Eps 1 Anak Rajawali - Chin Yung
Baca online Anak Rajawali - Chin Yung
Cersil Anak Rajawali - Chin Yung.
ANAK RAJAWALI Cerita Silat Anak Rajawali ini merupakan hasil karya pengarang Chin Yung yang disadur oleh Sin Liong.
Hasil karya ini merupakan bagian dari Serial Pemanah Rajawali dan merupakan kelanjutan dari Cersil Biruang Salju.
Serombongan anak-anak berjumlah kurang lebih tujuh atau delapan orang, tengah bersorak-sorai di belakang seorang laki-laki berusia empatpuluh tahun lebih.
Anak-anak yang berusia di antara sepuluh atau sembilan tahun itu ramai sekali meneriaki, mengejek dan mentertawai lelaki tua berpakaian aneh di depan mereka.
"Ayo tangkap kakinya.....!"
Teriak salah salah seorang anak dengan suara yang nyaring dan diiringi dengan tertawanya. "Ya, ya, tangkap kakinya!"
Berseru yang lainnya memperkuat anjuran tersebut.
"Tangannya saja..... ayo tangkap tangannya!"
Teriak anak kecil yang lainnya.
Maka dua orang di antara rombongan anak-anak itu telah maju dua orang.
Mereka segera menyambar kaki orang berusia empatpuluh tahun lebih dengan pakaian yang kumal itu.
Ke dua anak itu berani sekali, masing-masing mencekal kaki dari lelaki itu, yang seorang untuk kaki kiri dan yang seorang lagi kaki kanan, yang mereka peluk kuat-kuat, sehingga lelaki berpakaian mesum tersebut tidak bisa melangkah lagi.
Keadaan lelaki berusia empatpuluh tahun lebih itu agak luar biasa, rambutnya awut-awutan dan juga wajahnya tampak penuh oleh kerut-kerut menyatakan bahwa ia selama hidupnya penuh dengan penderitaan.
Akan tetapi, walaupun diganggu oleh anak-anak yang nakal itu demikian rupa, tampaknya lelaki berusia empatpuluh tahun lebih itu tidak menjadi marah.
Malah waktu ke dua kakinya diganduli oleh ke dua anak tersebut, dia telah berhenti melangkah, sambil menghela napas ia bilang.
"Lepaskanlah, nak.....
aku harus pergi ke suatu tempat yang jauh dan perlu cepat-cepat.....
Jika kalian memegangi ke dua kakiku seperti ini bagaimana mungkin aku bisa berjalan?
Bagaimana aku bisa mengurus urusanku itu?!"
Meledak tertawa rombongan anak nakal tersebut, mereka menganggapnya lucu sekali.
Memang empat hari belakangan ini lelaki dengan pakaian yang begitu mesum, telah muncul di kampung mereka ini, yaitu kampung Pang-tat-cung, dan sejak saat itu lelaki tersebut selalu menjadi sasaran dan korban godaan kenakalan dari anak-anak nakal di kampung tersebut.
Akan tetapi selama empat hari itu, lelaki berpakaian mesum tersebut berkeliaran di kampung Pang-tatcung, tidak pernah pergi ke manapun, walaupun selalu saja dia mengatakan ingin pergi ke suatu tempat yang jauh buat mengurus sesuatu yang penting.
Ke dua orang anak lelaki itu, yang mengganduli ke dua kaki lelaki berpakaian mesum tersebut menggelengkan kepalanya, katanya.
"Tidak! Kami tidak akan melepaskan kakimu! Jika memang kau dapat, lepaskanlah sendiri!" Lelaki berusia pertengahan baya tersebut menghela napas dalamdalam, kemudian katanya.
"Anak-anak nakal..... sudahlah lepaskan rangkulan kalian, nanti aku akan membagikan kalian seorangnya satu chie!"
"Mana?! Mana?! Berikan dulu!"
Teriak beberapa orang anak-anak lainnya.
"A Kie, A Bun, kalian jangan melepaskan dulu kakinya..... lihatlah, dia ingin mendustai kita! Cekal dan peluk yang keras.....!"
A Kie dan A Bun, ke dua anak lelaki yang mengganduli ke dua kaki dari lelaki berpakaian mesum tersebut telah mengerahkan seluruh tenaga mereka buat memeluk kuat-kuat ke dua kaki lelaki berpakaian mesum itu, muka mereka sampai memerah karena mempergunakan tenaga yang berkelebihan.
"Ya, ya, begitu, terus cekal yang kuat..... jangan dilepaskan dulu!"
Teriak beberapa orang anak-anak lainnya. Lelaki berpakaian mesum itu mau atau tidak jadi tersenyum melihat lagak dari anak-anak ini katanya dengan sabar.
"Sudahlah..... lepaskanlah dulu....., aku pasti akan membagikan pada kalian seorangnya satu chie, bisa kalian pergunakan buat membeli gulagula!"
"Tidak! Berikan dulu!"
Berteriak beberapa orang anak-anak itu. "Baiklah!"
Kata lelaki berpakaian mesum tersebut sambil merogoh sakunya, dia benar-benar mengeluarkan pecahan dan hancuran uang perak, kemudian dibagi-bagikan kepada anak-anak itu.
Ke dua orang anak itu, A Kie dan A Bun, yang melihat lelaki setengah baya tersebut telah membagikan uangnya, segera melepaskan rangkulan mereka masing-masing pada kaki lelaki berpakaian mesum tersebut, dan meminta bagian mereka.
Hanya saja waktu mereka menerima bagian tersebut mereka tidak puas.
"Tambah!"
Berseru A Kie.
"Kami yang telah mengeluarkan tenaga berkelebihan buat merangkul kakimu, jelas kami harus memperoleh bagian yang lebih banyak!"
"Ya, tambah!"
Menimpali A Bun.
Lelaki setengah baya itu tidak mau rewel dia telah menambahkan.
Kemudian dia melangkah lagi, memutar tubuhnya buat meninggalkan rombongan anak-anak itu.
Akan tetapi biarpun tampaknya dia selalu sibuk dan melangkah dengan tergesa-gesa, seperti ada sesuatu yang hendak dikerjakan, tokh tetap dia berkeliaran di sekitar tempat itu.
Sampai akhirnya dia kembali ke tempat di mana rombongan anak-anak itu berada.
"Nah.....
kau kembali lagi!"
Teriak rombongan anak-anak nakal tersebut dengan suara yang nyaring.
"Nah, harus membagi kami uang lagi!"
Lelaki setengah baya itu memang telah mengangguk, sambil katanya.
"Nanti..... aku nanti akan membagikan kalian uang lagi.....!"
Setelah berkata begitu, lelaki mesum tampaknya agak terganggu pikirannya tersebut telah duduk di bawah sebatang pohon.
Kemudian tangan kanannya melambai memanggil salah seorang anak, agar anak itu mendekat padanya.
Karena memang selama empat hari ini lelaki berpakaian mesum tersebut selalu membagikan uang kepada mereka, sehingga anakanak itu semakin yakin bahwa lelaki berusia setengah baya itu tidak pernah marah jika digoda dan juga tangannya terbuka.
Anak-anak itupun jadi semakin berani menggodanya.
Dengan demikian anak-anak itupun tidak merasa takut walaupun melihat keadaan lelaki itu yang berpakaian mesum dan mukanya kotor.
A Kie telah menghampiri lelaki setengah baya tersebut.
"Kau ingin membagi padaku uang lagi, bukan?"
Tanyanya berani sambil nyengir. Lelaki berusia setengah baya, dengan rambut yang awut-awutan dan telah ada uban yang tumbuh di sebagian kepalanya itu, terlihat menggeleng perlahan.
"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu!"
"Apa yang ingin kau tanyakan?!"
Tanya A Kie, sedangkan A Bun dan anak-anak lainnya telah mendekati juga.
"Duduklah dulu disini, nanti aku akan menanyakan sesuatu pada kalian! Jika memang kalian bisa memberitahukan kepadaku sesuatu, aku akan membagikan kalian lagi uang, bukan satu chie lagi, tapi seorangnya sepuluh chie."
Mendengar janji orang setengah baya tersebut, segera juga A Kie dan A Bun serta anak-anak yang lainnya mendekati.
Mereka jadi tertarik sekali buat mengetahuinya apa yang ingin ditanyakan oleh lelaki mesum tersebut, yang selama empat hari ini mereka jaili dan menjanjikan hadiah yang demikian besar pada mereka.
"Ayo katakan, apa yang ingin kau tanyakan?!"
Tanya A Kie sudah tidak sabar. "Tunggu dulu..... kalian dengarlah baik-baik!"
Kata lelaki setengah baya tersebut.
"Yang ingin kutanyakan kepada kalian, apakah kalian kenal seseorang..... dan jika kalian bisa memberitahukan alamat orang itu kepadaku, maka jangan kuatir hadiah yang akan kuberikan kepada kalian sangat besar sekali!"
"Ya, ya, katakanlah, siapa yang sedang kau cari?!"
Desak A Kie. Lelaki setengah baya tersebut menghela napas, kemudian dia bilang dengan suara yang sabar.
"Orang itu she Un bernama Kim Hoa."
"Un Kim Hoa?!"
Anak-anak itu jadi mengerutkan alisnya saling pandang satu dengan yang lainnya.
Mereka seperti juga tengah berpikir keras, sampai akhirnya A Kie berseru nyaring kegirangan dengan menepuk lututnya keraskeras.
"Aku tahu! Tentu yang kau maksudkan itu nyonya Un yang tinggal di sebelah barat kampung ini, bukan?"
Bola mata lelaki setengah baya tersebut mencilak dan mengawasi anak-anak itu dengan sorot mata yang bersinar, tampak timbul harapan pada dirinya.
"Ya, coba kau jelaskan, nyonya Un itu bagaimana rupanya.
Apakah dia seorang nyonya berusia tigapuluh tahun lebih?
Dia memiliki tubuh yang langsing, dengan lesung pipit yang manis di pipi sebelah kanan dan juga dengan sebuah tahi lalat yang sebesar biji kacang hijau di pipi sebelah kirinya ke bawah dekat dagu?"
A Kie jadi bengong sejenak, kemudian lemas sambil menggelengkan kepalanya.
"Nyonya Un yang kumaksudkan itu adalah neneknya si Wang Sin..... Nyonya Un itu telah berusia hampir tujuhpuluh tahun....."
Mendengar penjelasan A Kie, lelaki setengah baya tersebut jadi lemas dan lenyap semangatnya. Dia pun memandang dengan mata yang guram lagi.
"Bukan, bukan dia..... orang yang kumaksudkan itu seorang wanita yang cantik, manis, dan juga memiliki bentuk tubuh yang elok, perangai yang halus, dan juga murah senyumnya. Disamping itu juga orang itu selalu mengenakan baju berwarna kuning dan kuntum bunga mawar di sebelah kanan bagian dadanya. Itulah kebiasaannya, dan kalian bisa cepat mengenalinya, jika melihat wanita yang memiliki kebiasaan dengan pakaian selalu berwarna kuning dengan kuntum bunga mawar di sebelah kanan bagian dadanya."
Dan setelah berkata begitu, lelaki berpakaian mesum tersebut menghela napas berulang kali. A Kie sendiri tampaknya kecewa, ia telah mengawasi lelaki berpakaian mesum tersebut.
"Jadi yang kau cari itu bukan nyonya Un yang kukatakan tadi?!"
Tanya A Kie kemudian Lelaki bermuka mesum tersebut telah menggeleng perlahan.
"Bukan, bukan..... usianya tidak setua itu!"
Katanya kemudian. A Kie telah memandang kepada kawan-kawannya, kemudian katanya.
"Coba kalian pikir, apakah kalian tahu wanita yang dicari oleh orang tua ini?!"
Kawan-kawan A Kie telah saling pandang kemudian mereka semuanya menggeleng. Tiba-tiba A Bun berseru.
"Aku tahu! Aku tahu! Tentu yang dimaksudkannya itu adalah Bin Hujin, ibu dari Bin An!"
"Bin Hujin (nyonya Bin)?!"
Tanya anak-anak yang lainnya. A Bun mengangguk.
"Ya, memang sering kudengar dari ibuku bahwa Bin Hujin bernama Un Kim Hoa, itu nama kecilnya, sebelum menikah dengan Bin Wan-gwe!"
Menyahuti A Bun. Muka lelaki berpakaian mesum tersebut jadi terang sedikit dan matanya bersinar agak terang, dengan sikap yang gelisah dia bertanya.
"Apakah kau..... kau benar-benar mengetahui di mana beradanya orang yang kucari itu?"
A Bun mengangguk cepat, akan tetapi kemudian dia batal meagucapkan kata-kata yang hampir meluncur dari mulutnya. Dia mengulurkan tangannya sambil katanya.
"Berikan dulu hadiahmu, aku yakin pasti Bin Hujin yang tengah kau cari itu!"
Lelaki berpakaian mesum tersebut jadi ragu-ragu, akan tetapi tangan kanannya telah merogoh sakunya,dia mengeluarkan lima tail perak diberikan kepada A Bun.
"Jika memang kau menunjukkan orang yang kucari itu dengan benar, nanti akan ku tambah lagi limapuluh tail perak!"
Janji lelaki berpakaian mesum tersebut.
Wajah A Bun jadi berseri-seri karena lima tail perak bukanlah jumlah yang kecil.
Apa lagi mendengar janji lelaki herpakaian mesum tersebut yang menyatakan, jika benar Bin Hujin yang tengah dicarinya, akan diberi hadiah limapuluh tail perak lagi.
Maka segera juga, dengan gembira ia menjelaskan keadaan wajah Bin Hujin.
Semakin mendengar penjelasan A Bun, mata si lelaki setengah baya tersebut semakin bersinar, pipinya yang semula pucat kuning, kini memerah, dan wajahnya berseri-seri.
"Sekarang..... sekarang dia berada di mana?!"
Tanya lelaki berpakaian mesum tersebut. A Bun tidak segera menjawab pertanyaan itu, dia malah balik bertanya.
"Benarkah orang yang tengah kau cari itu Bin Hujin adanya?!"
Lelaki berpakaian mesum tersebut mengangguk-angguk.
"Jika memang kau tidak berdusta, di dengar dari ceritamu, memang dialah yang tengah kucari......!"
Menyahuti lelaki berpakaian mesum tersebut.
"Ayo cepat tunjukkan kepadaku, di mana tempat berdiamnya dia......!" "Tunggu dulu....., ceritakan dulu kepada kami, kau masih memiliki hubungan apa dengan Bin Hujin? Dan juga hadiah sebesar limapuluh tail perak kau belum lagi memberikan kepada kami, aku kuatir nanti kau menipu kami!"
Lelaki bermuka mesum itu tersenyum pahit, walanpun dia berpakaian mesum dan dekil sekali, akan tetapi dia ternyata memiliki uang yang sangat banyak.
Tangannya telah merogoh sakunya dan memberikan pada A Bun sebanyak limapuluh tail.
Waktu lelaki berpakaian mesum tersebut memberikan uang yang limapuluh tail yang diambilnya dari dalam sebuah kantong yang dekil pula.
Anak-anak itu melihat lelaki ini masih memiliki uang yang sangat banyak, muugkin meliputi ratusan tail perak.
"Ayo antarkan aku ke tempat berdiamnya Bin Hujin....!"
Kata lelaki berpakaian mesum itu sambil memasukkan kantong uangnya ke dalam sakunya. A Bun menyimpan uangnya, ia juga bilang;
"Kami akan mengantarkan kau, akan tetapi kami tidak berani terlalu dekat dengan Gedung Bin Wan-gwe. Kau boleh datang sendiri ke sana! Bola mata lelaki berpakaian mesum tersebut mencilak. "
Kenapa?!"
Tanyanya tidak sabar.
"Karena tidak ada seorangpun penduduk kampung kami ini yang diijinkan berada di dekat gedung Bin Wan-gwe.....!"
Menyahuti A Kie, mewakili A Bun.
"Benar! Benar!"
Berseru anak-anak yang lainnya.
"A Bun dan A Kie tidak berbohong.....!"
Muka lelaki berpakaian mesum tersebut berobah menjadi marah.
"Bin Wan-gwe itu suami dari..... dari Bin Hujin yang kau katakan?!"
Tanya lelaki berpakaian mesum.
"Dia suami Un..... Un Kim Hoa?"
A Kie mengangguk.
"Benar......!"
Sahutnya.
"Jangan takut! Jika Bin Wan-gwe itu berani mengganggu kalian, aku akan menghajarnya!"
Kata lelaki berpakaian mesum tersebut.
"Ohhh, hebat sekali!"
Berseru A Kie dan A Bun serta anak-anak itu sambil tertawa.
"Wan-gwe memiliki puluhan orang tukang pukul, mana mungkin kau yang bertubuh kerempeng dan kurus seperti ini bisa mengalahkannya?!" Lelaki berpakaian kumal tersebut telah tertawa dingin, mukanya semakin memerah.
"Begitu jahatkah suami Un Kim Hoa, sehingga Kim Hoa selalu dikurungnya dan tidak diperkenankan bergaul dengan penduduk kampung ini? Hemm jika memang nanti aku memperoleh kenyataan Kim Hoa menderita di tangannya, hemm, hemm, akan kupatahkan seluruh tulang-tulang di tubuh Bin Wan-gwe itu......!"
Sambil berkata begitu, lelaki berpakaian mesum tersebut menghampiri sebuah batu-batuan yang berbentuk singa-singaan, dia telah mengayunkan tangan kanannya, memukul dengan perlahan.
Terdengar suara "plakkk!"
Yang tidak begitu keras, sedangkan anak nakal itu mengawasi terheran-heran, mereka tidak mengetahui apa yang dilakukan orang berpakaian kumal tersebut.
Mereka hanya mengetahui, jika memang orang berpakaian mesum tersebut memukul singa-singaan dari batu tersebut, niscaya dia yang akan menderita kesakitan.
Akan tetapi apa yang terjadi benar-benar mengejutkan anak-anak itu.
Singa-singaan batu itu seketika menjadi hancur berkeping-keping, seperti juga singa-singaan dari batu tersebut telah dipukul dengan pukulan besi yang berat dan kuat sekali.
Anak-anak itu jadi memandang bengong akan tetapi akhirnya mereka telah bersorak dengan gembira.
"Horee..... permainan sihir yang menarik sekali!"
Berseru A Kie, A Bun serta anak-anak itu. Sedangkan lelaki berpakaian mesum tersebut, dengan muka yang masih merah padam telah bertanya.
"Bagaimana, apakah tukang pukul dari Bin Wan-gwe memiliki tenaga yang begitu kuat?"
Anak-anak itu segera bersorak lagi, sambil ada yang berseru juga.
"Mari kita menyaksikan keramaian! Mari kita melihat keramaian!"
A Kie dan A Bun yang menyaksikan bahwa lelaki berpakaian mesum tersebut ternyata memiliki tenaga yang kuat sekali, telah timbul keberaniannya, mereka segera juga mengiyakan buat mengantar orang berpakaian mesum itu ke rumahnya Bin Wangwe.
Waktu mereka ingin berangkat, pemilik rumah tersebut, yang patung singa-singaan batunya telah dihancurkan oleh orang berpakaian mesum tersebut telah keluar dari dalam rumah karena mendengar suara ribut-ribut.
Betapa terkejutnya dia waktu melihat singa-singaan batu yang berada di luar rumahnya telah dihantam hancur seperti itu.
"Ohhh, siapa yang telah melakukan perbuatan terkutuk ini? Siapa? Cepat katakan?!"
Berseru-seru pemilik rumah tersebut. Akan tetapi lelaki berpakaian mesum itu telah merogoh sakunya, kemudian melemparkan uang lima tail perak kepada pemilik rumah itu.
"Pergi kau membeli yang baru, paling tidak hanya dua tail..... yang tiga tail buat kau!"
Memperoleh ganti rugi seperti itu, pemilik rumah tersebut tidak rewel lagi, malah sebaliknya dia telah mengucapkan terima kasih, karena dengan dihancurkan singa-singaan batu tersebut, dia malah memperoleh untung.
Sedangkan lelaki berpakaian mesum tersebut telah mengajak rombongan anak-anak itu buat meninggalkan tempat itu, menuju ke rumah Bin Wan-gwe.
Begitulah, A Kie dan A Bun yang telah memimpin rombongan anakanak tersebut mengantarkan orang berpakaian mesum itu.
Sampai akhirnya mereka telah tiba di muka sebuah gedung yang besar dan mewah, yang bertingkat dua.
Dan juga di sekeliling gedung itu terdapat pagar tembok yang cukup tinggi, hampir dua tombak lebih.
Pintu gedung tersebut berwarna coklat tua, dengan diberi garis air emas.
Orang berpakaian mesum itu telah menoleh kepada A Bun.
"Sepi..... tidak terlihat seorang manusiapun juga di rumah itu!"
Kata orang berpakaian mesum itu. A Bun mengangguk.
"Ya, mereka berada di dalam.....!"
Katanya.
"Kau ketuklah, bilang bahwa aku mencari Un Kim Hoa dan ingin bertemu dengannya!?"
Kata lelaki berpakaian mesum tersebut.
"Kami yang pergi mengetuknya? Oh, kami berani, bisa-bisa kepala kami berpisah dari leher kami!"
Kata A Bun cepat sambil memperlihatkan sikap ketakutan.
Anak-anak yang lain juga tidak berani.
Akhirnya lelaki berpakaian mesum tersebut telah menghampiri sendiri pintu gedung itu.
Dia mengetuknya dengan keras.
Walaupun tangannya tampak digerakan perlahan, tokh ketukannya menimbulkan suara gedoran yang sangat keras sekali.
Rupanya ketokan yang menyerupai gedoran tersebut mengejutkan penghuni gedung, di mana telah berlari-lari seorang pelayan yang membukakan pintu dengan muka cemberut.
"Oh kau.....?!"
Katanya dengan sikap yang sinis sekali waktu melihat tamu yang datang itu tidak lain dari seorang lelaki berpakaian mesum dan kotor sekali.
"Apa maksudmu datang kemari? Kau mencari siapa?!"
Lelaki bertubuh kurus dengan pakaian yang mesum tersebut telah menyahuti.
"Aku ingin bertemu dengan Un Kim Hoa!"
"Un Kim Hoa? Siapa dia......?!"
Tanya pelayan tersebut. Dan waktu itu muka si pelayan telah berobah merah padam, dengan mendongkol dia mau meaggabruki pintu buat menutup kembali.
"Lain kali jangan mengetuk pintu sekeras itu, atau memang kau sudah gila, heh? Lain kali kau harus tahu adat!" Dimaki begitu, lelaki berpakaian mesum tersebut tidak memperdulikan, dan dia telah mengulurkan tangan kanannya buat menahan pintu yang akan tertutup lagi itu. Dengan ditahan oleh jari telunjuknya saja, pintu yang digabruki itu akan ditutup dengan keras oleh pelayan tersebut, jadi tidak bisa bergerak lebih jauh dan tetap berada di tempatnya, walaupun pelayan itu telah mengerahkan seluruh tenaganya buat menutup pintu itu.
"Eh, kurang ajar! Di siang hari bolong seperti ini engkau hendak mengacau dan menggarong rupanya?!"
Memaki pelayan itu sengit dan marah. Tetapi orang bepakaian mesum tersebut telah berkata dengan suara yang dingin.
"Aku ingin bertemu dengan Un Kim Hoa!"
"Un Kim Hoa! Un Kim Hoa! Kenalpun tidak aku akan orang itu! Pergi kau mencari ke tempat lain......!"
Teriak pelayan itu mendongkol sekali. Muka lelaki berpakaian mesum itu berobah, dia telah bertanya bersungguh-sungguh.
"Jadi Un Kim Hoa tidak tinggal di rumah ini? Bukankah dia..... telah menjadi isteri dari Bin Wan-gwe?" Rombongan anak-anak itu, A Bun, A Kie dan juga kawankawannya, waktu melihat pelayan Bin Wan-gwe telah bergusar seperti itu mereka beramai-ramai meninggalkan tempat tersebut. Sedangkan pelayan itu sendiri waktu mendengar perkataan terakhir dari orang berpakaian mesum tersebut, telah bertanya dengan kaget.
"Apa kau bilang? Isteri Bin Wan-gwe? Kau sinting atau tengah bermimpi..... yang ingin kau jumpai itu Bin Hujin?!"
Lelaki berpakaian mesum itu mengangguk dia mengiyakan.
"Ya, anak-anak itu mengatakan, Bin Hujin adalah Un Kim Hoa.....!"
Menyahuti lelaki berpakaian mesum tersebut. Sedangkan si pelayan telah mengawasi beberapa saat pada lelaki berpakaian mesum itu, kemudian tersenyum sinis sambil gelenggelengkan kepalanya.
"Benar juga, tampaknya engkau memang seorang yang sinting..... engkau telah bertindak dan berkata begitu kurang ajar! Hemm, kau menyebut-nyebut bahwa Bin Hujin adalah Un Kim Hoa dan engkau ingin bertemu dengannya..... Inilah lelucon yang tidak lucu........!"
Dan pelayan itu menggerakkan tangannya lagi dia telah mengerahkan seluruh kekuatan dan tenaganya buat menutup pintu itu.
Akan tetapi walaupun dia telah mengerahkan seluruh kekuatannya, tokh dia gagal sama sekali, dia tidak berhasil menggerakkan daun pintu tersebut.
"Cepat panggilkan Un Kim Hoa!"
Kata lelaki berpakaian mesum tersebut. Akan tetapi pelayan itu telah membentak marah.
"Cepat kau menggelinding pergi sebelum nanti kulemparkan kau jauh, anjing busuk!"
Muka lelaki berpakaian mesum itu jadi berobah merah, dia mendorong daun pintu itu, yang tadi dia tahan dengan jari telunjuknya.
Tampaknya dia menggerakkan tangannya itu perlahan sekali, akan tetapi kenyataannya yang ada tenaga yang terpancar keluar dari dorongannya tersebut sangat kuat sekali, karena daun pintu itu telah menjeblak terbuka dan seketika menghantam muka si pelayan rumah Bin Wan-gwe, yang tubuhnya terpental dengan mata yang berkunang-kunang dan juga telah mengucur deras sekali darah dari hidungnya!
Tubuh terpelanting bergulingan di tanah.
Waktu itu tampak lelaki berpakaian mesum itu dengan sikap yang bersungguh-sungguh berkata.
"Cepat kau panggilkan Un Kim Hoa, katakan aku ingin bertemu.....!"
Pelayan itu jadi kaget dan semangatnya seperti terbang setelah mengetahui bahwa lelaki berpakaian mesum tersebut memiliki tenaga yang sangat kuat sekali.
Sedangkan pelayan ini memang seorang yang licik, dia menyadari tidak mungkin dia bisa menghadapi lelaki berpakaian mesum tersebut, maka dia mengangguk sambil berusaha tersenyum manis.
"Baik, baik, aku akan segera memanggilnya, kau tunggulah.....!"
Kata pelayan itu, seraya cepat-cepat memutar tubuhnya berlari ke dalam dengan hati yang kebat-kebit takut bercampur marah.
Sedangkan lelaki berpakaian mesum itu telah berdiri di tempatnya menanti dengan tidak sabar.
Tidak lama kemudian tampak pelayan itu telah kembali keluar dengan langkah lebar.
Di belakangnya tampak mengikuti enam lelaki bertubuh tinggi besar dan semuanya memiliki potongan wajah yang mengerikan sekali.
"Itu dia orangnya!"
Teriak pelayan sambil menunjuk ke arah si lelaki berbaju kumal dan mesum tersebut.
Seorang dari ke enam lelaki bertubuh tinggi besar tersebut telah menghampiri lelaki berpakaian mesum itu, dan berkata dengan suara yang parau menyeramkan.
"Apa maksudmu menimbulkan kekacauan seperti ini?!"
"Aku ingin bertemu dengan Un Kim Hoa!"
Menyahuti si lelaki berpakaian mesum dengan sikap yang tidak sabar.
Sama sekali dia tidak memperlihatkan perasaan jeri walaupun melihat ke enam orang bertubuh tinggi besar itu yang tentunya tukang pukul dari Bin Wan-gwe.
"Hemmm,"
Mendengus lelaki bertubuh tinggi besar itu.
"Siapa orang yang ingin kau temui itu? Kami tidak mengenalnya!"
"Un Kim Hoa adalah isteri Bin Wan-gwe!"
Menyahuti lelaki berpakaian mesum itu. Kemudian dia menoleh kepada si pelayan yang berdiri cukup jauh, karena tampaknya pelayan itu takut buat dekat-dekat dengan lelaki berpakaian mesum tersebut.
"Mana dia Un Kim Hoa, mengapa kau tidak memanggilnya keluar?!"
Tanya lelaki berpakaian mesum itu lagi. Sedangkan tukang-tukang pukul Bin Wan-gwe waktu itu terkejut dan bercampur marah.
"Ohhh, sungguh kurang ajar sekali, kau!"
Kata salah seorang di antara mereka.
"Mulutmu yang kurang ajar seperti itu harus dirobek! Kami saja tidak mengetahui siapa nama kecil Bin Hujin, akan tetapi kau begitu kurang ajar berani menduga-duga siapa nama Bin Hujin dan coba-coba menyebutkan nama sembarangan saja!"
Setelah berkata begitu, tukang pukul yang seorang itu tidak berdiam diri saja, dia telah melangkah mendekati, dan mengulurkan tangannya menghantam ke mulut lelaki berpakaian mesum tersebut.
Akan tetapi lelaki berpakaian mesum tersebut tidak berusaha mengelakkan diri dari pukulan yang sebenarnya sangat kuat dan bisa membahayakan mukanya dan mungkin jika pukulan itu mengenai sasarannya dengan tepat akan merontokkan seluruh gigi dari lelaki bertubuh kerempeng dan berpakaian mesum tersebut.
"Mana dia Un Kim Hoa?!"
Masih juga lelaki berpakaian mesum tersebut sempat bertanya seperti itu.
Dan waktu pukulan dari tukang pukul yang galak itu hampir tiba di mukanya, dengan gerakan yang cepat sekali dia telah mengangkat tangan kanannya tahu-tahu dia telah mencekal pergelangan tangan orang itu.
Terdengar suara "Krekkk"
Dan tukang pukul yang seorang tersebut menjerit keras sekali, tubuhnya sempoyongan ke belakang, mukanya pucat pias, karena tulang pergelangan tangannya yang tadi telah kena, dicekal oleh lelaki berpakaian mesum tersebut telah hancur.
Rupanya cekalan lelaki berpakaian mesum tersebut seperti juga remasan jari-jari baja.
Lima orang tukang pukul Bin Wan-gwe yang lainnya waktu melihat keadaan teman mereka seperti itu, segera mengeluarkan bentakan marah.
Mereka telah mencabut senjata masing-masing yaitu pedang dan golok mereka, yang dipergunakan mengancam untuk menyerang kepada lelaki berbaju mesum tersebut.
Sedangkan waktu itu tampak lelaki berbaju mesum itu dengan jengkel, tanpa memperlihatkan perasaan jeri, walaupun ke lima orang tukang pukul Bin Wan-gwe itu telah mencabut senjata mereka membanting-banting kakinya.
"Cepat panggilkan Un Kim Hoa!
Cepat panggilkan!
Atau memang kalian menginginkan aku pergi masuk mencarinya sendiri?"
Sambil berkata begitu, dia juga telah memperlihatkan sikap tidak senangnya.
Akan tetapi ke lima tukang pukul Bin Wan-gwe dengan wajah yang menyeramkan, telah melompat ke dekat lelaki berbaju mesum tersebut, golok dan pedang mereka telah menyambar untuk menikam dan membacok.
Gerakan yang dilakukan oleh mereka memang telengas sekali, karena mereka memang kejam dan berhati bengis terhadap siapapun juga, karenanya mereka telah menyerang kepada sasaran yang bisa mematikan dan berbahaya di tubuh lelaki berbaju mesum tersebut.
Sedangkan lelaki berbaju mesum itu sama sekali tidak berkisar dari tempatnya.
Dia hanya berseru-seru agar orang-orang itu mau memanggilkan Un Kim Hoa keluar dari rumah itu.
Dan waktu dua batang golok tiba lebih dulu ke dekat leher dan perutnya, cepat sekali dia melakukan gerakan yang aneh sekali, di mana tangannya seperti juga japit, telah menjapit dengan kuat ke dua senjata itu, yang kemudian menjadi patah.
Waktu orang berpakaian mesum tersebut mengibaskan tangannya, seketika juga tampak tubuh ke dua penyerangnya itu telah terpental bergulingan di atas tanah, dari mulut dan hidung mereka telah keluar darah.
Sedangkan ke empat orang kawan tukang pukul dari Bin Wan-gwe, termasuk tukang pukul yang seorang itu yang pergelangan tangannya telah dihancurkan dengan remasan lelaki berbaju mesum tersebut, jadi kaget bukan main.
Yang tiga orang segera menerjang maju dengan terjangan yang hebat sekali, karena mereka begitu marah dan sudah tidak memperdulikan apakah itu merupakan serangan senjata tajam mereka itu bisa membinasakan lelaki berbaju mesum ini atau tidak.
Sedangkan lelaki berbaju mesum itu telah berseru.
"Mana dia Un Kim Hoa? Mana dia? Mengapa kalian tidak memanggilnya keluar?!"
Sambil berseru-seru seperti itu, tampak lelaki berbaju mesum tersebut telah mengibaskan tangannya dengan perlahan, namun berhasil membuat ke tiga senjata tajam di tangan ke tiga orang tukang pukul Bin Wan-gwe tersebut terpental terlepas dari cekalan mereka masing-masing.
Lelaki berbaju mesum tersebut tiba-tiba mencelat ringan sambil menggerakkan ke dua tangannya, tahu-tahu ke tiga batang senjata dari tukang pukulnya Bin Wan-gwe telah berada dalam tangannya, yang dicekal menjadi satu di tangan kanannya.
Dan malah kemudian dengan gerakan yang hampir sulit diikuti oleh pandangan mata manusia biasa, waktu itu senjata di tangan kanan lelaki berbaju mesum itu bergerak.
Seketika terdengar suara jeritan ke tiga orang tukang pukul Bin Wan-gwe karena di waktu itu telinga mereka masing-masing telah terpotong putus, darah mengucur deras sekali.
Masing-masing putus telinga sebelah kanan.....
Tukang pukul Bin Wan-gwe yang tadi tulang pergelangan tangannya telah hancur segera memutar tubuhnya dan berlari masuk ke dalam rumah.
Pelayan Bin Wan-gwe, yang wajahnya masih dilumuri darah juga telah memutar tubuhnya berlari dengan keras.
Saat itu tampak orang berpakaian mesum tersebut telah membuang ke tiga senjata rampasan itu ke atas tanah, dia menoleh kepada ke lima orang tukang pukul Bin Wan-gwe, yang belum melarikan diri ke dalam.
"Cepat kalian panggil keluar Un Kim Hoa!"
Katanya.
"Kami....., kami sesungguhnya tidak kenal dengan orang yang kau maksudkan bernama Un Kim Hoa itu..... karena kami sendiri sebenarnya memang tidak mengetahui siapa nama kecil dari Bin Hujin, majikan kami itu.....!"
Kata salah seorang tukang pukul Bin Wan-gwe dengan suara tergagap.
"Panggil keluar dulu Bin Hujin itu! Biar nanti aku yang melihatnya benarkah dia yang bernama Un Kim Hoa atau memang bukan dan anak-anak itu telah mendustai aku!"
Kata lelaki berpakaian mesum itu. Waktu itu dari dalam telah berlari tujuh atau delapan orang tukang pukul Bin Wan-gwe yang lainnya. Mereka telah mengurung lelaki berpakaian mesum tersebut.
"Hati-hati....., dia lihay!"
Memperingati salah seorang kawan mereka, yaitu tukang pukul yang tadi telah dihajar lelaki berbaju mesum dan telinga sebelah kanannya telah putus itu.
Tetapi delapan orang tukang pukul Bin Wan-gwe yang baru keluar itu rupanya sangat sombong sekali, mereka tidak memperdulikan peringatan kawannya.
Berdelapan mereka telah maju mengurung lelaki berbaju mesum itu.
Akan tetapi belum lagi mereka menyerang, waktu itu, dari dalam gedung telah berlari-lari keluar seorang lelaki bertubuh tinggi besar, dan berperut buncit, dia berseru.
"Siapa yang ingin bertemu dengan isteriku? Siapa orangnya?"
Tetapi waktu dia telah ke ruangan depan, dan melihat lelaki berpakaian mesum tersebut, dia merandek dan mengawasi sesaat lamanya, dengan sikap yang tidak senang.
"Oh..... kau?!"
Dia bilang.
"Kukira siapa, tidak tahunya seorang pengemis! Apakah pantas seorang pengemis seperti kau ingin bertemu dengan isteriku yang terhormat dan memiliki kedudukan yang agung?!"
Lelaki berbaju mesum itu tidak memperdulikan ejekan Bin Wangwe, hartawan yang baru keluar dengan bentuk tubuh yang gemuk besar tersebut.
"Aku ingin bertemu dengan Un Kim Hoa cepat panggil keluar....., atau memang terpaksa aku harus mencarinya sendiri ke dalam!"
Bin Wan-gwe waktu itu telah mengawasi sekian lamanya lagi pada lelaki berbaju mesum itu, lalu bertanya.
"Siapa kau sebenarnya? Dan apa maksudmu mencari Kim Hoa, isteriku itu?!" Semua tukang pukul Bin Wan-gwe jadi terkejut dan heran. Sekarang mereka baru mengetahuinya bahwa nama kecil dari nyonya majikan mereka memang Un Kim Hoa, dan lelaki berbaju mesum tersebut tidak berdusta. Lelaki berbaju mesum itu tertawa sambil memperlihatkan sikap yang getir karena menelan banyak penderitaan, dengan suara yang tawar dia bilang.
"Aku ingin mencari Un Kim Hoa. Jika kau bisa menolongku, agar dia mau keluar menemui aku, akan kuhadiahkan engkau sepuluh tail perak!"
Mendengar perkataan lelaki berbaju mesum tersebut, meledaklah tertawanya Bin Wan-gwe.
"Kau anggap apa aku ini? Akulah Bin Wan-gwe, hartawan terkaya di kampung ini! Apakah untuk memanggilkan isteriku, maka aku akan temaha terhadap uang sepuluh tail perakmu itu? Kepalamu masih dapat kupisahkan dari batang lehermu! Katakan dulu siapa namamu?!"
"Aku..... aku Hok An.....!"
Menyahuti lelaki berbaju mesum itu setelah ragu-ragu sejenak, melihat Bin Wan-gwe tertawa bergelakgelak seperti itu. "Lalu..... bagaimana engkau bisa kenal nama isteriku?!"
Tanya Bin Wan-gwe. Tiba-tiba wajah orang berbaju mesum tersebut jadi berseri-seri.
"Jadi........ jadi benar bahwa isterimu itu adalah Un Kim Hoa?!"
Tanyanya sambil memperlihatkan wajah berseri-seri dan mata bersinar. Bin Wan-gwe mengangguk terpaksa.
"Ya. Benar!"
Sahutnya.
"Bagus!"
Berseru lelaki berbaju mesum itu.
"Apa yang bagus!"
Tanya Bin Wan-gwe mulai gusar melihat tingkah laku orang itu.
"Bagus sekali! Ternyata tidak sia-sia. Lima tahun lebih aku telah mencari ke sana ke mari, akhirnya aku berhasil menemui jejaknya juga..... akh, memang Thian memiliki mata dan telah menuntunku sehingga bisa mencari tempat dia berdiam, walaupun di tempat sesepi ini......"
Setelah berkata begitu, lelaki berbaju mesum tersebut telah menekuk ke dua kakinya, dia telah berlutut sambil mengangguk33 anggukan kepalanya kepada langit, seakan-akan juga dia ingin menyatakan syukur dan terima kasihnya kepada Thian.
Sedangkan Bin Wan-gwe telah mengawasi dengan muak dan mendongkol.
Yang membuat dia jadi gusar, justru orang berbaju mesum tersebut mengakui bahwa dia kenal dengan isterinya, malah orang ini mengetahui jelas nama dan she isterinya.
Inilah yang mendatangkan kecurigaan pada hati hartawan kaya raya tersebut.
Sedangkan lelaki berbaju mesum yang mengaku bernama Hok An tersebut telah bangun berdiri, dan dia telah membalikkan tubuhnya menghadapi Bin Wan-gwe.
"Mana dia Un Kiam Hoa?"
Tanyanya kemudian.
"Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya?!"
Muka Bin Wan-gwe berobah semakin tidak enak dilihat, dan dia gusar sekali.
"Jangan kurang ajar seperti itu!"
Bentak salah seorang tukang pukul Bin Wan-gwe, waktu melihat kegusaran majikannya.
"Nanti lidahmu akan kupotong......!" Hok An seperti tidak mengacuhkan perkataan tukang pukul tersebut, dia hanya mengawasi Bin Wan-gwe, sambil katanya.
"Mana dia Kim Hoa?!"
Bin Wan-gwe sudah tidak bisa menahan kemarahannya, dia membentak gusar.
"Apa hubunganmu dengan Kim Hoa? Bagaimana kau bisa kenal dan mengetahui she dan namanya?!"
"Tentu saja, aku mengetahui she dan nama Kim Hoa, karena dia adalah calon isteriku.....! Telah lima tahun lebih aku mencaricarinya, tidak habisnya setiap detik aku berdoa kepada Thian, agar kami dipertemukan, ternyata akhirnya aku bisa menemui tempat berdiamnya.....!"
Muka Bin Wan-gwe merah padam seperti juga kepiting yang direbus.
Dia mengibaskan tangan kanannya sedikit, dengan gerakan yang hampir tidak terlihat.
Akan tetapi semua tukang pukulnya telah mengerti apa arti dari kibasan tangan majikan mereka.
Dengan diiringi bentakan bengis, ke delapan tukang pukul Bin Wan-gwe telah menyerang Hok An.
Begitu juga dengan ke empat tukang pukul yang tadi telah disapatkan telinganya dan yang patah tulang pergelangan tangannya kanannya, mereka menyerang dengan penuh kebencian dan kemarahan.
Hok An seperti tidak melihat serangan dari orang-orang itu, dia masih memandang kepada Bin Wan-gwe dengan tidak hentinya mulutnya mengoceh.
"Mana Kim Hoa?!"
Tanyanya berulang kali.
Serangan dari tiga orang tukang pukul Bin Wan-gwe telah tiba lebih dulu.
Akan tetapi seperti juga memiliki mata di belakang punggungnya, maka tampak Hok An telah bergerak lincah dan mengibaskan tangannya.
Terdengar suara jeritan dari ke tiga orang tukang pukul Bin Wangwe, tubuh mereka terpental dan bergelinding di tanah, malah yang lebih celaka, senjata mereka secara luar biasa telah menancap di paha masing-masing dalam sekali, sampai senjata itu tembus ke bagian lainnya!
Dengan sendirinya ke tiga orang tukang pukul Bin Wan-gwe tidak bisa segera bangkit.
Sedangkan tukang pukul Bin Wan-gwe yang lainnya jadi tidak berani sembrono menyerang.
Mereka yang tengah menerjang maju telah menahan gerakan tangan dan senjata mereka.
Bin Wan-gwe juga terkejut melihat hebatnya Hok An, yang bisa merubuhkan ke tiga orang tukang pukulnya dengan satu gerakan yang begitu mudah.
"Bunuh dia!"
Seru Bin Wan-gwe gusar.
Tukang pukulnya hartawan ini sebenarnya tengah diliputi perasaan ngeri, karena mereka mulai jeri melihat liehaynya Hok An.
Akan tetapi waktu mendengar bentakan Bin Wan-gwe penuh kegusaran, mereka juga tidak berani berayal, segera mereka menyerang.
Namun sama seperti nasib ke tiga orang kawan mereka, sisa dari tukang-tukang pukul Bin Wan-gwe, yang berjumlah enam orang yang tengah menerjang maju itu, telah dibuat terpental lagi, dan senjata mereka telah menancap di paha masing-masing.
Sedangkan tiga orang tukang pukul Bin Wan-gwe yang tengah menyerang, jadi menarik pulang dan membatalkan serangan mereka.
Dalam keadaan seperti ini muka Bin Wan-gwe telah berobah pucat.
Hartawan ini segera meayadarinya bahwa Hok An seorang yang memiliki kepandaian tinggi, karena dari itu, dia tidak berani meremehkannya lagi, walaupun melihat pakaian Hok An begitu mesum.
"Mana Kim Hoa!? Cepat suruh dia keluar?!!"
Teriak Hok An berulang kali. Bin Wan-gwe mengambil sikap lain, dia telah merangkapkan ke dua tangannya, membungkukkan tubuhnya sedikit memberi hormat.
"Siapakah sebenarnya Heng-tay? Mengapa Heng-tay mencari isteriku? Dan juga, apa maksud Heng-tay menimbulkan kerusuhan di rumahku ini, dengan melukai semua orang-orangku?!"
Sabar suara Bin Wan-gwe, tidak seperti tadi begitu sinis dan bengis.
"Sudah kukatakan..... aku Hok An..... cepat panggil Kim Hoa keluar..... aku ingin bi-cara dengannya!"
Kata Hok An kemudian. Bin Wan-gwe menggelengkan kepalanya.
"Tidak bisa! Sebelum aku mengetahui dengan baik asal usulmu, tidak dapat istriku bertemu dengan Heng-tay!"
Kata Bin Wan-gwe. Muka Hok An jadi berobah.
"Apa kau bilang?!"
Tanyanya.
"Kau ingin menghalang-halangi pertemuan kami?!"
Bin Wan-gwe memaksakan diri tersenyum.
"Sama sekali aku tidak bermaksud menghalang-halangi pertemuan kalian, akan tetapi selama aku belum mengetahui dengan jelas asal-usulmu, bagaimana mungkin aku bisa mengijinkan kau bertemu dengan isteriku?!"
Mendengar jawaban Bin Wan-gwe itu muka Hok An jadi beringas sekali. Dia telah melompat mendekati Bin Wan-gwe dengan mata yang memancarkan sinar yang sangat menyeramkan, tubuhnya menggigil.
"Jika kau berusaha menghalang-halangi pertemuan kami..... akan kubunuh.....!"
Kata Hok An dengan suara yang bengis dan gemetar.....
Melihat sikap Hok An seperti itu, Bin Wan-gwe jadi ketakutan, terlebih lagi waktu itu semua tukang pukulnya tengah tidak berdaya, jelas mereka tidak bisa melindungi dirinya.
Maka Bin Wan-gwe telah melangkah mundur dengan muka yang pucat.
Dengan memaksakan diri dia berusaha bersenyum, katanya.
"Tenang..... sabarlah mari kita bicara secara baik-baik!"
Mendengar perkataan Bin Wan-gwe itu Hok An agak berkurang beringasnya.
"Cepat panggil Kim Hoa keluar....., biarkan kami bertemu, banyak yang ingin kukatakan kepadanya!"
Kata Hok An kemudian. Sedangkan Bin Wan-gwe mengangguk beberapa kali sambil menelan air ludahnya.
"Ya, untuk itu mudah saja, aku akan segera memanggilnya keluar. Akan tetapi katakanlah dulu, siapa kau sebenarnya dan bagaimana caranya engkau bisa berkenalan dengan isteriku itu?"
Ditanya begitu Hok An seketika terdiam, seperti juga tertegun. Tetapi akhirnya mukanya memperlihatkan kegetiran dari perasaan yang tertekan, dengan suara tidak lancar dia bilang.
"Sebenarnya..... sebenarnya hal itu akan kau ketahui dengan jelas, kalau saja aku telah dipertemukan dengan Kim Hoa......!" Bin Wan-gwe memandang curiga, dia menggeleng perlahan, katanya.
"Tidak bisa aku meluluskan permintaanmu itu! Sayangnya engkau tidak mau memberitahukan asal usulmu dengan jelas, sehingga aku bisa mempertimbangkannya, apakah aku akan memperkenankan engkau buat menemui isteriku itu atau tidak.....!"
Setelah berkata begitu, Bin Wan-gwe memberi isyarat kepada semua tukang pukulnya, maksudnya agar semua tukang pukulnya itu bersiap-siap buat menghadapi sesuatu yang tidak diinginkan jika saja Hok An mengamuk.
Benar saja, Hok An telah memperlihatkan sikap yang beringas lagi, dia telah berseru marah.
"Hemmmm, engkau memang seorang manusia jahat yang ingin merintangi dan menghalangi pertemuan kami!"
Teriak Hok An dengan suara bengis dan telah melompat ke dekat Bin Wan-gwe.
Gerakan Hok An begitu gesit, jangankan Bin Wan-gwe memang tidak mengerti ilmu silat, jika dia memiliki kepandaian yang lumayan, belum tentu bisa menghindar dari Hok An.
Dengan cepat tangan Hok An pun telah terangkat, dia bersiap-siap hendak memukul kepala Bin Wan-gwe.
Bin Wan-gwe jadi ketakutan bukan main, semangatnya seperti juga terbang meninggalkan raganya, dia berseru kaget bercampur takut.
Hok An yang sedang mengayunkan tangan melihat betapa Bin Wan-gwe sangat ketakutan.
Hatinya jadi tidak tega, dia membentaknya lagi.
"Katakan, kau masih berusaha menghalangi pertemuanku dengan Kim Hoa atau tidak!"
Bin Wan-gwe cepat-cepat berseru.
"Aku akan segera memanggil Kim Hoa keluar..... aku akan segera memanggilnya!"
Hok An membatalkan maksudnya buat menghantam tangannya pada kepala Bin Wan-gwe. Akan tetapi waktu itu dari dalam telah terdengar suara seorang anak kecil yang bertanya.
"Tahan..... apa yang terjadi?!"
Hok An menoleh.
Ternyata yang bertanya itu seorang gadis cilik berusia empat tahun lebih.
Wajahnya yang kecil mungil tampak manis sekali, dengan sepasang mata yang jeli dan senyumnya yang berlesung pipit.
Waktu itu gadis cilik tersebut, yang mengenakan kun warna merah dengan kombinasi bajunya berwarna kuning, telah menghampiri Bin Wan-gwe.
Ternyata gadis cilik itu adalah puteri dari hartawan she Bin tersebut.
Sedangkan Bin Wan-gwe jadi tambah gugup.
"Kun-jie, cepat masuk..... cepat masuk!"
Berseru hartawan itu dengan gugup. Gadis cilik itu telah memandang kepada ayahnya, beberapa saat kemudian memandang pada Hok An, lalu tanyanya.
"Paman, mengapa kau tampaknya begitu galak? Dan apa yang ingin kau lakukan terhadap ayahku itu?!"
Ditanya begitu, Hok An tidak menyahuti.
Memang sejak tadi melihat gadis cilik tersebut, entah mengapa perasaan Hok An jadi tergoncang.
Dan juga dia merasakan sesuatu yang aneh menyelusuri hatinya.
Dia jadi begitu menyukai gadis cilik tersebut, yang mirip dengan seseorang, dan memang sejak tadi Hok An hanya memandang tertegun saja.
Sedangkan gadis cilik tersebut telah menoleh kepada Bin Wangwe, tanyanya.
"Thia..... apa yang ingin dilakukan paman ini terhadapmu?!"
Kemudian dengan sikap yang manja sekali ia menggelendot di samping Bin Wan-gwe. Hok An menghela napas, dilihatnya Bin Wan-gwe telah mengusapusap kepala anak itu.
"Kun-jie, pergilah kau masuk dulu..... ayah akan segera menyusul masuk ke dalam, sekarang ayah ingin bicara dulu dengan paman itu!"
"Ya! Ya!"
Kata si gadis cilik tersebut. Dan diapun telah menoleh kepada Hok An, ka tanya.
"Paman, kau tidak boleh menggalakkan ayahku, karena jika kau galak-galak, aku akan beritahukan pada ibu, biar ibu menghajarmu nanti!"
Hok An mencoba tersenyum.
"Siapa namamu?!"
Tanya Hok An, dan wajahnya yang tadi beringas, kini jadi lembut, berobah sangat ramah sekali.
"Aku biasa dipanggil dengan sebutan Kun-jie, akan tetapi namaku Sian Kun. Dan tentunya paman mau main-main nanti denganku, memetik bunga atau juga kita bermain petak, lari dan main sembunyi-sembunyian?!"
Hok An tersenyum mendengar perkataan Kun-jie. Lucu sekali sikap gadis cilik tersebut.
"Baik! Aku akan menemani kau main-main dan juga memetik bunga!"
Kata Hok An kemudian.
"Akan tetapi sekarang kau membantuku dulu.....!"
"Membantumu? Membantu untuk melakukan apa, paman?!"
Tanya Kun-jie.
"Pergilah kau panggilkan dulu ibumu, agar keluar menemui aku..... nanti aku akan menemani kau bermain!"
Janji Hok An. Gadis cilik tersebut tersenyum girang.
"Jadi, kau juga ingin mengajak ibu bermain-main bersama kita?!"
Tanyanya. Hok An mengangguk.
"Ya.....!"
Mengangguk Hok An segera melanjutkan perkataannya itu.
"Dan kita akan bermain gembira sekali!" "Baiklah! Kau tunggulah sebentar.....!"
Kata Kun-jie kemudian.
"Kun-jie!"
Bentak Bin Wan-gwe dengan muka yang berobah merah padam, dia kaget mendengar putrinya ingin memanggil istrinya. Kun-jie dibentak begitu jadi terkejut menoleh kepada ayahnya.
"Kenapa ayah? Apakah kau tak mengijinkan Kun-jie memanggil ibu untuk mengajak ibu bermain-main bersama Kun-jie dan paman itu?"
Muka Bin Wan-gwe waktu itu telah berobah merah padam, dia bilang.
"Sekarang kau pergi masuk, nanti aku akan menjelaskannya dan engkau tidak boleh keluar lagi! Orang ini bukan sebangsa manusia baik-baik, karena dari itu tidak bisa kau bermain-main dengannya."
Kun-jie mementang sepasang matanya lebar-lebar tampaknya gadis cilik ini tidak mengerti akan perkataan ayahnya tersebut.
"Jadi....., jadi paman ini bukan orang baik-baik.....?!"
Tanyanya kemudian.
"Akan tetapi apa yang Kun-jie lihat, paman itu sangat baik dia mau mengajak Kun-jie main-main, mau mengantarkan Kun-jie memetik bunga dan juga nanti ingin mengajak Kun-jie main sembunyi-sembunyian. Malah paman itu juga ingin mengajak ibu buat bermain-main bersama kami..... Mengapa ayah menyebut paman itu bukan orang baik-baik!"
Bin Wan-gwe kewalahan menghadapi anaknya ini, dia telah memperlihatkan sikap yang sungguh-sungguh, kemudian dengan suara membentak dia berkata singkat.
"Pergilah kau masuk dulu!"
Melihat ayahnya marah seperti itu Kun jie rupanya tidak berani berayal juga.
Dia meleletkan lidahnya, kemudian memutar tubuhnya untuk masuk ke dalam gedung itu lagi.
Waktu menoleh kepada Hok An, dia telah tersenyum manis dan tampaknya anak gadis ini sangat menyukai Hok An, yang menurut pandangannya sangat baik, karena Hok An hendak mengajaknya main-main dan memetik bunga.
"Paman, jika urusanmu dengan ayah telah selesai, kau harus menepati janjimu, mengajak Kun-jie main-main.....!"
Katanya kemudian.
"Ya!"
Menyahuti Hok An. Sedangkan Bin Wan-gwe telah berkata dengan sikap tidak senang.
"Sekarang kau katakanlah, bagaimana caranya kau bisa mengetahui she dan nama isteriku! Lagi pula, ada hubungan apa di antara kalian berdua?!" Hok An telah tersenyum.
"Kim Hoa adalah calon isteriku......... hanya saja sayang sekali, telah lima tahun lebih dia menghilang dan aku tidak mengetahuinya berada di mana. Baru belakangan ini aku mengetahui bahwa dia berada di gedung ini, maka aku datang buat menjemputnya....."
Menyahuti Hok An kemudian dengan suara yang tenang. Sedangkan muka Bin Wan-gwe telah berobah merah padam, dan dia rupanya telah diliputi kemarahan.
"Hemm, Un Kim Hoa! Un Kim Hoa!"
Berseru Bin Wan-gwe. Tampak jelas betapa dia tengah gusar.
"Kukira isteriku tidak begitu rendah dan hina pernah berhubungan dengan seorang manusia seperti itu! Mungkin kau telah salah mengenali orang, atau mungkin hanya disebabkan nama yang bersamaan belaka! Karena isteriku itu puteri dari keluarga baik-baik dan berpangkat, dia puteri seorang pembesar negeri yang memiliki pangkat tidak rendah.....!"
Dengan berkata begitu, Bin Wan-gwe ingin memberitahukan bahwa isterinya itu adalah puteri dari sebuah keluarga berada, seorang pembesar negeri yang memangku pangkat tinggi, sehingga tidak ada kemungkinan isterinya itu berhubungan dengan Hok An, yang tampaknya begitu mesum.
Akan tetapi, tidak disangka-sangkanya bahwa Hok An telah menepuk pahanya sambil berseru.
"Tepat! Memang Un Kim Hoa yang tengah kucari itu adalah puteri dari seorang pembesar negeri, yang korup..... dan juga jahat!"
Berseru Hok An kemudian.
"Mana dia? Di mana Kim Hoa?! Jika memang isterimu itu bernama Un Kim Hoa dan memang benar dia puteri dari seorang pembesar negeri, memang benarlah dia orang yang tengah kucari!"
Dan setelah berkata begitu, dengan sikap yang tidak sabar, Hok An mengawasi Bin Wan-gwe.
Sedangkan hati Bin Wan-gwe semakin tidak tenang.
Dia mengawasi Hok An beberapa saat lamanya, sampai akhirnya dia berkata.
"Baiklah, sekarang kau katakan, jika memang kau telah bertemu dengan Un Kim Hoa, apa yang ingin kau lakukan?!"
"Aku ingin mengajak dia ikut bersama denganku!"
Menyahuti Hok An dengan segera dan nada suaranya itu mengandung kepastian.
"Mengajaknya ikut bersamamu?!"
Tanya Bin Wan-gwe sambil mementang matanya lebar-lebar.
"Tahukah engkau, bahwa Un Kim Hoa telah resmi menjadi isteriku? Malah kami telah memperoleh seorang puteri?"
"Aku tidak perduli! Akan tetapi aku yang pasti akan mengajak Kim Hoa ikut bersamaku,"
Menjawab Hok An dengan segera. Bin Wan-gwe jadi kewalahan juga menghadapi Hok An, yang memiliki adat dan sikap beringas serta berandalan. Katanya kemudian.
"Jika engkau bermaksud mengganggu rumah tangga seorang, apakah engkau sudah tidak takut pada hukum yang ada? Apakah engkau tidak kuatir kalau kulaporkan hal ini kepada pihak yang berwajib? Engkau akan ditangkap dan menjalani hukuman?!"
Hok An telah mementang matanya lebar-lebar dan kemudian berteriak. Aku tidak perduli semua itu! Cepat panggil keluar Kim Hoa! Mana Kim Hoa? Mana dia?!"
Dan sambil berseru-seru seperti itu, Hok An telah melangkah mendekati Bin Wan-gwe.
"Apakah kau benar-benar tidak ingin memanggilkan Kim Hoa agar keluar menemui aku? Kau bermaksud menghalangi pertemuan kami heh?!"
Tanya Hok An kemudian.
Bin Wan-gwe jadi gemetar menahan amarah, dipandanginya Hok An dengan sorot mata mengandung kebencian.
Hanya saja karena mengetahui bahwa Hok An seorang yang memiliki kepandaian tinggi, jika mempergunakan kekerasan tidak mungkin Bin Wan-gwe bisa menghadapinya, karenanya dia jadi serba salah dalam kemarahannya seperti itu.
Sedangkan Hok An telah menghampiri.
Bin Wan-gwe semakin bingung, sehingga setengah panik dia telah berulang kali memberi isyarat kepada tukang-tukang pukulnya agar segera mengepung dan "mengurus"
Hok An.
Waktu itu tukang-tukang pukul Bin Wan-gwe telah maju buat mengurung Hok An, hanya saja mereka tidak berani menyerang.
Mereka telah merasakan tadi betapa dengan hanya sekali menggerakkan tangannya, maka mereka telah berhasil diporak porandakan dan dilukai.
Karena dari itu, mereka tidak berani untuk segera menyerang, walaupun melihat majikan mereka tengah terancam bahaya.
Sedangkan Hok An telah menghampiri lebih dekat lagi, di mana dia telah memperlihatkan sikap yang beringas dan mengancam sekali.
Bin Wan-gwe juga menyadarinya bahwa dia tengah terancam, dan beberapa kali dia telah memberi tanda kepada anak buahnya agar segera menyerbu maju.
Dalam keadaan seperti itu, Hok An rupanya memang sudah tidak bisa mengendalikan dirinya, dia ingin memaksa Bin Wan-gwe agar memanggil keluar isterinya.
Ketika sampai di dekat Bin Wan-gwe dan hartawan tersebut masih juga belum ingin menyatakan kesediaannya buat memanggil keluar isterinya, Hok An jadi habis sabar.
Tiba-tiba sekali dia telah mengulurkan tangan kanannya, mencekal lengan Bin Wan-gwe.
"Kau tetap tidak mau memanggil Kim Hoa keluar, heh?!"
Serunya dengan beringas.
"Tunggu dulu..... dengar dulu.....!"
Kata Bin Wan-gwe tambah ketakutan, karena dia merasakan betapa cengkeraman tangan Hok An pada lengannya seperti juga japit besi yang sangat kuat dan menyakitkan sekali.
Sedangkan Hok An telah menggoncangkan tubuh Bin Wan-gwe, berulangkali dia telah bilang.
"Jika memang engkau tidak mau memanggil keluar Kim Hoa, biarlah nanti aku yang masuk sendiri buat bertemu dengannya, akan tetapi engkau harus dibinasakan dulu, sebab jika tidak dibinasakan tentu kau akan jadi penghalang......!"
"Lepaskan dia!"
Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita dari belakang Hok An.
Hok An serasa mengenal suara tersebut dia melepaskan cengkeraman pada lengan Bin Wan-gwe, kemudian menoleh ke belakangnya.
Untuk sejenak lamanya Hok An jadi berdiri tertegun dengan muka berobah pucat sekali.
"Kim Hoa?"
Hanya perkataan itu belaka yang meluncur keluar dari bibirnya.
Anakrawali 01.005.
Ternyata yang telah mencegah agar Hok An melepaskan cengkeramannya pada lengan Bin Wan-gwe tidak lain dari seorang wanita yang cantik jelita.
Wajahnya berpotongan tirus daun sirih, dan juga matanya yang begitu indah, dengan hidungnya yang bangir berisi dan bibirnya yang tipis.
Benar-benar merupakan seorang wanita yang sangat cantik, bagaikan seorang dewi.
Wanita itu memang tidak lain dari Bin Hujin, nyonya hartawan she Bin tersebut.
Dia berdiri agung di tempatnya, walaupun dengan wajah pucat dan mata yang guram.
Sedangkan waktu itu terlihat betapa Hok An perlahan-lahan melangkah mendekati, dari mulutnya terdengar ia berulang kali menyebut.
"Kim Hoa..... Kim Hoa.....?!"
"Diamlah di situ, jangan mendekat!"
Tiba-tiba Bin Hujin telah membentak dengan suara yang nyaring.
Bagaikan bentakan tersebut mengandung kekuatan yang tidak bisa dibantah lagi, Hok An jadi menahan langkah kakinya, dia berdiri diam di tempatnya tanpa bergerak.
"Kim Hoa..... ternyata kau disini! Akhhh, kau tetap cantik seperti dulu, tidak ada perobahan suatu apapun juga pada dirimu.....!"
Hanya mulut Hok An tidak hentinya menggumam seperti itu. Sedangkan Bin Hujin dengan wajah yang dingin dan memucat telah berkata.
"Apa maksudmu mencari-cariku?!" "Kim Hoa..... tidakkah kau menyadari apa yang kualami selama ini? Aku sangat menderita mencari-carimu, dan telah lima tahun lebih aku berkelana, barulah sekarang aku bisa bertemu dengan kau.....!"
"Hemm, lalu setelah bertemu denganku, apa yang kau inginkan dariku?!"
Tanya Bin Hujin dengan suara yang semakin dingin.
Sedangkan Bin Wan-gwe telah mengasi dengan sorot mata yang mengandung kecemasan dan kekuatiran, sebab dia kuatir isterinya yang cantik itu dilukai oleh Hok An.
Hok An telah memperlihatkan wajah yang merana sekali, dia telah bilang.
"Kim Hoa..... seperti kau ketahui, aku sangat mencintaimu....., dan kau......, mengapa kau selalu berusaha menghindar dariku?! Lihatlah, betapa menderita dan sengsaranya aku ini..... Kim Hoa.....!"
Wajah Bin Hujin semakin memucat. Dia telah mengawasi Hok An beberapa saat lamanya, sampai akhirnya dia berkata dengan suara tawar.
"Memang dulu kita pernah saling kenal, akan tetapi sekarang di antara kita sudah tidak terdapat hubungan apapun lagi! Pergilah kau.....!"
"Kau?!"
Muka Hok An jadi pucat pias. "Pergilah kau.....!"
"Kau mengusirku?!"
"Kita tidak ada hubungan apa-apa lagi........!"
"Kau sudah tidak mencintaiku?!"
"Sejak dulu akupun tidak pernah mencintaimu!"
Menyahuti Bin Hujin.
"Ohhh, jika begitu dulu semua janji dan kata-katamu itu hanya palsu belaka!"
Berseru Hok An sambil memperlihatkan sikap yang beringas.
"Kau..... kau telah menipuku..... Dulu kau mengatakan sangat mencintaiku, kau mencintaiku sepenuh hati, tetapi sekarang? Apa yang kau katakan?!"
Muka Bin Hujin jadi berobah semakin pucat, dia telah bilang.
"Jika memang aku mencintaimu, tentu aku tidak menikah dengan orang lain! Dan sekarang aku telah resmi menjadi isteri Bin Wan-gwe..... kami sangat bahagia, dan kami telah memperoleh seorang anak.....!"
Berkata sampai di situ, suara Bin Hujin semakin tersendat, akhirnya dia menangis.
Dengan ke dua tangan menutupi mukanya dan menangis terisak, Bin Hujin terus juga menangis dan memutar tubuhnya membelakangi Hok An dan Bin Wan-gwe.
Sepasang mata Bin Wan-gwe terpentang lebar-lebar.
Dilihat semua ini memang kenyataan yang ada, benar adanya bahwa Hok An pernah mengadakan hubungan dengan isterinya.
Hanya saja, sekarang tampaknya Bin Hujin, isterinya itu, tidak mau kenal lagi pada Hok An.
Waktu itu Hok An telah berseru nyaring.
"Jadi..... kau memang sungguh-sungguh tidak pernah mencintaiku?!"
Bin Hujin mengangguk di antara isak tangisnya dan menyahuti dengan suara sember.
"Ya.....!"
Hok An tiba-tiba menjerit dengan suara yang lirih sekali, dia memutar tubuhnya dan menotolkan ujung kakinya, tubuhnya melesat meninggalkan tempat tersebut.
Bin Wan-gwe telah berdiri mematung di tempatnya, begitu juga semua tukang pukulnya.
Sedangkan Bin Hujin masih juga menangis terisak dan kemudian berlari masuk ke dalam gedung, menghilang dari tatapan suaminya......
Hok An yang waktu itu merasakan hatinya sangat hancur.
telah berlari-lari dengan cepat sekali tanpa arah tujuan yang pasti.
Dia berlari-lari ke mana saja ke dua kakinya itu membawanya.
Setelah berlari-lari sekian lama dan telah berada di luar perkampungan tersebut, Hok An baru berhenti berlari.
Dengan sikap kalap dia memukuli kepalanya.
"Kim Hoa! Kim Hoa! Betapa kejamnya kau!"
Menjerit-jerit Hok An beberapa kali.
Dan Hok An telah menangis duduk mendeprok di tanah.
Waktu itu terlihat betapa Hok An tengah merenungkan kesedihan hatinya.
Dia tidak menyangka, bahwa setelah lima tahun lebih mencari-cari Kim Hoa, dan akhirnya dia berhasil bertemu dengan wanita yang sangat dicintainya itu, dia harus menelan kepahitan seperti sekarang ini.
Karenanya, betapa perih luka di hati Hok An.
Setelah puas menangis, akhirnya Hok An berdiri dan melangkah perlahan-lahan.
Dia bersenandung, membawakan lagu percintaan yang sangat sedih dan merana sekali.....
Suaranya itu tergetar, bagaikan berada di antara jurang kedukaan dan di antara getar isak tangisnya.
Ketika Hok An tengah melangkah dengan keadaan seperti juga kehilangan semangat, di saat itulah tampak betapa dari arah depannya telah mendatangi seseorang, dengan tindakan kaki yang cepat sekali.
Dia seorang pemuda berusia di antara duapuluh empat tahun, berpakaian sebagai seorang pelajar, dengan kopiah warna coklat tua, dengan jubah pelajar berwarna abu-abu.
Waktu melihat keadaan Hok An, pemuda pelajar tersebut memperlihatkan sikap terheran-heran, sampat akhirnya dia berseru nyaring dan bertanya.
"Ohhh, kesulitan dan kesusahan hati apakah yang tengah melanda dirimu, wahai manusia yang cepat putus asa?!"
Hok An tengah berduka, dan dia jadi tersinggung mendengar pemuda pelajar tersebut yang dianggapnya tengah mengejeknya.
Dia telah berhenti melangkah, menoleh dengan sorot mata yang beringas, sampai akhirnya dengan geram dia bilang.
"Tidak perlu kau mencampuri urusanku.....!"
Pemuda pelajar itu tersenyum, dia bilang.
"Benar, benar, memang tidak seharusnya aku mencampuri urusan seseorang yang tidak kukenal..... Akan tetapi, kulihat, engkau demikian bersedih, apakah terdapat sesuatu kesulitan yang tidak bisa kau pecahkan?!" Hok An yang tengah bersedih jadi tidak bisa menguasai dirinya, tahu-tahu dia telah melompat cepat sekali ke dekat pemuda pelajar itu.
"Kau terlalu rewel sekali.....!"
Bentaknya.
Dan Hok An pun bukan hanya membentak begitu saja, sebab diapun telah menggerakkan tangan kanannya memukul kepada pemuda itu.
Pemuda pelajar tersebut kaget bukan main, karena dia merasakan, belum lagi serangan itu tiba, pakaiannya telah berkibaran terkena angin serangan yang sangat kuat sekali.
Maka dia bisa memakluminya, tentu Hok An bukan orang sembarangan, karena pada pukulannya tersebut terlihat kekuatan tenaga lweekang yang dahsyat sekali.
Maka cepat-cepat pemuda pelajar tersebut mengelakkan diri dengan melompat ke samping kanan.
"Ohoi..... betapa berbahaya sekali! Betapa berbahaya sekali!"
Kata pemuda pelajar itu kemudian dengan suara bergurau.
"Dan, mengapa kau harus marah-marah beringas seperti itu?" Hok An tampak tambah gusar, karena dia melihat betapa pukulannya itu dapat dihindarkan oleh pemuda pelajar tersebut dengan mudah. Dia tidak berkata apa-apa, hanya menyerang lebih dahsyat pula. Pemuda pelajar tersebut kali ini tidak berkelit, dia menantikan di saat serangan itu telah menyambar dekat padanya, barulah pemuda pelajar tersebut menangkisnya. Tangkisan yang dilakukan oleh pemuda pelajar tersebut berhasil membuat serangan Hok An tertangkis, malah waktu itu Hok An merasakan pergelangan tangan kanannya jadi sakit sekali, sampai dia mengeluarkan seruan tertahan dan melompat mundur beberapa langkah. Hok An telah melompat mundur lagi dan kemudian menjatuhkan diri duduk mendeprok di tanah sambil menangis menggerunggerung. Pemuda pelajar itu jadi memandang tambah terheran-heran atas sikap Hok An. Tadi dia begitu beringas dan telah menyerangnya dengan serangan yang hebat sekali. Akan tetapi, sekarang Hok An menangis menggerung-gerung. Dilihat dari tenaga pukulannya, kepandaian Hok An tentunya bukan kepandaian yang rendah, dan tidak seharusnya karena gagal dengan ke dua serangannya itu dia jadi menangis begitu sedih.
"Kenapa kau?!"
Tanya pemuda tersebut akhirnya karena terheranheran dan terdorong dengan penasaran ingin tahunya.
Akan tetapi Hok An masih juga menangis dengan sedih, seakanakan dia tidak memperdulikan pemuda pelajar itu, dia tengah melampiaskan kesedihan hatinya.
Dikala itu terlihat si pemuda pelajar tersebut semakin digeluti oleh perasaan terheran-herannya dan juga perasaan tidak mengerti.
"Apakah memang benar engkau tengah menghadapi kesulitan yang tidak bisa dipecahkan olehmu sendiri? Jika memang kau mau menceritakan kesulitan itu kepadaku, siapa tahu aku bisa membantumu?!"
Mendengar pertanyaan terakhir dari pemuda pelajar ini, tiba-tiba Hok An mengangkat kepalanya.
"Hemmm, engkau hendak membantuku? Benarkah itu?!"
Tanya Hok An sambil menyusut air matanya Pemuda pelajar tersebut mengangguk dengan segera dan pasti.
"Ya, kau ceritakanlah, kesulitan apa yang tengah kau hadapi? Jika memang aku bisa membantumu, tentu aku ingin sekali membantu kau dari kesulitan yang ada itu.....!"
Hok An tidak segera bicara, dia berdiam dengan air mata yang terus turun berlinang, setelah menyusut lagi, barulah dia bilang.
"Sebenarnya..... sebenarnya, aku tengah merasa terhina sekali.....
"Merasa terhina? Oleh siapa? Mengapa begitu?!"
Tanya pemuda pelajar tersebut.
Hok An tidak segera menyahuti, dia mengangkat kepalanya mengawasi pelajar tersebut.
Sampai akhirnya dia menghela napas dalam-dalam dan menghapus air matanya, karena dia rupanya memang telah berhasil menguasai dirinya.
"Sebenarnya,"
Kata Hok An akhirnya.
"Aku tengah bersakit hati dihina oleh seseorang.....!"
"Siapa yang menghinamu?!"
Tanya pemuda pelajar tersebut dengan perasaan ingin tahunya.
"Menurut apa yang kulihat, engkau mimiliki kepandaian yang cukup tinggi, dan tidak sembarangan orang bisa menghinamu.....!" Hok An mengangguk.
"Benar..... akan tetapi orang itu menghinaku bukan tubuh atau juga diriku..... dia menghinaku dengan kata-katanya......!"
Menyahuti Hok An akhirnya, dengan suara yang tersendat di antara isak tangisnya.
"Mengapa engkau membiarkan begitu saja dirimu dihina oleh orang itu?!"
Tanya pelajar tersebut.
"Aku..... aku..... apa yang harus kulakukan?!"
Tanya Hok An seperti tergagap.
"Mengapa engkau membiarkan dirimu dihina oleh orang itu tanpa kau berusaha menghajarnya?!"
Tanya pemuda pelajar itu lagi sambil mengawasi Hok An berapa saat lamanya. Hok An menghela napas.
"Apa yang bisa kau lakukan..... justru yang telah menghina diriku itu adalah orang yang sangat kucintai!"
Kata Hok An pada akhirnya.
"Apa…..?!"
Tanya pemuda pelajar itu tambah terheran-heran lagi dan tidak mengerti Hok An menghela napas sambil mengangguk.
"Ya, orang yang telah menghina diriku itu adalah orang yang sangat kucintai, akan tetapi dia telah menghina diriku, memperlakukan aku tidak baik, dan juga mendustai diriku sehingga perasaanku jadi hancur.....!"
Kata Hok An akhirnya. Pemuda pelajar tersebut telah mengawasi Hok An beberapa saat, kemudian barulah dia bilang.
"Jadi menghina dirimu itu seorang wanita?"
Hok An mengangguk.
"Ya, wanita yang sangat kucintai!"
Sahutnya kemudian.
"Jadi kau mencintai wanita itu?!"
Tanya pemuda pelajar itu lagi.
"Benar!"
"Hanya saja wanita itu telah menolak cintamu?!"
Tanya pemuda pelajar itu lagi. Hok An tidak segera mengiyakan, dia mengangkat kepalanya mengawasi pemuda pelajar tersebut beberapa saat lamanya. Sampai akhirnya dia bilang perlahan-lahan.
"Sebenarnya wanita itu juga sangat mencintai aku.....!" Pemuga pelajar ini tambah terheran-heran.
"Aku tidak mengerti maksud dari perkataanmu, tadi kau mengatakan bahwa engkau dihina oleh wanita yang engkau cintai itu, tentunya dia mengeluarkan kata-kata yang kasar dan menghina. Akan tetapi sekarang engkau mengatakan bahwa wanita itu juga sangat mencintaimu! Jika memang wanita itu mencintaimu, mengapa dia bisa menghina dirimu? Menyakiti perasaan dan hatimu?!"
Hok An tidak segera menyahuti, untuk sementara waktu dia menghela napas beberapa kali barulah kemudian menjelaskannya.
"Sebenarnya, kami berkenalan enam tahun yang lalu, waktu mana memang di antara aku dengan wanita itu saling mencintai. Akan tetapi, suatu hari, aku telah berurusan dengan pihak pemerintah, sehingga aku ditangkap oleh yang berwajib, dan akhirnya ditahan selama setahun lebih! "
Hal itu terjadi memang atas dasar kesalahanku juga, di mana aku telah minum arak terlalu banyak sehingga mabok, dan dalam keadaan mabok seperti itu aku telah bertengkar dengan seorang tentara kerajaan, sehingga akhirnya aku telah membunuhnya.....
Maka dari itu, aku telah tertangkap dan diadili oleh pihak Tie-kwan, di mana aku ditahan dan dimasukkan ke dalam penjara selama setahun lebih!
"Setelah bebas dari tahanan itu, aku segera mencari wanita yang sangat kucintai itu.
Akan tetapi dia sudah tidak berada di kampung kami, dia telah pergi entah ke mana!
Akhirnya kuputuskan buat mencarinya sampai dapat menemuinya.
Begitulah, selama lima tahun lebih aku telah mencari-carinya, sampai akhirnya aku menemuinya, di kampung itu.....!"
Sambil berkata begitu, Hok An telah menunjuk ke arah perkampungan di dekat mereka, sedangkan si pemuda pelajar telah mengikuti arah yang ditunjuk oleh Hok An.
"Kemudian bagaimana?!"
Tanya pemuda pelajar tersebut, yang jadi sangat tertarik mendengar cerita Hok An seperti itu.
"Apakah wanita itu sudah tidak mencintaimu?!"
"Bukan..... bukan begitu!"
Menyahuti Hok An cepat dan dengan nada yang tergetar.
"Lalu bagaimana? Mengapa kau bisa mengatakan bahwa wanita itu akhirnya menghina dirimu?!"
Hok An menghela napas dalam-dalam. "Wanita itu ternyata tidak mencintai aku, aku telah memperoleh buktinya.....!"
Menyahuti Hok An.
"Mengapa terjadi begitu?!"
Tanya pemuda pelajar tersebut.
"Karena waktu aku berhasil menemukan jejaknya, dia telah menjadi milik orang lain, telah menjadi isteri dari seorang hartawan, dia telah menjadi nyonya Bin, isteri dari Bin Wan-gwe...... Ooh, dia telah menipuku dengan semua pernyataannya bahwa dia sangat mencintaiku..... Oooh, dia telah begitu tega buat mendustaiku.....!"
Dan Hok An menghela napas beberapa kali lagi.
Walaupun Hok An berusaha membendung dan mencegah mengucurnya air mata, akan tetapi dia tidak berhasil, karena butirbutir air mata itu telah berlinang turun di pipinya.
Sedangkan si pemuda pelajar tersebut jadi menghela napas dalam-dalam.
Dia jadi menaruh rasa iba dan kasihan kepada Hok An.
"Sudahlah!"
Hiburnya.
"Jika memang kau telah memperoleh bukti bahwa wanita itu tidak mencintaimu, terlebih lagi memang dia sekarang telah menjadi isteri orang lain, engkau pun tidak usah memikirkannya lagi, dan engkau pun tidak perlu untuk mengharapkan dirinya lagi..... Engkau boleh memilih wanita lain yang sekiranya bisa mencintai dirimu.....!"
Hok An cepat-cepat menggeleng waktu mendengar perkataan pemuda pelajar tersebut.
"Kau jangan kurang ajar!"
Katanya dengan sikap yang beringas dan sengit.
"Mengapa kau mengatakan aku berbuat kurang ajar? Bukankah aku berkata dengan benar, bahwa engkau tidak usah mengharapkan wanita yang telah menghianati cintamu itu dan kini telah menjadi isteri orang lain?!"
Tanya pemuda pelajar itu.
"Hemmm, apakah kau kira cinta itu mudah untuk dilupakan dan dibuang seperti itu? Hemmm, apakah engkau kira dengan mudah kita akan segera dapat mencintai wanita lain?!"
Kata Hok An bertambah sengit. Pemuda pelajar itu jadi bungkam mendengar perkataan Hok An seperti itu. Sedangkan Hok An seperti kalap telah berkata.
"Ayo, kau katakan, tidakkah apa yang kubilang itu benar, bahwa cinta itu tidak bisa sembarangan diberikan kepada siapa saja? Aku telah mencintai wanita itu, walaupun dia telah menjadi isteri orang lain, akan tetapi aku tetap mencintainya..... Hanya saja dia telah menghina dan menyakiti hatiku!"
Pemuda pelajar tersebut menghela napas.
"Nah, jika memang wanita itu telah menjadi isteri orang lain, walaupun engkau tetap mencintainya, apa gunanya lagi? Atau memang engkau masih mengharapkan dirinya? Bukankah jika kau berusaha memperolehnya, sama saja engkau menghancurkan rumah tangganya?"
"Akan tetapi aku tetap mencintainya..... dan semula..... semula kukira dia mencintaiku!"
Kata Hok An kemudian dengan suara yang sember.
"Walaupun apa yang terjadi, aku ingin mengajaknya buat ikut bersamaku, karena aku tetap mencintainya. Akan tetapi..... akan tetapi.....!"
Suara Hok An semakin sember dan dia tidak meneruskan perkataannya itu.
"Akan tetapi kenapa?!"
Tanya pemuda pelajar tersebut yang jadi semakin tertarik ingin mengetahui apa yang telah dialami oleh Hok An.
"Akan tetapi.....
tadi.....
tadi waktu untuk pertama kali bertemu setelah lima tahun lebih kami berpisah, dan sekarang dia telah menjadi milik orang lain, dia baru mengakui bahwa sejak dulu sampai kini.....
dia.....
dia tidak pernah mencintaiku.....
tidak pernah mencintaiku."
Dan suara Hok An semakin sember, malah air matanya telah menitik turun deras sekali.
"Ohhh, jadi tadi dia menyatakan bahwa dulu dia tidak pernah mencintaimu?!"
Tanya pemuda pelajar itu. Hok An mengangguk.
"Bahkan..... dia telah mengusir diriku!"
Kata Hok An kemudian. Pemuda pelajar tersebut tertawa.
"Jika demikian, tidak ada harganya kau mencintai wanita seperti itu!"
Kata pemuda pelajar tersebut.
Tiba-tiba, bagaikan tersentak oleh gigitan kalajengking, tampak Hok An telah mengangkat kepalanya dan memandang pemuda pelajar itu dengan sorot mata yang sangat tajam dan beringas sekali.
"Apa kau bilang?!"
Tanyanya dengan suara yang mengandung kemarahan.
"Aku mengatakan wanita itu tidak sepantasnya kau cintai!"
Menyahuti pemuda pelajar tersebut.
"Ohhh, pemuda terkutuk! Engkau jadi ingin mengejek diriku, heh?!"
Tanya Hok An dengan sengit.
"Sabar..... aku sama sekali tidak bermaksud mengejek dirimu..... akan tetapi memang sepantasnya saja aku memberitahukan kepadamu, bahwa wanita seperti itu sama sekali tidak ada harganya kau cintai..... Jika kau telah disakiti seperti itu, dan kau masih mencintainya, itulah perbuatan yang sangat tolol sekali.....!"
"Kau..... kau berani menyebut diriku tolol?!"
Teriak Hok An dengan sikap yang beringas dia telah menghampiri lebih dekat kepada pemuda itu tampaknya dia bersiap-siap hendak menyerang. Sedangkan pemuda itu tetah berkata dengan sikap yang tenang.
"Kau tidak perlu marah-marah seperti itu. Mari kita bicara secara baik-baik, karena aku akan menjelaskan duduk persoalan ini, agar engkau tidak menjadi korban kekecewaan disebabkan cintamu yang gagal itu! Hemmm, engkau kulihat memiliki kepandaian yang cukup tinggi, dengan demikian tidak sepantasnya engkau kecewa dan menjadi begitu lemah hanya disebabkan cintamu ditolak oleh seorang wanita.....!"
Hok An tampak tertegun, dan dia mengawasi pemuda pelajar itu dengan sorot mata yang bimbang, sampai akhirnya dia bilang.
"Baiklah, lalu apa maksudmu dengan berkata begitu?!"
Tanyanya.
"Aku ingin mengartikan bahwa engkau masih dapat melakukan banyak perbuatan besar..... pekerjaan-pekerjaan penting yang bisa membawa kebahagiaan dan keuntungan buat orang banyak pada umumnya.....! Mengapa engkau harus selalu menangisi cintamu yang kandas dan gagal itu, terlebih lagi engkaupun mengetahui wanita yang kau cintai itu telah menjadi isteri orang lain.....?!"
"Diapun telah memperoleh seorang anak hasil dari perkawinannya dengan hartawan itu!"
Kata Hok An akhirnya dengan suara yang perlahan sekali, seperti juga dia menggumam kepada dirinya sendiri.
"Dan walaupun demikian, aku sangat mencintainya..... mencintai Un Kim Hoa.....!"
Waktu berkata begitu, tampak Hok An tidak bisa menyembunyikan kedukaan hatinya. "Un..... Un Kim Hoa?!"
Tanya pemuda pelajar tersebut seperti tersentak kaget.
"Kau mengatakan wanita yang kau cintai itu adalah Un Kim Hoa?!"
Hok An mengangguk.
"Ya..... kan kini dia telah menjadi Bin Hujin, karena dia telah menikah dengan hartawan she Bin itu!"
Menyahuti Hok An. Wajah pemuda pelajar tersebut semakin berobah memperlihatkan sikap sungguh-sungguh.
"Jadi...... jadi yang kau maksudkan adalah isteri dari orang yang bernama Bin Ciok Lang?"
Tanya pemuda pelajar tersebut. Hok An tidak segera menyahuti, dia merasakan adanya sesuatu kelainan pada nada pertanyaan dari pemuda pelajar tersebut. Namun akhirnya dia menggeleng.
"Nama suaminya aku tidak mengetahui, aku hanya mengetahui shenya saja, dia she Bin.....!"
Kata Hok An akhirnya. Pemuda berpakaian sebagai pelajar tersebut telah menghela napas, katanya dengan suara yang menggumam.
"Aneh, mengapa bisa terjadi urusan yang kebetulan seperti ini? Mengapa bisa terjadi demikian kebetulan?!"
Hok An jadi mengawasi pemuda pelajar itu beberapa saat lamanya, dia tidak mengerti akan sikap pemuda pelajar tersebut. Sampai akhirnya dia bertanya.
"Apa maksudmu dengan mengatakan semuanya terjadi begitu kebetulan!"
Pemuda pelajar ini telah mengawasi Hok An dengan sorot mata yang tajam, sikapnya telah berobah dibandingkan dengan tadi.
"Siapakah kau sebenarnya? Siapa she dan namamu?!"
Tanya pemuda pelajar itu.
"Aku? Aku Hok An.....!"
Menyahuti Hok An tanpa sangsi sedikitpun juga. Pemuda pelajar itu termenung sejenak, sampai akhirnya tiba-tiba dia berkata dengan suara yang bersenandung.
"Langit dengan megah, hujan dengan petir, tanah dengan pohon. Siapakah yang bisa merobah semua itu?!" Dan kemudian dia menoleh kepada Hok An, tanyanya lagi.
"Kau mengetahui di mana rumahnya Bin Wan-gwe itu?!"
Hok An mengangguk.
"Ya..... aku baru saja dari rumahnya.....!"
Menyahuti Hok An.
"Hemm, bisakah kau mengantarkan aku ke sana?!"
Tanya pemuda pelajar itu pula.
"Mengantarkan kau ke sana?!"
Tanya Hok An sambil mementang sepasang matanya lebar-lebar.
"Apa maksudmu meminta aku mengantarkan engkau ke sana?!"
"Untuk menemui Bin Ciok Lang!"
Menyahuti pemuda pelajar tersebut.
"Untuk apa???!"
Tanya Hok An.
"Untuk membunuhnya! Dan jika memang dia telah kubunuh, berarti isterinya menjadi janda, kau boleh mengambilnya!"
Menyahuti pemuda pelajar tersebut.
Hok An jadi tersentak kaget, dia telah memandang pemuda pelajar tersebut dengan sorot mata yang sangat tajam, kemudian katanya.
"Ohhh, siapakah kau sebenarnya?
Mengapa engkau ingin membunuh hartawan she Bin itu?
Ada urusan apakah antara kau dengannya?!"
Pemuda pelajar itu memperdengarkan suara tertawa yang dingin.
"Hartawan busuk itu harus dibinasakan, dan kau tidak perlu banyak bertanya. Karena jika usahaku itu telah berhasil, bukankah kau bebas buat memiliki isterinya, wanita yang kau cintai itu?!"
Muka Hok An berobah jadi pucat, bola matanya memain tidak hentinya, dan akhirnya dia bilang.
"Jika demkian..... jika demikian..... mari kuantarkan kau ke rumah hartawan she Bin itu!"
Pemuda pelajar itu mengangguk.
Begitulah, dia telah mengikuti Hok An untuk memasuki kampung tersebut lagi.
Hok An telah mengajak pemuda pelajar itu ke depan rumah Bin Wan-gwe.
Waktu itu keadaan di rumah Bin Wan-gwe sangat sunyi sekali, tidak terlihat seorang manusiapun juga.
Rupanya para tukang pukul dari Bin Wan-gwe tengah merawat diri dari luka-luka yang mereka derita.
"Kau ketuklah pintu......
dan nanti aku yang akan membunuh hartawan busuk itu!"
Kata pemuda pelajar tersebut.
Tanpa rewel Hok An mengiyakan dan telah menghampiri pintu, yang diketuknya dengan kuat.
Dia mengetuk sampai pintu itu tergetar keras.
Tidak lama kemudian pintu terbuka, dari dalam melongok seseorang.
Hok An tidak sabar, dia mendorong terbuka daun pintu tersebut.
Karena ditolak dengan dorongan yang mengandung kekuatan sangat besar, daun pintu itu menjeblak dan telah membuat orang yang berada di balik daun pintu tersebut kena diterjang daun pintu itu, sampai dia terjengkang dan bergulingan di tanah beberapa kali.
Hok An kemudian dengan langkah lebar telah memasuki rumah tersebut.
Sedangkan pemuda pelajar itu juga mengikuti di belakangnya Dari dalam rumah tersebut, telah keluar dua orang tukang pukul Bin Wan-gwe.
Hanya saja, waktu mereka mengenali Hok An, tanpa menegur sepatah perkataan pun juga mereka telah memutar tubuhnya dan melarikan diri dengan segera masuk ke dalam lagi.
Pelayan yang tadi membukakan pintu, dan mukanya telah babak belur karena terhajar oleh daun pintu, dengan hidung berlumuran darah dan juga gigi yang pada rontok, telah berlari-lari masuk ke dalam, serta berteriak-teriak.
"Ada rampok! Ada rampok!"
Tidak lama kemudian tampak beberapa orang keluar dari dalam rumah itu, yang ternyata adalah belasan orang tukang pukul Bin Wan-gwe.
Akan tetapi, walaupun mereka berjumlah belasan orang, namun mereka semuanya memperlihatkan sikap yang merasa takut-takut dan jeri kepada Hok An.
Sedangkan Hok An telah berseru.
"Panggil Bin Wan-gwe keluar!"
Pemuda pelajar itu tetap berdiam diri saja, dia hanya mengawasi.
Tidak lama kemudian Bin Wan-gwe memang keluar dengan sikap takut-takut.
Di sampingnya tampak isterinya Bin Hujin, yang wajahnya masih pucat dan matanya bengul, memperlihatkan bahwa wanita ini baru saja menangis cukup lama.
Waktu itu Bin Wan-gwe sambil keluar telah bertanya.
"Kekacauan apa lagi yang ingin kau timbulkan disini.....?!"
Akan tetapi baru berkata sampai di situ, dia telah melibat si pemuda pelajar, dia tersentak kaget, wajahnya yang memang telah pucat itu semakin pucat saja.
"Kau.....?"
Serunya.
"Kau juga datang kemari?"
Pemuda pelajar itu telah mendengus dingin.
"Hemmm, sekarang telah tiba waktunya buat kau menghadap Giam-lo-ong, membayar penasaran kedua orang tuaku!"
Kata pemuda pelajar itu. Muka Bin Wan-gwe jadi semakin pucat. Dan dia telah berkata dengan suara tergetar.
"Lung Hie, sebenarnya..... sebenarnya.....!"
"Sebenarnya apa?!"
Tanya pemuda pelajar itu, yang dipanggil dengan sebutan Lung Hie, tampaknya memang Bin Wan-gwe dengan pemuda pelajar itu telah saling kenal.
"Sebenarnya memang aku ingin menghubungimu..... hanya saja aku tidak mengetahui di mana kau akhir-akhir ini berada!"
Kata Bin Wan-gwe kemudian dengan sikap yang agak sulit. "Hemm,"
Pemuda pelajar itu telah memperdengarkan suara tertawa dingin.
"Buat apa kau mencoba menghubungiku? Untuk urusan apa?!!"
"Aku..... aku ingin memberikan kepadamu harta yang dititipkan ke dua orang tuamu kepadaku!"
Kata Bin Wan-gwe.
"Kukira sekarang tentunya kau telah dewasa, sehingga pantas menerima harta warisan orang tuamu ini."
Mendengar perkataan Bin Wan-gwe terakhir itu, tiba-tiba meledak suara tertawa pemuda pelajar itu.
"Hemm, kau terlalu licik, Bin Ciok Lang,"
Katanya dengan penuh kemarahan.
"Sekarang, kau baru mengatakan ingin mengembalikan harta warisan ke dua orang tuaku! Tetapi dulu, kau telah begitu serakah buat memiliki harta warisan ke dua orang tuaku! Bahkan ibuku, juga beberapa orang adikku, telah kau binasakan."
Muka Bin Wan-gwe jadi berobah tambah pucat, dia telah berkata dengan sikap yang gugup.
"Jangan kau sampai berkata begitu, walaupun bagaimana, aku ini tetap pamanmu..... itu hanya fitnah belaka. Mana mungkin aku sebagai pamanmu sampai hati mencelakai ibu dan adik-adikmu.....?!" Muka pemuda pelajar tersebut berobah merah padam. Dia membentak gusar.
"Bin Giok Lang, dengarlah! Walaupun sekarang kau mengemukakan seribu macam alasan, tetap saja aku akan membunuhmu..... karena waktu belasan tahun yang lalu, dengan kejam dan tanpa perikemanusiaan sedikitpun juga, hanya sekedar buat menyerakahi harta warisan dari orang tuaku, kau telah begitu tega membinasakan ibu dan adik-adikku! Hemmm, sekarang kau bersiap-siaplah buat menerima kematianmu!"
"Lung Hie!"
Teriak Bin Wan-gwe dengan suara yang nyaring.
"Tunggu dulu, kau dengar dulu penjelasanku.....!"
Akan tetapi pemuda pelajar itu sudah tidak memperdulikan perkataan Bin Wan-gwe.
Dia melompat ke depan Bin Wan-gwe, dengan maksud buat menghajar binasa padanya.
Namun Bin Hujin waktu itu telah cepat-cepat menyelak ke depan suaminya, dia menghadapi pemuda pelajar itu dengan berani.
"Jangan kau ganggu suamiku!"
Katanya dengan wajahnya yang tetap pucat, akan tetapi nekad.
"Hemmm, engkau ingin melindungi suamimu?!"
Tanya pemuda pelajar itu.
Sedangkan Bin Wan-gwe sendiri telah memutar tubuhnya, tanpa kenal malu dia berusaha untuk melarikan diri ke dalam gedungnya.
Tetapi gerakan pemuda pelajar itu, Lung Hie, sangat cepat sekali.
Dia telah melompat ke samping Bin Wan-gwe, kemudian menghantam dengan telapak tangan kanannya pada punggung Bin Wan-gwe.
Seketika Bin Wan-gwe jadi terjungkal di atas lantai bergulingan.
Sedangkan Bin Hujin menjerit menyaksikan itu dan cepat-cepat menubruk suaminya yang dipeluknya kuat-kuat seakan juga nyonya tersebut melindungi suaminya dengan tubuhnya, jika saja ada sesuatu yang bisa mengganggu keselamatan suaminya.
Bin Wan-gwe sendiri telah memuntahkan darah segar sebanyak tiga kali, darah yang menggenang di lantai begitu mengerikan sekali, mengiriskan hati.
Muka Bin Wan-gwe pucat pias.
Walaupun hanya terhantam satu kali pada punggungnya, akan tetapi pukulan yang dilakukan oleh pemuda yang bernama Lung Hie itu memiliki tenaga yang kuat sekali, karena dia bukan sembarangan memukul belaka, dia memukul dengan disertai tenaga dalam pada kepalan tangannya.
Tidak mengherankan jika Bin Wan-gwe telah tergempur bagian anggota tubuhnya.
"Jangan menganiaya suamiku!
Jangan menganiaya suamiku!"
Teriak Bin Hujin di antara isak tangisnya.
Belasan orang kaki tangan Bin Wan-gwe melihat apa yang dialami oleh majikan mereka, segera meluruk akan mengurung Lung Hie, sebab mereka kuatir kalau-kalau Lung Hie akan menerjang maju buat menganiaya majikan mereka lagi.
Akan tetapi, walaupun mereka telah mengepung seperti itu, tetap saja mereka semuanya yang berjumlah belasan orang tersebut, yang di tangan masing-masing telah mencekal senjata tajam, telah memandang takut-takut kepada Lung Hie.
Mereka menyadari bahwa pemuda inipun sama halnya dengan Hok An yang tangguh dan tampaknya memiliki kepandaian sangat tinggi.
Karena dari itu, belasan orang tukang pukul Bin Wan-gwe tidak berani sembarangan bergerak untuk menyerang Lung Hie.
Dengan muka yang merah padam tampak Lung Hie melangkah mendekati Bin Wan-gwe yang masih dipeluki isterinya.
Sikapnya mengancam sekali.
"Lung Hie....., kau..... kau salah paham..... aku..... aku telah difitnah!"
Kata Bin Wan gwe bersusah payah, suaranya tidak begitu jelas, karena dia tengah menderita kesakitan yang hebat.
Dan setelah berkata begitu, malah Bin Wan-gwe memuntahkan darah segar lagi.
Bin Hujin menangis terisak-isak.
"Jangan ganggu suamiku..... Mengapa kau hendak menganiaya suamiku?! Pergilah..... ohhh, apakah sudah kau tidak takut pada hamba-hamba negara? Aku akan segera melaporkannya kepada Tie-kwan (hakim) agar kau manusia jahat memperoleh hukuman yang setimpal dengan perbuatanmu!"
Namun Lung Hie tidak menyahuti, dia melangkah maju terus dengan wajah yang bengis mengandung ancaman hendak membunuh Bin Wan-gwe.
Belasan orang tukang pukul Bin Wan-gwe masih ragu-ragu, tapi waktu melihat Lung Hie maju terus dan jaraknya dengan Bin Wangwe sudah tidak jauh lagi, belasan orang tersebut tidak bisa berdiam diri saja.
Dengan mengeluarkan suara bentakan, dua orang di antara mereka mempergunakan golok masing-masing buat menyerang dari arah belakang Lung Hie.
Lung Hie melangkah dengan mata memandang tajam kepada Bin Wan-gwe, seperti juga ia tidak mengetahui datangnya serangan membokong dari arah belakangnya.
Waktu golok salah seorang ke dua penyerangnya itu hampir mengenai punggungnya, tiba-tiba Lung Hie mandek, dia telah menekuk sedikit kaki kirinya, tangan kirinya dikibaskan dan menjapit mata golok orang tersebut dengan ke dua jari tangannya, dan tangan yang satunya bergerak menyelonong masuk menghantam ulu hati orang itu.
Disertai suara jeritan kesakitan, tubuh orang itu melayang ke tengah udara, karena hebatnya tenaga pukulan yang dilakukan Lung Hie, sedangkan goloknya masih tetap terjepit di jari tangan Lung Hie, sehingga dia melepaskan cekalannya, tubuh orang itu ambruk di atas tanah sambil mengerang-erang memegangi ulu hatinya.
Dia tak bisa segera berdiri lagi, mukanya pucat pias.
Tenang sekali Lung Hie menggerakkan golok yang dijepitnya buat menangkis golok yang satunya lagi, yang tengah menyambar ke arahnya.
Benturan terjadi, golok Lung Hie, yang hanya dijepit saja oleh ke dua jari tangannya itu telah berhasil membuat golok lawannya patah menjadi dua.
Kemudian Lung Hie mematahkan golok rampasannya.
"Siapa yang berani ikut campur urusanku?!"
Bentak Lung Hie dengan suara yang menyeramkan, dari matanya memancarkan sinar yang mengandung hawa pembunuhan.
Orang kedua yang tadi gagal menyerang punggung Lung Hie, malah goloknya telah patah, jadi kaget tidak terkira, namun tetap saja dia nekad menerjang dengan goloknya yang telah buntung, dia bermaksud akan menerjang tanpa memperdulikan keselamatan dirinya.
Lung Hie menyaksikan sikap orang seperti itu, dia tertawa dingin.
Satu kali kibaskan tangannya, tubuh orang itu terguling ke tempat yang jauh, sampai empat tombak lebih, dan kepalanya pusing, matanya berkunang-kunang, kemudian rebah tidak sadarkan diri.
Lima orang lainnya, tidak membuang-buang waktu menyerang juga, walaupun hati mereka gentar menghadapi pemuda yang tampaknya memiliki kepandaian yang tinggi itu, akan tetapi keselamatan majikan mereka tengah terancam, karena dari itu, mereka nekad menerjang maju.
Lung Hie mudah saja menghadapi mereka, setiap serangan dielakkannya dan setiap kali tangannya bergerak, dia berhasil merubuhkan lawannya.
Sisanya, tidak berani segera maju, namun mereka masih mengambil sikap mengurung.
Lung Hie setelah merubuhkan ke lima orang itu, melompat ke samping Bin Wan-gwe, mukanya bengis waktu berkata.
"Jika kau tidak mau menyingkir meninggalkan manusia serakah yang kejam ini, aku akan membinasakan juga dirimu!"
Bin Hujin masih menangis terisak-isak.
"Jika engkau hendak membunuh suamiku, bunuh aku dulu.....!"
"Perempuan keras kepala!"
Berseru Lung Hie naik darah, segera juga tangan kanannya diulurkan, dia mencengkeram lengan Bin Hujin, sampai nyonya itu menjerit kesakitan.
Sekali menghentak tubuh Bin Hujin telah melambung ke tengah udara.
"Hei, kurang ajar kau!"
Tiba-tiba Hok An yang sejak tadi berdiam diri menyaksikan apa yang dilakukan Lung Hie membentak gusar.
Dan Hok An bukan hanya sekedar membentak, karena tubuhnya telah melayang ke tengah udara, tangannya menyanggahi Bin Hujin, sehingga wanita itu tidak sampai terbanting di tanah.
"Ohhh, Hok An, tolongilah suamiku! Tolongilah Hok An! Aku mohon kepadamu, tolongilah dia.....!"
Sesambatan Bin Hujin yang menyadari bahwa suaminya tengah terancam jiwanya.
Hok An tadi gusar waktu melihat Lung Hie melontarkan Bin Hujin, karena Hok An beranggapan Lung Hie berani berbuat lancang dan kurang ajar kepada wanita yang dicintainya.
Akan tetapi sekarang mendengar sesambatan Bin Hujin yang meminta kepadanya agar segera menolongi Bin Wan-gwe, malah tampaknya dilihat dari sikapnya itu Bin Hujin sangat menguatirkan sekali keselamatan Bin Wan-gwe begitu besar perhatian dan kuatirnya, membuat tunuh Hok An lemas seperti tidak bertenaga, timbul sirik dan bencinya.
"Hemmm, kau tampaknya begitu mencintai suamimu, kau begitu memperhatikannya dan juga begitu menguatirkan keselamatannya, sehingga engkaupun mempertaruhkan dirimu sendiri demi keselamatan jiwa suamimu. Tetapi terhadapku, yang telah menderita dan bersengsara dari tahun ke tahun karena kau menghianati cinta kita, ternyata kau tidak memperlihatkan sedikitpun perhatianmu kepadaku! Ohhh, betapa aku memang tidak bisa menang dari hartawan she Bin itu! Betapa aku hanya manusia tidak berarti di matanya!"
Dan setelah berpikir begitu, rasa jelus dan siriknya timbul semakin besar, dengan muka yang merah padam dan suara yang ketus Hok An berkata.
"Jika kau mau menolongi suamimu, pergilah kau menolonginya sendiri......!" "Hok An.....!"
Berseru Bin Hujin yang tangisnya semakin menjadijadi dan memandang kepada Hok An dengan mata yang digenangi air mata.
Setelah memandang beberapa saat lamanya akhirnya Bin Hujin berlari lagi menghampiri suaminya, dia masih berseru-seru.
"Jangan mencelakai suamiku, jika memang kau bermaksud membunuhnya, bunuhlah aku sebagai gantinya, bunuhlah aku......!"
Akan tetapi belum lagi dia tiba di hadapan suaminya, Lung Hie telah menggerakkan tangan kanannya.
"Plakkk!"
Pundak Bin Hujin telah dihantam sampai wanita itu menjerit kesakitan.
tubuhnya terjungkal di tanah, kemudian rebah tidak bergerak, pingsan dengan air mata masih menggenangi sepasang mata dan pipinya.....!
Hok An yang melihat keadaan Bin Hujin seperti itu kaget tidak terkira.
Dengan mengeluarkan seruan tertahan, dia melompat ke depan Bin Hujin, dia berjongkok dan kemudian memeriksa keadaan Bin Hujin.
"Ohhh, kau....., kau telah menganiayanya! Kurang ajar! Kau telah menganiayanya!"
Menggeram Hok An sambil mengangkat kepala dongak mengawasi Lung Hie dengan sorot mata yang bengis sekali. Lung Hie tertawa dingin.
"Aku sengaja membuatnya pingsan, agar dia tidak menimbulkan kerewelan dan juga jangan sampai nanti aku lupa diri dan membunuhnya juga! Kau boleh mengawasinya. Nanti setelah bangsat ini kubunuh, dia jelas menjadi janda dan akan menjadi milikmu!"
Dingin sekali suara Lung Hie.
Hok An tertegun di tempatnya.
Waktu itu terngiang-ngiang permintaan Bin Hujin yang sesambatan memohon agar dia menolongi Bin Wan-gwe.
Lung Hie waktu itu melangkah mendekati Bin Wan-gwe, yang berdiri dengan muka pucat dan mulut berlumuran darah dengan sikap ketakutan.
"Kini tibalah giliranmu untuk menghadap ke Giam-lo-ong, karena dulu waktu kau mengirim ibu dan adik-adikku ke Giam-lo-ong, kau tidak mempunyai rasa kasihan sedikitpun juga....., semua ini untuk menebus dosa-dosamu......!" Sambil berkata bengis seperti itu, Lung Hie juga menghantam mempergunakan tangan kanannya. Bin Wan-gwe memang sejak tadi telah melihatnya bahwa tidak mungkin dirinya dapat mengelakkan kematian di tangan Lung Hie, yang sangat mendendam padanya, maka dia hanya menghela napas dan menggumam perlahan.
"Lung Hie, kau hanya diperalat orang.....!"
Waktu itu tangan Lung Hie meluncur ke arah kepalanya, jika saja pukulan tersebut mengenai sasarannya, maka Bin Wan-gwe niscaya akan binasa dengan kepala yang remuk.
Dan Bin Wangwe yang melihat anak buahnya sudah tidak berdaya menghadapi Lung Hie buat melindunginya diapun memejamkan matanya hanya bibirnya yang bergerak-gerak perlahan seperti juga dia tengah bicarakan penasaran hatinya!
Disaat yang sangat kritis sekali buat keselamatan jiwa Bin Wangwe, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan dengan gerakan yang lincah sekali, diiringi dengan bentakkannya.
"Jangan ganggu dia......"
"Plakkk!"
Tangan Lung Hie juga kena ditangkis kuat sekali.
Sebenarnya waktu itu Lung Hie memukul dengan mempergunakan delapan bagian tenaga dalamnya, itulah bukan pukulan yang ringan akan tetapi akibat tangkisan tangan orang itu, pukulan Lung Hie terhambat di tengah udara, tidak bisa meluncur terus mencapai sasarannya.
Malah Lung Hie merasakan betapa pergelangan tangannya agak sakit.
Lung Hie mundur dua tindak ke belakang sepasang matanya dipentang Lebar-lebar mengawasi orang yang telah merintangi maksudnya.
Diwaktu itulah, dia segera mengenali orang tersebut, sampai Lung Hie berseru gusar.
"Kau .....?!"
Orang yang menghalangi Lung Hie membunuh Bin Wan-gwe ternyata tidak lain dari Hok An. Dia berdiri di depan Lung Hie, melindungi Bin Wan-gwe.
"Sudahlah, kau tidak usah membunuh orang itu!"
Kata Hok An sambil menunjuk Bin Wan-gwe.
"Akupun sudah tidak mengharapkan jandanya lagi.....!"
Lung Hie tertegun sejenak, kemudian tertawa dingin. "Hemm, apa sangkut pautnya urusanku dengan dirimu?!"
Kata Lung Hie dengan suara yang dingin.
"Jika memang engkau tidak menghendaki jandanya, dan juga tidak mau mencampuri urusan ini, engkau boleh cepat-cepat angkat kaki meninggalkan tempat ini, sedangkan aku tetap akan mengerjakan pekerjaanku, yaitu akan membinasakan bangsat itu......!"
Waktu berkata begitu, muka Lung Hie merah padam memancarkan hawa pembunuhan dan nafsu hendak menganiaya Bin Wan-gwe.
Beberapa orang anak buah Bin Wan-gwe menghampiri majikan mereka, berdiri untuk bersiap-siap untuk menghadapi sesuatu.
Sedangkan Hok An dengan suara mengandung kedukaan yang dalam berkata.
"Sudahlah jangan banyak rewel lagi, mari tinggalkan tempat ini! Jika kau membunuh orang itu, berarti isterinya akan berduka sekali. Dan aku tidak mau jika dia berduka. Mari kita tinggalkan tempat ini. Tidak ada gunanya membinasakan orang itu, hanya mengotori tanganmu saja!"
Tiba-tiba Lung Hie tertawa bergelak-gelak dengan suara yang nyaring sekali.
"Jika kau ingin pergi, pergilah. Aku akan mengurus urusanku sendiri!" Hok An membuka matanya lebar-lebar mengawasi Lung Hie, katanya kemudian.
"Jika memang kau membuat dia berduka karena suaminya dibinasakan dirimu, berarti engkau berurusan juga dengan diriku!"
"Eh, mengapa begitu?!"
Tanya Lung Hie tambah gusar dan mendongkol sekali.
"Aku tidak perduli dengan urusanmu, dan aku hanya akan mengurus urusanku sendiri......?!"
"Sudah kukatakan, jika kau membunuh suaminya dan dia berduka, maka aku akan berhitungan denganmu!"
Menyahuti Hok An dengan tegas. Lung Hie tertawa bergelak-gelak, kemudian katanya dengan suara yang bengis.
"Bagus! Bagus! Kau sama hinanya seperti seekor anjing? Setelah wanita itu meninggalkanmu, menghianati cinta kalian, kemudian menikah dengan lelaki bangsat ini, dan sekarang malah engkau hendak menolonginya! Sungguh hina sekali! Seharusnya, engkau yang menghantam mampus bangsat ini dan juga menghantam mati perempuan tidak berbudi itu.....!"
Mendengar perkataan Lung Hie itu muka Hok An berobah pucat, tampak dia berduka dan bersusah hati. "Jangan bicara sembarangan......!"
Bentak Hok An kemudian dengan suara parau.
"Memang aku sangat mencintainya, terlalu mencintainya. Walaupun sekarang aku memperoleh kenyataan dia tidak mencintaiku, malah tampaknya begitu sayang dan menguatirkan sekali keselamatan suaminya, kupikir, jika suaminya bisa tetap hidup, dia tentu akan bahagia sekali! Maka demi kebahagiaannya aku rela melupakannya dan membiarkan diriku sendiri yang merana dan bersengsara. Tidak perlu ditanya lagi, demi kebahagiaannya, aku memang rela untuk hidup sendiri dan merana!"
Lung Hie tertawa bergelak-gelak.
"Oh, engkau manusia yang terlalu bodoh di dalam dunia ini, kukira tidak ada duanya manusia semacam engkau yang demikian bodoh!"
Kata Lung Hie.
"Biarlah! Biarlah aku hidup sendiri dan dia menikmati kebahagiaannya! Tokh, jika suaminya kau binasakan, dan dia berduka, aku tetap tidak akan memperoleh hatinya, tidak memperoleh kasih sayangnya dan cintanya, malah akan menambah kedukaanku saja. Buat apa semua itu? Untuk apa? Terlebih baik, biarlah aku hidup sendiri, biarkanlah aku hidup sendiri dengan kemeranaanku ini asal dia bisa bahagia.....!" Lung Hie tertegun sejenak tidak disangkanya Hok An yang tampaknya begitu otak-otakan dan seperti orang sinting, ternyata memiliki perasaan yang begitu halus. Akan tetapi setelah lenyap tertegunnya Lung Hie tertawa dingin.
"Hemmm, aku justru tidak mau dihanyutkan oleh jiwa yang begitu lemah seperti kau! Walaupun bagaimana, tetap saja aku harus membinasakannya. Aku harus membunuh bangsat itu, untuk membalas sakit hati ibu dan adik-adikku yang telah dibunuhnya!"
Hok An menghela napas dalam-dalam, matanya memandang tajam bersinar kepada Lung Hie, karena ke dua matanya itu telah digenangi air mata.
Walaupun Hok An berusaha menahan turunnya air mata, tetap saja dia tidak berhasil, dan air mata itu diluar kehendaknya telah menggenangi ke dua matanya itu.
"Apa gunanya kau membunuhnya? Jika kau membunuhnya, apakah ibumu, adik-adikmu itu bisa hidup kembali? Sudahlah! Mari kita pergi! Rupanya kita memang memiliki nasib buruk yang sama, hanya saja berbeda tempat dan kejadiannya, karena dari itu, alangkah baiknya jika kita menikmati kedukaan kita saja. Biarkanlah mereka itu mencicipi kebahagiaan mereka dari dasar penderitaan kita.....!" "Tidak!"
Berseru Lung Hie dengan sengit dan gusar.
"Walaupun ibuku dan adik-adikku tidak bisa kembali hidup, tetap saja dia harus dibinasakan, biarlah anaknya kelak merasakan, bagaimana jika orang tuanya dibinasakan orang lain..... biar dia sendiri juga menyadarinya, betapa dia telah dibunuh dan berpisah dengan orang-orang yang dikasihinya.....!"
Mendengar perkataan Lung Hie yang terakhir itu, Hok An menyusut air matanya.
"Kau hendak pergi atau tidak dan membebaskan orang itu dari tangan mautmu?"
Pertanyaan Hok An yang terakhir ini diucapkannya dengan angker dan bersungguh-sungguh.
"Hemm, tetap aku harus membunuhnya,"
Menyahuti Lung Hie, walaupun hatinya agak tergetar melihat keangkeran wajah Hok An. Hok An tertawa dingin, katanya.
"Baiklah! Jika kau tetap hendak membunuhnya, berarti kita harus bentrok satu dengan yang lainnya, karena aku harus melindunginya.....!"
Waktu itu Bin Hujin yang mendengar perkataan Hok An seperti itu, yang baru saja tersadar dari pingsannya, telah cepat-cepat menjatuhkan dirinya berlutut dan memanggut-manggutkan kepalanya terus-menerus, diapun sesambatan.
"Terima kasih Hok An.....
terima kasih Hok An, aku tentu tidak akan melupakan budi kebaikanmu ini.....
terima kasih Hok An......!"
Hok An melirik kepada nyonya itu, yang sesambatan sambil menangis dan juga mengucurkan air mata yang deras, dia bilang dengan suara yang tawar mengandung kedukaan yang dalam.
"Kim Hoa...... tidak perlu kau berlutut seperti itu..... sudahlah..... aku memang akan membiarkan kau mencicipi kebahagiaanmu! Tidak usah kau mengatakan akan mengingat budi kebaikanku....., karena dulu saja, kau berjanji lebih berat dari itu, di mana engkau mengatakan ingin sehidup dan semati denganku dengan cinta kasih yang manis di antara kita berdua. Engkau masih bisa melanggar dan menghianatinya! "
Apalagi sekarang, hanya untuk ingat budi kebaikanku? Ohhh, hanya waktu dalam sekejap mata saja kau akan melupakannya.
"Dan juga, aku melindungi suamimu, bukan karena hendak mengharapkan sesuatu darimu! Tidak! Tidak! Aku cinta padamu! Dan cinta tidak bisa ditawar atau diperjual belikan. Karena dari itu, aku tidak bisa merobah pula perkataanku, bahwa aku memang tetap mencintaimu! Karena aku mencintaimu, walaupun engkau mengkhianatiku, aku tetap hendak melihat engkau bahagia! "
Jika suamimu ini dibunuh oleh pemuda itu, berarti engkau akan berduka. Dan aku yang sangat mencintaimu, mengasihimu, pasti akan ikut berduka, dan hatiku lebih merana!"
Biarlah kau mencicipi kebahagiaanmumu itu, nikmatilah hidupmu yang bahagia bersama suamimu, dan biarkanlah aku hidup sendiri dengan penderitaan dan kemeranaanku ini......dan kau tidak perlu bertanya lagi kelak ke mana aku hendak pergi.
Aku akan membawa diriku ke mana saja......!"
Sebal bukan main Lung Hie mendengar dan menyaksikan semua itu.
Hatinya sudah tidak sabar ingin cepat-cepat sekali hantam membinasakan Bin Wan-gwe.
Maka tanpa menantikan lagi selesainya perkataan Hok An, dia melompat, tangan kanannya segera bergerak menghantam tukang pukul Bin Wan-gwe yang sebelah kiri.
Kemudian dia mengibas dengan tangan yang lainnya kepada tukang pukul Bin Wan-gwe yang lainnya.
Ke dua orang tukang pukul Bin Wan-gwe itu terpelanting dengan keras ke belakang, mereka juga menjerit kesakitan.
Sedangkan tangan kanan Lung Hie masih terus bergerak menghantam ke arah dada Bin Wan-gwe.
Gerakan yang dilakukannya merupakan pukulan yang sangat kuat sekali, karena Lung Hie merasakan bahwa inilah kesempatan satu-satunya, karena dari itu, jika saja dia gagal dengan serangannya kali ini, niscaya akan menyebabkan dia memperoleh kesulitan dari Hok An.
Dalam keadaan seperti itu, Hok An yang sesungguhnya masih banyak ingin memuntahkan perasaan dan kata-kata yang tersimpan di dalam hatinya semua ini, telah melihat Lung Hie mengancam keselamatan Bin Wan-gwe.
Cepat sekali dia berseru nyaring, dia telah menerjang dengan cepat, pundaknya dibenturkan kepada pundak Lung Hie.
Cara itu memang satu-satunya buat menggagalkan maksud Lung Hie menerjang Bin Wan-gwe.
Dan memang ternyata serangan Lung Hie tidak mengenai sasarannya akibat tubuhnya jadi miring dibentur oleh pundak Hok An.
Dalam keadaan seperti itu, Bin Wan-gwe sendiri dengan lutut yang gemetaran, berusaha melarikan diri.
Lung Hie mengeluarkan jeritan penasaran karena pukulannya yang gagal disebabkan rintangan Hok An.
Tanpa memperdulikan Hok An, Lung Hie menjejakkan kakinya, dia melompat mengejar Bin Wan-gwe.
Bin Wan-gwe tidak mengerti ilmu silat, mana mungkin dia bisa meloloskan diri dari kejaran Lung Hie, hanya beberapa kali jejakkan kakinya saja, di saat itu Lung Hie berhasil menyusul Bin Wan-gwe.
Waktu itulah terlihat betapa Lung Hie tidak membuang waktu lagi menghantam ke arah Bin Wan-gwe.
Hok An juga tidak tinggal diam, begitu dia membentur pundak Lung Hie, segera dilihatnya Lung Hie meluncur mengejar Bin Wan-gwe.
Maka diapun telah melompat lagi, dia mengulurkan tangannya, dia telah menjambret pundak Lung Hie, kemudian dicengkeramnya dengan keras.
Akan tetapi Lung Hie yang telah diliputi rasa dendamnya pada Bin Wan-gwe, menyebabkan dia nekad tidak memperdulikan keselamatan dirinya sendiri.
Dia tetap mengayunkan tangannya buat menghantam kepala Bin Wan-gwe tanpa memperdulikan cengkeraman Hok An.
Semangat Hok An seperti terbang dari tubuhnya waktu melihat Lung Hie tetap dengan serangannya ke kepala Bin Wan-gwe.
Dengan begitu jelas keselamatan Bin Wan-gwe sangat terancam, dan akan membuat dia gagal buat menolongi Bin Wan-gwe.
Dalam keadaan seperti itu, Hok An telah mengambil keputusan dengan cepat.
Jika semula dia hanya ingin merintangi Lung Hie agar tidak melukai atau membinasakan Bin Wan-gwe, sekarang ini justru jadi lain.
Waktu itu tangannya telah mencengkeram baju di bagian pundak Lung Hie, dan tidak ada jalan lain buat Hok An, maka dia mengerahkan tangannya kepada ke lima jari tangannya, cepat luar biasa dia menggentak dengan kuat.
Hentakan itu membuat Lung Hie jadi tertarik ke belakang dan juga kepalan tangannya pada kepala Bin Wan-gwe tidak berhasil mengenai sasarannya dengan tepat.
Malah, di saat Lung Hie kehilangan keseimbangan tubuhnya, cepat sekali Hok An telah membarengi dengan tangan kirinya yang menotok beberapa jalan darah tubuh Lung Hie.
Lung Hie merasa gusar, penasaran, mendongkol dan kecewa yang bercampur menjadi satu.
Dia telah berusaha untuk meloloskan diri dari cengkeraman tangan Hok An, akan tetapi cengkeraman Hok An kuat sekali, tidak begitu mudah dia meloloskan diri sekehendak hatinya.
Yang lebih mengejutkan lagi, tangan kiri Hok An menyambar akan menotok beberapa jalan darah di tubuhnya, membuat Lung Hie mau atau tidak harus dapat mengelakkan diri dari totokan itu.
Sekali saja dia tertotok, niscaya akan membuat dirinya tidak berdaya lagi melakukan perhitungan dengan Bin Wan-gwe.
Mati-matian Lung Hie telah menghindarkan diri dari dua totokan Hok An dengan meliukkan tubuhnya, sikut tangan kanannya mendorong ke belakang ke arah ulu hati Hok An, sedangkan tangan kirinya akan menotok ke arah ke dua biji mata Hok An.
Ancaman seperti itu memang bukan ancaman sembarangan buat Hok An dan tidak mudah buat dia menghindarkan diri dari serangan Lung Hie.
Akan tetapi dalam keadaan seperti ini Hok An telah bertekad hendak menolongi jiwa Bin Wan-gwe, maka cepat sekali dia mengempos semangatnya, pundak Lung Hie tetap dicengkeramnya dengan kuat.
Cengkeraman mana telah membuat Lung Hie kesakitan, dan sikut tangan kanannya tidak bisa mengenai sasaran, karena tenaganya pada tangan kanannya itu seperti telah lenyap begitu saja.
Dalam keadaan seperti ini, segera juga terlihat Hok An mempergunakan kesempatan ini, mempergunakan kaki kanannya menendang Lung Hie.
Karena jarak mereka terlalu dekat, Lung Hie tidak bisa mengelakkan diri.
Dia tertendang sampai tubuhnya terpelanting, karena Hok An juga membarengi melepaskan cengkeramannya pada pundak Lung Hie.
Dengan muka yang merah padam karena marah dan kecewa sebab dia tidak berhasil membinasakan Bin Wan-gwe, Lung Hie mendelik pada Hok An.
"Bagus! Rupanya kau benar-benar manusia hina? Orang she Bin itu telah mengambil dan merampas kekasihmu yang dijadikan isterinya..... sekarang malah engkau menolonginya! Engkaulah manusia yang paling rendah dan hina di dalam dunia ini.
"Kelak aku akan memperhitungkan segalanya dengan kau! Dan mengenai urusanku dengan orang she Bin tersebut, tetap akan kulanjutkan, walaupun bagaimana dia tetap harus kubinasakan.....!"
Setelah berkata begitu, Lung Hie menjejakkan kakinya, tubuhnya segera juga mencelat ke tengah udara, di mana dia berjumpalitan dua kali, tanpa menginjak tembok, di saat itu dia telah berada di luar gedung.
Hok An yang telah dimaki seperti itu oleh Lung Hie, jadi berdiri mematung di tempatnya.
Dia berdiam bagaikan patung, sampai akhirnya dia telah mengeluarkan suara jeritan, menjejakkan kakinya meninggalkan gedungnya Bin Wan-gwe.
Bin Hujin yang melihat Hok An hendak berkata, telah berteriak.
"Hok An.....!"
Tergetar suaranya, dan dia telah terlambat, sebab Hok An telah lenyap di balik tembok itu, malah tidak terdengar suaranya maupun terlihat bayangannya lagi.
Bin Hujin menutupi wajahnya dengan ke dua tangannya dan menangis terisak-isak, tubuhnya gemetaran.
Akan tetapi setelah berhasil menguasai perasaan dan goncangan hatinya, dia berlari ke dalam gedung buat melihat keadaan suaminya.
Waktu Bin Hujin tengah berlari-lari memasuki ruangan di dalam gedung tersebut, dia berpapasan dengan puterinya, yang segera dirangkulnya.
"Mana ayahmu.....?"
Tanya Bin Hujin dengan suara tergetar di antara isak tangisnya. "Tadi..... tadi ayah berlari masuk ke dalam kamar!"
Kata gadis cilik itu.
Bin Hujin mengajak puterinya pergi ke kamar Bin Wan-gwe.
Waktu pintu kamar di buka, tampak sesosok tubuh menggeletak di lantai.
Bin Hujin menjerit keras dengan hati pilu, karena yang rebah di atas lantai tidak lain dari Bin Wan-gwe, yang rebah dengan muka pucat pias.
Dia pingsan, karena tengah dalam ketakutan bukan main, setelah berhasil melarikan diri ke dalam kamarnya, pingsan.....
terlebih lagi memang dia terluka di dalam yang cukup parah, di mana dia telah memuntahkan darah yang banyak sekali.
Setelah sadar apa yang terjadi, Bin Hujn menjerit-jerit memanggil para pelayan dan anak buah Bin Wan-gwe, buat mengangkat Bin Wan-gwe ke atas pembaringan.
Kemudian memanggil tabib guna mengobati luka Bin Wan-gwe, luka di dalam tubuh yang parah sekali.
Karena sepanjang hari itu Bin Wan-gwe tetap dalam keadaan pingsan tidak sadarkan diri, Bin Hujin dan puterinya hanya menangis terisak-isak saja dengan segala macam perasaan menggoncangkan hatinya.....
Rembulan tergantung di langit dengan sinarnya yang sangat terang benderang, di samping itu juga terlihat jelas sekali pohon107 pohon yang terhembus oleh siliran malam, bagaikan bayangan raksasa.
Di bawah sebatang pohon yang cukup besar di tepi jalan di luar pintu kampung sebelah barat, tampak duduk sesosok tubuh dengan bercakung diri, ke dua tanganya bertopang pada dagunya.
Dia memandang dengan sikap yang muram sekali kepada rembulan, matanya yang kuyu tidak bersinar itu mengandung kepedihan yang mendalam.
"Cinta..... apakah cinta itu?!"
Menggumam orang tersebut dengan suara yang serak. Dia seperti juga tidak merasakan dinginnya angin malam yang menerpah tubuhnya.
"Dan apakah artinya semua perjalanan hidupku ini yang hanya dipermainkan oleh cinta belaka? Atau memang dia masih mencintai aku? Ohhh, aku benar-benar seperti juga orang sinting yang mengharapkan yang tidak-tidak! Dia sangat mencintai dan menyayangi suaminya, dan diapun begitu menguatirkan suaminya..... juga dari perkawinannya telah diperoleh anak.....
"Bagaimana mungkin aku masih bisa mengharapkan yang tidaktidak? Bukankah satu-satunya yang cukup bisa membahagiakan dan menghibur hatiku adalah membiarkan dia hidup bahagia di samping suami dan anaknya?!"
Sosok bayangan itu menghela napas lagi beberapa kali, angin malam berhembus semakin dingin.
Sosok tubuh yang tengah duduk terpekur di bawah sebatang pohon tersebut tidak lain dari Hok An, yang sikapnya bagaikan orang mabok cinta dan sinting.
Dia selalu duduk terpekur begitu menangisi cintanya yang kandas.
Jika sebelumnya, selama bertahun-tahun, dia begitu giat mencari jejak kekasihnya, di mana dia berusaha menyelidiki di mana beradanya Un Kim Hoa.
Akan tetapi sekarang, setelah dia memperoleh kenyataan Un Kim Hoa resmi sebagai Bin Hujin, dia jadi begitu putus asa dan kecewa.
Apalagi memang dilihatnya Un Kim Hoa begitu sayang dan menguatirkan keselamatan suaminya, maka semakin tawar juga hati Hok An.
Dulu memang dia dengan Un Kim Hoa menjalin hubungan mesra dan juga masing-masing telah bersumpah akan tetap setia, walaupun apa yang terjadi, tidak ada suatu kekuatan apapun yang akan sanggup memisahkan mereka.
Namun kenyataan yang ada, justru Un Kim Hoa melanggar sumpahnya sendiri, di mana Kim Hoa telah menjadi isteri orang lain, menjadi nyonya Bin, dan malah sekarang telah mempunyai anak hasil dari perkawinan mereka itu.
Hok An menghela napas.
Di bawah sinar rembulan yang redup, tampak berkilauan butir-butir air mata yang mengenai dan mengalir di pipi Hok An.
Semua kenangan manis waktu ia bercinta dengan Un Kim Hoa terbayang kembali di pelupuk matanya.
Akhir-akhir ini karena putus cinta ditinggal kekasih, yang kawin dengan orang lain, lagak Hok An sampai mirip-mirip orang sinting!
Semua itu karena dia patah hati mengalami kegagalan cinta.
Dan sekarang, dalam malam yang demikian sunyi dan sepi, justru perasaan Hok An begitu kosong dan tawar, karena sekarang dia telah memperoleh kenyataan impian telah buyar, di mana dia tidak bisa mengharapkan lagi kasih dari orang yang telah menjadi milik orang lain.....
Tiba-tiba sekali, Hok An tersentak dari lamunannya, dia mendengar di kejauhan suara orang menjerit-jerit.
"Kembalikan anakku! Kembalikan anakku! Ohh, biadab kau..... kembalikan anakku!" Suara jeritan itu adalah suara jeritan wanita, di mana sambil menjerit-jerit, wanita itu berlari-lari dalam kegelapan malam. Hati Hok An jadi berdebar keras sekali, tergoncang oleh peristiwa tersebut, dan bukan soal jeritan wanita itu, akan tetapi justeru dia mengenali suara wanita tersebut di samping memang diapun mengenali potongan tubuh wanita itu, yang tidak lain dari pada Un Kim Hoa! Waktu itu Un Kim Hoa berlari-lari dengan pakaian yang tidak teratur letaknya, rambutnya juga tidak tersusun rapi, telah ada yang beriap sebagian. Akan tetapi wanita itu tidak memperdulikan keadaan dirinya, malah dengan isak tangis dan air mata yang bercucuran deras, dia telah berteriak-teriak dengan jeritan yang sangat mengenaskan hati.
"Kembalikan anakku! Kembalikan anakku! Oh, biadab sekali kau jika mengganggu anakku itu, terkutuklah kau.....!"
Dalam keadaan seperti itu, mata Hok An yang juga tengah digenangi air mata, sebenarnya tidak melihat jelas.
Akan tetapi setelah agak berkurang rasa kagetnya, segera dia menghapus air matanya, maka dia segera melihat di kejauhan berlari-lari sesosok tubuh, yang mengenakan pakaian serba hitam, dengan gerakan yang gesit sekali, tengah berlari-lari meninggalkan perkampungan itu.
Di tangannya menggendong sesosok tubuh kecil.
Hok An segera juga tersadar!
Dia mengetahui apa yang terjadi!
Tentunya Lung Hie telah menculik puteri Bin Wan-gwe dan Bin Hujin mengetahuinya, sehingga nyonya itu mati-matian mengejar Lung Hie.
Akan tetapi Bin Hujin mana bisa mengejar Lung Hie, karena Lung Hie memiliki ginkang yang tinggi, walaupun di tangannya menggendong puteri Bin Wan-gwe, namun dia tetap bisa berlari cepat seperti itu.
Bin Hujin semakin tertinggal jauh.
Bagaikan tersengat kalajengking, tampak Hok An melompat dari tempat duduknya, dia berlari seperti terbang saja.
"Kim Hoa, jangan kuatir, aku akan segera merebut kembali puterimu itu.....!"
Berseru Hok An waktu dia melampaui Bin Hujin buat menyusul Lung Hie. Bin Hujin terkejut, namun kemudian berganti menjadi girang yang tidak kepalang bercampur haru.
"Hok An.....!"
Suaranya serak, dan dia telah berlari terus.
"Tolonglah aku Hok An..... tolonglah puteriku itu.....!" Hok An sudah tidak mendengar perkataan Bin Hujin, yang suaranya tergetar dan serak seperti itu, dia terus juga mengejarnya. Sedangkan Lung Hie jadi mendongkol sekali. Semula dia girang, telah berhasil menculik puteri Bin Wan-gwe, yang kelak akan dipergunakan buat pancingan agar Bin Wan-gwe datang ke tempatnya dan nanti membinasakan hartawan itu guna membalas sakit hatinya. Akan tetapi sekarang dia mengetahui dirinya tengah dikejar oleh seseorang, yang memiliki ginkang tidak berada di sebelah bawah ginkangnya, yang dapat mengejarnya dengan cepat sekali. Gerakan orang itu juga malah lebih cepat dari larinya, karena Lung Hie merasa terganggu dengan puteri Bin Wan-gwe yang digendongnya dan selalu meronta itu, sehingga memperlambat larinya. Dalam keadaaan seperti itu, juga Lung Hie dapat mengenalinya bahwa orang tengah mengejarnya itu tidak lain dari Hok An, manusia yang seperti sinting karena mabok kepayang oleh kandasnya sang cinta..... Lung Hie mengempos semangatnya, berusaha berlari lebih cepat lagi. Akan tetapi puteri Bin Wan-gwe masih saja meronta terus menerus, maka dia telah jengkel bukan main. Dengan gusar dia mengayunkan tangan kanannya menghantam kepala gadis cilik tersebut, maka puteri Bin Wan-gwe itu tidak bisa meronta lagi dia telah jatuh pingsan. Sedangkan Hok An berlari cepat sekali, dia berlari sekuat tenaganya. Jarak antara dia dengan Lung Hie semakin dekat juga. Mengetahui bahwa dirinya jika berlari terus menerus seperti itu, akhirnya akan dapat terkejar oleh Hok An, maka segera juga Lung Hie merobah arah larinya, dia menuju ke arah sebuah gunung yang terpisah cukup jauh dari perkampungan itu. Namun Hok An tetap saja mengejarnya, mengejar dengan semakin cepat. Dengan mengambil jalan di dalam hutan-hutan tidak gampang buat Hok An menemui jejak Lung Hie. Inilah yang akhirnya menguntungkan Lung Hie, yang bisa menjauhi diri dari Hok An. Dengan panik Hok An mencari-cari ke sana ke mari, dia bingung bukan main, dan terus juga menerobos hutan-hutan yang terdapat di kaki gunung, sampai akhirnya dia menemui juga jejak Lung Hie. Dilihatnya Lung Hie sedang mendaki gunung itu, rupanya pemuda itu bermaksud hendak menghindarkan diri dari kejarannya dengan mendaki gunung tersebut. Hok An sambil berseru nyaring telah mengempos semangatnya. Dia mengejar dengan pesat sekali. Dia kuatir, kalau saja Lung Hie kurang begitu baik-baik menguasai dirinya, sehingga terjerumus ke dalam jurang, berarti puteri Bin Wan-gwe akan mengalami kecelakaan juga. Semakin lama Hok An semakin kalap, mengejar semakin cepat juga, diapun berulang kali berseru dan membentak agar Lung Hie menghentikan larinya, di mana Hok An berjanji tidak akan menganggu, asal dia bersedia memulangkan puterinya Bin Wangwe itu. Di waktu itu Lung Hie seperti kalap, sudah tidak memperdulikan suatu apapun, dia berlari terus mendaki gunung itu. Setengah harian mereka lari saling kejar di gunung itu, dan akhirnya Lung Hie tiba di tepi jurang yang curam sekali. Dia memandang bingung sekelilingnya, karena sudah tidak ada jalan lain lagi buat dia meloloskan diri, sedangkan Hok An telah mengejarnya semakin dekat. Muka Lung Hie agak pucat. Dia tidak jeri dengan Hok An, akan tetapi dia telah merasakan, betapa manusia yang otaknya seperti sinting disebabkan merana putus cintanya, sangat hebat tangannya. Maka dari itu terlebih lagi dia dalam keadaan menggendong puteri Bin Wan-gwe, jelas dia tidak akan bisa berbuat banyak menghadapi Hok An. Waktu itu Hok An telah tiba di dekat tempat itu. Dia berhenti berlari dan memandang Lung Hie dengan tajam, katanya.
"Kembalikan puteri Bin Wan-gwe, dan kau boleh pergi, aku tidak akan mengganggumu......!"
"Hemmm, memulangkan kembali puteri si bangsat ini? Jika kau berani maju satu tindak lagi, tentu aku akan menghantam hancur batok kepala anak si bangsat ini..... Cepat kau tinggalkan tempat ini!"
Hok An mencilak-cilak matanya, dia memandang beberapa saat dengan bingung.
Jika dia menerjang maju, di belakang Lung Hie terdapat jurang yang dalam.
Dan jika Lung Hie terjerumus masuk ke dalam jurang itu, berarti puteri Bin Wan-gwe akan mengalami kecelakaan juga.
Karena dari itu, Hok An tidak segera menyerbu maju.
"Ayo, kau kembalikanlah puteri Bin Wan-gwe.....!"
Kata Hok An berusaha membujuknya.
"Cisss, manusia hina dan rendah, setelah kau ditinggalkan kawin, dan juga engkau telah disakiti seperti itu, engkau masih mau menolongi hartawan bangsat itu, heh?!"
Sengaja Lung Hie mengeluarkan kata-kata yang pedas seperti itu, karena dia ingin mengingatkan kepada Hok An, bahwa Bin Wangwe itu seteru dan musuh Hok An yang telah mengambil kekasihnya, sehingga Hok An merana dan menderita dari tahun ke tahun.
Akan tetapi Hok An menggeleng cepat.
"Aku telah memutuskan, bahwa urusan yang lalu itu tidak perlu kuingat lagi! Aku ikut gembira dan bahagia melihat Kim Hoa hidup bahagia dengan suaminya, di mana mereka bisa merawat puteri mereka baik-baik.....! Nah, kau kembalikanlah puteri Bin Wan-gwe itu...... Bin Wan-gwe tentu akan berterima kasih sekali padamu!"
"Bin Wan-gwe berterima kasih kepadaku?"
Tanya Lung Hie tibatiba, dia tertawa dengan suara yang nyaring sekali, sampai tubuhnya tergoncang sangat keras. "
Bin Wan-gwe itu seorang bangsat yang tidak punya malu, bagaimana dia bisa berterima kasih atas kebaikanku?
Hemmm, sedangkan harta warisanku saja telah dirampas dan diserakahinya di mana seperti juga dia sudah menjadi setan.
Ibu dan adik-adikku dibunuhnya semua.....!"
Dan Lung Hie tergelak-gelak nyaring sekali.
Hok An melangkah setindak-setindak mendekati Lung Hie waktu pemuda ita berkata-kata, karena jika memang terdapat kesempatan dia bermaksud hendak mempergunakannya untuk menyerbu dan merebut puteri Bin Wan-gwe.
Akan tetapi, dia tidak bisa melangkah lebih jauh sebab Lung Hie telah melihat sikapnya itu, di mana Lung Hie membentak bengis.
"Berhenti! Jika kau berani melangkah maju satu tindak lagi, puteri si bangsat ini akan ku lemparkan ke dalam jurang itu....."
Bingung bukan main hati Hok An, karena dia menyadari, jika Lung Hie terdesak, pemuda seperti Lung Hie tentu tidak segan-segan akan membuktikan ancamannya itu.
Tentu dia akan melemparkan puteri Bin Wan-gwe itu ke dalam jurang.
Itulah hebat, kalau sampai hal itu terjadi, tentu Un Kim Hoa akan berduka sekali.
Teringat kepada Un Kim Hoa, semangat Hok An terbangun.
"Baiklah, apa yang kau kehendaki?!"
Tanya Hok An kemudian.
"Hemm, anak ini tetap akan kutahan, sampai manusia she Bin itu datang sendiri ke mari agar dapat kubinasakan, puterinya baru kubebaskan! Dia harus menebus jiwa puterinya ini dengan jiwanya sendiri....."
Menyahuti Lung Hie. Hok An berdiri tertegun bengong di tempatnya, sampai akhirnya dia menghela napas dalam-dalam.
"Bin Wan-gwe hidup bahagia dengan isteri dan puterinya itu, biarkanlah mereka hidup bahagia seterusnya. Dan aku bersedia menggantikan Bin Wan-gwe, buat menebus jiwa puteri Bin Wangwe itu. Kau boleh membunuhku, dan selanjutnya engkau tidak boleh memusuhi keluarga Bin Wan-gwe....."
Waktu berkata begitu, wajah Hok An tampak murung sekali.
"Cisss.....!"
Meludah Lung Hie.
"Siapa yang menghendaki jiwamu?!"
Hok An menghela napas lagi.
"Tetapi aku rela berkorban demi kebahagiaan Un Kim Hoa!"
Kata Hok An dengan suara yang sayu. "Cisss, laki-laki tidak memiliki harga diri!"
Bentak Lung Hie sengit.
"Berkorban buat wanita yang telah menyakiti hatimu dan mengkhianati cintamu?!"
Diwaktu itu Hok An melangkah lagi maju setindak, dengan mata yang memandang tajam mencari kesempatan.
"Ingat, selangkah lagi engkau maju maka engkau akan menyesal seumur hidupmu, puteri Bin Wan-gwe akan kulemparkan ke jurang itu.....!"
Mengancam Lung Hie. Namun Hok An nekad, dia melangkah maju terus. Dia yakin tentu Lung Hie akan gugup tidak akan membuktikan ancamannya dalam waktu yang singkat ini.
"Berhenti!"
Teriak Lung Hie dengan muka yang menyeringai bengis. Tetapi Hok An masih melangkah juga maju. Lung Hie mengangkat puteri Bin Wan-gwe.
"Kau maju selangkah lagi, anak ini akan kulemparkan ke dalam jurang.....!"
Mengancam Lung Hie dengan muka meringis seperti mau menangis, karena ancamannya seperti tidak diacuhkan oleh Hok An.
Hok An terpisah dua tombak lebih dengan Lung Hie.
Dia melihat, jika waktu itu Lung Hie melemparkan puteri Bin Wan-gwe dia bisa melompat dengan mengandalkan kegesitan tubuhnya dan menjambret tubuh puteri Bin Wan-gwe.
Dengan begitu jelas dia masih bisa menolongi puteri Bin Wan-gwe.
Akan tetapi Hok An belum berani mengambil resiko seperti itu, dia masih melangkah maju satu tindak lagi, memperdekat jarak mereka.
"Ohh, kau memaksa aku membunuh anak ini?!"
Berseru Lung Hie.
Dan dia bukan hanya berseru saja, sebab tangannya bergerak, dia telah melontarkan puteri Bin Wan-gwe itu, yang meluncur ke tengah mulut jurang tersebut.
Hok An tidak menyangka Lung Hie akan melaksanakan ancamannya dalam waktu yang begitu cepat.
Dengan mengeluarkan jeritan, segera juga dia menjejakkan ke dua kakinya, tubuhnya melompat ke tengah udara, dia meluncur sambil mengulurkan ke dua tangannya buat menjambret baju puteri Bin Wan-gwe.
Lung Hie melihat Hok An bermaksud menolongi puteri Bin Wangwe dengan mempertaruhkan jiwanya, karena jika Hok An gagal menjambret tepi jurang, berarti diapun akan terjerumus masuk ke dalam jurang tersebut dan terbanting mati di dasar jurang itu.
Waktu itu tubuh Hok An tengah melayang di tengah udara, tangannya yang diulurkan itu hanya terpisah beberapa dim lagi dari baju puteri Bin Wan-gwe.
Lung Hie mana mau membiarkan Hok An menolongi puteri Bin Wan-gwe.
Mempergunakan kesempatan itu, Lung Hie telah menghantam dengan ke dua tangannya.
Dia memukul dengan pukulan udara kosong, angin serangannya menghantam tubuh Hok An.
Merasakan menyambarnya angin serangan tersebut, Hok An mengeluh.
Dirinya tengah melayang di tengah udara, dan jika saja dia gagal menjambret baju puteri Bin Wang-gwe karena harus menangkis serangan Lung Hie, berarti sudah habislah kesempatan baginya untuk menolongi gadis cilik itu.
Sedangkan waktu itu pukulan Lung Hie pun bukan pukulan yang perlahan, akan tetapi mengandung maut, mengincar ke arah punggungnya.
Karena ingin menolongi puteri Bin Wan-gwe, Hok An jadi nekad.
Dia telah mengempos semangatnya, dan tenaganya dikerahkan pada pundaknya, dia menerima serangan itu tanpa menangkis.
Dan juga tangannya tetap terjulurkan ke depan, dia ingin menjambret baju puteri Bin Wan-gwe.
Pukulan Lung Hie mengenai telak pundak Hok An, menyebabkan tubuh Hok An tergetar keras!
Dan akibat gempuran itu justeru tubuh Hok An jadi mencong arah, tangannya yang diulurkan menjambret puteri Bin Wan-gwe gagal mengenai sasarannya, tubuh puteri Bin Wan-gwe terus juga meluncur masuk ke dalam jurang itu.
"Ohhh....."
Hok An mengeluh kecewa.
Akibat pukulan dari Lung Hie, sehingga usahanya itu gagal buat menolongi puteri Bin Wangwe.
Hok An segera juga berjumpalitan di tengah udara, kemudian tangan kanannya menepuk tepi jurang itu, tubuhnya melentik ke tengah udara dan hinggap kembali di atas tepi jurang tersebut tanpa kurang suatu apapun juga, dia tidak sampai terjerumus masuk ke dalam jurang itu!
" Dengan muka yang merah padam karena gusar, Hok An berseru mendelik pada Lung Hie "
Kau....., kau manusia kejam....., kau..... kau menyebabkan puteri Bin Wan-gwe tidak bisa tertolong....."
Belum lagi habis perkataannya, Hok An telah melompat akan menghantam Lung Hie.
Namun Lung Hie tidak mau melayaninya, dia memutar tubuhnya dan meninggalkan tempat itu dengan berlari cepat sekali.
Hok An hendak mengejarnya, akan tetapi waktu itu, di bawah sana terdengar suara Un Kim Hoa.
"Mana anakku? Ohhh Tuhan..... mana anakku yang dilarikan si biadab itu? Mana anakku......?"
Sambil menjerit-jerit dan menangis seperti itu, Bin Hujin terus mendaki gunung itu.
Hok An batal mengejar Lung Hie, dia menantikan kedatangan Bin Hujin.
Wajah Hok An muram bukan main.
Tidak lama kemudian Bin Hujin tiba di dekat tempat Hok An.
Segera juga wanita tersebut menjatuhkan dirinya berlutut di hadapan Hok An dan sesambatan.
"Hok.....
Hok An bsgaimana dengan puteriku?
Apakah engkau telah dapat menyelamatkannya?"
Hok An menghela napas perlahan.
"Aku gagal.....!"
Kata Hok An dengan suara tersendat di tenggorokannya.
"Kau..... kau gagal? Jadi..... puteriku itu?!"
Suara Bin Hujin tersendat seperti juga lehernya tercekik, mukanya pucat pias dengan di wajahnya dilumuri air matanya yang mengucur deras sekali.
Keadaannya sudah tidak teratur, dengan rambutnya yang terurai dan juga pakaian yang tidak benar letaknya.
"Pemuda itu..... telah melemparkan puteri kalian ke dalam..... ke dalam.....!"
Hok An tidak bisa meneruskan perkataannya itu.
"Maksudmu..... puteriku telah dilemparkan ke dalam jurang itu.....?!"
Menegasi Bin Hujin. Hok An hanya bisa mengangguk tanpa bisa menyahuti.
"Ohhh!"
Mengeluh Bin Hujin, yang seketika pingsan tidak sadarkan diri, di dekat kaki Hok An.
Cepat-cepat Hok An menolonginya buat menyadarkan Bin Hujin.
Tidak lama kemudian Bin Hujin tersadar dari pingsannya, akan tetapi begitu siuman segera juga nyonya tersebut berseru kalap.
"Mana anakku?!"
Dan Bin Hujin berlari ke jurang. Hok An segera mencekal tangan Bin Hujin.
"Tenang..... tenang.....,"
Hibur Hok An dengan segera berusaha mengatasi Bin Hujin yang tengah kalap seperti itu.
Namun Bin Hujin sama sekali tidak memperdulikan Hok An, ia meronta dan menarik tangannya dari cekalan Hok An.
Tidak disangka-sangka dia telah menjatuhkan dirinya duduk menangis menggerung-gerung sambil katanya.
"Celakalah aku! Sungguh perempuan pembawa sial....."
Sesambatan Bin Hujin.
"Tenanglah..... Kim Hoa..... tenanglah..... mengapa kau harus kalap seperti itu, tokh puterimu itu akan segera kucari kalau-kalau dia masih bisa tertolong......"
Hibur Hok An. Bin Hujin masih menangis dengan kepala yang digelengkan tidak hentinya dan sikap tetap kalap.
"Suamiku.....! Suamiku telah meninggal dunia akibat pukulan manusia biadab itu, waktu siang itu..... di mana dia sudah tertolong walaupun aku telah memanggilkan tabib, dua jam sejak ia dilukai, ia menghela napas yg terakhir.
"Dan malam ini, manusia biadab itu telah datang kembali, buat mencari suamiku. Akan tetapi tidak disangka-sangka, dia bertemu dengan puteriku, sehingga segera juga dia menangkap dan menawannya, dibawa lari. Aku berusaha mengejarnya..... Ohhh, benar-benar aku perempuan pembawa celaka..... Sekarang puteriku telah terkubur di dasar jurang itu.....!"
Dan Bin Hujin menangis terisak-isak semakin hebat, dia mengucapkan beberapa patah perkataan lagi, akan tetapi Hok An tidak mendengarnya dengan jelas.
Hok An juga ikut berduka dan terharu, dia hanya menundukkan kepala dalam-dalam, tidak disangkanya bahwa Bin Wan-gwe karena luka-lukanya itu, akhirnya telah menghembuskan napasnya yang terakhir.
Dan juga sekarang puteri Bin Wan-gwe, telah dilemparkan masuk ke dalam jurang itu.
Jurang tersebut sangat curam sekali, maka jika memang puteri Bin Wan-gwe itu telah terjatuh di dasar jurang tersebut, tidak mungkin puteri Bin Wan-gwe masih hidup dan dapat ditolong, karena tubuhnya pasti telah terbanting hancur dan remuk di dasar jurang itu.....!"
Tiba-tiba Hok An terkejut, karena Bin Hujin menjerit.
"Anakku, tunggulah ibu......!"
Hok An dongak, dia memandang ke arah tempat duduk Bin Hujin.
Semangat Hok An jadi terbang meninggalkan raganya, sebab waktu itu tubuh Bin Hujin tengah melompat ke dalam jurang itu.
Rupanya Bin Hujin telah kalap, maka dia menjadi nekad begitu buat bunuh diri dengan terjun ke dalam jurang tersebut.
"Kim Hoa....."
Menjerit Hok An dengan suara tersendat di lehernya, dia melompat menjambret Kim Hoa.
Akan tetapi gagal, dia hanya berhasil menjambret ujung badju Un Kim Hoa dan tubuh Bin Hujin telah meluncur terus masuk ke dalam jurang.
Tidak lama kemudian, terdengar suara pekiknya yang menyayatkan dari dasar jurang itu, pekik kematian.
Hok An menutupi mukanya dengan sepasang tangannya, dia menangis sejadi-jadinya.
"Kim Hoa!
Kim Hoa!
Mengapa engkau begitu nekad?!"
Menjerit Hok An dengan kalap.
Sampai akhirnya Hok An berdiri tertegun mematung di tepi jurang itu, mengawasi ke dalam jurang dengan butir-butir air mata berlinang, dari sepasang matanya.
Lama, lama sekali Hok An berdiri begitu dengan sikap seperti juga arwahnya sudah meninggalkan raganya, dan diapun tampaknya sudah tidak memiliki semangat.
Waktu matahari fajar menampakkan diri, dia masih tetap berdiri mematung di tepi jurang tersebut.
Sama sekali Hok An tidak memperdulikan keadaan di sekitarnya, tidak memperdulikan juga siliran angin yang begitu dingin menggigilkan tubuh.
Dan hanya mulutnya yang selalu berkemakkemik perlahan, berkata-kata dengan suara tidak jelas, hanya samar-samar terdengar.
"Kim Hoa....., Kim Hoa..... sekarang kau telah beristirahat dengan tenang di tempatmu..... Kim Hoa.....!"
Setelah matahari naik tinggi dan udara menjadi cerah dan terik, Hok An baru seperti tersadar dari tidurnya, dia menghela napas dalam dalam, kemudian duduk numprah di tepi jurang itu.
Hanya saja karena dia terlalu letih, jiwa dan raganya, akhirnya setelah mengeluh, Hok An pingsan tidak sadarkan diri.
Lama juga Hok An pingsan tidak sadarkan diri, sampai akhirnya dia tersadar juga dari pingsannya.
Waktu itu tepat tengah hari dan matahari sangat terik sekali.
Dengan lesu, tampak Hok An telah bangkit dan berdiri di tepi jurang itu, berdiri bengong mengawasi ke arah dalam jurang itu, karena juga tidak puas untuk mengawasi jurang ini, di mana di dalam dasar jurang tersebut terdapat wanita yang sangat dicintainya, yang tentu rebah dengan sekujur tubuhnya yang remuk......
Bagaikan tersentak, tiba-tiba Hok An teringat sesuatu, segera juga dia mengangguk-angguk sambil katanya seorang diri.
"Ya, mengapa aku tidak melihatnya saja ke bawah? Mengapa aku tidak turun ke dasar jurang itu?!"
Lama setelah berkata seperti itu Hok An berdiri termenung di tempatnya, sampai akhirnya dia telah menghela napas.
Perlahanlahan dia menuruni jurang itu.
Dengan merambat dan mengandalkan ginkangnya, dia bisa menuruni jurang itu dengan mudah, dia telah dapat menuruninya sampai ke dasar jurang tersebut.
Jurang itu ternyata sangat dalam sekali.
Waktu Hok An tiba di dasar jurang tersebut, di saat itu hampir menjelang sore hari.
Yang pertama-tama dilihatnya adalah Bin Hujin, yang rebah tengkurap dengan keadaan yang sangat mengiriskan hati.
Tubuhnya hancur dan juga tentunya tulang-tulang di tubuhnya telah patah dan remuk.
Hok An segera menjatuhkan dirinya berlutut di dekat mayat Bin Hujin.
Dengan air mata berlinang-linang dia berkata.
"Kim Hoa, Kim Hoa..... aku tidak menyangka bahwa engkau akan pergi lebih dulu meninggalkan aku..... Kim Hoa..... Kim Hoa..... mengapa engkau begitu nekad, sehingga engkau membunuh diri? Bukankah segala persoalan apapun juga masih bisa diselesaikan? Bukankah masih ada aku, yang bersedia buat melakukan suatu apapun juga demi kebahagiaanmu?!"
Terus menerus Hok An menangis dan juga menyesali kenekadan Kim Hoa, sampai akhirnya dia telah menangis terisak-isak.
Selama bertahun-tahun dia telah berkelana mencari jejak Kim Hoa.
Selama itu pula Hok An selalu diliputi oleh khayalannya.
Jika saja dia berhasil menemui jejak Kim Hoa, betapa akan membahagiakannya.
Secuil kegembiraan tentu akan diperolehnya, dan juga sedikit kebahagiaan yang masih bersisa di hatinya pasti akan hidup kembali.....
Tentu Kim Hoa pun akan gembira dan bahagia bisa bertemu dengannya.
Masih mencintai dan mengasihinya.
Akan tetapi kenyataan yang ada justeru berlainan sama sekali dengan apa yang dikhayalkannya itu, bahkan juga memang di waktu itu Kim Hoa telah menjadi milik orang.
Dengan demikian membuat kandas seluruh harapan Hok An.
Dan sekarang justeru diapun harus menghadapi peristiwa seperti ini, di mana Kim Hoa telah menghabisi jiwanya sendiri dengan membuang diri ke dalam jurang.
Sedangkan suami Kim Hoa juga telah menghembuskan napasnya, karena telah terluka berat di tangan Lung Hie.
Malah yang membuat Hok An semakin sedih, karena puteri Bin Wan-gwe pun telah terbinasa dilempar ke dalam jurang ini.
Semua kehancuran keluarga Bin tersebut sejak kemunculannya, membuat Hok An menjadi menyesal bukan kepalang.
Teringat kepada puteri Bin Wan-gwe, segera juga dia menoleh ke kiri ke kanan, dia mencari-cari mayat puteri Bin Wan-gwe.
Di saat itu, dia tidak melihat mayat puteri Bin Wan-gwe, sehingga membuat Hok An terheran-heran.
Dia berdiri dari duduknya dengan segera dan matanya telah memandang ke sana kemari mencari-cari mayat puteri Bin Wan-gwe.
Tetap saja dia tidak berhasil menemui mayat puteri Bin Wan-gwe.
"Ohhh, ke manakah mayat puteri Bin Wan-gwe, apakah memang mayat puteri Bin Wan-gwe telah dibawa oleh binatang buas yang mendiami dasar jurang ini?!"
Menggumam Hok An dengan hati yang berdebar keras.
"Apakah mayatnya telah dijadikan santapan binatang buas itu.....?!"
Hok An jadi penasaran, dia telah mencari terus ke sana ke mari.
Sampai akhirnya hatinya berdebar keras sekali, dia melihat sesosok tubuh kecil yang rebah di atas tumpukan rumput, rebah dalam keadaan diam tidak bergerak sedikitpun juga.
Cepat-cepat Hok An melompat dan memeriksa sosok tubuh kecil itu.
Seorang gadis cilik dan tidak lain dari puteri Bin Wan-gwe!
Waktu Hok An memeriksa keadaannya, dia memperoleh kenyataan puteri Bin Wan-gwe itu masih bernapas.
Hati Hok An semakin berdebar.
Tidak terlihat luka sedikitpun juga di tubuh puteri Bin Wan-gwe.
Diam-diam Hok An pun heran, mengapa puteri Bin Wan-gwe bisa terlontar dan jatuh di tempat yang sejauh ini dari sasaran tempat jatuhnya yang semula?
Malah mengapa bisa jatuh di atas tumpukan rumput-rumput yang tumbuh tebal sekali di bagian tempat tersebut?
Hok An dongak mengawasi ke atas, dia melihat ke mulut jurang itu, dan juga memperoleh kenyataan, seperti ada kekuatan yang tidak tampak, yang pasti telah melemparkan puteri Bin Wan-gwe ke arah tumpukan rumput ini!
Dan itulah kekuasaan Tuhan, di mana puteri Bin Wan-gwe belum saatnya menemui ajal.
Gembira juga hati Hok An, dia merasa agak terhibur setelah memperoleh kenyataan puteri Bin Wan-gwe itu tidak mati terbanting di dasar jurang.
Akan tetapi tiba-tiba sekali Hok An teringat sesuatu.
Perasaan menyesal jadi tumbuh hebat di hatinya, dia sampai membantingbanting kakinya dengan penyesalan yang hebat menggoda hatinya, dan diapun menangis dengan keras.
"Kim Hoa.....! Kim Hoa! Ohhh, engkau terlalu kalap dan tergesagesa menghabisi jiwamu sendiri! Sesungguhnya, jika saja engkau mau bersabar dulu, sampai aku memeriksa keadaan di dalam jurang ini, mencari puterimu tentu kau tidak akan menemui ajalmu. Karena puterimu sendiri sesungguhnya tidak mati terbanting di dasar jurang ini.....! Kim Hoa! Kim Hoa! Ohhh, Kim Hoa.....!"
Dan Hok An terus menerus menangis setengah harian dengan hati yang berduka dan luluh sekali.
Di waktu itu sudah menjelang malam dan keadaan gelap sekali.
Mengapa puteri Bin Wan-gwe bisa berada ditumpukan rumput yang tebal itu?
Sesungguhnya, semua itu terjadi karena memang atas kekuasaan Thian juga, sehingga puteri Bin Wan-gwe tidak menemui ajalnya di dasar jurang tersebut.
Waktu dia dilontarkannya, tubuh puteri Bin Wan-gwe memiliki daya lempar dari Lung Hie, dan juga waktu Hok An menjambret mengenai tempat kosong karena dihantam oleh pukulan Lung Hie, angin pukulan itu seperti juga mendorong tubuh puteri Bin Wangwe, sehingga terpental ke samping.
Karena itu, waktu tubuhnya meluncur jatuh, diapun dalam keadaan pingsan, sehingga tidak melakukan gerakan yang bisa merobah arah meluncur tubuhnya.
Dia telah terdorong ke samping dan tubuhnya kebetulan jatuh di atas tumpukan rumput yang tumbuh tebal sekali.
Dengan demikian, walaupun terbanting keras sekali, puteri Bin Wan-gwe tidak mengalami cidera apapun juga, hanya saja dia tentu akan merasa sakit-sakit pada sekujur tubuhnya, namun tidak membahayakan keselamatan jiwanya.
Lama juga Hok An menangisi kemalangan nasibnya, yang selain kandas dalam cintanya, dan juga harus menghadapi semua peristiwa yang menyedihkan ini.
Dengan begitu Hok An tidak menyesali akan kemalangan diri dan nasibnya.
Sedangkan puteri Bin Wan-gwe, yang telah pingsan satu hari satu malam, akhirnya bergerak perlahan mulai siuman, juga mengeluarkan suara rintihan perlahan.
Hok An jadi terhenti dari tangisnya, dia telah memandang dengan penuh perhatian kepada puteri Bin Wan-gwe tersebut.
Waktu itu tubuh Puteri Bin Wan-gwe telah bergerak perlahan-lahan dan kemudian bangun duduk.
"Ibu..... Thia (ayah).....!"
Berseru gadis kecil itu yang seketika menangis keras sekali, waktu memperoleh kenyataan di sekelilingnya gelap pekat.
Hok An cepat-cepat melompat berdiri dari duduknya.
Dia telah mengulurkan ke dua tangannya memegang ke dua lengan gadis cilik tersebut.
"Jangan takut, jangan menangis, ada paman di sini! Jangan takut! Tidak ada orang jahat yang akan mengganggumu lagi! Diamlah, jangan menangis....!"
Menghibur Hok An. Sedangkan waktu itu puteri Bin Wan-gwe masih menangis dengan keras, dia juga meronta dari cekalan tangan Hok An.
"Jangan ganggu aku..... lepaskan! Kau orang jahat! Kau telah menculikku dan menganiaya ayahku dan ibuku......!" "Bukan aku..... orang itu sudah melarikan diri!"
Kata Hok An dengan segera.
"Kau! Kau yang telah menganiaya ayahku dan juga menculikku!"
Kata puteri Bin Wan-gwe tersebut. Hok An tertawa di antara sendat tangisnya karena gembira melihat anak tersebut telah tersadar dari pingsannya.
"Coba kau perhatikan dengan seksama dan baik-baik, apakah paman yang telah menganiaya ayah dan ibumu atau menculik engkau?!"
Kata Hok An dengan suara yang sabar sekali.
Gadis cilik tersebut berhenti menangis, dia menyusut air matanya dan memperhatikan Hok An dengan sejelas-jelasnya, dia mementang ke dua matanya lebar-lebar.
Lama sekali gadis cilik itu memperhatikan Hok An, keadaan di dasar jurang itu gelap sekali, sampai akhirnya dia berkata.
"Ohh..... memang bukan engkau..... bukan engkau! Lalu kau siapa..... tetapi..... tetapi engkau......engkau adalah orang yang telah datang bersama-sama dengan orang jahat itu.....!"
Hok An tersenyum. "
Akan tetapi aku tidak bermaksud jahat kepada keluargamu, malah aku telah berusaha menolongi engkau dari tangan orang yang menculik kau itu.....
hanya sayang aku gagal, engkau telah dilemparkan masuk ke dalam jurang ini.....!"
Kata Hok An menjelaskan. Gadis cilik itu jadi tidak begitu ketakutan lagi, dia telah berkata dengan suara agak ragu-ragu.
"Mana ibuku..... mana ibuku?!"
"Ibumu?!"
Hok An seperti tersentak kaget, untuk sejenak dia raguragu dan kemudian dia telah berkata dengan suara tidak lampias.
"Nanti aku akan menceritakan mengenai ibumu?!"
"Mengapa tidak sekarang saja?!"
Tanya puteri Bin Wan-gwe tersebut.
"Nanti..... nanti jika engkau telah sehat benar! Sekarang engkau perlu istirahat..... engkau perlu mengasoh dulu. Nanti jika engkau telah sehat kembali, di waktu itu barulah aku akan menceritakan perihal diri ibumu itu.....!"
Gadis cilik tersebut berdiam diri, namun tiba-tiba sekali dia menangis terisak-isak lagi.
"Sudahlah anak.....
kau jangan menangis lagi, kau tidak perlu merasa takut, paman berada disini yang akan melindungi dirimu....., engkau tidak perlu takut dan tidak akan ada orang yang mengganggu dirimu.....!"
Gadis cilik tersebut masih juga menangis terisak-isak memanggilmanggil ibunya.
Bukan main bingungnya Hok An, dia menghela napas berulang kali dengan bingung karena tidak tahu dengan cara bagaimanakah dia harus menghibur gadis tersebut, dan juga bagaimana dia harus menghentikan tangis dari gadis cilik itu, sampai akhirnya dia bilang.
"Baiklah adik kecil, jika memang engkau hendak menangis terus, menangislah..... menangis sampai puas, dan nanti setelah air matamu habis, barulah engkau berhenti!"
Gadis cilik tersebut masih juga menangis dengan terisak-isak, bagaikan ia tengah dirundung kedukaan yang sangat.
Sesungguhnya gadis cilik itu tengah dicekam rasa takut pula, dia mengetahui dan mengenal siapa adanya Hok An, orang yang pernah datang mengacau di rumahnya dan hendak membunuh ayahnya.
Di samping itu Hok An pun pernah membantu orang yang menculiknya, untuk menimbulkan kekacauan ke dua kalinya di rumahnya.
Dengan demikian jelas gadis cilik tersebut memiliki dugaan bahwa Hok An bukanlah sebangsa manusia baik-baik.
Sekarang mereka berada di dasar jurang seperti ini, telah membuat gadis cilik puteri dari Bin Wan-gwe tambah ketakutan, sedih dan penasaran, karena untuk selanjutnya sulit buat dia meninggalkan dasar jurang tersebut.
Sulit pula buat menghadapi Hok An, karena di dekat mereka sudah tidak ada orang lain yang bisa menolongnya jika saja Hok An hendak membunuhnya atau menyiksanya.
Terlebih lagi gadis cilik ini teringat, sebelum dia diculik oleh Bin Lung Hie, yang ternyata adalah pamannya, dia mengetahui ayahnya telah meninggal akibat luka yang parah.
Dan sekarang ia menangis disebabkan teringat kepada nasibnya, di mana ia telah kehilangan ayahnya.
Kini dia terkurung di dasar jurang, membuat gadis cilik ini tidak mengetahui apakah dia harus menangis terus atau berhenti menangis di saat dia mendengar perkataan Hok An yang terakhir itu.
Bin Wan-gwe merupakan seorang hartawan yang terkaya di kampung mereka, karena itu gadis cilik ini juga telah diperlakukan oleh penduduk kampung dengan penuh hormat dan sanjung.
Dia biasa hidup mewah di dalam gedung dengan seluruh barangbarang yang serba mahal harganya, semua kebutuhannya selalu terpenuhi.
Akan tetapi sekarang dia berada di dasar jurang, dengan begitu sulit buat dia mengecap kenikmatan seperti di masa yang lalu, di mana dia hidup sebagai puteri hartawan kaya raya.
Sekarang dia kedinginan, ketakutan dan juga tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Gadis cilik itupun belum lagi mengetahui bahwa ibunya kini telah meninggal dunia juga menyusul ayahnya buat selama-lamanya, sehingga puteri Bin Wan-gwe itu jadi hidup sebatang kara, di masamasa mendatang sebagai anak yatim piatu.
Jika memang dia mengetahui ibunya telah meninggal dunia, niscaya gadis cilik itu akan menangis keras dan jatuh pingsan.
Hok An yang telah kewalahan sebab gadis cilik itu tidak juga mau berhenti menangis, telah membiarkannya saja, karena Hok An pikir jika tokh dia membujuknya akan sia-sia, gadis cilik itu tetap menangis saja.
Ketika melihat Hok An berdiam diri saja, gadis cilik itu jadi sering melirik kepadanya, sampai akhirnya dia berhenti menangis dengan sendirinya.
Malah kemudian gadis cilik itu yang berkata lebih dulu.
"Kau..... kau harus mengantarkan aku pulang ke rumahku.....!"
Melihat gadis cilik itu telah berhenti menangis, dan mau berbicara, Hok An jadi girang.
"Tentu! Tentu! Jika memang kau hendak pulang ke rumahmu, aku tentu bersedia mengantarkan engkau pulang ke rumahmu..... Akan tetapi, apakah di dalam rumah itu masih ada orang yang memiliki hubungan dekat denganmu,"
Kata Hok An kemudian. Gadis cilik tersebut menyusut air matanya yang bersisa di pelupuk matanya, kemudian katanya.
"Masih ada ibuku..... memang ayahku telah meninggal dunia, akan tetapi ibuku masih berada di sana..... Tentu ibuku berkuatir sekali memikirkan aku yang telah diculik oleh laki-laki jahat itu......!"
Hok An tertegun sejenak di tempatnya, lama dia tidak bisa berkatakata, karena waktu itu dia menyadari bahwa gadis cilik ini sebenarnya memang belum mengetahui perihal kematian ibunya.
Untuk menyampaikan hal itu kepada gadis cilik tersebut, Hok An merasakan bibirnya berat sekali mengucapkannya.
Melihat Hok An berdiam diri, gadis cilik itu sambil membuka matanya lebar-lebar, telah bertanya.
"Apakah engkau tidak bersedia menolongku dan mengantarkan pulang ke rumahku?"
Hok An cepat-cepat mengangguk.
"Aku bersedia..... aku bersedia. Akan tetapi ibumu.....!"
"Ibuku? Ibuku tentu menantikan dengan kuatir dan tengah menangis..... karena ibuku tentu memikirkan keselamatanku!"
Harap kau mau cepat-cepat mengantarkan aku pulang ke rumah agar cepat-cepat dapat bertemu dengan ibuku, sehingga ibuku tidak akan menangis terlalu lama dan berduka terus menerus......!"
Hok An menghela napas dalam-dalam, kemudian katanya.
"Dengarlah baik-baik, nak, sebenarnya..... sebenarnya ibumu telah meninggal dunia..... karena jika engkau pulang ke rumahmu, itupun akan sia-sia belaka, engkau tidak akan menemui ibumu itu......!"
Gadis cilik itu memandang Hok An dengan mata terbuka lebarlebar, seperti juga tidak mempercayai apa yang diucapkan Hok An.
"Kau..... kau bilang ibuku sudah meninggal juga? Ohhh, tentu kau ingin mendustai aku.....!"
Kata gadis cilik itu kemudian dengan suara tergagap.
"Sungguh......
aku tidak bermaksud mendustaimu.....
memang sebenarnya ibumu telah meninggal.....!
Bahkan meninggal di dasar jurang itu juga......!"
Kata Hok An sambil menghela napas dalamdalam.
"Gadis cilik itu jadi menangis sejadinya, katanya.
"Tentu..... tentu dicelakai oleh laki-laki jahat itu.....!"
"Bukan.....!"
Kata Hok An ingin menjelaskan. Akan tetapi, gadis cilik itu telah memotongnya.
"Tentu saja kau membela lelaki jahat itu, karena dia memang kawanmu yang ingin membunuh ayah dan ibuku! Sekarang kalian telah berhasil membinasakan ayah dan ibuku..... Kau tidak memiliki perasaan dan kejam! Kau telah mencelakai ayah dan ibuku tanpa mengenal kasihan.....!"
Sambil berkata seperti itu gadis cilik tersebut menangis terisak-isak sedih sekali.
Hok An jadi bengong, diapun tidak mengetahui apa yang harus dikatakannya.
Sikapnya seperti orang tolol saja, hanya mengawasi bengong pada gadis cilik yang tengah menangis terisak-isak.
Tiba-tiba gadis cilik tersebut mengangkat kepalanya, dengan air mata mengucur deras dari sepasang matanya, dia bilang dengan suara yang cakup nyaring.
"Jika memang kalian telah berhasil membinasakan ayah dan ibuku, mengapa sekarang kau tidak membunuhku? Bunuhlah! Aku tidak takut!"
Hok An masih tetap tertegun di tempatnya, dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya, sampai akhirnya dia bilang.
"Tenanglah..... tenanglah nak...... aku bukan orang jahat, dan akupun tidak bermaksud buat mencelakai ayah dan ibumu......, percayalah..... tidak pernah aku berpikir hendak mencelakai ke dua orang tuamu.....!"
"Kan bohong! Kau dusta!"
Teriak gadis cilik itu.
"Pertama-tama engkau yang datang hendak membunuh ayahku kemudian engkau datang dengan laki-laki jahat itu, di mana ayahku terluka oleh pukulannya, akhirnya ayahku meninggal karena luka-lukanya! Kemudian malam ini, laki-laki jahat itu telah menculikku dan menurut keterangan yang kau berikan tadi, ibuku pun telah dibinasakan olehnya......"
Setelah berkata begitu, gadis cilik puteri Bin Wan-gwe ini menangis terisak-isak lagi, tampaknya dia sedih bukan main.
Hok An baru saja mau menghibur gadis cilik itu, tiba-tiba tubuh gadis cilik tersebut terkulai dan pingsan tidak sadarkan diri......!
Cepat-cepat Hok An memeriksanya, dia berusaha menotok beberapa jalan darah gadis itu, agar kedukaan si gadis yang terlalu hebat itu tidak menyebabkannya terluka di dalam tubuhnya.
Selesai menotok beberapa jalan darah di tubuh gadis cilik itu, Hok An duduk bengong.
Dia jadi teringat semua peristiwa yang telah dialaminya, semua peristiwa yang begitu manis antara dia dengan Un Kim Hoa.
Sampai akhirnya sekarang dia harus menghadapi kenyataan yang pahit.
Dalam saat hatinya tengah hancur karena melihat Kim Hoa telah menjadi isteri Bin Wan-gwe, juga seperti tidak mengacuhkannya, lalu sekarang diapun harus melihat Un Kim Hoa menemui kematiannya yang mengenaskan seperti itu!
Malah puteri Un Kim Hoa, yang merupakan keturunan yang diperoleh dari Bin Wangwe, telah menuduh dirinya sebagai manusia jahat.
Angin di dasar lembah tersebut dingin sekali, Hok An menoleh kepada gadis cilik itu yang masih rebah pingsan tidak sadarkan diri.
Akhirnya Hok An menghela napas dalam-dalam.
Betapa miripnya wajah gadis cilik itu dengan wajah Un Kim Hoa.
Perlahan-lahan Hok An bangkit dari duduknya, dia membuka baju luarnya dan menyelimuti gadis cilik tersebut, agar terhindar dari siliran angin yang begitu dingin.
Barulah kemudian Hok An duduk termenung lagi mengenang seluruh pengalamannya, baik pengalaman yang manis maupun yang pahit.
Akan tetapi sekarang Hok An bagaikan memiliki rasa tanggung jawab dan kasihan terhadap puterinya Bin Wan-gwe, di mana jika memang gadis cilik tersebut tidak keberatan, Hok An berhasrat melindunginya, merawat dan membesarkannya.
Lama juga gadis cilik tersebut pingsan, sampai akhirnya waktu dia siuman, yang pertama-tama dilakukannya adalah menangis terisak-isak sedih sekali.
"Sudahlah jangan menangis. Mari kutunjukkan padamu di mana jenasah ibumu berada.....!"
Kata Hok An.
Gadis cilik itu tidak menyahuti dia hanya mengawasi Hok An yang pada waktu itu tengah berdiri, dengan air mata yang tetap berlinang deras sekali dari matanya.
Tanpa memperdulikan gadis cilik itu bersedia atau tidak ikut dengannya, Hok An telah melangkah untuk menuju ke tempat di mana mayat Bin Hujin berada.
Gadis cilik itupun merasa takut jika harus berada di dasar jurang ini, dia kuatir kalau-kalau Hok An akan meninggalkannya.
Terlebih lagi mendengar Hok An akan menunjukkan padanya tempat di mana beradanya mayat ibunya.
Segera dia berdiri dan mengikuti Hok An.
Berjalan belum jauh, gadis cilik itu telah melihat sesosok tubuh yang rebah di dasar jurang ini juga.
Segera pula dia mengenali bahwa sosok tubuh itu tidak lain dari ibunya!
Dengan disertai pekik dan tangis, gadis cilik itu menubruk mayat ibunya, yang digoncang-goncangkan dan berseru dalam menangis.
"Ibu..... ibu..... mengapa kau meninggalkan aku pula? Ibu.....?!"
Hok An membiarkan gadis cilik itu menangis, dia mengambil sebatang cabang pohon yang cukup besar, kemudian dia menggali tanah.
Setelah menggali lobang yang cukup besar, dia bilang pada gadis cilik itu.
"Sudahlah jangan ditangisi seperti itu. Walaupun engkau menangisi sampai mengeluarkan air mata darah, tetap saja ibumu tidak bisa hidup lagi...... lebih baik-baik engkau membantuku buat menguburnya." Gadis cilik itu tidak tahu apa yang harus dilakukannya, dia hanya menangis sambil memanggil-manggil ibunya. Hok An bekerja cepat, dia telah memasukkan mayat Bin Hujin ke dalam lobang yang telah digalinya, kemudian ditutupnya kembali dengan tanah. Kuburan yang sederhana sekali, sedangkan gadis cilik itu yang tidak bisa menahan kedukaan hatinya, dalam ketakutan dan kebingungan juga, akhirnya jatuh pingsan tidak sadarkan diri. Hok An menghela napas dalam-dalam sambil menghapus keringat di keningnya, karena dia pun letih sekali. Kasihan gadis cilik ini, tampaknya menderita sekali menerima gempuran perasaan harus kehilangan ke dua orang tuanya dan wajar pula dia memiliki kesan buruk padaku, di mana dia menduga akulah yang telah mencelakai ke dua orang tuanya bersama-sama dengan pemuda itu.....!"
Dan Hok An menghela napas lagi beberapa kali.
Kali ini gadis cilik itu pingsan tidak terlalu lama, tetapi tetap saja seperti tadi, begitu tersadar dari pingsannya ia menangis lagi.
Hok An menyadarinya, tidak bisa ia membuang-buang waktu di dasar jurang yang sangat dingin ini.
Jika saja gadis cilik ini masuk angin jahat dan jatuh sakit, niscaya dia yang akan menghadapi kesulitan lagi buat merawatnya.
"Baiklah nona kecil.....!"
Kata Hok An akhirnya.
"Mari kita tinggalkan tempat ini..... nanti terserah kepadamu, apakah engkau ingin ikut serta denganku atau memang ingin kembali ke rumahmu, tetapi yang terpenting sekarang engkau bersamaku harus meninggalkan dasar jurang ini......!"
Gadis cilik itu masih menangis beberapa saat lamanya, sampai akhirnya dia berdiri juga ketika melihat Hok An bersiap-siap hendak berlalu.
"Kau jangan takut, pejamkan mata rapat-rapat..... aku akan menggendongmu dan membawa naik ke atas tebing ini!"
Kata Hok An. Gadis cilik itu membuka matanya lebar-lebar.
"Ini..... ini....."
Tergagap sekali suaranya, tangisnya berkurang, tampaknya dia ketakutan sekali.
"Aku....., aku tidak berani…..!"
Namun Hok An tanpa membuang-buang waktu pula, belum lagi gadis cilik tersebut selesai demgan kata-katanya, dia telah melompat ke dekatnya, tangannya segera menjambret pinggang gadis itu, yang dipeluknya kuat-kuat.
Kemudian membawa lari dengan segera.
Dengan mempergunakan ginkangnya, Hok An mudah saja membawa gadis cilik itu mendaki tebing tersebut, sebentar saja ia sudah berhasil membawa puteri Bin Wan-gwe tiba di atas tepi jurang tersebut, barulah gadis cilik itu diturunkannya!"
"Kita telah sampai!"
Kata Hok An kemudian.
Sejak tadi gadis cilik itu telah memejamkan matanya rapat-rapat karena diapun merasakan tubuhnya seperti melayang-layang di tengah udara.
Hatinya juga berdebar-debar keras sekali, waktu dia merasakan tubuhnya diturunkan oleh Hok An memberitahukan mereka telah sampai, gadis cilik tersebut membuka matanya perlahan-lahan, sedangkan tubuhnya masih bergoyang-goyang dengan kepala pening, dia masih merasakan tubuhnya seperti juga dibawa lari oleh Hok An, agak pening.
Hok An tersenyum.
"Sekarang apakah kau ingin kembali ke rumahmu?!"
Tanya Hok An. Gadis cilik itu hanya mengangguk saja. Hok An telah mengangguk sambil katanya.
"Baik! Baik! Aku akan mengantarkan kau ke rumahmu. Akan tetapi untuk mempersingkat waktu agar kita sampai ke rumah lebih cepat, aku akan menggendongmu!"
Setelah berkata begitu, tanpa menantikan jawaban gadis cilik itu, Hok An telah menggendong gadis cilik itu lagi dengan tangan kanan melingkari pinggangnya.
Kemudian melesat cepat sekali.
Dalam waktu yang singkat mereka telah tiba di depan gedung Bin Wan-gwe.
Waktu itu menjelang larut malam, rupanya mereka berada di dasar jurang tersebut selama hampir dua hari.
Dan waktu itu keadaan di gedung Bin Wan-gwe sangat sunyi sekali.
Hok An menjejakkan kakinya, dia memasuki gedung itu tanpa mengetuk pintu lagi, melainkan melewati dinding yang cukup tinggi itu.
Setelah berada di dalam gedung Hok An melepaskan lingkaran tangannya pada pinggang gadis cilik itu.
"Sudah sampai!"
Kata Hok An.
"Nah, masuklah kau ke dalam, aku ingin pergi lagi. Mungkin masih ada para pembantu ke dua orang tuamu.....!"
Gadis cilik itu melihat keadaan di dalam gedung tersebut gelap sekali, entah mengapa dia jadi menggidik.
Lebih-lebih teringat ayahnya baru saja meninggal dan tidak ada api penerangan di dalam gedung.
Rupanya lilin-lilin dan lentera tidak dinyalakan oleh para pembantu rumah tangga Bin Wan-gwe.
"Aku..... aku takut.....!"
Kata gadis cilik itu kemudian. Hok An tersenyum.
"Mari kuantarkan ke dalam.....!"
Katanya sambil melangkah lebih dulu untuk masuk ke dalam gedung tersebut.
Gadis cilik itu mengikuti di belakangnya dengan hati berdebar-debar.
Waktu sampai di dekat ruangan tengah, tiba-tiba Hok An mencium bau anyir yang amis sekali.
Dia jadi mengerutkan sepasang alisnya, memperhatikan sekitar tempat tersebut.
Segera juga dilihatnya, sesosok tubuh menggeletak di lantai tidak bergerak.
Cepat Hok An melompat mendekatinya, dan dia terkejut, sebab itulah sesosok mayat dengan luka-luka di sekujur tubuhnya.
Sepasang mata mayat tersebut juga terpentang lebar-lebar seperti juga orang itu sebelum menemui ajalnya sangat menderita dan ketakutan sekali.
Gadis cilik puteri Bin Wan-gwe menjerit perlahan ketakutan, dia sampai menubruk Hok An dan memegang lengan Hok An erat-erat.
"Dia..... dia telah dibunuh.....!"
Kata puteri Bin Wan-gwe ketakutan.
"Tenang..... mari kita tanya kepada pembantu rumah tangga orang tuamu yang lainnya, tentu mereka bisa memberikan keterangan.....!"
Kata Hok An.
Dengan menuntun tangan gadis cilik tersebut, Hok An memasuki ruangan tersebut lebih jauh.
Tiba-tiba dia melihat ada dua sosok tubuh yang menggeletak di lantai sebelah dalam, dalam keadaan tidak bergerak.
Itupun dua sosok mayat!
Rupanya dua orang pembantu rumah tangga dari Bin Wan-gwe telah dibinasakan orang pula!
Malah bau anyir dan busuk dari tubuh mereka menerjang hidung.
Tampaknya mereka telah dibinasakan dalam waktu yang lebih dari sehari.
Hok An segera menduga, pasti telah terjadi sesuatu yang hebat di dalam rumah ini.
Setelah memeriksa sejenak pada ke dua sosok mayat tersebut, segera juga Hok An mengajak puteri Bin Wan-gwe memasuki lebih dalam lagi.
Kembali mereka menemui empat sosok mayat kemudian dua sosok mayat lagi, lalu di dekat ruangan belakang enam sosok mayat!
Semuanya mati dengan mata mendelik lebar-lebar.
Hok An sendiri yang menyaksikan mayat-mayat malang melintang di dalam rumah ini, dengan bau anyir dan busuk, membuatnya jadi bergidik juga.
Terlebih lagi di dalam gedung ini tidak ada api penerangan.
Puteri Bin Wan-gwe sudah tidak bisa menahan isak tangisnya, di samping ketakutan bukan main gadis cilik itu juga segera menduga bahwa seluruh isi rumah ini telah dibinasakan seseorang.
Hok An segera mengajak gadis cilik itu memeriksa bagian lainnya dari rumah itu.
Peti mati Bin Wan-gwe masih terdapat di ruang depan, dan juga di samping peti mati itu menggeletak tiga sosok mayat!
Hok An menghela napas dalam-dalam.
"Pembunuhan masal yang kejam luar biasa!"
Menggumam Hok An dengan suara mengandung kemarahan, karena walaupun bagaimana menyaksikan kekejaman seperti itu membuat darahnya meluap juga.
Tiba-tiba dari sudut ruangan yang gelap di sebelah kanan terdengar suara rintihan perlahan.
Hok An gesit sekali melompat ke arah sudut ruangan itu.
Sesosok bayangan menggeletak di lantai, dengan sepasang tangannya masih bisa bergerak perlahan.
Orang inilah yang telah mengeluarkan suara rintihan perlahan.
Gadis cilik itu yang ketakutan berada di dalam rumah yang penuh dengan mayat yang malang melintang, segera menyusul Hok An memegang tangan Hok An kuat-kuat dengan jari-jari tangan terasa dingin.
Sedangkan orang yang rebah di lantai masih juga merintih perlahan, tampaknya dia menderita kesakitan, disusul lagi dengan suaranya yang lemah.
"Apakah..... apakah Bin Kouwnio?"
Gadis cilik itu kaget, dia memperhatikan orang itu. Ternyata seorang wanita tua yang rambutnya sudah putih.
"Lo Ma.....!"
Seru si gadis cilik itu yang segera menubruknya dan menangis.
"Mengapa bisa terjadi semua ini, Lo Ma?" Ternyata wanita tua itu tidak lain dari pengasuh puteri Bin Wangwe ini. Rupanya dari sekian banyak pegawai rumah tangga dan pelayan Bin Wan-gwe, hanya dia yang belum menemui ajal dan hanya terluka parah.
"Pemuda itu..... pemuda itu datang lagi..... dia kejam sekali..... dia..... dia yang telah menyiksa dan membunuh kami.....!"
Kata Lo Ma dengan suara yang lemah.
"Pemuda yang telah melukai ayahku?"
Tanya puteri Bin Wan-gwe menahan isak tangisnya dan menyusut air matanya.
"Benar dia..... dia..... dia begitu kejam..... ooh sungguh mengerikan sekali, seperti juga di dalam rumah ini tidak diijinkannya ada makhluk berjiwa. Dia membasmi semua penghuni rumah ini, baik laki-laki maupun perempuan, tua atau muda dan juga para binatang semuanya ingin dibinasakannya dengan kejam!"
Setelah berkata sampai di situ, napas Lo Ma mendesah keras memburu seperti juga dia sangat letih.
Sedangkan puteri Bin Wangwe jadi menangis terisak-isak.
Hok An jadi gusar bukan main.
Dia bisa menduga tentunya yang dimaksudkan Lo Ma adalah Bin Lung Hie.
Dia tidak menyangka tangan pemuda yang tampaknya tampan dan lemah lembut itu begitu telengas.
Setelah membinasakan Bin Wan-gwe, kemudian secara tidak langsung merupakan penyebab kematian Bin Hujin, dan sekarang telah membasmi dan membunuh seluruh penghuni keluarga Bin Wan-gwe tersebut.
"Jadi tidak seorangpun yang lolos dari kematian?!"
Tanya Hok An pada akhirnya.
"Ya..... ya..... tidak ada seorangpun yang lolos dari kematian..... dia begitu kejam dan telengas sekali, melebihi kejamnya iblis..... sungguh mengerikan sekali..... Ohh!"
Dan Lo Ma telah mengerang lagi kesakitan, suaranya semakin lemah di samping napasnya semakin memburu. Gadis cilik itu menangis semakin keras saja.
"Lo Ma, jangan tinggalkan aku..... Lo Ma..... ayah telah meninggal, dan ibupun telah dibunuhnya......!"
Lo Ma menghela napas, dia mengusap-usap tangan gadis cilik itu.
"Kasihan nasibmu Bin Kouwnio..... aku..... aku memikirkan bagaimana keadaanmu nanti dengan segalanya yang terjadi ini, ke dua orang tuamu telah dibinasakan pemuda jahat itu..... kami semuanya telah dicelakai..... oooh, kau sudah tidak mempunyai orang-orang yang bisa memperhatikan dirimu lagi.....!"
Berkata sampai di situ, Lo Ma telah mengerang kesakitan lagi. Hok An menghela napas, katanya menghibur.
"Kau tenangkan hatimu, aku yang akan merawat nona majikan kecilmu ini..... aku akan berusaha merawatnya......!"
"Kau.....!"
Berkata sampai di situ, kembali Lo Ma mengerang kesakitan.
Malah selanjutnya dia tidak bisa berkata-kata lagi.
Sesungguhnya masih banyak yang hendak dikatakannya, akan tetapi dia sudah tidak bisa mengeluarkan kata-kata pula.
Dia hanya mengerang kesakitan, sampai akhirnya, dengan tubuh berkelejotan, napasnya berhenti dan dia telah meninggal.
Gadis kecil itu menangis terisak-isak, puteri hartawan she Bin tersebut tidak mengetahui kepada siapa dia harus mengadu dan akan menggantungkan nasibnya.
Hok An menepuk bahunya, katanya.
"Dia sudah mati..... mari kita pergi..... kita harus mencari pemuda she Bin itu, dia harus dihajar untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatannya yang sangat kejam ini..... tentu dia belum pergi jauh!" "Tetapi..... tetapi ayahku..... ayahku belum lagi dikubur.....!"
Kata gadis cilik itu.
"Nanti bisa kita minta bantuan dari pemilik toko peti mati untuk bantu mengurus jenazah ayahmu..... juga semua pembantu rumah tangga keluargamu ini..... sedangkan kita bisa pergi mencari jejak pembunuh kejam itu......!"
Gadis cilik yang memang masih kanak-kanak itu tidak mengetahui apa yang harus dilakukannya.
Apa yang dialaminya selama beberapa hari ini benar-benar membuat hatinya tergempur hebat dan jiwanya mengalami goncangan tidak kecil.
Hok An tanpa menantikan persetujuan gadis cilik itu, telah menyambar pinggangnya dan membawanya lari meninggalkan rumah tersebut.
Pertama-tama Hok An mendatangi sebuah toko peti mati, kepada pemiliknya Hok An meminta agar pemilik toko peti mati itu mengurus semua mayat-mayat yang terdapat di dalam gedung Bin Wan-gwe sebaik-baiknya dengan penguburan yang sederhana.
Seluruh biaya perongkosan untuk mengubur telah diberikan Hok An.
Kemudian dengan mengajak gadis cilik itu, Hok An meninggalkan perkampungan itu, karena dia ingin mencari jejak Bin Lung Hie, kepada siapa Hok An ingin melakukan perhitungan dengan pemuda she Bin itu.
Apa yang telah dilakukan Bin Lung Hie benarbenar melewati batas dan membuat hati Hok An diliputi kemarahan yang luar biasa.
Satu alasan lainnya membuat Hok An jadi begitu marah dan berusaha mencari jejak Bin Lung Hie, ialah kematian Bin Hujin, wanita yang sangat dicintainya.
Hok An beranggapan, jika saja Bin Lung Hie tidak menculik puteri Bin Wan-gwe dan membawa tingkahnya seperti itu, niscaya Bin Hujin tidak akan berlaku nekad menghabisi jiwanya sendiri dengan terjun ke dalam jurang......
Waktu matahari naik cukup tinggi, Hok An mengajak gadis cilik itu telah cukup jauh meninggalkan perkampungan tersebut, di mana Hok An masih tidak berhasil menemui jejak Bin Lung Hie.
Akan tetapi Hok An bertekad, walaupun bagaimana ia akan mencari jejak Bin Lung Hie sampai berhasil ditemuinya, buat mengadakan perhitungan dengannya.
Belasan jiwa yang terbinasa ditangan Bin Lung Hie dengan cara yang begitu mengerikan.
Hok An dapat menduga-duga peristiwa yang terjadi itu, di mana setelah melemparkan puteri Bin Wan-gwe ke dalam jurang dan Bin Lung Hie melarikan diri.
Dia bukan pergi ke mana-mana, melainkan kembali ke gedung Bin Wan-gwe.
Semua penghuni gedung itu dibinasakannya, tidak besar tidak kecil, tidak muda tidak tua, semuanya telah dibinasakan dengan tangan yang telengas dan kejam sekali.
Bahkan Bin Lung Hie kemudian membawa uang dan harta kekayaan Bin Wan-gwe, yang telah digondolnya pergi.
Karena dari itu, Hok An ingin mengadakan perhitungan dengan Lung Hie, sebab yang benar-benar menyakit hatinya, dia menyaksikan belasan pembantu rumah tangga Bin Wan-gwe yang telah dibinasakan begitu kejam oleh Lung Hie, sehingga dia dapat menduganya bahwa Bin Lung Hie bukan sebangsa pemuda baikbaik!
Disamping itu juga kematian Bin Hujin merupakan salah satu alasan mengapa Hok An berusaha mencari jejak Bin Lung Hie.
Puteri Bin Wan-gwe yang telah diajak berlari-lari oleh Hok An meninggalkan perkampungan itu, letih bukan main.
Akhirnya ketika mereka tiba di persimpangan jalan, di mana pada ke dua tepi jalan tersebut tumbuh banyak pohon yang tinggi dan besar, dengan daun-daunnya yang rindang, puteri Bin Wan-gwe meminta Hok An agar mau beristirahat dulu.
Hok An seperti baru tersadar dari tidurnya, dia segera ingat keadaan gadis cilik itu.
Memang buat Hok An sendiri, walaupun dia tidak tidur tiga hari tiga malam, hal itu tidak menjadi persoalan haginya, akan tetapi bagi gadis cilik itu, niscaya perjalanan ini meletihkan sekali.
Terutama sekali memang puteri Bin Wan-gwe tengah berduka sangat atas kematian ke dua orang tuanya.
Cepat-cepat Hok An mengiyakan, diapun telah menurunkan puteri Bin Wan-gwe tersebut, katanya.
"Bin Kouwnio..... kau beristirahatlah.......!"
Puteri Bin Wan-gwe hanya mengangguk, dia menjatuhkan diri duduk di bawah sebatang pohon yang rindang, kemudian dengan sikap ragu-ragu katanya.
"Aku..... aku lapar.....!"
Hok An mengangguk, katanya.
"Kau tunggu di sini sebentar saja, aku akan pergi mengambil makanan, segera akan kembali....!"
Sebenarnya puteri Bin Wan-gwe tengah ketakutan, namun dia memaksakan diri buat mengangguk juga.
Selama berada di tempat itu seorang diri, puteri Bin Wan-gwe telah memandang sekitarnya tidak hentinya.
Dia kuatir kalau-kalau Bin Lung Hie, pemuda yang diketahuinya sangat kejam itu, bisa muncul di situ.
Akan tetapi Hok An pergi tidak lama, karena dia segera kembali membawa ayam panggang dan beberapa macam sayur.
Hok An juga segera mempersilahkan puteri Bin Wan-gwe buat memakan barang makanan yang dibawanya.
Karena perutnya terlampau lapar, gadis cilik tersebut tanpa malumalu lagi telah memakan ayam panggang dan beberapa macam sayur yang dibawa Hok An.
Rupanya Hok An telah membeli makanan itu dari seorang penduduk di sekitar tempat tersebut.
Sambil mengawasi gadis cilik yang tengah makan dengan lahap, Hok An menghela napas berulang kali.
Sampai akhirnya puteri Bin Wan-gwe mengangkat kepalanya, dia melihat sikap Hok An yang tengah memandanginya seperti itu!
Gadis cilik ini jadi malu dengan sendirinya.
"Paman, kau tidak ikut makan?!"
Tanyanya perlahan. Hok An menggeleng perlahan.
"Kau makanlah..... aku tidak lapar.....!"
Kata Hok An kemudian.
"Jika aku lapar, aku akan makan.....!"
Gadis cilik itu tidak memaksa, sedangkan Hok An masih mengawasi gadis cilik itu dengaa berbagai perasaan, di mana dia merasa berkasihan sekali atas nasib gadis cilik ini, yang tampaknya begitu buruk, di mana dia harus menjadi seorang anak yatim piatu, kehilangan orang tua dan juga kini hidup terlunta-lunta di luar rumahnya.
Sesungguhnya gadis cilik ini hidup bahagia, jika saja ke dua orang tuanya tidak dibinasakan oleh Bin Lung Hie.
Dan Hok An sendiri teringat, betapa buat kebahagiaan Un Kim Hoa, sesungguhnya dia sendiri rela mengorbankan perasaannya dan membiarkan Un Kim Hoa hidup bahagia di sisi suami dan puterinya ini.
Akan tetapi justru dengan munculnya Bin Lung Hie, telah membawa perobahan besar atas nasib si gadis cilik ini.
"Siapa namamu?"
Tanya Hok An setelah melihat gadis cilik itu selesai makan, sebagian dari ayam panggangnya tidak dihabisinya.
Gadis cilik itu mengangkat kepalanya, dia telah mengawasi Hok An beberapa saat lamanya.
Jika dilihat dari apa yang dilakukan Hok An selama ini, gadis cilik tersebut melihatnya bahwa Hok An tidak memiliki maksud buruk, baik kepada dirinya maupun terhadap keluarganya.
Malah selama dalam perjalanan Hok An telah menjelaskan padanya, bahwa dia ingin mencari Bin Lung Hie buat melakukan perhitungan, karena Lung Hie telah melakukan pembunuhan kejam seperti itu pada keluarga Bin Wan-gwe.
Setelah ragu-ragu sejenak, akhirnya gadis cilikitu berkata.
"Panggil saja aku si Giok.....!"
Kata gadis cilik tersebut dengan disusul juga pertanyaannya.
"Sebenarnya kau memusuhi keluargaku atau tidak?!"
Hok An menghela napas. Wajahnya seketika berobah muram.
"Jika kuceritakan, engkaupun tidak mengerti, karena engkau masih terlampau kecil?!"
Kata Hok An.
"Karenanya, jika nanti engkau telah dewasa, engkau akan mengetahuinya dengan jelas! Hanya saja di sini kukira ada baiknya jika kujelaskan, bahwa sebenarnya aku sama sekali tidak memiliki maksud buruk terhadap keluargamu.....!"
"Lalu mengapa waktu pertama kali kau datang ke rumah kami, kau marah-marah dan hendak memukul ayah?!"
Tanya gadis cilik itu. Hok An tertegun, wajahnya tambah muram malah dia telah menghela napas beberapa kali.
"Sebenarnya..... sebenarnya......!"
Kata Hok An yang kemudian tidak bisa meneruskan perkataannya. "Sebenarnya kenapa? Bukankah memang benar, bahwa pertama kali engkau datang, engkau memperlihatkan sikap bermusuhan kepada ayahku?!"
Hok An akhirnya mengangguk, dia menyahut.
"Bukan permusuhan, waktu itu memang benar aku marah sekali, sebab mengetahui ayahmu telah mengawini ibumu.....!"
"Mengapa begitu? Ada sangkutan apakah dengan kau perihal perkawinan ke dua orang tuaku itu?!"
Tanya si Giok sambil membuka matanya lebar-lebar mengawasi Hok An. Hok An tambah muram, dia menunduk, lama..... lama sekali sampai akhirnya dari pelupuk matanya menitik butir-butir air mata.
"Ibumu telah mengkhianati cinta kami..... sebenarnya antara aku dengan ibumu itu saling mencintai! Akan tetapi akhirnya dia menikah dengan ayahmu, bahkan waktu bertemu dengan ku, dia memperlihatkan sikap tidak acuh sama sekali, bagaikan aku orang yang sangat memuakkan di matanya, membuat aku marah.
"Namun setelah kupikir-pikir, dan kuketahui mereka telah memiliki seorang anak, yaitu engkau, maka aku mengambil keputusan buat membiarkan ibumu hidup bahagia bersama ayahmu dan engkau! Sama sekali aku tidak memiliki maksud buruk. Sebab aku malah ingin melihat ibumu itu hidup bahagia. Siapa tahu, justru akhirnya aku harus menyaksikan kematian ibumu itu, wanita yang sangat kucintai itu, tanpa aku berdaya dan tidak berhasil menolonginya.....!"
Si Giok ini memang masih kecil, karena itu dia hanya bisa mengawasi Hok An tanpa mengerti.
Dan si Giok memang merupakan gadis yang masih polos, dia belum mengerti apa yang dimaksudkan Hok An dengan mencintai ibunya.
Dia hanya mengetahui bahwa Hok An memang membawa sikap seperti seorang yang merasa bingung dan kaku.
Hok An waktu itu telah berkata lagi dengan suara yang perlahan mengandung sesal.
"Jika saja aku mengetahui sebelumnya bahwa ibumu itu hendak bunuh diri dengan terjun ke dalam jurang, niscaya aku akan berusaha menahannya dan menyelamatkannya. Justeru aku tidak mengetahuinya, waktu dia melompat ke dalam jurang, aku hanya berhasil menjambret ujung bajunya yang robek dan tubuhnya meluncur ke dasar jurang, akhirnya dia terbanting di dasar jurang.....!"
Masih gadis cilik yang minta agar dipanggil si Giok itu tidak mengerti urusannya, dia bertanya.
"Mengapa ibu sampai membunuh diri seperti itu?" "Karena dia mendengar engkau telah mati dilempar ke dalam jurang tersebut oleh si pemuda yang bertangan telengas itu!"
Kata Hok An.
"Karena dalam kedukaan yang sangat seperti itu, dan juga putus asa, di mana suaminya juga telah menemui ajalnya.
"Kini mengetahui engkau telah dilempar ke dalam jurang itu, di mana tidak mungkin ada seorang manusia yang terjerumus ke dalam jurang itu bisa mempertahankan hidupnya, pasti tubuhnya akan terbanting di dasar jurang dan menemui kematian..... maka dari itu, ibumu tidak menyangka sama sekali akan terjadi suatu kemujijatan pada dirimu. Engkau ternyata tidak mati, sedangkan ibumu dalam keputus asaan dan juga kedukaan yang sangat mendalam itu telah terjatuh ke dalam jurang dan menemui ajalnya.....!"
Gadis cilik itu baru mengerti sedikit duduk persoalannya, tanya.
"Jadi kau ingin mengatakan, bahwa orang yang melemparkan diriku ke dalam jurang itu adalah pemuda jahat bertangan telengas dan berhati kejam itu?!"
Hok An mengangguk.
"Waktu dia melihatku dan yakin tidak bisa menandingi kepandaianku, pemuda itu rupanya jadi bingung, dia melemparkan engkau ke dalam jurang setelah gagal dengan ancamannya padaku, di mana waktu tengah sibuk berusaha menolongi dirimu, dia mempergunakan kesempatan tersebut buat melarikan diri. Aku tidak berhasil menahan dirimu yang meluncur dengan cepat ke dalam jurang, sampai akhirnya ibumu telah datang menyusul. Waktu aku memberitahukan apa yang telah terjadi, dia akhirnya mengambil jalan nekad seperti itu.....!"
Setelah berkata begitu Hok An menghela napas dalam-dalam, dia mengambil sepotong sisa ayam panggang yang tidak dihabisi oleh puteri Bin Wan-gwe.
Gadis cilik yang minta dipanggil dengan sebutan Giok itu, jadi berdiam diri dengan sikap tertegun.
Dia seperti tengah membayangkan, betapa dirinya dilemparkan ke dalam jurang oleh Bin Lung Hie, kemudian ibunya datang menyusul dan telah ikut menerjunkan diri ke dalam jurang buat membunuh diri.
Betapa menyedihkan sekali.
Hok An melihat gadis cilik itu berdiam diri, telah menghela napas, katanya.
"Sekarang engkau tidak perlu bersedih hati lagi, karena semuanya terjadi..... dan engkau masih boleh bersyukur, karena jika kelak engkau telah dewasa, engkau bisa membalas dendam dan sakit hatimu, mencari jejak orang she Bin itu! "
Memang sekarang aku pun ingin sekali mencari jejaknya, buat memperhitungkan segalanya padanya namun aku kurang yakin bisa mencari jejaknya, sebab aku berada di dasar jurang cukup lama, di mana aku tengah berusaha menolongi dirimu!
Karena itu, engkau jangan terlalu berduka.
Dan mulai sekarang, engkau memikirkan, bagaimana caranya engkau bisa mempelajari ilmu silat yang liehay buat kelak dipergunakan mengadakan perhitungan dengan Bin Lung Hie!"
Gadis cilik itn berdiam diri bagaikan tengah berpikir dengan hati dan pikiran yang melayang-layang. Sampai akhirnya dia bilang.
"Jika memang demikian, baiklah! Aku mau mempercayai keteranganmu itu..... ternyata engkau bukan seorang jahat..... engkau hanya mempunyai urusan dengan ibuku belaka dan kepada ayahku merasa marah karena ayahku kau anggap telah merebut kekasihmu, yaitu ibuku! Benarkah itu?!"
Tanya gadis cilik tersebut. Hok An mengangguk.
"Ya, garis besarnya memang begitu, akan tetapi urusan demikian berbelit, karenanya jika aku menjelaskan sejelas-jelasnya sekarang kepadamu, pun akan sia-sia belaka, akan percuma di mana engkau tidak akan dapat memahami keseluruhannya..... Nanti saja jika memang engkau telah dewasa dan kita masih bisa bertemu, aku akan menceritakan yang sejelas-jelasnya.....!"
Gadis cilik itupun tidak memaksa, sampai akhirnya dia merebahkan dirinya buat tidur.
Hok An membiarkan gadis cilik itu tidur sedangkan dia sendiri telah duduk termenung, memikirkan nasibnya yang selalu sial.
Tengah Hok An duduk terpekur seperti itu, tiba-tiba terdengar samar-samar suara bentakan yang tidak begitu jelas.
Dia memasang pendengarannya lebih tajam, sampai dia bisa mendengar lebih jelas, bahwa bentakan-bentakan yang didengarnya itu bagaikan ada beberapa orang yang tengah bertempur dan saling serang di tempat yang terpisah cukup jauh.
Cepat-cepat Hok An berdiri, akan tetapi waktu dia ingin membangunkan gadis cilik itu, dia bimbang.
Dilihatnya gadis cilik itu tengah tertidur nyenyak sekali, karenanya dia tidak sampai hati buat membangunkannya, mengganggu tidurnya.
Akhirnya Hok An tidak membangunkan gadis cilik itu, hanya dengan mempergunakan ginkangnya, dia berlari pesat sekali ke arah datangnya suara bentakan-bentakan tersebut.
Hok An ingin melihat siapakah yang tengah bertempur itu, dan dia pikir, meninggalkan si Giok sebentar saja pun tidak ada halangannya.
Setelah berlari-lari beberapa saat, akhirnya Hok An tiba di sebuah persimpangan jalan, di hadapannya tampak sebuah ladang rumput yang subur, di kejauhan juga terlihat sebuah empang yang cukup besar.
Di dalam empang itu terdapat banyak sekali pohon-pohon bunga teratai yang tengah bermekaran, yang mengambang di permukaan air empang tersebut.
Pemandangan di sekitar tempat itupun cukup indah.
Akan tetapi yang membuat Hok An jadi berdiri tertegun, dia melihat empat sosok tubuh yang tengah bergerak-gerak di atas daun-daun pohon teratai itu dengan gerakan yang ringan sekali, melompat ke sana kemari dengan lincah.
Dengan melihat seperti itu saja Hok An dapat mengetahui ke empat orang tersebut tentunya orang-orang liehay yang memiliki kepandaian tinggi.
Jika saja ginkang mereka tidak tinggi, niscaya mereka tidak akan bisa melompat-lompat di atas daun-daun pohon teratai itu, dari daun teratai yang satu melompat ke daun pohon teratai yang satunya lagi, namun daun pohon teratai yang diinjaknya itu tidak melesak tenggelam ke dalam air walaupun menahan berat tubuhnya.
Malah air empang itupun tidak bergerak sama sekali.
Hal ini benarbenar membuktikan bahwa ginkang ke empat orang itu tinggi sekali.
Lama Hok An tertegun di tempatnya menyaksikan pemandangan yang ada seperti itu, sampai akhirnya Hok An menghampiri lebih dekat.
Ke empat orang yang tengah bergerak-gerak dan melompat dari daun teratai yang satu ke daun teratai yang lainnya pula seperti juga tidak memperdulikan kehadiran Hok An, mereka tetap saja dengan saling serang satu dengan yang lain, karena ke empat orang tersebut tengah terlibat dalam suatu pertempuran yang seru.
Yang membuat Hok An heran, setelah mengawasi sekian lama, ke empat orang yang tengah bertempur di atas pohon teratai di permukaan air empang itu, adalah empat orang lawan, mereka saling serang satu dengan yang lainnya, tanpa pilih bulu, karena seperti juga memang pertempuran itu berlangsung di antara mereka berempat dan juga tidak ada di antara mereka yang berkawan.
Jadi jika memang yang seorang gagal dengan penyerangannya kepada lawannya yang satu, dia akan menyusuli menyerang kepada lawannya yang lain.
Jika sebelumnya Hok An menduga bahwa ke empat orang ini pasti merupakan dua pasang musuh yang tengah saling bertempur, di mana dari ke empat orang itu, menjadi dua kelompok.
Akan tetapi dugaan Hok An meleset sama sekali.
Ke empat orang itu masingmasing tidak memiliki kerja sama satu dengan yang lainnya.
Tegasnya mereka berempat bertempur terus tanpa saling ada kerja sama di antara mereka.
Dengan begitu pula, maka mereka selalu menyerang kepada lawan yang terdekat dengan mereka.
Yang membuat Hok An jadi kagum justeru ginkang ke empat orang ini yang sangat tangguh, yang dapat bertempur di atas daun teratai dan juga di permukaan empang itu.
Malah setiap gerakan mereka tidak menyebabkan teratai itu tenggelam atau air empang itu bergerak.
Setelah menantikan sekian lama, dan menyaksikan jalannya pertempuran itu, Hok An sempat menyaksikan, seorang lelaki yang berpakaian biru tua, dengan kumis panjang sampai di dadanya.
Salah seorang di antara ke empat orang yang tengah bertempur itu, telah menghantam dengan gerakan tangan yang aneh sekali, karena dia bukan menyerang ke arah dada atau bagian lain di tubuh lawannya, dia hanya menyerang bagian kaki dari lawannya yang diserang.
Sebagai orang yang memiliki kepandaian tinggi, Hok An segera dapat menduganya maksud orang itu menyerang lawannya dengan cara seperti itu, karena orang tersebut tentu ingin menyerang kelemahan lawannya, yaitu kuda-kuda kedua kakinya.
Jika kuda-kuda ke dua kaki lawannya bisa digempur, sehingga lawannya kehilangan keseimbangan tubuhnya, menyebabkan dia menginjak daun teratai itu lebih keras dan kuat, sehingga kakinyapun akan tenggelam!"
Mungkin di antara ke empat orang itu terdapat satu pertaruhan, yaitu siapa yang kakinya menginjak tenggelam daun teratai atau juga kakinya itu menginjak air empang tersebut, dialah yang dihitung kalah.
Akan tetapi lawan dari si baju biru itu, seorang laki-laki yang tua, yang berusia hampir enampuluh tahun, dengan kumis yang tipis terpilin rapi dan mengenakan baju singsat warna jingga telah tertawa.
"Aha, licik sekali kau, Lam-siong.....!"
Katanya, nyaring suaranya. Berbeda dengan wajah nya yang tampaknya bengis, namun suaranya halus sekali.
"Bukan licik! Pak-kiang! Dengarlah baik-baik, walaupun bagaimana Lam-siong harus memperoleh kemenangan hari ini! Pak-kiang, See-bun dan Tong-ling, semuanya harus tunduk pada Lamsiong.....!"
"Jangan bicara tekebur!"
Kata orang yang memakai baju warna jingga ketika orang yang berbaju biru itu selesai dengan katakatanya.
"Karena bukannya aku yang rubuh, malah hari ini merupakan keruntuhan dari Lam-siong.....!"
Setelah berkata begitu, orang yang dipanggil dengan sebutan Pakkiang, tertawa terbahak-bahak, dia menggerakkan ke dua kakinya dengan lincah dan ringan, belum lagi serangan dari Lam-siong mengenai sepasang kakinya, Pak-kiang telah pindah ke daun teratai lainnya pula.
Sedangkan seorang lainnya, yang mengenakan baju warna merah, dengan celananya juga warna merah, telah berkata.
"Kalian berdua jangan mengoceh tidak karuan, karena semua itu hanya kentut kosong belaka! Baik Lam-siong maupun Pak-kiang ataupun Tong-ling, semuanya harus mengakui keunggulan See-bun! Kalian boleh membuktikan hari ini, bahwa See-bun merupakan satusatunya jago yang paling hebat di kolong jagat ini!"
Setelah berkata begitu, orang tersebut, yang menyebut dirinya sebagai See-bun, tertawa gelak-gelak.
"Tidak mungkin!"
Tiba-tiba salah seorang di antara ke empat orang itu, yaitu yang memakai baju warna hijau dengan celana warna abu-abu, telah berteriak dengan suara yang nyaring sekali.
"Tongling yang akan memegang peranan dan menjagoi rimba persilatan di seluruh jagat ini..... See-bun, Pak-kiang atau juga Lam-siong, kalian semua tidak mungkin nempil dengan kepandaianku.....!"
Akan tetapi Lam-siong dan Pak-kiang sudah tidak banyak bicara lagi, karena ke duanya telah saling menerjang maju dan menyerang.
Kepandaian mereka memang tinggi dan sama liehaynya, di mana walaupun mereka bertempur di tengah-tengah empang, dengan daun teratai sebagai tempat menginjak, tokh mereka bisa bergerak gesit sekali.
Hok An yang menyaksikan pertandingan yang tengah berlangsung di antara ke empat orang itu, diam-diam jadi merasa kagum sekali.
Sedangkan Lam-siong waktu itu dengan diiringi peringatan agar Pak-kiang berlaku hati-hati, menyerang beruntun sampai empatpuluh jurus.
Anakrawali 03.015.
Namun memang kepandaian Lam-siong maupun Pak-kiang tampaknya berimbang, usahanya itu tidak berhasil.
Malah lawannya telah balas menyerang.
Berbareng dengan itu, See-bun juga telah menyerang kepada Lam-siong, dengan begitu Lam-siong menghadapi seranganan dari dua jurusan.
Sedangkan Tong-ling tidak tinggal diam, diapun menyerang Pak-kiang.
Dengan begitu, mereka jadi saling serang silih berganti, mereka tidak memiliki sistim kawan, karena ke empat orang ini sama-sama bertempur dan merupakan lawan!
Mereka bertempur untuk kepentingan dan keselamatan diri mereka.
Jika dapat mereka masing-masing ingin sekaligus merubuhkan ke tiga orang lawan mereka.
Sedangkan Tong-ling yang nampaknya agak berangasan, dan juga selalu menyerang dengan mempergunakan kekuatan dan tenaga yang dahsyat, sudah tidak sabar, karena dia berulang kali membuka serangan serangannya itu bisa tanpa memperdulikan menimbulkan lagi goncangan apakah pada air permukaan empang itu.
Padahal, setiap kali tenaga serangan dari Tong-ling berhasil dielakkan lawannya, tenaga serangannya menghantam permukaan air empang, membuat air empang itu bergolak cukup keras.
Dengan terjadinya gerakan pada permukaan air empang, juga terjadi gerakan pada daun-daun teratai itu, sehingga membuat ke empat orang yang tengah bertempur di atas daun-daun teratai di permukaan air empang tersebut, lebih sulit lagi mengimbangi dirinya.
Tong Ling berulang kali gagal dengan serangannya, sampai akhirnya Lam-siong membentak nyaring, menyusul mana dia bilang.
"Kau hanya mengacau saja. Jangan anggap bahwa ginkangmu yang paling sempurna, walaupun air permukaan empang ini bergolak, aku tidak akan menyerah.....!"
Setelah berkata begitu, Lam-siong melayani setiap serangan Tong-ling.
Dan juga tenaga pukulan yang dipergunakannya memiliki kekuatan yang sangat dahsyat.
Tong-ling tidak menyahuti bentakan dan ejekan Lam-siong, hanya saja dia menyambuti serangan lawannya itu.
Akan tetapi begitu tenaga dalamnya tengah berusaha membendung tenaga serangan Lam-siong, justru di saat bersamaan, Pak-kiang telah menyerang kepadanya dengan pukulan yang tidak kurang kuatnya.
Dengan bersiul nyaring, Tong-ling kemudian melompat ke tengah udara.
Gerakan yang dilakukannya luar biasa gesitnya.
Dengan melompat seperti itu, tenaga serangan dari Lam-siong jadi lenyap karena tenaga itu tidak memperoleh tenaga melawan, dan lenyap di udara.
Sedangkan gempuran dari Pak-kiang pun telah mengenai tempat kosong.
Namun Tong-ling sendiri tidak tinggal diam.
Dia melihat ke dua lawannya telah gagal menyerangnya, cepat sekali dia membarengi buat menyerang Lam-siong.
Di waktu tubuh Lam-siong tengah doyong ke depan, waktu itulah tenaga serangan dari Tong-ling telah tiba.
Memang Tong-ling menyerang di saat tubuhnya berada di tengah udara, diapun telah menghantam begitu tiba-tiba sekali, di saat dia telah berhasil memunahkan dan mengelakkan serangan ke dua lawannya.
Walaupun diserang secara hebat seperti itu, Lam-siong pun bukan orang lemah.
Tiba-tiba dia membuka mulutnya, dia memonyongkan dan menyemburnya dengan kuat.
Luar biasa sekali.
Angin semburan mulut Lam-siong justru telah berhasil menangkis dan memunahkan tenaga serangan Tong-ling.
Waktu itu See-bun pun tidak tinggal diam, melihat tubuh Tong-ling tengah meluncur turun, dia membarengi dengan uluran tangan kanannya, yang hendak mencengkeram.
Yang membuat Hok An jadi memandang terpaku di tempatnya menyaksikan cara menyerang See-bun, waktu tangan See-bun diulurkan seperti itu, justru telah keluar asap yang tebal dari telapak tangannya!
Itulah menunjukkan lwekang See-bun telah mencapai tingkat yang tinggi!
Tong-ling tidak gugup.
"Hu, hu, cara permainan anak-anak hendak dipergunakan di hadapanku! Jika memang, terkena air empang ini, tentunya panas telapak tanganmu itu akan lenyap.....!"
Walaupun berkata begitu, di saat tubuhnya tengah meluncur turun, Tong-ling tidak tinggal diam.
Dia bukan menangkis, hanya saja dia mengelakkan dengan tubuh yang dimiringkan dengan gerakan yang manis sekali.
See-bun penasaran bukan main, dia tidak menarik pulang tangannya yang masih mengeluarkan asap tebal dari telapak tangannya itu, dia hanya memiringkan telapak tangannya dan merobah arah serangannya, tetap mengincar ke arah diri Tongling, ke arah perutnya.
Tong-ling telah menjejakkan kakinya waktu hinggap di atas sehelai daun teratai, sehingga dia melompat menjauhi See-bun.
Dan sebagai pengganti Tong-ling, justru Pak-kiang yang berada dekat dengan See-bun, karena dari itu, serangan telapak tangan Seebun, yang rupanya mengandung hawa panas seperti api menyambar kepada Pak-kiang.
Pak-kiang sesungguhnya waktu itu tengah bersiap-siap hendak menyerang kepada See-bun juga, dan justru sekarang melihat See-bun telah mendahului menyerang kepadanya.
Dia tertawa, dan menangkisnya dengan berani sekali.
"Tasss.....!"
Suara ini seperti juga api yang disiram air, kemudian tampak See-bun melompat mundur, begitu juga Pak-kiong melompat mundur ke daun teratai di seberangnya.
"Oho, rupanya engkau telah memperoleh kemajuan dengan telapak apimu itu....!"
Mengejek Pak-kiang.
"Akan tetapi terhadap Pak-kiang, walaupun bagaimana liehaynya telapak api mu itu, tetap saja tidak berarti apa-apa malah tadi jika aku hendak mempergunakan serangan telapak Es, niscaya kau akan terluka di dalam.....!"
See-bun menyadari, dengan disebutnya Telapak Es, memang Pak-kiang hendak menyindirnya, karena ilmu yang dipergunakan See-bun merupakan ilmu yang mengandung unsur panas, yang diberi nama Telapak Api.
"Tunggu saja, sekarang tokh kita baru mulai..... nanti juga engkau akan mengakui bahwa See-bun merupakan satu-satunya jago yang terliehay di jagat ini.....!"
Kata See-bun sambil memperdengarkan suara tertawa dingin.
Sedangkan Pak-kiang beberapa kali telah berusaha melompat menyerang Tong-ling, setelah gagal dengan serangannya, dia menyerang kepada Lam-siong.
Begitulah, mereka berempat memang terdapat saling serang satu dengan yang lainnya.
Hok An yang menyaksikan jalannya pertandingan ke empat orang itu, yang memang aneh sekali, karena mereka bertempur bukan di darat, melainkan di atas daun-daun teratai yang memang banyak sekali di permukaan air empang itu.
Pertandingan seperti ini jarang sekali terjadi dan dapat disaksikan di dalam rimba persilatan, juga orang-orang yang bisa bergerak begitu ringan di atas daun-daun teratai di permukaan air empang itu memiliki ginkang yang telah mahir sekali.
Sebagai orang berpengalaman di dalam rimba persilatan, Hok An juga kaget mendengar ke empat orang itu saling menyebut dan membahasakan diri mereka masing-masing mempergunakan sebutan Pak-kiang (Si Edan dari Utara), Lam-siong (Si Alim dari Selatan), Tong-ling (Si Bego dari Timur), dan See-bun (Si Bengis dari Barat).
Hok An mengetahui siapa ke empat orang itu, yang tidak lain dari empat orang tokoh rimba persilatan, yang masingmasing memiliki daerah kekuasaan di Selatan, Utara, Timur dan Barat.
Dan sekarang, ke empat tokoh sakti dari empat penjuru rimba persilatan telah berkumpul di tempat itu, tengah mengadakan pertandingan di atas permukaan air empang itu, di mana mereka saling mengukur ilmu dan kepandaian.
Karenanya, Hok An sampai menyaksikan dengan tubuh yang berdiri tertegun tanpa bergerak sama sekali, dia telah mengawasi tertarik sekali.
Ke empat orang yang tengah bertanding itu pun bukannya tidak mengetahui kedatangan Hok An, akan tetapi mereka tidak acuh atas kehadiran Hok An di tempat itu.
Karena ke empat orang ini, tokoh-tokoh sakti dari empat penjuru rimba persilatan, tengah asyik dengan permainan mereka, yaitu bertempur di atas permukaan air empang, di atas daun-daun teratai itu.
Apa yang diduga oleh Hok An memang tidak meleset, karena Lamsiong, Pak-kiang, Tong-ling san See-bun merupakan empat orang tokoh rimba persilatan yang memiliki keharuman nama tidak kecil.
Hanya saja ke empat orang ini memiliki perangai yang aneh, sama halnya dengan bunyi julukan mereka yang tidak karuan itu, yaitu mereka sama sekali tidak usil terhadap urusan di dalam rimba persilatan.
Sejak berusia duapuluh tahun lebih, waktu mereka berempat berusia muda, ke empat orang ini selalu mengadakan pertemuan buat mengadu kepandaian.
Dan mereka selalu bertanding hanya berempat, tidak pernah mengundang jago rimba persilatan lainnya.
Walaupun mereka mendengar juga perihal banyaknya jago-jago sakti lainnya di dalam rimba persilatan, ke empat tokoh sakti rimba persilatan yang memiliki perangai aneh ini tidak tertarik buat piebu dengan mereka.
Dan ke empat tokoh sakti ini hanya berkenan jika mereka dapat bertanding berempat, buat menemukan kepandaian siapa di antara mereka yang tertinggi.
Akan tetapi, selama itu mereka tidak pernah dapat merubuhkan atau dikalahkan.
Mereka tidak pernah berhasil untuk merebut kedudukan yang terjago di antara mereka berempat.
Itulah sebabnya, setiap lima tahun sekali ke empat orang ini mengadakan pertemuan buat bertanding.
Tempat bertanding ke empat orang inipun tidak tetap.
Mereka selalu menemukannya selang satu tahun sebelum tiba waktunya pertandingan itu.
Karenanya, mereka selalu memilih tempattempat yang aneh, dan tidak diduga.
Misalnya seperti sekarang.
Ke empat jago itu telah memilih empang tersebut, buat bertanding di atas daun-daun teratai.
Karena dari itu, ke empat tokoh rimba persilatan ini memang selalu berusaha membuktikan kepandaian mereka sangat tinggi dan berlomba juga buat merebut kedudukan sebagai jago nomor satu di antara mereka berempat.
Dengan demikian, tempat-tempat yang sulit dan juga keadaan yang boleh dibilang hampir tidak memungkinkan dipergunakan sebagai arena pertempuran, telah mereka pilih dan sangat menarik hati mereka.
Sekarang ke empat orang itu masing-masing telah berusia enampuluh tahun lebih, namun kebiasaan mereka untuk setiap lima tahun sekali mengadakan pertemuan buat mengadu kepandaian tetap saja berlangsung.
Jika memang ada seseorang yang sakit atau berhalangan, sehingga tidak bisa datang buat bertanding, maka tiga orang lainnya mengundurkan waktu pertandingan itu.
Mereka akan menantikan sampai yang seorang dapat hadir.
Dalam pertandingan itupun mereka telah mengeluarkan seluruh kepandaian mereka yang dapat diandalkan.
Jika dalam pertempuran yang pertama mereka seri dan tidak ada yang menang atau kalah, maka segara juga mereka berjanji lima tahun lagi akan bertemu dan mengadakan pertandingan lagi.
Mereka mempergunakan waktu selama lima tahun itu buat melatih diri dengan giat, untuk menciptakan ilmu yang lebih dahsyat.
Karena keranjingan sampai begitu untuk melatih dan menciptakan ilmu silat yang lebih hebat, ke empat orang itu boleh dibilang sudah tidak mau diganggu dengan urusan lainnya.
Mereka sama sekali tidak mau mencampuri urusan di dalam rimba persilatan, seperti juga mereka berempat hanya dapat mengurusi diri mereka masing-masing belaka.
Apa yang telah disaksikan oleh Hok An sekarang ini, benar-benar tidak pernah diduganya, karena tidak mudah orang bisa menyaksikan ke empat tokoh persilatan yang sangat dimalui oleh orang-orang rimba persilatan, bisa dijumpainya tengah bertempur secara luar biasa ini.
Malah, perkembangan selanjutnya di antara ke empat orang yang tengah bertanding di permukaan air empang itu berlangsung lebih aneh lagi.
Waktu itu, setelah mengelakkan diri dari totokan tangan Pak-kiang, tampak See-bun telah duduk di atas sehelai daun teratai, dia duduk bersila, tubuhnya seperti juga mengambang, ringan sekali!
Itulah ginkang yang benar-benar terlatih mahir sekali.
Pak-kiang yang gagal dengan serangannya, cepat-cepat membarengi dengan serangan berikutnya.
Dia melatih semacam ilmu yang luar biasa sekali, di mana setiap kali dia menyerang, angin serangan yang dipergunakannya sangat dingin sekali, juga tidak terasa berkesiuran.
Jika lawan yang memiliki kepandaian tanggung-tanggung menghadapi serangan Pak-kiang seperti itu, siang-siang lawan tersebut akan terbinasa.
Tanpa adanya kesiuran angin tentu lawannya tidak akan dapat mengetahui ke arah mana sasaran yang tengah diincar Pak-kiang.
Karena itu, di situlah letak keistimewaan ilmu Pak-kiang.
Sedangkan See-bun yang telah duduk di atas sehelai daun teratai sama sekali tidak bergerak.
Dia tetap saja duduk diam malah dengan sepasang mata terpejam.
Benar-benar See-bun seperti tidak mengetahui serangan Pakkiang yang tidak menerbitkan kesiuran angin itu, tengah datang menyambar ke dadanya.
"Bukkkk!"
Telapak tangan Pak-kiang telah hinggap di dada See-bun namun segera juga tubuh See-bun seperti dapat ciut, dadanya itu seperti juga balon, setelah melesak dan menyebabkan tenaga serangan Pak-kiang lenyap, dia mengembang lagi, membusung dan memiliki daya tarik yang kuat sekali pada telapak tangannya Pak-kiang.
Sebagai orang yang memiliki kepandaian tinggi, Pak-kiang mengetahui bahwa lawannya tengah mempergunakan tenaga dalam menghisap.
Karena itu, jika dia mengempos semangatnya dan berusaha untuk menarik tetapak tangannya, dia akan menghadapi kesukaran.
Semakin kuat dia mengerahkan dan mempergunakan tenaga dalamnya, semakin kuat juga tenaga menghisap di dada See-bun.
Maka dari itu menyadari bahaya yang bisa menimpah dirinya, karena jika dia mengerahkan pula tenaga yang mengandung kekerasan, injakannya pada daun teratai itu akan bertambah berat dan daun teratai itu akan tenggelam, juga kaki Pak-kiang akan menginjak permukaan air empang itu.
Karenanya, segera dia cepat-cepat duduk bersila, diapun mengempos semangat dan hawa murninya.
See-bun tetap diam dalam keadaan memejamkan sepasang matanya dan duduk bersila di atas daun teratai itu.
Hanya saja, dia tidak tinggal diam belaka dengan tenaga dalamnya, karena dia telah mengempos dan menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya itu untuk berusaha menindih kekuatan lawannya.
Belum lagi See-bun bisa mengatasi kekuatan tenaga Pak-kiang, yang telah mempergunakan tenaga menghisap dan mendorong ke dada See-bun, waktu itu Tong-ling yang rupanya tertarik dengan cara bertempur seperti itu, cepat-cepat telah duduk.
Diapun kemudian menghantam dengan ke dua telapak tangannya.
Dia menyerang bukan ke tubuh See-bun, karena setiap kali telapak tangannya hampir mengenai sasarannya di tubuh See-bun dia memiringkan dan mengalihkan sasaran ke arah lainnya.
Dengan ke dua telapak tangan yang digerakkannya pulang pergi seperti itu, membuat angin yang berkesiuran pun sangat kuat sekali.
Semakin lama semakin kering dan kuat bagaikan hembusan angin di gurun pasir.
Dan keringat di tubuh See-bun semakin deras mengucur keluar, dia seperti juga dimasukkan ke dalam perapian dan terpanggang panasnya angin serangan Tongling yang begitu kering.
Lam-siong pun tidak tinggal diam.
Dia telah memilih sehelai daun teratai di dekat See-bun, kemudian ikut pula buat mengerahkan kekuatan tenaga dalam dan hawa murninya, sepasang tangannya itu bergerak-gerak dengan lincah juga.
Namun berbeda dengan angin serangan Tong-ling yang kering dan tandus, seperti api perapian, dia telah menyerang dengan serangan yang dingin seperti es.
Dengan begitu, hawa angin serangan yang memiliki sifat-sifat berlawanan membuat See-bun menerima tindihan yang kurang menggembirakan.
Pak-kiang sendiri, yang tidak menerima serangan langsung merasakan tubuhnya seperti dibakar oleh api gurun yang tandus dan dinginnya es di kutub.
Begitulah, ke empat orang aneh itu tengah mengadu kepandaian mereka, sedangkan Hok An yang berdiam di tempatnya berdiri terpaku memandang takjub atas semua peristiwa yang dapat disaksikannya itu.
Dengan ke empat orang itu mengadu kekuatan tenaga dalam, maka keadaan di sekitar tempat itu hanya terdengar suara "srrr, wuttt, derrr"
Dari suara angin serangan tenaga dalam ke empat orang itu.
Angin pukulan itu juga merupakan angin yang cukup kuat menggoncangkan permukaan air empang yang jadi bergerakgerak.
Dari sebelah selatan empang itu, tiba-tiba tampak mendatangi seorang lelaki berusia masih muda sekali, baru berumur duapuluh tiga atau duapuluh empat tahun, mengenakan pakaian pelajar berwarna putih, dengan kopiah Siauw-yau-kin nya yang berwarna putih, dan sepatunya pun berwarna putih.
Sambil melangkah perlahan-lahan, dia menggoyang-goyangkan kipasnya, yang juga berwarna putih, hanya saja terdapat lukisan yang terdiri dari warna merah dan hijau serta kuning, warna-warna yang tampak manis dalam keadaan serba putih di dekatnya seperti itu.
Sikap pelajar itu tenang sekali, dia sambil mengipas dan melangkah seperti juga seorang yang benar-benar tengah kesima menikmati keindahan di sekitar tempat itu.
Hok An mengawasi pelajar itu, dia tidak kenal, dan tidak mengetahui entah siapa pelajar itu.
Hok An hanya menduga tentunya pelajar ini tentunya tengah pesiar di tempat tersebut.
Cepat-cepat Hok An menjejakan ke dua kakinya, tubuhnya melompat ke dekat pelajar itu.
Pelajar itu terkejut, dia mundur dua langkah ke belakang sambil melipat dan menutup kipasnya.
"Jangan lewat di tempat ini, lebih baik kau kembali saja!"
Kata Hok An sambil menunjuk ke tengah empang itu.
"Lihatlah, di sana tengah ada orang yang sedang bertempur!"
Pemuda pelajar itu tidak bilang suatu apapun juga, dia hanya mementang matanya lebar-lebar menoleh memandang ke tengah empang, sampai dia bisa melihat See-bun berempat dengan Pakkiang, Tong-ling dan Lam-siong tengah saling mengadu kekuatan.
"Ihhh!"
Pemuda itu mengeluarkan suara tertahan. "Benar-benar menakjubkan, seperti juga tengah menyaksikan sebuah peristiwa di dalam dongeng saja! Sungguh menarik! Sungguh menarik!"
Melihat pemuda pelajar itu seperti seorang yang tolol dan tidak mengenal bahaya yang bisa mengancam dirinya, Hok An jadi banting-banting kakinya, katanya.
"Kau jangan berayal lagi, jika nanti mereka telah selesai bertempur dan juga kalau saja mereka hendak mengganggumu, niscaya engkau akan memperoleh kesukaran yang tidak kecil..... cepat kau pergi meninggalkan tempat ini..... jangan berayal.....!"
Pelajar itu melihat Hok An sibuk demikian rupa, telah membuka matanya lebar-lebar menatap Hok An, kemudian dia membuka lipatan kipasnya, dia tertawa, katanya sambil mengipas perlahanlahan.
"Kau tampaknya begitu menguatirkan keselamatanku, menganjurkan agar aku segera meninggalkan tempat ini! Akan tetapi Siauwte melihat engkau sendiri berada di tempat ini dan tidak cepat-cepat meninggalkan tempat ini, jika memang benar ke empat orang itu merupakan manusia-manusia kurang baik......?!" Hok An mendongkol sekali melihat pemuda pelajar ini demikian tolol.
"Jika aku memiliki kepandaian yang sekiranya bisa dipergunakan melindungi diriku! Sedangkan engkau hanya seorang pelajar lemah, jika memang nanti engkau memperoleh kesukaran, niscaya engkau akan memperoleh bahaya yang tidak kecil buat keselamatan dirimu....., cepat kau berlalu sebelum terlambat!"
Akan tetapi pemuda pelajar itu telah menggeleng.
"Pemandangan yang terdapat di daerah ini sangat menarik sekali. Sekarang juga terdapat pemandangan yang luar biasa, aneh dan menarik hati, di mana empat orang dapat duduk di atas daun teratai di permukaan air empang! Bukankah itu merupakan tontonan yang sangat menarik sekali dan tidak mudah untuk bisa melihatnya dalam kesempatan lainnya? Mengapa justeru aku harus meninggalkan tontonan bagus yang menarik hati ini?"
Sambil berkata begitu, pelajar tersebut, tanpa memperdulikan Hok An, telah melangkah menghampiri tepi empang sambil menggerakkan kipasnya perlahan-lahan, mengipas dengan sikap yang tenang sekali.
Hok An tertegun mendengar jawaban dan sikap terakhir dari pelajar baju putih itu.
Dia akhirnya menghela napas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Pemuda dungu.....!"
Menggumam Hok An, dan dia tidak memaksa lagi pemuda baju putih itu buat meninggalkan tempat tersebut.
Sedangkan pelajar baju putih itu berdiri di tepi empang memperhatikan ke empat orang, yang tengah mengukur ilmu tersebut.
Tampaknya pelajar ini tertarik sekali.
See-bun waktu itu telah mengempos dan mempergunakan hawa murninya yang paling tinggi, demikian juga ke tiga orang lawannya, masing-masing mengerahkan tenaga murni mereka yang tertinggi, karena mereka berusaha untuk saling tindih.
Baca Juga: Pedang Naga Hitam Kho Ping Hoo
Baca Juga: Raja Silat 15