Eps 2 Anak Rajawali - Chin Yung
Baca online Anak Rajawali - Chin Yung
Cersil Anak Rajawali - Chin Yung.
Mereka berempat mempergunakan kekuatan tenaga murni yang seluruhnya dari Tan-tian, maka mereka jadi tidak menggerakkan tangan lagi, cukup asal tangan mereka dapat saling menempel, maka hawa murni itu bisa disalurkan buat menyerang lawan.
Melihat ke empat orang yang tengah bertanding di tengah permukaan air empang, pemuda pelajar tersebut jadi heran, karena ke empat orang itu duduk diam bersemedhi dengan tubuh diam tidak bergerak, hanya saja dari atas kepala mereka masingmasing mengepul uap yang tipis.
"Hemm, mereka berempat tentunya tengah berdoa.....!"
Menggumam pelajar berbaju putih tersebut.
"Coba, aku lihat, apakah mereka akan kaget jika permukaan air empang itu bergerak dan menyebabkan daun teratai, mereka yang duduki itu bergerak-gerak?!"
Setelah menggumam seperti itu, pelajar berbaju putih itu membungkuk mengambil beberapa batu kerikil. Melihat apa yang dilakukan pelajar baju putih itu, Hok An kaget.
"Hei, kau cari mati?!"
Bentak Hok An perlahan, sambil tubuhnya telah melompat ke dekat pelajar baju putih itu, berusaha merebut batu-batu kerikil di tangan pelajar baju putih itu.
Namun pelajar baju putih tersebut seperti tidak mendengar bentakan perlahan Hok An, dia membungkukkan tubuhnya lagi, mengambil dua butir batu kerikil.
Karena pelajar baju putih itu demikian tiba-tiba membungkukkan tubuhnya lagi, sambaran tangan Hok An jatuh di tempat kosong, tidak berhasil merebut batu kerikil di tangan pemuda pelajar baju putih tersebut.
Sedangkan pelajar baju putih itu telah berdiri tegak lagi, dia memperlihatkan sikap terheran-heran.
"Mengapa kau tampaknya begitu gugup!"
Tanyanya kemudian memperlihatkan sikap heran karena Hok An tengah memandangnya tajam sekali, juga tampaknya Hok An seperti tengah kebingungan.
"Kau ingin mencari mati?!"
Kata Hok An dengan suara perlahan, akan tetapi nadanya mengandung kegugupan.
"Jika engkau melemparkan batu itu ke empang dan menyebabkan ke empat orang yang tengah mengadu kepandaian tersebut merasa terganggu, jiwamu sulit dilindungi lagi!"
"Kenapa?!"
Tanya pelajar baju putih itu seperti orang yang benarbenar tolol.
Muka Hok An jadi berobah merah karena mendongkol menghadapi sikap tolol pelajar ini.
"Tentu saja mereka akan membunuhmu, karena kau telah mengganggu ketenangan mereka dalam mengadu ilmu!"
Menyahuti Hok An. Pemuda pelajar itu tertawa.
"Kau jangan takut-takuti aku....."
Katanya kemudian.
"Aku tidak percaya mereka bisa membunuhku! Justeru aku ingin melihat, betapa sekarang mereka tengah duduk di atas daun teratai, di permukaan air empang itu. Jika aku menimpukkan batu ini, air empang itu bergerak, dan daun teratai yang mereka duduki itu bergerak, apakah mereka akan gugup dan cepat-cepat naik kedarat?!"
Bukan main kagetnya Hok An.
"Gila kau!"
Bentak Hok An.
"Kau jangan mencari penyakit..... karena jika ke empat orang telah gusar dan marah. walaupun aku bersedia menolongmu, akan tetapi aku tentu tidak berdaya buat menolongi dirimu.....!"
Pemuda pelajar itu tersenyum, tiba-tiba dia menggerakkan tangan kanannya, menimpukkan batu kerikil yang tadi diambilnya.
Sekali meluncur dua butir.
Bahkan batu kerikil itu jatuh tepat di pinggiran daun teratai yang diduduki See-bun, sehingga air empang itu muncrat dan membuat daun teratai yang tengah diduduki oleh See-bun jadi bergoyanggoyang.
Waktu itu See-bun tengah mengerahkan tenaga dalam dan hawa murni tingkat tinggi, sebetulnya perhatiannya tidak boleh terpecah.
Sekarang daun teratai tempat dia duduk itu bergoyang, sesungguhnya See-bun merasa heran, namun dia tidak membuka matanya, dia tetap memusatkan seluruh perhatiannya buat mengempos semangatnya Akan tetapi pelajar itu, yang telah membuat Hok An jadi kaget tak terkira, dan belum lagi Hok An sempat buat menegur dan mencegah perbuatannya, pelajar itu mengulangi lagi timpukan batu kerikilnya itu.
Kali ini jatuh di samping daun teratai Pak-kiang, di mana Pak-kiang pun tidak berani membuka matanya walaupun merasakan teratai yang didudukinya itu bergoyang-goyang.
Hok An sudah tidak bisa menahan diri.
"Hai, gila kau?!"
Bentak Hok An sambil menerjang dan berusaha merebut batu kerikil yang masih bersisa dan terdapat di tangan pelajar baju putih itu. Pelajar baju putih itu telah mundur tiga tindak.
"Kau jangan kurang ajar!"
Bentaknya berani dan tenang sekali.
"Aku tidak mengganggu dirimu, akan tetapi sejak tadi kau selalu mengganggu diriku, selalu melarang aku agar tidak menikmati pemandangan indah di tempat ini? Jika memang engkau kuatir nanti dianiaya ke empat orang itu, pergilah engkau yang angkat kaki meninggalkan tempat ini......!"
Pipi Hok An berobah merah.
"Semua ini demi keselamatan dirimu!"
Kata Hok An.
"Aku kasihan jika engkau teraniaya dan terbinasa di tangan keempat orang itu. Pelajar itu tersenyum tawar, katanya.
"Aku tidak membutuhkan kasihanmu..... kukira aku cukup makan dan cukup pakaian, tidak patut dikasihani orang!"
Disanggapi seperti itu, muka Hok An berobah merah lagi. Bukan main mendongkolnya.
"Hemm, pelajar tidak berbudi!"
Pikir Hok An.
Walaupun mendongkol, namun dia tidak memiliki alasan buat bersikeras melarang pelajar baju putih itu menimpukkan batu kerikilnya.
Sedangkan pelajar baju putih itu seperti sudah tidak ingin melayani Hok An, dia berdiri membelakangi Hok An, tangan kanannya bergerak.
"Plunggg, plunggg!"
Beberapa butir batu kerikil telah melayang dan jatuh tenggelam di empang itu.
Akan tetapi ke empat orang itu tetap saja dengan sikap mereka, duduk di atas daun teratai tanpa bergerak dan dengan sepasang mata tetap terpejamkan.
Pelajar baju putih itu tertawa-tawa girang.
"Jika melihat mereka seperti juga melihat empat orang dewa yang tengah duduk bersemedhi di atas daun teratai!"
Kata pelajar itu sambil menoleh dan melirik pada Hok An.
Hok An mengambil sikap seperti tuli tidak mendengar perkataan pemuda itu.
Dia mendongkol karena tadi disanggapi seperti itu oleh pemuda tersebut, maka sekarang dia yang tidak mau melayani pelajar itu.
Melihat Hok An berdiam diri saja, pelajar berbaju putih itu tidak tersinggung, dia tertawa lagi, kemudian langan kanannya melontarkan batu kerikilnya lagi, sehingga batu itu meluncur dengan cepat.
Kali ini, mungkin juga karena perhitungan tenaga menimpuknya tidak tepat, batu kerikil tersebut tidak jatuh di permukaan air empang, melainkan meluncur dan menghantam kepada Pakkiang.
Agak keras benturan itu, sampai terdengar suara "Tukkk!"
Hok An tercekat hatinya, tetapi dia hanya melirik kepada pelajar tersebut, sedangkan pelajar itu tampak kaget melihat batu yang ditimpukkannya mengenai kepala Pak-kiang.
"Ohhh, maaf, maaf, aku tidak sengaja!"
Pelajar itu berseru-seru sendirinya.
Pak-kiang sesungguhnya masih bermaksud hendak menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya guna meneruskan pertandingan mengukur tenaga dan kepandaian itu.
Namun disebabkan kali ini kepalanya yang terkena timpukan batu kerikil itu, walaupun tidak terlalu sakit, Pak-kiang jadi gusar juga, karena menduga ada orang yang hendak mempermainkannya dan mengganggunya.
Dia telah menarik pulang hawa murninya, dia bermaksud untuk memisahkan diri.
Setelah hawa murni itu berhasil ditariknya pulang ke Tan-tian, Pakkiang melompat berdiri.
Kebetulan waktu itu si pelajar tengah menimpuk lagi.
Tadi dia menimpuk agak rendah dan mengenai kepala Pak-kiang.
Karena sekali ini pelajar itu menimpuk agak ke atas.
Siapa tahu, waktu batu itu tengah meluncur, justru Pak-kiang tengah berdiri.
Keruan saja kepalanya telah dihantam batu kerikil itu pula.
Hati Hok An tergoncang juga menyaksikan semua itu, diam-diam dia jadi menguatirkan keselamatan si pelajar.
Walaupun tadi dilihatnya pelajar baju putih ini seorang yang tidak berbudi, namun sebagai seorang rimba persilatan yang memiliki kepandaian tinggi, dia mengetahui siapa adanya Pak-kiang.
Sedangkan pelajar itu tampaknya lemah dan tidak mengerti ilmu silat.
Sekali saja Pakkiang menggerakkan tangannya, niscaya pelajar itu akan terluka hebat atau terbinasa.
Pak-kiang waktu merasakan kepalanya disambar batu kerikil itu lagi, segera memutar tubuhnya, sehingga ia melihat Hok An dan pelajar baju putih itu tengah berdiri di tepi empang.
Dan mata Pakkiang yang tajam dapat melihat di tangan pelajar baju putih itu masih terdapat sisa beberapa butir batu kerikil.
Dengan wajah yang memerah, Pak-kiang menjejakkan kakinya, tubuhnya telah melesat ke darat ke dekat pelajar itu.
Dengan mendongkol dan sikap sengit, dia menegur di saat dia melompati salah satu daun teratai yang berada di tepi empang itu.
"Apakah engkau yang menggangguku?!"
Pelajar itu memandang Pak-kiang dengan mulut terpentang lebar, rupanya dia takjub melihat Pak-kiang dengan beberapa kali lompatan dan menotol daun-daun teratai cepat sekali telah bisa berada di dekatnya Melihat pelajar itu tidak menyahuti, Pak-kiang tambah mendongkol.
Dia menoleh kepada Hok An.
"Dia atau engkau yang telah menimpukkan batu pada kepalaku, heh?!"
Hok An jadi serba salah, cepat-cepat dia merangkapkan ke dua tangannya, katanya.
"Maafkan, pelajar itu, tampaknya agak tolol dan tidak mengerti ilmu silat, tadi dia tanpa sengaja telah menimpukkan batu mengenai kepala Lojinke.....!"
Pak-kiang memperdengarkan suara tertawa dingin.
"Agak tolol dan tidak mengerti ilmu silat?!"
Katanya.
"Hemmm, kentut kosong, saja kau! Jika memang dia tidak memiliki kepandaian ilmu silat, mana mungkin dia bisa menimpukkan batu itu mengenai kepalaku?!"
Hok An tertegun mendengar perkataan Pak-kiang, kemudian menoleh kepada pelajar itu, baru kemudian memandang Pak-kiang lagi.
"Mungkin hanya kebetulan saja.....!"
Katanya.
"Kebetulan? Dia kawanmu? Kau hendak membelanya, bukan?"
Kata Pak-kiang jadi gusar.
"Terus terang saja kukatakan, walaupun bagaimana, aku tidak bisa mempercayai perkataanmu! Walaupun ini akan memalukan dan meruntuhkan namaku, tetapi memang sebenarnya terjadi! Timpukan batu kerikilnya tidak bersuara, dan menyambar tahu-tahu menghantam kepalaku! "
Jika memang dia tidak mengerti ilmu silat dan tidak memiliki lweekang, tidak mungkin dia bisa menimpukkan batu tanpa menimbulkan suara.....
Lagi pula, aku pun memiliki pendengaran yang tajam, tentu aku bisa merasakan berkesiuran angin serangan atau mendengar suara mendesir menyambarnya batu itu.....
"Akan tetapi tadi, batu itu, dua kali pula aku tidak mendengar suara menyambarnya batu tersebut..... Jika memang bukannya pemuda pelajar itu memiliki lweekang, mana mungkin dia bisa menimpukkan batu kerikil tersebut dengan cara seperti itu?!"
Setelah berkata begitu, tampak Pak-kiang mengawasi pelajar baju putih itu dengan sorot mata yang tajam sekali, dan sikap menyelidiki.
Sedangkan pelajar baju putih itu sama sekali tidak memperlihatkan sikap gentar, dia malah tertawa-tawa dengan sikap yang tenang.
Diapun malah menghampiri Pak-kiang, katanya.
"Maaf! Sungguh-sungguh tadi Siauwte tidak bermaksud untuk menimpuk kepala Lojinke..... Siauwte hanya bermaksud menimpuk air empang itu belaka..... akan tetapi tanpa disengaja tetah mengenai kepala Lojinke! Maaf! Maaf!"
Setelah berkata begitu, pelajar tersebut merangkapkan ke dua tangannya, dia menjura memberi hormat. Setelah mengawasi sekian lama, akhirnya Pak-kiang berkata.
"Baik! Aku memaafkan mu!"
Sambil berkata begitu berbareng tangan kanannya telah mengibas.
Gerakannya perlahan sekali, akan tetapi dia telah mempergunakan lima bagian tenaga dalamnya.
Hok An yang menyaksikan itu jadi menguatirkan sekali keselamatan jiwa pelajar tersebut.
Namun pelajar tesebut telah berdiri tegak waktu Pak-kiang menggerakkan tangannya.
Diapun tengah tersenyum, tangan kanannya dimajukan memperlihatkan dua butir batu kerikil yang masih berada di telapak tangannya.
"Masih ada dua butir lagi.....!"
Katanya sambil melangkah maju menghampiri Pak-kiang.
Dia menghampiri ke arah sebelah kanan Pak-kiang.
Gerakan langkahnya dilakukannya tepat dan berbareng dengan gerakan tangan Pak-kiang, sehingga angin kibasan tangan Pakkiang jatuh di tempat kosong, sebab pemuda pelajar itu telah berada di sebelah kanannya.
Semua itu terjadi seperti juga tidak disengaja oleh pelajar tersebut, malah waktu itu dia telah menyambungi perkataannya.
"Sesungguhnya Siauwte masih ingin menimpuk air empang itu dengan sisa ke dua butir batu kerikil ini. Tapi dengan adanya kejadian ini hati Siauwte jadi tidak enak.....!"
Dan pelajar baju putih itu telah membuang batu kerikilnya ke tepi empang.
Bukan main mendongkolnya Pak-kiang, dia merasa dipermainkan pemuda pelajar itu.
Akan tetapi di samping mendongkol, hati Pakkiang pun tercekat, karena gesitnya pemuda itu menghindarkan diri dari kibasannya, walaupun gerakan si pemuda pelajar dilakukannya seperti tidak disengaja.
Sedangkan pelajar berbaju putih itu membawa sikap tetap tenang, seperti juga dia tidak jeri menghadapi Pak-kiang, seorang tokoh rimba persilatan yang memiliki kepandaian yang sangat tinggi dan ditakuti oleh orang-orang rimba persilatan, karena pemuda pelajar itu masih juga tertawa-tawa, lalu katanya.
"Jangan marah-marah seperti itu, karena aku tidak sengaja menimpuk kepalamu, Lojinke..... Bukankah akupun telah meminta maaf?! Hu Hu! Ada ajaran Locu, jika seseorang meminta maaf kepadamu, berikan maafmu itu. Dan sekarang mengapa Lojinke seperti juga tidak hendak memaafkan Siauwte?"
Jelas dengan berkata seperti itu, pelajar berbaju putih tersebut hendak mengejek Pak-kiang.
Akan tetapi Pak-kiang tidak memperdulikan ejekan tersebut, malah disertai suara mengerang perlahan, dia maju lagi buat mencengkeram pemuda baju putih itu.
Waktu pemuda serangannya, pelajar berbaju Pak-kiang tidak putih itu mengelakkan meneruskan meluncurnya tangannya, dia telah menotok dengan jari telunjuk tangan kirinya.
Dari ujung jari telunjuk itu meluncur angin serangan yang kuat sekali, menuju ke arah dada pemuda pelajar berbaju putih itu.
Serangan Pak-kiang yang pertama tadi ternyata hanya merupakan gertakan belaka, waktu pelajar itu berusaha berkelit, justeru dia membarengi dengan serangan yang sesungguhnya Pelajar itu memang agak terkejut menerima serangan seperti itu, karena Pak-kiang bukan lawan biasa.
Namun pelajar ini masih dapat bergerak cepat sekali, dia bisa menghindarkan diri.
Cuma saja, karena Pak-kiang pun bukan lawan sembarangan, walaupun pelajar itu telah berkelit cepat luar biasa, tokh tetap saja dia masih kena terdorong oleh tenaga totokan tangan Pak-kiang.
Beruntung, pelajar itu masih sempat mengempos semangat dan tenaganya buat memperkuat kuda-kuda ke dua kakinya, sehingga dia tidak perlu sampai kejengkang ke belakang dan hanya terdorong mundur dua tindak.
Itu telah cukup buat Pak-kiang, karena dia membarengi buat menyerang lagi dengan caranya yang luar biasa.
Pelajar berbaju putih itu menyadari, bahwa dia tidak boleh mainmain dan berayal menghadapi Pak-kiang, karena Pak-kiang bukanlah sebangsa lawan yang dapat dihadapi dengan mudah.
Cepat sekali pelajar itu membuka kipasnya, mempergunakan kipasnya itu yang telah disalurkan hawa murninya untuk menyampok tangan kanan Pak-kiang yang tengah meluncur ke arahnya.
"Oho, oho..... rupanya hebat juga kepandaianmu!"
Kata Pak-kiang sambil menarik pulang tangannya sebelum kipas itu membentur tangannya.
Hanya saja, begitu dia menarik pulang tangan kanannya, segera juga kakinya digeser, dia menghantam dengan sikut tangan kanannya ke arah iga pemuda pelajar berbaju putih itu.
Gerakannya begitu cepat, dia hendak "makan"
Pemuda pelajar itu dengan cara yang tidak diduga oleh siapapun juga, karena gerakan yang dilakukan oleh Pak-kiang merupakan serangan yang sulit sekali dilakukan oleh orang sembarangan.
Karenanya, dalam keadaan seperti ini, tampak pemuda pelajar itu sendiri agak kaget.
Namun dasarnya nakal, dia cepat sekali dapat menghindarkan diri dan melompat sejauh dua tombak.
Cuma saja buat kagetnya, belum lagi sepasang kakinya hinggap di atas tanah, Pak-kiang telah menyerang dengan ke dua telapak tangannya, yang didorongkan ke arah pemuda pelajar itu.
Kali ini benar-benar hati pemuda pelajar tersebut terkesiap, karena di saat itu tubuhnya segera juga terjengkang ke belakang, akibat dorongan ke dua telapak tangan Pak-kiang.
Baru saja Pak-kiang hendak menyusul lagi dengan dorongan berikutnya, karena dia tidak mau membuang-buang kesempatan, di waktu itulah terlihat betapa ke tiga orang tokoh persilatan lainnya, yaitu See-bun, Tong-ling dan Lam-siong telah melompat naik ke daratan juga.
Mereka bertiga hampir berbareng berkata.
"Sungguh tidak tahu malu! Sungguh tidak tahu malu! Mengapa kau harus melayani seorang anak masih hijau seperti dia?!"
Pak-kiang kaget diejek seperti itu, rupanya dia tersadar cepat sekali. Dia nyengir pahit, kemudian katanya.
"Benar! Benar.....! Mengapa aku harus melayani setan cilik ini? Tetapi kegembiraan kita telah terganggu! Kali ini belum lagi kita bisa puas mengadu ilmu telah diganggu setan cilik ini! Tentunya kita harus bersabar selama lima tahun pula, sampai nanti kita saling bertemu lagi.....?"
See-bun mengangguk. "Ya, hitung-hitung kita sekarang seri dan tidak ada yang menang, tidak ada yang kalah!"
Katanya.
"Hitung-hitung bagaimana?!"
Tanya Tong-ling sambil memperlihatkan sinis.
"Apakah kau ingin mengartikan bahwa jika tidak ada setan cilik itu kau yang akan muncul sebagai pemenang dan sekarang engkau hanya mengalah, maka engkau mempergunakan kata hitung-hitung?!"
See-bun tertawa terbahak-bahak.
"Ya, kukira begitulah kira-kira!"
Katanya.
"Tidak bisa!"
Kata Tong-ling dengan suara yang nyaring.
"Jika memang engkau beranggapan seperti itu, lebih baik kita lanjutkan terus pertempuran kita kali ini, sampai kita memperoleh kepastian, siapakah di antara kita sebenarnya yang akan memperoleh kemenangan dan siapa yang akan jatuh sebagai pecundang?!"
See-bun tertawa tawar.
"Dengan disaksikan setan cilik itu dan juga....."
Berkata sampai di situ, dia menoleh ke pada Hok An, katanya lagi.
"Juga disaksikan oleh setan melarat itu? Hu! Hu! Bagaimana mungkin kita bisa bermain-main dengan gembira, karena tentu mereka berdua akan mengganggu kesenangan kita.....!"
Ke empat tokoh itu berdiam diri sejenak, sampai akhirnya See-bun berkata.
"Ya, kita seri..... nanti lima tahun lagi barulah kita menentukan siapa yang menang, dan siapa yang kalah."
Setelah berkata begitu, tiba-tiba tangan See-bun bergerak, dia telah melontarkan tiga batang jarum yang berukuran cukup besar kepada Tong-ling, Pak-kiang dan Lam-siong.
Ke tiga orang itu tidak berkelit, mereka hanya menantikan sampai jarum yang menyambar ke arah mereka itu hampir tiba, barulah ke tiga orang tersebut mengibaskan tangannya.
Kembali Hok An menyaksikan pemandangan aneh luar biasa!
jarum-jarum yang dikebut oleh ke tiga orang itu, mendadak menjadi cair.....
luluh, seperti juga jarum itu terkena hawa yang panas bukan main!
Itu menunjukkan bahwa lweekang ke empat orang itu memang telah mencapai tingkat yang tinggi sekali.
Sambaran jarum yang cepat dan kuat itu mereka tidak elakkan saja, melainkan telah disampok dan membuat jarum itu yang terbuat dari baja jadi luluh!
Bagaimana jika seoraag manusia yang dikibaskan seperti itu oleh mereka?
Tentu tubuh manusia itu akan hangus dan hancur karenanya.
Lam-siong pun tidak tinggal diam, dia telah menggerakkan tangannya melontarkan tiga butir pelor yang meluncur kepada ke tiga orang lawannya.
Sama seperti tadi, See-bun bersama dua tokoh lainnya itu telah mengibaskan tangan mereka, pelor besi itu menjadi luluh juga.
Bergantian Pak-kiang dan Tong-ling pun telah melemparkan paku baja dan panah besi.
Akan tetapi telah luluh pula.
Rupanya dengan cara bergantian melemparkan senjata rahasia itu, mereka ingin memperlihatkan lweekang mereka masingmasing memang telah mencapai tingkat yang tinggi sekali!
Hok An hanya memandang terpaku di tempatnya, demikian juga dengan pelajar berbaju putih itu, dia telah berdiri dengan hati terkesiap.
Jika sebelumnya, walaupun menyaksikan ke empat orang tokoh rimba persilatan itu, Lam-siong, Pak-kiang, Tong-ling dan See-bun dapat bergerak lincah sekali di atas daun teratai yang mengambang di permukaan air empang, dia hanya menduga mungkin ginkang ke empat orang itu sudah tinggi dan terlatih baik!
Akan tetapi setelah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, di depan puncak hidungnya, barulah pemuda pelajar berbaju putih itu menyadarinya, bahwa kepandaian ke empat orang itu sudah sulit dijajakinya.
Sehingga tidak mudah baginya untuk dapat menandingi ke empat orang itu.
Walaupun pelajar berbaju putih itu yakin bahwa dirinya pun memiliki kepandaian yang tinggi tokh belum sampai pada tingkat yang dapat meluluhkan jarum atau pelor baja, yang tengah menyambar kepadanya dengan hanya mengibaskan tangannya!
Dengan begitu, pemuda pelajar berbaju putih itu merasa kagum dan takjub, dia jadi berdiam diri saja.
Sedangkan ke empat tokoh rimba persilatan itu yang masing-masing memiliki sifat yang aneh sekali, telah melompat dengan ringan, tahu-tahu lenyap.
Memang selamanya Pak-kiang, See-bun, Tong-ling dan Lam-siong hanya ingin mengerahkan seluruh perhatian mereka pada kepandaian mereka berempat saja, dan tidak pernah mau diusili orang lain dan juga tidak mau mengusili orang lain!
Karena itu, mereka berempat dengan segera meninggalkan tempat tersebut setelah melihat pemuda pelajar itu dan Hok An mengganggunya.
Lama juga Hok An berdiri di tempatnya, sampai pemuda pelajar berbaju putih itu telah menghampirinya, dia menjurah dan katanya.
"Siauwte Lie Ko Tie mengunjuk hormat buat Locianpwee.
Bolehkah Siauwte mengetahui siapa adanya Locianpwe?
Tadi Locianpwe bermaksud baik pada Siauwte, sungguh membuat Siauwte merasa berterima kasih, karena Locianpwe memikiri keselamatan Siauwte.....!"
Dan tampak pemuda pelajar itu, yang tidak lain dari Lie Ko Tie, telah menjurah tiga kali, memberi hormat kepada Hok An dengan bungkukkan tubuh yang dalam.
Hok An cepat-cepat membalas hormat pemuda itu, katanya sambil tertawa.
"Tadinya kukira engkau tidak memiliki kepandaian apaapa..... Sungguh pandai sekali engkau berpura-pura tidak mengerti ilmu silat. Akan tetapi sesungguhnya, engkau sebenarnya seorang yang memiliki kepandaian tinggi! Jika saja tadi aku yang diserang seperti itu oleh orang yang tampaknya galak itu, tentu aku tidak bisa mengelakkan diri. Sungguh membuatku jadi kagum sekali padamu, kongcu......!"
Lie Ko Tie segera mengeluarkan kata-kata merendahkan diri, kemudian baru berkata lagi.
"Ke empat orang itu benar-benar aneh sekali, di samping kepandaian mereka yang tinggi luar biasa. Apakah Locianpwe mengetahui siapa adanya mereka?!" Hok An mengangguk, kemudian katanya.
"Ya, aku hanya mengetahui sedikit saja. Mereka itu terdiri dari See-bun, Pak-kiang, Tong-ling dan Lam-siong. Ke empat orang itu memang merupakan orang yang memiliki perangai sangat aneh sekali, karena mereka tidak pernah mau mencampuri urusan di dalam rimba persilatan.
"Mereka hanya saling mengadu kepandaian dengan sesama mereka berempat. Maka walaupun mereka merupakan tokoh rimba persilatan yang sebenarnya memiliki kepandaian sangat tinggi sekali, tokh mereka tidak banyak dikenal orang.....!"
Pemuda pelajar itu Lie Ko Tie, mengangguk dengan meleletkan lidahnya.
"Sungguh beruntung aku tidak sampai dihajar mereka!"
Katanya.
"Jika saja mereka berempat menyerangku dengan cara mengeroyok, jangan harap aku masih bisa hidup sampai sekarang ini!!"
Hok An tersenyum.
"Kongcu ingin pergi ke mana?!"
Tanyanya "Hanya mengikuti ke mana saja sepasang kakiku ini mengajak.....!"
Kata Ko Tie.
"Dan Locianpwe.....?" "Akupun tidak mengetahui harus pergi ke mana, karena aku sedang bingung....."
"Sedang bingung?"
Tanya Ko Tie heran dan memandang tajam pada Hok An.
"Locianpwe memiliki kepandaian yang tinggi, dan juga tampaknya seorang yang memiliki perangai dan adat yang bebas. Mengapa harus bingung, bukankah di delapan penjuru di dunia ini adalah tempat kita?!"
Hok An menghela napas.
"Ya, jika memang aku seorang diri, aku tidak bingung......!"
Katanya.
"Bukankah Locianpwee hanya seorang diri,.....?"
Tanya Ko Tie.
"Ya..... memang sekarang seorang diri, akan tetapi bersamaku ikut seorang gadis cilik!"
Kata Hok An.
"Ikut dengan Locianpwee seorang gadis cilik?!"
Tanya Ko Tie mengulangi pertanyaannya dengan heran.
"Ya.........!"
"Di mana gadis cilik itu?!" "Disana..... mari kita ke sana....., aku telah meninggalkannya cukup lama.....!"
Kata Hok An yang segera teringat kepada si Giok yang tengah tertidur dan ditinggalkannya cukup lama.
Segera juga Hok An tanpa menantikan jawaban pemuda she Lie itu, telah memutar tubuhnya, dia berlari cepat sekali untuk kembali ke tempat di mana dia meninggalkan si Giok.
Sedangkan pemuda pelajar itupun telah mengikutinya, dia tertarik dan ingin mengetahui sesungguhnya apa yang membingungkan Hok An.
Setelah berlari beberapa saat, sampailah Hok An di tempat si Giok berada, sedangkan Ko Tie juga telah melihat seorang gadis cilik yang masih tertidur di bawah sebatang pohon.
Wajahnya manis, akan tetapi pada wajahnya itu memancar sinar kedukaan yang mendalam.
"Gadis cilik inikah yang Locianpwe maksudkan?!"
Tanya Ko Tie. Hok An mengangguk "Nasibnya sangat buruk, kasihan sekali si Giok ini!"
Kata Hok An.
"Kenapa?!"
Tanya Ko Tie. Setelah memandang ragu kepada pemuda she Lie tersebut, akhirnya Hok An menceritakan apa yang telah menimpah keluarga Bin Wan-gwee. Lie Ko Tie menghela napas.
"Di dunia ini ternyata masih bisa terdapat manusia sekejam itu......!"
Menggumam Lie Ko Tie dengan suara yang serak, kemudian dia telah bilang lagi kepada Hok An.
"Locianpwe, sekarang di mana pemuda she Bin yang kejam dan bertangan telengas itu?!"
"Aku sendiri tengah mencari jejaknya, hanya saja sampai sekarang belum berhasil menemukan jejaknya.....!"
Menjelaskan Hok An dengan wajah yang murung. Ko Tie menghela napas.
"Baiklah Locianpwe..... aku akan bantu menyelidikinya, jika dalam perjalananku nanti aku bisa bertemu dengan pemuda she Bin itu, aku akan segera menghajarnya, karena orang seperti pemuda she Bin tersebut sangat membahayakan keselamatan umum dan orang banyak."
Hok An girang hatinya agak terhibur, segera dia mengucapkan terima kasih.
Begitulah, setelah bercakap-cakap beberapa saat lagi, Ko Tie minta diri dan melanjutkan perjalanannya.
Hanya saja, waktu dia ingin berlalu, sekali lagi dia menoleh kepada si Giok, hatinya tergerak dan merasa kasihan sekali terhadap diri gadis cilik tersebut.
Hok An kemudian duduk di samping si Giok, setelah Ko Tie berlalu.
Dia bersenandung perlahan-lahan, dan sikapnya itu seperti juga sikap seorang ayah yang tengah menina bobokan anaknya, penuh kasih sayang.
Lama juga si Giok tertidur, sampai akhirnya dia terbangun dan melihat Hok An tengah duduk di sampingnya.
Gadis cilik tersebut telah duduk, sambil tanyanya.
"Paman..... kau tidak beristirahat?!"
Hok An tersenyum sambil menggeleng.
"Cepat sekali kau terbangun, apakah masih letih?!"
Tanya Hok An. Si Giok telah mesem, katanya.
"Sudah tidak letih lagi paman.....!"
"Jika begitu, mari kita melanjutkan perjalanan, apakah engkau masih lapar?!"
Tanya Hok An pula. Si Giok menggeleng, dia menepuk perutnya. "Masih kenyang.....!"
Katanya.
Mereka berdua segera melanjutkan perjalanan pula.
Dan diwaktu itu terlihat betapa Hok An sangat menyayangi dan mengasihi si Giok, yang sangat diperhatikan segala kebutuhannya.
Karena perasaan duka yang mendalam, di mana wanita yang sangat dicintainya telah tiada, seluruh kasih sayangaya dicurahkan untuk si Giok, hanya saja kasih sayangnya kali ini merupakan kasih sayang seorang ayah terhadap puterinya.....
Hok An mengajak si Giok untuk berkelana di dalam rimba persilatan, menyelidiki jejak Bin Lung Hie.
Sejauh itu Bin Lung Hie seperti telah lenyap masuk ke dalam bumi, sehingga sama sekali tidak terdengar kabar berita mengenai diri pemuda she Bin tersebut.
Hok An sebagai seorang yang berpengalaman dalam rimba persilatan sesungguhnya mengetahui alasan yang tepat tidak berhasilnya dia menyelidiki jejak Bin Lung Hie, karena pemuda itu merupakan seorang yang tidak ternama di dalam rimba persilatan.
Dengan demikian tidak banyak orang-orang kalangan Kangouw yang mengetahui perihal dirinya.
Itulah sebabnya mengapa Hok An memperoleh kesulitan buat menemui jejak pemuda she Bin tersebut.
Hok An berduka sekali dan bersakit hati karena kematian Un Kim Hoa, wanita yang sangat dicintainya itu dan telah binasa gara-gara Bin Lung Hie, karenanya walaupun sulit mencari jejak Bin Lung Hie, tetap juga Hok An berkelana di dalam rimba persilatan buat mencari jejaknya.
Si Giok yang memperoleh perlakuan penuh kasih sayang dan dimanjakan oleh Hok An semakin lama jadi semakin menurut dan menyadari bahwa Hok An tidak bermaksud jahat padanya, karenanya rasa takutnya juga telah mulai lenyap tidak menguasai diri gadis cilik ini pula.
Malah dalam berbagai kesempatan, Hok An seringkali menceritakan betapa ia mempunyai hubungan yang intim dengan Un Kim Hoa.
Hanya saja disebabkan usia si Giok terlalu kecil, dia hanya mengerti bahwa Hok An memang sangat baik pada ibunya, mereka seperti merupakan kawan baik belaka!
Akhirnya Hok An mengajak si Giok sampai di gunung Hoa-san, sebuah gunung yang memiliki sejarah dalam rimba persilatan, karena di gunung inilah seringkali orang-orang gagah ternama dalam rimba persilatan, yaitu Lima Jago Luar Biasa telah mengadakan pertemuan dan mengadu ilmu.
Dan riwayat dari ke Lima Jago Luar Biasa itu yaitu See-tok, Oey Yok Su dan juga Ong Tiong Yang, Ang Cit Kong maupun It Teng Taysu, telah dua kali mengadakan pertemuan di Hoa-san ini, terkenal dengan sebutan Hoa-san-lun-kiam.
Akan tetapi waktu Hok An dan si Giok sampai di gunung Hoa-san tampak sepi dan sunyi sekali, mereka juga tidak bertemu dengan seorang manusia pun juga.
Keadaan yang begitu tenang, dengan pohon-pohon yang tumbuh subur sekali, dan udara yang nyaman, benar-benar merupakan tempat yang sangat menyenangkan sekali.
Si Giok itupun sangat senang sekali, dia berlari-lari di gunung tersebut sambil tertawa-tawa, karena dia berhasil mengejar beberapa ekor kupu-kupu, yang ditangkapnya kemudian dilepaskannya kembali.
Juga dia memetik beberapa kuntum bunga hutan yang terdapat di situ yang diciumnya dan tampaknya gadis cilik ini jadi terbuka hatinya dia gembira sekali.
Dalam keadaan seperti itu, hati Hok An terharu bukan main.
Dia berpikir, jika saja ibu gadis tersebut tidak terbunuh oleh Bin Lung Hie, niscaya gadis cilik ini lebih bahagia lagi, betapa dia akan memperoleh kasih sayang dari ibunya sehingga gadis cilik tersebut, si Giok, memperoleh pertumbuhan yang wajar.
Akan tetapi sekarang justeru puteri hartawan kaya yang sekarang jadi berkelana bersamanya, hanya dapat bergembira seorang diri dengan ditemani oleh dirinya.
Begitulah, Hok An membiarkan si Giok berlari-lari naik ke puncak gunung Hoa-san, ssmakin lama semakin tinggi.
Hanya sekali-kali saja Hok An berseru.
"Giok hati-hati..... jangan terlalu kencang larimu, nanti engkau tergelincir.....!"
Namun si Giok tetap lincah dan tertawa-tawa dengan riang berlarilari mendaki terus.
Tampaknya berada di gunung Hoa-san ini benar-benar menyenangkan hati gadis cilik tersebut, yang terhibur karena alamnya yang indah dan nyaman, penuh dengan bermacam-macam pohon bunga.
Dengan demikian, telah membuat Hok An pun ikut terhibur melihat gadis cilik itu yang bergembira ria.
Tengah si Giok berlari-lari kencang tiba-tiba ada bayangan hitam yang besar berkelebat, kemudian bayangan hitam itu bergeser ke arah barat dari gunung tersebut.
Segera juga si Giok mengangkat kepalanya, dan gadis cilik itu jadi berseru girang.
"Paman Hok!
Paman Hok!
Lihatlah!
Lihatlah!"
Serunya dengan gembira. Hok An segera melesat ke samping si gadis, karena dia kuatir kalau-kalau ada ancaman sesuatu pada diri gadis cilik ini.
"Kenapa Giok?"
Tanya Hok An dengan suara berkuatir sekali. Si Giok menunjuk ke atas, di mana tampak terbang seekor burung rajawali putih, dengan bentuk tubuhnya yang sangat besar sekali.
"Lihatlah paman Hok..... betapa indahnya burung rajawali putih itu.....!"
Kata si Giok dengan gembira.
"Jika saja aku, bisa berkawan dengannya dan bisa naik di punggungnya sehingga bisa diajak terbang bersamanya, oohh, betapa menggembirakan sekali!"
"Kau mau naik di punggung burung rajawali itu?!"
Tanya Hok An "Ya paman, untuk terbang bersamanya!"
Kata si Giok dengan suara mengandung pengharapan dan juga kegembiraan.
"Jika begitu, biarlah akan kutangkap dan kuperintahkan nanti agar burung rajawali itu membawamu terbang di tengah udara!"
Kata Hok An.
"Ohh....., jangan paman..... jangan.....!"
Mencegah si Giok. "Kenapa?!"
Tanya Hok An heran dan mengawasi si gadis cilik tersebut. Si Giok tidak tertawa, dia memperlihatkan sikap sungguh-sungguh.
"Jika paman Hok menangkapnya, nanti burung itu bersedih, dia tentu membenciku..... Jika memang dia membenci paman dan aku, niscaya diapun tidak bersedia membawaku terbang! Terlebih lagi, jika sampai burung itu dipaksa tidak berdaya. Bukankah harus dikasihani......?!"
Hok An tersenyum.
"Dia hanya seekor burung belaka....., jika kita tidak menjinakkannya, tidak mungkin dia akan menurut!"
Kata Hok An berusaha menjelaskan kepada si Giok. Si Giok menggeleng.
"Jangan Paman..... nanti burung itu bersedih!"
Katanya, tetap mencegah.
"Atau jika nanti paman berusaha menjinakkannya dan dia melawan, niscaya paman akan mempersakiti dia! Jangan paman..... biarlah burung itu pergi, aku tidak mau naik di punggungnya lagi...... biarlah burung itu pergi!" Hok An menghela napas.
"Giok! Giok!"
Pikir Hok An di dalam hatinya.
"Betapa mulia dan luhurnya jiwamu sama seperti ibumu waktu berpacaran denganku..... Betapa lembut dan penuh kasih sayang terhadap makluk manapun juga! Hanya saja aku heran, mengapa setelah menikah dengan Bin Wan-gwe, ibumu itu jadi tidak acuh sama sekali padaku, seperti juga dihatinya tidak berbekas sisa cinta kasih kami di masa lalu?!"
Sesungguhnya, apa yang dirasakan oleh Hok An merupakan hal yang biasa saja.
Hanya saja, disebabkan Hok An lebih menitik beratkan kepada soal perasaan, maka dia lebih cenderung ingin melihat sambutan yang hangat dari Un Kim Hoa.
Mengingat dia telah memperjuangkan sekian tahun mencari-cari Un Kim Hoa, dan akhirnya waktu bertemu, setelah bersengsara sekian tahun, dia memperoleh sambutan yang tawar dari Un Kim Hoa, sehingga menyebabkan dia kecewa.
Sebenarnya, memang demikianlah kewajaran yang ada.
Walaupun bagaimana mesranya pasangan muda-mudi yang berkasih-kasihan, akan tetapi jika hubungan terputus dan si gadis menikah dengan orang lain, tentu saja dia harus menghargai suaminya.
Tidak bisa pertemuannya dengan bekas kekasihnya itu membuat dia menyambut dengan hangat.
Walaupun dihatinya timbul pergolakan melihat bekas pacarnya, kekasih yang dulu sangat dicintainya, gadis yang telah menjadi isteri orang lain tersebut akan menindih dalam-dalam perasaannya itu.
Semua itu faktor yang terpenting adalah rasa tanggung jawab bahwa ia telah menjadi milik orang lain.
Maka jika saja Hok An menyadari hal itu, niscaya dia tidak akan kecewa seperti itu.
Memang dimasa berpacaran dapat memperoleh sambutan yang hangat panas, dan sambutan yang dingin belakangan ini diterimanya adalah merupakan hal yang wajar.
Waktu itu burung rajawali putih, yang seluruh bulunya berwarna putih mulus bagaikan gumpalan salju tersebut, telah berputar-putar beterbangan di sekitar tempat itu.
Si Giok mengawasinya dengan hati yang ingin sekali berkawan dengan burung rajawali tersebut.
Hanya saja disebabkan dia kuatir kalau-kalau nanti Hok An mempersakiti burung itu buat memaksanya agar menjadi jinak, si Giok akhirnya menekan keinginannya sendiri dan lebih rela jika burung rajawali itu dilepaskan pergi.
Burung rajawali itu telah terbang seputaran lagi, kemudian mengeluarkan suara pekikan dan terbang menjauh ke arah barat, ke arah dari mana tadi dia mendatangi.
Hok An menghela napas.
"Seekor burung rajawali yang bagus dan menarik sekali dengan bulunya yang putih bagaikan salju.....!"
Menggumam Hok An.
Si Giok mengawasi burung rajawali putih itu terbang menjauh dan akhirnya lenyap di balik awan.
Dia berlari-lari lagi dengan sikap tidak gembira seperti tadi.
Hok An yang selalu memperhatikan gerak gerik si Giok, jadi merasa kasihan padanya.
Dia mengetahui bahwa si Giok ingin sekali untuk dapat terbang di punggung burung rajawali putih itu.
Maka diam-diam Hok An bertekad, ia akan menangkap burung rajawali putih itu dan menjinakkannya, agar kelak dapat membawa si Giok terbang di tengah udara.
Begitulah, mereka telah berada di dekat sebuah hutan kecil di dekat puncak gunung Hoa-san tersebut.
Karena di sekitar tempat itu terdapat banyak sekali jurang-jurang yang cukup dalam, maka Hok An melarang si Giok berlari-lari lebih jauh.
Dia kuatir kalaukalau si Giok tergelincir dan akhirnya terjerumus ke dalam jurang.
Mereka mengaso di bawah sebungkah batu besar yang di sampingnya tumbuh subur sekali pohon-pohon bambu.
Hawa udara di tempat itu nyaman dan sejuk sekali.
Sejak bertemu dengan burung rajawali putih si Giok lebih banyak duduk berdiam diri.
Dia berobah jadi seorang gadis pemurung, dan jarang sekali bicara.
Perobahan yang terjadi pada diri gadis cilik ini membuat Hok An pun berkurang kegembiraannya.
"Giok.....!"
Panggil Hok An ketika melihat si Giok tengah duduk termenung. Si Giok menoleh dan coba memaksakan diri tersenyum, tanyanya.
"Ada apa paman Hok?!"
"Kau tengah memikiri burung rajawali putih itu, bukan?!"
Tanya Hok An. Si gadis memandang tertegun kepada Hok An, tampaknya dia ragu-ragu, sampai akhirnya dia mengangguk. "Ya.....!"
Dia mengakui juga.
"Burung rajawali itu indah sekali, jika saja Giok bisa berteman dan bermain dengannya, tentu aku merasa gembira sekali!"
Hok An terharu.
Itulah perasaan yang biasa terdapat pada diri setiap anak kecil, Memang anak-anak umumnya senang bermainmain.
Namun dalam usia sekecil itu justeru si Giok telah mengembara berkelana bersama Hok An, sehingga dia tidak memiliki kesempatan buat bermain-main dengan anak-anak sebayanya.
Dia selalu bermain seorang diri, dan hanya ditemani oleh Hok An.
Karena dari itu, terhadap burung rajawali berbulu putih itu, jelas keinginan si Giok untuk dapat berteman dan bermain dengan rajawali putih tersebut, mengganggu perasaannya.
Si Giok telah berdiri dari duduknya, katanya.
"Paman Hok, Giok ingin pergi ke tempat itu dulu.....!"
Dia mennnjuk ke arah bungkahan batu yang cukup tinggi. Hok An mengangguk.
"Hati-hati..... kau jangan sampai tergelincir.....!"
Kata Hok An yang berpesan begitu, karena di tempat tersebut cukup bahaya buat si Giok yang tidak memiliki ginkang sama sekali, sekali saja tergelincir tentu dia akan terjerumus ke dalam jurang atau jatuh dari tempat yang tinggi.
Si gadis mengangguk, dengan berlari-lari kecil, gadis cilik tersebut telah pergi kebungkahan batu itu.
Dia menaiki dengan cukup bersusah payah ke atas batu yang cukup tinggi itu.
Setelah berhasil berada di atas bungkahan batu yang cukup tinggi tersebut, si Giok memandang sekitarnya, dilihatnya pemandangan di sekitar tempat itu memang menarik dan indah sekali.
Tengah si gadis memandang kiri dan kanan seperti ingin menghibur diri dan melupakan burung rajawali putih yang selalu menggoda hatinya, tiba-tiba gadis cilik itu melihat sesuatu di tengah udara.
Dua titik yang tampak terbang pesat sekali menghampiri ke arah tempatnya berada.
Titik yang satu merupakan titik hitam, sedangkan titik yang satunya lagi merupakan titik putih, yang setelah dekat baru terlihat jelas.
"Paman Hok! Paman Hok!"
Tiba-tiba si Giok berteriak-teriak.
"Lihatlah paman Hok..... Cepat! Cepat!"
Bagaikan terbang Hok An telah melesat ke arah bungkahan batu itu. Dengan sekali menjejak kakinya, tubuhnya telah melambung naik ke puncak batu tersebut.
"Dia kuatir kalau-kalau ada sesuatu yang mengancam keselamatan si Giok.
"Ada apa Giok?!"
Tanya Hok An berkuatir bukan main sambil mengawasi sekelilingnya.
"Lihatlah paman Hok.....!"
Menyahuti si gadis sambil mununjuk ke arah dua titik itu.
"Burung rajawali putih itu yang tadi..... di belakangnya mengejar burung rajawali lainnya, yang berbulu hitam.....!"
Hok An mengikuti arah yang ditunjuk si Giok.
Dilihatnya memang di angkasa tengah terbang burung rajawali putih itu, yang dikejar cepat sekali oleh burung rajawali hitam, yang tubuhnya lebih besar dari burung rajawali putih.
Bahkan burung rajawali hitam itu tampaknya ganas sekali, burung itu terbang cepat sekali seperti juga hendak mencengkeram dengan ke dua kakinya, atau juga mematok.
Burung rajawali putih itu sambil terbang beberapa kali mengelakkan diri dari patukan burung rajawali hitam tersebut, akan tetapi tampaknya burung rajawali putih itu sudah letih sekali.
Cuma saja disebabkan burung rajawali hitam itu selalu mengejarnya dan juga terbang cepat sekali, ke mana saja burung rajawali putih tersebut terbang, tentu dia terkejar dan sampai akhirnya setelah terbang lagi sekian lama dia berada di dekat tempat di mana si Giok dan Hok An berada.
Burung rajawali hitam itu tidak bisa membiarkan burung rajawali putih terbang lebih lanjut.
Dia telah menghadang, terpaksa burung rajawali putih itu memberikan perlawanan.
Pertempuran yang terjadi di antara kedua ekor burung rajawali itu, burung rajawali putih dengan burung rajawali hitam, berlangsung seru sekali.
Mereka mempergunakan sepasang kaki buat mencakar atau juga mencengkeram, mempergunakan patok mereka buat mematok lawannya, juga mereka mempergunakan kibasan sayap mereka yang kuat sekali.
Cuma saja rupanya burung rajawali putih itu sudah letih bukan main, walaupun mati-matian dia memberikan perlawanan, tokh dia terdesak sekali, di mana berulang kali dia telah kena dicakar dan dipatok oleh burung rajawali hitam tersebut.
Dengan begitu, pertempuran ke dua ekor burung rajawali itu telah barlangsung pincang.
Burung rajawali putih lebih sering terkena, serangan dari burung rajawali hitam, dan terdengan suara pekikannya yang berulang kali.
Akan tetapi, disebabkan burung rajawali putih itu sudah tidak berdaya menyingkir, jalan satu-satunya dia hanya mati-matian mengadakan perlawanan terus.
Tubuhnya juga telah banyak yang terluka, karena di antara bulu-bulunya yang putih itu, tampak warna merah darah.
Di antara pertempuran ke dua burung rajawali itu juga tampak bulubulu ke dua burung tersebut yang telah bercopotan, terbang di tengah udara, dibawa oleh hembusan angin beterbangan ke sana kemari.
Yang paling banyak bulu-bulu putih, dari burung rajawali putih yang bulunya rontok cukup banyak.
Menyaksikan lagi sekian lama, si Giok rupanya sudah tak bisa menahan kekuatiran hatinya, segera dia berkata kepada Hok An.
"Paman Hok..... cepat kau tolongi burung itu..... burung rajawali hitam itu sangat jahat sekali....., lihatlah, burung rajawali putih itu tidak berdaya..... Jika dia terus juga memaksakan diri buat melakukan pertempuran dan perlawanan kepada burung rajawali hitam itu, niscaya akhirnya dia akan terbinasa dipatoki burung rajawali hitam itu.....!" Hok An mengiyakan beberapa kali, namun diapun bingung karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya buat menolongi burung rajawali putih itu. Walaupun bagaimana tingginya ginkang Hok An, tidak mungkin dia bisa melompat ke udara dalam ketinggian di mana sepasang burung rajawali itu, rajawali hitam dan putih tengah bertarung. Namun, diapun memang tidak bisa membiarkan begitu saja burung rajawali putih yang sudah tidak berdaya tersebut dianiaya terus oleh burung rajawali hitam itu. Akhirnya, setelah si Giok memaksanya beberapa kali buat menolongi burung rajawali putih itu, Hok An teringat sesuatu. Dia segera bersiul nyaring sekali. Suara siulan tersebut melengking nyaring seperti bergema di sekitar tempat itu. Burung rajawali putih yang mendengar suara siulan Hok An, seperti juga tertarik perhatiannya, dia mengeluarkan suara pekikan, tahutahu dia meninggalkan lawannya, yaitu burung rajawali hitam, tubuhnya telah terbang menukik dengan pesat sekali menghampiri Hok An. Sedangkan Hok An yang melihat usahanya memanggil burung rajawali putih itu berhasil, jadi girang. Tampaknya burung rajawali putih ini cerdik sekali, di mana dia seperti mengerti bahwa Hok An bermaksud menolongnya, hanya saja disebabkan Hok An tidak bisa terbang seperti dia, maka burung rajawali putih itu sengaja terbang menukik ke tempat Hok An. dengan harapan rajawali hitam itu tentu akan mengejarnya. Benar saja, burung rajawali hitam tersebut tidak membiarkan burung rajawali putih tersebut melepaskan diri darinya, karena sama cepatnya burung rajawali hitam tersebut telah menukik juga, dia mengejarnya. Hok An segera mengerahkan tenaga lweekangnya, dia menantikan sampai burung raja wali putih itu hinggap di sebuah batu di dekatnya, dan burung rajawali hitam itu telah menukik turun akan terbang menyambar burung rajawali putih, di saat itulah Hok An telah membarengi dengan sampokan ke dua tangannya sekaligus. Sampokan tangan Hok An sesungguhnya mengandung tenaga yang dahsyat. Akan tetapi menghantam burung rajawali hitam tersebut, dia hanya berhasil menahan meluncurnya burung rajawali itu dan mendorongnya sedikit saja. Kemudian tanpa kurang suatu apapun juga dengan memekik marah, burung rajawali hitam itu menyambar kepada Hok An, menggerakkan sayap kanannya menyampok kepala Hok An. Kibasan sayap burung rajawali hitam tersebut kuat sekali, karena kibasan itu membuat tubuh Hok An seperti diterjang oleh suatu kekuatan yang sangat hebat, sampai Hok An hampir saja terpelanting, jika dia tidak keburu mengerahkan tenaganya pada ke dua kakinya dengan tipu "Memberatkan Tubuh Selaksa Kati" . Sedangkan burung rajawali hitam itu telah terbang menukik lagi ketika melihat Hok An tidak terpelanting oleh kibasan sayapnya. Dia telah menyambar akan mematok pula, hebat cara dia menyerang. Burung rajawali hitam tersebut pun penuh perhitungan dia tidak berani datang terlalu dekat, dia memisahkan diri dalam jarak tertentu karena dia rupanya kuatir juga akan sampokan tangan Hok An. Hok An melihat cara burung rajawali hitam itu menyerang dirinya, diam-diam terkejut, karena cara menyerang burung rajawali hitam tersebut seperti juga memiliki perhitungan. Diam-diam Hok An jadi kagum sekali, karena seekor burung rajawali ternyata bisa menyerang dengan taktik dan penuh perhitungan, pula tenaga sampokan dari sepasang sayap burung rajawali tersebut sangat kuat sekali.
"Aku tidak bisa melayaninya dengan kekerasan, karena akan siasia belaka merubuhkannya! Jika dia kesakitan dapat kuserang, diapun akan dapat terbang pergi..... aku harus mempergunakan taktik lainnya.....!"
Karena berpikir begitu, maka Hok An tidak berusaha menangkis sampokan sayap dari burung rajawali hitam tersebut.
Dia menantikan sampai rajawali hitam itu terbang menukik lebih dekat lagi, dan ketika burung rajawali hitam tersebut bermaksud akan terbang naik pula.
Kesempatan ini dipergunakan Hok An menjejakkan sepasang kakinya, dengan cepat sekali dia telah melesat ke tengah udara, dan tubuhnya berjumpalitan.
Kemudian hinggap di punggung burung rajawali hitam itu, dengan sepasang tangan memeluk leher burung rajawali itu.
Bukan main kagetnya burung rajawali tersebut, sampai memekikmekik dan membawa Hok An terbang tinggi.
Burung rajawali ini juga sebentar terbang menukik, lalu terbang naik ke atas pula, miring ke kiri dan ke kanan, mengipas-ngipaskan sepasang sayapnya, seakan juga dia tengah berusaha buat menjatuhkan Hok An dari atas punggungnya.
Akan tetapi usaha burung rajawali hitam tersebut tidak berhasil, karena Hok An tetap saja memeluk kuat-kuat leher burung rajawali hitam itu, demikian juga sepasang kakinya telah melingkari perut burung rajawali itu.
Walaupun burung rajawali hitam itu melakukan gerakan-gerakan menukik yang tajam, tokh tetap saja dia tidak berhasil menjatuhkan Hok An dari atas punggungnya.
Hok An mengerahkan tenaganya, dia memeluk lebih keras, di samping sepasang kakinya menjepit lebih kuat juga.
Burung rajawali hitam itu memekik-mekik karena merasakan lehernya seperti tercekik kuat sekali, sulit buat bernapas.
Dan semakin lama cekikan di lehernya semakin kuat juga, membuat dia jadi lemas sendirinya.
Tubuhnya akhirnya terbang meluncur ke bawah sebuah jurang, terus juga meluncur dengan gerakan seperti sudah tidak bisa mengendalikan tubuhnya, sayapnya itu telah mengibas-ngibas kacau sekali.....
Hok An girang, yakin bahwa tidak lama lagi dia akan berhasil buat merubuhkan lawannya ini, maka semangatnya terbangun dan dia juga terus merangkul semakin kuat, dia tidak mau mengendorkan lingkaran tangan dan jepitan kakinya.
Benar-benar burung rajawali hitam itu sulit bernapas, sehingga dia jadi begitu panik dan telah terbang turun ke dasar jurang, kemudian bergulingan di dasar jurang itu.
Hok An terkejut, dia tidak menyangka.
bahwa burung rajawali hitam ini memiliki akal seperti itu, dia jadi bingung juga.
Batu-batu yang tersampok sepasang sayap burung rajawali hitam tersebut beterbangan, demikian juga debu beterbangan menghalangi pandangan matanya.
Akhirnya terpaksa Hok An melepaskan rangkulan pada leher burung rajawali itu, demikian juga jepitan ke dua kakinya.
Tubuhnya dengan ringan melesat menjauhi burung rajawali hitam tersebut.
Sedangkan burung rajawali hitam itu merasakan lingkaran dan cekikan di lehernya telah mengendor, dan kemudian terlepas, juga jepitan ke dua kaki Hok An telah terlepas tanpa membuang-buang waktu lagi, dia terbang naik pula dengan cepat, sambil memekik nyaring marah sekali.
Namun pelajaran pahit yang tadi dialaminya benar-benar membuat burung rajawali hitam itu tidak berani terlalu lama berada di tempat itu.
Begitu dia terbang keluar dari dasar jurang, dia terbang ke arah barat, sambil memekik tidak hentinya, sampai akhirnya dia telah terbang pergi jauh, lenyap di dalam gumpalan awan.
Hok An tersenyum, dilihatnya tebing jurang itu sangat tinggi sekali.
Dia bersiul nyaring.
Burung rajawali putih itu seperti mengerti apa maksud siulan Hok An, karena cepat sekali dia terbang menukik turun ke dalam jurang.
Kemudian Hok An dengan duduk di-punggung burung rajawali putih, telah dibawa terbang naik ke atas jurang itu.
Setelah Hok An melompat turun, burung rajawali putih itu berdiri di hadapan Hok An dan si Giok kepala ditundukkan tiga kali seperti juga menyatakan terima kasihnya.
"Kau terluka cukup berat, mari kuobati.....!"
Kata Hok An.
Tetapi burung rajawali putih itu tidak mengerti apa yang dikatakan Hok An.
Dia telah memekik nyaring, kemudian mementang sepasang sayapnya dan terbang meninggalkan tempat tersebut, akhirnya lenyap dari pandangan mata Hok An dan si Giok.
Hok An menghela napas dalam-dalam, tampaknya dia menyesal tidak bisa mengobati burung rajawali putih itu, yang terluka cukup berat.
Jika memang burung rajawali putih itu tidak segera diobati, dikuatirkan dia akan mengalami hal yang tidak diinginkan.
Sedangkan si Giok jadi termenung, dia murung sekali.
Rupanya gadis cilik ini memikirkan benar keselamatan burung rajawali putih itu, sampai dia tidak banyak bicara.
Walaupun Hok An berusaha menghiburnya, akan tetapi selanjutnya si Giok jadi pemurung dan pendiam.
Akhirnya Hok An mengambil suatu keputusan katanya kepada si Giok.
"Mari kita lihat keadaan burung rajawali putih itu! Dia terbang ke arah puncak di sebelah barat, kita pergi ke sana mencari sarangnya..... Siapa tahu kita berhasil menemui tempat kediamannya, sehingga kita bisa mengobatinya!"
Mendengar perkataan Hok An itu, barulah wajah si Giok berseriseri, dia jadi girang dan bersemangat.
"Bisakah kita menemui tempat kediaman burung rajawali putih itu, paman Hok?!"
Tanya si gadis cilik.
"Ya, mudah-mudahan kita berhasil!"
Kata Hok An.
Begitulah dengan si gadis digendong di belakangnya, Hok An telah berlari-lari menuju ke arah puncak sebelah barat di gunung itu.
Namun perjalanan di puncak gunung itu sulit sekali dan berbahaya, karenanya Hok An tidak bisa melakukan perjalanan dengan cepat, di mana akhirnya dia memerlukan waktu satu harian buat dapat tiba di sebelah barat puncak gunung itu.
Keadaan di sebelah barat puncak gunung itu ternyata sama indahnya dengan keadaan di sebelah selatan.
Hanya saja keadaan di sana lebih banyak terdapat batu-batu gunung yang tertutup salju, dan pohon-pohon yang tumbuh di sekitar tempat itu sedikit sekali.
Hok An mengajak si Giok mencari sarang burung rajawali putih itu.
Dia berusaha mencari di berbagai goa-goa yang terdapat di dinding jurang yang terdapat di tempat tersebut.
Akan tetapi sejauh itu mereka tidak juga berhasil untuk memperoleh tempat kediaman burung rajawali putih itu.
Tiba-tiba si Giok melihat sesuatu di kejauhan, dia menunjuk sambil berseru.
"Paman Hok lihat!"
Hok An melihat ke arah tempat yang ditunjuk si Giok, di atas tumpukan salju terlihat seekor burung menggeletak diam.
Karena bulunya yang berwarna putih, maka tidak mudah dilihat begitu saja.
Ternyata burung yang menggeletak di atas tumpukan salju tersebut tidak lain dari burung rajawali berbulu putih itu.
Bagaikan terbang Hok An mengajak si Giok menghampiri burung rajawali putih tersebut.
Dan setelah berada di dekatnya, ternyata burung rajawali tersebut dalam keadaan terluka yang parah sekali.
Diam-diam Hok An jadi terheran-heran.
Waktu tadi terluka oleh serangan burung rajawali hitam, luka burung rajawali putih ini tidak demikian hebat.
Sekarang tampaknya benar-benar dia tertuka parah sekali.
Segera Hok An memeriksanya.
Burung rajawali putih itu belum mati, sayapnya masih bergerak perlahan-lahan.
Waktu melihat Hok An dan si Giok, tampaknya burung rajawali putih tersebut terbangun semangatnya dan girang, dia mengeluarkan suara memekik yang perlahan dan lemah.
Hok An segera bertanya.
"Siapakah yang telah melukaimu lagi?!"
Burung rajawali itu hanya memekik dan menggerakkan sayapnya menunjuk ke arah tebing jurang di sebelah kanannya, dia seperti menunjuk ke arah sana.
Hok An memandang ke arah jurusan yang ditunjuk oleh burung rajawali itu.
Dia melihat sebuah goa yang sangat besar sekali.
"Disana? Yang melukaimu berada di sana......?!"
Tanya Hok An. Burung rajawali putih itu memekik perlahan dan lemah sekali, seperti juga dia membenarkan perkataan Hok An. Cepat-cepat Hok An menoleh kepada si Giok, katanya.
"Kau tunggu disini Giok..... Temanilah burung rajawali itu, agar dia tidak beku kedinginan.....!"
Si Giok mengiyakan dan duduk di sebuah batu yang saljunya telah disingkirkannya, kemudian Hok An menggendong burung rajawali tersebut yang diletakkan di dekat si Giok, agar memperoleh hawa hangat.
Si gadis dengan penuh kasih sayang merangkul burung rajawali tersebut.
Hok An juga telah mengeluarkan obat bubuk yang kemudian ditaburkan ke seluruh luka-luka di tubuh burung rajawali tersebut.
Burung rajawali putih itu seperti juga mengerti bahwa ke dua manusia ini tidak bermaksud jahat padanya, dia rebah diam saja.
Selesai mengobati luka burung rajawali itu Hok An berkata kepada Si Giok.
"Aku ingin pergi ke sana buat memeriksa keadaan di dalam goa itu..... Aku akan segera kembali, kau tunggu saja di sini....." Si gadis cilik mengiyakan. Hok An segera mempergunakan ginkangnya buat pergi ke goa itu. Dia memang memperoleh banyak kesulitan, sebab dinding dari tebing yang terselubung oleh salju itu licin dan sulit sekali didaki, hanya dengan mengandalkan ginkangnya yang cukup tinggi, Hok An berhasil juga mencapai pintu goa tersebut, setelah mendaki memakan waktu yang cukup lama. Ternyata goa tersebut sangat lebar dan besar sekali, liangnya sampai sebesar rumah. Dengan hati berdebar-debar Hok An memasuki goa tersebut, karena hatinya menduga mungkin goa tersebut merupakan goa atau sarangnya burung rajawali hitam. Ketika melihat keadaan, di dalam goa, dia bertambah heran. Di goa itu tidak terdapat binatang apapun juga, malah di atas tanah tampak legokan yang cukup dalam, seperti juga di tempat itu telah dilalui oleh sesuatu yang berat. Dengan hati masih bertanya-tanya Hok An memasuki terus goa tersebut, sampai akhirnya dia tiba di sebuah ruangan, yang luas dan lebar sekali. Yang membuat Hok An bertambah heran, sebelum dia sampai di ruangan dalam goa itu, dia telah melihat sinar yang bercahaya terang dari dalam ruangan itu.
"Apakah di dalam goa ini ada seseorang manusia sakti yang hidup menyendiri?"
Pikir Hok An yang melihat api penerangan di dalam ruangan itu.
Akan tetapi waktu Hok An telah tiba di depan ruangan dalam itu, dia jadi berdiri menjublek.
Apa yang dilihatnya?
Ternyata cahaya terang yang berada di dalam ruangan tersebut bukan berasal dari sinar api lilin, melainkan cahaya sinar yang kemilau dari kepala seekor ular yang berukuran besar sekali.
Ular itu memiliki lingkaran tubuhnya dua kali paha manusia, dengan panjangnya mungkin duapuluh meter, tengah melingkar di dalam ruangan tersebut dan mengawasi ke arah mulut ruangan itu menatap tajam sekali kepada Hok An.
Cepat-cepat Hok An mundur, karena dia kuatir ular itu akan menyerangnya.
Ular raksasa tersebut berdiam diri saja.
Sama sekali dia tidak bergerak dari tempatnya itu.
Dia hanya mendesis perlahan.
Hok An mengintai dan melihat dengan teliti, dia ingin mengetahui apa yang ingin dilakukan ular itu.
Namun melihat ular itu berdiam diri saja Hok An tambah heran.
Biasanya makhluk berbisa seperti ular ini, terlebih lagi ular raksasa, jika melihat mangsanya niscaya akan segera menyerang buat dijadikan santapannya.
Tetapi mengapa ular raksasa tersebut malah berdiam diri saja, dan cuma mengeluarkan suara mendesisnya belaka?
Setelah mengawasi sekian lama, akhirnya Hok An memberanikan diri buat muncul di ambang pintu ruangan itu lagi.
Dan ular itu mendesis pula, namun tetap tidak menyerang, hanya matanya mengawasi tajam.
Di atas kepalanya seperti juga ada mahkota yang di tengahtengahnya terdapat batu permata yang bersinar terang sekali!
Ternyata, setelah Hok An memperhatikan sekian lama, mahkota yang berada di atas tumpukan kepala ular itu merupakan salju yang telah mengeras dan menjadi semacam batu!
Mungkin terlalu lamanya es itu berada di kepala ular raksasa itu, sampai menjadi batu!
Hok An segera dapat menduganya, mungkin juga ular raksasa ini telah bertapa lama sekali, dengan tidak bergerak-gerak, sampai salju yang menutupi kepalanya itu berobah menjadi batu, dan mungkin juga, batu permata yang bersinar kemilau di atas kepalanya itu, merupakan inti es yang telah berobah menjadi batu, sehingga memancarkan sinarnya yang begitu terang kemilau.
Diam-diam Hok An jadi bertanya-tanya di dalam hatinya, apa yang dilihatnya seperti juga berada dalam dongeng-dongeng belaka, seoker ular yang bertapa, dengan batu permata yang kemilau.
"Jika demikian, di dalam dunia ternyata benar-benar terdapat ular naga.....?"
Berpikir Hok An di dalam hatinya.
"Jika ular raksasa ini tidak bisa disebut seekor naga, karena dia tidak bertanduk..... dia hanya seekor ular belaka.....!"
Ular raksasa itu mendesis lagi dengan suara perlahan, tubuhnya bergerak, bukan buat menyerang Hok An, hanya memperbaiki lingkaran tubuhnya itu.
Hok An sendiri yang melihat ular raksasa itu menggerakkan tubuhnya bagian atasnya cepat-cepat bersiap hendak mengelakkan diri dari pintu ruangan tersebut, karena dia kuatir ular raksasa itu mendadak sekali menyerangnya Waktu itu tampak ular tersebut telah memejamkan matanya seakan-akan tidak mau memperdulikan Hok An pula.
Hok An juga merasa ngeri jika harus berada lama-lama di dalam goa tersebut.
Setelah menguasai dirinya beberapa saat segera dia keluar dari goa itu, dan kembali ke tempat si Giok berada.
Dilihatnya burung rajawali putih yang tengah dipangku oleh si Giok dalam keadaan sekarat.
"Apakah ular itu yang telah melukaimu?!"
Tanya Hok An kepada burung rajawali tersebut dengan memperlihatkan gerakan tangannya.
Burung rajawali putih itu mengeluarkan suara pekikan perlahan dan menggerakkan sayapnya, seperti juga membenarkan.
Baru saja Hok An ingin bertanya lagi, ternyata burung rajawali itu sudah tidak bisa bertahan lebih lama pula, sebab dia telah diam kaku tidak bergerak, telah mati.
"Hai!
Sungguh menakjubkan sekali bisa menemui peristiwa seaneh ini.....!"
Menggumam Hok An. Si Giok segera menanyakan kepadanya, apa yang telah terjadi. Hok An segera menceritakannya apa yang telah dilihatnya.
"Seekor ular naga.....?!"
Tanya si Giok sambil mementang sepasang matanya lebar-lebar, tampaknya dia merasa ngeri bukan main. Hok An mengangguk.
"Akan tetapi kau tidak perlu kuatir, itu bukan naga sungguhan, karena dia tidak memiliki tanduk. Hanya saja seekor ular yang memiliki ukuran tubuh sangat panjang dan besar!"
"Aku sering mendengar cerita naga dari ibu..... ibu memang selalu menceritakan kepadaku, bahwa di kerajaan langit terdapat naga dengan tubuhnya yang panjang dan besar! Jika naga itu marahmarah, maka dia mengamuk dan dunia kita ini akan tergetar, sampai terjadi getaran-getaran yang bisa menumbangkan gunung dan merubuhkan rumah..... benarkah itu paman Hok?!"
Hok An mengangguk.
"Ya.....
itulah yang dinamakan gempa bumi.
Akan tetapi itu hanya terdapat di dalam dongeng belaka, karena itu, aku sendiri belum mengetahui dengan pasti, apakah di dunia ini memang benarbenar terdapat seekor naga.
"Namun yang membuat aku heran ular itu, walaupun sangat besar, dia tidak ganas. Ular besar itu telah melihatku, tapi dia tidak menyerang. Dengan demikian, dia memang bukan merupakan seekor ular ganas! Namun mengapa burung rajawali putih itu dilukainya juga, sehingga luka disebabkan serangan burung rajawali hitam yang diderita burung rajawali putih itu bertambah parah?!"
Sesungguhnya apa yang terjadi pada diri burung rajawali putih itu sebagai berikut.
Waktu burung rajawali itu terbang berputaran di puncak gunung Hoa-san dan bertemu dengan si Giok dan Hok An, sesungguhnya burung rajawali putih itu tengah mencari tempat buat bertelur.
Akan tetapi dia tidak menemukan tempat yang cocok.
Setelah berputarputar ke sana ke mari, akhirnya dia berpapasan dengan burung rajawali hitam.
Burung rajawali hitam memang terkenal ganas, dan seperti juga terdapat permusuhan yang hebat antara burung rajawali hitam dengan burung rajawali putih.
Jika memang burung rajawali putih dan burung rajawali hitam saling bertemu, maka mereka akan saling serang.
Cuma saja, kali ini disebabkan burung rajawali putih itu ingin bertelur, dia tidak bisa bergerak leluasa, dengan begitu dia telah dilukai oleh burung rajawali hitam, dan jatuh di bawah angin.
Sampai akhirnya burung rajawali putih itu telah berhasil ditolong oleh Hok An.
Sesungguhnya burung rajawali putih itu pun menyadari akan maksud Hok An yang hendak mengobati luka-lukanya, namun dia sudah hampir bertelur, karenanya dia terbang cepat-cepat meninggalkan Hok An dan si Giok.
Setelah terbang ke sana ke mari, dia melihat goa yang besar dan luas itu, yang tampaknya cukup hangat.
Maka segera juga burung rajawali putih itu memutuskan bahwa dia ingin bertelur di dalam goa itu.
Begitulah, dia segera masuk ke dalam goa tersebut, dan bertelur.
Telur tunggal.
Setelah bertelur, burung itupun mengeraminya, untuk menghangati telurnya.
Siapa tahu, belum lama dia mengeram seperti itu, didengarnya suara mendesis di belakangnya.
Waktu burung rajawali putih itu menoleh dilihatnya kepala seekor ular yang sangat besar sekali.
Burung rajawali itu yang kuatir telurnya diganggu ular tersebut, segera juga menerjang ular itu buat mematuk dan mencengkeram dengan ke dua kakinya.
Dia ingin mencegah ular itu mengganggu telurnya.
Seperti diketahui bahwa seekor ular paling senang memakan telur.
Dan sekarang burung rajawali putih itu bermaksud melindungi telurnya itu.
Namun ular itu tidak melakukan perlawanan,dia hanya berkelit ke sana ke mari.
Cuma saja disebabkan ukuran tubuh ular itu sangat besar, gerakannya kurang leluasa dan kurang cepat, kepalanya beberapa kali kena dicakar dan juga dipatok oleh paruh burung rajawali putih itu.
Karena kesakitan, akhirnya ular besar tersebut jadi marah juga.
Dengan mengeluarkan suara mendesis nyaring, dia menyampok burung rajawali itu dengan kepalanya.
Burung rajawali putih itu setiap kali kena disampok terpental oleh kepala ular itu, tubuhnya membentur ke batu dinding goa tersebut, membuat luka-luka di tubuhnya semakin parah di samping bulubulunya banyak rontok.
Akan tetapi, burung rajawali itu tetap saja tidak terbang pergi, dia telah menerjang lagi buat melindungi terus telurnya.
Dalam keadaan demikian, di mana burung rajawali putih itu tengah kalap, membuat dia mencakar dan mematuk sekenanya, membuat ular itu jadi tambah gusar karena kesakitan, dan herulang kali dia menyampok burung rajawali putih itu, yang tubuhnya jadi terhempas ke dinding goa dan akhirnya burung rajawali putih tersebut kehabisan tenaga juga.
Suatu kali, dengan sisa tenaganya dia menyerang ular itu.
Kepala ular tersebut menyampoknya dengan kuat sekali, membuat tubuh burung rajawali itu terlempar keluar dari goanya, bahkan sampai meluncur melewati jurang.
Ular besar itu telah mendesis dengan menjulurkan kepalanya mendekati telur burung tersebut, dia mencium-ciumnya sesaat lamanya.
Namun ular itu tidak memakan telur tersebut dia mengawasi itu seperti juga ular ini bimbang bukan main.
Akhirnya Ular itu membuka mulutnya, dimakannya telur tersebut, kepala ular itu masuk ke ruangan dalam goa itu lagi.
Ternyata ular tersebut memang memiliki ukuran tubuh yang sangat besar dan panjang sekali, di mana sisa tubuhnya melingkar di ruangan dalam goa tersebut.
Setelah kembali di ruangan dalam, ular tersebut mengeluarkan telur yang tadi dimakannya.
Ternyata telur itu tidak pecah, malah masih utuh, diletakan di dekat perutnya yang melingkar-lingkar itu.
Kemudian ular tersebut memejamkan matanya, dalam keadaan tetap melingkar seperti itu, seakan-akan ular tersebut hendak menghangati telur tersebut, seperti akan "mengerami"
Nya.
Sampai akhirnya Hok An masuk ke dalam goa tersebut.
Karena adanya telur itu, ular tersebut tidak bergerak dari tempatnya berada.
Hok An mengajak si Giok untuk mencari tempat di sekitar puncak tersebut, karena Hok An ingin mengetahui apa yang dilakukan ular besar tersebut.
Di samping itu juga, diapun menginginkan sekali inti es yang berada di kepala ular besar itu untuk diberikan dan dihadiahkan kepada si Giok.
Begitulah, setelah memperoleh sebuah goa yang cukup hangat dan mereka bisa berdiam di dalam goa terhindar dari hawa dingin dan juga bisa tidur dengan aman, Hok An dan Giok berdiam di sana selama lima hari.
Setiap hari Hok An pergi ke goanya ular besar itu.
Dia ingin melihatlihat apakah dia memiliki kesempatan buat mengambil permata yang merupakan inti es yang berada di atas kepala ular itu.
Akhirnya pada hari ke enamnya, Hok An bisa melihat telur yang tengah dierami ular tersebut, karena ular itu telah menggerakkan tubuhnya untuk memperbaiki tempat melingkarnya.
Hok An jadi heran melihat telur burung tersebut, sampai akhirnya dia menduga-duga peristiwa yang terjadi pada diri burung rajawali putih itu.
"Apakah burung rajawali putih itu telah bertelur di goa ini dan telurnya direbut ular ini, sehingga burung itu nekad bertempur dengan ular ini sampai akhirnya menemui kematian?"
Berpikir Hok An.
Dan lebih jauh Hok An pun berpikir, burung rajawali putih itu setelah terluka parah tentu telurnya direbut ular ini.
Cuma saja yang membuat Hok An tetap tidak mengerti, mengapa ular itu tidak segera memakan telur burung rajawali tersebut, malah diletakkan di perutnya, untuk dihangati!
Ular raksasa itu sendiripun bukannya tidak mengetahui bahwa setiap hari Hok An datang menyelinap ke dalam goanya, cuma saja ular raksasa tersebut tidak berani menggerakkan tubuhnya.
Dia seperti juga kuatir kalau dia menggerakkan tubuhnya akan membuat telur yang tengah "dieraminya"
Itu akan pecah.
Karena dari itu, selama beberapa hari itu, walaupun Hok An selalu datang ke goanya dan ular tersebut dapat mencium bau manusia ini, tokh tetap saja dia tidak menggerakkan tubuhnya, dia membiarkan saja Hok An ngintip-ngintip kepadanya.
Dengan diperbaiki letak telur itu di bawah perutnya, ular raksasa tersebut bermaksud agar Hok An tidak bisa mencurinya.
Jika memang Hok An menyerang nekad hendak mencuri telur tersebut, barulah ular raksasa itu akan menyerangnya.
Pada hari ketujuh, Hok An datang ke goa tersebut dengan mengajak si Giok, karena gadis cilik itu memaksa terus menerus agar dia diajak ikut ke goa itu.
"Aku ingin sekali melihat ular raksasa itu, paman Hok!"
Kata Si Giok merengek.
Maka pada hari ketujuh itulah Hok An mengajak si Giok ke goa ular raksasa itu, karena setelah enam hari mendatangi goa itu dan ular raksasa itu tidak pernah menyerangnya Hok An beranggapan tidak membahayakan jika dia mengajak si Giok buat melihat-lihat sejenak.
Dan memang, apa yang dilihat Si Giok membuatnya jadi sangat takjub sekali.
"Aneh sekali..... luar biasa!"
Menggumam Si Giok dengan suara yang serak, karena di samping merasa takjub melihat ular raksasa itu, diapun merasa takut dan ngeri.
Setelah melihat sekian lama, akhirnya si Giok mengajak Hok An buat kembali ke goa mereka.
Waktu mereka baru saja hendak meninggalkan goa ular raksasa tersebut, tiba-tiba di luar goa terdengar suara memekik burungburung rajawali yang ramai sekali.
Hok An dan si Giok mengangkat kepala mereka, dan ke duanya jadi terkejut, di angkasa tampak terbang belasan ekor burung rajawali hitam sambil terbang menukik tidak hentinya.
Hati Hok An tergetar juga.
Jika hanya menghadapi seekor burung rajawali hitam, seperti yang terjadi beberapa hari yang lalu, di saat dia menolongi burung rajawali putih, memang dia tidak perlu jeri.
Akan tetapi sekarang belasan ekor burung rajawali hitam, yang semuanya memiliki tubuh yang besar-besar dengan sayap mereka yang lebar sekali, selebar dua tombak lebih!
Bergidik juga Hok An menyaksikan belasan ekor burung rajawali hitam tersebut, yang semuanya tampak ganas-ganas.
Segera juga Hok An menarik tangan si Giok, diajaknya kembali masuk ke dalam goa untuk bersembunyi di balik sebungkah batu besar di pinggir dinding goa tersebut.
Suara pekik burung rajawali hitam masih terdengar ramai, sampai akhirnya terlihat bayangan hitam di mulut goa itu, seekor burung rajawali hitam telah terbang menerobos masuk ke dalam goa itu.
Ular di dalam goa tersebut mengeluarkan suara desiran.
Namun ular itu tidak bergerak dari tempatnya berada.
Burung rajawali hitam itu telah memasuki goa itu ke sebelah ruangan dalam, di mana dia melihat ular raksasa itu.
Seketika burung rajawali hitam tersebut mengeluarkan suara pekiknya berulang kali, dan kawan-kawannya beterbangan masuk.
Mereka semuanya memperlihatkan sikap yang ganas sekali, dan sayap mereka yang dikibas-kibaskan seperti itu, menyebabkan debu beterbangan memenuhi seluruh goa tersebut.
Ular raksasa itupun sudah tidak bisa berdiam diri, karena salah seekor burung rajawali hitam itu telah terbang menyerang ke arahnya.
Cepat-cepat ular itu menyampok burung rajawali hitam itu dengan kepalanya, namun dia gagal, sedangkan kawan-kawan burung rajawali hitam itu telah beterbangan untuk menyerangnya.
Terjadilah pertempuran yang mengerikan antara seekor ular raksasa dengan belasan ekor burung rajawali.
Itulah pertempuran yang benar-benar jarang sekali bisa disaksikan di dalam rimba persilatan.
Pertempuran di antara dua jenis binatang yang sama-sama tangguh!
Yang seekor ular itu sangat beracun, sedangkan belasan ekor burung rajawali itupun merupakan binatang yang ganas bukan main.
Tubuh ular itupun telah kena dicakar dan dipatuki berulang kali, membuat ular itu kesakitan dan mengeluarkan desis marah, sehingga akhirnya ular itu telah mulai menyerang burung-burung rajawali hitam itu dengan ganas.
Karena gencarnya serangan belasan ekor burung rajawali itu, akhirnya ular itu sudah tidak dapat memikirkan telur yang tengah dieraminya.
Dia melingkar dan menggeleser ke luar goa, meninggalkan telur burung rajawali putih yang tengah dieraminya itu.
Kemudian mengamuk, di mana beberapa ekor burung rajawali hitam telah dapat disampok dan juga digigitnya, sehingga burung rajawali hitam itu terluka dan keracunan.
Walaupun pertama-tama memang burung-burung rajawali itu tidak merasakan akibat racun yang mulai menjalar di tubuh mereka, namun akhirnya burung-burung rajawali hitam yang keracunan itu memekik nyaring dan terbang keluar dari goa.
Hanya tinggal tujuh atau delapan burung rajawali hitam yang masih menyerang ular itu bertubi-tubi dengan ganas sekali.
Ular itu sendiri telah terluka di beberapa bagian tubuhnya, akan tetapi semakin terluka ular itu telah memberikan perlawanan yang kian gigih.
Malah dalam suatu kesempatan, ular tersebut berhasil melibat seekor burung rajawali dengan tubuhnya, begitu kencang libatannya, sampai terdengar suara "Kreeekkk!"
Dari patah dan hancurnya tulang-tulang burung rajawali tersebut.
Waktu libatannya dilepaskan, maka rajawali tersebut telah terbunuh menjadi bangkai!
Sedangkan rajawali-rajawali hitam lainnya semakin ganas, tubuh ular itu telah dipatukinya sampai terluka cukup parah.
Demikian juga dengan tenaga ular itu rupanya semakin berkurang, darah yang keluar dari tubuh ular itu tampak semakin deras dan banyak, menyebabkan darah itu bepercik di sekitar lantai goa tersebut.
Burung-burung rajawali hitam itu menyerang semakin ganas juga, rupanya rajawali-rajawali hitam itu menyadari keadaan ular raksasa tersebut semakin parah dan lemah, maka mereka tidak membiarkan ular tersebut berdiam diri, dia telah menyerang terus.
Disaat mana ular itu juga semakin kalap, justru tubuhnya yang membentur-bentur dinding goa jadi terluka lebih hebat.
Menyaksikan perkelahian antara ular dengan burung-burung rajawali tersebut, Si Giok merasa ngeri bukan main.
Hok An sendiri jadi bergidik.
Dia segera berpikir, walaupun bagaimana dia harus menolongi ular itu.
Setelah melihat keadaan ular itu yang semakin lemah, gerakan tubuhnya yang semakin perlahan, menyebabkan burung-burung rajawali hitam itu menyerang semakin gencar dan ganas, maka Hok An jadi nekad.
Dia telah melompat keluar dari tempat persembunyiannya.
Dengan mengandalkan ginkangnya yang tinggi, tubuhnya mencelat keluar dari goa tersebut.
Kemudian diambilnya sebatang kayu yang cukup besar.
Seekor burung rajawali hitam yang melihat gerakan Hok An, segera terbang keluar goa dan mengejar Hok An, kemudian menyerangnya.
Hok An menyadari, percuma saja dia melayani serangan burung rajawali itu dengan mengadu kekuatan.
Dia hanya mengandalkan melompat ke sana ke mari dengan lincah dan akhirnya berlari masuk kembali ke dalam goa itu.
Setelah herada di tempat persembunyiannya di dekat Si Giok, dia bilang.
"Aku akan membantu ular itu.....!"
Si Giok memandang heran.
"Apakah paman Hok bisa menghadapi burung-burung rajawali hitam itu?"
Tanyanya ragu-ragu dan merasa ngeri.
"Aku akan mempergunakan ini!"
Kata Hok An sambil memperlihatkan kayu yang baru saja diambilnya. Si Giok tambah heran.
"Apa gunanya kayu itu.....? Apakah paman Hok hendak mempergunakan kayu tersebut buat memukuli rajawali-rajawali hitam itu?!"
Hok An menggeleng.
"Aku akan menyalakan api pada ujungnya, dengan api ini aku bisa melawan burung-burung rajawali hitam itu......!"
Menjelaskan Hok An.
Sedangkan burung rajawali yang tadi mengejar Hok An, begitu masuk ke dalam goa telah kehilangan jejak buronannya, dia tidak melihat Hok An lagi, maka dia mengeluarkan pekik nyaring dan ikut menyerang ular besar tersebut pula.
Hok An waktu itu bekerja cepat sekali, dia mempergunakan ke dua telapak tangannya, yang disaluri kekuatan lwekangnya, menggosok-gosok ujung kayu tersebut.
Semakin lama semakin panas.
Hal itu dilakukan Hok An buat menghilangkan kelembaban pada kayu itu, agar mudah nanti dinyalakan api pada ujungnya.
Setelah menggosok-gosok sekian lama pada ujung kayu itu dan Hok An yakin kayu di bagian dalam dari batang pohon itu telah kering, segera dikeluarkannya bibit api.
Dia berusaha menyalakan api dan membakar ujung kayu itu.
Cahaya dari percikan api itu sementara membingungkan burungburung rajawali itu, yang jadi sering bimbang dan ragu-ragu menyerang ular itu.
Mereka memandang sekitarnya, seperti juga tengah menyelidiki cahaya api yang berkilat-kilat itu.
Hok An sendiri jadi tegang sendirinya.
Dia tidak mudah menyalakan api pada ujung kayu tersebut.
Jika sampai burungburung rajawali hitam itu mengetahui tempat persembunyiannya, niscaya dirinya dan juga Si Giok, menghadapi ancaman yang tidak kecil.
Karenanya dia berusaha terus secepatnya agar api dapat menyala di ujung kayu tersebut.
Keringat dinginpun telah mengucur deras di kening Hok An, walau keadaan di dalam goa itu cukup dingin, sampai akhirnya ujung kayu itu telah dapat menyala, api itu kecil dan semakin lama semakin besar.
Hok An menghela napas dalam-dalam dan lega.
Jika saja api itu dapat menyala dengan baik-baik dan cukup besar, niscaya akan membuat dia memperoleh "senjata"
Yang ampuh menghadapi burung rajawali hitam itu.
Sedangkan burung-burung rajawali itu telah melihat dan mengetahui dari mana sumber cahaya api.
Mereka segera meluruk terbang ke tempat persembunyian Hok An.
Waktu itu api menyala belum begitu besar.
Jika Hok An menggerakkan kayunya itu buat menyerang burung-burung rajawali tersebut, niscaya akan menyebabkan api padam.
Dia selanjutnya akan menghadapi bahaya yang tidak kecil tanpa senjata istimewanya tersebut.
Sedangkan dua ekor burung rajawali hitam itu telah melompat maju meluncur ke dekatnya, membuat si Giok menjerit ketakutan.
Hok An segera mengempos semangat dan tenaganya di tangan kiri, mati-matian dia menyampok dengan tangannya ke arah salah seekor burung rajawali yang di dekat si Giok.
Pukulan Hok An berhasil membuat burung itu terpental cukup jauh, rupanya burung itu pun kesakitan, dia sampai tidak berani menyerang pula.
Waktu itu burung rajawali yang seekornya lagi, mempergunakan kesempatan waktu Hok An tengah menyerang pada kawannya dia telah mematuk pundak Hok An.
Patukannya mengenai tepat, sedikit daging di pundak Hok An copot terbawa patuknya.
Hok An menjerit kesakitan, akan tetapi waktu itu api di ujung kayu telah menyala cukup besar.
Tidak berayal lagi, dengan menahan sakit, Hok An telah mengibaskan api itu ke arah burung rajawali yang seekor tersebut.
Bulu-bulu burung rajawali itu seketika terbakar termakan api, dan burung rajawali itupun merasa kepanasan, terluka kebakar.
Dengan memekik kesakitan, burung rajawali itu segera terbang menjauhi, malah telah terbang keluar dari dalam goa itu.
Melihat hasil yang telah diperolehnya, walaupun pundaknya sakit sekali, Hok An girang bukan main, dia yakin pasti berhasil menolongi ular raksasa itu dari ancaman maut di bawah patukan dan cengkeraman rajawali-rajawali hitam tersebut.
Segera juga Hok An keluar dari tempat persembunyiannya, sebelum melompat keluar dia berpesan kepada Si Giok agar diam saja di situ, jangan melakukan gerakan apa-apa.
Si Giok sangat ketakutan, hampir saja gadis cilik ini menangis, karena dia merasa ngeri sekali.
Sedangkan Hok An dengan kayu yang ujungnya menyala api cukup besar telah melompat keluar dan menggerakkan kayu itu kepada salah seekor burung rajawali yang tengah terbang menyerangnya.
Karena adanya api di ujung kayu tersebut, keadaan di ruangan itu bertambah terang, terangnya inti es yang seperti batu permata di atas kepala ular itu, dan juga api yang bersinar terang.
Hok An bisa melihat jelas keadaan di dalam goa itu.
Burung rajawali yang diserangnya itu seketika memekik, karena bulu-bulunya termakan api dan tubuhnya juga terjilat oleh lidah api.
Dengan segera burung rajawali itu kabur terbang keluar goa.
Burung-burung rajawali lainnya juga telah memekik kesakitan waktu api di ujung kayu Hok An menyambar ke arah mereka.
Tanpa membuang waktu pula, segera juga sisa beberapa ekor burung rajawali hitam itu telah terbang meninggalkan tempat tersebut, mereka serabutan terbang keluar goa itu.
Hok An menghela napas lega, karena dia berhasil dengan usahanya.
Senjatanya yang istimewa itu telah berhasil memukul mundur burung-burung rajawali tersebut.
Namun Hok An tidak segera mematikan api di ujung kayunya itu, dia berdiam beberapa saat menantikan kalau-kalau burung-burung rajawali itu akan menerjang masuk kembali ke dalam goa.
Sedangkan ular raksasa itu rebah di tanah goa tersebut dengan kepala yang tertunduk, karena rupanya diapun gentar melihat api yang berkobar-kobar di ujung kayu di tangan Hok An.
Setelah keluar melihat rajawali-rajawali hitam itu terbang pergi jauh dan lenyap di balik awan serta beberapa ekor menggeletak di mulut goa tersebut tidak bergerak, telah mati, maka segera juga Hok An mematikan api itu.
Dia kembali masuk ke dalam goa itu.
Ular itu mendesis perlahan, namun dia tidak menyerang Hok An, karena rupanya ular tersebut seperti mengerti bahwa Hok An telah menolongnya.
Sedangkan si Giok yang melihat rajawali-rajawali hitam itu telah dapat diusir oleh Hok An, diam-diam menghela napas lega, dia tidak begitu takut lagi.
Dengan segera Hok An mengumpulkan bangkai burung rajawali hitam itu.
Ada lima ekor.
Segera ditumpuk dihadapan ular tersebut.
"Untuk santapanmu......!"
Katanya.
Ular itu seperti mengerti, dia telah menggerak-gerakkan kepalanya turun naik, seperti juga dia tengah mengangguk-angguk ingin menyatakan rasa terima kasihnya.
Hok An menghela napas, dia memanggil si Giok keluar dari tempat persembunyiannya.
"Kau lihatlah Giok. Ular raksasa ini tidak ganas.....!"
Kata Hok An.
"Dan rupanya dia ingin mengerami telur itu pula. Jika terlalu lama tidak dierami, mungkin telur itu akan gagal ditetasinya, karena hawa udara di goa ini sangat dingin sekali......"
Setelah berkata begitu, Hok An menoleh kepada ular tersebut, dia memperlihatkan gerakan sepasang tangannya seperti juga memerintahkan ular itu untuk pergi mengerami telur itu lagi.
Ular tersebut mendesis perlahan, kemudian beringsut kembali masuk ke ruangan dalam goa itu, diapun telah melingkarkan tubuhnya jadi bersusun, di mana dia telah mengerami telur itu lagi.
Hok An menghela napas, dia merasakan di dalam goa itu pengap dan juga asap dari api yang tadi dinyalakannya membuatnya sulit bernapas.
Karenanya dia mengajak si Giok buat meninggalkan goa tersebut dan kembali ke goa mereka.
Di saat itu terlihat betapa ular itu telah mendesis lagi dan mengangguk-anggukkan kepalanya bagaikan dia hendak mengucapkan terima kasih kepada tuan penolongnya yang waktu itu ingin meninggalkan goa tersebut.
Sekembali ke goa mereka, Hok An segera menceritakan kepada si Giok, bahwa ular raksasa itu ternyata seekor ular yang tidak berbahaya, karena ular itu tampak tidak ganas, disamping itu juga jinak sekali.
Karena menduga telur yang tengah dierami oleh ular itu adalah telur dari burung rajawali putih, maka Hok An jadi ingin mengetahui jika telur itu telah menetas, maka yang muncul apakah seekor ular atau seekor burung rajawali putih.....
Itulah sebabnya Hok An tidak mengajak si Giok berlalu dari tempat tersebut, dengan sabar Hok An dan si Giok berdiam di dalam goa mereka......
Rombongan Rajawali hitam tidak pernah muncul, rupanya setelah mengalami kerusakan di dalam goa ular itu, mereka sudah jera dan tidak pernah ada seekor burung rajawali hitam pun yang terbang berkeliaran di sekitar puncak gunung Hoa-san sebelah barat.
Hok An pada keesokan harinya setelah pertempuran luar biasa istimewanya, di dalam goa ular itu, menengok keadaan ular raksasa tersebut.
Rupanya luka ular itu mulai sembuh, karena binatang melata ini memang dapat menyembuhkan dirinya sendiri dengan cara menjilati atau juga dengan cara menggulingkan tubuhnya di tanah goa.
Bangkai rajawali hanya tinggal dua ekor, karena yang tiga ekor telah dimakannya.
Senang juga Hok An melihat ular raksasa itu berangsur-angsur sembuh.
Dia telah kembali ke goanya dan menceritakan keadaan ular raksasa itu kepada si Giok lalu meminta si Giok buat menanti di goa itu, karena Hok An bermaksud turun gunung guna pergi ke kampung yang dekat di kaki gunung tersebut, membeli makanan buat mereka.
Selama berhari-hari berada di goa, mereka hanya makan binatang hutan buruan Hok An.
Sedangkan si Giok walaupun merasa takut ditinggal sendirian di goa tersebut, namun telah menyetujui juga, sebab diapun ingin sekali mencicipi makanan lainnya selain daging-daging kelinci bakar atau burung bakar.
Memang Hok An pergi tidak lama, dia segera telah kembali dengan membawa banyak sekali barang makanan, di mana si Giok segera melahapnya dengan asyik.
Hok An juga menghabisi cukup banyak santapan tersebut, karena diapun telah menahan selera yang cukup lama memakan barang makanan yang lezat.
Lima hari mereka berdiam lagi di goa tersebut, dan telur yang dierami oleh ular raksasa itu ternyata telah menetas!
Hok An mengetahui hal itu dihari ke lima menjelang sore hari, waktu dia memasuki goa ular tersebut dengan berindap-indap dan melihat makhluk kecil yang kemerah-merahan tengah bergerak-gerak perlahan di bawah perut ular raksasa itu.
Sedangkan ular raksasa itu tetap melingkar dengan mata dipejamkan.
Yang membuat Hok An jadi girang, dia melihat telur yang telah ditetasi itu menghasilkan seekor anak burung rajawali, jadi bukan seekor ular.
Akan tetapi yang lebih aneh dan luar biasa walaupun telur yang ditetasi itu bukan seekor ular, ular raksasa tersebut tidak memakan anak burung itu, malah tampaknya dengan keadaan tubuhnya yang melingkar bersusun itu, ular tersebut hendak melindungi anak burung itu dari serangan hawa dingin, melindunginya dengan hangat tubuhnya.
Cepat-cepat Hok An kembali ke goanya, memberitahukan hal itu kepada si Giok.
Gadis cilik ini merengek minta agar diajak ke goa ular raksasa tersebut, untuk melihat anak burung itu.
Hok An tidak keberatan dan mengajaknya.
Anak burung itu mungil sekali dan belum ada bulu yang tumbuh ditubuhnya.
Si Giok bukan main girang hatinya, dia telah bilang kepada Hok An.
"Apakah ular raksasa itu akan membiarkan aku nanti bermain-main dengan anak burung itu, paman Hok?!"
Hok An mengangguk.
"Tentu! Tentu! Jika memang anak burung itu telah tumbuh sayap, niscaya dia bisa terbang, dan akan keluar dari dalam goa itu. Di waktu itulah aku akan berusaha menjinakkannya, agar anak burung itu dapat diajak bermain oleh kau!"
Katanya.
Gembira sekali si Giok, sampai malam harinya waktu tertidur, dia mengigau dan seriagkali mengoceh menyebut-nyebut perihal anak burung rajawali itu.
Hok An sendiri satu malaman lamanya berdiam di goa itu, dia kuatir kalau-kalau ular raksasa itu setelah mengetahui yang ditetasi dari telur itu bukan seekor ular, melainkan seekor anak burung, akan segera memakannya.
Maka jika memang terlihat tanda-tanda ular raksasa itu ingin memakan anak burung tersebut, Hok An akan segera mengusahakan untuk mencuri anak burung itu.
Namun selama satu malaman berdiam di goa ular itu, Hok An justeru menyaksikan pemandangan yang mengharukan sekali, di mana ular raksasa itu tampaknya sayang sekali pada anak burung itu yang telah dijilatinya, dan kemudian dilindungi dengan perutnya yang berlapis-lapis itu, agar anak burung tersebut tidak kedinginan Sedangkan anak burung tersebut telah tertidur rebah diam nyenyak sekali di perut ular itu.
Pada hari ke duanya Hok An tidak menunggui di goa ular itu lagi, karena yakin ular raksasa tersebut tidak akan mencelakai anak burung tersebut Cuma saja, di hari-hari berikutnya Hok An selalu mengajak si Giok ke goa ular tersebut, agar Si Giok dapat melihat betapa anak burung itu mulai berkembang menjadi besar.
Hok An juga sibuk sekali mencarikan makanan untuk anak burung tersebut.
Yang ajaib sekali, ular tersebut bisa memberikan makan pada anak burung tersebut, makanan dari dalam perutnya dikeluarkan dan ditumpahkan di hadapan anak burung itu, sehingga anak burung itu dapat memakan makanan yang telah menjadi bubur itu, yang terdiri dari daging.
Mungkin disebabkan anak burung itu setiap hari memakan "bubur daging".
maka pertumbuhan burung tersebut pesat sekali.
Dalam waktu dua membesar.
minggu Sebulan saja, perkembangan kemudian, bulu-bulu tubuhnya sudah mulai tampak bertumbuhan di sekujur tubuh burung tersebut, berwarna putih!
Jelas, anak burung ini adalah anak burung rajawali putih yang telah menemui kematiannya beberapa waktu yang lalu, dan Hok An semakin yakin, bahwa burung rajawali putih tentunya telah bertelur dan akhirnya telurnya direbut oleh ular itu.
Si Giok pun semakin girang, karena melihat perkembangan burung anak rajawali yang begitu pesat, berbeda sekali dari perkembangan anak-anak rajawali biasanya, maka si Giok seringkali berdiam di goa ular itu.
Dia lebih sering bermain di goa ular itu dengan perasaan tidak takut lagi, karena menyadari bahwa ular raksasa tersebut sudah tidak membahayakan.
Sedangkan Hok An pun seringkali meninggalkan si Giok seorang diri di goa, tanpa berkuatir pula.
Rupanya ular raksasa itu, walaupun tampaknya mengerikan, tokh sesungguhnya tidak membahayakan.
Juga si Giok malah belakangan ini telah berani menghampiri lebih dekat lagi ke tempat ular raksasa itu berada, di mana ular tersebut tidak memperlihatkan sikap hendak menyerang.
Dengan demikian si Giok bisa mengajak anak burung rajawali itu bermain-main.
Anak burung rajawali tersebut, yang menerima didikan langsung dari seekor ular raksasa memiliki kelainan yang benar-benar menakjubkan.
Jika biasanya seekor anak burung rajawali yang telah berusia satu bulan lebih, pasti akan dapat berjalan dengan ke dua kakinya, namun anak burung rajawali ini malah berlainan sekali.
Bila hendak berjalan, dia menekuk ke dua kakinya, kemudian melata dengan mempergunakan perutnya, merayap dengan cepat!
Itulah suatu keistimewaan yang benar-benar menakjubkan sekali, yang tidak mungkin dapat dimiliki oleh anak-anak burung rajawali lainnya.
Hok An sendiri yang memperhatikan perkembangan burung rajawali tersebut, ikut merasa terheran-heran dan takjub.
"Inilah suatu keajaiban dunia!"
Kata Hok An.
"Sebenarnya dengan terjadinya seekor ular yang menetasi telur burung sudah merupakan keanehan yang tidak pernah ada..... Terlebih lagi sekarang setelah telur itu berhasil ditetasi, masih anak burung itu terpengaruh dan memiliki keakhlian buat merayap tanpa mempergunakan sepasang kakinya, di mana dia mengambil sikap seperti sikapnya seekor ular. Benar-benar merupakan kejadian yang sungguh mengherankan sekali....."
Si Giok yang tidak mengerti akan sifat-sifat burung, hanya menduga bahwa semua anak burung pertama-tama akan berjalan dengan cara merayap dan melata seperti itu.
Namun setelah dijelaskan oleh Hok An, dia jadi terkejut, tanyanya.
"Lalu jika dia telah besar, apakah anak burung ini akan dapat terbang?"
"Tentu dapat, bukankah walaupun bagaimana dia memiliki sepasang sayap yang bisa dipergunakan buat terbang!?"
Waktu itu anak burung tersebut. yang bulu-bulunya telah tumbuh semakin banyak dan berwarna putih bagaikan salju merayap dekat si Giok kemudian tidur di pangkuan gadis cilik itu.
"Lihatlah anak burung ini, sejak lahirnya selalu kau dampingi, sehingga dia jadi demikian jinak padamu.....!"
Kata Hok An tersenyum.
"Jadi jika burung ini telah besar dia akan menuruti perintahku, paman Hok?"
Tanya si Giok Hok An mengganggukkan kepalanya.
"Akan tetapi engkau harus mendidiknya, nanti aku akan mengajari padamu, bagaimana caranya buat mendidik burung tersebut!"
Si Giok mengiyakan dan mengucapkan terima kasih.
Memang anak burung ini jinak sekali pada si Giok.
Dan yang satunya seekor anak burung, sedangkan yang lainnya seorang anak manusia, mereka bergaul intim sekali, dengan perkembangan anak rajawali itu pesat sekali.
Satu keanehan lagi buat anak burung rajawali itu, karena jika anak burung rajawali lainmya hanya memakan sari makanan yang dimakan induknya, kemudian baru diberikan kepadanya, yang umumnya terdiri dari ulat-ulat kecil atau binatang-binatang kecil lainnya.
Justeru anak burung rajawali yang berada dalam asuhan ular raksasa tersebut, memiliki keistimewaan sejak baru ditetaskan.
Dia telah makan sari daging yang banyak jumlahnya, sehingga tenaga anak burung rajawali itu sangat kuat, pertumbuhan tulang-tulang tubuhnya juga kokoh sekali, dan cepat tumbuh menjadi besar.
Untuk mengisi waktu senggangnya, Hok An menganjurkan pada si Giok agar mau melatih ginkang dan sekedar ilmu silat, agar gadis cilik ini memiliki ilmu meringankan tubuh yang bisa dipergunakannya buat berlari di pegunungan tersebut, juga disamping itu ilmu silat yang dilatih gadis kecil itu hanya buat menjaga diri dari makhluk-makhluk liar di dalam hutan yang terdapat banyak sekali di pegunungan itu.
Karena memang tidak memiliki pekerjaan lainnya, si Giok telah melatih diri dengan tekun, cepat sekali dia memperoleh kemajuan.
Dengan demikian, jika sekarang si Giok pergi ke tempat bagian lain dari puncak gunung tersebut, tidak mendatangkan kekuatiran buat Hok An.
Tanpa terasa telah lima bulan berlalu, di mana Hok An bersama si Giok berada di puncak gunung Hoa-san sebelah barat.
Anak burung rajawali tersebut juga telah tumbuh semakin besar, bulu-bulu di sekujur tubuhnya tumbuh lebat sekali dan tebal, disamping itu juga bulunya itu putih seperti salju, indah sekali, sehingga tampak burung rajawali itu gagah bukan main.
Terlebih lagi memang tubuhnya memiliki pertumbuhan yang kokoh sekali.
Anak burung rajawali itu memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan anak burung rajawali biasa.
Dia bisa menggerakkan tubuhnya segesit seekor ular yang melata di atas tanah, dia bisa bergerak bagaikan tengah bertempur dengan cepat sekali, di samping itu, diapun bisa terbang di tengah udara.
Waktu pertama kali anak burung rajawali ini belajar terbang sikapnya agak kaku dan belum bisa terbang tinggi.
Namun setelah lewat satu bulan, dia bisa terbang dengan gesit sekali, tubuhnya itu bagaikan meteor yang terbang melesat ke sana ke mari dengan lincah.
Si Giok yang sering mengajak bermain anak burung rajawali itu di luar goa, jadi sangat girang.
Malah tanpa disadarinya, dia jadi ikut mempelajari gerakan-gerakan dari anak burung rajawali itu, karena dia seringkali berlari-lari di antara jurang-jurang di puncak gunung itu bersama anak burung rajawali tersebut.
Dengan demikian tampak kemajuan yang diperoleh si Giok pun pesat sekali, dia bisa berlari lincah, hanya bedanya si Giok tidak bisa terbang seperti anak burung rajawali itu.
Hok An yang melihat kemajuan yang dicapai si Giok dan melihat gerakan tubuh gadis itu jika tengah berlari seperti gerakan seekor ular, karena tanpa sesadarnya si Giok ikut mempelajari gerak-gerik anak burung rajawali itu yang sering melata dengan perutnya seperti gerakan seekor ular.
Hubungan anak burung rajawali itu dengan ular raksasa tersebut juga intim sekali, di mana setiap kali berada dalam goa, selalu anak burung rajawali itu berada dalam lindungan perut ular itu.
Hok An jadi memiliki pekerjaan tetap, di mana dialah yang bertugas mencarikan makanan buat ular raksasa dan anak burung rajawali itu.
Setiap harinya sedikitnya dia harus memperoleh seekor kambing hutan atau lima ekor kelinci hutan.
Dan anak burung rajawali itu memakan "bubur daging"
Hasil olahan perut ular raksasa itu, yang selalu memuntahkan sebagian buat "anak"nya itu.
Memang menakjubkan sekali pertumbuhan anak rajawali itu.
Dalam waktu yang hampir satu tahun, tubuh anak rajawali itu setinggi satu meter setengah, dengan lebar sayap hampir empat meter.
Dia sudah dapat terbang tinggi sekali, tenaganya sangat kuat.
Tidak jarang anak rajawali tersebut telah membawa si Giok terbang mengelilingi sekitar puncak Hoa-san.
Bahkan tidak jarang, Hok An pun ikut duduk bersama si Giok di punggungnya, anak rajawali itu tetap saja dapat membawa terbang dengan mudah.
Hanya satu yang merupakan hasil yang diperoleh Hok An buat jerih payahnya selama ini, yaitu anak burung rajawali yang mulai membesar itu, telah menurut dan jinak sekali terhadap semua perintah si Giok.
Terlebih lagi memang sejak baru ditetasi anak burung rajawali itu telah bergaul dan bermain-main dengan si Giok, sehingga dia bisa mengerti semua keinginan si Giok.
Sedangkan si Giok juga menganggap anak burung rajawali itu sebagai kawan terdekatnya.
Hidup di puncak gunung tanpa kawan dan manusia lainnya, hanya didampingi Hok An benar-benar membuat si Giok memperoleh kegembiraan karena memperoleh kawan bermain seperti anak burung rajawali itu.
Dan juga di samping itu anak rajawali yang bisa mengajaki terbang berkeliling itu membuatnya jadi girang bukan main, karena dia bisa mengajaknya buat pergi ke tempat yang indah-indah, yang mungkin sulit sekali buat dicapai oleh manusia biasa.
Boleh dibilang seluruh keadaan di puncak gunung Hoa-san telah didatangi si Giok bersama burung rajawali putih itu.
Si Giok juga telah memberikan sebuah nama kepada anak burung rajawali itu, Tiauw-jie (Anak Rajawali), sehingga jika setiap kali dia memanggil.
"Tiauw-jie!"
Maka anak burung rajawali itu akan segera datang dan hinggap di sampingnya.
Anak burung rajawali itupun tidak boleh tertinggalan si Giok.
Jika di pagi hari dia tidak melihat si Giok, segera dia yang menjemput si Giok ke goanya.
Terlebih lagi waktu suatu kali si Giok tengah sakit demam dan tidak keluar dari goanya, anak burung rajawali itu menunggui di mulut goa si Giok.
Karena mulut goa itu tidak terlalu besar, maka anak burung rajawali yang memiliki pertumbuhan tubuh tinggi besar itu, tidak bisa masuk.
Tiauw-jie hanya menangis saja, dengan air mata berlinang di matanya.
Hok An yang menyaksikan tingkah laku burung rajawali ini jadi terharu.
Segera dia memberitahukan kepada si Giok agar si gadis pergi keluar menemui Tiauw-jie, untuk memberitahukan padanya bahwa dia hanya sakit saja dan tidak akan mengalami hal yang tidak-tidak.
Akan tetapi anak burung rajawali itu tetap saja tidak mau kembali ke goa ular, dia tetap di depan goa si Giok dan menunggui di situ, sampai keesokan paginya, malam itu dia berdiam di muka goa tanpa bergeming sedikit juga.
Bukan main terharunya si Giok, dia pun semakin mencintai "sahabatnya"
Ini.
Begitulah, jalinan kasih sayang antara seorang anak manusia dengan seekor burung rajawali, telah terjadi jalinan kasih sayang sebagai sahabat-sahabat sejati di antara ke dua makluk itu.
Hok An yang menyaksikan tingkah laku Tiauw-jie dan si Giok, pun jadi ikut terharu, Dia melihat antara manusia dengan binatang bisa timbul kasih sayang sebagai sahabat-sahabat sejati, akan tetapi justeru di dalam lingkungan manusia khususnya, antara manusia dengan manusia disebabkan harta dan benda permata, bisa saling bunuh!
Di tempat inilah, di puncak gunung Hoa-san sebelah barat dalam usianya yang mulai tua itu, Hok An berhasil menyaksikan pemandangan dari sucinya hubungan persahabatan sejati!
Pagi itu, si Giok tengah bermain-main dengan Tiauw-jie di mulut goa ular raksasa tersebut.
Waktu itulah si Giok mendengar ular raksasa itu mendesis-desis.
Karena sudah terlalu lama berdiam di goa itu, maka si Giok mengerti apa maksud dari sikap ular itu, yaitu memanggilnya bersama dengan Tiauw-jie.
Tiauw-jie pun yang mengerti apa maksud panggilan "ibu"
Nya tersebut, segera masuk ke dalam ruangan goa itu, di mana ular raksasa itu berada.
Si Giok juga ikut masuk.
Ular raksasa itu mengulurkan kepalanya, dia menyelusupnyelusup ke tubuh Tiauw-jie, dengan penuh kasih sayang, seperti juga seorang ibu yang tengah membelai mesra dan penuh kasih sayang pada anaknya.
Sedangkan Tiauw-jie juga menyelusupkan kepalanya di antara tubuh "ibu"nya tersebut.
Setelah membelai-belai Tiauw-jie beberapa saat, di mana si Giok hanya mengawasi dengan perasaan mengiri, karena dia segera teringat kepada keadaan dirinya, yang yatim piatu, tidak memiliki ayah dan ibu lagi, yang telah meninggal semuanya.
Hal ini membuat si Giok jadi memandang tertegun saja, dan diapun haus akan belaian kasih sayang seorang ibu.
Tiba-tiba kepala ular itu terjulurkan, melesat dan melilit tubuh si Giok.
Bukan main kagetnya si Giok.
Belum lagi dia mengetahui apa yang terjadi, tubuhnya telah tertarik maju diseret oleh ular itu.
Tetap saja lilitan ular tersebut tidak terlepas, walaupun si gadis meronta cukup kuat.
Dalam keadaan demikian si Giok jadi merasa ngeri dan takut melihat kepala ular itu berada di depan matanya, di mana dia melihat kulit yang bersisik dan berlendir.
Belum pernah ular itu memperlihatkan sikap sedemikian luar biasa, melilit tubuh si Giok.
Disamping itu juga keadaan ular itu benarbenar lain dari biasanya.
Matanya begitu tajam mengawasi si Giok, yang berada dekat sekali dengannya, dalam lilitannya.
Seketika si Giok sebagai manusia, dapat berpikir, mungkin juga ular ini tengah lapar dan hendak memakannya.
Rasa takutnya jadi semakin menjadi-jadi, dia segera berteriak sekuat suaranya memanggil Hok An, yang waktu itu tengah berada di goa mereka.
Tiauw-jie pun kaget melihat sikap ibunya seperti itu, dia sampai maju dan memandang dengan sikap terheran-heran.
Akhirnya dia telah menundukkan kepalanya, dari matanya menitik butir-butir air mata yang bening.
Melihat Tiauw-jie menangis, ular raksasa tersebut segera mendesis-desis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Rupanya dia tengah berusaha menjelaskan kepada Tiauw-jie, bahwa dia tidak bermaksud jahat kepada si Giok.
Sebagai makhluk yang sejak ditetasi selalu menerima limpahan kasih sayang ular itu, Tiauw-jie seperti mengerti apa yang dimaksudkan ular itu, dia segera mengibaskan sepasang sayapnya.
Lenyap sikap dukanya kemudian keluar dan terbang mengeluarkan suara pekiknya yang nyaring, seperti seorang anak yang tengah kegirangan.
Si Giok yang mendengar suara pekik anak burung rajawali tersebut justeru jadi tambah ketakutan, karena dia menduga bahwa ular raksasa itu benar-benar bermaksud hendak mencelakainya.
Hok An sendiri yang tengah terlelap tidur di dalam goanya, terbangun kaget mendengar suara pekik Tiauw-jie yang begitu berisik.
Segera Hok An keluar dari goanya, sehingga ia melihat Tiauw-jie tengah terbang sambil mengibas-ngibaskan sayapnya itu kuat-kuat, dan terus memekik tidak hentinya.
Hok An seketika tercekat hatinya, dia menduga Tiauw-jie tengah memberitahukan padanya bahwa si Giok tengah menghadapi bahaya.
"Apa yang terjadi, Tiauw-jie?!"
Teriak Hok An.
"Di mana si Giok?" Burung itu mendengar dipanggil Hok An, segera terbang mendekati, dengan tetap memekik, sayap kanannya telah menunjuk ke arah goa ular. Cepat-cepat Hok An berlari ke arah goa ular itu, dia diliputi kekuatiran yang luar biasa. Ketika sampai di goa itu, Hok An segera menerobos masuk ke dalam. Untuk kagetnya ia segera menyaksikan pemandangan yang membuat hatinya seperti copot terlepas dan jantungnya seakan-akan berhenti berdetak.
"Giok.....!"
Serunya dengan suara yang serak Ternyata si Giok masih berada dalam lilitan ular itu, dan tengah menangis.
Hok An segera dapat menguasai goncangan hatinya, dia bersiapsiap hendak menolongi si gadis.
Tetapi tentu saja Hok An tidak bisa bergerak sembarangan, si Giok tengah berada dalam lilitan ular itu.
Sekali saja ular raksasa itu mengencangkan lilitannya, niscaya seluruh tubuh dan tulang-tulang di badan si gadis akan remuk dan menemui kematiannya.
Bingung sekali Hok An sampai dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, dia hanya bilang.
"Jangan kau lukai Giok...... bukankah kami telah banyak membantu kalian.....?!"
Ular itu mendesis, kepalanya digerak-gerakkan seperti menggeleng.
Dia bagaikan ingin mengatakan bahwa dia tidak bermaksud jahat pada si Giok.
Malah kemudian kepalanya ditundukkannya menempel pada tanah di dalam goa itu.
Hok An yang tidak mengerti apa yang di maksudkan ular itu, memandang dengan hati berdebar.
Dia telah nekad, walaupun bagaimana dan harus menempuh bahaya, dia akan menolongi si Giok dari lilitan ular raksasa itu.
Yang terpenting sekarang bagaimana meloloskan si gadis dari lilitan ular tersebut.
Sedangkan ular raksasa itu setelah menundukkan kepalanya sampai menempel pada tanah di dasar goa tersebut, segera menjulurkan lidahnya dia seperti tengah mengeluarkan tenaganya, dan terdengar suara "krookkk, krookk!"
Dari lehernya.
Kemudian di lidahnya itu tampak meluncur sebuah benda merah, yang berkilauan, sinarnya terang benderang.
Benda merah itu sebesar buah tho, berwarna merah darah, dan jatuh di ujung lidah ular raksasa itu.
Ular itu mendesis lagi, kemudian melepaskan lilitannya pada si Giok, kepalanya telah menjulur berulang kali kepada benda merah itu seperti juga ingin mengatakan bahwa benda merah itu diberikan kepada si gadis dan agar si Giok memakannya!
Hok An yang melihat benda bulat merah yang berkilauan itu, segera tersadar.
Rupanya ular raksasa itu memang tidak bermaksud hendak meneelakai si Giok, dia ingin menghadiahkan si Giok sebuah mustika ular yang langka sekali, sebuah benda mustika yang selalu terdapat pada langit-langit ular raksasa.
Dan benda mustika itu jika bisa diperoleh seorang manusia dan memakannya, maka hebatlah daya tahan tubuh manusia itu, di samping dia akan memiliki hawa murni yang hebat tanpa latihan lagi!
Hok An cepat-cepat merangkapkan sepasang tangannya, seperti juga ingin menyatakan penyesalannya dengan memberi hormat kepada ular itu.
Si Giok yang telah dilepas dari lilitan ular tersebut, menangis dan menubruk memeluk Hok An.
"Jangan menangis Giok..... Ular raksasa itu tidak bermaksud jahat padamu, dia ingin menghadiahkan benda mustika itu padamu!" Setelah berkata begitu, Hok An membawa gerakan tangannya menunjuk kepada si Giok dan kemudian kepada benda mustika bulat merah itu. Ular itu mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali. Segera juga Hok An yakin bahwa ular itu memang benar-benar hendak menghadiahkan benda mustika tersebut kepada si Giok. Segera juga Hok An maju ke depan untuk mengulurkan tangannya mengambil benda bulat merah kemilau itu. Namun, tiba-tiba kepala ular itu menyambar ke arah tangan Hok An. Gerakannya begitu cepat, telah menyampok lengan Hok An. Hok An yang tidak menyangka tangannya akan dibentur seperti itu, disamping kesakitan juga kaget bukan main, sampai dia melompat mundur. Di saat itulah timbul prasangka buruk lagi pada ular raksasa tersebut. Sedangkan ular raksasa itu telah menggerak-gerakan kepalanya seperti menunjuk pada si Giok. Seketika Hok An baru tersadar bahwa ular raksasa itu tidak mengijinkan dia mengambil benda mustika tersebut. Siapapun tidak diijinkannya mengambil benda mustika itu dan dia hanya mengijinkan si Giok yang mengambil sendiri benda mustika itu. Hok An juga menyadari akan hal itu, karena dia tersadar dengan cepat. Kalau dia mengulangi lagi perbuatannya yang coba-coba mewakili Si Giok mengambil mustika tersebut tentu ular raksasa itu akan menyerangnya, maka Hok An menoleh kepada si gadis, katanya.
"Giok pergilah kau mengambil benda mustika itu...... ular itu memberikan dan menghadiahkan kepadamu, maka engkau yang harus mengambilnya..... Benda mustika itu besar faedahnya buatmu..... pergilah kau mengambilnya!"
Si Giok masih takut-takut, dia tidak segera melaksanakan perintah paman Hok nya tersebut. Malah gadis cilik ini kemudian menangis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jangan takut, dia tidak akan melibat kau lagi!"
Kata Hok An yang segera menghiburnya.
Gadis cilik itu karena mengalami kekagetan yang hebat tadi di mana tubuhnya dililit ular itu, sekarang jadi takut dekat-dekat dengan ular raksasa tersebut.
Dia kuatir dirinya dililit lagi dan tidak akan dilepaskan pula oleh ular raksasa tersebut.
Waktu itu Tiauw-jie telah terbang kembali masuk ke dalam goa.
Ular raksasa itu mendesis-desis, dan Tiauw-jie seperti mengerti keinginan ular itu, dia mendekati si Giok, dan mendorong-dorong tubuh si gadis dengan tubuhnya.
Akhirnya setelah Hok An memaksa agar dia mengambil lagi benda mustika itu, barulah si Giok menghampiri benda mustika itu dan mengambilnya.
Ular raksasa itu telah mengangguk-anggukkan kepalanya, tampaknya dia puas, sampai akhirnya dia juga telah menundukkan kepalanya sampai berada di dasar tanah goa tersebut, dan tidak bergerak lagi.
Hok An melihat kelakuan ular tersebut, segera menghampiri lebih dekat buat melihat apa yang akan dilakukan oleh alar raksasa itu.
Tiauw-jie juga terbang menghampiri, melihat keadaan "ibunya"
Seperti itu, mendadak Tiauw-jie mengeluarkan pekikkan berulang kali.
Suara pekikkannya itu mengandung nada kedukaan yang bukan main.
Hok An yang telah memeriksa keadaan ular raksasa tersebut, pun jadi kaget tidak terkira, karena segera dia memperoleh kenyataan ular itu telah mati!
Si Giok yang diberitahukan hal itu oleh Hok An, jadi menitikkan air mata juga.
Rupanya tadi ular itu melilit dirinya memang sama sekali tidak bermaksud mencelakainya, justeru ular itu menyayanginya dan telah menghadiahkan mustika di dalam mulutnya itu!
Hok An sendiri sampai menitikkan air mata, dan akhirnya bilang kepada si Giok.
"Benda mustika itu tidak satu juta orang dalam seribu tahun bisa memperolehnya, maka engkau merupakan satusatunya orang di dunia ini yang sangat beruntung! Kau telanlah! Tetapi ingat, kau tidak boleh menggigitnya, jangan sampai benda mustika itu pecah! Kau harus menelannya bulat-bulat!"
Si Giok membuka matanya lebar-lebar kemudian katanya.
"Mana..... mana bisa!"
Tampaknya dia jijik sekali.
"Kau sesungguhnya beruntung sekali Giok, karena itu janganlah kau sia-siakan keberuntungan ini! Telanlah!"
Menganjurkan Hok An.
Dengan terpaksa dan sambil memejamkan matanya si Giok akhirnya memasukkan benda mustika itu.
Sejak dipegangnya tadi, benda mustika itu hangat sekali, dan demikian juga waktu dia memasukkan ke dalam mulutnya, hawa hangat itu masih dapat dirasakannya.
Malah yang membuat si Giok terheran-heran, jika sebelumnya dia menduga benda mustika itu berbau amis dan memuakkan, justru dugaannya itu meleset, karena begitu benda itu masuk ke dalam mulutnya, dia merasa hangat nyaman dan benda tersebut harum sekali.
Dia sendiri tidak mengetahui entah harumnya benda itu harum sejenis buah apa.
Dia berusaha menelannya benda mustika tersebut.
Gagal!
Karena bentuknya yang cukup besar, maka si Giok tidak bisa menelannya.
Dia telah menggelengkan kepalanya sambil memandang kepada Hok An, kemudian dengan memejamkan matanya, dia berusaha menelannya lagi benda mustika itu.
Waktu itu Hok An mengawasinya dengan hati berdebar-debar.
Sebagai seorang yang berpengalaman, memang Hok An pernah mendengar cerita perihal benda mustika ular raksasa, yang biasa disebut mustika ular naga.
Jika menelan benda tersebut, maka mustika itu tidak boleh sampai pecah, harus ditelan bulat-bulat sehingga mustika itu akan memberikan kemujijatan tenaga yang luar biasa pada orang yang bersangkutan.
Sedangkan mati atau hidupnya seekor ular, tergantung pada mustika itu.
Jika memang mustika itu masih berada di dalam mulutnya, maka ular itu akan tetap hidup, walaupun usianya telah tua benar.
Dan sekali saja benda mustika itu dikeluarkan atau hilang dari dalam mulutnya, maka selanjutnya ular itu akan kehilangan kekuatannya dan akan mati!
Karena itu, ular raksasa itu sendiri, setelah mengeluarkan benda mustika tersebut, dia hanya bisa bertahan tidak lama, di mana dia hanya dapat menantikan sampai si Giok yang mengambil sendiri benda mustika itu, kemudian diapun mati!
Jika saja benda mustika itu ditelan dalam keadaan pecah, walaupun masih ada khasiatnya, tokh tetap saja hal ini tidak sehebat apa yang bisa diperoleh jika benda mustika tersebut dalam keadaan utuh dan bulat.
Karena itu Hok An sekarang jadi tegang sendirinya waktu melihat si Giok begitu bersusah payah buat menelan bulat-bulat benda mustika itu.
Akhirnya si Giok telah mendelik-delik, karena benda mustika tersebut telah berada di tengah-tengah tenggorokannya, masuk tidak keluar pun tidak.
Melihat kelakuan gadis cilik ini, Hok An jadi tambah bingung dan gugup, dia kuatir kalau-kalau benda mustika itu akan pecah, sehingga khasiatnya berkurang.
Segera juga dia mendekati dan mengusap-usap leher gadis cilik itu perlahan-lahan.
Akhirnya si Giok dapat bernapas lega, benda bulat itu dirasakannya meluncur perlahan-lahan masuk lebih dalam dan akhirnya ke dadanya dan kemudian juga ke perutnya.
Sampai di perutnya, benda itu diam tidak bergerak lagi.
Waktu benda itu bergerak turun, si Giok dapat merasakannya, karena benda bulat itu mengeluarkan hawa yang hangat.
Hok An juga menghela napas lega, karena dilihatnya si gadis cilik berhasil menelan benda mustika itu bulat-bulat.
"Selamat untukmu!"
Kata Hok An kemudian, yang disusul dengan suara tertawa bergelak-gelak.
Si Giok jadi heran melihat kelakuan paman Hok nya ini, demikian juga dengan anak rajawali itu.
di mana Tiauw-jie memandang diam saja tidak mengerti, karena diapun tengah berduka atas kematian "ibunya".
Setelah puas tertawa, barulah Hok An memberikan keterangan kepada si Giok, bahwa sesungguhnya dia merasa gembira sebab si Giok telah berhasil menelan benda mustika itu, di mana dia akan menjadi seorang wanita yang luar biasa.
Dengan adanya bantuan benda mustika itu niscaya selanjutnya si Giok lebih mudah jika ingin mempelajari ilmu silat.
Juga terutama sekali, jika saja si Giok memperoleh satu-dua petunjuk buat mengendalikan hawa murni tubuhnya, dia akan segera memiliki hawa murni yang hebat.
Sekarang walaupun Si Giok belum bisa mempergunakannya, tetapi sebenarnya dia telah memiliki hawa murni yang hebat sekali yang mungkin tidak akan kalah dibandingkan dengan latihan duapuluh tahun!
Hanya saja, karena si Giok tidak mengerti ilmu silat dan tidak memiliki latihan lweekang, hawa murni tersebut tidak bisa dipergunakannya.
Sedikitnya satu-dua tahun ia harus melatih diri atas petunjuk dari seorang berkepandaian tinggi, barulah ia akan bisa mengendalikan dan menyalurkan kekuatan dan kemujijatan benda mustika itu.
Pertama-tama yang harus dilakukannya adalah berusaha membuka jalan-jalan darah terpenting di tubuhnya, seperti Mekong-hiat, Cie-tay-hiat, Lu-cian-hiat, dan beberapa jalan darah pokok lainnya.
Tetapi dengan ditelannya permata mujijat ular raksasa itu oleh Si Giok, berarti memang dia memiliki kesempatan buat menjadi seorang pendekar wanita yang kelak memiliki kepandaian tinggi.
Hanya masalah waktu juga yang menentukannya.
Hok An memutuskan untuk mengubur ular raksasa itu di dalam goa, yaitu dengan cara membiarkan bangkai ular itu di dalam goa tersebut, lalu menutup pintu goa itu.
Dengan demikian sama saja ular raksasa tersebut dikubur di dalam goanya sendiri.
Waktu ingin mengajak si Giok buat meninggalkan goa itu, tiba-tiba Hok An melihat inti es di kepala ular raksasa tersebut, yang masih bersinar terang, sehingga walaupun ular itu telah mati, keadaan di dalam goa itu tetap saja terang benderang.
Hati Hok An tergerak, segera dia menghampirinya mengambil inti es itu.
Ternyata inti es itu sebesar kepalan tangan, sangat dingin sekali.
Diberikan kepada si Giok.
"Kantongilah..... ambillah olehmu!"
Kata Hok An kemudian. "Untuk apa, paman Hok?!"
Tanya si Giok yang kuatir kalau-kalau nanti inti es itu disuruh untuk ditelannya juga seperti halnya batu permata mujijat merah itu.
"Buat main-main..... tidak ruginya engkau memiliki inti es mujijat itu!"
Menjelaskan Hok An.
Mendengar keterangan Hok An itu, barulah si Giok lebih tenang, dia mengantongi batu inti es tersebut, kemudian mengajak Tiauwjie keluar dari goa ular.
Hok An bekerja cepat, dia telah mempergunakan batu-batu gunung, barulah dia bisa menutup pintu goa tersebut.
Begitulah, pada hari-hari selanjutnya Tiauw-jie bermain-main dengan si Giok, karena sejak kematian "ibu"
Nya, Tiauw-jie lebih sering bermurung diri, di mana anak rajawali tersebut telah banyak termenung berdiri terpekur, tidak ada kegembiraan buat terbang ke sana ke mari seperti hari-hari sebelumnya.
Si Giok yang melihat kemurungan sahabatnya ini, berusaha menghiburnya dengan mengajak Tiauw-jie bermain-main.
Setelah lewat seminggu, maka kesedihan Tiauw-jie berkurang.
Dan Tiauwjie mulai riang kembali bermain dengan si Giok.
Sedangkan Hok An pun telah perintahkan si Giok agar setiap malam mulai mengatur jalan pernapasannya.
Si Giok ternyata adalah seorang gadis cilik yang memiliki otak sangat cerdas, karena dia dapat dengan segera melakukannya dengan baik, walaupun perlahan, akan tetapi pasti dia memperoleh kemajuan.
Hanya saja yang seringkali membuat si Giok merasa terganggu, acapkali melatih hawa murninya, dia merasakan batu mujijat ular raksasa yang telah berada di dalam perutnya itu, seperti bola api saja yang menggeleser ke sana ke mari, mendatangkan perasaan yang terkadang-kadang sangat sakit.
"Jangan kuatir, itu bukan apa-apa, hanya merupakan pencarian bagi batu mujijat itu untuk memperoleh tempat yang sebaikbaiknya di dalam tubuhmu, guna dapat menempatkan dirinya secara tetap! Karena engkau memang tidak mengerti latihan lweekang, maka dari itu engkau belum bisa mengendalikannya.
"Jika nanti latihan lweekangmu telah memadai dan engkau dapat mengendalikannya, batu mujijat yang berada di dalam perutmu itu akan dapat kau kendalikan dan menempatkannya di Tay tian-hiat mu, di dekat pusar. Dengan begitu, berhasillah selanjutnya engkau memiliki kekuatan tenaga dalam yang hebat menakjubkan!" Menjelaskan Hok An ketika si Giok menyatakan kekuatirannya bahwa batu mujijat yang berada di dalam perutnya bisa menimbulkan akibat dan hal yang tidak-tidak. Si Giok pun agak tenang, walaupun dia masih saja, setiap kali melatih tenaga dalamnya merasakan batu mujijat itu bergerakgerak di dalam perutnya. Dengan begitu, si Giok juga memperoleh perasaan hangat yang seringkali menguatirkan. Karena tidak jarang dia merasakan telapak tangannya panas sekali, atau juga kakinya yang seringkali menginjak tanah sampai melesak. Si Giok sendiri heran, entah dari mana datangnya tenaga menginjak yang kuat seperti itu. Cuma saja, yang membuat dia heran, jika dia mengulangi lagi, dia tidak berhasil, dan kekuatan mujijat membuat telapak kakinya kuat menginjak permukaan bumi melesak, hanya muncul sekali-sekali saja. Begitulah, dengan rajin Hok An telah melatih si Giok, agar gadis cilik ini berlatih diri terus. Tanpa mereka sadari, telah setengah tahun lagi mereka berdiam di dalam gua di tebing puncak gunung Hoa-san sebelah barat itu. Tiauw-jie memiliki tugas sendiri, yaitu dia yang selalu mencarikan kelinci ataupun kambing-kambing kecil, yang dibawa terbang setelah berhasil diburunya ke goa mereka, di mana Hok An yang akan menguliti dan memanggangnya. Kehidupan dan penghidupan seperti itu, akhirnya membosankan si Giok juga, dia menyatakan perasaannya pada Hok An, bahwa dia bosan dan tidak memiliki kegembiraan dengan kehidupan di goa puncak gunung ini, karena dia ingin melihat keramaian. Hok An setelah mempertahankan dua hari lamanya, akhirnya memutuskan buat mengajak si Giok meninggalkan tempat itu. Dan begitulah, setelah tiga hari lagi, merekapun meninggalkan goa di tebing gunung tersebut, dan juga Tiauw-jie diajak serta oleh mereka. Untuk meninggalkan goa itu, cukup mereka naik di punggung Tiauw-jie yang membawanya terbang. Maka cepat sekali mereka tiba di kaki gunung Hoa-san. Tiauw-jie sekarang sudah merupakan seekor rajawali putih yang besar dan gagah sekali, memiliki tenaga yang kuat luar biasa. Di samping tenaganya yang kuat, Tiauw-jie juga memiliki gaya gerak yang aneh sekali. Disamping bisa mengikuti gerakan seekor ular dengan segala macam sifat dan geraknya, juga Tiauw-jie yang selalu menyaksikan Hok An sering berlatih silat di pagi hari, bisa mencangkok beberapa gerakan Hok An tersebut, walaupun gerakan Hok An dicangkoknya itu hanya mempergunakan sepasang sayapnya. Waktu tiba di kaki gunung Hoa-san, Hok An telah mengajak si Giok dan Tiauw-jie buat pergi ke sebuah perkampungan yang berada tidak jauh dari tempat itu. Karena tidak leluasa membawa-bawa Tiauw-jie, maka Hok An perintahkan Tiauw-jie agar terbang di tengah udara. Sedangkan Hok An dan si Giok berjalan kaki. Perkampungan di kaki gunung merupakan perkampungan yang tidak begitu baik, karena umumnya penduduk di kampung itu memiliki mata pencarian sebagai pencari kayu. Mereka memasuki sebuah warung teh, dan minum sambil makan bak-pauw di situ. Hidup di pegunungan jauh dari masyarakat ramai, umumnya selama lebih dari satu tahun lebih, membuat si Giok merasa asing berada di perkampungan tersebut. Dia melihat gadis-gadis cilik sebayanya yang umumnya berpakaian baik-baik dan bersih, maka akhirnya si Giok meminta pada Hok An agar dia dibelikan pakaian baru. Hok An tertawa mendengar permintaan gadis cilik tersebut, yang memang telah dianggap sebagai puterinya. Dia mengajak si Giok ke tempat penjual pakaian, dan membeli beberapa perangkat pakaian yang cukup baik. Dengan gembira si Giok salin pakaian dan kini terlihat dia merupakan seorang gadis cilik yang manis dan rambutnya juga telah disanggul rapi sekali.
"Kau seperti ibumu!"
Memuji Hok An.
"Cantik dan manis! Karena itu, jika sejak sekarang engkau mempelajari ilmu silat, engkau tidak akan mengalami nasib seperti ibumu..... engkaupun bisa mengambil keputusan yang tegas jika menghadapi sesuatu persoalan, dengan demikian engkau tidak perlu terlalu menderita!"
Si Giok masih tidak mengerti apa maksud perkataan Hok An, hanya saja dia senang dipuji paman Hoknya tersebut.
"Giok!"
Kata Hok An setelah berdiam sesaat, di waktu si Giok tengah mengagumi pakaiannya tersebut.
"Karena aku telah menganggap engkau seperti anak kandungku, maka aku ingin menghadiahkan nama padamu! Engkau mau menerimanya, bukan?!"
Si Giok memandang paman Hok nya, katanya.
"Nama apa paman Hok?!"
"Aku ingin menambahkan namamu menjadi Giok Hoa!"
Menjelaskan Hok An.
"Giok adalah batu kumala dan Hoa adalah bunga. Nama itu jadi memiliki arti yang luas. Engkau memiliki hati sekeras dan semurni batu kumala, suci dan agung seperti batu permata itu, namun kelembutanmu seperti harum dan indahnya bunga.....!"
Si Giok menepuk tangannya beberapa kali.
"Bagus! Bagus! Bagus paman Hok! Sekarang setelah memiliki pakaian baru, aku memiliki nama yang indah sekali!"
Kata si Giok kemudian.
"Nah, Giok Hoa, sekarang engkau berusia sembilan tahun, engkau telah semakin besar maka engkau harus rajin-rajin melatih tenaga dalammu itu seperti apa yang telah kuajarkan kepadamu. Kelak engkau akan menjadi seorang gadis yang agung, gagah dan lembut manis.....!"
Kata Hok An lagi. Giok atau Giok Hoa, telah mengiyakan dan mengucapkan terima kasihnya.
"Sekarang kita belum lagi berhasil mencari jejak dari Bin Lung Hie, maka jika kelak kita bisa menemukan jejaknya dalam dua atau tiga tahun mendatang, di waktu itu, engkaupun telah memiliki kepandaian juga. Aku hanya bantu menangkapnya dan akan kuserahkan kepadamu buat membalas sakit hati ke dua orang tuamu.....!"
Mendengar disinggung urusan Bin Lung Hie dan kedua orang tuanya, wajah Giok Hoa berobah murung, kemudian katanya.
"Paman Hok..... dulu aku memiliki prasangka buruk terhadapmu! Ternyata engkau seorang yang baik! Entah bagaimana aku bisa membalas budi kebaikanmu itu! Aku sungguh-sungguh sangat berterima kasih sekali.....!"
Hok An tersenyum, katanya dengan suara menyayangi pada gadis cilik ini.
"Kau tidak usah berkata begitu..... dulu aku pernah mencintai ibumu, tetapi kami tidak berjodoh, ibumu telah menikah dengan ayahmu! "
Waktu aku mengetahui kenyataan seperti itu, di mana ibumu sudah tidak mencintai aku, dan telah menjadi milik orang lain, maka akupun memutuskan tidak akan mengganggu ketenangan dan kebahagian ibumu.....
aku ingin membiarkan ibumu mengecap kebahagiaannya bersama ayahmu dan kau!"
Akan tetapi muncul Bin Lung Hie, yang menurut apa yang kudengar masih terhitung kakakmu itu, dialah yang telah menghancurkan rumah tanggamu.....
karenanya, jika memang kelak engkau berhasil menangkapnya, waktu itu kau harus mempertimbangkannya.
Walaupun memang engkau bersakit hati padanya disebabkan Bin Lung Hie merupakan sumber kehancuran rumah tanggamu, namun dia masih tetap kakak misanmu.....!"
Giok Hoa menunduk sedih, dia berdiam diri beberapa saat, sampai akhirnya dia mengangguk.
"Aku akan selalu ingat pesan paman Hok.....!"
Kata gadis cilik itu.
Banyak yang dibicarakan Hok An dengan Giok Hoa, dan akhirnya setelah cukup kenyang, merekapun meninggalkan warung teh tersebut.
Hok An mengajak Giok Hoa bermalam satu malaman di kampung itu, mereka menginap di sebuah rumah penginapan yang tidak begitu baik, namun cukupan buat mereka, karena dibandingkan dengan penghidupan mereka berada di dalam goa, kini berada di atas pembaringam yang hangat, benar-benar merupakan hal yang menyenangkan sekali.
Giok Hoa pun telah tertidur nyenyak.
Hok An malam itu tidak bisa tidur, dia mengawasi gadis cilik ini, dan hatinya merasa iba dan berkasihan, karena nasib gadis cilik ini yang malang dan buruk.
Waktu lewat kentongan ke dua barulah Hok An bisa memejamkan matanya untuk tidur.
Besok paginya mereka terbangun agak siang, karena tidur di atas pembaringan rupanya nyaman sekali.
Hok An mengajak Giok Hoa pergi ke pasar di kampung itu, untuk melihat keramaian.
Bukan main senangnya Giok Hoa yang telah dua tahun berdiam di puncak gunung yang sepi dan tidak ada keramaian apapun juga, sekarang bisa menyaksikan semua keramaian di kampung itu.
Akan tetapi yang membuat Hok An jadi berhati-hati, dia melihat di kampung ini, di dalam pasar tersebut, banyak sekali berkeliaran orang-orang Boan, yaitu tentara negeri.
Rupanya Kublai Khan, Kaisar yang telah berhasil menguasai daratan Tiongkok pada waktu itu dan tengah berkuasa, masih saja menyebarkan orangorangnya untuk mengadakan penjagaan secara tidak langsung.
Hok An berusaha mengelakkan bentrokan dengan orang-orang Boan itu, sehingga dia berjalan selalu dengan kepala tertunduk dan membiarkan Giok Hoa menikmati keramaian yang terdapat di kampung itu.
Pasar tersebut tidak besar, hanya meliputi tiga petak yang terbagi dengan pasar induk di sebelah barat, di sebelah selatan merupakan pasar buah, bunga dan alat-alat rumah tangga, sedangkan sebelah timur terdiri pasar daging.
Akhirnya Hok An mengajak Giok Hoa ke pasar sebelah selatan, untuk melihat-lihat bunga dan buah-buahan yang tampaknya ranum-ranum dan manis.
Malah Hok An telah membelikan buah tho buat Giok Hoa.
Waktu itu hati Hok An kurang tenteram, karena sebagai seorang yang berpengalaman dalam rimba persilatan, dia mengetahui ada tiga orang Boan yang berpakaian sipil memiliki tingkah mencurigakan sekali.
Ke tiga orang itu selalu menguntit Hok An berdua Giok Hoa, di mana ke tiga orang itu seperti juga memperhatikan sekali Hok An berdua.
Hok An telah mengajak Giok Hoa agar meninggalkan pasar tersebut.
"Mari kita kembali ke rumah penginapan saja, aku letih dan ingin beristirahat.....!"
Ajak Hok An.
"Tunggu dulu paman Hok.....!"
Kata Giok Hoa.
"Aku ingin melihat bunga-bunga bwee yang indah-indah itu.....!"
Terpaksa Hok An menemani Giok Hoa melihat-lihat bunga yang menarik itu, sedangkan sikap waspadanya tidak menurun, karena Hok An kuatir kalau-kalau ke tiga orang Boan itu menimbulkan keributan dengan mencari gara-gara padanya.
Benar saja apa yang dikuatirkan Hok An, ke tiga orang yang memiliki hidung mancung dengan mata yang kebiru-biruan, menunjukkan dia bukan orang Han, melainkan orang Boan, telah menghampiri Hok An.
Kemudian bergantian mereka mengawasi Hok An dan Giok Hoa.
Malah salah seorang di antara ke tiga orang itu telah menepuk perlahan pundak Hok An.
Jika Hok An ingin mengelakkan diri dari tepukan orang Boan itu, bisa saja dilakukannya dengan segera, akan tetapi hal itu pasti akan menimbulkan kecurigaan yang lebih besar pada mereka.
Itulah sebabnya Hok An akhirnya membiarkan pundaknya ditepuk orang Boan tersebut, dia hanya pura-pura memperlihatkan sikap terkejut dan menoleh.
Muka ke tiga orang Boan itu tampak tidak sedap dilihat, malah yang seorang di antara mereka segera menegur dengan dialek Han yang kaku.
"Kau orang Kay-pang?!"
Hok An memperlihatkan sikap terheran-heran dengan mementang sepasang matanya.
"Kay-pang? Apa itu Kay-pang?!"
Dia balik bertanya.
"Hemmm, engkau tidak perlu pura-pura, kami mengetahui engkau tentu anggota Kay-pang.....!"
Kata orang itu yang nada suaranya tetap saja bengis dan tidak enak didengar.
"Aku tidak mengerti apa maksud kalian!"
Kata Hok An.
"Kau harus ikut bersama kami.....!"
Kata ke tiga orang itu.
"Nanti setelah diperiksa dan engkau memang benar-benar bukan orang Kay-pang, kami akan membebaskan kau lagi!"
Setelah berkata begitu, orang itu menoleh memandang Giok Hoa, katanya lagi.
"Gadis cilik itu masih ada hubungan apa denganmu? Bawa saja sekalian ikut bersama kami!" "Ini.... mana boleh begitu?!"
Tanya Hok An yang menahan kemendongkolan hatinya.
"Jangan banyak rewel..... ayo ikut bersama kami!"
Perintah orang itu dengan suara yang bengis, sedangkan ke dua kawannya telah berdiri di sisi kiri kanan Hok An dan Giok Hoa.
Sebenarnya Hok An melihat, jika saja dia mempergunakan kepandaiannya buat menghantam rubuh ke tiga orang itu, dia bisa melakukannya dengan mudah, tapi niscaya akan timbul keributan.
Di kampung inipun orang-orang Boan bukan hanya mereka bertiga.
Karena itu, jika timbul keributan, orang-orang Boan itu akan mencari jejaknya, dan dia akan dicap sebagai pemberontak.
Maka Hok An akhirnya memutuskan untuk ikut bersama ke tiga orang itu, buat melihat apa yang ingin dilakukan mereka.
"Baiklah!"
Hok An mengangguk.
Salah seorang di antara ke tiga orang itu mendorong punggung Hok An.
Hampir saja Hok An tidak bisa menahan kemendongkolan hatinya dan ingin menghajar orang itu.
Namun akhirnya memikirkan keselamatan Giok Hoa, yang tentu akan terkejut jika saja terjadi keributan, akhirnya Hok An berdiam diri saja.
Dia hanya berjalan mengikuti orang-orang Boan itu dengan menuntun Giok Hoa.
Hok An diajak ke sebuah gedung yang cukup besar.
Dari kejauhan dia telah melihat di gedung itu berkumpul banyak sekali orangorang Boan.
Rupanya tentara Mongolia yang diperintahkan berkumpul di kampung itu, dengan dalih "menjaga ketertiban dan keamanan"
Buat kampung, di tempatkan di gedung tersebut.
Sesungguhnya apa yang dilakukan oleh orang-orang Boan itu adalah untuk mengejar anggota-anggota Kay-pang, yang sangat dibenci oleh Kaisar mereka, yaitu Kublai Khan, karena Kublai Khan beranggapan Kay-pang lah yang telah membunuh Koksu, guru negara, Tiat To Hoat-ong dan beberapa orang pahlawannya.
Itulah sebabnya Kublai Khan sangat memusuhi Kay-pang.
Dengan kasar Hok An didorong masuk ke dalam gedung itu.
Di dalam gedung terdapat banyak sekali orang-orang Boan.
Dua orang Boan yang bertubuh tinggi besar mengawasi bengis pada Hok An.
"Borgol dia!"
Kata yang seorang.
Sedangkan yang lainnya menarik tangan Giok Hoa.
Hok An kaget memperoleh perlakuan yang semakin kasar ini.
Waktu dia ingin diborgol tangannya, dia telah mengelak ke samping.
Kemudian bersamaan dengan itu kaki kanannya menendang orang Mongolia yang hendak menarik tangan Giok Hoa, membuat orang Boan itu terjungkal dan menjerit kesakitan.
Orang-orang Boan lainnya kaget, namun seketika mereka jadi gusar.
"Hemmm, benar-benar engkau pemberontak!"
Kata mereka hampir berbareng.
Malah tiga orang di antara mereka menubruk akan membekuk Hok An.
Akan tetapi mana bisa orang-orang Boan itu menghadapi Hok An?
Tidak mudah buat mereka menangkap Hok An, malah begitu mereka menubruk maju, justru di saat itu ke dua tangan Hok An digerakkan.
Ke tiga orang Boan itu seketika terpental terpelanting di lantai, gigi mereka masing-masing ada yang rontok dua atau tiga buah.
Mereka meringis kesakitan.
Tiba-tiba Hok An jadi terkejut, ketika dia merubuhkan ke tiga orang Boan tersebut, perhatiannya pada Giok Hoa terpecah.
Seorang Boan yang bertubuh tinggi tegap berewokan, tengah berdiri di pinggir Giok Hoa.
Tangan si gadis cilik dicekal kuat, tepat pada jalan darah kematian di pergelangan tangannya.
Hok An mengerti apa artinya semua itu.
Jika dia menerjang juga untuk menolongi Giok Hoa, niscaya orang Boan itu akan memijit jalan darah Giok Hoa, berarti gadis cilik itu akan mengalami kecelakaan.
Karenanya Hok An berdiri tertegun di tempatnya saja.
"Hemmm, borgol tangannya!"
Perintah lelaki berewok yang tinggi besar itu, dengan suara yang tawar. Matanya yang bersinar tajam memperlihatkan bahwa dia merupakan seorang yang memiliki kepandaian cukup tinggi.
"Kwee Tayjin.....!"
Kata salah seorang Boan itu.
"Dia pasti anggota Kay-pang yang tengah menyamar.....!" Orang berewok tersebut, yang dipanggil dengan sebutan Kwee Tayjin, hanya mengangguk saja. Seorang Boan lainnya maju dan memborgol ke dua tangan Hok An.
"Bawa ke sel dalam!"
Perintah orang yang dipanggil dengan sebutan Kwee Tayjin tersebut. Dua orang Boan mengiyakan, dengan kasar Hok An didorong agar jalan.
"Kalian..... oooh, kalian membabi buta dalam memusuhi Kay-pang! Aku sama sekali tidak memiliki sangkut paut apapun juga dengan Kay-pang!"
Berseru Hok An gusar.
Akan tetapi waktu Hok An berteriak seperti itu, salah seorang Boan yang menggiringnya, yang berada di sebelah kanan, menghantamkan tangan kanannya pada mulut Hok An, sehingga Hok An merasakan mulutnya pedas sakit.
Baru saja Hok An ingin memaki kalang kabutan, dia segera tersadar semua itu tidak ada gunanya.
Ke dua tangannya telah diborgol dan juga dirinya berada di bawah ancaman orang Boan berewok yang masih mencekal pergelangan tangan Giok Hoa.
Gadis cilik itu sendiri memandang Hok An ketakutan, hampir saja Giok Hoa menangis karena ketakutan.
Orang berewok itu tanpa mengatakan suatu apapun juga, dengan masih mencekal pergelangan tangan Giok Hoa telah menarik tangan gadis cilik itu untuk pergi ke ruangan dalam, ke tempat di mana Hok An dibawa oleh orang-orang Boan itu.
Di dalam ruangan tersebut telah berdiri belasan orang Boan, yang tampaknya mengerti ilmu silat dan tampang mereka rata-rata bengis.
Kwee Tayjin itu waktu melangkah masuk, telah disambut dengan sikap menghormat sekali.
Rupanya Kwee Tayjin ini seorang yang sangat disegani.
"Mari kita periksa orang ini!"
Kata Kwee Tayjin sambil menghampiri kursinya dan duduk di situ dengan wajah yang angker dan bengis.
Diapun lalu menoleh kepada salah seorang Boan di sampingnya, seorang laki-laki berusia empatpuluh tahun lebih yang memiliki wajah bengis.
"Borgol juga anak ini!"
Orang itu mengiyakan, dan segera mengeluarkan borgol untuk memborgol tangan Giok Hoa.
Gadis cilik itu berusaha meronta, namun dia mana bisa melawan tenaga orang tersebut, dengan mudah ke dua tangannya diborgol.
Karena bingung dan ketakutan Giok Hoa menangis sedih sekali.
"Jangan menangis Giok Hoa..... mereka salah paham dan menduga kita dari Kay-pang..... tetapi nanti mereka akan melepaskan kita dan meminta maaf atas kekeliruan mereka!"
Menghibur Hok An yang hatinya seperti ditusuk-tusuk melihat Giok Hoa menangis seperti itu.
Sesungguhnya kegusaran Hok An sudah meluap sampai di kepala.
Jika saja dia tidak memikirkan keselamatan Giok Hoa, niscaya dia sudah mengamuk.
Walaupun sepasang tangannya diborgol, akan tetapi dia akan mempertaruhkan jiwanya untuk menghantam belasan orang Boan itu.
Cuma saja, karena memikirkan keselamatan Giok Hoa juga, membuat Hok An mengalah sampai begitu jauh.
Kwee Tayjin itu tertawa dingin, dia seperti juga mengejek dan mentertawai hiburan Hok An pada Giok Hoa.
"Ya, kami akan segera meminta maaf, jika ternyata nanti engkau benar-benar bukan orang Kay-pang!"
Kata Kwee Tayjin itu.
"Nah, mari kita sekarang mulai buka kartu! Apakah engkau mau mengakui secara terus terang bahwa dirimu adalah anggota Kaypang yang tengah menyamar atau memang perlu kami yang mengorek sendiri pengakuan darimu?!"
Hok An memandang Kwee Tayjin itu dengan sorot mata tajam, kemudian katanya.
"Sesungguhnya, aku bukan orang Kay-pang. Sama sekali aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Kaypang. Aku tidak mengerti mengapa kalian bisa menuduh aku sebagai anggota Kay-pang! Dan jika tokh aku orang Kay-pang, ada urusan apakah sehingga kalian perlu menangkapi orang-orang Kay-pang?!"
"Kau bukan orang Kay-pang? Bagus! Nah, mulai!"
Kata Kwee Tayjin. Begitu perkataan "mulai!"
Diucapkan Kwee Tayjin, Hok An merasakan rambutnya dijambak dan kepalanya digentak ditengadahkan, sakit sekali.
Sebagai seorang yang memiliki kepandaian tinggi, Hok An hendak meronta memberikan perlawanan.
Namun belum keburu dia meronta, dia merasakan mulutnya dihantam benda keras.
Anakrawali 06.027.
"Bukkk!"
Sakit bukan main, giginya terasa rontok beberapa biji.
Rupanya, waktu rambutnya itu ditarik ke belakang sampai dia menengadah, maka berbareng dengan itu orang Boan yang lainnya mengayunkan sepotong besi yang cukup besar kepada mulutnya.
Waktu jambakan pada rambutnya itu dilepaskan, tidak heran mulut Hok An telah bengkak besar, darah juga telah mengalir keluar dari bibirnya yang pecah akibat hantaman besi itu.
"Kau bukan orang Kay-pang?!"
Tanya Kwee Tayjin itu dengan suara yang tawar.
Giok Hoa yang menyaksikan apa yang dialami paman Hok nya, jadi menjerit keras dan menangis sejadi-jadinya.
Akan tetapi sama sekali orang-orang Boan itu tidak memperhatikan Giok Hoa.
Saking marahnya, Hok An sampai merasakan dadanya seperti ingin meledak.
"Aku memang bukan orang Kay-pang kalian biadab..... kalian manusia-manusia berhati serigala.....!"
Teriak Hok An gusar.
Dia mengempos semangat dan tenaganya, berusaha untuk mematahkan borgolan ke dua tangannya, sambil kakinya juga menendang.
Namun orang-orang Boan yang berdiri di sisi kiri kanannya sudah mengetahui apa yang akan dilakukannya, mereka dapat menyingkir dengan cepat.
Malah salah seorang Boan lainnya di belakang Hok An telah menghantam dengan potongan besi lagi ke punggung Hok An.
"Bukkk!"
Hok An merasakan matanya jadi berkunang-kunang gelap, tubuhnya terjerembab ke depan. Orang-orang Boan itu bekerja sangat cepat sekali, karena mereka segera mengikat ke dua kaki Hok An.
"Sekarang kau ingin mengakui atau tidak bahwa engkau sesungguhnya anggota Kay-pang?!"
Kwee Tayjin berkata dengan suara yang tawar, bagaikan tidak terjadi suatu apapun juga.
Dia bertanya bagaikan penyiksaan terhadap diri Hok An tidak mempengaruhi perasaannya.
Hok An tidak bisa segera menyahuti, karena dia menggeliat menahan sakit yang luar biasa pada punggungnya, di mana dirasakan tulang punggungnya bagaikan hendak patah.
"Baik-baik, jika kau mengambil sikap menutup mulut, akupun bisa saja mengambil sikap membuka mulut.....!"
Kata Kwee Tayjin.
"Buka mulutnya.....!" Hok An tahu, itulah perintah untuk menyiksanya lagi. Akan tetapi dalam keadaan diborgol dan diikat ke dua kakinya seperti itu, Hok An hanya dapat gusar tanpa berdaya mengadakan perlawanan. Dia menyesal setengah mati, mengapa tadi dia membiarkan dirinya dibawa ke gedung ini dan diborgol seperti itu. Dua orang Boan telah maju, mereka menjambak rambut Hok An, kemudian kepala Hok An ditengadahkan. Salah seorang lainnya telah memegang sebatang obor, yang apinya menyala cukup besar.
"Kau mau buka mulut atau terpaksa kami yang akan membuka mulutmu?!"
Tanya Kwee Tayjin pula, suaranya begitu dingin tidak mengandung perasaan.
"Kalian..... manusia-manusia biadab! Kalian..... ohhh, sungguh kalian manusia-manusia biadab!"
Seru Hok An dengan suara mengguntur.
Waktu Hok An tengah memaki seperti itu, justeru orang Boan yang seorang tersebut telah menyodokkan obornya ke mulut Hok An, api itu segera menjilat langit-langit mulut Hok An, bibir dan sebagian mukanya.
Giok Hoa yang menyaksikan penyiksaan begitu hebat pada diri paman Hok nya, menjerit keras di antara isak tangisnya dan segera pingsan tidak sadarkan diri.
"Kami memang nanti akan meminta maaf kepadamu, jika terbukti engkau bukan orang Kay-pang!"
Kata Kwee Tayjin dengan suara yang tawar.
"Kamipun akan membebaskanmu! Maka engkau jangan berpikir buat menutup mulut rapat-rapat, karena hal itu hanya membuat engkau menderita sekali!"
"Aku memang sesungguhnya aku tidak memiliki hubungan apapun juga dengan Kay-pang. Bagaimana mungkin kalian bisa memaksa agar aku mengakui sebagai anggota Kay-pang? Atau kalian bisa saja menyelidiki dulu, apakah benar-benar aku orang Kay-pang?!"
"Hemmm.....!"
Tertawa Kwee Tayjin itu dengan sikap yang tawar, diapun telah berkata lagi.
"Jika memang engkau tetap menutup mulut, akupun tidak bisa berbuat lain, hanya membiarkan mereka dengan cara-cara mereka buat membuka mulutmu..... Laksanakanlah secepatnya!"
"Baik!"
Menyahuti beberapa orang Boan itu, bahkan salah seorang di antara mereka yang memegang potongan besi telah menghantam ke punggung Hok An lagi. "Bukkk! Bukkk!"
Dua kali besi itu menghantam punggung Hok An.
Jika tadi satu kali pukulan potongan besi pada tulang punggungnya membuat Hok An menderita kesakitan hebat karena tulang punggungnya itu seperti juga patah hancur.
Sekarang tulang punggungnya telah dihantam dua kali.
Dengan demikian, Hok An menjerit sekuat suaranya, dia merasakan pandangan matanya berkunang-kunang.
Akan tetapi orang-orang Boan itu bukan hanya menganiaya sampai di situ saja, waktu Hok An menjerit, justru mulutnya tengah terbuka, maka salah seorang Boan lainnya telah menghantam lagi mulut Hok An dengan sepotong besi, beberapa gigi Hok An hancur patah lagi.
Bukan main menderitanya Hok An, namun dia benar-benar dalam keadaan tidak berdaya, karenanya dia hanya dapat merasakan penderitaan tersebut tanpa dapat melawannya.
"Cukup!"
Kata Kwee Tayjin itu.
"Aku ingin memberikan kesempatan kepadamu buat mengakui bahwa sesungguhnya engkau anggota Kay-pang masih ada kesempatan!"
"Bagaimana mungkin aku bisa mengakui bahwa aku orang Kaypang, jika sebenarnya aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Kay-pang?!"
Teriak Hok An, suaranya lemah dan juga katakatanya itu diucapkan agak kabur, dikarenakan bibirnya yang telah bengkak besar dan berdarah karena luka yang tidak ringan itu.
"Hemmm..... jadi engkau tetap tidak bersedia mengakui dengan terus terang..... perlu dipaksa baru mengakui?!"
Tanya Kwee Tayjin.
Waktu bertanya seperti itu, suaranya sangat kejam sekali.
Hok An pikir, sudah tidak ada gunanya dia berdebat dan membantah, karena memang akhirnya tokh dia akan disiksa juga.
Hanya saja, hatinya sakit bukan main, di mana dia telah melihat Giok Hoa pingsan, dan dirinya dianiaya demikian hebat.
Waktu mendengar Hok An mengeluh perlahan, bagaikan merintih, Kwee Tayjin tertawa kecil mengejek.
"Semua itu belum apa-apa.....!"
Kata Kwee Tayjin kemudian.
"Belum..... belum apa-apa..... aku jamin, begitu aku perintahkan buat membuka mulutmu mengatakan yang sebenarnya, selanjutnya engkau tidak akan membandel seperti itu.....!"
Dan setelah berkata begitu, Kwee Tayjin menepuk mejanya cukup keras.
Dengan sinar mata yang tajam Hok An mengawasi Kwee Tayjin itu penuh kebencian, di mana waktu Kwee Tayjin itu menepuk mejanya, tampak seorang Boan telah menarik ke dua tangan Hok An yang terborgol itu.
"Mulai!"
Kata Kwee Tayjin itu.
"Dan jika dia belum juga ingin buka mulut, cabut ke sepuluh-sepuluhnya, tanpa disisakan.....!"
"Baik Tayjin.....!"
Kata orang-orang Boan itu.
Seorang di antara mereka memegang ke dua tangan Hok An, sedangkan yang seorang lagi dengan jepit besi, tahu-tahu telah mencabut kuku jari telunjuk Hok An, yang dicabutnya dengan digentakkan.
Bukan kepalang sakit yang diderita Hok An, dia sesungguhnya paling pantang menyerah pada kesulitan, dan tidak akan menyerah menjerit kesakitan.
Tetapi bisa dibayangkan, kuku tangan yang dicabut begitu mendadak sekali, mendatangkan sakit yang bukan main.
Darahpun telah mengucur dari jari telunjuknya itu.
"Satu!"
Kata Kwee Tayjin dengan suara yang agak nyaring.
Sedangkan orang Boan itu telah menggerakkan japitnya lagi, dia telah mencabut kuku jari tengah tangan kanan Hok An.
Kembali Hok An menjerit kesakitan sejadi-jadinya.
Kemudian waktu orang Boan itu mencabut kukunya yang ke tiga, Hok An sudah tidak merasakan kesakitan lagi, karena dia sudah merasakan kesakitan yang terlalu hebat, maka perasaan sakit berikutnya seperti tertindih dan tidak dirasakan terlalu hebat pula olehnya.
"Dua! Tiga! Empat!"
Berseru Kwee Tayjin setiap anak buahnya telah mencabut kuku jari tangan Hok An.
Setelah mencabut ke lima kuku jari tangan kanan Hok An, Kwee Tayjin itu mengangkat tangannya memberi isyarat agar tidak dilanjutkan penyiksaan tersebut.
"Apakah engkau ingin bicara terus terang.....?!"
Tanya Kwee Tayjin dengan suara yang tidak sebengis tadi.
Diam-diam dia kagum sekali melihat daya tahan Hok An, walaupun disiksa sehebat itu, masih tetap tidak pingsan.
Hok An menderita kesakitan yang hebat, pikirannya seperti telah melayang-layang.....
Dia juga mengeluh dengan suara yang dalam dan mengandung segala macam kegusaran, kebencian, kesakitan, yang semuanya bergolak di dalam hatinya.
Dia seorang yang memiliki kepandaian cukup tinggi, ternyata sekarang telah dapat disiksa begitu rupa oleh orang-orang Boan tersebut tanpa dia berdaya memberikan perlawanan.
Dan bukan main menyesalnya Hok An terhadap ketololannya yang tadi mau menyerah begitu saja untuk diborgol dan akhirnya sepasang kakinya telah diikat, dengan demikian dia dapat disiksa dengan mudah, tanpa dia berdaya mengadakan perlawanan.
Hanya demi keselamatan Giok Hoa pula, maka orang-orang Boan tersebut dapat menguasai dan menyiksanya.
"Aku..... aku akan bicara terus terang..... aku akan bicara terus terang....."
Kata Hok An akhirnya dengan suara yang susah payah, karena mulutnya bengkak, sulit untuk digerakkan.
"Bagus!"
Berseru Kwee Tayjin, karena dia menduga Hok An setelah disiksa hebat seperti itu, jadi jera dan sekarang bersedia untuk bicara terus terang. Lalu dengan sikap bersungguh-sungguh dia bertanya.
"Sekarang kau katakan! Benarkah engkau anggota Kaypang?!"
"Bukan!"
Menyahuti Hok An segera.
"Bukkk!"
Kwee Tayjin itu telah menepuk mejanya dengan keras.
"Bicara terus terang!" "Aku telah bicara terus terang, apa yang sebenarnya, bahwa aku bukan orang Kay-pang!"
Kata Hok An.
"Apakah engkau menyadari siksaan-siksaan yang jauh lebih hebat lagi tengah menanti dirimu jika engkau tidak bicara terus terang?!"
Tanya Kwee Tayjin dengan ancamannya.
"Aku..... aku tahu! Kau bunuhlah aku jika memang kalian menduga aku orang Kay-pang. Percuma saja! Jika kalian menyiksa aku terus menerus, dan memang sebenarnya aku bukan orang Kay-pang, tokh tetap saja aku bukan orang Kay-pang.....!"
Mendengar perkataan Hok An yang terakhir itu, muka Kwee Tayjin berobah memerah, sampai akhirnya dia bilang.
"Bagus! Bagus! Engkau seorang berkepala batu, dan akupun akan memperlihatkan kepadamu, bahwa aku tidak mudah begitu saja mempercayai perkataanmu.....!"
Setelah berkata begitu, segera juga dia perintahkan dengan isyaratnya kepada anak buahnya.
Begitu dia mengangkat tangannya, maka salah seorang Boan yang memegang obor telah maju ke dekat kaki Hok An, segera api obor itu dipergunakan buat membakar telapak kaki Hok An.
Seketika Hok An menjerit lagi.....
Yang dibakar obor itupun bukannya telapak kaki saja, kemudian naik ke pergelangan kaki, lalu ke tumit.....
naiknya begitu perlahanlahan.
Setiap kulit kaki yang terbakar api obor itu seketika menjadi melembung membesar bengkak dan kemudian hangus dengan air yang muncrat karena kulit dan daging yang terbakar.
Bau hangus daging terbakarpun tersiar di dalam ruangan itu.
"Cukup!"
Perintah Kwee Tayjin agar anak buahnya menghentikan penyiksaan tersebut.
"Sekarang kuulangi, apakah engkau mau bicara terus terang? Kuingatkan kepadamu, jika memang engkau telah menjalani penyiksaan lebih jauh, jika nanti engkau mengakuinya terus terang, tentu tubuhmu telah rusak! Terlebih baik-baik sekarang saja engkau mengakuinya!"
Hok An tetap menggeleng, dan dia setengah pingsan. Hanya saja mulutnya terus mengoceh.
"Bukan..... bukan Kay-pang..... bukan..... bukan..... bukan.....!"
Melihat sampai di situ, seketika Kwee Tayjin ini dapat mengambil kesimpulan bahwa Hok An memang benar-benar bukan orang Kay-pang.
Akan tetapi, dia masih penasaran, dia ingin mencoba cara lain.
Maka dia menoleh kepada orang Boan yang berdiri di samping kanannya, dia memberikan isyarat agar Giok Hoa dibawa ke dekatnya.
"Siram dengan air!"
Perintah Kwee Tayjin kemudian sambil memegang pergelangan tangan Giok Hoa.
Segera seorang Boan telah menyiram muka Hok An dengan segayung air dingin.
Dan Hok An yang sebelumnya dalam keadaan setengah pingsan, telah menjadi lebih segar.
"Kau lihat ke mari!"
Perintah Kwee Tayjin.
Dengan lemah Hok An mengangkat kepalanya, dia telah melihat dengan pandangan mata yang kabur.
Namun setelah melihat lebih lama lagi, dia segera dapat mengenali Giok Hoa tengah dicekal pergelangan tangannya oleh Kwee Tayjin itu, sedangkan Giok Hoa dalam keadaan pingsan tidak sadarkan diri.
"Gadis cilik ini masih pingsan, akan tetapi aku segera dapat menyadarkannya menjadi siuman. Aku ingin melihat, apakah engkau tetap akan menutup mulut jika apa yang tadi semua kau rasakan itu dipindahkan kepada gadis cilik ini.....
"Jika kau memang merasa kasihan pada gadis cilik ini, kau harus buka mulut berterus terang mengakui bahwa dirimu adalah orang Kay-pang. Jika memang engkau tidak merasa kasihan kepada gadis cilik ini, engkau boleh bungkam terus, tetapi semua yang tadi kau rasakan, akan dirasakan juga oleh gadis cilik ini!" Semangat Hok An seperti terbang meninggalkan raganya, dia gusar sampai sekujur tubuhnya gemetaran dan dadanya bagaikan hendak meledak.
"Kau..... kau.....!"
Dia berkata dengan suara tergagap.
Diwaktu itulah, entah dari mana datangnya semangatnya, dia telah mengempos seluruh kekuatan tenaga dalamnya, berusaha untuk memutuskan tambang yang mengikat ke dua kakinya.
Sedangkan Kwee Tayjin itu telah berkata dengan sikap mengejek.
"Sekarang aku memberikan kesempatan kepadamu buat berpikir dengan sebaik-baiknya. Aku akan menghitung sampai sepuluh, jika aku telah menghitung sampai sepuluh dan engkau masih tidak segera buka mulut mengakui terus terang siapa dirimu, maka gadis cilik ini akan segera merasakan apa yang tadi engkau rasakan.....!"
Hok An tetap berdiam diri saja, hanya matanya telah mencilak-cilak memandang sekelilingnya, dia seperti ingin melihat apa yang sekiranya bisa dilakukan buat menyelamatkan Giok Hoa.
Terancamnya keselamatan Giok Hoa justeru telah membangunkan semangat Hok An, dan seperti juga seseorang yang tengah terancam sesuatu, sehingga bisa muncul suatu kekuatan mujijat pada dirinya, membuat Hok An waktu itu dapat mengerahkan hawa murninya pada ke dua kakinya.
Walaupun salah satu dari kakinya itu, yaitu kaki kanannya, telah hangus terbakar, namun dia sudah seperti tidak memperdulikan perasaan sakitnya itu.
Dia seperti tidak merasakan lagi perasaan sakit pada tulang punggung atau mulutnya, yang diingatnya bagaimana dia harus menolongi Giok Hoa.
Setelah mengerahkan seluruh kekuatan dan tenaga dalamnya pada ke dua kakinya, tiba-tiba dia merentangkan ke dua kakinya sambil berseru nyaring sekali, dia telah membuat tambang itu putus......
Bahkan Hok An telah membarengi dengan lompatannya, begitu tambang tersebut putus, segera juga tubuhnya telah melesat dengan kecepatan yang tidak terkira.
Dia telah mengulurkan ke dua tangannya yang masih terborgol itu untuk menjambret Giok Hoa.
Dan tanpa membuang waktu lagi, dengan tidak memperdulikan kaki kanannya yang terbakar hangus dan terluka parah itu, dia telah membawa Giok Hoa berusaha melarikan diri.
Kwee Tayjin dan orang-orang Boan lainnya tidak menyangka sama sekali, bahwa Hok An bisa memiliki kekuatan memutuskan tambang yang mengikat ke dua kakinya.
Maka ketika Hok An menyambar tubuh Giok Hoa, Kwee Tayjin seperti juga orang kesima, dia tidak melakukan suatu gerakan apapun juga.
Demikian pula halnya dengan orang-orang Boan lainnya, yang tidak bisa mencegah perbuatan Hok An.
Sedangkan orang-orang Boan lainnya yang berdiri di depan pintu, segera mengepung Hok An.
Akan tetapi Hok An mengandalkan ginkangnya, dia melesat ke sana ke mari menghindarkan diri dari serangan.
Sayang saja ke dua tangannya terborgol dan di waktu itu dia tengah mencekal Giok Hoa, sehingga tidak leluasa buat dia menyerang.
Jika tidak, walaupun ke dua tangannya terborgol, tentu dia masih bisa menghantam lawan-lawannya itu.
Kwee Tayjin segera juga tersadar dengan cepat dari tertegunnya.
"Semua mundur!"
Teriaknya dengan suara yang nyaring.
Lalu tubuhnya melesat kehadapan Hok An.
"Hemmm, engkau ingin melarikan diri, heh?
Jadi sungguh-sungguh engkau adalah orang Kay-pang!
Kulihat kepandaianmu tidak lemah, kukira sekarang, walaupun engkau tidak mengakui, kami sudah mengetahui dan yakin bahwa engkau adalah orang Kaypang!"
Kwee Tayjin bukan hanya berkata begitu saja, tangan kanannya menghantam kepada Giok Hoa yang berada di dalam cekalan Hok An.
Mati-matian Hok An berusaha melindungi Giok Hoa dengan memiringkan tubuhnya, sehingga posisi tubuh Giok Hoa berada di sampingnya.
Kaki Hok An juga bergerak buat menendang tubuh Kwee Tayjin itu.
Ternyata pembesar negeri Boan ini memiliki kepandaian yang liehay, selain serangannya hebat, juga dia bisa mengelakkan tendangan kaki kiri Hok An.
Hanya saja, disebabkan Hok An berdiri di kaki tunggal dari kaki kanannya yang memang telah terluka hebat itu, sehingga waktu menginjak lantai, ada sebagian dagingnya yang terluka itu copot dan menempel di lantai, Kwee Tayjin bisa membarengi menghantam lagi.
Tidak ampun pula Hok An telah terjungkir balik di lantai.
Kwee Tayjin tidak bekerja hanya sampai di situ.
Waktu Hok An mati-matian melompat berdiri buat mengadakan perlawanan lagi, justru Kwee Tayjin telah menghantam lagi, maka tubuh Hok An terpelanting pula, malah sekali ini dia terpelanting dengan keras sekali, sampai tubuh Giok Hoa yang semula berada dalam cekalannya terlempar cukup jauh dari dia.
Hok An menjerit keras dan kalap, dia berusaha melompat bangun lagi.
Namun gerakannya kalah cepat, empat orang Boan telah menubruk kepadanya dan meringkusnya, tiga orang Boan lainnya telah menangkap Giok Hoa lagi.
Gadis cilik yang dalam keadaan pingsan itu telah diringkus dan dibawa menjauhi dari Hok An.
Dengan kalap Hok An menjerit-jerit, dia berkuatir sekali Giok Hoa benar-benar akan disiksa seperti dirinya.
Dalam keadaan seperti itu memang Hok An sudah tidak memikirkan keselamatan dirinya, dia telah meronta sekuat tenaganya.
Kwee Tayjin telah melangkah maju, dia menggerakkan tangan kanannya menghantam ulu hati Hok An.
"Engggkkk!"
Hanya itu saja yang keluar dari mulut Hok An, kemudian tubuhnya terkulai lemas tidak bertenaga, diapun telah pingsan tidak sadarkan diri di bawah cekalan dari orang-orang Boan tersebut.....
Melihat Hok An telah pingsan tidak sadarkan diri, Kwee Tayjin tertawa bergelak-gelak, kemudian dia memberi isyarat kepada anak buahnya, agar ke dua kaki Hok An diborgol dengan borgol besi, lalu dibawa pergi ke sebuah ruangan, untuk dilemparkannya ke dalam kamar tahanan tersebut, karena jika nanti Hok An telah tersadar dari pingsannya, dia akan disiksa kembali.
Giok Hoa yang masih dalam keadaan pingsan, diperintahkan untuk dibawa ke kamar tahanan lainnya.
Kwee Tayjin yang menemani Giok Hoa di dalam kamar tahanan yang satu itu.
Gadis itu direbahkan di lantai, sedangkan Kwee Tayjin duduk di sebuah kursi.
Lama juga, barulah Giok Hoa tersadar dari pingsannya.
Waktu pertama kali dia membuka kelopak matanya, pandangan matanya kabur.
Namun kemudian dia bisa melihat jelas di hadapannya duduk Kwee Tayjin, pembesar Boan berparas menyeramkan itu.
"Hemmm, bagus!
Engkau telah siuman!"
Kata Kwee Tayjin sambil mengangguk-anggukkan kepalanya "Mana..... mana paman Hok ku?!"
Tanya Giok Hoa, itulah kata-kata yang pertama dilontarkan begitu dia tersadar, bahkan gadis cilik ini telah menangis terisak-isak ketakutan.
"Jangan menangis! Engkau sayang pada paman Hok mu itu, bukan?!"
Tanya Kwee Tayjin. Giok Hoa menghapus air matanya dan menganggukkan kepalanya, kemudian katanya lagi.
"Tetapi..... tetapi kalian telah menyiksanya begitu hebat..... kalian telah menganiayanya....."
"Itulah disebabkan sikap kepala batunya! Jika memang sejak mula dia bersedia bicara baik-baik, dia tidak akan menderita seperti itu! Sekarang untuk kau, jika memang engkau sayang pada paman Hok mu itu, engkau harus bicara sejujurnya..... karena jika engkau menjawab terus terang semua pertanyaanku, maka aku akan membebaskan pamanmu dan kau juga.....!"
"Apa yang harus kukatakan?!"
Tanya Giok Hoa dengan sikap masih ketakutan. "Coba kau katakan terus terang, apakah pamanmu itu memang anggota Kay-pang?!"
Tanya Kwee Tayjin. Giok Hoa membuka matanya lebar-lebar.
"Kay-pang? Apa sesungguhnya, itu Kay-pang?!"
Karena dia sendiri tanyanya tidak dengan mengetahui sikap apa sebenarnya Kay-pang itu. Kwee Tayjin tertawa mengejek, tampaknya dia gusar.
"Hemmm, engkau pun ingin membawa lagak seperti pamanmu itu? Bagus! Atau engkau ingin disiksa dulu seperti pamanmu itu, baru engkau ingin bicara terus terang?!"
Mendengar ancaman itu, Giok Hoa tambah ketakutan, sehingga gadis cilik itu tidak bisa berkata apa-apa selain menangis terisakisak. Sedangkan Kwee Tayjin telah berkata lagi.
"Nah, sekarang kau katakanlah terus terang, benarkah pamanmu itu berasal dari Kaypang.....?!"
"Aku sungguh-sungguh tidak tahu.....!"
Menyahuti Giok Hoa. "Kay-pang adalah sebuah perkumpulan pengemis, yang telah mengadakan pemberontakan! Karena dari itu, setiap anggota Kaypang harus ditangkap dan dihukum!"
Menjelaskan Kwee Tayjin akhirnya, karena dia menyadari Giok Hoa sebagai gadis cilik, tentu dalam ketakutan seperti itu tidak bisa berdusta, dan sikapnya itu mencerminkan bahwa gadis cilik ini memang benar-benar tidak mengetahui hal itu.
"Tetapi..... tetapi pamanku itu bukan seorang pengemis....."
Kata Giok Hoa kemudian.
"Telah dua tahun lebih aku selalu bersamasama dengannya dan aku mengetahui benar bahwa pamanku itu bukan pengemis.....!"
Bola mata Kwee Tayjin mencilak-cilak beberapa saat, sampai akhirnya dia bilang.
"Hemmm, benarkah apa yang kau katakan itu?!"
"Sungguh..... memang pamanku itu bukan seorang pengemis!"
Menjelaskan Giok Hoa.
"Kami kami baru saja turun dari puncak gunung Hoa-san.....!"
"Hemmm!"
Mendengus Kwee Tayjin, kemudian melirik kepada beberapa orang Boan yang berdiri di sampingnya.
"Bukan orang Kay-pang.....!"
Menggumam Kwee Tayjin.
"Biarlah.....
untuk menambahkan jumlah orang yang telah kita tawan, sehingga kelak jika Tayjin memberikan laporan kepada Kaisar, tentu jumlah itu merupakan bukti dari hasil kerja keras kita.....!"
Menyahuti salah seorang dari orang-orang Boan itu. Kwee Tayjin tidak segera menyahuti, setelah merenung sejenak, barulah dia bilang.
"Lalu bagaimana dengan gadis cilik ini......!"
"Anggap saja dia sebagai pengemis cilik.....!"
Menyahuti orang Boan itu. Kwee Tayjin telah menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan, dia ragu-ragu. Orang Boan yang tadi berkata itu telah bilang lagi.
"Keterangan yang diberikan gadis cilik inipun tidak bisa kita percayai dulu sepenuhnya..... mungkin dia pandai bersandiwara buat melindungi pamannya itu......!"
"Akan tetapi..... dia masih kecil dan tentunya sangat jujur..... Dia tidak mungkin dapat bersandiwara seperti itu.....!"
Kata Kwee Tayjin ragu-ragu. "Kita siksa dulu buat memaksa dia buka mulut, nanti kita bisa melihatnya, apakah dia bicara yang sebenarnya atau tidak!"
Kata orang Boan yang satunya itu.
Tetapi Kwee Tayjin menggelengkan kepalanya beberapa kali.
Dia tidak setuju dengan saran tersebut, karena jika memang dia menyiksa gadis kecil itu, hatinya tidak tega.
Dia teringat kepada puterinya yang sebaya dengan gadis cilik ini, itulah sebabnya mengapa dia tidak tega jika harus menyiksa gadis cilik ini.
Rupanya perasaan Kwee Tayjin ini telah diketahui oleh anak buahnya, orang Boan yang seorang itu berkata lagi.
"Baiklah Tayjin beristirahat dulu, serahkan gadis cilik ini kepada kami, dan kelak kami akan melaporkan hasilnya......!"
Kembali Kwee Tayjin itu menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Jangan!"
Katanya kemudian.
"Gadis cilik ini jangan disiksa! Akupun sejak semula memang telah yakin mereka ini bukan berasal dari Kay-pang!"
"Lalu bagaimana Tayjin?!"
Tanya orang Boan itu.
"Apakah gadis cilik ini akan kita bebaskan?!"
Kwee Tayjin ragu-ragu.
"Jika kita bebaskan, tentu gadis cilik ini akan banyak bicara dengan orang-orang di luar, di mana dia akan menceritakan apa yang diketahuinya dan dilihatnya terhadap diri pamannya itu.....!"
Kata orang Boan itu. Kwee Tayjin tambah ragu-ragu. Anakrawali 06.029.
"Lebih baik-baik gadis cilik inipun kita tahan..... dengan demikian kita memperkecil resiko.....!"
Kata orang Boan itu lagi. Kwee Tayjin yang tengah bimbang tidak bisa segera mengambil keputusan. Dan di saat itu juga telah menghampiri seorang Boan lainnya, yang baru datang dari luar.
"Kwee Tayjin, ada orang yang hendak bertemu dengan Kwee Tayjin!"
Melapor orang Boan tersebut.
"Siapa?!"
"Mereka tidak mengatakan siapa adanya mereka, hanya saja mereka mengatakan bahwa mereka berdua adalah pasangan suami isteri. Yang pria berusia duapuluh tahun lebih hampir tigapuluh tahun, sedangkan yang wanita baru berusia duapuluh tiga atau duapuluh empat tahun.....!"
"Mengapa kau tidak menanyakan siapa nama mereka dan apa keperluan mereka hendak menemui aku?!"
Kata Kwee Tayjin mendongkol.
"Sudah kutanyakan, namun ke dua orang itu tidak mau menyebutkannya. Mereka hanya menyatakan bahwa mereka memiliki urusan yang penting sekali!"
"Hemmm, perintahkan mereka menantiku di ruangan luar!"
Kata Kwee Tayjin kemudian.
Orang Boan itu menganggukkan kepalanya, lalu Kwee Tayjin menoleh kepada orang Boan yang tadi menganjurkan kepadanya agar gadis cilik itu, Giok Hoa, ditahannya.
Maka diapun telah menoleh kepada Giok Hoa sejenak, baru katanya.
"Kau awasi dia baik-baik! Tetapi tanpa perintahku, kau tidak boleh turunkan tangan buat menyiksanya!"
Orang Boan itu mengiyakan. "Nanti aku akan menentukannya, hukuman apa yang pantas buat dia dan pamannya, apakah dia akan kita tahan terus atau akan dibebaskan......!"
Setelah berkata begitu tanpa menoleh lagi Kwee Tayjin telah memutar tubuhnya pergi ke ruang depan.
Ke dua tamu yang berada di ruang depan itu ternyata seorang pemuda yang tampan dan seorang gadis yang cantik.
Sikap ke dua orang ini, yang mengaku sebagai pasangan suami isteri, sangat tenang sekali.
Kwee Tayjin ketika keluar, telah mengawasi ke dua tamu yang tidak dikenalnya itu dengan sorot mata yang tajam menyelidik.
Sedangkan pemuda itu telah merangkapkan sepasang tangannya katanya.
"Kami datang menghunjuk hormat buat Kwee Tayjin!"
Demikian juga halnya dengan gadis itu yang telah memberi hormat juga kepada Kwee Tayjin. Cepat-cepat Kwee Tayjin membalas hormat mereka, juga dia telah mempersilahkan ke dua tamunya buat duduk.
"Sebenarnya, ada urusan apakah kalian berdua mencariku? Dan siapa kalian sebenarnya ini?"
Tanya Kwee Tayjin. Pemuda itu tersenyum.
"Aku she Yo......"
Baru saja pemuda berkata sampai di situ menyebutkan she nya justeru Kwee Tayjin telah melompat dari duduknya, sepasang matanya terbuka lebar-lebar mengawasi pemuda itu dan si wanita dalam-dalam.
"Kau..... kau she Yo?"
Tanyanya. Pemuda itu mengangguk.
"Benar..... memang aku she Yo..... dan bernama Him!"
Berani sekali pemuda itu dengan sikapnya yang sangat tenang menyebutkan namanya yang bernama Yo Him, putera Sin-tiauwtay-hiap Yo Ko.
Walaupun belum pernah bertemu muka dengan Yo Him, akan tetapi Kwee Tayjin telah sering mendengar sepak terjang Yo Him.
Sekarang pemuda itu mengakuinya dengan sikap yang begitu tenang dan berterus terang, bahwa dia adalah Yo Him, pemuda yang menjadi musuh pemerintah Boan.
Kwee Tayjin hanya terkejut sejenak, kemudian dia berhasil menenangkan goncangan hatinya.
"Ada keperluan apa kalian mencariku?"
Tanya Kwee Tayjin kembali, dengan sikapnya yang tidak semanis tadi, malah matanya telah memandang tajam dan juga dia memperlihatkan sikap yang berwaspada sekali. Yo Him tersenyum.
"Ini adalah isteriku, namanya Sasana, puteri dari pangeran Ghalik! Menurut keterangan dari isteriku ini, panglima Ghalik merupakan atasanmu dan kau semasa ayahnya berkuasa, merupakan anak buahnya yang setia!"
Mendengar perkataan Yo Him itu, Kwee Tayjin kaget tidak terkira, dia sampai melompat mundur tiga langkah dengan sepasang mata mendelik mengawasi wanita itu dalam-dalam.
"Kau..... kau puteri Pangeran Ghalik?"
Tanya Kwee Tayjin kemudian. Sasana tersenyum. "Benar!"
Menyahuti Sasana tenang, sama sekali tidak terlihat sikap kuatir atau gentar. Kwee Tayjin terdiam sejenak, sampai akhirnya dia menganggukangguk beberapa kali.
"Memang benar!"
Katanya kemudian.
Walaupun otaknya dipenuhi oleh berbagai persoalan di dalam waktu yang sesingkat itu, di mana dia harus menentukan tindakan apa yang perlu dilakukannya dalam menghadapi pasangan suami-isteri ini.
Dia menekan perasaannya agar nada suaranya terdengar ramah dan halus sekali.
"Dahulu semasa atasanku..... hidupnya namun Pangeran perbuatan Ghalik Pangeran merupakan Ghalik telah menyebabkan ratusan anak buahnya yang setia menjadi korban, menerima hukuman dari Kaisar. Karena dari itu, di mata para pembesar Boan-ciu, Pangeran Ghalik merupakan orang yang kurang memperoleh tempat dan simpati!"
Sasana tersenyum.
"Jadi Tayjin ingin mengatakan bahwa engkaupun tidak menaruh simpati terhadap mendiang ayahku itu!"
Tanyanya. Kwee Tayjin mendehem beberapa kali untuk menenangkan goncangan hatinya, barulah kemudian dia manjawab.
"Untuk berkata begitu tentu saja aku tidak berani, karena walaupun bagaimana tidak bisa aku membusuki atasanku sendiri, walaupun bekas atasanku itu telah berkhianat!"
Sasana tersenyum tawar.
"Hemmm, tegasnya sekarang Tayjin sudah tidak mau tahu dan tidak mau ingat budi besar yang telah dilepaskan ayahku itu, sehingga Tayjin bisa memperoleh kedudukan seperti sekarang ini?"
Tanya Sasana. Kwee Tayjin tersenyum, walaupun hatinya mendongkol.
"Untuk hal budi dan kebaikan, sekarang ini sulit dibicarakan di antara kita!"
Katanya kemudian.
"Karena sebagai orang pemerintahan yang makan minum dari gaji yang kuterima dari negara, jelas aku harus bersetia pada negara dan juga tunduk terhadap semua perintah Kaisar..... karena Kaisar telah menyatakan bahwa Pangeran Ghalik sebagai pemberontak, maka akupun dapat menganggapnya sebagai pemberontak, yang akhirnya telah menghabisi jiwanya sendiri dengan jalan menggantung diri!" Sasana memang telah menduga jawaban apa yang akan didengarnya, maka dia mengangguk beberapa kali, sambil katanya.
"Baiklah, jika memang Tayjin berpandangan seperti itu! Akan tetapi kami datang berkunjung ke kantor Tayjin untuk memohon sedikit bantuan Tayjin, entah kami dapat mengajukan permintaan tolong kami atau tidak?!"
Waktu itu Kwee Tayjin sendiri tengah berpikir keras.
Yo Him merupakan putera Yo Ko yang diduga merupakan dalang dari keributan di dalam rapat besar Kay-pang, di samping sumber kematian Tiat To Hoat-ong beberapa waktu yang lalu.
Dengan demikian, Yo Ko dan orang-orang gagah lainnya, termasuk Kaypang, sebagai pemberontak.
Dan dengan sendirinya Yo Him pun merupakan salah seorang pemberontak, yang jejaknya tengah dicari oleh pemerintah.
Dan akan dijatuhi hukuman mati jika tertangkap, karena pihak kerajaan tengah berusaha sekuat tenaga untuk membasmi orang-orang yang bisa menimbulkan kegoncangan pada pemerintah kerajaan Boan yang baru didirikan itu.
Sekarang justeru Yo Him muncul di hadapannya.
Demikian juga halnya dengan Sasana, puteri dari Pangeran Ghalik merupakan musuh kerajaan juga, dan Kaisar Kublai Khan telah mengeluarkan firman untuk menangkap wanita ini, yang akan dijatuhi hukuman mati.
Jika ayahnya pemberontak, maka puterinya dicap sebagai keluarga pemberontak juga, dan akan menerima hukuman yang sama beratnya seperti dosa-dosa ayahnya.
Sekaligus Yo Him dan Sasana berdua telah muncul di hadapannya, membuat Kwee Tayjin berpikir keras, karena dia tengah memikirkan, dengan cara dan langkah apa sebaiknya menghadapi orang ini.
Sasana dan Yo Him, mereka berdua masing-masing memiliki kepandaian yang tinggi, karena itu Kwee Tayjin tidak berani bertindak sembarangan.
Sedangkan Yo Him sambil tersenyum telah bilang.
"Jika memang Tayjin masih mau bermurah hati, bisakah Tayjin menolong kami dalam suatu urusan?"
Akhirnya Kwee Tayjin mengangguk, dia bilang.
"Nah, kalian katakanlah, permintaan tolong apakah yang kalian harapkan dariku?"
"Sesungguhnya kami tidak menghendaki apapun juga dari Tayjin, kami hanya mengharapkan Tayjin bisa membantu kami untuk membebaskan dua orang yang berada dalam pengawasan Tayjin.....!"
Kata Yo Him.
Segera kecurigaan Kwee Tayjin kepada ke dua orang ini semakin hebat, karena ke dua orang tersebut telah datang justeru buat meminta orang.
Dengan demikian, niscaya akan menimbulkan keributan yang tidak kecil.
Namun sebagai seorang pembesar negeri yang berpengalaman, Kwee Tayjin tetap tersenyum dan di wajahnya tidak terlihat perasaan apa pun juga.
"Siapakah yang ingin kalian minta itu?"
Tanya Kwee Tayjin akhirnya.
"Dia seorang lelaki tua dengan seorang gadis cilik!"
Sahut Sasana.
"Kami mengetahui benar, bahwa mereka tidak seharusnya berurusan dengan Tayjin dan orang-orang juga, karena mereka sama sekali tidak memiliki hubungan dengan orang-orang yang tengah dicari Tayjin..... Mereka telah datang di kampung ini, dan menurut apa yang kami dengar, justeru mereka telah dibawa oleh orang-orang Tayjin ke gedung ini.
"Kami bisa membayangkan bahwa mereka akan mengalami siksaan yang hebat! Karena itu, agar Tayjin tidak menyiksa orang yang tidak bersalah, alangkah baiknya jika saja Tayjin membebaskan mereka.....!" Setelah berkata begitu, Yo Him merangkapkan sepasang tangannya menjura memberi hormat. Kwee Tayjin tengah berpikir keras, dia mengawasi Yo Him dan Sasana, dengan sorot mata yang tajam, dia membawa sikap yang berwaspada. Malah, diam-diam dia telah memberikan isyarat kepada beberapa orang bawahannya yang diam mengawal di ruang depan gedungnya ini. Dan dua orang di antara mereka telah keluar ruangan, untuk mengumpulkan kawan-kawan mereka yang lainnya, guna mengadakan penjagaan, di mana tentu saja mereka baru bergerak kalau memang Yo Him dan Sasana berusaha untuk mempergunakan kekerasan. Sehingga di depan pintu ruangan depan itupun telah dikepung rapat sekali oleh orang-orang Boan itu, anak buah dari Kwee Tayjin. Sedangkan Kwee Tayjin sambil tersenyum berkata tawar.
"Menyesal sekali! Menyesal sekali!"
Katanya.
"Semula aku yakin bahwa laki-laki tua mesum itu dan si gadis cilik memang bukan orang Kay-pang, akan tetapi dengan kedatangan kalian ini membuat aku jadi bimbang kembali! Sebelumnya aku telah berpikir untuk membebaskan mereka berdua, namun sekarang, justeru benar-benar aku jadi bimbang!" "Mengapa begitu!"
Tanya Yo Him pura-pura tidak mengerti.
"Karena justeru aku tambah curiga bahwa mereka sesungguhnya memiliki hubungan yang erat dengan Kay-pang. Bukankah begitu mereka tertawan, segera kalian datang buat meminta orang?!"
Waktu berkata begitu, suara Kwee Tayjin meninggi, rupanya diapun sudah bersiap-siap hendak menghadapi Yo Him dan Sasana dengan mempergunakan kekerasan. Yo Him tertawa tawar.
"Kwee Tayjin, seperti apa yang kami dengar dari penduduk kampung ini, seluruh pasukan tentara Boan yang berdiam di sekitar perkampungan ini di bawah pimpinanmu, untuk mencari dan menumpas orang-orang Kay-pang.
"Jika kalian melihat ada pengemis, segera kalian akan menangkapnya dan menyiksanya dengan hebat, karena kami mengetahui benar bahwa lelaki tua itu dengan gadis cilik tersebut bukan orang Kay-pang, maka kami segera bergegas datang ke mari agar mereka tidak menerima penasaran dari Kwee Tayjin.....!"
Kwee Tayjin itu tersenyum. "
Justeru aku jadi heran, jika memang kalian tidak memiliki hubungan apa-apa dengan lelaki tua dan gadis cilik itu, mengapa kalian berdua jadi demikian sibuk, sampai mau merendahkan diri guna memohon kepadaku buat membebaskan mereka?
Justeru sekarang aku semakin curiga bahwa ke dua orang itu terdapat hubungan istimewa dengan pihak Kay-pang.....!"
Berkata sampai di situ, Kwee Tayjin merangkapkan sepasang tangannya dengan membungkukkan tubuhnya memberi hormat, lalu katanya.
"Nah, memandang pada bekas atasanku, yaitu Pangeran Ghalik, silahkan kalian meninggalkan tempat ini.....! Janganlah menimbulkan keonaran dan akupun tidak bermaksud menahan kalian! Hanya saja, besok begitu fajar menyingsing, kalian harus sudah angkat kaki dari perkampungan ini dan tidak berdiam lebih lama di perkampungan ini....."
Sasana tertawa.
"Terima kasih! Terima kasih atas budi kebaikan Kwee Tayjin! Itulah budi kebaikan yang sangat besar sekali, yang mimpipun kami tidak berani mengharapkannya....."
Kata Sasana kemudian dengan tersenyum mengejek.
"Hanya saja, kami memang sudah bertekad, jika kami tidak bisa meminta pertolongan Kwee Tayjin agar membebaskan ke dua orang itu, maka kami akan mengambil tindakan menurut cara kami! "
Kami berdua adalah orang-orang gunung dan dusun yang tidak mengerti aturan, maka jika sebelumnya kami tidak menghubungi Kwee Tayjin dan mohon bantuan Kwee Tayjin, kami kuatir tindakan kami nanti salah dan kurang ajar.
Namun tampaknya Kwee Tayjin juga tidak mau memberikan kesempatan kepada kami, agar kami dapat membebaskan ke dua orang yang tidak bersalah itu......!"
Mendengar perkataan Sasana itu, Kwee Tayjin menyadarinya bahwa keributan memang sukar dielakkan lagi.
Karena dari itu, dia telah memberi isyarat kepada anak buahnya agar bersiap-siap.
Kwee Tayjin sendiri bersiap-siap dengan penuh kewaspadaan, karena begitu Yo Him dan Sasana melakukan suatu gerakan, segera juga dia akan menghadapinya dengan kekerasan.
Kwee Tayjin juga diam-diam telah memusatkan seluruh kekuatan tenaga dalam dan hawa murninya, dia tengah menantikan perkembangan berikutnya.
Cuma saja, dia telah bilang dengan sikap yang tetap biasa.
"Jika memang kalian berdua tidak mau memandang dan memberi sedikit muka terang kepadaku, maka akupun tidak bisa bilang apa365 apa pula. Jelas akupun tidak bisa memaksa kalian akan memberikan muka terang dan memandang sedikit kepadaku! "
Terpaksa akupun hanya melihat perkembangan yang ada. Maafkanlah, bukan aku tidak ingat budi kepada ayahmu, nona.....
"Akan tetapi memang aku makan gaji negara, karena dari itu, aku pun harus bekerja buat negara. Dan sekarang jika memang kalian berdua menimbulkan keonaran, niscaya akan memaksa aku harus mengambil tindakan yang kurang ajar dan tidak berbudi......"
Sasana telah tertawa, dia memotong perkataan Kwee Tayjin.
"Tidak usah Kwee Tayjin terlalu sungkan seperti itu, justru yang membuat kami merasa segan, semula kami menduga Kwee Tayjin terpaksa bekerja pada negara dan juga telah berjuang dengan setengah hati, sebab masih bersetia kepada ayahku almarhum.
"Jika memang kenyataan yang ada seperti sekarang ini di mana Kwee Tayjin memang sudah tidak mau menoleh sedikitpun pada mendiang ayahku akan perbuatannya di masa lalu terhadap Tayjin, inipun tidak bisa kami bilang apa-apa. Hanya saja, kami harap, jika memang kami terjatuh ke dalam tangan Tayjin, harap Tayjin mau berlaku murah hati kepada kami.....!" Setelah berkata begitu, Sasana menoleh kepada Yo Him.
"Him Koko..... mari kita pergi!"
Yo Him mengangguk.
"Nah Kwee Tayjin, maafkan, memang kami datang terlalu tiba-tiba sekali, dan juga kami tidak bisa menemani terlalu lama lagi, kami harus segera berlalu......!"
Kwee Tayjin merangkapkan sepasang tangannya sambil membungkuk.
"Silahkan.....!"
Katanya dengan sikap yang biasa saja.
Akan tetapi sebenarnya, sambil membungkuk seperti itu, matanya telah mengedip memberi isyarat kepada anak buahnya.
Orang-orang Boan, yang sesungguhnya merupakan tentara negeri yang tengah menyamar sebagai penduduk biasa, yang waktu itu telah bersiap-siap dengan senjata tajam mereka, melihat isyarat yang diberikan Tayjin, tanpa membuang waktu lagi mereka segera menerjang maju, karena mereka mengetahui apa maksud isyarat tersebut, yaitu harus menangkap hidup atau mati pada Sasana dan Yo Him.
Waktu itu Yo Him telah memutar tubuhnya buat keluar dari ruangan gedung tersebut namun mereka merasakan dari arah belakang, berkesiuran angin serangan senjata-senjata tajam.
Yo Him tertawa dingin, tanpa menoleh dia telah mengibaskan tangan kanannya ke belakang.
Kibasan yang dilakukan Yo Him tampaknya biasa dan perlahan saja, namun hebat kesudahannya.
Lima batang golok telah terlepas dari cekalan yang empunya, karena ke lima batang golok yang tengah menyambar ke arah Yo Him dan Sasana itu telah tersampok keras sekali.
Ke lima orang Boan yang sebagai pemilik senjata tajam tersebut pun merasakan telapak tangan mereka nyeri dan sakit bukan main.
Segera juga mereka melompat mundur dengan wajah yang pucat.
Orang-orang Boan yang menanti di luar ruangan, ketika mendengar suara ribut-ribut di dalam, mereka dapat menduganya bahwa keributan telah berlangsung.
Tanpa menantikan perintah lagi belasan orang Boan telah menerobos masuk ke dalam ruaagan buat mengepung dan menyerang Yo Him.
Sasana dan Yo Him tersenyum.
"Bagus sekali jamuan yang kau selenggarakan buat kami, Kwee Tayjin?"
Seru Sasana. Kwee Tayjin rupanya sudah tidak memperdulikan ejekan Yo Him dan Sasana, dia hanya merangkap ke dua tangannya dengan membungkuk dan berulang kali berkata.
"Maaf, maaf, sambutan yang tidak berarti..... sambutan yang tak berarti!"
Belasan orang Boan itu serentak telah menerjang Yo Him dan Sasana, mereka semuanya rata-rata memiliki tenaga yang cukup kuat.
Dalam keadaan seperti itu, Sasana dan Yo Him pun tidak tinggal diam.
Dengan lincah mereka berkelit ke sana ke mari, tangan Yo Him bergerak juga, tiga orang lawannya telah terjungkal rubuh tertotok.
Sasana juga tidak tinggal diam, cepat sekali dia telah menyerang belasan orang Boan itu.
Gerakan Sasana pun sangat gesit karena belakangan ini banyak sekali petunjuk yang diperoleh Sasana dari suaminya tersebut.
Dalam waktu yang singkat belasan orang Boan itu telah dapat dibuat jungkir balik oleh Yo Him dan Sasana.
Hanya saja, belasan orang Boan itu benar-benar tangguh sekali, di mana begitu mereka terjungkel, seketika mereka melompat bangun lagi, dan telah menyerang kalap dan nekad kepada Yo Him dan Sasana.
Kwee Tayjin yang menyaksikan jalannya pertempuran tersebut, seketika menyadari, bahwa tidak bisa dia membiarkan belasan orang bawahannya menghadapi Yo Him dan Sasana dengan cara seperti itu, sebab akan percuma saja.
Kepandaian Yo Him dan Sasana memang sangat tinggi sekali, dan akhirnya tokh belasan orang anak buahnya akan dapat dirubuhkan atau mungkin juga sebagian dari mereka akan ada yang terbinasa.
Karenanya, dalam waktu yang singkat Kwee Tayjin telah mengambil keputusan.
Dengan menjejakkan ke dua kakinya, tubuhnya melesat dengan ringan menuju ke pintu, di mana dia mengunci pintu rapat-rapat.
Kuncinya dikantonginya.
Dengan demikian dia bermaksud hendak mencegah Yo Him maupun Sasana dapat melarikan diri.
Kwee Tayjin sendiri setelah mengantongi kunci pintu, segera melompat ke dekat Yo Him.
Waktu itu Yo Him telah menghantam pundak salah seorang pengepungnya.
Tanpa mengatakan suatu apapun juga Kwee Tayjin menggerakkan tangannya menghantam dengan pukulan Tok-see-ciang.
Dari Sasana, Yo Him memang telah mendengarnya bahwa Kwee Tayjin ini seorang ahli Tok-see-ciang, Tangan Pasir Beracun, maka Yo Him tidak berani berayal.
Dia telah mengeluarkan kepandaiannya.
Setelah berkelit dia telah menghantam dengan telapak tangannya, dari jurus Termenung Bersedih, ilmu simpanan warisan ayah.
Karena dari itu, bukan main dahsyat dada Kwee Tayjin kena dihantamnya.
Belum lagi Kwee Tayjin sempat menyerang untuk menghalangi, Yo Him menyerang lagi, tangan Yo Him telah bergerak lebih cepat menghantam lambungnya dengan jurus Di antara Bunga Bersedih Hati, sehingga tubuh Kwee Tayjin itu terpental keras sekali, berguling-guling di tanah.
Sedangkan anak buah Kwee Tayjin cepat-cepat mengepung lebih rapat, untuk mencegah Yo Him menyerang lebih lanjut pada atasan mereka tersebut.
Namun di saat seperti itu, Yo Him telah memutuskan untuk turunkan tangan keras pada mereka, mana bisa anak buah Kwee Tayjin menghadapinya?
Tidak ampun lagi tiga orang telah terpental kena dihantam Yo Him dengan tulang pundak mereka yang pada patah!
Sasana sendiri telah melukai dua orang, dan waktu itu Sasana telah dikeroyok tiga orang lawannya yang lain.
Yo Him melompat ke dekat Sasana, dan cepat sekali menghantam ke tiga orang itu sekaligus.
Tubuh ke tiga orang bagaikan layanglayang putus tali, terpental dan ambruk di lantai dengan tulang iga mereka berantakan.
Walaupun luka mereka itu tidak sampai membawa mereka kepada ajalnya, namun luka itu merupakan luka yang berat dan akan membuat mereka bercacad seumur hidup.
Yo Him dan Sasana bekerja cepat sekali, mereka telah merubuhkan lagi sisa anak buah Kwee Tayjin.
Ketika itu Kwee Tayjin telah berhasil merangkak bangun dan bersiap-siap hendak melarikan diri.
"Kwee Tayjin, mau ke mana kau!"
Tanya Yo Him dengan suara mengejek.
Tubuhnya melesat ke samping Kwee Tayjin, yang dicengkeramnya dan telah dibantingnya tubuh pembesar tersebut.
Dengan mengeluarkan suara yang nyaring tampak tubuh Kwee Tayjin telah terbanting dan bergulingan di lantai.
Walaupun Yo Him telah berlaku ringan dan tidak menurunkan tangan kematian buat Kwee Tayjin, namun dia telah cukup keras menghajar pembesar itu, membuat Kwee Tayjin terluka di dalam yang tidak ringan.
Sedangkan Sasana juga telah melompat ke dekat Kwee Tayjin, dia ingin menyerang Kwee Tayjin, akan tetapi Yo Him telah mencegahnya.
Kwee Tayjin benar-benar sama sekali tidak berdaya buat mempergunakan Tok-see-ciang nya, karena diwaktu itu dia telah dibuat terluka tidak ringan oleh Yo Him.
Malah dia tengah merintih menahan sakit.
Selama menjabat kedudukan sebagai pembesar negeri, maka dia jarang sekali berlatih diri, kepandaiannya dan ilmu silatnya seperti dilalaikannya.
Hidup mewah dan senang dengan kekuasaan yang ada membuat pertumbuhan tubuh Kwee Tayjin jadi pesat dan subur.
Dia jadi gemuk, dan kegesitannya banyak berkurang.
Sehingga sekarang menghadapi keributan seperti ini, membuat Kwe Tayjin tidak bisa berbuat banyak.
Terutama sekali orang yang dihadapinya adalah Yo Him, pendekar muda yang memiliki kepandaian sangat liehay!
"Berdirilah, Kwee Tayjin!"
Perintah Yo Him dengan suara tetap sabar. Kwee Tayjin telah merangkak buat berdiri, dia kemudian telah berkata dengan suara yang agak gemetar.
"Jangan..... jangan menyiksaku.....!"
Yo Him tertawa melihat kelakuan Kwee Tayjin seperti itu.
"Hemmm..... engkau yang selalu menyiksa korban-korbanmu..... sekarang mengapa engkau harus jeri buat disiksa? Bukankah selama ini telah banyak orang-orang yang menjadi korban keganasanmu?!"
Kata Sasana mengejek. Muka Kwee Tayjin berobah merah, dia telah berkata dengan kepala tertunduk.
"Aku..... aku akan segera membebaskan ke dua orang yang kalian minta.....!"
"Nah, itulah tindakan yang paling bijaksana!"
Kata Yo Him.
"Rupanya Kwee Tayjin seorang pembesar negeri yang bijaksana dan adil, sehingga setelah mengetahui bahwa ke dua orang yang baru saja ditawannya itu bukan orang-orang yang tengah diburunya dan tidak memiliki sangkut paut apapun juga, dia bersedia membebaskannya......!"
Muka Kwee Tayjin berobah semakin merah. Sedangkan Sasana telah berkata.
"Cepat kau perintahkan orangmu buat membawa ke dua orang itu kepada kami, agar kami dapat membawanya pergi.....!"
Kwee Tayjin mengiyakan, segera juga dia membuka pintu itu, dan memanggil beberapa orang anak buahnya, yang waktu itu ketakutan dan tubuh mereka agak menggigil.
Walaupun dipanggil Kwee Tayjin, mereka tidak berani segera masuk ke dalam, menantikan di dekat pintu saja.
"Cepat ambil gadis cilik itu bersama pamannya yang tadi kita tangkap!"
Perintah Kwee Tayjin.
Orang-orang Boan itu mengiyakan.
Tidak lama kemudian tampak tiga orang Boan yang telah membawa Giok Hoa dan Hok An ke dalam ruangan itu.
Dua orang Boan memayang Hok An yang keadaannya sangat mengenaskan sekali, sedangkan yang seorangnya lagi menggiring Giok Hoa.
Melihat keadaan Hok An seperti itu, muka Yo Him dan Sasana berobah hebat.
"Sungguh keterlaluan sekali!"
Menggumam Yo Him dengan suara mengandung kegusaran.
"Kau telah menyiksa orang ini demikian kejam dan hebat..... sungguh keterlaluan sekali Kwee Tayjin.....!" Kwee Tayjin yang mukanya sebentar berobah pucat dan merah telah cepat-cepat berkata.
"Sesungguhnya..... aku..... aku tidak tahu menahu soal mereka..... Aku belum lagi dilapori perihal mereka..... semua ini tentu hasil perbuatan dari beberapa orang anak buahku..... biarlah nanti aku akan menghukum mereka sepantasnya..... sesuai dengan perbuatan mereka ini!"
Ternyata Kwee Tayjin yang dalam keadaan ketakutan, ingin melepaskan tanggung jawabnya kepada anak buahnya.
Yo Him dan Sasana mengetahui bahwa ini semua tentu perbuatan Kwee Tayjin sendiri.
Maka Yo Him tertawa dingin.
"Seharusnya dengan melihat keadaan orang ini demikian mengenaskan sekali kau sendiri seharusnya memperoleh hukuman yang setimpal, Kwee Tayjin!"
Kata Yo Him dengan suara mengandung kegusaran.
Kwee Tayjin tidak berani memandang Yo Him, dia menunduk dengan hati kebat-kebit.
Begitulah, Yo Him telah menggendong Hok An, dan meminta kepada Sasana agar menggendong Giok Hoa.
Baiklah, kami tidak akan menarik panjang urusan ini, akan tetapi, ini harus menjadi pelajaran bagimu, jika memeriksa seseorang.
Janganlah terlalu mengumbar hukumanmu.....
Jika memang terjadi lagi seperti ini, di mana engkau menyiksa orang-orang yang tidak bersalah, maka kami pun akan turunkan tangan kejam padamu.....!"
Kwee Tayjin yang tengah ketakutan hanya berulang kali berkata.
"Ya, ya, ya.....!"
Dengan kepala yang mengangguk-angguk tidak hentinya.
Dia membiarkan saja Yo Him dan Sasana membawa pergi Hok An dan Giok Hoa.
Waktu tiba di luar gedung, Yo Him dan Sasana melihat beberapa orang Boan anak buah Kwee Tayjin lainnya.
Mereka semuanya seperti juga anjing kena penggebuk menyembunyikan diri, hanya berdiri mengkeret belaka tak berani memandang Yo Him dan Sasana, semuanya menunduk dalam-dalam dan sekali-sekali saja mereka melirik.
Dengan ringan Yo Him melompati dinding pekarangan itu diikuti oleh Sasana, dan kemudian ke duanya telah berlari-lari dengan cepat membawa Giok Hoa dan Hok An.
Mereka telah keluar dari perkampungan itu karena Yo Him bersama Sasana hendak menghindarkan diri dari kemungkinan pengejaran yang akan dilakukan oleh Kwee Tayjin dan orangorangnya.
Waktu Yo Him dan Sasana tengah berlari-lari, mereka melihat di tengah udara mengikuti seekor burung rajawali putih yang besar sekali.
Mereka heran, ke mana saja mereka pergi burung rajawali putih itu tetap mengikuti saja.
Setelah berlari setengah harian, Yo Him dan Sasana berhasil membawa Hok An dan Giok Hoa sampai di lamping gunung Hoa-san.
Barulah mereka berhenti dan menurunkan Hok An dan Giok Hoa yang direbahkan di tanah.
Sesungguhnya Yo Him dan Sasana berada di perkampungan itu secara kebetulan saja.
Mereka tengah berkelana dan singgah di kampung tersebut.
Dan mereka secara kebetulan mendengar cerita dari mulut ke mulut penduduk kampung itu, betapa belum lama yang lalu ada seorang laki-laki tua dan seorang gadis cilik telah ditangkap oleh beberapa orang tentara Boan yang berpakaian sipil.
Memang penduduk kampung itu selalu diliputi ketakutan belakangan ini, di mana cukup banyak orang-orang yang ditangkapi oleh pasukan tentara Boan tersebut, yang katanya sebagai pengalaman dan penjaga ketertiban kampung itu, banyak juga penduduk itu ditangkap-tangkapi walaupun tidak memiliki kesalahan apapun.
Malah banyak juga penduduk yang mengetahui, setiap orang yang ditangkap itu akan disiksa hebat sekali, karena ada beberapa orang di antara mereka, yang telah disiksa setengah mati, dibebaskan.
Namun keadaannya sudah tidak seperti manusia lagi, bercacad sana sini dan keadaannya mengenaskan sekali.
Selanjutnya tidak bisa melakukan pekerjaan apa-apa lagi buat mereka, hanya keluarganya yang merawatnya.
Maka dari itu, sekarang di pasar itu telah ditangkap laki-laki tua itu dengan seorang gadis cilik, maka penduduk kampung merasa kasihan sekali pada mereka, yang diketahui oleh penduduk kampung tersebut tentunya bukan anggota Kay-pang atau orangorang partai pengemis.
Walaupun lelaki itu mesum, namun dia tetap rapi dan tidak ada tambalannya.
Terlebih lagi gadis cilik itu yang mengenakan pakaian baru.
Yang membuat penduduk kampung itu ramai membicarakan urusan penangkapan itu, karena mereka semuanya merasa kasihan dan bisa membayangkan, betapa gadis cilik itupun akan menjadi korban keganasan tentara Boan itu, di mana gadis cilik itu akan disiksa hebat sekali.
Semula Yo Him maupun Sasana kurang begitu memperhatikan bisik-bisik penduduk kampung itu.
Mereka baru memperhatikannya lebih serius waktu di rumah makan, di saat mereka bersantap, beberapa orang pelayan bisik-bisik dengan wajah yang murung.
"Jika memang keadaan seperti ini berlarut-larut, niscaya semua penduduk kampung ini terancam keselamatannya!"
Kata salah seorang di antara pelayan-pelayan rumah makan tersebut.
"Benar orang-orang Boan itu bisa saja sekehendak hatinya menangkap orang yang kurang mereka senangi, lalu menyiksanya. Dengan begitu, siapa saja tidak akan dapat mempertahankan hakhak azasi dirinya, maupun menjamin keselamatan dan jiwanya masing-masing, setiap detik bisa saja maut menjemputnya dengan siksaan yang entah berapa hebatnya."
"Ya,"
Kata pelayan lainnya.
"Beberapa orang yang telah ditangkap tanpa bersalah, kemudian disiksa hebat, waktu mereka dibebaskan kembali, keadaan mereka sudah tidak mirip-miripnya manusia lagi, segala apapun juga tidak bisa mereka kerjakan pula, karena mereka diwaktu itu sudah bercacad hebat. Di samping itupun mereka sudah tidak bisa menggerakkan sepasang tangan dan kaki, tidak bisa melihat dengan baik mempergunakan mata mereka, dan bicaranya juga tergagap.
"Entah siksaan apa yang telah dijatuhkan oleh orang-orang Boan itu kepada orang-orang tersebut! Aku sendiri sampai berpikir, suatu waktu mungkin aku sendiri yang akan ditangkap oleh orang-orang Boan itu dan akan disiksa seperti itu juga, tanpa memiliki kesalahan apapun!"
Para pelayan itu menghela napas dalam-dalam.
"Aku hanya merasa kasihan pada gadis cilik itu, yang ditangkap bersama-sama dengan lelaki setengah tua yang bersamanya, tentu mereka berdua akan disiksa hebat sekali! Aku tahu benar, dan merekapun bukan dari golongan Kay-pang (pengemis), seperti yang selama ini dicari-cari oleh orang-orang Boan tersebut. Akan tetapi tokh mereka tetap saja ditangkap dan pasti mereka akan mengalami siksaan yang hebat sekali.....!"
Kata salah seorang pelayan itu pula.
Muka mereka murung sekali.
Dan perhatian Yo Him serta Sasana jadi tertarik oleh pembicaraan para pelayan tersebut, karena memang sejak tadi mereka telah mendengarnya perihal penangkapan terhadap diri gadis cilik itu dan lelaki setengah baya yang sesungguhnya tidak bersalah itu.
Dengan demikian, Yo Him dan Sasana jadi bertanya-tanya.
Entah apa yang telah terjadi di perkampungan ini, sehingga tampaknya semua penduduk kampung tersebut dikuasai oleh kegelisahan seperti itu.
Sampai akhirnya Sasana telah menganjurkan Yo Him agar mereka pergi ke tempat orang-orang Boan tersebut, buat membebaskan si gadis cilik dan lelaki tua yang diduga adalah ayah gadis cilik tersebut.
Yo Him pun menyatakan persetujuannya, karena memang dia tertarik sekali mendengar urusan penasaran itu.
Malah lebih jauh Yo Him dan Sasana mendengar percakapan para pelayan itu.
"Pembesar Kwee Tayjin yang memimpin orang-orang Boan itu, memiliki kepandaian yang tinggi, karena dari itu, jika kita hendak melawan, dengan mempergunakan kekerasan, kukuatir nanti membawa akibat yang tidak baik-baik untuk kita semua......!" "Sttt......!"
Waktu dia baru berkata sampai di situ, kawannya telah memberi isyarat, kemudian saling memandang ke sekeliling mereka.
Selanjutnya, mereka tidak bercakap-cakap pula, apalagi mereka melihat Yo Him dan Sasana mengawasi ke arah mereka.
Karenanya, para pelayan tersebut bubar.
"Apakah lebih baik kita menanyakan urusan itu pada para pelayan tersebut?"
Tanya Sasana. Yo Him menggeleng, dia tidak menyetujuinya.
"Nanti bisa menyebabkan mereka ketakutan, lebih baik-baik kita bertanya-tanya saja di luar, tempat beradanya markas dari pembesar orang-orang Boan itu, yaitu Kwee Tayjin!"
Sasana menyetujui usul Yo Him.
Begitulah mereka telah meninggalkan rumah makan tersebut.
Dengan bertanya-tanya pada beberapa orang penduduk, walaupun dengan perasaan segan dan takut-takut, penduduk yang ditanya Yo Him memberitahukan tempat kediaman dari panglima orang-orang Boan itu.
Disebabkan itu pula mengapa Yo Him dan Sasana bisa tiba di tempat kediaman Kwee Tayjin dan telah menolongi Hok An serta Giok Hoa.
Sekarang, setelah berhasil menolongi Giok Hoa dan Hok An, Yo Him dan Sasana telah membawanya pergi keluar perkampungan cukup jauh.
Malah mereka telah membawanya sampai ke lamping gunung Hoa-san tersebut.
Dan kini mereka beristirahat dengan merebahkan Giok Hoa dan Hok An di tanah, karena mereka melihat betapa luka yang diderita oleh Hok An sangat parah.
Cuma saja mereka sangat bersyukur sekali bahwa Giok Hoa tidak terluka dan belum teraniaya.
Karena dari itu Yo Him telah mengambil tempat obatnya, dia mengeluarkan semacam obat bubuk, dan memborehkan pada kaki dan bagian lainnya anggota tubuh Hok An yang terluka.
Bahkan mulutnya yang telah rusak karena siksaan orang-orangnya Kwee Tayjin itu, telah diobatinya.
"Dilihat dari parahnya luka yang diderita orang ini, mungkin dalam waktu satu bulan keadaannya baru bisa pulih kembali.....!"
Kata Yo Him, seperti juga berkata kepada dirinya sendiri.
Sasana membenarkan, dan dia telah membantu membalut luka pada kaki Hok An, Sedangkan Giok Hoa juga diurus oleh Sasana.
Begitulah, setelah Giok Hoa tersadar dari pingsannya.
Sasana mengajaknya bercakap-cakap.
Memang Sasana puteri dari seorang pangeran Boan juga, yaitu pangeran Ghalik, akan tetapi karena kematian ayahnya dan juga karena telah tertanam di dalam hatinya perasaan antipati terhadap orang-orang Boan.
Dia sekarang benar-benar berdiri di pihak orang-orang Han.
Apalagi sekarang ini dia menyaksikan kekejaman dari orang-orang Boan itu, yang telah menyiksa sekehendak hati mereka dengan ganas dan buas, menyebabkan Sasana jadi semakin membenci orang-orang Boan.
Giok Hoa yang mengetahui dirinya dan juga Hok An telah ditolong oleh Yo Him dan Sasana, jadi girang dan berulang kali mengucapkan rasa syukurnya dan juga terima kasihnya.
Sedangkan Hok An sendiri masih pingsan, karena dia menderita terlalu hebat, membuat dia tidak bisa segera tersadar dengan cepat.
Yo Him telah berusaha menyadarkan Hok An.
Namun usahanya itu tetap gagal, karena Hok An tetap pingsan tidak sadarkan diri, sampai akhirnya Yo Him telah menotok beberapa jalan darah di tubuh Hok An.
untuk menyadarkan laki-laki itu.
"Apakah dia ayahmu?!"
Tanya Sasana kepada Giok Hoa. "Bukan...... dia pamanku, Cie-cie..... paman Hok An!"
Menjelaskan Giok Hoa.
"Mengapa kalian bisa ditangkap orang-orang Boan itu?!"
Tanya Sasana lagi.
"Kami sendiri tidak mengetahui, kami tidak pernah berbuat suatu kesalahanpun juga, akan tetapi orang-orang Boan itu justeru telah menangkap kami, bahkan orang-orang Boan itu memaksa paman Hok agar mau mengakui bahwa kami dari Kay-pang..... Aku sendiri tidak mengetahui, entah apa maksud mereka dengan yang disebut Kay-pang itu!"
Sasana tersenyum, kemudian menghela napas dalam-dalam.
"Sudahlah adikku, kau jangan terlalu bersedih!"
Menghibur Sasana, karena dilihatnya mata Giok Hoa telah memerah, seperti juga gadis cilik itu akan menangis. Sedangkan Giok Hoa telah mengangguk sambil mengucapkan terima kasih.
"Jika tidak ada Cie-cie dan Koko itu, niscaya aku berdua dengan paman Hok akan teraniaya lebih hebat di tangan orang-orang Boan itu.....!"
Kata Giok Hoa pula. Sasana menghela napas lagi, dia mengusap-usap punggung Giok Hoa, katanya.
"Memang sekarang ini orang-orang Boan tampaknya tengah mengganas, di mana mereka mengumbar angkara murka mereka tanpa memikirkan keselamatan dan kepentingan rakyat! Memang orang-orang Boan tengah melakukan pengejaran terhadap orang-orang Kay-pang, di mana setiap anggota Kay-pang akan ditangkap mereka dan disiksa hebat......!"
"Sebenarnya Cie-cie, apakah itu Kay-pang?"
Tanya Giok Hoa masih tidak mengerti.
"Paman Hok diperintahkannya agar mengaku sebagai orang Kay-pang dan selanjutnya dijanjikannya tidak akan disiksanya lebih jauh."
Sasana memandang gadis cilik ini sejenak, usianya masih terlalu kecil.
Jika memang dia menceritakan sejelas-jelasnya, belum tentu gadis cilik ini bisa mengerti akan ceritanya tersebut dan juga duduk persoalannya.
Maka dia telah berpikir untuk memberikan penjelasan singkat saja.
Namun belum lagi Sasana menceritakan segalanya, waktu itu Hok An telah mengeluarkan suara keluhan dan tersadar dari pingsannya.
Dia mengeluh dan merintih kesakitan, sebab, begitu dia siuman dari pingsannya, seketika dia menderita kesakitan yang hebat sekali, membuat dia sangat menderita.
"Tenang.....
tenang.....!"
Menghibur Yo Him segera. Dan juga pemuda ini mengeluarkan botol obatnya, diberikan beberapa butir kepada Hok An, yang segera diperintahkannya agar menelan pil tersebut.
"Kau akan segera sembuh, dan pil itu akan mengurangi penderitaan dan perasaan sakitmu.....!"
Menjelaskan Yo Him.
Hok An belum bisa mengucapkan suatu apa pun juga dengan jelas, karena mulut dan bibirnya yang bengkak besar juga pecah-pecah, di samping bagian dalam mulutnya terluka hebat sekali.
Dengan demikian membuat Hok An tidak bisa mengucapkan kata-kata dengan jelas.
Sedangkan Giok Hoa yang melihat paman Hok nya itu telah siuman dari pingsannya, segera memburunya, sambil menangis dia ingin menubruk untuk memeluk paman Hok nya itu.
Akan tetapi Yo Him mencegahnya.
"Jangan ganggu dia dulu, biarkan dia tertidur..... dia menderita luka yang parah sekali. Jika dia tidak bisa berdiam dengan tenang, lukanya itu akan membuatnya menderita hebat sekali. Maka dari itu nona kecil, biarkan saja dia beristirahat dulu, buat menenangkan hatinya. Siksaan yang dialaminya itu pasti telah membuat goncangan jiwa yang tidak ringan bagi dirinya......!"
Giok Hoa bisa dibujuk Yo Him, dan dia telah mengangguk sambil menghapus air mata nya.
"Koko..... apakah paman Hok ku itu akan sembuh seperti sedia kala?"
Tanya Giok Hoa. Yo Him mengangguk sambil tersenyum.
"Ya, ya, ya...... memang dia akan sembuh kembali seperti sediakala. Dan juga dia akan dapat bicara dan berjalan seperti biasa serta mengasuhmu karena dari itu, nona engkau tidak perlu terlalu kuatir..... pergilah engkau bercakap-cakap dengan Cieciemu....."
Giok Hoa mengucapkan terima kasih, segera juga dia berlalu untuk menghampiri Sasana. Dan diapun setelah duduk bertanya lagi.
"Cie-cie..... sesungguhnya apakah itu Kay-pang.....?"
Sasana tersenyum.
"Baiklah adikku, aku akan menjelaskan serba singkat saja, agar kau mengerti duduknya persoalan!"
Kata Sasana kemudian. "
Sesungguhnya Kay-pang adalah sebuah perkumpulan pengemis yang mengumpulkan dan mengorganisasikan pengemis-pengemis di seluruh daratan Tiong-goan ini.
Karena terjadi suatu gerakan, di mana Kay-pang berusaha menumpas bangsa Boan yang menjajah negeri kalian maka telah terbunuh Koksu negara Mongolia juga beberapa orang gagah lainnya dari Mongolia."
Dengan demikian Kaisar Boan itu telah perintahkan semua pasukannya untuk memusuhi Kay-pang juga mengeluarkan firman, untuk menangkap-nangkapi orang Kay-pang.
Dan kalian berdua telah dituduh sebagai orang-orang Kay-pang, lalu ditangkap dan disiksa......!
Hemm, itulah pekerjaan dari manusia-manusia tidak punya guna, karena para tentara negeri yang telah menerima perintah dari atasannya, yang menerima firman dari Kaisar, maka mereka bekerja dengan serabutan."
Semua orang yang mereka curigai akan ditangkap, bahkan orangorang yang tidak bersalah tentu akan ditangkap dan disiksa, maka semua orang penduduk di kampung itu membenci orang-orang Boan tersebut, di mana beberapa orang penduduk kampung itu telah ada yang ditangkap dan menderita hebat karena disiksa, padahal mereka tidak bersalah sama sekali.
Giok Hoa mendengar cerita Sasana dengan sepasang mata yang terpentang lebar-lebar mengawasi Sasana, dia tidak mengerti, mengapa justeru pengemis-pengemis yang harus dimusuhi Kaisar Boan itu.
Sedangkan Sasana telah berkata lagi.
"Sekarang..... sekarang ini memang banyak sekali orang yang menderita karena firman dari Kaisar Boan tersebut. Tentara negeri yang tidak punya guna dan tidak bisa bekerja dengan baik-baik, sehingga mereka tidak berhasil menangkap-nangkapi orang-orang Kay-pang, segera asal tangkap saja penduduk biasa, yang mereka tuduh sebagai anggota Kay-pang, kemudian memberikan laporan ke atasan mereka, berapa banyak orang "
Kay-pang"
Yang telah mereka tangkaptangkapi itu.
Yang akhirnya menjadi korban justeru adalah penduduk setempat juga, yang akhirnya telah disiksa dengan hebat oleh mereka, yang dipaksa agar mau mengakui sebagai orang-orang Kay-pang......"
Giok Hoa mengangguk-angguk beberapa kali, katanya dengan penasaran.
"Pantas mereka telah memaksa paman Hok agar mau mengaku sebagai orang Kay-pang..... Tidak tahunya mereka itu semuanya merupakan manusia-manusia tidak punya guna yang tidak bisa melaksanakan firman Kaisar mereka, guna menangkapnangkapi orang-orang Kay-pang. "
Lalu mereka telah menangkapi orang orang yang tidak bersalah dan tidak berdaya yang akan mereka paksa untuk mengaku sebagai orang Kay-pang.
Dengan demikian di mata atasan mereka, semua orang-orang Boan itu bisa bekerja dengan baikbaik dan mereka telah berhasil menangkap cukup banyak orangorang Kay-pang!"
"Benar adikku, apa yang kau katakan itu memang tepat sekali!"
Kata Sasana.
"Memang begitulah kejadian yang sebenarnya......"
Setelah berkata begitu, Sasana menghela napasnya dalam-dalam.
Yo Him waktu itu tengah mengawasi Hok An yang kini telah tertidur nyenyak, karena memang obat yang diberikan olehnya tadi mengandung bius, dan dapat membuat seseorang yang memakan obat itu akan tertidur nyenyak, guna mengurangi penderitaannya dari sakit yang dideritanya.
Sekarang melihat Hok An telah tertidur nyenyak, dengan bibir yang bengkak besar dan keadaannya yang sangat mengenaskan sekali, telah membuat Yo Him hampir saja menitikkan air mata.
Sedangkan Sasana sendiri berusaha menghibur Giok Hoa.
Disaat itu, Yo Him menghela napas dalam-dalam dan bangkit dari duduknya.
Dia telah menghampiri Sasana, katanya.
"Keadaannya cukup parah, sulit bagi kita menyembuhkan keseluruhannya tanpa memiliki obat-obat yang manjur benar-benar..... Apakah kita lebih baik membawanya ke kota yang terdekat dengan tempat ini, agar dapat seorang tabib mengobatinya dengan baik?"
Sasana tidak segera menyahuti, dia berdiam diri beberapa saat, sampai akhirnya dia telah bilang.
"Jika memang demikian, bukankah pada akhirnya hanya akan membuat orang ini terancam bahaya yang tidak kecil, karena dia tentu mengalami suatu keadaan yang sangat menguatirkan sekali..... Tentu akan membuat orang-orang Boan yang mengejarnya pasti akan menyelidikinya di sekitar tempat ini. Kalau memang terjadi seperti itu, niscaya akan membuat jiwanya benar-benar terancam."
Walaupun kita berusaha untuk melindunginya, akan tetapi tetap saja suatu waktu, setelah dia berpisah dari kita, akan terancam sekali.
Karena dia selanjutnya pasti bercacad dan kepandaiannyapun berkurang banyak sekali, disebabkan lukalukanya seperti ini benar-benar akan membuat dia tidak berdaya jika menghadapi musuh.....
Baca Juga: Wanita Iblis Pencabut Nyawa 4
Baca Juga: Seruling Samber Nyawa 8