Ceritasilat Novel Online

Rahasia Si Badju Perak 6

Eps 6 Rahasia Si Badju Perak - GKH

Baca online Rahasia Si Badju Perak - GKH

Cersil Rahasia Si Badju Perak - GKH.

Seru To Yung sambil bertepuk tangan.

"Pendapatku sama dengan kau, meskipun mereka ayah beranak telah membunuh ayahmu, tujuannya adalah menuntut balas akan kematian Kim Lee-ing yang tidak berdosa itu. Betapa juga tindakan mereka adalah benar dan harus dimaklumi. Dan yang terpenting dan harus dipuji, mereka mengantar pulang Li Hong-gi ke Kilam tanpa kurang suatu apa. Maka............waktu aku mengatur jebakan mengurung mereka, untuk membunuh mereka juga hanya sekali kerja saja. Tapi selamanya setiap tindak-tandukku tentu kuperhitungkan sebelumnya. Seperti kau, aku ragu-ragu haruskah aku turun tangan, sekian lamanya aku tidak kuasa ambil keputusan, begitulah sampai berlarut hingga sekarang."

Thian-ih berpikir, omongannya ini memang dapat dipercaya.

Menurut cerita Hun-tai Siancu bahwa meskipun dia terlalu sumbar menyebar maut sehingga menimbulkan banyak kematian, namun yang dibunuh olehnya itu rata-rata adalah gembong silat jahat yang memang sudah setimpal dengan perbuatannya.

Berpikir sampai disini tiba-tiba teringat olehnya akan Ciu Hou, segera ia bertanya gugup.

"Paman To, dimana Ban-keh-seng-hud Ciu Hou sekarang?"

Panggilan 'paman To' ini membuat hati To Yung syur girang bukan kepalang, wajahnya berseri ria, sahutnya.

"Thian-ih, kau tidak usah kuatir, aku tidak membunuhnya. Karena kuatir dia menceritakan kejelekan ayahmu kepada umum, maka kugebah dia dengan berbagai ancaman yang menakutkan itu, sehingga dia tidak enak makan, tidak bisa tidur, selalu dalam kekuatiran. Ciu Hou betul-betul seorang baik, sampai sekarang belum pernah dia mengatakan tentang rahasia-sia itu. Maka aku tidak bisa membunuhnya, tapi kukurung dia di suatu tempat yang terahasia."

Kata Thian-ih.

"Apa dikurung bersama Kim Thay ayah beranak?"

To Yung manggut-manggut, katanya.

"Tidak salah. Mereka kukurung disatu tempat, di gunung Bu-ciok-san yang terletak tidak jauh dari Sam-ho. Dulu bersama ayahmu aku pernah menemukan sebuah lembah yang terbentuk oleh alam, maka kali ini aku tipu Kim Thay dan putra-putranya masuk kedalam lembah itu. Demikian juga kuantar Ban-keh-seng-hud Ciu Hou masuk kesana, lalu pintu masuk kelembah itu kututup dengan batu-batu gunung, biarlah mereka hidup berdikari dalam lembah yang serba ada itu."

Thian-ih heran, tanyanya.

"Kalau dalam lembah itu sedemikian subur serba ada dengan segala hasil makanan, pastilah mereka masih dapat hidup disana. Lalu bila aku ke sana dan turun tangan dalam keroyokan keenam orang itu masakan aku dapat menang. Sebaliknya Paman bilang bahwa untuk membunuh mereka segampang membalikkan tangan, bagaimana keterangan ini?"

To Yung memberi penjelasan.

"Thian-ih, kau hanya tahu satu tidak tahu yang lain. Lembah yang kukatakan itu belum pernah dijamah oleh jejak manusia, keadaannya juga sangat aneh, terutama sumber air yang mengalir di sana, meskipun bening dan jernih sekali sampai dapat melihat dasarnya, malah berbau wangi lagi. Tapi sekali orang meneguknya kaki tangan lantas terasa lemas tak bertenaga, sampai kerjaan yang rada berat juga tidak mampu dilakukan lagi, apalagi bergebrak dengan orang. Ketujuh orang itu kukurung didalam lembah itu, kalau sampai sekarang mereka masih hidup, betapapun mereka harus minum air jernih itu. Kalau toh kaki tangan mereka tidak bertenaga lagi, masa masih kuat melawan kau yang bertenaga baru. Tapi setelah kupikir-pikir, baik juga kau pergi kesana melepas mereka keluar. Terutama Ciu Hou memang harus dilepas, yang terang kau sekarang sudah mengetahui segala seluk beluk pangkal peristiwa itu. Kalau kau bertemu dengan dia tolong kau beri penjelasan kepadanya tentang kedudukanku yang serba sulit betapa pun minta dimaafkan. Tentang Kim Thay dan putra-putranya terserah kepada kau mau bunuh atau melepasnya."

Thian-ih berkeputusan hendak menuju kelembah di gunung Bu-ciok-san itu untuk menolong Ciu Hou.

Lalu bagaimana dia harus membereskan Kim Thay serta putra-putranya ?

Dia belum dapat ambil kepastian, biarlah kesana dulu dan bekerja mengikuti situasi dan keadaan setempat.

Begitulah mereka berhadapan makan minum sambil ngobrol panjang lebar, malam itu mereka menginap dan tidur di ruang bawah tanah itu.

Besok pagi To Yung membangunkan Thian-ih, katanya.

"Aku sudah menyelidiki keluar, para kesatuan Bhayangkari dan So Tiong kakak beradik serta yang lain-lain sudah mengundurkan diri, sekarang diatas bukit ini tiada seorangpun jua. Inilah kesempatan terbaik bagi kau turun gunung."

Teringat oleh Thian-ih akan gadis berkabung itu, tanyanya.

"Paman To, bagaimana dengan nona she Lo itu?"

To Yung menyahut.

"Entah sudah pergi atau mertamu di So-keh-pang. Gadis ayu itu adalah putri tunggal Lo Liong dengan Nisi Hujin. Dulu waktu aku dan ayahmu berada di Kim-hoan-kau, dia masih gadis kecil mungil. Sekarang telah dewasa dan sedemikian besar. Dia berkabung atas kematian ibunya itu, kedatangannya ini juga untuk mencari sibaju perak terang yang dituju adalah aku dan ayahmu. Mungkin samar-samar dia sudah dapat meraba sebab-musabab kematian ibunya itu tersangkut paut dengan kita berdua, namun menurut dugaanku dia masih belum tahu jelas menyeluruh. Mengapa ayah duplikatnya itu mendadak hilang, lantas ibunya bunuh diri. Tidaklah heran kalau dia berdaya hendak memeriksa peristiwa ini."

Berhenti sejenak lalu katanya lagi.

"Kali ini Lo Ka Siangjin dan kamrat-kamratnya itu mungkin sudah terbasmi habis. Tapi To Yung atau sibaju perak palsu yang kena tertawan oleh mereka itu pasti akhirnya ketahuan, ini hanya soal waktu saja, saat itu tentu akan menimbulkan keributan besar! Lebih baik kau lekas-lekas meninggalkan tempat ini, siapa tahu mereka akan balik keatas sini melakukan pemeriksaan lagi."

Sekilas ia melirik kearah Thian-ih, lalu ujarnya menggoda.

"Thian-ih kenapa kau ini terkenang dan kepincut pada gadis she Lo itu bukan? Dulu bapakmu jatuh cinta pada ibunya, hahaha !"

Cepat-cepat Thian-ih membantah.

"Mana aku ada niat begitu, harap paman To jangan terlalu banyak sangka."

To Yung tersenyum saja tanpa berkata-kata lagi.

Mendadak teringat oleh Thian-ih tentang keterangan Hun-tai Siancu bahwa ibu kandungnya katanya masih hidup dan sehat walafiat, maka cepat-cepat ia bertanya.

"Paman To, dimanakah sekarang ibu berada?"

To Yung tertegun, matanya memantulkan rasa kejut dan ragu-ragu, menatap tajam kearah Thian-ih.

Melihat Thio Thian-ih menanti jawabannya dengan penuh harap dan cemas, To Yung menggeleng.

Thian-ih menjadi gelisah, tahu dia bahwa pasti masih ada rahasia apa lagi di belakang ini, maka desaknya lagi.

"Paman To, lekas beritahu, dimana ibu berada?"

To Yung tetap geleng kepala, katanya.

"Tidak bisa! Aku tahu belum saatnya sekarang aku memberitahu rahasia ini."

Saking gugup Thian-ih menarik lengan To Yung, desaknya.

"Mengapa? Apakah ibuku tidak mau menemui aku atau tidak mau mengakui aku sebagai anaknya lagi?"

To Yung berkata sabar.

"Bukan begitu! Aku tahu bahwa dia sangat memperhatikan kau, sangat sayang kepadamu. Tapi sekarang belum saatnya mengakui kau karena terbentur oleh sesuatu yang harus dirahasiakan, kalau belum tiba saatnya, bagaimana juga belum dapat kujelaskan kepadamu."

Sikap Thian-ih menjadi lesu dan kecewa, To Yung merasa tidak tega, maka bujuknya.

"Thian-ih, sekarang tugasmu harus pergi ke Bu-ciok-san dulu, lakukanlah apa yang harus kau kerjakan. Akan tiba satu hari kalian ibu dan anak bertemu dan berkumpul kembali. Dan lagi aku malah berani pastikan bahwa saat itu tidak lama lagi. Meskipun ibumu belum dapat mengakui kau, tapi diam-diam beliau memperhatikan dirimu, baik-baiklah kau pergi melaksanakan tugasmu itu. Setelah segala urusanmu selesai kita bertemu di Hun-tai-san."

Dari atas dinding To Yung mengambil sebuah kantongan kulit, dikatakan bahwa isinya adalah bahan-bahan obat untuk rias.

Lalu secara singkat To Yung memberi pelajaran tentang merias diri secara sekadarnya yang paling gampang lalu menyerahkan kantongan kulit itu.

Dipesannya wanti-wanti kalau menghadapi bahaya dan sulit meloloskan diri, tiada halangan mengandal obat-obatan itu merias diri untuk menyelamatkan diri.

Thian-ih tidak enak menampik kebaikan yang diberikan ini, dia menerima sambil mengucapkan banyak terima kasih.

Setelah hari menjelang petang, secara diam-diam mereka berdua keluar dari ruang dibawah dalam perigi itu terus berpisah dibawah gunung.

Waktu lewat di So-keh-pang, jauh-jauh terlihat keadaan markas besar itu terang benderang, diduganya bahwa para petugas dari istana raja itu pasti masih berada disana, untuk menghemat waktu dan supaya tidak menimbulkan banyak kesukaran, ia lewati saja perkampungan besar itu terus berlari-lari kencang.

Betapa juga So Tiong yang gagah perwira dan berpambek kesatria, serta So Hoan si gadis lincah yang simpatik itu akan selalu terkenang dalam sanubari Thian-ih.

Apalagi bila teringat pengalaman malam didalam gedung bobrok duduk berdekatan bersama So Hoan tempo hari itu, seolah-olah baru saja terjadi belum lama ini, sampai Thian-ih merasa seperti hatinya dikili-kili.

Demikian juga putri Nisi Hujin itu, walaupun mengenakan pakaian berkabung yang sederhana, namun tidak mengurangi kecantikannya.

Malam itu didalam gedung bobrok dipuncak Gun-u-ling itu sengaja dia melindungi Thian-ih, bagaimana mungkin dia bakal dapat melupakan ini.

Pikir punya pikir, lantas terbayang dan terkenang akan Li Hong-gi, terasakan olehnya bagaimana juga dia tidak boleh menyia-nyiakan kebaikan serta cinta kasih Hong-gi terhadap dirinya, secepatnya aku harus menolong Ciu Hou keluar, lalu kembali ke Hun-tai dan bersama To Yung pergi mencarinya.

Waktu terang tanah, Thian-ih menyewa sebuah kereta keledai untuk menggantikan kedua kakinya.

Segera kereta keledai itu berlari kencang menuju ke keresidenan Sam-ho yang terletak dipropensi Ho-pak.

Perjalanan cukup jauh ini memakan waktu beberapa hari.

Siang hari itu Thian-ih tiba di Sam-ho, tiada kesempatan bagi Thian-ih untuk pulang tilik keluarga.

Setelah mencari tahu letak gunung Bu-ciok-san, cepat-cepat ia beranjak kesana.

Sampai di Bu-ciok san Thian-ih harus berputar kayun menjelajah kesana-kemari mencari lembah Kambing yang diceritakan oleh To Yung itu.

Setengah harian sudah tanpa mendapat hasil, yang ditemui adalah alas pegunungan atau batu-batu cadas yang meninggi dan menjulang menembus angkasa.

Saking kewalahan akhirnya ia turun gunung mencari perkampungan dan tanya pada para petani atau penebang kayu.

Tapi semua yang ditanya pasti menggeleng kepala dengan ketakutan, serta menjawab tidak tahu.

Apa boleh buat akhirnya Thian-ih gunakan uang peraknya untuk menyogok, baru akhirnya ia mendapat keterangannya letak Lembah Kambing yang dicarinya itu.

Waktu Thian-ih sampai tempat yang dituju memang betul pintu masuk kedalam lembah sana tersumbat oleh sebuah batu gunung yang sangat besar.

Thian-ih harus kerahkan seluruh tenaganya untuk menggeser batu besar itu.

Setelah batu dapat disingkirkan Thian-ih lantas menyelinap masuk, pandangannya menjadi terang dan nyaman, dihadapannya terbentang sebuah dataran rendah yang subur menghijau, disekelilingnya dipagari dinding batu gunung yang tinggi, sehingga lembah ini menyerupai sebuah baskom besar.

Di kejauhan sana serombongan kambing tengah asyik makan rumput di pinggiran sungai.

Membelakangi dinding batu sebelah kiri adalah rumpun sebuah hutan kayu siong, sedemikian subur dan lebat daun-daunnya bak secarik gambar diatas kertas.

Dalam lembah tidak kelihatan adanya jejak manusia, secara diam-diam Thian-ih menggeremet maju terus melesat masuk kedalam hutan.

Terdengar disini burung berkicau bersahutan dengan ramainya, bau harum kembang merangsang hidung, tanpa terasa badan lantas segar dan bersemangat.

Waktu ia angkat kepala hampir saja ia berseru kaget, terlihat ditengah hutan sana dibangun sebuah gubuk yang terbuat anyaman daon kering.

Didepan pekarangan rumah tampak duduk dua orang tengah bercakap-cakap, salah seorang diantaranya adalah Ban-keh-seng-hud Ciu Hou, sedang seorang yang lain adalah seorang kakek yang berjambang lebat, dapatlah diduga bahwa kakek tua ini pasti si Naga hitam Kim Thay itu.

Sesaat sulit bagi Thian-ih mengambil keputusan cara bagaimana ia harus mulai bekerja, sekali berkelebat ia sembunyi dibalik pohon dibelakang mereka.

Terdengar mereka tengah bercakap-cakap dengan suara lirih, dan lesu serta tak bertenaga.

Kata Kim Thay.

"Saudara Ciu, sibaju perak itu sungguh kejam dan licik, dia menipu dan mengurung kita ditempat semacam ini, sampai ilmu kepandaian juga lenyap tak berguna lagi, hidup merana dengan tanpa tenaga begini sungguh menyiksa dan mengenaskan."

Ban-keh-seng-hud Ciu Hou menghela napas, sahutnya.

"Persoalan lain sih aku tidak perduli, hanya menurut peruntunganku, saat ini sudah menjelang bulan empat. Ketahuilah bahwa pada bulan empat yang akan datang ini dikalangan Kangouw bakal terbit gelombang keonaran besar yang dahsyat. Peristiwa ini sudah lama bersemi dan tinggal tunggu waktu saja. Bagaimana juga aku harus cepat-cepat dapat pergi kesana untuk mencegah bencana yang bakal terjadi ini. Karena ini hanyalah suatu kesalah pahaman saja, sampai kedua belah pihak harus naik pitam dan harus bertempur mati-matian, latar belakang duduk peristiwa ini hanya aku seorang yang mengetahui. Kalau aku dapat menyusul tiba tepat pada waktunya mungkin masih dapat mencegah timbulnya bencana besar itu."

Terdengar Kim Thay sinaga hitam dari luar perbatasan itu menghiburnya.

"Saudara Ciu. Sekarang kenyataan kau terkurung disini, lebih baik kau tidak memikirkan segala urusan tetek bengek yang tidak mungkin kau dapat campur tangan lagi. Coba ingin kutanya julukanmu sebagai si Budha hidup penolong berlaksa keluarga, entah sudah berapa banyak umat manusia yang telah kau tolong jiwanya, akhirnya kau sendiri harus mengalami siksaan lahir batin disini. Ini menandakan bahwa Tuhan tidak bermata dan kurang adil. Lebih baik kita tidak usah repot-repot dan menguatirkan segala urusan orang lain. Anak Sin, ambil makanan kemari!'' Terdengar seseorang mengiakan dari dalam gubuk reyot itu lantas terlihat seorang pemuda berjalan keluar sambil membawa daging, buah-buahan serta air minum. Derap langkahnya sangat berat, padahal daging dan buah-buahan serta minuman yang dibawanya itu tidak begitu banyak, tapi agaknya sudah menghabiskan seluruh tenaganya. Segera terlihat pula se-orang pemuda memburu maju membantu membawakan buah-buahan itu. Melihat keadaan ini, diam-diam Thian-ih terperanjat, sungguh lihay benar air jernih dalam lembah kambing ini. Kedua pemuda itu terang adalah putra-putra Kim Thay. Menurut To Yung bahwa kaki tangan mereka sudah lemas tak bertenaga memang bukan bualan belaka. Tampak Kim Thay angkat cangkirnya terus ditenggak habis, ujarnya sambil tertawa getir.

"Walaupun sudah tahu bahwa air ini rada aneh, tapi kita bertujuh terpaksa harus meminumnya juga. Tuhan oh Tuhan! Kasihanilah hambamu ini. Sibaju perak yang durjana itu, kenapa tidak jatuhkan tangan jahatnya sekalian menamatkan hidup kita?"

Tak tertahan Ciu Hou menghela napas panjang, ujarnya.

"Seumpama harus mati sih aku tidak takut. Tapi aku kuatir akan kejadian yang bakal terjadi dipertengahan bulan empat itu, karena kedua belah pihak adalah sama sahabatku yang paling akrab. Bagaimana mungkin aku dapat berpeluk tangan dan berlega hati."

Kim Thay bertanya.

"Siapakah sahabatmu itu?"

"Dia bukan lain adalah Hun-tai Siancu Ui Eng........."

Thian-ih berjingkat kaget mendengar keterangan ini.

Tak terkira olehnya bahwa Hun-tai Siancu ternyata sudah berjanji dengan orang hendak bertempur menentukan mati hidup.

Kenapa aku tidak mengetahui tentang hal ini.

Kejadian ini sungguh luar biasa, maka Thian-ih pusatkan perhatiannya mendengarkan penjelasan Ciu Hou selanjutnya.

Kiranya Hun-tai Siancu Ui Eng adalah sahabat Ciu Hou sejak masih kanak-anak, waktu masih muda mereka adalah tetangga, tak jauh dari kediaman mereka masih terdapat sebuah keluarga yang mempunyai putra sebaya dengan mereka, pemuda itu adalah Ki-san Tay-hiap Ki Bing yang kenamaan itu.

Mereka bertiga sering bermain bersama, diam-diam Ciu Hou dan Ki Bing sama-sama mencintai Ui Eng.

Tapi Ki Bing lebih tampan dan gagah, maka Ciu Hou tahu diri dan mundur teratur, diam-diam ia pujikan dan berdoa akan terangkapnya perjodohan mereka.

Tapi puluhan tahun kemudian setelah mereka bertiga menanjak dewasa, mereka mulai berkelana di kalangan Kangouw.

Setelah berpisah Ki Bing masih berusaha mengejar-ngejar Ui Eng.

Tapi entah mengapa Ui Eng masih belum mau menikah dengan dia.

Beberapa tahun berselang, pada suatu hari tiba-tiba Ki Bing datang mencari Ciu Hou,melihat wajah temannya ini rada pucat dan kurus, Ciu Hou bertanya kenapa.

Ki Bing menerangkan bukan saja Ui Eng sudah tidak menghargai persahabatan mereka yang berlangsung puluhan tahun itu, sekarang malah mencintai seorang begal tunggal yang banyak dosanya.

Dia bertanya dan minta pendapat Ciu Hou bagaimana.

Ciu Hou merasa dalam hal ini Ui Eng yang bersalah, betapapun Ciu Hou masih merasa simpatik dan sangat memperhatikan keadaannya, pendek kata besar harapannya bahwa Ui Eng bisa menikah dengan Ki Bing.

Sekarang setelah mendengar dia tersesat malah kepincut dengan seorang penjahat besar, hatinya menjadi kuatir, bersama Ki Bing mereka mencari Ui Eng untuk membujuknya.

Waktu sampai ditempat tujuan karena hari sudah berlarut malam, maka mereka ambil putusan untuk bicara besok pagi saja.

Tak kira malam itu juga sipenjahat besar yang dicintai Ui Eng itu mendadak berkunjung datang.

Diatas mukanya ada bekas goresan luka bacokan senjata yang dalam dan masih merembeskan darah segar.

Malah kelima jari tangan kirinya juga terpapas buntung.

Dia berkata, bahwa semua luka-lukanya itu diderita karena pengorbanannya sebagai imbalan cinta kasihnya terhadap Ui Eng, maka dia sengaja melukai diri sendiri sebagai tanda betapa dalam dan suci cintanya terhadap sang kekasih.

Sebaliknya dia tanya kepada Ki Bing, kalau Ki Bing juga mencintai Ui Eng, mengapa tidak berani menunjukkan pengorbanannya untuk membuktikan cintanya?

Tatkala itu Ki Bing kena dibikin gusar, tanpa banyak omong lagi segera ia lolos pedang terus menabas buntung tangan kiri sendiri.

Kontan darah segar memancur deras dari lengannya, saking kesakitan dia kelengar.

Untung masih ada Ciu Hou yang segera menolong dan memberi bantuan, baru jiwanya itu dapat diselamatkan.

Sedang si penjahat besar itu mandah menjengek dingin terus tinggal pergi.

Hari kedua bersama Ciu Hou, Ki Bing menahan sakit menemui Ui Eng.

Secara terang-terangan dihadapan Ui Eng ia nyatakan cintanya dengan menabas buntung lengan kirinya ini sebagai bukti akan ketulusan cintanya itu, ditandaskan lagi bahwa rasa cintanya tidak akan kalah mendalam dan suci dari sipenjahat besar yang banyak dosa dan kotor itu.

Ciu Hou juga ikut membujuk dari samping, dia mengharap mereka berdua bisa rukun menjadi suami-istri.

Tak duga Ui Eng menyangkal keras bahwa dia ada maksud dengan Ki Bing, juga diterangkan bahwa dia belum pernah mengadu cara kompetisi semacam itu untuk memperebutkan cinta mereka.

Ditandaskan pula bahwa dia sudah bertekad hendak menikah dengan sipenjahat besar itu.

Dikatakan bahwa perasaan serta hubungannya dengan Ki Bing tidak lebih sebagai persaudaraan belaka lain tidak.

Gara-gara Ki Bing sendiri yang terlalu gampang mengobral cinta sehingga bisa terjadi kesalah pahaman ini.

Saking gusar Ki Bing sampai kelengar jatuh pingsan sekali lagi Ciu Hou harus menolong dan mengusungnya pulang.

Sejak saat itu, dari rasa cinta berbalik ia merasa dendam terhadap Ui Eng.

Setelah Ui Eng menikah dengan penjahat besar itu, lalu Ki Bing mengasingkan diri ke Ki-san, disini ia memperdalam kepandaian dengan tekun belajar dan menggembleng diri.

Ia sesumbar bahwa tangannya buntung karena dipermainkan oleh Ui Eng ia bersumpah hendak mengutungi sebelah lengan Ui Eng juga baru bisa terlampias rasa dendamnya ini.

Seumpama air dan api permusuhan kedua belah pihak semakin mendalam, akhirnya diputuskan pada pertengahan bulan empat ini akan diadakan adu kepandaian di Hun-tai-san untuk menyelesaikan pertikaian ini.

Beberapa lama berselang sejak peristiwa itu terjadi, secara kebetulan Ciu Hou malah dapat membongkar kejadian salah paham ini.

Tak lain adalah karena si penjahat besar itu yang membuat gara-gara.

Dia pandai ilmu rias, luka di mukanya serta buntungnya kelima jarinya itu adalah palsu dan pura-pura belaka.

Terang gamblang bahwa Ki Bing telah kena dikibuli sampai mengorbankan sebuah lengannya secara sia-sia.

Sebaliknya dia masih salah paham dan menuduh bahwa semua ini adalah permainan Ui Eng melulu, lalu mendendam dan ingin menuntut balas.

Tapi pernikahan Hun-tai Siancu Ui Eng dengan sipenjahat besar itu juga tidak membawa akibat yang baik, karena sifat sipenjahat sukar dirubah, tanpa bekerja dan luntang-luntung menanam dosa, tak mau mendengar nasehat Ui Eng lagi, saking putus asa akhirnya Ui Eng putuskan hu-bungan suami-istri dan tinggal pergi mengasingkan diri.

Memang sejak ditinggal pergi sang istri penjahat besar itu terketuk hatinya, ia sadar akan dosanya dan berusaha memperbaiki, untuk suatu masa yang tidak panjang dia memang dapat mengendalikan diri, tapi watak manusia memang sukar dikendalikan, akhirnya dia melakukan pula kejahatan2 yang sampai mengakhiri jiwanya.

Sampai disitu cerita Ciu Hou, mendadak Kim Thay bertanya.

"Saudara Ciu! Menurut ceritamu itu aku dapat menebak sebagian, bukankah orang dalam ceritamu itu adalah yang kita bunuh..............."

Cepat-cepat Ciu Hou goyangkan kedua tangannya, serunya gugup.

"Saudara Kim, kita sebagai kaum kesatria harus mengutamakan kebijaksanaan dan cinta kasih serta berani menghadapi kebenaran. Sekarang orang itu sudah mati, kejelekannya dimasa yang lalu lebih baik jangan diungkat-ungkat lagi, sudahlah tak usah membicarakan soal itu lagi."

Kim Thay juga tidak bilang apa lagi, ia menunduk sambil menghela napas panjang.

Dilain pihak, Thian-ih sampai mengalirkan keringat dingin mencuri dengar dari tempat sembunyinya.

Bukankah cerita yang diperbincangkan itu adalah pengalaman ayahnya yang menggunakan kepandaian ilmu rias paman To untuk mengelabui dan menipu Ki-san Tayhiap sehingga dendam dan bermusuhan dengan Hun-tai Siancu Ui Eng.

Terang dalam pertikaian dulu itu Thio Thian-ki telah menggunakan cara yang licik untuk menipu Ki Bing sampai dia bisa mempersunting Hun-tai Siancu.

Haya!

Bukankah Hun-tai Siancu Ui Eng adalah ibu kandung Thian-ih sendiri, setelah direnungkan dan dianalisa secara menyeluruh akhirnya Thian-ih sadar akan seluruhnya.

Benar, untuk menghadapi tantangan Ki-san Tayhiap Ki Bing, pertempuran seru yang sulit menentukan siapa bakal menang dan asor ini, ada kemungkinan dia sendiri yang bakal tertimpa bencana, untuk tidak membuat Thian-ih sedih sengaja dia tidak atau belum mau mengakui hubungan sebagal ibu beranak ini.

Berpikir sampai disini terasa hatinya mendelu dadanya terasa seperti dipukul godam.

Sekarang hanya satu ingatan merangsang dalam otaknya; aku harus segera kembali ke Hun-tai-san untuk bertemu dengan ibu.

Sekonyong-konyong terdengar seseorang berteriak.

"Ayah, paman Ciu, lekas kalian kemari, lihatlah pintu lembah ini sudah terbuka !"

Tampak diambang pintu lembah sana para putra Kim Thay berlari merubung maju sambil berjingkrak-jingkrak.

Kim Thay menggenggam tangan Ciu Hou, lapat-lapat terlihat kedua matanya mengalirkan airmata kegirangan, bibirnya juga bergerak-gerak, suaranya terdengar gemetar dan sumbang.

"Saudara Ciu, akhirnya kita akan hidup bebas pula. Tapi entahlah apakah sibaju perak sendiri yang telah datang?"

"Selain dia tiada orang lain yang mengetahui lembah kambing ini siapa lagi yang mau kesini?'' demikian kata Ciu Hou.

"Mungkin dia mulai insaf dan menyesal maka mau melepas kita. Saudara Kim ada beberapa patah kata ingin kusampaikan. Setelah kalian keluar dan setelah kepandaian kalian pulih, permusuhan dengan sibaju perak itu rasanya juga harus dihapus sampai disini saja, tak usah kau mengejar jejak pembunuh itu lagi, urusan bunuh membunuh pasti tiada akhirnya dan kedua belah pihak pasti akan jatuh korban secara sia-sia, apakah faedahnya?"

Naga hitam Kim Thay manggut-manggut, sahutnya.

"Saudara Ciu, memang aku bermaksud demikian, ai, pengalaman hidup dalam lembah Kambing ini selama hidup ini takkan dapat kulupakan. Sekarang aku merasa semua sudah berubah, tidak seperti dulu watak ingin menang sendiri sudah padam dalam dadaku. Sejak saat ini kita sekeluarga terhitung lunas bermusuhan dengan pihak sibaju perak. Kelak asal dia tidak mencari perkara kepada kita, kita tidak akan menempurnya!"

Ditempat sembunyinya Thian-ih mengangguk-angguk dan bersyukur dalam hati, ia berkeputusan untuk tidak mengunjukkan diri saja biar mereka keluar lembah dan pulang sen-diri-sendiri.

Setelah sampai diluar lembah, dari kejauhan Thian-ih melihat ketujuh orang itu ambil perpisahan, seorang diri Ciu Hou putar keselatan menuju ke Kanglam.

Sedang Naga hitam membawa anaknya menuju keutara.

Tahu bahwa tenaga Ciu Hou belum pulih dan kuatir dia berjalan lambat, setelah sampai dijalan raya, Thian-ih lantas menyewa sebuah kereta terus dibedal kedepan waktu lewat dipinggir Ciu Hou tanpa banyak kata terus disambarnya saja tubuhnya lantas diseret masuk kedalam tenda kereta.

Memang tenaga Ciu Hou belum pulih begitu diseret masuk kedalam kereta kejutnya bukan main, sedikitpun dia tidak mampu membela diri, setelah melihat Thian-ih baru dia merasa lega dan bersyukur.

Didalam kereta inilah mereka menerangkan segala-galanya, dipesannya kusir kereta untuk menjalankan keretanya secepat mungkin.

Didalam kereta itulah Thian-ih membantu penyembuhan Ciu Hou dengan tenaga dalamnya.

Karena perjalanan jauh entah sudah berapa kali mereka ganti kareta, meskipun begitu juga telah banyak membuang waktu, waktu mereka hampir tiba di Hun-tai-san sudah tepat jatuh pada pertengahan bulan empat.

Keruan gugup dan gelisah mereka berdua bukan main.

Entahlah apakah Ki-san Tayhiap Ki Bing betul-betul menepati janjinya meluruk ke Hun-tai-san tidak.

Untung hari itu seluruh tenaga dan Lwekang Ciu Hou sudah pulih kembali, tanpa menunggang kereta lagi segera mereka kembangkan Ginkang dan berlari secepat terbang.

Jantung Thian-ih serasa sudah hampir melonjak keluar dari rongga dada.

Setelah melewati jembatan tali gantung itu, lantas Ban-keh-seng-hud Ciu Hou merasakan firasat jelek.

Dipesannya Thian-ih supaya tidak menerjang masuk secara gegabah, mungkin saat itu Hun-tai Siancu dengan Ki-san Tayhiap sudah saling gebrak, kedua belah pihak adalah tokoh silat kelas wahid, waktu berhadapan mengadu kepandaian sekali-kali pantang diganggu atau direcoki sehingga kaget.

Maka sambil berjinjit kaki berdua mereka memasuki Hun-tiong-khek, dari luar samar-samar telah terdengar suara beradunya senjata tajam serta terlihat berkelebatnya sinar pedang yang berkeredepan.

Saking gelisah Thian-ih bersiap menerjang masuk hendak membantu ibunya, untung Ban-keh-seng-hud Ciu Hou keburu mencegahnya, katanya dengan nada berat.

"Thian-ih, jangan sembrono, bila ibumu melihat kau sedikit meleng atau terpencar perhatiannya mungkin akan mengalami bencana, betapapun kita harus hati-hati bertindak............"

Sambil berkata-kata lirih itu mereka sudah tiba diambang pintu Hun-tiong-khek, tampak seorang perempuan dengan membekal sebilah pedang panjang berpakaian serba putih berdiri tegak membelakangi pintu, dia bukan lain adalah murid Hun-tai Siancu Cia In-hun adanya.

Tampak wajah Cia In-hun pucat pasi, air mata berlinang di kelopak matanya, begitu melihat kedatangan Thian-ih bersama Ciu Hou segera ia datang menghampiri lalu memberitahu dengan suara tertekan.

"Sudah bertempur selama dua hari tiada yang kalah atau menang, babak pertama mengadu Lwekang, lalu ilmu pukulan dan Ginkang, sekarang sedang menjajal senjata rahasia dan babak terakhir nanti adalah mengadu ilmu pedang. Aku sangat kuatir, tidak berani bersuara juga tidak bisa turun tangan membantu. Terpaksa aku menonton saja disini seorang diri, sekarang kalian telah tiba cobalah cari daya upaya untuk melerai mereka!"

Sementara itu Thian-ih dan Ciu Hou sudah melihat di tengah pelataran Hun-tiong-khek sana Hun-tai Siancu tampak mengenakan pakaian ringkas yang agak pendek, tangannya membekal pedang dan tengah menempur seorang laki-laki pertengahan umur dengan serunya.

Memang Kit-san Tayhiap Ki Bing buntung sebelah lengan kirinya, lengan bajunya yang panjang melambai-lambai tertiup angin, sedang tangan kanan menyekal sebilah pedang yang berkilauan menyilaukan mata.

Tatkala mana dalam gelanggang tengah bertempur dengan sengitnya, masing-masing memusatkan segala daya upaya serta semangat dan perhatiannya untuk mengalahkan musuh, sedikitpun mereka tidak hiraukan siapa-apa yang telah datang ke tempat gelanggang pertempuran ini.

Terlihat Hun-tai Siancu mengacungkan batang pedangnya keatas, dibarengi dengan sinar pedang yang berkilauan itu beruntun ia menusuk beberapa kali, jurus serangan semacam ini sungguh sangat ganas dan aneh serta cepat luar biasa.

Tapi kepandaian Ki-san Tayhiap Ki Bing ternyata juga bukan olah-olah hebatnya, meskipun hanya berlengan satu, tapi pedang ditangan kanannya itu bergerak sedemikian lincah dan hebat juga, tampak dengan jurus Tok-pi-hoa-san (lengan tunggal membelah gunung Hoa) pedangnya membacok turun dari atas, namun sampai ditengah jalan mendadak ia rubah pula dengan jurus Tong-cu-pai-hud (anak kecil menyembah Budha), gerakan dari atas kebawah lalu menyontek ke atas lagi ini sekaligus telah memunahkan serentetan serangan Hun-tai Siancu yang hebat itu, maka terdengarlah berdentingnya suara senjata beradu sehingga memercikkan lelatu api, dari gerak adu kekuatan dan kelincahan ini jelas sekali bahwa Lwekang dan kepandaian silat kedua belah pihak sama-sama kuat dan setanding, sukar ditentukan siapa menang dan asor.

Begitulah gebrak selanjutnya terus terjadi serang menyerang dengan serunya, sekejap mata saja dua puluhan jurus telah lewat.

Terlihat sinar dan hawa pedang telah berkelebatan menyambar-nyambar membumbung tinggi, lapat-lapat terdengar suara guntur diantara deru angin yang keras, nyata bahwa pertempuran kali ini sudah mencapai puncak yang paling dahsyat dan susah dipisahkan lagi.

Sekonyong-konyong terlihat sinar pedang Hun-tai Siancu melesat tiba memotong dengan sebuah gerak bundaran terus langsung menusuk ke arah dada.

Ki Bing berkelit miring sambil melangkah maju setindak, terpaut serambut saja pedang lawan hampir mengenai tubuhnya.

Bertepatan dengan inilah Hun-tai Siancu melesat lewat dari sampingnya, mendadak menggunakan ketika badan mereka berdekatan ini, kedudukan kakinya ia robah melintang miring terus sengaja menumbuk tubuh lawan.

Betapapun Ki Bing tidak mengira kalau lawan dapat bergerak begitu lincah, kedudukan kakinya menjadi sedikit goyah, dimana sebelah kakinya terhuyung maju ke kanan tinggal kaki kiri yang menumpang seluruh tubuh, ia berusaha membalikkan ujung pedangnya untuk menyodok ke belakang.

Tapi menggunakan kesempatan sedikit goyah kedudukan kakinya itu Hun-tai Siancu sudah kembangkan ilmu pedangnya sampai berpetakan sekuntum bunga pedang terus memapas kearah lengan kanan yang menyelonong ke belakang ini.

Lengan kiri Ki Bing sudah buntung jadi lengan baju kirinya itu kosong dan melambai-lambai, sedikitpun tiada kesempatan untuk membantu mengganti posisi atau menggunakan tenaga.

Apalagi gerak jurus tangan kanan ini juga telah dilancarkan penuh dan sukar ditarik pulang atau dirubah lagi, dalam keadaan yang gawat itulah, terlihat betapa lihay dan kenyataan bahwa Ki-san Tayhiap yang kenamaan sebagai tokoh silat kelas wahid bukanlah omong kosong belaka.

Dalam menghadapi bahaya sedikitpun dia tidak menjadi gugup, ujung pedangnya mendadak menyelonong tiba terus membacok miring memapas ke belakang batok kepala Hun-tai Siancu.

Tepat sekali memotong ikat kepala diatas sanggul Hun-tai Siancu, dimana angin pegunungan menghembus keras, seketika rambut panjang Hun-tai Siancu jatuh terurai dan melambai-lambai.

Meskipun agak terkejut Hun-tai Siancu tidak menjadi gugup, gerak pedang menjadi sedikit lambat terus menyontek miring keatas.

"bret"

Pedangnya juga berhasil memapas ujung jubah Ki Bing.

Tanpa berjanji lagi mereka berdua lantas loncat mundur kebelakang.

Saat inilah yang memang dinantikan oleh Ciu Hou dan Thian-ih, tapi belum sempat mereka berteriak, gerak langkah Ki-san Tayhiap ternyata begitu enteng bagaikan air mengalir dan awan mengembang, secepat kakinya menyentuh tanah tubuhnya terus menubruk tiba lagi, pedang panjangnya membacok miring melancarkan sebuah tipu aneh yang lain dari yang lain.

Dimana mata pedangnya memapas lewat dari pinggir kuping Hun-tai Siancu mendadak merobah arah terus menukik membacok turun.

Belum sempat Ciu Hou berseru kejut buru-buru telah ditelannya kembali kuatir mengganggu pemusatan pikiran Hun-tai Siancu.

Terdengar Hun-tai Siancu membentak keras tubuhnya terjengkang kebelakang, lalu segesit tupai badannya meloncat keatas tepat pada waktunya ia menghindar diri dari serangan Ki Bing itu.

Sungguh berbahaya dan sangat menguatirkan sekali.

Sampai Ciu Hou dan lain-lain yang menonton dipinggiran mengalirkan keringat dingin.

Begitulah setelah badan Hun-tai Siancu terapung ditengah udara waktu meluncur turun bak sekuntum bunga teratai, tanpa bersuara pedang panjangnya berkelebat berkilauan melindungi badan.

Mendadak Ki Bing menyedot hawa dalam-dalam lalu menghardik keras, seluruh tenaganya dikerahkan diatas batang pedang terus diacungkan keatas.

Saat mana badan Hun-tai Siancu tengah meluncur turun dan belum sempat menginjak tanah, terpaksa dia harus tekankan pedangnya untuk menangkis.

Sekali ini, karena Ki Bing berada diatas tanah datar gampang meminjam tenaga, kedudukannya lebih kuat, maka begitu kedua pedang saling beradu, kontan pedang panjang Hun-tai Siancu kena terpental miring, posisinya sangat berbahaya.

Belum sempat Thian-ih berseru kejut, situasi pertempuran ditengah gelanggang telah berobah lagi.

Maklum bahwa dalam hal Ginkang Hun-tai Siancu sudah mencapai kesempurnaannya, badannya seenteng kapas selemas dahan pohon liu membarengi dengan meliuknya tubuh diatas udara itu, sebelah kaki kanannya menendang mengarah mata kiri Ki Bing.

Ki Bing terkejut dan mengegos dengan gugup, namun tendangan susulan dari kaki kiri Hun-tai Siancu juga telah merangsang tiba secepat kilat.

"Blang'' dengan tepat menendang pundak Ki Bing, sehingga ia terguling beberapa langkah keluar. Enteng sekali Hun-tai Siancu melayang turun dan hinggap ditanah, serunya.

"Apakah perlu bertanding lagi?"

Belum lagi Ki Bing menyahut, tiba-tiba Ban-keh-seng-hud Ciu Hou keburu berteriak.

"Stop. Jangan diteruskan dan dengar penjelasanku.'' Ki-san Tayhiap Ki Bing melengak melihat kehadiran Ciu Hou ini. Sementara itu Hun-tai Siancu juga sudah melihat Thian-ih, seketika sepasang matanya memantulkan rasa kasih sayang yang mesra, teriaknya penuh perasaan sampai suaranya tersendat.

"Anak Ih, kau sudah pulang?"

Thian-ih segera maju sambil menyahut.

"Ya, anak telah kembali, Bu, tuan ini........"

Belum Hun-tai Siancu menjawab, Ciu Hou telah berkata.

"Thian-ih, dia inilah Ki-san Tayhiap Ki Bing, lekas kau maju menghadap pada angkatan yang lebih tua."

Thian-ih tertegun, ia ragu-ragu karena Ki Bing tadi bertempur melawan ibunya. Tapi disamping sana Hun-tai Siancu lantas membentak.

"Anak Ih, betapa juga dia seorang angkatan tua yang gagah perwira, lekas menghadap pada paman Ki, jangan karena tadi dia telah bertempur dengan ibumu lantas kau lupakan adat kesopanan. Ketahuilah meskipun tadi kita bertempur sebagai musuh, tapi dia juga salah seorang sahabatku."

Mendengar ucapan ibunya ini terpaksa Thian-ih maju memberi hormat serta sapanya.

"Selamat bertemu paman Ki !"

Ki Bing melenggong, tanyanya pada Hun-tai Siancu.

"Jadi dia adalah putra dari perampok besar itu?"

Ciu Hou segera menyelak .

"Ki Bing, kau tak boleh berkata demikian, dia terima perintah ibunya untuk menghormat padamu, sebab kau adalah sahabat Hun-tai Siancu, mana bisa kau alihkan persoalan lain dalam hal ini. Apalagi kesalah pahaman kalian itu sudah tiba saatnya dibereskan. Biarlah kuberitahu padamu, aku paling jelas mengenai peristiwa itu. Dulu waktu kau mengutungi sebelah tanganmu itu, hakikatnya memang Hun-tai Siancu tidak tahu menahu, semua ini adalah gara-gara ayahnya Thio Thian-ki itu yang mengatur tipu daya."

Bicara sampai disini ia menuding kearah Thian ih, lalu sambungnya.

"Tapi sekarang Thio Thian-ki sudah meninggal, tidak seharusnya kau timpakan dosa-dosa almarhum kepada mereka yang masih hidup. Bukan saja tidak seharusnya kau salah paham terhadap Hun-tai Siancu, dendam sakit hatimu terhadap Thio Thian-ki juga harus dihapus !"

Bicara sampai disini lantas Ciu Hou bercerita tentang bagaimana dengan tipu muslihatnya Thio Thian-ki telah mengejar-ngejar dan sampai berhasil mempersunting Hun-tai Siancu.

Baru sekarang Ki Bing tersadar dan tahu jelas duduk perkaranya, lekas-lekas ia angkat tangan dan berkata kepada Hun tai Siancu.

"Sekarang Ciu Hou sudah menjelaskan segala-galanya, sungguh aku sangat menyesal banyak tahun ini aku telah salahkan kau secara semena-mena betapapun kau harus memaafkan kecerobohanku ini?"

Hun-tai Siancu tersenyum, sahutnya.

"Bukan saja aku harus memaafkan kau, aku juga harus minta maaf kepadamu. Mengapa tidak, bagaimana juga Thio Thian-ki adalah suamiku, walaupun yang mengatur tipu muslihat mencelakai kau adalah dia, sebagai istri apa yang telah dibuat oleh suamiku aku harus mintakan maaf untuknya.'' lalu ia membungkuk tubuh memberi hormat sedalam-dalamnya kepada Ki Bing. Segala peristiwa dalam dunia ini paling ditakuti kalau salah paham semakin dalam, sekarang kesalah pahaman itu sudah dapat diatasi dan sudah dijelaskan duduk perkaranya. Secara gamblang dan berbesar jiwa, Hun-tai Siancu mau memintakan maaf akan dosa-dosa Thio Thian-ki almarhum, maka lega dan lapanglah perasaan Ki Bing, apalagi selama ini memang dia sangat menghargai Hun-tai Siancu, maka segera ia membalas hormat juga, ujarnya.

"Hun-tai Siancu, kau juga tidak perlu minta maaf, yang harus disesalkan adalah kebodohanku, sampai sedemikian gampang aku kena pancing dan dipermainkan oleh Thio Thian-ki. Tapi kau sendiri juga telah kena dikelabui, seumpama kau tidak menikah dengan dia, kau takkan hidup kesepian mengasingkan diri di-puncak pegunungan sini menyia-nyiakan masa remajamu yang sangat berharga !"

Hun-tai Siancu tersenyum getir, katanya.

"Meskipun kita suami istri tidak dapat hidup rukun dan bahagia sampai dihari tua, tapi pertemuan kita ibu beranak ini sudah cukup menambal kesenangan hidupku dihari tua ini."

Melihat Hun-tai Siancu masih mengukuhi pendapatnya dulu, Ki Bing menghela napas, katanya.

"Betapapun kita ini sahabat lama, pengalaman hidup masing-masing menyerupai impian belaka. Untuk selanjutnya biarlah nama Ki-san Tayhiap ini terpendam ditelan masa, aku tidak akan muncul didunia ramai. Silakan, silakan!"

Ciu Hou segera maju menarik Ki Bing, katanya dengan nada berat.

"Tidak peduli perjodohanmu dengan Hun-tai Siancu telah dirusak dan dikacaukan oleh Thio Thian-ki. Tapi sekarang kalian sudah saling memaklumi dan saling maaf, persahabatan lama harus dipulihkan dan dijalin kembali. Jadi sekarang setelah mereka ibu beranak dapat berkumpul kembali, pertemuan yang menggembirakan ini harus dirayakan, mana bisa kau mau tinggal pergi begitu saja. Sedikitnya kau harus menginap beberapa hari disini, jangan kata lain persoalan, aku Ciu Hou terhitung kenalan kentalmu, apalagi setelah sekembalimu ini kau hendak memendam diri kapan kita dapat bertemu kembali, betapapun kau harus menunggu dan berkumpul gembira beberapa hari disini."

Hun-tai Siancu juga lantas ikut bicara sambil tersenyum simpul.

"Ki Bing, ucapan Ciu Hou memang benar, tinggallah beberapa hari disini, aku harus mengundang kau menikmati arak kegirangan.'' Ki Bing tertegun heran, tanyanya.

"Apa kau mengundang aku minum arak kegirangan, siapa yang bakal menikah?"

"Minum arak kegirangan anakku ini!"

Kata Hun-tai Siancu sambil menuding Thian-ih. Ucapan Hun-tai Siancu ini bukan saja membuat Ki Bing tertegun, Thian-ih sendiri juga melengak kaget, katanya.

"Ibu, aku sudah bersumpah sehidup semati dengan Li Hong-gi, lalu siapakah yang bakal kau ambil sebagai menantu?"

Habis berkata ia melirik kearah Cia In-hun.

Menurut dugaan Thian-ih, pastilah Hun-tai Siancu menjodohkan Cia In-hun kepadanya.

Siapa tahu diluar sangkanya terdengar Hun-tai Siancu tertawa terkekeh-kekeh, ujarnya.

"Anak Ih, maksud hatimu masa aku tidak dapat menyelaminya!"

"Ketahuilah bahwa paman To telah bersusah payah mewakili kau mengundang datang Nona Li kemari, juga murid tunggal ayahmu itu sudah diajak kemari pula !"

Demikian Hun-tai Siancu memberi keterangan. Lalu ia berpaling ke-arah Cia In-hun dan berkata lagi.

"Silakan mereka keluar untuk menghadap pada Ki dan Ciu dua locianpwe."

Tak lama kemudian pandangan Thian-ih terasa terang terbelalak, tampak dengan langkah yang gemulai selemas dahan pohon liu Li Hong-gi berjalan keluar sambil menunduk malu-malu.

Di belakangnya ikut keluar Hi Si-ing, tapi sekarang berwajah terang tidak seperti orang gila lagi.

Tak tertahan lagi segera ia mengajukan pertanyaan.

"Apakah ibu yang menyembuhkan penyakit Hi Si-ing itu?"

Hun-tai Siancu menggeleng kepala, sahutnya.

"Masa aku ada kemampuan itu, paman To-mu itu yang menyembuhkan!"

Segera Thian-ih bertanya lagi.

"Lalu dimana sekarang paman To, belum lama anak berpisah dengan dia, masakan sudah begitu banyak urusan yang telah dikerjakan!"

Hun-tai Siancu tersenyum geli, ujarnya.

"Selamanya memang dia bekerja secara misterius, ini tidak perlu diherankan lagi. Sekarang dia tengah menuju ke Bo-toh mewakili aku mengundang Nisi kecil kemari, menurut perhitungan dalam jangka tiga hari ini pasti mereka sudah tiba di-sini."

Segera terbayang dalam benak Thian-ih akan gadis berkabung yang membawa kayu perabuan itu. Sebab wajahnya seperti pinang dibelah dua mirip betul dengan Li Hong-gi, maka tanyanya lagi.

"Bu, buat apa kau undang dia kemari, bukankah dia ............"

Sampai disini ia ragu-ragu untuk melanjutkan kata-katanya. Lagi-lagi Hun-tai Siancu terkekeh tawa, ujarnya.

"Ada sesuatu hal yang tidak kau ketahui, justru karena perbuatan ayahmu semasa hidup itu, aku sebagai istrinya harus berusaha untuk menyelesaikan dan menghimpas semua dosa yang tertunggak selama ini, supaya tidak terlalu berlarut dan mempengaruhi angkatan muda yang akan datang. Walaupun Nisi Kecil itu jauh-jauh meluruk datang kemari hendak menuntut balas terhadap ayahmu, namun terhadap kau dia pernah mengulurkan tangan melindungi jiwamu, apalagi anak ini juga harus dikasihani, aku berhasrat mengambilnya sebagai putri angkatku, untuk menuntunnya kearah jalan yang benar supaya tidak menimbulkan bibit bencana bagi masyarakat."

Mendengar penjelasan cara penyelesaian ini, sungguh girang Thian-ih bukan kepalang, serunya riang.

"Bu, cara penyelesaian begini adalah yang paling tepat, hanya aku kuatir Nisi kecil terlalu mengukuhi akan dendam sakit hatinya, dan tidak mau menurut."

Hun-tai Siancu tersenyum welas asih, katanya.

"Aku menghadapinya dengan kejujuran hanya dengan kejujuranlah dapat menundukkan orang, kupikir Nisi kecil itu sangat pintar tentu dia dapat membedakan antara buruk dan baik, kau tunggu dan lihatlah perkembangannya."

Sikap Hun-tai Siancu yang halus dan welas asih penuh pengertian ini bukan saja membuat Thian-ih tunduk, para hadirin yang lain juga merasa terharu akan kebaikan hatinya.

Terutama Ki-san Tayhiap Ki Bing lebih menyesal dan terketuk sanubarinya akan sepak terjangnya tadi yang berangasan, maka segera ia berkata dengan penuh ketekadan.

"Hun-tai Siancu, kita adalah sahabat lama, selama ini aku belum pernah menghadapimu secara terhormat. Sekarang biarlah aku membayar hutang-hutangku itu bagaimana?"

Hun-tai Siancu tersenyum, sahutnya.

"Hakikatnya kau tidak membuat kesalahan apa-apa terhadap aku, kalau terjadi pertempuran tadi itu karena kesalah pahaman, tidak perlu kau menghukum dirimu sendiri."

"Sungguh aku bersyukur akan jiwamu yang besar dan bijaksana ini."

Demikian kata Ki Bing.

"Tapi hari pernikahan Thian-ih sudah diambang pintu, biarlah aku yang menjadi orang tua bersenang-senang, mengundang para sahabat dunia persilatan yang sealiran untuk ikut merayakan pernikahan ini, bagaimana pendapatmu."

Ciu Hou segera ikut bicara.

"Pernikahan Thian-ih ini adalah urusan besar memang seharusnya dirayakan secara besar-besaran. Supaya semua sahabat di dunia persilatan mengetahui meskipun Thian-ki dulu bejat dan banyak dosanya, tapi anak istrinya adalah dari aliran lurus yang gagah perwira, dapat membedakan antara benar dan buruk, sekaligus kita dapat mencuci pandangan dan pendengaran umum."

Pertandingan silat antara Hun-tai Siancu dan Ki-san Tayhiap Ki Bing ini merupakan pertandingan silat tingkat tinggi yang jarang terjadi selama puluhan tahun akhir-akhir ini hidup atau mati dapat ditentukan dalam satu gebrakan saja dan susah diduga.

Cia In-hun sendiri selama ini sangat menguatirkan keadaan Hun-tai Siancu.

Sekarang setelah damai dan suasana diliputi persahabatan yang akrab keadaan menjadi tenang dan menyegarkan badan.

Terutama terlihat Thian-ih dan Li Hong-gi duduk di pinggiran sana penuh mesra kasih.

Hati kecilnya menjadi girang-girang duka.

Girang karena gurunya sudah rujuk kembali dengan musuh besar serta sahabatnya, juga duka karena sampai saat itu hari depannya masih terkatung-katung, sebelum ini besar harapannya dirinya bisa menikah dengan Thio Thian-ih.

Tapi sekarang tambatan hatinya itu sudah bakal menjadi menantu keluarga Li, tiada harapan lagi bagi dirinya dalam soal perjodohan ini, tak tertahan lagi air mata mengalir deras saking duka.

Mendadak terdengar Hun-tai Siancu berseru keras.

"In-hun, kau tidak perlu berduka hari depanmu gurumu sudah mengaturnya dengan sempurna."

Lalu dia panggil Hi Si-ing dan Cia In-hun menghadap berdiri berendeng di hadapannya, katanya penuh perasaan.

"Hi Si-ing adalah murid tunggal suamiku almarhum, sedang In-hun adalah murid tunggalku pula, usia kalian sembabat, yang pria gagah tampan, yang perempuan ayu jelita, merupakan pasangan yang setimpal dan cocok, kukira perjodohan ini dapat dirangkapkan."

Mendengar dirinya bakal mempersunting istri demikian cantik, sungguh girang Hi Si-ing bukan kepalang seperti putus lotre beberapa juta, cepat-cepat ia berlutut menyembah kepada Hun-tai Siancu nyatakan terima kasih sebesar-besarnya.

Sekilas Cia In-hun melirik ke arah Si-ing, meskipun tidak setampan dan segagah Thian-ih, tapi juga seorang pemuda yang cukup ganteng dan mengenal cinta kasih.

Diam-diam ia membatin.

rasanya juga tidak sia-sia aku menikah dengan dia, maka ia juga berlutut dan menyembah di hadapan Hun-tai Siancu menyatakan terima kasih akan karunia ini.

Suasana menjadi tambah semarak dan riang gembira.

Terutama Hi Si-ing yang paling girang dapat mempersunting seorang istri yang cantik rupawan.

Malam itu Hun-tai Siancu mengadakan perjamuan sekedar merayakan kabar gembira ini.

Hari kedua, Ki Bing menulis puluhan undangan yang segera disebar mengundang tokoh-tokoh silat yang kenamaan di berbagai tempat.

Tiga hari kemudian, dibawah gunung Hun-tai-san mendatangi sebuah kereta gandeng yang reyat-reyot mendaki ke atas puncak, orang yang berjalan di depan kereta ternyata bukan lain adalah To Yung adanya.

Kebetulan Cia In-hun dengan calon suaminya Hi Si-ing sedang iseng dan tamasya melihat-lihat pemandangan dan mencari angin, dari kejauhan segera mereka berteriak memanggil.

"Paman To."

Hi Si-ing juga segera berlari menghampiri.

Waktu sudah dekat begitu ia melihat di atas kereta duduk seorang gadis yang cantik bak bidadari berwajah mirip benar dengan Li Hong-gi, ia menjadi kesengsam dan heran serta garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal, tanyanya keheranan kepada Cia In-hun.

"Bukankah nona Li tadi berada dirumah? Bagaimana bisa dia datang dari bawah gunung ?"

Belum lagi Cia In-hun menjawab, terdengar To Yung sudah bergelak tertawa terpingkal-pingkal, katanya.

"Si-ing, coba kau lihat tegas, siapakah dia?"

Dengan cermat dan seksama Si-ing dan In-hun melihat lebih tegas lagi, namun masih belum dapat membedakan, siapakah dia sebetulnya.

Tapi dari gerak gerik To Yung yang melucu itu sedikit banyak mereka sudah dapat menduga bahwa gadis diatas kereta ini pasti bukan Li Hong-gi adanya.

Melihat kedua muda muda ini berdiri melongo saja, baru To Yung memberi penjelasan.

"Dia adalah Nisi kecil itu. Lekas kalian laporkan kedatangannya kepada Hun-tai Siancu, katakan bahwa aku berhasil mengundang Nisi kecil kemari!"

"O, kiranya Nisi kecil."

Cia In-hun berjingkrak girang terus putar tubuh lari sekencang-kencangnya bergandeng tangan dengan Hi Si-ing, memberi laporan kepada Hun-tai Siancu.

Tak lama kemudian semua orang sudah sampai di Hun-tiong-khek.

Pertama-tama Thian-ih yang menyambut diluar pintu.

Begitu melihat kehadiran Thian-ih ini, kontan Nisi kecil tertegun dan berdiri melongo.

To Yung tertawa besar, serunya.

"Aku tidak ngapusi kau bukan!"

Nisi kecil membalasnya dengan senyuman manis terus loncat turun dari atas kereta untuk bertemu dengan Thian-ih. Setelah memberi hormat segera Thian-ih berkata.

"Ibuku sudah menanti dikamar belakang, masih ada lagi Ciu Hou dan Ki Bing dua Locianpwe juga berharap bertemu dengan kau."

Lalu dia berjalan didepan membawa Nisi kecil keruang belakang.

Dalam pada itu Hun-tai Siancu, Ki Bing dan Ciu Hou juga sedang berjalan keluar menyambut, terutama Hun-tai Siancu dengan kasih sayang segera ia genggam kedua tangan Nisi kecil serta katanya welas asih.

"Nak, perjalanan yang jauh ini tentu melelahkan sekali."

Waktu Nisi kecil masih berada di Bo-toh, To Yung sudah menjelaskan asal-usul serta serangkaian usahanya yang melerai permusuhan dendam sakit hati yang ditanam oleh suaminya, maka begitu mendengar ucapan Hun-tai Siancu yang halus penuh kasih sayang, seketika ia teringat akan ayah bundanya, tak tertahan lagi airmata mengalir deras.

Hun-tai Siancu menghela napas panjang, lalu katanya berpaling kearah To Yung.

"Apakah kau sudah jelaskan maksud hatiku kepadanya?"

"Aku sudah menjelaskan kepada Nisi kecil,"

Sahut To Yung.

"Dan lagi dia sudah tahu bahwa Thian-ih ternyata adalah putra tunggalmu."

Sebelah tangan Hun-tai Siancu menyekal pergelangan tangan Nisi kecil sedangkan tangan yang lain menyekap lengan Thian-ih, katanya kepada Nisi kecil dengan suara haru tersendat.

"Balas membalas tentu tiada akhirnya, dendam sakit hati dari angkatan tua biarlah dibawa ke liang kubur oleh mereka, kalian dari angkatan muda biarlah angkat saudara di hadapanku saja. Nisi kecil, aku dapat menganggapmu sebagai putri kandungku sendiri. Apalagi aliran agamamu diluar perbatasan itu hakikatnya bukan bersumber dari aliran yang lurus, kembalilah ke jalan benar dan pelajarilah ilmu sejati dari golongan lurus."

Nisi kecil manggut-manggut sambil berlinang air mata, sahutnya.

"Dapat berjumpa dengan kau orang tua, benar-benar merupakan keberuntungan Siau-li (aku) yang besar. Seakan menyingkap kabut, aku melihat langit yang terang, besar benar rejekiku ini."

Sungguh girang Hun-tai Siancu hari ini, susah dilukiskan dengan kata-kata, segera ia duduk di kursi kebesarannya menerima sembah sujud dari Nisi kecil.

Sejak saat itu ia ketambahan seorang putri angkat.

Demikian juga segera Thian-ih bersama Li Hong-gi maju memberi selamat kepada Nisi kecil.

Baru sekarang Nisi kecil berkesempatan melihat wajah Li Hong-gi yang benar-benar mirip dengan wajahnya.

Maka dia membatin dalam hati; tak heran Thian-ih pernah kesalahan mengira aku adalah calon istrinya ini.

Beberapa hari kemudian, para tokoh-tokoh silat kenamaan yang diundang sudah berduyun-duyun berkunjung keatas Hun-tai-san, untuk mengikuti perjamuan pernikahan Thian-ih dengan Li Hong-gi serta Hi Si-ing dengan Cia In-hun.

Kalau semua hadirin bergembira makan minum dengan riangnya, adalah So Hoan di sebelah sana tiada selera menyikat hidangan didepannya.

Kiranya sejak pertemuan pertama kali dulu serta pengalamannya didalam gedung bobrok diatas Gun-u-ling itu, siang-siang hatinya sudah tertambat oleh Thian-ih, diam-diam ia sudah berkeputusan dalam hati untuk menikah dengan dia.

Tapi sekarang pemuda pujaannya menjadi suami Li Hong-gi, bahwasanya hati perempuan rada dengki dan jelus, belum perjamuan selesai dengan alasan mabuk arak diam-diam ia tinggalkan perjamuan.

Setelah perjamuan bubar baru diketahui dia tengah menangis di belakang pohon diluar sana, menangis karena cintanya tidak terbalas.

Terpaksa So Tiong harus membujuknya dengan susah payah.

Beberapa hari kemudian sejak pernikahan itu, Thian-ih menghadap ibunya dan mengutarakan maksudnya hendak mengembalikan kedua butir mutiara yang dicuri oleh To Yung dari gudang harta di istana raja itu, langsung diserahkan kepada petugas Bhayangkara di kotaraja serta dijelaskan duduk perkara sebenarnya.

Maka sejak hari itu setelah semua perkara dapat dibereskan, karena terbukti tidak bersalah Lim Han dilepas keluar dari penjara.

Karena dengan rela hati Thian-ih mau menyerahkan kembali barang-barang pusaka, atas kebijaksanaan sang Raja segera Thian-ih dianugrahi sebuah pangkat Bhayangkari kelas satu tituler, serta memberikan piagam penghargaan.

TAMAT.

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com

Baca Juga: Pedang Kayu Harum 2

Baca Juga: Pendekar Kelana 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert