Ceritasilat Novel Online

Anak Rajawali 3

Eps 3 Anak Rajawali - Chin Yung

Baca online Anak Rajawali - Chin Yung

Cersil Anak Rajawali - Chin Yung.

"Gadis kecil itupun tidak bisa melindunginya dengan baik, maka jika memang dia kita tinggalkan bersama gadis cilik tersebut, niscaya akan membuat mereka berdua seperti ditinggal di mulut macan saja....."

Yo Him tertegun sejenak, dia telah memandang jauh sekali, sepasang alisnya mengkerut dalam-dalam, rupanya dia tengah berpikir keras sekali, sampai akhirnya Yo Him bilang lagi dengan suara ragu-ragu.

"Jika memang demikian, baiklah! Kita lihat saja bagaimana keadaannya nanti, akan tetapi aku kurang yakin bahwa dia hanya sembuh karena obat-obat perbekalan kita ini, yang sangat terbatas sekali.....

"Jika saja sekarang ini kita benar-benar memiliki obat yang benarbenar mujarab, niscaya kita bisa menyembuhkannya dengan baik. Kemungkinan besar kita pun tentu bisa akan melindunginya agar ilmu silatnya tidak sampai lenyap......!"

Sasana menghela napas dalam-dalam.

"Kita lihat saja bagaimana nasibnya. Jika memang ilmu silat dan kepandaiannya lenyap, itulah nasibnya yang buruk sekali. Akan tetapi, didalam hal ini jelas kita harus berusaha untuk melindunginya dalam waktu sementara ini, karena itu, selama dia belum sembuh dan kita belum yakin bahwa orang ini dan gadis cilik itu dalam keadaan aman tidak terancam bahaya di tangan orangorang Boan itu, barulah kita meninggalkannya!"

Yo Him menyetujui saran yang diberikan Sasana, diapun telah berkata dengan suara yang mengandung penyesalan.

"Hanya saja, aku tidak pernah membayangkan bahwa Kaisar Mongolia itu bisa memiliki hati yang demikian telengas mendatangkan penderitaan tidak ringan buat penduduk daratan Tiong-goan! Jika keadaan ini berlangsung terus, niscaya akan menimbulkan kebencian di hati rakyat..... Dan kukira tidak mungkin Kaisar Kublai Khan dapat bertakhta lebih lama lagi di daratan Tiong-goan ini."

Sasana hanya menghela napas.

"Semua ini hanya disebabkan memang Kaisar itu di dampingi manusia-manusia berhati iblis! Kaisar tentunya telah berhasil dipengaruhi mereka, di mana para Kan-sin (penjilat) itu telah membujuk Kaisar dengan berbagai jalan dan usaha, dengan demikian Kaisar telah menempuh jalan yang salah! "

Memang sebelumnya pasukan perang Kaisar Mongolia sangat kuat sekali.

Kaisar pun selalu ikut turun tangan memimpin dalam medan peperangan.

Namun sekarang setelah memperoleh kemenangan buat pihaknya, maka dia telah terlena oleh wanitawanita cantik dan arak.....

Jika keadaan seperti ini berlangsung terus, niscaya kerajaan Boan ini tidak berusia panjang dan akan runtuh......"

Begitulah Yo Him dan Sasana bercakap-cakap membicarakan situasi waktu itu di daratan Tiong-goan dan segala apa yang mereka saksikan akhir ini dalam pengembaraan mereka.

Sedangkan Giok Hoa yang tengah berduka karena memikiri keadaan dan keselamatan paman Hok nya tersebut, hanya mendengarkan saja percakapan Yo Him dengan Sasana.

Pertama-tama memang dia tidak mengerti urusan yang dibicarakan ke dua orang ini, sebab lainnya dia memang tengah berduka dan tidak berhasrat buat ikut bercakap-cakap.

Sampai akhirnya Yo Him telah menoleh memandang Giok Hoa, katanya.

"Beruntung bahwa kau belum sempat disiksa oleh orangorang Boan itu.....!"

Giok Hoa mengangguk, katanya.

"Semua ini berkat pertolongan Koko dan Cie-cie.....!"

Yo Him tersenyum. "Sebenarnya, ke manakah tujuan kalian!"

Tanyanya lagi.

"Kami baru saja turun dari gunung Hoa-san, dan bermaksud akan berkelana....."

Menjelaskan Giok Hoa dengan jujur.

"Dan kami juga...."

Akan tetapi baru saja Giok Hoa berkata sampai di situ, di atas udara tampak melayang-layang sebuah bayangan putih yang besar.

Di mana akhirnya setelah ditegasi, ternyata itulah seekor burung rajawali yang memiliki ukuran tubuh sangat besar, dengan sepasang sayap yang lebar.

Bukan main girangnya Giok Hoa.

Sedangkan Sasana telah berkata kepada Yo Him.

"Sejak tadi burung rajawali putih ini selalu membuntuti kita..... entah apa yang diinginkannya....."

Baru saja Yo Him ingin menyahuti, tiba tiba Giok Hoa telah bersiul nyaring, disusul kemudian panggilannya.

"Tiauw-jie ke mari kau....."

Dan Giok Hoa yang tampaknya begitu girang, dengan wajah yang berseri-seri, melambai-lambaikan tangannya memanggil burung rajawali berbulu putih seperti seputih salju tersebut.

Burung rajawali putih itu seperti juga mengerti panggilan Giok Hoa, karena burung tersebut sambil mengeluarkan pekik yang nyaring, telah terbang turun dan hinggap di samping Giok Hoa.

Waktu dia terbang turun dan hinggap di tanah, maka debu-debu beterbangan, akibat kuatnya gerakan sepasang sayapnya yang menimbulkan angin yang menderu-deru.

Sedangkan Yo Him dan Sasana hanya memandang dengan takjub dan heran, betapa rajawali itu telah menyelesapkan kepalanya ke dalam pelukan Giok Hoa.

Giok Hoa sambil menangis telah mengusap-usap kepala burung rajawali itu.

"Tiauw-jie..... Tiauw-jie...... paman Hok telah disiksa dan dianiaya oleh orang-orang Boan. Keadaannya sangat mengenaskan sekali.....!"

Kata Giok Hoa kemudian di antara sendat tangisnya.

Tiauw-jie mengeluarkan suara pekik yang perlahan, namun sangat panjang, rupanya dia ikut bersedih hati.

Giok Hoa menunjuk ke arah di mana Hok An tengah rebah dalam keadaan tidur.

Tiauw-jie segera juga menghampiri Hok An, kemudian berdiri di samping Hok An dengan air mata berlinang.

Diapun memperdengarkan suara pekik yang perlahan sekali.

Menyaksikan semua itu, Yo Him dan Sasana jadi sangat terharu.

Dia telah menyaksikan betapa burung rajawali itu seperti juga sikap seorang manusia, yang dapat berduka melihat sahabat atau majikannya yang terluka begitu berat.

Memang Yo Him seringkali mendengar cerita dari ibunya, bahwa dulu ayahnya memiliki seekor rajawali sebagai sahabatnya di mana burung rajawali tersebut sangat liehay sekali ilmu silatnya, burung rajawali itulah yang mengajarkan Yo Ko, ayah Yo Him, berbagai ilmu silat yang liehay.

Begitu juga perihal Kwee Ceng dan Oey Yong, yang memiliki sepasang burung rajawali putih yang sangat jinak dan penurut sekali, telah sering didengar oleh Yo Him.

Sekarang ini justeru disaksikan oleh Yo Him dan isterinya, seekor burung rajawali yang demikian jinak dan juga setia sekali, maka bukan main tertariknya hati Yo Him dan Sasana.

Sedangkan Giok Hoa juga telah menghampiri lebih dekat, berdiri di samping burung rajawali itu.

"Orang-orang Boan itu yang telah menganiaya paman Hok sampai keadaannya demikian mengenaskan.....!"

Kata Giok Hoa sambil menangis terus dengan berduka sekali.

Setelah memandangi Hok An yang tengah tertidur nyenyak, burung rajawali itu, Tiauw-jie, menoleh kepada Giok Hoa, kemudian mengeluarkan suara pekikan yang perlahan, seperti juga burung itu tengah menanyakan siapa saja orang-orang Boan yang telah menganiaya Hok An.

Giok Hoa seperti juga mengerti, dia telah berkata dengan suara yang menggumam, seperti juga berkata kepada dirinya sendiri.

"Kami telah masuk ke dalam perkampungan itu, dan ditangkap oleh orang-orang Boan itu, di mana akhirnya paman Hok dianiaya hebat oleh orang-orang Boan itu. Jika saja Cie-cie dan Koko ini tidak menolongi kami, akupun hampir saja disiksa mereka!"

Burung rajawali tersebut mengeluarkan suara pekik perlahan, sedangkan Giok Hoa memandang ragu-ragu.

Rupanya burung rajawali itu meminta agar Giok Hoa naik ke punggungnya.

Akhirnya Giok Hoa menoleh kepada Yo Him dan Sasana, katanya.

"Koko dan Cie-cie, Tiauw-jie meminta agar aku mengantarkannya ke kampung itu untuk menunjukkan padanya siapa orang yang telah menganiaya paman Hok ini.....!"

Yo Him dan Sasana jadi heran, memandang takjub.

"Akan tetapi kalian akan menghadapi bahaya yang tidak kecil bagaimana jika burung rajawali itu tidak sanggup menghadapi orang-orang Boan itu, atau terpanah, tentu kau juga akan menghadapi bahaya yang cukup besar.....!"

Kata Sasana kemudian. Tetapi burung rajawali itu berulang kali mengeluark.an suara pekik, sampai akhirnya Giok Hoa telah berkata.

"Baiklah! Baiklah! Sabar..... aku akan ikut dengan kau.....!"

Setelah berkata begitu, Giok Hoa kemudian berkata lagi kepada Yo Him dan Sasana.

"Koko dan Cie-cie, aku hanya akan pergi menunjukkan pada Tiauw-jie di mana letak rumah orang-orang Boan itu, setelah itu aku akan dibawa terbang ke mari lagi. Dan Tiauw-jie akan kembali sendiri ke sana, di mana ia ingin membalas sakit hati paman Hok..... walaupun bagaimana keinginan Tiauw-jie tidak bisa dihalangi lagi.....!"

Setelah berpikir sejenak, akhirnya Yo Him mengangguk.

"Baiklah, pergilah kau, akan tetapi hati-hatilah, dan cepat kembali!"

Kata Yo Him.

"Him Koko.....!"

Seru Sasana ragu-ragu. "Tidak apa-apa..... bukankah adik kecil itu akan segera diterbangkan kembali ke mari? Biarlah mereka pergi.....!"

Kata Yo Him kemudian.

Giok Hoa tidak berayal pula melompat naik ke punggung burung rajawalinya, kemudian melambaikan tangannya kepada Yo Him dan Sasana.

Sedangkan Tiauw-jie mulai mementangkan sepasang sayapnya, dia telah terbang membawa Giok Hoa di punggungnya.

Semakin lama semakin tinggi, dia terbang menuju ke arah perkampungan itu lagi.

Yo Him dan Sasana yang melihat betapa burung rajawali itu terbang semakin tinggi, jadi merasa ngeri.

Dilihatnya Giok Hoa merangkul leher burung rajawali tersebut, dan Sasana kuatir kalaukalau Giok Hoa terjatuh.

Sampai akhirnya Tiauw-jie dan Giok Hoa telah lenyap dari pandangan mata mereka.

Waktu itu Tiauw-jie memang telah terbang semakin tinggi, dan kemudian sampai di atas perkampungan tersebut.

Dia terbang berputar-putar.

Giok Hoa mengawasi ke bawah, dan akhirnya dia menepuk kepala burung itu perlahan sekali dengan tangan kanannya, seperti juga mengusap, kemudian dia membisikkan.

"Itulah rumah orang-orang yang telah mencelakai paman Hok, itu di depan pintu, mereka itulah yang telah menganiaya paman Hok.....!"

Tiauw-jie terbang lebih rendah, sehingga Giok Hoa bisa menunjukkan rumah yang dimaksudkannya itu lebih jelas pula.

Setelah itu Tiauw-jie terbang pulang kembali ke lamping gunung Hoa-san, di mana menanti Yo Him dan Sasana.

Sedangkan Hok An masih dalam keadaan tertidur nyenyak.

Tiauw-jie setelah menurunkan Giok Hoa, segera terbang kembali ke arah perkampungan itu.

"Apa yang akan dilakukan Tiauw-jie?!"

Tanya Yo Him dan Sasana hampir berbareng, karena mereka heran dan menduga-duga apa yang dapat dilakukan oleh burung rajawali tersebut.

"Dia ingin membalas sakit hati paman Hok, tentu Tiauw-jie akan mengamuk di sana!"

Menjelaskan Giok Hoa.

Apa yang diduga oleh Giok Hoa memang tidak meleset, karena waktu itu Tiauw-jie telah tiba di atas perkampungan itu.

Dia terbang berapa kali memutarinya, dan ketika berada di atas gedung dari orang-orang Boan itu, tiba-tiba Tiauw-jie memekik nyaring, tubuhnya meluncur ke bawah dengan pesat.

Kemudian waktu tiba dekat genting rumah, sayap kanannya menghantam dengan hebat.

"Prakk.....!"

Sayap itu menghantam genting bangunan dengan kuat, dan disusul dengan suara hiruk pikuk runtuhnya genting-genting rumah itu, yang telah digempur dengan tamparan yang kuat sekali dari sayap Tiauw-jie.

Malah Tiauw-jie pun bukan hanya menampar satu kali saja.

Dia terbang menukik dan menampar lagi, malah ke dua sayapnya itu bergantian telah menghantami rumah tersebut yang jadi porakporanda.

Di dalam rumah itu terdengar suara ribut-ribut, di mana terlihat betapa beberapa orang berlari-lari keluar dari dalam rumah itu.

Tiauw-jie tidak mensia-siakan kesempatan tersebut, segera ia terbang menukik rendah, sayap kanannya menampar ke arah rombongan orang-orang Boan yang berlari-lari keluar dari rumah tersebut.

Sampokan sayap Tiauw-jie dahsyat luar biasa, orang-orang Boan itu segera terjungkir balik.

Malah Tiauw-jie bukan hanya menampar dengan sayapnya saja, waktu orang-orang itu jungkir balik karena diterjang angin sampokan sayap burung rajawali tersebut, Tiauwjie telah meluncur turun terus, dia mematoki mereka.

Seketika juga orang-orang Boan itu menjerit-jerit kesakitan dan ketakutan.

Demikian juga waktu Tiauw-jie mempergunakan kakinya mencengkeram dua orang Boan itu, yang dibawa terbang tinggi, ke dua orang itu menjerit-jerit kesakitan dan ketakutan.

Namun kuku-kuku dari kaki Tiauw-jie sangat kuat menghujam ke dalam tubuh mereka, begitu kuat, sehingga mereka tidak bisa melepaskan diri.

Sedangkan Tiauw-jie setelah merasa cukup tinggi membawa terbang ke dua orang tersebut, segera melepaskan cengkeramannya.

Seketika tubuh orang itn meluncur jatuh ke bawah dengan jerit ketakutan mereka setengah mati.

Ke dua sosok tubuh orang Boan itu terbanting hebat sekali di atas tanah, dan tidak bergerak pula, diam tidak bernapas, karena mereka telah menjadi mayat.

Tiauw-jie masih tidak puas, masih juga terbang meluncur lagi!

Dilihatnya orang-orang Boan yang lainnya tengah berusaha melarikan diri, karena mereka ketakutan kalau-kalau merekapun mengalami nasib sama halnya dengan ke dua kawan mereka, dicengkeram dan dibawa terbang tinggi-tinggi, lalu dilemparkan ke bawah!

Tiauw-jie bergerak cepat sekali, namun orang-orang itu telah keburu mencari tempat persembunyian di rumah penduduk lainnya.

Hanya satu orang saja yang berhasil dicengkeram oleh kaki kiri Tiauw-jie.

Tanpa buang waktu dan memperdulikan orang itu menjerit-jerit meminta tolong kepada dewa dan Thian, agar dia tidak dilepaskan burung rajawali putih itu dalam ketinggian yang sangat tinggi, Tiauw-jie telah membubung tinggi sekali.

Kemudian setelah terbang cukup tinggi, orang itu dilepaskan kembali meluncur jatuh ke bawah, terbanting keras sekali di tanah, dengan menggeliat karena tulang-tulang di tubuhnya hancur, orang itu kemudian mengejang kaku diam tak bergerak.

Tiauw-jie rupanya masih belum puas, dia mengamuk terus menghancurkan rumah itu, dengan mempergunakan terjangan sayapnya.

Tiauw-jie telah menyammpok ke sana ke mari.

Tidak seorangpun dari orang-orang Boan itu yang berani keluar memperlihatkan diri.

Setelah puas mengamuk seperti itu, akhirnya Tiauw-jie terbang meninggalkan tempat tersebut.

Dia kembali ke tempat di mana Yo Him, Sasana, Giok Hoa dan Hok An berada.

Setibanya di tempat Hok An berbaring dalam keadaan tertidur nyenyak, burung rajawali putih itu mengeluarkan suara pekik yang nyaring, dari matanya tampak menitik butir-butir air mata yang bening.

Giok Hoa menghampirinya, mengelus-elus lehernya sambil gadis cilik itu telah bertanya.

"Apakah kau berhasil membalas sakit hati paman Hok?"

Tiauw-jie mengangguk-angguk seperti juga dia mengerti pertanyaan yang diajukan Giok Hoa.

Malah kemudian kepala burung rajawali tersebut telah digerakgerakan seperti juga menunjuk ke arah punggungnya, sambil mengeluarkan suara pekikan perlahan.

Hal itu menunjukkan bahwa ia meminta Giok Hoa agar naik kembali ke punggungnya.

Giok Hoa menuruti, dia naik kepunggung burung rajawali tersebut, setelah itu Tiauw-jie mengajaknya terbang menuju ke perkampungan itu.

Setibanya melayang di udara di atas perkampungan tersebut, Giok Hoa bisa melihat betapa gedungnya orang-orang Boan itu telah hancur porak poranda, dan juga ada tiga sosok mayat yang menggeletak di jalanan.

Sebenarnya waktu itu ada beberapa orang Boan yang hendak mengangkut ke tiga sosok mayat kawan-kawan mereka yang telah terbinasa karena terbanting hebat.

Namun melihat munculnya Tiauw-jie pula, mereka melarikan diri buat mencari tempat perlindungan menyelamatkan diri masing-masing dengan meninggalkan ke tiga kawan mereka yang menggeletak telah menjadi mayat itu!

Terhibur juga hati Giok Hoa menyaksikan itu, dia menepuk-nepuk leher rajawalinya.

"Hebat sekali kau Tiauw-jie!"

Katanya memuji.

"Kau telah membalaskan sakit hati paman Hok, walaupun tidak keseluruhannya, akan tetapi kau telah mengurangi rasa penasaran paman Hok. Kau hebat sekali......!"

Tiauw-jie memekik, kemudian terbang kembali ke tempat Yo Him dan Sasana berada.

Setelah turun dari punggung burung rajawali putih itu, Giok Hoa menceritakan apa yang dilihatnya itu pada ke dua penolongnya tersebut.

Yo Him jadi tersenyum mendengar semua itu dan diam-diam merasa kagum atas kesetiaan burung rajawali putih tersebut terhadap majikannya.

Sasana sendiri telah menepuk-nepuk tangannya, katanya.

"Sungguh hebat burungmu itu, adikku!"

Pujinya.

"Dia sangat setia..... dan tenaganya sangat dahsyat sekali!"

Giok Hoa jadi senang juga, kesedihannya berkurang. Namun waktu teringat pada luka-luka yang diderita oleh Hok An, dia kembali menjadi sedih, tanyanya.

"Cie-cie..... apakah paman Hok akan sembuh kembali seperti sedia kala?"

Sasana mengangguk sambil tersenyum.

"Jangan kuatir, paman Hokmu itu akan kami usahakan supaya sembuh..... tenangkanlah hatimu!"

Menghibur Sasana.

Giok Hoa mengucapkan terima kasih.

Tiauw-jie memekik perlahan, dengan kepala yang digerakkan mengangguk beberapa kali kepada Yo Him dan Sasana, seperti juga burung rajawali ini ingin ikut menyatakan rasa syukur dan terima kasihnya bahwa Yo Him dan Sasana telah menolongi Hok An dan Giok Hoa.

Yo Him dan Sasana yang melihat kelakuan burung rajawali tersebut jadi tertawa.

"Akh, burung yang jinak, dan setia sekali!"

Kata Yo Him dan kemudian melangkah menghampiri Hok An, dan memeriksa keadaan Hok An.

Diperoleh kenyataan Hok An masih tertidur nyenyak sekali, dan pada wajahnya tidak terlihat penderitaan kesakitan pula.

Perlahanlahan Yo Him telah menaburkan obat bubuk, obat luka miliknya pada luka di kaki dan di tubuh Hok An.

Juga kemudian mengobati bibir Hok An.

"Kita harus menanti selama satu bulan, sampai luka paman Hok mu ini sembuh, barulah kita bisa meninggalkan tempat ini....."

Kata Yo Him.

Giok Hoa mengangguk sambil mengucapkan terima kasihnya pula.

Yo Him segera juga membuat sebuah tenda terdiri dari daun-daun dan cabang-cabang pohon agar Hok An tidak terkena embun di pagi atau di malam hari.

Sedangkan buat Giok Hoa, Yo Him dan Sasana bertiga, telah dibuat sebuah tenda yang ukurannya lebih besar.

Yo Him bekerja cepat sekali, karena dia telah dapat menyelesaikan semuanya itu dengan segera.

Tiauw-jie juga tidak tinggal diam.

Waktu Yo Him bekerja, dia telah terbang ke sana ke mari.

Tidak lama kemudian Tiauw-jie telah kembali, di mana ia membawa seekor kelinci.

Kemudian Tiauw-jie pergi lagi, waktu kembali ia membawa kambing hutan yang cukup besar.

Ketika Tiauw-jie ingin terbang pula, Yo Him jadi repot memberitahukan pada Giok Hoa, bahwa binatang buruan itu telah lebih dari cukup buat mereka.

"Beritahukan burung rajawali itu agar tidak memburu binatang lainnya lagi..... itupun telah lebih dari cukup buat kita! Terlalu banyak pun tidak akan termakan dan hanya akan menjadi busuk belaka......!" Giok Hoa segera memanggil Tiauw-jie, dan sambil menepuknepuk leher burung itu, dia telah memberitahukan pesan Yo Him, agar Tiauw-jie tidak pergi memburu binatang hutan pula. Tiauw-jie memang jinak dan seperti mengerti apa yang dikatakan Giok Hoa. Karena dia sambil mengeluarkan suara pekik perlahan kemudian melangkah perlahan-lahan mendekati tempat Hok An. Dan berdiri di situ, dengan kepala tertunduk memandangi Hok An, bagaikan burung rajawali ini tengah berduka sekali dan menguatirkan keselamatan Hok An. Giok Hoa pun menemaninya, berdiri di samping burung rajawali putihnya. Yo Him dan Sasana membiarkan Giok Hoa dan burung rajawali itu menemani Hok An yang masih tertidur nyenyak, sedangkan mereka berdua sibuk sekali menguliti ke dua binatang buruan yang telah ditangkap oleh Tiauw-jie. Dalam waktu yang singkat saja, ke dua ekor binatang itu, kelinci dan kambing hutan, telah dikuliti. Sebagian dipanggang buat makan mereka, sedangkan sisanya telah dikeringkan, untuk santapan mereka di waktu-waktu berikutnya nanti. Giok Hoa tidak memiliki selera makan, dia hanya makan sedikit sekali. Sedangkan Tiauw-jie sama sekali tidak mau makan, hanya tampak dia selalu menitikkan air mata di samping Hok An yang masih tertidur nyenyak. Setelah menemani beberapa saat, Yo Him dan Sasana bermaksud beristirahat, namun tiba-tiba Hok An tersadar dari tidurnya, dia merintih kesakitan. Cepat-cepat Yo Him dan Sasana melompat ke dekatnya. Hok An masih saja merintih tidak hentinya. Malah dia mengigau dengan suhu tubuhnya yang naik tinggi jadi panas luar biasa. Yo Him dan Sasana jadi agak bingung juga, karena melihat keadaan Hok An yang seperti itu. Dengan tubuh yang panas sekali dan juga selalu mengigau dengan perkataan-perkataan yang sudah ngaco, maka membuat Yo Him dan Sasana tidak mengetahui apa yang harus mereka lakukan. Hanya saja Yo Him dan Sasana mengetahuinya bahwa keadaan Hok An gawat sekali. Waktu itu Tiauw-jie pun memperlihatkan sikap bergelisah sekali, malah burung rajawali itu telah berulang kali mengeluarkan suara pekikan perlahan-lahan, agar Hok An mendengarnya. Namun benar-benar Hok An seperti lupa diri, dia seperti juga telah tidak ingat suatu apapun, karena dia masih tetap mengigau dan tubuhnya tetap panas sekali. Yo Him telah mengeluarkan tempat penyimpanan obatnya. Dari bermacam-macam obat yang dimilikinya, Yo Him telah memilih beberapa butir, dan kemudian memakannya pada Hok An, dengan cara memaksa memasukkan pil-pil tersebut ke dalam mulut Hok An, lalu memegang rahang Hok An. Hanya saja, Yo Him harus berlaku hati-hati sekali, mulut Hok An tengah terluka hebat, bengkak dan pecah-pecah. Karena dari itu, dia telah melakukan segalanya dengan perlahan, satu kali saja luka-luka di bibir Hok An tersentuh, pasti akan mendatangkan rasa sakit yang luar biasa hebatnya. Juga Yo Him setelah berhasil "memaksa"

Hok An menelan pil-pil obat tersebut, mengeluarkan obat lukanya.

Dia menaburkan pada luka di kaki Hok An lagi, dia berusaha agar luka pada kaki Hok An tidak sampai inpeksi yang bisa mengganggu kesehatannya.

Giok Hoa jadi bingung bukan main, dia menangis terus menerus dengan memanggil-manggil paman Hok nya tersebut.

Kemudian diapun telah meminta kepada Sasana, agar menolongi paman Hok nya itu, memohonnya berulang kali.

"Kami pasti akan menolongi pamanmu itu, pasti adikku!"

Kata Sasana.

"Kau jangan berduka, tenanglah, karena kami pasti akan menolongi pamanmu itu.....!"

Giok Hoa karena terlalu berduka, dia telah menghampiri Tiauw-jie, kemudian merangkul leher burung rajawalinya.

Burung rajawali itupun menitikkan air mata, tampaknya diapun bingung sekali melihat Hok An menderita seperti itu.

Setelah diberi obat oleh Yo Him, berangsur-angsur Hok An tidak terlalu menderita lagi, karena rintihannya tidak sekeras semula.

Yo Him agak tenang melihat Hok An tidak menderita sehebat tadi.

Namun iapun mengetahui bahwa Hok An tidak bisa disembuhkannya, di samping persediaan obatnya tidak akan sanggup mengobati luka sehebat itu, juga Yo Him tidak mengetahui bagaimana caranya menyembuhkan luka separah tersebut.

Obat-obat yang dimiliki oleh Yo Him memang dapat mengurangi penderitaan Hok An, namun tidak mungkin dapat menyembuhkan keseluruhan luka-luka yang diderita oleh Hok An.

Bayangkan saja, Hok An saat itu telah tersiksa begitu hebat.

Kuku-kuku jari tangannya yang telah dicabuti semuanya, juga waktu itu bibirnya telah membengkak besar dengan gigi-gigi yang pada rontok, di samping kakinya yang terbakar hangus.

Sasana yang melihat suaminya termenung seperti itu, jadi mendekati, katanya.

"Yo Him, apakah orang ini dapat ditolong?"

Yo Him menghela napas, dia melirik pada Sasana, kemudian menoleh memandag pada Giok Hoa yang waktu itu tengah menangis sambil merangkul leher Tiauw-jie, sedangkan burung rajawali itu sendiri menitikkan air mata.

"Sudahlah, memang walaupun bagaimana kita harus mencari seorang tabib yang pandai. Kita harus berusaha menolongi orang ini! Persediaan obatku terbatas sekali, tidak bisa menyembuhkan luka sehebat ini! Obat-obat yang kita miliki hanya dapat mengurangi penderitaan dan rasa sakitnya saja. Itu hanya sekejap belaka dan kemudian dia akan menderita hebat lagi......!"

"Lalu langkah-langkah apa yang ingin kau ambil untuk menolongi orang ini?"

Tanya Sasana.

"Jika kita meminta pertolongan kepada tabib sembarangan itupun akan percuma, karena tabib-tabib kampung memiliki obat-obat yang biasa saja, karena itu, tidak dapat kita andalkan. Dan yang terutama sekali kita harus berusaha mencari seorang tabib yang benar-benar tangguh, dengan mana kita minta pertolongannya buat bantu menyembuhkan luka-luka yang diderita orang ini.....! Tetapi di mana kita bisa mencari tabib pandai yang kita kehendaki itu? Dan siapa tabib itu?!"

Sasana dan Yo Him jadi bingung sendirinya, karena mencari tabib pandai yang dapat mengobati luka Hok An benar-benar tidak mudah.

Hok An masih juga merintih kesakitan, karena obat penenang yang diberikan Yo Him telah habis daya tahannya.

Giok Hoa jadi menangis semakin sedih sambil memanggil-manggil.

"Paman Hok! Paman Hok!"

Dan Tiauw-jie juga memekik perlahan, seperti juga ingin mengatakan bahwa ia ikut berduka cita.

Yo Him memeriksa keadaan Hok An, hatinya jadi semakin berduka, karena dilihatnya Hok an telah mengalami keadaan yang benarbenar sangat menderita dan parah sekali lukanya, di samping itu, terlihat betapapun memang perkembangan kesehatannya telah terganggu, karena di saat itu Hok An telah mengigau tidak hentinya, bicaranya melantur, diapun telah menggumam dengan suara yang tidak jelas, suhu panas tubuhnya sangat tinggi sekali, sehingga bagaikan di dalam tubuhnya itu terdapat api, dan anehnya, walaupun suhu panas tubuhnya begitu tinggi, tokh ia mengguman.

"Dingin-dingin......!"

Yo Him mengkerutkan sepasang alisnya berpikir keras waktu melihat keadaan Hok An seperti itu.

Ia mengerti bahwa Hok An tengah terluka parah dan kini tubuhnya terserang demam yang tinggi.

Jika keadaannya ini berlangsung terus, tidak segera ditolong dan diobati, niscaya akan menyebabkan dia menemui kematian.

Maka Yo Him telah berpikir keras, berusaha hendak mendayakan menolong Hok An.

Giok Hoa waktu itu mendekati Yo Him, katanya.

"Koko...... apakah paman Hok masih dapat ditolong..... Koko.....? Jelaskanlah apakah paman Hok masih dapat ditolong?"

Dan berkata sampai di situ, Giok Hoa telah menangis berduka sekali.

"Baiklah, aku akan pergi mencari tabib pandai yang sekiranya bisa mengobati lukanya. mudah-mudahan saja di sekitar tempat ini terdapat tabib pandai yang bisa mengobati lukanya tersebut! Terus terang saja, adikku, persediaan obatku hanya dapat menyembuhkan luka-luka yang ringan. Jika luka yang sedemikian berat dan parah masih tidak memiliki khasiat yang cukup hebat. Karena itu aku harus mencari tabib pandai yang dapat mengobati luka dari paman Hok mu ini......!"

Sasana sendiri jadi ikut bingung. Tanyanya.

"Ke mana kau hendak mencari tabib pandai itu, Yo Him?!"

"Coba saja aku akan mengelilingi pegunungan Hoa-san ini, siapa tahu aku bisa bertemu dengan seorang tabib sakti yang hidup menyendiri di tempat sunyi seperti ini. Bukankah banyak orangorang pandai yang hidup mengasingkan diri dan menyepi di gunung-gunung? "

Kata Yo Him."

Sasana tidak yakin bahwa Yo Him akan herhasil bertemu dengan seorang tabib yang pandai, karena di tempat tersebut merupakan tempat yang sulit sekali bertemu dengan manusia.

Memang merekapun sering kali mendengar, bahkan mengetahui seperti kedua orang tua Yo Him dan beberapa jago-jago tua di dalam rimba persilatan, yang hidup mengasingkan diri di tempat yang sulit sekali dicapai oleh orang-orang lainnya.

Maka sekarang siapa tahu di Hoa-san ini mereka bisa bertemu dengan seorang sakti yang memiliki obat mujarab?

Yo Him telah bersiap-siap hendak berangkat, dia memesan kepada Sasana, agar berhati-hati menjaga Hok An dan berusaha menghibur Giok Hoa.

Setelah itu barulah Yo Him berangkat untuk mengelilingi pegunungan Hoa-san tersebut.

Hanya saja, setelah lewat sekian lama, Yo Him kembali dengan tangan kosong.

"Tidak ada seorang manusia pun yang berhasil kujumpai di puncak gunung ini....."

Kata Yo Him kemudian. Sasana dan Giok Hoa jadi lesu, sedangkan keadaan Hok An tampaknya tambah parah juga. Yo Him telah mengawasi Hok An dengan sepasang alis mengkerut, sampai akhirnya dia bilang.

"Jika terpaksa kita harus membawa paman Hok ini untuk pergi ke kota, di sana kita bisa mengusahakan seorang tabib yang cukup pandai......

"Tetapi dari tempat ini buat mencapai kota cukup jauh, karena itu, kita membutuhkan waktu yang cukup lama dan mungkin paman Hok An tersebut sudah tidak bisa bertahan lebih jauh dan keburu menghembuskan napasnya......"

Memang mereka menghadapi kesulitan yang tidak ringan dalam berusaha menolongi Hok An dari keadaan lukanya yang begitu parah.

Giok Hoa yang mendengar keterangan Yo Him itu jadi menangis tambah sedih.

Karena dulu dia telah ditinggal mati oleh ayah dan ibunya.

Dan sekarang satu-satunya orang yang mengkasihi dan menyayanginya, jiwanya dalam keadaan sekarat.

Karenanya dia jadi berduka saja.

Jika sampai Hok An menghembuskan napasnya yang terakhir, berarti akan kehilangan pula Giok Hoa akan orang yang telah mengasihaninya.

Selanjutnya, dia benar-benar menjadi seorang anak yatim piatu, tangisnya semakin terisak-isak juga.

Yo Him dan Sasana bersiap-siap untuk berangkat membawa Hok An ke kota yang terdekat dari tempat itu, untuk mencari tabib pandai.

Setidak-tidaknya masih ada harapan, kalau-kalau tabib pandai di kota bisa memiliki simpanan obat yang lebih mujarab dan dapat menyembuhkan luka parah Hok An.

Yo Him yang telah membawa Hok An dengan hati-hati, sedangkan Giok Hoa telah digendong oleh Sasana.

Tiauw-jie terbang di udara untuk melihat-lihat apakah di depan mereka terdapat kota yang ingin mereka tuju sebagai tempat pertama yang akan mereka datangi.

Sebagai penunjuk jalan, Tiauw-jie terbang lebih dulu dan Giok Hoa telah memerintahkan padanya agar jika memang Tiauw-jie melihat kota itu.

Dia harus segera terbang kembali untuk memberitahukan pada mereka.

Begitulah Yo Him, Sasana dan Giok Hoa telah menuruni lamping gunung itu.

Yo Him dengan menggendong Hok An yang dalam keadaan setengah pingsan itu, agak sulit juga, walaupun ginkangnya telah tinggi.

Hal ini disebabkan Yo Him harus bergerak perlahan-lahan, agar tidak menimbulkan goncangan yang keras buat Hok An yang lukanya begitu parah.

Jika terjadi goncangan.

niscaya dapat menimbulkan penderitaan sakit yang sangat hebat bagi Hok An.

Sedangkan Giok Hoa selama digendong oleh Sasana telah menangis tidak hentinya, karena ia merasa berduka.

Disamping itu memang iapun menguatirkan sekali keselamatan jiwa dari paman Hok nya itu.

Gadis cilik ini merasa berkasihan sekali terhadap penderitaan dari paman Hok nya tersebut maka dengan menangis seperti itu, gadis cilik tersebut dapat juga mengurangi perasaan jengkelnya.

Terlebih lagi memang Sasana telah berulang kali memberikan nasehat dan bujukan agar Giok Hoa tidak perlu terlalu kuatir seperti itu, karena paman Hok nya itu akan diusahakan untuk dapat disembuhkan.

Memang mereka akan berusaha sekuat kemampuan mereka, jika tokh paman Hok itu tidak bisa disembuhkan juga ditolong inilah hanya masalah nasib dan takdir belaka.

Yang terpenting menurut Sasana, ia harus dapat menolonginya dengan sekuat kemampuannya.

Dan juga Yo Him tengah berjuang untuk dapat menyelamatkan jiwa dari paman Hok itu.

Dan meminta agar Giok Hoa dapat bersikap lebih tenang, agar dapat memberikan ketenangan kepada Yo Him dan Sasana, untuk mengobati dan mencurahkan seluruh perhatiannya pada usaha mengobati Hok An.

Giok Hoa akhirnya dapat dibujuk juga, dia tidak menangis.

Dan dia merasakan tubuhnya melayang-layang di gendong Sasana, berlari dengan cepat sekali di lamping gunung itu.

Di kejauhan tampak Tiauw-jie tengah terbang melayang-layang dengan ringan.

Burung rajawali itu sebentar terbang jauh sekali, tetapi kemudian terbang kembali ke dekat rombongan Giok Hoa.

Tampaknya burung itupun bergelisah sekali.

Dan memang terlihat, burung itu berusaha untuk dapat menemukan sebuah kota atau perkampungan di dekat-dekat tempat tersebut.

Sejauh itu, Tiauw-jie masih belum berhasil dengan usahanya tersebut.

Sedangkan Yo Him telah mengambil ke jurusan selatan, ia yakin di bagian selatan dari gunung ini akan terdapat sebuah perkampungan.

Untuk mencapai sebuah kota, tentu masih memerlukan waktu yang cukup lama.

Benar saja, tidak lama kemudian tampak Tiauw-jie terbang di atas mereka sambil bercicit tidak hentinya, mengepak-ngepakkan sayapnya dengan kuat.

Giok Hoa melihat ke atas.

Ketika melihat Tiauw-jie seperti itu, segera juga Giok Hoa berkata.

"Mungkin di sebelah depan terdapat sebuah perkampungan.....!"

"Ya.....!"

Sasana membenarkan dugaan Giok Hoa. Iapun tampaknya gembira, tentu memang di sebelah depan terdapat sebuah perkampungan yang telah dilihatnya.

"Hanya saja yang masih jadi tanda tanya, apakah di kampung itu kita dapat menemukan seorang tabib yang pandai?"

Dan sambil berkata begitu Sasana mempercepat larinya mendekati Yo Him. "Yo Him, di depan mungkin ada perkampungan. Tiauw-jie telah memberitahukannya.....!"

Teriak Sasana. Yo Him mengangguk, dan dia telah berkata juga dengan suara yang nyaring.

"Benar, mari kita lihat, mudah-mudahan saja di kampung itu kita bisa berjumpa dengan seorang tabib yang pandai....."

Waktu itu Tiauw-jie telah terbang menukik semakin ke bawah dan memekik semakin keras.

Giok Hoa melambaikan tangannya dan burung rajawali putih itu telah terbang menukik semakin ke bawah, ke dekat Sasana yang tengah menggendong Giok Hoa.

"Apakah di depan sana terdapat sebuah perkampungan?"

Tanya Giok Hoa.

Rajawali putih itu memekik sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali, dan sikapnya itu membenarkan bahwa dia memang telah melihat sebuah perkampungan.

Dia seperti juga mengerti akan pertanyaan Giok Hoa.

Sedangkan Giok Hoa telah menoleh kepada Sasana, katanya.

"Benar Cie-cie di depan sana tentu terdapat sebuah perkampungan...... ohhh, mudah-mudahan saja kita bisa bertemu dengan seorang tabib yang pandai, sehingga paman Hok dapat tertolong....."

Sasana mengangguk, katanya.

"Mudah-mudahan saja paman Hok itu akan dapat ditolong....."

Sedangkan Yo Him masih mempergunakan ginkangnya buat melakukan perjalanan lebih cepat lagi.

Dan Sasana pun telah mempergunakan ginkangnya, dia berlari-lari sambil menggendong Giok Hoa.

Tiauw-jie yang terbang di tengah udara, sebentar-sebentar mengeluarkan suara pekiknya, tampaknya dia ceperti ingin memimpin orang-orang itu, ke jurusan mana terdapatnya perkampungan itu.

Benar saja, setelah berlari-lari sekian lama, akhirnya Yo Him melihat di depannya terdapat sebuah pintu perkampungan yang tidak begitu besar dan tidak terlalu ramai.

Sebuah perkampungan di kaki gunung yang penduduknya tidak begitu banyak.

Hanya tampak beberapa orang yang berada di pintu kampung, di samping itu juga terlihat dua orang wanita pada rumah pertama di pintu kampung itu yang tengah merapikan padi-padi yang baru saja ditumbuknya.

Yo Him segera menghampiri seorang laki-laki setengah baya yang berada di dekat pintu kampung itu.

Tanyanya dengan segera mengenai tabib yang dicarinya, dan siapa saja di kampung ini tabib pandai dan bisa mengobati penyakit yang cukup parah seperti yang diderita oleh Hok An.

Orang itu mengawasi keadaan Hok An berapa saat lamanya, sampai akhirnya dia telah menunjuk ke arah barat kampung itu.

"Di sana ada tabib Ho yang memang cukup pandai, ia biasa mengobati penyakit-penyakit yang bagaimana sulit sekalipun, hanya saja bayarannya sangat tinggi......!"

"Soal biaya dan pembayarannya tidak terlalu kami pikirkan, yang terpenting kami bisa bertemu dengan seorang tabib yang benarbenar pandai dan akan sanggup mengobati luka-luka yang diderita kawan kami ini!"

Kata Yo Him.

"Tentu tabib itu akan dapat mengobatinya,"

Kata lelaki tua itu.

"Kami semua penduduk kampung ini, jika sakit tentu akan meminta bantuan Ho Sin-se. Hanya saja, justeru biaya pengobatannya yang mahal, membuat kami sering kali jika tidak terpaksa benar menderita penyakit yang berat, kami tidak berobat kepadanya dan berusaha mengobati sendiri penyakit kami. Jika sudah tidak tertahan barulah kami pergi kepada Ho Sin-se untuk berobat. "

Dengan demikian, kami dengan hanya sekali pergi saja telah sembuh, walaupun harus membayar tinggi sekali. Satu botol dari obat Ho Sin-se terkadang bisa berharga sampai belasan tail perak!"

Waktu menceritakan perihal Ho Sin-se, lelaki itu juga memperhatikan keadaan Hok An, akhirnya ia melihat keadaan Hok An yang benar-benar terluka sangat parah.

Dia telah berseru perlahan, kemudian menyambung perkataannya lagi.

"Sebenarnya, penyakit apapun juga akan sanggup diobati oleh Ho Sin-se, hanya saja, tentu biaya yang harus kalian keluarkan sangat besar sekali. Penyakit yang diderita kawan kalian ini tampaknya demikian parah...... Jika saja dia bisa sembuh, tentu sedikitnya harus menelan biaya ratusan tail. Lihatlah, lukanya begitu parah......!"

Yo Him tersenyum.

"Dapatkah paman memberitahukan kepada kami di mana tempat tinggal dari Hoa Sin-se dengan tepat, sehingga kami tidak perlu terlalu mencari-cari lagi?"

Lelaki setengah baya itu ragu-ragu, tampaknya dia keberatan jika harus mengantarkan sendiri orang-orang asing ini ke rumah Ho Sin-se.

Namun Yo Him telah cepat-cepat merogoh sakunya mengeluartan dua tail perak, diselesapi ke tangan laki-laki setengah baya tersebut, sehingga wajah laki-laki itu berobah jadi cerah.

"Tentu, tentu saja mau!"

Katanya dengan segera.

"Mari ikut denganku, aku akan memberitahukan rumah Ho Sin-se. Tentu kalian akan segera memperoleh pertolongannya. Mudah-mudahan saja kalian bisa bertemu dengan Ho Sin-se dan bicara langsung dengannya. Biasanya Ho Sin-se suka keluar rumah selama seminggu atau dua minggu, mencari obat-obatan di puncak gunung....."

Lalu dengan bersemangat laki-laki setengah baya ini telah menuju ke arah barat dari perkampungan tersebut.

Ia tampaknya girang dan bersemangat sekali.

Yo Him dan Sasana mengikutinya dengan segera.

Mendengar dari cerita laki-laki setengah baya ini, tentunya memang tabib yang diceritakan oleh laki-laki ini, merupakan tabib yang cukup pandai.

Hanya saja Yo Him masih ragu-ragu, apakah seorang tabib kampung dapat mengobati penyakit seberat yang diderita oleh Hok An.

Tidak lama kemudian mereka tiba di depan sebuah rumah yang tidak terlalu besar.

Hanya saja dari jauh telah tercium bau obatobatan dan ramuan lainnya.

Dan Yo Him segera dapat menduganya bahwa rumah tersebut tentunya rumah tabib yang diberitahukan laki-laki setengah baya itu.

Benar saja, laki-laki setengah baya tersebut telah menghampiri pintu rumah dan mengetuknya perlahan-lahan.

Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan muncul seorang lelaki tua berusia hampir tujuhpuluh tahun.

"Ho Sin-se ada tamu!"

Kata laki-laki setengah baya itu sambil memberi hormat.

"Tuan-tuan ini ingin bertemu dengan Ho Sin-se untuk minta pertolongan......!"

Tabib itu memiliki potongan muka tiga persegi yang lancip pada dagunya, matanya seperti mata tikus sipit sekali, memancarkan kelicikan jiwanya.

Karena itu, segera juga Yo Him dan Sasana memiliki perasaan kurang menyukai tabib yang tampaknya licik itu.

Sedangkan tabib itu, telah mengawasi tamu-tamunya, sampai akhirnya dengan sikap yang agak angkuh katanya.

"Baik, masuklah..... sesungguhnya aku sedang sibuk!" Yo Him melangkah masuk membawa Hok An, sedangkan Sasana mengucapkan terima kasih kepada laki-laki setengah baya yang telah mengantarkan mereka. Dan laki-laki setengah baya itu telah pergi meninggalkan rumah Ho Sin-se sambil tersenyum berseri, karena ia memperoleh hadiah yang cukup besar. Tiauw-jie terbang di atas rumah Ho Sin-se berputaran beberapa kali, memekik perlahan, dan kemudian hinggap di pekarangan rumah tabib tersebut. Yo Him melihat ruangannya cukup bersih, hanya saja tampak tiga buah lemari obat yang semuanya penuh berisi obat. Juga terlihat betapa tabib tua itu telah menghampiri mejanya, dia duduk di kursinya, sambil tanyanya dengan sikapnya yang tetap angkuh.

"Orang yang kau bawa itukah yang ingin diobati? Kecelakaan apa yang dialaminya sehingga bisa terluka seperti itu?"

Yo Him telah mengangguk sambil tersenyum, katanya.

"Kami ingin meminta pertolongan Sin-se, harap Sin-se mau mengobati teman kami ini..... lukanya cukup parah......"

Ho Sin-se telah menunjuk ke arah pembaringan kayu yang berukuran tidak begitu besar, katanya.

"Rebahkanlah di sana!" Yo Him menurut, walaupun hatinya tidak menyukai sikap Ho Sinse yang agak angkuh, namun ia memang tengah mengharapkan pertolongan dari tabib ini, maka dia menurut saja. Hok An telah direbahkannya Sedangkan di Hok pembaringan An masih kecil juga itu merintih perlahan-lahan. dan melantur, menggumam tidak hentinya seperti orang mengigau. Ho Sin-se telah menoleh kepada Sasana yang masih menggendong Giok Hoa tanyanya lagi.

"Dan kalian? Apakah kalian terluka dan sakit?!"

Sasana cepat-cepat menggeleng.

"Tidak Sin-se..... kami hanya mengantar saja!"

Menyahuti Sasana.

"Jika begitu, kalian berdua tunggu saja di luar!"

Kata tabib itu dengan wajah yang dingin dan sikap angkuh.

Mendongkol sekali Sasana, namun ia menahan diri dan menekan perasaan mendongkolnya.

Dia membawa Giok Hoa keluar.

Ho Sin-se telah menutup pintu rumahnya, kemudian baru menghampiri pembaringan.

Ia tidak segera memeriksa keadaan Hok An, hanya sambil mengusap-usap dagunya ia memperhatikan keadaan Hok An.

sampai akhirnya dia bilang.

"Tampaknya ia terluka tidak ringan!"

"Ya..... karena itu kami telah membawanya pada Sin-se untuk minta diobati.....!"

Me nyahuti Yo Him. Sedangkan Ho Sin-se itu masih mengusap-usap dagunya, dia melirik kepada Yo Him.

"Obat-obatnya sangat mahal. Untuk menyembuhkan orang ini memerlukan obat-obat utama yang memiliki harga sangat tinggi. Sanggupkah kalian membayarnya?!"

Tanya tabib itu lagi. Yo Him mendongkol sekali, tetapi ia mengangguk dengan segera.

"Ya, sanggup, Sin-se! Katakanlah, berapa yang harus kami bayar?!"

Tanya Yo Him.

"Tidak banyak, hanya tiga ratus tail perak?"

Sahut tabib itu sambil melirik Yo Him.

Wajah Yo Him berobah.

Tabib ini benar-benar keterlaluan sekali.

Tigaratus tail perak, bukanlah jumlah yang sedikit.

Dengan membayar tigaratus tail perak, itulah suatu hal yang tidak pernah terjadi dalam ilmu pengobatan, karena semahal-mahalnya seorang tabib, tidak akan menuntut uang pembayaran setinggi itu, paling tidak hanya sepuluh tail perak.

Namun sekarang Ho Sin-se meminta tigaratus tail perak, ini merupakan suatu sikap yang dianggap Yo Him keterlaluan.

Semula Yo Him menduga paling tinggi tabib ini meminta limapuluh tail perak.

Melihat Yo Him berdiam diri saja, tabib itu tertawa tawar, katanya.

"Sudah kuduga, kalian tentu tidak akan memiliki uang sebanyak itu! Tanpa memiliki uang, tentu kawanmu ini tidak akan kuobati..... bawalah dia pergi ke tabib yang lainnya!"

Setelah berkata begitu, tabib itu memutar tubuhnya untuk kembali ke mejanya.

Bukan main mengkal dan gusarnya hati Yo Him melihat tingkah laku tabib itu.

Tahu-tahu tangan kanan Yo Him terulur mencengkeram pundak tabib itu, kemudian menghentaknya sambil bentaknya nyaring.

"Apakah kau tidak mau mengobati kawanku ini?"

Tabib itu kesakitan, tubuhnya terhuyung karena hentakan itu, dia telah mendelik pada Yo Him. "

Mana ada aturan seperti ini kau memaksa aku tanpa memiliki uang untuk mengobati luka kawanmu yang begitu parah? Atau memang kalian ini penjahat-penjahat besar yang tengah dikejar oleh yang berwajib?"

Merah padam muka Yo Him karena gusar dia mengulurkan tangannya lebih ke depan, tubuh tabib itu terjungkel terbanting di lantai.

"Cepat obati luka kawanku itu, atau engkau akan kusiksa sehingga mati tidak, hidup pun tidak. Aku ingin lihat, sebagai seorang tabib apakah engkau akan dapat mengobati dirimu sendiri?"

Muka tabib itu jadi pucat namun dia gusar sekali, dia bilang.

"Keluar.....! Kalian keluar dari rumahku atau aku akan segera melaporkan kepada yang berwajib agar kalian ditangkap dan memperoleh hukuman.....!"

Yo Him tertawa dingin.

"Sin-se, kau telah memasang tarip yang terlalu tinggi dan yang tidak-tidak! Tidak mungkin hanya mengobati kawanku ini memerlukan biaya tigaratus tail perak....."

Dan Yo Him mengambil sikap mengalah dan agak lunak. Tabib itu telah merangkak berdiri, dengan marah dia bilang.

"Kau ingin meminta bantuanku, kawanmu terluka begitu berat, dan untuk menyembuhkannya memerlukan obat-obat yang utama dan langka dan jarang sekali bisa diperoleh, karena itu memiliki harga yang tinggi. Aku tidak memaksa kalian, jika memang kalian sanggup membayar, aku akan mengobati kawanmu ini, tetapi jika tidak kuat membayar, silahkan membawa kawanmu ini ke tabib yang lainnya......!"

Habislah kesabaran Yo Him, dia telah melangkah maju mendekati tabib itu. Tabib itu yang menyangka Yo Him ingin menyiksanya, jadi mundur beberapa langkah ke belakang sambil berseru-seru.

"Kau jangan main hakim sendiri, keluar..... jangan memaksaku dengan kekerasan, karena aku akan melaporkan kepada yang berwajib..... keluar! Ayo keluar! Aku tidak senang menerima tamu sekasar engkau.....!"

Tetapi Yo Him tidak memperdulikan sikap tabib itu, ia menghampiri semakin dekat.

Tahu-tahu tangan kanan Yo Him telah mencengkeram pergelangan tangan tabib itu.

"Cepat kau katakan!

Kau mau mengobati luka kawanku ini atau tidak?

Atau tulang pergelangan tanganmu ini akan kuremas menjadi hancur!"

"Jadi..... jadi kau mengancam?!"

Sin-se itu ketakutan bercampur marah.

"Aku bukan mengancam, aku akan membuktikannya meremas pergelangan tanganmu sampai tulang pergelangan tanganmu hancur dan selanjutnya engkau tidak mungkin dapat meramu obatobatmu lagi..... Atau memang kau mau mengobati kawanku itu dan aku tidak akan menganiayamu.....!"

"Jadi..... jadi..... kau ingin bayar berapa? Kau..... kau..... berapa uang yang kau miliki?!"

Tanya tabib itu, walaupun ketakutan, ia masih ingin mengetahuinya, berapa besar akan dibayar oleh Yo Him atas pengobatannya itu.

"Akan kuberikan limapuluh tail perak jika memang engkau dapat menyembuhkan seluruh luka kawanku itu!"

Kata Yo Him.

"Kukira itu suatu jumlah yang sangat besar.....!"

Tabib itu menggeleng-geleng kepalanya, katanya kemudian.

"Lepaskan cekalanmu!

Lepaskan cekalanmu!

Jika engkau memaksa aku tetap mengobati kawanmu dengan biaya limapuluh tail perak, hal itu bisa kulakukan.

Hanya saja terus terang kukatakan kepadamu, tidak mungkin aku bisa mengobatinya dengan mempergunakan obat utama yang mujarab, sehingga dia jangan harap dapat sembuh keseluruhannya.

Inilah yang tidak kuinginkan, jika mempergunakan obat-obat biasa saja, tentu kawanmu tidak akan sembuh diobati olehku, nama baikku akan runtuh!"

Yo Him mendongkol sekali melihat kelicikan tabib ini. Namun pemuda ini sudah tidak sabar, katanya.

"Ayo cepat kau obati luka kawanku itu.....! Baiklah, jika memang engkau menghendaki tigaratus tail perak, aku akan memberikannya, tetapi ada syaratnya......!"

Tabib itu mementang matanya lebar-lebar.

"Kau bisa membayar tigaratus tail perak?!"

Ia tanya dengan wajah berseri-seri, tampak dia girang.

"Benarkah kau memiliki uang sebanyak itu?"

Yo Him mengangguk, dia merogoh sakunya mengeluarkan Goanpo, kemudian diletakkan di atas meja.

"Goan-po ini seberat seratus tail mas, dengan demikian jadi berjumlah sepuluhribu tail perak!

Nah, jika memang kau bisa mengobati kawanku itu sampai sembuh benar, kau boleh mengambil goan-po itu.....!"

Kata Yo Him Bola mata tabib itu jadi mencilak-cilak, dia tidak menyangkanya bahwa pemuda yang pakaiannya begitu kotor dan mesum bisa memiliki uang sebanyak ini.

Dia mengawasi Goan-po itu beberapa saat, sampai akhirnya dia melirik kepada Yo Him, katanya.

"Apakah..... apakah uang ini diperoleh kau dengan cara merampok?!"

Naik darah Yo Him, tangan kanannya digerakkan untuk menempeleng mulut tabib itu. Namun sebelum mengenai sasarannya, Yo Him membatalkan maksudnya menampar tabib itu, katanya.

"Nah sekarang kau jangan rewel, cepat obati kawanku itu! Ingat ada syaratnya. Jika kau gagal, uang ini akan kuambil lagi, malah engkau harus membayar tigaratus tail perak!"

Tabib itu jadi memandang bimbang, rupanya dia ragu-ragu, kemudian katanya.

"Soal sembuh atau tidaknya kawanmu ini tidak bisa kukatakan apa-apa, itu tergantung pada nasibnya. Jika dia masih berumur panjang, tentu dia akan sembuh, tetapi jika memang umurnya hanya sampai disini saja, tentu dia akan meninggal.... dan kau tidak bisa mempersalahkan aku. Aku hanya akan berusaha mengobatinya.....!"

Yo Him tertawa dingin, kemudian katanya.

"Engkau sendiri yang telah meminta agar aku membayar sebesar tigaratus tail! Tetapi sekarang justeru aku membayar kepadamu dengan sepuluhribu tail perak! "

Jika memang engkau tidak bisa mengobati, engkau harus menanggung risikonya. Karenanya, kau tidak perlu rewel. Cepat obati kawanku itu! Jika kau berhasil menyembuhkannya, kau boleh mengambil uang itu!"

Tabib itu justeru jadi ragu-ragu, dia melirik kepada Yo Him beberapa kali, kemudian mengangguk.

"Baiklah..... kau harus menunggu di luar!"

Kata tabib itu. Kembali Yo Him mendongkol dia menggeleng dengan cepat.

"Tidak!"

Serunya.

"Cepat kau obati kawanku itu, jangan rewel. Aku akan menunggui di sini!!"

Setelah berkata begitu Yo Him mendorong tubuh tabib itu.

Sesungguhnya Yo Him mendorong tanpa mempergunakan tenaga, namun tubuh tabib itu justeru hampir terjungkal.....

Beruntung tangannya masih sempat menahan di tepi pembaringan kayu itu, sehingga dia tidak sampai terjungkal di lantai.

Bukan main marahnya tabib itu, ia memaki tidak hentinya.

Yo Him tertawa tawar.

"Sekarang cepat kau obati kawanku itu,"

Katanya dingin tidak memperdulikan sikap si tabib itu.

Tabib tersebut pun rupanya menyadari bahwa Yo Him bukan seorang pemuda yang bisa dipermainkannya.

Segera ia mengobati Hok An.

Waktu ia mengobati luka-luka Hok An, berulang kali ia menggumam, seperti juga ia merasa kesal sekali.

Dan juga lukaluka yang diderita oleh Hok An menjengkelkan dia juga, sebab itulah luka yang sangat parah sekali.

Beberapa macam obat telah dipergunakannya, sampai akhirnya.

"Selesai, kawanmu ini tentu bisa sembuh secepatnya!"

"Hemm, kami akan tinggal di sini beberapa waktu, sampai kawanku itu sembuh! Uang itu boleh kau ambil!"

Kata Yo Him. "Apa? Kalian akan tinggal di rumahku ini?!"

Tanyanya tambah tidak senang.

"Bukankah kami telah membayarnya dengan harga yang tinggi sekali biaya pengobatan itu?!"

Balik tanya Yo Him.

"Dan juga aku menginginkan bukti. Jika memang kawanku ini berangsur sembuh, kami akan meninggalkan tempat ini secepatnya. Tetapi jika tidak, hemmm, hemmm, tentu saja uang itu akan kuambil kembali!"

"Mana ada aturan seperti itu!"

Teriak tabib itu mendongkol.

"Ya, itulah aturanku!"

Menyahuti Yo Him sambil tertawa tawar, kemudian tanpa memperdulikan tabib itu yang menggumam mendongkol, ia telah meninggalkannya.

Yo Him keluar untuk bercakap-cakap dengan Sasana dan Giok Hoa.

Melihat Yo Him keluar, Giok Hoa menanyakan keadaan paman Hok nya.

Dan Yo Him menghiburnya agar gadis cilik itu bersikap tenang.

Sedangkan Sasana menghela napas berulang kali.

"Yo Him, apakah memang tabib itu bisa diandalkan buat menyembuhkan luka dari paman Hok itu?!"

Tanya Sasana kemudian kepada suaminya. Yo Him mengangguk, katanya.

"Kita lihat saja, mudah-mudahan saja obatnya memang manjur dan mujarab!"

Begitulah, mereka kemudian membicarakan hal-hal yang lainnya.

Sampai akhirnya, setelah lewat sekian lama, Yo Him masuk untuk melihat keadaan Hok An.

Ketika ia memasuki ruang dalam, dilihatnya tabib itu tengah duduk di belakang mejanya sambil menumbuk perlahan-lahan pemukul lumpang kecilnya, buat meramu obat.

Ketika melihat Yo Him masuk tabib itu hanya melirik saja tanpa menegurnya, kemudian asyik dengan pekerjaannya.

Rupanya dia masih mendongkol.

Sedangkan Yo Him juga tidak memperdulikan sikap tabib itu, dia telah menuju ke pembaringan kecil di mana Hok An berada.

Memang Hok An sudah tidak menggumam, ia telah telah tertidur nyenyak sekali.

Girang hati Yo Him melihat keadaan Hok An seperti itu.

Namun ia berusaha tidak memperlihatkan perasaan girangnya di hadapan tabib itu.

Dia melangkah keluar meninggalkan tabib itu, dan memberitahukan berita gembira itu kepada Giok Hoa dan Sasana, betapa Hok An tampaknya memang akan memperoleh kesembuhannya, karena rupanya obat tabib itu cukup mujarab.

Girang Giok Hoa mendengar perihal keadaan paman Hok tersebut, dia meminta ijin kepada Yo Him dan Sasana, agar ia diperbolehkan masuk melihat keadaan paman Hoknya.

Dan setelah melihat keadaan Hok An yang waktu itu masih tertidur, dia keluar dengan wajah berseri-seri gembira.

"Mudah-mudahan paman Hok dapat tertolong jiwanya!"

Katanya.

Yo Him dan Sasana hanya tersenyum dan mengangguk saja melihat kegembiraan gadis cilik tersebut.

Malam telah datang, dan keadaan Hok An memang lebih baik dibandingkan dengan keadaannya beberapa saat yang lalu.

Dan di waktu itu juga memang Yo Him telah berusaha memeriksa keadaan lukanya, dengan teliti sekali, karena biarpun bagaimana dia masih meragukan kemujaraban obat si tabib.

Luka-luka di jari-jari tangan Hok An mulai mengering.

Hanya yang membuat Yo Him tidak mengerti, semua ujung jari Hok An membengkak besar sekali.

Kelainan seperti itu membuat Yo Him jadi berpikir keras dan berkuatir.

Cuma saja kekuatirannya itu tidak diutarakan di hadapan Sasana maupun Giok Hoa.

Dia telah menghampiri si tabib ketika Giok Hoa dan Sasana keluar.

"Sin-se, bagaimana keadaan kawanku itu?"

Tanya Yo Him kemudian pada tabib itu.

Tabib tersebut masih juga sibuk meramu obat-obatan, ia berhenti dengan pemukul lumpangnya dan menoleh kepada Yo Him dengan lirikan mata yang licik sekali.

Lama ia bersikap seperti itu, bagaikan tengah berpikir, sampai akhirnya dia tertawa-tawa, tanyanya.

"Kau melihatnya keadaan kawanmu itu bagaimana?!"

"Menguatirkan!"

Menyahuti Yo Him.

"Menguatirkan?!"

Si tabib tersentak.

"Bukankah keadaannya sudah jauh lebih baik di bandingkan dengan keadaannya di waktu lalu? Dan juga, dia telah dapat tidur dengan nyenyak. Mengapa kau mengatakan keadaannya justeru menguatirkan?"

Dan sambil berkata begitu, tabib she Ho tersebut telah bangkit dari duduknya, dia melongok ke arah pembaringan kayu itu melihat keadaan Hok An, kemudian katanya.

"Lihatlah, betapa ia masih tidur nyenyak.

Ini menunjukkan bahwa perasaan sakit yang semula sangat menyiksanya, telah berkurang banyak, membuat ia bisa tidur.....!"

"Tetapi pada ujung-ujung jari tangannya itu.....!"

Kata Yo Him sambil mengerutkan alisnya. Tabib itu mengawasi ke arah jari-jari tangan Hok An, sepasang alisnya naik dan kemudian mulutnya menggumam perlahan, mukanya berobah agak memucat.

"Ini..... ini..... mengapa jari-jari tangannya bisa membengkak seperti itu?!"

Menggumam tabib itu kemudian dan ia telah menghampiri lebih dekat untuk memeriksa keadaan jari-jari tangan Hok An, tampaknya dia jadi sibuk sekali.

Ternyata ujung jari-jari tangan Hok An memang membengkak sangat besar, keadaannya sangat mengerikan, karena kulit ujung jari tangan itu yang membengkak seperti jadi tipis sekali.

"Ini..... ini tentu disebabkan dia terluka terkena racun..... Jika tidak, tidak akan membengkak seperti itu!"

Kata tabib itu kemudian.

"Aku sendiri tidak mengetahui, karena aku telah membayar kau! Sebagai tabib, justeru merupakan pekerjaanmu buat menyembuhkan kawanku itu! Jika terjadi sesuatu padanya, maka engkau harus bertanggung jawab.....!"

Dingin sekali suara Yo Him.

Sedangkan tabib itu jadi panik sendirinya, dia jadi begitu sibuk, sampai akhirnya dia telah menghampiri lemari obatnya dan memilih beberapa macam obat.

Yo Him sendiri jadi ragu-ragu.

Dia segera menghampiri tabib tersebut, katanya.

"Kau jangan sembarangan mempergunakan obatmu itu! Karena tadi sebelum engkau mempergunakan obatmu itu, keadaan ujung jari-jari tangannya tidak membengkak seperti itu.

"Setelah kau mengobatinya, bukannya jadi baik, tetapi sekarang justeru membengkak besar! Nah, apa lagi yang ingin kau lakukan? Obat apa yang hendak dipergunakan itu?!"

Tabib itu memang tidak bisa menyembunyikan perasaan paniknya, karena mukanya agak pucat dan tampak agak gugup. Malah waktu menyahuti pertanyaan Yo Him, kegugupannya itu tidak juga berkurang.

"Aku..... aku akan memakaikan obat penawar racun! Dengan dikenakan obat ini pada ujung-ujung jari tangannya, tentu lukanya itu akan mengempis kembali!" "Benarkah itu? Kau berani menjaminnya?"

Tanya Yo Him menegasi. Tabib itu ragu-ragu sebelum menyahuti, sampai akhirnya ia mengangguk.

"Ya, mudah-mudahan ia akan sembuh dan bengkak-bengkak pada ujung-ujung jari tangannya itu akan mengempis kembali......!"

Yo Him tambah ragu-ragu.

"Ramuan obat itu kau buat dari bahan-bahan apa saja?"

Tanya Yo Him kemudian sambil melirik botol obat yang masih tercekal di tangan tabib tersebut.

"Aku..... aku membuatnya..... oooh, bagaimana mungkin aku bisa memberitahukan resep obat ini kepadamu. Ini merupakan rahasia resep turunanku..... tidak bisa kau mendengarnya!"

Yo Him mencekal lengan tabib itu, kemudian katanya decgan suara yang tegas.

"Katakan bahan obat itu terdiri dari ramuan apa saja?"

"Ini..... ini dibuat dari bisa ular, kalajengking dan bisa landak,"

Kata tabib tersebut kemudian.

"Dicampur dengan nyalinya harimau, dan juga hatinya burung merak!" Menyahuti begitu, muka tabib itu kemudian memperlihatkan perasaan tidak senang, karena dia pun melanjutkan pula perkataannya.

"Kau..... kau telah mendengar ramuan obat ini, tentu engkau telah berhasil memiliki salah satu resep obatku! Celaka sungguh! Celaka sungguh, sudah engkau tidak menghormati diriku, malah engkau memancing resep obatku itu......."

Sambil berkata begitu, tabib ini membanting-banting kakinya, sedangkan Yo Him kembali memandang kepada Hok An dengan hati yang agak berdebar.

Ia mencurigai tabib ini tidak memiliki keahlian apa-apa dan hanya menduga-duga saja mengenai obat yang akan dipakainya.

Memang Yo Him yakin, jika hanya mengobati luka biasa saja, tentu tabib itu bisa melakukannya dan menyembuhkannya.

Tetapi luka yang diderita oleh Hok An bukanlah luka sembarangan yang harus memperoleh pengobatan yang khusus.

Sedangkan obat milik Yo Him yang terbuat dari ramuan bahan-bahannya Soat-lian dan beberapa macam bahan lainnya yang langka dan mahal harganya, masih tidak memberikan hasil apa-apa, terlebih lagi jika obat tabib itu dibuat dari bahan ramuan biasa saja.

Yang menguatirkan Yo Him justeru obat yang akan dipergunakan tabib tersebut terdiri dari racun-racun binatang berbisa, terutama sekali luka yang hendak diobati itu adalah luka di luar kulit.

Jika obat yang terdiri dari ramuan racun binatang berbisa itu ditaburkannya pada luka tersebut, pasti luka itu akan keracunan.

Ketidak yakinannya Yo Him membuat dia masih memegang keraskeras lengan tabib tersebut.

"Lepaskan tanganku, bukankah engkau menghendaki agar aku segera dapat mengobati kawanmu itu?!"

Bentak tabib itu tidak senang, dengan suara mengandung berang. Sedangkan Yo Him telah mengawasi tabib ini dengan mata tajam sekali dan ragu-ragu, kemudian setelah berpikir sejenak, barulah dia bilang.

"Ho Sin-se aku bukan meragukan kepandaianmu, tetapi engkau harus bicara terus terang! Sesungguhnya, engkau sanggup mengobati luka-luka kawanku ini atau tidak? "

Ingat, engkau harus bicara terus terang, jika memang engkau sanggup buat mengobatinya, maka kau obatlah!

Tetapi jika engkau merasa tidak sanggup mengobatinya dan ragu-ragu untuk berhasil dengan pengobatanmu itu, jangan kau coba-coba dengan obat sembarangan, karena jika kawanku itu mengalami sesuatu yang tidak diinginkan, jiwamu sebagai tanggungannya!"

Tabib itu jadi berjingkrak.

"Oh, kau terlalu menghinaku!

Seluruh penduduk kampung ini telah menganggapku sebagai tabib dewa, bagaimana engkau sendiri begini kurang ajar berani meremehkan kepandaian ilmu pengobatanku!"

Tidak mudah untuk seorang penduduk kampung bisa memperoleh pertolonganku untuk mengobati berbagai macam penyakit mereka.

Jika memang mereka tidak memiliki sejumlah uang yang kuminta!

"Hmm sudahlah!

Sudahlah!

Jika memang engkau tidak mempercayaiku, dan juga tidak yakin kawanmu itu dapat kusembuhkan lukanya, pergilah kau bawa kawanmu itu.....

Janganlah engkau mengancamku!"

Yo Him tertawa dingin.

"Jadi engkau memang sanggup buat mengobati kawanku itu?"

Menegasi Yo Him. Tetapi ditegasi seperti itu, kembali tabib tersebut ragu-ragu, akhirnya ia bilang.

"Sudahlah aku akan kembalikan uangmu, cepat kau angkat dan bawa pergi kawanmu itu!"

Yo Him tertawa dingin.

"Enak sekali bicaramu itu.....

tadinya jika memang engkau tidak sanggup mengobati luka kawanku itu, engkau harus bicarakan terus terang.

Janganlah engkau terlalu mengulur-ngulur waktu dan pura-pura sebagai tabib pandai, dan berani mempermainkan jiwa kawanku itu!"

Hemm, sekarang saja lihat, itu sudah sebagai buktinya, betapa ujung-ujung jari tangannya dan juga pipinya telah membengkak begitu besar.....!

Sekarang seenakmu saja engkau meminta agar aku membawa pergi kawanku itu!

"Bagus!

Bagus!

Bagus!

Sebelum aku pergi membawa kawanku itu, aku akan membunuhmu!

Aku mau lihat.

Apakah sebagai Tabib Dewa engkau bisa menyelamatkan jiwamu sendiri......!"

Muka tabib itu jadi pucat pias, tubuhnya gemetar ketakutan, Walaupun dia mendongkol dan marah, namun dia tidak berani mengumbar kemarahan hatinya. Dia bilang.

"Kau..... kau mengancamku?"

"Bukan mengancam kau..... tetapi akan kubuktikan.....!"

Menyahuti Yo Him dengan suara yang dingin, dan telah mengerahkan tenaga dalamnya, mencengkeram lebih kuat pada lengan tabib itu, sehingga tabib itu merasakan lengannya seperti dicengkeram oleh jari-jari tangan yang terdiri dari besi jepitan.

Dengan demikian membuat dia merasakan tulangnya seakan ingin diremas hancur!

"Aduh, aduhhhh, aduhhhhh……!"

Teriak tabib itu berulang kali.

"Jangan kau persakiti diriku! Jangan kau sakiti aku!"

Tetapi Yo Him tidak mau membiarkan tabib itu menjerit-jerit terus seperti itu.

Dia telah memijit lebih keras lagi, sehingga tabib tersebut telah bungkam, karena terlalu kesakitan yang tidak tertahankan.

Dia jatuh pingsan.

Yo Him sendiri merasa gelisah sekali di dalam hatinya karena walaupun ia mengerti ilmu pengobatan sedikit-sedikit, namun tidak mengetahui sampai ke dasarnya ilmu pengobatan.

Tentang tabib ini juga ia meragukan kejujurannya.

Karenanya ia bermaksud hendak memaksa tabib itu agar bicara sejujurnya.

Setelah tabib tersebut tersadar dari pingsannya, Yo Him telah bilang dengan suara yang dingin.

"Hemm, lebih baik kau bicara terus terang..... Sesungguhnya engkau memahami betul ilmu pengobatan atau memang tidak?"

Tabib itu masih kesakitan juga ketakutan akan disiksa Yo Him Iebih jauh. "Jangan sakiti aku! Jangan sakiti aku! Jangan menyiksaku..... ohh, akan kuadukan pada yang berwajib.....!"

Teriak tabib itu. Tetapi Yo Him tak menghiraukan.

"Jangan harap engkau bisa terlepas dari tanganku! Juga engkau jangan harapkan ada orang yang bisa menolongi dirimu! Jika engkau tidak mau bicara yang jujur maka biarlah aku akan membinasakan kau!"

"Aku..... aku bicara jujur, aku tidak pernah mendustai!"

Teriak tabib itu tambah ketakutan.

"Ohh, jangan kau bunuh aku! Jangan..... Memang apa salahku?"

Yo Him tertawa mengejek.

"Engkau telah mendustai aku! Kau sesungguhnya kurang ahli dalam ilmu pengobatan, tetapi engkau pura-pura pandai! Hemm, dan juga terhadap luka kawanku itu sebetulnya engkau tidak begitu mengetahui dengan pasti apakah dapat mengobatinya atau tidak, namun engkau, telah coba-coba. Namun sikapmu yang angkuh itu menyebabkan engkau tidak mau menanyakan sesungguhnya kawanku itu terluka oleh sebab apa......!" Tabib itu jadi menunduk dengan wajah yang pucat kemudian dengan suara yang perlahan tersendat dia bilang.

"Baiklah, baiklah aku akan bicara dari hal yang sebenarnya...... tetapi kau harus berjanji tidak akan membunuhku!"

Yo Him mengangguk.

"Itu lebih baik lagi! Engkau memang harus bicara sejujur mungkin! Itulah yang kuinginkan, karena jika memang aku mengetahui engkau tidak sanggup mengobati luka dan keadaan kawanku itu, aku bisa mencari tabib lain. Dengan demikian engkau tidak perlu mempermainkan jiwa dan keselamatan kawanku!"

"Baik! Baik! Aku akan bicara sejujurnya! Sesungguhnya aku..... aku hanya mengerti sedikit ilmu pengobatan terhadap penyakitpenyakit umum, sebenarnya..... sebenarnya luka yang diderita oleh kawanmu itu terlalu parah, aku tidak bisa mengobatinya..... aku tidak sanggup untuk menyembuhkannya! "

Hanya saja disebabkan aku takut padamu, kuatir bahwa engkau menduga aku tidak mau mengobati kawanmu itu, sehingga engkau menyiksaku, aku telah mencobanya mengobati kawanmu dengan beberapa macam obat.

Dan siapa tahu, lukanya itu justeru semakin parah dan jari-jari tangannya, serta mukanya telah membengkak.

" "Lalu mengapa kawanku itu tidak merintih kesakitan lagi dan bisa tertidur nyenyak?"

Tanya Yo Him masih diliputi tanda tanya dan heran.

"Tadi aku telah memberikan obat penawar sakit, agar sakitnya berkurang, karena itu dia tampaknya tidak menderita sakit lagi. Sesungguhnya..... ooooh, aku tidak menyangka bahwa obatku bisa memiliki reaksi seperti ini, di mana lukanya itu jadi semakin membengkak."

Yo Him melepaskan cekalannya, segera ia memeriksa keadaan Hok An.

Bengkak pada ke sepuluh jari tangan Hok An masih besar dan juga berair.

Tampaknya luka pada ujung jari tangan Hok An kian parah juga.

Melihat keadaan Hok An seperti itu, bukan main berkuatirnya Yo Him.

Dia menoleh kepada tabib itu, yang juga berdiri dengan muka yang pucat.

"Bagaimana mengobatinya.....?!"

Tanya Yo Him kemudian.

"Apakah engkau tidak memiliki cara lain untuk mengempiskan bengkak pada ke sepuluh jari tangannya dan mukanya itu?"

Tabib itu tidak menyahuti.

dia telah memandangi pada jari-jari tangan Hok An, kemudian menghela napas dengan bingung.

"Aku sendiri tidak memiliki obat yang bisa menyembuhkan lukanya itu......

Aku benar-benar heran, mengapa lukanya itu bisa membengkak begitu besar dan obatku malah membuat jari-jari tangannya itu jadi membengkak seperti itu?!"

Kemudian tabib tersebut mengawasi botol obatnya, tanyanya.

"Bagaimana jika kucoba dengan obat ini. Siapa tahu aku bisa memperkecil bengkak pada ke sepuluh jari tangannya itu? Bukankah ini lebih baik, dari pada kita berdiam diri saja membiarkan bengkaknya yang kini telah berair seperti itu?!"

Yo Him tambah ragu-ragu, katanya.

"Jika ini..... jika ini..... hemmm, aku tidak berani mencoba-coba, karena siapa tahu obatmu itu malah membawa akibat yang jauh lebih hebat lagi!?"

Di waktu itu tabib tersebut jadi salah tingkah, gugup sekali, malah dia telah bilang.

"Aku..... aku tidak berani memastikan tetapi..... jika memang kita mencobanya dulu, tokh tidak ada salahnya, karena ramuan obat ini memang unuk memunahkan racun, dengan cara racun dilawan dengan racun pula....."

Yo Him menghela napas dalam-dalam.

"Aku sesungguhnya mencari tabib yang pandai untuk mengobati luka kawanku ini. Tidak kusangka justeru bertemu dengan kau, yang seenaknya saja mencoba segala obatmu yang belum lagi diketahui khasiatnya.....! Lihatlah akibatnya..... kawanku ini semacam terancam jiwanya!"

Waktu itu tabib tersebut telah menghela napas beberapa kali, tampaknya dia sangat ketakutan. Tetapi akhirnya dia berkata.

"Sesungguhnya..... sesungguhnya aku ingin memberitahukan seseorang kepadamu..... dia..... dia pasti akan dapat memyembuhkan luka kawanmu ini."

Mendengar perkataan tabib itu, Yo Him terlompat, kemudian katanya.

"Siapa orang itu? Cepat katakan! Apakah orang itu memang dapat mengobati luka-luka yang berat?"

Tabib itu menghela napas dalam-dalam, dia murung dan gugup sekali, katanya.

"Sesungguhnya..... kepandaian orang itu puluhan kali lipat lebih pandai dari diriku..... dia benar-benar seorang tabib yang pandai, tentu ia akan dapat mengobati luka kawanmu ini...... Tetapi......"

"Cepat katakan, siapa orang itu? Apakah dia tinggal di kampung ini juga?"

Tanya Yo Him.

Tabib itu menggeleng.

"Tidak.....

dia tidak tinggal diam di kampung ini, melainkan terpisah belasan lie, hanya dalam satu jam kita sudah bisa mencapai tempatnya.

Hanya saja orang itu sangat aneh sekali, belum tentu dia mau menolongi kawanmu ini......!"

"Cukup kau beritahukan kepadaku di mana tinggalnya orang ini dan siapa orang itu sebenarnya?"

Kata Yo Him, timbul harapan baru di hatinya. Tabib itu ragu-ragu lagi, kemudian baru berkata.

"Dia tidak dikenal oleh penduduk ini, tidak seorangpun penduduk di kampung ini mengetahui namanya, begitu juga halnya denganku. Telah lima tahun lebih orang itu menetap di tempatnya tersebut. Sebelumnya entah dia datang dari mana.

"Dan selama itu cukup banyak juga orang yang disembuhkannya. Umumnya penyakit dari orang-orang yang datang mencarinya adalah penyakit-penyakit yang berat dan parah, juga terdiri dari orang-orang rimba persilatan.....!"

"Jadi..... jadi siapa tabib itu?!"

Tanya Yo Him semakin tidak sabar.

"Ayo cepat kau antarkan kami kepadanya?!" "Tunggu dulu!"

Kata Ho Sin-se itu.

"Dia orang yang aneh sekali..... perangainya sulit di terka, dan juga dia akan mau menolongi seseorang begitu saja!"

Dan setelah berkata begitu, Ho Sin-se berkata lagi diiringi helaan napasnya.

"Sesungguhnya, sebelum kedatangannya itu di tempat ini, aku bersedia mengobati setiap orang yang membutuhkan pertolonganku. Memang kuakui, aku hanya mengerti kulit ilmu pengobatan.

"Tetapi suatu hari kami bertemu, dia telah menurunkan semacam ilmu pengobatan kepadaku, yaitu ilmu pengobatan untuk luka di dalam. Namun selanjutnya, ia memberikan syarat-syarat kepadaku. Setiap orang yang hendak berobat kepadaku, harus dimintai biaya pengobatan yang tinggi sekali.... dan aku tidak bisa menolak syaratnya itu......!"

"Jadi semua yang kau lakukan ini adalah atas perintahnya?!"

Tanya Yo Him. Ho Sin-se mengangguk, kemudian katanya.

"Benar, dan juga ia telah melarang aku menceritakan apa yang telah kualami kepada siapapun juga, namun..... aku..... aku merasa bersalah.... kukira..... orang itu tentu dapat mengobati luka kawanmu ini..... karena aku mengetahui benar bahwa dia memiliki ilmu pengobatan yang tinggi sekali!"

Setelah berkata begitu, Ho Sin-se menoleh kepada Hok An yang masih rebah di pembaringan kayu dalam keadaan tertidur, sedangkan waktu itu terlihat bahwa Yo Him sudah tidak sabar, dia mencekal tangan tabib itu, menggoncang-goncangkannya, katanya.

"Katakanlah di mana tempat berdiamnya orang itu? Dan kuharap engkau mau mengantar kami ke tempat kediamannya itu!"

Tabib she Ho tersebut terdiam sejenak.

"Waktu itu.....!"

Katanya setelah lewat beberapa saat.

"Aku kebetulan tengah mencari akar-akar pohon untuk ramuan obat, siapa sangka, aku menyaksikan pengobatan dengan cara yang aneh sekali dilakukan orang itu. Dua orang yang dalam keadaan terluka parah, yang keadaannya sudah seperti mayat saja dan boleh dibilang sudah tidak ada harapan untuk tertolong hidup lagi, tengah diobatinya....."

Dia bekerja cepat sekali.

Obat-obatnya juga sangat istimewa.....

dan aku telah kepergok olehnya.

Memang semula dia marah, dan hendak membunuhku, namun setelah kujelaskan bahwa aku kebetulan saja berada di tempat itu dan juga tengah mencari akarakar pohon untuk ramuan obatku, diapun tidak marah pula."

Malah telah menurunkan semacam ilmu pengobatan kepadaku.

Itulah pertemuanku yang pertama kali dengannya.

Dan aku sempat tinggal bersamanya lima hari, aku sempat menyaksikan ke dua orang yang semula keadaannya begitu parah dan hampir tidak mirip sebagai manusia lagi dan aku sendiri yakin orang itu pasti akan mati, ternyata sembuh di tangannya.

"Ke dua orang itu malah meninggalkan tempat dalam keadaan sehat kembali..... Itulah suatu peristiwa yang menakjubkan sekali, dan aku menyadari bahwa orang itu merupakan tabib yang pandai sekali, aku sangat mengaguminya......!"

"Sudahlah, engkau tidak perlu banyak bercerita lagi. Kau harus segera mengantarkan aku kepadanya?!"

Kata Yo Him.

"Namun orang itu sangat aneh sekali, belum tentu dia bersedia menolongi kawanmu itu?"

Kata Ho Sin-se.

"Itu urusanku..... biarlah nanti aku yang bicara dengannya.....!"

Kata Yo Him. Ho Sin-se menghela napas dalam-dalam, kemudian katanya.

"Aku mengungkapkan semua ini juga karena aku merasa bersalah telah menyebabkan kawanmu itu bukannya sembuh malah semakin parah juga lukanya..... Baiklah aku akan mengantarkan kalian kepadanya.

"Tetapi ingat, aku hanya akan menunjukkan tempat kediamannya, namun aku akan segera berlalu..... Nanti terserah nasib dan keberuntungan kawanmu itu, apakah orang itu bersedia menolongnya atau tidak?"

Yo Him mengangguk tidak sabar, segera juga dia menggendong Hok An.

Sedangkan Ho Sin-se setelah menyimpan botol obatnya, mengikuti Yo Him keluar.

Dan dia mengajak Yo Him ke arah utara dari perkampungan tersebut.

Sasana waktu melihat Yo Him muncul dari dalam rumah dengan menggendong Hok An jadi memandang heran, segera Yo Him menjelaskan kepadanya dengan singkat.

Begitulah, mereka telah mengikuti si tabib she Ho untuk menemui orang yang memang benar-benar pandai ilmu pengobatannya.

Yo Him juga ingin menduga, tentunya orang yang dimaksudkan oleh Ho Sin-se merupakan seorang yang memiliki keahlian ilmu pengobatan yang tinggi, dengan demikian ia tentu akan dapat menolongi Hok An.

Jika orang itu berada di tempatnya yang sepi di kaki gunung ini justeru karena dia ingin menyendiri atau mengasingkan diri.

Setelah berjalan belasan lie, akhirnya tibalah mereka di mulut sebuah lembah.

"Orang yang kumaksudkan itu tinggal di dalam lembah itu.....!"

Menunjuk Ho Sin-se ke dalam lembah.

Yo Him mengangguk mengerti, dengan langkah lebar ia memasuki lembah itu bersama Sasana dan Giok Hoa yang mengikuti di belakangnya.

Tetapi tabib she Ho yang ingin memutar tubuhnya buat kembali ke rumahnya, tiba-tiba menjerit kaget, tubuhnya gemetar keras.

Yo Him yang mendengar jeritan Ho Sin-se cepat sekali melompat, ke dekatnya.

"Kenapa?!"

Tanya Yo Him sambil memperhatikan sekelilingnya, tidak satu apapun juga juga dilihatnya, selain tempat yang sunyi dan sepi itu.

Anakrawali 08.038.

Muka Ho Sin-se pucat pias, tubuhnya menggigil, dia menunjuk ke arah semak belukar.

Yo Him memandang ke arah yang ditunjuk Ho Sin-se, barulah dia melihat sesosok tubuh menggeletak di balik semak belukar dengan berlumuran darah, telah mengejang kaku dan tidak bernapas.

"Mayat?"

Mengeluh Ho Sin-se dengan suara tertahan.

Sasana dan Giok Hoa tiba di situ.

Sedangkan Giok Hoa waktu melihat mayat itu menjerit ketakutan, telah memeluk Sasana.

Sasana segera menghiburnya, dan memperhatikan keadaan mayat tersebut, yang tidak lain mayat dari seorang lelaki berpakaian sederhana, dan rambutnya yang tergulung itu memberikan kesan dia seorang yang cukup rapi.

Hanya saja pada bagian lehernya terkuak luka yang cukup besar, darah menyembur dari situ.

Rupanya lehernya itu terkena serangan senjata tajam, menyebabkan ia putus napas dan meninggal dengan sepasang mata mendelik.

"Lihatlah..... tempat ini agak mengerikan!"

Kata Ho Sin-se setelah dia berhasil mengendalikan dirinya lagi. Yo Him menghampiri mayat itu lebih dekat memperhatikan dan memeriksa keadaan mayat tersebut, sampai akhirnya ia menghela napas.

"Luka yang tidak terlalu dalam, tetapi melihat cara menyambarnya senjata tajam yang telah membuat leher itu tergorok seperti ini, tentunya orang yang membunuhnya memiliki kepandaian yang tinggi. Mari kita masuk ke dalam lembah itu, tentu di dalam lembah itu tengah terjadi sesuatu!"

Setelah berkata begitu, Yo Him melompat berdiri sambil menoleh kepada Ho Sin-se katanya.

"Dan kau juga ikut bersama kami......"

"Ohh..... tidak...... tidak, bukankah tadi telah kukatakan bahwa aku hanya akan menunjukkan tempat ini dan segera akan pulang kembali, membiarkan kalian sendiri menemui orang itu?"

"Tetapi engkau harus ikut bersama kami!"

Kata Yo Him dengan sikap pasti, tidak ada tawar menawar lagi.

"Atau memang perlu kami yang memaksa engkau untuk masuk ke dalam lembah itu?!"

Sin-se itu mengetahui bahwa Yo Him tidak bicara main-main dan juga akan membuktikan ancaman, yaitu menyeretnya ke dalam lembah itu.

Karenanya Ho Sin-se akhirnya dengan sikap takut-takut telah mengangguk.

"Baiklah..... aku akan ikut bersama kalian....."

Waktu dia mengatakan begitu, terlihat jelas ia sangat terpaksa dan ketakutan sekali.

Tampak Yo Him dengan bergegas menggendong Hok An memasuki lembah tersebut, diikuti Sasana, Giok Hoa dan Sin-se itu, dan juga, ia telah berjalan dengan langkah yang lebar, karena Yo Him sudah tidak sabar ingin bertemu dengan orang yang menurut Ho Sin-se memiliki ilmu pengobatan yang tinggi.

Di tengah udara terbang Tiauw-jie sambil sekali-kali memperdengarkan suara pekiknya yang perlahan dan panjang.

Rupanya burung rajawali putih itu mengetahui keadaan Hok An yang kian parah, membuat burung itu ikut bersedih.

Lembah itu merupakan lembah yang tidak begitu luas, di pinggir kiri kanannya berdiri lamping gunung yang tinggi.

Dan di sudut kanannya terbentang sebuah jurang yang cukup dalam, yang tertutup oleh semak belukar yang lebat sekali.

Berjalan belum begitu jauh, tiba-tiba Yo Him menghentikan langkah kakinya, ia memandang lurus ke depannya dengan mata terbuka agak lebar.

Begitu Sasana dan Giok Hoa tiba di dekat Yo Him, mereka juga bisa melihat apa yang dilihat Yo Him, ke duanya jadi mengeluarlan seruan kaget.

Sedangkan Ho Sin-se yang tiba paling belakang, mengeluarkan jerit ketakutan dan menutupi mukanya dengan ke dua tangannya.

Ternyata melintang di depan mereka dua sosok tubuh lagi, dan dua sosok tubuh itu tidak bergerak, berlumuran darah, karena telah menjadi mayat.

Sama kematiannya dengan leher yang tersayat dan juga sepasang mata masing-masing terbuka lebar-lebar.

Menyatakan mereka mati dalam keadaan penasaran.

Di waktu itu Yo Him setelah berhasil menenangkan hatinya, menghampiri ke dua mayat itu, memeriksa keadaannya.

"Aneh! Siapa yang telah membunuh ke tiga orang ini?"

Menggumam Yo Him.

Telah tiga korban jiwa yang mati di lembah itu.

Dan sejak mereka memasuki lembah ini mereka telah melihat tiga sosok mayat menggeletak mengerikan seperti itu.

Ho Sin-se memandang ke dua mayat itu dengan muka yang pucat pias serta yang menggigil keras, tampaknya ketakutan sekali.

Ia telah menggumam perlahan.

"Apakah.....

apakah dia yang telah membunuhnya?!"

Suaranya itu gemetar, menunjukkan dia sangat ketakutan. Dan yang dimaksudkan oleh Ho Sin-se dengan perkataan "dia"

Ditujukan pada orang yang dikatakannya memiliki ilmu pengobatan luar biasa tingginya. Yo Him menoleh kepadanya.

"Apakah orang yang kau maksudkan itu seorang yang ganas?!"

Tanyanya kemudian.

Ho Sin-se tidak segera menyahuti, dia memandang kepada Sasana dan Giok Hoa, sedangkan Tiauw-jie telah terbang rendah sekali, karena burung rajawali putih itu melihat dua sosok mayat tersebut.

Ia mengeluarkan suara pekik perlahan, seperti juga burung inipun diliputi tanda tanya, sampai akhirnya burung itu telah terbang tinggi lagi.

Setelah menghela napas, dengan muka yang masih pucat pias, Ho Sin-se berkata ragu-ragu.

"Kulihat..... kulihat dia seorang yang cukup baik dan ramah...... tetapi memang agak tegas dan memiliki kepandaian silat yang tinggi..... tetapi..... apakah mungkin orang-orang itu merupakan korban keganasannya karena ke tiga orang itu mencoba akan memasuki lembah tempat tinggalnya ini?!"

Setelah berkata begitu, Ho Sin-se memandang Yo Him dengan sikap minta dikasihani, katanya.

"Aku..... aku mohon agar aku diperbolehkan pulang..... aku kuatir kalau-kalau orang itu nanti mempersalahkan diriku telah membawa kau ke lembah ini..... Ini memang suatu perbuatan yang lancang, karena dia telah berpesan kepadaku agar tidak memberitahukan kepada siapapun perihal dirinya!"

Yo Him menggelengkan kepalanya perlahan kemudian katanya.

"Jangan, kau harus ikut serta dengan kami. Jika engkau tidak ikut serta, bagaimana kami mengetahui siapakah orang yang engkau maksudkan itu!"

Ho Sin-se memandang dengan sikap ketakutan, tetapi dia pun tidak berani membantah perintah Yo Him.

Waktu pemuda itu berjalan maju lagi, diikuti Sasana dan Giok Hoa, maka Ho Sin-se juga telah mengikuti memasuki lembah itu lebih jauh.

Berjalan belum begitu jauh, telah ada tiga sosok mayat yang menggeletak lagi dengan kematian yang mengerikan, dua mata dari ke tiga mayat itu mendelik menyeramkan.

Ho Sin-se benar-benar sudah ketakutan setengah mati, sedangkan Yo Him dan Sasana semakin diliputi tanda tanya.

Mereka sesungguhnya pasangan suami isteri yang tabah dan cerdik, tetapi melihat mayat-mayat menggeletak di sepanjang jalan di lembah ini, mereka jadi berpikir keras, ingin menduga apa sesungguhnya yang terjadi di lembah ini.

Terlebih lagi lembah itu merupakan suatu tempat yang sepi dan jarang sekali didatangi manusia.

Akan tetapi mengapa sekarang ini justeru mayat-mayat malang melintang di lembah ini.

Yo Him menoleh kepada Ho Sin-se, kemudian tekadnya semakin bulat hendak menemui orang yang dimaksudkan Ho Sin-se.

Sedangkan keadaan Hok An memang semakin menguatirkan, ujung-ujung jari tangannya yang membengkak itu mengeluarkan air, karena sebagian telah ada yang pecah, akibat bengkak itu semakin besar juga.

Giok Hoa pun telah menangis tidak hentinya.

Gadis cilik itu di samping menguatirkan keselamatan paman Hok nya, iapun sangat ketakutan melihat mayat-mayat yang malang melintang seperti itu.

Setelah memasuki lembah itu lebih jauh, mereka sudah tidak menemui lagi mayat-mayat.

Tetapi keadaan di dalam lembah tersebut sangat sunyi sekali.

"Di mana tempat kediaman orang itu?!"

Tanya Yo Him kepada Ho Sin-se, karena dia belum juga melihat sebuah rumah atau goa tempat dari orang yang mereka cari.

"Dia..... dia berdiam di dalam goa yang berada di dalam lembah ini..... masih terus..... kita harus masuk terus ke dalam lembah ini.....!"

Kata Ho Sin-se dengan tubuh gemetar ketakutan.

Dia benar-benar dicekam oleh perasaan takut dan ngeri yang bukan main.

Jika dia tidak malu, tentu Ho Sin-se telah menangis.

Sedangkan Yo Him cepat-cepat melanjutkan perjalanannya, dia melihat keadaan di dalam lembah itu semakin luas juga, dan banyak sekali semak belukar yang tumbuh subur di situ.

Keadaan sunyi sekali.

Mendadak sekali, dalam kesunyian yang ada seperti itu, Yo Him seperti mendengar sesuatu, seperti juga suara menderu-derunya angin.

Segera juga Yo Him menghentikan langkah kakinya.

Dia memberi isyarat kepada Sasana dan yang lainnya agar berhenti.

Kemudian Yo Him memasang pendengarannya lebih baik lagi untuk mendengarkan.

Benar saja, suara menderu-deru yang samar-samar itu tidak lain dari menderunya senjata tajam, dari suara orang yang tengah bertempur.

"Di sebelah depan ada orang yang tengah bertempur, mari cepat kita ke sana.....!"

Kata Yo Him kemudian. Ho Sin-se mendengar itu jadi semakin ketakutan.

"Kongcu..... ohhh, Kongcu..... aku..... aku tidak ikut saja..... biarpun engkau mengupahkan aku seribu tail lagi, aku tidak berani untuk masuk lebih jauh.....!"

Sasana yang berada di belakang Ho Sin-se mendorong punggung tabib itu.

"Jika kau ingin menolong kami, engkau tidak boleh setengah jalan seperti ini. Ayo maju terus..... kita lihat siapa yang tengah bertempur!" Di waktu itu memang Sasana juga telah mendengar suara menderu-deru yang samar dan terpisah cukup jauh. Didorong oleh Sasana seperti itu, tubuh Ho Sin-se jadi terjerunuk ke depan. Diapun tidak berani membangkang, dia telah melangkah maju lagi, mengikut di belakang Yo Him dengan ketakutan. Giok Hoa menghapus air matanya, tanyanya kepada Sasana.

"Ciecie..... siapa yang tengah bertempur?!"

"Entahlah..... kita lihat saja nanti, aku sendiri tidak mengetahuinya.....!"

Menyahuti Sasana.

Yo Him sendiri mempercepat jalannya, dengan menggendong Hok An ia telah memasuki terus lembah itu.

Dua sosok mayat dijumpai Yo Him pula.

Tetapi dia sudah tidak memperdulikan mayat-mayat itu, dan berjalan terus dengan cepat.

Sampai akhirnya suara menderu-deru dari orang yang tengah bertempur itu, terdengar semakin jelas.

Dan tiba-tiba, waktu Yo Him tengah berjalan, dengan cepat sesosok bayangan putih dengan gerakan yang ringan dan lincah melompat keluar dari balik batang pohon di samping kanan.

"Berhenti!"

Bentak sosok bayangan putih itu dengan suara yang aseran sekali, juga sebatang pedang berwarna putih telah dilintangkan di dadanya.

"Kalian siapa dan ingin ke mana?!"

Yo Him menghentikan langkah kakinya.

Dia memandang tajam kepada penghadangnya itu.

Dialah seorang gadis berusia tujuhbelas tahun, yang seluruh pakaiannya berwarna putih.

Wajahnya cantik sekali, bentuk tubuhnya elok, ramping.

Hanya matanya tajam bersinar dengan sikap yang tidak simpatik.

Rambutnya yang digelung dua, menambah kecantikan gadis itu.

Setelah mengawasi gadis itu, Yo Him tersenyum katanya.

"Kami orang-orang yang kebetulan tersesat di tempat ini, maka jika nona tidak keberatan buat memberitahukan kepada kami jalan keluar dari lembah ini, kami tentu sangat herterima kasih sekali!"

Gadis itu tertawa dingin, mukanya tidak berperasaan.

"Hemmm, kalian orang-orang tersesat?!"

Katanya tawar, matanya memandang tajam.

"Mengapa kalian tidak mengambil jalan di mulut lembah itu, jika benar-benar kalian ingin keluar meninggalkan lembah ini, malah kalian pun telah mengambil arah sebaliknya, memasuki lembah ini!" Setelah berkata begitu, gadis berpakaian serba putih itu telah memandang kepada Hok An yang berada dalam gendongan Yo Him, yang dalam keadaan terluka parah. Dia mendengus beberapa kali, wajahnya tawar sekali tidak memperlihatkan apapun juga. Sedangkan Yo Him telah berkata lagi.

"Memang kami tersesat di tempat ini, kami sedang mencari seseorang, namun kami tidak mengetahui di mana tempat tinggal orang itu..... karenanya kami telah berputar-putar di lembah ini! Entah nona bisa menunjukkan kepada kami atau tidak mengenai orang yang kami maksudkan itu?!"

"Siapa?!"

Tanya gadis berpakaian serba putih itu dengan sikap yang tawar.

"Orang itu kabarnya memiliki ilmu pengobatan yang pandai sekali dan juga menjadi pemilik lembah ini. Karena itu, kami telah datang ke mari untuk memohon pertolongannya. Kawan kami terluka berat dan mungkin orang yang tengah kami cari itu bisa menolong mengobatinya sampai sembuh.......!"

Bola mata gadis berbaju serba putih itu telah mencilak-cilak memain tidak hentinya.

Dia mengawasi kepada Hok An yang masih tertidur di dalam gendongan Yo Him, kemudian diapun berkata dengan suara yang tawar, pedangnya dikibaskan seperti mengusir.

"Lebih baik kalian cepat-cepat angkat kaki meninggalkan lembah ini sebelum terlambat......!"

"Terlambat? Apa maksud nona?!"

Tanya Yo Him, sambil meneliti keadaan gadis itu.

Dilihat dari gerak geriknya tentu dialah seorang gadis yang lincah dan memiliki kepandaian yang lumayan, tampaknya dia memiliki kiam-hoat atau ilmu pedang yang cukup ampuh dan tinggi.

"Karena jika memang penghuni lembah ini melihat kau, biarpun kau hendak pergi, di waktu itu sudah terlambat! Juga kawan-kawanmu itu tidak ada seorangpun yang akan dibiarkannya meninggalkan lembah ini dalam keadaan masih bernapas.....!"

Yo Him mengawasi dengan mata menyelidik, kemudian katanya.

"Baiklah nona, jika memang menasehati kami dari hati yang tulus, demi kebaikan kami, itulah merupakan kebaikan yang tidak mungkin kami lupakan. Tetapi, sesungguhnya. memang kami sangat membutuhkan sekali pertolongannya, maka tolonglah nona memberikan petunjuk, bagaimana caranya kami bisa menemui orang itu......?" Gadis itu tertawa tawar, wajahnya tetap tidak memperlihatkan perasaan apapun juga. Tahu-tahu pedangnya telah berkelebat.

"Wuttt, wuttt!"

Beberapa kali pedangnya itu menderu-deru, menabas cabang ranting pohon, dengan gerakan tubuh yang lincah sekali.

Kemudian waktu tubuh gadis berpakaian serba putih itu telah meluncur turun, seketika cabang ranting yang telah ditabasnya itu meluruk jatuh di dekatnya.

"Nah, kalian telah melihatnya, jika memang kalian memaksa memasuki lembah ini, berarti kalian akan menghadapi bahaya tidak kecil..... lebih baik kalian membatalkan maksud kalian dan cepat-cepat angkat kaki meninggalkan tempat ini! Atau memang aku perlu memaksa kalian agar segera meninggalkan tempat ini?!"

Yo Him mengawasi tajam kepada gadis itu, kemudian tanyanya.

"Jadi, nona yang tidak mengijinkan kami masuk?!"

Gadis berpakaian serba putih itu mengangguk.

"Ya, demi kebaikan kalian juga.....!"

Yo Him menghela napas dalam-dalam, kemudian katanya.

"Menyesal sekali, kami hanya bisa maju ke depan, tetapi sudah tidak bisa mundur..... karena kawanku ini yang tengah terluka parah, membutuhkan pertolongan dari orang yang tengah kami cari itu!"

Bola mata gadis itu memain tidak hentinya.

Sedangkan Ho Sin-se yang tadi telah menyaksikan betapa pedang si gadis berkelebat menabas ranting dan cabang pohon begitu mudah, tanpa dikehendaki dia telah memegang lehernya, karena dia membayangkan jika pedang itu digerakkan untuk menyerang lehernya tentu lehernya itu akan putus, sama putusnya seperti cabang dan ranting pohon yang kena ditabas oleh pedang si gadis.

Waktu itu, diapun telah menghampiri ke dekat Yo Him.

Sin-se menarik ujung baju Yo Him, berbisik.

"Kongcu, mari kita tinggalkan tempat ini..... berbahaya sekali.....mari Kongcu..... aku..... aku takut sekali!"

Yo Him tidak memperdulikan sikap Ho Sin-se.

Hanya saja, belum lagi Ho Sin-se merengek terus dan Yo Him belum sempat berbicara kepada gadis berbaju serba putih itu, justeru Sasana telah melompat ke depan Yo Him.

Dia menghadapi gadis berpakaian serba putih itu, katanya dengan sikap yang tawar juga.

"Siapakah nona, mengapa merintangi perjalanan kami?!" Muka gadis berpakaian serba putih itu jadi berobah tidak enak dilihat. Walaupun wajahnya cantik, namun dari mukanya itu memancarkan sedikit kesesatan. Dia kemudian tertawa dingin, katanya.

"Siapakah yang ingin merintangi kalian? Aku hanya mengatakan, jika kalian meneruskan perjalanan memasuki lembah ini, maka kalian akan mengalami bahaya yang tidak kecil, karena itu aku meminta agar kalian pergi meninggalkan lembah ini!"

"Lalu jika memang kami bermaksud hendak memasuki lembah ini terus, apa yang hendak nona lakukan?"

Tanya Sasana, yang tidak jeri, malah mengawasi perempuan berpakaian serba putih itu dengan sorot mata tidak kalah tajamnya.

"Ohhh, kalian hendak memaksa masuk terus ke dalam lembah ini?!"

Tanya gadis serba putih itu, kemadian ia tertawa bergelakgelak. Lama sekali ia tertawa seperti itu, sampai akhirnya dia bilang.

"Baik! Baik! Kulihat kalian bukan orang-orang sembarangan seperti kambing yang mudah dituntun, aku akan memperlihatkan kepada kalian, siapa sebenarnya aku, sehingga kalian berani tidak mematuhi kata-kataku.....!"

Membarengi dengan perkataannya itu, tampak gadis berbaju putih itu menerjang dengan pedangnya.

Pedang itu berkelebat sangat dekat dengan dada Sasana, akan tetapi Sasana sama sekali tidak terkejut.

Dia telah mengulurkan tangannya menyentil pedang tersebut.

Akibat benturan sentilan jari telunjuk Sasana pada pedang itu membuat gadis berbaju serba putih itu kaget tidak terkira.

Ia merasakan telapak tangannya panas sekali, pedangnya juga telah miring ke samping.

Getaran tenaga sentilan itu membuat hampir saja dia melepaskan cekalan pedangnya itu.

Tetapi dia juga tidak tinggal diam, setelah melompat mundur satu tindak dia telah melompat maju lagi.

Pedangnya menikam cepat ke arah leher Sasana.

Kali ini Sasana bergerak gesit sekali, tahu-tahu dia telah menjepit pedang gadis berpakaian serba putih itu, sehingga membuat pedang itu tidak bisa meluncur lebih jauh.

Mati-matian gadis berbaju serba putih itu berusaha menarik pedangnya dari jepitan tangan Sasana, akan tetapi dia gagal.

Bukan main kagetnya melihat kuatnya jari tangan Sasana yang bisa menjepit pedangnya sampai tidak bergerak sama sekali, dan dia telah berseru nyaring dan galak, karena dia marah sekali.

Dia mendorong pedangnya dengan kuat, tetapi tetap saja gagal.

"Hemmm, dengan hanya memiliki kepandaian seperti ini saja, engkau hendak jual lagak di hadapanku?"

Kata Sasana, dan menggerakkan tangannya sambil mengerahkan tenaga sinkangnya, seketika pedang itu menjadi patah tiga! Yo Him hanya berdiam diri saja mengawasi Sasana "memberi"

Pelajaran kepada gadis berpakaian serba putih itu.

Dia sama sekali tidak mempersalahkan Sasana, karena jika memang Sasana tidak melakukan tindakan seperti itu, akan menimbulkau kerewelan yang tidak berkesudahan.

Ho Sin-se bengong memandang betapa Sasana sesungguhnya seorang wanita yang tangguh sekali.

Hatinya kini agak tenang, karena dia dapat menduganya, Yo Him tentunya seorang pemuda yang memiliki kepandaian sangat liehay.

Namun perasaan tegang tetap saja menguasai hati Ho Sin-se.

Sedangkan Giok Hoa hanya mengawasi saja, ia tidak tertarik terhadap apa yang tengah dilakukan Sasana, karena perhatian Giok Hoa lebih tercurah pada Hok An, yang masih berada dalam gendongan Yo Him.

Malah Giok Hoa telah mendekat pada Yo Him, agar dapat melihat keadaan paman Hok nya lebih jelas.

Ketika melihat keadaan Hok An, walaupun Hok An seperti dalam keadaan tertidur atau pingsan dan tidak merintih namun sepuluh jarinya telah membengkak seperti itu, malah sebagian dari jari tangannya telah pecah dan mengeluarkan air, membuat hati Giok Hoa sangat berduka.

Terlebih pula dia melihat muka Hok An yang membengkak juga, dia menangis sedih sekali.

Yo Him berusaha membujuk si gadis cilik, katanya.

"Segera kita akan bertemu dengan tabib yang pandai, tenanglah...... tenanglah..... jangan menangis terus!!"

Ho Sin-se masih berdiri bengong di tempatnya, dia mengawasi tertegun dan kagum apa yang dilakukan Sasana.

Sebab setelah mematahkan pedang gadis cilik itu menjadi tiga, dengan gerakan yang gesit sekali, tubuh Sasana telah bergerak ke samping gadis berbaju putih itu, lalu dengan gerakan tangan yang sulit diikuti oleh mata Ho Sin-se, tahu-tahu Sasana telah berhasil mencengkeram ikat pinggang gadis berpakaian serba putih, sekali berseru, tubuh gadis berbaju putih itu telah dilemparkannya jauh sekali, tiga tombak lebih.

Gadis berbaju putih itu juga tampaknya kaget bukan main, dia merasakan semangatnya seperti terbang meninggalkan raganya ketika tubuhnya melayang di tengah udara tanpa dia dapat mengimbangi luncuran tubuhnya.

Hanya saja, sebelum tubuh gadis berbaju putih itu terbanting di tanah, telah berkelebat sesosok bayangan putih lainnya.

Tahu-tahu tubuh gadis berbaju putih yang pertama itu telah berhasil ditahan oleh sebatang tongkat panjang, terbuat dari bambu yang ujungnya telah menyelip diikat pinggang gadis baju putih itu, sehingga tubuhnya seperti tergantung tidak sampai jatuh terbanting.

Orang yang menolongi gadis berbaju putih itu ternyata seorang wanita berbaju putih juga, hanya saja usianya mungkin telah limapuluh tahun lebih.

Matanya bersinar tajam sekali, dia juga telah menurunkan gadis baju putih itu, kemudian sambil mengibaskan tongkat bambunya dia telah bilang.

"Hmmm, siapa yang berani malang melintang menghina cucuku!"

Sasana tersenyum tawar.

"Kita tidak saling kenal satu dengan lainnya, tetapi entah mengapa, cucumu itu bermaksud merintangi perjalanan kami, bahkan tidak segan-segan dia telah menyerang kami dengan mempergunakan tikaman pedang. Jika saja kami tidak memiliki sedikit kebisaan, bukankah kami akan dicelakainya?"

Muka wanita setengah baya itu, yang sama seperti cucunya mengenakan baju serba putih, telah memperlihatkan sikap tidak simpatik. Dia tersenyum mengejek, matanya memandang dengan sorot yang dingin.

"Ya, ya, mungkin juga cucuku itu melakukan suatu kesalahan, namun tidak seharusnya orang luar yang mengajar adat padanya, karena masih ada neneknya yang bisa mendidik dan mengajar adat padanya! Nah, karena engkau merasa yakin, memiliki kepandaian yang tinggi, sehingga tidak memandang sebelah mata pada cucuku, dan juga tidak mau memandang mata kepadaku, aku justeru ingin melihat berapa tinggikah kepandaianmu. Hiaaaat!"

Membarengi bentakannya itu, ganas luar biasa tongkat wanita setengah baya itu, telah meluncur melintang ke arah perut Sasana.

Gerakan wanita setengah baya itu begitu cepat, tongkatnya seperti juga sambaran petir, membuat Sasana jadi terkejut juga, karena tahu-tahu ujung tongkat yang runcing itu telah menyambar tiba pada perutnya.

Untung saja Sasana telah digembleng Yo Him dan berlatih dengan tekun, sehingga Sasana sekarang bukan Sasana yang dulu, di mana dia telah memiliki kepandaian yang tinggi dan memperoleh kemajuan yang pesat.

Melihat cara menyerang wanita setengah baya itu, cepat sekali Sasana menjejakkan kakinya, tubuhnya melompat ke belakang sambil berjumpalitan dua kali.

Dengan cara mengelakkan diri seperti itu, serangan tongkat wanita setengah baya itu bisa dihindarkannya.

` Yo Him juga kaget tidak terkira melihat cara menyerang dari wanita setengah baya tersebut, walaupun bagaimana serangan itu merupakan tipu yang bisa mematikan, karena bisa memecahkan dan merobek kulit perut Sasana.

Sedangkan Yo Him pun teringat kepada mayat-mayat yang ditemuinya beberapa saat yang lalu, di mana leher dari mayatmayat itu robek terluka seperti sayatan.

Boleh jadi leher dari mayatmayat itu robek oleh tabasan ujung tongkat dari wanita setengah baya yang aseran dan berpakaian serba putih itu.

"Bagus!"

Berseru wanita setengah baya itu.

"Kau ternyata gesit sekali!"

Dan sehabis memuji begitu, malah tongkatnya mendengung, menyambar kepada pundak, dada, perut Sasana dengan sambaran yang beruntun.

"Sasana, hati-hati!"

Teriak Yo Him yang menguatirkan juga keselamatan isterinya.

Sedangkan untuk melompat mewakili Sasana menerima serangan wanita serba putih itu, dia tidak bisa, dia tengah menggendong Hok An, yang tengah terluka parah.

Dan wanita setengah baya yang berpakaian serba putih itu juga menyerang dengan cara yang aneh.

Dalam waktu yang singkat sekaligus telah bisa menyerang tiga jurusan.

Sasana waktu itu baru saja hinggap di tanah, dia merasakan angin serangan yang menyambar beruntun ke arah pundak, dada dan perutnya.

Bukan main mendongkolnya Sasana, karena dilihatnya cara bergerak tongkat wanita setengah baya itu sangat ganas sekali.

Sasana tidak tinggal diam.

Cepat sekali dia berseru, lalu mengibaskan lengan bajunya, berusaha menggulung tongkat lawannya.

Cara yang dilakukan oleh Sasana sebetulnya merupakan cara memunahkan serangan lawannya yang terlalu berani sekali.

Kalau memang libatan lengan bajunya gagal, berarti Sasana akan terluka oleh serangan dari lawannya itu.

Karena itu Yo Him menyaksikan dengan hati yang berdebar berkuatir.

Ho Sin-se juga mementang matanya lebar-lebar.

Dia kagum tidak terkira melihat Sasana demikian liehay dan lincah.

Semula dia tidak menyangka bahwa Sasana ternyata pendekar wanita berkepandaian tinggi.

Tadinya dia hanya menduga bahwa Sasana hanya wanita yang lemah belaka.

Libatan lengan baju Sasana ternyata berhasil.

Tongkat wanita setengah baya dengan pakaian serba putih itu telah berhasil dilibatnya ujungnya, dengan demikian tongkat itu tidak bisa bergerak lebih jauh buat menyerang ke arah perut Sasana.

Bahkan libatan lengan baju itu dilakukan dengan disertai kerahan tenaga dalam, maka biarpun wanita setengah baya itu bermaksud hendak menusuk dengan mendorong tongkatnya ke depan, tokh dia tidak berhasil.

Cucunya, gadis berpakaian serba putih, yang tadi nyaris terbanting, tampaknya gusar sekali.

Dengan mata memancarkan sinar yang bengis, dia melompat ke dekat Sasana.

Cepat sekali pedangnya yang telah buntung menjadi pendek itu dipakai buat menikam punggung Sasana.

Cara menyerangnya licik sekali.

Pertama-tama dia menikam dengan perlahan-lahan, sehingga tidak menimbulkan desiran angin serangan.

Waktu pedang buntung itu hampir tiba di pundak Sasana, barulah dia memusatkan dan mengerahkan tenaga dalamnya, dia menikam dengan sekuat-kuatnya.

Sasana kaget, dia tidak menyangka akan serangan itu, sebab dia tengah memusatkan perhatiannya pada wanita setengah baya itu.

Tapi Yo Him yang melihat ini rupanya tidak tinggal diam, belum lagi mata pedang itu bisa melukai punggung isterinya, kaki Yo Him telah melayang menendang punggung gadis berbaju putih itu sampai dia terguling-guling di tanah dan mengeluarkan jerit kesakitan, karena gadis berpakaian serba putih itu merasakan tulang punggungnya seperti menjadi patah!

Bukan main marahnya wanita setengah baya berpakaian serba putih itu melihat cucunya terguling-guling akibat tendangan Yo Him.

Dalam kemarahan, tongkatnya itu disodokkan ke depan dengan harapan dapat mendorong Sasana.

Akan tetapi dorongan tongkat itu sama sekali tidak memberikan hasil, karena libatan lengan baju Sasana benar-benar kuat, sehingga tongkat itu hanya dapat tergeser sedikit, dan tidak bisa meluncur ke depan terus.

Waktu itu Sasana juga tidak tinggal diam.

Ketika wanita setengah baya itu menusukkan tongkatnya begitu kuat, ia segera juga mengimbangi dengan tenaga dalamnya.

Setelah berhasil membuat tongkat itu tidak bisa meluncur ke depan, ia membarengi dengan menghentak mempergunakan kibasan tangan yang satunya.

Lenyaplah keseimbangan tubuh wanita setengah baya berbaju putih itu, tubuhnya terjerunuk.

Namun ia liehay, karena cepat sekali ia dapat mengatur keseimbangan ke dua kakinya yang menjadi kokoh kembali, sehingga ia tidak sampai terjerunuk.

Dengan muka yang merah padam ia memandang Sasana.

"Hemmm, bagus, bagus rupanya kau ingin melihat keliehayanku, heh?"

Kemudian selesai berkata ke dua jari tangannya, jari telunjuk dan ibu jarinya didekatkan pada mulutnya, dia segera bersiul nyaring.

Tidak lama terdengarnya suara siulan tersebut, berkelebat mendatangi lima sosok bayangan putih, cepat sekali mengurung Sasana.

Di tangan masing-masing ke lima orang berpakaian serba putih itu mencekal sebatang tongkat yang sama ukuran maupun bentuknya dengan tongkat yang dicekal oleh wanita setengah baya itu.

Muka wanita setengah baya berpakaian putih itu masih merah padam, katanya.

"Binasakan mereka, termasuk setan kecil itu!"

Perintah itu disertai dengan jari telunjuknya yang menunjuk kepada Giok Hoa.

Wajahnya bengis dan matanya memancarkan sinar tajam mengandung nafsu membunuh!

Ke lima orang yang baru datang dan semuanya berpakaian putih itu adalah lima orang gadis berusia antara duapuluh tahun dengan paras muka yang semuanya cantik dan bentuk tubuh yang langsing menarik.

Mereka tidak ada yang mengeluarkan sepatah perkataan pun juga, hanya saja tubuh mereka mulai bergerak hendak mengepung dan menyerang Sasana.

Yo Him yang menyaksikan keadaan seperti itu segera memaklumi bahwa ia tidak boleh berdiam diri, segera ia melompat ke pinggir meletakkan Hok An di bawah sebatang pohon, dan menoleh kepada Ho Sin-se, katanya.

"Kau jaga dan lindungi paman Hok ini!"

Ho Sin-se waktu itu tengah ketakutan setengah mati, keringat mengucur deras sekali dari sekujur tubuh dan mukanya yang pucat, juga tubuhnya tengah menggigil menahan rasa takut, namun ia mengangguk mengiakan juga.

Giok Hoa pun melompat ke samping Hok An, menjagai paman Hok nya itu dengan hati yang gelisah sekali.

Gadis cilik itu kuatir kalaukalau Yo Him bersama Sasana tidak sanggup menghadapi jumlah musuh yang jauh lebih besar dari mereka, di samping tampaknya memiliki kepandaian yang tinggi, dengan tongkatnya yang berbahaya itu.

Tubuh Yo Him melesat ke samping Sasana.

Waktu itu seorang gadis berpakaian serba putih yang berada di tempat yang akan diterobos oleh Yo Him, menggerakkan tongkatnya, akan menabas tenggorokan dari Yo Him.

Namun Yo Him bisa mengelakkan dengan hanya memiringkan sedikit kepalannya.

Malah tangannya cepat sekali menyambar ke lengan gadis berbaju putih itu, gerakan mana dibarengi dengan pengerahan tenaga dalamnya.

"Pergilah kau!"

Ia menghentak akan melontarkan tubuh gadis berpakaian serba putih itu.

Namun hati Yo Him segera terkesiap, ia menarik cukup kuat disertai tenaga dalam, tetapi ia seperti menarik pohon yang berakar di dalam tanah, kokoh sekali.

Tubuh gadis berpakaian putih yang seorang itu jangankan terlempar ke tengah udara, malah bergemingpun tidak, ia berdiri tegak di tempatnya.

Malah tongkatnya telah bergerak lagi menyambar ke arah tenggorokan Yo Him.

Keadaan ini benar-benar tidak pernah disangka oleh Yo Him, di samping kaget iapun heran, melihat usianya gadis berpakaian serba putih itu tentunya ia tidak mungkin memiliki lweekang yang begitu tangguh, sehingga dapat berdiri dengan ke dua kaki yang begitu kokoh.

Dengan demikian, ia jadi tidak mengerti untuk keliehayan gadis ini.

Namun Yo Him tidak bisa berpikir terlalu lama, karena ujung tongkat yang tajam itu meluncur ke arahnya dengan gerakan yang cepat sekali.

Beruntung memang Yo Him memiliki kepandaian yang sangat tinggi, walaupun tengah berada dalam keadaan kaget dan heran, namun ia dapat hersikap lebih tenang dan mengelakkan diri dari sambaran ujung tongkat.

Sekarang hanya berbeda dengan tadi, Yo Him tidak berusaha mencekal tangan gadis berbaju putih itu.

Ia hanya mengelak ke samping, kemudian tangan kanannya meluncur akan menotok jalan darah yang melumpuhkan di punggung gadis itu.

Gerakan itu bukan gerakan yang terlalu luar biasa, namun buat gadis berbaju putih itu ternyata sangat cepat.

Jika ia tidak membatalkan serangan ujung tongkatnya dan melompat mundur ke samping, niscaya pundaknya kena ditotok Yo Him.

Dan beruntung juga baginya bahwa wanita setengah baya itu telah berusaha menotok tenggorokan Yo Him dengan ujung tongkatnya yang tajam.

Sehingga membuat Yo Him tidak bisa meruntuni dengan totokan lainnya waktu sasarannya itu pindah tempat, ia harus melayani wanita setengah baya itu.

Sasana waktu itupun tidak kurang sibuknya.

Empat orang wanita berpakaian yang serba putih, dibantu juga dengan cucu si wanita setengah baya itu, menyerang serentak kepada Sasana.

Berlima mereka menyerang mempergunakan tongkat yang sangat liehay sekali mengincar bagian-bagian yang mematikan di tubuh Sasana.

Sebagai seorang pendekar wanita yang telah banyak menerima petunjuk dari mertuanya, dari Siauw Liong Lie dan Yo Ko, dengan sendirinya ia bisa memiliki perhitungan yang matang dan dapat menemukan tindakan apa yang harus dilakukannya dalam keadaan terkepung seperti itu.

Tahu-tahu ia melompat ke tengah udara, sepasang kakinya ditekuknya, lalu ia menyentil berulang kali dengan ke dua tangannya di mana ia masing-masing mempergunakan jari telunjuknya.

Hebat kesudahannya.

Tanpa menyentuh tongkat dari lawanlawannya, dari setiap ujung jari telunjuknya seperti juga mengalir kekuatan tenaga dalam yang dahsyat sekali, yang telah membuat ujung tongkat lawannya mencong tidak mengenai sasaran, sehingga membuat ke lima lawannya kaget tidak terhingga, karena telapak tangan mereka sakit dan panas sekali oleh getaran yang menerjang dari tongkat mereka masing-masing yang terkena hawa dan tenaga sentilan telunjuk jari Sasana.

Rupanya dalam keadaan seperti itu Sasana telah mempergunakan ilmu jari tunggal yang sakti ajaran Yo Ko, yaitu It-yang-cie.

Itu masih untung buat ke lima lawannya, bahwa Sasana baru bisa menguasai ilmu tersebut tiga bagian saja.

Jika sudah mencapai tujuh atau delapan bagian yang berhasil dikuasainya jangan harap ke lima orangnya masih hidup sampai detik itu terkena getaran tenaga sakti dari jari-jari telunjuk Sasana.

Adanya pengalaman pahit seperti itu, membuat ke lima wanita berpakaian serba putih tersebut tidak berani menyerang serampangan lagi.

Waktu tubuh Sasana telah meluncur turun dan hinggap di tanah, dan perasaan sakit pada telapak tangan mereka masing-masing berkurang, barulah ke lima wanita berpakaian serba putih itu menyerang lagi.

Namun penyerangan mereka dilakukan selalu dengan jurus-jurus gertakan belaka.

Mereka belum berani terlalu mendesak Sasana lagi, rupanya mereka kuatir akan mengalami keadaan seperti tadi di mana telapak tangan mereka pedih dan sakit!

Sasana tertawa tawar.

Ia melihat ke lima lawannya sesungguhnya memiliki kepandaian yang lumayan.

Hanya saja tongkat mereka bergerak mengandung hawa sesat, di mana setiap kali menyerang jurus serangan tongkat itu selalu sulit diterka.

Dengan begitu membuat Sasana pun berhati-hati.

Yang membuat Sasana jadi heran juga justeru dilihatnya bahwa ke dua kaki dari ke lima orang itu memiliki kuda-kuda yang kuat sekali.

Pernah Sasana menyerang dengan mengerahkan delapan bagian tenaga dalamnya, namun ia gagal merubuhkan lawannya yang berdiri tetap di tempatnya tanpa bergeming sama sekali.

Sedangkan ke lima wanita itu mengepung Sasana kian merapat.

Walaupun mereka tidak berani untuk terlalu mendesak, namun mereka pun berusaha tidak memberikan kesempatan sedikitpun pada Sasana buat bernapas atau mengadakan persiapan membalas menyerang.

Salah seorang di antara ke lima lawan Sasana telah membentak.

"Monyet betina tidak tahu diri, jika kami tidak bisa sembelih tubuhmu, jangan harap kami mau sudah!"

"Ya, kita harus gorok lehernya menjadi lima potong, jiwanya harus dikirim ke neraka dengan cara yang istimewa!"

Berseru yang lain.

"Benar! Mari kita buat tubuhnya seperti juga patung yang tidak utuh, kita bagi-bagi anggota tubuhnya menjadi lima bagian?"

Teriak yang lain.

Walaupun mereka satu dengan yang lainnya saling memaki tidak hentinya, serangan mereka tetap gencar dan penuh perhitungan.

Rupanya makian-makian mereka hanya sekedar untuk memecahkan perhatian Sasana belaka, agar jauh lebih mudah mereka rubuhkan atau serang.

Karenanya, mereka berusaha mengacaukan perhatian Sasana dengan berbagai makian yang kotor dan lain-lainnya.

Sasana menanggapi semua itu dengan sikap yang tenang.

Walaupun hatinya sangat panas sekali, ia mencari-cari kesempatan untuk dapat merubuhkan salah seorang dari ke lima lawannya.

Namun setiap kali Sasana selalu gagal buat mendesak salah seorang lawannya, mereka berlima ternyata sangat kompak sekali.

Jika seorang di antara mereka hendak didesak oleh pukulan yang gencar oleh Sasana, maka yang empat telah bergerak buat menerjang Sasana dengan ancaman yang dahsyat.

Karena mereka seperti juga memusatkan seluruh tenaga mereka.

Empat ujung mata tongkat itu yang demikian runcing serentak menyambar ke arah satu sasaran di tubuh Sasana, memaksa ia harus dapat menghindarkannya dengan segera dan membatalkan maksudnya untuk mendesak lawannya yang seorang.

Yo Him yang waktu itu dikeroyok oleh wanita setengah baya berpakaian putih dan gadis berbaju putih yang tadi hendak dilontarkan oleh Yo Him, ternyata tidak mengalami kesulitan.

Walaupun ke dua orang itu menyerang kepadanya cukup ganas mempergunakan tongkat masing-masing, namun Yo Him selalu dapat menghadapinya dengan sebaik mungkin.

Giok Hoa menyaksikan keadaan pertempuran itu, hatinya takut dan berkuatir sekali, ia menangis.

Karena disamping kuatir kalaukalau Yo Him dan Sasana tidak bisa menghadapi lawan-lawan mereka, juga iapun berkuatir sekali untuk keselamatan jiwa Hok An, yang tampaknya keadaan paman Hok ini semakin gawat sekali, sebab selain mukanya yang membengkak agak besar, tubuhnya, lengan maupun kakinya nampak mulai membengkak pula.

Ho Sin-se yang ditanya mengenai keadaan paman Hok ini oleh Giok Hoa, hanya menghela napas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Jika perutnya telah membengkak besar, walaupun turun dewa yang bermaksud menolongnya, jangan harap jiwanya itu dapat ditolong lagi!"

Giok Hoa menangis mendengar keterangan seperti itu, dia menyusut air matanya dan memperhatikan jalan pertempuran antara Yo Him dan Sasana dengan wanita-wanita yang berpakaian putih.

Memang cara menyerang dari Yo Him dan Sasana semakin lama jadi semakin cepat dan tenaga dalam yang mereka pergunakan itu semakin kuat.

Wanita-wanita itu telah mulai menggerakkan tongkat mereka dengan gerakan yang luar biasa.

Terkadang tongkat menyambar lurus, dipergunakan buat menikam bagaikan gerakan sebatang pedang, atau di lain saat tongkat-tongkat itu melintang dan telah menyerampang ke kaki Yo Him atau Sasana.

Dengan begitu membuat Yo Him dan Sasana harus melompat tinggi sekali, karena tongkat itu menyambar bertingkat.

Tongkat yang pertama menyambar kaki mereka, kemudian tongkat yang lainnya menyambar lebih tinggi, sedangkan tongkat yang pertama itu telah menyambar pula menyusul di sebelah atas.

Dengan begitu, cara menyerang tongkat itu seperti juga tongkat anak tangga yang saling susun, yang membuat Yo Him dan Sasana harus menghindar dengan melompat tinggi sekali.

Malah Yo Him yang memiliki kepandaian lebih tinggi dari kepandaian Sasana, dapat mempergunakan ujung kakinya buat menendang ujung tongkat itu, sehingga jadi terpental.

Berbareng tubuh Yo Him yang berada di tengah udara, telah meluncur turun menyambar kepada salah seorang wanita itu, sambil menghantam dengan tenaga lweekangnya.

Hantaman mana membuat tubuh wanita itu, kembali terpental bergulingan di tanah.

Dan dia telah memandang dengan muka yang pucat pias, karena dia telah memuntahkan darah segar dan terluka di dalam yang cukup berat.

Dengan demikian Yo Him telah berhasil mengurangi seorang lawannya.

Wanita tua itu telah menjejakkan kakinya, tubuhnya seperti alapalap telah menyambar kepada wanita yang terluka itu.

Dan dia telah menggendongnya sambil melarikan diri dengan mengerahkan ginkangnya.

Dia juga berseru nyaring sekali.

"Angin keras......!"

Seruan itu membuat kawan-kawannya segera memutar tubuh dan telah meninggalkan tempat itu, karena mereka pun segera ingin menyingkirkan diri dari Yo Him dan Sasana.

Yo Him bermaksud mengejar terus, namun Sasana telah memanggilnya.

"Yo Him..... jangan dikejar!"

Yo Him batal mengejar, dia telah memutar tubuhnya dan menghampiri Sasana. "Apakah kau tidak terluka?!"

Tanya Yo Him. Sasana menggeleng sambil menghela napas.

"Aneh sekali, wanita tua itu dengan kawan-kawannya ternyata memiliki ilmu tongkat yang cukup aneh. Tampaknya ilma tongkat mereka merupakan ilmu tongkat Su-coan-tung-hoat, yaitu ilmu tongkat dari Su-coan, dari keluarga Lam yang sangat terkenal sekali di dalam rimba persilatan.....!"

Yo Him mengangguk.

"Akupun menduga begitu, mungkin ilmu tongkat itu memiliki seratusdelapan jurus, hanya saja yang mengherankan aku, para wanita itu hanya mempergunakan delapanbelas jurus, di mana mereka telah mengulangi lagi jurus demi jurus setiap kali mereka telah gagal menyerang sebanyak delapanbelas jurus."

Sasana mengangguk.

"Ya akupun memperhatikan begitu!"

Katanya.

"Tetapi memang jurus-jurus yang mereka pergunakan itu tidak salah lagi ilmu tongkat adalah dari keluarga Lam di Su-coan. Aku telah melihatnya bahwa setiap gerakan-gerakan dari tongkat itu dia mempergunakan jurus-jurus yang banyak terdapat di dalam ilmu pedang, juga di samping itu, tentunya mereka hanya baru memiliki dan menguasai belasan jurus belaka. Jika demikian halnya, baiklah kita akan berusaha untuk menyelidiki siapa mereka.....!"

"Tetapi itu tidak bisa kita lakukan..... ingat, bahwa kita tengah berusaha menolongi Hok Lopeh.....!"

Mengingatkan Yo Him. Sasana seperti baru tersadar, dia menepuk keningnya, katanya.

"Hai! mengapa aku pikun seperti ini, sehingga lupa pada apa yang baru kita lakukan!"

Setelah berkata begitu, segera juga Sasana melompat mendekati Hok An dan Giok Hoa, untuk memeriksa keadaan Hok An.

Melihat keadaan Hok An seperti itu membuat Sasana tambah berkuatir, sedangkan Giok Hoa tengah menangis tidak hentinya.

Yo Him pun menghela napas berulang kali melihat keadaan Hok An yang semakin parah.

Ho Sin-se waktu itu telah menjelaskan kepada Yo Him.

"Kalau sampai perutnya ini membesar, maka biarpun dewa yang turun hendak mengobatinya, jangan harap dapat menyembuhkan penyakit dan luka-lukanya ini.....!" Yo Him menghela napas.

"Karena itu, kita harus mempercepat perjalanan kita, agar segera dapat tiba di tempat orang yang kau sebutkan itu!"

Kata Yo Him. Ho Sin-se mengangguk saja. Giok Hoa masih menangis, Sasana menghiburnya.

"Jika engkau menangis saja, hal itu tidak akan membawa manfaat apa-apa buat kau maka alangkah baiknya jika saja engkau dapat segera membantu kami untuk mengangkat paman Hok mu itu, agar dapat melakukan perjalanan lebih cepat?"

Giok Hoa mengangguk dan menyusut air mata.

Dia berusaha membantu mengangkat Hok An.

Kali ini Yo Him tidak memanggul tubuh Hok An, karena luka-luka Hok An tampaknya semakin parah, juga tubuhnya semakin membengkak.

Jika ia memanggulnya, tentu Hok An akan menderita sekali, malah Yo Him kuatir akan membuat luka Hok An tergesek-gesek oleh pakaiannya sehingga menambah luka itu semakin berat dan parah.

Sedangkan Sasana telah bantu mengangkat sepasang kakinya Giok Hoa, tangan kirinya, Ho Sin-se tangan kanannya, dan Yo Him mengangkat kepala sampai ke leher.

Mereka telah melakukan perjalanan yang tidak terlalu cepat.

Sedangkan di atas mereka, terbang rajawali putih, sekali-kali terdengar suara pekiknya yang panjang, tampaknya burung rajawali itu ikut berduka.

Ia seperti juga mengetahui bahwa majikannya itu tengah mengalami luka yang berat sekali, di mana jiwanya tengah terancam.

Maka telah membuat burung rajawali itu yang memiliki perasaan sangat tajam, berulang kali mengeluarkan suara pekiknya, seperti juga dia itu ikut berduka.

Tampak Yo Him sudah tidak sabar.

Berulang kali dia bertanya kepada Ho Sin-se, apakah tempat dari orang yang mereka cari itu masih jauh.

Ho Sin-se berulang kali mengatakan bahwa mereka akan segera tiba.

Tidak lama setelah mereka melakukan perjalanan lagi, memang mereka telah tiba di dekat sebuah tebing yang tinggi sekali.

Pada tebing itu tampak sebuah goa yang cukup besar, mungkin dapat masuk dua orang dewasa, karena bentuk goa yang melebar ke samping.

"Itulah tempat kediaman dari orang yang kumaksudkan!"

Kata Ho Sin-se sambil menunjuk goa itu. Kemudian dengan wajah raguragu dia telah bilang.

"Aku..... aku harus segera meninggalkan tempat ini.....!"

Tetapi Yo Him menggeleng.

"Jangan..... kau harus menemani kami dulu sampai kami bertemu dengan orang itu. Jika memang kau meninggalkan kami, bagaimana mungkin kami mengetahui orang yang mana yang dimaksudkan olehmu, jangan-jangan nanti kami hanya dapat bertemu dengan orang yang bukan kami maksudkan itu.....!"

Ho Sin-se walaupun merasa ngeri, berada di tempat itu, tokh diapun tidak berani membantah permintaan Yo Him, dia telah mengiyakan dan tidak jadi meninggalkan tempat tersebut.

Dengan hati-hati mereka meletakkan Hok An di bawah sebungkah batu.

Sedangkan Yo Him menghampiri mulut goa, dia merangkapkan sepasang tangannya, katanya.

"Boanpwee Yo Him datang menghunjuk hormat..... harap Locianpwe mau menerima kedatangan kami.....!" Sunyi, tidak terdengar suara sahutan dari dalam goa itu. Yo Him mengulangi lagi sampai dua kali dan tetap tidak memperoleh jawaban. Hal ini membuat Yo Him harus dapat menahan diri, dia telah dua kali berkata dengan suara yang nyaring, sampai akhirnya dia habis sabar.

"Jika memang Locianpwe tidak mau menerima kunjungan kami, biarlah boanpwe bertindak agak kurang ajar dan akan masuk menghadap kepada Locianpwe. Maafkanlah kelancangan Boanpwe!"

Setelah berkata begitu Yo Him menjejakkan kakinya, tubuhnya melesat akan melompat masuk ke dalam goa itu.

Akan tetapi, Yo Him jadi kaget.

Dari dalam goa itu, yang gelap gulita, tampak melesat beberapa titik sinar putih yang berkilauan menyambar kepadanya, pada beberapa jalan darah terpenting di tubuhnya.

Waktu itu Yo Him tengah berada di tengah udara dengan ke dua kaki tidak menginjak bumi, sehingga dia tidak bisa untuk berkelit.

Yo Him masih dapat menggerakkan tangannya, mengibas senjata rahasia yang menyambar kepadanya, membuat senjata-senjata rahasia itu telah terpental dan kemudian mencong arahnya menancap dalam sekali di dinding goa itu.

Hal ini mengejutkan Yo Him, sebab dilihatnya bahwa tenaga timpukan senjata rahasia tersebut kuat sekali, sehingga dapat menembusi dinding itu.

Dengan demikian tentunya orang yang telah melontarkan senjata rahasia itu memiliki kekuatan tenaga dalam yang tangguh sekali.

Apalagi waktu itu Yo Him telah meluncur turun dan mendekati bagian dinding goa yang tertancap senjata rahasia itu, dia melihatnya bahwa senjata rahasia itu adalah sebatang jarum, dua batang paku perak, dan tiga bilah pisau kecil.

Yo Him memandang heran, sampai akhirnya, ia menghela napas dalam-dalam.

Segera ia menyadari bahwa mereka tengah menghadapi seseorang yang beradat sangat aneh.

Karena dia telah berseru beberapa kali mohon bertemu, tetapi orang di dalam goa itu tidak mau mecerima kunjungannya dan juga tidak mau menyahutinya.

Dengan begitu, membuat Yo Him ingin lancang memasuki goa tersebut.

Akan tetapi dirinya justeru telah disambut dengan jarum dan paku perak itu.

Maka Yo Him terpaksa harus dapat berlaku lebih waspada, jika ceroboh, dikuatirkan kelak akan menghadapi kesukaran, karena di dalam goa yang gelap itu tidak bisa dilihat dengan jelas.

Sedangkan keadaan di dalam goa itu tetap sunyi.

Yo Him merangkapkan sepasang tangannya, katanya.

"Harap Locianpwe mau menerima hormat Boanpwe Yo Him..... Kami datang berkunjung ke mari, karena kami tengah berada dalam kesulitan dan bermaksud ingin memohon pertolongan Locianpwe......!"

Belum lagi suara Yo Him habis diucapkan, diwaktu itu telah terdengar suara orang tertawa dingin, kemudian dibarengi dengan perkataannya yang tawar.

"Siapa yang berani melangkahkan kakinya dengan lancang memasuki goa ini, orang itu akan kubinasakan......!"

Yo Him jadi merandek diam, dia raga-ragu.

Tampaknya orang di dalam goa itu memang seorang yang memiliki hati yang keras, dan juga tidak bersedia menerima kunjungan siapapun juga.

Tetapi mengingat akan keadaan Hok An yang kian parah juga, maka Yo Him telah mengeraskan hati, katanya.

"Kami terpaksa sekali menggganggu ketenangan Locianpwe, karena kami memang ingin sekali memohon bantuan dan pertolongan Locianpwe, di mana kawan kami tengah terancam jiwanya, ia terluka hebat sekali.....!"

"Itu urusan kalian, bukan urusanku!"

Menyahuti orang di dalam goa itu, ketus dan juga ia sudah tidak memperdulikan lagi pada keadaan Yo Him, yang mungkin tersinggung oleh kata-katanya yang ketus.

"Jika memang kalian tetap memaksa hendak berdiam di tempat ini guna merusak ketenanganku, maka kalian akan menanggung akibatnya. Dan bila kalian berani lancang memasuki goa ini, kalian akan kutangkap dan kubinasakan dengan cara yang sebaikbaiknya, agar kalian dapat pergi ke akherat dengan hati yang "

Puas"!"

Yo Him mengerutkan sepasang alisnya.

Mendengar perkataan orang di dalam goa, tentu dia bukan sebangsa manusia baik-baik.

Bukankah tampaknya orang di dalam goa itu sama sekali tidak mau memberikan kesempatan pada Yo Him untuk menjelaskan maksud kedatangannya, juga bukankah orang di dalam goa itu tidak memperlihatkan sambutan yang baik?

Karena terpikir begitu, menduga bahwa orang di dalam goa itu bukan sebangsa manusia baik-baik, sikap menghormat Yo Him berkurang, dan iapun telah berkata dengan suara tidak sehormat tadi.

"Baiklah, jika memang kau tidak dapat menerima kedatangan kami, itupun memang tidak bisa kami paksakan..... Tetapi yang jelas..... kawan kami membutuhkan sekali pertolonganmu, karena itu, kami mohon dengan sangat, agar engkau mengobati kawan kami itu, dan kami akan segera meninggalkan tempat ini."

"Hemmm!"

Terdengar suara tertawa dingin dari dalam goa itu.

"Atau engkau menduga bahwa aku ini budakmu, sehingga seenakmu saja engkau meminta pertolongan dan memerintahkan kepadaku, agar aku ini mengobati kawanmu itu? Hemmm, hemmm, hemmm!"

Dan kata-katanya itu telah diakhirinya dengan suara mendengus, seperti juga orang itu tidak senang dan mendongkol sekali!

Yo Him jnga mendongkol, karena dia memperoleh penerimaan seperti itu.

Dia telah mengambil keputusan, jika orang di dalam goa itu tetap menolak buat mengobati Hok An, maka dia akan mempergunakan kekerasan memaksa orang tersebut buat mengobati Hok An.

Sasana waktu itu mengawasi dengan hati yang berdebar, karena dia telah mendengar percakapan Yo Him dengan orang di dalam goa tersebut.

Dengan begitu, Sasana juga telah memakluminya bahwa orang di dalam goa itu tentunya tidak bermaksud hendak menolongi, bahkan mengusir mereka dengan kasar disertai ancaman akan membunuh mereka.

Sehingga Sasana kuatir jika Yo Him tidak bisa cepat-cepat menguasai orang itu, agar dia bersedia menolongi Hok An, maka keadaan Hok An bertambah parah dan tidak dapat ditolong lagi.

Baru saja Sasana ingin melompat ke samping Yo Him, tiba-tiba dari dalam goa itu telah terdengar bentakan lagi.

"Apakah engkau tetap tidak mau meninggalkan tempat ini?!"

Yo Him tertawa tawar, katanya.

"Kami datang dengan cara baikbaik, karena memang kamipun membutuhkan sekali pertolonganmu. Tetapi engkau menerima kami dengan cara yang tidak baik dan ketus, maka terpaksa aku harus berlaku lancang, bahwa aku harus tetap meminta engkau mengobati luka kawanku itu. Jika engkau menolak, aku akan memaksanya juga.....!" Setelah berkata begitu, tampak Yo Him bermaksud menjejakkan kakinya, tubuhnya hendak menerjang masuk ke dalam goa itu. Namun, belum lagi dia melompat, dari dalam terdengar orang berkata tawar.

"Hentikan! Jangan kau memaksa masuk ke dalam goaku, atau engkau akan mati dengan percuma!"

Tetapi Yo Him sudah tidak memperdulikan lagi ancaman orang di dalam goa itu.

Dia telah menjejakkan kakinya, tubuhnya melesat sangat gesit, menerobos ke dalam goa.

Dan seperti ancaman orang di dalam goa, begitu tubuh Yo Him meluncur akan menerjang masuk ke dalam goa itu, justeru diwaktu itu tampak beberapa puluh titik sinar yang kemilau menyambar berbagai tubuh Yo Him.

Namun Yo Him sekarang telah bersiap-siap, dia menggerakkan ke dua tangannya tanpa menahan tubuhnya.

Dengan ke dua tangan yang dikibaskan beruntun, dia membuat senjata-senjata rahasia yang menyambar kepadanya telah diruntuhkan dan terpencar menyambar ke segala penjuru dinding goa itu.

Tubuh Yo Him sendiri masih tetap meluncur akan menerobos masuk ke dalam goa itu.

Terdengar seruan kaget dari orang di dalam goa tersebut, rupanya dia heran juga melihat Yo Him dapat meruntuhkan semua senjata rahasia yang dilontarkannya.

Sebetulnya, orang di dalam goa tersebut melontarkan senjata rahasianya itu bukan dengan cara menimpuk biasa saja, karena dia menimpuk dengan serentak dan senjata-senjata rahasia tersebut menyambar bagaikan bentuk bunga bwee, yang mengepung Yo Him dari segala penjuru.

Namun, Yo Him dapat mengibas runtuh semua senjata rahasia tersebut, tentu saja membuat dia kaget, karena dengan demikian Yo Him memperlihatkan dia bukan seorang lawan biasa.

Waktu itu tubuh Yo Him telah berhasil menerobos ke dalam goa.

Keadaan di dalam goa cukup gelap, namun Yo Him yang memang memiliki penglihatan sangat tajam, telah melihat seorang laki-laki tua duduk bersemedhi di tengah-tengah ruangan goa itu, di mana pada dalam goa tersebut tidak terdapat barang apapun juga selain sebuah meja yang terbuat dari batu yang dipahat kasar.

Rupanya orang tua itupun telah melihat Yo Him, dia mengeluarkan seruan tertahan lagi, karena dia melihat yang berhasil menerobos masuk tidak lain seorang pemuda.

Tetapi kepandaian pemuda ini tinggi sekali.

"Siapa kau?"

Akhirnya orang tua itu telah menegur dengan suara yang dingin, setelah dapat menenangkan dirinya.

Karena dia tahu jika ia menyerang lagi tokh pemuda itu akan dapat meruntuhkan senjata rahasianya, juga di waktu itu, iapun tengah diliputi rasa heran, menduga-duga entah siapa adanya pemuda itu.

Maka dia menanyakan dulu perihal keadaan Yo Him.

Yo Him pun yang telah melihat orang tua yang berusia sangat lanjut dan memelihara jenggot dan yang panjang sampai tumbuh terjuntai di pangkuannya, tidak berani bersikap terlalu lancang, dia merangkapkan sepasang tangannya.

"Maafkan Locianpwe..... sesungguhnya boanpwe hanya ingin memohon pertolongan Locianpwe agar mau mengobati kawanku..... Jika memang kawanku itu dapat ditolong, maka bukan alang kepalang terima kasih Boanpwe pada Locianpwe!"

"Terima kasih? Hemmm, apakah jika aku bersedia mengobati kawanmu itu, engkau hanya akan mengucapkan terima kasih?!"

Tanya orang tua itu, sikapnya ku-koay sekali, aneh luar biasa. Yo Him melengak tertegun mendengar pertanyaan orang tua itu, sampai akhirnya dia bertanya dengan ragu.

"Lalu, apa yang harus kuberikan kepada Locianpwe sebagai ucapan terima kasih atas budi kebaikan Locianpwe.....!"

"Kau bersedia memberikan sesuatu kepadaku, sebagai imbalan jika aku berhasil menyembuhkan kawanmu itu?!"

Tanya orang tua tersebut. Yo Him mengangguk segera, ia menduga paling tidak orang tua ini tentu akan meminta sejumlah uang yang tinggi sekali sebagai imbalan atas jasanya mengobati Hok An.

"Ya...., berapa yang harus kubayar untuk biaya pengobatan itu?!"

Tanya Yo Him kemudian. Orang tua itu tertawa.

"Aku tidak menghendaki uang.....!"

Katanya. Yo Him kembali melengak.

"Lalu apa yang diingini Locianpwe?!"

Tanya Yo Him sambil mengawasi tajam pada orang tua itu. Orang tua aneh itu tertawa kecil, suaranya begitu sinis, dan sikapnya juga acuh tak acuh.

"Sudah kukatakan bahwa aku tidak menghendaki uang.....!"

Kata orang tua tersebut.

"Lalu apa yang dikehendaki oleh Locianpwe.....?"

Tanya Yo Him.

"Ada dua syaratku, jika memang engkau memenuhi ke dua syaratku itu, maka kawanmu itu akan kuobati! Walaupun bagaimana parahnya luka kawanmu itu, pasti aku akan dapat mengobatinya!"

Kata orang tua itu. Yo Him walaupun mendongkol melihat lagak orang tua ini, yang seperti juga sengaja untuk mengulur-ulur waktu, namun ia bertanya juga.

"Apa ke dua syarat dari Locianpwe itu!"

"Syarat yang pertama, aku menghendaki imbalan sebagai pembayaran atas jerih payahku mengobati kawanmu itu dengan pembayaran!"

"Pembayaran dengan apa?!"

Tanya Yo Him tidak sabar memotong perkataan orang tua itu. "Pembayaran itu adalah jiwamu! Engkau harus memberikan jiwamu kepadaku! Maka kawanmu itu akan segera kuobati!"

Menjawab orang tua itu. Yo Him tertegun, dia kaget dan heran bercampur mendongkol.

"Locianpwe, Boanpwe harap kau si orang tua tidak bergurau!"

Kata Yo Him kemudian "Hal itu mana mungkin.....!"

"Mungkin atau tidak itu urusanmu..... tetapi memang begitulah syaratku.....!"

Kata orang tua itu.

Yo Him berdiri menjublek.

Orang tua ini benar-benar luar biasa sekali, dia mengajukan syarat yang benar-benar mengejutkan.

Bagaimana mungkin, sebagai pembayaran untuk mengobati Hok An, Yo Him harus menyerahkan jiwanya kepada orang tua itu?

Bagaimana mungkin dia bisa untuk menerimanya?

Karena itu, segera juga dia berkata dengan suara yang dingin.

"Tidak mungkin syarat itu dapat dipenuhi olehku!"

"Hemmm, jika memang engkau tidak bisa memenuhi syaratku itu, aku tidak akan memaksa. Bukankah yang meminta pertolongan adalah engkau, bukan aku yang menawarkan? Dan jika memang engkau tidak dapat memenuhi syaratku yang pertama itu, silahkan engkau angkat kaki meninggalkan tempat ini......!"

Mendengar perkataan orang tua itu. Yo Him berdiam diri, sampai akhirnya dia telah bilang dengan sikap tidak senang.

"Jika memang Locianpwe mengajukan syarat seperti itu, berarti sama saja Locianpwe menolak permohonan kami agar Locianpwe menolongi kawanku itu......!"

"Aku tidak mau tahu apa yang hendak kau katakan, tetapi yang pasti, aku akan menolongi kawanmu itu, jika engkau dapat memenuhi ke dua syaratku!"

"Lalu bagaimana bunyi syarat yang kedua,"

Tanya Yo Him, yang ingin mengetahui syarat yang kedua itu. Orang tua itu berdiam tidak segera menyahuti, dia mengawasi Yo Him dengan mata yang tajam, sampai akhirnya dia telah bilang.

"Apakah engkau menyetujui dan menerima syaratku yang pertama itu?"

Yo Him berdiam sejenak, akhirnya dia mengangguk.

"Setelah mendengar syaratmu yang kedua, barulah aku akan mempertimbangkannya.....!" "Hemmm, jika engkau tidak bisa menerima syaratku yang pertama itu, kukira tidak ada perlunya kalau aku menyebutkan syarat yang kedua……"

Tetapi Yo Him telah berkata dengan sikap tidak senang.

"Mengapa tidak mau menyebutkan syaratmu yang kedua itu? Siapa tahu aku bisa menerima syaratmu itu?!"

"Dalam urusan ini aku tak memaksamu. Jika engkau ingin mengatakan bahwa aku menindas kau dengan syarat yang terlalu berat, aku pun tidak memaksa engkau meminta pertolongan kepadaku,"

Kata orang tua itu. Yo Him mengangguk.

"Benar. Maka dari itu, aku ingin sekali mendengar syaratmu yang kedua,"

Kata Yo Him.

"Syaratku yang kedua itu sangat ringan!"

Ujar orang tua tersebut.

"Aku akan mengobati kawanmu, yang katamu itu terluka parah, dan setelah dia sembuh, orang yang telah kuobati itu harus menjadi pelayanku!"

Menjawab orang tua itu dengan suara yang sangat dingin membuat Yo Him jadi gusar sekali. "Lalu apa artinya pertolonganmu itu pada kawanku?!"

Tegur Yo Him. Orang tua itu membuka matanya lebar-lebar, kemudian tertawa dingin.

"Hemmm, apa artinya buat kawanmu itu? Bukankah engkau tentunya mengetahui, bahwa jika aku menolonginya jiwa orang itu dapat diselamatkan dan dia dapat hidup terus?!"

"Tetapi dengan menolong dan menyelamatkan kawanku itu berarti aku harus membuang jiwa. Apa artinya semua itu? Dan juga setelah kawanku itu sembuh, dia harus menjadi pelayanmu..... Hal ini keterlaluan sekali. Kau manusia atau iblis, heh?!"

Rupanya Yo Him sudah tidak bisa menahan luapan darahnya lagi.

Dia gusar bukan main.

Karena orang tua ini pasti bukan sebangsa manusia baik-baik, karena dia memiliki syarat yang sangat jahat dan buruk seperti itu.

Dan juga apa artinya jika Hok An ditolongi orang ini, dan selanjutnya Hok An harus menjadi budaknya.

Memang Yo Him bisa saja menyatakan bahwa dia menerima ke dua syarat dari orang tua itu.

Namun setelah Hok An sembuh, ia akan mengadakan perlawanan kepada orang tua itu, karena dia yakin, sehebat-hebatnya kepandaian orang tua tersebut, dia akan dapat menghadapinya dengan baik-baik.

Namun sebagai seorang yang selalu bertindak jujur pada garis yang lurus, Yo Him tidak mau berdusta.

Dia keberatan dengan syarat itu dan langsung mengatakan keberatannya.

Orang tua tersebut setelah melihat Yo Him berdiam diri, segera tanyanya dengan suara yang dingin.

"Bagaimana, apakah engkau menerima syaratku itu?!"

Setelah berdiam diri beberapa saat pula, Yo Him telah menggelengkan kepalanya.

"Sayang sekali aku tidak bisa menerima syaratmu itu.....!"

Katanya disertai oleh langkahnya yang telah maju setindak, mendekati orarg tua itu.

"Diam di tempatmu!"

Bentak orang tua itu melihat Yo Him melangkah mendekatinya. Yo Him menahan langkah kakinya, katanya kemudian.

"Baiklah jika memang engkau tidak mau menolongi kawanku itu, walaupun aku telah memohonnya dengan cara baik-baik, akupun tidak bisa mengatakan sesuatu apapun juga, selain akan memaksamu!" Orang tua itu tertegun sejenak, namun akhirnya tertawa bergelakgelak.

"Hahaha.....!"

Tertawa orang tua itu dengan suara menggelegar, seperti juga menggoncangkan dalam goa itu, dinding-dinding goa tersebut tergetar seperti akan runtuh.

"Kau hendak memaksa aku? Kepandaian apa yang kau miliki sehingga engkau begitu tekebur hendak memaksaku.....?"

Belum lagi Yo Him menyahuti, Sasana telah melompat ke mulut goa, dia memanggil Yo Him dua kali. Cepat-cepat Yo Him memutar tubuhnya, dia keluar dari goa itu.

"Ada apa?"

Tanya Yo Him kemudian pada isterinya. Sasana tampak bingung dan gelisah sekali, tanyanya.

"Bagaimana, apakah orang di dalam goa itu bersedia menolong Hok Lopeh? Keadaannya sekarang ini bertambah parah juga. Jika memang kita berlama-lama lagi, dan waktu berjalan terus, maka keadaan Hok Lopeh lebih sulit lagi diobati.....!"

Yo Him menghela napas dalam-dalam. "Orang tua di dalam goa itu sangat aneh dan jahat sekali. Dia mengajukan dua syarat untuk menotongi Hok Lopeh!"

Dan Yo Him telah menjelaskan percakapan apa yang telah dilakukannya dengan orang tua di dalam goa itu.

Dalam keadaan seperti itu, Sasana sebetulnya tengah bingung memikirkan keselamatan Hok An, karena Hok An telah mengigau terus menerus tidak hentinya, keadaannya sangat parah dan menguatirkan, juga Giok Hoa menangis terus menambah kebingungan Sasana.

Dan sekarang mendengar cerita Yo Him, dia tambah bingung, malah sampai menjadi gusar bukan main.

"Orang tua di dalam goa itu keterlaluan sekali, karena jika memang dia bermaksud menolongi Hok Lopeh, mengapa dia mengajukan syarat yang tidak-tidak?!"

Setelah berkata begitu, Sasana menoleh ke dalam goa itu, dia memperhatikan keadaan goa itu, kemudian katanya.

"Biarlah kita paksa saja.....!"

"Tetapi kepandaian orang tua itu cukup tinggi, mungkin juga sulit untuk merubuhkan begitu saja, mungkin dia akan berlaku nekad. Jika dia sampai terbinasa, kita lebih sulit lagi, berarti selanjutnya Hok Lopeh tidak bisa kita tolong..... "

Inilah yang membuat aku jadi ragu-ragu buat memaksanya dengan kekerasan.

Jika tidak, sejak tadi aku telah memaksanya.

Justeru kenekadannya itu, kukuatir dia nantinya mengadakan perlawanan yang gigih, akhirnya dia terbinasa.....!"

Sasana mengerti apa yang dimaksudkan suaminya.

Memang jika orang di dalam goa itu terbunuh, tentu akan sia-sia belaka usaha mereka.

Beruntung jika mereka berhasil merubuhkannya dan juga memaksanya buat mengobati Hok An.

Tetapi jika orang itu terbinasa, lalu bagaimana keadaan Hok An.

Setelah berpikir sejenak, segera juga Sasana teringat sesuatu akal.

"Aku mempunyai pikiran,"

Katanya kemudian.

"Jika memang engkau menyetujuinya, aku dapat melakukannya."

"Akal apa?!"

Tanya Yo Him segera. Sasana menoleh dan melihat Giok Hoa tengah menangis di samping Hok An, katanya.

"Jika memang engkau menyetujui, aku akan menyuruh Giok Hoa agar mau perintahkan burung rajawali di depan goa itu mengibaskan sepasang sayapnya terus menerus. Aku tidak yakin bahwa orang tua itu dapat bertahan terus di dalam goanya.....!" Tetapi Yo Him segera menggeleng.

"Itu kurang baik dan tidak sempurna.....!"

Kata Yo Him.

"Bisa mencelakai burung itu."

Mendengar perkataan Yo Him itu, Sasana membuka matanya lebar-lebar.

"Kenapa?!"

Tanyanya.

"Tentu orang tua itu akan mempergunakan senjata rahasianya.

"Kitapun belum mengetahui apakah senjata rahasia itu beracun atau tidak?!"

Sasana seperti baru tersadar, dia mengangguk beberapa kali, katanya.

"Baiklah, aku akan perintahkan Giok Hoa saja masuk ke dalam goa itu, memohon kepada orang tua itu untuk menolongi paman Hok nya. Aku tidak yakin bahwa orang di dalam goa itu akan mencelakai Giok Hoa.....!"

"Tetapi jika orang tua itu mencelakai Giok Hoa?!"

Tanya Yo Him. Sasana tidak segera menyahuti, kemudian sahutnya.

"Kukira tidak mungkin.....!" "

Aku telah melihatnya bahwa orang tua di dalam goa itu merupakan seorang yang benar-benar memiliki adat yang sangat ku-koay sekali.

Jika memang Giok Hoa kita perintahkan masuk ke dalam goa itu, aku kuatir jika ia dianiaya dan juga terbinasa di tangan orang tua tersebut.

"Malah, jika orang tua itu menawan Giok Hoa dan kemudian mengancam akan membunuhnya jika kita tidak meninggalkan tempat ini, bukankah kita yang akan repot lagi? Waktu berjalan terus, dan jika terjadi urusan seperti itu, tentu Hok An akan terbinasa tanpa ditolong pula.....!"

Sasana mengangguk.

"Benar, apa yang kau katakan itu memang ada benarnya juga......!"

Kata Sasana seperti juga bingung dan berusaha memutar otak untuk mencari-cari jalan yang sekiranya paling baik guna mempengaruhi orang tua di dalam goa itu.

Sedangkan Yo Him menghela napas dalam-dalam.

"Biarlah aku akan mencobanya untuk memaksanya dengan kekerasan walaupun kepandaiannya memang tinggi, tetapi mudah-mudahan saja aku dapat menawannya....." "Tetapi jika engkau dapat menawannya, dan kemudian memaksa dia mengobati Hok Lo peh, namun dia bukannya memberikan obat yang sebenarnya, malah meracunkan Hok Lo peh sampai mati keracunan, bukankah hal ini malah lebih hebat lagi keadaannya?"

Mendengar pertanyaan Sasana seperti itu Yo Him telah memandang bengong, karena dia pun segera berpikir.

Bisa saja memang bahwa orang tua di dalam goa itu akan berlaku nekad.

Karenanya, dia berdiri diam tidak mengetahui apa yang harus dilakukan.

Orang tua di dalam goa itu telah memperdengarkan suara tertawa mengejek, kemudian katanya.

"Jika memang kalian tidak segera berlalu, maka biarlah aku akan melontarkan kalian dari tempat ini seperti melontarkan anjing....."

Yo Him mendengar teriakan orang tua itu, sudah tidak tahu tindakan apa yang harus dilakukannya.

Dilihatnya Hok An mengigau tidak hentinya, sedangkan Giok Hoa masih saja menangis sedih.

Karena itu, dia telah memutar tubuhnya, melangkah memasuki goa, dan ketika berada di hadapan orang tua itu, yang mengawasinya dengan pandangan mata yang sangat tajam, segera juga Yo Him berkata dengan suara yang tawar.

"Locianpwe, aku telah memohon dengan cara yang baik agar kau orang tua mengobati dan menolongi kawanku itu, tetapi kau tetap mengada-ada dengan syarat yang tidak karuan! Sekarang begini saja, mari kita main-main, aku jadi ingin mengetahui, sesungguhnya berapa tinggikah kepandaianmu itu?"

Mendengar perkataan Yo Him, muka orang tua tersebut berobah, kemudian dia tertawa bergelak-gelak.

"Jadi engkau menantangku?!"

Tanyanya.

"Ya!"

Mengangguk Yo Him.

"Tetapi kita bertaruh!"

"Bertaruh?"

"Ya, jika dalam sepuluh jurus aku bisa merubuhkan engkau, maka engkau harus mengobati kawanku itu sampai sembuh! Tetapi jika aku tidak berhasil merubuhkan engkau dalam sepuluh jurus, biarlah kami berangkat meninggalkan tempat ini dan meminta maaf padamu." Orang itu tertegun sejenak, namun akhirnya ia menganggukkan kepala.

"Baik! Baik!"

Katanya, rupanya dia tertarik juga mendengar tantangan Yo Him.

"Jika engkau hendak bertaruh seperti itu, aku melayaninya!"

Tantangannya diterima, Yo Him girang.

Dia yakin, dalam sepuluh jurus tentu dia bisa merubuhkan orang tua itu.

Dan diapun yakin jika telah dapat merubuhkannya, orang tua itu tentu tidak akan banyak rewel lagi.

Segera Yo Him bertanya.

"Apakah kita sudah boleh mulai?"

Orang tua itu mengangguk lagi.

"Ya.....!"

Katanya.

"Jika memang demikian kehendakmu, mari sekarang kita mulai."

Dan orang tua itu tetap duduk di tempatnya, sama sekali tidak bergerak.

Sedangkan Yo Him menanti lagi sejenak lamanya, setelah melihat orang tua itu tetap tidak bergerak dari tempat duduknya, dia jadi tidak sabar.

"Mengapa kau belum bersiap-siap?"

Tanyanya. Orang tua itu berkata dengan suara yang tawar.

"Aku sudah bersiap, silahkan engkau membuka serangan!"

Yo Him mendongkol juga, dengan tetap duduk di tempatnya, orang tua itu seperti juga sengaja meremehkan Yo Him.

Karena itu, Yo Him tidak membuang-buang waktu pula segera bersiap untuk membuka serangan.

Orang tua itu pun telah bersiap-siap, karena sepasang tangannya sudah tidak terjuntai lagi ke bawah, dia telah mengingkat ke dua tangannya itu, dengan sikap seperti menantikan pukulan pertama dari Yo Him.

Yo Him juga berpikir, ia harus mempergunakan taktik secepat mungkin, di mana dia tidak boleh menyerang tanggung-tanggung.

Jika memang dia menyerang tanggung-tanggung, tentu akan membuat orang tua itu dapat menghindar selama beberapa jurus, maka kesempatan untuk meraih kemenangan akan sedikit sekali.

Begitu orang tua itu mempersilahkan dia memulai dengan serangannya, tanpa membuang waktu lagi, segera juga Yo Him menggerakkan tangan kanannya.

Dia mengambil sikap seperti seekor garuda yang hendak menerkam, gerakannya sangat gesit sekali, dan kaki kanannya telah menyepak dengan kuat, disusul dengan tangan kanannya yang telah terpisah beberapa dim dari pundak orang tua itu.

Namun orang tua tersebut tidak merobah kedudukan dirinya, dia tetap duduk di tempatnya tanpa bergerak, hanya sepasang matanya saja yang terpentang lebar-lebar mengawasi datangnya tangan Yo Him yang menyambar dan kakinya yang menendang ke dadanya dengan kuat sekali.

Orang tua itu rupanya memang telah bersiap-siap, dalam waktu yang sekejap mata dan kecepatan yang sulit diikuti oleh pandangan mata, tahu-tahu tangan kanannya meluncur ke selangkangan Yo Him.

Itulah cara penyerangan yang benar-benar membuat Yo Him kaget.

Dia tidak menyangka bahwa orang tua itu dapat menyerangnya dengan cara seperti itu.

Jika sampai selangkangannya itu terserang, jangan kata terserang telak, jika terpegang saja, tentu akan membuat Yo Him hilang kesadaran dirinya akibat kesakitan yang hebat.

Karenanya Yo Him telah menarik pulang tangan dan kakinya, membatalkan serangannya, tubuhnya melompat ke belakang.

"Sudah jurus pertama!"

Berseru orang tua itu dengan suara yang nyaring.

"Ya, jurus pertama.....!"

Menyahuti Yo Him, tetapi dia bukan hanya menyahuti saja, juga telah membarengi dengan ke dua tangan disampokkan kepada orang tua itu, dari ke dua telapak tangannya meluncur kekuatan yang sangat dahsyat.

Orang tua itu mengetahui, bahwa dia dalam keadaan duduk, dengan begitu, tidak mungkin dia dapat menghadapi dan menerima serangan tersebut dengan kekerasan, karena tubuhnya tentu tidak mungkin dapat bertahan dengan baik.

Begitu angin pukulan ke dua telapak tangan dari Yo Him telah menyambar dekat padanya, tahu-tahu tubuh orang tua itu kejengkang ke belakang, rebah rata dengan tanah, dia mengambil sikap tetap dengan sepasang kaki tertekuk bersemedhi.

Karuan saja, hal itu membuat Yo Him kehilangan sasarannya, dan angin pukulannya hanya menyampok ke dinding goa itu.

Seketika dinding itu gempur dan rontok, meluruk jatuh di dekat orang tua itu.

Namun cepat sekali orang tua itu telah dapat bangun duduk pula dan tangan kanannya telah meluncur lagi.

Yo Him waktu itu tengah menarik pulang kekuatan tenaga dalamnya dan akan menyerang pula dengan jurus ketiga.

Tetapi tenaga serangan dari orang tua itu menyambar datang, maka dia batal menarik pulang tenaganya dan telah menangkisnya.

"Bukkk!"

Benturan tenaga mereka berdua benar-benar kuat sekali, Yo Him merasakan napasnya menyesak.

Begitulah sampai jurus keenam Yo Him telah menyerang, namun orang tua tersebut dapat menghadapinya dengan baik, sehingga Yo Him jadi bingung dibuatnya.

Sedangkan mereka telah bertaruh, dalam sepuluh jurus Yo Him harus merubuhkan orang tua itu.

Jika dia tidak dapat merubuhkan orang tua tersebut, berarti dia yang dihitung sebagai pecundang dan harus meninggalkan tempat ini.

Kini hanya tinggal empat jurus.

Karena berpikir begitu, di mana waktu telah terlalu mendesak sekali, Yo Him tidak mau membuang buang waktu lagi.

"Aku harus mempergunakan ilmu pukulan yang terhebat....."

Dan sambil berpikir begitu, Yo Him telah mengempos lweekangnya, dia telah mengerahkan sebagian besar dari tenaga dalamnya, dan akan mempergunakan salah satu jurus dari ilmu pukulan yang akan dapat menghancurkan bungkahan batu, warisan dari ayahnya, yaitu jurus andalan yang diwarisi oleh Yo Ko padanya berupa jurus-jurus yang diolah dari sari Kiu-im-cin-keng dan Kiuyang-cin-keng.

Dan memang Yo Him jarang sekali mau mempergunakan kepandaian andalannya itu, jika saja ia tidak dalam keadaan terpaksa sekali.

Sekarang karena hanya tinggal empat jurus, dan jika ia gagal merubuhkan orang itu niscaya akan membuat ia gagal memaksa orang tua tersebut menolongi Hok An yang keadaannya sangat parah itu, maka Yo Him terpaksa mengandalkan ilmu andalannya itu.

Yang pertama-tama dipergunakannya adalah jurus Kesedihan Yang Memuncak di mana dia telah menghantam kepada orang tua itu.

Tubuh Yo Him mengambil sikap seperti seekor biruang, yang bergerak sangat lincah sekali, dia bergoyang-goyang seakan ingin menari.

Hal ini membuat orang tua itu bingung tidak bisa menerkanya dengan segera, ke arah mana sasaran yang diincar oleh Yo Him.

Dan tahu-tahu oranq tua itu merasakan dirinya diterjang oleh satu kekuatan yang luar biasa dahsyatnya, membuat napasnya menyesak, cepat-cepat dia mengempos semangat nya, lalu menangkisnya.

Jalan untuk berkelit memang sudah tidak ada.

Dengan begitu terpaksa dia mempergunakan kekerasan buat menangkisnya, tenaganya itu saling membentur.

"Gelegar.....!"

Suara yang sangat keras bergema di dalam goa itu.

Kesudahannya?

Sangat luar biasa!

Tubuh orang tua itu, dalam posisi tetap duduk seperti bersemedhi, telah meluncur ke belakang, dan punggungnya menghantam dinding goa tersebut.

Malah seketika tubuhnya itu melesak ke dalam dinding, dia seperti juga duduk di atas dinding itu, di dalam legokan dari dinding goa itu!

Batu dari dinding goa yang terhantam oleh punggung orang tua itu telah meluruk hancuran batu, menimbulkan lobang yang cukup dalam, beberapa dim.

Sedangkan Yo Him juga menghela napas dia kuatir kalau-kalau nanti orang tua itu mengalami sesuatu yang tidak diinginkan.

Tetapi ternyata tidak, orang tua tersebut segera melompat turun dalam sikap tetap seperti bersemedhi.

Di waktu itu Yo Him merasa kagum juga.

Selain orang tua itu sama sekali tidak terluka juga tampaknya dia tidak mengalami sesuatu yang merugikan dirinya.

Karenanya, Yo Him menyadari orang tua itu memiliki lweekang yang cukup tangguh.

Dan dia tadi menyerang begitu hebat, membuat punggung orang tua itu menghantam dinding goa tersebut, namun dia tidak mengalami cidera apa-apapun juga.

Malah dinding itu sampai berlobang mencetak bentuk tubuh di bagian punggung dari orang tua tersebut.

Orang tua itu juga telah menghela napas dalam-dalam, dia berkata dengan suara yang tawar.

"Hemm, ternyata engkau murid Sintiauw-tay-hiap Yo Ko.....!"

Yo Him tersenyum.

"Bukan.....!"

Sahut Yo Him. "Bukan?!"

Memotong orang tua itu tanpa menantikan sampai Yo Him menyelesaikan perkataannya itu.

"Kau hendak mendustai aku? Sudah jelas bahwa jurus pukulan yang engkau pergunakan itu adalah ilmu andalan dari Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko..... engkau tidak bisa mendustai aku.....!"

Yo Him tersenyum, dia merangkapkan ke dua tangannya memberi hormat kepada orang tua itu katanya.

"Bukan...... memang sesungguhnya Boanpwe bukan murid Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko, namun Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko adalah ayah Boanpwe.....!"

"Kau..... kau putera Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko?!"

Tanyanya sambil memandang heran. Yo Him menganggukkan kepala, cepat-cepat dia merangkapkan sepasang tangannya.

"Benar!"

"Hemmmmm, apakah kau tidak berdusta?"

Tanya orang tua itu.

"Mengapa Boanpwe harus membohongi Locianpwe?"

Sahut Yo Him.

"Tetapi.....!"

Berkata sampai di situ, orang tua tersebut berdiam diri sejenak, namun kemudian dia telah menganggguk-angguk, "Boleh jadi!

Mungkin juga benar bahwa engkau putera Sin-tiauwtay-hiap Yo Ko, kepandaianmu memang cukup tinggi, dan semuanya merupakan kepandaian dari Sin-tiauw-tay-hiap Yo Ko.....!"

Gembira Yo Him melihat perobahan sikap dari orang tua itu.

Dia mau menduga tentu orang tua itu sebagai seorang yang pernah memiliki hubungan baik dengan ayahnya.

Tentu orang tua itu akan merobah keputusannya dan bersedia untuk menolongi Hok An.

"Locianpwe.....!"

Kata Yo Him sambil merangkapkan ke dua tangannya.

"Siapakah Locianpwe sesungguhnya? Bolehkah Boanpwe mengetahui nama gelaran Locianpwe?"

Orang tua itu tidak segera menyahuti, dia mengamat-amati Yo Him sampai akhirnya dia bilang.

"Jika memang tidak salah, Sin-tiauwtay-hiap telah bertemu kembali dengan Siauw Liong Lie bukan?"

Yo Him telah mengangguk.

"Ya, kini ayah telah berkumpul dengan ibu.....!"

Katanya.

"Hemmm, sungguh beruntung! Sungguh beruntung! Dulu aku mengetahui benar akan penderitaan dari Sin-tiauw-tay-hiap waktu berpisah dengan ibumu itu.....!" Setelah berkata begitu, orang tua itu duduk termenung berdiam diri, dia seperti juga tengah membayangkan sesuatu peristiwa yang telah lalu itu. Yo Him melihat sikap orang tua itu, dia berdiam diri juga, karena dia tidak mau mengganggu ketenangan orang tua tersebut. Setelah dilihatnya orang tua itu menghela napas berulang kali, barulah dia berkata.

"Locianpwe, tentunya kau orang tua adalah sahabat dari ayahku itu bukan..... dan bolehkah aku mengetahui nama dan gelaranmu yang mulia? Banyak yang telah diceritakan ayah mengenai kawankawannya, hanya sayang, Boanpwe tidak mengetahui siapakah Locianpwe sebenarnya.....?"

Orang tua itu menghela napas satu kali lagi, baru kemudian dia bilang.

"Dalam urusan seperti ini memang aku seharusnya menyatakan perasaan syukur, telah dipertemukan dengan putera dari seorang yang sangat kukagumi tetapi justeru pertemuan ini memojokkan aku agar dapat melakukan sesuatu buat putera dari sahabatku itu.....!" Dan orang tua itu setelah menggumam menghela napas lagi, baru melanjutkan perkataannya.

"Kau ingin mengetahui siapa aku? Aku she Bun dan bernama Kie Lin!"

"Bun Kie Lin.....?!"

Tanya Yo Him. Dia heran, karena belum pernah mendengar dari ayahnya nama seperti itu.

"Ya!"

Mengangguk orang tua itu.

"Ohhh, sudah cukup banyak yang Boanpwe dengar dari ayah mengenai kebesaran nama Bun Locianpwe..... juga telah banyak pula yang Boanpwe dengar mengenai kehebatan Locianpwe!"

Memuji Yo Him.

"Kentutmu!"

Tiba-tiba orang tua itu menbentak dengan suara yang nyaring. Yo Him kaget dan heran, ia tertegun.

"Locianpwe…..?!"

Dia tidak bisa meneruskan perkataannya hanya memandangi orang tua itu. Orang tua she Bun tersebut menghela napas lagi.

"Hemmm, engkau mengatakan telah banyak mendengar perihal diriku dari ayahmu, telah mendengar juga perihal sepak terjangku dari ayahmu! Kau berbohong! Engkau seorang pendusta besar!" Muka Yo Him berobah merah. Memang walaupun dia tidak pernah mendengar perihal Bun Kie Lin, namun ia sengaja memuji untuk sekedar basa-basi. Tetapi siapa sangka orang tua itu benar-benar memiliki adat yang ku-koay dan malah tidak lama kemudian dia telah bertanya lagi.

"Bagaimana dengan sisa tiga jurus, apakah kita teruskan.....!"

"Tunggu dulu, Locianpwe.....!"

Kata Yo Him, tergesa-gesa.

Yo Him mana mau merusak suasana yang telah mulai membaik ini.

Tampaknya orang tua yang mengaku sebagai Bun Kie Lin sangat menghormati ayahnya, karena itu, jika mereka melanjutkan pula pertandingan sebanyak tiga jurus, itu bisa merobah keadaan mereka yang mulai membaik.

Justeru Yo Him hendak memanfaatkan kesempatan ini buat mendekati orang tua she Bun itu, membujuknya agar dia mau menyudahi pertaruhan mereka dan mengobati Hok An.

Waktu itu Yo Him telah bilang lagi.

"Locianpwe, sesungguhnya memang Boanpwe hanya mendengar sekali-sekali saja mengenai nama locianpwe..... akan tetapi tadi Boanpwe telah melihat dan menyaksikan sendiri, betapapun juga Locianpwe merupakan seorang tua yang memiliki kepandaian yang sangat hebat sekali! Secara pribadi Boanpwe sangat tunduk dan juga kagum sekali!"

Mendengar pujian Yo Him itu, Bun Kie Lin tertawa dingin.

"Kembali engkau menyebar kentut busukmu!"

Katanya kemudian dengan suara yang tawar.

"Sudah jelas tadi aku yang didesak olehmu, kau telah berhasil membuat aku terpental untung saja tidak sampai aku terluka di dalam atau cedera. Dan sekarang engkau malah bermaksud hendak mengejekku, dengan memuji kosong seperti itu..... hemmm, hemmm, hemmm, sesungguhnya kau seorang pemuda yang pandai sekali berdusta....."

"Locianpwe jangan salah paham. Jika tadi Locianpwe berdiri dengan ke dua kaki berpijak pada tanah, tentu Locianpwe akan dapat menahan dan menerima serangan Boanpwe sebaikbaiknya. Tetapi tadi justeru Locianpwe dalam keadaan duduk, sehingga lweekang Locianpwe tidak tersalurkan, dan tubuh Locianpwe telah terpental."

Tetapi yang benar-benar luar biasa dan membuat Boanpwe kagum sekali, justeru tampaknya Locianpwe telah berhasil melindungi tubuh Locianpwe dengan lweekang yang tinggi sekali.

Bukankah, biarpun telah menghantam dinding goa itu dengan punggung Locianpwe, namun tubuh Locianpwe tidak mengalami cidera apapun juga.

"Malah dinding goa itu telah meluruk jatuh dan timbul sebuah lobang yang mencetak bentuk tubuh bagian punggung Locianpwe? Bukan itu menunjukkan bahwa kekuatan lwekang seperti itu jarang sekali dimiliki orang biasa?"

Mendengar pujian dari Yo Him, malah dilihatnya pemuda itu sambil memperlihatkan sikap sungguh-sungguh, girang juga hati orang tua itu, dan rupanya iapun juga terhibur juga.

"Baiklah, engkau telah berusaha memujiku. Akupun tidak akan memaksa engkau untuk bertanding terus! Tetapi terus terang saja, ayahmu tidak mungkin kenal denganku. Karena waktu dulu, aku memang sering kali bertemu dengan ayahmu, hanya aku sebagai anak buah dari Tiat To Hoat-ong belaka, karena itu, aku tidak dapat menonjolkan diri. Sekali saja Sin-tiauw-tay-hiap menghantamku, tentu aku akan terbinasa.....!"

Mendengar sampai di situ, maka Yo Him segera mengerti.

Tentunya Bun Kie Lin ini seorang bangsa Tiong-goan yang menghambakan diri pada pihak Mongolia, dan kemudian bekerja di bawah perintah Tiat To Hoat-ong, hanya saja sebagai orang bawahan Tiat To Hoat-ong, tentunya Bun Kie Lin memang memiliki kepandaian yang cukup tinggi.

"Lalu mengapa Locianpwe tidak meneruskan untuk ikut pemerintah Boan itu.....?"

Tanya Yo Him ingin mengetahuinya. Muka Bun Kie Lin berobah merah, kemudian dengan sikap yang sengit katanya.

"Apakah engkau kira aku bekerja pada orangorang Mongolia buat mengharapkan pangkat? Tidak! Justeru aku hanya ingin meminjam tenaga Tiat To Hoat-ong buat menyelesaikan urusanku! "

Aku mempunyai seorang musuh yang tangguh dan karena itu, aku tidak bisa melayaninya sendiri.

Aku segera menghamba pada Tiat To Hoat-ong, dengan harapan musuhku itu tidak bisa berbuat banyak padaku.

Memang aku berhasil, Tiat To Hoat-ong berhasil kubujuk dan mau menolongi aku, dia membinasakan musuhku itu.....!"

"Ohhh.....!"

Yo Him hanya mengeluarkan perkataan itu saja, dia mendengarkan terus cerita, orang tua itu.

"Setelah musuhku itu terbunuh,"

Melanjutkan orang tua tersebut setelah menelan air liurnya dua kali.

"Maka akupun segera meminta berhenti. Namun Tiat To Hoat-ong tidak mengijinkan, malah dia jadi mencurigai aku hendak berkhianat kepada pemerintah Boan-ciu dan juga ingin kembali berpihak kepada para pahlawan-pahlawan dari daratan Tiong-goan, karenanya aku diawasi ketat.

"Namun aku menyatakan sungguh-sungguh padanya, bahwa aku ini hanya ingin mengasingkan diri dan hidup menyendiri. Tokh tetap saja Tiat To Hoat-ong tidak mengijinkan, sampai akhirnya ia terbinasa di tangan Sin-tiauw-tay-hiap dan kawan-kawannya. Waktu itulah aku telah menyingkirkan diri dan hidup menyendiri di sini....."

Waktu mendengar cerita Bun Kie Lin sampai di situ, Yo Him memotong, tanyanya.

"Lalu..... maafkanlah Locianpwe, dari manakah kepandaian ilmu pengobatan yang dimiliki Locianpwe yang kabarnya sangat hebat itu, sehingga Boanpwe telah menggantungkan harapan bahwa Locianpwe akan dapat menolongi kawanku itu?!"

Mendengar partanyaan Yo Him, Bun Kie Lie tersenyum tawar, katanya.

"Memang bicara soal ilmu silat, aku tidak seujung kukunya Sin-tiauw-tay-hiap ataupun Tiat To Hoat-ong. Justeru mengenai ilmu pengobatan, hemmmm, hemmmm, aku boleh dibandingkan dengan siapa saja, tentu aku tidak akan berada di sebelah bawah! "

Engkau tentu belum mengetahui bahwa Tiat To Hoat-ong seorang yang sangat teliti sekali. Orang-orang yang dapat dipercayanya benar, baru bisa bekerja sebagai orang yang selalu herada di dekatnya.

"Justeru Tiat To Hoat-ong mengetahui bahwa aku memiliki keahlian yang luar biasa dalam ilmu pengobatan. Karena itu walaupun dia akhir-akhirnya mencurigai aku ingin memihak kepada para pahlawan Tiong-goan, tokh dia hanya perintahkan anak buahnya agar tetap mengawasi aku saja, namun tidak membunuhnya! Coba, jika dia tidak mengharapkan bahwa aku dapat memberikan obat-obat mujarab kepadanya, seperti waktuwaktu sebelumnya, tentu siang-siang aku sudah dikirimnya ke neraka!"

Mendengar keterangan orang tua she Bun tersebut, barulah Yo Him teringat akan perkataan dari Bun Kie Lin, bahwa ia memang waktu meminta berhenti hendak mengundurkan diri, Tiat To Hoatong mencurigainya.

Dengan begitu, kini Yo Him baru yakin bahwa ia sebenarnya memiliki ilmu pengobatan yang tinggi, sehingga Tiat To Hoat-ong sendiri mengharapkan berbagai macam obat dari dia.

Dengan demikian, tentunya semua obat-obat mujarab yang dimiliki Tiat To Hoat-ong semasa hidupnya, dan juga tokoh-tokoh persilatan yang bekerja di bawah Tiat To Hoat-ong, memperoleh obat-obat itu dari Bun Kie Lin.

Diam-diam Yo Him girang.

"Jika demikian, kawanku itu pasti akan tertolong!"

Kata Yo Him dalam kegembiraannya itu. Bun Kie Lin mencilak matanya.

"Siapa yang mengatakan bahwa aku bersedia mengobati kawanmu itu?!"

Tanyanya.

Pertanyaan Bun Kie Lin membuat semangat Yo Him seperti terbang sebagian meninggalkan raganya, dia tertegun memandang Bun Kie Lin.

Apa yang dikatakan Bun Kie Lin memang benar.

Ia belum pernah menyanggupi buat mengobati Hok An.

Cepat-cepat Yo Him merangkapkan sepasang tangannya memberi hormat, sambil katanya.

"Locianpwe, memandang muka terang ayahku, maka aku memohon agar Locianpwe mau mengobati luka kawanku itu.....!" Bun Kie Lin menggeleng.

"Sayang, aku tidak dapat memenuhi permintaanmu itu!"

Katanya.

"Apa.....?"

Tanya Yo Him terkejut.

"Ya, sayang sekali, aku tidak bisa memenuhi permintaanmu. Benar, aku merasa kagum pada ayahmu yang kepandaiannya tinggi, tetapi aku dengannya tidak ada hubungan apa-apa, maka jangan harap engkau bisa menjual nama ayahmu itu buat meminta pertolonganku.....!"

Kata Bun Kie Lin. Mendongkol juga hati Yo Him mendengar perkataan Bun Kie Lin seperti itu.

"Ilmu pengobatan adalah semacam ilmu yang perlu diamalkan, buat menolongi orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Jika memang Locianpwe tidak bersedia menolongi kawanku itu, apa gunanya ilmu pengobatan Locianpwe?"

"Hemmm!"

Mendengus Bun Kie Lin dengan sikap angkuhnya lagi, bola matanya mencilak ke sana ke mari.

"Jika memang kau berkata begitu, maka sama saja seperti juga engkau hendak mengatur diriku.....! Untuk apa ilmu pengobatan yang kumiliki itu? Sudah tentu akan ditentukan olehku sendiri!" Melihat adat dari orang tua she Bun yang begitu ku-koay, benarbenar membuat Yo Him tambah mendongkol, dia telah bilang.

"Jika memang begitu, baiklah! Kita lanjutkan lagi sisa yang tiga jurus itu. Jika memang sisa tiga jurus ini aku bisa merubuhkan dirimu, berarti engkau tokh masih tetap terikat oleh pertaruhan kita itu!"

Bun Kie Lin tersenyum tawar.

"Jangan harap engkau bisa merubuhkan diriku, percuma saja. Jika memang aku masih bisa bertahan, aku tentu akan bertahan, tetapi jika tidak, hemmm, berarti aku terbinasa di tanganmu dan engkau juga tetap saja tidak bisa meminta pertolongan yang kau harapkan. Berarti kawanmu itu tetap saja tidak akan terobati dan sembuh.....!"

Benar-benar ku-koay sekali adat Bun Kie Lin.

Dan memang apa yang dikuatirkan Yo Him, tampaknya akan terjadi, bahwa orang tua she Bun itu akan nekad.

Cepat-cepat Yo Him merobah sikap, dia menindih perasaan gusarnya, katanya.

"Baiklah jika demikian, sekarang kita lihat saja, apakah engkau masih akan menepati janjimu jika telah kurubuhkan.....?"

Sambil berkata begitu, cepat tangan Yo Him menyambar ke arah pundak Bun Kie Lin.

Kali ini Bun Kie Lin tidak mengelak atau menangkis, dia tetap duduk bersemedhi.

Dengan begitu membuat Yo Him membatalkan cengkeramannya, menarik pulang tangannya.

Kemudian diapun telah berkata dengan suara yang tawar.

"Nah, jika memang engkau tidak mau meneruskan pertaruhan ini, kau tolonglah sahabatku!"

"Baik-baik! Aku akan menolongi sahabatmu, tetapi bagaimana dengan ke dua syaratku itu?"

Tanya Bun Kie Lin, dan juga ia telah mengawasi Yo Him dengan sorol mata yang tajam, seakan menantikan jawaban si pemuda itu.

Yo Him benar-benar mati daya buat meminta pertolongan orang she Bun ini.

Dikerasi salah, dilunaki juga salah, karena itu membuat Yo Him benar-benar jadi sangat kewalahan.

Dia telah melangkah mendekati Bun Kie Lin.

kemudian katanya.

"Benar-benar engkau tidak mau menolongi kawanku itu?"

Bun Kie Lin menggeleng.

"Tidak.....!"

Sahutnya.

"Biarpun bagaimana tidak dapat aku menolongi kawanmu itu sebelum engkau memenuhi ke dua syaratku itu.!" Baru saja Yo Him yang sudah habis sabar hendak menerjang kepada orang she Bun tersebut justeru terdengar panggilan Sasana.

"Yo Him.....!"

Waktu Yo Him menoleh, dilihatnya Sasana dan Giok Hoa telah berada di dalam goa itu terpisah tidak jauh dari tempatnya berada. Segera juga Yo Him menghampiri mereka.

"Bagaimana? Apakah kau berhasil untuk membujuk orang itu menolongi paman Hok?!"

Tanya Sasana dengan sikap gelisah.

"Kita tidak boleh terlalu lama membuang-buang waktu, karena keadaan Hok Lopeh mulai parah tampaknya dia semakin tidak tahan. Yo Him melihat Giok Hoa pun menangis menitikkan air mata yang cukup banyak, sehingga berulang kali dia harus menyusutnya. Melihat keadaan seperti ini membuat Yo Him jadi habis sabar.

"Biarlah aku akan memaksanya dengan kekerasan, tampaknya orang ini memang tidak bisa diajak bicara baik-baik!"

Dan setelah berkata begitu Yo Him memutar tubuhnya, kembali untuk menghadapi Bun Kie Lin. Waktu itu bola mata Bun Kie Lin mencilak-cilak mengawasi Yo Him, kemudian beralih kepada Sasana dan Giok Hoa.

"Siapa mereka?!"

Tanya Bun Kie Lin sebelum Yo Him membuka suara.

"Dia adalah isteriku, dan gadis kecil itu adalah murid dari orang yang tengah terluka itu!"

Menjelaskan Yo Him.

"Hemmm, jadi kau ingin meminta mereka untuk merengek-rengek padaku, agar aku mau mengobati luka kawanmu itu?!"

Suara Bun Kie Lin tampak mengejek sekali. Yo Him menggeleng.

"Tidak!!"

Sahutnya dengan tegas.

"Tidak?!"

Tanya Bun Kie Lin mementang matanya lebar-lebar.

"Kau tidak mengharapkan pertolonganku lagi buat mengobati luka pada kawanmu itu!"

Yo Him mengangguk segera, dengan sikap memperlihatkan kemendongkolan Yo Him telah bilang.

"Benar aku sudah tidak mengharapkan pertolonganmu. Aku telah memutuskan, biarlah kawanku itu mati karena luka-lukanya yang parah itu! Tetapi kini aku justeru akan membuat engkau bercacad....."

Setelah berkata begitu, Yo Him melangkah mendekati Bun Kie Lin.

"Tunggu dulu!"

Cegah Bun Kie Lin sambil mengangkat tangan kanannya.

"Aku mau bicara dulu denganmu!"

Yo Him jadi menahan langkah kakinya, sampai akhirnya dia telah bertanya tidak sabar.

"Apa yang kau bicarakan lagi? Bukankah engkau telah menolak permintaanku itu? Apa pula yang ingin engkau katakan kepadaku?"

Orang tua she Bun itu telah mengawasi Yo Him dengan sorot mata yang tajam sekali, katanya kemudian.

"Jika memang engkau mau bicara lebih jujur, aku baru akan menyampaikan perkataanku itu!"

"Sejak tadi aku bersikap jujur padamu mengapa engkau yang telah berusaha untuk mempermainkan aku?"

Tanya Yo Him kemudian.

"Jika sekarang engkau mau bicara, bicara, jika tidak, ya sudah..... mengapa pula masih harus banyak bicara seperti itu! Yang terpenting sekarang aku harus membuat engkau bercacad."

Yo Him selesai berkata bersiap-siap akan memulai dengan jurus penyerangannya yang pertama. Akan tetapi kembali Bun Kie Lin telah menggoyang-goyangkan tangan kanannya, katanya.

"Jangan, kita tidak bertindak sekarang, karena jika memang engkau ingin membuatku bercacad, itulah suatu pemikiran yang tidak ada gunanya, kau percaya tidak?"

Yo Him mengawasi orang she Bun tersebut, lalu tanyanya.

"Kenapa?"

"Karena jika engkau membuatku bercacad engkau akan mengorbankan temanmu, yang tidak mungkin diobati olehku!"

"Biarlah, aku sudah tidak mengharapkan pertolonganmu lagi?"

Kata Yo Him sudah habis sabar.

"Benar-benar engkau sudah tidak mengharapkan pertolonganku?"

Tanya Bun Kie Lin. Yo Him mengangguk.

"Benar, tidak ada gunanya banyak bicara dengan manusia seperti kau!"

Kata Yo Him.

"Tunggu dulu..... aku justeru sebaliknya ingin menolong kawanmu itu, aku malah ingin mengobati luka-luka pada kawanmu itu....."

Kata Bun Kie Lin kemudian. "Apa?"

Yo Him jadi kaget sekali, dia juga memandang tertegun.

"Kau mau jika kawanmu itu kuobati?"

Tanya Bun Kie Lin sambil mengawasi Yo Him dengan melontarkan senyuman yang tawar. Yo Him jadi girang, wajahnya jadi berseri-seri dan kemudian dia telah mengangguk dan katanya.

"Tentu! Tentu saja aku memang mengharapkan bahwa kau dapat menolong kawanku ini!"

"Jadi kau mengharapkan pertolonganku itu?"

Tanya Bun Kie Lin.

"Benar!"

Sahut Yo Him sambil mengangguk.

"Oh, maaf, aku justeru sekarang berpikir mengobati kawanmu itu tidak ada gunanya, aku tidak bersedia untuk mengobati kawanmu itu, aku membatalkannya....."

Meluap kemarahan Yo Him, yang merasakan dadanya seakan juga ingin meledak, karena merasa dirinya dipermainkan.

"Manusia tidak tahu diuntung dan tidak dapat dihormati!"

Seru Yo Him yang sudah tidak sabar lagi, segera maju sambil menghantam dengan tangan kanannya.

Dalam keadaan gusar, tentu saja hantaman tangan Yo Him bukan merupakan pukulan yang bisa dipandang remeh.

Itulah serangan yang mengandung tenaga lwekang sangat dahsyat.

Bun Kie Lin rupanya menyadari juga bahwa ia tengah terancam oleh pukulan yang hebat tersebut.

Dia mempergunakan jari telunjuk tangannya menotol tanah, seketika tubuhnya melambung pindah tempat ke samping.

Angin pukulan telapak tangan Yo Him menghantam tempat yang tadi diduduki oleh Bun Kie Lin.

Segera terdengar suara menggelegar dan juga tanah telah berhamburan muncrat ke manamana, karena dahsyatnya tenaga pukulan itu, malah tempat di mana tadi Bun Kie Lin duduk telah tercipta sebuah lobang yang cukup besar.

Bukan main terkejutnya Bun Kie Lin, karena dilihatnya bahwa tempat di mana tadi dia duduk, telah berlobang besar seperti itu.

Tetapi dia malah tertawa untuk tenangkan hatinya.

"Apakah engkau benar-benar tidak menginginkan lagi aku menolongi kawanmu itu?"

Tanyanya dengan suara yang agak nyaring.

"Tidak!

Biarlah kawanku itu tidak tertolong, tetapi engkau harus kubuat bercacad juga.

Karena biarpun engkau memiliki ilmu pengobatan yang tinggi, aku justeru hendak melihat apa yang bisa kau lakukan buat mengobati dirimu sendiri!"

Sambil berkata begitu Yo Him telah melompat ke dekat orang tua she Bun itu. Bun Kie Lin menegasi.

"Benar-benar engkau tidak ingin menolong kawanmu itu?"

"Tidak!"

Dan Yo Him hendak menggerakkan pula tangan kanannya.

"Jika engkau sudah tidak mengharapkan, malah aku ingin menolongi kawanmu itu,"

Kata Bun Kie Lin dengan suara yang nyaring.

"Tidak! Aku sudah tidak akan mengijinkan engkau mengobati luka kawanku itu!"

Teriak Yo Him "Aku justeru hendak mengobati!"

Teriak Bun Kie Lin.

"Aku tentu akan mengobatinya!"

"Tidak boleh!"

Teriak Yo Him. "Ohhh, kau tidak mungkin dapat mencegahku, karena aku akan mengobati kawanmu itu....."

Teriak orang tua she Bun itu, benar benar dia telah melompat dengan tubuh yang ringan dalam keadaan duduk bersemedhi itu.

Yo Him yang cukup cerdas telah dapat melihat bahwa Bun Kie Lin seorang yang ku-koay.

Semakin orang memohon dan memintanya, walaupun ia dipukul sampai mati, ia tidak akan mengabulkan atau meluluskan permintaan itu.

Tetapi jika ia ditolak maksudnya melakukan sesuatu, semakin kuat dan keras juga keinginannya itu, buat dapat melaksanakan apa yang diinginkannya itu.

Karenanya, waktu Bun Kie Lin bertanya apakah Yo Him sudah tidak mengharapkan lagi pertolongannya agar mengobati luka kawannya itu, Yo Him segera mencegahnya, dan memang dilihatnya Bun Kie Lin jadi memaksa hendak menolongi Hok An.

Maka, melihat Bun Kie Lin melompat ingin menolongi Hok An, Yo Him justeru sengaja telah melompat menghadang di depannya, dia mencegahnya.

"Tidak! Tidak! Kau tidak boleh mengobati luka kawanku itu. Aku sudah tidak mengharapkan lagi bantuanmu.....!"

Sambil berkata begitu, Yo Him memperlihatkan sikap seperti hendak merintangi orang she Bun itu keluar dari goa tersebut.

Sasana yang menyaksikan keadaan seperti ini telah tersenyum, karena ia pun telah dapat melihat watak yang aneh dari orang she Bun tersebut dan Sasana mengetahui bahwa Yo Him tengah melaksanakan tipu muslihatnya memanfaatkan kelemahan dan keanehan watak dari orang she Bun tersebut buat mencapai maksudnya, agar Bun Kie Lin mau menolongi Hok An.

Akan tetapi berbeda dengan Sasana, Giok Hoa jadi memandang bengong.

Dia benar-benar tidak mengerti mengapa Yo Him merintangi dan mencegah Bun Kie Lin untuk mengobati Hok An, sedangkan Bun Kie Lin tampaknya ingin sekali mengobati Hok An.

Diam-diam gadis ini gelisah bukan main, dia jadi menangis terisakisak.

Sasana mengetahui kesusahan hati gadis cilik itu, dia membelai rambutnya, katanya.

"Jangan menangis, jangan menangis!"

Katanya menghibur.

"Yo Koko sedang berusaha memancing orang itu agar mau mengobati paman Hok mu itu..... Kau tenang-tenang saja!" "Tetapi..... orang itu telah bersedia untuk mengobati paman Hok, lalu mengapa Yo Koko, itu menghalanginya dan menolak keinginannya?"

Sasana tersenyum, dia mendekati mulutnya ke telinga si gadis cilik, membisikkan sesuatu.

Barulah Giok Hoa mengerti, dia mengangguk-angguk dan menghapus air matanya, hanya mengawasi lagi orang she Bun yang tengah berusaha untuk menerobos rintangan Yo Him, agar dapat keluar guna mengobati Hok An.

Akan tetapi Yo Him tetap merintanginya, tidak mengijinkan Bun Kie Lin keluar.

"Aku harus mengobati kawanmu itu.....!"

Teriak Bun Kie Lin mulai gusar.

"Tidak! Aku tidak mengijinkan, biarlah kawanku itu mati, dan sebagai balasannya engkau akan kubuat bercacad....."

Teriak Yo Him.

"Hemmm, jika memang engkau ingin mengobati kawanku itu, aku tidak bisa mempercayai engkau lagi, karena kemungkinan bukan mengobati engkau akan mencelakainya, akupun meragukan akan kehebatan ilmu pengobatanmu itu..... Aku tidak mengijinkan engkau mengobati kawanku, jangan coba-coba kau dekati kawanku itu....." Dan Yo Him tetap memperlihatkan sikap merintangi. Bu Kie Lin seperti juga tidak bisa menahan diri lagi, dia berseruseru gusar.

"Kau kawan yang berhati busuk, melihat kawan yang terluka parah itu hendak kuobati, justeru engkau yang menghalanginya..... Hemmm, rupanya memang engkau memiliki hati yang busuk dan ingin menyaksikan kawanmu itu terbinasa karena lukanya itu.....!"

Teriak Bun Kie Lin. Tetapi Yo Him telah menggeleng, sambil katanya.

"Tidak! Tidak bisa kuijinkan engkau menghampiri kawanku itu. Tidak dapat engkau pergi mengobati kawanku, karena walaupun bagaimana tetap saja engkau tidak kuperbolehkan mengobati kawanku itu.....!"

"Kenapa?!"

Bentak Bun Kie Lin dengan suara yang mengandung kemarahan.

"Kau tidak mempercayai padaku bahwa aku bisa menyembuhkan kawanmu itu?!"

Yo Him menggeleng.

".Tidak! Engkau tidak bisa dipercaya, juga kepandaian ilmu pengobatanmu itu belum tentu dapat diandalkan buat mengobati luka kawanku itu..... Aku tidak mengijinkan engkau mengobati kawanku, karena belum tentu dia dapat disembuhkan, bahkan sebaliknya dia akan bercelaka denganmu......

"Hemmm, aku tidak mengijinkan engkau pergi menyentuh kawanku itu. Biarlah kawanku itu mati, dan engkau akan kubuat bercacad!"

Setelah berkata begitu, Yo Him menggerakkan tangan kanannya menyerang Bun Kie Lin.

Tetapi berbeda seperti tadi, dimana Yo Him menyerang dengan kekuatan tenaga dalam yang dahsyat sehingga membuat tempat duduk dari Bun Kie Lin berlobang, justeru sekarang ini dia menyerang hanya buat menggertak belaka.

Bun Kie Lin mengelak cepat sekali, dia melompat mundur beberapa langkah ke belakang.

Di waktu itulah dengan gusar ia telah berteriak.

"Aku harus menolongi kawanmu itu...... harus!"

"Tidak! Tidak boleh!"

Teriak Yo Him tetap merintangi.

"Harus! Walaupun bagaimana aku harus menolongi kawanmu itu.....!"

Teriak Bun Kie Lin dengan suara yang mengandung penasaran.

"Aku tetap tidak akan mengijinkan!

Walaupun engkau membayar selaksa tail tetap saja aku tidak akan mengijinkan engkau menolongi kawanku itu.....!"

"Hemmm, apakah engkau mengira bahwa aku ini jeri padamu? Atau kau kira aku takut oleh ancamanmu itu yang akan membuat aku bercacad? "

Hemmm, walaupun engkau akan menghantam mati padaku, aku tetap harus berusaha menolongi kawanmu itu!

Aku ingin memperlihatkan kepadamu, apakah ilmu pengobatanku ini, tidak memiliki arti sama sekali, atau memang merupakan ilmu pengobatan yang luar biasa!"

"Aku tidak perlu melihatnya, karena sudah pasti bahwa ilmu pengobatanmu itu tidak ada artinya.....!"

Kata Yo Him sengaja memperlihatkan sikap mengejek. Bukan main gusarnya Bun Kie Lin.

"Aku bermaksud baik hendak menolongi kawanmu, aku tidak kenal padanya, tetapi aku mau menolong dan mengobatinya, namun engkau sebagai kawannya malah menghalang-halangi dan menghendaki kawanmu itu mati. Cara apa yang kau pergunakan ini? Kawan apa kau yang berhati begitu busuk?" Mendengar perkataan Bun Kie Lin seperti itu, Yo Him tersenyum sejenak, katanya.

"Aku tidak mau tahu apakah engkau akan dapat mengobati atau tidak, tetapi aku tetap tidak mengijinkan. Aku tidak mau jika kawanku itu dijadikan kambing percobaan olehmu, di mana dia akan dijadikan sebagai bahan percobaan ilmu pengobatanmu itu yang belum tentu memiliki khasiat yang berarti. Karenanya, aku tidak dapat mengijinkan engkau mengobati kawanku itu.....!"

Bun Kie Lin jadi semakin penasaran, dan dari penasaran diapun jadi nekad, karena kemarahannya telah meluap.

Ia melompat ke depan, jari telunjuknya telah menekan tanah, tubuhnya ringan sekali melesat ke mulut goa menerjang Yo Him.

"Aku akan mengadu jiwa dengan kau! Walaupun engkau tetap merintangi, aku harus keluar dan mengobati kawanmu itu, dan juga aku akan mempertaruhkan jiwaku buat kesembuhan kawanmu itu. Aku mau lihat, apa yang dapat engkau katakan nanti setelah engkau melihat betapapun hebatnya ilmu pengobatanku itu, yang dapat mengobati dan menyembuhkan luka-luka pada kawanmu itu?!"

Setelah berkata begitu, seperti juga sudah tidak memperhatikan lagi keselamatan dirinya Bun Kie Lin, dengan mempergunakan totolan jari tangannya, dia membuat tubuhnya itu melambung ringan sekali, menerjang kepada Yo Him yang berdiri melintang di depannya.

Namun Yo Him masih tetap berpura-pura menghalangi jalan keluar bagi Bun Kie Lin.

Tetapi walaupun demikian, Yo Him sengaja melakukan gerakan yang sangat gesit mengelak dari terjangan Bun Kie Lin.

Dia memperlihatkan sikap seakan juga ia terpaksa harus berkelit karena terjangan Bun Kie Lin, sehingga membuka lowongan yang cukup besar, membuat Bun Kie Lin dapat melompat menerobos keluar goa itu, lewat di samping tubuh Yo Him Dalam keadaan seperti itu, Yo Him memang sengaja memperlambat gerakannya.

Dia girang bahwa diwaktu itu Bun Kie Lin jadi begitu bernafsu sekali ingin menolongi Hok An.

Memang itulah memperlambat yang diharapkannya, gerakannya, karena maka dia dia sengaja memang ingin membiarkan Bun Kie Lin menolongi Hok An.

Bun Kie Lin begitu dapat keluar dari goanya, dengan sikap tetap bersemedhi, yaitu ke dua kaki saling tumpang terkunci, hanya jarijari tangannya yang menotol tanah, sehingga jari-jari tangannya yang disaluri tenaga dalamnya itu dapat melontarkan tubuhnya mendekati Hok An.

Ketika berada di samping Hok An, dia segera memeriksa keadaan Hok An tergesa sekali, karena ia kuatir bahwa Yo Him akan menyusul dan nanti menghalangi dia mengobati Hok An.

Sedangkan Yo Him berseru-seru.

"Jangan, aku tidak mengijinkan engkau mengobati luka kawanku itu, aku tidak akan mengijinkan, engkau tidak boleh menyentuh kawanku itu.....!"

Sambil berseru begitu, Yo Him telah melesat ke dekat Bun Kie Lin, tetapi gerakannya itu telah diperhitungkan.

Dia melakukannya dengan gerakan yang lambat.

Dengan demikian membuatnya jadi memberikan kesempatan kepada Bun Kie Lin untuk dapat memeriksa keadaan luka dari Hok An.

Bun Kie Lin yang mendengar cegahan Yo Him, segera lebih cepat lagi memeriksa keadaan luka dari Hok An.

Sebagai seorang yang memang memiliki ilmu pengobatan yang tinggi, dia dapat segera mengetahui bahwa itulah luka-luka yang menyebabkan infeksi yang cukup berat.

Dia telah mengambil semacam obat dari sakunya, dan segera memasukkan ke dalam mulut Hok An.

Semua itu dilakukannya dengan cepat, karena memang dia ingin "mengejar"

Waktu agar Yo Him tidak bisa mencegahnya.

Yo Him yang memang sengaja memperlambat gerakannya, walaupun dia masih tetap berseru-seru mencegah, namun ia telah menahan gerakannya ketika melihat Bun Kie Lin memberikan obat kepada Hok An.

Memang dia sengaja agar Bun Kie Lin memiliki kesempatan buat memberikan obat kepada Hok An.

Dan setelah melihat Bun Kie Lin berhasil memasukkan obat itu ke dalam mulut Hok An, Yo Him mempercepat gerakannya.

Ia juga mengulurkan tangannya akan menjambret, teriaknya.

"Aku akan buat kau bercacad! Aku tak percaya engkau bisa memiliki ilmu pengobatan yang berarti, kawanku itu tentu akan lebih celaka lagi memakan obatmu yang tidak ada khasiatnya apa-apa.....!"

Sambil berkata begitu, Yo Him hanya menjambret setengah hati.

Bun Kie Lin ternyata nekad, dia tidak berkelit, dia hanya diam bersemedhi di dekat Hok An, dengan ke dua tangannya sibuk sekali menguruti jalan darah di tubuh Hok An.

Dia membiarkan punggungnya dijambret Yo Him.

Waktu tangan Yo Him hanya terpisah beberapa dim saja dari punggung Bun Kie Lin segera juga hal ini membuat Yo Him jadi kaget tidak terkira, karena ia melihat Bun Kie Lin sama sekali tidak berkelit.

Cepat-cepat Yo Him mengurangi tenaga serangannya itu, dia menarik pulang sebagian besar tenaganya sehingga cengkeramannya itu tidak terlalu hebat, segera juga Yo Him telah mencengkeram baju Bun Kie Lin.

Dia menghentaknya.

Namun Bun Kie Lin rupanya benar-benar telah nekad, karena dia membiarkan saja tanpa ada perlawanan, dia telah meneruskan pekerjaannya menguruti jalan darah-jalan darah di tubuh Hok An.

Dan dengan demikian, waktu Yo Him menariknya, tubuh Bun Kie Lin tertarik ke belakang.

Yo Him jadi tidak tega.

Jika dia menarik sedikit lagi, Bun Kie Lin akan terjengkang.

Tentu ini akan membuat hati Yo Him tidak enak, sebab sikap mencegahnya hanyalah disebabkan dia ingin memancing adat aneh orang ini belaka.

Dan sebenar-benarnya malah dia mengharapkan sekali pertolongan atas pengobatan di diri Hok An.

Cepat-cepat Yo Him melepaskan cengkeramannya, dia melompat beberapa tombak, kemudian bentaknya.

"Kau berdirilah, marilah kita main-main seratus jurus!

Aku tidak akan bertindak sepengecut itu, menyerang orang yang tidak melawan!"

Bun Kie Lin hanya melirik, katanya dengan suara menggumam.

"Aku tidak sempat melayani dirimu, aku tengah mengobati kawanmu ini. Jika aku telah selesai, maka kalau kau masih ingin main-main denganku, aku akan melayaninya.....!"

Sambil menggumam seperti itu, tampak Bun Kie Lin terus juga mengurut dengan urutan yang teratur, sama sekali dia tidak memperlihatkan sikap kuatir dirinya akan diterjang dan dihantam oleh Yo Him.

Sedangkan Yo Him memang sengaja mencari-cari alasan, agar ia bisa berhenti menerjang pada Bun Kie Lin, karena itu, sengaja menonjolkan tentang kesatriaan, dan juga kegagahan yang tidak akan menyerang seseorang yang tidak melawan.

Katanya.

"Hemmm, engkau lancang sekali mencoba mengobati kawanku itu! Tentu kawanku itu bukannya sembuh, malah akan bertambah celaka! Karena itu, setelah engkau mengobati kawanku itu hemm, hemmm, aku akan membuat engkau bercacad! "

Tetapi aku tidak menginginkan engkau ini menerima seranganku dengan berdiam diri tanpa memberikan perlawanan.

Itulah yang tidak kuinginkan.

Maka, jika memang engkau mau untuk mainmain seratus jurus denganku, mari, ke marilah.....!"

Tetapi Bun Kie Lin tidak memperdulikannya, terus juga dia telah mengobati dengan cara mengurut sekujur tubuh dari Hok An.

Di waktu itu Yo Him juga berdiam diri, karena dia memang ingin sekali membiarkan dan memberikan kesempatan kepada Bun Kie Lin buat mengobati Hok An.

Kata-katanya tadi hanya sebagai alasan buat memancing adat anehnya orang she Bun tersebut.

Ternyata siasatnya itu berhasil, sehingga dia bisa membiarkan Bun Kie Lin mengobati Hok An.

Setelah lewat sekian lama, rupanya Bun Kie Lin sangat letih sekali, keringat telah mengucur deras dari kening, muka dan tubuhnya.

Sasana dan Giok Hoa telah menghampiri Yo Him, berdiri di samping Yo Him.

Hati mereka girang sekali.

Sedangkan Ho Sin-se hanya mengawasi cara pengobatan yang tengah dilakukan oleh Bun Kie Lin, dia tertarik sekali, karena diamdiam, dia telah mengingatnya cara mengurut tersebut, yang akan dipraktekkannya kelak kepada pasien-pasiennya penduduk kampung di mana dia tinggal.

Dengan begitu, menurut Ho Sin-se, inilah suatu keberuntungannya, karena dia telah berhasil untuk menyaksikan cara pengobatan dengan mengurut seperti itu.

Dan juga dilihatnya betapapun juga memang Bun Kie Lin memiliki kepandaian yang luar biasa dalam hal pengobatan.

Tubuh Hok An yang semula membengkak itu berangsur-angsur mulai mengempis kembali.

Dan juga terlihat Hok An mulai pulih kesehatannya.

Penderitaannya berkurang.

Dia sudah tidak mengigau dan merintih kesakitan lagi.

Mukanya yang semula membengkak besar itu berangsur-angsur mengempis dan warna memerah mulai tampak di pipinya.

Sedangkan Bun Kie Lin masih terus mengurut dengan mengerahkan tenaga lweekangnya pada ke dua tangannya, di mana dia mengurut semua jalan darah terpenting di tubuh Hok An.

Dalam keadaan seperti itu, Yo Him diam-diam memuji di dalam hatinya.

Dia kagum juga atas ilmu pengobatan yang dimiliki oleh Bun Kie Lin.

Karena, hanya dalam waktu yang sangat singkat sekali, dia telah berhasil untuk mengobati Hok An, di mana sudah terlihat kemajuan pada diri Hok An.

Jika sebelumnya muka Hok An, dan juga tubuhnya membengkak, sekarang ini justeru mulai mengempis dan Hok An pun dapat tertidur.

Tampaknya tenang sekali.

Kemudian tampak Bun Kie Lin telah menghembuskan napasnya dalam-dalam, dia melompat berdiri sambil katanya.

"Sudah! Kawanmu ini sudah sembuh....."

Dikala itu, Yo Him sengaja tertawa mengejek.

"Hemmm, sekarang engkau telah selesai, mari, ke marilah, mari kita mulai main-main.....!"

Ajak Yo Him. Tetapi Sasana menimpali.

"Tentu saja tidak bisa sekarang. Jika memang Bun Lopeh itu melayani engkau, berarti engkau menarik keuntungan dari kesempatan yang ada ini buat keuntungan yang tidak kecil, karena sekarang Bun Lopeh itu tengah letih sekali. Dia telah mempergunakan lweekangnya buat menguruti dan mengobati luka pada diri Hok Lopeh.....!" Mendengar perkataan Sasana, Yo Him tertawa, dia telah berkata menimpalinya.

"Benar. Biarkanlah dia mengasoh dulu, dan nanti setelah letihnya berkurang, barulah kita main-main seratus jurus. Jika sekarang, tentu engkau akan menuduh aku sebagai seorang yang menarik keuntungan di saat engkau tengah letih dan engkau jika kurubuhkan dengan mudah, tentunya engkau akan penasaran dan tidak menerima kekalahanmu itu.....!"

Setelah berkata begitu, tampak Yo Him mengangguk kepada Sasana, memberikan isyarat agar isterinya itu menimpali lagi katakatanya.

"Ya, itulah baru perbuatan seorang enghiong yang tidak mau menarik kesempatan dikala lawan tengah letih, karena itu, jika memang nanti setelah Bun Lopeh itu segar kembali, dan kalian main-main seribu jurus, tentunya hal itu dapat ditentukan oleh kepandaian kalian yang sejati! Jika sampai kau berhasil merubuhkan Bun Lopeh, tentunya diapun akan kalah dengan hati yang puas.....!"

Bun Kie Lin tertawa dingin, katanya.

"Untuk beberapa hari ini aku tidak bisa melayani engkau! Aku harus mengobati terus kawanmu ini.....!" "Sudah kukatakan, aku tidak mengijinkan engkau menyentuh kawanku itu karena bukannya dia bisa diobati, malah tentunya dia akan kau binasakan dan celakakan dengan obatmu yang tidak keruan itu..... .....!"

Kata Yo Him. Bukan main-main mendongkolnya Bun Kie Lin, dia bilang.

"Jika memang kawanmu ini bercelaka oleh obatku, maka aku akan membiarkan leherku ini dipenggal olehmu! Kau bisa melihatnya nanti hasil pengobatanku, apakah kawanmu ini akan sembuh atau tidak......!"

Waktu itu Hok An tidur tenang sekali, ia seperti sudah tidak merasakan sakit, dan juga napasnya telah berjalan teratur.

Dia sudah tidak mengigau seperti tadi, dan juga Ho Sin-se yang berada di sampingnya bukan main kagumnya melihat keliehayan dari Bun Kie Lin, yang dapat mengobati dan juga mengurangi rasa sakit Hok An di dalam waktu yang begitu singkat.

Yo Him melirik kepada Sasana, katanya perlahan.

"Mari kita pergi ke sana....."

Dan Yo Him berkata begitu, dia menunjuk kepada sebatang pohon yang terpisah cukup jauh dari tempat mereka. Setelah Sasana mengangguk, sengaja Yo Him berkata kepada Bun Kie Lin.

"Baiklah, walaupun aku tidak mempercayai bahwa engkau akan dapat mengobati luka dari kawanku itu, tetapi aku justeru hendak melihatnya, apakah benar kata-katamu itu, yang menyatakan bahwa engkau akan berhasil mengobati luka kawanku itu! "

Jika memang engkau dapat mengobati kawanku itu, inilah suatu urusan yang benar-benar tidak bisa kupercaya, bahwa orang seperti engkau bisa mengobati luka kawanku sampai sembuh!

Tetapi jika memang kawanku itu bertambah parah lukanya dan juga kemungkinan meninggal, engkau tidak akan mungkin lolos dari hukumanku, yaitu engkau kubuat bercacad......!"

Setelah berkata begitu, Yo Him memperhatikan keadaan Bun Kie Lin, dia ingin melihat reaksi orang tersebut.

Tetapi Bun Kie Lin tetap duduk bersemedhi, sama sekali dia tidak memperdulikan perkataan Yo Him, dan dia masih terus mengatur jalan pernapasannya.

Yo Him berkata lagi lebih nyaring.

"Sekarang karena engkau memang tidak mau memberikan perlawanan kepadaku, akupun tidak bisa memaksamu..... karenanya, walaupun sampai kapan, aku akan menunggu engkau, sampai engkau mau main-main bertempur denganku sebanyak seribu jurus..... Aku akan menunggu, walaupun seminggu, sebulan ataupun setahun." Setelah berkata begitu, Yo Him menoleh lagi kepada Sasana dan Giok Hoa, dan telah mengajak mereka ke bawah sebatang pohon itu, untuk menjauhi Bun Kie Lin. Waktu mereka telah duduk di bawah batang pohon yang cukup tinggi dan besar itu, Sasana sudah tidak sabar, segera bertanya dengan hati yang agak gelisah, yaitu kuatir dan gembira.

"Bagaimana Yo Him..... Apakah Hok Lopeh akan tertolong? Tampaknya memang Bun Kie Lin memiliki ilmu pengobatan yang luar biasa, di mana dalam waktu yang sangat singkat sekali, dia telah berhasil mengurangi bengkak di tubuh Hok Lopeh.....!"

Yo Him mengangguk.

"Ya, menurut apa yang kulihat juga begitu..... akan tetapi, tampaknya dia memang memiliki sifat yang sangat aneh, jika kita memohon, maka dia akan menolak. Walaupun harus mati, dia tetap akan menolak.

"Tetapi jika kita menolak keinginannya, malah dia akan menjadi nekad memperjuangkan keinginannya itu, buat mencapai maksudnya itu. Dan walaupun dia akan dihantam mampus, tetap saja dia akan melaksanakan keinginannya itu! "

Memang tampaknya Hok Lopeh akan tertolong lihatlah, sekarang saja dia telah .dapat tidur dengan tenang, tanpa mengigau lagi, dan juga bengkak pada tubuhnya mulai mengempis......"

Sasana memperlihatkan sikap yang girang bukan main, sedangkan Giok Hoa tertawa berseri-seri.

"Benarkah paman Hok akan sembuh?"

Tanya Giok Hoa kemudian Yo Him mengangguk sambil tersenyum.

"Karena itu, engkau jangan salah paham. Memang tadi sengaja aku merintanginya, agar dia semakin kuat keinginannya untuk mengobati paman Hok mu itu..... dan sekarang, benar-benar dia mengobati paman Hokmu itu......

"Tampaknya paman Hok mu itu telah memperoleh kemajuan yang pesat sekali, tidak lama lagi dia tentu akan sembuh keseluruhannya! Bun Kie Lin ternyata memiliki ilmu pengobatan yang benar-benar mengagumkan sekali!"

Setelah berkata begitu, Yo Him melirik kepada Bun Kie Lin yang waktu itu telah selesai dengan pengaturan napasnya dan mulai menguruti lagi sekujur tubuh Hok An.

Setiap urutan tangannya itu mengandung kekuatan tenaga dalam.

Diapun mengurut pada jalan darah terpenting saja, di mana pada jalan darah yang mengandung hawa murni, sehingga dapat beredar lancar kembali, membuat kesegaran tubuh Hok An pulih kembali, dan "hawa"

Kotor yang membuat tubuh Hok An membengkak itu mulai berkurang.

Sedangkan disampingnya duduk bersila Ho Sin-se, yang terus mengawasi dengan tatapan mata yang mengandung kekaguman.

Dilihatnya bahwa betapapun juga, dia memang harus memperlajari lagi lebih giat ilmu pengobatan.

Sampai dia berpikir, alangkah girangnya dan berterima kasihnya kalau saja Bun Kie Lin mau mewarisi seluruh kepandaian ilmu pengobatannya itu kepadanya, sehingga dia bisa benar-benar memiliki kepandaian ilmu pengobatan yang sangat tinggi dan dapat mengobati berbagai penyakit yang paling berat sekalipun.

Tidak seperti sekarang, dimana Ho Sin-se hanya dapat mengobati penyakit yang mudah disembuhkan karena penyakit itu ringan.

Sedangkan jika ia bertemu dengan seseorang yang menderita penyakit yang berat dan parah, tentu dia tidak bisa mengobatinya.

Sambil mengawasi bengong, Ho Sin-se juga terus memperhatikan cara gerak jari-jari tangan Bun Kie Lin yang tengah mengurut sekujur tubuh Hok An, sehingga walaupun tidak keseluruhannya, tokh dia bisa mengingatnya sebagian besar dari cara mengurut tersebut.

Dia yakin jika dia bertemu dengan seseorang yang menderita penyakit yang cukup berat, kalau saja dia mengikuti cara mengurut seperti yang dilakukan Bun Kie Lin, tentu dia akan dapat mengobati luka orang itu.

Walaupun tidak keseluruhannya, tokh dia dapat juga untuk mengobatinya.

Dalam keadaan seperti itu, Ho Sin-se juga telah memeras seluruh ingatannya.

Dia telah berusaha untuk mengingat selengkap atau sebanyak mungkin dari cara mengurut yang dilakukan oleh Bun Kie Lin.

Waktu itu Bun Kie Lin telah selesai mengatur pernapasannya, dan dia mulai bekerja lagi, menguruti jalan darah terpenting di tubuh Hok An, dengan demikian tampaknya memang Bun Kie Lin tidak kenal lelah buat menyembuhkan Hok An.

Dan dia berusaha keras, agar Hok An dapat disembuhkan dalam waktu yang sesingkatsingkatnya.

Malam sangat sunyi sekali.

Tetapi pendengaran Yo Him yang sangat tajam telah mendengar suara berkeresek yang perlahan sekali, seperti juga jatuhnya daun kering.

Sasana yang mendengar juga suara berkeresek tersebut, telah melirik kepada Yo Him.

katanya.

"Jika memang tidak salah di sebelah kanan.....!"

Dia memberitahukan Yo Him dengan berbisik. Dan Yo Him mengangguk.

"Lindungi Giok Hoa!"

Hanya itu pesan Yo Him, yang juga membisiki Sasana.

Sasana mengangguk.

Bagitulah, dengan penuh kewaspadaan Yo Him telah mengawasi sekitar tempat itu.

terutama sekali pada sumber suara berkeresek tadi, yaitu di sebelah kanan.

Tiba-tiba berkelebat bayangan putih yang bergerak sangat perlahan sekali, seperti juga tengah mengindap-indap.

Tidak lama kemudian, tampak sesosok bayangan putih lainnya.

Jarak mereka terpisah dari Yo Him belasan tombak, dan berada di dekat tempat beradanya Bun Kie Lin yang tengah mengobati Hok An.

Yo Him jadi kuatir, kalau sampai orang-orang itu melompat keluar dengan serentak dan juga menghantam kepada Bun Kie Lin yang seluruh perhatiannya tengah dicurahkan kepada Hok An yang tengah diurutinya, niscaya dia tidak akan keburu buat menolonginya.

Karena itu, segera juga Yo Him berdiri, dia melangkah mendekati Bun Kie Lin, herdiri di sampingnya, membawa sikap seperti juga tengah memperhatikan cara pengobatan yang dilakukannya Bun Kie Lin terhadap Hok An.

Sosok bayangan putih itu masih tetap bersembunyi di tempatnya.

Akan tetapi melihat pakaian mereka yang serba putih seperti itu, seketika Yo Him menyadari dan dapat menerka siapa adanya mereka.

Dikala itu tampak Bun Kie Lin rupanya telah mengetahui akan kedatangan orang-orang tidak diundang yang tengah bersembunyi.

Dia hanya melirik, tetapi ke dua tangannya terus juga mengurut pada jalan darah di sekujur tubuh Hok An, seperti juga dia tidak begitu memperhatikan dan seluruh perhatiannya dicurahkan untuk mengurut terus sekujur tubuh Hok An.

Sesungguhnya, pada waktu itu benar-benar merupakan detik-detik yang cukup berbahaya buat Bun Kie Lin.

Dia tengah mengurut dengan mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya yang disalurkan pada ke dua tangannya.

Jika memang dia, mengurut dengan terpecah perhatiannya, dan kemudian diserang sehingga dia harus membagi tenaganya buat menghadapi penyerangan tersebut, maka yang akan berbahaya adalah dirinya Hok An.

Karena waktu itu seluruh pembuluh darah di tubuh Hok An telah dibuka sebagian besar.

Dan jika pengurutan itu ditinggal dan berhenti niscaya akan membuat pembuluh darah itu menjadi macet dan darah yang tengah mengalir dengan deras, dan juga hawa murni yang tengah tersalurkan itu, akan terhambat dengan mendadak.

Berarti akan membuat getaran yang sangat hebat dan menyebabkan Hok An akan terluka di dalam yang parah.

Yo Him sendiri walaupun kurang begitu memahami ilmu pengobatan tetapi ia mengetahui betapa ancaman yang tengah dihadapi oleh Hok An dan juga Bun Kie Lin, maka dia tetap bantu dan melindungi Bun Kie Lin dan Hok An.

Sedangkan Sasana tidak kurang waspada.

Dia telah bersiap-siap hendak menghadapi segala kemungkinan, untuk melindungi Giok Hoa, yang waktu itu tengah tertidur nyenyak.

Begitulah keadaan di tempat itu jadi hening sekali.

Sampai akhirnya terdengar lagi suara keresekan, dan juga disusul dengan kata-kata yang dingin sekali nadanya.

"Hemmm, engkau telah menolak buat menyembuhkan kami tetapi kau justeru telah memaksa hendak mengobati orang yang tidak membutuhkan pertolonganmu. Engkau harus dibinasakan, manusia she Bun....."

Menyusul dengan kata-kata itu, tampak melompat bayangan putih yang gesit sekali yang langsung menerjang kepada Bun Kie Lin.

Juga dia telah mengayunkan sebatang tongkat ke punggung Bun Kie Lin.

Kemplangannya itu mengandung kekuatan lweekang yang bisa mematikan.

Akan tetapi Yo Him tidak mau membiarkan orang itu tercapai maksudnya.

Begitu tongkat menyambar, tanpa menanti tongkat dapat mendekati punggung Bun Kie Lin, tubuh Yo Him melesat menyambuti, dengan mengibaskan tangannya yang kanan, tangan kirinya menyelonong masuk ke arah iga orang tersebut.

Sosok bayangan putih itu mendengus dingin.

"Hemmmm, manusia tidak tahu diuntung, engkau lagi bermaksud hendak merintangi kami.....!"

Dan membarengi perkataannya itu, tongkat orang tersebut telah terputar sangat cepat sekali seperti titiran.

Namun Yo Him menerima kemplangan dan tikaman tongkat itu dengan tenang dan juga selalu dapat memunahkan serangan itu dengan mudah.

Yo Him telah dapat melihatnya bahwa penyerang yang berpakaian serba putih ini tidak lain dari wanita setengah baya yang belum lama yang lalu telah dapat dipukul mundur.

Dia tentunya beberapa sosok bayangan putih yang masih bersembunyi, adalah cucu-cucu dari wanita setengah baya tersebut, yang tengah menantikan kesempatan buat keluar guna melakukan pengeroyokan lagi.

Wanita setengah baya tersebut telah menggerakan tongkatnya semakin lama makin hebat sehingga tongkat itu menyambar seliwiran tidak hentinya, menimbulkan angin yang menderu-deru sangat hebat sekali.

Keadaan Yo Him waktu itu agak sulit, di samping dia menghadapi wanita setengah baya, diapun tidak hentinya memasang mata buat mengawasi beberapa sosok tubuh putih lainnya yang bersembunyi.

Karena Yo Him kuatir orang-orang itu akan menerjang keluar dan mempergunakan kesempatan di kala dia tengah dilibat oleh wanita setengah baya tersebut, buat menyerang kepada Bun Kie Lin, yang tentunya akan membuat Bun Kie Lin terancam oleh bahaya yang tidak kecil!

Waktu itu keadaan Bun Kie Lin benar-benar sangat menentukan sekali.

Dia tengah memusatkan tenaga dalamnya dan telah berhasil membuka seluruh pembuluh darah di tubuh Hok An.

Dengan begitu sama sekali dia tidak boleh terpecah perhatiannya.

Sekali saja terpecah perhatiannya, niscaya akan membuat dia terancam bahaya hebat.

Di waktu itu Yo Him juga telah menghantam dengan tangan kanannya, dari telapak tangannya itu telah meluncur angin serangan yang dahsyat sekali.

Tongkat dari wanita setengah baya itu telah dapat dihantamnya.

Dengan mengeluarkan suara "Plakkk!"

Yang sangat nyaring sekali, tongkat itu telah patah menjadi dua.

Sedangkan Yo Him mengulangi lagi hantamannya, dia telah memukul dengan tangan kirinya, yang tenaga dalamnya itu berkesiuran tidak lebih lemah dari kekuatan tenaganya yang pertama tadi.

Hal ini membuat wanita setengah baya itu terpaksa harus melompat mundur, karena dia menyadari, jika dia menangkis dengan kekerasan juga, niscaya akan membuat dia yang menderita kerugian, karena tadi saja tongkatnya telah terpatahkan menjadi dua.

Dalam keadaan seperti itulah Yo Him telah mendesak terus, dia telah bergerak dengan cepat sekali, tubuhnya melesat ke sana ke mari dengan lincah, mengepung dan mengurung wanita setengah baya tersebut.

Sedangkan wanita-wanita lainnya yang berpakaian putih, yang tengah bersembunyi di balik pohon-pohon yang rindang dan juga batu-batu gunung, melihat nenek mereka telah terkurung seperti itu oleh kekuatan tenaga dalam Yo Him, mereka tidak tinggal diam.

Dengan mengeluarkan suara seruan, mereka telah menjejakkan ke dua kaki mereka.

Dengan gerakan yang lincah sebagian dari mereka, dua orang telah menerjang kepada Yo Him.

Untuk membantui wanita setengah baya itu, mereka telah menyerang dengan tongkat masing-masing berusaha untuk melindungi wanita setengah baya itu dan mendesak Yo Him agar tidak memiliki kesempatan lagi buat mendesak pada wanita setengah baya itu.

Memang kepandaian mereka tidak sehebat kepandaian wanita setengah baya itu, akan tetapi mereka telah menyerang bergantian.

Jika yang seorang terdesak, maka yang lain akan menoloog dan membantunya.

Yo Him jadi mendongkol juga.

Terlebih lagi dia telah melihatnya bahwa tiga orang wanita berpakaian putih lainnya telah menerjang kepada Sasana.

Dua orang menyerang Sasana, sedangkan yang seorang menyerang pada Bun Kie Lin.

Dengan demikian membuat Yo Him jadi berkuatir sekali, di mana dia telah berusaha hendak melompat membantui Sasana.

Akan tetapi ke dua wanita itu tetap melibatnya, apalagi sekarang wanita setengah baya itu telah berhasil untuk ikut menyerang lagi, mereka telah bekerja sama untuk menyerang Yo Him.

Dengan demikian telah membuat Yo Him seperti dilibat terus menerus tanpa diberikan kesempatan untuk melompat keluar dari kalangan guna membantui Sasana dan melindungi Bun Kie Lin.

Akhirnya cara hertempur seperti itu telah membuat Yo Him naik darah.

Dia mengeluarkan bentakan mengguntur, kemudian sepasang tangannya bergerak sangat cepat sekali.

Dia telah menghantam ke sana ke mari dengan dahsyat, membuat wanita setengah baya tersebut melompat ke belakang, dan kesempatan itu digunakan oleh Yo Him menerobos keluar.

Ringan sekali tubuh Yo Him telah meluncur ke arah Sasana.

Diwaktu itu, Yo Him juga bukan hanya sekedar mendekati Sasana, waktu ke dua kakinya akan hinggap, Yo Him telah menghantam punggung salah seorang wanita berpakaian putih yang tengah mengepung Sasana.

"Bukkk!"

Kuat sekali tenaga pukulan itu, yang membuat tubuh wanita itu terhuyung mundur dan telah terjungkal.

Dengan demikian telah membuat kepungan pada Sasana terbuka.

Wanita berpakaian putih yang seorangnya lagi, tidak berani terlalu mendesak, dia mengetahui, untuk menghadapi Sasana seorang saja, dia belum tentu dapat menandinginya, apa lagi sekarang ada Yo Him.

Karena itu, bukannya dia menerjang maju, dia malah melompat mundur mendekati pada si wanita setengah baya.

Seorang wanita berpakaian putih yang ingin menghantam Bun Kie Lin, yang melihat keadaan seperti itu, segera mempercepat pukulannya itu.

"Bukkk!"

Baca Juga: Bagus Sajiwo 2

Baca Juga: Pedang Kayu Cendana 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert