Ceritasilat Novel Online

Pedang Kayu Cendana 4

Eps 4 Pedang Kayu Cendana - Gan KH

Baca online Pedang Kayu Cendana - Gan KH

Cersil Pedang Kayu Cendana - Gan KH.

"cayhe (aku yang rendah) Siangkoan Bu, entah apa kemampuanku, sehingga tuan-tuan sekalian sudi datang dari tempat jauh, biarlah setelah pertandingan nanti usai, akan kuhaturkan banyak terima kasihku akan kehadiran tuan-tuan."

Nada bicaranya terasa sombong, sikapnya juga jumawa, tidak sedikit yang menggeleng sambil menghela napas.

Habis bicara Siangkoan Bu membusung dada, sorot matanya semakin Cemerlang, katanya lantang sambil berputar tubuh.

"Kentongan ketiga sudah tiba, Biau-hu Suseng yang kutantang kemari seharusnya sudah datang,jikalau dia sudah berada di antara hadirin, silahkan keluar memberi petunjuk, supaya hadirin tidak terlalu lama menunggu."

Tapi ratusan hadirin tiada Satupun yang bergerak.

tiada yang bersuara, SuaSana menjadi hening Siangkoan Bu menyapu hadirin pula dengan sorot tajam, ditunggu beberapa kejap tetap tiada sambutan, apa boleh buat, diba-wah tontonan orang banyak terpaksa Siangkoan Bu mundur kesamping.

Bulan sabit sudah semakin doyong kebarat, hadirin mulai bisik-bisik lagi, kentongan ketiga sudah lewat.

Siangkoan Bu yang menyingkir kepinggir makin tidak enak perasaannya, pikirnya.

"Mungkinkah dia tidak mendengar atau menerima tantanganku yang kusebar luaskan dikalangan Kangouw? Ah tidak mungkin ? Sejak bulan empat sampai sekarang ada lima bulan lamanya, setiap kaum persilatan yang berkecimpung dikalangan Kangouw tiada yang tidak tahu akan tantanganku kepada Biau-hu Suseng, mana mungkin dia tidak tahu menahu tentang tantangan duelku itu ? Kalau dia mendengar, sebagai jago top yang disanjung puji, pesilat nomor satu dijagat ini, apapun yang terjadi, mana berani dia mengabaikan tantanganku dan tidak berani muncul didepan umum. Begitulah batin Siangkoan Bu dengan lamunannya, hadirin masih bisik-bisik, suasana seketika ribut, yang bertabiat kasar malah ada yang mengumpat caci, namun tidak sedikit pula yang diam-diam tinggal pergi. Kentongan keempat. Bagi mereka yang tidak punya kerja dan tertarik akan pertandingan masih menunggu dengan penuh harapan, padahal yang berlalu sudah setengah lebih. Hadirin tahu Biau-hu Suseng bukan orang yang takut menghadapi persoalan, dalam keadaan seperti ini, siapapun meski menyadari Kungfu sendiri bukan tandingan Siangkoan Bu juga pasti berani mempertaruhkan jiwa raga menempur Siangkoan Bu, apalagi Biau-hu Suseng yang diagulkan sebagai jago nomor satu di seluruh Bulim. Hembusan angin malam nan dingin menggontai hutan-hutan bambu sehingga mengeluarkan suara lirikan yang mengerikan, hadirin kedinginan dan mengkirik juga oleh suasana yang seram ini. Kalau hadirin masih ada yang sabar menunggu, adalah Tabib Pendekar Siangkoan Bu tidak betah lagi, dia tahu bahwa Biau-hu Suseng memperoleh julukan setinggi itu tentu memiliki kepandaian yang sejati. Kalau kenyataannya memang demikian, tidak mungkin dia jeri menghadapi dirinya, lalu kenapa dia tidak memenuhi tantanganku ? Pasti dia meremehkan diriku, dia tidak mau datang karena dla menghina dan mengecilkan arti tantanganku. Entah dari mana datangnya pikiran tidak sehat itu, yang jelas hati Siangkoan Bu sudah mulai dirundung pikiran yang kacau. Akhirnya dengan gusar dia membanting kaki. tiba-tiba dia berkelebat melompat ketengah arena pula serunya lantang sambil angkat kepalanya.

"Biau-hu Suseng tidak mau datang memenuhi tantanganku, mungkin karena Kungfuku masih terlalu rendah, maka dia tak sudi memberi petunjuk kepadaku. Maaf kepada hadirin bahwa kedatangan kalian sia-sia, maka sudilah menerima maafku ini."

Lalu dia menjura keempat penjuru, habis itu dia membusung dada pula, serunya.

"Tapi mohon bantuan hadirin supaya menyampaikan kepada Biau-hu Suseng bila ketemu, katakan kepadanya sejak hari ini sebelum aku berduel dengan dia menentukan siapa hidup siapa mati dengan dia, aku bersumpah tak akan bercokol dibumi ini."

Kata-katanya tandas dan tegas, agaknya tekadnya sudah teguh, habis bicara segera dia meninggalkan tempat itu.

Diantara hadirin yang ikut kecewa dan siap-siap pergi, tiba-tiba seseorang menghela napas panjang, sekejap tampak sinar matanya memancar, tapi lekas sekali sudah sirna tak berbekas, sekali berkelebat tahu-tahu dia sudah melompat kesamping Siangkoan Bu, sambil menjura dia menyapa kepada Siangkoan Bu.

"Siangkoan Siauhiap. sudah lama Lo-han mendengar Kungfumu lihay dan jiwamu yang pendekar, hari ini sudah ku bUktikan sendiri. Bahwa kau sudah berada di sini, maka Lo-han yang tidak berguna ini ingin mohon petunjukmu sejurus setelah hadirin pergi seluruhnya, entah Siauhiap (pendekat muda) sudi memberi petunjuk kepada Lo-han (aku orang tua)."

Siangkoan Bu serba salah, tapi sikap dan cara orang tua dihadapannya ini begini tulus dan sungguh-sungguh, dia jadi bimbang dan ragu-ragu, sekilas dia melirik orang tua ini.

Orang tua itu tidak sungkan lagi katanya lagi.

"Siauhiap tidak usah bimbang aku sudah tua, kaki tanganku sudah tidak selincah masa muda dulu, tapi aku masih mampu berkelahi. Nah, sambutlah pukulanku."

Tiba-tiba kedua tangan melintang didepan dada, tangan kanan berputar satu lingkar, tangan kiri menyodok keluar dari tengah menepuk dada Siangkoan Bu.

Gayanya aneh, serangannya lucu, hakikatnya bukan serangan seorang pesilat yang mahir Kungfu, namun telapak tangan yang disodok maju perlahan ternyata mengandung tenaga berat dan besar.

Masih ada belasan orang yang ketinggalan, jadi urung meninggalkan tempat itu, mereka membatalkan niat semula mau pergi, dari kejauhan mereka menonton dengan keheranan-Siangkoan Bu berpikir.

"Kakek tua ini kenapa tidak tahu aturan ?"

Sembari berpikir sudah timbul niatnya hendak balas menyerang tapi suatu pikiran lain berkelebat dalam benaknya.

"Kalau Siangkoan Bu menanggapi tantanganmu, menangpun aku tetap malu, lebih celaka lagi kaum persilatan akan mentertawakan diriku, dikatakan aku hanya berani menganiaya seorang kakek belaka."

Karena itu ketika tangan, yang bergerak dan terangkat itu lekas ditarik pula, berbareng kakinya bergerak secepat kilat dia meluputkan diri dari tepukan lawan-Ternyata kakek ini tidak tinggal diam, mendapat angin dia malahan mendesak lebih lanjut, tangan yang menepuk kedepan tetap menjulur lurus bergerak mengikuti gerak-gerik Siangkoan Bu, sementara telapak tangan yang lain ikut menepuk pula secara bergantian-Kali ini bukan saja serangannya aneh, jurus serangannya juga amat mengejutkan.

Apapun Siangkoan Bu tidak pernah menyangka bahwa kakek tua ini bisa merobah permainan secepat dan selihay ini, yang diincarpun sasaran yang mematikan, saking kaget dan meraung gusar, sebat sekali dia memiringkan tubuh sambil menyingkir kesamping.

Untung masih sempat meluputkan diri dari serangan kedua tangan sang kakek.

Agaknya amarah Siangkoan Bu terbakar, kini dia tidak hiraukan akibatnya pula, tangan kanan segera bergerak dengan Thian-hing-kay-thay (langit terbentang membuka bukit) telapak tangannya menampar ke muka si kakek.

Serangan balasannya ternyata tak kalah lihay tenaganya malah kuat dan besar.

Sudah jelas kakek tua ini bakal pecah batok kepalanya oleh pukulan telapak tangan Siangkoan Bu.

Tapi, tampak kakek tua itu seperti terlalu besar menggunakan tenaganya sehingga serangannya tak mampu ditarik balik langkahnya tersuruk maju sehingga dia jatuh terjerembab, secata kebetulan dia selamat dari tepukan telapak tangan Siangkoan Bu.

Pelan-pelan kakek itu merangkak duduk lalu berbangku sambil menghela napas, katanya menjura kepada Siangkoan Bu .

"Siauhiap memang lihay Kungfunya, aku orang tua amat kagum."

Lalu dia menunduk dan menggumam sendiri.

"Maklum sudah tua, tak berguna lagi.."

Geli campur jengkel juga Siangkoan Bu dibuatnya mendengar gumam orang.

Biau-hu Suseng tidak datang telah membuatnya keki dan tidak redam panas penasarannya, namun dia tidak ingin ribut-ribut, sekali berkelebat dia melesat pergi dengan gerak tubuh laksana mengejar angin.

Orang-orang yang ingin melihat keramaian itu pun, segera hengkang dari tempat itu.

Tinggal kakek tua itu saja yang masih geleng-geleng sambil menghela napas, lalu berdiri terlongong.

Angin tetap berhembus, daon-daon bambu melambai, dahannya yang bergesek masih mengeluarkan suara kerikan yang mengerikan.

Mendadak kakek tua itu melompat berdiri, lalu mencopot kedok yang menutupi mukanya, demikian pula rambut palsu diatas kepalanya.

Maka kakek tua yang semula ubanan kini berobah menjadi laki-laki gagah, tampan berusia empat puluhan, dia bukan lain adalah Biau hu Suseng jago silat nomor satu yang diakui dunia persilatan.

Sejenak Biau-hu Suseng geleng-geleng kepala lalu mengerutkan kening, sekejap mengawasi telapak tangan sendiri, akhirnya dia menjejak tanah, tubuhnya seringan asap melenting kepucuk pohon bambu, dengan sekali pantulan tubuhnya kembali melesat tujuh tombak jauhnya .

Itulah Ginkang kebanggaan Biau-hu Suseng yang sudah terkenal dikalangan persilatan, namanya Yanteng-hua siang-in (asap bergolak diatas mega).

Hanya beberapa kali lompatan, lekas sekali bayangannya telah lenyap dari pandangan mata.

Setelah meninggalkan Koh-tiok-boh langsung Siangkoan Bu kembali ke Pakkhia dengan kecepatan Ginkangnya, karena Biau-hu Suseng hatinya amat kecewa dan hambar, heran tapi juga benci serta gegetun lagi, segala perasaan campur aduk dalam hatinya.

Layap-layap dia merasa aneh akan tingkah laku kakek tua yang ingin menjajal kepandaiannya tadi, namun hatinya sedang kacau maka dia tidak pikirkan kejadian tadi.

Lekas sekali dia sudah memasuki pintu barat kota Pakkhia, langsung kembali kehotelnya.

Pelan-pelan dia mendorong daon jendela terus melompat masuk.

Dia tarik napas dalam-dalam lalu menggeliat, badannya amat capai dan lesu, tanpa buka pakaian dia sudah siap merebahkan diri keatas ranjang.

Mendadak dia menjerit kaget, mukanya berobah pucat seketika, matanya pun terbeliak.

cahaya rembulan menyorot masuk dari jendela yang masih terbuka, dengan jelas dia melihat diatas meja di kamarnya menggeletak tiga buah kancing putih yang menindih secuil kertas putih pula.Bahna kejutnya Siangkoan Bu membatin.

"Bukankah itu kancing bajuku?"

Lalu dia menunduk memeriksa bajunya, dia kehilangan tiga buah kancing.

Bahna gusar dia renggut ketiga buah kancing dan lampiran kertas itu serta membebernya, tinta tulisan dalam kertas ini masih belum kering seluruhnya, dimana dia membaca.

"Ditujukan kepada Siangkoan Siauhiap yang terhormat. Bukan soal mudah untuk memperoleh gelar "Pendekar", untuk menghancurkan nama baik justru segampang membalik telapak tangan, segala sesuatunya harap dipikirkan lebih matang sebelum bertindak, janganlah bekerja mengikuti adat atau di buru nafsu melulu. Salam dari Biau-hu Suseng."

Luluh hati Siangkoan Bu dengan lesu dia menunduk kepala, meski gusar dan malu, tapi dia menyadari kekhilafan dan kebodohan sendiri, hatinya jadi maklum, dengan bekal Kungfunya sekarang, ternyata dia bukan tandingan Biau-hu Suseng yang menyamar kakek tua dan berhasil mencopot tiga buah kancing bajunya tanpa dia sendiri menyadari.

Demikian pula Ginkang sendiri yang rasanya sudah tinggi juga bukan apa-apa dibanding Ginkang Biau-hu Suseng, buktinya orang bisa tiba lebih dulu sempat tulis surat segala.

Maka sadarlah Siangkoan Bu bahwa kaUm pendekar di kalangan Kangouw yang berkepandaian tinggi memang tidak terhitung banyaknya, dengan kemampUannya sekarang, di banding dengan Biau-hu Suseng, ternyata masih jauh sekali, mau tidak mau peristiwa ini telah menjadikan Siangkoan Bu patah semangat.

Syukurlah pikirannya masih sehat, setelah redahawa amarahnya, dia maklum dan menyelami usaha baik Biau hu Suseng untuk menginsyafkan dirinya, maka tak terlukiskan betapa haru dan terima kasihnya terhadap budi luhur dan jiwa besar Biau-hu Suseng yang telah mempertahankan karier dan nama baiknya, sejak itu meski tidak pernah ketemu lagi, tapi dalam sarubarinya amat mengagumi dan menaruh hormat setinggi-tingginya tethadap Biau-hu Suseng.

Sejak peristiwa itu untuk beberapa lamanya dia melanglang-buana mencari jejak Biau-hu Suseng, bukan ingin menantang duel lagi, tapi untuk mengikat persahabatan, mohon petunjuk dan menyatakan terima kasihnya akan budi kebaikannya.

Tapi telah puluhan tahun sampai sekarang, tidak pernah dia bertemu lagi dengan Biau-hu Suseng, namun bahwa Biau-hu Suseng telah mempertahankan reputasinya dikalangan Kangouw, selama hidup tak akan terlupakan olehnya.

Kini dari badan pemuda yang ditolongnya ini dia mendapatkan senjata khusus yang dahulu dia sering dengar adalah gaman Biau-hu Suseng yang tunggal, maka tahulah dia bahwa pemuda yang sudah sekarat dan harus di tolongnya ini pasti punya hubungan erat dengan Biau-hu Suseng yang dipujanya dulu.

Sudah tentu bukan kepalang senangnya hati Siangkoan Bu, tak nyana setelah Pakkiong Yau-Liong ditolongnya hingga siuman, setelah tanya jawab berlangsung, baru dia tahu bahwa Biau-hu Suseng yang dipujanya itu ternyata sudah meninggal dunia, betapa hatinya takkan rawan dan pilu ?

Namun secara tak langsung dia sudah menolong murid Biau-hu Suseng, berarti suatu imbalan juga bagi kebaikan Biau-hu Suseng dulu kepadanya, maka dia berkeputusan untuk berusaha semaksimal mungkin menolong pemuda yang sudah kronis keadaannya itu sebagai imbalan budi kebaikan Biau-hu Suseng atas pemuda yang satu ini.

Setelah menghela napas, dia berkata.

"Tanpa terasa tiga puluh tahun telah berselang, sungguh tak nyana bahwa beliau telah meninggal, Hian-tit (keponakan), bolehlah kau merawat luka-lukamu disini dengan tenang. Anggaplah tempat iniseperti rumahmu sendiri, entah bagaimana Hian-tit bisa mengalami nasib seburuk ini...."

Tanpa terasa Pakkiong Yau Liong menarik napas panjang, maka dia tuturkan seluruh pengalamannya kepada tuan penolongnya ini.

Tiba-tiba Siangkoan ceng melangkah masuk sambil membawa semangkok obat yang masih panas mengepulkan asap putih, sekilas dia pandang Pakkiong Yau-Liong, lalu berkata lirih kepada Siangkoan Bu.

"Ayah, obatnya sudah kumasak."

Maka sejak hari itu Pakkiong Yau-Liong menetap dirumah Tabib sakti atau Siangkoan Bu, meski hati merasa rikuh, tapi apa boleh buat, karena kondisi badannya memang teramat lemah dan dia perlu perawatan yang teliti.

Berkat pengobatan Siangkoan Bu yang telaten dan cermat, meski keadaan Pakkiong Yau-Liong teramat parah, sebulan kemudian kesehatannya sudah memperoleh banyak kemajuan-Malam telah larut, bunga salju tampak bertaburan diangkasa.

Rebah diatas ranjang, entah mengapa Pakkiong Yau Liong tidak bisa pulas, hatinya risau, dia menghela napas panjang.

Dendam kesumat, budi pertolongan, entah kapan baru dia bisa membalasnya, walau kesehatannya sudah sembuh, tapi dia masih merasakan kondisi badannya masih teramat lemah, lebih prihatin lagi karena Kungfunya sudah sekian lama terbengkalai.

Tiba-tiba sebuah pikiran menggelitik sanubarinya, pelan-pelan dia menyingkap selimut dan mengenakan baju lalu beranjak perlahan-lahan keluar rumah.

Diluar kamarnya adalah sebuah pekarangan kecil dalam lingkungan rumah besar, air dalam empang sudah membeku dan dilapisi salju, beberapa pucuk pohon sakura tampak mekar dan mengeluarkan bau harum semerbak.

Salju masih terus melayang-layang di angkasa, hawa sedingin ini, semua orang tentu sudah tertidur lelap.

suasana hening lelap.

Tiba-tiba Pakkiong Yau-Liong menggigil kedinginan, hembusan angin lalu membawa harum bunga ternyata tidak kuat lagi ditahannya, tapi tanpa hiraukan keadaan sendiri dia melangkah ketengah pekarangan.

Di tengah taburan kembang salju, pelan-pelan Pakkiong Yau-Liong mengerahkan hawa muminya, lalu dia mulai menggerakkan tubuhnya pelan-pelan, Kungfunya memang sudah lama terbengkalai, maka dia merasa perlu untuk mulai latihan lagi, tapi baru dua tiga jurus, napasnya sudah mulai memburu, terasa betapa berat dia menggunakan tenaga, tetapi dengan tersenyum dia tetap latihan seorang diri.

Entah kenapa perasaan lama kelamaan menjadi longgar, hatinya riang dan gembira.

"Bluk"

Tiba-tiba Pakkiong Yau-Liong tersungku rjatuh ditanah bersalju.

Dalam waktu sekejap itulah, sesosok bayangan tampak berkelebat memburu kesamping Pakkiong Yau-Liong terus memapahnya bangun.

Seketika hidung Pakkiong Yau-Liong di-rangsang oleh bau yang menyegarkannya, jelas bukan harumnya kembang sakura, tapi bau wangi yang tidak bisa dia bayangkan, karena bau wangi itu seolah-olah membuatnya mabuk dan menimbulkan rasa romantis.

Pakkiong Yau-Liong menarik napas serta mengaturnya pelan-pelan, lalu dia angkat kepalanya dan seketika dia berdiri melenggong.

orang yang memapahnya bangun ternyata memiliki seraut wajah nan molek.

terutama sepasang bola matanya yang bening, seperti mata yang bisa berbicara saja, bola mata yang sudah terukir dalam sanubarinya dan tak akan terlupakan selama hidup, Dia bukan lain adalah gadis cantik yang pernah dilihatnya malah melabraknya dengan sengit waktu di ceng-hun kok saat Pakkiong Yau-Liong menyamar Toh-bing-sik-mo, yaitu Tio Swat-in, gadis berbakti yang ingin menuntut balas kematian ayahnya.

Sesaat Pakkiong Yau-Liong menatapnya lekat-lekat, beberapa kali mulutnya terbuka, tapi hanya kuasa mengucapkan separah kata.

"Kau..."

Dia mengangguk perlahan, ujung bibir-nya yang mungil mengulum senyum manis, senyum yang menggiurkan.

pada detik itulah tanpa terasa empat tangan saling genggam, meski gemetar tapi makin kencang dan erat.

Dua sejoli yang mengalami nasib sama, penderitaan yang sama pula, sehingga berpadulah perasaan yang sukar dilukiskan itu serta menarik rasa simpati satu dengan yang lain-Dan kini nasib mempertemukan mereka pula ditengah malam hujan salju ini, segala sesuatunya seperti sudah diatur, betapa murni dan tulus, serta agung tali asmara telah memadu hati mereka, sama-sama meresap dalam lubuk hati mereka yang paling dalam.

Entah bahagia atau malapetaka bakal menimpa mereka dalam menghadapi hari-hari yang bakal menjelang ini?

Nasib tidak mungkin dijangkau oleh manusia dan tidak bisa diramaikan sebelumnya, siapapun tak akan perduli juga tidak mau memikirkannya didalam suasana yang semesta ini, karena semua itu hanya akan memeras keringat dan merisaukan hati belaka.

Lekas sekali musim dingin telah berlalu, musim semi nan indah permai dan sejuk telah tiba.

Pagi itu sang surya memancarkan cahaya nan cemerlang menerangi jagat raya, suasana hangat menjalar dalam sanubari setiap insan kehidupan didunia ini.

Dua bayangan orang tampak bergerak dipegunungan Ai-lo-san diwilayah In-lam, mereka meluncur dari dalam hutan menuju kearah timur.

Seorang pemuda berusia dua puluh satu, walau badannya kelihatan agak kurus, tapi tampangnya kelihatan gagah dan ganteng.

Temannya adalah seorang gadis belia berusia tujuh belasan, punggung mereka menggendong pedang, sehingga tampak betapa perkasa dan gagah mereka.

Mereka bukan lain adalah Pakkiong Yau-Liong dan Tio swat-in-Wajah mereka kelihatan kotor berdebu, pakaian lusuh, kelihatan amat lelah secelah melakukan perjalanan jauh.

Kira-kira dua bulan yang lalu, meski kesehatan Pakkiong Yau-Liong belum sembuh seluruhnya, tapi tekad menuntut balas membakar hatinya, meski Siangkoan Bu sua mi isteri menahan serta membujuknya, tapi tekad Pak klong Yau-Liong sudah teguh, maka mereka mohon diri dan berpisah dengan tuan penolong mereka, tanpa menghiraukan perjalanan jauh meluruk ke Biau-kiang hendak mencari jejak Toh-bing-sik-mo untuk menuntut balas kepada musuh besar mereka bersama.

Kini mereka sudah berada di Ai lo-san daerah suku Biau, tidak jarang mereka mencari tahu kepada penduduk setempat, sayang karena bahasa yang tidak sama sehingga sukar mereka berkomunikasi dengan orang-orang yang ditanyai.

Belasan hari sudah lalu, kelompok demi kelompok, gua demi gua sudah mereka jelajahi, tapi sukar mereka menemukan jejak Toh-bing-sik-mo sulit pula mendapat keterangan dari mulut orang-orang Biau.

Kini mereka sudah tiba diperbatasan yang membatasi kehidupan suku suku Biau yang masih liar dengan suku Biau yang sudah mengenal hidup baru bermasyarakat dengan dunia luar, di daerah suku Biau yang terisolir ini, hakikatnya Pakkiong Yau-Liong dan Tio Swat-in asing sama sekali, mereka hanya tahu menjelajah dan menjelajah dari utara ke selatan, dari barat kembali ketimur, mencari dan mencari terus tidak kenal lelah, tak pernah mereka berputus asa, walau sejauh ini mereka belum memperoleh berita apapua atau menemukan jejak musuhnya.

Keyakinan teguh menghayati mereka, kalau ucapan Ni Ping-ji dapat dipercaya, mereka percaya pasti suatu hari mereka dapat menemui musuh besar mereka Toh bing-sik mo.

Setelah menarik napas panjang, mereka duduk istirahat dibawah dinding batu yang berada dlpinggir hutan.

Pakkiong Yau-Liong menurunkan buntalan rangsum, tanpa bicara bersama Tio Swat-in mereka makan sekenyang2-nya lalu membuka kantong air serta meneguk air dengan nikmatnya, namun mereka hanya terbatas minum tiga teguk, kantong air merekapun telah kosong.

Saking lelahnya mereka jadi malas bergerak.

perut sudah kenyang, rasa dahaga juga teratasi, biarlah sebentar lagi baru mencari sumber air.

Maka mereka merebahkan diri dibawah dinding yang sedikit lekuk kedalam, istirahat dengan santai.

Tio Swat-in tidur miring disamping Pakkiong Yau-Liong, dengan senyum manis dia mengawasi Pakkiong Yau-Liong, pelan-pelan dia memejamkan bola matanya yang bundar besar.

Angin sepoi-sepoi terasa semilir dan sejuk.

rasanya nyaman dan menyegarkan.

Pakkiong Yau-Liong rebah celentang, kedua telapak tangannya menjadi bantal, matanya lurus keangkasa mengawasi gumpalan mega dilangit.

Tapi tak ada hasratnya mengikuti perobahan cuaca, perobahan gumpalan mega yang tidak menentu itu.

Otaknya kini sedang berpikir tentang tugas dan beban yang dipikulnya belum tercapai terasa betapa berat dan sukar tugas yang dipikulnya, maklum Toh-bing sik-mo atau Tok-ni-kau hun Ni Ping-ji adalah musuh besar yang sukar dihadapi.

Tapi ..tiba-tiba alisnya bertaut, sorot matanyapun memancarkan sinar khawatir dan rawan-Bila angin musim semi yang membawa harumnya kembang menghembus lalu membuat badannya yang sudah letih ini seperti luluh dan lunglai saja, maka tanpa disadarinya wajahnya telah mengulum senyum.

Terbayang betapi indah masa depan bersama Tio Swat-in yang kini berada di sampingnya, akan dicari suatu tempat yang bagus membelakangi gunung dipinggir sungai hidup tentram dan bahagia, lepas dan keramaian dunia, hidup rukun sampai tua.

ah, betapa bahagia, begitu asyik, manis dan mesra.

Waktu dia menoleh mengawasi Tto Swat-in, pelan-pelan dia genggam jari-jari Tio Swat in, lalu memejamkan mata.

Perjalanan beberapa hari ini memang memakan tenaga dan menguras seluruh kekuatan mereka, istirahat di tempat sejuk dengan pemandangan seindah danpermai ini, tanpa merasa mereka tidur berpelukan dengan nyenyak.

Entah berapa lama mereka tertetap.

tiba-tiba suara aneh melengking tajam menggugah Pakkiong Yau-Liong dari mimpinya.

Secara reftek Pakkiong Yau-Liong berjingkrak duduk, dilihatnya Tio Swat-in mendekap mulut dengan gaya setengah tidur menatap ke sela-sela dinding gunung dua tombak disebelah kanan, seekor binatang aneh tengah melata keluar kearah mereka.

Ternyata hari sudah menjelang senja, sang surya masih memancarkan cahayanya yang terakhir sebelum kembali keperaduannya.

Tampak binatang aneh itu panjang empat kaki, bentuk mirip katak tapi berkaki enam, seluruh badannya dihiasi bintik-bintik hijau yang benjol-benjol, kepalanya persegi, bola matanya sebesar tinjU, memancarkan cahaya merah, ekornya pendek cuma setengah kaki tampak bergerak pergi datang, dengan tatapan tajam katak puru itu tengah mengincar mereka.

Semakin dekat moncongnya yang besar berwarna merah darah terbuka lebar mengeluarkan suara aneh yang membisingkan, lidahnya yang merah panjang menjulur keluar masuk menyemburkan uap putih, bau amis yang memualkan merangsang hidung.

Tidak sedikit binatang aneh beracUn yang pernah mereka saksikan, tapi bentuk aneh dari binatang yang satu ini sungguh teramat ganjil, tanpa merasa mereka merinding dan berdiri bulU kudUknya.

Pakkiong Yau-liong tahu bahwa binatang aneh ini pasti beracun jahat.

Ternyata binatang aneh dengan kepala persegi empat bermata tunggal ditengah dengan benjolan hijau yang bertaburan di tubuhnya ini bernama Hwe-to-tan-toh (katak puru beracun api), binatang beracun yang jarang ada dan sukar terlihat, racunnya teramat jahat sekali.

Seribu tahun baru Hwe-tok-tan-toh bersetubuh sekali dan menelorkan sekitar lima puluhan telor, habis bersetubuh katak puru yang jantan pasti mati saking kenikmatan dan kehabisan tenaga, sementara yang betina pasti melalap habis bangkai sang jantan, lalu mencari suatu tempat yang lembab mengeram dua tahun, setelah telurnya menetas maka katak puru betina inipun matilah.

Yang jelas katak puru ini hanya bisa hidup seribu tahun, mungkin yang jantan bisa hidup lebih lama lagi, tapi itu pun ditentukan keadaan dan lingkungannya.

Begitu telur keluar dari rahim induknya terkena angin maka telur itu pun menetas panjang setengah kaki, namun lima puluhan katak puru yang baru menetas itu pasti akan saling bunuh dan caplok hingga tinggal seekor saja yang masih hidup, Seratus tahun baru katak puru bertambal besar satu kaki panjangnya, dari benjol-benjol daging kasar diseluruh tubuhnya itulah racun jahatnya menguap keluar, binatang atau manusia bila terkena racunnya, dalam jangka sehari kalau tidak terobati, jiwa pasti melayang.

Bila katak puru sudah beusia delapan ratus tahun lebih sukar dihadapi, semburan hawa putih dari mulutnya membawa kadar racun yang jahat, dalam jarak satu tombak dapat melukai orang, hawa panas yang keluar dari badannya, menyebabkan enam tombak disekitar badannya mendekam, tetumbuhan tiada yang bisa hidup subur, semuanya mati kekeringan.

Racun katak puru juga dinamakan racun api, manusia atau binatang yang terkena racun api, badannya akan terbakar dan akhirnya mati kering, begitu ganasnya racun itu bekerja dalam jangka sehari sang korban pasti mati dengan badan menjadi abu, tulang-belulangpun tidak ketinggalan lagi.

Bila usianya sudah mencapai seribu tahun katak puru betina didesak oleh kebutuhan lahiriahnya, secara alamiah badannya akan mengeluarkan bau yang aneh, bila tertiup angin kadar baunya bisa mencapai ratusan li jauhnya.

Begitu mencium bau aneh ini, katak puru jantan akan segera meluruk datang meski menghadapi rintangan apapun.

Kalau sekaligus datang dua atau tiga ekor, ketiganya akan bertarung sampat mati, dan pemenangnya akan memiliki si betina.

Bila dalam jangka setahun tidak berhasil mengundang katak puru jantan, maka bau aneh itu masih terus keluar hingga habis sendiri, itu berarti berakhir pula hidup katak puru betina.

Karena seringnya terjadi perebutan dan bunuh membunuh, dituntut oleh keperluan lahiriah pula, maka katak puru ini memang sudah jarang ada dan sukar ditemukan, boleh dikata termasuk binatang aneh yang sudah hampir punah di dunia ini.

Secara tidak terduga, hari ini Pakkiong Yau-Liong dan Tio Swat-in memergoki binatang aneh yang ganas di hutan liar yang tidak pernah diinjak maausia ini, mungkin memang sudah ditakdirkan mereka harus menghadapi petaka ini.

katak puru itui masih terus mengeluarkan suara aneh, asap putih masih terus menyembur dari mulutnya, lidah merah sepanjang satu kaki terus mulur masuk.

bola matanya yang bundar tepat ditengah kepalanya yang persegi melotot semakin besar.

Sesaat Pakkiong Yau-Liong dan Tio Swat in sama-sama kaget dan melenggong oleh binatang aneh yang tiba-tiba muncul ini.

Saking kaget dan takutnya, serta merta Tio Swat-in menegakkan badan seraya melolos pedang ditangan.

Tapi pada detik yang sama, katak puru masih delapan kaki di depan mereka tiba-tiba menggerakkan kepalanya yang persegi, dimana keenam kakinya memancal, secepat kilat tubuhnya sudah melesat lurus menerjang kearah Tio Swat-in yang sudah melolos pedang.

Bukan kepalang kaget Tio Swat-in lekas dia berkelit sambil miring kesamping, pedang pusaka ditangannnya secara reftek menabas dengan sembilan bagian tenaganya kearah perut katak puru yang menerjang tiba.

Dalam waktu yang sama, tampak sinar emas gemerdep dalam waktu singkat itu Pakkiong Yau-Liong juga sudah mengeluarkan tombak lemasnya, dengan jurus Le-cu kian-kian-toh menusuk ke tenggorokan katak puru, bukan saja serangannya sangat cepat, aneh, tenaga yang dikerahkan juga cukup besar.

-oo0dw0oo-9 PEKIK suara katak puru makin keras dan gencar, tubuhnya tiba-tiba mengendap turun secara tepat menghindar dari tusukan tombak Pakkiong Yau-Liong yang ganas, sementara ekornya yang setengah kaki itu tiba-tiba mengipat.

"Trang"

Entah bagaimana tahu-tahu pedang Tio Swat-in kena ditangkisnya terpental kepinggir.

Disamping kaget Tio Swat-in batu insyaf pula bahwa katak puru ini ternyata lihay, ekornya tidak mempan senjata tajam pula, tenaga kipasan ekornya ternyata mampu menangkis pedangnya hingga hampir dia tidak kuat memegang senjatanya pula.

Bahwa tusukan tombaknya luput, diam-diam Pakkiong Yau-Liong juga kaget, sungguh tak diduganya bahwa binatang yang kelihatan bergerak lamban ini ternyata bisa bergerak setangkas ini, kalau ekornya tidak mempan senjata, maka kulit badannya yang benjol-benjol kehijauan itu mungkin juga kebal.

Hanya segebrak saja Pakkiong Yau-Liong dan Tio Swat-in lantas insyaf bahwa binatang dengan bentuk aneh dan ganjil ini teramat sukar dihadapi.

Sekali kurang hati-hati, bukan mustahil awak sendiri bisa celaka dan melayang jiwanya.

Karena menubruk tempat kosong, katak puru mengeluarkan suara semakin keras dan membisingkan, begitu menyentuh tanah, ke enam kakinya ternyata bergerak lincah dan mencelat membalik tubuh, langsung menubruk pula kearah Tio Swat-in-Kembali Tio Swat-in menyingkir seraya menggerakkan pergelangan tangan, dimana sinar dingin berkelebat, pedangnya telah membelah pula kearah katak puru yang menubruk datang.

Dikala pedangnya berputar itu, benaknya berpikir.

"Kelihatannya binatang ini tak mempan senjata, lalu kesasaran mana pedangku harus kutujukan ?"

Karena sedikit bimbang ini gerak-gerik sedikit merandek.

Hanya terpaut sedetik saja, katakpum itupun sudah menubruk tiba dengan bau amis yang memualkan merangsang hidung, ekornya tegak kaku terus menyapu ke arah Tio Swat-in-Gerak perobahan katak puru kali ini ternyata lebih cepat dan tangkas, serangannyapun terlalu mendadak dan sukar diduga pula, betapapun Tio Swat-in tidak menyangka bahwa binatang aneh ini masih mampu merobah gerakan balas menyerang pula.

Dalam detik-detik kritis ini, jelas Tio Swat-in takkan mampu menyelamatkan diri dari sabetan ekor katak puru.

Sudah tentu hal ini sangat mengejutkan Pakkiong YauLiong, mendadak dia gerakkan tombaknya terus menusuk sekuatnya kearah katak puru.

Dia pikir dengan tenaga tusukan tombak nya paling tidak dapat mendorong mundur binatang aneh yang masih terapung diudara, sehingga Tio Swat-in punya kesempatan meluputkan diri dari sabetan ekor lawan-Lwekang sudah dikerahkan sehingga tombak lemasnya itu tegak lurus menusuk kedepan, sekilas dilihatnya bola mata tunggal yang mencorong merah itu, tergerak hatinya, kalau sekujur badannya kebal senjata, maka bola mata sebesar tinju itu pasti tempat paling lemah yang mematikan-Kontan dia menekan tangan sehingga ujung tombaknya berputar mengincar bola mata katak puru, serangan secepat kilat.

Gerak serangan yang berobah secepat kilat serta mendadak ini sungguh lihay dan mengejutkan-Agaknya katak puru juga insyaf bahwa lawan telah tahu letak kelemahannya, tiba-tiba dia mengkeretkan kepala, tak sempat menyerang orang dengan gugup dia membalikkan badan terus mencelat mundur.

Tapi daya tusukan tombak Pakkiong Yau-li-oog keras dan cepat.

"Trak"

Tombaknya masih sempat menusuk batok kepalanya, walau tidak melukai, tetapi tenaga tusukan yang besar berhasil melempar katak puru itu jatuh setombakjauhnya.

"Blang"

Badannya jatuh terbalik dengan perut meghadap kelangit.

Tapi sigap sekali katak puru telah mencelat berdiri pula diatas kakinya, sorot matanya kelihatan gusar menatap Pakkiong YauLiong, mulutnya menjerit pula dengan suaranya yang membisingkan, seolah-olah menantang dan ingin adu jiwa dengan Pakkiong Yau-li-ong.

Tapi katak puru juga tahu bahwa kedua orang lawannya ini tidak mudah dirobohkan, titik kelemahan sendiri juga telah diketahui lawan, meski mulut terus berceloteh dan lidah merahnya masih mulur masuk.

kini dia mulai menyemburkan hawa putih, kedua kaki depannya terangkat seperti mencakar-cakar, namun tidak berani bertindak gegabah pula.

Setelah disergap dua kali oleh katak puru, Pakkiong Yau-Liong dan Tio Swat-in insyaf bahwa binatang berbisa ini sukar dihadapi, sedikit meleng bisa celaka akibatnya, terutama Tio Swat-in, di samping jijik hatinya pun merasa takut, maka dia tidak berani lena.

Diam tak bergerak mereka bersiaga serta mencari akal cara bagaimana mengalahkan binatang berbisa ini.

Tanpa bersuara akhirnya dua orang dan satu binatang berhadapan saling pandang dan menunggu kesempatan untuk membinasakan lawannya.

Satu hal yang tidak menguntungkan Pakkiong Yau-Liong dan Tio Swat-in, setiap kali angin menghembus datang, selalu membawa bau amis yang memualkan, sehingga menimbulkan rasa tegang yang memuncak.

Sang surya telah mulai terbenam, tabir malam sudah mulai menyelimuti mayapada.

Bulan sabit sudah mulai bertengger dipucuk pohon, sehingga kegelapan alam semesta ini menjadi remang remang.

Tapi bola mata katak puru ternyata masih mencorong terang.

Benjol-benjol tubuhnya yang berwarna hijau seperti mengandung pospor memancarkan sinar gemerdep hijau, kini mulutnya mulai memekik-mekik pula, suaranya tetap keras bernada tinggi.

Karena bersiaga dengan sepenuh semangat dan perhatiannya, keringat tampak menghias jidat Tio Swat-in, karena terlalu sering mencium bau yang memualkan, lama kelamaan dia merasa kepalanya pusing.

Tapi sedikitpun dia tidak berani lena, tetap bersiaga dan waspada.

Demikian pula keadaan Pakkiong Yau-Liong, lambat laun kepalanya juga mulai pusing.

Diam-diam Pakkiong Yau-Liong menghela napas, batinnya.

"Sayang kondisiku sekarang jauh lebih lemah, Lwekang juga tidak setangguh dulu, lalu buat apa kami membuang waktu dan banyak menghabiskan tenaga, bila kurang hati-hati bukan mustahil jiwa sendiri yang melayang percuma ? Bila bisa pergi kenapa tidak menghindar saja?"

Maka diam-diam Pakkiong Yau-Liong menarik ujung baju Tio Swat-in serta memberi kedipan mata.

Sayang Tio Swat in yang tumplek seluruh perhatian mengawasi binatang aneh itu, tidak menyadari atau mengerti apa maksud isyarat Pakkiong Yau-Liong.

Apa boleh buat terpaksa Pakkiong Yau-Liong menarik lengannya serta diajak menyurut mundur selangkah demi selangkah.

Akan tetapi katak puru sedikitpun tidak memberi kelonggaran, kalau mereka mundur dia justru maju mendesak, sorot matanya kelihatan berobah lebih aneh dan tajam, suaranya juga lebih keras dan menusuk telinga.

Kini Tio Swat-in sudah sadar apa maksud Pakkiong Yau-Liong, begitu Pakkiong Yau-Liong menghardik lekas dia lantas menjejak kaki sekuatnya, bersama Pakkiong Yau-Liong kedua orang ini mencelat mundur beberapa tombak jauhnya.

Tapi pada waktu yang sama, katak puru juga menggerakkan kepalanya.

"Wut"

Dengan membawa angin amis yang memualkan, seCepat kilat katak puru melesat kearah mereka berdua.

Kali ini katak puru sudah siap dan menghimpun kekuatan sejak tadi, maka daya luncur sungguh Cepat sekali, jauh lebih pesat dari terkaman yang terdahulu.

Begitu mendorong pundak Tio Swat-in, tanpa berjanji mereka menCelat berpencar ke kanan kiri.

Ternyata daya luncur katak puru tiba-tiba seperti berhenti ditengah udara, ditengah udara tubuhnya mendadak bisa berputar seperti menari, dengan kepala sebagai titik berat badannya, maka terciptalah sebuah lingkaran bulat warna hijau seluas delapan kaki, deru sambaran anginnya kencang sekali, kekuatannyapun lebih mengejutkan, ekornya yang setengah kaki itu tiba-tiba menyabet pula, laksana gugur gunung saja melanda kearah mereka.

Kembali Pakkiong Yau-Liong dan Tio Swat-in terperanjat, untung mereka cukup tangkas, tanpa ayal keduanya lantas lompat menghindar pula.

Hanya sekejap katak puru ternyata mampu mendesak dan membuat kerepotan dua jago kosen Bulim untuk menghindar dengan gerakan gugup dan pontang-panting, bahwasanya bukan saja terdesak, kesempatan balas menyerangpun tidak mampu lagi.

Akan tetapi serangan berantai katak puru ternyata tidak terhenti sampai disitu saja, luar biasa memang mahluk aneh ini, ditengah udara kembali dia berputar dua lingkaran dengan daya luncur yang tetap kencang, begitu melihat kedua lawan menyingkir pula, bebas dari jangkaUan serangan kabut hitam yang disemburkan dari mulutnya.

Akhirnya habis juga daya luncuran katak puru, tubuhnya berdentam diatas tanah berbatu namun sigap sekali dia sudah membuat ancang-ancang pula sambil berceloteh dengan suara yang membisingkan, sekonyong-konyong ekor pendeknya itu menggelegar menghantam tanah, kontan badannya melenting keatas terus melejit mumbul pula menubruk kearah Tio Swat-in-Baru saja kaki Tio Swat-in menyentuh bumi, suara bising dibelakang mendadak memekak telinga pula, hatinya lantas berfirasat jelek akan keadaan awak sendiri, maka didengarnya suara "Plak"

Yang nyaring menimbulkan kepulan debu, mahluk aneh itu telah menubruk serong pula kearahnya secepat kilat.

"Hiiiiaaaaat"

Tio Swat-in membentak gusar sambil menggetar pergelangan tangan, pedang mestikanya terbalik, dengan tepat dia incar bola mata katak puru, terus menusuknya dengan penuh kebencian.

Serangan pedang Tio Swat-in cepat lagi ganas, namun tubrukan katak puru juga tidak kurang hebatnya, mau tidak mau Tio Swat-in berpikir.

"coba kali ini dapatkah kau lolos dari pedangku? "

Tetapi diluar tahunya bahwa kata puru panjang empat kaki ini, meski belum mampu menyemburkan asap melukai lawan, tapi usianya juga sudah mencapai empat ratusan tahun, badannya kebal, gerak-geriknya Cukup tangkas lagi, mana semudah itu dia lukai.

Kelihatannya tusukan pedang itu pasti mengenai sasaran, diam-diam Tio Swat-in sudah kegirangan, maka dia salurkan seluruh tenaganya keujung pedang.

Akan tetapi dilain detik detik berbahaya itu, katak puru ternyata dapat menggelengkan kepalanya yang segi empat itu, seCara kebetulan dapat meluputkan matanya dari tusukan pedang Tio Swat-in, semenrara tubuhnya tetap meluncur kedepan tanpa berubah menerjang ke dada Tio Swat-in-Jangan kata dada kena digigit, umpama badan keserempet saja bila sampai keluar darah dalam jangka tiga jam jiwa pasti melayang dan sehari kemudian sekujur badan akan hangus menjadi abu.

Ujung pedang Tio Swat In hanya serambut saja menyelonong lewat dari samping bola mata katak puru, sementara katak puru itu tetap meluncur kearahnya.

Karuan saking kaget dan ngeri berobah pucat muka Tio Swat-in, keringat tampak bertetes diatas jidatnya.

Dalam menusukkan pedangnya tadi Tio Swat-in yakin serangannya pasti berhasil maka dia kerahkan seluruh tenaganya, sehingga tubuhnya ikut tersuruk kedepan dan tak mungkin bisa menarik diri pula, celakanya lagi badannya seperti sengaja diserahkan ke mulut katak puru, kontan dia merinding dan ngeri, diam-diam hatinya mengeluh.

"celaka.."

Akan tetapi perjuangan hidup tetap bersemi dalam benaknya, hal ini seCara reftek menyentak otaknya sehingga tubuhnya kuasa dimiringkan kepinggir, walau dia tahu betapapun cepat gerakkannya, jelas dirinya tak akan sempat meluputkan diri lagi.

Pada detik-detik gawat itulah mendadak sebuah gerungan gusar menggelegar, tampak dengan mata melotot, rona wajahnya memperlihatkan betapa teguh dan besar keyakinannya, mendadak dia ulur kelima jari tangan kirinya, secepat kilat menangkap ekor katak puru.

Waktu katak puru menggabu ekornya di atas tanah terus melesat kearah Tio Swat-in, ternyata Pakkiong Yau-Liong juga sudah menyelinap maju, Cuma katak puru menyerang Tio Swat-in, badannya kebal lagi, meski gugup Pakkiong Yau-Liong jadi bingung untuk turun tangan-Kini melihat bahaya mengancam jiwa Tio Swat-in, bila dia tidak lekas bertindak, katak puru akan melukai kekasihnya, maka tanpa pikir segera dia tangkap ekor katak puru, kedua kaki pasang kuda-kuda terus membetot sekuat-kuatnya.

Betapa besar betotan Pakkiong Yau-Liong tenaga yang dikerahkan mampu menarik benda ribuan kati, sehingga katak puru yang menerjang kearah Tio Swat-lot terapung di udara dan kena ditariknya mundur beberapa kaki, sementara sigap sekali Tio Swat-in sudah berhasil kebelakang satu tombak lebih.

Bahwa serangannya tsk berhasil tahu-tahu ekornya, dipegang oleh Pakkiong Yau Liong, di kala tubuhnya terbetot mundur dan masih terapung di atas udara itu, mulutnya menjerit-jerit pula sambil berontak menekuk dan meluruskan tubuhnya, agaknya tindakan Pakkiong Yau-Liong telah membakar sifat liarnya.

Terasa goncangan besar menggetar seluruh lengan Pakkiong Yau-Liong hampir tidak kuasa dia memegang kencang ekor binatang beracun itu.

Mendadak katak puru meliuk badan serta melintir balik ke atas, mulutnya mencaplok ketangan Pakkiong Yau-Liong yang memegang ekornya.

Karuan Pakkiong Yau-Liong kaget, betapapun dia tidak kira bahwa mahluk aneh ini bisa meronta sedemikian rupa, dalam keadaan serba susah ini, betapapun sebetulnya Pakkiong Yau-Liong tidak akan membebaskan pegangan, maka dia menghentak tombak lemasnya menusuk kebola mata katak puru yang menyalip.

Semua ini terjadi dan berlangsung dikala Tio Swat-in kebelakang dan berhasil menguasai dirinya pula.

Mulutnya terlongo, bola matanya yang jeli bening terbelalak namun memancarkan sinar buram dan kuatir.

Pedang masih dipegang, namun sekujur badan terasa dingin dan kuyup oleh kering sesaat dia berdiri mematung.

Sungguh tak terpikir olehnya bahwa situasi bisa berobah segawat ini, bukan saja katak puru tidak mempan senjata, ternyata mampu meronta dan balas menggigit, dalam keadaan tidak menguntungkan ini, jelas Pakkiong Yau-Liong bakal d rugikan.

Namun kecuali melenggong dan gugup setengah mati, dalam waktu sesingkat ini, apa pula yang bisa dia lakukan?

Jangan kata tak mungkin membantu, otaknya juga seperti beku tak mampu mencari akal untuk mengatasi situasi yang gawat ini, padahal dia berdiri dalam jarak setombak.

mampu berbuat apa dirinya...?

Dalam detik-detik yang akan menentukan aku mati atau kau yang mampus itulah.

Kalau tidak berada dalam keadaan kepepet betapapun katak puru tidak boleh disentuh atau di tabrak.

Tampak kepalanya seperti memagut naik, mumpung Pakkiong Yau-Liong masih pegang ekornya, dan dijinjing keatas, mendadak tubuhnya membalik.

Sejak disiksa dan diperlakukan sebagai binatang oleh Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji dalam penjara batu itu, kondisi badan Pakkiong Yau-Liong terlalu lemah dan kosong, walau Siangkoan Bu telah menyembuhkan luka-luka Pakkiong Yau-Liong dengan obat-obat mujarab tapi keadaannya sekarang belum sesehat badannya setahun yang lalu.

Getaran katak puru yang meronta karena tergantung di udara terasa menambah berat beban tangannya yang telah kerahkan setaker tenaganya, padahal hampir terlepas pegangannya.

Kini dia harus menusukkan tombak lemasnya pula, berhasil atau tidak serangannya, betapapun telah mengkorting tenaga tangan kirinya.

Maka begitu katak putu meronta dan menyendal, Pakkiong Yau-Liong merasa lengannya tergetar keras, telapak tangannya seketika sakit luar biasa, tahu-tahu katak puru sudah terlepas dari pegangannya dan melesat terbang kesana, ekornya yang kaku panjang setengah kaki tampak berlepotan darah.

Dari samping Tio Swat in melihat jelas semua kejadian ini, sebat sekali dia melompat kesamping Pakkiong Yau-Liong, suaranya panik dan gemetar selirih semut.

"Kau...."

Langsung dia pegang tangan kiri serta memeriksa luka-luka telapak tangannya.

Hanya sekejap Pakkiong Yau-Liong sudah merasa seluruh lengan kirinya kaku, termasuk telapak tangannya kesakitan luar biasa, panas seperti dibakar, rasa gatalpun tak tertahankan lagi.

cepat Pakkiong Yau-Liong menarik tangan kirinya menghindar dari pegangan tangan Tio Swat-in yang sudah diulur.

Pakkiong Yau-Liong tahu gelagat teramat buruk bagi dirinya, karena perasaan sakit dan panas ini luar biasa, jelas bukan rasa sakit biasa bila kulit leCet saja.

"Racun..."

Dalam hati dia menjerit, dia insyaf bahwa dirinya telah keracunan-Untunglah dasar Lwekang Pakkiong Yau-Liong cukup tangguh dan berakar, lekas dia menghimpun hawa murni mengerahkan tenaga menutup jalan darah badannya supaya racun tidak menjalar lebih tinggi, katanya sambil mengawasi Tio Swat-in.

"Tidak apa-apa, hanya lecet sedikit. Aku sudah mendapat akal bagaimana menghadapi binatang keparat ini..."

Sudah tentu Tio Swat-in tak percaya perkataan Pakkiong Yau-Liong, namun sebelum Pakkiong Yau-Liong habis bicara, katak puru telah membalik badan terus menggelinding sekali, bagai sebongkah batu saja mendadak menindih turun dari tengah udara "Minggir Swat-in"

Seru Pakkiong Yau-Liong, tidak mundur dia malah mendesak maju, tangan kanan terbalik, tombak singanya di ulur lurus sekeras toya, langsung mengepruk keatas katak puru yang menerjang tiba.

"Plak"

Seperti tongkat memukul batu saja tombak Pakkiong Yau-Liong ternyata mental dan melengkung, tapi katak puru juga terpukul jatuh setombak jauhnya.

"Blang"

Punggung menyentuh tanah, perut menghadap kelangit, beberapa kali dia harus meronta dengan kaki mencakar batu dia berhasil membalikkan badannya.

Begitu berdiri pula pada posisinya semula, katak puru mulai menyemburkan uap putih dari mulutnya, lidahnya kelihatan lebih mengerikan, ekor dan kepalanya bergoyang-goyang, mulutnya mengeluarkan suara ramai yang membising telinga, bola matanya yang menyala-nyala kelihatan lebih galak menatap Pakkiong Yau Liong, sesaat dia tidak bergerak.

agaknya sudah jeri menghadapi lawan yang lihay ini.

Pakkiong Yau-Liong tahu bahwa dirinya sudah keracunan, maka dia tidak ingin Tio Swat-in yang masih segar bugar ini ikut celaka bersama dirinya, maka dia bertekad dengan sisa tenaganya sendiri untuk adu jiwa dengan katak puru beracun ini.

Sambil membaling-baling kan tombak lemasnya, Pakkiong Yau-hong tatap katak puru yang juga mendelik gusar itu serta beranjak maju setindak demi setindak.

Sambil menjerit katak puru menegakkan keenam kakinya, siap menerkam Pakkiong Yau-Liong menyerang.

Dari pihak yang diserang Pakkiong Yau-Liong nekad balas menyerang, sayang napasnya sudah sengal-sengal, keringat telah membasahi jidatnya.

Bentuk katak puru sekarang juga lebih mengerikan dan mendirikan bulu roma, sinar hijau dan benjol-benjol kulit badannya kelihatan lebih nyata, demikian pula jeritan suaranya menandakan rasa ketegangan yang memuncak.

Pakkiong Yau-Liong terus maju makin dekat, katak puru tetap menggeleng kepala menggoyang ekor.

Lebih dekat, napas Pakkiong Yau Liong juga lebih memburu, sementara jerit suara katak puru lebih tajam, bengis dan galak memekak telinga.

Sekonyong-konyong kaki katak puru yarg enam itu bergerak selincah belut memutar datar, secepat roda menggelinding tiba tiba menerjang kedua kaki Pakkiong Yau-Liong.

Yang diserang sudah siaga, baru saja tombaknya hendak ditimpukkan, mendadak sebuah pikiran berkelebat dalam benaknya.

Sambil menggerung gusar mendadak Pakkiong Yau-Liong menjejak bumi, tubuhnya melejit beberapa kaki tingginya, katak puru sudah melesat tiba dibawah kakinya, mendadak dia kerahkan tenaga ribuan kati pula secara kekerasan menurunkan tubuhnya pula.

Maksud Pakkiong Yau-flong dengan berat badan dirinya hendak menginjak punggung katak puru lalu dengan tenaga Jian-kin-tui memantek si katak ditanah supaya tidak mampu bergerak syukur bisa menindihnya mati sehingga lawan tidak mampu mengganas pula, untuk menghadapi atau membunuhnya tentu tak periu banyak membuang tenaga lagi.

Akal Pakkiong Yau-Liong memang bagus, namun begitu serangan, karena beberapa kali kena dipukul lawan, sudah tentu kali ini dia tidak semudah yang dahulu kena dia kali lawannya pula.

Mendadak badannya mengegol terus menegakkan badan, kepala yang persegi itupun ikut tegak berdiri sambil membuka mulut lebar-lebar memagut ke kaki Pakkiong Yau-Liong yang menginjak turun.

Gerakan kedua pihak cepat dan keras, mendadak pula, dalam detik detik sesingkat ini, keadaan Pakkiong Yau-Liong betul-betul amat bahaya.

"Blaam."

Sebuah bentakan nyaring pendek.

dibarengi selarik sinar terang menyamber kearah titik kelemahan katak puru, yaitu bola mata mungil yang merah menyala itu.

Ternyata meski jantung berdebar debar dan tegang mendadak melihat keadaan Pakkiong Yau-Liong yang berbahaya ini, betapa tak kan gugup hatinya?

Bahna gugupnya tanpa pikir kontan dia timpukkan pedang mestika mengincar matanya.

Sesaat sebelum pedang mustika Tio Swat-in mengenai sasaran, semprotan darah mendadak beterbangan diudara, sehingga bau amis yang memenuhi udara terasa lebih tebaL Kiranya pada detik-detik yang menentukan itu, sebelum kedua kakinya dicaplok katak puru yang terpentang lebar, saking kaget, timbul akalnya.

Sekenanya kedua kakinya saling pancal sehingga gerakan tubuhnya seperti tertahan dan bergantung diudara, tubuhnya sejajar dengan tanah, sementara tombaknya ditusukkan lurus kebawah tepat masuk ketenggorokkan katak puru.

Dalam waktu sesingkat kilat berkelebat itu, kejadian terlalu mendadak pula, betapapun lincah dan gesit katak puru juga tak mungkin meluputkan diri lagi.

Begitu darah muncrat dari mulutnya yang lebar, pedang mestika Tio Swat-in secara telakpun telah amblas menembus mata tunggalnya.

Luka ditambah luka, saking kesakitan katak puru mengamuk dan meronta sejadi-jadi, batu yang berserakan disapu dan digulung beterbangan, sungguh dahsyat kekuatan katak puru disaat meregang jiwa.

Ditengah suara gaduh dimana katak puru sedang berguling-guling, sesosok tubuh tampak terpental jumpalitan dan "Blang"

Terbanting keras ditanah.

Ternyata Pakkiong Yau-Liong masih terapung diudara, begitu katak puru, meronta bergulingan, jelas dia tidak mungkin menyingkir atau mengundurkan diri, di saat tubuhnya melayang turun tubuhnya ditumbuk oleh badan katak puru yang sedang meronta hingga terlempar setombak jauhnya.

Lambat laun rontaan katak puru makin lemah dan melayanglah jiwanya setelah kehabisan darah dan tenaga.

Dengan gugup dan gelisah Tio Swat-in berdiri disamping Pakkiong Yau-Liong yang duduk ditanah.

Karena ditumbuk katak puru, hawa murni yang telah dikerahkan dalam tubuh Pakkiong Yau-Liong menjadi buyar, kadar racun yang tertahan dilengan seketika merembes kedalam badan.

Kini dia merasakan sekujur badan lunglai, kerongkongan kering dan gatal, seolah-olah dia berada diatas tungku yang menyala baranya, panas badannya sukar tertahan lagi.

Bulan sabit lebih tinggi, bayangan pohon laksana setan gentayangan.

Setelah terjadi kegaduhan, kini keadaan kembali tenang dan sunyi.

Dibawah sinar bulan sabit yang remang-remang, bangkai katak puru tampak menggeletak mengerikan, benjolan hijau ditubuhnya sudah tidak memancarkan sinar mengkilap lagi, demikian bola matanya belong sudah belong tertusuk pedang.

Darah berceceran mengenangi tubuhnya, binatang beracun ini takkan bisa mengganas pula.

Tapi bau amis badan dan darahnya sungguh memualkan.

Tio Swat-in seperti kehabisan akal, dengan gelisah dia hanya bisa mengawasi Pak-klong Yau-Liong yang tersiksa, namun perasaannya seperti ditusuki ribuan jarum, jauh lebih baik menderita dari Pakkiong Yau Liong yang dicintainya ini, tiba-tiba dia teringat akan obat mujarap yang diberikan oleh Siangkoan Bu menjalang pemberangkatan mereka tempo hari.

Lekas dia turunkan buntalannya serta membalik-balik isinya, akhirnya ditemukan sebotol Hiat-tok-san, lekas dia ambil kantong air dan siap mencekok puyer pemunah racun itu ke mulut Pakkiong Yau-Liong.

Tapi kantong air ternyata telah kosong, karuan rasa gugup dan gelisahnya bukan main-"Air, air.

Berikan aku air."

Ditengah deritanya Pakkiong Yau-Liong, menjerit dengan suara sengau, tubuhnya mengejang dan kelejetan.

Hampir pecah kepala Tio Swat-in saking gugup, rasa sesal mengeduk hati, kenapa tadi tidak selekasnya dia mencari sumber dan mengisi kantong airnya yang sudah kosong, lalu bagaimana sekarang dia harus mencekok puyer ini kemulut Pakkiong Yau-Liong?

Pikiran Pakkiong Yau-Liong masih sadar meski rasa panas menjalar keseluruh tubuh, teraba darah ditubuhnya seperti mendidih, kulit dagingnya sudah hangus, bela matanya merah dan melotot besar.

Napasnya mendesau, lidah menjulur panjang keluar mulut, kulit mukanya berkerut merut, tubuhnya terus berkelejetan-saking tak tahan dia masih berusaha menjerir minta air.

Pikirannya semakin kabur, mendadak dia mendengak sambil terkial-kial, gelak tawa aneh yang sudah biasa dia kumandangkan waktu di ceng-hun-kok dulu Mendengar nada tawa yang mengerikan ini Tio Swat-in sampai menggigit ngeri dan merinding.

Tapi lekas dia tenangkan diri dan pusatkan pikiran, pikirnya.

"Apakah aku harus tetap menjaganya disini? Atau lekas pergi cari air? MinUm obat membutuhkan air, keadaan Pakkiong Yau Liong yang mengering juga memerlukan air, maka lebih penting sekarang aku harus mencari air dan selekasnya kembali."

Akhirnya dia berkeputusan mengambil air, karena tanpa air, umpama dia tetap menunggu disamping Pakkiong Yau-Liong juga takkan dapat mengatasi keadaan yang fatal ini.

Maka dia mendekatkan mulutnya dipinggir telinga Pakkiong Yau-Liong, katanya perlahan.

"Kau tunggu dan tahan sekuatnya, aku akan cari air, sabarlah aku akan segera kembali."

Agaknya Pakkiong Yau-Liong amat tersiksa dan menderita keliwat batas, namun hatinya masih jernih, sekuatnya dia angkat kepala mengawasi Tio Swat-in dengan bola matanya yang melotot merah, lalu manggut sekali.

Dengan berlinang air mata sekilas Tio Swat-in tatap Pakkiong Yau-Liong terus menyambar kantong air berlari pergi secepat terbang.

Pakkiong Yau-flong seperti digembleng dalam siksa derita, namun sekuatnya dia kertak gigi menahan sakit dan panas, walau Tio Swat-in pergi membawa secercah harapan, apa lagi Pakkiong Yau-Liong masih muda, betapapun dia tidak rela meninggalkan dunia fana ini, karena masih banyak tugas yang belum sempat dia bereskan.

Akhirnya siksa panas dan gatal itu tak tertahankan lagi, Pakkiong Yau-Liong meronta berguling-guling sambil menjerit-jetit, kedua tangannya mencengkram tanah, mencengkram dan mencengkram sampat amblas kedalam bumi.

Tawa anehnya masih berkumandang, tapi tidak sekeras tadi, tubuhnya makin terus berguling hingga mencapai sela-sela batu darimana tadi katak puru keluar.

Tubuh Pakkiong Yau-Liong tiba-tiba melonjak keatas, kepalanya terangkat, tampak wajahnya yang kurus itu kelihatan merah darah, lebih jelek lagi.

Sela-sela batu gunung itu cukup lebar dan gelap.

tapi disebelah dalam yang gelap sana tampak suatu benda putih sebesar tinju memancarkan cahayanya.

Mahluk apa pula yang menghuni sela-sela batu ini?

Tubuhnya bergetar keras, kini dia tidak mampu menguasai diri sendiri, dia tahu bahwa jiwanya sudah diambang maut, sebentar lagi juga akan mati, kuatir Tio Swat in lekas kembali dan melihat keadaannya yang mengenaskan, atau kuatir Tio Swat-in celaka oleh mahluk jahat lainnya, maka dia berpikir.

Jiwaku sudah dekat ajal, keracunan sehebat ini takkan mungkin sembuh, lebih baik dengan sisa tenagaku yang sudah tiada harapan hidup ini, sebelum Tio Swat-in kembali, aku telah membunuhnya pula."

Maka sekuatnya dia tahan sakit sambil menyeret tombak lemasnya dia merangkak kedalam sela-sela batu.

Tiba-tiba hidung Pakkiong Yau-Liong yang diserang bau amis seperti mencium serangkum bau wangi semerbak.

bau wangi yang dingin seketika membawa rasa segar badannya yang panas terbakar, siksa derita tiba-tiba menjadi berkurang.

Maka dia lebih giat merambat, merambat makin dekat sinar putih yang tak bergerak di sela-sela batu sana.

Pada hal dia sudah berada dipojok sela-sela batu gunung, sinar putih dalam kegelapan itu sudah dilihatnya jelas.

Sekuatnya Pakkiong Yau-Liong angkat kepala dan membuka lebat matanya, sinar putih itu tidak mirip mata binatang, lalu benda apakah yang bisa memancarkan sinar putih dalam tempat segelap ini?

Sayang pandangan mata sudah kabur hingga tak kuasa dia melihat jelas benda apakah itu.

Meski derita masih merayapi sekujur badan, tapi dia terus merambat dan merambat.

Mendadak segulung hawa panas yang tak tertahankan lagi menerjang keluar dari pusarnya terus meledak dan menerjang keseluruh anggota badannya.

Dibawah gempuran hawa panas didalam tubuh, Pakkiong Yau-Liong yang sudah sekarat bertambah parah lagi, kepalanya serasa pecah, setelah kelejetan beberapa kali, tiba-tiba Pakkiong Yau-Liong terkulai semaput.

Karena keracunan katak puru yang membakar badan, keadaan Pakkiong Yau Liong sekarang berada diambang kematian pula^ Sedetik Pakkiong Yeu-Liong semaput oleh penderitaan yang luar biasa, serangkum hawa wangi tiba tiba menghembus lewat, kontan Pakkiong Yau-Liong merasa sekujur badannya semilir dingin seperti habis mandi dalam empang es.

sekuat tenaga dia kerahkan tenaga menegakkan badan serta menarik napas sedalam-dalamnya.

Sekarang dia sudah yakin bahwa benda yang mengeluarkan bau harum ini, merupakan obat mujarap untuk menyembuhkan keracunan badannya.

Apa lagi setelah dia memenuhi paru-parunya dengan hawa wangi itu, pandangannyapun bertambah terang, maka dilihatnya di atas sela-sela dinding batu sana berpancar sinar putih, itu bukan mata sesuatu makhluk, tapi adalah.

ah susah dia melihat jelas dalam jarak sedekat ini.

Bau harum itu kembali merangsang hidung di kala hembusan angin dingin lalu, ternyata semangat tambah bergairah, maka lebih besar keyakinannya bahwa bau harum itu keluar dari benda yang memancarkan sinar putih itu.

Betapa girang hati Pakkiong Yau-Liong.

seperti si kafir yang kepanasan ditengah padang pasir mendadak melihat oase, sekuatnya dia kerahkan tenaga merangkak maju.

Bau harum makin tebal, kini Pakkiong Yau-Liong sudah dekat di bawah sinar putih itu, untunglah makin bau harum makin tebal dan tenaga serta pikirannya-pun lebih jernih dan kuat.

Rasa sakit kepanasan dan gatal yang menyiksa sekujur badannyajauh berkurang, sehingga dia dapat merangkak lebih kuat dan cepat.

Kini dia sudah jelas benda yang memancarkan sinar putih di atas dinding itu adalah sesuatu benda kecil yang bentuknya seperti orok kecil berwarna putih mulus laksana salju.

Sebuah pikiran tiba-tiba menggelitik hatinya .

"Ya kong-ci bukankah Ya-kong-ci yang pernah disinggung Suhu dulu? Sungguh beruntung dirinya mendapat anugerah sebesar ini untuk memetik obat dewa yang mandraguna ini. Benda bersinar berwarna putih mulus berbentuk seperti orok ini dan mengeluarkan bau harum memang benar adalah Ya-kong-ci (rumput sinar malam). Umumnya dimana terdapat suatu benda sakti, pasti ditunggu oleh binatang buas atau beracun-Demikian pula Ya-kong-ci adalah merupakan obat mujarab yang susah didapat di dunia. Ya-kong-ci terdapat dua jenis, jenis pertama berbentuk seperti anak kecil, jenis lain berwarna merah bentuknya seperti kelinci. Yang berbentuk orok dapat memancarkan sinar putih, bentuk seluruhnya berwarna putih, sebaiknya yang berbentuk kelinci seluruhnya merah juga memancarkan cahaya merah. Sejak bersemi sampai berkembang Ya-kong-ci harus tumbuh selama tiga ratus tahun dan dari berkembang sampai berbuah memerlukan waktu seratus tahun pula, malah setelah berbuah memerlukan waktu enam puluh tahun pula baru bUahnya dapat memancarkan cahaya, disaat bercahaya itu adalah saatnya bUah itu sudah matang, namun Ya-kong ci yang sudah matang ini hanya kuat bertahan dua bulan satelah dua bulan buahnya akan rontok. pohonnya yang kecilpun akan kuyu dan kering berarti tidak berguna pula. Ya-kong-ci yang berbentuk orok dan Ya-kong-ci yang berbentuk kelinci kecuali sama-sama dapat menawarkan ratusan jenis racun, ternyata khasiat lainnya satu sama lain berbeda. Bagi orang yang berjodoh menemukan Ya-kong ci mirip kelinci serta memakannya, maka usianya akan bertambah tiga lipat, badannya kebal terhadap segala jenis racun, selama hidup takkan terserang penyakit apapun. Sebaliknya Ya-kong ci berbentuk orok kecuali memiliki khasiat seperti yang ada pada Ya-kong-ci mirip kelinci, ternyata masih dapat meringankan menambah kuat pula, bila seorang pesilat yang memakannya, Lwekangnya akan bertambah lipat ganda dan mencapai tingkat yang paling top. Sekarang Pakkiong Yau-Liong ketiban rejeki disaat dia meregang jiwa, dikala jiwanya sudah diambang maut telah ditolong oleh rumput sinar malam, maka sekuatnya dia merangkak dan merambat berdiri, dengan susah payah syukur dia berhasil meraih Ya-kong-ci. Beg itu Ya kong-ci terpegang sekujur badan merasa segar, apa lagi hidungpun dirangsang bau harum itu sehingga air liurnya ber-tetesan, begitu mulut terpentang kontan dia caplok buah mulus seperti orok itu. Sari buah yang manis mengalir seketika kedalam kerongkongan terus tertelan kedalam perut, seketika terasa betapa nikmat dan segar badannya. Pakkong Yau-Liong menyedot sekuatnya berulang-ulang , hingga sari buah Ya-kong-ci terhisap habis seluruhnya, cahaya putih yang memancar dari Ya-kong-ci sudah lenyap. demikian dahan dan daon Ya-kong-cipun seketika mati dan kering. Hawa harum menjalar sekujur badan sehingga pori-porinya mengeluarkan keringat hitam dan bacin, sekali setelah hawa harum ini mengitari seluruh tubuhnya, mendadak rasa mual merangsang, kontan dia membuka mulut menyemburkan segumpal darah kental hitam, inilah air beracun yang baunya menusuk hidung. Racun katak puru beleh dikata sudah terdesak keluar seluruhnya dari dalam badannya, bukan saja sembuh perasaan Pakkiong Yau-Liong malah lebih segar dan sehat. Tiba-tiba diajadi teringat kepada Tio Swat in yang pergi mencari air, pikirnya.

"Sudah hampir satu jam dia pergi, kenapa belum kunjung pulang? "

Lekas dia jemput tombak singa emasnya terus berlari keluar menuju kepinggir hutan sana.

Mendadak dikejauhan didengarnya pekik kaget dan ngeri yang nyaring, Pakkiong Yau li ong kenal itu suara Tio Swat-in, saking kaget lekas dia enjot kaki, tubuhnya melenting dengan kecepatan panah meluncur.

Hanya beberapa kali lompatan berjangkit Pakkiong Yau-Liong menjadi kegirangan, ternyata gerak-geriknya sekarang tambah enteng dan cepat, hampir dia tidak percaya akan keajaiban yang terjadi pada diri sendiri.

Maka dia menambah tenaga berlari sekencang angin lesus kearah datangnya saara.

Hanya beberapa kali menggerak kan kaki lima puluh tombak telah dicapainya.

Sekonyong-konyong loroh tawa aneh yang bernuda sumbang seperti ringkik burung bantu kumandang dari sana.jaraknya sudah tidak jauh lagi didalam hutan, Pakkiong Yau-Liong merinding mendengar gelak tawa aneh yang menggiriskan-Karena kuatir akan keselamatan Tio Swat-in, meski kaget dan merinding tapi gerak langkah Pakkiong Yau Liong tidak kendor malah makin pesat, beruntun dua kali lompat jangkit pula mendadak Pakkiong Ysu-Liong mengerem luncuran tabuhnya.

Tampak didepan sebuah hutan, Tio Swat in berdiri melongo, tak jauh didepannya berdiri seorang nenek peyot bertubuh kecil bungkuk dengan wajah yang menakutkan tengah tertawa latah sambil mendongak.

Mendadak nenek peyot buruk rupa itu menghentikan tawanya, bola matanya yang sipit mencorong hijau menatap Tio Swat-in lekat-lekat, katanya dengan suara melangsing dingin.

"Genduk ayu, kau sudah terkena hawa racunku, ketahuilah barang siapa berani mengambil air dari sumber abadiku, siapapan tidak terkecuali harus membayar dengan jiwanya."

Lalu bertolak pinggang serta berkata pula.

"Tapi aku Tok-gian-po punya satu kebiasaan yaitu siapa pun yang sudah terkena hawa racunku, akan kuberitahukan kepadanya cara untuk mengobatinya. pertama, harus makan Ya-kong-ci, obat mujarab yang paling diimpi kau setiap insan Bulim, tapi dalam masa hidupmu yang tinggal setengah tahun ini, kukira kau takkan mungkin bisa memperoleh Ya-tong-ci, kedua yaitu dengan kayu cendana yang sudah berusia ribuan tahun, setelah dipanggang setiap hari harus digosok-gosokkan ke sekujur badan, beruntun selama tiga puluh enam hari, kadar racun dalam tubuhmu baru bisa disembuhkan. Untuk menemukan kayu cendana ribuan tahun sudah tentu juga teramat sukar, tapi baiklah sekarang aku memberi petunjuk padamu, yaitu sebatang pedang kayu cendana yang ada satu-satunya di dunia ini sekarang kebetulan berada didaerah Biau kiang ini."

Saking puas dan bangga tiba-tiba kepalanya yang kecil beruban geleng-geleng sambil mencak-mencak seperti anak kecil.

Mendadak bola matanya mengerling sigap.

dia membalik serta mendelik ke arah Pakkiong Yau-Liong yang berdiri dua tombak disamping.

bentaknya.

"Anak bagus, berani kau mencuri dengar pembicaraanku di samping. Mau apa kau kemari?"

Waktu mendengar uraian Tok-giam po (nenek beracun dari neraka) ini, diam-diam Pakkiong Yau Liong sudah maklum, kenapa Toh-bing sik-mo menimbulkan huru-hara membunuh puluhan jiwa kaum Bulim diTionggoan, semua korbannya bersenjata pedang lagi, sudah jelas bahwa dia sedang berusaha mencari dia merebut-pedang kayu cendana milik ayahnya, untuk memunahkan racun ditubuhnya.

Kini Tio Swat-in juga terkena racun jahat Tok giam-po yang sukar disembuhkan juga , karuan hatinya gusar dan sedih pula, ke-dua jenis obat mujarab yang diterangkan tadi telah dilihatnya, tapi sekarang pedang kayu cendana belum berhasil direbut kembali, sementara Ya-kong ci telah ditelannya bulat-bulat.

Namun Pakkiong Yau Liong mampu mengendalikan emosinya, katanya kalem.

"Aku adalah temannya."

Walau suara Tok-giam-po bernada tinggi sember.

"kau adalah temannya, syukurlah, uraianku tadi tentu kau sudah mendengarnya pula, dengan Ginkangmu yang tinggi, kedatanganmu tidak kuketahui, untuk merebut pedang kayu cendana memusnahkan racun ditubuhnya tentu tidak jadi persoalan. Tapi perlu kujelaskan kepadamu, jangan kau biarkan tubuhnya tertiup angin lama-lama, kalau melalaikan pesanku, paling lama jiwanya hanya bertahan tiga hari. semoga kalian tahu diri."

"Tidak boleh tertiup angin? Tak heran Toh-bing-sik-mo. membalut sekujur badannya macam mumi,"

Demikian batin Pakkiong Yau-Liong. Dilihatnya Tok-giam-po membalik tubuh sambil terkial-kial hendak pergi.

"Berhenti"

Mendadak Pakkiong Yau Liong menghardik.

Tok giam-po menarik tubuhnya yang sudah berputar, mulutnya yang sudah ompong tampak menyeringai seram, sorot matanya yang kehijauan tampak menyapu Pakkiong Yau-Liong jengeknya^ "Berhenti?

Hm, apa kehendakmu?"

Tiba-tiba Pakkiong Yau-Liong mendongak sambil tertawa latah, itulah gelak tawa kebiasaannya yang sering dia kumandangkan di-ceng-hun-kok dulu, nadanya dingin menggejolak sehingga yang mendengit merinding di buatnya.

BelUm lagi gema tawanya lenyap Pakkiong Yau-Liong sudah berkata sambil menyeringai.

"Kau sudah melukai orang dengan racun lalu mau pergi seenak udelmu. Ketahuilah, urusan tidak segampang yang kau kira, jiwamu harus kau serahkan untuk menebus jiwanya bila tidak tertolong."

Lenyap suaranya sekali berkelebat tubuhnya sudah menubruk kearah Tok-giam-po, belum kakinya menginjak bumi, tombak lemas singa emas sudah melingkar dengan jurus Liok yak-wi-ji-bu.

tampak kemilau tombak emasnya menaburkan cahaya kuning membawa deruan keras menggulung kearah Tok-giam-po.

"Hihihi."

Tok-giam-po mendengus dingin sambil berkelit mundur setOmbak jauhnya, hatinya kaget dan membatin.

"Bocah semuda ini ternyata memiliki Lwekang dan Ginkang setangguh ini. Kurang ajar, berani bertingkah terhadapku."

Bahwa serangannya gagal menambah angkara murka Pakkiong Yau-Liong, sambil menggerung sebelum kakinya menyentuh bumi secepat kilat dia mengudak pula kesana, tombak lemasnya menyapu miring dengan jurus beng-ham-yam-ih (cahaya dingin melampaui sayap belibis), kembali deru angin, kencang menyabet kepinggang Tok-giam-po.

Betapa cepat gerak gerik serta ganas serangannya, jelas kondisi Pakkiong Yau-Liong, sekarang sudah jauh berbeda dibandingkan waktu dia masih malang melintang dilembah mega hijau.

Diancam sabetan tombak lawan, Tok-giam-po memang agak terdesak dan kerepotan, lekas dia menggeser miring, berbareng dengan jurus Jik-ih-hing-ang sementara tangan kanan bergerak dengan jurus Tam-sing-poat-te dua jurus dilontarkan sekaligus di tengah jalan bergabung menjadi serangan gabungan yang aneh dan dahsyat, kekuatan serangannya ternyata tidak kalah besar dan ganas.

Didaerah suku Biau ini bukan saja Tok giam-po dipandang sebagai malaikat atau setan yang menakutkan, penduduk setempatpun amat takut dan tunduk.

sampaipun Toh-bing sik-mo yang memiliki kungfu setinggi itu pun agak jeri tak berani memusuhinya, bukan saja jiwanya sempit, wataknya eksentrik, Kungfunya memang lihay dan tangguh, sudah mencapai tingkat sempurna, apalagi dia menguasai dan pandai menggunakan hawa racun yang orang lain tidak tahu cara bagaimana dia menyerang musuhnya.

Bila tiga jam yang lalu Pakkiong Yau-Liong harus menghadapi dia, meski dia punya nyawa rangkap dua belas juga sudah melayang seketika, jelas bukan tandingan Tok-giam-po.

Bahwa sabetan tombaknya luput, tahu-tahu kedua telapak tangan Tok giam-po sudah balas menggencet dari kanan kiri, gerak-geriknya aneh, serangannya lihay lagi, lebih hebat lagi tenaganya amat dahsyat, mau tidak mau Pakkiong Yau-Liong tersentak kaget, telapak tangan nenek peyot justru menepuk tiba disaat Pakkiong Yau-Liong terkejut itu.

Setelah menelan Ya-kong-ci meski Pakkiong Yau-Liong sempat mengeluarkan hawa murni memanfaatkan khasiat obat mujarab itu, sehingga daya kerja obat itu menimbulkan manfaat yang lebih besar tapi Lwekang dan Ginkangnya ternyata sudah melompat maju beberapa lipat, jadi untuk menghindar dari gencetan sepasang tangan Tok-giam-po bukan soal sulit bagi dirinya.

Namun dalam detik yang menentukan itu, serta merta dia merasakan dirinya tak mungkin dapat meluputkan diri dari tepukan lawan, padahal waktu begitu mendesak.

tiada pilihan lain, akhirnya dia nekad.

"Biar aku adu jiwa dengan kau."

Secara reflek tangannya membalik sambil menekan pergelangan, tenaga disalurkan kedua telapak tangan terus menyongsong ke telapak tangan Tok-giam-po yang menepuk tiba.

"Pyaaar"

Ledakan keras memekak telaga, disaat kedua telapak tangan kedua pihak saling bentur itu, getaran tangannya menimbulkan samberan angin lesus yang membumbung keangkasa, dahan-dahan pohon tersambar patah dan daonpun sama rontok.

Dua-duanya sama tergentak mundur lima langkah.

Bulat mata sipit Tok giam-po mengawasi pemuda yang berusia likuran tahun dihadapannya, sudah puluhan tahun selama dia malang melintang didunia Kangouw belum pernah ada tokoh tangguh manapun yang berani dan mampu melawan pukulan tangannya, tapi Pakkiong Yau-Liong yang masih muda ini ternyata mampu menandingi kedua tepukan telapak tangannya, dirinya tergentak mundur lima langkah lagi, karuan darahnya tersirap.

Setelah benturan keras tadi Pakkiong Yau-Liong rasakan lengannya pegal, telapak tangannya panas seperti keracunan katak puru tapi diam-diam dia mengeluh dalam hati.

Tapi hanya sekejap seretan dirinya sempoyongan mundur dan hawa hangat timbul dari pusar mengalir ke seluruh badan, rasa pegal lengannya seketika lenyap.

rasa panaspun tak terasa lagi.

Tergesa-gesa Pakkiong Yau-lioag menghimpun seluruh hawa murni untuk melawan tepukan sepasang telapak tangan Tok giam-po, diwaktu tenaga murni bekerja dan tergetar keras oleh beradunya pukulan tadi sehingga khasiat Ya-kong-ci menyebar keseluruh sendi sendi tulang dan urat syarafnya, diluar sadarnya, Lwekang Pakkiong Yau-Liong telah bertambah pula setingkat dalam waktu sekejap itu.

Begitu berdiri tegak, bukan saja rasa pegal dan panas dilengannya sudah lenyap.

terasa badan segar semangat menyala, maka perasaan Pakkiong Yau Liong lebih mantup, pikirnya.

"Gelagatnya meski Kungfu Tok giam-po amat tinggi, dia masih belum mampu mengalahkan aku."

Hidungnya mendengus ejek, matanya melotot gusar menatap Tok-giam-po, pelan-pelan dia mengikat tombak lemasnya dipinggang, ujung mulutnya mengulum senyum sinis yang menghina.

Melihat Pakkiong Yau-Liong malah menyimpan senjatanya, sepertinya akan menghadapi dirinya dengan tangan kosong, Tok-giam-po menjadi aseran karena dirinya merasa dihina dan diremehkan, mendadak dia meraung bagai singa mengamuk menubruk kearah Pakk tong Yau-Liong, tubuh masih terapung kedua tangan sudah didorong lurus kedepan menimbulkan angin badai yang melanda kedada Pakkiong Yau-Liong, perbawa serangannya memang mengejutkan.

Pakkiong Yau-Liong sudah siap berkelit, tapi benaknya memperoleh suatu keinginan.

"Kenapa aku tidak coba melawannya sekali pukulan pula secara kekerasan? "

Demikian pikirnya.

Maka dia tidak berkelit atau menyingkir, matanya dipicingkan sikapnya tak acuh seperti tidak melihat pukulan Tok-giam-po yang menyerang tiba.

Sudah tentu amarah Tok-giam-po lebih memuncak.

tenaga ditambah daya pukulan di pusatkan, batinnya.

"Biar kau tahu kelihayanku,"

Tadi dia hanya menggunakan tujuh puluh prosen kekuaannya, kini dia kerahkan setaker tenaganya, hawa udara seperti bergolak dalam sekejap ini sehingga menimbulkan deru angin bagai amukan badai yang mengakibatkan gugur gunung menerpa kearah Pakkiong Yau-Liong.

Sedetik sebelum serangan lawan mengenai badannya, mendadak Pakkiong Yau-Liong mendelikkan mata, sebar sekait dia menekuk lutut sehingga tubuhnya mendak kebawah, berbareng kedua tangannya terbalik naik dengan jurus Kong-cui-cui-Liong-kak (angin kencang meremuk tanduk naga), begitu telapak tangannya menyongsong kedatangan pukulan Tok giam-po.

Terjadi ledakan dahsyat pula, angin kencang bercerai berai kesegala penjuru, tubuh Tok-giam-po yang kurus kering dan pendek itu seperti kapas yang didera angin badai saja melayang ditengah udara, tampak kaki memancal meluruskan tubuh terus melayang turun setombak jauhnya, wajahnya tampak berUbah hebat, keringat membasahi kening, jelas Sekali dalam adu pukulan untuk kedua kali ini nenek peyot bertubuh kurus kering ini kena dirugikan oleh Pakkiong Yau-Liong, malah kemungkinan Sudah terluka dalam.

Hanya dua langkah Pakkiong Yau-Liong mundur sudah kuasa menguasai diri, mulutnya mengulum senyum kemenangan, sorot matanya setajam sembilu menghujam ulu hati lawan, selangkah dua langkah dia mendekat ke depan Tok-giam po.

Tok-giam-po kendalikan napasnya yang mendesau, berdiri menjublek.

sorot matanya menampilkan rasa ngeri, jeri dan tegang.

Ternyata kekuatan pukulan Pakkiong Yau-Liong telah menggoncangkan seluruh pertahanan kekuatan Lwekangnya sehingga darahnya seperti mengalir balik, selama hidupnya kapan dia pernah terpukul mundur setombak lebih, betapa hatinya takkan jeri dan peCah nyalinya?

Akan tetapi betapapun dia adalah seorang kosen yang memiliki Lwekang tangguh, Cepat dia sudah kerahkan tenaga murninya sehingga darah yang bergolak berhasil dituntunnya.

Kembali kejalan normal, namun kepala sedikit pusing, seluruh sendi tulangnya seperti hampir Copot, terutama isi perutnya nyeri dan sakit, dia tahu bahwa dianya sudah terluka dalam yang Cukup parah, tapi keCuali sorot matanya yang menampilkan rasa kaget dan jeri, mimik mukanya tetap wajar dan tenang.

Namun Pakkiong Yau Liong sudah mendesak maju pula.

Desau napasnya menjadi tambah berat dan cepat mengikuti setiap langkah Pakkiong Yau-Liong yang semakin dekat, diam-diam hatinya menerawang sudah timbul tekadnya begitu Pakkiong Yau Liong dekat dia akan menggunakan hawa racun, sehingga Pakkiong Yau Liong keracunan oleh bisa jahat yang sukar didapat obatinya.

Pakkiong Yau Liong makin dekat, detak jantung Tok-giam-po juga makin-kencang, keringat dingin membasahi mukanya juga semakin membanjir keluar berketes-ketes.

-oo0dw0oo-10 MENDADAK Tok-giam-po merogoh keluar Sebatang bumbung bambu panjang satu kaki dari lengan bajunya, seperti seruling saja langsung dia meniupnya sekali, maka menyemburkan serangkum bubuk putih dari bumbung bambu itu tersebar luas tertiup angin melanda kearah Pakkiong Yau-Liong.

Terdengar Tio Swat-in menjerit dari samping dengan suara yang parau.

"Awas, itulah hawa beracun "

Tapi kabut putih itu telah mengurung seluruh tubuh Pakkiong Yau-Liong.

Karuan Tio Swat-in berdiri menjublek disamping, kecuali gugup, hakikatnya dia tidak mampu berbuat apa-apa.

Tok-giam-po tertawa gelak-geIak kepuasan dan senang.

Tapi gelak tawanya mendadak putus seperti tenggorokannya mendadak keselak, bola matanya melotot bundar, mimik mukanya tampak ngeri membayangkan ketakutan sekujur badan bergetar keras.

Ternyata Pakkiong Yau-Liong tak kurang suatu apa-pun meski sekujur badannya sudah terserang oleh hawa beracun yang di tiupnya dari bumbung bambunya, seperti tidak merasa apa-apa dia tetap melangkah maju perlahan-lahan menembus kabut putih, dan kini sudah berada didepan matanya.

Ternyata hawa racun yang di tiup Tok-giam-po dalam jangka dua jam keadaan seperti biasa, kecuali tidak beleh ketiup angin, keadaannya tetap seperti orang biasa, tapi bila orang sudah kena kadar racun itu, bila racun sudah tersedot dan merembes kedalam badan, sipenderita pasti kehilangan tenaga dan seluruh badan lemas lunglai.

Tapi Pakkiong Yau Liong ternyata seperti tidak merasa apa-apa, seringai dingin malah menghias mulut, sorot matanya nun lebih tajam.

Mimpipun Tok-giam-po tak pernah membayangkan bahwa hawa racun miliknya yang lihay hari ini tak mempan terhadap Pakkiong Yau Liong yang baru saja telah menelan sebutir Ya-kong-ci, obat mujarab yang selalu diimpikan setiap insan persilatan, tubuhnya sudah kebal terhadap beratus jenis racun.

Betapa hati Tok-giam-po takkan kaget, takut dan ngeri?

Mendadak Pakkiong Yau-Liong mendengus sekali, kedua tangan terangkat lalu didorong pelan-pelan, segulung angin dahsyat, keras tapi lunak melesat kearah Tok-giam-po yang berdiri menjublek karena kaget dan ketakutan.

Dengan gelagapan mendadak Tok-giam-po menyadari bahwa jiwanya terancam elmaut, segulung tenaga dahsyat tahu-tahu sudah menekan dadanya sampai susah bernapas.

Sontak Tok-giam-po tahu apa yang bakal terjadi bila dirinya bertindak lama-lama, demi mempertahankan hidup secara reftek dia bergerak kilat menyingkir kesamping.

Tapi dikala dia berkelit itulah "Blang"

Kontan dia rasakan ulu hatinya seperti dipalu godam, tanpa kuasa mengendalikan tubuh, badannya terpukul terbang jungkir balik.

"Hua-ah"

Di tengah udara mulutnya terbuka menyemburkan darah segar dan "Bluk"

Badannya menumbuk sebatang pohon sebesar pelukan, kembali Tok-giam-po meraung sekali, tubuhnya roboh terkulai.

Pelan-pelan tapi pasti tubuh besar itu terNyata bergerak tumbang dan akhirnya roboh dengan suara yang gemuruh, ternyata pohon besar patah dahannya oleh tumbukan badan Tok-giam-po yang kurus peyot itu.

Tampak darah masih mengalir dari mulut Tok-giam-po, kedua matanya terbalik memutih, beberapa kali kakinya berkelejetan lalu kepalanya terkulai lemas, jiwapun melayang.

Tok-giam po yang dipandang malaikat atau setan di daerah Biau-kiang dan amat ditakuti penduduk setempat serta disegani kaum Bulim kini sudah tamat riwayatnya.

Mengawasi mayat Tok-giam-po canpa merasa Pakkiong Yau-Liong menyeringai dingin, dengan langkah lebar cepat dia menghampiri Tio Swat-in-Mendadak terdengar sorak sorai yang riuh dari sekeliling hutan, karuan Pakkiong Yau-Liong kaget dan siaga.

Disaat dia melongo itulah dari dalam hutan melompat seorang Biau yang tangan kanannya mengangkat tinggi sebatang tombak mengkilap.

Dibelakangnya merubung maju lima puluhan orang-orang Biau yang bermuka seram dan bengis, semua bersenjata tombak panjang yang gemerdep.

tangan kiri mereka memegang tameng yang terbuat dari anyaman menjalin.

Dalam waktu singkat Pakkiong Yau Liong dan Tio Swat-in sudah terkepung rapat ditengah orang-orang Biau itu, dibawah cahaya bulansabit, tombak panjang mereka yang mengkilap tampak menggiriskan dan menyilaukan mata.

Tio Swat-in terkena racun, kini keadaannya sudah lemas lunglai, mendadak dikepung orang-orang Biau lagi.

karuan mukanya pucat pasi.

Pakkiong Yau Liong memeluk Tio Swat-in serta menyapu pandang kepada orang-orang Biau yang mengepung diSekelilingnya, bentaknya murka.

"Kalian mau apa? "

Lenyap bentakan Pakkiong Yau Liong, laki-laki Suku Biau yang jadi pemimpin mereka mendadak memekik keraS lalu menancapkan tombaknya kearaS tanah, Serempak Sinar gemerdep berkelebat, serempak lima puluhan orang-orang Biau itu juga menancapkan tombak mereka ke tanah.

Pemimpin orang Biau itu kembali memberi aba-aba, mendadak seluruh orang Biau itu menekuk lutut menyembah mengikuti pimpinannya, mulut mereka mengoceh entah apa yang dikatakan.

Walau tidak tahu arti celoteh mereka, tapi melihat kelakuan mereka Pakkiong Yau-Liong dan Tio Swat-in tahu bahwa mereka tidak bermaksud jahat, legalah hati mereka.

Tapi mereka berdiri bingung dan tidak habis mengerti, sebetulnya apakah yang telah dan akan terjadi?

Mendadak pemimpin orang Biau itu berdiri pula, tangan dan kaki bergerak menuding menggaris serta kaki menendang sambil mulut mengoceh sekian lamanya, di hadapan Pakkiong Yau-Liong, sehabis bicara lalu menarik lengan Pakkiong Yau-Liong.

Walau tidak paham apa yang dikatakan orang, tapi dari gerak-gerik tangan dan mimik mukanya, Pakkiong Yau Liong tahu maksud mereka hendak mengajak dirinya ikut mereka.

Pakkiong Yau-Liong tetap tidak bersuara, jawabannya hanya menggeleng kepala.

Ternyata pemimpin orang Biau tidak kuasa menarik Pakkiong Yau-Liong, melihat dia geleng-geleng kepala, tahu dia tidak mau ikut maka dia berlutut dan menyembah pula diikuti anak buahnya, mulut mereka mengoceh pula.

Sambil menyembah, Seolah-olah memohon kepada Pakkiong Yau Liong supaya sudi ikut dengan mereka.

Sekilas Pakkiong Yau-Liong melirik Tio Swat-in, batinnya.

"Sekarang dia keracunan hebat, perlu tempat untuk istirahat, gelagatnya orang-orang Biau ini tidak bermaksud jahat, biarlah aku ikut pergi bersama mereka saja, maka dia membimbing pemimpin orang Biau sambil mengangguk. Pemimpin orang Biau seketika berjingkrak girang sambil memekik-mekik, lalu dia membalik bicara beberapa patah kepada anak buahnya. Maka tempik-sorak orang-orang Biau itu makin keras sambil menari-nari, girangnya bukan main-Empat orang segera menggotong mayat Tok-giam-po, yang lain merubung Pakkiong Yau-Liong dan Tio Swat-in serta menggiringnya kedalam hutan dengan langkah cepat. Bila fajar menyingsing rombongan mereka pun telah menempuh perjalanan jauh melampaui puncak gunung dan tiba didepan gua-gua yang dihuni oleh suku Biau itu. Beberapa orang yang menggotong mayat Tok giam-po ternyata sudah sampai lebih dulu. Di depan sebuah gua besar tampak seorang Biau muda bertubuh kekar dan berotot kekar memimpin ratusan orang Biau menyambut kedatangan mereka. orang Biau muda gagah ini adala Tong-cu atau kepala gua suku Biau mereka. Untunglah seorang tabib kelilingan bangsai Han yang sering mondar-mandir di wilayah orang-orang Biau bantu menterjemahkan percakapan kedua pihak sehingga komunikasi mereka cukup lancar, mereka saling berjabatan tangan dengan ramah dalam suasana riang dihimbau gelak tawa, Pakkiong Yau-Liong baru paham apa yang terjadi setelah diberi penjelasan oleh tabib kelilingan. Ternyata sebuah empang yang merupakan sumber air jernih di wilayah Biau-kiang ini telah diduduki oleh Tok-giam-po serta dipandangnya sebagai daerah terlarang untuk siapa pun, siapapun dilarang mengambil air dari empang yang terletak tidak jauh dari kediamannya, bagi siapa yang melanggar pantangannya, maka dia akan menyebul hawa beracun kepada pelanggar itu sehingga mati keracunan tanpa terobati. Hal ini pernah pula menimpa Toh-bing sik-mo pada puluhan tahun yang lalu, demi mencari Pedang Kayu cendana seperti yang dijelaskan oleh Tok-giam-po, maka Toh-bing-sik-mo meluruk ke Tionggoan, supaya selamat badannya dia balut seperti mumi dan menimbulkan malapetaka bagi kaum persilatan di Tionggoan, lokasi kejahatannya yaitu di ceng-hun kok. Kini demi menolong dirinya, Tio Swat-in mencari air dan terkena pula hawa beracun Tok giam-po. Memang tidak sedikitjiwa yang sudah melayang oleh kekejian Tok-giam-po hanya orang meminum seteguk atau mengambil sekantong air jernih diempangnya itu. Dan yang jadi korban melulu penduduk setempat, sampai-pun pemimpin tua mereka juga mati dalam keadaan yang mengenaskan. Adalah logis kalau orang-orang Biau amat dendam dan membencinya, tetapi karena Kungfu Tok-giampo amat tinggi, orang orang Biau yang tidak pandai silat itu sudah tentu menjadi korbannya secara konyol. Toh bing sik-mo yang memiliki Kungfu setinggi itu pun bukan tindingannya, maklumlah kalau kematian Tok-giam-po amat menyerangkan hati mereka. Tok-giam-po merupakan setan malaikat atau momok yang menakutkan, bahwa Pakkiong Yau-Liong mampu membunuhnya, sudah tentu Pakkiong Yau-Liong dipandang lebih hebat bagaikan malaikat dewata yang diutus Thian untuk menolong para umatnya. Maka mereka berkeras mengundang Pak kiong Yau-Liong mampir ke-gua mereka, sebagai tanda penghargaan dan terima kasih mereka kepada Pakkiong Yau-Liong bersama Tio Swat-in, mereka disambut meriah oleh kepala suku dan seluruh orang Biau yang menghuni gua di samping gunung. Sejak hari itu Pakkiong Yau-Liong serta Tio Swat-in menempati sebuah bilik didalam gua batu, kepala suku dan orang-orang Biau cukup ramah dan sopan, mereka dilayani segala kebutuhan, tanpa terasa dua hari Sudah berlalu. Pakkiong Yau-Liong amat getol menuntut balas kepada Toh-bing-sik-mo, merebut Pedang Kayu cendana untuk memunahkan kadar racun dalam badan Tio Swat-in-Maka malam kedua, dia titipkan Tio Swat-in kepada kepala Suku lalu meninggalkan tempat itu dengan diam-diam. Bulan bergantung dicakrawala, malam kelam penuh kabut. Di daerah Biau yang terkenal angker, liar dan banyak binatang buas dan berbisa ini, tampak bayangan seorang dengan kecepatan yang sukar dipercaya tengah berlari kencang. Dia bukan lain-adalah Pakkiong Yau Liong yang sudah menelan Ya kong-ci dan tengah mengerahkan tenaga berlari dan berlompatan, tenaganya seperti tak habis-habis sejak Lwekangnya bertambah berlipat ganda sejak menghisap sari Ya-kong-ci. Kini dia tengah menjelajah alas pegunungan diBiau kiang yang belukar, dalam waktu sesingkat mungkin besar hasratnya menemukan jejak permukiman Toh-bing-sik-mo, di-samping menuntut balas kematian ayahnya, Pedang Kayu cendanapun harus direbutnya untuk menolong jiwa Tio Swat-in-Tiba-tiba Pakkiong Yau-Liong mengendorkan larinya, wajahnya menampilkan mimik heran dan kaget. Dilihatnya jauh di depan dalam jarak seratusan langkah, sesosok bayangan tengah berlari kencang pula kearah timur, karuan Pakkiopg Yau-Liong heran, siapa pulakah yang berlari-la ri dimalam hari dalam hutan belantara ini, maka timbul hasratnya untuk mengejar kesana. Maka lalu dia kembangkan Ginkangnya, tubuhnya meluncur secepat meteor mengejar rembulan, kearah bayangan yang meluncur di depan-Sudah tentu yang diharapkannya orang di depan itu adalah Toh-bing-sik-mo, supaya dirinya tidak berjerih payah mencarinya ubek-ubekan, seCepatnya pula menunaikan tugas. Tapi setelah jarak semakin dekar, diam-diam hatinya agak kecewa, karena dalam jarak puluhan langkah matanya sudah melihat jelas bayangan didepan itu bukan Toh-bing-sik-mo yang membalut tubuhnya dengan perban. Tapi dia menghibur diri dengan pikiran begini.

"Sudah belasan tahun Toh-bing-sik-mo merebut Pedang Kayu cendana, kadar racun ditubuhnya tentu sudah dihisap habis dan tuntas oleh khasiat Pedang Kayu cendana dan sekarang tidak perlu lagi membungkus badannya dengan perban supaya terlindung dari tiupan angin. Tapi setelah jarak lebih dekat lagi, dia benar-benar amat keCewa. Kini jarak tinggal lima puluh langkah, namun sejak minum Ya-kong-ci pandangan mata Pakkiong Yau-Liong ternyata teramat awas dan tajam, dibawah sinar rembulan yang remang-remang dalam jarak sejauh itu ternyata dia mampu melihat jelas bahwa bayangan didepan itu bukan Toh-bing-sik-mo, malah juga bukan seorang laki-laki. Kalau bukan laki-laki tentu adalah perempuan, rasa aneh dan ingin tahu tiba-tiba merongrong perasaannya, dia ingin tahu siapa perempuan yang berani keliaran seorang diri di malam selarut ini dihutan belantara ini. Maka dia kembangkan kedua lengannya seperti burung terbang saja beruntun beberapa kali lompatan, dengan enteng dia sudah mengudak semakin dekat, sekali menjejak kaki tubuhnya melambung tinggi melampaui bayangan itu terus hinggap didepannya. Bayangan itu menjerit kaget karena munculnya Pakkiong Yau-Liong secara mendadak, lekas dia mengerem tubuhnya. Tapi lekas sekali dia sudah menubruk kearah Pakkiong Yau Liong seraya berteriak kegirangan.

"Yau-Liong Koko. Akhirnya aku menemukan kau."

Rasa kejut dan heran menjalari mimik muka Pakkiong Yau-Liong, serunya.

"Lho, kau Siau-ceng."

Bayangan yang berlari kencang dan diudak Pakkiong Yau Liong ini ternyata bukan lain adalah Siangkoan ceng, anak perawan Tabib Pendekar Siangkoan Bu.

Siangkoan ceng berjingkrak aleman sambil menarik lengan Pakkiong Yau-Liong, katanya.

"Yau-Liong Koko, berapa susahnya aku mencari kalian-"

Pakkiong Yau Liong tersenyum menghadapi kebinalan gadis aleman ini, katanya lembut.

"Sungguh tak kuduga bakal bertemu kau disini. Eh, apa kau datang seorang diri? "

Cemberut bibir Siangkoan ceng, katanya.

"Aku minta ikut, ayah dan ibu melarang, kalianpun, tak mau mengajak aku, terpaksa malam kedua seorang diri diam-diam aku minggat dari rumah, memangnya apa yang bisa kalian lakukan, seorang diri akupun bisa menyusul kemari."

Pakkiong Yau-Liong menghela napas sambil geleng kepala, katanya.

"Siau-ceng, kenapa kau membawa adatmu sendiri, anak sudah besar tidak boleh nakal, bukankah ayah ibumu akan gugup dan kebingungan setengah mati? "

Siangkoan ceng melerok sambil memonyongkan mulut, katanya menatap Pakkiong Yau-Liong.

"Perduli amat, aku ingin ikut kalian-Siapa suruh mereka melarang."

Sejak Pakkiong Yau-Liong ditolong Siang koan Bu dan dirawat sampai sembuh dirumahnya, Siangkoan ceng amat telaten membantu ayahnya mengobati pasien yang satu ini, lama kelamaan timbul rasa Cinta di dalam benaknya kepada pasien ayahnya yang ganteng ini, maklum usianya masih keCil, hidup terpencil di-pengasingan, jauh dari kehidupan masyarakat, maka dia sendiri tidak tahu kenapa perasaan hatinya selalu risau dan ingin selalu berdekatan dengan Yau-Liong Koko, sehari tidak melihat perjaka yang dikasihinya, hatinya terasa risau dan sedih.

Betapapun Siangkoan ceng masih muda dan tidak tahu artinya cinta, diapun tidak perduli apa sebabnya, setiap timbul hasrat ingin bertemu dengan Pakkiong Yau-Hong, maka tanpa tedeng aling-aling dia lantas mencarinya dan mengajaknya ngobrol panjang lebar, tiada ikatan apapun yang membatasi gerak-gerik dan sikapnya.

Namun Pakkiong Yau-Liong juga amat sayang dan ramah kepadanya, sesayang seorang kakak kepada adiknya.

Melihat Pakkiong Yau-Liong geleng kepala sambil menghela napas, mendelik mata Siangkoan ceng, katanya .

"Kenapa kau menghela napas? Semula kukira kau amat baik dan sayang kepadaku, mana tahu kau juga melarang aku ikut, padahal aku juga pernah meyakinkan Kungfu, kau takut aku bakaL.."

Tiba-tiba bola matanya berputar lalu bersuara heran, tanyanya.

"Liong Koko, kenapa hanya kau seorang diri, mana enci Swat-in?"

Pakkiong Yau-Liong menghela napas, lalu dia tuturkan kejadian Tio Swat-in terkena hawa beracun Tok-giam-po. Siangkoan ceng terbelalak kaget, serunya.

"Apa betul, mari lekas kita Cari Toh bing sik-mo merebut kembali Pedang Kayn cendana untuk menghisap racun di tubuh cici Swat-in "

Tangan Pakkiong Yau-Liong ditariknya terus hendak menyeretnya pergi. Tetapi Pakkiong Yau-Liong malah memegang lengannya serta menariknya, katanya per lahan.

"Nanti dulu Siau-ceng, kau dengar dulu."

Berkedip bola mata Siangkoan ceng mengawasi Pakkiong Yau Liong, dia berdiri diam memasang kuping, tapi tiada suatu suara apa pun yang di dengarnya, dengan binpung dan heran dia lantas mengomel kepada Pakkiong Yau-Liong.

"Liong ko, dengar apa? Tak ada yang kudengar."

Pakkiong Yau-Liong segera menarik Siangkoan ceng.

"Mari ikut aku."

Katanya. Sedikit bergerak seCepat kilat tubuhnya sudah melesat terbang. Siangkoan ceng melelet lidah, dam-diam dia bersorak dan memuji.

"cepat amat."

Lekas dia pun gerakkan kakinya mengudak dengan kencang sekuat tenaga.

Betapapun dia sudah kerahkan seluruh tenaga dan mengembangkan Ginkang, dalam sekejap dia sudah ketinggalan lima puluhan langkah.

Sekarang dia telah mendengar suara yang diperhatikan Pakkiong Yau-Liong, yaitu gelak tawa yang mendengung diangkasa, tidak mirip tawa manusia, lebih tepat kalau dikatakan pekik tangis setan atau lolong serigala yang kelaparan, karena gelak tawa latah itu amat menusuk kuping, apa lagi ditengah malam dalam hutan belantara lagi, mendengar gelak tawa latah ini Siangkoan ceng jadi mengkirik.

Tapi Pakkiong Yau-Liong makin jauh, sudah seratusan langkah meninggalkan dirinya di belakang, meski takut, tetapi demi menyusul Pakkiong Yau-Liong, Siangkoan ceng masih memperCepat langkahnya kearah selatan-Lwekang Pakkiong Yau Liong memang melompat maju berlipat ganda, sehingga pendengarannya jauh lebih tajam dari orang lain, sayup, sayup dia mendengar gelak tawa yang amat dikenalnya.

Begitu mendengar gelak tawa yang menggiriskan ini, lantas terbayang oleh Pakkiong Yau-Liong akan bayangan pendek kurus kering dari seorang kakek botak yang menyeringai sadis didepan matanya, lalu terbayang pula seraut wajah Cantik seorang perempuan yang mati seCara mengenaskan sambil mengulum senyum kebebasan.

Itulah bayangan dan gelak tawa Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji yang menyiksa dirinya serta perempuan tak dikenal yang berusaha menolong dirinya hingga akhirnya dia sendiri berkorban jiwa .

Maka bara dendam seketika membakar sanubarinya, tanpa hiraukan Siangkoan ceng apakah dia mampu menyusul dirinya, seCepat kilat dia meluncur kearah datangnya suara.

dalam sekejap ratusan tombak telah dicapainya, mendadak bola mata Pakkiong Yau-Liong memancarkan cahaya amarah yang memuncak.

Tampak didepan dalam jarak lima tombak, seorang kakek kurus pendek yang hanya memiliki sebelah telinga, siapa lagi kalau bukan Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji.

Mukanya yang sadis sedang menyeringai dengan pandangan buas tengah menatap seorang laki-laki yang berlepotan darah sekujur badannya, langkahnya limbung menyurut mundur, tapi kakek botak pendek ini masih mendesaknya dengan ancaman elmaut.

Mendadak Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji menengadah sambil mengeluarkan loroh tawanya yang menusuk kuping, katanya.kemudian.

"orang she Go^ tempo hati aku ampuni jiwamu, ternyata berani kau meluruk datang kesini mencari permusuhan dengan aku. Betul binimu sudah kugagahi dan mampus pula ditanganku, memangnya kau mau menuntut balas? Hayo-lah maju."

Laki-laki She Go yang berlepotan darah dengan badan penuh luka-luka, sekuatnya dia mempertahankan dirinya, wajahnya yang pucat tampak gusar, bentaknya.

"orang she Ni, jangan takabur, meski jadi setan aku tetap akan mengudak sukmamu manusia rendah melebihi binatang."

Sehabis bicara mulutnya terpentang memuntahkan darah segar, wajahnya semakin pucat, bola matanya pun mendelong kaku, napasnya mendesau satu-satu, gelagatnya takkan kuat lagi mempertahankan diri.

"Kalau demikian...."

Demikian jengek Ni Ping-ji menyeringai sadis.

"Biarlah orang she Ni mengantarkan keberangkatanmu biarlah kau jadi setan membuat perhitungan dengan aku."

Ni Ping-ji sudah bergaya siap menubruk orang she Go dengan serangan mematikan.

Pada saat itulah gelak tawa keras memekak telinga tiba-tiba berkumandang dalam alas pegunungan, nadanya dingin tajam serta mengancam, loroh tawa penuh dendam yang tak terlampias, telinga Ni Ping-jipekak rasanya, dengan kaget dia menoleh, lima tombak disana dilihatnya Pakkiong Tau-Ilong berdiri sambil bertolak pinggang, lenyap gelak tawanya, tampak meluncur datang pula seorang gadis berusia tujuh belasan, berdiri di samping Pak kiong Yau-Liong.

"orang she Ni."

Desis Pakkiong Yau-Liong.

"Jangan kau kira segampang udelmu kau bisa mengganas pula di depanku."

Ni Ping-ji bergilir terkial-kial, katanya.

"Bocah sekarat, baru sekirang kau datang. Sudah lama aku menunggumu, akhirnya kau mengantar kematianmu juga ."

Habis bicara bola matanya mengerling lalu menatap Siangkoan ceng, mulutnya menggumam.

"Ah, kebetulan sekali, tumben hari ini aku sedang ketagihan, dua persoalan bisa kubereskan sekaligus, setelah bercapai lelah pulang aku bisa menghibur diri dengan genduk jelita ini."

Siangkoan ceng tahu Ni Ping-ji sedang menyinggung dirinya, karuan dia naik pitam, kontan dia berludah sebaL Ni Ping-ji seperti tidak mendengar dan tidak memperhatikan reaksinya, mengawasi Pakkiong Yau-Liong tangannya menuding laki-laki she Go katanya.

"Nah, biar kuperkenalkan laki-laki itu adalah suami dari perempuan yang dulu berusaha menolongmu itu. berani dia meluruk kemari hendak menuntut balas kematian bininya, tapi kali ini aku tidak akan bertindak sekejam dulu kepadamu, karena kau membawa hadiah genduk seCantik ini untukku."

Lalu sambil mengelus jenggot kambingnya, matanya mengawasi Siangkoan ceng seperti menikmati barang yang pilihannya, lalu katanya pula dengan sikap kurang ajar.

"Waduh hebatnya Kelihatannya masih perawan tulen, sudah setua ini Ni Ping-ji, ternyata masih juga mendapat rejeki besar."

Sebelum Pakkiong Yau-Liong memuncak amarahnya, Siangkoan ceng sudah tidak tahan lagi, hardiknya gusar.

"Anjing kurap tidak tahu malu, coba saja kalau tidak kupotong lidahmu."

Sembari memaki pedangpun dilolos teras menerjang kearah Ni Ping-ji.

Amarah Pakkiong Yau Liong juga sudah berkobar, tak nyana Siangkoan ceng mendahului bertindak.

baru saja dia hendak mencegah dan menarik mundur Siangkoan ceng, mendadak ujung matanya menangkap bayangan laki-laki she Go yang berdiri limbung itu tersungkur jatuh.

Bagaimana juga dia tak tega membiarkan orang sekarat, lekas dia memburu maju memapahnya, maklum isteri orang pernah menyerempet bahaya berusaha menolong jiwanya, akibatnya jiwa sendiri melayang perCuma.

Pakkiong Yau-Liong juga maklum taraf kepandaian Siangkoan ceng sudah mendapat warisan kepandaian ayahnya, sementara waktu masih Cukup kuat menghadapi Ni Ping-ji, maka dia merasa perlu memberikan pertolongan lebih dulu kepada laki-laki she Go..

Tiba-tiba laki-laki she Go mengejang lalu meronta sekuatnya, darah segar menyembur pula dari mulutnya.

Mukanya pucat berkerut-kerut, napasnya mendesau dan tinggal satu-satu, Pakkiong Yau Liong tahu jiwanya takkan tertolong lagi, maka dia memapah serta menggoncang tubuhnya perlahan seraya memanggil "Go-heng Go heng...."

Terbeliak biji mata orang she Go pandangannya buram mengawasi Pakkiong Yau-Liong, bibirnya gemetar, suaranya lirih terputus-putus.

"Aku.... aku sudah tidak kuat lagi.....semoga kau..... kau pandang..... isteriku, tolong balaskan sakit..... hati kami."

Darah kembali menyembur dari mulutnya, setelah berkelejetan pula beberapa kali, napasnya putus.

Bukan kepalang sedih dan pilu Pakkiong Yau Liong, pelan-pelan dia angkat telapak tangannya mengusap muka orang yang sudah meninggal sehingga bola matanya yang terbelalak terpejam, katanya rawan.

"Tenteramlah kalian dialam baka. Aku bersumpah akan menuntut balas bagi kalian."

Lalu dia turunkanjenazah yang dipapahnya dan dibaringkan lurus diatas tanah, sambil menggerung gusar dia melejit ketengah arena, di mana Siangkoan ceng tengah mencecar Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji dengan pedangnya.

Melihat Pakkiong Yau-Liong menubruk datang, lekas Ni Ping-ji berkelebat mundur setombak.jengeknya dingin.

"Ha, satu orang mana mampu melawanku, kalian boleh maju bersama. Hm, umpama tambah dua lagi juga akan sia-sia, mengantar kematian saja."

Hampir meledak rasanya dada Pakkiong Yau-Liong saking gusar, mendengar ejekan Ni Ping-ji, saking marah dia malah tertawa besar, bentaknya bengis.

"orang she Ni, kematian didepan mata masih berani kau besar mulut"

Lalu dia menoleh pada Siangkoan ceng.

"Kau minggir saja, saksikan bagaimana aku membereskan dia"

Siangkoan ceng dengan sebilah pedang mestikanya sudah melabrak Ni Ping-ji puluhan jurus, bukan saja tidak mampu melukai lawan, ujung baju orang pun tidak kuasa disen tuhnya, beberapa kali malah dia terdesak dan hampir saja dicakar dan dijamah, dia tahu kepandaian sendiri terpaut jauh dibanding lawan, maka dia manggut lantas mundur kesamping.

Pakkiong Yau-Liong tidak banyak bicara lagi, sambil membentak secepat kilat dia menubruk kearah Ni Ping-ji, pergelangan tangan berputar dia lancarkan jurus Yam-jiu-jiu-yau-loh (angin musim semi merontokkan daon, lima jarinya bagai cakar dilandasi tenaga kuat yang tak terlukiskan dahsyatnya mencakar ke muka Ni Ping-ji.

Betapa cepat dan besar tenaga yang digunakan, betul-betul membuat Ni Ping ji kaget setengah mati, bekal Lwekang Pakkiong Yau-Liong sekarang memang jauh lebih tangguh di banding beberapa bulan yang lalu waktu lawannya ini menjadi bulan-bulanannya.

Meski-kaget Ni Ping-ji masih mampu mengimbangi kecepatan lawan, namun gerakannya seperti dipaksakan baru berhaSil menghindar dari cakaran Pakkiong Yau-Liong, Sebat sekali tangan kanannya bekerja dengan jurus Ban-toh-jun-hoa (selaksa bunga musim semi), dia kerahkan sembilan puluh prosen tenaganya balas menepuk ke dada Pakkiong Yau Liong.

Pakkiong Yau Liong mendengus rendah, telapak tangannya terbalik naik seperti orang bercermin, dia gunakan jurus Thian-kiat-siat-joh-he (naik kuda pelesir dijalan raya), gerakannya membawa deru angin dahsyat menangkis telapak tangan Ni Ping ji yang menyerang datang.

Menghadapi pukulan Pakkiong Yau-Liong yang dilandasi kekuatan raksasa, mana berani Ni Ping-ji menangkis, lekas-dia tarik serangannya serta menggeser langkah, cukup tangkas juga dia menyingkir.

Walau kaget dan heran menghadapi kemajuan ilmu Pakkiong Yau-Liong, namun dia yakin bahwa Lwekangnya masih setingkat lebih tinggi dari lawan mudanya, pengalaman tempurnya lebih membesarkan keyakinannya pula bahwa dirinya masih mampu merobohkan musuh yang satu ini.

Diwaktu berkelit itulah tangan kanannya menggunakan jurus Pek-hoa-Siok-ih (seratus kembang mandi air hujan) tangan kiri menggunakan tipu Ban-ce-jun-yan (kabut musim semi memenuhi sumur) dua jurus dikombinasikan untuk menyerang secara beruntun.

Tampak bayangan telapak tangannya bertaburan membawa deru angin tajam laksana gugur gunung melanda kearah Pakkiong Yau-Liong.

Pakkiong Yau-Liong menggereget, melihat sepasang tangan lawan menyerang datsng, mendadak dia miringkan badan, sebelah telapak tangannya menepuk.

bukan saja gerakan tubuhnya tangkas langkah kakinyapun sebat luar biasa, tempo yang diperhitungkan juga tepat, demikian pula tenaga yang disalurkanpun amat besar, sungguh sukar dilukiskan betapa lihay serangan balasannya.

Saking kaget berobah air muka Ni Ping-ji, sebisanya dia menarik diri ke belakang, di waktu angin pukulan Pakkiong Yau-Liong menerpa mukanya, mendadak dia menjatuhkan diri ke belakang lalu menggelinding setombakjauh nya, begitu melentik berdiri pula diam-diam hatinya mencelos dan berucap syukur daIam hati.

Untung dia bisa melihat gelagat dan bertindak cepat, namun gerakannya juga cukup runyam meski berhasil lolos dari serangan maut Pakkiong Yau-Liong, tak urung rambut kepalanya yang tak seberapa tersapu rontok oleh angin tajam pukulan lawan, kepala yang sudah botak menjadi gundul kelimis.

Dibawah tatapan mata Pakkiong Yau-Liong yang membiru tajam, keringat dingin terasa melengket pakaiannya, Ni Ping-ji tahu untuk lari jelas tidak mungkin, terpaksa dia harus adu jiwa dengan Pakkiong Yau-Liong dengan segala kemampuannya.

Pelan-pelan dia mengeluarkan senjata tunggalnya dari dalam lengan bajunya, yaitu Kau-hun-ling-ki (bendera pencabut sukma), tangan terangkat dan bergetar, panji kecil segitiga itu tampak berkibar, di tengah gerungan gusar, mendadak dia menjejak kaki, tubuhnya melenting tiga tombak tingginya ditengah udara betsalto sekali, dengan kaki diatas kepala dibawah dia menukik turun menubruk kearah Pakkiong Yau-Liong.

Kau-hun-ling ki warna hitam ditangannya membawa larikan hitam dengan suara melengking tajam menggulung kepala Pakkiong Yau-liong.

Tidak kepalang tanggung Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji sudah mengembangkan ilmu Kau-hun-coat-sek kebanggaannya yang jarang dikeluarkannya, dengan jurus Yam bi-bikjiu (asap membius pohon) dia bertekad adu jiwa dengan Pakkiong Yau-Liong.

Tidak berkelit atau menyingkir Pakkiong Yau-Liong malah melompat keatas memapak di udara, begitu tangan terangkat dia gunakan Jun-liu-siu-boh-ju (guntur musim semi menyamber saka), kembali lima jarinya berkembang bagai cakar mengeluarkan jalur-jalur angin tajam, secara berani dia mencengkeram kegagang Kou-hun-ling ki Ni Ping-ji.

Melihat Pakkiong Yau-Liong berani melawan bahaya, memapak serangannya yang ganas ini dengan serangan balasan secepat kilat, tak kepalang kagetnya hati Ni Ping-ji, rona mukanya berobah seketika.

Dalam kelangsungan secepat kilat ini, untuk menarik diri sudah tidak sempat lagi bagi Ni Ping-ji, mendadak terasa pergelangan tangannya kesakitan, ternyata Kou-hun-Ing-ki telah terampas oleh Pakkiong Yau-Liong.

Walau kaget dan heran serta tidak habis mengerti mengapa selang beberapa bulan ini kepandaian silat Pakkiong Yau Liong bisa tambah maju selihay ini, tapi dalam waktu sesingkat ini mana sempat otaknya bekerja, hanya "LARI"

Itu saja yang sempat terekam didalam benaknya, Begitu kaki menyentuh tanah, sehat sekali tubuhnya sudah berkelebat menerobos jauh kesana terus angkat langkah seribu.

"Berhenti orang she Ni "

Hardik Pakkiong Yau Liong dengan nada dingin-Gema bentakannya seperti menjulang keangkasa, namun dinginnya seperti datang dari jurang bersalju.

Ni Ping-ji sampai bergidik ngeri, entah kenapa dalam waktu sesingkat ini otaknya seperti beku, Sesaat dia berdiri terbelalak oleh bentakan Pakkiong Yau-Liong yang berwibawa.

Pakkiong Yau-Liong maju beberapa langkah, desisnya sambil menatap Ni Ping-ji.

"orang she Ni, kau hanya pikir melarikan diri, memangnya gaman mestikamu ini tidak kau hiraukan lagi. Sambutlah"

Dibarengi bentakannya tangan kanan mengipat, bayangan hitam lantas menyambar, dengan mengeluarkan suara mendebet panji hitam cilik itu melesat memecah udara meluncur kearah lambung Ni Ping-ji.

Setelah merasa disambar angin kencang baru Ni Ping-ji tersentak sadar, namun untuk berkelit sudah terlambat.

"Bles"

Gagang panji panjang satu kaki itu ternyata amblas seluruhnya menembus lambungnya.

"Huuaaaa."

Pendek mulut Ni Ping-ji memekik rendah, kedua tangannya memegang panji yang menusuk perut, badannya bergetar keras, darah mulai membasahi kedua tangannya.

Bola matanya melotot sebesar jengkol, kulit mukanya merah membara seperti rempelo, keringat berketes-ketes.

"Huaaiiit."

Sekuat tenaga mendadak dia mencabut sendiri gagang panji yang menusuk perutnya, da rah menyembur, gagang panji berlepotan darah diangkat didepan mukanya, usus kedodoran, betapa serem dan mengerikan, Pakkiong Yau-Liong sampai melengos tidak tega menyaksikannya .

Bola mata Ni Ping-ji yang melotot itu memancarkan sinar buas, mendadak dia menjejak kaki, menerjang maju seraya memekik panjang, suaranya serak dan parau, meskipun sudah sekarat dia masih tetap menerjang ke arah Pakkiong Yau-Liong.

Tapi hanya lima langkah dia menerjang kedepan.

"Bluk"

Badannya tersungkur mencium tanah, Kedua tangannya menekan perut, kedua kakinya mancal-mancal, agaknya rasa sakit amat menyiksanya.

Pakkiong Yau-Liong menyeringai dingin, segera dia menghampiri Siangkoan ceng yang berdiri melenggong.

Dengan tatapan minta belas kasihan masih kuat Ni Ping-ji bersuara.

"Manusia dilahirkan sebagai mahluk yang kenal belas kasihan, apa kau tega melihat keadaanku yang sudah sekarat ini, mati tidak hidup, pun sukar, aku harus meronta-ronta dalam siksa derita seperti ini? Kumohon kepadamu, mohon tamatkan saja jiwaku selekasnya"

Suaranya makin lemah dan betul-betul amat mengenaskan.

Pakkiong Yau-Liong sudah menghentikan langkah, tapi bayangan masa lalu dikala dirinya disiksa diluar perikemanusiaan dulu menimbulkan rasa dendam yang tidak terperikan.

Dengan menyeringai dia tatap Ni Ping-ji, desisnya.

"orang she Ni, tentu kau tidak pernah memikirkan nasibmu bakal seburuk hari ini bukan? Hm, bayangkanlah betapa kejam kau menyiksa aku dulu, maka sekarang boleh kau nikmati sendiri betapi besar dosa-dosa perbuatanmu masa lalu, inilah yang di namakan hukum karma."

Tanpa perdulikan jerit rintih Ni Ping-ji yang meregang jiwa dia melangkah pergi.

Selama hidup Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji memang sudah keliwat takaran berbuat kejahatan, betapa banyak jiwa orang terenggut di tangannya, akhirnya dia mati juga oleh senjatanya sendiri yang peranti buat mengganas dulu, cukup lama dia harus berguling-guling menahan sakit, merintih-rintih sesambatan menyesali dosa-dosanya sampai kehabisan tenaga dan darah baru jiwanya melayang, mati tanpa kubur.

Sinar surya yang hangat menyemarakkan cuaca pagi nan cerah dan segar, burung berkicau dan menari dipucuk pohon, selepas mata memandang alam permai menghijau, alam semesta diliputi kehidupan damai tentram.

Dibawah beberapa pucuk pohon raksasa tua, Pakkiong Yau-Liong duduk berendeng dengan Siangkoan ceng, mereka sedang makan rangsum yang dibawa Siangkoan ceng.

Gadis jelita ini makan dengan lahap.

sebaliknya Pakkiong Yau-Liong sukar menelan apapun yang dikunyahnya.

Bayangan Toh-bing-sik-mo menggejolak perasaannya, keinginan membalas dendam merasuk sanubarinya, lebih penting lagi merebut Pedang Kayu cendana antuk menolong Tio Swat-in-Namun daerah liar penuh hutan belantara seluas ini, sukar berkomunikasi dengan penduduk setempat lagi, bagaimana mungkin dia bisa cepat menemukan Toh-bing-sikmo yang bersenjatakan panah merah dan berambut merah pula?

"Liong-koko."

Tiba-tiba Siangkoan ceng menatap lebar pada Pakkiong Yau-Liong.

"Kenapa kau tidak makan? "

Mengawasi Siangkoan ceng yang memperhatikan dirinya, Pakkiong Yau-Liong tertawa tawa, katanya perlahan-"Aku tidak ingin makan, perutku tidak lapar."

Siangkoan ceng menarik muka, katanya "Sudah saatnya kenapa tidak makan, aku tak perCaya kau tidak lapar, baiklah biar kusuapi kau."

Tiba-tiba direbutnya makanan di tangan Pakkiong Yau-Liong, menggeser pantat terus duduk dipaha Pakkiong Yau-Liong. Karuan Pakkiong Yau-Liong keripuhan, serunya sambil goyang tangan.

"siau ceng, jangan nakal. Aku toh bukan anak kecil, slapa suruh kau menyuapi aku, duduklah sendiri, biar aku makan sendiri."

Tapi Siangkoan ceng membandel, katanya.

"Kenapa? Kau malu? Waktu kau sakit dan merawat luka di rumahku, bukankah sering aku menyuapi kau, sekarang sudah tidak sakit, lalu tidak membutuhkan tenagaku lagi bukan? Baiklah kau makan sendiri."

Pakkiong Yau-Liong buka mulut mau bicara, tiba-tiba Siangkoan ceng menjejalkan makanan yang dipegangnya kedalam mulut Pak kiong Yau-Liong.

Lekas Pakkiong Yau-Liong merogoh keluar makanan kering dalam mulutnya serta geleng-geleng, katanya tertawa.

"Siau-ceng, baiklah kau duduklah sendiri, aku akan makan-Sudahlah."

Siang koan ceng tetap merengek aleman katanya.

"Tidak. biar aku duduk disini, lebih enak dan nyaman."

Pakkiong Yau-Liong tertawa getir, katanya mengawasi Siang koan ceng.

"Siau-ceng, anak perawan sebesar dirimu tidak baik duduk diatas paha seorang laki-laki, bila dilihat orang tentu malu dan mungkin akan menjelekkan nama baikmu."

Siang koan ceng malah bertolak pinggang katanya jenaka.

"Biarlah mereka bicara iseng, menjelekkan namaku juga persetan, yang terang kau tak berbuat tidak senonoh, kita tak melakukan perbuatan yang memalukan-Apalagi di tengah hutan belantara, kecuali kau dan aku, mana mungkin ada..."

Mendadak Pakkiong Yau Liong mendorong Siang koan ceng seraya berseru gugup.

"Siau-ceng ada orang datang."

Terpaksa Siang koan ceng duduk diatas batu, matanya terbeliak Celingukan, mana ada bayangan orang, maka dia mengepal tinju serta mengancam.

"Bagus ya, kau pandai ngapusi orang, ayo bilang apa hukumanmu."

Tanpa bicara Pakkiong Yau-liong menuding kebelakang Siangkoan ceng dengan tertawa.

Lekas Siangkoan ceng menoleh kebelakang, Pakkiong Yau liong berbangkit dari duduknya, tampak dua bayangan orang meluncur datang dan hinggap didepan mereka, karuan Siangkoan ceng berjingkrak kegirangan, teriaknya.

"Ayah, ibu, kalian juga datang."

Kedua pendatang ini bukan lain adalah tabib pendekar Siangkoan Bu dan ibu Siangkoan ceng, yaitu Tok-liong-sian-li. Siangkoan Bu menuding Siangkoan ceng sambil mengomel.

"Kau bocah binal ini memang nakal, seorang diri berani minggat menempuh perjalanan jauh dengan hanya sedikit sangu, aku sudah menduga kau pasti menyusul kemari, untung sepanjang jalan kau tidak ditipu orang. Sekarang melihat kau sudah bertemu dengan Yau-liong Kokomu dan Cicimu Swat-in."

Mendadak tidak melihat Tio Swat-in, Siangkoan Bu bertanya heran, lalu tanya-nya.

"ceng-ji, dimana Cici swat-in? "

Maka Siangkoan ceng lalu menuturkan apa yang dia tahu dari keterangan Pakkiong Yau-liong menjelaskan kepada ayahnya. Mendengar Tio Swat-in keracunan, Tok liong-sian-li mengerut kening, katanya.

"Ada kejadian begitu, apa benar hawa racun itu begitu lihay, kecuali Ya-kong-ci dan Pedang Kayu cendana tidak mungkin terobati? "

Siangkoan Bu sitabib sakti manggut, katanya .

"Kukira benar, kalau tidak buat apa jauh-jauh Toh-bing-sik-mo meluruk datang ke Tionggoan dan mengganas untuk merebut Pedang Kayu cendana itu? "

Lalu dia berpaling kepada Pakkiong Yau liong kemudian bertanya "Mungkin Hian-tit sudah berhasil mencari tahu kabar tentang Toh-bing-sik-mo?"

Pakkiong Yau-liong memandang Siangkoan Bu sekilas, lalu menunduk sambil menghela napas, lalu menggelengkan kepala.

"Ooo."

Ujar Siangkoan Bu sambil tertawa.

"Kukira ini bukan kebetulan, tapi banyak kejadian di dunia ini memang sering kebetulan-"

Mendadak Pakkiong Yau liong angkat kepalanya, tanyanya.

"Lopek, maksudmu kau sudah tahu tempat tinggal Toh-bing-sik-mo? "

Siangkoan Bu mengangguk. katanya.

"Dulu waktu muda mengembara sambil menjual obat, beberapa kali aku pernah kelayapan di-Biau-kiang ini, maka aku bisa sedikit bahasa Biau, Sepanjang jalan ini aku mencari tahu jejak ceng-ji serta kabar Toh-bing sik-mo yang menggunakan gendewa dan panah merah, siapa tahu jejak ceng ji tidak kutemukan, dari mulut seseorang malah kudengar tentang Tok-bing-sik-mo."

Sejenak Siangkoan Bu ganti napas kemudian melanjutkan bicaranya.

"Konon seorang lakl-laki yang membawa gendewa dan panah merah sering mondar-mandir didaerah ini, maka sengaja kami menuju kesini. Kupikir bila diam2 kami tidak berhasil menemukan ceng-ji, paling juga pasti dapat bertemu dengan kalian, kami sudah putar kayun sehari semalam, syukurlah akhirnya kutemukan kau dan ceng-ji, tadi aku kira kau sudah tahu bahwa Toh bing-sik-mo berada disekitar sini"

Siangkoan ceng berjingkrak girang mendengar keterangan ayahnya, katanya.

"Kalau tahu Toh bing sik-mo berada disekitar sini, kenapa tidak lekas kita cari tempat tinggalnya? "

Siangkoan Bu tertawa, katanya.

"Untuk mencapai tujuan kita perlu punya tekad dan kesabaran, teguh tak kenal lelah dan pantang mundur, kira-kira tiga li dari sini kami sudah menemukan sebuah gua yang terang dan bersih, disana sudah kami siapkan rangsum dan air minum, kupikir marilah kita pulang ke gua itu istirahat sekedarnya baru kita jelajahi daerah sekitarnya, andaikata Toh-bing-sik mo betul berada di daerah ini, aku yakin kita pasti dapat menemukan dia. Hian-tit, bagaimanakah pendapatmu? "

Pakkiong Yau-liong menjura pada Siangkoan Bu, katanya.

"Pendapat Lopek memang betul, marilah kita berangkat."

Maka berempat mereka putar balik kearah datangnya semula menuju kegua yang di maksud Siangkoan Bu, sambil jalan mereka bicara panjang lebar, dan berkelakar, jarak tiga li lekas sekali telah dicapai.

Mendadak Pakkiong Yau-liong memberi tanda ulapan tangan sambil mendesis lirih.

"Didepan adi orang, kalau tidak salah ada dua orang, atau paling banyak tiga orang."

Siangkoan ceng sudah tahu dan menyaksikan sendiri betapa tinggi dan tangguh kepandaian Pakkiong Yau-liong sekarang, maka di-samping kagum dia pun tunduk lahir batin, tapi Siangkoan Bu dan Tok-liong-sianli agak sangsi dan curiga, terutama Siangkoan Bu, sebagai kawakan di Kangouw, walau Kungfunya setingkat dibawah guru Pakkiong Yau-liong, tapi Pakkiong Yau-liong...

Tapi hanya sekejap rasa sangsinya lenyap.

diam-diam dia amat kagum dan memuji kepada pemuda ini, karena sekarang diapun sudah mendengar langkah orang, malah lekas sekali terlihat olehnya dalam jarak delapan puluhan tombak didepan tampak dua bayangan orang berlari mendatangi Pakkiong Yau-liong berkata pula.

"Kedua orang ini memanggul dua buntalan besar pasti orang Biau yang bertempat tinggal tak jauh dari sini, Lopek paham bahasa Biau tolong kau mencari tahu kepada mereka, mungkin bisa menghasilkan sesuatu yang kita harapkan."

Siangkoan Bu mengangguk. katanya.

"Hian-tit memang lihay sekarang, bukan saja kuping dan matamu luar biasa, Kungfumu sekatang juga sudah berlipat ganda, daya pikirmu amat cermat pula, sungguh patut dipuji."

Lekas sekali kedua orang Biau yang memanggul buntalan gede itu sudah makin dekat, kedua orang ini berjalan beriringan satu didepan yang lain di belakang, laki-laki yang dibelakang ternyata memiliki tenaga raksasa, seorang diri ternyata mampu menggendong tiga buntalan besar seperti yang digendong laki-laki didepannya, bukan saja napasnya tak terengah, langkahnya ternyata masih tegap dan tidak lelah sedikitpun, bagi seorang ahli, selintas pandang akan tahu bahwa laki-laki Biau ini pasti pernah meyakinkan ilmu silat.

Diwaktu Siangkoan Bu meluncurkan tubuhnya ke depan dan turun didepan mereka, sebat sekali Pakkiong Yau-liong juga melambungkan tubuhnya keatas meluncur ke arah laki-laki Biau yang melarikan diri.

Belum lagi tubuhnya menyentuh tanah, tangan Pakkiong Yau-liong sudah menjulur dan menangkap orang Biau yang berusaha melarikan diri, begitu kaki menginjak tanah, sebat sekali dia sudah membalik badan, tangannya menjinjing orang Biau yang bertubuh kekar seperti elang mencakar anak ayam saja lagaknya, enteng seperti membawa kapas.

Baca Juga: Kasih Diantara Remaja 9

Baca Juga: Dewi Maut 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert