Eps 4 Anak Rajawali - Chin Yung
Baca online Anak Rajawali - Chin Yung
Cersil Anak Rajawali - Chin Yung.
Punggung Bun Kie Lin kena dihantamnya, tetapi hantaman itu tidak membuat Bun Kie Lin menangkis atau mengelak, juga walaupun punggungnya telah kena dihantam, dia tidak sampai terjungkal.
Malah yang luar biasa, wanita berpakaian putih yang menyerangnya, telah menjerit kesakitan sambil memegangi tangan kanannya yang segera membengkak.
Dengan muka yang berobah pucat, dia juga telah melompat ke dekat wanita setengah baya itu.
Dia berdiri dengan muka yang meringis.
Sedangkan wanita setengah baya itu dengan gusar membentak.
"Mari kita binasakan mereka semua.....!"
Dan setelah berkata begitu, mereka dengan serentak, telah melompat ke dekat Yo Him dan Sasana.
Sedangkan Giok Hoa dilindungi oleh Yo Him dan Sasana berada di tengah-tengah.
Sama sekali gadis cilik itu tidak gentar, karena dia yakin bahwa Yo Him dan Sasana memiliki kepandaian yang sangat tinggi sekali, yang mungkin tidak bisa dihadapi oleh lawanlawannya itu.
Yo Him dan Sasana waktu melihat terjangan dari wanita setengah baya itu, yang telah menggunakan tongkat buntungnya buat menghantam ke pundak Yo Him, segera juga berseru.
"Turun tangan keras, kita tidak perlu sungkan-sungkan terhadap mereka!"
Sambil berteriak begitu menganjurkan Sasana untuk turun tangan keras tanpa sungkan-sungkan lagi, Yo Him juga telah menghantam dengan tangan kanannya, mengerahkan sebagian besar tenaga, sehingga membuat nenek tua itu terhuyung mundur.
Yo Him menghela napas dalam-dalam, kemudian mengawasi dengan sikap yang angker kepada wanita setengah baya itu, katanya.
"Sekali ini aku bebaskan kalian buat angkat kaki, tetapi di lain waktu, jika kalian mengganggu pula kami, hemmm, hemmmm, jangan harap kepala kalian itu bisa utuh.....!" Wanita setengah baya itu rupanya memang menyadari bahwa tidak mungkin dia bersama cucu-cucunya untuk melakukan perlawanan lagi, karenanya dia memutuskan buat mengajak cucucucunya untuk berlalu meninggalkan tempat itu.
"Baiklah, tetapi ingatlah, suatu saat kami akan datang buat memperhitungkan semua ini.....!"
Kata wanita setengah baya itu dengan suara mengandung kebencian yang sangat.
"Dan kau, engkau akan kubunuh dalam suatu kesempatan yang ada kelak!"
Kata-kata terakhir itu ditujukan kepada Bun Kie Lin.
Memang sebelum kedatangan Yo Him beramai, rupanya wanita setengah baya ini telah tiba lebih dulu bersama-sama dengan cucu-cucunya itu.
Dan dia telah memaksa Bun Kie Lin buat menolongi beberapa orang cucunya, yang telah mengalami luka yang tidak ringan, yaitu mengalami luka di mana mereka itu terkena semacam racun, yang akhirnya akan membuat lweekang mereka musnah.
Tetapi Bun Kie Lin tetap saja tidak bersedia menolongi mereka.
Bahkan Bun Kie Lin telah menolak dengan ketus tidak mau bertemu dengan mereka.
Walaupun wanita setengah baya itu memaksa dengan kekerasan, tetap saja Bun Kie Lin tidak mau melayani mereka.
Setiap kali wanita setengah baya itu bersama cucu-cucunya hendak menerjang masuk ke dalam goa, maka Bun Kie Lin telah membendung mereka dengan hantaman telapak tangan atau juga lontaran senjata rahasianya.
Dengan begitu, wanita setengah baya itu jadi tidak berdaya, dan terpaksa telah mundur dan menanti di luar goa selama beberapa hari, dengan harapan bahwa Bun Kie Lin akhirnya akan merobah keputusannya dan bersedia buat membantu mereka, menolong untuk mengobati luka yang diderita oleh cucu-cucunya tersebut.
Akan tetapi selama beberapa hari itu, justeru Bun Kie Lin malah tidak memperdulikan mereka, dan tetap berwaspada.
Setiap kali wanita setengah baya tersebut ingin menerjang masuk, maka dia akan membendungnya dengan hujan senjata rahasia, memaksa wanita setengah baya itu tidak berdaya untuk memaksanya terus.
Dikala itulah Yo Him bersama dengan Sasana dan Giok Hoa membawa Hok An ke tempat tersebut, bertemu dengan wanita setengah baya itu.
Hal ini membuat mereka bertempur, dengan berhasilnya Yo Him memukul mundur mereka.
Rupanya wanita setengah baya itu sebelum kedatangan Yo Him ke tempat tersebut, untuk melampiaskan kemendongkolan mereka, semua anak buah dari Bun Kie Lin, yang khusus untuk melayaninya mencari makanan, telah dibinasakan semua oleh wanita setengah baya itu.
Dengan demikian mereka mengharapkan Bun Kie Lin akhirnya tokh harus keluar dari goanya, karena dia tidak memiliki makanan.
Tidak mungkin Bun Kie Lin dapat mengurung diri terus menerus di dalam goa itu, karena tokh akhirnya dia akan kelaparan dan keluar dari goa.
Keadaan seperti itu berlangsung selama beberapa hari, namun waktu usaha dari wanita setengah baya itu hampir berhasil, justeru muncul Yo Him beramai, sehingga membuat wanita setengah baya itu menumpahkan kemendongkolan dan kemarahannya kepada Yo Him beramai.
Akan tetapi Yo Him dan Sasana memiliki kepandaian yang sangat tinggi sekali.
Mereka yang telah dapat dipukul mundur.
Wanita setengah baya itu tetap tidak berlalu, bersama dengan cucu-cucunya mereka memperhatikan apa yang dilakukan Yo Him, sampai akhirnya Yo Him dapat "memaksa"
Bun Kie Lin mengobati Hok An.
Melihat Bun Kie Lin mau mengobati Hok An, malah memaksa hendak mengobati, walaupun Yo Him melarangnya, dan walaupun wanita setengah baya itu mengetahuinya bahwa hal itu memang tipu daya dari Yo Him yang liehay, tokh tidak urung wanita setengah baya itu meluap hawa amarahnya.
Dia bermaksud hendak membinasakan Bun Kie Lin.
Dan apes bagi mereka, karena Yo Him benar-benar memiliki kepandaian yang tinggi sekali, berada di atas tingkat kepandaian mereka sehingga merekapun dapat dilukai lagi oleh Yo Him.
Setelah berkata begitu, wanita setengah baya itu memutar tubuhnya untuk mengajak cucu-cucunya berlalu.
Dan juga, para wanita berpakaian serba putih itu telah mengikuti nenek mereka meninggalkan tempat itu.
Giok Hoa yang melihat wanita setengah baya itu mengajak cucucucunya berlalu, dia telah tertawa.
Katanya.
"Hemmm, galak-galak akhirnya sipat ekor juga.....!"
Bukan main marahnya wanita setengah baya itu, akan tetapi tokh dia menyadari bahwa dia tidak mungkin dapat menghadapi Yo Him yang berkepandaian sangat tinggi itu, karenanya, setelah melirik mendelik kepada Giok Hoa, diapun melanjutkan langkahnya meninggalkan tempat itu.
Setelah melihat wanita setengah baya itu bersama-sama dengan cucunya telah berlalu, maka Yo Him menghela napas lega.
Ketika matahari pagi muncul dan keadaan di depan goa dari Bun Kie Lin terang benderang, maka tampak jelas bahwa Bun Kie Lin sangat letih sekali.
Selama semalaman itu dia telah beberapa kali menguruti terus menerus pada Hok An, sehingga boleh dibilang dia sama sekali tidak memiliki kesempatan buat beristirahat.
Yo Him dan Sasana telah melompat berdiri dari duduk mereka, membiarkan Giok Hoa masih meringkuk tertidur nyenyak.
Sepasang suami isteri tersebut telah menghampiri Bun Kie Lin yang tengah duduk terpekur mengawasi Hok An.
"Hemmm, sudah kukatakan bahwa engkau tidak mungkin bisa menyembuhkan luka pada diri kawanku itu..... kau masih bicara besar..... sekarang buktinya saja, engkau telah gagal dan kawanku itu masih pingsan tidak sadarkan diri.....!"
Mengejek Yo Him.
Mendengar perkataan Yo Him itu, Bun Kie Lin tidak menoleh, juga dia tidak menyahuti, tetap duduk terpekur mengawasi Hok An sampai akhirnya dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Baru kemudian dia menggumam.
"Hemm, dia telah sembuh benarbenar..... sudah tidak ada yang perlu kulakukan lagi!"
Setelah berkata begitu Bun Kie Lin menotolkan jari-jari tangannya pada tanah, tubuhnya segera melesat cepat sekali ke samping, duduk tetap bersila menghadapi Yo Him, katanya lagi.
"Dia telah sembuh, besok kesehatannya telah pulih sebagaimana biasa! Jika dia beristirahat beberapa hari, tentu dia akan sehat kembali tidak kurang suatu apapun juga.....!"
Setelah berkata begitu, tampak Bun Kie Lin hendak menotol kembali tanah dengan jari tangannya, tetapi Yo Him melompat kepadanya katanya.
"Kau jangan pergi dulu..... aku tidak akan mengijinkan engkau pergi!"
Bola mata dari Bun Kie Lin mencilak-cilak tidak hentinya, kemudian dia telah berkata dengan suara mengandung perasaan tidak senang.
"Mengapa tidak boleh pergi?!" "Bukankah telah kukatakan, bahwa engkau akan kubuat cacad. Sekarang sebelum kau bisa membuktikan bahwa kawanku itu telah sembuh, jangan harap engkau akan kulepaskan begitu saja.....!"
Bun Kie Lin telah memandang dengan sikap tidak tenang, malah kemudian dia bilang dengan suara yang bengis sekali.
"Hemm, engkau manusia tidak tahu berterima kasih.....!!"
"Ya..... tetap aku akan membuktikan perkataanku itu, bahwa engkau tidak akan kulepaskan, engkau akan kubuat bercacad, karena engkau tetap tidak kuijinkan menyentuh kawanku, tetap engkau sengaja ingin mengobatinya. Sekarang terbukti bahwa kawanku ini masih pingsan, dia belum lagi diketahui tertolong atau tidak! Dan juga engkau telah berjanji, jika engkau telah mengobati kawanku itu, maka engkau akan bersedia main-main denganku sebanyak ratusan jurus!"
Setelah berkata begitu, Yo Him mengibaskan tangannya, ia memang bermaksud hendak merintangi kepergian Bun Kie Lin.
Karena Yo Him kuatir Hok An benar-benar belum bisa ditolong sepertinya, di mana dia masih tertidur nyenyak.
Jika memang nanti lukanya itu kumat kembali, sedangkan Bun Kie Lin sudah tidak berada di tempat itu, bukanlah hal yang itu akan membuatnya jadi sibuk kembali?
Karenanya Yo Him sengaja mencari alasan seperti itu, dengan maksud hendak merintangi kepergian dari Bun Kie Lin.
Bun Kie Lin mengawasi Yo Him dengan sorot mata yang tajam, kemudian katanya.
"Ya memang benar..... engkau memang bukan manusia yang mengenal budi, dan akupun bersedia melayani engkau sebanyak ratusan jurus.....!"
Setelah berkata begitu, dia mengibaskan tangannya, katanya.
"Nah, majulah!"
Tetapi Yo Him menggeleng.
"Engkau telah letih, karena engkau baru saja mempergunakan lweekangmu itu buat menolongi kawanku, dan engkau belum lagi pulih kesegaranmu! Jika memang kita bertempur sekarang, walau tokh aku bisa merubuhkan engkau dengan mudah, tentu hal itu akan membuat engkau penasaran sekali, dan tidak akan menerimanya dengan hati yang puas. Disebabkan inilah aku ingin membiarkan engkau beristirahat dulu, agar semangat dan tenagamu pulih kembali!"
Bun Kie Lin mendelik mengawasi Yo Him lalu tanyanya.
"Apa yang engkau inginkan?" "Aku hendak melihat dulu, guna membuktikan apakah perkataanmu itu benar, bahwa engkau sanggup mengobati luka kawanku itu..... dan juga terpenting aku tidak akan membiarkan engkau berlalu sebelum engkau bercacad!"
Bola mata Bun Kie Lin mencilak-cilak, sampai akhirnya dia telah bilang dengan suara yang tawar.
"Baik-baik! Baik-baik! Aku akan berdiam disini, sampai nanti kawanmu itu telah tersadar benar dan memperlihatkan bahwa aku benar-benar dapat menyembuhkannya!"
Dan setelah berkata begitu, segera juga Bun Kie Lin menotol lagi tanah dengan ujung jari tangannya, tubuhnya melesat sangat ringan, ke samping Hok An pula.
Waktu itu Hok An masih tertidur nyenyak, dia telah memperlihatkan sikap yang tidak menderita kesakitan lagi, wajahnya tampak memerah mulai sehat, dan bengkak-bengkak pada sekujur tubuhnya pun telah lenyap.
Dengan demikan membuat Yo Him girang bukan main, berhasil menahan kepergian Bun Kie Lin.
Yo Him telah kembali ke bawah pohon, menghampiri Sasana dan Giok Hoa.
Sedangkan Ho Sin-se tidak sabar telah berdiri.
"Yo Kongcu, dia telah sembuh!"
Kata Ho Sin-se sambil menunjuk kepada Hok An, yang masih tertidur itu.
Maksud Ho Sin-se, dia ingin sekali buat mengambil hati Bun Kie Lin karena dia mengharapkan kemungkinan besar dapat membujuknya nanti agar Bun Kie Lin mau menurunkan kepandaian ilmu pengobatannya kepadanya.
Yo Him hanya mendengus saja.
"Sesungguhnya, jika memang Sin-se ini pergi, juga kawanmu ini telah sembuh benar.....!"
Kata Ho Sin-se lagi. Tetapi Yo Him tidak memperdulikannya, di waktu itu terlihat bahwa Bun Kie Lin telah menoleh kepada Ho Sin-se, katanya.
"Apakah engkau mengerti ilmu pengobatan juga??"
Cepat-cepat Ho Sin-se merangkapkan sepasang tangannya. Dia menjura memberi hormat. Katanya.
"Dalam persoalan ilmu pengobatan sesungguhnya aku hanya mengerti sedikit-sedikit, tidak seperti kau yang bagaikan Tabib Dewa saja, yang dapat menyembuhkan penyakit dari orang ini dalam waktu yang sangat singkat. Walaupun orang tersebut menderita luka yang demikian parah!"
Setelah berkata begitu, segera juga Ho Sin-se membungkuk dalam-dalam memberi hormat, katanya.
"Jika memang tidak keberatan, mau aku menjadi pengikutmu, untuk mempelajari ilmu pengobatan."
"Cusss....."
Tiba-tiba Bun Kie Lin meludah, katanya dengan bola mata yang mencilak-cilak.
"Hemmm, enak saja engkau bicara, apakah engkau ini hendak meminta aku menjadi gurumu?"
Sambil tersenyum nyengir, tampak Ho Sin-se telah berkata.
"Tetapi walaupun Sin-se tidak bermaksud menurunkan kepandaianmu itu secara resmi dan tidak bermaksud mengangkat murid, akupun tidak keberatan menjadi pelayanmu, yang akan membantu Sin-se untuk meramu obat-obatan......!"
Bun Kie Lin tersenyum dingin, dia telah mengawasi Ho Sin-se beberapa saat lamanya, kemudian baru berkata dengan suara yang tawar.
"Baiklah jika engkau mau menjadi pelayanku, aku akan menerimanya, karena memang beberapa orang pelayanku telah dibinasakan oleh wanita setengah baya yang berpakaian serba putih itu. Engkau akan melayani segala kebutuhanku....." Bukan main girangnya Ho Sin-se, segera juga dia menjatuhkan diri berlutut di hadapan Bun Kie Lin, diapun telah menganggukanggukkan kepalanya berulang kali.
"Tentu saja tecu bersedia untuk menjadi pelayan Sin-se..... semua tugas yang akan diberikan Sin-se, tecu akan lakukan sebaikbaiknya....."
Bun Kie Lin mengangguk, dia melirik kepada Yo Him, bertiga dengan Sasana dan Hok An, yang masih duduk di bawah pohon itu. Kemudian katanya dengan suara yang nyaring.
"Kawanmu ini bermaksud hendak menjadi pelayanku, apakah engkau tidak keberatan?"
Yo Him tersenyum saja, dia tidak menyahuti. Melihat sikap Yo Him seperti itu, segera juga Bun Kie Lin menegur lagi.
"Hei, aku bertanya kepadamu, apakah kau mengijinkan aku mengambil kawanmu untuk menjadi pelayanku?"
"Urusan itu tidak ada sangkut pautnya denganku. Jika memang dia bersedia menjadi pelayanmu, mengapa aku harus melarangnya?" Bun Kie Lin tersenyum.
"Baiklah, biarlah aku menerimanya menjadi pelayanku! Nah, mulai detik ini engkau resmi menjadi pelayanku dan selanjutnya engkau harus patuh terhadap semua perintahku!"
Ho Sin-se cepat-cepat mengiyakan sambil mengangguk, diapun kemudian berkata.
"Tentu, tentu saja Sin-se. Semua perintah Sinse akan kulakukan dengan senang hati."
"Nah, ini adalah perintahku yang pertama dan harus engkau lakukan dengan sebaik-baiknya,"
Kata Bun Kie Lin kemudian.
"Dengarlah baik-baik, aku akan perintahkan kepadamu melakukan sesuatu!"
"Katakanlah Sin-se.....!"
Kata Ho Sin-se kemudian dengan bersemangat.
"Kau harus menyingkirkan orang-orang itu.....!"
Kata Bun Kie Lin sambil tunjuk Yo Him dan Sasana.
"Engkau harus menyingkirkan mereka agar tidak menggangguku lagi! Jika memang engkau berhasil, aku akan mewarisi satu dari sekian banyak ilmu pengobatanku, yang sekiranya akan membawa suatu keuntungan tidak kecil buatmu.....!"
Ho Sin-se jadi tertegun memandang bengong kepada Bun Kie Lin, mukanya berobah pucat dan tampaknya dia bingung sekali.
Dia telah memandang Bun Kie Lie dan kemudian beralih kepada Yo Him dan Sasana.
Dia jadi bingung, entah apa yang harus dilakukannya.
Apa yang telah diperintahkan Bun Kie Lin merupakan perintah yang tidak pernah disangka-sangkanya.
Semula dia menduga bahwa dia hanya akan diperintahkan untuk pergi mengambil daun obat-obatan belaka.
Siapa tahu justeru dia telah diperintahkan untuk menyingkirkan Yo Him dan Sasana.
Mana mungkin dia sanggup melakukan perintah itu untuk menyingkirkan Yo Him dan Sasana?
Karena itu, Ho Sin-se sendiri tidak mengetahui entah jawaban apa yang harus diberikannya.
Setelah berdiam diri sejenak lamanya, diapun berkata dengan suara yang ragu-ragu.
"Untuk urusan ini..... sesungguhnya..... sesungguhnya......"
Bun Kie Lin tertawa tawar, kemudian katanya.
"Kenapa? Apakah perintah yang kuberikan itu sangat sulit sekali?!"
Ho Sin-se menelan air liurnya, kemudian mengangguk ragu.
"Ya..... sulit sekali buatku melaksanakan perintah itu....."
Kata Ho Sin-se kemudian.
"Aku aku tidak memiliki kepandaian apa-apa, aku tidak mengerti ilmu silat, sehingga mana mungkin aku bisa menghadapi mereka yang berkepandaian begitu tinggi?!"
Bun Kie Lin tertawa dingin, kemudian katanya.
"Bagaimana mungkin engkau menjadi pelayanku sedangkan untuk menjalankan perintahku yang pertama saja engkau tidak dapat dan tidak sanggup melakukannya.....?"
Setelah berkata begitu, matanya mendelik.
"Kau mau menjadi pelayanku atau tidak? Jika engkau telah menjadi pelayanku dan tidak melaksanakan perintahku, maka engkau akan memperoleh hukuman yang berat dariku!"
Ho Sin-se benar-benar jadi bingung.
Dia mengiler sekali buat mengetahui ilmu pengobatan yang dimiliki oleh Bun Kie Lin, di mana dia mengiler untuk menerima warisan ilmu pengobatan itu.
Namun siapa tahu, justeru dia telah memperoleh perintah yang membuatnya jadi berada dalam kesulitan yang tidak kecil.
Karena itu, dia telah memandang dengan sikap ragu kepada Bun Kie Lin, antara maju dan mundur.
Jika dia maju, berarti dia menerima perintah Bun Kie Lin dan dia harus berusaha untuk menyingkirkan Yo Him dan Sasana.
Tetapi dia mana memiliki kepandaian untuk menyingkirkan ke dua orang itu?
Namun jika dia tidak menyanggupi perintah dari Bun Kie Lin, berarti dia tidak jadi diterima Bun Kie Lin sebagai pelayannya, berarti juga kepandaian ilmu pengobatan Bun Kie Lin tidak mungkin diwarisi.
"Bagaimana? Apakah engkau ingin .membatalkan permintaanmu agar aku menerima engkau sebagai pelayanku?!"
Tanya Bun Kie Lin.
"Jika engkau ingin membatalkan niatmu itu, engkau masih memiliki kesempatan yang luas. Tetapi jika tidak, dan engkau tetap bertekad hendak menjadi pelayanku, maka engkau selalu harus patuh melaksanakan perintahku itu, dengan sebaik-baiknya! Sekali saja engkau membangkang, maka aku akan menghukum dirimu.....!"
Ho Sin-se jadi tambah ragu-ragu, namun akhirnya dia mengangguk nekad.
"Baiklah, aku menerima perintah!"
Kata Ho Sin-se, diapun telah memutar tubuhnya, kemudian melangkah menghampiri Yo Him dan Sasana.
Setelah berada di hadapan Yo Him, Ho Sin-se merangkapkan sepasang tangannya, dia memberi hormat sambil berkata dengan nada memohon.
"Harap Yo Kongcu mau menolongku, agar tidak mempersulit diriku! Maukah Kongcu menolongku?!"
"Menolong bagaimana?!"
Tanya Yo Him sambil tersenyum, padahal dia mengerti, tentunya Ho Sin-se ini ingin meminta mereka berlalu.
"Menolongku agar majikanku itu melihat engkau berlalu dari tempat ini, agar dia menerimaku menjadi pelayannya! Dengan menjadi pelayannya, aku akan diwarisi ilmu pengobatannya, yang kelak dapat kupergunakan buat menolong manusia lainnya yang membutuhkan pengobatan dariku..... dan..... maukah Yo Kongcu menolongku?!"
Yo Him tersenyum lagi, kemudian katanya.
"Sayang sekali aku tidak bisa menolongmu, karena walaupun bagaimana aku tidak bisa membawa-bawa kawanku yang tengah dalam keadaan belum sembuh benar..... sedangkan sembuh atau tidaknya kawanku itu belum lagi kuketahui dengan pasti! Tunggulah sampai kawanku itu sembuh, barulah aku akan angkat kaki tanpa mengganggu orang she Bun itu."
Mendengar perkataan Yo Him, wajah Ho Sin-se berobah berseriseri, dia kemudian telah berkata dengan suara yang mengandung kegembiraan.
"Baiklah! Terima kasih Kongcu, aku akan berusaha menjelaskan kepada majikanku itu, agar dia mau mengerti!"
Dan setelah berkata begitu, cepat-cepat Ho Sin-se kembali ke tempat di depan Bun Kie Lin, kemudian katanya.
"Sin-se, aku telah melaksanakan perintah!"
Bola mata Bun Kie Lin mencilak-cilak memandang tidak senang pada Ho Sin-se.
"Hemmm, apa yang kau lakukan? Bukankah ke dua orang itu masih tidak pergi dari tempat ini? Mereka masih berada di situ?!"
Ho Sin-se nyengir dan katanya.
"Jangan marah Sin-se, sesungguhnya mereka akan pergi meninggalkan tempat ini tanpa mengganggu ketenangan Sin-se. Tetapi justeru mereka tengah menguatirkan kawan mereka yang masih belum sadarkan diri. Janji mereka, begitu kawan mereka siuman, segera mereka akan meninggalkan tempat ini.....!"
"Hemmm!"
Mendengus Bun Kie Lin tanpa mengatakan suatu apapun juga. Ho Sin-se jadi salah tingkah. "Sin-se, dengarlah dulu.....!"
Tetapi belum lagi Ho Sin-se berkata selesai, justeru Bun Kie Lin telah memotongnya, katanya.
"Jika memang engkau tidak bisa melaksanakan perintahku, engkau akan kuhukum! Dan, apa bunyinya perintahku tadi?!"
Ho Sin-se jadi tambah salah tingkah, namun akhirnya dia berkata juga ragu-ragu.
"Sesungguhnya Sin-se, mereka memang mau pergi sekarang juga..... tetapi mereka meminta kebijaksanaan Sinse, menanti sampai kawan mereka itu sembuh dan tersadar.....!"
"Hemm, aku tidak mau tahu! Tetapi apa bunyinya perintahku tadi? Jawab!"
"Sin-se perintahkan agar aku mengusir ke dua orang itu!"
Menyahuti Ho Sin-se dengan kepala tertunduk dalam-dalam.
"Lalu, apa kau telah melaksanakan perintahku itu?"
Tanya Bun Kie Lin dengan suara yang meninggi.
"Sudah!"
Menyahuti Ho Sin-se dengan kepala mengangguk raguragu.
"Tetapi..... tetapi....."
Dan berkata sampai di situ dia berdiam sejenak, dan kemudian berkata dengan suara tambah ragu.
"Mereka pasti pergi..... tetapi memohon kebijaksanaan Sin-se.....!" "Hemm, tidak bisa aku memberi pengampunan kepadamu, aku akan segera menghukummu!"
Kata Bun Kie Lio sambil memperlihatkan sikap akan segera menggerakkan tangannya. Ho Sin-se jadi gugup.
"Tunggu dulu Sin-se..... tunggu dulu.....!"
Gugup bukan main tampaknya Ho Sin-se.
"Kalau..... kalau begitu aku batal saja menjadi pelayanmu.....!"
"Kau batal menjadi pelayanku?!"
Tanya Bun Kin Lin sambil mendelik. Ho Sin-se mengangguk ragu katanya.
"Ya, ya, aku batal menjadi pelayan Sin-se, karena jika tokh aku menjadi pelayanmu, aku akan memperoleh kesulitan oleh sikap Sin-se yang luar biasa ini. Biarlah, aku tidak jadi untuk menghamba kepadamu, biarlah aku tidak bisa memperoleh kepandaian yang kukehendaki, yaitu ilmu pengobatan. Tetapi yang terpenting aku batal untuk menjadi pelayanmu, dari pada menjadi pelayanmu, tetapi membawa kecelakan buat diriku!"
Bola mata Bun Kie Lin memain lagi tidak henti, dan kemudian katanya.
"Baiklah, jika memang engkau menarik diri tidak menjadi pelayanku, akupun tidak akan menghukummu lagi!"
Dan tampak Bun Kie Lin mengibaskan tangannya.
Ho Sin-se menoleh kepada Yo Him, kemudian tanpa berkata suatu apapun juga dia telah memutar tubuhnya, cepat-cepat angkat kaki dari tempat itu.
Waktu berlari-lari meninggalkan tempat itu, hati Ho Sin-se herdebar-debar, karena dia kuatir kalau-kalau Yo Him tidak mengijinkan dia pergi.
Tetapi nyatanya Yo Him membiarkan saja dia pergi, dan tidak mencegahnya.
Dengan begitu, dia bisa berlari terus meninggalkan tempat itu.
Yo Him memang tidak bermaksud mencegah kepergian Ho Sin-se, dan membiarkan saja Ho Sin-se berlalu, karena dia pikir tokh Ho Sin-se berada di situ sudah tidak ada gunanya lagi.
Bukankah dia telah mengantarkan mereka bertemu dengan Bun Kie Lin dan sekarang malah Hok An telah berangsur sembuh.
Sebagai seorang yang mengerti sedikit pengobatan, maka Yo Him mengerti bahwa Hok An tidak lama lagi, paling tidak satu atau dua hari, tentu akan sembuh.
Tampak Bun Kie Lin telah memandang kepada Yo Him dengan sorot mata yang tajam sekali, bentaknya.
"Apakah engkau hendak main-main sekarang ini denganku?!"
Yo Him mendengar bentakan Bun Kie Lin itu, segera menghampiri. Sambil melangkah ia telah menggeleng, katanya dengan suara yang tawar.
"Nanti, itu urusan nanti. Sekarang yang terpenting ingin membuktikan dulu, apakah perkataanmu itu dapat dipercaya bahwa engkau dapat menyembuhkan luka dari kawanku itu, karena aku masih ragu-ragu, di mana sekarang ini kawanku masih belum tersadar.....!"
Setelah berkata begitu, Yo Him mempergunakan kesempatan itu buat memeriksa keadaan Hok An.
Dan hati Yo Him jadi tambah girang, karena dilihatnya pipi Hok An telah berobah merah sehat dan juga tampaknya dia tertidur nyenyak sekali tidak menderita kesakitan lagi.
Malah diapun sudah tidak mengigau, yang menggembirakan bengkak-bengkak di tubuhnya telah lenyap sama sekali, tidak terlihat tanda-tandanya lagi.
Dalam keadaan seperti inilah Yo Him sesungguhnya hendak memuji akan kehebatan Bun Kie Lin, namun dia berhasil menahan diri untuk tidak memujinya.
Karena Yo Him segera teringat bahwa sikap dan tabiat dari Bun Kie Lin sangat aneh sekali dan luar biasa ia kuatir jika memujinya akan membuat Bun Kie Lin berobah pikiran pula, dia bisa-bisa nanti mencelakai Hok An, dengan memberikan obat yang tidak tepat.
Setelah memeriksa keadaan Hok An, Yo Him berdiri.
Diapun bilang.
"Hemmm, mana engkau mengatakan bahwa engkau dapat mengobati luka kawanku itu dengan segera? Sedangkan sekarang saja dia belum tersadar. Bukan main mendongkol dan penasarannya Bun Kie Lin, sampai dia berseru nyaring.
"Siapa yang mengatakan aku tidak bisa mengobatinya dengan segera? Sekarang dia telah sembuh. Dia hanya perlu beristirahat saja. Jika memang engkau hendak membangunkan sekarang, itupun tidak menjadi persoalan, karena dia akan segera segar kembali!"
Dan berkata begitu, Bun Kie Lin telah menotol tanah, tubuhnya melesat ke dekat Hok An, kemudian dia bermaksud menggerakkan tangannya guna membangunkan Hok An.
Menyaksikan itu, Yo Him segera mencegahnya.
"Jangan engkau hendak membangunkannya berarti engkau ingin memperlihatkan telah berhasil mengobatinya, bukan? Tetapi dengan cara seperti itu aku tidak bisa menerimanya."
"Kenapa?"
Bun Kie Lin masih penasaran sekali.
"Karena dia dipaksa bangun, dan belum tentu dia telah sembuh! Aku justeru hendak melihatnya dia tersadar sendirinya, itu membuktikan bahwa kawanku itu memang benar-benar telah sembuh.....
"Tetapi terus terang saja kukatakan, bahwa aku tidak percaya bahwa dia telah sembuh! Maka kita tunggu satu hari lagi, sampai dia telah tersadar benar. Di saat itulah baru kita akan berbicara pula.....!"
Keinginan Bun Kie Lin buat membangunkan Hok An dapat dicegah, dia batal membangunkan Hok An, melainkan dia telah menoleh kepada Yo Him, lalu katanya.
"Apakah engkau benar-benar putera Sin-tiauw-tay-hiap?!"
"Tidak perlu aku mendustai engkau. Karena sebagai seorang pendekar besar seperti ayahku itu, jelas aku tidak dapat berdusta walaupun hanya untuk sepatah perkataan sekalipun! Tetapi engkau....., engkau justeru kuragukan tetah mendustai aku dengan mengatakan bahwa engkau berhasil mengobati kawanku ini!"
Bola mata Bun Kie Lin mencilak semakin cepat, dengan gusar dia bilang.
"Aku tidak mendustaimu! Hemmm, apakah engkau seorang saja yang tidak berdusta? Baik! Baik! Kita tunggu saja sampai kawanmu itu tersadar....."
Setelah berkata begitu, Bun Kie Lin terdiam sejenak lamanya, dia tidak mengatakan sepatah perkataanpun juga. Tangan Yo Him bermaksud akan menghampiri Sasana, diwaktu itulah terdengar orang bertanya.
"Siapa puteranya Sin-tiauw-tayhiap Yo Ko?"
Suara itu terdengar sangat menyeramkan sekali.
Jika suara itu terdengarnya sumbang sekali, sengau, membuat telinga yang mendengarnya jadi sakit.
Dalam keadaan seperti itu, Yo Him telah menoleh ke arah datangnya suara pertanyaan tersebut, tidak dilihatnya seorang manusiapun juga.
"Aku!"
Menyahuti Yo Him segera.
"Akulah putera dari Sin-tiauw-tayhiap Yo Ko!" "Hemmm, inilah kebetulan yang sangat membawa keberuntungan buatku!"
Kata suara sengau yang mengerikan. Memang aku mengharapkan dapat suatu saat menemui detik-detik sebaik ini."
Menyusul dengan perkataan tersebut, tiba-tiba terdengar suara ledakan, yang terjadi tidak begitu jauh dari Yo Him, di mana dia merasakan itu demikian kuat dan panas menggetarkan tempat berpijaknya.
Ringan sekali Yo Him telah melesat ke samping, dengan demikian dia tidak perlu sampai terkena tanah yang telah berhamburan itu.
Sedangkan Sasana menyaksikan itu kaget tidak terkira, dia sampai berseru nyaring, dan Giok Hoa yang tengah tertidur jadi bangun.
Tubuh Yo Him telah melesat cepat sekali ke arah dari mana menyambarnya benda hitam yang tadi bisa meledak, di mana dia ingin mencekuk orang yang telah menyerangnya secara membokong dan pengecut seperti itu.
Akan tetapi dia telah tiba di tempat yang sepi sekali, tidak ada seorang manusiapun juga.
Yo Him sesungguhnya memiliki mata yang awas dan juga pendengaran yang sangat tajam, dia telah melihat memang keadaan di sekitar tempat itu sepi sekali, tidak ada seorang manusiapun juga.
Jangan kata manusia, seekor burung yang terbang sekalipun dia masih sanggup untuk melihat dan juga mendengar suara berkereseknya.
Diam-diam Yo Him jadi menduga, tentunya orang yang tengah menyerangnya secara menggelap itu memiliki kepandaian yang tinggi.
Maka dari itu dia berwaspada.
Sewaktu Yo Him bermaksud untuk memasuki tempat itu lebih jauh, tiba-tiba telah terdengar pertanyaan Bun Kie Lin.
"Hemm, engkau rupanya ingin ikut berkecimpung dalam urusanku ini, bukan?"
Segera juga secepat terbang Yo Him telah melasat ke arah tempatnya semula.
Dilihatnya Bun Kie Lin masih duduk bersila di tempatnya, di mana dia tengah bertanya kepada salah seorang yang bentuk tubuhnya tinggi kurus, yang di dekatnya itu.
Seketika itu Yo Him menduga bahwa orang itulah yang tadi telah melemparkan padanya bahan peledak itu.
Maka segera juga dia bilang.
"Hmmmm, tidak tahunya engkau di sini!"
Orang bertubuh tinggi kurus itu memiliki muka yang runcing dengan sepasang alis yang hitam gompiok, dia menoleh sedikit mendengarkan perkataan Yo Him, dam dia tertawa bergelak, kemudian katanya.
"Kau mengaku sebagai putera Sin-tiauw-tay618 hiap Yo Ko, tetapi mana kepandaianmu yang tertinggi. Apakah putera dari Sin-tiauw-tay-hiap hanya sebegini saja?!"
Mendongkol Yo Him mendengar ejekan dari orang tersebut, segera juga dia berkata dengan suara yang mengandung kegusaran.
"Hemmm, siapa engkau sebenarnya? Ada hubungan apa kau dengan ayahku, sampai engkau berani mengeluarkan kata-kata kurang ajar seperti itu ditujukan kepada ayahku?!"
Mendengar pertanyaan tersebut, orang bertubuh tinggi kurus itu tertawa dingin.
"Jika aku memberitahukan siapa adanya diriku, mungkin engkau akan kaget dan semaput tidak sadarkan diri.....!"
Kata orang tersebut.
"Kukira, cukup aku memberitahukan saja bahwa ayahmu sendiri tidak berani berlaku kurang ajar seperti itu kepadaku, maka engkau lagi. Jika engkau berani bersikap lancang dan kurangajar kepadaku, hemmm, hemmm, tentu akan kupatahkan batang lehermu, sekali hantam tentu batok kepalamu itu akan hancur.....!"
Belum lagi orang itu menyelesaikan perkataannya, Yo Him menjejakkan kakinya. Dia telah berseru.
"Justeru aku ingin melihat dengan cara bagaimana engkau hendak menghantam hancur batok kepalaku.....?"
Dan sambil berkata begitu tangan Yo Him bergerak cepat sekali.
Orang bertubuh tinggi kurus itu mengejek dengan senyuman sinis.
Melihat tangan Yo Him yang menyambar ke arahnya begitu cepat, dia juga tidak berayal, segera dia menangkisnya.
"Duk, duk, dukk!"
Beberapa kali tangan mereka saling bentur.
Dan orang bertubuh tinggi itu jadi kaget juga karena setiap kali tangannya tertangkis oleh benturan tangan Yo Him, setiap kali dia membalas menyerang maka dia merasakan tangannya panas tergetar.
Begitu juga setiap kali dia menangkis tangan Yo Him, dia merasakan tulang pergelangan tangannya sakit.
Dalam keadaan seperti itu Yo Him telah mendesak lebih gencar.
Dia sendiri tidak kurang kagetnya, padahal tadi Yo Him telah mempergunakan tujuh bagian dari tenaga dalamnya, namun begitu tangannya saling membentur tertangkis oleh pergelangan tangan orang bertubuh tinggi kurus tersebut, dia merasakan tangannya panas sakit, tubuhnya tergetar.
Maka dia semakin kuat lagi dalam mengerahkan tenaga dalamnya.
Begitulah, ke dua orang itu terlibat dalam pertempuran selama puluhan jurus.
Namun setelah terjadi bentrokan tangan beberapa kali itu, orang bertubuh kurus tinggi tersebut merobah cara bertempurnya, karena dia menghadapi Yo Him dengan mengandalkan kegesitannya.
Tubuhnya telah bergerak lincah ke sana ke mari dengan kecepatan seperti angin saja, di mana tubuhnya berkelebat-kelebat tidak hentinya, membuat Yo Him terpaksa harus mengawasinya dengan mata yang tajam dan cermat.
Karena sekali saja dia lengah, niscaya dia akan menjadi korban dari tangan orang bertubuh tinggi kurus itu.
Karenanya, Yo Him juga terbangun semangatnya, dia mengempos tenaga lweekangnya dan balas menyerang dengan beruntun, Bun Kie Lin yang melihat pertempuran yang tengah berlangsung, jadi memandang dengan mata yang terpentang lebar-lebar.
Dilihatnya Yo Him memang memiliki kepandaian yang tinggi.
Juga orang bertubuh tinggi kurus itu memiliki kepandaian yang cukup tinggi.
Jika Bun Kie Lin yang harus menghadapinya, tentu dia tidak mungkin dapat menghadapinya, karena kepandaiannya masih kalah setingkat dari kepandaian ke dua orang itu.
Diam-diam Bu Kie Lin pun menyadari, telah belasan tahun ia berlatih diri dengan giat.
Di samping memperdalam ilmu pengobatannya iapun melatih lweekang dan ilmu silatnya.
Namun ternyata latihannya yang selama belasan tahun itu belum memberikan hasil yang terlalu banyak buatnya.
Di samping lweekangnya yang belum dapat menandingi lweekang Yo Him dan orang bertubuh tinggi kurus itu, juga belum pasti bahwa ia akan dapat menghadapi ilmu silat dan ilmu pukulan mereka.
Sebelumnya Bun Kie Lin yakin bahwa ia telah mempelajari ilmu silat tingkat tinggi dan lweekang yang sempurna.
Karena itu diamdiam dia yakin bahwa jarang ada orang yang bisa menandingi kepandaiannya.
Disebabkan itu pula, maka ia selalu bersikap angkuh terhadap siapapun juga.
Namun sesungguhnya di hati kecilnya Bun Kie Lin itu sekarang terdapat perasaan kagum tidak terhingga kepada Yo Him.
Hal ini disebabkan dia memang mengetahui Yo Him sebagai putera dari Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko, juga melihat usianya yang masih begitu muda, tetapi telah berhasil memiliki kepandaian yang begitu tinggi, disamping lweekangnya pun cukup kuat, melebihi lweekangnya, maupun lweekang dari orang bertubuh tinggi kurus itu.
Sasana sendiri yang menyaksikan cara bertempur Yo Him, diamdiam merasa heran, mengapa Yo Him selama itu masih juga belum bisa merubuhkan lawannya, dan yang membuat Sasana jadi heran, tampaknya kepandaian Yo Him tidak menang banyak dibandingkan orang bertubuh tinggi kurus itu.
Diam-diam, Sasana menduga-duga entah siapa adanya orang bertubuh tinggi kurus itu dan diapun telah memperhatikan cara bertempurnya orang bertubuh tinggi kurus tersebut, jurus demi jurus.
Semakin memperhatikan cara bertempur dari orang bertubuh tinggi kurus itu.
Sasana semakin heran, karena dilihatnya bahwa orang bertubuh tinggi kurus itu mempergunakan semacam ilmu silat yang tidak dikenalnya.
Dengan begitu, Sasana mengawasi dengan tertegun.
Giok Hoa berbeda dari Sasana.
Jika hatinya memang tertarik menyaksikan jalannya pertempuran seru itu, tokh ia tetap saja menguatirkan keselamatan jiwa paman Hok nya, karena dari itu perhatiannya lebih banyak dicurahkan kepada Hok An.
Dilihatnya pelupuk mata Hok An mulai bergerak, juga telah mengeluarkan suara keluhan yang perlahan sekali, kemudian matanya terbuka, perlahan-lahan.
Bukan main gembiranya hati Giok Hoa melihat Hok An telah tersadar.
"Paman Hok.....!"
Panggilnya dengan suara yang agak sember, dan air matanya telah menitik turun.
"Kau telah sadar paman Hok.....!"
Hok An telah melirik kepada gadis cilik itu, menggerakkan tangan kanannya, dia telah menggenggam tangan Giok Hoa.
"Ya, ya..... sekarang kita berada di mana?"
Tanya Hok An.
"Kita berada di tempat yang cukup aman paman Hok.... Kau telah menerima pengobatan yang sangat baik dari Bun Sin-se, karena itu tenanglah paman Hok. Tidak lama lagi tentu kau akan segera sembuh dan kesehatanmu pulih sebagaimana sedia kala!"
Menghibur Giok Hoa.
"Siapakah Bun Sin-se itu?!"
Tanya Hok An sambil bola matanya bergerak-gerak berusaha memandang sekitarnya, sehingga dia melihat Bun Kie Lin duduk tidak jauh dari tempatnya berada, tengah mengawasi ke arahnya.
"Aku yang telah mengobatimu......!"
Kata Bun Kie Lin dengan suara yang tawar. "Ohhh, terima kasih..... terima kasih atas budi kebaikan Sin-se......!"
Kata Hok An.
"Maafkanlah, aku belum bisa bangun buat menyatakan rasa terima kasih......!"
Bun Kie Lin tidak memperlihatkan perasaan apapun juga di wajahnya. Dia telah memandang tawar kepada Hok An, katanya.
"Di antara kita tidak terdapat perkataan budi dan kebaikan. Aku bukan bermaksud menolongimu, karena merasa kasihan melihat keadaanmu, tetapi aku tengah bertaruh dengan kawanmu yang tidak mempercayai bahwa aku bisa menyembuhkan luka-lukamu, dan sekarang telah terbukti bahwa aku tidak mendustainya, serta sanggup mengobati luka-lukamu, sampai sembuh! "
Engkau telah dapat bicara. Engkau mulai berangsur sembuh dan sehat lagi, maka dari itu kawanmu tidak mungkin dapat mengatakan bahwa aku ini mendustainya.....!"
Hok An tidak mengerti apa yang dikatakan Bun Kie Lin, sehingga dia hanya mengawasi saja, sampai akhirnya dia bilang.
"Jika demikian, baiklah.... Kalau memang terlihat kawanku itu tidak mempercayai akan keteranganmu, biarlah nanti aku yang memberitahukan kepadanya, bahwa aku benar-benar telah sembuh. Tentu kawanku itu akan meminta maaf kepadamu dan juga akan menyatakan terima kasihnya....."
Tetapi Bun Kie Lin hanya tertawa tawar saja, dia seperti tidak mengacuhkan perkataan Hok An.
Giok Hoa yang melihat keadaan Bun Kie Lie seperti itu, segera maju ke depan.
Dia telah menjatuhkan diri berlutut di hadapan Bun Kie Lin, sambil mengangguk-anggukan kepalanya, dia telah berkata.
"Terima kasih atas bantuan dan pertolongan dari Bun Sin-se, tidak dapat kami lupakan budi kebaikan Bun Sin-se..... Dengan ini aku mewakili paman Hok buat menyatakan terima kasih yang sebesarbesarnya......"
Tetapi Bun Kie Lin mengibaskan tangannya, dia telah bilang.
"Tidak perlu engkau mengucapkan terima kasih, akupun tidak membutuhkan terima kasihmu.....!"
Karena dia mengibas dengan tenaga yang cukup kuat pada pergelangan tangannya, maka tubuh Giok Hoa telah terpental dan terguling di tanah.
Menyaksikan itu, segera juga Hok An hendak memaksakan diri buat melompat guna menolongi Giok Hoa.
Hanya saja, tubuhnya masih lemah, sehingga dia tidak bisa bangun.
Dengan perasaan kaget dan tidak senang, ia telah membentak.
"Kau..... kau mengapa kau menganiaya Giok Hoa?!"
Bun Kie Lin tertawa tawar, katanya.
"Sudah kukatakan, bahwa aku tidak membutuhkan terima kasih kalian! Yang terpenting aku telah memenangkan pertaruhan kami, di mana aku dapat menyembuhkan luka-lukamu itu! "
Hemmmm, apa gunanya ucapan terima kasih kalian?
Sekarang kalian menyatakan terima kasih kepadaku, tetapi setelah kita berpisah, tentu kalian akan melupakannya begitu saja!
Tetapi, yang terpenting sekali, memang aku sesungguhnya bukan hendak menolongi engkau, maka engkau tidak perlu berterima kasih kepadaku, karena aku hanya tengah bertaruh belaka dengan kawanmu itu......!"
Sambil berkata begitu, tampak Bun Kie Lin telah menoleh menyaksikan lagi jalan pertempuran antara Yo Him dengan orang bertubuh tinggi kurus itu.
Giok Hoa merangkak bangun mukanya agak merah, karena membengkak.
Semua itu akibat mukanya tadi telah menubruk tanah, sehingga terbentur cukup keras.
Dengan begitu telah membuat Giok Hoa menderita kesakitan.
Namun walaupun hatinya mendongkol, tokh Giok Hoa tidak memperlihatkan kemendongkolannya itu, dia telah merangkak bangun dan berdiam di samping Hok An tanpa mengucapkan sepatah perkataan pun juga.
"Engkau..... kau terluka, Giok Hoa?"
Tanya Hok An sambil melirik terharu kepada gadis kecil itu.
Hok An memang sangat sayang dan memanjakan sekali Giok Hoa, sedang di depan matanya dia melihat Giok Hoa dikibas seperti itu, sehingga tubuhnya terguling dan pipinya memerah membengkak, membuatnya jadi merasa gusar pada Bun Kie Lin.
Hanya saja disebabkan memang dia tidak berdaya dan tidak bisa menggerakkan tubuhnya, maka walaupun mendongkol dia tidak bisa menghadapi Bun Kie Lin untuk mengumbar kemendongkolannya itu.
Giok Hoa menggeleng sedikit, katanya sambil memaksakan diri tersenyum.
"Tidak paman Hok..... luka seperti ini tidak ada artinya..... lebih baik jika paman Hok beristirahat lebih tenang, agar luka-Iuka di tubuh paman Hok dapat sembuh benar-benar......!"
Kesehatan Hok An telah berangsur sembuh.
Memang ilmu pengobatan yang dimiliki Bun Kie Lin sangat luar biasa, di mana dia bisa mengobati Hok An dengan sebaik mungkin.
Dalam waktu begitu singkat, dia telah dapat menyembuhkan luka Hok An yang sesungguhnya sangat parah sekali.
Di waktu itu, tampak betapapun juga, Hok An masih mendongkol dan hanya mengawasi kepada Bun Kie Lin.
Jika saja Hok An di waktu itu bisa melompat bangun, tentu dia akan menerjang kepada Bun Kie Lin untuk menyerangnya dengan pukulan yang sekuat tenaga, sebab dia tidak bisa menerima Giok Hoa dibuat terpelanting seperti itu oleh Bun Kie Lin.
Walaupun sekarang ini Hok An melihat bahwa dirinya memang telah ditolong dan disembuhkan oleh Bun Kie Lin, tokh dia tidak bisa merasakan berterima kasih lagi, malah dia selalu teringat betapa kasihannya Giok Hoa yang telah dibuat terpelanting seperti itu, membuat pipi gadis itu memerah karena te1ah terkena benturan pada bumi, sehingga membengkak.
Giok Hoa berusaha menghiburnya, ia menyatakan kepada Hok An, memang Bun Kie Lin memiliki perangai yang sangat ku-koay.
Itu pula sebabnya Yo Him telah mengajak Bun Kie Lin bertaruh dalam hal mengobati luka Hok An, hanya untuk memancing perasaan gusar Bun Kie Lin, karena jika tidak, tentu dia tidak akan mau mengobati Hok An.
Karena itu setelah Yo Him berhasil memancing kegusaran Bun Kie Lin, ia baru bersedia buat mengobati Hok An.
Dengan demikian telah membuat Hok An sedikit menurun perasaan mendongkolnya dan mulai mengerti bahwa Bun Kie Lin seorang yang memiliki perangai sangat aneh.
Sedangkan waktu itu Bun Kie Lin sudah tidak memperhatikan lagi keadaan Hok An, dia telah melihatnya bahwa Hok An dan Giok Hoa saling bisik-bisik, namun dia sudah tidak memperhatikannya.
Dia lebih banyak mencurahkan seluruh perhatiannya kepada jalannya pertempuran antara Yo Him dengan orang bertubuh tinggi kurus itu.
Dengan begitu, telah membuat Sasana juga ikut mengawasi dengan tegang, karena dilihatnya Yo Him waktu itu tengah mempergunakan beberapa macam ilmu simpanannya.
Setiap jurus yang dipergunakannya merupakan jurus-jurus yang bisa menghancurkan dan membinasakan.
Hanya saja disebabkan lawannya itu, memiliki kepandaian yang tinggi, maka dia bisa menghadapi Yo Him sampai begitu lama.
Mereka berdua bertempur terus dengan seru.
Diam-diam orang bertubuh tinggi kurus itu telah berpikir di dalam hatinya.
"Dalam hal ini memang tidak salah, Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko benar-benar memiliki kepandaian yang luar biasa hebat, karena puteranya saja telah memiliki kepandaian yang demikian tinggi. Menghadapi puteranya saja sekarang ini, aku masih belum dapat merubuhkannya, sedangkan mendesaknya pun tidak bisa. Apa lagi jika aku menghadapi Sin-tiauw-tay-hiap, niscaya dalam beberapa jurus aku sudah dapat dirubuhkan....."
Karena berpikir seperti itu, segera juga orang bertubuh tinggi kurus itu mencari kesempatan buat melompat mundur menjauhi diri dari Yo Him.
Pada suatu kali, waktu Yo Him kembali gagal dengan hantamannya, maka tampak orang bertubuh tinggi kurus itu telah melompat ke samping kanan dengan gerakan yang sangat gesit.
Begitu ke dua kakinya menyentuh tanah, kembali tubuhnya melesat pula tiga tombak lebih ke arah samping kanannya.
Dengan caranya seperti itu, orang bertubuh tinggi kurus itu hendak mencegah serangan susulan dari Yo Him.
Benar saja, semula Yo Him ketika melihat orang bertubuh tinggi kurus itu melompat ke samping mengelakkan serangannya, ia bermaksud untuk menyusuli dengan hantamannya lagi.
Namun belum sempat dia menghantam, justeru orang itu telah menyingkir lagi, mereka terpisah agak jauh.
Dan waktu Yo Him hendak menyusul buat menyerangnya pula, tampak orang bertubuh tinggi kurus itu telah berseru nyaring.
"Tahan, aku hendak bicara denganmu.....!"
Berbareng dengan seruannya tersebut, segera terlihat orang bertubuh tinggi kurus itu bersiap-siap, karena ia kuatir kalau-kalau Yo Him tidak mau menghentikan pertempuran itu dan tetap menerjangnya.
Tetapi Yo Him telah menahan gerakan tangannya, dia berdiri tegak menghadapi orang bertubuh tinggi kurus itu.
"Apa yang ingin kau katakan?!"
Orang bertubuh tinggi kurus itu telah memandang ragu, kemudian katanya.
"Aku bermaksud bertemu dengan ayahmu! Kau sebutkanlah, di mana aku bisa bertemu dengan ayahmu itu?!" Yo Him tidak segera menyahuti, dia hanya mengawasi orang bertubuh tinggi kurus itu, kemudian dengan sikap yang memandang ringan ia berkata.
"Engkau hendak mencari ayahku guna mengajaknya mengadu kepandaian?!"
Orang itu ragu-ragu tetapi kemudian mengangguk.
"Ada sesuatu yang hendak aku bereskan bersamanya!"
Katanya.
"Kau hendak membereskan sesuatu dengan ayahku? Atau memang engkau hendak membalas dendam?!"
Tanya Yo Him dengan sikap, yang mengejek.
"Hemmm, dengan kepandaian seperti ini, mana mungkin engkau bisa berurusan dengan ayahku? Sedangkan untuk bertempur denganku saja, engkau tidak bisa merubuhkan aku, malah dalam beberapa jurus lagi engkau akan dapat kurubuhkan!"
Muka orang bertubuh tinggi kurus itu tampak jadi berobah memerah. Akan tetapi kemudian dia berkata.
"Jika memang engkau keberatan menyebutkan di mana ayahmu, sehingga aku dapat mencari jejaknya, akupun tidak akan memaksanya! Tetapi mengenai urusan kita ini, dapat kita lanjutkan nanti, setelah kita bertemu lagi di dalam kesempatan lain. "
Sekarang ini aku masih memiliki banyak sekali pekerjaan yang harus kuselesaikan..... Aku tidak bisa main-main terlebih lama lagi dengan kau?"
Setelah berkata begitu, tanpa memberi hormat, dan dengan sikap seenaknya dia hendak memutar tubuh, guna berlalu.
Yo Him sebetulnya hendak menahannya, tetapi dia melihat isyarat dari Sasana.
Walaupun tidak mengerti apa maksud isyarat dari isterinya, tetapi ia mematuhi tidak mengejar dan menahan kepergian orang itu.
Dilihatnya juga Sasana telah melompat ke samping Giok Hoa, di mana isterinya telah membisikkan sesuatu kepada Giok Hoa, dan Giok Hoa mengangguk beberapa kali.
Kemudian terdengar siulnya yang cukup nyaring.
Suara siulan itu disambut dengan suara pekik yang nyaring di tengah udara.
Orang bertubuh tinggi kurus itu sesungguhnya hendak mempergunakan ginkangnya untuk berlalu dengan cepat, namun waktu itulah dia telah melihat ada bayangan besar yang menyelubungi dirinya, dan bayangan besar itu semakin besar juga, malah dia merasakan kibasan yang sangat kuat pada dirinya.
Ketika orang bertubuh tinggi kurus menoleh ke atas, ia terkejut juga, hatinya terkesiap.
Seekor burung rajawali putih yang sangat besar sekali, tengah meluncur turun menyambar ke arahnya, dengan sepasang cakarnya siap untuk mencengkeramnya.
Sikap burung rajawali putih itu seperti juga hendak menerkam mangsanya, seekor kelinci atau sejenis lainnya.
Cepat-cepat orang bertubuh tinggi kurus itu telah mengelak ke samping.
Akan tetapi, burung rajawali putih itu seperti juga dapat mengatur penyerangnya dengan sepasang cakarnya, dia menyambar lagi kepada orang bertubuh tinggi kurus itu, membuatnya harus berkelit berulang kali ke sana ke mari.
Orang itu jadi agak gugup, karena setiap kali berkelit, sepasang kakinya tidak bisa berdiri dengan tetap.
Hal ini disebabkan sayap dari burung rajawali putih itu telah menyambar-nyambar ke arahnya, dengan gerakan yang begitu kuat, menimbulkan kibasan angin yang sangat dahsyat sekali.
Orang bertubuh tinggi kurus tersebut berusaha mempertahankan kedudukannya dengan kuda-kuda yang kokoh.
Tokh tidak urung dia merasakan terjangan yang sangat kuat jika dia bersikeras berusaha mempertahankan diri terus, niscaya dia akan terjungkel.
Hal inilah yang tidak diinginkan olehnya, dia telah melompat ke sana ke mari dengan lincah.
Dengan demikian bisa memperkecil daya desak dan terjang dari lawannya yang luar biasa ini, yaitu burung rajawali yang berukuran sangat besar tersebut.
Burung rajawali putih itu, yang telah menerima perintah dari majikannya,Giok Hoa, rupanya mengetahui apa yang harus dilakukannya.
Ia telah diperintah oleh Giok Hoa lewat suara siulannya, agar dia mempermainkan orang bertubuh tinggi kurus itu, Karenanya, dengan sepasang sayapnya, yang selalu dikibaskan ke sana ke mari, diapun selalu mengancam dengan cakarnya yang tampak runcing dan berbahaya itu.
Orang bertubuh tinggi kurus itupun bukannya hanya selalu berkelit ke sana ke mari saja, setiap ada kesempatan tentu dia akan menghantam burung rajawali putih itu dengan pukulan telapak tangannya, yang mengandung tenaga, lweekang tingkat tinggi.
Namun, setiap pukulan dari orang bertubuh tinggi kurus itu, walaupun selalu tepat mengenai tubuh rajawali putih itu, tetapi tidak berhasil untuk memukul mundur rajawali putih itu.
Pertama kali ia diserang oleh rajawali ini, ia menduga tentunya dengan hanya beberapa kali hantaman, burung rajawali putih itu akan kesakitan dan.....
juga akan segera terbang pergi.
Namun dugaannya itu telah meleset, karena burung rajawali tersebut seperti juga memiliki tubuh yang kedot sekali.
Setiap pukulan yang dilakukan oleh orang bertubuh tinggi tersebut seperti juga tidak mempunyai arti apa-apa pada tubuhnya.
Malah yang membuat orang bertubuh tinggi kurus itu tambah terancam keselamatannya, karena waktu itu setiap kali dia menyerang, maka burung rajawali putih itu akan menghantam dengan salah satu sayapnya.
Setiap kali sayapnya itu dikibaskan, maka akan menimbulkan serangkum angin yang keras dan kuat sekali, seperti juga sambaran topan saja, karena itu, telah membuat orang bertubuh tinggi kurus itu, selain harus berusaha menjaga diri dari sambaran cakar burung rajawali putih, juga dia harus dapat mempertahankan kuda-kuda ke dua kakinya itu kuat-kuat.
Hal ini agar dia tidak terjungkel akibat terjangan tenaga kibasan sayap rajawali tersebut.
Sedangkan burung rajawali putih itu tetap tidak mau melepaskan orang bertubuh tinggi kurus itu.
Dilihatnya, sampai membalas menghantam dengan ke dua telapak tangannya, orang bertubuh tinggi kurus itu selalu berusaha agar dia dapat mencelat ke samping meloloskan diri.
Hal inilah yang tidak diinginkan oleh burung rajawali tersebut, yang selalu mengepungnya dengan kibasan-kibasan sayapnya, membuat orang bertubuh tinggi kurus itu memang tidak mempunyai kesempatan lagi buat meloloskan diri.
Maka suatu kali, burung rajawali tersebut telah berhasil menggertak orang bertubuh tinggi kurus itu dengan kibasan ke dua sayapnya yang dilakukan dengan serentak, sehingga angin yang menyambar lawannya itu bergemuruh sangat hebat.
Batu-batu kecil beterbangan menggelinding dan debu naik mengepul tinggi, batang-batang pohon jadi bergoyang-goyang, demikian juga halnya dengan bungkahan batu-batu besar yang jadi ikut tergoncang.
Hal itu memperlihatkan, betapa kuat dan dahsyatnya tenaga kibasan dari sepasang sayap burung rajawali putih itu, membuat hati orang bertubuh tinggi kurus itu tercekat.
Ia mati-matian berusaha mempertahankan diri, agar tidak terpelanting.
Namun di saat dia tengah berusaha mempertahankan diri seperti itu, tiba-tiba dia merasakan punggungnya sakit bukan main, karena kuku-kuku dari burung rajawali tersebut, telah mencengkeram baju di bagian punggungnya dengan kuat.
Kemudian serentak mengangkat tubuhnya terbang ke tengah udara.
Bukan main kagetnya orang bertubuh kurus tinggi itu.
Mati-matian dia telah berusaha menghantam dengan sepasang tangannya, di mana pada ke dua telapak tangannya telah dikerahkan seluruh kekuatan lweekang yang dimilikinya.
Dengan demikian membuat tenaga pukulannya itu sangat dahsyat sekali.
Dalam keadaan seperti ini, burung rajawali itu berpekik nyaring.
Sebab iapun merasakan bahwa tenaga pukulan dari orang bertubuh tinggi kurus itu sangat menyakitkan sekali, tubuhnya tergetar.
Coba jika bukan burung rajawali putih yang menerima pukulan itu, yang memang memiliki semacam kekebalan dan juga latihan yang kuat sekali pada dirinya, tentu serangan itu akan dapat membinasakan seorang yang bagaimana kuatnya pun tubuhnya.
Hal itu disebabkan orang bertubuh tinggi kurus itu dalam keadaan dirinya terancam, ia telah menghantam dengan sekuat tenaganya.
Seluruh sin-kangnya telah dipergunakannya.
Melihat burung rajawali putih itu berpekik kesakitan ketika dihantam olehnya, dia mengulangi lagi hantamannya, sehingga burung rajawali putih itu memekik pula.
Namun, ketika orang bertubuh tinggi kurus itu menoleh ke bawah, hatinya terkesiap.
Sebab dirinya telah dibawa terbang sangat tinggi sekali, sehingga jika saja burung rajawali putih itu kesakitan, dan melepaskan cengkeraman cakarnya, tubuhnya tersebut terlepas dan jatuh meluncur ke bawah.
Dia pasti akan terbanting dengan keras di tanah.
Disebabkan itulah, telah membuat orang bertubuh tinggi kurus itu harus berpikir dua kali buat menghantam lagi tubuh burung rajawali putih tersebut.
Memang jika dia menghantam dengan gencar, pasti akhirnya burung rajawali putih itu akan melepaskan cengkeramannya, namun tubuhnya pun akan terlepas dengan meluncur ke bawah, hal ini membuatnya akan menemui ajal dengan tubuh yang hancur remuk!
Sedangkan burung rajawali putih itu telah terbang semakin tinggi, dia terbang ke sana ke mari, sehingga tubuh orang berbadan tinggi kurus itu jadi ikut berputar-putar dibawa terbang oleh burung rajawali putih itu, ia merasakan kepalanya jadi pusing dan matanya menjadi nanar.
Dengan demikian telah membuat orang bertubuh tinggi kurus itu memejamkan matanya rapat-rapat, dia membiarkan dirinya dibawa terbang terus oleh burung rajawali putih itu.
Sama sekali dia tidak berusaha untuk meronta, karena dalam keadaan seperti itu, di mana tubuhnya telah dibawa terbang berputar-putar di tengah udara, dalam ketinggian yang sangat menakutkan, membuat orang bertubuh tinggi kurus tersebut malah kuatir cengkeraman cakar dari burung rajawali itu akan terlepas sehingga dirinya terjatuh meluncur ke bawah, terbanting remuk.
Itulah sebabnya, orang bertubuh tinggi kurus tersebut membiarkan dirinya dibawa terbang oleh burung rajawali putih itu......!
Sedangkan rajawali putih itu telah membawa orang bertubuh tinggi kurus itu berputar-putar tanpa hentinya.
Dengan demikian, semakin lama orang tersebut merasakan kepalanya bertambah pusing.
Dia telah memejamkan matanya, tidak berani melihat keadaan sekitarnya, sebab semakin dia memperhatikan keadaan sekelilingnya, maka dia merasakan kepalanya semakin pusing, hatinya berdebar keras.
Begitulah, terlihat burung rajawali putih itu telah membawa terbang terus orang bertubuh tinggi kurus tersebut.
Setiap kali burung rajawali itu mengeluarkan pekiknya, maka telah membuat lawannya yang kena dicengkeram itu bertambah pusing, karena semakin cepat pula ia membawa terbang orang tersebut.
Dan juga dia terbang berputaran semakin tinggi, sehingga jika pada waktu itu cengkeramannya itu terlepas, niscaya tubuh orang itu akan meluncur turun dan terbanting di tanah dengan tubuh yang remuk.
Disebabkan itu pula, membuat orang itu jadi memejamkan matanya dengan hati yang berdebar keras, sebab ia kuatir kalaukalau dia dilepas dan tubuhnya terbanting jatuh, akan membuat dia terbinasa dengan tubuh yang hancur.
Giok Hoa merasa telah cukup mempermainkan orang bertubuh kurus tinggi itu.
Dia bertanya kepada Sasana, apakah dia boleh perintahkan burung rajawalinya tersebut turun.
Sasana mengangguk.
Segera juga Giok Hoa bersiul nyaring, ia telah perintahkan burung rajawali itu turun kembali.
Burung rajawali itu telah meluncur turun membawa terbang korbannya yang masih berada dalam cengkeramannya dengan pesat sekali, membuat orang tinggi kurus yang berada dalam cengkeramannya bertambah ngeri, karena menduga bahwa dia tengah meluncur turun dilepas cengkeraman burung tersebut.
Dalam keadaan seperti itu, tanpa disadarinya, orang bertubuh tinggi kurus tersebut telah mengeluarkan seruan nyaring, dan dia merasakan tubuhnya masih meluncur turun terus.
Hanya terpisah setengah tombak dari bumi, barulah burung rajawali putih itu melepaskan cengkeramannya, dan tubuh dari orang bertubuh tinggi kurus itu telah terbanting di tanah.
Bantingan itu perlahan sekali, tetapi sentuhan tubuhnya dengan tanah membuat orang tersebut benar-benar kaget, sampai dia mengeluarkan seruannya, dan seketika itu juga dia menjerit cukup nyaring.
Waktu mengetahui dia menggeletak di tanah tanpa terbinasa, ia bermaksud hendak melompat berdiri.
Hanya saja, begitu dia berdiri, seketika tubuhnya terhuyunghuyung, terjungkal rubuh lagi.
Hal ini disebabkan dia masih pusing bukan main sehingga begitu dia berdiri, seketika dia merasakan tubuhnya bagaikan berputar.
Walaupun dia telah mengerahkan tenaga dalamnya buat memperkuat kuda-kuda ke dua kakinya, tokh dia masih gagal juga.
Dua kali beruntun dia mencoba berdiri, tubuhnya telah terjungkal rubuh.
Rajawali putih itu setelah melepaskan cengkeramannya, segera terbang tinggi pula, sambil mengeluarkan suara pekikannya, dan orang bertubuh tinggi kurus itu masih berusaha merangkak untuk berdiri.
Untuk ke tiga kalinya, dia gagal, karena di waktu itu ia telah terjungkal, terus rubuh lagi.
Kepalanya masih juga pusing.
Mengetahui bahwa dirinya tidak mungkin dapat berdiri lebih lama lagi, maka dia telah merangkak bukan untuk berdiri, melainkan duduk, buat bersemedhi, mengatur jalan pernapasannya.
Waktu dia duduk bersemedhi, dia merasakan kepalanya masih pusing juga, tubuhnya dirasakan berputar-putar tidak hentinya.
Dalam hatinya, diapun heran bertanya-tanya entah burung rajawali putih itu dipelihara siapa?
Tetapi besar dugaannya, apakah burung rajawali putih itu dipelihara oleh Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko?
Dan sekarang dengan munculnya burung rajawali putih itu apakah Sin-tiauw-tay-hiap telah muncul kembali?
Karena berpikir begitu, batinya semakin tergetar.
Dan dia berkuatir kalau-kalau dalam keadaan demikian Sin-tiauw-tay-hiap itu muncul buat menghinanya.
Dan yang lebih membingungkannya, kalau saja nanti Sin-tiauwtay-hiap itu perintahkan burungnya buat menangkapnya lagi seperti tadi, kemudian membawa terbang tinggi sekali, ratusan kaki jauhnya, lalu melepaskannya di tengah udara, bukankah dia akan mati konyol, dimana dia akan terbanting binasa di waktu itu juga?
Karena berpikir begitu, cepat-cepat dia telah mengempos seluruh kekuatannya, dia telah berusaha menyalurkan lweekangnya, guna memulihkan ketenangannya.
Dan dia cukup berhasil setelah kepalanya tidak begitu pusing, dia melompat berdiri.
Hanya saja tubuhnya itu masih bergoyang-goyang tidak bisa berdiri tetap, buat sementara waktu dia belum berani buat melangkah berjalan, hanya berdiri tetap di tempatnya.
Sekali saja dia melangkah berjalan, niscaya akan menyebabkan dia terguling, karena tubuhnya masih sering terhuyung-huyung.
Dalam keadaan seperti inilah Yo Him telah berkata dengan suara yang mengejek.
"Apakah kau tidak mau cepat-cepat angkat kaki, sampai engkau merasakan tubuhmu itu terbanting dari atas udara?!"
Mendengar ejekan Yo Him, orang bertubuh tinggi kurus itu, yang sesungguhnya merupakan seorang yang memiliki kepandaian tinggi dan tidak pernah jeri terhadap siapapun juga, sekarang jadi ciut juga nyalinya.
Dia kuatir bahwa Yo Him akan membuktikan perkataannya itu, sehingga burung rajawali putih yang berukuran besar sekali, seperti burung rajawali raksasa itu, akan mencengkeram lagi, dan membawanya terbang ke udara serta melepaskan cengkeramannya, sehingga dirinya akan menemui ajalnya dengan konyol sekali.
Tanpa memperdulikan kepalanya masih agak pusing, diapun telah memutar tubuhnya, buat berlalu.
Tubuhnya masih bergoyang-goyang terhuyung, namun dia sudah tidak memperdulikannya, dia telah melangkah terus dengan tindakan kaki yang terhuyung, dan hampir saja dia menubruk sebatang pohon.
Untung saja dia bisa menahan langkahnya, sehingga dia bisa berjalan terus, seperti juga seorang yang tengah mabok arak.
Pada waktu itu, Giok Hoa telah bersiul pula, burung rajawali putih itu memekik nyaring dari tengah udara.
Mendengar suara pekik burung rajawali putih itu, orang bertubuh tinggi kurus itu menahan langkah kakinya, dia telah mengangkat kepalanya menoleh ke tengah udara dengan hati terkesiap.
Dia menduga bahwa burung rajawali putih itu hendak menyerang dirinya lagi.
Namun diwaktu itu burung rajawali putih itu hanya berputar-putar di tengah udara, mengambil sikap seperti hendak mengiringi kepergian orang bertubuh tinggi kurus itu.
Bun Kie Lin yang menyaksikan semua itu jadi menghela napas.
Dia segera menyadari bahwa pertunjukan yang tadi diperlihatkan di hadapannya, di mana burung rajawali itu telah membuat orang bertubuh tinggi kurus itu tidak berdaya, tentu merupakan ancaman buatnya.
Jika memang Bun Kie Lin menimbulkan kesulitan, iapun bisa menghadapi peristiwa yang sama pasti dialami oleh orang bertubuh tinggi kurus itu.
Waktu itu Yo Him telah menoleh kepada Bun Kie Lin, tanyanya.
"Apakah engkau berhasil mengobati luka kawanku itu dan memenangkan pertaruhan yang kita adakan?!"
Bun Kie Lin tertawa dingin.
"Seperti engkau lihat sendiri, kawanmu itu telah sembuh, dan telah dapat bicara.....!"
Kata Bun Kie Lin.
"Hemmm, apakah engkau beranggapan bahwa aku ini mendustai engkau dan tidak sanggup mengobati luka kawanmu itu!! Nah, kau saksikan sendiri, aku telah menyembuhkannya.....!"
Yo Him tersenyum lebar, dia merangkapkan sepasang tangannya menjurah dalam-dalam, kemudian katanya.
"Ya, memang Locianpwee telah menyembuhkan Hok Lopeh, untuk itu kami mengucapkan syukur dan terima kasih yang tidak terhingga.....!"
Dan setelah berkata begitu, sambil tetap tersenyum, Yo Him telah menjurah tiga kali.
Mata Bun Kie Lin terbuka lebar-lebar.
Dia mengawasi Yo Him tajam sekali, kemudian dia telah bilang dengan bola mata yang berputarputar itu.
"Untuk ini..... ini.....!"
Tampaknya dia seperti orang kesima. Namun akhirnya dia tertawa bergelak, dia telah bilang.
"Kau begitu licik..... engkau telah menipuku!"
Yo Him melihat bahwa Bun Kie Lin baru tersadar dirinya dipermainkan dan ditipu olehnya, membuat Yo Him jadi geli sendirinya.
Namun dia tidak berani bersikap kurang ajar lagi, dia tersenyum saja dan katanya.
"Ya, tadi memang Boanpwee sengaja bersikap agak kurang ajar, harap Locianpwe mau memaafkan.....
Dengan ini Boanpwee menyatakan maaf yang sebesar-besarnya, harap Locianpwee jangan gusar.....!"
Setelah berkata begitu, segera Yo Him menjurah lagi memberi hormat, dan menyatakan penyesalannya yang telah "mempermainkan"
Bun Kie Lin. Sedangkan Bun Kie Lin mendengus tidak senang, katanya.
"Maafkan? Enak saja engkau bicara! Hemmm, apakah engkau mengira bahwa aku ini mudah buat dipermainkan?!"
"Oh, tentu saja tidak!"
Menyahuti Yo Him segera.
"Mana berani boanpwe mempunyai pikiran seperti itu. Jelas Boanpwe tidak berani berlaku kurang ajar dan mempermainkan Locianpwe, tetapi..... memang dalam hal ini Boanpwe terpaksa sekali harus menolongi jiwa sahabat Boanpwe, yaitu Hok Lopeh itu.....
"Dan kini jiwanya telah tertolong oleh pengobatan Locianpwe, maka sekali lagi Boanpwee mewakili Hok Lopeh menyatakan terima kasih yang tidak terhingga kepada locianpwe.....!"
Benar-benar Yo Him telah merangkapkan tangannya lagi.
Dia menjura memberi hormat dalam-dalam.
Bun Kie Lin mengawasi Yo Him beberapa saat lamanya, kemudian memandang kepada Hok An yang waktu itu tengah menggenggam tangan Giok Hoa, seakan juga Hok An gembira sekali, sebab sekarang dia sudah tidak menderita kesakitan seperti sebelumnya.
Anakrawali 11.053.
Dalam keadaan seperti itu, Bun Kie Lin telah bilang.
"Jika memang engkau mau meminta secara baik, aku tidak penasaran seperti sekarang, di mana aku telah ditipu mentah-mentah!"
Tetapi Yo Him telah berkata memotong perkataan Bun Kie Lin.
"Jika memang kami memintanya dengan baik-baik, seperti yang kami lakukan sebelumnya, bukankah Locianpwe tidak bersedia menolong, dan sekarang setelah kami bersikap agak kurang ajar, ternyata malah Locianpwe memaksa hendak menolong paman Hok itu untuk memperlihatkan keliehayan Locianpwe dalam bidang ilmu pengobatan! "
Dan memang Boanpwe juga mengakuinya, Locianpwe sangat hebat sekali, memiliki kepandaian dalam ilmu pengobatan yang sangat mengagumkan!
Seperti bunyinya pertaruhan kita, maka dengan ini Boanpwe menyatakan rasa kagum tidak terhingga kepada Locianpwe dan juga mengucapkan terima kasih serta syukur yang tidak terhingga terhadap pertolongan ini.....!"
Setelah begitu, Yo Him memberi hormat pula. Bun Kie Lin mengibaskan lengan bajunya, katanya dengan sikap tidak senang, karena ia tetap merasa seperti diingusi.
"Pergilah! Aku tidak mau melihat kalian terlalu lama! Pergilah!"
Yo Him jadi tersenyum melihat sikap Bun Kie Lin, katanya.
"Bukankah sahabat kami itu memerlukan satu-dua hari buat beristirahat..... tentunya Locianpwe tidak akan mengusir kami sebelum Hok Lopeh benar-benar sembuh.....!"
"Hemmm, untuk ini aku tidak mengijinkan! Kalian telah menipu diriku, sekarang malah ingin berdiam di tempatku selama beberapa hari disini, itulah tidak mungkin! Ayo pergi..... pergi......!"
Yo Him jadi berpikir keras, sampai akhirnya dia teringat sesuatu.
"Locianpwe, ada sesuatu yang hendak boanpwe tanyakan, entah Locianpwe mau menjawabnya atau tidak?!"
Tanya Yo Him kemudian sambil mengawasi Bun Kie Lin. "Apa yang ingin engkau tanyakan?!"
Tanya Bun Kie Lin sambil balas menatap dengan tajam, karena dia tengah mendongkol dan penasaran merasa telah diingusi oleh Yo Him.
"Mengenai wanita setengah baya itu!"
Menyahuti Yo Him. Muka Bun Kie Lin berobah.
"Ada apa dengan wanita setengah baya itu?!"
Tanyanya kemudian dan sikapnya tambah tidak senang.
"Menurut apa yang dilihat oleh Boanpwe tampaknya dia memusuhi Locianpwe! Apakah di antara Locianpwe dengan wanita setengah baya itu memang terdapat ganjalan atau perasaan bermusuhan?!"
Muka Bun Kie Lin berobah sejenak lamanya, akhirnya baru dia menyahuti setelah raga-ragu sejenak.
"Hemmm, dia datang ke tempatku ini, memaksaku harus mengobati luka-luka dari cucucucunya itu! Aku sendiri heran, usianya masih begitu muda, dan aku tidak mempercayai bahwa wanita-wanita yang dikatakannya sebagai cucunya itu benar-benar adalah cucunya.....!"
"Dan Locianpwe telah menolak permintaannya buat mengobati cucu-cucunya itu?!"
Tanya Yo Him. Bun Kie Lin mengangguk.
"Ya, buat apa aku mengobati mereka? Aku tidak kenal mereka, dan juga cara mereka meminta pertolongan kasar sekali, mereka memaksa. Katanya cucu-cucu dari wanita setengah baya itu, yang semuanya berjumlah delapan orang, telah terluka oleh sejenis racun yang berkerjanya sangat lambat. Jika dalam satu tahun mereka tidak diobati, maka seluruh tenaga dari wanita-wanita muda itu akan musnah, disusul kemudian, selama dalam satu tahun pula perlahan-lahan mereka akan sampai pada ajalnya! "
Aku sebetulnya mengetahui, mereka terkena racun yang diberi nama Bau-tok-ban-hun, sejenis racun yang hebat sekali, yang bekerja sangat lambat sekali.
Seorang korbannya, tidak merasakan perobahan pada dirinya, karena mereka tidak akan mengetahui bahwa sesungguhnya jiwa mereka tengah terancam.
Dan aku memang dapat mengobatinya, namun, hemmm, hemmm, mereka mengancam.....!"
"Mengancam? Apa yang diancamkan wanita setengah baya itu pada Locianpwe.....?"
Tanya Yo Him.
"Ia mengancam, jika aku menolak buat mengobati cucu-cucunya, ia akan membunuhku! Aku tidak takut. Aku dapat menghadapinya. Setiap kali ia bersama, semua cucunya hendak menerjang memasuki goaku, maka aku memukul mundur mereka. Hemm, hemm, mereka memang tidak berdaya buat memaksa untuk menerobos masuk ke dalam goa! Namun mereka terlalu licik, mereka tahu tidak mungkin dapat mendesak aku lebih jauh dengan kekerasan, dan memaksaku..... Namun mereka mengancam akan membunuh empat orang pelayanku.....!"
"Ohhh, tentunya empat orang laki-laki yang kami temui telah terbinasa dengan leher masing-masing hampir seperti tersayat oleh pisau.....!"
Kata Yo Him.
"Benar! Merekalah yang harus dikasihani. Walaupun ke empat orang pelayanku itu mengerti ilmu silat, namun kepandaian mereka masih lemah sekali. Karenanya dengan mudah mereka dijadikan korban dari kemarahan wanita setengah baya itu, yang membuktikan ancamannya, di mana ia bersama cucu-cucunya telah membunuh ke empat orang pelayanku itu! "
Hai, hai, sesungguhnya ke empat orang pelayan itu merupakan pelayan-pelayan yang sangat baik sekali, di samping mereka sangat setia.
Mereka harus binasa dengan cara begitu mengecewakan!
" "Lalu mengapa Locianpwe tidak bermaksud membalas sakit hati kepada wanita setengah baya itu?"
Tanya Yo Him ingin memancing reaksi dari Bun Kie Lin. Bun Kie Lin tidak segera menyahuti, ia menghela napas dalamdalam, kemudian dia telah berkata dengan suara yang mengandung kesusahan hati.
"Sayangnya, aku memang tidak dapat keluar meninggalkan goaku ini! Aku telah bertekad, walaupun bagaimana aku harus menghadapi wanita setengah baya itu bersama cucu-cucunya itu di dalam goa ini! "
Kau tentu mengetahui, aku tidak jeri berurusan dengan wanita setengah baya itu, dan juga cucunya itu. Namun, jumlah mereka banyak sekali.
"Biarpun kepandaian cucu-cucu dari wanita setengah baya itu belum begitu tinggi, tokh mereka bisa bertempur dengan cara bergiliran. Dengan demikian akan membuat aku selalu terkepung. Jika hal itu terjadi, tentu aku menghadapi kesulitan. Terutama sekali, kepandaian wanita setengah baya itu sendiri memangnya tidak rendah.....!" Setelah berkata begitu, Bun Kie Lin menghela napas beberapa kali, tampaknya dia bersusah hati, baru kemudian meneruskan perkataannya.
"Dan aku telah memutuskan, memang cara terbaik dengan mempertahankan diri di dalam goa ini, sehingga perhatianku tidak terpecah, dan hanya perlu mengawasi bagian sebelah depan, untuk memperhatikan apabila ada yang menerobos masuk, maka aku bisa menyambuti dengan hantaman telapak tangan dari jarak jauh atau juga menyambuti dengan lontaran senjata rahasia. Karena dari itulah, aku telah berdiam terus di dalam goa itu......!"
"Tetapi sekarang ini justeru Locianpwe telah menyalahi tekad Locianpwe, di mana Lo-cianpwe justeru telah keluar dari goamu itu buat mengobati luka kawanku itu!"
Kata Yo Him sambil tersenyum. Bun Kie Lin tersenyum, namun senyuman pahit.
"Aku memang mengetahui, bahwa kedatanganmu sama seperti wanita setengah baya itu, yaitu membutuhkan pertolonganku buat mengobati luka kawanmu itu! Aku juga mengetahui belakangan engkau mempergunakan taktik membangkitkan perasaan penasaranku! "
Hemm, namun aku memiliki kelemahan, yaitu aku tidak boleh dibuat penasaran, sekali saja aku penasaran, apa saja aku bisa melakukannya.
Karena itu, aku segera bertaruh dengan kau!
Malah, karena terlalu penasaran, aku telah keluar dari goaku itu.....
memang inilah kelemahanku.....
aku mengakuinya, itulah sifat burukku.....!"
Yo Him tersenyum.
"Namun Locianpwe berhasil menyelamatkan sebuah jiwa, berarti Locianpwe telah melakukan suatu kebaikan. Jadi Boanpwe kira, tidak perlu Locianpwe terlalu bersusah hati!"
Kata Yo Him. Namun Bun Kie Lin menggelengkan kepalanya berulang kali, sambil menghela napas ia telah menunjuk kepada ke dua kakinya.
"Kaulihat ke dua kakiku ini?!"
Yo Him memandangi kaki Bun Kie Lin yang terlipat bersemedhi itu.
"Ya..... Boanpwe memang melihat kaki Locianpwe..... ada apakah dengan ke dua kaki Locianpwe?!"
Tanya Yo Him tidak mengerti, dan dalam hati kecilnya dia hanya menduganya, tentunya pada sepasang kaki dari Bun Kie Lin terdapat sesuatu yang agak luar biasa dan tidak wajar.
"Aku.....
aku telah mengalami kelumpuhan, sepasang kakiku ini sudah tidak bisa dipergunakan untuk berjalan lagi!"
Menjelaskan Bun Kie Lin.
Seketika Yo Him tersadar.
Pantas orang tua she Bun ini tidak pernah bangun berdiri hanya duduk bersila.
Dan jika hendak melompat ke suatu tempat cukup dia menotol tanah dengan jari tangannya.
Dengan mengandalkan tenaga totolannya itu, tubuhnya melesat ke tempat tujuannya, dalam sikap dan keadaan tetap bersemedhi.
Di saat itu, Yo Him telah dapat menenangkan hatinya, dia menjurah, katanya.
"Maaf..... maaf, Boanpwe telah banyak menyusahkan Locianpwe.....!"
Dan Yo Him meminta maaf dengan hati setulusnya. Bun Kie Lin tidak menanggapi permintaan maafnya itu. Dia berdiam diri beberapa saat, sampai akhirnya dia telah berkata dengan suara yang agak sengau.
"Sekarang ke empat orang pelayanku itn telah terbunuh, kini aku sudah tidak memiliki orang-orang yang bisa melayani aku lagi.....!"
Dan berulang kali Bun Kie Lin menghela napas. Yo Him teringat kepada Ho Sin-se. "Tadi Ho Sin-se bersedia untuk menjadi pelayan Locianpwe, tetapi mengapa locianpwe mengajukan syarat begitu berat?!"
Tanya Yo Him tidak mengerti. Bun Kie Lin mengangkat kepalanya memandang kepada Yo Him, kemudian katanya.
"Sebetulnya, untuk bisa mencari pelayan memang mudah. Aku bisa saja mengambilnya dari penduduk kampung yang berdekatan dengan tempatku ini, lalu membawa mereka ke mari.
"Selanjutnya mereka dapat menjadi pelayanku dan melayani seluruh kebutuhanku. Namun, untuk memperoleh pelayan yang setia dan baik, yang bekerja melayaniku dengan segala kesetiaan dan kesungguhan hati, inilah yang sulit! "
Seperti Ho Sin-se yang kau katakan tadi.
Aku telah melihatnya, dia seorang yang licik.
Dia bersedia menjadi pelayanku dengan mengandung maksud, ia ingin mempelajari ilmu pengobatanku!
Tanpa adanya maksud tersebut, tentu dia tidak akan bersedia menjadi pelayanku!"
Dan kelicikan yang dimiliki Ho Sin-se bisa kulihat dibalik wajahnya itu, aku telah mengetahuinya.
Jika perlu Ho Sin-se tentu akan mencari kesempatan buat membunuh atau mencelakai aku, asal dapat menguasai dan memiliki kepandaian ilmu pengobatanku.
"Hanya itu saja tujuannya. Maka aku sengaja mengajukan syarat yang tegas dan keras, untuk melihat watak yang sebenarnya dari Ho Sin-se itu. Dan apa yang diperlihatkan Ho Sin-se, telah kalian saksikan sendiri.....!"
Yo Him mengangguk-angguk.
Ia baru mengerti, dibalik dari watak dan tabiatnya yang ku-koay, sesungguhnya memang Bun Kie Lin pun memiliki perangai yang cukup teliti dalam melakukan dan memilih sesuatu, sebelum mengambil keputusan.
Dengan demikian, telah membuat Yo Him jadi mengaguminya juga, dan timbal sedikit perasaan menyesal, karena telah mempermainkan orang tua she Bun ini.
Walaupun benar, Bun Kie Lin telah mengobati Hok An dan berhasil menyembuhkan Hok An dari luka-lukanya itu, tokh tetap saja Yo Him merasa jadi bersyukur kalau saja Bun Kie Lin tokh telah berhasil dipancingnya untuk mengobati Hok An, sehingga kini hanya tinggal cara untuk meminta maaf saja kepada Bun Kie Lin, agar hati orang tua she Bun tersebut tidak penasaran lebih jauh.
Karena dari itu, untuk mengalihkan perasaan tidak senang orang tua she Bun tersebut, Yo Him telah bertanya lagi.
"Lalu, siapakah sebenarnya wanita setengah baya itu, apakah Locianpwe kenal dengannya?!"
Bun Kie Lin tidak segera menyahuti, namun setelah tertegun beberapa saat, barulah dia bilang.
"Jika ingin bicara mengenai diri wanita setengah baya itu, sesungguhnya dia merupakan iblis wanita yang berhati bercabang dan tidak boleh diajak bersahabat.....!"
"Mengapa begitu, Locianpwe?!"
Tanya Yo Him, semakin ingin mengetahui.
Sedangkan Sasana yang waktu itu telah menanyakan keadaan Hok An, dan Hok An memberitahukan bahwa ia sudah tidak menderita kesakitan lagi, dengan gembira telah menghampiri Yo Him dan berdiri di samping suaminya.
"Wanita setengah baya itu bernama Tang Lan Cie, seorang wanita berhati beracun sekali!"
Menjelaskan Bun Kie Lin.
"Dia adalah wakil utama dari Kauw-cu Kim-coa-kauw, perkumpulan Ular Emas!"
"Kim-coa-kauw?!"
Tanya Yo Him. Orang tua she Bun tersebut mengangguk.
"Ya, Kim-coa-kauw..... kau tampaknya heran?!"
Tanya Bun Kie Lin sambil mengawasi Yo Him, kemudian pada Sasana. Yo Him mengangguk.
"Nama perkumpulan itu baru pertama kali Boanpwe dengar!"
Kata Yo Him.
"Hemmm, sesungguhnya perkumpulan itu jarang sekali diketahui orang..... Itulah merupakan sebuah perkumpulan yang seluruh anggotanya terdiri dari wanita. Dan juga, kauw-cunya."
Hanya saja, apa yang kudengar belakangan, Kauw-cu yang lama telah meninggal dunia karena suatu kecelakaan di tangan para pendekar, yang tidak menginginkan orang-orang Kim-coa-kauw menimbulkan kerusuhan.
Dan akhirnya Kauw-cu tersebut sebelum meninggal sempat berpesan, begitu ia menghembuskan napasnya, maka putera tunggalnya, yang baru berusia dua tahun, agar diangkat menjadi kauw-cu Kim-coa-kauw......
"Pesan terakhir dari Kauw-cu itu, yang tidak lama kemudian telah meninggal dunia, dipatuhi oleh seluruh anggota perkumpulan tersebut, dan diangkatnya Kauw-cu baru, yaitu putera dari Kauw662 cu lama itu, yang baru berusia dua tahun. Dan karena usia anak itu masih terlalu kecil, maka kekuasaan di Kim-coa-kauw di tangani oleh Tang Lan Cie, dan itu pula sebabnya ia dipanggil dengan sebutan nenek oleh semua murid dan anggota dari Kim-coa-kauw, sebagai panggilan menghormat belaka, padahal semua wanitawanita muda yang datang bersamanya itu bukanlah cucu-cucunya yang sebenarnya!"
Yo Him mengangguk-angguk mengerti, demikian juga Sasana, tanpa diinginkan telah mengangguk, sambil mengawasi Bun Kie Lin untuk mendengarkan cerita yang cukup menarik itu.
Di waktu itulah, Bun Kie Lin telah menoleh kepada Sasana, kemudian tanyanya.
"Tampaknya isterimu ini bukan orang Han..... tepatkah dugaanku itu?!"
Yo Him mengangguk.
"Ya..... memang isteriku ini seorang Boan-ciu..... tetapi, dia sangat membenci sekali kepada orang-orang Boan-ciu, bangsanya, karena dilihatnya betapa orang-orang Mongolia telah melakukan penindasan yang kejam sekali di daratan Tiong-goan ini, maka Locianpwe tidak perlu sungkan-sungkan padanya.....!"
Menjelaskan Yo Him segera.
Memang sebelumnya, Bun Kie Lin memperlihatkan sikap tidak senang pada Sasana.
Ia melihat Sasana mengingatkan padanya tentang Tiat To Hoat-ong, di mana ia pernah menghamba diri pada Tiat To Hoat-ong.
Tetapi setelah mendengar penjelasan Yo Him, Bun Kie Lin menghela napas dalam-dalam, kemudian katanya.
"Jika demikian, kau bisa dipercaya!"
Sasana mengangguk sambil tersenyum.
"Jangan kuatir Locianpwee, walaupun bagaimana Boaopwe tidak akan membocorkan apa yang diceritakan Locianpwee..... dan jika memang ada rahasia penting yang hendak dikatakan Locianpwee kepada suamiku ini, maka aku pun tidak keberatan tidak mendengarnya, aku akan menyingkir dulu.....!"
Setelah berkata begitu Sasana memperlihatkan sikap seperti hendak bangkit untuk pergi meninggalkan tempat itu, menyingkir dari hadapan Bun Kie Lin.
Namun Bun Kie Lin telah mengulap-ulapkan tangannya, katanya.
"Tidak usah, kau tidak perlu menyingkir..... Duduklah, dengarlah ceritaku......!" Waktu berkata begitu, sikap Bun Kie Lin sudah tidak seku-koay seperti sebelumnya, malah tampak ia bersikap cukup bersahabat. Menyaksikan perobahan itu, diam-diam Sasana jadi girang juga. Dia telah mengiyakan dan mengucapkan terima kasih, tetap duduk di samping Yo Him, mengawasi Bun Kie Lin yang bersiap-siap untuk meneruskan ceritanya. Bun Kie Lin menghela napas dalam-dalam, kemudia melanjutkan ceritanya.
"Memang dalam usia dua tahun, tidak banyak yang bisa dilakukan oleh Kauw-cu baru itu, dan semua itu ditangani oleh Tang Lan Cie..... dan sejauh itu, Tang Lan Cie banyak sekali mengumbar muridnya itu berusaha melakukan perbuatan-perbuatan yang kurang terpuji.....! Sekarang ini mungkin Kauw-cu dari perkumpulan Kim-coa-kauw tersebut telah berusia sepuluh tahun, mungkin lebih sedikit..... aku kurang begitu jelas!"
"Siapa nama Kauw-cu dari Kim-coa-kauw itu, Locianpwe?!"
Tanya Yo Him.
"Mengenai namanya maupun keadaannya, tidak begitu jelas, karena tidak banyak yang didengar olehku! Namun ada satu yang pernah kudengar belakangan ini, Tang Lan Cie telah menghimpun orang-orang yang berpihak padanya, dan bermaksud akan merebut kekuasaan dari tangan kauw-cu Kim-coa-kauw itu, karena memang Tang Lan Cie tidak bermaksud untuk mengalihkan kekuasaan itu ke tangan Kauw-cu yang sebenarnya, karena Tang Lan Cie selama ini hanya memperlakukannya sebagai boneka belaka.....!"
"Sungguh jahat Tang Lin Cie!"
Menggumam Sasana. Bun Kie Lin menggeleng perlahan sambil tersenyum kecut, katanya.
"Tidak bisa dibilang seperti itu. Jika kauw-cu yang sebenarnya itu kelak telah dewasa dan berkuasa, tentu iapun akan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji, di mana iapun akan tidak banyak bedanya dengan Tang Lan Cie......
"Karena dari itu, tidak bisa kita menangkan Kauw-cu itu ataupun Tang Lan Cie. Tokh kekuasaan Kim-coa-kauw berada di tangan siapa di antara ke dua orang itu akan sama saja, baik di tangan Tang Lan Cie maupun di tangan Kauw-cu kecil itu.....!"
Yo Him mengerti apa yang dimaksudkan oleh Bun Kie Lin, ia telah mengangguk beberapa kali.
Cuma saja, yang membuat Yo Him jadi heran, dia tidak mengerti, siapakah sebenarnya orang-orang Kim-coa-kauw itu.
Sebelumnya jarang sekali dia mendengar perihal orang-orang Kim-coa-kauw tersebut, sebuah perkumpulan yang jarang sekali dibicarakan orang di dalam rimba persilatan.
Waktu itu Bun Kie Lin telah menghela napas dalam-dalam, katanya.
"Sahabat kalian besok akan sembuh benar, dia sudah dapat berdiri dan berjalan! Nanti, kurang lebih mendekati fajar, kalian berikan obat ini kepadanya lagi, buat menyembuhkan seluruh sisa penyakit dan lukanya, di samping menambah kekuatannya."
Sambil berkata begitu Bun Kie Lin telah memberikan semacam obat pil yang berwarna merah kecoklat-coklatan, dan Yo Him menyambuti sambil mengucapkan terima kasih!
Sedangkan Sasana juga telah berkata dengan gembira.
"Jadi Locianpwe sudah tidak marah lagi kepada kami?!"
Bun Kie Lin tersenyum kecut.
"Sebetulnya aku masih mendongkol karena kalian telah mempermainkan aku! Tetapi setelah kupikir-pikir, memang tidak perlu aku merasa dirugikan, karena justeru yang mempermainkan diriku tidak lain dari puteranya Sin-tiauw-tay-hiap, orang yang sangat kukagumi.....!"
Dan setelah berkata begitu, tampak Bun Kie Lin tersenyum lebar. Yo Him waktu itu teringat sesuatu, lalu tanyanya kepada Bun Kie Lin.
"Locianpwe, ada sedikit yang perlu kutanyakan lagi. Apakah Locianpwe kenal dengan orang bertubuh tinggi kurus yang tadi itu?!"
Bun Kie Lin mengangguk.
"Ya, aku memang kenal dengannya..... dia adalah muridnya Hekpek-siang-sat....."
"Ohh.....!"
Yo Him terkejut, sampai mengeluarkan seruan tertahan.
"Waktu orang itu muncul, sesungguhnya aku menduga bahwa aku akan bercelaka di tangannya, karena ia terkenal sangat berangasan dan kejam.....! Tetapi siapa tahu, justeru kau telah dapat menghadapinya, bahkan rajawali putih kalian telah mempermainkannya.....!"
"Siapakah dia sebenarnya?!"
Tanya Yo Him menegasi.
"Mengenai riwayatnya aku tidak mengetahui jelas, tetapi memang seperti apa yang kuketahui dia telah lima atau enam tahun terakhir ini menjadi murid Hek-pek-siang-sat. Dan menurut cerita-cerita yang ada, dia she Bong dan sebelumnya dia sebagai penjahat yang menempuh jalan hitam. Namun suatu waktu dia telah bernasib beruntung, karena bertemu dengan Hek-pek-siang-sat."
Sebetulnya orang she Bong itu bermaksud membegal Hek-peksiang-sat, namun siapa tahu dengan mudah Hek-pek-siang-sat menghajarnya babak belur.
Itulah sebabnya mengapa akhirnya Hek-pek-siang-sat mengambilnya menjadi murid mereka, dan mewarisi kepandaian yang liehay.
Sejauh itu tidak diketahui dengan cara bagaimana orang she Bong tersebut membujuk Hekpek-siang-sat sehingga ke dua orang tokoh yang memiliki kepandaian sangat tinggi itu, bersedia menjadi gurunya orang she Bong.
"Yang pasti, kini orang she Bong itu telah menjadi seorang yang memiliki kepandaian aneh dan tinggi. Mungkin berada di atas kepandaianku. Hanya saja yang mengherankan sekali, mengapa orang she Bong tersebut bisa muncul di tempat ini?!"
Sambil berkata begitu, seperti juga bertanya kepada dirinya sendiri tampak, Bun Kie Lin telah termenung sejenak, dia berdiam diri.
Sedangkan Yo Him dan Sasana masih diliputi perasaan terkejut, karena mereka lama sekali tidak menyangka bahwa orang she Bong itu adalah murid dari Hek-pek-siang-sat.
Yo Him maupun Sasana mengetahui siapa adanya Hek-pek-siang-sat tersebut, dan merekapun mengetahui keliehayan ke dua orang itu, si hitam dan si putih.
Terlebih lagi Sasana, karena memang Sasana mengetahui benar Hek-pek-siang-sat sebelumnya menjadi orang-orang kepercayaan dari Tiat To Hoat-ong, yang bekerja di bawah perintah dari pangeran Ghalik.
Ke dua manusia yang memiliki perangai sangat aneh tersebut, yang diketahuinya sering angin-anginan, sebentar menempuh jalan lurus, sejenak kemudian menempuh jalan sesat, membuat Sasana pun sekarang tidak mengetahui, apakah jika Hek-pek-siang-sat bertemu dengannya, ke dua manusia luar biasa itu masih menghormatinya seperti dulu.
"Kalian pernah bertemu dengan Hek-pek-siang-sat?!"
Tanya Bun Kie Lin ketika melihat sepasang suami isteri muda itu berdiam diri saja termenung bagaikan terkejut mendengar perihal Hek-peksiang-sat. Yo Him menganggukkan kepalanya.
"Ya, kami memang pernah bertemu, kepandaiannya cukup menggetarkan, karena mereka merupakan dua orang tokoh yang memiliki kepandaian tinggi! Hanya saja, mereka menempuh jalan yang tidak menentu, bisa menempuh jalan yang sesat, akan tetapi juga mereka bisa mengambil jalan yang lurus..... Itulah sebabnya, kamipun tidak mengetahui apakah mereka itu dari golongan putih atau hitam, kami tidak tahu pasti!"
Bun Kie Lin mengangguk.
"Ya, kuketahui memang begitu! Aku bisa mengetahui perihal mereka, karena seperti kalian telah kuberitahukan bahwa aku ini adalah orang bekas bawahan Tiat To Hoat-ong yang setiap kali bercampur gaul dengan mereka."
"Tetapi..... mengapa dulu kita tidak pernah bertemu, Locianpwee?!"
Tanya Sasana, karena dia merasa heran, sampai terlepasan bicara.
"Tidak pernah bertemu?!"
Tanya Bun Kie Lin yang jadi heran bukan main.
"Apakah..... apakah kau mempunyai hubungan dengan Tiat To Hoat-ong?!"
Sasana merasa ia telah terlanjur bertanya, hanya melirik sejenak kepada Yo Him, kemudian sahutnya.
"Ya, karena memang Boanpwe adalah puteri pangeran Ghalik.....!"
"Ohhh?!"
Berseru Bun Kie Lin terkejut.
"Memang telah kudengar soal kehebatan Kuncu (tuan puteri).....!" Dan Bun Kie Lin menghormatinya, bukan masih hanya melekat kaget, dalam rupanya sekali sikap didirinya. Mengetahui bahwa Sasana adalah puteri pangeran Ghalik, berarti puteri dari atasannya, dia bermaksud akan memberi hormat walaupun masih duduk dengan sepasang kaki bersemedhi.
"Jangan banyak peradatan, Locianpwe. Sekarang aku bukan apaapa lagi, akupun telah menjadi isteri Yo Koko..... sedangkan ayahku telah..... menghabisi jiwanya dengan cara kecewa sekali!"
"Kalau begitu..... begitu Kuncu tentunya murid dari Loo-boan-tong Ciu Pek Thong, bukan?!"
Sasana mengangguk membenarkan.
Setelah mengetahui bahwa Sasana adalah puteri pangeran Ghalik yang diketahui akan kehebatannya dan juga murid dari Ciu Pek Thong, dengan demikian sikap Bun Kie Lin jadi lebih terbuka.
Juga terlihat ia sangat menghormati Sasana.
Ia telah berkata.
"Memang kita tidak pernah bertemu, Kuncu..... waktu itu aku hanya seringkali mendengar akan hebatnya kepandaian Kuncu sebagai murid dari Ciu Locianpwe......juga akan kecantikanmu! "
Maka sejak tadi pertama kali kita bertemu, aku telah melihatnya, bahwa engkau pasti bukan seorang wanita Boan yang sembarangan, itulah sebabnya aku telah menanyakan kepada Yo Kongcu, siapa adanya Kuncu, yang menjadi isterinya!"
Kita memang tidak pernah saling bertemu, karena justeru aku ditempatkan pada pasukan istimewa Tiat To Hoat-ong, yang dipersiapkan untuk mengadakan pembersihan di istana terhadap orang-orang yang menentangnya!
Memang dulu ayahmu dicurigai oleh Tiat To Hoat-ong, dan ayah Kuncu termasuk salah satu dalam daftar merah......!"
Sasana mengangguk mengerti.
"Kalau begitu, Locianpwe tentunya ditempatkan dalam pasukan yang khusus, tidak pernah berhubungan dengan ayahku maupun para pahlawan lainnya?!"
Tanya Sasana.
Bun Kie Lin mengangguk membenarkan dan iapun menceritakan, betapa waktu ia menjadi kaki tangan Tiat To Hoat-ong, setiap hari ia hanya dikhususkan untuk melatih diri agar kepandaiannya memperoleh kemajuan yang pesat.
Di samping itu, semua urusan yang menyangkut dengan masalah para pahlawan pangeran Ghalik, tidak dicampurinya dan ia dipisahkan dalam bentuk barisan khusus Tiat To Hoat-ong.
Itulah sebabnya, walaupun Bun Kie Lin bekerja di bawah perintah Tiat To Hoat-ong, tokh ia tidak pernah bertemu muka dengan Sasana.
Yo Him menghela napas dalam-dalam setelah selesai mendengar cerita Bun Kie Lin.
"Tidak mengherankan jika sekarang Locianpwe memililiki kepandaian yang tinggi.....!"
Pujinya. Bun Kie Lin berobah muram, wajahnya guram sekali, ia menghela napas beberapa kali, katanya.
"Memiliki kepandaian yang tinggi, tetapi dengan sepasang kaki yang bercacad seperti ini, sungguh menjengkelkan sekali!"
"Locianpwe, harap Locianpwe jangan marah. Jika boleh Boanpwe mengetahui, apa sebabnya kaki Locianpwe bisa bercacad seperti itu?!"
Bun Kie Lin tidak segera menjelaskan.
Ia mengawasi Yo Him sejenak, barulah ia berkata.
"Sebetulnya, urusan ini sungguh mendukakan sekali!
Waktu itu, sebagaimana diketahui bahwa aku bekerja buat Tiat To Hoat-ong, yang ditempatkan pada pasukan khususnya."
Aku bicara dari hal yang sebenarnya, bahwa aku tengah berusaha untuk mempelajari ilmu Soboc yang dimiliki Tiat To Hoat-ong.
Namun, sayangnya, aku tidak memperoleh petunjuk yang terperinci darinya, sehingga aku salah dalam melatih lweekangku, yang akhirnya membuat sepasang kakiku menjadi lumpuh!
Anakrawali 11.055.
"Beruntung aku belum mempelajari begitu mendalam, sehingga aku segera bisa membuang seluruh jurus yang pernah kupelajari itu, dengan demikian, aku bisa, memelihara jiwaku ini yang hanya sepotong belaka. Kalau tidak, tentu aku telah terbinasa oleh latihan celaka tersebut! "
Tiat To Hoat-ong sendiri memiliki maksud tertentu dengan memberikan latihan ilmu Sobocnya itu, di mana ia bermaksud agar pasukan khususnya memang memiliki kepandaian yang bisa diandalkan.
Tetapi sayangnya ia tidak mau membuka seluruh rahasia ilmunya tersebut, sehingga terjadi malapetaka ini.....
Dan bukan hanya aku seorang diri yang bercacad seperti ini, masih ada beberapa orang rekanku yang lainnya, yang juga bercacad seperti aku.
Malah ada yang lebih berat lagi, mereka tidak keburu mencegah dan menghentikan latihan tersebut.
"Mereka menyadari kesesatan mereka setelah terlanjur, sehingga bukan saja sepasang kaki mereka saja yang lumpuh, malah sepasang tangan mereka juga lumpuh. Malah, ada beberapa orang di antara mereka telah terbinasa karena latihan ilmu Soboc ini.....!"
Setelah bercerita sampai di situ, Bun Kie Lin menghela napas beberapa kali.
Tampaknya pengalamannya yang pernah mempelajari ilmu Soboc dan sampai membuat dia bercacat benarbenar merupakan hal yang sangat mendukakannya.
Yo Him juga telah mengangguk-angguk beberapa kali.
"Sempat beberapa kali Boanpwe menyaksikan ilmu Soboc itu, memang merupakan ilmu yang cukup mengerikan akan kehebatannya, dan ilmu itu agak sesat.....!"
Kata Yo Him.
Karena dia teringat betapa Tiat To Hoat-ong pernah saling mengadu ilmu dengan Swat Tocu, di mana Swat Tocu mempergunakan ilmu Inti Esnya, sedangkan Tiat To Hoat-ong mempergunakan ilmu Sobocnya.
Tetapi kesudahannya Swat Tocu memang masih menang satu tingkat dibandingkan dengan Tiat To Hoat-ong.
Sasana sendiri telah berkata.
"Memang Tiat To Hoat-ong memiliki ilmu Soboc yang cukup mengejutkan. Ayahku sendiri dulu seringkali memuji-muji bahwa ilmu Soboc yang dimiliki Tiat To Hoat-ong merupakan ilmu yang hebat, dan ayah memang sempat semasa hidupnya berusaha mencarikan ilmu tandingannya, karena almarhum ayahku pernah jnga mengetahui akan maksudmaksud tidak baik dari Tiat To Hoat-ong. Hanya saja, ayahku tidak menyangka bahwa Tiat To Hoat-ong ternyata memiliki maksud yang lebih jahat dari apa yang diduganya, di mana Tiat To Hoat-ong berusaha mempengaruhi Kaisar dan memfitnah ayahku. Dengan begitu, terakhir ayah menemui kematian dengan cara yang sangat menyedihkan dan penasaran sekali.....!"
Bun Kie Lin mengangguk-angguk.
"Mengenai nasib malang yang dialami pangeran Ghalik memang pernah juga kudengar.....!"
Kata Bun Kie Lin kemudian.
"Sayangnya pangeran Ghalik tidak mau mengambil tindakan tegas, buat menumpas Tiat To Hoat-ong dan kemudian membersihkan diri dihadapan Kaisar. Dengan mempergunakan kesempatan itulah telah membuat Tiat To Hoat-ong semakin leluasa memfitnah ayahmu, kuncu.....!"
Yo Him cepat-cepat memotong, katanya.
"Urusan yang telah lalu tidak perlu kita bicarakan terlalu berlarut-larut lagi, karena jika tokh kita membicarakannya sampai mendetail, tokh tidak ada gunanya lagi.....!"
Bun Kie Lin mengangguk membenarkan, dan dia telah bicara pada Sasana, katanya.
"Dan sekarang Kuncu telah hidup bahagia dengan Yo Kongcu, apakah kalian telah memperoleh anak?!"
Sasana menggeleng.
"Belum.....!"
Sahutnya.
"Sesungguhnya..... sesungguhnya, kami ingin merindukan sekali anak.....!"
Yo Him telah berkata dengan suara yang bergurau.
"Sesungguhnya, kami seharusnya telah memiliki beberapa orang anak. Hanya saja sayangnya justeru bahwa Sasana belum bermaksud ingin punya anak. Ia kuatir dirinya cepat menjadi tua.....!" Sambil berkata begitu, Yo Him telah melirik kepada isterinya sambil tersenyum. Tetapi Sasana, yang pipinya berobah memerah, telah mengulurkan tangan kanannya mencubit lengan Yo Him cukup keras, sambil katanya pura-pura marah.
"Kau bergurau keterlaluan.....!"
Yo Him menjerit kesakitan, namun masih tetap tertawa-tawa.
Dan diwaktu itu juga dia telah mengundurkan diri beberapa tapak menjauhi dari Sasana, karena kuatir isterinya itu mencubit lagi.
Tetapi Sasana tidak mengejarnya dan tidak mencubitnya, hanya mendelik saja pada Yo Him, pura-pura marah, padahal hatinya sangat bahagia sekali.
Sedangkan Bun Kie Lin tersenyum, katanya.
"Aku mendoakan, semoga saja kalian cepat-cepat memperoleh anak! Dengan diperolehnya anak, sehingga Sin-tiauw-tay-hiap memiliki cucu, tentu anak kalian itu, tidak perduli lelaki atau perempuan, niscaya akan menjadi seorang yang tangguh sekali, yang luar biasa dan memiliki kepandaian sangat tinggi sekali..... karena kakek dan neneknya akan turun tangan sendiri mendidik cucunya!"
Yo Him mengangguk sambil tersenyum, dengan pipi agak memerah. "
Benar apa yang dikatakan Locianpwe, memang ayah dan ibu selalu menanyakan kapan kami bisa menghadiahkan mereka seorang atau dua orang cucu......
hanya saja sungguh kami tidak memperoleh keberuntungan untuk cepat-cepat meraih kebahagiaan memperoleh keturunan......!"
"Kau jangan berkata begitu, karena ini yang disebut belum waktunya! Jika memang telah tiba waktunya, tentu kalian akan memperoleh anak. Bahkan, jika kalian telah dikurniakan seorang anak, selanjutnya setiap tahun akan subur sekali, beruntun datang lagi seorang anak, lalu muncul pula yang lainnya! Telah berapa lama kalian menikah?!"
"Lebih dari lima tahun, Locianpwe.....!"
Menjawab Yo Him.
"Maukah aku menolong kalian agar kalian cepat-cepat memperoleh arak?!"
Tanya Bun Kie Lin. Waktu itulah Sasana teringat sesuatu, cepat-cepat dia berlutut di hadapan Bun Kie Lin, katanya.
"Bun Locianpwe, alangkah bahagianya kami jika saja Locianpwe bisa menolong kami untuk mempercepat waktu kami untuk menggendong anak..... kami tentu tidak akan melupakan budi kebaikan!" Sikap Bun Kie Lin sekarang sudah berbeda dibandingkan beberapa waktu yang lalu. Jika sekarang dia telah mengetahui Yo Him adalah putera dari Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko. Sedangkan Sasana adalah puteri dari pangeran Ghalik yang sangat terkenal sebagai panglima besar semasa hidupnya, dan juga Sasana merupakan murid tunggal dari Ciu Pek Thong. Maka dia sekarang memperlakukan pasangan suami isteri tersebut tidak seketus tadi. Ketika melihat Sasana berlutut di hadapannya meminta pertolongannya agar dia dapat membantu pasangan suami isteri ini cepat-cepat punya anak, dia tersenyum lebar.
"Bangunlah..... bangunlah!"
Kata Bun Kie Lin kemudian.
"Bangunlah Kuncu..... aku tentu akan menolongmu......!"
"Tetapi Locianpwe......, tentunya Locianpwee akan memberikan kami obat agar....."
Berkata sampai di situ, muka Sasana berobah merah.
"Ya, ya, aku akan memberikan semacam obat agar kandungan Kuncu menjadi subur, dan dengan demikian, mudah-mudahan dalam tahun ini engkau dapat hamil......"
Sambil berkata begitu, Bun Kie Lin telah merogoh sakunya, mengeluarkan sejenis obat yang berwarna-warni berjumlah puluhan butir.
Diberikan obat-obat itu kepada Sasana dan juga ia telah memberitahukan, obat-obat yang mana harus dimakan terlebih dahulu.
Ternyata obat itu harus dimakan oleh Sasana selama satu bulan, karena memang obat tersebut berjumlah tigapuluh butir.
Dengan demikian setiap harinya Sasana harus menelannya satu butir, dan menurut Bun Kie Lin jika Sasana mematuhi petunjuknya, niscaya ia akan lebih cepat hamil, karena obat-obat itu akan bekerja menyuburkan peranakannya.
Yo Him dan Sasana mengucapkan terima kasihnya yang tidak terhingga.
Mereka juga yakin, tidak lama lagi Sasana tentu akan hamil, bukankah Bun Kie Lin ini memang seorang yang pandai sekali dalam hal ilmu pengobatan.
Sebelumnya Sasana memang seringkali mengeluh pada mertua perempuannya, yaitu Siauw Liong Lie.
Sasana selalu mengeluh bahwa sampai saat itu ia masih belum juga bisa menghadiahkan mertuanya seorang cucu.
Siauw Liong Lie menghiburnya agar Sasana bersabar.
Bahkan Siauw Liong Lie telah mempergunakan lweekangnya, buat membantunya, agar peranakan Sasana menjadi subur dengan cara telapak tangan Siauw Liong Lie diletakkan di pinggang Sasana, dan itu dilakukan beruntun selama dua minggu, di mana setiap hari Sasana mengerahkan lweekangnya.
Memang cara pengobatan dilakukan Siauw Liong Lie merupakan pengobatan yang umumnya memperoleh hasil cukup baik.
Sebab dengan cara demikian berarti peranakan atau kandungan Sasana dihangati dan juga dipanasi oleh lweekangnya, di mana peranakan yang dingin dapat dipanaskan.
Tetapi kenyataan yang ada, setelah lewat setahun, masih juga belum terlihat tanda-tanda akan kehamilan pada diri Sasana.
Maka akhirnya, baik mantu maupun mertua itu, menjadi berputus asa.
Mereka berpikir hendak mencari seorang tabib yang pandai untuk menolong Sasana dan Yo Him, agar mereka dapat segera memiliki anak.
Menikah telah sekian tahun tanpa memperoleh anak memang merupakan hal yang tidak menggembirakan dan tidak membahagiakan!
Telapi siapa tahu, sekarang mereka bertemu Bun Kie Lin, seorang tabib yang benar benar ahli dalam hal pengobatan.
Bukankah Hok An yang telah dalam keadaan begitu parah, masih dapat diobati sembuh dengan mudah sekali oleh Bun Kie Lin, hanya dalam waktu beberapa hari saja?
Dan sekarang, Bun Kie Lin bersedia menolong mereka, agar cepatcepat memperoleh anak, bahkan Bun Kie Lin telah memberikan pil obat kepada mereka, yang akan dapat menyuburkan peranakan Sasana.
Bukan main gembiranya Sasana maupun Yo Him, sehingga mereka tidak berkesudahannya menyampaikan terima kasih mereka.
Kepada Yo Him telah diberikan oleh Bun Kie Lin beberapa macam pil juga, yang diperintahkannya agar Yo Him menelannya sekaligus.
"Untuk memperkuat bibitmu.....!"
Kata Bun Kie Lin sambil tersenyum lebar.
Sasana pura-pura tidak mendengar perkataan Bun Kie Lin, dia melengos ke arah lain dengan pipi yang berobah memerah dan muka yang dirasakannya sangat panas.
Sedangkan Yo Him hanya tersenyum lebar dengan hati merasa jengah dan likat.
Setelah bercakap-cakap sejenak lagi, Bun Kie Lin menyatakan ingin memeriksa keadaan Hok An.
Dengan jari tangannya dia menotol tanah maka tubuhnya melesat ringan sekali ke samping Hok An, dia telah memeriksa keadaan Hok An, ternyata memang kesehatan Hok An banyak kemajuan.
Dalam keadaau seperti ini telah membuat Yo Him dan Sasana jadi gembira sekali.
Terutama Giok Hoa, yang sekarang telah dapat tersenyum simpul menyaksikan kesembuhan dari paman Hok nya itu, dia tidak menangis lagi.
Bun Kie Lin menghela napas dalam-dalam, katanya.
"Besok dia sudah boleh bangun dan bergerak perlahan-lahan, untuk menggerak-gerakkan otot-otot di sekujur tubuhnya pula..... tetapi tentu saja dia tidak boleh bergerak terlalu melelahkan, karena dia masih memerlukan satu-dua hari lagi beristirahat dan tidak boleh terlalu banyak mengeluarkan tenaga..... tetapi sekarang keadaannya sudah tidak berbahaya.....!"
Hok An pun tidak sudahnya menyatakan terima kasihnya, karena ia pun mengetahuinya kalau saja tidak ada Bun Kie Lin, dia tentu telah binasa dengan lukanya yang parah itu.
Waktu Bun Kie Lin hendak berkata-kata lagi, di tengah udara terdengar suara pekik burung rajawali putih.
Bun Kie Lin mengangkat kepalanya, dilihatnya buruag rajawali putih itu tengah beterbangan memutari keadaan di sekitar tempat itu, sekali-kali memperdengarkan suara pekikan-pekikan yang perlahan.
Rupanya burung rajawali putih itu, yang memiliki perasaan halus pun telah mengetahui majikannya mulai berangsur sembuh, karena itu, tidak hentinya dia memekik sambil berputaran di atas udara.
Bun Kie Lin menunjuk kepada burung rajawali putih itu, katanya.
"Tadi aku sempat menyaksikan burung rajawali itu mempermainkan orang she Bong itu..... betapa gagah perkasanya burung rajawali tersebut..... tentunya dia terlatih dengan baik sekali.....!"
Giok Hoa mengiyakan, dia telah bilang.
"Benar Locianpwe, memang Pek-jie telah memperoleh didikan dari paman Hok, sehingga dia bisa menghadapi orang-orang yang memiliki kepandaian silat yang tinggi sekalipun, dengan cara yang baik! Di samping itu, Pek-jie juga sangat kebal terhadap serangan yang tanggung-tanggung, dia sangat cerdik!" Segera juga Giok Hoa menceritakan riwayat dari burung rajawali putih itu, yang diceritakannya demikian menariknya, terutama sekali waktu Giok Hoa menjelaskan burung rajawali itu dapat bergerak-gerak dengan gerakan seperti seekor ular, membuat semua orang merasa kagum. Dan mereka takjub mendengar burung rajawali putih itu pernah dirawat dan dipelihara serta dibesarkan seekor ular yang sangat besar.
"Tentunya rajawali putih ini seekor burung rajawali yang mujijat sekali, yang pasti memiliki kelainan dibandingkan dengan burungburung rajawali putih sebangsanya..... karena jarang sekali ada seekor ular yang bisa menetaskan telur burung rajawali dan kemudian memelihara anak rajawali itu menjadi besar.....!"
Memuji Yo Him.
Dan dia teringat kepada cerita-cerita ayahnya, mengenai Sin Tiauw, rajawali sakti, yang pernah menjadi kawan karib ayahnya di masa lalu.
Dan kini Sin-tiauw telah mati.
Dan mungkin rajawali putih yang dipelihara Giok Hoa, kalau memang dididik dengan sebaikbaiknya, burung rajawali putih ini akan sama tangguhnya dengan Sin-tiauw yang pernah menjadi sahabat karib Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko.
Sasana sendiri telah memuji akan keindahan bulu burung rajawali putih itu, yang begitu mulus dan juga gerakan sayapnya yang begitu kuat, setiap kali mengibas menimbulkan angin yang sangat dahsyat sekali.
Dan juga tenaga yang dimiliki burung rajawali putih itu sangat kuat sekali, berbeda dengan burung-burung rajawali biasa.
Dengan demikian telah membuat Sasana pun merasa kagum bukan main.
Dan ia menyatakan kepada Giok Hoa, kalau saja iapun bisa memperoleh seekor saja dari anak rajawali putih, seperti yang dimiliki Giok Hoa.
Tetapi Giok Hoa menceritakan, umumnya burung burung rajawali putih bermusuhan dengan burung rajawali hitam, di mana ia selalu bertempur.
Padahal, jika memang Sasana ingin sekali memiliki dan memelihara seekor anak rajawali putih, dia tentu dapat saja pergi ke tempat di mana Giok Hoa dulu memperoleh anak burung rajawali putih itu.
Di sana memang banyak sekali terdapat burung rajawali putih dan rajawali hitam.
Hanya saja, untuk mencari seekor anak rajawali putih tentunya tidak terlalu mudah, sebab induknya tidak akan sembarangan membiarkan orang mengambil anak mereka.
Sasana tersenyum.
"Ya, jika kelak kami mempunyai waktu tentu kami akan pergi ke sana. Siapa tahu kami pun akan bertemu dan memperoleh seekor anak rajawali putih, sama halnya seperti yang kau alami itu, Giok Hoa?"
Giok Hoa mengangguk sambil tersenyum lebar.
"Tetapi Cie-cie harus ingat, hahwa dalam urusan ini sebetulnya merupakan urusan yang tidak terlalu sulit buat Cie-cie dan Koko berdua karena kalian memiliki kepandaian yang tinggi sekali. Kalian bisa mencari sarang burung rajawali putih.
"Harus Cie-cie dan Koko ketahui, bahwa burung-burung rajawali putih umumnya merupakan burung-burung yang sangat baik, mereka tidak akan menyerang mangsanya dengan ganas. Berbeda dengan burung-burung rajawali hitam, yang selalu menyerang mangsanya dengan ganas. Dengan begitu, jelas akan membuat siapa yang berani mendekati sarang dan tempat mereka, akan diserang hebat oleh puluhan ekor burung rajawali hitam, hal inilah yang berbahaya.....!"
Sasana dan Yo Him menggangguk mengerti.
Tetapi di dalam hati mereka sendiri berpikir, jelas mereka tidak akan jeri berurusan dengan rajawali hitam, namun hal dan perasaan itu tidak diutarakannya?
Bun Kie Lin tersenyum.
"Jika memang kalian menginginkan seekor anak rajawali, maka akupun menghendakinya..... Siapa tahu anak rajawali yang kupelihara itu kelak dapat juga untuk diperintah-perintah untuk melayaniku?! Bukankah aku tidak memiliki seorang pelayan pun juga?!"
Yo Him, Sasana dan Giok Hoa telah tertawa, karena beranggapan bahwa perkataan dari Bun Kie Lin sangat lucu.
Hok An yang mendengar perkataan Bun Kie Lin, telah ikut tersenyum.
Begitulah, Hok An diijinkan oleh Bun Kie Lin untuk berdiam di tempatnya sampai sembuh benar.
Hal ini menggembirakan Yo Him maupun Sasana, karena dengan beradanya di tempat itu, mereka bertambah tenang.
Jelas hal ini menyebabkan mereka tidak perlu berkuatir, kalau suatu saat Hok An kumat kembali luka-lukanya itu.
Karena di situ terdapat Bun Kie Lin yang dapat memberikan pertolongannya.
Keesokan harinya, Hok An benar-benar telah sehat.
Dia telah dapat duduk, malah telah meminta makan.
Sedangkan Bun Kie Lin rajin memeriksa keadaaannya.
Melihat kemajuan dalam perkembangan kesehatan Hok An membuat Bun Kie Lin merasa gembira.
Malah tidak jarang Bun Kie Lin telah bilang.
"Apa yang kukatakan, bahwa aku akan dapat menyembuhkan lukanya itu bukan suatu dusta belaka, bukan? Sekarang Hok Hengtay telah sembuh..... besok dia telah boleh jalan-jalan ke mana dia suka."
Yo Him mengangguk-angguk sambil tidak hentinya memuji akan keliehayan tabib itu.
Sedangkan Giok Hoa pun tidak jarang mengucapkan syukur dan terima kasihnya kepada Bun Kie Lin.
Waktu itulah Sasana telah melihat bahwa pada bekas-bekas luka di tubuh Hok An, terutama sekali pada ujung-ujung jari tangannya, telah merapat.
Dan ini memperlihatkan kemajuan yang pesat sekali.
Jarang ada seseorang yang menjadi korban penyiksaan yang begitu hebat, bisa sembuh dalam waktu sesingkat ini.
Hal ini menunjukkan ilmu pengobatan Bun Kie Lin memang sangat hebat dan bisa diandalkan.
Dan keyakinan Sasana, bahwa setelah kelak dia menelan pil-pil yang diberikan Bun Kie Lin padanya niscaya akan membuat dia dapat hamil bertambah tebal......!
Begitulah, setelah lewat satu hari lagi, Hok An benar-benar dapat berdiri, kini boleh dibilang dia telah sembuh keseluruhannya.
Hanya saja yang terasa sekarang adalah perasaan lemasnya.
Tinggal melatih otot-ototnya lagi.
Dia sembuh tanpa perlu mengalami cacad pada tubuhnya, inilah yang menggembirakan Hok An, terutama sekali lweekang yang dimilikinya itu tidak juga menjadi berkurang.
Hok An memang telah dapat berjalan, dia melangkah perlahanlahan.
Lewat dua hari lagi, dia bisa berlari walaupun tidak terlalu cepat.
Setelah lewat satu minggu, Hok An benar-benar telah sembuh dan tidak memerlukan lagi perawatan dari Bun Kie Lin.
Sedangkan Sasana dan Yo Him telah melihat Hok An sembuh benar, segera juga menyatakan bahwa mereka ingin melanjutkan perjalanan mereka dan akan berpisah.
Walaupun Giok Hoa menyatakan keberatannya, karena berat harus berpisah dengan Yo Him dan Sasana, yang sudah dianggapnya seperti kakaknya sendiri.
Namun Sasana memberikan pengertian kepadanya bahwa mereka tokh akhirnya harus berpisah, karena Yo Him masih mempunyai urusan lainnya, yang harus diselesaikan bersama dengan isterinya.
Akhirnya, setelah dibujuk, barulah Giok Hoa mau berpisah melepaskan kepergian Yo Him dan Sasana dengan linangan air mata.
Sedangkan Hok An merasa terharu sekali.
Dia mengucapkan terima kasih yang tidak hentinya kepada Yo Him dan Sasana.
Juga kepada Bun Kie Lin.
Setelah Yo Him dan Sasana berlalu, Hok An pun akan menyatakan kepada Bun Kie Lin bahwa ia akan mengajak Giok Hoa buat melanjutkan perjalanan pula, juga ia tidak lupa mengucapkan syukur dan terima kasih tidak terhingga kepada Bun Kie Lin, karena Bun Kie Lin lah yang telah menyelamatkan jiwanya dari kematian.
Sedangkan Giok Hoa menjanjikan, kelak jika memang ia lewat di sekitar tempat ini, akan sering-sering menjenguk Bun Kie Lin.
Bun Kie Lin sendiri telah melepaskan kepergian Hok An dan Giok Hoa dengan hati yang berat.
Namun orang tua she Bun ini tidak memperlihatkan perasaan sedihnya, dia telah melepaskan dengan tersenyum lebar dan melambai-lambaikan tangannya.
Hok An dan Giok Hoa telah menuruni gunung tersebut, dan ia sampai di rumah Ho Sin-se.
Tabib kampung itu segera banyak bertanya mengenai keadaan Bun Kie Lin.
"Jika memang kau bermaksud menjadi pelayannya, cepat kau pergi menemuinya, mungkin permintaanmu akan dipenuhinya, karena memang Bun Locianpwee tengah membutuhkan seseorang yang bisa membantuinya. Tetapi ingat, engkau harus memiliki hati dan jiwa yang bersih. Engkau harus bersetia, karena sekali saja engkau mempunyai hati yang bengkok, begitu Bun Locianpwe mengetahui, tentu engkau akan dibuatnya bercacad....."
Ho Sin-se tampak ragu-ragu dan Giok Hoa telah menyambungi perkataan Hok An.
"Jika memang kau mengandung maksud buruk pada Bun Locianpwe, maka kemungkinan kau melarikan diri ke ujung langit sekalipun, Yo Him Koko bersama Sasana Cie-cie, tentu tidak akan melepaskan engkau. Mereka akan mengejar dan membinasakan kau!!"
Ho Sin-se berdiam diri termenung, kebingungannya jadi bertambah besar.
Dia berpikir di dalam hatinya, memang dia bermaksud mencari jalan guna memperoleh ilmu pengobatan dari Bun Kie Lin.
Karena itu, jika perlu, ia pun akan mencari jalan tertentu buat membinasakannya.
Namun jika gagal, tentu dia sendiri yang akan bercelaka.
Terlebih lagi sekarang mendengar ancaman dari Giok Hoa seperti itu, membuat Ho Sin-se bertambah ragu-ragu.
Tampak Giok Hoa telah bertanya pula.
"Apakah engkau tidak jadi pergi kepada Bun Locianpwee?!"
Ho Sin-se tidak segera menyahuti, waktu itu dia telah berpikir lagi.
"Jika memang aku bekerja dengan hati yang jujur, tidak mungkinaku dicelakai olehnya..... aku tentu akan diwarisi juga ilmu pengobatannya..... Aku sesungguhnya tidak mengharapkan yang terlalu banyak. Ia menurunkan sepersepuluh saja dari ilmu pengobatannya itu, tentu aku sudah boleh bersyukur....."
Setelahberpikir begitu, Ho Sin-se mengangguk. "Ya, aku akan segera pergi ke tempat Bun Locianpwe, untuk bekerja melayaninya.....!"
Kata Ho Sin-se kemudian.
"Tentu saja aku akan bekerja dengan baik yang jujur dan sebaik-baiknya, karena aku tidak akan memperdayakan Bun Locianpwe, dan juga tidak memiliki pikiran yang kotor.....!"
Kata Ho Sin-se dengan sikap yang bersemangat sekali.
"Dan juga, aku akan melayani Bun Loncianpwe selain sebagai majikan juga sebagai guru......!"
Hok An tersenyum tawar.
"Soal engkau bermaksud untuk bekerja dengan setia dan jujur, atau juga bersikap curang, itu juga terserah kepadamu sendiri, karena akibat buruknya engkau sendiri juga yang akan merasakannya. Kami hanya menasehati kau agar engkau bersikap baik-baik terhadap Bun Locianpwe, karena sekali saja engkau memiliki maksud jahat dan juga hati yang kurang baik niscaya engkau sendiri yang akan mengalami nasib yang buruk sekali......!"
Ho Sin-se mengetahui!
mengangguk, Oya, katanya.
sekarang "Ya.....
engkau memang telah aku sembuh keseluruhannya, engkau telah dapat melakukan perjalanan lagi dengan tubuh yang telah sehat karena luka-lukamu itu telah sembuh dan kembalinya tenagamu.....
" Hok An berkata.
"Semua ini berkat pertolongan yang diberikan Bun Locianpwe. Memang Bun Locianpwe seorang tabib yang pandai. Jika bukan dia, belum tentu segera sembuh dalam waktu sesingkat ini, yaitu kurang dari setengah bulan!"
Ho Sin-se menjawab.
"Justeru aku bermaksud melayani Bun Locianpwe itu adalah untuk mempelajari ilmu pengobatannya itu, agar aku bisa memperoleh ilmu pengobatan yang lebih mendalam lagi. Bukankah jika aku bisa memperoleh ilmu pengobatan yang berarti, aku akan dapat menolong orang-orang yang tengah kesulitan dan terluka berat. Dengan demikian aku bisa melakukan banyak perbuatan kebaikan."
Hok An tersenyum sinis.
"Tetapi kukira engkau berbeda dengan Bun Locianpwe. Jika kau tentu dipentingkan adalah masalah uang.....!"
Kata Hok An terbuka.
"Jika seseorang membutuhkan pertolonganmu, tetapi tidak memiliki uang, tentu engkau tidak akan menolongnya, bukankah begitu?" Ho Sin-se berobah mukanya menjadi memerah, sama sekali dia tidak menyangka bahwa Hok An akan bicara terus terang seperti itu. Namun, memang dasar watak Sin-se seorang yang tebal muka, walaupun dia merasa malu, tokh dia tersenyum juga sambil mengangguk.
"Benar! Di dalam dunia ini uang yang memegang peranan. Tanpa uang apakah engkau dapat makan? Tanpa uang apakah engkau dapat membeli pakaianmu, tanpa uang apakah akan ada tabib yang mau mengobati luka-lukamu! Hemmm, tanpa uang jangan harap engkau akan dapat hidup sebagai manusia yang layak di duniaini!"
Mendengar perkataan rendah tidak tahu malu dari Ho Sin-se, membuat Hok An tidak berselera untuk bercakap-cakap lebih lama dengan Ho Sin-se, dia telah mengajak Giok Hoa buat melanjutkan perjalanannya.
Begitulah, Giok Hoa dengan Hok An telahmeninggalkan tempat tersebut, diawasi oleh Ho Sin-se, yang rupanya masihragu-ragu apakah dia akan pergi menghadap Bun Kie Linatau memang tidak.
Sedangkan Hok An mengajak Giok Hoa mengambil arah ke jurusan barat, di mana mereka melakukan perjalanan dengan di atas mereka selalu terdengar suara pekik dari burung rajawali putih itu.
Dengan demikian mereka mengetahui, burung rajawali putih yang jinak dan penurut itu, tetap mengikuti mereka terbang di tengah udara.
Setelah berjalan belasan lie, tampak Hok An memburu napasnya, juga keringat memenuhi mukanya.
Maka Giok Hoa mengajaknya buat beristirahat.
Ho An pun tidak membantah, karena iapun merasakan tenaganya belum pulih keseluruhannya.
Jika dalam keadaan seperti itu melakukan perjalanan terus, memaksakan diri, mungkin akan menyebabkan kesehatannya terganggu.
Dia duduk beristirahat di bawah sebatang pohon.
Giok Hoa telah berkata kepadanya.
"Paman Hok, aku akan pergi mencarikan buah-buahan segar buatmu......!"
Hok An hanya tersenyum saja, entah mengapa dia sangat sayang sekali pada gadis cilik ini, puteri dari wanita yang sangat dicintanya.
Dulu, karena dia telah pergi berpisah dari calon isterinya, sehingga calon isterinya itu menjadi isteri orang lain.
Dan selama bertahuntahun Hok An bersengsara mencari jejak calon isterinya.
Waktu dapat ditemuinya, telah menjadi isteri orang lain, dan telah berputeri seorang, yaitu Giok Hoa.
Di saat ke dua orang tua Giok Hoa terbunuh dan mati, maka Giok Hoa hidup sebatangkara.
Dan kini Hok An telah menganggap Giok Hoa sebagai anaknya sendiri, dia memanjakannya dan sangat sayang sekali.
Karena itu, hatinya terharu sekali melihat Giok Hoa begitu memperhatikan keadaan dan kesehatannya.
Dan Hok An pun mengetahui, entah berapa banyak air mata yang telah ditumpahkan Giok Hoa waktu menguatirkan kesehatannya sebelum sembuh.
Tiba-tiba Giok Hoa telah bersiul nyaring sekali, dan burung rajawali putih itu telah memekik nyaring dan terbang meluncur turun, hinggap tepat di sisi si gadis cilik.
"Pek-jie, antarkan aku ke tempat yang banyak terdapat buahbuahan segar....."
Kata Giok Hoa.
Burung rajawali putih itu seperti mengerti apa yang dikatakan Giok Hoa.
Ia telah menekuk ke dua kakinya, tubuhnya jadi merunduk rendah.
Giok Hoa segera melompat duduk diatas punggung burung rajawali itu.
Setelah duduk benar di atas punggung rajawali itu, barulah Giok Hoa menepuk leher burung rajawali tersebut.
Dan burung rajawali itu telah mengibaskan sayapnya, mulai terbang ke angkasa.
Giok Hoa memandang sekelilingnya, ke arah bawah.
Segala apa mulai tampak mengecil.
Demikian juga halnya dengan Hok An yang tengah duduk beristirahat di bawah sebatang pohon, di mana tampak kecil sekali.
Di waktu itulah tampak, betapa hutan-hutan di kejauhan, yang sangat lebat sekali.
Sedangkan Pek-jie, burung rajawali putih itu telah terbang ke arah hutan-hutan belukar tersebut.
Terbang di tengah udara sesungguhnya merupakan hal yang sangat mengasyikkan sekali buat Giok Hoa.
Namun karena Giok Hoa tahu Hok An sangat haus dan letih, maka dia tidak berani berlambat-lambat dan berayal.
Segera dia membisiki Pek-jie, katanya.
"Pek-jie, cepat pergi ke hutan-hutan itu. Tentu di hutan itu kita bisa memperoleh buah-buahan segar yang kita inginkan..... paman Hok sangat haus dan letih sekali!"
Burung rajawali itu seperti mengerti juga apa yang diinginkan oleh Giok Hoa, segera mengibaskan sayapnya lebih kuat, tubuhnya meluncur jauh lebih cepat.
Dengan demikian, tidak lama kemudian burung rajawali yang membawa Giok Hoa terbang di punggungnya telah berputar-putar di sana.
Sebelum meluncur turun, burung rajawali itu telah memekik nyaring gembira karena dilihatnya hutan itu benar-benar lebat dan rimbun, juga di hutan itu terdapat banyak sekali buah-buahan.
Karena itu, burung rajawali putih tersebut tidak hentinya memekik.
Giok Hoa pun telah melihat buah-buahan yang ranum dan matangmatang itu.
Dia girang bukan main, sambil menepuk-nepuk leher burung itu, katanya.
"Pek-jie, ayo kita turun......!"
Burung rajawali itu telah menukik turun dan hinggap di tanah dengan sigap.
Dan Giok Hoa pun telah melompat turun.
Dilihatnya di sekelilingnya terdapat banyak sekali pohon buah-buah, segera Giok Hoa sambil bernyanyi-nyanyi kecil karena riang, telah memetik buah-buah itu, di mana dia telah mengumpulkan buahbuah yang masak, dan salah satu telah dimakannya.
Kemudian Giok Hoa pun telah memetik sebuah yang masak, dilontarkan kepada burung rajawali putih itu.
Burung rajawali itu menyambuti dengan patuknya, sehingga buah itu menancap di paruhnya, dan burung rajawali putih itu memakannya dengan nikmat.
Waktu buah itu telah termakan habis, tinggal hati buah tersebut yang dibuangnya, burung rajawali itu memekik perlahan, seakan juga merengek meminta lagi.
Giok Hoa mengerti apa yang diinginkan burung rajawali putih itu.
Segera dilemparkannya sebuah lagi, yang disambar burung rajawali putih tersebut dengan cepat sekali, sehingga dia bisa memakannya dengan nikmat.
Giok Hoa masih memetiki buah-buah yang terdapat di tempat itu.
Setelah merasa cukup, dia pun segera menghampiri burung rajawalinya.
Namun, disaat Giok Hoa tengah melangkah, terdengar seseorang yang berkata dengan suara yang agak bengis.
"Kebetulan sekali, memang aku tengah mencari jejakmu! Siapa tahu bisa bertemu denganmu di sini.....!"
Dan menyusul dengan perkataan itu, tampak sesosok bayangan yang berkelebat cepat sekali, dan tahu-tahu telah menghadang di depan Giok Hoa.
Giok Hoa mementang matanya lebar-lebar, namun belum lagi dia melihat jelas, diwaktu itu telah dirasakannya berkesiuran angin yang sangat kuat sekali.
Tahu-tahu tubuhnya telah melayang ringan dan buah-buah yang dipetiknya tadi telah berjatuhan.
Karena kagetnya, Giok Hoa sampai mengeluarkan jerit tertahan.
Suara jerit tertahan Giok Hoa menyadari burung rajawali itu, yang seketika telah memekik dan segera memburu akan mengejar orang yang telah mengempit Giok Hoa dan melarikan gadis cilik tersebut.
Dengan sebat burung rajawali itu telah mementang sayapnya dan tubuhnya melesat sangat cepat sekali menerjang kepada orang yang hendak menculik Giok Hoa.
Namun orang yang menculik Giok Hoa sama sekali tidak memiliki keinginan buat melayani burung rajawali itu.
Dia berlari-lari cepat seperti bayangan belaka, dengan menikung ke kanan kiri di antara batang-batang pohon.
Dengan sikap seperti itu, tentu saja orang tersebut bermaksud hendak mempersulit burung rajawali itu mengejar dirinya.
Dan memang burung rajawali putih itu sulit buat mengejar orang yang telah menculik Giok Hoa, karena dia tidak bisa menerjang dengan cepat.
Dia harus melewati batang pohon yang tumbuh berjarak tidak terlalu berjauhan.
Untuk terbang pun dia tidak dapat, hanya sambil terus mengejar, burung rajawali itu telah mengeluarkan suara pekik yang berisik sekali.
Giok Hoa yang berada dalam kempitan orang itu merasakan tubuhnya seperti melayang-layang terbang di angkasa, karena dia dibawa lari cepat sekali oleh orang itu, dirasakannya tangan orang yang menculiknya itu mengempitnya dengan kuat dan kencang sekali.
Segera juga Giok Hoa berusaha meronta, gagal.
Tenaganya tidak bisa menandingi kekuatan tenaga orang tersebut.
Seketika itu juga dia merasakan kempitan tangan orang itu sangat kuat dan keras membuatnya jadi merasa sakit pada pinggangnya.
Waktu itu Giok Hoa berusaha mengangkat kepalanya buat melihatnya, dan dia jadi kaget waktu melihat muka orang itu, karena orang yang telah menculiknya itu tidak lain dari orang berbadan kurus tinggi itu, yang disebut oleh Bun Kie Lin sebagai orang she Bong dan murid dari Hek-pek-siang-sat.
Giok Hoa jadi mengeluh.
Orang ini rupanya memang telah mengikuti jejaknya dan berusaha menantikan kesempatan yang baik untuk membalas sakit hatinya.
Dan melihat Giok Hoa berada seorang diri, dia segera turun tangan.
Hanya saja disebabkan di tempat itu terdapat burung rajawalinya, dengan sendirinya orang bertubuh tinggi kurus itu yang pernah merasakan hebatnya burung rajawali putih tersebut, tidak mau melayani burung rajawali itu.
Dia telah membawa lari Giok Hoa secepatnya, untuk menyingkirkan diri.
Sedangkan burung rajawali putih itu semakin lama mengejar semakin cepat juga, dengan suara pekikannya yang semakin ramai, karena dia menguatirkan sekali keselamatan Giok Hoa.
Giok Hoa masih terus meronta, malah dia menundukkan kepalanya, berusaha menggigit lengan orang bertubuh tinggi kurus itu, dia juga menggigitnya dengan keras sekali.
Dengan begitu, dia bermaksud agar orang itu melepaskan cekalannya sehingga burung rajawali putih itu akan dapat mengejarnya dengan cepat dan mempermainkan diri orang bertubuh tinggi kurus itu.
Akan tetapi orang she Bong itu hanya merasa kesakitan sedikit, malah kemudian dia mengempit semakin kuat, dan tangan yang lainnya dipergunakan buat menghantam punggung Giok Hoa, sehingga gadis cilik tersebut merasakan kepalanya pusing dengan mata berkunang-kunang.
Diwaktu itulah tampak tubuh orang she Bong itu melesat semakin cepat.
Setelah berlari-lari sekian lama, dia memasuki hutan semakin dalam, sehingga pohon-pohon yang tumbuh di situ semakin lebat juga.
Burung rajawali itu tidak bisa mengejar lebih jauh.
Dengan mengibas-ngibaskan sayapnya dan mengeluarkan suara memekik yang berisik sekali, burung rajawali putih itu seperti mengamuk.
Setiap kali sayapnya menghantam batang pohon, maka seketika batang pohon itu tergoncang sangat keras sekali, dan daun kering yang berterbaran di tanah telah beterbangan karena angin yang ditimbulkan oleh gerakan sepasang sayap dari burung rajawali putih tersebut sangat kuat sekali.
Orang she Bong itu telah berlari semakin cepat juga, dan akhirnya dia telah menghentikan larinya, mengangkat kepalanya memandang ke atas pohon.
"Suhu..... tecu telah menangkap orang yang telah menghina tecu, pemilik dari burung rajawali putih yang tecu ceritakan itu.....!"
Kata orang she Bong tersebut.
"Hemmmmm……!"
Terdengar suara yang perlahan dan tawar dari atas pohon itu.
Giok Hoa berusaha mengangkat kepalanya, sehingga dilihatnya dua orang tengah duduk di cabang pohon itu dengan sikap seenaknya, yang seorang memakai baju warna putih, dengan kulit muka yang cukup putih, usianya telah lanjut, dialah seorang lakilaki tua yang memiliki wajah dan sikap yang dingin sekali.
Sedangkan yang seorang lagi mengenakan baju warna hitam, yang mukanya hitam seperti pantat kuali.
Matanya sangat besar, dia memelihara berewok yang kasar, dan mukanya sama seperti kawannya, dingin dan tidak memperlihatkan perasaan apapun juga.
Waktu itu, orang she Bong itu telah melemparkan Giok Hoa ke tanah, sehingga gadis cilik itu terguling-guling di tanah.
Dan Giok Hoa berusaha untuk bangun dan berlari meloloskan diri dari orang she Bong itu.
Namun usahanya itu tidak berhasil.
Begitu dia bermaksud hendak berlari, orang she Bong tersebut mengibaskan tangannya, maka tubuh Giok Hoa telah terguling-guling di tanah, karena diterjang oleh tenaga yang sangat kuat dari kibasan baju orang she Bong tersebut.
Ke dua orang yang duduk di atas cabang pohon yang hitam dan putih itu, tidak lain dari Hek-pek-siang-sat.
Mereka telah melompat turun dengan gerakan yang sangat ringan sekali.
Mereka telah memandang dengan sorot mata yang sangat tajam dan memperhatikan Giok Hoa dengan sikap seperti juga memperhatikan sesuatu barang yang indah dan baik.
"Hemmmmmmm, anak sekecil ini dapat menghina dirimu?!"
Tanya orang yang bermuka hitam itu. Suaranya mengandung ejekan dan perasaan gusar.
"Kami telah mendidik engkau bersusah payah selama enam tahun, lalu engkau dapat dihina oleh seorang gadis cilik seperti dia?"
Orang she Bong itu berdiri dengan sepasang tangan diturunkan, sikapnya menghormat sekali. Mukanya pun berobah menjadi merah, tampaknya dia malu menerima teguran dari gurunya.
"Bukan dia yang telah membuat tecu jatuh terguling dan diperhina, tetapi justeru dia adalah pemilik burung rajawali putih itu! Sedangkan seperti tecu katakan, bahwa yang telah menghina tecu tidak lain dari Yo Him, putera dari Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko.....!"
Orang bermuka hitam itu tidak berkata apapun lagi, dia hanya memperhatikan gadis cilik itu. Sedangkan yang memakai baju putih itu, telah berkata tawar.
"Gadis ini memiliki bakat yang menakjubkan..... dan juga dia seorang gadis kecil yang agak luar biasa! Jika mendengar ceritamu bahwa gadis cilik ini dapat memerintah burung rajawali putih itu, tentunya diapun bukan gadis sembarangan?"
Setelah berkata begitu, orang bermuka putih tersebut telah menoleh kepada Giok Hoa,yang waktu itu tengah merangkak bangun dengan pipi kanannya agak membengkak karena, telah terguling-guling akibat kibasan tangan dari orang she Bong itu.
"Siapa kau nak? Dan mengapa engkau memusuhi muridku, kau perintahkan burung rajawalimu itu buat menghina muridku itu?!"
Tanya pula orang berpakaian serba putih itu, sikapnya berobah jadi sabar sekali.
Giok Hoa telah berhasil merangkak bangun berdiri dengan kepala ditengadahkan.
Sikapnya berani sekali, karena gadis cilik ini merasa marah.
Apalagi setelah mengetahui bahwa ke dua orang ini, si Hitam dan si Putih, adalah dua orang guru dari orang she Bong itu.
Tentunya mereka berdua pun bukan manusia baik-baik??
Karena itu, dengan suara yang lantang dan berani dia menyahuti.
"Tidak perlu engkau mengurusi diriku! Tidak perlu kalian mengetahui siapa diriku! Tetapi yang terpenting, kalian harus mendidik murid kalian itu agar menjadi manusia yang cukup baik dan tidak mengumbar kebengisannya belaka.....
"Masih untung waktu dulu aku tidak perintahkan Pek-jie agar mematuk biji matanya, agar buta.....! Hemmmmm, siapa sangka, setelah diberi hajaran oleh Pek-jie, ternyata dia masih berani mengumbar hatinya yang busuk itu.....!"
Hek-pek-siang-sat tertegun mendengar kata-kata Giok Hoa yang begitu berani.
Tetapi mereka berdua benar-benar merupakan manusia yang aneh sekali.
Mereka selalu menempuh jalan sekehendak hati mereka, sehingga orang-orang dalam rimba persilatan tidak bisa memasukkan mereka dalam golongan putih atau golongan hitam.
Karena terkadang Hek-pek-siang-sat menolong orang yang tengah dalam kesulitan dan juga membela kebenaran, tetapi tidak jarang pula Hek-pek-siang-sat menolongi penjahat untuk melakukan sesuatu kejahatan!
Dengan demikian, sukar sekali diterka sesungguhnya ke dua orang yang berkepandaian luar biasa ini termasuk dalam golongan mana.
Dan ada lagi sifat mereka yang agak aneh jika mereka bertemu dengan seseorang yang penakut dan bermuka-muka pada mereka, ke duanya akan merasa benci dan juga akan bersikap bengis.
Tetapi menyaksikan Giok Hoa, walaupun masih demikian kecil, namun sangat berani dan gagah sekali, mereka jadi kagum dan malah tidak marah ditegur seperti itu oleh Giok Hoa.
"Nona manis, kau berkata bahwa kami tak dapat mendidik murid kami dengan baik-baik, lalu dengan alasan apakah kau bisa berkata seperti itu?"
Tanya si Putih sambil tersenyum tidak memperlihatkan kemarahan, malah dari wajahnya terlihat dia merasa senang melihat sikap gadis kecil yang berani ini! Giok Hoa telah bertolak pinggang, dia bilang.
"Aku telah menyaksikan sendiri, tidak hujan tidak angin, muridmu telah mencari urusan dengan Yo Koko........ malah dia berusaha untuk turunkan tangan kematian, karena itu Yo Koko turunkan tangan keras padanya. Dan akupun telah memberikan ganjaran padanya dengan perintahkan Pek-jie agar mempermainkannya! "
Hemmmm, dengan begitu, ternyata dia masih tidak kapok dan masih berusaha menghina diriku.
Malah caranya hina sekali, karena dia menantikan di kala aku seorang diri, dia baru menculik diriku, dan melarikan diri ketakutan dari Pek-jie!
Jika memang dia seorang Ho-han dan gagah perkasa, tentu dia tidak akan melarikan diri dari Pek-jie, dan akan menghadapi Pek-jie dengan gagah." Hek-pek-siang-sat saling tatap satu dengan yang lainnya, ke duanya saling tersenyum.
Malah Hek-siang-sat telah berkata dengan, suara yang tawar.
"Lalu menurut pendapatmu, dengan cara apa yang pantas buat kami mengajar murid kami itu?!"
"Hukum dia dan menuntut agar dia bersumpah keras, bahwa dia tidak akan berbuat rendah dan memalukan. Disampingitu tidak melakukan hal-hal yang berbau kejahatan.....!"
Mendengar jawaban Giok Hoa seperti itu Hek-pek-siang-sat tertawa bergelak-gelak. Mereka beranggapan perkataan Giok Hoa lucu sekali.
"Kau aneh bukan main, nona manis....."
Kata si putih kemudian.
"Aneh? Aku tidak aneh, aku memiliki sepasang telinga, sepasang hidung, mulut dan mata..... mengapa aneh? Aku sama seperti kalian, tetapi yang kuinginkan orang itu yang menjadi muridmu tidak menjadi manusia rendah yang hanya berani terhadap orang yang tidak berdaya seperti aku, seorang anak-anak! "
Mengapa dulu waktu menghadapi Yo Koko dan juga Pek-jie, dia melarikan diri secara pengecut!
Dan kini pura-pura garang padaku, ingin menghina diriku!
Apakah tidakan dan perbuatannya itu berarti perbuatan seorang Ho-han?!"
Muka Hek-pek-siang-sat berobah ketika mendengar perkataan Giok Hoa, dan kemudian katanya.
"Hemmm, dengan berkata begitu jelas nona ingin mengartikan bahwa kami ini merupakan manusia-manusia tidak punya guna, yang tidak dapat mendidik murid sendiri. Bukankah begitu?"
"Aku tidak berkata begitu, tetapi kenyataan yang kulihat memang begitu....."
Jawab Giok Hoa dengan lantang dan berani sekali.
Tertegun kembali Hek-pek-siang-sat mendengar jawaban Giok Hoa yang berani itu, karena mereka sama sekali tidak menyangka bahwa Giok Hoa memiliki keberanian seperti itu.
Dan akhirnya Pek-siang-sat telah berkata dengan suara yang dingin.
"Sekarang coba kau sebutkan, apakah muridku ini harus di hukum?"
Giok Hoa mengangguk cepat.
"Ya, tentu saja harus dihukum. Memiliki murid yang hanya pandai melakukan kejahatan dan menghina orang tidak berdaya, disamping itu juga melakukan perbuatan-perbuatan rendah, hanya mengundang rasa malu pada guru-gurunya belaka! Karena itu, murid seperti dia harus dihukum sekeras-kerasnya, agar dilain saat dia tidak melakukan perbuatan yang memalukan lagi!"
Hek-pek-siang-sat tiba-tiba tertawa bergelak-gelak dengan suara yang nyaring sekali, malah Pek-siang-sat telah berkata nyaring.
"Bagus! Bagus! Jika memang nona berkata seperti itu, menandakan bahwa nona bersemangat sekali! Tetapi kami tidak akan menghukum murid kami, karena kami yang lebih mengetahui watak dan tabiatnya! "
Kami juga tidak akan melarangnya buat melakukan sesuatu apapun juga, karena itu menjadi haknya.
Jika memang dia bisa melakukannya dan sanggup, bahkan memiliki kemampuan buat melakukan segalanya, mengapa pula kami harus melarangnya......!"
Waktu berkata begitu, tiba-tiba terdengar suara pekik burung rajawali putih di tengah udara.
Terdengarnya begitu nyaring dan panjang, seakan juga burung rajawali putih itu tengah diliputi kemarahan, dan suara pekikannya itu terdengar demikian nyaring.
Rupanya burung rajawali putih itu setelah mengetahui tidak mungkin dia memasuki lebih jauh hutan itu, dia segera keluar dari hutan itu, lalu ia terbang ke tengah udara berputar-putar di atas hutan itu, berusaha untuk mencari-cari di mana jejak dari majikannya, Giok Hoa.
Tetapi hutan itu terlalu lebat dan tertutup sehingga dia tidak bisa melihat dari atas menembus ke dalam hutan itu.
Lebatnya daundaun dan ranting pada pohon-pohon di hutan itu menyebabkan Pek-jie tidak bisa melihat keadaan di bawahnya.
Apa yang dilihatnya hanyalah daun-daun yang tebal sekali.
Sedangkan Hek-siang-sat waktu itu telah berkata dengan suara yang perlahan, mengandung keraguan.
"Jika melihat sikapmu seperti ini, tentunya engkau bukan seorang gadis cilik sembarangan. Siapa ayahmu? Dan apa hubungan antara kau dan Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko....."
Giok Hoa tertawa tawar, katanya.
"Tidak perlu kalian bertanyatanya tentang diriku! Sudah kukatakan lebih baik engkau berdua mengurusi murid kalian itu! Oh ya, apakah aku sudah boleh pergi meninggalkan tempat ini, tampaknya Pek-jie tengah mencaricariku." "Biarkan Pek-jie datang ke mari, aku ingin melihat berapa hebatnya burung rajawali putih yang telah menghina muridku, sehingga muridku itu tidak dapat menghadapinya.....!"
Kata Pek-siang-sat.
Dan diapun telah menggerakkan tangan kanannya, maka terlontarlah secerah sinar kuning ke tengah udara, menimbulkan suara mengaung yang nyaring sekali.
Hal itu menunjukkan bahwa tenaga lontaran dari Pek-siang-sat memang sangat kuat sekali.
Dan rupanya Pek-jie melihat dan mendengar suara mengaung dari benda kuning itu, yang menerobos ke tengah udara melewati hutan itu.
Dia memekik dengan nyaring.
Pek-jie telah terbang meluncur turun di atas hutan itu, sepasang sayapnya telah digerakkan dengan beruntun, mengibas-ngibas, maka timbullah hembusan angin yang bergemuruh, seperti juga badai yang tengah mengamuk di tempat itu, menjibakkan daun-daun itu, yang jadi bergoyang-goyang.
Pek-jie telah menggerakkan terus sayapnya dan dia seperti hendak mengamuk.
Dalam keadaan seperti itu, Hek-pek-siang-sat telah menganggukangguk, "Ya, burung rajawali putih yang seekor ini memang lain dari burung rajawali yang lainnya.
Ia memiliki tenaga yang kuat sekali,"
Kata Pek-siang-sat.
"dan aku semakin tertarik buat melihatnya."
Setelah berkata begitu, Hek-pek-siang-sat telahmengeluarkan lagi semacam benda berwarna kuning, seperti juga sebatang paku, dilontarkan ke tengah udara, malah tampaknya lontarannya kali ini jauh lebih kuat, menimbulkan suara mengaung yang sangat keras sekali.
Dan yang lebih luar biasa, Pek-siang-sat seperti juga telah mengetahui beradanya burung rajawali putih itu, di mana dia telah menimpukkannya ke arah itu, sehingga benda kuning tersebut mengenai sayap dari burung rajawali itu, yang memekik nyaring kesakitan.
Karena kesakitan justeru rajawali putih itu semakin mengamuk hebat.
Sepasang sayapnya telah menghantam ke sana ke mari menimbulkan gemuruh angin yang hebat sekali, bagaikan amukan topan yang tengah berlangsung di tempat tersebut.
Dalam keadaan seperti itulah, maka tampak Hek-pek-siang-sat saling pandang satu dengan yang lainnya, dan akhirnya mereka telah mengangguk.
"Burung rajawali yang luar biasa.....
dan menarik sekali!"
Kata mereka berdua hampir berbareng.
Memang tabiat dan perangai Hek-pek-siang-sat agak aneh.
Semakin luar biasanya yang dihadapi mereka, maka semakin besar pula semangat mereka terbangun.
Waktu itu Giok Hoa yang menguatirkan Pek-jie mengamuk terus menerus dan juga akan terkena serangan senjata rahasia yang mungkin dilepaskan oleh Hek-pek-siang-sat, segera bersiul nyaring, dan suara siulan tersebut memerintahkan Pek-jie agar segera berlalu menjauhi diri.
Sesungguhnya suara siulan yang dikeluarkan Giok Hoa hampir tidak terdengar, karena tertindih oleh suara bergemuruh akibat mengamuknya Pek-jie.
Akan tetapi burung rajawali putih itu benarbenar memiliki pendengaran yang sangat tajam sekali, sehingga dia dapat mendengar juga suara siulan dari majikannya dan segera terbang menjauhi diri.
Dengan demikian, meredahlah suara bergemuruh akibat mengamuknya Pek-jie.
Sedangkan Hek-pek-siang-sat telah saling pandang, lalu kata Peksiang-sat.
"Mari kita lihat burung rajawali itu!" Kemudian dia memberikan isyarat kepada muridnya, agar dia mencekuk Giok Hoa. Orang she Bong itu mengerti perintah gurunya, tanpa mengatakan sepatah perkataanpun juga, tubuhnya telah melesat ke samping Giok Hoa. Belum lagi Giok Hoa mengetahui suatu apa pun juga, di saat itu telah terlibat pinggangnya kena dilingkari tangan orang she Bong tersebut. Dalam kagetnya Giok Hoa hanya dapat memukul serabutan dengan kepalan tangannya yang berukuran kecil itu kepada dada orang she Bong tersebut. Dia memukulnya berulang kali, sambil meronta-ronta. Namun pukulan kepalan tangan Giok Hoa sama sekali tidak menimbulkan rasa sakit, malah telah membuat orang she Bong itu tertawa mengejek, dan berkata dengan suara menghina.
"Kau pilihlah bagian yang empuk di tubuhku, pukullah terus!"
Dan dia telah berhasil mengempit Giok Hoa, sambil tertawa mengejek, dia menjejakkan ke dua kakinya, tubuhnya segera melesat menyusul ke dua gurunya.....!
Hek-pek-siang-sat waktu itu tengah berlari-lari dari hutan tersebut.
Dalam sekejap mata saja mereka telah berada di depan hutan itu.
Maka mereka melihat Pek-jie tengah terbang berputaran di tengah udara.
Dan Hek-pek-siang-sat saling memandang satu dengan yang lainnya, tampak di wajah mereka perasaan kagum, karena dilihatnya burung rajawali itu berukuran sangat besar sekali, jauh lebih besar dari burung-burung rajawali umumnya.
"Ini memang burung rajawali yang agak luar biasa!"
Menggumam Pek-siang-sat dengan suara tertahan.
Hek-siang-sat mengangguk.
Orang she Bong itu telah tiba di tempat itu juga dengan mengempit tubuh Giok Hoa.
Sedangkan Pek-jie yang tengah terbang berputar di tengah udara, ketika melihat munculnya Hek-pek-siang-sat, disusul kemudian dengan orang she Bong yang pernah dipermainkannya, dan melihat Giok Hoa terkempit di tangan orang she Bong itu dalam keadaan tidak berdaya, jadi mengeluarkan suara pekik yang nyaring.
Ia telah terbang meluncur turun akan menyambar orang she Bong.
Akan tetapi orang she Bong itu yang telah mengetahui kehebatan burung rajawali putih ini tidak berani menghadapi terjangan burung tersebut.
Ia segera menjejakkan kakinya, tubuhnya melompat ke samping, berlindung di balik sebatang pohon yang cukup besar.
Hek-pek-siang-sat yang melihat burung rajawali putih itu telah menyambar ke bawah.
segera melompat menghadangnya, mencegah burung rajawali itu menyerang murid mereka.
Dengan tenang dan penuh keyakinan, bahwa mereka akan dapat menangkap burung rajawali putih yang luar biasa ini.
Hek-peksiang-sat berdiri bersiap-siap di tempatnya.
Di waktu itu terlihat betapa Hek-pek-siang-sat telah mengerahkan tenaga dalam pada telapak tangannya, dan Pek-siang-sat berdiri tenang belum mengerahkan tenaganya.
Ketika burung rajawali putih itu telah meluncur turun menyambar ke bawah, dia telah disambut dengan pukulan telapak tangan dari Hek-siang-sat.
Sedangkan Pek-siang-sat telah menjejakkan sepasang kakinya, tubuhnya dengan ringan sekali telah melesat ke tengah udara, begitu dia berpok-say segera dia hinggap di punggung burung rajawali putih tersebut.
Dengan kuat sepasang tangan Pek-siang-sat merangkul batang leher tersebut, ia melingkarkan tangannya dengan ketat.
Pukulan telapaktangan dari Hek-siang-sat telahmenyambar ke arah dada burung rajawali itu.
Itulahpukulan yang mengandung, kekuatan lweekang bisamenghancurkan, karena Hek-siang-sat hendak melukai dulu burung rajawali putih itu.
Namun untuk herannya, waktu pukulan Hek-siang-sat hampir mengenai dada burung rajawali putih itu, dengan gerakan yang aneh sekali seperti juga gerakan seekor ular yang berlenggang lenggok dan melejit ke samping, cepat sekali burung rajawali itu telah dapat menghindar dari terjangan tenaga pukulan Hek-siangsat.
Dengan demikian, gagallah serangan yang dilakukan Hek-peksiang-sat.
Dan burung rajawali itu telah bergerak lincah sekali.
Begitu dia bisa berkelit dari angin serangan Hek-siang-sat, cepat sekali dia telah menyambar ke arah batok kepala Hek-siang-sat, yang hendak dipatuknya dengan paruhnya.
Gerakan burung rajawali yang demikian aneh membuat Hek-siangsat jadi mengeluarkan seruan heran.
Namun seketika terbangun semangatnya, dia jadi sangat tertarik sekali dan semakin bersemangat untuk main-main dengan burung rajawali putih itu.
Dalam keadaan demikianlah Hek-siang-sat juga telah menghantam lagi beberapa kali.
Namun burung rajawali itu telah dapat menghindar dengan gerakan tubuh yang meliuk-liuk.
Dan juga setiap kali dia berkelit, tentu sayapnya akan mengibas, menimbulkan sambaran angin yang gemuruh dahsyat sekali.
Hek-siang-sat yang melihat keadaan seperti bukannya menjadi jeri, malah jadi semakin tertarik dan gembira.
Tubuhnya telah melompat ke sana ke mari untuk membingungkan burung rajawali itu, tangannya juga tidak tinggal diam.
Dia telah menyerang kepada burung rajawali putih itu berulang kali, dengan maksud jika pukulannya itu sekali saja mengenai sasarannya, niscaya akan menyebabkan burung rajawali putih itu akan luka berat.
Namun benar-benar burung rajawali putih yang tengah mereka hadapi ini merupakan seekor burung rajawali yang luar biasa sekali.
Karena setiap hantaman dan pukulan telapak tangan Heksiang-sat, yang sesungguhnya sangat kuat dan hebat itu masih dapat dielakkannya dengan gerakan tubuh aneh seperti gerakan seekor ular.
Dan dengan demikian, disamping heran, tentu saja Hek-siang-sat semakin penasaran.
Jangan kata seekor burung rajawali, sedangkan tokoh rimba persilatan saja yang memiliki kepandaian tinggi, belum tentu dapat menghadapi serangan Hek-siang-sat.
Tetapi burung rajawali putih ini justeru tampaknya begitu mudah selalu memunahkan tenaga serangan dari Hek-siang-sat.
Berkelit ke sana ke mari dengan tubuh yang seperti dapat meliuk-liuk.
Waktu itu padahal Pek-siang-sat masih duduk di punggungnya, dengan mengempitkan ke dua tangannya pada batang leher burung rajawali tersebut.
Tetapi burung rajawali itu seperti tidak memperdulikan sikap dan perlakuan dari Pek-siang-sat.
Dia seperti juga tidak memperdulikan betapa ke dua tangan Peksiang-sat telah melingkari lehernya begita kuat.
Dia menerjang terus Hek-siang-sat.
Malah suatu waktu, ketika dilihatnya Hek-siang-sat tengah melompat jauh dari dirinya, cepat sekali burung rajawali putih itu telah meluncur turun dengan pesat.
Tahu-tahu dia telah memutar tubuhnya, sepasang kakinya menghadap ke langit, begitu juga dengan perutnya.
Dengan demikian, waktu akan menghantam tanah punggungnya itulah yang akan menubruk bumi.
Berarti burung rajawali ini hendak membenturkan tubuh Pek-siang-sat pada tanah dengan keras.
Sedangkan Pek-siang-sat yang merasakan tahu-tahu tubuh rajawali itu telah berputar, dia jadi kaget.
Namun Pek-siang-sat tidak menjadi gugup, dan dia segera melepaskan kempitan sepasang tangannya pada leher burung rajawali itu, kemudian telah melesat cepat sekali, sehingga dia bisa meloloskan diri dari bantingan burung rajawali itu.
Ketika Pek-siang-sat telah meninggalkan punggungnya dengan melompat menjauhi diri dan juga merasakan punggungnya ringan disamping lehernya telah terbebas tidak dikempit terus oleh Peksiang-sat, maka burung rajawali itu membatalkan menumbukkan punggungnya pada tanah.
Segera juga dia telah terbang menukik naik lagi dengan cepat, luar biasa, tubuhnya telah mengangkasa lagi sambil mengeluarkan suara pekikan yang sangat nyaring sekali.
Pek-siang-sat waktu itu telah berdiri di samping Hek-siang-sat.
Ke duanya telah saling pandang.
Hek-pek-siang-sat diam-diam di hati mereka merasa kagum bukan main, karena mereka melihatnya burung rajawali itu memang sangat cerdik sekali, di samping memiliki kekuatan yang luar biasa.
"Tentunya burung rajawali putih itu telah terdidik baik sekali!"
Begitulah Pek-siang-sat menggumam sambil mengawasi burung rajawali putih yang tengah terbang berputar-putar di tengah udara, sementara waktu burung rajawali itu tidak menukik turun buat menerjang pada ke dua orang itu, si Hitam dan si Putih.
Hek-siang-sat tampak penasaran sekali, dia tersenyum sambil memandang kepada Pek-siang-sat.
"Memang kali ini kita menghadapi lawan yang agak luar biasa..... dia seperti dapat berkelit dari setiap seranganku, di mana dia dapat meliukkan tubuhnya bagaikan gerakan seekor ular..... luar biasa sekali!"
Dan memang Hek-siang-sat jadi tambah penasaran karena itu dia jadi semakin ingin sekali merubuhkan burung rajawali itu.
Sebagai seorang tokoh rimba persilatan di mana Hek-pek-siangsat keduanya merupakan orang-orang yang disegani oleh semua orang gagah rimba persilatan, baik dari kalangan hitam maupun dari kalangan putih, sekarang seperti tidak berdaya buat merubuhkan burung rajawali putih itu.
Walaupun ke duanya telah beberapa jurus berusaha menyerang rajawali itu, tokh keduanya masih tidak bisa dirubuhkan Pek-jie, sehingga burung rajawali putih itu masih dapat terbang berkeliaran di tengah udara.
Dengan demikian telah membuat Hek-pek-siang-sat benar-benar penasaran sekali.
Karena itu, mereka bersiap-siap untuk bersungguh-sungguh menghadapi burung rajawali itu.
Namun burung rajawali itu tidak juga segera menukik turun lagi, dia berputar-putar di tengah udara, sambil memekik tidak hentinya.
Rupanya burung rajawali putih itu mengetahui ke dua orang yang dihadapinya kali ini bukan sebangsa manusia sembarangan.
Tadi dia telah melihatnya, betapa setiap pukulan-pukulan yang dilakukan oleh ke dua orang itu mengandung kekuatan tenaga dalam yang dahsyat sekali.
Juga tadi dia merasakan cekikan tangan dari Pek-siang-sat, membuatnya hampir sulit bernapas.
Karena itu, telah membuat burung rajawali putih tersebut tidak segera menukik turun buat menyerang pula.
Dia hanya berputar728 putar di tengah udara sambil mengeluarkan suara pekikan tidak hentinya.
Dalam keadaan seperti inilah segera juga terlihat bahwa ke dua orang Hek-pek-siang-sat semakin tidak sabar.
Hek-pek-siang-sat telah menoleh kepada muridnya, katanya.
"Suruh gadis cilik itu buat memerintahkan burung rajawali itu terbang turun....."
Orang she Bong itu mengiyakan, segera juga perintahnya kepada Giok Hoa.
"Cepat kau perintahkan burung rajawali itu terbang turun......"
Tetapi Giok Hoa berdiam diri saja.
"Jika engkau tidak menuruti perintahku, hemmmm, hemmmm, tentu aku akan menyiksamu, sehingga akhirnya mau atau tidak engkau akan mematuhi perintahku!"
"Manusia rendah tidak tahu malu!"
Memaki Giok Hoa karena tidak bisa menahan kemarahan hatinya.
Bukan main mendongkol hatinya.
Jika saja menuruti kemarahan hatinya dan dia itu tidak ada ke dua gurunya, tentu orang she Bong itu telah menghantam batok kepala gadis kecil ini buat membinasakannya.
Namun akhirnya dia menahan kemarahan hatinya, dia telah berkata dengan tawar.
"Baiklah, jika memang engkau tidak mau menuruti perintahku, hemm, hemm, dengan begini apakah engkau tidak mau mematuhi perintahku!"
Dan setelah berkata begitu, segera juga orang she Bong itu telah menelikung tangan kiri Giok Hoa.
Dia memijitnya kuat-kuat.
Tentu saja Giok Hoa jadi kesakitan sampai gadis kecil itu karena terlalu kesakitan, telah menitikkan air mata.
Tetapi Giok Hoa tetap tidak mau memenuhi perintah dari orang she Bong itu, dia tidak mau bersiul, hanya menggigit bibirnya kuat-kuat.
Disaat itu, Hek-pek-siang-sat telah menoleh kepada muridnya, tanyanya.
"Apakah kau tidak dapat perintahkan gadis cilik itu agar memerintahkan burung rajawali itu turun!"
Itulah teguran yang nadanya biasa saja, tetapi orang she Bong itu mengetahui gurunya itu sudah tidak sabar lagi.
Dan jika dia masih tidak berhasil memaksa Giok Hoa memanggil turun burung rajawali itu, kemungkinan besar amarah gurunya itu akan ditimpahkan kepadanya.
Segera juga orang she Bong itu menelikung tangan Giok Hoa semakin keras, membuat Giok Hoa jadi tambah kesakitan.
Karena sudah tidak tahan perasaan sakit pada tangannya, yang seperti juga hendak patah, dengan sendirinya telah membuat Giok Hoa menjerit kesakitan.
Namun tetap saja dia tidak mau bersiul memanggil burung rajawali itu turun.
Burung rajawali putih itu yang tengah terbang berputar-putar di tengah udara, mendengar suara jerit kesakitan Giok Hoa.
Diapun melihat tangan Giok Hoa tengah ditelikung ke belakang tubuhnya oleh orang she Bong itu.
Maka burung rajawali putih yang sangat cerdik segera mengetahui majikannya tengah disiksa.
Cepat seperti kilat, tahu-tahu tubuhnya telah menukik turun, menyambar kepada orang she Bong itu.
Gerakan burung rajawali itu sangat cepat sekali, tubuhnya telah melesat sampai di dekat orang she Bong itu.
Belum lagi orang she Bong tersebut mengetahui apa yang terjadi, justeru di waktu itulah telah terlihat sayap kanan dari burung rajawali itu, tepat sekali menghantam batok kepalanya.
Beruntung orang she Bong itu kenal bahaya, dia mengetahui.
Jika saja batok kepalanya kena dikepret oleh sayap burung rajawali yang begitu kuat dan besar tentu batok kepalanya akan hancur.
Maka dia mati-matian telah membuang dirinya bergulingan di tanah.
Dengan demikian dia hanya merasakan menyambarnya angin kibasan sayap dari burung rajawali itu yang sangat kuat sekali, namun kepalanya tetap utuh.
Dan sebagai penggantinya, sebungkah batu yang sangat besar telah terhantam sayap burung rajawali putih itu, dengan menimbulkan suara yang bergemuruh, batu itu telah terpental hancur menjadi potongan-potongan kecil.
Melihat hebatnya sampokan sayap burung rajawali itu, muka orang she Bong tersebut seketika berobah pucat.
Dan di waktu itu juga terlihat betapa Hek-siang-sat yang memang semakin tertarik buat main-main dengan burung rajawali putih yang hebat itu, telah menjejakkan kakinya.
Tubuhnya bagaikan anak panah telah melesat ke dekat burung rajawali tersebut, dia menghantam dengan tangan kirinya.
Angin hantaman itu cukup kuat dan burung rajawali itu mengelak, maka Hek-siang-sat telah menghantam dengan tangan kanannya.
Rupanya serangan tangan kirinya merupakan gertakan belaka.
Dalam keadaan seperti itulah terlihat, betapapun cepatnya gerakan burung rajawali putih itu, tokh tetap saja dia tidak berhasil menghindarkan diri lagi dari serangan tangan kanan Hek-siangsat.
Hantaman itu kuat sekali, burung rajawali putih tersebut sampai mengeluarkan pekik kesakitan.
Namun burung rajawali putih itu tidak berdiam diri belaka, dia telah mengibaskan sayap kanannya.
Maka tidak ampun lagi Hek-siang-sat pun kena disapu oleh sayap burung rajawali itu, sampai tubuhnya terpental karena memang Hek-siang-sat sama sekali tidak menyangkanya bahwa rajawali itu setelah kena dihantamnya dengan pukulan yang sangat dahsyat, ternyata masih dapat mengibaskan sayapnya itu begitu kuat.
Yang membuat Hek-siang-sat tidak menyangkanya pula adalah kekuatan burung rajawali itu yang demikian dahsyat, sehingga begitu disapu oleh sayapnya seketika tubuhnya terpental rubuh di atas tanah.
Mungkin, tadi merupakan satu-satunya pengalaman yang pernah dialami oleh Hek-siang-sat, sedangkan jika bertempur dengan tokoh-tokoh persiIatan tidak mungkin dia tersapu terguling seperti itu.
Dasarnya Hek-siang-sat memiliki kepandaian yang tinggi, begitu terguling, tubuhnya sudah melentik melompat sambil telapak tangannya menyambar kepada ujung sayap dari si burung rajawali.
Dengan memusatkan kekuatan tenaga dalamnya, dia berusaha menariknya di mana dia telah membetotnya sangat kuat sekali, sehingga menyebabkan burung tersebut telah mengeluarkan suara pekik kesakitan yang keras sekali, dan menggerakkan sayapnya itu berusaha melepaskan cekalan Hek-siang-sat.
Namun cekalan Hek-siang-sat kuat sekali.
Diapun telah mempergunakan ilmu memberatkan tubuh seribu kati.
Dengan demikian sepasang kakinya seperti tertanam dalam di bumi walaupun burung itu menghentak keras, tokh Hek-siang-sat tidak bergeming lagi dari tempatnya.
Mengetahui bahwa lawannya seorang manusia yang memiliki kepandaian tinggi sekali, burung rajawali tersebut tidak tinggal diam, segera dia merobah cara.
Dia tidak menggerakkan sayapnya yang tercekal, hanya serentak dia menggerakkan sepasang sayapnya itu, angin menderu-deru.
Namun tetap Hek-siang-sat telah mencekalnya kuat-kuat, karena itu, tubuh Hek-siang-sat terangkat sedikit demi sedikit, karena burung itu hendak membawanya terbang.
Begitu telapak kaki Hek-siang-sat terpisah dari tanah, maka punahlah kekuatan memberatkan tubuh seribu kati.
Dia berusaha melepaskan cekalannya.
Namun belum lagi Hek-siang-sat menjalankan kehendaknya itu, di mana dia hendak menyelamatkan diri dengan menjauhkan diri dari burung rajawali itu, justeru di waktu itulah terlihat burung rajawali putih itu telah menggerakkan sepasang sayapnya semakin hebat.
Dengan demikian membuat tubuh Hek-siang-sat terangkat tinggi sekali ikut terbang dengan burung rajawali putih itu.
Malah sebelum cekalannya, Hek-siang-sat burung rajawali sempat putih yang untuk melepaskan cerdik itu telah mengibaskan sayapnya yang dicekal Hek-siang-sat.
Seketika itu juga tubuh Hek-siang-sat terlempar tinggi sekali, ke tengah udara bagaikan dilontarkan oleh suatu kekuatan yang sangat hebat.
Dalam keadaan seperti itu Hek-siang-sat pun menyadarinya bahwa dia tidak bisa melawan dengan kekerasan, karenanya dia telah meringankan tubuhnya, membiarkan tubuhnya itu terlontar ke tengah udara, dia berpok-say dengan maksud hendak melompat turun dengan sepasang kaki terlebih dulu.
Hanya saja yang membuat Hek-siang-sat jadi kaget tidak terkira justeru di saat itulah terlihat bahwa burung rajawali itu telah menerjang kepadanya terbang dengan sepasang sayap yang besar itu bermaksud hendak menyampok kepadanya.
Hati Hek-siang-sat tercekat kaget, dia terkesiap.
Inilah hebat.
Dia bisa bercelaka oleh sampokan sayap dari burung rajawali putih tersebut.
Dalam keadaan seperti ini Hek-siang-sat tidak menjadi gugup.
Dia melihat betapa sayap itu menyampok kepadanya kuat sekali dan telah dekat.
Begitu tinggal beberapa dim, cepat-cepat Hek-siang-sat menghantam dengan tangannya, meminjam sampokan angin pukulan tersebut, tubuhnya telah mencelat setombak lebih, terpisah dari burung rajawali itu, kedudukannya tepat di atas sayap burung rajawali tersebut.
Maka sepasang kaki Hek-siang-sat telah menotol sayap burung rajawali tersebut dan tubuhnya mencelat tinggi sekali tiga tombak lebih dengan meminjam tenaga totolan pada kakinya kemudian berpok-say di tengah udara.
Dalam keadaan seperti inilah segera tampak bahwa Hek-siang-sat bisa menyelamatkan diri tiba di tanah dengan ke dua kaki terlebih dulu.
Namun tidak urung dia mengucurkan keringat dingin juga karena dia melihatnya bahwa dengan cara seperti tadi, dia bagaikan baru saja lolos dari lobang jarum.
Dan karenanya dia telah berusaha untuk mengatur pernapasannya menenangkan perasaannya.
Pek-siang-sat yang sempat terpaku menyaksikan hebatnya burung rajawali putih itu, diam-diam tergetar juga hatinya.
Hanya saja dia segera tersadar, maka dia menjejakkan kakinya, tubuhnya melesat ke tengah udara.
Cepat sekali tangan kanannya bergerak, dia telah menimpuk dengan senjata rahasia.
Tiga batang paku berwarna kuning emas itu dapat dihindarkan oleh burung rajawali putih yang waktu itu hendak memutar tubuhnya buat terbang menerjang pada Hek-siang-sat.
Tetapi salah satu dari paku-paku itu telah menghujani sayapnya.
Segera juga burung rajawali putih itu mengeluarkan pekik kesakitan, dan telah terbang menjauh.....!"
Hek-siang-sat pun tidak tinggal diam.
Dia telah melancarkan serangan, sambil mengerahkan sebagian besar tenaga lweekangnya, namun burung rajawali itu sama sekali tidak memperdulikan pukulan yang jatuh di tubuhnya, sayapnya menyampok tubuh Hek-siang-sat.
Hantaman sayap dari burung rajawali itu yang memiliki tenaga sangat kuat sekali, telah membuat Hek-siang-sat seperti diterjang oleh suatu kekuatan yang bagaikan gunung runtuh menyebabkan dia terhuyung lagi.
Beruntung saja Hek-siang-sat telah keburu mengerahkan tenaga dalamnya, dia telah mengempos semangatnya untuk memperkokoh sepasang kakinya dengan demikian membuat dia tidak sampai terguling, hanya merasakan napasnya agak sesak.
Burung rajawali putih itu benar-benar nekad, dia seperti tidak memperdulikan pukulan-pukulan Hek-siang-sat, juga dia tidak memperdulikan sayapnya telah terluka.
Dia masih juga menyerang dengan kalapnya, seakan juga burung rajawali itu benar-benar setia ingin menolong Giok Hoa, majikannya itu.
Menyaksikan kekalapan burung rajawali putih tersebut, Hek-peksiang-sat menyadari mereka mungkin saja bisa menghadapi burung rajawali ini, akan tetapi untuk merubuhkan burung rajawali tersebut tentu saja dibutuhkan tenaga yang berlebihan.
Dan sebelum mereka mengetahui dengan cara bagaimana lebih mudah merobohkan burung rajawali putih tersebut, burung itu telah terbang melayang ke dekat orang she Bong, guna menyerangnya untuk menolongi Giok Hoa Tetapi orang she Bong juga cerdik, mana mau dia menghadapi burung rajawali putih yang tengah kalap itu.
Melihat burung rajawali putih itu terbang ke arahnya, cepat sekali dia telah berlari ke dalam hutan.
Dia mengambil tempat yang lebat ditumbuhi pohon-pohon, di mana dia sengaja bersembunyi di situ.
Tentu saja burung rajawali putih yang berukuran sangat besar tersebut tidak bisa mengejar terus, hanya saja disebabkan burung rajawali putih itu sangat marah, dia telah menggerakkan sayapnya, menyampok berulang kali ke batang-batang pohon di dekatnya, sehingga batang pohon itu seperti dihantam suatu kekuatan yang dahsyat, membuatnya bergoyang-goyang tidak hentinya.
Sedangkan orang she Bong itu merasakan berkesiuran angin kibasan tersebut, yang membuat mukanya terasa pedih dan nyeri.
Diam-diam hati orang she Bong tersebut bergidik.
Bagaimana akibatnya jika saja ia berhadapan langsung dengan burung rajawali putih itu, yang memiliki tenaga begitu besar dan kuat.
Karenanya, hal ini telah membuat orang she Bong tersebut menyelusup masuk ke dalam hutan lebih jauh lagi, tanpa memikirkan pula keadaan ke dua gurunya.
Giok Hoa tetap saja dikempitnya dan dibawa berlari dengan cepat.
Dalam keadaan demikian Hek-siang-sat telah melompat ke dekat burung rajawali.
Dengan serentak mereka menghantam burung rajawali putih itu, tangan mereka yang lainnya telah melontarkan juga senjata rahasia.
Hanya saja membuat mereka berbalik kaget tidak terkira.
Justeru senjata rahasia yang mereka lontarkan itu, telah kena disampok oleh sayap burung tersebut, sehingga paku-paku senjata rahasia itu telah beterbangan menyambar kepada mereka sendiri!
Untung saja Hek-siang-sat memang liehay.
Mereka dapat berkelit dari sambaran senjata-senjata rahasia yang hampir makan majikan itu!
Tetapi selanjutnya Hek-pek-siang-sat tidak mau menerjang terlalu dekat pada burung rajawali itu.
Mereka melihatnya burung rajawali tersebut masih saja menggerakkan sepasang sayapnya tidak hentinya.
Setiap hantaman sayapnya telah membuat pohon-pohon di dekatnya bergoyang-goyang, seperti pada waktu itu tengah terjadi gempa bumi.
Karena kehilangan jejak orang she Bong, dan juga tengah kalap, burung rajawali putih itu bagaikan tidak memperdulikan bulubulunya yang rontok akibat sampokan sepasang sayapnya, yang hendak menumbangkan pohon-pohon itu, untuk mengejar si orang she Bong.
Cuma saja, setelah melakukan sampokan-sampokan berulang kali tanpa hasil, burung rajawali putih itu sambil mengeluarkan pekik yang nyaring mengandung kekesalan, kemarahan dan juga kekalapan, telah memutar tubuhnya, terbang ke tengah udara.
Dia berputar-putar di atas udara, di mana dia seperti tengah mencaricari jejak orang she Bong yang masih menawan Giok Hoa.
Hek-pek-siang-sat yang melihat kelakuan burung rajawali putih tersebut, diam-diam jadi geleng-geleng kepala, mereka sangat kagum sekali, karena mereka telah melihatnya, betapa burung rajawali putih itu di samping tangguh, juga merupakan seekor burung rajawali yang sangat setia sekali, sehingga dia harus terluka seperti itu, tokh burung rajawali putih tersebut masih terus berusaha mencari majikannya, Giok Hoa.
Setelah berputar-putar sekian lama di tengah udara sambil mengeluarkan pekikan tidak hentinya, burung rajawali itu kemudian terbang menjauhi.
Tidak lama kemudian telah terbang mendatangi lagi.
Begitulah burung rajawali putih tersebut berulang kali terbang ke sana ke mari, di mana dia telah berusaha untuk mencari jejak dari orang she Bong itu.
Namun orang she Bong yang menjadi murid Hek-pek-siang-sat telah menyembunyikan diri terus.
Dia tidak berani keluar dari dalam hutan itu, karena sekali saja dia keluar dan kena dicengkeram oleh burung rajawali putih tersebut, niscaya akan menyebabkan tubuhnya dapat dirobek-robek.
Sedangkan Hek-pek-siang-sat waktu itu telah beberapa kali memanggil-manggil muridnya, namun orang she Bong itu tidak menyahuti dan tidak keluar.
Hek-pek-siang-sat akhirnya masuk ke dalam hutan itu.
Mereka mencari-cari cukup jauh juga, rupanya orang she Bong itu telah memasuki hutan itu cukup dalam untuk menghindar dari burung rajawali tersebut.
Karena dari itu, ketika melihat muridnya masih mengempit Giok Hoa dan tengah bersembunyi di balik sebungkah batu di tengah-tengah hutan tersebut, Hek-siang-sat telah membentaknya.
"Kie Siu, keluar..... sekarang burung rajawali putih itu telah pergi.....!" Orang she Bong itu keluar juga dari balik batu tersebut, dia telah mengempit Giok Hoa kuat-kuat, karena jika Giok Hoa masih berada di tangannya dan gadis itu tidak mau memerintahkan burung rajawalinya pergi, sehingga jiwanya terancam, dia akan membunuh gadis cilik tersebut. Ketika melihat ke dua gurunya, hatinya agak tenang. Tadi dia telah menyaksikan, gurunya yang begitu gagah dan liehay ternyata masih agak kewalahan juga menghadapi kekalapan burung rajawali putih yang memiliki tenaga begitu kuat. Dengan demikian membuat Bong Kie Siu, murid Hek-pek-siang-sat tersebut tidak berani untuk keluar dari hutan itu mukanya masih pucat.
"Mengapa kau meninggalkan kami?!"
Bentak Hek-siang-sat dengan suara yang agak bengis.
"Hemmm, mengapa engkau tidak memaksa gadis cilik itu agar bersiul perintahkan burung rajawali putih itu agar pergi dari tempat ini?!"
"Maafkan Suhu..... sesungguhnya memang gadis kecil ini keras kepala, dia tidak mau menuruti perintahku, dan dia membandel bila perintahkan burung rajawali itu pergi dari tempat ini.....!"
Menyahuti Bong Kie Siu, dengan sikap takut-takut. "Lepaskan gadis itu.....!"
Perintah Pek-siang-sat dengan suara yang lebih sabar dibandingkan sikap Hek-siang-sat.
Bong Kie Siu mematuhi perintah gurunya.
Dia melepaskan kempitannya pada Giok Hoa, tetapi Bong Kie Siu tetap berwaspada, di mana dia berusaha untuk mengawasi gadis itu, kalau-kalau gadis cilik tersebut berusaha untuk melarikan diri.
Dalam keadaan seperti ini telah membuat Giok Hoa tidak berdaya untuk meloloskan diri dari ke tiga orang ini.
Giok Hoa pun menyadarinya, bahwa Hek-pek-siang-sat memiliki kepandaian yang tinggi.
Jika memang Giok Hoa berusaha melarikan diri, tentu dengan mudah dia akan dapat dicekuk kembali.
Itulah akhirnya membuat Giok Hoa telah berdiam diri saja.
Dia mengawasi Hek-pek-siang-sat beberapa saat lamanya dengan sorot mata mengandung kebencian.
Pek-siang-sat telah tersenyum tawar, katanya.
"Nona manis, kami tidak akan mempersulit engkau..... siapa engkau sebenarnya? Siapa gurumu? atau siapa ayah dan ibumu?"
Pek-siang-sat bertanya begitu karena menduga Giok Hoa tentunya seorang puteri dari tokoh terkemuka di dalam rimba persilatan.
Tetapi Giok Hoa diam seribu bahasa, dia bungkam dan tidak mau memberikan penyahutan sepatah perkataan pun juga.
Pek-siang-sat yang melihat sikap gadis cilik itu, telah tersenyum lagi.
"Nona manis, kami merasa kagum kepadamu, walaupun usiamu masih muda sekali, tokh engkau telah dapat menjinakkan seekor burung rajawali sehebat itu..... karena dari itu, terdorong oleh rasa kagum kami, membuat kami bermaksud bersahabat dengan kau dan ingin mengetahui siapakah sebenarnya engkau ini?!"
Mendengar perkataan Pek-siang-sat itu. yang berusaha untuk menghadapinya dengan cara yang lunak, Giok Hoa tetap tidak mau melayaninya, bahkan gadis cilik ini telah berkata dengan suara yang tawar.
"Jangan banyak bertanya.....!"
Kemudian bungkam lagi. Bong Kie Siu rupanya sudah tidak bisa menahan diri, dia membentak marah.
"Biarlah Suhu, aku akan menyiksanya! Mustahil dia tidak mau bicara!"
Dan sambil berkata bengis seperti itu, Bong Kie Siu telah melangkah buat menghampiri Giok Hoa. Namun Pek-siang-sat telah mengulapkan tangannya.
"Jangan!"
Kata si putih.
"Kau tidak boleh mempersakiti nona manis ini!"
Giok Hoa tertawa dingin.
"Jika kalian hendak menyiksaku, siksalah, aku tidak takut!"
Tantangnya.
Melihat keberanian gadis cilik itu, bertambah kagum juga hati Hekpek-siang-sat.
Mereka berdua memang merupakan manusiamanusia aneh, semakin memperoleh sesuatu yang luar biasa, semakin terbangun semangat mereka untuk dapat menguasainya.
Dan demikian juga halnya dengan Giok Hoa, semakin keras dan ketusnya gadis cilik itu menghadapi mereka, maka semakin bersemangat sekali Hek-siang-sat hendak menguasainya.
Tampak Pek-siang-sat sambil tersenyum lebar telah mengangsurkan tangan kanannya menunjukkan ibu jarinya.
"Hebat! Engkau hebat sekali, nona manis......!"
Pujinya.
"Engkau ternyata seorang nona manis yang benar-benar sangat tabah, menambah kekaguman kami saja!" Giok Hoa tertawa dingin, katanya.
"Jika memang begitu, mengapa kalian tidak mau membebaskan aku?!"
Pek-siang-sat membuka matanya lebar-lebar kemudian katanya.
"Jika memang engkau ingin pergi, kamipun tidak berani menahanmu! Bukankah telah kami katakan, engkau sangat manis sekali, berani dan menimbulkan perasaan kagum pada kami! "
Karenanya, untuk ini telah membuat kami ingin bercakap-cakap sekedarnya denganmu untuk dapat mengikat tali persahabatan! Tentunya engkau bersedia menjadi sahabat kami?!!"
"Tidak mau!"
Giok Hoa menggeleng keras-keras.
"Aku tidak mau bersahabat dengan manusia-manusia jahat!"
"Kami bukan orang-orang jahat!"
Kata Pek-siang-sat tersenyum.
"Kamu orang jahat! Murid kalian saja seorang penjahat rendah tidak tahu malu!"
Menyahuti Giok Hoa ketus sambil melirik kepada Bong Kie Siu.
Bukan main gusarnya Bong Kie Siu, sampai dia berjingkrak.
Namun sebelum dia sesumbar memaki, waktu itu Hek-siang-sat telah menoleh kepadanya, telah mendelikinya, dengan begitu membuat Bong Kie Siu tidak berani mengumbar kemarahannya itu.
Sedangkan Pek-siang-sat telah berkata lagi.
"Murid kami itu memang seorang yang kasar tidak tahu aturan, karena dari itu kami ingin meminta maaf kepada nona..... jika memang nona tidak keberatan, maka kami akan menegurnya dan juga menghukumnya jika perlu!"
"Mengapa aku harus keberatan, dia murid kalian, sudah tentu kalian pula yang berhak buat menghukumnya! Dia seorang yang rendah dan jahat, tidak tahu malu.....!"
Kata Giok Hoa ketus.
"Dan juga kalian tampaknya bukan manusia baik-baik, karena Pek-jie telah kalian lukai.....!"
Mendengar perkataan Giok Hoa seperti itu membuat Hek-peksiang-sat benar-benar kewalahan menghadapi gadis cilik yang keras hati itu.
Namun Pek-siang-sat masih tersenyum, walaupun senyum pahit.
Mereka memang benar-benar sangat aneh!
Coba jika Giok Hoa ketakutan dan juga meminta-minta ampun kepada mereka, tentu Hek-pek-siang-sat tidak akan bersikap manis kepada gadis cilik ini, malah akan memperlakukannya dengan keras dan bengis.
Tetapi justeru gadis cilik ini sangat berani, maka mereka tambah menyukai gadis kecil ini, mereka memperlakukannya dengan manis.
Waktu itu Pek-siang-sat telah memanggil Bong Kie Siu, tanyanya dengan bengis.
"Apa yang telah kau lakukan terhadap nona manis ini?!"
Bong Kie Siu ditegur seperti itu oleh gurunya, kaget tidak terkira.
Dia mengetahui, mungkin jika gurunya hendak ambil hati pada Giok Hoa, dirinya yang akan dikorbankan dan dihajar.
Karena itu cepat-cepat Bong Kie Siu menggeleng dengan semangat seperti terbang meninggalkan raganya.
"Tidak..... tecu tidak melakukan sesuatu apapun juga padanya..... Bukankah tadi suhu berdua perintahkan tecu agar memaksanya untuk dapat memerintahkan dia mengusir burung rajawali putih itu?!"
Pek-siang-sat mencilak matanya.
"Engkau seorang murid yang terlalu bodoh, dengan begitu, kalian telah menimbulkan kesan seperti juga kami ini berdua pun bukan sebangsa manusia baik-baik! Hemm, engkau menjadi murid kami, tetapi engkau tidak berusaha mengangkat nama harum gurumu, malah telah mencemarkannya. Seharusnya engkau menerima hukuman yang setimpal dengan perbuatanmu......!"
Setelah berkata begitu, Pek-siang-sat mengibaskan tangannya, dari kibasan tangan itu telah meluncur angin yang sangat kuat, membuat tubuh Bong Kie Siu terguling.
Namun dia bersyukur, dengan begitu dia batal dihukum berarti gurunya hanya pura-pura marah belaka, dan perintahkan dia pergi.
Begitu merangkak bangun, segera juga dia berlari meninggalkan tempat itu, dia memasuki hutan itu lebih dalam, karena dia tahu, semakin lama dia berada di situ kemungkinan besar dia terancam hukuman gurunya, jika saja Giok Hoa masih terus juga "ngambul".
Hek-pek-siang-sat tidakmencegah kepergian muridnya, mereka telah membiarkan Bong Kie Siu pergi tanpa mencegah lagi.
Sedangkan Giok Hoa yang melihat Pek-siang-sat telah mengibaskan lengan bajunya dan membuat Bong Kie Siu sampai terguling seperti itu, hatinya telah puas.
"Hemmm, rupanya kalian guru yang cukup baik dalam mengajar murid, kalian tetap akan menghukum murid kalian jika murid kalian itu melakukan suatu kejahatan.....!"
Kata Giok Hoa kemudian. "Oh tentu, tentu saja.....!"
Kata Pek-siang-sat cepat.
"Kami sangat kagum kepadamu, nona manis, namun siapa sangka, justru murid kami itu pernah berlaku kurang ajar kepadamu maka kami sangat marah sekali.
"Beruntung saja nona tidak meminta kami menghukumnya dengan keras, jika tidak tentu kami akan membuatnya bercacad. Tetapi nona manis, tentunya kau pun tidak tega jika kami harus turunkan tangan keras menghukum murid kami itu sampai bercacad, bukan?!"
Giok Hoa terdiam sejenak, kemudian katanya.
"Apakah sekarang aku sudah boleh meninggalkan tempat ini?!!"
"Tentu boleh! Tetapi kami ingin bercakap-cakap dengan kau dulu, karena itu, harap nona manis jangan pergi tergesa-gesa......!"
Giok Hoa jadi mengerutkan alisnya lagi, karena dia segera dapat menduga, inilah penahanan secara halus.
Namun, untuk memaksa pergi begitu saja tentu Giok Hoa tidak bisa melakukannya, karena jika dia bersikeras pergi begitu saja, niscaya akan menyebabkan dia memperoleh kesulitan dari Hek-pek-siang-sat.
Karenanya dia telah berdiam diri saja, hanya hatinya jadi tidak senang lagi terhadap ke dua orang itu.
"Nona manis, siapakah sebenarnya namamu?!"
Tanya Pek-siangsat.
"Aku tidak mau bicara dengan kalian!"
Kata Giok Hoa ketus.
"Ihhhh, mengapa tidak mau bicara dengan kami?!"
Tanya Peksiang-sat kemudian.
"Aku tidak mau bicara dengan kalian, manusia-manusia berhati palsu. Kalian tidak mengijinkan aku pergi, dengan alasan ingin mengajakku bercakap-cakap.
"Jika memang kalian hendak bercakap-cakap, sekarang kalian biarkan dulu aku pergi, agar aku memiliki kesempatan buat mengobati luka pada Pek-jie. Kemudian memberitahukan kepada paman Hok. Dengandemikian nanti kita memiliki kesempatan buat bercakap-cakap....."
Mendengar perkataan Giok Hoa itu, bola mata Pek-siang-sat bersinar tajam sekali, katanya.
"Siapakah paman Hok mu itu dan dia berada di mana sekarang?!"
"Dia paman Hok ku. Dia sekarang berada tidak jauh dari tempat ini......!"
Menjelaskan Giok Hoa pada akhirnya setelah bimbang sejenak.
"Hemmmm, jika kalian memang benar-benar ingin bersahabat, tentu kalian akan melepaskan diriku, agar aku bisa bertemu dengan paman Hok ku itu......!"
Hek-pek-siang-sat mengangguk serentak, malah Pek-siang-sat segera juga berkata.
"Baik! Baik, nona manis, engkau boleh saja kembali ke paman Hok mu itu! Tetapi kami ingin sekali ikut denganmu menemui paman Hok mu itu, karena kami tertarik sekali.
"Engkau seorang gadis manis yang sangat kami kagumi, tentunya paman Hok mu itu lebih hebat lagi dari kau. Karenanya, kami tertarik sekali buat berkenalan dengan paman Hok mu itu.....!"
Mendengar perkataan ke duao rang itu, yang sebetulnya memang telah didengar cerita mengenai Hek-pek-siang-sat dari Bun Kie Lin beberapa waktu yang lalu, walaupun hanya sedikit sekali, namun Giok Hoa telah memiliki kesan tidak baik, di mana dia memiliki kesan bahwa Hek-siang-sat tentunya bukan sebangsa manusia baik-baik.
Karena itu, segera juga dia berkata.
"Paman Hok ku itu tidak mau bertemu dengan siapapun juga, karenanya aku tidak bisa mengajak kalian buat pergi menemuinya.....!" Hek-siang-sat saling pandang satu dengan yang lainnya, dan telah berdiam diri sejenak. Mereka telah melihat, walaupun bagaimana tampaknya Giok Hoa tidak menyukai mereka. Walaupun mereka berdua telah berusaha bersikap manis sekali kepada Giok Hoa. Maka Pek-siang-sat segera mengambil keputusan tegas.
"Baiklah! Biarkanlah paman Hok mu itu datang ke mari! Kau mengatakan bahwa dia tidak mau jika ada orang yang datang menemuinya.
"Karena itu, biarkanlah dia yang datang mencarimu ke mari. Bukankah jika dia tidak melihatmu, dan engkau telah pergi sekian lama, diapun akan datang ke tempat ini?"
Giok Hoa tercekat hatinya.
Jika memang Hok An datang ke tempat itu dalam rangka mencari jejaknya, berarti Hok An akan bertemu dengan Hek-pek-siang-sat.
Dan ini merupakan hal yang tidak menggembirakan.
Kepandaian Hek-pek-siang-sat memang jauh berada di atas kepandaian dari Hok An.
Karenanya, jika Hok An bertemu dengan mereka, berarti bisa diperhina mereka tanpa bisa memberikan perlawanan sedikitpun juga.
Akhirnya Giok Hoa telah bertanya.
"Apakah kalian tetap tidak mau melepaskan aku?"
Hek-pek-siang-sat menggeleng, katanya.
"Tidak! Biarlah paman Hok mu itu datang ke mari menjemputmu dan kami akan membebaskan engkau, karena memang sangat tertarik sekali buat berkenalan dengan paman Hok mu itu......!"
Setelah berkata begitu, segera juga Hek-pek-siang-sat saling memberi isyarat satu dengan yang lainnya dan juga telah menghampiri Giok Hoa. Pek-siang-sat mengulurkan tangan kanannya, katanya.
"Nona manis, mari kita beristirahat di sana.....!"
Dia menunjuk ke arah sebatang pohon besar.
Giok Hoa mengetahui bahwa itu merupakan hal penawaran belaka.
Dia tidak diperbolehkan meninggalkan tempat ini.
Juga dia tidak akan diberikan kesempatan buat melarikan diri.
Justeru memang jika dia terlalu lama pergi, Hok An pasti akan mencari-carinya.
Dan Pek-jie juga akan segera memberitahukan kepada Hok An, di mana beradanya Giok Hoa.
Dengan demikian, tentu Hok An akan bertemu dengan Hek-peksiang-sat.
Sedangkan Hek-pek-siang-sat bukan sebangsa manusia baik, di mana pendirian mereka tidak menentu, bisa mengambil jalan lurus dan jalan sesat.
Maka dengan tabiat mereka yang aneh seperti itu, kalau sampai Hok An diperhina mereka dan dia marah, lalu terjadi perkelahian, niscaya akan merugikan Hok An.
Sebab memang kepandaian Hok An masih berada di sebelah bawah kepandaian Hek-pek-siang-sat.
Giok Hoa jadi bingung sendirinya, cepat-cepat dia menggelengkan kepalanya sambil memperlihatkan sikapmarah, katanya.
"Tidak! Aku tidak mau menemani kalian! Aku mau pergi.....!"
Setelah berkata begitu, dengan nekad Giok Hoa melangkahkan kakinya buat meninggalkan tempat itu, karena dia bermaksud akan pergi.
Dia tidak memperdulikan lagi ke dua orang Hek-pek-siangsat tersebut.
Hek-pek-siang-sat melihat Giok Hoa bersikeras hendak pergi, jadi tersenyum tawar.
Malah Hek-siang-sat telah melompat menghadang di depannya.
"Kau tidak boleh pergi dulu, nona manis, jalan di hutan ini berbelitbelit.
Jika engkau tidak mengenal jalan, tentu engkau akan tersesat.
"Nanti jika paman Hok mu itu datang menanyai engkau, tentu kami akan malu, karena tidak bisa memberitahukan di mana beradanya engkau! Karena dari itu, sudahlah! Mari Kita nantikan saja kedatangan paman Hok mu itu!"
Sambil berkata begintu, dia telah mengulurkan tangan kanannya.
Dia mengulurkan perlahan sekali!
Giok Hoa mengetahui pergelangan tangannya yang hendak dicekal oleh Hek-siang-sat.
Anakrawali 13.062.
Dia berusaha berkelit.
Namun entah bagaimana, tahu-tahu tangannya telah kena dicekal oleh Hek-siang-sat.
Malah begitu pergelangan tangannya kena dicekal oleh Hek-siang-sat, seketika Giok Hoa merasakan tenaganya seperti lenyap.
Namun Giok Hoa berusaha meronta, walaupun usahanya itu sia-sia belaka.
Sambil tertawa Hek-siang-sat pura-pura tidak mengetahui si gadis meronta, dia telah menariknya setengah paksa.
"Mari kira duduk beristirahat di sana.....!"
Ajaknya, bermaksud untuk membawa gadis kecil itu ke bawah batang pohon di mana Peksiang-sat telah duduk sambil tersenyum mengawasi Giok Hoa. Giok Hoa segera juga berteriak-teriak.
"Lepaskan, lepaskan, aku mau pergi..... kalian..... ohhh, kalian manusia-manusia jahat.........!"
Tetapi Hek-siang-sat tetap mencekal pergelangan tangan Giok Hoa, di mana dia telah mencekal jalan darah terpenting di pergelangan tangan si gadis kecil itu, dengan demikian Giok Hoa jadi kehilangan tenaganya.
Sedangkan Giok Hoa masih terus berusaha meronta sambil berteriak-teriak ketika Hek-siang-sat perintahkan agar dia duduk.
"Tidak! Tidak! Aku tidak mau! Lepaskan Lepaskan! Oh, Kalian benar-benar manusia jahat........!"
Hek-siang-sat tidak memperdulikan sikap si gadis kecil.
Dia telah duduk sambil menarik tangan Giok Hoa, sehingga Giok Hoa tertarik untuk duduk dengan betotan yang cukup kuat.
Tetapi gadis kecil ini telah menangis keras sekali, karena masih terus berteriak-teriak agar cekalan Hek-siang-sat dilepaskan.
Dalam keadaan seperti itulah, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang bersenandung sangat tenang dan sabar sekali, suaranya begitu lembut.
"Pergi dengan berpasangan, rajawali sakti, dan juga kesedihan telah ditinggalkan..... Kini muncul berdua, dengan rajawali sakti yang terbang beriringan....."
Suara itu sangat perlahan, dan tenang sekali, sabar dan bening, disusul dengan suara berkeresek, menunjukkan bahwa ada seseorang yang tengah mendatangi ke arah tempat di mana adanya Hek-pek-siang-sat dan Giok Hoa.
Mengetahui ada orang datang, Giok Hoa menangis semakin keras, malah dia telah berteriak-teriak.
"Tolong..... tolong......!"
"Hussss!"
Bentak Hek-siang-sat yang menjadi dongkol juga.
"Kami tidak menyiksa dan mempersakiti dirimu, kami hanya ingin mengajak kau bercakap-cakap saja. Mengapa engkau melolonglolong seperti itu?" Sedangkan suara orang bersenandung itu terdengar semakin dekat, suara seorang wanita yang begitu bening sekali. Disusul kemudian suara keresekan itu semakin dekat juga. Dan akhirnya muncul dari balik batang-batang pohon, seorang gadis berpakaian serba kuning, memiliki paras yang cantik sekali, berusia di antara duapuluh limatahun lebih. Matanya bersinar tajam dan bening sekali, bibirnya yang begitu tipis tersenyum manis sekali, sedangkanrambutnya yang disanggul tampak teratur dan rapi sekali. Sama sekali gadis berpakaian serba kuning itu tidak memperlihatkan perasaan terkejut, ia memandang kepada Hekpek-siang-sat kemudian kepada Giok Hoa, lalu katanya.
"Adik kecil, mengapa engkau menangis seperti itu? Apakah ke dua orang itu masih ada hubungan saudara denganmu?!"
"Bukan! Bukan! Mereka adalah dua orang penjahat tidak tahu malu, dia hendak menahanku!"
Sambil berkata begitu, Giok Hoa telah mendeliki Hek-siang-sat. Gadis berpakaian serba kuning yang parasnya sangat cantik itu telah berkata dengan suara yang sabar.
"Sebenarnya, apa yang kalian kehendaki dari gadis kecil tidak berdosa itu? Bukankah harus dikasihani adik kecil yang begitu jujur dan polos, kalian takuttakuti seperti itu?!"
Sebelum Hek-pek-siang-sat telah bersiap-siap ketika mendengar suara berkeresekan daun kering menandakan ada orang datang, mereka menduga seorang tokoh sakti dari rimba persilatan juga.
Namun siapa sangka, justeru yang muncul adalah seorang gadis yang cantik jelita.
Karena itu mereka tidak memandang sebelah mata.
"Nona cantik engkau demikian rupawan tetapi seorang diri engkau berkeliaran di hutan belukar ini, apakah engkau tidak kuatir akan ditimpa malapetaka diganggu oleh manusia-manusia jahat?!"
Gadis berpakaian kuning itu tersenyum. Manis sekali senyumannya itu, sikapnya juga sabar sekali. Dia telah berkata dengan sikapnya yang sabar dan tenang.
"Mengapa harus takut? Bukankah disini semuanya aman? Oya, jika memang kalian hendak bicara dengan gadis kecil itu, bicarakanlah dengan baik-baik. Jangan dengan cara seperti itu, di mana kalian telah mencekal tanganadik kecil itu, seperti juga kalian memaksanya.....!" "Kau jangan mencampuri urusan kami!"
Tiba-tiba Hek-siang-sat membentak bengis.
"Kami tidak mau jika urusan kami dicampuri orang lain!"
Gadis berbaju kuning itu tersenyum mendengar perkataan Heksiang-sat, kemudian katanya.
"Mengapa tidak boleh mencampuri? Justeru jika urusan ini tidak wajar, aku malah sengaja ingin mencampuri. Memang apa yang Siauw-moay (adik) lihat, urusan ini tidak wajar......!"
Setelah berkata begitu, gadis berpakaian serba kuning itu telah menoleh kepada Giok Hoa, lalu tanyanya.
"Adik kecil, siapakah engkau?!"
"Aku..... aku Giok Hoa, mereka hendak menawanku!"
Menjelaskan Giok Hoa.
"Cie-cie tolonglah aku....., mereka berdua sangat jahat sekali!"
Gadis berbaju kuning itu telah menoleh lagi memandang tajam kepada Hek-pek-siang-sat, namun sikapnya tetap sabar.
"Nah, kalian telah mendengar sendiri, bahwa adik kecil itu tidak menyukai kalian. Mengapa kalian hendak memaksanya agar dia menemani kalian?!"
Suaranya tenang, sama sekali tidak gentar walaupun melihat muka Hek-pek-siang-sat yang agak luar biasa dan bengis.
Namun Hek-pek-siang-sat justeru jadi habis sabar.
Pek-siang-sat telah melompat berdiri.
"Nona, kau jangan mengusili urusan kami! Kami tidak akan mengganggumu, engkau boleh melanjutkan perjalananmu! Tetapi jika engkau mencampuri urusan kami, berarti engkau mencari kesusahan buat dirimu sendiri......!"
Setelah berkata begitu segera juga Pek-siang-sat bersiap-siap untuk menyerang gadis berbaju kuning itu, kalau saja dia membangkang. Benar saja. Gadis berbaju kuning itu menggelengkan kepalanya.
"Maaf, aku tidak bisa melanjutkan perjalananku, sebelum kalian membebaskan adik kecil itu! Tidakkah kalian merasa kasihan melihatnya, seorang gadis cilik yang tidak berdaya, kalian takuttakuti seperti itu? Bebaskanlah.....! "
Kukira kalian pun bukan sebangsa manusia-manusia gentong nasi, sedikitnya kalian memiliki kepandaian yang berarti.
Karena dari itu, mengapa justeru kalian hendak menurunkan pamor kalian dengan menakut-nakuti anak kecil seperti itu.....?!"
Mendengar kata-kata si gadis baju kuning yang mengandung ejekan padanya, hal ini membuat Pek-siang-sat jadi berobah mukanya.
Dia mengetahui, bahwa ini memang merupakan urusan yang sengaja dicari-cari oleh gadis berpakaian baju kuning itu.
Bahkan melihat cara gadis berpakaian kuning itu berjalan, tentunya dia memiliki kepandaian juga.
Tidak mungkin seorang gadis yang tidak memiliki kepandaian apa-apa mempunyai keberanian seperti yang diperlihatkangadis berbaju kuning tersebut.
Karenanya, dalam keadaan seperti itu Pek-siang-sat sudah tidak bisa menahan diri lagi, dia mengayunkan tangan kanannya, maksudnya hendak mendorong pundakgadis baju kuning itu.
Namun gadis baju kuning itu sama sekali tidak berusaha berkelit, dia membiarkan tangan Pek-siang-sat meluncur ke dekat pundaknya.
Hanya saja terpisah beberapa dim lagi, di waktu telapak tangan Pek-siang-sat hampir menyentuh pundaknya, tampak gadis berpakaian serba kuning tersebut telah memiringkan sedikit pundaknya.
Tahu-tahu dorongan tangan dari Pek-siang-sat mengenai tempat kosong.
Itulah suatu cara berkelit yang mengagumkan sekali, karena gerakan gadis tersebut sangat gesit dan lincah, cara mengelakkannya pun luar biasa sekali.
Maka dari itu segera juga Pek-siang-sat memiliki dugaan, bahwa lawannya ini tentu bukan seorang gadis sembarangan, yang dapat dipermainkannya dengan mudah.
Cepat sekali tangan Pek-siang-sat telah bergerak mendorong pula.
Kali ini dia mendorong dengan mengerahkan tujuh bagian tenaga lweekangnya.
Namun, sekali lagi gadis berpakaian serba kuning itu bisa menghindarkan dorongan tersebut.
Telapak tangan Pek-siang-sat mengenai tempat kosong lagi, karena tahu-tahu pundak si gadis itu seperti juga telah melejit.
Itulah cara mengelakkan diri yang benar-benar sangat luar biasa dan cukup mengejutkan di samping menimbulkan rasa kagum di hati Pek-siang-sat.
"Hemmm, ternyata engkau memiliki kepandaian lumayan, sehingga engkau hendak mencampuri urusan kami!"
Kata Pek765 siang-sat geram.
"Bagus! Bagus! Memang sudah lama aku tidak bertempur, sehingga tanganku ini gatal. Mari, mari kita mainmain.....!"
Setelah berkata begitu, berbareng dengan selesainya perkataannya itu, sepasang tangan Pek-siang-sat bergerak menghantam dan mencengkeram.
Gerakan tangan itu meluncur terus dan melingkar, tangan kirinya hendak mencengkeram meluncur lurus, sedangkan tangan kanannya yang hendak menepuk meluncur dari atas seperti juga menyambarnya petir, dekat sekali menimbulkan sambaran angin yang sangat panas bukan main.
Namun gadis berpakaian serba kuning itu juga tidak tinggal diam saja.
Dia kali ini bukan hanya memiringkan sedikit pundaknya, karena dia telah bergerak cepat sekali.
Tangan kirinya telah menyampok serangan lawannya tersebut.
Walaupun sampokan gadis berpakaian kuning itu dilakukannya perlahan, tokh tidak urung telah membuat tangan Pek-siang-sat terasa sakit.
Dia merasakan getaran yang kuat waktu tangan mereka saling bentur, terasa pedih dan getaran itu menjurus terus pada ulu hatinya yang terasa menyesak.
Karena itu, sebagai seorang yang berpengalaman, Pek-siang-sat menyadarinya gadis berpakaian kuning ini tentunya bukan lawan sembarangan.
Dia berseru nyaring, ke dua tangannya telah bergerak menyerang bertubi-tubi bagaikan gelombang laut yang datang susul menyusul.
Tetapi dasarnya gadis berpakaian kuning itu memiliki kepandaian yang tinggi, tidak satupun serangan dari Pek-siang-sat yang berhasil mengenainya, bahkan dengan gerakan tubuh seperti juga seekor burung rajawali rubuh, gadis berpakaian serba kuning itu telah melesat ke sana ke mari dengan lincah mengurung Peksiang-sat.
Yang lebih mengejutkan lagi, gadis berpakaian serba kuning itu telah menggerakkan tangannya buat memunahkan tenaga serangan Pek-siang-sat, walaupun tanpa saling membentur.
Namun tenaga serangan dari Pek-siang-sat telah terpunahkan.
Malah dengan mengandalkan ginkangnya yang mengagumkan, gadis berpakaian kuning itu telah beberapa kali hampir kena menotok jalan darah terpenting di tubuh Pek-siang-sat.
Beruntung Pek-siang-sat memang liehay dan juga memiliki kepandaian yang tinggi.
Disebabkan itulah, walaupun serangan gadis berpakaian serba kuning tersebut selalu hampir mengenai sasarannya, tokh dia masih bisa meloloskan diri.
Gadis berpakaian baju kuning itu telah berkata dengan sabar.
"Kita mengadu tenaga dan bertempur, hal ini tidak ada gunanya, lebih baik jika kalian membebaskan gadis cilik itu.....!"
Tetapi Pek-siang-sat malah jadi penasaran bukan main.
Dengan bersuara mengguntur tahu-tahu sepasang tangannya itu meluncur serentak seperti juga akan menungkrap batok kepala gadis berpakaian kuning tersebut.
Semua itu dilakukannya cepat sekali, sehingga bagi orang biasa, tidak mungkin bisa melihat meluncur ke dua tangannya tersebut.
Sedangkan gadis berpakaian serba kuning itu, kali ini tidak mau menyingkir.
Dia mengawasi tangan Pek-siang-sat yang meluncur ke arah kepalanya.
Waktu sepasang tangan itu telah dekat, di saat itulah dia telah bergerak lincah sekali, memiringkan sedikit kepalanya, kemudian mengulurkan tangan kirinya menyanggah ke dua tangan tersebut.
Dengan demikian membuat Pek-siang-sat merasakan pergelangan tangannya seperti tertahan oleh suatu kekuatan yang tidak tampak, membuat sepasang tangannya itu tidak bisa meluncur lebih jauh.
Dalam keadaan demikian Pek-siang-sat tidak mau sudah.
Dia cepat menarik pulang ke dua tangannya, kemudian dia telah menghentak ke dua tangannya, membarengi dengan mana, tahutahu tangan kanannya ditekuknya, ia membarengi juga dengan tangan kirinya yang menyelusup karena dia bermaksud menotol biji mata gadis berbaju kuning itu.
Sedangkan tangan kanannya yang seperti menggaet itu, hendak menerobos akan menghantam dada gadis berpakaian baju kuning itu.
Namun sekali ini benar-benar Pek-siang-sat melupakan sesuatu.
Yaitu dia tidak ingat bahwa gadis berpakaian baju kuning itu baru mempergunakan satu tangannya belaka, berarti satu tangannya yang lain masih bebas.
Karena itu, begitu Pek-siang-sat menyerang lagi dengan perobahan pada ke dua tangannya, justeru tangan gadis berbaju kuning itu telah meluncur cepat sekali menghantam dengan kuat.
"Bukkk.....! Dukkk!"
Terdengar benturan dua kali benturan.
Ternyata dalam keadaan seperti itu, Pek-siang-sat masih bisa menahan serangannya, tangannya tidak meluncur terus, sehingga masih sempat menangkis gempuran dari gadis berpakaian serba kuning tersebut.
Bentrokan tenaga yang terjadi dari benturan tangan mereka, menimbulkan suara yang keras.
Dan juga Peksiang-sat merasakan tangannya itu pedih.
Gadis berpakaian serba kuning itupun tak kurang kagetnya, karena begitu tangannya menangkis tangan Pek-siang-sat, seketika dia merasakan tubuhnya bagaikan diterjang sesuatu kekuatan yang seperti juga terjangan gelombang laut.
Namun karena dia memiliki lweekang yang tinggi, maka gadis berpakaian serba kuning tersebut tidak sampai terhuyung, hanya tubuhnya tergoncang sedikit.
Setelah ke duanya mengadu kekuatan tenaga dalam, kemudian seperti berjanji, ke duanya menjejakkan kaki mereka masingmasing melompat ke belakang.
Dengan begitu mereka saling menjauhi dirinya.
Sedangkan gadis berpakaian kuning itu telah berkata dengan suara yang tetap lembut dan juga sikap yang sabar.
"Ternyata Siauw-moay tengah berurusan dengan seorang yang sakti!" Hek-pek-siang-sat berobah memerah, karena ia mendengar pujian gadis berpakaian kuning itu seperti juga sebuah olok-olok yang mengejeknya. Maka katanya dengan murka.
"Siapa engkau sebenarnya?"
Walaupun Pek-siang-sat bertanya dengan gusar, tokh tidak urung di dalam hatinya diliputi perasaan heran dan kagum.
Dia heran melihat usia gadis berpakaian baju kuning itu yang masih muda belia, tetapi lweekangnya tadi, di mana mereka telah saling mengadu kekuatan dalam satu gebrakan itu.
Pek-siang-sat mengetahui lweekang gadis berpakaian kuning ini tidak berada di sebelah bawah kepandaiannya.
Dan perasaan kagum, karena dia melihat juga jurus-jurus dari gerakan itu tidak dapat dikenalinya.
Sebetulnya Pek-siang-sat memiliki pengalaman yang luas sekali, dia boleh dibilang mengenal hampir seluruh ilmu silat dari berbagai aliran.
Namun sekarang ini ternyata dia tidak bisa mengenali ilmu silat gadis itu, walaupun mereka telah mengadu ilmu sebanyak beberapa jurus.
Sedangkan gadis berpakaian baju kuning itu tersenyum sabar, katanya.
"Sekarang begini saja! Tolong kau katakan, siapakah sebenarnya kalian..... nanti Siauw-moay akan sebutkan siapa Siauw-moay adanya."
Pek-siang-sat waktu itu sebetulnya tengah murka juga, dia sebetulnya pun tidak mau menyebutkan siapa dirinya.
Namun Heksiang-sat yang waktu itu masih duduk di bawah batang pohon, dengan memegangi terus pergelangan tangan Giok Hoa, telah mewakili menyahuti.
"Kami adalah Hek-pek-siang-sat!"
Gadis berpakaian serba kuning itu memperlihatkan sikap terkejut.
"Ohhh, kiranya jie-wie Locianpwee..... maaf, maaf Siauw-moay tadi berlaku kurang ajar."
Benar-benar gadis berpakaian kuning itu telah membungkukkan diri menjurah memberi hormat. Sedangkan Pek-siang-sat yang sudah tidak sabar segera membentak.
"Siapa kau?!"
Gadis berpakaian serba kuning itu tersenyum, dia menyahuti dengan tetap sabar.
"Siauw-moay she Yo......!"
"She Yo.....?!"
Tanya Pek-siang-sat seperti terkejut, karena dia teringat seseorang. "Mengapa?!"
Tanya gadis berpakaian serba kuning she Yo tersebut ketika melihat Pek-siang-sat terkejut seperti itu, juga dilihatnya Hek-siang-sat pun sangat kaget, sampai hampir-hampir cekalannya terlepas.
"Masih ada hubungan apa antara kau dengan Yo Ko?!"
Tanya Heksiang-sat dari tempat duduknya, malah waktu itu Hek-siang-sat telah melompat berdiri sambil menarik tangan Giok Hoa.
Gadis she Yo itu tersenyum.
Sikapnya tetap sabar dan tenang, kemudian katanya.
"Tentang hal itu, Siauw-moay rasa kurang layak dibicarakan! Tadi Locianpwee menanyakan siapa adanya Siauw-moay dan Siauwmoay telah memberitahukan bahwa Siauw-moay she Yo. Dan Siauw-moay kira, urusan telah habis sampai di situ. Sekarang Siauw-moay memiliki pertanyaan, entah Locianpwe mau menjawabnya atau tidak?!"
Pek-siang-sat sebetulnya masih penasaran karena belum menerima jawaban dari gadis itu atas pertanyaannya, maka dia baru saja ingin bertanya lagi, Hek-siang-sat telah mewakilinya berkata.
"Baiklah, katakanlah, apa yang hendak engkau tanyakan?!" "Sesungguhnya, masih ada sangkutan apakah antara jie-wie Locianpwe dengan gadis kecil itu?"
Tanya gadis berpakaian serba kuning itu.
"Dia seorang cucu dari sahabat kami yang tersesat di hutan ini, tetapi dia bersikeras hendak meninggalkan hutan ini seorang diri, karena dari itu pula, dan kami pun tidak akan mengijinkannya. Kami menganjurkan agar dia bersama kami dulu, sehingga nanti sahabat kami itu datang menyambutnya. Hal ini karena kami kuatir kalau saja dia nanti tersesat dalam hutan belukar ini!"
Kata Heksiang-sat.
"Bohong! Dia bukan apa-apaku! Mereka bukan sahabat paman Hok! Mereka hendak menawanku!"
Teriak Giok Hoa tiba-tiba dengan suara yang nyaring. Muka Hek-siang-sat berubah, dia kemudian berkata dengan sikap berang.
"Jika banyak rewel lagi akan kuhajar hancur batok kepalamu ini!"
Mendengar Hek-siang-sat mengancam gadis cilik tersebut, gadis berpakaian serba kuning itu telah berkata dengan sikap yang tenang dan sabar.
"Hemmm, engkau hendak menghajar batok kepala adik kecil itu?
Berarti kau hendak membunuhnya!
"Dengan demikian memperlihatkan bahwa kalian bukan apaapanya adik kecil itu, karena jika memang ia puteri dari seorang sahabatmu, tentu kalian akan sayang padanya, tidak akan menyakitinya, dan juga tidak akan mengancamnya seperti itu!"
Setelah berkata begitu, segera si gadis she Yo yang berpakaian serba kuning tersebut telah menoleh kepada Pek-siang-sat katanya.
"Apakah kalian benar-benar hendak menawan adik kecil itu, locianpwe?"
Hek-pek-siang-sat adalah dua tokoh rimba persilatan yang memiliki nama sangat ditakuti dan disegani oleh tokoh-tokoh lurus maupun sesat.
Mereka itu semuanya menghormati Hek-pek-siangsat sehingga Hek-pek-siang-sat mengatakan hitam, harus hitam.
Jika mereka mengatakan putih, maka semuanya harus mengiyakan dan harus putih.
Dengan begitu membuat Hek-pek-siang-sat tidak pernah bersikap murah hati kepada siapapun juga.
Jika mereka tidak senang tentu mereka akan menghajar orang yang tidak disenangi tersebut.
Namun sekarang gadis berpakaian serba kuning yang mengaku she Yo, tersebut justeru seperti tidak memandang sebelah mata kepada mereka.
Bahkan sikap gadis berpakaian kuning itu sangat berani sekali, sama sekali tidak memgerlihatkan perasaan gentar sedikit pun juga.
Maka mereka sangat gusar dan bermaksud untuk menguji kepandaian gadis berpakaian serba kuning itu, karena mereka ingin mengetahui berapa tinggi kepandaian yang dimiliki gadis berpakaian serba kuning tersebut.
Memang tadi Pek-siang-sat telah mengadu kekuatan dengan gadis berpakaian serba kuning itu, namun dia tidak percaya sepenuhnya si gadis yang belum mencapai usia tigapuluh tahun itu, bisa memiliki lweekang yang begitu tinggi.
Disebabkan itulah, dengan penasaran Pek-siang-sat justeru hendak mencobanya pula.
"Biarkanlah aku yang menghadapinya dulu,"
Kata Pek-siang-sat kepada Hek-siang-sat.
Hek-siang-sat mengiakan, kembali duduk pada tempatnya.
Kali ini sikapnya agak kasar waktu dia menarik tangan Giok Hoa, sampai gadis tersebut telah tertarik dengan keras dan hampir saja terjerembab.
Sedangkan gadis berbaju kuning itu telah berkata dengan suara yang tawar, tetapi tetap sabar.
"Jika memang jie-wie Locianpwee tidak memiliki hubungan apa-apa dengan adik kecil itu, maka dengan memandang muka Siauw-moay, tentunya jie-wie Locianpwee bersedia buat membebaskan adik kecil itu! Jika seandainya adik kecil itu pernah melakukan kesalahan pada jiewie, maka dengan ini Siauw-moay menyatakan maaf pada jie-wie berdua.....!"
Dan benar-benar gadis berbaju kuning itu telah membungkukkan tubuhnya lagi memberi hormat untuk mewakili Giok Hoa mengucapkan maafnya. Tetapi Pek-siang-sat tertawa dingin.
"Mari kita main-main dulu!"
Katanya kemudian dengan suara mengandung penasaran sekali.
"Mari main?? Apa maksud dari Locianpwe?"
Tanya gadis berbaju kuning itu.
"Kita bertempur sampai seratus jurus!"
Mengajak Pek-siang-sat.
"Aku melihat bahwa engkau memiliki kepandaian yang cukup tinggi, tentunya engkau akan dapat untuk menghadapi setiap seranganku....." Gadis berbaju kuning itu telah tersenyum, sambil katanya.
"Baiklah! Jika memang Locianpwe hendak main-main, Siauwmoay bersedia menemani! Tetapi terus terang saja, jika kita mengadu tangan dan tenaga, tentu hal ini akan menimbulkan kesalah pahaman, suatu kali tentu kita bisa kesalahan turun tangan! Sekarang Siauw-moayada saran, entah Locianpwe menyetujuinya atau tidak......!"
"Katakanlah!"
Kata Pek-siang-sat gusar dan penasaran, karena dilihatnya gadis berbaju kuning itu sama sekali tidak memperlihatkan sikap jeri.
Dengan begitu jelas membuatnya jadi mengetahui bahwa gadis berbaju kuning ini memang yakin memiliki kepandaian tinggi, sehingga dia tidak merasa takut.
"Aku mempunyai saran, dan harap Locianpwee mau mempertimbangkannya!"
Kata gadis berbaju kuning itu, setelah berdiam diri sejenak dan telah menoleh mengawasi Giok Hoa yang masih dicekal tangannya oleh Pek-siang-sat.
"Dan permainan itu tentunya merupakan permainan yang sangat menarik sekali, di mana kita atur sedemikian adilnya, sehingga nanti tidak ada salah satu pihak di antara kita saling menyesalinya......!"
"Apa saranmu itu?!"
Tanya Pek-siang-sat. "
Karena jie-wie berdua bergelar Hek-pek-siang-sat, tentunya jiewie memiliki kepandaian yang diandalkan dan selalu harus dibawakan berdua oleh jie-wie. Bukankah begitu?!"
Tanya gadis berbaju kuning itu. Pek-siang-sat mengangguk.
"Ya..... memang begitu!"
Menyahuti Hek-pek-siang-sat.
"Jika kami berdua telah turun tangan serentak, jangan harap siapapun dapat menghadapi kami! Walaupun tokoh tersakti sekalipun di dalam rimba persilatan, jika kami telah turun tangan serentak berdua, tentu tokoh sakti itu akan dapat kami rubuhkan."
"Nah!"
Kata gadis berbaju kuning itu.
"Jika demikian halnya, Siauwmoay sangat tertarik sekali. Tetapi jiwie Locianpwe jangan tersinggung. Siauw-moay memang ingin mengemukakan saran yang berasal dari dasar hati yang sejujurnya.
"Bagaimana jika jie-wie berdua serentak maju menghadapi Siauwmoay dan kita bertempur sebanyak sepuluh jurus. Jika dalam sepuluh jurus Siauw-moay tidak bisa merubuhkan Jie-wie berdua, hitung saja Siauw-moay yang kalah! "
Dan yang kita pertaruhkan itu adalah adik kecil itu.
Jika memang Siauw-moay kalah, berarti Siauw-moay tidak akan mencampuri lagi urusan adik kecil itu.
Jie-wie ingin mengapakan juga adik kecil itu, Siauw-moay tidak akan mencampuri lagi!"
Demikian juga sebaliknya jika Siauw-moay dalam sepuluh jurus dapat merubuhkan jie-wie berdua, maka adik kecil itu harus diserahkan kepada Siauw-moay untuk Siauw-moay bawa pergi meninggalkan tempat ini dengan syarat bahwa jie-wie tidak akan menimbulkan kesulitan lagi buat kami, dan terutama sekali tidak akan berusaha merintangi pula keberangkatan kami dari tempat ini.
Bagaimana, apakah jie-wie menerima saran Siauw-moay?"
Muka Pek-siang-sat dan demikian juga Hek-siang-sat jadi berobah merah padam.
Memang gadis berbaju kuning itu berkata-kata dengan sikap yang manis dan sabar sekali.
Tetapi dibalik dari kata-kata yang sabar dan manis itu, ternyata mengandung ejekan dan memandang remeh kepada Hek-pek-siang-sat.
Bayangkan saja, gadis itu yakin, dalam sepuluh jurus ia akan dapat merubuhkan Hek-pek-siang-sat!
Itulah sikap tekebur yang dianggap oleh Hek-pek-siang-sat keterlaluan sekali.
Dan juga malah gadis berpakaian kuning itu tidak tanggung-tanggung dalam tantangannya, karena dia sekaligus menantang kepada Hek-peksiang-sat maju serentak berdua!
Tetapi Pek-siang-sat yang lebih dapat menahan diri, telah berkata dengan sikap geram.
"Baiklah! Jika memang engkau menghendaki diaturnya begitu, kami juga tidak keberatan!"
Setelah berkata begitu, Pek-siang-sat menoleh kepada Hek-siang-sat.
"Mari kita hadapi gadis angkuh ini!"
Katanya dengan suara yang mengandung penasaran. Hek-siang-sat melirik kepada Giok Hoa, namun akhirnya keraguraguannya itu lenyap. Karena diapun memang mendongkol sekali! "Baik!"
Katanya sambil melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan Giok Hoa. Dia pun telah melompat ke samping Pek-siangsat. Kemudian katanya.
"Apakah kita sudah boleh memulainya sekarang?!"
Gadis berpakaian baju kuning itu telah berkata dengan sikap yang tenang sekali, katanya.
"Silahkan, silahkan! Siauw-moay memang telah siap, silahkan kita mulai!"
Setelah berkata begitu, gadis berpakaian baju kuning itu berdiri dengan sikap yang tetap tenang dan sabar, sama sekali dia tidak memperlihatkan sikap hendak bersiap siaga terhadap kemungkinan serangan-serangan Hek-pek-siang-sat yang bisa saja terjadi dilancarkan dengan tiba-tiba.
Di waktu itu Hek-pek-siang-sat telah saling melirik dan mereka bersiap-siap hendak mulai menyerang kepada gadis berbaju kuning she Yo itu, yang dianggap mereka sebagai gadis yang tekebur dan angkuh.
Sedangkan Giok Hoa jadi menguatirkan keselamatan gadis berbaju kuning itu, karena dia mengetahui kepandaian ke dua orang Hek-pek-siang-sat tersebut sangat lihay dan tinggi sekali ilmunya.
Jika saja ke dua orang Hek-pek-siang-sat maju serentak buat mengepung dan mengeroyok gadis berbaju kuning, inilah hal yang benar-benar sangat menguatirkan sekali.
Kalau saja gadis itu berlaku ayal sedikit saja tentu dia akan terluka di tangan Hek-peksiang-sat.
Karena dari itu, jika memang sampai gadis itu terluka, berarti keselamatan jiwa Giok Hoa juga akan terancam.
Sedangkan Hek-pek-siang-sat gusar bukan main, mereka pun penasaran.
Seumur hidup mereka, baru kali ini ada seorang gadis muda yang berani bersikap demikian sombong dan sama sekali tidak memandang mata kepadanya.
Tanpa memberi muka sedikitpun juga, telah memancing mereka berdua, agar maju serentak, di mana mereka akan dihadapi hanya dalam sepuluh jurus dan dijanjikan akan dapat dirubuhkan!
Dengan begitu, hal ini merupakan suatu penghinaan yang paling hebat buat Hek-pek-siang-sat.
Maka kedua Hek-pek-siang-sat yang memang memiliki tabiat aneh, telah mengambil keputusan, mereka akan turun tangan dengan keras.
Mereka menginginkan dalam dua atau tiga jurus akan dapat merubuhkan gadis berbaju kuning itu.
Jika memungkinkan mereka juga hendak melukai gadis berbaju kuning lebih parah lagi.
Baca Juga: Bukit Pemakan Manusia 5
Baca Juga: Pecut Sakti Bajrakirana 2