Ceritasilat Novel Online

Anak Rajawali 7

Eps 7 Anak Rajawali - Chin Yung

Baca online Anak Rajawali - Chin Yung

Cersil Anak Rajawali - Chin Yung.

Dia tahu-tahu meliuk-liuk dan tubuhnya dapat terbang lolos dari hantaman Ha-mo-kang nya Auwyang Phu, karena dia telah membawakan gerakan seekor ular, dan tubuhnya secara luar biasa lolos dari hantaman Ha-mo-kang itu!

Rajawali itu terbang lebih tinggi, namun Auwyang Phu jadi penasaran, dia mengeluarkan bentakan nyaring, tangannya itu digerakkan lagi.

Sepasang tangan yang mengandung Ha-mo-kang yang terlatih dengan baik telah meluncur ke arah si rajawali putih, tapi rajawali putih itu telah terbang semakin tinggi, dengan demikian tenaga ke dua tangan Auwyang Phu sudah tidak memiliki arti lagi, karena tenaga Ha-mo-kang tersebut tidak bisa menyambar ke atas lebih tinggi lagi.

Bukan main mendongkol dan gusarnya Auwyang Phu.

Dia melompat berdiri dan memaki.

"Rajawali laknat, turunlah, akan kuhancurkan tubuhmu….. Turunlah binatang celaka!"

Sambil berteriak-teriak keras seperti itu dia mengawasi dengan sorot mata yang tajam sekali mengandung ancaman kepada burung rajawali putih yang tengah terbang semakin tinggi berputarputar di tengah udara.

Sedangkan biruang salju yang telah berhasil berdiri lagi, walaupun kepalanya masih agak pusing, dengan marah dia menerjang lagi kepada Auwyang Phu.

Sekali ini Auwyang Phu tidak mempergunakan Ha-mo-kangnya, tubuhnya berkelebat ke sana ke mari mengelilingi biruang salju itu.

Kepandaian Auwyang Phu memang telah mencapai tingkat yang tinggi, sehingga dia bisa mempermainkan biruang salju tersebut.

Setiap terkaman dari biruang salju dapat dihindarkannya dengan mudah, membuat biruang salju itu tambah penasaran dan kalap.

Burung rajawali putih itu, yang tengah terbang di tengah-tengah udara, menyaksikan biruang salju itu dipermainkan seperti itu oleh Auwyang Phu, segera juga dia terbang menukik dan sekali-sekali menyerang Auwyang Phu, buat membantui biruang salju.

Demikianlah, Auwyang Phu dikeroyok oleh ke dua binatang tersebut, yang seekor terbang di tengah udara, berputaran dan mencari kesempatan disembarang waktu buat menyerang sedangkan saat itu terjangan biruang salju juga bukan merupakan terjangan sembarangan.

Sehingga Auwyang Phu telah mengeluarkan gin-kangnya, melompat ke sana ke mari dengan gesit sekali, biruang salju itu juga bergerak dengan lincah.

Setiap kali tubuhnya telah melompat ke kiri menerkam, jika gagal, cepat luar biasa tanpa memutar tubuh dia menerkam ke kanan.

Dengan demikian, dia seperti juga seorang jago silat yang tengah bertempur hebat dengan seorang lawannya.

Karenanya, telah membuat Auwyang Phu tidak bisa memandang ringan juga.

Hati kecil Auwyang Phu diliputi tanda tanya dan perasaan heran, karena biar bagaimana dia heran juga, melihat biruang salju dan rajawali putih itu dapat bertempur dengan segesit itu.

Malah gerakan mereka semuanya merupakan gerakan-gerakan silat, langkah kaki mereka menurut peraturan ilmu silat yang memiliki kelihayan menakjubkan.

Dikala itulah, Auwyang Phu sambil mengawasi cara bertempur biruang salju tersebut dia pun melihat-lihat di mana kelemahan dari binatang itu, di samping diapun sekali-kali sibuk harus melayani sambaran rajawali putih.

Setelah menyaksikan sekian lama lagi, tiba-tiba Auwyang Phu melompat cukup tinggi.

Waktu dia meluncur turun, bukan dengan kedua kaki dulu, tetapi dengan kepalanya, yang hinggap di atas tanah dan berputaran cepat sekali.

Ke dua tangannya segera bergerak-gerak menghantam bagian bawah biruang salju itu, sepasang kakinya juga sekali-sekali mengancam dengan tendangan yang kuat sekali.

Biruang salju itu jadi bingung menghadapi cara bertempur lawannya.

Tidak biasanya dia memperoleh lawan yang main di bawah seperti Auwyang Phu, yang tubuhnya bisa terbalik seperti itu, malah kepandaian Auwyang Phu pun memang sangat tinggi!

Karena dari itu biruang salju tersebut jadi sibuk melindungi sepasang kakinya, walaupun dua kali kena disapu, satu kali dia rubuh terguling karena sapuan tangan Auwyang Phu pada kakinya.

Sedangkan satu kali dia hanya terhuyung.

Dengan demikian membuat biruang salju itu lebih hati-hati.

Sementara ini dia hanya main mundur mengelakkan diri belaka.

Rajawali putih itu tidak kurang dari herannya melihat cara bertempur Auwyang Phu yang kepalanya berada di bawah dan sepasang kakinya di atas.

Dengan cara demikian, cara yang tidak biasa mereka hadapi, membuat rajawali putih itu agak bingung juga.

Namun karena melihat biruang salju itu terdesak dan main mundur tidak berdaya buat balas menyerang, rajawali putih itu berulang kali menukik dan menyerang.

Ke dua sayapnya semakin gencar buat menyampok kepada Auwyang Phu.

Cuma saja Auwyang Phu benar-benar liehay, walaupun dia dalam keadaan jungkir balik seperti itu,di mana kepala di bawah dan sepasang kaki di atas, namun dia masih bisa menyerang ke atas.

Kedua tangannya dengan mempergunakan Ha-mo-kang telah menyerang bertubi-tubi kepada rajawali putih tersebut, sehingga membuat bulu sayap dari burung rajawali putih tersebut rontok dan banyak yang terlepas jatuh ke atas tanah!

Begitulah, seorang manusia dikeroyok oleh dua binatang yang berlainan jenis itu, seekor biruang dan seekor rajawali putih, mereka bertempur begitu hebat.

Dengan demikian membuat Auwyang Phu sendiri sebetulnya merasa mendongkol, di mana dia belum lagi bisa merubuhkan ke dua orang "lawan"nya yang luar biasa ini.

Tidak biasanya Auwyang Phu mengalami kesulitan merubuhkan lawannya.

Terlebih lagi jika hanya menghadapi binatang buas.

Seekor harimau saja bisa dirubuhkannya dengan mudah, sekali menghantam kepala harimau itu akan hancur dan mati.

Tetapi sekarang menghadapi seekor biruang salju dan burung rajawali itu, dia seperti mati kutu.

Walaupun dia tidak bisa dirubuhkan juga oleh ke dua ekor binatang itu, dia sendiri juga tidak bisa merubuhkan lawannya!

Padahal, jika menghampiri jago-jago rimba persilatan yang memiliki kepandaian tinggi, Auwyang Phu jarang memperoleh kesulitan, dan dia selalu dapat merubuhkan lawannya dengan mudah.

Hanya saja, sekarang dia jadi tidak berdaya buat menyudahi pertempuran itu secepat mungkin, membuat benarbenar jadi penasaran sekali, sampai dia berjingkrak berdiri dengan ke dua kakinya lagi.

Dia telah menghantam berulang kali dengan telapak tangannya yang disertai dengan sin-kangnya yang sangat kuat.

Tetap saja Auwyang Phu tidak berhasil merubuhkan ke dua lawannya.

Dia hanya berhasil membuat bulu burung rajawali putih itu banyak yang rontok akibat terkena sambaran angin pukulan Auwyang Phu yang dahsyat.

Dan biruang salju itu tampak telah berdarah mulutnya karena telah beberapa kali berhasil dibikin jungkir balik terbanting di tanah.

Maka Auwyang Phu semakin mengempos tenaga dalamnya, karena dia ingin sekali cepat-cepat menyudahi pertempuran itu, yang memang telah berlangsung sampai puluhan jurus.

Suatu kali, melihat biruang salju yang kedot dan selalu dapat bangun lagi cepat bukan main setelah terbanting, malah lebih ganas menyerangnya, membuat Auwyang Phu telah menyalurkan sin-kangnya yang paling kuat.

Dia telah mendorong tiba-tiba sekali dengan ke dua telapak tangannya dengan salah satu jurus Ha-mokang, ilmu kodoknya, dia pun bermaksud kali ini, begitu serangannya mengenai sasaran, tubuh biruang salju itu akan ambruk, sebab tenaga serangannya ini memang sangat kuat sekali.

Biruang salju itu yang diserang hebat seperti itu juga jadi kaget karena dia merasakan, belum lagi angin serangan itu tiba, dia sudah merasakan sambaran angin yang hebat sekali.

Biruang salju itu bermaksud hendak menghindarkan diri, namun terlambat.

Pundaknya terkena hantaman itu, biruang salju itu memekik nyaring kesakitan tubuhnya terguling dan beberapa kali menggelinding menjauhi diri dari Auwyang Phu.

Baru saja Auwyang Phu bermaksud mengejarnya buat menyusuli pukulan berikutnya, di waktu itu rajawali putih itu telah meluncur turun menyampoknya dengan sepasang sayapnya bergantian.

Dengan demikian membuat dia harus membatalkan maksudnya menyerang biruang salju itu, ia menghadapi tenaga sampokan dari burung rajawali putih tersebut.

Dengan sengit, Auwyang Phu menghantam sama hebatnya seperti tadi.

Burung rajawali putih yang tengah berkuatir akan nasib biruang salju, telah nekad dan menyambuti serangan telapak tangan Auwyang Phu dengan sayap kanannya.

"Bukkk!"

Bulu-bulu sayap burung rajawali tersebut telah banyak yang rontok.

Kasihan juga nasib burung rajawali itu, karena terdengar suara "krak" , rupanya sayapnya ini mengalami sesuatu cidera yang tidak ringan, disebabkan kuatnya tenaga Ha-mo-kang Auwyang Phu, membuat tulang sayap burung itu hampir patah, namun dia masih sempat memaksakan diri buat terbang terus di tengah udara!

Dikala itu terlihat betapa Auwyang Phu sengit sekali menyusuli dengan pukulannya lagi, karena dia mengharapkan dapat merubuhkan burung rajawali tersebut, agar dia dapat memberesi burung rajawali itu.

Namun dugaannya itu meleset, tenaga serangannya telah menghantam tempat kosong sebab burung rajawali putih itu telah terbang tinggi sekali, sambil mengeluarkan suara pekikan yang nyaring sehingga kekuatan tenaga dalam dari pukulan Auwyang Phu sama sekali tidak memberikan hasil.

Di waktu itulah Auwyang Phu memutar tubuhnya, dia melihat biruang salju tengah merangkak berusaha untuk berdiri lagi, namun biruang salju itu telah terluka di dalam yang tidak ringan, membuatnya tidak bisa segera berdiri tetap, dia masih mengerangerang kesakitan.

Segera Auwyang Phu telah melompat ke dekat biruang itu, dia bermaksud akan menghantam buat menghabisi riwayat biruang salju itu.

Namun, justeru waktu dia mengangkat tangannya di waktu itulah dia telah melihat biruang salju itu cepat sekali telah menubruk nekad kepadanya.

Sebagai binatang yang memiliki perasaan yang halus, dia menyadari bahwa dirinya akan dibunuh oleh Auwyang Phu dengan kejam.

Dan belum lagi orang itu sempat turun tangan buat membunuhnya, justeru dia telah mendahului dengan nekad sekali buat menubruknya.

Tetapi Auwyang Phu biarpun diserang mendadak seperti itu, dan memang biruang salju tersebut telah menghantam dengan pukulan Inti Es, tokh kenyataannya tetap saja Auwyang Phu berhasil berkelit, sehingga tubuh biruang salju itu terhuyung ke depan.

Bersamaan dengan itu, segera juga Auwyang Phu telah menghantamkan telapak tangannya ke punggung biruang salju tersebut.

Seketika tubuh biruang salju itu tersungkur, dan dia mengeluarkan erangan perlahan, luka di dalam tubuhnya semakin parah dan dia malah telah mengeluarkan darah dari mulutnya, memuntahkan dua kali, karena dengan terhantam punggungnya oleh pukul Ha-mokangnya Auwyang Phu, membuat dia tergempur di bagian dalam tubuhnya tidak ringan.

Malah ketika dia berusaha untuk bangkit lagi, dia sudah tidak sanggup, karena di saat itulah tubuhnya gemetaran dan juga ke dua kakinya lemas tidak memiliki tenaga, dia rubuh terguling dan tidak bisa bangun lagi.

Auwyang Phu tertawa dingin, tubuhnya lincah sekali telah melompat ke dekat biruang tersebut, dia bermaksud akan menghadapi biruang salju tersebut.

"Manusia jahat dan kejam!"

Tiba-tiba terdengar suara orang berseru dengan disusul berkelebatnya sesosok bayangan ke arahnya.

Sinar putih berkelebat kepadanya, dengan gerakan yang sangat cepat sekali.

Auwyang Phu terkejut, dia menyadari ada seseorang yang menyerangnya dengan pedang, dan dia heran juga di tempat ini bisa bertemu dengan seorang yang memiliki ilmu pedang demikian liehay dan tampaknya tidak boleh dipandang remeh.

Juga gerakan tubuh penyerangnya itu gesit sekali, dibarengi dengan suaranya itu, tubuhnya telah meluncur dengan pesat sekali, dan dalam waktu yang singkat dia telah diserang dengan tiga kali tikaman!

Auwyang Phu tidak membuang-buang waktu, segera mengelakkannya.

Tiga tikaman itu menyambar ke sasaran yang kosong dan orang yang telah datang menyerangnya itu penasaran, pedangnya berkelebat-kelebat lagi, lima jurus sekaligus menyerang Auwyang Phu.

Selama itu Auwyang Phu telah berusaha mengelak ke sana ke mari, dan dia mementang matanya lebar-lebar buat melihat jelas siapa penyerang itu.

Buat kaget dan herannya, ternyata penyerangnya adalah seorang wanita berusia muda dan cantik sekali, yang tampak tengah marah dengan muka merah.

Segera juga Auwyang Phu berseru genit.

"Akh, kiranya seorang bidadari cantik!"

Dan Auwyang Phu, walaupun bertubuh pendek, memiliki pikiran yang panjang dan cerdik, dia dapat menduga dengan segera bahwa orang yang menyerangnya ini pasti merupakan majikan dari ke dua binatang yang tadi telah bertempur dengannya.

Jika memang ke dua binatang itu dapat dididik memiliki kepandaian yang lumayan, tentu gadis ini memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi, karenanya, biarpun memang Auwyang Phu tidak memandang sebelah mata kepada gadis penyerangnya yang selalu gencar menikam dan menabasnya, namun tetap saja dia berlaku hati-hati dan memperhatikan ilmu pedang si gadis.

Buat kagetnya,setelah menyaksikan belasan jurus dari ilmu pedang gadis itu, segera ia mengenalinya bahwa ilmu pedang yang dipergunakan gadis tersebut tidak lain dari Giok-lie-kiam-hoat.

Ilmu pedang yang sangat terkenal di dalam rimba persilatan, milik Sintiauw-tay-hiap Yo Ko dan Siauw Liong Lie.

Karenanya, hal itu membuat Auwyang Phu menjejakkan kaki tahutahu melesat dan menjauhi pertempuran tersebut, dia telah membentak.

"Tahan……bukankah engkau mempergunakan pedang Giok-lie-kiam-hoat?!"

Disebut ilmu pedang yang tengah dipergunakannya, gadis itu juga jadi heran.

Mengapa orang asing ini, yang tubuhnya demikian pendek bisa kenal dan mengetahui nama ilmu pedangnya?

Segera juga dia menahan serangannya, dan berdiri mendelik kepada Auwyang Phu.

◄Y► Dialah Giok Hoa, yang kebetulan tengah keluar dan melihat biruang salju serta rajawali putih itu tidak berada di dekat rumah gurunya.

Segera dia bersiul memanggil rajawali.

Tidak biasanya, burung rajawali putih tersebut tidak segera datang, padahal sebelum-sebelumnya rajawali itu segera akan datang jika ia bersiul menanggilnya.

Karenanya Giok Hoa jadi bercuriga, segera juga ia berlari-lari sambil bersiul memanggil rajawali putihnya.

Sampai dia mendengar suara erangan biruang salju itu, dan dia menyaksikan pemandangan yang membuat darahnya meluap, di mana burung rajawali mengalami kerusakan, dengan bulu-bulunya yang rontok dan juga biruang salju itu yang telah terluka berat.

Segera dia mencabut pedangnya, telah menerjang menikam Auwyang Phu, yang diduganya tentu bukan sebangsa manusia baik-baik.

Auwyang Phu memang heran melihat gadis ini mempergunakan Giok-lie-kiam-hoat, dia menduga tentunya Giok Hoa memiliki hubungan dengan Sin-tiauw-tay-hiap.

Memang dia merasa tidak senang dengan Sin-tiauw-tay-hiap, karena dari itu, matanya segera bersinar tajam memandang si gadis.

Dia bermaksud akan membekuknya dan nanti memaksa gadis itu agar memberitahukan kauw-hoat atau teori ilmu silat Gioklie-kiam-hoat kepadanya!

Giok Hoa tidak menyahuti pertanyaan Auwyang Phu, diiringi seruannya yang nyaring sekali, dia menikam lagi.

Gerakan yang dilakukannya sangat cepat sekali, sehingga pedangnya itu berkelebat-kelebat dengan sinarnya yang putih keperak-perakan, menyambar seperti juga kilat.

Auwyang Phu tertawa dingin, dia berkelit.

"Ternyata memang benar ilmu pedangmu adalah Giok-lie-kiamhoat!

Tentu engkau masih memiliki hubungan dekat dengan si buntung Yo Ko!"

Mendengar ayah dari gurunya disebut si buntung, bukan main marahnya Giok Hoa. Dia sampai kalap, dan pedangnya berkelebat-kelebat dengan cepat sekali, diiringi bentakannya.

"Akan kurobek mulutmu!"

Dan dia menyerang dengan gencar sekali.

Sedangkan Auwyang Phu bermaksud mempermainkan Giok Hoa, yang dilihatnya memang cantik.

Segera dia berkelit kesana ke mari.

Sekarang Auwyang Phu telah mengeluarkan kepandaiannya, namun dia tidak balas menyerang.

Dia sengaja mempermainkan si gadis di mana setiap kali mengelak dia mengejeknya, membuat gadis itu tambah gusar saja.

Di waktu itu tampak jelas sekali betapapun juga Giok Hoa semakin marah, karena dia merasa mendongkol atas ejekan lawannya.

Yang membuat dia penasaran setiap tikaman dan tabasan pedangnya selalu dapat dielakkan lawannya dengan gerakan yang mudah sekali.

Maka dia telah mengeluarkan seluruh kelihayan ilmu pedang Gioklie-kiam-hoat yang telah dipahaminya.

Sehingga setiap serangan itu menyambar semakin hebat.

Pedangnya itu berkelebat-kelebat seperti juga titiran, dan angin dari serangan pedang itu tajam sekali.

Bagian-bagian yang diincar oleh Giok Hoa pun merupakan bagian-bagian yang bisa mematikan.

Cuma saja dia tidak mudah buat menyerang Auwyang Phu, sebab orang itu selalu dapat memunahkan serangannya.

Selama itu Auwyang Phu masih belum membalas menyerang kepadanya, dengan demikian, jika dia membalas menyerang, niscaya Giok Hoa akan menghadapi kesulitan yang tidak ringan.

Giok Hoa pun segera menyadari bahwa kepandaiannya yang sesungguhnya masih berada di sebelah bawah kepandaian Auwyang Phu.

Waktu itu Auwyang Phu dengan centil telah berkata mengejek.

"Nona manis, jangan galak-galak seperti itu kepadaku, karena percuma saja. Jika memang aku menginginkan, dengan mudah aku dapat merampas pedangmu dan merubuhkan engkau! Tetapi aku merasa sayang jika seorang gadis secantik engkau harus rubuh dan terluka di tanganku. Karenanya, pergilah kau…… aku membebaskan engkau dari kematian!"

Sambil mengakhiri perkataannya tersebut Auwyang Phu telah menghantam dengan tangan kanannya.

Inilah hantamannya yang pertama kali dia membalas menyerang.

Dari telapak tangannya itu menderu-deru angin yang kuat sekali, membuat tubuh Giok Hoa jadi tergoncang dan tidak bisa berdiri berimbang, kuda-kuda sepasang kakinya hampir saja tergempur oleh serangan itu.

Mati-matian Giok Hoa berusaha menahan kudakuda ke dua kakinya, namun gagal, dan dia terhuyung mundur beberapa langkah.

Dikala itu Auwyang Phu sambil tertawa menyerang lagi dengan telapak tangannya.

"Rubuhlah engkau! Kuberikan kesempatan kepadamu buat pergi, engkau tidak mau pergi! Sekarang pergilah!"

Sambil berkata begitu, telapak tangannya itu telah meluncur pula, sehingga membuat Giok Hoa jadi tidak bisa membendung lagi keadaan dirinya.

Kuda-kuda ke dua kakinya benar-benar tergempur dan tubuhnya terjungkal.

Auwyang Phu tidak mendesak lebih jauh, dia berdiri tegak di tempatnya, dengan congkak dia tertawa bergelak-gelak, sehingga tubuhnya yang pendek itu bergoyang-goyang.

"Hahaha, sudah kukatakan, menghadapi diriku, dengan engkau tidak mudah mungkin dapat sebetulnya aku bisa membunuhmu! Akan tetapi, seorang gadis semanis engkau apakah harus dibunuh? Sayang! Sayang sekali! "

Dan tentu saja aku bukan orang bodoh, yang akan membunuh seorang gadis secantik engkau! Jika memang engkau tidak mau pergi juga, biarlah aku akan membawamu pergi berkelana bersama-sama denganku…..!"

Sambil berkata begitu, tampak Auwyang Phu melangkah menghampiri si gadis.

Dia telah mengulurkan tangannya buat menyolek muka gadis itu.

Tetapi Giok Hoa sendiri walaupun telah terluka akibat gempuran yang kuat dari Auwyang Phu, jadi nekad dan tidak mau membiarkan dirinya dihina seperti itu.

Karenanya, dia tahu-tahu telah mencelat dengan pedangnya menikam dengan segera.

Apa yang dilakukannya begitu mendadak sekali dan juga diiringi dengan tenaga lweekang yang kuat.

Auwyang Phu kaget, karena jarak mereka memang terlalu dekat sekali, tahu-tahu pedang Giok Hoa telah meluncur dan terpisah tidak jauh dari dadanya.

Dia berusaha menghindar tetapi tidak urung pundaknya kena tergores mata pedang, sehingga darah seketika mengucur deras.

Bukan main marahnya Auwyang Phu, sampai matanya itu mendelik kepada Giok Hoa, mengandung ancaman.

"Hemmm, gadis kurang ajar dan tidak tahu diuntung!"

Katanya kemudian dengan suara mendesis.

"Rupanya memang engkau ingin memaksa aku menurunkan tangan keras kepadamu.....!"

Sambil berkata begitu, dia telah melangkah maju lagi, tadi dia terluka karena memang dia tidak menyangka bahwa si gadis bisa menyerang nekad dan cepat seperti itu.

Dan sekarang, melihat si gadis tengah berusaha untuk bangun, segera Auwyang Phu berjongkok dari mulutnya keluar suara "krokkk" , yang sangat nyaring dan panjang, seperti suara kodok, kedua tangannya didorong ke depan, akan menghantam Giok Hoa dengan Ha-mokang nya!

Giok Hoa mengawasi kelakuan Auwyang Phu yang dianggapnya aneh, karena gadis ini sama sekali tidak mengetahui apa yang ingin dilakukan Auwyang Phu.

Tetapi buat kagetnya, segera dia merasakan sambaran angin yang dahsyat sekali menerjang kepadanya, membuat tubuhnya terhuyung akan rubuh ke belakang.

Jika saja dia tidak mati-matian berusaha berkelit dengan membuang dirinya bergulingan di tanah!

Segera juga Giok Hoa menyadari bahwa itulah ilmu yang luar biasa tangguhnya, yang bisa mematikannya, jika saja pukulan itu berhasil mengenainya.

Dan Giok Hoa tidak berani berayal, dia melompat bangun dengan menahan sakit pada dadanya, dia berusaha untuk menyingkir lebih jauh.

Tetapi Auwyang Phu justeru telah mengempos semangat dan tenaganya, dia mengulangi lagi serangan Ha-mo-kangnya, menyebabkan angin pukulan tersebut menderu-deru sangat hebat kepada Giok Hoa.

Mati-matian Giok Hoa mempergunakan seluruh kemahiran ginkangnya, dia berusaha berkelit.

Namun biarpun Giok Hoa telah bergerak sangat cepat, tokh tidak urung pundaknya kena dihantam oleh angin pukulan Ha-mo-kang itu, yang menyerempet dan membuat tubuh Giok Hoa jungkir balik bergulingan, di tanah beberapa kali!

Auwyang Phu tertawa bergelak dan bermaksud akan menghantam lagi.

Tetapi buat kagetnya, dia merasakan dari belakangnya menyambar angin serangan yang sangat dahsyat.

Dan dia melihat rajawali putih mengancam tersebut majikannya, rupanya dia menyadari telah terbang bahaya menukik yang dan menyerang Auwyang Phu.

Demikian juga biruang salju itu, telah menerjang akan mencengkeram dan merobek tubuh Auwyang Phu.

Akan tetapi, kenyataannya Auwyang Phu benar-benar sangat lincah, karena dia dapat menghindar dari makhluk-makhluk luar biasa tersebut.

Dikala itulah terlihat bahwa Auwyang Phu bukan hanya sekedar berkelit.

Dia masih tetap berjongkok dengan melompat ke sana kemari seperti seekor kodok, dan tahu-tahu sepasang tangannya itu didorongkannya ke depan, di mana dia menghantam dengan dahsyat.

"Bukk!"

Terdengar suara yang nyaring sekali, paha biruang salju itu kena dihantamnya dengan keras sampai biruang salju itu mengerang kesakitan, dan tubuhnya rubuh terguling-guling.

Angin pukulan Ha-mo-kang itu bukan hanya melukai biruang salju belaka, karena di waktu itulah telah menyampok sayap burung rajawali putih itu, membuat burung rajawali patih tersebut hampir tidak bisa menggerakkan sayapnya sementara waktu dan hinggap di tanah.

Melihat keadaan rajawali putih seperti itu, bukan main girangnya Auwyang Phu, tahu-tahu tubuhnya melesat ke tengah udara seperti sikap seekor kodok.

Dia hinggap di tanah yang tidak berjauhan dengan burung rajawali putih itu dalam keadaan berjongkok dan ke dua tangannya siap diulurkan buat menghantam lagi.

Burung rajawali putih itu rupanya menyadari bahaya yang mengancamnya, mati-matian dia menggerakkan sayapnya itu, yang dirasakan sakit bukan main.

Dia berhasil terbang, namun terbangnya rendah sekali, jika keburu Auwyang Phu menghantam dengan tenaga Ha-mo-kangnya, niscaya dia akan menemui kematiannya.

Biruang salju di waktu itu telah dapat bangun, melihat ancaman yang tengah mengincar kawannya, maka dengan tidak memperdulikan keselamatan dirinya, dia menubruk Auwyang Phu yang dipeluknya dengan kuat sekali.

Auwyang Phu kaget waktu tahu-tahu tubuhnya dirangkul biruang salju itu.

Malah tangan biruang salju itu berusaha dengan sekuat tenaganya merobek tubuh Auwyang Phu.

Sebagai seorang yang memiliki kepandaian tinggi tentu saja Auwyang Phu tidak mau membiarkan tubuhnya dirobek oleh biruang salju.

Dia mengempos tenaganya, sin-kangnya dipergunakan buat membangun semua otot-ototnya, tahu-tahu dia menyikut ke arah ketiak biruang salju.

Dikala binatang itu tengah kesakitan, dia telah meronta dengan kuat.

Rangkulan biruang salju itu terlepas, dan Auwyang Phu tanpa membuang waktu lagi telah memutar tubuhnya, telapak tangan kanannya hinggap telak sekali pada biruang salju itu!

"Bukkk!"

Tubuh biruang salju itu terpental ke tengah udara, dan kemudian terbanting di atas tanah dengan keras.

Dan biruang salju yang sesungguhnya telah menerima warisan kepandaian dari Swat Tocu, menggeletak pingsan tidak ingat diri!

Giok Hoa melihat keadaan biruang salju dan ancaman buat burung rajawali putihnya jadi kalap.

Ketika itu rajawali putihnya belum berhasil terbang tinggi.

Auwyang Phu tengah bersiap-siap hendak menghantam dengan pukulan Ha-mo-kangnya lagi, segera juga tampak Giok Hoa merogoh sakunya, tahu-tahu beberapa batang jarum Bwee-hoa-ciam menyambar kepada Auwyang Phu.

Auwyang Phu terpaksa batal menyerang rajawali putih itu, dia harus mengibas meruntuhkan menyambarnya jarum-jarum bweehoa-ciam tersebut.

Kesempatan itu dipergunakan rajawali putih itu buat terbang lebih tinggi dan dia berhasil menjauhi diri dari Auwyang Phu, dengan demikian dia terhindar dari ancaman bahaya yang tidak kecil dan dapat terbang menjauhi Auwyang Phu.

Sedangkan Auwyang Phu yang melihat dia gagal buat merubuhkan rajawali putih itu, yang sesungguhnya tadi dia memiliki kesempatan yang bagus sekali, jadi murka.

Dia mendelik kepada si gadis, katanya.

"Bagus! Memang engkau harus dihajar!"

Sambil berkata begitu, tubuh Auwyang Phu cepat sekali telah melompat dan mengayun ke dua tangannya, ia menghantam kepada Giok Hoa.

Itulah pukulan yang dahsyat dan berbahaya.

Giok Hoa menabaskan pedangnya menyambuti tangan Auwyang Phu, memaksa pemuda itu menarik pulang ke dua tangannya, dan sepasang kakinya dengan bergantian menendang di saat dia masih berada di tengah udara.

Giok Hoa benar-benar terdesak menghadapi pemuda pendek yang tangguh ini.

Dia berulang kali harus mengelak dan menjauhi diri dengan membuang tubuhnya bergulingan di tanah.

Dengan cara demikian dia berhasil menyelamatkan dirinya.

Namun semakin lama dia semakin terdesak dan juga berulang kali hampir terkena serangan Auwyang Phu.

Segera juga Giok Hoa bersiul.

Dia memberikan isyarat kepada rajawali putih agar burung itu pergi memberitahukan kepada gurunya perihal Auwyang Phu, orang asing ini.

Rajawali putih itu seperti mengerti, dalam keadaan "rusak"

Dengan bulunya yang banyak rontok, dia terbang meninggalkan tempat itu.

Sedangkan Giok Hoa menerima serangan yang gencar sekali dari Auwyang Phu, yang semakin lama jiwa gadis ini semakin terancam.

Bahkan satu kali, dengan gerakan yang sebat luar biasa Auwyang Phu telah berhasil merampas pedang si gadis.

Dan Giok Hoa melompat mundur, karena waktu itu dia kaget tidak terkira.

Dengan pedang di tangan saja dia masih terdesak hebat oleh pemuda itu, apalagi sekarang pedangnya telah dapat dirampas.Tentu dengan mudah ia akan dapat dicelakai oleh Auwyang Phu.

Tentu saja Giok Hoa kuatir jika ia sampai dihina oleh pemuda tangguh ini!

Auwyang Phu memandang si gadis sambil tersenyum mengejek.

Pedang rampasannya dibolang-balingkannya, ia berkata dengan suara yang sombong.

"Hemmmm, sekarang apakah kau masih ingin memusuhi aku? Atau memang engkau bersedia bersahabat denganku?"

Walaupun hatinya berkuatir, Giok Hoa tidak mau memperlihatkan kelemahannya. Ia mengawasi dengan mata mendelik kepada Auwyang Phu, katanya.

"Jika memang engkau mau membunuhku, bunuhlah! Aku tidak takut dan engkau jangan harap dapat menghinaku!"

Setelah berkata begitu si gadis membusungkan dadanya, sikapnya gagah sekali, walaupun waktu ia membusungkan dadanya itu, terasa sakit bukan main akibat terluka di dalam namun Giok Hoa tidak mau meringis ia tetap memperlihatkan sikap gagah, karena sama sekali ia tidak mau memperlihatkan kelemahannya di hadapan pemuda yang agak ceriwis tersebut.

Auwyang Phu tertawa bergelak-gelak!

"Seorang gadis cantik manis yang sangat gagah dan mengagumkan sekali!

Sekarang justeru aku jadi tertarik buat berkawan denganmu!

Nah, jika memang engkau mau bersahabat denganku, tentu aku akan memperlakukan engkau dengan baikbaik, sebagai sahabatku!

Tentu engkau tidak akan kecewa bersahabat denganku?!"

"Hemmm, jangan banyak bicara, jika memang engkau hendak membunuhku, bunuhlah! Mengapa engkau masih berdiri cengarcengir di situ? Bunuhlah! Aku tidak takut!"

Lenyap senyum Auwyang Phu.

Ia mengawasi si gadis beberapa saat dengan mata terbuka lebar-lebar, karena ia tampaknya jadi mendongkol melihat sikap kepala batu dan bermusuhan dari Giok Hoa, maka dari itu, dia telah mengawasi dengan sikap yang agak mengerikan bagi Giok Hoa.

Matanya bersinar tajam sekali, dan juga di waktu itu terlihat ia melangkah selangkah demi selangkah mendekati Giok Hoa.

Pedang di tangannya diayun-ayunkan beberapa kali, seperti juga pedang di tangannya itu merupakan pedang main-mainan saja.

"Jadi engkau tidak takut untuk mati?!"

Tanya Auwyang Phu setelah berada di dekat si gadis.

Bukan main takutnya menghampirinya, tetapi Giok tetap Hoa saja melihat gadis Auwyang Phu ini mau tidak memperlihatkan kelemahannya, ditindih perasaan takutnya, dan ia berkata dengan suara yang angkuh.

"Bunuhlah!"

Dan dia membusungkan dadanya. Rasa sakit pada dadanya begitu hebat, sehingga membuat Auwyang Phu yang melihat keadaan si gadis, jadi mengerutkan alisnya.

"Hemmmmm, engkau rupanya telah terluka di dalam!"

Kata Auwyang Phu.

"Mari, mari...... mari kuobati lukamu itu!"

Sesungguhnya Giok Hoa hendak menindih rasa sakitnya, agar tidak tampak kelemahannya, tetapi rasa sakitnya itu terlalu hebat menyebabkan dadanya ketika dibusungkan, dia tidak bisa menahan lagi rasa sakitnya, sehingga ia jadi meringis kesakitan.

Tetapi melihat Auwyang Phu melangkah mendekatinya dan katanya ingin mengobati lukanya, Giok Hoa jadi bingung, karena jelas ia tidak mungkin dapat melakukan perlawanan kepada pemuda tangguh itu jika saja Auwyang Phu bermaksud hendak berlaku kurang ajar padanya.

"Pergi! Jangan mendekati aku!"

Bentak Giok Hoa akhirnya sambil mundur dengan sikap yang bingung dan kelakuannya memang panik.

Buat melarikan diri sudah tidak mungkin dia dalam keadaan terluka di dalam, sehingga dia tidak mungkin mempergunakan seluruh tenaganya.

Dan juga, memang pemuda itu tangguh, sehingga kalau sampai Giok Hoa berusaha melarikan diri, jelas pemuda itu dapat mengejarnya dengan mudah.

Auwyang Phu tersenyum, kemudian katanya.

"Heemmm, mengapa engkau harus takut. Kulihat engkau begitu panik! Aku seorang pemuda baik-baik, engkau jangan kuatir, tidak kecewa engkau bersahabat denganku! "

Dan tadi, aku telah kesalahan tangan melukai di dalam tubuhmu, tentu akan membuat aku menyesal seumur hidup jika saja terjadi sesuatu pada dirimu! Karenanya pula, aku pun bermaksud mengobati dirimu!"

Setelah berkata begitu, tampak Auwyang Phu melangkah menghampiri Giok Hoa.

Benar-benar Giok Hoa bingung, dia tidak tahu harus berbuat bagaimana.

Yang pasti tentu saja dia tidak ingin dihina oleh pemuda ini.

Dia sudah memutuskannya jika sampai Auwyang Phu memaksa juga mengobati dirinya, sehingga menyebabkan dia tersentuh oleh pemuda tersebut, tentu dia akan mengadu jiwa dengan pemuda tersebut agar dapat mati sama-sama.

Diam-diam Giok Hoa mengerahkan lweekangnya, disalurkan pada ke dua telapak tangannya, dia mengawasi tajam kepada Auwyang Phu, karena jika benar-benar pemuda itu sudah datang dekat sekali, tentu dia akan menghantamnya sekuat tenaga dengan seluruh sisa kekuatan yang masih ada padanya.

Auwyang Phu melihat sikap si gadis, jadi tersenyum dan katanya.

"Kau tidak keberatan bukan buat ditolong olehku? Nah, terimalah pedangmu ini!"

Sambil berkata begitu, Auwyang Phu menyodorkan pedangnya itu kepada Giok Hoa, mengembalikan pedang rampasan tersebut, akan tetapi Giok Hoa tidak mengangsurkan tangannya buat menyambuti pedangnya.

Dia berdiam diri saja.

Auwyang Phu semakin mendekati, sambil tersenyum dan membuka matanya lebar-lebar, dia berkata.

"Ambillah, bukankah ini pedangmu?!"

Di saat itu jarak Auwyang Phu dengan Giok Hoa sudah dekat sekali, dan kesempatan ini tidak disia-siakan Giok Hoa, karena dia tahu-tahu menggerakkan tangannya sekaligus menyerang Auwyang Phu.

Auwyang Phu memang benar-benar tangguh, karena dia segera melihat apa yang dilakukan Giok Hoa.

Walaupun hatinya terkejut tokh dia tidak menjadi bingung, malah dengan mudah dia bisa berkelit dari pukulan ke dua telapak tangan Giok Hoa, dan hanya lengannya yang kena terserempet oleh tenaga serangan Giok Hoa, mendatangkan sedikit rasa sakit.

Bukan main marahnya Auwyang Phu.

"Wanita tidak tahu diuntung, engkau rupanya memang tidak bisa diperlakukan dengan baik! Hemmm, aku akan mencacatkan wajahmu, aku ingin melihat, apakah setelah wajahmu bercacat, engkau akan bertingkah seperti sekarang ini?!" Dan Auwyang Phu tertawa bergelak-gelak, menyeramkan sekali. Dalam keadaan marah seperti itu, memang Auwyang Phu sudah tidak mau berpikir panjang lagi, dia telah mengangkat pedangnya, mata pedang ditujukan kepada muka Giok Hoa.

"Nah, aku akan mulai!"

Kata Auwyang Phu sambil menggerakkan pedangnya itu.

Mata Auwyang Phu benar-benar mengerikan sekali.

Giok Hoa jadi sangat ketakutan.

Dia lebih baik-baik mati dari pada wajahnya yang cantik itu, dirusak oleh pedang di tangan Auwyang Phu.

Karena dari itu, cepat-cepat dia mempergunakan ke dua tangannya untuk menutup mukanya.

Auwyang Phu menahan pedangnya, dia tertawa bergelak-gelak.

"Hahaha, engkau rupanya sangat sayang wajahmu yang cantik bukan? Baik-baik! Aku akan membuktikan bahwa aku akan sungguh-sungguh membuat bercacat mukamu itu……!"

Setelah berkata begitu, tangan kirinya bergerak, dia menotok jalan darah Giok Hoa, sehingga si gadis tertotok dan tubuhnya rebah tanpa bisa menggerakkan tangan buat menutupi mukanya pula.

Bukan main kaget dan ketakutan Giok Hoa.

Untuk mati dia tidak takut, diapun tidak mau dihina oleh siapapun juga.

Tetapi justeru yang membuat dia takut adalah maksud Auwyang Phu, yang ingin merusak wajahnya.

Karena jika dalam keadaan sekarang Auwyang Phu membuktikan ancamannya Giok Hoa tidak akan berdaya mencegahnya.

Dan diapun tidak mungkin bisa meminta pertolongan, di tempat itu tidak terdapat siapapun juga.

Sedangkan burung rajawali putihnya telah pergi dan belum kembali, orang-orang yang diberitahukan burung rajawali putih itupun belum juga datang, gurunya, Swat Tocu maupun Ko Tie belum lagi bisa terlihat batang hidungnya.

Disitu memang ada biruang salju, tetapi biruang salju itupun dalam keadaan terluka yang parah, dan jatuh pingsan.

Karena dari itu, benar-benar Giok Hoa tidak berdaya di saat tengah tertotok seperti itu, tidak mungkin ada orang yang bisa menolonginya!"

Auwyang Phu telah melangkah menghampirinya, dan menggerakkan pedang di tangannya, katanya.

"Hemmmmm, hemmmmmmm sekarang aku mulai! Wajahmu yang cantik itu, sebentar lagi akan berobah menjadi muka yang menyeramkan! Aku ingin melihat dengan muka yang bercacad seperti itu apakah engkau bisa bertingkah seperti sekarang ini?" Dan Auwyang Phu menggerakkan pedang di tangannya. Mata pedang itu meluncur menuju kemuka Giok Hoa, sedangkan Giok Hoa hanya bisa membuka matanya lebar-lebar mengawasi ngeri mata pedang itu meluncur ke arah mukanya. Sampai ketika dilihatnya telah dekat mata pedang itu meluncur ke arah mukanya, dia memejamkan matanya rapat-rapat buat pasrah, karena ia tahu, walaupun bagaimana dia tidak bisa menghindarkan mukanya yang akan jadi bercacad dicacah mata pedang di tangan Auwyang Phu...... ◄Y► Yo Kouw-nio tengah mempersiapkan hidangan buat tamutamunya, dan ia sama sekali tidak memperhatikan di mana berada Giok Hoa, karena memang biasa Yo Kouw-nio yang mempersiapkan semua masakan untuk mereka. Sedangkan Ko Tie bersama Swat Tocu, gurunya, tengah bercakap-cakap dengan asyik. Sampai akhirnya Ko Tie teringat kepada Giok Hoa, dia memandang sekelilingnya, tidak dilihatnya si gadis yang cantik manis dan menggetarkan hatinya itu. Dia bertanya kepada gurunya, apakah gurunya melihat Giok Hoa keluar. Swat Tocu sambil tersenyum penuh arti menggeleng. "Pergilah kau cari di luar, mungkin dia tengah menantikan kau! Hemm, mungkin ada kata-kata yang ingin dirundingkan olehnya, tetapi dia tidak leluasa dengan adanya aku si tua bangka yang tidak mau mampus ini! Ha ha ha, dasar anak muda!"

Muka Ko Tie berobah memerah karena likat bukan main.

Gurunya telah mengetahui akan isi hatinya, dan juga hubungannya dengan Giok Hoa.

Memang tajam mata Swat Tocu, dia telah bisa melihat dari sinar mata sepasang muda-mudi itu, karena pandangan mata mereka lebih banyak bercerita mengenai isi hati mereka.

Dan Swat Tocu tidak mau merintangi, dia membiarkan saja pasangan remaja itu berhubungan.

Bahkan setelah perintahkan Ko Tie pergi mencari Giok Hoa di luar, dia memejamkan matanya bermaksud untuk beristirahat sejenak.

Ko Tie memberi hormat kepada gurunya kemudian melangkah keluar.

Di waktu itu, dia pun telah memandang sekeliling tempat itu, dan tidak dilihatnya Giok Hoa, sehingga membuat dia jadi heran bukan main.

"Ke mana perginya Hoa-moy?!"

Pikir Ko Tie di dalam hati terheranheran.

"Dia tidak memberitahukan dulu ke mana dia ingin pergi!" Dan setelah berpikir begitu, tampak Ko Tie memandang ke tengah udara, untuk melihat apakah di tempat itu burung rajawali putih terbang, untuk dimintai bantuan mencari Giok Hoa. Tetapi burung rajawali putih itupun tidak terlihat bayangannya, langit cerah dan terang tetapi burung rajawali itu sama sekali tidak terlihat. Akhirnya Ko Tie melangkah keluar dari rumah tersebut menyusuri jalan gunung yang semakin naik tinggi itu. Dia memandang sekelilingnya lagi, dan memanggil biruang salju. Tetapi biruang salju itupun tidak terlihat bayangannya. Beberapa kali Ko Tie memanggil, tetapi biruang saljunya tidak terlihat juga.

"Ke mana perginya mereka?!° pikir Ko Tie heran, diapun segera menduga apakah mungkin Giok Hoa pergi mengajak burung rajawali putihnya bersama biruang salju buat main-main? Tetapi segera Ko Tie terpikir, betapapun juga suatu kemungkinan terjadi bahwa Giok Hoa tengah menghadapi bahaya yang tidak kecil! Bukankah burung rajawali dan juga biruang saljunya tidak tampak? Maka dari itu, segera juga dia berlari-lari menyusuri jalan gunung itu. Dia melihat di atas tanah yang berselubung salju itu, bekas-bekas tapak kaki kecil, dilihat dari bentuk telapak kaki yang berbekas di atas tumpukan salju, jelas itulah bekas telapak kaki seorang wanita. Dan mungkin ini bekas telapak kaki Giok Hoa. Di waktu itu tampak Ko Tie memperhatikan telapak kaki tersebut beberapa saat. Kemudian menjejakkan kakinya, dia berlari-lari sambil berteriak-teriak.

"Giok Hoa! Hoa-moay!"

Namun tidak diperoleh jawaban Giok Hoa, dan Ko Tie masih berlari-lari terus.

Tiba-tiba sekali terdengar seseorang tertawa-tawa dengan suara yang agak menyeramkan.

Ko Tie mendengarnya jelas suara orang yang tengah memaki juga.

Waktu ia mengangkat kepalanya di atas puncak sebuah bukit, yang terselubung salju cukup tebal, berkelebat-kelebat ringan sekali dua sosok tubuh.

Dilihat dari gerakan ke dua orang itu, menunjukkan betapa tingginya gin-kang ke dua orang tersebut, yang dapat bergerak secepat bayangan di tempat yang bersalju dan tentunya sangat licin itu.

Juga tampaknya mereka tengah bertempur, satu dengan yang lainnya saling menyerang dan mengelak.

Suara tertawa menyeramkan itu berasal dari suara seorang wanita, dan suara mencaci maki suara seorang laki-laki tua!

Di mana tampak ke dua sosok tubuh itu bertempur beberapa jurus, dan Ko Tie selama itu masih tetap tertegun di tempatnya, karena dia terheran-beran dua orang itu bertempur di tempat tersebut, karena dia tidak mengetahui entah siapa kedua orang itu.

Setelah tersadar dari tertegunnya, dan hatinya tertarik sekali menyaksikan pertempuran dari ke dua orang tersebut, yang tampaknya bukan orang-orang sembarangan.

Cepat-cepat Ko Tie melesat ke belakang sebungkah batu.

Dia menempatkan dirinya di situ, buat bersembunyi dan menyaksikan jalannya pertempuran ke dua orang di atas bukit bersalju itu.

"Wanita iblis, jangan harap engkau bisa lolos dari tanganku biarpun kau lari ke ujung langit sekalipun, tetap akan kukejar!"

Memaki lelaki yang menyerang terus menerus gencar sekali, disusul dengan suara yang menyeramkan wanita lawannya.

"Jangan bicara tekebur, lidah memang mudah digoyangkan, tetapi jangan harap engkau dapat menandingi kepandaianku.Walaupun engkau memiliki kepandaian dua kali lipat dari yang sekarang, tidak mungkin engkau bisa menandingiku! "

Hemmm, sebetulnya aku merasa kasihan kepadamu.

Aku ingin membiarkan engkau hidup terus lebih lama, dan tidak membunuhmu, tetapi rupanya engkau tidak memilih jalan ke sorga dan malah memilih jalan ke neraka!

Karena dari itu, akupun tidak akan mengecewakan engkau lagi dan memenuhi keinginanmu buat pergi ke neraka……!"

Setelah mengejek seperti itu tubuh wanita itu berkelebat-kelebat lincah sekali, juga dari sepasang tangannya mengeluarkan deruan angin yang berbunyi.

"Wuttttt, wuttttt!"

Menunjukkan betapa kuatnya tenaga sin-kang wanita itu.

Sedangkan laki-laki tua yang menjadi lawannya ternyata memakai sebatang tongkat dari bambu hijau, yang digerakkan sebat sekali, disertai tenaga yang kuat, men-dengung-dengung setiap kali dia menyerang lawannya.

Bambu hijau itu tampaknya tidak bisa diremehkan dan dipandang ringan, karena memang merupakan senjata yang ampuh sekali, juga lelaki itu rupanya seorang ahli tenaga lweekeh atau tenaga dalam.

Ko Tie bersembunyi di balik batu gunung, memperhatikan dengan tertarik dan seksama.

Dilihatnya betapa ke dua sosok tubuh itu masih bergerak-gerak dengan lincah dan sama gesitnya, malah setelah memperhatikan sekian lama, dia melihat jelas, yang wanita merupakan seorang nenek tua berusia enampuluh tahun lebih, dengan baju berwarna kuning dan gaun berwarna ungu.

Dia bertangan kosong, hanya saja sepasang tangannya itu justeru sangat liehay sekali, mengandung kekuatan yang menakjubkan.

Biarpun dia tidak mencekal senjata tajam, sama sekali dia tidak terdesak oleh serangan senjata lawannya.

Yang lelaki merupakan seorang kakek tua berusia antara enampuluh lima tahun dengan kumis dan jenggot yang telah memutih seluruhnya senjatanya bambu hijau yang lihay itu, mendengung-dengung menyambar hebat sekali kepada lawannya.

Pakaiannya penuh tambalan, dan dilihat keadaannya ia adalah seorang pengemis tua.

Ko Tie semakin heran.

"Tentu pengemis tua itu adalah seorang tokoh Kay-pang? Lalu mengapa dia bisa muncul di tempat ini dan bentrok dengan si nenek. Siapakah mereka berdua sebenarnya? Sungguh mengherankan jika melihat kepandaian mereka, tampaknya ke dua orang itu bukan orang sembarangan, karena kepandaian mereka sangat tinggi sekali!" Tengah Ko Tie berpikir seperti itu, terdengar pengemis tua itu berseru nyaring.

"Sekarang hati-hatilah kau menjaga seranganku, aku jamin dalam sepuluh jurus engkau akan dapat dirubuhkan!"

Dan tongkat hijaunya itu berkelebat-kelebat sangat cepat sekali.

Dia menyerang dengan rangsekan yang gencar, sehingga tongkat bambu hijaunya itu menderu-deru, seperti juga berobah menjadi puluhan batang dan mengelilingi si nenek tua.

Dengan demikian membuat si nenek jadi sibuk sekali menghindari diri dari serangan tongkat lawannya yang menyerangnya dengan jurus-jurus yang mengalami perobahan semakin hebat.

Karena dari itu si nenek tua tersebut telah mengempos semangat dan tenaganya lebih kuat, dia menghadapinya dengan gagah.

Walaupun demikian, jelas oleh Ko Tie, betapa nenek tua itu mulai terdesak, sehingga dia lebih banyak diserang oleh si pengemis tua itu, di samping itu kesempatan dia balas menyerang jarang sekali.

Ko Tie mengerut alisnya, dia berpikir ingin memberitahukan kepada gurunya apa yang disaksikannya ini, namun dia batal sendirinya karena dia tertarik sekali buat menyaksikan lebih jauh ke dua orang itu bertempur.

Jika memang dia pergi memberitahukan kepada gurunya, dikuatirkannya ke dua orang itu akan pergi dan menyudahi pertempurannya sehingga Ko Tie tidak bisa menyaksikan pertandingan yang menarik hati itu.

Di waktu itu si nenek setelah beberapa kali berkelit, cepat bukan main dia melompat mundur, katanya dengan suara mendesis kejam.

"Baik! Baik! Aku Cek Tian akan memperlihatkan, bahwa sesungguhnya bukan sebangsa manusia yang mudah diperhina. Aku akan membuktikan pula, bahwa engkau sama sekali tidak memiliki kepandaian yang berarti!"

Setelah berkata begitu, si nenek Cek Tian, telah melompat maju, tahu-tahu tubuhnya jungkir balik, kepala di bawah dengan sepasang kaki di atas.

Diapun menghantam dengan kedua telapak tangannya di mana dia memiliki kesempatan tubuhnya itu berputarputar.

Cara bertempur si nenek tua Cek Tian yang terbalik kepala di bawah dan kaki di atas, membuat lawannya jadi bingung juga, karena setiap serangannya jadi terbalik!

Jika dia mengincar jalan darah yang mematikan di dada si nenek tua itu, tentu yang akhirnya diincar ujung tongkatnya adalah jalan darah lain di kakinya, dengan demikian agak bingung juga kakek pengemis tersebut.

Dia sementara ragu-ragu buat merangsek, dia memperlahankan gerakan tongkatnya, sambil mengawasi tubuh lawannya yang masih berputar-putar dengan kepala di bawah dan sepasang kaki di atas.

Di kala itu, Cek Tian, wanita tua itu tertawa, dia justeru merangsek terus.

Karena tubuhnya terbalik dengan kepala di bawah dan sepasang kaki yang di atas, membuat dia jadi bisa main di bawah, menyerang bagian-bagian mematikan dan berbahaya di anggota tubuh sebelah bawah dari pengemis itu.

Juga tubuhnya yang berputar-putar seperti gangsing itu sempat membuat pengemis tua tersebut menjadi bingung.

Tentunya para pembaca telah mengetahui siapa adanya Cek Tian.

Seperti kita ketahui, di dalam Biruang Salju, dia telah kita kenal sebagai ibu Auwyang Phu, isteri gelap Auwyang Hong, yang telah berhasil mempelajari ilmu warisan Auwyang Hong.

Walaupun tidak menerima bimbingan langsung dari Auwyang Hong tetap saja dia berhasil meyakinkan sebagian besar kepandaian Auwyang Hong.

Terlebih lagi beberapa waktu belakangan ini, Cek Tian bersama putera tunggalnya, Auwyang Phu, cepat sekali melatih diri, kepandaiannya memperoleh kemajuan yang pesat sekali.

Demikian juga Auwyang Phu, yang memperoleh kemajuan yang pesat, bisa menyamai kelihayan ibunya.

Mereka ibu dan anak telah bersama-sama merantau ke mana-mana, dan mereka berusaha memiliki kepandaian yang setinggi-tingginya, sebab jika mereka memiliki kesempatan, mereka ingin mencari Yo Ko, guna mengadakan perhitungan dengan Sin-tiauw-tay-hiap itu, yang diduga memiliki sangkut paut dengan pembongkaran kuburan Auwyang Hong.

Sin-tiauw-tay-hiap memang pernah menjadi anak angkat Auwyang Hong, dan dilatih serta digembleng oleh Auwyang Hong, karena dari itu dia tentu memiliki ilmu Ha-mo-kang yang dikuasainya baik sekali.

Jika ibu dan anak ini berhasil merubuhkan Yo Ko, mereka bermaksud lebih jauh memaksa Yo Ko agar memberitahukan seluruh isi dari Kauw-hoat ilmu Ha-mo-kang, agar mereka dapat melihat berapa tinggi kepandaian mereka yang telah dilatih?

Tetapi sejauh itu, belum juga Cek Tian bersama puteranya, Auwyang Phu, berhasil mencari Yo Ko.

Di samping itu, mereka memang masih jeri, karena mereka menyadari kepandaian Sintiauw-tay-hiap Yo Ko sangat tinggi.

Jika mereka berkepandaian tanggung-tanggung belaka, tentu mereka sendiri yang akan bercelaka dan menderita malu.

Itulah sebahnya Cek Tian hanya mengajak puteranya berkelana dari tempat yang satu ke tempat yang lainnya, sejauh itu merekapun berusaha mendatangi tokoh-tokoh rimba persilatan menantang mereka bertempur.

Karena kepandaian Cek Tian dan Auwyang Phu telah mencapai tingkat yang tinggi dari ilmu Ha-mo-kang yang liehay itu, warisan Auwyang Hong, ilmu yang pernah menggemparkan rimba persilatan karena hebatnya, selalu dapat merubuhkan lawan-lawan mereka.

Dengan demikian mereka jadi disegani oleh jago-jago rimba persilatan.

Sedangkan Cek Tian dan puteranya semakin yakin bahwa kepandaian mereka memang telah mencapai tingkat yang sangat tinggi.

Mereka hanya perlu melatih sin-kang mereka.

Dan mereka jadi congkak, terhadap siapa saja mereka sama sekali tidak memandang sebelah mata dan selalu bertindak sekehendak hati mereka, sebab ke duanya sudah tidak memiliki rasa takut kepada siapapun juga!

Siapa tahu, dikala mereka berada di Heng-san, ternyata Auwyang Phu sendiri bertemu dengan Giok Hoa, sehingga dia berhasil merubuhkan Giok Hoa.

Sedangkan Cek Tian yang ingin menyusul anaknya ke puncak gunung Heng-san, siapa tahu telah bertemu dengau pengemis tua itu.

Pengemis tua itu sendiri sesungguhnya seorang tokoh Kay-pang, yang bergelar Kiu-cie-sin-kay (Pengemis Sakti Berjari Sembilan) Thio Kim Beng, dia merupakan salah seorang dari lima Tiang-lo Kay-pang yang membantu Yeh-lu Chi mengatur Kay-pang.

Pertemuan Thio Kim Beng dengan Cek Tian kebetulan saja, di mana justeru Thio Kim Beng tengah melakukan perjalanan di gunung Heng-san dan dia memang seorang pengemis yang gemar merantau.

Berbeda dengan ke empat Tiang-lo pengemis lainnya justeru Tiang-lo yang seorang ini memperoleh tugas dari Pangcu Kay-pang, Yeh-lu Chi, harus pergi ke kota-kota dan kampungkampung di seluruh daratan Tiong-goan, buat melihat-lihat, apakah seluruh cabang Kay-pang melakukan peraturan Kay-pang dengan baik!

Tugas ini sesungguhnya merupakan tugas yang disesuaikan kegemaran Thio Kim Beng yang suka berkelana, sehingga dia tidak merasa berat.

Malah dalam berkelananya itu tangan Thio Kim Beng ringan sekali buat menolongi orang-orang, yang berada dalam kesulitan.

Sehingga Thio Kim Beng memiliki nama yang sangat terkenal di dalam rimba persilatan dan dia dihormati sekali, karena biar bagaimana kepandaiannya yang tinggi dan yang jarang sekali ketemu tandingan, serta hatinya yang mulia, yang senang menolongi orang-orang yang tengah dalam kesulitan, membuatnya dia dijuluki sebagai pengemis budiman.

Hari itu, menjelang tengah hari, justeru dia tengah berjalan di lamping gunung Heng-san, ketika seorang nenek tua yaitu Cek Tian telah menghadangnya.

Dan nenek itu aseran sekali, mengejek-ejek Thio Kim Beng sebagai pengemis tidak punya guna dan Kay-pang sebagai perkumpulan pengemis yang bau, dan tidak becus, karena banyak anggota pengemis yang melakukan pekerjaan korupsi dan juga menindas rakyat mengandalkan kepandaian mereka.

Tentu saja hinaan yang dilontarkan Cek Tian membuat Thio Kim Beng naik darah.

Dia menanyakan siapa adanya nenek tua yang cari urusan dengannya.

Setelah mengetahui bahwa sinenek tua itu adalah Cek Tian, isteri gelap Auwyang Hong, yang di dalam rimba persilatan belakangan ini cukup terkenal, Thio Kim Beng baru mengerti duduk persoalannya.

Cek Tian membenci Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko, sedangkan Sintiauw-tay-hiap Yo Ko memiliki hubungan akrab dengan pihak Kaypang.

Waktu Yeh-lu Chi mengadakan rapat besar Kay-pang, Yo Ko dan tokoh-tokoh pendekar lainnya yang mendukungnya.

Dengan demikian Cek Tian pun tidak menyukai Kay-pang.

Setiap kali melihat pengemis, tentu dia akan mencari urusan mempermainkan pengemis itu, hanya saja justeru sekarang ini yang dihadangnya itu bukan pengemis sembarangan, yaitu salah seorang Tiang-lo dari Kay-pang membuat Cek Tian jadi menghadapi lawan yang tidak ringan.

Waktu mereka bertempur barulah Cek Tian menyadari bahwa pengemis tua Kay-pang itu adalah seorang pengemis yang tangguh dan kepandaiannya tidak berada di sebelah bawah kepandaiannya.

Hanya saja disebabkan telah terlanjur dia mencari urusan dengan Thio Kim Beng, dia terus juga merangsek Kim Beng dengan serangan-serangan yang hebat sekali.

Telah ratusan jurus mereka lewati, tetapi belum juga berhasil menentukan siapakah yang lebih tinggi atau lebih rendah kepandaiannya.

Mereka berimbang, saling menyerang dan saling memusnahkan serangan lawan.

Cek Tian sendiri jadi semakin penasaran.

Selama ini dia merasa bahwa kepandaiannya telah mencapai tingkat tinggi sekali, sudah jarang ada orang yang bisa menandingi kepandaiannya.

Hanya, sekarang Thio Kim Beng justeru telah dapat menghadapinya begitu tangguh, membuat Cek Tian benar-benar penasaran dan berusaha buat merubuhkan lawannya, karenanya dia telah mengeluarkan seluruh kepandaian dan juga ilmu silatnya.

Bahkan ketika sampai di puncak bukit bersalju itu, Thio Kim Beng masih sanggup memberikan perlawanan yang gigih dan dalam keadaan marah sebab Cek Tian tidak hentinya mengejek dan membusuk-busukan nama Kay-pang, membuat Cek Tian menerima serangan yang gencar sekali dan Thio Kim Beng telah mempergunakan seluruh kekuatannya untuk merangsek si nenek.

Dalam keadaan seperti itu terpaksa Cek Tian telah mempergunakan ilmu Ha-mo-kang, ilmu andalannya.

Memang benar, setelah nenek Cek Tian mempergunakan Ha-mokang nya dengan kepala di bawah dan sepasang kaki di sebelah atas, membuat si pengemis tua Thio Kim Beng sementara waktu tidak bisa terlalu merangseknya.

Tampaknya Kim Beng pun bingung, karena semua serangannya jadi terbalik tiba disasarannya, sebab lawannya berjungkir balik seperti itu.

Thio Kim Beng seorang pengemis tangguh karena dia telah terhitung satu di antara ke lima Tiang-lo Kay-pang, tidak terlalu mengherankan, di samping kepandaiannya sangat tinggi juga dia sangat cerdas sekali.

Setelah mengawasi sekian lama, dengan hanya mengelak dan berkelit dari serangan-serangan Cek Tian, akhirnya Thio Kim Beng mulai memahami ilmu Ha-mo-kang itu dan sudah bisa melihat kelemahan dari lawannya dengan ilmu kodoknya tersebut!

Hinaan yang dilontarkan Cek Tian buat Kay-pang merupakan hinaan yang terlalu menyakitkan telinga Thio Kim Beng, sehingga dia sudah memutuskan, buat merubuhkan Cek Tian dan tidak menyudahi urusan sampai di situ.

Sekarang setelah mengetahui kelemahannya ilmu Ha-mo-kang lawannya, segera dia mengerahkan sin-kangnya, tongkat bambu hijaunya itu digerakkan, mendengung nyaring sekali dan berkelebat-kelebat di sekitar tubuh Cek Tian, mengandung ancaman maut!

Sedangkan Cek Tian pun memberikan perlawanan yang gigih, kedua tangannya berkelebat-kelebat dengan sin-kang yang dahsyat sekali.

Angin pukulannya menderu-deru membuat salju beterbangan.

Dan Cek Tian tetap dengan kepala di bawah dan sepasang kaki di atas, tubuhnya itu berputaran tidak hentinya sebat sekali.

Malah tongkat bambu dari Thio Kim Beng seperti juga tidak berdaya buat menyerang nenek Cek Tian.

Ko Tie menyaksikan jalannya pertempuran antara ke dua tokoh sakti rimba persilatan itu memandang dengan perasaan kagum, karena jarang sekali dia menyaksikan pertempuran dari orangorang lihay seperti Cek Tian atau pengemis tua Thio Kim Beng, Karenanya Ko Tie jadi tertarik sekali.

Sebagai seorang pemuda yang telah memiliki kepandaian tinggi, maka setiap kali melihat ada orang-orang berilmu tinggi tengah bertempur mengukur tenaga, dia jadi tertarik buat menyaksikannya.

Demikian pula halnya kali ini, di mana dia seperti terpaku di tempat persembunyiannya.

Cek Tian berulang kali selalu mengejek Kay-pang, membuat Thio Kim Beng semakin sakit hati dan gusar, tongkat bambu hijaunya berkelebat-kelebat cepat sekali.

Dia selalu menyerang ke sana ke mari dengan dahsyat, karena dalam marahnya.

Thio Kim Beng telah mempergunakan seluruh ilmu yang ada padanya.

Dia berusaha merubuhkan si nenek tua Cek Tian.

Jika dapat, diapun bermaksud hendak melukainya cukup berat, buat memperlihatkan bahwa Kay-pang bukanlah sebangsa perkumpulan pengemis yang mudah dihina.

Memang kepandaian mereka tampaknya setingkat, ke duanya memiliki ilmu silat maupun sin-kang yang berimbang.

Hanya saja jika diteliti benar-benar, kepandaian Thio Kim Beng masih menang seurat dari Cek Tian.

Cek Tian hanya memiliki ilmu yang hebat luar biasa seperti Ha-mokang.

Tetapi dia kurang meyakinkannya sampai mahir benar, dia juga tidak memperoleh bimbingan waktu mempelajari kepandaiannya, membuat dia kurang pengalaman bertempur.

Sekarang menghadapi serangan-serangan Thio Kim Beng yang begitu gencar, membuatnya mulai terdesak.

Biarpun dia telah mengeluarkan seluruh kepandaiannya, dia masih juga sering terdesak.

Beruntung dia memiliki mujijat seperti Ha-mo-kang, dengan kepala di bawah dan sepasang kaki di atas.

Jika tidak, tentu Thio Kim Beng sudah dapat mendesaknya lebih hebat.

Sekarang, dengan tubuh terbalik itu tentu saja membuat Thio Kim Beng sementara itu kehilangan sasaran.

Semua jalan darah di tubuh lawannya jadi terbalik, dan setiap jurus yang dipergunakannya itu jadi terbalik menuju ke sasarannya.

Jika harus menotok ke pundak, justeru dia jadi menotok ke arah kaki lawannya, demikian pula sebaliknya.

Tetapi setelah memperhatikan cara bertempur lawannya, berangsur-angsur dia mulai dapat mengusai diri dan telah bisa melihat kelemahan lawannya.

Karena dari itu, segera juga dia memperhebat serangannya dengan mengincar bagian di tengah, yaitu perut Cek Tian.

Tengah merupakan bagian yang paling penting dalam suatu pertempuran, karena dapat ke bawah dan dapat ke atas.

Dengan mengambil kelemahan lawannya di situ, Thio Kim Beng bisa mengancam terus menerus dengan tongkat bambu hijaunya, tanpa perlu bingung disebabkan lawannya bertempur dengan cara terbalik seperti itu.

Disamping itu juga terlihat betapa serangan- serangan yang dilakukan oleh Cek Tian kian lemah, rupanya nenek tua itu mulai kehabisan napas dan tenaga, dia sudah letih.

Sedangkan Thio Kim Beng sendiri, walaupun cukup lelah, daya tahannya jauh lebih kuat dibandingkan dengan si nenek Cek Tian.

Karenanya, dia telah mengempos semangatnya, dan berusaha menyerang semakin lama semakin gencar, tidak mau memberikan kesempatan sedikitpun kepada Cek Tian buat merobah kedudukan dan posisi dirinya!

Cek Tian menyadarinya, jika bertempur terus menerus seperti itu, akhirnya dia yang bisa rubuh di tangan lawannya, karena setelah ratusan jurus dia merasakan bahwa kepandaiannya masih berada di bawah kepandaian Thio Kim Beng.

Maka cepat-cepat Cek Tian memperhebat serangan Ha-mo-kang nya, juga dia berusaha untuk mencari kelemahan lawannya.

Namun tetap saja Cek Tian yang terdesak dengan hebat oleh tongkat lawannya.

Dikala itu Cek Tian menarik napas dalam-dalam, tiba-tiba sekali dia menghantam dengan ke dua telapak tangannya.

Itulah jurus terhebat dari Ha-mo-kang, membuat angin gempuran itu dahsyat sekali menerjang Thio Kim Beng.

Thio Kim Beng sendiri tidak berani menangkis dengan kekerasan.

Dia menyadari betapa hebatnya Ha-mo-kang, terlebih lagi si nenek Cek Tian sekarang ini telah menyerangnya begitu hebat, membuatnya dia tak mau mempertaruhkan jiwanya dengan tangkisan keras dilawan keras.

Cepat-cepat dia berkelit, tubuhnya melesat lincah sekali, membarengi dengan itu tongkatnya menyambar mengancam ubun-ubun dekat kening si nenek Cek Tian.

Itulah serangan yang mengambil arah vertikal, karena tongkat dari pengemis tua itu menuju ke bawah, dimana kepala si nenek Cek Tian memang menempel pada bumi.

Justeru dia menyerang ubunubun dekat kening depan si nenek, dengan demikian dia berharap bisa menotok jalan data Kiu-kie-hiat si nenek, yang berada tujuh dim di atas alisnya.

Tetapi Cek Tian benar-benar liehay, dia tidak mau membiarkan keningnya kena diserang begitu saja.

Cepat sekali dia telah memutar tubuhnya, yang berputar-putar seperti juga gangsing.

Dia telah membalas menghantam lagi dengan tangan kirinya, dari mulutnya terdengar suara "krokkk, krokkk"!

Thio Kim Beng kali ini sudah tidak memiliki kesempatan buat menghindar dari tenaga lawan.

Karenanya dia menangkis.

"Bukkk!"

Hebat sekali tenaga mereka saling bentur, dan tubuh si nenek terpental.

Dia terpental sambil berbareng tubuhnya melesat dan jatuh hinggap ditumpukan salju dalam keadaan berjongkok, malah dari mulutnya terdengar suara "krokk, krokk,"

Seperti juga seekor kodok besar, dan ke dua tangannya telah mendorong kuat sekali kepada Thio Kim Beng.

Thio Kim Beng waktu itu terhuyung tiga langkah ke belakang, dan baru saja berhasil memperbaiki kuda-kuda ke dua kakinya, di saat itulah tenaga Ha-mo-kang dari Cek Tian telah menyambar datang, dan menuju ke arah dadanya.

Walaupun serangan itu belum tiba, baru menyambar angin permulaannya, Thio Kimbeng merasakan napasnya sesak bukan main, ia kaget, dan segera mengempos semangatnya, dia berkelit cepat-cepat menghindar, dari tenaga Ha-mo-kang lawan.

"Memang tidak percuma ilmu Ha-mo-kang yang diciptakan Auwyang Hong, hebat sekali! Hemmmm, nenek tua sialan ini tampaknya belum lagi dapat menguasai Ha-mo-kang itu sepenuhnya. Jika saja Auwyang Hong yang mempergunakan Ha- mo-kang tersebut, niscaya siang-siang aku sudah dapat dirubuhkan!"

Begitulah yang dipikir Thio Kim Beng.

Dia sendiri di samping kagum, pun merasa jeri juga dengan Ha-mo-kang.

Cuma saja, disebabkan dia menyadari bahwa lawannya itu kurang sepenuhnya menguasai ilmu tersebut, maka dia tidak menjadi gentar buat bertempur terus.

Coba jika berhadapan dengan Auwyang Hong, tentu siang-siang Thio Kim Beng akan angkat kaki, atau jika dia keras kepala, niscaya jiwanya sudah melayang siangsiang oleh si Bisa Bangkotan itu……!"

Ko Tie menyaksikan jalan pertempuran di antara ke dua tokoh sakti itu semakin lama semakin hebat, jadi menahan napas.

Dia tidak mengerti di tempat ini bisa muncul dua orang yang berkepandaian begitu tinggi, dan dia berusaha untuk memperhatikan dengan cermat sekali, buat melihat dengan sungguh-sungguh setiap jurus yang dipergunakan ke dua orang tersebut, karena setidaknya, apa yang dilihatnya ini merupakan tambahan pengalaman buat Ko Tie.

Di waktu itu Ko Tie juga telah berusaha untuk bersembunyi terus tanpa ada gerakan.

Sedikit saja dia mengeluarkan suara dan ke dua orang tua yang tengah bertempur hebat itu mengetahui, tentu dia akan memperoleh kesulitan.

Sudah menjadi peraturan di dalam kalangan Kang-ouw, seseorang tidak bisa mencuri lihat atau bersembunyi untuk mengintip pertempuran dari orang lain.

Hal itu merupakan suatu perbuatan yang rendah dan hina.

Karenanya, Ko Tie tidak ingin jika perbuatannya kali ini sampai diketahui oleh ke dua orang yang tengah bertempur dengan dahsyat itu.

Tiba-tiba terdengar bentakan si pengemis Thio Kim Beng, yang berseru dengan suara yang nyaring sekali.

"Hemmm..... walaupun engkau mengeluarkan seluruh kepandaianmu, tetap saja engkau akan rubuh di tanganku! Baik! Baik! Kau pergunakanlah seluruh kepandaianmu.....!"

Sambil berkata begitu, segera juga Thio Kim Beng memutar tongkat bambu hijaunya, dia telah memutarnya dengan dahsyat menimbulkan kesiuran angin yang menderu-deru hebat sekali.

Dia juga telah melangkah maju, berusaha untuk merangsek kepada si wanita tua tersebut.

Dikala itu, tampak Cek Tian berusaha mengempos seluruh kekuatannya.

Dia masih berada dalam keadaan berjongkok seperti seekor kodok besar, di mana ke dua tangannya telah dilonjorkan dan mendorong dengan kuat sebanyak dua kali.

Tetapi Thio Kim Beng benar-benar lihay, dia bisa menghadapi gempuran itu dengan mudah, tubuhnya berkelebat ke sana ke mari dan dia telah memunahkan tenaga serangan dari Ha-mo-kang lawannya.

Thio Kim Beng pun bukan hanya berkelit saja, tongkatnya tahutahu sudah meluncur.

Sekarang nenek tua Cek Tian dalam keadaan berjongkok, dengan sendirinya dia bisa menyerang lebih leluasa.

Ujung tongkat bambu hijaunya itu telah mengincar mata dari nenek tua tersebut.

Walaupun Ha-mo-kang Cek Tian cukup hebat, namun gin-kangnya masih di bawah gin-kang Thio Kim Beng.

Sekarang melihat tongkat lawannya meluncur akan menikam matanya, dia tidak berani berayal.

Segera dia menjejakkan ke dua tangannya, telapak tangannya menghantam bumi, maka tubuhnya seperti juga seekor kodok besar yang tengah melompat, melesat sangat ringan sekali sejauh dua tombak lebih.

Thio Kim Beng sama sekali tidak mau memberikan kesempatan.

Dia juga telah menyusul, tongkat bambu hijaunya itu telah menyambar secepat kilat, tenaga dalam yang disalurkan kepada tongkatnya itu juga hebat sekali, menimbulkan angin yang berkesiuran, tetap saja ujung tongkatnya yang tajam itu mengincar mata Cek Tian.

Cek Tian gusar bukan main, dia mendorong pula ke dua telapak tangannya dalam keadaan tetap berjongkok, dimana dari mulutnya terdengar "krokkk, krokkk,"

Tidak hentinya.

Dari ke dua telapak tangannya itu meluncur kekuatan tenaga dalam yang dahsyat sekali.

Dia tengah didesak lawannya dengan ujung tongkat yang mengincar matanya, karenanya, dia bermaksud akan membendung serangan lawan dengan hantaman Ha-mo-kang yang sekuat tenaganya.

Jika memang lawannya meneruskan tikaman mata tongkatnya itu buat mencukil biji mata Cek Tian, berarti serangan Ha-mo-kang Cek Tian akan mengenai Thio Kim Beng.

Dia akan terluka matanya dan menjadi buta, tetapi dia bisa membunuh lawannya.

Itulah perhitungan yang masuk dari Cek Tian, yang mempertaruhkan biji matanya.

Tetapi Thio Kim Beng mana mau berlaku nekad seperti itu, dia melompat mundur sambil menarik pulang tongkatnya.

Dengan demikian mereka berdua telah terpisah dalam jarak yang cukup jauh.

Ke duanya saling pandang satu dengan yang lain bersiapsiap untuk saling terjang menerjang lagi guna merubuhkan lawan mereka.

Keadaan pada waktu itu jadi tegang.

Ko Tie yang bersembunyi di balik batu gunung, menyaksikan ke dua tokoh sakti itu yang tengah saling pandang mencari kesempatan buat mulai menyerang lagi, jadi berdebar juga.

Karena dia mengetahui, sekali ini ke dua jago yang berkepandaian tinggi tersebut tengah mengincar kelemahan lawannya dan berusaha mencari kesempatan guna menyerang terlebih dulu.

Juga ilmu yang akan mereka pergunakan tentunya bukanlah ilmu yang sembarangan, setidaknya mereka sekali ini akan mempergunakan ilmu simpanan mereka.

Di waktu itulah tampak Cek Tian telah mengerang, dia mengangkat ke dua tangannya lurus-lurus ke depan, sikapnya masih berjongkok seperti seekor kodok besar, matanya memancarkan sinar yang tajam sekali.

Tubuhnya tergetar keras, karena dia tengah mengerahkan seluruh kekuatan lweekangnya, di mana dia ber maksud sekali ini menyerang berhasil merubuhkan lawannya.

Thio Kim Beng pun tidak berani berayal, tongkat bambu hijaunya telah dilintangkan di depan dadanya.

Dia telah mengawasi sikap Cek Tian dengan mata yang bersinar tajam juga.

Dia menantikan penyerangan lawannya sambil mengempos semangatnya, memperhatikan juga kalau-kalau ada kelemahan dalam gerakan Cek Tian ini.

Di saat itulah, di antara berkelebatnya tongkat bambu hijau Thio Kim Beng, tampak Cek Tian juga menyerang hebat mempergunakan ke dua telapak tangannya.

"Takk, dukkk, bukk!"

Terdengar tiga kali suara benturan yang nyaring.

Suara yang pertama adalah suara terbenturnya tongkat bambu hijau Thio Kim Beng yang kena ditangkis oleh Cek Tian, sedangkan suara yang ke dua merupakan suara terbenturnya dua kekuatan antara tenaga dalam Cek Tian dengan tenaga dalam Thio Kim Beng.

Dan suara yang ke tiga merupakan suara tubuh Cek Tian yang kena dihantam oleh telapak tangan kiri Thio Kim Beng, sehingga tubuh si nenek tua yang tangguh itu terpental bergulingan di atas tumpukan salju!

Namun dasarnya memang dia tangguh sekali, dia bisa melentik bangun dengan segera, sambil menghantam lagi dengan ke dua telapak tangannya, di mana dia masih mengambil sikap seekor kodok besar, berjongkok mempergunakan Ha-mo-kang nya!

Angin berkesiuran menderu-deru.

Thio Kim Beng sendiri tidak berani segera memapaki serangan lawannya kali ini.

Tadi saja, waktu tenaganya saling bentur dengan tenaga dalam Cek Tian, telapak tangannya yang mencekal tongkat bambu hijaunya tergetar keras dan terasa pedih, juga tubuhnya tergoncang hebat sekali.

Biarpun dia berhasil menghantam Cek Tian dengan telapak tangan kirinya, dia sendiri tidak urung kena disampok oleh kekuatan tenaga dalam Ha-mo-kang lawannya.

Beruntung dia memang, telah menutup tubuhnya dengan kekuatan sin-kang nya, sehingga biarpun dia kena diterjang oleh tenaga dalam lawan, tokh tetap saja dia tidak sampai terluka parah.

Dalam keadaan seperti itu, terlihat Thio Kim Beng cepat-cepat menjejakkan ke dua kakinya.

Dia tidak mau menyambuti tenaga serangan dari Cek Tian.

Dengan demikian pukulan yang hebat itu jatuh di tempat kosong.

Cek Tian penasaran dan murka sekali.

Tadi dia telah kena terpukul.

Memang benar pukulan itu tidak sampai melukai dia dan juga tidak sampai membuat dia bercacad, akan tetapi dia penasaran sekali.

Dia telah terguling-guling akibat serangan lawannya.

Karena, sebagai seorang wanita, yang umumnya memang sering diliputi oleh perasaan penasaran jika belum berhasil mencapai sesuatu yang dikehendaki.

Maka demikian pula halnya dengan Cek Tian, dia jadi begitu penasaran dan biar bagaimana bertekad hendak menyerang binasa pada lawannya itu.

Demikianlah, setelah pukulannya itu dapat dihindarkan oleh lawannya, dia segera melompat dengan sikap seperti seekor kodok dan telah menyerang lagi dengan hebat.

Serangan itu datang saling susul, tampaknya dia kalap sekali, dan sekarang dia sudah tidak memperdulikan lagi keselamatan dirinya!

Wajah nenek tua Cek Tian tampak menyeramkan sekali, dengan sepasang mata mendelik memancarkan sinar yang menakutkan.

Di wajahnya terbayang hawa nafsu membunuh yang besar sekali karena dalam kenekadannya itu, benar-benar dia kalap dan penasaran hendak membinasakan lawannya, walaupun dengan cara dan jalan bagaimana.

Itulah sebabnya dia telah mempergunakan seluruh tenaga lwekangnya buat menyerang sehebat-hebatnya kepada Thio Kim Beng.

Berlainan dengan Cek Tian, justeru Thio Kim Beng tidak mau membuang jiwa percuma secara konyol.

Karena dari itu, dia berulang kali berkelit, tiga kali dia berkelit dan pada serangan ke empat kali, mau atau tidak terpaksa dia harus menangkisnya, karena Cek Tian mendesaknya terus beruntun dengan pukulanpukulan Ha-mo-kang yang dahsyat.

Dalam keadaan seperti itu, Thio Kim Beng mengerahkan sebagian besar tenaga dalamnya dan menangkisnya, memperdengarkan, suara benturan yang keras dari saling benturnya tangan mereka, di mana tangan mereka tidak segera terpisah lagi.

Ke duanya berdiri tegak dengan kuda-kuda ke dua kaki yang kokoh mereka mengadu kekuatan tenaga dalam mereka buat saling lebih mendahului merubuhkan lawan masing-masing.

Sebetulnya Thio Kim Beng jika ingin mempergunakan tongkat di tangan kanannya.

Dia bisa melakukannya buat menotok atau menghantam Cek Tian, tokh dia tidak melakukannya sebab jika lweekang terpecah dan dibagi ke tangan kanan, berarti dia yang akan tertindih oleh kekuatan tangan lawannya.

Karena dari itu, dia telah bertahan terus, dan malah berusaha mengerahkan tenaganya, untuk dapat merubuhkan Cek Tian dengan hanya tangan kirinya sedangkan tongkat bambu hijaunya tetap saja tergantung tidak dipergunakan untuk menyerang!

Ko Tie menyaksikan ke dua orang tokoh sakti yang tengah mengadu kekuatan dan berada dalam saat-saat yang menentukan sekali, karena jika memang mereka lengah dan tertindih kekuatan tenaga dalam lawan, salah seorang akan terluka parah sekali.

Bertempur dengan mempergunakan lweekang sesungguhnya jauh lebih berbahaya jika dibandingkan dengan bertempur mempergunakan senjata tajam, sebab begitu tertindih kekuatan tenaga dalam lawan, atau memang tenaga dalam mereka itu buyar, niscaya hawa murni mereka juga akan musnah.

Dan di saat itu mereka akan terluka hebat, bahkan kemungkinan besar akan menemui kematian.

Karena dari itu pula mengapa Thio Kim Beng tidak berani membagi kekuatan tenaga dalamnya pada tangannya yang satu.

Dia membiarkan tongkat bambu hijaunya tergantung saja karena dia tidak mau mengambil resiko dengan memecahkan kekuatan tenaga dalamnya yang mungkin akan menyebabkan dia terdesak oleh kekuatan tenaga dalam lawannya!

Ko Tie sendiri agak bingung juga, tentu saja dia tidak menghendaki jika sampai ke dua orang tokoh sakti itu ke dua-duanya terluka.

Dan diapun hendak menolongi memisahkan mereka, tapi kepandaiannya jelas masih berada di bawah kepandaian ke dua orang itu, sin-kang nya juga masih kalah.

Karena dari itu, jika dia menyelinap di antara dua kekuatan tenaga dalam yang luar biasa hebatnya itu, niscaya hanya akan menyebabkan dia yang bercelaka!

Akhirnya Ko Tie hanya mengawasi bingung saja, dilihatnya dari kepala Thio Kim Beng maupun Cek Tian telah mengepul uap yang semakin lama semakin tebal, dan juga keringat di sekujur tubuh mereka telah membasahi pakaian.

Waktu Ko Tie tengah bingung buat memisahkan ke dua orang itu, justeru di saat itu di tengah udara terdengar suara pekik burung rajawali putih, pekik yang nyaring sekali.

Ko Tie jadi girang.

Cepat-cepat dia menoleh ke atas.

Benar saja, burung rajawali putih yang berukuran besar itu, tengah terbang mendatangi cepat sekali.

Hanya saja keadaan burung rajawali itu agak luar biasa, bulu-bulunya tampak tidak rata lagi, telah banyak yang rontok, membuat Ko Tie jadi kaget tak terkira.

Segera Ko Tie bersiul nyaring.

Burung rajawali putih itu yang tengah terbang pesat sekali karena ingin cepat-cepat memberitahukan kepada Yo Kouw-nio bahwa majikannya, Giok Hoa, tengah terancam jiwanya di tangan Auwyang Phu.

Dan dia segera melihat Ko Tie.

Dengan pekik nyaring karena gembira, burung rajawali putih tersebut segera terbang menukik turun menghampiri Ko Tie, dan setelah hinggap dia mengibasngibaskan sayapnya.

Melihat kelakuan burung rajawali putih itu dan juga keadaan bulunya yang pada rontok tersebut, segera Ko Tie mengetahui, pasti ada sesuatu yang terjadi pada Giok Hoa.

Segera juga dia menepuk-nepuk leher burung itu, dia perintahkan agar burung tersebut segera pergi ke tempat Yo Kouw-nio.

Yo Kouw-nio ketika melihat Ko Tie yang turun dari punggung burung rajawali putih yang telah membawanya terbang tadi, kaget tidak terkira.

Karena dia segera memiliki perasaan tidak enak melihat keadaan burung rajawali putih yang tidak keruan itu.

Ko Tie menceritakan, mungkin Giok Hoa mengalami ancaman bahaya.

Juga burung rajawali putih itu tentu telah dianiaya seseorang.

Yang membuat Ko Tie jadi agak bingung, dia pun tidak melihat biruang salju.

Dia menanya kepada rajawali putih itu, namun sikap dan gerak burung itu tidak dimengerti olehnya.

Memang sikap dan gerak-gerik burung rajawali tersebut hanya bisa dimengerti oleh Giok Hoa seorang, majikannya.

Dikala itu, Yo Kouw-nio tidak membuang-buang waktu segera melompat ke punggung burung rajawali putih tersebut, dia perintahkan burung rajawali putih itu membawanya terbang ke tempat di mana beradanya Giok Hoa.

Swat Tocu segera berlari pesat sekali, mengikuti ke arah mana burung rajawali putih itu terbang.

Ko Tie juga mengikutinya.

Swat Tocu menguatirkan sekali keselamatan biruang saljunya.

Karena dari itu, dia tidak membuang-buang waktu mengikuti burung rajawali putih karena dia menduga tentunya biruang salju tengah mengalami ancaman bahaya yang tidak kecil berdua dengan Giok Hoa.

Ko Tie sendiri berdebar-debar hatinya.

Cek Tian dan Thio Kim Beng yang tadi mendengar suara pekik burung rajawali putih tiba-tiba dengan berbareng, dan serentak, ke duanya telah menarik pulang tenaga mereka, dan ke duanya menjauhi diri saling pandang.

Mereka kemudian melihat Ko Tie, yang telah melompat ke punggung burung rajawali putih tersebut, terbang!

Ke dua tokoh sakti rimba persilatan tersebut heran bukan main karena mereka tidak mengenali siapa adanya Ko Tie dan juga mereka merasa aneh melihat rajawali putih yang begitu jinak.

Di saat itulah tampak, betapa ke dua tokoh sakti ini jadi penasaran.

Setelah saling pandang dan melihat Ko Tie dibawa terbang oleh burung rajawali putih tersebut, segera juga ke duanya menjejakkan kaki mereka berlari-lari mengikuti rajawali putih tersebut.

Dan mereka melihat Ko Tie dan Swat Tocu, yang mengikuti rajawali putih itu seperti juga sebagai penunjuk jalannya.

Cek Tian dan Thio Kim Beng semakin penasaran, mereka mengikuti terus.

Yo Kouw-nio yang duduk di punggung burung rajawali putih itu, telah mengawasi sekelilingnya, dimana dia berusaha untuk memperhatikan keadaan di sekitarnya, kalau-kalau Giok Hoa terlihat olehnya.

Burung rajawali putih itu masih terbang dengan cepat, dan di waktu itulah terlihat betapa burung rajawali putih telah menukik ke sebuah tonjolan batu gunung.

Yo Kouw-nio segera menyaksikan peristiwa yang mengejutkannya.

Dia memang melihat Giok Hoa, tetapi dalam keadaan tidak berdaya, karena tertotok, dan juga disaat itu terlihat dia tengah terancam, karena mukanya tengah diincar dan dirusak oleh mata pedang di tangan Auwyang Phu.

Tidak berayal lagi, tangan Yo Kouw-nio bergerak, dia melontarkan sebatang jarum Bwee-hoa-ciam.

Jarum itu segera menyambar pesat sekali.

Terdengar suara "Tranggg"!

Pedang di tangan Auwyang Phu yang tengah meluncur ke arah muka Giok Hoa, dan si gadis tengah menutup mukanya, tampak terpental, dan tergetar keras sekali, sehingga membuat Auwyang Phu kaget bukan main.

Benar dia mencekal pedang itu tidak terlalu kuat dan keras, namun dia memiliki kepandaian yang tinggi.

Dengan disentuh sebatang jarum Bwe-hoa-ciam, pedang itu bisa mencong dan tangannya tergetar benar-benar membuat Auwyang Phu jadi kaget tidak terkira.

Itulah timpukan yang mengandung kekuatan tenaga dalam yang luar biasa hebatnya.

Cepat-cepat Auwyang Phu menoleh, dia melihat Yo Kouw-nio yang melompat turun dari punggung rajawali yang tadi telah dibabak belurkannya.

Auwyang Phu melengak sejenak, tapi segera dia tertawa bergelak-gelak.

"Oho...... oho...... kiranya wanita cantik lagi! Ha, tampaknya burung celaka itu memang memiliki banyak sekali wanita-wanita cantik, walaupun usiamu tampaknya lebih tua dari wanita ini……!"

Sambil berkata begitu, pedangnya di tunjuk kepada Giok Hoa Yo Kouw-nio tidak berkata apa-apa, dia cepat menghampiri Giok Hoa, berjongkok di sampingnya, dan membuka totokan pada tubuhnya.

Namun maksudnya tidak kesampaian begitu dia menotok, jalan darah itu tidak terbuka.

Sedangkan Auwyang Phu sendiri tertawa bergelak-gelak, sama sekali dia tidak berusaha mencegah perbuatan Yo Kouw-nio.

Dia tidak berusaha untuk menghalanginya dan hanya tertawa bergelak-gelak.

"Hebat! Kau rupanya pandai ilmu tiam-hiat, bukan? Coba bukalah!"

Kata Auwyang Phu dengan suara yang nyaring.

Yo Kouw-nio berobah mukanya, karena dia penasaran sekali dan malu gagal membuka totokan pada muridnya.

Dia mencoba dua kali, mengurut dan menotok beberapa jalan darah di tubuh Giok Hoa.

Tetap saja gagal.

Malah Giok Hoa tampak meringis.

sebab bukan terbuka jalan darah yang tertotok, malah tampaknya dia menderita kesakitan yang tidak ringan.

Segera Yo Kouw-nio menghentikan usahanya membuka totokan pada Giok Hoa.

Dia berdiri dan memandang kepada Auwyang Phu dengan suara yang dingin dia bilang.

"Cepat kau buka totokan itu, jangan sekali-kali kau bermaksud berbuat kurang ajar padaku……!"

"Siapa kau?"

Tanya Auwyang Phu setelah tertawa bergelak-gelak.

"Aku…… aku orang she Yo!"

Menyahuti Yo Kouw-nio dengan sikap ragu, sebetulnya dia bermaksud hendak menyebutkan namanya, namun karena dia berpikir Auwyang Phu tentu bukan sebangsa manusia baik-baik, dia hanya menyebutkan dia orang she Yo belaka!

"Hahaha!"

Tertawa Auwyang Phu dengan suara yang nyaring sekali, kemudian melanjutkan.

"Bagus! Kiranya memang tidak salah gadis itu tadi telah mempergunakan pedang Giok-lie-kiamhoat! Dan engkau rupanya memang masih mempunyai hubungan dengan si buntung Yo Ko!"

Muka Yo Kouw-nio berobah mendengar ayahnya disebut si buntung, tahu-tahu tubuhnya ber kelebat, tangan kanannya menampar ke mulut Auwyang Phu.

Auwyang Phu waktu mengetahui wanita yang ada di hadapannya adalah orang she Yo yang memiliki hubungan dengan Sin-tiauwtay-hiap, sejak tadi dia telah bersiap-siap.

Sekarang melihat Yo Kouw-nio dengan gesit bergerak ingin menampar mulutnya, segera dia mengelak.

Tubuhnya lincah sekali melompat ke samping.

"Hahaha…… jangan terlalu galak seperti itu!"

Ejeknya.

"Mari kita bicara dulu?" Bola mata Yo Kouw-nio terbuka lebar-lebar mendelik kepada Auwyang Phu, bukan main penasaran dan bencinya kepada pemuda ini yang telah menghina ayah angkatnya. Dia berusaha menahan kemarahannya, bentaknya.

"Katakan siapa kau."

"Aku? Aku orang she Auwyang….. tentu kau tidak asing dengan she tersebut, bukan? Namaku hanya tunggal, yaitu Phu! Akulah Auwyang Phu, putera sejati dari Auwyang Hong!"

Berobah muka Yo Kouw-nio melihat lagak pemuda itu berbicara, dan juga mendengar ia adalah putera Auwyang Hong.

Inilah aneh dan sulit sekali bisa dipercaya oleh pendengarannya.

Setelah tertegun beberapa saat, dia bertanya.

"Jadi…… jadi engkau puteranya Auwyang Hong Locianpwe?!"

Auwyang Phu memperlihatkan sikap congkak. Dia mengangguk segera.

"Tepat! Sedikitpun tidak meleset! Memang aku putera Auwyang Hong! Putera sejati! Kau dengar, aku putera sejati Auwyang Hong. yang telah mewarisi seluruh kehebatan ayahku!"

Dan setelah berkata begitu ia tertawa bergelak-gelak lagi.

Sedangkan Yo Kouw-nio menghela napas.

"Auwyang Hong Locianpwe dengan ayahku memiliki hubungan yang baik.

Karena itu, memandang ayahmu, aku bersedia buat menyudahi urusan sampai di sini saja, dan cepat kau bebaskan totokanmu pada muridku itu......"

Kata Yo Kouw-nio sambil menghela napas mengalah. Tetapi Auwyang Phu justeru jadi sebaliknya, dia menduga Yo Kouw-nio gentar dan jeri begitu mendengar dia adalah puteranya Auwyang Hong.

"Hmmm, jadi engkau adalah puteri si buntung Yo Ko?"

Tanyanya dengan sikap mengejek. Meluap lagi darah Yo Kouw-nio.

"Mulutmu jangan kurang ajar!"

Bentaknya.

"Atau memang engkau minta aku menghajarnya agar kelak engkau dapat bersikap lebih sopan dan baik-baik?"

Melihat Yo Kouw-nio gusar Auwyang Phu sama sekali tidak jeri, malah dia tertawa tergelak-gelak dengan sikap yang angkuh sekali.

"Hemmm, engkau marah? Baik! Baik-baik! Aku memang selalu menyebut ayahmu itu dengan sebutan si buntung Yo Ko! Lalu sekarang apa yang hendak kau lakukan?!" Yo Kouw-nio sudah tidak, bisa menahan dirinya lagi mendengar perkataan dan sikapnya Auwyang Phu seperti itu. Tahu-tahu tubuhnya melesat dan tangan kanannya bergerak kembali berusaha menempeleng mulut Auwyang Phu.

"Menghajar mulutmu!"

Teriaknya gusar.

Tetapi kali ini Auwyang Phu sama sekali tidak berkelit, malah dia telah menangkis dengan pedang rampasannya.

Tentu saja tangan Yo Kouw-nio akan terkutungkan, jika saja ia menyerang terus.

Cepat-cepat dia menahan tangannya, namun bukan buat berdiam diri, melainkan dengan segera dia telah membarengi menghantam lagi.

Auwyang Phu kagum juga melihat kesebatan tangan Yo Kouw-nio.

"Bagus!"

Berseru pemuda itu dengan suara nyaring dan tubuhnya melejit ke sana ke mari, berkelit dari serangan-serangan Yo Kouwnio yang gencar.

Malah dia juga mempergunakan pedangnya, berusaha buat balas menyerang.

Setiap serangannya cukup baik.

Tetapi Yo Kouw-nio adalah pewaris dari ilmu pedang nomor wahid di masa ini, yaitu Giok-lie-kiam-hoat, sehingga mana bisa Auwyang Phu mendesaknya dengan serangan pedang tersebut.

Segera juga Yo Kouw-nio berhasil mendesaknya.

Memang Auwyang Phu kurang sekali memperhatikan ilmu pedang, dia lebih mementing kan ilmu Ha-mo-kang nya.

Sekarang merasakan dirinya terdesak hebat, dia segera membuang pedangnya, tahu-tahu dia berjongkok dan ke dua tangannya dilonjorkan mendorong ke depan.

Di waktu itu Yo Kouw-nio justeru tengah menerjang ke dekatnya.

Yo Kouw-nio kaget juga merasakan dorongan tenaga yang kuat bukan main, dia merasakan napasnya sesak.

Segera juga Yo Kouw-nio mengetahui bahwa itulah suatu kekuatan yang tidak boleh diremehkan.

Segera berkelit ke samping batal menyerang pemuda ceriwis tersebut.

Dikala itu Auwyang Phu bukan hanya menyerang satu kali saja, dalam sikap masih berjongkok dia telah menghantam lagi lebih kuat.

Berulang kali tenaga dari serangan Ha-mo-kang tersebut telah menyambar kepada Yo-Kouw-nio.

Beruntung memang Yo Kouwnio memiliki gin-kang yang sangat tinggi, sehingga dia berhasil mengelakkan serangan-serangan Auwyang Phu.

Cuma saja Yo Kouw-nio penasaran bukan main, dan suatu kali dia ingin juga mengetahui sesungguhnya berapa kekuatan lweekang pemuda itu.

Ketika melihat Auwyang Phu tengah melonjorkan sepasang tangannya, dia menangkisnya dengan mempergunakan lweekangnya.

Dengan demikian, dua tenaga sin-kang segera bentrok dahsyat sekali.

Tubuh Yo Kouw-nio bergoyang-goyang namun tidak bergeser dari tempatnya berdiri.

Sedangkan Auwyang Phu sampai terpental dalam posisi masih berjongkok.

Cuma saja, ketika dia meluncur turun, seketika dia hinggap di tanah dengan keadaan dan posisi seperti semula, yaitu dia tetap berjongkok, Malah Auwyang Phu telah membarengi dengan pukulan lagi, kuat sekali tenaga pukulannya itu, karena dia mempergunakan jurus yang hebat dari Ha-mo-kang dengan mengerahkan sebagian terbesar sin-kangnya.

Angin dorongan ke dua telapak tangannya itu berkesiuran sangat dahsyat, Tubuh Yo Kouw-nio melompat ke tengah udara, sehingga angin serangan Ha-mo-kang tersebut menyambar terus dan menghantam sebungkah batu.

Terdengar suara menggelegar yang nyaring sekali, bungkahan batu tersebut seketika hancur berantakan dan telah menjadi puingpuing, Waktu bungkahan batu tersebut kena diserang tenaga Hamo-kang, sekitar tempat itu terasa tergetar.

"Phu-jie!"

Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita berseru nyaring.

Tidak lain yang berseru itu adalah Cek Tian.

Sedangkan di depan Cek Tian terlihat Swat Tocu dan Ko Tie yang berdiri dengan muka merah padam, karena tocu pulau es itu telah melihatnya bahwa biruang saljunya rebah pingsan tidak sadarkan diri.

Sedangkan Ko Tie segera melompat ke samping biruang salju, buat memeriksa keadaannya, sehingga dia memperoleh kenyataan biruang salju itu terluka di dalam yang tidak ringan.

Segera juga Auwyang Phu dengan gembira berlari menghampiri ibunya.

"Ibu…..!"

Panggilnya.

Di samping ibunya, tampak terpisah tidak begitu jauh, seorang pengemis tua, yang mengawasi Auwyang Phu dengan sorot mata yang tajam sekali.

Yo Kouw-nio segera menoleh ke arah Swat Tocu, katanya.

"Swat Locianpwe, dialah yang telah melukai biruang saljumu dan rajawali putih itu! Bahkan Giok Hoa telah dilukainya!"

Swat Tocu tidak mengucapkan apa-apa, dia hanya mendegus, tahu-tahu tubuhnya telah melesat, ke dua tangannya diulurkannya.

Dia telah melompat ke arah Auwyang Phu, karena dia bermaksud akan mencengkeram punggung Auwyang Phu.

Itulah disebabkan Swat Tocu terlalu gusar.

Sedangkan Cek Tian menyaksikan Swat Tocu dengan marah hendak mencengkeram anaknya, tidak mau tinggal diam.

Cepat sekali dia berseru sambil menyampok tangan Swat Tocu.

Dia mengetahui siapa adanya Swat Tocu dan telah mengetahui juga berapa tinggi kepandaian yang dimiliki tocu tersebut.

Karena dari itu, dia menangkis dengan mengeluarkan tenaga yang cukup tangguh.

Swat Tocu sama sekali tidak berusaha menarik kembali tangannya, sehingga tangannya itu saling bentur dengan tangan Cek Tian.

Namun, apa jadinya?

Tubuh Swat Tocu sendiri terpental mundur sedikit, sedangkan tubuh Cek Tian telah terhuyung sampat empat langkah.

Hal ini mengejutkan Auwyang Phu, dia mencekal lengan ibunya, muka Cek Tian berobah memucat.

"Ibu..... apakah engkau tidak apa-apa?!"

Tanya Auwyang Phu dengan kuatir dan telah melirik kepada Swat Tocu dengan sorot mata yang bengis sekali. Cek Tian menggeleng perlahan, kemudian dia telah berkata.

"Hatihatilah terhadap dia, dialah Swat Tocu……!"

Auwyang Phu seperti tidak mendengar peringatan ibunya, karena telah menjejakkan sepasang kakinya, dia hinggap di tanah dengan ke dua kaki tertekuk, di mana dia berjongkok dengan sikap seperti seekor kodok besar, kemudian ke dua tangannya dilonjorkan dan dia mendorong dengan perlahan!

Swat Tocu tidak memandang sebelah mata pada pemuda itu.

Dia telah menyampok dengan tangan.

"Dukkk.....!"

Tubuh Swat Tocu tergoncang juga, namun dia tidak sampai tergeser dari tempatnya berdiri, cuma di waktu itu dia telah tertawa dingin menyaksikan betapa tubuh Auwyang Phu terpental berjumpalitan di tengah udara beberapa kali, baru meluncur turun.

Itulah disebabkan kuatnya tenaga serangan dari Swat Tocu.

Dan Auwyang Phu sendiri merasakan kepalanya pusing.

Untung dia memiliki lweekang yang cukup tinggi, membuat dia tidak sampai kena dirubuhkan oleh sampokan tangan Swat Tocu.

Sedangkan Swat Tocu mendengus, wajahnya menyeramkan karena marah, dia bilang.

"Hem, engkau harus membayar sakit hati Swat-him-ji (Anak biruang es), yang telah kau celakai……!"

Sambil berkata begitu, segera juga dia melompat ke samping Auwyang Phu, sambil menggerakkan tangannya.

Tetapi Auwyang Phu, yang sekarang menyadari bahwa Swat Tocu adalah seorang tokoh sakti yang memiliki kepandaian tinggi, tidak mau memperdulikan serangan Swat Tocu, dia telah menyingkir.

Dua kali Swat Tocu menyerang, tetapi tidak berhasil mengenainya.

Waktu satu kali lagi Swat Tocu menghantam, dan Auwyang Phu sudah tidak memiliki kesempatan buat mengelakkan serangan itu.

Segera dia berjungkir balik, kepala di bawah dan sepasang kaki di atas!

Swat Tocu jadi terkejut juga melihat cara bertempur lawannya, buat sejenak dia tertegun.

Dikala itu, cepat sekali Auwyang Phu membarengi dengan serangannya, karena dia ingin mempergunakan kesempatan di saat lawannya tengah tertegun seperti itu buat merubuhkannya.

Swat Tocu tersadar dengan segera, dia mendengus, dan dia mengibaskan tangannya.

Tetapi sekali ini tubuh Auwyang Phu tidak terpental hanya terputar-putar seperti gangsing.

Swat Tocu jadi mendongkol melihat kelicikan lawannya, berulang kali dia menghantam dengan kekuatannya yang sangat hebat, ilmu pukulan Inti Es nya.

Dengan demikian, tubuh Auwyang Phu berulang kali berputarputar.

Dia memang menguasai Ha-mo-kang, tetapi yang membuat dia tidak tahan adalah hawa dingin yang seperti ingin membekukan dirinya.

Sedangkan terputar-putar seperti itu tidak membawa akibat buruk padanya, malah dia merasa nyaman sekali bisa berputar semakin cepat, darahnya jadi terbalik dan lebih deras turun ke kepala, sehingga tenaga Ha-mo-kangnya jadi semakin hebat dan kuat.

Sedangkan Swat Tocu sendiri diam-diam berpikir.

"Siapakah anak itu? Tampaknya dia mahir sekali mempergunakan ilmu Ha-mo- kang ini, yang kabarnya dulu menjadi ilmu andalan Auwyang Hong?"

Sambil berpikir begitu, Swat Tocu juga tidak tinggal diam diri, karena dia telah menyusuli dengan serangannya yang beruntun.

Cek Tian menyaksikan anaknya didesak terus oleh Swat Tocu, dia tidak bisa membiarkan, karena dia kuatir puteranya itu nanti kena dicelakai oleh Swat Tocu.

Maka dia melompat dengan gesit menghadang di depan Swat Tocu, katanya.

"Kau jangan mengganggu anakku! Nah, hadapilah aku!"

Sambil berkata begitu, nyonya tua tersebut telah menekuk ke dua kakinya, dia menyerang dengan mempergunakan ke dua telapak tangannya.

Angin dari pukulan Ha-mo-kang nya itu berkesiuran menderu-deru, dan telah mendorong sedikit Swat Tocu, satu langkah, karena Tocu dari pulau salju ini tidak menyangka akan diserang seperti itu.

Terlebih lagi memang Cek Tian telah lebih baik menguasai Ha-mokang, dibandingkan dengan anaknya.

Dan diapun lebih banyak pengalamannya.

Swat Tocu tidak segera membalas menyerang, dengan mata mendelik bentaknya.

"Kalian masih memiliki hubungan apa dengan Auwyang Hong, si See-tok, bisa bangkotan itu?"

Mendengar pertanyaan Swat Tocu itu, Cek Tian tertawa dingin.

"Auwyang Hong adalah suamiku. Dan dia adalah putera Auwyang Hong!"

Sambil berkata begitu, Cek Tian telah menunjuk kepada Auwyang Phu. Swat Tocu mengelak.

"Auwyang Hong mempunyai isteri dan anak?!"

Tanyanya kemudian dengan sikap terheran-heran! Cek Tian tertawa dingin.

"Mengapa engkau harus heran, bukankah Auwyang Hong juga seorang manusia biasa, dia wajar memiliki isteri dan anak. Mengapa engkau harus terheran-heran seperti itu? Apa anehnya!!"

Disanggapi seperti itu, wajah Swat Tocu jadi berobah memerah, tetapi kemudian dia tertawa dingin, dia bilang dengan suara yang tawar.

"Hemmm, aku memang tidak heran.

Cuma justeru aku tidak percaya bahwa wanita seperti engkau, yang hanya pantas menjadi pelayannya bisa menjadi isterinya!

Yang aku ketahui, di Pek-tosan, di gunung Auwyang Hong berkuasa, pelayan-pelayannya terdiri dari wanita-wanita cantik, yang semuanya berpakaian putih!

Mengapa seorang wanita buruk seperti engkau diambil sebagai isterinya?

Lihat saja hasilnya!

Anaknya jadi buruk tidak karuan macam seperti juga muka seekor monyet dengan tubuhnya yang pendek mirip seekor kera!"

Itulah hinaan yang seumur hidupnya baru pertama kali Cek Tian terima.

Dia memang paling pantang dirinya dihina.

Walaupun mengetahui Swat Tocu memiliki kepandaian yang lebih tinggi darinya, dia jadi nekad.

Waktu itu Swat Tocu tengah meneruskan kata-katanya.

"Yang kuketahui Auwyang Hong memiliki tubuh yang tinggi besar dan tegap, maka dari itu alangkah lucu dan anehnya, jika anaknya justeru bertubuh pendek dan cebol seperti dia, dengan muka yang begitu buruk seperti monyet……!"

Berkata sampai di situ Swat Tocu tidak bisa meneruskan perkataannya, karena diiringi bentakan mengandung kekalapan tampak Cek Tian telah menerjang, dengan sepasang tangannya mendorong hebat sekali mempergunakan salah satu jurus Ha-mokang, ke dua kakinya juga dalam keadaan tertekuk dalam-dalam, mengambil sikap seperti seekor kodok.

Swat Tocu merasakan menderu-derunya angin serangan yang kuat sekali, Dia juga seorang yang memiliki tabiat aneh, mana mau dia mengalah terhadap Cek Tian?

Karena dari itu, segera dia memperkuat kuda-kuda ke dua kakinya.

Begitu dia merasakan angin serangan Cek Tian hampir tiba, dia malah balas menyerang dengan pukulan Inti Es nya.

Maka terdengar suara benturan yang keras disusul dengan jerit kaget Cek Tian, karena tubuhnya telah terpental dan ambruk di tanah.

Walaupun dia tidak sampai pingsan, Cek Tian tidak bisa segera bangun, dia meringis sambil mengerang-erang kesakitan.

Auwyang Phu kaget tidak terkira dan cepat-cepat memburu kepada ibunya.

Dia berusaha membantu membangunkan ibunya, dengan matanya sebentar-sebentar melirik kepada Swat Tocu penuh kemarahan, karena dia sendiri telah mendengar langsung hinaan dari Swat Tocu!

Swat Tocu sendiri terhuyung dua langkah akibat benturan tenaga dalamnya.

Diam-diam dia kaget juga, dia berkata di dalam hatinya.

"Ternyata Ha-mo-kang Auwyang Hong bukan semacam ilmu sembarangan…… benar-benar berbahaya! Jika memang Auwyang Hong sendiri mempergunakan Ha-mo-kang nya itu niscaya belum tentu dia bisa merubuhkan Auwyang Hong. Maka dia jadi bersikap hati-hati. Walaupun Cek Tian memang tidak bisa disamakan dengan Auwyang Hong, tokh Ha-mo-kang nya itu lihay sekali. Di waktu itu terlihat Auwyang Phu setelah membantui ibunya bangun, segera melompat kepada Swat Tocu. Kalap sekali pemuda itu, ia menyerang kepada Swat Tocu. Sedangkan Swat Tocu sendiri tengah panas terhadap pemuda ini, yang diketahuinya telah melukai biruang saljunya. Segera juga tanpa menyingkir dia menantikan serangan Auwyang Phu. Sengaja dia membiarkan dadanya yang telah diselubungi oleh lapisan kekuatan sin-kangnya dihantam tangan Auwyang Phu, kemudian sebat sekali tangan kanan yang satunya menghantam ke arah iga Auwyang Phu! Segera melengking suara jerit kesakitan Auwyang Phu, tubuhnya "

Terbang"

Ke tengah udara, terbanting di atas tanah dengan kesakitan, sebab di waktu itu lengannya dan beberapa tulang iganya telah patah!

Swat Tocu tampak puas, dengan langkah lebar dia menghampiri Ko Tie yang tengah menguruti biruang salju, yang waktu itu mulai tersadar.

Auwyang Phu sendiri telah merangkak bangun, namun tidak berani menyusul buat menyerang lagi.

Swat Tocu duduk di samping biruang salju, dia mengurutinya sambil mengempos lweekang nya.

Cepat sekali binatang itu jadi segar dan mengerang, lalu melompat berdiri.

Seperti juga sikap seorang manusia layaknya, setelah berdiri, biruang salju itu sambil mengeluarkan suara lirih dia memberi hormat dengan menekuk ke dua kakinya, mendekam di tanah, dan menganggukkan kepalanya.

Lalu dia berdiri lagi, dan suaranya berobah menandakan dia sangat marah menunjuk-nunjuk kepada Auwyang Phu.

Seperti juga biruang salju ini tengah mengadukan apa yang telah dialaminya dihajar babak belur oleh Auwyang Phu.

Swat Tocu mengangguk dan kemudian mengulapkan tangannya, biruang salju itu jadi berdiri di sampingnya.

Yo Kouw-nio sendiri telah berusaha membebaskan lagi totokan pada muridnya, namun selalu gagal dan Giok Hoa malah semakin kesakitan.

Ko Tie melihat hal itu, segera berkata bahwa dia bisa membuka totokan tersebut.

Yo Kouw-nio girang dan meminta bantuan pemuda itu.

Ko Tie meminta Yo Kouw-nio membalikkan tubuh si gadis, dan punggungnya telah ditepuk dua kali oleh Ko Tie, kemudian ditotok satu kali.

Waktu Ko Tie menotok dan menepuk pundak gadis tersebut, mukanya berobah merah dan terasa panas.

Dia likat sendirinya, karena di dekatnya Yo Kouw-nio tengah mengawasi.

Memang benar, dia tidak menyentuh kulit tubuh si gadis, karena gadis itu tetap memakai baju, namun tentu saja hal itu mendatangkan rasa malu dirinya.

Giok Hoa mengeluarkan jeritan perlahan dan terbebas dari totokan.

Yo Kouw-nio telah menghampiri untuk memayang bangun si gadis.

Tapi gadis itu masih lemas sekali, dia bergelendot pada pundak gurunya.

Dikala itu terlihat Ko Tie sebetulnya hendak membantu guna memayang si gadis namun akhirnya dia membatalkan maksudnya karena dia teringat perbuatan itu telah kurang pantas.

Sedangkan saat itu Swat Tocu telah menoleh kepada Yo Kouwnio, katanya.

"Apakah bocah itu akan dibikin bercacad!"

Sambil berkata dengan suara seperti itu Swat Tocu juga menunjuk kepada Auwyang Phu.

Cek Tian sambil menahan sakit, sebab dia terluka di dalam tidak ringan, berusaha memaksakan diri, menghampiri anaknya, kemudian membantu Auwyang Phu berdiri.

Nenek tua itu kemudian mengawasi Swat Tocu penuh dendam.

"Swat Tocu, kali ini kami runtuh di tanganmu, tetapi kelak kami akan mencarimu, buat melakukan perhitungan yang pantas! Tidak ada keturunan Auwyang Hong yang mau menyudahi urusan hanya begitu saja.......!"

Waktu berkata begitu muka Cek Tian tampak bengis sekali. Swat Tocu tertawa dingin, katanya dengan suara tawar.

"Hemmm, engkau masih coba-coba berpikir kelak membalas dendam?"

Setelah mengejek begitu Swat Tocu menoleh kepada Ko Tie, perintahnya.

"Hajar dia!" Ko Tie mengetahui bahwa kepandaian Cek Tian berada di atas kepandaiannya, namun dia melihat Cek Tian sekarang dalam keadaan terluka di dalam. Diapun memang tidak berani membantah perintah gurunya, segera melompat ke dekat Cek Tian di mana dia segera menghantam kepada Cek Tian. Waktu itu ke dua tangan Cek Tian tengah dipergunakan buat memayang puteranya dan sekarang melihat Ko Tie menyerang ke arah belakang punggungnya dengan pukulan yang tidak ringan. Dia segera melepaskan cekalan tangan kanannya, dan menangkis.

"Dukkk!"

Cek Tian bersama anaknya terhuyung, namun tidak sampai rubuh, Sedangkan Ko Tie merasakan tangannya kesemutan.

Rupanya tangkisan nenek tua Cek Tian benar-benar sangat kuat sekali, Ko Tie menyusuli pula dengan pukulan yang ke dua.

Kali ini Ko Tie memukul lebih kuat lagi dari semula!

Dia malu jika sampai tidak bisa memukul Cek Tian.

Padahal nenek tua itu terluka di tangan gurunya dan Ko Tie tidak berhasil memenuhi perintah gurunya.

Itulah sebabnya dia memukul semakin kuat lebih-lebih ia teringat biruang saljunya telah dilukai oleh pemuda bertubuh pendek yang menjadi anak Cek Tian, kemarahannya meluap.

Auwyang Phu mengejek dengan menahan sakit.

"Hemmmm, manusia apa kau yang hanya berani memukul terhadap orang yang terluka?!"

Diejek seperti itu mendadak sekali Ko Tie menahan meluncur tangannya. Swat Tocu juga tersinggung oleh kata-kata itu, dia bilang.

"Baikbaik sekarang jiwa kalian ibu dan anak kutitipkan pada batok kepala kalian? Tetapi nanti, aku yang akan mencari kalian, jika kalian telah berada dalam keadaan sehat dan tidak terluka, aku yang akan mencabut nyawa kalian......... Nah pergilah, jangan menunggu aku sampai berobah pikiran lagi…..!"

Mendengar perkataan Swat Tocu, tanpa berayal Cek Tian mengajak anaknya berlalu meninggalkan tempat tersebut, hanya matanya yang sekilas masih memandang penuh kebencian kepada Swat Tocu, Ko Tie, Yo Kouw-nio dan Giok Hoa.

Waktu Cek Tian tengah memayang anaknya, mendadak dia merasakan sambaran angin yang kuat sekali.

Dia gusar bukan main, dia menduga Swat Tocu menarik pulang kata-katanya dan menyerangnya.

Tetapi segera dia merasa nyeri, karena punggungnya kena dicengkeram benda tajam.

Waktu dia melirik, ternyata yang mencengkeram pundaknya adalah rajawali putih.

Sengit sekali Cek Tian telah menghantam burung rajawali putih itu, namun burung tersebut telah terbang tinggi sekali, sehingga pukulan Cek Tian jatuh di tempat kosong.

Dengan menahan sakit, terpaksa Cek Tian menelan semuanya itu, yang dianggapnya, merupakan hinaan yang tidak akan terlupakan, dan dia bersumpah di dalam hatinya, kelak jika memang kesehatannya telah pulih, dia akan mencari Swat Tocu dan yang lainnya, guna melampiaskan sakit hatinya.

Setelah Cek Tian dan puteranya telah lenyap meninggalkan tempat tersebut, Swat Tocu menoleh kepada Thio Kim Beng, pengemis tua yang sejak tadi berdiri dengan berdiam diri saja.

"Pengemis busuk tua bangka, apakah engkau dari Kay-pang?"

Tegurnya dengan suara tawar sekali.

Thio Kim Beng seperti baru tersadar, dia tertawa menyeringai.

"Benar dan tentunya anda adalah Swat Tocu yang sangat terkenal itu!

Waktu dalam pertemuan rapat besar Kay-pang, jika tidak salah Tocu ikut hadir......."

"Tajam sekali ingatanmu!"

Kata Swat Tocu, tawar suaranya. Sedangkan Thio Kim Beng telah menghampiri, merangkapkan tangannya memberi hormat.

"Harap Tocu menerima hormatku!"

"Hemmm, tidak mengibaskan usah, tangannya, jangan!"

Dia kata Swat menolak Tocu sambil pemberian hormat pengemis itu.

Kibasan tangan yang dilakukan Swat Tocu mengandung kekuatan tenaga dalam yang sangat dahsyat, walaupun dia hanya mengibas perlahan saja.

Pengemis tua mengetahui, bahwa dia tengah dicoba sin-kang nya.

Sebagai seorang yang memiliki kepandaian tinggi tentu saja dia tidak mau membiarkan dirinya dirubuhkan dengan mudah.

Diapun berpikir.

"Hemmm, apakah engkau kira dengan terkenal sebagai tokoh sakti di kalangan Kang-ouw, engkau dapat bertindak sewenang-wenang di hadapanku?"

Diapun tetap membungkukkan tubuhnya, cuma saja dia mengerahkan tenaga dalamnya untuk menangkis. "Bukkkk!"

Dua kekuatan tenaga raksasa telah saling bentur.

Tubuh Swat Tocu bergoyang-goyang, namun dia tidak tergeser dari tempatnya berada.

Tetapi pengemis itu, justeru dia merasakan dadanya sakit bukan main.

Mati-matian dia mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya, dia memang tidak mau sampai rubuh dan dipandang hina oleh Swat Tocu, walaupun dia merasa berat sekali menerima pukulan begitu berat dari Swat Tocu, namun dia bertahan.

Akibatnya, ketika dia membuka mulutnya, dia memuntahkan darah segar dua kali!

Yo Kouw-nio berobah mukanya, dia segera menghampiri Swat Tocu.

"Swat Locianpwe, dapatkah Swat Locianpwe bermurah hati terhadap locianpwe ini? Kay-pang merupakan golongan kita juga…… Ayahku dengan ketua Kay-pang masih memiliki hubungan yang sangat baik sekali. Dengan memandang muka ayahku, sudilah kiranya locianpwe bermurah hati!"

Swat Tocu yang tengah uring-uringan, karena biruang saljunya telah dilukai orang dan juga melihat tempat di mana dia telah merasa cocok buat dipergunakan sebagai tempat mengasingkan diri, ternyata sudah didatangi orang dari berbagai golongan, yaitu Cek Tian bersama anaknya, juga sekarang pengemis tua Thio Kim Beng ini.

Karena dari itu Swat Tocu tidak mau tahu siapa adanya Thio Kim Beng, dia telah mengibas dengan kekuatan sin-kangnya.

Coba jika memang Thio Kim Beng tidak berusaha mengadakan perlawanan tentu Swat Tocu akan menarik pulang tenaga dalamnya.

Justeru Thio Kim Beng telah membalas menangkisnya dengan kuat.

Swat Tocu jadi mendongkol dan meneruskan tenaga kibasannya itu, yang akhirnya membuat Thio Kim Beng terluka di dalam.

Dan memang begitulah tabiat ku-koay dari Swat Tocu.

"Baik, memandang muka terang ayahmu, aku sudi memaafkan anjing itu! Nah, pergilah kau cepat menggelinding dari depan mataku!"

Bentak Swat Tocu kepada Thio Kim Beng.

Pengemis ini meringis.

Seumur hidupnya, belum pernah dia diperlakukan orang sedemikian rupa.

Sakit sekali hatinya.

Namun diapun menyadari bahwa Swat Tocu seorang sakti dan memiliki kepandaian yang tinggi sekali, dalam keadaan terluka seperti ini lebih-lebih tidak mungkin dia melawan.

Maka dengan mata memancarkan penasaran dan sakit hati, dia telah memutar tubuhnya, dengan meringis dia bilang kepada Yo Kouw-nio.

"Yo Kouw-nio, terima kasih atas kemurahan hatimu. Aku si pengemis tua Thio Kim Beng pasti tidak akan melupakan budi kebaikanmu itu, juga tidak akan begitu mudah menghabisi suatu urusan penasaran begitu saja! Selamat tinggal!"

Setelah berkata begitu, dengan menahan sakit pada dadanya, dengan terseok-seok, pengemis tua yang telah kena getahnya dari kemarahan Swat Tocu, meninggalkan tempat tersebut.

Yo Kouw-nio menghela napas.

Dia berusaha tertawa, katanya.

"Swat Lociaapwe, mari kita pulang aku telah memasakkan beberapa macam hidangan, tentu kau akan doyan sekali……."

Swat Tocu hanya menggerendeng saja, dia bangun berdiri dan mengikuti Yo Kouw-nio yang memayang Giok Hoa buat kembali ke rumahnya.

Ko Tie bersama biruang salju mengikuti di belakang mereka.

Sedangkan burung rajawali putih terbang di tengah udara, sambil memekik beberapa kali ke dua sayapnya yang bulunya mengalami kerusakan, karena telah banyak yang rontok, telah dikibaskibaskannya.

Dan seringkali dia mengetuarkan pekik, pekik penasaran, sebab dia hanya bisa mencengkeram sekali saja pada pundak Cek Tian, tetapi Auwyang Phu tidak sempat dicengkeramnya, buat melampiaskan penasaran dan sakit hatinya karena telah dibikin babak belur oleh puteranya Auwyang Hong Tiga hari lamanya Giok Hoa menerima perawatan dari gurunya, barulah kesehatannya berangsur-angsur pulih kembali.

Memang waktu totokan pada tubuhnya dibuka, dia sudah bisa bicara dan bergerak, walaupun masih lemas dan tenaganya seperti telah lenyap.

Yo Kouw-nio mengetahui, jika Giok Hoa tidak memperoleh perawatan yang cermat darinya, niscaya akan menyebabkannya mengalami gangguan pada sin-kangnya, yang akan lenyap sebagian.

Disebabkan itulah Yo Kouw-nio telah merawatnya selama tiga hari.

Di saat itulah baru kesehatan Giok Hoa pulih keseluruhannya.

Pada hari ke tiga, di malam hari rembulan tergantung di langit terang sekali, Giok Hoa tengah melangkah perlahan-lahan.

Dia berjalan di luar rumah, dan mengawasi puncak gunung yang menjulang tinggi sekali, di mana hawa pun agak dingin.

Tetapi gadis ini yang wajahnya telah memerah sehat dan juga hanya mengenakan baju tipis belaka, sama sekali tidak merasa dingin.

Dikala itu, ia pun bernyanyi perlahan-lahan, bersenandung, dan lantas dia berpikir, alangkah girangnya jika saja gurunya mengijinkan dia berkelana turun gunung, di mana dia bisa melihat bermacam-macam keramaian.

Seperti pengalamannya yang dirubuhkan oleh Auwyang Phu, hal itu merupakan salah satu pendorong buat dia berpikir untuk berkelana.

Karena itu membuktikan bahwa dia memang kurang pengalaman, pemuda cebol itu berhasil merubuhkannya dengan mudah.

Biarpun dia berlatih terus selama sepuluh tahun, tentu kemajuan yang dicapainya tidak akan sehebat itu.

Pengalaman juga yang akan menempa dia.

Sedang si gadis termenung seperti itu, di dengarnya suara pekik burung rajawali putihnya, yang terdengar dari kejauhan.

Entah apa yang tengah dilakukan burung rajawali putih itu, yang tentu tengah kesepian sendirian juga!

Giok Hoa menghela napas dalam-dalam, dia jadi bingung.

Untuk menyampaikan isi hatinya kepada gurunya, diapun tidak bisa, tentu hatinya tidak akan tenang, karena dia berat meninggalkan gurunya.

Tetapi buat tinggal terus di tempat ini, ia tidak bisa.

Ia membutuhkan pengalaman.

Telah belasan tahun dia hidup selalu di tempat-tempat yang sunyi dan terpencil.

Dan sekarang, dia telah menyaksikan, betapa Auwyang Phu yang memiliki kepandaian tinggi, Cek Tian yang juga kepandaiannya begitu tinggi, di samping si pengemis tua, yang tentunya memiliki kepandaian tidak di bawah Cek Tian.

"Apa yang kau lamunkan, Hoa-moay?!"

Tiba-tiba di belakangnya ada yang menegur dengan suara yang halus. Dia kenal benar suara itu. Pipinya segera berobah menjadi merah, dia tidak menoleh, cuma menundukkan kepalanya.

"Engkaukah, Ko Tie Koko?!"

Tanyanya dengan suara yang perlahan.

"Ya……!"

Menyahuti Ko Tie, yang memang mendatangi si gadis.

Secara kebetulan Ko Tie waktu itu sulit buat tidur, dan diapun ingin sekali menikmati malam di puncak punung Heng-san.

Setiap hari, pikirannya selalu tergoda oleh bayang-bayang si gadis.

Terlebih lagi tiga hari belakangan ini, membuat dia selalu gelisah.

Dari gurunya dia belum memperoleh kepastian, apakah gurunya akan memutuskan menetap di puncak Heng-san atau memang akan menolaknya pilihan Ko Tie kali ini dan mencari tempat lain?

Karena dari itu, Ko Tie jadi tidak tenang.

Jika memang gurunya merasa tidak cocok dengan puncak Hengsan, niscaya ia akan diajak gurunya buat pergi meninggalkan Heng-san dan jelas itupun berarti dia akan berpisah dengan Giok Hoa, gadis yang cantik manis yang telah menusuk kalbunya dengan lirikannya, senyumnya dan parasnya yang begitu menawan.

Kegelisahan seperti itu membuat, Ko Tie jadi tidak tenang, dan dia seakan juga hendak mendesak gurunya agar cepat-cepat memberikan keputusannya, agar dia tidak tersiksa seperti itu.

Menunggu memang merupakan pekerjaan yang tidak menyenangkan.

Karena MENUNGGU merupakan pekerjaan yang terlalu menyiksa, walaupun BERAPA lama atau cepatnya menunggu tetap saja merupakan pekerjaan yang tidak menyenangkan dan terlalu menyiksa menggelisahkan sekali.

Malam itu, karena tidak dapat tidur lagi, Ko Tie telah keluar dari kamarnya.

Waktu dia tiba di luar, justeru dia melihat Giok Hoa yang tengah melangkah perlahan-lahan keluar dari rumah tersebut juga.

Gadis itu tampaknya tengah melamun, sehingga dia tidak mengetahui bahwa Ko Tie tengah mengikutinya.

Ko Tie sebetulnya hendak memanggilnya, namun melihat sikap dan wajah Giok Hoa yang luar biasa, menyebabkan dia hanya mengikuti saja.

Setelah sampai di luar, di tempat yang cukup jauh terpisah dari rumah Yo Kouw-nio, Ko Tie melihat gadis tersebut melamun tertegun di tempatnya.

Malah kemudian menghela napas dalamdalam, seperti juga Giok Hoa tengah tertekan perasaannya oleh sesuatu yang menyusahkan hatinya.

Dilihatnya wajah Giok Hoa yang begitu cantik manis dan menawan sekali, di bawah sinar rembulan, sehingga Ko Tie tidak bisa menahan perasaannya lagi, dan diapun tidak ingin melihat gadis pujaan hatinya bersusah hati, dia menegurnya.

"Kau tengah bersusah hati, adikku?!"

Tanya Ko Tie setelah berdiri di dekat si gadis.

Giok Hoa tetap menunduk, dia amat malu karena sajak tadi dia tidak tahu Ko Tie berada di dekatnya.

"Ko Tie Koko, mengapa engkau mengikuti aku?

Kau memata-matai aku heh?"

Tanya Giok Hoa kemudian, dengan suara yang perlahan dan kepalanya tetap menunduk. Ko Tie jadi tergagap ditanya seperti itu, segera dia bilang.

"Adikku, kau jangan memiliki dugaan jelek seperti itu kepadaku. Karena aku sama sekali bukan bermaksud mengikutimu, aku hanya kebetulan saja tidak dapat tidur. Hatiku juga tengah gelisah, maka aku keluar dalam kamarku dengan maksud untuk menenangkan perasaanku, menghirup udara malam.

"Siapa tahu aku melihat engkaupun berada di luar rumah. Aku ingin segera menegurmu, tetapi aku kuatir mengganggu ketenanganmu! "

Dan tadi aku melihat engkau begitu bersusah hati, sehingga aku ingin sekali mengetahui, kesusahan apakah yang tengah engkau alami.

Siapa tahu aku bisa membantumu, jika engkau bersedia menceritakan kepadaku?"

Giok Hoa tidak segera menyahuti, dia menghela napas lagi dalamdalam, baru kemudian bilangnya dengan suara yang agak lirih.

"Ko Tie Koko.......!" Dan gadis itu mengangkat kepalanya perlahan-lahan, dia memandang Ko Tie beberapa saat lamanya. Ko Tie membalas tatapan matanya, mata mereka saling pandang, diakhiri Giok Hoa yang menunduk lagi.

"Adikku, apa yang hendak kau katakan, katakanlah! Aku akan menjadi pendengar yang sangat baik!"

Kata Ko Tie dengan sikap ingin mengetahui. Bola mata Giok Hoa yang jeli dan indah itu terang seperti cermin atau permukaan air danau berkilat-kilat menatap kepada Ko Tie. Sampai akhirnya dia bilang.

"Ko Tie Koko tadi engkau mengatakan bahwa engkau juga tengah resah dan tidak tenang. Sesungguhnya apakah yang membuat engkau tidak tenang? Kau ceritakanlah dulu kegelisahanmu, nanti aku akan memberitahukan kegelisahanku!"

Ko Tie tertegun sejenak, pipinya segera berobah merah dan dia jadi salah tingkah.

"Ini…… ini........!"

Katanya tergagap. Giok Hoa mengawasi heran padanya. "Ko Tie Koko…… katakanlah..... apakah engkau keberatan buat menceritakan kepadaku kesusahan hatimu?!"

Tanya Giok Hoa. Ko Tie semakin merah pipinya, yang terasa panas seperti terbakar.

"Adikku..... ini….. ini……!"

Katanya dengan suara tergagap.

"Baiklah Ko Tie Koko, rupanya engkau memang tidak menganggap aku sebagai orang yang dekat denganmu, sehingga kesusahan hatimu itu kau keberatan buat menceritakannya kepadaku, guna bertukar pikiran! Maafkanlah atas pertanyaanku tadi yang begitu lancang ingin mengetahui urusanmu……!"

Setelah berkata begitu Giok Hoa menghela napas dalam-dalam. Ko Tie jadi gugup dan segera dia berkata.

"Adikku, kau jangan salah mengerti, dengarlah dulu, aku akan menceritakannya persoalanku itu……!"

Tapi Giok Hoa telah menggeleng perlahan sambil tersenyum, dia bilang.

"Sudahlah Ko Tie Koko, akupun tidak akan memaksa memberitahukan persoalanmu itu kepadaku! Baiklah hari telah terlalu malam, aku ingin masuk tidur!" Dan sambil berkata begitu, si gadis tersenyum, manis sekali, sambil melirik kepada Ko Tie dia juga memutar tubuhnya untuk kembali ke rumah Yo Kouw-nio. Ko Tie bertambah gugup, dan karena kuatir gadis itu benar-benar meninggalkannya dia sampai melupakan adat istiadat antara seorang pria dengan seorang gadis, dia mengulurkan tangannya, mencekal lengan si gadis.

"Tunggu dulu adikku......... dengarlah dulu, aku akan menjelaskannya kepadamu!"

Kata Ko Tie tergopoh-gopoh. Giok Hoa jadi berobah merah mukanya, dia menunduk malu dan pipinya itu terasa panas sekali. Ia menarik lengannya yang dipegang si pemuda. Ko Tie tambah gugup.

"Maaf......... maafkan, aku bukan maksud berbuat kurang ajar.......!"

Katanya tergagap. Si gadis tersenyum. "Jika memang kau bersedia menjelaskan persoalanmu itu, katakanlah, Ko Tie Koko……"

Kata Giok Hoa kemudian, lembut sekali suaranya. Melihat si gadis tidak marah, malah senyumnya begitu manis menggetarkan hatinya, hati Ko Tie terhibur juga, dia masih bilang.

"Adikku, maafkanlah…… atas kekurang ajaranku tadi, tapi aku sungguh-sungguh memang tidak sengaja."

"Sudahlah Ko Tie Koko..... bukankah engkau berjanji akan memberitahukan kesulitanmu itu ?!"

Kata Giok Hoa.

"Oya, benar!"

Kata Ko Tie, sedangkan di hatinya dia mengutuk dirinya, mengapa dia jadi gugup, sikapnya jadi seperti seorang pemuda yang dungu saja.

Dan dia menyesali dirinya, mengapa menghadapi Giok Hoa dia jadi bingung seperti itu.

Sedangkan jika berada dalam suatu pertempuran, biarpun menghadapi lawan yang bagaimana tangguh, dia tidak pernah menjadi gugup.

Dikala itu, Giok Hoa yang melihat pemuda itu masih saja gugup, telah berkata.

"Ko Tie Koko, mengapa masih belum menjelaskan persoalanmu itu? Apakah memang engkau keberatan buat menjelaskannya?" Ko Tie jadi tambah gelagapan dibuatnya.

"Ya, ya, aku akan segera memberitahukannya,"

Katanya.

"Sesungguhnya….. sesungguhnya aku tengah memikirkan, apakah guruku merasa cccok atau tidak buat berdiam di puncak Heng-san ini!"

Akhirnya Ko Tie berhasil juga menjelaskannya.

"Karena selama tiga hari ini guruku tidak pernah memberitahukan kepadaku, apakah ia merasa cocok atau tidak dengan tempat ini!"

"Mengapa engkau tidak menanyakan saja langsung kepada gurumu itu?"

Tanya Giok Hoa sambil tersenyum manis sekali.

Ko Tie tidak segera menyahuti, dia memandang si gadis dengan sepasang mata terbuka lebar-lebar.

Si gadis juga telah balas memandangnya.

Jeli sekali matanya yang bening bersinar itu, dan juga senyumnya yang begitu manis.

Walaupun mulut mereka masing-masing tidak mengucapkan katakata, namun sinar mata mereka bicara lebih banyak dari seribu atau sejuta kata......!

Akhirnya Ko Tie menunduk.

"Aku......

adikku, aku tidak memiliki keberanian buat menanyakan kepada suhu!"

"Mengapa begitu?!"

Tanya Giok Hoa. Kembali Ko Tie mengangkat kepalanya memandang si gadis, lalu dengan suara perlahan dia bilang.

"Aku…… kuatir suhu marah."

"Mengapa suhumu itu akan marah? Bukankah gurumu yang telah perintahkan engkau agar mencari tempat yang cocok buat dia hidup mengasingkan diri di saat menjelang hari tuanya! Dan sekarang engkau telah menunjukkan puncak gunung Heng-san ini. Maka mengapa engkau takut disesali? Bukankah engkau ingin mengetahui gurumu itu merasa cocok atau tidak dengan tempat ini?!"

"Benar, memang seharusnya begitu……!"

Kata Ko Tie tambah bimbang.

Sulit sekali buat dia menjelaskan persoalan yang sebenarnya "Lalu mengapa engkau tidak menanyakannya kepada gurumu, jika engkau sendiri telah mengetahui memang begitu seharusnya?"

Ko Tie berobah mukanya menjadi merah dan pipinya terasa panas, dia juga merasakan telapak tangannya dingin sekali, berkeringat.

Benar-benar dia menyesali dan mengutuki dirinya yang tidak berani segera menjelaskan terus terang kepada si gadis urusan yang sesungguhnya.

Dia jadi begitu gugup dan pengecut.

Dan biarpun hatinya memaki kalang kabutan.

"Ko Tie! Ko Tie! Mengapa engkau seperti pemuda dungu? Katakan saja dengan tenang dan terang, apa sebenarnya urusan?!"

Hatinya memang berbisik begitu, namun nyatanya dia tidak bisa menjelaskan yang sebenar-benarnya kepada Giok Hoa.

"Ko Tie Koko..... bagaimana?"

Tanya Giok Hoa yang jadi heran bercampur lucu melihat sikap Ko Tie. Ko Tie seperti baru tersadar dari tidurnya, dia gelagapan.

"Oya, aku sedang memberitahukan kepadamu tentang kesulitanku itu!"

Katanya kemudian.

"Dan seperti aku telah jelaskan, aku memang sesungguhnya tidak memiliki keberanian buat menanyakan kepada suhu apakah suhu cocok dengan tempat ini, karena.....! "

Karena apa, Ko Tie Koko?"

Tanya Giok Hoa ingin sekali mengetahuiuya.

"Katakanlah, aku ingin sekali mendengarnya Ko Tie Koko..... Jika benar engkau memiliki kesulitan, siapa tahu aku bisa membantunya?!"

"Tetapi ini..... ini……!"

Dan Ko Tie tidak bisa meneruskan perkataannya, dia mengangkat kepalanya memandang ragu kepada si gadis.

"Tetapi apa, Ko Tie Koko?!"

Mendesak Giok Hoa.

"Apakah engkau tidak akan marah jika hal ini kukatakan terus, terang?!"

Tanya Ko Tie. Giok Hoa menggeleng.

"Tidak!"

Katanya kemudian.

"Mengapa aku harus marah jika engkau terus terang menceritakan persoalanmu itu?!"

"Sesungguhn ya..... urusan ini menyangkut urusan kita berdua!"

Akhirnya Ko Tie bisa juga berkata seperti itu.

Tetapi waktu dia mengucapkan kata-kata itu, dia amat likat dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Dia malu dan jengah serta tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Dia seperti juga ingin cepat-cepat berlari menjauhi si gadis, karena perasaan malunya itu, diapun serasa ingin menyembunyikan mukanya di bantal.

Giok Hoa mementang matanya lebar-lebar, tampaknya dia tambah heran dan bingung.

"Menyangkut urusan kita berdua?!"

Tanya Giok Hoa akhirnya.

"Ko Tie Koko, katakanlah yang jelas, aku sungguh-sungguh tidak mengerti..... maksudmu?!"

Ko Tie menghela napas, buat sementara dia tidak bisa berkatakata, dia melirik si gadis beberapa kali, dan berusaha menenangkan hatinya, lalu katanya.

"Apakah benar-benar engkau tidak akan marah jika aku menjelaskan, Hoa-moay? Berjanjilah Hoa-moay!"

"Ya, katakanlah, apa saja yang kau katakan, aku tidak akan marah!"

Menegaskan si gadis.

"Sesungguhnya..... suhuku telah mengetahui bahwa aku...... aku…..!"

"Kenapa dengan kau, Ko Tie Koko?!"

"Aku..... menyukaimu..... Hoa-moay, aku mencintaimu!"

Menjelaskan Ko Tie.

Giok Hoa tertegun sejenak, kemudian dengan muka berobah merah terasa panas, dia menunduk dalam-dalam.

Inilah pernyataan Ko Tie yang membuat hatinya bergoncang hebat sekali.

Dia tidak menyangka bahwa pemuda itu akan menyatakan isi hatinya begitu saja.

Melihat si gadis berdiam diri dengan kepala tertunduk dalamdalam, Ko Tie tambah bingung.

"Hoa-moay, apakah engkau marah?"

Tanya tergagap, sebab ia menduga Giok Hoa tersinggung dan marah mendengar pertanyaannya. Giok Hoa masih menunduk, namun dia menggeleng perlahan dan dengan suara yang perlahan serak ia menyahuti.

"Tidak.....!"

Dan kemudian setelah hatinya tenang kembali, dia mengangkat kepalanya. Dia memandang kepada Ko Tie dengan sinar mata penuh arti, katanya.

"Dan apa hubungannya antara kau menyukai aku dengan putusan gurumu senang atau tidak tinggal di tempat ini?!"

Ko Tie sudah bisa menenangkan hatinya, karena melihat si gadis tidak marah.

"Sesungguhnya…..

jika saja guruku tidak mengetahui bahwa aku menyukaimu, tentu aku bisa menanyakannya langsung soal keputusannya itu, sekarang justeru lain!"

"Mengapa lain?!"

"Dengan telah diketahuinya isi hatiku, jika aku menanyakannya, walaupun guruku merasa cocok, tentu dikatakannya tidak cocok buat mempermainkan aku!"

"Mengapa mempermainkan engkau jika gurumu mengatakan tidak cocok puncak Heng-san buat tempat pengasingannya ?!"

Tanya Giok Hoa tidak mengerti.

"Karena suhuku hendak mempermainkan aku, sebab jika suhuku tidak cocok, tentu dia akan mengajak aku meninggalkan Heng-san, berarti berpisah dengan kau, Hoa-moay!"

Waktu menjelaskan suara Ko Tie perlahan sekali, dia menunduk dalam-dalam. Giok Hoa sendiri senang bukan main mendengar ucapan Ko Tie seperti itu, hatinya bahagia sekali.

"Dan jika gurumu merasa cocok, Ko Tie Koko..... bagaimana..... apakah kau senang?"

Tanya Giok Hoa akhirnya. "Tentu! Karena aku berarti bisa terus tinggal di sini, dan aku juga akan selalu berdekatan dengan kau, Hoa-moay!"

Menyahuti Ko Tie.

"Kau tidak akan marah Hoa-moay, aku telah menyampaikan apa yang kurasakan selama ini tersimpan di hatiku?!"

Giok Hoa mengangkat kepalanya, menatap si pemuda. Mata mereka bicara banyak sekali, si gadis menggeleng perlahan, dengan suara yang lirih dia hilang.

"Akupun memiliki perasaan yang sama seperti yang engkau rasakan!"

Mata Ko Tie terbuka lebar-lebar, hatinya berdebar keras, wajahnya sebentar pucat dan sebentar merah, ia jadi tegang sendirinya, kemudian tanyanya.

"Perasaan apakah yang kau rasakan itu, Hoamoay?"

Si gadis menghela napas dalam-dalam, tampaknya dia ragu-ragu, sampai akhirnya dia bilang dengan kepala tertunduk.

"Akupun beberapa hari belakangan ini selalu gelisah saja karena aku ingin sekali menyampaikan sesuatu kepada suhu, namun aku tidak memiliki keberanian buat mengatakannya……!" Hati Ko Tie jadi lemas lagi mendengar kata-kata si gadis. Semula dia mengharapkan si gadis akan membuka isi hatinya. Tadinya dia menduga tentunya Giok Hoa akan membuka isi hatinya sama halnya seperti yang telah diungkapkannya. Tapi kenyataannya, si gadis maksudkan hatinya memiliki perasaan yang sama dengannya hanyalah disebabkan si gadis mengalami kegelisahan belaka. Namun untuk menutupi kekecewaannya itu, agar tidak terlihat Giok Hoa, dia bertanya juga.

"Mengapa engkau bisa bergelisah seperti itu, Hoa-moay? Bukankah jika engkau mengutarakannya kepada gurumu, beliau akan dapat membantu banyak padamu?!"

Giok Hoa menggeleng perlahan, kemudian katanya.

"Sayang sekali, ku kira guruku tidak mungkin bisa membantu!"

"Mengapa begitu?!"

"Karena aku justeru ingin sekali pergi merantau, berkelana dari kota yang satu ke kota lainnya, untuk menambah pengalaman. Tentu guruku, walaupun mengijinkan, hatinya sebetulnya sangat berat sekali. Itulah sebabnya mengapa aku tidak mengatakannya!" "Engkau ingin merantau?!"

Tanya Ko Tie sambil membuka matanya lebar-lebar. Dia heran sekali.

"Ya!"

Mengangguk si gadis.

"Aku ingin berkelana untuk menambah pengalaman!"

"Jika demikian, mengapa engkau tidak mengatakannya saja kepada gurumu! Tentu itu merupakan maksud yang sangat baikbaik yang tidak akan ditentang oleh gurumu!"

Giok Hoa menghela napas dalam-dalam, kemudian katanya perlahan.

"Entahlah aku sendiri tidak tahu bagaimana harus menyampaikan perasaan hatiku ini! Dan setelah peristiwa hari itu, di mana aku dirubuhkan pemuda cebol yang jahat itu dalam keadaan tertotok, aku melihat sesungguhnya di luar dari gunung Heng-san ini masih banyak orang-orang yang memiliki kepandaian sangat tinggi! Hanya satu-dua jurus saja aku dapat dirubuhkan, karena dari itu, kukira tidak bisa aku selamanya belajar silat di gunungHeng-san ini tanpa mengenal dunia, aku harus berkelana untuk menambah pengalaman!" "Jika demikian, kalau memang engkau tidak keberatan, aku bersedia menemani engkau berkelana, Hoa-moay!"

Ko Tie menawarkan jasa baiknya. Si gadis tersenyum.

"Kau sangat baik sekali, Ko Tie Koko!"

Kata si gadis menunduk malu.

"Mengapa engkau demikian baik kepadaku!"

Ditanya demikian Ko Tie jadi berdebar lagi hatinya, namun kini ia telah "nekad", maka dia bilang.

"Karena…… karena engkau cantik seperti bidadari, engkau lembut dan baru sekali ini aku melihat di dunia ternyata ada seorang gadis secantik engkau!"

Si gadis mencibirkan bibirnya, tapi mukanya memerah senang, matanya berkilat-kilat cerah sekali.

"Kau ternyata selain memiliki ilmu silat yang tinggi, pun mempunyai kepandaian merayu wanita!"

Kata Giok Hoa tersenyum malu-malu.

"Aku seburuk ini, mukaku jelek, seorang gadis gunung yang bodoh, mana mungkin bisa membuat hatimu tertarik?!"

"Hoa-moay, engkau selalu suka merendah. Apa yang kukatakan tadi bukan hanya sekedar memuji, tapi memang sesungguhnya begitu!" Si gadis melirik dengan kerlingan yang tajam, dan bibirnya tersenyum manis sekali, pipinya merah membuat dia tambah cantik. Namun tanpa mengatakan sesuatu apa, dia memutar tubuhnya dan berlari kembali ke dalam rumah. Samar-samar terdengar tawanya yang penuh kebahagiaan. Ko Tie terkejut melihat gadis itu ingin pergi meninggalkannya, dia memanggil, namun Giok Hoa tetap berlari dan sebentar saja lenyap dari pandangan Ko Tie. Pemuda itu tidak mengejarnya, dia berdiri tertegun di tempatnya, menghela napas dalam-dalam. Dia telah memberitahukan isi hatinya, dan dari si gadis dia belum lagi memperoleh kepastian, apakah cintanya itu disambut atau memang dia hanya sekedar bertepuk sebelah tangan belaka? Tetapi Ko Tie mengambil keputusan, bahwa ia akan, menegaskan hal tersebut, meminta kepastian dari Giok Hoa, apakah gadis itu menyambut cintanya atau memang menolaknya? Tetapi Ko Tie yakin, dilihat dari sikap si gadis, tentu dia bukan gila basah mencintai si gadis seorang diri. Ia yakin seperti gayung bersambut, cintanya akan diterima gadis itu. Teringat akan hal itu, Ko Tie tersenyum sendirinya. Bukankah Giok Hoa memperlakukannya dengan baik-baik? Bahkan tidak jarang terlihat sikapnya yang mesra dan memperhatikannya? Bukankah Giok Hoa pun telah mempercayai dia menceritakan isi hatinya padanya, hal itu menunjukkan bahwa si gadis telah menganggapnya sebagai orang yang paling dekat hubungannya dengannya? Dan banyak lagi sikap si gadis yang menunjukkan bahwa dia memang memperhatikan Ko Tie. Dan Ko Tie tersenyum dengan langkah perlahan kembali ke dalam rumah, merebahkan diri di pembaringan, tapi pikirannya terus melayang-layang tidak juga mau tidur. Menjelang fajar barulab dia tertidur…….!" *****Lam-yang merupakan kota yang cukup ramai terlebih lagi letaknya memang berdekatan dengan Siang-yang, sehingga boleh dibilang Lam-yang merupakan kota yang cukup hidup siang maupun malam hari. Jika malam telah menyelimuti bumi dan daerah sekitar Lam-yang, maka mulai terdengarlah musik dan nyanyian dari beberapa tempat hiburan yang memang banyak terdapat di segala penjuru kota Lam-yang. Pada sore itu, di luar kota Lam-yang berlari dua sosok tubuh gesit sekali. Mereka tampaknya memiliki gin-kang yang tinggi, karena kaki mereka masing-masing bagaikan tidak menyentuh tanah, tubuh mereka berkelebat begitu cepat menuju ke pintu kota Lamyang sebelah barat. Sebentar lagi tentu malam akan tiba, maka mereka ingin segera tiba di kota Lam-yang untukmencari rumah penginapan dan beristirahat di sana. etelah berlari tidak lama, karena mereka berlari pesat sekali seperti itu, maka mereka telah tiba di pintu kota Lam-yang. Banyak orang yang memandangi mereka dengan sorot mata heran mengandung kagum karena gin-kang mereka yang menakjubkan, tapi kedua orang itu tidak acuh. Cuma saja, begitu memasuki kota Lam-yang, mereka segera berjalan biasa, karena keadaan sangat ramai, tidak leluasa buat mereka berlari terlalu cepat. Mereka adalah dua orang berpakaian seragam sebagai tentara kerajaan dengan pangkat mereka sedikitnya sebagai perwira tinggi. Wajah mereka angker dan ke duanya memelihara berewokan yang tebal. Cuma perbedaannya, yang seorang bertubuh tinggi tegap, sedangkan yang seorang jauh lebih gemuk, walaupun gerakannya tetap sama lincahnya seperti kawannya yang seorang itu. Mereka memandang sekeliling Lam-yang, lalu yang bertubuh tinggi tegap itu bilang.

"Memang tidak salah pepatah tua yang menyatakan. Dengan selaksa renceng uang melibat pinggang, jangan kuatir kekurangan kegembiraan dan kenangan di Lamyang!"

Kota ini dalam beberapa tahun saja telah mengalami banyak kemajuan, telah menjadi kota yang sangat ramai dengan gedungnya yang bertingkat.

"Ya!"

Menyahuti kawannya.

"Cing Toako, tampaknya kita akan menghadapi cukup banyak lawan tangguh. Mulai sekarang kita harus berwaspada, karena jika sampai tugas kita ini bocor, niscaya kita akan menghadapi kesulitan yang lebih besar……"

"Hemmm, tetapi biarpun bagaimana banyak lawan kita, semua itu tidak akan menimbulkan kesulitan bagi kita! Percuma kita menjabat sebagai Komandan Gie-lim-kun dan Komandan Kim-ie-wie!"

Kawannya tertawa.

"Ya, memang sikap berhati-hati tidak ada salahnya. Apa jeleknya kita berwaspada, terlebih lagi kitapun mengetahui lawan-lawan kita bukanlah lawan yang ringan." Orang yang bertubuh tinggi menggepris baju dari debu, kemudian katanya.

"Baiklah Kang Laote…… jika memang demikian, tentu urusan soal kewaspadaan menghadapi lingkungan engkau memang lebih pandai, karena selama ini engkau yang menjabat sebagai Komandan Gie-lim-kun (pasukan pribadi Kaisar), lebih banyak mengatur segala sesuatu tentang keselamatannya Kaisar kita, yang jika Kaisar pergi pesiar, engkau yang harus mengatur penjagaan dan pengawasan yang ketat di seluruh penjuru tempat! Sedangkan aku sebagai Komandan pasukan Kim-ie-wie (Pasukan baju sulam emas hanya khusus menjaga keamanan istana!"

Kawannya tertawa, dan mereka melanjutkan perjalanan menyusuri jalan raya, di mana cukup banyak perwira atau tentara kerajaan Boan-ciu yang berkeliaran.

Tetapi pakaian seragam mereka yang mewah sebagai perwira, tentu saja membuat semua orang tertarik dan terlebih lagi sikap dan wajah mereka gagah, angker sekali penuh wibawa.

Waktu ke dua perwira tinggi kerajaan itu memasuki sebuah rumah penginapan, mereka disambut pelayan dengan sikap hormat sekali sampai tubuhnya terbungkuk-bungkuk.

"Silahkan masuk Tayjin, silahkan!

Kami akan mempersiapkan kamar terbaik buat jie-wie Tayjin…..!"

Kata pelayan itu hormat sekali. Sedangkan ke dua perwira tinggi itu hanya mendengus.

"Hemm!"

Saja dan terus masuk.

Pelayan itu dan beberapa orang pegawai rumah penginapan bekerja cepat menghormati ke dua tamu agung mereka ini, dan memherikan kamar yang benar-benar bersih dan besar, merupakan kamar utama di rumah penginapan tersebut.

Namun ke dua orang perwira kerajaan yang duduk di sebuah meja penuh hidangan, beristirahat sambil mengobrol dan tertawa-tawa tidak mengacuhkan sekeliling mereka.

Sesungguhnya, memang ke dua perwira tinggi kerajaan ini adalah Komandan Gie-lim-kun dan Komandan Kim-ie-wie, yang tengah melakukan tugas yang cukup penting dari Kaisar.

Yang bertubuh tinggi besar tegap itu adalah Komandan Kim-ie-wie, pasukan istana berbaju sulam emas.

Dia she Cing bernama Kiang Wie.

Kepandaiannya tinggi sekali, ilmunya lihay, otaknya pun cerdik sekali, karena dia termasuk orang yang licik.

Selalu bertindak tegas dan bertangan besi menghadapi lawan.

Karena kepandaiannya yang bisa diandalkan, setelah melewati penyaringan yang ketat, dialah yang terpilih menduduki jabatan yang tinggi sebagai Komandan Kim-ie-wie, pasukan yang mengawal dan menjaga keamanan di istana Kaisar.

Lalu yang bertubuh gemuk itu adalah orang she Kang bernama Wei.

Dia Komandan Gie-lim-kun, pasukan yang khusus menjaga keselamatan Kaisar.

Jika Kaisar tengah keluar dari istana, tugas menjamin keselamatan Kaisar berada di tangannya.

Karena dari itu, selalu Kang Wei harus berikhtiar buat mengamankan setiap tempat yang akan dikunjungi Kaisar.

Disamping itu kuping dan matanya harus tajam, dia harus dapat mengetahui tempat-tempat mana yang sekiranya kurang aman, dan juga bagaimana mengatur pasukannya agar benar-benar dapat menjamin keselamatan Kaisar, selama raja itu tengah berada di luar istana.

Tanggung jawabnya memang tidak ringan.

Kang Wei memiliki kepandaian yang setingkat dengan Cing Kiang Wie.

Ia merupakan akhli lweekeh (tenaga dalam) yang ilmunya tinggi sekali.

Senjata andalannya adalah joan-pian, pecut lemas yang terbuat dari otot dan urat harimau maupun ular, yang digabungkan menjadi satu dan diolah dengan emas murni yang dicampur dengan bubuk berlian, sehingga senjatanya itu lemas dan kuat alot seperti juga baja yang tidak akan terputuskan oleh senjata apapun, mungkin malah lebih kuat dari baja sendiri!

Ia terkenal sebagai seorang jago yang memiliki tangan dingin.

Setiap lawannya selalu dapat dirubuhkan dengan mudah, dan lawan yang dirubuhkannya selalu diberikan hadiah bercacad.

Itu paling ringan, karena umumnya kematian!

Di istana Kaisar, ke dua orang ini disegani sekali oleh para pahlawan Kaisar.

Dan justeru mereka pun jarang turun tangan sendiri dalam menyelesaikan urusan.

Di bawah kekuasaan mereka, berada orang-orang pandai yang memiliki ilmu tidak rendah, bekerja buat mereka.

Tetapi kali ini, ke dua Komandan dari dua pasukan istimewa istana Kaisar turun tangan sendiri, melakukan perjalanan meninggalkan istana.

Berarti urusan yang ingin ditangani mereka merupakan urusan yang sangat penting sekali!

Pelayan menyampaikan pada ke dua perwira tinggi ini bahwa kamar telah disiapkan dan ke dua perwira tinggi itu segera pergi ke kamar mereka.

Waktu itu tampak jelas sekali, betapapun juga, memang mereka ingin cepat-cepat beristirahat.

Sebagai pembesar yang hidup mewah di istana, mereka setiap harinya tidak pernah bekerja.

Sekali ini mereka telah melakukan perjalanan yang cukup jauh dan meletihkan, karenanya mereka hendak cepat-cepat beristirahat.

Itupun disebabkan urusan yang mereka ingin kerjakan merupakan tugas penting sekali yang diberikan oleh Kaisar.

Cing Kiang Wie telah membuka baju kebesarannya.

Dia melepaskan juga sepatunya dan rebah di pembaringan sambil memejamkan matanya.

Kang Wei pun rebah di pembaringan.

Buat sekian lama, di antara mereka berdua tidak ada yang bicara.

Cuma, selang beberapa saat, dengan tubuh tetap rebah di pembaringan dan mata tetap terpejamkan rapat, tiba-tiba sekali Kang Wei telah melontarkan sesuatu dengan gerakan yang sangat sebat, meluncur dua titik sinar kuning menyambar ke arah jendela.

Terdengar seruan "Ihhh!"

Dan tubuh Kang Wie pesat sekali melompat ke jendela.

Dia mendorong daun jendela dan disusul dengan tangan kanannya menghantam keluar, sehingga angin itu berkesiuran sangat kuat, barulah dia melompat keluar melalui jendela.

Pukulan yang dilakukannya itu hanya mencegah jangan sampai ada orang yang membokongnya.

Ketika sampai di luar, dia mengawasi ke arah sekelilingnya.

Tidak terlihat seorang manusia pun juga.

Malam telah tiba dan sunyi sekali, di kejauhan terdengar suara musik dan nyanyian dari tempat-tempat hiburan dan pelesiran.

"Hemmm, tikus mana yang berani main gila di depan pucuk hidung kami?!"

Dia membentak dengan suara yang angker penuh kemendongkolan, bola matanya berkilat-kilat tajam sekali.

Tidak terdengar jawaban.

Sedangkan Cing Kiang Wie telah melompat keluar dan berdiri di sampingnya, dia tanya kepada kawannya.

"Apakah tikus-tikus itu dapat ditangkap?!"

Namun bertanya begitu, dia melihat kawannya hanya berdiri diam tanpa membekuk seorang pun juga segera dia dapat menduga.

"Tentu kepandaian orang-orang itu cukup tinggi...... dan ginkangnya lumayan!"

Kata Cing Kiang Wie akhirnya, karena dia menyadari tentunya musuh-musuh yang tadi mengintai dari jendela telah melarikan diri.

Dan tadi memang dia telah mendengar suara kelisik yang perlahan sekali di atas genting, dan juga ia mengetahui ada orang yang mengintai dari jendela.

Namun dia tetap berdiam diri saja dengan tubuh rebah dan mata terpejamkan.

Siapa tahu, kawannya telah lebih dulu turun tangan, mengejutkan orang-orang itu, sehingga mereka melarikan diri.

Hanya saja yang membuatnya kagum tentunya orang-orang yang mengintai lewat jendela adalah orang-orang yang berkepandaian liehay, karena mereka dapat bergerak begitu gesit sekali.

Walaupun Kang Wei telah bergerak begitu cepat, ternyata tidak berhasil untuk memergoki mereka.

"Sudahlah! Mari kita masuk!"

Kata Kang Wei dengan suara mengandung penasaran.

Dia pun telah melompat masuk ke dalam kamar, diikuti oleh Cing Kiang Wie.

Daun jendela telah ditutup lagi, dan Cing Kiang Wie bersama Kang Wei telah merundingkan, bagaimana dan langkah-langkah apa yang akan mereka lakukan, dalam memancing musuh-musuh mereka agar keluar memperlihatkan diri.

"Aku yakin Cing Toako, dalam beberapa hari mereka akan muncul memperlihatkan diri.....

Kita tidak perlu terlalu untuk memusingi mereka, karena tokh mereka yang akan menyatroni kita!"

Cing Kiang Wie mengangguk mengiyakan, dan kemudian merebahkan tubuhnya lagi.

Kang Wei sebelum rebah di pembaringan, telah mengibaskan tangannya memadamkan api penerangan di dalamkamarnya.

Sebentar saja di dalam kamar itu, yang gelap gulita, terdengar suara dengkur yang saling bersambut.

"Hemmm, babi-babi busuk, mengapa harus tidur terus menerus! Bangunlah, keluar buat menghadapi kami!"

Tiba-tiba terdengar suara orang yang menantang dengan nada yang dingin, mengandung ejekan.

Ke dua orang perwira tinggi itu mengerti, bahwa mereka ditantang oleh orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi.

Sesungguhnya Cing Kiang Wie maupun Kang Wei memang pura-pura tidur, mereka sengaja memperdengarkan dengkur mereka.

Dan juga, mereka telah memadamkan api penerangan di kamar, agar lebih mudah buat memergoki musuh.

Dan ternyata dugaan mereka tidak meleset, di mana musuh memang datang menyatroni mereka.

Tanpa membuang waktu lagi, Kang Wei yang bulat gemuk itu, dengan lincah dan ringan sekali, tahu-tahu melesat ke jendela, dia tidak membuka daun jendela melainkan tangannya bergerak begitu sebat, menghantam kuat sekali jendela tersebut sampai menjeblak.

Menyusuli terbukanya daun jendela, tubuh Kang Wei juga telah melompat keluar, sebelumnya dia melontarkan beberapa senjata rahasia.

Dengan demikian dia berhasil mencegah jangan sampai dibokong oleh lawan.

Begitu hinggap di tanah, segera Kang Wei melihat bahwa di tempat itu telah ada belasan orang, yang semuanya bertubuh tinggi tegap.

Dan juga terlihat, mereka semuanya membekal senjata tajam, terdiri dari berbagai senjata tajam, ada golok, pedang, joan-pian, poan-koan-pit dan lain-lainnya.

Mereka semuanya merupakan orang-orang yang memiliki paras angker dan juga memancarkan sikap yang keras.

Dikala itu tampak Cing Kiang Wie pun telah melompat keluar, dia berdiri di samping Kang Wei dengan sikap yang agung dan angker.

Matanya menyapu sekelilingnya, dia telah melihat bahwa semua orang mengambil sikap mengurung.

Segera juga Cing Kiang Wie tertawa bergelak.

"Bagus!

Bagus!

Memang telah kami duga, tikus-tikus keparat tentu akan menampakkan diri…… untuk kami gusur ke kota raja!

Ayo siapa di antara kalian yang ingin merasakan tanganku!"

Tiba-tiba dari rombongan orang yang mengurung ke dua perwira kerajaan tersebut, telah maju seorang lelaki tua berusia hampir limapuluh lima tahun.

Jenggot dan kumisnya telah memutih, sebagian terbesar rambutnya juga sudah putih keperak-perakan.

Rambutnya itu digelung dan dikonde terikat oleh sehelai ang-kin berwarna kuning gading.

Berbeda dengan perintah dari kerajaan Boan, bahwa seluruh lapisan rakyat, bagi kaum laki-lakinya, harus mentoa-cang rambutnya.

Rupanya orang tua ini tidak mau mematuhi perintah kerajaan penjajah itu tetap dengan cara berpakaian seorang Han, sikapnya gagah sekali.

Di tangannya tercekal sebatang golok besar yang berkilauan putih keperak-perakan, tampaknya tajam sekali.

Dengan suara yang gagah ia bilang.

"Anjing-anjing keparat, kalian menyerah buat kami ringkus, sehingga tidak perlu kami membuang-buang tenaga percuma! Dan juga, dengan menyerah secara baik-baik, kami akan memperlakukan engkau selayaknya! Tetapi jika kalian berdua memberikan perlawanan dan membandel, hemmm, hemmm, hemmmm, kalian berdua akan mengalami nasib yang lebih buruk dari seekor anjing kudis!"

Dan setelah berkata begitu, orang tua itu mengibaskan golok besarnya sehingga berkelebat sinar putih keperak-perakan, menyilaukan mata yang melihatnya.

Cing Kiang Wie dan Kang Wei berdua tertawa bergelak-gelak.

Walaupun lawan yang mengurung mereka berjumlah sangat banyak, namun mereka tidak gentar, sebab mereka tidak memandang sebelah mata terhadap lawan-lawan mereka itu.

Dan juga memang mereka yakin, bahwa kepandaian mereka lihay dan mahir, dengan mudah mereka akan dapat menghadapi dan merubuhkan semua lawan mereka.

Waktu itu tampak ke duanya tertawa bergelak sangat lama, baru saja orang tua yang rupanya menjadi pemimpin dari rombongan orang tersebut ingin berkata lagi, Kang Wei telah bilang dengan suara yang nyaring.

"Baik! Kami akan menyerahkan diri, nah, silahkan, siapa di antara kalian yang ingin meringkus kami?"

Orang tua itu melengak sejenak, mendengar ke dua perwira tinggi itu malah mengatakan mereka bersedia buat diringkus. Tapi tidak lama, segera dia bilang.

"Bagus! Jika memang kalian sungguhsungguh mau menyerahkan diri secara baik-baik, kami pun tidak akan terlalu mempersulit diri kalian!"

Setelah berkata begitu, dia mengisyaratkan kepada dua orang anak buahnya, dua orang laki-laki setengah baya, yang memiliki tubuh sangat tinggi dan tegap, dengan otot-otot yang kuat.

Mereka menyimpan golok masing-masing dan melangkah maju sambil mengeluarkan seutas tali yang dipergunakan mengikat dan meringkus kedua perwira tinggi itu.

Ke dua orang komandan dari pihak istana Kaisar sama sekali tidak memperlihatkan sikap untuk memberikan perlawanan, mereka ber diri tenang-tenang di tempat mereka, seperti juga mereka memang ingin menyerahkan diri buat ditawan oleh rombongan orang tersebut.

Ke dua orang anak buah si kakek tua itu semula ragu-ragu, dan menduga begitu mereka mendatangi dekat, ke dua orang perwira itu akan menyerang mereka, karenanya ke dua orang tersebut telah bersiap siaga.

Tetapi ke dua perwira dari istana Kaisar itu hanya diam saja, mereka sama sekali tidak memperlihatkan tandatanda akan menyerang.

Karenanya ke dua orang anak buah si kakek tua itu tambah berani.

Mereka telah dekat dan akan mengikat tangan ke dua perwira tersebut.

Waktu itulah, dengan gerakan yang sulit diikuti oleh pandangan mata, tahu-tahu Cing Kiang Wie dan Kang Wei telah mengayunkan tangan mereka.

Cepat sekali mereka telah menghantam masingmasing dada seorang anak buah dari kakek tua itu.

Ke dua orang anak buah si kakek terkejut, namun mereka sudah tidak keburu berkelit, karena memang waktu itu jarak mereka terlalu dekat.

Maka segera juga terdengar suara.

"Bukkkkk! Bukkk!"

Yang nyaring disusul dengan suara jerit ke dua orang itu yang terpental dengan dada melesak dan jiwanya telah melayang.

Mereka menggeletak tidak bergerak lagi di tanah, di mana mereka sudah menjadi korban telengas dari ke dua orang perwira kerajaan tersebut.

Kawan-kawan si kakek jadi terkejut, mereka mengeluarkan seruan marah.

Berbeda dengan ke dua perwira kerajaan, yang tertawa bergelak, tampaknya mereka puas sekali.

"Ayo, siapa lagi yang ingin meringkus kami, ayo silahkan maju, kami akan membiarkan diri kami diringkus kalian!"

Itulah ejekan belaka, karena ke dua perwira tersebut ternyata memang hendak memberikan perlawanan.

Orang tua dengan jenggot dan kumis telah memutih itu murka bukan main, dengan diiringi bentakannya yang bengis mengandung kemarahan, dia melompat maju membacok dengan goloknya.

"Anjing-anjing laknat keji! Akan aku adu jiwa dengan kalian!"

Teriaknya dan goloknya itu berkelebat dalam bentuk sinar putih perak menyambar ke batok kepala Cing Kiang Wie.

Tapi Cing Kiang Wie tersenyum mengejek, dia sama sekali tidak memandang sebelah mata terhadap kepandaian si kakek.

Cepat sekali dia telah bergerak lincah buat menghantam dengan telapak tangan kosong, dia tidak mencabut keluar senjatanya.

Angin serangan itu menerjang dada si kakek.

Tenaga lweekang Cing Kiang Wie memang hebat.

Tadi saja telah terbukti, betapa ke dua orang anak buah dari kakek tua itu telah dapat dibinasakan dengan dada melesak hanya satu kali hantam saja.

Kakek tua itu telah menahan meluncur goloknya.

Karena menyadari akan hebatnya hantaman tangan lawannya, dia berkelebat.

Namun waktu dia tengah melompat mengelak, justeru tangan Kang Wei telah melesat menyambar pinggangnya.

Dengan demikian dia jelas dikurung dari dua jurusan.

Jika dia menghindari serangan Cing Kiang Wie, berarti pinggangnya yang akan kena dicengkeram Kang Wei, dan cengkeraman itu tidak kalah hebatnya.

Jika sampai pinggangnya kena dicengkeram, berarti buah pinggangnya akan kena diremas hancur.

Karena dari itu ke dua serangan dari ke dua lawannya sama berbahayanya.

Dalam keadaan terancam seperti itu rupanya kakek tua yang memiliki kepandaian lie-hay tersebut, tidak kehabisan akal, dia tidak menjadi bingung karenanya.

Sebab cepat sekali dia telah menggerakkan goloknya berputar ke seluruh penjurunya.

Jika memang ke dua lawannya meneruskan serangan mereka, niscaya akan menyebabkan mereka terkena tabasan golok itu.

Sambil memutar goloknya, dia juga telah melompat mundur buat menjauhi diri.

Cing Kiang Wie maupun Kang Wei melihat ancaman golok kakek tua tersebut, segera menarik pulang tangan mereka.

Waktu mereka akan menyusuli dengan pukulan berikutnya, kakek tua itu telah melompat mundur menjauhi mereka.

Malah kakek tua itu telah berseru.

"Sekarang……!!"

Menganjurkan anak buahnya agar maju mengeroyok, untuk membinasakan ke dua perwira tinggi kerajaan Boan tersebut!

Seketika semua anak buah si kakek tua tersebut yang jumlahnya belasan orang, telah menyerbu dengan berbagai senjata tajam mereka karena mereka mempergunakan seluruh kekuatan mereka buat menyerang, maka angin sambaran senjata tajam itu berkesiuran menderu-deru.

Belasan orang anak buah kakek tua itupun semuanya memang bukan orang lemah.

Mereka memiliki kepandaian tinggi, terlebih lagi mereka tengah dalam keadaan murka melihat ke dua orang kawan mereka telah terbunuh dengan tangan begitu telengas oleh ke dua perwira kerajaan tersebut, membuat mereka menyerang dengan jurus yang ganas untuk membalas sakit hati ke dua orang kawan, agar dapat membunuh ke dua perwira tersebut.

Kakek tua itupun membentak nyaring.

"Aku Wang Sun akan membalas sakit hati ke dua orang kawan kami!"

Dan sambil membentak begitu, goloknya yang sangat besar telah menyambar-nyambar ke bagian yang mematikan pada tubuh ke dua perwira tersebut.

Dengan demikian membuat ke dua perwira itu menghadapi keroyokan yang tidak ringan, sebab semua senjata tajam itu dengan serentak telah menyerang mereka.

Dalam keadaan seperti itu Cing Kiang Wie maupun Kang Wei sama sekali tidak merasa jeri, mereka malah memperdengarkan suara tertawa bergelak-gelak.

Karena mereka yakin bahwa mereka memiliki kepandaian yang tinggi dan liehay, maka tentu mereka tidak akan dapat dirubuhkan oleh belasan orang itu.

Sambil tertawa bergelak seperti itu, ke duanya telah bergerak lincah sekali, tubuhnya telah berkelebat ke sana ke mari mengelakkan diri dari semua serangan senjata lawan.

Dan dalam waktu singkat, dua orang anak buah Wang Sun telah dapat dihantam binasa oleh mereka.

Kemudian menyusul lagi seorang lawan yang mereka rubuhkan dengan kepala yang hancur berantakan, sehingga otak dan darah yang bercampur menjadi satu telah mengalir keluar di tanah!

Keadaan waktu itu sangat mengerikan sekali.

Ramai oleh suara bentakan belasan orang tersebut dan caci maki Wang Sun, juga suara tertawa ke dua perwira yang sangat menyeramkan itu.

Ke dua perwira itu telah mengeluarkan kepandaian andalan mereka, sehingga mereka berhasil merubuhkan dua orang lawan lagi.

Dengan demikian mereka berhasil mengurangi jumlah lawan mereka.

Tapi belasan orang Wang Sun tetap mengeroyoknya seperti nekad, mereka gusar sekali melihat kawan mereka telah rubuh seorang demi seorang, membuat mereka semakin marah dan penuh dendam hendak mengeroyok mati ke dua perwira tersebut.

Tamu-tamu rumah penginapan dan juga beberapa orang pelayan dan rumah penginapan itu, semuanya mendengar suara ribut-ribut itu, tapi tidak seorang pun di antara mereka yang berani keluar memperlihatkan diri.

Sebab mereka kuatir yang datang menyerbu ke rumah penginapan adalah para penjahat yang ingin merampok.

Jika mereka keluar akan menjadi korban dari para penjahat itu.

Mereka telah bersembunyi dan para tamu berdiam di dalam kamar dengan tubuh menggigil ketakutan.

Dan mereka cuma mendengar betapa suara jerit dan teriakan membentak bengis dicampur dengan suara tertawa bergelak-gelak dari kedua perwira kerajaan tersebut.

Cing Kiang Wie dan Kang Wei benar-benar merupakan dua orang perwira kerajaan yang tangguh dengan ilmu silat yang lihay.

Mereka sama sekali tidak terdesak dan malahan telah berhasil mendesak lawan-lawan mereka yang berjumlah banyak itu.

Disaat itulah, terlihat Cing Kiang Wie telah mengeluarkan senjatanya, yaitu sebatang pedang panjang.

Dia telah memutar pedangnya cepat sekali, sehingga menyerupai sinar putih keperakperakan menyambar ke sana ke mari.

Segera terdengar dua kali suara jerit kematian, karena dua orang lawannya telah berhasil ditikam binasa!

Dan juga Kang Wei telah mengeluarkan senjatanya, yaitu joanpiannya.

Dengan joan-pian yang berukuran panjang itu, dia telah menyerang ke sana ke mari, sehingga membuat lawan-lawannya tidak bisa mendekatinya.

Begitulah pertempuran tersebut berlangsung terus, dengan jumlah korban di pihak kakek tua itu semakin banyak.

Wang Sun pada waktu itu telah murka bukan main, wajahnya merah padam, dia nekad sekali buat mendesak kepada ke dua perwira itu.

Goloknya telah digerakkan dengan bacokan-bacokan mengandung maut!

Namun keadaan ke dua perwira itu telah menang di atas angin, mereka berhasil membuat para pengepungnya itu tidak berdaya buat mendesak mereka.

Sedangkan ke dua perwira itu malah telah berhasil buat merubuhkan lawan mereka seorang demi seorang.

Dalam keadaan seperti itulah terlihat, bahwa ke dua perwira kerajaan tersebut telah berusaha merubuhkan lawannya lebih banyak.

Kakek Wang Sun melihat keadaan yang tidak menguntungkan pihaknya, maka dia berseru nyaring.

"Angin keras! Biar aku yang menghadapi mereka!"

Dan sambil berseru begitu, dia memutar golok besarnya itu, menghadapi Cing Kiang Wie dan Kang Wei, karena dia ingin memberi kesempatan pada kawan-kawannya melarikan diri.

Anak buahnya sendiri telah menyadari bahwa mereka biarpun berjumlah beberapa kali lipat lebih banyak dari ke dua perwira itu, keadaan mereka sama sekali tidak menguntungkan.

Ke dua perwira tersebut sangat tangguh sekali, di mana mereka telah bertempur dengan pembelaan diri yang ketat, sedangkan korban kian bertambah juga.

Maka anak buah Wang Sun tidak membantah ketika Wang Sun perintahkan mereka melarikan diri, dan menyingkir dari tempat itu.

Sedangkan beberapa orang di antara mereka juga membawa pergi kawan-kawan mereka yang telah terbunuh dalam pertempuran tersebut.

Mereka pergi dengan cepat, dan tinggal Wang Sun yang matimatian sekarang ini menghadapi ke dua orang lawannya yang lihay itu.

Di mana terlihat betapa Wang Sun biarpun terdesak hebat sekali, namun dia terus juga memberikan perlawanan yang gigih, dia memutar golok besarnya itu dengan cepat dan kuat.

Dia hanya bisa membela diri belaka, tanpa sempat membalas menyerang.

Walaupun demikian, Wang Sun tampaknya puas, dia telah bisa merintangi ke dua perwira itu, sehingga kawankawannya dapat melarikan diri meninggalkan tempat tersebut.

"Tua bangka yang tidak tahu diri, engkau akan mampus di tangan kami!"

Berseru Cing Kiang Wie gusar bukan main dan penasaran, pedangnya telah berkelebat-kelebat menikam dan menabas kepada Wang Sun selama beberapa jurus dengan gerakan yang sebat sekali.

Sedangkan Kang Wei tidak ketinggalan, pecutnya telah menyambar ke sana ke mari, dia terus merangsek, berusaha agar ujung cambuknya itu melibat leher Wang Sun.

Tetapi Wang Sun benar-benar dapat mengadakan pembelaan diri yang rapat, dia masih bisa bertahan.

Malah Wang Sun juga telah beberapa kali berusaha meloloskan diri dari kepungan ke dua perwira tersebut, karena dilihatnya semua anak buahnya telah sempat melarikan diri.

Waktu itu, dia juga telah memutar goloknya, sambil tubuhnya melesat ke arah tembok.

Tetapi Cing Kiang Wie yang mengerti maksud si kakek,telah berseru.

"Jangan harap engkau bisa meloloskan diri dari kami!"

Baru saja dia berkata begitu, tangan Wangsun yang kiri bergerak dan menimpukkan belasan senjata rahasia ke arah ke dua lawannya.

Cing Kiang Wie dan Kang Wei jadi terkejut, mereka tidak menyangka kakek itu ahli melepas senjata rahasia, sebab di saat dia tengah memutar goloknya mengadakan pembelaan diri dengan rapat, namun kenyataanya dia masih sanggup melepaskan senjata rahasia yang jumlahnya tidak sedikit.

Karena dari itu, cepat sekali ke duanya memutar senjata mereka buat menghalau senjata rahasia itu.

Namun gerakan mereka jadi terlambat dan telah membuat Wang Sun dapat mempergunakan kesempatan itu buat melompat ke atas tembok dan hilang di kegelapan malam.

Cing Kiang Wie dan Kang Wei bermaksud mengejar, namun waktu mereka telah berada di atas tembok, segera Kang Wei teringat sesuatu.

"Tidak! Kita tidak boleh terpancing mereka! Mungkin mereka hendak mempergunakan tipu memancing harimau keluar dari kandang! Biarlah mereka pergi, tokh beberapa waktu lagi mereka akan muncul menyatroni kita pula……!"

Setelah berkata begitu, segera Kang Wei mengajak Cing Kiang Wie kembali ke kamar mereka.

Wang Sun yang waktu itu melarikan diri keluar kota telah memasuki sebuah hutan.

Rumah penginapan itu segera ramai oleh suara bisik-bisik ketika para tamu dan pega-wai rumah penginapan itu tidak mendengar suara ribut-ribut lagi, dan mereka telah melihat pertempuran itu selesai, di mana keadaan menjadi sunyi sekali.

Tidak seorangpun yang berani segera keluar buat melihat apa yang telah terjadi.

Setelah lewat beberapa saat lagi dan keadaan tetap sepi, maka dua orang pelayan dengan takut-takut telah pergi keluar melihatnya.

Mereka tidak melihat seorang manusia pun juga, hanya darah dan juga pakaian yang banyak tercecer di tempat itu, bersama beberapa senjata tajam, yang rupanya tidak keburu dibawa pergi oleh anak buah Wang Sun.

Di waktu itu Kang Wei dan juga Cing Kiang Wie telah rebah di pembaringan mereka, buat beristirahat, sambil berwaspada kalaukalau musuh kembali lagi.

Cuma saja, Kang Wei yakin bahwa lawan malam ini tidak akan muncul lagi, sebab mereka telah mengalami kerusakan yang cukup berat, dan dalam satu dua hari barulah mereka akan muncul lagi!

Cing Kiang Wie dan Kang Wei merasa girang, karena tanpa sulitsulit menyelidiki, orang-orang yang hendak diselidiki jejaknya malah menampakkan diri.

Walaupun mereka belum dapat menangkap buat mengorek keterangan, tokh sedikitnya mereka telah melihatnya, bahwa mereka akan sanggup melaksanakan tugas yang diberikan raja mereka.

Sesungguhnya, memang Cing Kiang Wie dan Kang Wei tengah menerima tugas yang cukup berat dari Kaisarnya.

Mereka diharuskan memberantas dan membasmi orang-orang Han yang masih bersetia kepada kerajaan Song yang telah dihancurkan.

Karena dari itu, ke dua komandan dari Kim-ie-wie dan Gie-lim-kun tersebut diperintahkan agar pergi menyelidiki, siapa-siapa saja yang bergerak untuk mengadakan pemberontakan dan membasmi mereka.

Memang laporan yang terakhir masuk ke tangan Kaisar menyatakan, banyak sekali orang-orang Han yang berkumpul di Lam-yang, karena suatu waktu mereka akan mengadakan gerakan pemberontakan melawan kerajaan.

Maka Kaisar telah perintahkan kepada ke dua orang kepercayaannya itu, yang diketahuinya memiliki kepandaian yang tinggi, buat pergi membasmi orang-orang yang bermaksud bergabung dan mengadakan pemberontakan melawan kerajaan.

Tugas itu sebetulnya hendak diserahi kepada Panglima Perang yang khusus menangani persoalan tersebut, guna mengerahkan pasukan menindas pemberontak itu.

Tapi jika hal itu dilakukan, tentu akan membuat rakyat berkuatir menimbulkan kekacauan dan juga akan membuat rakyat cemas, sehingga keamanan agak terganggu.

Juga akan ada pihak lain yang memanfaatkan kesempatan tersebut.

Karena dari itu, akhirnya Kaisar telah memutuskan, buat perintahkan Kiang Wie dan Kang Wei melaksanakan tugasnya itu, guna secara diam-diam memberantas orang-orang hendak memberontak.

Dan Kiang Wie serta Kang Wei memang yakin, bahwa mereka berdua memiliki kepandaian yang tinggi, mereka pasti akan dapat menghadapi lawan-lawan mereka.

Memang tugas ini merupakan tugas yang tidak ringan dan akan memakan waktu yang cukup lama.

Sehingga sementara ini pimpinan Gie-lim-kun dan Kim-iewie mereka serahkan kepada wakil masing-masing.

Keterangan yang telah masuk ke dalam tangan mereka menyatakan, kurang lebih duaribu pemberontak telah berhimpun di Lam-yang, semuanya terdiri dari kaum rimba persilatan yang memiliki kepandaian tinggi.

Itulah sebabnya mengapa ke dua Komandan dari Gie-lim-kun maupun Kim-ie-wie sengaja berpakaian seragam agar menarik perhatian dan memancing orang-orang itu memperlihatkan diri.

Dan rencana mereka memang berjalan sangat baik sekali.

Karena belasan orang pemberontak itu, di bawah pimpinan Wang Sun, sudah menyatroni mereka!

Inilah yang memang diinginkan oleh ke dua perwira tinggi kerajaan tersebut!

◄Y► Sekarang mari kita melihat keadaan Wang Sun, di mana kakek tua itu telah masuk ke dalam sebuah hutan yang liar dan lebat sekali, berada di luar kota Lam-yang.

Semua kawan-kawannya memang telah berkumpul di dalam hutan tersebut.

Ketika Wang Sun tiba, mereka menyambut dengan gembira, semula mereka menduga Wang Sun bercelaka di tangan ke dua perwira tersebut.

Karena dari itu, ketika melihat Wang Sun muncul, mereka semuanya bersorak dengan gembira.

Dikala itu, Wang Sun segera perintahkan anak buahnya agar bersiap-siap.

Dia kuatir ke dua perwira itu mengejarnya dan mengerahkan tentara kerajaan melakukan penggerebekan ke tempat ini, yaitu hutan lebat tersebut.

Segera juga tampak kesibukan di antara orang-orang Wang Sun yang mengadakan penjagaan dengan ketat sekali.

Wang Sun letih bukan main, napasnya agak memburu, tadi dia telah mengeluarkan seluruh kemampuan dan tenaganya, sehingga dia sangat letih sekali.

Sekarang mereka duduk di bawah sebatang pohon, beristirahat mengatur pernapasan, sampai akhirnya diapun telah melihat kesibukan di antara anak buahnya, barulah dia melompat bangun, sambil katanya.

"Aku akan pergi menghubungi kawan-kawan kita, dengan jumlah kecil mengenakan penjagaan di garis depan, tentu akan membahayakan sekali, jika saja ke dua perwira itu sempat mengerahkan pasukan mereka melakukan penyerangan ke mari!"

Anak-anak buahnya, yang sebagian waktu itu tengah mengubur mayat dari beberapa orang kawan mereka, mengiyakan segera.

"Tetapi kalian harus mengadakan penjagaan yang ketat, jika memang terbukti bahwa ke dua perwira itu mengerahkan pasukannya, dua orang di antara kalian tanpa membuang waktu harus segera memberitahukan kepada kami…… karena jika terlambat, tentu akan membahayakan kedudukan kita!"

Yang lainnya telah mengiakan lagi.

Wang Sun memasukkan goloknya, di mana dia telah menyorenkannya dan menjejakkan ke dua kakinya.

Tubuhnya melesat sangat cepat dan ringan memasuki hutan lebat itu.

Setelah berlari-lari belasan lie menerobos hutan itu dia telah sampai di luar hutan tersebut, dan segera mengambil jalan ke arah barat.

Dia telah sampai di depan sebuah bangunan yang besar tapi terpencil.

Bangunan itu mirip sebuah kuil yang tua yang telah dirombak, sangat luas sekali, dan juga bertingkat dua.

Cepat-cepat Wang Sun menghampiri pintu mengetuknya tiga kali, disusul dengan ketukan sebanyak dua kali.

Dan pintu terbuka, Wang Sun menyelinap masuk, dan dia kemudian diantar oleh seorang pemuda menuju ke ruangan dalam.

Di ruangan dalam tampak belasan orang yang tengah duduk bercakap-cakap.

Semuanya memakai baju singsat dan ketat, karena mereka tampak setiap waktu bersiap-siap untuk bertempur.

Melihat Wang Sun, semuanya melompat berdiri, mereka telah menegur sambil tersenyum.

Wang Sun memberi hormat, menyambut teguran mereka, dan kemudian katanya.

"Aku ingin memberitahukan kepada pimpinan bahwa kita baru saja menyatroni dua orang perwira kerajaan, yang kabarnya datang dari kotaraja. Kami telah kehilangan beberapa orang kawan yang terbinasa di tangan ke dua perwira itu…….!"

Muka belasan orang tersebut berobah menjadi merah padam karena gusar, mereka telah berseru sengit sekali.

Dan waktu Wang Sun memasuki ruangan itu lebih jauh, semuanya telah mengikuti di belakang Wang Sun.

Pemuda yang mengantar Wang Sun telah sampai di depan sebuah kamar, meminta Wang Sun dan yang lainnya agar menanti dulu, dia sendiri masuk ke dalam.

Tidak lama kemudian dia telah muncul lagi, katanya.

"Tang Lo-ya mempersilahkan tuan-tuan masuk!"

Wang Sun mengiyakan, dan ia melangkah masuk ke dalam kamar.

Di antara belasan orang lainnya, ada tiga orang yang telah turut masuk.

Ternyata di dalam kamar itu terdapat seorang tua berpakaian sebagai pelajar, dia berusia hampir enampuluh tahun, tengah duduk dengan wajah murung Wang Sun segera memberi hormat, demikian juga dengan ke tiga orang kawannya itu.

Orang tua itu mengangguk sambil tersenyum, malah katanya.

"Wang Sun, kudengar kau telah kehilangan beberapa orang kawan......., benarkah itu?"

Terkejut juga Wang Sun melihat bahwa pimpinannya ini memiliki pendengaran yang tajam sekali, karena dalam waktu yang begitu singkat, apa yang telah dialami anak buahnya telah diketahuinya.

Tapi Wang Sun mengangguk juga.

"Benar…… dan kami justeru ingin memberitahukan apa yang telah kami alami……!"

Menyahuti Wang Sun.

"Duduklah!"

Kata Tang Lo-ya itu dengan suara yang sabar, kemudian setelah Wang Sun dan ke tiga orang kawannya duduk, dia baru meneruskan perkataannya.

"Sesungguhnya, memang tidak ada baiknya jika ke dua perwira kerajaan yang datang dari kotaraja itu diserang kalian, mereka memiliki kepandaian yang tinggi sekali. Karena dari itu, jika mengerahkan orang-orang yang memiliki kepandaian setengahsetengah, niscaya kita yang akan menderita kerugian, akan jatuh korban yang tidak sedikit di pihak kita!"

Wang Sun menunduk, katanya.

"Semua ini karena terdorong oleh perasaan penasaran, mereka bersikap begitu congkak dan juga tampaknya memiliki pangkat tidak rendah. Mereka baru saja datang dari kotaraja. Dengan demikian, kalau saja mereka berhasil ditangkap, tentu kita akan bisa memperoleh keterangan yang lebih lengkap tentang kekuatan kerajaan.....!" Tang Lo-ya mengangguk-angguk beberapa kali, kemudian katanya.

"Ya, kamipun memang mengerti akan maksud baik kalian, yang hendak mendirikan pahala buat kita semua, di mana buat menangkap ke dua perwira itu. Tapi tahukah engkau, siapakah adanya ke dua perwira itu?!"

Waktu bertanya begitu, mata Tang Lo-ya bersinar tajam sekali memandang Wang Sun. Wang Sun tertegun sejenak, namun akhirnya dia menggeleng.

"Dilihat dari kepandaian mereka, tentu di istana Kaisar dia bukan orang sembarangan..........!"

Menyahuti Wang Sun. Tang Lo-ya mengangguk.

"Benar…… memang mereka orang-orang penting di istana Kaisar, karena mereka itu adalah Komandan Gie-lim-kun dan Komandan Kim-ie-wie. Mereka masing-masing bernama Cing Kiang Wie dan Kang Wei!"

Mendengar penjelasan itu, Wang Sun mengangguk-angguk beberapa kali.

"Pantas kepandaian mereka tinggi sekali...........!"

Katanya kemudian. "

Karena dari itu aku sendiri sesungguhnya hendak perintahkan orang kita agar pergi memberitahukan kepadamu, buat membatasi diri dalam menghadapi ke dua perwira dari kerajaan itu, agar berhati-hati.

Ternyata kalian telah berangkat menyatroni mereka, malah dengan berakhir kalian mengalami kerusakan yang tidak kecil."

Muka Wang Sun berobah memerah, tampaknya dia merasa malu, sampai akhirnya dia bilang.

"Semua ini adalah kesalahan Wang Sun yang sangat ceroboh, harap Lo-ya mau mengampuni……!"

Tang Lo-ya tersenyum.

"Engkau tidak bersalah...... dan juga engkau tidak perlu minta diampuni. Semua ini hanya disebabkan karena kurang cepatnya keterangan yang sampai padamu. Jika memang orang yang kukirim itu tiba pada waktunya, sehingga engkau mengetahui siapa adanya ke dua perwira tersebut, niscaya engkau tidak akan bertindak salah seperti itu……!"

Setelah berkata begitu, Tang Loya menghela napas beberapa kali. Wang Sun kemudian bangun dari duduknya, katanya dengan bersemangat sekali.

"Tang Lo-ya, karena ini atas perbuatan Wang Sun yang menyebabkan beberapa orang kita terbinasa, maka biarlah malam ini juga Wang Sun pergi mencari ke dua perwira itu, buat bertempur mengadu jiwa dengan mereka membalas sakit hati kita dan sebagai penebus dosa Wang Sun!"

Kata-kata itu diucapkannya dengan bersemangat sekali. Di waktu itu tampak jelas sekali, Tang Lo-ya tengah berduka. Dia menggeleng.

"Ingatlah Wang Sun, tindakan yang ceroboh membawa kerugian yang tidak kecil buat pihak kita! Seperti yang baru saja engkau alami, dimana kau telah mengalami kerusakan dengan terbinasanya beberapa orang-orangmu! "

Hemmmmm, sekarang jika memang engkau pergi ke sana seorang diri, buat mencari ke dua perwira itu, engkau akan mengalami bencana.

Berarti jika engkau dicelakai oleh ke dua perwira kerajaan itu, niscaya anak buahmu akan kehilangan engkau.

"Sebagian dari pertahanan kita akan kacau-balau seluruhnya! Segala sesuatu harus di pikirkan masak-masak dan penuh perhitungan yang baik, tidak dapat engkau bertindak sekehendak hati menuruti hati kecilmu, Wang Sun!" Mendengar perkataan Tang Lo-ya, seketika Wang Sun seperti baru tersadar. Dan segera menunduk dengan wajah bersusah hati, katanya penuh penyesalan.

"Baiklah Tang Lo-ya, karena aku telah memberitahukan apa yang telah terjadi, aku akan minta diri untuk kembali di tengah kawankawan! Semua nasehat yang diberikan Tang Lo-ya akan kuingat baik-baik dan Wang Sun berjanji akan bertindak lebih hati-hati di masa mendatang.....!"

Sambil berkata begitu, Wang Sun menjura memberi hormat.

"Tunggu dulu……!"

Panggil Tang Lo-ya mencegah Wang Sun berlalu.

"Ada yang ingin kukatakan kepadamu, Wang Sun!"

Wang Sun menahan langkahnya, dia memutar tubuhnya sambil katanya.

"Katakanlah Tang Lo-ya...... apakah yang hendak Lo-ya perintahkan, akan segera Wang Sun laksanakan."

Tang Lo-ya tidak segera berkata, dia memandang kepada ke tiga orang kawan-kawan lainnya yang duduk di tempat mereka, tangannya memberi isyarat, maka ke tiga orang itu keluar meninggalkan ruangan tersebut.

Rupanya memang mereka menyadari Tang Lo-ya ada kata-kata yang hanya disampaikan kepada Wang Sun di bawah empat mata.

Wang Sun sendiri diliputi tanda tanya, entah apa yang ingin dikatakan Tang Lo-ya.

"Duduklah!"

Kata Tang Lo-ya sambil tersenyum dan menunjuk kepada kursi yang tadi diduduki Wang Sun.

"Urusan yang ingin kusampaikan kepadamu, menyangkut keselamatan gerakan kita juga!"

Wang Sun duduk di kursi itu sambil memasang telinganya baikbaik penuh perhatian, dan menyadari bahwa tentunya urusan yang hendak disampaikan kepadanya merupakan urusan yang sangat penting sekali.

"Wang Sun……!"

Panggil Tang Lo-ya setelah mendehem beberapa kali.

"Tahukah engkau, sekarang ini sudah beberapa banyak orang-orang gagah yang terhimpun bersama kita?!"

Wang Sun seperti berpikir, kemudian katanya.

"Sayangnya Wang Sun tidak mengetahui dengan jelas angka-angka itu...... dapatkah Tang Lo-ya memberitahukan berapa banyak para orang gagah yang telah tergabung dalam gerakan kita?"

Tang Lo-ya tersenyum katanya.

"Seperti engkau ketahui, dua bulan yang lalu jumlah para orang gagah yang tergabung dengan kita baru berjumlah duaribu tigaratus orang! Tetapi sekarang jumlah itu meningkat pesat sekali hampir meliputi limaribu orang!"

Wang Sun memperlihatkan sikap girang.

"Inilah kemajuan yang pesat sekali. Berarti gerakan kita didukung oleh para orang gagah. Dengan demikian jelas kita juga akan memperoleh dukungan yang jauh lebih besar lagi di waktu-waktu berikutnya. Tang Lo-ya mengangguk.

"Itupun memang sudah menurut rencana kita, karena biar bagaimana kitapun harus lebih hati-hati dalam menentukan tindakan! Dengan bertambahnya anggota perhimpunan kita, jelas kitapun harus dapat lebih memperketat rahasia di dalam perhimpunan ini, yang tidak boleh sembarangan disiarkan.

"Sebab tidak jarang pula terjadi di dalam tubuh perhimpunan kita telah masuk menyelusup orang-orang kerajaan! Karena dari itu, jika memang kita kurang hati-hati, kukuatirkan jika kelak kits sendiri yang akan tertimpah bencana kareaa semua rahasia perhimpunan kita akan sampai pada Kaisar yang sekarang……" Wang Sun mengangguk mengerti, dia bilang.

"Jika demikian ada perintah apakah yang ingin disampaikan Tang Lo-ya?"

Tang Lo-ya menghela napas dulu sebelum menjawab pertanyaan Wang Sun, sampai akhirnya dia bilang.

"Di dalam persoalan ini sesungguhnya merupakan urusan yang sangat penting sekali, di mana bulan mendatang aku bermaksud untuk membentuk tujuh dewan penasehat, yang mengepalai setiap bagian dari angkatan kita. Karena dengan demikian, dapat kita atur semua rahasia-rahasia penting tidak sembarangan jatuh dan diketahui oleh para anggota biasa! "

Dan engkau telah kupilih sebagai salah seorang di antara ke tujuh anggota dewan tersebut!

Karenanya Wang Sun, engkau harus lebih berhati-hati dan waspada dalam menghadapi kerajaan penjajah di mana engkau tidak boleh terlalu menuruti suara hati kecilmu dan bertindak kalap.

Sesuatunya harus dilakukan dengan penuh perhitungan, walau bagaimana kau akan menjadi salah seorang pemimpin di antara kita.....!"

Wang Sun cepat-cepat hangun dari duduknya, merangkapkan sepasang tangannya. Dia mengucapkan terima kasih kepada Tang Lo-ya dengan membungkukkan tubuhnya tiga kali. "Duduklah Wang Sun......!"

Kata Tang Lo-ya.

"Dan ada lagi yang hendak kukatakan ke padamu!"

"Silahkan Tang Lo-ya perintahkan!"

Kata Wang Sun.

"Untuk urusan ke dua perwira itu, engkau tidak perlu turun tangan, karena sesungguhnya sejak aku menerima laporan tentang kedatangan mereka di Lam-yang, akupun telah mempersiapkan orang-orang yang lebih pantas menghadapi mereka. Aku telah mengutus tiga orang kita buat membereskan mereka......! Maka engkau sendiri, lebih baik-baik mencurahkan waktumu buat memberikan pengertian dan semangat berjuang kepada anak buahmu!"

"Baik Tang Lo-ya, Wang Sun akan melaksanakan perintah dengan sebaik-baiknya!"

Kata Wang Sun kemudian.

Tang Lo-ya mengangguk-angguk beberapa kali, dan dia kemudian membiarkan Wang Sun berlalu, buat kembali ke tengah hutan di antara kawan-kawannya.

Siapakah Tang Lo-ya ini, yang tampaknya demikian berpengaruh sekali di dalam perhimpunan para orang gagah itu?

Ternyata Tang Lo-ya tidak lain dari Tang Bun, dia seorang pelajar yang bun-bu-coan-cay seorang yang mengerti ilmu silat dan ilmu surat secara baik sekali.

Dia seorang pahlawan yang mementingkan tanah air dari segala-segalanya.

Waktu para orang gagah berjuang melawan tentara penjajah Mongolia, dia ikut berjuang, maka dari itu, ia memiliki banyak sekali kawan-kawan di antara para pejuang itu.

Dia sesungguhnya seorang yang kaya raya, namun Tang Bun mengorbankan seluruh hartanya.

Dia membagi-bagikan di antara para pejuang, agar mereka bisa memberikan kepada anak isteri mereka.

Dengan demikian para pejuang dapat berjuang tanpa bimbang lagi.

Mereka bisa mengerahkan seluruh kemampuan dan keterampilan mereka buat menghadapi tentara penjajah.

Akan tetapi justeru tentara perang Mongalia memiliki kekuatan yang besar dengan perlengkapan senjata yang jauh lebih lengkap.

Dan di samping itu, memang mereka telah menyerbu secara besarbesaran, sehingga Siang-yang dapat direbut.

Tang Bun yang merasa sedih melihat Siang-yang berhasil jatuh di tangan musuh, membuatnya tidak rela dan menghimpun sahabat-sahabatnya, semua para orang gagah, buat suatu waktu nanti mengadakan gerakan memberontak mengusir penjajah.

Semula yang bersedia ikut dengannya hanya sedikit sekali, jumlahnya hanya ratusan orang.

Hal ini disebabkan tentara kerajaan Boan-ciu tengah giat-giatnya mengadakan pembersihan dengan ketat.

Tetapi semakin lama jumlah anggota perhimpunan Tang Bun meningkat.

Sebagai pemimpin yang baik, dia tidak mementingkan pribadinya dan kepentingan diri sendiri.

Dia malah telah menyerahkan jabatan serta kedudukan ketua kepada seorang yang benar-benar memiliki kepandaian tinggi bernama Siangkoan Lu Cie.

Siangkoan Lu Cie seorang gagah perkasa dengan kepandaian silatnya yang luar biasa, dan dia memang memiliki perhitungan militer.

Karenanya kedudukan ketua diserahkan Tang Bun kepadanya.

Namun semua anggota perhimpunannya tetap menganggap Tang Lo-ya sebagai ketua mereka.

Dan Siangkoan Lu Cie cuma sebagai wakilnya.

Karena dari itu, Tang Bun tidak bisa menolak desakan dari anggota perhimpunannya, dia tetap turun tangan memimpin sendiri segalanya.

Waktu itu kerajaan Boan tengah makmur dan sedang kuatkuatnya, juga tengah mengadakan pembersihan yang ketat sekali.

Karenanya Tang Bun mengambil taktik lain, yaitu semua anggota perhimpunan itu tidak boleh berkumpul di sebuah tempat.

Mereka terpecah menjadi sepuluh bagian.

Dengan demikian, sewaktu-waktu kerajaan hendak menumpas mereka, tentu tidak akan semuanya berhasil ditumpas.

Dan juga jika mereka telah semakin kuat, jelas mereka sekaligus dapat mengepung dan menyerang kerajaan, akan membuat kekuatan mereka tampaknya jauh lebih besar, terbagi sepuluh kelompok.

Peraturan seperti itu masih tetap dijalankan sampai anggota perhimpunan tersebut hampir mencapai limaribu orang.

Dan mereka telah semakin kuat.

Tang Bun telah merencanakan, jika anggota perhimpunannya mencapai sepuluhribu, barulah ia akan mengadakan serangan terbuka kepada kerajaan.

Yang membesarkan hati Tang Bun justeru semua anggota perhimpunannya itu terdiri dari orang-orang rimba persilatan yang memiliki ilmu silat lihay.

Maka dari itu, walaupun jumlah mereka sedikit, apa yang mereka lakukan pasti bisa berhasil jauh lebih besar dibandingkan dengan apa yang dilakukan tentara biasa.

Itulah yang membuat semangat berjuang dari para orang gagah itu semakin memuncak dan mereka bertekad hendak mengusir tentara penjajah tersebut.

Tang Bun sendiri telah bekerja keras siang dan malam.

Walaupun usianya sebetulnya baru limapuluh lima tahun, namun wajahnya tampak sudah demikian tua, sehingga ia terlihat jauh lebih tua dari usia sebenarnya.

Perihal kedatangan Cing Kiang Wie dan juga Kang Wei, ke dua komandan dari Gie-lim-kun dan Kim-ie-wie itu memang telah diketahui oleh Tang Bun, yang menerima laporan dari anak buahnya.

Segera juga ia menyusun suatu kekuatan buat menghadapi ke dua perwira itu.

Menurut perhitungannya maka kedatangan ke dua perwira itu, pasti di belakangannya akan muncul puluhan ribu tentara kerajaan, yang akan menyapu bersih pemberontak tersebut.

Karena dari itu, Tang Bun telah mempersiapkan pasukannya di berbagai tempat, yang sekiranya dapat dijadikan pertahanan yang kuat.

Dia pun telah perintahkan tiga orang ahli silat kelas utama buat pergi menyatroni Cing Kiang Wie dan Kang Wei, guna membinasakan mereka, atau juga jika tidak bisa membunuh, membuat mereka bercacad.

Dia menghubungi Wang Sun agar Wang Sun tidak melakukan gerakan apa-apa, mengingat dia memang berada di garis depan dekat dengan Lam-yang.

Tapi orang yang dikirim menemui Wang Sun datang terlambat.

Wang Sun telah pergi menyatroni Cing Kiang Wie dan Kang Wei dengan mengajak kawan-kawannya, berakhir dengan kerusakan cukup parah buat kelompok Wang Sun.

Semua itu dilaporkan orang Wang Sun, membuat Tang Lo-ya ini bersedih hati.

Kematian beberapa orang anggota perhimpunannya bukan saja akan mengurangi jumlah anggota, juga akan dapat mempengaruhi semangat berjuang anggota-anggota lainnya, di mana mereka tentu akan tergoncang hatinya, semangat berjuangnya akan menurun.

Itulah sebabnya Tang Lo-ya juga memberikan wejangan kepada Wang Sun, agar dia jangan bertindak terlalu ceroboh, dan menjelaskan juga bahwa Tang Bun telah perintahkan tiga orang ahli silat kelas satu buat menghadapi Cing Kiang Wie dan Kang Wei.

Tang Lo-ya menghela napas, dia membuka sepucuk surat laporan dari barisan kelompok ke enam, yang berada dalam posisi sebelah Selatan.

Pimpinan rombongan tersebut adalah seorang ahli silat ternama di bilangan daerah Kang-say, dan telah ikut menggabungkan diri.

Ilmu silatnya lihay.

Dia melaporkan bahwa di sekitar daerah dia berada bersama kawan-kawannya, tidak ada tanda-tanda mencurigakan.

Juga tidak terlihat tanda-tanda bahwa pihak kerajaan mengerahkan pasukannya.

"Hemmm.... memang kali ini kedatangan Cing Kiang Wie dan Kang Wei merupakan tanda tanya yang cukup mengherankan. Tidak mungkin dia datang ke Lam-yang hanya berdua saja..... tanpa membawa pasukan!"

Menggumam Tang Bun perlahan sambil mengerutkan alisnya, kemudian perlahan-lahan dia menggulung surat itu, dia memasukkan ke dalam bajunya, menghela napas lagi panjangpanjang, sambil memikirkan dengan cara bagaimana dia harus dapat mengetahui rahasia kerajaan lebih banyak dari apa yang telah diketahuinya.

Dan yang pasti tentu saja sepak terjang Kiang Wie selama berada di Lam-yang, harus diawasi dengan lebih ketat lagi!

◄Y► Pagi itu Cing Kiang Wie dan Kang Wei tengah bersantap pagi, dengan tertawa-tawa.

Para pelayan melayani mereka lebih telaten dan hormat, karena selain pangkat perwira tinggi ini tampaknya tidak rendah, juga kepandaian mereka sangat hebat sekali.

Bukankah semalam di penginapan ini telah datang belasan orang perampok, yang dapat diusir oleh mereka berdua dengan mudah?

Sedangkan Cing Kiang Wie tengah berkata kepada Kang Wei diiringi senyum dan wajah berseri-seri.

"Jika Hong-siang mendengar hasil kerja kita, tentu Hong-siang akan cepat-cepat akan mempersiapkan hadiah menarik hati buat kita.....!"

Kang Wei tersenyum juga, namun dia menggeleng perlahan.

"Engkau jangan mengharapkan yang tidak-tidak dulu, karena sekarang ini tugas kita tidak ringan!

Semalam yang datang bukanlah manusia-manusia berarti di mata kita, karena pihak merekapun hanya ingin melihat sampai berapa tinggi kepandaian kita, maka mereka sengaja mengorbankan orang-orangnya itu, sehingga jika kita melihat kemenangan yang telah kita capai semalam, niscaya kita akan congkak dan sombong, lenyap kewaspadaan kita.

Di waktu itulah mereka akan bertindak dengan mengirim orang-orangnya yang memiliki kepandaian lebih lihay!"

Cing Kiang Wie tersenyum, kemudian setelah meneguk araknya dia bilang.

"Kang Laote, engkau tampaknya terlalu berhati-hati sekali. Malah menurutku, engkau keterlaluan lagi dalam berwaspada, karena engkau terlalu memandang tinggi para pemberontak itu! "

Sesungguhnya, menurut hematku, para pemberontak itu tidak memiliki kepandaian apa-apa. Mereka semuanya merupakan gentong-gentong nasi tidak punya guna!"

Hemmm, jelas untuk pertama kali mereka mengutus orangorangnya, pasti orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi, yang mereka segani.

Dan jika mereka itu telah dapat kita obrak-abrik, hemm, nyali mereka akan ciut…… Selanjutnya jelas mereka tidak berani sembarangan mengirim orang!"

Setelah berkata begitu, Cing Kiang Wie tertawa bergelak-gelak. Sedangkan Kang Wei mengangguk-angguk beberapa kali.

"Mudah-mudahan saja begitu…… karena walaupun bagaimana memang akupun mengharapkan tugas ini dapat kita selesaikan secepatnya, agar kita bisa kembali ke istana, buat melanjutkan tugas kita di sana…….!"

Ke duanya tertawa bergelak-gelak tampaknya riang sekali.

Selesai sarapan pagi, mereka meninggalkan rumah penginapan itu, buat jalan-jalan berputaran di dalam kota Lam-yang.

Banyak orang-orang yang mengawasi mereka, tetapi ke dua perwira kerajaan ini justeru mengambil sikap acuh tak acuh.

Mereka sengaja tidak menyamar, karena mereka hendak memancing para orang gagah yang tergabung dalam perhimpunan yang diadakan Tang Bun.

Sambil berputaran di kota itu, Cing Kiang Wie dan Kang Wei pun menyerap-nyerapi menyelidiki tentang kekuatan kaum pemberontak itu.

Tetapi jarang sekali penduduk yang mau bicara, mereka takut kerembet-rembet.

Setelah menjelang lohor, barulah ke dua orang perwira ini kembali ke rumah penginapan buat mengasoh.

Sore harinya, mereka berkeliling di kota Lam-yang lagi, malah mereka telah datangi daerah-daerah di luar kota tersebut, untuk melihat-lihat keadaan di sekitar tempat itu.

Di waktu itulah mereka memperoleh kenyataan, penduduk kota tersebut seperti juga tidak menyukai kehadiran mereka.

Namun ke dua perwira kerajaan ini tidak memperdulikannya.

Dan setiap tentara kerajaan Boan yang bertemu dengan mereka, tentu akan memperlihatkan sikap yang sangat menghormat sekali.

Demikian juga para pembesar kota itu, yang mereka temui, semuanya jadi sibuk mempersiapkan jamuan dan memperlakukan ke dua perwira tersebut dengan hormat sekali.

Puas hati Cing Kiang Wie dan Kang Wei melihat penyambutan para pembesar yang ada di Lam-yang, karena diam-diam merekapun perintahkan para pembesar itu buat setiap saat mempersiapkan tentara kerajaan, jika memang dibutuhkan.

Ke dua perwira tinggi ini akan meminta bantuan untuk membasmi para pemberontak itu.

Jumlah tentara yang ada di Lam-yang, karena letaknya berdekatan dengan Siang-yang dan merupakan kota yang sangat penting, hampir meliputi sepuluhribu orang.

Karenanya Kiang Wie dan Kang Wei yakin jika sewaktu-waktu mereka memerlukannya tentu mereka bisa mengerahkan tenaga tentara kerajaan yang cukup besar.

Menjelang malam, Cing Kiang Wie dan Kang Wei bersiap-siap untuk memulai kerja mereka.

Dimana mereka telah menyalin pakaian dengan pakaian Ya-heng-ie, yang selalu dikenakan oleh orang-orang yang berjalan malam.

Waktu mereka tengah salin pakaian, Cing Kiang Wie bilang.

"Malam ini kita mulai bekerja. Menurut laporan yang telah ada pada kita, pemimpin dari para pemberontak itu berdiam di luar kota, di sebuah rumah yang sangat besar. Tetapi anggota perkumpulan tersebut tidak berkumpul di sana semuanya, karena mereka telah dipecah menjadi sepuluh bagian, yang kekuatannya terpencarpencar. "

Jika memang kita satroni mereka, niscaya mereka tidak akan dapat memberikan perlawanan yang berarti.

Yang terpenting kita harus menangkap atau membinasakan pemimpin pemberontak itu yang kabarnya bernama Tang Bun!"

Kang Wei mengangguk mengiyakan.

Dan mereka telah siap buat berangkat pergi menyelidiki keadaan pemberontak.

Memang sejak pagi sampai sore seharian mereka mengelilingi kota tersebut.

Tidak banyak memperoleh keterangan yang berhasil mereka kumpulkan, karena memang penduduk jarang ada yang mau bicara banyak dengan mereka.

Dan merekapun tidak marah, karena mereka berkeliling kota seperti itu dengan sengaja mengenakan pakaian keperwiraan mereka cuma buat pancingan belaka, menarik perhatian dari kaum pemberontak agar mengetahui dua orang tokoh kerajaan berada di kota Lam-yang, dan mereka menjadi panik!

Begitu kentongan ke dua dipalu, segera Cing Kiang Wie dan Kang Wei meninggalkan kamar rumah penginapan.

Mereka telah mengambil jalan di atas genting rumah penduduk.

Mereka memiliki gin-kang yang sangat tinggi.

Dengan demikian mereka dengan mudah bisa melewati ratusan rumah penduduk tanpa rintangan suatu apapun juga.

Malah di waktu itu mereka telah berada di luar pintu kota.

Keadaan di sekitar tempat itu sepi sekali, ke duanya saling pandang sambil tersenyum.

"Kita mulai memasuki kandang macan, kita harus waspada!"

Pesan Kang Wei, yang selalu hati-hati.

Cing Kiang Wie tersenyum congkak, tapi dia mengangguk.

Begitulah, ke duanya berlari-lari lagi.

Tetapi tengah mereka melesat ringan dan lincah, dari depan mereka tampak mendatangi seorang lelaki tua berusia limapuluh tahun, dengan tubuh bungkuk, tengah memikul dua bakul padi.

Tampaknya orang tua itu lemah dan kelelahan sekali.

Keringat memenuhi wajah dan tubuhnya, diapun terbungkuk-bungkuk seperti itu, karena dia memang telah berusia lanjut sekali.

Cing Kiang Wie dan Kang Wei ketika melihat jelas orang tersebut merupakan seorang tua yang tidak punya guna, mereka ingin melanjutkan perjalanan mereka.

Namun orang tua itu memikul padinya di tengah jalan, dan ketika mereka hendak melewati.

tahu1346 tahu orang tua itu seperti hendak menurunkan pikulannya, sehingga melintang.

Untung Cing Kiang Wie dan Kang Wei memiliki mata yang awas dan cepat sekali mereka dapat menahan lari mereka sehingga tidak sampai menubruk ujung pikulan itu, yang ternyata dibuat dari besi!

Cing Kiang Wie yang memang berdarah panas, segera membentak bengis.

"Tua bangka yang mau mampus, mengapa melintang di tengah jalan?!"

Orang tua itu menghapus keringatnya, dia bilang.

"Maaf..... lohu (aku orang tua) sangat lelah dan ingin istirahat! Apa salahnya lohu, sehingga tampaknya tuan-tuan begitu marah?!"

Cing Kiang Wie mendongkol sekali. Dia mengulurkan tangan kanannya mendorong tubuh orang tua itu. Seketika tubuh orang tua tersebut bergulingan di tanah, terkena dorongan tersebut.

"Tua bangka kerbau tidak punya guna!"

Menggumam Cing Kiang Wie kemudian kepada kawannya, karena tadi dia mendorong tidak disertai tenaga dalamnya, telah membuat orang tua itu jungkir1347 balik.

Dia menduga tentunya orang tua itu benar-benar seorang tua yang tidak punya guna dan sangat lemah.

Kang Wei mengangguk, katanya.

"Mengapa harus melayani dia? Mari kita pergi!"

Tetapi baru saja Cing Kiang Wie ingin menyahuti, di waktu itu orang tua tersebut berteriak nyaring mengandung kemarahan.

"Manusia-manusia jahat...... aku tidak bersalah apa-apa, kalian telah menurunkan tangan keji padaku seorang tua yang tidak berdaya! Thian tentu mengutuk kalian!"

Cing Kiang Wie jadi mendongkol lagi, dia menghampiri, dan mengayunkan kaki kanannya, menendang dengan kuat ke dada orang tua itu.

Orang tua itu seperti ketakutan, dia memasang ke dua tangannya, mendorong ke depan.

"Ihhhh!"

Cing Kiang Wie berseru kaget.

Sebab di waktu itu dia merasakan kakinya yang tengah meluncur itu seperti didorong oleh suatu kekuatan yang sangat hebat sekali, dan tubuhnya terdorong kuat.

Beruntung memang Cing Kiang Wie lihay.

Biarpun begitu mendadak dia terdorong hebat, namun segera dia bisa mengerahkan tenaga dalamnya.

Kakinya yang satu menjejak tanah, maka tubuhnya melesat cepat sekali melambung empat tombak lebih!

"Bekuk dia!"

Teriak Cing Kiang Wie kepada Kang Wei.

"Dia hanya pura-pura tidak mengerti ilmu silat!"

Kang Wei juga kaget melihat kuatnya dorongan ke dua tangan kakek tua itu, karena kawannya, yang diketahuinya memiliki kepandaian yang tangguh, telah terdorong begitu jauh.

Tanpa berkata apa-apa dia telah melompat sambil menghantam dengan telapak tangannya.

Namun orang tua itu berbeda dengan tadi, tampaknya lemah dan tengah keletihan, justeru sekarang telah melompat berdiri sambil mengelak dari pukulan tangan Kang Wei kemudian teriaknya.

"Ohhh, kalian perampok-perampok tidak kenal malu! Orang setua aku masih juga ingin dirampok oleh kalian!"

Bukan main mendongkolnya Cing Kiang Wie dan Kang Wei.

Mereka membentak bengis dan serentak menghantam kakek itu.

Tetapi justeru kakek tua tersebut tahu-tahu telah memutar pikulannya, yang menderu-deru kuat sekali!

Cin Kiang Wie dan Kang Wei terkejut, mereka cepat-cepat melompat mundur menjauhi diri.

Tangan mereka sebat sekali mencabut keluar senjata masing-masing.

Setelah saling pandang satu dengan lain, ke dua perwira tentara kerajaan ini menerjang kepada si kakek.

Pedang Cing Kiang Wie meluncur sangat hebat sekali menikam ke arah tenggorokan kakek tua itu, sedangkan pecut Kang Wei juga meluncur mengandung kekuatan lweekang yang dahsyat, karena mereka menyerang tidak tanggung-tanggung.

Akan tetapi rupanya kakek tua itu bukan seorang sembarangan.

Sikapnya telah berobah sama sekali dibandingkan dengan tadi, di mana dia memang tadi begitu lemah seperti seorang kakek yang sudah tidak punya guna.

Namun sekarang berdiri tegap tidak bungkuk dan ke dua tangannya memegang tongkat besinya, yang diputarnya menyampok senjata lawannya yang menyambar dengan beruntun.

"Trangggg…… tranggggg….. taaarrrr!"

Terdengar berulang kali suara itu karena benturan senjata Cing Kiang Wie dan Kang Wei.

Seketika ke dua perwira itu kaget, karena disaat senjata mereka saling bentur, tangan mereka tergetar.

Walaupun tidak menyebabkan telapak tangan mereka sakit, tokh setidak-tidaknya telah membuktikan bahwa kekuatan tenaga dalam kakek tua itu tidak rendah.

Ke dua perwira tinggi kerajaan tersebut juga menyadari, bahwa kakek tua ini hanyalah menipu mereka menyamar sebagai kakek tua penjual padi belaka.

Padahal sesungguhnya kakek tua tersebut seorang yang tangguh!

Seketika mereka menduga jika memang bukan seorang begal, tentunya kakek tua tersebut adalah salah seorang anggota pemberontak.

"Hemm, jangan engkau mencari-cari alasan, karena kami telah mengetahui siapa engkau sebenarnya!"

Sambil berkata begitu, cepat sekali dia telah menghantam dengan pecutnya, di mana Kang Wei menyerang dengan kekuatan delapan bagian, sehingga pecut itu mendesing mengeluarkan suara yang menderu sangat dahsyat sekali ujung pecutnya itu menyambar berkelit seperti juga ancaman seekor ular.

Kakek tua itu benar-benar lihay, dia sama sekali tidak gentar menghadapi pecut lawannya, dia malah memutar tongkatnya itu.

Ujung pecut lawannya telah melibat tongkatnya, dan Kang Wei hendak menariknya dengan gerakan yang sangat kuat.

Namun tongkat atau pikulan besi kakek tua itu tidak bergeming, karena si kakek telah mengerahkan tenaga dalamnya.

Mereka jadi saling mengerahkan kekuatan sin-kang, saling menarik dan menahan.

Jika Kang Wei menarik dengan kekuatan yang luar biasa, justeru kakek tua itu bertahan dengan kuda-kuda ke dua kaki yang kokoh sekali.

Kang Wei jadi mendongkol dan marah sekali.

Dia juga penasaran, karena sebelumnya dia meremehkan kakek tua itu, siapa tahu justru tenaga dalam kakek tua itu sangat kuat sekali tidak berada di sebelah bawah kekuatan tenaga dalamnya!

Sedangkan Cing Kiang Wie tidak mau membuang-buang waktu.

Ketika melihat Kang Wei tidak dapat mengatasi lawan mereka yang tua itu, segera juga dia mencelat dengan pedangnya buat menyerang membantui Kang Wei.

Pedangnya itu berkelebat seperti juga seekor naga putih, yang mengincar bagian berbahaya di pundak kakek tua tersebut.

Kakek tua itu tengah mengerahkan tenaga dalamnya buat melawan daya tarik Kang Wei, dan sekarang dia diserang oleh Cing Kiang Wie, jika memang dia tidak menghindar atau menangkis, tentu dirinya akan terancam bahaya yang tidak kecil.

Dalam keadaan seperti itu, segera juga dia berseru nyaring, dan tahu-tahu pikulan besinya telah dimiringkan.

Dia melepaskan cekalannya pada gagang pikulan yang satu, kemudian tubuhnya itu bergerak menarik pikulannya, dengan demikian lilitan cambuk lawannya dapat dilepaskan.

Dikala itu serangan pedang Cing Kiang Wie tiba, dia menyampok dengan pikulannya.

"Tranggg……!"

Pedang dan pikulan tersebut membentur kuat sekali, lelatu api terlihat berpijar terang.

Cing Kiang Wie merasakan tangannya tergetar keras, namun dia tidak mau memberikan waktu sedikitpun kepada kakek itu buat bernapas memperbaiki diri dan kedudukannya.

Pedangnya menyambar lagi bertubi-tubi sampai empat kali tikaman.

"Tranggg..... tranggg…… tranggg..... tranggg..........!"

Empat kali terdengar suara benturan yang sangat kuat, karena empat kali kakek tua itu dapat menangkis pedang lawannya.

Cing Kiang Wie melompat mundur, dia berdiri di sisi Kang Wei, yang waktu itu memang sudah tidak menyerang lagi.

"Tua bangka yang tidak kenal mampus, perkenalkan namamu, karena kami paling anti untuk membunuh manusia tidak bernama!"

Bentak Cing Kiang Wie kemudian. Kakek tua itu tertawa terkekeh, kemudian dia bilang dengan suara yang tawar.

"Hemm..... kalian ingin mengetahui siapa aku? Baik! Dengarkanlah baik-baik, karena aku kuatir kalian kaget mendengar siapa adanya aku, kalian berdua tidak bisa pulang ke istana buat melaporkan kepada Kaisar kalian……!"

Tetapi biarpun kakek tua itu mengatakan bahwa dia akan memberitahukan namanya, namun dia tidak menyebutkan siapa adanya dia.

Cing Kiang Wie dan Kang Wei merasakan dirinya dipermainkan, segera Kang Wei membentak dengan suara bengis.

"Katakanlah, siapa kau sebenarnya!"

"Aku she Liang dan bernama Tie,"

Kata orang tua itu sambil memperdengarkan tertawa dingin, sikapnya gagah sekali, dia telah mencekal tongkatnya kuat-kuat menantikan serangan dari ke dua lawannya.

"Liang Tie?

Oho, kiranya Kiu-cie-tung-hiap (Pandekar Tongkat Sembilan Jari)!"

Berseru Kang Wei dengan diiringi suara bergelaknya.

"Tidak kami sangka, hari ini kami memiliki nasib baik bisa bertemu dengan Kiu-cie-tung-hiap yang menjagoi daerah selatan!"

Apa yang dikatakan Kang Wei memang tidak salah, sebab Kiu-cietung-hiap Liang Tie merupakan seorang jago yang malang melintang disegani di daerah Selatan.

Sejauh itu dia jarang sekali memperlihatkan diri.

Siapa tahu, justeru malam ini ke dua perwira tinggi kerajaan telah dihadangnya.

Tidak terlihat perasaan jeri sedikitpun juga pada wajah ke dua perwira itu, walaupun mereka memang telah mengetahui siapa lawan mereka, seorang tokoh rimba persilatan yang memiliki nama tidak kecil di dalam kalangan Kang-ouw dan terkenal dengan ilmu tongkatnya.

Di waktu itu Kiu-cie-tung-hiap Liang Tie tertawa bergelak, kemudian katanya dengan suara yang dingin.

"Benar! Benar! Justeru hari ini memang aku telah memutuskan, bahwa sekarang aku akan mempertaruhkan jiwaku dengan kalian berdua!" Sambil berkata begitu, Liang Tie tidak membuang-buang waktu, tubuhnya telah melesat sangat cepat luar biasa, tongkatnya itu, yang menyerupai pikulan, menderu-deru sangat dahsyat sekali, ujungnya menyambar kepada Kang Wei. Kang Wei mendengus, dia mempergunakan cambuknya buat balas menyerang. Namun belum lagi ujung tongkat Liang Tie mengenai Kang Wei, justeru di lain saat dia telah menarik pulang serangannya itu, batal menyerang Kang Wei. Kemudian dia menggerakkan tongkatnya dengan ujungnya yang lain menyambar kepada Cing Kiang Wei kuat dan mendatangkan derunya angin. Seperti gelombang yang datang menerjang, membuat Cing Kiang Wie tergetar oleh angin serangan ujung tongkat lawannya. Namun dia seorang pendekar ahli pedang yang sangat liehay sekali, dengan segera dia memutar pedangnya, sama sekali dia tidak menjadi gugup, pedangnya itu bagaikan telah berobah menjadi satu dengan tubuhnya, bergulung-gulung sinar putih keperak-perakan, sehingga jangankan senjata lawan, sedangkan jika waktu itu ada siraman air, tentu tidak setetes air pun yang akan dapat menerobos masuk ke dalam pertahanannya itu. "Trangggg, trangggg.......!"

Terdengar beberapa kali terbentunya pedang dan tongkat Kakek tua itu.

Namun tetap saja Cing Kiang Wie memutar pedangnya.

Dalam waktu yang singkat, telah lebih limapuluh jurus mereka bertiga bertempur.

Kakek tua itu boleh tangguh, tetapi menghadapi ke dua orang lawannya yang kepandaiannya tidak berada di sebelah bawah kepandaiannya, membuat dia terdesak juga.

Dan perlahan-lahan kakek Liang Tie telah berada di bawah angin, dia hanya dapat main kelit saja sebab beberapa kali dia terdesak hebat.

Liang Tie sendiri memaklumi, jika memang bertempur terus dengan cara seperti itu, akhirnya dengan dikeroyok ke dua perwira tinggi tersebut, jelas dia akan dapat di rubuhkan.

Karena dari itu, dia telah mengeluarkan seruan yang nyaring sekali, suara seruannya itu bergema di sekitar tempat itu.

Bersamaan dengan seruan kakek tua itu, tampak mendatangi pesat sekali dari tempat yang gelap dua sosok tubuh yang gerakannya sangat gesit.

Di tangan ke dua sosok tubuh itu masingmasing mencekal sebatang pedang, dan mereka tidak bicara, begitu datang, segera menerjang dan menyerang Cing Kiang Wie dan Kang Wei.

Liang Tie sendiri telah berteriak.

"Bunuh saja ke dua anjing ini!"

Dengan bersemangat tongkatnya telah menyerang bertubi-tubi dengan jurus hebat dan bisa mematikan kalau mengenai sasarannya.

Sedangkan Kiang Wie dan Kang Wei, jadi terkejut.

Melihat kepandaian Liang Tie dan ke dua orang yang baru datang itu, mereka yakin, tentunya ketiga orang-orang ini tidak bisa dihadapi begitu saja, jumlah mereka belum tentu bertiga, bisa saja di tempat lain tengah bersembunyi kawan-kawan Liang Tie yang lainnya.

Karena berpikir begitu, Cing Kiang Wie dan Kang Wei telah memperhebat serangan mereka secara bergantian sebentar kepada Liang Tie, lalu kepada ke dua kawan kakek tersebut.

Pertempuran terus berlangsung dengan seru, mereka bergerak sangat lincah dan cepat sekali sehingga tubuh mereka seperti juga bayangan.

"Manusia-manusia tidak malu!"

Bentak Liang Tie.

"Hari ini adalah hari kematian kalian! Lebih baik-baik kalian berdoa kepada Thian, untuk memohon dosa kalian diringankan." Sambil mengejek seperti itu, tampak Liang Tie telah menyerang tambah hebat, tongkatnya seperti juga berobah menjadi sepuluh batang, menyambar-nyambar dengan hebat dan gencar sekali.

"Jangan sombong, hari ini justeru kami datang ke Lam-yang buat memberantas kalian! Tentunya kalian bertiga adalah anjing-anjing pemberontak yang hari ini akan kami kirim ke neraka! Terimalah serangan.....!"

Sambil memaki begitu,Cing Kiang Wie yang memang berdarah panas, telah menyerang dengan hebat.

Pedangnya itu berkelebatkelebat sangat cepat disamping juga disertai oleh tenaga lweekang yang tinggi sekali.

Sedangkan Kang Wei yang jarang bicara, dia cuma mengerahkan seluruh kepandaiannya berusaha untuk merubuhkan salah seorang lawannya.

Walaupun dia telah mengeluarkan ilmu cambuknya, tokh tetap saja dia tidak berhasil untuk merubuhkan salah seorang lawannya.

Hal ini membuatnya jadi penasaran sekali, dan dia telah menggerakkan cambuknya semakin cepat dan kuat, seperti juga sambaran gelombang yang saling susul.

Dalam keadaan seperti itu, ke lima orang ini, dua lawan tiga, tengah mengerahkan seluruh ilmu simpanan mereka, karena mereka mengetahui, jika mereka tidak berusaha merubuhkan lawan mereka lebih dulu, keselamatan mereka yang bisa terancam.

Karena dari itu, cepat sekali mereka telah memusatkan seluruh perhatian mereka, berusaha merubuhkan lawan mereka dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Dikala itu Cing Kiang Wie rupanya sudah tidak bisa menahan kemarahannya.

Waktu dia melihat kesempatan, di mana Liang Tie tengah menyerang dengan tongkatnya kepada Kang Wei, tanpa membuang-buang waktu lagi, segera pedangnya itu menikam ke pundak lawannya.

Liang Tie juga terkejut, dia memang tengah memusatkan seluruh perhatiannya kepada Kang Wei, tahu-tahu pedang lawannya telah begitu dekat.

Dia mengeluarkan suara seruan tertahan, dan berusaha menyampok dengan tongkatnya.

Tapi gagal.

Tongkatnya hanya dapat membuat tubuh Cing Kiang Wie bergoyang-goyang, dan di saat itu mata pedang Cing Kiang Wie menikam merobek baju di lengannya.

Dengan demikian membuat Liang Tie jadi terhuyung mundur dengan muka yang pucat.

Ke dua kawan Liang Tie ikut terkejut dan tidak berayal lagi segera menyerang Cing Kiang Wie.

Mereka kuatir kalau saja Liang Tie disusul dengan serangan lainnya.

Begitulah, dengan menahan sakit pada lengan kanannya.

Liang Tie tetap memutar tongkatnya, dia telah berusaha merubuhkan salah seorang lawannya.

Dalam keadaan seperti ini, tubuh mereka bergerak-gerak seperti juga bayangan belaka.

Kalau saja kebetulan di waktu itu ada orang yang lewat di tempat tersebut, niscaya akan menduga bahwa sosok-sosok tubuh yang tengah berkelebat-kelebat itu adalah hantu penunggu tempat tersebut!

Liang Tie semakin lama semakin lemas karena itu, ketika suatu kali Cing Kiang Wie menikam lagi kepadanya, dengan tikaman lurus ke arah dadanya.

Dia terlambat menyampok dengan tongkatnya, maka seketika pundaknya terluka tertikam cukup dalam oleh pedang lawannya.

Dia terhuyung mundur dan rubuh terduduk.

Tongkatnya terlepas dari tangannya jatuh di sisinya.

Muka Liang Tie pucat pias.

Salah seorang kawan Liang Tie mengeluarkan seruan nyaring, tubuhnya melesat ke tengah udara, pedangnya dipakai menikam punggung Cing Kiang Wie.

Waktu itu Cing Kiang Wie tengah gembira, sebab melihat si kakek Liang Tie telah berhasil dirubuhkannya.

Dia bermaksud akan menyusuli dengan tikaman berikutnya.

Namun tiba-tiba dia merasakan di punggungnya, telah menyambar angin tajam, tanpa menoleh lagi dia menangkis ke arah belakangnya, pedangnya segera dapat menyampok pedang lawannya, terdengar suara "tranggg"

Yang nyaring sekali.

Tangan Cing Kiang Wie tergetar, dan dia merasakan telapak tangannya pedih.

Demikian juga lawannya, telah melompat mundur dengan cepat sekali.

Lawan Cing Kiang Wie tadi, karena menguatirkan keselamatan Liang Tie.

telah menikam dengan sepenuh tenaganya.

Itulah sebabnya mengapa Cing Kiang Wie telah merasakan telapak tangannya sakit sedangkan dia sendiri tubuhnya jadi terhuyung mundur waktu pedangnya kena ditangkis oleh Cing Kiang Wie.

Kang Wei tengah dilibat oleh lawannya yang seorang lainnya.

Ilmu silat orang tersebut juga tidak lemah, karena dia tampaknya mempergunakan ilmu pedang dari Kun-lun-kiam-hoat.

Tentunya dia salah seorang murid Kun-lun-pay.

Beberapa kali orang itu merangsek dengan menempuh jarak dekat sekali.

Dia main rapat seperti itu karena mengetahui jika mereka terpisah cukup jauh, berarti Kang Wei yang meraih keuntungan tidak kecil.

Cambuknya memang panjang, tentu saja dia malah lebih leluasa jika mereka bertempur terpisah dalam jarak yang cukup jauh.

Lawannya yang cerdik justeru tidak mau bertempur dengan jarak jauh, dia telah merangsek terus makin dekat, sehingga Kang Wei tidak leluasa buat menyerang dia dengan cambuknya, malah dia menyerang hebat mempergunakan pedangnya, membuat Kang Wei berulang kali harus mengelak ke sana ke mari menghindarkan diri dari serangan lawannya.

Tapi Kang Wei juga bukannya seorang yang tolol, dia berusaha agar lawannya itu tidak bisa main dekat terus.

Dalam suatu kesempatan, setelah dia mengancam lawannya dengan totokan kepada pundaknya, dengan ringan sekali dia menjejakkan kakinya, tubuhnya melompat ke tengah udara dan berjumpalitan, begitu ke dua kakinya hingga di tanah, segera dia menjejak lagi, sehingga tubuhnya melompat mundur lebih jauh.

Setelah hinggap di tanah, dia terpisah cukup jauh dengan lawannya, maka dia membarengi dengan cambuknya yang menyambar kepada lawannya dengan gencar dan beruntun.

Dengan demikian dia tidak memberikan kesempatan kepada lawannya buat merangsek main dekat lagi.

Dia telah menyerang beruntun seperti itu, membuat lawannya yang sekarang sibuk sekali berkelit ke sana ke mari tanpa bisa membalas menyerang, karena ukuran pedangnya yang tidak begitu panjang seperti cambuk lawannya, tidak bisa menikam dari jarak yang jauh.

Liang Tie yang melihat keadaan seperti itu segera merogoh sakunya, tahu-tahu dia telah menimpukkan sebuah benda hitam ke arah Cing Kiang Wie.

Cing Kiang Wie menduga senjata rahasia, dia berkelit.

Benda hitam bulat itu terbanting di tanah di dekat sampingnya.

Terdengar suara ledakan dan di sekitar tempat itu diselubungi asap yang tebal.

"Kang Laote, hati-hati!"

Teriak Cing Kiang Wie, yang kuatir lawanlawannya mempergunakan senjata rahasia buat menyerang membokong pada mereka.

Kang Wei sendiri terkejut karena tahu-tahu tempat itu tertutup gelap oleh asap.

Dia jadi kelabakan dibuatnya, dan buat melindungi dirinya dari bokongan lawannya, dia memutar cambuknya dengan cepat.

Dan setelah memutar cambuknya beberapa waktu, di kala asap semakin tipis, dia hanya melihat Cing Kiang Wie yang berdiri dengan penuh kewaspadaan.

Baca Juga: Rajawali Lembah Huai Kho Ping Hoo

Baca Juga: Pendekar Sakti Suling Pualam 13

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert