkau harus menjadi manusia yang memiliki jiwa yang bersih dan dihormati di dalam rimba persilatan!"
Mendengar kata-kata gurunya yang terakhir, yang nada suaranya semakin meninggi.
Ko Tie terkejut.
Belum pernah gurunya bicara bersungguh-sungguh seperti itu, karenanya dia cepat-cepat bangun dari duduknya dan telah berlutut lagi.
"Ko Tie berjanji akan mengingat selalu pesan suhu, juga tecu akan segera melaksanakan perintah suhu guna membantu kaum pendekar mengusir penjajah.....
"Tecu berusaha akan menjaga nama baik suhu, berusaha untuk memiliki nama yang bersih di dalam rimba persilatan. Jika memang tecu terpengaruh suatu perbuatan yang tidak baik, biarlah tecu mati dengan tubuh tidak diterima langit dan bumi!"
"Bagus! Bangunlah muridku!"
Kata Swat Tocu kemudian sambil mengusap kepala muridnya.
"Dengan demikian, engkau tentu tidak akan mengecewakan harapanku.......!"
Ko Tie telah duduk di samping gurunya lagi, di waktu itu Swat Tocu telah berkata pula.
"Ko.Ti, sebetulnya, aku menginginkan engkau menjadi seorang yang terpandai di dalam rimba persilatan agar semua orang melihat Swat Tocu bukan orang sembarangan dalam mendidik murid, di mana engkau berhasil muncul sebagai pendekar muda, yang walaupun usianya masih muda, namun kepandaiannya sudah luar biasa! "
Karena itu, engkau juga harus membuktikan, betapapun engkau memang akan sekuat tenaga membantu para pendekar itu!
Kemuliaan dan juga nama baik, merupakan hal yang terpenting, karena dari sanalah tercermin akan jiwamu yang baik……!"
"Tecu akan mengingat selalu nasehat suhu!"
"Ya, dan engkau lusa boleh turun gunung dan kau boleh pamitan pada Yo Kouw-nio dan muridnya itu! Dan untuk sementara waktu ini, engkau harus menindih perasaanmu. Tidak boleh engkau menuruti hati kecilmu belaka, yang belum lagi dapat melakukan perbuatan besar engkau bermain cinta!"
"Tecu akan mematuhi pesan suhu!"
Kata Ko Tie. Waktu Ko Tie ingin memohon pamit kepada gurunya buat keluar dari kamarnya, tiba-tiba terdengar suara langkah yang ringan, dan pintu kamar diketuk seseorang dari luar.
"Swat Locianpwe........ bisakah boanpwe mengganggu sebentar?"
Terdengar suara Yo Kouw-nio, dari luar kamar. Swat Tocu kaget dia menyahuti dengan segera.
"Ya, ya, rupanya Yo Kouw-nio mempunyai persoalan yang penting! Ko Tie, cepat bukakan pintu buat Yo Kouw-nio!" Segera juga tanpa berayal Ko Tie membuka daun pintu kamar. Tampak Yo Kouw-nio dengan pakaian serba kuning, tengah berdiri tersenyum. Ko Tie memberi hormat kepadanya dan mempersilahkan masuk. Setelah memberi hormat kepada Swat Tocu, Yo Kouw-nio duduk di kursi yang disediakan Ko Tie.
"Swat Locianpwe, ada sedikit persoalan yang hendak kusampaikan kepadamu dengan empat mata saja. Bisakah?"
Tanya Yo Kouw-nio sambil melirik ke arah Ko Tie.
Swat Tocu mengangguk, sedangkan Ko Tie sendiri mengetahui bahwa Yo Kouw-nio tentunya ingin menyampaikan sesuatu yang penting hanya empat mata dengan gurunya.
Walaupun hatinya bertanya-tanya entah apa yang ingin disampaikan Yo Kouw-nio kepada gurunya.
Dia telah memberi hormat kepada Swat Tocu dan Yo Kouw-nio, lalu keluar dari kamar.
Setelah Ko Tie mengundurkan diri, Yo Kouw-nio tersenyum, belum lagi dia bicara.
Swat Tocu telah bilang.
"Yo Kouw-nio. silahkan kau mengemukakan apa yang ingin kau sampaikan? Tampaknya urusan yang cukup penting……!" Yo Kouw-nio mengangguk.
"Semua ini menyangkut urusan muridku…… Giok Hoa!"
Menjelaskan Yo Kouw-nio.
Muka Swat Tocu berobah.
Dia kaget dan heran.
Dia pun segera memiliki dugaan yang tidak baik, bahwa Ko Tie tentu telah melakukan sesuatu yang kurang ajar pada Giok Hoa, sehingga gurunya si gadis perlu buat menyampaikan teguran padanya.
Dengan muka merah ia tertegun sejenak.
Namun segera Swat Tocu bisa mengendalikan hati pada perasaannya.
"Yo Kouw-nio, ceritakanlah, apakah muridku...... Ko Tie, telah melakukan sesuatu….. sesuatu yang kurang ajar dan hina pada muridmu?"
Yo Kouw-nio cepat sekali menggelengkan kepalanya sambil mengulap-ulapkan tangannya.
"Ohhh, bukan….. bukan.....!"
Katanya cepat.
"Urusan ini tidak ada sangkut pautnya dengan murid locianpwe!"
Tenang hati Swat Tocu. Ketegangannya yang menguatirkan Ko Tie melakukan sesuatu yang hina dan bisa memalukannya jadi hilang. Sambil tersenyum dia bilang.
"Nah, sekarang Yo Kouw-nio silahkan menyampaikan urusan yang ingin kau ceritakan itu!"
"Maafkan sebelumnya locianpwe karena ini sebenarnya merupakan urusan dalam rumah tangga perguruan boanpwe, tapi karena adanya locianpwee di sini, maka boanpwe bermaksud hendak meminta pertimbangan dari locianpwe mengenai murid Boanpwe itu! "
Sesungguhnya selama beberapa hari belakangan ini, boanpwe telah memperhatikan murid boanpwe, dia tampak selalu gelisah.
Tadi pagi, boanpwe telah mendesaknya dan dia baru mengakuinya terus terang…… bahwa dia……!"
"Kenapa?!"
Tanya Swat Tocu mulai tidak tenang. Dia menduga murid Yo Kouw-nio mengakui telah menjalin hubungan mesra dengan Ko Tie.
"Dia mengatakan, bahwa dia ingin sekali pergi merantau, untuk mencari pengalaman!"
Menjawab Yo Kouw-nio.
"Oh begitu?!"
Swat Tocu bernapas lega.
"Ya..... dan boanpwe berpikir, memang keinginannya itu wajar, juga sangat bagus. Bukankah seseorang yang telah selesai mempelajari ilmu silat, harus berkelana, buat mencari pengalaman, disamping juga mengamalkan kepandaiannya itu, melakukan perbuatan yang mulia menolong orang-orang yang tengah dalam kesulitan? Karena dari itu juga, boanpwe ingin meminta pendapat locianpwe!"
"Bukankah kau bisa saja membiarkan dia turun gunung, dengan pesan setiap tahun dia harus kembali ke puncak Heng-san ini buat menjengukmu?"
Kata Swat Tocu.
"Bukan begitu locianpwe.......... Persoalannya bukan demikian! Jika tokh kelak dia menjenguk boanpwe selama dua tahun sekali, boanpwe juga tidak keberatan! Tetapi Giok Hoa belum pernah turun gunung, dia belum pernah berkelana, dia tidak mengenal dunia luar…… "
Terlebih lagi sekarang ini, di mana dia harus merantau seorang diri. Tentu sangat membahayakan dirinya! Dia belum memiliki pengalaman yang berarti."
"Maksudmu?"
"Karena dari itu…… boanpwe meminta pertimbangan locianpwe….. Maafkan locianpwe atas kelancangan boanpwe. "
Bagaimana jika memang murid locianpwe, Ko Tie, ikut serta dengan murid boanpwe, menemani sementara waktu membimbingnya.
Agar murid boanpwe itu tidak seperti si buta menunggang kuda, yang tidak mengetahui arah tujuan?
Bukankah murid locianpwe memang selalu berkelana dan telah memiliki pengalaman yang walaupun belum banyak, namun setidaknya dia telah mengenal keadaan di dalam rimba persilatan……"
Swat Tocu mengangguk-angguk mengerti. Dia berpikir sejenak lamanya sampai akhirnya dia bilang.
"Baiklah! Nanti aku akan perintahkan Ko Tie agar dia pergi menemani Giok Hoa selama muridmu itu ingin merantau! Tetapi tentu saja, kita berdua harus memesannya, agar mereka tidak terlalu rapat dikala merantau, karena jika mereka berdua berhubungan terlampau bebas, akan menyebabkan kita yang sibuk jika kelak Giok Hoa membawa tambur sebelum nikah!"
Pipi Yo Kouw-nio berobah merah mendengar kelakar Swat Tocu, tapi dia tersenyum mengiringi tertawa Swat Tocu. Waktu itu Swat Tocu setelah tertawa, dia bilang lagi.
"Dan yang terpenting sekali adalah engkau yang harus memberikan nasehat-nasehat kepada muridmu itu, nona Yo……! Karena walaupun bagaimana, dia yang harus membatasi diri, agar dia tidak bergaul terlalu rapat dengan Ko Tie….
"Dengan nona Giok Hoa membatasi diri, tentu tidak akan terjadi hal-hal yang tidak menggembirakan! Bukankah begitu Yo Kouwnio?"
Yo Kouw-nio mengangguk mengiyakan.
Begitulah, ke dua orang ini Yo Kouw-nio dan Swat Tocu telah merundingkan lebih jauh bagaimana ingin mengatur dan menasehati murid-murid mereka.
Tapi di antara mereka telah dicapai kata sepakat, bahwa mereka akan memerintahkan muridmurid mereka turun gunung.
Lebih jauh Swat Tocu juga menjelaskan kepada Yo Kouw-nio, bahwa dia telah memilih puncak Heng-san sebagai tempatnya, di mana dalam tiga hari ini dia ingin membangun sebuah rumah sederhana di puncak gunung Heng-san, karena dia memang bermaksud menetap di sana.
Hidup mengasingkan diri di tempat hening dan sunyi itu, menjadi tetangganya Yo Kouw-nio.
Yo Kouw-nio menyambut gembira niat dari pendekar tua yang sakti itu, di mana diapun telah menyatakan kesediaannya buat membantu Swat Tocu membangun rumahnya di puncak gunung Heng-san.
"Terima kasih, tidak usah, karena aku bersama dengan Ko Tie saja telah cukup. Dalam dua hari rumah sederhana itu telah sudah selesai dibangun dan Ko Tie boleh segera menemani muridmu turun gunung.......!"
Yo Kouw-nio mengangguk, dia pun pamitan sambil memberi hormat, karena dia bermaksud akan memberitahukan kepada muridnya.
Keinginan muridnya dapat dikabulkan, asalkan muridnya itu turun gunung didampingi oleh Ko Tie.
Juga dia bermaksud akan memberikan nasehat-nasehat kepada Giok Hoa.
Agar muridnya itu kelak kalau merantau berdua dengan Ko Tie, dapat menjaga harga dirinya sebagai seorang gadis.
Dapat juga membatasi diri tidak terlalu bebas bergaul dengan Ko Tie.
Walaupun sang guru ini juga menyatakan pada muridnya itu, bahwa dia tidak keberatan kalau antara Giok Hoa dengan Ko Tie terjalin hubungan yang baik.
Sedangkan Giok Hoa waktu mendengar gurunya meluluskan permintaannya, buat turun gunung dan merantau, bukan main girangnya.
Dia sampai menangis dan mengucapkan terima kasihnya tidak hentinya.
Swat Tocu siang itu bersama-sama Ko Tie membangun rumah di puncak Heng-san.
Sebuah rumah yang sederhana sekali, juga mempergunakan batu gunung dan kayu-kayu yang terdapat di sekitar tempat itu.
Karena kepandaian dan tenaga mereka yang luar biasa, pekerjaan itu dapat dilakukan mereka dengan mudah dan cepat.
Dalam dua hari saja, telah rampung sebuah rumah sederhana yang pantas buat ditinggali oleh Swat Tocu agar tidak kedinginan dan kepanasan.
Di dalam itu Swat Tocu telah memesan kepada Ko Tie bahwa besok pagi muridnya boleh turun gunung.
Namun diapun menyampaikannya, bahwa bersama Ko Tie akan ikut serta Giok Hoa, yang akan turun gunung guna mencari pengalaman.
Berulang kali Swat Tocu menasehati muridnya, agar baik-baik menjaga diri dan memelihara hubungan baiknya dengan Giok Hoa, berhubungan tidak terlalu bebas dan tidak mendatangkan aib dan malu buat gurunya.
Ko Tie berjanji, hatinya bersorak girang, karena dia akan turun gunung berdua dengan Giok Hoa!
Apa yang sama sekali tidak pernah diduganya!
Karena dari itu, dia berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepalanya pada gurunya.
Hanya saja dia masih bisa menahan diri tidak sampai mengucapkan terima kasih atas kebaikan hati gurunya yang ternyata telah mengaturnya sedemikian rupa, sehingga membuat dia bisa turun gunung dan berkelana berdua dengan Giok Hoa.
Giok Hoa sendiripun tak menyangka bahwa gurunya akan mengijinkannya turun gunung, malah Ko Tie yang katanya akan menemani si gadis, yang akan merupakan teman seperjalanan yang pasti menggembirakan dan menyenangkan itu.
Begitulah, sepasang muda mudi pada keesokan harinya, telah turun gunung.
Masing-masing telah mengucapkan selamat berpisah kepada guru mereka.
Giok Hoa sendiri menitikkan butir-butir air mata, karena terharu juga buat berpisah dengan gurunya.
Hanya saja justeru keinginannya buat berkelana memang jauh lebih besar menggebu-gebu di hatinya, membuat dia menguatkan hatinya untuk berpisah sementara dengan gurunya.
Setelah sampai di sebuah kampung di kaki gunung Heng-san, mereka membeli dua ekor kuda.
Mereka melakukan perjalanan dengan menunggang kuda.
Dan Ko Tie banyak bercerita mengenai dunia persilatan, yang didengari oleh si gadis dengan gembira.
Banyak yang mereka percakapkan, karena ada saja yang selalu ditanyakan si gadis.
Tampaknya Giok Hoa gembira sekali, karena sekarang dia bisa melihat betapa dunia yang terbuka lebar, membutuhkan dia dengan kepandaiannya guna melakukan perbuatan-perbuatan mulia dan luhur, membela orang-orang yang tengah dalam kesulitan…… Apalagi sekarang di sisinya ada Ko Tie, dengan demikian jelas akan membuat dia tidak memperoleh kesulitan dalam melaksanakan tugasnya berkelana di dalam rimba persilatan.
Ko Tie sendiri, karena telah menerima nasehat dan pesan dari gurunya, walaupun dia girang dapat melakukan perjalanan berdua dengan si gadis pujaan hatinya, dia membatasi diri, tidak berani bersikap lebih dari antara sesama dua orang sahabat belaka.
Giok Hoa sendiri juga telah menerima nasehat dari gurunya, diapun membatasi diri.
Karena dari itu, selama dalam perjalanan, mereka tampaknya seperti juga kakak dan adik saja.
Hubungan mereka dan sikap mereka hanya terbatas sebagai sikap seorang sahabat terhadap kawannya.
Setiap mereka singgah di rumah penginapan, mereka mengambil dua kamar.
Ko Tie satu kamar, juga Giok Hoa satu kamar.
Dan tentu saja, kalau seandainya Ko Tie memesan satu kamar, Giok Hoa yang akan menentangnya.
Hanya saja, sejauh itu tidak pernah terjadi Ko Tie menginginkan mereka tidur sekamar, karena Ko Tie selalu berpesan agar pelayan mempersiapkan dua kamar tanpa memperdulikan pandangan heran dari pelayan dan para tamu, yang melihat sepasang muda mudi ini berpisah kamar, karena setiap mereka datang di suatu tempat, banyak yang menduga, jika mereka berdua bukan kakak beradik tentunya sepasang suami-isteri muda.
Banyak juga yang mereka lakukan selama dalam perjalanan, yaitu membela orang-orang yang tengah dalam kesulitan, dengan demikian menambah kegembiraan Giok Hoa, karena gadis ini baru pertama kali merantau.
Ko Tie juga banyak sekali memberitahukan tentang peraturanperaturan di dalam rimba persilatan, yaitu tidak dapat sembarangan seseorang mencampuri urusan balas dendam dari golongan yang satu dengan golongan yang lain.
Dan semua ini merupakan salah satu pantangan dari orang-orang yang berkelana di dalam rimba persilatan.
Apa lagi mencampuri dendam pribadi, akan membuat timbulnya salah pengertian yang memungkinkan orang tersebut yang bermaksud baik mencampuri urusan itu, akan dimusuhi ke dua belah pihak!
Justeru sekarang mereka tiba di Lam-yang dan gadis itu merasa telah lapar mengajak Ko Tie singgah di sebuah rumah makan.
Siapa tahu kedatangan mereka dilihat oleh Thio Kim Beng, yang kenal siapa mereka!
Pengemis tua itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, agar Ko Tie dan Giok Hoa tidak melihatnya.
Si gadis dan Ko Tie telah memasuki rumah makan itu.
Benar mereka melewati si pengemis tua yang berdiri di pinggir pintu, tapi mereka tidak melihat siapa adanya pengemis tua itu, sebab mereka memang tidak memperhatikannya.
Thio Kim Beng sendiri mengenali bahwa pemuda itu adalah Ko Tie, murid dari Swat Tocu, orang yang telah membuat dia penasaran.
Sedangkan si gadis itu adalah muridnya Yo Kouw-nio, si gadis anak angkatnya Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko.
Seketika itu juga melihat Ko Tie dan Giok Hoa, timbul penasarannya, karena dia segera ingat betapa ia diperlakukan tidak pantas oleh Swat Tocu.
Karenanya, timbul juga sifat isengnya.
Dia ingin mempermainkan muda mudi itu.
Segera juga dia telah menyingkir dan meninggalkan rumah makan tersebut.
Dikala itu, pelayan telah melayani Ko Tie dan Giok Hoa, ke dua tamu ini yang berpakaian sangat bersih, dan juga tampaknya merupakan orang-orang yang memiliki uang tidak sedikit, telah dilayani oleh pelayan dengan hormat sekali.
Memang dugaan pelayan itu tidak meleset karena tidak lama kemudian, setelah bersantap Giok Hoa menghadiahkan pelayan itu dua tail.
"Dimana rumah penginapan yang cukup baik di kota ini?"
Tanya Giok Hoa setelah dia memberikan hadiahnya itu.
"Ohhh, banyak nona, banyak!"
Kata pelayan itu segera.
"Tiga rumah terpisah dari rumah makan ini, terdapat sebuah rumah penginapan yang cukup baik, kamarnya bersih-bersih!"
Giok Hoa mengangguk.
Dan dia mengajak Ko Tie buat meninggalkan rumah makan itu.
Waktu itu, Ko Tie telah membereskan pauw-hoknya, dia kemudian menentengnya.
Mereka keluar dari rumah makan.
Namun dari arah luar, ketika mereka tengah melewati pintu, mendatangi seorang pemuda berpakaian necis dan sikapnya keagungagungan.
Di belakang orang itu mengikuti beberapa orang laki-laki bertubuh tegap.
Lagak orang yang berpakaian mewah itu, sangat tengik sekali.
Dan malah, dia berjalan di tengah-tengah tanpa memperdulikan dari dalam tengah keluar Giok Hoa dan Ko Tie, sehingga pundaknya terbentur sedikit oleh Ko Tie.
"Ehhhh, manusia kurang ajar?
Mengapa kau berani begitu kurang ajar tidak mau menyingkir melihat tuan mudamu ingin masuk, sehingga engkau telah mengotori bajuku?!"
Bentak pemuda berpakaian mewah tersebut. Ko Tie tersenyum, dia bilang.
"Maafkan, kamipun kebetulan sekali hendak keluar....... Kami tidak sengaja, maklum pintu ini memang tidak terlalu besar.....!"
Tetapi pemuda yang berpakaian mewah itu, yang berusia kurang lebih tigapuluh tahun, tidak mau mengerti juga.
Baru saja dia mau memaki, dia melihat Giok Hoa, yang cantik jelita.
Bola matanya seketika memain, dan dia batal memaki lebih jauh.
Dia malah tersenyum katanya.
"Eh, eh, kukira siapa, tidak tahunya dengan seorang nona manis! adikmu? Atau memang kawanmu?"
Ko Tie melihat lagak pemuda itu yang demikian ceriwis, jadi mendongkol bukan main. Dia tidak menyukai pemuda itu, dan dia telah berkata.
"Ya, adikku……!"
Sambil hendak berjalan meninggalkan pemuda tersebut. Sikap Ko Tie yang acuh tak acuh, membuat pemuda itu mendongkol lagi. Dia menarik lengan baju Ko Tie, sambil menggentak dan membentak.
"Tunggu dulu! Apakah setelah bersalah kepada tuan mudamu engkau hendak pergi begitu saja tanpa meminta maaf dengan menjura sebanyak tiga kali?!"
Tubuh Ko Tie tertarik perlahan. Sikap kasar dari pemuda ini membuat Ko Tie pun tambah tidak senang. Dia telah memutar tubuhnya menghadapi pemuda itu, katanya.
"Ini adalah rumah makan umum, dan pintu ini memang satu. Jika saling bersentuhan apa salahnya? Mengapa engkau bertindak keterlaluan seperti itu? Aturan mana yang engkau pergunakan?!"
Mendengar teguran Ko Tie yang sama sekali tidak memperlihatkan perasaan jeri atau takut padanya, pemuda berpakaian mewah tersebut melengak, namun segera dia tersadar dari tertawa bergelak-gelak.
"Bagus! Bagus! Rupanya engkau belum mengenal siapa tuan mudamu ini, heh?"
Kata pemuda itu dengan congkak dan membusungkan dadanya. Ko Tie tersenyum sinis, katanya.
"Ya, memang kami belum lagi mengetahui siapa kau, dan jika engkau mau memperkenalkan diri, sebutkanlah namamu, karena kami juga ingin sekali mengetahui sebenarnya siapa engkau ini seorang pemuda yang congkak dan tidak tahu aturan!" "Apa kau bilang? Kau berani berbuat kurang ajar di hadapan majikan kami?"
Berseru seorang lelaki bertubuh tinggi tegap yang berada di dekat pemuda itu.
Malah sambil membentak dia mengulurkan tangan kanannya, bermaksud mencengkeram baju di dada Ko Tie.
Ko Tie memiringkan tubuhnya sedikit.
Jambretan tangan itu gagal mengenai sasarannya dan jatuh di tempat kosong.
Hal ini membuat orang itu jadi penasaran.
"Ehhhh…… engkau berani melawan, heh?"
Bentaknya, tinju tangan kirinya melayang akan menghantam muka Ko Tie.
Tindakan orang ini sudah melampaui batas, karenanya Ko Tie juga tidak bisa berdiam diri dan mengalah terus.
Dia memiringkan kepalanya, menghindar dari tinju orang itu dan membarengi dengan itu, cepat sekali tangan kirinya menyampok.
"Dukkkk!"
Tubuh orang tersebut seketika kena disampoknya terpental keras sekali dan terbanting di tanah.
Dalam keadaan seperti itu segera juga tampak, tubuh orang itu menggelepargelepar di tanah tanpa bisa segera bangun, seperti orang ayan.
Dan juga, dia mengerang-erang kesakitan.
Dari mulutnya telah memuntahkan darah, hidungnya juga mengucurkan darah.
Sebab waktu dia jatuh terjerembab akibat terkena sampokan tangan Ko Tie, dia mencium tanah, sehingga hidungnya bocor dan darah mengucur keluar!
Bukan main kagetnya pemuda berpakaian perlente itu.
Dia memandang tersenyum dan mundur dua langkah karena kuatir Ko Tie memukulnya.
Sedangkan empat orang laki-laki lainnya yang semuanya bertubuh tinggi tegap, tampaknya pengawal pemuda itu, segera melompat mengurung Ko Tie.
Merekapun bergerak buat menyerang Ko Tie.
Tapi Ko Tie bersikap tenang sekali.
Dia telah menggerakkan pauwhoknya, menghantam sekaligus ke empat orang itu sehingga jungkir balik semuanya.
Pemuda berpakaian perlente itu semakin ketakutan, dia tidak menyangka Ko Tie merupakan seorang pemuda yang tangguh.
"Kau….. kau berani memukul anak buah Cin Wan-gwe?"
Bentak seorang tukang pukul pemuda itu, yang telah melompat bangun.
"Benar-benar engkau mencari mampus!" "Hemmm, aturan apa yang kalian pergunakan sehingga malang melintang sekehendak kalian dan juga turun tangan mau memukul orang tidak pada tempatnya?!"
Tegur Ko Tie.
Orang yang bertubuh tinggi tegap itu, yang tadi membentak, dengan muka merah padam dan menakutkan telah mencabut goloknya.
Dengan goloknya dia membacok.
Semua orang yang menyaksikan hal ini mengeluarkan jerit kaget, begitu juga para pelayan dan tamu-tamu di rumah makan atau orang-orang yang kebetulan lewat di depan rumah makan tersebut menyaksikan peristiwa tersebut.
Sedangkan pemuda berpakaian perlente itu tampak senang, hilang kagetnya, karena melihat anak buahnya mempergunakan goloknya.
Dia yakin pemuda yang tangguh itu dapat dilukainya.
Giok Hoa berdiri di pinggir, dengan tenang dia mengerti segala macam bangsa buaya darat ini tak mungkin berdaya menghadapi Ko Tie.
Dan Ko Tie tentunya tidak akan memperoleh kesulitan.
Maka dari itu si gadis tetap berdiri tenang-tenang di tempatnya.
Ko Tie melihat menyambarnya golok, sama sekali dia tidak berusaha menyingkir, dia mengawasi saja golok yang tengah meluncur menyambar kepada dirinya.
Setelah golok itu menyambar dekat, tahu-tahu Ko Tie mengulurkan tangannya.
Dia mementang ke dua jari tangannya, jari telunjuk dan jari tengah, menjepit golok itu.
Para pelayan rumah makan dan para tamu kaget tidak terhingga.
Mereka membayangkan tentu tangan Ko Tie akan terbabat pecah dan robek oleh golok itu.
Karenanya, mereka sampai ada yang menutup matanya dengan tangan tidak berani menyaksikan lebih jauh dan juga mereka telah mengeluarkau seruan tertahan.
Di kala itu golok yang telah dijepit oleh Ko Tie ternyata tidak bisa bergerak lebih jauh lagi, karena golok itu seperti telah dijepit oleh jepit besi.
Orang yang tadi membacok itu kaget.
Dia semula girang karena melihat pemuda lawannya mengulurkan jari tangannya hendak menjepit goloknya.
Dia mengerahkan tenaganya lebih besar, sehingga golok itu menyambar lebih cepat.
Dia yakin tangan pemuda itu akan buntung terbelah dua.
Tapi kagetnya tidak terkira waktu goloknya itu terjepit sangat kuat sekali oleh jari tangan Ko Tie seperti juga goloknya tengah dijepit oleh japitan besi, sama sekali tidak bisa bergerak.
Mati-matian dia menarik goloknya itu, agar terlepas dari jepitan jari tangan pemuda tersebut tapi tetap saja tidak berhasil.
Golok itu telah terjepit kuat sekali.
Bahkan diwaktu itu telah beberapa kali dia menambah tenaganya, mengemposnya dengan kuat, namun tetap tidak berhasil, membuat dia tambah penasaran dan mulai jeri.
Ko Tie tertawa dingin, katanya.
"Hemmm manusia kejam, dengan sembarangan engkau memainkan senjata tajam buat bertindak sewenang-wenang. Jika saja orang yang engkau serang itu seorang yang tidak memiliki kepandaian apa-apa, tentu ia telah bercelaka dan terjadi urusan jiwa...... maka manusia seperti engkau harus dihajar.......!"
Sambil berkata begitu, Ko Tie telah mengerahkan tenaga dalamnya pada ke dua jari telunjuk dan jari tengahnya. Dia menggentaknya sedikit, maka terdengar suara "Tranggg!"
Nyaring sekali golok itu telah menjadi patah dua.
Semua orang yang menyaksikan peristiwa tersebut jadi memandang bengong.
Mereka kaget dan kagum, sebab dengan hanya menggunakan jari tangannya, Ko Tie bisa mematahkan golok tersebut.
Pemuda berpakaian parlente itu juga jadi ciut nyalinya, dia segera tersadar bahwa Ko Tie merupakan seorang yang tangguh dan tentunya bukan pemuda sembarangan.
Kawan-kawan orang bertubuh tinggi besar itu juga tergetar hati mereka, dan nyalinya telah ciut.
Mereka tidak berani maju menyerang lagi, semuanya hanya memandang bengong.
Ko Tie sendiri tanpa menoleh lagi telah mengajak Giok Hoa buat berlalu meninggalkan rumah makan tersebut.
Semua orang hanya mengawasi bengong saja.
Ko Tie mengajak Giok Hoa sambil menuntun kuda mereka masingmasing, pergi ke rumah penginapan yang letaknya tidak jauh dari rumah makan itu, hanya terpisah empat rumah saja.
Mereka meminta pada pelayan rumah penginapan tersebut, agar disiapkan dua kamar untuk mereka.
Pelayan rumah penginapan itu juga tadi waktu ada ribut-ribut telah keluar melihatnya dan mengetahui bahwa Ko Tie seorang pemuda yang memiliki kepandaian tinggi.
Biasanya tidak ada seorangpun di kota ini yang berani melawan anak buah Cin Wan-gwe, pemuda berpakaian perlente itu.
Namun Ko Tie dengan mudah merubuhkan anak buah dari Cin Wan-gwe itu.
Dengan demikian pelayan tersebut memperlakukannya dengan hormat sekali.
Ko Tie dan Giok Hoa memperoleh dua kamar yang saling sebelah menyebelah.
Dan mereka duduk bercakap-cakap di luar kamar, di sebuah meja yang memang disediakan oleh penginapan tersebut.
Tengah mereka bercakap-cakap menceritakan kelancangan pemuda kurang ajar dan juga anak buahnya itu tiba-tiba pelayan rumah penginapan yang tadi melayani mereka, telah berlari-lari masuk.
Wajahnya pucat pias, sikapnya yang gugup bukan main.
Dia berkata dengan terbata-bata.
"Celaka Kongcu, Kouw-nio…… celaka...... mereka….. mereka datang……!"
Ko Tie tersenyum.
"Tenanglah, katakanlah apa yang terjadi!"
Kata Ko Tie kemudian menenangkan pelayan itu.
Pelayan tersebut dengan wajah masih pucat dan tubuh mengigil takut, telah berkata dengan suara masih tergagap.
"Cin Wan-gwe.....
mereka datang......!
Cin Wan-gwe datang bersama belasan orang tukang pukulnya.
Semuanya membekal senjata tajam.
Mereka.....
mereka galak sekali, tentu rumah penginapan ini akan mengalami kerusakan…..
"Harap Kongcu dan Kouw-nio segera angkat kaki saja meninggalkan rumah penginapan ini melalui jendela! Karena mereka sekarang masih berada di luar! "
Jika memang kalian tidak sempat melarikan diri, niscaya akan menyebabkan mereka keburu masuk, kalian tidak akan dapat menyelamatkan jiwa masing-masing…… Mereka biasa membunuh manusia seperti membunuh binatang.....!"
Ko Tie tersenyum dan berterima kasih atas maksud baik pelayan itu, yang menganjurkannya agar melarikan diri, dan menghindar dari Cin Wan-gwe dan orang-orangnya itu.
Dia merogoh sakunya, mengeluarkan lima tail perak.
"Ini untukmu, Lopeh…… terima kasih buat kebaikan hatimu!"
Kata Ko Tie. Pelayan itu jadi bengong, mukanya masih pucat, dia mengawasi Ko Tie dan uang di tangannya. "Ini..... ini……!"
Katanya gugup sekali, karena pemuda ini bukan cepat-cepat mengajak si gadis melarikan diri dengan ketakutan, malah dengan tersenyum tenang telah menghadiahkannya uang banyak itu.
"Ambillah, kami akan menghadapi mereka, Lopeh jangan kuatir, kami tidak akan mengalami sesuatu yang tidak enak……!"
Baru saja Ko Tie berkata sampai di situ, telah terdengar suara berisik dari luar rumah penginapan. Disusul juga kemudian dengan seruan.
"Mana anjing kurap itu.....! Hari ini tentu kami akan memperlihatkan bahwa Cin Wan-gwe bukan sebangsa manusia yang mudah dihina!"
Dan tampak belasan tubuh menerobos masuk ke dalam rumah penginapan, Beberapa tamu yang kebetulan berada di ruangan tersebut, segera melarikan diri masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.
Ko Tie dengan tenang melangkah maju mendekati orang-orang itu, katanya.
"Aku di sini…… apa yang diinginkan oleh kalian heh? Atau memang tadi kurang puas dan minta dihajar lagi?!" Belasan orang itu mengeluarkan seruan yang berisik sekali, mereka umumnya memiliki wajah yang sangat galak dan tubuh tinggi besar.
"Itu dia…… anjing kurap tidak tahu diuntung, kau akan kami cincang……!"
Sambil berkata begitu, dua orang anak buah Cin Wan-gwe telah melompat ke depan Ko Tie, golok di tangan mereka menyambar cepat sekali, akan membacok kepada pemuda itu.
Ko Tie bersikap tenang, begitu golok menyambar datang, ke dua tangannya bergerak sebat sekali.
Dia telah menepuk ke dua tangan orang itu, yang seketika lenyap tenaganya, karena masingmasing merasakan tangan mereka seperti semper dan golok mereka terlepas dari cekalan masing-masing, berkontrang jatuh di lantai.
Belum lagi ke dua orang itu mengetahui apa-apa, ke dua tinju Ko Tie telah meluncur, masing-masing singgah di dada dari lawannya, sehingga tubuh ke dua orang itu terpental sambil mengeluarkan suara jeritan yang mengandung kesakitan.
Mereka telah terbanting di lantai dan mengerang-erang kesakitan tidak bisa segera bangun.
Sedangkan waktu itu, beberapa orang kawannya dengan segera menerjang maju.
Mereka membacok dan menabas dengan berbagai senjata tajam.
Tetapi Ko Tie dengan lincah mengelakkan ke sana ke mari dari sambaran senjata tajam lawan-lawannya itu.
Dengan demikian, lawannya seperti juga kehilangan sasaran, karena di waktu itu tubuh Ko Tie berkelebat-kelebat dan tidak bisa dilihat dengan jelas.
Disaat itulah Ko Tie turun tangan.
Mereka telah dipukulnya seorang demi seorang, yang pada malang melintang jungkir balik terbanting di lantai.
Suara jeritan mereka juga terdengar beruntun saling susul.
Dalam waktu yang singkat belasan orang itu telah malang melintang menggeletak di lantai tidak bisa bergerak, karena semuanya pingsan.
Saat itu, Cin Wan-gwe, waktu datangnya dengan membusungkan dada dan angkuh, sekarang nyalinya pecah dan ketakutan setelah menyaksikan belasan orang tukang pukulnya menggeletak malang melintang di lantai tanpa berdaya.
Dia berdiri dengan tubuh menggigil keras sekali.
Tadi memang dia penasaran dan telah membawa belasan tukang pukulnya buat membunuh Ko Tie, namun ia tidak menyangka bahwa pemuda itu memang tangguh sekali.
Karena di dalam waktu yang sangat singkat sekali Ko Tie telah berhasil merubuhkan orang-orangnya.
Jelas hal ini membuat dia berbalik jadi ketakutan bukan main.
Ko Tie tertawa dingin, tubuhnya melesat sangat cepat sekali.
Tangannya diulurkan menjambret baju orang she Cin itu yang segera diangkat dan dibantingnya di atas lantai sehingga Cin Wangwe itu menjerit-jerit kesakitan.
Dia juga meraung meminta ampun.
Tapi Ko Tie telah menginjak tubuhnya membuat Cin Wan-gwe tidak bisa merangkak bangun.
Dan dia memohon tidak hentinya kepada Ko Tie agar dia jangan disiksa.
Di waktu itu Ko Tie tertawa dingin, dia bilang.
"Engkau biang keladinya, dan engkau yang harus dibunuh!"
Bukan main ketakutannya Cin Wan-gwe.
Biasanya dia merupakan seorang hartawan kaya yang muda usia, paling galak dan bertindak sewenang-wenang di kota Lam-yang.
Tidak ada yang ditakutinya, karena dia memang memiliki banyak sekali kaki tangan dan tukang pukul yang selalu siap buat menindas orang-orang yang tidak disukai oleh Cin Wan-gwe.
Malah, diapun telah mempergunakan kekuatan uangnya buat mempengaruhi para pembesar.
Dengan demikian, dia bisa saja menjebloskan orang-orang yang tidak disukainya itu ke dalam penjara.
Dan itulah yang akhirnya membuat Cin Wan-gwe jadi tambah kepala besar dan dia telah malang melintang di kota Lam-yang sebagai cabang atas yang ditakuti dan disegani penduduk.
Ketika dia berusia belasan tahun, ayahnya yang kaya raya telah meninggal dunia.
Dengan demikian membuat warisan orang tuanya jatuh di tangannya.
Tapi dia tidak mempergunakan uang warisan itu dengan baik-baik, malah dia berfoya-foya dan juga telah memelihara tukang pukul yang banyak sekali jumlahnya.
Dimana dengan mengandalkan uangnya, dan juga dengan usianya yang masih muda, Cin Wan-gwe telah malang melintang.
Selama itu memang tidak ada orang yang berani menentangnya.
Tapi sekarang ini, siapa tahu justeru dia telah kena batunya, dengan demikian membuatnya benar-benar ketakutan, sebab Ko Tie merupakan pemuda yang tangguh sekali.
Belasan orang tukang pukulnya yang lengkap dengan senjata tajam mereka, dengan mudah sekali telah dirubuhkan oleh Ko Tie.
Dan sekarang Ko Tie mengatakan bahwa dia hendak membunuh Cin Wan-gwe ini, membuatnya jadi ketakutan bukan main.
"Ampun…… aku tidak berani bertindak jahat lagi….. aku akan merobah kelakuanku yang buruk...... dan aku akan menghadiahkan Siauwhiap uang yang cukup banyak……!"
Sesambatan si pemuda she Cin yang kaya raya namun buruk hati dan sifatnya itu.
"Plakkkk!"
Muka Cin Wan-gwe telah ditampar Ko Tie.
Mata Cin Wan-gwe berkunang-kunang, kepalanya juga jadi mabok, karena tamparan itu keras sekali.
Malah dia merasa sakit pada mulutnya, karena bibirnya telah pecah akibat kuatnya tamparan itu dan dua giginya telah copot sebagian.
"Baik! Kali ini aku mengampuni jiwa anjingmu, tapi ingat, jika memang suatu saat engkau melakukan perbuatan yang tidak baik…… hemmmmm, hemmmm, walaupun di waktu itu engkau sesambatan memohon-mohon pengampunan dariku, tentu aku tidak akan mengampuni jiwa busukmu.....! Mengerti?" "Mengerti…… terima kasih Siauwhiap..... terima kasih!"
Kata Cin Wan-gwe sesambatan. Hatinya lega juga mendengar dia akan diampuni.
"Aku berjanji akan merobah kelakuanku dan tidak akan melakukan kejahatan lagi!"
Baru saja dia berkata begitu, dia menjerit.
"Aduhhhhh!"
Yang keras sekali, karena kaki kanan Ko Tie telah melayang menendangnya, sehingga tubuh Cin Wan-gwe terpental keluar pintu rumah penginapan tersebut.
Dengan tenang Ko Tie mengajak Giok Hoa kembali ke tempat duduk mereka.
Sedangkan belasan orang anak buah Cin Wan-gwe telah tersadar.
Mereka juga cepat-cepat angkat kaki, karena menyadari bahwa lawan mereka merupakan pemuda yang tangguh, yang sulit sekali dihadapi.
Giok Hoa tertawa geli.
"Sungguh lucu manusia-manusia busuk itu. Terhadap orang yang lemah, mereka memperlihatkan taring, tetapi jika kena batunya mereka menjadi manusia yang paling pengecut di dalam dunia ini.....!" "Ya, demikianlah keadaan di dalam dunia persilatan. Karena dari itu, betapa pentingnya seseorang mempelajari ilmu silat yang tinggi, sehingga tidak akan menerima perlakuan yang bisa membuatnya penasaran!"
Menyahuti Ko Tie Setelah bercakap-cakap lagi beberapa saat, akhirnya mereka berpisahan buat kembali ke kamar masing-masing, untuk beristirahat.
◄Y► Malam itu keadaan di luar rumah penginapan di kota Lam-yang sangat sepi.
Tamu-tamu di rumah penginapan itu juga telah terlelap di dalam tidur mereka, dan dibuai oleh mimpi-mimpi yang mengasyikkan.
Ko Tie sendiri telah tertidur nyenyak, mereka seharian suntuk melakukan perjalanan yang cukup melelahkan.
Karena dari itu, Ko Tie telah tertidur lelap begitu dia merebahkan tubuhnya di pembaringan.
Tapi Giok Hoa justeru belum bisa tidur, walaupun dia telah memejamkan matanya rapat-rapat dan berusaha tidur.
Entah mengapa, timbul perasaan rindunya kepada gurunya, Yo Kouwnio.
Telah sebulan mereka berpisah, dan sekarang barulah Giok Hoa merasakan, betapa dia merindukan untuk bersama-sama dengan gurunya, bercakap cakap dengan gembira.
Dan juga Giok Hoa tengah memikirkan, betapa di dalam rimba persilatan dia menemui sekali peristiwa-peristiwa yang semula belum pernah dia menyaksikannya.
"Ya, dengan berkelana seperti ini, memang aku akan bertambah pengalaman, tetapi akupun harus berusaha menegakkan keadilan! Dengan demikian, aku tidak mengecewakan harapan suhu, agar aku menjadi seorang yang berbudi luhur dan mulia menegakkan nama besar suhu dan perguruanku.........! Ya, memang aku harus berusaha menjaga nama baik suhu, agar tidak sampai ternoda oleh perbuatan yang tidak terpuji.....!"
Sambil berkata begitu, si gadis tersenyum manis sambil memandangi langit-langit, karena di saat itu dia segera teringat kepada Ko Tie.
Dulu waktu mereka masih berada di puncak Heng-san, Ko Tie pernah menyampaikan isi hatinya.
Dan sekarang, mereka telah melakukan perjalanan berkelana hanya berdua.
Namun sejauh itu Ko Tie memperlihatkan sikap yang sopan dan lembut, sama sekali tidak terlihat tanda-tanda bahwa dia ingin bersikap kurang ajar padanya.
Memang dia pun merasakan, bahwa dia memiliki perasaan aneh terhadap Ko Tie.
Cuma saja, dia ingat benar akan nasehat gurunya, yang berpesan agar dia baik-baik menjaga diri, dan walaupun dia tidak dilarang bergaul intim dan akrab dengan Ko Tie, tetapi harus memiliki batas-batas.
Waktu menasehati dirinya, gurunya juga telah memohon satu janji darinya, yaitu Giok Hoa tidak akan mencemarkan nama baik-baik gurunya dan dapat menjaga diri baik-baik!
"Suhu…… tentu saja aku akan dapat menjaga diri baik-baik!
Memang aku menyukai Ko Tie Koko.......
tetapi, jelas aku akan menghajarnya jika saja dia berani berlaku tidak baik dan kurang ajar padaku, jika perlu membunuhnya!"
Menggumam gadis itu sambil tersenyum manis.
Dan berkelana berdua dengan Ko Tie, pemuda yang disenanginya itu, benar-benar membawa kegembiraan buatnya.
Karena dari itu, dia sendiri semakin kerasan buat berkelana di dalam rimba persilatan.
Rasa rindu kepada gurunya berangsur mulai berkurang pula, karena dia telah dapat mengendalikan hati dan perasaannya.
Si gadis memejamkan matanya dan coba tidur.
Di luar rumah penginapan itu, kegelapan malam, tampak sesosok bayangan berlari-lari lincah sekali di atas genting.
Gerakannya begitu ringan, sehingga kakinya, setiap kali hinggap di genting rumah penduduk dan akhirnya berada di atas genting rumah penginapan tersebut, sama sekali tidak memperdengarkan suara sedikit pun juga.
Itu telah membuktikan bahwa gin-kang orang tersebut tinggi dan mahir sekali.
Satu demi satu jendela kamar di rumah penginapan itu diperiksanya.
Dia seperti tengah mencari-cari dan menyelidiki seseorang yang menginap di rumah penginapan tersebut.
Sampai akhirnya dia mengintai kamar di mana Giok Hoa berada.
Bibir sosok bayangan itu tersenyum, ternyata, di bawah sinar rembulan, dia adalah seorang pengemis tua yang tidak lain dari pada Thio Kim Beng!
Kedatangannya di rumah penginapan ini di malam hari, memang dia hendak mempermainkan Giok Hoa dan Ko Tie.
Dia sengaja menyatroni kamar si gadis.
Di waktu itu, dia juga melihat api penerangan kamar si gadis belum dipadamkan.
Bibir si gadis tengah tersenyum-senyum, dengan sepasang mata yang tertutup rapat, tampaknya ada sesuatu yang tengah dipikirkan oleh si gadis, yang sangat menyenangkan sekali, sehingga dia tersenyum-senyum begitu.
Thio Kim Beng mengangkat tangannya, dia mengetuk tiga kali jendela si gadis.
"Selamat malam, nona……!"
Panggilnya dengan suara perlahan.
Tapi semua itu sempat membuat Giok Hoa melompat dari pembaringannya, seperti juga disengat oleh kalajengking, dengan muka berobah sebentar merah dan sebentar pucat dia telah memandang tajam ke arah jendela!
Diapun berada dalam sikap bersiap-siap buat menghadapi kemungkinan serangan menggelap dan membokong!
Thio Kim Beng yang masih berdiam di luar jendela kamar si gadis, telah memperdengarkan tertawanya, katanya.
"Mengapa terkejut nona manis……!"
Giok Hoa tidak bisa menahan diri lebih lama lagi.
Dia menyambar pedangnya, kebetulan memang dia belum salin pakaian.
Cepat sekali tubuhnya melesat ke jendela kamarnya, di bukanya sambil memutar pedangnya buat melindungi dirinya dari serangan membokong, kemudian tubuhnya melesat keluar dengan muka merah padam karena marah!
Di bawah cahaya rembulan yang redup, dilihatnya sesosok bayangan tengah berlari menjauhi diri.
"Kejarlah jika engkau berani!"
Tantang sosok bayangan itu, yang tidak dapat dilihatnya dengan jelas.
Giok Hoa penasaran, segera juga dia berlari dengan cepat sekali, tubuhnya bagaikan bayangan melesat mengejar orang itu.
Namun sosok bayangan itu berlari dengan pesat sekali.
Semakin cepat Giok Hoa mengejarnya, semakin cepat pula dia berlari.
Begitulah jarak di antara mereka tetap terpisah dalam jarak yang tertentu, di mana gadis ini tidak bisa menghampiri jarak antara mereka.
Semakin lama Giok Hoa semakin penasaran, dan dia telah mengempos seluruh gin-kang nya, berlari sekuat tenaganya berusaha mengejar sosok tubuh itu.
Sampai akhirnya dia mengejar di luar kola Lam-yang.
Waktu melompat keluar dari perbentengan kota, sesungguhnya Giok Hoa sudah ragu-ragu.
Namun sosok tubuh itu terus juga mengejeknya membuat gadis ini jadi tambah penasaran dan marah.
Tanpa memikirkan sesuatu apapun lagi, dia telah mengejarnya dengan pedang terhunus tercekal di tangan kanannya, siap akan dipergunakan menyerang kepada sosok tubuh tersebut, jika saja ia berhasil mengejarnya.
Tapi sosok tubuh tersebut berlari ke arah hutan lebat, dan kemudian hilang tidak tampak jejaknya pula.
Giok Hoa semakin penasaran, dia mencari-cari di sekitar hutan itu.
Namun sudah sekian lama, akhirnya dia kembali ke rumah penginapan dengan jengkel sekali, sebab merasa telah dipermainkan oleh orang yang tidak dikenalnya itu.
Dia mengetuk pintu kamar Ko Tie waktu tiba di rumah penginapan, karena ia memang bermaksud hendak memberitahukan kepada Ko Tie apa yang telah dialaminya itu.
Ko Tie bangun dengan segera, iapun tampak tidur tanpa membuka pakaiannya, karena ia masih berpakaian lengkap, dan dapat membuka pintu kamarnya dalam waktu yang singkat sekali.
Dengan napas masih memburu, si gadis telah menceritakan apa yang telah dialaminya.
Dan juga telah dikatakannya, bahwa orang yang mengganggunya itu tampaknya dilihat dari bentuk tubuhnya adalah seorang laki-laki tua.
"Malah, jika memang tidak salah, aku telah melihat samar-samar. Dia adalah seorang pengemis, karena dalam kegelapan malam kulihat pakaiannya itu penuh tambalan!"
Menambahkan gadis tersebut. Ko Tie tampak terkejut, diapun berseru.
"Celaka!"
"Kenapa?"
Tanya si gadis, yang memandang heran kepada Ko Tie, di mana wajah Ko Tie memperlihatkan ketegangan.
"Cepat kita harus memeriksa kamarmu! Ku duga engkau telah dipancing orang lain…..!"
Menjelaskan Ko Tie sambil menarik tangan si gadis.
Sedangkan Giok Hoa mengikuti saja, dia membuka pintu kamarnya.
Keadaan di dalam kamarnya masih tetap seperti semula, tidak ada perobahan.
Dan juga terlihat daun jendela masih terbuka lebar, dari mana bersilir angin yang sejuk sekali.
"Cepat kau periksa apakah di antara barang-barangmu ada yang hilang?"
Kata Ko Tie kemudian, sambil memandang sekelilingnya.
Giok Hoa heran, tapi dia sangat cerdik, maka cepat sekali dia bisa mengerti apa yang dikuatirkan Ko Tie.
Dia segera pergi ke tepi pembaringannya, buat memeriksa buntalannya.
Namun, si gadis jadi berseru kaget.
Dan dia telah menoleh kepada Ko Tie dengan wajah yang berobah pucat.
"Barangku…… pauw-hokku telah hilang....."
Kata si gadis kemudian. Ko Tie menghela napas dalam-dalam.
"Tentu orang yang memancingmu itu bukan orang baik-baik. Tentunya dia si pencuri tangan panjang…… Dia sengaja memancing kau meninggalkan kamar ini dengan tipu "
Memancing Harimau Meninggalkan Sarangnya", dan dia berhasil.
"Engkau telah kena diperdayanya, di mana engkau kena dipancing meninggalkan kamar ini, kemudian dia menghilang, meninggalkan engkau kembali ke kamar ini buat menggasak barang-barangmu! "
Maka dari itu, di lain waktu engkau harus lebih waspada dan hatihati!
Demikianlah di dalam rimba persilatan memang seringkali terjadi urusan seperti ini…… karena itu, jika saja kita kurang berhati-hati, niscaya akan membuat engkau akhirnya menderita kerugian-kerugian yang tidak kecil!"
Ini bagus, hanya pauw-hokmu saja yang hilang, karena di dalam pauw-hokmu itu tidak terdapat barang berharga yang harus dilindungi!
Jika memang engkau membawa mustika yang harus dilindungi, sekarang kena diambil pencuri tangan panjang itu, bagaimana engkau bisa mempertanggung jawabkannya?!"
Si gadis tampak bersedih dan juga bercampur marah, dengan geram katanya.
"Jika memang aku berhasil mencari jejak pencuri laknat itu, akan kupatahkan batang lehernya.....!"
Ko Tie tertawa kecil.
"Kita sulit mencari jejaknya, karena dia telah membawa kabur pauw-hokmu, tentu ia tidak berani berkeliaran di tempat ini lagi! Sehingga bagaimana kita harus mencarinya?"
Si gadis menghela napas.
Memang inilah pengalaman pertama kali buat Giok Hoa, kehilangan Pauw-hoknya karena dipancing oleh maling itu dengan cara yang licik.
Sedangkan Ko Tie kemudian menghibur si gadis.
Dan katanya, masih bagus barang-barang seperti itu mudah dibeli lagi, seperti pakaian dan barang-barang perhiasan lainnya.
Dan juga, sebagai seorang yang berhati besar, Giok Hoa dapat menerima bujukan Ko Tie, hanya perasaan mendongkol belaka yang masih berada di dasar hatinya.
Begitulah, Ko Tie telah kembali ke kamarnya, sedangkan si gadis tidak bisa segera tidur, karena dia masih resah diliputi kemendongkolannya!
Menjelang fajar, barulah si gadis dapat memejamkan matanya.
Tidur tidak terlalu nyenyak, sebab tidak lama kemudian dia telah terbangun.
Di waktu itu Ko Tie pun telah memesan makanan kepada pelayan, ia menemani si gadis bercakap-cakap.
Dan setelah santapan pagi mereka berkeliling di kota itu, karena mereka bermaksud ingin menyelidiki juga, kalau-kalau saja mereka beruntung masih dapat mencari jejak si pencuri.
Tipis sekali harapan buat dapat membekuk pencuri tangan panjang itu, namun mereka tokh menghabisi waktu mereka sampai sore berkeliling di kota tersebut.
Mereka juga berusaha menyelidiki di antara para pelayan rumah penginapan maupun rumah makan yang mereka singgahi, bertanya-tanya, siapakah sekiranya maling yang paling pandai di kota ini.
Tapi para pelayan dari rumah makan maupun rumah penginapan tidak ada yang berani membuka mulut.
Mereka hanya mengatakan tidak tahu.
Rupanya mereka memang tidak mau cari penyakit, karena jika memang mereka menyebutkan, dikuatirkan justeru mereka akan kerembet-rembet.
Sore hari barulah mereka kembali ke rumah penginapan dan merasa letih sekali.
Giok Hoa telah kembali ke kamarnya buat beristirahat.
Ko Tie sendiri karena iseng, akhirnya telah keluar pula dari rumah penginapan, buat melihat-lihat keramaian di Lam-yang menjelang malam.
Memang cukup ramai, di mana banyak para pedagang menjajakan barang-barang mereka.
Dari berbagai tempat terdengar irama musik dan tertawa wanita-wanita pelesiran.
Dan Ko Tie tidak tertarik dengan semua keramaian itu, karena hatinya waktu itu tengah berpikir hendak mengetahui entah siapa maling yang telah mengambil buntalan Giok Hoa.
Memang jika dilihat bahwa mereka berada di kota yang cukup ramai seperti Lam-yang.
Dan tentu di kota yang ramai seperti itu tentu saja berkeliaran banyak sekali buaya darat dan malingmaling bertangan panjang.
Karenanya jika memang buntalan Giok Hoa diambil oleh maling bertangan panjang, niscaya caranya bukan demikian.
Malingmaling bekerja bukan dengan cara memancing terlebih dulu Giok Hoa sampai keluar kota, kemudian baru mengambil pauw-hok si gadis.
Dan juga menurut Giok Hoa walaupun ia telah mengerahkan seluruh gin-kangnya, tetap saja ia tidak berhasil mengejar maling itu, yang tampaknya memiliki gin-kang sangat tinggi sekali.
Sedangkan kepandaian Giok Hoa juga tidak rendah.
Dia seorang gadis yang memiliki kepandaian tidak bisa diremehkan.
Lalu siapa orang liehay itu, yang mengambil pauw-hok Giok Hoa?
Melihat kepandaiannya yang tinggi seperti itu, jelas maling itu bukan maling biasa, dan tentu ia pun memiliki maksud-maksud tertentu.
Karena berpikir dan memiliki dugaan seperti itu, penasaran sekali hati Ko Tie ingin mengetahui siapa sebenarnya orang yang telah mengambil pauw-hok Giok Hoa.
Memang maksudnya keluar dari rumah penginapan buat mencari angin karena iseng dan menyaksikan keramaian di waktu malam di kota Lam-yang ini.
Tapi ia sendiri, tanpa disadarinya, sambil menyelidiki juga, menyerap-nyerapi siapakah orang yang telah mengambil pauw-hok Giok Hoa.
Waktu itu Ko Tie sedang berjalan di tengah keramaian kota Lamyang tersebut.
Tiba-tiba dia merasakan pundaknya dibentur seseorang.
Bukan benturan sembarangan.
Benturan yang memiliki lweekang yang kuat, karena Ko Tie merasakan tubuhnya seperti juga ditubruk sesuatu yang keras sekali, membuat tubuhnya hampir saja terhuyung mundur kalau saja memang diwaktu itu ia tidak segera memperkuat kuda-kuda ke dua kakinya.
Segera Ko Tie menoleh kepada yang membenturnya.
Orang itu gesit sekali menyelusup di antara orang ramai.
Namun Ko Tie tidak mau berayal, segera mengejarnya.
Cepat sekali orang buruannya itu menyelinap ke sana ke mari.
Dia telah meninggalkan Ko Tie cukup jauh.
Di tempat ramai seperti itu memang agak sulit buat Ko Tie melakukan pengejaran.
Dan juga, disaat itu memang tampaknya merupakan hal yang menambah kecurigaan buat Ko Tie, orang yang tengah dikejarnya memiliki gin-kang yang tinggi, karena ia dapat berlari sangat cepat.
Cuma saja, yang membuat Ko Tie jadi tambah curiga, justeru orang itu memakai pakaian yang bertambal sulam, yang memang jelas dia merupakan seorang pengemis.
Sedangkan menurut Giok Hoa, orang yang pernah memancingnya keluar kota dan memiliki ginkang yang tinggi tampaknya seperti pengemis!
Teringat akan hal itu, hati Ko Tie jadi girang, mungkin pengemis ini yang telah mencuri Pauw-hok Giok Hoa.
Segera juga si pemuda mengerahkan gin-kangnya, mengempos semangatnya dan dia berlari secepat kilat.
Ko Tie tidak memperdulikan ia menubruk beberapa orang yang hampir terpelanting dan memaki-makinya, karena Ko Tie bermaksud untuk dapat mengejar pengemis itu, yang kecurigaannya semakin kuat juga, bahwa pengemis itulah yang telah mengambil pauw-hok Giok Hoa.
Sedangkan pengemis yang tadi sengaja membentur pundak Ko Tie, telah berlari semakin cepat, dia menuju keluar kota.
Ko Tie kuatir jika ia lambat-lambat akan kehilangan jejak orang buruannya, karena ia mengejar semakin cepat.
Di waktu itu dia telah membentur pundak seorang gadis yang telah terhuyung satu langkah dan memaki.
"Manusia tidak tahu aturan...... berhenti kau!"
Dan gadis itu menjejakkan ke dua kakinya.
Tubuhnya melesat sambil tangan kanannya bergerak menghantam ke punggung Ko Tie.
Dia adalah seorang gadis yang sangat cantik, berusia duapuluh tahun lebih sedikit.
Rambutnya disanggul besar, dengan pakaian ringkas terbuat dari bahan sutera berwarna hijau daun, dan tubuhnya sangat lincah sekali, dengan di pundaknya tersembul gagang pedang.
Dilihatnya dari cara berpakaiannya itu, jelas gadis itu merupakan seorang yang memiliki kepandaian tidak rendah dan pengembara di dalam rimba persilatan.
Ko Tie sendiri waktu membentur pundak gadis itu, ia sama sekali tidak memperhatikan, karena memang ia tengah berlari secepatcepatnya.
Ia bermaksud hendak mengejar dan menyandak pengemis buruannya itu.
Dan ia pun berusaha membekuknya nanti, guna mendesaknya agar mengembalikan pauw-hok Giok Hoa.
Tahu-tahu ia merasakan dari belakangnya menyambar kesiuran angin yang kuat sekali, membuatnya kaget dan heran.
Namun sebagai pemuda yang memiliki kepandaian tinggi dan terlatih dengan baik, segera juga ia dapat mengatasi keadaan.
Segera tangan kanannya menyampok ke belakang buat menangkis serangan membokong dari belakangnya itu.
"Dukkk!"
Tangan Ko Tie menyampok tangan si gadis itu, kuat sekali.
Dan juga telah membuat Ko Tie jadi terhuyung satu langkah, sedangkan si gadis itu juga telah terlempar sampai dua langkah.
Mereka jadi berdiri berhadapan.
"Kau......?!"
Ko Tie berseru keras, karena dia tidak mengenali siapa adanya gadis ini, yang tahu-tahu telah menyerangnya dengan pukulan yang kuat itu.
Kalau saja orang yang diserangnya tadi seorang yang tidak memiliki ilmu silat yang tinggi, niscaya akan membuat orang itu terlempar dan terluka di dalam yang parah sekali.
"Mengapa kau menyerangku sekeji itu?!"
Gadis itu berdiri dengan mata mendelik dan mulut monyong cemberut marah! Matanya itu juga memancarkan sinar yang tajam mengandung kemarahan.
"Kau masih bertanya mengapa aku menyerangmu? Hemmmm, aturan mana yang kau pergunakan berlari-lari seperti babi buta menubruki orang-orang di tempat keramaian ini?!"
Bengis pertanyaan si gadis. Ko Tie segera tersadar, walaupun hatinya masih mendongkol, namun cepat dia membungkukkan tubuhnya memberi hormat, katanya.
"Maafkanlah, aku tadi tengah mengejar penjahat...... mungkin tanpa disengaja telah menabrak nona……!"
Melihat Ko Tie meminta maaf dan mendengar pemuda ini tengah mengejar penjahat, wajah si gadis yang semula memancarkan sinar yang penuh kemarahan, sekarang berobah berangsur menjadi biasa lagi, walaupun dia memang masih mendongkol.
"Kau tengah mengejar penjahat?
Penjahat mana?
Apa yang dilakukannya?"
Tanya gadis itu. Mendengar pertanyaan gadis tersebut. Ko Tie tersadar cepat sekali, dia telah menoleh memandang sekelilingnya. Pengemis yang dikejarnya tadi telah hilang tanpa jejak! "Aiiii!"
Berseru Ko Tie terkejut dan kecewa sekali.
"Kenapa?"
Tanya si gadis melihat sikap Ko Tie seperti itu.
"Dia telah hilang…..!"
Kata Ko Tie.
"Hai, aku terlambat buat mengejarnya…..!"
Melihat sinar mata Ko Tie yang melirik kepadanya, gadis itu menyadari bahwa dirinya disesali pemuda ini, yang tentu merasa dirinya terganggu dengan adanya si gadis, karena seperti telah menghalang-halanginya si pemuda, membuat dia gagal mengejar penjahat yang menjadi buruannya.
"Hemmm, engkau ingin mempersalahkan diriku, karena aku, engkau gagal mengejar penjahat itu?"
Tanya si gadis sambil mendengus. Ko Tie nyengir, dia bilang.
"Mana berani….. mana berani! Cuma saja, karena memang aku harus berurusan dengan nona, membuat aku kehilangan jejak.......!"
"Jika demikian, sekarang kau katakan. Engkau tidak puas bukan karena perbuatanku?"
Kata si gadis.
"Engkau merasa dirugikan karena aku menyerangmu?"
Ko Tie tertawa.
"Tidak, tidak…..!"
Katanya.
"Nah, selamat tinggal nona..........!"
Sambil berkata demikian, Ko Tie menjejakkan ke dua kakinya.
Tubuhnya berkelebat ringan sekali meninggalkan si gadis, karena ia yakin percuma saja ia melayani gadis tersebut.
Si gadis hendak mencegah, namun akhirnya dia membatalkannya sendiri.
Dia hanya mendengus saja sambil mengawasi Ko Tie yang akhirnya lenyap dari pandangannya.
Dan dia sendiri di dalam hatinya berpikir, entah siapa pemuda itu adanya, yang tampaknya lihay dan memiliki kepandaian tidak rendah disamping memang tampan?!
Ko Tie yang berlari-lari pesat sekali berusaha mengejar mencari jejak si pengemis.
Ia telah memandang sekeliling tempat yang dilaluinya.
Tapi si pengemis yang tadi dikejarnya sudah tidak terlihat bayangannya.
Waktu sampai di pintu kota, di mana keadaan di tempat itu tidak seramai di tengah-tengah pusat kota Lam-yang, Ko Tie tetap tidak melihat bayangan si pengemis.
Ia jadi mendongkol dan jengkel, dia sampai banting-banting kaki, karena ia sangat menyesali tadi, yang telah membuat dia gagal mengejar pengemis itu.
Tapi begitu dia menyesali si gadis, seketika ia teringat bahwa gadis itu sesungguhnya seorang gadis yang cantik, mulutnya yang dimonyongkan cemberut marah, matanya mendelik lebar karena gusar dan sikapnya yang gagah, wajahnya yang cantik dengan pipi kemerah-merahan disebabkan marah.
Sungguh seorang gadis yang cantik sekali!
Dan tadi Ko Tie tidak sempat memperhatikan keadaan si gadis.
Sekarang dia baru teringat, bahwa tadi dia sampai lupa menanyakan nama si gadis.
Dan dia tidak mengetahui juga, siapa yang tampaknya memiliki kepandaian tidak rendah itu?
Di waktu itulah dia telah berpikir, ingin kembali ke tempat tadi di mana dia bertemu dengan gadis itu, guna bercakap-cakap dengannya.
Waktu Ko Tie memutar tubuhnya, tiba-tiba terdengar suara tertawa dingin.
"Dasar pemuda mata keranjang, begitu melihat gadis cantik, segera juga matanya jadi panjang.....!"
Tiba-tiba terdengar orang yang mengejeknya dari tempat gelap.
Kaget Ko Tie oleh teguran dan ejekan tersebut, dia memutar tubuhnya, dengan mata yang tajam dia mengawasi ke tempat di mana datangnya suara ejekan itu.
Tampak berkelebat sesosok bayangan yang berlari cepat sekali meninggalkan tempat tersebut.
Ko Tie menjejakkan ke dua kakinya sekali gus dan dia mengejarnya dengan segera.
"Siapa kau? Berhenti!"
Berseru Ko Tie sambil mengempos semangatnya.
Tapi sosok tubuh itu, dalam kegelapan malam di tempat tersebut terus juga berlari ke arah luar kota dengan lincah dan gesit sekali, tubuhnya seperti terbang dan ke dua kakinya seperti tidak menginjak tanah.
Ko Tie yang memiliki mata awas, segera melihat pakaian orang itu penuh tambalan.
Dialah si pengemis yang tengah dikejarnya!
Dan segera juga Ko Tie mengempos semangatnya dia mengejar dengan secepat-cepatnya.
Cuma saja di hatinya segera timbul kecurigaan, apa maksud pengemis itu, sengaja membentur pundaknya kemudian melarikan diri, dan lalu, setelah Ko Tie tidak berhasil mengejarnya, di waktu dia ke hilangan jejak, justeru pengemis itu telah memperlihatkan diri lagi dan berlari buat menyingkirkan diri dari dia!
Dan Ko Tie bukannya pemuda yang tolol.
Dia segera dapat menduga pasti ini merupakan pancingan pula dari pengemis itu.
Siapakah pengemis itu?
Apa maksudnya memancingnya seperti ini?
Apa pula yang telah disiapkan buat mencelakai Ko Tie?
Atau di suatu tempat telah berkumpul kawan-kawan si pengemis dalam jumlah yang banyak?
Banyak pikiran dan dugaan yang berkecamuk di dalam benak Ko Tie, waktu dia tengah mengejar.
Dia semakin mencurigai si pengemis.
Tapi biarpun Ko Tie telah mengejar dengan mengempos seluruh gin-kang yang dimilikinya, tetap saja dia tidak berhasil mengejar pengemis itu, jarak mereka masih terpisah cukup jauh.
Hal ini membuat Ko Tie penasaran, dengan segera ia mempergunakan ilmu berlari tunggalnya, yaitu ilmu lari di atas es!
Dia mengejar dengan tubuh seperti terbang di udara, di mana tubuhnya itu melesat sangat cepat dan gesit sekali, dalam waktu yang singkat Ko Tie telah berhasil memperpendek jarak pisah mereka.
Pengemis yang tengah dikejarnya itu terdengar berseru tertahan, rupanya dia kaget tahu Ko Tie telah berhasil mengejarnya semakin dekat.
Segera juga si pengemis mengempos semangatnya berlari semakin cepat.
Dan dia berusaha menjauhi diri lagi dari Ko Tie.
Namun dia tidak berhasil, sebab Ko Tie mengejarnya semakin dekat.
Dengan mempergunakan ilmu berlari tunggalnya, yang memang menjadi andalan dari Swat Tocu dan telah diwarisi kepada Ko Tie, membuat pemuda itu dapat mengejar dengan cepat sekali.
Ilmu andalan ini jika memang tidak diperlukan sekali tentu tidak dipergunakan oleh Ko Tie.
Si pengemis akhirnya menyadari bahwa dia tokh akan tercandak juga.
Karenanya dia tidak bermaksud menyingkirkan diri lagi, dia telah berhenti dan menantikan Ko Tie tiba.
Cepat sekali Ko Tie tiba dihadapan pengemis itu, dan pemuda ini juga dengan bantuan sinar rembulan, telah bisa melibat jelas muka tersebut, dia pun segera mengenali siapa adanya jadi terkejut dan heran.
"Ihhh, kiranya Thio Kim Beng Locianpwe. Apakah..... apakah selama ini dalam keadaan baik-baik saja, Thio Locianpwee?"
Tanya Ko Tie sambil segera merangkapkan sepasang tangannya, memberi hormat kepada tokoh Kay-pang itu, karena pemuda ini menyadari bahwa ia tengah berhadapan dengan orang yang tingkatannya lebih tinggi dan tidak bisa ia bersikap kurang ajar.
Pengemis tua itu, Thio Kim Beng tertawa bergelak-gelak.
"Memang tidak salah Swat Tocu memiliki nama besar, dan ia memang memiliki rejeki yang baik sekali, ia bisa memiliki murid sepandai engkau! Ha, rupanya kata-kata tua yang bilang.
"Guru emas muridpun permata!"
Merupakan kata-kata yang tepat! Nah, Kongcu, apa maksudmu sejak tadi kau mengejar-ngejar diriku?!" Ditegur seperti itu, muka Ko Tie berobah memerah, dia jadi malu, karena itu cepat-cepat ia menjawab.
"Jika….. jika memang tidak salah, bukankah tadi locianpwe yang telah membentur pundak boanpwe?"
Thio Kim Beng memperlibatkan sikap seperti heran.
"Membentur pundakmu? Kapan?!"
Tanya Thio Kim Beng sambil memperlihatkan sikap tidak mengerti dan sepasang matanya terbuka lebar-lebar. Ko Tie segera menceritakan apa yang dialaminya. Thio Kim Beng tertawa bergelak-gelak.
"Kongcu, jika memang benar aku yang membentur pundakmu, dan sekarang setelah engkau berhasil mengejarku, apakah engkau ingin menghajar habis-habisan aku si pengemis tua yang melarat ini?"
Tanyanya. Ditegur seperti itu, muka Ko Tie berobah marah lagi.
"Bukan begitu, cuma saja memang boanpwe ingin mengetahui siapakah sebenarnya yang telah membentur begitu keras kepada boanpwe dan juga dalam hal ini tentu saja merupakan urusan di luar dugaan.
"Sama sekali boanpwe tidak menyangka bahwa orang yang telah membentur boanpwe tidak lain dari locianpwe. Dengan demikian..... maafkan locianpwe dan boanpwe juga hendak kembali ke rumah penginapan......!"
"Tunggu dulu......!"
Cegah Thio Kim Beng segera.
"Kau telah turun gunung, dan tampaknya, gurumu tidak bersama-sama dengan kau….. benarkah itu?"
Ko Tie jadi batal memutar tubuhnya, dia menoleh kepada si pengemis sambil mengangguk.
"Benar locianpwe...... memang benar suhu berada di Heng-san dan boanpwe saja yang telah turun gunung!"
Menyahuti Ko Tie.
"Lalu gadis itu….. yang jika tidak salah adalah muridnya Yo Kouwnio. Bukankah dia melakukan perjalanan bersama kau?"
Tanya Thio Kim Beng pula.
Pipi Ko Tie seketika berobah memerah karena diwaktu itu ia merasa likat sekali.
Sedangkan si pengemis tua tertawa bergelakgelak.
"Mengapa harus malu.
Bukankan memang hubungan guru kalian sangat baik?
Dan juga kalian tampaknya sebabat sekali, di mana cocok yang satu tampan, yang seorang cantik jelita!"
Hanya saja, kukira, engkau memang seorang pemuda mata keranjang. Begitu melihat gadis lain yang parasnya cantik, matamu seketika jadi panjang……!"
Muka Ko Tie jadi berobah semakin merah. Dia segera menjura memberi hormat kepada si pengemis.
"Locianpwe bergurau,"
Katanya. Thio Kim Beng memperlihatkan sikap bersungguh-sungguh, dia bilang.
"Aku bukan tengah bergurau. Dan juga aku bicara dari hal yang sebenarnya! Aku paling benci pemuda-pemuda ceriwis. Karena dari itu, jika memang aku mengetahui engkau pemuda ceriwis, cisssss, aku tentu tidak akan memandang lagi muka gurumu, akan kuhajar habis-habisan……!"
Muka Ko Tie berobah semakin memerah. "Boanpwe mana berani buat berlaku ceriwis? Locianpwe hanya bergurau!"
Katanya kemudian dengan pipi yang berobah semakin merah.
Memang gadis yang ditemuinya tadi sangat cantik.
Namun juga merupakan seorang gadis yang agak galak dengan muka yang cemberut marah, di mana hati Ko Tie sesungguhnya cuma tertarik saja, tapi dia tidak memiliki pikiran lainnya.
Waktu itu tampak si pengemis tua Thio Kim Beng telah berkata lagi, setelah tertawa bergelak-gelak.
"Baiklah, jika memang engkau bukan seorang pemuda ceriwis, aku bersedia untuk bicara dengan engkau! Mengapa di malam ini engkau berkeliaran di dalam kota, tanpa mengajak kawanmu itu?"
"Dia….. dia telah tidur, locianpwee!"
Kata Ko Tie dengan suara tidak lancar karena malu, di mana memang yang dimaksudkannya dengan dia, tidak lain Giok Hoa.
"Karena iseng boanpwe telah keluar dari rumah penginapan buat menyaksikan keramaian di kota Lam-yang ini……!"
"Hemmmmm, tentunya engkau hendak mencari gadis-gadis yang cantik, bukan?!"
Mengejek Thio Kim Beng, yang tetap menggoda Ko Tie. Muka si pemuda tambah merah, dia menggeleng cepat sambil katanya.
"Locianpwe hanya bergurau saja, sama sekali boanpwe tidak memiliki pikiran seburuk itu!"
"Baiklah! Lalu, apa acaramu? Mau engkau hendak mencari hiburan?! Jangan memandang rendah padaku, walaupun aku si pengemis tua miskin, tapi aku bisa mengajakmu ke tempat-tempat hiburan kelas satu jika memang engkau menghendaki!"
Ko Tie menggeleng perlahan.
"Terima kasih locianpwe….. terima kasih!"
Katanya berulang kali.
"Terima kasih atas kebaikan hati locianpwee, tapi sungguh sayang sekali, boanpwe hendak kembali ke rumah penginapan!"
"Akh, engkau menolak tawaran yang mengembirakan itu!"
Kata si pengemis sambil tertawa.
"Atau memang engkau menyangka aku tidak memiliki uang buat menjamumu?!"
Dan setelah berkata begitu, Thio Kim Beng merogoh sakunya, mengeluarkan serenceng uang.
"Lihatlah, uang ini bukannya berjumlah sedikit?"
Ko Tie tersenyum. "Ya, memang boanpwe juga telah memaklumi bahwa locianpwe memiliki uang tidak sedikit. Tapi seperti tadi boanpwe katakan bahwa boanpwe hendak kembali ke rumah penginapan!"
Mendadak sekali si pengemis tua itu tertawa bergelak-gelak sambil memasukkan uangnya ke dalam sakunya.
"Hemmmmm, rupanya memang engkau ingin cepat-cepat bertemu dengan gadis pujaanmu itu? Oho.......... engkau rupanya sudah sangat rindu, meninggalkannya sejenak saja, engkau sudah sibuk sekali ingin cepat-cepat kembali agar dapat selalu di sisinya!"
Setelah berkata begitu, kembali pengemis tua ini tertawa bergelak.
Di waktu itu Ko Tie jadi kurang senang melihat pengemis tua ini selalu menggodanya, bahkan godaannya itu menjurus kepada sindiran belaka.
Maka ia berpikir buat tidak melayani pengemis tua itu lebih lama lagi, dia merangkapkan ke dua tangannya memberi hormat sambil katanya.
"Baiklah locianpwe, boanpwe ingin pergi dulu……!"
Dan tanpa menantikan jawaban si pengemis tua itu, Ko Tie memutar tubuhnya buat berlalu. Thio Kim Beng berhenti tertawa melihat pemuda itu ingin pergi, dia bilang.
"Tunggu dulu! Apakah engkau tidak mau mengambil kembali pauw-hok kawanmu itu!"
Ko Tie tercekat hatinya, segera timbul kecurigaannya, segera dia memutar tubuhnya.
"Jadi….. jadi locianpwe..... mengetahui hal itu?"
Tanya Ko Tie sambit memandang tajam sekali, sesungguhnya dia ingin bertanya.
"Sesungguhnya locianpwe yang mengambil pauw-hok itu!"
Hanya dia menggantinya dengan "mengetahui hal itu"
Karena dianggapnya tidak sopan dan kurang pantas kepada pengemis itu hal tersebut ditanyakan langsung olehnya. Thio Kim Beng tertawa bergelak, dan kemudian katanya.
"Tentu….. tentu saja aku mengetahui! Memang aku yang mengetahui sebenar-benarnya urusan itu! Malah pauw-hok itu berada di tanganku! Bukankah ini pauw-hok milik kawanmu?"
Sambil berkata demikian si pengemis mengeluarkan buntalan Giok Hoa dari balik bajunya.
Ko Tie memang mengenali pauw-hok itu adalah milik Giok Hoa.
Ia telah memandang sejenak kepada pauw-hok itu, kemudian Thio Kim Beng, dia bilang.
"Kalau begitu, sudikah kiranya locianpwe mengembalikan pauwhok itu, agar nanti aku yang menyampaikannya kepada nona Giok Hoa!"
Thio Kim Beng memperlihatkan sikap serius, dia menggelengkan kepalanya beberapa kali, katanya.
"Tidak! Tidak! Tidak bisa kuserahkan kepadamu…… Aku harus menyerahkannya langsung kepada gadis itu! Dan jika engkau menginginkan pauw-hok ini, agar dapat nama di mata gadismu, hemmm, hemmm, engkau boleh mengambilnya dari tanganku!"
"Jadi...... jadi locianpwe yang telah mengambil pauw-hok tersebut, dengan memancing nona Giok Hoa ke luar kota, dan kemudian pauw-hoknya disambar?"
Menegaskan Ko Tie. Thio Kim Beng mengangguk, katanya.
"Benar...... memang aku yang melakukannya!" Muka Ko Tie jadi memancarkan sikap tidak senang, dia bilang.
"Hemmmm, apakah locianpwe tidak merasakan bahwa tindakan seperti itu adalah tindakan seorang Siauw-cut?!"
Thio Kim Beng tidak tertawa lagi, matanya bersinar tajam.
"Aku kau anggap sebagai Siauw-cut?!"
Tegurnya dengan suara tidak senang.
"Ya, jika memang locianpwe melakukan hal seperti itu, tentu saja tindakan seperti itu merupakan tindakan seorang Siauw-cut! Seorang manusia, akan memperoleh nama baik atau nama buruk, tergantung dari tindakannya, dari perbuatannya.....!"
Menyahuti Ko Tie tegas dan berani, karena sekarang pemuda ini merasa kurang senang pada pengemis tua itu, yang telah mengambil pauw-hok Giok Hoa. Waktu itu tampak Thio Kim Beng tertawa dingin katanya.
"Engkau bocah yang masih bau kencur ingin menasehati aku? Ohhh, sombongnya! Hemmmm, seperti gurumu yang congkak itu, engkaupun tampaknya murid yang berkepala besar. "
Guru dengan murid sama seperti setali tiga uang…..! Dan juga, aku memang ingin melihat, berapa tinggi kepandaian yang engkau miliki, sehingga engkau berani berkepala besar seperti itu?"
Sambil berkata begitu, tampak Thio Kim Beng telah memasukkan buntalannya itu ke dalam bajunya.
Ia memandang kepada Ko Tie dengan sorot mata yang mengandung tantangan.
Sedangkan Ko Tie sendiri waktu itu bertekad, walaupun bagaimana ia harus dapat merebut pauw-hok dari tangan Thio Kim Beng.
Maka ia telah memutuskan.
Ia harus menempur pengemis itu, dan juga berusaha merebutnya, dengan kekerasan kalau saja Thio Kim Beng tidak mau menyerahkan dan mengembalikan pauw-hok tersebut.
Memang Ko Tie juga tidak senang waktu memperoleh kenyataan Thio Kim Beng lah yang menjadi malingnya yang mengambil pauw-hok Giok Hoa.
"Baik-baik locianpwe, maafkanlah boanpwe yang akan bertindak kurang ajar, di mana boanpwe akan berusaha merampas pulang buntalan kawan boanpwe!"
Sambil berkata begitu Ko Tie bersiapsiap buat menyerang. "Ya, silahkan engkau menyerang!"
Kata Thio Kim Beng dengan suara nyaring.
"Mari...... mari, memang aku hendak melihat, berapa tinggi kepandaian yang engkau miliki!"
Setelah berkata begitu, si pengemis tua Thio Kim Beng mengibaskan tangannya.
Dari telapak tangannya berkesiuran angin yang kuat.
Melihat itu, Ko Tie segera juga menyadari bahwa si pengemis juga akan bersungguh-sungguh, di mana ia akan mengeluarkan kepandaiannya untuk mempertahankan buntalan itu.
Dan Ko Tie juga yakin, bahwa ia harus dapat merebutnya dengan mengeluarkan seluruh kepandaiannya.
Setelah menjura satu kali lagi, Ko Tie tahu-tahu melompat sambil mengayunkan ke dua tangannya.
Dia mempergunakan sekaligus ilmu pukulan Inti Es sehingga angin berkesiuran bercampur hawa dingin.
"Bagus!"
Berseru Thio Kim Beng, yang cepat sekali melesat ke samping, di mana ia dapat mengelakkannya dengan mudah.
Cuma saja hatinya terkejut, karena ia tidak menyangka bahwa Ko Tie, telah berhasil mewarisi kepandaian gurunya.
Ilmu pukulan andalan Swat Tocu adalah Inti Esnya.
Dan sekarang justeru Ko Tie menyerangnya dengan ilmu pukulan tersebut.
Dengan demikian, membuat si pengemis tua merasa kagum.
Usia Ko Tie belumlah lebih dari duapuluh lima tahun, dan juga dia merupakan pemuda remaja karenanya, dengan demikian tenaga dalam seperti yang sekarang dipergunakannya, merupakan hal yang menakjubkan, kuat dan juga lihay sekali.
Ko Tie tidak menghentikan pukulannya, karena melihat pukulan pertamanya gagal, dia membarengi dengan pukulan berikutnya, di mana berulang kali dia menyerang kepada si pengemis tua.
Thio Kim Beng mengelak ke sana ke mari, dan juga dia berhasil untuk mengejek si pemuda memanaskan hatinya, sehingga Ko Tie semakin lama menyerangnya semakin gencar.
Satu kali, dengan cepat sekali telapak tangan Ko Tie menyambar ke pundak lawannya.
Si pengemis tua itu malah tidak mengelak.
Dia berdiri tegak di tempatnya, dan menangkis dengan tangannya.
"Bukkkk!"
Terdengar suara benturan yang dahsyat, sehingga tubuh ke dua orang itu terhuyung.
Tubuh Ko Tie terhuyung dua langkah.
Ko Tie segera tersadar bahwa tenaga dalam Thio Kim Beng masih berada di atasnya satu tingkat.
Dengan demikian ia harus lebih hati-hati menghadapinya.
Dan dia pun harus mengerahkan seluruh sin-kang yang dimilikinya.
Demikian juga halnya dengan Thio Kim Beng, dia telah menyadari.
Biarpun usia pemuda ini masih remaja, namun kepandaiannya tidak lemah, hanya terpaut satu tingkat di bawah sin-kangnya.
Juga pemuda itu memiliki ilmu yang aneh dan sulit sekali diterka, karena merupakan ilmu-ilmu warisan Swat Tocu yang liehay.
Sebab itu, kemungkinan Ko Tie akan dapat menambal kelemahan pada sin-kangnya yang kalah kuat dibandingkan dengan sin-kang Thio Kim Beng, dia pasti akan dapat menjadi lawan yang sulit dirubuhkan oleh Thio Kim Beng.
Thio Kim Beng segera mengempos semangatnya, ia berseru nyaring dan tampak lengan kanannya telah menyerang, disusul dengan tangan kirinya yang menyambar cepat sekali.
Begitu kuatnya tenaga serangan dari Thio Kim Beng, angin pukulannya menderu-deru dahsyat menyerang kepada Ko Tie.
Ko Tie sendiri tidak berani berayal, tubuhnya bergerak ringan sekali seperti juga bayangan.
Sepasang tangannya meluncur ke sana ke mari mengandung sin-kang yang dahsyat dan juga hawa yang dingin sekali.
Sedangkan waktu itu Thio Kim Beng tengah penasaran, tadinya dia bermaksud mempermainkan Ko Tie.
Dia yakin kepandaian pemuda ini tentunya tidaklah terlalu tinggi dan mudah saja dia mempermainkannya.
Siapa tahu, setelah mereka mengadu tenaga bertempur dengan seru, semakin lama Thio Kim Beng merasakan bahwa tidak mudah buat merubuhkan Ko Tie, karena memang dia merupakan pemuda yang tangguh.
Maka segera Thio Kim Beng mengempos semangatnya.
Di iringi dengan bentakan nyaring, dia berusaha mendesak Ko Tie.
Ko Tie mempertahankan diri dengan kuat sampai akhirnya tenaga mereka saling bentur berulang kali.
"Dukkk, dukkk, dukkk!"
Dan tubuh mereka berdua tampak sering terpisah dalam jarak tertentu dan kemudian merapat kembali.
Mengadu kekuatan sin-kang di antara ke dua orang itu memang bukan cara mengadu ringan, karenanya telah meminta tenaga yang tidak sedikit dan melelahkan.
Thio Kim Beng sendiri merasakan betapa tubuhnya telah mengeluarkan asap tipis, dan keringat juga membanjiri tubuh maupun mukanya.
Ko Tie tidak terkecuali, dia merasakan tubuhnya lelah dan napasnya memburu.
Ia menyadari jika saja mereka bertempur lebih lama pula tentu dirinya yang akan jatuh di bawah angin.
Karenanya, sambil bertempur Ko Tie telah memutar otak, berusaha mencari jalan keluar, agar cepat-cepat dapat merubuhkan Thio Kim Beng.
Dia pun telah mengeluarkan seluruh kepandaian yang dimilikinya, berusaha untuk dapat mendesak pengemis itu, dan sin-kang yang dipergunakannya merupakan sinkang kelas satu.
Mereka telah dua kali terpisah dalam jarak yang cukup jauh.
Namun ke duanya tidak memiliki kesempatan buat beristirahat atau mengatur pernapasan, karena mereka telah merapat lagi saling menyerang!
Ko Tie waktu berusaha menghindar dari telapak tangan kiri Thio Kim Beng.
Mendadak saja tenaga serangan dari Thio Kim Beng telah lenyap, dan menyusul dengan tangan kanan dari pengemis itu menyambar cepat sekali.
"Tukkkkk!"
Pundak Ko Tie telah kena di hantam dengan hebat oleh tangan kanan si pengemis sehingga tubuh Ko Tie terhuyunghuyung mundur beberapa langkah, dan dia telah merasakan matanya berkunang-kunang.
Belum lagi Ko Tie berhasil buat menguasai diri, dia telah diserang pula.
Tangan Thio Kim Beng telah menyambar dengan pukulan yang mengandung maut.
Ko Tie merasakan sambaran angin pukulan lawannya, biarpun dia masih merasakan matanya berkunang-kunang, dia tidak mau berayal, dia membungkukkan tubuhnya berkelit dengan segera.
"Dukkkk!"
Kembali terdengar pundak Ko Tie kena dihantam telapak tangan si pengemis lagi.
Tubuh Ko Tie terhuyung sampai empat langkah, dan dia mengeluh juga, karena dia merasakan tenaga pada tangan kanannya telah punah, akibat pukulan tersebut.
Dengan demikian membuat dia harus berusaha mengempos semangatnya buat menyingkirkan diri cukup jauh dari Thio Kim Beng.
Apa yang dilakukannya itu ternyata sama sekali tidak banyak membantu.
Thio Kim Beng membarengi menyusulnya dan menghantam lagi karena Thio Kim Beng tidak mau memberikan kesempatan kepada Ko Tie mengumpulkan tenaga dan meluruskan pernapasannya.
Waktu itu Ko Tie merasakan sambaran angin pukulan Thio Kim Beng.
Dia sendiri juga tengah merasakan pundaknya sakit bukan main, pakaian di bagian pundaknya telah robek akibat pukulan yang kuat itu.
Dia mencelos hatinya waktu telapak tangan lawannya menyambar ke arah batok kepalanya.
"Hemm, aku tidak sangka dia seorang pengemis yang bertangan keji....."
Berpikir Ko Tie, karena dia menyadari, jika saja telapak tangan lawannya itu berhasil mengenai batok kepalanya, niscaya dia akan menemui kematian dengan batok kepala yang hancur remuk.
Maka Ko Tie tidak berani berayal, dia berseru nyaring, seperti mengamuk, dia menghantam kuat sekali ke depan dengan tangan kirinya berulang kali, sehingga terdengar suara "…..derrr….!"
Angin pukulannya menghantam batang pohon maupun bumi, dan membuat sementara itu Thio Kim Beng tidak bisa bergerak lebih dekat padanya, karena iapun harus berkelit dari pukulan Inti Es yang dilakukan Ko Tie dengan nekad.
Di waktu itu Ko Tie sendiri juga mempergunakan kesempatan itu buat melompat mundur menjauhi diri dari Thio Kim Beng.
Tangan kanannya seperti kehilangan tenaga, karena pundaknya telah terkena hantaman telapak tangan Thio Kim Beng.
Dan ia bermaksud akan menyingkirkan diri saja dari si pengemis, buat merawat luka pada pundaknya dan nanti baru mencari pengemis itu pula.
Namun Thio Kim Beng yang hendak menguji pemuda itu, tidak ingin memberikan kesempatan padanya bernapas lebih jauh.
Dia melompat dan menyerang dengan gencar sekali, memaksa Ko Tie melayaninya terus.
Semakin lama Ko Tie semakin jatuh di bawah angin.
Lawannya memang merupakan salah seorang tokoh Kay-pang, dengan demikian dia harus menyerahkan seluruh tenaganya.
Dalam keadaan terluka seperti itu, membuatnya harus dapat melayani musuh sebaik-baiknya.
Satu kali saja ia terserang hebat, niscaya akan membuatnya terluka berat atau terbinasa.
Di waktu itu, Ko Tie juga telah berusaha untuk berseru.
"Locianpwe….. dengar dulu!" Tapi si pengemis Thio Kim Beng sama sekali tidak mengacuhkan perkataan Ko Tie. Melihat pemuda itu terdesak hebat, dia tidak membuang-buang waktu lagi, menyerang dengan gencar dan dahsyat. Karena dari itu, Ko Tie semakin terdesak dan juga telah membuat hal itu jadi berlangsung dengan menegangkan karena Ko Tie tengah terancam bahaya yang tidak kecil. Jika saja Thio Kim Beng bersungguh-sungguh buat mencelakai Ko Tie, mempergunakan kesempatan Ko Tie mulai tidak berdaya dan jatuh di bawah angin, jelas akan membuat dia bisa melakukan pembunuhan yang mudah terhadap diri Ko Tie. Ko Tie sendiri menyadarinya, bahwa ia tengah menghadapi lawan yang tangguh, dimana dia memang telah jatuh di bawah angin dan tidak mungkin akan dapat menghadapi terus lawannya ini. Tengah Ko Tie terdesak seperti itu, tahu-tahu dari tempat gelap berkelebat sesosok bayangan disertai sinar putih keperakperakkan yang menyilaukan mata, karena terlihat betapa sinar keperak-perakan itu terpantul oleh cahaya rembulan bergulunggulung menyambar kepada Thio Kim Beng. Sedangkan Thio Kim Beng sendiri tidak menyangka betapa di waktu itu ada seseorang yang akan menyerangnya dengan pedang. Dan ia telah menduga tentunya penyerangnya ini adalah Giok Hoa, yang ingin membantui Ko Tie. Pedang itu tampak bergulung-gulung menerjang sangat kuat dan liehay sekali mengandung maut kepada Thio Kim Beng. Thio Kim Beng yang mengetahui tikaman tersebut, yang datang bergulung-gulung begitu rapat tentunya bukan tikaman sembarangan, segera menghindarkan diri, karena memang di waktu itu dia tak mungkin menangkis dengan tangannya. Gulungan pedang itu menyambar terus dengan cepat dan hebat tidak henti-henti mengikuti ke mana saja tubuh si pengemis bergerak. Sekarang Thio Kim Beng telah menyambar sebatang ranting, yang dipergunakan menangkis pedang itu. Ranting itu memang akan terbabat putus, kalau saja dipergunakan oleh orang lain, yang memiliki lweekang yang rendah. Tapi berbeda sekali di tangan Thio Kim Beng, yang memang memiliki sin-kang sangat kuat sekali, karenanya dia bisa menyalurkan kekuatan lweekangnya kepada ranting itu, yang berobah jadi keras seperti juga baja.
"Tranggg.........!"
Pedang itu seketika tertangkis kuat sekali.
Dan juga pedang di tangan si gadis telah terpental, dan tersampok hampir saja terlepas dari cekalannya.
Di saat seperti itulah segera juga terlihat betapa gadis yang menolongi Ko Tie tidak lain adalah gadis yang bertemu dengan Ko Tie tadi di dalam kota Lam-yang, si gadis yang terbentur pundaknya oleh si pemuda.
Dia berdiri gagah sekali, dengan wajahnya yang cantik, dan rambutnya tergulung besar serta bajunya yang terbuat dari sutera hijau.
Dikala itu Thio Kim Beng berkata mengejek.
"Hu, tidak tahunya kau? Hemmm, tentunya engkau telah jatuh hati pada pemuda tampan itu, bukan? "
Baiklah, mari, mari!
Engkau maju bersama pemuda itu…… Aku akan memperlihatkan kepadamu, bahwa Thio Kim Beng bukan sembarangan orang yang bisa diserang begitu saja oleh orang tidak ternama seperti kau.
" Si gadis memperlihatkan sikap kurang senang, bentaknya.
"Pengemis busuk, engkau terlalu memandang rendah kepada nona besarmu! Lihatlah! Kam Lian Cu akan memperlihatkan kepadamu, bahwa ilmu pedang keluarga Kam, Kam-liong-kiamhwat (ilmu Pedang Naga keluarga Kam) bukanlah ilmu pedang yang bisa diremehkan!"
Belum lagi kata-katanya itu selesai diucapkannya, tampak tubuh gadis itu bergerak sangat gesit dengan pedang yang menyambarnyambar dengan hebat dan cepat sekali.
Dalam keadaan seperti itu, terlihat juga bahwa pedangnya itu bergulung-gulung dalam bentuk sinar putih yang menyilaukan mata.
Dengan cepat Thio Kim Beng telah memutar ranting di tangannya.
Ia menangkis beberapa kali, bahkan dengan mempergunakan ranting di tangannya, dia berusaha menotok beberapa jalan darah di tubuh si gadis.
Kam Lian Cu bergerak sangat lincah sekali karena dia mempergunakan pedangnya dengan jurus yang tidak bisa diremehkan.
Pedang di tangannya tergetar dan berobah menjadi seperti puluhan batang pedang yang mengancam di sekujur tubuh lawannya.
Thio Kim Beng sendiri jadi heran.
"Gadis ini masih berusia muda, dan ilmu pedangnya demikian liehay, sesungguhnya dia puteri tokoh persilatan mana?!"
Berpikir Thio Kim Beng di dalam hatinya.
Dia juga tidak bisa berayal lagi bersilat dengan gin-kang yang menakjubkan, karena jika ia berlaku lambat sedikit saja, dia bisa menjadi korban tikaman pedang lawannya.
Karena dari itu, dia mempergunakan rantingnya yang bergerak dengan cepat sekali.
Setiap jurus yang dipergunakannya mengandung sin-kang yang bisa membuat si gadis terdesak mundur.
Atau jika saling bentur dengan pedang gadis itu dan si gadis kurang mengerahkan tenaga lweekangnya, niscaya akan menyebabkan pedang si gadis bisa terlepas dari cekalannya.
Waktu itu Kam Lian Cu pun menyadari, dia tengah menghadapi pengemis tangguh.
Maka dia mempergunakan ilmu pedang andalannya yang benar-benar paling tangguh.
Dalam waktu yang singkat sekali, telah limapuluh jurus yang mereka lewati, dan mereka masih tidak memperlihatkan tandatanda di salah satu pihak akan rubuh.
Di antara berkesiurannya angin serangan ranting di tangan Thio Kim Beng dan pedang si gadis menderu-deru itu, Ko Tie berdiri di pinggiran menyaksikan jalannya pertempuran yang seru itu.
Iapun merasa sangat kagum atas kepandaian gadis itu, ilmu pedangnya yang tidak rendah.
"Entah siapa adanya dia..... tadi dia menyebutkan namanya sebagai Kam Lian Cu..... dialah seorang gadis yang cantik sekali, dan diapun berusaha menolongi aku dengan bertempur hebat pada Thio Kim Beng……!"
Dan Ko Tie jadi mengawasi terus tanpa berkedip kepada jalannya pertempuran itu.
Dikala itu tampak bahwa Thio Kim Beng sendiri mulai ragu-ragu dan bimbang buat menghadapi terus gadis ini.
Malah satu kali, setelah memutar ranting di tangannya dengan cepat, sehingga ranting itu bergulung-gulung mengelilingi dirinya, membuat gadis itu tidak bisa mendesaknya lebih jauh.
Dia membarengi melompat ke belakang dengan ringan sekali.
Kemudian katanya.
"Aku tidak bisa menemanimu lebih lama lagi, selamat tinggal, nanti kita akan bertemu pula…..!"
Dan Thio Kim Beng tertawa bergelak-gelak.
Tubuhnya melesat sangat cepat.
Dia telah berlari-lari seperti terbang meninggalkan tempat itu.
Kam Lian Cu bermaksud mengejarnya, tetapi melihat kegesitan si pengemis dia kira percuma saja dia mengejar.
Jika tokh dia mengejar, akan memakan waktu yang cukup lama buat dapat menyandak pengemis itu.
"Pengemis tidak tahu malu!"
Memaki si gadis kemudian sambil memasukkan pedangnya ke dalam sarung.
Ko Tie menghampirinya, karena tangan kanannya seperti tidak bertenaga.
Ko Tie hanya menjura dengan tangan kirinya, mengucapkan terima kasihnya atas pertolongan si gadis.
"Jika nona terlambat datang, tentu aku telah celaka di tangan pengemis tua itu…..!"
Kata Ko Tie.
"Ya, kebetulan saja aku lewat di tempat ini dan menyaksikan kalian bertempur…..!"
Menyahuti si gadis sambil tersenyum. Waktu pertemuannya di dalam kota Lam-yang, si gadis tidak pernah bersenyum. Sekali ini dia tersenyum, membuat wajahnya yang memang cantik semakin cantik saja.
"Siapakah engkau Kongcu!!"
Tanya gadis itu lagi waktu melihat Ko Tie memandang bengong kepadanya mengagumi akan kecantikan wajah si gadis.
Ko Tie tersadar dari tertegunnya, mukanya seketika berobah memerah, dia merasa malu bukan main, cepat-cepat dia bilang.
"Siauwte she Lie bernama Ko Tie……! Dan jika memang Kouw-nio tidak keberatan, dapatkah Kouw-nio memberitahukan siapa guru Kouw-nio?"
Si gadis memain bola matanya, dia bilang.
"Guruku ialah ayahku!"
Menyahuti dia kemudian.
"Kam Kouw-nio….. tampaknya ilmu pedang keluarga Kam merupakan ilmu pedang yang hebat sekali dan memang jelas bahwa keluarga Kam tentunya merupakan tokoh-tokoh persilatan ahli kiam-hoat…... Siauwte benar-benar merasa kagum sekali tadi telah sempat menyaksikan ilmu pedang yang sangat hebat itu!"
Si gadis tersenyum pula katanya.
"Engkau terlalu memuji! Sesungguhnya ilmu pedangku biasa saja. Cuma kepandaian pengemis itulah merupakan kepandaian yang buruk...... Mengapa kau bertempur dengannya?"
Ko Tie memandang ragu pada si gadis, tapi kemudian dia bilang.
"Sesungguhnya dia seorang pencuri yang telah berhasil membawa pauw-hok kawanku! Dialah yang telah kukejar sehingga membentur pundak nona…… dan Kam kouw-nio, ke manakah tujuanmu?"
"Aku tengah singgah di Lam-yang, dan bermaksud akan berdiam di kota ini selama empat hari! Dan kau, Lie Kongcu?!"
"Akupun hersama kawanku tengah singgah di Lam-yang beberapa hari.....!"
Menjelaskan Ko Tie.
Begitulah, ke duanya sambil bercakap-cakap telah kembali ke Lam-yang.
Ko Tie juga bermaksud memperkenalkan Lian Cu kepada Giok Hoa.
Mereka bercakap-cakap seperti juga pasangan sahabat yang telah lama tidak bertemu dan sekarang mereka telah saling jumpa.
Gadis she Kam itu ternyata seorang gadis yang periang dan pandai bicara.
Tidak terlihat kecanggungan padanya, karena dia telah biasa dalam pergaulan antara lelaki dan wanita, sehingga sikapnya agak bebas.
Sedangkan Ko Tie pun memang menyukai sikap gadis ini yang tampaknya selalu bicara dengan bebas, polos, dan tidak pernah menutup-nutupi segala sesuatu dalam percakapan mereka.
Malah tampaknya gadis inipun sangat lincah dan agak licik!
Kam Lian Cu memang puteri seorang ahli pedang yang ternama sekali di dalam rimba persilatan.
Kam-liong-kiam-hwat merupakan ilmu pedang yang sangat langkah sekali di dalam rimba persilatan, yang telah menjagoi rimba persilatan seratus tahun yang lalu.
Namun, keluarga Kam itu akhirnya menghilang dari dunia persilatan, hidup mengasingkan diri.
Dengan demikian ilmu pedang itupun seperti dilupakan orang.
Jago-jago muda tidak ada yang mengetahui bahwa Kam-liongkiam-hwat merupakan ilmu pedang yang hebat, karenanya mereka itu sama sekali menganggap ilmu pedang itu sebagai ilmu pedang biasa.
Sekarang justeru Kam Lian Cu, sebagai puteri dari keluarga Kam itu, yang telah mewarisi kepandaian ilmu pedang keluarganya, telah merantau.
Dan Ko Tie telah sempat menyaksikan, ilmu pedang si gadis merupakan ilmu pedang yang liehay sekali.
Cuma saja, biarpun tangguh, gadis itu masih kurang pengalaman dan latihan!
Jika latihan si gadis telah cukup, tentu dia akan dapat mempergunakan ilmu pedangnya itu lebih sempurna.
Waktu sampai di dalam kota Lam-yang, Ko Tie mengajak si gadis buat singgah di rumah penginapannya.
Tapi Giok Hoa ternyata tidak ada.
Akhirnya Lian Cu mengatakan ia tidak dapat menanti lebih lama lagi, karena ia harus melanjutkan perjalanannya.
Mereka pun berpisah.
◄Y► Mengapa Giok Hoa sampai tidak ada di rumah penginapan.
Marilah kita tengok keadaan Giok Hoa sepeninggal Ko Tie.
Giok Hoa sejak tadi gulak-gulik di pembaringannya.
Hatinya resah sekali.
Walaupun dia memang merasa lelah sekali, tokh dia tidak tertidur.
Setelah rebah sekian lama di pembaringannya, dia turun dari pembaringannya.
Dia memasang pendengarannya pada dinding kamar pemisah kamarnya dengan kamar Ko Tie.
Hening dan sunyi sekali, tidak terdengar suara apapun juga.
Tampaknya Ko Tie telah tidur Karena dari itu, perlahan-lahan si gadis telah mengulurkan tangannya membuka jendela kamarnya.
Hari telah malam, dan dia melompat keluar dari kamarnya dengan gesit, lalu menutup kembali jendela kamarnya, dan dia berlari-lari ringan sekali di genting-genting rumah penduduk.
Maksudnya dia hendak menyelidiki lagi siapa maling yang menggondol pauw-hoknya.
Ia tidak mau merepotkan Ko Tie.
Jika ia memberitahukan pada Ko Tie tentang maksudnya ingin menyelidiki lagi siapa maling pauw-hoknya itu, dia merasa malu.
Sebab waktu diketahui dia telah terkena pancingan si maling meninggalkan kamarnya, membuat maling itu dapat menggondol pauw-hoknya, membuat si gadis merasa malu sekali kepada Ko Tie.
Itulah sebabnya malam ini dia ingin berusaha menyelidiki jejak maling itu.
Jika dia bisa mengambil pulang pauw-hoknya tentu dia tidak akan hilang muka di hadapan Ko Tie.
Rasa penasaran itu juga membuat dia tidak bisa tidur dan akhirnya meninggalkan kamarnya dengan mengambil jalan di atas genting rumah penduduk.
Dia memang lihay, dia bisa berlari-lari dengan lincah.
Rembulan diwaktu itu telah tergantung di atas langit.
Keadaan di kota Lamyang cukup ramai.
Namun Giok Hoa tidak tertarik buat menyaksikan keramaian itu.
Dia telah berlari-lari terus di atas genting rumah penduduk, berkelebat-kelebat seperti sesosok bayangan.
Orang-orang yang ada dijalan raya tidak bisa melihat dengan jelas.
Dia hanya merupakan bayangan yang berkelebat-kelebat ke sana ke mari begitu gesit.
Setelah berlari-lari sekian lama, tetap saja si gadis tidak mengetahui, ke mana dia harus mencari jejak maling itu.
Hanya terpikir olehnya, bahwa dia hendak mencari pengemis, buat menangkap dan menanyai keterangan darinya.
Karena seperti yang telah dilihatnya, bahwa orang yang memancingnya keluar meninggalkan kamarnya itu, mengenakan pakaian penuh tambalan, tentunya dia dari kalangan pengemis.
Tengah si gadis berlari-lari di atas genting rumah penduduk, hari telah semakin larut malam.
Sampai akhirnya, baru saja Giok Hoa hendak melompat turun ke jalan raya, mendadak saja dia melihat di seberang sana, di atas genting rumah penduduk, berkelebat sesosok bayangan hitam yang cepat sekali.
Giok Hoa merasa heran, entah siapa sosok bayangan itu, yang melakukan jalan malam dan juga telah bergerak begitu gesit.
Dia tentunya memiliki gin-kang yang tidak rendah.
Cepat-cepat Giok Hoa mendekam di atas genting mengawasi sosok bayangan itu.
Sosok bayangan hitam tersebut berlari-lari sangat lincah ke sebelah barat kota Lam-yang.
Si gadis hati-hati sekali mengikutinya.
Melihat gerak-gerik sosok bayangan tersebut, benar-benar Giok Hoa bercuriga.
Dia menduga orang tersebut jelas bukan orang baik-baik.
Malah gadis ini segera juga berpikir, apakah tidak mungkin orang yang telah menggondol pauw-hoknya adalah sosok bayangan ini?
Bukankah diapun memiliki kepandaian yang sangat tinggi sehingga di atas genting rumah penduduk dia bisa berlari-lari begitu lincah dan gesit?
Karena berpikir seperti itu, semangat Giok Hoa terbangun dan dia mengikuti semakin dekat pada sosok bayangan itu.
Tidak ada kesulitan buat Giok Hoa.
Dia bisa mengikuti orang itu dengan baikbaik dan hati-hati sekali tanpa orang yang diikutinya itu mengetahui dirinya tengah dibuntuti.
Setelah sampai di sebuah rumah yang cukup besar, di mana sosok bayangan hitam itu berhenti dan berdiri tegak di atas genting rumah tersebut.
Dia mengawasi sekelilingnya dengan sikap berwaspada sekali.
Ia rupanya tengah memperhatikan keadaan di sekitar tempat itu, kalau-kalau ada seseorang yang membuntutinya, juga tengah mempelajari sekitar tempat tersebut.
Giok Hoa mendekam di atas genting sebuah rumah penduduk di seberang rumah tempat beradanya sosok tubuh itu.
Di bawah sorot sinar rembulan, dia melihat itulah seorang pemuda berusia duapuluh enam atau duapuluh tujuh tahun, dengan tubuh yang tegap, mengenakan pakaian serba hitam, dan juga pada pundaknya terlihat tersembul dua gagang pedang yang berkilauan keperak-perakan terkena sinar rembulan.
Setelah mengawasi sekelilingnya tampak pemuda berpakaian serba hitam tersebut telah tersenyum kecil, tampaknya dia puas bahwa keadaan di sekitar tempat itu sangat sepi.
Melihat sikap dan gerak-gerik orang tersebut, segera juga Giok Hoa dapat menduga bahwa pemuda itu niscaya bukan seorang baik-baik dan jujur.
Wajahnya yang tampan, matanya yang bersinar tajam memperlihatkan kelicikan, demikian juga dengan senyumnya itu, yang mengandung kelicikan bukan main.
Di waktu itu Giok Hoa menyaksikan dengan tubuh yang ringan, pemuda berpakaian serba hitam itu melompat turun ke dalam gedung tersebut.
Giok Hoa cepat-cepat keluar dari balik genting rumah penduduk tempat ia bersembunyi.
Cepat sekali dia melesat menghampiri rumah di mana pemuda berbaju hitam itu berada.
Dengan menggantungkan kakinya pada payon rumah tersebut, Giok Hoa leluasa bisa mengikuti gerak-gerik pemuda itu, karena Giok Hoa ingin mengetahui apa yang dilakukan pemuda tersebut.
Pemuda tersebut menghampiri ke arah jendela kamar yang berada di tengah ruangan, yang api penerangan kamar itu telah dipadamkan.
Dia sama sekali tidak mengintai, malainkan dia mengeluarkan sehelai kertas, kemudian melemparkannya masuk ke dalam kamar itu.
Terdengar suara seruan perlahan dari dalam kamar, seruan seorang wanita.
Giok Hoa jadi semakin heran.
Dugaannya ternyata meleset.
Tadinya dia menduga bahwa pemuda berpakaian serba hitam itu adalah pemuda Jai-hwa-cat, seorang pemetik bunga, yang selalu memperkosa isteri maupun anak gadis penduduk, dengan cara mempergunakan asap obat tidur, sehingga korbannya tidak sadarkan diri.
Tapi dugaannya itu melesat sama sekali, dan pemuda itu bukannya mengeluarkan asap obat tidurnya, malah telah melemparkan secarik kertas ke dalam kamar lewat jendela itu.
Dia juga tampaknya tidak melakukan sesuatu usaha, seperti mengintai ke dalam kamar atau membongkar jendela kamar tersebut.
Dan dari dalam kamar itu justeru terdengar suara seruan tertahan dari seorang wanita.
Apa yang tengah dilakukan pemuda itu?
Benar-benar Giok Hoa jadi bingung dan menduga-duga.
Dia sampai ingin menduga, atau pemuda berpakaian hitam itu tengah mengunjungi kekasihnya?
Apakah orang di dalam kamar itu, si wanita yang mengeluarkan seruan itu adalah kekasih pemuda tersebut?
Mungkin hubungan mereka ditentang ke dua orang tua si gadis, sehingga pemuda ini perlu mendatangi kekasihnya secara bergelap seperti itu?
Tengah Giok Hoa menduga-duga sambil memasang mata dengan tajam, daun jendela kamar terbuka.
Dari dalam kamar itu melompat sesosok tubuh, yang sama gesitnya.
Giok Hoa jadi semakin heran, wanita itu adalah seorang wanita berusia antara empatpuluh tahun lebih, namun pada wajahnya itu masih terdapat sisa-sisa kecantikan yang dimilikinya.
"Akh.......!"
Berseru pemuda itu dengan suara tertahan, tampaknya terkejut.
"Kau.....!"
Wanita setengah baya baru keluar dari dalam kamar tertawa dingin.
"Ya, memang aku! Kau terkejut? Mengapa harus kaget seperti itu?!"
Tanya wanita setengah baya tersebut, dengan sikap mengejek.
Pemuda itu cepat sekali dapat menenangkan goncangan hatinya.
Dia merangkapkan ke dua tangannya memberi hormat kepada wanita setengah baya tersebut.
Katanya.
"Maafkan..... apakah kau baik-baik saja, locianpwe?!" "Hemmmm, kau masih menanyakan kesehatanku? Bagus! Bagus! Tapi kukira, perhatianmu itu tidak menyebabkan engkau lolos dari hukuman yang akan kujatuhi padamu!"
Muka pemuda itu berobah memerah, kemudian pucat, tapi dengan suara yang tenang dan juga ia berusaha buat bersikap biasa saja, tanpa memperlihatkan kemendongkolan dan kemarahan hatinya, pada saat itu bilangnya dengan sabar.
"Locianpwe, mengapa locianpwe hendak menghukumku? Bukankah di antara kita tidak ada hubungan apa-apa lagi?"
"Murid murtad?"
Teriak si wanita setengah baya itu.
"Aku justeru hendak mewakili gurumu untuk menghukum kau!"
Sambil berkata begitu, dengan gerakan yang sangat gesit sekali, tubuhnya tahu-tahu telah berada di depan si pemuda.
Dia mengulurkan tangannya hendak mencekal pergelangan tangan kanan pemuda itu.
Tapi pemuda berpakaian serba hitam itu telah menarik tangannya terlepas dari cekalan si nenek, dia bilang.
"Kau jangan terlalu mendesakku, locianpwe…… Antara aku dengan bekas guruku itu sudah tidak terdapat hubungan apa-apa lagi!"
Sambil berkata begitu tampak si pemuda juga hendak memutar tubuhnya ingin berlalu. Tapi wanita setengah baya itu semakin gusar, bentaknya nyaring.
"Murid murtad seperti engkau harus dihajar mampus! Terimalah kematianmu!"
Sambil membentak begitu, cepat sekali tubuhnya melesat ke samping si pemuda.
Dia memang memiliki gin-kangnya yang sangat tinggi.
Karena dari itu, dia dapat bergerak dengan lincah sekali.
Dia telah berhasil berada di dekat si pemuda sambil tangan kanannya dipergunakan untuk menghantam kepala si pemuda itu.
Pemuda itu merasakan sambaran angin pukulan.
Dia memiringkan kepalanya, dia berhasil menghindar dari pukulan wanita setengah baya tersebut.
Cepat sekali, tanpa berani berayal pula pemuda itu telah melompat buat melarikan diri.
"Ingin kabur ke mana kau?"
Bentak wanita setengah baya tersebut, segera juga tubuhnya telah bergerak menyusul.
Tapi pemuda itu menggerakkan gin-kangnya dia berusaha berlari menjauhi diri dari wanita setengah baya yang galak itu.
Dan wanita setengah baya itu tetap mengejarnya.
Giok Hoa semakin tertarik menyaksikan urusan ini, dia menduga itulah urusan dalam sebuah pintu perguruan silat.
Sesungguhnya, memang diketahuinya di dalam rimba persilatan ada peraturan, orang dari luar pintu perguruan yang tengah timbul gelombang, tidak boleh mencampurinya, akan tetapi Giok Hoa tertarik sekali, sehingga dia pun segera mengikutinya dengan hati-hati.
Waktu itu pemuda berpakaian hitam tersebut telah berlari kurang lebih puluhan lie, dan hampir tiba di pintu kota.
Namun wanita setengah baya itu, yang sejak tadi tengah mengejarnya dan berlari dengan gin-kang yang tinggi sekali, dalam waktu yang singkat telah bisa memperdekat jarak pisah mereka.
Tiba-tiba tubuhnya seperti seekor burung elang, menyambar kepada si pemuda.
Tangan kanannya bergerak memukul dengan lweekang yang dahsyat.
Angin pukulan itu berkesiuran sangat kuat sekali, dan juga menyambar mendatangkan maut, yang bisa merenggut nyawa pemuda itu kalau saja si pemuda terkena serangan tersebut.
Tapi si pemuda yang menyadari bahaya yang tengah mengancam dirinya, tidak mau berdiam diri saja.
Dia berusaha buat menangkisnya sambil menahan larinya.
"Dukkkkk!"
Kuat sekali tangan mereka saling bentur, tampak tubuh si pemuda tergetar dan terpental tiga langkah, tapi tidak sampai terguling.
Sedangkan pada saat si nenek yang tubuhnya hanya tergoncang, kemudian melompat buat menyerang lagi!
Pukulan yang kali ini dilakukannya jauh lebih kuat dibandingkan dengan pukulan sebelumnya.
Dengan demikian membuat pemuda itu berusaha hendak menangkis lagi dengan memusatkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya.
Dikala itu, si nenek menarik pulang tangannya, dia batal buat menyerang lebih jauh, dan tahu-tahu tangan kirinya yang telah menyambar lagi, menerjang kepada dada pemuda itu.
"Ihhhh!"
Pemuda tersebut berseru tertahan, dia berusaha mengelakkan pukulan itu sambil menarik pulang tangannya yang tadi ingin menangkis, tubuhnya mengelak ke samping.
Namun gerakannya itu kalah cepat dibandingkan tibanya tangan si wanita setengah baya, sebab dia telah kena terserempet, dadanya sakit bukan main, dia sampai menjerit dan tubuhnya terhuyung mundur.
"Hemmmm, murid murtad, sekarang tiba waktumu untuk dibinasakan, guna menebus dosamu!"
Berseru wanita setengah baya itu, dengan sorot mata yang mengandung hawa pembunuhan, sikapnya mengancam sekali.
Sedangkan pemuda berpakaian serba hitam tersebut segera juga sambil meringis menahan sakit, melompat buat melarikan diri.
Namun nenek itu juga telah melompat sebat, tangan kanannya diulurkan, untuk menghantam lagi.
Si pemuda menyadari bahwa dia sudah tidak berdaya buat menghadapi tenaga pukulan wanita itu.
Ke dua tangannya bergerak ke punggungnya, cepat sekali dia telah mencabut keluar ke dua pedangnya, di mana sepasang pedang tersebut bergerak secepat kilat dalam bentuk gulungan, sinar keperak-perakan.
Si nenek juga mengetahui, tidak bisa ia menyerang terus, karena dia pun tidak mau tangannya jika kena ditabas pedang lawannya, yang akan membuat tangannya itu bisa buntung.
Di waktu itu, si pemuda merangsek terus, sepasang pedangnya bergerak-gerak sangat cepat sekali, angin berkesiuran menderuderu.
Dia menyerang dengan mengerahkan tenaga dalamnya dan juga jurus-jurus yang liehay sekali, karena mengetahui lawan yang tengah dihadapinya adalah seorang lawan yang tangguh luar biasa.
Terlihat tubuh si pemuda berulang kali melompat untuk melarikan diri, acapkali setelah berhasil mendesak lawannya dengan sepasang pedangnya, dia melompat menjauhi diri, dan berusaha memutar tubuhnya untuk melarikan diri.
Sayangnya wanita setengah baya itu justeru memiliki gin-kang yang tinggi sekali, sehingga dia selalu dapat mengejarnya dan menyerang dengan sepasang tangannya.
Dengan demikian sama sekali dia tidak memberikan kesempatan sedikitpun juga kepada pemuda itu buat melarikan diri.
Pemuda itu rupanya jadi naik darah juga.
Dia jadi nekad, karena menyadari wanita setengah baya seorang yang sangat tangguh, sehingga sulit buat dia melarikan diri.
Disebabkan itulah, dia telah berusaha untuk menyerang bertubitubi dengan pedangnya, di mana ke dua pedang itu beruntun menikam dan menabas tidak hentinya, mendesak wanita setengah baya itu.
Biarpun menghadapi sepasang pedang pemuda itu dengan bertangan kosong, dan setiap kali didesak wanita setengah baya itu melompat mundur menghindarkan diri, tetap saja dia berada di bawah angin.
Karena begitu si pemuda selesai menyerangnya, diapun akan balas menyerang dengan sepasang tangannya, yang tidak kalah ampuhnya dibandingkan dengan sepasang pedang pemuda tersebut.
Di waktu itu terlihat jelas sekali, si pemuda mulai gugup.
Dia mempergunakan seluruh tenaganya pada pedangnya itu yang berkelebat-kelebat ke sana ke mari dengan lincah dan penuh hawa pembunuhan, namun tetap saja dia tidak bisa mendesak wanita setengah baya itu.
"Hemmmmmmm, murid murtad, walaupun bagaimana hari ini adalah hari kematian mu......... Aku akan mewakili gurumu, buat mengambil jiwa murtadmu.....!"
Sambil berseru begitu, tiba-tiba gerakan tubuh wanita setengah baya itu berobah, tubuhnya seperti bayangan mengelilingi pemuda tersebut, sehingga pemuda itu tambah bingung.
Jika tadi dia masih bisa mempergunakan sepasang pedangnya buat menyerang dahsyat kepada wanita setengah baya itu, tapi sekarang justeru dia jadi bingung kehilangan sasaran.
Dia tidak bisa mengetahui dengan pasti di arah mana si wanita setengah baya itu berada.
Hal ini disebabkan wanita setengah baya itu yang tengah mengelilinginya bergerak terlalu cepat, sehingga tubuhnya jadi seperti bertambah menjadi lima atau enam orang.
Sebentar berada di sebelah kiri, sebentar di sebelah kanan atau di samping lalu di belakang.
Dengan begitu, si pemuda tambah bingung.
Buat sementara dia hanya membuka matanya lebar-lebar, mengawasi dengan hati yang berdebar, tanpa menyerang, karena dia ingin melihat dulu sesungguhnya di mana arah yang tepat beradanya si wanita setengah baya itu.
Giok Hoa yang mendekam di atas genting menyaksikan hal itu segera dapat menduga bahwa pemuda itu dalam duapuluh jurus lagi akan dapat dirubuhkan oleh lawannya.
Dan dugaan Giok Hoa ternyata tidak meleset, karena setelah lewat tujuh jurus pula tahu-tahu tubuh wanita setengah baya itu berkelebat sambil mengulurkan tangan kanannya bentaknya.
"Lepaskan…….!"
Muka pemuda itu jadi pucat, karena ke dua pedangnya tahu-tahu telah lenyap dari cekalannya, dimana dia berdiri mematung, karena sepasang pedangnya telah dirampas wanita setengah baya itu, dengan cara yang sangat menakjubkan sekali, atas kelihayan tangan wanita setengah baya tersebut.
Wanita setengah baya itu tertawa mengejek, dia mengerahkan tenaganya.
Sepasang pedang itu telah patah menjadi empat potong.
"Hemmm, sudah kukatakan bahwa hari ini adalah hari kematianmu…..!"
Berkata wanita setengah baya itu dengan suara yang menyeramkan.
"Murid murtad, sekarang kau bersiap-siaplah buat menerima kematian……!"
Sambil berkata begitu, tampak wanita setengah baya itu melangkah perlahan-lahan menghampiri si pemuda dengan sikap mengancam memancarkan hawa pembunuhan.
Pemuda itu menyadari bahwa dia sudah tidak berdaya buat menghadapi wanita setengah baya itu.
Dia berusaha untuk memutar tubuhnya, dia masih ingin angkat kaki.
Wanita setengah baya itu mengeluarkan tertawa dingin, tubuhnya melompat gesit sekali.
Dia berhasil mengejar pemuda tersebut.
Habislah tenaga pemuda itu.
Karena jambakan tangan wanita setengah baya yang disertai dengan lweekang yang tinggi, memijit jalan darah Kie-kiat si pemuda, sehingga begitu jalan darahnya kena dicekal, seketika punahlah tenaga pemuda itu.
Dia tidak bisa meronta lagi.
Wanita setengah baya itu tertawa mengejek.
"Hemmmmm…… kemana engkau hendak melarikan?!"
Mengejek si wanita setengah tua itu.
"Jika aku telah turun tangan, hemmmmm, hemmmmm, murid murtad seperti engkau memang sudah tidak bisa diberikan kesempatan buat hidup terus di dalam dunia ini.....!"
Pemuda itu lemah dan pecah nyalinya.
Dia menyadari, sekarang sulit sekali buat dia melarikan diri, lolos dari tangan si wanita setengah baya.
Karena dari itu, dia bermaksud untuk meminta pengampunan saja dari wanita setengah baya itu "Jangan…… jangan membunuhku......
aku bersumpah akan merobah kelakuanku……!"
Sesambatan pemuda itu. Tapi wanita setengah baya itu tertawa dingin.
"Hemm, murid murtad seperti engkau mana pantas diampuni? Engkau harus mampus dan juga engkau tidak bisa dibiarkan hidup lebih lama lagi di dalam dunia ini, karena hanya akan menimbulkan malapetaka bagi orang orang lainnya…… Gurumu telah memberikan mandatnya, agar aku mewakilinya memusnahkan engkau, seorang murid murtad yang paling kurang ajar……!"
Si pemuda mengeluh di dalam hatinya, karena dia menyadari bahwa wanita setengah baya itu akan turun tangan bersungguhsungguh, apa lagi di waktu itu tampak wanita setengah baya tersebut telah mengangkat tangan kanannya.
Dia bersiap hendak menghajar batok kepala pemuda itu.
Sekali saja telapak tangan itu singgah di batok kepala pemuda itu, niscaya si pemuda akan kehilangan jiwanya dengan kepala yang remuk hancur.
Dikala itu Giok Hoa sendiri melihat wanita setengah baya yang tangguh itu ingin membunuh si pemuda, yang sudah tidak berdaya itu, hatinya tidak senang.
Dia pikir, jika tokh wanita setengah baya itu hendak menghukum si pemuda, yang mungkin telah melakukan perbuatan yang mendurhakai pintu perguruannya, bisa saja ia menjatuhi hukuman dengan membuat bercacat si pemuda, agar kelak dikemudian hari dia tidak bisa melakukan kejahatan lagi.
Tapi justeru dalam keadaan seperti itu, di saat Giok Hoa hendak melompat keluar dari tempatnya bersembunyi, tampak sesosok bayangan melesat keluar dari tempat yang gelap di atas rumah penduduk.
"Jangan mencelakai dia……!"
Terdengar teriakan seorang gadis. Orang yang baru muncul itu memang seorang, dengan baju berwarna kuning gading, wajahnya cantik sekali. Usianya mungkin baru tujuhbelas tahun.
"Jangan mencelakai dia Locianpwe…… aku mohon, janganlah mencelakai dia.......!"
Wanita setengah baya itu melirik gusar kepada gadis tersebut, kemudian katanya.
"Gadis tidak tahu malu! Pergi kau!"
Dibentak begitu, gadis tersebut tidak juga meninggalkan tempat itu, dia malah merangkapkan ke dua tangannya menjura dalam-dalam kepada si wanita setengah baya itu.
"Ampunilah dia.......
janganlah dia dibinasakan jika memang engkau hendak membunuhnya juga, bunuhlah aku terlebih dulu!"
Dan setelah berkata begitu dengan suara yang gemetar, tampak gadis itu menggigil diiringi tangisnya.
Giok Hoa jadi berkasihan melihat gadis itu yang tentu mencintai pemuda tersebut.
Iapun jadi teringat akan hubungannya dengan Ko Tie yang juga disukai dan disenanginya.
Diwaktu itu telah timbul niat di hati Giok Hoa, walaupun bagaimana dia akan membantu gadis itu menolongi si pemuda dari tangan si wanita setengah baya tersebut.
Sedangkan wanita setengah baya itu telah berkata dengan suara yang dingin.
"Hemmm….. engkau jadi menyediakan dirimu sebagai pengganti jiwa murid durhaka ini? Dia seorang pemuda yang paling buruk di dunia jika tokh memang menyatakan suka padamu dan mengambil engkau sebagai isterinya, engkau akan menderita! Sebagai murid pintu perguruan kami, orang luar tidak berhak mencampuri urusan di dalam pintu perguruan kami, terlebih lagi kau….. pergilah…..!"
Gadis itu menggeleng perlahan sambil menyusut air matanya.
"Tidak…… tidak.....
apapun yang dikatakan locianpwe, akan tetap dengan keputusanku, bahwa aku memang harus dapat menolonginya.....
aku rela jika sampai harus mengorbankan jiwa buat dia……!"
"Hemmmm, sedemikian cintakah engkau kepada manusia busuk ini?!"
Kata wanita setengah baya.
Bola matanya memain, setidaknya hatinya jadi mengiri juga melihat akan kebetulan cinta gadis itu kepada pemuda yang tidak berdaya di dalam tangannya dan akan dibinasakan itu.
"Apakah engkau telah memikirkannya masak-masak buat membela mati-matian manusia busuk ini?!"
Gadis itu mengangkat kepalanya memandang wanita setengah baya itu, air matanya tetap mengucur deras sekali, dia merangkapkan tangannya, dia bilang.
"Benar..... jika memang locianpwe masih menghadapi jiwanya, lebih dulu locianpwe bunuhlah aku! Aku tidak sanggup menyaksikan dia mati di tangan locianpwe." Wanita setengah baya itu tertawa bergelak-gelak mendengar perkataan si gadis, yang seperti memelas meminta belas kasihan darinya. Giok Hoa jadi terharu bukan main, dia melihat ketulusan hati akan cinta si gadis terhadap pemuda itu, yang rela mengorbankan jiwanya, asalkan pemuda yang dicintainya itu bisa diselamatkan jiwanya dari maut. Dan Giok Hoa diam-diam semakin bertekad, walaupun bagaimana dia harus menolongi pemuda itu. Dia memang ingin membantu gadis itu menyelamatkan si pemuda. Setelah puas ia tertawa bergelak-gelak seperti itu, tampak muka wanita setengah baya tersebut berobah menjadi keras dan bengis. Bola matanya memain tidak hentinya, memancarkan sinar yang tajam sekali, katanya.
"Hemm, jika tetap engkau ingin membela manusia busuk ini! Sayang sekali aku tidak bisa kesakitan kepada dirimu! Terserahlah kepada dirimu sendiri, engkau mau mampus atau tidak, tetapi yang pasti, orang busuk ini harus dihukum mati. Dia merupakan murid murtad dari pintu perguruannya……!" Sambil berkata begitu, si wanita setengah baya tersebut mengangkat kakinya tinggi-tinggi. Dia menyedot hawa udara, karena dia mengerahkan sin-kangnya dan dia bermaksud akan menghantam batok kepala pemuda yang sudah tidak berdaya di dalam cengkeraman tangan kanannya.
"Jangan…… oooohhhh, ampunilah dia!"
Menjerit si gadis dengan suara memelas sekali, bahkan dia menubruk nekad hendak memeluk pemuda itu dan menghalangi maksud wanita setengah baya tersebut.
Tapi wanita setengah baya itu sama sekali tidak memperdulikan sikap si gadis, karena tangan kirinya itu dibatalkan buat menghantam kepala si pemuda yang telah jadi tawanannya itu, hanya saja tangan kiri itu dikibaskan kepada si gadis.
"Bukkk!"
Seketika tubuh gadis itu terpental sangat keras sekali, karena kibasan tangan wanita setengah baya itu memang sangat kuat.
Sambil mengeluarkan jeritan nyaring, tubuh si gadis terpelanting akan rubuh dari atas genting rumah penduduk.
Giok Hoa kaget, dia melihat si wanita setengah baya itu memang memiliki tangan yang agak telengas.
Segera juga Giok Hoa bermaksud hendak keluar dari tempat bersembunyinya, karena ia ingin memberikan pertolongan kepada gadis itu dan menyelamatkan si pemuda yang tidak berdaya berada dalam cengkeraman tangan si wanita setengah baya.
Cuma saja, belum lagi, Giok Hoa keluar dari tempat persembunyiannya itu, justeru telah terlihat tiga sosok tubuh dengan gerakan yang gesit sekali diiringi dengan seruannya.
"Ohhh, wanita kejam! Sungguh telengas! Gadis yang tidak berdaya seperti itu telah kau hantam sedemikian kuat tanpa mengenal kasihan!"
Bukan hanya berkata saja, salah seorang dari ke tiga sosok tubuh itu, telah melompat dengan sebat, dia berhasil menahan tubuh gadis itu, agar tidak terpelanting jatuh di bawah genting rumah penduduk.
Muka gadis itu pucat sekali, dia menangis terisak-isak, karena dia merasakan dadanya sakit bukan main akibat hantaman tangan kiri si wanita setengah baya yang disertai sin-kangnya.
Tentu saja gadis itu itu terluka di dalam yang tidak ringan, malah dirasakan nyeri sampai ke ulu hati.
Orang yang telah menolongnya, ternyata seorang pengemis berusia empatpuluh tahun lebih, dengan tubuh tinggi tegap, memelihara berewokan yang kasar, telah menghiburnya.
"Nona berdiri di sana saja…… biar kami yang mengurus wanita bertangan telengas dan berhati iblis itu!"
Katanya dengan suara yang sangat sabar sekali, di mana dia telah membiarkan si gadis duduk di atas genting rumah penduduk.
Tubuhnya kembali melompat ke dekat si wanita setengah baya.
Ke dua orang kawannya, yang juga dua orang pengemis, telah melompat menghampiri wanita setengah baya itu.
Bola mata wanita setengah baya tersebut telah memain tidak hentinya memancarkan kemarahan hatinya.
"Siapa kau sebenarnya!"
Bentak si wanita setengah baya dengan hati yang gusar bukan main, karena melihat ke tiga orang pengemis ini tampaknya hendak mencampuri urusannya.
Pengemis yang tadi telah menahan tubuh si gadis jatuh dari atas genting rumah penduduk segera berkata.
"Kami adalah manusiamanusia yang tidak punya harganya di matamu, tapi kami memberanikan diri buat memohon agar pemuda itu dibebaskan……!" Si wanita setengah baya itu tertawa dingin katanya.
"Aku telah menerima mandat dari gurunya, buat mewakilinya, agar membunuh dan memusnahkan muridnya yang murtad ini…..... Karena itu, sebagai orang-orang Kang-ouw tentu kalian menyadari tidak bisa kalian mencampuri urusan ini, urusan di dalam pintu perguruan yang tengah mengurus orang-orangnya……"
Pengemis itu mengangguk.
"Tepat! Memang kami tidak berhak buat mencampuri urusan di dalam sebuah pintu perguruan, jika memang pintu perguruan itu tidak ingin urusan rumah tangganya dicampuri orang luar! "
Tapi kamipun tidak bisa menyaksikan begitu saja, betapa engkau dengan tangan telengas dan kejam sekali, ingin membunuh pemuda yang tidak berdaya.
Dan juga menurunkan tangan begitu kejam terhadap seorang gadis yang lemah!
"Apakah engkau tidak sadari bahwa itulah tindakan dan perbuatan pengecut?
Dan kami juga tidak bisa tinggal diam menyaksikan tindakan pengecut seperti itu!"
Tegas sekali si pengemis berkata-kata seperti itu, sikapnya juga sangat gagah sekali. Bola mata wanita setengah baya itu mencilak tidak hentinya, dia mendengus, lalu katanya.
"Hemmm, aku Siangkoan Lo Sian tidak akan gentar menghadapi siapapun juga, apa lagi hanya menghadapi kalian yang tentunya merupakan tiga ekor tikus kurcaci dari Kay-pang!"
Pengemis yang seorang itu tertawa tawar, katanya.
"Memang kami adalah anggota Kay-pang, yang tentu tidak bisa menyaksikan seseorang bertindak sewenang-wenang….. terlebih lagi di depan mata kami! "
Seperti kau juga tentunya telah mengetahui, bahwa Kay-pang tidak akan membiarkan suatu perbuatan yang di luar batas keadilan berlaku di permukaan bumi ini!"
Siangkoan Lo Sian, engkau merupakan seorang tokoh rimba persilatan yang memiliki nama sangat terkenal dan juga engkau dihormati oleh orang-orang rimba persilatan dengan kepandaiaa yang tinggi!
Tapi…… mengapa hari ini justeru engkau bersikap begitu rendah, menghina kaum muda!"
Kata-kata pengemis itu rupanya telah dapat memanasi hati Siangkoan Lo Sian, karena tahu-tahu dia melepaskan cengkeraman pada pundak pemuda. Dia bilang.
"Baik, baik, aku justeru ingin melihat berapa tinggi kepandaian orang-orang Kaypang yang merupakan manusia-manusia pendekar gagah itu?!"
Sambil berkata begitu, Siangkoan Lo Sian, wanita setengah baya tersebut, berdiri dengan sikap seperti tengah menantikan penyerangan dari ke tiga orang pengemis itu, katanya menantang.
"Ayo...... ayo majulah, mari kita melihat, siapa yang bicara besar….. Kay-pang yang benar-benar gagah atau memang aku Siangkoan Lo Sian merupakan manusia yang gampang dihina?!"
Ke tiga pengemis itu saling pandang, lalu pengemis yang seorang, yang bertubuh gagah dan tadi telah menolongi si gadis sehingga ia tidak sampai terbanting dari atas genting.
telah melangkah maju setindak, sedangkan ke dua kawannya telah menyingkir ke samping, buat menyaksikan.
"Baiklah! Kami tidak pernah bertempur main koroyok, terlebih lagi terhadap seorang wanita! Biarlah aku Kie Pa Kay yang akan menghadapi engkau buat main-main seratus jurus!"
Dan dia pun bersiap-siap untuk menyerang.
Siangkoan Lo Sian menyadari bahwa pengemis bertubuh tinggi besar ini memiliki kepandaian tidak rendah dan tidak boleh dipandang remeh, karena tadi waktu dia bergerak begitu gesit menolongi gadis yang akan rubuh dari atas genting, juga sinar matanya yang tajam membuktikan bahwa dia memiliki kepandaian.
Di waktu itu terlihat betapa Siangkoan Lo Sian sudah tidak bisa menahan diri, dia bilang.
"Mengapa masih tidak menyerang, apakah memang kebiasaan Kay-pang buat main saling pandang saja?!"
Siangkoan Lo Sian tidak mau memperlihatkan kelemahan dirinya, biarpun dia mengetahui lawannya tentu seorang yang liehay, tokh dia memperlihatkan sikap seperti dia tidak memandang sebelah mata kepada lawannya.
Tiba-tiba Kie Pa Kay berseru.
"Maaf!"
Tahu-tahu tubuhnya mencelat sangat gesit sekali, tangan kirinya diulur buat mencengkeram, sedangkan tangan kanannya menghantam.
Siangkoan Lo Sian menangkis dengan tangan kanannya menghalau tangan kiri lawan.
Tangan kanan lawan yang meluncur disertai tenaga yang kuat, telah dihadapinya dengan kelitan yang manis sekali.
Malah Siangkoan Lo Sian tidak berhenti sampai di situ saja, berhasil memusnahkan serangan lawannya, dia balas menyerang dengan hebat.
Beruntun enam kali saling susul ke dua tangannya menyerang kepada si pengemis.
Apa yang dilakukannya semuanya merupakan jurus-jurus yang bisa membinasakan lawan.
Karena selain tenaga dalam yang dipergunakannya sangat kuat, juga setiap sasaran yang diincar merupakan tempat kematian dari lawan.
Kie Pa Kay tertawa dingin, empat kali beruntun dia mengelakkan diri.
Kemudian dua serangan lawannya ditangkis dengan kekerasan pula.
"Bukkk!"
Terdengar nyaring sekali. Disusul "Tukkk"
Yang tidak begitu nyaring.
Pukulan ke lima dari Siangkoan Lo Sian yang telah ditangkis, membuat tubuh Siangkoan Lo Sian tergoncang hebat, dan pukulan ke enamnya tiba tidak begitu keras, sehingga waktu Kie Pa Kay menangkis pukulan ke enam itu, suara benturan tangan mereka tidak terlalu nyaring.
Sedangkan muka Siangkoan Lo Sian merah padam karena marah, ia berseru nyaring dan melompat pula dengan sepasang tangan bergerak sangat sebat sekali.
Kie Pa Kay juga tidak mau membuang-buang waktu, dia menangkis dan balas menyerang.
Duapuluh jurus dilewatkan dengan sangat cepat.
Mereka memiliki kepandaian yang tampaknya sama tingginya, sehingga di waktu itu belum terlihat siapa di antara mereka yang terdesak di bawah angin atau siapa yang menang di atas angin.
Giok Hoa yang masih mendekam bersembunyi di tempatnya, menyaksikan pertempuran dengan tertarik.
Tetapi ketika melihat munculnya tiga orang pengemis itu segera juga timbul perasaan tidak senangnya pada pengemis itu, karena ia teringat bahwa orang yang telah mengambil pauw-hoknya berpakaian sebagai pengemis!
Tapi setelah mendengar percakapan yang berlangsung antara Kie Pa Kay dengan Siangkoan Lo Sian, pandangan Giok Hoa terhadap pengemis-pengemis itu berobah.
Dia memperoleh kenyataan para pengemis itu merupakan Ho-han atau orang gagah yang mementingkan keadilan.
Dan tidak mungkin pengemis-pengemis seperti itu mau melakukan perbuatan rendah mencuri pauw-hok si gadis.
Tengah Giok Hoa menyaksikan dengan hati ragu-ragu terhadap ke tiga pengemis itu, dia melihat gadis yang tadi hampir saja dibikin terpelanting oleh kibasan tangan Siangkoan Lo Sian, telah menghampiri si pemuda, yang dipeluknya.
"Tang Koko...... kau tidak apa-apa?!"
Tanyanya dengan penuh perhatian dan kekuatiran. Si pemuda menggeleng.
"Kui-moay…… kau jangan mencampuri urusan ini. Tidak seharusnya kau menempuh bahaya.....!"
Kata si pemuda. Si gadis menggelengkan kepalanya, air matanya menitik turun.
"Bagaimana mungkin aku bisa tenang, jika menyaksikan engkau terancam bahaya maut?!"
Kata gadis itu yang menghapus air matanya.
"Sudahlah Kui-moay..... bukankah aku tidak apa-apa?!"
Kata si pemuda dengan suara yang menghibur dan diiringi senyumnya.
"Lebih baik kau mempergunakan kesempatan buat melarikan diri, karena jika para pengemis itu telah dirubuhkan Siangkoan Lo Sian, niscaya engkau terancam bahaya yang tidak kecil! Ayo, kau cepat menyingkirkan diri.....!"
Menganjurkan si gadis.
Pemuda itu tidak segera menyahuti.
Dia memandang ke arah pertempuran yang tengah berlangsung.
Dia melihat Kie Pa Kay tengah bertempur seru sekali dengan Siangkoan Lo Sian, sehingga tubuh mereka berkelebat-kelebat cepat sekali.
Disebabkan terlalu gesit, tnbuh mereka menyerupai bayangan belaka, yang bergerak ke sana ke mari tidak bisa dilihat dengan jelas.
"Aku tidak boleh pergi dari tempat ini……!"
Akhirnya pemuda itu berkata perlahan kepada si gadis.
"Aku bisa ditolong oleh para pengemis itu. Bagaimana mungkin aku bisa melarikan diri begitu saja, sedangkan dia tengah mempertaruhkan jiwanya bertempur dengan perempuan celaka itu?!"
Si gadis tampak gelisah sekali, tapi dia tidak memaksa lebih jauh.
Sedangkan ke dua orang pengemis yang menjadi kawan Kie Pa Kay telah memandang pertandingan dengan penuh perhatian.
Sebab mereka melihat Siangkoan Lo Sian memang memiliki kepandaian yang tinggi.
Jika saja Kie Pa Kay terancam bahaya dan jatuh di bawah angin, mereka berdua akan turun tangan buat membantunya.
Pemuda itu tampaknya memang memiliki hati yang baik, di mana dia tidak bisa melupakan budi orang, dan tidak bisa menjadi manusia rendah, meninggalkan para penolongnya di saat para penolongnya itu tengah menghadapi pertempuran yang hebat.
Dia tidak mau menyingkirkan diri.
Si gadis yang mendengar pernyataan si pemuda, menduga bahwa Tang Kokonya ini bersungguh-sungguh.
Dan ia jadi tambah mencintainya, karena beranggapan Tang kokonya ini seorang jantan sejati.
Tetapi sebetulnya, dibalik ucapannya yang gagah perkasa itu, terselip maksud yang licik sekali.
Si pemuda berbaju hitam itu melihat bahwa kepandaian Kie Pa Kay sangat tinggi sekali.
Dalam pertempuran menghadapi Siangkoan Lo Sian, tidak terlihat tanda-tanda bahwa Kie Pa Kay terdesak atau jatuh di bawah angin.
Dengan demikian terbukti bahwa kepandaian Kie Pa Kay akan dapat diandalkannya.
Dan kepandaian ke dua kawan Kie Pa Kay itupun merupakan dua orang pengemis yang sangat tangguh, karena mereka tentunya sama tingginya memiliki kepandaian seperti Kie Pa Kay.
Karena dari itu, si pemuda berbaju hitam itu telah yakin, jika sampai Kie Pa Kay terdesak, tentu ke dua kawannya akan maju buat membantui.
Dikeroyok bertiga dengan pengemis itu, jelas Siangkoan Lo Sian tidak akan sanggup menghadapinya.
Maka pemuda ini yang sebenarnya bernama Sam Lu Tang, tenang-tenang untuk menyaksikan jalannya pertempuran tersebut, dia tidak gentar lagi.
Diapun merasa kagum dengan kepandaian ke tiga pengemis tersebut.
Jika memang Siangkoan Lo Sian dapat diusir dari tempat itu atau dirubuhkan, maka ia akan membujuk ke tiga orang pengemis itu, agar menerima dirinya sebagai murid mereka!
Atau setidaktidaknya, Sam Lu Tang berharap bisa diajarkan ilmu yang hebat dari ke tiga pengemis tersebut.
Kie Pa Kay telah berulang kali mengempos semangatnya, menyerang semakin hebat.
Serangan, yang dilakukan merupakan pukulan bertubi-tubi, yang selalu mengincar bagian yang berbahaya di tubuh Siangkoan Lo Sian.
Sedangkan Siangkoan Lo Sian juga berusaha buat menghalau pukulan tersebut dengan sebaik-baiknya, yang setelah menangkis dan memunahkan pukulan lawannya, dia akan membalas menyerang.
Karena tampaknya kepandaian mereka memang berimbang, sehingga mereka dapat bertempur terus tanpa memperlihatkan tanda-tanda siapa di antara mereka yang akan rubuh.
Dikala itu jelas sekali ke dua kawan Kie Pa Kay sudah tidak sabar, karena tampaknya mereka sudah ingin cepat-cepat menyelesaikan pertempuran tersebut.
Siangkoan Lo Sian berpikir diam-diam di hatinya.
"Hemmmm, pengemis Kay-pang ini tampaknya bukan lawan yang mudah kurubuhkan. Biarpun seratus jurus lagi kami bertempur, belum tentu kami akan dapat menyudahi pertempuran ini dan aku tidak mungkin dapat merubuhkannya! "
Apa lagi jika ke dua kawannya itu ikut maju mengeroyok! Hemmmm, hemm…… dilihat demikian, lebih baik-baik aku mendahului menurunkan tangan maut padanya……!"
Karena telah berpikir seperti itu, segera juga terlihat tubuh Siangkoan Lo Sian mengalami perobahan dalam gerakannya.
Tubuhnya mencelat ke sana ke mari seperti juga bayangan, yang sulit diikuti oleh pandangan mata manusia biasa.
Dia bergerak begitu lincah, setiap kali menghantam dengan pukulan yang mematikan.
Karena Siangkoan Lo Sian telah mempergunakan ilmu pukulan andalannya, yang selain memang hebat dan setiap jurusnya mengalami perobahan yang aneh dan sulit sekali buat diterka, dengan sendirinya telah membuat lawanmya, yaitu Kie Pa Kay terdesak juga.
Selama belasan jurus, Kie Pa Kay hanya main mundur dan mengelak saja, karena dia belum bisa memecahkan ilmu pukulan Siangkoan Lo Sian.
Dia mempelajarinya, di mana letak kelemahan dari ilmu pukulan wanita setengah baya tersebut.
Kemudian setelah lewat lagi lima jurus, cepat sekali dia menyerang ke arah perut Siangkoan Lo Sian.
Biarpun Siangkoan Lo Sian bisa mengelakkannya, tokh dia terus juga merangsek, selalu mengincar bagian perut dari wanita setengah baya itu, di bagian tengah itulah kelemahan dari ilmu pukulan Siangkoan Lo Sian.
Bukan main gusarnya Siangkoan Lo Sian karena penyerangan yang gencar dari Kie Pa Kay selalu menuju kepada arah tengah bagian tubuhnya.
Dengan demikian gerakannya jadi memperoleh kesulitan, tidak bisa terlalu lincah dan juga disaat ia selalu harus dapat menjaga pertahanan dirinya sebaik mungkin.
Hati Kie Pa Kay jadi girang sebab ia melihat bahwa dugaannya memang benar, di mana dia telah berhasil mendesak lawannya, sehingga Siangkoan Lo Sian tidak bisa mempergunakan secara leluasa ilmu pukulan andalannya itu.
Ke dua kawan Kie Pa Kay menyaksikan hal itu, ikut girang.
Mereka telah berseru agar kawannya itu dapat menyudahi pertempuran tersebut secepat mungkin.
Kie Pa Kay tertawa bergelak, dia memperhebat rangsekannya.
Siangkoan Lo Sian walaupun tengah terdesak, dia bukanlah seorang berkepandaian rendah, karena dari itu, dia tidak menjadi gugup.
Dia telah menghadapi serangan dan rangsekan lawannya sebaik-baiknya.
Mereka bertempur terus, lebih dari empatpuluh jurus.
Sedangkan Kie Pa Kay berulang kali telah berusaha untuk memukul bagian yang menentukan, menyerang bagian anggota tubuh yang mematikan.
Juga di waktu itu, Siangkoan Lo Sian sendiri mulai letih, napasnya memburu dan tenaganya berkurang, di mana wanita setengah baya itu jika harus bertempur seratus atau duaratus jurus lagi, niscaya akan menyebabkan dia kehabisan napas dan akhirnya rubuh sendirinya, walaupun andaikata tidak terkena pukulan lawan, karena kehabisan tenaga!
Rupanya Siangkoan Lo Sian menyadari akan kelemahannya itu.
Dia mengetahui jika ia kehabisan napas, niscaya dirinya akan dapat dirubuhkan dengan mudah oleh lawannya.
Atau jika memang dia telah letih, ke dua kawan Kie Pa Kay ikut menerjang maju, niscaya dia tidak berdaya buat menghadapinya.
Karena menghadapi kenyataan seperti itu sambil bertempur, Siangkoan Lo Sian juga berpikir untuk mencari jalan keluar meloloskan diri.
Jika mungkin, ia ingin melepaskan diri dari libatan Kie Pa Kay dan kemudian meninggalkan tempat tersebut…… Hanya saja kesempatan yang dikehendakinya itu tidak kunjung datang.
Tidak ada lowongan buat dia melepaskan diri dari libatan pukulan Kie Pa Kay.
Karena pengemis itu menyerang dia dengan beruntun.
Dan setiap serangan yang dilakukan oleh Kie Pa Kay merupakan rangkaian jurus-jurus yang melibatnya terus, sama sekali tidak memberikan sedikitpun kesempatan kepadanya buat mengelakkan diri.
Siangkoan Lo Sian karena sudah tidak memiliki kesempatan buat meloloskan diri, maka ia telah mengeluarkan bentakan penuh amarah, ke dua tangannya pun telah berkelebat-kelebat.
Ia pun berusaha buat menyerang berangkai kepada Kie Pa Kay.
Ke dua orang itu terlibat dalam pertempuran yang semakin lama semakin seru, sedangkan ke dua orang kawan Kie Pa Kay telah mengawasi jalannya pertempuran itu dengan mata yang terpentang lebar-lebar dan mereka berwaspada.
Jika memang Kie Pa Kay mengalami ancaman dari Siangkoan Lo Sian, mereka segera akan turun tangan buat membantuinya.
Hanya saja, disebabkan sejak semula mereka melihat Kie Pa Kay menang di atas angin, malah tampaknya Siangkoan Lo Sian terdesak.
Disamping itu, memang karena usianya yang telah lanjut itu membuat Lo Sian tentu tidak bisa bertahan terlalu lama, dan akan membuatnya letih, berarti ia akhirnya akan kehabisan tenaga, membuat ke dua kawan Kie Pa Kay jadi tenang.
Walaupun demikian mereka tetap saja bersikap waspada.
Sam Lu Tang telah memandang dengan sorot mata bersinar.
Ia girang sekali, karena ia yakin bahwa Siangkoan Lo Sian akan dapat dirubuhkan oleh Kie Pa Kay, sedangkan ia memang mengharapkan sekali pengemis itu, tuan penolongnya, yang memperoleh kemenangan, agar kelak ia bisa memohon kepadanya buat minta diterima menjadi murid atau setidaktidaknya diajarkan ilmu silat yang tinggi.
Dikala itu Siangkoan Lo Sian merasakan tenaganya semakin menyusut dan berkurang, karena itu ia juga berpikir keras, ia harus meloloskan diri.
Tidak bisa ia bertempur terus dengan cara seperti ini.
Setelah mengetahui bahwa Kie Pa Kay sengaja melibatnya dalam pertempuran yang panjang, yang akan menghabisi tenagaaya, membuat Siangkoan Lo Sian berlaku nekad.
Dengan berani, ia menjejakkan ke dua kakinya, ia mencelat ke tengah udara, dan waktu terapung di tengah udara, ke dua tangannya menghantam.
Sesungguhnya, jika seseorang tidak dalam keadaan terpaksa begitu, tentu jarang ada yang mau memakai gerakan terapung seperti itu.
Karena dengan terapung di tengah udara, berarti orang tersebut "kosong"
Dan akan dapat diserang dengan mudah oleh lawannya.
Cuma saja, karena Siangkoan Lo Sian memang memiliki kepandaian yang tinggi.
Dia juga membarengi disaat tubuhnya tengah terapung seperti itu dengan serangan mempergunakan jurus ilmu silatnya yang ampuh, memaksa Kie Pa Kay melesat mundur ke belakang buat mengelakkan diri.
Dan mempergunakan kesempatan itulah Siangkoan Lo Sian tahutahu melesat ke kanan.
Gerakannya cepat sekali, tubuhnya seperti kapas ringannya, dan dia telah menjauhi diri dari Kie Pa Kay, malah ia telah menjejak lagi kakinya begitu kakinya tersebut menyentuh tanah, sehingga tubuhnya telah melesat lebih jauh, dia bermaksud menjauhi diri dari lawannya.
Ke dua kawan Kie Pa Kay bermaksud hendak menghalangi, namun gerakan mereka terlambat, karena Siangkoan Lo Sian telah melesat jauh, dan malah ia telah berlari terus dengan mempergunakan gin-kangnya menjauhi tempat tersebut.
Hanya samar-samar terdengar suara teriakannya itu.
"Suatu waktu nanti Siangkoan Lo Sian akan mencari kalian! Hemmm, Siangkoan Lo Sian tidak akan menghabisi persoalan ini sampai di sini saja!"
Dan suara Siangkoan Lo Sian semakin menjauh, sedangkan tubuhnya akhirnya lenyap dari penglihatan.
Kie Pa Kay tidak mengejarnya, karena memang ia tidak bermaksud mendesak Siang-koan Lo Sian.
Ia beranggapan, antara dirinya dengan Siangkoan Lo Sian tidak ada hubungan apapun juga, tidak ada permusuhan.
Karena ia hanya bermaksud hendak menolongi orang belaka, maka Kie Pa Kay tidak bermaksud menanam permusuhan dengan Siangkoan Lo Sian.
Sam Lu Tang telah menghampiri dengan segera, ia menekuk ke dua kakinya memberi hormat kepada Kie Pa Kay sambil katanya.
"Terima kasih atas pertolongan locianpwe, jika tidak ada locianpwe tentu boanpwe telah dibunuh orang she Siangkoan itu!"
Sambil berkata begitu, tampak Sam Lu Tang telah menganggukkan kepalanya beberapa kali, untuk menyatakan terima kasihnya.
Sedangkan si pengemis cepat-cepat membangunkan si pemuda, di mana ia telah perintahkan Sam Lu Tang agar berdiri dan jangan memakai adat peradatan.
"Sudahlah! Sekarang kau sudah tidak terancam bahaya lagi, pergilah..........!"
Sambil berkata begitu, tampak Kie Pa Kay melirik kepada si gadis. Sampai akhirnya ia berpikir sesuatu, karenanya ia bertanya lagi.
"Mengapa kau hendak dibunuh oleh orang she Siangkoan itu?" Pemuda itu menghela napas, ia berkata.
"Sebetulnya, Siangkoan Lo Sian adalah seorang yang berpengaruh di tempat ini, di mana ia menjagoi. Tidak boleh ada seorangpun yang dapat membantah perintahnya! "
Aku kebetulan berhubungan rapat dengan nona ini, dan ia melarangnya, karena memang Siangkoan Lo Sian bermaksud menjodohkan keponakannya dengan nona tersebut…….
"Kami masih berhubungan diam-diam. Karena dari itu, ia bermaksud membunuhku, dianggapnya bahwa aku telah meremehkan larangannya…… Untung saja ada locianpwe yang telah menolongi. Jika tidak tentu aku telah membuang jiwa dengan konyol!"
Lebih jauh pemuda itu telah menjelaskan, sebetulnya ia bernama Sam Lu Tang, dan si gadis yang bernama Thio Lin Kui.
Mereka itu memang telah berhubungan dengan rapat selama setahun lebih.
Tapi justeru Siangkoan Lo Sian yang memiliki seorang keponakan laki-laki, yang berusia duapuluh lima tahun dan memiliki kepandaian yang cukup tinggi, bermaksud hendak menjodohkan keponakannya dengan Thio Lin Kui.
Hanya saja sayangnya keponakan Siangkoan Bu itu seorang yang ceriwis dan tidak boleh melihat pipi licin, selalu mengganggu wanita.
Mengetahui tabiat buruk dari pemuda itu, tentu saja Thio Lin Kui telah menolaknya, terlebih lagi memang ia pun telah mencintai Sam Lu Tang itu.
Demikianlah, disebabkan Siangkoan Lo Sian merupakan orang yang sangat berpengaruh di kota mereka, karena itu pula membuat Sam Lu Tang dan Thio Lin Kui, jadi ketakutan.
Mereka tidak berani terang-terangan untuk menjalin hubungan mereka.
Maka Sam Lu Tang selalu mengunjungi kekasihnya secara diam-diam di kelarutan malam.
Giok Hoa yang mendengar keterangan seperti itu baru mengerti, diam-diam dia mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali.
Kie Pa Kay dan ke dua orang pengemis lainnya juga mengangguk, lalu Kie Pa mementangkan Kay berkata.
pengaruhnya "Siangkoan dengan Lo Sian hendak sewenang-wenang.
Sungguh tidak memandang semua orang rimba persilatan lainnya!
"Bagaimana mungkin dia bisa mempergunakan cara memaksa seperti itu untuk menjodohkan keponakannya!
Hemm, dia memang pantas jika dihajar!" "Sayang kepandaian boanpwe sangat rendah sekali.
Jika tidak, tentu boanpwe akan dapat menghadapinya dengan baik!"
Berkata Sam Lu Tang kemudian dengan suara memelas.
"Dan juga, jika saja Boanpwe memperoleh seorang guru yang pandai, sehingga bisa mendidik boanpwe mempelajari ilmu silat yang tinggi, tentu boanpwe tidak akan dihina seperti sekarang ini……!"
Setelah berkata begitu, tampak Sam Lu Tang menghela napas beberapa kali, mukanya sangat guram. Sedangkan Kie Pa Kay tertawa, ia bilang.
"Engkau bisa memiliki kepandaian yang tinggi jika saja engkau rajin dan tekun mempelajari ilmu silatmu! Sekarang ini aku lihat kepandaian yang kau miliki juga tidak terlalu rendah……!"
Sam Lu Tang telah mengangkat kepalanya, dia berkata dengan suara yang memelas.
"Jika memang locianpwe tidak keberatan, boanpwe ingin sekali menerima petunjuk dari locianpwe!"
Kie Pa Kay tertawa terbahak-bahak.
"Kau ingin agar aku mengajari engkau beberapa jurus ilmu silat?"
"Ya!"
Mengangguk Sam Lu Tang. "Hemmm, untuk itu mudah saja!"
Kata Kie Pa Kay.
"Memang aku melihat engkau memiliki bakat yang baik dan juga tampaknya semangatmu tinggi. Aku bersedia buat menurunkan beberapa jurus kepandaian kepadamu……."
"Tunggu dulu! Kau tertipu oleh kentut busuk bocah setan itu!"
Tiba-tiba terdengar suara bentakan, diiringi dengan tertawa yang nyaring sekali, membuat sesama orang yang berada di tempat itu, termasuk Kie Pa Kay, terkejut bukan main.
Malah di waktu itu disusul dengan berkelebatnya sesosok bayangan yang gesit sekali, sehingga tidak bisa dilihat dengan jelas, dan tahu-tahu telah berada di depan Kie Pa Kay.
Tentu saja semua orang kaget, itulah ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi, di mana orang itu dapat bergerak begitu ringan dan cepat sekali, membuat ia seperti juga gumpalan awan saja, dan malah tahu-tahu, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun juga, ia telah berada di depan Kie Pa Kay.
Sedangkan Kie Pa Kay dan ke dua pengemis lainnya, waktu melihat jelas orang di depan mereka, tambah kaget tidak terkira, sepasang mata mereka terpentang lebar-lebar, dan muka mereka berobah.
Orang itu, seorang pengemis tua dengan bambu hijau di tangannya berdiri sambil memperdengarkan suara tertawa dingin.
Cepat-cepat, tanpa berayal lagi, Kie Pa Kay dan ke dua orang pengemis lainnya telah menekuk ke dua kaki mereka, memberi hormat dengan berlutut kepada pengemis tua itu.
"Thio Tiang-lo……!"
Kata mereka bertiga hampir berbareng.
"Kami menanyakan kesehatan Tiang-lo!"
Pengemis tua itu ternyata bukan lain dari Thio Kim Beng.
Ia tertawa bergelak-gelak.
Sedangkan Giok Hoa dari tempat persembunyiannya, jadi panas hatinya.
Itulah pengemis tua yang telah memancing keluar dari kamarnya, bahkan telah menggondol buntalannya, karena di waktu itu, setelah mengawasi sekian lama, Giok Hoa bisa terlihat di punggung Thio Kim Beng, tergemblok buntalannya!
Belum lagi Gok Hoa melompat keluar buat mendamprat pengemis tua itu, di saat itu Thio Kim Beng justeru telah menoleh ke arah tempat di mana Giok Hoa bersembunyi, malah disusul dengan tertawanya dan kata-katanya.
"Nona, mengapa kau masih tidak mau keluar?
Apakah sampai mau diseret keluar baru akan memperlihatkan diri?"
Kie Pa Kay dan yang lainnya jadi saling pandang dengan heran, karena mereka tidak mengetahui bahwa di tempat itu bersembunyi seorang lainnya.
Giok Hoa yang memang tengah bersiap-siap hendak melompat keluar dari tempat bersembunyinya itu, telah menjejakkan ke dua kakinya.
Tubuhnya melesat dengan cepat sekali.
Belum lagi kedua kakinya hinggap dan berdiri tetap, ia sudah mementang mulutnya.
"Pengemis tua yang busuk! Mengapa engkau mencuri barang-barangku? Cepat kau kembalikan?"
Thio Kim Beng tertawa bergelak lagi, ia bilang dengan suara yang sabar.
"Sabar! Sabar!! Mengapa begitu muncul engkau telah menuduhku sebagai pencuri? Dengarkanlah dulu baik-baik…… Jangan terburu napsu……!"
Giok Hoa menuding kepada Thio Kim Beng dengan muka yang merah padam, dia pun telah mencabut keluar pedangnya karena ia benar-benar mendongkol sekali, di mana ia bersiap-siap hendak menerjang kepada Thio Kim Beng yang dianggapnya sebagai pengemis tua yang telah mempermainkannya.
Justeru Giok Hoa kuatir ia akan kehilangan jejak pengemis tua itu lagi.
"Kau pengemis busuk, yang tidak tahu malu. Engkau telah memancing aku meninggalkan kamar, kemudian engkau menggasak barang-barangku…… "
Sekarang kau hendak memutar lidah dan tidak mau mengembalikan cepat-cepat barang nona mudamu…… Apakah engkau mau menunggu sampai lehermu itu kutabas putus?!"
Sambil berkata begitu, tampak Giok Hoa mengibaskan pedangnya, sampai memperdengarkan suara mendengung.
Di samping itu berkelebat sinar putih keperak-perakkan, di mana pedangnya itu merupakan sebatang pedang mustika yang baik sekali.
Kie Pe Kay melihat Tiang-lonya dibentak-bentak seperti, jadi tidak senang.
Ia melangkah maju ke depan, dan telah membentak kepada Giok Hoa dengan sepasang mata yang dipentang lebar, ia bilang.
"Hemmm, hati-hati dengan mulutmu, nona....... inilah Thio Tiang-lo kami, yang sangat kami hormati, di mana jika memang Tiang-lo menghendaki jiwamu itu sama mudahnya dengan membalik telapak tangannya!" Sambil berkata begitu, tampak Kie Pa Kay bersiap-siap hendak maju ke depan, guna mewakili Tiang-lonya menghadapi si gadis. Tapi Thio Kim Beng sambil tertawa tawar, dia memberikan isyarat kepada Kie Pa Kay dan ke dua pengemis lainnya agar tidak mencampuri urusan itu. Ia juga mengibaskan bambu hijau di tangannya sehingga berkelebat sinar hijau.
"Nona yang tidak berbudi!"
Katanya kemudian dengan suara yang tawar.
"Hemm, aku si pengemis tua yang belum lagi mau mampus ini bersusah payah telah menolongi engkau, tetapi engkau ternyata bukannya berterima kasih malah telah menuduhku sebagai pencuri! Baiklah! Aku akan membuka kartunya!"
Berkata sampai di situ, tahu-tahu tubuh Thio Kim Beng melesat gesit sekali dia juga menyambungi perkataannya.
"Hendak kabur ke mana kau?"
Giok Hoa menduga pengemis tua ini hendak menyerangnya.
Dia bersiap-siap menyambutnya dengan pedang di lintangkan di depan dadanya.
Tapi ternyata Thio Kim Beng bukan menyerang kepadanya, hanya saja tampak ia telah melesat ke samping, kepada Sam Lu Tang, di mana tangan kanan dari Thio Kim Beng mudah sekali menjambak baju di punggung pemuda itu.
Dan ia menghentaknya, sampai tubuh Sam Lu Tang terlempar ke tengah udara, lalu terbanting di atas tanah dengan keras!
Ternyata Sam Lu Tang bermaksud melarikan diri, di kala pengemis tua she Thio itu bercakap-cakap dengan Giok Hoa.
Ia hendak mempergunakan kesempatan tersebut untuk menyingkir secara diam-diam.
Tadi waktu melihat datangnya Thio Kim Beng, muka Sam Lu Tang berobah hebat.
Sedangkan waktu itu ia memang sudah berpikir untuk melarikan diri meninggalkan tempat itu.
Dia melirik kepada si gadis, Kui-moy atau adik Kui nya, ia tidak mengatakan apa-apa, karena si gadis waktu itu tengah mengawasi Thio Kim Beng penuh perhatian.
Ia kagum dan takjub melihat ginkang Thio Kim Beng yang begitu sempurna.
Di waktu itu tampak Giok Hoa telah muncul, membuat muka Sam Lu Tang berobah semakin pucat, dan tubuhnya agak menggigil, rupanya ia ketakutan bukan main.
Ia semakin cepat bergerak untuk menyingkirkan dirinya dengan diam-diam meninggalkan tempat tersebut.
Siapa tahu bahwa Thio Kim Beng telah mengawasi setiap gerakgerik pemuda itu.
Dan dikala Sam Lu Tang hendak angkat kaki, di waktu itulah ia bergerak untuk membekuk¬nya.
Malah dia telah melemparkan pemuda itu sampai terbanting di tanah, membuat mata Sam Lu Tang berkunang-kunang dan kepalanya pusing, sementara waktu ia tidak bisa segera bangkit berdiri.
Giok Hoa dan yang lainnya tidak mengerti apa yang tengah terjadi ini.
Karena mereka tidak mengerti mengapa Thio Kim Beng justeru mencekuk pemuda she Sam itu dan telah membantingnya, sedangkan waktu itu mereka telah membicarakan urusan pencurian buntalan Giok Hoa, yang dituduh oleh si gadis dilakukan oleh Tiang-lo Kay-pang she Thio tersebut.
Thio Lin Kui menjerit dan melompat turun berusaha membantui Sam Lu Tang untuk bangun.
"Tang Koko…… kau…… kau tidak apa-apa?!"
Tanya si gadis dengan suara mengandung kekuatiran yang sangat.
Sam Lu Tang menggeleng-gelengkan kepalanya yang pusing bukan main, matanya juga berkunang-kunang masih gelap.
Ia telah bilang perlahan tidak lancar.
"Dia….. dia….. pengemis jahat, cepat kau pergi meninggalkan aku di sini, cepat kau loloskan diri!" Tapi Thio Lin Kui menggeleng.
"Tidak!"
Katanya. Malah si gadis telah bangun dan bertolak pinggang, berdiri dengan mata mendelik menghadapi Thio Kim Beng.
"Pengemis busuk, mengapa kau menganiaya Tang Koko?!"
Bentaknya berani dan nekad, walaupun ia mengetahui bahwa pengemis tua ini sangat dihormati oleh Kie Pa Kay dan ke dua pengemis lainnya itu........
"Tidak hujan tidak angin engkau telah melontarkan dan menganiaya Tang Koko! Di manakah keadilan?"
Thio Kim Beng tersenyum, dia bilang.
"Nona, selama ini engkau telah menjadi korban kelicikannya pemuda busuk itu!"
"Menjadi korkan kelicikan Tang Koko? Apa maksudmu? Hemmmm, engkau jangan bicara sembarangan!"
Bentak Thio Lin Kui bertambah marah. Waktu itu Thio Kim Beng menoleh kepada Giok Hoa, ia bilang.
"Inilah penjahat yang malam itu kuhajar…… hemmm, dia bukan pemuda baik-baik, dia seorang Jai-hwa-cat, seorsng pemetik bunga……!" Semua orang kaget. Termasuk Kie Pa Kay sampai pengemis ini dan ke dua pengemis Kay-pang lainnya menatap kepada Sam Lu Tang dengan tertegun. Pemuda itu telah dapat merangkak berdiri, ia cepat-cepat bilang.
"Bohong….. apa yang dikatakannya dusta besar.......... semua itu bohong belaka!"
Kie Pa Kay menyadari, yang bicara adalah Tiang-lo mereka, dan tidak mungkin Tiang-lo mereka, dengan kedudukannya yang begitu terhormat, akan menuduh tanpa bukti dan sembarangan memfttnah.
Karenanya Kie Pa Kay jadi marah mendengar perkataan Sam Lu Tang tahu-tahu tubuhnya telah melesat berada di samping Sam Lu Tang, tangan kanannya, bergerak, terdengar suara "Ploookkk,"
Yang nyaring sekali. Muka Sam Lu Tang bengap, dia terjungkal bergulingan di tanah. Waktu dia merangkak bangun, mulutnya pecah mengeluarkan darah, sedangkan giginya telah rontok tiga.
"Mulutmu jangan kurang ajar, bocah!"
Bentak Kie Pa Kay dengan suara bengis. "Aduhhh........ aduhhh…..!"
Merintih Sam Lu Tang kesakitan. Sedangkan Thio Lin Kui jadi bingung dan berkuatir sekali, dia telah menubruk Tang Kokonya itu dan juga memaki kalang kabutan.
"Kalian kaum pengemis, kalian bertindak sewenang-wenang…… kalian bukan manusia-manusia baik….. Kalian manusia-manusia busuk…….!"
Thio Kim Beng menghela napas, dia bilang.
Baca Juga: Pembakaran Kuil Thian Lok Si Kho Ping
Baca Juga: Seruling Gading Kho Ping Hoo