Eps 3 Badik Buntung - GKH
Baca online Badik Buntung - GKH
Cersil Badik Buntung - GKH.
Ti-hay tertegun, tanyanya.
"Supek, mengantar dia keluar?"
"Ada urusan baru dia mencari aku,"
Demikian Thian_cwan menjelaskan.
"Hakikatnya tiada berniat jahat, selamanya Siau-lim kita jarang turut campur urusan Kangouw, untuk urusan ini kita pun harus dapat membedakan siapa salah dan benar!"
Ti-hay lantas membungkuk tubuh dan mundur.
Hun Thian-hi mengintil dibelakang Ti-hay keluar dari hutan bambu terus keluar dari lingkungan biara Siau-lim.
Setelah sampai diluar pintu, segera Ti-hay merangkap tangan serta katanya.
"Hun-sicu, maaf Siauceng tidak mengantar lebih jauh lagi.."
Ter-sipu2 Hun Thian-hi menjura serta katanya.
"Banyak terima kasih kepada Siausuhu."
Ti-hay lantas membalik tubuh dan masuk kembali.
Thian-hi menghirup napas lega, sejenak ia celingukan keempat penjuru, sekelilingnya sepi tanpa kelihatan bayangan seorangpun, dengan perasaan hampa dan kosong per-lahan2 ia berjalan turun gunung, hatinya tengah menerawang wejangan yang diberikan oleh Thian-cwan Taysu tadi.
Sambil berjalan turun gunung, otak Thian_hi berputar.
"Apakah benar Bu_bing Loni tanpa tandingan diseluruh dunia? Menurut kata Thian-cwan Taysu Ce-han-it-ki dan Ciang_ho-it_koay dari Tiang-pek-san belum mampu menandingi Bu-bing Loni, tapi itu kan penilaian masa lalu, siapa tahu sekarang? Begitulah berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benaknya, namun ia masih bertekad hendak menuju ke Tiang-pek-san. Baru saja Thian-hi tiba dikaki gunung dan beranjak dijalan raja, dari kejauhan lantas terlihat Thian-mo-kiam Liong Lui memimpin sebarisan anak buahnya dari Partai Merah tengah membedal tunggangannya menuju kearah dirinya. Lekas2 Thian-hi berlari menyingkir, untung Liong Lui dan anak buahnya tidak melihat dirinya. Sedang Liong Lui dan kawan2 seperti punya kerja penting terus membedal lewat dengan kencang. Setelah rombongan Liong Lui pergi jauh baru Thian-hi melongok keluar. Mendadak seekor kuda mencongklang mendatangi secepat terbang, untuk sembunyi sudah tak sempat lagi, sudah tentu Thian-hi menjadi kaget, waktu ditegasi pendatang itu bukan lain adalah putri Ciok Hou-bu itu majikan Hwi-cwan-po yaitu Ciok Yan adanya. Melihat Hun Thian-hi cepat2 Ciok Yan melompat turun. Thian-hi mundur dua langkah mengawasinya dengan mendelong. Ciok Yan berdesah, katanya.
"Dimanakah Bun-pangcu sekarang?"
Kiranya orang bukan mencari dirinya dengan heran Thian-hi menggeleng kepala.
Melihat jawaban Thian-hi, Ciok Yan membanting kaki, cepat2 ia melompat naik keatas tunggangannya terus dibedal kedepan dengan kencang.
Thian-hi menjublek ditempatnya mengantar bayangan Ciok Yan yang semakin jauh, rada lama kemudian baru ia sadar dan tertawa geli sendiri akan kebodohan dirinya, diam2 ia memaki kenapa hubungan asmara antar muda mudi saja tidak dapat dirabanya.
Thian-hi jadi berpikir tentu Ciok Yan ada urusan mencari Bun Cu-giok, gerak-gerik rombongan Liong Lui pun sangat mencurigakan, tentu ada sesuatu hal telah terjadi yang tidak menguntungkan Bun Cu-giok.
Sejak dirinya diusir dari perguruan hanya Bun Cu-giok seorang yang menjadi sahabat kentalnya.
Entah sejak pulang tempo hari bagaimana pula dengan Partai Putih yang tengah menghadapi berbagai persoalan, bila perlu aku harus menyusul kesana membantu dia..
Ter-sipu2 Thian-hi ber-lari2 menelusuri jalan raja mengejar kedepan mengikuti telapak kaki kuda.
Kira2 setengah jam kemudian ia menanjak naik keatas sebuah bukit kecil, baru saja ia sampai diatas bukit terdengar gelak tawa orang yang sudah dikenalnya, serunya.
"Ternyata kau berani datang masuk perangkap."
Waktu Thian-hi menoleh seketika ia melongo, tampak diatas bukti berdiri jajar beberapa orang, mereka bukan lain adalah Ciok Hou-bu majikan Hwi-cwan-po, Tio Hong-ho dan Liong Lui dari Partai Merah dan anak buahnya, yang berdiri paling samping adalah Ciok Yan.
Begitu Thian-hi tiba, segera Ciok Hou-bu bergelak tawa, serunya.
"Hun-siauhiap, aku Ciok Houbu sungguh kagum akan nyalimu yang besar, berani kau bunuh Giok-yap Cinjin Ciangbunjin Butong-pay, sekarang berani berlenggang kangkung berjalan di jalan raja."
Berubah air muka Hun Thian-hi, dengan cermat ia bergantian mengawasi tiga orang didepannya, sindirnya.
"Sebaliknya akupun merasa kagum akan kesetiaan kawan kalian serta berterima kasih akan kehormatan yang tinggi ini, entah ada keperluan apakah kalian menanti aku disini?"
Ciok Hou-bu ter-kekeh2 tanpa bicara, sebaliknya Tio Hong-ho tertawa kering, serunya.
"Memang kita sedang menanti kedatanganmu."
Sebentar saja otak Thian-hi yang encer sudah dapat menebak, diam2 ia membatin dalam hati; tentu mereka hendak menyebak Bun Cu-giok disini, sungguh goblok justru akulah yang masuk perangkap mereka.
Dari samping Ciok Yan berkata kepada Ciok Hou-bu.
"Ajah, Bun Cu-giok tidak akan datang, masa begitu bodoh dia bisa kena pancing."
"Budak goblok, cerewet!"
Semprot Ciok Hou-bu gusar.
Thian-hi tahu, kata2 Ciok Yan itu ditujukan kepadanya secara tidak langsung memberi tahu akan maksud tujuan mereka sebenarnya.
Sedikit memutar otak cepat2 Thian-hi berlari turun bukit.
Sejak tadi Ciok Hou-bu selalu mengawasi gerak-gerik Thian-hi, begitu ia bergerak sebat sekali iapun sudah mengebutkan mantel abu2nya menyerang kepada Hun Thian-hi.
Sigap sekali Hun Thian-hi sudah mengeluarkan Badik buntung, dimana sinar hijau pupus berkelebat, gesit sekali ia balas menyerang kepada Ciok Hou-bu.
Ciok Hou-bu menggerung gusar, terpaksa ia melompat mundur sambil mengegos.
Sementara itu Tio Hong-ho dan Liong Lui melejit maju mencegat jalan mundur Thian-hi, serentak pedang dan tongkat mereka bergerak menyerang saling silang dari dua jurusan, pedang membabat pinggang sedang tongkat menyerampang kaki Hun Thian-hi.
Hun Thian-hi menggertak keras, jurus Gelombang perak mengalun berderai dilancarkan, sekaligus ia punahkan serangan musuh dan merabu maju, terpaksa ketiga lawannya melawan dengan senjata dan ilmu simpanan masing2.
Thian-hi tahu bahwa ketiga seterunya ini bertujuan hendak mencelakai jiwa Bun Cu-giok sekarang Bun Cu-giok belum datang, inilah kesempatan bagi aku untuk memancing pergi mereka bertiga supaya Bun Cu-giok tidak terjebak.
Karena pikirannya ini sebat sekali ia melompat jauh dengan gerak ringan tubuhnya yang pesat dan enteng, sekali ia menerobos lewat diantara samberan senjata ketiga lawannya terus berlari kencang ke arah depan Sana.
Badik buntung milik Hun Thian-hi adalah benda pusaka yang selalu diimpikan dan diincar oleh ketiga gembong silat tamak itu.
Apalagi Hun Thian-hi memikul dosa dengan tuduhan sebagai pembunuh Bu-tong Ciangbun Giok-yap Cinjin, siapa saja yang dapat membekuknya bakal terangkat nama dan gengsinya Sudah tentu ketiga lawannya tidak mau melepasnya begitu saja, dengan kencang serempak mereka mengejar dengan kencang.
Bukan gentar atau gugup sebaliknya Thian-hi malah berlega hati bahwa usahanya ternyata berhasil memancing ketiga musuhnya berkisar dari tempat bukit kecil itu.
Dengan demikian maka terlepaslah Bun Cu-giok dari perangkap yang telah mereka rencanakan.
Apalagi kepandaian dan kemampuan ketiga lawan ini bila mau cukup dengan bekal kepandaiannya sekarang mudah sekali untuk mengalahkan mereka.
Baru pikiran ini terkilas dalam benaknya, mendadak terdengar derap lari kuda yang berlari pesat sekali, begitu dekat kontan menerjang ke arah Ciok Hou-bu, Tio Hong-ho dan Liong Lui bertiga serta merabu dengan serangan pedang yang ganas.
Waktu Thian-hi berpaling pendatang ini kiranya bukan lain Pangcu Partai Putih Bun Cu-giok si pedang mas cambuk perak.
Berhasil mendesak mundur ketiga lawan baru Bun Cu-giok berkesempatan menoleh kepada Hun Thian-hi, serunya.
"Dari mana kau saudara Hun?"
"Bun-pangcu,"
Teriak Thian-hi.
"kenapa kau ke-mari? Dari nona Ciok tadi kudengar katanya mereka hendak menjebak kau!"
Tergetar badan Bun Cu-giok, namun sikapnya masih tenang2 dan tertawa, tanyanya.
"Saudara Hun hendak kemana kau sekarang?"
Dalam pada itu Ciok Hou-bu sudah menyerbu tiba sambil menggerung gusar, mantelnya menderu menyapu datang.
Sementara pedang dan Tongkat Tio Hong-ho serta Liong Lui juga tengah mengancam dari jurusan lain.
Se-olah2 tidak terjadi apa2, seenaknya saja Bun Cu-giok tidak pandang sebelah mata keroyokan para musuhnya.
Tampak batang pedang mas berkilau menggetar me-nutul2 sejurus saja sekaligus ia punahkan serangan ketiga lawannya.
Diam2 terperanjat hati Thian-hi, batinnya.
"Kepandaian silat Bun Cu-giok ternyata begitu tinggi, kalau tidak mengandal ketajaman senjatanya pusaka mungkin si orang tua jubah merah Pangcu Partai Merah bukan menjadi tandingannya. Karena ia menonton dengan seksama, pikiran pun tengah melayang sesaat ia menjadi lupa menjawab pertanyaan orang. Melihat Thian-hi menonton dengan cermat pertempuran satu lawan tiga, diam2 girang hati Bun Cu-giok, sengaja ia ingin pamer kepandaian ilmu pedangnya, sinar pedang berkilatan selulup timbul, beruntun lima jurus ia menyerang mundur musuh ber-ulang2. Tanya Bun Cu-giok setelah mendesak mundur ketiga musuhnya.
"Dikalangan Kangouw tersiar kabar katanya saudara Hun telah membunuh Giok-yap Cinjin, bagaimana duduk perkara sebenarnya apakah saudara Hun sudi beritahu kepada aku?"
Mendadak Hun Thian-hi teringat bahwa guru Bun Cu-giok adalah Sute Giok-yap Cinjin, entah bagaimana pandangannya mengenai persoalan ini, sejenak ia tatap wajah Bun Cu-giok, dilihatnya orang tiada punya maksud buruk, maka segera ia menjawab.
"Soal ini tersangkut paut dengan Mo-bin Su-seng (pelajar muka iblis). Apalagi kedua murid Giok-yap Cinjin yaitu Gwat Long dan Sing Poh juga jelas tahu peristiwa itu, Terlalu panjanglah kalau mau diceritakan."
Setelah mendengar sekedar penjelasan Thian-hi yang singkat itu, Bun Cu-giok angkat alis dan berseru kepada Ciok Hou-bu bertiga.
"Apakah kalian masih ingin bertempur?"
Ciok Hou-bu mendengus, jengeknya.
"Kita mengundang kau, apa kau tahu apa tujuan kita?"
Bun Cu-giok ter-bahak2 serunya.
"Go Ciok kenapa tidak datang?"
Thian-liong-kiam Liong Lui menjengek dingin.
"Kita bertiga sudah lebih dari cukup untuk membereskan kau, kenapa harus Pangcu sendiri yang turun tangan?"
Bun Cu-giok menggeram, semprotnya.
"Kalian dua golongan menyergap dan memusnahkan Kim-ke-cheng waktu pihak lawan tak bersiaga, kalian sangka urusan lantas beres sampai disitu saja? Gi Ciok sendiri punya sepak terjang tengik seperti bajingan, maka jangan salahkan kalau aku menghukum kalian dulu!"
Ciok Hou-bu tersenyum sinis, katanya.
"Bun pangcu seorang gagah yang perwira, aku Ciok Hou-bu benar2 kagum. Urusan harus dibikin beres secepatnya menurut keadilan bagi orang yang cerdik pandai."
Bun Cu-giok ter-bahak2, serunya.
"Ciok-pocu punya cara muslihat apa untuk menundukkan aku, Bun Cu-giok ingin belajar kenal!"
Hun Thian-hi menjublek ditempatnya, dari percakapan ini baru ia tahu bahwa urusan ternyata sudah berkembang begitu jauh Pihak Kim-ke-cheng sudah musnah begitu gampang dalam waktu singkat.
Kenapa?
Bukan lain hanya karena sebilah Badik buntung.
Segere Hun Thian-hi menimbrung.
"Hanya karena sebilah Badik buntung milikku itu Partai Merah dan Hwi-cwan-po memusnahkan seluruh Kim-ke-cheng, aku Hun Thian-hi betul2 menjadi mati kutu. Tapi Hun Thian-hi ingin minta penjelasan langsung dari Ciok-pocu, mengandal apa Hwicwan-po kalian bisa malang melintang didaerah Kanglam?"
Ciok Hou-bu ter-loroh2. Tanpa menanti orang berhenti tertawa. Bun Cu-giok menyindir dengan seringai sinis.
"Ciok Hou-bu, kau hendak menjebak dan mencelakai aku. Lebih baik sekarang kau pulang ke Hwi-cwan-po, coba lihat mungkin sarangmu itu sudah kubumi hanguskan seluruhnya."
Berubah hebat rona wajah Ciok Hou-bu. Tio Hong-ho yang berwatak tenang mendengus, bujuknya.
"Ciok-pocu, jangan kau percaya dengan obrolannya. Partai putih sedang kepepet dari dua jurusan, diutara oleh Thian-san-ji-long, diselatan ada kita beramai, masa mereka masih punya kekuatan pergi ke Hwi-cwan-po!"
"Apakah begitu gampang seperti uraianmu?"
Jengek Bun Cu-giok.
"Aku kuatir kau hanya mengudal ludah saja."
Segera Ciok Hou-bu menenangkan hati, bukan mustahil hal itu bisa terjadi, sesaat ia terlongong ditempatnya.
Terpikirkan olehnya usaha capek lelah selama puluhan tahun telah lenyap hanya sekejap mata saja betapa tidak sayang dan murung hatinya.
Saking gegetun dan gemas ia putar mantel ditangannya terus menyerbu seperti banteng ketaton.
Tampak diujung lirikan mata Bun Cu-giok, Ciok Yan tengah berlari menyingkir sambil menutupi raut mukanya dengan kedua tangan.
Hatinya menjadi menyesal dan ragu2, cepat2 ia menarik tali kekang mencongklang kudanya menyingkir dari serangan Ciok Hou-bu ini.
Dengan kalap Ciok Hou-bu menyerbu terus dengan serangan gencar.
Tio Hong-ho memburu maju kesamping Ciok Hou-bu dan membisiki.
"Saudara Ciok! Kenapa menjadi kalap!"
Tersentak hati Ciok Hou-bu, tergugah semangatnya untuk berpikir secara terang, bukankah obrolan orang belum terbukti kenyataannya, sedang pihak sendiri masih punya tipu muslihat untuk menjebaknya.
Karena itu cepat2 ia menyurut mundur, serunya.
"Orang she Bun, hari ini kuampuni jiwamu, aku akan kembali memeriksa dulu!"
Bersama mereka bertiga terus ia membalik dan berlari2 meninggalkan gelanggang. Bun Cu-giok menjengek dingin, matanya menerawang keempat penjuru, batinnya.
"Aku Bun Ciok-giok masa bernyali kecil, biar kau mengatur jebakan apapun juga akan kuterjang."
Kudanya segera dikeprak mengejar serunya.
"Begitu gampang kalian hendak melarikan diri ?"
Sambil berlari Ciok Hou-bu menolhi dan berteriak.
"Gi-pangcu berada didalam lembah didepan sana, apa kau berani kesana?"
Bun Cu-giok ter-kakak2, sudah dalam rekaan hatinya bahwa Gi Ciok memendam diri disana hendak menyergap dirinya, sekarang terbukti kenyataannya.
Kudanya dipecut berlari semangkin kencang.
Terpaksa Hun Thian-hi juga ikut berlari pesat, teriaknya.
"Bun-pangcu hati2 kau!'"
"Legakan hatimu saudara Hun,"
Teriak Bun-cu-giok sambil tertawa lebar.
"Bun Cu-giok tidak gentar menghadapi Thay-i-kiam miliknya itu."
Sementara itu Ciok Hou-bu bertiga sudah mencapai mulut lembah yang sempit itu, sebat sekali Thian-hi mengerahkan tenaga menjejakkan kaki, tubuhnya melambung tinggi dan meluncur kedepan, ditengah udara ia berteriak.
"Ciok-pocu, harap berhenti sebentar."
Namun Ciok Hou-bu menjawab dengan gelak tawanya, sekejab saja mereka sudah berkelebat hilang dibalik mulut selat yang sempit itu.
Bun Cu-giok mencongklang kudanya masuk kedalam lemtah yang sempit, kedua lampingnya tinggi dan terjal, baru saja beberapa puluh langkah tiba2 terdengar suara gemuruh seperti gugur gunung, ber-puluh atau beribu batu besar kecil tiba2 berjatuhan dari atas tebing seperti hujan derasnya.
Keruan bukan kepalang kaget Bun Cu-giok dan Thian-hi, sigap sekali Bun Cu-giok melompat turun dari tunggangannya sambil menyeret Thian-hi menyingkir kesamping dan berdiri membelakangi dinding batu yang terjal itu, mereka menjadi repot menghindar dan memukul batu2 yang meluruk keseluruh tubuh mereka.
Kira2 setengah jam lamanya hujan batu gunung itu berlangsung sampai mereka kehabisan tenaga, setelah suasana menjadi hening dan terang kembali seluruh lembah sempit itu sudah penuh tertimbun batu dan debu, Thian-hi berdua sudah kepayahan tertimbun setengah badan, dalam waktu dekat mereka tak mampu bergerak dan meloloskan diri dari himpitan batu2.
Tak lama kemudian tampak Ciok Hou-bu bertiga mendatangi.
Sambil cengar cengir Ciok Hou-bu bertiga tertawa sinis kegirangan.
Maju selangkah gampang sekali Tio Hong ho merebut Badik buntung yang digenggam ditangan Thian-hi.
Ada niat Thian-hi hendak melawan apa daja tenaga sudah habis, untuk bergerak saja tak mampu.
Bun Cu-giok menghela napas rawan, katanya kepada Thian-hi.
"Saudara Hun! Sungguh aku sangat menyesal."
Hun Thian-hi tersenyum, ujarnya.
"Ah, Bun-pangcu kenapa bicara begitu. Kalau Bun-pangcu tidak menyeret aku tadi siang2 jiwaku ini pasti sudah melayang."
Setelah dapat merebut Badik buntung, dengan seksama Tio Hong-ho tengah memeriksanya, wajahnya dihiasi senyum kegirangan Ciok Hou-bu menjadi mendelu, tanyanya rada tak senang.
"Tio-tongcu cara bagaimana kau hendak membereskan kedua orang ini ?"
Tio Hong-ho tertawa kering, katanya.
"Menurut hemat Pangcu kita untuk memulihkan kekuatan dan pangkalan Thay-i-bun kembali betapapun perlu minta bantuan Hun Thian-hi. Kalau kita meringkusnya dan diserahkan kepada Bu-tong-pay, tentu selanjutnya seluruh kaum Kangouw tidak bersikap bermusuhan lagi dengan Thay-i-bun. Sedang Bun Cu-giok punya permusuhan dengan Ciok-pocu, dia boleh kuserahkan kepada Pocu terserah bagaimana kau hendak membereskan dia."
Seketika berkobar amarah Ciok Hou-bu, dalam hati ia mengumpat.
"Jang menguntungkan kau keruk sendiri, sedang Bun Cu-giok yang bisa menimbulkan bencana kau serahkan kepada aku, apa2an sikap kalian ini!"
Dalam hati ia mengumpat namun situasi yang dihadapi ini tak menginjinkan dia pengumbar nafsunya, maka dengan tertawa lebar ia berkata.
"Pikiran Pangcu kalian sungguh sangat sempurna, sebaliknya aku Ciok Hou-bu punya pandangan yang rada berbeda."
Tio Hong-ho tahu kalau Ciok Hou-bu tidak senang akan keputusan tadi, namun urusan sudah ketelanjur sedemikian jauh, bukan mustahil mereka bakal bertengkar sendiri, sekarang Hwi-cwanpo sudah musnah, mengandal kekuatan Partai merah yang tersebar luas di kalangan Kangouw kiranya tak perlu takut menghadapi Ciok Hou-bu.
Terdengar Tio Hong-ho tertawa terkekeh, serunya.
"Kalau Ciok-pocu punya pendapat silakan bicarakan. Hanya aku kuatir Pangcu kita tidak bakal setuju pendapat Ciok-pocu itu."
Semakin berkobar amarah Ciok Hou-bu, terang orang tengah menggunakan tipu menyebrang sungai memutus jembatan memukul jatuh anjing kedalam air, jelas sekali menghina Hwi-cwan-po yang sudah musnah itu.
Sedapat mungkin ia menahan gelora amarahnya, setelah bergelak tawa sekian lama ia berkata.
"Semula partai kalian mengajak aku berserikat, tujuan utama Ciok Hou-bu adalah Badik buntung, sedang Partai kalian menghadapi Partai putih yang merupakan musuh kebujutan. Menurut perjanjian semula sudah seharusnya Badik buntung itu diserahkan kepada aku, sedang Bun Cu-giok dan Hun Thian-hi boleh kalian urus."
"Pendapatmu ini tidak mungkin terlaksana, perjanjian semula boleh dianggap batal."
Demikian jawab Tio Hong-ho sambil menyeringai. Tak tertahan lagi gejolak amarah Ciok Hou-bu, desisnya dingin.
"Apa yang kuucapkan tadi sebetulnya sudah memberi banyak kelonggaran dan memberi muka kepada partai kalian."
Tio Hong-ho bergelak tawa, serunya.
"Ciok-pocu, kita bekerja harus menurut aturan, bagaimana menurut pendapat Ciok-pocu mengenai hal ini'"
Ciok Hou-bu mendengus, batinnya.
"Apakah ini yang dimaksudkan dengan mengenai aturan?". Kata Tiok Hong-ho meneruskan diplomasinya.
"Memang, pembagian cara ini pihak partai kita rada mengambil sedikit keuntungan. Tapi Ciok-pocu harus ingat, semula cara bagaimana dan kenapa Kita sampai berserikat?"
"Apakah perlu ditanyakan lagi?"
Demikian umpat Ciok Hou-bu dalam hati.
"Aku percaya Ciok-pocu sudah maklum dalam hati,"
Begitulah Tio Hong-ho meneruskan pidatonya.
"kita bergabung karena keuntungan dan berpisah setelah keuntungan itu tercapai, ini kan sudah jamak, apakah Ciok-pocu berani menyanggah akan kebenaran ini?"
Ciok Hou-bu tertawa hambar, katanya.
"Kalau demikian kukuh pendapat Tio-tongcu, terpaksa Ciok Hou-bu mohon diri saja........."
"Ciok-pocu tunggu sebentar,"
Teriak Tio Hong-ho.
"Bun-pangcu tak berguna lagi bagi kita, silakan Ciok-pocu membawanya pulang."
Ciok Hou-bu menggeram, otaknya berpikir.
"Jelas kalian gentar menghadapi gurunya yang kenamaan yaitu Ce-hun Totiang, demi mengambil hati pihak Bu-tong-pay lantas kalian serahkan dia kepadaku."
Mendadak tergerak hatinya, otaknya sudah merancang suatu muslihat, dengan pura2 tertawa ia berkala.
"Kalau Tio-tongcu memang berkeputusan begitu, terpaksa Ciok Hou-bu menurut saja."
Tiok Hong-ho tertawa lebar dimabuk kemenangan.
Mendadak Ciok Hou-bu menggertak keras mantel abu2nya bergulung lempang terus terbang menyerang kearah Tio Hong-ho.
Serangan dilancarkan secara tak terduga, Tio Hong-ho tak bersiaga lagi, menurut dugaannya semula Ciok Hou-bu sudah gentar dan kuncup menghadapi Partai merah yang sudah semakin menanjak dikalangan Kangouw, betapapun dia takkan berani sembarangan bergerak, apalagi kepandaian silat sendiri tidak terpaut jauh dibanding kemampuan Ciok Hou-bu.
Begitulah waktu mendengar samberan kuat menyerang kearah dirinya, sekuatnya ia bergerak mengepos.
namun dimana mantel itu menyamber lewat, seketika ia menjerit se-keras2nya, tahu2 lengan kirinya sudah tersapu kutung.
Berhasil akan serangannya Ciok Hou-bu tak berhenti sampai disitu saja, tampak mantelnya berkembang me-nari2 dengan derasnya membawa deru angin yang sangat kencang, sekaligus ia sudah melancarkan kepandaian tunggal yang paling dibanggakan, yaitu tiga belas jurus Hwi-cwankian-soat.
Tampak setabir bayangan abu2 berkembang melebar kekanan kiri menyerang kearah dua orang musuhnya.
Terpaksa Liong Lui mencabut pedangnya menangkis, susah payah ia menghalau setiap serangan Ciok Hou-bu.
Dalam waktu dekat memang Liong Lui kuat bertahan, tapi lama kelamaan ia semakin terdesak dan mundur selangkah demi selangkah.
Dalim pada itu Tio Hong-ho sudah berhasil membalut luka2 dilengan kirinya mencegah mengalirnya.
banyak darah, sambil kertak gigi ia mengayun tongkat senjatanya membantu Liong Lui berdua mereka mengerojok Ciok Hou-bu.
Begitulah mereka bertiga bertempur dengan sengit, dalam wuktu singkat keadaan menjadi berimbang.
Sudah tentu kejadian ini sangat menguntungka Bun Cu-giok dan Hun Thian-hi.
Hun Thian-hi pernah menelan buah ajaib, sedang Bun Cu-giok pun punya dasar latihan Sianthian-cin-gi dari aliran murni, dalam waktu singkat tenaga dan semangat mereka bisa pulih kembali.
Pertempuran sudah berjalan ratusan jurus, keadaan masih tetap sama kuat.
Diam2 Thian-hi dan Bun Cu-giok saling memberi isyarat, mereka membentak bersama sekaligus berhasil membongkar batu besar dan debu yang menghimpit mereka terus melompat keluar.
Tapi kelihatan kedua kaki masing2 basah lembab oleh darah yang merembes dari luka2.
Sudah tentu Ciok Hou-bu bertiga kaget setengah mati, Sementara itu Bun Cu-giok serahkan pedang masnya kepada Hun Thian-hi, untuk melawan musuh ia melolos cambuk perak sebagai gaman.
Tepat saat itu juga, dari luar lembah terdengar derap kaki kuda yang berlari pesat.
Seketika Tio Hong-ho dan Liong Lui mengunjuk rasa girang, pendatang ini bukan lain adalah Pangcu Partai Merah Gi Ciok adanya.
Belum lagi sampai Gi Ciok sudah melambung tinggi, ditengah udara melolos pedang pusaka terus meluncur menyerbu kearah Bun Cu-giok.
Bun Cu-giok menghardik ringan, tombak perak ditangan kanan terayun, laksana ular hidup cambuknya melilit kearah Thay-i-kiam musuh.
Terdengar Gi Ciok mendengus kaget, terasa sesuatu keganjilan diluar kesigapannya.
Diketahui olehnya bahwa cambuk perak Bun Cu-giok itu kiranya bukan sembarang senjata umumnya yang terbuat dari perak biasa, tetapi adalah terbuat dari anyaman sutra perak dan benang baja yang ulet tak mempan senjata.
Maka cepat2 ia menarik pulang pedangnya.
Kesempatan ini tak di-sia2kan oleh Bun Cu-giok, cambuk perak ditangan kanannya diobat-abitkan sekencang kitiran menyerbu semakin gencar, setiap lecutan tentu mengarah jalan darah mematikan diseluruh badan Gi Ciok.
Gi Ciok harus kerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, meski terdesak ia masih kuat bertahan terus sampai ratusan jurus Kemudian baru ia bisa memperbaiki posisinya.
Sekarang keadaan kelihatan sama kuat.
Thian-hi tahu bahwa tenaga Bun Cu-giok belum pulih seluruhnya, tentu tidak menguntungkan bertempur lama-lama, segera ia berkata.
"Bun-pangcu, hari ini kita hentikan dulu sampai disini."
Bun Cu-giok insaf hari ini tentu tak mudah mengambil kemenangan, apalagi kalau Ciok Hou-bu berbalik kepihak musuh lagi tentu semakin berabe, sambil bergelak tawa ia berkata.
"Hari ini cukup sekian saja, tapi urusan ini takkan ada habisnya."
Sementara itu Gi Ciok tengah keheran-heranan akan kepandaian silat Bun Cu-giok yang luar biasa itu, mendengar itu segera ia pura-pura menggertak.
"Apa, kau hendak lari?"
Bun Cu-giok menyeringai, katanya kepada Ciok Hou-bu.
"Hwi-cwan-po sebetulnya masih utuh, tapi akan datang suatu hari akan kubumi hanguskan rata dengan tanah." -Habis berkata lalu tinggal pergi bersama Hun Thian-hi. Ciok Hou-bu berdiri menjublek, tak tahu bagamana baiknya, bahwa Hwi-cwan-po masih utuh ini benar-benar suatu berita yang menggembirakan, namun keadaan sekarang adalah sangat berbahaya bagi dirinya Pangcu Partai Merah Gi Ciok sudah cba, apakah dia rela melepas dirinya. Dalam pada itu Hun Thian-hi dan Bun Cu-giok sudah berlari jauh. Gi Ciok tahu dirinya takkan mampu merintangi, terpaksa ia mandah saja membiarkan mereka pergi. Pelan-pelan Gi Ciok lantas membalik. Tio Hong-ho segera maju mempersembahkan Badik buntung katanya.
"Pangcu! Badik buntung berhasil kurebut. Tapi karena Ciok Hou-bu merintangi sehingga kedua orang itu tak dapat dibekuk, harap Pangcu mendapat tahu."
Gi Ciok manggut-manggut sambil menerima Badik buntung.
Sekian lama ia mengamati dan meneliti seluruh batang Badik buntung itu.
Pelan-pelan sinar matanya terangkat naik berpindah menatap kepada Ciok Hou-bu.
Tergetar jantung Ciok Hou-bu.
Terdengar Gi Ciok menjengek.
"Ciok-pocu, kelakuanmu ini apakah terhitung berserikat dengan kita?"
Ciok Hou-bu tahu bahwa Gi Ciok takkan melepas dirinya, dari kepepet ia menjadi nekad, katanya sambil tertawa lebar.
"Gi-pangcu sebaliknya apakah kalian punya maksud yang serius hendak berserikat dengan kita!"
Gi Ciok menggeram gusar, tahu dia kalau Ciok Hou-bu bisa berdiri menjagoi sesuatu daerah dan membangun Hwi-cwan-po yang kenamaan tentu punya kepandaian simpanan yang diandalkan, kalau tidak turun tangan sendiri tentu takkan dapat menundukkan dia.
Gi Ciok terkekeh dingin, tantangnya.
"Ciok-pocu angkat nama karena tiga belas jurus Hwicwan-kiaH-soat itu, hari ini Gi Ciok minta belajar kenal betapa lihay ketiga belas jurus ilmu mantelmu itu."
Ciok Hou-bu tak mau unjuk kelemahan, tertawa bahak-bahak iapun mengejek.
"Betapa beruntungnya Ciok Hou-bu mendapat pelajaran langsung dari Gi-pangcu, matipun puaslah!" -tanpa sungkan-sungkan segera ia menggentakkan mantel dari punggungnya.
"Senjataku ini adalah sebilah pedang pusaka, kalau dalam sepuluh jurus aku tidak dapat mengalahkan kau, urusan hari ini anggap himpas seluruhnya."
Demikian ejek Gi Ciok.
Ciok Hou-bu insaf, jangan kata sepuluh jurus, hanya lima jurus saja mungkin dirinya takkan kuat bertahan, namun urusan sudah mendesak begitu jauh, terpaksa ia kerahkan tenaga dan menggerakkan mantelnya, dengan jurus-jurus ilmu Hwi-cwan-kian-soat ia mendahului menyerang.
Gi Ciok menyungging seringai sadis, cepat sekali ia berkelit kian kemari membebaskan diri dari samberan mantel musuh.
Sekali pedangnya menyontek ke atas, dalam sejurus saja ia berhasil mengupas sebagian kecil ujung mantel Ciok Hou-bu.
Berubah air muka Ciok Hou-bu, mantelnya dikebutkan dengan jurus It-sek-hun-kian menggulung ke arah muka Gi Ciok.
Gi Ciok mengandalkan senjata pusakanya sedikit pun ia tidak gentar menghadapi musuh, bukan mundur atau berkelit sebaliknya dengan berani ia memapak maju, ujung pedangnya tahu-tahu sudah mengancam di depan dada lawan.
Terpaksa Ciok Hou-bu melompat mundur, sehingga serangannya gagal di tengah jalan.
Gerak pedang Gi Ciok ternyata hebat sekali belum sempat Ciok Hou-bu memperbaiki posisinya, tahu-tahu mantelnya sudah terkutung menjadi dua oleh ketajaman pedang pusaka musuh.
Insaflah Ciok Hou-bu bahwa dirinya memang bukan tandingan lawan, terpaksa ia pasrah nasib dan menyerah mentah-mentah, dengan tertawa lebar ia buang mantelnya serta katanya.
"Aku Ciok Hou-bu mengaku kalah, terserah bagaimana kalian hendak membereskan aku."
Gi Ciok tertawa dingan, katanya kepada Tio Hong-ho.
"Tio-tongcu, Ciok-pocu sudah menyerah, dia membuntungkan lenganmu, sekarang terserah bagaimana kau hendak menghukumnya."
Sungguh Tio Hong-ho tidak menyangka bahwa Ciok Hou-bu diserahkan kepadanya untuk memberi hukuman, sesaat ia menjadi melongo tak tahu apa yang harus dilakukannya.
Ciok Hou-bu punya nama dan kedudukan di kalangan Kangouw, kalau menghukumnya terlalu berat kuatir para sahabatnya nanti menuntut balas.
Kalau hukuman terlalu ringan, kelak mungkin bakal menimbulkan bencana juga bagi dirinya, untuk sesaat ia menjadi bingung mengambil keputusan.
"Bagaimana?"
Gi Ciok mendesak.
"Apa Tio-tongcu belum tahu?"
Cepat Tio Hong-ho menjawab.
"Selamanya Partai Merah mengutamakan keadilan dan kebenarbenaran, dia telah membuntungi lenganku. Aku tidak bisa menghukumnya terlalu berat, apalagi Partai Merah tidak suka mengikat permusuhan, sekarang lengan kiriku sudah buntung maka akupun mengutungi lengan kanannya saja. Bagaimana pendapat Pangcu?"
Gi Ciok manggut-manggut dengan puas.
Pucat wajah Ciok Hou-bu, sebagai seorang tokoh persilatan, apalagi dalam usia yang sudah menanjak setengah abad, kalau sebuah lengannya buntung berarti menjadi cacat.
Gi Ciok maju ke hadapannya, katanya kepada Ciok Hou-bu.
"Bagaimana Ciok-pocu?"
Hakikatnya Ciok Hou-bu takkan mampu melawan atau mati adalah bagiannya, terpaksa ia mengulurkan lengan kanannya, sekali bacok Gi Ciok memapas kutung lengan kanan orang.
Kontan Ciok Hou-bu menjadi pucat pasi.
Gi Ciok terbahak-bahak, ujarnya.
"Ciok-pocu, sebuah lengan diganti sebuah lengan, untuk selanjutnya golongan kita sudah himpas dan tidak punya hutang piutang lagi." -lalu bersama Tio Hong-ho dan Liong Lui mereka tinggal pergi menunggang kuda. Otak Ciok Hou-bu terasa hampa dan kosong, setelah membalut sekedarnya luka-luka lengan kanannya ia berjalan terhuyung-huyung. Dalam keadaan kehabisan darah pikirannya menjadi semakin kabur, entah berapa jauh sudah ia berjalan jatuh bangun, yang terpikir dalam otaknya melulu.
"Lengan kananku sudah buntung!" -begitulah dia terus melanjutkan ke depan. Akhirnya ia sampai di tanjakan bukit berbatu, sampai disini tak mungkin ia kuat merambat ke atas, ia berdiri menjublek dan terlongong disitu, mulutnya menggumam.
"Tidak ada jalan lagi."
Mendadak dibelakangnya terdengar sabda Budha, dengan linglung Ciok Hou-bu menoleh, tampak seorang Hwesio tua tengah beranjak mendatangi. Sambil tersenyum Hwesio tua itu berkata kepada Ciok Hou-bu.
"Kenapa Sicu tak melanjutkan ke depan?"
"Terus ke depan?"
Sahut Ciok Hou-bu bingung.
"Depan sana tiada jalan lagi.
"Kembali tentu ada jalan!"
Sahut Hwesio tua. Ciok Hou-bu melengak, desisnya.
"Kembali?"
Hwesio tua manggut-manggut, katanya tertawa.
"Kenapa lengan kanan Sicu buntung?"
"Dibacok buntung oleh orang."
"Dibacok buntung orang?"
Hwesio tua menegas.
"Loceng kuatir mungkin lengan itu bukan dikutungi oleh orang lain."
Ciok Hou-bu tertegun, desisnya lagi.
"Bukan dibacok buntung? Kalau begitu tentu kubacok buntung sendiri, cara bagaimana aku membacoknya buntung?"
Hwesio tua tersenyum simpul tak bersuara, sesaat kemudian baru buka suara.
"Benar-benar, cara bagaimana kau mengutungi lenganmu sendiri!"
Habis berkata ia putar tubuh terus tinggal pergi. Ciok Hou-bu masih menjublek di tempatnya, sejenak kemudian otaknya rada tergetar sadar cepat-cepat ia berteriak.
"Lo-suhu harap tunggu sebentar."
Hwesio tua tak hiraukan panggilannya terus berjalan ke depan.
Lekas-lekas Ciok Hou-bu mengejar, sampai dibelakangnya Ciok Hou-bu tak berani mendahului ke depan, begitulah ia terus mengintil di belakang Hwesio tua itu, lambat laun bayangan mereka menghilang dibayang2 hutan yang lebat.
Setelah meninggalkan lembah, ditengah jalan Bun Cu-giok menanyakan pengalaman sejak mereka berpisah tempo hari.
Thian-hi tahu tujuan Bun Cu-giok ingin tahu persoalan pembunuhan atas Giok-yap Cinjin, maka dengan jelas ia menceritakan.
Bun Cu-giok termenung sebentar.
lalu katanya.
"Guruku sudah lama mengasingkan diri, soal ini tentu beliau tak mau urus. Tapi kita berdua sudah mengalami berbagai bencana dan bahaya sehidup semati, untuk persoalan ini kau pun tak perlu kuatir, aku akan membantumu sekuat tenaga supaya kau dapat melanjutkan ke Tiang-pek-san."
Hun Thian-hi tertawa getir, katanya.
"Bun-pangcu, banyak terima kasih akan maksud baikmu, kalau hanya aku seorang gampang saja aku mau sembunyi kemana. Sebaliknya Partai Putih untuk hari2 selanjutnya perlu tegak berdiri di Kangouw, betapapun jangan karena persoalanku sehingga timbul permusuhan dengan para sahabat Bulim!"
Bun Cu-giok tertawa tawar, katanya menggoyang tangan.
Sudah lima tahun aku berkelana di Kang-ouw, hanya kaulah seorang yang menjadi sahabat kentalku.
Tujuanku berkelana di Kangouw bukan mengejar nama atau mencari keuntungan pribadi.
Seumpama Partai Putih harus lenyap dari Kangouw pun tak kupedulikan lagi!"
Thian-hi menjadi heran, tanyanya.
"Lalu apa tujuan Bun-pangcu sebenar-benarnya?"
Bun Cu-giok tertawa getir, katanya menggeleng.
"Kau tidak tahu, akupun tidak akan tahu."
Thian-hi mengira Bun Cu-giok punya rahasia hati yang sulit dikatakan, maka iapun tak mendesak lebih lanjut.
"Mungkin usiamu lebih muda beberapa tahun baiklah aku panggil kau ajk saja,"
Demikian kata Bun Cui-giok sambil menghela napas.
"Masih banyak urusanku yang belum dapat kau pahami kuberitahu pun tiada gunanya."
Bertambah heran benak Thian-hi. Mendadak teringat olehnya akan sikap Bun Cu-giok yang rada ganjil waktu mendengar rasa prihatin Ciok Yan terhadapnya, tiba-tiba ia tertawa, katanya.
"Apakah maksud Bun-heng mengenai asmara muda-mudi?"
Bun Cu-giok angkat kepala menatap Thian-hi, desisnya.
"Lote, apakah kau...."
Sampai disini Bun Cu-giok menjagi geli sendiri.
Bab Sontak Thian-hi merasa jantungnya berdebur keras, hatipun tak tenang, nada tertawa Bun Cugiok malah membangun kembali kenangan yang tak menentu, bayangan Ham-gwat, Su Giok-lan dan Siau Hong berkelebat dalam benaknya, akhirnya bayangan jelita lenyap dan berganti wajah dingin kaku dan seram dari muka Bu-bing Loni.
Tanpa merasa bergidik tubuh Thian-hi, badannya merinding dan terasa dingin.
setelah menghirup hawa ia berkata.
"Saudara Bun jangan berkelakar."
Bertaut alis Bua Cu-giok, hatinya membatin.
"Kenapa kelihatannya Hun Thian-hi takut menghadapi wanita, hanya menyinggungnya saja kenapa badan sampai gemetar?"
Thian-hi menghembuskan angin dari mulutnya, ditatapnya sikap dan mimik wajah Bun Cu-giok, ia tertawa dibuat-buat, pikirnya mungkin aku terlalu serius dan tegang dalam bicara tadi.
Mendadak ia tertawa lebar dan katanya.
"Ucapanku tadi hanya pancingan saja, karena waktu kusinggung tentang nona Ciok kulihat mimik dan sikap saudara Bun kurang wajar."
Terketuk sanubari Bun Cu-giok, katanya tersipu-sipu.
"Lote, jangan kau sembarang ngoceh, jangan main-main dengan urusan asmara!"
Melihat kegugupan Bun Cu-giok, Thian-hi menjadi bergelak tawa ujarnya.
"Siaute berpikir sampai sekarang saudara Bun belum punya istri, nona Ciok seorang gadis rupawan, lemah lembut lagi, menurut penilaian Siaute watak dan martabatnya pun boleh deh...."
Sampai disini dilihatnya. perubahan air muka Bun Cu-giok, maka segera ia berhenti kata, dan merubah haluan.
"Saudara Bun, maaf akan kelancangan mulutku tadi."
Bun Cu-giok menghela napas, ujarnya.
"Tak apa, aku sedang memikirkan persoalan lain, apakah patut aku berbuat begitu."
Hun Thian-hi bungkam, Bun Cu-giok pun tenggelam dalam renungannya. Mendadak ia bertanya kepada Thian-hi.
"Lote, ada satu persoalan hendak kutanya kepadamu. Jikalau seseorang melakukan pekerjaan, tapi melanggar adat istiadat dan pengajaran, namun ia ingin beaar melakukan semua itu, apakah patut kalau dia melaksanakan terus niatnya itu?"
Mendelong mata Thian-hi mengawasi Bun Cu-giok, hatinya heran dan bertanya-tanya kenapa Bun Cu-giok menyinggung persoalan begitu kepada dirinya, sebentar ia berpikir lalu jawabnya.
"Aku sendiri juga tidak tahu. Tapi menurut hemadku kalau dia merasa betul, boleh saja dia melakukan keinginannya."
Bun Cu-giok menunduk terpekur, katanya kemudian.
"Lote, mari kita berangkat, coba lihat, bagaimana dandanan kita sekarang!"
Waktu Thian-hi menunduk, memang separo badan mereka sudah kotor dan lembab oleh noda darah tercampur debu, tak kuasa ia menjadi tertawa geli.
Cepat-cepat mereka menuju kesebuah kota kecil.
Anak buah Partai Putih tersebar luas dimanamana, tak lama kemudian mereka sudah berganti pakaian, dan menginap semalam dikota itu.
Hari kedua Thian-hi berkeras hendak melanjutkan perjalanan seorang diri.
Terpaksa Bun Cu-giok mengangguk setuju.
Begitulah Hun Thian-hi lantas berangkat melalui jalan raja.
Jauh dibelakangnya Bun Cu-giok berlari-lari kecil mengejar.
Entah berapa lama Bun Cu-giok berlari saat mana tiba didataran tinggi.
yang menghijau.
Mendadak Bun Cu-giok berhenti dan berdiri terlongong, jauh di sebelah sana kelihatan sebuah bayangan orang yang sangat dikenalnya, bayangan orang bergoyang gontai berjalan pelan-pelan.
Orang ifu bukan lain adalah CioK Yan adanya.
Ciok Yan berjalan menunduk dan tengah menghampiri ke arah dirinya.
Jantung Bun Cu-giok seperti bertambah berdegup dan darahnya menggelora, napas pun jadi memburu.
Hampir ia berniat menyingkir, namun kaki terasa berat dan mungkinkah ia tinggal pergi?
Ciok Yan sudah semakin dekat, setiap langkah Ciok Yan menambah jantung Bun Cu-giok berdetak semakin cepat, sekarang jelas kelihatan rambut panjang Ciok Yan yang awut2an, matanya yang redup dan titik-titik air mata yang membasahi pipinya.
Akhirnya Bun Cu-giok tak kuasa angkat kepala, sementara itu Ciok Yan sudah berjalan lewat di sampingnya seperti orang linglung hakikatnya seperti tak dirasakan akan kehadiran Bun Cu-giok di pinggir jalan itu.
Sungguh rawan perasaan Bun Cu-giok, hati laksana ditusuk sembilu, sekuatnya ia bertahan supaya air mata tidak meleleh keluar.
Saat itulah terketuk hatinya, ia merasa tidak seharusnya ia membiarkan keadaan Ciok Yan yang menyedihkan itu, tak tertahan lagi ia berteriak.
"Nona Ciok!"
Ciok Yan tersentak kaget dari lamunannya, seketika ia berdiri menjublek. Bun Cu-giok berseru lagi.
"Nona Ciok!"
Pelan-pelan Ciok Yan menoleh memandang ke arah Bun Cu-giok.
Bun Cu-giok tak berani beradu pandang dengannya, cepat-cepat ia berpaling ke arah lain, namun sekilas saja ia sudah melihat jelas wajah Ciok Yan yang aju jelita, begitu menggiurkan dan menawan hati.
Waktu pertama kali mereka jumpa, dia kelihatan begitu gagah dan berani, sekarang seperti seekor kelinci yang ketakutan dan terluka, ah, betapa bijaksana hatinya!
Sekian lama Ciok Yan terlongong memandang wajahnya tanpa bersuara.
Apa boleh buat akhirnya Bun Cu-giok buka suara lagi.
"Nona Ciok, lekas kau pulang saja, Hwicwan-po hakikatnya tidak pernah kumusnakan."
Biji mata Ciok Yan memancarkan cahaya aneh yang gemilang, matanya terbelalak kesima mengawasi Bun Cu-giok, rasa rawan dan kesedihan hatinya seketika tersapu bersih.
Lubuk hatinya yang paling dalam mendadak merasa kegembiraan yang sangat aneh dan menggairahkan.
Desisnya kegirangan.
"Kau.... apakah ucapanmu benar-benar?"
Bun Cu-giok tersenyum dan balas pandang, ujarnya.
"Kau tidak percaya kepadaku?"
"Tidak!"
Kata Ciok Yan kememek, air mata berlinang dikelopak matanya.
"Maksudku aku kegirangan Bun-pangcu, kau...."
Melihat air mata Ciok Yan, Bun Cu-giok menjadi terpesona, pikirannya melayang.
"Ternyata dia begitu lincah dan lucu,"
Diam-diam ia merasa lega, namun tak terpikir olehnya kata-kata manis yang enak dikatakan, terpaksa ia berkata pendek.
"Aku....? Kenapa aku?"
Melihat pandangan Bun Cu-giok yang tajam dan penuh mengandung arti itu, Ciok Yan menjadi malu dan menunduk, batinnya.
"kiranya Bun Cu-giok menyusul kemari hendak mencari aku malah memberi penjelasan duduk perkara sebenar-benarnya. Usianya masih begitu muda, berkepandaian silat tinggi, sikapnya begitu baik pula terhadap dirinya."
Melihat Ciok Yan menunduk malu tergetar hati Bun Cu-giok, tersipu-sipu ia berkata.
"Nona Ciok, lekaslah kau pulang. Sekarang aku masih ada urusan, segera harus berangkat!"
Ciok Yan angkat kepala, katanya.
"Apa? Kau akan berangkat kemana?"
Sedapat mungkin Bun Cu-giok tertawa sewajarnya, sahutnya.
"Hun Thian-hi tengah terkepung oleh berbagai mara bahaya, aku hendak menyusul dan melindungi jiwanya."
Lagi-lagi Ciok Yan menunduk dengan rawan, katanya tersendat.
"Kalau begitu silakan kau pergi."
"Kau sendiri, kau harus lekas pulang!"
Ujar Bun Cu-giok gugup karena sikap Ciok Yan yang ogah2-an. Ciok Yan memutar tubuh tanpa bicara lagi, pelan-pelan ia tinggal pergi. Bun Cu-giok mengejar beberapa langkah, katanya.
"Nona Ciok, kupinta kepadamu, jangan kau menuju ke tempat lain, langsung pulang saja ke rumahmu."
Sesaat Ciok Yan menatap Bun Cu-giok lalu manggut-manggut, katanya.
"Terima kasih Bunpangcu."
Bun Cu-giok menghirup hawa panjang, dipandangnya punggung Ciok Yan semakin menjauh, sejenak ia terlongong, tiba-tiba tergetar hatinya, cepat-cepat ia memutar tubuh hendak mengejar kesana tapi begitu ia berputar kontan ia tersentak kaget, entah kapan di belakangnya sudah berdiri seorang nenek ubanan.
Bergegas Bun Cu-giok menyurut mundur, dengan seksama ia awasi nenek tua ini, sekarang baru lega hatinya, kiranya nenek ini adalah Hoan-hu Popo dari pegunungan Tangkula di daerah barat, kepandaian silatnya tidak di bawah gurunya Ce Hun Totiang.
Tersipu-sipu Bun Cu-giok menjura serta sapanya.
"Nenek apa kau baik."
Hoan-hu Popo memicingkan matanya, tanyanya tertawa.
"Gadis remaja tadi baik bukan?"
Bun Cu-giok mengalihkan pandangannya, apa boleh buat ia manggut-manggut. Kata Hoannhu popo tersenyum simpul.
"Kau tak perlu takut, kulihat sikapmu terlalu baik padanya, kau harus berkumpul sama dia."
Bun Cu-giok tergagap, jawabnya.
"Jangan nenek berkelakar, Sutit masih banyak urusan lain."
Berubah dingin wajah Hoan Hu, jengeknya.
"Karena Hun Thian-hi bukan? Kau berani melindungi dia, ketahuilah kedatanganku justru hendak mencabut nyawanya."
Bun Cu-giok menjadi gugup, serunya.
"Nenek, dia orang baik. Giok-yap Cinjin bukan meninggal di tangannya, dia kena difitnah orang lain."
"Bocah kecil jangan terlalu banyak turut campur urusan orang."
Semprot Hoan-hu popo. Keruan Bun Cu-giok semakin gelisah, bujuknya.
"Kenapa nenek kemari mencarinya. Berilah muka kepadaku dan memberi ampun pada jiwanya!"
"Tidak bisa!"
Sentak Hoan-hu sambil menarik muka.
Bun Cu-giok menjadi heran, teraba olehnya sikap Hoan-hu yang kereng ini bukan kenyataan hendak membunuh orang, kelakuan kasarnya memang sengaja dilakukan untuk menakut2i saja.
Ia beragu sebentar lalu katanya.
"Nenek, adakah sesuatu urusan yang perlu kulakukan?"
Hoan-hu merengut, semprotnya.
"Urusan apa yang perlu kau kerjakan? Omong kosong belaka."
Bun Cu-giok rada kuatir kalau membuat sinenek marah mungkin urusan selanjutnya bakal lebih sulit diselesaikan, cepat-cepat ia merubah sikap, ia berkata tersenyum.
....Nenek.
pandanglah muka Siautit dan berilah kelonggaran!"
Hoan-hu popo menggeram, tanyanya.
"Berapa tahun kau berkelana di Kangouw. semakin lama semakin bejat dan tak tahu aturan."
Bun Cu-giok menjadi kikuk dan bungkam tak bisa bicara. Kata Hoan-hu popo lagi.
"Apa yang terkandung dalam sanubarimu kuketahui semua, namun gurumu tak pernah mengurus kau, kalau dia tidak peduli biar aku yang mewakili dia mengajar adat kepadamu. Cepat kau susul dahulu nona kecil itu kemari."
Bun Cu-giok melengak, tanyanya menegas.
"Nona kecil yang mana?"
"Bocah goblok, jangan pura-pura linglung, lekas susul dia, jangan sampai ia lari jauh atau tak kuberi ampun kepada kau...."
Bun Cu-giok menjadi serba susah, terdengar Hoan-hu mendengus, katanya.
"Ajahnya sudah cukur gundul menjadi Hwesio, kenapa kau suruh dia kembali seorang diri?"
Bun Cu-giok melengak kaget, dipandangnya mata Hoan-hu lekat-lekat. Hoan-hu mendesak lagi.
"Lekas susul dia!"
Terpaksa Bun Cu-giok beilari mengejar' ke depan.
Tak lama kemudian ia sudah dapat menyusul Ciok Yan.
Ciok Yan masih berjalan pelan-pelan sambil menundukkan kepala.
Mendengar derap langkah ia angkat kepala dan menoleh, dengan heran dan bertanya-tanya ia pandang Bun Cu-giok.
Kata Bun Cu-giok tersendat.
"Nona Ciok! Seorang teman guruku bernama Hoan-hu Popo hendak mencari kau, ada berapa patah kata yang hendak disampaikan kepadamu."
"Apa?"
Ciok Yan menegas dengan terlongong.
"Cepatlah,"
Desak Bun Cu-giok.
"Kalau sampai dia jengkel urusan bakal berabe."
Sejenak Ciok Yan sangsi, akhirnya ia mengintil di belakang Bun Cu-giok. Mulutnya bertanya.
"Untuk keperluan apa dia mencari aku?"
"Akupun tidak tahu,"
Jawab Bun Cu-giok singkat. Tak lama kemudian mereka sudah sampai dimana Hoan-hu popo menunggu. Dengan tersenyum manis Hoau-hu menatap Ciok Yan, bergegas Ciok Yan maju berapa langkah serta sapanya.
"Wanpwe Ciok Yan menghadap pada nenek!"
Hoan-hu menarik Ciok Yan lebih dekat, dengan lekat-lekat ia mengawasi wajah orang, tak tertahan mulutnya. menggumam.
"Ah, anak yang kasihan!"
Hati Ciok Yan menjadi pedih, tak tertahan airmata mengalir deras, ia menangis sesenggukan.
"Jangan nangis, jangan nangis! bujuk Hoan-hu sambil menepuk2 bahunya. Lalu ia berpaling ke arah Bun Cu-giok dan berkata.
"Cu-giok, lihatlah betapa baik dan rupawan gadis ini dimana ada kekurangannya."
Bun Cu-giok terperanjat, mulutnya ternganga tak mampu bicara, sesaat baru ia berkata.
"Baik, baik sekali, tiada kekurangannya!"
"Nah kalau begitu baik kujodohkan menjadi istrimu saja. Untuk selanjutnya kau harus membimbingnya baik!"
"Apa?"
Bun Cu-giok dan Ciok Yan berteriak bersama.
"Kenapa?"
Tanya Hoan-hu.
"Bukankah menguntungkan kau malah?"
Cepat Ciok Yan menalangi.
"Nenek, bagaimana bisa, ayahku...."
Hoan-hu membujuk dengan kata-kata manis.
"Kau tak perlu kuatir, ayahmu diapusi Hwesio aneh itu menjadi muridnya. Tentu dia setuju dan tiada persoalan lagi."
"Aku....aku....Bun Cu-giok hendak menolak.
"Kau kanapa?"
Semprot Hoan-hu.
"Apa kau tidak setuju?"
"Bukan nenek tidak tahu"
Demikian ujar Bun Cu-giok sambil tunduk, ....Soalnya aku...."
"Jangan kau takut,"-Hoan-hu menghibur.
"Akulah yang bertanggung jawab kepada gurumu, sedang calon istrimu itu, buang saja."
Ciok Yan tersentak kaget.
"Apa?"
Tanyanya, Sungguh diluar tahunya bahwa Bun Cu-giok ternyata sudah punya calon istri. Bun Cu-giok tunduk semakin dalam. Kata Hoan-hu lebih tandas.
"Aku yang bertanggung jawab. kenapa takut-takut lagi. Kukira gurumu pun akan setuju."
Sekilas Bun Cu-giok melirik ke arah Ciok Yan, dilihatnya orang pun menunduk tanpa bersuara, akhirnya iapun tunduk lagi tanpa bicara. Hoan-hu memandang ]ekat2, katanya.
"Cu-giok, tak perlu beragu, kebahagian hanya sekilas datangnya, kalau kau ingin bahagia dihari tua, cepatlah kau ambil putusan!"
Bun Cu-giok masih tunduk tak berani ambil putusan. Hoan-hu membujuk lagi.
"Dalam segala hal terang Nona Ciok lebih unggul dari Nona Ce itu, sudahlah kau jangan terlalu berat mengenangnya!"
Dilain pihak hati Ciok Yan sendiri juga tengah bimbang, pikiran dan kemauannya saling bertentangan tak tertahan lagi air mata mengucur deras.
"Nona Ciok,"
Ujar Hoan-hu.
"Apakah kau mau?"
Pikiran Ciok Yan kusut dan bingung. jawabnya.
"Nenek, aku tidak mau menikah!"
Hoan-hu menjadi heran dan menatapnya dengan tak mengerti, lalu berpaling dan berkata kepada Bun Cu-giok.
"Cu-giok, kau tunggu disini sebentar, aku hendak bicara dengan nona Ciok."
Lalu digandengnya tangannya diajak menyingkir.
Ciok Yan mandah saja diseret menyingkir sambiil tunduk, entah apa yang hendak dikatakan Hoan-hu kepadanya, hatinya menjadi kebat kebit.
Betapapun dia takkan begitu saja menyetujui akan perjodohan ini, sebagai seorang wanita menjadi keharusan untuk menjaga gengsi pribadinya.
Hoan-hu membawa Ciok Yan kebawah sebuah pohon besar yang rindang, dengan tangan ia suruh Ciok Yan duduk disebelahnya, mulailah ia buka mulut bicara kepada Ciok Yan.
"Mungkin kau menyangka cara kerjaku terlalu sembrono bukan?"
Ciok Yan menggeleng, katanya.
"Aku belum memahami jiwa dan karakternya."
"Bukan kau tidak paham kepadanya,"
Ujar Hoan-hu.
"yang terang kau menyangsikan rahasia dibalik pribadinya itu bukan?"
Ciok Yan tunduk tak bersuara. Hoan-hu menghela napas sambil menepuk bahunya, katanya.
"Ada sebuah cerita, apakah kau mau mendengarkan?"
"Cerita?"
Tanya Ciok Yan heran.
"Dulu adalah seorang pendekar muda,"
Demikian Hoan-hu mulai ceritanya.
"belum lama ia berkelana di Kangouw, waktu itu usianya masih muda dan berwajah ganteng, kepandaian silatnya pun lihay, sikapnya menjadi congkak dan mau menang sendiri, sudah menjadi kodrat alam akhirnya ia jatuh cinta dengan seorang gadis."
Sampai disini ia berhenti sebentar.
Pikiran Ciok Yan lantas melayang, mungkin ini cerita pengalamannya sendiri waktu masih muda dulu.
Memang tampak Hoan-hu tengah termenung2 dan tertawa-tawa tenggelam dalam kenangan lama.
Akhirnya ia melanjutkan.
"Meski jatuh cinta, nmun ia tak berani menyatakan rasa cintanya itu. Sebaliknya gadis itupun sebetulnya merasa tertarik juga kepadanya, melihat sikapnya itu timbul salah paham, disangkanya si pemuda adalah begitu congkak dan takabur."
Ciok Yan menunduk, dua tokoh dalam cerita itu persis benar-benar seperti bayangannya dengan Bun Cu-giok. Kulit muka Hoan-ihu berkerut-kerut, lalu katanya lebih lanjut.
"Pada suatu hari, pendekar itu tiba-tiba pergi mencarinya, secara langsung ia meminang dan mengharap sang gadis pujaan mau menjadi istrinya!"
Sampai disini ia berpaling ke arah Hoan-hu, tanyanya.
"Seumpama gadis itu adalah kau, bagaimana kau hendak mengambil sikap?"
"Aku tidak tahu."
Ciok Yan menjawab singkat.
"Martabatnya baik, dari sepak terjangnya di kalangan Kangouw dapatlah dinilai jiwanya itu, tapi tiada orang yang tahu perihal asal usulnya, apalagi dia adalah begitu mendadak...."
Ia merandek sebentar lalu melanjutkan.
"Gadis itu menjadi marah, ia merasa seolah-olah terlukakan oleh tusukan pedang di ulu hatinya, lalu memakinya kalang kabut, dikatakan dia terlalu takabur, berlawanan dengan lubuk hatinya ia menyatakan bahwa dia tidak menyukainya!"
Ciok Yan mengeluh tertahan, pikirnya kalau aku sendiri yang mengalami kejadian itu, aku pun akan berkata begitu.
"Akhirnya baru gadis itu tahu bahwa pendekar muda itu ternyata adalah murid Bu-tong Ciangbunjin, sebetulnya dia harus masuk biara menjadi imam, tapi demi sang pujaan hatinya dia rela kehilangan segala miliknya, namun gadis itu berkeras tak menyetujui."
Baru sekarang Ciok Yan dapat meraba pendekar muda yang dimaksud dalam cerita itu tak lain tak bukan adalah Ce-hun Totiang adanya. Hoan-hu berkata lagi.
"Cu-giok adalah anak baik. Untuk ini aku berani bicara dimuka, dulu memang ia sudah mengikat tali perjodohan, namun calon istrinya itu sepak terjangnya semakin kotor, dari lurus menjurus ke sesat. Setelah mengetahui hal ini, saking duka seorang diri ia berkecimpung di dunia persilatan. Sebaliknya perempuan itu belum tahu bahwa Cu-giok sudah tahu akan tingkah lakunya, hatinya masih terkenang akan pujaan hatinya ini. Maka Cu-giok menjadi hidup sengsara dan merana, dalam hal ini kaulah yang dapat membantunya untuk melupakan perempuan itu!"
Ciok Yan semakin dalam menunduk. Hoan-hu tertawa geli, ujarnya.
"Ajahmu sudah menjadi Hwesio, kalau kau sudi, Hwi-cwan-po boleh bergabung dengan Partai Putih, kupikir ayahmu tentu sangat senang mendengar berita ini."
Terpikir oleh Ciok Yan.
"Agaknya Bun Cu-giok bukan seorang tamak dan pengecut seperti yang tersiar di kalangan Kangouw, dia boleh dipercaya, apalagi sejak bertemu aku sudah memujanya, asal aku sudah mengetahui martabat dan jiwanya sudah cukup, kenapa menuntut terlalu jauh."
Akhirnya ia tersenyum dan manggut-manggut setuju. Hoan-hu berjingkrak bangun kegirangan, katanya sambil menarik tangan Ciok Yan.
"Bangunlah Cu-giok masih menanti kita disana!"
Begitulah mereka beranjak kembali.
Hati Ciok Yan menjadi was-was, kuatir Bun Cu-giok sudah tinggal pergi?
Waktu sampai di tempat semula, tampak Bun Cu-giok masih berdiri terlongong tanpa bergerak.
Rada terhibur hati Ciok Yan, cepat-cepat ia menunduk dengan muka merah malu.
Ooo)*(ooO Sekarang baiklah kita ikuti perjalanan Hun Thian-hi sejak berpisah dengan Bun Cu-giok, seorang diri dengan tunggangannya langsung ia menuju ke Tiang-pek-san.
Satu jam kemudian, ia sudah menempuh kira-kira lima puluh li jauhnya.
Dia insaf siapapun yang bertemu dengan dirinya pasti takkan melepas begitu saja.
Sejenak Thian-hi menerawang 'pandangan alam sekelilingnya, pikirnya, kalau aku dapat selamat tanpa gangguan hari ini, mungkin perjalanan kali ini bisa selamat sampai ke tempat tujuan.
Tengah ia berpikir2, kupingnya menangkap samberan angin kencang dari samping menyerang dirinya, secara gerak reflek ia melolos pedang pemberian Bun Cu-giok terus memapas ke arah datangnya serangan.
"Tak,"
Kiranya itulah sebatang kayu kering kecil yang patah dua.
Bercekat hati Thian-hi, ia celingukan kian kemari tiada tampak bayangan seorangpun, ia menghembus napas sebal dari mulutnya lalu mengeprak kudanya ke depan, pedang disarungkan kembali, untuk selanjutnya ia mulai waspada dan berjaga-jaga.
Tak lama kemudian sebatang kayu kering menyamber tiba lagi, kali ini Thian-hi angkat tangan dengan kedua jari ia menjepit kayu kecil itu.
Tapi tenaga luncuran kayu kecil itu begitu besar dan kuat, jepitannya menjadi gagal, kayu kecil itu terus terbang melesat dari sampingnya.
Kejut Thian-hi seperti disengat kala, sekarang dilihatnya seseorang tengah duduk bersila di atas sepucuk dahan pohon, orang itu bukan lain adalah Situa Pelita.
Bergegas Thian-hi melompat turun serta maju menyapa.
"Kiranya adalah Jan-teng Cianpwe, Wanpwe tidak tahu, harap suka dimaafkan!"
Tanpa bersuara Situa Pelita menatap Thian-hi le-kat2, rada lama kemudian baru bicara.
"Begitu besar nyalimu berani membunuh Giok-yap Cinjin!"
Hampir semua orang yang ketemu oleh Thian-hi tentu menuduhnya demikian, dengan sedih ia menundukkan kepala. Situa Pelita mendengus serta katanya.
"Waktu pertama kali aku melihat kau, mengingat riwayat dan pengalamanmu yang penuh derita aku rada kasihan dan membantu kau. Aku terburu-buru pergi karena punya urusan penting, untung waktu itu aku tidak turunkan ilmu Ginkang milik tunggalku itu kepadamu-Jiwa Soat-san-su-gou berempat terhitung tersia-sia, mereka salah menilai kau."
"Cianpwe juga. mencurigai aku?"
Tanya Thian-hi mendongak.
"Kenapa? Kau berani tak mengakui dosa2mu itu?"
"Semua orang menuduhku begitu, apakah aku harus memberi penjelasan kepada seluruh manusia di kolong langit ini? Kiranya cukup kukatakan bahwa bukan akulah yang berbuat, aku tidak bisa menuntut kepada semua orang untuk memberi maaf kepada aku, namun dalam sanubari aku selalu berdoa, hanya Tuhanlah yang tahu apa yang telah terjadi!"
Situa Pelita menjadi bungkam, dengan mendelong ia awasi Hun Thian-hi. Hun Thian-hi berdesah sambil menunduk, ujarnya.
"Cianpwe! Sikapku ini mungkin rada keterlaluan, hakikatnya aku tidak tahu cara bagaimana aku harus memberi penjelasan kepada setiap orang, aku pun takkan bisa membuat setiap orang mau percaya kepada aku."
Setelah berpikir Situa Pelita berkata.
"Sebetulnya akupun tak berani berkukuh. Aku hanya mendengar berita saja, kenyataan pihak Bu-tong-pay sudah menyebar Bu-lim-tiap, mengundang seluruh tokoh-tokoh silat dari segala lapisan dan golongan untuk mencari jejakmu bersama."
"Thian-cwan Taysu mengatakan supaya aku bersabar, tujuan hidupku sekarang hanyalah hendak menuntut balas bagi ayah dan Soat-san-su-gou berempat Cianpwe, soal lain aku tidak ambil peduli lagi."
Akhirnya Situa Pelita menghela napas, katanya memberi pesan.
"Bagaimana duduk perkara sebenar-benarnya sulit diterangkan. Tapi kau harus selalu ingat, hasrat kita sangat besar terhadap kemajuanmu dihari depan, kau harus bisa mengendalikan diri baik-baik, sudah aku pergi!" -enteng sekali tubuhnya lantas melayang jauh ke dalam hutan dan lenyap tanpa meninggalkan bekas. Hun Thian-hi menjublek, pikirannya melayang jauh, akhirnya ia menghirup hawa panjang, meski Situa Pelita tidak membantu secara langsung, namun sikap dan kata-katanya itu sungguh membuatnya tunduk lahir batin. Hun Thian-hi naiki kudanya dan melanjutkan perjalanan lagi. Tak lama kemudian ia memasuki sederetan hutan-hutan lebat yang semakin gelap. Jalan punya jalan lambat laun firasatnya bicara bahwa sekelilingnya telah penuh dikuntit oleh banyak perangkap. Segera Thian-hi menarik tali kekang dan menghentikan kudanya, sekian saat ia celingukan ke sekitarnya. Benar-benar juga tahu-tahu di hadapannya melayang turun dua sosok manusia, mereka bukan lain adalah Gwat Long dan Sing Poh. Dengan sikap dingin Hun Thian-hi menatap mereka berdua. Demikian juga Gwat Long dan Sing Poh berdiri tegak dengan sikap angker di kanan kiri di hadapan kuda Thian-hi.
"Untuk apa kalian menghadang perjalananku?"
Jengek Thian-hi dingin. Gwat Long dan Sing Poh berkata bersama.
"Seluruh tokoh Bulim siapa yang tidak tahu bahwa kau telah membunuh guruku. Kenapa tanya lagi!"
Thian-hi tertawa dengan sombong, sindirnya.
"Tapi adalah kalian berdua lebih jelas dari aku siapa sebetulnya pembunuhnya?"
"Hun Thian-hi!"
Maki Gwat Long gusar.
"jangan cerewet lagi, apa hari ini kau sangka bisa keluar dari hutan ini? Hutan ini sudah terkepung rapat, seumpama tumbuh sayap pun jangan harap kau dapat terbang ke langit!"
Thian-hi bergelak tawa dengan congkak, katanya.
"Guru kalian Giok-yap Cinjin semula menyangka kamu berdua sangat setia terhadap beliau, tapi setelah beliau wafat, sepak terjang kalian sungguh...."
"Hun Thian-hi jangan banyak bacot lagi!"
Teriak Gwat Long sambil mengulapkan tangan ke belakang.
"Lihatlah itu!"
Tampak dari hutan sebelah depan sana muncul Kongsun Hong gurunya. Kata Gwat Long berpaling ke belakang.
"Kongsun Tayhiap, muridmu disini bagaimana menurut anggapanmu?"
Melihat gurunya Kongsun Hong mendadak muncul di tempat itu, Thian-hi tercengang heran, cepat ia nyapa.
"Suhu!"
Lam-siau Kongsun Hong menatap tajam ke arah Thian-hi tanpa bersuara. Gwat Long mendesaknya lagi.
"Kongsun Tayhiap, kaulah seorang tokoh Kangouw yang bangkotan, sepak terjang dan tingkah laku muridmu ini, kau sebagai gurunya bagaimana mempertanggung jawabkan!"
Kongsun Hong menghela napas tanpa bicara.
Thian-hi menunduk dengan sedih, jelas terlihat olehnya titik-titik air mata dimuka gurunya.
Dibanding pertemuan dengan gurunya tempo hari Lam-siau Kongsun Hong sekarang kelihatan jauh lebih tua sepuluh tahun, rambut dipinggir telinganya kelihatan sudah mulai ubanan.
Sekian lama Kongsun Hong tenggelam dalam renungannya, akhirnya ia angkat kepala berkata kepada Gwat Long.
"Aku mengusirnya dari perguruan terserah bagaimana kalian hendak menghukumnya. Aku tak perlu banyak bicara lagi!"
Habis bicara terus tinggal pergi. Gwat Long menjengek hidung, katanya.
"Kongsun Tayhiap begitu saja keputusanmu?"
Kongsun Hong membalik ke arah Gwat Long katanya.
"Bagaimana? aku menyerahkan dia kepada kalian untuk menghukumnya sesuka hatimu apakah masih kurang adil?"
Gwat Long mendengus tak bicara lagi.
Maksudnya semula hendak mendesak Kongsun Hong supaya memerintahkan Hun Thian-hi bunuh diri, sekarang terpaksa harus turun tangan sendiri....
Dengan berlinang air mata Hun Thian-hi mengawasi punggung Kongsun Hong yang menghilang dibalik pohon dalam hutan.
Tahu dia sikap dan keputusan gurunya terhadap dirinya tadi adalah yang paling baik dan banyak memberi kelonggaran, dan terpaksa memang harus demikianlah yang dapat diperbuatnya....
di hadapan para gembong-gembong silat Kangouw.
Seumpama Kongsun Hong mengetahui bahwa kematian Giok-yap bukan lantaran dirinya, diapun bakal berbuat demikian.
Gwat Long melolos pedang terus menyerang kepada Hun Thian-hi.
Hun Thian-hi bergelak tawa, sigap sekali tubuhnya mencelat tinggi dari tunggangannya, sebelah tangan kiri menanggalkan pedang dengan jurus Hun-liong-pian-yu ia balas menyerang kepada Gwat Long.
Hun-liong-pian-yu adalah salah satu jurus dari Thian-liong-chit-sek yang paling hebat dan lihay.
Meski Gwat Long sebagai murid Bu-tong Ciangbun Giok-yap Cinjin tak urung juga terdesak mundur selangkah.
Tapi dasar punya kepandaian tinggi dari didikan perguruan murni ilmu silatnya memang lain dari yang lain.
Kejap lain ia sudah dapat memperbaiki posisinya, sekarang ia mulai balas menyerang, pedangnya panjang berterbangan, dengan jurus Soat-yong-lou-hwa, selarik sinar dingin berputar terus balas menyerang mengarah tenggorokan Thian-hi.
Menyaksikan Gwat Long mendesak gurunya begitu rupa sungguh benci Thian-hi bukan main, saking sengit segera ia kembangkan ilmu Gin-ho-sam-sek, tenaga dikerahkan seluruhnya untuk merobohkan lawan.
Melihat saudaranya rada terdesak Sing Poh segera mencabut pedang, sekarang berdua mengepung Hun Thian-hi.
Dengan dua lawan satu Hun Thian-hi masih lancar memainkan Tamlian-hun-in-hap untuk menyerang dan untuk membela diri.
Pertempuran sudah berjalan setengah jam, meski Thian-hi membekal pedang aliran murni dari tingkat yang paling tinggi, lama kelamaan ia merasa tenaga mulai terkuras habis, pula Gwat Long dan Sing Poh sudah mainkan Cian-si-bik-so ilmu pedang gabungan yang kokoh dan rapat sekali untuk menempur Thian-hi mati-matian.
Semakin tempur Gwat Long berdua semakin gagah dan serangan semakin gencar.
Tiba-tiba Hun Thian-hi bersuit nyaring panjang, tibalah saatnya ia kembangkan jurus ketiga Gin-sho-sam-sek yang belum selesai dilatihnya.
Dimana pedangnya berputar lempang dimana jurus Hwi-ho-poh-cun-siau berkembang, cahaya mas berkilau mengembang lebar langsung menerjang dan membobol kepungan jalur sinar pedang Gwa Long dan Sing Poh, seiring dengan hasil gemilang ini tubuh Thian-hi pun ikut melesat keluar dari kepungan.
Begitu berhasil lolos dari kepungan seketika Thian-hi rasakan dadanya sesak dan mual, tanpa kuasa mulutnya lantas menyemburkan darah segar, sekali lompat ke atas punggung kudanya terus mencongklang keluar hutan.
Dalam ilmu Gin-ho-sam-sek hanya jurus ketiga inilah yang paling ganas dan merupakan jurus menyerang melulu.
Dulu karena belum selesai sempurna ciptaan jurus ketiga ini maka Soat-sansu-gou tak berani melancarkan melawan Bu-bmg Loni sehingga mereka sendiri yang menjadi korban.
Atau kalau terpaksa dilancarkan tentu untuk hari2 selanjutnya bilamana Hun Thian-hi melancarkan jurus ini Bu-bing Loni takkan gentar dan dapat menyelami inti sari serta pemecahannya.
Kenyataan memang mereka terdesak dan bakal kalah akhirnya mereka sembunyikan jurus yang terlihay ini khusus diturunkan kepada Hun Thian-hi.
Kalau Hun Thian-hi kelak berhasil mempelajari dengan sempurna tentu akan merupakan tekanan berat bagi Bu-bing.
Dengan luka-luka berat Thian-hi semampai di atas kudanya terus menerjang keluar hutan.
Waktu sampai diluar hutan dimana sudah ada orang yang menunggunya.
Pertama-tama Toh-bingcui-hun yang menyerang lebih dulu, sekali ayun tangan kanan cincin pencabut nyawa dan Cuihun-chit-sa-to sekaligus diberondong keluar, semua mengarah tempat mematikan di tubuh Thianhi.
Meski luka dalam sangat berat, tapi musuh menghadang jalan, terpaksa ia menahan sakit dan kerahkan tenaga, dengan menggeram gusar pedangnya berkelebat miring, cukup dengan jurus Tam-lian-hun-in-hap seluruh hujan senjata rahasia kena dipukul runtuh.
Sementara itu jarak kedua belah pihak sudah semakin dekat terpaksa Toh-bing-cui-hun To Hwi menggunakan pedang menyerang Thian-hi.
Di belakangnya tampak Tosu gila juga muncul, teriaknya tertawa.
"Bocah, mau lari kemana lagi!"
Perasaan Thian-hi menjadi pedih seperti diiris-iris, Tosu gila yang tempo hari pernah berjanji hendak membantu dirinya sekarang berbalik memusuhi dirinya.
Saking berduka ia bergelak tawa panjang, pedangnya bergerak kencang menangkis dan menyampok serangan senjata para musuh, karena gelak tawanya ini darah menyembur lagi dari mulutnya.
Melihat keadaan Thian-hi, Tosu gila menjadi kaget, biji matanya memancarkan sorot cahaya aneh berkilat.
Beruntun pedang Thian-hi menutul dan menabas ke arah kedua musuh, terpaksa Tosu gila berkelit mundur, Thian-hi berkesempatan mengeprak kudanya lari.
Tidak jauh Thian-hi lari Gwat Long dan Sing Poh sudah menyusul tiba.
Tubuh mereka bagai terbang mencelat tiba menghadang jalan Hun Thian-hi.
Hun Thian-hi menjadi sengit bentaknya.
"Jangan kalian terlalu mendesak orang!" -matanya mendelik membara ke arah kedua musuhnya. Gwat Long dan Sing Poh menjadi gentar dan mundur ketakutan. Dengan gusar Thian-hi menggentakkan pedang menyerang lagi, karena kata-katanya tadi ia menyemburkan darah segar. Urusan sudah ketelanjur sedemikian jauh terpaksa Gwat Long berdua pun tak mau menyudahi begitu saja. Mana kuat dan mana lemah jelas dapat dibedakan, sekali balas menyerang' pedang Thian-hi mencelat dari cekilannya. Tepat saat itu Toh-bing-cui-hun juga telah memburu tiba, pedangnya menusuk kelambung Thian-hi karena tak membekal senjata terpaksa Thian-hi menjepit perut kudanya melecutnya ke depan untuk menghindari tusukan ganas ini. Melihat Toh-bing-cu-hun To Hwi begitu bernafsu hendak membunuh Thian-hi, memang inilah yang menjadi maksud tujuan Gwat Long berdua, l "Saudara Hun. Lekas lari!" Sementara itu, Ciok Yan juga membedal kudanya menerjang tiba. Bun Cu-giok mainkan ilmu cambuknya yang lincah dan hebat untuk mendesak para musuh, kesempatan lain serentak mereka melarikan diri bersama. Sudah tentu Gwat Long dan Sing Poh tak rela ikan yang sudah masuk jaring terlepas lagi. Dengan kencang mereka mengejar. Terpaksa Bun Cu-giok mainkan gabungan ilmu pedang dan cambuk untuk menandingi para pengejarnya, sambil tempur terus melarikan diri. Sekejap saja sepuluh li sudah ditempuh, lari bertempur masih terus berlangsung, akhirnya tinggal Gwat Long dan Sing Poh yang masih terus mengejar. Bun Cu-giok menghentikan langkah dan membalik tubuh, bentaknya kepada Gwat Long berdua. "Cara bagaimana kematian Supek kalian berdua jelas mengetahui, tahu salah tapi tak bertobat, sekarang malah berani main bunuh pada orang yang tak berdosa, dimana hati nuranimu?" Sejenak Gwat Long berdua tercengang, akhirnya menebalkan muka berkata. "Kaukah murid Cehun Totiang? Meski Ce-hun diusir dari perguruan, hubungan kental dengan guruku masih kekal. Hun Thian-hi membunuh guruku, hal ini diketahui seluruh dunia, bagaimana kau bisa melepas dia." Bun Cu-giok menjadi murka, makinya. "Sampai matipun kalian cdak insaf?" Pedang mas dan cambuk perak bergerak bersama merabu kepada Gwat Long berdua. Betapa girang hati Thian-hi mendapat bantuan Bun Cu-giok dan Ciok Yan, lambat-lambat ia meraba daun buah ajaib terus ditelannya, bersama Ciok Yan menonton diluar gelanggang. Seorang diri Bun Cu-giok melawan keroyokan Gwat Long dan Sing Poh. Sama-sama murid Butong dari aliran murni, setiap jurus dan tipu permainan mereka hampir sama, sekejap saja pertempuran sudah berlangsung lima puluh jurus. Kuatir bala bantuan pihak lawan keburu tiba, segera Bun Cu-giok melompat mundur terus naik ke atas kudanya serunya. "Tak perlu kulayani kalian!" Bersama Thian-hi dan Ciok Yan mereka lari pula dengan kencang. Gwat Long dan Sing Poh juga tahu tak lama lagi bala bantuan bakal tiba mana mereka berani mengejar terus, kalau sekarang tidak beres tentu kelak menimbulkan bibit bencana. Beberapa lama kemudian Bun Cu-giok berhenti dan memutar balik, hardiknya. "Kalian benar-benar bandel?" Gwat Long berdua tak banyak bicara begitu dekat lantas menyerang. Hun Thian-hi menggertak sengit. dengan kedua kepalannya ia lancarkan pukulan jarak jauh merabu kedua musuhnya. Sungguh kejut Gwat Long berdua bukan main, cepat-cepat mereka jumpalitan mengegos, kelihatannya tenaga Thian-hi sudah pulih begitu cepat, pelan-pelan mereka mundur menjauh dan tak berani sembarangan bergerak. Bun Cu-giok berkakakan, baru saja mereka hendak melanjutkan lari. Tiba-tiba meluncur turun bayangan orang dari tengah udara, tahu-tahu seorang tua muka hitam berdiri tegak dihidapan Gwat Long berdua. Terbelalak mata Thian-hi bertiga, cara gerak tubuh pendatang ini, sungguh sangat menakjubkan, belum pernah terlihat orang bisa bergerak begitu lincah dan indah, entah apa maksud kedatangannya Orang itu menggeram ditenggorokan sambil mendelik Ke arah Thian-hi bertiga, lalu memutar menghadapi Gwat Long dan Sing Poh. Begitu melihat jelas orang muka hitam kontan Gwat Long berdua mengunjuk rasa girang dan berseri tawa, tersipu-sipu maju menjura serta sapanya. "Wanpwe Gwat Long dan Sing Poh menghadap Cu-kat Cianpwe!" Mendengar nama orang terkejut Bun Cu-giok, mulutnya mendesis. "Dialah jiang-ho-it-koay Cukat Tam!" Thian-hi juga terlongong, memang ia sedang menempuh perjalanan menuju ke Tiang-pek-san hendak mencari Ciang-ho-it-koay, tapi sekarang dia sudah datang sendiri, namun situasi sekarang jelas sangat tidak menguntungkan bagi pihaknya. Kata Cukat Tam kepada Gwat Long berdua. "Kudengar berita katanya gurumu sudah wafat, apakah betul?" Gwat Long dan Sing Poh menjawab bersama. "Harap Cukat Cianpwe suka memberi keadilan, memang begitulah kebenar-benarannya!" Cukat Tam menoleh ke arah Bun Cu-giok, tanyanya menyerngai. "Siapakah Hun Thian-hi?" "Akulah Hun Thian-hi!" Jawab Thian-hi lantang. Ciang-ho-it-koay mengawasi Thian-hi dengan seksama, tiba-tiba ia terbahak-bahak, nada tawanya begitu keras mendengung di pinggir telinga sampai Thian-hi merasa pusing tujuh keliling. Terpikir dalam dugaan Thian-hi bahwa Cukat Tam ini mungkin dulu pernah mendapat kebaikan dari Put-lo-sin-sian Giok-yap Cinjin, jelas hari ini dirinya takkan dapat terhindar dari bencana. Hal yang paling menggelikan justru dirinya hendak pergi mencarinya. Setelah menghentikan gelak tawanya Cukat Tam bertanya menegas. "Kau yang bernama Hun Thian-hi?" Thian-hi tersenyum lebar. "Betul!" Sahutnya manggut. Cukat Tam mengawasi lagi dengan seksama, akhirnya ia berpaling dan berkata kepada Gwat Long Sing Poh. "Benar-benarkah guru kalian terbunuh ditangannya?" Gwat Long Sing Poh manggut bersama, menjelaskan. "Suhu tersesat waktu latihan Lwekang, dalam keadaan tak bisa bergerak dan bicara, gampang saja dia membunuh beliau." Ciang-ho-it-koay bergegas membalik tubuh serta membentak kepada Thian-hi dengan gusar. "Kenapa kau membunuh Giok-yap Cinjin?" Thian-hi tertawa-tawa, jawabnya. "Kau tanya saja kepada mereka berdua" "Aku tanya kau!" Hardik Cian-ho-it-koay murka. Bun Cu-giok segera menyelak bicara dengan keras. "Giok-yap Supek hakikatnya bukan dibunuh oleh Hun Thian-hi." Ciang-ho-it-koay tercengang, jengeknya kepada Bun Cu-giok. "Siapa kau?" "Aku yang rendah Bun Cu-giok." Sahut Bun Cu-giok lantang. Ciang-ho-it-koay mendengus hina, ejeknya. "Bun Cu-giok merupakan kaum keroco yang tak terkenal, kenapa diagulkan!" Bun Cu-giok tahu selamanya Ciang-ho-it-koay bicara tentang budi tak mengenai keadilan, jelas dia punya hubungan erat dengan Gwat Long dan Sing Poh, pihak sendiri terang menjadi bulan2an belaka. Tiba-tiba tergerak hatinya, cepat ie menjura serta katanya. "Cukat Cianpwe guruku Ce-hun, apakah Cianpwe pernah dengar nama beliau?" Bertaut alis Ciang-ho-it-koay Cukat Tam, hatinya menjadi curiga dan bertanya-tanya, dia tahu bahwa Ce-hun adalah Sute dari Giok-yap. Diantara sesama perguruan yang sedemikian banyak hubungan Giok-yap paling akrab dengan Ce-hun, kenapa para murid kedua tokoh seperguruan mereka saling bertentangan? Katanya. "Jadi kau murid Ce-hun?" Bun Cu-giok tahu sekarang tiada untungnya membicarakan aturan, segera ia manggut-manggut katanya lagi. "Karena urusan Supek itu, maka Suhu menitahkan aku untuk bicara dengan Cianpwe." Ciang-ho-it-koay semakin gopoh, batinnya. "Selamanya aku tak punya hubungan dengan Cehun, untuk persoalan apa ia mengajak aku bicara?" -tapi kedua belah pihak adalah tokoh-tokoh ternama betapapun ia harus memberi muka, maka segera ia menegas. "Apa betul?" Gwat Long dan Sing Poh segera menimbrung. "Cukat Cianpwe jangan kau tertipu oleh obrolannya. Coba pikir, baru saja kau orang tua mendengar kabar dan memburu datang, bagaimana mungkin dia mendapat tugas gurunya untuk mengundang kau? Jelas ia sedang menggunakan tipu memancing harimau dari gunung." Ciang-ho-it-koay termakan oleh hasutan ini, dengusnya kepada Bun Cu-giok. "Dimana gurumu?" "Sudah tentu berada di Tangkula-san!" "Itulah baik. Hun Thian-hi hendak kuringkus kesana, kupikir kau takkan menolak bukan." Bun Cu-giok tertegun melongo, dia tahu gurunya takkan sudi mau mengurus segala tetek bengek ini. Apalagi soal perjodohannya dengan Ciok Yan pun belum mendapat restunya. Kalau membawa Hun Thian-hi ke Tangkula-san, kalau diadu bertiga dan bicara secara berhadapan, jelas pembualanku bakal membuat marah Suhu, bukankah urusan bakal lebih tidak menguntungkan bagi Hun Thian-hi! Melihat keraguan Bun Cu-giok Ciang-ho-it-koay menyeringai ejek. Cepat-cepat Hun Thian-hi berkata. "Apakah Cukat Cianpwe takut Hun Thian-hi bakal melarikan diri?" Ciang-ho-it-koay terloroh-loroh. "Bocah cilik, jangan takabur di hadapanku!" Sembari berkata tangan kanannya diulurkan mencengkeram ke arah Bun Cu-giok. Melihat urusan tak bisa dibikin damai, lekas-lekas Bun Cu-giok mengegos kesamping serta berteriak. "Hoan-hu popo segera bakal tiba, apakah kau masih tidak percaya?" Ciang-ho-it-koay semakin murka, bentaknya. "Peduli apa Hoan-hu popo!" Tangannya bergerak lagi, kelima jari-jarinya seperti cakar garuda menyengkeram kemuka Bun Cu-giok. Melihat situasi sekarang sangat menguntungkan pihaknya, Gwat Long berkesempatan bergerak lagi, sambil menggertak berbareng mereka menubruk ke arah Hun Thian-hi. Tepat pada saat itu, kelihatan Huan-hu popo melayang datang dengan kecepatan seperti anak panah, langsung ia meluncur di hadapan Ciang-ho-it-koay, seringainya dingin. "Cukat Tam! Berani kau menghina padaku!" Melihat Hoan-hu popo betul-betul muncul Ciang-ho-it-koay menjadi tersipu-sipu, sesaat ia tertegun. Sebaliknya Bun Cu-giok menjadi kegirangan, sebat sekali badannya melejit tinggi merangsek ke arah Gwat Long Sing Poh. Terpaksa Gwat Long Sing Poh melompat menyingkir. Cukat Tam menjengek. "Apa pedulimu dalam persoalan ini!" "Gadis itu adalah muridku, Bun Cu-giok adalah calon suaminya, apa yang hendak kau perbuat kepada mereka!" Tanya Hoan-hu popo. Cukat Tam menjadi sangsi, tahu dia bahwa Hoan-hu popo tidak gampang diajak bekerja, katanya. "Jadi kau sudah tahu duduk perkara sebenar-benarnya. Apakah betul Ce-hun Totiang mengundang aku?" "Peduli dengan urusan itu. Tapi muridku dan calon suaminya betapapun tak kuijinkan kau mengganggu usik mereka." Kata Bun Cu-giok kepada Hoan-hu. "Nenek, bantulah aku sekali ini. Sebetulnya Hun Thian-hi tidak membunuh Giok-yap Cinjin, ini hanya fitnah belaka. "Nak, kau jangan menjadi bodoh"' ujar Hoan-hu. "Urusan ini sulit diketahui siapa benar-benar atau salah, jangan kau usil!" Sementara itu Ciang-ho-it-koay sudah berpikir sekian lamanya, katanya. "Baiklah, secara sembrono mulutku mengoceh menyakiti hatimu. Hitung saja dia tak bersalah kubebaskan dia!" "Tidak bersalah apa," Bentak Bun Cu-giok dengan gusar. "Justru kau ini yang tidak tahu duduk perkara Sebenar-benarnya, kau dengar kata sepihak dari kawanan penjahat." Berubah air muka Gwat Long dan Sing Poh. Rona wajah Ciang-ho-it-koay juga berubah bergantian. terdengar ia menjengek dingin. "Berani kau mengoceh lagi, awas, kupuntir kepalamu!" "Coba kau berpikir," Semprot Bum Cu-giok dengan lantang. "Apa alasan Hun Thian-hi untuk membunuh Giok-yap Cinjin?" "Peristiwa Hun Thian-hi membunuh puluhan jiwa aku pun sudah dengar, memang di seluruh kolong langit ini siapa yang punya alasan untuk membunuh Giok-yap Cinjin?" Bun Cu-giok menjadi bungkam, sebaliknya Hun Thian-hi mandah tersenyum ewa, katanya kepada Bun Cu-giok. "Saudara Bun terima kasih akan kebaikanmu ini, sebetulnya aku hendak ke Tiang-pek-san mencari dia, sekarang dia sudah datang, sangat kebetulan malah." "Kau hendak mencari aku?" Tanya Ciang-ho-itkoay mendengus hidung. Hun Thian-hi tak mau jawab. Kata Bun Cu-giok."Lote, hakikatnya kau tidak melakukan kesalahan, betapapun jangan mandah menyerah saja." -Lalu ia lemparkan pedang panjangnya kepada Hun Thian-hi. Melihat kekukuhan pendapat Bun Cu-giok, Hoan-hu mengerut kening, ia insaf bila benar-benarbenar-benar sampai Ciang-ho-it-koay marah dan urusan sudah ketelanjur tentu berabe, segera ia maju selangkh serta berkata kepada Ciang-ho-itkoay. "Aku pulang lebih dulu!" -Sembwi berkata secepat kilat ia tutuk jalan darah Bun Cu-giok dan Ciok Yan terus dikempit dan dibawa lari. Menyoreng pedarg mas pemberian Bun Cu-giok, Hun Thian-hi tenggelam diam pikirannya, sekarang dia menghadapi lawan tangguh, dia tahu bagaimana juga dia tak mampu menang. Terdengar Ciang-ho-it-koay mendehem keras serta mendesak maju kehadapan Hun Thian-hi. Hun Thian-hi mengangkat alis, sebetulnya hatinya berontak untuk menyerah begitu saja, ada hasrat menggunakan jurus Pencacat langit pelenyap bumi yang ganas itu, tapi tempo hari sudah pernah berjanji terhadap Situa Pelita Hati Ciang-ho-it-koay juga rada heran dan bertanya-tanya, dia heran atas ketenangan Hun Thian-hi, desisnya dingin. "Hun Thian-hi, sebelum ajalmu ingin aku bertanya, untuk keperluan apa kau hendak ke Tiang-pek-san mencari aku!" Dengan mendelong Hun Thian-hi menjawab. "Urusan sudah lewat, tak perlu disinggung lagi!" Gwat Long dan Sing Poh menjadi kuatir kalau semakin berlarut urusan bakal berabe, segera mereka mendesak. "Cukat Cianpwe, bocah ini cukup licik dan banyak muslihat, jangan sampai tertipu olehnya, cepat bunuh saja supaya tidak menimbulkan bencana dikemudian hari!" Ciang-ho-it-koay terbahak-bahak, ujarnya. "Masa aku takut menghadapi muslihat orang?" -Sebat sekali tubuhnya berkelebat merangsak ke arah Thian-hi. kedua jari tangan kanannya dirangkap menutuk ke jalan darah Sam-kiau-hiat Hun Thian-hi. Cepat Thian-hi menggerakkan pedang, laksana lembayung sinar mas dari pedangnya berkelebat melancarkan jurus Gelombang perak mengalun berderai, menjaga diri dan balas menyerang dengan tarian pedang yang menakjupkan. Terdengar Cukat Tam menjengek murka. "Dengan bekal Lwekang begini berani unjuk gagah di depan seorang ahli?" -Sembari berkata tangan kanannya bergerak lincah seperti bayang2 kipas melancarkan ilmu pukulan Biau-hun-ciang, telapak tangannya berkembang terus mencengkeram ke arah pedang mas Hun Thian-hi. Lekas-lekas Thian-hi menarik pedang dan berusaha melompat mundur, namun pedang sudah tak kuasa dipegangnya lagi, entah bagaimana tahu-tahu sudah terampas oleh Ciang-ho-it-koay. Cukat Tam buang pedang di atas tanah, sambil menyeringai mulutnya menjengek. "Masih punya kepandaian lihay apa lagi?" Bab Thian-hi menghela napas tanpa bicara. Sungguh ia sangat kejut akan kepandaian Ciang-ho-itkaoy yang begitu lihay dan tinggi, hatinya dirundung pertanyaan mengapa Buah ajaib yang merupakan benda mujarab, sebanyak enam buah tertelan ke dalam perutnya tidak pernah menunjukkan keampuhannya? Jelas dirinya segera bakal dibunuh oleh Cukat Tam. Terdengar Gwat Long dan Sing Poh menghasut lagi dari samping. "Cukat Cianpwe, lekas bunuh!" Ciang-ho-it-koay masih ingin bertanya beberapa persoalan dengan Thian-hi, dengan sikap dingin ia berpaling serta dengusnya. "Kenapa kalian berdua begitu ingin membunuhnya. Apakah kalian tahu kenapa ia membunuh guru kalian?" Gwat Long dan Sing Poh tergagap tak mampu buka suara, akhirnya Gwat Long menjawab tersendat. "Hun Thian-hi cukup licik dan licin, kita...." "Kalian tak perlu banyak cerewet!" Bentak Ciang-ho-it-koay. Lalu ia berpaling lagi ke arah Thian-hi, tanyanya. "Kenapa kau bunuh Giok-yap Cinjin, apa diantara kalian punya dendam permusuhan?" Hun Thian-hi tertawa ewa. sahutnya. "Kau tak perlu banyak tanya lagi." Tiba-tiba Ciang-ho-it-koay bergerak begitu cepat sampai jak bisa diikuti pandangan mata tahutahu ia sudah menekan punggung Thian-hi, ancamnya. "Bagaimana! Kau mau bicara tidak?" Hun Thian-hi pejamkan mata tanpa bersuara, ia insaf bahwa jiwanya hanya tergantung dalam satu dua detik saja, gelombang pikiran kenangan lama terbayang dalam benaknya. Mendadak ia seperti mendengar petuah Thian-cwan Taysu. "Sekarang Siau-sicu tengah terfitnah dan penasaran, hanya bersabarlah baru kau dapat mencuci diri, hanya bersabar baru kau akan berhasil menuntut balas bagi sakit hati ayahmu, hanya kesabaranlah yang tidak akan menyia-nyiakan harapan besar Soat-sun-su-gou berempat terhadap dirimu!" -tersentak hatinya, samar-samar seperti terlihat sebuah wajah buram tengah tertawa kepada dirinya. Sanubari Hun Thian-hi tengah bergolak, terpikir olehnya dengan cara kematiannya ini hanya meninggalkan buah tertawaan orang saja, terasa olehnya bahwa Mo-bin Suseng saat mana tengah tertawa lebar. Melihat Thian-hi tegak tak bergeming, Ciang-ho-it-koay menjadi kewalahan, katanya. "Baik kau tak mau bicara aku pun tak perlu memaksa. Aku akan menyelenggarakan Bu-lim-tay-hwe, disaat itulah kujatuhkan hukuman mati kepada kau, akan kulihat apa kau tetap bandel." Timbul harapan hidup Thian-hi, katanya membuka mata. "Cianpwe, aku punya sebuah cerita apa kau sudi mendengar?" "Mana aku punya tempo mendengar ceritamu!" "Benar-benar! Cukat Cianpwe jangan sekali2 tertipu oleh dia." Gwat Long Sing Poh tetap menghasut. Cukat Tam melirik ke arah mereka, terlihat olehnya sikap dan mimik wajah mereka yang rada aneh, dengusnya berkata. "Kalian sangka aku bisa tertipu olehnya? Justru aku ingin mendengar." -lalu ia berkata kepada Thian-hi. "Coba kau mulai." Terpaksa Gwa Long dan Sing Poh mandah gugup dalam hati. Jika Hun Thian-hi benar-benar menceritakan duduk perkara sebenar-benarnya, mungkin siapapun paling tidak bakal percaya tiga bagian. Sesaat Thian-hi termenung lalu berkata. "Itulah kisah tentang Badik buntung, apakah Cianpwe tahu tentang Badik buntung?" "Katakan terus jangan bertanya kepada aku!" Desak Ciang-ho-it-koay. "Semua orang menyangka bahwa di dalam Badik buntung itu ada tersembunyi rahasia Ni-hayki-tin, setiap orang ingin memiliki...." Sambil mendengar cerita Thian-hi Ciang-ho-it-koay melirik ke arah Gwat Long Sing Poh, dilihatnya rona wajah mereka yang tidak wajar, persoalan terbunuhnya Giok-yap Cinjin tentu punya latar belakang yang sulit dipecahkan, segera ia bertanya. "Sebetuhnya cara bagaimana kematian guru kalian?" Berubah pucat wajah Gwat Long Sing Poh, kata mereka. "Cianpwe, Sam-lo-chit-cu bisa menjadi saksi bahwa Hun Thian-hilah pembunuhnya, dengan mata kepala sendiri mereka melihat Hun Thian-hi melolos Badik buntung dari dada guru kita." Ciang-ho-it-koay menjadi gelisah dan rada curiga, jelas kata-kata Gwat Long ini bukan obrolan belaka, katanya kepada Hun Thian-hi. "Ceritamu tak perlu diteruskan, sekarang juga kita menuju ke Bu-tong, kau punya maksud hendak membuktikan bahwa Giok-yap Cinjin bukan kau yang membunuh, itu pun baik, tapi ada orang melihat maka tiada halangan kau membela diri di hadapan mereka" Sebetulnya Thian-hi hendak menceritakan apa tujuan si pembunuh Giok-yap Cinjin, tapi niatnya ini menjadi batal karena Ciang-ho-it-koay tak ingin mendengar lebih lanjut. Tak terasa ia menghela napas rawan. Tapi ia masih punya harapan katanya kepada Cukat Tam. "Kau ingin tahu kenapa aku hendak mencari kau?" Hati Ciang-ho-it-koay tengah gelisah, katanya tak senang. "Nanti bicara di Bu-tong, jangan cerewet lagi." Hun Thian-hi bungkam. Mendadak ditengah angkasa terdengar pekik nyaring dari burung dewata. Thian-hi terperanjat dan mendongak, pikirnya. "Hari ini baru ratusan hari, kenapa Bu-bing Loni datang mencari kemari?" Cukat Tam sendiri juga sangat terkejut. Tak lama kemudian tampak dua burung dewata pelan-pelan hinggap di tanah, Bu-bing Loni, Ham Gwat, Siau Hong dan Su Giok-lan muncul bersama. Dengan tajam Hun Thian-hi mengawasi mereka, tampak olehnya Su Giok-lan berapi-api menatap dirinya. Sebaliknya sikap Ham Gwat tetap angkuh dan dingin, dengan kilatan tajam dingin Bu-bing Loni menyapu pandang seluruh hadirin. Diam-diam bercekat hati Cukat Tam, kenapa nikoh tua inipun datang, untuk apakah ia kemari, demikian ia membatin dalam hati. Sebaliknya Bu-bing Loni sendiri juga merasa heran bahwa Ciang-ho-it-koay Cukat Tam juga berada disitu. Selamanya Ciang-ho-it-koay bersemajam di Tiang-pek-san, selamanya jarang mengembara di daerah Tionggoan. Soat-san-su-gou pernah berpesan kepada Hun Thian-hi supaya pergi ke Tiang-pek-san mencari It-ki dan It-koay, sekarang Ciang-ho-it-koay sudah muncul tapi dilihat gelagatnya sedang bertengkar dengan Hun Thian-hi. Lubuk hati masing-masing sedang melayangkan pikiran sendiri, sesaat mereka jadi terlongong hingga tak bersuara. Su Giok-lan berpaling memandang ke arah Bu-bing Loni, tampak Bu-bing Loni manggutmanggut. Su Giok-lan lantas tampil ke depan katanya kepada Hun Thian-hi. "Hun Thian-hi, tebuslah jiwa engkohku!" Sembari kata ia melolos pedang panjang. Tanpa bicara Hun Thian-hi mengawasi Su Giok-lan lekat-lekat, tak tahu dia bagaimana perasaan hatinya. Keadaan Cukat Tam menjadi serba sulit, dia tak mau bermusuhan dengan Bu-bing Loni, tapi betapa pun Hun Thian-hi tidak boleh ayal saat ini, karena masih banyak persoalan yang perlu dia tanyakan kepada Hun Thian-hi. Melihat Hun Thian-hi diam tak bergerak, Su Giok-lan menjadi dongkol, hardiknya. "Cabut senjatamu! Bukankah kau punya Badik buntung yang tajam luar biasa? Masa kau takut menghadapiku?" Dengan mendelong Hun Thian-hi mengawasi Su Giok-lan, dalam hati ia tengah berpikir, tentu ilmu silat Su Giok-lan sudah mencapai banyak kemajuan, tapi meski ia merasa sangat kasihan dan berhutang budi karena kematian Su Cin, namun betapapun kejadian itu bukan kesalahannya. Su Giok-lan mendesak maju, ujung pedangnya menuding Hun Thian-hi, serunya. "Bagaimana? Kau takut mati?" Lekas-lekas Cukat Tam tampil ke depan berkata kepada Bu-bing Loni. "Bu-tong Ciangbun Giokyap Cjnjin terbunuh oleh Hun Thian-hi, apakah kau tahu?" Rada berubah muka Bu-bing Loni, sekian lama ia menatap Hun Thian-hi, lalu melerok ke arah Cukat Tam. Melihat sikap Bu-bing Loni rada kurang percaya, dan pelerokan matanya itu pertanda pertanyaan terhadap dirinya, ini betul-betul rada menghina dan tidak menghargai dirinya, maka dengan menjengek ia berkata. "Oleh karena itu aku ada beberapa persoalan yang hendak kutanyakan kepadanya!" Bu-bing Loni menyeringai dingin, pelan-pelan ia berpaling mengawasi Hun Thian-hi lagi. Terdengar Su Giok-lan mendengus, katanya kepada Hun Thian-hi. "Lekas keluarkan senjatamu. Murid Bu-bing Loni selamanya tidak bunuh kaum keroco yang tak melawan." Hun Thian-hi mandah tertawa tawar, ujarnya. "Nona Su, sekarang aku betul-betul tidak tahu harus berbuat apa, berikan aku kesempatan berpikir!" Habis berkata ia pejamkan mata merenung. Melihat sikap Hun Thian-hi ini Su Giok-lan salah sangka, anggap orang tengah mempermainkan dirinya, keruan berkobar amarahnya, spontan ia melangkah maju terus menampar sekuatnya dimuka Hun Thian-hi. Hun Thian-hi menggeliat berusaha hendak menyingkir, tapi Su Giok-lan yang dihadapi sekarang jauh berbeda dibanding dulu. "plak!" Tahu-tahu pipinya sudah bengap dan panas,. dari ujung mulutnya merembes keluar darah segar. Sungguh kejut Thian-hi bukan kepalang, matanya membelalak gusar, rasa gusar yang menggelora terpancar dari sinar matanya menatap Su Giok-lan. Su Giok-lan menyeringai dingin, jengeknya. Cabut senjatamu. Terhina oleh kaum hawa apakah kau masih takut mati?" Hun Thian-hi malah bergelak tawa, serunya. "Segala akibat yang menimpa diriku hari ini semua justru merupakan anugerah dari paman dan kalian bertiga. Engkohmu wafat di tangan Leng Bu, memang harus kuakui ada sebagian karena diriku, tapi hatimu lebih jelas kenapa dan sebab apa ia sampai bertengkar dengan Leng Bu, sebagian besar adalah karena dirimu. Aku telah bunuh Leng Bu menuntut balas bagi engkohmu, hal itu sudah merupakan keuntungan bagi kau, sekarang...." "Omong kosong," Sentak Su Giok-lan dengan berang. "Cabut senjatamu!" "Cabut senjata? Haha!" Thian-hi bergelak tawa lagi. "Badik buntung sudah terjatuh ke tangan Partai Merah, kalau kau berkukuh hendak bunuh aku, ilmu silatku sekarang tak ungkulan melawan kau, silakan kau bunuh aku saja. Kenapa pura-pura main gertak segala menyuruh aku cabut senjata, asal kau berani bertanggung jawab kepada nularimu sendiri silakan turun tangan!" Su Giok-lan menjadi kememek, ia berdiri menjublek tak kuasa turun tangan. Berkilat sinar mata Bu-bing Loni, ia tahu sehari ia tidak bunuh Hun Thian-hi kelak tentu meninggalkan bibit bencana bagi dirinya, sudah lama ia memperhitungkan, sampai Soat-san-su gou pun tak dipandang sebelah matanya, namun justru ia menjadi keder dan gelisah menghadapi sinar mata Hun Thian-hi yang berkilat mengandung keteguhan dan kekuatan hatinya. Meski ilmu silat Hun Thian-hi sekarang masih rada rendah, tapi kelak pasti merupakan musuh tangguh yang sulit dihadapi. Su Giok-lan menunduk diam, lubuk hatinya merasa kurang tentram, kalau dia mau dengan mudah ia dapat bunuh Hun Thian-hi, tapi ia merasa sekarang dia tak bisa berbuat begitu. Tapi kalau sekarang ia tidak turun tangan, bagaimana sikap Bu-bing Loni selanjutnya terhadap dirinya? Akibatnya sungguh ia tidak berani membayangkan. Hati Su Giok-lan sedang gelisah dan sangsi. Adalah hati Bu-bing Loni gusar bukan main. Ciang-ho-it-koay tidak tahu bahwa Bu-bing Loni pernah mengadakan janji dengan Soat-san-sugou, hatinya pun bertanya-tanya kenapa sinar mata Bu-bing Loni dirundung nafsu membunuh yang begitu tebal, tapi kenapa tidak segera turun tangan sendiri? Selamanya Bu-bing Loni tidak suka pinjam tangan orang lain untuk menjatuhkan vonisnya. Bu-bing Loni menggeram lirih, tahu dia bahwa Su Giok-lan sekarang takkan, mau turun tangan, maka dengan dingin ia mengancam. "Giok-lan! Dalam jangka tiga hari ini, kau harus serahkan batok kepala Hun Thian-hi kepadaku, kalau tidak hm, kau sendiri juga tahu!" -Selesai terkata bersama Ham Gwat dan Siau Hong terus tinggal pergi naik burung dewata. Dengan mendelong dan perasaan hampa Su Gio-lan mendongak mengawasi bayangan Bu-bing bertiga menghilang dikejauhan, dia tahu apa yang menjadi perkataan Bu-bing tentu akan dilaksanakan sesuai dengan kehendaknya. Kalau tempo yang ditentukan sudah tiba, mohon ampun atau keringanan pun takkan berguna. Melihat Bu-bing tinggal pergi Cukat Tam menjadi girang, tanpa Bu-bing hadir disini bukankah dirinya yang akan merajai gelanggang? Segera ia berseru pada Thian-hi. "Mari berangkat!" "Siapa berani membawa dia!" Sela Su Giok-lan lari kesamping. Melihat Su Giok-lan berani merintangi dirinya Cukat Tam menjadi nekad, jengeknya. "Budak lemah, jangan kau tidak tahu diuntung, Suhumu sudah lama pergi!" Su Giok-lan mencebir bibir, jengeknya. "Orang lain takut padamu, tapi aku tidak!" Cukat Tam terloroh-loroh, serunya. "Sombong benar-benar budak busuk kau ini. Selama hidup ini Cukat Tam belum pernah ketemu budak kecil berbau pupuk berani kurang ajar terhadap aku." "Hari ini justru telah kau temukan." Semprot Su Giok-lan berani. Ciang-ho-it-koay mengira dengan menyebut namanya saja cukup membuat Su Giok-lan gentar dan mundur teratur, siapa nyana Su Giok-lan ternyata lebih bandel dan nekad. Dalam hati ia jadi membatin; 'seumpama Bu-bing hadir disini juga belum tentu aku takut, terpaksa aku hari ini harus belajar kenal Hui-sim-kiam-hoat betapa hebat dan lihay, katanya. "Kepandaianmu Hui-sim-kiamhoat dari Bu-bing Loni terkenal di seluruh dunia, hari ini biarlah aku membuka mataku." Membeku dingin wajah Su Giok-lan, kelihatan rasa dongkol dan gemes yang tak terlampias darahnya semakin bergelora, dengan pekik panjang segera ya bergerak sebat sekali, ujung pedangnya meluncur dari samping menusuk jalan darah Ki kay-hiat didada. Cukat Tam. Cukat Tam tertawa besar, laksana angin lesus badannya berputar, tahu-tahu ia melejit kesamping kiri, kedua jari tengahnya langsung menutuk ke Nau-hu-hiat di belakang batok kepala Su Giok-lan. Gesit sekali Su Giok-lan membalikkan pedang menangkis, gerak pedangnya berubah menjadi jurus Siu-li-kan-kun, sinar pedang berkembang melebar terus mendesak dan merabu kepada Cukat Tam. Cukat Tam terdesak mundur jumpalitan ke tempat asal. Gebrak pertama ini berlangsung dalam kilatan waktu saja, namun kecepatan gerak serang menyerang sungguh sangat cepat sekali. Diam-diam kedua belah pihak maklum bahwa hari ini masing-masing ketemu lawan tangguh. Sejak dibawa pergi Bu-bing Loni, Su Giok-lan telah menelan Ho-siu-oh yang berusia ribuan tahun, digembleng selama seratus hari, Hui-sim-kiam-hoat boleh dikata sudah tercangkok dalam sanubarinya. Apalagi Bu-bing Loni selalu was-was, entah malam atau siang selalu dibayangi oleh rasa ketakutan yang luar biasa. Maka cepat-cepat ia bawa Su Giok-lan untuk mencari Hun Thianhi, tak nyana disini ia kebentur dengan Cukat Tam. Hui-sim-kiam-hoat merupakan ilmu pedang tunggal yang paling digdaya tiada keduanya dikolong langit, dengan gabungan Soat-san-su-gou pun tak kuasa menghadapinya, maka dapatlah dibayangkan betapa hebat dan lihay perbawanya. Diam-diam Cukat Tam sendiri gelisah, seorang gadis kecil saja sudah begitu lihay permainan pedangnya, apalagi kalau Bu-bing sendiri yang turun tangan, terang dirinya bukan tandingannya, terpikir sampai disini kontan ia jatuh semangat. Su Giok-lan sendiripun baru pertama kali ini memainkan Hui-sim-kiam-hoat, namun dalam gebrak serang menyerang kilasan waktu itu ia sudah dapat merasakan Lwekang Cukat Tam yang tinggi dan kokoh kuat. Kedua jari tutukan Cukat Tam yang mengancam jalan darahnya tadi membawa kesiur angin yang tajam laksana ujung golok, kalau dirinya tidak mengandal gerak kecepatan pedangnya, mungkin sejak tadi dirinya sudah roboh. Begitulah hati masing-masing sudah waspada dan meningkatkan perhatian, siapapun tiada yang berani sembarangan bergerak menyerang lebih dulu. Cukat Tam mendengus, diam-diam ia berpikir; mengandal kedudukan dan ketenaran namaku kenapa hari ini aku gentar menghadapi budak kecil ini, kelak masa aku masih bisa berdiri tegak dikalangan dunia parsilatan? Karena pikirannya ini segera ia bergerak, sedikit menekuk dengkul serempak ia gerakkan kedua telapak tangannya memukul kepada Su Giok-lan. Ciang-ho-it-koay sudah puluhan tahun malang melintang di Kangouw, jelas sekali kepandaian. silatnya jauh lebih tinggi dari Su Giok-lan, kalau gebrak tadi mereka kelihatan berimbang itu bukan lain sebab Cukat Tam rada sangsi dan gentar menghadapi Bu-bing Loni, apalagi Su Giok-lan bergerak lebih dulu mengambil inisiatif menyerang. Sekarang setelah hatinya mantap, meski Su Giok-lan kembangkan Hui-sim-kiam-hoat, namun selalu terdesak dan mundur. Begitulah dengan menghardik keras, kedua pukulan Cukat Tam berubah seperti angin lesus laksana sebuah tonggak besar menerpa ke arah Su Giok-lan. Namun penjagaan permainan pedang Su Giok-lan memang cukup ketat dan rapat sekali, kontan ia terpental terbang setombak lebih ke belakang. Tapi begitu kaki menyentuh tanah, gesit sekali laksana burung walet kakinya menjejak terus melejit tinggi, pedang ditangannya melancarkan Tian-kong-jong-pit, inilah salah satu jurus terhebat dari Hui-sim-kiam-hoat, tahu-tahu ujung pedang telah memancah kemuka dan dada Cukat Tam. Terdengar Cukat Tam mendehem seperti lenguh sapi. tubuhnya berputar lagi seperti gangsingan. Ditengah jalan pedang Su Giok-lan rada merandek terus dituntun balik dengan sejurus Go-gui-toan-gwat, beruntun menutuk kedua biji mata Cukat Tam. Dasar kepandaian Cukat Tam memang jauh lebih tinggi, ringan sekali ia angkat tangan kiri melintang menepuk ke arah batang pedang Su Giok-lan yang menyerang tiba, berbareng tangan kanan menutuk jalan darah Sim-king-hiat di bawah dagu Su Giok-lan. Su Giok-lan terdesak mundur, sekarang Cukat Tam mulai lancarkan serangan balasan yang membadai. sedikit pun ia tidak beri kesempatan pada Su Giok-lan untuk bernapas, keruan ia terdesak di bawah angin dan mundur. Hun Thian-hi berpeluk tangan menonton, tahu dia bahwa Su Giok-lan bakal kalah, namun dia tak kuasa maju membantu. Gwat Long dan Sing Poh selalu mengawasi gerak geriknya dari samping. Serangan Cukat Tam semakin gencar dan cepat, terdengar ia menjengek dingin. "Dengan kepandaian bekalmu ini berani kau mengudal mulut. Betapa pun hari ini aku harus hajar kau. Supaya matamu melek betapa besar dunia ini, bukan gurumu melulu yang tinggi kepandaiannya." Karena bicara gerak serangan Cukat Tam sedikit lamban, kesempatan ini tak disia-siakan oleh Su Giok-lan, sambil mengertak gigi, pedangnya berputar setengah lingkaran terus menusuk kelambung Cukat Tam. Tapi gerakan Cukat Tam cukup cepat, kecepatannya sungguh diluar perhitungannya, belum lagi ia berhasil menyelesaikan serangan pedangnya, tahu-tahu ulu hatinya sudah terancam oleh kepelan lawan, terpaksa ia selamatkan diri lebih dulu. Hun Thian-hi insaf kalau Su Giok-lan kalah pasti dirinya ikut terhina, otaknya jadi berpikir dan menerawang, mendadak sebat sekali ia melejit jauh terus lari sekencangnya ke depan. Mendadak melihat Thian-hi melarikan diri sungguh Gwat Long dan Sing Poh terkejut. "Lari kemana!" Sambil membentak berbareng mereka mengejar. Tanpa hiraukan teriakan orang Hun Thian-hi berlari semakin kencang. Melihat Hun Thian-hi melarikan diri, Cukat Tam menjadi gugup. Tanpa hiraukan Su Giok-lan lagi dia pun menghardik keras, suaranya melengking tinggi seiring dengan tubuhnya yang medenting jauh mengejar ke arah Hun Thian-hi. Bagi Su Giok-lan larinya Hun Thian-hi dianggap sebagai perbuatan pengecut yang membalas air susu dengan air tuba, Dia melarikan diri tanpa hiraukan dirinya lagi, saking murka air mata mengembeng dikelopak matanya, dengan gemes ia menyentak keras" Tiba-tiba pedangnya bergulung balik, dengan jurus Sing-gwat-cin-hwi, bayangan pedang terpecah kedua jurusan langsung menusuk ke arah dua sasaran ditubuh Cukat Tam. Mendengar samberan angin deras yang mengancam jiwa ini. Cukat Tam menjadi naik darah, sambil menggembor keras ia membalik tubuh, telapak tangannya bergoyang menghantam balik batang pedang Su Giok-lan. Sementara tubuhnya masih melayang ke depan terus meluncur ke arah Thian-hi. Sun Giok-lan tahu dengan bekal Ginkangnya sekarang takkan mungkin dapat mengejar, terpaksa ia berdiri menjublek ditempatnya. Sementara itu, Hun Thian-hi lari terus kebawah, ia belok ketimur lalu balik lagi ke arah barat, darinya pontang panting, namun kira-kira setengah li kemudian ia sudah terkejar oleh Cukat Tam. Ringan sekali tubuh Cukat Tam meluncur turun dihadapan Hun Thian-hi, dengan pandangan mendelik ia awasi Hun Thian-hi. Melihat takkan berhasil lolos, Thian-hi berpaling ke belakang, dilihatnya Gwat Long dan Sing Poh juga sudah menyusul tiba. Su Giok-lan tak kelihatan bayangannya, tanpa merasa ia menghela napas lega. "Berani kau lari!" Maki Cukat Tam gusar. Hun Thian-hi mandah tertawa ewa tanpa buka suara. Cukat Tam berludah, katanya kepada Gwat Long berdua. "Kalian ringkus dia dan gusur kembali ke Bu-tong-san!" Baru sadia suara Cukat Tam lenyap, dari hutan sebelah sana terdengar sebuah suara berkata. "Apakah begitu gampang? Kau belum minta izin padaku bukan?" Kontan mereka berempat terperanjat, Cukat Tam menggerung gusar, teriaknya lantang. "Siapa itu di dalam hutan!" Seorang tua berambut merah melayang keluar. Bercekat hati Thian-hi, bagaimana mungkin dia kemari? Demikian dalam hati ia bertanya-tanya. Cukat Tam tertawa dingin, ujarnya. "Kiranya kau. Sejak berpisah tiga puluh tahun yang lalu, tak kira masih hidup?" Pendatang baru ini bukan lain adalah Ang-hwat-lo-co, itu tokoh nomor satu dari aliran sesat, dengan dingin ia pun pandang Cukat Tam, katanya menyeringai dingin. "Ternyata kau berani memasuki daerah Tionggoan. Hari ini ingin aku menjajal betapa maju ilmu silatmu setelah berpisah tiga puluh tahun.!" Sudah lama Cukat Tam mendengar nama dan kepandaian Ang-hwat-lo-co, namun sedemkian jauh belum pernah saling gebrak mengadu kepandaian, segera ia pun balas mengolok dengan tidak kalah pedasnya. "Tak nyana kau pun berani muncul kembali dikalangan Kangouw.' Ang-hwat-lo-mo menyeringai sadis, tanpa bersuara tiba-tiba badannya mencelat mumbul ke atas terus menerjang ke depan merangsek kepada Cukat Tam dengan sebuah pukulan tangan. Cukat Tam tahu kepandaian musuh bukan oleh2 lihaynya, dengan mengerahkan tenaga segera ia balas menyerang dengan kedua kepalannya. Begitulah mereka mulai serang menyerang dengan sengit. Badan kedua orang tampak beterbangan selulup timbul secepat burung walet bermain di atas air, laksana kupu terbang menari di atas kuntum bunga, kelihatan kedua kaki masing-masing seperti tidak menyentuh tanah, namun gerak gerik mereka begitu cepat membawa kesiur angin yang cukup deras, terdengar lambaian baju pakaian mereka yang lirih ditengah deru angin pukulan yang keras. Dari samping Hun Thian-hi menonton pertempuran, diam-diam ia merasa heran, hatinya dirundung pertanyaan, dulu Arg-hwat-lo-co berusaha mencelakai jiwanya, kenapa sekarang malah menolongnya? Apakah mungkin ia punya muslihat lain lagi? Dalam pada itu pertempuran masih berjalan dengan sengit, Hun Thian-hi hampir tak dapat mengikuti gerak tempur kedua orang, masing-masing bergerak begitu lincah seperti sikatan, licin bagai belut dan cepat seperti kilat menyamber. Tanpa terasa setengah jam telah lewat, perkelahian itu masih berlangsung dengan serunya, kedua belah masih kelihatan sama kuat, saling hantam dan sepak, masing-masing memberikan tekanan yang mengagumkan. Entah sudah berapa ratus jurus kemudian, tiba-tiba terdengar suara benturan yang rada lirih, suara itu tidak begitu keras, tapi kontan terlihat kedua orang sama-sama terpental mundur. Kelihatan Ang-kwat-lo-co berdiri tegak sambil menyeringai dingin, sebaliknya Cukat Tam pucat pasi, matanya mendelik mengawasi Ang-hwat-lo-co. Dengan tenang Hun Thian-hi menonton dari samping dan menanti perkembangan selanjutnya, tahulah dia bahwa Cukat Tam sudah terkalahkan, malah terluka dalam lagi. Setelah menentramkan pernapasannya, air muka Cukat Tam rada baikan, katanya gusar kepada Ang-hwat-lo-co. "Hadiah pukulanmu hari ini, kelak pasti akan kubalas!" Ang-hwat-lo-co menyeringai dingin, jengeknya. "Justru karena menanti kedatanganmu menuntut balas kelak maka hari ini kuampuni jiwamu." Cukat Tam menggeram gusar, matanya melirik ke arah Hun Thian-hi, serunya. "Jangan sombong! Sakit hati ini dalam setahun pasti kubalas." -habis berkata terus ngacir pergi. Sudah tentu Gwat Long dan Sing Poh menjadi ketakutan, pucat pias wajah mereka, serentak putar tubuh lantas melarikan diri. Terdengar Ang-hwat-lo-co bergelak tawa, dari jauh kedua tangannya mencengkeram kepada mereka berdua, mulutnya pun membentak. "Kemana kalian hendak lari?" Berbareng kedua telapak tangan didorong lantas ditarik kembali. Terdengar Gwat Long dan Sing Poh melolong panjang terkena pukulan, setelah lari beberapa langkah akhirnya jatuh terjerambab. Ang-hwat-lo-co menjengek dingin, katanya. "Jangan kalian pura-pura mati disitu, kalian masih berkesempatan hidup satu hari lagi. Lekas pergi!" Dengan susah payah Gwat Long dan Sing Poh merangkak bangun, setelah mendelik gusar kepada Hun Thian-hi dengan terhuyung-huyung mereka tinggal pergi saling payang. Bercekat hati Thian-hi, ia maklum bahwa perbuatan Ang-hwat-lo-mo ini bukan menolong sebaliknya malah semakin menjerumuskan dirinya. Perbuatan ini tidak lain akan menimbulkan rasa pertentangan kaum persilatan terhadap dirinya sehingga dia tak mungkin tegak berdiri di pihak Cing-pay, dan lebih besar pula kepercayaan masyarakat umumnya kaum peisilatan bahwa Giokyap Cinjin memang adalah dia yang membunuh. Kalau peristiwa hari ini tersiar luas mungkin Bun Cu-giok takkan mau percaya lagi akan keperibadiannya. Terpikir oleh Hun Thian-hi, tanpa merasa ia menghela napas rawan. Ang-hwat-lo-co terbahak-bahak, serunya. "Kenapa? Ku tolong kau, masa tidak senang?" Hun Thian-hi berludah dengan gusar, terus tinggal pergi. Ang-hwat-lo-co terloroh-loroh, serunya. "Kalau kau berpisah dari aku, kemana pula kau bisa pergi?" "Seumpama harus mati akupun tidak sudi bersama kau." Semprot Hun Thian-hi gusar. Ang-hwat-lo-co berkata. "Pertama aku melihat kau kukira kau dari aliran Cing-pay, tapi ternyata kau berani bunuh Bu-tong Ciangbun, tak lain kau pun suka mengagulkan diri saja. sia-sia kau menista golongan kita sebagai kaum sesat yang nyeleweng apa segala. "Hakikatnya siapa lurus dan siapa sesat sukar dibedakan bukan?" Hun Thian-hi mendengus hidung, ia tak mau banyak bicara, langkahnya dipercepat. "Mengandal tingkah lakumu ini, apa kau masih ingin menuntut balas?" Terdengar Ang-hwat-loco mengolok. "anggapmu kau gampang mencari kematian?" Tersentak sanubari Thian-hi, serta merta langkahnya berhenti, betapapun dia tidak rela mati secara penasaran. Begitu berkecimpung di kalangan Kang-ouw urusan sudah mengikat dirinya, untuk mencari kematian rasanya memang tidak begitu gampang.... Terdengar Ang-hwat-lo-co berkata. "Kudengar sakit hati ayahmu belum terbalas, apalagi kau pun harus menuntut balas bagi kematian Soat-san-su-gou bukan?" Mendengar orang menyinggung Soat-san-su-gou berkobar amarah Hun Thian-hi, serunya gusar. "Soat-san-su-gou berempat cianpwe berkorban karena aku melancarkan jurus Pencacat langit melenyap bumi yang kau ajarkan itu. Kalau aku harus menuntut balas kecuali Bu-bing Loni langkah selanjutnya adalah kau!" Ang-hwat-lo-co terkial-kial menggila, ujarnya. "Memang benar-benar! Semula memang aku tidak bersungguh hati mengajarkan jurus ganas itu kepada kau. Tapi kau sudah dua kali melancarkan ilmu lihay itu, kedua kalinya telah menolong jiwamu, apa kau berani tidak mengakui? Kalau dulu kau tidak lancarkan jurus Pencacat langit pelenyap bumi, kau takkan hidup sampai sekarang!" Terbayang oleh Hun Thian-hi keadaan Waktu itu, diam-diam ia mengakui kata-kata orang memang benar-benar. Terdengar Ang-hwat-lo-co menjengek lagi. "Sejak kau meninggalkan perguruan siapa saja yang mencari perkara kepadamu? Apakah mereka itu tokoh-tokoh yang menamakan dirinya dari aliran sesat? Bukan, kebanyakan mereka adalah kaum lurus, tapi hanya karena sebuah Badik buntung, saling berebutan, cakar mencakar bunuh membunuh, kiranya juga begitu saja mereka yang mengunggulkan dirinya sebagai kaum lurus!" Hun Thian-hi terkancing mulutnya, tiada alasan untuk balas mendebat. Ang-hwat-lo-co meneruskan ocehannya. "Kau, justru kau tidak tahu diri dan tidak bisa lihat gelagat, kau berani mendesakkan diri masuk ke dalam golongan mereka." "Aku bekerja bukan karena minta belas kasihan mereka, hanya menuruti hati nuraniku saja!" Semprot Thian-hi. "Lalu kenapa kau takut berada bersama aku?" Olok Ang-hwat-lo-co dengan tertawa lebar. "Aku tidak merebut Badik buntungmu secara licik atau terang-terangan. Sekarangpun aku tidak ingin melukai kau. Kau hanya takut diketahui orang lain bahwa kau berkumpul erat dengan aku!" "Memang kau ingin orang lain tahu aku berkumpul dengan kau, jelas sekali tujuanmu hendak menjerumuskan aku. Kau sendiri sudah keliwat batas kejahatan yang telah kau perbuat, kini masih ingin menyeret orang lain kejurang nista, tujuanmu nyeleweng, masih berani kau katakan hatimu suci bersih?" -Demikian Thian-hi mendebat dengan pendapatnya. "Di seluruh kolong langit ini, sekarang aku diangkat sebagai jago nomor satu dari kalangan sesat, tapi masih ada seorang yang kutakuti!" Demikian kata Ang-hoat-lo-co. "Bu-bing Loni bukan,?" Sambung Thian-hi dengan nada menghina. Ang-hwat-lo-co manggut-manggut, katanya. "Hui-sim-kiam-hoat milik Bu-bing Loni merupakan kepandaian tunggal yang tiada taranya. Walaupun jurus Pencacat langit pelenyap bumi ciptaanku itu punya perbawa yang sangat ampuh, tapi kurasa takkan unggul melawan Hui-sim-kiam-hoat. Tapi bila kau sudi, aku bisa menunjuk sebuah jalan terang untuk kau, akibatnya kepandaian silatmu bakal jauh lebih tinggi dari kemampuan Bu-bing Loni sekarang." Dengan sikap dingin dan tak acuh Thia-hi pandang Ang-hwat-lo-co. rada lama kemudian ia buka suara. "Kalau mungkin, kenapa kau sendiri tidak mencobanya?" Ang-hwat-lo-co terbahak-bahak, tanyanya menegas. "Kau sudi tidak?" Rada, tergerak hati Thian-hi, sahutnya. "Coba terangkan dulu!" Ang-hwat-lo-co menjelaskan. "Seluruh perhatian tokoh-tokoh goblok itu sekarang tertuju kepada Badik buntung milikmu itu. Tapi rahasia tersembunyi dari Ni-kay-ki-tin tentu tak berada di dalam Badik buntung itu, kalau cdak masa tiada akhir perebutan itu selama ini? Menurut apa yang kuketahui, Wi-thian~chit-ciat-sek yang merupakan ilmu paling hebat dan digdaya pada ratusan tahun yang lalu sekarang telah muncul kembali, malah aku tahu dimana sekarang berada kalau kau dapat memohonnya, apa perlu takut tethadap Bu-bing Loni?"' -Habis berkata ia bergelak tawa sepuasnya. Dengan tajam Thian-hi awasi tingkah pola Ang-hwat-lo-co, katanya dingin. "Kau tahu tempat itu kenapa kau semdiri tidak mau kesana?" Berubah serius wajah Ang-hwat-lo-co, katanya. "Jago nomor satu dari golongan sesat adalah aku, Bu-bing Loni tidak lurus juga rada nyeleweng, tapi siapakah jago Nomor satu dari golongan Cingpay?" Thian-hi awasi terus rona wajah Ang-hwat-lo-co lekat-lekat, tak tahu dia siapa yang harus disebutkan. Apakah Giok-yap Cinjin atau Thian-cwan Taysu? Tapi dari nada ucapan Ang-hwat-loco terang bukan mereka adanya, lalu siapa? Terdengar Ang-hwat-lo-co melanjutkan sambii menyengir. "Kau tak tahu bukan? Orang ini bukan Thian-cwan Taysu, juga bukan Giok-yap Cinjin, tapi adalah Ka-yap Cuncia yang menghilang pada lima puluh tahun yang lalu!" Thian-hi terlongong sebentar, sungguh diluar sangkanya bahwa Ka-yap Cuncia adanya. Sudah lima puluh tahun lamanya Ka-yap Cuncia menghilang dari kalangan Kangouw, konon tokoh ini merupakan orang kosen nomor satu selama ratusan tahun ini, siapa nyana beliau sekarang masih hidup. Terdengar Ang-hwat-lo-co berkata dingin. "Kau tidak sangka bukan? Kiam-boh Wi-thian-chitciat-Kek justru berada ditangannya, kalau kau dapat bersua dengan beliau, tentu tiada seorang pun yang berani mengagulkan diri sebagai jago nomor satu." Thian-hi termenung, benar-benarkah ada kejadian itu? Mengandal tampang Ang-hwat-lo-co, seumpama betul mengetahui berita ini tentu takkan rela memberi tahu kepada orang lain, betapapun dia takkan rela ada tokoh lain punya kepandaian yang lebih tinggi dari kemampuan sendiri. Ang-hwat-lo-co melanjutkan. "Sudah tentu, seumpama kau berhasil bertemu dengan beliau, belum tentu dia rela menyerahkan Wi-thian-cit-ciat-sek itu kepadamu, tapi selama hidupnya belum pernah membunuh seorang pun, kau tak perlu takut dan takkan ada bahaya." Hun Thian-hi tertawa tawar, katanya. "Hakikatnya dia tiada punya alasan harus menyerahkan Wi-thian-chit-ciat-sek itu kepada aku, akupun tak perlu kesana!" Ang-hwat-lo-co menyeringai dingin, katanya. "Apa kau mau mendapat Kiam-boh Wi-thian-chiatchiit-ciat-sek itu?" Melihat sikap orang diam-diam Thian-hi mempertinggi kewaspadaannya, ia tahu bahwa orang tengah mengatur tipu muslihatnya, sambil angkat alis ia menjawab. "Siapa yang tidak mau?" Ang-hwat-lo-co manggut-manggut, katanya. "Itulah baik, sudah tentu aku punya caraku sendiri supaya Kiam-boh Wi-thian-chit-ciat-sek itu dapat kau peroleh" "Dengan cara apa?" Tanya Thian-hi. "Sudah tentu Ka-yap Cuncia tidak semudah itu sembarang menyerahkan Kiam-boh itu kepada kau," Demikian Ang-hwat-lo-co menerangkan. "Kau mohon dan minta2 juga percuma. Kau tak perlu mengemis, berlakulah wajar supaya dia tidak tahu bahwa kedatanganmu justru karena Withian-chit-ciat-sek itu, kalau, kau kesana kau harus pura-pura tidak kenal dengan dia." Thian-hi tahu bahwa Ang-hwat-ho-co tengah mengatur tipu muslihatnya yang keji, tapi ingin dia tahu dan menyelami tipu muslihat apa yang tengah dirancang ini, sehingga dapat mencelakai seorang tokoh kosen seperti Ka-yap Cuncia yang dijunjung sebagai jago nomor satu dari golongan Cing-pay. Kata Ang-hwat-lo-co menyambung. "Untuk orang lain sangat sukar, tapi bagi kau adalah sangat mudah sekali!" "Sebetulnya bagaimana aku harus bekerja?" Tanya Thian-hi pura-pura tak sabaran. Ang-hwat-lo-co melanjutkan. "Kau pura-pura tidak mengenalnya, memang dengan usiamu ini tidak mungkin mengenal dia! Jadi dia tidak merasa curiga dan berjaga-jaga terhadap kau, lantas kau gunakan Hek-liong-ling sedikit dicampurkan ke dalam minuman tehnya sudah cukup berlebihan." Bertaut alis Thian-hi, dia tidak tahu apakah Hek-liong-ling (sisik naga hitam) itu, tapi dari nada perkataan Ang-hwat-lo-co, tentu merupakan suatu bisa yang sangat beracun, kalau tidak mana mungkin sebagai tokoh nomor satu dari seluruh kolong langit ini begitu terkena sedikit saja lantas bakal lumpuh dan kena dibereskan. Ang-hwat-lo-co tertawa-tawa, ujarnya. "Mungkin kau tak percaya, tapi sisik naga hitam itu kutemukan di dalam gua ularku itu, walaupun seekor ular yang paling ganas dan beracun juga tidak berani mendekat dalam jarak tiga kaki, begitu masuk kontan mati. Sekarang aku sudah dapat menguasainya, jangan kata baru Ka-yap, seumpama dewata begitu tersentuh oleh Hekliong-ling juga bakal pendek usianya." "Itulah baik," Kata Hun Thian-hi. "bolehkah aku melihatnya dulu?" "Masa begitu gampang?" Kata Ang-hwat-lo-co. "Pergilah ke selatan, akan kulindungi kau secara sembunyi, sampai pada waktunya tentu akan kuajarkan cara bagaimana kau harus bekerja." Hun Thian-hi termenung sebentar, akhirnya ia tertawa hambar tanpa bicara lagi. Ooo)*(ooO Hun Thian!-hi sudah pergi, Su Giok-lan masih berdiri melengong, sungguh dia menyesal orang macam Hun Thian-hi kenapa tadi tidak mau turun tangan saja? Keadaannya sudah payah tentu dia kena dicandak dan diringkus oleh Ciang-ho-it-koay dan dibawa ke Bung-tong-san. Kesana saja aku mengejarnya. Begitu menggentakkan kaki laksana batu meteor tubuhnya melenting tinggi terus meluncur cepat ke arah gunung Bu-tong. Belum lagi ia sampai di Bu-tong-san sudah mendengar bahwa Ciang-ho-it-koay melarikan diri dengan luka-luka parah. Gwat Long dan Sing Poh kedua murid tunggal Giok-yap Cinjin juga sekarat menderita luka-luka dalam yang sangat berat. Hun Thian-hi tinggal pergi ikut Ang-hwat-loco. Su Giok-lan menjublek, sesaat ia menjadi bingung apa yang harus dilakukan selanjutnya, Hun Thian-hi sudah pergi ikut Ang-hwat-lo-co, bagaimana ia harus bertindak? Bu-bing Loni takkan memberi keringanan terhadap dirinya, pikir punya pikir dengan otak kusut dan perasaan hampa ia melanjutkan ke depan. Entah sudah berapa lama dan berapa jauh ia berjalan, tahu-tahu hari sudah menjelang magrib. Jauh di depan sana kelihatan debu mengepul tinggi, puluhan kuda tunggangan tengah membedal cepat mendatangi. Berjengkit alis Su Giok-lan, sembari membentak ia memapak maju terus menghadang di tengah jalan. Puluhan kuda itu tak hiraukan keselamatan Su Giok-lan, dengan kencang terus menerjang tiba. Enteng sekali tubuh Su Giok-lan mencelat mumbul ke atas berbareng kedua tangan bergerak lincah sekali, dalam sekejap mata ia berhasil memukul puluhan penunggang kuda jatuh sungsang sumbel Waktu ditegasi puluhan orang itu mengenakan seragam merah, terang adalah anak buah Partai Merah, tanpa merasa ia mendengus dingin. Dari depan sana mendatangi pula puluhan kuda tunggangan, mengiringi tiga orang di tengah. Begitu melihat puluhan orangnya malang melintang rebah di tanah, seorang gadis berdiri angker dengan galaknya mencegat jalan segera ketiga orang itu menghentikan kudanya Sebetulnya kesalahan dipihak Su Giok-lan, serta tahu yang dihadapi adalah pihak Partai Merah, rasa salah itu berubah menjadi rasa tuntutan yang mendesak. Sambil menyeringai dingin ia amatamati ketiga penunggang yang terdepan. Ketiga orang ini bukan lain adalah Pangcu Partai Merah Gi Ciok, serta Tio-hong-ho dan Liong Lui. Enteng sekali Liong Lui bergerak melompat turun dari tunggangannya, dengan muka kecut dingin ia awasi Su Giok-lan. "Dimana Pangcu kalian?" Tanya Giok-lan aseran. Liong Lui mendengus ejek. "Kenapa harus Pangcu, aku sudah cukup!" Di mulut Liong Lui bicara takabur, serta melihat puluhan anak buahnya yang malang melintang tak bergerak itu, hatinya rada bercekat. Puluhan anak buahnya itu menerjang dengan tunggangannya yang berlari kencang, namun dapat dirobohkan dalam sekejap mata, ini betulbetul kejadian yang luar biasa, diam-diam ia menerawang, dirinya sendiri belum tentu mampu berbuat begitu. Tahu dia bahwa dia tengah berhadapan dengan lawan berat. Tapi belum pernah di kalangan Kangouw ada muncul seorang gadis macam ini, punya kepandaian silat tinggi, entahlah kenapa dia bersikap bermusuhan terhadap kita. Melihat Liong Lui yang maju, Su Giok-lan tersenyum dingin, tanyanya. "Siapa kau?" "Thian-liong-kiam Liong Lui. Masa kau tidak kenal!" Bentak Liong Lui gusar. "Thian-mo-kiam?" Seringai Giok-lan semakin menakutkan. "Baik! Cabutlah pedangmu!" Liong Lui insaf lawannya ini tentu sukar dilayani, namun dengan kedudukan dan ketenaran namanya masa harus mengambil keuntungan menghadapi musuh kecilnya ini, sesaat ia menjadi ragu-ragu, tanyanya. "Sekali pukul kau dapat merobohkan puluhan anak buahku, tentu hebat sekali ilmu silatmu, entah siapakah gurumu yang mulia?" "Kau tidak punya hak untuk mengetahui!" Liong Lui tertawa besar, serunya. "Entah gurumu tokoh kosen dari mana, aku Liong Lui kiranya tak sembabat untuk mengetahui, terpaksa aku minta belajar kenal dengan muridnya saja!" Sembari berkata pelan-pelan ia melolos pedangnya. Su Giok-lan pun telah mencabut pedangnya, sedikit tangan kanan mengayun, dengan gaya Citiam-yan-hun tahu-tahu pedang panjangnya menutuk langsung ke arah Liong Lui. Liong Lui angkat nama karena dia seorang ahli dalam permainan pedang, begitu melihat jurus permulaan serangan Su Giok-lan ini bercekat hatinya. Kelihatannya Su Giok-lan hanya seenaknya saja mengayun dan menusukkan pedangnya, namun tenaga yang terkandung diujung pedang ternyata begitu kuat dan kokoh sekali, merupakan jurus tipu yang cukup ganas dan keji. Lekaslekas Liong Lui menyilangkan pedang panjangnya lalu didorong kesamping. Su Giok-lan maklum akan maksud tujuan lawan, mengandal Lwekang dan kepandaiannya sekarang lawan sebangsa Thian-mo-kiam masa bisa menjadi tandingannya. Mengikuti dorongan tenaga lawan ia pun menuntun pedang lawan berputar, seiring dengan gerak putaran pedang kakinya pun ikut bergeser, lalu dengan jurus It-sian-heng-kang pedangnya menyapu, miring, tampak selarik sinar pedang kemilau laksana bianglala melesat ke arah Liong Lui. Kaget Liong Lui seperti disengat kala, gerak perubahan serangan Su Giok-lan begitu cepat dan belum pernah diketemukan, insaf dia bahwa hari ini ia bakal terjungkal ditangan musuh kecil ini, tersipu-sipu ia menyurut mundur serta menyampokkan pedangnya miring. Gerak pedang Su Giok-lan berubah lagi, dari menyapu menjadi menutul, telak sekali ujung pedangnya menusuk gagang pedang Liong Lui, kontan pedang panjang ditangan Liong Lui tersontek terlepas dan mencelat jauh. Dengan ketakutan Liong Lui melompat mundur, sambil menghardik ringan Su Giok-lan melejit mengejar, dimana kilasan pedangnya bergerak, tahu-tahu kuping kiri Liong Lui kena terpapas jatuh di tanah. Berubah hebat air muka Gi Ciok melihat kesudahan pertempuran singkat ini. Lekas-lekas ia mencabut Thay-i-kiam yang tajam luar biasa itu. katanya sambil tertawa dingin kepada Su Gioklan. "Akulah Pangcu Partai Merah, ada urusan apa kau cari aku?" Su Giok-lan tertawa dingin, katanya. "Urusan sepele saja, hanya ingin minta Badik buntung yang berada ditanganmu itu." Beringas muka Gi Ciok, katanya tertawa besar. "Sombong benar-benar, mengandal apa kau?" "Pedang ditanganmu itu juga harus kau tinggalkan!" Su Giok-lan mengancsm semakin berani Dengan muka beringas dan kemarahan yang memuncak Gi Ciok berpikir, ia insaf bahwa kemungkinan besar dirinya pun bukan tandingan Su Giok-lan, tapi masa harus unjuk kelemahan? Segera ia memberi aba-aba kepada anak buahnya, puluhan anak buahnya segera menyerbu, dia bersama Tio Hong-ho dan Liong Lui pun tidak ketinggalan merangsak dengan hebat Terdengar Su Giok-lan melengking tertawa. tubuhnya tiba-tiba timbul terbang ke tengah udara, kelihatan diujung pedangnya bergetar lalu berputar satu lingkaran melancarkan jurus Heng-miliok-hap, begitu pedang bergerak berpetalah kuntum bunga yang menakjubkan dari sinar gemerdep batang pedangnya, sekaligus menerpa ke arah puluhan penyerangnya. Kontan terdengar jerit dan pekik kesakitan yang menyayatkan hati, sejurus serangan ini sekaligus telah merobohkan enam orang. Keruan Gi Ciok kaget bukan main, insaf dia kalau pertempuran dilanjutkan tentu tidak menguntungkan pihaknya. Sekonyong-konyong teringat olehnya seorang tokoh kenamaan, macam Bu-bing Loni yang telah menerima murid baru bernama Su Giok-lan, bukankah musuh yang dihadapi ini bernama Su Giok-lan, tanpa merasa kuduknya berkeringat dingin, badan pun gemetar.... Cepat ia bertanya. "Apakah kau nona Su?" "Benar-benar!" Dengus Su Giok-lan. Gi Ciok tertegun sebentar, katanya. "Nona Su, pamanmu adalah sahabat baikku...." "Jangan singgung dia!" Tukas Su Giok-lan aseran. Teringat akan kekejaman Bu-bing Loni badan Gi Ciok semakin merinding, ia menjublek ditempatnya, sungguh diluar tahunya bahwa hari ini ia bakal ketimpa malang berhadapan dengan bintang iblis yang merugikan ini. Apa boleh buat akhirnya ia berkata. "Aku tak tahu kau nona Su, kalau tahu siang-siang tentu sudah kuserahkan Badik buntung itu." Su Giok-lan mandah tersenyum ejek, ia tahu Gi Ciok tentu takut akan Suhunya Bu-bing. Bergegas Gi Ciok merogoh keluar Badik buntung lalu disodorkan kepada Su Giok-lan. "Pedang panjang itu sekalian!" Pinta Su Giok-lan. Berubah pucat air muka Gi Ciok, mana bisa Thay-i-kiam diberikan orang? Kalau TThay-i-kiam hilang, untuk selanjutnya jangan harap dirinya bisa bercokol pula dikalangan Kangouw. Dengan sangsi ia mengawasi Su Giok-lan. "Berikan tidak!" Desak Su Giok-lan dengan nada mengancam. "Entah keinginan gurumu atau kehendak nona Su sendiri?" Tanya Gi Ciok Su Giok-lan mendengus, pikirnya; mungkin orang ini tidak rela menyerahkan pedangnya, maka dengan suara rendah ia berkata. "Apa pula bedanya?" Gi Ciok mengeluh, katanya. "Pedang ini menyangkut jaya atau runtuh dari Partai kita. Kalau gurumu yang meminta, sudah tentu aku tak banyak bicara, tapi kalau hanya kehendak nona sendiri, aku mohon sukalah nona memberi sedikit kelonggaran." "Apa-apaan sikapmu ini," Jengek Su Giok-lan gusar. "Masa murid Bu-bing Loni mau ditekan orang lain?" Mendengar Su Giok-lan menyinggung nama Bu-bing Loni, semakin kecut dan gemetar badan Gi Ciok, kalau sampai membuat beliau gusar maka celakalah dirinya, cepat-cepat dengan badan basah karena keringat dingin, ia tanggalkan pedangnya. dengan kedua tangan ia angsurkan Thayi-kiam kepada Su Giok-lan, katanya. "Kalau nona Su memaksa, masa aku harus kikir mengangkangi pedang ini." Setelah menerima Badik buntung dan Thayj-i-kiam Su Giok-lan tak banyak bicara lagi, dengan ulapan tangan ia suruh mereka tinggal pergi. Dengan murung dan rawan segera Gi Ciok bawa anak buahnya berlari pergi. Menurut tujuannya semula ia hendak meningalkan daerah Tionggoan secara diam-diam, sembunyi diri mencari dan menyelami rahasia Badik buntung, sungguh diluar dugaannya ditengah jalan ia ketemu begal, semua harapan dan harta miliknya menjadi ludes. Setelah rombongan musuh pergi jauh, lekas-lekas Su Giok-lan mengamati Badik buntung serta menarik keluar sedikit Thay-i-kiam. Alisnya bertaut semakin dalam, kedua bilah senjata merupakan benda pusaka yang ampuh, tapi apakah kedua pusaka ini bakal membantu dirinya? Mungkin dengan Badik buntung itu ia dapat mengejar jejak Hun Thian-hi, tapi batas waktu yang ditentukan sudah lewat, kalau tiga hari kemudian tidak ketemu, bagaimana sikap Bu-bing Loni terhadap dirinya? Sungguh ia tidak berani membayangkan akibatnya, boleh dikata hatinya sangat membenci Hun Thian-hi, kalau tidak Hun Thian-hi tentu riwayatnya takkan demikian sengsara dan menderita baru sekarang ia sadar bahwa kepandaian silat takkan dapat merubah haluan hidupnya, ilmu silat tiada bawa manfaat yang berguna bagi dirinya, sungguh rela rasanya hidup sederhana dalam ketenangan jiwa yang aman sentosa tanpa mengarungi kilatan pedang dan genangan darah, tapi apakah mungkin ia merubah haluan ke arah itu? Demikian Su Giok-lan tenggelam dalam pikirannya, dengan napas berat ia menarik hawa. Di tengah udara nan jauh sana lapat-lapat terdengar pekik nyaring burung dewata, berdebar keras jantung Su Giok-lan, pikirnya; sekarang baru satu setengah hari, meski sikap dan watak Bubing Loni sukar diraba, tapi setiap kata-katanya selamanya tak pernah diubah. Kejap lain, pelan-pelan burung dewata meluncur turun dan hinggap di tanah, pelan-pelan Ham Gwat melorot turun di hadapannya. Diam-diam bergidik sanubari Su Giok-lan, kuduknya sampai merinding, dia jauh lebih takut terhadap Sucinya ini dari pada Suhunya Bu-bing Loni, kalau tiada urusan selamanya Ham Gwat tak pernah bicara dengan dia, menurut penglihatannya, ilmu silat Sucinya ini tidak berbeda jauh dari kemampuan Bubing Loni sendiri, tapi setiap kali ia bicara wibawanya seolah-olah lebih angker dari Bu-bing Loni, raut mukanya selalu wajar dan tak pernah berubah, senang atau duka tak pernah terunjuk pada air mukanya. Sekarang Ham Gwat berdiri di hadapannya, hampir saja ia susah bernapas. Dengan mendelong ia awasi Ham Gwat, dengan pandangan bening Ham Gwat menatap dia, katanya. "Suhu sudah setuju untuk tidak menarik panjang urusanmu. Tapi kau harus segera kembali dan menghadap dinding setengah tahun untuk menyelami pelajaran Hui-sim-kiam-hoat!" Dengan membelalak Su Giok-lan mengawasi Ham Gwat, hampir ia tidak percaya akan pendengarannya. Dia tahu bahwa Bu-bing Loni selamanya tak pernah menjilat ludahnya kembali, tapi kenapa kali ini ia merubah putusannya? Mendadak ia seperti sadar, dengan suara haru ia berteriak. "Suci!" Kata-kata selanjutnya tak kuasa diucapkan. Rada lama Ham Gwat berdiam diri, akhirnya ia membuka kesunyian, katanya. "Sumoay! Sikapmu itu tidaklah salah!" Dengan memicingkan mata Su Giok-lan menatap Ham Gwat, meski ia tidak melihat suatu expresi di wajah Ham Gwat, tapi seolah-olah ia telah menemukan wajah lain dari Ham Gwat. Dari sorot mata Ham Gwat yang bening itu terasakan perasaan welas asih yang agung, di dalam kenangan batinnya, hanya ibunya dulu yang pernah memandangnya dengan sorot pandangan begitu. Tiba-tiba ia merasa betapa welas asih dan suci perasaan Ham Gwat itu, begitu agung dan mengesankan, mendadak Su Giok-lan merasa heran, seolah-olah sekarang dia tidak begitu takut lagi terhadap Ham Gwat seperti dulu. Tiada jurang pemisah lagi antara ia dan Ham Gwat, akhirnya tercetus perkataan dari mulutnya. "Suci, katamu aku tidak salah?" Kata Ham Gwat lirih. "Apa tidak betul? Dia kan tidak punya kesalahan terhadap kau, bermula ia tidak membunuh Kim-i Kongcu Leng Bu karena sebelumnya dia sudah berjanji kepada Soat-sansu-gou kalau tidak dalam keadaan yang memaksa dia tidak akan lancarkan jurus ganas itu." Su Giok-lan mengiakan dengan menyesal, terasa olehnya dari nada orang bahwa Ham Gwat rada membela kepada Hun Thian-hi. Dia heran, Hun Thian-hi telah pergi ikut Ang-hwat-lo-co, Anghwat-lo-co adalah musuh besar pembunuh ayah Ham Gwat, sebaliknya sekarang Ham Gwat bicara membela kebenar-benaran bagi Hun Thian-hi. Terpikir sampai disini tak kuasa ia lantas bertanya. "Tapi sekarang Hun Thian-hi telah pergi ikut Ang-hwat-lo-mo!" Ham Gwat menunduk tanpa bicara. Mendadak Su Giok-lan teringat sesuatu, jelas sekali kalau Ham Gwat telah mintakan belas kasihan terhadap Suhunya, tapi apakah Bu-bing Loni betul-betul begitu gampang mau melulusinya? Tersipu-sipu ia bertanya lagi. "Suci! Urusan apa yang telah kau janjikan kepada Suhu?" Setelah merenung sebentar Ham Gwat berkata. "Bukan soal apa, aku berkata kalau kau toh tidak mau turun tangan, biarlah aku saja yang membunuhnya, dalam jangka satu bulan setelah perjanjian satu tahun lewat aku akan membawa batok kepala Hun Thian-hi." Su Giok-lan berseru tertahan, pelan-pelan ia tunduk tak buka suara lagi, pikirnya, kiranya begitu perkembangan selanjutnya, entah apa maksud Ham Gwat menceritakan duduk perkara sebenar-benarnya tadi, apa mungkin ada sebab lain yang lebih istimewa? Kata Ham Gwat kepada Su Giok-lan. "Sumoay! Jangan banyak pikir lagi, mari kita pulang!" Su Giok-lan angkat kepala, dilihatnya wajah Ham Gwat tetap tidak menunjukkan mimik perubahan, tapi dari biji mata yang besar hitam dan bening itu terasa olehnya rasa prihatin dan kasih sayang Ham Gwat terhadap dirinya. Pelan-pelan ia menghela napas lega, ia tertawa dibuat-buat, bersama Ham Gwat ia naik ke punggung burung dewata terus menghilang di balik awan. Ooo)*(ooO Melihat Ang-hwat-lo-co tinggal pergi, Hun Thian-hi lantas tenggelam dalam renungannya, ia berpikir; 'kau suruh aku ke Thian-lam, apakah tidak bergurau dengan aku, sudah mending kalau ayah Kim-i Kongcu Leng Bu tidak meluruk ke Tionggoan mencari aku, masa aku harus kesana malahan, bukankah masuk kemulut harimau malah?' Lalu terpikir pula olehnya; Tiang-pek-san aku tidak perlu kesana, melawan Ang-hwat-lo-co saja Ciang-ho-it-koay tidak unggulan, palagi melawan Bu-bing Loni? Tentu Ce-han-it-ki juga tidak lebih unggul dari kemampuan Ciang-ho-it-koay, sia-sialah kalau aku kesana.... Mendadak terbayang dalam pikiran Thian-hi akan Sam-kong Lama, entah bagaimana keadaannya sekarang, Sin-giok-ling berada ditangannya, sejak ia pulang ke tanah barat apakah Bu-bing Loni pernah meluruk ke tempat kediamannya. Apalagi dia pernah berkata bahwa orang aneh berkepandaian tinggi dikolong langit ini bukan Bu-bing Loni melulu, jelas bahwa tentu dia mengetahui ada orang aneh lainnya yang berkepandaian tinggi juga, kalau aku kesana mencari dia, mungkin dia punya cara untuk menolong aku. Diam-diam Thian-hi ambil keputusan untuk melanjutkan perjalanan kebarat laut, tapi Ang-hwatlo-co pernah berkata akan melindungi dirinya secara sembunyi, bukankah ini berarti secara diamdiam hendak mengawasi setiap gerak geriknya? Untuk membebaskan diri dari kejaran dan pengawasan Ang-hwab-lo co ini sungguh tidak gampang. Dia termenung memikirkan daya cara bagaimana ia meloloskan diri dari pengawasan Ang-hwatlo-co. Demikianlah ia berjalan terus mengikuti langkahnya, tiba-tiba dilihatnya tak jauh di depan sana terdapat sebuah gua besar selebar setombak lebih, terkilas suatu pikiran dalam benaknya, segera ia kembangkan Ginkang terus melesat masuk ke dalam gua itu. Setelah berada di dalam gua, Thian-hi mendapatkan gua itu lekak-lekuk tak merata, hatinya menjadi girang, inilah tempat yang memang diinginkan, beruntun ia berkelebat semakin ke dalam berusaha mencari jalan keluar dari arah lain. Setelah ubek2an sekian lamanya, Thian-hi rada kecewa, selain celah-celah batu yang rada sempit tiada jalan lain untuk keluar dari gua ini. Terpaksa Thian-hi mencari salah satu celah rada besar lalu masuk kesana dan sembunyi disitu, untung tempat itu cukup kering, disana ia mulai duduk bersila bersamadi menenangkan pikiran dan menghimpun tenaga. Tanpa terasa samadinya itu memakan waktu satu hari lamanya, betul juga sesuai dengan dugaan semula, tiba-tiba terdengar dengusan napas berat seseorang memasuki gua itu. Diamdiam Thian-hi membatin. "Tentu Ang-hwa-lo-co telah datang!" Memang begitu melihat Hun Thian-hi memasuki gua Ang-hwat-lo-co lantas berputar di tempat sekitarnya untuk memeriksa apakah gua ini punya jalan keluar lainnya. Setelah melihat kenyataan baru dengan lega hati ia balik dan menunggu dengan sabar di dalam hutan. Tetapi tunggu punya tunggu setelah satu hari satu malam masih belum kelihatan Thian-hi keluar, ia menjadi curiga dan membatin. "mungkin gua ini menembus ke tempat jauh, kalau gua ini panjang tentu Hun Thian-hi sudah pergi jauh, sekarang juga aku masuk dan mengejar kesana tentu dapat kejandak." Begitu dia sampai di dalam gerak geriknya sangat cekatan, melesat kesana melenting kesini, tapi setengah harian sudah ia ubek2 di dalam gua tiada sebuah jalan lain pun yang menembus keluar, tanpa merasa ia mendengus gusar, pikirnya. Hun Thian-hi sibocah keparat itu tengah bermain sandiwara apa. Lalu dengan ketajaman matanya pelan-pelan ia menjelajah seluruh pelosok gua, tapi tidak kelihatan bayangan Hun Thian-hi. Tiba-tiba tergerak pikirannya, segera ia membuka suara. "Hun Thian-hi, lekas keluar! Aku sudah melihatmu!" Mendengar Ang-hwat-lo-co berkaok2, Hun Thian-hi mengumpat dalam hati, kalau aku melongok keluar bukanlah terjebak ke dalam akal muslihatmu malah. Beruntun Ang-hwat-lo-co berteriak dua kali, tanpa mendapat reaksi, hatinya menjadi gusar dan memaki. "Bocah keparat yang licik!" Bab 10 Dia diam berdiri sekian saat, mendadak ia berkata dalam hati; mungkin Hun Thian-hi sudah bolos pergi, kalau tidak masa begitu sabar dia mau menunggu begitu lama. Tanpa merasa Anghwat-lo-co menjadi gelisah, batinnya; Hun Thian-hi lolos pergi sih tidak menjadi soal yang penting adalah jangan sampai berita tentang Wi-thian-chit-ciat-sek itu tersiar luas dikalangan Kangouw, atau sebaliknya harapan dirinya menjadi kosong belaka. Terpikir sampai disini, tiba-tiba batinnya berkata; mungkin disaat aku pergi memeriksa tadi dia lantas kabur? Kalau Hun Thian-hi betul-betul berniat melarikan diri, begitu aku tinggal pergi, setelah dia masuk gua lantas keluar pula dan melarikan diri, bebas dari pengawasanku. Semakin dipikir Ang-hwat-lo-co menjadi gopoh, pikirnya; berapa jauh dapat kau tempuh perjalanan selama satu hari ini, betapapun akan dapat meringkusmu kembali. Tanpa banyak pikir lagi segera ia melesat keluar gua. Dengan hati-hati dan waspada Thian-hi memasang kuping, setelah rada lama tak mendengar suara apa-apa, tapi masih kuatir Ang-hwat-lo-co belum pergi, betapapun dia tak berani melongok keluar. Setengah jam kemudian baru ia berani mengintip dari celah-celah batu, melihat tiada kebayangan Ang-hwat-lo-co, baru ia menghela napas lega. Thian-hi lantas berpikir, tentu Ang-hwat-lo-co tengah mengejar jejaknya, beberapa hari ini aku harus selalu waspada dan hati-hati. Akhirnya dia sembunyi lagi digua yang lain selama suatu hari. Hari ke tiga baru ia berani keluar terus melanjutkan ke arah utara, sepanjang perjalanan ini dia tidak berani melalui kota2 besar, jalan yang ditempuh adalah alas pegunungan atau jalan kampung yang jarang dilewati manusia. Tiga hari kemudian tibalah dia di tempat gurun pasir yang terbentang luas memanjang tak berujung pangkal. Segera ia keprak kudanya terus melanjutkan keutara. Tempat kediaman Sam-kong Lama di Kwan -gwa, hampir tiada seorangpun yang tidak kenal akan ketenaran nama Sam-kong lama diluar perbatasan ini, maka sekali mencari tahu, segera ia diberi tunjuk alamatnya. Setelah lohor Thian-hi membelokkan kudanya ke arah barat langsung menuju kuil Bu-la. Cuaca sudah hampir gelap, sang surja sudah hampir tenggelam sejajar dengan garis cakrawala. Tapi selepas pandang ke depan keadaan sekeliling sepi tiada kelihatan bayangan orang atau barang makhluk hidup lainnya. Hati Thian-hi menjadi gelisah dan gugup. Tak lama kemudian dari kejauhan tampak debu mengepul tinggi memanjang tertiup angin, dua ekor kuda dicongklang kencang lewat disampngnya, sekilas pandang saja lantas Thian,hi tahu bahwa mereka adalah kaum persilatan. Thian-hi menjadi girang, melihat ada orang di daerah gurun yang sepi ini, tentu tak jauh di depan sana ada perumahan rakjat. Segera ia tepuk-tepuk perut kuda lalu membedalnya ke depan. Tiba-tiba kedua kuda tunggangan tadi putar balik, terdengar seorang membentak. "Berhenti!" Thian-hi melengak, hatinya rada berang, pikirnya. "Aku tidak berbuat salah terhadap kalian, tanpa sebab kenapa kalian suruh aku berhenti? Ingin kulihat orang gagah macam apa kalian ini." Karena pikirannya terakhir ini segera ia menarik tali kendali menghentikan tunggangannya lalu berpaling. Kedua orang ini bertubuh tinggi kekar dan kurus kering, orang yang bertubuh kekar itu memelihara jambang bauk diselebar mukanya, melihat Thian-hi menghentikan kudanya, segera ia membentak pula. "Bocah, kemana kau hendak pergi?" "Apa pedulimu?" Dalam batin Thian-hi memaki, namun dimulut ia berkata. "Entah untuk keperluan apa kalian tanya soal ini?" Laki-laki kekar itu menjadi gusar, hardiknya. "Toaya tanya kau berani kau tidak jawab?" Thian-hi mendengus jengkel, tapi terpikir olehnya bahwa seluruh kaum persilatan tengah mengejar jejaknya, sampai sekarang dirinya masih dapat menyembunyikan jejak, jangan sampai kelak menimbulkan kesukaran bagi Sam-kong Lama. Segera ia berkata. .Kulihat kalian datang dari depan, kukira disana tentu ada rumah tinggal, maka aku hendak kesana untuk minta nginap semalam." Kedua orang itu mendengus bersama, saling pandang sekali lalu berkata. "Disana pun tiada orang tinggal, kesana pun tiada gunanya, di daerah sini jangan kau main ugal2an membedal kuda seenak udel kau sendiri, kalau sampai membuat marah Loyamu, awas jiwa kecilmu!" Hati Thian-hi menjadi marah, dengan mendelik ia pandang kedua orang itu tanpa bicara. Laki-laki kurus itu segera melengking berkata. "Keparat, agaknya kau tidak terima, ya!" -Kudanya dimajukan ke depan. Thian-hi mengangkat alis, kudanya diputar terus hendak tinggal pergi. "Tunggu sebentar!" Sentak laki-laki kurus itu. "Loyamu memberi kelonggaran kepadamu, kelihatan kau tidak senang malah main delik segala!" Amarah Thian-hi sudah memuncak, tapi dia selalu prihatin tak suka menimbulkan keributan maka tidak mengumbar adatnya, namun melihat kedua orang ini terlalu kurang ajar dia menjadi gusar dan menjengek, katanya. "Nama kalian berdua...." Laki-laki kekar itu keprak kudanya, telapak tangannya melayang terus mengepruk kemuka Thian-hi sambil memaki. "Keparat yang tidak tahu diuntung, berani kau mencari tahu nama kebesaran loyamu!" Mulut Thian-hi mengejek hrih, tangan kanan diangkat, tiga jarinya mencengkeram dan memuntir, telak sekali ia pegang pergelangan tangan laki-laki kekar itu terus diabitkan kesamping, kontan laki-laki kekar itu terjungkal roboh di atas pasir. Melihat kawan sendiri kecundang begitu gampang, laki-laki kurus itu segera melolos golok, kuda ditarik mundur, dari gebrak pertama ini baru dia tahu bahwa Thian-hi bukan sembarang orang yang gampang dibuat permainan. Thian-hi berludah, dia tidak mau menarik panjang urusan, segera ia putar kuda tinggal pergi. Laki-laki kekar itu bergulingan di tanah, hatinya menjadi berang, melihat Thian-hi hendak pergi segera ia memburu maju sembari membentak, sekali lompat ia menubruk ke arah Thian-hi. Thian-hi lecut kudanya ke depan, keruan laki-laki kekar itu menubruk tempat kosong. Dari sebelah samping sana mendatangi seekor kuda putih, seorang gadis mengenakan cadar putih menyungging pedang mendatangi dengan cepat, begitu tiba ia melirik kepada kedua laki-laki itu, lalu mengamati Thian-hi sebentar tiba-tiba ia bertanya. "Apakah kau Hun Thian-hi?" Tergetar hati Thian-hi, pikirnya. "Heran! Orang daerah sinipun sudah tahu namaku, mungkin Sam-kong Lama juga sudah mengetahui pula akan persoalanku. Sesaat ia menjaj terlongong tak tahu cara bagaimana harus menjawab, jejaknya sudah konangan lebih baik aku membedal kuda melanjutkan perjalanan secepat mungkin. Segera ia putar kuda terus dibedal sekencang angin. Baru setengah li kemudian, terdengar di belakangnya derap langkah kuda yang cepat semakin mendatangi, kiranya kuda putih itu telah mengejar semakin dekat bagai angin terbang. Thian-hi rada kejut, waktu ia berpaling dilihatnya derap langkah kaki kuda putih itu begitu kencang dan kokoh kuat lagi, tahu dia bahwa kekuatan kuda tunggangan sendiri terang takkan unggulan, jelas tak mungkin dapat meloloskan diri, terpaksa ia hentikan lari kudanya. Lincah sekali gadis itu kendalikan kudanya melintang menghadang di depan Thian-hi, sambil tertawa ringan ia berkata. "Kenapa begitu melihat aku lantas lari, kami tiada niat berbuat sesuatu yang bakal merugikan kau. Kedua orang tadi adalah anak buah Thian-san-siang-long. tapi sudah kubereskan supaya tutup mulut, legakan hatimu aku tidak akan mencelakai kau." Thian-hi menjadi bergidik merinding, sungguh ia hampir tak percaya gadis aju dihadapannya ini ternyata begitu kejam dan telengas. Gadis itu mengerut kening, katanya. "Kenapa kau, badan kurang segar? Kukira kau takkan ketakutan begitu rupa!" "Harap tanya siapakah nama kebesaran Lihiap, apakah aku dapat tahu?" Tanya Thian-hi. Gadis itu tertawa-tawa, katanya cekikikan. "Legakan saja hatimu, kau bejat aku pun tidak baik!" Hun Thian-hi menunduk, diam-diam ia menghela napas rawan, kata-kata sigadis sangat meresap dalam sanubarinya, mungkin di seluruh kolong langit ini tiada seorang pun yang menganggap dirinya orang baik. Melihat sikap Thian-hi yang murung itu, sigadis menjadi heran, tanyanya. "Kenapa kau? Apa badanmu sakit? Melihat sikapmu ini aku menjadi heran mengapa kau diberi nama julukan Lengbin-mo-sim dikalangan Kangouw!" Thian-hi tercengang, mulutnya menggumam. "Leng-bin-mo-sim?" "Kenapa? Masa kau sendiri belum tahu?" Olok sigadis dengan cekikikan. "Leng-bin-mo-sin Hun Thian-hi, sekarang sudah terkenal di seluruh dunia, begitu cepat kau angkat nama, sungguh membuat orang sangat kagum dan ngiler." Pedih perasaan Thian-hi seperti ditusuk sembilu, ia tunduk semakin dalam, tiba-tiba kedua kakinya menjepit perut kuda keras-keras, tunggangannya bebenger panjang kesakitan terus membedal kabur sekeras-kerasnya. Otak Hun Thian-hi merasa pepat pikiran menjadi gelap, tahu dia bahwa dirinya sudah tamat dan tak mungkin bangkit kembali sebagai orang yang terpandang baik. Leng-bin-mo-sin (muka dingin berhati iblis), sungguh julukan ini sukar diterima oleh lubuk hatinya? Apakah ada muka untuk menjumpai Sam-kong Lama? Apakah tidak malu mengecewakan Lam-siau Kongsun Hong yang telah merawat dan membesarkan dirinya? Demikian juga terhadap ayah bunda yang telah dialam baka, dapatkah dirinya memberi pertanggungan jawab yang setimpal? Sungguh ia tidak berani memikirkan lebih lanjut.... Mendadak tunggangannya meringkjk panjang dan berloncatan. Thian-hi tersentak dari lamunannya, ia menjadi sadar waktu tunggangannya sudah menanjak naik ke atas sebuah ngarai, karena jalan licin kakinya terpeleset dan terperosot hampir masuk jurang. Thian-hi menjadi tertegun mematung, tak terpikir olehnya untuk mengerahkan tenaga melompat menyelamatkan diri. Terdengar seruan tertahan dibelakangnya, sebuah bayangan hijau melesat secepat kilat tahutahu sebuah tangan mencengkeram baju kuduknya terus melempar dirinya ke atas sebuah batu menonjol di Ngarai sebelah samping. Orang itu jumpalitan tiga kali ditengah udara, dimana kedua lengannya tergetar berkembang bagai burung terbang tubuhnya mencelat naik dan persis benarbenar hinggap di atas ngarai. Melihat yang menolong jiwanya adalah gadis bercadar hijau itu, Thian-hi menghala napas, katanya kepada gadis itu. "Terima kasih!" "Kenapakah kau tadi?" Goda sigadis tertawa cekikikan. "Mendengar julukan Leng-bin-mo-sin lantas kau lari, apa kau tidak senang akan julukan ini?" Dengan rasa hambar Thian-hi pandang gadis di depannya, tak tabu cara bagaimana ia harus memberi penjedasan. Gadis itu tertawa lagi, katanya. "Kau tak perlu takut padaku, namaku mungkin kau pun sudah tahu, aku bernama Giok-bin-hwi-hou Sutouw Ci-ko!" Thian-hi manggut, dia belum pernah dengar nama ini, tapi mungkinkah ia prihatin pada orang lain? Sejenak ia berdiam diri, lalu katanya. "Terima kaS5h Sutouw Lihiap, kupikir aku segera harus berangkat!" "Kemana kau hendak pergi?" Tanya Sutouw Ci-ko. Thian-hi menerawang; naga-naganya aku tak bisa ke tempat Sam kong Lama lagi. kemana aku harus pergi? "Sebetulnya aku malah kagum terhadapmu," Terdengar Sutouw Ci-ko berkata sungguh. "Kalau kau sudi mari kita ikat persahabatan bagaimana?" Melihat sikap Sutouw Ci-ko begitu polos dan jujur Thian-hi menjadi cerah wajahnya, katanya tertawa. "Apa-apaan ucapanmu ini, kau adalah penolong jiwaku bukan? Kalau bukan pertolonganmu tadi mungkin aku sudah terbanting hancur di bawah sana!" "Tak perlu sungkan," Ujar Sutouw Ci-ko. "Sungguh heran, sedikit pun aku tidak melihat dimana letak kebuasan dari kedinginanmu, kenapa kau bisa begitu gapah tangan dan berhati keji." Hun Thian-hi tertawa getir, tak tahu dia bagaimana harus memberi jawaban. Selanjutnya Sutouw Ci-ko berkata lagi. "Maaf! Tidak seharusnya aku tanya hal ini kepadamu, aku hanya merasa. heran saja!" Hun Thian-hi tertawa dibuat-buat. Kata Sutouw Ci-ko lagi. "Kalau kau hendak sembunyi aku punya suatu tempat yang tak mungkin didatangi orang lain. Hanya aku seorang yang tahu tempat itu. Bu-tong-pay sudah menyebar Bu-lim-tiap, bermula Siau-lim-si tidak ikut, tapi begitu kedua murid Giok-yap Cinjin mati, Sute Thian-cwan Taysu yang sekarang menjabat Siau-lim Ciangbungjin Te-ciat Taysu turun gunung sendiri untuk mengurus persoalan ini. Sampai di ujung langit pun kau akan dikejar sampai dapat, kalau kau sembarangan ngelajap ke-mana-mana tentu berbahaya!" Mulut Han Thian-hi mengiakan, tahu dia bahwa Thian-cwan Taysu sekarang pun sudah tidak percaya lagi kepada dirinya, mungkin beliau pun merasa sayang dan gegetun telah melepas dirinya tempo hari. Diempat penjuru musuh kuat tersebar luas, tapi Sutouw Ci-ko di hadapannya ini justru mengagumi dirinya, ini betul-betul sungguh menggelikan. "Aih, kenapa kau? Mau ikut aku saja!" Ajak Sutouw Ci-ko. Melihat Su-touw Ci-to begitu supel, Thian-hi menjadi tertarik dan tertawa-tawa, memang tiada tujuan yang hendak dituju terpaksa ia menyahut. "Terima kasih Sutouw-lihiap! Entah dimanakah tempat itu?" "Mari kau ikut aku, tak jauh dari sini," Kata Sutouw Ci-ko lalu menuntun kuda putihnya. Hun Thian-hi mengekor di belakang Sutouw Ci-ko terus maju ke depan, dalam hati diam-diam ia mereka siapakah sebenar-benarnya Sutouw Ci-to ini, melihat sikapnya begitu baik terhadap dirinya, dia sendiri mengatakan dia bukan orang baik, tapi tidak kelihatan di mana ada kejelekannya. Sembari berjalan Sutouw Ci-ko berkata. "Kuajak kau ke sana, setelah tiba tentu kau akan senang tinggal di tempat itu." Sambil mengiakan pikiran Thian-hi melayang ke urusan lain, dia sendiri sampai tak tahu jawaban apa yang telah diberikan tadi. Sutouw Ci-ko berpaling, tawanya semakin lincah, tanyanya. "Kenapa eh? Apa yang tengah kau pikirkan?" "O, tidak apa-apa," Jawab Thian-hi gelagapan. Sutouw Ci-ko mengamati mukanya, sesaat baru berkata. "Kau memang sangat menyenangkan, aku menjadi kurang percaya bahwa kau punya kepandaian begitu tinggi, coba lihat sikapmu yang rada linglung ini." Melihat orang selalu menyinggung persoalan itu Thian-hi rada tak senang, namun betapapun orang telah menyelamatkan jiwanya, tak enak rasanya bertingkah kasar, terpaksa ia bicara. "Sutouw-lihiap, kapan baru kita sampai disana?" "Sebentar lagi! Itu di depan segera sampai!" Begitulah mereka melanjutkan terus ke depan, setelah membelok di kaki gunung terlihat di depan sana terbentang sebuah gua besar setinggi dua tombak. Sutouw Ci-ko menuntun kudanya terus berjalan masuk, Thian-hi mengintil terus di belakang, setelah belok beberapa kali hadapan mereka tiba-tiba terbentang lebar, selayang pandang rumput hijau dan bunga2 liar tersebar luas laksana permadani, di tengah di depan sana terdapat sebuah kolam yang jernih airnya. Hun Thian-hi menyedot hawa segar, batinnya. "Tempat ini betul-betul sangat menyenangkan." Sambil tersenyum simpul Sutouw Ci-ko bertanya. "Apakah kau senang tempat ini?" Thian-hi manggut-manggut, sungguh girang bukan main hampir tak kuasa ia bicara, rada lama kemudian baru berkata. "Aku sungguh sangat senang." Sutouw Ci-ko terpingkal-pingkal sambil berlari ke pinggir kolam, pelan-pelan ia tanggalkan cadar yang menutupi mukanya. Pandangan Thian-hi menjadi terang, sesaat ia menjadi terbelalak, ternyata Sutouw Ci-ko adalah seorang gadis rupawan yang cantik jelita. Setelah menanggalkan cadarnya Sutouw Ci-ko duduk di pinggir kolam, kepalanya mendongak terlongong memandang puncak di depan nan jauh di sana. Diam-diam Thian-hi memperhatikan tingkah laku orang, sejak tadi ia merasa orang berwatak polos dan lincah, tapi sekarang seperti tengah dirundung kesusahan dan murung. Thian-hi dapat menyelami perasaan orang maka dia tidak akan mengganggu ketenangan orang melayangkan pikirannya, pelan-pelan ia mundur dan keluar lagi dari gua itu, pelan-pelan ia berjalan goyang gontai ke arah bawah. Dia celingukan ke kanan-kiri, memikirkan akan diri sendiri, bagaimana aku harus membawa diri selanjutnya? Tak mungkin aku sembunyi di tempat ini selama hidup! Tionggoan tengah bergolak, seluruh aliran dan golongan persilatan disana tengah mengejar dan mencari jejaknya aku tak mungkin pulang ke sana. Begitulah berjalan sambil melayangkan pikiran, tak diketahui sudah berapa lama ia berjalan, tiba-tiba didengarnya langkah kuda berlari mendatangi, seorang laki-laki kurus pertengahan umur mendatangi, begitu melihat Thian-hi, orang itu lantas mendengus dingin. Thian-hi angkat kepala, melihat orang yang tidak dikenal, ia melanjutkan ke depan. Sepintas pandang orang itu tahu bahwa Thian-hi bukan sembarang orang, segera ia menjengek dingin. "Siapa kau! Dua anak buahku dibunuh orang, apa kau tahu siapa. pembunuhnya?" Bermula hati Thian-hi menjadi was-was menyangka utusan dari Tionggoan yang menyirapi jejaknya, serta mendengar pertanyaan orang baru ia sadar bahwa yang dihadapi ini adalah salah satu dari Thian-san-siang-long (dua serigala dari Thian-san), sejenak ia pandang orang itu tanpa buka suara. "Kutanya kau, apa kau tidak dengar?" Sentak orang itu jengkel. Bertaut alis Thian-hi, tanyanya. "Harap tanya tuan ini...." Melihat Thian-hi tidak menjavvab malah balas bertanya orang itu menjadi naik darah, sambil menggerung dia melolos rujung beruas dari pinggangnya terus melecut kepada Thian-hi. Thian-hi mengegos ke samping menghindar, dia pun menggeram gusar, sungguh liar dan tak tahu aturan benar-benar orang ini. Orang berkepandaian silat tinggi sudah banyak yang kulayani, masa kubiarkan kau bertingkah dihadapanku? Demikian pikirnya dalam hati. Melihat Thian-hi berhasil lolos dari serangan rujungnya, tangkas sekali orang itu melejit tinggi dari tunggangannya, dimana tangan bergerak rujungnya lagi-lagi menyamber ke arah Thian-hi. Cepat-cepat Thian-hi menyurut mundur, mendapat angin orang itu beruntun lancarkan sapuan rujungnya menerpa dengan kekuatan dahsyat sehingga Thian-hi main mundur lagi. Terdengar ia menghardik sekali, tiba-tiba tubuhnya selicin belut mendak kebawah terus menubruk maju menjotos berbareng sebelah tangan yang lain meraih ke samping memotes sebatang dahan pohon. Belum sempat Thian-hi gunakan dahan pohon sebagai senjata untuk menyerang, Sutouw Ci-ko keburu datang mencongklang kudanya, belum lagi tiba, tubuhnya sudah meluncur ditengah udara, pedangnya bergetar menusuk ke tengkuk orang itu. Orang itu melompat menyingkir, melihat kehadiran Sutouw Ci-ko berubah air mukanya. Kata Sutouw Ci-ko dingin. "Ih Seng! Selamanya kita seumpama air sungai tidak menyalahi air sumur, orang ini adalah sahabatku, kenapa kau datang menganiaja orangku?" Laki-laki ini adalah salah satu Thian-san-siang-long Ih Seng berjuluk Ceng-bin-long (serigala muka hijau), katanya. "Kiranya dia sahabatmu, sungguh aku kurang adat. Dua anak buahku dibunuh orang...." Sutouw Ci-ko menarik muka, katanya merengur. "Mereka bermulut kotor dan berani kurang ajar terhadap aku. Akulah yang bunuh mereka." Ih Seng rada tercengang, katanya. "Anak buahku semua kenal kau, mungkin...." Sebentar ia merandek lalu melanjutkan. "Kalau begitu, apa boleh buat, selamat bertemu!" -Memutar kuda lalu mencongKlang pergi dengan buru-buru. Hun Thian-hi berpaling ke arah Sutouw Ci-ko, katanya tertawa pahit. "Kau menolong aku lagi...." "Justru kaulah yang menolong dia!" Tukas Sutouw Ci-ko menggoda. Hun Thian-hi menjadi kikuk dan risi, mulutnya bungkam. "Bagaimana?" Ujar Sutouw Ci-ko tertawa ringan. "Agaknya kau punya gangjalan hati ya?" Thian-hi menunduk tanpa bersuara. "Bisakah kau ceritakan kepadaku?" Tanya Sutouw Ci-ko dengan suara halus. Thian-hi tersenyum, senggaknya. "Sutouw-lihiap, kulihat kau sendiri juga punya janggalan hati bukan?" Sutouw Ci-ko angkat alis, katanya. "Untuk waktu dekat mungkin Ih Seng takkan tahu kau Hun Thian-hi adanya, tapi cepat atau lambat akhirnya dia pasti akan tahu. Lebih baik mari Kita lekas kembali." Thian-hi mnanggut2 dengan tersenyum bersama Sutouw Ci-ko mereka kembali ke dalam gua itu. Sekian lama, mereka berdiam diri duduk dipinggir kolam, mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sekonyong-konyong Sutouw Ci-ko angkat kepala, tanyanya kepada Hun Thian-hi. "Apakah kau merasa tempat ini baik?" Hun Thian-hi manggut-manggut, dalam hati ia membatin; 'Bukankah tadi sudah kukatakan? Apa maksud pertanyaan ini?' Hening sejenak, Sutouw Ci-ko membuka suara lagi. "Masih ada seorang lagi yang mengetahui tempat ini. Tapi mungkin dia selamanya takkan datang kemari lagi!" Lapat-lapat Thian-hi dapat menebak kemana juntrungan kata-kata ini, katanya tertawa. "Sutouw-lihiap, kalau aku dapat membantu kau, sungguh aku akan senang sekali!" "Orang itu adalah sahabat karibmu, Bun Cu-giok!" Tersentak hati Thian-hi. Bun Cu-giok, kiranya Bun Cu-giok! Tapi Bun Cu-giok sudah bergaul begitu intim dengan Ciok Yan, baru sekarang teringat olehnya akan mimik wajah Bun Cu-giok yang aneh tempo hari itu, kiranya begitu kejadiannya. Begitulah ia menerka2. Dengan lekat Thian-hi memandang wajah orang dari samping, terdengar ia berkata lirih. "Aku tahu, pasti dia tahu bahwa aku sudah berbuat buruk, dia tak hiraukan aku lagi." Thian-hi menjadi serba sulit, tak tahu bagaimana harus menjawab, pikirannya melayang; Dalam hati Bun Cu-giok tentu masih ingat akan Sutouw Ci-to, tapi disampingnya sekarang sudah ada Ciok Yan. Terdengar Sutouw Ci-ko berkata lebih lanjut. "Dia menyangka aku belum tahu perihal dirinya, tapi aku sudah tahu segala2nya." Thian-hi bernapas berat, pikirnya; 'Kiranya untuk urusan inilah Sutouw Ci-ko mencari aku,' mulutnya lantas berkata. "Kulihat kau orang baik, kalau aku ketemu dia, tentu akan kuberitahu bahwa kau tengah menunggu dia, supaya dia suka kemari, saat mana boleh kau bicara terus terang kepadanya." "Ah, sungguh banyak terima kasih!" Seru Sutouw Ci-ko. Tengah mereka asjik bicara tiba-tiba di belakang mereka terdengar dengusan dingin. mereka tersentak kaget dan berpaling bersama. Tampak Bun Cu-giok berdiri jauh lima tombak dengan muka bersungut gusar. Dengan kejut2 girang Sutouw Ci-ko berjingkrak bangun, serunya. "Cu-giok!" -Serta melihat sikap dan wajah Bun Cu-giok yang membeku dingin, kata selanjutnya ditelan kembali. Tersipu-sipu Thian-hi berdiri, begitu melihat air muka Bun Cu-giok lantas ia dapat menerka kemana juntrungan pikiran orang, katanya dengan tersenyum. "Saudara Bun! Kita jumpt kembali!" Bun Cu-giok tutup mulut, dengan memicingKan mata ia pandang mereka bergantian. rada lama kemudian baru berkata kepada Hun Thian-hi. "Saudara lolos dari bahaya, kuucapkan selamat. Konon saudara Hun tertolong oleh Ang-hwat-lo-mo, apakah betul?" Dengan mendelong Thian-hi pandang orang lalu manggut, tahu dia bahwa selanjutnya ia bakal kehilangan seorang sahabat yang paling dekat. Bun Cu-giok berkecek mulut, katanya lagi kepada Hun Thian-hi. "Kaupun tak perlu menjelaskan lagi!" Lalu ia berpaling kepada Sutouw Ci-ko, katanya. "Ci-ko! Perjodohan kita sudah batal, kenapa begitu kau sendiri tentu paham. Kedatanganku ini memang hendak mengembalikan kalung pualam milikmu." Lalu ia mengeluarkan mainan kalung dari batu pualam putih terus dibuang di depan kaki Sutouw Ci-ko. Dengan mengembeng air mata Sutouw Ci-to berkata perlahan. "Cu-giok. Apakah kau tidak hargai hubungan erat kita yang dahulu?" "Hubungan erat apa?" Jengek Bun Cu-giok. "Tak ada hubungan erat apa-apa diantara kita berdua, kau hanya erat berhubungan dengan orang di Thian-san itu. yang benar-benar sekarang kau hubungan erat dengan Hun Thian-hi!" Hun Thian-hi menjadi naik pitam mendengar fitnah Bun Cu-giok, desisnya. "Bun-pangcu, aku dan Sutouw-lihiap hanya kenalan ditengah jalan saja, dia minta supaya aku mewakili bicara kepadamu, apa maksud kata-katamu ini?" "Hun Thian-hi!" Sentak Bun Cu-giok semakin gusar. Baca Juga: Asmara Si Pedang Tumpul 6 Baca Juga: Pendekar Cengeng Kho Ping Hoo