Ceritasilat Novel Online

Anak Rajawali 6

Eps 6 Anak Rajawali - Chin Yung

Baca online Anak Rajawali - Chin Yung

Cersil Anak Rajawali - Chin Yung.

Mereka bertempur seru sekali sampai puluhan jurus, tanpa terlihat tanda-tanda dari ke duanya sebagai pihak pemenang ataupun juga pihak pecundang.

Dalam keadaan seperti ini Beng Ko Kouw tampak mulai gugup.

Dia jengkel dan murka di samping gelisah, karena sejauh itu dia belum bisa mendesak lawannya.

Apalagi memang pedang dari guru Giok Hoa menyambar-nyambar dengan kecepatan seperti juga sambaran kilat, membuat dia selalu harus mengelak ke sana ke mari dengan sibuk, dan jadi tidak bisa mencurahkan seluruh kepandaiannya untuk menggerakkan rantainya yang luar biasa.

Karena jengkel dan penasaran bercampur murka, maka akhirnya Beng Ko Kouw telah memutar rantainya tersebut dengan kuat, yang berpusing sangat cepat, sehingga tidak terlibat lagi lowongan yang ada pada penjagaannya itu.

Tentu saja pedang guru Giok Hoa sementara waktu tidak bisa menerobos memasuki lowongan di antara berputarnya rantai itu, di mana pedangnya itu seperti tidak berdaya untuk menerobos pertahanan Beng Ko Kouw.

Sedangkan Ko Tie yang menyaksikan jalan pertempuran tersebut, jadi mementang matanya lebar-lebar.

Dia melihat, walaupun kepandaian dan ilmu Beng Ko Kouw menjurus ke jalan yang sesat, tokh tetap saja ilmu silat dan lweekang dari Beng Ko Kouw tinggi sekali.

Malah jika memang Ko Tie harus menghadapinya, belum tentu dia bisa mengimbanginya.

Giok Hoa juga membuka matanya lebar-lebar.

Jika sebelumsebelumnya dia menduga sekarang dirinya telah memiliki kepandaian yang tinggi dan tidak perlu takut terhadap siapapun juga justeru sekarang hatinya jadi ciut sendirinya.

Semula dia telah ketemu batunya pada Ko Tie.

Walaupun memang kepandaian mereka berdua setingkat, tokh tetap saja memang kepandaian Ko Tie memiliki latihan yang lebih kuat.

Lalu sekarang melihat kepandaian Beng Ko Kouw, maka dia jadi berpikir, bahwa di dalam rimba persilatan memang terdapat banyak sekali orang-orang gagah.

Dengan begitu telah membuat dia jadi berpikir untuk berlatih diri lagi lebih giat di waktu-waktu mendatang.

Beng Ko Kouw sendiri, berulang kali telah berusaha mendesak guru Giok Hoa.

Dia memutar terus rantainya dengan cepat, sehingga membuat guru Giok Hoa harus berusaha menjauhi diri dari sambaran rantai tersebut.

Walaupun bagaimana hebatnya ilmu pedang Giok-lie-kiam-hoat yang dimainkan guru Giok Hoa, tokh tetap saja ukuran pedang jauh lebih pendek dari rantai senjata lawannya itu.

Dengan demikian jelas, daya jangkaunya juga terbatas sekali, dan jika dia berlaku nekad juga hendak memaksakan diri menikam dalam keadaan rantai itu diputar berpusingan seperti itu oleh lawannya, niscaya hal ini bisa mengancam keselamatan dirinya.

Karena itu, belakangan guru Giok Hoa hanya mengandalkan ginkangnya, ia lebih banyak berkelit ke sana ke mari dengan lincah.

Setiap kali dia bisa berkelit, setiap kali pula dia mencari kesempatan buat membalas menyerang.

Tetapi dengan cara bertempur seperti ini membuat guru Giok Hoa tampaknya agak terdesak.

Berulang kali guru Giok Hoa berusaha untuk balas mendesak kepada Beng Ko Kouw, tetapi selalu juga dia gagal, karena berulang kali pula rantai dari lawannya yang mengandung racun telah mendesak padanya.

Hanya disebabkan gin-kangnya yang telah tinggi pula, membuatnya dapat menghadapi desakan rantai berantai beracun itu, yang disertai setiap kali menyambar dengan lweekang yang sangat tinggi dan kuat.

Ko Tie melihat keadaan guru Giok Hoa seperti itu, tidak bisa tinggal diam.

Pemuda ini diam-diam berpikir di dalam hatinya.

"Orang ini seorang yang rendah dan berhati busuk, juga menggunakan senjata beracun!"

Karena itu Ko Tie tidak sungkan-sungkan lagi, dia tiba-tiba mencelat menyerang kepada Beng Ko Kouw sambil berseru.

"Yo Peh-bo..... maafkan aku ikut mencampurinya."

Dan waktu berseru begitu, tangan kanannya telah menghantam dengan kuat ke punggung Beng Ko Kouw.

Sebetulnya Beng Ko Kouw meremehkan Ko Tie.

Namun waktu itu dia merasakan tenaga serangan Ko Tie agak luar biasa.

Kuat dan dingin sekali.

Tentu saja hal ini sangat mengejutkannya, dia tidak berani berayal.

Jika semula dia bermaksud menahan pukulan itu dengan punggungnya yang dibuat kebal, maka sekarang dia berbalik berpikir, dia telah berkelit.

Hanya disebabkan dia berkelit maka gerakan rantainya jadi agak lambat.

Dan guru Giok Hoa telah mempergunakan kesempatan tersebut, di mana dia telah menikam dengan pedangnya lurus ke arah lambung Beng Ko Kouw.

Memang benar Beng Ko Kouw bisa mengelak dari tenaga hantaman Ko Tie, tetapi sekarang dadanya terancam oleh pedang guru Giok Hoa.

Cepat-cepat dia menjejakkan kakinya, tubuhnya menyingkir setengah tombak, dan rantainya cepat-cepat disilangkan.

Dia telah memegang ujung yang lainnya, diangkat buat menangkis pedang guru Giok Hoa.

Pedang dan rantai saling bentur dengan keras, di waktu itu telah menimbulkan getaran yang sangat keras sekali.

Dan Beng Ko Kouw telah berhasil menyelamatkan dirinya.

Hanya saja, hati Beng Ko Kouw jadi tercekat ketika melihat akibat pukulan yang dilakukan oleh Ko Tie, pada dinding papan itu, telah terbungkus oleh salju.

Tentu saja keadaan seperti ini membuat Beng Ko Kouw jadi berpikir di dalam hatinya entah siapa adanya pemuda ini, yang ilmu pukulannya demikian luar biasa.

Sedangkan guru Giok Hoa waktu itu tidak memberikan kesempatan berpikir padanya.

Begitu tikamannya kena ditangkis oleh Beng Ko Kouw, segera dia membarengi dengan dua jurus serangan lagi.

Tikaman demi tikaman telah meluncur dengan cepat sekali seperti kilat saja, sinar pedang itu telah berkelebat menyambar dengan hebat.

Dalam keadaau seperti inilah, Beng Ko Kouw pun tidak berani membuang wktu lagi.

Dia telah memutar rantainya lagi.

"Tranggg.... Tranggg,.....!"

Tangkisan rantai Beng Ko Kouw membuat pedang guru Giok Hoa tergetar.

Namun Beng Ko Kouw tidak bisa berbuat banyak, dia tidak bisa membalas menyerang kepada guru Giok Hoa, karena waktu itu terlihat Ko Tie telah menerjang lagi.

Tangan kanannya telah menghantam pula dan Beng Ko Kouw merasakan lagi sambaran angin pukulan yang keras dan kuat mengandung hawa dingin yang luar biasa.

Sekali ini Beng Ko Kouw mengelakkan diri agak terlambat, membuat punggungnya kena diserempet oleh angin pukulan itu.

Dalam kagetnya dia merasakan punggungnya dingin, bukan main, darah di bagian punggungnya seperti juga jadi membeku.

Beng Ko Kouw telah memutar tubuhnya cepat-cepat, dia telah menghantam Ko Tie dengan rantainya.

Hantaman rantai itu memang cepat sekali, dan Ko Tie tidak menyangka bahwa Beng Ko Kouw bisa menyerampang seperti itu.

Ko Tie melompat mengelakkan diri, terlebih lagi dia telah mengetahui bahwa rantai itu beracun.

Dan mempergunakan kesempatan itu, diwaktu Ko Tie mengelak menjauhi diri dan guru Giok Hoa juga belum menyerangnya, baru menggerakkan tangannya akan menikam lagi, Beng Ko Kouw telah bergulingan, sampai ke dekat pintu ruang tengah.

Kemudian Beng Ko Kouw berdiri, katanya.

"Manusia-manusia rendah tidak tahu malu! Hanya sedemikian sajakah anak dari si buntung Yo Ko yang digembar-gemborkan sebagai pendekar lurus dan bersih, seorang pendekar besar yang paling jantan dan gagah? Hemm, tidak tahunya hanya terdiri dari manusia-manusia rendah belaka.....!"

Setelah berkata begitu, dia memutar tubuhnya melesat keluar rumah.

Guru Giok Hoa yang waktu itu tengah penasaran tidak mau melepaskan Beng Ko Kouw.

Dengan satu kali jejakan kakinya pada lantai, dia juga telah melesat keluar.

Ko Tie juga telah menyusul keluar, disusul dengan Giok Hoa.

Tetapi Beng Ko Kouw rupanya tidak mau membuang-buang waktu lagi, begitu sampai di luar, dia telah berlari pesat sekali meninggalkan tempat itu.

Menyaksikan orang hendak angkat kaki, karena merasa terdesak dikepung oleh guru Giok Hoa dan Ko Tie, yang ternyata pukulan Inti Esnya memang tidak bisa diremehkan, Giok Hoa tidak mau melepaskannya.

Segera gadis itu bersiul nyaring sekali.

Terdengar di tengah udara suara pekikan nyaring dari burung rajawali putih.

Kemudian tampak burung rajawali putih itu terbang berputaran mengejar Beng Ko Kouw.

Hati Beng Ko Kouw terkesiap.

Dengan adanya burung rajawali putih itu, yang tampak ukuran tubuhnya sangat besar lain dari burung rajawali putih biasanya, dan juga di waktu itu kibasan ke dua sayapnya telah membuat daun-daun dan debu di sekitar tempat itu bertebaran, Beng Ko Kouw jadi mengeluh.

Jika burung rajawali putih itu saja memang dia tidak pandang mata.

Tentu dia bisa menghadapinya, bahkan dia masih sanggup buat membunuhnya.

Apa hebatnya seekor burung rajawali?

Tetapi yang membuat Beng Ko Kouw kuatir, kalau burung rajawali itu menyerangnya tentu dia akan terhambat dan dengan demikian akan membuat guru Giok Hoa dan Ko Tie bisa menyusulnya.

Karena berpikir begitu, maka tampak Beng Ko Kouw telah mengerahkan tenaganya, dia menjejakkan sepasang kakinya dan berlari lebih keras lagi, di mana tubuhnya seperti juga terbang, dengan ke dua kakinya tidak menginjak tanah lagi!

Burung rajawali putih itu memang mengejarnya dan tidak mau membiarkan Beng Ko Kouw dapat meloloskan diri.

Karena dia tadi telah menerima perintah dari Giok Hoa, agar menahan dan menyerang Beng Kou Kouw.

Sambil mengeluarkan suara pekikan yang nyaring burung rajawali putih itu telah terbang meluncur menyambar kepada Beng Ko Kouw.

Beng Ko Kouw sambil berlari terus, telah mengayunkan tangan kanannya.

Dia melontarkan beberapa batang jarum beracunnya ke arah burung rajawali putih tersebut.

Burung rajawali putih itu begitu melihat beberapa sinar yang menyambar kepadanya, segera mengeluarkan pekik nyaring penuh kemarahan.

Dia telah mengibaskan sayapnya, di mana tenaga sampokan sayapnya membuat jarum-jarum itu runtuh ke atas tanah.

Sedangkan sepasang cakarnya telah diulurkannya, untuk mencengkeram punggung Beng Ko Kouw.

Yang dilakukannya itu merupakan gerakan yang sangat berbahaya sekali, karena jika sampai terkena cengkeraman tersebut, niscaya akan membuat Beng Ko Kouw menghadapi bahaya tidak ringan, di mana dia bisa dibawa terbang oleh burung rajawali tersebut.

Di waktu itu Beng Ko Kouw yang menyadari bahwa dia sudah tidak bisa melarikan diri terus, hanya mempergunakan rantainya, dia telah menyampoknya dengan kuat sekali.

Sampokan yang dilakukannya telah membuat burung rajawali putih itu harus mengelak dengan terbang menjauhinya.

Beng Ko Kouw telah mempergunakan kesempatan itu buat melarikan diri lagi.

Namun burung rajawali putih itu dapat terbang dengan cepat sekali, maka biarpun Beng Ko Kouw telah berlari begitu cepat, tokh burung rajawali putih tersebut masih dapat mengejarnya dan juga terus berulang kali menerjangnya, berusaha mencengkeram atau juga menyampok dengan sepasang sayapnya.

Dengan demikian Beng Ko Kouw tidak bisa berlari terus.

Setiap kali burung rajawali putih itu menerkam kepadanya, tentu dia harus mengelakkan sambaran dan serangan burung itu.

Dalam keadaan seperti itu, Beng Ko Kouw pun diliputi perasaan penasaran dan murka.

Maka segera juga dia mempergunakan rantai beracunnya, yang diputarnya.

Gandulannya yang seperti roda bergigi itu telah menyambar kepada burung rajawali putih itu, menyambar ke arah perutnya, waktu burung rajawali tersebut meluncur dan menerkam kepadanya.

Namun burung rajawali putih itu memang cerdik sekali, karena begitu gandulan rantai tersebut menyambar kepadanya, segera juga tubuhnya meliuk-liuk seperti juga seekor ular, sehingga dia bisa menghindar dari sambaran gandulan rantai itu, di mana dia telah dapat berkelit dan menerjang terus dengan sepasang kakinya menyambar dengan hebat ke arah muka Beng Ko Kouw yang hendak dicakarnya.

Beng Ko Kouw kaget melihat burung rajawali putih tersebut dapat mengelakkan sambaran gandulan rantainya.

Karena itu, dia tambah kaget melihat sepasang kaki burung rajawali itu, yang besar dan tampaknya sangat kuat, tengah menyambar ke arah mukanya.

Cepat-cepat Beng Ko Kouw membuang diri.

Dia bergulingan, dan kemudian melompat bangun, sambil rantainya digerakkan menghantam lagi kepada burung rajawali putih itu, kemudian tangan kirinya juga telah menghantam menyusul.

Dengan demikian dia bermaksud untuk mengadakan penyerangan secara tiba-tiba seperti itu buat merubuhkan burung rajawali putih tersebut.

Sebetulnya Beng Ko Kouw yakin, serangannya kali ini pasti tidak mungkin dapat dielakkan oleh burung rajawali putih itu, karena walaupun bagaimana tangguhnya burung rajawali putih itu, tokh dia hanya seekor burung.

Dan dia telah menyerangnya dengan hebat sekali.

Memang dia telah memiliki kepandaian yang hebat dan tinggi, malah di dalam rimba persilatan pun sudah jarang sekali ada orang yang bisa menandinginya.

Jika saja pertempuran dengan guru Giok Hoa dilakukan dengan wajar, belum tentu guru Giok Hoa dapat menandinginya, walaupun memang belum tentu juga bahwa guru Giok Hoa akan dapat dirubuhkan oleh Beng Ko Kouw.

Dan sekarang menghadapi seekor burung rajawali putih, betapapun besarnya burung rajawali putih itu, dan betapapun cerdiknya burung rajawali putih tersebut, tetap saja itu hanya merupakan seekor burung belaka.

Dengan demikian telah membuat Beng Ko Kouw memiliki keyakinan dia akan dapat membinasakan burung rajawali tersebut, apalagi dia telah menghantam dengan tangan kiri mempergunakan tujuh bagian dari tenaga dalamnya.

Dan juga dalam keadaan seperti itu rantainya pun meluncur kuat sekali.

Jangan kata rantai itu dapat mengenai jitu pada sasarannya, sedangkan melukai sedikit saja burung rajawali tersebut, itu telah cukup.

Sebab racun yang terdapat pada rantai itu akan dapat membuat burung rajawali itu terbinasa, di mana racun yang diborehkan pada senjatanya itu merupakan racun yang sangat dahsyat sekali.

Tetapi memang luar biasa!

Burung rajawali putih itu benar-benar tidak sama dengan burung rajawali biasanya, karena selain dia dapat meliuk-liukkan tubuhnya seperti juga gerakan seekor ular, tampaknya burung rajawali putih itu memiliki keterampilan untuk bertempur.

Dia seperti juga memiliki gerakan-gerakan jurus silat.

Sepasang sayapnya juga memiliki tenaga menyampok yang sangat kuat sekali.

Melihat menyambarnya rantai dari orang she Beng itu, dan disusul juga dengan telapak tangannya yang menyambar begitu kuat, telah membuat burung rajawali putih itu tidak meneruskan terjangannya.

Dia telah menahan diri, tubuhnya telah melesat ke samping.

Dan mempergunakan waktu rantai lewat di sisi sayapnya, maka sayapnya itu telah menyampok hebat sekali.

Angin sampokan tersebut membuat rantai itu berputar dan berbalik meluncur akan menghantam Beng Ko Kouw.

Sedangkan tenaga serangan dari telapak tangan kiri Beng Ko Kouw diterimanya dengan sampokan sayap yang satunya.

Dan benturan itu sangat dahsyat sekali!

Bukan main!

Sebetulnya pukulan telapak tangan kiri Beng Ko Kouw merupakan pukulan yang sangat kuat sekali.

Namun ternyata burung rajawali itu bisa menerima dan menangkisnya dengan sayapnya.

Malah Beng Ko Kouw merasakan betapa telapak tangannya tergetar.

Dan yang membuat dia lebih kaget lagi rantainya itu seperti berbalik dan telah meluncur akan menghantam dirinya.

Sehingga membuat Beng Ko Kouw mengeluarkan seruan yang nyaring, tanpa berani berayal sedikitpun juga, dia telah membuang dirinya bergulingan di tanah dengan gesit sekali.

Diapun berusaha mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengendalikan rantainya itu, agar meluncur ke arah lain.

Setelah itu tanpa memperdulikan segala apapun lagi, dan tanpa memperdulikan burung rajawali putih itu tengah meluncur akan menyambarnya pula, Beng Ko Kouw begitu melompat berdiri, segera juga memusatkan seluruh tenaganya.

Dia telah menjejak tanah dengan kuat, tubuhnya berlari pesat sekali dengan rantai besinya itu telah diputarnya dengan cepat sekali seperti balingbaling untuk melindungi dirinya dari sambaran burung rajawali putih tersebut.

Burung rajawali putih itu yang melihat mangsanya hendak melarikan diri, dia memekik nyaring dan telah terbang menyusulnya.

Tetapi Giok Hoa yang kuatir kalau-kalau burung rajawalinya itu terluka oleh rantai lawannya, dan juga memang teringat bahwa Beng Ko Kouw memiliki jarum-jarum beracun, dia telah bersiul nyaring memanggil pulang burung rajawali putihnya tersebut, agar tidak mengejar lebih jauh.

Dalam keadaan seperti itu, walaupun burung rajawali putih tersebut masih penasaran dan hendak mengejar Beng Ko Kouw lebih jauh, namun dia tidak berani membantah perintah majikannya.

Sambil mengeluarkan suara pekikan nyaring burung rajawali putih itu telah terbang kembali ke tempatnya di sisi Giok Hoa.

Sedangkan guru Giok Hoa telah menghela napas dalam-dalam dia berkata.

"Hemmm, rupanya Nie Mo Cu memiliki seorang murid seperti itu yang kepandaiannya tidak bisa dianggap ringan...... tentu dia akan banyak sekali menimbulkan kerusuhan di dalam rimba persilatan."

Ko Tie telah menoleh kepada guru Giok Hoa, kemudian tanyanya.

"Yo Peh-bo..... sesungguhnya siapakah dia?"

Guru Giok Hoa menghela napas dalam-dalam lalu dia berkata.

"Sebenarnya, dia seorang beraliran sesat. Gurunya juga merupakan seorang tokoh dari aliran hitam dan sesat, yang ilmunya sesat..... tetapi dengan memiliki kepandaian tinggi seperti itu, tentu murid Nie Mo Cu akan menimbulkan banyak kesulitan!" Setelah berkata begitu, guru Giok Hoa menghela napas dalamdalam, dia telah menyimpan pedangnya. Dan waktu dia teringat sesuatu, dia telah menoleh kepada Ko Tie, katanya.

"Hiante,ternyata engkau memiliki kepandaian yang hebat dan luar biasa sekali...... tadi kulihat, setiap seranganmu akan mendatangkan angin pukulan yang dingin sekali, dan juga setiap benda yang terkena serangan angin pukulanmu itu akan terselubung oleh es!"

Ko Tie mengangguk.

"Itulah ilmu Inti Es yang diajarkan oleh Insu!"

Kata Ko Tie.

"Ya, memang tidak salah apa yang kudengar bahwa Swat Tocu Locianpwe merupakan seorang tokoh sakti! Dan nama besarnya itu rupanya bukan hanya nama kosong belaka.....

"Engkau sebagai muridnya saja telah dapat memiliki ilmu pukulan sehebat itu! Walaupun seperti apa yang kulihat lweekangmu belumlah sehebat apa yang kumiliki dan engkau masih masih memerlukan latihan yang lebih lama lagi, namun dengan dibantu oleh pukulan mujijatmu itu, tentu saja engkau tidak perlu jeri berhadapan dengan siapapun juga!" Setelah memuji begitu, tampak guru Giok Hoa menoleh kepada muridnya, katanya.

"Giok Hoa….. sudah kukatakan, lebih baik engkau meminta petunjuk dari Lie Hiante ini….. engkau akan memperoleh banyak manfaat. Jangan selalu membawa adatmu saja!"

Muka Giok Hoa berobah merah, sedangkan Ko Tie cepat-cepat mengeluarkan kata-kata merendah.

Mereka bertiga kemudian telah kembali ke dalam rumah untuk melanjutkan makan mereka.

Sebelum itu guru Giok Hoa pun telah memeriksa keadaan belakang rumahnya.

Dia ingin mengetahui dari manakah Beng Ko Kouw masuk ke dalam rumahnya, sampai dia bersama Ko Tie tidak mengetahuinya.

Ternyata Beng Ko Kouw telah membongkar genteng di belakang rumahnya, dan masuk dari tempat itu.

Pantas saja, tahu-tahu dia telah berada di dalam kamar Giok Hoa.

Dengan demikian, guru Giok Hoa dan juga Ko Tie jadi tidak mengetahui dan Giok Hoa sendiri memang tidak bercuriga, karena memang sebelumnya dia menduga gurunya yang tengah mendekati.

Sambil meneruskan makan, mereka ke tiganya telah bercakapcakap dengan gembira, membicarakan akan ilmu dari Beng Ko Kouw.

Guru Giok Hoa malah menjelaskan juga di mana letak kelemahannya dan di mana letak kehebatannya."

Ilmu orang itu sesungguhnya merupakan ilmu yang sangat hebat sekali.

Tetapi disebabkan lweekang yang dilatihnya merupakan lweekang yang mengandung kesesatan, dengan begitu membuat lweekangnya itu membawa suatu akibat buruk bagi ilmunya sendiri itu.

"Jika memang berhadapan dengan lawan yang lweekangnya mengandung memperlihatkan kesesatan reaksi juga, dan ilmu itu memang kelemahannya. Namun tidak jika berhadapan dengan lawan yang memiliki lweekang lurus dan murni, tentu ilmu itu akan tertekan dan tertindih menjadi lemah, karena lweekang dari orang itu sendiri akan tertindih....."

Menjelaskan guru Giok Hoa.

"Lalu mengenai gerakannya tadi, yang selalu berjumpalitan dan juga dengan gin-kang yang tinggi seperti itu, Yo Peh-bo, sesungguhnya orang itu tidak mudah dirubuhkannya. Toh dia melarikan diri juga….. Sesungguhnya tadi dia belum lagi terdesak, namun mengapa dia akhirnya angkat kaki?"

Tanya Ko Tie. Guru Giok Hoa tersenyum dia mengangguk.

"Ya, memang jika dia mau bertempur sampai seratus jurus lagi dengan kita, walaupun kita maju berdua, belum tentu kita bisa mendesaknya. Namun seperti tadi telah kukatakan bahwa lweekangnya itu mengandung kesesatan dengan demikian, jika dia terlalu mengerahkan lweekangnya berlebihan dalam menghadapi kita, dan tadi jika dia bertempur duapuluh jurus lagi, tentu lweekangnya sendiri itu yang akan melukainya…..! "

Karena dia mengetahui dan menyadari akan kelemahannya itu, telah membuat dia memutuskan untuk melarikan diri saja, agar dirinya tidak terlibat lebih jauh.

Hal mana akan merugikan dirinya, kalau sampai dia mengerahkan lweekangnya berlebihan!"

Ko Tie mengangguk dan demikian juga dengan Giok Hoa.

Mereka berdua baru mengerti mengapa walaupun tampaknya Beng Ko Kouw belum terdesak hebat dan jika dia mau tentu masih dapat menghadapi guru Giok Hoa dan Ko Tie sebanyak seratus jurus lebih namun akhirnya tokh dia telah melarikan diri seperti itu.

Apa yang dijelaskan oleh guru Giok Hoa memang dapat diterima oleh akal.

Sedangkan Ko Tie telah berkata.

"Sesungguhnya Yo Peh-bo, siapakah itu Nie Mo Cu?!"

Guru Giok Hoa menghela napas.

"Dia salah seorang tokoh sakti dari kalangan sesat...... yang telah berusaha membantu pihak Mongolia! Dan juga kepandaiannya itu sangat tinggi sekali….. tetapi dia telah terbinasa.

"Hanya saja tidak disangka-sangka, justeru dia memiliki murid yang telah mewarisi kepandaiannya. Malah kepandaian muridnya ini tampaknya tidak rendah! Hanya saja, dia kurang latihan belaka. Jika dia bisa memiliki kesempatan berlatih sepuluh tahun lagi, tentu kepandaiannya tidak kalah hebat dari gurunya!"

Setelah berkata begitu, guru Giok Hoa menghela napas beberapa kali, tampaknya dia jadi masgul.

Begitulah, banyak yang ditanyakan Ko Tie dan Giok Hoa, sehingga guru Giok Hoa akhirnya menceritakan perihal peristiwa di masa lalu yang terjadi di dalam rimba persilatan, yang telah melibatkan Yo Ko dan Siauw Liong Lie dalam banyak kesukaran.

Juga guru Giok Hoa telah menceritakan beberapa peristiwa penting di masa yang lalu di mana dia telah menceritakannya begitu menarik, sehingga Ko Tie dan Giok Hoa mendengarkannya dengan asyik.

Tanpa disadari, Giok Hoa pun sudah tidak memperlihatkan sikap membenci kepada Ko Tie lagi.

Tadi dia telah melihatnya sendiri bahwa Ko Tie memiliki hati yang luhur.

Tanpa memperdulikan keselamatan dirinya, pemuda ini telah berusaha untuk membantui gurunya dalam menghadapi Beng Ko Kouw.

Karena itu sekarang kesan Giok Hoa kepada Ko Tie jadi semakin baik.

Dan dia malu sendirinya teringat bahwa dia telah terlalu membawa adat di waktu-waktu yang lalu.

Dan sekarang Giok Hoa malah memperlakukan Ko Tie dengan ramah, dia yang telah menuangkan air teh buat Ko Tie.

Dan juga selalu melemparkan senyum yang manis buat pemuda itu.

Melihat perobahan sikap Giok Hoa itu, membuat Ko Tie jadi gembira sekali.

◄Y► Udara pagi yang masih sejuk dan hangatnya sinar matahari pagi itu di gunung Heng-san, tampak sepasang muda-mudi tengah berjalan perlahan-lahan di puncak tertinggi gunung Heng-san tersebut.

Mereka tidak lain dari Ko Tie dan Giok Hoa.

Ke duanya sambil berjalan perlahan-lahan tengah bercakap-cakap dengan intim sekali.

"Ya, jika saja waktu dulu kau tidak memperlakukan aku dengan keras. tentu aku akan dapat mendekatimu lebih cepat lagi.....!"

Waktu itu Ko Tie tengah berkata sambil melirik kepada Giok Hoa dan melemparkan senyumnya.

"Tetapi jika memang aku tidak memperlakukan engkau dengan keras, tentu engkau menganggap aku seorang gadis gampangan dan engkau akan bertindak kurang ajar!"

Menyahuti si gadis sambil menunduk malu-malu.

"Sudahlah, jangan menyinggung-nyinggung pula urusan yang dulu itu.....!"

Ko Tie tersenyum.

"Melihat paras mukamu yang begitu cantik, dengan hidung yang bangir menarik, juga pipi yang putih halus menarik, dengan bibir yang begitu menggairahkan, mana mungkin aku berani berlaku kurang ajar.....?!"

Kata Ko Tie kemudian.

Si gadis telah tersenyum bahagia mendengar pujian dari Ko Tie, dengan pipi yang berobah merah.

Tetapi dia segera juga pura-pura marah, dan telah mencubit lengan Ko Tie, dengan cubitan yang sangat keras, sehingga si pemuda merasa sakit bukan main.

"Aduh..... aduh ..... engkau telah mencubit aku terlalu keras....."

Kata Ko Tie kemudian sambil melompat ke samping, tetapi dia tidak marah, dan hanya meringis sambil mencoba untuk tersenyum. Melihat sikap Ko Tie seperti itu, Giok Hoa malah tertawa geli.

"Kau, jika berani membicarakan lagi urusan yang dulu dan menggoda aku, hemmm, aku tidak hanya akan mencubit belaka, tetapi aku akan menarik sampai copot dagingmu itu!"

Seru Giok Hoa.

"Aduh galaknya....."

Kata Ko Tie sambil memperlihatkan sikap seperti merasa ngeri. Di waktu itu Giok Hoa telah menghampiri sambil katanya.

"Kau mau coba-coba dengan terus menggodaku, heh?!"

Katanya pura-pura marah. "Tidak..... tidak adik..... tidak..... aku tidak berani.....!"

Kata Ko Tie cepat. Si gadis tertawa sambil mengangguk-angguk.

"Jika engkau tidak meminta ampun, aku akan mencopotkan daging tanganmu itu..... Lihatlah, tanganku ini telah siap hendak mencubit keras-keras....."

Kata Giok Hoa sambil mengacungkan tangan kanannya. Waktu itu Ko Tie telah meringis sambil berkata terpaksa.

"Oh puteri jelita, jangan engkau mempersakiti aku.....!"

Tetapi melihat gurau dari Ko Tie, walaupun hatinya geli sekali dan merasa lucu namun Giok Hoa malah telah mencubit lagi lengan Ko Tie, jauh lebih keras dari tadi.

"Engkau tetap hendak mempermainkan dan menggoda aku, heh?!"

Dan malah dia mencubitnya sampai tiga kali. Karuan saja Ko Tie jadi menjerit.

"Aduh!"

Beberapa kali, dan ia telah memutar tubuhnya, berlari menjauhi si gadis yang galak ini.

"Biarpun kau lari ke ujung dunia, aku akan mengejarmu!"

Kata Giok Hoa sambil tertawa dan mengejarnya. "Ya, ya, aku pun begitu! Biarpun adikku pergi ke ujung dunia, aku tetap akan mencarimu......!"

Menyahuti Ko Tie sambil tersenyum.

Mendengar perkataan Ko Tie seperti itu bukan main bahagianya Giok Hoa.

Dan dia telah mengejar sampai di depan Ko Tie, dilihatnya Ko Tie berdiri menantikannya, sambil tersenyum manis sekali, matanya memandangnya sinar dengan penuh arti.

Tubuh si gadis jadi lemas, dia menunduk lemah, hatinya tergetar.

Dan sinar mata pemuda itu, aduhai, menariknya dan menggetarkan hatinya.

"Ko Tie, engkau selalu menggoda aku....."

Kata Giok Hoa kemudian dengan suara yang menggumam perlahan.

"Aku tidak menggodamu, adikku. Aku memang sesungguhnya berkata dari hal yang sebenarnya.....!"

Menyahuti Ko Tie sambil mengulurkan ke dua tangannya dia memegang bahu si gadis dengan mesra.

Giok Hoa membiarkan pemuda itu memegang bahunya, dia menunduk semakin dalam.

Rupanya dia malu sekali, namun hatinya sangat bahagia.

Waktu itu Ko Tie telah berkata lagi.

"Adikku..... lihatlah kepadaku.....!"

Giok Hoa mengangkat kepalanya, dan mata mereka saling bertemu.

Ke duanya tidak mengeluarkan sepatah perkataan lagi, mereka hanya saling pandang.

Tetapi pandangan mereka itu jauh lebih berharga dari sejuta kata sekalipun juga.

Dari mata mereka itulah telah terpancar isi hati masing-masing.

Dan semua itu lebih berarti dari kata-kata yang jutaan banyaknya yang harus mereka ucapkan.

Tetapi setelah saling pandang beberapa saat tiba-tiba Giok Hoa telah memutar tubuhnya.

Dia melepaskan pundaknya dari cekalan Ko Tie, dia berlari dengan cepat sekali.

Ko Tie tertawa dan mengejarnya.

Demikianlah sepasang remaja yang tengah jatuh cinta dan dialun oleh gelombang asmara telah saling kejar satu dengan yang lainnya.

Terdengar suara derai tertawa mereka yang gembira dan bahagia.

Tetapi setelah berlari-lari sekian lama, akhirnya Giok Hoa menahan larinya.

Dia menantikan Ko Tie.

Setelah pemuda itu datang dekat, dia berkata.

"Ko Tie, ada yang ingin kuminta dari kau, entah kau mau melakukannya untukku atau tidak?!"

Ko Tie mengangguk segera.

"Katakanlah, jika memang dapat kulakukan, biarpun engkau meminta aku mengambilkan bulan di langit, tentu aku akan terbang untuk memetiknya.....!"

Kata Ko Tie.

"Akh, kau ini hanya bergurau saja. Aku bicara dari hal yang sebenarnya. Kau dengarlah baik-baik, aku menginginkan sekali sekuntum bunga Pek-bwee, yang berwarna putih seperti salju. Itulah bunga yang sangat kugemari.....!"

Kebenaran memang Ko Tie mengetahui macam mana bunga itu, tetapi justeru bunga Pek-bwee tumbuh di daerah yang cukup panas matahari, tidak mungkin tumbuh di tempat dingin.

Karena itu, di Heng-san ini, di mana bisa diperoleh bunga Pek-bwee itu?

"Adikku…..

di mana aku bisa mencari bunga itu?!"

Tanya Ko Tie kemudian.

"Entahlah…..

aku telah puluhan kali mengelilingi Heng-san mencari bunga itu.

Namun tetap saja aku tidak berhasil menemukannya karena itu aku hendak meminta pertolonganmu, untuk mencarikan bunga kegemaranku itu!"

Ko Tie mengangguk.

"Ya, aku pasti akan mencarikan Pek-bwee buatmu….. tetapi terus terang saja kukatakan bahwa aku tidak bisa mengadakannya sekarang ini.......?"

Giok Hoa mengangguk.

"Ya, jika memang kebetulan engkau bertemu dengan pohon bunga Pek-bwee, engkau tidak boleh lupa pada permintaanku ini, Ko Tie?"

Ko Tie mengiyakan, kemudian mencekal sepasang lengan gadis itu. Dia telah berkata dengan suara menggumam.

"Giok Hoa sesungguhnya engkau merupakan satu-satunya gadis yang tercantik di dunia ini, engkau bagaikan seorang bidadari yang baru turun dari kerajaan langit! Oya, tahukah engkau, cerita apa yang telah kudengar dari penduduk di kampung yang berada di kaki gunung Heng-san ini mengenai dirimu?" Giok Hoa memandang heran kepada Ko Tie, dia menggelengkan kepalanya.

"Tidak! Aku tidak mengetahui!"

Kata Giok Hoa kemudian.

"Apakah penduduk kampung membicarakan soal diriku?!"

Ko Tie mengangguk.

"Membicarakan soal kecantikan yang engkau miliki mereka mengatakan bahwa engkau adalah seorang dewi dari kerajaan langit yang tengah turun ke Heng-san, untuk melihat-lihat dan menikmati keindahan di gunung ini…..

"Ada beberapa penduduk kampung itu yang telah melihat engkau tengah berlari-lari melompati jurang bagaikan terbang, dan juga mereka telah melihat engkau bersilat, yang dianggap mereka kau tengah menari! Maka di kampung itu telah tersiar berita bahwa di puncak gunung Heng-san berdiam seorang bidadari cantik luar biasa yang baru turun dari kerajaan langit......!"

Giok Hoa tertawa sambil kemudian cemberut, dia memukul dada Ko Tie perlahan dan manja.

"Ko Tie, kau nakal sekali! Kau hendak menggoda aku dengan cerita bohongmu itu..... Sudah, lepaskan cekalanmu, aku tidak bisa mempercayai lagi ceritamu......!"

Kata Giok Hoa sambil meronta melepaskan cekalan tangan dari Ko Tie. Akan tetapi Ko Tie tidak mau melepaskan cekalannya dia malah mencekal lebih kuat.

"Dengarlah Giok Hoa, aku telah bicara dari hal yang sebenarnya….. aku tidak mendustaimu….. aku telah menceritakan apa yang kudengar sendiri....."

Tetapi Giok Hoa hanya tersenyum, kemudian dia berkata.

"Engkau saja yang hendak memuji aku. Lalu engkau sengaja melalui perantaraan penduduk kampung itu, engkau menceritakannya seakan juga penduduk kampung itu yang telah memuji-muji diriku!"

"Ya, ya, jika penduduk kampung itu memuji engkau setinggi langit. Maka aku justeru memuji engkau sampai langit yang ke tujuh, malah aku ingin memohon kepada Thian agar tetap selalu dapat memiliki kesempatan buat memandangi kecantikanmu ini!"

"Cisss….. pemuda ceriwis......!"

Kata Giok Hoa.

"Giok Hoa adikku, dengarlah dulu…..!"

Kata Ko Tie sambil mencekal kuat-kuat, karena Giok Hoa meronta hendak melepaskan cekalannya itu. Tetapi Giok Hoa terus juga meronta.

"Oh, lepaskan….. lepaskan…..!"

Kata Giok Hoa.

Namun karena Giok Hoa meronta seperti itu, telah membuat Ko Tie mencekalnya semakin kuat.

Malah karena terlalu keras Giok Hoa meronta, cekalan itu terlepas.

Dan waktu cekalan tangan Ko Tie terlepas, di saat itu tubuh Giok Hoa kehilangan keseimbangan kuda-kuda ke dua kakinya, hampir saja tubuhnya terjerembab.

Beruntung Ko Tie cepat sekali mengulurkan kedua tangannya.

Dia telah memeluk gadis itu sehingga Giok Hoa jatuh dalam pelukan Ko Tie dan kepalanya direbahkan di dada pemuda itu.

Tetapi semua itu hanya berlangsung sangat cepat sekali, di mana Ko Tie membaui harum semerbak dari rambut si gadis.

Anak rambut gadis itu beberapa helai yang terhembus angin telah mengilik hidungnya.

Dan juga dada Ko Tie berdebar sangat keras sekali.

Demikian juga halnya dengan Giok Hoa yang merasakan mukanya jadi panas sekali.

Ia likat dan malu bukan main.

Setelah terpeluk sejenak lamanya dan merebahkan kepala di dada pemuda itu, yang sangat bidang dan kuat, tiba-tiba, dia meronta dan kemudian berlari dengan cepat sekali.

Ko Tie kaget, dia mengejarnya.

"Giok Hoa! Adikku...... berhentilah..... berhentilah…..!"

Teriak Ko Tie memanggil-manggilnya.

Tetapi Giok Hoa seperti juga tidak mendengar teriakan tersebut, karena dia telah berlari terus dengan cepat sekali, tubuhnya lincah dan ringan sekali melompati jurang-jurang yang terbentang merintanginya.

Ko Tie juga mengempos semangatnya, dia telah mengejar terus sambil memanggil-manggil gadis itu.

Waktu itu Giok Hoa malu bukan main.

Memang di antara mereka, Giok Hoa dan Ko Tie, telah terjalin hubungan yang erat sekali.

Telah seminggu lebih Ko Tie berdiam di situ.

Dan selama itu pula Ko Tie telah memperoleh sambutan yang manis dari gadis tersebut, karena kini Giok Hoa tidak memperlihatkan sikap membencinya.

Malah mereka, lewat sinar mata masing-masing, telah mengetahui bahwa mereka berdua tidak bertepuk sebelah tangan, bahkan gayung bersambut, di mana mereka berdua memang saling menyukai.

Apa yang dirasakan oleh muridnya memang bukan tidak diketahui oleh Guru Giok Hoa.

Tetapi guru Giok Hoa justeru tidak menentangnya, dia melihat Ko Tie bukan sebangsa pemuda berengsek yang bejad moral, karena itu, dia tidak keberatan jika muridnya itu bersahabat intim dengan Ko Tie.

Sedangkan Giok Hoa di hadapan gurunya selalu berusaha bersikap biasa saja, walaupun dia telah menjalin hubungan yang sangat erat sekali dengan Ko Tie, tokh dia tetap memperlakukan Ko Tie di hadapan gurunya sebagai tamu mereka belaka, tamu biasa.

Ko Tie juga tidak berani terlalu memperlihatkan perasaannya kepada Giok Hoa di hadapan guru si gadis, dia berusaha mengekang diri.

Walaupun bagaimana memang Ko Tie menyadari bahwa Giok Hoa seorang gadis yang masih terikat oleh peraturan ketimuran.

Walaupun benar bahwa gurunya seorang guru yang mengerti dan tidak mengekangnya, dan juga memberikan kebebasan bergaul buat mereka berdua, tokh tetap saja Ko Tie tidak bisa, terlalu menonjolkan perasaannya di hadapan guru si gadis.

Dia harus menghormati juga guru Giok Hoa dan mengindahkannya.

Karena itu, pemuda ini juga hanya sering melirik-lirik belaka kepada gadis yang disukainya itu.

Dan setiap kali dia melirik, dan kebetulan Giok Hoa tengah melirik juga, sehingga pandangan mereka saling bertemu, keduanya jadi saling tersenyum.

Dan senyuman itu penuh arti, namun juga tidak lolos dari mata guru Giok Hoa.

Sekarang Giok Hoa telah berlari begitu cepat dan biarpun Ko Tie telah memanggil-manggilnya tetap saja gadis tersebut tidak mau menghentikan larinya.

Sehingga Ko Tie akhirnya telah mengerahkan gin-kangnya, dia berlari pesat sekali berusaha mengejarnya.

Namun Giok Hoa yang mengetahui Ko Tie mengejarnya begitu cepat, dia pun tidak mau kalah.

Dia berlari lebih cepat lagi.

Sambil berlari begitu, Giok Hoa juga telah bersiul berulang kali.

Mendengar suara siulan Giok Hoa, hati Ko Tie tercekat, dia tahu, burung rajawali si gadis datang, tentu gadis ini akan naik ke punggung burung rajawali putih itu, akan terbang ke tengah udara, meninggalkannya.

Maka, dengan segera dia menambahkan tenaganya, dia berlari semakin cepat juga.

Di samping itu, Ko Tie juga telah memanggil-manggil Giok Hoa tidak hentinya, agar Giok Hoa mau berhenti sejenak, untuk menyampaikan sesuatu.

Tetapi Giok Hoa tidak melayaninya dan juga tidak memperdulikan teriakannya itu.

Dan waktu itu di udara telah terlihat seekor bayangan burung rajawali putih…..

Itulah Pek-jie, yang telah mendatangi dengan cepat sekali dan hinggap di depan majikannya.

Karena itu cepat-cepat Ko Tie bersiul nyaring.

Dia berusaha mempergunakan suara siulannya itu supaya burung rajawali itu mengerti tidak terbang lebih jauh.

Namun usahanya gagal, karena Giok Hoa telah melompat ke punggung burung rajawali di mana dia telah menepuk leher burung rajawali tersebut, sambil berkata nyaring.

"Pek-jie, mari kita pergi main-main......!"

Burung rajawali putih itu telah mengibaskan sepasang sayapnya yang besar, tubuhnya juga segera terbang mengangkasa dengan Giok Hoa duduk di punggungnya dengan tersenyum lebar.

Dan gadis itu juga melambai-lambaikan tangannya, seperti juga hendak mentertawai Ko Tie.

"Ko Tie, ayo kejarlah aku….. ayo kejarlah aku!"

Teriak Giok Hoa di antara tertawanya itu. Ko Tie membanting-banting kakinya.

"Adik Giok Hoa, mengapa engkau menjahili aku seperti ini? Turunlah…… bukankah engkau tadi mengatakan ingin meminta beberapa petunjukku dan juga kita akan berlatih? Mengapa sekarang engkau meninggalkan aku?"

Tetapi burung rajawali putih itu telah terbang terus naik ke angkasa dengan pesat, dan juga tampak Giok Hoa sambil tertawa-tawa telah memeluk leher burung rajawali putih tersebut.

Ko Tie jadi jengkel juga.

Dia beranggapan bahwa Giok Hoa telah mempermainkannya sangat keterlaluan.

Dia telah membantingbanting kakinya.

Sedangkan waktu itu iapun melihat, tidak mungkin dia mengharapkan burung rajawali putih itu terbang kembali ke tempat ini.

Dia telah meninggalkan tempat tersebut.

Setelah berjalan berpuluh lie, akhirnya dia duduk di sebuah bungkah batu yang cukup besar.

Dia mengangkat kepalanya mengawasi ke angkasa.

Namun dia tidak melihat burung rajawali putih itu, juga tidak melihat Giok Hoa.

Mengingat akan kenakalan gadis itu, diam-diam Ko Tie jadi tersenyum juga.

Betapa nakalnya Giok Hoa.

Tadi dia yang meminta agar Ko Tie mengantarkannya ke puncak tertinggi di Heng-san ini.

Menurut Giok Hoa dia hendak meminta beberapa petunjuk dari Ko Tie, sambil mereka berdua pun akan berlatih bersama.

Tetapi setelah mereka sampai di puncak tertinggi gunung Hengsan ini, malah Giok Hoa telah meninggalkannya, di mana gadis tersebut telah mempergunakan burung rajawali putihnya sebagai pesawat udaranya, kendaraannya yang bisa membawanya terbang mengangkasa.

Sekarang tinggal Ko Tie seorang diri di tempat itu.

Buat pulang, dia merasa segan.

Maka Ko Tie telah duduk terus di tempat itu, dia telah memandangi ke arah langit yang waktu itu sangat cerah, terlebih lagi matahari mulai naik lebih tinggi pula.

Hawa udara ditempat ini sejuk sekali dan Ko Tie jadi teringat kepada gurunya.

Betapa jika saja gurunya itu cocok dan setuju untuk memilih Hengsan sebagai tempat menyendiri mengasingkan diri, hal ini akan menggembirakan hati Ko Tie.

Dengan mengambil Heng-san sebagai tempat menyendiri gurunya, tentu Ko Tie memiliki banyak kesempatan buat berkumpul dengan Giok Hoa.

Tetapi justeru Ko Tie belum yakin, bahwa gurunya akan setuju buat menetap dan menyendiri di Heng-san ini, mengingat tempat ini justeru telah ditempati dulu oleh guru Giok Hoa, sehingga Ko Tie yakin, gurunya pasti menolak buat mengambil salah satu tempat di Heng-san ini sebagai tempatnya menyendiri.

Swat Tocu memang pernah berpesan kepada Ko Tie, agar mencarikannya tempat yang benar-benar merupakan tempat yang sulit didatangi manusia.

Dan juga di tempat itu belum ada orang lain yang menempati.

Walaupun hanya sebagian, tetapi jika suatu tempat telah di tempati orang lain, di anggap oleh Swat Tocu merupakan tempat yang kurang cocok buat dia menyendiri.

Dan Ko Tie memang telah memaklumi akan pendirian gurunya tersebut.

Namun sekarang, justeru hati kecil Ko Tie menghendaki agar gurunya itu kelak menyetujui buat memilih Heng-san sebagai tempat menyendiri.

Bukankah dengan adanya guru Giok Hoa, gurunya itu bisa bercakap-cakap jika dia mau, sehingga tidak akan iseng.

Dan yang paling utama adalah di tempat adanya Giok Hoa, gadis yang disenangi dan disukainya oleh Ko Tie, di mana dia mengharapkan dapat berkumpul selamanya bersama Giok Hoa.

Ko Tie masih duduk termenung dialun oleh pemikiran dan khayalannya.

Ia sendiri menyadari bahwa ia memiliki perasaan tersendiri terhadap gadis yang disukainya, Giok Hoa.

Dan juga, ia merasakan pula, adanya suatu perasaan yang sangat aneh, yang sesungguhnya dimengertinya bahwa itu merupakan perasaan yang bersumber dari kasih sayangnya pada diri gadis tersebut.

Karena dari itu, dalam keadaan demikian terus saja Ko Tie menyadari kalau saja ia dapat berkumpul terus dengan Giok Hoa, hal itu merupakan sesuatu yang sangat membahagiakan sekali.

Hanya saja, ada sesuatu pula yang dilihat Ko Tie pada diri Giok Hoa, dimana gadis tersebut, yang memang sangat cantik jelita, ternyata merupakan seorang gadis yang lembut, namun juga agak liar.

Dan sikap liarnya itu terkadang bisa muncul juga, karena tidak jarang Giok Hoa seperti juga jinak-jinak merpati, yang mudah didekati, tetapi sulit buat dipegang.

Di mana Giok Hoa tidak jarang, sulit untuk diajak bicara dengan cara kemesraan yang ada.

Tetapi Ko Tie yakin, jika memang dia ingin menguasai gadis itu, niscaya dia harus sabar dan juga harus mengasihinya bersungguhsungguh.

Barulah ia akan menundukkannya.

Jika memang dia membawa adat, niscaya gadis itu, sulit didekati.

Karenanya, Ko Tie bertekad, dia akan berusaha untuk lebih mendekati Giok Hoa, untuk menanamkan pengertian padanya agar dapat membuat gadis itu mengurangi sedikit sifat liarnya, dan juga tidak selalu membawa adatnya seperti yang selalu dialami oleh Ko Tie.

Tadi saja mereka tidak bertengkar, hanya gadis itu yang merasa malu.

Sedikit sifat liarnya telah muncul lagi, tanpa memperdulikan perasaan Ko Tie, dia telah memanggil burung rajawalinya dan meninggalkan pemuda itu.

Teringat semua itu Ko Tie jadi tersenyum sendirinya, dia berpikir.

"Tentunya sifat liarnya tersebut hanyalah dikarenakan Giok Hoa masih memiliki sifat kekanak-kanakannya dan juga dia masih belum lagi mengerti tata krama pergaulan, di mana memang sepanjang umurnya yang ada,hanya berdiam di tempat-tempat yang sepi jauh keramaian. Karena dari itu, bisa dimaklumi, biarpun gurunya jelas mendidiknya dan memberitahukan tata cara pergaulan, namun gadis tersebut masih dalam keadaan sikapnya yang agak liar.

"Namun jika aku telah berhasil menanamkan pengertian padanya, perlahan-lahan sifat yang agak liar itu bisa juga dikurangi dan dihilangkan...... Dia seorang gadis yang sangat menarik sekali, hanya saja sekarang ini dia masih selalu membawa adat belaka…..!" Dan kembali Ko Tie tersenyum. Namun waktu itulah dia melihat di tengah udara meluncur burung rajawali putih itu, dengan di atas punggungnya duduk Giok Hoa. Tetapi mereka berada di tengah udara yang tinggi sekali, di dekat puncak tertinggi sebelah selatan gunung Heng-san. Di mana burung rajawali putih itu setiap kali telah menukik turun sambil memperdengarkan suara pekikan yang nyaring sekali, dapat didengar oleh Ko Tie secara samar-samar. Mata Ko Tie yang tajam telah melihatnya. Giok Hoa yang tengah duduk di punggung rajawali putih itu. Setiap kali menggerakgerakan tangannya, seperti juga tengah memberikan perintah kepada burung rajawali putih itu apa yang harus dilakukannya, membuat Ko Tie jadi heran, entah apa yang tengah dilakukan oleh burung rajawali putih itu dengan Giok Hoa, Mungkin mereka terpisah puluhan lie, dan juga setiap kali menukik, burung rajawali putih itu mengibaskan sepasang sayapnya cepat sekali, dengan demikian seperti juga dia tengah marah. Begitu pula suara pekikan yang nyarirg, yang terdengar samar-samar oleh Ko Tie karena terpisah jauhnya burung rajawali putih itu, seperti mengandung hawa kemarahan yang bukan main. Dengan begitu, telah membuat Ko Tie tambah heran dan menduga-duga apa yang sesungguhnya tengah dilakukan Giok Hoa. Yang membuat Ko Tie lebih heran dan terkejut, malah dia sampai melompat berdiri dari duduknya, dilihatnya, setelah satu kali burung rajawali putih itu meluncur menukik turun, kemudian tidak lama lagi terlihat dia telah terbang pula ke tengah udara dengan di punggungnya sudah tidak terdapat Giok Hoa. Dengan begitu, mendatangkan kekuatiran yang sangat di hati Ko Tie. Apakah si gadis terjatuh dari punggung rajawali putih itu? Atau memang gadis itu telah melompat turun untuk melakukan sesuatu. Karena kekuatiran seperti itu, walaupun dilihatnya burung rajawali putih itu masih gencar menukik turun dan naik terbang kembali dengan mengeluarkan suara pekiknya yang nyaring sekali, Ko Tie telah menjejakkan ke dua kakinya. Dia telah berlari menuju ke arah tempat dimana burung rajawali putih itu, dengan pesat. Karena perjalanan mendaki ke puncak tertinggi gunung Heng-san merupakan perjalanan yang tidak mudah, selain harus melompati beberapa jurang yang lebar dan juga melompati dan mendaki batubatu bersalju yang sangat licin sekali. Ko Tie tidak bisa tiba dalam waktu yang singkat, padahal Ko Tie telah berusaha berlari secepat mungkin. Sambil berlari seperti itu Ko Tie juga melihat burung rajawali itu masih selalu menukik dengan memekik nyaring, dan kemudian telah terbang ke udara lagi. Dengan demikian telah menunjukkan Ko Tie tidak terlambat. Cuma saja yang jadi pemikiran Ko Tie, apa yang terjadi pada diri Giok Hoa? Mengapa Giok Hoa tahu-tahu telah turun dari punggung rajawali putih itu, dan kemudian tidak terlihat lagi. Bukankah semula Giok Hoa yang selalu menggerak-gerakkan tangannya, bagaikan dia tengah memerintahkan burung rajawali putihnya itu? Bukankah Giok Hoa yang selalu tampak mengatur cara burung rajawali putih itu menukik dan seperti melakukan sesuatu? Karena tanda tanya dan perasaan heran seperti itulah, telah membuat Ko Tie mengempos semangatnya. Dia telah berlari cepat sekali, tubuhnya itu dengan ringan melewati tempat-tempat yang sulit sekalipun. Setelah berlari-lari sekian lama, dan telah mendengar suara pekik burung rajawali putih itu lebih jelas, diapun telah melihat burung rajawali putih itu selalu menukik ke arah permukaan sebuah hutan yang cukup lebat dengan pekikannya yang mengandung kemarahan. Waktu itulah Ko Tie mendengar juga suara yang agak luar biasa, suara mengeram yang agak menyeramkan, dan suara erangan itu seperti juga erangan makhluk buas yang tengah marah juga. Seketika Ko Tie memiliki dugaan, apakah burung rajawali itu tengah bertempur dengan seekor makhluk buas, dan Giok Hoa telah sengaja melompat turun untuk menyaksikan pertempuran antara burung rajawali putihnya dengan makhluk buas itu? Atau memang Giok Hoa telah terluka oleh makhluk buas itu, sampai dia terjatuh dari punggung burung rajawali tersebut? Karena berpikir seperti itu, hati Ko Tie semakin tidak tenang. Dia mempercepat larinya, sehingga dia bisa berlari seperti terbang. Rasanya dia sudah tidak sabar lagi buat tiba di sana secepatnya, karena dengan demikian dia bisa mengetahui keadaan Giok Hoa yang selalu menguatirkannya. Sehingga sudah tidak sabar untuk tiba di sana secepat mungkin. Malah yang lebih menguatirkan lagi dia melihat burung rajawali putih itu seperti tengah bertempur hebat dengan seekor makhluk buas atau juga manusia yang memiliki kepandaian yang tinggi. Ketika tiba di sana, di puncak tertinggi dari gunung Heng-san, justeru Ko Tie menyaksikan sesuatu yang sama sekali diluar dugaannya. Sebelumnya dia mendengar suara erangan yang bagaikan dikenalnya, kemudian waktu dia melihatnya, justeru dia jadi berdiri tertegun. Dilihatnya waktu itu burung rajawali putih tersebut tengah meluncur pesat sekali menubruk akan mencakar seekor biruang yang tinggi besar berbulu putih seperti salju! Dan yang lebih mengejutkan Ko Tie, justeru dia mengenali bahwa biruang besar berbulu putih seperti salju itu yang tidak lain dari biruang peliharaan gurunya, peliharaan Swat Tocu. Dengan demikian membuat Ko Tie hampir tidak percaya akan penglihatannya, dia telah memandang dengan mata terbuka lebarlebar. Biruang putih itu juga tidak tinggal diam. Dia yang telah mengeluarkan suara erangan sangat nyaring sekali, dimana dia tengah menyampok sambaran dari ke dua kaki burung rajawali putih tersebut. Seperti tadi, begitu kena disampok burung rajawali putih itu terbang tinggi lagi. Dan sebelum terbang tinggi, sepasang sayapnya dengan gencar telah mengibas kepada biruang putih itu. Angin yang menderuderu hebat menerjang biruang putih itu. Namun biruang putih itu tangguh sekali, dia rupanya memiliki kuda-kuda ke dua kaki yang sangat kuat, tubuhnya sama sekali tidak bergeming sedikit pun. Itulah pertempuran yang benar-benar sangat menarik sekali. Perkelahian antara seekor burung rajawali putih melawan seekor biruang salju yang memiliki ukuran tubuh yang sama-sama besar dan tampaknya sama-sama tangguh dan kuat. Karena dari itu, Ko Tie yang tengah tertegun, segera tersadar bahwa dia tidak boleh membiarkan keadaan seperti itu lebih jauh. Karena jika perkelahian antara rajawali putih itu dengan biruang salju tersebut berkelanjutan terus, niscaya ke dua nya bisa terluka hebat. Di samping burung rajawali putih itu memang terdidik baik-baik dan memiliki gerakan seekor ular dan seperti juga mengerti ilmu silat. Biruang salju itupun memang merupakan biruang peliharaan Swat Tocu, yang digembleng sangat keras, sehingga menjadi biruang yang tangguh sekali. Sebelum melompat maju hendak memisahkan burung rajawali putih itu dengan biruang saljunya, di saat itu Ko Tie juga telah melihatnya, bahwa jauh belasan tombak, duduk bersila seorang yang dikenalnya dengan baik. Seorang tua dengan rambut yang terurai panjang padahal dia seorang laki-laki yang berusia lanjut dengan pakaian yang agak luar biasa, terbuat dari kulit binatang. Dan di sampingnya tampak duduk pula Giok Hoa, yang tangan kanannya tengah dicekal. Rupanya gadis itu telah tertawan oleh Swat Tocu. Swat Tocu telah melirik kepada Ko Tie, dia mengetahui adanya orang yang mendatangi tempat tersebut. Namun setelah melihat siapa yang datang, Swat Tocu memperlihatkan sikap terheranheran, dan belum lagi dia menegur, justeru Ko Tie telah melompat ke depan sambil berseru.

"Suhu….. ooooohhhhh, hentikan….. kita orang sendiri…..!"

Swat Tocu tambah heran.

Sedangkan biruang salju itu yang mendengar suara Ko Tie yang dikenalnya dengan baik, tiba-tiba memutar tubuhnya.

Tanpa memperdulikan lagi burung rajawali putih yang tengah menukik akan menyerangnya, biruang salju tersebut telah melompat menubruk Ko Tie, dipeluknya sambil mengeluarkan suara erangan.

Kemudian dia mengangkat tubuh Ko Tie, yang dilemparkannya ke tengah udara, tampaknya biruang salju itu girang sekali.

Ko Tie yang dilempar-lempar ke tengah udara, juga rupanya sangat gembira.

Tidak hentinya dia tertawa-tawa gembira.

Burung rajawali yang melihat perobahan keadaan seperti itu, seketika ragu-ragu hendak menerjang terus.

Dia telah berhenti menukik, hanya terbang berputaran belaka, karena dia melihat biruang putih itu yang bulunya seputih salju, tengah bermain dengan Ko Tie, pemuda yang dikenalnya juga.

Burung rajawali itu hanya memekik beberapa kali, seperti juga ingin menantikan perintah dari majikannya, yaitu Giok Hoa.

Di kala itu terlihat Giok Hoa semula kaget melihat bahwa Ko Tie telah ditubruk oleh biruang salju itu, yang kemudian memeluknya dan melemparkannya pemuda itu ke tengah udara berulang kali.

Semula dia menduga Ko Tie ingin diserang oleh biruang salju itu, dia sampai mengeluarkan seruan tertahan dan hendak memperingati Ko Tie agar berhati-hati.........

Namun dia jadi tercengang waktu melihat betapa dengan gembira antara biruang dengan pemuda itu tertawa-tawa, di mana Ko Tie yang dilempar-lempar ke tengah udara juga tertawa-tawa girang.

Dengan demikian, sama sekali tidak terlihat adanya permusuhan di antara mereka.

Waktu itulah Giok Hoa segera bersiul nyaring, memerintahkan rajawali putih itu agar menghentikan penyerangannya.

Dan burung rajawali putih itu, walaupun tidak mengerti mengapa majikannya perintahkan dia untuk tidak menyerang biruang itu lebih jauh, namun dia mematuhi perintah tersebut, maka dia telah terbang turun dan hinggap agak jauh dari Swat Tocu.

Hanya saja sinar mata burung itu memperlihatkan bahwa dia membenci Swat Tocu dan seperti bersiap siaga buat menyerang Swat Tocu, yang waktu itu masih mencekal tangan Giok Hoa.

Rupanya, tadi Swat Tocu telah menghantam dengan pukulan Inti Es nya, sehingga membuat burung rajawali itu selain menderita kesakitan, juga dia merasakan sayapnya seperti kaku dingin.

Hal itulah yang membuat Giok Hoa terpaksa melompat turun buat menempur Swat Tocu.

Siapa tahu, hanya beberapa jurus saja Giok Hoa telah dapat dirubuhkan oleh Swat Tocu, telah ditawannya.

Dengan demikian memperlihatkan bahwa kepandaian orang tua aneh itu memang sangat lihay dan tangguh sekali…..

Dikala itu Ko Tie yang telah dilempar-lempar oleh biruang salju tersebut, telah merasa cukup, dia berkata.

"Pek-jie…..! Turunkan aku…..!"

Biruang putih itu rupanya masih juga belum puas.

Dia memang menurunkan Ko Tie, tetapi segera juga dia menciumi dan menjilati sekujur tubuh Ko Tie.Tampaknya dia sangat rindu sekali pada pemuda ini, dan dia telah melampiaskan rasa rindunya itu, telah bertemu dengan pemuda ini.

Ko Tie menepuk-nepuk punggung biruang salju itu, yang tidak lain memang biruang salju peliharaan Swat Tocu, di mana dia kemudian cepat-cepat menghampiri Swat Tocu, dan telah menekuk ke dua kakinya.

Dia berlutut di hadapan Swat Tocu, sambil memanggilnya.

"Suhu…..!"

Dan menganggukkan kepalanya tiga kali, sebagai penghormatan seorang murid kepada gurunya.

Swat Tocu tersenyum, walaupun pada mukanya masih terlihat dia merasa heran karena tidak menyangka Ko Tie bisa berada di tempat itu.

Karenanya, dia telah bertanya dengan suara yang perlahan masih mengandung keheranan.

"Mengapa engkau di sini, Tie-jie?!" "Memang pertemuan kita ini secara kebetulan sekali, Suhu….. dan aku belum terlalu lama berada di gunung Heng-san ini karena teecu mendengar bahwa di Heng-san ini terdapat banyak tempat yang baik-baik, siapa tahu cocok dengan keinginan Suhu! Tidak teecu sangka bahwa Suhu akhirnya telah datang sendiri ke mari......!"

Menjelaskan Ko Tie.

Swat Tocu mengangguk-ngangguk.

Wajahnya masih tetap memerah segar dan sehat, tidak ada perobahan sedikitpun juga pada dirinya, di mana tampaknya Swat Tocu tidak mengalami kemunduran pada kesehatannya.

"Aku sendiri memang mendengar juga perihal tempat-tempat yang indah di Heng-san ini, dan karena sudah setahun engkau tidak datang berkunjung untuk melaporkan usahamu aku telah pergi sendiri ke mari….. Dari beberapa orang sahabat telah kudengar adanya tempat yang mungkin sesuai dengan keinginanku ini!"

Kata Swat Tocu menjelaskan. Setelah berkata begitu, Swat Tocu memperlihatkan perasaan heran. Dia bertanya.

"Tadi jika tidak salah kudengar bahwa engkau mengatakan bahwa kita adalah orang sendiri dengan gadis dan rajawali putih itu.....!" Ko Tie baru menghampirinya Tampaknya saja dan biruang mau telah salju menyahuti. memeluk ini masih Biruang salju punggung belum telah Ko puas Tie. untuk melampiaskan kerinduannya terhadap pemuda itu. Setelah balas mengangguk dan memeluk biruang saljunya, Ko Tie baru menyahuti pertanyaan gurunya tersebut, dia bilang.

"Ya, Suhu tentu tidakmenyangka bahwa gadis yang berada di dekat Suhu itu sesungguhnya cucu murid dari Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko…..!"

"Apa?!"

Swat Tocu membuka matanya lebar-lebar, kemudian menoleh ke sampingnya, memandangi Giok Hoa, yang waktu itu tengah memandang Swat Tocu dengan mata mendelik mengandung kemarahan dan penasaran.

"Apakah kau tidak berdusta?"

"Ohh, mana berani teecu berdusta?"

Kata Ko Tie segera.

"Memang sesungguhnya gadis itu adalah cucu murid Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko....."

Swat Tocu menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Aku tidak bisa percaya….. mungkin engkau telah tertipu. Setahuku Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko tidak menerima murid dan tidak memiliki cucu murid! Yo Ko juga sering memberitahukan kepadaku, bahwa ia hanya memiliki putera tunggal yang bernama Yo Him. Juga ia hanya memiliki seorang anak angkat."

Setelah berkata begitu, Swat Tocu memandang kepada Ko Tie dalam-dalam, kemudian baru berkata.

"Dan, kukira gadis ini hanya mendustai kau belaka, dia mengaku-aku belaka bahwa dia adalah cucu murid Yo Ko!"

Kata-kata itu disertai lirikannya pada Giok Hoa, namun dilanjutkan.

"Tetapi ilmu silat yang tadi dipergunakannya memang agak mirip juga dengan beberapa macam ilmu pukulan tangan kosong Yo Ko….."

Ko Tie tersenyum.

"Suhu yang mengatakan bahwa Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko memiliki seorang anak angkat bukan? Justeru nona Giok Hoa itu adalah murid dari puteri angkatnya Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko!"

Menjelaskan Ko Tie. Mendengar begitu, Swat Tocu membuka matanya lebar-lebar.

"Mari teecu perkenalkan Suhu dengan puteri angkat Sin-tiauw-tayhiap....."

Kata Ko Tie lagi sebelum Swat Tocu bisa membuka suara.

Waktu itu tampak Swat Tocu masih ragu-ragu namun dia telah melepaskan cekalannya pada tangan Giok Hoa.

Sedangkan Giok Hoa cepat-cepat melompat berdiri begitu tangannya dilepaskan dari cekalan orang tua yang liehay ini.

"Hmmm, tidak perlu kau bertemu dengan guruku, manusia seperti engkau tentunya tidak ada gunanya menemui guruku, hanya menimbulkan kerewelan belaka!"

"Nona Giok Hoa…..!"

Kata Ko Tie cepat."Ini adalah guruku…..!"

Tetapi Giok Hoa tampaknya masih tidak senang, dia bukannya memberi hormat seperti lazimnya. Malah dia telah berkata dengan tawar.

"Aku tidak perduli siapa dia, tidak hujan tidak angin dia telah menimpuk Pek-jie ketika tengah terbang di tengah udara membawaku dengan sebutir kerikil, sehingga Pek-jie kaget dan kesakitan..... Tentu saja Pek-jie telah menyerangnya, namun dengan mengandalkan kepandaiannya dia malah menawanku..... dan dia sengaja hendak mengadu Pek-jie dengan biruang keparat itu…..!"

Sambil berkata begitu Giok Hoa telah menunjuk kepada biruang salju itu yang hanya mengeluarkan suara erangan perlahan waktu melihat Giok Hoa menunjuk ke arahnya.

Ko Tie jadi serba salah, kemudian dia menoleh kepada gurunya, katanya.

"Suhu, maafkan nona Giok Hoa..... karena dia memang belum mengetahui siapa adanya suhu…..! Swat Tocu tertawa tawar.

"Gadis itu terlalu temberang dan angkuh sekali, mungkin dia beranggapan menjadi cucu murid Yo Ko, maka kepandaiannya sudah nomor satu di dalam rimba persilatan, sudah tidak ada tandingannya lagi..... Dengan begitu dia jadi demikian angkuh dan sombong…..!"

Mendengar perkataan Swat Tocu sesungguhnya Giok Hoa tidak puas.

Namun diapun tidak berani buat menyerang Swat Tocu lagi, mengumbar amarahnya, karena dia mengetahui lelaki tua yang aneh ini memang merupakan seorang yang sangat liehay sekali.

Tadi saja, dengan sangat mudah dan hanya beberapa jurus, dia telah kena ditawan.

Karenanya, dengan muka merah padam karena penasaran dan marah, Giok Hoa telah bersiul memanggil burung rajawalinya, agar mendekat padanya, kemudian dia melompat ke punggung rajawali itu, yang diperintahkannya agar terbang, Ko Tie menghela napas.

Baru setelah melihat gadis itu dibawa terbang jauh sekali, Ko Tie segera menjatuhkan dirinya berlutut di hadapan gurunya, katanya.

"Suhu, bagaimana kesehatan Suhu? Apakah selama ini Suhu dalam keadaan baik-baik saja?!"

Swat Tocu tersenyum, dia mengulurkan tangannya mengusapusap kepala muridnya.

"Muridku yang baik, ternyata engkau masih mau memperhatikan kesehatan gurumu, walaupun setahun lebih belakangan ini engkau tidak mau menjengukku!"

Mendengar perkataan gurunya, Ko Tie tertawa terpaksa, katanya.

"Karena terlalu repot mencari tempat yang sekiranya sesuai dengan keinginan Suhu, maka Teecu telah melalaikan tugas teecu buat menjenguk Suhu..... Ampunilah teecu, Suhu!"

"Sudahlah! Bagaimana keadaanmu belakangan ini? Apakah ilmu pukulan Inti Es mu telah memperoleh kemajuan?!"

Tanya Swat Tocu. Ko Tie mengangguk. "Ya, berkat didikan Suhu, maka ilmu silat teecu mengalami banyak kemajuan…..!"

Menjelaskan Ko Tie.

"Bagus…..! Tetapi Ko Tie, engkau harus ingat, aku kurang begitu menyukai jika engkau bergaul rapat dengan gadis tadi. Kulihat dia agak liar dan angkuh, sehingga aku tidak begitu menyenangi jika kalian bergaul terlalu rapat! Tadi kulihat, kalian rupanya memiliki hubungan yang intim, aku melihatnya dari sinar mata kalian berdua.....!"

Mendengar perkataan gurunya, hati Ko Tie jadi susah dan sedih, namun dia segera mengiyakannya beberapa kali.

"Apakah suhu ingin bertemu dengan puteri angkat Sin-tiauw-tayhiap Yo Ko?"

Tanya Ko Tie untuk mengalihkan pembicaraan mereka. Swat Tocu menghela napas.

"Semula,"

Katanya, yang tidak segera menyahuti pertanyaan Ko Tie.

"Kukira di Heng-san ini belum ada orang yang menempati, dan aku telah mendengarnya bahwa di puncak tertinggi Heng-san merupakan tempat yang sangat cocok sekali buat aku menyendiri. Beberapa orang sahabat telah datang memberitahukan hal itu. "

Aku segera berangkat ke mari, dan setelah melihat keadaan tempat ini, memang sangat cocok sekali dengan keinginanku. Aku kira cukup baik dipergunakan buat aku menyendiri di sini…..!"

"Jadi….. jadi Suhu setuju untuk memilih puncak tertinggi di Hengsan ini?"

Tanya Ko Tie, yang tiba-tiba saja hatinya jadi gembira bukan main. Swat Tocu menghela napas dalam-dalam, kemudian katanya.

"Ya, memang sebelumnya aku berpikir begitu..... tetapi..... tetapi....."

"Tetapi apa, Suhu?!"

Tanya Ko Tie dengan hati yang berdebar ragu, karena dia sendiri sebetulnya telah dapat menduga akan terusan perkataan gurunya itu.

Swat Tocu menghela napas lagi.

Dia telah mengangkat kepalanya memandang sekelilingnya.

"Inilah sebuah tempat yang sangat cocok sekali buatku, namun tidak kusangka bahwa di tempat ini telah tinggal seseorang, terpaksa aku harus membuang waktu lagi mencari tempat lain yang sekiranya cocok dengan keinginanku itu.

"Suhu……!"

Panggil Ko Tie ragu-ragu setelah mendengar perkataan gurunya itu. "Ya?"

"Sesungguhnya, puncak tertinggi Heng-san ini belum ditempati oleh siapapun juga. Yo Peh-bo malah memilih tempat di dekat lamping gunung di sebelah selatan. Dengan begitu, jika saja Suhu mengambil puncak tertinggi Heng-san ini sebagai tempat menyendiri, tempat ini sangat cocok sekali!"

Tegasnya.

"Puncak tertinggi Heng-san ini belum pernah ditempati orang lain.... karena dari itu, jika memang Suhu merasa cocok dengan keadaan tempat ini, bisa Suhu nanti menemukan bagian mana dari puncak tertinggi ini yang dapat dipergunakan sebagai tempat menyendiri Suhu......!"

Mendengar perkataan muridnya tersebut, tampak Swat Tocu tersenyum.

Ia telah melihat bahwa Ko Tie memang tengah berusaha, dan juga sinar matanya memperlihatkan bahwa ia sangat mengharapkan gurunya itu dapat menerima sarannya untuk menetap di situ.

Karenanya dia merasa geli sendirinya.

"Ko Tie, kulihat engkau tengah terganggu oleh sesuatu, oleh paras cantik…..!"

Kata Swat Tocu.

Muka Ko Tie, jadi berobah merah, karena walaupun bagaimana tetap saja dia melihatnya bahwa gurunya ini tampaknya memang kurang begitu menyetujui untuk menetap di puncak tertinggi gunung Heng-san tersebut.

Sesungguhnya Ko Tie mengetahui bahwa puncak tertinggi gunung Heng-san ini telah cocok dan sesuai dengan keinginan dari gurunya, Swat Tocu.

Hanya saja disebabkan di tempat ini terlebih dulu telah ditempati oleh gurunya Giok Hoa, dengan demikian Swat Tocu jadi ragu-ragu buat tinggal di tempat ini.

Sesungguhnya Ko Tie ingin sekali membujuk terus gurunya, akan tetapi tidak ada sepatah perkataan juga yang keluar dari mulutnya.

Dia mengerti bahwa dalam keadaan seperti ini memang gurunya sulit sekali untuk diajak bicara.

Jika memang Ko Tie terlalu mendesaknya, tentu gurunya semakin bercuriga.

Bukankah sekarang saja dia telah mencurigai akan hubungan Ko Tie dengan Giok Hoa.

Setelah berdiam diri sejenak, Swat Tocu kemudian berkata lagi.

"Jika memang engkau masih senang untuk berdiam beberapa hari di tempat ini, baiklah..... aku akan menemani kau untuk berdiam beberapa hari di tempat ini. Nah kita akan berdiam di sini selama beberapa hari. Hanya saja yang ingin kuminta agar hubunganmu dengan gadis tadi agak dibatasi, karena kulihat adanya hubungan mesra yang terdapat di antara kalian berdua.....!" Sewaktu berkata berkata begitu, Swat Tocu memperlihatkan sikap bersungguh-sungguh. Memang menjadi harapan Swat Tocu, bahwa ia mengharapkan Ko Tie tidak berurusan dulu dengan urusan asmara. Ia menghendaki agar muridnya tersebut berlatih diri dengan sungguh-sungguh agar ia memiliki kepandaian yang benar-benar dapat diandalkan. Memang menjadi harapan dari Swat Tocu, bahwa ia menghendaki Ko Tie menjadi seorang tokoh rimba persilatan yang bisa mengangkat atau setidak-tidaknya menjaga kebesaran nama gurunya, yaitu Swat Tocu. Ko Tie juga mengetahui akan keinginan gurunya tersebut, yang memang menginginkannya agar dia tidak bermain cinta dulu. Tetapi, perasaannya yang semakin mendalam terhadap Giok Hoa, di mana dia merasakan adanya suatu perasaan istimewa di hatinya terhadap si gadis, tentu saja tidak dapat diuraikannya kepada gurunya.

"Bagaimana Ko Tie, apakah engkau masih tetap hendak berdiam di tempat ini selama beberapa hari?!"

Tanya Swat Tocu.

Ko Tie mengangguk segera, karena di hadapan gurunya dia…… dia tidak berani bersikap lamban.

Namun waktu Ko Tie hendak bicara lebih jauh, dikejauhan justeru terlihat sinar memerah di langit.

Hal ini mengherankan Ko Tie dan gurunya.

Swat Tocu malah telah berkata.

"Api.....!"

"Ya Suhu..... tampaknya terjadi kebakaran!"

Kata Ko Tie. Dan mukanya seketika ber¬obah, setelah dia memperhatikan arah tempat asal mulanya api yang tampak mengepul tinggi memerah itu.

"Jika tidak salah..... yang terbakar adalah tempat dari Yo Pehbo guru dari Giok Hoa…..!"

Swat Tocu memandang muridnya kemudian baru berkata.

"Apakah..... kau hendak pergi menolonginya?!"

Ko Tie tidak ragu-ragu lagi telah mengangguk sambil berlutut di hadapan gurunya.

"Benar Suhu! Jika memang sebelumnya kita tidak saling berkenalan satu dengan yang lain, walaupun siapa adanya mereka, melihat mereka dalam keadaan terancam bahaya seperti itu, tentu saja kita harus pergi membantu mereka!"

Mendengar jawaban muridnya seperti itu Swat Tocu tersenyum. Dan belum lagi dia memberikan komentarnya, justeru Ko Tie telah berkata lagi.

"Karena dari itu, teecu mengharapkan ijin dari Suhu agar memperbolehkan teecu untuk pergi membantui mereka...... Siapa tahu mereka sangat membutuhkan sekali pertolongan.....!" Swat Tocu mengangguk.

"Baik! Engkau telah memperlihatkan sikapmu yang sangat baik! Hal ini menggembirakan aku! Nah, kau pergilah untuk menolongi mereka!"

Girang Ko Tie menerima ijin dari gurunya, tetapi dia masih bertanya.

"Jika teecu mengajak Pek-jie untuk pergi membantu mereka, apakah diperbolehkan oleh suhu!"

"Ya, pergilah!"

Kata Swat Tocu.

Ko Tie girang sekali.

Segera dia melambaikan tangannya kepada Pek-jie, biruang putih itu, biruang yang memiliki bulu putih bagaikan salju.

Biruang itupun rupanya mengerti, waktu melihat Ko Tie melambaikan tangannya, segera juga dia mengerang perlahan sambil membungkuk kepada Swat Tocu.

Kemudian dia menubruk kepada Ko Tie, yang dipanggulnya dan telah dibawa lari dengan pesat sekali ke arah tempat di mana tampak sinar api yang berkobar-kobar itu.

Ko Tie gelisah sekali.

Sambil duduk di punggung biruang salju itu, dia telah menepuk-nepuk punggung biruang tersebut, sambil katanya.

"Pek-jie..... ayo lebih cepat lagi larinya..... ayo..... kita tidak boleh terlambat.....!"

Pek-jie rupanya mengerti akan kegelisahan dari pemuda tersebut, dia mengerang perlahan, tetapi larinya semakin cepat juga.

Begitu telah dekat dengan tempat di mana beradanya rumah dari guru Giok Hoa, tampak sinar api yang memerah semakin jelas.

Biruang salju itu telah berlari semakin cepat, dan diwaktu itu juga telah dilihatnya bahwa keadaan di tempat itu tengah kacau sekali.

Memang dugaan Ko Tie tidak meleset, dia melihat rumah di bagian belakang dari milik guru Giok Hoa tengah dimakan api, yang berkobar semakin lama semakin tinggi.

Sedangkan guru Giok Hoa sendiri tidak bisa untuk menolongi rumahnya yang tengah termakan oleh api itu, karena dia sibuk.

Tubuhnya berkelebat ke sana ke mari menghadapi beberapa orang lawannya yang tengah mengepungnya, yang dilihat dari gerakan tubuh mereka, yang berkelebat-kelebat bagaikan sosok bayangan putih.

Rupanya pengepung guru Giok Hoa itu bukan sebangsa manusia lemah.

Terpisah beberapa tombak di luar gelanggang pertempuran itu, berdiri belasan orang juga, yang semuanya berpakaian serba putih.

Dan di sebelah bagian lainnya, terlihat Giok Hoa sendiri tengah dikepung oleh empat orang lawannya, dengan ketat sekali.

Dalam saat-saat seperti itulah terlihat betapapun juga Giok Hoa dalam keadaan panik dan marah, karena dia tengah terdesak oleh kepungan ke empat orang itu.

Disamping itu juga dia melihat rumahnya di bagian belakang tengah termakan api tanpa dia bisa memadamkan api itu, yang berkobar semakin besar.

Dengan demikian membuat Giok Hoa jadi semakin panik saja.

Dia berusaha untuk mendesak ke empat orang pengepungnya.

Cuma saja ke empat orang pengepungnya itu memiliki kepandaian yang cukup tinggi, sehingga jangan kata Giok Hoa herhasil mendesak mereka, sedangkan ke empat orang itu malah telah berhasil mendesak Giok Hoa, sehingga gadis tersebut harus berusaha untuk menghadapi setiap serangan dari ke empat orang lawannya itu dengan waspada.

Ko Tie yang menyaksikan apa yang tengah terjadi itu tidak bisa menahan diri lagi.

Hanya yang membuat hatinya jadi heran dan terkejut, dia melihat wanita setengah baya berpakaian putih, yang tengah mendesak guru Giok Hoa dengan hebat sekali, di mana wanita itu yang tampaknya memiliki kepandaian tertinggi di antara pengepung-pengepung guru Giok Hoa.

Dimana wanita setengah baya itu mempergunakan tongkatnya yang sangat liehay sekali menyerang guru Giok Hoa, menimbulkan angin berkesiuran tidak hentinya.

Dalam saat-saat seperti itu, Ko Tie telah menepuk pundak biruang salju, kemudian tubuhnya melesat turun.

Begitu ke dua kakinya menyentuh tanah, segera tubuhnya telah melesat lagi ke tengah gelanggang pertempuran itu.

Sambil menerjang, Ko Tie juga berseru.

"Yo Peh-bo, adik Giok Hoa jangan kuatir, aku datang untuk membantui kalian......!"

Biruang salju itu juga telah mengerang mengerikan, suaranya menggetarkan sekitar tempat itu.

Tampak biruang salju itu telah melompat maju juga.

Tetapi dia bukan hendak menerjang manusia-manusia yang berkumpul di tempat itu, yang menjadi lawan dari Giok Hoa dan gurunya.

Dia telah melompat dengan sangat gesit sekali ke arah rumah yang tengah terbakar itu.

Dengan ke dua tangannya yang sangat kuat sekali, segera biruang salju tersebut telah merubuhkan tiang-tiang bangunan tersebut.

Malah sebagian telah dilemparkannya jauh-jauh.

Dengan kekuatan tenaganya, dia juga merubuhkan dinding, dan kayu-kayu atap rumah yang terbakar itu.

Dengan demikian, walaupun perlahan, tokh api itu kemudian menjadi padam, dan tersisa puing-puingnya belaka.

Orang-orang yang berkumpul di tempat tersebut hanya berdiri tertegun belaka, karena mereka terheran-heran melihat munculnya Ko Tie dengan biruang salju tersebut.

Di samping itu juga kekuatan tenaga dari biruang salju itu, yang dapat bekerja sendiri untuk memadamkan api tersebut.

Yang membuat orang-orang tersebut memandangi dengan takjub adalah Ko Tie, yang tubuhnya berkelebat-kelebat ke sana ke mari lincah sekali.

Dia berusaha menghantami setiap lawan dari guru Giok Hoa dengan Inti Esnya.

Memang lawan dari guru Giok Hoa merupakan orang-orang liehay yang memiliki kepandaian tinggi.

Namun ilmu pukulan yang dilancarkan Ko Tie merupakan ilmu yang luar biasa, ilmu pukulan yang aneh, di mana setiap kali Ko Tie menghantam, dari telapak tangannya itu telah meluncur angin serangan yang mengandung hawa dingin luar biasa, menggigilkan tubuh, membuat setiap lawan dari guru Giok Hoa kaget tidak terkira.

Memang tenaga serangan Ko Tie tidak terlalu membahayakan, terlebih lagi Ko Tie menyerang dengan gencar dan tergesa-gesa seperti itu.

Namun justeru sampokan angin serangan ilmu pukulan Inti Es itu membuat punggung semua lawan yang terkena pukulan tersebut merasakan punggung mereka menjadi dingin dan kaku.

Sehingga telah melambatkan gerakan kedua tangan masingmasing.

Keadaan seperti ini dimanfaatkan oleh guru Giok Hoa, yang segera juga mempergunakan kesempatan ini buat mendesak lawanlawannya itu dengan mempergunakan ilmu pukulan "Am-jian Siohun-kun"

Atau Ilmu Silat tangan kosong Perpisahan.

Am-jian berarti kedukaan yang sangat.

Sio-hun berarti kehilangan roh atau kehilangan semangat.

Tetapi jika Am-jian Sio-hun-kun dirangkap menjadi satu, empat huruf itu memiliki arti "Perpisahan".

Maka dari itu, Am-jian Sio-hunkun berarti "Ilmu Silat Tangan Kosong Perpisahan".

Dengan lain perkataan, ilmu itu digubah oleh Yo Ko sebagai peringatannya di mana dia pernah berpisah dengan Siauw Liong Lie selama enambelas tahun.

Kini dalam keadaan terkepung seperti itu, guru Giok Hoa telah mempergunakan jurus-jurus "Am-jian Sio-hun-kun"

Ilmu yang diciptakan oleh ayah angkatnya itu, yang telah diwarisi seluruhnya.

Dengan demikian membuat pukulan-pukulan yang dilakukannya memiliki banyak sekali kedahsyatan yang di luar dugaan lawannya.

Dalam waktu yang sangat singkat sekali guru Giok Hoa dapat menjebolkan kepungan tersebut.

Malah waktu itu dengan mempergunakan jurus "Tay-hok-mo-ciang-hoat"

Atau Ilmu Silat menaklukan Siluman diapun telah berhasil menghantam dengan kuat lengan kanan seorang lawannya sampai tubuh lawannya itu bergulingan beberapa kali.

Dengan demikian, lawan-lawan guru Giok Hoa yang lainnya melompat menjauhkan diri.

Sedangkan wanita setengah baya yang memakai baju serba putih, yang bersenjata tongkat, juga telah melompat mundur dengan gesit.

Tongkatnya disilangkan, kemudian dengan sikap yang angkuh dia telah berkata dengan matanya yang memancarkan sinar yang sangat bengis.

"Hemmmmm, engkau, rupanya ingin menjadi wanita bejad dengan memelihara dan menyembunyikan pemuda tampan! Berapa orang tampan yang menjadi simpananmu di sini?!"

Tajam sekali ejekan dari wanita setengah baya itu, membuat muka guru Giok Hoa jadi merah padam karena murka.

"Mulutmu terlalu jahat sekali…..! Terimalah ini!"

Dan sambil membentak begitu, maka guru Giok Hoa telah menghantam dengan jurus ketujuh dari ilmu Am-jian Sio-hun-kun, di mana angin yang keluar dari telapak tangannya begitu kuat sekali menerjang kepada dada dan ulu hati dari wanita setengah baya tersebut.

Wanita setengah baya itu telah mengibas dengan tongkatnya, membuat tenaga serangan guru Giok Hoa menjadi punah, dan dalam keadaan itulah, wanita setengah baya tersebut hendak menerjang lagi.

Namun terdengar orang berkata.

"Mundur!"

Dingin sekali suara tersebut.

Wanita setengah baya itu tidak berani meneruskan niatnya untuk menerjang kepada guru Giok Hoa, dia telah melompat mundur.

Dan kemudian diikuti oleh belasan wanita muda cantik yang semuanya berpakaian serba putih itu telah kembali berdiri dalam rombongan mereka, yang berdiri di luar gelanggang pertempuran beberapa tombak jauhnya.

Tampaknya mereka ini memang semuanya memiliki pakaian seragam yang mengenakan baju serba putih.

Bukan wanita setengah baya yang bersenjatakan tongkat itu saja yang berpakaian serba putih, tetapi justeru juga gadis-gadis lainnya berpakaian serba putih dan cantik-cantik.

Hanya ada seorang di antara mereka yang berpakaian lain, yaitu seorang wanita yang sangat cantik jelita, dengan baju yang berwarna serba merah.

Dan mukanya yang cantik itu dibalik dari senyumnya yang manis itu, memancarkan sinar pembunuhan dap kekejaman hatinya.

Wanita yang berpakaian serba merah inilah yang perintahkan wanita setengah baya bersenjata tongkat itu agar mundur.

Sikapnya sama dinginnya seperti juga suaranya tadi waktu memerintahkan wanita setengah baya itu agar menjauhi diri dari guru Giok Hoa.

Empat orang gadis berbaju serba putih juga segera melompat mundur melepaskan kepungan mereka pada Giok Hoa, berdiri di belakang wanita berpakaian serba merah yang parasnya begitu cantik dan mungkin baru berusia empatpuluh tahun lebih.

Dengan bola mata yang jeli dan memperlihatkan senyumnya yang manis dan juga agak genit, tampak wanita berpakaian serba merah itu telah berkata.

"Orang she Yo, sekarang adalah waktu yang menentukan, apakah ilmu silat keluarga Yo yang lebih tinggi dari See-san-it-ko-kwie…..! Setelah itu kita akan melihatnya, apakah memang ilmu silat keluarga Yo masih bisa menghadapi ilmu silat dari See-san-it-kokwie!"

Waktu itu guru Giok Hoa telah berkata dengan suara yang tawar.

"Aku tidak pernah mencari urusan dengan See-san-it-ko-kwie..... tetapi nyatanya kalian selalu mencari-cari urusan denganku! Dan dengan sengaja dan rendah sekali, kalian dengan mengandalkan jumlah yang banyak berusaha untuk mengepungku, di mana kau sebagai pemimpin mereka, dengan hati yang busuk, telah berusaha membakar rumahku! Karena dari itu, perbuatanperbuatan kalian ini tidak bisa kumaafkan…..!" Wanita berparas cantik berpakaian serba merah itu tertawa dingin, wajahnya tetap cantik dan senyumannya tetap saja genit, dia telah berkata dengan suara yang tawar.

"Jika memang aku sejak tadi bermaksud untuk mempergunakan tenaga banyak menindas jumlah yang sedikit, hanya dengan memerintahkan satu patah, engkau telah dapat kami binasakan! Justeru tadi aku perintahkan anak buahku itu untuk main-main dulu dengan kau, hanya ingin melihat sampai sejauh manakah kepandaian keluarga Yo Ko yang dapat kau miliki.....

"Dan kenyataan yang ada memang memperlihatkan bahwa engkau merupakan seorang yang memiliki kepandaian boleh juga! Rupanya ilmu silat keluarga Yo memang masih boleh diandalkan juga, sehingga aku jadi tertarik buat main-main langsung dengan kau….."

See-san-it-ko-kwie merupakan sepuluh setan yang terkenal sekali di dalam rimba persilatan.

Mereka merupakan orang-orang yang memiliki kepandaian yang sangat tinggi sekali.

Dan wanita berpakaian serba merah dengan paras yang cantik jelita dan juga senyumnya yang cantik genit itu, tidak lain dari Siauw Kwie (si Setan Cantik).

Mengenai See-san-it-ko-kwie telah diceritakan jelas dalam Sintiauw-hiap-lu.

Dan juga, ke sembilan setan lainnya seperti juga Cui Beng Kwie (Setan Mengejar Roh) yang bersenjata golok Tee-tengto, atau Song Bun Kwie (Setan Berkabung), dan setan-setan lainnya yang terkenal memiliki kepandaian sangat tinggi telah meninggal dunia karena usia tua.

Dan hanya Siauw Kwie saja yang masih hidup, karena memang usianya yang paling muda.

Karena kepandaiannya yang sangat tinggi di mana selama duapuluh tahun lebih ini ia berlatih dengan tekun dan giat sekali, kepandaiannya telah memperoleh kemajuan yang sangat pesat, jauh lebih baik dibandingkan dengan kepandaian yang pernah dimiliki ke sembilan "setan"

Lainnya yang telah meninggal dunia.

Di waktu itulah Siauw Kwie juga bermaksud untuk menjagoi rimba persilatan.

Pernah diceritakan di dalam Sin-tiauw-hiap-lu bahwa See-san-it-ko-kwie bentrok dengan Sin-tiauw-tay-hiap.

Hanya saja, disebabkan mereka waktu itu tidak sanggup menghadapi Yo Ko, mereka telah mengambil sikap yang lunak, disaat mana mereka memang dalam keadaan terluka.

Karena dari itu, mereka telah sengaja mengundurkan diri.

Namun tidak diduga-duga justeru di hati Siauw Kwie, si Setan Cantik ini, terdapat dendam yang sangat mendalam sekali, alasan itu pula mengapa dia berlatih diri dengan tekun.

Walaupun usianya telah enampuluh tahun lebih, tokh karena kepandaiannya yang memperoleh kemajuan pesat dan lweekang yang tinggi sekali, wajahnya tetap cantik jelita dan usianya seperti baru empatpuluh tahun lebih.

Di waktu sekarang ini, setelah yakin bahwa ia telah memiliki kepandaian yang tinggi, yang mungkin akan dapat menandingi kepandaian Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko, maka Siauw Kwie telah keluar dari tempat menyendirinya.

Dia mulai berkelana untuk mencari Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko.

Dalam pengelanaannya itu, diapun telah berhasil merubuhkan beberapa tokoh yang memiliki kepandaian tinggi, yang akhirnya mereka semuanya tunduk dan mengangkat Siauw Kwie sebagai pemimpin mereka.

Karena itu, Siauw Kwie juga berpikir untuk mendirikan sebuah perkumpulan.

Diapun telah mewajibkan semua orang-orang itu memakai baju seragam serba putih, sedangkan dia seorang diri saja yang selalu mengenakan baju berwarna merah.

Perkumpulan yang telah didirikannya itu diberi nama Ang-hoakauw, perkumpulan Bunga Merah.

Dengan demikian, dia mengambil nama tersebut dari warna pakaiannya yang selalu berwarna merah itu.

Akan tetapi betapa kecewanya Siauw Kwie setelah ia berkelana di dalam rimba persilatan sekian lama, karena ia tidak berhasil memperoleh keterangan di mana beradanya Yo Ko.

Karena waktu itu Yo Ko dan Siauw Liong Lie memang telah hidup mengasingkan diri.

Walaupun dia berusaha terus untuk mencarinya, tokh tetap saja dia tidak berhasil untuk menemuinya.

Sampai akhirnya dia mendengar perihal Kim-coa-kauw, sebuah perkumpulan Ular Emas itu.

Di mana orang yang memegang tampuk pimpinan dalam perkumpulan tersebut adalah Tang Lan Cie, di mana dia telah berusaha untuk mencari Tang Lan Cie, dan kemudian mudah sekali Siauw Kwie merubuhkan Tang Lan Cie.

Dengan begitu dia merebut kekuasaan di dalam Kim-coa-kauw, semua anggota dari Kim-coa-kauw dimasukannya ke dalam perkumpulan Ang-hoa-kauw.

Sedangkan Tang Lan Cie juga dijadikan pembantunya di mana Tang Lan Cie kini tunduk sekali kepada Kauw-cunya yang baru ini.

Memang sebelumnya Tang Lan Cie bermaksud untuk merebut kedudukan Kauw-cu dari tangan Kauw-cu yang sebenarnya di dalam Kim-coa-kauw.

Tetapi dengan direbutnya kekuasaan di dalam Kim-coa-kauw, dan juga memang diwaktu itu Kauw-cu Kimcoa-kauw yang berusia sepuluh tahun lebih itu, telah menghilang entah ke mana bersama beberapa tokoh dari Kim-coa-kauw yang setia padanya.

Karena telah digabungkannya anggota dari Kim-coa-kauw dengan Ang-hoa-kauw, dan selanjutnya harus tunduk dengan perintahperintah dari Kauw-cu Ang-hoa-kauw tersebut, dengan demikian membuat Tang Lan Cie harus patuh terhadap semua perintah yang diberikan oleh Kauw-cunya tersebut.

Yang membuat Tang Lan Cie tidak berani membantah perintah Kauw-cunya yang baru ini, karena memang Siauw Kwie memiliki kepandaian yang sangat tinggi sekali, beberapa tingkat tingginya melebihi kepandaiannya, sehingga membuat Tang Lan Cie mau atau harus mematuhinya sebagai Kauw-cunya.

Dan dia memang telah bekerja buat perkumpulannya yang baru ini, yaitu Ang-hoakauw.

Begitulah, dengan sekuat tenaga, Tang Lan Cie berusaha menyelidiki tempat berdiamnya Yo Ko dan Siauw Liong Lie.

Hanya saja sejauh itu tetap saja dia tidak berhasil karena memang orangorang rimba persilatan tidak seorangpun ada yang mengetahuinya sesungguhnya Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko dan Siauw Liong Lie telah hidup mengasingkan diri di tempat mana.

Hanya saja dari keterangan Tang Lan Cie yang diceritakan mengenai pertempurannya dengan Yo Him lima tahun yang lalu, di mana dia pernah bertempur hebat dengan puteranya Sin-tiauwtay-hiap Yo Ko tersebut, maka Siauw Kwie segera juga merobah keputusannya.

Dalam waktu-waktu mereka belum lagi berhasil menyelidiki jejak Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko, mereka harus segera mengalihkannya mencari jejak Yo Him.

Karena dari mulut Yo Him pulalah mereka akan mengetahui di mana beradanya Yo Ko dan Siauw Liong Lie.

Bukankah Yo Him merupakan putera tunggal dari Yo Ko.

Dan juga, selama dalam pencarian jejak Yo Him, maka Tang Lan Cie bersama Kauw-cunya itu, yaitu Siauw Kwie, telah bertambah keterangan yang mereka peroleh mengenai Sin-tiauw-tay-hiap, yaitu pendekar besar itu memiliki anak angkat.

Seorang wanita yang selalu gemar berpakaian serba kuning, yang kabarnya kepandaian dari anak angkat Yo Ko tersebut lebih tinggi setingkat dari ilmu silat Yo Him sendiri, karena memang wanita she Yo tersebut, anak angkat Yo Ko, didikan langsung dari Siauw Liong Lie selama Siauw Liong Lie diduga lenyap oleh Yo Ko selama belasan tahun.

Dengan demikian sekarang Siauw Kwie telah membagi dua tujuan pada pengejaran tersebut,di mana selain mengejar dan mencari jejak Yo Him dan anak angkat dari Yo Ko tersebut, merekapun segera mendekati tokoh-tokoh rimba persilatan.

Siauw Kwie menawarkan tokoh-tokoh rimba persilatan itu, tidak perduli dari kalangan hitam atau dari kalangan putih agar memasuki perkumpulan Ang-hoa-kauw nya.

Jika memang mereka menerima tawaran tersebut, maka mereka diberikan kedudukan yang baik dan juga membuat mereka memiliki jaringan yang sangat kuat dengan anggota-anggota yang telah ada.

Tetapi jika ada tokoh rimba persilatan yang menolaknya, maka Siauw Kwie tegas saja mengambil tindakan memutuskan untuk menghukum orang itu, dengan membinasakannya.

Karena dari itulah tampak Siauw Kwie dapat memperkembangkan perkumpulan Ang-hoa-kauwnya menjadi sebuah perkumpulan yang sangat menonjol sekali dalam rimba persilatan pada akhirakhir ini, sebagai perkumpulan yang sangat banyak sekali memiliki anggota terdiri dari berbagai golongan.

Hanya saja, disebabkan Siauw Kwie memang menuntun semua nama anggotanya itu dengan hati yang tidak bersih dan kejam, perkumpulan tersebut pun memiliki pandangan yang agak sesat, di mana semua jago-jago rimba persilatan itu mengetahuinya bahwa perkumpulan tersebut merupakan perkumpulan yang agak sesat yang memiliki anggota-anggotanya yang semuanya mempunyai watak dan tabiat yang kurang baik.

Maka segera juga banyak orang-orang rimba persilatan yang berserikat.

Namun mereka tidak pernah berhasil untuk mendobrak dan menghancurkan perkumpulan tersebut, karena didalam perkumpulan tersebut berkumpul banyak sekali jago-jago rimba persilatan yang memiliki kepandaian sangat tinggi sekali, disamping Siauw Kwie sendiripun memiliki kepandaian yang luar biasa tingginya.

Sehingga banyak sekali korban yang berjatuhan.

Karena walaupun bagaimana memang terlihat jelas Siauw Kwie telah memerintahkan semua anggotanya untuk turun tangan bengis dan keras kepada semua orang-orang yang berusaha menentang perkumpulan Ang-hoa-kauw.

Dengan demikian telah membuat semua orang yang berusaha memusuhi Ang-hoa-kauw akhirnya harus menemui kematiannya.

Dan juga perkumpulan Ang-hoa-kauw semakin ditakuti orangorang rimba persilatan.

Sedangkan Siauw Kwie semakin mengembangkan sayapnya dalam menancapkan nama dan pengaruhnya di dalam rimba persilatan dengan perkumpulan Ang-hoa-kauw tersebut.

Karena memang dia bermaksud untuk menjagoi rimba persilatan.

Usaha untuk mencari jejak Yo Him dan juga puteri angkat Yo Ko diperketat, di mana mereka terus juga menyebar diri untuk menyelidikinya.

Memang sedikit sekali orang-orang rimba persilatan yang memiliki hubungan dengan keturunan dari Sin-tiauw-tay-hiap tersebut, di mana dalam keadaan begitu, jarang sekali yang bisa memberikan keterangan mengenai tempat berdiamnya Yo Him maupun puteri angkat Yo Ko.

Namun ada juga beberapa orang yang mengetahui perihal puteri angkat Yo Ko, di mana mereka telah memberitahukan kepada Siauw Kwie bahwa sesungguhnya puteri angkat Yo Ko berada di puncak Heng-san.

Begitu menerima keterangan tersebut, tidak berayal lagi segera juga Siauw Kwie mengerahkan orang-orangnya ke Heng-san untuk melakukan penyelidikan.

Dan diapun perintahkan tokoh-tokoh dari Ang-hoa-kauw agar memencar diri menyebar di sekitar Heng-san.

Dengan Tang Lan Cie dan anggota Ang-hoa-kauw kemudian Siauw Kwie memimpinnya sendiri untuk mengepung rumah puteri angkat Yo Ko.

Apa yang dilakukannya begitu rapi sehingga guru Giok Hoa tidak menyangka akan adanya penyerangan dari Ang-hoa-kauw yang begitu mendadak telah mengepung rumahnya.

Dan guru Giok Hoa terkejut ketika tahu-tahu rumah di belakangnya telah terbakar termakan api.

Ketika guru Giok Hoa hendak berusaha memadamkan api tersebut justeru di waktu itu telah bermunculan lawan-lawannya yang semuanya berpakaian serba putih tersebut.

Malah, Giok Hoa sendiri yang baru tiba dengan burung rajawalinya, jadi kaget sekali menyaksikan apa yang terjadi.

Namun dia tidak bisa berbuat banyak, segera dia telah dikepung oleh orang-orang Ang-hoa-kauw.

Sedangkan burung rajawali putih peliharaannya itu telah terbang jauh.

Siauw Kwie justeru telah perintahkan Tang Lan Cie memimpin beberapa orang anggota Ang-hoa-kauw buat membekuk guru Giok Hoa.

Hanya saja bertempur sekian lama, ternyata guru Giok Hoa dapat menghadapi mereka dengan baik sekali.

Dan juga mereka tidak bisa membekuk guru Giok Hoa.

Dengan Am-jian Sio-hun-kunnya, ternyata guru Giok Hoa dapat menghadapi mereka dengan mudah.

Memang di waktu itu juga guru Giok Hoa bermaksud untuk mempergunakan pedangnya, dia ingin mempergunakan Giok-liekiam-hoatnya.

Namun ternyata dia tidak mempergunakannya, karena belum lagi dia mencabut pedangnya itu, justeru telah keburu Ko Tie datang, sehingga pertempuran itu jadi berhenti.

Sekarang juga dia telah mengetahuinya bahwa musuh-musuhnya itu merupakan orang-orang yang memang sengaja mencari urusan dengannya, karena menyangkut dengan urusan ayahnya.

Karena dari itu, segera juga dia telah tertawa dingin waktu mendengar kata-kata Siauw Kwie seperti itu, dia bilang dengan suara yang tawar.

"Hemmm, jika memang kalian hendak berurusan dengan ayah dan ibuku….. hemm, hemm, jangan harap kalian bisa hidup terus. Hanya dalam satu jurus, kalian akan dibuat menggelinding semuanya…..!"

Siauw Kwie memang gusar mendengar perkataan guru Giok Hoa itu, akan tetapi tokh wajahnya yang cantik jelita itu tetap saja tersenyum manis.

Diapun telah memandang kepada guru Giok Hoa, kemudian Ko Tie, lalu beralih kepada Giok Hoa, dan barulah Siauw Kwie berkata dengan sikapnya yang genit sekali.

"Baik! Baik! Jika memang kau berkata begitu, berarti aku bukan tandingan ayahmu! Akupun tidak mau berdebat dengan kau? Justeru sekarang aku ingin sekali main-main beberapa jurus dengan kau?"

Dan sambil berkata begitu tubuh Siauw Kwie telah melompat ke depan, gerakannya begitu lincah.

Dan diapun bukan sekedar maju belaka mendekati guru Giok Hoa, juga tangan kanannya telah dikebaskannya.

Duapuluh tahun lebih yang lalu, Siauw Kwie sudah merupakan salah seorang "setan"

Yang menggemparkan dalam rimba persilatan karena kepandaiannya yang tinggi. Walaupun dia yang merupakan "Setan"

Termuda dari ke sembilan "setan"

Lainnya tokh kenyataannya kepandaiannya tidak berbeda banyak dengan ke sembilan "setan"

Lainnya.

Dengan demikian telah membuat semua orang rimba persilatan jeri padanya.

Terlebih lagi sekarang ini, setelah duapuluh tahun lebih dia mengasingkan diri dan berlatih diri dengan giat, untuk memperoleh kepandaian yang setinggi-tingginya.

Disamping lweekang yang lebih sempurna, kebutan tangannya itu bukan kibasan tangan sembarangan.

Namun guru Giok Hoa walaupun agak terkejut karena kibasan tangan Siauw Kwie, seperti juga akan membuat tubuhnya terdorong mundur dan kuda-kuda ke dua kakinya hampir tergempur, cepat sekali dengan gerakan yang sangat gesit dia telah berkelit.

Kemudian dengan jurus kelima dari Am-jian Sio-hunkun, dia menghantam.

Am-jian Sio-hun-kun merupakan ilmu istimewa yang diciptakan oleh Yo Ko waktu ia dalam kedukaan yang sangat mendalam, karena harus berpisah selama enambelas tahun dengan Siauw Liong Lie, satu-satunya wanita yang sangat dicintai dan dikasihinya.

Jurus-jurus dari Am-jian Sio-hun-kun memiliki banyak keistimewaan yang tidak dimiliki oleh ilmu silat lainnya.

Karena dari itu, walaupun bagaimana hebatnya tenaga kibasan dari Siauw Kwie, tokh kenyataannya dia tidak berhasil untuk merubuhkan guru Giok Hoa, karena justeru guru Giok Hoa dapat mengelakkannya sambil balas menyerang dengan jurus-jurus dari Am-jian Sio-hunkun membuat Siauw Kwie harus menarik pulang tangannya, lalu dengan muka yang sinis mengandung ejekan dia berkata.

"Ya, jurus ilmu inilah yang pernah dipergunakan oleh Yo Ko waktu menghadapi kami duapuluh tahun yang lalu..... rupanya engkau telah mewarisi kepandaian ini juga! Bagus! Bagus! Mari kita mainmain lagi, keluarkanlah ilmu andalanmu itu!"

Siauw Kwie selama hidup mengasingkan diri duapuluh tahun lebih lamanya, telah memeras otak untuk mencari jalan pemecahannya, guna menghadapi ilmu luar biasa dari Yo Ko, yaitu Am-jian Siohun-kun.

Walaupun Siauw Kwie tidak bisa mengingat keseluruhan dari ilmu tersebut, akan tetapi dia masih mengingatnya secara garis besarnya di bagian-bagian mana dia terdesak hebat dan juga "setan-setan"

Lainnya yang telah terdesak oleh anehnya jurus-jurus ilmu pukulan yang hebat itu.

Akan tetapi setelah duapuluh tahun lebih yang lalu, hanya sebagian saja yang dapat dipecahkan oleh Siauw Kwie, di mana hanya bagian luarnya saja yang bisa dipecahkan oleh Siauw Kwie.

Tetapi itupun sudah menggembirakannya karena dia menciptakan semacam ilmu pukulan untuk dipergunakan menghadapi Am-jian Sio-hun-kun.

Dengan demikian dia yakin, walaupun Yo Ko mempergunakan Amjian Sio-hun-kun tokh dia masih memiliki ilmu silat barunya yang bisa dipergunakannya buat menutup diri.

Sengaja Siauw Kwie tidak mau terlalu lama mengurung diri, karena dia menyadarinya, jika dia menutup diri sepuluh atau duapuluh tahun lagi, kemungkinan besar Yo Ko pasti telah meninggal dunia disebabkan usia tua.

Maka, segera dia turun gunung begitu dia telah rampung menyelesaikan ilmu ciptaannya itu.

Siapa tahu, sekarang justeru guru Giok Hoa sudah memiliki ilmu yang luar biasa ciptaan Yo Ko, yaitu Am-jian Sio-hun-kun itu, di mana juga guru Giok Hoa tampaknya memang memiliki kesanggupan untuk mempergunakan setiap jurus itu dengan baik sekali.

Karenanya hal ini selain membuat Siauw Kwie menjadi penasaran dan gusar, diapun tertarik sekali buat mengajak guru, Giok Hoa bertempur dengan jurus-jurus ilmu pukulan istimewa Amjian Sio-hun-kun tersebut.

Siauw Kwie bermaksud akan mencoba ilmu silat tangan kosong yang baru diciptakannya untuk melihatnya apakah ilmu yang telah rampung diciptakannya itu, akan sangup menghadapi Am-jian Siohun-kun tersebut.

Dan sekaranglah kesempatan yang ada buat mencoba ilmunya itu.

Karena dari itu, segera juga Siauw Kwie tidak sungkan-sungkan lagi, setelah berkata menantang seperti itu, ke dua tangannya disilangkannya.

Matanya terbuka lebar, mengawasi kepada guru Giok Hoa, seperti juga dia tengah mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya.

Di samping itu, tubuhnya juga gemetaran keras sekali, dia juga mengeluarkan suara erangan,yang semakin lama jadi semakin nyaring.

Guru Giok Hoa mengawasi semua itu dengan hati bertanya-tanya.

Entah ilmu silat tangan kosong apa yang akan dipergunakan oleh Kauw-cu dari Ang-hoa-kauw tersebut.

Karenanya, segera juga guru Giok Hoa bersiap-siap untuk menghadapi kemungkinankemungkinan yang terjadi.

Dalam keadaan seperti itu, suara erangan dari Siauw Kwie terdengar semakin nyaring, tampaknya ilmu silat tangan kosong yang akan dipergunakannya itu mengandung suatu kekuatan yang sesat sekali.

Setelah mengawasi sekian lama, tiba-tiba ke dua tangannya yang disilangkan itu telah dibukanya perlahan-lahan.

Kemudian cepat sekali, dia telah menghantam saling susul.

Begitu cepat tangan kanan menghantam, kemudian menyusul dengan tangan kirinya.

Gerakan itu seperti hampir bersamaan karena terlalu cepatnya gerakan sepasang tangan tersebut.

Akan tetapi dia menyerang seperti itu bukan untuk menghantam dari jarak yang dekat, dia telah menghantam dari jarak jauh!

Itulah rahasia terpenting dari Am-jian Sio-hun-kun yang dipecahkan oleh Siauw Kwie bahwa Am-jian Sio-hun-kun tidak bisa dihadapi dari jarak yang dekat, karena walaupun bagaimana tetap saja jarak yang dekat malah membahayakan dirinya, dimana Amjian Sio-hun-kun memiliki banyak sekali kelebihannya dan aneh sekali dibandingkan dengan ilmu silat lainnya.

Karena dari itulah dengan mempergunakan ilmu silat tangan kosongnya yang luar biasa ini, dia mengambil jarak tertentu.

Hal ini untuk mencegah agar lawannya tidak berdaya dengan ilmu Amjian Sio-hun-kunnya tersebut.

Sedangkan waktu itu terlihat bahwa angin pukulan dari ke dua tangan Siauw Kwie mendesak kepada guru Giok Hoa kuat sekali.

Hanya saja disebabkan memang guru Giok Hoa pun telah bersiapsiap, angin pukulan tersebut tidak bisa membuat tergempur kudakuda ke dua kakinya, di mana guru Giok Hoa tetap saja berdiri tegak di tempatnya.

Pakaian dari guru Giok Hoa tampak berkibar-kibar, karena terpaan yang begitu kuat dari tenaga serangan yang dilakukan oleh Siauw Kwie.

Dan diam-diam di dalam hatinya guru Giok Hoa telah berkata dengan suara yang mengandung kekaguman.

"Hemm, ternyata memang dia tidak memiliki kepandaian yang rendah, dan tenaga dalamnya demikian kuat…..!"

Maka tanpa berayal lagi, segera juga dia mempergunakan jurus-jurus Am-jian Sio-hun-kun tubuhnya seperti tengah menari.

Siauw Kwie juga tidak menyudahi sampai di situ saja, dia telah menyerang beruntun dengan lebat dan gencar sekali, ke dua kakinya melangkah dengan tindakan-tindakan kaki yang mengandung perhitungan, karena dia melangkah seperti juga mempergunakan cara-cara dan peraturan yang terdapat di dalam Pat-kwa, di mana ke dua kakinya melangkah sambil mengelilingi guru Giok Hoa, juga ke dua tangannya dengan gencar saling susul telah menghantam berulang kali.

Sehingga guru Giok Hoa pun harus berusaha sekuat tenaganya menghadapi setiap serangan lawannya itu, di mana dia juga berusaha mengempos lweekangnya, untuk menghadapi lawannya yang luar biasa ini.

Angin pukulan ke dua telapak tangan Siauw Kwie yang menyambar-nyambar dari jarak terpisah yang cukup jauh itu, yang menyerupai ilmu pukulan udara kosong, yang menghantam dari jarak yang cukup jauh terpisah dari lawan dan tidak perlu mengenai tubuh lawan-lawannya buat merubuhkan lawannya menderu-deru sangat kuat sekali, juga tampak debu telah bertebaran bercampur dengan salju, karena tanah seperti juga terkorek oleh angin pukulan tersebut.

Serangan-serangan dari Siauw Kwie memaksa guru Giok Hoa harus ikut bergerak dengan cepat.

Guru Giok Hoa menyadarinya sekali saja dia berlaku ayal dan terkena serangan dari Siauw Kwie, walaupun mungkin dia bisa menangkisnya dengan mempergunakan lweekangnya, tokh tetap saja akan membuatnya jadi terluka di dalam.

Hanya dalam beberapa jurus itu, maka guru Giok Hoa telah dapat merasakannya, bahwa lweekang musuhnya lebih kuat dari lwekangnya.

Lweekang Siauw Kwie memang menang setingkat atau setengah tingkat dari lweekang guru Giok Hoa tersebut.

Hanya saja, disebabkan ilmu Am-jian Sio-hun-kun dan beberapa macam ilmu silat warisan Yo Ko semuanya istimewa dan memiliki banyak keanehan, dengan demikian, walaupun lweekang guru Giok Hoa masih berada di sebelah bawah dari lweekang Siauw Kwie, tokh kenyataannya dia bisa menghadapinya dengan baik.

Waktu itu Siauw Kwie juga jadi penasaran, telah beberapa jurus yang dipergunakannya, namun tetap saja dia tidak berhasil untuk mendesak guru Giok Hoa.

Malah lawannya itu semakin lama telah mempergunakan Am-jian Sio-hun-kun bertambah aneh juga, di mana setiap jurus yang dipergunakannya menyebabkan guru Giok Hoa seperti tengah menari ke sana ke mari dengan tubuh yang gemulai.

Tubuh yang lemah gemulai itu bukan berarti bahwa guru Giok Hoa balas menyerang dengan tenaga yang lemah.

Akan tetapi justeru setiap serangannya itu mengandung kekuatan yang luar biasa dahsyatnya.

Memang setiap kali tangan guru Giok Hoa menyambar dengan satu jurus Am-jian Sio-hun-kun, setiap kali pula tangannya itu tampak lemah sekali meluncur perlahan.

Namun jika memang kurang hati-hati Siauw Kwie menghadapinya, niscaya akan membuatnya jadi terserang hebat, karena di balik dari sikap yang lemah gemulai tersebut mengandung kekuatan yang dahsyat sekali.

Walaupun guru Giok Hoa menyadari lawannya memiliki lweekang yang lebih tinggi tingkatnya, akan tetapi dalam keadaan seperti itu, guru Giok Hoa pun tidak mau membiarkan kelemahannya itu begitu saja.

Dia telah menutup kelemahannya dengan mempergunakan keistimewaan dari jurus-jurus Am-jian Sio-hun-kun.

Dengan mengandalkan keistimewaan setiap jurus dari ilmu silat tangan kosong tersebutlah yang membuat akhirnya guru Giok Hoa dapat menutup kekurangannya.

Siauw Kwie telah beberapa kali menghantam hebat pada guru Giok Hoa dengan gencar sekali, namun usahanya buat mendesak guru Giok Hoa agar terpojokkan oleh setiap serangannya itu, tokh berulang kali dia gagal, karena jurus-jurus Am-jian Sio-hun-kun itulah yang telah membuat setiap serangannya seperti tidak berhasil untuk menembusi pertahanan yang ada pada guru Giok Hoa.

Giok Hoa yang berdiri di pinggir menyaksikan semua itu, di mana gurunya bertempur dengan Siauw Kwie, dengan sikap yang serius sekali, seketika ia mengerti bahwa gurunya tengah menghadapi lawan berat.

Giok Hoa memang mengetahui, gurunya tidak pernah bersikap serius dan tegang seperti itu, dan jika sikap serius dan tegang seperti itu telah menguasai diri gurunya, Giok Hoa pun menyadari gurunya tengah menghadapi lawan yang tidak ringan.

Dengan sendirinya, Giok Hoa jadi ikut tegang dan berkuatir sekali, apa lagi beruntun dilihatnya Siauw Kwie Setan Cantik itu, gencar sekali berusaha mendesak gurunya.

Ko Tie sendiri tidak kurang tegangnya, ia melihat kepandaian guru Giok Hoa telah mencapai tingkat yang tinggi sekali, dia kagum sekali.

Namun justeru sekarang ini, tampaknya guru Giok Hoa tidak bisa berbuat banyak dalam menghadapi lawannya yang tangguh itu.

Diam-diam juga Ko Tie menyadari bahwa Siauw Kwie ternyata bukan seorang lawan yang ringan, di mana ilmu pukulan tangan kosongnya itu hebat sekali.

Dan juga Ko Tie sebagai seorang yang telah memiliki kepandaian tinggi, tentu saja mengetahui, dengan cara bertempur yang dilakukan oleh Siauw Kwie, yaitu menyerang dari jarak yang terpisah cukup jauh, dengan demikian jelas berarti bahwa setiap serangannya mengandung tenaga lwekang yang dahsyat sekali.

Tanpa memiliki kekuatan lweekang yang benar-benar bisa diandalkan, tentu Siauw Kwie tidak mungkin berani menyerang dengan cara seperti itu, yaitu menghantam tanpa menyentuh tubuh lawan, hanya mengandalkan kekuatan angin pukulannya saja.

Siauw Kwie sendiri sudah tidak sabar, karena tetap saja dia tidak berhasil mendesak guru Giok Hoa.

Dan diwaktu itu setiap pukulannya maupun serangannya jadi semakin dahsyat, angin pukulannya yang menggelegar-gelegar hebat itu bagaikan di tempat tersebut tengah dilanda topan atau memang tengah terjadi gempa.

Bisa disebut seperti tengah terjadi gempa.

Sebab setiap kali Siauw Kwie menghantam, maka tanah di sekitar tempat itu tergetar.

Malah es yang banyak dan cukup tebal menyelubungi batu-batu di puncak tertinggi gunung Heng-san tersebut berguguran.

Itu menunjukkan lweekang yang dipergunakan Siauw Kwie semakin lama jadi semakin hebat.

Ko Tie dan Giok Hoa semakin bergelisah.

Ko Tie juga menyadari akan kesanggupannya, tidak mungkin dia bisa menghadapi Siauw Kwie.

Sedangkan guru Giok Hoa yang kepandaiannya telah demikian tinggi, beberapa tingkat di atas kepandaiannya, masih tidak berdaya terlalu banyak dalam menghadapi setiap serangan Siauw Kwie.

Apalagi Ko Tie sendiri yang memang kepandaiannya masih berada di bawah kepandaian guru Giok Hoa.

Tetapi walaupun demikian, Ko Tie tetap bersiap sedia, dia ingin setiap waktu jika guru Giok Hoa menghadapi suatu ancaman yang tidak dikehendaki, dia bisa segera turun tangan buat membantui.

Walaupun kepandaiannya masih berada di bawah kepandaian guru Giok Hoa tokh tetap saja dia memang memiliki kepandaian yang tinggi, walaupun tidak mungkin bisa merubuhkan Siauw Kwie.

Tetapi bantuannya pun tidak terlalu kecil jika dia ikut mengepung Siauw Kwie untuk membantui guru Giok Hoa.

Rupanya apa yang dipikirkan oleh Ko Tie terpikir juga oleh Giok Hoa.

Karena diapun telah bersiap-siap di samping pemuda itu dengan mata terpentang lebar-lebar mengawasi ke dua orang yang tengah mengukur ilmu itu.

Hanya sekali-kali Giok Hoa melirik, dan matanya memancarkan sinar seperti memohon, agar Ko Tie juga membantui pihaknya.

Karena bukan hanya Siauw Kwie seorang lawan guru Giok Hoa, tetapi justeru Tang Lan Cie dan juga anggota-anggota Ang-hoakauw, yang waktu itu dalam keadaan siap buat menyerang dan mengeroyok mereka.

Maka dengan melirik seperti itu, Giok Hoa seperti juga ingin menyatakan, bahwa diapun hendak meminta maaf atas sikapnya beberapa saat yang lalu.

Sebenarnya di dalam hati Giok Hoa terdapat keinginan buat menanyakan kepada Ko Tie perihal guru pemuda itu, hanya saja justeru mulutnya seperti terkancing.

Dia tidak bisa mengajukan pertanyaannya tersebut.

Dalam keadaan seperti itu.

tentu saja Giok Hoa tidak bisa menanyakan perihal guru Ko Tie.

Padahal, dia yakin, jika saja guru Ko Tie yang memang telah dilihatnya memiliki kepandaian begitu tinggi, membantu pihak mereka, niscaya guru Ko Tie merupakan tulang punggung yang paling dapat diandalkan.

Waktu guru Giok Hoa itu bukannya bertempur dengan hanya bernafsu menyerang, karena guru Giok Hoa, sebagai seorang yang dididik dengan keras oleh Yo Ko dan Siauw Liong Lie, dua orang tokoh sakti rimba persilatan dari golongan lurus dan bersih, dengan begitu, diapun bertempur dengan penuh perhitungan.

Baik dalam hal mengerahkan tenaga dalamnya, maupun juga dalam hal menyerang dengan jurus-jurus yang telah diperhitungkan betulbetul.

Sekarang melihat Siauw Kwie merupakan lawan yang berat, diapun hendak mengkombinasikan ilmu pukulannya itu dengan beberapa macam ilmu pukulan lainnya, terutama sekali jurus-jurus luar biasa ilmu pukulan tangan kosong dari Kauw-bok-pay!

Karena telah berpikir begitu, maka guru Giok Hoa pun telah mengempos semangatnya.

Dia masih mempergunakan jurus-jurus Am-jian Sio-hun-kun, namun dia tengah mencari kesempatan, begitu ada kesempatan tentu dia akan mempergunakan jurus-jurus ilmu pukulan tangan kosong dari pintu perguruan Kauw-bok-pay, yang diwarisinya dari Siauw Liong Lie.

Dan kesempatan itu akhirnya datang juga, setelah lewat tiga jurus lagi.

Waktu itu Siauw Kwie tengah mempergunakan sepasang tangannya mendorong sekaligus, dia telah mendorong dengan tubuh dimiringkan, sepasang kakiyang telah dilipatkannya, kaki kanan menindih kaki kiri.

Cara menyerang yang dilakukan Siauw Kwie sebenarnya merupakan penyerangan yang sangat aneh sekali, karena cara dari gerakannya itu selain memang aneh, juga tenaga yang bergelombang menyambar kepada guru Giok Hoa pun luar biasa anehnya.

Jika angin serangan dari seorang lawan di rimba persilatan, tentu akan menghantam lurus dan menerjang kepada lawan dengan langsung, Namun apa yang dilakukan oleh Siauw Kwie ternyata berbeda sekali dari kebiasaan itu.

Waktu Siauw Kwie mendorong dengan ke dua telapak tangannya itu, maka tenaga yang menyambar kepada Guru Giok Hoa tidak langsung.

Tenaga itu meliuk-liuk seperti juga gerakan seekor ular, tenaga serangan itu seperti lemas dapat berobah arah sasarannya.

Karena dari itu, dengan anehnya cara penyerangan tersebut, pihak lawan sementara tidak bisa mengetahui ke arah mana sesungguhnya yang diincar sebagai sasaran, karena bisa sebelah kiri, atau bisa juga samping kanan.

Dan tenaga itu tentu saja tidak bisa diperhitungkan keras dan lemahnya, berapa kuatnya karena justru sambaran dari tenaga serangan yang meliuk seperti itu telah mengaburkan dugaan untuk memperkirakan berapa kuatkah tenaga serangan tersebut.

Dalam keadaan seperti inilah, guru Giok Hoa yang walaupun heran, tidak mau bergerak sembarangan.

Karena tenaga serangan itu bergelombang, maka dia berdiri tegak di tempatnya.

Hanya saja dia telah bersiap-siap dengan satu jurus ilmu pukulan Kauw-bokpay yang dipergunakannya menghadapi jurus-jurus lawannya yang luar biasa anehnya ini.

Ketika merasakan tekanan tenaga serangan itu telah dekat dan kuat, tahu-tahu guru Giok Hoa telah berputar, dan tangannya telah meraba pinggangnya, dia telah melepaskan ikat pinggangnya.

Inilah untuk pertama kali guru Giok Hoa mempergunakan ikat pinggangnya dalam menghadapi lawan.

Jika dia tidak dalam keadaan terpaksa, tentu dia tidak akan mempergunakan ikat pinggangnya itu.

Sekarang karena dia agak terdesak juga, terlebih lagi memang cara menyerang dari lawannya itu agak luar biasa, dimana jurus penyerangan yang dilakukan oleh lawannya itu luar biasa tidak bisa diduga arahnya, akhirnya dia memutuskan untuk mempergunakan jurus-jurus sakti dari Kauw-bok-pay.

Dia telah mengibaskan angkinnya itu, melibat tangan kanan dari lawannya, dengan maksud akan menghentaknya, untuk ditariknya.

Namun gagal.

Usaha dari guru Giok Hoa yang hendak melibat tangan kanan dari Siauw Kwie telah mengenai tempat kosong, karena di waktu itu terlihat ang-kin itu telah menyambar tempat yang kosong.

Seperti sifat dari cara menyerang Siauw Kwie, yang tenaga serangannya itu meliuk-liuk, maka tangannya itu juga dapat merobah kedudukannya.

Sehingga guru Giok Hoa tidak berhasil untuk melibat pergelangan tangan Siauw Kwie dengan ang-kinnya, karena begitu ang-kinnya menyambar dekat, justeru tangan Siauw Kie telah bergeser tempat dan berobah kedudukannya, namun tenaga serangannya yang begitu kuat masih terus menyambar kepada guru Giok Hoa dengan meliuk-liuk.

Dengan demikian, guru Giok Hoa hampir saja melakukan suatu kesalahan, begitu ang-kinnya menyambar tempat kosong, dan dia terlambat buat berkelit dari menyambarnya kekuatan tenaga yang begitu kuat, niscaya tubuhnya akan terhantam dengan hebat.

Dasarnya dia memang anak angkat dari pendekar sakti Sin-tiauwtay-hiap Yo Ko dan Siauw Liong Lie, yang telah menerima gemblengan sangat keras, dengan demikian membuatnya jadi memiliki kepandaian beraneka ragam disamping beberapa kepandaian pokok yang hebat.

Begitu melihat gelagat dirinya menghadapi bahaya tidak ringan, segera juga dia telah berputar.

Tubuhnya tidak berobah kedudukan kuda-kuda ke dua kakinya, hanya saja tubuh itu telah berputar sedemikian rupa, berputar dengan gerakan sangat cepat sekali.

Tetapi yang hebat dengan caranya ini, sesungguhnya terletak pada cara dia berputar.

Karena begitu tubuhnya berputar, tekanan tenaga dari penyerangnya telah dapat dihindarkannya, di mana tenaga itu seperti menjadi panah karena menyerang tubuh yang lemas berputar seperti itu, sama sekali tidak terdapat daya menolak atau melawan.

Karenanya, begitu tubuh guru Giok Hoa berputar, maka tenaga serangan yang aneh dari Siauw Kwie telah punah.

Namun Siauw Kwie tidak mau sudah sampai di situ saja, dengan murka karena melihat cara penyerangannya tersebut yang sebelumnya diharapkan bisa merubuhkan guru Giok Hoa telah menemui kegagalan, membuatnya jadi mengulangi lagi.

Sekarang jauh lebih cepat.

Tenaga serangan itu tetap meliuk-liuk, akan tetapi tekanannya jauh lebih kuat.

Siauw Kwie yang melihat cara guru Giok Hoa menyelamatkan diri dari sambaran tenaganya yang aneh itu, yang bisa diliukliukkannya, menduga tentunya itu disebabkan tenaganya kurang kuat.

Karenanya dia telah menambah tenaga serangannya, di mana dia yakin walaupun guru Giok Hoa melakukan gerakan memutar seperti tadi, tidak mungkin dia bisa memunahkan tenaga penyerangannya kali ini.

Siauw Kwie telah mempersiapkan, jika serangannya kali ini tidak menerima tenaga tolakan atau perlawanan dari lawannya yang berputar, justeru dia akan membarengi dengan mempergunakan tenaga melibat dan menarik, di mana tenaga serangannya itu akan dibuat sedemikian menjadi semacam gulungan angin serangan yang melibat diri guru Giok Hoa.

Guru Giok Hoa pun bukannya orang tolol.

Dia menyadari bahayanya penyerangan yang dilakukan lawannya.

Karena itu, sekali ini tidak berputar.

Begitu berhasil memunahkan tenaga serangan lawannya, segera juga dia menjejakkan ke dua kakinya tanpa menantikan penyerangan berikutnya, tubuhnya melambung ke tengah udara, di mana ang-kinnya telah diputarnya.

Ang-kin itu terbuat dari secarik kain sutera yang berwarna kuning, sama seperti pakaiannya, tetapi ada keistimewaannya.

Walaupun ang-kin itu menyambarnya lemah gemulai, namun jika diperlukan ang-kin tersebut bisa dibikin keras, kaku dan bisa dipergunakan sebagai gantinya toya!

Juga ang-kin itu bisa dibuat menjadi lunak buat melibat senjata lawan.

Karenanya, ang-kin itu memiliki banyak keistimewaannya.

Maka betapapun juga ang-kin dari guru Giok Hoa tidak bisa dianggap ringan, karena setiap serangan yang dilakukannya itu merupakan penyerangan yang bisa membahayakan lawannya.

Rupanya Siauw Kwie yang sama sekali tidak menyangka akan kegunaan ang-kin itu di mana Siauw Kwie hanya menduga ang-kin itu mungkin hanya bisa dibuat kaku karena disalurkan tenaga dalamnya, dengan berani menghantam dengan jurus kedua dari pukulannya yang istimewa itu.

Dan tenaga serangannya itu benar-benar sangat kuat sekali.

Dia berpikir, jika tokh memang guru Giok Hoa mempergunakan tenaga dalamnya buat membikin kaku ang-kin itu, tentu akan menjadi hancur oleh kekuatan tenaga serangannya.

Karena dari itu, dia telah menyerang dengan tenaga yang bertambah kuat.

Dalam keadaan seperti ini, guru Giok Hoa tidak berayal telah membuat ang-kinnya menjadi lemas.

Ujung ang-kin itu seperti juga kepala ular sigap sekali telah melingkar melibat ke dua tangan Siauw Kwie.

Siauw Kwie tidak berkelit kali ini, dia berusaha mengelakkan tangannya dari sambaran ujung ang-kin.

Didalam hatinya dia berpikir.

"Hemmm, begitu ang-kinmu melibat tanganku dan aku mengerahkan tenaga dalamku maka ang-kinmu ini akan hancur lumat.......!" Karena memiliki keyakinan seperti itulah telah membuat Siauw Kwie tidak berusaha menghindarkan tangannya dari libatan angkin tersebut. Dia membiarkan ang-kin itu melibat sepasang tangannya. Dan waktu ang-kin itu mulai melibatnya bersamaan waktunya, segera juga Siauw Kwie mengempos tenaga dalamnya. Dia bermaksud menghancurkan ang-kin itu dengan mengandalkan kehebatan tenaga lweekangnya. Namun Siauw Kwie kecele. Karena waktu itu ang-kin tersebut telah merobah pula keadaan sifatnya, menjadi lunak dan lembek, di mana waktu tenaga dalam dari Siauw Kwie berusaha untuk menolak dan menghancurkan ang-kin itu, ang-kin tersebut menjadi lunak, selunak kapas. Malah di waktu itu, dalam keadaan Siauw Kwie belum lagi bisa mempersiapkan segala sesuatunya untuk mengempos semangat dan tenaganya guna menyerang ke tiga kalinya, di waktu itulah terlihat guru Giok Hoa malah telah mengempos semangatnya, maka seketika ang-kin itu menjadi keras dan kaku, dalam keadaan ujungnya masih melingkar terus di pergelangan ke dua lawannya! Guru Giok Hoa juga tidak membuang-buang kesempatan yang baik itu, ketika dia telah menyalurkan lweekangnya membuat angkin itu menjadi sekaku besi, maka dalam keadaan seperti itulah segera juga dia membentak nyaring.

"Pergilah kau!"

Dia rupanya telah menghentak dengan mengerahkan tenaga lweekangnya sebanyak delapan bagian.

Harus diketahui, bahwa ilmu silat warisan Kauw-bok-pay merupakan semacam ilmu silat yang bisa dipergunakan dengan cara lunak dan di dalamnya terdapat juga kekerasan yang dahsyat sekali.

Terlebih lagi setelah disempurnakan oleh Yo Ko dan Siauw Liong Lie, maka ilmu silat itu semakin hebat.

Sekarang memang guru Giok Hoa mempergunakannya dengan mengkombinasikan dengan ilmu silat Am-jian-sio-hun-kun.

Sehingga kekuatan tenaga menghentaknya itu jadi luar biasa sekali.

Tubuh dari Siauw Kwie seperti juga dihentak oleh kekuatan gelombang laut yang sangat besar sekali, membuat tubuhnya jadi terdorong ke depan.

Dalam keadaan seperti inilah, segera juga terlihat dia telah melesat ke tengah udara.

Pertamanya, begitu dia merasakan tubuhnya tertarik ke depan, sebetulnya Siauw Kwie hendak mempertahankan diri dengan mengerahkan kekuatan selaksa kati.

Akan tetapi dia merasakan tenaga menarik yang dilakukan oleh guru Giok Hoa waktu itu sangat kuat sekali.

Juga waktu itu kedudukan cara berdiri Siauw Kwie, di mana kuda-kuda ke dua kakinya tidak menguntungkannya, karena jika tokh dia bertahan, dia hanya bisa bertahan setengah-setengah, malah ini bisa membahayakan dirinya, jika saja guru Giok Hoa dalam kesempatan tersebut mempergunakan hantaman tangan kirinya.

Begitu tubuhnya terasa terhentak, maka dia segera merobah keputusannya, dia jadi batal bertahan.

Malah waktu itu dia telah menjejakkan ke dua kakinya, tubuhnya melesat ke tengah udara.

Dengan dibantu jejakkan kakinya, maka tubuh Siauw Kwie jadi begitu ringan, seperti juga sehelai daun kering yang melayang ke tengah udara.

Malah, karena menggabungkan tenaga jejakkan ke dua kakinya dengan tenaga tarikan dari guru Giok Hoa, membuat tubuh Siauw Kwie terlontar dengan daya tolak sampai delapan tombak ke tengah udara.

Sedangkan ang-kin dari guru Giok Hoa tidak sampai empat meter.

Dengan sendirinya libatan pada ke dua tangan Siauw Kwie terlepas.

Dan di tengah udara Siauw Kwie bukan hanya berpok-say seperti biasanya saja.

Karena dia berpok-say bertingkat, di mana pertama kali dia berpok-say, dengan tubuh yang berputar seperti gerakan bola, tubuhnya itu melengkung seperti menjadi bulat, antara ke dua kaki dengan dadanya telah saling bertemu, ke dua lututnya mengenai dadanya.

Kemudian waktu tubuhnya berputar di udara, dia telah melonjorkan kakinya, bagaikan layang-layang.

Ke dua tangannya dikembangkan dan tubuhnya meluncur turun.

Barulah kemudian dia berjumpalitan lagi, di mana tubuhnya meluncur dengan ke dua kakinya terlebih dulu hinggap di atas tanah!

Guru Giok Hoa sendiri waktu itu bukannya tidak terkejut, dia heran juga melihat keberanian Siauw Kwie dalam menghadapi cara hentakannya itu, karenanya diapun terkejut ketika tahu-tahu libatan dari ujung ang-kinnya terlepas dan tubuh Siauw Kwie malah terlontar lebih tinggi dari perkiraannya, seperti juga seekor burung yang telah terlepas dari jeratnya.

Belum lagi rasa heran bercampur kagum pada guru Giok Hoa berkurang, justeru disaat itu Siauw Kwie yang tengah meluncur turun, ke dua kakinya baru saja hinggap di tanah membentak mengguntur, sepasang tangannya menghantam berulang kali.

Itulah hantaman yang merupakan penyerangan sangat dahsyat, karena begitu tenaga pukulan tersebut menyambar, segera juga guru Giok Hoa merasakan kuatnya tenaga mendorong, seperti runtuhnya gunung.

Belum lagi tenaga serangan pertama itu tiba pada sasarannya, telah disusul tenaga lainnya yang menyambar dengan ancaman yang tidak lebih ringan, karena Siauw Kwie menyerang beruntun dan berulang kali dengan cara memukul seperti juga ilmu pukulan Pek-kong-ciang atau Pukulan Udara Kosong, yang menghantam dari jarak terpisah, cukup jauh dari lawan.

Yo Kouw-nio, guru Giok Hoa, sudah tidak keburu mempergunakan ang-kinnya, karena itu tahu-tahu tenaga serangan Siauw Kwie telah dekat, memaksa mempergunakan salah satu jurus Am-jiansio-hun-kun, yaitu jurus ketujuh yang bernama "Yong-jin-cu-yu"

Atau "Si Goblok Kejengkelan Sendiri". ia membalas mendorong dengan ke dua telapak tangannya, "Dukkk, dukkk!"

Dua kali terdengar suara benturan yang sangat kuat, sehingga suara benturan itu menyebabkan tempat tersebut tergetar.

Kesudahannya benar-benar menakjubkan sekali!

Sepasang kaki Yo Kouw-nio (nona Yo) melesak ke dalam tanah belasan dim, menembus lapisan salju dan menembus ketebalan bumi.

Siauw Kwie tidak kurang hebatnya mengalami kesudahan dari bentrokan pukulan mereka, sepasang kakinyapun melesak ke dalam tanah, dalam sekali.

Tubuhnya mengejang, mukanya merah padam dan sepasang matanya mendelik.

Mata yang semula begitu jeli kini tidak memperlihatkan kegenitan lagi, tampak biji matanya begitu besar mengawasi kepada Yo Kouw-nio.

Giok Hoa yang melihat keadaan gurunya seperti itu, dimana sepasang tangan terlonjor ke depan dan sepasang kakinya melesak sampai menembus bumi bermaksud melompat maju buat melihat keadaan gurunya itu, kalau-kalau gurunya mengalami sesuatu yang tidak diinginkan di tangan lawannya.

"Adik Giok Hoa, jangan….. berbahaya!"

Cegah Ko Tie sambil mengawasi si gadis, matanya memancarkan permohonan agar gadis tersebut tidak membantah cegahannya itu.

Giok Hoa tampak panik dan bingung, juga mukanya agak memucat.

Di waktu itu ia berkata tergagap.

"Guruku itu......."

"Ya, mereka saling mengadu kekuatan tenaga dalam, kita tidak boleh menengahi mereka dulu, karena tenaga dalam mereka tengah bertemu di tengah udara dengan kekuatan yang hebat sekali.

"Jika engkau menerjang ke tengah-tengah mereka, menyelinap di antara dua kekuatan tersebut, niscaya engkau sendiri yang menjadi korban, karena lweekangmu berada di bawah mereka yang tengah saling berusaha menindih....."

Menjelaskan Ko Tie.

Giok Hoa tampaknya dapat juga diberi pengertian, sebab ia tidak memaksa hendak pergi ke dekat gurunya.

Ia berdiri dengan muka memperlihatkan ketegangan hati, walaupun bagaimana gadis ini tetap saja tidak tenang.

Yo Kouw-nio waktu itu tampak tengah mengempos lwekangnya biarpun telah saling bentur tiga kali, tenaga lwekangnya masih saling tindih berusaha mengadu kekuatan tenaga dalam dengan lawannya, yang waktu itu masih berdiri mengejang dengan sepasang tangan terlonjorkan, tergetar keras sekali.

Tampak mereka berdua masing-masing mengerahkan tenaga dalam mereka berusaha untuk saling menindih dan merubuhkan lawan mereka.

Siauw Kwie sendiri di saat itu jelas tengah berusaha dan berupaya sekuat tenaganya, untuk dapat merubuhkan dan menggempur lweekang lawannya.

Beberapa kali ia menggempos menambah kekuatan tenaga dalamnya, namun tetap saja tidak berhasil.

Jika saja ia berhasil menggugurkan dan meruntuhkan tenaga dalam lawannya, Yo Kouw-nio akan terluka di dalam tubuh yang berat.

Memang benar lweekang Yo Kouw-nio masih di bawah setengah tingkat atau kalah seurat dibandingkan lweekang lawannya.

Namun ia memiliki lwekang yang lurus dan murni, warisan dari kedua orang tua angkatnya, yaitu Yo Ko dan Siauw Liong Lie.

Sejak kecil Yo Kouw-nio telah menerima gemblengan yang sangat keras dari Siauw Liong Lie, di mana seperti juga ia memang sejak kecil telah berhasil memiliki lweekang dan dasar yang lurus dan murni, sehingga setelah dewasa, waktu ia menerima petunjuk yang jauh lebih penting dari Yo Ko, ia bisa berlatih dengan mudah!

Menghadapi lweekang yang sesat, akan menyebabkan ia memang lebih tangguh daya pertahanannya, walaupun lweekang lawannya seimbang.

Karena dari itu, biarpun Siauw Kwie telah mengerahkan dan mengempos lweekangnya sekuat tenaganya, masih juga ia selalu gagal untuk merubuhkan Yo Kouw-nio.

Sebaliknya Yo Kouw-nio pun dalam mengadu kekuatan tenaga dalamnya bukan hanya menyalurkan tenaga murninya belaka, karena di samping ia mengempos lweekangnya, iapun berusaha memikirkan cara yang terbaik buat merubuhkan lawannya.

Atau sedikitnya agar ia dapat mendesak lawannya itu, karena dari itu, beberapa usaha telah dicobanya.

Ia telah berusaha untuk mendesak lawannya dengan pukulan telapak tangannya, disusul dengan pengerahan lweekang lagi, dan menangkis memunahkan tenaga serangan lawannya.

Dengan demikian membuat mereka selalu saling mengadu tangan dan kekuatan lagi.

Tetap saja Yo Kouw-nio tidak berhasil dengan usahanya itu, karena ia tetap berada di bawah tindihan dari kekuatan lweekang lawannya.

Dengan caranya seperti sekarang ini, memang diakui oleh Yo Kouw-nio di dalam hatinya, tidak membawa keuntungan buat dirinya karena inilah yang disebut keras dilawan keras.

Dan tentu saja, lawannya yang memang memiliki lweekang lebih tinggi seurat dari dia, jauh lebih beruntung memiliki posisi yang jauh lebih kuat.

Sekarang ini memang dapat Yo Kouw-nio bertahan terus menghadapi tenaga dalam lawannya.

Tetapi jika mereka bertempur terus setengah harian lagi, niscaya akan menyebabkan Yo Kouw-nio berkurang tenaganya dan rubuh sendirinya.

Bukan Yo Kouw-nio sendiri yang bingung karena justeru Siauw Kwie sendiri pun tidak kurang bingungnya melihat lawannya masih belum dapat dirubuhkannya.

Walaupun bagaimana, ia seorang tokoh rimba persilatan yang memiliki nama disegani semua jagojago rimba persilatan, karena ilmunya yang memang sangat tinggi sekali.

Jarang ada orang yang bisa menandinginya.

Dalam kemarahannya seperti itu, Siauw Kwie sesungguhnya hampir tidak bisa menahan diri dan ingin meneriaki Tang Lan Cie dan anak buahnya yang lain, agar mereka maju mengeroyok Yo Kouw-nio.

Hanya saja ia segera teringat bahwa dirinya duapuluh tahun lebih berlatih diri mati-matian untuk memiliki kepandaian yang tinggi sempurna, yang kelak akan dipergunakan buat menghadapi Yo Ko.

Jika memang menghadapi anak angkat Yo Ko saja ia tidak sanggup dan tidak bisa merubuhkannya, bagaimana mungkin dia memiliki muka buat mencari Yo Ko lagi?

Dan tentu saja iapun tidak memiliki muka buat mengajak Yo Ko mengukur ilmu, karena biar bagaimana kepandaiannya yang sekarang ini dimilikinya memang masih berada di bawah kepandaian Yo Ko!

Bukankah sekarang saja menghadapi anak angkat Yo Ko dia tidak bisa segera merubuhkannya, malah mereka tampaknya hampir berimbang?

Dibayangkan juga oleh Siauw Kwie bahwa Tang Lan Cie dan semua anak buahnya akan mentertawainya diam-diam, di dalam hati mereka tentu akan mencemoohkannya.

Di mana wibawa dan pengaruhnya di mata anak buahnya, jika kali ini ia tidak bisa merubuhkan anak angkat Yo Ko.

Tetapi begitu, penasaran Siauw Kwie semakin besar, walaupun ia batal perintahkan anak buahnya mengeroyok Yo Kouw-nio, namun ia sendiri bertekad harus dapat merubuhkan Yo Kouw-nio.

Ia berusaha mengempos seluruh kekuatan tenaganya, karena kali ini sungguh-sungguh hendak mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya.

Ia mengetahui bahwa Yo Kouw-nio di waktu itu tentu telah letih, dan jika ia sekali ini mendesaknya dengan seluruh kekuatan sinkangnya, niscaya Yo Kouw-nio tidak sanggup menghadapinya lagi.

Ia mengharap bisa merubuhkan Yo Kouw-nio dengan satu kali serangannya yang paling kuat ini.

Tetapi usaha dari Siauw Kwie ternyata gagal.

Yo Kouw-nio masih dapat bertahan.

Benar-benar tangguh sekali Yo Kouw-nio.

tidak percuma ia memperoleh gemblengan dari Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko, dan juga ibu angkatnya, Siauw Liong Lie, ke dua pendekar sakti itu, pasangan pendekar yang memang harus diakui akan kehebatan mereka.

Sekarang, biarpun lweekang Yo Kouw-nio memang masih berada di bawah lweekang lawannya, tokh dia masih bisa tahan buat menghadapi Siauw Kwie demikian lama!

◄Y► Swat Tocu yang waktu itu tengah berjalan perlahan-lahan karena terlalu lama menantikan Ko Tie bersama beruang salju itu belum juga kembali ke puncak tertinggi Heng-san, jadi tidak sabar dan menduga muridnya tengah menghadapi ancaman bahaya.

Karenanya iapun turun dari puncak tertinggi Heng-san, dia telah berjalan perlahan-lahan.

Hanya saja ia kini tidak melihat kobaran api lagi.

"Apakah Ko Tie telah bisa mengatasi kebakaran itu?

Atau memang kebakaran itu hanya kecelakaan belaka karena pemilik rumah itu lalai dalam meletakkan api penerangan atau disebabkan perapian yang terlalu besar?!"

Berpikir Swat Tocu sambil mengawasi sekitarnya.

Tokoh sakti rimba persilatan ini tetap melangkah perlahan-lahan menuruni puncak tertinggi gunung itu.

Dan waktu tiba di tempat yang agak tinggi dari sebungkah batu gunung menonjol, dari mana ia bisa melihat keadaan di bawah, sehingga ia bisa melihat Ko Tie tengah berdiri berendeng dengan seorang gadis.

Si gadis yang pernah ditawannya, juga terdapat banyak sekali gadis-gadis cantik lainnya yang semuanya berpakaian serba putih.

Dilihatnya, di tengah-tengah, dalam sebuah gelanggang cukup besar di sekitar orang-orang itu, ada dua orang wanita yang tengah bertempur mengadu kekuatan tenaga lweekang.

Yang seorang cantik bukan main, mengenakan baju warna merah.

Walaupun usianya telah cukup tinggi hampir setengah baya, tokh wajahnya cantik sekali, memiliki raut wajah yang menarik sekali dan memancarkan kecentilan atas sikapnya yang genit!

Matanya waktu itu tengah mendelik besar mengandung kebencian dan memancarkan hawa pembunuhan.

Ia tengah mengempos semangatnya buat menindih kekuatan sin-kang lawannya.

Yang seorang lagi adalah seorang wanita berpakaian serba kuning, yang dikenalnya sebagai anak angkat Yo Ko, yaitu Yo Kouw-nio, yang memang pernah bertemu dengannya beberapa kali waktu Swat Tocu membantui pihak Kay-pang menghadapi kerajaan.

Yang membuat Swat Tocu tidak mengerti, mengapa anak angkat Yo Ko bertempur hebat dengan wanita berpakaian serba merah itu, malah tampaknya mereka berdua tengah mengeluarkan seluruh kemampuan dan kepandaian mereka, karena mereka masingmasing berusaha merubuhkan lawan mereka.

Terlihat juga dari tubuh mereka yang menguap dan keringat yang sebesar kacang telah menitik turun tidak hentinya.

Pakaian mereka basah kuyup, walaupun di waktu itu keadaan di tempat tersebut sangat dingin, bumi diselimuti salju, namun mereka tetap saja berkeringat deras seperti itu!

Ko Tie segera dapat melihat gurunya, sampai ia berseru girang.

Sedangkan Giok Hoa yang melihat datangnya Swat Tocu, hatinya tidak tenang.

Karena ia kuatir Swat Tocu nanti berpihak kepada Siauw Kwie, dan mempersulit gurunya.

Karena kuatirnya gadis ini sampai melirik kepada Ko Tie, buat melihat reaksi dan sikap pemuda itu.

Dilihatnya wajah Ko Tie berseri-seri girang sekali.

Si gadis cepatcepat memisahkan dirinya jauh-jauh dari Ko Tie.

Tampak pipinya agak memerah, sebab di waktu itu Swat Tocu juga tengah memandangi padanya dengan bibir tersenyum penuh arti, membuat gadis itu malu.

Ko Tie terkejut melihat si gadis tiba-tiba menjauhi dirinya.

Hanya cepat sekali ia mengerti dan segera memahami bahwa gadis ini tentunya malu jika berada berdekatan dengannya, sedangkan di tempat itu telah datang guru si pemuda, yang belum lama lalu memiliki pertentangan dan sedikit ganjalan dengan Giok Hoa!

"Suhu!"

Panggil Ko Tie sambil lari menghampiri dan memberi hormat.

"Orang-orang jahat itu mempersulit Yo Cici!"

Swat Tocu mengangguk dan perintahkan Ko Tie agar menepi.

Tanpa mengucapkan sepatah kata, ia melangkah perlahan-lahan menghampiri gelanggang pertempuran.

Setelah berada dekat, barulah Swat Tocu berkata.

"Yo Kouw-nio, tampaknya kau tengah gembira sekali main-main dengan wanita ini."

Sambil berkata, Swat Tocu telah mengulur tangannya.

Cepat sekali gerakannya, dari telapak tangannya meluncur serangkum angin yang halus sekali, menyelinap tepat di tengah-tengah dua kekuatan yang tengah saling tindih itu.

Tidak terdengar suara benturan, namun kesudahannya memang menakjubkan dan membuat Yo Kouw-nio dan Siauw Kwie kaget serta kagum.

Karena waktu itu mendadak sekali kekuatan tenaga mereka menjadi lenyap dan mereka seperti kehilangan sasaran, sehingga hampir saja tubuh mereka terjerunuk ke depan, jika saja Swat Tocu tidak menyampok dengan tangan satu lagi, sehingga tubuh kedua wanita itu seperti juga tertahan oleh suatu kekuatan yang tidak tampak, membuat mereka tidak sampai terjerunuk ke depan.

Yo Kouw-nio cepat-cepat merangkapkan ke dua tangannya setelah mengenali Swat Tocu.

"Akh kiranya Swat Locianpwe! Apa kabar? Apakah locianpwe selama ini dalam keadaan baik-baik?!" Swat Tocu tersenyum mengangguk.

"Ya, jika aku tidak sehat tentu tidak berada di tempat ini! Bagaimana dengan Yo Tayhiap dan Yo Hujin? Apakah mereka dalam keadaan baik-baik?!"

Yo Kouw-nio masih membungkuk memberi hormat ketika menyahuti.

"Baik, terima kasih atas perhatian locianpwe!"

Berbeda dengan Yo Kouw-nio yang girang melihat kehadiran Swat Tocu di tempat itu, maka Siauw Kwie justeru jadi tidak senang.

Ia memang mengetahui siapa adanya Swat Tocu, telah lama didengarnya perihal Tocu Pulau Es ini, di mana kepandaiannya memang sangat tinggi.

Dan baru kali ini ia melihat orangnya.

Dia jadi tidak senang justeru Swat Tocu telah mencampuri urusan orang lain, mencoba memisahkannya, berarti tangannya begitu lancang!

"Orang tidak tahu malu, kutungkan tanganmu sebagai hukumanmu berlancang tangan mencampuri urusanku!

Jika tidak, hemmmm, aku akan menghabisi jiwamu!"

Bentakan itu disertai dengan mata yang mendelik lebar-lebar, galak sekali dan mulut yang monyong cemberut.

Namun Siauw Kwie memang memiliki paras yang cantik, karena biarpun ia berada dalam keadaan marah seperti itu, parasnya tetap cantik.

Swat Tocu melengak sejenak melihat kegalakan Siauw Kwie, namun segera juga ia tersenyum.

"Mengapa harus marah-marah seperti itu? Ku kira, ada baiknya jika memang aku memisahkan kalian, sebab tadi kulihat, keadaan kalian terancam bahaya. Kalian berdua bisa terluka di dalam yang tidak ringan, jika saja tidak segera dipisahkan!"

"Hemmmmm!"

Mendengus Siauw Kwie.

"Apa hubunganmu dengan kami sehingga kau tampaknya begitu menguatirkan keselamatan kami, membuat engkau berusaha memisahkan kami? Cepat kutungkan tanganmu!"

Tapi Swat Tocu, biarpun mendongkol melihat sikap Siauw Kwie yang galak seperti itu, tapi kini berusia telah lanjut dan jauh lebih sabar dibandingkan dengan waktu-waktu yang lalu.

Coba jika saja Siauw Kwie bertindak dan bersikap ceroboh seperti itu padanya sepuluh tahun yang lalu, niscaya Swat Tocu sedikitnya akan menghajar mulut wanita yang nampaknya galak dan kejam ini, di samping wajahnya memancarkan kegenitannya!

"Tenanglah, dengar dulu keteranganku!"

Kata Swat Tocu sabar.

"Walaupun aku tidak memiliki hubungan apa-apa, tapi apakah, aku tidak boleh memisahkan orang yang tengah terancam bahaya karena mengadu kekuatan mempertaruhkan jiwa? "

Sesungguhnya ada urusan apakah di antara kalian yang tidak bisa dipecahkan atau diselesaikan, sehingga kalian berlaku begitu nekad. Telah bertempur mempertaruhkan jiwa kalian masingmasing?!"

Muka Siauw Kwie semakin berobah merah padam, ia bilang dengan sikap tetap galak.

"Tidak perlu banyak bertanya, sekarang engkau harus melaksanakan perintahku, kutungkan lenganmu, jika tidak, aku yang akan bertindak mengambil jiwamu!"

Melihat sikap Siauw Kwie kurang ajar dan galak seperti itu terhadap gurunya membuat Ko Tie yang jadi gusar dan mendongkol, ia melangkah maju sambil katanya.

"Suhu!"

Tapi cepat sekali Swat Tocu telah menggerakkan tangannya, katanya.

"Jangan, kau berdiri saja menyaksikan dari sana! Menarik sekali wanita ini sungguh galak namun sangat cantik!"

Ko Tie tidak berani membantah perintah gurunya, segera ia berdiri di pinggir di luar gelanggang, buat menyaksikan saja, padahal hatinya panas sekali karena melihat kekurang ajaran Siauw Kwie.Ia berdiri di samping Giok Hoa, yang waktu itu berdiri dekat di sisi kanannya.

Tampaknya gadis ini lebih tenang dibandingkan dengan tadi, karena sekarang telah dilihatnya, bahwa Swat Tocu memang tidak mempersulit gurunya, dan malah membela gurunya.

Sekarang tengah menghadapi Siauw Kwie karena dari itu, senang hati Giok Hoa, sehingga ia melirik kepada Ko Tie sambil tersenyum.

Kebetulan waktu itu memang Ko Tie tengah mengawasi si gadis, sehingga mata mereka bertemu, membuat pipi si gadis berobah merah dan terasa panas.

Ia cepat-cepat membuang pandang ke arah lain.

Ko Tie juga segera memandang lagi ke gelanggang, karena ia ingin melihat apa yang hendak dilakukan gurunya terhadap Siauw Kie.

Waktu itu Swat Tocu sambil tersenyum tenang berkata kepada Siauw Kwie.

"Sesungguhnya apa yang kau inginkan? Apakah tanganku ini cukup menarik, sehingga kau perintahkan aku membuntungi tanganku ini? agar dapat kau ambil dan menyimpannya baik-baik?"

Muka Siauw Kwie jadi tambah merah padam karena marah yang meluap, ia berkata dengan suara yang penuh kegusaran.

"Baik!

Baik!

Rupanya engkau sengaja hendak mempermainkan aku!

Walaupun aku tahu, engkau adalah Swat Tocu yang diagulagulkan kepandaianmu di dalam rimba persilatan, namun aku justeru ingin sekali melihat dan membuktikan sendiri sebelum mengagumimu!"

Setelah berkata begitu, cepat luar biasa tangan kanan Siauw Kwie bergerak ke punggungnya.

Tahu-tahu dia telah mencekal gagang pedangnya yang terhunus, di mana ia telah melompat gesit sekali, pedangnya berkelebat dalam bentuk gulungan sinar putih menerjang pada Swat Tocu.

Memang Swat Tocu memiliki kepandaian yang tidak jeri berhadapan dengan Siauw Kwie yang tampaknya selain memiliki lwekang yang tinggi, juga ilmu pedangnya tidak boleh dipandang ringan.

Karena dari itu, segera juga ia telah bertindak cepat, ia tidak mau memandang enteng, dan telah mengulurkan tangan kanannya, dengan jari telunjuknya disentil pedang itu.

Namun gagal, karena waktu itu pedang Siauw Kwie telah ditarik pulang batal menyerang, dia tidak mau membiarkan pedang kena disentil.

Kemudian pedang itu telah berkelebat pula dengan cepat sekali, meluncur akan menikam dada Swat Tocu.

Swat Tocu tersenyum, tubuhnya tahu-tahu berkelebat, pedang itu lewat di sisi ketiaknya, dan disaat itulah tangan kirinya menyampok ke arah muka Siauw Kwie.

Kaget Siauw Kwie menerima serangan yang tidak terduga itu, ia memiringkan kepalanya mengelak.

Tapi buat kagetnya yang bertambah juga, dirasakannya angin serangan itu seperti juga es yang membuat pipinya seperti membeku!

Tepat sekali.

Swat Tocu digelari sebagai majikan dari Pulau Es, karena ilmu pukulannya itu memang memiliki hawa yang sedingin es, yang bisa membekukan!

Di waktu itu tampak jelas, Siauw Kwie mulai tergetar hatinya.

Dia memang telah sering kali mendengar akan kehebatan Swat Tocu, telah sering mendengar juga akan ilmu pukulan Swat Tocu yang luar biasa.

Namun dalam keadaan seperti itu, tentu saja ia menyadari, ia tidak bisa memperlihatkan menurunkan rasa semangat takutnya, anak karena buahnya.

hanya Maka dia akan tidak memperlihatkan rasa takutnya, di samping itu memang ia ingin sekali untuk menguji kebenaran berita-berita yang didengarnya mengenai Swat Tocu.

Ia ingin melihat apakah Swat Tocu benar-benar memiliki ilmu yang tinggi dan liehay sekali.

Karena dari itu, dia telah melakukan penyerangan.

Namun siapa sangka, begitu bergebrak justeru di waktu itulah dia telah merasakan hebatnya kepandaian dari lawannya ini.

Dia berusaha untuk memulihkan ketenangan dirinya dan setelah berdiri diam sejenak, sebelum Swat Tocu berkata, ia telah membarengi dengan terjangan lagi.

Pedangnya bergulung-gulung dalam bentuk sinar putih yang menutupi dan melindungi sekujur tubuhnya.

Dengan demikian membuatnya jadi terlindung jika seandainya ada serangan dari luar.

Ujung pedang juga telah melingkar ke sana ke mari mencari sasaran di tubuh Swat Tocu.

Sedangkan Swat Tocu sama sekali tidak bergeming dari tempatnya berdiri, ia hanya mengawasi saja datangnya serangan tersebut.

Dan di waktu itulah, pedang dari Siauw Kwie telah hampir tiba pada paha Swat Tocu, namun Swat Tocu dengan segera menggeser kakinya, dia berhasil membuat pedang jatuh pada sasaran yang kosong.

Di kala itu, pedang Siauw Kwie tahu-tahu telah naik ke atas, menyontek dengan kuat sekali, dibarengi dengan tenaga dorongan akan menikam dada Swat Tocu.

Itulah memang sasaran yang benar-benar sulit dielakkan oleh jago-jago sembarangan.

Namun bagi Swat Tocu, serangan seperti itu tidak berarti apa-apa baginya.

Tubuhnya berkelebat, tahu-tahu telah berada di belakang Siauw Kwie.

Diulur tangan kanannya maksudnya akan menepuk pundak Siauw Kwie.

Namun Siauw Kwie pun bukan jago sembarangan, dia wanita yang memiliki ilmu liehay.

Selama puluhan tahun dengan saudarasaudaranya dia telah berkelana dan berkecimpung menjagoi rimba persilatan, membuatnya dapat mengangkat namanya sangat terkenal sekali.

Sekarang menghadapi Swat Tocu yang memang liehay bukan main, dia mana mau mengalah begitu saja, karenanya, begitu mengetahui Swat Tocu mengelakkan tikamannya itu dengan berkelebat ke belakangnya, dia menyadari bisa saja Swat Tocu melakukan serangan di saat itu.

Buat mencegahnya, ia telah membalikkan pedangnya, tanpa memutar tubuhnya, hanya menekuk sepasang kakinya.

Dia menabaskan pedangnya ke belakang dengan cepat sekali, sehingga pedangnya itu menyambar menimbulkan sambaran angin yang berkesiuran dingin serta kuat sekali.

Swat Tocu pun agak terkejut melihat kegesitan dan hebatnya ilmu pedang Siauw Kwie sehingga terpaksa ia harus melindungi tangannya, yang ditarik pulang dengan cepat.

Kalau tidak tentu akan tertabas kutung oleh sambaran pedang lawannya.

Siauw Kwie telah mempergunakan ilmu pedang Sin-kiam-hwat atau Ilmu Pedang Sakti, di mana setiap jurusnya memiliki perobahan-perobahan yang banyak sekali.

Dan juga memiliki perhitungan yang tepat buat menghadapi lawan yang tangguh.

Maka setiap kali terancam, dia bisa merobah jurus serangannya dengan segera, dan dia bisa menghadapi Swat Tocu dengan baik.

Sebagai seorang yang memiliki kepandaian telah mencapai tingkat yang tinggi seperti Swat Tocu dan jarang sekali ada orang yang sanggup menandinginya pula, sekarang memperoleh lawan seperti Siauw Kwie, sedikitnya menarik hati Swat Tocu.

Dia jadi tertarik buat main-main dengan Siauw Kwie puluhan jurus.

Dan sekarang dia merobah sikapnya.

Jika tadi dia hanya berdiam diri dan mengelak dari setiap serangan Siauw Kwie, justeru setelah tangannya diselamatkan dari tebasan pedang lawannya, tubuhnya itu seperti juga bayangan belaka, bergerak sangat lincah sekali, sebentar berada di sebelah kiri atau kanan dari Siauw Kwie.

Malah diapun seperti telah mengelilingi Siauw Kwie.

Semula Siauw Kwie agak bingung menghadapi cara penyerangan Swat Tocu yang baru ini, namun segera juga ia bisa mengatasi diri.

Dia telah berusaha mengempos semangatnya, sepasang matanya dipentang lebar-lebar, dia telah mengawasi ke arah mana lawannya bergerak dan pedangnya menyambar dengan segera mengandung tenaga menikam yang sangat kuat.

Terlebih lagi memang Swat Tocu tidak mencabut senjata, hanya bertangan kosong belaka, dia jadi semangat sekali mengempos kekuatannya menyerang semakin hebat, pikirnya di dalam hatinya.

"Walaupun engkau memiliki kepandaian tinggi, tetapi dengan bertangan kosong seperti itu, jangan harap engkau bisa menghadapi ilmu pedangku!"

Dia telah mempergencar tikamannya, seperti juga hujan pedang belaka ke arah tubuh Swat Tocu.

Swat Tocu sambil melompat ke sana ke mari berkelebat-kelebat seperti bayangan, terdengar tertawa sambil katanya.

"Sekarang engkau harus hati-hati karena aku akan segera mulai balas menyerang!"

Di mana tubuh Swat Tocu tiba-tiba sekali mandek, dia telah mengayunkan ke dua tangannya.

Gerakannya itu mantap sekali, di saat mata pedang Siauw Kwie tengah menyambar ke arahnya, sehingga mata pedang itu seperti terbentur sesuatu yang kuat sekali, mencong dan beralih ke arah sasaran lainnya, membuat pedang itu juga tergetar sangat keras.

Siauw Kwie terkejut, dia menjejak ke dua kakinya, tubuhnya melesat ke belakang, karena ia merasakan betapa pedihnya telapak tangannya, sampai pedangnya hampir terlepas dari cekalannya.

Dengan tersenyum Swat Tocu bertanya.

"Apakah main-main ini akan dilanjutkan, karena tampaknya engkau masih penasaran? Mari...... mari….. mari kita teruskan. Kemarilah, kita main-main lagi, aku akan menemani.....!"

Sambil berkata begitu Swat Tocu melambaikan tangannya.

Jelas itulah sikap mengejek yang membuat Siauw Kwie meluap darahnya.

"Hemmmm, kau jangan sombong tua bangka, karena walaupun engkau memiliki nama yang sangat terkenal, belum tentu engkau bisa merubuhkan aku, Siauw Kwie!"

Teriaknya sambil bersiap-siap hendak menerjang lagi.

"Ohhhh.......... kiranya Siauw Kwie yang terkenal dengan perkumpulan itu, Lang-kauw? "

Baik! Baik! Bagaimana dengan Sun Kauw-cu? Apakah dia dalam keadaan baik-baik saja?!"

"Hemmmm, rupanya engkau telah mendengar nama besar Langkauw!"

Teriak Siauw Kwie yang terbangun semangatnya, karena ia mengetahui, tentunya Swat Tocu sedikitnya pernah mendengar nama besar Kauw-cunya, maka dari itu, dia telah tambah berani.

"Mari, mari kita teruskan main-main ini!"

Swat Tocu tertawa.

"Ya….. memang aku pernah mendengar perihal Lang-kauw, yang mengganas dan sekarang ini semakin menggila dengan perbuatan kejam perkumpulan tersebut! Aku justeru hendak mencari Kauwcu Lang-kauw, buat memberantasnya!" Waktu itu Siauw Kwie tidak memperdulikan ejekan Swat Tocu, melainkan pedangnya dengan sinarnya yang keperak-perakan telah menyambar dengan cepat sekali, seperti juga kilat, mendesir menimbulkan kesiuran angin yang dingin sekali, menyambar kepada ulu hati Swat Tocu. Di kala itu Swat Tocu sendiri masih berdiri di tempatnya tanpa bergerak, karena memang dia tengah mengawasi wanita berbaju merah ini, buat melihat berapa tinggi sesungguhnya kepandaian yang dimiliki Siauw Kwie, karena memang Swat Tocu telah pernah mendengar akan diri Siauw Kwie, salah seorang di antara sembilan Kwie lainnya yang sangat hebat kepandaiannya. Membuat Swat Tocu tidak mau sembarangan dalam turun tangan. Dia tidak mau menanam permusuhan dengan Siauw Kwie. Dan juga memang Swat Tocu belum mengetahui apakah saudarasaudara Siauw Kwie yang lainnya berada di sekitar tempat itu, dan ia harus memelihara tenaga. Memang kepandaiannya lihay dan terlatih mahir sekali, dengan sin-kang yang telah mencapai tingkat yang tinggi sekali. Tetapi menghadapi Siauw Kwie terdapat kesulitan apa-apa, jika memang semua saudara Siauw Kwie muncul dan mengeroyoknya itulah lain urusan. Waktu itu pedang Siauw Kwie menyambar dengan hebat sekali, tenaga sin-kang yang disalurkan pada ujung pedangnya menimbulkan angin yang tajam sekali. Di samping itu ujung pedang tergetar, seperti juga pedang tersebut telah berobah menjadi puluhan batang dan sasaran yang diincarnya jadi sulit sekali diterka. Itulah keistimewaan Sin-kiam-hwat. Karenanya Swat Tocu mementang matanya mengawasi cermat sekali. Waktu serangan telah dekat, dia berkelit sambil mengibaskan lengan bajunya. Gerakan yang dilakukannya begitu cepat dan mengandung kekuatan sin-kang yang hebat membuat Siauw Kwie satu kali lagi harus melompat mundur, karena dia terdorong oleh suatu kekuatan yang dingin, menggigilkan tubuh. Bukan kepalang penasaran dan kaget Siauw Kwie, karena dia tidak tahu ilmu apa yang dipergunakan Swat Tocu. Setiap kali dia mempergunakan tenaga dalamnya, akan mendatangkan rasa dingin yang begitu hebat di samping sangat kuat sekali! Dia seperti berada di sekeliling es yang bisa membekukan darah di sekujur tubuhnya! Sekali ini Siauw Kwie ragu-ragu buat menerjangnya lagi, karena telah dua kali ia melihat, begitu Swat Tocu mengerahkan tenaga dalam dan menyerangnya, dia terdorong hebat dan juga diterjang oleh hawa dingin yang luar biasa hebatnya yang seperti bisa membekukan tubuhnya. Dia memperhitungkannya tidak mau Siauw Kwie berlaku nekad. Setelah memandang sejenak lamanya kepada Swat Tocu dengan mata memancarkan kemarahan dan penasaran, Siauw Kwie berkata dengan marah.

"Baiklah, rupanya kali ini aku tidak dapat menghukummu, tetapi Lang-kauw tidak akan menghabisi urusan ini sampai di sini saja...... Kami akan datang mencarimu suatu saat kelak engkau harus menerima hukuman dari Lang-kauw!"

Waktu berkata begitu, Siauw Kwie bermaksud hendak memutar tubuhnya, karena ia ingin meninggalkan tempat itu, guna mengajak anak buahnya berlalu, dia berpikir, tidak ada manfaatnya jika dia bertempur terus melayani Swat Tocu.

Namun belum lagi dia menggeser kedudukan kakinya dan belum memutar tubuhnya, justeru diwaktu itu terdengar suara orang yang bernina bobo.

"Tidurlah anakku ibu nanti sayang….. akan ibu akan tidurlah, menemanimu, memetikkan buah, menangkap burung buat engkau bermain, Sekarang engkau tidurlah tidurlah yang manis……, nyenyak, karena besok engkau akan bermain lagi dengan riang…… tidurlah anak sayang......."

Senandung itu disenandungkan seorang wanita, yang suaranya sangat bening sekali.

Mendengar suara senandung itu, wajah Siauw Kwie tiba-tiba berobah menjadi cerah dan terang, karena dia menjadi girang sekali.

"Tok-kui-sin-jie (Setan Racun dengan Anak Sakti) Khiu Bok Lan!"

Berseru Siauw Kwie dengan suara yang nyaring, memperlihatkan kegirangan hatinya yang meluap-luap.

Swat Tocu sendiri mengerutkan sepasang alisnya.

Dia menoleh ke arah datangnya suara senandung itu, demikian juga Ko Tie, Giok Hoa dan yang lainnya, telah menoleh ke tempat dari mana datangnya suara senandung tersebut.

Cuma bedanya, anak buah dari Siauw Kwie memperlihatkan kegirangan bukan main, seperti juga mereka telah kedatangan seorang yang sangat mereka andalkan!

Dari arah sebelah kanan, di balik dari batu-batu gunung yang bertonjolan dan diselimuti oleh tumpukan salju, tampak melangkah ke luar seorang wanita.

Usianya telah setengah baya, namun wajahnya masih cantik dan ia bersolek sangat jelita sekali.

Di punggungnya tampak tersembul gagang pedang yang berkilauan kekuning-kuningan, pakaiannya sangat reboh sekali.

Rambutnya disanggul dua, dan yang luar biasa, di tangannya tampak dia menina-bobokan sesuatu.

Bukan seorang anak, melainkan sebatang pohon yang dipahat kasar dalam bentuk seperti seorang anak kecil!

Menyaksikan sikap dan kelakuan wanita itu, yang melangkah keluar mendatangi ke tempat Siauw Kwie berada, rupanya wanita ini tidak beres pikirannya alias sinting.

Karena batang kayu yang digendongnya itu digoyang-goyangkan, seperti juga dia tengah menina-bobokan seorang anak kecil dengan penuh kasih sayang dan sangat memanjakannya.

Begitu merdu suaranya, halus dan lembut sekali, penuh kasih sayang seorang ibu.

Siapakah wanita aneh ini yang tampaknya sinting?

Tentu para pembaca telah dapat menduganya siapa dia!

Benar!

memang dia tidak lain dari Tok-kui-sin-jie Khiu Bok Lan, wanita sinting yang selalu membawa-bawa mayat anaknya.

Sayang sekali mayat anaknya telah dibanting oleh Ko Tie, sehingga rusak, dan akhirnya dikubur.

Dan sebagai gantinya, dia telah memahat kasar sepotong batang kayu, yang dinina-bobokan digendong-gendong kemana saja dia pergi.

Dia memperlakukan potongan kayu itu seperti juga menghadapi anaknya masih hidup!

Mengerikan dan terkadang mendirikan bulu roma bagi orang yang sempat menyaksikan tingkah laku Tok-kui-sin-jie Khiu Bok Lan tersebut.

Swat Tocu sendiri yang melihat kelakuan wanita itu jadi mengerutkan kening dan sepasang alisnya dalam-dalam.

Ko Tie yang melihat munculnya Tok-kui-sin-jie jadi kaget tidak terkira.

Wajahnya berobah hebat, karena dia teringat waktu kecil dulu dia pernah jatuh di dalam tangan wanita ini dan dipaksa menjadi penina-bobo mayat anak wanita sinting tersebut.

Tok-kui-sin-jie Khiu Bok Lan telah berhenti bernyanyi, dia memandang sekelilingnya.

Pertama-tama dia memandang Siauw Kwie, dia tersenyum dan Siauw Kwie juga dengan muka berseriseri tersenyum lebar.

Kemudian Tok-kui-sin-jie telah menoleh kepada Swat Tocu, lalu dia menggumam.

"Hemm, tua bangka tidak menarik! Sungguh memuakkan melihat kau!"

Dan tahu-tahu Tok-kui-sin-jie Khiu Bok Lan memberikan potongan kayu yang digendong-gendongnya itu kepada Siauw Kwie.

Kemudian dengan langkah lebar, dia menghampiri Swat Tocu, bola matanya terbuka lebar, memancarkan sinar yang sangat mengerikan sekali.

"Hati-hati Suhu…… dia wanita sinting!"

Teriak Ko Tie, yang sangat menguatirkan gurunya.

Giok Hoa dan gurunya melihat wanita sinting tersebut juga jadi bergidik.

Biarpun cantik tetapi di tubuh Tok-kui-sin-jie tersebut memancarkan hawa yang sangat menakutkan sekali, sehingga membuat orang merasa seram sekali, seperti terdapat sesuatu kekuatan yang aneh dan agak mistik.

Sedangkan Swat Tocu tersenyum tenang saja, dia hanya merasa kasihan melihat keadaan wanita sinting itu.

Mendengar peringatan muridnya, dia hanya mengangguk.

Tidak demikian halnya dengan Tok-kui-sin-jie Khiu Bok Lan, karena tiba-tiba sekali dia menahan langkah kakinya, memutar tubuhnya, menoleh kepada Ko Tie.

Bola matanya memain sejenak, lalu wajahnya yang bengis itu berobah menjadi lunak dan lembut sekali.

Dia tersenyum manis, sambil menghampiri Ko Tie.

"Anak yang manis, engkau sekarang telah besar dan dewasa! Anak manis! Anak manis! Sekarang engkau telah menjadi pemuda yang gagah..... anak manis, ke mari dekat pada ibu! Mari nak!"

Sambil berkata begitu, Tok-kui-sin-jie melangkah menghampiri ke arah Ko Tie, sikapnya seperti juga wanita sinting ini tengah berhadapan dengan puteranya yang dianggapnya telah menjelang dewasa, pemuda tampan yang gagah.

Mengkirik Ko Tie melihat sikap wanita sinting itu, sedangkan kakinya tanpa dikehendaki jadi melangkah mundur dua tindak.

Memang Ko Tie yang sekarang ini bukan Ko Tie yang dulu, yang akan menurut saja apa yang dikatakan Bok Lan.

Dia sekarang telah memiliki kepandaian yang tinggi, menjadi murid Swat Tocu dan memperoleh gemblengan yang sangat baik sekali.

Namun melihat sikap sinting Bok Lan justeru dia tetap saja menggidik ngeri dan timbul perasaan seramnya, sehingga dia jadi mundur dua langkah ke belakang tanpa dikehendakinya.

"Mari!

Ke marilah nak, dekatlah kepada ibu!"

Panggil Bok Lan sambil melambaikan tangannya.

"Pergi….. jangan mendekati aku!"

Teriak Ko Tie dengan suara tergetar.

Entah mengapa menghadapi wanita sinting ini, tergetar hati Ko Tie, sebab walaupun bagaimana ia telah mengetahui bahwa wanita ini sinting dan juga telah membekukan mayat anaknya, yang selalu dibawa-bawanya.

Dan Ko Tie pernah menggendong anak wanita sinting ini, dalam bentuk mayat yang telah dibekukan.

Dengan demikian membuat Ko Tie selalu merasa ngeri dan seram jika melihat wanita sinting tersebut.

Waktu itu jarak antara Bok Lan dengan Ko Tie tidak terlalu jauh lagi.

Swat Tocu sendiri membiarkan Bok Lan menghampiri muridnya.

Dia justeru hendak melihat apa yang ingin dilakukan oleh Bok Lan, sehingga dia hanya berdiri dengan tersenyum-senyum saja mengawasi dengan keadaan bersiap sedia.

Jika memang muridnya membutuhkan pertolongannya, barulah dia akan turun tangan buat menolonginya.

Bok Lan tiba-tiba tertawa bergelak, katanya.

"Sangat girang hatiku melihat engkau telah menjadi besar dan gagah seperti sekarang ini..... mari anak, mari ke dekat ibu, anakku. Ibu ingin memelukmu….. ibu telah rindu sekali padamu!"

Dan wanita sinting itu bukan hanya sekedar memanggil-manggil belaka, sebab tubuhnya tahu-tahu telah melesat, menubruk akan memeluk Ko Tie.

Bukan main kaget dan ngerinya Ko Tie, ia sampai mengeluarkan seruan tertahan, keringat dingin telah keluar dari kening dan tubuhnya, dia berkelit menghindar dari tubrukan Bok Lan.

Benar gerakan Bok Lan sangat cepat, namun Ko Tie lebih cepat lagi menghindar, sehingga Bok Lan tidak berhasil memeluknya.

"Eh..... anakku, gesit sekali kau!"

Kata Bok Lan sambil tertawa.

Sama sekali dia tidak marah atau kurang senang, malah tampaknya dia girang sekali, seperti tengah bermain-main dengan anaknya riang sekali.

Ko Tie kewalahan juga, tiga kali Bok Lan mengulangi tnbrukannya hendak merangkulnya.

Giok Hoa yang melihat Ko Tie begitu panik selalu menghindar dari tubrukan Bok Lan tidak bisa menahan tertawanya.

Dia geli sekali dan beranggapan itulah urusan yang lucu sekali, lenyap perasaan seramnya.

Bahkan gadis ini, yang memang memiliki perasaan halus, segera merasa berkasihan kepada Bok Lan.

Karena dia beranggapan Bok Lan tentu menjadi sinting karena mengalami sesuatu pada diri puteranya, sehingga setiap kali melihat anak kecil atau pemuda yang baru meningkat dewasa, dianggap sebagai anaknya.

Yo Kouw-nio, guru Giok Hoa, menghela napas berulang kali.

Dia telah mengetahui siapa adanya Bok Lan, iblis sinting yang sangat berbahaya sekali, dengan kepandaiannya yang sangat tinggi.

Sekarang dia muncul disini, tampaknya Bok Lan memiliki hubungan baik sekali dengan Lang-kauw.

Karena dari itu, rupanya Yo Kouw-nio memang akan menghadapi urusan yang tidak ringan, tampaknya Lang-kauw memiliki banyak sekali orang pandai yang memiliki kepandaian sangat lihay.

Di kala itu, Ko Tie tengah sibuk, dua kali mengelakkan lagi tubrukan dari Bok Lan, dan pemuda ini yang telah jadi begitu jijik dan menggidik ngeri, berulang kali berseru.

"Suhu.....

Suhu.....

bagaimana ini?!"

Swat Tocu tertawa melihat muridnya jadi panik seperti itu, dia bilang dengan suara nyaring dan tetap tidak bergerak dari tempatnya berdiri.

"Mengapa engkau jadi bingung seperti itu? Apakah selama ini engkau kudidik buat menjadi seorang pemuda pengecut seperti itu?!"

Ditegur seperti itu barulah Ko Tie tersadar, segera juga ia mentertawai dirinya yang bodoh sekali.

Dia sekarang ini bukan Ko Tie yang dulu, yang harus takut kepada wanita sinting ini.

Bukankah sekarang dia telah memiliki kepandaian yang tinggi digembleng oleh gurunya yang memang liehay itu, dia bisa saja menghadapi Bok Lan dengan baik.

Dan segera juga Ko Tie berhenti melompat ke sana ke mari menghindar dari tubrukan Bok Lan.

Dia malah berdiri tegak dan menantikan Bok Lan menubruknya lagi.

Dan Bok Lan memang telah menjejak ke dua kakinya, tubuhnya melesat sangat cepat dan gesit sekali.

Sambil tertawa-tawa dia terus mengoceh.

"Ke mari anakku.....

ke mari.....

mengapa engkau terus menghindar dari ibu?

Ibu sudah sangat rindu sekali padamu!

Ke marilah anakku.....

kemarilah, ibu hendak memelukmu!"

Tubuh Bok Lan gesit luar biasa telah tiba di dekat Ko Tie dengan sepasang tangan yang terulurkan hendak merangkul.

Tampaknya dia girang sekali, karena kali ini dirasakannya bahwa rangkulannya akan berhasil.

Sebab Ko Tie tidak bergerak dari tempatnya berada, sama sekali pemuda itu tidak berusaha menghindar dari maksud Bok Lan yang ingin memeluknya dengan mesra, penuh kasih sayang dari seorang ibu.

Ko Tie telah mementang matanya, hatinya masih agak berdebar.

Namun dia tidak berusaha menghindar, hanya saja begitu melihat sepasang tangan Bok Lan hampir tiba terulurkan padanya, dia menyampok dengan tangan kanannya.

Ko Tie menyampok bukan sembarangan menyampok, sebab tangannya itu telah disertai tenaga sin-kang yang mengalir pada telapak tangannya.

Begitu dia menyampok, seketika serangkum angin yang kuat sekali menerjang kepada Bok Lan, membuat Bok Lan kaget tidak terkira, karena tahu-tahu tubuhnya telah tersampok dengan hebat.

Dia memang tidak menyangka sama sekali akan disampok seperti itu sehingga tubuhnya jadi terpental.

Bok Lan benar-benar liehay walaupun dia disampok seperti itu tanpa menduga sebelumnya namun dia tidak sampai terbanting di tanah karena begitu tubuhnya terpental dan melambung ke tengah udara, segera juga dia berjumpalitan sehingga dia bisa hinggap di atas tanah dengan ke dua kaki terlebih dulu.

Dia memandang dengan sepasang mata terpentang lebar-lebar.

"Anakku….. engkau begitu tega hati menolak pelukan ibumu......... dan telah membuat ibu terpental seperti ini? Ohhh, anakku, engkau tega terhadap ibumu? Tahukah engkau bahwa ibu telah merindukan engkau selama ini, telah disiksa oleh perasaan rindu itu….. kemarilah anakku, marilah anakku.....!"

Dan sama sekali Bok Lan tidak marah disampok seperti itu, malah mukanya memperlihatkan dia sedih sekali.

Dia menghampiri sambil mengulurkan ke dua tangannya, bermaksud memeluk lagi pada Ko Tie.

Kembali jiwa Ko Tie tergoncang dengan hati yang berdebaran terus-menerus, karena dia menggidik lagi, melihat wajah wanita sinting itu, yang memancarkan suatu kekuatan mistik yang menakutkan dan menjijikan.

Terlebih lagi jika Ko Tie teringat bahwa wanita ini adalah seorang wanita sinting, membuat dia tambah menggidik dan jadi surut dengan langkahnya ke belakang dua tindak.

"Pergi......aku bukan anakmu...... pergi! Jangan dekati aku!"

Akhirnya Ko Tie berseru seperti itu.

Dia sebetulnya tidak tega juga jika harus mengerahkan tenaga dan kekuatan sin-kangnya sepenuh-penuhnya, yang pasti akan bisa mencelakai wanita sinting itu.

Yang membuat Ko Tie tidak tega melihat wajah Bok Lan yang begitu sedih, maka dia hanya mengusir saja!"

Namun Bok Lan justeru jadi menangis, sambil perlahan-lahan menghampirinya.

"Anakku….. ohhhh, benar-benar engkau begitu tega mengusir ibumu? Ohhh, apakah engkau ingin menjadi seorang anak yang tidak berbakti, seorang anak durhaka terhadap orang tuamu? "

Mari, mari, ibu sudah rindu sekali, kemari nak….. Berikanlah kesempatan pada ibu buat merangkul satu kali saja kepadamu, melepaskan rindu ibu.........!"

Ngiris hati Ko Tie, namun dia mana mau membiarkan dirinya dirangkul wanita sinting itu?

Karenanya segera juga dia menjejakkan kakinya, tubuhnya melesat ke belakang sejauh tiga tombak lebih menjauhi Bok Lan.

Begitu kakinya menyentuh tanah, segera dia menjejak lagi, tubuhnya telah melesat lagi ke belakang, karena memang Ko Tie bermaksud hendak menjauhi Bok Lan.

Melihat Ko Tie melompat terus menerus seperti itu, Bok Lan jadi menangis menggerung-gerung, katanya.

"Anakku…… ooooohhhh anakku, mengapa engkau begitu kejam?!"

Sambil menangis seperti itu, dengan air mata yang mengucur deras sekali, tubuh Bok Lan berkelebat buat menyusuli Ko Tie.

Menyaksikan sikap wanita sinting itu, semua orang jadi ngiris hati, terlebih lagi Giok Hoa dan Yo Kouw-nio yang tidak mengerti, mengapa wanita sinting seperti Bok Lan justeru memiliki ilmu silat dan sin-kang yang tinggi sekali?

Di waktu itu, Yo Kouw-nio sendiri menggidik jika harus maju menghadapi wanita sinting itu.

Terlebih lagi Giok Hoa, gadis ini siang-siang sudah merasa ngeri, lenyap rasa lucunya, dan dia mengawasi dengan sepasang mata yang terpentang lebar-lebar kepada Ko Tie yang tengah berusaha menjauhi diri dari Bok Lan, di mana Giok Hoa tergetar hatinya, karena kuatir sekali kalau-kalau sampai Ko Tie kena dirangkul oleh wanita sinting itu.

Dalam keadaan menangis seperti itu tampaknya Bok Lan jadi menakutkan sekali.

Hati Ko Tie juga mengkeret, dia telah berseru dengan panik.

"Jika engkau tetap mendekati aku, jangan mempersalahkan aku jika aku menyerang dirimu…..!"

Sambil berkata begitu, dengan sikap mengancam, tampak Ko Tie telah mempersiapkan kekuatan tenaga sin-kangnya pada ke dua kepalan tangannya.

Dia bersiap-siap menyerang Bok Lan memaksa hendak memeluknya.

Sedangkan Siauw Kwie berulang kali memperdengarkan suara tertawanya.

Dia bilang.

"Baru dipeluk saja mengapa harus begitu panik? Sudah, biarkan Tok-kui-sin-jie memelukmu, bukankah enak dan sedap dipeluk seorang wanita cantik seperti dia......?"

Bukan main mendongkolnya Ko Tie, jika dapat, dia sesungguhnya bermaksud hendak menampar mulut Siauw Kwie.

Di waktu itu dilihatnya Bok Lan telah mendatangi dekat sekali, dan tidak ada jalan lain buat Ko Tie selain menyerangnya.

Dia kali ini telah menghantam dengan ilmu pukulan Inti Esnya, sehingga angin pukulannya itu dingin bukan main, seperti akan membekukan tubuh Bok Lan.

Bok Lan sendiri tidak menyangka dirinya akan diserang dengan pukulan yang aneh itu.

Dia tadinya menyangka paling tidak pemuda itu akan memukulnya dengan kekuatan tenaga dalam dan membuat dia terpental.

Karena rasa rindu terhadap anak, membuatnya jadi tidak memperdulikan jiwanya bisa terancam.

Tetapi dia jadi kaget tak terkira waktu merasakan angin serangan itu dingin sekali, seperti juga menyambarnya es, dan membuat darah di sekujur tubuhnya seperti membeku.

Disamping itu, sampokan angin serangan tangan Ko Tie kuat sekali, kuda-kuda ke dua kakinya mulai tergoyahkan, dan dia akan terpelanting.

Beruntung bahwa Bok Lan memang memiliki latihan lweekang yang kuat sekali, sehingga dia bisa mengerahkan lweekangnya buat memperkokoh kuda-kuda kakinya, di mana ia telah berusaha berdiri tetap di tempatnya.

Kembali dia jadi kaget.

Sekujur tubuhnya diselubungi oleh lapisan salju yang tipis sekali, sampai rambutnya juga terbungkus oleh lapisan salju yang tipis!

Dingin sekali!

"Ihhh!"

Bok Lan berseru tertahan, dan matanya telah memandang Ko Tie dengan tajam sekali, tampaknya dia seperti baru tersadar dari sintingnya, karena dia segera berkata.

"Oh pemuda yang tangguh, rupanya engkau bukan anakku..... kau bukan anakku……!"

Dan dia mengerahkan sin-kangnya membuat tubuhnya panas.

Lapisan salju yang tipis itu segera mencair, dan cepat sekali, tanpa menanti semua salju tipis di tubuhnya mencair, dia melesat dan menghantam dengan telapak tangan kanannya.

Ko Tie menangkisnya.

"Dukkk, dukkk, dukkk, dukkk!"

Empat kali tangan mereka saling membentur dengan keras sekali, dan tubuh Ko Tie jadi tergoncang keras.

Beruntung Ko Tie telah menerima gemblengan yang sangat baik dari Swat Tocu, dia bisa menguasai tubuhnya dengan segera.

Dan dia malah balas menghantam dengan tangan kirinya, memaksa Bok Lan harus menangkisnya.

"Dukkk, dukkk!"

Dua kali terdengar suara benturan tangan mereka.

Tubuh Bok Lan tahu-tahu telah melesat ke tengah udara, dia juga telah mengayunkan tangan kanannya ke pundaknya, tahu-tahu dia telah mencekal pedangnya.

Sinar kuning keemas-emasan menyambar bergulung-gulung kepada Ko Tie dengan cepat sekali.

Ko Tie terkesiap, itulah hebat, karena ilmu pedang Bok Lan tidak rendah.

Sedangkan dia bertangan kosong.

Namun dia tidak jeri, dan kini juga memaklumi, gurunya berada di tempat tersebut, berarti dia tidak boleh memperlihatkan kelemahannya.

Jika saja dia sampai rubuh di tangan Bok Lan, jelas akan membuat dia malu, pun akan membuat gurunya tidak puas.

Karena dari itu, segera juga tubuh Ko Tie berkelebat beberapa kali, tahu-tahu tangan kanannya telah menyambar dengan sebat sekali ke arah pinggangnya.

Diapun telah mencabut pedangnya.

Dengan pedangnya dia mengadakan perlawanan.

Terdengar suara benturan kedua pedang itu yang nyaring.

Girang Swat Tocu melihat muridnya bertempur melawan Bok Lan, sehingga dia semakin anteng menyaksikan jalannya pertempuran itu karena ingin sekali mengetahui sudah berapa tinggi kepandaian yang dimiliki muridnya tersebut, dan berapa banyak kemajuan yang telah dicapai muridnya.

Malah Swat Tocu sambil tersenyumsenyum girang, telah duduk bersila di atas tumpukan es!

Di kala itu Bok Lan seperti sudah mengetahui bahwa Ko Tie bukan anaknya, walaupun dia masih mengoceh tidak keruan, tetapi dia sama sekali tidak memperlihatkan sikap ingin bersikap lembut kepada Ko Tie.

Malah pedangnya itu menyambar-nyambar dengan cepat dan dahsyat sekali, seperti juga Bok Lan tengah merangsek dan menyerang seorang musuh besarnya!

Pedangnya itu menimbulkan sinar bergulung-gulung mengurung Ko Tie, sehingga Ko Tie mati-matian mengerahkan seluruh kepandaian ilmu pedang yang dipelajarinya buat menghadapi setiap serangan lawannya yang sinting ini.

Memang benar Bok Lan tidak boleh dipandang remeh, karena ilmu pedangnya itu lebih liehay dibandingkan dengan ilmu pedang Siauw Kwie!

Hebat setiap serangannya, tikaman maupun tabasannya, karena dia selalu mengincar bagian-bagian yang mematikan dan berbahaya di tubuh Ko Tie.

Sedangkan Ko Tie sendiri memutar pedangnya itu bergulunggulung rapat sekali melindungi tubuhnya.

Begitu cepatnya dia memutar pedangnya tersebut, sehingga seperti juga setitik air sulit menembusi pertahanannya.

Berulangkali pedang mereka saling bentur dan berulang kali pula terdengar seruan kaget dari Bok Lan, karena sering juga Ko Tie membarengi menangkis dan menikam dengan serangan yang tibatiba, membuat Bok Lan, biarpun bisa menghindarkan tikaman itu, tokh dia menjadi kaget.

Bok Lan terus merangsek semakin hebat, wanita sinting ini semakin lama bertempur semakin kalap.

Sedangkan Swat Tocu melihat, biarpun ilmu pedang yang dipergunakan Ko Tie tidak berada di bawah keampuhan ilmu pedang Bok Lan, namun pengalaman yang masih kurang dari Ko Tie, membuat pemuda itu seringkali terdesak.

"Hemm, biarlah aku memisahkan.....!"

Pikir Swat Tocu kemudian, karena dia berpikir jika membiarkan Ko Tie terus lebih lama menghadapi wanita sinting itu, kemungkinan suatu waktu nanti Ko Tie akan terluka di mata pedang lawannya.

Segera juga, tanpa bangkit dari bersilanya, Swat Tocu telah menjejakkan kakinya itu, dalam keadaan semedhi tubuhnya melesat ke tengah udara diiringi dengan siulannya yang nyaring.

Dan waktu tubuhnya melambung ke tengah udara dalam sikap bersemedhi, ke dua tangannya bergerak saling susul menyerang kepada Bok Lan.

Hantaman dari tengah udara sebetulnya merupakan pukulan yang mirip dengan ilmu pukulan Pek-kong-ciang atau Memukul Udara Kosong.

Namun disebabkan yang melakukan pukulan itu adalah Swat Tocu maka menjadi lain, jadi sangat hebat sekali.

Angin pukulannya itu mengandung hawa dingin bukan main, seperti gumpalan es belaka.

Bok Lan yang tengah sengit menikam dan menabas kepada Ko Tie dengan desakan tidak hentinya, kaget waktu merasakan dari belakangnya menyambar angin yang dingin sekali di samping sangat dahsyat.

Dia bukan menangkis dengan pedangnya, hanya saja dia segera menarik pulang pedangnya itu kemudian dia menjejakkan sepasang kakinya, tubuhnya mencelat dengan gesit sekali, membuat pukulan Swat Tocu jatuh di tempat kosong.

Ko Tie yang tidak diserang lagi lawannya, segera menjejakkan kakinya, dia melompat mundur menjauhi diri dan bisa bernapas lega!

Ketika melihat gurunya telah turun tangan, dia girang dan merasa lega, karena dia tidak perlu menghadapi wanita sinting yang merupakan lawan berat itu.

Sedangkan tubuh Swat Tocu telah meluncur turun, dia hinggap di atas tumpukan salju dalam sikap bersemedi.

Di waktu itu terlihat Bok Lan dengan bengis telah mendelik kepada Swat Tocu, katanya.

"Hemm, membokong orang bukan perbuatan yang bagus! Baik! Baik! Biarlah anakku itu tidur dulu, kebetulan sekali tidurnya memang nyenyak sekali, sehingga kita bisa mainmain sepuas hati……"

Setelah berkata begitu, cepat sekali tubuhnya melesat ke tengah udara, meluncur dengan pedangnya menyambar akan menikam Swat Tocu yang masih duduk bersila dalam sikap bersemedi.

Swat Tocu tidak jeri, dia tetap duduk bersemedi, sama sekali dia tidak menggeser tempat duduknya.

Ketika dia melihat ujung pedang telah dekat, tahu-tahu dia membuka mulutnya, dan ujung yang menyambar datang itu disambuti dengan mulutnya.

Pedang itu tidak bisa meluncur maju terus, karena tergigit kencang sekali, tidak bergeming pula.

Tubuh Bok Lan juga telah hinggap di atas tanah.

Dia mengerahkan seluruh kekuatan tenaganya berusaha menusukan pedangnya itu lebih dalam, agar menerobos masuk menikam tenggorokan lawannya.

Tetapi biarpun dia telah mengerahkan tenaganya kuat sekali, tetap saja dia tidak berhasil mendorong pedangnya itu, sehingga membuat telapak tangannya sendiri yang pedih dan sakit.

Ujung pedang tetap tergigit kencang sekali, sama sekali tidak bergerak.

Swat Tocu juga tidak mau melepaskan gigitannya, waktu Bok Lan menarik pulang pedangnya itu, justeru Swat Tocu masih menggigitnya, membuat pedang itu sama sekali tidak bergerak.

Mendorong dan menarik berulang kali dilakukan Bok Lan, tetap saja pedang itu tidak bergeming, usahanya itu tidak berhasil.

"Tua bangka yang sudah mau mampus, jika memang engkau seorang yang gagah, lepaskan pedangku…... mengapa engkau seperti seekor kuda tua yang main gigit belaka?!"

Ejek Bok Lan gusar bukan main bercampur dengan penasaran.

Diapun bukan hanya sekedar mencaci belaka, karena tangan kanannya telah menghantam dengan tenaga sin-kang yang kuat.

Swat Tocu sama sekali tidak bergeming dari tempatnya, tetap menggigit pedang lawannya.

Dia membiarkan pukulan Bok Lan mengenai tubuhnya.

"Bukkk!"

Angin pukulan Bok Lan memang mengenai telak sekali pundak Swat Tocu.

Tetapi tubuh Swat Tocu tidak bergeming.

Dia memang telah mengerahkan sin-kangnya melindungi pundaknya, sehingga dia bisa menerima angin pukulan itu.

Bukan main meluap darah Bok Lan, wanita sinting ini jadi mencaci kalang kabutan sambil berusaha menarik dan memasukkan pedangnya yang sama sekali tidak bisa bergeming itu, dengan selalu menyebut-nyebut, anakku manis, anakku sayang, tidurlah anakku!

Sedangkan Swat Tocu ingin melihat sampai berapa tinggi kepandaian Bok Lan, maka dia sengaja menerima pukulan dari wanita sinting itu.

Setelah menerima angin pukulan itu, Swat Tocu dapat menduga berapa tinggi kekuatan tenaga sin-kang lawannya, dan dia tersenyum dengan giginya tetap menggigit kuat sekali pedang wanita sinting itu.

Setelah puas melihat Bok Lan kalap seperti itu, ketika wanita sinting tersebut tengah menarik pedangnya sekuat tenaganya, tahu-tahu gigitannya dilepaskan.

Karena begitu mendadak sekali dilepaskannya dan juga Bok Lan memang menariknya sambil mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, tahu-tahu tubuh Bok Lan terjungkal ke belakang.

Untung saja wanita sinting ini memang memiliki gin-kang atau ilmu meringankan tubuh yang tinggi.

Begitu dia terguling segera dia bisa berdiri tegak lagi dengan muka merah padam karena murka dan penasaran!

Pedangnya itu berkelebat lagi, namun sekarang Bok Lan lebih hatihati.

Siauw Kwie menyaksikan Bok Lan yang diketahuinya memiliki kepandaian tinggi, berada setingkat di atas kepandaiannya, masih tidak bisa menghadapi Swat Tocu, pun tidak mau tinggal diam, pedangnya tahu-tahu berkelebat dia menyerang Swat Tocu dengan beberapa tikaman, dia bermaksud membantui Bok Lan buat mengeroyok Swat Tocu.

Tetapi tocu Pulau Es itu sama sekali tidak gentar, walaupun dikeroyok kedua wanita yang sangat lihay itu.

Dengan tenang dia melompat berdiri, bersamaan waktu dengan menyambarnya pedang Bok Lan dan Siauw Kwie.

Swat Tocu mengibaskan lagi tangannya, di mana dia membuat ke dua batang pedang itu mencong arah sasarannya, dan telapak tangan Bok Lan maupun Siauw Kwie terasa pedih bukan main.

Di waktu itu tampak Swat Tocu juga sudah tidak mau tinggal diam.

Dia membarengi begitu ke dua batang pedang lawannya mencong arah sasarannya, cepat sekali tubuhnya berkelebat, ke dua tangannya digerakan sebat sekali.

Tahu-tahu pedang Bok Lan dan pedang Siauw Kwie berhasil dirampasnya!

Malah seketika itu juga ke dua batang pedang tersebut dijadikan satu, ditekuk dengan ke dua tangannya, membuat pedang-pedang itu menjadi patah tiga!

Bok Lan dan Siauw Kwie kaget tidak terkira, karena mereka sama sekali tidak menyadari kapan dan bagaimana caranya Swat Tocu merampas pedang mereka.

Setelah saling pandang, antara wanita sinting dan Siauw Kwie, ke duanya tahu-tahu menjejakkan kaki mereka, tubuh mereka melesat mundur dan kemudian memutar tubuh, melarikan diri.

Siauw Kwie pun telah meneriaki anak buahnya agar segera meninggalkan tempat itu.

Swat Tocu tertawa bergelak-gelak nyaring sekali, tapi ia tidak mengejarnya, membiarkan orang-orang Lang-kauw itu meninggalkan tempat tersebut.

Sedangkan Giok Hoa telah menghela napas, melihat Swat Tocu begitu mudah mengusir orang-orang Lang-kauw tersebut.

Yo Kouw-nio sendiri cepat-cepat menghampiri Swat Tocu, dia menjurah dalam-dalam, katanya.

"Terima kasih atas pertolongan locianpwe yang tidak terkira besarnya ini….. Kalau saja locianpwe tidak datang, tentu boanpwe telah menjadi korban mereka!"

Swat Tocu berhenti tertawa, katanya.

"Yo Kouw-nio, kau terlalu merendah! Siapakah didunia ini yang bisa mencelakai puteri Yo Tay-hiap yang begitu terkenal? Siapa yang berani berbuat kurang ajar kepada puteri Sin-tiauw-tay-hiap?! "

Sudahlah…..

sudahlah, jangan terlalu banyak peradatan!

Kudengar bahwa engkau tinggal di sekitar tempat ini.......

benarkah itu?!

" Yo Kouw-nio mengangguk dengan cepat, ia menunjuk rumah yang sebagian telah terbakar itu.

"Benar, itulah Boanpwe!"

Katanya. Swat Tocu memandangi rumah yang terbakar sebagian, kemudian menghela napas.

"Tentu dibakar oleh orang-orang tadi?!"

Katanya dengan suara menggumam. Yo Kouw-nio mengangguk mengiyakan.

"Sesungguhnya di antara kalian terdapat permusuhan apa sehingga mereka berusaha mencelakaimu?!"

Tanya Swat Tocu lagi.

"Siauw Kwie mempunyai dendam pada ayahku! Ia tampaknya memang sengaja memasuki perkumpulan Lang-kauw, di mana ia hendak meminjam kekuatan Lang-kauw guna memusuhi ayahku!"

"Hemmm…… perbuatan rendah! Sudah kepandaiannya yang rendah dan memang tidak memiliki kesanggupan buat menandingi ayahmu ternyata ia mencari jalan buat meminjam kekuatan orang lain untuk meruntuhkan ayahmu! Malah, terhadap Sin-tiauw-tay1142 hiap dia tidak berani berurusan, maka dia mencari kau, anaknya, yang jelas kepandaiannya masih berada di bawah Sin-tiauw-tayhiap!"

Yo Kouw-nio mengangguk, dan dia segera menoleh kepada Giok Hoa, melambaikan tangannya, katanya.

"Giok Hoa, cepat beri hormat kepada Swat Locianpwe!"

Giok Hoa ragu-ragu sejenak, namun dia tidak berani membantah perintah gurunya. Cepat-cepat kemudian dia menghampiri Swat Tocu, dia memberi hormat, sambil katanya.

"Swat Locianpwe, boanpwe memberi hormat……!"

"Hemmmm, budak kecil yang nakal, rupanya engkau murid Yo Kouw-nio! Jika dulu-dulu engkau memberitahukan kepadaku, jelas aku tidak akan mempersulit dirimu!"

Dan sambil berkata begitu, Swat Tocu tertawa. Yo Kouw-nio memperlihatkan sikap terheran-heran memandang bergantian pada muridnya dan Swat Tocu, lalu tanyanya.

"Jadi..... Swat Locianpwe pernah bertemu dengan Giok Hoa?"

Swat Tocu mengangguk, dan menceritakan apa yang pernah terjadi, sehingga dia menawan Giok Hoa.

Waktu Swat Tocu menceritakan hal tersebut, muka Giok Hoa sebentar-sebentar berobah merah, tampaknya ia sangat malu.

Di waktu itu juga Ko Tie sambil tersenyum-senyum ikut mendengarkan di samping gurunya matanya sering melirik ke arah Giok Hoa, dengan sinar mata penuh arti.

Giok Hoa sendiri berulang kali telah melirik ke arah Ko Tie, namun jika mata mereka saling berlemu, tentu gadis itu akan menunduk dengan sikap likat sekali dan pipi terasa panas memerah.

"Mari silahkan Locianpwe singgah di rumah Boanpwe!"

Menawarkan Yo Kouw-nio kepada Swat Tocu.

Tawaran itu diterimanya dengan baik-baik oleh Swat Tocu, yang segera melangkah menuju ke rumah itu mengikuti Yo Kouw-nio dan yang lainnya.

Tiba-tiba terdengar pekik biruang salju, Swat Tocu melambaikan tangannya, serunya dengan disertai lweekangnya.

"Kau tunggu saja di sana……!"

Belum lagi suara Swat Tocu habis, diwaktu itu terdengar pekik burung rajawali, pekik yang nyaring tengah berputar-putar di tengah udara.

Kini giliran Giok Hoa yang melambaikan tangannya, dan burung rajawali itu rupanya memang mengerti maksud lambaian tangan Giok Hoa, karena dia telah terbang meninggi dan berputar-putar di tengah udara.

Dia terbang menjauh.

Waktu sampai di dalam rumah Yo Kouw-nio, ternyata ada sebagian rumah tersebut yang tidak termakan api.

Ruangan tamunya, yang sederhana masih utuh, lengkap dengan kursi dan mejanya.

Maka mereka duduk bercakap-cakap.

"Jika memang Locianpwe tidak keberatan, sudi kiranya locianpwe menginap di rumah Boanpwe untuk beberapa hari…… karena…… karena……"

Waktu berkata sampai disitu, nampak Yo Kouw-nio ragu-ragu meneruskan perkataannya. Swat Tocu tertawa besar, suara tertawanya itu bergelak-gelak.

"Ya, aku tahu, engkau berbaik hati menawarkan tempat berteduh buatku, karena engkau memiliki maksud-maksud tertentu! Karena engkau ingin memancing pelajaran ilmu silatku. Benar bukan begitu?!"

Muka Yo Kouw-nio berobah memerah, dia mengangguk sambil tersenyum. "Ya, boanpwe ingin meminta petunjuk berharga dari Locianpwe......!"

Menyahuti Yo Kouw-nio. Dan kemudian menoleh kepada Giok Hoa, katanya.

"Giok Hoa, cepat ucapkan terima kasih buat kebaikan Swat Locianpwe.....!"

Giok Hoa cerdik.

Walaupun dia penah merasa tidak senang dan tidak menyukai Swat Tocu, namun setelah bercakap-cakap dan melihat gerak-gerik Swat Tocu, dia memperoleh kenyataan Swat Tocu seorang yang baik hati.

Bahkan tadi, musuh-musuh gurunya, Swat Tocu pula yang telah mengusirnya, dengan demikian Yo Kouw-nio tertolong tidak perlu menghadapi kesulitan di tangan musuh-musuhnya.

Sekarang mendengar perintah gurunya seperti itu, segera Giok Hoa melompat bangun dari duduknya.

Dia menghampiri Swat Tocu, menjatuhkan diri berlutut memberi hormat kepada Tocu Pulau Es tersebut.

"Swat Locianpwe, terima kasih atas budi kebaikanmu!"

Kata Giok Hoa segera sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali. Swat Tocu tertawa bergelak-gelak lagi melihat sikap Giok Hoa, katanya.

"Akh…… anak licik! Engkau rupanya sengaja cepat-cepat mengucapkan terima kasih, karena hendak mengikat diriku, agar aku ini tidak bisa tidak memenuhi keinginanmu, buat memperoleh beberapa jurus ilmu silat! Hahaha-hahah!"

Dan setelah tertawa begitu, tangan kanan Swat Tocu mengibas, katanya.

"Bangunlah!"

Hebat kibasan lengan dari Swat Tocu, karena mendatangkan kesiuran angin yang halus namun kuat.

Giok Hoa sendiri tercekat hatinya, dia tengah berlutut dan merasa diterjang suatu kekuatan yang membuatnya terlontar seperti juga dipaksa untuk berdiri.

Karena dia mengadakan perlawanan dan tetap ingin berlutut, membuatnya jadi menerima dorongan yang lebih kuat lagi, menyebabkan tubuhnya bukan hanya terdorong buat berdiri belaka, juga tubuhnya itu telah terlempar ke tengah udara.

Untung Giok Hoa memang telah menerima gemblengan cukup baik dari Yo Kouw-nio, selama ini dia memiliki gin-kang yang tinggi dan terlatih mahir, membuatnya segera berpok-say di tengah udara, waktu tubuhnya meluncur turun, segera juga dia hinggap dengan sepasang kakinya terlebih dulu menginjak lantai membuat dia tidak perlu terbanting!

"Salah!"

Kata Swat Tocu dengan suara yang tawar ketika melihat Giok Hoa mengatasi keadaan dirinya dengan berpok-say seperti itu.

"Sama sekali tidak benar gerakan itu!

Jika engkau menghadapi musuh, tentu musuh akan dapat mencelakai dirimu disaat engkau tengah berpok-say seperti itu!

"Bukankah musuh tidak akan tinggal berdiam diri hanya mengibas satu kali.

Dia akan menyusuli lagi dengan kibasan lain, yang mengandung kekuatan lebih hebat, dan engkau sendiri tengah berjumpalitan di tengah udara, sehingga engkau sama sekali tidak memiliki kesempatan buat menghindar dan kibasan kedua itu akan mencelakai dirimu!

Salah sekali jika engkau menghadapi dorongan itu dengan berpok-say!"

Muka Giok Hoa berobah merah.

Apa yang dikatakan Swat Tocu memang tidak salah.

Seorang musuh tentu akan mempergunakan kesempatan tersebut buat menyerang dengan kibasan berikutnya pasti dia bercelaka.Karena dari itu, Giok Hoa segera berlutut lagi.

"Harap Swat locianpwe mau memberikan petunjuk yang sangat berharga!"

Dia menganggukkan kepalanya lagi. Yo Kouw-nio sendiri diam-diam kaget dan sangat kagum akan kekuatan sin-kang yang dimiliki Swat Tocu.

"Benar-benar lihay….. Tampak sin-kang Swat Locianpwe tidak berada di sebelah bawah sin-kang ayah……!"

Diam-diam Yo Kouw-nio berpikir.

"Tidak kecewa Swat Tocu memiliki nama yang begitu besar pantas ia disegani oleh semua tokoh rimba persilatan!"

Waktu itu Swat Tocu berkata, dengan suara sabar.

"Aku akan mengulangi lagi! Bersiaplah."

Dan berbareng dengan habisnya perkataannya itu, tangan kanan Swat Tocu telah bergerak perlahan mengibas lagi.

Luar biasa, memang kibasannya kali jauh jauh lebih ringan dibandingkan dengan kibasannya yang terlebih dulu tadi, hanya saja, tenaga yang, menerjang Giok Hoa jauh lebih kuat, sehingga membuat tubuh Giok Hoa telah terangkat dan terlempar ke tengah udara, bahkan telah berputar di tengah udara.

Walaupun Giok Hoa berusaha menguasai keseimbangan tubuhnya, dia gagal.

Tubuhnya meluncur dan akan terbanting di atas lantai.

Tubuh Swat Tocu melesat sangat ringan sekali, mudah bukan main dengan tangan kanannya dia mencekal baju gadis tersebut dan menurunkannya perlahan-lahan.

Dikala itu muka Giok Hoa berobah memerah, hatinya berpikir.

"Benar-benar kepandaian Swat Tocu luar biasa mengagumkan, sungguh berbahaya, jika tadi dia tidak menolongiku dengan mencekal bajuku, sehingga aku terbanting itulah bantingan yang tidak ringan, pasti sedikitnya ada tulangku yang patah, yang luar biasa, adalah tenaga sin-kangnya, dia mengibas perlahan, namun dapat mempergunakan tenaga yang begitu kuat, sungguh menakjubkan sekali. Walaupun Giok Hoa berpikir seperti itu, namun ia juga tidak berayal buat menyatakan terima kasihnya, karena telah ditolongi Swat Tocu dan juga diberi petunjuk. Dia menekuk ke dua kakinya, tubuhnya berlutut dan mengangguk-anggukkan kepalanya dengan sikap menghormat sekali. Jika sebelumnya dia memiliki sedikit perasaan tidak senang pada Swat Tocu, justeru sekarang ini si gadis telah takluk benar dan merasa kagum sekali atas kepandaian yang dimiliki Swat Tocu. Jika memang bertempur bersungguh-sungguh dan Swat Tocu memiliki maksud tidak baik terhadapnya, jelas dirinya dengan mudah hanya dalam satu atau dua jurus saja sudah dapat dicelakainya! Karena dari itu, Giok Hoa sekarang merasa takluk sekali terhadap Swat Tocu. Ko Tie menyaksikan gurunya tengah memberikan pelajaran ilmu gin-kang dan juga cara menghindarkan diri dari keadaan terapung di udara, jadi tersenyum senang. Tadinya ia kuatir kalau-kalau antara gurunya dengan Giok Hoa tidak terdapat kecocokan satu dengan yang lainnya, seperti yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Namun sekarang melihat hubungan mereka yang terjalin cukup baik, membuat Ko Tie sangat senang. Dia memang telah menerima pelajaran tersebut dari gurunya, dan Ko Tie telah berhasil menguasainya dengan baik. Dalam keadaan seperti itu, si pemuda hanya mengawasi saja kepada Giok Hoa, karena memang dia hendak melihat bagaimana daya tangkap yang dimiliki gadis itu, yang tampaknya memang cerdik. Apa yang diduga Ko Tie ternyata tidak salah, sebab dalam dua kali gebrakan seperti itu, Giok Hoa telah bisa menangkap pelajaran yang diberikan Swat Tocu dengan cara yang halus dan tidak berterang. Otak si gadis memang terang, sehingga bisa segera mencernakan arti dari pelajaran yang diberikan Swat Tocu. Dengan dua kali mengalami dibuat terpental oleh tenaga kibasan tangan Swat Tocu membuat Giok Hoa dapat memahami, di mana kelemahan dirinya dan dengan cara bagaimana harus menghadapi tenaga kibasan yang kuat seperti itu. "

Bersiaplah, aku akan melontarkan kau lagi!"

Kata Swat Tocu waktu itu.

Giok Hoa masih dalam keadaan berlutut mengucapkan terima kasihnya, mendengar perkataan Tocu dari Palau Es tersebut, segera juga dia bersiap-siap.

Waktu itu Swat Tocu perlahan sekali mengibaskan lagi pergelangan tangannya, seperti juga tengah mengibas seekor lalat yang mengganggu terbang di depan mukanya.

Tenaga yang meluncur dari telapak tangannya ternyata luar biasa menakjubkan, karena kuat dan dingin sekali seperti bisa membekukan.

Giok Hoa biarpun telah bersiap-siap tetap saja terkejut menerima dorongan yang begitu kuat mengandung hawa dingin seperti gumpalan es yang tengah menerjang kepada dirinya.

Namun Giok Hoa tadi selama dua kali dibikin terpental oleh kibasan tangan Swat Tocu, telah bisa mengetahui kelemahan dirinya.

Karenanya, menghadapi tenaga kibasan yang kuat seperti itu, sama sekali dia tidak berusaha mengadakan tenaga perlawanan, dia hanya membiarkan saja tenaga kibasan Swat Tocu menerjang dirinya.

Malah Giok Hoa membantu dengan menjejakan ke dua kakinya, tubuhnya jadi seperti terbang saja terdorong tenaga itu, di mana tubuhnya telah melambung ke tengah udara.

Cuma saja tanpa berjungkir balik, dia berhasil hinggap di lantai dengan ringan di atas ke dua kakinya tanpa terbanting sedikitpun juga!

Ternyata Giok Hoa yang cerdik itu telah mengetahui menghadapi kekuatan tenaga kibasan Swat Tocu yang tidak mungkin tertandingi oleh kekuatan sin-kangnya, harus dihadapi dengan cara lunak.

Dia mempergunakan taktik satu tail merubuhkan seribu tail.

Tenaga yang besar dari Swat Tocu telah dilenyapkan dengan keseimbangan tubuhnya tanpa adanya daya melawan, membuat tubuh Giok Hoa dengan ringan dan leluasa dapat meluncur turun dan hinggap di lantai dengan ringan sekali!

"Bagus!

Bagus!"

Berseru Swat Tocu dengan suara nyaring dan bertepuk tangan, tampaknya Swat Tocu puas dan girang.

Dia telah berseru-seru beberapa kali, karena dia tidak menyangka bahwa Giok Hoa hanya dalam waktu singkat telah dapat mengatasi dan menguasai diri buat menghadapi tenaga kibasannya.

Dengan demikian, jelas membuktikan Giok Hoa merupakan seorang gadis yang sangat cerdik sekali.

Engkau benar-benar cerdas, hanya dalam waktu yang singkat, tanpa aku terangkan sejelas-jelasnya, kau telah berhasil untuk memecahkan persoalan itu…… di mana engkau telah berhasil mengetahui kelemahan dirimu sendiri.

"Dengan demikian engkau bisa menghadapi musuh yang lebih tangguh di masa mendatang, karena engkau telah mengetahui kuncinya. Di mana kekuatan tenaga belaka, tanpa perhitungan yang baik, tentu akan membuat gagal usaha seseorang menyerang lawannya! "

Dan engkau, dengan mempergunakan kecerdasan dan perhitungan yang tepat, walaupun tenaga sin-kangmu masih lebih rendah dibandingkan dengan lawan itu, tetap saja engkau bisa menerima dan mengatasi serangan itu!"

Dan Swat Tocu tertawa lagi bergelak-gelak.

Muka Yo Kouw-nio berseri-seri, guru Giok Hoa tampak girang bukan main.

Dia melihat secara tidak langsung muridnya tengah menerima petunjuk pelajaran silat kelas tinggi oleh Swat Tocu.

Setelah memandang beberapa saat lagi, di saat mana Swat Tocu dan Giok Hoa seperti asyik berlatih diri lagi.

Swat Tocu selalu memberikan petunjuknya.

Yo Kouw-nio pergi untuk mempersiapkan hidangan buat mereka.

Ko Tie hanya duduk diam tenang-tenang mengawasi bagaimana Giok Hoa menerima petunjuk dari gurunya.

Di luar, biruang putih itu rupanya iseng, di mana biruang salju tersebut telah melompat ke sana ke mari berlari-lari cukup jauh.

Gerakannya begitu lincah, biarpun tubuhnya tinggi besar, karena memang biruang salju ini telah menerima didikan yang sangat baik sekali dari Swat Tocu, sehingga selain dia mengerti ilmu silat, juga dia memiliki gin-kang yang cukup tinggi, membuat gerakannya jadi ringan sekali Burung rajawali putih juga terbang di tengah udara.

Sesungguhnya rajawali putih tersebut bermaksud hendak bermain-main dengan majikannya, yaitu Giok Hoa.

Hanya sayang Giok Hoa tidak muncul, membuatnya terbang mengikuti biruang salju, di mana burung rajawali putih tersebut terbang di atasnya, sekali-kali memperdengarkan suara pekikannya.

Di waktu itu terlihat biruang salju juga rupanya dalam keadaan iseng.

Dia melihat burung rajawali putih tengah mengikutinya.

Dan tiba-tiba mengerang dan melambaikan tangannya.

Sebagai sesama binatang, tampaknya rajawali putih itu memahami apa yang diinginkan si biruang salju.

Dia menukik terbang turun dan hinggap di tempat yang tidak begitu jauh dari si biruang salju.

Sedangkan biruang salju itu, dengan diiringi suara erangannya, tahu-tahu tubuhnya dengan ringan sekali melesat sambil mengulurkan ke dua tangannya untuk mencengkeram burung rajawali putih itu.

Kelakuan biruang salju itu membuat burung rajawali putih tersebut terkejut.

Dia mengelak sambil terbang rendah, dan mempergunakan sayap kanannya buat menyampok.

Sampokan yang cukup kuat, dan membuat tubuh biruang salju itu terhuyung.

Dalam keadaan seperti itu membuat biruang salju itu mengerang dengan suara yang cukup nyaring.

Dan di saat seperti itulah, tubuhnya melesat lagi, sambil mengulurkan kedua tangannya, dia berusaha menjambret rajawali putih itu.

Namun gagal, Rajawali putih itu terbang lebih tinggi lagi, membuat jambretan kedua tangan biruang salju tersebut mengenai tempat kosong.

Diwaktu itu biruang salju tersebut mengerang beberapa kali sambil melambai-lambaikan tangannya.

Rupanya dia tengah penasaran dan mengajak burung rajawali putih itu turun buat mereka mainmain alias bertempur!

Burung rajawali itu, walaupun seekor binatang, namun tampaknya setelah dididik oleh Yo Kouw-nio dan Giok Hoa, memiliki harga diri, karena melihat biruang salju itu berulang kali gagal menyerangnya dan sekarang biruang salju tersebut seperti menantangnya, mengerang-erang dan melambai-lambaikan tangannya maka dia menukik turun lagi buat menyambar kepada biruang salju tersebut.

Dia memang telah terlatih dengan baik, gerakan tubuhnya waktu menyambar tidak meluncur terus, melainkan meliuk-liuk, karena dia mengambil gerakan seekor ular.

Biruang salju yang menantikan tibanya terjangan burung rajawali putih tersebut, jadi heran juga dan merasa aneh melihat gerakan meliuk dari burung rajawali putih tersebut.

Namun biruang salju ini memang berani, dia telah memperoleh gemblengan yang sangat keras dari Swat Tocu, diapun pernah mengalami beberapa kali pertempuran dengan jago-jago silat, yang semuanya memiliki kepandaian tinggi dan masih tidak bisa merubuhkannya.

Apalagi hanya buat menghadapi seekor burung rajawali, tampaknya biruang putih itu tidak memandang sebelah mata.

Setelah melihat burung rajawali putih itu terbang menukik menyambar ke arah dirinya dengan pesat, biruang salju tersebut menantikan dengan mata terpentang lebar, sepasang kakinya yang berdiri agak terpentang.

Itulah cara berdiri dari seorang jago silat dengan kuda-kuda di ke dua kaki yang kuat, pada ke dua tangannya juga telah terkumpul suatu kekuatan.

Burung rajawali putih itupun bukannya seekor burung rajawali biasa, ia sangat cerdas sekali, karena dia memiliki perhitungan dalam menyerang lawannya.

Begitu akan tiba menerjang biruang salju, cepat sekali sayap kanannya bergerak, menyampok dengan kuat.

Angin menderu-deru, karena dari sayapnya yang lebar itu meluncur angin yang sangat dahsyat.

Dan disusul kemudian dengan sampokan sayap kirinya.

Dengan demikian, biruang salju itu diterjang oleh sesuatu kekuatan tenaga yang tidak kecil.

Biruang salju tersebut berusaha bertahan namun kagetnya tidak terkira waktu tahu-tahu sepasang kaki rajawali putih itu tengah mengancam akan mencengkeram batok kepalanya!

Segera juga biruang salju tersebut memiringkan kepalanya sambil mengerang, dan tangan kanannya mendorong.

"Dukkk!"

Tubuh rajawali putih itu kena dipukulnya telak, sampai burung rajawali tersebut mengeluarkan suara pekik nyaring, dan telah terpental, namun ia segera terbang lagi ke atas, menghindarkan kemungkinan biruang salju tersebut menyerangnya lagi!

Dalam keadaan seperti itulah tampak biruang salju itu telah berlarilari dengan cepat sekali, dan juga mengerang-erang, seperti juga dia tengah menantang lawannya itu, agar terbang turun dan mereka bertempur lagi.

Dan pertempuran antara seekor biruang salju dengan rajawali putih, merupakan pertempuran yang aneh.

Yang seekor merupakan biruang berpotongan tinggi besar, memiliki tenaga yang sangat kuat dan terlatih ilmu silat dengan baik-baik, namun hanya bisa bersilat di daratan belaka.

Dan yang seekor lagi merupakan rajawali yang selalu terbang di tengah udara.

Jika ingin dibandingkan kekuatan tenaga dari ke dua binatang ini, mungkin hampir berimbang, karena ke dua sayap dari burung rajawali putih itupun tidak bisa diremehkan, sampokan sayapnya akan dapat menghancurkan bungkahan batu.

Karena dari itu, dia terbang di tengah udara hanya menantikan kesempatan buat sewaktu-waktu menyerang biruang salju.

Memang dasar pertamanya, kedua binatang itu cuma iseng belaka, tetapi setelah main-main, di mana mereka saling kena terserang, ke duanya jadi penasaran dan ingin bertempur lebih lanjut.

Burung rajawali putih itu terbang berputar-putar beberapa kali.

Perasaan sakit masih dirasakan pada tubuhnya yang tadi kena dihantam telapak tangan biruang salju tersebut, membuat rajawali putih ini bukannya takut, malah bermaksud hendak membalas menyerang lawannya.

Waktu melihat ada kesempatan segera juga dia memekik nyaring, tubuhnya meluncur dengan pesat sekali, sepasang sayapnya dikibaskan berulang kali, sehingga saat itu di tempat tersebut seperti juga tengah berlangsung serangan angin puyuh yang dahsyat sekali.

Batu dan pasir terbang di sekitar biruang salju, dan bungkahan salju juga terbang terbongkar dari atas bumi, karena kuatnya terjangan angin dari sampokan kedua sayap rajawali putih tersebut.

Dalam keadaan seperti inilah, si biruang salju juga tidak mau tinggal diam, dia juga mengerak-gerakkan ke dua telapak tangannya, menyerang dan memukul ke arah atas.

Dari ke dua telapak tangannya meluncur tenaga yang kuat sekali, seperti juga hendak menandingi tenaga sampokan sepasang sayap burung rajawali putih itu.

"Dukkk, dukkk, dukkk, dukkk!"

Terdengar suara benturan yang sangat hebat sekali, diantara dua kekuatan, tenaga biruang salju dan burung rajawali putih itu.

Tubuh rajawali putih itu terpental ke tengah udara, memekik nyaring, namun dia masih bisa terbang, walaupun ada beberapa bulu sayapnya yang rontok, terbang berayun-ayun di tengah udara dan kemudian jatuh di bumi.

Tubuh biruang salju itupun terpental karena kuatnya tenaga benturan itu, membuat dia terguling.

Walaupun demikian, dia tidak sampai terluka di dalam, sebab cepat sekali tampak biruang salju itu telah melompat berdiri lagi, dan dengan sikap yang agak lucu karena dia marah telah menantang rajawali putih itu agar turun, biar mereka dapat melanjutkan pertempuran tersebut.

Burung rajawali putih itu tampaknya tengah memperhitungkan, dengan cara bagaimana dia dapat menyerang lagi kepada biruang salju itu.

Tadi dia merasakan betapa kuatnya tenaga biruang salju itu, yang sama halnya seperti dia, bahwa biruang salju itu juga bukan binatang sembarangan, tenaga pukulannya itu seperti telah dialiri sin-kang (tenaga sakti) yang memang terlatih baik atas didikan dari Swat Tocu.

Tentu saja, tadi waktu terpukul, menyebabkan beberapa lembar bulunya jatuh berguguran rontok ke bumi, dan dia juga merasa kesakitan bukan main, menyebabkan sementara waktu itu rajawali putih itu hanya berputar-putar terbang di tengah udara, dia tidak segera menukik menyerang lagi.

Sedangkan biruang salju itu juga telah memekik-mekik sambil Halaman x x x x x x x x x M i s s i n g ........(Sayang.....

nggak ada yang bisa sharing........) Halaman 63 x x x x x x x x x Justeru adanya teriakan seperti itu, membuat biruang salju maupun rajawali itu terkejut, malah mereka serentak telah menarik pulang tenaga mereka, masing-masing batal menyerang.

Mereka juga telah memandang ke arah dari mana datangnya suara orang yang menganjurkan mereka bertempur terus.

Dan ke duanya jadi mengeluarkan erangan dan pekik yang aneh ketika melihat jelas orang yang menganjurkan mereka mengukur tenaga, diiringi tepuk tangannya itu!

Ternyata di tempat tersebut, entah dengan cara bagaimana datangnya, tahu-tahu telah ada seorang pemuda yang tubuhnya pendek, seperti anak belasan tahun.

Dia yang telah bertepuk tangan dan menganjurkan biruang salju dan rajawali putih itu bertarung terus tampaknya dia girang sekali.

Sikapnya seperti seorang anak kecil yang girang menyaksikan keramaian.

Dia berdiri di sebungkah batu gunung yang diselubungi salju, dan berdiri tenang sekali, dengan ke dua kaki seperti menancap di tempat yang sebetulnya sangat licin itu.

Melihat cara berdirinya itu dengan sepasang kaki yang mantap dan tubuh yang tetap walaupun dia bergerak-gerak, membuktikan dia memiliki gin-kang atau ilmu meringankan tubuh yang tinggi, karena kedatangannya saja juga tidak diketahui oleh biruang salju atau burung rajawali putih itu, yang sesungguhnya merupakan dua binatang yang tidak sembarangan.

Biruang salju mengerang menghadapi pemuda bertubuh pendek tersebut.

Sama sekali si pemuda tidak merasa takut melihat gigi-gigi biruang yang runcing, malah dia tertawa.

katanya.

"Mengapa kalian berhenti bertempur?!"

Di waktu itu si biruang salju merasa tidak senang, karena pemuda yang tampaknya berusia hampir tigapuluh tahun itu, ternyata seperti menganjurkan ingin mengadunya dengan rajawali putih.

Dia mengerang sambil menghampiri lebih dekat.

Maksud biruang salju tersebut ingin menangkap pemuda itu, dan melemparkannya jauh.

Pemuda itu tetap berdiri di tempatnya tanpa memperlihatkan perasaan takut sedikitpun juga.

Dia telah tertawa-tawa melihat kelakuan biruang salju.

Hal ini malah membuat biruang salju itu tambah penasaran.

Dia mempercepat langkahnya, dan setelah tiba di depan pemuda tersebut, ke dua tangannya, dengan kuku-kuku jari tangannya yang runcing tajam itu diulurkan kepada si pemuda.

Pemuda pendek itu tertawa, dia berkata tanpa perasaan jeri sedikitpun juga.

"Aha, kau hendak main-main dengan Auwyang Phu?" Sambil bertanya begitu, tubuh si pemuda pendek itu berkelebat, tahu-tahu telah lenyap dari hadapan biruang salju, dan berdiri di tempat lain, terpisah empat tombak lebih. Gesit sekali gerakannya tadi, membuktikan gin-kangnya memang tinggi. Siapakah pemuda itu? Mendengar dia menyebut namanya sebagai Auwyang Phu, tentu pembaca telah dapat menerkanya siapa adanya pemuda bertubuh pendek tersebut. Benar! Bahwa dia memang Auwyang Phu, putera Auwyang Hong! Seperti di dalam Kisah Biruang Salju, pemuda ini telah muncul dan bersama ibunya, Cek Tian, telah menimbulkan persoalan yang tidak kurang menariknya. Dan kini, dalam perjalanan berkelana, dia telah tiba di gunung Heng-san tersebut, di mana kebetulan sekali di saat dia tengah beristirahat di tempat itu didengarnya suara pekik rajawali putih dan mengerangnya biruang salju. Segera juga hatinya tertarik membuatnya pergi ke arah tempat datangnya suara itu. Dan dia menyaksikan rajawali putih dan biruang salju yang tengah bertempur. Timbul kegembiraannya, terlebih lagi dilihatnya ke dua binatang itu bertempur seperti juga memiliki ilmu silat, gerakan mereka merupakan gerakan yang mengagumkan, seperti dua orang tokoh persilatan yang tengah mengadu ilmu. Itulah sebabnya Auwyang Phu telah bersorak sambil bertepuk tangan menganjurkan agar ke dua binatang tersebut bertempur terus. Siapa tahu, justeru biruang salju merasa tidak senang dengan sikap Auwyang Phu, segera juga dia menghampiri buat menghalau pemuda itu, yang semula diduga si biruang salju sebagai pemuda biasa saja dan akan mudah dilontarkannya. Namun setelah gagal buat menjangkau tubuh pemuda itu, barulah biruang salju tersebut sadar, pemuda pendek ini tentunya bukan pemuda sembarangan. Auwyang Phu sendiri merasa girang dan tertarik hatinya buat mainmain dengan biruang salju itu, ketarik sekali dia melihat gerakan biruang salju yang seperti gerakan seorang ahli silat. Dia melambai-lambaikan tangannya, katanya.

"Mari! Mari! Mari kita main-main..... aku akan menemani kau..... mari..... mari ke marilah engkau……!"

Dan dia melambailambaikan tangannya sambil tertawa-tawa.

Karuan saja biruang salju itu merasa dipermainkan, dia bertambah gusar, dengan segera dia menjejakkan ke dua kakinya.

Tubuhnya biarpun tinggi besar dan tampaknya berat itu, dapat bergerak sebat dan ringan sekali, dalam dua kali lompatan dia telah berada dihadapan Auwyang Phu.

Kali ini Auwyang Phu sama sekali tidak menghindar dari tempatnya berada, dia mengawasi biruang salju itu sesaat lamanya dengan tertawa-tawa.

Disaksikannya biruang salju itu mengangkat ke dua tangannya.

Namun biruang salju itu bukannya menyerang seperti tadi dengan sekaligus mengulurkan kedua tangannya, melainkan dia menghantam dengan ilmu pukulan Inti Es, yang menimbulkan angin serangan yang kuat dan dingin sekali, bisa membekukan, karena itulah memang ilmu pukulan andalan Swat Tocu, yang telah dapat diwarisi si biruang salju berkat didikan Swat Tocu.

Walaupun sebagai seekor binatang ia tidak bisa mewarisi sempurna seperti yang dialami Ko Tie, tetap saja pukulan yang dilakukannya itu hebat bukan main.

Auwyang Phu semula menganggap enteng biruang salju itu.

Sebagai seorang yang memiliki kepandaian tinggi, tentu saja ia sama sekali tidak memandang sebelah mata terhadap serangan tersebut, di mana biarpun biruang salju itu memiliki ukuran tubuh sangat besar dan tentu tenaganya sangat kuat, namun dia akan dapat merubuhkannya dengan mudah.

Hanya saja sekarang, setelah biruang salju itu menyerangnya dengan tenaga pukulan Inti Es nya, membuat Auwyang Phu jadi kaget bukan main, itulah bukan pukulan sembarangan, karena seorang jago silat biasa saja, tidak mungkin dapat memukul sehebat itu, membuat Auwyang Phu tertegun sejenak, namun ia segera tersadar, tidak bisa ia berayal.

Cepat sekati, tahu-tahu dia menekuk ke dua kakinya, dan memperdengarkan suara "Krokk, krokk!"

Di mana ke dua tangannya didorong ke arah biruang salju itu.

"Bukkk!"

Terdengar menggetarkan benturan sekitar tenaga tempat itu yang dan dahsyat biruang sekali salju itu mengeluarkan suara erangan seperti kaget, tubuhnya terpental dan ambruk di bumi keras sekali!

Rupanya Auwyang Phu telah mempergunakan Ha-mo-kang, ilmu warisan dari mendiang ayahnya, yaitu Auwyang Hong!

Itulah Hamo-kang yang telah menggemparkan rimba persilatan dan Auwyang Phu telah berhasil menguasai ilmu tersebut pada tingkat yang hampir mendekati kemahiran.

Karena dari itu, biruang salju tersebut mana bisa dan mana sanggup buat membendung kekuatan Ha-mo-kang yang dilancarkan Auwyang Phu?

Hal itu membuat tubuhnya yang tinggi besar jadi terpental dan lalu terbanting di atas tanah!

Auwyang Phu girang bukan main melihat tangkisannya berhasil membuat biruang itu terpental cukup jauh, hampir tiga tombak.

Cuma saja, Auwyang Phu agak menggigil karena hawa dingin, sisa serangan biruang salju itu.

Belum lagi dia memperbaiki kedudukan tubuhnya yang masih berjongkok itu, dari atas di dekat punggungnya berkesiuran angin serangan yang menderu-deru hebat sekali.

Auwyang Phu terkejut, dan dia melirik, dilihatnya burung rajawali putih itu tengah menukik dan menyampok dengan sayapnya.

Inilah hebat, karena rajawali putih itu, yang tadi menjadi lawan biruang salju tersebut, rupanya telah berbalik membela biruang salju, ketika melihat si biruang salju terpental seperti itu diganggu oleh orang asing!

Mereka memang saling mengetahui, bahwa majikan mereka bersahabat, karena itulah terdapat rasa saling tolong menolong di antara mereka.

Jika tadi antara rajawali putih dengan biruang salju itu bertempur, hal itu hanya disebabkan mereka penasaran dan berusaha buat saling merubuhkan satu dengan yang lainnya.

Tetapi sekarang salah sekor di antara mereka mengalami ancaman orang asing, burung rajawali tersebut tidak bisa berdiam diri saja, dia berusaha membantunya.

Sampokan sayap yang dilakukannya benar-benar kuat.

Dia juga merupakan seekor burung rajawali yang aneh sekali, bukan rajawali sembarangan.

Sejak kecilnya, waktu ditetaskan, dia sudah merupakan rajawali luar biasa, yang di didik dan dibesarkan oleh seekor ular yang luar biasa.

Maka dari itu, cara menyampok sayapnya itu juga aneh, kuat dan meliuk seperti gerakan seekor ular.

Angin serangan yang menyambar datang itu sulit diterka, ke arah sasaran bagian mana yang diincarnya.

Auwyang Phu tidak mau membuang-buang waktu, dia tertawa sambil melompat ke samping.

Dengan posisi tubuh masih tetap berjongkok, ke dua tangannya telah didorongkan lagi, dengan mengeluarkan suara seperti mengkeroknya seekor kodok, dan hebat sekali tenaga yang meluncur dari ke dua telapak tangannya.

Rajawali putih itu liehay dan cerdik, karena dia segera menyadari bahwa tadi telapak tangan Auwyang Phu dapat membuat biruang salju itu terpental.

Mau tidak mau rajawali putih tersebut mengadu kekuatan keras dilawan keras dengan tenaga pemuda pendek tersebut.

Baca Juga: Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat 1

Baca Juga: Pendekar Satu Jurus 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert