Ceritasilat Novel Online

Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat 1

Eps 1 Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat - Gan Kh

Baca online Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat - Gan Kh

Cersil Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat - Gan Kh.

Hong In Lui Tian Diceritakan oleh . Gan KH Sumber DJVU . Dewi KZ & Aditya (Buku Sumbangan anelinda-store.com , trims yee) Editor . Hendra Final Editor & Ebook oleh . Dewi KZ

Tiraikasih Website

http.//kangzusi.com /

http.//dewikz.com

http.//kang-zusi.info / Daftar Isi . Hong In Lui Tian Daftar Isi .

Jilid 01

Jilid 02

Jilid 03

Jilid 04

Jilid 05

Jilid 06

Jilid 07

Jilid 08

Jilid 09

Jilid 10

Jilid 11

Jilid 12

Jilid 13

Jilid 14

Jilid 15

Jilid 16

Jilid 17

Jilid 18

Jilid 19

Jilid 20

Jilid 21

Jilid 22

Jilid 23

Jilid 24

Jilid 25

Jilid 26

Jilid 01 Musim kemarau di bulan sembilan, hari mulai senja, dipinggir danau Liau-hou-ting di pegunungan Liang-san penuh ditumbuhi daun-daun welingi, muncul empat orang.

Empat tokoh persilatan yang punya nama dan kedudukan.

Orang pertama adalah Bing-ceng-ho Congpiauthau Hou-wi Piaukiok yang terkenal di Lokyang, orang kedua adalah anak buahnya, yaitu Piausu Phoa Tin.

Orang ketiga adalah tokoh kenamaan dari Kong-tong-pay, salah satu Kong-tong-sam-ou yang bernama Oh Kan.

Orang keempat adalah Sutitnya yang bernama Nyo Tay-him, orang ini pernah menjadi pelindung Kan Goan-pek, residen Kim ciu, sesuai dengan namanya tubuhnya tinggi gede kepala besar tangan panjang, telinga panjang kaki pendek, kalau jalan bergoyang gontai persis seekor beruang.

Sang surya sudah terbenam di sebelah barat, cuaca mulai gelap, hawa pegunungan makin dingin penuh kabut, sepanjang jalur air penuh tumbuh daun-daun welingi, ke empat orang itu sedang berdesak-desak di-antara semak yang sulit ditempuh, kabut semakin tebal lagi sehingga pandangan kabur sukar membedakan arah.

Mendongak keatas tampak pemandangan puncak gunung Liang-san yang mempesonakan, laksana pedang, tombak, harimau atau singa seperti pulaburung garuda yang tengah mementang sayap, mirip pula kuda semberani yang angkat kaki depannya.

Kabut malam semakin tebal, menjelang magrib ini menghadapi pegunungan yang bentuk dan rupanya aneh-aneh itu, orang akan merinding dan kebat-kebit hatinya.

Tapi keempat orang itu maju terus dengan hati hati, seperti kuatir dari semak belukar mendadak muncul makhluk aneh yang akan menerkam mereka dan mengendalnya pergi.

Mereka adalah tokoh-tokoh ternama dari dunia persilatan, terutama Oh Kan salah satu dari Kong-tong-sam-ou, sudah biasa malang melintang di Kangouw, siapapun gentar dan ketakutan bila mendengar namanya.

Tapi kenyataan mereka sedang ketakutan dan tak kuasa menahan deburan jantung sendiri.

Sebetulnya apakah yang mereka takutkan ?

Mereka menepati undangan seorang tokoh misterius.

Asal usul dan nama orang yang mengundang itu tidak mereka kenal.

Phoa Tin dan Nyo Tay him pernah kecundang dan dihancur babak belur oleh orang itu, namun bagaimana bentuk dan rupa orang itu sedikitpun mereka tidak jelas.

Sebentar lagi cuaca bakal gelap.

Bing Ceng ho berkata .

"Kalau musuh sembunyi disemak-semak daun welingi dan membokong, sulit kita menjaga diri.Kukira lebih baik kita maju terus, kita istirahat saja dikaki gunung sana."

Phoa Tin berkata dengan cemberut .

"Sebelum kita tiba di kaki gunung mungkin sudah gelap. Orang itu pergi datang tanpa jejak, aku, aku, aku....."

Entah karena malu, menjaga gengsi atau ketakutan kata-katanya tersendat malah giginya kerutukan, kata-kata lanjutan batal diucapkan.

Tapi orang tahu maksud kata-katanya, yaitu takut berjalan dimalam gelap, kwatir dibokong atau disergap musuh.

Diam-diam Oh Kan salah satu Kongtong-sam-ou tertawa geli dan mencemooh dalam hati .

"Phoa Tin adalah Piausu kenamaan, kenapa ketakutan demikian rupa, kedudukannya nomer dua di Hou-wi Piaukiok, kalau begitu Bing lo-piau-thau inipun punya nama kosong belaka."

Segera ia bicara .

"Poalote tak perlu kwatir, kita berempat, aku tak percaya cecunguk itu punya tiga kepala enam tangan."

Sutitnya Nyo Tay-him segera menyeletuk dengan suara gemetar .

"Susiok jangan terlalu pandang enteng musuh, ba ... bajingan itu betul-betul lihay. Aku, aku juga takut berjalan di malam hari."

Oh Kan mengerut kening, katanya .

"Kalau kalian takut berjalan malam, marilah cepat jalan."

Sebenarnya mulutnya saja mengatakan tidak takut, pada hal jantungnya kebat kebit malah bulu kuduknya pun merinding.

Betapa lihay dan hebat kepandaianmusuh itu, tak usah Sutitnya menjelaskan dia sudah sering dengar dari orang banyak.

Angin menghembus sepoi-sepoi, daun-daun welingi bergoyang-goyang dan berkeresekan.

Bing Ceng-ho berkata lirih .

"Awas, ada orang!"

Kata-katanya ini membuat Nyo Tay-him dan Phoa Tin kaget setengah mati, lekas-lekas mereka mendekam di tanah. Oh Kan sebaliknya tawa, ujarnya .

"Bing-toako, bayangan setan saja tidak kelihatan mana ada orang? Jangan kita menjadi ketakutan sendiri, daun bergoyang masa dianggap musuh."

Bing-Ceng-ho punya kepandaian mendengar angin membedakan senjata, dalam hati ia berpikir .

"Suara itu jelas adalah orang yang merambat di semak semak, tak mungkin aku salah dengar ? Sungguh menggenakan Oh Kan mengagulkan diri sebagai Kong tong-sam ou ternyata tidak punya kepandaian sejati tapi bersikap takabur. Kalau tidak percaya omonganku, lebih baik aku waspada sendiri dan berjaga-jaga."

Baru saja berpikir sampai disini, tiba tiba Oh Kan mengayun tangan serta membentak .

"Siapa itu ? Kurcaci mana yang membokong dan menyergap ? Lekas menggelundung keluar !"

Rupanya Oh Kan pura-pura tidak tahu bahwa di depan ada orang sembunyi supaya pihak musuh tidak berjaga-jaga.

Dia maki orang membokong dengancara gelap padahal musuh belum turun tangan, tapi dia menyambitkan senjata rahasia membokong musuh malah.

Senjata rahasia yang disambitkan adalah tiga bor terbang, ujung bor yang runcing disepuh racun jahat, kena darah racun bekerja, keji luar biasa.

Tiga butir bor disambitkan bersama dengan formasi atas tengah dan bawah masing masing mengarah ketiga sasaran.

Terdengar suara tring tiga kali, tahu-tahu tiga bor terbang tadi terpental balik.

Terasa bau amis menyampok hidung, dari semak daun welingi bertaburan segenggam pasir, sebuah suara serak tua membentak .

"Diberi tidak membalas tentu kurang hormat. Silahkan kalian rasakan Tong-bing-sin-saku ini."

Begitu mengendus bau amis, Oh Kan tahu bahwa yang disambitkan musuh adalah pasir beracun, lekas ia memukul dengan Pik-khong-ciang sambil menyurut dengan beberapa langkah.

Tampak dari semak daun welingi di depan sana menerobos keluar tiga orang.

Orang pertama adalah Hwesio, seorang Tosu dan seorang laki-laki pertengahan umur berjenggot kambing.

Si Hwesio memukul balik tiga butir bersambitan On Kan, sedang pasir beracun adalah timpukan laki-laki pertengahan umur itu.

Setelah menyampok jatuh bor terbang Oh Kan, si Hwesio gusar makinya.

"Maknya! Apakah kau iniHek-swan hong? Selundup-selundup termasuk orang gagah macam apa, rasakan pentungku!"

Seiring bentakannya pentung besi sebesar mulut mangkok ditangannya menyodok dari depan.

On Kan tercengang, tak tahu siapa Hek swan hong yang dimaksud oleh si Hwesio.

Namun sekilas ia menjadi paham bahwa mereka bukan musuh yang dinantikan.

Sementara itu tongkat besi lawan sudah menyambar tiba, Oh Kan tak sempat buka mulut, apalagi selama berkelana di kangouw sudah biasa main kasar, pikirnya.

"Si gundul ternyata lebih buas dari aku, biar kuhajar biar kapok !'' sebat sekali ia melolos keluar goloknya terus menangkis.

"Trang !"

Bunga api berpijar, Lwekang kedua pihak setanding, tapi senjata si Hwesio lebih besar dan berat, Oh Kan tak berhasil memukul jatuh senjata lawan, sebaliknya golok sendiri gumpal sebagian.

Dalam pada itu, laki-laki pertengahan umur tak berpeluk tangan, tampak kedua tangannya terayun bersama, pasir beracun ditimpukan kearah Bing Ceng-ho beramai.

Dasar cerdik, cepat cepat Phoa Tin menggelinding masuk kedalam semak-semak yang lebat dengan gaya Lam-lu ta-kun (keledai malas menggelundung).

Sebaliknya Nyo Tay-him agak lamban tidak tahu bahwa jiwanya terancam pasir beracun.Bing Ceng-ho meraih topinya yang besar, tampak dia melejit maju "Plak !"

Telak ia dorong tubuh Nyo Tay-him kesamping, tangannya yang memegang topi berputar, laksana besi sembrani, taburan pasir beracun itu tersedot masuk kedalamnya.

Gerak tubuh serta cara turun tangan memunahkan serangan musuh sangat menakjubkan.

Si hwesio sangat nafsu berkelahi dengan jurus Ya-ce-tam hay tongkat besinya menyodok lambung, disusul jurus Liong-ting toh cu lalu diubah tipu Ceng li kong-te, beruntun ia lancarkan tipu-tipu ganas dan keras, senjatanya besar dan berat maka Oh Kan tak berani melayani secara keras, terpaksa ia mundur dengan terkejut, pikirnya.

"Siapakah si gundul ini, begini lihay ? Besar tenaga tak mengherankan, tongkat besinya yang luar biasa ini belum pernah kulihat, entah dari aliran mana ?'' Karena didorong Bing Ceng-ho tadi, Nyo Tay him terguling tiga tombak jauhnya, karena terbanting keras terasa tulang sakit otot pegal. Untung dia pernah melatih Kim cong-coh atau ilmu weduk sehingga tak terluka apa apa, namun demikian sesuai dengan sifatnya yang berangasan bergegas ia merangkak bangun serta berkaok-kaok dengan gusar.

"Bing-toasiok, kenapa kau pukul aku?'' Bing Ceng ho tidak hiraukan dia sebaliknya berseru kepada laki laki pertengahan umur itu .

"Tuan ini apakah Cengcu dari Ciok-ke ceng ?"Laki pertengahan umur itu juga berteriak .

"Bagus sekali cara menyambut senjata rahasia dengan Jian-jiu-ji-lay. Yang datang apakah Bing li piau thau dari Hou-wi Piau-kiok ?"

Bing Ceng-ho berteriak .

"Oh Toako, berhenti dulu kita satu golongan!'' Setelah jarak dekat kedua pihak melihat jelas tak terasa Bing Ceng ho bergelak tawa, ujarnya.

"Kiranya Ji-cengcu dari Ciok-ke-ceng, untung aku kena pasir sakti penyabut nyawa.'' Ciok ke-ceng dikecamatan Tay-tong di San say merupakan tuan tanah yang bersimaharaja di daerahnya. Di kalangan Bulim mereka juga punya nama. Keluarga Ciok terdiri tiga turunan, laki perempuan tua muda seluruhnya berjumlah ratusan orang, laki laki yang sudah dewasa ada empat lima puluh orang, semua pandai main silat, kepandaian tunggal keluarganya adalah andalannya, meski belum termasuk taraf kelas satu, namun mereka sudah biasa malang melintang di Kangouw. Cengcu bernama Ciok Joh, amat bangga akan pukulan Bian-ciang yang belum pernah ketemu tandingan, orang lain tidak tahu apakah ilmu kepandaiannya itu sejati atau tulen, hanya kenyataan selama itu belum pernah dengar ia dikalahkan orang. Jiceng cu bernama Ciok Goan, senjata rahasia adalah andalannya. Dalam satu hari pernah ia melukai delapan tokoh silat dari aliran hitam, sehingganamanya mengetarkan Bulim. Baik aliran hitam atau golongan putih bila mendengar namanya tentu takut dan gentar. Sam-ceng cu bernama Ciok Gong, ternama dengan kepandaian enam puluh empat jurus Ce-kim to hoat, selama hidupnya belum pernah ketemu tandingan. Bian ciang, Am-gi dan To hoat merupakan Cok-ke sam ciat, tri tunggal dari keluarga Ciok. Terutama pasir beracun penyabut nyawa adalah yang paling ganas, sedikit tersentuh seluruh badan membusuk dan mati. Laki laki pertengahan umur berjenggot kambing yang mereka hadapi sekarang adalah ji-ceng cu Ciok Goan dari Ciok ke-ceng. Kata Ciok Goan sambil menunjuk si Hwesio .

"Inilah Hek liong Taysu dari Tiang-pek-san, baru datang dari luar perbatasan. Tuan ini bukankah tokoh kenamaan dari Kong-tong-pay ?"

Oh Kan membatin.

"Kiranya jago lihay dari Kwan gwa, tak heran aku susah mengenal aliran silatnya."

Segera ia buka bicara .

"Terima kasih, aku memang Oh Kan dari Kong tong pay. Bocah gendeng ini adalah Sutitku Nyo Tay him."

"Ohooiii !"

Seru Hok-liong Taysu dengan gagah-gagahan, ujarnya.

"Kalau tak berkelahi tak bakal kenal. Pinceng tadi terlalu kasar dan ceroboh, harap dimaafkan!"Ciok Goan bicara lagi .

"Yang ini adalah Hian-king Totiang dari Kui goan si. Kukira Bing-lopiauthau tentu kenal bukan !"

Kata Bing Ceng ho .

"Sudah lama aku dengar nama Totiang yang kenamaan, beruntung hari ini ketemu disini."

Rupanya Hian king Totiang ini pendiam tak suka bicara, ia hanya manggut-manggut saja.

Saat mana Nyo Tay-him maju mendekat dengan pincang, sekilas Oh Kan lirik keponakannya ini seketika ia terkejut, cepat ia berseru .

"Tay-him, cepat kau nyatakan terima kasih kepada Bing-lo-piauthau !"

Hati Nyo Tay-him masih rada dongkol, matanya mendelik kearah Bing Ceng-ho, sahutnya uring uringan .

"Dia pukul aku, masa aku harus berterima kasih malah?"

"Bocah goblok!"

Bentak Oh Kan.

"Kau tahu apa? Bing-lopiauthau telah menyelamatkan jiwamu, kau tahu?"

Nyo Tay him setengah percaya katanya ragu ragu.

"Dia menyelamatkan jiwaku? Kapan dia tolong aku?"

"Coba kau singkap lengan bajumu ?"

Kata Oh Kan dengan gemas. Waktu Nyo Tay him menyingkap lengan bajunya, tampak kedua lengan kanan kiri terdapat setitik merah sebesar kacang, bila diraba terasa sakit dan gatal.Kata Oh Kan.

"Untung Bing lopiauthau mendorong kau, kalau tidak mungkin seluruh tubuhmu sekarang sudah membusuk dan modar kau."

Rupanya sambitan pasir beracun Ciok Goan meski dipunahkan dan disedot kedalam topi Bing Ceng-ho, namun masih ada beberapa butir yang lolos, untung Bing Ceng-ho mendorong Nyo Tay him begitu keras sehingga ia terguling guling, tak urung kedua lengannya masih kena sambit juga, untung sudah tidak begitu membahayakan karena tidak melukai kulit.

Oh Kan menjura kepada Ciok Goan, ujarnya.

"Harap Ciok-ceng-cu memberi maaf dan memberi obat pemunahnya."

Kata Ciok Goan.

"Harap tanya Bing lo-piauthau, untuk apakah kalian kemari?"

"Untuk menepati sebuah undangan."

"Siapakah yang mengundang kalian?"

"Siapa dia kita tidak jelas."

"Dimanakah alamat pertemuannya?"

"Dikarang kepala harimau sana."

Setelah tanya jawab ini baru kedua pihak jelas, kata Ciok Goan.

"Kalau begitu kita sehaluan, maaf akan kelancanganku tadi."

Lalu ia merogoh obat pemunah dan membubuhi luka luka lengan Nyo Tay him.Sekarang Nyo Tay-him sudah tahu dan merasakan betapa lihay pasir beracun dari keluarga Ciok itu, meski dongkol dan gusar tapi berani banyak tingkah.

Diam diam Bing Ceng ho menjadi girang batinnya.

"didengar dari kata kata mereka rupanya musuh kita juga menjadi lawan mereka ? Kalau benar berarti kita ketambahan pembantu yang boleh diandalkan."

Kepandaian Ciok Goan dan Hek-liong Taysu dari Kwan-gwa secara langsung sudah disaksikan tadi, hanya Hian-king Totiang yang pendiam itu yang tidak turun tangan.

Namun Bing Ceng ho jelas mengetahui bahwa Hian king Totiang sangat lihay dengan ilmu pedang Gun-goan-kiam-hoat, setiap jurus mengandung tipu-tipu yang lihay dan ampuh.

Baru Bing Ceng-ho hendak tanya tujuan mereka, Ciok Goan sudah bicara lebih dulu, katanya .

"Bing-lopiauthau, cara bagaimana kalian bermusuhan dengan orang itu ? Kenapa tidak jelas akan asal usul pihak musuh pula ?"

Jawab Bing Ceng-ho .

"Beginilah kisahnya. Tiga bulan yang lalu, perusahaan kita telah terima sebuah obyek yang harus dikirim, pemilik barang adalah residen Kan Goan pek dari Kim ciu."

"Kan Goan pek menduduki jabatan residen selama dua puluhan tahun, harta benda yang disimpannya tentu sangat banyak."

Demikian kata Ciok Goan.

"Konon dia tidak cocok dengan perdana menteri sehingga ia kehilangan pangkatnya sekarang. Apakahbeliau minta bantuanmu mengawalnya pulang kampung halaman ?"

"Benar,"

Sahut Bing Ceng-ho.

"Penasehat raja yang sekarang memerasnya dengan pajak yang sangat besar, dia tak mau bayar, harta benda sudah dikeruk sedemikian banyak, maka ia meletakkan jabatan sebagai residen Kim ciu dan menyerahkan kepada keponakan Go Hay-ci, penasehat raja sekarang."

"Kudengar kaki tangan Kan Goan pek sangat banyak, ternyata minta kalian yang mengawal, suatu karunia dan penghargaan terhadap kalian."

Bing Ceng-ho merendah diri, katanya menghela napas .

"Sayang kita tidak berhasil menunaikan tugas. Belum kita keluar dari perbatasan Kim-ciu sudah dibegal orang di tengah jalan."

"Bing-lopiauthau,"

Kata Ciok Goan.

"Selama puluhan tahun perusahaan kalian belum pernah gagal, siapakah orang yang bernyali besar berani merampas barang hantaran kalian ?"

Dalam hati ia sudah menerka bahwa pembegal itu pasti adalah orang yang mengundang mereka kesini.

Ujar Bing Ceng-ho ."Dasar aku terlalu takabur, barang hantaran residen ini bukan aku sendiri yang mengawal, hanya Phoa-lote inilah yang menjadi pelindungnya.

Phoa-lote, kau saja yang bercerita duduk perkara yang sebenarnya ?"Merah muka Phoa Tin, katanya.

"Tatkala itu aku sudah berunding dengan Cong-piauthau. Seperti apa yang dikatakan Ciok-cengcu, memang anak buah Kan Goan-pek orang-orang kosen, mereka mengundang kita tak lain hanya menambah perbawa saja. Sungguh mimpi kita tidak menduga ditengah jalan bakal dibegal. Kalau sudah tahu sebelumnya akupun tak berani unjuk muka."

Muka Nyo Tay-him menjadi hitam legam, katanya cemberut dengan nada tinggi .

"Phoa-piauthau, bicaralah langsung jangan putar kayun terlalu jauh. Aku adalah pengawal Kan-tay-jin, yang kumiliki hanya kepandaian cakar kucing, mana boleh dikatakan kosen segala."

Karena Ciok Goan, Phoa Tin dan Bing Ceng-ho berulang kali mengatakan bahwa Kan Goan-pek punya kaki tangan berkepandaian tinggi, dari malu ia menjadi uring uringan.

Phoa Tin mengangkat pundak, serunya .

"Aku sendiri dipukul jungkir balik oleh musuh, celaka lagi bendera Hou-wi Piaukiok juga hilang, bagaimana bentuk wajah musuh sedikitpun tak melihat jelas, masa berani aku menggoda kau si gede ini !"

Setelah melampiaskan kedongkolan hati, dada terasa lapang, kata Nyo Tay-him .

"Benar, kalau mau dikata tidak becus, kita setail tiga uang."

Ciok Goan mengerut alis, katanya .

"Mari kita bicara urusan pokok jangan melantur tak karuan."Phoa Tin lantas melanjutkan .

"Hari ini kita tiba di Lo-liang gou, daerah liar yang penuh pasir tandus, lebih liar dan sepi dari tempat ini. Disanalah begal keparat itu muncul dengan menunggang kuda seorang diri."

"Tunggu sebentar,"

Selak Ciok Goan.

"ingin kutanya sebuah urusan."

"Urusan apa ? Coba katakan."

"Betapa besar koleksi harta benda Kan-tay-jin tentu tak ternilai harganya kukira tak mungkin ditukar dengan benda-benda kecil seperti mutiara atau jamrut segala bukan ?"

"Aku tidak tahu berapa banyak jumlah harta bendanya itu, yang terang mas logam dan perak semua dimuat diatas enam buah kereta, jadi dengan harta benda lain seluruhnya ada tiga belas kereta."

"Nah, yang membegal hanya seorang, mana mungkin merampas barang begitu banyak ? Apakah dia membawa bantuan?"

"Tidak,"

Sahut Phoa Tin.

"hanya satu orang saja! bocah itu amat kejam. Kau orang tua dengar saja kisahku."

Setelah menghela napas, ia melanjutkan .

"Orang itu berkedok, gerak geriknya enteng secepat angin lesus, belum sempat melihat mukanya tahu tahu terjungkal oleh sebuah pukulannya. Nih, lihatlah ..."

Lalu ia singkap bajunya, tampak sebuah telapak tanganberwarna kelabu masih jelas kelihatan di kulit dadanya, sudah tiga bulan cap tangan itu belum luntur. Nyo Tay-him menimbrung .

"Kita terkena sekali pukulannya, bagaimana rupa kunyuk itu kita tak melihatnya."

"Tatkala itu, aku merasa kepala pening tujuh keliling,"

Demikian Phoa Tin melanjutkan.

"setelah siuman, orang itupun sudah pergi."

"Lalu bagaimana dengan harta benda yang termuat diatas tiga belas kereta?"

"Semua masih lengkap,'' Jawab Phoa Tin.

"Tapi dia meninggalkan sepucuk surat, suruh kita menghantarkan kesebuah tempat yang sudah ditentukan olehnya."

"Inilah,'' seru Hek-liong Taysu.

"mana ada begal yang tidak turun tangan sendiri. Kenapa kalian mau menuruti petunjuknya itu?"

Phoa Tin menghela napas rawan, ujarnya;

"Keadaan memaksa kita melaksanakan petunjuknya itu."

"Kenapa begitu?"

Tanya Hek-liong Taysu.

"orang-orang yang ikut dalam expedisi itu rata rata kena pukulannya. Putra putri dan seluruh keluarga Kan-tay-jin juga tidak terkecuali, diberi tanda diatas badannya.""Jadi kalian terluka parah semua?"

Demikian Hek-liong Taysu bertanya. Dalam hati ia membatin;

"Tapi kalau terluka parah, mana kuat mengangkat harta benda itu?"

"Tidak, pukulan telapak tangan itu dilancarkan teraling selapis baju, tatkala itu kita tidak merasa terluka sedikitpun."

"Lalu bagaimana?'' Hek-liong Taysu menegas.

"Begitulah selanjutnya hakikatnya itu bukan luka-luka dalam."

Sahut Phoa Tin tegas. Hek-liong Taysu menjadi heran, katanya.

"Keteranganmu membingungkan. Kalian tidak terluka parah, seharusnya mampu menghantar Kan Tayjin kekampung halamannya. Kenapa menurut petunjuk penjahat itu, mengirim harta dalam tiga belas kereta itu ke tempat yang sudah dia tentukan?"

Hian-king Totiang yang sejak tadi tidak bicara mendadak bersuara;

"Setengah jam setelah siuman, apakah kalian merasa gatal luar biasa?"

"Benar."

Teriak Nyo Tay-him.

"Bagaimana kau tahu?'' "Aku rada sangsi melihat bekas telapak tangan di dada saudara ini.'' Demikian Hian-king Totiang menerangkan.

"sekarang berani kupastikan. ltulah Ki bun Cit ciat-ciang, ada tujuh jenis karya yang berbeda, bisa membuat sang korban menjadi tbc, bisa membuat orang sakit panas dingin seperti malaria, bisa jugamembuat sang korban gatal seluruh badannya. Jelas kalian tidak terluka dalam, dia hanya menggunakan pukulan yang paling ringan, yaitu hanya membuat kalian gatal-gatal saja.'' "Yang paling ringan apa?"

Teriak Nyo Tay-him gemas.

"aku rela dikutungi kedua tanganku ini dari pada disiksa gatal-gatal itu. Gatal itu seolah olah keluar dari dalam perut, sehingga sukar digaruk, makin digaruk semakin gatal sehingga seluruh badan lecet keluar darah, bergelimpangan ditanahpun sukar menahan rasa gatal itu, coba katakan apakah tidak menakutkan?'' Phoa Tin lantas melanjutkan.

"Setelah orang itu pergi, dia meninggalkan sepucuk surat yang ditancapkan dengan belati diatas jendela kereta. Surat itu mengancam kalau kita tidak menerima obat pemunahnya, setiap tiga hari rasa gatal itu bakal kumat, setiap kali lebih hebat dari yang lebih dulu.'' "Kerja penjahat itu cukup rapi."

Demikian Ciok Goan berkesimpulan.

"Jelas kalian disiksa gatal itu setengah mati, terutama Kan Tayjin, kalau setiap hari kumat tiga kali, setiap gatal main cakar diseluruh badan, berlompatan lagi seorang pembesar yang hidup prihatin seperti beliau apakah tidak malu ?"

"Memang beliau tidak tahan disiksa rasa gatal itu, maka perintahkan kita mengirim ketiga belas kereta harta benda itu ketempat yang telah ditunjuk. Terpaksa kita menjalankan perintahnya.''Setelah Phoa Tin bercerita panjang lebar, baru Bing Ceng-ho melanjutkan.

"Selama puluhan tahun Houwi Piaukiok kita belum pernah gagal menunaikan tugas. Kali ini kita runtuh total, tulang-tulang tuaku ini terpaksa harus kerja keras demi kelanjutan hidup anak-anak."

Oh Kan salah satu Kong-tong-sam-ou menimbrung.

"Terpaksa kita harus nekad. Kan-tayjin kehilangan harta benda, sebagai bekas pejabat yang sudah biasa hidup mewah, apakah selanjutnya harus hidup melarat? Maka Sutitku ini minta aku bantu mengurus peristiwa ini, terpaksa aku mengintil di belakang Bing-lopiauthau."

"Apakah kalian berhasil menyelidiki asal usulnya?"

Tanya Ciok Goan. Bing Ceng ho geleng kepala, sahutnya.

"Selama berkecimpung dalam Piaukiok puluhan tahun boleh aku bangga bahwa tidak sedikit tokoh-tokoh silat kenamaan yang pernah kukenal atau kudengar. Selama beberapa bulan ini kita tidak berhasil mencari tahu asal usulnya. Sebaliknya Kan-tayjin mendesak sedemikian rupa, kalau peristiwa ini tidak dibikin selesai secepatnya tidak jadi soal kalau perusahaan kita bangkrut, tapi sebagai penanggung jawab perusahaan harus berhadapan dengan hukum dan dituntut di depan pengadilan. Disaat kita sudah putus asa, suatu malam penjahat itu bertandang ke gedung Kan tayjin, diatas pintu ia tinggalkan sepucuk suratdengan tusukan pisau, dia mengundang kita diatas karang kepala harimau di pegunungan Liang san untuk bertemu."

"Apakah Kan-tayjin tidak ketakutan setengah mati?"

Tanya Ciok Goan.

"Sudah tentu beliau ketakutan."

Jawab Bing Ceng-ho.

"namun dia pandang harta benda lebih berharga dari jiwa raga, ada kesempatan membongkar kejahatan ini, mana boleh disia-siakan, maka beliau mendesak kita datang kemari. Dia mengundang banyak orang-orang pandai terpaksa untuk menjaga dan melindungi keluarganya."

"Bing-lipiauthau, jangan kau patah semangat,"

Sela Oh Kan.

"dengan kerja sama kita beramai belum tentu terkalahkan oleh dia. Kejadian ini sebetulnya bukan urusanku, tapi aku rela membantu. Siapa suruh Nyo Tay-him adalah keponakanku? Kalau Suheng tidak turut campur, aku harus turun tangan."

Sikap Oh Kan cukup gagah dan berani, tujuan yang sebenarnya adalah kemaruk harta dan pangkat.

"Benar,"

Ciok Goan menggosok.

"keponakanmu mendapat malu, kau sebagai pamannya harus mengambil muka supaya Kong-tong-pay tidak dihina orang. Tapi aku rada heran, kenapa Suhengmu diam saja tahu muridnya dihina orang."

"Jangan kau singgung dia,"

Kata Bing Ceng-ho.

"beberapa tahun lalu perkara apa saja tentu turut campur, entah kenapa dua tahun belakangan inisifatnya berobah sabar dan pendiam, urusan muridpun tak dihiraukan."

Kiranya Suheng Oh Kan ini adalah tertua dari Kong-tong-sam-ou yang bernama Lian Tay-seng.

Dulu pernah berkenalan dengan Ciok Goan.

Cion Goan tahu bahwa ilmu silatnya jauh lebih tinggi dari Oh Kan, sudah tentu ia kecewa bahwa beliau tidak datang.

"Ciok cengcu,"

Kata Oh Kan.

"menurut katamu, penjahat itu juga menjadi musuh besarmu, apakah kau sudah tahu asal usulnya?"

"Tidak salah,"

Jawab Ciok Goan dengan gegetun.

"aku punya permusuhan sedalam lautan dengan penjahat itu. Tapi asal usulnya aku masih belum tahu, yang jelas aku tahu dia punya julukan Hek swan-hong (angin lesus hitam)!'' "Hek-swan-hong?"

Teriak Bing Ceng ho tercengang.

"seratus tahun yang lalu diantara seratus delapan orang-orang gagah gunung Li-ang-san terdapat seorang satria yang benama Li Lok, julukannya adalah Hek-swan-hong. Kenapa julukan orang ini sama dengan Li Lok itu?"

Ciok Goan tahu apa yang dipikir oleh Bing Ceng-ho, segera ia berkata.

"Sudah tentu orang ini bukan keturunan Li Lok itu. Julukannya ini bukan karena sifatnya seperti Li Lok yang kasar dan berangasan. Tapi karena pergi datang secepat angin, siapa saja yang kebentur ditangannya, pasti mengalami bencana.Maka kawan-kawan aliran hitam di Kangouw memberi julukan Hek-swan-hong kepadanya."

"Kawan-kawan aliran hitam di Kanglam ?"

Tanya Bing Ceng ho menegas.

"Jadi dia datang dari Kanglam ?"

"Ya, dia melakukan berbagai kejahatan yang merugikan golongan hitam di Kanglam. Pernah ia mencuri pusaka keluarga Su Mi-wan. Peristiwa itu membuat geger kerajaan Song selatan, banyak pejabat dan Busu yang kena perkara. Setiap kali bekerja selalu mengenakan kedok, gerak geriknya cepat dan enteng seperti angin lalu. Para sahabat di Kanglam tiada seorangpun yang pernah melihat muka aslinya."

"O.. begitu,"

Ujar Bing Ceng-ho.

"dia datang dari Kanglam, tak heran nama julukannya aku belum pernah dengar."

Kata Phoa Tin .

"Keparat itu banyak tipu muslihatnya, julukannya Hek swan-hong. Tapi jauh berbeda kalau dibanding Hek-swan-hong dari Liang-san yang kasar dan brangasan itu."

"Toh masih ada persamaannya,"

Kata Hian-king Totiang tawar.

"orang memberikan julukan itu karena dia mirip Hek-swan-hong Li Lok dari Liang san, sebagai orang gagah."

Bertaut alis Ciok Goan, batinnya .

"Hidung kerbau ini tidak tahu malu, terang terangan memuji musuh malah."

Ilmu pedang Hian ki Totiang sangat lihay dantinggi, dianggap sebagai pembantu yang paling diandalkan dalam rombongan ini, meski hati tak senang tak enak ia menegurnya.

"Ciok-cengcu."

Kata Bing Ceng ho.

"cara bagaimana kau mengikat permusuhan dengan Hek swan hong itu ?"

Kata Ciok Goan .

"Kalian tahu, keluarga Ciok kita turun temurun adalah kaum persilatan, keluarga terbesar di Tay-tong-hu, adalah jamak kalau kita pernah salah tangan melukai orang. Pada suatu hari, bajingan itu meninggalkan sepucuk surat diatas meja sembahyang leluhur kita, ditusuk sebilah belati lagi, coba bayangkan menjengkelkan tidak?"

"Apa yang tertulis dalam surat itu ?"

Tanya Bing Ceng-ho. Ciok Goan kikuk, sesaat baru ia berkata .

"Isinya mencercah dan mencemooh kita, dia mengagulkan diri sebagai pendekar, supaya kita menyesal dan bertobat, kalau tidak dia akan cari perkara dan membuat onar."

Ternyata surat Hek swan-hong itu mencantum daftar kejahatan keluarga Ciok selama beberapa tahun ini.

Pada hari bulan dan tahun sekian pernah menculik gadis desa pada hari apa lagi pernah memeras mati seorang petani, kapan lagi pernah sekongkol dengan pejabat setempat melakukan korupsi dan menyelundupkan barang gelap, menindas rakyat jelata.

Pada hari dan bulan apa lagi merampokpedagang dan lain lain.

Bait terakhir surat itu mengecam dan memberi peringatan supaya mereka insyaf dan bertobat, mengubah kelakuan, kalau tidak akan datang suatu hari mereka bakal menerima balasan yang setimpal.

Ciok Goan melanjutkan .

"Dengan wibawa dan ketenaran keluarga Ciok kita, mana takut digertak ? Maka diam diam kita menyirapi kurcaci macam apa yang bernyali besar berani menepuk lalat diatas kepala harimau, disamping kita berjaga dan waspada. Sebetulnya kita tidak ambil peduli peringatannya itu. Tak duga bulan kedua ia mengirim pula pucuk surat yang kedua, artinya hampir sama dengan yang terdahulu."

"Kali ini kalianpun tak berhasil menemukan jejak-jejaknya ?"

Tanya Bing Ceng ho. Merah muka Ciok Goan, katanya .

"Bulan ketiga diterima pula sepucuk surat, sungguh harus disesalkan beruntun tiga kali, bayangannya saja tidak pernah kita lihat."

"Beruntun tiga kali, namun tak kelihatan reaksi ancamannya, mungkin dia takut akan wibawa dan kekuatan keluarga Ciok kalian, anggap saja geledek yang berbunyi di hujan sore sore."

Demikian Nyo Tay-him menyeletuk. Maksud Nyo Tay-him hendak menyanjung, sebaliknya Ciok Goan anggap sebagai olok-olok,keruan ia menjadi gusar, dengusnya .

"Kau mengolok dan menggoda aku ya ?"

"Tidak."

Sahut Nyo Tay him tersipu-sipu.

"mana aku berani mengolok-ngolok kau Ciok-loyacu, aku takut menghadapi pasirmu. Jelasnya dia telah menghina keluarga Ciok kalian, hal ini aku tidak tahu, mana bisa kau salahkan aku?"

"Sabar saudara Ciok."

Kata Oh Kan membujuk.

"kenyataan keparat itu menjadi musuhmu juga, coba jelaskan untuk dirundingkan supaya kita bisa menghadapi dengan sempurna."

"Bermula kitapun punya pikiran seperti Nyo lote tadi,"

Begitulah Ciok Goan melanjutkan kisahnya.

"kusangka pihak lawan hanya main gertak belaka, beberapa bulan berlalu tanpa terjadi sesuatu yang merugikan maka penjagaan dan kewaspadaan kita mulai kendor."

"Biasanya keponakanku keluar mengembara, sejak orang itu meninggalkan surat ancaman, Toako sudah berhati-hati dan kawatir, dia perintahkan semua orarg mengurung diri di rumah saja dilarang keluar kecuali punya urusan penting, kalau tidak, dilarang keluar seorang diri."

"Namun keluarga Ciok adalah keluarga persilatan, marga terbesar dan berwibawa lagi di Tay-tong-hu, sudah tentu banyak urusan yang harus dikerjakan. Sebulan kemudian setelah surat ketiga itu kebetulan Tihu kota Cih jiu ulang tahun, hubungan kita denganTihu ini sangat kental, maka kita harus hadir dalam perjamuan, kalau dalam keadaan biasa seharusnya Toako sendiri yang harus hadir, kawatir kalau Toako pergi dan kebetulan orang itu datang menyergap kita, terpaksa barang sumbangan yang sudah disediakan suruh keponakan besar mengantar."

"Kepandaian silat keponakan besar adalah didikan langsung dari Toako, pukulan Bian ciangnya dapat memukul batu menjadi bubuk, selama kelana belum pernah mendapat tandingan, aku sendiri mengakui mungkin belum dapat memadainya. Tapi Toako masih kurang lega, menyuruhnya menyamar dan berangkat bersama pedagang kuda ke Coh-ji."

"Keponakan besar itu sudah berjanji untuk bertemu di dalam kota dengan para pedagang kuda itu. Tak diduga setelah ia berangkat, hari ketiga para pedagang itu ke-rumah kita, katanya tidak bertemu dengan keponakan, kedatangannya untuk mengajaknya segera berangkat, kalau tidak mungkin ketinggalan pasaran."

"Sudah tentu hal ini sangat menggemparkan seluruh keluarga kita. Segera Toako perintahkan para centeng pergi ke Kota menanyakan, namun tiada seorangpun yang pernah melihat keponakan besar itu!"

"Jadi keponakan itu telah hilang secara misterius?"

Tanya Bing Ceng-ho. Ciok Goan mengertak gigi, desisnya;

"Hari kedua pagi-pagi, akulah yang buka pintu besar tampaksebuah kantong rumput tergantung diatas tiang bendera diatas pintu tertempel sepucuk sampul merah yang tertuliskan.

"Sebuah kado tak berarti harap diterima dengan tulus hati. Selayang pandang aku lantas mendapat firasat jelek cepat aku panggil Toako."

Timbul rasa ingin tahu Nyo Tay him, tanyanya;

"Apakah isi kantong rumput itu?"

Sebaliknya Oh Kan sudah meraba apa isi kantong rumput itu, lekas ia deliki keponakan yang banyak mulut itu. Ciok Goan berganti napas sebentar lalu menyambung.

"Isi kantong rumput itu adalah sebuah kepala yang berlepotan darah, meski berlepotan darah dan kotor, kita khan orang sendiri masa tak bisa mengenalnya, jelas itulah keponakan besar yang harus dikasihani itu."

Bing Ceng ho tahu sepak terjang tuan muda dari Ciok ke ceng, diam diam ia membatin.

"Tuan muda kalian terlalu mengandal wibawa keluarga, ilmu silatnya memang lihay, baru beberapa tahun mengembara sudah bersimaharaja entah berapa banyak sesama kaum persilatan yang sirik dan benci akan tingkah lakunya yang tak genah, justru orang orang yang ditindasnya itulah yang harus dikasihani, sudah tentu pikiran ini dipendam dalam sanubarinya, namun lahirnya secara spontan ia nyatakan ikut berduka akan kematian keponakan orang.Kejadian itu sudah dalam rekaan semua orang, namun serta mendengar penuturan langsung dari Ciok Goan, tak urung mereka menjadi merinding juga. Kata Oh Kan;

"Keparat itu begitu kejam sungguh keterlaluan !"

"Ada lagi yang lebih keterlaluan!"

Senggak Ciok Goan.

"Masih ada buah karyanya yang lebih ganas?"

Tanya Phoa Tin mengkirik.

"Di Tay-tong-hu kita ada membuka tujuh pegadaian,"

Demikian Ciok Goan melanjutkan.

"punya ribuan hektar sawah. Pegadaian yang terbesar bernama Lik-lay-hou (rejeki datang), pendapatan setiap tahunnya ada beberapa laksa uang perak, yang pegang kuasa adalah salah seorang keponakanku yang terdekat. Hari kedua setelah kepala keponakan besar diantar datang, terjadilah tragedi di Lik-lay hou itu, Kuasanya mati secara misterius ditempat tidur. Akhirnya kita undang Hian king Totiang untuk memeriksa jenazah baru kita ketahui kematiannya itu lantaran Ki-bun jit ciat-ciang!"

"Ki-bun jit-ciat-ciang ?"

Teriak Pho Tin.

"bukankah itu pukulan beracun penjahat itu ?"

"Kali ini keparat itu tidak tinggalkan tulisan, tapi ketiga kalinya ada pula pesannya.""He, begitu berani bekerja berturut-turut, hm, benar benar menghina dan keterlaluan bajingan itu,'' demikian sanggah Bing Ceng ho. Dia tahu berbagai perbuatan buruk keluarga Ciok yang tercela, dimulut ia berkata manis namun dalam hati ia membatin.

"Orang jahat tentu mendapat ganjaran yang setimpal, memang sudah menjadi kodrat perlu munculnya pendekar macam Hek swan hong untuk menghukum dan menghajar mereka habis-habisan. Ai, jika bukan karena urusan Hou-wi Piaukiok, segan aku ikut campur dalam urusan kotor dan memalukan ini."

Gigi Ciok Goan berkeriut menahan gusar, katanya melanjutkan.

"Berselang beberapa hari didesa timur terjadi huru hara, para petani berontak tak mau bayar pajak maka diutus berdua keturunan Sam te untuk mengurus peristiwa ini, ternyata mereka mati digantung diatas pohon diluar desa. Kepandaian kedua orang ini walau belum terhitung kelas satu, ratusan orang juga takkan mampu mendekatinya.'' "Tak perlu dijelaskan lagi pasti buah karya Hek-swan-hong bukan?"

Bing Ceng ho menegas.

"Siapa bilang bukan ?"

Dengus Ciok Goan dengan penuh kebencian, ''kali ini diatas pohon terpaku sepucuk surat, dalam surat itu diakui peristiwa pembunuhan di-Lik-lay-hou dan kejadian terakhir ini adalah perbuatannya seorang.

Malah dia memperingati kami tak boleh membuat penyelidikan,kalau tidak pembunuhan ini melulu merupakan panjar saja.'' "Ai,"

Desah Bing Ceng-ho sambil membanting kaki.

''Sungguh keterlaluan, keterlaluan benar.

Hakikatnya lebih parah dari penghinaan terhadap Hou wi Piaukiok kita.'' "Mengandal wibawa dan kekuatan keluarga Ciok kita, mana boleh dihina orang !"

Begitulah Ciok Goan meneruskan dengan uring-uringan.

"Segera Toako mengundang para kawan sehaluan, menyiarkan berita dan menantang secara langsung kepada keparat itu untuk berhadapan dan bertempur antara mati dan hidup!'' Sampai disini segera Hek-liong Taysu menimbrung .

"Aku punya hubungan erat dengan Ciok-cengcu selama puluhan tahun, begitu mendengar kabar jelek ini segera aku datang. Malah aku mewakili mereka mengundang banyak kawan persilatan, para kawan undanganku itu tinggal dan bertugas di Ciok-ke-cheng. Kita kawatir kena pancing meninggalkan sarang sendiri."

Sesaat Phoa Tin masih belum paham, tanyanya.

"Dipancing meninggalkan sarang apa ?'' Hek-liong Taysu menutur .

"Tiga hari setelah kami tiba di Ciok ke-ceng, keparat itu mengutus seorang Kaypang mengirim sepucuk surat. Dia mengundang Ciok-cengcu untuk bertemu di karang kepala harimaudi Liang san. Terserah berapa banyak bantuan yang hendak diundang katanya.'' "Anggota Kaypang yang mengirim surat itu apakah pernah bertemu dengan dia?"

Tanya Bing Ceng-ho.

"Menurut anggota Kaypang itu, Pangcu mereka yang mengutusnya mengirim kepada kita,"

Demikian Ciok Goan menjelaskan, ''Sang Pangcu tidak menjelaskan apakah pernah bertemu dengan si pengirim surat itu, waktu sangat mendesak tiada kesempatan kita menanyakan langsung kepada Liok-pangcu."

Bing Ceng ho adalah kaum tua yang banyak pengalaman, mendengar kata-kata terakhir ini hatinya lantas paham duduk perkara sebenarnya, diam-diam ia menebak .

"Tiada kesempatan apa, yang benar adalah kalian tidak berani berhadapan dengan Liok-pangcu dari Kaypang!'' Harus diketahui bahwasanya Hek-swan-hong bisa minta bantuan anggota Kaypang untuk mengirim sudah tentu punya hubungan yang sangat erat dengan Kaypang. Ciok Goan hanya membual belaka mana berani berhadapan dengan pihak Kaypang secara langsung. Terpikir oleh Bing Ceng-ho akan hal ini, hatinya menjadi gundah dan was-was, pikirnya .

"Seorang Hek-swan hong begitu sulit dilayani, apalagi masih ada Kaypang sebagai backingnya ? Ah, kalau tahu begini, lebih beruntung kalau aku tidak menepatiundangan ini."

Tapi lantas terpikir lagi .

"Tapi kalau aku tak berani datang, Hou-wi Piaukiok bakal bangkrut dan tutup pintu. Satu pihak pejabat pemerintah sukar dilawan, lain pihak sang lawan sangat lihay apa boleh buat, terpaksa aku harus bekerja menurut situasi. Kalau betul betul tak kuat melawan terpaksa harus menebalkan muka memohon belas kasihan kepada Hek-swan-hong saja."

Sudah tentu Ciok Goan tidak tahu bahwa Bing Ceng ho telah merancang rencananya untuk bekerja menurut situasi bila perlu malah harus mundur teratur. Sikapnya masih tetap bersemangat, katanya .

"Sekarang kita bergabung, tambah seorang Hek-swan-hong lagi juga tak perlu gentar. Menurut hematku, begitu jumpa tak perlu kita pakai aturan Kangouw segala, maju bersama dan mencacah tubuhnya."

Hian-king Totiang menjengek tawar .

"Apakah tidak takut menjadi buah tertawaan para sahabat Kangouw ?"

Melihat orang mengguyur air dingin lagi, Ciok Goan menjadi jengkel dan gemes, dengusnya.

"Takut apa, setiap orang yang pernah melihat Hek swan-hong kita babat habis-habisan, siapa pula bakal tahu ?"

"Apakah kita mampu membabat habis-habisan ?"

Jengek Hian-king Totiang dingin.

"Kenapa kau selalu mengagulkan pihak lawan ?"

Maki Ciok Goan dengan gusar.

"jangan kau mengecilartikan kekuatan kita. Kalau kau takut silakan kembali saja !"

Hian-king Totiang mendengus hidung, ejeknya menyeringai.

"Selamanya aku pernah takut kepada siapa? Ciok-ji cengcu, pasir beracun pencabut nyawamu memang lihai, tapi jangan kira aku takut terhadap kau."

Lekas Bing Ceng-ho melerai, bujuknya.

"Kita orang sendiri, belum lagi ketemu musuh kenapa harus bertengkar lebih dulu."

Hek-liong Taysu ikut bicara.

"Benar, main keroyokan, main gilir atau bertanding satu lawan satu kita tentukan nanti bila sudah berhadapan langsung dengan keparat itu."

"Aku datang membantu karena memandang muka Ciok-toa cengcu, kalau Ciok-ji-cengcu memandang enteng kepadaku, lebih baik aku pergi saja."

Ciok Goan tahu bahwa ilmu pedang Tosu ini lihay, diam-diam ia menyesal telah mengumbar adat sendiri, terpaksa ia tahan sabar dan minta maaf.

"Harap Totiang tidak salah paham. Maksudku supaya kita tidak gentar dan takut lebih dulu sebelum berhadapan dengan musuh. Ucapanku tadi memang kasar, baiklah aku mohon maaf kepada Totiang."

"Benar,"

Sambung Bing Ceng-ho membujuk pula.

"kita ada beberapa orang, sebenarnya tak perlu takut, namun betapapun kita harus hati-hati dan waspada.Cuaca sudah hampir gelap marilah lekas kita melanjutkan kedepan!"

Begitulah mereka lantas berjalan beriringan menembus semak belukar daun-daun welingi yang lebat sejauh beberapa li, waktu tiba dibawah gunung, hari sudah gelap pekat. Bing Ceng-ho berkata.

"Kalau kita naik keatas gunung dalam kegelapan begini kawatir dibokong atau disergap musuh. Kita cari tempat dikaki gunung untuk bermalam. Besok pagi kita melanjutkan ke karang kepala harimau."

Mulutnya saja Ciok Goan temberang, sebenarnya hatinya takut setengah mati. Usul Bing Ceng-ho justru mengena betul lubuk hatinya.

"Begitupun baik,"

Ujar Ciok Goan.

"sukar kita menghadapi bokongan musuh. Malam ini kita harus lebih hati-hati."

Phoa Tin berkata.

"Disana ada sebuah gua, mari kita periksa. Kalau bisa untuk berteduh kan lebih enak dari pada menginap dialam terbuka."

Harus maklum dia seperti burung yang ketakutan di ujung senapan, kalau benar benar harus menginap ditempat terbuka yang belukar begitu, hatinya lebih takut dari Ciok Goan.

Nyo Tay him mengetik batu api untuk menyulut dahan-dahan kering sebagai obor, dengan langkah lebar segera ia mendahului masuk memeriksa,terdengar ia berseru kegirangan.

"Hahaha, gua ini kering dan bersih, cukup untuk berteduh kita beramai."

"Tempat menginap sudah ada, namun harus hati-hati juga, marilah kita jaga malam bergilir."

Ciok Goan mengusulkan.

"Benar,"

Bing Ceng ho nyatakan persetujuan.

"kuusulkan dua orang satu grup, begitu lebih leluasa saling bantu."

Mempersoalkan jaga malam Phoa Tin terkejut dan takut, katanya .

"Sepak terjang Hek-swan hong bagai setan alas, terus terang saja kepandaianku terlalu jauh melawannya, kalau jaga aku minta diatur satu grup dengan Bing-lopiauthau, aku punya kawan yang dapat diandalkan,"

"Pintar kau memilih,"

Jengek Oh Kan dongkol.

"jadi Tay-him terpaksa harus tergantung kepada aku. Sebaliknya aku sendiri tidak tahu apakah aku mampu menjaga keselamatan keponakanku ini."

Diantara tujuh orang itu kepandaian Nyo Tay-him yang terlemah.

Ucapan Oh Kan jelas menunjukkan jiwanya yang sempit dan tak setuju akan usul Phoa Tin, seolah-olah beranggapan bahwa kepandaian Bing Ceng ho lebih tinggi dari yang lain.

Disamping itu sebenarnya iapun sangat takut, sebagai paman Nyo Tay-him, bagaimana juga dia harus satu grup dengan keponakan itu.Bing Ceng-ho pintar melihat gelagat, diam-diam ia sudah meraba alasan mereka dilandasi rasa ketakutan melulu.

Maka segera ia berkata .

"Menghadapi musuh tangguh aku pun tak perlu bicara sungkan lagi, bukan kepandaian Phoa-lote dan Nyo lote tidak becus, soalnya mereka angkatan lebih muda. Kalau benar-benar di tangan Hek-swan-hong mungkin tak kuasa melawan. Begini saja kita atur kita yang tua saja yang menanggung segala resiko ini, bebaskan mereka berdua dari tugas jaga malam ini."

"Rase tua ini tak malu sebagai kelana Kangouw yang sudah bangkotan,"

Demikian batin Oh Kan.

"setiap ucapannya cukup beralasan dan cukup adil."

Kontan ia pun nyatakan persetujuannya. Maka Hian-king Totiang menggiur lagi dengan kata-kata tawar.

"Kalau musuh benar jauh lebih lihay dari kita, jaga malam juga tak berguna. Aku serahkan mati hidupku ini kepada nasib saja, aku akan tidur saja. Kalau kehilangan batok kepala dalam impian, aku tak akan salahkan orang lain."

Dalam hati Ciok Goan mengumpat lagi, namun lahirnya ia bersikap manis, katanya .

"Totiang, kepandaianmu tinggi nyalimu besar, sudah tentu tak perlu kawatir diganggu orang. Padahal kita mengandal bantuanmu saja."

Hian-king Totiang membalikkan mata ejeknya .

"Pinto terkenal sebagai setan penakut, Ciok-ji cengcu mengandal bantuanku apa ?""Ah, Totiang suka berkelakar,"

Sahut Ciok Goan.

"Totiang menemani kedua saudara yang bebas tugas ini, bukankah akan menambah nyali mereka."

"Bisaku tidur nyenyak saja !"

Dengus Hian king Totiang.

Mereka tujuh orang, Phoa Tin, Nyo Tay-him dan Hian-king Totiang bebas tugas, tinggal empat orang kebetulan terbagi dua grup, masing masing berjaga setelah malam.

Hek-liong Taysu berkata .

"Aku belum kantuk, saudara Oh, kalau tidak berkelahi, kita tak bakal kenal, marilah sekarang kita yang jaga."

Sikap dan watak Hek-liong Taysu kelihatan kasar dan berangasan, sebetulnya otaknya cerdik untuk mencari keuntungan pribadinya.

Pikirnya, kalau jaga malam pada tengah malam pertama bahaya ketemu musuh tentu jauh lebih ringan.

Oh Kan bergelak tawa, sahutnya .

"Usulmu cocok benar dengan lubuk hatiku. Beruntung aku berkenalan dengan seorang sahabat Bulim di Kwan gwa untuk menambah pengetahuan, marilah kita ngobrol sambil menghabiskan waktu !"

"Begitu pun baik,"

Ujar Ciok Goan.

"aku dan Bing-lopiauthau mendapat giliran kedua."

Diapun punya perhitungan sendiri. Pikirnya .

"Walau larut malam bahaya lebih banyak, tapi kepandaian silat Bing Ceng-ho jauh lebih tinggi dibanding Oh Kan."Masing-masing mendapat pasangan yang diharapkan, yang tidur lantas istirahat, yang berjaga malampun mulai bertugas. Begitulah mereka lewati sang waktu dengan aman tenteram, tak terasa waktu sudah semakin larut. Diam-diam Ciok Goan menyesal, batinnya.

"Semoga tiba giliranku nanti tak terjadi sesuatu yang membahayakan."

Sama sama bangkotan Kangouw begitu keluar gua segera Ciok Goan berunding dengan Bing Ceng-ho akhirnya mendapat kata sepakat, masing-masing mencari tempat sembunyi yang berdekatan.

Mendengar apapun dilarang buka suara supaya tidak konangan oleh musuh.

Malam itu cuaca amat gelap, tiada bintang tak ada sinar rembulan.

Dengan hati kebat kebit Ciok Goan sembunyi di belakang sebuah batu besar, entah berapa lama, yang diharap adalah cuaca lekas-lekas terang benderang.

Tengah hatinya gundah tiba-tiba dilihatnya disemak belukar sana muncul dua bayangan hitam yang mengidap-ngidap makin dekat.

Keruan kejut Ciok Goan bukan kepalang, jantung hampir melonjak keluar, diam diam ia meraup segenggam pasir beracun.

Kedua bayangan itu makin dekat, kira-kira beberapa tombak dari tempat sembunyi Ciok Goan melihat mereka saling memberi tanda, main tunjukdan tuding, lalu goyang-goyang tangan pula.

Muka kedua orang ini tertutup kain hitam.

Ciok Goan menebak dalam hati.

"Dilihat gerak gerik mereka jelas sudah tahu kalau dalam gua ada sembunyi orang. Hm, peduli dia Hek swan hong atau orang lain turun tangan dulu lebih menguntungkan. Tidak menjadi soal salah membunuh orang dari pada badan sendiri berkorban secara konyol."

Setelah bertetapan hati, tanpa bersuara Ciok Goan segera timpukkan segenggam pasir beracunnya kearah dua bayangan itu.

Orang berkedok didepan itu ngebut lengan bajunya, laksana segulung awan pasir beracun itu dikebut balik semua.

Tersipu sipu Ciok Goan menggelundung, terlambat sedetik jiwa bakal melayang termakan oleh senjata sendiri.

Dikata lambat kenyataan sangat cepat, pada detik lain kedua orang berkedok itu sudah menubruk tiba.

"Trang !"

Terdengar benturan senjata, kiranya Ci kiam-to milik Bing Ceng ho sudah beradu kekuatan dengan ruyung baja salah seorang berkedok itu, dalam gebrakan pertama ini mereka sudah serang menyerang tujuh jurus.

Dengan gaya ikan gabus melentik cepat Ciok Goan melejit bangun, belum lagi berdiri tegak terasa angin keras menyampok dari belakang.

Untung ia bergerak sigap sebelah tangan lantas dibalikkan memapakpukulan musuh.

Ilmu Bian-ciang merupakan kepandaian tunggal yang tiada keduanya, namun telapak tangan beradu, orang itu tidak bergeming, sebaliknya telapak tangan Ciok Goan seperti dipanggang diatas bara api yang menganga.

Keruan kejut Ciok Goan bukan kepalang cepat ia mundur beberapa langkah.

Terdengar orang itu mengejek dingin.

"Kukira Hek-swan-hong punya tiga kepala enam tangan, ternyata hanya nama kosong belaka! Hm, mau lari kemana?"

Ciok Goan menjadi girang, teriaknya.

"Aku bukan Hek swan hong. Aku, aku, aku adalah....."

Belum sempat ia menyebut namanya, pundaknya sudah kena dicengkeram oleh lawan. Dilain pihak, Bing Ceng-ho sudah bergebrak tujuh jurus tiba tiba lawannya itu berseru kaget dan heran, teriaknya.

"Bukankah kau Bing-lopiauthau dari Hou-wi Piaukiok?"

"Benar, memang aku yang rendah."

Sahut Bing Ceng-ho merandek.

"Saudara ini....."

Orang itu menanggalkan kedoknya, lalu bergelak tawa.

"Bing-toako, kau tak kenal aku lagi?"

Kejut dan girang hati Bing Ceng-ho, serunya.

"Ha, ternyata Huwan Thocu adanya, bagaimana kau datang kemari?"

Ternyata lawannya bernama Huwan Pau, beberapa tahun yang lalu sebagai begal tunggal yang kenamaan.Kira kira duapuluh tahun yang lalu Bing Ceng-ho baru naik pangkat menjadi congpiauthau, pernah satu kali melindungi sebuah barang hantaran yang sangat mahal nilainya keselatan, dari kabar berita yang diperoleh katanya Huwan Pau hendak merampas barang hantarannya ini.

Maka Bing Ceng ho mengundang seorang sahabat kentalnya yang kenal dengan Huwan Pau, sebelum berangkat sudah berkunjung dan memberi kado terlebih dulu, sejak itulah mereka berkenalan, sehingga barang hantarannya itu selamat ke alamat yang dituju.

Tak lama setelah kejadian itu, mendadak Huwan Pau menghilang dari kalangan Kangouw.

Bing Ceng-ho mencari tahu jejaknya namun tak berhasil, tiada seorangpun yang tahu kemana dia pergi.

Huwan Pau berkata.

"Sangat panjang ceritanya, nanti kita bicarakan lagi. Hei, sama kawan sendiri saudara Toko berhenti dulu.."

Tepat saat itu, kawannya mencengkeram tulang pundak Ciok Goan, untung Huwan Pau keburu mencegah, orang itu lantas lepas tangan, tegurnya.

"Salahmu sendiri menyerang dengan keji? Maaf membuat kau sakit !"

Badan Ciok Goan basah oleh keringat dingin sesaat, kesima tak mampu bersuara.

"Inilah Ciok Ji cengcu dari Tay-hong hu.'' segera Bing ceng ho memperkenalkan.Belum sempat Huwan Pau memperkenalkan kawannya, mendadak seorang berlari-lari mendatangi, dari jauh sudah berteriak.

"Toko Hiong, kau tidak angon (mengembala) kuda didesamu untuk apa datang keatas gunung belukar ini ?"

Ternyata tiga orang yang tidur dalam gua menjadi kaget dan terbangun mendengar pertempuran diluar.

Phoa Tin, Nyo Tay-him berindap-indap mengintil keluar dibelakang Hian-king Totiang.

Orang yang bicara adalah Hian-king Tojin.

"Kau hidung kerbau tidak sembunyi di Sam-cing-koan, apakah minta sedekah disini ?"

Segera Toko Hiong balas mengolok-ngolok. Bing Ceng-ho semakin girang, ujarnya.

"Rupanya kalian kenalan lama, ini lebih baik sekali."

Kata Hian king Tojin .

"Toko Hiong, mungkin sudah puluhan tahun kita tak berjumpa bukan ? Bagaimana dagang hewanmu?"

"Sudah lama aku tidak beternak,"

Sahut Toko Liong.

"Sekarang, sekarang...."

Ternyata dia dulu adalah pemilik tiga belas peternakan kuda dan sapi yang terbesar di Kwan-gwa.

Merupakan jagoan yang kenamaan di daerahnya.

Hian-king Tojin pernah minta derma dan dana di Kwan-gwa, maka mereka kenal dan bersahabat karib.

"Lalu apa pekerjaanmu sekarang?"

Tanya Hian-king Tojin."Coba kau dulu bercerita, untuk apa kalian berada di sini ..."

Bing Ceng ho tahu orang sangsi, cepat ia memberi penjelasan .

"Kita menepati undangan di karang kepala harimau. Ciok-jicengcu ini sudah tahu keparat itu berjulukan Hek-swan hong."

Huwan Pau bertanya .

"Kalian punya permusuhan apa dengan dia, apa tak bisa diselesaikan cara damai ?"

"Keluarga Ciok kita punya dendam kesumat sedalam lautan."

Ciok Goan menjelaskan sambil kertak gigi.

"ada aku tiada dia, ada dia tiada aku."

Menurut batin Bing Ceng-ho sudah tentu sangat harap bisa menyelesaikan persoalan secara damai dengan Hek-swan hong, namun di mulut ia tak leluasa bicara, katanya .

"Hampir saja Hou-wi Piaukiok kami tutup pintu karena perbuatannya, kitapun punya permusuhan yang mendalam."

"Hidung kerbau, kenapa kau kemari ?"

Tanya Toko Hiong. Hian-king Tojin berkata dingin.

"Aku datang membantu Ciok-toa cengcu, aku ingin belajar kenal beberapa jurus ilmu silat Hek-swan-hong itu, Hek-liong Taysu ini juga setujuan dengan aku."

Toko Hiong segera berkenalan dengan Hek-liong Taysu, katanya tertawa .

"Nama Taysu yang muliasudah lama kudengar, kita sama gelandang dari Kwan-gwa ternyata baru kenal di Tionggoan sini."

Hek liong Taysu mengetahui bahwa Toko Hiong adalah tokoh silat kosen di Kwan-gwa, Lui-sin-ciang belum pernah mendapat tandingan. O^~dwkz^hendra~^O

Jilid 02 Wataknya takabur dan sering mengagulkan diri, tapi berhadapan dengan Toko Hiong, ia merasa derajatnya lebih rendah, katanya mengada-ada.

"Saudara Toko terlalu mengagulkan aku, Hwesio pemakan daging anjing seperti aku mana bisa disebut mulia. Waktu di Kwan-gwa bukan aku tak sudi berkunjung, soalnya aku merasa derajat terlalu rendah. Untunglah bisa jumpa disini, hahaha sungguh sangat kebetulan."

"Apanya yang kebetulan ?"

Tanya Toko Hiong. Hek-liong Taysu melengak, katanya menegas .

"Bukankah kamu diundang menghadiri pertemuan di karang kepala harimau itu?"

Baru sekarang Toko Hiong jelas tentang permusuhan mereka dengan Hek-swan-hong, legalah hatinya, katanya.

"Kita tidak diundang justru hendak mencari perkara kepadanya.""Kalau begitu dia musuh kalian juga."

Demikian Bing Ceng-ho berkata.

"Marilah kita berunding cara menghadapinya, tapi ada permusuhan apa diantara kalian dengan Hek-swan-hong itu !"

Hian-king Tojin mengajukan pertanyaan yang belum terjawab .

"Toko Hiong, apa kerjamu sekarang? Boleh dijelaskan bukan?"

"Mari kita bicara dalam gua saja."

Ajak Toko Hiong.

"Kenapa begitu rahasia ?"

Hian-king Tojin mengolok olok sambil tertawa.

"He, tahulah aku, ternyata bukan kita saja yang gentar dan ketakutan menghadapi Hek-swan-hong, majikan ternak yang kenamaan seperti kaupun merasa keder ? Kau takut gerak-geriknya yang seperti setan alas itu mencuri dengar kata-katamu ?"

"Hati hati kan lebih baik."

Jawab Toko Hiong sambil tertawa nyengir. Setelah berada dalam gua, Toko Hiong bicara sambil menekan suaranya .

"Bicara terus terang, sekarang aku adalah pembantu Wanyen Ciangkun !"

Huwan Pau lantas melanjutkan .

"Kita bukan orang luar, akupun bicara terus terang saja. Sudah delapan belas tahun aku mengabdi dalam istana raja. Sahabat Kangouw tiada yang tahu. Kali ini Wanyen Ciangkun mohon izin dari raja, sementara aku ditugaskankeluar, membantu saudara Toko menyerahkan sebuah perkara."

Wanyen Ciangkun yang dimaksud adalah Wanyen Tiang ci, komandan Wi lim kun di kerajaan Kim.

Wanyen Tiang ci adalah paman raja, walau jabatannya hanya komandan Wi-limkun, tapi punya kuasa kemiliteran, kecuali sang raja tiada orang kedua yang punya kekuasaan tertinggi seperti di kerajaan Kim.

Apalagi dia adalah seorang persilatan yang kenamaan, termasuk satu diantara tiga tokoh kosen dari kerajaan Kim.

(dua orang yang lain adalah Bu-lim-thian-kiau yang bernama Can ih ciong, seorang lagi adalah Koksu kerajaan Kim bernama julukan Thay-kiu Hwesio).

Hian-king Tojin menyeringai tawa, serunya .

"Saudara Toko, sekarang kau punya pangkat dan menjadi hartawan tak heran kau menghilang dari Kangouw. Selamat, selamat !"

"To-heng, jangan kau kelakar,"

Ujar Toko Hiong.

"walau aku menjabat pangkat, tapi tugasku selalu memusingkan kepala."

"Bukankah kalian bisa hidup senang dan bahagia di istana, ada kesukaran apa lagi ?"

Tanya Hian-king Tojin.Kata Toko Hiong .

"Aku menaruh hormat kepada kau, sebaliknya hidung kerbau seperti kami ini sengaja tanya."

"Urusan itu mengenai Hek-swan-hong juga ?"

Huwan Pau menjelaskan.

"Benar,"

Senggak Bing Ceng-ho.

"untuk urusan apa pula kalian mencari Hek-swan-hong, sekarang boleh terangkan kepada kita beramai ?"

"Coba kalian terka siapakah sebenarnya Hek swan hong itu?"

Toko Hiong berlagak.

"bukan saja dia sebagai iblis yang mengganggu kalian, dia adalah buruan pihak kerajaan Kim kita !"

Huwan Pau melanjutkan.

"Tiga bulan yang lalu, keparat itu menyelundup ke istana Wanyen Ciangkun dan mencuri barang milik Ongya yang penting sekali. Dia tidak meninggalkan nama, sudah tentu sangat menyulitkan para rendahan seperti kita ini."

Barang pusaka apakah yang telah dicurinya? tanya Nyo Tay-him heran, pikirnya .

"Dalam istana banyak benda-benda pusaka yang tak ternilai harganya, yang dicuri itu pasti benda yang berharga melebihi satu kota."

"Benda apa yang hilang, kita tak berani bertanya kepada Ongya,"

Toko Hiong merengek.

"tapi Ongya menugaskan kita untuk meringkus bocah keparat itu."

Sebetulnya yang dicuri Hek-hwan-hong bukan barang pusaka, tapi nilainya jauh lebih berharga darisegala benda pusaka, yaitu sebuah konsep kemiliteran yang dibuat sendiri oleh Wanyen Tiang-ci untuk menyerbu dan mencaplok kerajaan Song selatan.

Bencana ini sudah disebar luaskan tunggu merealisasikan saja, kalau hendak diubah dan membatalkan gerakan ini, waktunya sudah tidak terkejar lagi, terpaksa ia kirim berita kilat memerintahkan seluruh panglima dari berbagai sektor dan pangkalan untuk menundakan gerakan tentaranya.

Bersama itu ia memberi batas waktu supaya pencuri itu lekas dibekuk dan diberi hukuman yang setimpal.

Seluruh jago Wi-limkun dan bayangkhari istana dikerahkan, Huwan Pau dan Toko Hiong hanya merupakan salah satu grup yang mengejar jejak penjahat itu.

Kata Bing Ceng-ho.

"Huwan-heng, kalian datang tidak diundang, bagaimana pula bisa mengetahui kalau ada pertemuan di karang kepala harimau?"

"Sebetulnya hanya kebetulan saja,"

Sahut Huwan Pau.

"Aku punya seorang kawan dari golongan hitam yang bernama Poan-koan sin pit Lian Hou bing, apa kau ingat akan orang ini?"

"Dia merupakan tokoh kosen nomor satu dalam ilmu silat tutuk di kalangan kangouw masa aku bisa lupa?"

Demikian jawab Bing Ceng ho.

"Benar,"

Ujar Huwan Pau.

"tokoh kosen nomor satu ilmu tutuknya di kalangan kangouw itulah yang punya pertikaian dengan Hek-swan-hong. Malah diapunterdaftar dalam undangan Hek swan hong untuk hadir dalam pertemuan disini."

Ciok Goan bertepuk girang, serunya.

"Kalau begitu Poan-koan sin-pit Lian Hou bing juga datang menepati undangan di karang kepala harimau ini ?"

"Tepat,"

Sela Toko Hiong.

"dari mulutnya kita memperoleh berita ini."

"Selamat, selamat!"

Ujar Ciok Goan berseri.

"Kalau berhasil membekuk Hek-swan-hong, tentu kalian bakal naik pangkat dan mendapat anugrah besar."

Hiat-king Tojin menimbrung dengan nada dingin.

"Bakal sukses atau bakal ketiban bencana masih belum tahu. Seperti pepatah mengatakan. bagai yang buka restoran tak usah kawatir si perut gendut, kalau Hek-swan-hong tidak punya kemampuan, mana berani mengundang begini banyak bangkotan silat dalam waktu dan tempat yang sama?"

Kata katanya ini merupakan air dingin yang mengguyur badan hingga merinding, keruan Ciok Goan uring-uringan dan dongkol dibuatnya, tapi dia tak berani mengumbar adat, terpaksa berkata dengan tertawa dibuat buat.

"Kenapa kau selalu menyindir, mengagulkan musuh melemahkan pihak sendiri!"

"Menilai musuh agak tinggi juga betul dan ada baiknya,"

Ujar Bing Ceng ho.

"Saudara Toko dan saudara Huwan, apakah kalian sudah memberi lapor tentang berita ini kepada Ong-ya kalian?"

Di mulut ia bertanya, dalam hati ia membatin.

"Anak buahWanyen Tiang ci yang berkepandaian tinggi sangat banyak kalau mendapat berita ini, bukan mustahil akan mengirim jago-jago kosennya kemari, terang pihak kita lebih kuat dan pasti menang."

Demi menjaga nama baik dan gengsi Toko Hiong dan Hu-wan Pau tak enak utarakan maksud hatinya ini.

"Baru beberapa hari yang lalu kita mendapat berita ini,"

Jawab Toko Hiong.

"Untuk melapor waktunya sudah tidak keburu, apalagi menurut apa yang kita dengar, katanya Lian Hou bing juga akan mengundang beberapa pembantu yang dapat dipercaya, di samping itu, he.he, hehe....."

Ciok Goan dapat menyelami maksudnya, sambungnya tertawa.

"Tepat, inilah kesempatan yang diberikan oleh Lian Hou-bing kepada kalian untuk mendirikan pahala dan mendapatkan anugrah raja, kenapa harus membagi rejeki ini kepada kerabat lainnya?"

Toko Hiong bergelak tawa, ujarnya.

"Bukan begitu maksudku. Yang terang Hek-swan-hong akan hadir seorang diri, kita ada sedemikian banyak orang, betapapun rada memalukan. Betul tidak kataku?"

"Benar,"

Huwan Pau menimbrung.

"bicara terus terang, sebelum ini tidak tahu kalian pun bakal berhadapan dengan Hek-swan hong, sekarang kita sudah bergabung, kenapa takut menghadapi Hek-swan-hong?"Kecuali Hian-king Tojin, setiap orang mengatakan tidak takut, sebetulnya hati mereka jauh lebih takut dari Hian-king Tojin. Begitulah nanti punya nanti akhirnya fajar telah mendatang, setelah terang tanah baru semua orang berani naik gunung. Puncak Liang-san ada sembilan, Hong san, Peng-san, Hou-thau-san, Kiam-san, Ceng liong san, Kau cu san, Hong-hong-san, Kui san dan To-san. Letak Hou thau-san (karang kepala harimau) disebelah selatan, dinamakan pula Song-kang-hong, keadaannya sangat bahaya, jalan menuju kepuncak lebarnya cuma beberapa kaki, kedua belah samping adalah jurang curam yang sangat dalam jalanan licin lagi. Kecuali menyusuri ngarai sempit sebelah utara, tiada jalan kedua dapat mencapai ke puncak tertinggi. Begitulah mereka beriring naik keatas melalui ngarai sempit dari jurusan utara, angin menghembus keras berserabutan di pinggir telinga, pepohonan bergoyang gontai. Debu dan pasir menyampok muka sehingga hampir saja mata sukar dibuka. Jalanan gunung kecil berliku-liku, lumut melicinkan jalan, dalam rombongan itu Nyo Tay-him berkepandaian paling rendah, berjalan di jalanan yang sukar begini, Ginkang adalah yang paling diutamakan, badannya tinggi besar dan berat lagi, maka setiap melangkah hatinya kebat kebit badan gemetar.Oh Kan mengerut alis, terpaksa ia menggandeng, Nyo Tay-him menggerutu dan mengumpat .

"Maknya Hek-swan hong, dunia begini luas kenapa justru dia mengundang kita ketempat sarang setan alas begini, kalau tuan besarmu tidak seberat seratus delapan puluh kati, mungkin sudah terhembus roboh oleh angin edan ini."

Hian king Tojin tertawa menggoda;

"Julukannya Hek swan-hong (angin lesus hitam) kenapa heran kita diundang kemari. Nyo lote mungkin kau belum tahu nama tempat ini bukan ?"

"Aku belum pernah datang ketempat ini dari mana bisa tahu tempat apa ini ?"

Sahut Nyo Tay-him dengan napas memburu.

"Ngarai sempit ini dinamakan Hek-hong-gau (mulut angin hitam),"

Demikian Hian-king Tojin menjelaskan.

"angin disini besar sekali. Konon kabarnya orang-orang gagah Liang-san waktu masih bercokol disini, Hek-swan-hong Li Loklah yang menjaga di Hek-hong-gau ini. Nama julukan orang itu juga Hek-swan-hong maka tak perlu heran ia mengundang kita ketempat ini. Bukan aku suka omong tak genah, aku kawatir cara menggunakan tipu memancing ikan masuk ke dalam jaring, dia menipu kita naik keatas gunung, lalu dia meniru Hek swan-hong Li Lok dulu menjaga jalan mundur Hek-swan gau sini, jelas kita bakal tak bisa turun gunung lagi."Toko Hiong mendengus, serunya .

"Justru aku tidak percaya Hek-swan-hong sekarang mampu dibanding dengan Hek swan-hong Lik Lok dari Liang san-pek dulu itu!"

"Kalau tidak masuk sarang harimau mana dapat meringkus anak harimau "

Begitulah Ciok Goan ikut menjengek dengan tertawa dingin.

"paling tidak kita pasrah nasib dan mengadu jiwa saja."

Sebaliknya Bing Ceng-ho membatin dalam hati .

"Kau hendak mengadu jiwa silahkan, aku tak sudi mengiringi kehendakmu. Yang kuharap hanyalah dapat menyelamatkan perusahaan angkutanku saja."

Begitulah dalam sanubari masing masing punya perhitungan sendiri, mereka terus memanjat keatas gunung.

Setelah mengalami berbagai rintangan, akhirnya mereka tiba di atas, tempat ini dulu merupakan salah satu markas besar Liang-san pek yang dinamakan Tiong-gi tong, tanah disini rada datar, dan masih kelihatan bekas puing puingnya.

Dengan jantung kebat kebit dan ketakutan mereka meluruk keatas gunung, tapi disini tak kelihatan bayangan seorangpun.

Padahal mereka menyangka Hek-swan hong sudah menunggu sekian lama.

Terdengar Bing Ceng-ho buka suara .

"Kenapa Lian Hou-bing tidak kelihatan ?""Dia pasti datang,"

Kata Huwan Pau.

"mungkin karena harus mengundang lebih banyak bala bantuan sehingga sedikit terlambat."

"Sebaliknya aku rada curiga, entah muslihat apa yang diatur Hek swan-hong?"

Phoa Tin ikut bicara.

"Lebih baik kalau dia tidak datang hari ini,"

Kata Bing Ceng-ho.

"nanti setelah Lian-toako tiba, kita akan lebih banyak tenang, bukankah lebih melegakan?"

Tak nyana tunggu punya tunggu, Hek-swan hong tetap tidak muncul, Poan-koan-sin-pit Lian Hou-bingpun tak kunjung tiba.

Sang surya sudah tergantung tinggi ditengah2 cakrawala, hari sudah hampir lohor.

Ciok Goan tidak sabar menunggu, makinya.

"Apakah Hek-swan-hong sengaja menggoda kita dengan permainan ini?"

"Apa yang pernah dia katakan tentu dilaksanakan,"

Demikian Hian-king Tojin menjengek.

"Demikian juga kali ini, tentu dia tak membual."

Disaat semua orang bersitegang leher, mendadak terdengar sebuah teriakan panjang yang mengerikan, suara itu begitu menggiriskan sampai mendirikan bulu roma dan menggetarkan semangat.

Teriakan panjang yang ngeri ini membuat semua orang berjingkrak kaget.

Pertama-tama Ciok Goanmelonjak bangun serta teriak.

"Hek-swan-hong telah tiba kita lekas, lekas......"

"Ya, lekas, kita lekas lari."

Dari samping Hian-king Tojin mengolok. Ciok Goan berganti napas sebentar lalu melanjutkan.

"Lekas lihat kesana."

Oh Kan berkata.

"Tepat, setelah berada disini, kecuali mengadu jiwa, siapa yang bisa melarikan diri?"

Dimulut mereka bicara manis, namun langkah-langkah mereka menjadi kacau balau, ada yang jauh berlari paling depan namun ada pula yang main dorong mendorong di belakang.

Toko Hiong dan Huwan Pau terikat oleh tugas yang kerja, maka mereka berjalan paling depan.

Ciok Goan hendak membalas dendam bagi keponakannya dia mengintil dengan kebat-kebit.

Bing Ceng-ho menjaga gengsi sebagai Congpiauthau, iapun tak mau ketinggalan.

Sebaliknya Hian king Tojin berjalan lenggang kangkung sambil menggendong tangan.

Waktu tiba dimulut jalan masuk Karang kepala harimau, tampak di jalan yang menanjak keatas puncak dan licin berbahaya itu, seorang bersenjata poan-koan-pit tengah menubruk seorang gadis berpakaian serba putih.

Disamping masih ada empat lima orang, ada yang sembunyi dibelakang batu besar, ada yang berjongkok dibawah pohon, ada pula seorang laki-laki berusia tiga puluhan tengahmenggerung gerung dengan muka berlepotan darah, waktu ditegasi, ternyata kedua biji matanya sudah terkorek buta.

Huwan Pau terkejut, teriaknya.

"Lian-toako, apakah muridmu dilukai siluman perempuan ini?"

Sementara Toko Hiong serta Bing Ceng-ho lebih kejut, mereka bertanya-tanya.

"Mungkinkah perempuan siluman ini Hek-swan-hong?"

Ternyata laki-laki bersenjata sepasang poan-koan pit ini adalah Lian Hou bing yang berjuluk ilmu tutuk nomer satu di Kangouw.

Laki-laki yang kecolok biji matanya itu adalah muridnya yang paling besar.

Huwan Pau sudah lama bersahabat dengan mereka guru dan murid, ia tahu bahwa murid ini telah mendapat pelajaran tunggal seluruh kepandaian Suhunya.

Tapi dari suara teriakan yang ngeri tadi, terang hanya dalam gebrak pertama lantas kedua biji matanya dikorek keluar.

Lian Hou-bing berteriak pula.

"Tepat sekali kalian datang. Perempuan siluman ini bukan Hek-swan-hong, juga bukan komplotan Hek swan-hong. Kita tak perlu bicara tentang aturan Kangouw segala !"

Rupanya ia terdesak pontang panting oleh serangan si gadis baju putih.

Para kawan yang diundang untuk membantu melihat sang lawan begitu lihay, melihat biji mata muridnya terkorek buta begitu mengerikan, mereka jadi jeri dan ragu ragu untuk membantu.Terdengar gadis baju putih tertawa dingin !

"Hek swan-hong apa, aku yang mencari perhitungan dengan muridmu kurang ajar itu, peduli apa dengan Hek-swan-hong?

Hm, selamanya nonamu malang melintang seorang diri, buat apa harus berkomplot apa segala ?"

Toko Hiong berpikir.

"Dia bukan komplotan Hek-swan-hong, tak perlu kita mengikat lebih banyak musuh."

Belum lagi pikiran Toko Hiong terlintas dalam otak, terdengar gadis baju putih berseru sambil tertawa.

"Kalian adalah sahabat tua bangkotan ini bukan. Bagus sekali, silakan maju bersama tak perlu sungkan-sungkan! Bicara terus terang, aku hanya ingin mengeledek kera tua ini, rasanya masih kurang memuaskan selera!"

Tatkala itu Huwan Pau tengah mengobati laki-laki yang terluka biji matanya itu, secara bisik-bisik ia bertanya.

"Ada permusuhan apa kau dengan nona cilik itu, begitu keras ia turun tangan kepadamu?"

Saking kesakitan suara laki-laki itu menjadi serak, makinya.

"Perempuan siluman, sedikitpun aku tidak menyentuh perempuan siluman itu, siapa tahu bagaimana aku berbuat salah terhadapnya?"

"Berani kau menyentuh rambutku saja, siang-siang sudah kucabut nyawamu,"

Terdengar si gadis baju putih menjengek dingin.

"Hm, hari itu kau menguntitaku dijalan, bicara kotor lagi, adalah kejadian itu? Matamu memang buta, sebetulnya hari itu juga aku akan mengorek kedua matamu, sayang dijalan banyak orang, maka kutunda sampai hari ini. Siapa yang tidak terima silakan maju bersama."

Ternyata murid tertua Lian Hou-bing ini adalah maling pemetik kembang (pencuri cabul) yang terkenal di Kangouw, entah berapa banyak perempuan yang telah dinodai.

Mendengar penjelasan si gadis, semua orang tertawa gelak, tertawa karena mata pemetik bunga ini kurang jeli, mangsa yang diincarnya malah membuat celaka dirinya.

Diam-diam Bing Ceng-ho berkata dalam hati.

"Tak sudi aku bermusuhan dengan orang karena urusan cabul."

Banyak orang berpikir seperti dia, maka mereka bungkam tanpa bergerak.

Toko Hiong dan Huwan Pau sendiripun tak ingin bermusuhan, tapi Lian Hou-bing merupakan bantuan yang paling diandalkan untuk menghadapi Hek-swan-hong.

Kalau sekarang dirinya tidak membantu, bila sampai terluka oleh gadis baju putih, bukankah bakal melemahkan pihak sendiri nanti.

Mengambil kesempatan waktu si gadis bicara dan sedikit terpencar perhatiannya, mendadak Lian Hou-bing lancarkan serangan mematikan, kedua batang senjatanya bergerak silang terus merabu dengan dahsyat menutuk Hong-hu dan Hian-jiu, sebelahkanan menutuk Kui-cang dan Giok-i, empat jalan darah terbesar di tubuh manusia.

Toko Hiong juga seorang ahli dalam ilmu tutuk, tanpa merasa ia berseru memuji .

"sungguh ilmu tutuk yang hebat, sepasang potlot menutuk empat jalan darah mematikan !"

Belum lenyap suaranya terdengar suara "trang!"

Tahu-tahu Boan koan-pit di tangan kiri Lian Hou-bing mencelat ketengah udara.

Semua penonton tiada yang melihat jelas, cara bagaimana si gadis menggunakan jurus ilmu pedangnya, secepat kilat menolong diri balas menyerang dan menyentak lepas sebatang gaman Lian Hou-bing.

Gadis itu tertawa dingin, ujarnya.

"Bangkotan tua ini berani mengatakan hukuman kurang adil ? Kalau punya alasan silakan dekat, kalau tidak akan tiba giliranmu. Kalian siapa yang ingin membantu silakan maju, Nonamu tiada waktu menanti !"

Toko Hiong bisik-bisik, katanya .

"Hu-wan heng, mari maju bersama !"

Belum sempat mereka bergerak, tampak selarik sinar berkelebat di susul jeritan keras yang menyayat hati, tampak darah segar membasahi muka Lian Hou-bing.

Tapi kali ini bukan terkorek biji matanya, tapi terpapas sepasang kupingnya.

Gadis itu meloncat keluar kalangan, katanya .

"Keputusanku pasti adil, Lian Hou-bing memangtidak berdosa terhadapku, tapi kupingnya terlalu lemah, gampang dihasut oleh sang murid, maka kedua kupingnya itu harus dipapas saja. Lebih enak bukan dipapas kuping dari pada dikorek biji mata ? Kalian terima tidak keputusannya ?"

Orang lain mana berani bercuit, Toko Hiong dan Huwan Pau tanpa berjanji menarik kakinya yang hampir melangkah.

Harus dimaklumi bahwa kepandaian Lian Hou bing tidak lebih lemah dari kemampuan mereka.

Apalagi mereka menyaksikan Lian Hou-bing dipermainkan seperti kucing mempermainkan tikus, sudah tentu nyali mereka menjadi ciut dan mengkerut.

Gadis baju putih celingukan kian kemari dengan takabur, melihat tiada seorang yang berani maju, ia terkekeh-kekeh serunya .

"Bagus, kalian tiada yang menentang keputusanku yang adil ini. Aku mau pulang saja!"

Gema tawanya masih mendengung diatas pegunungan, hanya sekejap saja bayangan si gadis sudah menghilang tanpa jejak.

Semua orang saling pandang seperti orang linglung kehilangan semangat, entah apa yang harus dibicarakan.

Rada lama kemudian baru Lian Hou bing bicara .

"Selama hidup belum pernah orang she Lian terhina begini rupa. Ai, seorang budak kecil saja tidak ungkulan, main gagah apa lagi hendak menempur Hek-swan-hong !"Hubungan Huwan Pau rada kental dengannya, segera ia maju membubuhi obat, katanya .

"Tak perlu putus asa Lian-toako, ada begini banyak orang, kenapa harus takut menghadapi musuh tangguh ? Bangkitkan semangatmu kita beramai membekuk Hek-swan-hong, setelah itu cari kesempatan untuk menuntut balas kepada budak keparat itu !"

Lian Hou-bing mengedip-ngedip sepasang matanya, tiba-tiba ia mengalirkan air mata, katanya dengan hambar .

"Kau, apa yang kau katakan ? Ai, aku, aku tidak dengar suaramu!"

Baru sekarang Huwan Pau tersentak sadar dan maklum, setelah kupingnya terpapas oleh si gadis sekarang menjadi tuli.

Toko Hiong menjemput senjata Lian Hou-bing yang jatuh tadi, lalu menulis perkataan Hu-wan Pau diatas tanah.

Dalam hati Lian Hou-bing menjengek, batinnya.

"Manis dimulut saja kenapa tadi kalian berpeluk tangan?'' dalam keadaan cacat dan kepepet lagi, kecuali bergabung apa pula yang dapat dilakukan? Terpaksa ia manggut-manggut setuju. Di hadapan sang guru, murid yang telah picak itu menuding matanya yang masih mengalirkan darah dan berkata.

"Aku sudah buta, mana bisa berkelahi lagi?"

Lian Hou-bing maklum akan isyarat tangannya, tanpa terasa ia menghela napas rawan, ujarnya.

"Kaulah biang keladinya sehingga aku ikut celaka.Baik kau pulang lebih dulu. Kalau Hek swan-hong mengagulkan diri sebagai orang gagah tak mungkin turun tangan terhadap manusia picak macammu."

Dua orang sahabat undangannya cepat-cepat tampil kedepan serta berkata.

"Jalan pegunungan licin dan belak-belok, mana muridmu dapat turun gunung ? Biarlah aku yang mengantarnya pulang."

"Aku bukan takut terhadap Hek-swan-hong, namun menolong orangpun tak kalah pentingnya. Kudoakan semoga kalian sukses, lain waktu pasti Siaute datang kirim selamat."

"Baik, baik !"

Jengek Hian-king Tojin dingin.

"memang tepat sekali kalian menjabat tugas ringan ini."

Kedua orang itu anggap tidak dengar, mereka memayang murid Lian Hou-bing yang picak itu turun gunung dengan langkah lebar.

Saat mana mereka berdiri di mulut ngarai yang banyak angin, tiba-tiba hembusan angin pegunungan yang keras menerpa dengan kuat membawa debu dan pasir, semua orang bergidik kedinginan.

Mereka adalah kaum persilatan yang membekal kepandaian tinggi, sudah tentu tidak takut hawa pegunungan yang dingin.

Jadi kedinginan yang mendirikan bulu roma ini bukan karena hembusan angin pegunungan tapi timbul dari lubuk hati masing-masing karena rasa ketakutan.Tiba-tiba Toko Hiong tersentak sadar, ia mendongak melihat cuaca sang surya tepat di tengah cakrawala, ia berteriak.

"Hek-swan-hong mungkin segera tiba, kedudukan disini tidak menguntungkan, cepat kita kembali ke tempat semula !"

"Kita harus sepakat,"

Seru Ciok Goan.

"kalau Hek-swan-hong tiba, kita maju bersama membekuknya, siapapun tak boleh mundur."

Huwan Pau jengkel, jengeknya .

"Tak usah dipesan kedua kali oleh Ciok Ji-cengcu. Kita adalah musuh Hek-swan-hong, sudah tentu harus bergerak serempak."

Belum habis kata-katanya, mendadak terdengar sebuah suitan panjang yang melengking tinggi seperti naga mengeluh.

Semua terperanjat dan mendongak bersama, tampak diatas sebuah batu runcing menjulang tinggi diatas karang harimau sana berdiri tegak seorang menghadap kearah mereka, terdengar ia berkata lantang .

"Apakah kalian sudah lengkap, sudah lama aku menunggu !"

Orang ini berusia dua enam atau tujuh, bermuka persegi berkulit halus putih, kedua tangannya kosong tidak membekal senjata.

"Kaukah Hek-swan-hong ?"

Tanya Toko Hiong dengan suara tertekan.Maklum Hek-swan-hong malang melintang di utara dan selatan, pernah melakukan pekerjaan yang menggemparkan, tiada seorangpun yang pernah melihat muka aslinya.

Tiada yang menduga bahwa Hek-swan-hong yang menggetarkan dunia persilatan adalah seorang pemuda yang gagah ganteng lagi.

Orang itu bergelak tawa lebar, serunya .

"Aku tidak tahu apakah aku ini Hek-swan-hong. Kudengar julukan itu pemberian sahabat Bulim di Kanglam kepada seorang pendekar aneh. Aku sendiri terus terang tidak setanding Hek-swan-hong Li Lok dari Liang-san-pek dulu. Tapi yang mengundang kalian berkumpul dikarang kepala harimau memang aku."

Jelas memang dialah Hek-swan hong adanya.

Menurut rencana semula mereka menyerbu bersama.

Tapi setelah berhadapan dengan Hek-swan-hong, ada yang mundur malah, yang berdiri juga berdiri gemetar tanpa bergerak.

Hek-swan-hong muncul secara mendadak membuat mereka copot nyalinya.

Orang orang ini, adalah ahli silat yang punya kepandaian mata pandang empat penjuru kuping mendengar delapan jurusan, tapi tiada satu orangpun diantara mereka yang tahu kapan Hek-swan-hong tiba, setelah dia bersuit panjang baru mereka tersentak ketakutan.

Boleh dikata tanpa bertempur, Hek-swan-hong sudah bikin nyali mereka pecah dengan siutan yang berwibawa tadi.Toko Hiong dan Huwan Pau mengemban tugas Gi lim kun untuk membekuk Hek-swan-hong untuk membongkar perkara misterius di kerajaan Kim.

Setelah tenang, mereka berpikir.

"Orang ini berusia muda, belum tentu punya kepandaian sejati, mungkin hanya main gertak dengan suara dan mengandal Ginkangnya melulu.'' Terdengar Hek-swan-hong berkata lagi .

"Aku punya permusuhan berat atau ringan dengan kalian, hari ini kalian kuundang untuk menyelesaikan pertikaian itu. Tapi karena keadaan kalian tidak sama, akupun bekerja secara serampangan, maka harus kubedakan berat dan ringan persoalannya. Boleh kalian pilih sebelumnya cara penyelesaiannya, diselesaikan secara debat atau pakai kekerasan boleh pilih sendiri, bertanding secara kesatria atau main keroyokanpun boleh, mau adu jiwa atau main sentuh saja juga akan kulayani, silakan bicara lebih dulu."

Toko Hiong dan Huwan Pau saling mengedip mata, tiba-tiba melompat maju dari kanan kiri seraya membentak .

"Kau buronan dari istana, jangan banyak bicara, serahkan jiwamu !"

Hek-swan hong tertawa ujarnya .

"Baik, jadi kalian ingin adu jiwa ?"

Ditengah gelak tawanya, pelan-pelan Ciok Goan merunduk dari semak belukar di belakangnya, lansung menimpukkan segenggam pasir beracun.Ciok Goan berpikir picik dan licik, di saat Hek-swan-hong bicara dan menghadapi dua lawan berat, dia membokong dengan pasirnya, dengan harapan sekali gebrak mendapat hasil yang memuaskan.

Hek swan hong tengah mengawasi gerak gerik Toko Hiong dan Huwan Pau, rupanya tidak memperhatikan tingkah lakunya.

Baru saja Ciok Goan merasa girang, mendadak Hek-swan-hong menggapekan tangan, telapak tangannya seperti besi sembrani yang mengandung daya sedot hebat, pasir beracun yang bertaburan itu terjatuh ke dalam tangannya.

Terdengar Hek swan-hong tertawa dingin, ejeknya .

"Hanya pasir beracun begini masa dapat melukai aku ! Dikasih tidak membalas tentu kurang hormat, nih kukembalikan barangmu !"

Seiring dengan kata-katanya terlihat ia mengayun tangan, segenggam pasir beracun tadi ditabur kembali.

Waktu Ciok Goan menimpuk tadi merasa pasirnya terlalu sedikit, kini sebaliknya ia merasa pasir beracun terlalu banyak, menerpa dari berbagai penjuru dengan kecepatan penuh, untuk berkelit juga tidak mungkin lagi.

Lekas Ciok Goan kerahkan tenaga di kedua telapak tangan, menghantam serabutan sehingga angin menderu keras, harapannya dapat menyampok jatuh pasir pasir beracun itu.

Tapi tenaga Pik khong-ciangnya lebih lemah dari kemampuan Hek-swan-hong, dalam sekejap mata pasir beracun menerpa tiba, terpaksa Ciok Goan pejam kedua matanya.

Terasa seluruh muka panas dan gatal gatal seperti disengat kumbang.

Dia sendiri belum jelas akan kejadiannya tapi orang lain melihat jelas bahwa seluruh mukanya penuh dihiasi pasir pasir beracun.

Karuan seluruh muka menjadi jelek seperti oraug sakit lepra, burikan bertemu darah.

Menjadi burik tidak jadi soal tapi pasir penyabut nyawa miliknya itu sangat beracun, merupakan senjata manusia yang paling ganas, sedikit terluka dari peracunan, dalam jangka tiga hari seluruh tubuh bakal membusuk dan mati.

Ciok Goan terkena begitu banyak pasir, meski dia sendiri punya obat pemunahnya, betapapun harus segera diberi pertolongan, meski tertolong juga belum tentu dapat sembuh dan pulih seperti sedia kala, jiwanya mungkin tertolong tapi luka cacat sudah pasti jadi.

Ciok Goan meraba mukanya dengan tangan, telapak tangan belepotan darah, seketika terasa kesakitan yang tak tertahan lagi, karuan semangat seperti terbang ke awang-awang, dengan suara serak ia berteriak .

"Hek-swan hong, sungguh keji kau, kau, lekas bunuh aku saja!"

Mulutnya mengoceh, betapapun ia sangat sayang akan jiwa sendiri, ditengah teriakan seraknya tanpa peduli duri-duri dan batu-batu tajam cepat cepat ia menggelundung kesamping berusaha lari danmenyembunyikan diri supaya dapat membubuhi obat dimukanya.

Hek-swan hong bergelak tawa, serunya ;

"Aku belum ingin bunuh kau, takut apa ? Aku hanya menghukum sesuai dengan perbuatan orang itu sendiri, tiada niatku yang lain."

Saat mana Ciok Goan sudah menggelinding ke lereng bukit, terdengar Hek-swan-hong meninggikan suaranya.

"Aku tidak ingin bunuh kau, tapi ingin pinjam mulutmu untuk menyampaikan berita. Kau dengar ! Lekas pulang dan beritahu kepada engkohmu, dia harus mengekang seluruh murid dan keluarganya, harus menutup pintu dan mencuci hati membina diri. Kalau berani bersimaharaja dan berbuat jahat di Kangouw, seluruh warga Ciok ke cheng, kecuali tidak berkeliaran diluar, siapapun takkan kuberi ampun !"

Sebetulnya Toko Hiong dan Huwan Pau sudah menubruk maju bersama hendak menyerang Hek swan-hong, melihat Ciok Goan yang berbuat licik, malah celaka sendiri keruan mereka terkejut dan jeri, seperti kena sihir mereka berdiri menjublek mematung di tempatnya.

Kalau mereka menubruk maju, Hek-swan-hong juga melompat maju, serunya dengan tertawa besar .

"Sekarang giliran kalian, kalian mendengar perintah penjajah Kim menangkap aku, ya bukan ? Nihsekarang aku menyerahkan diri, kalau kalian mampu coba tangkap aku !"

Betapapun Toko Hiong adalah tokoh kelas satu yang banyak pengalaman, meski kejut dan keder tapi tidak gugup.

Sebelum Hek-swan-hong menyentuh tanah, sebat sekali ia lancarkan sebuah pukulan keras.

Sedikit merandek Huwan Pao ikut bergerak, cepat sekali ia sudah melolos senjata yang berupa ruyung baja terus menyerang kedua kaki lawan yang belum sempat menyentuh bumi.

Hebat memang kepandaian Hek-swan-hong, ditengah udara mendadak ia jumpalitan seperti burung dara badannya meluncur turun, tangkas sekali kakinya menendang ruyung baja Huwan Pau, berbareng ''blang'' telapak tangannya menangkis pukulan Toko Hiong.

Toko Hiong rasakan telapak tangannya seperti menubruk dinding es, karena kaget kakinya menyurut mundur tiga langkah, mulut pun berteriak .

"Hayo maju bersama !"

Nyo Tay him si goblok segera menanggapi;

"Benar, jangan kita lepaskan penjahat ini, kalau sekarang tidak dibereskan kelak tentu menjadi bencana.'' diantara hadirin kepandaiannya adalah paling lemah justru ia maju lebih dulu. Hek-liong Taysu angkat tongkat besinya sebesar mangkok itu ikut menyerbu kedalam gelanggang, teriaknya .

"Hidup di kalangan Kangouwmengutamakan setia kawan, yang hanya buka mulut tak berani maju itulah kelinci bukan manusia!'' Mulut bicara lantang, sebetulnya hati takut setengah mati. Tapi ia sudah melihat Toko Hiong beradu pukulan dengan Hek-swan hong tanpa cidera, hatinya rada lega. Toko Hiong merupakan tokoh kosen yang kenamaan di Kwan-gwa sudah lama Hek-liong Taysu mengaguminya, pikirnya;

"Kalau saat ini aku tidak berjuang sungguh-sungguh, mana bisa mengambil hatinya ? Toko Hiong punya Lui-sin ciang yang ampuh sekali, ditambah Huwan Pau sebagai jago istana yang kuat, masa mereka tidak kuat menghadapi Hek swan hong. Apalagi masih ada Bing Ceng-ho, Oh Kan dan lain-lain ?"

Alasan lain, diam-diam ia sudah ambil putusan untuk bekerja mengikuti situasi, kalau bisa menang, ya bertempur sungguh, kalau keadaan tidak menguntungkan, dari samping cukup berteriak mengobarkan semangat tempur kawan sendiri saja.

Nyo Tay him bakal dijadikan tameng atau kambing hitam, bila perlu mencari kesempatan untuk langkah seribu.

Melihat Sutitnya sudah maju, sebagai Susiok sudah tentu Oh Kan tak mau ketinggalan.

Kebetulan Hian-king Tojin yang berada disampingnya maju dengan langkah pelan seenaknya, Oh Kan berpaling dan berteriak.

"Hai, Hian-king Totiang, apa maksudmu sebenarnya?"Hian king Tojin menyahut tawar.

"Kenapa gugup? Pertunjukan hebat dibabak terakhir! Siapa gagah dan siapa pengecut, bisa kau saksikan, tidak perlu kau mendesak aku."

Bing Ceng-ho juga adem ayem sambil melihat gelagat, tapi prakteknya jauh berlainan dengan tujuan Hek-liong Siansu, besar harapannya bisa rujuk dan damai saja dengan Hek-swan hong.

Dalam jangka pendek, disaat hadirin masih ragu dan saling dorong, sebelum mereka bergerak, situasi sudah berobah.

Terdengar Hek-swan hong terbahak-bahak serunya .

"Toko Hiong, latihan Lui Sin-ciangmu memang lumayan, sayang masih kurang mantap dan jauh dari sempurna."

Belum lenyap suaranya, tampak Toko Hiong terpental jauh tiga tombak, mulutnya melenguh seperti babi disembelih, darah segar menyembur keluar, dadanya terpukul serangan Hek-swan-hong, terluka dalam yang cukup parah.

Hek-swan hong berkata dingin.

"Pukulanku tak mematikan, anggaplah kau beruntung lekas pergi ! Awas, jangan kebentur di tanganku lagi."

Toko Liong memanjat doa syukur, seperti Ciok Goan tanpa peduli mati hidup orang lain segera ia melarikan diri.

Huwan Pau kurang beruntung, sekali samber Hek-swan hong berhasil merampas ruyung bajanya,dengan menghardik keras seperti elang menyamber anak ayam tubuhnya dijinjing terus diputar-putar dan dilontarkan jauh, waktu Huwan Pau merangkak bangun pundaknya kesakitan setengah mati, ternyata tulang pundaknya teremas hancur dengan Jong jiu hoat oleh Hek-swan-hong.

Kalau tulang pundak teremas hancur, bukan saja badan menjadi cacat, ilmu silat pun lenyap.

Terpaksa Huwan Pau gunakan dahan pohon sebagai tongkat, dengan terpincang pincang ia turun gunung.

"Itulah hukuman yang setimpal bagi anjing penjajah, apa kalian sudah lihat ?"

Demikian seru Hek-swan-hong memberi peringatan, mati atau hidup orang ia tidak hiraukan lagi. Hek liong Siansu sembunyi di belakang Nyo Tay-him, mulutnya berkaok;

"Hayo maju bersama !"

Mulutnya berkaok tapi kakinya tak bergerak, bila keadaan berbahaya ia siap angkat kaki alias melarikan diri.

Melihat Huwan Pau dibikin cacat dalam segebrak, berdebar jantung Nyo Tay-him, tapi tangannya terkepal kencang, dengan jurus Hek-hou-to sim (harimau hitam mencuri hati) tinjunya menggenjot, seraya berteriak;

"Tak kuat melawan juga harus kuhajar kau. Aku tak sudi dianggap pengecut apalagi anjing atau beruang !"

Jurus Hek-hou-to sim menyentuh baju Hek swan-hong saja tidak.

Begitu bernafsu ia memukul sehinggatinjunya memukul tempat kosong, belum lagi ia menarik tangan, tiba-tiba tubuhnya terangkat tahu-tahu dijinjing Hek-swan-hong, kontan tubuhnya terbang seperti naik awan jungkir balik beberapa tombak jauhnya.

Waktu badan terbang di udara, sungguh kejut dan takut Nyo Tay-him setengah mati, arwahnya seperti copot dari badan kasarnya.

Dibawah adalah batu padas yang runcing dan keras, bila terbanting pasti kepalanya pecah berantakan.

Tak duga seperti dijinjing dan diletakkan lagi kedua kakinya menyentuh tanah hinggap diatas batu datar tanpa kurang suatu apa.

Hek-swan hong terbahak-bahak serunya.

"Kau berani berkelahi sudah tentu bukan pengecut. Pergilah !"

Seiring dengan gelak tawanya, mendadak tangannya meraih dan mencengkeram kearah Hek-liong Siansu.

Setelah kehilangan tameng hidup, terpaksa Hek-liong Siansu harus mengeraskan kepala melawan, tongkat besinya diputar untuk melindungi badan.

Hek-swan-hong menjengek dingin, makinya.

"Hwesio liar macammu juga berani meluruk ke Tionggoan membuat onar lagi."

Ringan sekali ia menepuk dengan Su-nio poat-jian-kin tenaga pelemas dan menyedot menggeser arah samberan ujung tongkat besi lawan, Hek-liong Siansu tak kuasa berdiri tegak, tubuhnya sempoyongan dan jatuhterjerembab, tongkat besi sebesar mulut mangkok itu terampas oleh musuh.

Sambil mengacungkan tongkat besi itu Hek-swan hong berkata.

"Tongkat murid Budha ini, sebetulnya untuk menjaga keselamatan dan menyebar kebajikan. Keparat macammu ini tidak mematuhi ajaran dan tata tertib agama, berbuat jahat dan kurang ajar lagi, buat apa tongkat besimu ini?"

Lenyap suaranya tongkat besar itu terbang lurus kedepan dan.

"cras!"

Seperti ledakan bom bergema dialam pegunungan, sehingga memekak telinga, bumi seperti tergetar.

Tongkat besar itu tertancap di dinding batu gunung di seberang sana, hampir separoh melesak kedalam batu gunung yang keras itu.

Batu kerikil dan lelatu api memercik beterbangan.

Kaget dan takut pula Hek-liong Siansu, serasa arwah meninggalkan badan suaranya gemetar .

"Sebetulnya aku tidak mencari perkara dengan kau. Ciok Goan memaksa aku kemari, aku... aku terpaksa mengiringi kehendaknya. Kau tadi melihat sendiri, aku... aku tidak turun tangan lebih dulu!'' "Jangan cerewet !"

Sentak Hek-swan hong dengan muka masam.

"Sengaja atau tidak kau bermusuh dengan aku, bila kau patuh ajaran agama dan membatasi diri, aku ampuni jiwamu. Sekarang kau boleh pergi."

Melihat Hek swan-hong beranjak kehadapannya, berdetak jantung On Kan, katanya gemetar.

"Hekswan hong, lain orang takut padamu, aku, aku...."

Insyap tak mungkin meloloskan diri, ingin dia memancing bantuan Bing Ceng-ho dan lain-lain. Di mulut mengatakan tidak takut, namun suaranya tersendat makin lirih.

"Siapa bilang kau takut,"

Hek-swan-hong menyeringai.

"tapi kulihat nyalimu seperti kelinci, penakut!"

Insyaf tak bisa lolos, Oh Kan berpikir.

"Turun tangan lebih dulu menguntungkan, asal aku kuat bertahan puluhan jurus, Bing-lopiauthau dan Hian-king Tojin yang sudah berjanji tentu takkan berpeluk tangan !"

Sejak tadi ia sudah bersiap siaga, begitu Hek swan-hong bicara mendadak ia lancarkan jotosan keras.

Kepandaian Oh Kan yang sejati adalah Tok ciang (pukulan pasir beracun), ditengah jari jemarinya terselip pula sebutir bor beracun panjang tiga senti.

Ujung bor kecil ini sudah disepuh tujuh macam racun yang paling jahat, sekali kena kulit jiwa bakal melayang merupakan senjata rahasia yang paling ganas.

Perbuatannya boleh dikata merupakan dua kali bokongan yang licik.

Kalau senjata rahasianya diampukan, Hek swan-hong yang lihay itu betapapun sukar dilukai.

Kalau disembunyikan ditelapak tangan dan pura pura mengadu pukulan, bila lalai Hek-swan hong pasti kecundang.

Seumpama Tok soa ciang tidakdapat melukainya, asal ujung bor beracun itu melukai lawan, sama saja dapat menamatkan riwayatnya.

Siapa tahu meski perhitungannya sangat rapi, akibatnya sungguh diluar dugaan.

Jelas dan gamblang Hek-swan hong berdiri didepannya, begitu pukulan dilancarkan, pandangan matanya serasa kabur bayangan orang tiba-tiba hilang.

Mendadak bentakan Hek-swan hong menggelegar dipinggir telinganya, ia berjingkrak kaget, terdengar suara berdenting, bor kecil yang terselip ditelapak tangannya jatuh ditanah.

"Lari kemana?"

Hek-swan hong menghardik, dikata lambat kenyataan amat cepat, sekali raih ia cengkeram kuduk Oh Kan. Oh Kan berkao-kaok.

"Taihiap, am......... am. .... am.....pun!"

Suaranya tertekan.

"Diantara Kong tong ou, kau yang paling bejat,"

Cemooh Hek-swan-hong.

"mengingat Toa-suhengmu sudah bertobat dan menyesal membina diri ke jalan yang terang dosa kematian dapat diampuni, tapi sepasang tangan beracun ini harus dibikin cacat."

"krak !"

Kedua pergelangan tangan Oh Kan dipuntir remuk tulangnya.

Sekali ayun Hek-swan-hong tendang tubuh orang.

Seperti bola tubuh Oh Kan terpental ke tengah udara, sangat kebetulan jatuhnya tepat di samping Nyo Tay-him.

Tapi tidak beruntung seperti Nyo Tay him, tubuhnya terbanting keras.

Kedua pergelangantangan putus sudah kesakitan setengah mati, terbanting keras lagi keruan jatuh kelengar.

Nyo Tay-him si bocah goblok tidak tahu kalau Susioknya terluka parah, dia anggap kepandaian sang Susiok jauh lebih hebat dibanding dirinya meski ditendang oleh Hek-swan-hong, kalau dirinya tidak terluka, tentu Susiok juga tidak kurang suatu apa.

Tak nyana digoyang-goyang berulang kali, sang Susiok masih rebah lemah tak berkutik, keruan Nyo Tay him menjadi gelisah dan tersipu-sipu.

Hek-swan hong berkata .

"Tamparlah kedua pipinya, segera ia akan bangun."

"Mana berani aku pukul Susiok ?"

Rengek Nyo Tay-him merengut.

"Kecuali cara begitu, tiada jalan lain untuk menolongnya."

"Masa ada kejadian seaneh ini, apakah kau tidak ngapusi aku ?"

"Terserah, kau mau percaya!"

Nyo Tay-him berpikir .

"Kalau aku tidak tolong Susiok, tentu Susiok bisa maki aku. Apa boleh buat terpaksa harus kutampar dia."

Kedua tangannya terus terayun "plak, plok"

Ia tampar kedua pipi kanan kiri susioknya. Benar juga Oh Kan siuman."Terpaksa Susiok,"

Teriak Nyo Tay-him, ya takut ya girang.

"Hek-swan hong mengajarkan cara menolong kau, ternyata caranya memang mujarab !"

Malu dan jengkel pula hati Oh Kan, dengan menahan sakit ia berkata serak.

"Jangan bertingkah, lekas gendong aku turun gunung!"

Tulang pergelangan remuk, untung tidak putus, ia berpikir.

"Toa-suheng punya resep obat ribuan tahun, setelah tulang pergelangan sembuh aku masih dapat melatih kembali pukulan beracun itu."

Phoa Tin datang bersama Nyo Tay-him, melihat orang pergi, dia ingin ngeloyor juga, namun dihadapan Congpiauthau ia jadi malu dan segan.

Sekali putar tubuh sebat sekali Hek swan-hong berada dihadapannya, tanyanya.

"Phoa-piauthau, kau tak kuasa menyerahkan perkara perampokan ini kepada residen hingga kau meluruk kemari bukan?"

Saking ketakutan Phoa Tin tak kuasa buka suara. Bing Ceng-ho lantas berkata.

"Benar, harap suka dimaafkan, barang kawalan yang tak berarti itu bagi kita tak mampu untuk menggantinya."

"Ah, sungguh kurang hormat, tuan adalah Bing-congpiauthau bukan?"

Ujar Hek-swan-hong menjura.

"Benar, tua bangka ini berkecimpung di Kangouw untuk mencari sesuap nasi, harap tuan memberi kelonggaran,"

Kemudian Bing Ceng ho berdiplomasi,"semoga tua bangka ini tidak menyerahkan jiwa dan raga."

Hek swan hong terloroh-loroh, katanya.

"Persoalan Bing-lopiauthau bisa dirundingkan secara damai. Tapi urusan disini belum selesai, biar ditunda dulu sementara."

Sembari bicara pelan-pelan ia membalik tubuh, tahu-tahu sudah melejit kehadapan Lian Hou bing, jago tutuk nomer satu, mendadak ia berseru heran, katanya.

"Siapa yang mengiris kedua kupingmu?"

Sudah tentu Lian Hou-bing yang sudah tuli tak mendengar perkataannya, namun bisa menebak kemana arah pertanyaan itu, seketika hatinya menjadi pilu dan putus asa, pikirnya.

"Puluhan tahun aku bersimaharaja dalam golongan hitam. Hari ini berulang kali aku terhina dihadapan umum, lebih baik mati saja!"

Maka ia jadi nekad, sebat sekali Poan-koan pit menjojoh kearah Hek-swan-hong.

"Bagus, konon kau adalah jago nomor satu ilmu tutuk di Kangouw, meski kupingmu tuli, ilmu tutukmu masih lihay, ingin aku belajar kenal dengan kepandaianmu,"

Hek-swan-hong berkata sambil berkelit.

Lian Hou-bing sudah nekad adu jiwa, maka sepasang senjatanya berputar sekencang kitiran, hingga menimbulkan angin lesus.

Pusaran angin yang ditimbulkan dari gerak senjatanya cukup menerbangkan batu dan daun-daun pohon di sekitargelanggang, memang hebat dan ganas pula senjata potlotnya itu.

Hek-swan hong melawan dengan sepasang jari dirangkapkan sebagai potlot peranti menutuk jalan darah, serangan yang dilancarkan juga ilmu tutuk yang tidak kalah hebat dan lihay.

Puluhan jurus kemudian Hek swan-hong berkata.

"Kepandaian sepasang potlot menutuk empat jalan darah, hebat dan jarang ditemukan di dunia persilatan. Tapi julukan jago tutuk nomor satu rupanya terlalu diagulkan. Ilmu tutuk hanya permainan kembangan belaka, tapi silakan kau mencobanya."

Dia tahu Lian Hou-bing tidak mendengar ucapannya, kata-katanya memang ditujukan kepada orang lain yang menonton dipinggir.

Tepat pada akhir kata-katanya tiba-tiba gerakan Lian Hou-bing berhenti seperti patung, berdiri kaku di tempatnya tak bergerak lagi.

Senjatanya masih digenggam dan teracung kedepan seperti menusuk.

Hek-swan-hong berhasil menutuk jalan darahnya, lalu katanya.

"Kau harus kecundang sekali lagi, orang itu hanya memapas kedua telingamu, boleh dikata kau yang beruntung."

Tiada seorang penonton yang melihat tegas cara bagaimana Hek-swan hong berhasil menutuk jalan darah Lian hou bing, tahu tahu orang berdiri lurus dengan gaya yang lucu dan aneh seperti patung."Siapa lagi yang punya pertikaian dan ingin diselesaikan kepada aku?"

Hek-swan-hong berseru menantang. Mendadak terasa angin berkesiur, tampak sinar berkilau dari ujung pedang menusuk tiba dari samping, mengarah tenggorokan Hek-swan-hong, suara yang dingin berkata;

"Tiada pertikaian, Pinto hanya minta petunjuk ilmu pedang."

Orang ini bukan lain adalah Hian-king Tojin yang kenamaan dengan tiga belas jurus Sun-goan-kiam hoat.

Tusukan pedang secara mendadak dan cukup ganas pula, secepat kilat mengancam tenggorokan Hek swan-hong, maju satu senti saja ujung pedang sudah menembus tenggorokan.

Semua penonton menyangka Hianking Tojin lancarkan bokongan yang telak dan jitu karuan mereka terperanjat dan berseru ngeri.

Sebaliknya Hek swan hong berdiri tenang dan tegak, mata tidak berkedip tubuh tidak bergoyang air mukapun tidak berobah.

Seolah olah tidak terjadi apa apa dan tidak tahu kalau ujung pedang yang kemilau mengancam tenggorokan.

Ternyata begitu melihat Hian king bergerak, Hek swan hong sudah meraba kemana arah tujuan gerak pedangnya, seolah olah sudah diperhitungkan bahwa serangan ini hanya gertak sambel saja, hatinya berpikir.

"Kau hendak gertak aku, biar akupun gertak kau,"

Maka sikapnya acuh tak acuh.Bilamana Hian king Tojin merobah gertak sambel menjadi serangan sungguh sungguh diapun masih punya cara lain untuk menghadapinya.

Betul juga sesuai dugaannya, Hian king Tojin bersentak kaget malah, pikirnya.

"Gunung meletus mata tak berkedip, ketenangan macam ini baru sekarang kusaksikan, Hek swan hong betul betul sesuai namanya, menjulang tinggi dan bukan nama kosong."

Sesaat kemudian Hek swan hong tertawa lebar lalu berkata.

"Tusukan keras dan berat, tapi mengandung kelincahan yang luar biasa, bukankah yang kuhadapi bukan Hian king Totiang dari Kui goan si?"

Tak lebih Hian king Tojin hanya lancarkan sejurus ilmu pedang, lantas diketahui asal usulnya, keruan ia merasa kagum dan tunduk lahir batin, jawabnya.

"Tidak salah. Banyak terima kasih atas pujian ini, Pinto beruntung dapat bertemu, harap memberi petunjuk."

"Totiang jangan sungkan,"

Ujar Hek swan hong.

"sudah lama aku yang rendah dengar, tiga belas jurus Sun goan kiamhoat dari Kui goan si sedemikian hebatnya. Syukur hari ini bertemu aku pun ingin minta pelajaran dari Totiang."

Tiba tiba ia ulur tangan memetik sebatang dahan pohon sebesar jari manis, lalu melanjutkan .

"Totiang kuanggap sebagai tamu, aku yang rendah tak berani kurang adat memakai senjata tajam, biarlah kugunakan dahan pohon sajamohon diberi petunjuk, cukup saling tutul saja lantas berhenti, bagaimana?"

Hian-king Tojin sudah maklum bahwa kepandaian silat Hek swan-hong jauh lebih unggul dari kemampuannya, harapannya cukup asal dapat bertanding ilmu pedang saja, sungguh diluar dugaan bahwa orang menggunakan dahan pohon untuk bergebrak dengan dirinya, keruan Hian king Tojin sangsi dan malu.

Kalau dirinya juga menggunakan dahan pohon, bila lwekang kalah kuat sudah pasti kalah.

Kalau pakai pedang melawan dahan pohon terang menurunkan derajatnya.

"Sesama kaum persilatan mengukur kepandaian adalah kejadian jamak,"

Ujar Hek-swan-hong.

"kita bertanding saling tutul atau jamah saja kenapa mempersoalkan untung rugi segala ? Tuan rumah harus berlaku hormat kepada tamu, maka silakan Totiang mulai !"

Kalau yang dihadapi orang lain pasti sudah dimaki oleh Hian-king Tojin, tapi lawan menggunakan dahan pohon, kepandaian Hek-swan hong memang menakjupkan dan lihay itu sudah disaksikan sendiri, oleh karena itu bukan saja tak berani marah, malah hati rada keder dan segan.

Tapi terpikir olehnya .

"Aku hanya ingin melihat kehebatan ilmu pedangnya, kalau betul betul kuat dari aku, kenapa harus malu kehilangan muka ?"

Segera ia membuka suara.

"Baik, Pinto mulai dulu !"

Pedangnya berputar memetakankembang bersinar, tahu tahu ujung pedang menyelonong menusuk kearah musuh.

Hek-swan-hong berseru memuji, ringan sekali dahan pohonnya menyampok miring ujung pedang, serta sedikit menyendal dan menuntun pedang kesamping, tanpa kuasa pedang Hian-king totiang tertuntun kesamping.

Merah muka Hian king Tojin, katanya.

"Tak usah sungkan. Harap sungguh-sungguh memberi petunjuk !"

Sembari bicara pergelangan tangan membalik, berbareng tubuhnya mendesak maju dengan gerakan yang cukup hebat, kakinya melangkah menggunakan langkah Teng-san gua-hou (naik gunung menunggang harimau), pedangnya bergerak dengan jurus Tam-le-ki cu (menepuk keledai mengambil mutiara), tipu serangan ini cukup ganas dan lihay, maksudnya hendak mendesak Hek-swan hong balas menyerang.

Kebutan ringan dari dahan pohon Hek-swan-hong tadi, menggunakan tenaga lengket dari kepandaian silat tingkat tinggi.

Kegunaannya mengandal lwekang bukan jurus tipu ilmu pedang, maka boleh dianggap belum melancarkan ilmu kepandaiannya.

Hek-swan-hong berpikir.

"Kalau tidak menang dalam adu ilmu pedang tentu Tojin ini bukan mau mengalah secara lahir batin."

Memang dia ingin melihat keseluruhan dari permainan Sun-goan-kiam-hoat, maka ia berkata.

"Baik, aku menurut kehendakmu saja!"

Dahan pohon di tangannyadisendal keatas, meniru gaya serangan lawan serangannya menusuk tenggorokan lawan.

Jurus ini bergerak belakangan tapi sampai lebih dulu, cukup ganas lagi sehingga lawan harus menolong diri dulu sebelum mencelakai musuh, senjata yang digunakan meski hanya sebuah dahan pohon tapi membawa desir angin yang cukup keras, terang ia telah kerahkan tenaga murni, bila tertusuk tenggorokan pasti tembus mati konyol.

Hian-king Tojin tak berani menyerang lagi, cepat ia tarik kembali pedangnya untuk menjaga diri.

Gebrak permulaan dilancarkan secara gencar membadai, sekarang tiba-tiba bertahan, ini perobahan merupakan suatu pekerjaan yang sangat sulit, namun karena ilmu pedangnya sudah mencapai tingkat tinggi dapat bergerak menurut sesuka hati.

Walaupun gerak geriknya rada runyam, namun berhasil memunahkan serangan telak Hek swan-hong.

"Menyerang ganas bertahan kuat, Sun-goan-kiam hoat betul betul tak bernama kosong!"

Demikian puji Hek-swan hong, mulut bicara dahan pohon tetap bekerja lincah, setiap jurus mengandung tipu-tipu lihay yang menyerang gencar dari berbagai penjuru, sekaligus ia lancarkan serangan puluhan jurus.

Bermula Hian king Tojin memperhatikan, umpama lwekang sendiri bukan tandingan lawan, dalam hal ilmu pedang dirinya pasti lebih unggul.

Baru sekarang ia insyaf bukan saja Hek-swan hong lihay dalam ilmupukulan, lwekangnya tinggi, ilmu pedang ternyata jauh diatas kemampuannnya juga.

Hian-king Tojin kerahkan seluruh tenaga dan lancarkan permainan pedangnya yang paling hebat, kakinya beruntun menyurut mundur delapan langkah baru berhasil mematahkan serangan berantai Hek-swan-hong, sekarang situasi berobah lagi, disamping menyerang juga menjaga diri.

Puluhan jurus kemudian kedua pihak mulai lancarkan permainan tingkat tinggi, mendesak dan menyapu bagai kera menerobos semak pepohonan, mundur seperti ular naga berlenggok, melejit tinggi laksana burung elang melayang ke angkasa, menukik seperti harimau galak menerkam mangsanya.

O^~dwkz^hendra~^O

Jilid 03 Adu pedang kali ini sungguh hebat dan menegangkan, para penonton kabur pandangannya, semua menonton dengan menahan napas.

Setiap samberan pedang membawa angin deras menimbulkan keresekan daun-daun pohon yang berjatuhan.

Kira-kira setengah jam kemudian permainan Hek swan hong mendadak berubah, dahan pohon di tangannya berobah lincah laksana ular hidup yangmenjulurkan lidah, tiba-tiba depan lalu belakang, dilain saat dari kiri lalu menyergap dari kanan, gerak perobahannya sangat lihay dan sulit diraba.

Setiap jurus permainan Hian king Tojin seperti sudah diraba dan diketahui lebih dulu kemana juntrungannya, sehingga dengan mudah ia bergerak mendahului dan menjaga serta memunahkannya, keruan Hian-king menjadi kewalahan dan hanya bertahan saja.

Rupanya Hek-swan-hong sengaja memberi kesempatan Hian king Tojin memainkan tiga belas jurus Sun-goan-kiam-hoat.

Setelah lengkap menyaksikan intisari permainan ilmu pedang lawan maka dengan mudah ia meraba jurus demi jurus serangan pedang lawan itu karena Hian-king Tojin gopok dan bukan tandingannya lagi.

Besar hasrat Hian-king Tojin memapas dahan pohon lawan namun setiap jurus permainannya selalu dikunci lebih dulu.

Apalagi serangan pedang lawan selalu mengancam jiwanya pula, maka setelah bertempur sekian lama, meski memeras keringat hasratnya tetap kandas di tengah jalan.

Mendadak Hian king Tojin .

"Ilmu pedang jelas aku tidak bisa menang untung pertandingan ini hanya saling ukur kepandaian saja. Andaikata aku terluka bila dapat memapas dahan pohonnya, berarti pertandingan ini seri alias sama kuat."

Setelah ambil keputusan, sengaja ia bergerak lamban begitu dahanpohon Hek-swan hong menutul datang, tiba tiba pedangnya melintang terus menangkis serta menyontek.

tampak sinar pedang gemerdep.

Tak duga, meski perhitungan sangat muluk dan rapi, sayang sekali kejadian justru tidak memenuhi harapan, dalam kejap yang menentukan itu, Hian king Tojin merasa pergelangan tangan mendadak kesemutan, pedang panjangnya jatuh diatas batu-batu gunung dengan suara keras.

Dahan pohon yang dipetik Hek-swan-hong tadi dimana terdapat beberapa lembar daun hijau.

Tatkala Hek-swan hong meloncat keluar kalangan pertempuran, tampak dahan pohon itu masih utuh seperti semula, hanya daun yang terletak di paling ujung kurang dua lembar.

Hek-swan-hong membuang dahan pohon, katanya tertawa;

"Ilmu pedang bagus, ilmu pedang bagus ! Kalau orang lain tentu tak dapat memapas daun diatas dahan pohonku. Kita sama-sama menang satu jurus, anggap saja seri dan tak perlu dilanjutkan lagi."

Jengah muka Hian-king Tojin, katanya.

"Terima kasih akan kemurahan tuan. Pinto benar-benar tunduk dan mengaku kalah lahir batin."

Ternyata tutukan ringan dahan pohon dipergelangan tangan tadi ditambah tenaga, maka Sau yang sim-meh pasti terluka, ini berarti seluruh lengan kanannya bakal cacat selama hidup tak bisa bermain pedang lagi.Bing Ceng ho berkata;

"Pertandingan pedang ini betul betul membuat mata kita terbuka ! Ilmu pedang Hek Tay-hiap betul-betul menakjupkan, demikian juga kepandaian Hian-king Totiang tiada seorang diantara kita yang dapat memadai. Kalau aku mungkin tiga jurus saja tak mampu bertahan."

Sebagai bangkotan Kangouw yang pandai bicara kata katanya memang enak didengar. Sengaja ia membela kehormatan dan gengsi Hian-king Tojin, hakikatnya ia bicara dari perasaan lubuk hati yang dalam.

"Bing lopiauthau, jangan tempel emas di mukaku,"

Kata Hian king Tojin merendah.

"bicara terus terang, kedatanganku dikarang kepala harimau meski diundang oleh Ciok cengcu tapi tujuanku mencari kesempatan untuk belajar kenal dengan kepandaian Hek tayhiap yang hebat luar biasa. Memangnya kau anggap aku betul betul suka membantu kelaliman? Sekarang sudah terkabul keinginanku, kalau Hek tayhiap dapat memaklumi dan suka memberi kelonggaran, segera Pinto minta diri."

Hek swan hong tertawa, ujarnya;

"Maksud Totiang begitu bergebrak tadi lantas kuketahui. Aku tidak salah paham pada Totiang. Kalau sudi marilah kita ikat persahabatan !"

Ia ulur tangan, serta merta Hian king Tojin ulur tangan, mereka berjabatan, Hek-swan hong minta supaya tunggu lagi sementara waktu.

Sekarang tinggal urusan Piaukiok Bing Ceng-ho yang masih belum terselesaikan, kebat-kebit hati bingCeng-ho, dari samping ia mengawasi air muka Hek-swan-hong.

Hek-swan-hong berkata.

"Sebetulnya aku tidak bermaksud mempersulit perusahaan kalian. Soalnya harta benda milik Kan Goan-pek itu adalah harta benda rakyat jelata, betapapun aku tidak akan membiarkan dia menikmati harta benda yang tidak halal itu !"

Tenggelam perasaan Bing Ceng-ho, katanya tertawa getir .

"Tapi celaka adalah perusahaan kita karena Kan Goan pek menuntut kepada kita."

"Bing lopiauthau tak usah kawatir,"

Ujar Hek-swan-hong tertawa lebar.

"Urusan sudah kuselesaikan beres, pihak pemerintah takkan mencari perkara kepada perusahaan kalian!"

Kejut dan girang Bing Ceng-ho namun rada sangsi, katanya.

"Residen Kam mengutus seorang petugas menunggu jawaban kita di Soh-ciu, mana mungkin perkara ini dibikin selesai begitu cepat dan gampang? Bukan Losiau tidak percaya, harap tuan memberi penjelasan."

Hek-swan hong tertawa, ujarnya.

"Ada sebuah bukti boleh kau lihat, tanggung kau akan lega dan senang."

Lalu disodorkan sepucuk surat kepada Bing Ceng-ho, diatas sampul ada cap tanda kebesaran residen Kan Goan pek.

Itulah sepucuk surat perintah kepada petugas di Soh-ciu, surat itu menyatakan bahwa barang hantaran yang hilang telah dirampaskembali oleh pihak Hou-wi piaukiok, supaya penjahat di Soh ciu membatalkan perkara ini.

Keruan Bing Ceng ho kegirangan serunya;

"Bagaimana duduk perkaranya?"

"Aku suruh Kan Goan-pek membuat surat itu,"

Tutur Hek swan hong.

"Kawatirkan tidak percaya sampul surat ini kucuri dari gedung bupati Soh ciu. Perkara ini sudah beres, maka sampul surat juga dikembalikan. Kau sudah lihat, cap ini bukan palsu bukan? sekarang boleh kau kembalikan kepadaku."

Hian king Tojin tertawa katanya.

"Bing-lopiauthau, untuk selanjutnya bukan saja perusahaan hantaranmu tidak perlu tutup pintu, malah akan terima pahala !"

Saking girang Bing Ceng ho terbahak-bahak, dengan mulut tertawa lebar. Sambil mengembalikan sampul surat itu kepada Hek-swan hong, ia berkata.

"Setelah kehilangan harta bendanya yang tidak halal Kan Goan-pek pasti tak bisa makan dan tidur, beberapa hari ini kelihatan lebih sedih dari kematian orang tuanya. Sungguh diluar dugaan kalau dia mau menarik perkara yang sudah hampir diasingkan ini."

"Sudah tentu dia tidak mau tunduk,"

Ujar Hek swan hong.

"tapi terpaksa dia harus patuh ! Kalau dibicarakan betapapun aku harus berterima kasih kepada kau, kau meninggalkan sarang Kan Goan-pek dan datang disini sehingga aku ada kesempatan turun tangan."Ternyata setelah Bing Ceng-ho, Oh Kan dan lain lain meninggalkan gedung kediaman Kan Goan-pek baru Hek swan-hong menyelundup kekamar tidur Kan Goan-pek, rambut kepalanya digunduli, lalu meninggalkan sepucuk surat pernyataan yang sudah disiapkan sebelumnya diatas buntalannya dengan tusukan sebilah belati, dengan ancaman supaya menurun sepucuk pernyataan dengan tulisan tangannya. Setelah jelas duduk perkaranya, sungguh senang Bing Ceng-ho sukar dilukiskan, sungguh terima kasih dan malu serta menyesal pula. Batinnya .

"Tak kira Hek-swan hong begitu baik hati, perkara ini sudah selesai dan lebih beres dari harapanku semula."

Maklum beberapa patah kata Hek-swan-hong tadi sudah menjaga nama baik dan gengsinya.

Penjagaan gedung Residen Kan sangat kuat dan ketat, banyak jagoan-jagoan silat yang berkepandaian tinggi.

Hek swan-hong berhasil menyelundup kesana, pergi datang semau gue, sudah tentu bukan karena dirinya tidak berada di rumah keluarga Kan, sehingga dia ada kesempatan turun tangan.

Kata Hian-king Tojin dengan tertawa .

"Bing-lopiauthau, untuk selanjutnya kalau cari obyek kau harus lebih hati-hati, jangan asal mendapat untung saja !""Masa harus kau peringatkan lagi,"

Jawab Bing Ceng-ho.

"biar aku tutup pintu saja dari pada menghantar milik pejabat korup."

Sekarang tinggal urusan Lian Hou-bing yang belum beres.

Lian Hou-bing masih berdiri mematung di tempatnya setelah terkena tutukan tunggal perguruan Hek-swan-hong.

Kupingnya sudah tuli, namun kedua matanya masih awas.

Dengan mendelong ia saksikan para kerabatnya ngacir satu persatu ada yang dilepas Hek-swan-hong, ada yang melarikan diri dengan membawa luka-luka, meski terluka tapi jiwa selamat.

Kini tinggal nasib sendiri yang masih kepalang tanggung, keruan jantungnya kebat kebit.

Meski mulut tak dapat bicara namun perasaan batinnya terlontar dari pandangan matanya yang jelilatan, kelihatan betapa takut dan kawatir hatinya.

Hek-swan-hong terbahak-bahak, katanya.

"Keparat ini terlalu mengagulkan ilmu tutuknya dan suka mempermainkan lawan sekarang aku menghukumnya dengan caranya sendiri, semoga membuatnya kapok."

Hian-king Tojin berkata .

"Walaupun nama Lian Hou-bing tidak begitu baik dikalangan hitam, namun dia bukan penjahat yang menempuh banyak dosa. Kupingnya dipapas orang ini sudah setimpal dan sesuai perbuatannya, harap Hek-taihiap mengampuninya!"

"Ucapan Totiang memang benar,"

Kata-Hek swan-hong.

"menilai dosanya memang belum setimpaldihukum mati. Tapi dia mengumbar murid berbuat jahat sepatutnya kalau diapun mendapat ganjaran."

Kata Hian-king Tojin.

"Biji mata muridnya itu sudah dibikin buta oleh orang lain."

"Benar,"

Sahut Hek-swan-hong.

"aku ingin bertanya, siapakah orang itu? Apakah dia memberi pesan?"

"Seorang gadis baju putih yang rupawan,"

Jawab Bing Ceng-ho.

"Agaknya karena pertengkaran pribadi sehingga ia menghukum murid besar Lian Hou-bing dengan mengorek kedua biji matanya tapi tidak memberi pesan apa."

Secara singkat ia menceritakan cara bagaimana gadis itu memberi hukuman kepada Lian-Hou-bing dan muridnya. Hek-swan-hong berpikir sebentar lalu berkata.

"Murid besar itu memang jahat keliwat takaran, hukum korek biji mata terlalu ringan. Tapi Lian Hou-bing kehilangan kupingnya, hukuman ini cukup setimpal. Mengingat Totiang minta pengampunannya, baiklah biar dia pulang saja!"

Dua jari lengannya menyelentik, sekeping uang tembaga melesat tepat sekali mengincar Siang-ih-hiat ditubuh Lian Hou bing, kontan saja darahnya yang tertutuk bebas dan pulih kembali seperti sedia kala.

Lian Hou-bing menjemput kedua Boan-koan-pitnya, dengan mendelong ia awasi senjatanya itu, tiba-tiba menghela napas serta berkata rawan.

"Berlatih sepuluh tahun lagi pun aku bukantandinganmu, buat apa sepasang Boan-koan-pit ini? Untuk selanjutnya, biarlah di kalangan Kangouw tiada orang yang bernama Lian Hou-bing!"

Selesai bicara kedua senjatanya itu lantas dibuang kedalam jurang dibawah sana. Hek-swan hong manggut-manggut, katanya.

"Bagus, kaupun punya jiwa laki-laki sejati. Selanjutnya mencuci tangan mengasingkan diri saja, siapa tahu kelak kau mendapat hasil yang lebih besar!"

Begitulah sekali lagi Bing Ceng-ho serta Phoa Tin menyatakan banyak terima kasih yang tak terhingga besarnya, lalu bersama Hian-king Tojin minta diri turun gunung.

Setelah terjadi pertempuran sengit dan ramai, suasana karang kepala harimau kembali menjadi hening lelap.

Tinggal Hek-swan-hong seorang yang berdiri menjublek dengan rasa riang, pakaiannya melambai-lambai tertiup angin pegunungan.

Saking puas akan tindakannya ia bergelak tawa, setelah itu ia menunduk terpekur.

Apakah yang tengah dipikirkan?

Dia memikirkan peristiwa.

Pernah terjadi suatu ketika, ia hendak memenggal kepala seseorang buaya darat.

Buaya darat ini adalah sampah persilatan, kepandaiannya cukup tinggi, rumahnya dilindungi dan dijaga banyak tukang pukul berkepandaian lumayan, penjagaan sangat ketat.Sebelum turun tangan ia membuang banyak waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan sempurna.

Pernah ia bertemu muka secara berhadapan dengan Buaya darat itu, dia ingat betul betul wajah orang, lalu menyelidiki keadaan sekeliling rumah gedungnya buaya darat ini setiap malam tidur bergiliran dengan gundiknya yang tak terhitung banyaknya.

Tapi setiap tanggal satu dan lima belas tentu tidur sendirian dalam kamar bukunya.

Dia sudah mencari tahu, jelas dan rapi sekali, percaya bahwa penyelidikannya tidak meleset, baru ia bersiap turun tangan.

Tapi kenyataan hampir saja ia gagal.

Pada malam tanggal satu, cuaca sangat gelap angin menghembus kencang dengan kepandaiannya yang tinggi mudah ia menyelinap kedalam kamar buku itu, menyingkap kelambu dan baru saja pedangnya terayun hendak memenggal kepala buaya darat itu, mendadak terbang sebutir batu dari luar jendela, tepat sekali membentur ujung pedangnya.

"trang,"

Suaranya cukup keras, keruan laki-laki yang tidur diatas ranjang tersentak bangun.

Melihat seorang laki-laki sengaja berdiri didepan ranjangnya, secara spontan orang itu berteriak ketakutan.

Karena kebentur oleh krikil tadi sehingga ujung pedang Hek-swan-hong mendang sedikit, tapi kalau mau dia masih bisa memenggal kepala orang, namunsetelah mendengar jeritan orang seketika merandek dan melongo, pedangnya urung memenggal.

Ternyata orang yang tidur diatas ranjang bukan buaya darat yang diincarnya itu, tapi seorang duplikat yang mirip saja.

Untung Hek-swan-hong kenal suara buaya darat itu, sehingga duplikat ini tidak menjadi korban secara konyol.

Pada saat itulah terjadi keributan diluar, dari arah lain terdengar orang berteriak.

"Ada pembunuh, ada pembunuh! Celaka! Batok kepala Chengcu terpenggal hilang!"

Sigap sekali Hek-swan-hong mengejar keluar tampak olehnya dipuncak loteng yang paling tinggi sana tergantung batok kepala manusia, walau malam itu gelap tak ada sinar rembulan, tapi dari cahaya obor dibawah terlihat dengan jelas tak salah lagi bahwa itulah batok kepala si buaya darat itu.

Biasanya Hek-swan-hong amat bangga akan Ginkang sendiri, tapi malam itu ia tidak berhasil menemukan jejak pembunuh itu.

Kejadian kedua lebih berbahaya dan mengejutkan.

Kali ini ia beroperasi di gedung Wanyen Tiang ci, komandan Gi lim-kun dari kerajaan Kim dimana ia curi konsep penyerbuan tentara Kim keselatan.

Wanyen Tiang ci adalah tokoh silat kelas wahid dikerajaan Kim, Hek swan-hong tahu bahwa kepandaian sendiri bukan tandingan lawan, apalagigedung pejabat tinggi dari kerajaan Kim, penjagaan tentu ketat oleh dedengkot-dedengkot silat yang tak sedikit jumlah.

Salah seorang kacung dalam gedung Wanyen Tiang-ci yang tak terhitung banyaknya itu, adalah seorang murid Kaypang yang sengaja diselundupkan kedalam sebagai mata-mata.

Mendapat bantuan murid Kaypang itulah sehingga Hek swan-hong berhasil mencuri konsep kemiliteran itu.

Baru saja berhasil jejaknya konangan orang.

Untung orang yang memergoki perbuatannya hanya beberapa jurus saja lantas dibunuh Hek swan-hong.

Tapi sebelum ajal ia sempat berteriak minta tolong.

Jelas sebentar lagi seluruh busu busu istana bakal meluruk datang, betapapun tinggi kepandaian Hek swan hong, jangan harap bisa menerobos keluar.

Tepat pada waktunya itu, mendadak kelihatan jago api menjulang tinggi ke tengah angkasa gedung rasum dalam bilangan istana itu dijilat api, sudah tentu para penjaga repot menolong kebakaran, jadi tak sempat menangkap pencuri.

Karena adanya keributan ini Hek-swan hong baru berhasil melarikan diri dengan leluasa.

Beberapa hari kemudian, Hek swan-hong mencari anak Kaypang yang menjadi mata-mata didalam gedung istana itu, dia kira murid Kaypang itu yang membakar gedung itu.Tapi anak Kaypang itu berkata .

"Aku malah sangka kau yang membakar. Aku mana berani? Umpama berani tapi tak mampu membakar gedung ransum tanpa diketahui orang."

Tergerak hati Hek-swan hong, tanyanya.

"Adakah kau mendengar sesuatu ?"

Anak Kaypang itu berpikir dan mengingat-ingat, lalu katanya .

"Pertanyaan ini membuat aku ingat. Waktu api mulai berkobar, lapat-lapat aku seperti mendengar tawa nyaring di atap gedung ransum itu."

"Apakah suara tawa seorang perempuan ?"

Tanya Hek-swan hong menegas.

"Tatkala itu suasana amat ribut, para Busu berteriak-teriak tangkap maling, aku sendiri ketakutan dan kawatir bagi keselamatanmu, sehingga aku tidak menaruh perhatianku akan suara tawa itu. Ya, agaknya memang melengking nyaring seperti suara perempuan."

Demikian murid Kaypang itu menjelaskan.

Hek swan hong maklum bahwa gadis yang pernah membunuh buaya darat itu, malam ini telah membantu dirinya lagi.

Teringat akan kedua kejadian itu, tanpa merasa Hek-swan-hong berdiri menjublek di puncak karang kepala harimau.

"Mungkinkah dia pula ?"

Angin menghembus dari samping menyampok mukanya, rumput dan daun daun pohon bergesekanmengeluarkan suara. Tiba tiba tersentak sanubari Hek-swan-hong, maka ia berseru lantang .

"Budak bawel dari mana yang mencampuri urusanku ? Hm orang perlu kuhukum mana boleh orang bisa ikut campur."

Belum lenyap suaranya, tiba tiba sebuah suara nyaring berkata.

"Siapa yang kau maki?"

Sesuai dugaan semak rumput belukar sana melompat keluar seorang gadis baju putih hanya sekejap tahu tahu sudah dihadapan Hek swan-hong. Hek swan-hong tertawa geli, ujarnya.

"Kalau tidak kumaki, mana dapat memancingmu keluar? Nona, kau telah membantu aku dua kali, selama itu aku belum pernah berterima kasih kepadamu. Kali ini jangan kau tergesa gesa, mari kita bercakap-cakap."

Tiba tiba gadis baju putih itu tertawa dingin, jengeknya.

"Siapa ada tempo mengobrol dengan kau? Aku hanya ingin menjajal kepandaianmu !"

"Lama sudah aku mengagumi kepandaian nona, tak perlu main jajal segala, aku mengaku kalah saja !"

Sahut Hek-swan hong.

"Tidak bisa! Kau tidak pandang sebelah matamu pada orang lain. Aku tahu ucapanmu bohong belaka !"

"Bicara dengan orang lain mungkin bohong terhadap nona aku bicara sungguh-sungguh!"

Dengan muka cemberut gadis itu melolos pedangnya bentaknya.

"Hek-swan hong, jangan putar lidah saja, lihat pedang!""Aduh!"

Hek swan hong berteriak.

"aku bicara sungguh kau anggap cerewet, sungguh penasaran ! Ai, apa benar kau ingin bertanding?"

Gadis baju putih menjadi gusar, semprotnya.

"Kalau tidak sungguh memangnya main main? Huh kau tak membalas, jangan mengeluh kau celaka."

Sembari bicara beruntun ia lancarkan tiga serangan lagi, setiap jurus serangannya merupakan permainan pedang yang cukup ganas dan hebat.

Terpaut serambut saja hampir badan Hek-swan-hong berlobang kena tusukan.

Dirabu oleh serangan pedang yang ganas Hek-swan-hong keripuan menyelamatkan diri, aliasnya bertaut, katanya.

"Untuk menghormat lebih baik menurut perintah. Kalau nona ingin bertanding pedang, terpaksa aku menunjukkan kebolehanku."

Maka ia mulai bergerak mematahkan serangan lawan berbareng balas menghantam, kedua telapak tangannya seperti menutup bagai mengancing bergerak memutar kedua arah yang berlawanan lalu menggencet pergelangan tangan si gadis.

Jurus ini punya nama khusus yaitu Sam-coan hwat-lun, merupakan cangkokan Siau-kim-na jiu-hoat dari Siau-lim pay mengandung inti sari Pukulan Siau-ciang dari Bu-tong pay.

Inilah Khong-ciu-jip to, kepandaian tangan kosong yang punya perubahan sangat menakjupkan.

Kalau gadis baju putih teruskan dengan serangannya, pasti Hek-swan-hong bisamengubah posisinya sedemikian rupa, dari terdesak berbalik menyergap.

Pada kekosongan lawan mungkin merampas pedangnya.

Diam-diam si gadis merasa kagum dan memuji dalam hati, seiring dengan gerak kakinya, pedangnya ikut bergerak merubah sasaran dengan serangan yang cukup keji pula.

Tapi disamping menyerang sekarang ia cukup hati-hati melindungi diri pula.

Hek-swan-hong hendak menipunya masuk perangkap, namun dia cukup cerdas untuk menempatkan diri.

Begitu kebentur lantas berpencar, begitu kesenggol terus mundur, sekejap saja mereka bertempur tiga lima puluh jurus, sedikitpun Hek-swan hong tak memperoleh keuntungan.

Tapi dengan sebilah pedang tajam, si gadis melawan sepasang tangannya yang kosong, sejauh mana masih bertahan sama kuat, karuan hatinya amat gemas dan mendelu, timbul keinginannya untuk segera merebut kemenangan.

Hek-swan-hong melihat perubahan mimik mukanya yang kurang tentram, dalam hati ia berpikir .

"Sebetulnya sukar aku mengalahkan dia, tapi kalau dia terburu nafsu aku akan dapat peluang malah. Tapi umpama aku bisa menang, juga berabe, lebih baik seri saja. Tapi untuk membuat seri inilah yang sulit."

Terpaksa ia berpikir lagi .

"Kalau tidak biarlah dia tahu diri dan mundur teratur."

Belum lenyap pikirannya, gadis baju putih telah menambah tekanan serangannya lebih gencar lagi.Hek-swan-hong sudah melihat kekosongan lawan, berbareng juga mendesak maju, bertempur selama tiga lima puluh jurus diam diam ia sudah menyelami ilmu silat gadis baju putih.

Menurut dugaannya si gadis dapat meraba kemana arah serangan balasan dari pukulannya yang lihay ini, betapa juga ia tentu mundur untuk menghindar.

Asal sekali mendapat inisiatif untuk turun tangan, gebrak selanjutnya tentu lawan dapat didesak dibawah angin.

Sungguh diluar perhitungannya.

"ser !"

Tiba-tiba ujung pedang si gadis meluncur dari arah yang tak terduga, menyerang Hek-swan hong.

Jurus ini adalah serangan untuk musuh yang menyelamatkan diri lebih dulu dari pada melukai lawan.

Kalau Hek-Swan-hong tidak ingin gugur bersama, berbalik adalah dia sendiri yang bakal kena terdesak mundur.

Untung perbendaharaan ilmu silatnya cukup kaya, kepandaiannyapun cukup matang, dilancarkan dapat ditarik kembali sesuka hati, meski kesempatan turun tangan lebih dulu telah hilang, tapi belum sampai kecundang.

Jurus pedang si gadis dilancarkan secara kebetulan dan untung-untungan, tak lain karena perobahan ilmu pedangnya rumit dan lihay, di luar perhitungan Hek-swan-hong lagi.

Karuan Hek-wan-hong mengeluh dalam hati diam-diam ia menyesali kecerobohan sendiri, pikirnya;

"Kusangka sudah menyelami inti sari ilmu pedangnya, tak nyana masih sukar dijajagi."

Serta merta timbul seleranya, batinnya .

"Ilmu pedanggadis ini berbisa dengan kungfu perguruan ternama. Permainannya aneh dan menakjupkan pula, gerak perobahannya tak habis dan sulit diraba. Biarlah aku jajal sampai dimana sebetulnya tingkat kepandaiannya."

Untuk gebrak selanjutnya Hek-swan-hong lebih rajin berkelahi, seluruh kemampuannya diboyong keluar.

Ilmu pukulannya juga berobah, dua jari tangan terangkap sebagai pedang, ia mulai dengan ilmu pedang untuk bermain petak dengan si gadis baju putih.

Permainan kombinasi ilmu pukulan, ilmu pedang dan ilmu tutuk yang dimainkan Hek-swan hong adalah ilmu tunggal dari perguruannya yang tak ada duanya di kalangan Kangouw.

Sejak ia mengembara, belum pernah ia gunakan secara lengkap untuk menghadapi musuh, sekarang baru pertama kali ini dimainkan.

"Hah, kan begitu baru memenuhi selera!"

Tiba-tiba si gadis berseru.

Tangkas sekali pedang si gadis berputar, menunjuk sinar pukul barat, menuding selatan tusuk utara, hawa pedang berseliweran laksana lembayung sinar pedang berkilauan menyilaukan mata.

Tapi sedikit pun Hek-swan hong tidak terpengaruh, tenang dan tabah, sebelum ujung pedang lawan menusuk, tiba-tiba pundaknya mendadak kebawah, berbareng telapak tangan kiri meraih kedepan, dengan kekerasan iahendak rampas pedang lawan.

Dalam sejurus ia lancarkan tiga macam gerakan tangan yang berbeda beda, dibanding Khong-jiu-jip-pek-to yang dimainkan tadi, entah berapa kali lebih lihay dan mengagumkan.

Diluar dugaan, serangan pedang si gadis seperti menusuk tulang pundaknya, begitu telapak tangannya mencengkeram, mendadak menusuk miring ke samping.

Sudah tentu Hek swan-hong menangkap tempat kosong, jari yang menutuk dirobah menjadi jurus ilmu pedang, menusuk jalan darah Lau-kiong-hiat di telapak tangan kiri yang bergerak mengikuti ilmu pedangnya.

Meski serangannya dipatahkan ditengah jalan betapapun masih dapat mengancam lawan.

Tapi si gadis tidak segugup dugaannya semula, Hek-swan hong merasa angin berkesiur, tahu-tahu si gadis baju putih melesat lewat dari samping tubuhnya.

Gebrak kali ini kedua pihak telah menggunakan ilmu simpanan perguruan yang sangat mempesonakan, akhirnya masih sama kuat, belum kelihatan pihak mana lebih unggul atau asor.

Sekonyong-konyong di delapan penjuru angin tampak bayangan si gadis baju putih berkelebat, ujung bajunya melambai-lambai, kuntum demi kuntum sinar pedang berhamburan simpang siur, laksana puluhan ujung pedang yang tajam menusuk tiba dari berbagai penjuru.

Beul-betul tenang sekokoh gunung, bergerak selicin belut, gerak tubuhnya selincah kelinci, gerak permainan pedangnya sulit diikuti dan diraba.Tanpa merasa Hek-swan-hong menjadi gatal dan timbul keinginan menang sendiri setelah bersuit panjang ia berkata .

"Bagus, biar aku belajar kenal dengan Ginkang nona !"

Kakinya melangkah dengan letak Ngo heng pat-kwa, sekejap mata ia bergerak mengganti kedudukan dan puluhan posisi yang berlainan.

Meski si gadis baju putih menyerang dari delapan penjuru angin sejauh itu belum dapat menyentuh ujung bajunya.

Pertempuran semakin sengit, suatu ketika pedang si gadis menjulur mengarah tenggorokan, jari tengah Hek swan hong menyentik "creng !'' tepat kena menjentik batang pedang meminjam daya jentikan ini, si gadis menutul tanah, tubuhnya melejit tinggi ke udara, di tengah udara ia jumpalitan sekali, pedangnya berputar laksana kitiran dengan dengan gaya elang menerkam kelinci, dari atas pedangnya merabu dengan tusukan dan babatan.

Seluruh tubuh Hek swan hong terkurung dalam bayangan sinar pedang.

Memang tidak malu dia berjulukan si Angin Puyuh, kelihatan ia berputar seperti angin puyuh, badannya berputar mumbul keatas terus melayang dari atas kepala gadis baju putih, keduanya berkelebat lewat berlawanan arah di tengah udara tanpa tersentuh sedikit pun.

Dalam detik yang sama keduanya hinggap di tanah membalik dihadapan.

Si gadis baju putih berkata;

"Dengan tangan kosong kau hadapi pedangku,kepandaianmu patut dipuji. Baiklah aku sudah belajar kenal kepandaian sejati, selamat bertemu !"

Sikapnya kelihatan puas dan senang sekali.

Mendengar nada ucapan orang seolah-olah mengalahkan dirinya seketika Hek-swan-hong tertegun tiba-tiba terasa dadanya dingin dihembus angin pegunungan, waktu ia nunduk tampak baju didepan dadanya sudah sobek dengan tanda, terang adalah buah karya ujung pedang si gadis baju putih.

Sebentar tertegun, Hek-swan hong lantas berkata;

"Nona tunggu sebentar."

Berjengkit alis lentik si gadis, katanya berpaling;

"Kenapa kau tidak terima kalah?"

"Ilmu pedang nona sangat lihay dan mengagumkan, jauh diatas kemampuanku untuk ini aku mengaku kalah."

Demikian Hek swan-hong merendah.

"Tapi ada sebuah barang jangan nona lupa membawanya pulang!"

Si gadis baju putih melengak heran, tanyanya.

"Barang apa ?"

Tampak telapak tangan Hek Swan-hong menggenggam sebuah tusuk kondai kemala diulurkan kepadanya.

Seketika si gadis mengunjuk rasa malu dan merah.

Tusuk kondai kemala ini adalah miliknya yang terselip disanggul rambutnya.

Dia sangka dirinya menang sejurus, tak diketahui olehnya waktuberpapasan lewat tengah udara tadi, Hek-swan hong berhasil mencomot tusuk kondai kemala diatas kepalanya.

Hek-swan hong bergelak tawa, ujarnya .

"Untung nona menaruh belas kasihan, kalau tidak dadaku tentu sudah berlobang. Kalau dinilai sesungguhnya kau lebih unggul dari aku, kelakuanku yang kurang sopan ini harap nona suka memaafkan !"

Setelah dipikir pikir, si gadis merasa geli sendiri, batinnya .

"Cukup menyenangkan juga. Ternyata maksud hatinya sama dengan aku, cukup saling tutul saja. Lebih menakjupkan lagi karena kedua pihak melancarkan kepandaian paling tinggi, kedua pihak sama-sama tak tahu dan merasakan bahwa dirinya kecundang. Tapi kalau bergerak sungguh-sungguh, ujung pedangku belum tentu dapat menusuknya mati. Tapi tepukan tangannya dibatok kepalaku cukup menamatkan riwayatku."

Maka ia berkata.

"Tak usah kau menghibur hatiku. Hari ini kau tidak kalah, akupun tidak menang kita seri."

Sembari berkata ia tancapkan tusuk kondai di atas kepala terus putar tubuh hendak pergi.

"Nona, kenapa kau tergesa-gesa?"

Hek-swan hong berteriak gugup.

"Kita sudah bertanding, aku akan pergi kearah tujuanku, dan kau terserah kau kemana. Kau masih ada urusan apa ?"

"Kita belum berkenalan bukan. Aku ber ...""Kau tak perlu memperkenalkan namamu, aku tahu kau bergelar Hek-swan hong."

"Itu hanya julukan kosong yang diberikan sementara kawan Kangouw."

Demikian sahut Hek-swan-hong tertawa. Baru saja ia hendak menyebut nama aslinya, si gadis telah berkata lagi .

"Nama itu tak lain hanya merupakan pertanda saja, kalau orang sudah menamakan Hek-swan-hong, begitu pula aku memanggil kau."

Gadis baju putih kelihatan seperti tak ingin mengenal nama aslinya, ini betul diluar dugaannya. Dalam hati Hek swan hong berkata .

"Entah berapa banyak orang ingin mengetahui nama asliku. Sebaliknya dia tak suka mendengar ! Kelakuan nona ini betul-betul ganjil."

"Tiada yang perlu kautanyakan bukan? aku hendak pergi !"

Hek-swan hong menjadi gelagapan, katanya cepat .

"Kenapa tak ada ? Kau panggil aku Hek swan-hong, lalu aku panggil kau apa ?"

Si gadis menggeleng kepala, katanya .

"Ai, kau ini sungguh cerewet. Ya, apa boleh buat, kalau kau ingin tahu namaku, nih, biar kau tahu!"

Lalu ia menyingkap ujung bajunya tampak dimana tersulam seekor burung walet yang terbang ditengah angkasa.Hek-swan-hong tersentak kaget, teriaknya melengking .

"Kaulah In tiong-yan ?"

"Benar,"

Jawab si gadis.

"Tapi inipun hanya julukanku saja !"

Pertama kali Hek-swan hong mendengar nama In-tiong-yan dari mulut Kaypang Pangcu Liok Kun-lun.

Namun Liok Kun-lun juga belum tahu apakah In tiong yan itu laki atau perempuan, tua atau muda.

In-tiong-yan adalah tokoh muda yang muncul kira kira dua tahun belakangan ini.

Seperti juga Hek-swan hong, kaum persilatan tiada yang pernah melihat wajah aslinya.

Tapi sepak terjangnya boleh dikata jauh berlainan dengan perbuatan Hek-swan-hong, malah hampir berlawanan.

Pertama Hek-swan-hong melawan pihak kerajaan Kim, membunuh buaya darat dan para pembesar korup, terutama pembesar korup kerajaan Kim.

In-tiong-yan juga membunuh buaya darat dan pemeras rakyat jelata, namun selama itu belum pernah terdengar ia pernah bunuh pembesar kerajaan Kim.

Kedua.

In-tiong yan pernah mencuri buku pelajaran pedang pihak Bu-tong-pay, Ceng seng pay, dan Siong-yang-pay.

Ketiga aliran silat ini merupakan golongan lurus yang punya kedudukan tinggi di-kalangan bulim.

Seumpama hanya berkelakar, kaum pendekar tentu tak mau berbuat kurang ajar terhadap ketiga Ciangbunjin dari masing2 aliran ini.

Sudah tentu Hek swan-hong takkan mau melakukan perbuatan yang memalukan.Setelah tahu kehilangan buku2 pelajaran pedang, ketiga aliran itu menemukan sebuah gambar burung walet diatas dinding.

Setiap rumah buaya darat yang dibunuhnya juga selalu diberi tanda khas dari walet terbang ini.

Itu berarti setiap kali ia membuat perkara selalu meninggalkan ciri khas itu, tanda gambar itu persis dengan yang dilihat oleh Hek-swan-hong tersulam di ujung baju sigadis baju putih ini.

Ketiga; Ada berapa tokoh golongan lurus yang mengetahui riwayat hidup Hek-swan-hong, meski hanya terbatas beberapa orang saja.

Sebaliknya tiada seorangpun dari golongan lurus yang tahu siapakah sebenarnya In tiong-yan.

Kaypang Pangcu Liok Kun-lun yang punya pengalaman luar pernah mencari tahu beberapa bulan selama itu sedikitpun tak pernah mendapat sumber penyelidikan untuk mengetahui asal-usulnya.

Maka waktu Liok Kun-lun membicarakan In tiong-yan dengan Hek-swan hong hakikatnya tak bisa memberi tahu apakah In-tiong-yan itu laki atau perempuan, tua atau muda, malah ia berpesan kepada Hek-swan-hong untuk bantu menyirapi.

Pendek kata In-tiong yan pernah membuat amal atau perbuatan baik menolong rakyat jelata, tapi pernah juga melakukan perkara buruk yang dicercah orang karena setelah beroperasi selalu meninggalkan tanda burung waletnya itu diatas dinding, maka kaum persilatan entah golongan lurus atau aliran sesatmemberi julukan In-tiong-yan padanya.

In-tiong yan berarti burung walet terbang ditengah mega.

Tapi perbuatan buruk yang dilakukan In tiong yan juga melulu mencuri buku pelajaran pedang dari tiga aliran lurus yang kenamaan itu saja, kecuali itu belum pernah dengar ia melakukan perbuatan keji yang memalukan.

Justru karena perbuatan buruk ini, belum pernah membunuh pembesar kerajaan Kim pula, walaupun Hek-swan-hong tahu bahwa di kalangan kangouw telah muncul seorang kosen yang lihay, tapi selama ini tiada seorangpun yang anggap dia sebagai kawan sehaluan.

Dan karena inilah meski dua kali sudah ia pernah mendapat bantuan seseorang betapapun tak terpikir olehnya akan In tiong-yan.

Sekarang setelah tahu tokoh misterius ini berdiri dihadapannya, dan mengaku dirinya In-tiong-yan adanya, Hek-swan-hong menjublek malah.

"Orang macam apakah In-tiong yan ini? Ai ! entah dari golongan lurus atau aliran sesat?"

Demikian Hek-swan-hong menduga duga.

Kecuali sulit membedakan lurus atau sesat, adapula perbedaan yang suka dipercaya oleh Hek-swan-hong.

Yaitu bagaimana ia bisa mencuri buku pelajaran pedang milik Bu tong pay?

Baru saja timbul pertanyaan dalam benaknya, In-tiong-yan sudah berputar hendak pergi.

Lekas Hek-swan-hong berseru.

"Nona, masih ada satu hal aku minta penjelasan."

"Ada pertanyaan lekas katakan, kenapa bertele tele membosankan."

"Baik, maaf aku bicara terus terang. Buku pelajaran pedang Bu-tong, Ceng-seng dan Siong yang tiga aliran itu apakah kau yang curi?"

Berdiri alis lentik In-tiong-yan, sahutnya;

"Kalau benar bagaimana?"

"Tidak bagaimana, aku hanya heran dan aneh saja !"

"Kusangka kau mendapat pesan mereka untuk minta kembali buku-buku itu."

"Pihak Ceng seng dan Siong-yang tak perlu dipersoalkan. Tapi anak murid Bu-tong pay yang berkepandaian tinggi entah berapa jumlah mana perlu tenagaku yang keroco ini? Apalagi akupun tak punya keberanian."

In-tiong-yan tertawa cekikikan, katanya.

"Pintar kau putar lidah. Secara terang kau memuji aku, dibalik kata-katamu jelas kau mencercah perbuatanku."

"Aku mengagumi kau nona, masa punya pikiran begitu."

In tiong-yan mendengus, katanya.

"Kau dan aku bertanding seri. Tapi kau katakan banyak murid Bu-tong pay dapat mengalahkan kau, bukankah merendahkan diriku? He-hehe, anak murid Bu tong pay lihay dan berkepandaian kosen belum tentu dapat apa-apa atas diriku."

"Ilmu pedangmu jauh lebih tinggi dari mereka, untuk apa pula kau curi buku pelajaran pedang mereka?"

Demikian tanya Hek-swan hong.

"Kalau timbul seleraku lantas kucuri saja, peduli amat dengan kau?"

Dalam hati Hek swan hong membatin;

"Urusan besar begini dianggap main-main segala?'' tahu orang tak mau menjelaskan iapun tak enak mendesak lebih lanjut. Terdengar In-tiong-yan cekikikan geli, ujarnya.

"Kau tidak percaya ya terserah. Betapapun aka takkan memberi tahu kepada kau. Maaf aku tak dapat memenuhi permintaanmu, selamat tinggal!'' "Memangnya aku memandang rendah dan mempermainkan nona ?"

Ujar Hek-swan-hong. Kata In-tiong yan .

"Jangan kau kira aku curi buku pelajaran pedang mereka lantas mencuri belajar ilmu pedang mereka.'' "Untuk hal ini nona tak perlu menjelaskan, aku sudah paham. Ilmu pedang yang kau kembang tadi, setiap jurus jauh lebih sempurna dan mempunyai perkembangan khusus yang sulit dipahami, jelas sangat berbeda dengan permainan ilmu pedangmereka. Oh, ya, bukan aku suka memuji, meski ilmu pedang Bu-tong-pay cukup tinggi dan menakjupkan, mana bisa dibanding kepandaianmu !"

In-tiong yan maklum orang mengangsurkan mahkota diatas kepalanya (pujian), hatinya menjadi syuurr, katanya tertawa ;

"Aku tak perlu dengar obrolan manismu. Tapi ingin aku bertanya pada kau, apa yang kau herankan ?"

Sebetulnya keheranan Hek-swan-hong bukan melulu soal pencurian buku pelajaran pedang pihat Bu-tong, Ceng seng dan siong yang oleh ln tong-yan.

Yang diherankan adalah bagaimana In tong-yan dapat mengambil sesuka hatinya, seperti mengambil barang milik sendiri ?

Diam diam Hek-swan-hong berpikir .

"Ditaksir dari kepandaiannya, mungkin dapat bertempur sama kuat dengan pihak Ceng-seng dan Siong yang. Tapi Ciangbunjin Bu-tong-pay Kim kong Totiang, betapapun bukan tandingannya. Jangan kata Bu-tong Ciangbun, empat murid terbesar Bu tong saja belum tentu dapat dikalahkan olehnya. Coba pikir betapa penting dan berharga buku pelajaran pedang dari sesuatu aliran itu? Umpama Bu-tong-pay takabur, kalau buku pelajaran pedang itu tidak disimpan sendiri oleh Kim kong Totiang, pasti dilindungi keempat muridnya itu. Betapapun tinggi Ginkang ln-tiong yan, tak mungkin seorang diri leluasa mencuri dan berhasil dengan gemilang.Adakah pembantu lain yang berkepandaian jauh lebih tinggi dari dia ?'' demikian Hek-swan-hong mereka-reka. Tengah ia kesulitan memecahkan pikiran sendiri, terdengar In-tiong yan mengucapkan selamat tinggal. Tergerak sanubari Hek-swan-hong, teriaknya.

"Nona, tunggu sebentar!"

"Ai, sungguh menyebalkan kau, kenapa kau cerewet dan bertele-tele."

"Bukan aku suka berkelakar dengan kau nona,"

Demikian ujar Hek-swan hong tertawa, ''Ada sebuah kisah, mungkin kau senang mendengarnya."

"Aku tak punya tempo mendengar ceritamu."

"Setelah mendengar cerita ini, mungkin membawa manfaat bagi kau."

In-tiong yan jadi tertarik, sahutnya.

"Manfaat apa, coba terangkan dulu.'' Kata Hek-swan-hong .

"Kau punya hobby mencuri, bila ada benda yang lebih bernilai lebih sukar didapat dibanding buku pelajaran pedang Bu tong-pay, apakah kau ingin mencurinya?"

"Barang apakah itu ?"

Tanya In-tiong yan.

"Se

Jilid buku kemiliteran.'' Hek-swan-hong coba menerangkan.

"Ilmu pedang hanya dapat melawan puluhan atau ratusan orang belaka, sebaliknya buku kemiliteran ini dibuat mengatur perlawanan terhadapmusuh yang laksaan jumlahnya, coba kau taksir bukankah jauh lebih berharga ?'' In-tiong-yan tersenyum, katanya.

"Aku toh tidak ingin jadi panglima perang. Buat apa aku belajar taktik perang?'' "Buku pelajaran pedang dari tiga aliran sudah kau curi, apa pula gunanya bagi kau?"

Demikian Hek-swan hong coba menghasut.

"Barang yang sudah dapat dalam dunia ini, bila sudah berada ditangan sendiri, betapapun sangat menyenangkan dan menarik sekali, betul tidak ?"

In-tiong-yan terloroh-loroh mendengar kata katanya ini, serunya .

"Sungguh menyenangkan kau ini. Rupanya kau minta bantuan untuk mencuri, tapi pakai akal untuk memancing seleraku. Hehehe, hal ini memenuhi seleraku malah, kalau kau menggunakan alasan yang lazim mungkin aku bosan, lain halnya dengan alasanmu ini, dapat aku menerimanya. Tapi dimana atau di tangan siapakah buku kemiliteran itu, pemiliknya tentu seorang kosen yang luar biasa, kalau tidak tak mungkin kau meminta aku bantu mencuri."

"Bukan mencuri, tapi mencari,"

Kata Hek-swan hong.

"Namun untuk mencari buku kemiliteran ini mungkin jauh lebih sulit dari mencuri.'' "Semakin sukar semakin menyenangkan dan menarik."

Ujar In-tiong yan, ''Baik, aku jadi ketarik dan berkeputusan untuk membantu kau mencari buku kemiliteran itu. Dimanakah buku itu disembunyikan?"Hek-swan-hong tertawa riang, tanyanya.

"Coba kau terka kenapa aku adakan pertemuan dengan dedengkot-dedengkot persilatan itu dikarang kepala harimau ini ?"

In-tiong-yan menjadi sadar, katanya .

"Jadi disembunyikan diatas karang kepala harimau ini? Sambil lalu kau janjikan mereka bertempur ditempat ini supaya menghemat tenaga dan menyingkat waktu."

"Juga belum pasti berada di karang kepala harimau ini, pendeknya pasti berada di pegunungan Liang-san ini."

"Buah karya siapakah buku kemiliteran itu ?"

Tanya In-tiong-yan.

"Kalau kau ingin tahu, dengarkan dulu aku bercerita."

"Baik, lekaslah mulai."

"Apa kau tahu kisah tentang para pahlawan gagah dari Liang-san-pek ?"

Kisah pergerakan patriot Liang-san-pek belum genap seratus tahun, dongeng kepahlawanan orang-orang gagah dari Liang-san sudah tersebar luas di kalangan rakyat jelata. In-tiong-yan tertawa dingin .

"Seratus delapan patriot gagah Liang-san-pek bersemayam ditempat ini, mereka bergerak menurut hati nurani rakyat danmenumpas kejahatan dan kelaliman, begitu cemerlang dan menggemparkan sehingga meninggalkan penilaian tertinggi dalam catatan sejarah. Siapa tidak tahu ? Kau anggap aku perempuan pingitan yang selalu mengurung diri dalam kamar ? Seumpama gadis pingitan juga mesti tahu !"

"Benar, seratus delapan patriot gagah pahlawan Liang-san-pek itu begitu menggemparkan dengan berbagai pergerakan mereka, kenapa akhirnya mereka bubar dan tercerai berai ?"

"Perlu ditanya lagi, sudah tentu ditumpas habis oleh tentara pemerintah yang menyapu habis seluruh Liang san adalah Panglima besar kerajaan Seng utara yang bernama Thio Siok-ya, benar tidak ?"

"Tidak, kekalahan pihak Liang-san bukan karena tertumpas oleh tentara pemerintah, juga bukan kalah ditangan Thio Siok-ya."

"Keterangan ini belum pernah kudengar,"

Demikian ujar In-tiong-yan rada heran.

"lalu karena apa?"

"Tak lain tak bukan karena kesalahan Song Kang."

"Kesalahan bagaimana?"

"Waktu Thio Siok-ya pimpin tentara menyerbu Liang-san yang digunakan adalah siasat memancing musuh. Dia berhasil meringkus Giok-kilin Loh Cugi pemimpin kedua Liang-san-pek. Kelahiran Loh Cugi adalah seorang hartawan besar yang punya harta benda tak terhitung banyaknya, dasar orang kaya taktahan kompes dan takut mati, setelah disiksa akhirnya menyerah. Dengan Loh Cugi sebagai sandera Thio Siok-ya bertindak lebih lanjut, Song Kang dituntut menyerahkan diri. Sesuai dengan jiwa Song Kang yang setia kawan untuk membebaskan Loh Cugi dia mencari akal dan pura-pura menyerah, dengan gunakan tipu menyiksa diri sendiri, harapannya setelah pihak pemerintah lepaskan Loh Cu-gi, baru meloloskan diri berkumpul kembali di Liang-san. Sungguh diluar perhitungan, justru pura-pura menyerah ini malah masuk perangkap musuh. Jikalau tidak karena salah langkah Song Kang ini meski Loh Cu-gi betul-betul menyerah kepada musuh, betapapun takkan merugikan dan mempengaruhi posisi pihak Liang-san. Maka tadi kukatakan kekalahan pihak Liang-san, hakikatnya bukan karena tertumpas oleh tentara pemerintah. Yang terang adalah karena kesalahan Song Kang seorang!"

In-tiong yan mendengar cerita dengan asyik, katanya.

"Diantara sekian banyak pahlawan gagah Liang-san, tak sedikit cerdik pandai yang genius, apakah tiada seorang yang meraba akan jebakan musuh dan membujuk Song Kang? Terutama Kunsu (penasehat militer) Go Yong yang diberi julukan Ci to-sing (kecerdikan yang melebihi bintang dilangit). Bukankah Song Kang sangat tunduk dan patuh akan nasehatnya?""Konon Go Yong sudah membujuk sampai mengalirkan air mata darah, namun Song kang mengukuhi pendapat sendiri, tak mau menerima nasehatnya. Akhirnya Go Yong berkata.

"Kita pernah bersumpah bersama, tak bisa hidup dalam hari bulan dan tahun yang sama, biarlah mati dalam hari bulan dan tahun yang sama. Saudaraku, keberangkatanmu ini banyak celakanya daripada selamat, kau pergi pasti takkan kembali. Tapi terpaksa aku harus mengiringi kau menempuh bahaya ini. Tapi aku memohon kepadamu untuk menunda satu hari lagi."

Terharu sikap setia kawan dan kebijaksanaannya, sebetulnya Song Kang sudah sepakat dengan Thio Siok-ya untuk menyerah pada hari kedua, karena syarat yang diajukan Go Yong terpaksa pemberangkatannya diundur satu hari."

"Untuk keperluan apa Go Yong minta diundur satu hari?"

Tanya In-tiong-yan heran.

"Waktu satu hari itu Go Yong menulis karya kemiliterannya."

Sahut Hek-swan-hong. In-tiong-yan sadar duduknya perkara, katanya .

"O, jadi buku kemiliteran yang hendak kau cari itu adalah buah karya Go Yong penasehat militer Liang san-pek itu?"

"Tidak salah,"

Jawab Hek-swan-hong.

"selama satu hari satu malam Go Yong menyelesaikan karyanya itu sampai dini hari. Begitu selesai Go Yongmengundang Louw Ci-sing serta menyerahkan buah karyanya itu kepadanya."

In-tiong-yan tertawa geli, ujarnya .

"Banyak pilihan lain yang tepat untuk dititipi buku itu, kenapa diserahkan kepada Hwesio gila itu ?"

Hek-swan-hong berkata sungguh sungguh.

"Jangan kau pandang ringan Hwesio gula-gula ini. Walau wataknya kasar dan keras, tapi dia punya otak yang cermat dan teliti, dapat dipertanggung jawabkan lagi. Wataknya sama Li Kui, polos dan jujur, setia dan royal terhadap perjuangan Liang-san-pek. Tapi tidak seceroboh dan berangasan seperti Li Kui. Maka setelah dipikir bolak balik akhirnya Go Yong merasa Hwesio gula-gula ini paling cocok."

"Seolah olah kau berada disamping Go Yong malam itu."

Olok In-tiong yan menggoda.

"Aku belajar dari tukang dongeng yang sering mengobral ceritanya, diberi bumbu dan ditambah kecap supaya menarik para pendengarnya."

"Bagus, tak kira kau seorang pendongeng yang cukup ahli juga, aku betul-betul terpesona oleh dongengnya, lekaslah dilanjutkan."

Go Yong menyuruh Louw Ci-sing menyimpan buku itu disatu tempat, katanya .

"Se

Jilid buku kemiliteran ini adalah buah karyaku yang terakhir sebelum ajal, memeras seluruh himpunan jerih payahku sampai titik penghabisan.

Besok pagibersama Song-koko aku harus menemui Thio Siok-ya, harapan untuk kembali sangat kecil.

Buku ini kupikir harus disembunyikan diatas gunung yang tenar, supaya tidak diwarisi generasi mendatang.

Tapi jangan terpendam terlalu lama dan tak habis diketemukan orang.

Kelak kerajaan Kim merupakan bibit bencana bagi Sang raja, kalau buku ini jatuh ditangan seorang patriot bangsa melawan penjajah, tentu banyak manfaat dan hasilnya.

Apakah kau paham maksudku ?"

Lauw Ci-sing berkata.

"Maksudmu supaya aku menutup rahasia ini. Setelah menemukan calon yang tepat, menyuruhnya menggali buku kemiliteran ini?'' Go Yong berkata.

"Benar, maka sekarang juga kau harus melarikan diri, turun gunung carilah biara untuk mengasingkan diri tetap jadilah seorang ibadah yang dapat memeluk ajaran Thian. Kalau tak berhasil menemukan orang yang dapat diberi kepercayaan, kau harus mencari akal cara bagaimana supaya rahasia ini kelak dapat diwarisi oleh generasi muda!"

"Aku juga pernah dengar sebuah dongeng,"

Begitulah In-tiong-yan menyela.

"Katanya setelah Lingsan tertumpas habis Louw Ci-sing lantas mengasingkan diri dibiara Leng in-si di Hangciu. Dibawah menara Liok-hap di Hangciu sekarang masih ada sebuah patung mas dari Louw Ci sing. Pernah aku kesana mencarinya tak berhasil menemukan. Jadimenurut ceritamu tadi, dongeng itu kenyataan malah?"

"Orang yang bercerita tentang rahasia ini seperti mendengar dan menyaksikan sendiri peristiwa dulu itu. Aku lebih condong untuk mempercayai kisahnya itu."

"Kenapa Go Yong tidak menyuruh Louw Ci sing membawa serta buku itu? Sebaliknya menyuruh generasi muda untuk bersusah payah menghabiskan waktu dan tenaga untuk mencarinya ?"

Demikian tanya In tiong yan.

"Tatkala itu Liang san sudah diblokir ketat oleh tentara pemerintah, Go Yong sendiri juga kawatir kalau dia tak berhasil melarikan diri. Maka dipendam dalam tempat tersembunyi betapapun lebih aman dari pada dibawa-bawa."

"Kau tahu tidak, disembunyikan ditempat mana ?"

Tanya In-tiong-yan.

"Kalau aku tahu, tak perlu minta bantuanmu untuk mencarinya."

"Liang-san begini besar dan luas, seluruhnya ada sembilan puncak luasnya, ada delapan ratus li. Untuk mencari se

Jilid buku bukankah seperti menggagap jarum dalam lautan ?"

"Meskipun harapan sangat kecil, tapi masih ada sumber penyelidikan.""Sumber penyelidikan apa ?"

Tanya In-tiong-yan tersipu-sipu. Tergerak hati Hek swan-hong, katanya dengan tertawa dibuat buat .

"Apakah kau tak berminat mendengar kisah Liang-san-pek sampai selesai ?"

"Begitu mengasyikkan cerita ini, masa aku tak ketarik ? Baik, soal buku itu kita kesampingkan dulu. Lanjutkan kisahmu."

Hek-swan-hong terpingkal geli mendengar nada ucapan orang yang menirukan ucapan seorang dalang, Tapi Hek-swan-hong cukup cerdik dan teliti, dari nada kelakarnya itu, lapat lapat dapat terasakan olehnya hasrat besar untuk mengetahui jejak buku kemiliteran itu.

Hek swan-hong bergelak tawa, katanya melanjutkan .

"Sekarang kisah ini bercabang dua. Setelah Louw Ci-sing lari turun gunung seorang diri, hari kedua Song Kang lantas pimpin para saudaranya ke markas tentara Thio Siok ya untuk melaksanakan tipu daya 'serah menyerah' itu. Tapi masih ada dua saudara lain yang tidak mau ikut padanya."

"Siapakah kedua orang itu ?"

"Yaitu Hek-swan hong Li Kui dan Gun kang-liong Li Cun."

"Bukankah Li Kui paling setia dan patuh terhadap Song Kang?""Justru karena setia dan patuhnya itu mana dia harus memikirkan berusaha mencari jalan belakang Song Kang. Dia berkata.

"Koko kalau kau dapat pulang syukurlah. Kalau tak pulang biarlah kugunakan kedua kapakku ini menyerbu ke ibukota mencari sang raja keparat itu menuntut supaya kalian dikembalikan!'' Kau harus tahu walaupun Li-Kui paling setia terhadap Song Kang, tapi juga orang pertama yang menentang keputusan menyerah itu."

"Kedengarannya diantara seratus delapan pahlawan gagah Liang-san-pek-itu, kau paling mengagumi Li Kui. Tak heran orang memberi julukan yang sama kepada kau."

"Aku jadi kerdil mendapat julukan. Mana berani aku dibanding Hek swan-hong dari Liang san pek itu."

"Tak usah sungkan,"

Goda In-tiong yan.

"menurut hematku justru kau lebih cerdik lebih pandai dan gagah dibanding Hek swan-hong dari Liang-san-pek itu. Teruskanlah bagaimana dengan Gun-kang-liong Li Cun?"

"Berbeda dengan sikap Hek-swan-hong, Li Cun lebih mementingkan keuntungan pribadi. Belakang diperoleh kabar dia melarikan diri kelautan teduh, menduduki sebuah pulau dan menjunjung diri sebagai raja kecil disana."

"Orang ini tidak penting, tak perlu disinggung lagi. Belakangan menurut kabarnya Song Kang dan lainlain telah mati diracun oleh pemerintah, apakah berita ini betul?"

"Sudah tentu benar. Diluar tahu Song Kang muslihat "pura-pura menyerah"

Itu justru sudah dalam perhitungan Thio Siok-ya.

Malam itu Thio Siok-ya mengadakan jamuan bagi sekalian pahlawan gagah Liang san, mereka terbunuh semua karena keracunan.

Yang paling dibuat sayang adalah Ci-to sing Go Yong, sebelumnya ia sudah meramalkan dalam arak ada racun, tapi ia tetap mengiringi Song Kang makan minum.

Setelah membinasakan Song Kang dan lain-lain dengan arak bisanya itu, Thio Siok-ya menyuruh Loh-Cu-gi memalsu perintah Song Kang, menipu Li Kui turun dari Liang-san.

Li Kui tak sudi kemarkas Thio Siok-ya akhirnya mati keracunan juga."

"Yang paling disayangkan justru bukan Ci-tong-sing Go Yong atau yang lain. Yang harus dibuat sayang justru raja lalim dari Song raja."

Demikian ujar In-tiong yan.

"Apa maksud ucapanmu?"

"Kalau Song Kang dan para saudara angkat tidak binasa, bangsa Kim tak gampang menduduki tanah perdikan bagian utara nan subur dan luas ini."

"Memang tepat dan cukup adil ucapanmu,"

Kata Hek-swan hong hambar.

"Perbuatan pihak kerajaan boleh dikata merusak rumah tangga sendiri.""Sudah tak perlu kau beri penilaian peristiwa yang sudah lewat. Aku masih ingin mendengar kelanjutan ceritamu."

"Benar, sekarang tibalah saatnya aku mengikuti jejak si Hwesio gula-gula Louw Ci-sing itu. Setelah tahu Song Kang dan lain-lain binasa keracunan, mengikuti wataknya, kupikir tentu dia sangat sedih dan merana, ingin rasanya menuntut balas bagi para saudara. Tapi karena dia mendapat pesan dan tugas berat dari Kun-su, terpaksa harus mengasingkan diri mengganti nama. Selama puluhan tahun ia menjadi penghuni tetap di Leng-in si."

"Wah, betul-betul merupakan siksaan baginya. Bagaimana selanjutnya?"

"Akhirnya dia mangkat begitu saja."

"Sudah mati? Lalu bagaimana rahasia buku militer itu ?"

"Dia meninggalkan empat patah pameo. Kabarnya dibawah menara rangkap enam suatu malam nan sunyi dibawah menara enam tingkat itu, ia mendengar deru ombak, ilham datang dan pahamlah dia akan jalan kebenaran yang sejati, dari saat itulah dia tinggalkan keempat patah pameo itu, lalu menghembuskan napas terakhir."

"Empat patah pameo apa itu?"

"Pameo itu berbunyi. duduk bersila memandang mega, rebah celentang mendengar irama ombak."Kata In-tiong-yan sembari tertawa.

"pameo ini jelas menunjukkan tempat rahasia penyimpanan buku kemiliteran itu."

"Dugaanmu benar, sahabat yang memberitahu rahasia ini kepadaku juga berpikir seperti kau."

In-tiong yan melirik kepada Hek-swan-hong, tanyanya.

"Kenapa kau beritahu rahasia penting ini kepada aku?"

"Ingin kupinjam kecerdikan untuk memecahkan arti pameo itu, supaya gampang mencari buku kemiliteran karya Go Yong itu."

"Aku kan bukan murid agama budha, hanya dapat menyelami pameo itu. Bicara soal pintar, justru kaulah yang benar-benar pandai."

O^~dwkz^hendra~^O

Jilid 04 Pujian terakhir sungguh diluar dugaan, Hek-swan-hong tak tahu kemana juntrungan kata-kata ini, sesaat dia melengak. Kata In-tiong-yan pula .

"Selamanya, kau belum kenal aku, apa kau tidak takut setelah aku mendapatkan buku, terus ngacir ngelabui kau ?"

Baca Juga: Rajawali Emas 1

Baca Juga: Dewi Maut 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert