Ceritasilat Novel Online

Anak Rajawali 5

Eps 5 Anak Rajawali - Chin Yung

Baca online Anak Rajawali - Chin Yung

Cersil Anak Rajawali - Chin Yung.

Karena dari itu, begitu mendengar gadis berbaju kuning itu mempersilahkan mereka mulai menyerang, maka Hek-pek-siangsat sudah tidak memperdulikan lagi aturan-aturan Kang-ouw, bahwa pihak yang lebih tua tingkatannya, harus menerima diserang lebih dulu dari pihak yang lebih mudah.

Dan kini, dengan segera ke duanya memencarkan diri karena mereka telah berusaha uutuk menyerang gadis berbaju kuning itu dengan dua jurusan yang serentak.

Gadis berpakaian baju kuning itu tetap bersikap tenang dan sabar.

Dia sama sekali tidak jeri.

Malah dia telah mengawasi Hek-pek-siang-sat dengan sikap seperti juga bukan tengah berhadapan dengan dua orang lawan tangguh.

Tentu saja sikap yang diperlihatkan gadis berbaju kuning itu membuat Hek-pek-siang-sat bertambah meluap darahnya.

Mereka telah mengeluarkan suara gerengan, disusul dengan Peksiang-sat melompat lebih dulu.

Dia telah bergerak cepat sekali tangannya, mengancam akan menghantam dengan lweekang yang bisa menghancurkan sebungkah batu yang sangat besar.

Dia percaya, jika memang gadis berpakaian kuning itu menangkisnya, dia akan menyusuli dengan hantaman berikutnya.

Dan jika gadis berbaju kuning itu mengelak, tentu Hek-siang-sat waktu itu telah menyerangnya juga.

Tetapi dugaan Hek-pek-siang-sat meleset, karena terlihat pukulan tangan Pek-siang-sat dibiarkan saja oleh gadis berbaju kuning itu, sama sekali dia tidak berusaha menangkisnya.

Malah diapun tidak berusaha untuk mengelakkan diri dari pukulan tersebut, sehingga dalam keadaan seperti itu telah membuat Pek-siang-sat tertegun sejenak, namun dia tidak mengurangi tenaga serangannya, karena biarpun gadis berpakaian baju kuning yang sangat cantik manis tersebut terluka akibat pukulannya itu, dia tidak akan menyesal.

Di kala itu Hek-siang-sat pun tidak tinggal diam, tangannya telah meluncur secepat kilat.

Waktu pukulan dari Pek-siang-sat hampir tiba, terlihat gadis berpakaian baju kuning itu telah mengempos semangatnya.

Kemudian waktu kepalan tangan Pek-siang-sat hanya tinggal beberapa dim dari dirinya, dia telah menotok dengan telunjuknya.

Luar biasa!

Walaupun hanya ditotok dengan jari telunjuk, tetapi telah cukup buat gadis itu memunahkan tenaga pukulan dari Pek-siang-sat.

Sebab begitu kepalan tangan dari Pek-siang-sat mengenai ujung jari telunjuk dari gadis berbaju kuning itu, seketika dia merasakan bahwa dari ujung jari itu seperti mengalir suatu kekuatan yang sangat panas sekali yang telah menyelusup dan menerjang kepada kepalan tangannya, menyebabkan tulangnya sangat sakit sekali.

Dengan begitu, Pek-siang-sat seperti kehilangan kekuatan tenaganya, yang sebagian terbesar seperti telah sirna begitu saja.

Tentu saja Pek-siang-sat jadi kaget, dia juga heran dan bingung, karena tidak mengetahui entah ilmu apa yang dipergunakan oleh gadis berbaju kuning itu, yang dengan hanya mempergunakan jari telunjuknya dapat memunahkan tenaga serangannya.

Akan tetapi seketika itu juga Pek-siang-sat teringat sesuatu, di mana dia telah teringat semacam ilmu totok, yaitu It-yang-cie.

Teringat akan ilmu itu, seketika keringat dingin mengucur deras sekali di kening dan muka Pek-siang-sat.

Dia sampai berpikir.

"Masih ada hubungan apakah dia dengan It-teng Taysu?"

Sambil berpikir begitu, tubuh Pek-siang-sat menggigil juga.

Hal ini disebabkan Pek-siang-sat memang telah mengetahui dan pernah mendengar akan kehebatan dari ilmu It-yang-cie itu.

Dengan demikian, dia jadi gentar juga.

Namun perasaan gentarnya itu segera lenyap, karena dia berpikir usia gadis baju kuning itu tidak lebih dari duapuluh lima atau duapuluh enam tahun, tidak mungkin dia memiliki lweekang yang terlatih dengan sempurna.

Taruh kata memang gadis berbaju kuning itu mengerti ilmu It-yangcie, tidak mungkin dia bisa mempergunakan ilmu It-yang-cie nya itu dengan sempurna.

Karena dari itu, telah membuat semangat Pek-siang-sat bangun lagi.

Sedangkan berbeda dengan apa yang dialami oleh Hek-siang-sat.

Karena dia waktu itu tengah menghantam ke punggung gadis berpakaian kuning tersebut.

Dia yakin gadis itu pasti akan mengelakkan hantaman kepalan tangannya.

Namun buat kagetnya, waktu kepalan tangannya itu meluncur, justeru gadis berpakaian kuning itu tidak bergeming dari tempatnya berada, dia masih berdiri tegak.

Dengan begitu, Hek-siang-sat girang.

Dia menduga tentu tulang punggung gadis berpakaian kuning tersebut akan dapat dihajarnya hancur oleh hantaman kepalan tangannya.

Maka dia mengempos semangat dan lweekangnya untuk menambah kekuatan tenaga serangannya.

Tetapi ketika kepalan tangan dari Hek-siang-sat hanya terpisah beberapa dim lagi dari punggung gadis berbaju kuning itu, dia jadi kaget sendirinya, karena tahu-tahu dia melihat tubuh gadis berbaju kuning itu berkelebat menggeser ke samping.

Ketika kepalan tangan Hek-siang-sat lewat, si gadis membarengi mengulurkan tangan kirinya.

Dia telah mencekal pergelangan tangan Hek-siang-sat, kemudian dengan mendorong sedikit, dia membuat tubuh Hek-siang-sat tertarik ke depan.

Untung saja Hek-siang-sat memang telah bersiap-siap sejak semula, dia telah memperkokoh kuda-kuda ke dua kakinya.

Dengan begitu dia tidak sampai terjerunuk maju ke depan.

Sepasang kakinya tetap berdiri tegak di tempatnya, sedangkan tubuhnya membungkuk sedikit ke depan.

Namun sebagai seorang yang berpengalaman, Hek-siang-sat juga segera dapat merobah kedudukannya.

Begitu tubuhnya terdorong ke depan hampir terjerunuk, segera juga dia menekuk tangannya, tahu-tahu sikut tangannya itu telah menyambar dada gadis berbaju kuning itu.

Namungadis berpakaian kuning tersebut benar-benar memiliki kepandaian yang luar biasa begitu sikut lawannya menyambar kepada dadanya, justeru dia telah menahan dengan telapak tangannya.

Ditahan oleh telapak tangan gadis berbaju kuning itu, sikut Heksiang-sat tidak bisa meluncur lebih jauh.

Malah Hek-siang-sat nyaris tulang sikut tangannya itu kalau saja dia tidak cepat-cepat menariknya karena akan kena dicengkeram oleh telapak tangan gadis berbaju kuning itu.

"Sudah tiga jurus!"

Berseru gadis itu sambil tersenyum sabar dan tenang.

"Jika dalam tujuh jurus lagi aku masih tidak berhasil merubuhkan kalian, maka jelas aku yang kalah dan tidak akan mencampuri urusan kalian lagi!"

Hek-pek-siang-sat seperti ucapan gadis itu bahwa telah berlangsung tiga jurus.

Karena dari itu, dalam tujuh jurus pula pasti gadis itu akan berusaha untuk merubuhkan mereka.

Tetapi Hek-pek-siang-sat seperti telah berjanji sebelumnya, seketika mereka teringat sesuatu, bahwa mereka sengaja akan menyerang serabutan lebih hebat lagi.

Dengan begitu, dia akan menghabisi ke tujuh jurus itu dengan segera.

Bukankah jika telah sepuluh jurus, berarti mereka terbebas dari gadis berbaju kuning itu?

Walaupun memang mereka ini tidak dapat merubuhkan gadis itu, namun mereka pasti akan puas, karena mereka tokh tetap akan berada sebagai pemenang.

Maka Hek-pek-siang-sat saling lirik.

Mereka memberikan isyarat, untuk menyerang gadis berbaju kuning itu jauh lebih hebat lagi.

"Tidak perlu kita sampai berhasil merubuhkan gadis itu, cukup jika kita telah dapat menghabisi sepuluh jurus tanpa kita dapat dirubuhkannya!"

Berseru Pek-siang-sat, mengingatkan Hek-siangsat.

Dan Hek-siang-sat pun memiliki pemikiran yang sama, karena itu, mereka berdua mempercepat setiap serangan mereka, agar mereka dapat segera menghabisi, sisa yang tujuh jurus lagi.

Dengan begitu, tanpa si gadis berbaju kuning itu rubuh, namun mereka sudah sebagai pemenang.

Gadis berpakaian kuning itu tersenyum mendengar seruan Peksiang-sat, kemudian dia telah berkelit dari serangan telunjuk tangan kanan Pek-siang-sat yang hendak menotok jalan darah di ketiaknya.

Totokan itu membuat Pek-siang-sat memaksa gadis baju kuning tersebut harus menyingkir ke samping kiri, dengan demikian jarak pisah antara gadis berbaju kuning itu dengan Heksiang-sat cukup jauh.

Hek-pek-siang-sat sambil mengerahkan delapan bagian tenaga lweekangnya, segera menyerang dengan serentak.

Waktu itu gadis berbaju kuning tersebut berpikir.

"Hemmm. telah tiba saatnya.....!" Dan karena dia telah melihat adanya kesempatan, maka segera juga ia mengeluarkan suara siulan yang nyaring sekali. Tahu-tahu dia telah menghantam ke arah tengkuk Pek-siang-sat. Hantaman gadis baju kuning itu dengan tepian telapak tangannya merupakan pukulan yang menimbulkan angin berkesiuran kuat sekali. Sebetulnya gadis itu hanya menabas dengan tepian telapak tangannya dengan gerakan yang tampaknya perlahan saja, seperti juga dia tidak menyerang sungguh-sungguh. Namun Pek-siang-sat justeru menyadari, jika sampai telapak tangan gadis baju kuning itu mengenai tengkuknya, tentu dia akan semaput, karena angin dari serangan tepian telapak tangan itu, sesungguhnya merupakan pukulan yang mengandung kekuatan tenaga dalam yang sulit sekali dijajakinya. Maka Pek-siang-sat tidak berani untuk berlaku ayal. Ia berusaha membungkuk, buat membiarkan pukulan tepian telapak tangan gadis berbaju kuning itu lewat di atas kepalanya. Dan memang tabasan tepian telapak tangan gadis berbaju kuning itu lewat di atas kepala Pek-siang-sat. Namun yang tidak disangka-sangka oleh Pek-siang-sat, waktu dia membungkuk seperti itu, justeru kaki dari si gadis berbaju kuning telah menyambar secepat kilat ke arah kempolannya. Tidak ampun lagi, tubuh Pek-siang-sat telah terguling. Memang Pek-siang-sat dapat bergerak sangat lincah sekali, dia telah dapat melompat berdiri pula, namun mukanya telah berobah merah dan pucat bergantian.

"Bukankah seperti yang Siauw-moay janjikan, paling banyak dalam sepuluh jurus siauw-moay akan dapat merubuhkan jie-wie Locianpwe?!"

Tanyagadis berbaju kuning itu.

Dan pertanyaangadis baju kuning itu sama saja seperti tempilingan pada muka Hek-pek-siang-sat.

Malah waktu itu Hek-pek-siang-sat yang melihat gadis baju kuning itu tengah berbicara tanpa bersiap siaga, segera mempergunakan kesempatan itu.Tahu-tahu tubuhnya telah melesat bagaikan bayangan belaka, tangan kiri dan tangan kanan dilonjorkan ke depan.

Dia telah memusatkan seluruh kekuatan lweekangnya pada ke sepuluh jari tangannya, karena dia memang hendak menghantam sepenuh tenaga kepada gadis baju kuning.

Hanya saja, cara dia menyerang itu sama saja seperti dia melakukan pembokongan.

Gadis baju kuning itu tetap berdiri membelakanginya, seperti juga tidak menyadari bahwa dirinya tengah dibokong oleh Hek-siangsat.....

Namun setelah tangan Hek-siang-sat dekat pada sasarannya, tahu-tahu tubuh gadis berbaju kuning itu berkelebat.

Gerakan yang dilakukannya sangat cepat dan lincah sekali.

Dia bergerak bagaikan seberkas sinar kuning belaka yang tahutahu telah lenyap dari mata Hek-siang-sat.

Dan "Bukkkkk!"

Punggung Hek-siang-sat kena dihantam kuat sekali oleh kepalan tangan gadis berbaju kuning itu.

Tubuh Hek-siang-sat tidak bergeming, dia tetap berdiri di tempatnya dengan sepasang tangannya terlonjorkan ke depan, tetap bersikap dalam keadaan menyerang seperti tadi.

Namun tidak lama kemudian telah terjungkal rubuh pingsan tidak sadarkan diri.

Pek-siang-sat terkejut melihat keadaan Hek-siang-sat seperti itu.Dia menduga Hek-siang-sat telah terbunuh di tangan gadis baju kuning tersebut.

Dengan bentakan marah bercampur kuatir, cepat793 cepat dia melompat ke dekat Hek-siang-sat, diapun telah memeriksa keadaan Hek-siang-sat.

Ternyata Hek-siang-sat keadaannya tidak terlalu menguatirkan.

Dia hanya tertotok pada tulang punggung utamanya, di mana beradanya jalan darah utama pada perputaran seluruh urat syaraf seorang manusia.

Tidak mengherankan, begitu jalan darah utamanya itu kena dihantam begitu kuat oleh kepalan tangan gadis berbaju kuning tersebut, tubuh Hek-siang-sat menjadi kaku.

Dan kemudian barulah rubuh tidak sadarkan diri.

Cepat-cepat Pek-siang-sat mengurutinya.

Lima menit kemudian terdengar keluhan, dan sepasang mata Hek-siang-sat terbuka lebar-lebar.

Begitu Hek-siang-sat teringatapa yang terjadi, cepat sekali dia telah melompat berdiri.

Anakrawali 13.065.

Pek-siang-sat mengetahui bahwa Hek-siang-sat hendak menyerang lagi kepada gadis berbaju kuning itu, karena Hek- siang-sat waktu itu tengah penasaran dan kalap, karena dia telah dirubuhkan seperti itu.

"Jangan..... kita memang telah dirubuhkannya!"

Kata Pek-siang-sat mencegahnya, yang mengakui, bahwa dalam delapan jurus ternyata mereka telah rubuh di tangan gadis berbaju kuning itu.

Dan mereka memang harus mengakui kenyataan tersebut.

Sedangkan Hek-siang-sat yang masih murka, memandang kepada gadis berbaju kuning itu dengan mata yang memancarkan kemarahan yang sangat, tampaknya dia masih penasaran dan hendak menerjang lagi.

Pek-siang-sat telah berkata kepada gadis baju kuning itu.

"Baiklah, kami mengakui, bahwa engkau telah berhasil merubuhkan kami..... Kami menerima kalah dalam pertaruhan ini, sehingga gadis cilik ini menjadi milikmu..... Terserah engkau mau apakan gadis cilik itu!"

Gadis baju kuning itu ketika melihat Pek-siang-sat telah mengakui dan menerima kekalahannya itu, cepat-cepat merangkapkan sepasang tangannya, dia telah memberi hormat dalam-dalam, katanya.

"Semua ini berkat jie-wie Locianpwee berlaku murah hati kepada Siauw-moay. Jika tidak tentu Siauw-moay tidak akan berdaya menghadapi jie-wie Locianpwee..... karena dari itu, terima kasih atas sikap mengalah dari jie-wie Locianpwce?"

Setelah berkata begitu, sekali lagi gadis berpakaian serba kuning itu telah menjurah dalam-dalam?

Melihat lagaknya gadis itu, yang dapat merendahkan diri, walaupun telah meraih kemenangan yang gemilang, Pek-siang-sat berkurang amarahnya sebagian.

Dia telah menoleh kepada Heksiang-sat,katanya.

"Mari kita berlalu!"

Hek-siang-sat rupanya masih penasaran dan murka sekali, karena dia masih mengawasi mendelik kepada gadis berbaju kuning itu.

Setelah tangannya ditarik oleh Pek-siang-sat, barulah Hek-siangsat menurut untuk di ajak pergi.

Gadis berpakaian kuning itu berdiri tersenyum manis saja, tanpa mengucapkan sepatah perkataan lagi.

Giok Hoa melihat kemenangan gemilang dari gadis berpakaian kuning tersebut, bukan main gembiranya.

Dia sampai bersorak dan telah menghampiri si gadis berpakaian kuning, dia menekuk ke dua kakinya, berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, dia pun berkata.

"Terima kasih atas pertolongan Cie-cie......!"

Gadis berbaju kuning itu membungkukkan tubuhnya, untuk mengangkat dan membangunkan Giok Hoa, katanya.

"Jangan banyak peradatan, semua itu hanya kulakukan seperti apa yang mampu kulakukan.....! Hu! Hu! Ke dua orang itu sangat berbahaya sekali, mereka memiliki kepandaian yang sangat tinggi sekali. Mereka sebetulnya merupakan lawan yang sangat berat sekali. Jika saja bukan memang kebetulan aku bisa menangkap kelemahan mereka, niscaya aku tidak mungkin dapat merubuhkan mereka!"

Setelah berkata begitu, gadis berbaju kuning tersebut mengajak Giok Hoa duduk di bawah pohon itu, kemudian melanjutkan perkataannya.

"Sesungguhnya, kepandaian Hek-pek-siang-sat tinggi sekali, walaupun tidak bisa disebut kepandaian mereka yang berada di atas kepandaianku, tetapi dengan majunya mereka serentak berdua, seharusnya aku menghadapi kekuatan yang tidak sedikit. Hanya saja tadi aku melihat, bahwa mereka merupakan manusiamanusia yang memiliki perangai sangat aneh sekali, di mana mereka mudah sekali dihasut, sehingga dalam keadaan marah, mereka akan lupa dengan penjagaan diri.

"Itulah sengaja aku menantangnya buat bertanding sepuluh jurus..... dan ternyata apa yang kuduga itu memang benar. Mereka mudah sekali dipanasi, dan dengan begitu, aku bisa mencari kelemahan mereka dan berhasil untuk merubuhkannya. Tetapi jika memang bertempur sungguh-sungguh tanpa batas, dan juga mereka mengadakan kerja sama yang jauh lebih kompak lagi, niscaya aku akan sibuk sekali menghadapi mereka......!"

Setelah berkata begitu, gadis berpakaian kuning itu mengawasi Giok Hoa, lalu katanya.

"Adik kecil, sesungguhnya siapakah engkau dan mengapa berada di tempat ini, ditawan oleh Hek-peksiang-sat?!"

Giok Hoa tiba-tiba menghela napas, hampir saja air matanya menggelinding jatuh karena dia jadi sedih sekali, sebab dirinya telah diperlakukan tidak baik oleh Bong Kie Siu, murid dari Hekpek-siang-sat.

Segera juga Giok Hoa menceritakan semua pengalamannya.

Gadis berbaju kuning itu setelah mendengar cerita Giok Hoa jadi menghela napas juga.

"Mana rajawalimu yang penurut itu?"

Tanya gadis berbaju kuning ini setelah mendengar betapa rajawali putih peliharaan Giok Hoa begitu setia berusaha menolonginya walaupun burung rajawali itu telah terluka pada sayapnya.

"Aku jadi teringat kepada rajawali yang pernah dimiliki ayahku!"

Giok Hoa bersiul beberapa kali.

Akan tetapi rajawali itu tidak muncul.

Rupanya burung rajawali putih itu telah terbang jauh untuk memberitahukan pada Hok An tentang keadaan Giok Hoa.

Begitulah, Giok Hoa dengan gadis berbaju kuning itu bercakapcakap beberapa saat.

Dan waktu itu gadis berbaju kuning itu telah menanyakan, apakah Giok Hoa ingin diantarkan kepada paman Hok nya.

Tetapi baru saja dia bertanya seperti itu, justeru di udara terdengar suara pekik yang nyaring dari burung rajawali.

Waktu gadis berbaju kuning dan Giok Hoa mengangkat kepala mereka memandang ke tengah udara, mereka melihat seekor burung rajawali putih besar sekali, tengah berputar-putar di atas hutan itu.

Sedangkan di punggung rajawali putih itu duduk seorang laki-laki cukup tua usianya.

Dan lelaki itu tidak lain dari Hok An.

Melihat burung rajawali itu, yang telah datang bersama-sama dengan Hok An, bukan kepalang girangnya Giok Hoa.

Seketika dia bersiul nyaring.

Burung rajawali tersebut mengerti panggilan majikannya, segera dia menukik, dan terbang turun.

Giok Hoa sambil berlari-lari menyahuti mereka, tidak lupa gadis cilik ini mengajak gadis berpakaian serba kuning, yang ingin diperkenalkan kepada Hok An.

Hok An telah melompat turun dari punggung burung rajawali putih itu dengan sikap berwaspada, karena dia mengetahui bahwa Giok Hoa tengah menghadapi kesukaran, sedangkan burung rajawali itu sendiri telah terluka sayapnya.

Dia bersiap-siap, buat menghadapi sesuatu.

Kedatangan burung rajawali putih itu tadi, yang memekik tidak sudahnya, dan datang tanpa Giok Hoa, membuat Hok An mengerti bahwa Giok Hoa tengah menghadapi ancaman dan dia segera perlu sekali pergi menolonginya.

Karena dari itu, dia segera melompat ke punggung rajawali putih itu dan rajawali tersebut telah membawanya terbang ke tempat di mana Giok Hoa ditahan oleh Hek-pek-siang-sat.

Tetapi ketika tiba di tempat itu, Hok An malah jadi heran dan bingung, karena dilihatnya Giok Hoa tidak kurang suatu apapun juga, di belakangnya ikut berjalan dengan tenang dan tersenyumsenyum seorang gadis yang cantik jelita berpakaian serba kuning.

Hok An segera memeluk Giok Hoa, tanyanya.

"Apakah engkau tidak apa-apa?!"

Giok Hoa menggeleng manja.

"Tidak aku telah ditolongi oleh Cie-cie itu, paman Hok!"

Kata Giok Hoa.

Sambil berkata begitu Giok Hoa menunjuk kepada gadis berpakaian serba kuning tersebut.

Cepat-cepat Hok An telah melepaskan rangkulannya pada Giok Hoa, dia telah menghampiri si gadis berpakaian seba kuning itu.

Waktu tiba di depan gadis tersebut dia telah merangkapkan ke dua tangannya, memberi hormat sambil mengucapkan terima kasihnya.

"Paman Hok!"

Kata Giok Hoa kemudian, waktu gadis berpakaian serba kuning itu tengah merendahkan diri menerima hormat Hok An.

Hok An menoleh dengan segera Giok Hoa telah menghampirinya, "Tahukah paman Hok siapa yang telah menawanku?!"

Tanya Giok Hoa. Hok An menggelengkan kepalanya. Giok Hoa tersenyum katanya lagi.

"Orang yang telah menangkapku tidak lain dari orang bertubuh tinggi jangkung murid Hek-pek-siang-sat.....!"

Mendengar keterangan Giok Hoa, muka Hok An menjadi berobah seketika.

"Orang she Bong itu yang telah menangkapmu?"

Tanya Hok An dengan suara agak tertahan.

"Sekarang di mana orang itu?"

Dan juga Hok An telah memandang sekelilingnya dalam keadaan bersiap-siap, karena dia mengetahui bahwa orang she Bong itu memiliki kepandaian yang liehay sekali.

"Orang she Bong itu telah melarikan diri siang-siang!"

Menyahuti Giok Hoa.

"Bahkan kedua gurunya, Hek-pek-siang-sat, yang bermaksud hendak menawanku, juga telah dirubuhkan Cie-cie itu."

Hok An memandang kepada gadis berpakaian serba kuning itu dengan sikap setengah mempercayai setengah tidak, karena dia kurang yakin bahwa gadis berpakaian serba kuning yang usianya masih demikian muda telah dapat merubuhkan Hek-pek-siang-sat.

Waktu Giok Hoa menceritakan kepadanya, betapa Hek-pek-siangsat bermaksud menahannya dan gadis berbaju kuning itu bertaruh dengan mereka.

Hok An mendengarkan bengong saja.

Benar-benar hampir tidak bisa diterima oleh akal sehatnya.

Tetapi memang apa yang terjadi telah ada di hadapannya, dan dia telah melihatnya Giok Hoa tertolong.

Karena itu, tidak sudahnya Hok An memuji akan kehebatan gadis berbaju kuning itu.

Gadis berbaju kuning tersebut pun telah mengucapkan kata-kata yang merendah, karena diapun merasa canggung mendengar Hok An memujinya terus menerus.

"Sesungguhnya, sangat luar biasa sekali.....!"

Kata Hok An kemudian.

"Hek-pek-siang-sat..... mereka merupakan orang-orang yang memiliki kepandaian sangat tangguh sekali..... dan memang sulit sekali diterima akal sehat, bahwa nona bisa merubuhkan mereka tidak lebih dari sepuluh jurus.....!"

Dan setelah berkata begitu, Hok An merangkapkan ke dua tangannya, dia telah menjurah lagi kepada gadis berbaju kuning itu, katanya.

"Jika memang Liehiap tidak keberatan, bolehkah aku mengetahui she dan nama Liehiap yang mulia dan agung?"

Gadis berpakaian serba kuning itu tertawa.

"Janganlah paman terlalu merendah seperti itu. Malah seharusnya Siauw-moay yang harus bersikap menghormat kepada paman Hok! Telah lama sekali Siauw-moay mendengar kebesaran nama paman Hok, dan beruntung sekali kita dapat bertemu hari ini.....! "

Mengenai nama Siauw-moay, sesungguhnya hal itu kurang leluasa dibicarakan sekarang. Dan kiranya, memang perlu juga paman Hok ketahui, Siauw-moay she Yo.....!"

Dan setelah berkata begitu, gadis berbaju kuning tersebut bersenandung dengan suara perlahan, dia mengangkat kepalanya memandang kepada langit, seperti tengah memandangi gumpalan awan, mulutnya berkemak kemik bergumam perlahan, bersenandung lembut sekali.

"Berpasangan, berkelana dengan rajawali sakti, dan juga pergi berdua, Bermesraan, di antara mega dan tingginya gunung, di antara kesucian dan keadilan.....!"

Waktu itu muka Hok An telah berobah. Dia memperlihatkan sikap terkejut, kemudian tanyanya dengan sikap yang ragu-ragu.

"Apakah..... apakah Liehiap adalah..... adalah sanak dari Yo Tayhiap? Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko?!"

Gadis berbaju serba kuning itu tersenyum.

"Semua itu ada awal dan ada akhir, semua itu ada pertemuan dan ada perpisahan..... perjalanan......"

Gadis maka Siauw-moay berpakaian serba akan kuning melanjutkan itu telah mengelakkan pertanyaan Hok An.

Sedangkan Hok An bertambah yakin, tentunya gadis ini adalah salah seorang dari sanak kerabatnya Yo Ko.

Segera juga Hok An telah berkata.

"Tunggu dulu, Liehiap..... dengarlah dulu, ada yang perlu kusampaikan kepadamu......!"

"Ya, katakanlah......!"

Kata gadis berbaju kuning itu.

"Siauw-moay akan mendengarkannya baik-baik!" Hok An memandang ragu kepada gadis itu kemudian melirik kepada Giok Hoa, baru kemudian memandang kepada gadis berpakaian serba kuning tersebut, katanya.

"Sesungguhnya belum lama yang lalu, aku baru saja berpisah dengan puteranya Sintiauw-tay-hiap Yo Ko yang bernama Yo Him....."

Mendengar perkataan Hok An itu, tiba-tiba saja gadis berpakaian serba kuning tersebut telah memandang bersungguh-sungguh, kemudian tanyanya.

"Kapan kalian bertemu dan di manakah sekarang ini Yo Him berada?"

"Baru beberapa hari saja kami berpisah, rasanya belum lama berpisah. Begitu mulia hati Yo Him Tayhiap, dan juga isterinya itu..... Sasana Kouw-nio. Betapa agungnya mereka, merupakan pasangan yang sangat ideal sekali......"

Mendengar Hok An, tidak menjawab pertanyaannya malah telah bergumam seperti orang kesima, gadis berpakaian serba kuning tersebut bagaikan tidak sabar, tanyanya.

"Paman Hok...... di manakah sekarang ini Yo Him dan isterinya berada?!"

"Mereka telah melanjutkan perjalanan, tetapi kukira belum begitu jauh. Apakah Liehiap bermaksud menemui mereka?" Gadis berpakaian serba kuning itu menghela napas dalam-dalam.

"Ya, ya, memang aku ingin sekali bertemu dengan mereka, namun rupanya memang bukan jodoh kami buat berkumpul!"

Gadis berbaju kuning itu telah berkata dengan suara menggumam.

"Memang sesungguhnya Siauw-moay ingin sekali berkumpul dengan mereka."

"Tetapi jika Liehiap bermaksud untuk mengejar mereka, tentu mereka melakukan perjalanan belum terlalu jauh......"

Kata Hok An.

Tetapi waktu itu gadis berpakaian berbaju kuning itu menghela napas dalam-dalam, kemudian dia menggelengkan kepalanya beberapa kali.

Diapun telah memandang ke atas langit, kepada gumpalan awan, lalu katanya.

"Sudahlah, nantipun kami akan bertemu!"

Dan wajah gadis berbaju serba kuning itu telah berobah biasa lagi, karena dia telah tersenyum manis pula, malah dia telah menoleh kepada Giok Hoa, katanya.

"Adik kecil, menurut apa yang kulihat, engkau memiliki bakat sangat baik sekali untuk mempelajari ilmu silat, maka kelak engkau harus baik-baik berlatih diri. Tentu jika engkau tekun dan giat berlatih diri, engkau akan menjadi seorang pendekar wanita yang gagah perkasa, di mana tidak mudah orang menghina dirimu lagi......!"

Baru saja gadis berbaju kuning itu berkata sampai di situ, tiba-tiba Hok An telah menekuk ke dua kakinya. Dia berlutut di hadapan gadis berbaju kuning tersebut, katanya.

"Liehiap, maafkanlah atas kelancanganku, ada yang hendak kuajukan untuk memohon sesuatu dari Liehiap. Entah Liehiap mengijinkan atau tidak aku menyebutkannya.....?!"

"Ya, katakanlah.....!"

Kata gadis berpakaian serba kuning itu.

"Sesungguhnya, aku merasa kasihan dan juga merasa iba akan nasib Giok Hoa. Dia seorang anak yatim piatu, yang sudah tidak memiliki ayah dan ibu lagi.

"Di antara kami sesungguhnya tidak ada hubungan darah, hanya saja, selama ini aku berusaha merawat Giok Hoa sebaik mungkin. Cuma sayangnya justeru aku tidak memiliki kemampuan apa-apa.

"Dengan demikian, jika Giok Hoa tetap berada di tanganku, berarti akan sia-sia belaka kesempatan yang ada padanya, karena dia tidak akan memperoleh suatu apapun yang berarti dariku..... Karena dari itu, jika memang Liehiap tidak keberatan, ada sesuatu yang hendak kumohonkan kepada Liehiap!"

"Katakanlah!"

Kata gadis berpakaian serba kuning itu.

"Sesungguhnya, sudah lama sekali terkandung niat di hatiku untuk mencarikan seorang guru yang benar-benar memiliki kepandaian tinggi buat Giok Hoa, sejauh itu aku belum berhasil. Dengan demikian, maka selama beberapa tahun, sia-sia saja Giok Hoa ikut bersama denganku tanpa memperoleh hasil yang berarti, terlebih lagi dalam hal latihan ilmu silat! Jika memang Yo Liehiap tidak keberatan, sudi kiranya mengambil Giok Hoa menjadi murid Liehiap......!"

Setelah berkata begitu, Hok An telah mengangguk-anggukkan kepalanya, sampai keningnya menghantam bumi, dan memerah bengkak.

Namun Hok An tidak memperdulikan, dia tetap mengangguk-angguk.

Tentu saja gadis berbaju kuning itu jadi repot.

Dia telah berulang kali meminta Hok Anagar bangun berdiri, namun Hok An tidak mau berdiri.

Dia tetap berlutut dengan mengangguk-anggukkan kepalanya tidak hentinya.

"Jika memang Yo Liehiapmau menerima Giok Hoa sebagai murid Liehiap, maka walaupun harus mati sekarang, aku tentu akan mati dengan mata yang meram......!"

Kata Hok An lagi.

Gadis berpakaian serba kuning itu telah menghela napas dalamdalam, dia memperhatikan Giok Hoa beberapa saat.

Sedangkan Giok Hoa yang cerdas, pun telah cepat-cepat menekuk ke dua kakinya berlutut di hadapan gadis berbaju kuning itu.

Gadis berbaju kuning itu tersenyum, diapun telah perintahkan Giok Hoa berdiri.

Tetapi Giok Hoa tetap berlutut, dia tidak mau berdiri.

Sedangkan Hok An telah memohon terus menerus.

Hal ini membuat gadis berbaju kuning itu jadi sibuk bukan main buat perintahkan ke dua orang itu berdiri dari berlutut mereka.

Dalam keadaan seperti itu Hok An telah berkata lagi dengan sikap bersungguh-sungguh.

"Jika Liehiap bersedia menerima Giok Hoa menjadi murid Liehiap, maka biarpun sekarang ini leherku harus digorok, tentu aku puas....."

Dan sambil berkata begitu, tidak hentinya Hok An mengangguk-anggukkan kepalanya. Gadis berbaju kuning itu menghela napas, kemudian dia berkata dengan sikap bersungguh-sungguh.

"Sebetulnya memang bisa saja aku menerima permohonanmu itu, yaitu menerima Giok Hoa menjadi muridku! Akan tetapi, sayangnya kepandaianku belum bisa diandalkan, aku tidak memiliki kepandaian yang berarti!"

Setelah berkata begitu, gadis baju kuning itu perintahkan Giok Hoa dan Hok An untuk berdiri.

Tetapi waktu itu terlihat betapapun juga Hok An dan Giok Hoa tidak mau berdiri.

Mereka tetap berlutut, sampai akhirnya gadis baju kuning itu berkata lagi.

"Baiklah! Jika memang kalian tetap menghendaki agar aku menjadi guru Giok Hoa, namun harus diketahui, untuk menjadi muridku, terlebih lagi murid utama, dengan demikian kau harus mengetahui larangan dan syaratnya, Giok Hoa!"

"Ya, katakanlah.....!"

Kata Giok Hoa dengan cepat.

"Apapun syaratnya akan Giok Hoa penuhi......!"

Gadis berpakaian kuning itu berhenti sejenak tidak berkata-kata, dia hanya mengawasi Giok Hoa.

Memang gadis kecil ini sangat berbakat sekali, juga tampaknya dia sangat baik sekali hatinya, memiliki jiwa yang bisa ditempa dan juga memancarkan ketekunannya buat berlatih silat.

Maka, karena melihat Giok Hoa cocok untuk menjadi muridnya, gadis berbaju kuning itupun tidak menampik lagi jika Giok Hoa hendak menjadi muridnya.

Dia hanya berkata pula.

"Dalam hal ini, kau harus mengetahui dengan jelas Giok Hoa. Dalam pintu perguruanku ini, tidak akan ada seorang muridku yang dibiarkan untuk mengandalkan kepandaian dan ilmu silatnya menindas pihak yang lemah. Jika memang hal itu terjadi, maka murid tersebut akan menerima hukuman yang tidak ringan......!"

"Hal itu akan tecu perhatikan.....!"

Kata Giok Hoa kemudian.

"Baik! Sekarang kau dengarlah baik-baik. Selanjutnya, pantangan lainnya lagi, kau tidak boleh tekebur, tidak boleh karena memiliki kepandaian tinggi, lalu bertindak sewenang-wenang, dan juga kau harus selalu bertindak bijaksana, adil dalam memutuskan suatu persoalan.....! Mengertikah, kau Giok Hoa?!"

"Ya, ya.....!"

Menyahuti Giok Hoa sambilmengangguk-anggukan beberapa kali.

"Bagus!

Dan untuk menjadi muridku, engkau harus bersumpah berat, bahwa ilmu kepandaian yang akan kuwarisi kepadamu ini tidak akan dipergunakan buat melakukan hal-hal yang tidak pantas atau juga melakukan kejahatan!"

Kata gadis berbaju kuning itu. Giok Hoa segera juga bersumpah.

"Jika memang nanti tecu mempergunakan kepandaian yang diwarisi Suhu untuk melakukan perbuatan jahat dan tidak adil, biarlah tubuh tecu hancur tidak diterima langit dan bumi!"

Itulah sumpah yang berat sekali, dengan demikian telah membuat gadis berbaju kuning itu mengangguk-angguk beberapa kali.

"Cukup! Jangan kau bersumpah begitu berat. Dengan bersumpah engkau tidak melakukan kejahatan sebetulnya juga telah lebih dari cukup.....!"

Kata gadis berbaju kuning itu.

"Jadi..... jadi Liehiap menerima Giok Hoa menjadi murid Liehiap?!"

Tanya Hok An dengan kegembiraan yang meluap-luap. Gadis berpakaian serba kuning itu mengangguk mengiakan.

"Karena di sini tidak terdapat barang-barang sembahyang, maka biarlah nanti jika aku telah bertemu dengan sebuah kampung, akan kubeli alat sembahyang itu. Kalian boleh menanti dulu di sini..... nanti kita lakukan sembahyang pengangkatan guru dan murid!"

Hok An mengiakan.

Demikian juga halnya dengan Giok Hoa.

Mereka menantikan di situ setelah si gadis berbaju kuning itu berlalu dengan gesit sekali.

Dalam waktu sekejap saja gadis berbaju kuning itu telah lenyap dari pandangan Hok An maupun Giok Hoa.

Waktu itu tampak jelas, betapa Hok An sangat gembira sekali.

Berulang kali dia menasehati Giok Hoa.

Jika kelak telah ikut gadis berpakaian serba kuning itu, dia harus belajar dengan giat, di samping itu semua nasehat yang diberikan gadis berbaju kuning itu harus didengar dan dipatuhinya.

Giok Hoa berjanji akan mematuhi dan mengingat pesan dari Hok An.

Hok An juga berusaha untukmengingatkan Giok Hoa.

Jika Giok Hoa belajar dengan sungguh-sungguh, kelak tentu Giok Hoa akan dapat menjadi seorang pendekar wanita yang tangguh sekali.

Tak lama kemudian tampak si gadis berbaju kuning telah tiba kembali.

Dia membawa beberapa batang lilin dan juga beberapa macam alat sembahyang lainnya.

Segera lilin, dinyalakan, dan diwaktu itu juga telah disiapkan segala sesuatunya.

Giok Hoa segera berlutut pada alat-alat sembahyang itu, berlutut menghadap pada langit, bersembahyang pada langit dan bumi, bahwa ia bersumpah akan belajar dengan giat, di samping itu juga akan mematuhi perintah dari gurunya.

Dengan begitu, berarti akan mematuhi juga semua peraturan di dalam pintu perguruannya.

Jika sekali saja dia berkhianat terhadap pintu perguruannya, dia bersedia menerima hukuman yang seberat-beratnya dari gurunya.

Juga Giok Hoa bersumpah, dia akan berusaha menjaga nama baik pintu perguruannya.

Setelah bersumpah begitu, Giok Hoa kemudian berlutut di hadapan gadis berbaju kuning itu.

"Suhu......!"

Panggilnya tigakali sambil menganggukkan kepalanya tujuh kali. Gadis berbaju kuning itu tersenyum lebar dia mengulur kantangannya bantu membangunkan Giok Hoa, katanya.

"Bangunlah muridku! Mulai detik ini, engkau telah resmi menjadi muridku! Tetapi engkau harus ingat, harus berlatih dengan tekun dan giat, karena selanjutnya nama baik pintu perguruan kita terletak di tanganmu.Terlebih lagi jika kelak aku sudah tiada, tentu akan menjadi tanggung jawabmu untuk melaksanakan segala apapun yang menyangkut dengan nama baik pintu perguruan kita."

Giok Hoa mengiyakan dan segera dia bangun memberi hormat kepada Hok An.

Di waktu itu terlihat bahwa Hok An telah beberapa kali mengangguk-angguk sambil menyusut air mata, tampaknya dia gembira sekali.

Sedangkan gadis berbaju kuning itu telah berkata dengan suara yang sabar.

"Dengarlah Giok Hoa. Sesungguhnya dalam persoalan pengangkatan guru dan murid ini hanya terdapat suatu ikatan yang umum belaka. Tetapi yang sebenarnya kuinginkan adalah engkau sendiri yang harus dapat berlatih diri dengan sebaik-baiknya, di mana engkau harus dapat menggembleng dirimu, untuk memiliki kepandaian yang tinggi.

"Di samping itu juga engkau harus memiliki hati dan jiwa yang bersih dan tulus, sehingga engkau tidak akan berjauhan dari keadilan! Sekali saja engkau memberikan kesempatan kepada iblis kejahatan menguasai hatimu, maka selanjutnya sulit buat engkau untuk menyingkirkan iblis kejahatan itu!"

Giok Hoa mengiakan dan mendengarkan baik-baik semua petuah yang diberikan oleh gurunya.

Sedangkan gadis berbaju kuning itu banyak sekali memberikan petuah padanya, dan semua itu telah didengar dengan cermat oleh Giok Hoa.

Dan mengingatnya baik-baik, karena dia mengetahui untuk waktu-waktu selanjutnya dia menghadapi tugas yang cukup berat, yaitu harus bertindak jauh lebih hati-hati buat menjaga nama baik pintu perguruannya.

Tidak boleh mendatangkan malu buat nama baik gurunya, atau juga kepada pintu perguruannya.

Karena dari itu Giok Hoa telah berusaha untuk dapat mengingat semua nasehat yang diberikan gurunya itu.

Setelah selesai memberikan nasehat kepada muridnya tersebut, gadis berbaju kuning itu telah menoleh kepada Hok An.

Anakrawali 14.067.

"Paman Hok, kami akan berangkat meninggalkan tempat ini. Semoga saja paman Hok selalu bahagia.....!" Hok An cepat-cepat membalas pemberian hormat dari gadis berbaju kuning itu. Dia telah berkata dengan suara yang mengandung haru.

"Baiklah, jika memang demikian halnya, maka akan membahagiakan sekali hatiku. Dan selanjutnya, jika memang aku harus mati, maka aku bisa mati dengan mata yang meram.....!"

Gadis berbaju kuning itu mengangguk beberapa kali, dia tersenyum dan melambaikan tangannya kepada Giok Hoa.

"Tunggu dulu suhu!"

Kata Giok Hoa.

"Ya?!"

Tanya gadis baju kuning itu sabar sambil mengawasi muridnya.

"Apakah memang Pek-jie dapat kubawa serta, Suhu?!"

Tanya Giok Hoa.

"Ya, ya.....!"

Mengangguk gadis berpakaian serba kuning itu.

"Kau boleh membawanya!"

Bukan main girangnya Giok Hoa, segera juga dia bersiul nyaring.

Dan segera tampak berkelebat bayangan di tengah udara, seekor burung rajawali putih yang gagah perkasa telah hinggap di sisi Giok Hoa dengan sikap yang setia sekali.

Giok Hoa mengusap-usap leher burung rajawali putih itu, dan diapun telah berkata.

"Pek-jie, kita akan berangkat ikut dengan suhuku, engkau harus baik-baik dan patuh pada perintahnya, jangan nakal dan jangan terlalu liar!"

Burung rajawali tersebut memekik nyaring, dia seperti mengerti apa yang dikatakan Giok Hoa. Sedangkan gadis berpakaian kuning itu telah berkata kepada Giok Hoa.

"Apakah kita bisa berangkat sekarang?"

Tanyanya.

"Ya, suhu......!"

Menyahuti Giok Hoa.

Begitulah, Giok Hoa telah ikut dengan gadis berbaju kuning itu, sebelum berlalu dia berlutut di hadapan Hok An dan menangis terharu.

Ia menyatakan jika kelak dia sudah selesai belajar, tentu dia akan mencari Hok An, karena budi kebaikan Hok An tidak bisa dilupakannya.

Burung rajawali putih itupun sebelum terbang meninggalkan tempat tersebut, telah menghampiri Hok An, menggesek-gesekkan kepalanya ke tubuh Hok An.

Barulah kemudian sambil mengeluarkan pekik yang nyaring sekali, dia terbang dengan perkasa di tengah udara.

Gadis berpakaian kuning itu sengaja melakukan perjalanan tidak terlalu cepat, karena dia mengetahui bahwa Giok Hoa baru mengerti kulit ilmu silat dari Hok An, tak bisa berlari cepat.

Dan gadis berpakaian serba kuning itupun memang tidak bermaksud hendak melakukan perjalanan cepat.

Karena dari itu, dia membiarkan saja menurut kesanggupan dan kekuatan yang ada pada Giok Hoa.

Mereka telah melakukan perjalanan cukup jauh, ketika Giok Hoa menyatakan dia sangat letih.

"Ayoh kita beristirahat dulu.....!"

Kata gadis berbaju kuning itu sambil tersenyum.

Dan memang dia memberikan kesempatan kepada Giok Hoa untuk beristirahat.

Giok Hoa duduk di bawah sebatang pohon yang rimbun, kemudian dia bersiul nyaring sekali.

Burung rajawali putih dengan segera datang hinggap di sampingnya.

Segera juga Giok Hoa perintahkan padanya, agar dia pergi mencari buah-buahan.

Burung rajawali putih yang begitu jinak dan seperti mengerti setiap perintah Giok Hoa, segera terbang, dan tidak lama kemudian dia telah kembali, dengan membawa cukup banyak buah-buahan yang segar ranum pada cengkeraman kakinya dan paruhnya.

Buah-buahan itu cukup menyegarkan, dan setelah perasaan letihnya lenyap, Giok Hoa melanjutkan perjalanan lagi bersama gurunya!

Gadis berpakaian serba kuning itu sangat sayang kepada Giok Hoa.

Terlebih lagi dilihatnya Giok Hoa sangat cerdas.

Setiap apa saja yang diajarkan kepadanya, gadis kecil itu dapat menerimanya dengan cepat!

Maka gadis berbaju kuning itu semakin bersemangat buat mendidik Giok Hoa.

Siapakah gadis berbaju kuning yang menjadi guru Giok Hoa itu?

Dia tidak lain dari anak angkat Siauw Liong Lie, nona Yo, yang selalu senang berpakaian serba kuning itu, yang memiliki kepandaian luar biasa, karena dia telah memperoleh didikan yang tekun dari Siauw Liong Lie, waktu Siauw Liong Lie terkurung di dalam jurang......!"

Hari demi hari telah lewat terus, tetapi di dalam dunia ini, alam tetap tidak berobah, pohon-pohon tetap tumbuh segar dan juga batubatu gunung tidak akan berobah.

Namun telah terjadi perobahan pada diri Giok Hoa, yang sekarang telah menjadi seorang gadis remaja yang cantik jelita, dalam usia tujuhbelas tahun.

Iapun sekarang memiliki kepandaian yang tinggi, gerakan tubuh yang gesit dan juga ilmu pedang yang sangat dahsyat sekali, di mana dia telah menerima warisan Giok-lie-kiam-hoat dari gurunya, yaitu nona Yo, gadis yang berpakaian serba kuning.

Gadis she Yo tersebut, anak angkat Siauw Liong Lie pun menurunkan seluruh kepandaiannya dengan bersemangat.

Dan Giok Hoa merupakan murid tunggalnya.

Karena memang gadis she Yo tersebut tidak mau menerima murid lagi, maka dia bermaksud hendak menurunkan seluruh ilmunya kepada Giok Hoa seorang belaka.

Dan mereka selama lima tahun telah mengambil tempat di puncak gunung Heng-san.

Karena berdiam di tempat yang sunyi itu, si gadis berpakaian serba kuning dapat mencurahkan seluruh perhatiannya kepada Giok Hoa sehingga Giok Hoa pun dapat berlatih sepanjang waktu dengan sebaik-baiknya.

Itulah pula sebabnya mengapa Giok Hoa telah memperoleh kemajuan yang sangat pesat sekali.

Seperti terlihat pada pagi itu, Giok Hoa sambil bernyanyi-nyanyi kecil, dengan menggunakan kun warna hijau dan baju bagian atas berwarna kuning, rambut yang disanggul dan ujungnya dibiarkan terjuntai merupakan buntut kuda yang menambah kecantikan parasnya itu, tengah berlari-lari kecil.

Hanya saja setiap kali dia melihat jurang yang terbentang di hadapannya, dengan mudah Giok Hoa melompatinya.

Tampaknya dia tidak memiliki kesulitan sedikitpun juga.

Hawa udara di pagi itu sangat segar sekali dengan daun-daun yang hijau bening bersih karena telah dimandikan embun semalaman, dan sinar matahari pagi yang hangat menambah kesegaran keadaan di sekitar tempat itu.

Giok Hoa pun tampak riang sekali.

Tempat yang begitu indah dan nyaman, di tambah dengan adanya seorang gadis yang remaja dan jelita seperti Giok Hoa, maka menambah semaraknya tempat tersebut.

Puncak gunung Heng-san memang tidak lebih tinggi dari puncak Thian-san ataupun juga puncak gunung Himalaya.

Akan tetapi Heng-san memiliki keindahan tersendiri, yaitu pohon-pohon yang tumbuh di gunung tersebut tidak terlalu rapat, juga udara di puncak gunung Heng-san selalu sejuk.

Sinar matahari yang dapat masuk cukup, menghangatkan udara di situ, benar-benar merupakan tempat yang sangat menarik sekali.

Dan yang membuat Giok Hoa diajak gurunya berdiam di puncak Heng-san, alasannya tempat itu jarang sekali didatangi manusia, karena Heng-san memiliki jurang-jurang yang terbentang luas dan lebar.

Karena itu, penduduk dari kampung-kampung di kaki gunung tersebut, jarang yang berani yang naik ke puncak gunung Hengsan.

Dengan demikian telah membuat nona Yo memilih tempat itu sebagai tempat dia mendidiknya muridnya dengan tenang.

Giok Hoa yang sekarang telah menjadi gadis remaja, dengan kepandaian yang telah tinggi, karena tujuh bagian dari kepandaian gurunya telah diwarisi kepadanya.

Diapun telah menjadi seorang gadis yang mungkin sukar dirubuhkan oleh jago-jago sembarangan.

Karena ilmu silat yang diwarisi nona Yo tersebut merupakan ilmu yang terhebat di dalam rimba persilatan, yang bersumber dari Siauw Liong Lie dan Yo Ko, yaitu ilmu pedang Giok-lie-kiam-hoat.

Seperti diketahui bahwa Giok-lie-kiam-hoat semestinya dibawakan berpasangan, yaitu berdua.

Tetapi nona Yo itu telah mengubah ilmu tersebut, agar dapat dibawakan oleh Giok Hoa seorang diri.

Memang nona Yo tersebut tidak bermaksud hendak menerima murid lainnya lagi, hanya ingin memiliki murid tunggal seorang saja yaitu Giok Hoa.

Selama setahun lebih nona Yo yang selalu senang berpakaian kuning itu, memeras pikiran dan tenaga, dia telah berusaha menggubah ilmu pedang Giok-lie-kiam-hoat menjadi ilmu pedang tunggal.

Dan usahanya itu memang berhasil.

Sekarang Giok Hoa dapat membawakan jurus-jurus Giok-lie-kiamhoat seorang diri, tanpa adanya kelemahan lagi.

Dan biarpun dia hanya seorang diri membawakan ilmu pedang Giok-lie-kiam-hoat, tokh tetap saja kehebatan ilmu pedang ini tidak berkurang sedikit pun juga.

Selama setahun itu gurunya telah berhasil untuk menutupi kelemahan-kelemahan yang ada pada Giok-lie-kiam-hoat jika dibawakan sendiri.

Pagi ini memang Giok Hoa bermaksud melatih diri, dia telah berlarilari dengan riang sambil bernyanyi kecil melompati jurang-jurang yang dilaluinya.

Dia bermaksud pergi ke tempat berlatihnya, yaitu puncak yang tertinggi dari gunung Heng-san.

Sebuah tempat yang cukup luas, lapangan gundul dengan sebagian salju terdapat di sana, hawa udara di sana sangat dingin.....

Ada suatu keluar biasaan yang dimiliki Heng-san.

Pada puncak gunung tersebut terdapat sebuah air mancur, yang cukup besar, dan inilah yang mungkin tidak dimiliki oleh gunung-gunung lainnya.

Dengan demikian, dengan adanya air mancur tersebut, Giok Hoa selalu dilatih gurunya untuk mempergunakan air mancur tersebut guna memperkuat latihan tenaga dalamnya.

Puncak gunung Heng-san memang sangat tepat sekali dipergunakan sebagai tempat berlatih.

Dan sudah bertahun-tahun Giok Hoa selalu berlatih di puncak tertinggi gunung Heng-san itu.

Selama dua tahun belakangan ini, memang Giok Hoa selalu pergi seorang diri ke puncak gunung tersebut untuk berlatih, tanpa dikawal oleh gurunya.

Karena kepandaian Giok Hoa memang telah tinggi, walaupun dia pergi seorang diri, tokh dia tidak akan menemui kesulitan mencapai puncak tertinggi dari gunung tersebut.

Dan tidak lama kemudian tampak Giok Hoa telah tiba di puncak tertinggi gunung Heng-san.

Dia telah menghirup udara segar beberapa saat lamanya, dan memandang sekitar tempat itu dengan mata yang bening berkilauan mengandung kegembiraan.

Memang selama berguru pada nona Yo itu maka Giok Hoa telah menerima gemblengan yang sangat keras sekali dari gurunya, untuk menghadapi segala apapun dengan latihan yang berat.

Dengan demikian, walaupun baru berlangsung lima tahun lebih, tokh gadis yang cantik jelita ini telah memiliki kepandaian yang dapat diandalkan.

Setelah cukup lama menghirup udara segar Giok Hoa mulai menggerak-gerakan sepasang tangannya.

Dia bersilat mulai dari jurus-jurus permulaan, di mana ke dua tangan dan kakinya itu bergerak perlahan sekali.

Namun biarpun gerakannya perlahan, tokh dari sepasang tangan dan kakinya itu, setiap kali digerakkan menimbulkan kesiuran angin yang sangat kuat sekali, menderuderu dengan dahsyat.

Semakin lama gerakan ke dua tangan dan kaki Giok Hoa semakin cepat.

Sepasang kakinya juga bergerak semakin lincah, karena dia telah bergerak dengan gerakan yang semakin sulit diikuti oleh pandangan mata manusia biasa, di mana dia telah berkelebatkelebat ke sana ke mari, seperti juga sesosok bayangan saja.

Sedangkan hawa udara memang sangat segar di pagi itu, sehingga semangat Giok Hoa bertambah terbangun, untuk berlatih dengan bersemangat.

Setiap jurus yang dipergunakannya juga semakin lama semakin berat.

Dilihat dari setiap gerakan yang dilakukan Giok Hoa, memang gadis tersebut telah memiliki kepandaian yang dapat diandalkan.

Dan tampaknya guru Giok Hoa pun telah berhasil mewarisi seluruh kepandaiannya.

Hanya saja masalah latihan dan waktu juga, yang membuat Giok Hoa belum dapat menerima keseluruhan kepandaian itu, di mana dia membutuhkan latihan terus, agar dapat benar-benar menguasai seluruh kepandaian gurunya itu, yang telah diwarisi kepadanya.

Tubuh Giok Hoa telah berkeringat, dia bergerak semakin cepat juga.

Malah akhirnya dia berseru nyaring tangannya telah bergerak cepat sekali, menghantam sebungkah batu yang besar.

"Plakkk!"

Dan batu itu seketika hancur berkeping-keping.

Giok Hoa telah berhenti bersilat, dia berdiam diri mengatur pernapasannya, lama Giok Hoa berdiri diam mengatur pernapasannya.

Sampai akhirnya Giok Hoa telah menjejakkan sepasang kakinya, tubuhnya telah mencelat ke tengah udara dengan ringan sekali, setinggi empat tombak lebih.

Dalam keadaan seperti itulahtampak Giok Hoa memperlihatkan gin-kangnya memang telah terlatih dengan baik, tubuhnya berkelebat seperti bayangan.

Malah waktu tubuhnya tengah melayang di tengah udara, dia telah berjumpalitan beberapa kali, sambilmenghantamudara denganpukulantangan kosong.

Gerakan yang dilakukan Giok Hoa benar-benar menakjubkan, karena pada waktu itu walaupun tubuhnya tengah melayang, namun angin pukulannya itu telah dapat menerbangkan batu-batu yang berada di atas tanah.

Batu-batu kerikil kecil itu seperti diterjang gelombang angin topan yang sangat dahsyat sekali.

Tubuh Giok Hoa telah meluncur turun lagi.

Tetapi cara meluncurnya tubuh manusia biasa, jika memang tubuh manusia biasa yang tidak memiliki kepandaian atau gin-kang yang biasa saja, tentu akan meluncur cepat sekali terkena daya tarik bumi.

Namun justeru dengan Giok Hoa terdapat suatu kelainan.

Tubuhnya itu memang meluncur turun, tetapi turunnya itu perlahan-lahan, seperti juga tubuhnya itu seringan kapas.

Meluncurnya sangat lambat sekali.

Dengan demikian itu menandakan bahwa gin-kang yang dimiliki Giok Hoa memang telah mencapai tingkat yang tinggi sekali.Tingkat yang telah dapat meringankan tubuh sedemikian rupa, yang membuat dia bisa turun perlahan-lahan.

Dan tentu saja, dalam suatu pertempuran, dapat turun dengan perlahan seperti itu, sangat penting sekali, karena dari tengah udara, Giok Hoa bisa saja menyerang hebat pada lawannya.

Dan dia juga bisa mengendalikan tubuhnya hendak meluncur turun dengan lambat atau memang dengan cepat.

Akhirnya tubuh Giok Hoa telah hinggap di tanah.

Tetapi dia hinggap dalam keadaan yang agak luar biasa, karena begitu ke dua kakinya mengenai tanah, seketika tanah itu terpijak melesak.

Dan membarengi dengan turunnya tubuhnya, tahu-tahu tangan Giok Hoa telah berkelebat.

Dia telah mengeluarkan sebatang pedang, dan mulai bersilat dengan lincah sekali.

Sinar pedang itu bagaikan gulungan sinar yang melindungi dirinya, rapat sekali.

Jangankan serangan lawan, sedangkan cipratan airpun tidak mungkin dapat menerobos kurungan sinar pedangnya itu.

Dalam keadaan seperti itu, tampak Giok Hoa tahu-tahu telah melompat tinggi.

Pedangnya diputar seperti baling-baling.

Dengan demikian telah membuat dia seperti juga terbang saja layaknya.

Tanah yang dipijaknya telah melesak dalam sekali meninggalkan bekas tapak kaki.

Itulah lweekang yang kuat sekali.

Dan juga pedangnya sekaligus seperti dapat menyerang delapan penjuru dalam beberapa detik saja.

Selesai melatih ilmu pedang Giok-lie-kiam-hoat tersebut, Giok Hoa menyarungkan kembali pedangnya pada balik kun nya yang berwarna hijau tersebut.

Dia telah memasukan pedang itu, dan duduk bersemedhi mengatur jalan pernapasannya.

Sedangkan pada saat itu terlihat bahwa Giok Hoa telah memusatkan kekuatan lweekangnya.

Dia menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya sampai dari kepalanya mengeluarkan uap putih yang tipis.

Semakin lama uap itu semakin tebal.

Itulah penutup dari latihan Giok Hoa karena dengan duduk bersila mengatur jalan pernapasannya, latihan yang telah dilakukannya itu tidak meletihkannya lagi.

Sebab dia telah dapat memulihkan kesegaran dirinya.

Udara pada waktu itu bertambah hangat, karena matahari telah naik semakin tinggi dan sinarnya semakin panas.

Dan Giok Hoa dengan muka berseri-seri segar, telah bangun dari duduknya.

Dia berjalan perlahan-lahan menyusuri puncak gunung tersebut, untuk melancarkan otot-ototnya yang semula tadi telah bekerja keras karena latihannya itu.

Setelah kesegaran tubuhnya benar-benar pulih, maka Giok Hoa berlari-lari turun dari puncak gunung itu.

Dia telah berlari cepat sekali, sehingga tubuhnya bagaikan melesat terbang saja, dan hanya bayangannya belaka yang tampak, bayangan warna dari kun nya yang hijau dan pakaiannya yang berwarna kuning.

Tengah Giok Hoa berlari-lari pesat seperti itu, ketika ia melompati sebuah jurang yang cukup terpisah jauh, tahu-tahu dari balik batu yang besar di dekat tepi jurang itu telah melompat sesosok bayangan berpakaian hitam, yang bergerak sangat lincah sekali, terus menghantam kepadanya.

Waktu itu Giok Hoa tengah menjejakkan kakinya, tubuhnya tengah mencelat ke tengah udara, akan melompati jurang itu, dan justeru dia diserang seperti itu, dengan demikian telah membuat dia berada dalam keadaan yang sangat terancam sekali.

Namun Giok Hoa memang memiliki kepandaian untuk meringankan tubuhnya seringan kapas, melengah dari daya tarik bumi.

Karena itu, dalam keadaan terancam, Giok Hoa telah mempergunakan ilmunya tersebut.

Dia membuat tubuhnya jadi sangat ringan sekali.

Malah tangan kanannya telah dikibaskan untuk menangkis ke belakang, kepada hantaman dari lawannya yang ternyata memakai topeng hitam pada mukanya.

"Dukkk!"

Tangannya telah menangkis tangan orang itu.

Dan seketika Giok Hoa kaget karena dia merasakan tenaga orang tersebut kuat sekali.

Di mana Giok Hoa merasakan pergelangan tangannya sakit dan nyeri, di samping sangat panas.

Diapun merasakan tubuhnya seperti terdorong mundur.

Beruntung memang Giok Hoa memiliki kepandaian yang terlatih baik dan ilmu meringankan tubuh yang mengagumkan.

Karena dari itu, dia telah meminjam tenaga dorongan tersebut, untuk berjumpalitan, sehingga dia seperti juga terdorong dan kembali ke tempat di tepi jurang semula, berada tidak jauh dari tempat berdirinya orang berpakaian hitam tersebut.

Giok Hoa mengawasi orang itu, yang memiliki potongan tubuh kurus langsing, disamping itu dia berusaha mengawasi muka orang bertopeng itu, hanya dua lobang belaka yang memperlihatkan bola mata orang itu yang mencilak-cilak tidak hentinya.

"Siapa kau? Mengapa engkau membokong secara pengecut?"

Bentak Giok Hoa dengan tidak senang!

Orang itu tidak menyahuti, dia hanya memperdengarkan suara tertawa mengejek, kemudian tahu-tahu tubuhnya telah melesat sangat cepat sekali, tangannya bergerak memukul pula kepada Giok Hoa.

Giok Hoa mendongkol sekali.

Orang bertopeng hitam ini tampaknya seorang tidak tahu aturan, karena sama sekali dia tidak mau bicara.

Sudah tadi dia dibokong, sekarang malah dia telah menyerang lagi kepadanya bagaikan kalap.

Giok Hoa adalah musuh besarnya.

Karena itu Giok Hoa pun tidak tinggal diam, dia telah mengeluarkan suara seruan nyaring, tahu-tahu tangan kanannya dilintangkan dengan tangan kirinya.

Giok Hoa tidak menangkis sembarangan seperti yang dialaminya tadi, karena dari benturannya yang terjadi tadi telah diketahuinya orang bertopeng hitamini memiliki lweekang yang sangat kuat sekali.

Sekarang Giok Hoa menangkis dengan tangan disilangkan.

Karena begitu dia menangkis, Giok Hoa bermaksud hendak membarenginya dengan gempuran kepada orang tersebut.

Dengan disilangkan tangannya, maka dia bisa lebih leluasa membalas menyerang.

Benar saja, tangan orang itu dapat ditangkis dengan baik oleh Giok Hoa, walaupun Giok Hoa kembali harus kaget karena dia merasakan betapa tenaga orang itu kuat sekali, hampir saja tubuhnya terdorong mundur.

Beruntung memang Giok Hoa telah berhati-hati dan bersiap siaga, karenanya dia bisa mempertahankan kuda-kuda ke dua kakinya tidak sampai tergempur.

Dikala itu tampak orang bertopeng hitam tersebut pun tidak tinggal diam.

Begitu melihat serangan pertama telah gagal, maka tangan kanannya ditarik pulang, menyusul tangan kirinya yang berusaha mencengkeram pergelangan tangan Giok Hoa, yang tengah meluncur menyambar ke arahnya!

Usaha dari orang bertopeng itu gagal, karena tangan Giok Hoa dengan tiba-tiba melejit ke bawah mengelakkan cengkeraman tersebut.

Terdengar orang bertopeng itu mengeluarkan suara tertawa mengejek lagi.

Kemudian ia merangsek maju menyerang Giok Hoa dengan gencar.

Sekarang Giok Hoa jadi kaget, dia mati-matian telah mengerahkan tenaga lweekangnya, berusaha untuk menindih kekuatan tenaga dalam orang bertopeng hitam itu.Tetapi semakin lama orang bertopeng hitam itu merangseknya semakin gencar dan hebat, tenaganya seperti bertambah kuat juga.

Diam-diam Giok Hoa heran, siapakah orang bertopeng hitam ini, yang tahu-tahu telah bisa berkeliaran di puncak gunung Heng-san ini?

Melihat kepandaiannya sangat tinggi, tentunya dia bukan orang sembarangan.

Dan apa maksud kedatangannya ke puncak gunung Heng-san ini?

Apakah dia hendak mencelakai gurunya?

Karena berpikir begitu dan menduga bahwa orang bertopeng itu bukan sebangsa manusia baik-baik, Giok Hoa telah mengeluarkan seluruh kepandaiannya.

Dia memberikan perlawanan yang gigih, sehingga mereka terlibat dalam pertempuran yang seru sekali, telah puluhan jurus telah mereka lewati.

Akan tetapi sejauh itu tetap saja Giok Hoa tidak bisa mendesak orang bertopeng hitam tersebut, karena memang dilihatnya betapa orang bertopeng hitam itu memiliki kepandaian yang berada di atasnya.

Tetapi Giok Hoa tetap saja memberikan perlawanan yang berani, dia tidak gentar sedikitpun juga, dia telah mengempos seluruh kekuatanlweekangnya.

Waktu dirasakannya bahwa ia tidak mungkin dapatmenghadapi terus tenaga gempuran dari lawannya, Giok Hoa telah mencabut pedangnya.

Dengan gerakan yang sangat lincah sekali, dia telah menyerang ke sana ke maripada bagian-bagian yang mematikan di tubuh lawannya.

Dia telah mempergunakan jurus-jurus dari Giok-liekiam-hoat.

Dalam keadaan seperti itulah, lawannya mulai kikuk juga, karena dia jadi sibuk sekali menghindar ke sana ke mari, jurus demi jurus dibadapinya dengan bertangan kosong.

Namun diam-diam dia sangat kagum akan kehebatan ilmu pedang yang dimiliki Giok Hoa, sebab dia hanya bisa berkelit tanpa bisa balas menyerang.

Terbatas sekali ruang geraknya.

Giok Hoa semakin lama jadi semakin gugup, karena jurus demi jurus telah dilewatkan dengan cepat sekali, sehingga dia telah mempergunakan puluhan jurus.

Namun sejauh itu belum terlihat tanda-tanda dia berhasil mendesak lawsnnya uutuk memperoleh kemenangan.

Dan di saat gadis itu tengah gugup, terdengar orang bertopeng itu berkata.

"Hati-hati pedangmu!"

Dan tahu-tahu sepasang tangan orang bertopeng itu bergerak.

Tangan kirinya berusaha mengancam akan menotok biji mata dari Giok Hoa, dan tangan kanannya dengan mempergunakan jari telunjuk dan ibu jarinya, telah menjepit pedang Giok Hoa.

Luar biasa sekali!

Pedang Giok Hoa yang kena dijepitnya itu tidak bisa digerakkan lagi dia tidak bisa mendorong buat menikam atau juga menarik pedangnya.

Giok Hoa jadi mendelu dan penasaran sekali, dia berusaha memusatkan seluruh kekuatan tenaga lweekangnya untuk menikam terus, Sedangkan totokan jari telunjuk tangan kiri lawannya, dielakkan hanya dengan memiringkan kepalanya saja.

"Lepaskan pedangmu!"

Terdengar orang berbaju hitam itu telah berseru nyaring sekali sambil hendak merebut pedang Giok Hoa.

Inilah suatu hal penentuan yang membuat Giok Hoa agak gugup.

Ia pernah dinasehati oleh gurunya, seorang yang bertempur, sama sekali tidak boleh kehilangan senjata yang dipergunakannya.

Jika pedang dapat dianggap sebagai jiwa, maka itulah artinya.

Karena jika pedang dapat dirampas oleh lawan, walaupun dia belum tahu dapat dirubuhkan lawannya tokh itu sudah suatu pertanda bahwa dia akan kehilangan pamor dan juga nama, disamping keselamatan dirinya sudah tidak bisa dipertanggung jawabkan lagi.

Karena pedang yang dicekal padanya, yang harus dipergunakannya sebaik mungkin, dan dilindunginya, ternyata telah dapat dirampas oleh lawan.

Gurunya pernah menjelaskan kepadanya, bagaimanapun pedang harus dipertahankan sampai titik napasnya terakhir.

Dan semua itu jelas berarti bahwa Giok Hoa harus mempertahankan jiwanya di mana dia harus mempertahankan pedangnya itu agar tidak sampai kena dirampas oleh lawannya.

Melihat lawannya hendak merebut pedangnya, Giok Hoa telah menjejakkan kakinya menerjang kepada lawannya.

Dia telah mempergunakan tangan kirinya untuk menghantam dada lawannya, sedangkan tangan kanannya tetap saja mencekal pedangnya kuat-kuat karena dia tidak akan membiarkan lawannya merampas pedangnya di tangan kanannya, biarpun dia harus menemui ajalnya.

Melihat kenekadan dari Giok Hoa, lawannya tertawa sambil melompat mundur dan melepaskan jepitan pada pedang.

Tertawanya itu bening sekali, berbeda dengan suaranya yang sebelumnya.

Mendengar suara tertawa tersebut, Giok Hoa tertegun, dia mengenali suara tertawa itu.

Cepat-cepat Giok Hoa memasukkan pedangnya pula, dia menjatuhkan dirinya berlutut di hadapan orang bertopeng hitam tersebut.

"Suhu.....!"

Panggilnya girang.

Orang bertopeng itu telah membuka topengnya sambil tertawa.

Ternyata dia tidak lain dari nona Yo, guru Giok Hoa.

"Bagus!

Kepandaianmu telah memperoleh kemajuan yang sangat pesat!

Hemmmm, jika aku tidak keburu untuk melompat mundur, tentu aku telah kena dihantam tangan kirimu!"

"Maafkan, Suhu.....!"

Kata Giok Hoa.

"Bukan maksud tecu untuk berlaku kurang ajar..... jika memang tecu mengetahui siapa adanya Suhu, tentu tecu tidak berani melawan.....!"

"Ya, aku memang sengaja menyerang seperti ini, untuk menguji kepandaianmu. Jika aku hanya menguji secara biasa saja, tentu engkau akan mengeluarkan kepandaianmu itu setengah hati!"

Dan nona Yo itu telah menghampiri Giok Hoa, dielus-elusnya rambut gadis itu dengan penuh kasih sayang.

"Jika dalam dua tahun lagi engkau berlatih dengan tekun, tentu sulit aku menghadapi dirimu lagi......!"

Kata nona Yo.

"Suhu terlalu memuji.....!"

Kata Giok Hoa cepat-cepat dengan muka yang berobah merah. Nona Yo tersenyum.

"Aku bukan memuji belaka, bukan pujian kosong!"

Kata nona Yo kemudian.

Jika dalam dua tahun engkau berlatih diri dengan tekun, niscaya engkau akan memperoleh kemajuan yang jauh lebih hebat lagi, mungkin diwaktu itu aku sudah sulit untuk menghadapi dirimu!

"Sekarang yang masih kurang adalah tenaga dalam juga latihan, kau masih kurang pengalaman itu saja!

Tadi waktu aku menjepit pedangmu, jika memang engkau telah melatih lweekangmu dengan baik, engkau dapat menggetarkan pedang itu, kemudian membarengi dengan itu engkau baru melompat buat menghantam.

Dengan demikian lawanmu jangan harap dapatmenjepit terus pedangmu itu......!"

Mendengar nasehat gurunya, Giok Hoa mendengatkan baik-baiks ambil berulang kali mengiyakan.

Banyak yang diberitahukan nona Yo kepada muridnya, dan setelah itu mereka berdua guru dan murid telah kembali ke tempat mereka, sebuah rumah kayu yang dibangun sederhana sekali, namun sangat bersih.

Di dalam rumah itulah nona Yo telah menurunkan lagi beberapa jurus simpanannya yang merupakan kepandaian tertinggi.

Karena tadi dia telah menguji Giok Hoa dan memperoleh kenyataan muridnya telah bisa menerima pelajaran tertinggi itu, di mana Giok Hoa telah memiliki lweekang yang kuat dan kepandaian yang lumayan.

Memang jika kepandaian tertinggi itu diwarisi oleh nona Yo kepada Giok Hoa dalam keadaan gadis itu belum siap, bukan saja Giok Hoa tidak akan berhasil untuk mempelajari jurus-jurus tertinggi itu, malah akan membahayakan dirinya sendiri, di mana latihan lweekangnya akan terganggu.

Giok Hoa pun tambah gembira, dengan giat dan tekun dia telah mempelajari ilmu dari jurus-jurus tertinggi kepandaian gurunya itu.

Dengan demikian dalam beberapa bulan saja Giok Hoa telah semakin hebat, memiliki kepandaian yang semakin tinggi dan jarang ada orang yang bisa merubuhkannya dengan mudah!

Terpisah beberapa puluh lie dari gunung Heng-san sebelah barat terdapat sebuah perkampungan yang tidak begitu besar, penduduknya pun tidak banyak, itulah perkampungan Su-ciang.

Dan penduduk kampung tersebut umumnya memiliki pekerjaan sebagai pemburu, karena mereka lebih banyak pergi berburu untuk nanti hasil buruan mereka dijual dan uangnya dipergunakan untuk melewati hari-hari bersama keluarganya masing-masing.

Hanya satu dua orang penduduk saja yang mengusahakan tanah pertanian.

Perkampungan yang tidak begitu besar dan juga penduduknya yang tidak terlalu padat, setiap hari tampak tenang.

Dan juga, jarang sekali terjadi kerusuhan di situ.

Karena jumlah penduduknya yang sedikit, satu dengan yang lainnya sesama tetangga bagaikan sanak famili sendiri.

Mereka selalu melakukan dan memutuskan sesuatu secara kekeluargaan.

Pada pagi itu, tampak beberapa puluh orang pemuda bertubuh tegap, telah berangkat meninggalkan kampung mereka, untuk pergi berburu.

Dan juga tampak bahwa mereka bernyanyi-nyanyi dengan riang.

Di antara mereka terdapat dua atau tiga orang laki-laki setengah baya, yang akan ikut berburu.

Di dalam kampung itu hanya tertinggal wanita, anak-anak dan orang-orang yang sudah lanjut.

Karena jauh dari keramaian, kebutuhan mereka untuk melewati hari pun tidak terlalu banyak.

Itulah berburu mereka anggap disamping sebagai mata pencarian mereka untuk memiliki penghasilan, pun sebagai kegemaran juga.

Mendekati matahari naik tinggi, waktu itulah tampak seorang penunggang kuda berwarna putih, tengah mencongklang mendatangi kampung itu.

Orang yang duduk di punggung kuda itupun mengenakan baju putih, dilihat sepintas lalu, dialah seorang pelajar yang tenang dan sabar.

Dia seorang pemuda yang berparas tampan, berusia baru duapuluh tahun.

Tampak dia telah melompat turun dari kudanya itu, waktu tiba di mulut kampung, dia telah memandang sekitarnya.

Pemuda ini jelas memiliki kepandaian ilmu silat, walaupun dia berpakaian sebagai seorang pelajar.

Semua itu terlihat bukan dari bentuk tubuhnya yang memang agak tegap.

Tetapi justeru dari langkah kakinya yang sangat ringan sekali, sehingga tadi waktu dia melompat turun dari kudanya, seperti juga tidakmenimbulkan suarasama sekali.

Pemuda pelajar berpakaian putih dan berusia masih muda itu telah menghampiri ke arah sebuah warung teh.

Dia melihat pemilik warung teh yang menyambutnya keluar, adalah seorang laki-laki tua berusia antara enampuluh tahun.

"Silahkan masuk, Kongcu..... silahkan masuk..... di kampung ini hanya Lohu yang membuka warung teh, dan Kongcu tidak akan dapat menemukan warung teh lainnya.....!"

Mempersilahkan pemilik warung teh tersebut.

Pemuda pelajaritu mengnggguksambil tersenyum, dia telah mengikattali kekang kudanya pada tempatnya di samping kiri warung teh itu, kemudiammengambil tempat duduk.

Dilihatnya warung tehsangat sepi, tidakada seorang pengunjung pun juga.

Hal ini memang dapat dimengerti.

Bahwa kampung itu sangat kecil sekali, juga jauh dari keramaian.

Di samping itu memang penduduk kampung ini tidak terlalu padat.

Pemilik warung teh itu hanya mengharapkan pemuda-pemuda penduduk kampung itu yang kembali dari berburu, beristirahat sebentar di situ untuk bercakap-cakap sambil minum teh.

Diasama sekali tidak bisa mengharapkan kunjungan orang asing, karena memang kampung itu jarang sekali dilintasi orang asing.

Sekarang melihat ada tamu asing, maka pemilik warung teh itu girang bukan main, karena dia yakin, tamunya ini tentu akan membayar tehnya jauh lebih mahal dari harga semestinya.

Karena itu, pemilik warung teh tersebut telah melayaninya dengan hormat dan sopan sekali.

Cepat juga ia telah menyediakan teh yang cukup harum.

Dia telah mengatakan.

"Inilah teh simpanan Lohu yang terbaik, mudah- mudahan memuaskan hati dan selera Kongcu!"

Kata pemilik warung teh itu.

Pemuda baju putih itu telah mengucapkan terimakasihnya.

Dia telah menghirupnya.

Tetapi teh itu sangat sepat dan tidak memiliki keharuman sedikitpun juga, seperti juga meminum air dari campuran bahan-bahan yang tidak keruan.

Tetapi pemuda baju putih itu tidak mau menyakiti perasaan pemilik warung teh itu, ia meletakkan cawannya, sambil katanya.

"Ya, ya, teh yang sangat harum sekali, Lopeh.....!"

Setelah itu, pemuda baju putih tersebut memandang sekelilingnya, kemudian katanya.

"Apa yang kulihat, keadaan di kampung ini sepi sekali..... juga tidak ada tamu pada warung tehmu ini, Lopeh?!"

Orang tua itu mengangguk segera.

"Ya, ya, memang Lohu membuka warung teh ini hanya sekedar buat melewati waktu senggang belaka di hari tua ini....."

Menjelaskan orang tua itu.

"Jika memang Lohu tidak mengusahakan warung teh ini, maka Lohu terlalu iseng, terlalu banyak waktu yang terluangkan, sehingga akan menjengkelkan sekali.

"Karena dari itu, walaupun kampung ini sangat sedikit sekali penduduknya, dan juga sepi, jarang sekali dilalui oleh orang asing, namun Lohu kira ada baiknya juga untuk menerima tamu-tamu dari pemuda-pemuda penduduk kam pung ini setiap sore hari pulang dari berburu. Dengan demikian, Lohu bisa mengisi waktu senggang Lohu sebaik-baiknya.....!"

Mendengar keterangan orang tua itu, pemuda pelajar berpakaian serba putih tersebut mengangguk beberapa kali, kemudian katanya.

"Sesungguhnya Lopeh, untuk menuju ke Heng-san masih terpisah berapa jauh?!"

"Tidak jauh! Tidak jauh! Apakah Kougcu ingin pergi ke sana?"

Tanya orang tua itu.

"Itu..... lihatlah Kongcu, itulah puncak Hengsan!"

Pemuda pelajar berbaju putih itu telah memandang ke arah yang ditunjuk oleh pemilik warung teh tersebut, sehingga dia melihat puncak gunung yang jauh dan ujung puncak tertinggi gunung itu diselubungi oleh kabut yang cukup tebal dan awan.

"Puncak gunung yang indah menarik sekali!"

Memuji pemuda pelajar berbaju putih itu. Pemilik warung teh tersebut mengangguksambil tersenyum.

"Ya, sesungguhnya Heng-san merupakan gunung yang indah menarik, hanya saja herannya mengapa jarang sekali orang-orang berkunjung, untuk pelajar menikmati keindahan gunung tersebut?"

Menggumam pemilik warung itu.

"Dan jika saja, banyak orang yang berkunjung ke Heng-san, tentu usahaku dengan membuka warung teh ini jauh lebih maju lagi..... tentu orang-orang yang ingin pergi ke Heng-san akan singgah di sini untuk beristirahat dan menikmati teh.....!"

Pemuda pelajar berbaju putih itu telah mengangguk beberapa kali, kemudian katanya.

"Ya, ya..... jika saja orang mengetahui betapa gunung Heng-san merupakan gunung yang sangat indah dan menarik, tentu mereka akan tergesa-gesa mendatangi gunung ini..... Justeru sayangnya, jarang sekali orang yang mengetahui, bahwa keindahan di gunung Heng-san sesungguhnya tidak kalah jika dibandingkan dengan keindahan di gunung Thian-san atau tempat-tempat indah lainnya. Juga menurutku, tentunya tidak kalah dibandingkan dengan keindahan telaga Thian-ouw atau Suouw....."

Pemilik warung yang sudah lanjut usianya tampak puas dan girang, mendengar pemuda pelajar ini telah memuji keindahan Heng-san, tanah dan kampung halamannya.

Dengan demikian, dia menyukai si pemuda berpakaian serba putih, yang dilayaninya dengan sangat hormat sekali.

Dalam keadaan seperti itu, maka banyak yang diceritakan pemilik warung tersebut.

Ia menceritakan mengenai keindahan puncak gunung itu, juga menceritakan betapa di atas gunung itu terdapat pohon-pohon yang tumbuh tinggi sekali, sampai puluhan kaki, mungkin di gunung lain tidak terdapat pohon yang tumbuh setinggi itu?

"Karenanya, jika nanti Kongcu sudah mendaki puncak gunung Heng-san dan melihat sendiri betapa indahnya gunung Heng-san, tentu Kongcu baru percaya bahwa gunung Heng-san merupakan sebuah gunung yang benar-benar indah!"

Kata pemilik warung teh tersebut.

Pemuda pelajar itu mengangguk beberapa kali.

Memang dia bermaksud untuk pergi ke Heng-san.

Ia telah menerima perintah gurunya mencari tempat yang sejuk dan nyaman untuk suatu keperluan gurunya tersebut.

Dan karena itu, pemuda pelajar ini telah menjelajahi beberapa gunung di daratan Tiong-goan.

Sejauh itu, ia masih belum juga berhasil menemui tempat yang sekiranya cocok dan sesuai dengan keinginan gurunya.

Sampai akhirnya, dari seseorang ia mendengar akan keindahan Heng-san.

Masalahnya bukan keindahan gunung itu, tetapi justeru setelah mendengar keadaan gunung tersebut.

Pemuda pelajar ini melihat adanya beberapa bagian dari keadaan gunung Heng-san, yang akan cocok sesuai dengan keinginan gurunya, maka segera dia berangkat ke Heng-san, buat melihat sendiri gunung tersebut.

Itu pula sebabnya mengapa dia telah melakukan perjalanannya ke Heng-san.

Dan apa yang diduganya memang benar, bahwa Heng-san sangat sepi sekali, bahkan kampung-kampung yang dilihatnya di kaki gunung itu, merupakan kampung-kampung yang kecil dan penduduknya sedikit sekali.

Dengan demikian, semakin kuat pula keinginan pemuda pelajar tersebut hendak melihat keadaan di puncak gunung itu, karena semakin dekat pula pada dugaannya bahwa Heng-san lah merupakan tempat yang pasti akan cocok dan memenuhi selera dari gurunya, yang memang menghendaki sebuah tempat yang tenang dan sunyi, di samping beberapa hal-hal lainnya, seperti juga hutan-hutan yang tidak terlalu lebat dan sinar matahari yang bersinar cukup masuk ke gunung itu, maka guru itu akan hidup menyendiri melewati hari-hari tuanya.

Setelah bercakap-cakap beberapa saat lagi, tiba-tiba pemilik warung teh itu telah berkata sungguh-sungguh kepada pemuda berpakaian putih itu, ia memperlihatkan sikap yang serius sekali.

"Kongcu, sesungguhnya, di antara keistimewaan yang telah kuceritakan tadi, masih ada suatu keluar biasaan di gunung Hengsan ini......!"

Pemuda berpakaian serba putih itu tersenyum.

Dia memang tengah berusaha untuk mengumpulkan keterangan-keterangan mengenai Heng-san sebanyak mungkin.

Kebetulan sekali pemilik warung teh ini gemar bercerita.

"Apakah keistimewaan yang luar biasa itu Lopeh?!"

Tanyanya.

Orang tua itu ragu-ragu sejenak, sekelilingnya, sampai akhirnya dia telah memandang sikap yang hati-hati dan bersungguh-sungguh, ia berkata.

"Di puncak gunung Heng-san berdiam seorang bidadari yang cantik luar biasa!

Menurut orang-orang yang telah melihat, beberapa orang pemuda kampung ini, bahwa bidadari itu mungkin baru berusia tujuh atau delapanbelas tahun.

Sangat cantik sekali.

"Malah yang luar biasa, bidadari itu pandai terbang. Setiap jurang di depannya hanya dilewatinya, dengan sekali lompat saja..... dan jika memang Kongcu ingin mendaki gunung itu, ada baiknya kalau Kongcu mencari bidadari itu, tentu Kongcu akan bertemu! "

Mereka yang menceritakan kepada Lohu mengenai bidadari itu mengatakan, bahwa bidadari yang sangat cantik itu adalah bidadari dari kerajaan langit yang baru turun ke dunia dan berdiam di puncak Heng-san.

Siapa yang bisa melihatnya, akan menerima keberuntungan yang sangat besar sekali!"

Seperti yang dialami oleh Sung San Tiauw, di mana dia telah sempat melihat bidadari itu secara kebetulan waktu dia tengah berburu.

Semula dia gemetar ketakutan, karena menduga itu adalah hantu gunung.

Tetapi setelah melihat bidadari itu seorang bidadari yang sangat cantik jelita, mungkin kecantikannya itu tidak ada duanya di dalam dunia ini, di mana Sung San Tiauw mengatakan tidak ada manusia atau seorang gadis pun secantik bidadari itu, tengah berlari-lari seperti terbang.

Yang luar biasa Sung San Tiauw pun melihat bidadari itu terbang melewati jurang, dan juga dapat terbang ke atas tebing, hanya sayangnya walaupun telah mengikuti jejak dari si bidadari, tokh tetap saja dia tidak berhasil melihatnya lagi.

Begitu juga setelah besoknya, selama sebulan dia berusaha untuk mencari jejak bidadari itu, namun dia tidak berhasil.

"Hanya satu kali saja bertemu dengan bidadari itu, bukan bertemu maaf Kongcu, hanya melihat, Sung San Tiauw telah memperoleh kemajuan yang pesat. Buruannya selalu banyak, di mana dia selalu berhasil membawa pulang binatang buruannya dalam jumlah beberapa kali lipat dibandingkan sebelumnya.....! Karena itu, jika Kongcu dapat bertemu dengan bidadari itu, tentu Kongcu akan beruntung sekali."

Pemuda berbaju putih itu mengangguk-anggukan kepala beberapa kali. Hatinya memang jadi tertarik.

"Apakah cerita dari orang she Sung itu bisa dipercaya, Lopeh?"

Tanya pemuda pelajar berpakaian serba putih tersebut.

"Ohhh, Sung San Tiauw seorang pemuda kampung ini yang terkenal sangat jujur.

Dia tidak mau berdusta, walaupun diancam akan dibunuh kalau dia tidak berdusta, tentu dia memilih mati dari pada berbohong.

Maka aku yakin bahwa ceritanya itu bukan isapan jempol belaka, karena Lohu memang mengetahui benar siapa adanya Sung San Tiauw......!"

Hati pemuda berpakaian serba putih itu semakin tertarik saja, karena dia segera memiliki dugaan.

"Apakah gadis yang dimaksudkan sebagai bidadari itu adalah seorang gadis yang memiliki kepandaian gin-kang yang luar biasa? Memang bisa saja seseorang yang memiliki gin-kang telah tinggi, untuk melompati jurang, dan naik ke tebing. Semua itu jika dilihat sepintas lalu memang seperti terbang belaka, atau memang dia merupakan murid seorang tokoh sakti."

Dan pemuda berpakaian serba putih itu tidak mempercayai mengenai dongeng tentang diri seorang bidadari.

Dia lebih cenderung menduga bahwa yang disebut sebagai bidadari itu adalah seorang gadis yang memiliki kepandaian ilmu silat dan ginkang yang tinggi, yang berdiam di puncak gunung Heng-san.

Memiliki dugaan seperti itu, hati pemuda tersebut jadi tidak tenang.

"Ternyata maksudku untuk melihat-lihat kemungkinan apakah Heng-san merupakan tempat yang sesuai dengan keinginan suhu, telah didahului orang lain......!"

Tetapi diapun bertekad hendak mendaki terus ke puncak Hengsan, untuk melihat sendiri keadaan di sana dengan mata kepalanya.

"Lopeh,"

Katanya kemudian sambil menoleh kepada orang tua itu.

"Berapa lamakah untuk mendaki sampai ke puncak Heng-san?"

Orang tua, pemilik warung teh itu menduga bahwa pemuda pelajar berpakaian serba putih itu tertarik mendengar ceritanya mengenai bidadari yang cantik itu. Dia jadi tambah bersemangat bercerita.

"Jika memang ingin mencapai puncak Heng-san, mungkin akan memakan waktu lima hari lima malam..... tetapi jika hanya ingin mendaki sampai ke lamping gunung, kukira hanya memakan waktu dua hari dua malam.....!"

Pemuda pelajar itu mengangguk beberapa kali, di dalam hatinya dia berkata.

"Hemmm, aku tentu bisa melakukan perjalanan dalam satu hari saja tiba di puncak Heng-san!" Karena berpikir begitu, maka pemuda pelajar tersebut telah bertanya lagi kepada pemilik warung teb tersebut.

"Lopeh, ada sesuatu yang ingin kukatakan memohon pertolongan dari engkau. Dapatkah aku mengatakannya?"

Orang tua itu tertegun sejenak, namun akhirnya tertawa.

"Oh, tentu, tentu. Jika hanya pertolongan dengan tenaga, tentu Lohu bersedia. Tetapi jikakau minta tolong untuk meminjamkan uang atau juga meminta sesuatu yang Lohu tidak memiliki, hal itu mana mungkin Lohu dapat luluskan?"

Pemuda pelajar itu tertawa. Dia merogoh sakunya, mengeluarkan sepuluh tail perak, di letakkan di atas meja katanya.

"Ambillah uang itu untuk Lopeh..... Aku hanya ingin memohon pertolongan kepadamu buat menitipkan kudaku ini, karena aku ingin mendaki gunung Heng-san itu dengan berjalan kaki. Dengan membawa-bawa kudaku itu, tentu akan merepotkan sekali."

Orang tua itu terkejut, dia memandang kepada sepuluh tail perak di atas meja dengan sepasang mata yang terpentang lebar-lebar, kemudian katanya.

"Ini..... ini....."

Suaranya tergagap. Pemuda pelajar itu mendorong uang sepuluh tail perak ke dekat orang tua itu, katanya.

"Ambillah, aku menghadiahkan uang ini, buatmu Lopeh..... Tetapi selama aku menitipkan kudaku ini, harap Lopeh mau mengurus dan merawatnya dengan baik-baik, juga memberikan makan kepadanya......!"

Orang tua pemilik warung teh itu girang bukan main.

Hadiah yang diterimanya bukanlah jumlah yang kecil.

Walaupun dia berdagang teh selama satu tahun, belum tentu dia bisa memperoleh keuntungan sebanyak itu, maka cepat-cepat dia membungkuk untuk menyatakan terima kasihnya.

Namun pemuda berpakaian putih itu telah mengulurkan tangannya, sikapnya sabar sekali.

"Jangan banyak peradatan Lopeh, dan juga tidak ada sesuatu yang pantas diucapkan terima kasih. Aku telah menghadiahkan sedikit uang kepadamu, karena aku pun menitipkan kudaku itu dan uang itu bisa dikatakan sebagai pembayaran biaya perawatan kudaku itu......!"

Orang tua pemilik warung tersebut terharu sekali, dia mengucapkan terima kasihnya yang tak terhingga.

Beberapa kali dia menambah teh diguci pemuda pelajar tersebut, dia pun yang menuangkan ke dalam cawan.

Bukan main telatennya pelayanan orang tua tersebut.

Dan setelah minum cukup, serta beristirahat cukup lama, maka pemuda berpakaian serba putih itu telah meminta diri, dengan sekali lagi berpesan, agar orang tua itu merawat kudanya baikbaik, dan jangan lupa memberi makan pada kudanya itu, yang berbulu putih mulus.

Orang tua pemilik warung teh tersebut memberikan janjinya berulang kali, bahwa ia akan memelihara dan merawat kuda sebaik-baiknya.

Begitulah, pemuda pelajar berpakaian serba putih itu telah melanjutkan perjalanannya.

Apa yang dilihatnya memang sangat menyenangkan.

Yang didengarnya selama ini mengenai keindahan gunung Heng-san, ternyata memang tidak meleset, di mana gunung Heng-san memang merupakan gunung yang sangat tinggi dan indah sekali.

Pemandangan alam yang indah, ditambah dengan hawa udara yang sejuk hangat, dengan sinar matahari yang dapat masuk ke gunung itu secukupnya, telah membuat keadaan di sekitar tempat itu merupakan tempat yang benar-benar sangat indah sekali.

Maka pemuda berpakaian serba putih tersebut melakukan perjalanan tidak tergesa-gesa, ia telah melangkah perlahan-lahan.

Dengandemikian dia tentunya dapat menikmati keindahan pemandangan Heng-san, sebab diapun tidak perlu terlalu cepat tiba di puncak gunung Heng-san.

Waktu itu, keadaan di siang hari, memang udara mulai hangat.

Sinar matahari yang memancar sangat terik di siang itu, bercampur menjadi satu dengan kesejukan hawa udara pegunungan itu, sehingga benar-benar nyaman.

Tiba di lamping gunung, maka pemuda pelajar berpakaian serba putih itu telah duduk beristirahat di bawah sebungkah batu, yang di samping kiri kanannya tumbuh subur sekali pohon-pohon yang menjulang tinggi, sehingga pemuda berpakaian serba putih itu bisa menghindar dari teriknya cahaya matahari, dan hanya merasakan hangatnya hawa udara di sekitar tempat itu saja.

Siapakah pemuda pelajar berpakaian serba putih, yang memiliki sikap begitu tenang, wajah yang tampan dan tengah mencari tempat yang sekiranya cocok buat gurunya hidup mengasingkan diri, di tempat yang tenang.

Ternyata pemuda berpakaian serba putih itu tidak lain dari Lie Ko Tie.

Memang Ko Tie tengah menerima perintah dari Swat Tocu, untuk mencarikan tempat yang sekiranya cocok buat gurunya itu hidup menyendiri di tempat yang tenang tetapi memiliki hawa udara yang bagus.

Rupanya Swat Tocu bermaksud meninggalkan pulau es, yang dianggapnya sudah tidak cocok dan tidak sesuai lagi dengan usianya yang semakin meningkat tua.

Dan juga Swat Tocu tidak mau terpisah terlalu jauh dari muridnya, jika memang Ko Tie berkelana di dalam daratan Tiong-goan, dan Swat Tocu mengasingkan diri ke daratan Tiong-goan juga pada suatu tempat yang nyaman, jelas muridnya ini bisa sering-sering menjenguknya, Alasan itulah mengapa Swat Tocu telah memerintahkan Ko Tie agar mencarikan sebuah tempat yang sekiranya cocok buat dia menyendiri.

Dan selama beberapa tahun terakhir ini Ko Tie telah berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya.

Dia berusaha mencari tempat yang sekiranya cocok dan sesuai dengan keinginan gurunya itu.

Akan tetapi sejauh itu Ko Tie masih belum juga berhasil.

Dia pernah merasa cocok dengan keadaan di Thian-san, tetapi Thiansan sepanjang masa dan waktu hanya diselubungi dan dibungkus oleh salju yang sangat dingin sekali.

Dengan demikian, sama saja keadaan tempat itu dengan di pulau yang di tempati Swat Tocu, bukan merupakan tempat yang diidam-idamkan oleh gurunya.

Karenanya akhirnya Ko Tie telah berkelana terus mencari tempat yang sekiranya dapat memenuhi keinginan gurunya itu.

Sampai akhirnya dia mendengar perihal keindahan gunung Heng-san.Dan juga dia mendengar ada beberapa hal keadaan Heng-san yang cukup untuk memenuhi keinginan gurunya itu.

Itulah sebabnya mengapa Ko Tie telah bergegas menuju ke Hengsan.

Setelah beristirahat sebentar, Ko Tie kemudian melanjutkan lagi perjalanannya mendaki Heng-san.

Dan dia melihat semakin naik tinggi ke puncak Heng-san, maka semakin sejuk pula hawa udara di situ.

Tetapi sejuk di gunung Heng-san ini memang berbeda dengan hawa sejuk di gunung lain, karena hawa udara yang sejuk tersebut juga bercampur dengan hangatnya sinar matahari.

Semakin naik ke puncak Heng-san, Ko Tie semakin kagum juga melihat keindahan gunung itu, dan semangatnya terbangun untuk cepat-cepat tiba di puncak gunung Heng-san.

Waktu Ko Tie tengah berlari-lari kecil mendaki gunung itu, tiba-tiba pendengarannya yang sangat tajam telah mendengar suara berkeresek yang perlahan sekali, suara yang sangat ringan seperti jatuhnya sehelai daun kering.

Tetapi sebagai seorang yang memiliki pendengaran sangat tajam, Ko Tie mengetahui bahwa suara yang perlahan itu bukanlah suara jatuhnya daun kering.

Tentu ada seseorang di sekitar tempat itu.

Karenanya Ko Tie segera menahan langkahnya.

Tahu-tahu dengan mendadak sekali dia telah memutar tubuhnya, memandang sekelilingnya.

Dia tidak melihat seorang manusia pun juga, karena di sekitar tempat itu tampak sunyi sekali.

Ko Tie melompat ke depannya dengan gesit sejauh beberapa tombak.

Dan tetapsaja dia tidak melihat orang yang dicurigainya, tidak ada seorang manusia pun.

"Apakah suara yang perlahan tadi adalah suara merayapnya seekor ular atau juga binatang gunung lainnya?!"

Diam-diamKo Tie telah berpikir di dalam hatinya.

Kemudian telah memandang lagi di sekitar tempat itu, segera dia membalikkan tubuhnya untuk melanjutkan perjalanannya pula.

Jika saja dia tidak mendengar lagi suara keresekan yang perlahan, tentu Ko Tie akan menduga bahwa yang tadi didengarnya adalah suara dari larinya binatang gunung atau juga kemungkinan melatanya seekor ular.

Namun waktu dia tengah berlari-lari, beberapa kali Ko Tie mendengar suara keresekan yang sama.

Karena dari itu, keras dugaannya tentunya ada seseorang yang tengah mengikuti jejaknya.

Karena menduga seperti itulah, Ko Tiejadi berlalu lebih waspada.

Sengaja Ko Tie tidak memperlihatkan sikap bahwa dia bercuriga, karena tampak Ko Tie berlari-lari terus.

Walaupun beberapa kali Ko Tie mendengar suara keresekan tersebut, tokh tetap saja dia pura-pura tidak mendengarnya.

Hanya saja, waktu dia tiba di depan sebuah hutan yang cukup lebat daunnya, tiba-tiba Ko Tie telah memutar tubuhnya, begitu mendadak sekali.

Dan matanya yang tajam seketika melihat sesosok bayangan berkelebat.

Hanya saja disebabkan sosok bayangan itu bergerak cepat sekali, dan merupakan sinar hijau dan kuning belaka, maka Ko Tie tidak bisa melihat jelas.

Dia hanya melihat sesosok bayangan itu yang bergerak sekejap mata telah lenyap di balik pohon-pohon yang lebat.

Ko Tie menjejakkan sepasang kakinya, dia bermaksud mengejar orang itu.

Tetapi walaupunKo Tie bergerak sangat cepat sekali, di mana dia telah melesat dengan gerakan tubuh secepat terbang, tokh tetap saja dia kehilangan jejak.

Orang itu tidak juga ditemuinya.

Ko Tie mengawasi keadaan di sekitar tempat itu.

Dia melihat samar-samar bekas tapak kaki orang.

Setelah mencari-cari lagi sekian lama di sekitar tempat itu, maka Ko Tie akhirnya jadi bertambah heran, karena tetap saja dia tidak berhasil menemui orang yang dicarinya.

Dia segera menduganya, tentu orang yang mengikuti dirinya memiliki gin-kang yang tinggi sekali.

Akhirnya Ko Tie telah melanjutkan perjalanannya lagi, dia memutuskan untuk tidak mengacuhkan dan tidak memperdulikan orang yang tengah mengikutinya itu.

Setelah berjalan sekian lama, kembali Ko Tie mendengar suara berkeresekan perlahan itu jadi jelas, bahwa orang mengikuti dirinya belum pergi dan masih terus mengikuti dirinya.

Hal ini membuat Ko Tie jadi mendongkol juga, diapun penasaran!

Hanya disebabkan dia memang mengetahui bahwa gin-kang orang yang mengikuti dirinya sangat tinggi maka sekarang Ko Tie tidak mau berlaku ceroboh, dia telah berlari cepat.

Ko Tie telah mengerahkan gin-kangnya, dia berlari pesat sekali.

Tubuhnya bagaikan terbang seperti juga ke dua kakinya itu tidak menginjak bumi lagi.

Karena dia yakin, jika dia berlari cepat seperti itu, tentu orang yang mengikuti jejaknya akan sulit mengejarnya.

Jika memang orang itu memiliki gin-kang yang tinggi, tentu dia dapat mengejar dan mengikuti terus.

Namun sulit bagi orang itu untuk segera menyembunyikan diri, jika sewaktu-waktu Ko Tie membalikkan tubuhnya.

Waktu itu terlihat betapapun juga Ko Tie masih penasaran.

Dia telah mengerahkan seluruh kesanggupannya buat berlari dengan pesat sekali, mempergunakan gin-kangnya yang sangat tinggi.

Namun sekali-sekali dia masih mendengar suara berkeresek dan juga malah sekarang diapun mengetahui di belakangnya mengikutinya seseorang.

Ko Tie tiba-tiba memutar tubuhnya.

Dia memutarnya begitu mendadak sekali, sambil menjejakkan ke dua kakinya, tubuhnya melesat ke depan.

Dengan demikian dia seperti memapak orang yang tengah mengikutinya.

Orang yang tengah mengikutinya rupanya kaget, karena dia tidak menyangka bahwa Ko Tie akan melakukan gerakan seperti itu.

Karenanya, dia mengeluarkan seruan tertahan dan berusaha untuk melompat ke samping, guna menghindarkan diri.

Ko Tie tidak memberikan kesempatan kepada orang itu menyingkirkan diri.

Dia telah menghantam dengan tangan kanannya, mengancam akan menggempur punggung orang itu.

Angin pukulan yang begitu kuat, membuat orang yang hendak melarikan diri itu kembali mengeluarkan seruan tertahan.

Dia mengibas ke belakang.

Maka Ko Tie merasakan sampokan tenaga yang dahsyat.

Waktu tadi Ko Tie mengincar punggung orang itu dengan kepalan tangannya, itu hanya pukulan menggertak belaka, agar orang itu tidak melarikan diri terus.

Siapa tahu, orang tersebut telah mengibaskan tangannya dan tenaga tangkisannya itu sangat kuat sekali sampai Ko Tie merasakan tangannya tergetar dan mendatangkan rasa sakit yang nyeri.

Cepat-cepat dia menarik pulang tangannya.

Waktu itu dipergunakan buat memandang jelas orang yang diburunya itu, yang tidak lain dari seorang gadis cantik luar biasa, mengenakan baju warna kuning dan kun warna hijau.

Dalam keadaan seperti itu Ko Tie jadi tertegun sejenak, karena dilihatnya gadis ini berusia masih muda sekali dan benar-benar merupakan wanita yang cantik luar biasa.

Mungkin seumur hidupnya Ko Tie kira belum pernah bertemu dengan gadis secantik itu!

Melihat Ko Tie tertegun seperti itu justeru gadis tersebut mempergunakan kesempatan ini.

Dia menjejakkan ke dua kakinya, tubuhnya telah berkelebat melarikan diri.

Gerakan begitu lincah sekali, dalam waktu yang singkat Ko Tie telah tertinggal jauh.

Ko Tie baru tersadar mimpinya, segera dia mengejarnya.

Namun gin-kang gadis itupun tampaknya tidak lemah, walaupun Ko Tie telah mengejarnya sekian lama, tetap saja dia tidak berhasil untuk mendekati gadis tersebut.

Gadis yang memakai baju kuning dengan kun hijau yang cantik jelita tersebut rupanya juga gugup, karena mengetahui Ko Tie mengejarnya terus.

Semula dia menduga dengan mempergunakan gin-kangnya yang telah tinggi itu, dia akan dapat meninggalkan Ko Tie dengan mudah.

Namun siapa tahu, justeru dia melihat dirinya tak bisa melepaskan diri dari kejaran Ko Tie.

Malah semakin lama jarak mereka jadi semakin dekat juga.

Gadis berpakaian kuning dengan kun hijau tersebut mengempos semangatnya.

Dia telah mengerahkan gin-kangnya buat berlari lebih cepat lagi, sehingga tubuhnya itu bagaikan seringan kapas telah berlari bagaikan terbang.

Ko Tie yang melihat gadis itu berlari semakin cepat, telah mengempos semangatnya, di mana dia telah berusaha mengejarnya lebih dekat lagi.

Begitulah, mereka berdua saling kejar mengejar, tubuh mereka sudah seperti bayangan yang berkelebat cepat sekali, juga waktu itu kaki mereka seperti sudah tidak menginjak tanah lagi.

Angin yang berkesiuran di sisi telinga Ko Tie pun dirasakan sangat keras sekali.

Namun Ko Tie yang sudah penasaran tidak mau melepaskan gadis tersebut begitu saja, dia mengejarnya terus dengan cepat.

Tetapi, ada kelemahan pada Ko Tie.

Dia kurang begitu mengenal keadaan di sekitar tempat tersebut, karenanya tidak jarang dia kehilangan jejak gadis tersebut.

Cuma saja disebabkan Ko Tie memang memiliki gin-kang yang tinggi dan juga pendengaran dan penglihatannya memang tajam, maka dia berhasil menemui jejak gadis itu dan mengejar terus.

Gadis itu rupanya memang mengenal baik sekali keadaan di puncak gunung Heng-san, dia dapat berlari ke sana ke mari dengan gesitnya dan malah telah berusaha berlari ke tempattempat yang sukar untuk dilalui.

Tidak jarang gadis itupun lari melewati jurang-jurang yang licin dan berbahaya.

Namun disebabkan gin-kang Ko Tie memang telah tinggi, dia bisa mengejarnya terus.

Semakin lama gadis itu jadi semakin gugup.

Memang sekarang ini dia belum terkejar, hanya terpisah oleh jarak yang cukup jauh.

Tetapi jika nanti Ko Tie mengejarnya terus, tentu jarak pisah mereka semakin pendek juga, berarti akhirnya gadis itu akan terkejar.

Andaikata tidak terkejar pun, ia akan menjadi serba salah, karena ia harus berlari-lari terus menjauhi diri dari Ko Tie.

Karena melihat Ko Tie masih mengejarnya terus, dan mengetahui Ko Tie tidak akan melepaskannya, di mana gadis itupun merasa biarpun dia berlari setengah harian, tidak mungkin dia bisa melepaskan diri dari Ko Tie, maka dia telah berhenti berlari.

Dia berdiri tegak dan menantikan Ko Tie.

Mukanya yang cantik tampak memerah memperlihatkan kegusaran dan kemarahan bercampur kemendongkolan.

Ko Tie tiba cepat sekali.

Diapun telah berhenti mengejarnya.

Hanya saja, mata Ko Tie tidak lekang mengawasi wajah gadis itu yang cantik jelita.

"Apa maksudmu mengikuti aku terus?!"

Bentak gadis itu dengan suara yang nyaring merdu.

Walaupun marah, wajahnya malah kian cantik juga dengan pipi yang memerah seperti apel.

Ko Tie seperti tersadar dari kesimanya, maka dia merangkapkan sepasang tangannya, membungkuk memberi hormat.

"Maaf..... maaf..... bukan Siauwte hendak mengikuti nona terusmenerus, tetapi..... tetapi.....!"

Dan Ko Tie tidak meneruskan perkataannya, dia telah mengawasi gadis itu beberapa saat lamanya. Tampaknya apa yang ingin diutarakannya itu sulit dilontarkan dari mulutnya.

"Tetapi apa? Sudah jelas engkau selalu membuntuti aku!"

Kata gadis itu, tetap memperlihatkan bahwa dia marah. Ko Tie diam-diam membathin di dalam hatinya.

"Hemmm, engkau sejak tadi mengikuti aku, main kucing-kucingan, dan berusaha mengikuti aku terus menerus tanpa ingin meninggalkan jejak, juga tidak mau memperlihatkan diri! Sekarang setelah tertangkap basah, engkau justeru telah membalikkan bahwa akulah yang kau tuduh sebagai orang yang membuntuti kau selalu!"

Tetapi Ko Tie tidak mendongkol, malah tampak saat itu dia masih tidak habis-habisnya mengagumi akan kecantikan paras muka gadis itu.

Demikian cantik dengan tubuh yang memiliki potongan sangat baik dan indah sekali.

"Nona, sesungguhnya aku tidak memiliki maksud mengikutimu....., tetapi tadi nona lah yang mengikuti aku dengan cara sembunyisembunyi....., cukup jauh nona telah mengikuti aku.

"Dan sekarang, setelah aku mengetahui siapa orang yang mengikuti aku, apakah aku ini bersalah? Bukankah nona berusaha meloloskan diri dariku dan karena tidak dapat melepaskan diri dari kejaranku, berbalik nona menjadi marah?"

Waktu mereka berkata begitu, Ko Tie tersenyum manis sekali, sabar dan sama sekali dia tidak merasa tersinggung oleh sikap gadis itu.

Pipi gadis cantik itu berobah semakin memerah.

Disanggapi seperti itu dia jadi tambah marah.

Dari malu dia menjadi marah, dan sekarang kemarahannya itu jadi dimuntahkannya, katanya.

"Engkau jangan sembarangan menuduh kepadaku! Siapa yang telah mengikuti dirimu secara sembunyi-sembunyi."

Ko Tie tersenyum.

"Sabar nona..... bukankah memang benar tadi nona telah mengikuti aku secara sembunyi-sembunyi, sampai akhirnya aku berhasil untuk menjebakmu, sehingga aku mengetahui bahwa engkaulah yang telah mengikuti aku?"

Muka gadis itu tambah merah, dia bilang.

"Pemuda kurang ajar, mulutmu terlalu jahat.....!"

Sambil berkata penuh kemarahan, si gadis itu melompat sambil menggerakkan tangan kanannya yang dilonjorkan ke depan akan menampar Ko Tie.

NamunKo Tie hanya berkelit belaka, dia tidak menangkis atau membalas menyerang.

"Sabar nona, tidak baik menuruti kemarahan hati!"

Kata Ko Tie.

"Kitapun sebelumnya tidak saling kenal. Dan kukira, nonapun tidak mengandung maksud apa-apa mengikuti aku secara sembunyisembunyi begitu, bukan?"

Gadis itu melihat tamparannya mengenai tempat kosong, jadi tambah penasaran.

"Hemmmm, engkau rupanya memiliki kepandaian sehingga kau anggap bisa menghina diriku, heh?!"

Dan dia telah menyerang lagi.

Kini gerakan dari tubuh si gadis bukan gerakan sembarangan, karena dia bukan hanya sekedar ingin menempeleng Ko Tie, melainkan dia telah menyerang dengan kepalan tangannya yang mengandung tenaga lweekang sangat hebat.

Dengan begitu, Ko Tie juga tidak berani bersikap meremehkan lagi, karena telah dilihatnya bahwa gadis ini menyerangnya dengan pukulan yang bersungguh-sungguh.

Maka dari itu, Ko Tie cepatcepat telah mengelak.

Namun dua kali beruntun gadis tersebut telah menyerang pula.

Ko Tie beruntun berkelit dan menangkis dengan mudah.

Tangkisannya membuat gadis jadi tambah marah, karena dia merasakan tangannya yang tertangkis oleh tangan Ko Tie jadi sakit sekali.

Dia jadi tambah berang dan marah, tangan kiri dan tangan kanannya bergerak sangat cepat sekali, berulang kali dia telah menghantam.

"Kepandaian gadis itu tinggi sekali, entah dia murid siapa?"

Diamdiam Ko Tie berpikir di dalam hati.

"Hanya adatnya benar-benar aneh. Jelas dia yang bersalah, telah membuntuti aku secara sembunyi-sembunyi, justeru dia yang sekarang marah dan menuduh aku yang telah mengikutinya..... sungguh ku-koay! Sungguh aneh sekali!"

Dan Ko Tie juga tidak boleh berayal.

Dia harus bergerak gesit buat menyelamatkan dirinya kalau memang tidak mau menjadi korban pukulan dari gadis itu.

Karenanya tubuhnya telah berkelebat ke sana ke mari dengan lincah sekali, setiap serangannya pada gadis itu hanya menggertak belaka, agar gadis itu membatalkan pukulannya.

Gadis itu melihat beberapa kali pukulan tangannya tidak juga mengenai sasarannya, dan selalu dapat dihindarkan dengan mudah oleh Ko Tie, membuatnya jadi tambah penasaran.

Namun di hatinya timbul, perasaan kagum.

Gadis itu melihat Ko Tie pun berusia belum begitu tua, baru sekitar duapuluh tahun lebih.

Namun kepandaiannya demikian tinggi.

Maka dari itu, gadis itu diam-diam jadi tergerak hatinya, diapun berpikir.

"Dia sangat sabar, memang sebenarnya aku yang telah membuntutinya..... tetapi dia seperti hendak mengejekku, seperti juga aku ini tidak mungkin bisa merubuhkannya..... Dia seperti tidak memandang sebelah mata pada kepandaianku!" Karena berpikir begitu, perasaan kagum yang telah timbul di hatinya, segera juga tersingkir. Dan diapun telah berseru nyaring. Kemudian mempergunakan jurus-jurus ilmu pukulan tangan kosong yang jauh lebih kuat dan hebat, di samping ke dua tangannya menyambar-nyambar semakin cepat dan sebat, ke bagian-bagian yang berbahaya di tubuh Ko Tie. Sedangkan Ko Tie semakin lama harus bergerak semakin gesit kalau memang tidak mau terserang oleh pukulan si gadis. Diapun diam-diam mengagumi gadis ini.

"Pasti gadis ini murid dari seorang tokoh sakti, karena walaupun usianya masih demikian muda, tokh dia dapat memiliki kepandaian yang tinggi seperti ini..... hanya saja, dia seorang gadis yang sulit diajak bicara.....!"

Begitulah, tubuh Ko Tie dan gadis itu telah berkelebat-kelebat ke sana ke mari dengan lincah sekali.

Mereka telah mengeluarkan jurus-jurus simpanannya yang dianggap hebat, karena itu, tampak Ko Tie dan gadis tersebut semakin lama terlibat dalam pertempuran semakin seru.

Benar, memang Ko Tie sama sekali tidak memiliki maksud hendak mencelakai gadis itu dan mempergunakan tenaganya setengah877 setengah dengan hati yang sangat bimbang.

Namun gadis itu sendiri terlalu mendesaknya, yang membuat Ko Tie akhirnya harus mengeluarkan seluruh kepandaiannya juga.

Dengan demikian mereka bertempur semakin seru saja.

Di waktu itu terlihat Ko Tie berulang kali telah menyingkirkan diri dan berusaha membujuk gadis itu untuk menghentikan penyerangannya.

"Marilah kita bicara dulu..... Kita tokh bukannya yang harus bertempur mempertaruhkan jiwa? Bukankah kita baru saja bertemu? Bagaimana jika aku sampai salah turun tangan dan melukaimu.....?"

Membujuk Ko Tie. Namun gadis itu benar-benar memiliki perangai yang aneh. Mendengar bujukan Ko Tie itu, ia malah menjadi tambah penasaran dan marah.

"Hemm, kau kira aku takut padamu? Apakah kau memang tidak memandang sebelah mata terhadap kepandaianku ini? Lihatlah aku akan mempertihatkan kepadamu, bukan aku yang akan dapat kau lukai, tetapi justeru engkau yang akan kulukai."

Selesai berkata begitu, cepat sekali gadis tersebut memperhebat serangannya, sepasang tangannya bergerak semakin gencar.

Malah kekuatan tenaga serangannya itu semakin mendesak hebat kepada Ko Tie, sehingga angin menderu-deru di sekeliling mereka.

Ko Tie terkejut juga melihat gadis itu merobah cara menyerangnya, di mana tangannya itu tambah berbahaya juga.

Setiap jurus yang dipergunakannya selalu mengancam bagian-bagian yang bisa mendatangkan celaka buatnya, maka terpaksa Ko Tie harus mengeluarkan juga kepandaiannya yang lebih tinggi untuk mempertahankan diri.

"Hemmm, dia mengatakan kuatir melukai aku. Dengan berkata begitu, ia benar-benar tidak memandang sebelah mata padaku!"

Waktu itu gadis tersebut sambil mendesak Ko Tie juga berpikir.

"Aku akan memperlihatkan kepadanya bahwa aku bukan sebangsa manusia yang mudah untuk diperhina olehnya.....!"

Setelah berpikir begitu, gadis itu malah telah mengempos semangatnya, dia telah mendesak Ko Tie bertambah hebat.

Semangat bertempurnya semakin tinggi, di mana dia berusaha mempergunakan semua jurus-jurusnya yang benar-benar hebat, yang akan mempercepat waktu merubuhkan lawannya.

"Gadis ini bersungguh-sungguh dalam menyerangku..... Ilmu silatnya tinggi sekali, ilmu pukulan tangan kosongnya juga sangat lihay..... Murid siapakah gadis ini? Ilmunya itu berasal dari aliran lurus dan bersih, tidak memperlihatkan kesesatan dan mungkin dia marah kepadaku karena dia salah paham......!"

Begitulah.

Ko Tie selalu diliputi oleh tanda tanya di dalam hatinya.

Semakin lama bertempur, sehingga semakin banyak dia memiliki kesempatan melihat kecantikan paras muka gadis yang menjadi lawannya itu.

Melihat sepasang alis yang melengkung sangat tipis dan indah, mata yang tampak hitam jeli, dan hidung yang bangir, dengan bibir yang tipis memerah segar, dan kulit pipi yang putih halus, dengan bentuk tubuhnya yang elok indah.

Hai, benar-benar gadis yang tengah menjadi lawannya ini merupakan seorang gadis yang sangat cantik elok rupawan, dan juga akan menggentarkan hati!

Walaupun Ko Tie bertempur dengan mempergunakan tenaga dalam yang kuat dan juga setiap jurus ilmu pukulannya merupakan pukulan yang berbahaya sekali, tokh dia tidak bersungguh hati.

Karena dia merasa sayang sekali kalau sampai melukai kulit yang begitu putih halus dan indah.

Di samping itu, juga dia tidak sampai hati jika melukai gadis tersebut.

Betapa cantiknya gadis yang menjadi lawannya itu, dan betapa halus kulitnya.

Jika sampai dia mempersakiti gadis tersebut, inilah yang tidak diinginkan oleh Ko Tie.

Hanya saja, disebabkan keragu-raguannya itu, membuat Ko Tie banyak sekali melakukan kesalahan.

Dia juga telah beberapa kali hampir terpukul oleh tangan si gadis tersebut.

Hanya saja disebabkan Ko Tie memiliki gin-kang yang tinggi, menyebabkan dia selalu masih bisa menyelamatkan dirinya.

Dalam keadaan seperti ini, si gadis tersebut malah semakin penasaran.

Sikap mengalah dari Ko Tie malah dianggapnya sebagai sikap meremehkan dan menghinanya, karena itu dia menyerang semakin hebat Sedangkan Ko Tie semakin lama jadi semakin tidak gembira melayani gadis tersebut, karena dia kuatir kesalahan tangan dan melukai gadis itu.

Hal ini menyebabkan Ko Tie pun berulang kali telah berusaha membujuk agar gadis itu menghentikan penyerangannya.

Namun gadis itu tidak memperdulikannya, dia telah merangsek terus dengan pukulan-pukulan yang mengandung maut.

Malah gadis itu dengan semangat yang semakin menyala-nyala bernafsu sekali untuk merubuhkan Ko Tie.

Pertempuran di antara mereka berdua berlangsung sampai puluhan jurus lagi, namun sejauh itu belum ada tanda-tanda bahwa salah seorang di antara mereka akan ada yang kalah.

Walaupun memang Ko Tie mengalah dan tidak jarang menyebabkan Ko Tie seperti juga terdesak, tokh dia bisa bertahan dengan baik, sehingga dia bisa melayani gadis itu terus.

Si gadis yang telah penasaran bukan main tidak bisa merubuhkan Ko Tie, jadi habis sabar.

Setelah gagal menyerang sekali lagi dengan kepalan tangan kanannya, dia kemudian melompat mundur.

Ko Tie menduga bahwa gadis itu ingin menyudahi pertempuran di antara mereka.

Hati Ko Tie jadi girang, dia berseru nyaring sambil katanya.

"Bagus..... memang ada baiknya jika kita bicara secara baik-baik.....!"

Tetapi baru saja Ko Tie berkata sampai di situ, justeru di saat itu si gadis telah mencabut pedangnya dari balik kun nya yang berwarna hijau, dan pedang itu dikibaskannya.

"Cabutlah senjatamu, mari kita main-main dengan senjata tajam!

Hemm, mulutmu yang kurang ajar dan ceriwis itu harus diberikan ganjaran!"

Waktu berkata begitu, masih tampak jelas gadis ini diliputi penasaran, kemendongkolan dan kemarahan, juga sikapnya sangat gagah.

Seorang gadis cantik jelita, dengan pedang di tangan kanan, dan berdiri tegak, dengan sepasang mata yang indah terbuka lebar-lebar, dan juga bibir yang dimonyongkan mengandung kemarahan, sungguh merupakan sikap yang gagah sekali!

Ko Tie tertegun.

"Nona..... apakah engkau telah memikirkan kemungkinan kecelakaan yang bisa ditimbulkan dari senjata tajam itu? Tidak baik kita main-main dengan senjata tajam..... karena jika aku kesalahan tangan, tentu akan melukaimu.....!"

Ko Tie berusaha membujuknya.

Akan tetapi dia gagal.

Bukannya gadis itu menerima anjurannya agar mereka berhenti bertempur, malah mereka tampaknya akan terlibat dalam pertempuran yang lebih seru lagi, di mana tampak gadis itu telah menggerakkan pedangnya untuk mulai menikam!

Gerakan dari pedang gadis itu sangat cepat sekali, dan juga arah yang diincarnya itu merupakan arah yang bisa membawa kematian buat Ko Tie kalau saja dia terlambat mengelakkan diri dari terjangan pedang yang menikam ke arah ulu hatinya.

Cepat-cepat Ko Tie melompat mundur, karena memang diwaktu itu dilihatnya dirinya sudah tak diberi kesempatan lagi buat bicara membujuk gadis itu.

Yang mengherankan Ko Tie, justeru jurus-jurus yang dipergunakan oleh gadis tersebut merupakan jurus ilmu pedang yang sangat ampuh sekali, seakan juga pernah melihat jurus-jurus ilmu pedang itu.

Walaupun terdapat banyak sekali perobahan pada jurus-jurus tersebut.

Ko Tie tidak sempat berpikir terlalu lama, karena waktu itu dia telah melihatnya bahwa semakin lama serangan pedang gadis tersebut semakin gencar.

Karena itu, dia telah berusaha mengeluarkan juga ketangkasannya.

Sepasang tangan Ko Tie menyambar-nyambar mengancam akan menyerang bagian yang berbahaya di tubuh si gadis.

Dan usahanya itu memang berhasil cukup baik, gadis itu tidak bisa terlalu merangsek padanya.

Dalam keadaan demikian terlihatlah bahwa Ko Tie tidak tinggal diam.

Setelah gadis itu melompat mundur, diapun mencabut pedangnya dan kemudian menghadapi gadis itu dengan pedangnya.

Sinar pedang berkelebat-kelebat ke sana ke mari dengan cepat sekali, seperti juga dua ekor naga yang tengah memperebutkan mutiara!

Sedangkan sinar pedang Ko Tie yang berwarna kuning kebirubiruan, menunjukkan bahwa itulah pedang yang sangat baik dan bagus, telah bergulung-gulung berusaha membendung tikaman dari pedang si gadis.

Tetapi pedang si gadis rupanya tidak kurang berbahayanya, seperti juga singa yang tengah mengamuk.

Sinar pedang yang putih bagaikan salju telah menyambar berkelebat-kelebat ke sana ke mari mengincar bagian-bagian yang mematikan di tubuh Ko Tie.

Walaupun Ko Tie mengeluarkan ilmu pedangnya, tokh dia bersikap hati-hati sekali dalam mengerakkan pedangnya.

Karena sekali saja dia kesalahan tangan, niscaya dia akan melukai gadis itu, dan inilah yang tidak diinginkannya.

Maka, dia selalu berusaha menahan pedangnya.

Kalau saja pedangnya itu meluncur akan menikam dada dari si gadis, paha dan bagian lainnya.

Dengan demikian, itu merupakan suatu keuntungan bagi si gadis, karena sikap mengalah dari Ko Tie bisa dimanfaatkannya.

Dia telah merangsek semakin gencar dan hebat.

Tampak dia telah mempergunakan jurus-jurus ilmu pedang Gioklie-kiam-hoat, yang merupakan ilmu pedang yang memiliki banyak sekali perobahan-perobahannya di sana sini, sehingga sukar sekali diketahui ke arah mana sasaran yang sebenarnya diincar gadis tersebut.

Memang semakin lama Ko Tie menghadapi kesukaran yang cukup berat, karena dia sudah tidak bisa main-main lagi.

Dia harus menghadapi gadis itu dengan seluruh kepandaiannya untuk menandingi ilmu pedang Giok-lie-kiam-hoat nya si gadis yang luar biasa.

Sehingga mereka benar-benar terlibat dalam pertempuran yang seru sekali.

Ko Tie juga telah berpikir.

"Jika memang aku berlaku setengah hati, niscaya akan menyebabkan dia lebih ganas menyerangku..... Dengan demikian tentu akan membuat dia lebih gencar lagi menikamku..... aku harus menghadapinya dengan penuh perhatian dan berusaha menundukkannya.....!" Karena berpikir begitu, cepat sekali Ko Tie telah merobah cara bersilatnya. Pedangnya telah berkelebat-kelebat dengan sebatnya, dimana selain dia menangkis, juga dia telah berusaha membalas menyerang. Dengan demikian, pedangnya itu telah berkelebat-kelebat bagaikan seekor naga yang meluncur ke sana ke mari melingkar dengan segala keganasan dan kedahsyatannya. Dalam keadaan seperti ini memang telah membuat gadis itu terdesak juga sedikit, di mana dia tidak bisa menyerang terlalu gencar. Si gadis jadi tambah penasaran, dia telah herseru nyaring, di mana pedangnya itu berkelebat-kelebat dengan cepat sekali, berusaha untuk menikam bagian-bagian yang mematikan di tubuh Ko Tie. Begitulah, setelah bertempur sekian puluh jurus, terlihat mereka seperti juga berimbang, ilmu pedang mereka seperti juga setingkat. Malah tampak Ko Tie telah mulai menyerang lagi dengan pedangnya itu cepat sekali, dia berusaha menindih ilmu pedang dari si gadis. Dan dalam keadaan seperti itulah segera juga tampak bahwa gadis itu mulai terdesak sedikit demi sedikit. Gadis itu menyadarinya bahwa Ko Tie memang sangat tinggi sekali kepandaiannya dan merupakan lawan yang cukup berat. Juga Ko Tie diakuinya sebagai pemuda yang memiliki ilmu pedang yang tangguh sekali. Dalam keadaan seperti inilah, terlihat bahwa Ko Tie sangat dikaguminya, namun rasa kagumnya itu tertindih oleh rasa marahnya, karena itu dia telah memandang dengan mata yang terbuka lebar-lebar, tiba-tiba dia berseru nyaring sekali dan kemudian menyerang lagi dengan pedangnya. Tikaman-tikaman yang dilancarkannya itu merupakan tikaman yang sangat hebat, berbeda dengan serangannya yang sebelumnya, karena dia telah mempergunakan jurus-jurus inti ilmu pedang Giok-lie-kiam-hoat. Diam-diam Ko Tie telah mengeluh di dalam hatinya, karena dia mengetahui, jika mereka bertempur dengan cara seperti itu, niscaya akan membuatnya jadi terdesak terus, dan akhirnya terlibat dalam pertempuran yang berkepanjangan. Dan akan membuat mereka jadi bercelaka jika saja Ko Tie telah mengambil tindakan yang keras. Di waktu itulah, dengan cepat Ko Tie telah menjejakkan kakinya, tubuhnya telah melesat ke belakang menjauhi gadis itu. Dia telah berseru.

"Hentikan! Hentikan!" Tetapi gadis itu bukannya berhenti menyerang, dia menjejakkan ke dua kakinya melompat mengejarnya. Malah gadis itu telah berseru.

"Sebelum aku bisa menyobekkan mulutmu yang kurang ajar itu, maka tidak akan mau sudah!"

Setelah berkata begitu, pedang gadis itu bergerak lagi dengan sebat, dia telah menikam tidak hentinya.

Setiap tikaman itu mengandung maut dan memaksa Ko Tie harus menangkis atau mengelakkan diri.

Sedangkan Ko Tie berulang kali melompat mundur lagi, karena memang tidak mau terlibat dalam pertempuran yang berlarut-larut.

Dan juga, di saat-saat seperti ini, Ko Tie terus juga berusaha menyadarkan si gadis, bahwa di antara mereka tidak tersangkut suatu apapun juga.

Tetapi melihat gadis itu masih saja menyerangnya, akhirnya habislah kesabaran Ko Tie.

Dia telah menjejakkan kakinya, tubuhnya tahu-tahu mencelat ke tengah udara, kemudian tubuhnya itu berputar-putar di tengah udara dengan gerakan yang manis sekali.

Di saat pedang gadis itu menyambar ke arah pahanya, cepat sekali pedang Ko Tie telah menyambar menangkisnya.

Tangkisan yang dilakukan oleh Ko Tie telah menyebabkan pedang gadis itu jadi tergetar keras.

Dan kemudian gadis itu melompat mundur sebab telapak tangannya dirasakan sangat pedih sekali, seperti juga kulit telapak tangannya pecah, akibat kuatnya benturan yang terjadi itu.

Begitulah, ke dua orang ini bertempur dengan pedang mereka menyambar-nyambar hebat ke sana ke mari bagaikan dua gulungan sinar yang menyerupai sepasang naga yang tengah bertempur dengan dahsyat.

Dalam keadaan seperti itu, terlihat betapapun juga, memang kepandaian Ko Tie menang setingkat dari gadis itu, dan diwaktu Ko Tie telah mengeluarkan seluruh kepandaian ilmu Kiamhoatnya, maka diwaktu itulah dia telah dapat mendesak gadis tersebut, sehingga gadis itu berulang kali harus melompat mundur ke sana-ke mari.

Namun, dasarnya gadis itu keras kepala, tokh tetap saja sehabis mengelak dia menerjang pula ke arah Ko Tie.

Pertempuran ke dua orang itu, yang masing masing mempergunakan pedang yang hebat, merupakan pertempuran yang berkepanjangan.

Telah seratus jurus lebih yang mereka lewatkan dan sejauh itu masih juga belum terlihat ada tanda-tanda bahwa mereka akan menyudahi pertempuran tersebut.

Memang Ko Tie telah mengagumi sekali kecantikan yang dimiliki gadis tersebut, dan juga dia merasa kagum akan kehalusan kulit tubuh gadis tersebut, karena dari itu, dalam keadaan demikian tentu akan membuat dia menyesal, jika saja kulit yang begitu halus dan bagus, serta putih menarik, akan terluka oleh ujung pedangnya.

"Jika memang aku belum merubuhkannya dan membuatnya takluk, gadis tentu tidak mau menyudahi pertempuran ini!"

Pikir Ko Tie.

Segera Ko Tie mengempos semangatnya, ia menambah kekuatan pada tangannya, setiap kali menggerakkan pedangnya, maka dia telah mempergunakan tenaga yang kuat sekali.

Dengan demikian, beberapa kali gadis tersebut harus melompat mundur, karena dilihatnya betapapun juga tenaga yang terkandung dalam penyerangan pedang Ko Tie sangat dahsyat sekali.

Jika tokh gadis itu menangkis, malah tangkisan tersebut akan membuat gadis itu menerima kerugian yang tidak kecil, di samping pedangnya itu akan terpental kena disampok pedang Ko Tie, kemungkinan kulit telapak tangannya akan terluka lagi, pecah.

Disebabkan itulah, maka gadis ini main lompat sana sini berkelit dengan lincah sekali, karena dia tidak mau mengadu kekerasan.

Walaupun mengetahui dirinya masih kalah setingkat dengan Ko Tie, tokh gadis ini tetap tidak mau menyudahi pertempurannya itu.

Ia telah menyerang terus menerus, sambil mencari kesempatan untuk membalas menyerang.

Sedangkan Ko Tie kali ini sudah tidak bertindak tanggungtanggung, dia juga mengerahkan hawa inti Es yang dimilikinya ke ujung pedangnya.

Maka setiap kali pedang itu berkelebat menyambar ke arah gadis itu, gadis tersebut merasakan sambaran angin yang dingin sekali.

Sengaja Ko Tie tidak mau menyerang dengan telapak tangannya mempergunakan tenaga Inti Es, karena, sekali saja dia mempergunakan telapak tangannya dengan disertai tenaga Inti Esnya, tentu gadis itu akan menghadapi bahaya tidak kecil.

Disaat itu, pasti sedikitnya gadis itu akan terluka di dalam.

Itu pula sebabnya mengapa Ko Tie hanya mengerahkan tenaga dalamnya pada ujung pedangnya.

Dia telah menyerang dengan inti es nya, tetapi hanya mempergunakan sebagian saja.

Sekali ini gadis tersebut kaget tidak terkira.

Setiap kali pedang Ko Tie berkelebat di dekatnya dan dia mengelak, maka`dia merasakan sambaran angin yang dingin bukan main, sedingin es, membuat dia menggigil.

Semakin lama, semakin sering dia mengelak dan pedang itu semakin cepat menyambar-nyambar kepadanya, maka dia merasakan hawa dingin itu semakin hebat menyerang dirinya, sehingga dia merasakan tubuhnya jadi gemetaran keras sekali.

Melihat keadaan demikian sebetulnya Ko Tie merasa kasihan dan tidak tega untuk menyerang terus gadis itu dengan mempergunakan tenaga Inti Esnya.

Namun dia pun segera berpikir, jika dia tidak mendesak terus gadis itu, agar tak ikut takluk, tentu selanjutnya ia tetap akan menghadapi kesulitan.

Itu pula sebabnya pedangnya telah menyambar-nyambar dengan dahsyat, serta menimbulkan hawa yang dingin luar biasa.

Si gadis merasakan tubuhnya menggigil keras sekali, seperti juga tubuhnya itu diselubungi es yang dingin luar biasa.

Semakin kuat gadis itu mengerahkan lweekangnya buat mengadakan perlawanan, maka semakin sulit dia menggerakkan tangannya.

Akibat hawa dingin itu gerakannya jadi lebih lambat dan membuat diapun tidak leluasa dalam menyerang Ko Tie.

Gadis itu semakin penasaran dan marah.

Karena dia menduga Ko Tie mempergunakan semacam ilmu siluman yang sesat.

Dia mengeluarkan suara bentakan yang sangat nyaring sekali, kemudian mengempos semangat dan hawa murninya.

Namun seketika dia merasakan bahwa hawa dingin yang menyerang dirinya itu semakin hebat, bahkan hawa dingin itu telah membuat gadis tersebut hampir saja menggigil melepaskan cekalan pada pedangnya.

Ko Tie baru saja hendak melompat mundur untuk menyudahi pertempuran tersebut, tiba-tiba terdengar suara yang sabar dan halus.

"Mengapa tidak membuka Kiu-yang-hiat? Mengapa tidak menutup Im-yang-hiat?!"

Mendengar suara itu, muka gadis tersebut berobah girang berseriseri, dia telah berseru perlahan.

"Suhu......!" Gadis itu segera mengetahuinya bahwa peringatan itu ditujukan kepadanya. Maka ia menuruti petunjuk tersebut dia membuka Kiuyang-hiat dan kemudian menutup Im-yang-hiat. Benar, mula-mula dia masih merasa serangan hawa dingin itu, tetapi setelah lewat beberapa saat, akhirnya hawa dingin itu mulai berangsur berkurang, seperti juga hawa dingin yang meluncur dari ujung pedang Ko Tie, sudah tidak dirasakannya lagi. Dengan demikian, gadis itu bisa bersilat dengan baik kembali, dia telah memutar pedangnya dengan cepat sekali. Malah semangatnya sekarang jadi terbangun semakin kuat karena dia yakin dengan ada suhunya, dia tidak perlu kuatir akan dirubuhkan pemuda yang menjadi lawannya. Orang yang tadi memberikan petunjuk kepada gadis tersebut, perlahan-lahan telah muncul melangkah keluar dari balik sebatang pohon. Dialah seorang wanita berusia tiga puluh tahun lebih, dengan paras yang cantik, pipi yang memerah dan mengenakan pakaian kuning. Sambil keluar, wanita itu telah berkata dengan suara yang tenang sekali. "Mengapa harus bertempur sehebat itu? Giok Hoa, mengapa tampaknya engkau jadi demikian tidak bisa mengendalikan diri? Apakah memang kalian telah saling kenal satu dengan yang lainnya? Dan juga apakah di antara kalian berdua terdapat permusuhan yang sudah tidak bisa diselesaikan lagi dengan jalan damai?!"

Mendengar teguran dari gurunya, muka Giok Hoa berobah merah.

Dia pun merasakan bahwa dia telah menyerang dan mendesak pemuda itu keterlaluan, di mana dia juga telah memaksa pemuda itu untuk bertempur dengan dahsyat.

Padahal memang di antara mereka tidak saling kenal satu dengan yang lainnya, dan juga di antara mereka tidak terdapat permusuhan apapun juga.

Maka, setelah ditegur seperti itu oleh gurunya, gadis itu yang tidak lain dari Giok Hoa, telah menikam hebat ke perut Ko Tie.

Waktu Ko Tie mengelak, maka dia menjejakkan ke dua kakinya, tubuhnya telah melompat dengan gerakan yang sangat lincah sekali, ke samping gurunya.

"Maafkan suhu!"

Katanya kemudian dengan kepala tertunduk dalam-dalam.

"Sesungguhnya pemuda itu terlalu kurang ajar sekali mulutnya." Wanita berbaju kuning itu, guru Giok Hoa, telah tersenyum sabar, kemudian katanya.

"Baiklah, mari kutanyakan kepadanya, apa maksudnya datang ke mari......"

Setelah berkata begitu, dengan tenang dan sabar tampak wanita berpakaian serba kuning itu telah melangkah menghampiri Ko Tie.

Sedangkan Ko Tie waktu melihat wanita berpakaian serba kuning tersebut telah menghampiri kepadanya.

Dia membawa sikap yang menghormat, karena dia mengetahui, sebagai guru dari gadis itu, tentu saja wanita berpakaian serba kuning ini merupakan seorang yang memiliki kepandaian sangat tinggi sekali.

Maka dia telah merangkapkan ke dua tangannya, dan menjura.

"Maafkan Boanpwee yang berlaku lancang datang ke tempat ini..... dapatkah Boanpwe mengetahui, siapakah adanya Locianpwe.....?!"

Wanita berpakaian serba kuning itu tersenyum, dia bilang.

"Dengan memanggilku sebagai Locianpwe, maka engkau ingin mengartikan aku ini sebagai seorang nenek tua yang telah lanjut usia.....?!"

Mendengar teguran seperti itu, walaupun teguran itu diucapkan sambil disertai dengan senyum, membuat Ko Tie jadi likat sendirinya.

Segera juga, sambil masih membungkuk memberi hormat, dia telah merobah panggilan buat wanita itu, katanya.

"Maafkan Peh-bo..... sesungguhnya memang Boanpwe agak lancang dan mata Boanpwe ini buta.....!"

Setelah berkata begitu, segera juga terlihat bahwa Ko Tie telah membungkuk menjurah dalam-dalam, seperti juga dia ingin memperlihatkan sikap menyesalnya.

"Mulutnya memang terlalu lancang dan kotor sekali, Suhu!"

Giok Hoa yang waktu itu berdiri di belakang gurunya, telah mengadu dengan muka yang memerah.

Disaat itulah terlihat betapun juga memang wanita berpakaian baju kuning ini tengah mengagumi Ko Tie.

Tadi sebetulnya telah cukup lama dia datang ke tempat itu menyaksikan pertempuran yang berlangsung antara Ko Tie dengan muridnya.

"Kepandaianmu sangat tinggi sekali dan baik, pemuda!"

Kata wanita berbaju kuning itu.

"Siapakah gurumu?!"

Ko Tie tidak berani memperlihatkan sikap kurang ajar di hadapan wanita berbaju kuning ini, yang diduganya tentu memiliki kepandaian yang tinggi sekali.

Bukankah gadis yang tadi menjadi lawannya merupakan murid dari wanita berbaju kuning ini?

Maka Ko Tie dengan memperlihatkan sikap bersungguh-sungguh telah berkata.

"Sesungguhnya Boanpwee murid dari Insu Swat Tocu.....!"

Muka wanita berbaju kuning itu jadi berobah, kemudian tertawa.

"Ohhhh, kalau begitu kita orang sendiri,"

Katanya dengan gembira.

"Swat Tocu yang kau maksudkan itu adalah Tocu dari pulau es, bukan?"

Ko Tie mengangguk membenarkan, di waktu itulah dia menjadi girang mendengar wanita berbaju kuning tersebut mengatakan bahwa mereka adalah orang sendiri.

Dengan segera Ko Tie melirik kepada Giok Hoa, yang waktu itu masih cemberut.

Tetapi walaupun masih cemberut marah, tokh Giok Hoa cantik bukan main, malah semakin cantik!

"Kita orang sendiri.....!"

Katanya.

"Siapa yang sangka! Pantas tadi waktu..... waktu bertempur dengan nona itu terdapat perasaan yang kurang enak pada hati Boanpwe, yang cepat-cepat buat menyudahi pertempuran itu! Tetapi nona itu..... tidak juga mau menyudahi pertempuran kami.....!" Wanita berpakaian serba kuning itu telah tersenyum, katanya.

"Ya..... memang Giok Hoa belum pernah turun gunung, sehingga tentu saja belum pernah mengetahui apapun juga tentang dunia luar. Karena dari itulah, dalam keadaan seperti sekarang, tentu engkau mau maklum dan juga memaafkannya?!"

Mendengar perkataan gurunya seperti itu yang meminta maaf kepada Ko Tie, muka Giok Hoa jadi semakin cemberut marah, karena memang dia telah melihatnya bahwa Ko Tie tentunya semakin congkak, sebab gurunya sendiri yang telah mempersalahkannya dan bahkan meminta maaf kepada Ko Tie!

Inilah yang membuat Giok Hoa jadi tidak senang.

Di waktu itu Giok Hoa telah memutar tubuhnya memandang ke arah lain, karena dilihatnya Ko Tie tersenyum lebar.

Dan Giok Hoa beranggapan itulah senyum mengejek buatnya, Hatinya jadi semakin penasaran, dia sampai berpikir.

"Nanti dalam kesempatan yang ada, tentu aku akan memperlihatkan kepandaianku yang sebenarnya kepadamu.....!"

Wanita berpakaian kuning itu telah menoleh kepada Giok Hoa, katanya.

"Jangan membawa sikap seperti itu, Giok Hoa..... tidak baik..... karena akan membuat engkau ditertawakan oleh Siauw-ko ini.....!" Sambil berkata begitu, segera juga tampak bahwa wanita berpakaian serba kuning itu telah perintahkan kepada Giok Hoa agar memberikan hormat kepada Ko Tie, perintahnya.

"Kau harus meminta maaf kepada Siauw-ko ini, Giok Hoa.....!"

Tentu saja Giok Hoa semakin mendongkol dan penasaran, namun dia tidak berani membantah perintah gurunya.

Karena itu dia telah mendekati kepada Ko Tie, kemudian merangkapkan ke dua tangannya dan memberi hormat kepada Ko Tie.

"Maafkanlah sikapku tadi.....!"

Katanya.

Tetapi setelah berkata begitu Giok Hoa memutar tubuhnya tidak mau melihat lagi kepada Ko Tie.

Jelas diapun meminta maaf karena memang dia sangat terpaksa sekali.

Wanita berbaju kuning itu telah tersenyum katanya.

"Nah, jika engkau telah meminta maaf, tentu Siauw-ko itu tidak akan keberatan memberikan maafnya kepadamu..... karena bukankah kita orang sendiri dan tadi harus terjadi suatu kesalah pahaman belaka.....?"

Ko Tie juga cepat-cepat merangkapkan ke dua tangannya memberi hormat kepada Giok Hoa dan wanita berbaju kuning itu, dia telah berkata dengan suara yang bersungguh-sungguh.

"Peh901 bo dan kau nona, harap mau memaafkan kelancanganku tadi..... karena memang aku sendiri terpaksa sekali harus mengeluarkan pedang. Beruntung bahwa kita tidak sampai bentrok terlalu jauh......!"

Tampak Giok Hoa telah melirik kepada Ko Tie yang memberi hormat beberapa kali dengan tubuh yang dibungkukkan dalam sekali. Sedangkan wanita berpakaian baju kuning itu telah berkata.

"Sudahlah jangan banyak peradatan, bukankah kita orang sendiri, dan kesalah pahaman itu telah diselesaikan?"

Sambil berkata begitu, wanita berpakaian serba kuning tersebut telah mengulurkan tangannya.

Waktu itu Ko Tie tengah membungkuk dalam sekali, dan wanita berbaju kuning itu seperti juga hendak membangunkannya.

Tetapi di saat itulah terlihatlah betapa Ko Tie kaget, karena dia merasakan dari telapak tangan wanita berpakaian serba kuning itu, yang telapak tangannya begitu halus, telah tersalur keluar kekuatan tenaga yang dahsyat sekali sehingga dia merasakan pundaknya bagaikan ditindih oleh kekuatan laksaan kati.....

Ko Tie segera menyadari bahwa wanita berpakaian kuning tersebut tentunya hendak menguji dirinya, hendak melihat berapa kekuatan tenaga lweekangnya.

Karena itu, dia telah tersenyum dan tetap akan meluruskan tubuhnya lagi.

Namun Ko Tie gagal, karena tenaga dari telapak tangan wanita berbaju kuning itu seperti juga laksaan kati, yang membebani pundaknya, sehingga dia tidak bisa menegakkan dan meluruskan tubuhnya lagi.

Sehingga Ko Tie jadi mengeluh.

Jika sampai dia mempergunakan tenaga lweekangnya yang terlalu kuat, sehingga bersifat keras dilawan keras, niscaya akan menyebabkan kurang sedap tanggapan wanita berbaju kuning itu pada dirinya.

Tetapi jika dia harus membungkuk terus seperti itu tanpa dapat menegakkan dan meluruskan kembali tubuhnya, niscaya akan membuatnya jadi menderita malu yang tidak terhingga.

Terlebih lagi gurunya, Swat Tocu merupakan seorang tokoh sakti di dalam rimba persilatan, yang disegani oleh seluruh orang-orang gagah dalam rimba persilatan.

Dan sekarang, dia sebagai murid tunggalnya, yang menerima langsung warisan kepandaian dari gurunya itu tidak dapat untuk menegakkan tubuhnya lagi hanya dicekal oleh ke dua tangan wanita berpakaian kuning itu.

Dan alasan lainnya yang membuat Ko Tie mengeluh, dia merasa malu kepada Giok Hoa.

Gadis yang cantik manis sejak pertama kali dilihatnya itu memang mendatangkan perasaan yang aneh pada dirinya dan di dalam hatinya timbul perasaan menyukai gadis itu.

Namun dalam keadaan seperti ini tentu saja diapun menyadari, gadis itu akan mengejek dan menganiaya, karena dia telah tidak berdaya untuk menegakkan tubuhnya lagi, dan juga tidak bisa berdiri lurus.

Disebabkan itu pula telah membuat Ko Tie memutar otak dan berusaha untuk dapat mengatasi tekanan dari tenaga dalam wanita berpakaian baju kuning itu.

Karena tidak mungkin dia melawan dengan kekerasan dengan mengerahkan seluruh kekuatan tenaga lweekangnya, maka dia telah mengendorkan seluruh otot-ototnya, di mana dia telah melunakkan pada bagian punggungnya, sehingga tenaga menindih dari wanita baju kuning itu seperti menindih pada dasar yang tidak berkekuatan.

Tenaga itu jadi nyelonong, mengejutkan wanita berpakaian baju kuning itu.

Karena dia kuatir akan melukai di dalam tubuh Ko Tie, kalau sampai tenaga itu tidak bisa ditahan lagi.

Maka dia cepatcepat bermaksud menarik pulang tenaga dalamnya.

Tetapi waktu wanita berbaju kuning itu hendak menarik pulang tenaga dalamnya, dan Ko Tie telah mengerahkan tenaga dalamnya menolak tenaga dari wanita baju kuning itu.

Disebabkan memang tidak memiliki sifat menindih lagi, dan juga di waktu itu tenaga dalam wanita baju kuning hendak ditarik pulang, membuat Ko Tie dapat menolak tenaga itu dengan mudah.

Wanita baju kuning itu kaget tidak terkira, tetapi dalam keadaan seperti ini, dia menarik pulang tenaga dalamnya.

Dia telah tersenyum dan katanya.

"Hebat kau!"

Giok Hoa tambah penasaran mendengar gurunya memuji Ko Tie.

Dia memang juga mengetahui waktu gurunya itu mengulurkan tangannya buat menyanggah pundak Ko Tie, sesesungguhnya gurunya telah mempergunakan tenaga dalamnya buat menahan pundak Ko Tie, tetapi sampai sekarang Ko Tie telah dapat berdiri tegak kembali.

Itulah urusan yang benar-benar sangat mengagumkan.

Rupanya Ko Tie telah berhasil untuk menghadapi kekuatan tenaga dalam gurunya gadis itu.

Karena itu Giok Hoa diam-diam, di samping penasaran, diapun merasa kagum sekali.

Giok Hoa telah melangkah beberapa tindak menjauhi wanita baju kuning itu.

Gurunya juga tidak menahannya, dia hanya bilang kepada Ko Tie.

"Sesungguhnya apa maksud kedatanganmu ke mari? Apakah memang sengaja ingin menemui kami?!"

Tanyanya. Ko Tie menggeleng.

"Maafkan Peh-bo..... sesungguhnya kedatangan Boanpwee ke mari bukan untuk suatu maksud, Boanpwee, hanya kebetulan saja singgah di Heng-san ini, karena ingin mencari suatu tempat untuk dipergunakan Insu menyepi diri."

Mendengar perkataan Ko Tie seperti itu, wajah wanita berbaja kuning itu berobah. "Jadi..... jadi gurumu itu bermaksud memilih sebuah tempat yang akan dipergunakan mengasingkan diri?"

Tanya wanita baju kuning itu. Ko Tie mengangguk.

"Ya..... malah mungkin Heng-san merupakan tempat yang cocok dan sesuai dengan keinginan Insu....."

Kata Ko Tie kemudian.

"Telah banyak tempat yang Boanpwee datangi, tetapi belum juga ada yang cocok buat Insu......!"

Wanita berbaju kuning itu mengangguk-angguk beberapa kali tampaknya dia ragu-ragu.

"Sesungguhnya pulau es tempat berdiam Swat Tocu Locianpwee merupakan tempat yang sangat baik dan menyenangkan sekali. Mengapa justeru Locianpwee itu hendak mencari tempat lain sebagai tempat kediamannya?"

Tanyanya kemudian. Ko Tie telah mengangkat bahunya sambil tersenyum, katanya.

"Boanpwee tidak begitu jelas..... tetapi menurut keterangan Insu, bahwa beliau memang hendak berdiam di daratan Tiong-goan, tidak di seberang lautan seperti sekarang.....!" Wanita berbaju kuning itu mengangguk lagi beberapa kali, kemudian ia bertanya.

"Nah Hiante, sesungguhnya engkau seorang murid yang terampil sekali dari Swat Locianpwe, karena engkau memiliki kepandaian yang demikian tinggi, walaupun usiamu masih begitu muda."

"Peh-bo terlalu memuji.....!"

Kata Ko Tie kemudian merendah.

"Sesungguhnya dalam hal ini berkat bantuan dan budi besar dari Insu juga yang telah menyebabkan Boanpwe bisa memiliki kepandaian seperti sekarang."

"Kalau begitu, sesungguhnya kedatangan Hiante ke tempat ini tentunya ingin mencari tempat yang sesuai buat gurumu itu?!"

Ko Tie mengangguk.

"Ya..... memang begitulah, tetapi sejauh itu Boanpwe masih belum juga berhasil menemui tempat yang sesuai buat Insu..... dan jika memang Peh-bo tidak keberatan, dapatkah Peh-bo menjelaskan kepada Boanpwe, di manakah tempat yang sekiranya cocok buat Insu di Heng-san ini....... Tentunya Peh-bo jauh lebih mengetahui keadaan di sekitar tempat ini?"

Mendengar pertanyaan Ko Tie seperti itu, wanita berbaju kuning itu telah berkata.

"Tentu, tentu saja aku bersedia untuk menunjukkan kepadamu tempat-tempat yang bagus di Heng-san ini. Tetapi cocok atau tidaknya dengan keinginan gurumu itu, inilah yang tidak berani aku mengatakannya."

Di waktu itulah Ko Tie teringat sesuatu, ia telah bertanya dengan ragu.

"Tadi..... tadi waktu Boanpwe main-main dengan adik itu....."

Dan Ko Tie telah menunjuk Giok Hoa, yang telah terpisah cukup jauh dari tempatnya berada.

"Jika tidak salah, pedang itu yang memiliki banyak kemiripan dengan ilmu pedang dari keluarga Yo..... maksud Boanpwe adalah Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko.....!"

Wanita berbaju kuning itu mengangguk.

"Ya, memang itulah ilmu pedang Giok-lie-kiam-hoat!"

Kata si wanita baju kuning menjelaskan.

"Pantas..... pantas begitu hebat, sehingga membuat Boanpwe sulit bernapas waktu menghadapinya!"

Memuji Ko Tie.

Mendengar pujian tersebut, senang hati wanita baju kuning itu.

Diapun melihat Ko Tie tidak meneruskan perkataannya itu, hanya memandangi saja kepadanya.

Dan wanita baju kuning ini mengerti, bahwa tentunya Ko Tie ingin sekali menanyakan siapakah sebenarnya dirinya ini yang mengerti Giok-lie-kiam-hoat dan tadi menyatakan kepada Ko Tie bahwa mereka adalah orang sendiri.

"Tentunya engkau menduga-duga entah siapa adanya aku ini, bukan?!"

Tanya wanita berbaju kuning itu dengan sikap yang sabar. Ko Tie mengangguk.

"Ya..... memang itulah yang ingin Boanpwe ketahui, jika memang Peh-bo tidak keberatan untuk memberitahukannya!"

Menyahuti Ko Tie cepat. Di saat itu, wanita berbaju kuning ini telah bertanya dulu.

"Sesungguhnya, engkau pernah bertemu dengan Sin-tiauw-tayhiap Yo Ko atau memang belum?!"

Ko Tie mengangguk.

"Sudah..... malah Tayhiap itu telah memberikan beberapa petunjuk pada Boanpwe.....!"

Menyahuti Ko Tie.

"Nah, Hiante, sesungguhnya apa yang kukatakan tadi bahwa kita orang sendiri tidak salah! Akupun telah melihat, beberapa jurus ilmu pukulan tangan kosongmu tadi memiliki banyak kemiripan dengan ilmu pukulan tangan kosong ayah angkatku itu!"

Kata wanita berpakaian kuning itu. Mata Ko Tie jadi terbuka lebar-lebar mengawasi wanita baju kuning itu seperti juga tidak mempercayai apa yang didengarnya.

"Kalau begitu..... kalau begitu.....!"

Katanya tidak lampias.

"Aku adalah anak angkat dari Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko.....!"

Mengangguk wanita baju kuning itu.

"Oh, Yo Peh-bo..... sungguh menggembirakan sekali bertemu dengan Yo Peh-bo..... memang waktu berkumpul dengan Tayhiap, pernah juga disinggung-singgung mengenai Peh-bo, yang disebutsebut oleh Peh-bo Siauw Liong Lie kau tengah pergi berkelana untuk melakukan perbuatan mulia dan memberantas segala kebusukan di dunia ini!"

Setelah berkata begitu, Ko Tie menepuk keningnya, katanya.

"Akh, mengapa tidak sejak tadi Boanpwee ingat bahwa Peh-bo senang sekali memakai baju kuning, seperti yang dijelaskan oleh Siauw Liong Lie Peh-bo....."

Wanita baju kuning itu tersenyum.

"Nah, sekarang aku mengundang engkau untuk singgah di tempat kami, guna minum satu-dua cawan teh dan juga bercakap-cakap menceritakan pengalamanmu, Hiante.....!"

Kata wanita berbaju kuning itu.

"Apakah..... apakah ini tidak akan merepotkan Yo Peh-bo?!"

Tanya Ko Tie. Wanita berbaju kuning itu menggeleng.

"Sudah tentu tidak..... ayo ikut dengan kami!"

Ajaknya.

"Cuma saja, kami tentu tidak bisa menjamumu dengan segala macam santapan yang lezat-lezat..... karena memang kami tinggal di gunung..... menjadi orang gunung......!"

Mendengar gurau wanita baju kuning itu Ko Tie tersenyum dan mengeluarkan kata-kata yang menyenangkan si wanita baju kuning.

"Giok Hoa, kemari kau.....!"

Panggil wanita baju serba kuning itu. Giok Hoa waktu itu masih cemberut saja, tetapi wajahnya jadi semakin cantik dan manis, dan Ko Tie melihat gadis itu yang kekanak-kanakan, jadi tersenyum.

"Siapkan dan bersihkan kamar belakang, buat tamu kita ini.....!"

Perintah wanita baju kuning itu kemudian. Muka Giok Hoa berobah, sikap tidak senangnya makin tampak sekali.

"Dia..... dia akan menginap di rumah kita?!"

Tanyanya kemudian sambil melirik kepada Ko Tie. Sang guru tersenyum dan bergurau.

"Kau jangan cemberut terus menerus seperti itu, nanti engkau cepat tua......!"

Giok Hoa semakin cemberut, sedangkan Ko Tie hanya tersenyum saja.

Melihat pemuda itu memandangnya dengan tersenyum, Giok Hoa ,jadi semakin gemas, jengkel dan juga semakin tidak karuan rasanya.

Sedangkan wanita baju kuning itu telah mengajak Ko Tie untuk singgah di rumahnya, di mana Giok Hoa telah berlari mendahului buat melaksanakan perintah gurunya, membersihkan kamar belakang buat Ko Tie.

Terlihat sebuah ruangan yang sederhana, namun sangat bersih sekali, ketika Ko Tie di-bawa ke sebuah rumah yang memang dibangun sangat sederhana sekali.

Wanita berbaju kuning itu mempersilahkan Ko Tie duduk dikursi yang dibuat kasar dari kayu batang pohon yang dihaluskan.

"Sebuah rumah yang tidak pantas untuk menyambut kedatanganmu, sebetulnya!"

Kata wanita baju kuning itu.

"Tetapi memang kami harus berdiam di tempat ini, untuk lebih mudah mendidik Giok Hoa, agar dia dapat melatih diri dengan sebaikbaiknya!"

Menjelaskan wanita baju kuning itu.

"Ya, inilah tempat yang sangat baik sekali, menyenangkan, Yo Peh-bo!"

Kata Ko Tie sambil memandang kagum sekeliling ruangan tersebut.

"Jauh dari keramaian yang akan melibatkan kita dalam berbagai urusan. Di tempat ini tentunya kita dapat berdiam dengan tenang..... terlebih lagi memang adik Giok Hoa membutuhkan waktu-waktu yang tenang untuk mempelajari ilmu silat yang akan diwarisi oleh Peh-bo.....!"

Wanita berpakaian kuning itu mengangguk.

"Ya, memang begitulah maksudku..... rupanya kau sangat cerdas sekali, Hiante..... pantas engkau menjadi murid tunggal dari Swat Tocu Locianpwe.....!"

Memuji wanita berbaju kuning itu.

Ko Tie cepat-cepat mengeluarkan kata-kata merendah.

Waktu itu Giok Hoa telah keluar membawakan minuman buat Ko Tie dan gurunya, dua cawan teh hangat.

Muka gadis itu, walaupun masih cemberut, tetapi tidak segalak tadi.

Malah dia agak canggung waktu meletakkan ke dua cawan itu.

"Berapa lama kau akan berdiam di sini, Hiante?"

Tanya wanita baju kuning itu.

"Mungkin beberapa hari, Peh-bo, untuk mencari-cari tempat yang sekiranya cocok buat Insu.....!"

Menjelaskan Ko Tie.

"Bagus!"

Berseru wanita baju kuning itu, yang segera menoleh kepada Giok Hoa, katanya.

"Giok Hoa, selanjutnya untuk beberapa hari, engkau akan mempunyai seorang kawan dengan demikian engkaupun akan bisa bertanya-tanya minta nasehat dari tamu kita ini.

"Tetapi ingat, bahwa engkau tidak boleh berlaku kurang ajar dan manja..... Jika aku tahu, tentu aku akan menghukummu! Engkau harus pandai-pandai memanfaatkan kesempatan ini untuk meminta nasehat dan petunjuk dari Lie Koko ini.....!"

Setelah berkata begitu, wanita baju kuning tersebut tertawa nyaring, rupanya dia puas telah mengoda muridnya.

Muka Giok Hoa berobah memerah malu.

Dia sengit dan gemas sekali, gurunya menggodanya seperti itu di hadapan Ko Tie, langsung di depan pemuda itu.

Cepat-cepat setelah meletakkan cawan teh itu, dia memutar tubuhnya, berlari dengan segera.

Dikala itu, wanita berbaju kuning itu tengah bercakap-cakap beberapa saat lagi, kemudian mempersilahkan Ko Tie buat beristirahat.

◄Y► Waktu rebah di pembaringan kecil yang beralaskan putih bersih dan nyaman, pikiran Ko Tie jadi melayang-layang teringat kepada gurunya.

Heng-san memang merupakan tempat yang sangat baik dan gunung yang indah sekali.

Tentu banyak sekali tempat-tempat yang sekiranya akan cocok dipergunakan sebagai tempat menyendiri gurunya itu.

Akan tetapi Ko Tie mengetahui benar akan sifat dan tabiat gurunya itu.

Tidak mungkin gurunya akan menerima anjurannya untuk memilih Heng-san sebagai tempat menyendiri, berdiam di puncak gunung itu, karena walaupun bagaimana Swat Tocu tidak mau kalau tempat di mana ia akan menyendiri itu sudah didahului oleh orang lain, hidup bersama-sama.

Juga, Ko Tie sesungguhnya lebih cenderung menganjurkan buat gurunya mengambil puncak Heng-san sebagai tempat menyendiri.

Hal ini disebabkan ada alasannya yang lainnya.

Dimana jika Swat Tocu memilih puncak Heng-san sebagai tempat menyendirinya, maka kesempatan buat Ko Tie bertemu Giok Hoa semakin terbuka luas.

Dengan demikian Ko Tie dapat sering-sering bertemu dengan gadis yang cantik jelita itu, yang telah menarik hatinya.

Sedangkan saat itu, tampak Ko Tie juga mulai digeluti oleh suatu perasaan aneh.

Entah mengapa terhadap Giok Hoa, ia memiliki semacam perasaan yang benar-benar tidak dimengertinya, karena ia sangat menyukai sekali gadis itu.

Dan juga ia semakin senang melihat Giok Hoa yang cemberut, di mana dia jadi melihat gadis itu semakin cantik juga, jika tengah marah dan cemberut, menimbulkan gemas di hati Ko Tie.....

Setelah termenung beberapa saat, akhirnya Ko Tie tertidur juga.

Pada sore harinya dia terbangun dari tidurnya.

Setelah merapihkan pakaiannya dan juga cuci muka, dia keluar dari kamarnya.

Maksudnya, dia ingin pergi mengelilingi puncak Heng-san buat melihatnya apakah ada tempat yang sekiranya baik untuk dijadikan tempat menyendiri dari gurunya.

Di waktu itu memang terlihat jelas sekali.

Ko Tie berlaku hati-hati.

Dia menyadari bahwa dirinya menumpang di sebuah rumah yang penghuninya hanya dua orang wanita.

Karena itu, dia selalu menjaga baik-baik setiap gerak-geriknya, agar tidak menimbulkan kesan bahwa dia akan berbuat kurang ajar.

Ketika dia keluar dari kamarnya, sengaja dia telah mendehem beberapa kali.

Kebetulan sekali, entah disengaja atau tidak, pada waktu itu Giok Hoa pun tengah lewat di lorong itu.

Ketika mendengar batuk-batuk Ko Tie, gadis tersebut menoleh.

Kontan pipi Giok Hoa berobah merah, tanpa menyapa lagi dia memutar tubuhnya berlari meninggalkan tempat tersebut.

Ko Tie jadi berdiri tertegun di tempatnya.

Sebetulnya dia ketika melihat Giok Hoa, ingin menyapanya buat mengajak gadis itu bercakap-cakap.

Namun entah mengapa, mulutnya juga seperti terkunci, hanya hatinya yang berdebar-debar keras sekali ketika melihat gadis itu.

Akhirnya Ko Tie dapat menguasai perasaan.

Sedangkan Giok Hoa yang telah berlari keluar dari rumah tersebut, telah berlari terus memasuki sebuah hutan.

Dia malu sekali.

Memang sesungguhnya, Giok Hoa sendiri memiliki perasaan yang tidak keruan.

Dia merasa benci, tetapi juga menyukai Ko Tie.

Dia pun merasa gemas, tetapi juga menyenangi pemuda itu.

Dan bermacam-macam perasaan telah mengganggu hatinya.

Dangan demikian telah membuat gadis itu selama siang itu tidak bisa diam dengan tenang, gelisah sekali.

Sedangkan gurunya, wanita berbaju kuning itu, tengah mengurung diri bersemedhi buat mengatur jalan pernapasannya, seharian itu.

Dan karena iseng, dan tidak ada yang harus dikerjakan lagi, Giok Hoa telah keluar dari kamarnya, dengan maksud hendak jalanjalan di depan rumahnya, guna menghirup udara segar.

Namun waktu dia lewat di ruang tengah, ruang yang menghubungi dengan lorong ke kamar belakang rumah tersebut, waktu itu terdapat suatu keinginan untuk melihat apa yang tengah dilakukan oleh Ko Tie.

Demikian kuat keinginannya itu, sehingga gadis ini tidak bisa membendung lagi keinginannya itu.

dia telah melangkah menghampirinya, dan dilihatnya bahwa pintu kamar Ko Tie tertutup rapat.

Giok Hoa kemudian keluar rumah, namun kembali dia gelisah.

Dia jadi memikirkan entah apa yang tengah dikerjakan tamunya tersebut.

Tetapi yang paling utama hati nona ini terganggu oleh senyum Ko Tie, di mana sejak tadi memang Giok Hoa selalu teringat senyuman pemuda itu.

Memang Ko Tie seorang pemuda tampan.

Dan juga kepandaiannya sangat tinggi.

Tetapi di samping itu juga dia merupakan seorang pemuda yang menjengkelkan dan mendatangkan rasa gemas di hati Giok Hoa.

Bermacam-macam perasaan bercampur aduk dalam hati gadis itu.

Sampai akhirnya dia memutuskan untuk pergi melihat lagi ke kamar Ko Tie.

Karena itu, Giok Hoa telah masuk ke dalam rumah dan kemudian menyusuri lorong itu.

Dia mendekati kamar tidur yang di tempati Ko Tie.

Tetapi setelah menghampiri dekat dan melihat pintu kamar itu tertutup rapat, gadis ini ragu-ragu.

Lama dia berdiri di situ untukmengawasi saja pintu kamar.

Diam-diam di dasar hatinya terpikir juga, kalau saja Ko Tie tidak sedang tidur, dan pintu kamarnya ini tidak tertutup rapat, tentu Giok Hoa bisa saja mencari jalan dan alasan agar dapat mengajak pemuda itu bercakap-cakap!

Dan hal itu tentu menggembirakan sekali.

Namun apa yang dilihatnya justeru memang pintu itu tertutup rapat-rapat.

Karena itn, Giok Hoa hanya berdiri diam saja mengawasi pintu kamar tersebut, sampai akhirnya dia telah memutar tubuhnya untuk meninggalkan tempat tersebut.

Dia bermaksud akan pergi keluar dari rumahitu, untuk pergi ke puncak Heng-san.

Namun baru saja dia melangkah sampai di ujung lorong, dia mendengar seperti juga pintu terbuka.

Waktu dia ingin menoleh untuk melihat, justeru Ko Tie telah keluar, juga telah terdengar suara dehemnya.

Maka dari itu, cepat-cepat Giok Hoa melarikan diri keluar rumah, pipinya memerah panas, dia malu sekali karena dia kuatir kalau-kalau Ko Tie mengetahui tadi dia berulang kali melewati lorong itu dan berdiri ragu-ragu di depan kamar Ko Tie.

Cepat sekali gadis tersebut berlari-lari menuju ke arah puncak tinggi Heng-san.

Setelah tiba di puncak tinggi Heng-san dan berdiri di dekat air terjun, barulah Giok Hoa agak tenang, karena dia melihat tidak ada yang mengejarnya.

Dia menghela napas dalam-dalam, lalu dia mulai menggerakkan ke dua tangannya bersilat, untuk mengalihkan perhatian dan pikirannya pada bayang-bayang Ko Tie.

Tetapi di saat gadis itu tengah berlatih, justeru tiba-tiba sekali terdengar suara yang bertepok tangan dan juga telah disusul lagi dengan pujian.

"Sungguh kepandaian yang terlatih baik sekali.....!"

Ketika Giok Hoa menoleh, untuk kaget dan malunya, dilihatnya Ko Tie tengah berdiri di atas sebungkah batu yang cukup tinggi, dengan sikapnya yang gagah, wajahnya yang tampan dan senyumnya begitu menawan.

Rasa malu yang diliputi Giok Hoa begitu hebat, sehingga rasanya Giok Hoa bagaikan hendak menyusupkan kepalanya ke dalam bumi saja, untuk bersembunyi dari tatapan mata Ko Tie.

Mengapa Ko Tie bisa sekonyong-konyong tiba di tempat tersebut?

Ternyata waktu melihat Giok Hoa berlari meninggalkan rumah, Ko Tie cepat-cepat menyusul.

Pemuda ini merasa aneh, mengapa Giok Hoa begitu melihatnya, segera berlari.

Namun sekilas Ko Tie juga masih melihat pipi gadis itu memerah, seperti juga gadis itu kaget dan malu sekali.

Sebagai seorang pemuda yang sangat cerdas, segera juga Ko Tie dapat menduga, pasti Giok Hoa telah melakukan sesuatu yang dianggapnya tentu akan mendatangkan rasa malu yang besar jika saja Ko Tie mengetahui.

Karena tertarik, dan ingin mengetahui Giok Hoa akan pergi kemana, Ko Tie segera memutuskan untuk mengikuti gadis itu mendaki puncak Heng-san.

Namun dia tidak mau mengikuti secara berterang.

Selain membatasi jaraknya cukup jauh, diapun tidak mengejar langsung dan lurus.

Ko Tie telah mengambil arah dari sebelah samping kanan, dari tempatnya mana dia bisa menyaksikan Giok Hoa terus juga mendaki puncak tertinggi puncak Heng-san tersebut.

Setelah melihat Giok Hoa tiba di puncak tertinggi gunung Hengsan, maka Ko Tie mempercepat larinya.

Dia telah melompat ringan sekali di balik sebungkah batu, bersembunyi di situ.

Sengaja Ko Tie tidak mau terlalu dekat, dia kuatir kalau-kalau gadis itu mendengar suara langkah kakinya.

Jika memang Giok Hoa mengetahui dirinya dibuntuti, tentu akan sulit sekali mengetahui apa yang ingin dilakukan Giok Hoa, disebabkan itulah Ko Tie tetap bersembunyi terus dibalik batu itu mengamat-amati saja gerakgerik gadis itu.

Dia memperoleh kenyataan Giok Hoa berdiri di pinggir air terjun, wajahnya murung sekali.

Dia seperti tertegun mengawasi mengalirnya air dan berulang kali tampak dia menghela napas.

Rupanya gadis itu tengah bersusah hati.

Bukan main herannya Ko Tie.

"Apa yang menyusahkan hati gadis tersebut. Bukankah dia telah memiliki kepandaian yang tinggi dan tinggal di tempat yang demikian indah, seperti berada di puncak gunung Heng-san yang memiliki pemandangan yang menarik dan hawa udara yang nyaman hangat ini?"

Disebabkan itulah maka Ko Tie telah mengawasi terus, sampai akhirnya dia melihat Giok Hoa mulai berlatih silat.

Dia memperhatikan setiap jurus yang dipergunakan Giok Hoa, dan melihat bahwa ilmu pukulan tangan kosong Giok Hoa merupakan ilmu pukulan kosong yang memiliki tenaga sangat kuat dan mengagumkan sekali.

Akhirnya Ko Tie sudah tidak bisa menahan hatinya.

Dia melihat bahwa Giok Hoa menyudahi latihannya itu dengan gerakan dan jurus yang sangat manis sekali.

Ko Tie jadi melompat keluar dari tempat bersembunyinya, dia pun menepuk tangan memberikan pujian.

Justeru munculnya Ko Tie secara tiba-tiba begitu, membuat Giok Hoa jadi kaget dan malu bukan main, dan juga dia menjadi tambah jengkel.

Dari malu, malah Giok Hoa akhirnya menjadi marah.

Dengan bertolak pinggang dia kemudian telah membentak Ko Tie.

"Mengapa engkau berbuat rendah seperti itu bersembunyi mengikuti aku?!"

Ko Tie melompat turun dari atas batu, dia telah merangkapkan sepasang tangannya dan menjura.

"Maafkan nona..... tentunya engkau mengerti, bahwa aku tadi iseng seorang diri dan tidak tahu akan ke mana pergi, karena keadaan di Heng-san ini sangat asing sekali. Itulah sebabnya aku telah mengejarmu, dengan maksud hendak menanyakan kepadamu ke mana saja sekiranya aku bisa pergi melihat-lihat tempat yang indah di Heng-san ini!"

"Hemmm, kau pandai sekali memutar lidah yang tidak bertulang itu! Sesungguhnya hatimu seperti ular dan licik sekali! Masih beruntung kau dilindungi guruku, kalau tidak..... kalau tidak..... aku....."

Tetapi Giok Hoa tidak meneruskan perkataannya, dia memandang kepada Ko Tie dengan mata berkilat-kilat mengandung kemarahan.

Ko Tie tetap sabar dan tenang, dia malah tertawa kecil, karena hatinya semakin tertarik melihat gadis itu semakin marah jadi semakin cantik.

"Jika tidak bagaimana, nona?!"

Tanyanya. Justeru sikap Ko Tie seperti ini dianggap oleh Giok Hoa seakanakan juga Ko Tie hendak mempermainkannya, maka kemarahannya jadi semakin meluap.

"Jika tidak aku akan membunuhmu!" Dan membarengi dengan perkataannya itu, Giok Hoa melompat gesit sekali, tangan kanannya digerakkan buat menghantam Ko Tie dengan dahsyat. Karena dalam keadaan malu dan marah seperti itu, Giok Hoa telah mempergunakan sebagian besar tenaga dalamnya. Melihat Giok Hoa menyerang dirinya. Dia pikir jika dia melayani Giok Hoa, itupun sudah tidak ada gunanya lagi, karena hanya akan melibatkan mereka dalam pertempuran yang berkepanjangan. Dan juga Ko Tie merasa tidak enak hati kalau dia sampai harus bertempur lagi dengan Giok Hoa dan diketahui oleh wanita she Yo itu, anak angkat dari Yo Ko dan Siauw Liong Lie. Maka, Ko Tie berdiam diri di tempatnya, tanpa bergerak, dia membiarkan saja serangan gadis itu menuju ke sasarannya. Bukan main kagetnya Giok Hoa melihat Ko Tie tidak berusaha mengelakkan diri dari serangannya. Semula dia memang bernafsu sekali untuk menghajar Ko Tie. Tetapi sekarang melihat pemuda ini tidak berusaha mengelakkan diri dari serangannya, dia malah jadi kaget tidak terkira. Buat menarik pulang dan menahan meluncur tenaganya yang sangat besar itu sudah tidak mungkin. "Tangkislah!"

Teriak Giok Hoa. Dan dia pun masih berusaha untuk membendung tenaganya. Tetapi baru saja dia berteriak begitu, justeru pukulannya telah tiba di dekat pundak kanan Ko Tie, menimbulkan suara "Buk!"

Yang sangat nyaring sekali, membuat tubuh Ko Tie seketika terjengkang dan bergulingan di tanah beberapa kali.

Apa yang diterima Ko Tie memang tidak disangkanya bahwa gadis itu akan menyerangnya bersungguh-sungguh.

Namun, justeru begitu dia terpukul, walaupun dia sangat sakit, tokh malah sengaja telah bergulingan di tanah, dan kemudian rebah di tanah dan mengerang kesakitan!

Menyaksikan keadaan pemuda itu, bukan main kaget dan takutnya Giok Hoa.

Dia tambah terkejut dan cepat-cepat melompat ke samping Ko Tie, berjongkok di sampingnya.

Ko Tie sengaja memejamkan matanya, dia mengerang kesakitan sambil menggigit-gigit bibirnya, karena dia ingin mempermainkan gadis ini.

"Kau..... kau terluka?!"

Tanya Giok Hoa dengan suara gemetar bingung, wajahnya jadi pucat.

Ko Tie masih sengaja mengerang dan juga telah membuka matanya perlahan-lahan, baru kemudian dengan suara sengaja dilemahkan, seperti dia tengah menahan perasaan sakit yang tidak terkira, katanya.

"Sesungguhnya..... sesungguhnya aku tidak menyangka bahwa engkau akan menyerang sehebat itu..... Memang luar biasa kepandaianmu itu, nona..... aku tak sanggup mengelakkannya, kepandaianmu..... kepandaianmu memang benar-benar hebat!"

Mendengar pujian Ko Tie, bukannya girang malah Giok Hoa semakin panik.

"Aku bertanya kepadamu apakah engkau terluka?"

Tanya Giok Hoa dengan suara yang nyaring. Ko Tie meringis, katanya.

"Aku..... aku kira mungkin aku tidak bisa hidup lebih lama lagi, mungkin pukulanmu itu telah menghancurkan isi dadaku ini..... dan telah membuat seluruh anggauta dalam tubuhku rusak serta hancur..... Mungkin hanya beberapa jam saja aku bisa bertahan.....!"

Setelah berkata begitu kembali Ko Tie mengerang kesakitan dan memejamkan matanya.

Menyaksikan dan mendengar perkataan Ko Tie, bukan main bingung dan paniknya Giok Hoa.

Dia sampai kebingungan dan ingin menangis.

"Ohhh..... mengapa engkau tidak berkelit? Mengapa kau biarkan saja dirimu terpukul olehku.....? Jika telah terjadi begini..... oooh, bagaimana..... apa yang harus kukatakan kepada guruku.....?!"

Sebetulnya di hati Ko Tie geli sekali. Dia juga kasihan melihat gadis itu bingung bukan main. Namun dia tidak mau menyudahi sikap pura-puranya ini, dia hendak menundukkan gadis itu.

"Katakan saja bahwa aku jatuh..... tentu gurumu itu akan percaya.....!"

Kata Ko Tie dengan suara yang sengaja diperlahankan.

"Tidak! Aku tidak boleh berdusta begitu! Jika memang aku berdusta, guruku pun akan mengetahuinya.....!"

Kata Giok Hoa sambil geleng-gelengkan kepalanya.

Benar-benar dia bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya, malah diapun sudah tidak bisa menahan mengucurnya air mata.

Melihat si gadis menangis kebingungan seperti itu, sebetulnya Ko Tie semakin tidak tega.

Tetapi jika dia memang segera bangun dan menceritakan kepada gadis itu bahwa dia sebetulnya hanya berpura-pura, tentu, Giok Hoa akan marah dan benci kepadanya, yang bisa dianggap sebagai pemuda ceriwis.

Karena itu, terlanjur memang telah berpura-pura, dia telah berkata lagi dengan suara yang disengajakan lirih.

"Sebetulnya..... sebetulnya sejak bertemu dengan kau, nona..... aku sangat kagum sekali terhadap kepandaianmu itu..... Aku juga mengetahui bahwa aku bukan tandinganmu..... karena itu aku beberapa kali aku pernah menganjurkan padamu agar tidak menyerang lebih jauh, karena aku bisa bercelaka..... Siapa tahu sekarang, sekali hantam saja engkau telah dapat merubuhkan aku..... malah aku juga tidak akan hidup lebih lama lagi......!"

"Ohhh!"

Berseru Giok Hoa sambil menyusut air matanya, mukanya pucat sekali, dia benar-benar sangat kebingungan sekali.

"Bagaimana ini..... aku harus segera membawamu ke guruku, agar guruku menolongi engkau, mengobati lukamu..... Siapa tahu Suhu masih dapat menyembuhkan lukamu itu..... aku harus menceritakan semuanya dengan jujur.....!"

Namun Ko Tie telah menggelengkan kepalanya perlahan, dia berkata.

"Tidak..... tidak..... jangan..... tidak lama lagi tentu aku akan segera menghembuskan napas yang terakhir..... tidak mungkin aku bisa dibawa olehmu, karena keadaanku telah parah sekali. Maka dari itu..... jika memang engkau mau berkasihan padaku, jika nanti aku telah putus napas dan meninggal, kau carilah ibuku, tolonglah kau beritahukan kepada ibuku, bahwa aku telah mati dalam suatu kecelakaan..... dan beritahukan kepada ibuku itu, bahwa aku cukup bahagia, sempat dibesarkan ibuku.....!"

Mendengar pesan dari Ko Tie seperti itu, hati Giok Hoa semakin gugup dan panik. Dia telah berkata dengan suara tergetar ketakutan.

"Tidak! Engkau tidak boleh mati! Ohh, jika engkau mati..... entah bagaimana hukuman yang akan dijatuhkan Suhu kepadaku..... tidak, engkau tidak boleh mati!"

Ko Tie tersenyum pahit, dia sengaja meringis, kemudian katanya.

"Sayangnya memang aku tidak bisa hidup lebih lama lagi, karena biarpun aku sendiri menginginkan untuk hidup terus, tetapi memang kenyataannya tidak bisa...... dan aku walaupun bagaimana aku akan mati juga.....!" "Tidak! Kau tidak boleh mati!"

Kata si gadis itu sambil menggelenggelengkan kepalanya.

"Memang aku tidak mau mati, namun pukulanmu tadi begitu hebat, dan telah menghancurkan seluruh isi dadaku..... dengan demikian mau atau tidak membuatku telah mengalami luka yang demikian berat. Dan aku harus dapat menerima kenyataan yang ada, bahwa aku ini akan hidup tidak akan lama lagi....."

Setelah berkata begitu, Ko Tie sengaja memejamkan matanya, dia merintih terus.

Keadaan seperti ini membuat Giok Hoa menjadi tambah gugup, sambil menangis, dia telah berusaha untuk mengangkat tubuh Ko Tie.

"Walaupun bagaimana aku harus membawamu ke Suhuku..... agar Suhu mengobati lukamu itu, dan engkau dapat hidup lagi terhindar dari kematian.....!"

Begitu gugupnya si gadis. Ko Tie merasakan tangan yang halus itu melingkari pinggang dan pundaknya, maka Ko Tie jadi berdebar dengan sendiri hatinya, tergoncang keras. Diapun berpikir.

"Tidak! Aku tidak boleh mempermainkannya lebih jauh, karena walaupun bagaimana aku tidak boleh berlaku ceriwis, dengan menipunya seperti ini, berarti aku hanya seorang manusia rendah saja.....!"

Setelah berpikir begitu, Ko Tie membuka matanya lebar-lebar dan dia telah berkata dengan suara yang biasa dan wajar.

"Nona aku masih bisa hidup, aku bisa sembuh, jika memang engkau berjanji tidak akan memukulku lagi, juga tidak sembarangan memukul kepada siapapun juga.....!"

Giok Hoa yang waktu itu tengah kebingungan, telah mengangguk, dia mengiyakan berulang kali.

"Ya, ya, aku berjanji, aku tidak akan sembarangan memukul orang lain..... tetapi engkau harus segera sembuh!"

Kata Giok Hoa dengan secercah sinar harapan terpancar dari wajahnya. Ko Tie mengangguk, tahu-tahu dia telah bangun duduk, sambil katanya.

"Lihatlah, aku telah sembuh kembali!"

Muka gadis itu berobah hebat, matanya terpentang lebar-lebar, sepasang mata yang digenangi oleh air mata.

"Kau.....?!"

Dia tergugup dan juga memandang curiga, sampai akhirnya meledak amarahnya.

"Kalau begitu engkau menipu aku..... Oh..... pemuda ceriwis kurang ajar..... engkau hanya pura934 pura saja terluka.....!"

Dan Giok Hoa marah bercampur malu, karena tadi dia telah menangis kebingungan seperti itu di hadapan Ko Tie. Ko Tie tersenyum.

"Bukankah sudah kukatakan, bahwa aku akan segera sembuh, jika memang nona mau berjanji tidak akan memukulku lagi!"

Kata Ko Tie.

"Justeru sekarang aku akan menghantam kau lagi!"

Kata Giok Hoa karena terlalu malu dan marah.

Dan benar-benar dia menghantam dengan tangannya.

Namun belum lagi tangannya itu mengenai dada Ko Tie, justeru Ko Tie telah menjatuhkan dirinya rebah lagi ke belakang, kemudian merintih.

"Tidak! Kau tidak bisa menipuku lagi..... aku tetap akan menghantammu."

Sambil berkata begitu benar-benar tangan kanan Giok Hoa telah memukul dada Ko Tie cukup keras, sehingga Ko Tie kali ini benarbenar kesakitan.

Sedangkan Giok Hoa telah melompat berdiri dan berlari ke arah lain di puncak tertinggi gunung itu.

Sampai akhirnya gadis itu lenyap di tikungan.

Ko Tie tertegun sejenak, namun cepat-cepat melompat berdiri, kemudian mengejarnya.

Dia melihat si gadis masih tetap berlarilari cepat sekali di puncak tertinggi itu.

"Nona..... tunggu..... maafkan..... aku, tunggu..... dengarkanlah keteranganku ini.....!"

Teriak Ko Tie sambil mengejarnya dengan mempergunakan gin-kangnya yang tertinggi.

Giok Hoa melihat Ko Tie mengejarnya tahu-tahu dia telah bersiul nyaring sekali.

Dia bukan bersiul biasa saja.

Dia telah bersiul dengan disertai tenaga lweekang yang sangat kuat sekali, sehingga suara siulan itu bergema di sekitar puncak gunung tersebut, terdengar sampai jauh sekali.

Tidak lama kemudian dari tengah udara tampak setitik bayangan yang semakin lama semakin membesar.

Dan setelah datang dekat, Ko Tie yang kala itu tengah mengejar terus, telah melihatnya dengan jelas.

Itulah seekor burung rajawali putih yang memiliki ukuran tubuh yang sangat besar sekali, dengan sepasang sayapnya yang sangat lebar dan tampak kuat sekali.

Ko Tie heran, mengapa di tempat ini bisa terdapat seekor burung rajawali putih yang bentuk tubuhnya begitu luar biasa.

Malah yang lebih mengherankannya, dia melihat gadis itu hanya dengan bersiul belaka, telah dapat memanggil burung rajawali putih tersebut, seakan juga burung rajawali putih itu memang merupakan burung rajawali peliharaan yang jinak dan penurut sekali.

Ko Tie telah mengempos semangatnya, dia berusaha mempercepat agar tiba di dekat Giok Hoa.

Waktu itu juga burung rajawali putih itu telah terbang hinggap di samping Giok Hoa.

Dan gadis itu dengan lincah telah melompat ke atas punggung burung rajawali itu, dimana sejenak kemudian burung rajawali putih itu telah mengembangkan sepasang sayapnya, telah terbang meninggalkan tempat itu, mengangkasa tinggi.....

semakin tinggi.....

dan akhirnya lenyap dari pandangan mata Ko Tie.

Bukan main herannya Ko Tie.

Burung rajawali putih itu benar-benar jinak sekali.

Juga tampaknya memang burung rajawali itu terlatih baik sekali.

Menyesal Ko Tie mengapa tadi dia tidak bisa mengejar lebih cepat.

Bukankah jika tadi dia telah berhasil mengejar si gadis, di waktu si gadis melompat ke punggung burung rajawali itu, diapun bisa ikut melompat ke punggung burung rajawali tersebut.

Dengan demikian mereka berdua bisa di bawa terbang oleh burung rajawali putih tersebut?

Dan Ko Tie jadi berdiri tertegun di tempatnya mengawasi ke arah mana tadi burung rajawali putih itu terbang menghilang.

Setelah berdiri lagi beberapa saat lamanya, akhirnya Ko Tie menghela napas dan dia telah melangkah menuruni puncak gunung itu, dia ingin kembali ke rumah wanita berbaju kuning itu.

"Mudah-mudahan Giok Hoa telah kembali!"

Begitulah yang selalu dipikirkan oleh Ko Tie.

Karena jika ia bertemu dengan gadis itu, pertama-tama yang ingin diutarakannya adalah meminta maaf kepada gadis itu, bahwa tadi dia sama sekali tidak bermaksud ceriwis, hanya saja ingin menyadari gadis itu, agar gadis itu tidak terlalu sembarangan turun tangan.

Tetapi ketika Ko Tie tiba di rumah wanita berbaju kuning itu, dia tidak terlihat bayangan Giok Hoa.

Juga dia tidak melihat burung rajawali putih itu.

Segera juga Ko Tie menyadari bahwa gadis itu tentunya belum pulang.

Ketika Ko Tie masuk ke dalam rumah, dilihatnya pintu kamar di mana wanita baju kuning bersemedhi tetap masih tertutup rapat.

Ko Tie kembali ke kamarnya, dia merebah dirinya di pembaringan, pikirannya jadi memikirkan kejadian tadi.

Sekarang dia telah melihat jelas tadi Giok Hoa berada dekat sekali di sampingnya waktu Ko Tie pura-pura kesakitan, dimana dia mem memperoleh kenyataan bahwa Giok Hoa benar-benar seorang gadis yang sangat cantik sekali, karena itu, dia semakin tidak tenang hatinya, berbagai macam perasaan telah merasuki jiwanya.

"Tidak!"

Tiba-tiba suatu ketika Ko Tie telah menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Mengapa aku harus memiliki pikiran yang bukanbukan seperti itu? Bukankah dengan demikian berarti aku seorang manusia yang rendah dan tidak terpuji? Kami baru saja berkenalan, aku sudah memikirkan yang tidak-tidak! "

Memang aku menyukai gadis itu!

Tetapi yang pasti Giok Hoa seperti tidak menyukai kehadiranku di tempat ini!

Kukira, akupun tidak perlu terlalu lama mengganggu mereka, mengganggu ketenteraman mereka guru dan murid.

Biarlah besok pagi aku pamitan kepada mereka.

Dan aku akan menyelidiki sendiri keadaan di Heng-san ini, untuk melihat-lihat apakah di tempat ini memang terdapat suatu tempat yang cocok buat dipergunakan oleh Insu......!"

Karena berpikir seperti itu, Ko Tie bisa menenteramkan sedikit hatinya.

Dia memejamkan matanya.

Namun bayang-bayang wajah Giok Hoa yang begitu cantik tetap saja bermain di pelupuk matanya, membuat benar-benar jadi tersiksa.

Dan malah, seakan juga dia jadi tidak sabar, ingin sekali rasanya cepat-cepat dapat bertemu dengan Giok Hoa.

Dan dia pun mengharapkan Giok Hoa cepat pulang, untuk dapat diajak bicara, diajak bercerita, dan juga meminta maaf, meminta pengertian dari gadis itu bahwa Ko Tie memang sama sekali tidak memiliki maksud-maksud buruk padanya.....

Tetapi semuanya itu hanya merupakan perasaan yang mengganggu hatinya belaka.

Ko Tie tidak berdaya buat melampiaskan segala perasaannya itu.

Terlebih lagi dia memang teringat bahwa Giok Hoa seperti juga tidak menyukainya, di mana setiap kali mereka bertemu, Giok Hoa acap kali memperlihatkan sikap yang keras dan ingin menyerangnya.

Akhirnya Ko Tie tertidur juga.

Entah berapa lama dia tertidur, sampai akhirnya pintu kamarnya diketuk orang dari luar.

"Hiante, mari kits makan malam bersama-sama!"

Panggil seseorang, suara wanita berpakaian kuning itu, guru dari Giok Hoa.

Ko Tie terkejut, dia segera mengiyakan beberapa kali sambil mengucapkan terima kasih dan merapihkan pakaiannya.

Kemudian dia ke luar dari kamarnya.

Dia telah melihat wanita berbaju kuning itu tengah menantinya.

Dan di waktu itulah dia melihat Giok Hoa tidak berada di tempat tersebut.

Sehingga dia ingin menduga, apakah memang Giok Hoa belum pulang?

"Peh-bo.....

di manakah adik Giok Hoa?"

Tanya Ko Tie setelah duduk di kursi di depan meja makan yang sederhana itu, ketika dilihatnya Giok Hoa masih belum kelihatan batang hidungnya. Wanita berpakaian kuning itu tersenyum, katanya.

"Mari kita makan dulu..... Kesehatan Giok Hoa agak terganggu, mungkin masuk angin, karena dia terlalu letih berlatih..... nanti dia pun sembuh!" Mendengar Giok Hoa sakit, hati Ko Tie jadi semakin tergoncang. Segera juga Ko Tie merasakan, apakah dia yang bersalah dan menyebabkan Giok Hoa sakit, karena tadi dia telah membuat gadis itu marah dan jengkel serta akhirnya menangis berkepanjangan? Atau memang karena Giok Hoa naik di punggung rajawali putih itu, terbang di tengah udara, sehingga kesehatannya itu terganggu.

"Apakah tubuhnya panas, Peh-bo?"

Tanya Ko Tie setelah berdiam sejenak.

"Biasa saja..... itu tidak terlalu menguatirkan. Dia hanya merasakan kepalanya sedikit pusing.....!"

Menjelaskan guru Giok Hoa.

Begitulah, selama makan bersama dengan guru Giok Hoa, Ko Tie telah banyak berdiam diri, dia hanya menghabisi makanannya.

Dan kemudian dia kembali ke kamarnya.

Tetapi perasaan Ko Tie tetap tidak tenang, dia masih memikirkan keadaan Giok Hoa.

Dia mau menduga tentunya Giok Hoa merasa pusing-pusing disebabkan dia tadi telah dibawa berputar-putar di atas angkasa terbuka, di mana burung rajawali itu telah membawanya terbang tinggi sekali.

Di samping itu, karena memang Ko Tie memiliki perhatian yang istimewa pada Giok Hoa maka kini mendengar gadis itu menderita sakit, hatinya tambah tidak tenang, gelisah dan resah sekali.

Sampai menjelang tengah malam dia masih tidak bisa tertidur.

Jika memang bisa tentu dia akan keluar dari kamarnya dan pergi ke kamar Giok Hoa buat menanyakan kesehatan gadis itu.

Namun hal ini tentu saja merupakan perbuatan tidak terpuji dan tidak mungkin bisa dilakukannya.

Disebabkan itulah Ko Tie merasakan dirinya seperti tersiksa oleh perasaannya itu.

◄Y► Kita tinggalkan dulu Ko Tie yang waktu itu tengah bergelisah dan resah.

Kita menengok kepada Giok Hoa.

Waktu berada di puncak tertinggi gunung Heng-san dan telah meninggalkan Ko Tie, dengan menunggangi burung rajawali putihnya, Giok Hoa sesungguhnya merasa geli di dalam hatinya.

Dia telah melihat mimik muka Ko Tie waktu menyaksikan dia dibawa terbang oleh burung rajawali putihnya itu.

Sikap Ko Tie yang seperti terheran-heran dan juga memandang seperti juga adanya penyesalan di hati pemuda itu.

Dan Giok Hoa juga tidak bisa menahan perasaan geli karena lucunya itu di mana dia teringat dirinya telah dipermainkan oleh Ko Tie yang pura-pura semaput karena pukulannya itu, tetapi sesungguhnya pemuda itu sama sekali tidak terluka sedikitpun.

Malah Giok Hoa pun telah terlanjur memberikan janjinya bahwa selanjutnya dia takkan sembarangan menyerang dan memukul orang lain.

Tetapi begitu Ko Tie bangun malah Giok Hoa telah memukulnya lagi!

Dan teringat akan semua itu, Giok Hoa jadi tertawa geli sendirian, di waktu dia tengah dibawa terbang mengangkasa oleh burung rajawali putihnya itu.

Tetapi perasaan menyukai pemuda itu jadi semakin tebal.

Giok Hoa telah melihat bahwa Ko Tie seorang pemuda yang jujur dan tidak ceriwis.

Dan dia mengetahui, apa yang dilakukan Ko Tie tadi dengan berpura-pura kesakitan, sesungguhnya masih terbatas oleh kesopanan.

Jika memang Ko Tie ceriwis, bisa saja dia tetap berpura-pura tidak dapat bergerak, sehingga dirinya digendong oleh si gadis.

Wajah yang tampan, sikap yang menarik, benar-benar merupakan seorang pemuda yang menyenangkan hati.

Tetapi teringat akan itu, Giok Hoa merasakan pipinya jadi panas memerah.

dan dia malu sendirinya.

Malah dia sampai menoleh ke kiri kanan dan ke belakangnya, ke sekelilingnya.

Sampai akhirnya ia tersadar, bahwa waktu itu dia sebenarnya tengah terbang di angkasa duduk di punggung rajawali putih tersebut.

Dengan demikian jelas tidak ada seorang manusia pun juga yang bisa melihat apa yang tengah dilakukannya.

Terlebih lagi tidak mungkin ada orang yang bisa mengetahui perasaan dan isi hatinya.

Sedangkan burung rajawali putih itu telah membawa terbang majikannya semakin tinggi.

Suara pekikannya terdengar sangat nyaring sekali.

Burung rajawali putih itu terbang berkeliling di dekat sekeliling puncak gunung Heng-san tersebut sampai akhirnya dia terbang ke arah utara, untuk menuju pulang.

Namun Giok Hoa rupanya belum lagi mau pulang, karena dia telah menepuk-nepuk leher burung itu, sambil katanya.

"Bawa aku berkeliling dulu......!" Burung rajawali putih tersebut mengerti apa yang diinginkan oleh majikannya, dia putar haluannya, di mana kini ia terbang menuju ke arah barat. Pemandangan gunung Heng-san dilihat dari atas udara memang sangat menarik dan indah sekali. Di mana Giok Hoa duduk di punggung rajawali putih tersebut sambil mengawasi keindahan gunung Heng-san. Dan juga, dia telah memikirkan sesuatu yang selalu menggoda hatinya, yaitu mengenai diri Ko Tie! "Pemuda yang tampan dan gagah!"

Tiba-tiba dia menggumam.

Tetapi setelah menggumam seperti itu, Giok Hoa kaget sendirinya, karena diapun merasa malu.

Namun segera dia teringat bahwa dia tengah berada di punggung burung rajawali putih itu, dibawa terbang di angkasa terbuka, sehingga di sekitarnya tidak terdapat manusia lainnya.

Dan gadis itu menghela napas dalam-dalam.

Walaupun bagaimana Giok Hoa harus mengakuinya, bahwa ia memang dalam keadaan seperti ini telah terpancing oleh pemikiran-pemikiran mengenai Ko Tie.

Juga ia sesungguhnya bermaksud hendak membuang jauh-jauh pemikiran mengenai diri Ko Tie, tokh tidak berhasil, karena bayang-bayang wajah Ko Tie tetap saja bermain di pelupuk matanya.

Diapun jadi selalu gelisah dipengaruhi oleh pemikiran yang aneh sekali, pemikiran yang tidak dimengertinya, entah perasaan apakah itu?

Sedangkan burung rajawali itu telah terbang terus semakin lama jadi semakin tinggi, sekali-kali terdengar suara memekiknya.

Dan burung ini rupanya mengerti juga bahwa majikannya waktu itu tengah dirundung oleh pemikiran dan rasa rindu terhadap seseorang.

Dan seekor burung rajawali yang memiliki daya tangkap dan perasaan yang peka sekali, maka telah membuat burung rajawali tersebut menyadari majikannya tengah memendam rindu terhadap seseorang.

Waktu itu hawa udara di puncak gunung Heng-san terasa mulai sangat dingin.

Namun Giok Hoa masih juga belum mau pulang.

Berulang kali dia membisiki burung rajawali putih itu bahwa ia hendak dibawa jalan-jalan dulu oleh burung rajawali tersebut, di mana Giok Hoa memang belum mau pulang.

Dirasakannya ia sangat malu sekali, jika dalam keadaan sekarang dia harus bertemu muka lagi dengan Ko Tie.

Giok Hoa tidak mengetahui apa yang harus dikatakannya.

Maka dia memutuskan lebih baik tidak pulang dulu karena itu dia meminta burung rajawali putihnya membawa dia berputar-putar di tengah udara bebas.

Setelah udara menjadi gelap, barulah dia pulang.

Namun ketika melompat turun dari punggung burung rajawali itu, dirasakannya kepalanya pening, agak mabuk.

Maka dia berusaha untuk mengerahkan lweekangnya, namun tidak berhasil, karena tetap saja dia merasakan betapa kepalanya itu masih pening.

Segera juga Giok Hoa masuk ke dalam kamarnya.

Dan waktu itu gurunya telah mengajaknya buat makan bersama.

Terpaksa Giok Hoa menjelaskan bahwa dia tengah sakit dan tidak bisa menemani guru dan tamu mereka buat makan bersama.

Ketika rebah di atas pembaringannya maka Giok Hoa masih juga dikejar-kejar oleh perasaan anehnya.

Sebetulnya dia menginginkan sekali buat bertemu dengan Ko Tie, buat bercakapcakap dengannya.

Tetapi di bagian lain dari perasaannya justeru menghendaki lain.

Dia tidak mau bertemu dengan Ko Tie disebabkan perasaan malu yang menguasai dirinya.

Disamping itu juga memang dia tidak mau kalau sampai nanti gurunya melihat sikap yang lain dari pada biasanya.

Karena itu Giok Hoa rebah terus di pembaringannya memejamkan matanya.

Namun kejadian di mana Ko Tie pura-pura kesakitan rebah di tanah karena pukulannya, teringat olehnya, tanpa diinginkan segera juga Giok Hoa tersenyum lebar.

Dia jadi menganggapnya lucu sekali.

Menganggapnya sebagai suatu peristiwa yang sangat menarik sekali, membawa kesan yang mendalam dan sulit untuk dilupakan olehnya.

Giok Hoa menutupi mukanya dengan bantal, karena dia berusaha untuk tidur.

Namun, ketika dia melihat ke arah jendela, di mana keadaan sangat gelap sekali, dia telah menghela napas.

"Pemuda itu sangat menarik sekali, seharusnya aku tidak perlu malu-malu lagi kepadanya. Bukankah Suhu sendiri perintahkan kepadaku agar aku menemani dia?"

Pikir Giok Hoa.

"Justeru sikapku yang tadi terlalu keras menghadapi pemuda itu. Dengan demikian telah membuat diapun terpaksa harus mengalah, namun aku tetap terlalu mendesaknya. Jika tadi aku bisa menahan diri dan tidak terlalu mendesaknya, niscaya, aku sudah dapat berkawan dengannya, sudah dapat bercakap-cakap dengan asyiknya......!" Sambil berpikir seperti itu Giok Hoa telah bangun dari tidurnya, dia duduk di tepi pembaringan. Di waktu itulah diamendengar suara langkah kaki yang perlahan sekali menghampiri pintu kamarnya. Cepat-cepat Giok Hoa merebahkan tubuhnya di pembaringan, karena dia menduga tentunya orang yang tengah menghampiri itu adalah Suhunya. Dia telah memejamkan matanya. Namun jantungnya berdegup sangat keras sekali. Didengarnya suara pintu dibuka, dan Giok Hoa semakin memejamkan matanya, dia yakin yang masuk adalah gurunya. Tetapi waktu dia mendengar suara langkah kaki itu berhenti, si gadis membuka sedikit matanya, mengintai. Dia jadi terkejut, hampir saja dia mengeluarkan suara jeritan tertahan karena terkejut dan marah. Yang berdiri di depan pintu kamarnya tidak lain dari seorang lakilaki yang tidak dikenalnya. Seorang yang memiliki potongan tubuh tinggi kurus, memiliki muka seperti juga tengkorak, dengan rambut yang tipis, yang waktu itu tengah menyeringai. "Kan..... kau.....?"

Si gadis beseru tertahan sambil melompat turun dari pembaringannya dan bersiap sedia untuk menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Tetapi orang itu, yang mukanya agak menyeramkan telah berkata perlahan.

"Sudahlah jangan menimbulkan banyak keributan, karena jika engkau menimbulkan kegaduhan, maka engkau yang pertama-tama akan kubinasakan..... kau tidak perlu takut padaku!"

Mendengar perkataan orang itu, Giok Hoa membuka matanya lebar-lebar. Kemudian dia membentak marah.

"Siapa kau yang demikian lancang berani memasuki kamarku?!"

Mendengar pertanyaan si gadis, orang bermuka menyeramkan itu tertawa mengejek.

"Engkau tidak perlu mengetahui siapa adanya aku..... Tetapi ada sesuatu yang hendak kutanyakan kepadamu, dan engkau harus menjawabnya dengan sejujurnya.....!"

Sambil berkata begitu, segera juga terlihat orang bermuka menyeramkan itu telah melangkah dengan tindakan kaki lebar menghampiri Giok Hoa seperti juga si gadis sama sekali tidak dipandang sebelah mata.

Sedangkan Giok Hoa yang melihat sikap lelaki bermuka menyeramkan tersebut, dan juga lagaknya yang begitu kurang ajar, telah membuatnya jadi bertambah marah.

Lelaki bermuka menyeramkan ini telah berlaku lancang berani memasuki kamarnya.

Sekarang ini justeru diapun membawa sikap kurang ajar seperti itu, karenanya dia telah membuat Giok Hoa meluap kemarahannya.

Dengan segera tanpa menantikan lagi datangnya terlalu dekat orang bermuka menyeramkan itu, Giok Hoa telah menghantam dengan tangan kanannya.

Pukulan kepalan tangan kanannya mengandung kekuatan tenaga dalam yang sangat dahsyat, karena Giok Hoa memukulnya dalam keadaan marah sekali.

Tetapi orang memperlihatkan bermuka kurus perasaan terkejut.

menyeramkan Dia berdiam itu tidak terus di tempatnya, malah dia mengayunkan lagi kaki kirinya untuk menghampiri Giok Hoa lebih dekat sama sekali tidak berusaha mengelak.

"Bukkkk!"

Kepalan tangan Giok Hoa telah menghantam kuat sekali kepada dada lelaki bermuka menyeramkan itu.

Begitu kepalan tangannya hinggap di dada orang bermuka menyeramkan itu, seketika itu juga menimbulkan suara yang sangat keras dan nyaring.

Namun terlihat bahwa orang itu tidak bergeming di tempatnya walaupun diterjang oleh hantaman yang begitu kuat, membuat Giok Hoa kaget sendiri.

Walaupun merasakan kepalan tangannya itu pedih dan sakit, Giok Hoa tidak memperdulikannya.

Dia telah berseru nyaring, kemudian menghantam lagi dengan sekali gus mempergunakan kedua tangannya.

Giok Hoa memaklumi bahwa orang ini tentu seorang yang memiliki kepandaian yang tinggi, karena hantaman kepalan tangannya yang begitu kuat sama sekali tidak dielakannya.

Malah dia telah menerima dengan dadanya, tanpa tubuhnya itu tergerak sedikitpun dari berdirinya.

Dan juga kuda-kuda ke dua kakinya tidak tergeser walaupun satu dim.

Diwaktu menyerang kali ini Giok Hoa telah menghantam dengan mengerahkan tujuh bagian tenaga lweekangnya, sehingga telah menimbulkan angin yang berkesiuran sangat kuat sekali.

Orang bertubuh tinggi kurus itu kali ini tidak berani menerima pukulan Giok Hoa begitu saja, karena ia melihatnya sekali ini ke dua kepalan tangan Giok Hoa, yang tengah menyambar kepadanya memiliki kekuatan yang tidak bisa diremehkan.

Maka dia telah cepat-cepat mengelak ke samping.

Untung saja Giok Hoa keburu menahan meluncur ke dua tangannya, kalau tidak dinding papan itu akan hancur terkena gempuran tangannya.

Namun, orang itu yang bertubuh tinggi kurus bukan hanya sekedar mengelak saja, karena dia telah menghantam dengan punggung tangannya yang dikibaskannya, yang membuat Giok Hoa jadi terdesak oleh pukulan tersebut.

Karena ketika dia tengah menarik pulang tenaga serangannya, justeru lawannya itu membarengi mempergunakan kesempatan tersebut buat mendesak dirinya dan merubuhkannya.

Walaupun bagaimana dia murid tunggal dari wanita baju kuning she Yo.

Di dalam keadaan terdesak seperti itu, cepat sekali dia telah menangkis dengan tangan kanannya, tangan kirinya telah dihantamkan ke dada orang itu.

Juga tubuhnya dimiringkan ke kanan, dengan ke dua kakinya dikerahkan tenaga dalam, untuk memperkuat kuda-kuda ke dua kakinya itu.

Terdengar beberapa kali benturan yang nyaring sekali.

"Bukkk..... bukkk..... dukkk!"

Giok Hoa merasakan pergelangan tangannya sakit bukan main, karena dia telah membenturkan lengannya itu berulang kali.

Dengan demikian telah membuat tangannya itu saling bentur dengan tangan dari orang bertubuh tinggi kurus bermuka menyeramkan itu.

Sesungguhnya, jika hanya kekuatan tenaga dalam dari lawannya, tidak menjadi persoalan bagi Giok Hoa.

Namun justeru begitu tangannya saling menangkis, terlihat Giok Hoa meringis, sebab dia telah merasakan bahwa tangannya seperti dialiri oleh api yang membakar panas sekali.

Giok Hoa cepat-cepat melompat mundur, untuk menjauhi diri.

Si wanita berbaju kuning she Yo, guru Giok Hoa, dan juga Ko Tie, telah mendengar suara ribut-ribut di kamar Giok Hoa, sehingga waktu itu juga, ke duanya melesat cepat sekali ke kamar Giok Hoa.

Saat itu Giok Hoa tengah terancam bahaya yang tidak kecil, di mana dia telah diserang lagi beberapa kali oleh orang bermuka menyeramkan itu, di mana dia mengelakkannya dengan ke susu sekali.

Sedangkan Ko Tie dengan tidak membuang-buang waktu, melihat keadaan demikian, tubuhnya melesat ke dekat orang bermuka menyeramkan tersebut.

Di kala itu tangan Ko Tie juga menyambar ke tengkuk orang tersebut.

Akan tetapi orang bertubuh kurus dengan muka yang menyeramkan itu benar-benar memiliki keberanian yang luar biasa.

Biarpun dia mengetahui cengkeraman tangan Ko Tie tidak bisa diremehkan, namun dia tidak menghindar, malah tangan kanannya tahu-tahu meluncur menghantam dada Ko Tie, sehingga Ko Tie tidak keburu berkelit keseluruhannya.

Walaupun dia telah bergerak gesit sekali, tokh tidak urung dadanya kena diserempet oleh serangan tersebut.

Dengan begitu telah membuat dadanya dirasakan bagaikan dibakar oleh panasnya api.

Tetapi tidak urung tangan kanan Ko Tie juga berhasil mencengkeram punggung orang itu.

Cuma saja yang membuat Ko Tie jadi kaget, cengkeramannya itu tidak memberikan hasil.

Dimana jari tangannya seperti juga mencengkeram batu yang keras sekali.

Bahkan sangat licin bukan main, jari-jari tangannya telah melejit.

Dengan begitu, Ko Tie cepat-cepat melompat mundur, waktu ia ingin maju untuk mulai menyerang orang bermuka menyeramkan tersebut, si wanita berbaju kuning telah mengibaskan tangannya, katanya dengan suara tawar.

"Hentikan..... siapa kau yang demikian lancang telah menyelusup ke dalam rumah kami?" Orang bermuka menyeramkan itu tertawa dengan suara yang sangat tidak sedap didengar, dia telah berkata dengan suara yang mengejek.

"Hemm..... lancang memasuki rumah kalian? Aku justeru hendak membinasakan kalian semua!"

"Siapa engkau? Dan siapa yang telah mengutus kau ke mari?! Dan juga engkau hendak melakukan pembunuhan kepada kami, dendam apa yang engkau miliki?"

Tanya guru Giok Hoa dengan suara yang tawar.

Sikapnya tenang, dia melihat bahwa orang bertubuh kurus itu dengan muka yang menyeramkan tersebut memiliki kepandaian yang agak aneh.

Tadi saja waktu dia menyerang Ko Tie, guru Giok Hoa itu merasakan sambaran angin dari pukulan yang panas seperti mengandung api.

Orang bermuka kurus itu telah menyahuti dengan sikap yang angkuh sekali.

"Engkau anak angkat si buntung Yo Ko, bukan?!"

Ditanya kasar seperti itu membuat muka guru Giok Hoa jadi berobah, lalu dengan wajah yang dingin, dia bertanya sambil menahan sabar.

"Benar..... memang aku orangnya! Dan apa keperluan kau ke mari?!" "Hemm, sudah kukatakan, aku hendak membunuh kalian! Walaupun sampai kapan, keluarga Yo merupakan musuh tunggal kami! Dengarlah baik-baik! Tentu kau pernah mendengar nama besar guruku, yaitu Nie Mo Cu! Kau pernah mendengarnya bukan?!" (Mengenai Nie Mo Cu dapat diikuti dalam Sin-tiauwhiap-lu). Muka guru Giok Hoa berobah, dia memandang teliti lagi kepada orang di hadapannya ini. Mukanya yang menyeramkan dan kepandaiannya yang tinggi dan juga sesat ilmunya itu, di mana dia cara menyerang memperlihatkan bahwa ilmunya itu mengandung semacam kesesatan yang mengerikan. Memang guru Giok Hoa telah mendengar banyak perihal Nie Mo Cu dari ayah dan ibu angkatnya. Kepandaian Nie Mo Cu memang hebat sekali. Tetapi menurut Yo Ko maupun Liong Lie, Nie Mo Cu diduga telah terbinasa dalam suatu pertempuran, di mana Nie Mo Cu telah mengalami kematian yang mengerikan. Diapun dalam keadaan terluka parah waktu melarikan diri, namun akhirnya setelah melarikan diri beberapa jauh, dia terputus napasnya juga. Karena dari itu, sekarang mendengar bahwa orang yang bermuka bengis ini adalah murid Nie Mo Cu, guru Giok Hoa telah memandangnya dengan tajam, karena dilihatnya bahwa orang itu rupanya bicara tidak berdusta, sebab kepandaiannya yang memang tinggi. Tetapi mengenai murid Nie Mo Cu ini, belum pernah didengar oleh guru Giok Hoa. Yo Ko ataupun Siauw Liong Lie belum pernah menyebutkan perihal murid Nie Mo Cu ini. Maka guru Giok Hoa telah berkata dengan suara yang dingin.

"Baiklah, jika memang engkau murid Nie Mo Cu, si sesat itu lalu apa yang kau inginkan?!"

"Membunuh kalian..... orang-orang yang memiliki hubungan dengan Yo Ko, si buntung keparat itu.....!"

Menyahuti orang bermuka bengis itu.

"Baik! Aku ingin melihat dengan cara apa kau hendak membunuh kami.....!"

Sambil berkata begitu, guru Giok Hoa memperdengarkan suara tertawa dingin, dan dia menantikan serangan dari orang itu.

Sedangkan orang bermuka bengis itu memang sesungguhnya bicara dari hal yang sebenarnya.

Dia memang murid dari Nie Mo Cu.

Waktu Nie Mo Cu malang melintang di daratan Tiong-goan, dia tengah berusaha menciptakan semacam ilmu yang sangat hebat sekali.

Dan juga dia telah menerima beberapa orang murid.

Tidak beruntung murid-muridnya itu, tidak memiliki kecerdasan yang dikehendakinya, agar dapat mewarisi seluruh kepandaiannya.

Hanya satu dari sekian muridnya itu, yaitu Beng Ko Kouw saja ternyata memenuhi syaratnya, di mana Beng Ko Kouw merupakan seorang yang sangat cerdas sekali dan memiliki bakat yang dikehendakinya.

Dengan begitu telah membuat Nie Mo Cu menurunkan seluruh kepandaiannya itu dengan penuh perhatian.

Dan Beng Ko Kouw memang telah berhasil untuk mewarisi seluruh kepandaian gurunya.

Namun waktu dia hendak mempelajari jurus-jurus simpanan dari gurunya tersebut, justeru diwaktu itulah nasib Nie Mo Cu telah tiba pada saat naasnya.

Dia telah terbinasa.

Sebetulnya Beng Ko Kouw bermaksud hendak menuntut balas diwaktu itu juga.

Namun sebagai seorang yang cerdas, segera juga dia menyadarinya, hal itu tidak mungkin untuk dilakukannya, karena jika saja dia keluar untuk menuntut balas.

Malah kemungkinan besar dia sendiri yang akan terbunuh di tangan musuh-musuh gurunya.

Yang paling dibenci Beng Ko Kouw adalah Yo Ko, maka dia juga telah menindih perasaan dendam dan sakit hatinya.

Karena kelak jika dia telah memiliki kekuatan, telah dapat melatih kepandaiannya mencapai puncak kesempurnaan, barulah dia akan muncul untuk menuntut balas.

Karena itu, dia telah berlatih diri terus, hidup bersembunyi di kaki gunung Ko-san, di sebuah lembah selama sepuluh tahun, di mana dia selalu berlatih tanpa mensia-siakan waktunya sedikit pun juga.

Sehingga dia telah memperoleh kemajuan yang pesat sekali.

Setiap hari dia berlatih dengan tekun, jika bukan makan, istirahat dan tidur, maka dia selalu berlatih diri.

Tidak ada suatu pekerjaan yang dilakukannya selain berlatih ilmu silatnya.

Dengan demikian telah membuat Beng Ko Kouw mendapat kemajuan yang sangat pesat sekali, ilmunya telah mencapai tingkat yang bisa diandalkannya.

Malah Beng Ko Kouw pun yakin bahwa dia telah dapat menghadapi lawan-lawannya, karena dia yakin ilmunya sekarang telah terlatih dengan sebaik-baiknya.

Juga di samping itu Beng Ko Kouw telah mempelajari ilmu racun dan juga cara-cara mempergunakan racun yang sangat ampuh sekali.

Dari gurunya dia telah diajarkan cara mempergunakan racun yang paling hebat.

Di samping itu juga Beng Ko Kouw telah dapat mengolahnya ilmu mempergunakan racun itu menjadi semacam ilmu yang luar biasa dahsyatnya.

Sekali saja dia mempergunakannya, maka racun yang dipakainya merupakan racun yang paling ampuh.

Dalam keadaan demikianlah segera tampak Beng Ko Kouw telah mencapai tingkat yang paling bisa diandalkan.

Karena memang dia merupakan orang yang sangal tekun dan cerdas sekali dalam mempergunakan kepandaiannya itu untuk mencapai kemajuan yang benar-benar diinginkannya.

Selama puluhan tahun hidup mengasingkan diri, dan sekarang dia telah menjadi seorang yang tangguh.

Karena yakin bahwa dia telah memiliki kepandaian yang tinggi itulah, dia telah muncul menyelidiki jejak Yo Ko.

Akan tetapi dia tidak berhasil memperoleh keterangan di mana beradanya Yo Ko.

Dia hanya mendengar dari beberapa tokoh persilatan bahwa Yo Ko dan Siauw Liong Lie selain memiliki putera tunggal yang bernama Yo Him, juga mempunyai seorang anak angkat, yaitu si gadis yang selalu berpakaian kuning.

Secara kebetulan sekali, waktu lewat di gunung Heng-san, dia melihat nona Yo itu, yang berpakaian serba kuning, tengah membeli beberapa macam keperluan sayur dan juga beberapa barang lainnya di salah sebuah perkampungan di kaki gunung Heng-san tersebut.

Karenanya segera dia mengikutinya.

Dia melihat ketika mendaki gunung Heng-san, wanita itu memiliki ginkang yang sangat tinggi sekali, tubuhnya dapat bergerak ringan sekali, sehingga dia yakin inilah anak angkat dari Yo Ko.

Setelah yakin orang yang dicarinya ini diketahui jejaknya dan menetap di puncak Heng-san, Beng Ko Kouw tidak segera bertindak.

Dia ingin bertindak perlahan-lahan dan penuh perhitungan, untuk mencapai sukses yang diinginkannya, agar dapat membinasakan lawannya ini.

Walaupun Yo Ko dan Siauw Liong Lie tidak berhasil dicari jejaknya, namun dia menemuinya anak angkat Yo Ko dan Siauw Liong Lie ini, maka jelas inipun cukup memuaskan hatinya jika saja dia dapat membinasakannya.

Dan karena dari itu, dia telah beberapa hari berusaha menyelidiki keadaan wanita she Yo tersebut.

Waktu itu juga dia telah melihat Ko Tie yang berkunjung ke rumah gadis yang selalu berpakaian kuning itu, guru Giok Hoa.

Beng Ko Kouw menduga tentunya Ko Tie salah seorang yang memiliki hubungan dengan Yo Ko dan Siauw Liong Lie juga.

Karenanya Beng Ko Kouw jadi merencanakan lebih hati-hati lagi maksudnya untuk membunuh guru Giok Hoa, Giok Hoa dan Ko Tie.

Dia melihat, kepandaian Giok Hoa memang tinggi dan cukup terampil, tetapi dia tidak memandang sebelah mata, karena gadis itu masih kurang pengalaman.

Tidak demikian dengan guru Giok Hoa, yang dari gerakan tubuhnya saja diketahui gin-kangnya sangat tinggi.

Begitu juga dengan Ko Tie.

Dengan kedatangan pemuda ini, walaupun dia yakin kepandaian Ko Tie tidak lebih tinggi dari kepandaiannya, tokh ini mempersulit juga Beng Ko Kouw untuk mencapai maksudnya.

Akhirnya dia mengambil keputusan untuk membinasakan Giok Hoa lebih dulu.

Itulah sebabnya dia masuk secara diam-diam.

Dia bermaksud untuk membinasakan Giok Hoa, kemudian menghadapi guru Giok Hoa.

Namun siapa tahu, dia tidak berhasil dengan maksudnya itu, karena justeru Giok Hoa memberikan perlawanan dan telah menimbulkan keributan di kamarnya, membuat gurunya dan Ko Tie telah datang.

Dengan demikian gagallah Beng Ko Kouw untuk membunuh Giok Hoa.

Dan sekarang, setelah wanita berpakaian kuning itu, guru Giok Hoa berdiri dengan sikap menantikan serangan darinya, Beng Ko Kouw tidak tinggal diam.

Nie Mo Cu merupakan seorang yang memiliki kepandaian yang sangat beraneka ragam.

Dia memiliki kepandaian yang dahsyat sekali, yang mengandung kesesatan.

Karena itu walaupun bagaimana hebatnya latihan yang dilakukan oleh Beng Ko Kouw untuk melatih lweekang dari aliran lurus, meluruskan juga lweekangnya, namun dia masih gagal.

Semakin tinggi tingkat lweekang yang dicapainya, maka semakin tersesat juga lweekangnya itu.

Sekarang, dia telah berhasil mencapai tingkat lweekang yang bisa menghancurkan batu dengan hanya meremas perlahan saja.

Juga tubuhnya telah kebal.

Kulit tubuhnya dapat dibuat seperti juga sekeras baja atau bata, sehingga jika dia terserang maka kulit itu akan dapat bertahan dari serangan lawannya, malah tangan lawan sendiri yang akan melejit.

Maka sekarang melihat guru Giok Hoa telah bersiap-siap untuk menerima serangan darinya, sedangkan Ko Tie dan Giok Hoa telah berdiri berendeng satu dengan lain di pinggir ruangan.

Beng Ko Kouw tertawa dingin, dia telah mengerahkan lweekangnya pada tingkat yang tinggi, di mana dia juga hendak mempercepat pertempuran yang akan terjadi ini, agar dia dapat cepat-cepat merubuhkan guru Giok Hoa.

Dengan langkah perlahan-lahan, mukanya yang berobah semakin hijau, tampak Beng Ko Kouw telah menghampiri guru Giok Hoa.

Sikapnya mengancam sekali.

Guru Giok Hoa juga yakin bahwa lawannya ini bukanlah lawan yang mudah dihadapi karena dilihat sepintas lalu saja, juga dari sorot matanya yang kebiru-biruan mengandung kesesatan itu, menunjukkan orang ini memang memiliki kepandaian yang tidak bisa dipandang remeh.

Beng Ko Kouw merasakan bahwa waktunya telah tiba.

Tahu-tahu tangan kanannya telah diangkatnya, dia telah memandang kepada guru Giok Hoa dengan sorot mata yang tajam sekali.

Dia bermaksud untuk mencari-cari kelemahan yang ada pada guru Giok Hoa ini, agar sekali menyerang dia tidak akan menemui kegagalan.

Tetapi tengah dia mengawasi begitu, dengan tangan kanan bergerak terangkat perlahan-lahan, guru Giok Hoa justeru telah mengibas.

"Mulailah!"

Bentak guru Giok Hoa, dan suaranya itu tenang sekali, dimana dari kibasan tangannya itu telah meluncur kekuatan tenaga lweekang yang sangat dahsyat sekali, yang telah menyambar kepada lawannya.

Beng Ko Kouw merasakan betapa kuatnya tenaga kibasan tangan guru Giok Hoa, tetapi diapun tidak mau berayal.

Tangan kanannya yang memang telah terangkat itu digerakkan, dia telah menghantam dengan kuat sekali.

Dengan demikian membuat guru Giok Hoa merasakan dadanya itu seperti didesak oleh serangkum angin yang sangat panas sekali, yang membuat napasnya jadi menyesak.

Dalam keadaan seperti inilah segera juga guru Giok Hoa mengempos semangatnya.

Dia telah mengerahkan tenaga dalamnya yang murni, dan juga telah merangkapkan ke dua tangannya.

Tangan kanannya digerakkan dengan cara yang sangat cepat hendak menjambret tangan kiri dari lawannya, tangan kirinya sendiri mendorong dengan gcrakan yang perlahan.

Memang dorongan itu perlahan, namun tenaga yang meluncur keluar dari telapak tangannya sangat kuat sekali, menolak angin pukulan tangan kanan dari Beng Ko Kouw.

Dengan begitu, tanpa berkelit, dan merobah kedudukan kuda-kuda ke dua kakinya, dia telah berhasil menolak tenaga serangan dari Beng Ko Kouw.

Dan juga akibat dorongan tangan dari guru Giok Hoa tersebut, Beng Ko Kouw merasakan menyambarnya gelombang tenaga yang membuat tubuhnya jadi tergetar.

Bukan main terkejutnya Beng Ko Kouw.

Dia tidak menyangka bahwa anak angkat dari Yo Ko memiliki kepandaian yang demikian hebat.

Semula dia hanya menduga, dalam beberapa jurus dia sudah dapat menyelesaikan pertempuran ini.

Namun siapa sangka, lweekang dari anak angkat Yo Ko rupanya tidak lemah dan tidak berada di sebelah bawah lweekangnya.

Jika dilihat dari cara dia menolak tenaga serangan Beng Ko Kouw, maka hal ini memperlihatkan lweekang dari anak angkat Yo Ko merupakan lweekang yang bersih dan lurus, walaupun memang masih terdapat kekurangan sedikit dan berada di bawah tingkat Beng Ko Kouw tokh lweekang itu bersih, sehingga dapat dianggap seimbang.

Telah puluhan tahun Beng Ko Kouw melatih diri dengan giat dan mempergunakan seluruh waktunya untuk memiliki kepandaian yang paling tinggi.

Tetapi siapa sangka, menghadapi anak angkat Yo Ko saja dia tidak berhasil mendesaknya, malah tenaga serangannya itu dapat dipunahkan begitu mudah oleh anak angkat Yo Ko.

Namun Beng Ko Kouw yang memang telah melatih diri dengan giat dan kini memiliki kepandaian tinggi, tidak mau menyerah begitu saja.

Waktu dia merasakan kuda-kuda ke dua kakinya hampir tergempur dan dia akan mundur terhuyung, cepat-cepat dia menancapkan ke dua kakinya kuat-kuat.

Dia mengerahkan tenaga dalamnya pada ke dua kakinya, tahu-tahu tubuhnya menjengkang ke belakang, membarengi dengan itu, segera juga dia telah menjeblak bangun lagi, kemudian menghantam sekaligus dengan ke dua telapak tangannya.

Guru Giok Hoa sama sekali tidak menyangka akan terjadi hal seperti itu, karena apa yang dilakukan oleh Beng Ko Kouw merupakan kejadian yang terlalu berani, di mana Beng Ko Kouw seperti juga tidak memperdulikan keselamatan dirinya.

Dia seakan juga hendak mempertaruhkan jiwanya, mengajak guru Giok Hoa mengadu jiwa.

Karena itu, dia cepat-cepat menarik pulang tangannya, untuk berputar di tempatnya, tubuhnya doyong ke kiri dan ke kanan, dia telah menyampok ke arah samping, berusaha memunahkan tenaga lawannya tersebut.

Apa yang dilakukannya itu merupakan cara yang paling baik buat guru Giok Hoa, karena dengan cara berputar seperti itu, dia telah membuat desakan tenaga serangan dari Beng Ko Kouw jadi lenyap dan punah, karena tidak mengenai sasarannya.

Dan juga berbareng dengan itu dia menyerang dengan cara menyampok ke samping.

Itulah cara yang benar-benar cepat sekali, tepian telapak tangannya telah menyambar ke arah iga Beng Ko Kouw.

Hanya saja Beng Ko Kouw yang memang telah berlaku nekad, diwaktu mengetahui lawannya memiliki kepandaian yang tinggi.

Dia bermaksud merubuhkannya dengan cepat, tidak memperdulikan hantaman tepian telapak tangan guru Giok Hoa, dia membiarkan hantaman itu mengenai iganya.

Kemudian dia telah menghantam pundak guru Giok Hoa.

"Bukkkk!"

Kuat sekali pundak guru Giok Hoa terkena hantamannya.

Giok Hoa yang melihat gurunya terhajar seperti itu, jadi mengeluarkan seruan kuatir dan hendak melompat.

Sedangkan Ko Tie yang berdiri di sampingnya juga telah ingin melompat untuk menolongi guru Giok Hoa.

Namun dia tidak jadi melompat, karena melihat guru Giok Hoa hanya mundur satu langkah ke belakang, dengan muka yang agak pucat, tokh tidak sampai rubuh.

Sedangkan Beng Ko Kouw juga rupanya mengalami hal yang kurang menggembirakan!

Semula Beng Ko Kouw yakin, walaupun tepian telapak tangan guru Giok Hoa menghantam iganya, tokh pukulan itu tidak akan membuatnya terluka.

Karena dia telah membuat kulit tubuhnya di bagian tersebut jadi kebal dan kuat sekali, buat menerima hantaman tersebut.

Namun, waktu tepian telapak tangan anak angkat Yo Ko ini mengenai sasarannya, dia merasakan tepian tangan itu seperti tajamnya mata pisau, membuat kekebalan tubuhnya seperti juga dipunahkan.

Dan dia merasa kesakitan yang bukan main, sampai membuat kuda-kuda ke dua kakinya tergoncang, dan dia terhuyung mundur satu langkah.

Dilihatnya selintas lalu, lweekang dari Beng Ko Kouw dan anak angkat Yo Ko, memang setingkat.

Yang satu melatih lweekang yang sesat, sedangkan yang satunya lagi lweekang bersih dan lurus.

Walaupun memang sesungguhnya Beng Ko Kouw memiliki lweekang yang mungkin menang seraut dari lweekangnya anak angkat Yo Ko, tokh lweekangnya merupakan lweekang yang sesat.

Dengan demikian membuat lweekang guru Giok Hoa yang lurus dan bersih itu dapat juga menutupi kekurangannya.

Itulah sebabnya mereka yang ke duanya telah masing-masing kena dihantam, jadi saling mundur terhuyung satu langkah.

Muka guru Giok Hoa waktu itu agak pucat.

Dia mengetahui bahwa tenaga dalamnya tergempur oleh pukulan Beng Ko Kouw.

Dia merasakan pundaknya sakit sekali, tetapi dia cepat-cepat mengerahkan tenaga dalamnya, guna mengurangi rasa sakit itu dan melancarkan kembali peredaran darah di bagian pundaknya.

Dalam keadaan seperti itu Beng Ko Kouw pun tidak tinggal diam.

Setelah rasa sakit pada iganya berkurang, dengan mengeluarkan suara raungan, dia telah menerjang kepada guru Giok Hoa.

Anak angkat Yo Ko ini tidak berani berayal.

Dia menyadari lawannya seorang yang memiliki kepandaian tinggi dan lweekang yang terlatih baik sekali, walaupun sesat.

Karena itu guru Giok Hoa ini segera mengempos semangatnya.

Dia berdiri tegak mengawasi datangnya terjangan dari lawannya.

Dilihatnya juga sepasang tangan dari Beng Ko Kouw telah berkesiuran menyambar kepadanya cepat sekali, mengeluarkan hawa yang sepanas api.

Maka dia juga mengangkat ke dua tangannya, bersiap-siap hendak mendorong, untuk mengadu kekuatan tenaga dalamnya, menghadapi keras dilawan keras.

Namun waktu guru Giok Hoa mendorong tangannya, aneh sekali Beng Ko Kouw menarik pulang ke dua tangannya, tahu-tahu dia menekuk ke dua tangannya.

Tubuhnya berjumpalitan di tengah udara, kemudian dia mengibaskan tangan kanannya.

"Wuttt..... wuttt..... serrr..... serrr....."!"

Terdengar sambaran yang sangat kuat sekali ke arah guru Giok Hoa, disusul berkelebatnya beberapa titik sinar yang menyambar ke berbagai tubuh guru Giok Hoa.

Tetapi dasarnya memang anak angkat Yo Ko ini memiliki kepandaian yang sangat tinggi dan juga mata yang awas sekali, ketika melihat menyambarnya titik-titik sinar itu, segera juga dia mengibaskan lengan bajunya.

Dia telah berhasil menyampok beberapa batang jarum yang semula menyambarnya dengan kuat sekali.

Dan jarum-jarum itu dua batang jatuh di lantai, sedangkan yang sebatang lagi menancap di dinding papan di sebelah kanannya.

Hanya yang luar biasa mengejutkan, begitu jarum tersebut nancap di dinding papan itu, papan di sekitarnya menjadi hitam hangus!

Menggidik guru Giok Hoa melihat itu, karena dia menyadari jarum itu ternyata sangat beracun sekali.

Sedangkan Ko Tie bukan main gusarnya.

"Manusia rendah!"

Kutuknya.

"Ya..... dia mempergunakan senjata rahasia beracun!"

Menggumam Giok Hoa dengan suara yang berkuatir sekali.

Rupanya sekarang guru Giok Hoa juga sudah habis sabar.

Dia menyadari murid Nie Mo Cu itu seorang yang berhati busuk dan rendah.

Karena itu dia tidak akan sungkan-sungkan lagi menghadapinya.

Segera juga, dengan gerakan yang hampir sulit dilihat oleh mata, tangannya telah mencabut pedang dari balik kunnya.

Dia bersiapsiap menghadapi lawannya dengan Giok-lie-kiam-hoat nya!

Beng Ko Kouw yang melihat guru Giok Hoa mencabut pedang, segera dia menyadari, akan lebih sulit merubuhkan lawannya ini.

Karena dia tahu, anak angkat Yo Ko ini pasti akan mempergunakan ilmu pedang Giok-lie-kiam-hoat!

Karena, memang Beng Ko Kouw sering juga dengar bahwa Yo Ko dan Siauw Liong Lie memiliki ilmu pedang Giok-lie-kiam-hoat yang hebat, sampai pun jago-jago Mongolia yang pernah bertempur dengannya jadi mengakui tunduk terhadap hebatnya ilmu pedang itu.

Tetapi Beng Ko Kouw tidak jeri.

Dia segera mencabut senjatanya juga.

Ternyata senjata Beng Ko Kouw sebuah senjata yang sangat aneh sekali.

Seutas rantai besi, yang setiap sisi dari sambungan rantai itu memiliki beberapa mata besi yang tajam sekali dan berwarna kebiru-biruan, menunjukkan setiap mata besi itu mengandung racun.

Gandulan rantai besi itu juga aneh bentuknya, memiliki bentuk lima persegi, dengan setiap sudut seginya itu menonjol besi tajam, semacam gigi-gigi roda.

Dengan demikian, setiap kali rantai tersebut digunakan, pasti akan membuat lawannya itu terdesak hebat oleh hawa racun yang terpancar dari rantai luar biasa tersebut.

Diwaktu itu, Beng Ko Kouw sudah tak mau membuang-buang waktu lagi, rantainya telah digerakkan menyambar ke sana ke mari kepada guru Giok Hoa, bagaikan seekor naga yang mengincar mangsanya.

Dengan mengandalkan gin-kangnya, guru Giok Hoa telah berkelit ke sana ke mari.

Entah berapa kali, gigi-gigi dari gandulan rantai tersebut telah menancap di dinding papan.

Dan Setiap kali menancap, maka dinding papan itu menjadi hangus dan retak.

Dengan demikian guru Giok Hoa menyadarinya bahwa rantai Beng Ko Kouw merupakan senjata yang tidak boleh dipandang ringan olehnya.

Sambil bersiul nyaring tampak guru Giok Hoa telah menggerakkan pedangnya, dia memutarnya dengan cepat sekali, menyambar ke sana ke mari.

Dengan gerakannya yang lemah gemulai, jelas guru Giok Hoa telah mengeluarkan Giok-lie-kiam-hoat tingkat yang tertinggi, sehingga tubuhnya seperti juga tengah menari, di mana pedangnya berkelebat-kelebat dalam bentuk gulungan sinar yang telah mengancam bagian-bagian berbahaya di tubuh Beng Ko Kouw.

Cuma saja, memang waktu itu Beng Ko Kouw pun telah mengeluarkan kepandaiannya yang dapat diandalkan, dan juga rantainya yang luar biasa itu merupakan rantai yang tidak bisa diremehkan.

Baca Juga: Rahasia Si Badju Perak 5

Baca Juga: Pedang Darah Bunga Iblis 9

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert