Eps 3 Pedang Kayu Cendana - Gan KH
Baca online Pedang Kayu Cendana - Gan KH
Cersil Pedang Kayu Cendana - Gan KH.
Bola mata Pakkiong Yau-Liong sudah merah membara, sambil berteriak ruyung lemas ditangannya tiba-tiba berkelebat disertai cahaya perak yang bergetar, beruntun dia lancarkan dua jurus Tam-tho-Giok lun-hun dan Liong ih gin-hankok, tenaga disalurkan pada senjatanya namun gerak ruyungnya ternyata tidak menimbulkan deru senjata sedikitpun, dari atas, tengah dan bawah sekaligus menusuk kearah Ni Ping-ji.
"Huuuaaaa"
Mendadak Ni Ping-ji memekik, ujung tombak jelas sudah hampir mengenai badannya, mendadak tubuhnya melenting setombak keatas, untung masih keburu dia meluputkan diri dari dua jurus serangan tombak Pakkiong Yau-Liong.
Ditengah udara tubuhnya seperti berhenti sejenak.
lalu menukik dengan mengembangkan telapak tangannya yang kurus tinggal kulit pembungkus tulang laksana cakar burung, sekaligus diapun balas menyerang dengan jurus Ban-toh-jun hoa, sesuai namanya telapak tangannya berobah seperti kuntum bunga yang mekar di musim semi bertaburan membawa sambaran angin menerjang kebatok kepala Pakkiong Yau Liong serta mencakar mukanya.
cepat lagi aneh dan telak.
Dua jurus serangan dilancarkan bersama, bukan saja tidak berhasil menjatuhkan lawan, tahu-tahu pandangan Pakkiong Yau-Liong seperti teraling apa-apa sehingga menjadi gelap.
belum telapak tangan tiba deru angin kencang dan tajam telah menampar kemukanya, cepat kuat dan aneh.
Untuk berkelit jelas tidak keburu lagi, dalam keadaan mendesak serupa itu tiada kesempatan untuk berpikir, tanpa sadar mulutnya menggembor seperti singa mengamuk, mendadak dia menjatuhkan tubuh, berbareng pergelangan tangan berputar, dia dipaksa melancarkan Siang hoa n-coat, jurus khusus untuk melindungi tubuh dari serangan lawan, cu-pit-tam-siau-hap dan Hun-bur-ngo-sek-lian-Tampak Cahaya emas dan bayangan perak kembali membungkus rapat sekujur badan Pakkiong Yau-Liong, hujan lebatpun tidak akan tembus, ruyung lemas diputar sekencang itu, tidak menimbulkan deru angin, sebaliknya menimbulkan daya kekuatan yang luar biasa merembes keluar dari pertahanan tabir cahaya kemilau itu, meski perlahan tapi pasti mengandung kekuatan keras dan lunak.
sehingga kekuatan dahsyat dari luar sukar menerjang masuk karena telah punah oleh kekuatan lunak yang menahannya atau kekuatan keras itu dilawan keras serta didorong minggir kelain arah, hebat dan aneh memang ilmu yang dikembangkan Pak kiong Yau-Liong ini.
Sudah tentu Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji tahu bahwa Pakkiong Yau-Liong tengah mengkembangkan Siang hoan-coat yang diwarisi dari Biau-hu Suseng, dulu dengan bekal ilmunya ini Biau-hu Suseng belum pernah menderita kalah melawan siapapun, tak pernah disangka bahwa dalam usia semuda ini ternyata Pakkiong Yau-Liong juga telah mewarisi ilmu guru nya yang hebat itu.
Padahal untuk mengembangkan Siang-hoan-coat orang harus memiliki ketahanan tenaga yang hebat serta land asan Lwekang dari ajaran murni, bila latihan sudah mencapai taraf sempurna keadaan seperti apa yang diperlihatkan oleh Pakkiong Yau-Liong sekarang, sayang latihannya belum begitu matang, namun demikian Ni Ping ji sudah heran, kaget dan jera.
-ooo0dw0ooo-6 SELAMA dua puluh tahun, Tok-ni kau-hun Ni Ping ji giat berlatih dan banyak mencipta ilmu khusus untuk melawan dan memecahkan Siang-hoan-coat itu, jerih payahnya ternyata tidak sia-sla, meski dia tidak yakin dirinya mampu memecahkan ilmu lawan, tapi dia yakin latihannya pasti ada hasilnya.
Sayang dalam waktu yang terdesak ini, tidak sempat dia menggunakan ilmu simpanannya itu.
Sudah tentu diapun segan mengadu sepasang tangannya dengan tombak lemas Pakkiong Yau-Liong yang dilandasi tenaga lwekang yang hebat.
Tidak menggembor, tapi mendadak dia tarik napas dalam, seluruh kekuatan tenaganya dia salurkan ketelapak tangan, mendadak dia menggempur dengan Bik-khong-ciang kearah ruyung lemas lawan-Walaupun usahanya dilakukan tergesa-gesa dan dalam tempo yang sangat singkat, tapi gempuran telapak tangannya ternyata cukup mengejutkan-Kekuatan dahsyat Bik-khong ciang yang dilancarkan Ni Ping-ji ternyata sirna ditelan tenaga serangan ruyung lemas Pakkiong Yau Liong yang lambat tapi kuat itu, beruntung tubuhnya yang terapung itu berhasil meminjam daya pantul dari benturan keras itu melayang pergi sebelum jurus kedua Siang hoat coat Pak kiong Yau Liong sempat dilancarkan, dengan enteng dia melayang turun setombak jauhnya.
Diam-diam dia melelet lidah dan mengucap syukur dalam hati.
Dalam waktu sekejap ini, baru Pakkiong Yau-Liong memperoleh peluang ganti napas.
Bahwa serangannya tidak membawa hasil, kalau reaksi dirinya kurang cekatan, jiwa sendiri malah terancam oleh senjata lawan, karuan saja Ni Ping-ji semakin berkobar amarahnya.
Padahal, dalam sekejap ganti napas ini, Pakkiong Yau Liong sendiri pun merasa kaget dan heran, karena Ni Ping-ji mampU membebaskan dirinya dari dua jurus Siang hoan-coat yang dilancarkan-Menerawang situasi yang dihadapi, Pak kiong Yau-Liong insyaf bahwa untuk mencapai keinginan menuntut balas kematian orang tuanya, harapannya terlalu kecil, walau umpama Ni Ping ji ditengah jalan maU mengUndUrkan diri dalam percaturan adU tenaga dan otot ini, Pakkiong Yau-Liong maklum tenaganya sekarang sudah banyak terkuras, sisa tenaga yang ada sekarang tidak akan cukup kuat umuk melabrak Toh-bing sik-mo pula.
Jelas betapa sedih dan penasaran hatinya, sungguh sukar dilukiskan.
Karena dendam dan penasaran tidak terlampias, saking gegetun air matanya serasa hampir bercucuran.
Pada saat itulah, setelah maklum perkembangan situasi yang dihadapi, NiPing-ji bertekad bulat, maka tanpa mengeluarkan suara dengan mendelik buas, dia mendorong kedua tangan dari depan dada, segumpal tenaga dahsyat terbit diantara kedua tangannya yang menyilang itu terus melandai kearah Packiong Yau-Liong.
Memangnya Pakkiong Yau Liong sudah nekad, dalam gusarnya diam-diam dia berkeputusan juga .
"Baiklah, biar aku adu jiwa dengan kau."
Pakkiong Yau-Liong tidak ragu lagi, mendadak dia pasang kuda-kuda, lutut ditekuk kedua ibu jari tangannya menggantol ruyung lemas, kedua telapak tangan terbalik lurus menghadap kedepan serta, pelan-pelan didorong ke depan, tenaga lunak yang tidak kelihatan diam-diam timbul dari telapak tangannya.
Walau kelihatannya tidak sedahsyat damparan gempuran Ni Ping-ji, tapi kekuatan dorongan Pak kiong Yau-Liong mengandung dua unsur tenaga keras dan lunak.
sehingga merupakan jalinan kekuatan yang tangguh juga , apalagi Pakkiong Yau-Liong sudah bertekad adu jiwa, maka diapun menggempur dengan seluruh kekuatannya, dapatlah dibayangkan betapa besar kehebatannya.
"Plak"
Suara benturan tidak keras, tampak Ni Ping-ji tergentak mundur setombak lebih, mulutnya terbuka menggelak tawa aneh Pak kiong Yau-liong seperti digentak keras, tubuhnya sempoyongan beberapa langkah, kedua lengannya terasa lemas pegal, ruyung lemasnya terpental lepas dari pegangan-Kalau Tok ni-kau-hun NiPing-ji bergelak tawa, adalah Pakkiong Yau-Liong amat pilu dan hilap.
Bibirnya gemetar, mulutnya terpentang ingin menggembor melampiaskan penasaran hati, namun kerongkongan terasa kering, lidah kelu suaranya tertelan kembali.
Tanpa memberi peluang, ditengah gelak tawanya Ni Ping-ji sudah merangsak pula.
makin meledakama rah Pakkiong Yau-Liong, ada niat mengerahkan seluruh kekuatan Lwekang-aya mengadu kekuatan biar gugur bersama musuh.
Dia sudah siap menggempur, sayang dalam pandangannya yang berkaca-kaca air mara, tiba-tiba muncul pula adegan mengerikan yang tidak pernah terhapus dalam ingatannya yaitu bayangan berlepotan darah dengan rambut kepala awut awutan, sebatang panah menancap tembus di dadanya.
Maka luluhlah semangatnya, diam diam dia membatin .
"Pakkong Yau-Liong, jangan terlalu emosi dan diburu oleh perasaan hati menghadapi persoalan genting ini, bila salah langkah ceng-hun-kok adalah tempat kuburmu maka ayahmu yang dia lam baka tidak akan mati dengan meram. Sudah sepuluh tahun aku menanti, apa bedanya tertunda pula beberapa hari ? Selama gunung tetap menghijau, kenapa kuatir kehabisan kayu bakar, situasi hari ini tidak menguntungkan, kenapa kau tidak berusaha meloloskan diri saja?"
Itulah keputusannya setelah dia sadar dan berhasil menekan rangsangan nafsunya ingin menuntut balas, walau keputusan ini sendiri amat mengetuk sanubarinya, tapi dalam keadaan seperti sekarang dia sudah tiada jalan atau pilihan lain-Sebelum Ni Ping-ji menubruk tiba, dia sempat berjongkok meraih senjata, berbareng kakinya menggenjot dengan gaya IHun-pih-loh yan-heng, tubuhnya mencelat jauh kepinggir hinggap dibawah dinding lembah, tanpa ayal kembali tumitnya menutul bumi, tubuhnya lantas melejit mumbul, melayang seringan asap dengan punggung menempel dinding terus melesat terbang keatas.
Mendadak tubuhnya bersalto sekali, kini menghadap kedinding, kaki tangan bekerja sama seperti orang manjat pohon layaknya, kaki menotol tangan menarik, tubuhnya melenting lebih pesat lagi menuju kebatu gunung yang agak menonjol keluar dari dinding curam itu.
Itulah Ginkang kelas tinggi Yan-teng-hun siang-in.
Begitu mencapai dinding tubuhnya seperti lengket terus meluncur pula keatas.
begitulah beberapa kali menotol dan tangan bekerja, tubuhnya bergerak diatas dinding yang curam dan licin setinggi lima puluhan tombak telah dicapai dengan mudah.
Bahwa Pakkiong Yau-Liong sudah hampir dikalahkan total, sudah tentu Ni Ping-ji amat senang, kini melihat Pakkiong Yau Liong melarikan diri dengan cara yang luar biasa ini, sudah tentu tidak rela dia membiarkan orang merat, apalagi ruyung lemas Pakkiong Yau-Liong telah meninggalkan tanda mata dipahanya.
Beruntun Ni Pingji memekik pendek.
secepat terbang tubuhnyapun memburu kearah dinding, begitu kaki tangan menempel dinding segera dia kerahkan tenaga dalam, sekali bergerak tubuhnya segera merambat naik secepat panah meluncur, gerak-geriknya mirip cecak yang mengejar mangsanya.
Ni Ping-ji memang mengembangkan Pia-hau-kang (ilmu cecak) dengan landasan tenaga dalamnya.
Lekas sekali NiPing-ji juga sudah mencapai pucuk dinding dan melompat berdiri diatas jurang Selepas matanya memandang tampak dua puluhan tombak diarah barat bayangan seseorang tengah berlari kencang seperti dikejar setan-Maka dengan pekik yang mengerikan segera dia mengudak dengan Ginkangnya yang tinggi Pada saat itulah di dalam lembah terdengar beberapa kali hardikan, serta merta Ni Ping ji merandek dan memutar balik, dia teringat kepada nyonya muda yang datang bersamanya itu.
Nyonya cantik yang direbutnya dengan kekerasan beberapa hari yang lalu, betapapun dia segan meninggalkannya begitu saja.
Dia tahu bila daya obat yang diminumnya sudah punah, nyonya ini akan meninggalkan dirinya dengan rasa dendam yang tidak terlampias.
Karena dia maklum, kecuali dendam hakikatnya nyonya ini tidak pernah menaruh cinta terhadapnya, meski sudah beberapa hari ini mereka tidur seranjang.
Maka dia berpikir.
"Pakkiong Yau Liong sudah kehabisan tenaga, lari juga tidak akan bisa jauh, biar aku menaruhnya disuatu tempat aman dulu putar balik membuat perhitungan kepadanya."
Ni Ping-ji sudah membenci Pakkiong Yau Liong ketulang sumsumnya, dendam gurunya telah dia limpahkan kepada Pakkiong Yau Liong, maka dia sudah berkeputusan, Pakkiong Yau-Liong harus dibekuk hidup,hidup, baruperlahan-lahan dia akan menyiksanya sampai mati.
Hardikan nyaring kembali berkumandang dari dasar lembah.
Dengan terlongong Tio Swat-in menyaksikan pertempuran ditengah gelanggang, rona mukanya selalu berobah mengikuti perkembangan pertempuran ditengah arena.
Untuk sementara dia lupa akan tujuan kedatangannya, karena didalam waktu yang tidak singkat ini, entah mengapa nalurinya seperti telah diliputi khayal yang tidak mampu dia sendiri mengemukakan, keselamatan sipemuda yang tengah menyabung nyawa ditengah arena menjadi perhatiannya yang utama.
Sudah tentu Tio Swat-in sendiri tidak tahu, kenapa timbul perasaan aneh dalam benaknya.
Akhirnya dia menyaksikan pemuda yang tadi menyaru Mumi dan beberapa kali memberi peluang kepada dirinya telah kabur melesat terbang keatas dinding jurang.
Setelah bayangan orang telah lenyap dari pandangan matanya, baru dia menarik napas lega.
begitu tertunduk perasaannya seketika hambar, seperti kehilangan apa-apa.
Tekanan batin yang mengendor, menyebabkan pikirannya lebih jernih, dalam sekejap ini, suatu pikiran mengetuk sanubarinya, seketika dia sadar akan kehadiran dirinya didalam lembah ini, baru sekarang dia menyadari dirinya terlongong setengah hari tanpa guna didalam lembah yang becek.
sementara musuh pembunuh ayahnya Toh-bing-sik-mo tampak tidak jauh disana.
Segera dia angkat kepala serta menatap dengan sorot dingin, ternyata Toh-bing-sik-mo juga tengah menatapnya.
Maka adegan yang mengerikan itu kembali terbayang dikelopak matanya.
darahnya seketika mendidih, hawa amarah meledak dirongga dadanya, bibirnya gemetar, air matanyapun berlinang.
Tatapan dingin yang mengandung sinar hijau itu memang menggiriskan hatinya, tapi selama sepuluh tahun ini dia sudah mengecap penderitaan dan kesengsaraan hidup, keluarga berantakan, ayah bunda gugur, sanak saudara tidak diketahui parannya, dalam hatinya sudah timbul satu tekad yang membara, kekuatan yang amat besar, balas dendam, itulah suara yang bergema direlung hatinya, tidak pernah putus gema suara yang menuntut dirinya untuk berusaha menuntut balas.
Maka sambil menghardik nyaring segera dia menubruk kearah Toh bing-sik mo, dengan jurus Hwi-ngo-kip to, dikala tubuhnya terapung diudara dia sudah melolos pedang serta memutarnya sehingga menerbitkan deru kencang menerjang kearah Toh bing sik-mo.
Serangan mendadak ini menimbulkan reaksi kaget dan heran dari sorot mata Toh-bing sik-mo.
Apalagi yang menyerang adalah gadis belia yang berusia tujuh belasan-Hanya bergerak lembut Toh-bing-sik-mo sudah mundur beberapa kaki, pandangannya tetap heran dan tak habis mengerti.
Sudah tentu Tio Swat-in tidak hiraukan sorot mata orang, luput serangan pertama dengan suaranya yang serak kembali dia menghardik, kini serangan berubah jurus Boan-ciang-ci ki, pergelangan tangan ditekan pedang menyusup keatas senjatanya menyontek ketiak Toh-bing sik-mo.
Bukan saja tidak menangkis, Toh-bing-sik, mo juga tidak balas menyerang, dia hanya menyingkir kepinggir, gerak geriknya seringan daun melayang.
Pedangnya menusuk tempat kosong, kembali tubuh Tio Swat-in bergerak mengikuti gaya pedang nya, kali ini langkahnya tampak lincah dan pedangpun bergetar, dengan jurus Ih-sing-coan gwe (bintang pindah mengitari rembulan) sinar pedangnya membentuk sekuntum kembang yang bertaburan, diiringi desis tajam yang dingin, secepat kilat menggulung kearah Toh-bing-sik-mo, serangannya kali ini memang lebih lihay dan mengejutkan.
Melihat gaya pedang Tio Swat-in makin ganas, rasa heran dalam sorot matanya makin besar, lekas dia menjejak kaki mundur setombak jauhnya.
Bahwa Toh-bing-sik-mo tiga kali memberi peluang kepadanya, Tio Swat-in sendiri juga heran dan tidak mengerti.
Pikirnya.
"Kenapa dia mengalah tiga jurus kepadaku? Apakah mumi yang satu ini juga palsu ?"
Apakah Toh bing sik-mo yang didepan-nya ini palsu atau tulen?
Apa pula maksud kehadirannya di sini, kecuali dia sendiri, sudah tentu Tio Swat in tidak mungkin tahu.
Meski heran tapi Tio Swat-in tidak kapok.
dia sudah bertekad untuk melabrak musuh yang satu ini.
Dia yakin kali ini dugaannya pasti tidak akan salah seperti tadi.
Begitu menyendal pedang kembali dia memburu maju.
Sekonyong-konyong loroh tawa yang bergelombang menimbulkan perasaan dingin bergema didalam lembah.
orang akan bergidik dan merinding mendengar loroh tawanya yang aneh dan khas.
Serta merta Tio Swat-in tekan perasaan dan niatnya yang sudah hendak menerjang, mengawasi Toh-bing sik-mo yang tengah berloroh tawa.
Ditengah loroh tawanya Toh bing-sik-mo mendadak menubruk sambil angkat gendewa merah sehingga menimbulkan getaran bayangan yang bersusun, lincah dan secepat angin menindih kepalanya dengan tekanan dahsyat.
Tlo Swat in dipaksa berkelit kesamping serta balas menyerang dengan sengit.
Ditengah pertempuran mereka yang seru, Terdengar derap tapal kuda yang dilarikan pergi.
sekilas Ni Ping-ji masih sempat menoleh kearah dua orang yang lagi berhantam, segera dia bawa nyonya muda itu meninggalkan lembah ini.
Tio Swat-in seperti tidak mendengar atau melihat mereka pergi, pedang mestika ditangannya terus merabu dengan deras dan lihay, serangan bertubi yang ganas dan sengit.
Hari memang sudah terang tanah, tapi langit masih mendung, cuasa masih dingin dan lembab.
ceng-hun-kok masih guram dan remang-remang, hembusan angin kencang membawa bau anyir yang memuaikan.
Tlo Swat-in masih terus menubruk, menendang, melabrak dengan senjatanya, seperti serigala kelaparan yang ingin melalap mangsanya saja, tapi kecuali keringat yang gemerobyos meski hawa teramat dingin, jangan kata melukai atau merobohkan Toh-bing-sik-mo, seujung rambut lawanpun tidak mampu disentuhnya.
Sebaliknya dia merasa letih dan kehabisan tenaga, napas nya sengal-sengaL Sembari menyerang dengan sengit diam-diam dia berdoa, mengharap bantuan arwah ayahnya dari alam baka supaya dia bisa membunuh musuh besarnya ini.
Maka dia putar pedangnya dan menyerang berantai dengan jurus tipu yang lihay dan mematikan, serapat jala sederas hujan Toh-bing-sik-mo diceCarnya dengan hebat.
Tetapi kepandaian Toh-bing-sik mo memang teramat tinggi bagi Tio Swat-in, ditengah tatapan dingin lawan, ditengah gelak tawanya yang bernada sinis, setiap serangan Tio Swat-in kalau tidak gagal, luput pasti kandas ditengah jalan.
Karuan Tio Swat-in makin gugup dan gelisah, ditambah lagi rasa dendam dan kesedihan yang tidak terhingga, dalam keadaan serba payah seperti sekarang bertambah pula tekanan lahir batinnya.
Kematian ayahnya yang mengenaskan terbayang kembali dalam matanya.
Betapa ibunya menjerit meratap dan sesambatan, air matanya kering sehingga mencucurkan darah, suaranya serak dan akhirnya lunglai ia tak sadarkan diri.
Darah ayahnya seperri masih mengucur dari luka-lukanya, darah masih mengalir dari bola mata ibunya Bola matanya yang melotot merah berlinang air mata, Tio Swat in mengamuk.
menggembor dan memeklk seperti ingin melampiaskan segala derita lahir dan batin ini, dan ini bukan lagi rengek aleman, bukan gerak gemulai, suaranya sudah serak lidahnya kelu tapi dia masih berjuang membabi buta.
Tiba-tiba Toh-bing sik-mo terloroh-loroh pula, gendewa dltangannya mendadak berputar dengan getaran keras lalu mendadak menutuk keluar seperti ular memagur, bayangan merah gendewanya menimbulkan damparan angin kencang menindih kearah Tio Swat-in secara bergelombang.
Amarah sudah membakar dada Tio Swat-in, dendam tidak terlampias lagi, karuan hati nya serasa hancur, wajahnya nan halus cantik sudah pucat, kotor oleh keringat dan lumpur bercampur dengan air mata.
Tlo Swat-in sudah tidak hiraukan keselamatan jiwa sendiri, kini dia tidak main kelit pula, dengan jurus Hwi-yan-toh lin (burung belibis hinggap dihutan), tiba-tiba pedangnya menyelinap masuk ke tengah lapisan bayangan gendewa merah lawan terus menusuk ulu hati Toh-b ing-s ik-mo.
Ternyata Toh bing-sik mo kaget dan menyurut mundur oleh serangan Tio Swat-in yang mendadak dan nekad ini, hakikatnya ini bukan lagi main silat dengan usaha membunuh lawannya tapi lebih mendekati adu jiwa.
Tapi pada detik yang gawat itu, untuk menyelamatkan diri tiada kesempatan bagi Toh-bing-sik mo untuk berpikir, buru-buru dia tarik serangan dan melompat mundur setombak lebih.
Walaupun dia tidak berhasil melukai Tio Swat-in, untung dia sendiri berkelit secara tangkas, sehingga kedua pihak tidak mengalami cidera.
Bahwa serangannya yang nekad berhasil mendesak mundur Toh-bing-sik-mo, sudah tentu Tio Swat-in yang mengira dirinya memperoleh peluang baik tidak mengabaikan begitu saja, sambil menghardik segera dia menubruk pula dingin pedang teracung miring menimbulkan gulungan sinar berkembang, ternyata menginsyafi musuh teramat tangguh, Tio swat-in melancarkan Nga-Liong-puh "Seeeerr"
Batang pedangnya seperti berobah menjadi lima batang, bersamaan merangsak tiga sasaran atas, tengah dan bawah, mengincar lima Hiat-to besar ditubuh Toh-bing-sik-mo.
Baru saja kaki menyentuh tanah, tutukan pedang Tio Swat-in sudah menyerang tiba pula.
Kembali sorot matanya menyala menampilkan rasa kaget dan herannya pula, tapi juga seperti amat marah.
Sekilas tampak bola matanya berputar memancarkan sinar buas, mendadak dia menjatuhkan diri, gendewa ditangannya menimbulkan tabir merah mengepruk kearah pedang lawan yang menusuk kelima Hiat-to nya.
"Trak"
Tidak keras, maka tampak selarik sinar mencelat terbang danjatuh berkerontangan.
Ternyata pedang Tio Swat-in telah diketuknya teriepas dan jatuh ditanah.
Tio Swat in merasakan seluruh lengannya pegal dan linu, saking kagetnya, tahu-tahu Yu-bun-hiat didepan dada seperti disentuh sesuatu benda.
Itulah ujung gendewa Toh bing-sik-mo yang mengancam jalan darahnya.
Toh-bing sik-mo berdiri didepannya, bola matanya yang menonjol diantara balut perban dikepalanya tampak memancarkan cahaya dingin tapi mengandung rasa puas dan bangga, Tio Swat-in ditatapnya lekit-Iekat.
Bila dia kerahkan sedikit tenaganya menyodokkan gendewanya, jiwa Tio Swat-in akan melayang seketika.
Tapi Toh-bing-sik-mo tidak bergerak.
kaku seperti mumi tulen, hanya bola matanya saja yang bergerak menatap tajam Tio Swst-in tanpa berkesip.
Mati...bagi mereka yang sudah bertekad gugur dimedan laga adalah sesuatu yang tidak perlu ditakuti, namun dalam keadaan seperti sekarang, siapapun akan merasa rawan dan pilu.
Demi menuntut balas kematian ayahnya Tio Swat-in memang tidak hiraukan mati hidup sendiri.
Tapi dalam keadaan terancam seperti ini, ingin mati tidak mati, ingin hidup juga masih merupakan tanda tanya, mau tidak mau bercucuran keringat dingirnya, telapak tangannyapun basah oleh keringat dingin-Tekadnya memang besar, tidak takut mati, tapi sekarang dia justru insyaf dan tidak ingin mati Tiba-tiba suatu pikiran berkelebat dalam benaknya, tubuhnya mendadak menjengkang mundur, pikirnya mau membebaskan diri dari ancaman gendewa Toh bing-sik-mo, namun Toh-hing-sik mo tidak kalah tangkasnya langkahnya lebih enteng pula, ujung gendewa tetap mengancam Yu-bun-hiat didepan dadanya, ternyata tenaga masih tetap mantap.
tidak tambah juga tidak berkurang.
Beberapa kali Tio Swat-in berusaha tapi tetap gagal, harapan meloloskan diri jelas sudah kandas dan tidak mungkin lagi.
Menerawang keadaan dirinya, sungguh pedih dan luluh perasaannya, diam-diam dia lantas berpikir.
"Kalau hidup sudah tiada harapan, biarlah aku mati lebih cepat saja."
Maka tidak lagi berkelit mundur mendadak^ dia malah menerjang maju menumbukkan tubuhnya kearah ujung gendewa.
Sayang sekali, agaknya Tohbing-sik mo dapat menangkap jalan pikirannya, waktu dia mundur tadi Toh-bing-sik-mo tetap mengincarnya dengan ancaman ujung gendewa di Hiat-to mematikan didepan dada.
Sekarang dia menerjang maju, ternyata Toh-bing sik-mo yang mundur selangkah malah.
Ingin hidup tidak bisa mau mati juga tidak tercapai, sungguh Tio Swat-in kecewa dan akhirnya putus asa.
Sorot mata Toh-bing-sik-mo yang dingin kelihatan lebih senang dan bangga, maka dia menengadah sambil terloroh tawa pula, Tio Swat-in yang sudah putus asa meski air mata masih bercucuran, Tapi dia sudah amat tentram dan tenang malah, tiada yang dia pikirkan lagi, matanya mengawasi gendewa yang mengancam didepan dadanya, akhir nya pelan-pelan dia memejam mata.
Ceng-hun-kok tetap guram dan lembab, diliputi suasana sedih dan seram, kini ditambah rasa hambar dan putus asa.
Malam telah larut, tabir kegelapan menyelimuti alam semesta, suasana hening lelap.
Enam li jauhnya dari ceng-hun-kok, ditengah gunung terdapat sebuah gua, malam nan gelap menjadikan gua itu lebih pekat.
Sekonyong konyong tawa aneh mengalikan memeCah kesunyian malam, sehingga malam yang dingin terasa seram.
Dari jauh gelak tawa itu terdengar masih lirih, tapi cepat sekali sudah makin dekat dan keras, dari keras makin jauh dan lirih, akhirnya lenyap ditelan tabir malam.
Gua dilamping gunung itu ternyata dihuni manusia.
Helaan napas rawan berkumandang di dalam gua.
Tengah malam yang sudah larut, dialas pegunungan yang belukar, dalam gua yang pekat lagi, setelah mendengar tawa aneh yang mengiriskan itu, tanpa terasa penghuni gua itu menarik napas panjang.
Siapakah penghuni gua itu?
Dia bukan Iain adalah Pakkiong Yau Liong yang semula menyaru Toh-bing-sik-mo sehingga kaum persilatan jeri dan takut kepadanya.
IHelaan napas rawan tadi melampiaskan rasa gegetun dan dongkolnya bahwa usahanya setengah tahun ini ternyata sia-sia.
Toh-bing-sik-mo yang dipancingnya itu sudah keluar kandang dan berada di-depan mata, tapi dia belum bisa menuntut balas kematian ayahnya sehingga cita-cita sepuluh tahun terbengkalai begitu saja.
Gregetan dan gemas pula bahwa Ni Ping-ji si gembong iblis yang ternama ternyata tidak tahu malu, ingkar janji merintangi usahanya melabrak musuh besar.
Rasa sesal kini menyelimuti sanubarinya, dia menyesali diri sendiri kenapa siang tadi dia melarikan diri, dia menyesal tidak memegang teguh hasil jerih payahnya selama setengah tahun ini, dan Toh bing sik-mo ungkang-ungkang menyaksikan dirinya bergebrak dengan Ni Ping-ji dan sekarang entah sudah lari ke-mana, entah kapan dia baru akan bisa menemukan jejaknya .
Dendam tetap akan dituntut, entah kapan pasti akan datang suatu ketika cita-citanya harus tercapai.
Bukan hanya Toh-bing-sik-mo saja, demikian pula Ni Ping-ji -kakek kurus pendek yang punya telinga tunggal itu.
Kecuali itu seolah-olah dia merasakan seperti ada sesuatu yang harus diperhatikan juga, perasaan yang belum pernah timbul dalam sanubarinya sebelum mi.
Dia berpikir, dan meraba-raba namun dia sendiri tidak tahu dan tidak memperoleh jawaban.
Angin malam ribut diluar gua, tiada rembulan tiada bintang, didalam gua ini dia sudah sembunyi selama setengah tahun lamanya, dalam waktu-waktu mendatang dia harus meninggalkan gua ini, maka perasaannya menjadi haru, hambar dan rawan.
Malam ini dia merasa kesunyian, karena kuda putih yang telah menemaninya selama setengah tahun telah gugur dalam menunaikan baktinya dimedan laga.
Makin banyak yang dipikir, makin ruwet pikirannya, tanpa Sadar akhirnya dia terkial-kial seperti biasanya bila dia hendak mencabut nyawa orang dilembah mega hijau, tawa itu sudah menjadi kebiasaannya selama setengah tahun ini.
Akhirnya tanpa sadar dia menghela napas pula.
Mendadak loroh tawa lain yang keras berkumandang, ditengah malam gelap seperti hendak menyobek tabir malam, bukan saja bernada keras dingin, gelak tawa itupun mengandung getaran aneh yang tercampur rasa serang dan puas.
lenyap gema suara itu, didepan gua berkelebat sesosok bayangan orang disertai larikan sinar emas dan perak secepat kilat menerjang keluar.
Begitu Pakkiong Yau-Liong turun dimulut gua, bola matanya jelilatan menyapu sekelilingnya, mulutnya bersuara heran, padahal gema tawa itu masih terkiang di kupingnya, tapi di luar tidak kelihatan ada bayangan orang.
Pakkiong Yau-Liong mendengus sekali, lalu terkial-kial pula lebih keras, dari gelak tawa orang tadi, dia sudah tahu siapa yang datang, maka dia pun memperdengarkan suara tawanya yang khas menantang musuh keluar dari sembunyiannya.
Waktu tidak memberi kesempatan berpikir, belum berhenti dia tertawa, tiba-tiba bayangan berkelebat, dari atas belakangnya, sesosok bayangan tiba-tiba menukik turun dengan tubrukan kencang membawa tekanan tenaga dahsyat.
Gesit sekali gerakan Pakkiong Yau-Liong menyingkir setombak lebih, begitu dia membalik tubuh dilihatnya orang yang menyergap adalah Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji.
Dalam kegelapan dua orang berdiri berhadapan, keduanya menginginkan merobohkan lawan sesingkat mungkin, namun kedua nya tiada yang mau bersuara atau bergerak secara sembrono, karena sekali salah langkah, fatal akibatnya.
Pakkiong Yau-Liong kendalikan pernapasannya, menunggu dengan tenang,jikalau Ni Ping-ji melejit pula menubruk kearah dirinya dia sudah siap menggempur dengan seluruh kekuatan-Ni Ping-ji pun berdiri tegak mengempos semangat dan menghimpun tenaga di kedua telapak tangannya, jikalau Pakkiong Yau-Liong bergerak diapun akan menyergap dengan serangan mematikan.
Pikiran kedua orang sama tujuanpun tak berbeda.
Maka keduanya saling pelotot dan berdiri tenang saling tunggu dan menunggu, entah sampai kapan mereka harus menunggu.
Tanpa terasa waktu terus berlalu, namun ketegangan Semakin memuncak.
keduanya masih terus saling melotot tanpa berkedip.
Kecuali deru angin sekelilingnya sunyi senyap.
seakan-akan tiada kehidupan makhluk lainnya didunia ini.
Tiba-tiba sebuah gemboran galak dan pekik gusar memecah kesunyian alam semesta, sehingga burung-burung yang hinggap diatas pohon sama kaget beterbangan-Ditengah gema suara kedua orang, dua sosok bayangan orang saling terjang kedepan dengan kecepatan dan kekuatan dahsyat.
"Pyaaar"
Ditengah udara keduanya mengadu pukulan menimbulkan ledakan keras menggetar udara dan bumi, keduanya terpental mundur sejauh satu tombak lebih.
Pakkiong Yau Liong meraung dingin, suaranya rendah berat Sebaliknya Ni Ping ji bergelak tawa pula dengan nada menghina dan mencemooh, saking keki Pakkiong Yau-Liong terbayang adegan pagi tadi, di mana mencengkram luka pundaknya, polah lawan yang merintangi usaha menuntut balas...
bola matanya mendelik, rona mukanya berobah makin merah padam, napasnyapun makin memburu karena emosi telah membakar hatinya.
Rasa sedih, benci dan penyesalan beruntun mengelitik sanubarinya, keresahan hatinya sukar terlampias, laksana gelombang pasang berbagai perasaan itu menggebu lubuk hatinya sehingga dia merasa seperti terbelenggu karena nya.
Maka timbullah berbagai khayalan didepan mata, suara kosong memekak telinga, bayangan gelap berkelebat bergantian dalam benaknya, itulah bayangan ayahnya yang sengsara nan menderita, itulah jerit dan pekik ayahnya disaat meregang jiwa.
Bagai terjadi suatu ledakan, mendadak pandangannya menjadi gelap.
darah seperti mengilir cepat sekali, suatu arus yang tak terlukiskan besar dan bentuknya seperti hendak menerjang dari kerongkongannya kepalanya sudah mandi keringat, telapak tanganpun basah, bukan oleh keringat dingin, tapi keringat panas yang membangkitkan semangat juangnya.
Sekonyong-konyong terasa jalur angin kencang menerjang kearah dirinya, dengan kaget sigap sekali Pakkiong Yau-liang kerkelit ke samping lima kaki jauhnya.
Ternyata Ni Ping-ji tetap berdiri ditempatnya tanpa bergerak.
hanya hembusan angin pegunungan saja yang lalu, karuan Pakkiong Yau-Liong merasa malu dan menyesaL Ni Ping ji terbahak-bahak^ suaranya melengking menusuk telinga, nadanya menghina dan mencemooh.
Karuan Pa kk ong Yau-Liong naik pitam, sambil menjerit tiba-tiba dia menyerang dengan kecepatan meteor jatuh.
Di mana pergelangan tangannya berputar, cahaya emas dan perak bertaburan, dengan jurus Lui-tian-sui-king yau, deru anginnya semacam pisau, ujung tombak emas dan perak memantul dengan putaran seperti gelang ketika menggulung kepala NiPing-ji dari kanan kiri.
Terbeliak mata Ni Ping-ji menyaksikan serangan Pakkiong Yau-Liong, tiba-tiba dia berjongkok, tidak mundur malah mendesak maju selicin belut tubuhnya telah menyusup pergi dari bawah kedua kaki Pakkiong Yau-Liong, lalu sebat sekali tubuhnya membalik balas menyerang dengan jurus Thian-hin-kay-thay.
kedua telapak tangannya bergerak secepat kilat menimbulkan putaran angin dahsyat bagai gugur menerjang kearah Pakkiong Yau-Liong.
Begitu mengayun senjata sambil menerjang maju Pakkiong Yau Liong lantas kehilangan jejak lawannya, diam-diam dia insyaf bahwa dirinya tengah terancam bahaya, betul juga sebelum kakinya menyentuh tanah, dibelakang telah melanda angin dahsyat yang mematikan.
Dalam detik-detik yang gawat ini, amat berbahaya bagi Pakkiong Yau-Liong yang masih terapung diudara, untuk berkelit jelas tidak mungkin, apa lagi mau menangkis.
Tapi perjuangan hidup dan usaha menuntut balas menunjang tekad bulatnya, secara reftek mengikuti terjangan agin dari belakang langsung dia menjatuhkan diri kedepan "Plak"
Tak urung Pak kiong Yau Liong harus tersungkur delapan langkah.
Pundak terasa panas, darah seperti hendak menyembur dari dadanya.
Kali ini Pakkiong Yau Liong memang gegabah dan terburu nafsu sehingga serangannya gagal malah dia sendiri yang kecundang pula, pundak belakang terpukul telak oleh Ni Ping-ji, mungkin nasib memang sudah menentukan bahwa dirinya takkan bisa terhindar dari kesulitan.
Namun Kungfu Pakkiong Yau-Liong memang cukup tangguh berkat gemblengan gurunya, lekas dia menarik napas mengempos semangat kendalikan darah yang mendidih di rongga dada, dengan segenap sisa kekuatannya dia mengkonsentrasikan diri mengawasi Ni Ping-ji, segala keruwetan tersingkir dari benaknya, diam-diam dia kerahkan tenaga murninya supaya pundaknya yang terpukul hilang rasa pegal dan linu.
Seperti kucing yang sedang mempermainkan tikus saja, Ni Ping-ji terbahak bahak pula dengan menengadah.
Sebaliknya Pakkiong Yau-Liong tidak terpengaruh sedikitpun, kelopak matanya sedikit terpejam, pengalaman telah menyadarkan kesalahannya, kali ini dia tidak berani sembarangan lagi, padahal pundak yang kena pukulan lawan cukup berat dan fatal akibatnya, tapi tekad dan keyakinan masih dipeluknya kencang, dia percaya masih mampu memberikan perlawanan yang berarti, dan bukan mustahil dirinya nanti akan dapat merobohkan lawannya.
Sirap tawanya mata Ni Ping-ji tiba-tiba memancarkan sinar liar, ujung mulutnya memantulkan senyum sinis, selangkah demi selangkah dia menghampiri kedepan Pakkiong Yau Liong.
Pakkiong Yau-Liong masih setengah terpejam matanya, seperti seorang padri yang lagi samadi, seolah-olah dia tidak perduli akan situasi yang mengancam jiwanya, tidak merasakan ketegangan yang tengah dihadapinya.
Kewajaran dan ketenangan Pakkiong Yau-Liong justru membuat Ni Ping-ji bimbang dan tertegun, empat langkah didepan Pakkiong Yau Liong dia berdiri, meski dalam hati dia sudah memikirkan suatu cara keji untuk menyerang lawannya, tapi menghadapi pemuda gagah yang membekal kungfu yang luar biasa ini, ternyata Ni Ping-ji tidak berani gegabah, padahal barusan dia berhasil melukai lawan.
Maka keduanya berdiri berhadapan tidak menunjukkan aksi, keduanya tidak berani ceroboh, terutama Pakkiong Yau-Liong.
Malam kelam nan sunyi, hanya terdengar lambaian pakaian mereka yang tertiup angin-Ketegangan terus memuncak.
laksana bahan peledak yang tinggal menunggu waktu saja, sekali disentuh pasti meledak dengin dahsyat, tapi siapapun tiada yang berani menyentuhnya .
Ruyung lemas singa emas Pakkiong Yau-Liong memancarkan cahayanya yang gemerdep.
demikian pula sinar mata Ni Ping-ji memantulkan sinar yang sukar dilukiskan.
Terbayang olehnya kejadian dua puluh tahun yang lalu, kejadian yang tak pernah terlupakan selama hidupnya, kenangan masa lalu yang menyedihkan, tanpa terasa otaknya meraba dan menggagap kejadian masa silam.
Di kala dirinya berdiri diatas kedua lututnya, tawa hina dan tatapan mencemooh itu, seperti terulang kembali didepan mata, pemilik pertama ruyung lemas singa emas itu yang dahulu menghadiahkan kehancuran nama dan rasa malu yang tak terhingga di hadapan sekian banyak tokoh-tokoh persilatan, dia mendapat penghinaan dan siksaan batin yang teramat besar dan mendalam selama hidup, hingga tiada muka berkecimpung dipercaturan dunia persilatan pula,jangan kata mau menjagoi dalam kalangan hitam.
Sejak inilah dia menyembunyikan diri di suatu tempat yang bentuknya menyerupai sumur kira-kira dua ratus li disebelah utara ceng-hun-kok, Kekalahan dua puluh tahun yang lampau telah terukir dalam sanubarinya, maka dia mempersiapkan diri, dikala latihannya telah mencapai taraf yang dapat di ketengahkan dia bersumpah untuk menuntut balas kekalahannya dahulu.
Hari ini, pada suatu kesempatan yang kebetulan, tiba-tiba dia melihat ruyung lemas singa emas dimiliki oleh pemuda berkepandaian tinggi, dari mulut sipemuda baru dia ketahui bahwa biang keladi kesengsaraan dan penderitaannya selama dua puluh tahun kehidupannya itu ternyata telah mampus.
Maka dendam kesumat yang bersemayam dalam tubuhnya selama dua puluh tahun ini dia limpahkan kepada Pakkiong Yau-Liong.
Ruyung lemas dengan sinarnya seperti menantang saja, sehingga amarah Ni Ping-ji semakin memuncak.
Terasa olehnya Pakkiong Yau-Liong seperti sedang berobah dan berobah.....
bukankah yang berdiri dihadapannya sekarang adalah Biau-hu Suseng yang sedang mengulum senyum hina?
Dengus yang keras keluar dari hidung Ni Ping-ji, kembali ujung mulutnya mengulum Senyum sinis.
Pelan-pelan sepasang tangannya yang panjang kurus kering terangkat dan lurus didepan dada.
Seiring dengan gerakan Ni Ping-ji, Pakkiong Yau Liong juga pelan-pelan membuka matanya yang terpejam, ruyung yang dipegangnya juga pelan-pelan terangkat bergelantung diatas kepalanya, sikapnya tetap tenang, wajahnya tidak menunjukkan perasaan hatinya.
Disertai gerengan pendek mendadak Ni Ping-ji menekuk sikut terus mendorong kedua telapak tangannya dengan jurus Kim -ban-song-ti (mengantar ikan dibaki emas), ditengah jalan kedua telapak tangannya berkembang, jari-jarinya laksana cakar, sementara jari jarinya menekuk terus menuding menimbulkan lima jalur angin laksana gunting menCengkram pundak Pakkiong Yau-Liong .
Sikap Pakkiong Yau-Liong tidak berobah, matanya terbuka lebar menyorotkan sinar dingin, ruyung lemas yang tergantung diatas kepala mendadak tegak lurus dan kencang, begitu pergelangan tangan bergerak.
dengan jurus Ui-hoa kay ce-hoan, dibarengi kelebatnya cahaya emas ruyung lemasnya menggulung kearah kedua tangan Ni Ping-ji.
Lekas Ni Ping ji menarik, kedua tangan meluputkan diri dari serangan lihay Pakkiong Yau-Liong, kedua tangan berputar terus mendesak maju hendak balas menyerang dengan gerakan berantai, Tiba-tiba terasa pandangannya menjadi terang, diantara taburan sinar emas dan perak, seperti ada beberapa ekor singa membawa tenaga hebat laksana kilat menubruk kepadanya.
Saking kagetnya, tidak sempat balas menyerang, lekas Ni Ping-ji menutul kaki, sebat sekali dia mundur setombak lebih, beruntung dia masih sempat menghindar, namun keringat dingin sudah membasahi kuduknya, cara berkelitnyapun kelihatan serba runyam.
Ni Ping-ji tak berani memandang enteng lawannya, dari dalam bajunya, dia mengeluarkan sebatang pentung tembaga merah panjang satu kaki, sambil menghentak serta diacungkan maka berkibarlah selembar panji segitiga yang tersulam dari benang sutra hitam di atas kain perak.
Itulah Kau-hun ling ki yang dahulu pernah menggetarkan nyali kaum persilatan dikala Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji malang melintang di kangouw.
Tetap menudingkan ruyung lemas singa emas yang kaku oleh tenaga dalam Pakkiong Yau-Liong, mulutnya terkekeh-kekeh dengan nada monoton.
Ni Pingji naik pitam, sambil menggerung dia menerjang kearah Pakkiong Yau-Liong, di saat rubuhnya terapung, tangan kanan membalik dan "Beerr"
Panji segitiga dengan sulaman hitam itutelah dikeprukkan kebatok kepala Pak kiong Yau-Liong, perbawa serangan panji kecil ini ternyata dahsyat sekali.
Lekas Pakkiong Yau-Liong berkelit kekiri, ruyung lemahnya balas menyerang dengan jurus Kang hong-ni-koh-hong, kadang-kadang lemas tiba-tiba kaku ruyung singa itu menyabet ke-arah Ni Ping-ji.
Kembali Ni Ping-ji menggerung, seperti orang gila tangannya berputar dengan To-kian kim-cian (menggulung balik kerai emas).
Kau hun-ling-ki (panji perenggut sukma) secepat kilat menggulung kearah ruyung Pakkiong Yau Liong yang menyabet datang.
Berbareng tangan kiri dengan jurus ou in-bit-pu (mega mendung makin tebal) taburan telapak tangannya tiba-tiba seraburan menepuk ke batok kepala Pak kiong Yau-Liong.
Serangannya telak, keras dan tidak memberi ampun.
Baru saja Pakkiong Yau Liong menyabetkan ruyungnya, Ni Ping-ji sudah balas menyerang dengan jurus yang berlainan dengan tangan kiri sekaligus, satu menyerang yang lain mematahkan serangannya, karuan Pakkiong Yau-Liong kaget, lekas dia mendekam kebawah, berbareng tumitnya menutul, hingga tubuhnya menerobos pergi lima kaki jauhnya.
Diam-diam Pakkiong Yau-Liong berpikir.
"Ni Ping-ji telah keluarkan senjatanya, beruntun dua jurus sudah susah kuhadapi, untuk mengalahkan dia agaknya teramat susah bagi diriku."
Walau mengakui keunggulan lawan, tapi Pakkiong Yiu-Liong tidak punyaniat untuk segera menyingkir, pengalaman siang tadi telah diresapinya, meski gugur dimedan laga, dia tidak akan melakukan perbuatan yang bodoh dan memalukan itu, karena itu akan menambah rasa sesalnya.
Maka tanpa ragu segera dia menjejak kaki, tubuhnya mumbul seringan asap.
ditengah udara setelah tubuhnya mencapai ketinggian maksimal, tiba-tiba dia menukik turun, ruyung emasnya membawa tarikan cahaya panjang laksana pelangi menubruk kearah Ni Ping ji.
Melihat Pakkiong Yau-Liong melambung keudara, Ni Ping-ji.
tahu orang tengah mengembang Ginkang paling tinggi yang dinamakan Yan-tenghun siang in dikombinasikan dengan gerakan tubuh Sin-Liong-wi-khong-coan sehingga tubuhnya mampu bergerak serta menukik balik dari udara.
Insyaf serangan lawan teramat lihay, tanpa ayal lekas dia menyingkir lima kaki meluputkan diri dari serangan Pak kiong Yau Liong.
Begitu Pakkiong Yau-Liong mencapai bumi dan belum sempat mengganti gerakan untuk melanjutkan serangan susulan, sebat sekali Ni Ping-ji sudah melompat majU seraya mengerjakan tangan, dengan jurus Liong-toh-seng, Kau-hun-ling-king menggulung keluar dengan gerakan gelap yang menepuk ke dada Pakkiong Yau-Liong.
Gerak-geriknya ternyata amat lincah, maju mundur dilaksanakan dengan enteng serta aneh.
Belum lagi mempersiapkan diri, tiba-tiba dilihatnya lawan sudah berkelit, maka begitu kaki menyentuh bumi Pakkiong Yau-Liong sudah menekan tubuh merobah posisi, dengan jurus Kim-poh-koan-to-gu, ruyung lemasnya bergetar laksana gelombang samudra yang mendebur, batang ruyung menjadi kaku dan serong menusuk kelambung Ni Ping-ji dari samping.
Serangan kedua orang dilancarkan hampir bersamaan, jaraknya juga dekat, siapa bisa sempat berkelit menyelamatkan diri diri serangan lihay lawan, lawan pasti berhasil dirobohkan.
Sedetik sebelum serangan kedua pihak mengenai sasaran, keduanya samsa-sama membentak.
berbareng pula keduanya berusaha mengerem gerakan sambil mengegos miring, sehingga keduanya sama-sama luput dari serangan lawannya.
Dalam jangka sesingkat itulah, terdengar Ni Ping ji mendehem sekali, telapak tangannya yang kiri menyerang dengan jurus Tam-yang-ki-but (merogoh kantong mengambil barang), telapak tangannya yang kurus kering itu menimbulkan deru angin yang kencang, secepat kilat menggenjot keperut Pakkiong Yau-Liong.
Dikala berkelit Ni Ping-ji masih mampu melancarkan serangan yang mematikan, karuan Pakkiong Yau Liong tersirap kaget, padahal ruyung lemas kebacut menyerang, pundak kiri sudah terluka pula, menangkis dengan tangan kiri juga tidak mungkin, sehingga pertahanan bagian depannya tetbuka lebar, di saat-saat yang menentukan mati hidupnya ini, Pakkiong Yau-Liong tidak hiraukan luka luka dipundaknya lagi, tiba-tiba menjengkang tubuh ke belakang sambil menjejak sehingga tubuhnya melesat kebelakang setinggi dua kaki sejajar dengan bumi.
Tubuh yang meluncur sejajar dengan bumi mendadak bergerak dengan gaya Biau-kim-it-si-ki, secara kekerasan tubuhnya itu mendadak bisa menegak pula berdiri.
Tak urung keringat telah bertetesan dari jidatnya.
Gerakan Tiam Iik-king-hwe-hwe disusul Biau-kim-it-ci-ki adalah ciptaan Biau-hu Su-seng bukan saja gerakannya sukar dilaksanakan, ternyata gayanya kelihatan lemah gemulai dan indah sekali, namun bila dikembangkan terlalu banyak mengeluarkan tenaga.
Untuk mengembangkan gerakan tubuh ini bukan saja harus memiliki latihan Lwekang yang sudah sempurna, harus memiliki Ginkang yang tinggi pula, karena prakteknya harus mengerahkan seluruh kekuatan, dikala tubuh celentang lurus dan meluncur lalu dirobah dengan gaya Biau-kim-it-ci-ki harus dilandasi tenaga dalam yang kuat sehingga tubuh dengan sendirinya bisa merobah gerakan menjadi tegak.
sudah tentu untuk mencapai seluruh gerakan itu amat makan tenaga...
Karena terpaksa Pakkiong Yau-Liong mengembangkan gerak tubuh itu dengan seluruh kekuatannya, sehingga luka-luka dipundaknya tergetar pecah dan mengalirkan darah pula, Sakitnya seperti menusuk ulu hati, sehingga tak tertahan keringat dingin berucuran.
Sambil kertak gigi dia menarik napas panjang, seluruh hawa murni dalam tubuhnya lekas dipusatkan, maksudnya untuk mencegah sakit dan darah tidak mengalir terlalu banyak keluar dari luka-luka dipundaknya.
Namun tiba tiba terasa kerongkongannya anyir, segulung hawa menyembur naik dan tak tertahan lagi dia menyembur darah segar.
Pakkiong Yau-Liong merasa longgar malah setelah segumpal darah tertumpah, namun napasnya malah memburu dan makin lemah.
Ni Ping ji terkial-kial melihat sipemuda muntah darah, lengking tawanya menggetar genderang telinga, memecah kesunyian bergema diatas pegunungan.
Di kala angin malam menghembus datang, tubuh Ni Ping-ji yang kurus kering itu tiba-tiba menyongsong maju dengan pekik setan yang mengerikan menerjang kearah Pakkiong Yau-Liong.
Noda darah masih meleleh diujung mulut Pakkiong Yau Liong, wajahnya pucat pasi, sebelum tubrukan Ni Ping-ji tiba, dia menggeser langkah memapak kesamping, ruyung lemasnya bekerja dengan dua jurus Saling Susul lagi ditengah arena, Senjata mereka ternyata Ban-jong-an-cing-seng dirobah menjadi cap-hekjui-bu plan, bintang dingin bertaburan di lingkaran Cahaya emas, dua jurus bergabung menjadi satu, dengan kekuatan dahsyat memapak serangan Ni Ping-ji.
Mendadak Ni Ping-ji meraung, tubuhnya berputar dua kali, tangan dibawah kaki diatas, panji perenggut sukma ditangannya tiba-tiba berkelebat dengan jurus Hong-coat-sip-yau, gagang panji yang terbuat dari tembaga itu menderu dengan kekuatan besar menggulung kearah cahaya ruyung Pakkiong Yau-Liong Itulah jurus terlihay dari Kau-hun-coat-sek Ni Ping-ji yang paling diagulkan-Tampak begitu bayangan hitam membentur cahaya emas kemilau, tubuh Ni Ping-ji mendadak anjlok kebawah.
Dua orang berhadapan pula seperti ayam jago sedang berlaga ditengah arena, senjata mereka ternyata saling gubat.
Mata Ni Ping-ji melotot, pelan-pelan tubuhnya merendah, otot dilengan kanannya nampak merongkol, mengerahkan setaker tenaganya mendadak dia menarik ke belakang.
Demikian pula Pakkiong Yau-Liong merendahkan tubuh, kakinya pasang kuda-kuda, tangan kanan menekan pinggang memegang kencang gagang ruyungnya, dia tidak mengejar kemenangan syukur kalau kuat bertahan dan senjata tidak terlepas dari tangan, kuda-kudanya memang sekokoh gunung.
Diatas senjata mereka yang bergubat itulah kedua orang ini mengadu kekuatan tenaga dalam, sedikit lena atau kurang perhitungan, bukan saja senjata terampas, akibatnya teramat fatal, jiwa bisa lenyap seketika.
Maka kedua orang ini tak ada yang berani pecah perhatian, masing-masing mengerahkan Lwekang yang diyakinkan sambil menatap tajam setiap perobahan lawan.
Terasa hembusan angin lalu membawa kabur ketegangan yang mencekam ini.
Sang waktu merambat pelan seperti keong, malam nan sunyi semakin kelam dan larut, dalam kesunyian seolah dapat mendengar debur jantung mereka, deru napas semakin berat dan memburu.
Lambat laun dengus napas Pakkiong YauLiong makin keras dan cepat, jantungnya pun seperti berdegup makin besar sehingga deburannya makin cepat, keringat bertetes-tetes diatas kepala dan mukanya.
Senjata yang tergubat dan menegang itu, lambat-lambat tapi pasti berkisar makin mendekati Ni Ping-ji.
Sekonyong-konyong Ni Ping-ji menghardik keras, tangan kiri menekan lengan kanan kontan Pakkiong Yau-Liong merasa tekanan di atas ruyungnya bertambah besar, insyaf dirinya tak kuasa mengendalikan tubuhnya pula, bila dia tidak segera melepas senjatanya.
Diam-diam dia mengeluh dalam hati^ "Pakkiong Yau-Liong, mungkinkah hanya begini saja."
Dikala detik detik yang menentukan kalah menang bakal terjadi, tiba-tiba gelak tawa aneh menggelegar diudara, tawa yang mengerikan itu memecah kesunyian malam.
Sesosok bayangan orang mendadak melambung dengan kecepatan kilat melesat dari atas kepala Ni Ping-ji.
Ni Ping-ji sudah yakin bahwa Pakkiong Yau-Liong sudah pasti dapat dikalahkan, serta merta rasa senangnya membuat dia sedikit lena, lekas dia kerahkan tenaga lebih besar ke-lengan kirinya yang menekan lengan kanan, pikirnya.
"coba saja, apakah kau masih kuat bertahan...."
Pada saat itulah kupingnya hampir pekak mendengat gelak tawa aneh yang keras, kontan Ni Ping-ji merasa tenaga tarikkannya mendadak seperti kosong, pertahanan lawan blong dan tahu-tahu Pakkiong Yau-Liong melesat lewat diatas kepalanya, berbareng panji perenggut nyawa ditangannya seperti tersendal pula, maka ruyung lemas Pakkiong Yau-Liong yang menggubat panjinya pun terlepas terbawa terbang.
Mimpipun Ni Ping-ji tidak pernah menduga bahwa pada detik-detik yang gawat itu Pakkiong Yau Liong masih mampu meminjam daya tarikannya meluncur terbang sambil membebaskan lilitan ruyungnya pada panji kecilnya.
Saking gugup dan gusarnya, mendadak dia menjejak bumi, tubuhnya melambung sambil berputar arah mengudak kearah Pakkiong Yau-Liong, gerak geriknya selincah kera segesit tupai.
Pergelangan tangan berputar dengan jurus Liu-sing-kan-gwe (bintang Sapi mengejar rembulan), sedang tembaga panji kecilnya itu menderu kencang menutuk ke Giok-Sim-Hiat dibelakang batok kepala Pakkiong Yau-Liong.
Baru saja kaki menyentuh tanah, angin kencang sudah mengincar kepala, tanpa berkelit atau memutar badan, Pakkiong Yau-Liong mengayun tangan kebelakang dengan jurus Lik-yap-wiji-yan, cahaya emas berkembang disertai pantulan sinar perak menyabet urat nadi tangan kanan Ni Ping ji.
Ni Ping-ji menjerit murka, matanya mendelik buas, tangan kanan ditekan miring dengan jurus Gwe-lng-llng-ho (sinar rembulan menerangi kembang), kelima jarinya terkembang bagai cakar, secepat kilat mencengkram kebatang ruyung Pakkiong Yau Liong yang menyabet tiba.
Bahwa serangannya luput, Pakkiong Yauliong sudah siap melompat pergi, tapi tiba-tiba terasa rayungnya mengencang, ujung ruyungnya ternyata sudah terpegang oleh Ni Ping-ji, karuan kaget dan tertegun Pakkiong Yau-Liong, sedetik dikala dia tertegun itulah dilihatnya bayangan hitam dan sinar kuning berkelebat kontan Jian kiat-hiat dipundak kanannya tertutuk oleh gagang panji perenggut sukma Ni Ping-ji.
Kontan pandangan Pakkiong Yau-Liong menjadi gelap.
tanpa kuasa "Bluk"
Pakkiong Yau-Liong tersungkur jatuh tak sadarkan diri.
Tawa Ni Ping-ji menggetar langit menggoncang bumi, gema suaranya seperti mendengung dialam bebas.
Ditengah keremangan tampak Ni Ping-ji merenggut kuduk Pakkiong Yau-Liong terus dibawanya lari bagai terbang, hanya sekejap bayangannya sudah lenyap ditelan kegelapan-Alam semesta kembali menjadi hening, tabir malam masih menyelimuti jagat raya, angin menghembus lalu.
Ditengah kegelapan hanya tercium anyirnya darah, sekeliling sunyi senyap, meski keadaan tenang tiada suatu gerakan, tapi siapa pun akan merinding berada di tempat yang seseram ini.
Apalagi ditengah kegelapan sana terdengar pula helaan napas yang rawan, penuh derita dan siksa.
-ooo0dw0ooo-7 BAU AMIS, apek dan kelembaban merangsang hidung.
Tidak tahu sekarang siang atau malam.
Karena tempat itu tak pernah kena sinar matahari, tak pernah melihat redupnya cahaya rembulan-Hanya kegelapan melulu yang dihadapi dan terbentang di depan mata, kegelapan yang tidak berujung pangkaL Disini tak pernah dia menghirup hawa segar, hanya bau kotor saja yang lelalu menyesakkan rongga dadanya.
Tidak pernah hujan tiada angin, hawapun rasanya beku, seperti tiada kehidupan lagi.
Mungkin di mana adalah sebuah rumah, atau penjara di bawah tanah ?
Mungkin juga bukan rumah atau penjara, tapi berada di neraka.
Dalam kesunyian ditempat gelap itu, mendadak berkumandang gelak tawa aneh, gelak tawa yang lebih seram dari jerit setan atau pekik dedemit, di dalam kedelapan yang dingin dan mencekam ini, lima jari sendiri tidak kelihatan, siapa tidak akan merinding dan berdiri bulu kuduknya.
Suara berkedut berkumandang sekejap.
lalu tampak secercah cahaya menembus ketempat gelap itu, tampak sesosok bayangan berkelebat masuk.
yang menyelinap kemari adalah seorang nyonya muda berusia tiga puluhan, berwajah cantik anggun membawa lamplon merah, diri alisnya yang berkerut nampak hatinya seperti dirundung banyak kegelisahan-Dibelakangnya ikut masuk seorang kakek.
kurus pendek, kupingnya tinggal satu, dia bukan lain adalah Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji Dengan sorot mata jalang Ni Ping-ji menatap kearah dinding segera dia mengulum senyum puas dan sadis.
Selangkah demi selangkah kedua orang ini maju menghampiri makin dekat.
Dibawah penerangan lamplon yang guram, tampak di atas dinding bergantung menempel dinding seorang laki-laki yang berambut kusut masai dengan muka pucat kurus.
Kepalanya tertunduk lunglai, dua rantai sebesar ibuj ari kaki menembus tulang pundaknya dan terpantek di atas dinding, kaki tangannya terpentang lebar seperti melekat di dinding.
Pakaiannya yang sudah koyak-koyak sudah tidak kelihatan warnanya, keadaannya begitu mengenaskan karena tersiksa.
Setiba dibawah dinding, Ni Ping-ji menatap tajam penuh perhatian, seperti seorang seniman yang lagi asyik menikmati karyanya sendiri, lalu bergelak tawa kial-kiaL Pelan-pelan akhirnya dia menekan sebuah tombol yang menonjol di dinding sisi kiri, maka terdengar sutra gemerincing, pelan-pelan orang yang tergantung diatas tembok melorot turun, namun kedua kaki orang itu agaknya sudah tidak kuasa menyanggah berat seluruh tubuhnya yang sudah kerempeng tinggal kulit pembungkus tulang, tubuhnya terus meloso jatuh terduduk.
punggUngnya menggelendot di dinding.
Ni Ping-ji mendehem sekali lalu maju dua langkah, sekali renggut dia jambak rambut kepala orang itu sehingga kepalanya yang tertunduk lunglai jadi menengadah.
Dengan seksama dia awasi muka orang itu, siapa lagi kalau bukan Pakkiong Yau-Liong.
Mulutnya tergagap, bibirnya gemetar, napasnya juga sudah senin kemis, matanya guram setengah terpejam.
Hanya berselang setengah bulan, ternyata keadaannya sudah begitu mengerikan oleh siksaan Ni Ping-ji yang keluar dari batas perikemanusiaan.
"Keparat "
Damprat Ni Ping-ji.
"Jangan pura pura modar. Masih ada siksaan yang lebih nikmat belum kau rasakan, tahu ?"
Melihat mula Pakkiong Yau-Liong yang kurus tinggal kulit pembungkus tengkorak, melihat sinar matanya yang redup, kembali Ni Ping-ji terkial-kial puas dan senang, begitu dia melepas renggutannya, kepala Pakkiong Yau-Liong terkulai pula.
Diam-diam dia membatin.
"Dua hari ini kenapa kau tidak mengamuk tidak mencaci maki..."
Tiba-tiba suatu pikiran berkelebat dalam benaknya, sambil tertawa menyeringai dia menatap muka Pakkiong Yau-Liong, akhirnya dia membuka suara.
"Keparat, hari ini akan kusampaikan sebuah berita gembira patut di rayakan. Bukankah kau hendak menuntut balas kematian bapakmu ? Bukankah kau hendak mencari Toh-bing-sik-mo ? Nah, biar kuberi tahu kepadamu, dia berada diBiau-kiang, bukankah berita ini cukup menggembirakan ?"
Dalam keadaan setengah sadar, lapat-lapat Pakkiong Yau-Liong mendengar sebutan Toh-bing-sik-mo, pelan-pelan dia angkat kepalanya matanya memancar sinar aneh, bibirnyapun gemetar, namun hanya sebentar saja, kepalanya tertunduk lunglai lagi.
Ni Ping-ji terkial-kial pula, lalu berkata.
"Ayolah tertawa keparat, silahkan pergi keBiau-kiang mencari Toh-bing-sik-mo, tuntutlah sakit hati bapakmu."
Lalu jarinya menutuk ke Siau-yau-biat dipinggang Pakkiong Yau-Liong.
Kial tawa Ni Ping-ji yang menggila membuat tawa Pakkiong Yau-Liong yang terpingkel-pingkel kelelap.
suaranya serak dan semakin lirih, tubuhnya mengejang dan gemetar.
Tawa Ni Ping-ji sudah berhenti, tapi Pakkiong YauLiong masih terpmgkel pingkel..
suaranya semakin lirih dan pelan, akhirnya berhenti, tapi tubuhnya makin gemetar, darah mulai meleleh dari mulutnya^ Ni Ping-ji tertawa dingin.
Wajah perempUan yang menenteng lamplon menampilkan perasaan yang sUkar dilukiskan, seperti kasihan, simpatik dan penderitaan-Bukan hanya sekali ini dia menyaksikan adegan seperti ini, tapi dia tidak berani menentang atau memperlihatkan reaksinya, maklum nasibnya sekarang tidak lebih baik dari Pakkiong Yau-Liong, kalau Pakkiong Yau-Liong tersiksa badaniah, tapi dia tersiksa batinnya.
Perempuan ini bukan lain adalah yang bercokol diam karena pengaruh obat bius Ni Ping ji sejak di ceng-hun-kok tempo hari.
Ternyata belum puas juga Ni Ping-ji menyiksa tawanannya.
Dia tepuk sekali di dada Pakkiong Yau-Liong, tubuhnya tidak lagi mengejang atau gemetar, tidak tertawa pula, namun mukanya tiba-tiba mengkerut, matanya yang terpejam terbuka sedikit, gignya gemertak menahan sakit yang luar biasa, tubuhnya seperti di tusuki ribuan jarum, setiap sendi tulangnya seperti hampir copot, keringat dingin membasahi sekujur badannya.
Rasa sakit memang sukar ditahan, dia ingin menjerit, meratap.
menangis atau meraung, menyesali nasib dirinya.
Selama setengah bulan ini dia telah disiksa oleh Ni Ping-ji setengah mati, badannya sudah kurus tinggal kulit pembungkus tulang ingin hidup tidak bisa, ingin mati-juga sukar.
Pakkiong Yau-Liong tahu, setelah dirinya kenyang merasakan siksaan ini, akhirnya juga pasti mati, tapi didalam hati kecilnya masih mengharapkan munculnya suatu keajaiban, karena dia masih ingin hidup, banyak tugas belum dibereskan.
Hatinya dendam, benci dan penasaran, namun semua perasaan itu akan turut terkubur bersama jiwanya yang tak akan lama hidup, dia maklum sekujur tubuhnya sudah pati rasa, otaknyapun sudah berhenti bekerja.
Hanya satu yang masih bersemayam dalam sanubarinya, yaitu harapan untuk lolos dari tempat laknat ini, lolos dengan selamat dan hidup, karena dia belum menunaikan tanggUng jawab yang masih dipikulnya, sadah tentu terhadap Tok-ni kau-hun Ni Ping ji diapun akan membuat perhitungan tersendiri pula, tapi semua ini hanya akan tercapai apabila keajaiban muncul dan membebaskan dirinya dari segala penderitaan ini.
Tiba-tiba Ni Ping ji terkial-kial pula, dari dalam lengan bajunya dia mengeluarkan beberapa batang bambu kecil kecil dan runcing.
Mulutnya menyungging seringai sadis pula, matanya semakin liar mengawasi Pakkiong Yau-Liong yang tergantung diatas rantai.
Ni Ping-ji memegang sebatang bambu kecil dengan mendelik tiba-tiba dia tusukkan bambu kecil itu di tengah jari tangan Pakkiong Yau-Liong.
Rasa sakit seperti menusuk sanubari, saking kesakitan sekujur tubuh Pakkiong Yau-Liong mengejang, bola matanya yang guram terbeluik, tubuhnya kaku lalu jatuh pingsan Darah segar tampak meleleh dari ujung bambu yang amblas setengah di tengah kuku jarinya setetes, dua tetes dan seterusnya membasahi tanah.
Perempuan yang terblus menenteng lampion pun sampai terbeliak menyaksikan siksaan sadis ini, matanya mendelong mengawasi darah yang menetes dari jari Pakkiong Yau-Liong-Ujung bibirnya tiba-tiba gemetar, napasnya memburu, jantungnya berdetak lebih sepat kebencian sudah bersemayam dalam benaknya, penderitaan orang lain seperti juga penderiaannya sendiri, itulah manusia, manusia yang masih punya perasaan cinta kasih terhadap sesama, padahal pikirannya terbius oleh perbuatan kotor Ni Ping ji, namun sorot matanya tiba-tiba memancarkan cahaya terang, menandakan keteguhan hatinya setelah mengambil suatu keputusan, pelan-pelan dia membalik tubuh sambil menyeka air matanya yang tidak tertahan lagi.
Cahaya lampion yang guram tampak terlalu redup untuk menerangi ruangan yang gelap pekat ini, kepekatan yang menyiarkan bau amis dan anyir yang memualkan.
Agaknya Ni Ping-ji masih belum puas juga melihat hasil karyanya, kembali dia memungut sebatang bambu, pelan-pelan ditusuk kan pula ke jari Pakkiong Yau-Liong yang lain-Rasa sakit membuat sadar Pakkiong Yau-Liong dari pingsannya, sekujur tubuhnya bergeringgingan, lalu kelejeran, mukanya yang sudah pucat tepos menampilkan rasa kesakitan yang luar biasa, bola matanya yang melotot berwarna merah darah, darah kembali menetes dari ujung bambu membasahi lantai di bawah kakinya.
Rasa sakit memang tidak tertahankan lagi, mulut Pakkiong Yau-Liong megap-megap.
namun tak ada suara yang keluar dari tenggorokannya, tubuhnya masih terus mengejang, namun keringat tidak lagi keluar.
Hanya giginya yang gemerutuk sehingga menjadi paduan suara yang mengerikan dengan bunyi darahnya yang menetes.
Kecuali itu suasana di dalam ruang batu itu seperti beku, Ni Ping-ji tersenyum sadis, siksaan yang mengerikan yang dia lakukan agaknya belum juga mengetuk perasaannya, belum juga memuaskan hatinya, dengan tatapan kejam dia awasi keadaan Pakkiong Yau-Liong yang mengenaskan, mengawasi jari orang yang tertancap bambu serta darah yang mengalir setetes demi setetes.
Kecuali ujung mulutnya yang menyeringai sadis, muka Ni Ping-ji tidak menampilkan perasaan apa-apa, sifat kemanusiaannya agaknya sudah beku.
Kembali diambilnya sebatang bambu, ditusuknya pula jari Pakkiong Yau-Liong ditangan yang lain, ditusuk dan bambu itu amblas pelan-pelan-Rasa sakit kembali menyadarkan Pakkiong Yau-Liong dari pingsannya, tapi kembali dia pingsan pula karena kesakitan itu, gemetar tubuhnya kian keras sehingga rantai yang membelenggu tulang pundak, kaki tangannya berbunyi gemerincing.
Darah masih terus menetes, namun Pakkiong Yau Liong sudah tidak mampu merintih lagi meski rasa sakit menyiksa dirinya.
Ni Ping-ji tertawa lagi dengan suaranya yang tinggi rendah menyentak jantung pendengarnya.
Dalam kesakitan yang luar biasa, entah dari mana datangnya tenaga mendadak Pak kiong Yau-Liong meronta sekali lalu jatuh lunglai lagi tak ingat diri, tubuhnya setengah tergantung di atas dinding, matanya melotot mulutnya terbuka, darah mengalir keluar.
Rantai yang di sebelah kiri ternyata lepas dari badan Pakkiong Yau-Liong mengeluarkan suara berisik membentur dinding serta bergontai pergi datang.
sebatang tulang tampak menongol keluar dari pundak Pakkiong Yau-Liong, tulang pundak kirinya yang terbelenggu rantai ternyata putus karena goncangan tubuhnya tadi.
Darah memancur dari pundaknya membasahi tubuh, kulit dagingnya seperti tercacah, mengirikan.
Ni Ping-ji menggerung sekali, lalu dengan mendelik gusar dia menatap muka Pakki ong Yau-Liong.
Sesaat kemudian dia mencabut bambu yang menancap diujung jari Pakkiong Yau-Liong, dari dalam kantongnya dia mengeluarkan bubuk obat serta membubuhi pundak dan jari-jari Pakkiong Yau-Liong dengan puyer putih lalu membalut luka-luka nya.
Akhirnya dia keluarkan pula sebuah botol kecil dan menuang dua butirpil terus menekan dagu Pakkiong Yau-Liong dengan kekerasan sehingga mulut Pakkiong Yau-Liong terpentang, lalu dia jejalkan dua pil tadi.
Disinilah letak kekejaman Ni Ping-ji, dia sudah menyiksanya sedemikian rupa, tapi dia belum menginginkan korbannya segera mampus.
Ni Ping-ji menekan, pula tombol di dinding kiri, bunyi gemerincing kembali bergema didalam ruangan itu, rantai bergerak Pakkiong Yau-Liong digantungnya pula diatas dinding.
Setelah daun pintu yang berat berderit lalu menutup, keadaan kembali menjadi gelap.
Entah berselang berapa lama kemudian, di tengah rasa kesakitan yang masih menyiksa dirinya pelan-pelan Pakkiong Yau-Liong siuman dari pingsannya, pelan-pelan dia angkat kepalanya, mulutpun mulai mengeluarkan rintihan perlahan, itulah berkat khasiat kedua butir pil tadi.
Rasa sakit di pundak dan jari-jarinya sungguh tak akan tertahankan oleh siapapun, tubuhnya seperti kosong, hampa tidak berjiwa atau bersukma lagi, rasanya seperti linu, tapi bukan sakit juga bukan pegal, pendek kata bagaimana perasaan yang tercampur aduk sukar dilukiskan.
Selama setengah bulan ini setiap hari dia disiksa dengan berbagai cara oleh Ni Ping-ji, sebetulnya tubuhnya sudah pati rasa, namun setiap kali dikala napasnya sudah kempas-kempis, Ni Ping ji selalu memberi minum pil kepadanya sehingga dia tidak mati, dengan pil obat mujarab yang bisa menambah darah sekaligus mempertahankan jiwa Pakkiong Yau-Liong namun dengan berbagai cara paling keji pula dia menyiksa Pakkiong Yau-Liong.
Selama setengah bulan ini, dia sudah mengalami siksaan lahir batin, siksaan badaniah yang terutama sampai hari ini, tenaga yang menjerit atau merintih juga sudah tiada lagi.
Keadaannya sudah tidak segagah, setampan serta selincah setengah bulan yang lalu, Pakkiong Yau-Liong yang sudah menggetarkan Kangouw sejak tahun yang lalu, kini tinggal kulit membungkus tulang saja lagi, keadaannya yang mengenaskan, meski setanpun merasa kasihan bila melihatnya, apalagi manusia, kecuali merinding siapapun tak akan tega menyaksikan keadaannya.
Padahal keadaannya sudah kempas-kempis, jangan kata ingin mempertahankan hidup tenaga untuk mencari kematian juga tidak ada lagi.
Dalam kegelapan, ditengah bau amis dan anyirnya darah sendiri, tanpa terasa dia menghela napas panjang, rintihan kembali keluar dari mulutnya.
Tiba-tiba bunyi berkerit yang menusuk pendengaran menyentak lamunannya, dibawah penerangan redup, tampak sesosok bayangan semampai memasuki kamar batu ini, dengan langkah enteng langsung dia mendekati dinding, secara gopoh dia menekan tombol sehingga Pakkiong Yau-Liong yang tergantung diatas dinding dikerek turun.
Pakkiong Yau Liong kaget dan heran, dengan terlongong dia mengawasi perempuan di depannya.
Nyonya mudayang cantik berusia tiga puluhan, wajahnya menampilkan senyum manis, rasa tegang terbayang di wajahnya, sekilas dia melirik kepada Pakkiong Yau-Liong sambil tersenyum.
Demi melampiaskan kebencian, karena tidak tega menyaksikan Pakkiong Yau-llorg yang tersiksa, akhirnya dia nekad dan berkeputusan, tanpa memperdulikan segala akibatnya nanti, dia berusaha hendak menolong dan membebaskan Pakkiong Yau-Liong.
Lekas dia membebaskan rantai yang membelenggu kaki, tangan dan pundak Pakkiong Yau Liong, tidak perduli perbedaan laki perempuan, pelan-pelan dia angkat tubuh Pakkiong Yau-liong dan terus menggendongnya, dengan langkah enteng dia beranjak keluar dan ditelan kegelapan-Dalam keadaan sadar setengah sadar, Pakkiong Yau Liong tahu dirinya digendong orang.
Tiba-tiba hembusan angin dingin yang menusuk tulang, membuat tubuh Pakkiong Yau-Liong menggigil, seketika dia sadar dari pingsannya.
Segera dia menarik napas dalam, menghirup napas segar, syukurlah bahwa Thian Yang Maha Kuasa telah memberi kesempatan kepadanya untuk melihat kebesaran alam semesta ini, meski keadaan jagat raya diselimuti tabir gelap.
Harapan hidup kembali bersemi didalam sanubarinya.
Setelah sadar apa yang terjadi, sayang dia tidak kuasa bersuara untuk menyampaikan rasa terima kasih, tiada tenaga menolak kebaikan orang lagi, namun setulus hati diaamat berterima kasih, haru dan senang.
Perempuan yang menggendongnya msih terus berlari secepat angin, akhirnya mereka tiba didataran yang banyak batunya, agaknya perempuan itu bersyukur bahwa usahanya berhasil maka dia mengendorkan langkahnya.
Dia bersyukur bahwa rencananya selama beberapa hari ini ternyata berhasil dengan baik.
Setelah istirahat sejenak kembali dia tancap gas pula lari sekuat tenaganya, agaknya besar tekadnya untuk membawa Pakkiong Yau Liong kesuatu tempat yang aman-Sayang napasnya semakin memburu, langkahnya juga semakin berat dan perlahan-Dia betul-betul letih dan kehabisan tenaga, didepan sebuah hutan akhirnya dia berhenti, pelan-pelan dia sudah berjongkok hendak menurunkan Pakkiong Yau-Liong, ingin beristirahat.
Tiba-tiba gelak tawa dingin yang keras berkumandang dari dalam hutan, seketika perempuan itu berjingkat mundur dengan tubuh gemetar, bergegas dia angkat Pakkiong Yau-Liong terus dibawa lari pula sekencang memburu angin, padahal dia insyaf harapan untuk menyelamatkan diri sudah tidak mungkin lagi.
Sambil menggendong Pakkiong Yau-Liong dia lari terus diantara batu batu gunung yang berserakan, namun setelah gelak tawa tadi, sekelilingnya sunyi senyap.
tak terdengar suara apapun dibelakangnya.
Akhirnya langkahnya makin lambat lagi, dengan lengan bajunya dia menyeka keringat dijidatnya, kegelapan membentang tidak berujung pangkal didepannya.
setelah dia menerobos lewat diantara celah-celah dua batu besar, dia maju lagi beberapa langkah, akhirnya dia bersuara kaget dan mengeluh dalam hati, ternyata lari tanpa arah ini telah membawa dirinya tiba dipinggir jurang, keadaan segelap ini, maka sukar diketahui berapa dalamnya jurang dibawah sana Setelah menarik napas, pelanpelan dia membalik tubuh, seketika dia memekik kaget dengan muka berobah, entah kapan Ni Ping-ji yang berwajah kurus tepos, dingin kaku dan buas telah berdiri dibelakangnya sejauh dua tombak.
Sambil tetap menggendong Pakkiong Yau-Liong dia berdiri melenggong, Ni Ping-ji menatapnya lekat-lekat, begitu benci dan sadis, sorotnya seperti hendak menelan bulat-bulat.
Selangkah demi selangkah dia maju menghampiri.
Perempuan itu seperti mendengar detak jantungnya sendiri, keringat membasahi sekujur tubuhnya.
Dia melihat betapa buas sorot mata Ni Ping ji, terbayang betapa mengerikan siksa derita yang dialami Pakkiong Yau Liong umpama harus mati juga harus mati secara wajar.
"Biarlah aku mengadujiwa dengan kau."
Demikian perempuan ini berkeputusan dalam hati, pelan-pelan dia menurunkan Pakkiong Yau-Liong.
Meskipun tegang, namun dia masih tersenyum dengan perasaan yang melegakan, sekejap dia menatap Pakkiong Yau-Liong sepenuh perasaannya.
Betapa sedih dan harunya hati Pakkiong Yau Liong, penasaran dan gegeran pula, sayang keadaan diri sendiri begini payah, dia tidak mampu berbuat apa-apa.
Dikala Pakkiong Yau-Liong terlongong, tiba-tiba perempuan itu menghardik dengan suara penuh kebencian, terus menubruk kearah Ni Ping-ji.
Ni Ping-ji menggerung gusar, sambil menyeringai dia sambut terjangan si perempuan dengan tamparan kedua tangannya, dimana segulung angin melandai.
"Blang."
Tubuh perempuan itu seperti menumbuk dinding kaca tubuhnya yang meluncur itu berhenti sekejap di tengah udara, tahu-tahu tubuhnya mencelat balik jungkir balik dan jatuh terbanting menumbuk batu pula, kepalanya pecah membentur batu,jiwanya melayang seketika.
Dengan seringai dingin NiPing-Ji memandang kearah mayat perempuan yang dibunuhnya, tanpa berperasaan pelan-pelan dia memutar tubuh dan menoleh, sorot matanya yang dingin beralih kearah Pakkiong Yau-Liong yang duduk dipinggir jurang dan tak mampu bergerak itu.
Lolong tawa keluar dari mulut Ni Ping-ji pula, suaranya seperti menembus mega menyusup lembah, siapa tidak merinding mendengar tawanya yang tajam memekak telinga.
Gelak tawa itu terus berkumandang di udara dan bergema di dasar lembah, sungguh tidak terperikan sedih hati Pakkiong Yau-Liong.
Menyaksikan kepala yang pecah, mayat yang.menggeletak tidak bernyawa, orang yang lagi bertolak pinggang dan mengakak kesenangan serta menggila, muka yang kurus tepos, telinga yang tinggal satu, manusia laknat macam Tok-ni-kau-hun Ni Ping-ji.
Mendengar gelak tawa lawannya yang masih bergema ditengah udara, perasaan Pakkiong Yau-Liong seperti diiris-iris, sedih nya bukan main, apalagi melihat kepala perempuan yang mumur, perempuan yang berusaha menolong dirinya, dia tidak kenal siapa dla, siapa namanya dimana tempat tinggalnya, bagaimana bisa berada disamping Ni Ping-ji, namun sekarang sudah ajal dalam keadaan yang begitu mengenaskan.
Diam-diam Pakkiong Yau-Liong menyesali nasibnya sendiri, kenapa takdir seperti sengaja mempermainkan nasibnya sehingga dia mengalami siksa derita sekejam ini ?
Kenapa pula dalam keadaan yang sudah serba mengenaskan itu perempuan asing yang berusaha menolong dirinya harus ikut berkorban, malah jiwanya mangkat lebih dulu, bagaimana dia harus membalas kebaikannya ?
Gelak tawa aneh yang bergelombang di udara itu lebih memekak telinga lagi, siapa-pun akan mengkirik dan merinding mendengar nada tawa yang mengerikan itu.
Dengan sorot matanya yang dingin Ni Ping-ji menatap Pakkiong Yau-Liong yang duduk tidak jauh di bibir jurang, Pakkiong Yau-Liong yang sudah tidak menyerupai manusia lagi, bukan saja tidak mampu melawan, tenaga untuk bergerak pun sudah ludes, tubuhnya lunglai, maka seringai Ni Ping-ji lebih lebar, lebih sadis.
Dalam hati dia mengumpat.
"Pandai juga kau menghasut orang untuk menolong jiwamu. IHm, sekali terjatuh ketanganku lagi, coba saja rasakan siksaanku yang akan datang"
Demikian batin Ni Ping ji sambil melangkah mendekati Pakkiong Yau-Liong.
Jangankan membela diri, Pakkiong Yau-Liong yang sudah tersiksa begitu rupa betul-betul mati kutu, tenaga menggerakkan kaki tanganpun sudah tiada, bagaimana dia bisa melawan atau melarikan diri.
Dalam keadaan demikian terpaksa Pakkiong Yau-Liong hanya memejamkan mata saja membiarkan musuh laknat ini menyeret dirinya pulang serta disiksa setengah mati, siksaan yang dikat batas peri kemanusiaan-Langkah Ni Ping-ji yang berat semakin dekat, suasana terasa semakin tegang, berat seberat tambur yang ditabuh dengan suaranya yang gaduh, serasa semakin sesak napas Pakkiong Yau-Liong mendengar derap langkah orang.
Melihat betapa lucu dan kasihannya pak kiong Yau-Liong yang sudah mirip domba kecil tinggal dicaplok harimau, seringai Ni Ping-ji semakin telengas, mulutnya terbuka lebar, menampilkan tawa puas dan terhibur.
Lambat tapi pasti langkah Ni Ping-ji semakin dekat dan akhirnya berhenti tak jauh didepan Pakkiong Yau-Liong.
Mengawasi Pak kiong Yau-Liong dibawah kakinya, sekali raih Pakkiong Yau-Liong yang tidak mampu melawan ini akan dijinjingnya dan diseret pulang, kembali Ni Ping-ji terkial-kiaL Tawanya lebih jelek dari pekik setan danjerit dedemit, nada suaranya seperti menusUk genderang kuping Pakkiong Yau-Liong.
Entah darimana datangnya pikiran itu, mendadak Pakkiong Yau Liong mendapat ilham dari pada mati konyol dan tersiksa, lebih baik mati kenapa aku tidak mencari jalan kematian yang sempurna ?
Serta merta kepalanya sedikit miring, matanya mengerling kebawah jurang yang gelap gulita tidak kelihatan dasarnya.
Mendadak boIa mata Pakkiong Yau-Liong melotot sebesar jengkol, ditengah gema tawa Ni Ping-ji yang masih mengalun di dasar lembah tiba-tiba dia menarik napas dalam, entah dari mana datangnya kekuatan, dengan setaker sisa tenaganya dia menjatuhkan tubuhnya terus menggelundung kejurang.
Kontan Pakkiong Yau-Liong merasa dirinya sepeti terombang-ambing di tengah angkasa, melayang ditengah kegelapan tanpa arah tujuan, mendadak kepalanya seperti di tumbuk sesuatu sehingga pusing dan pingsan tidak tahu apa-apa lagi.
Ni Ping-ji masih menengadah dan tertawa kial-kial, tapi mendadak tenggorokannya seperti tersumbat apa-apa sehingga gelak tawanya terputus, mulutpun melongo dan mata mendelik heran.
Buru-buru dia mendekati bibir jurang dengan mimik wajah yang aneh, dalam hati dia agak gegetun, batinnya.
"Menguntungkan keparat itu."
Masih sempat dilihatnya tubuh Pakkiong Yau liong jungkir balik dua kali diangkasa terus melayang makin cepat kebawah.
Tapi tiba-tiba dilihatnya bayangan hitam berkelebat dari samping kiri, laksana kilat menyambar bayangan hitam ini berhasil meraih tubuh Pak kiong Yau-Liong terus dibawa melayang turun kedepan anjlok kedasar jurang, hanya beberapa kali lompatan bayangan yang menangkap Pak kiong Yau-Liong itu telah lenyap tak karuan paranny a .
Heran dan kaget Ni Ping-ji dibuatnya, kulit mukanya yang kurus tepos tampak berkerimut beberapa kali, seringai sadis diujung mulutnyapun sirna seketika.
Kini mimiknya bukan lagi menampilkan rasa kecewa, tapi menyesal, dia menyesali dirinya sendiri kenapa tadi ceroboh tidak bertindak tegas saja, sehingga Pakkiong Yau-Liong yang sudah mendekati jurang kematian menggelundung kebawah jurang dan seCara kebetulan ada orang dibawah telah menggondolnya pergi.
Dengan perasaan heran, kaget bercampur gegetun pandangannya lanang mengawasi tabir kegelapan dibawah jurang, kemana bayangan hitam yang menggondol Pakkiong Yau-Liong tadi menghilang, akhirnya dia sadar sesal tak berguna, dengan menggeleng kepala kembali dia tertawa dingin, ujung mulutnya menyeringai sadis pula.
Dengan penuh kebencian mulutnya menggumam.
"Hari masih panjang, asal dia tetap hidup, kelak masih ada waktu untuk mencarinya. Ni Ping-ji tetap akan bisa menyiksamu lagi sehingga kau mati tak akan terkubur lagi. IHm demikian pula orang yang hari ini menolongnya, diapun tidak akan terlepas dari siksaanku."
Begitu memutar tubuh dia sudah berniat tinggal pergi, tapi tiba-tiba dia mengerutalis, langkah kakinya yang sudah bergerak ditarik kembali.
Pikirnya "Eh, bukankah aku sudah memberitahukan kepadanya bahwa Toh-bing-sik-mo sudah kembali ke Biau-kiang ?
jikalau dia masih hidup suatu ketika pasti akan meluruk ke Biau-kiang menuntut balas pada Toh-bing-sik-mo.
Hahaha..
kenapa tidak aku menunggunya saja di Biau-kiang."
Tampak matanya terbeliak.
sekali bergerak hanya beberapa kali tubuhnya berkelebat dengan lompatan berjangkit, bayangannya sudah lenyap ditelan kegelapan.
ooo00dw00ooo Sekarang mari kita kembali ke ceng hun-kok.
Ditengah kekeh tawa Toh-bing-sik mo yang aneh, Tio Swat-in yang putus asadan mendelik mengawasi gendewa merah ditangan Toh-bing sik-mo pelan-pelan akhirnya memejam mata.
Untunglah di kala hatinya berputus asa itu suatu pikiran lain mendadak berkelebat didalam benaknya.
Mata yang telah terpejam mendadak terpentang pula, seluruh kekuatan dia kerahkan dikedua tangan, mendadak menepuk dengan serangan dahsyat menyerang kepada Toh-bing-Mk-mo yang masih mengancam dirinya dengan ujung gendewa merahnya.
Toh-bing-sik-mo agak lena karena terlalu riang bahwa Tio Swat-in telah dibuatnya tidak berkutik, sungguh tak pernah dia bayangkan bahwa Tio Swat-in bakal bertindak senekad ini, sedikit melenggong itulah, tepukan kedua telapak tangan Tio Swat in dengan deru angin kencang telah menerjang tiba.
Dalam keadaan tidak siaga dan jiwa terancam begini, meski Toh-bing-sik-mo memiliki kepandaian lihay, juga susah meluputkan diri dari serangan Tio Swat-in.
Dalam detik-detik yang berbahaya itu, demi menyelamatkan diri, tiada pilihan lain, terpaksa sigap sekali dia berkelit kesamping terus melompat mundur sejauh mungkin.
Karena terlalu bernafsu dia kerahkan tenaga terlalu besar Tio Swat-in sampai tersuruk maju dua langkah baru berdiri tegak pula.
walau usahanya tidak berhasil melukai Toh-bing-sik-mo, tapi ancaman gendewa lawan telah berhasil disingkirkan-Bola mata Toh-bing-sik-mo yang kelihatan dibalik perban yang membungkus tubuhnya tampak memancarkan cahaya dingin buas, mendadak dia terkekeh pula dengan nada tawa yang lebih seram, gelak tawanya kembali didalam lembah mega hijau.
Ditengah kekeh tawanya itu, tubuh Toh-bing-sik-mo yang bergerak kaku itu tiba-tiba menerkam kearah Tio Swat-in-Dikala tubuh Toh-bing sik mo menerkad maju itulah, mendadak dari samping terdengarlah sebuah hardikan nyaring dengan volume suara mantap berisi, sesosok bayangan tampak berkelebat keluar dari balik batu besar tak jauh disamping Tio swat-in, menyongsong terkaman Toh-bing-sik mo.
Dua bayangan orang sama cepat dan tangkasnya, keduanya bertemu dan berhantam ditengah udara "Pyar"
Tampak keduanya terpental balik dan melayang jatuh setombak lebih.
Mendengar hardikan dan melihat bayangan kelabu tadi, seketika Tio Swat-in terbeliak girang, hampir saja mulutnya berteriak mengawasi bayangan kelabu yang terdorong mundur, tapi suaranya urung keluar dari mulutnya setelah melihat dikhawatirkan tidak kurang suatu apa.
Yang menyergap Toh-bing--ik-mo dari samping dan menyelamatkan Tio Swat-in, ternyata bukan lain adalah Hwi-khong sini, guru Tio Swat-in yang telah mengasuh, membimbing dan membesarkan dia selama sepuluhan tahun, baru sebulan dia berpisah dengan sang guru.
Dikala Tio Swat-in terbeliak kesenangan sehinggi suaranya yang sudah serak tidak mampu bersorak girang itu, sesosok bayangan lain tiba-tiba tampak melesat pula dari arah datang nya Hwi-khong Sinni tadi, begitu cepat dan lincah gerakan bayangan orang ini, sebelum Tio Swat-in melihat jelas, tahu-tahu bayangan itu sudah hinggap di sampingnya.
Baru kini dia melihat jelas pendatang ini adalah Tok-Liong sianli, sahabat kental gurunya.
Pundak Tio Swat-in segera ditepuk-tepuk ringan sambil tersenyum ramah, pandangannya cukup menghibur perasaan Tio Swat-in yang sebelum ini sudah tidak karuan.
Ternyata sejak Tio Swat-in turun gunung tanpa persiapan yang matang, Hwi-khong Sinni semakin kuatir, kebetulan teman baiknya Tok-Liong-sian-li berkunjung ketempatnya, setelah diperbincangkan mereka mengkhawatirkan keselamatan Tio Swat-in-Walau Tio Swat in sudah memperoleh warisan Hwi-khong Sinni, betapapun Lwekangnya masih cetek.
pengalaman juga masih hijau, konon Toh-bing-sik-mo memiliki Lwekang tangguh dan berkepandaian tinggi dan keji, bukan mustahil bukan saja Tio Swat-in tidak berhasil menuntut balas, salah-salah jiwa sendiri ikut berkorban secara percuma, maka setelah dirundingkan akhirnya Hwi-khong Sinni berkeputusan mengajak Tok-Liong sian li turun gunung menyusul ke ceng-hun-kok.
Waktu mereka tiba, tadi kebetulan Tio Swat-in tengah terancam gendewa merah Toh-bing-sik-mo, jiwa raganya boleh dikata sudah terbelenggu ditangan Toh-bing-sik-mo.
Dalam keadaan segawat itu, terpaksa mereka sembunyi dibelakang batu tidak berani beraksi, khawatir sedikit gerakan yang mencurigakan, jiwa Tio Swat-in bisa menjadi korban oleh gendewa Toh-bing sik-mo, maklum gendewa yang telah mengancam dada itu cukup disodokkan sedikit, jiwa Tio Swat-in pasti melayang seketika.
Mereka ikut tegang dan mengkhawatirkan keselamatan Tio swat-in sehingga berkeringat dingin.
Terutama Hwi-khong Sinni, disamping khawatir diapun gugup setengah mati, namun apa yang dapat dia lakukan?
Terpaksa mereka menunggu perkembangan selanjutnya, mereka sudah slap bertindak begitu memperoleh sedikit peluang, jiwa Tio Swat-in harus diselamatkan dari ancaman Toh-bing-sik-mo, meski bila terpaksa biar terluka parah sekalipun.
Sungguh tak pernah mereka bayangkan bahwa dalam menghadapi detik-detik kematiannya itu, Tio Swat in berani bertindak senekad itu, entahlah bagaimana datangnya ilham, mendadak dia menyerang dengan Bik-khong-ciang kepada Toh-bing-sik-mo.
Untuk menyelamatkan diri, ternyata Toh-bing-sik-mo berhasil dipukul mundur setombak jauhnya.
Saking gusar ditengah kekeh tawanya kembali Toh-bing-sik-mo menubruk kearah Tio Swat-in-Namun Hwi-khong sinni tidak tinggal diam, sekali melejit dia melampaui kepala Tio Swat-in menyongsong tubrukan Toh-bing-sik-mo dengan pukulan telapak tangan.
Betapapun perobahan dengan kedatangan gurunya membuat hati Tio Swat-in terhibur dan lega, akhirnya dia menarik napas lalu menghela panjang.
Rasa tegangnya seketika pudar, sudah tentu kekuatan yang dikerahkanpun pelan-pelan buyar.
Akan tetapi dendam kesumat masih membara dalam benaknya, tekadnya masih menyala untuk menuntut balas kematian orang tuanya.
Kembali Toh-bing-sik-mo terpukul mundur oleh serangan telapak tangan Hwi-khong Sinni.
Dengan kaku dia berdiri, matanya melotot gusar, perobahan yang mendadak ini membuatnya kaget dan heran, dengan seksama dia awasi dua wanita yang baru muncul serta menyelamatkan jiwa Tio Swat in ini.
Tiba tiba Tio Swat-in melompat kepinggir sana meraih pedang mestikanya yang tadi terpukul jatuh oleh gendewa Toh-bing-sik-mo Dengan seluruh kekuatan yang masih tersisa, dia siap melabrak Toh-bing sik mo.
Sayang diwaktu tubuhnya terbungkuk memungut pedang mestikanya itu mendadak pandangannya menjadi gelap.
sekujur tubuhnya tiba-tlba seperti lunglai tak punya tenaga sedikitpun, malah tanpa kuasa tubuhnya menggigil dan sempoyongan dua langkah, untung telah mengerahkan hawa murni dan menarik napas sehingga pikirannya kembali jernih.
Mau tidak mau Tio Swat-in membatin.
"Apa sih yang terjadi atas diriku...? Kenapa mendadak kepalaku pening dan pandanganku gelap. belum pernah hal ini terjadi, mungkinkah aku..."
Sepetti diketahui Tio swat in meluruk ke cenghun-kok dengan bekal dendamnya yang tak terlampias, setelah tak berhasil mengalahkan Pakkiong Yau Hong yang waktu itu masih menyamar sebagai Toh bing-sik-mo, akhirnya dia melabrak Toh-bing-sik-mo yang sesungguhnya dan kena dikalahkan total, dalam sedihnya, badan basah kuyup lagi oleh hujan, setelah bertempur mati-matian, kehabisan tenaga lagi.
Luka hatinya belum lagi sembuh, ditambah rasa duka karena tidak berhasil menuntut balas, tanpa disadarinya dia sudah terserang angin dan badannya mulai demam, begitu kedatangan gurunya, rasa lega dan dada lapang, baru sekarang dia menyadari keadaan dirinya.
Namun dasar bandel, sekuatnya dia pegang pedang mestika, sambil menenteng senjata dia menghampiri Toh-bing-sik-mo.
Toh-bing-sik-mo terkekeh-kekeh pula dengan nada gila, matanya mendelik mengawasi Tio Swat-in-Agaknya Hwi-khong Sinni juga sudah menyadari keadaan Tio Swat-in yang agak ganjil, umpama dalam keadaan normal, dia jelas bukan tandingan Toh-bing-sik-mo, apalagi dalam keadaan sekarang, sudah tentu sang guru tidak bisa berdiam diri membiarkan muridnya mencari kematian ?
Tapi diapun menyelami perasaan Tio Swat-in, tekadnya terlalu besar untuk menuntut talas, namun waktu masih panjang, keselamatan muridnya lebih di-utamakan, maka dia menghadang didepan Tio Swat-in sambil berkata sambil tertawa.
"Serahkan kepadaku, setelah kurobehkan dia, boleh nanti kau turun tangan membunuhnya ..."
Tlo Swat-in mengerling penuh haru dan terima kasih kepada Hwi-khong sinni (gurunya), memang dia insyaf bahwa dirinya sudah tak akan mampu berbuat apa-apa lagi, mengangkat pedang nya sendiripun dia sudah merasa payah, mana mungkin melabrak Toh-bing-sik mo yang memiliki kepandaian lebih tinggi dari dirinya.
Walau sekuatnya dia masih mampu berdiri dengan mengerahkan sisahawa murninya, tapi kepala berat kaki enteng, seluruh tubuh pegal linu dan lunglai...
...
Ucapan Hwi-khong sini merupakan hiburan yang menentramkan gejolak hatinya.
Hwi-khong sinni menggerakkan tangan memberi tanda pada Tok-Liong-sian-li supaya dia menjaga Tio Swat-in-Pelan-pelan dia membalik badan, dari dalam lengan bajunya yang longgar dia mengeluarkan sebatang kebut panjang satu kaki, lalu menatap Toh-bing sik-mo yang berdiri tak jauh didepannya.
Dari bentrokan dua kali tadi Hwi-khong Sinni tahu bahwa kepandaian Toh-bing-sik-mo yang tinggi, maka sedikitpun dia tidak berani memandang enteng, dia sudah siap menempurnya dengan seluruh kemampuannya untuk bantu sang murid menuntut balas kematian ayahnya.
Sebelum reda kekeh tawa Toh-bing-sik-mo, sambil menghardik tiba-tiba Hwi khong Sinni berkelebat, secepat kilat dia sudah melancarkan serangan kepada Toh-bing-sik-mo, berbareng tangan kanan bekerja, dengan jurus jun-hong-tek-gi, kebutnya menaburkan bayangan kelabu, dengan segulung angin kencang mengeprak kepala Toh-bing-sik-mo.
Lenyap kekeh tawa Toh-bing-sik-mo, tiba-tiba bayangan putih berkelebat, dengan mudah dia mengegos, berbareng gendewanya menukik dengan sasaran urat nadi Hwi-khong Sinni, sementara tangan kiri menjojoh keluar, ditengah jalan dua jari tengah dan telunjuknya yang terbungkus perban itu secepat kilat menutuk Jian-kin-hiat Hwi-khong sinni.
Hwi-khong sinni memang tidak menganggap ringan musuh nya, jurus jun-hong-tek-gi (angin musim semi mendapat arti) memang hanya gerak pancingan, diwaktu Toh-bing-sik mo mengegos itu, dia sudah menekan tangan memiringkan tubuh, sekaligus diapun meluputkan diri dari serangan balasan Toh-bing--ik,-mo yang lihay.
Disaat berkelit Hwi-khong Sinni sudah mengincar pertahanan didepan dada Toh-bing sik-mo yang terbuka, maka tidak mundur dia justru menyelinap maju, sekaligus dia gunakan jurus jui-tu-tan-ham (lengan mengebut hawa dingin), kebutnya mengencang runcing, secepat kilat menusuk ke Seng-kay-hiat ditengah lambung Toh-bing-sik-mo, gerakannya lincah serangannya telak dan tepat lagi.
Begitu serangan luput tahu-tahu ujung kebut lawan sudah mengancam perutnya sendiri, Toh-bing-sik-mo menekuk ping gang sambil menarik gendewa, kelima jari tangan kiri bagai cakar menggunakan jurus siong-kian hwi-cwao (s umber air diselokan gunung), bayangan telapak tangan putih bertaburan membawa deru angin yang mengiris kulit.
Laksana samberan kilat mencengkram keujung kabut Hwi-khong Sinni yang menutuk tiba.
Setelah mengadu kekuatan ditengah udara dua kali tadi, Toh-bing-sik-mo yakin lwekangnya sendiri masih lebih tinggi dari Hwi-khong Sinni, maka kali ini dia berani tanpa berkelit tangannya mencengkram keujung kebut lawan yang menutuk tiba.
jikalau lawan tetap mempertahankan serangan dan tidak merobah posisi, sementara dirinya tidak mampu membendung serangan lawan maka dirinya selanjutnya tidak akan mampu merenggut sukma orang pula.
Tapi jikalau dia mampu menangkap kebut Hwi-khong Sinni, berarti mematahkan serangan lawan dan senjata Hwi-khong Sinni bakal terampas, ini berarti ancaman jiwa pula bagi Hwi-khong Sinni.
Hwi-khong sinni mendengus sekali, pikirnya.
"Buat apa aku mengadu jiwa denganmu?"
Pikiran bekerja, tanganpun bergerak^ menarik kebut berbareng dia mengeluarkan tangan kiri menyerang dengan jurus Hun-gi-jiu-ting telapak tangannya menyelonong keluar dari dalam lengan bajunya, membawa kesiur angin yang membisingkan telinga membelah kelambung Toh-bing-sik-mo.
Perobahan serangan Hwi-khong sinni bukan saja cepat juga aneh dan mendadak, tak pernah terpikir dalam benak Toh-bing-sik-mo bahwa Hwi-khong sinni mengabaikan kesempatan paling baik yang sukar diraihnya, mendadak menarik serangan merobah gerakannya malah, berbareng dikala cengkraman jarinya luput, lalu tiba-tiba membalik balas menyerang pula.
Saking kejut Toh-bing sik mo tidak sempat mengerjakan kakinya lagi, lekas dia menekuk pinggang menjengkang badan ke belakang, berbareng kaki menutuk bumi dengan gerakan Ki-hong-loh-yap (angin lesus menyapu daon) tubuh nya bersalto dua kali mundur kebelakang setombak jauhnya, untung masih sempat dia meloloskan diri dari serangan maut Hwi-khong sinni yang lihay dan mendadak ini.
Begitu kaki menginjak tanah, Toh-bing sik-mo naik darah, sebat sekali sambil meraung tiba-tiba tubuh nya melejit keatas tetus bersalto pula, tangan kanan terbalik gandewa merah ditangannya menjojoh dengan jurus Jiu-ltn sip-ciau (sinar surya didalam hutan), bayangan gendewa merahnya membawa sejalur kekuatan dahsyat menindih kearah Hwi-khong Sinni.
Gerak-gerik Toh-bing-sik-mo meski kelihatan kaku ternyata gesit dan tangkas, maju mundurnya setangkas tupai saja, dikala Hwi-khong sinni merobah posisi mengganti serangan, dia sudah menggunakan ketangkasannya merangsak dengan hebat.
Belum seluruh serangan Hwi-khong sinni ditarik balik, tahu-tahu Toh-bing-sik-mo sudah merangsak maju pula secepat meteor jatuh, dalam keadaan kepepet, jelas tidak mungkin bagi Hwi-khong Sinni untuk menangkis atau mematahkan setangan lawan, umpama di paksakan juga akibatnya pasti fatal.
Tapi Hwi-khong sinni sudah bertekad untuk bertempur secara mantap dan tenang, setiap lobang kesempatan tidak akan diabaikan untuk menyergap musuh merebut kemenangan sudah tentu dia tidak mau mengadu kekuatan secara kekerasan, apalagi posisi sendiri lebih ringan, tujuh puluh prosen dirinya bakal dirugikan.
Maka tanpa ayal lekas dia menggeser langkah berpindah kedudukan, seiringan kupu kupu menari dia menyelinap mundur setombak jauhnya.
Berhasil mendesak musuhnya Toh-bing sik-mo terkekeh pula, nada tawanya kedengaran amat sombong dan takabur, suaranya mendengung di udara bergema dalam ceng hun-kok.
Tio Swat-in yang sudah lemah kondisinya menjadi semakin payah mendengar kekeh tawa yang mengiriskan, hakikatnya dia tidak melihat apa yang telah terjadi diarena pertempuran, pandangannya terasa gelap dan memutih, berbagai bayangan seperti berkelebatan dipelupuk matanya.
Akhirnya dia mendelong sambil berdiri limbung, bertopang pada pedang panjangnya.
darah serasa mendidih dalam dadanya, kepalanya pusing tujuh keliling.
Namun dasar bandel dan keras kepala dia tetap bertahan berdiri berusaha mengempos semangat dan mengumpulkan hawa murni, dia insyaf bila usahanya gagal maka dirinya akan ambruk dan jatuh sakit untuk jangka panjang.
Dengan penuh perhatian Tok-liong-sianli menyaksikan pertempuran, dia heran bahwa Toh-bing-sik-mo ternyata memiliki kepandaian yang luar biasa, khawatir Hwi-khong Sinni keCundang maka dia mempersiapkan diri memberi bantuan bila perlu.
Begitu kaki menyentuh tanah kembali tubuh Toh-bingsik-mo bergerak kaku menubruk kearah Hwi-khong sini yang berkelit mundur.
Hwi-khong menjengek dingin, sebelum lawan menubruk tiba, dia miringkan tubuh sambil menggeser langkah kedepan, berbareng pergelangan kanan berputar, kebutnya menyerang dengan jurus Hing hun-yu-kok (mega mengembang didasar lembah) dengan desing angin yang kencang menggulung kearah Toh-bing-sik-mo.
Tubuh Toh-bing-sik-mo yang masih terapung itu ternyata bisa merandek dan membalik, gendewa merahnya diulur kedepan depan jurus Gwe-jui -san-ya (rembulan doyong di tegalan liar), bayangan merah berkelebat mengepruk batok kepala Hwi-kiong Sinni.
Bersama dengan itu tangan kiri tegak membelah dengan jurus Gik,san-wan-ciau (rembulan menerangipucuk gunung) menabas keleher Hwi-khong Sinni.
Hwi-khong Sinni memiringkan tubuhnya sambil doyong kebelakang meluput diri dari keprukan gendewa, sementara tangan kanannya setengah tergenggam balas menyerang dengan jurus Kong gi-beng-goat (sinar memancar kabut timbul) dari samping dia berusaha mencengkram urat nadi pergelangan tangan kiri Toh-bing-sik-mo.
Kebut ditangan kanan sekaligus terayun dengan setangan Tiang-siu-biau-hiang (lengan panjang menyibak harum) dengan deru angin keras balas menampar muka Toh-bing-sik-mo, dua jurus serangan dilancarkan bersama.
Lekas Toh bing-sik-mo menurunkan lengan membalik gendewa, dengan tangkas dia berkelit, lalu dengan jurus Jiu-khang-ce tiau (kehilangan biduk di muara luas), bayangan gendewanya berlapis-lapis, kembali Hwi-khong Sinni dirabunya dengan gencar.
Maka Nikoh tua yang berjubah kelabu ini harus mengembangkan Ginkang dan ketangkasan gerak tubuhnya berhantam melawan Toh-bing-sik-mo yang digubat perban sekujur badannya.
ceng-hun-kok masih guram dan beCek serta licin, tapi kedua orang ini memang memiliki ketangkasan luar biasa, gerak-gerik mereka tetap gesit dan lincah saling serang dan berkutet sengit.
Betapapun kepandaian Toh-bing-sik mo memang setingkat lebih tinggi, namun dalam waktu singkat dia belum mampu meroboh kan Hwi-khong Sinni.
Meski Hwi-khong sinni berpedoman dengan bertempur mantap dan tenang, lunak mengalahkan keras dan sikap diam melawan aksi lawan, setiap peluang pasti menyergap lawan, namun dia pun tidak mampu melukai apalagi merobohkan Toh-bing-sik-mo.
Cepat sekali, enam puluh jurus telah lewat.
Walau belum dapat merebut kemenangan, lama kelamaan Hwi-khong sinni semakin bingung dan gerak-geriknya agak lamban dan makan tenaga.
Dengan tegang, tanpa sadar Tok-Liong-sianli selangkah demi selangkah maju mendekati arena.
Dia khawatir bila Hwi-khong Sinni kalah cepat dan tertawan oleh musuh, sehingga seluruh perhatiannya dia curahkan atas keselamatan Hwi-khong Sinni, melupakan Tio Swat-in yang dipasrahkan kepadanya.
Agaknya Toh-bing-sik-mo juga tahu bahwa Hwi-khong Sinni sudah kepayahan melawan dirinya, maka serangannya semakin gencar dan lihay, seperti hujan badai saja dia incar Hwi-khong Sinni dengan berbagai serangan gendewa dan telapak tangan.
Tiba-tiba Toh-bing-sik-mo tampak membalik dengan putaran jungkir balik, kaki di atas kepala dibawah, tubuhnya lurus tegak^ tangan kanan berputar dengan jurus Lui-sin-tin ce (malaikat guntur menggetar bumi) gendewa merahnya membawa kesiur angin dan membisingkan telinga, laksana gugur gunung saja menindih kepala Hwi-khong Sinni.
Bukan saja serangan keji, gerak-geriknya cepat dan aneh pula, maka dapat dibayangkan betapa berbahaya serangan ini.
Hwi-khong Sinni terkesiap kaget, lekas dia melesat mundur, namun "Bet"
Tak urung pakaian dipundaknya tergantol sobek oleh ujung gendewa lawan, goresan merah tampak diatas pundaknya.
Baru kaki menyentuh tanah dan belum sempat memperbaiki posisi, kekeh tawa yang memekakkan telinga seperti hampir memecah genderang telinganya, tanpa memberi kesempatan Toh-bing-sik-mo telah menubruk tiba pula dengan rangsekan yang menggebu.
Saking murka kali ini Hwi-khong Sinni tidak berkelit lagi, dilihatnya Toh-bing-sik-mo telah menubruk datang, kontan dia menyendal kebutnya, dengan jurus Ngo-Liong-pi-gi (lima naga membanting cakar), serangan yang mengejutkan, kebutnya menimbulkan lima jalur satu kekuatan angin kencang masing-masing melesat mengarah lima Hiat to besar di dada Toh-bing sik-mo, lima jalur angin laksana anak panah, bila tersambar pasti belong dan jiwapUn melayang.
Inilah jurus serangan ilmU kebut ciptaan Hwi-khong Sinni yang dipelajarinya selama belassan tahun.
Dengan Ngo-Liong-pi-gi yang dibanggakan ini, entah berapa jago-jago silat yang pernah dia kalahkan-Sebetulnya Toh-bing-sik-mo sudah merasakan kelihayan jurus serangan ini waktu melawan Tio Swat-in tadi, cuma tadi Tio Swat-in menyerang dengan pedang, kini Hwi-khong Sinni sendiri yang melancarkan pula dengan kebutnya.
Lwekang nya lebih tinggi, latihan lebih matang pula, maka perbawa jurus ini sudah tentu lebih lihai dan menakjubkan-Tahu Ngo-Liong-pi-gi tak boleh dilawan, lekas Toh-bing-sik-mo melorot turun sambil miring tubuh terus berkelit mundur.
Tapi deru angin pukulan telapak tangan yang dahsyat tahu-tahu telah memapak dari belakang Toh-bing-sik-mo.
Penyerangnya adalah Tok-Liong sian li, sejak tadi dia memang sedang menunggu kesempatan baik untuk menyergap musuh dan membekuknya, maka dia tidak hiraukan lagi peraturan dunia persilatan atau menjaga gengsi segala, kebetulan Toh-bing sik-mo mencelat mundur membelakangi dirinya, maka dia yang sejak tadi sudah siap segera menggencet dari arah yang berlawanan dengan Hwi-khong Sinni.
Toh-bing-sik-mo berusaha menyelamatkan diri, tapi begitu merasa dari belakang ada serangan pula, segera dia insyaf arah yang ditempuhnya salah, diam-diam dia mengeluh dalam hati.
Dalam gugupnya lekas dia menjatuhkan diri kesamping berbareng gendewanya bekerja menangkis serangan gencar serta lihay Hwi-khong Sinni.
Tapi dalam sedetik itu kebut Hwi-khong sinni yang berpencar menjadi lima jalur itu tiba-tiba bergabung pula menjadi satu, dengan gaya serangan sama tetap menutuk kearah Toh -bing-sik-mo.
Kontan Toh-bing-sik-mo merasa lengan kanannya terserempet miring oleh tusukan kebut Hwi-khong sinni, sehingga perban yang membalut lengannya pecah dan berhamburan, gendewa yang dipegangnya hampir saja terlepas dari pegangan.
-oo0dw0oo-8 DENGAN meraung gusar mendadak Toh bing-sik-mo menjejak kaki menerjang keatas, setelah terluka dia tidak berani bertempur lebih lama lagi, secepat angin tubuhnya meluncur keluar dari ceng hun-kok.
Sembari mengayun langkah sempat juga dia menoleh, bola matanya yang tidak terlindung perban tampak memancarkan sinar kebencian dan dendam.
"Lari kemana."
Hardik Hwi-khong Sinni, sudah siap dia mengudak-"Bluk"
Tapi suara jatuh gedebukan membuat Hwi-khong Sinni mengerem gerakannya seketika, begitu dia menoleh tersirap darah Hwi-khong Sinni, dilihatnya Tio swat-in sudah terkapar di lumpur beCek, Tok-Liong sian-li berseru kaget, buru-buru mereka memapah Tio-Swat in tanpa menghiraukan Toh-bing-sik-mo pula.
Wajah Tio Swat-in tampak merah, sebelah kiri kotor kena lumpur, matanya terpejam, badannya terasa panas.
Hwi-khong Sinni saling pandang sekejap dengan Tok-Liong-sian-li, mereka tidak habis mengerti apa yang terjadi pada gadis belia ini.
Lekas Tok-Liong sian li bopong Tio Swat-in terus memberi tanda kepada Hwi-khong Sinni.
"Hayo pergi."
Lalu dia mendahului lari keluar ceng hun kok, menempuh arah yang berlawanan dari Toh-bing-sik mo.
Hwi-khong Sinni mengintil dibelakangnya dengan perasaan hambar dan bingung, lekas sekali mereka telah pergi jauh dan tidak kelihatan pula.
C-hun-kok kembali tenang dan sepi, namun suasana tetap rawan dan mengerikan, dua mayat kuda dengan CeCeran darah yang memualkan.
Sejak peristiwa ini, Toh-bing-sik-mo yang pernah menggetarkan dikalangan kang-ouw dan mengganas di ceng-hun-kok tidak pernah muncul dan ditemukan jejaknya lagi.
Dalam sebuah bilik yang sederhana, Hwi-khong Sinni dan Tok-Liong-sian-li tengah berdiri di depan ranjang, mereka mengawasi Tio Swat-in yang rebah tidak sadarkan diri dengan bingung dan resah, badan Tio Swat-in panas dingin, pingsan lagi.
Tapi di samping mereka berdiri seorang laki-laki tua berusia hampir enam puluh, sambil membungkuk laki-laki ini sedang memeriksa nadi Tio Swat-in, dengan teliti dia memeriksa mata Tio Swat-in pula.
Rambut dan jenggot laki-laki ini sudah beruban,jenggotnya panjang menyentuh dada, dia bukan lain adalah suami Tok-Liong-sianli, Ih-hiap (Tabib pendekar) Siangkoan Bu yang terkenal di kalangan Kangouw.
Pelan-pelan Siangkoan Bu masukkan tangan Tio Swat-in ke dalam kemul, sambil menegakkan badan dia mengawasi Hwi khong Sinni dan Tok-Liong-sian-li istrinya lalu menghela napas, katanya.
"Dalam keadaan sedih dan haru dia terlalu banyak mengerahkan tenaga sehingga hawa murninya ludes, dalam kondisi lemah itu dia terserang demam lagi, keadaannya memang cukup prihatin, tapi tidak perlu dibuat khawatir, namun untuk menyembuhkan penyakitnya harus makan waktu panjang, malah..."
Hwi-khong Sinni bingung, tanyanya.
"Malah bagaimana, apakah ada persoalan pelik?"
Hwi-khong Sinni dipandangnya lekat-lekat baru Siangkoan Bu berkata.
"Sebagai tabib yang terkenal di Kangouw selama puluhan tahun. Swat-in muridmu terserang penyakit dan sudah kau serahkan kepadaku, maka aku akan berusaha menyembuhkan dia, yakinlah akan kukembalikan Swat-in yang segar-bugar kepadamu, tapi tentunya kau juga tahu, bagi kaum persilatan seperti kita,jarang jatuh sakit, tapi sekali sakit untuk menyembuhkan juga bukan soal sepele tapi bukan aku suka mengagulkan diriku, setelah pasien berada di tanganku, apa lagi jarang ada tabib lain yang bisa mengungkuli diriku di kalangan Kang ouw, percayalah dia akan segar -bugar dalam waktu sebulan."
Setelah menghela nafas, Siangkoan Bu ber berkata pula.
"Maksudku tadi yalah, untuk menyembuhkan Swat-in, sekarang aku masih memerlukan dua jenis obat yang lebih penting tapi tidak jadi soal, tiba saatnya aku akan pergi mencarinya."
Mendengar penjelasan Siangkoan Bu, IHwi khong Sinni mengiakan sambil manggut-manggut, tiba tiba dari luar tampak berlari masuk seorang gadis berusia enam belasan.
Begitu melihat Tok-Liong-sian li segera dia berteriak riang.
"Ma, kau sudah pulang, aku minta ikut kau larang beberapa hari ini .."
Sambil merengek dia menubruk kedalam pelukkan ibunya Tok-Liong-sian-li, tiba-tiba dia melihat Tio Swat-in yang rebah di kemul di-ranjang serta Hwi-khong Sinni disamping ibunya, sesaat dia mengawasi bingung bergantian lalu bertanya kepada ibunya.
"Ma, bukankah ini cici swat-in? Kenapa dia?"
Tok-Liong-sian-li menghela napas, katanya.
"Cici Swat-in mendadak jatuh sakit."
Belum habis Tok-Liong-sian-li bicara, putrinya sudah menyela.
"Cici Swat-in sakit, biar aku mengobatinya."
Lalu dia mendekati ranjang. Lekas Tok-Liong sian li menariknya, katanya.
"Jangan sembrono, anak Ceng, memang nya kau mampu menyembuhkan apa. Hayo beri hormat kepada Supek."
Sekilas Siangkoan Ceng melirik ibunya, dengan cemberut perlahan-lahan dia berputar menghadap Hwi-khong Sinni yang tengah mengawasinya dengan tersenyum simpul, segera dia berlutut dan menyembah, serunya.
"Kepada Supek. terimalah sembah sujud Ceng-ji."
"Ah jangan, tidak usah menyembah..."
Ujar Hwi-khong Sinni sambil memapah Siangkoan Ceng bangun, sejenak dia menatap Siangkoan Ceng lalu berkata.
"Ceng-ji, dua tahun lebih aku tidak melihatmu, kini kau sudah besar, malah lebih cakap dan cantik lagi, aku jadi pangling kepadamu."
Siangkoan Ceng tertunduk malu sambil menggoyang pundak. rengeknya aleman.
"Supek. kenapa kau juga menggodaku.."
Dengan tertawa Siangkoan Bu bangun dari pinggir ranjang, katanya.
"Mari kita duduk di luar, biar yang sakit istirahat, aku akan meracik obat."
Terpaksa Tio Swat-in merawat penyakitnya dirumah Siangkoan Bu.
Di bawah pengob atan Siangkoan Bu yang ahli, dibantu oleh Hwi-khong Sinni dan Tok-Liong-sian-li yang selalu menjaga dan merawatnya, demikian pula Siangkoan Ceng yang selalu menghiburnya dengan cerita dan bernyanyi, lambat laun penyakit Tio Swat-in ada kemajuan.
Setengah bulan kemudian, Tio swat-in masih merasa lemah tak punya tenaga, sukar mengerahkan hawa murni untuk samadhi, tapi dia sudah mampu duduk dan beberapa langkah, seminggu lagi keadaannya sudah seperti orang biasa.
Cepat sekali sebulan telah berselang tanpa terasa.
Hari itu mendadak Siangkoan Bu berkata.
"Hampir tiba saatnya Swat-in harus ganti obat, hari ini juga aku akan berangkat mencari beberapa jenis obat yang tiada persediaan lagi padaku, sebelum aku pulang, Swat-in tetap minum obat yang kuracik itu, setelah aku pulang dan membuat racikan baru, tanggung dalam jangka sepuluh hari kesehatannya sudah akan pulih seperti sedia kala."
Lalu dia berpaling kepada Tio swat-in .
"Tetap pada nasehatku semula, jangan terlalu sedih, penyakitmu timbul karena kau tidak bisa mengekang emosi, ingat carilah kerja ringan yang membangkitkan semangat dan meriangkan hati. oh, ya, dua hari lagi mungkin kau akan merasa lebih segar, mungkin sudah bisa latihan samadi, sisa hawa dingin yang masih bersemayam dalam tubuhmu bisa kau usir keluar, tapi kau harus ingat,jangan gegabah dan mencoba secara serampangan, kau harus maklum, hawa murnimu memang sudah ludes, sebulan lebih kau tidak pernah samadi, bila di paksakan salah-salah bisa fatal akibatnya, bukan saja kau tidak berhasil mengusir hawa dingin itu, malah tenaga yang sudah pulih sedikit itu bisa buyar dan mendatangkan kesukaran lagi."
Dengan pandangan haru dan terima kasih Tio Swat-in menatap kepada Siangkoan Bu, tabib yang welas asih, dan penuh kasih sayang ini, dia hanya mengangguk kepala, Siangkoan Bu segera keluar terus berangkat.
Siangkoan Bu menjelajah pegunungan, dimana dia kira ada obat, kesitu dia mencari, dengan ketelitian dan ketekunannya dia mencari bahan-bahan obat yang diperlukan sudah tentu sekalian diapun memetik daon-daon obat-obatan yang kebetulan ditemukan.
Lekas sekali beberapa hari telah berselang.
Hari itu Siangkoan Bu memasuki sebuah lembah dipegucungan Ceng-king san, di tengah malam yang dingin baru dia berhasil menemukan bahan-bahan obat yang diperlukan, jadi bahan-bahan obat yang diperlukan sudah lengkap seluruhnya, dengan rasa senang segera dia berlompatan sambil lari mengembangkan Ginkang mau meninggalkan lembah dingin itu pulang kerumah.
Tiba-tiba gelak tawa seram berkumandang dari atas jurang dan mengalun ditengah malam gelap ini bergema didalam lembah, kontan Siangkoan Bu menghentikan langkah sambil bersuara heran.
Karena ketarik, dan ingin tahu apa yang terjadi, segera dia putar haluan, melesat terbang kearah datangnya suara.
Tawa aneh itu masih berkumandang dari atas jurang.
Di kala Siangkoan Bu mencapai suatu ketinggian dan hinggap di atas batu cadas yang menonjol, begitu dia mendongak, kebetulan dilihatnya sesosok bayangan orang jungkir balik melayang jatuh dari atas.
Sebagai tabib tugas nya mendong jiwa orang, dalam keadaan gawat ini Siangkoan Bu tidak pikir panjang lagi, tanpa peduli siapa yang jatuh segera dia samber bayangan jatuh itu terus dibawa lompat jauh beberapa kali lenyap dibawah sana.
Tanpa sengaja tabib pendekar Siangkoan Bu telah mendong jiwa Pakkiong Yau-Liong yang nekad menerjunkan diri kedalam jurang karena terancam oleh Tok-ni-kau-hun Ni Ping ji yang kejam dan telengas itu.
Mungkin ajal Pakkiong Yau-Liong memang belum saatnya, setelah disiksa sedemikian rupa dan nekad ingin bunuh diri terjun kejurang, secara kebetulan dia justru ditolong oleh Siangkoan Bu.
Setelah membawa lari Pakkiong Yau-Liong cukup jauh, dibawah sebuah pohon dia berhenti serta menurunkan Pakkiong Yau-Liong yang kurus tinggal kulit membungkus tulang, maklum setelah disiksa sedemikian rupa keadaannya memang amat mengenaskan, dia masih pingsan-Bau apek.
amis yang memualkan merangsang hidung Siangkoan Bu, keadaan orang yang ditolongnya ini memang teramat menyedihkan, sesaat lamanya Siangkoan Bu menjublak kaget ditempatnya.
Rambut Pakkiong Yau Liong terurai panjang, kusut masai, kulit mukanya membesi hijau, tulang dipundak sebelah kiri menongol keluar, luka-lukanya mumur, pakaiannya dekil dan sobek tak karuan, berlepotan darah, sepuluh jarinya melepuh besar berwarna biru, darah masih meleleh dari mulutnya, mata nya cekung, bibirnya pecah-pecah kering, keadaannya mirip mayat hidup, siapapun tidak tega melihat keadaannya.
Bau yang kurang sedap merangsang hidung Siangkoan Bu dari badan Pakkiong Yau-Liong.
Cinta kasih kepada sesamanya adalah sifat manusia, apalagi Siangkoan Bu sebagai Tabib pendekar yang sudah memperoleh nama harum di kalangan Kangouw.
Lekas dia memeriksa keadaan Pakkiong Yau-Liong, luka-luka disepuluh jarinya, luka-luka dipundak dengan tulang nya yang parah, denyut nadinya yang sudah teramat lemah, seperti jantungnya akan berhenti berdetak sewaktu-waktu.
Siangkoan Bu yakin bahwa orang yang tidak dikenalnya dengan keadaan tubuh yang mengenaskan inipasti mengalami siksaan yang luar biasa, malah kehilangan darah terlalu banyak sehingga keadaannya teramat lemah.
Bertaut alis Siangkoan Bu, beberapa kali dia menghela napas sambil geleng-geleng mengingat nasib orang yang tersiksa sesadis ini, tak pernah terbayang dalam ingatannya bahwa di dunia ini ada juga manusia sekejam dan setelengas ini, menyiksanya begini rupa.
Maka dia berkeputusan untuk menolong orang asing ini, malah dia sudah berjanji, untuk mencurahkan segenap kemahirannya, dengan tekun merawat dan mengobati sampai sembuh.
Dari kantongnya dia keluarkan botol obat lalu menjejalkan dua butir Kui-goan-sia-tan kemulut Pakkiong Yau-Liong.
Dengan hati-hati dia membopong Pakkiong Yau-Liong yang pingsan terus dibawa pulang.
Layap-layap Pakkiong Yau liong mulai sadar, pelan-pelan setelah agak lama kemudian dia membuka pelupuk matanya.
Samar-samar tampak olehnya sinar rembulan menyorot masuk dari jendela, didapatinya dirinya rebah diatas ranjang empuk di dalam kamar sederhana yang bersih, rasanya nyaman dan nikmat.
Pakkiong Yau-Liong merasa dirinya dalam impian, maka dia menggumam.
"Di manakah aku ini, tidak mirip diakhirat."
Tiba-tiba dia mendengar cekikik tawa geli yang lirih tapi merdu.
Lekas Pakkiong Yau-Liong berpaling, matanya yang masih redup dan samar-simar terbuka lebar, tampak diambang pintu berdiri seorang gadis belia berusia enam belasan, berwajah bundar telur, tubuh nan semampai dengan gaun panjang serta baju sari menjuntai pula, cantiknya seperti bidadari, gadis ayu ini sedang mengawasi dirinya dengan senyumnya yang manis.
Gadis ini bukan lain adalah putri tunggal Siangkoan Bu dengan Tok-Liong-sian-li yaitu Siangkoan Ceng.
begitu sorot matanya bentrok dengan pandangan Pakkiong Ytu-Liong, lekas dia melengos dengan wajah merah malu, maklum gadis pingitan yang belum pernah keluar rumah,jarang bergaul lagi, lekas ia berlari keluar.
Pakkiong Yau-Liong makin bingung dan heran, batinnya.
"Jelas disini bukan akhirat, lalu tempat apa?"
Tengah berpikir, tiba-tiba terasa luka-luka di tubuhnya sudah dibalut dan diobati, rasa sakit telah lenyap. dengan haru hatinya berteriak.
"Apakah aku belum mati..."
Dia meronta hendak bangun, tapi sendi-sendi tulangnya terasa linu seperti ditusuk jarum, badanpun lunglai tak bertenaga, dia mendapatkan rambutnya yang tersisir rapi wajahnya tercuci bersih, pakaiannyapun telah diganti, Maka dia yakin bahwa dirinya telah ditolong orang.
Pakkiong Yau-Liong bingung, tak tahu apakah perasaannya sekarang senang atau berduka?
Hambar atau rawan?
Pendek kata dia sudah yakin bahwa dirinya masih hidup, suatu ketika kelak dia masih mampu mencari Toh bing sik-mo untuk menuntut balas, demikian pula membalas siksaan Tok-ni-kau-hun Ni ping-ji, bukan melulu untuk dirinya, juga menuntut bagi perempuan tidak berdosa yang ajal karena berusaha menolong dirinya.
Tiba-tiba di luar didengarnya langkah mendatangi, maka masuklah Tabib pendekar Siangkoan Bu sambil tersenyum ramah.
begitu Siangkoan Bu tiba dipinggir ranjang, sebelum orang bersuara Pakkiong Yau-Liong sudah berusaha bangkit dan berkata.
"Cianpwe ini tentu orang yang telah menolong jiwa Pakkiong Yau-Liong, budi pertolongan Cia npwe atas pertolongan kali ini, aku..."
Sebelum Pakkiong Yau liong berkata habis Siangkoan Bu sudah menekan Pakkiong tidur lagi, sebelah tangannya digoyang mencegah dia banyak bicara. Katanya.
"Tak usah rikuh atau sungkan, kondisi badanmu teramat lemah, kau harus banyak istirahat cukup lama."
Pakkiong Yau-Liong ditekan tidur pula, mendengar perkataan orang, mulut yang sudah terbuka urung bicara, tak tahu bagaimana dia harus menghaturkan terima kasih. Dengan tertawa Siangkoan Bu berkata.
"Kalau dibicarakan mungkin kau bukan terhitung orang luar, waktu aku menukar pakaianmu tadi, kutemukan ruyung lemas singa emas senjata tunggalmu itu, kukira kau punya hubungan erat dengan Biau-hu Suseng."
Pakkiong Yau-liong manggut2, katanya.
"Betul beliau adalah guru Wanpwe yang berbudi luhur."
"Nah, betul dugaanku,jadi kau bukan orang luar lagi. Saat aku memanggilmu Hian-tit saja. Aku bernama Siangkoan Bu, waktu mudaku meski tidak kental hubunganku dengan gurumu, tapi gurumu pernah memberi bantuan berharga sehingga aku berhasil menyempurnakan diri, entah bagaimana keadaannya sekarang?"
Pakkiong Yau-liong menghela napas, lalu katanya.
"Sayang beliau sudah meninggal setahun yang lalu."
Siangkoan Bu melengak, akhirnya menghela napas panjang.
Tiga puluh tahun yang lampau, waktu itu Siangkoan Bu masih bujangan dan baru saja terjun diBulim, belum ada setahun dia sudah mendapat nama dan diagulkan para pengagumnya, masih muda mendapat kedudukan terhormat, adalah jamak kalau Siangkoan Bu menjadi tinggi hati.
Dalam suatu pertemuan dengan kaum persilatan, mereka membicarakan Biau-hu Suseng, tokoh lihay yang mendapat julukan jago nomor satu di seluruh Bulim masa itu, sudah tentu Siangkoan Bu kurang senang bahwa seseorang lebih tinggi, lebih besar namanya dari dirinya, sejak hati itu diam-diam dia berupaya untuk menjajal kepandaian Biau-hu Suseng siapa lebih unggul di antara mereka.
Maka kemana-mana dia pergi mencari jejak Biau-hu Suseng, karena usahanya tidak berhasil dia menyiarkan tekad hatinya di hadapan umum, bahwa dia ingin bertanding melawan Biau-hu Suseng.
Malah dia menentukan waktu dan tempatnya.
Sudah tentu aksinya menimbulkan kegemparan diBulim, kaum persilatan dari aliran putih atau golongan hitam sama memperbincangkan berita besar ini, orang banyak ingin tahu dan menyaksikan pertandingan besar dari dua jago pendekar yang sama sama mempunyai reputasi baik dan besar dikalangan persilatan, yang ditentukan Tabib pendekar Siangkoan Bu telah tiba.
Eatah betapa banyak pendekar, orang-orang gagah dan gembong-gembong penjahat yang ternama datang kekota Pakkhia.
Waktu yang ditentukan adalah tanggal sembilan bulan Sembilan malam menjelang hari raya cong yang, mereka akan bertanding di Koh-Siok bok dibiara pintu barat kota, Pakkhia.
Siapa tidak ingin menyaksikan duel dua Harimau yang erkepandaian tinggi.
Seorang adalah Tabib pendekar Siangkoan Bu yang belum genap setahun menggetar dunia persilatan, lawannya adalah Biau-hu Suseng yang diakui sebagai jago nomor satu diseluruh jagat oleh selapisan kaum persilatan.
Tanggal 9 bulan sembilan malam, bulan sabit di atas largit menerangi Koh-jiok boh sepuluh li diluar pintu barat kota Pak khia, letaknya diujuug hutan bambu yang rimbun dan rungkut.
Di tengah Koh-Siok-boh terdapat sebidang tanah lapang seluas tiga puluhan tombak, dimana penuh sesak manusia yang berjubel,jumlahnya ada ratusan orang.
Mereka adalah kaum persilatan yang ingin menyaksikan pertandingan, suasana masih ribut oleh pembicaraan ramai dari hadirin yang masing-masing menjagoi orang yang diagulkan, tidak sedikit pula yang bertaruh dari nilai keCil sampai jumlah yang laksaan tail banyaknya.
Tapi tunggu punya tunggu, tidak terasa hari sudah menjelang kentongan kedua, bukan saja Biau-hu Saseng tidak muncul, malahan Tabib Pendekar Siangkoan Bu yang menyiarkan berita tentang pertandingan inipun tidak kelihatan bayangannya.
Ditengah keributan orang banyak.
sang waktu terus berlalu, hadirin jadi menebak-nebak.
apa yang bakal terjadi, bulan sabit sudah semakin doyong kebarat kentungan ketiga sudah jelang.
Sekonyong-konyong sesosok bayangan orang melesat terbang dengan kecepatan luar biasa, hanya sekejap bayangan itu sudah meluncur keatas Ko-tiok-boh, kecepatan geraknya dan gayanya yang gemulai indah mengejutkan seluruh hadirin, dengan pandangan mendelong mereka mengawasi pendatang ini.
Yang berdiri ditengah gelanggang adalah seorapg pemuda berusia dua puluh tahunan, berwajah tampan, gagah, berpakaian ringkas, kancing putih berderet didepan dada, itulah pakaian yang peranti dibikin khusus bagi kaum pesilat, pemuda tampan ini menggendong pedang lima kaki dipunggungnya, gerak-geriknya begitu menarik sehingga perhatian seluruh hadirin ditujukan kepadanya, suara ribut sirap seketika.
Yang datang ini bukan lain adalah Siang koan Bu.
Pandangannya yang jumawa menyapu pandang keseluruh hadirin, dengan senyum lebar menghias wajahnya, segera dia merangkap kedua tangan menjura keempatpenjuru, dengan suaranya yang lantang berbicara.
Baca Juga: Dewi Maut 10
Baca Juga: Mutiara Hitam 5