Ceritasilat Novel Online

Badik Buntung 2

Eps 2 Badik Buntung - GKH

Baca online Badik Buntung - GKH

Cersil Badik Buntung - GKH.

"Peristiwa tempo hari saudara Hun sampai terfitnah secara semena2, untung Suboku sudah jelas duduk perkaranya, kelak tentu segalanya dapat dibikin terang!"

Thian-hi semakin malu dan menyesal sekali, ia tertunduk tak berani adu pandang. Kata Su Cin.

"Adikku diracun oleh Leng Bu, dipaksanya untuk kawin dengan dia. Setelah aku tiada harap kau suka melindungi dan menjaga adikku baik-baik"

Bercekat hati Hun Thian-hi mulai paham kenapa bermula tadi Su Cin kelihatan rada mengalah segan menghadapi Leng Bu, kiranya punya latar belakang yang keji ini....

Pelan-pelan ia berpaling memicingkan mata menatap ke arah Leng Bu, tampak Leng Bu berdiri jajar disam[ing tunggangannya tanpa menunjukkan sikap tertentu, pedang masih terpegang ditangannya.

Waktu Thian-hi berpaling lagi Su Cin berkata kepadanya.

"Kulihat saudara Hun merupakan calon pendekar kenamaan yang bakal menjulang tinggi diantara sekian tunas muda saat ini, hari depanmu pasti gemilang, betapapun kau harus menjaga adikku baik-baik!"

Mendengar orang memuji dan mengagumi dirinya, sungguh Thian-hi merasa haru dan terima kasih, tak kuasa air mata meleleh keluar dari kelopak matanya. Sembari mengigit gigi pelan-pelan ia berkata tegas.

"Aku tentu menuntut balas bagi kau!"

Wajah Su Cin mengunjuk tawa riang, katanya kepada Su Giok-lan.

"Dik! Ada sedikit omongan perlu kusampaikan kepadamu!"

Su Giok-lan berdiri duduk, air mata membasahi dan mengotori mukanya yang putih bersih. Setelah menghela napas baru Su Cin melanjutkan.

"Adik Lan. Apakah kau mau dengar pesan eagkohmu sebelum ajal ini?"

"Engkoh!"

Jerit Su Giok-lan, tangisnya semakin menjadi2. Su Cin menghela napas, ujarnya.

"Jangan bersedih adik Lan!"

Terdengar Leng Bu menjengek.

"Kau menyesal sesudah sekarat siapa suruh kau selalu menghalang2i sepak terjangku!"

Berubah air muka Su Cin, cepat Thian-hi menyikapnya erat-erat, kata Su Cin megap2.

"Adik Lan, lekas katakan!"

Melihat keadaan engkohnya yang semakin parah Su Giok-lan menjadi bingung dan manggutmanggut.

Tangan Su Cin menunjuk kepada Thian-hi, mulutnya terpentang namun tak kuasa mengeluarkan suara, mendadak mukanya menjadi kejang dan berubah semakin pucat, badannya berkelejotan sebentar terus menjadi kaku Su Gip-lan semakin hebat tangisnya, dengan mengembeng air mata pelan-pelan Thian-hi rebahkan badan Su Cin di atas tanah lalu pelan-pelan bangkit berdiri.

Sejenak ia amat-amati jenazah Su Cin terus memutar tubuh mengawasi Kim-i kongcu Leng Bu.

Dengan menyeringai sinis Leng Bu pun mengawasi ke arah Thian-hi.

Kalem saja Hun Thian-hi merogoh keluar Badik buntungnya lagi.

Leng Bu berkata dingin.

"Hun Thian-hi menggetarkan Tionggoan, ternyata begitu saja kepandaiannya."

Hun Thlan-hi melangkah pelan-pelan menghampiri.

Melihat sikap Hun Thian-hi ini diam-diam mengkirik tengkuk Leng Bu, dengan tangan kiri ia tepuk-tepuk kudanya terus menyuruhnya menjauh, tangan kanan menyoreng pedang mengawasi Thian-hi dengan tajam.

Setindak demi setindak Thian-hi maju menghampiri, Leng Bu menjidi tidak sabar, ringan sekali pedang masnya berputar terus menyerang lebih dulu kepada Hun Thian-hi.

Sebat sekali Thian-hi melompat kesamping menghindar.

namun laksana bayangan ujung pedang mas lawan telah menyamber tiba pula.

terpaksa Thian-hi harus mencelat berkelit lagi, kini mereka sudah ganti kedudukan yang berlawanan.

Leng Bu terus mendesak maju dengan serangan pedangnya yang gencar, Thian-hi terdesak mundur terus.

Sekonyong-konyong biji mata Thian-hi memancarkan cahaya terang yang aneh, dimana Badik buntung bergerak selarik sinar hijau pupus berkelebat jurus Pencacat iangit pelenyap bumi telah dilancarkan, terus menungkrup ke arah Leng Bu.

Mendadak Leng Bu melihat perubahan permainan Thian-hi yang aneh ini, hatinya sungguh kejut bukan main, pedang mas dibolang-balingkan rapat sekali untuk melindungi badan, namun tampak sinar hijau berkelebatan rapat merekah menyamber2.

disertai tekanan tenaga besar yang luar biasa memberondong mengekang dirinya dari berbagai penjuru sehingga tenaga untuk ia angkat pedang sendiri pun tak mampu lagi.

Dimana sinar hijau melintas, kontan tubuh Leng Bu terkapar di tanah tanpa bergerak lagi.

Hun Thian-hi menyimpan lagi Badik buntungnya serta berjalan balik menghampiri Su Giok-lan.

Su Giok-lan mendelik mengawasi Hun Thian-hi, melihat Thian-hi menghampiri mendadak ia lompat berdiri sambil membopong jenazah Su Cin, makinya sambil mengertak gigi.

"Laki-laki palsu!"

Hun Thian-hi menjadi tertegun. Kata Su Giok-lan gemes.

"Terang kau dapat membunuh Leng Bu semudah itu, tapi kau biarkan engkohku mati dulu baru kau menuntut balas baginya, kau sangka aku bisa menghargai dan terima kasih kepadamu?" ~ selesai berkata air mata tak kuasa lagi membendung meleleh dengan derasnya. Hun Thian-hi punya kesukaran sendiri yang tak mungkim dijelaskan, terpaksa ia berdiri melongo saja. Dengan membonong jenazah Su Cin, Su Giok-lan lompat naik ke atas tunggangannya terus dilarikan ke depan sana dengan cepat. Tersentak Thian-hi dari lamunannya, cepat ia berlari mengejar serta teriaknya.

"Nona Su."

Su Giok-lan menghentikan lari kudanya, katanya berpaling.

"Kau masih ada muka mengejar kemari! Sebelum meninggal, engkohku menuding kau, apa kau tahu apa maksudnya? Gamblang sekali ia menghendaki aku menuntut balas baginya, tahu? Laki-laki palsu!" -lalu kudanya dibedal lagi ke depan sekencang-kencangnya. Thian-hi berdiri menjublek ditempatnya, mematung seperti tunggak, sungguh hatinya sangat duka dan entahlah bagaimana pula perasaannya, teringat akan pesan Su Cin sebelum ajal ia angkat kepala hendak mengejar lagi ke depan, namun bayangan Su Giok-lan sudah tak kelihatan lagi. Pelan-pelan ia menghela napas, Su Giok-lan adalah murid Pedang utara yang cukup kenamaan, tentu tidak akan mendapat kesusahan di depan sana, tapi dia kena dicekoki racun Kim-i kongcu Leng Bu cara bagaimana harus mengobatinya. Teringat akan hal ini, cepat-cepat ia larikan kudanya mengajar ke depan, Tiba-tiba terdengar pekik burung ditengah angkasa, seekor burung terbang rendah di atas kepalanya terus menuju ke depan. Waktu ia angkat kepala dilihatnya orang yang menunggang burung tak lain adalah Siau Hong, tanpa merasa pelan-pelan ia meneriaki nama Siau Hong, Siau Hong berpaling ke belakang melambaikan tangan kepadanya, terus terbang ke depan. Thian-hi menjadi lega, anak buah Bu Bing Loni muncul menalangi persoalan ini, tentu Su Gioklan takkan menghadapi bahaya apa-apa, mungkin malah mendapat rejeki besar dari beliau. Justru Bu Bing Loni tengah bermusuhan dengan dirinya, tentu Su Giok-lan akan dibantu dan dididiknya, meski selanjutnya ia bertambah seorang musuh yang kuat, betapa pun hati menjadi lega. Setelah pikirannia ini hati Thian-hi menjadi lapang, ia tertawa geli sendiri lalu memutar balik kudanya, pelan-pelan dilarikan ke depan menyusuri tembok besar terus menuju ke arah timur laut. Waktu ia berpaling lagi, burung dewata dan kuda tunggangan Su Giok-lan tak kelihatan lagi. Mayat Kim-i-kongcu Leng Bu masih menggeletak di tanah, kuda kembang bebenger disamping jenazahnya, sedang seekor kuda coklat lainnya tampak berlari kencang ke arah lain. Sementara itu, Su Giok-lan membedal kudanya lari ke depan, hatinya kosong dan hampa, benaknya dirundung kesedihan yang sangat memukul batinnya, namun tak kuasa dilampiaskan. Kira-kira setangah li kemudian tiba-tiba terdengar pekik burung ditengah udara yang sangat nyaring seekor burung besar berbulu hijau lambat-lambat meluncur turun di depan tunggangannya. Sungguh kejutnya tak kepalang, lekas-lekas ia menarik kendali kudanya, terus melolos pedang. Di atas burung besar ini duduk dua gadis jelita, seorang berpakaian hitam sedang yang lain dandan sebagai pelayan. Su Giok-lan tak tahu siapakah mereka berdua, namun mereka menunggang burung besar. tentu bukan sembarang orang, entah apa maksud tujuan mereka? Sekian lama gadis baju hitam mengamati Su Giok-lan, baru terlihat bibirnya bergerak, katanya.

"Nona Su, peristiwa barusan guruku sudah tahu seluruhnya, beliau menyuruh aku datang menahanmu sebentar, beliau ada sedikit omongan ingin tanya padamu!"

Su Gio-lan rada sangsi, tanyanya.

"Siapakah gurumu? Urusan apa yang ingin dia tanyakan?"

"Guruku itu bergelar Bu Bing Loni!"

"Apa Bu Bing Loni?"

Teriak Su Giok-lan diluar dugaan.

Gadis baju hitam manggut-manggut.

Sungguh mimpipun Su Giok-lan takkan menduga Bu Bing Loni bakal mencari dirinya.

Bu Bing Loni merupakan tokoh kenamaan yang menjagoi seluruh jagat, kepandaiannya tiada lawan dikolong langit, sepak terjangnya saja yang tidak menentu.

Dari sikap gadis baju hitam yang wajar dan tenang agaknya mereka tak berimaksud jelek terhadap dirinya.

Ia menghela napas lega, katanya prihatin.

"Untuk urusan apakah beliau mencari aku?"

"Itulah beliau sudah datang kemari!"

Sahut gadis baju hitam.

Memang benar-benar, waktu Su Giok-lan mendongak, tampak seekor burug dewata yang lain tengah meluncur turun pelan-pelan, dari punggung burung berbulu hijau ini berjalan turun seorang Nikoh tua yang berwajah welas asih, sepasang matanya memancarkan cahaya terang yang berwibawa....

Su Giok-lan melangkah selangkah terus menekuk lutut, sembahnya" .Wanpwe Su Giok-lan menghaturkan sembah sujud kepada Cianpwe!"

Bu Bing Loni mengamati Su Giok-lan dengan seksama, akhirnya katanya sembari manggutmanggut.

"Bangunlah!"

Sembari menyeka air matanya pelan-pelan Su Giok-lan bangkit berdiri.

"Sudah jangan nangis lagi,"

Ujar Bu Bing Loni.

"Engkohmu meninggal, kemana selanjutnya kau hendak pergi?"

Sahut Su Giok-lan sesenggukkan.

"Aku hendak mencari guruku untuk menuntut balas!"

Bu Bing Loni menggeleng kepala, katanya.

"Tak mungkin, gurumu pun takkan mampu menangkis jurus serangannya itu!'-Su Giok-lan melengak, katanya.

"Tentu Suhuku bisa mengundang orang lain untuk membalas dendam ini."

"Apa kau sendiri tidak ingin membalas dendam dengan tanganmu sendiri?"

Tanya Bu Bing Loni. Su Giok-lan tersentak kaget sambil angkat kepala, matanya mengawasi Bu Bing Loni sahutnya tersekat.

"Aku....aku ...."

"Kalau kau mau, aku bisa menerima kau menjadi muridku."

Su Giok-lan menjadi kegirangan, sungguh tak terkirakan olehnya bahwa tokoh nomor satu sejagat ini rela menerima dirinya sebagai murid, sesaat ia menjadi melongo.

"Eh, apa kau mau?"

Desak Bu Bing Loni.

"Suhu!"

Cepat-cepat Su Giok-lan maju berlutut dan menyembah berulang-ulang. Bu Bing Loni berseri tawa, ujarnya.

"Tulangmu bagus, belum lama berselang aku mendapat sebatang Ho-siu-oh yang berusia ribuan tahun, nanti boleh kau minum, kalau kau giat dan rajin belajar, tiga bulan saja, cukup kau dapat mempelajari Hui-sim-kiam-hoat, kalau kau mau menuntut balas gampang sekali seperti kau membalikkan tanganmu."

Su Giok-lan merangkak bangun dengan kegirangan, sahutnya.

"Aku pasti giat belajar."

Lalu tanyanya tak mengerti.

"Suhu atau Suci kenapa tidak memberi hajaran kepadanya sekarang saja?"

Bu Bing Loni mengerut kening, katanya.

"Aku sudah sumpah, gurunya membunuh ayah Sucimu sehingga sakit hati inipun sulit dibalas!"' Su Giok-lan mengerling memandang ke arah gadis baju hitam. Bu Bing Loni berkata lagi.

"Inilah Sucimu Ham Gwat."

Tersipu-sipu Su Giok-lan membungkuk tubuh memberi soja.

"Suci, harap selanjutnya kau suka memberi bantuan dan bimbingan kepadaku yang masih hijau ini!"

"Ah Sumoay terlalu sungkan. Kulihat bakat dan rejeki Sumoy sangat besar, kelak tentu mencapai tingkatan yang lebih tinggi dari aku sendiri!' "Hun Thian-hi kan murid Lam siau? Bagaimana bisa menjadi musuh besar pembunuh ayahmu?"

Berkedip2 biji mata Ham Gwat, katanya.

"Lam-siau? Dia adalah murid Ang-hwat-lo-mo!"

"Apa", tanya Giok-lan heran dan, menegas.

"Dia murid Ang-hwat-lo-mo?"' Ham Gwat manggut-manggut, katanya.

"Jurus pencacat langit pelenyap bumi yang dilancarkan tadi untuk membunuh Kim-i-kongcu adalah ilmu silat pelajaran tunggal dari Ang-hwat-lo-mo. Dulu menggunakan jurus inilah Ang-hwat-lo-mo membunuh ayahku!"

Su Giok-lan manggut-manggut, batinnya.

"Kiranya Hun Thian-hi juga menjadi murid Ang-hwatlo-mo tak heran ilmu silatnya begitu lihay. dalam segebrak saja sekaligus membunuh puluhan tokoh-tokoh silat kosen!"

Kata Bu Bing Loni.

"Giok-lan, tak perlu banyak pikir, mari kita pulang!"' Su Giok-lan mengiakan, jenazah Su Cin dijinjingnya bersama Bu Bing Loni dan lain-lain menunggang burung dewa terbang tinggi dan hilang dikejauhan. Sekarang marilah kita ikuti perjalanan Hun Thian-hi yang terus maju menyelusuri tembok besar, tahu dia bahwa urusan hari ini takkan berakhir begitu saja, di depan tentu masih banyak orang lagi yang tengah menanti kedatangannya. Tengah ia mencongklang kudanya, dari atas tembok yang tinggi itu kelihatann melayang turun bayangan seorang hinggap tiga tombak dihadapannya. Waktu Thian-hi menegasi pendatang ini berusia kira-kira empat puluhan, mengenakan jubah putih, janggut hitam menjulai di depan dadanya, pinggangnya menyoreng sebatang seruling putih, bukankah beliau Suhunya yang berbudi, Lam-siau Kongsun Hong! Sungguh kejut dan girang sekali Hun Thian-hi, bergegas ia lompat turun terus memburu maju dan berlutut, teriaknya.

"Suhu!"

Kongsun Hong mendehem keras. katanya kereng mengawasi Hun Thian-hi.

"Apakah aku ini gurumu? Kau masih anggap aku ini gurumu?"

Tercekat hati Thian-hi, berulang-ulang ia menyembah tanpa berani bersuara. Sejenak kemudian baru Kongsun Hong berkata pula.

"Sebelum ajal, ayahmu pernah berpesan wanti2 kepadaku untuk mengasuh kau baik-baik, tapi kau...."

Mendengar gurunya menyinggung ayahnya terketuk sanubari Hun Thian-hi tak terasa air mata meleleh dengan dengan derasnya. Kongsun Hong menghela napas, ujarnya.

"Kalau ayahmu bukan saudara angkatku urusan hari ini aku sudah tidak peduli lagi!"

Hun Thian-hi masih tetap tak berani bicara, Kongsun Hong membentaknya lirih.

"Bangun!"

Pelan-pelan Hun Thian-hi merangkak bangun dan berdiri kesamping, lama-lama Kongsun Hong mengamatinya. lalu katanya.

"Kini Thi-kiam Lojin dari Bu-tong-pay, Hwi-lam-it-lo Siang Ing serta tokoh-tokoh lain tengah menantimu di depan sana, malah Pak-kiam suami-istri katanya juga sudah datang!"

Berdebar keras jantung Thian-hi, angkat kepala ia awasi Kongsun Hong. Tanya Kongsun Hong.

"Kudengar kau telah membunuh puluhan tokoh-tokoh kosen dalam segebrak saja dan mengutungi sebelah lengan Toh-bing-cui-hun, apakah berita ini benar-benar?"

Hun Thian-hi manggut-manggut. Kongsun Hong menjadi bungkam beberapa saat, rada lama kemudian ia tanya lagi dengan nada berat tertekan.

"Dari mana kau pelajari jurus itu?"

Bab Terpaksa Hun Thian-hi menceritakan pengalamannya waktU dijehak oleh Su Tat-jin sehingga terjeblos ke dalam jurang.

Tak lupa iapun ceritakan juga perihal Bu Bing Loni dan Soat-san-sugou.

Kongsun Hong menjadi ketarik akan pengalaman muridnya yang aneh2 itu, sesaat ia terbungkam tak bisa bicara.

Sekonyong-konyong terdengar gelak tawa nyaring di atas tembok tinggi sana, disusul dua bayangan orang melayang turun dihadapan mereka.

Kongsun Hong memutar tubuh, katanya tertawa.

"Kiranya Pak-kiam suami istri yang telah datang!"

Waktu Thian-hi menegasi memang yang datang ini adalah sepasang suami istri berusia pertengahan. Terdengar Pak-kiam Siau Ling berkata.

"Sepak terjang muridku sangat memalukan dan membikin buruk nama perguruan saja, tak berani lapor kepadaku hanya disampaikan kepada istriku saja, sampai sekarang baru aku jelas duduk perkaranya, sengaja kita datang untuk memanggil pulang kedua muridku yang tak genah itu!"

Lam-siau Kongsun Hong tertawa, katanya.

"Urusan yang sudah lalu buat apa disinggung lagi, yang terang mereka kena ditipu oleh pamannya apalagi demi nama baik perguruan maka mereka tak berani memberi laporan, maka tak perlu lah terlalu salahkan mereka."

Pak-kiam Siau Ling menghela napas, ujarnya.

"Betapa pun mereka tak bisa diberi ampun."

"Thian-hi!"

Kata Kongsun Hong.

"Ajo, beri hormat kepada Pak-kiam suami istri, inilah Pak-kiam Siau Ling dan Siau-siang-cu To Bwe yang sangat kau kagumi itu!"

Tersipu-sipu Thian-hi maju memberi sembah hormat.

"Cianpwe berdua harap terimalah sembah sujut Wanpwe Hun Thian-hi!"

"Tak usah banyak peradatan,"

Ujar Pak-kiam Siau Ling.

"perbuatan muridku kurang dapat dihargai, biarlah aku mewakili mereka minta maaf kepadamu!"

"Mana Wanpwe berani terima. Belum lama berselang aku berjumpa dengan saudara Su dan adiknya."

"Dimana mereka?"

Tanya Siau Ling, mukanya rada berubah. Hun Thian-hi rada sangsi, ia berpaling memandang ke arah Kongsun Hong. Kata Kongsun Hong kepada Pak-kiam.

"Ah, urusan bocah tak perlu dipikirkan!"

"Saudara Su telah meninggal."

Demikian Hun Thian-hi menerangkan singkat. Bagai disambar petir seketika Pak-kiam berdiri menjublek, Siau-siang-cu To Bwe melangkah maju menjambret baju Thian-hi teriaknya.

"Apa! Kaukah yang membunuhnya?"

"Bukan!"

Sahut Thian-hi cepat.

"Dia menemui ajal di bawah tangan Kim-i-kongcu Leng Bu!"

Siau-siang-cu To Bwe melepas tangan, gumamnya.

"Kim-i-kongcu Leng Bu! Lalu kemana Gioklan?"

Thian-hi menunduk, setelah rada sangsi ia menyahut lirih.

"Sudah pergi!"

"Leng Bu! Leng Bu!"

Mulut Pak-kiam menggumam. Matanya terpejam dan mengalirkan air mata. Hun Thian-hi berkata lirih.

"Leng Bu juga telah kubunuh!"

To Bwe berdiri terlongong.

"Kenapa tadi tidak kau ceritakan kepadaku?"

Tanya Lam-siau. Thian-hi bungkam, terpekur sekian lamanya baru pelan-pelan ia mengisahkan pengalamannya yang baru terjadi belum lama berselang.

"Takdir! Takdir!"

Desis Siau Ling sembari menghela papas. Dari atas tembok terdengar lagi gelak tawa yang kumandang, sesosok bayangan hijau melayang turun, teriaknya tertawa.

"Kalian mengobrol begitu gembira, kita menjadi tidak sabar menunggu, maka menyusul kemari!"

Beruntun dari atas tembok melayang turun lagi dua sosok bayangan manusia. Tawar2 saja Lam-siau tertawa, katanya.

"Kiranya adalah Thi-kiam Lojin dari Bu-tong dan Hwilam-it-lo, dan sahabat ini kalau aku tidak salah lihat tentu Im-hong-ciang Lim Hong adanya."

Dua orang yang datang belakangan adalah dua orang seorang membawa sebatang pedang yang terselip dipunggungnya, seorang lain menggembol sebatang tongkat warna hijau, orang ketiga adalah laki-laki berusia tiga puluhan air mukanya membeku dingin tentu dia inilah yang berjuluk Im-hong-ciang Lim Hong.

Seru Thi-kiam Lojin bergelak tawa.

"Kongsun Tayhiap sendiri juga sudah hadir, sungguh baik sekali. Entah tindakan apa yang segera kau jatuhkan kepada muridmu ini Kongsun Tayhiap?"

Kongsun Hong mandah tersenyum ewa, ujarnya.

"Urusan ini sulit dibicarakan, sebetulnya segala perbuatan muridku ini itu bukanlah menjadi kehendaknya, dalam hal ini masih ada latar belakang yang sulit diterangkan. Biarlah aku tuntun muridku ini bertandang ke setiap para sahabat yang kena menjadi korban untuk minta maaf dan mohon keringanan hukuman. Entah bagaimana pendapat kalian?"

"Bertandang minta pengampunan?"

Tiba-tiba Hwi-lam-it-lo menjengek, lalu terbahak-bahak, katanya lagi.

"Apakah puluhan korban jiwa manusia itu cukup ditebus dengan bertandang minta pengampunan?"

"Biarlah para keluarganya mencacah hancur tubuh Thian-hi."

Sela Im-hong-ciang Lim Bing.

"Aku tak tanya kau,"

Dengus Lam-siau.

"di tempat ini tiada tempat bagi kau turut campur bicara."

Im-hong-ciang Lim Bing belum lama mengangkat nama di dunia persilatan, sikapnya congkak sudah tentu dia tak mau mengalah, makinya gusar.

"Kongsun Hong, apakah kau mau menjajal berkenalan dengan aku?"

Pak-kiam Siau Ling terloroh-loroh, serunya.

"Aku Siau Ling tak tahu diri, ingin aku minta pengajaran kepada saudara ini!"

Rada berubah rona wajah Thi-kiam Lojin, katanya kepada Siau Ling.

"Siau Tayhiap kenapa berbalik kau bantu mereka?"

Bertaut alis Siau Ling, katanya.

"Bukan melulu Hun Thian-hi saja yang salah dalam peristiwa ini, dia terdesak oleh situasi dan harus melakukan apa saja yang bisa dia demi keselamatan jiwa sendiri. Kenapa kalian mejadi semena2 tanpa mencari tahu duduk perkara sebenar-benarnya. Terpaksa aku bantu mereka!"

Im-hong-ciang Lim Bing mendengus gusar, tantangnya.

"Biar aku Ling Bing belajar kenal betapa tinggi kepandaian Pak-kiam yang kenamaan!"

Habis berkata langsung ia lancarkan serangannya ke arah Siau Ling.

Lam-siau dan Pak-kiam diberi julukan sebagai I-Lwe-siang-ki, sudah tentu mereka masingmasing punya kepandaian simpanan yang melebihi orang lain, sudah tentu angkatan macam Lim Bing yang belum lama angkat nama tidak dipandang sebelah matanya.

Sedikit bergerak mudah sekali Pak-kiam meluputkan diri dari rangsekan lawan, namun Imkong-ciang Lim Bing tak tahu diri, ia terus menyerbu dengan ketat.

Pak-kiam Siau Ling merasa hutang budi kepada Hun Thian-hi, diam-diam ia sudah berketetapan hati untuk membela mati-matian.

Gesit sekali ia berloncatan menghindari setiap pukulan Lim Bing yang cukup hebat juga.

gerak jeriknya laksana kelinci seperti burung kutilang yang berloncatan di atas dahan pohon, tak kalah hebatnya iapun saban2 balas menyerang kepada Lim Bing.

Begitu saling gabrak kedua belah pihak sudah saling serang menyerang puluhan jurus, Siau Ling lancarkan jurus serangan yang gencar dan deras sehingga Im-hong-ciang Lim Bing kena terdesak mundur.

Sembari mengayun tongkat bambunya segera Hwi-lam-it-to Siang Bing menghardik.

"Siau Ling, jangan kau takabur dan menghina orang!"

Lekas-lekas Siau-siang-cu pun melolos pedang serta jengeknya.

"Biar aku belajar kenal dengan pentung bambu da Hwi-lam-it-lo yang kesohor itu!"

Segera ia menghadang maju, maka merekapun bertempur tidak kalah serunya, Tinggal Thi-kiam Lojin saja yang masih nganggur, mukanya membesi kaku, tapi hatinya gundah, ia tahu dan menurut gelagat, besar kemungkinan mereka bertiga bakal terjungkal dan mendapat malu, menurut dugaan semula disangkanya Pak-kiam suami isteri berdiri dipihaknya, kemenangan terang dan tentu bisa dicapai oleh pihaknya.

Sungguh diluar perhitungan semula kenyataan Pak-kiam suami-isteri membantu Hun Thian-hi malah, ia sendiri tahu bahwa kepandaian sendiri bukan tandingan Lam-siau, terpaksa ia tinggal diam berpeluk tangan saja.

Dalam babak Siau-siang-cu lawan Hwi-lam-it-lo kelihatan sinar pedang dan bambu hijau berkemilauan, saling serang dengan hebat dan serunya, kedua belah pihak kerahkan setaker kepandaian masing-masing, dalam waktu singkat susah dipastikan pihak mana bakal menang.

Sebaliknya Im-hong-ciang Lim Bing jelas bukan tandingan Pak-kiam, untung Pak-kiam turun tangan tidak setakar tenaganya serta memberi sedikit kelonggaran, kalau tidak sejak tadi ia sudah terjungkal mampus.

Meskipun gelisah namun Thi-kiam Lojin tak mampu bertindak.

Sekonyong-konyong dari kejauhan terdengar derap langkah kuda yang dilarikan kencang tengah mendatangi, kira-kira masih berjarak puluhan tombak jauhnya, terdengarlah suitan panjang, Tampak dua sosok tubuh manusia terbang meninggalkan tunggangannya terus meluncur datang ke tengah gelanggang pertempuran.

Begitu kedua orang ini hinggap di tanah, seketika beruba air muka Lam-siau, diam-diam ia mengeluh dalam hati mengapa bisa kedua orang ini tiba disini.

Hun Thian-hi sendiri juga telah melihat tegas orang pendatang ini, bukan lain adalah dua orang penunggang kedua ekor kuda putih tadi.

Sementara itu, Pak-kiam juga telah melirik, melihat kedatangan kedua orang ini diam-diam iapun bercekat, gerakannya gesit sekali dengan telak ia tusuk jalan darah Im-hong-ciang, terus mundur berdampingan dengan Lam-siau.

Demikian juga siau siang-cu dan Hwi-lam-it-lo juga meloncat mundur kembaii ke tempatnya masing-masing.

Begitu melihat kedatangan bala bantuan, legalah hati Thi-kiam Lojin, segera ia bergelak tawa girang, serunya.

"Kiranya Yan-bun-siang-eng Ciok Tayhiap berdua telah datang, entah kemana hingga'sekarang kalian baru sampai!"

Berdebar keras jantung Hun Thian-hi mendengar kedua pendatang ini adalah Yan-bun-siangeng.

Dari penuturan gurunya ia pernah mendengar perihal Yan-bun-siang-eng Ciok sing dan Ciok Gi berdua, mereka masih muda dalam pengalaman kelana di Kangouw, namun selama lima tahun terakhir ini sudah tiga kali mereka pernah meluruk ke Timur tionggoan, mengandal sepasang golok Yan-hap-to dengan pengalamannya yang aneh dan lucu entah sudah berapa puluh nikoh2 Bulim yang terjungkal di bawah tangan mereka.

Sudah tentu semakin hari ketenaran nama mereka semakin menjulang tinggi.

Mereka berdua telah menciptakan ilmu permainan golok gabungan yang sangat lihay, selama ini belum pernah menemukan tandingan yang setimpal.

Dalam pada itu, dengan sikap gagah Siang-eng tengah menerawang keadaan kedua belah pihak, katanya dengan sombong.

"Kedatangan kita bersaudara tak lain adalah untuk belajar kenal dengan tokoh-tokoh kenamaan yang menyebut dirinya I-lwe-siang-ki, betapa tinggi kepandaiannya sejati."

Lam-siau Kongsun Hong bergelak tawa, ujarnya.

"Bagus, bagus! Kita berdua pun telah lama dengar Yan-bun-siang-eng, untung hari ini kita bertemu ingin benar-benar kita minta pengajaran!"

Pak-kiam Siau Ling ikut menjengek.

"Walaupun aku juga pernah dengar Yan-bun-siang-eng, tapi tidak lebih mereka hanya angkatan muka belaka!"

Berubah rona wajah Siang-eng, tanpa bicara lagi serentak mereka membalingkan golok masingmasing, dimana sinar putih gemerlapan, tahu-tahu Yan-hap-to sudah digenggam ditangannya.

Lam-siau saling pandang sebentar dengan Pak-kiam diam-diam hati mereka sudah maklum betapa tinggi kepandain Yan-bun siang-eng ini dilihat cara mereka mengeluarka goloknya, paling tidak lebih rendah dari Thi-kiam Lojin kalau tidak mau dikatakan lebih tinggi, apapula mereka bisa bermain begitu rapi dan ketat mengombinasikain permainan golok yang saling berlawanan, entah pelajaran dari tokoh manakah kepandaian mereka ini.

Pelan-pelan Pak-kiam melolos pedangnya, sedang Lam-siau menanggalkan seruling pualam dari pinggangnya.

Sementara itu gesit sekali Yan-bun-siang-eng sudah bergerak kekanan kiri mengepung kedua musuhnya ditengah gelanggang.

Lam-siau dan Pak-kiam berbareng bergelak tawa panjang, mereka dijuluki I-lwe-Siang-ki, betapa.

tinggi nama dan gengsi mereka serta melihat tingkah laku Yan-bun siang-eng yang sombong dan takabur ini hati mereka menjadi tak senang.

Kongsun Hong angkat serulingnya terus dilekatkan di depan bibirnya.

Lam-siau sudah dua puluh tahun malang melintang di Bulim mengandal Thian-liong-chit-sek dan Siau-im-pit-hiat sudah tentu Siang-eng pun tak berani memandang rendah.

Melihat Lam-siau beniat menggunakan irama serulingnya untuk menundukkm musuhnya, cepat-cepat Siang-eng menggerakkan goloknya terus menyerbu dengan garangnya.

Pak-kiam terbahak-bahak keras, dimana pedang panjangnya berputar-putar segera ia kembangkan Hian-thian-hui-kiam merintangi serbuan Yan-bun-siang-eng.

Tapi permainan sepasang Yan-hap-to Siang-eng memang luar biasa, apalagi Pak-kiam sangat percaya akan tenaga dan kepandaian sendiri secara kekerasan ia sambut serbuan musuh dari kanan kiri, kontan Siau Ling merasa tangannya tergetar keras, tahu-tahu pedangnya sudah mencelat terbang.

Melihat hasil itu Yan-bun-siang-eng semakin berbesar hati, keruan mereka semakin temberang serangan semakin dipergencar....

Kongsun Hong kaget dan merasakan langsung tekanan musuh yang semakin berat, menurut dugaan semula asal Pak-kiam Siau Ling kuat bertahan dua jurus saja cukup baginya berkesempatan untuk meniup serulingnya, maka situasi pertempuran selanjutnya boleh dikata pihak pemenang adalah mereka berdua, siapa duga kejadian justru diluar dugaannya.

Untuk menolong kawannya ia bersuit nyaring seruling ditangannya terbang menyapu dengan dahsyatnya dengan salah satu jurus Thian-liong-chit-sek yaitu yang dmamakan tipu Hwi-liong-wikhong (naga sakti terbang ditengah angkasa) menghadapi serbuan Yan-bun-siang-eng.

Kombinasi mempermainkan Yan-hap-to kedua kakak beradik dari Yan-bun memang hebat luar biasa, satu maju yang lain menjaga dan melindungi, maju mundur sangat teratur sekali, kadang-kadang serentak menyerbu bersama membacok ke arah Lam-siau dan Pak-kiam.

Sementara itu, belum lagi jurus pertama dilancarkan rampung Lam-siau sudah menarik kembali serangannya ditengah jalan terus dirubah Sin-liong-jip-cui (naga sakti masuk air) tubuhnya mencelat terbang tinggi, seruling pualam terbang menukik dari atas ke bawah, berbareng mengancam jalan darah Hoa-kay-hiat dibatok kepala kedua musuhnya.

Mendapat kesempatan ini Pak-kiam segera melejit ke tengah udara menyamber pedang panjangnya yang meluncur turun, di tengah udara jumpalitan sekali sembari lancarkan Hian-thianhui-kiam yang hebat merangsak ke arah Siang-eng berdua.

Namun Yan-bun-siang-eng keburu sudah kembangkan Yan-hap-to-hoat yang hebat, golok mereka berputar memetakan sinar gemerdep yang bundar dan melingkar2 mengaburkan pandangan mata.

Meski Pak-kiam dan Lam-siau lancarkan serangan gencar yang hebat tapi kekuatan daya Putar dari pusaran golok lawan adalah begitu hebat dan lebat sekali sehingga setiap jurus serangan mereka selalu kena tertuntun atau dipunahkan begitu gampang oleh tenaga hisap yang kuat itu, begitulah meski mereka berdi atas angin untuk waktu dekat tak mungkin mereka dapat mengalahkan Yan-bun-siang-eng dengan mudah.

Melihat keadaan yang saling bertahan dan sama kuat ini, Thi-kiam Lojin tahu paling tidak mereka harus bertempur sebanyak tiga ratusan jurus baru Yan-bun-siang-eng dapat dikalahkan.

Maka menggunakan kesempatan ini segera ia mulai bergerak setelah memberi isyarat kedipan mata kepada Im-hong-ciang dan Hwi-lam-it-lo serentak mereka menubruk ke arah Hun Thian-hi.

"Sreng!"

Lekas-lekas Siau-siang-cu To Bwe melolos pedang terus menghadang di depan Hun Thian-hi.

Terpaksa Thi-kiam Lojin juga melolos pedang, bersama Im-hong-ciang Lim Bing dan Hwi-lam-it-lo Siang Bing mengepung Hun Thian-hi berdua dari tiga jurusan.

Sudah tentu Lam-siau menjadi gelisah, cepat-cepat berteriak.

"Thian-hi, lekas kau jalan dulu!"

Im-hong-ciang Lim Bing menyeringai dingin, ejeknya.

"Mau lari? Tidak begitu gampang!"

Gesit sekali ia merintangi jalan mundur Hun Thian-hi.

Mau tak mau Hun Thian-hi harus berpikir cermat, seandainya ia betul-betul bisa merat itulah baik sekali, namun paling tidak masih ada dua musuh yang bakal mengejar dirinya, maka kepungan kepada gurunya berdua dengan sendirinya bakal kocar-kacir.

Tapi tiga orang yang dihadapinya sekarang rata2 adalah tokoh-tokoh silat kosen kelas satu dari Bu-lim, seumpama Imhong-ciang Lim Bing yang paling lemah pun jauh lebih unggul dari kemampuan sendiri.

Karena pikiran ini akhirnya ia harus mengambil keputusan tegas, tangkas sekali kakinya bergerak menyelinap maju seraya kirim genjotan berantai yang deras merangsak ke arah Thi-kiam Lojin.

Melihat Hun Thian-hi menyerang dirinya dengan bertangan kosong terang tidak memandang sebelah mata kepada dirinya Thi-kiam Lojin menjadi murka, seking gusar ia tertawa gelak-gelak malah, pedang panjang bergetar melintas tahu-tahu sudah menukik balik menusuk ke belakang memapak serangan Thian-hi, pikirnya dengan serangan balasan ini ia hendak menabas buntung sebelah tangan Thian-hi.

Begitulah disaat Hun Thian-hi menggenjot dengan kerasnya, pedang Thi-kiam Lojin pun sudah menabas datang.

Keruan Siau-siang-cu To Bwe menjerit kaget.

Sangkanya serangan balasan pedang Thi-kiam Lojin ini hanya bertujuan mendesak mundur Thian-hi adalah diluar dugaannya bahwa Thian-hi menyerang dengan bertangan kosong, terang sebelah tangannya itu bakal cacat tanpa ampun lagi.

Tingkat kepandaian dan kedudukan Siau-siang-cu To Bwe sangat tinggi dan hebat, mana mungkin ia mandah saja melihat seorang angkatan muda begitu saja dikutungi sebelah tangannya di depan matanya, sungguh dia tidak berani membayangkan sebelumnya kalau hal ini bisa terjadi.

Akan tetapi kejadian selanjutnya justru membuat ia melongo dan heran bukan buatan.

Disaat pedang Thi-kiam Lojin hampir saja menyentuh tangan Hun Thian-hi, bukan saja Hun Thian-hi tidak berusaha melindungi atau menghindari tabasan pedang musuh kelihatan malah disorongkan ke depan, berbareng tampak selarik sinar hijau berkelebat membawa hawa dingin kontan pedang panjang Thi-kiam Lojin kutung menjadi dua potong.

Seketika Thi-kiam Lojin berdiri kesima.

Siau-siang-cu sendiri pun terlongo heran dan kegirangan.

Begitulah sembari menggembol Badik buntung Hun Thian-hi berkelebat lewat disamping tubuh Thi-kiam Lojin terus meloncat naik ke punggung kudanya.

Terdengar Im-hong-ciang Lim Bing menggertak keras terus mengejar dengan kencang.

Tapi keburu Hun Thian-hi sudah menjepit perut kudanya dan membedalnya cepat-cepat ke samping sana.

Siau-siang-cu menggertak keras sembari melintangkan pedang merintangi mereka bertiga.

Thikiam Lojin menggeruhg keras menerjang lewat, sedang Hwi-lam-it-lo mengayun tongkat bambunya menempur Siau-siang-cu.

Maka Thi-kiam Lojin dan Im-hong-ciang Lim Bing berkesempatan mengejar terus ke arah Hun Thian-ki.

Hun Thian-hi larikan kudanya kencang-kencang, Thi-kiam Lojin berdua mengejar dengan cepat.

Sekejap saja lima li telah dilampaui jarak Thi-kiam Lojin berdua semakin jauh, mereka ketinggalan satu li di belakang, tahu mereka kalau mengejar terus pun takkan dapat menyusulnya, terpaksa mereka putar balik dengan uring-uringan.

Sementara itu Hun Thian-hi masih larikan kudanya sekian lamanya, waktu ia berpaling Thi-kiam Lojin berdua sudah tidak kelihatan lagi, baru sekarang ia sempat menghela napas lega.

Diam-diam ia bersyukur dalam hati ditengah jalan ini ia bersua dengan gurunya yaitu Lam-siau sehingga kesulitan dirinya dapat diatasi, terutama bantuan Pak-kiam suami istri sungguh besar artinya, kalau tidak sukar dikatakan bagaimana akibatnya tadi.

Thian-hi mendongak melihat cuaca, dilihatnya hari sudah hampir gelap, namun dirinya masih ditengah perjalanan jauh dari kota atau dusun, sekelilingnya tanah tandus dan hutan lekat yang memagari gurun berpasir menguning melulu.

Tak tahu Thian-hi kemana ia harus menuju.

terpaksa ia biarkan saja kuda hitamnya berjalan kemana dia suka....

Hari sudah gelap gulita, samar-samar dikejauhan di depan sana kelihatan titik-titik sinai pelita yang kelap kelip, mungkin di depan sana ada perumahan atau pedusunan.

Thian-hi menjadi girang, cepat-cepat ia keprak kudanya dilarikan ke arah sana.

Waktu sudah dekat, Thian-ki menjadi melongo karena tempat itu melulu sebuah hutan lebat di atas sebuah pohon besar yang tinggi tergantung beberapa buah lampion, di tengah lampu2 lampion ini duduk bersila di atas sebuah dahan besar seorang tua yang memejamkan matanya.

Hun Thian-hi hentikan kudanya, ia mendongak mengawasi orang tua di atas pohon itu sekian lamanya, diam-diam ia membatin siapakah orang tua ini, dengan lampu2 lampionnya ini ia memancing aku datang kemari apakah maksudnya?

Tiba-tiba orang tua itu membuka mata serta gumamnya.

"Eh, betul-betul kepancing datang!"

Bertambah kaget hati Thian-hi mendengar perkataan si orang tua, lekas-lekas ia melorot turun dari tunggangannya terus membungkuk tubuh serta serunya.

"Wanpwe Hun Thian-hi, harap tanya siapakah Cianpwe yang mulia ini?"

Tanpa menunjukkan berubahan mimik wajahnya si orang tua mengawasi Thian-hi dengan cermat, rada lama kemudian baiu membuka mulut.

"Tepat, kiranya kaukah Hun Thian-hi. Akulah Jan-ting Lojin, apakah kau pernah dengar nama ini?"

Hun Thian-hi melengak, ia geleng-geleng kepala, sahutnya.

"Pengetahuan Wanpwe sangat cetek, belum pernah dengar nama ini, Cianpwe menggunakan sinar pelita untuk memancing Wanpwe kemari entah ada urusan apakah?"

Dengan seksama Jan-ting Lojin (situa pelita) mengamat-amati Thian-hi, tanyanya.

"Apa betul kau belum pernah dengar namaku ini?"

Hun Thian-hi geleng kepala. Tanya situa Pelita.

"Apakah gurumu tidak beri tahu kepada kau?"

Hun Thian-hi menjadi was-was dan heran kenapa Situa Pelita ini tanya akan hal ini, ia menggeleng kepala lagi.

Mendadak Situa Pelita mendongak serta terloroh-loroh, gelak tawanya begitu keras memekakkan telinga sehingga menggetarkan seluruh alam sekelilingnya, daun berjatuhan.

Hun Thian-hi bercekat dan berubah air mukanya.

Setelah tertawa sekian lamanya, situa pelita ini mendesis sambil mengertak gigi.

"Sangkamu kau masih bisa seperti dulu tidak memandang sebelah mata kepadaku lagi?"

Hun Thian-hi menjublek di tempatnya, ia tidak tahu kemana juntrungnya perkataan si orang tua, mendadak ia teringat sesuatu serta-merta mulutnya lantas mengiakan, katanya.

"Orang yang Cianpwe maksudkan barusan bukankah Ang-hwat-lo-koay?"

Situa Pelita membelalakkan matanya mengawasi Hun Thian-hi, tanyanya.

"Apa katamu?"

"Bukankah orang yang Cianpwe maksudkan tadi adalah Ang-hwat-lo-koay?"

Situa Pelita mendengus sekali, tanyanya.

"Apakah orang berbaju mas itu kau yang bunuh?"

Thian-hi manggut-manggut, katanya.

"Tapi Cianpwe jangan salah paham, aku bukan murid Ang-hwat-lo-koay."

Situa Pelita berkakakan, pelan-pelan kedua telapak tangannya menepuk kebawah tubuhnya tiba-tiba mencelat ke tengah udara dan terbang melingkar satu bundaran terus hinggap pula di tempat asalnya, katanya kepada Thian-hi.

"Kau sudah takut?"

Bercekat hati Thian-hi, gerak tubuh situa Pelita ini sungguh luar biasa dan mengagumkan, belum pernah dilihatnya sebelum ini, apalagi timbul tenggelam tubuhnya begitu enteng tanpa mengeluarkan sedikit suara atau desiran angin.

Tapi lahirnya Thian-hi tetap tenang, malah ia mendongak dan bergelak tawa juga serunya.

"Apa yang perlu ditakuti?"

"Tidak lebih menakutkan dari ilmu pencacat langit dan pelenyap bumi yang diajarkan oleh gurumu itu bukan?"

"Perlu kutandaskan lagi bahwa aku bukan murid Ang-hwat-lo-koay"

Ujar Thian-hi dengan nada berat.

"Memang kenyataan ia mengajarkan sejurus ilmu ganas itu, kukira kau sendiri sudah tahu berapa banyak jiwa melayang karena ilmu ganas itu?"

Situa Pelita terbungkam seribu basa. Sambung Thian-hi dengan nada lebih tertekan.

"Betapa picik dan licik tujuannya itu, sungguh aku lebih menderita daripada dibunuh olehnya!"

Situa Pelita rada sangsi, ia mendengus tidak percaya.

Hun Thian-hi menundukkan kepala tanpa bicara lagi.

Tiba-tiba Situa Pelita bergerak meluncur tiba kedua tangannya dengan telak mencengkeram kedua pundak Thian-hi, secara gerak reflek Thian-hi meronta sekuat2nya.

Sesaat tampak situa Pelita tertegun sebentar terus menggumam dengan lesu.

"Ah, bukan dia!"

Lalu ia lepas tangan mencelat kembali ke tempatnya semula. Thian-hi mendelong awasi si orang tua tanpa buka suara. Akhirnya situa Pelita menunduk kepala serta katanya lirih.

"Pergilah, selanjutnya jangan kau gunakan lagi jurus ganas itu."

Dilihatnya oleh Thian-hi kelopak mata situa Pelita mengembeng air mata, agaknya ia sangat kecewa dan sekejap mata saja sudah tambah tua puluhan tahun, maka katanya pelan.

"Kalau Cianpwe punya dendam kesumat dengan Ang-hwat-lo-koay Wanpwe bersedia membantu sekuat tenaga, aku tahu dimana sekarang ia berada!"

Situa pelita angkat kepala, ujarnya.

"Tiada gunanya, siang-siang ia sudah pindah tempat. Tak mungkin ia menetap di tempat lama menunggu para musuhnya meluruk datang mencari penyakit padanya."

Thian-hi berdiam diri sekian lama lalu pelan-pelan putar tubuh.

"Kau kembali!"

Tiba-tiba situa Pelita memanggilnya kembali.

"Apakah Cianpwe masih ada urusan?"

Tanya Thian-hi merandek. Situa Pelita termenung sebentar lalu katanya.

"Tadi kau kata bahwa ada banyak orang telah menjadi korban karena jurus Jan-thian-ciat-te itu bukan?"

Thian-hi manggut-manggut. Kata Situa Pelita.

"Kuduga tentu kau mengalami banyak kesulitan karena jurus yang ganas itu. Demikian juga aku memancingmu kemari, walaupun kau takkan dapat membantu aku, namun maksud baikmu itu sungguh mengetuk sanubariku, biarlah kubantu sedikit kepadamu!"

Sebentar Hun Thian-hi berpikir, lalu menggeleng serunya.

"Terima kasih akan kebaikan Cianpwe. Aku terlalu banyak menanam budi orang lain, sampai pun Soat-san-su-gou berempat Cianpwe rela mati demi jiwaku seorang."

Bertaut alis situa Pelita, katanya.

"Apa katamu?"

Terpaksa Thian-hi ceritakan bagaimana Bu Bing Loni mencari dirinya untuk menuntut balas serta pertemuannya dengan Soat-san-su-gou. Berjengkit alis situa Pelita, ujarnya tertawa.

"Kiranya begitu. Kedua tokoh yang dimaksudkan oleh Pek-bi tentu kedua bangkotan tua itu. Ah pengalaman dan pengetahuannya ternyata rada cetek juga. Tapi aku dapat menunjukkan sebuah jalan penerangan, kalau dibanding kedua bangkotan tua di Tiang-pek-san itu jauh lebih kuat berapa kali lipat!"

Wajah Hun Thian-hi mengunjuk rasa sangsi dan heran. Kata situa Pelita menerangkan.

"Dari sini kau langsung menuju ke utara, nanti disana kau bakal menemukan sesuatu rejeki besar. Tiga hari kemudian kau kembali ke sini menemui aku!"

Selesai berkata tubuhnya mencelat berputar satu lingkaran menanggalkan semua pelita yang tergantung di atas pohon terus meluncur cepat ke dalam hutan dan menghilang.

Hun Thian-hi terlongong-longong di tempatnya sekian lama menerawang pesan situa Pelita sebelum pergi tadi, pikirnya.

"betapapun jadinya aku harus pergi mencobanya."

Cuaca masih rada gelap, dengan menunggang kudanya Hun Thian-hi melanjutkan perjalanan ke arah utara, entah berapa lama berselang, hari sudah menjelang pagi, namun sepanjang perjalanan ini tiada sesuatu yang diketemukan.

Jauh dikeremangan kabut.

pagi kelihatan bayangan sebuah bangunan kelenteng bobrok.

Setelah melakukan perjalanan sehari semalam badan terasa penat, segera ia turun berjalan kaki sambil menuntun kudanya, setelah menambat kudanya didahan pohon besar langsung ia beranjak memasuki keleteng bobrok itu.

Begitu sampai diambang pintu dilihatnya seorang Hwesio tua tengah duduk samadi di tengah ruangan besar sana.

Hwesio ini begitu tua sehingga jenggotnya panjang memutih menjulai di depan dadanya, wajahnya kelihatan berwarna merah, jubah abu-abu yang dipakainya kelihatan begitu itu bersih tanpa kena debu sedikitpun, sepintas pandang seakan-akan dewata dalam dongeng.

Begitu Thian-hi melangkah masuk wajah si Hwesio tua lantas berseri tawa, serunya.

"Tuan kecil ini datang dari jauh, harap maaf Lo-ceng tidak menyambut secara semestinya."

Diam-diam kaget hati Thian-hi, tanpa membuka mata lantas Hwesio tua ini mengetahui kedatangannya, lekas-lekas ia memberi soja serta sapanya hormat.

"Wanpwe Hun Thian-hi, menghadapi pada Sin-ceng!"

Hwesio tua itu menggoyangkan tangan ujarnya.

"Tuan ini janganlah menggoda Lo-ceng, Loceng sudah biasa mendengarkan derap langkah orang sehingga sekali dengar lantas tahu berapa usia tuan ini, apalagi sekitar sini tiada pedusunan, terang tuan pasti datang dari tempat yang cukup jauh bukan!"

Memang ucapan si Hwesio tua masuk akal, hanya dari derap langkah saja lantas dapat membedakan berapa usia seseorang, apalagi dia tak pernah membuka mata mungkin memang buta.

Tapi bagaimana mungkin seorang diri cacat lagi bisa hidup di tempat yang terpencil ini.

Hwesio tua itu agaknya dapat menebak isi hati Hun Thian-hi, katanya tersenyum.

"Aku punya seorang murid kecil, tapi sekarang sedang keluar."

Hun Thian-hi manggut-manggut, batinnya.

"Tak heran, kukira kau sebatang kara disini. Seorang tua buta lagi mana mungkin bisa hidup di tempat semacam ini!"

Hwesio tua itu tertawa lagi, katanya.

"Silakan duduk tuan, ada beberapa persoalan yang ingin Lo-ceng bicarakan dengan tuan!"

Hun Thian-hi tertegun, pikirnya.

"Aku main terobosan masuk kemari, ada urusan apakah yang hendak dibicarakan oleh Hwesio tua ini?"

Dalam hati ia bertanya-tanya namun ia menurut duduk dihadapan Hwesio tua. Rada lama si Hwesio tua terpekur, katanya.

"Selama enam puluh tahun Lo-ceng menunggu disini, hanya besoklah saatnya yang kunantikan!"

Bercekat hati Thian-hi, menunggu selama enam puluh tahun, jadi paling tidak usia Hwesio tua ini sedikitnya ada delapan atau sembilan puluh tahun, atau mungkin sudah melampaui seabad.

Terdengar Hwesio tua itu sedang bicara.

"Di dalam lembah di belakang kelenteng ini ada sepucuk pohon yang bernama Kiu-thian-cu-ko, enam puluh tahun yang lalu waktu aku datang kebetulan buah dan kembangnya telah gugur, besok justru adalah saatnya ia berkembang dan berbuah masak!"

Berdebur jantung Thian-hi, Kiu-thian-cu-ko adalah buah Dewata yang sukar didapat dengan khasiatnya yang sangat mujarab.

Konon kabarnya setiap enam puluh tahun sekali baru berbuah, jumlah seluruhnya hanya sembilan buah, sungguh tak terduga di tempat ini dirinya bisa menemukan buah dewata yang sangat berharga itu.

Kata si Hwesio.

"Lo-ceng sudah menjaganya selama enam puluh tahun, namun bagi aku kesembilan buah itu tiada gunanya, hari ini kebetulan tuan datang kemari, biarlah aku pinjam bunga persembahan kepada sang Budha (memberi sedekah), kuberikan seluruhnya kepada tuan!"

Keruan Thian-hi terkejut, serunya.

"Mana boleh jadi? Benda macam KUi-thian-cu-ko yang begitu tinggi nilainya dijaga selama enam puluh tahun oleh Sinceng lagi, mana bisa diberikan begitu saja kepala orang lain?"

Hwesio tua tertawa, ujarnya.

"Tapi tidak begitu gampang kau untuk mendapatkan pucuk buah ajaib ini. Ketahuilah ada seekor ular sanca besar yang juga telah menunggu selama enam puluh tahun, masih ada lagi seorang aneh yang menunggunya selama tiga puluhan tahun pula!"

"Begitupun tak mungkin jadi,"

Sahut Thian-hi mengiakan keterangan orang.

"Besok biarlah aku pergi mencobanya, jikalau dapat kurebut, aku rela persembahkan kepada Sin-ceng!"

Hwesio tua menggeleng kepala sambil tersenyum. Kata-Thian-hi lagi.

"Meskipun tiada perlunya bagi Sin-ceng, namun kau sudah susah payah menunggunya selama enam puluh tahun. Kukira tentu sangat memerlukannya bukan?"

"Walaupun Lo-ceng tidak bisa main silat."

Demikian ujar Hwesio tua sembari tertawa-tawa.

"namun hidup sampai setua ini perihal seluk beluk Bulim kuketahui juga. menurut jalan pernapasan tuan ini, bakat dan tulang tuan sungguh merupakan rahmat yang terbaik, apalagi dalam usia menanjak dewasa. Murid Lo-ceng sendiri tidak becus, maka dengan sukarela dan senang hati kuberikan pucuk pohon buah ajaib itu kepada tuan, harap tuan tidak menolak lagi."

Melihat orang bicara begitu tulus dan sungguh hati Thian-hi menjadi tidak enak dan risi.

Toh disana masih ada orang lain yang ingin merebutnya juga, belum tentu dirinya bisa berhasil memetiknya, terpaksa sekarang disetujui dulu saja.

maka segera ia menjawab.

"Terpaksa kunyatakan banyak terima kasih akan karunia Sin-ceng."

Hwesio tua tersenyum ujarnya.

"Suatu hal perlu kutegaskan, kalau tuan sudah setuju maka betapa juga, jangan sampai buah2 ajaib itu terjatuh ketangan orang lain."

Thian-hi menjadi terhenyak melongo, sungguh ia tak habis heran kenapa jalan pikirannya dapat diketahui oleh Hwesio tua ini, terpaksa ia menyahut.

"Wanpwe akan berbuat sekuat tenaga."

"Tuan tentu sangat lelah,"

Begitu ujar Hwesio tua.

"silakan istirahat sebentar!"

Habis berkata.

dengan telapak tangannya ia meng-usap2 di depan muka Thian-hi, kontan Thian-hi lantas tercatuh mendengkur dan tertidur nyenyak.

Waktu Thian-hi siuman dari tidurnya hari sudah terang benderang pada hari kedua.

Tersipusipu Thian-hi meloncat angun, ia heran mengapa sekali tertidur dirinya sampai pulas sehari semalam, waktu ia mengerling Hwesio tua itu sudah tak berada ditempatnya, sesaat ia terlongong, baru sekarang ia sadar bahwa, Hwesio tua ini pasti seorang sakti waktu ia lari keluat tampak kuda hitamnya masih tertambat di bawah pohon sana.

Thian-hi masih teringat pesan Hwesio tua kemaren, maka segera ia menyesuri jalanan kecil menuju ke belakang kelenteng.

Dengan ilmu ringan tubuhnya ia memanjat naik kebukit yang tidak begitu tinggi, tiba dipuncak bukit hidungnya lantas dirangsang bau harum semerbak.

Sebenfar berdiri menerawang keadaan sekitarnya, tampak olehnya diseberang bukit sebelah depan sana terdapat sebuah gua esar, di depan gua ini melingkar seekor ular sanca besar warna putih tengah berhadapan dengan seorang tua yang mengenakan jubah kuning.

Ular dan orang itu diam tak bergerak seperti ajam adonan, masing-masing tiada yang berani bergerak dulu, namun besar hasrat masing-masing untuk mendahului mendapatkan buah ajaib yang berbau wangi.

Agaknya orang tua jubah kuning itu tidak sabaran lagi, gesit sekali ia berkelebat hendak menerjang masuk ke dalam gua, namun secepat anak panah ular sanca putih itu mematuk mengarah tenggorokannya.

Orang tua jubah kuning menjadi gusar, dengan menghardik keras ia melolos sebilah pedang terus membabat kemonciong ular yang ternganga lebar itu.

Ternyata siular besar inipun pandai berkelahi, dengan menekuk badannya ia sampok pedang musuh kesamping tubuhnya terus meluncur hendak menerjang ke dalam gua.

Sijubah kuning menggertak keras, pedangnya berputar mempetakan setabir kabut sinar putih mendesak mundur ular putih itu keluar gua pula, begitulah mereka saling berhadapan lagi diluar gua dengan siap siaga.

Meski hanya melibat beberapa gebrak pertarungan antara ular dan manusia ini namun diamdiam bercekat hati Thian-hi, batinnya, 'kalau kepandaianku dibanding dengan ular dan sijubah kuning terang terpaut teramat jauh sekali.

Kiu-thian-cu-ko itu jangan harap dapat kuperoleh, tapi aku sudah berjanji kepada Hwesio sakti itu, masa lantas mundur begini saja.

Bau harum yang teruar keluar dari dalam gua semakin tebal, jelas sijubah kuning dan ular besar Itu semakin bersitegang leher, pelan-pelan Hun Thian-hi menggeser maju ke arah gua besar itu.

Waktu ia menggeremet tiba di atas samping gua, untung saking tegang dan tumplek perhatian musuh dihadapannya ular dan sijubah kuning tidak mengetahui kehadirannya.

Kelihatan kedua musuh bertengger ini sudah tak sabar lagi, mendadak sijubah kuning mengayun pedangnya menyerang ke arah ular sanca sebat sekali ular putih berkelit tanpa hiraukan sijubah kuning lagi ia mendahului melesat masuk ke dalam gua Tapi gerak-gerik sijubah kuning cukup hebat.

lincah sekali tangan kirinya bergerak dengan telak telapak tangannya memukul ketubuh siular, terdengar ular putih mendesis keras, tubuhnya melenting balik mematuk kedua biji mata sijubah kuning.

Terpaksa sijubah kuning mundur selangkah, pedang ditangan kanan lagi-lagi membabat ke kepala musuh.

Siular putih terdesak dan mundur berkelit, kontan jubah kuning timpukan pedangnya mengarah kedua biji mata sang ular, tanpa melihat apakah serangannya bakal berhasil segera ia menerobos masuk ke dalam gua.

Keruan ular putih menjadi gugup, tubuhnya masih cukup gesit bergerak namun tak urung badannya sudah kena luka tergores, namun ia berhasil melenting maju merintangi si jubah kuning masuk ke dalam gua, maka dengan geram sijubah kuning ayun jotosannya menghantam sekuatnya menggetar mundur sang ular, sementara waktu mereka berhadapan lagi tanpa bergerak.

Diam-diam Thian-hi menghela napas lega, katanya dalam hati "Untung!

Masih belum ada ketentuan pihak mana yang menang dan asor, kalau tidak sedikitpun ak takkan punya harapan."

Tengah ia termenung sekonyong-konyong ia merasa telinganya seperti dikili2 dengan hembusan angin silir, keruan kejutnya bukan kepalang, lekas-lekas ia berpaling dilihatnya seorang Hwesio kecil yang bertubuh tambun buntak tengah berseri tawa kepadanya.

Mengkirik kuduk Thian-hi, untung orang tiada niat mencelakai jiwanya, kalau tidak sejak tadi jiwanya tentu sudah melayang.

Sekian lama Hwesio cilik itu tertawa-tawa lucu lalu berseru lirih.

"Kau ingin mendapatkan Kiuthian-cu-ko itu bukan?"

Thian-hi manggut, baru saja ia hendak bicara, Hwesio cilik sudah mencegahnya dengan mendesis mulut dan menegakkan jari tangannya di depan mulutnya, begitu menarik tangan Thianhi terus diajak lari kebawah bukit.

Thiar-hi mandah saja diseret kebawah bukit tanpa mampu mengeluarkan tenaga untuk meronta.

Setiba di bawah Hwesio cilik itu memandang Thian-hi dan berkata.

"Kalau kau ingin benar-benar, aku bisa membantu kau!"

Thian-hi rada sangsi, namun akhirnya ia berkata.

"Harap tanya Siausuhu ini bergelar nama siapa?"

"Siausuhu apa?"

Dengus Hwesio cebol itu rada tak senang.

"usiaku jauh lebih tua dari kau, orang lain sering panggil aku Siau-hosiang (Hwesio jenaka), kau panggil aku Siau-hosiang saja!"

Hati Thian-hi menjadi geli dan ingin tertawa, namun tak enak dikatakan, terpaksa ia manggutmanggut saja, katanya.

"Siau-hosiang! Kau ada cara baik apa?"

Hwesio cilik bernama Siau-hosiang terkekeh-kekeh melebarkan mulutnya tanpa membuka kata.

Thian-hi tahu bahwa ilmu silat Hwesio jenaka ini jauh lebih tinggi dari kemampuannya, kalau sudi membantu betul-betul merupakan pembantu yang boleh diandalkan, maka ia menambahi.

"Kalau sudah dapat nanti kita bagi rata hasilnya bagaimana?"

Hwesio jenaka menarik muka, jengeknya.

"Bagi rata? Kataku tadi aku hanya membantu kepadamu, kalau aku mau gampang saja aku turun kesana mengambilnya, buat apa harus bagi rata dengan kau apa segala!"

Terpaksa Thian-hi minta maaf, sambungnya.

"Tapi kau hanya tertawa-tawa saja tidak beritahu cara bagaimana harus bekerja, kalau....,"

"Ah, ada aku disini masa perlu kuatir apa lagi?"

Kata Hwesio jenaka sambil menepuk dada. Melihat sikap Hwesio cilik yang takabur ini, Thian-hi menjadi uring-uringan, katanya.

"Jangan kau bicara begitu takabur!"

Hwesio jenaka tertegun sebentar lantas melebarkan mulutnya lagi terkekeh-kekeh, serunya.

"Memang benar-benar, tapi aku ada pegangan dan pasti berhasil. Hari ini kau ada kerja maka kubantu kau kelak kalau aku punya urusan dan minta bantuanmu apakah kau sudi membantu?"

Thian-hi tercengang, tanyanya.

"Kau ada urusan apa?"

"Sekarang tiada,"

Sahut Hwesio jenaka dengan riang.

"maksudku kelak kemudian hari kalau aku kena perkara apakah kau sudi membantu aku?"

"Tidak kau jelaskan urusan apakah itu, mana aku tahu dapatkah aku membantu?"

Hwesio jenaka menunduk berpikir sebentar lalu angkat kepala serunya.

"Mari kita naik ke atas!"

Begitulah dilain saat mereka sudah tiba dipuncak bukit, waktu memandang ke depan sana kelihatan sijubah kuning dan ular putih masih bersitegang leher berhadapan. Kata Hwesio jenaka.

"Biar aku turun kesana, kau bekerja menurut isyaratku!"

Thian-hi manggut-manggut, Hwesio jenaka tertawa lebar kepadanya terus berjalan bergoyang -gontai seperti gentong!

menggelinding ke bawah lembah sana.

Sekilas sijubah kuning dan ular putih berpaling ke arah Hwesio jenaka lain berpaling lagi bersiaga.

Hwesio jenaka terloroh-loroh menghampiri ke arah sijubah kuning serunya.

"Sicu tua ini, apakah yang kau tengkarkan dengan ular putih ini?"

Sijubah kuning mendengus hidung tanpa hiraukan dirinya.

Sembari tertawa-tawa Hwesio jenaka melangkah lebar masuk gua.

Tersipu-sipu si jubah kuning dan ular putih itu menghadang di depannya, dengan pura-pura kaget Hwesio jenaka melompat mundur teriaknya.

"Waduh! Hebat benar-benar!"

Teriak sijubah kuning.

"Hwesio cilik, tiada urusanmu disini, lekas minggir!"

"Sicu tua,"

Ujar Hwesio jenaka.

"salah ucapanmu, aku Hwesio cilik ini ingin masuk kesana untuk istirahat, kenapa kau menghadang merintangi aku?"

Sijubah kuning tahu bahwa kepandaian Hwiesio jenaka tidak lemah, maka katanya lagi.

"Hwesio cilik, kau usir ular-ular ini, Kiu-thian-cu-ko yang berada di dalam gua nanti boleh kita bagi dua, bagaimana?"

"Kiu-thian-cu-iko apa?"

Hwesio jenaka pura-pura membodoh.

"aku belum pernah dengar!"

S ijubah kuning menggeram jengkel, katanya gegetun.

"Mari kau bantu aku mengusir ular ini saja."

"Itu boleh," -sahut Hwesio jenaka manggut-manggut.

"selamanya, aku Hwesio cilik paling suka membantu kesulitan orang, tapi kalau aku bantu kau mengusir ular ini, kau jangan mengganggu tidur nyenyakku lho!"

"Baik!' sahut sijubah kuning aseran. Hwesio jenaka putar tubuh menghadapi siular putih, dengan gentar ular putih surut ke belakang terus melingkar bundar, kepalanya menegak tinggi dengan lidah melelet2 mengawasi Hwesio jenaka. Hwesio jenaka sendiri kelihatan rada takut-takut, selangkah demi selangkah maju mendekat, tangan diulur ke depan lalu ditarik kembali cepat, mulutnya berkaok.

"Sicu tua, marilah kau maju membantu."

Biji mata sijubah kuning berputar-putar, ia jemput pedang panjang di tanah terus berlari kencang menerobos masuk ke dalam gua.

Ular putih ternyata sudah siaga, tidak kalah cepatnya iapun melesat mengejar ke arah sijubah kuning, tangkas sekali sijubah kuning memutar badan seraya melontarkan pedangnya.

mengarah siular putih, gesit sekali ular putih nenekuk badan menukik kebawah seraya pentang mulutnya mematuk pundak sijubah kuning.

Terdengar sijubah kuning menggerung keras, tangan kanannya membalik mencengkeram leher ular dengan kencang tidak dilepas!agi.

Kesempatan ini digunakan oleh Hwesio jenaka lari ke dalam gua, tak lama kemudian kelihatan ia berlari keluar lagi sambil menggembol seonggok dedaunan terus berlari kencang ke atas bukit.

Sijubah kuning berteriak panjang, dengan gusar ia mengumpat caci terus bergerak mengejar dengan kencang.

Sekejap saja suara teriakannya semakin jauh dan tak terdengar lagi.

Thian-hi menghela napas lega, dari atas bukit ia melihat tegas, dedaonan yang dibawa lari oleh si Hwesio cilik bukan lain hanya dahan pohon yang lebat dengan daun-daunnya yang menghijau.

Tapi bagi penglihatan sijubah kuning Kesekelebatan warna hijau pupus, sungguh tak terpikirkan olehnya bahwa ini merupakan jebakan memancing harimau meninggalkan sarangnya, tanpa pikir panjang segera ia lari mengejar sembari membawa ular putih itu.

Cepat-cepat Thian-hi turun ke dalam lembah terus masuk ke dalam gua, setelah membelok sebuah tikungan tampak sebelah depan sana terdapat sebuah jembangan dengan airnya yang jernih kelihatan dasarnya.

Ditengah jembangan ini kelihatan tumbuh sepucuk pohon kecil berdaon sembilan berbuah sembilan biji warna merah darah, warna daonnya hijau pupus berkilau menjadi sangat kontras sekali dengan warna buahnya....

Dalam-dalam Thian-hi menyedot hawa, terasa bau harum merangsang hidung menyegarkan badan dan membangkitkan semangat.

Sungguh mimpi juga tak terduga sebelumnya bahwa buah ajaib yang tak ternilai itu betul-betul berada di depan matanya.

Sesaat ia menjadi kememek dan tidak tahu cara bagaimana ia harus bekerja, tanpa mengeluarkan sedikit tenagapun ia bakal memperoleh buah dewata yang sukar didapat, kalau dikata memang sukar dipercaya, tapi kalau rejeki ini ditolak tak lama kemudian buah dan daon ajaib ini segera bakal menjadi kuju dan laju.

Tengah Thian-hi terpekur tiba-tiba sebuah bayangan orang meluncur hinggap di depannya, Thian-hi terperanjat dan menyurut mundur, waktu ia menegasi kiranya si Hwesio jenaka.

Tetap dengan sikapnya yang tertawa-tawa Hwesio jenaka berkata.

"Bagaimana? Eh tidak lekas kau ambil dan menemuinya, sebentai lagi bakal laju kering lho!"

"Siausuhu kenapa kau sendiri tidak mau menelannya?"

Tanya Thian-hi.

"Segala sesuatu di dunia ini pasti ada sebab dan akibatnya. Jika sudah ditakdirkan bahwa buah ajaib ini bakal menjadi milikmu, lekaslah Sicu menelannya!"

Thian-hi masih rada sangsi, tiba-tiba Hwesio jenaka melompat maju menutuk jalan darahnya, cepat-cepat kesembilan buah merah itu dipetik terus dijejalkan semua kemulut Hun Thian-hi.

Terasa oleh Thian-hi rasa manis dan harum tertelan melalui tenggorokannya terus melebar keseluruh tubbhnya, tak terasa lagi kepalanya menjadi berat dan ia jatuh pingan.

Entah berapa lama berselang waktu ia pelan-pelan siuman dilihatrrja.

Hwesio jenaka tengah berdiri disamping sambil tertawa riang, ditangannya masih menyekal pucuK daun warna hijau berjumlah sembilan tangkai.

Sedikit bergerak lantas Thian-hi rasakan badannya sangat enteng.

"Kusampaikan selamat. tuan kecil!'"

Ujar Hwesio jenaka menggoda.

"Akupun banyak terima kasih akan bantuan Siausuhu!"

Jawab Thian-hi sungguh-sungguh.

Hwesio jenaka memalingkan kepalanya, mulut bergerak hendak bicara namun diurungkan.

Teringat oleh Thian-hi akan permintaan Hwesio jenaka di atas bukit tadi, maka katanya.

"Siausuhu. kalau kau betul-betul memerlukan bantuanku, dimana dan kapan saja pasti aku membantumu sekuat tenagaku!"

Hwesio jenaka berseri tawa.

"Sembilan tangkai daun ini merupakan benda yang sangat berharga, silakan kau simpan Saja!"

Melihat orang tidak menyinggung persoalan tadi, Thian-hi rada kikuk dan jadi menyesal, dengan menunduk ia sambuti kesembilan tangkai daun hijau lalu hati-hati disimpan ke dalam baju.

"Kau sudah tidur sehari lamanya,"

Kata Hwesio jenaka.

"hari ini tepat hari ketiga boleh kau pergi menemui Situa Pelita itu!"

Thian-hi melengak, tak habis herannya dari mana Hwesio jenaka ini mengetahui perihal pertemuannya dengan situa Pelita itu.

Hwesio jenaka mandah tertawa lucu, semoga Selamat berjumpa kelak!" -hilang suaranya badannya pun melenting keluar gua.

Thian-hi menjublek ditempatnya sekian lamanya baru pelan-pelan beranjak keluar dari gua, sedikit menyedot hawa dan mengempos semangat badannya lantas bergerak ringan seenteng asap seperti menunggang awan, keruan ia melengak dan keheranan, sungguh diluar tahunya bahwa khasiat buah ajaib itu ternyata begitu aneh dan mustajab.

Begitu ia ganti napas badannya lantas meluncur turun, segera ia empos semangatnya terus berlari kencang kepuncak bukit betapa cepat luncuran tubuhnya sungguh sangat mengejutkan dan diluar perhitungannya, sekejap mata ia sudah tiba di depan gunung lagi.

Waktu ia melangkah memasuki keleteng brobrok itu keadaan sunyi senyap tiada seorang pun yang tinggal hanya kasur bundar buat semadi itu.

Thian-hi berlutut serta menyembah empat kali ke arah kasur bundar itu lalu keluar dari pintu samping, setelah mengambil kudanya ia berjalan balik ke arah datang semula.

Pengalaman tiga hari ini seolah-olah dalam mimpi saja, suatu kejadian yang agaknya tak mungkin terjadi, namun kenyataan telah dialami olehnya.

Hwesio tua itu sudah menunggu selama enam puluh tahun akhirnya buah itu diberikan kepada dirinya secara mentah-mentah, demikian juga Hwesio jenaka suka rela membantu dirinya tanpa pamrih.

Waktu ia membedal kudanya sampai di tempat semula, tampak Situa Pelita sudah menunggunya duduk di bawah pohon besar yang rindang.

Tersipu-sipu Thian-hi turun dari tunggangannya terus menjura dalam.

Dengan cermat situa Pelita mengawasi Thianhi sambil tersenyum simpul, katanya.

"Apakah kau sudah bertemu dengan Go-cu Taysu?"

"Go-cu Taysu?"

Ulang Thian-hi dengan tak mengerti. Situa Pelita melengak, tanyanya.

"Apa kau tidak jumpa dengan beliau?"

"Apakah beliau seorang Hwesio tua yang buta sepasang matanya serta beralis dan berjenggot putih?"

"Bukan!"

Sahut situa Pelita.

"Kedua biji mata Go-cu Taysu tidak buta. Apa kau benar-benar tidak berjumpa dengan Go-cu Taysu?"

Hun Thian-hi termenung beberapa saat tanpa buka suara lagi.

"Apakah kau sudah sampai di kelenteng bobrok itu?"

Desak situa Pelita. Thian-hi manggut, sahutnya.

"Tapi yang kutemukan hanya seorang padri tua yang buta!"

"Begitulah 'jodoh', beliau tentu Go-cu Taysu adanya. Seluruh kaum persilatan di kolong-langit ini yang paling ditakuti oleh Bu Bing Loni hanya beliau seorang. Dan hanya Bu Bing Loni dan aku saja dari seluruh jagat ini yang mengetahui adanya tokoh yang lihay ini!"

Thian-hi kesima sekian lama, katanya.

"Kiu-thian-cu-ko yang beliau tunggu 5elama enam puluh tahun telah diberikan kepadaku!"

"Apa?"

Situa Pelita tersentak kaget. Thian-hi lantas tuturkan pengalamannya selama tiga hari ini. Situa Pelita manggut-manggut serta katanya tersenyum.

"Begitupun baik, sayang kalau Go-cu Taysu sendiri mau memberi petunjuk langsung kepadamu tentu lebih besar manfaatnya!"

Diam-diam Thian-hi bertanya-tanya dalam hati, tokoh macam apakah sebenar-benarnya Go-cu Taysu itu, betapa tinggi ilmu kepandaiannya. Situa Pelita tertawa-tawa, ujarnya.

"Namun rejeki yang kau peroleh pun merupakan karunia yang sukar didapat oleh orang lain. Tapi kau harus tahu ini baru permulaan dari 'Sebab' itu, kelak tentu banyak pekerjaan dari 'akibat' itu untuk kau selesaikan."

"Kemanakah kiranya Go-cu Taysu sekarang, apakah Cianpwe tahu jejaknya?"' "Orang muda jangan terlalu serakah. Jejak Go-cu Taysu selamanya. sukar diketahui orang, buat apa kau tanya kepadaku?"

"Bukan begitu maksudku, tujuanku hanya ingin tanya berbagai persoalan kepada beliau!"

Situa Pelita geleng-geleng kepala, ujarnya.

"Mungkin kalau ada jodoh atau secara kebetulan saja baru kau ada kesempatan bertemu dengan beliau!"

Sesaat mereka berdiam membungkam, Situa Pelita membuka suara.

"Sijubah kuning itu kuduga adalah Mo-lam-it-koay, sedang Hwesio jenaka itu aku kurang terang. Karena kejadian ini ia menanam permusuhan dengan Mo-lam-it-koay, kelak tentu banyak perhitungan yang harus kau pikul!"

Diam-diam Thian-hi mencatat nama Mo-lam-it-koay dalam sanubarinya.

"Aku masih punya urusan yang harus segera kuselesaikan. Rejekimu begitu nomplok maka kau harus hati-hati dan bisa menjaga diri baik-baik karena ilmu silatmu sekarang belum mencukupi Gin-ho-sam-sek pemberian Soat-san-su-gou boleh kau pelajari dulu, belakang hari kalau ada jodoh kita bisa berjumpa kembali!" -habis berkata terus tinggal pergi. Setelah situa Pelita hilang dari pandangan matanya Thian-hi merasa hatinya hampa dan cemas, lama dan lama kemudian baru ia cemplak kudanya melanjutkan perjalanan ke depan. Sejak menelan Kiau-thian-cu-ko Lwekangnya maju pesat, sepanjang perjalanan ini tak mengenal kesal ia pelajari ilmu Gin-ho-sam-sek. Tak terasa tahu-tahu tiga hari sudah lewat, selama ini ia tidak menemui rintangan apa di tengah jalan. Tapi ia tahu bahwa seratusan li di sekitarnya banyak orang tengah memata2i dirinya. Hari itu pagi2 benar-benar Thian-hi sudah congklang tunggangannya melanjutkan perjalanan. Kira-kira puluhan li kemudian, tiba-tiba puluhan kuda tunggangan membedal datang dari belakang. Thian-hi hentikan kudanya menunggu, puluhan ekor kuda itu melesat lewat di kedua sampingnya, terus secepat kilat dihentikan dan putar balik berdiri jajar mencagat di depan Thianhi. Terlihat oleh Thian-hi puluhan orang itu mengenakan seragam pendek warna hijau, punggung mereka mengenakan mantel besar, hanya seorang yang ditengah adalah seorang gadis remaja yang mengenakan pakaian serba merah, mantel yang dikenakan pun warna merah menyolok. Orang yang paling pinggir memajukan kudanya serta bertanya kepada Thian-hi.

"Apakah kau ini murid Lam-siau Hun Thian-hi?"

Hun Thian-hi manggut-manggut tanpa buka suara. Terdengar orang itu berseru lantang.

"Atas perintah dari Hwi-cwan Pocu, persilahkan Hunsiauhiap mampir sebentar di Hwi-cwan-po!"

Thian-hi menyapu pandang dulu ke puluhan orang itu baru balas tanya.

"Untuk urusan apa?"

"Siauhiap akan tahu setelah sampai disana!"

Thian-hi tertawa tawar, katanya.

"Terima kasih akan maksud baik Pocu kalian. Harap beri lapor kembali pada Pocu kalian katakan bahwa aku Hun Thian-hi punya urasan penting, belakang hari kalau ada waktu tentu aku mampir kesana!"

Orang itu tertegun sebentar lalu berpaling ke arah gadis baju merah.

"Sekarang juga. harus kesana!"

Akhirnya gadis baju merah ikut bicara.

"Karena urusan Leng Bu bukan?"

Seru Thian-hi sembari gelak tertawa.

"Siapapun boleh dan harus membunuh Leng Bu, betapa tercela sepak terjangnya masa Hwi-cwan-po ada maksud menuntut balas baginya?"

Gadis baju merah menarik muka, bentaknya.

"Kau tidak mau pergi terpaksa kita gunakan kekerasan!"

Thian-hi menjengek dingin.

"Ya, biar aku belajar betapa hebat tiga belas jurus Hwi-cwan-kinsoat dari Hwi-cwan-po kalian!"

Gadis baju merah tertawa dingin, para kerabatnya segera maju merubung kesekeliling Thian-hi.

Thian-hi pentang lebar matanya manyapu pandang para pengepungnya, tahu dia bahwa hari ini terpaksa ia harus gunakan kekerasan lagi.

Maka segera kudanya dikeprak maju terus menerjang lebih dulu.

Serentak puluhan mantel bertebaran menari2 menggulung berbareng ke arah Thian-hi.

Thian-hi menggertak keras tubuhnya mencelat tinggi ke tengah udara sedang kudanya masih membedal ke depan terus, ditengah udara Thian-hi mainkan gaja tubuhnya yang indah berkelit kian kemari dari samberan mantel2 musuh dan membelesot lewat dari tengah celah kepungan musuh terus meluncur duduk kembali dipunggung kudanya.

Baru saja belum sempat ia membetulkan tempat duduknya, terdengar teriakan nyaring merdu sekuntum awan merah disertai angin menderu keras menerpa ke arah dirinya.

Tahu Thian-hi bahwa gadis baju merah telah menunjukkan aksinya.

Tanpa ayal ia dorong ke depan kedua telapak tangannya memapak menyambut serangan mantel merah lawan Begitu serangan pertama gagal, jurus kedua yang lebih hebat dari sigadis baju merah telah melandai tiba pula.

Thian-hi tidak perlu gentar mengingat Lwekangnya baru saja maju berlipat ganda, enteng sekali tangan kanan dijulurkan keluar mencengkerana mantel gadis baju merah terus dibetotnya mentah-mentah, dan usahanya ternyata berhasil.

Tapi seiring dengan lari kudanya yang membedal lewat cepat-cepat ia timpukkan pula mantel rampasannya kemuka gadis baju merah, maka dilain kejap ia sudah menyongklang kudanya ke depan.

Gadis baju merah kelabakan sebentar, namun dilain saat ia sudah larikan kudanya pula mengejar dengan kencang.

Dari kejauhan terdengar gadis baju merah berteriak.

"Berani kau lari! Ketahuilah gurumu tertawan di Hwi-cwanj-po, malah Pak-kiam suami isteri juga disana."

Terkejut Thian-hi, segera ia tarik kendali kudanya sehingga lari pelan-pelan. Waktu ia berpaling tampak gadis baju merah memutar balik kudanya seraya berseru.

"Kau mampir tidak terserah kepadamu!"' Thian-hi menghentikan kudanya terus memutarnya balik. Melihat Thian-hi putar balik gadis baju merah tertawa senang, kakinya menendang perut tunggangannya terus dibedal ke depan. Sungguh berat perasaan Thian-hi. Sungguh daluar tahunya, bahwa gurunya bisa tertawan oleh Hwi-cwan-po di Kanglam, tak bisa tidak ia harus percaya akan berita ini karena hari itu ia tinggal lari begitu saja Lam-siau dan Pak-kiam berdua masih bertempur seru, setelah ia lolos kemungkinan besar Thi-kiam Lojin dan Im-hong-ciang Lim Bing kembali dan mengeroyok mereka, dapatlah dibayangkan pihak mana bakal menang. Melihat Thian-hi kena terpancing akan kata-katanya dan tunduk berpikir, gadis baju merah berpaling dan berteriak lagi.

"Lekas! Apa lagi yang kau pikirkan?"

Thian-hi angkat kepala, pikirnya urusan sudah ketelanjur sedemikian jauh terpaksa aku harus ikut mereka ke Hwi-cwan-po, Karena pikirannya ini segera ia tendang perut kudanya terus dibedal ke depan.

Gadis baju merah tertawa lebar, tangannya diulapkan memberi aba-aba, puluhan anak buahnya segera bergerak mengelilingi sekitar Thia-hi berlari kencang.

Sekilas Thian-hi menyapu pandang mereka, namun tak bicara apa-apa kudanya dilarikan terus mengintil di belakang gadis baju merah.

Entah berapa lama dan betapa jauh perjalanan yang sudah ditempuh ini, tiba-tiba jauh di depan sana kelihatan puluhan kuda mendatangi dengan cepat.

Begitu dekat puluhan kuda itu lantas berjajar rapi menghadang di tengah jalan.

Dengan muka dingin membeku Gadis baju merah mengajukan kudanya lebih dekat, matanya yang jeli berputar menyorotkan sinar tajam menatap satu persatu para pendatang ini.

Melihat cara dandanan para pendatang ini diam-diam Thian-hi terkejut, pikirnya, kenapa anak buah Tong-ting-kun juga meluruk kemari?

Pada jauh di belakang sana berlari kencang seekor kuda putih tengah mendatangi....

seorang pemuda yang membekal pedarg panjang menerobos lewat dari puluhan pencegat itu terus menghampiri ke depan gadis baju merah.

"Nyo Seng!"

Teriak gadis baju merah gusar.

"Kenapa kau menghadang perjalanan kita?"

Pemuda itu bergelak tawa serunya.

"Nona Ciok, pihak Hwi-cwan-po kalian tiada punya permusuhan dengan Hun Thian-hi. Urusan Kim-i-kongcu Leng Bu biarlah diselesaikan oleh ayahnya Sing-hu Lojin tak perlu kalian ikut campur.

"Tapi engkohku menjadi korban ditangan Hun Thian-hi, ayah menitahkan kepadaku kemari untuk meringkusnya, bagaimana menurut pendapatanmu?"

"Hwi-cwan-kian-soat-cap-sa-sek yang dimainkan Leng Bu itu milik siapa masa kau tidak tahu?"

Jengek gadis baju merah dengan uring-uringan.

"Benar-benar!"

Seru Nyo Seng tertawa-tawa.

"Tapi kau harus tahu Hun Thian-hi membunuh engkohku, sedang Leng Bu bagi Hwi-cwan-po kalian tidak lebih hanya murid murtad melulu!"

Gadis baju merah mendengus hidung, belum sempat ia bicara Nyo Seng sudah berkata lagi.

"Apakah Hwi-cwaw-po di Kanglam tidak mengenal tata tertib dunia persilatan?"

Seru gadis baju merah.

"Nyo Seng! Jangan kau pura-pura, kau sangka aku tidak tahu apa yang kau pikirkan? Kalau kau benar-benar ingin minta orang, mari silakan datang ke Hwi-cwan-po saja!"

Sembari berkata ia jepit perut kudanya seraya mengayun tangan terus menerjang ke depan.

Nyo Seng menjengek dingin, sebelah tangannya membalik melolos pedang, para pengikutnya serempak juga melolos keiuar senjata masing-masing untuk merintangi jalan si gadis baju merah.

Terdengar gadis baju merah menghardik nyaring tangan yang lain menanggalkan mantel merah di punggungnya terus diobat-abitkan sembari menerobos maju dengan kencang.

Nyo Seng melintangkan pedangnya, dengan kekerasan ia berusaha merintangi orang, teriaknya.

"Nona Ciok, kalau kau tidak mematuhi peraturan dunia persilatan jangan salahkan aku Nyo Seng tidak mengenal kasihan lagi."

Dalam pada itu gadis baju merah sudah menerjang tiba, mantel merahnya segera dikebutkan ke arah Nyo Seng tanpa pedulikan peringatannya.

Terpaksa Nyo Seng angkat pedangnya menyontek dan membabat ke arah mantel merah yang menggulung tiba.

Tapi permainan mantel si gadis merah ternyata cukup lihay, terdengar ia menghardik keras, kelihatan mantel merahnya berkembang lebar seperti sekuntum awan merah berterbangan menari2 laksana kupu2 merah besar.

Dengan deras si gadis baju merah lancarkan ilmu Hwi-cwan-kian-soat-cap-sa-sek mendesak kepada Nyo Seng.

Tapi Nyo Seng tidak gentar, sambil tertawa dingin ia berkelit ke samping sembari memberi aba-aba kepada para pengikutnya untuk menyerbu bersama.

Para kerabat dari Hwi-cwan-po juga tidak mau unjuk kelemahan serentak mereka pun menanggalkan mantel masing terus menyerbu ke depan.

Seketika terjadilah pertempuran kalangkabut di atas kuda, suasana menjadi riuh meriah.

senjata berdenting diselingi teriakan menggeledek serta pekik kesakitan yang jatuh menjadi korban terutama bebenger kuda-kuda yang luka dan sekarat.

Suasana pertempuran menjadi semakin kalut karena pemandangan menjadi gelap oleh mengepulnya debu yang menabirkan kabut ke-kuning2an.

Diam-diam Hun Thian-hi menerawang"

Pertempuran di hadapannya dengan berbagai pertimbangan yang menggejolak dalam sanubarinya.

Pertempuran kedua golongan ini pasti bukan melulu karena sakit hati atau balas dendam saja, tentu ada latar belakang yang tersembunyi mungkinkah...., terpikir sampai disini tanpa merasa ia mendengus hidung dengan gemes.

Begitulah pertempuran ini berjalan secara keras lawan keras, sorak-sorai terus terdengar untuk menambah semangat tempur mereka.

Namun tak disadari oleh mereka saking nafsu untuk merobohkan lawan masing-masing bahwa kedua belah pihak sudah jatuh korban sedemikian banyak, boleh dikata separo dari jumlah mereka sudah berjatuhan menggeletak di tanah dengan berlumuran darah, namun semangat tempur kedua belah pihak tetap tinggi dan terus berkutet.

Sementara itu, kepandaian Nyo Seng memang setingkat lebih rendah dari lawannya, setelah bergebrak puluhan jurus akhirnya ia terdesak di bawah angin oleh gadis baju merah.

Apalagi dilihatnya korban anak buahnya juga semakin banyak, akhirnya sembari menghardik keras.

"Berhenti!"

Ia meloncat mundur.

Pertempuran segera berhenti dan anak buah masing-masing mundur ke tempat masing-masing.

Mengawasi para korban yang malang melintang di atas tanah, Nyo Seng menggeram dengan mengertak gigi.

"Ciok Yan! Nyo Seng hari ini mengakui keunggulanmu. Tapi dalam sepuluh hari ini pasti kita berkunjung ke Hwi-cwan-po."

Dengan sombong gadis baju merah yang bernama Ciok Yan menyahut.

"Terserah kapan kau mau datang. Hwi-cwan-po selalu menanti kedatangan kalian!"

Dengan mengerling Nyo Seng memandang ke arah Hun Thian-hi, lalu mendelik ke arah Ciok Yan terus memutar kudanya dibedal lari sekencang-kencangnya....

Bab Liong Lui sendiri sudah maklum kalau bertempur secara kekerasan tentu Ciat-jit-chiu takkan mampu mengambil keuntungan, tapi apakah lawan begitu goblok?

Begitulah waktu Oh Lun lancarkan pukulannya yang ganas itu cepat-cepat ia berloncatan menghindar, setiap kesempatan tentu tidak disia-siakan untuk menyergap dan balas menyerang.

Tiba-tiba badan Oh Lun melejit ke atas, badannya berputar dan tiba-tiba tangannya membalik terus menekan kebawah dari atas menggencet kepala Liong Lui, Liong Lui mengerahkan tenaga pada kedua kakinya untuk bergerak semakin cepat, tubuhnya berloncatan seperti kupu2 menari di atas sekuntum bunga, terdesak oleh keadaan terpaksa ia angkat tangan untuk menangkis tindihan berat serangan Ciat-jit-chiu Oh Lun.

Ditengah udara Oh Lun bisa bergerak begitu lincah seperti burung camar, mendadak badannya menggeliat sehingga, ia meluncur turun disamping Thian-mo-kiam, kedua jari tangan kirinya terangkat terus menutuk keketiak kiri Liong Lui.

Terkejut Liong Lui dibuatnya, cepat-cepat ia melangkah mundur mengegos.

Tapi serangan Oh Lun ini sungguh punya gaja tersendiri, dari menutuk ia rubah menjadi pukulan telapak tangan, dengan jurus tipu Tiang-song-tiam-soat (Pohon Siong menutul salju).

telapak tangannya berubah laksana kabut putih yang berlapis2 mendesak kemuka Thian-mo-kiam Liong Lui.

Terpaksa Liong Lui angkat kedua tangannya untuk menangkis dengan kekerasan.

terasa kekuatan dahsyat bagai gugur gunung menerpa dan menindih bergelombang tak putus2 sehingga kakinya sempoyongan mundur tiga langkah, akhirnya ia berdiri menjublek dengan muka pucat pasi.

Ciat-jit-chiu Oh Lun lantas membalik tubuh menghadapi ke arah pemuda jubah putih sambil menjura dalam, dengan tangannya sipemuda jubah putih memberi isyarat, cepat-cepat oh Lun duduk kembali ke tempatnya.

Dengan muka pucat Thian-mo-kiam Liong Lui memutar tubuh memandang ke orang tua jubah merah, dengan kedipan mata ia menyuruh Liong Lui, mundur, dengan malu dan tunduk Liong Lui mundur ketermpat duduknya sendiri.

Tampak mata sipemuda jubah putih berkilat dengan puas dan bangga.

Dengan lirikan tajam Ko-bok-it-koay Tio Hong-ho mengawasi pemuda jubah putih bergegas ia berdiri serta menantangnya.

"Aku yang rendah Tio Hong-ho, tidak tahu diri ingin belajar kenal dengan kepandaian Pangcu Partai putih yang luar biasa"

Kiong-sa-khek Ki Kang terloroh-loroh berdiri, serunya.

"Tio Hong-ho, jangan kau bersikap purapura gede, kenapa tidak secara langsung saja kau tunjuk aku, mengandal kau rasanya tiada berharga untuk bermain-main dengan Pangcu kita."

Sikap Tio Hong-ho juga tidak kalah dingin, jengeknya.

"Pangcu Partai putih, sudah lama aku Tio Hong-ho mendengar ketenaran namamu, hari kita berjumpa disini, kenapa tidak berani unjuk muka aslinya?"

Ki Kang melangkah ke tengah gelanggang, serunya.

"Tio Hong-ho kau tak usah putar bacot, marilah aku saja yang akan melayani kau."

Saking gusar Tio Hong-ho bergelak tawa, akhirnya dengan sikap kaku ia mendesis.

"Ki Kang, betapa besar jagat ini bukan hanya seorang kau yang berkepandaian tinggi, Marilah hari ini kau saksikan dan rasakan betapa aku Tio Hong-ho tidak mudah dihina."

Sementara itu Ki Kang sudah menyoreng pedang dan berdiri menanti.

Begitu maju Tio Hong-ho lantas ayun tongkat kayunya menyerang kepada Ki Kang.

Begitulah merekai mulai saling serang menyerang dengan segala tipu daya untuk merobohkan lawannya, sekejap saja saking cepat gerakan mereka seratus jurus sudah dicapai.

Keadaan dua belah pihak masih sama kuat sulit dibedakan siapa lebih unggul atau asor.

Mendadak pintu besar ruangan diterjang dari luar, tampak sebarisan anak buah Partai putih menerobos masuk, pemuda jubah putih berkedok bergegas berdiri, dalam hatii ia sudah menduga pasti terjadi sesuatu diluar dugaan yang sangat gawat.

Ciok Hou-bu mengerutkan kening, siang-siang sudah perintahkan kepada seluruh penghuni perkampungannya supaya tidak merintangi anak buah Partai merah dan putih, biarlah mereka saling bentrok dan bertempur mati-matian.

Sekarang dilihat gelagatnya seperti Partai putih kena perkara gawat, entah apa, jika Partai putih sampai mengundurkan diri, situasi yang menguntungkan pihak dirinya bakal berantakan, mengandal tenaga sendiri mungkin Hwi-cwan-po bakal runtuh total dan tak mungkin kuasa berdiri di kalangan Kang-ouw.

Seluruh anak buah Partai Putih meluruk ke hadapan Pangcu mereka, sementara itu terpaksa Ki Kang menghentikan pertarungannya dengan Tio Hong-ho.

Salah seorang anak buah Partai Putih melapor dengan gugup.

"Lapor Pangcu, Thian-san-siang-long...."

Pemuda jubah putih menggertak sekali memutus laporan anak buahnya, dengan berpaling ia mendelik awasi orang tua jubah merah. Kontan orang tua jubah merah terbahak-bahak, serunya.

"Sungguh aku ikut menyesal bahwa Partai Bun-pangcu tengah terjadi suatu tragedi, kalau Bun-pangcu memerlukan bantuan dan tenaga kita beramai, setelah urusan disini selesai segera kami akan membantu sekuat tenaga."

Biji mata pemuda jubah putih memancarkan sinar cemerlang yang aneh, sungguh tak habis herannya darimana mungkin orang tua jubah merah ini tahu bahwa dirinya she Bun?

Tapi dalam situasi yang genting ini tiada tempo untuk banyak pikir, cepat ia memberi perintah kepada Kiongsa-khek Ki Kang dan Ciat-jit-chiu Oh Lun.

"Jiwi Tongcu harap segera kembali. Urusan disini biar kuselesaikan sendiri!"

Ki Kang menjadi gugup, serunya.

"Pangcu seorang diri...."

"Aku punya rencanaku sendiri!"

Desak pemuda jubah putih.

Ki Kang dan Oh Lun tak berani banyak debat lagi, tersipu-sipu mereka mengundurkan diri.

Dengan tajam orang tua jubah merah menatap pemuda jubah putih,.

sorot matanya menampilkan rasa dendam yang berkobar, sangkanya tentu musuh utamanya ini akan tinggal pergi, kenyataan adalah diluar perhitungannya semula.

Dengan mendelong pandangan pemuda jubah putih terarah ke pintu besar, setelah bayangan Ki Kang beramai tak tampak lagi baru perlahan-lahan ia membalik tubuh, setajam ujung pedang pandangannya berkilat mendelik ke arah orang tua jubah merah.

Selintas pandang ia menyapu ke seluruh hadirin, pandangannya berhenti dimuka orang tua jubah merah lagi, pelan-pelan mulutnya mendesis.

"Sekarang sudah tiba saatnya untuk kita menyelesaikan sendiri urusan ini."

Orang tua jubah merah terkekeh-kekeh bangkit, ujarnya.

"Benar-benar memang harus kita berdua yang menyelesaikan sendiri!"

Sambil berkata matanya melirik ke kanan kiri pada Liong Lui dan Oh Lun. Liong Lui dan Tio Hong-ho segera bangkit bersama, katanya berbareng.

"Untuk menyelesaikan urusan ini masa Pangcu harus turun tangan sendiri, biar kita berdua yang menghadapi saja."

Orang tua jubah merah terloroh-loroh lagi, dengan congkak ia pandang pemuda jubah putih.

Sudah tentu Pemuda jubah putih tahu apa yang tengah dipikir oleh lawan, diapun tak man kalah wibawa, dengan tertawa lebar ia berkata.

"Boleh juga kalau kalian ingin belajar kenal dengan aku, Jiwi Tongcu merupakan tokoh kosen dari Partai kalian dan merupakan jago silat kelas wahid dikalangan Kang-ouw, andai kata bertekuk lutut di hadapanku seorang bocah ingusan yang tak ternama apakah tidak menjatuhkan gengsi dan nama baik kalian?"

Tio Hong-ho tertawa kering dua kali, katanya.

"Pangcu Partai putih sudah tenar dan kenamaan di kolong langit, seumpama terkalahkan oleh kita berdua kaum keroco...."

Sampai disini ia merandek serta menyapu pandang kekiri kanan. Pemuda jubah putih tertawa geli, ujarnya.

"Begitupun baik, marilah kalian maju bersama."

Tio Hong-ho dan Liong Lui melangkah maju bersama ke tengah arena.

Mereka insaf hari ini menghadapi musuh tangguh, maka pedang dan tongkat yang menjadi senjata andalan mereka sudah disiapkan, mengkonsentrasikan diri mereka bersiap waspada.

Ujung kaki pemuda jubah putih sedikit menutul dilantai, tiba-tiba tubuhnya melejit enteng ke tengah udara seringan burung seriti, di tengah udara badannya berputar setengah lingkaran baru meluncur turun miring, berbareng kedua telapak tangannya menepuk ke arah dua musuhnya.

Tio Hong-ho dan Liong Lui bukan kaum lemah, kepandaian mereka cukup tinggi, serentak mereka menyilangkan pedang dan tongkat, berbareng balas menyerang memapak luncuran tubuh lawan.

Kelihatannya pemuda jubah putih acuh tak acuh menghadapi serangan balasan ini, tiba-tiba tubuhnya meluncur turun, begitu kaki menyentuh tanah dengan gesit kedua kakinya menggeser kedudukan tahu-tahu kedua telapak tangannya sudah menepuk maju kemuka kedua lawan.

Tio Hong-ho dan Liong Lui melompat mundur menghindar, sekarang mereka berdiri beradu punggung, setiap jurus pedang dan tongkatnya bergerak untuk melindungi badan saja tak mencari kesempatan untuk mengejar kemenangan.

Terlihat oleh Ciok Hou-bu yang menonton pertempuran ini dengan seksama, gerak-gerik pemuda jubah putih semakin tempur semakin tangkas dan cepat.

Gaja permainan silatnya hampir tidak dapat diikuti oleh pandangan mata, diam-diam bercekat hatinya, bukan mustahil sebagai pejabat Pangcu suatu partai mempunyai kepandaian tunggal yang diandalkan, tapi siapakah pemuda jubah putih ini, murid siapa lagi?

Ternyata begitu tinggi dan mengagumkan ilmu silatnya.

Dilain pihak orang tua jubah merah juga tengah meneliti dengan seksama setiap permainan silat pemuda jubah putih, semakin lama alisnya bertaut semakin dalan.

Hatinya pun tak habis heran dan kagetnya, bukankah permainan pukulan yang diunjukan ini adalah Eng-jiong-ciang dari gurun besar diluar perbatasan itu?

Apakah pemuda jubah putih she Bun ini adalah murid beliau?

Tengah ia terpekur, tiba-tiba terdengar gertakan cukup keras ditengah gelanggang.

Ternyata pemuda jubah putih itu sudah tidak sabar lagi, beruntun ia bergerak melancarkan tiga pukulan berantai, tiba-tiba ia melolos keluar cambuk peraknya, tampak selarik sinar putih kemilau herkelebat kontan pedang dan tongkat lawan kena digubat dan disendak terlepas terbang dari cekalannya.

Thian-mo-kiam Liong Lui dan Ko-bok-it-koay Tio Hong-ho berdiri terlongong-longong ditempatnya, dengan seringai dingin pemuda jubah putih berputar tubuh menghadap ke arah orang tua jubah merah dengan pandangan yang mengejek.

Sekonyong-konyong cahaya matanya mengunjuk rasa kaget dan kesima, dengan melirik sekilas ia menyaksikan sebuah wajah yang penuh rasa kegirangan dan kekagumam tengah mengawasi kepadanya wajah nan aju molek itu bukan lain adalah Ciok Yan, putri tunggal dari Hwi-cwan-po.

Terdengar orang tua jubah merah menjengek dingin, ejeknya.

"Murid tunggal Cek-hun Totiang ternyata benar-benar hebat."

Kontan seluruh hadirin mengunjuk rasa heran dan kaget.

Cek-hun Totiang adalah Sute dari Ciangbunjin Bu-tong-pay Put-lo-sin-sian Giok-yap Cinjin, beberapa puluh tahun yang lalu pernah diusir dari perguruan karena melanggar undang2 perguruan, maka sejak itu entah kemana jejaknya, sungguh tidak nyana, bahwa pemuda jubah putih ini kiranya adalah muridnya.

Sedikitpun pemuda jubah putih tidak menunjukkan reaksi akan cemooh orang, dengan sikap dingin ia pandang orang tua jubah merah, sindirnya.

"Kedua jagomu sudah keok, sekarang kau bagaimana?"

Orang tua jubah merah menggeram gusar, pelan-pelan ia melangkah maju.

Melihat musuhnya tiada niat menggunakan senjata, segera pemuda jubah putih membelitkan lagi cambuknya dipinggang.

Sembari menyeringai orang tua jubah merah menyerang dengan sebelah tangannya kepada musuh yang masih muda belia ini.

Sebat sekali pemuda jubah putih mencelat mundur, namun orang tua jubah merah mendesak maju mengejar.

Sedikit menutulkan kakinya badan pemuda jubah putih lantas melejit tinggi ke atas, beruntun kedua kakinya menendang berantai memgarah kedua biji mata orang tua jubah merah.

Orang tua jubah merah menggerung murka, terpaksa dari menyerang ia main bertahan.

Mendapat angin pemuda jubah putih semakin merangsek dengan gagah berani, begitu kakinya hinggap di tanah di belakang lawan segera ia kembangkan ilmu Eng-jiong-ciang yang mempunyai delapan belas jalan pukulan, gerak-gerik badannya selulup timbul naik turun persis laksana seekor elang besar yang beterbangan ditengah udara.

Tapi gerak-gerik orang tua jubah merah pun tidak kalah licinnya, dengan kedua tangan melintang melindungi dada, kedua matanya menatap tajam setiap gerak gerik pemuda jubah putih, sedikit ada lowongan baru menyerang tanpa membuang tenaga dan kesempatan, cara tempurnya adalah main sergap dan tak main kekerasan.

Delapan belas jurus Eng-jiong-ciang sudah hampir dimainkan habis, namun sedikitpun pemuda jubah putih tak mampu mendesak lawannya, diam-diam gugup dan gelisah hati pemuda jubah putih, inilah pengalaman pertama yang dialaminya sejak berkelana di dunia persilatan.

Mendadak sebuah pikiran terkilas dalam benaknya, apakah bukan dia?

Terpikir akan ini diamdiam ia mengumpat dalam hati.

Segera badannya melejit lagi dengan sejurus Giok-jian-hun-kayloh, kedua jari-jari tangannya laksana cakar burung elang mencengkeram kemuka musuhnya.

Melihat serangan ganas sipemuda, orang tua jubah merah mandah tertawa sinis, diam-diam girang hatinya, batinnya kau mimpi kalau berani mengadu kekerasan dengan aku.

Kedua telapak tangannya segera menepuk keluar dengan jurus Ciang-tok-mo-thian melawan serangan pemuda jubah putih dengan kekuatan penuh.

Tak nyana gerak gerik pemuda jubah putih cukup tangkas, beluam lagi tangannya mengenai sasarannya cepat-cepat ia meluncur turun dan menghindar, setelah mendengus ejek ia menyeringai "Kukira siapa, ternyata adalah keturunan dari Thay-i-bun!"

Muka orang tua jubah merah menjadi beringas, dengan menghardik keras ia melolos sebilah pedang yang berkilauan memancarkan cahaya menyilaukan mata terus membacok serabutan kepada pemuda jubah putih.

Terpaksa pemuda jubah putih keluarkan kedua senjata, sesuai dengan nama julukannya yaitu pedang mas dan cambuk perak untuk melawan sebisanya, begitulah pertempuran babak kedua dengan menggunakan senjata ini tak kalah sengit dan serunya.

Ciok Hou-bu, Nyo Kwong dan To Hwi saling pandang, sungguh mereka tidak nyana bahwa Thay-i-bun yang dulu sudah ditumpas ternyata muncul lagi disini.

kalangan Kangouw mengandal ilmu pedang yang dinamakan Thay-i-kiam-hoat dari jaya akhirnya berubah menjadi runtuh.

Dulu Thay-i-bun malang melintang dan simaharaja dijadi congkak dan takabur akhirnya karena merasa terlalu kuat dan sombong, aliran ini menjadi semakin buruk kelakuannya dari golongan lurus menjadi nyeleweng ke arah yang sesat.

Terpaksa berbagai golongan dan aliran bergabung menumpasnya bersama.

Sejak itu golongan Thay-i-bun lantas kelelap dari lembaran sejarah dunia persilatan, namun sebilah pedang Thay-i-kiam sejak saat itu pula menghilang tanpa diketahui jejaknya.

Orang tua jubah merah sendiri tahu bahwa golongan Thay-i-bun pihaknya memang sudah tersingkirkan dari percaturan dunia persilatan.

Maka dengan sengit ia kembangkan permainan ilmu Thay-i-kiam-hoat.

Tanpa gentar sedikitpun pemuda jubah putih mainkan pedang mas dikombinasikan dengan cambuk perak.

Tahu dia bahwa Thay-i-kiam merupakan pedang pusaka yang tajam luar biasa, walau pedang dan cambuknya cukup lihay bagaimana juga takan kuat melawan pedang pusaka, Begitu Thay-i-kiam-hoat dikembangkan berkuntum cahaya putih kemilau bertaburan ditengah gelanggang menari2, begitu ketat dan rapi sekali mengurung pemuda jubah putih, sehingga terdesak mundur berulang-ulang.

Dilain pihak Ciok Hou-bu beramai juga terperanjat, merekapun insaf bila pemuda jubah putih tak kuasa melawan dan bertahan, pihak sendiripun bakal kerembet dan celaka.

Setelah celingukan kekanan kekiri ia tanggalkan mantel dipunggungnya, sebat sekali ia bergerak maju sambil tarikan senjata mantelnya mengembangkan kepandaian andalannya yaitu tiga belas jurus Hwi-cwan-kiansoat.

Sejak tadi Ciok Yan sudah terpesona dan kagum kepada pemuda jubah putih, diam-diam ia kepincut akan ketangkasan anak muda ini, melihat ayahnya turun tangan ia pun tanggalkan mantelnya ikut menyerbu ke tengah gelanggang.

Tio Hong-ho dan Liong Lui menggertak bersama, segera mereka menggerakan tongkat dan pedang masing-masing maju merintangi, maka terjadilah pertempuran dalam tiga kelompok.

Tiga belas jurus ilmu kepandaian mantel yang dimainkan Ciok Hou-bu memang cukup lihay, cukup dengan putaran senjata lunaknya ini yang bisa berkembang melebar ia desak Tio Hong-ho dan Liong Lui berdua, dalam waktu singkat mereka rada terdesak di bawah angin.

Nyo Kwong dan To Hwi saling pandang sebentar, To Hwi mendeugus hidung, ringan sekali tangan kirinya menjentik, sebentuk Toh-bing-ci-hoan (cincin penyabut sukma) melesat keluar mengeluarkan suara mendengung, terbang berputar melesat ke arah jalan darah mematikan ditubuh orang tua jubah merah.

Orang tua jubah merah menggertak dengan gusar, cepat sekali ia mengayun Thay-i-kiam, tapi cara sambitan cincin penyabut nyawa ini memang luar biasa, ditengah jalan mendadak putar haluan terus terbang berputar satu lingkaran, pedang pusaka membabatnya disebelah samping, tapi tahu-tahu cincin penyabut sukma ini sudah melesat dari tengah mengarah ke tengah kedua mata orang tua jubah merah.

Keruan girang bukan main pemuda jubah putih mendapat bantuan yang menguntungkan ini, pedang cambuknya dimainkan semakin gencar, dengan seluruh kekuatan dan kemampuannya ia serang orang tua jubah merah habis2an.

Orang tua jubah merah menggerung panjang, kepandaian silatnya sungguh luar biasa dalam kepungan ketat dari musuh2nya sigap sekali ia masih dapat bergerak cepat, tubuhnya miring meluputkan diri, berbareng pedangnya menyontek ke atas melancarkan jurus It-goak-hok-su, tring, tring, terdengar suara nyaring cincin penyabut nyawa yang menyamber itu kena ditangkis pecah berhamburan, sedang pedang mas pemuda putih pun telah kutung menjadi dua.

Pemuda jubah putih kaget luar biasa, cepat ia melompat mundur, namun sambil menyeringai seram orang tua jubah merah maju mengejar sambil menusukan pedangnya.

Sekonyong-konyong sesosok bayangan orang meluncur turun dari tengah udara memasuki gelanggang.

Ternyata Hun Thian-hilah yang muncul, tampak tangan kanannya menyoreng sebilah pedang, sejurus saja cukup ia mendesak mundur orang tua jubah merah.

Seluruh hadirin menjadi kaget dan berseru heran.

Terutama Ciok Yan berteriak kejut.

"Hun Thian-hi."

Sesaat seluruh hadirin menjadi sunyi senyap.

Sebetulnya sejak tadi Hun Thian-hi sudah menyelundup masuk keruang besar, tapi selama itu ia tidak mendengar pembicaraan mengenai gurunya.

Kini setelah melihat pemuda jurus Gelonmbang perak berderai ia pukul mundur si orang baju putih terdesak dan menghadapi bahaya dengan sejurus situa jubah merah.

Sebetulnya tusukan orang tua jubah merah dapat tepat mengenai sasarannya, tentu saat ini pemuda jubah putih sudah menemui ajalnya di bawah tusukan pedang pusakanya.

Tapi begitu Hun Thian-hi muncul lantas lancarkan serangan ganas dan aneh sehingga terpaksa ia harus menyelamatkan diri terlebih dulu, keruan gusar bukan kepalang hatinya.

Dasar berhati culas dan banyak akal muslihatnya lahirnya ia tetap tenang-tenang saja, namun dalam hati ia mengakui, jurus serangan Hun Thian-hi tadi meski dilancarkan secara tak terduga, namun cukup dapat mendesak dirinya, maka dapatlah diukur betapa tinggi kepandaian bocah ini.

Apalagi Badik buntung masih berada ditangannya, betapa pun aku tak bisa berlaku ceroboh sehingga kehilangan rejeki.

Tenang-tenang ia menyapu pandang kewajah para hadirin dalam ruang besar ini.

Hun Thian-hi melangkah kesamping serta berkata kepada Ciok Hou-bu.

"Ciok-pocu, guruku Lam-siau dimanakah beliau sekarang, harap suka menerangkan?"

Ciok Hou-bu menghirup hawa, sesaat ya menjadi kememek tak tahu cara bagaimana harus menjawab. Malah Toh-bing-cui-hun To Hwi yang menjengek dingin.

"Hun Thian-hi, jiwamu sendiri belum tentu selamat, kau masih urus gurumu."

Biji mata Hun Thian-hi berkilat tajam bagai aliran listrik menatap muka To Hwi, katanya dengan nada berat.

"Hun Thian-hi berani meluruk kemari, sudah tentu tak peduli mati atau hidup. Hun Thian-hi seorang laki-laki apa yang telah kuperbuat biar aku sendiri yang bertanggung jawab, kenapa merembet pada guruku?"

Orang tua jubah merah menggerung gusar, teriaknya.

"Urusan gurumu aku tidak peduli, yang terang kau sendiri sekarang disini, dengan sepak terjangmu tadi serta Badik buntung yang kau miliki itu, apakah kau harap bisa tinggal pergi dari sini?"

Pelan-pelan Hun Thian-hi berputar menerawang seklilingnya, dihhatnya pandangan semua orang mengandung rasa kepanikan dan dendam yang membara terhadap dirinya.

Tiba-tiba pemuda jubah putih dibelakangnya buka bicara.

"Hari ini dia merupakan tamu teragung dari aku Bun Cu-giok, kalian berani menggangu usik dia harus tanya dulu kepadaku!" -sembari berkata ia melangkah serindak ke depan. Kalem2 saja Hun Thian-hi berpaling, sekilas ia pandang pemuda jubah putih dengan perasaan penuh haru dan terima kasih. Terdengar ia mendengus serta menyapu pandang keempat penjuru, jengeknya sinis.

"Jikalau tadi dia tidak muncul, seluruh hadirin dalam ruang ini siapa yang masih kuasa hidup sampai sekarang ini?"

"Itukan persoalan pribadi,"

Tukas orang tua jubah merah.

"Yang terang Hun Thian-hi telah mengobarkan kemarahan umum, sudah jamak kita bekerja mengutamakan kepentingan orang banyak, bukankah kau sendiri termasuk aliran dari Bu-tong-pay? Murid Bu-tong pun ada yang mati ditangannya, apa kau tidak tahu?"

To Hwi juga menggeram dan ikut bicara.

"Aku To Hwi tidak peduli apa yang kalian persoalkan, betapapun hari ini aku harus meringkus bocah Hun Thian-hi ini."

"Mengandal kau? Apa kau becus?"

Ejek pemuda jubah putih.

Toh-bing-cui-hun To Hwi bergelak tawa, dengan gerak lamban tangannya sekaligus ia semtilkan tiga buah cincin penyabut nyawa langsung melesat mengarah Hun Thian-hi.

Kim-kiam-gin-pian menggertak murka, cambuk peraknya yang sudah kulung separo disambitkan membuat sambitan cincin penyabut nyawa porak peronda ditengah jalan.

Berubah air muka To Hwi, beruntun jari tangan kanannya menjenyik bergantian menyambitkan tiga batang Cui-hun-chit-sa-cian (panah tujuh iblis mengejar sukma) yang sudah lama tak pernah dipakai lagi, ketiga batang panah kecil warna hitam kemilau meluncur ke arah Hun Thian-hi.

Hun Thiari-hi bersuit ringan, badannya mendadak.

mencelat mumbul ke depan menubruk ke arah datangnya tiga panah maut sambitan musuh, dimana pedang panjang ditangan kanannya bergerak dengan jurus Gelombang perak mengalun berderai sekaligus ia tangkis dan hancur leburlah ketiga Cui-hun-cian musuh.

Berubah hebat rona wajah To Hwi sungguh tidak terduga olehnya bahwa Cui-hun-chit-sa-cian yang lihay dan kenamaan itu begitu gampang telah dipatahkan.

Tadi ia melihat dengan mata kepala sendiri sekali gebrak Hun Thian-hi berhasi] memukul mundur orang tua jubah merah, sangkanya merupakan serangan bokongan diwaktu orang tengah melancarkan serangan khusus pada musuhnya, sekarang kalau dilihat gelagatnya, kepandaian silat Hun Thian-hi betul-betul sangat mengejutkan sekali.

Badan Hun Thian-hi melunjjur turun dihadapan Ciok Hou-bun, katanya.

"Ciok-pocu, harap tanya dimanakah jejak guruku sekarang?"

Belum sempat Tiiok Hou-bu menjjawab, tahu-tahu orang tua jubah merah sudah putar pedang pusakanya merabu ke arah Hun Thian-hi.

Sejak menelan buah ajaib, Hun Thian-hi mulai melatih Gin-ho-sam-sek dengan seksama, kecuali jurus ketiga yang masih rada sulit dipahami, jurus pertama dan kedua dapat dilatihnya dengan gampang.

Selama dua hari di Soat-san ia melihat Soat-san-su-gou mereka menggunakan kedua jurus itu untuk menghalau musuh tangguh, ini berarti intisari kedua jurus ilmu ini telah diturunkan langsung kepada Hun Thian-hi, sayang Lwekang Hun Thian-hi sendiri belum mencapai taraf yang diperlukan.

Sekarang waktu Hun Thian-hi lancarkan Gelombang perak mengalun berderai dari bertahan berbalik balas menyerang malah, orang tua jubah merah terdesak keripuhan.

Terasa oleh orang tua jubah merah sinar perak berkemilau diempat penjurunya menyilaukan mata dan mengganggu pemusatan pikiran, hawa dingin dan tajam seperti mengiris kulit yang tak kelihatan seiring dengan kilalatan sinar pedang merangsang dan menyampok ketubuhnya, keruan ia semakin terdesak di bawah angin, terpaksa ia menjaga diri saja dengan rapat.

Melihat babak pertempuran adu pedang ini diam-diam bercekat hati Ciok Hou-bu, ia membatin kalau sampai Hun Thian-hi mengambil kemenangan tentu.

situasi selanjutnya tidak menguntungkan bagi dirinya, beruntung kalau ia mau percaya dengan keterangannya, kalau tidak....

Karena pikirannya ini segera ia berteriak.

"Tahan, dengarkan kata-kataku!"

Hun Thian-hi menghentikan serangannya terus mundur dan berdiri sambil masih menenteng pedangnya, kepalanya berpaling memandang ke arah Ciok Hou-bu.

Tanpa merasa Ciok Hou-bu merasa tekanan bertamba hbesar terhadap dirinya, maka katanya menyelidik kepda pemuda jubah putih.

"Bun-pangcu, apakah tujuanmu yang utama kemari?"

Bun Cu-giok bergelak tawa dijawabnya.

"Memang, semula aku mengincar juga Badik buntung itu, tapi sekarang kunyatakan aku tidak memerlukannya lagi."

Tergetar perasaan Ciak Hou-bu, ia berpaling dan memandang kekanan diri, diam-diam ia tengah menerawang situasi sekelilingnya, memperhitungkan untung ruginya, kalau seumpama dirinya bergabung, ditambah orang tua jubah merah dan seluruh kerabat dari Hwi-cwan-po kemenangan terang bakal dapat dicapai dengan mudah.

namun....

Agaknya orang tua jubah merah dapat meraba jalan pikirannya, sembari tertawa lantang ia berseru.

"Kenapa Bun-pangcu tersinggung oleh peristiwa tadi, urusan sudah lewat anggap saja sudah himpas. yang paling utama sekarang adalah demi Hun Thian-hi, seumpama bisa merebut Badik buntung dari tangannya, kita masing-masing apa kuat mengangkanginya sendiri, maka jalan satu2nya adalah berserikat." ~secara gamblang ia ajak Bun Cu-giok untuk bergabung, hakikatnya tujuan kata-katanya adalah kepada Ciok Hou-bu, secara diam-diam ia memberi kisikan supaya orang tak perlu kuatir kalau kelak ia bakal memonopoli sendiri hasil jerih payah bersama. Bun Cu-giok menjengek gusar.

"Bun Cu-giok tadi sudah menjelaskan, sekarang aku tidak sudi lagi dengan Badik buntung apa segala."

Sudah tentu Ciok Hou-bu juga maklum akan arti kata orang tua jubah merah yang dalam, sambil tertawa ewa ia berkata kepada Hun Thian-hi.

"Sebenar-benarnya gurumu tak berada disini."

Hun Thian-hi tersentak kaget, tanyanya.

"Apa?"

Ciok Hou-bu menyeringai, katanya lagi.

"Hun-siauhiap, gurumu tak berada disini. Memang aku sudah menahannya, namun akhirnla gurumu pergi juga. Supaya dapat memancingmu kemari terpaksa aku menyebar kabar bohong itu."

Gemes dan dongkol pula perasaan Hun Thian-hi, katanya dingin.

"Jadi tujuan Ciok-pocu yang sebenar-benarnya adalah Badik buntung? Ketahuilah bahwa Badik buntung sekarang tak berada di tanganku."

Ciok Hou-bu tertegun. Dasar licik adalah orang tua jubah merah yang buka bicara lagi.

"Tak menjadi soal, asal kau disini, tak perlu kuatir Badik buntung takkan datang sendiri?"

Terlihat oleh Thian-hi, Ciok Hou-bu tengah memberi tanda lirikan kepada anak buahnya, tak lama kemudian sebarisan anak buahnya yang mengenakan seragam hijau berdujun2 memenuhi seluruh ruangan.

Tiba-tiba Hun Thian hi tertawa lebar, tanyanya.

"Apakah Ciok-pocu betul-betul hendak menahan aku?"

"Sudah tentu!"

Seru Ciok Hou-bu.

Orang tua Jubah merah tahu saatnya sudah tiba, maka sembari bergelak tawa ia bolang balingkan pedang pusakanya terus menyerbu lebih dulu.

Kim-kiam-gin-pian Bun Cu-giok melihat situasi sudah berkembang begitu gawat, terpaksa iapun mulai bergerak, dengan menenteng pedang ia menubruk ke arah Ciok Hou-bu.

Mata Ciok Hou-bu jelilatan melirik ke kanan kiri, segera Nyo Kwong dan To Hwi juga melolos pedang masing-masing, sedang ia sendiri menggentakkan mantel besarnya terus kembangkan tiga belas jurus Hwi-cwan-kian-soat menyerbu kepada Bun Cu-giok.

Bun Cu-giok membuang pedangnya yang sudah kutung, dengan ilmu Eng-hong-ciang ia hadapi ketiga pengerojoknya.

Sudah sekian lama Ciok Hou-bu angkat nama dikalangan Kangouw dengan ilmunya Hwi-cwankian-soat-cap-sa-sek, sudah tentu kepandaiannya bukan olah-olah lihaynya, tiga tokoh silat kelas wahid sekaligus mengeroyok Bun Cu-giok, pedang dan cambuknya sudah kutung dan dibuang dengan bertangan kosong sudah tentu ia terdesak di bawah angin.

Terdengar Ciok Hou-bu membujuk.

"Bun-pangcu seorang gagah harus dapat melihat gelagat dan mengambil keuntungan, Bun-pangcu masih muda dan punya masa depan yang gemilang, kenapa berpandangan cupat dan mengukuhi adat sendiri?"

Bun Cu-giok menjengek sinis tanpa buka suara.

Sementara itu Ciok Yan berdiri menjublek di tempatnya, tak tahu apa yang harus dilakukan.

Di lain pihak dengan permainan Gin-ho-sam-sek seorang diri Thian-hi melawan orang tua jubah merah.

Gin-ho-sam-sek merupakan ilmu tunggal yang tiada keduanya dari ilmu pedang tingkat tinggi.

Bu-bing Loni yang dipandang sebagai jago nomor satu di seluruh kolong langit pun kena dikepung selama sehari semalam, maka dapatlah dibayangkan betapa hebat dan digdaya ilmu ini.

Tapi kepandaian orang tua jubah merah dengan ilmu pedang Thay-i-kiam yang tajam luar biasa itu berusaha bertahan sekuat tenaga, sayang Hun Thian-hi menguatirkan keselamatan Bun Cugiok yang terkepung dalam bahaya.

diam-diam hatinya menjadi gugup dan kuatir.

Pertempuran tokoh silat tinggi melulu mengutamakan pengkonsentrasian pikiran dan badan sedikit perhatian terpencar orang tua jubah merah lantas balas menyerang, keadaan menjadi sama kuat.

Hun Thian-hi menjadi tak sabar lagi, Gin-ho-sam-sek jurus kedua segera dilancarkan setabir cahaya putih berterbangan mengurung orang tua jubah merah.

Kontan orang tua jubah merah terkurung ketat, sekuat tenaga ia bertahan dan berusaha menerobos dan bergulat dengan segala daya upaya.

Hun Thian-hi semakin mengerutkan kurungannya, sayang ia kuatir dan gentar menghadapi ketajaman Thay-i-kiam-lawan sehingga mengurangi kebebasan gerak geriknya.

Di belakang sana terdengar gelak tawa Ciok Hou-bu, kiranya kedok Bun Cu-giok ditanggalkan.

Kata Ciok Hou-bu lagi.

"Bun-pangcu, sekarang kesempatan terakhir aku mengundangmu ikut dalam perserikatan kita."

Biji mata Bun Cu-giok berkilat beringas, dengan murka ia mencemooh.

"Seumpama aku Bun Cu-giok hari ini harus terkubur disini jangan harap keinginan kalian bisa terkabul."

Melihat Bun Cu-giok sudah terdesak ke dalam bahaya.

Hun Thian-hi membentak keras, tiba-tiba ia melesat berkelebat, pedang panjangnya serentak merabu kepada Ciok Hou-bu bertiga.

Gentar akan kekuatan dan kehebatan kepandaian orang Ciok Hou-bu bertiga menyurut mundur.

Sementara orang tua jubah merah menghardik terus mengejar tiba, pedang panjangnya menusuk ke punggung Hun Thian-hi dari belakang.

Terpaksa Hun Thian-hi membalikkan pedang, tusukannya balas menyerang ke tengah mata orang tua jubah merah.

Orang tua jubah merah tertawa riang, sedikit angkat pedang dan menyontek "tring", kontan pedang Hun Thian-hi kutung menjadi dua dan berkerontangan jatuh di lantai.

Girang Ciok Hou-bu bukan main, berempat mereka mengepung Bun Cu-giok dan Hun Thian-hi.

Sementara Ciok Yan berdiri dengan pucat dan ketakutan diluar gelanggang.

Bun Cu-giok berdiri menjublek kehilangan semangat.

Berkilat pandangan Hun Thian-hi satu per satu ia tatap keempat musuhnya, hatinya menyesal sekali bahwa seseorang menyertai kematiannya, ini adalah tidak diinginkan olehnya, otaknya tengah menerawang dan beragu apakah ia harus melancarkan jurus ganas pencacat langit pelenyap bumi untuk mengakhiri pertempuran ini.

Tempo hari ia sudah pernah berjanji kepada Situa pelita untuk tidak melancarkan jurus ganas ini, tapi Sementara itu, Ciok Hou-bu sudah unjuk muka berseri, otaknya sudah melayang membayangkan Badik buntung bakal tergenggam dalam tangannya, maka Ni-hay-ki-tin jelas sudah diambang mata.

Mendadak pintu besar diterjang dari luar, serombongan orang berkuda menerjang masuk, terus meluruk ke arah Ciok Hou-bu beramai.

Keruan kaget Ciok Hou-bu bukan main, cepat ia memberi aba-aba kepada anak buahnya, pihak Partai merah juga lantas bergerak memapak maju merintangi.

Pemimpin penyerbuan tak terduga ini adalah seorang tua berambut uban, tampak ia mencelat tinggi dari tunggangannya ditengah udara melolos pedang terus meluncur ke tengah diantara empat musuh Hun Thian-hi.

Begitu melihat orang tua beruban ini Ciok Hau-bu lantas berteriak.

"Kim Poan-long!"

Ki-thian Lojin Kim Poan-long begitu mendaratkan kakinya lantas bertanya lantang.

"Siapa Hun Thian-hi?"

Ciok Hou-bu mengulap tangan menghentikan anak buahnya, serta serunya menunjuk Hun Thian-hi.

"Dia inilah, saudara Kim ada urusan apa?"

Kim Poan-long celingukan menerawang situasi sekelilingnya.

Sedang orang tua jubah merah menjadi marah melihat tambah seorang lagi yang turut campur dalam pertikaian ini, dengan menggerung ia menusuk dengan pedangnya kepada Kim Poan-long.

Hakikatnya tiada ketulusan hati untuk bekerja sama dengan Ciok Hou-bu beramai kini dilihatnya tambah kedatangan seorang lagi, tadi mereka sudah berada di atas angin, seumpama Kim Poanlong bergabung dalam pihak Hun Thian -hi iapun tak perlu takut.

Melihat tusukan orang tua jubah merah, Kim Poan-long mengegos ke samping, berbareng tangannya terayun serta berteriak kepada Hun Thian-hi.

"Hun-siauhiap, sambut ini, mari kita menerobos keluar!"

Terlihat secarik cahaya hijau berkelebat, tangkas sekali Hun Thian-hi sudah meraih Badik buntung di tangannya, sungguh kejut dan girang bukan main, sungguh tak terkira olehnya Ki-thian Lojin Kim Poan-long bakal meluruk datang tepat pada waktunya.

Begitu membekal Badik buntung Hun Thian-hi seperti harimau tumbuh sayap, dimana sinar hijau menyamber sekaligus ia serang keempat pengepungnya, bersama itu ia berteriak kepada Bun Cu-giok.

"Saudara Bun, lekas ikut kami menerjang keluar!"

Kedatangan Kim Poan-long betul-betul merubah situasi menjadi tegang, sekaligus Badik buntung juga muncul diarena pertempuran, sudah tentu Ciok Hou-bu berempat menjadi kalang kabut, kepungan mereka menjadi bobol dan dengan mudah ketiga orang musuhnya dapat menerobos keluar.

Ciok Hou-bu berkaok2 memberi aba-aba para kerabatnya untuk merintangi, demikian juga orang tua jubah merah memerintahkan anak buahnya menghadang, namun mana mereka kuat menghadapi ketajaman Badik buntung, sebentar saja Hun Thian-hi bertiga sudah mencemplak di atas kuda terus dilarikan pesat menerjang keluar pintu gerbang perkampungan....

Sesaat Ciok Hou-bu berempat menjadi melongo dan kesima di tempat masing-masing, hanya Ciok Yan merasa hampa nan kecut.

Setelah lolos dari Hwi-cwan-po Hun Thian-hi terus membedal kudanya sekencang-kencangnya, kira-kira lima li kemudian baru berhenti.

Segera Bun Cu-giok angkat tangan menjura kepada Hun Thian-hi, ujarnya.

"Bantuan saudara Hun hari ini sampai ajalpun takkan kulupakan. Dalam partai masih banyak urusan, terpaksa Bun Cu-giok mohon diri dulu!"

"Hun-pangcu terlalu sungkan,"

Demikian jawab Thian-hi dengan sikap jantan dan setia kawan.

"Bun-pangcu, sungguh Hun Thian-hi merasa sangat kagum dan banyak terima kasih pula."

Bun Cu-giok juga menjura kepada Ki-thian Lojin Kim Poan-long, ujarnya.

"Kalau Kim-ke-cheng memerlukan bantuan kami dari Partai putih pasti akan suka membantu dengan seluruh kemampuan. Sekarang Bun Cu-giok mohon diri!" -kudanya diputar terus dibedal kencang. Kim Poan-long tertegun sebentar, katanya.

"Diakah Pangcu Partai putih!"

Hun Thian-hi tersenyum, sahutnya manggut-manggut.

"Kim-chengcu datang tergesa-gesa, apakah ada urusan?"

Pelan-pelan Kim Poan-long menundukkan kepala, ujarnya sambil menghela napas rawan.

"Adikku dibokong orang, saat ini sudah wafat karena luka-lukanya yang berat."

Berubah air muka Thian-hi, serunya kejut.

"Ji-chengcu sudah mati?"

Kim Poan-long manggut-manggut tanpa bersuara, katanya.

"Dengan sekuat tenaga ia bertahan kembali kerumah, setelah menceritakan pengalamannya lantas menghembuskan napasnya."

Sungguh mimpi juga Hun Thian-hi tidak nyana bahwa Kim Ci-ling sudah meninggal dibokong orang, sekian lama ia terlongong-longong, terbayang olehnya wajah orang di depan matanya, suaranya pun seperti masih terkiang di pinggirl telinganya, pelan-pelan ia bertanya.

"Apakah Jichengcu tahu siapakah pembokongnya?"

Kim Poan-long menghela napas, katanya.

"Musuh di tempat gelap, diapun tak jelas siapakah yang membokong."

Hun Thian-hi terpekur, mendadak ia berteriak.

"Akulah yang mencelakai dia, biar sekarang juga aku pergi ke Bu-tong-san."

"Hun-siauhiap, siapakah yang kau sangka?"

Tanya Ki-thian Lojin Kim Poan-long.

"Aku belum tahu,"

Sahut Thian-hi sambil menunduk.

"tapi pasti ada sangkut paut dengan pihak Bu-tong-pay."

"Dugaankupun begitu,"

Kata Kim Poan-long.

"peristwa ini terjadi begitu mendadak, setiap kejadian hampir membuat orang susah percaya!"

"Kim-chengcu. sekarang juga aku mohon diri."

"Perjalanan ini cukup berbahaya, tidakkah lebih baik kita pergi bersama "

Thian-hi manggut-manggut. sahutnya.

"Begitupun baik."

Kim Poan-long memberi pesan dan perintah pada anak buahnya lalu bersama Thian-hi beriring membedal kudanya langsung menuju ke Bu-tong-san.

Sepanjang jalan ini Hun Thian-hi mengerutkan alisnya hatinya tengah gundah dan menerawang, kejadian yang dihadapi betul-betul cukup mengherankan, betapapun aku meluruk ke Bu-tong-san menanyakan secara langsung pada Put-lo-sin-sian Giok-yap Cinjin.

Entah berapa lama dan berapa jauh sudah perjalanan ini yang mereka tempuh, yang terang cuaca sudah berganti mulai magrib.

Secara kebetulan Hun Thian-hi sedang berpaling ke belakang, dilihatnya rada jauh di belakang sana terlihat dua sosok bayangan hitam tengah mengejar datang dengan kecepatan seperti kilat.

Saking kaget Thian-hi berteriak kepada Kim Poan-long.

"Lihat!"

Kim Poan-long berpaling, ia pun tersentak kaget.

Sekejap saja kedua sosok bayangan hitam itu sudah menyusul tiba terus menerobos lewat tunggangan mereka terus berhenti menghadang di depan.

Lekas-lekas Thian-hi berdua menarik kekang kuda masing-masing.

Dengan seksama seksama Thian-hi mengamati kedua orang penghadang ini, mereka adalah dua orang berseragam hitam dan berkedok hitam pula, hanya kedua biji mata masing-masing yang kelihatan berkilat tajam, mereka mencegat ditengah jalan tanpa bersuara.

Bercekat hati Thian-hi, terpikir olehnya bahwa kedua orang ini tentu meluruk dirinya karena mengincar Badik Buntungnya.

Terdengar Ki-thian Lojin buka suara.

"Saudara berdua menyusul kita, entah ada urusan apakah?"

Dua orang itu tetap bungkam tanpa bersuara atau bergerak. Dengan cermat Thian-hi pandang mereka, ujarnya.

"Apakah kalian mengincar Badik buntung milikku itu?"

Kedua orang itu masih bungkam.

Hun Thian-hi menjengek dingin, kudanya dibedal menerjang ke depan.

Cepat-cepat orang sebelah kiri angkat sebelah tangannya menepuk kepala tunggangan Thian-hi.

Thian-hi mengayun Badik buntung memapas kepergelangan tangan orang berkedok, terdengar ia mendengus hidung, tubuhnya mencelat naik ke udara, sebelah kakinya geledek menendang ke tangan Thian-hi yang me-Badik buntung.

Cepat Thian-hi menarik tangannya, namun kesempatan tidak disia-siakan oleh lawannya gesit sekali sebelah tangan yang lain sudah meluncur tiba menepuk ke dadanya.

Hun Thian-hi menggertak dengan gusar, sejak menelan buah ajaib Lwekangnya sudah maju berlipat ganda selama ini belum pernah beradu pukulan dengan lawan secara kekerasan, sekarang tibalah saatnya ia menjajal kemampuannya, maka sebelah tangan kiri diayunkan memampak serangan telapak tangan lawan.

Begitu kedua pukulan saling bentrok, seketika berubah rona wajah Hun Thian-hi, terasa telapak tangannya panas sekali seperti dibakar dalam bara, begitu saling sentuh lantas seluruh lengannya pati rasa.

Orang berkedok itu menjengek dingin, tangan kanannya terulur cepat sekali menyengkeram ketangan kanan Thian-hi yang memegang Badik buntung.

Thian-hi mengertak gigi, dengan nekad ia ayun tangannya melancarkan jurus Gelombang perak mengalun berderai mendesak mundur lawannya.

Melihat muka Thian-hi yang tidak wajar, Kim Poan-long menjadi gelisah, tanyanya gugup.

"Hun-siauhiap, kenapa kau?"

"Tidak apa-apa,"

Sahut Thian-hi sambil menarik lengan kirinya yang sudah kejang.

Kedua orang berkedok saling berkedip memberi isyarat lalu mulai bergerak lagi menyerang dengan tekanan lebih besar kepada Hun Thian-hi dan Kim Poan-long.

Luka-luka Thian-hi cukup berat, namun ia bertahan sekuat tenaga, melihat musuh menyerbu lagi, dia tahu Kim Poan-long tentu tak kuat bertahan, dengan menghardik keras ia menjepit perut kudanya, tubuhnya mencelat tinggi ia atas terbang lempang ke depan sembari lancarkan Tam-lianhun-in-hap, inilah jurus kedua dari Gin-ho-sam-sek yang hebat itu, seketika terlihat cahaya hijau pupus berkembang melebar terus menungkrup ke arah kedua musuh berkedok.

Agaknya kedua orang berkedok cukup tahu betapa hebat serangan ini, cepat-cepat mereka melompat mundur jumpalitan.

Lengan kiri Thian-hi terasa panas dan tak tertahan lagi ia insaf semakin lama bertempur tentu dirinya takkan kuat bertahan, maka setelah dengan aksinya ini, ia obat-abitkan Badik buntungnya lalu jumpalitan turun di atas pelana kudanya kembali, begitu menggertak kudanya lantas dicongklang kencang menerjang maju.

Melihat musuh hendak lari, kedua orang berkedok menjadi gugup, cepat-cepat mereka berdiri kembali sambil pasang kuda-kuda sembari berteriak panjang empat telapak tangan mereka bekerja bersama memukul ke depan, kontan kedua kuda tunggangan Thian-hi tersentak naik ke atas dan berbenger panjang terus roboh terkapar tak bergerak lagi.

Begitu melihat gaja serangan kedua musuh Ki-hian Lojin lantas berteriak kaget.

"Siau...."

Salah seorang berkedok tampak menerjang secepat kilat, sebelah tangannya telak sekali menepuk kedada Kim Poan-long, terdengar Ki-thian Lojin menjerit ngeri terus robah terjengkang.

Saat mana Thian-hi sudah berhasil menerjang lewat dari samping serta mendengar jerit Kim Poan-long yang menggiriskan itu, kejutnya bukan kepalang, cepat-cepat ia putar balik hendak menolong tapi sudah terlambat.

Keruan Hun Thian-hi menjadi berang, seperti banteng ketaton segera ia obat-abitkan Badik buntung sekencang-kencangnya, maksudnya hendak mendesak dan merobohkan kedua musuhnya berkedok, tapi kepandaian kedua orang berkedok ternyata juga tidak lemah, enteng sekali mereka melesat mundur terus putar tubuh melarikan diri.

Hun Thian-hi melompat mengejar, kira-kira puluhan tombak kemudian seluruh mukanya sudah basah kujup oleh keringat sendiri.

Bukan lari terus sebaliknya kedua musuh berkedok itu malah putar balik, Thian-hi harus kertak gigi sambil menerjang musuhnya, dimana Badik buntung berkelebat ia kembangkan Gelombang perak mengalun berderai menyerang dengan kalap.

Kedua musuh berkedok melomprt berpencar meluputkan diri, dari dua jurusan ini mereka angkat tangan balas menyerang kepada Hun Thian-hi.

Begitu melancarkan serangan pertama lantas Thian-hi merasa tenaga dalamnya rada macet tak kuat bersambung lagi, sudah tentu kejutnya sepeti disengat kala, keringat dingin mengalir keluar, pikiran otaknya menjadi rada terang.

Cepat ia dapat menyadari situasi yang tidak menguntungkan dirinya ini, diam-diam ia berpikir.

"Cara mengadu jiwa begini, mungkin aku sendiri bakal konyol sebelum dapat menuntut balas."

Sementara itu kedua musuh berkedok itu telah merangsek maju lagi, sambil menggeram Thianhi ayun Badik buntung menyerampang musuh.

Begitu kedua musuhnya menyurut mundur menghindar, cepat-cepat ia melompat mundur ke belakang, diam-diam ia mencari jalan untuk meloloskan diri Sedikit melompat menghindar kedua musuh berkedok gesit sekali sudah melejit maju pula tiba di belakang Hun Thian-hi.

Saking gugup dan tiada jalan lain, terpaksa tanpa banyak pikir lagi Thian-hi sambitkan Badik buntung diantara kedua musuhnya.

Sudah tentu kedua musuhnya tidak menyangka bahwa Thian-hi rela melemparkan Badik buntungnya, tanpa berjanji keduanya melejit terbang mengejar ke arah Badik buntung yang meluncur jauh kesana.

Sebat sekali Hun Thian-hi berkelebat terus melompat naik ke atas sepucuk pohon rindang.

Sesaat kemudian tampak kedua orang berkedok lari balik, sekian lama mereka ubek2an di dalam hutan mencari jejaknya, akhirnya mereka kewalahan.

setelah bercakap-cakap sebentar mereka lantas berlari pergi.

Melihat kedua musuhnya pergi, Thian-hi sendiri sudah payah dan tak kuat bertahan lagi, begitu ketegangan hatinya mengendor tubuhnya lantas terjungkal roboh dari atas pohon.

Begitu terbanting di tanah pikiran Thian-hi menjadi rada terang, pelan-pelan dengan segala sisa tenaganya ia merogoh keluar daon buah ajaib terus dijejalkan ke dalam mulut, seketika hawa harum mengalir dalam tenggorokannya.

Bergegas Thian-hi duduk bersila.

pelan-pelan mengatur pernapasan dan mengerahkan tenaga dalam kira-kira setengah jam kemudian baru ia merasa kesehatannya pulih seperti sedia kala.

Waktu ia kembali ke tempat semula, tampak kedua ekor kuda mereka dan Kim Poan-long menggeletak di tanah.

Hun Thian-hi menghela napas rawan.

Segera ia gali liang lahat, jenazah Kim Poan-long lantas dikabur sekadarnya.

Setelah mengubur jasad Kim Poan-long, Thian-hi duduk di bawah pohon, pikirannya bekerja.

"Siapakah kedua orang berkedok itu?"

Dipikir punya pikir mendadak ia tersentak kaget, gumamnya.

"Siau! Siau-yang-sin-kang" -kedua biji matanya mendelik lebar, hidungnya mendengus, selain mereka berdua siapa lagi, demikian dalam hati ia membatin. Tiba-tiba melonjak berdiri. seperti bakal ketiban rejeki tersipu-sipu ia berlari kencang menuju ke Bu-tong-san. Waktu sinar surja menongol keluar di ufuk timur, memancarkan cahayanya yang cerlang cemerlang Hun Thian-hi sudah beranjak dijalanan yang menuju kepusat Bu-tong-pay, dua pucuk pohon Siong yang besar dan tinggi berdiri diam laksana raksasa menembus awan. Dalam hati Han Thian-hi berani memastikan bahwa kedua orang berkedok itu tentu adalan Gwat Long dan Sing Poh adanya, Kira-kira baru setengah perjalanan, dari ataas gunung berjalan turun seseorang, begitu melihat Hun Thian-hj orang itu lantas mengumpat caci dengan murka. Waktu Thian-hi angkat kepala, orang itu bukan lain adalah murid preman pihak Bu-tong-pay, tak lain tak bukan adalah Thi-kiam Lojin yang pernah mencari perkara pada dirinya. Begitu melihat tegas pada Hun Thian-hi, kontan Thi-kiam Lojin lantas melolos pedang yang disandang dipunggungnya, bentaknya kepada Thian-hi.

"Orang she Hun! Ke-mana-mana kucari kau, tak kukira hari ini kau batang sendiri."

Hun Thian-hi tak sabar main debat dengan Thi-kiam Lojin, tanpa membuka suara cepat ia menerjang ke atas, melihat sikap acuh tak acuh Thian-hi, Thi-kiam Lojin semakin murka sembari bergelak tawa ujung pedangnya.

menjojoh ke depan menusuk perut Thian-hi.

Enteng sekali badan Thian-hi mencelat tinggi, mulutnya berteriak.

"Hari ini aku mencari Giokyap Cinjin, bukan mencari kau!"

Kepandaian silat Thi-kiam Lojin cukup tinggi, sebab sekali ia pun mencelat terbang menyusul, beruntun pedangnya berkelebat menyamber, sekaligus ia sudah lancarkan tiga jurus serangan pedang kepada Hun Thian-hi.

Hun Thian-hi menghardik keras.

dengan sebelah tangannya ia menyampok kebatang pedang Thi-kiam yang menyamber tiba.

Thi-kiam Lojin rada keder, kuatir Hun Thian-hi mengeluarkan Badik buntung memotong kutung pedang panjangnya seperti tempo hari, maka cepat-cepat ia tarik balik pedangnya, merubah gaja dan jurus tipu pedangnya ia merabu semakin kencang.

Tak terkira olehnya bahwa kepandaian Hun Thian-hi sekarang sudah jauh beda dengan Thianhi tempo hari, beegitu ia menarik dan merubah jurus ilmu pedangnya, berbalik Thian-hi mendapat kesempatan melancarkan tiga pukulan berantai, sehingga Thi-kiam Lojin terpaksa hanya mampu bertahan dan mundur selamatkan diri dari pada balas menyerang.

Hun Thian-hi melompat tinggi ke depan berlari laksana terbang ke atas gunung.

Sepanjang jalan penuh rintangan, untung mereka bukan terdiri tokoh-tokoh lihay dari Bu-tong-pay, maka dalam sekejap saja ia sudah sampai diambang Tin-yang-kiong.

Sampai disini baru Hun Thian-hi berhati lega, dia tahu Tio-yang-kiong merupakan tempat berkumpul para tokoh-tokoh kosen Bu-tong-pay, Put-lo-sin-sian Giok-yap Cinji sendiri pun bersemajam di Tio-yang-kiong ini.

Thian-hi sendiri insaf bahwa menghadapi Gwat Long dan Sing Poh saja dirinya bukan tandingan mereka, apalagi Giok-yap Cinji sendiri.

Tapi urusan ini sudah terjadi gara-gara dirinya betapa pun harus jumpa dan menanyakan langsung kepada Giok-yap Cinjin.

Kenyataan sudah terjadi Gwat Long dan Sing Poh membunuh Kim Poan-long untuk menutup mulutnya, sudah tentu dengan gampang mereka pun dapat membunuh keempat orang lainnya.

Seumpama tidak meluruk datang juga sama saja.

Harapan utama sekarang adalah bahwa Gwat Long dan Sing Poh membangkang atau bekerja membelakangi Giok-yap Cinjin, kalau tidak begitu dirinya beranjak ke dalam Tio-yang-kiong bakal takkan mudah keluar kembali.

Dengan teliti dan waspada Thian-hi putar kayun mengelilingi Tio-yang-kiong seputaran, hatinya tak habis mengerti kenapa selama ini tak terdengar sedikitpun suara.

Dengan enteng Thian-hi meloncat naik ke atas rumah, memandang ke dalam terlihat suasana Tio-yang-kiong sunyi senyap, seorang pendeta pun tak terlihat bayangannya.

Hati Thian-hi menjadi curiga, pikirnya.

"Mungkinkah Tio-yang-kiong tidak kenyataan seperti yang dikabarkan di luaran?" ~dilain kejap ia melompat turun di sebelah dalam, dengan langkah tetap ia berjalan masuk. Tampak di ruang sembahjang batang2 hio masih tersemat menyala, asap mengepul tinggi, tapi tak kelihatan bayangan seorangpun. Thian-hi melangkah terus ke dalam, memang rumah berhala yang sedemikian besar ini tidak dihuni seorang manusiapun. Dalam hati Thian-hi membatin, jikalau Giok-yap Cinjin, bersemajam di Tio-yang-kiong, seumpama orang lain sedang keluar karena banyak urusan, tentu beliau seorang masih ada didalam. Jalan punya jalan dari kejauhan dilihatnya di sebelah dalam sana sebuah ruang samadi pelanpelan ia maju ke arah sana, waktu ia melongok ke dalam terlihat seorang Tosu tengah duduk samadi tanpa bergerak. Thian-hi terperanjat, terlihat olehnya sinar mata orang itupun memancarkan cahaya aneh dan heran, namun ia tidak bergerak dan tidak bersuara. Setelah menenangkan gejolak hatinya Thian-hi mengamati Tosu itu, jelas Tosu ini berambut hitam dan berjenggot hitam pula, namun wajahnya pucat pasi seperti kertas, sinar matanya guram tak bersemangat, duduk mematung tanpa bergerak, jikalau biji matanya tidak terpentang dan bergerak Thian-hi pasti anggap orang telah mati. Thian-hi maju mendekat serta menjura katanya.

"Aku yang rendah Hun Thian-hi, harap tanya kepada Totiang, dimana kediaman Giok-yap Cinjin?"

Tosu itu tetap tak bergerak dan tak bersuara, namun matanya mengunjuk rasa heran dan tak mengerti. Melihat orang tidak bicara, Thian-hi merenung sebentar, lalu katanya lagi.

"Kalau Totiang tidak bisa bicara, apakah bisa mengantarku kepada beliau?"

Biji mata si Tosu berjelilatan, seolah-olah punya banyak pertanyaan yang hendak disampaikan, namun sedikitpun ia tidak mampu bergerak.

Thian-hi menjadi putus asa, pelan-pelan ia putar tubuh hendak tinggal pergi, tiba-tiba tergerak sanubarinya, sebuah pikiran berkelebat dalam benaknya, pikirnya siapa lagi orang yang boleh duduk samadi di dalam ruang Tio-yang-kiong?

Tiba-tiba ia putar balik serta maju bertanya.

"Apakah Totiang adalah Giok-yap Cinjin Cianpwe?"

Lagi-lagi mata Tosu tua ini memancarkan cahaya yang sukar diraba juntrungannya.

Terkilas dalam pikiran Thian-hi akan cerita Kim Ci-ling tempo hari, mungkin Giok-yap Cinjin mempunyai kesukaran yang sulit disampaikan?"

Thian-hi terlongong sebentar, akhirnya ia berketetapan untuk coba-coba, dari kantong bajunya ia mengeluarkan sepucuk daun buah ajaib terus diangsurkan kepada Tosu itu serta katanya.

"Mungkin Totiang terkena racun jahat, inilah daun Kiu-thian-cu-ko, setelah Totiang menelan daun ini tentu penyakitmu dapat sembuh."

Tampak Tosu itu rada beragu sebentar, namun akhirnya ia menerima juga, dengan kedua tangannya Thian-hi menyongkel gigi si Tosu yang terkatup kencang terus menjejalkan daun buah ajaib ke dalam mulutnya.

Rada lama kemudian, baru tampak si Tosu dapat menghela napas lega dengan lemah, katanya serak.

"Pinto memang Giok-yap adanya. Entnh Siauhiap mencari aku ada urusan apa?"

Mendengar ucapan orang sungguh girang Thian-hi bukan main, tersipu-sipu ia berlutut dan menyembah sapanya.

"Wan-pwe Hun Thian-hi menghadap pada Lo-cianpwe."

Kata Giok-yap Cinjin perlahan.

"Sekarang aku tahu untuk apa kau kemari. Aku dibokong orang sehingga tak dapat bicara, badanpun menjadi kaku tak bisa bergerak sejak sebulan yang lalu. Tadi meski kau sudah memberi daun buah ajaib, paling tidak harus memakan waktu dua belas jam baru bisa pulih seluruhnya! Eh, kau bangunlah!"

Kata Thian-hi sambil bangkit.

"Wanpwe semula mengira mungkin Cianpwe dikelabui dalam peristiwa ini maka dengan lancang menghadap kemari."

Ujar Giok-yap Cinjin memejamkan mata.

"Aku dapat menduga kejadian apakah itu, tapi belum jelas akan duduk perkara sebenar-benarnya, coba Hun-siauhiap menjelaskan."

Maka Hun Thian-hi menceritakan pengalamannya sejak ia bertemu dengan Kim Ci-ling. Setelah mendengar cerita Thian-hi Giok-yap Cinjin membuka mata, katanya serius.

"Hun siauhiap! Dosa. Gwat Long dan Sing Poh dalam peristiwa ini tak terampun lagi. Tapi apakah Hun siauhiap tahu siapakah orangnya yang berdiri di belakang lajar?"

Thian-hi berpikir sebentar, jawabnya.

"Tentang hal ini Wanpwe pernah memikirkannya, memang pasti ada orang yang memegang rol di belakang peristiwa ini, dan orang itu pasti Mo-bin Suseng adanya."

Giok-yap Cinjin manggut-manggut, tiba-tiba ia bertanya.

"Apakah Siauhiap ada bermusuhan dengan Mo~bin Suseng?"

Hun Thian-hi manggut-manggut mengiakan. Kata Giok-yap Cinjin.

"Beberapa tahun belakangan ini aku gemar main catur, beberapa waktu yang lalu pernah datang seorang yang mengaku bernama Hou Gwan, diapun pandai bermain catur, sungguh aku tidak menduga bahwa dia inilah Mo-bin Suseng yang kenamaan di seluruh jagad itu, diam-diam ia telah meracun kepadaku, racun yang digunakan adalah Soat-san-cu, bisa paling jahat di seluruh dunia. Karena kurang hati-hati aku terjebak oleh tipu muslihatnya. Dia ngapusi murid2ku katanya aku tersesat latihan Lwekang, tanpa Badik buntung tak mungkin dapat disembuhkan." -setelah bercerita ia menghela napas dengan rawan. Thian-hi sendiri juga bungkam dan menunduk. Sambung Giok-yap.

"Mo-bin Suseng berhati culas dan banyak muslihatnya, jika dia tahu sekarang aku sudah sembuh tentu menggunakan akal liciknya untuk mencelakai jiwaku. Baru saja aku menelan daun buah ajaib, betapa pun jangan sampai dia mengetahui."

Thian-hi manggut-manggut, dalam hati ia mengakui kenyataan ini, kalau Mo-bin Suseng betulbetul tahu di bawah gosokan mulut manisnya tentu Gwat Long dan Sing Poh takkan membiarkan dirinya berada di tempat ini dengan tetap bernapas.

Sedang Giok-yap harus menunggu dua belas jam lagi baru bisa pulih kesehatannya.

Kalau Mo-bin Suseng hendak berbuat jahat rasanya semudah ia membalikkan telapak tangan.

Karena pikirannya ini segera ia bertanya kepada Giok-yap Cinjin.

"Kenapa Tio-yang-kiong kosong melompong selain Cianpwe seorang."

"Setelah seluruh penghuni Tio-yang-kiong tahu aku keracunan mereka lantas pindah ke Sianggoan-kiong, tinggal Gwat Long dan Sing Poh saja bersama aku, tapi sewaktu2 mereka pergi, legakan saja hatimu, saat ini selain mereka berdua tiada seorangpun yang bisa kemari. Meski sepak terjang mereka sangat tercela, tapi mereka masih dengar kata-kataku!" -habis berkata ia menghela napas panjang. Thian-hi memaklumi kesukaran dan pikiran Giok-yap Cinjin, sepak terjang Gwat Long dan Sing Poh memang patut dihukum mati, tapi betapapun perbuatan mereka itu melulu demi keselamatan Giok-yap Cinjin, maka tidaklah heran kalau Giok-yap Cinjin merasa sedih dan serba sulit. Hun Thian-hi tunduk dan terpekur. Begitulah selanjutnya mereka bicara panjang lebar, dalam kesempatan itu Giok-yap Cinjin menanyakan riwayat hidup Thian-hi, dengan setulus hati Thian-hi menutur apa adanya. Akhirnya Giok-yap Cinjin tenggelam dalam pikirannya, agak lama kemudian baru buka bicara lagi.

"Urusan ini setelah aku sembuh tentu akan kubereskan. Tentang urusanmu tentu aku akan berusaha sekuat tenaga, meski aku ada janji dengan Bu-bing Loni untuk tidak mencampuri urusan dunia tapi kau telah menolong jiwaku, tidak bisa tidak aku harus membalas budi ini, sampai pada waktunya tentu dapat dibereskan dengan sempurna."

Girang hati Thian-hi, lekas-lekas ia nyatakan banyak terima kasih kepada Giok-yap Cinjin, pikirnya dengan keagungan Giok-yap Cinjin bila ia mau sedikit membela dan bicara demi kebersihannya maka segala urusan tentu dapat dibikin terang.

Tengah ia kegirangan, mendadak terdengar langkah kaki yang sangat lirih di luar pintu, bercekat hati Thian-hi, waktu ia pandang wajah Giok-yap agaknya ia tidak mendengar, maklum karena kesehatan Giok-yap belum sembuh seluruhnya, mana mungkin dengar suara yang begitu lirih.

Cepat ia berkata kepada Giok-yap Cinjin.

"Apakah Cianpwe mendengar suara langkah di luar? Ada orang tengah mencuri dengar pembicaraan kita!"

Berubah air muka Giok-yap, katanya.

"Tentu Mo-bin Suseng adanya!"

Mendengar akan Mo-bin Suseng Thian-hi juga terkejut, sebat sekali ia bergerak melesat keluar, maksudnya hendak meringkus Mo-bin Suseng.

Terdengar olehnya lapat-lapat suara derap langkah yang ringan dan lirih berlari ke depan sana.

Begitu mendengar jelas suara langkah itu bergolak darah dalam rongga dadanya, sambil menghardik keras.

"Lari kemana!"

Tubuhnya melesat seperti anak panah mengejar ke depan.

Setelah membelok tiga tikungan pandangan di depan menjadi jelas kiranya itulah seekor kucing hitam mulus.

Thian-hi tertegun sebentar, hatinya lantas mengeluh.

"Celaka! Giok-yap masih belum mampu bergerak, terang aku terpancing meninggalkan sarang,"

Karena pikirannya ini cepat-cepat ia berlari balik.

Begitu ia melangkah di ambang pintu seketika ia berdiri kesima di depan pintu.

Giok-yap Cinjin tetap duduk di tempatnya tak bergerak, namun dadanya bertambah sebilah badik dengan digenangi darah segar, jelas itulah Badik buntung yang menghunjam di dadanya.

Kepala Thian-hi laksana dipukul godam, pikirannya menjadi kosong, segala harapan semula sekarang menjadi lenyap seperti gelembung air, tak perlu disangsikan lagi tentu inilah buah karya Mo-bin Suseng yang culas dan banyak muslihatnya itu.

Entah berapa lama ia menjublek di tempatnya, mendadak didengarnya derap langkah orang banyak.

Walaupun Giok-yap Cinjin bukan mati oleh tangan Hun Thian-hi, namun sanubarinya dirundung suatu perasaan yang susah diraba takutnya, siapapun bila melihat ia hadir disini tentu akan curiga bahwa dialah yang telah membunuh Giok-yap Cinjin.

Dengan gelisah Thian-hi celingukan ke kanan kirinya, baru saja ia hendak lari ke kamar lain mendadak teringat akan Badik buntung, kalau Badik buntung tertublas di dada Giok-yap sedang umum tahu bahwa Badik buntung adalah miliknya, orang lain takkan mau percaya bahwa Badik buntung pernah direbut oleh Gwat Long dan Sing Poh karena tiada bukti, sekarang....

Lekas-lekas ia berlari masuk ke dalam ruang samadi, baru saja ia menarik Badik buntung dari dada Giok-yap Cinjin dan berputar, pintu kamar sudah penuh dihadang oleh anak murid Bu-tongpay, terang Thian-hi tak punya jalan untuk meloloskan diri....

Bab Sungguh Thian-hi tak berani membayangkan, sambil menggerung seperti singa mengaum ia kiblatkan Badik buntung terus menerjang ke arah pintu.

Tapi para penghadang itu adalah Sam-lo-chit-cu, merupakan tokoh-tokoh yang paling diandalkan oleh pihak Bu-tong-pay, mana mungkin mereka mau membiarkan dirinya melarikau diri?

Serempak Sam-lo-chit-cu melolos pedang, terus bergerak saling melintang melancarkan serangan gabungan yang dahsyat perbawanya, Thian-hi terdesak mundur ke dalam kamar semadi lagi.

Thian-hi menggertak, yang terpikir dalam otaknya hanya melarikan diri, sedikitpun tidak terpikir olehnya akibat dari peristiwa hebat ini.

Dimana Badik buntung berkelebat dengan jurus Gelombang perak mengalun berderai ia merabu para musuhnya sehingga Sam-lo-chit-cu terdesak mundur oleh tabiran cahaya hijau pupus yang dingin dan tajam sekali.

Sam-lo-chit-cu merupakan tokoh-tokoh kosen yang berkepandaian tinggi, mereka insaf setiap jurus serangan Thian-hi pasti adalah jurus-jurus ganas yang membahayakan, maka sebat sekali mereka bergerak bersama, sepuluh orang sepuluh batang pedang berbareng melancarkan jurus gabungan Coan-liu-gak-lik, memang dahsyat sekali perbawa tenaga gabungan ilmu pedang ini, betapapun lihay dan hebat serangan Thian-hi tak urung ia terdesak balik oleh daya perlawanan yang kuat dari tenaga musuh.

Sekali gebrak saja lantas terdesak mundur, namun segala akibat dan sesuatunya sudah tak terpikirkan lagi oleh Thian-hi, begitu mundur ia menyerbu maju lagi, kini ia lancarkan jurus Tamlian-hun-in-hap dari Gin-ho-sam-sek kedua.

Jurus kedua ini berlipat ganda lebih dahsyat dan hebat perbawanya, Sam-lo-chit-cu terpaksa harus menyurut mundur, Thian-hi berkesempatan menerobos lewat keluar pintu, begitu sampai diluar Sam-lo-chit-cu sudah berbaris membentuk sebuah barisan mengepung dan menghadang jalan lari Thian-hi.

Thian-hi insaf jalan satu-satunya baginya hanyalah menggunakan kekerasan, maka begitu bergerak langsung ia mengerahkan sekuat tenaga merangsak musuh.

Tampak Sam-lo-chit-cu berpencar dan secepat kilat bergabung maju pula, tetap mereka mengepung Thian-hi di tengah.

Thian-hi sudah berusaha mengerahkan tenaga dan mengembangkan ilmu pedangnya mengandal ketajaman Badik buntung, namun setiap serangannya selalu kandas, ia terpaksa harus membela diri melulu.

Untung kedua jurus Gin-ho-sam-sek yang dilatihnya itu merupakan ilmu pedang tingkat tinggi yang sudah diapalkan diluar kepala, untuk membela diri jauh masih berkelebihan.

Sekejap saja lima puluh jurus sudah berlalu, dari atas gunung tampak berlari-lari mendatangi dua sosok bayangan.

Dilain kejap begitu kedua orang ini tiba Sam-lo-chit-cu segera menarik serangan, pedang melintang di depan dada.

Berpikirpun tidak, begitu melihat Sam-lo-chit-cu menghentikan aksinya sebat sekali Thian-hi melejit tinggi terus terbang ke depan menuju bawah gunung.

Sambil menarik muka kedua pendatang itu terus mengejar ke depan, masing-masing mengulur telapak tangan memukul ke arah Thian-hi.

Begitu melihat gaya serangan kedua orang ini, Thian-hi lantas berteriak kejut.

"Gwat Long Sing Poh!" -setelah berteriak ia angkat kepala mengawasi kedua orang ini dengan seksama. Kiranya Gwat Long dan Sing Poh adalah pemuda remaja yang berusia 20-an, mengenakan jubah Tosu warna hijau, punggung masing-masing menyandang pedang panjang, biji matanya tanpa expresi mengawasi Hun Thian-hi tanpa berkedip. Walau usia Gwat Long dan Sing Poh masih muda, namun mereka adalah murid langsung dari Giok-yap Cinjin, mereka berdua saja yang menjadi keturunan dari ilmu Siau-yang-sin-kang, maka begitu mereka unjuk diri, Sam-lo-chit-cu harus memberi muka dan mengalah kepada mereka. Memandang Gwat Long Sing Poh, Hun Thian-hi menjengek dingin.

"Cara bagaimana kematian Suhu kalian, kukira kalian berdua sudah tahu, kiranya tak perlu aku Hun Thian-hi banyak mulut. Sekarang kalian mencari perkara kepada aku, sungguh aku ikut penasaran akan kematian beliau."

Gwat Long dan Sing Poh bungkam seribu basa, Sam-lo-chit-cu mendengus ejek, Gwat Long dan Sing Poh angkat kepala, pelan-pelan menggapai tangan, serempak Sam-lo-chit-cu menyerbu lagi.

Thian-hi bergelak tawa saking murka, Badik buntungnya berkelebat menyerang kepada Sam-lo.

Gwat Long dan Sing Poh saling pandang sekilas, mereka mencabut pedang masing-masing terus berkelebat memasuki gelanggang memapas dan menusuk kepada Thian-hi.

Sambil kertak gigi Hun Thian-hi ayun Badik buntungnya untuk melawan keroyokan musuh, tapi Gwat Long dan Sing Poh adalah murid didik langsung dari Giok-yap Cinjin sejak masih kecil, Bu-tong-pay merupakan aliran murni dari golongan Lwekeh, sejak kecil mereka sudah diberi kepandaian dasar yang kokoh kuat sudah tentu hasilnya sangat mengagumkan.

Melihat cara tempur Hun Thian-hi yang nekad dan tanpa gentar sedikitpun berbareng mereka memutar pedang dan menyampok kesamping, dengan rangsekan berbareng dari dua jurusan ini Badik Hun Thian-hi kena dituntun miring kesamping, kesempatan ini digunakan Sam-lo-chit-cu mengacungkan pedang menusuk dan membacok bersama dari berbagai penjuru.

Jidat Thian-hi sudah basah oleh air keringat, terdengar ia menggembor keras, tanpa disadari ia mengembangkan ilmu ringan tubuh yang pernah dilihatnya dari si tua Pelita dalam rimba tempo hari, keadaan waktu itu sangat berkesan dalam benaknya, sekarang dalam keadaan genting dia kembangkan, laksana ikan berenang selicin belut ia bergoyang gontai bergerak lolos dari rangsekan pedang Sam-lo-chit-cu.

Thian-hi sendiri menjadi tercengang melihat hasil perkembangan ilmu ringan tubuhnya yang dapat ditirunya dari kepandaian Situa Pelita, bahkan girang melihat dirinya bakal lolos dari kepungan Sam-lo-chit-cu gerak-geriknya menjadi sedikit lamban, tampak selarik sinar pedang berkelebat tahu2 lengan kirinya sudah tergores luka panjang dan mengeluarkan darah deras.

Saking kesakitan Thian-hi sampai mengeluh panjang, cepat2 ia kiblatkan Badik buntung melancarkan jurus kedua dari Gin-ho-sam-sek untuk membendung serangan susulan pihak musuh.

Dari menyelang ia sekarang menjadi pihak yang bertahan, meski terasa tekanan tenaga dari berbagai penjuru sangat berat, tapi dalam waktu dekat ia masih kuat bertahan.

Melihat serbuan gabungan ilmu pedang mereka tak berhasil membobol pertahanan Thian-hi, Gwat Long dan Sing Poh menjadi sengit.

Mendadak mereka membalikkan pedang, serempak melancarkan ilmu simpanan pihak Bu-tong-pay yang dinamakan Cian-si-bi-ciu, dua batang pedang mereka berputar memetakan cahaya terang benderang menerangi gelanggang, seluruh kekuatan telah dikerahkan untuk melancarkan serangan ini.

Se-konyong2 Thian-hi merasa tekanan dari empat penjuru bertambah berat, luka lengan kirinya mengalirkan darah lagi, insaf ia kalau pertempuran berlangsung terus tentu dirinya susah buat bertahan, paling lama juga hanya kuat bertahan setengah jam.

Lama kelamaan kepalanya terasa berat, matanya ber-kunang2 dan kabur, sekuatnya ia masih lancar-kan jurus2 ilmu Gin-ho-sam-sek untuk berlindung dan membela diri.

Mendadak samar2 terdengar olehnya teriakan kaget dan takut, Gwat Long dan Sing Poh, berbareng terasa tekanan serangan mereka mengendor.

Kuat2 Thian-hi menggelengkan kepala, sebuah keajaiban tiba2 membuat semangatnya tersentak bangun dari kepalanya.

Namun dilain saat Thian-hi sendiri juga menjadi melongo, karena terlihat olehnya Giok-yap Cinjin tengah berdiri tegak dikaki tembok sebelah dalam sana.

Sekilas Thian-hi menjadi sadar bahwa entah tokoh siapa yang telah berusaha menolong dirinya.

untuk menerjang keluar dari kepungan, sebat sekali ia melambung tinggi terbang kebawah gunung.

Sambil menggertak Sam-lo-chit-cu menggerakkan pedang menusuk dan membabat.

gesit sekali Thian-hi menggeliat ditengah udara tubuhnya terus meluncur kedepan, serangan bersama Sam-lochit-cu mengenai tempat kosong.

Terdengar Gwat Long dan Sing Poh menghardik keras.

berbareng mereka melejit mengejar sambil menyerang dari jarak jauh.

Thian-hi berusaha untuk mengegos, namun gerak geriknya sudah rada lamban, kontan pundak kirinya kena dijotos lagi oleh musuh, seketika ia rasakan seluruh lengan kirinya seperti dipanggang diatas bara, begitu kakinya menyentuh tanah segera ia kembangkan ilmu ringan tubuh dan berlari sipat kuping kebawah gunung.

Entah sudah berapa lama dan berapa jauh ia berlari, cara bagaimana pula ia berhasil menghindarkan diri dari kejaran Gwat Long dan Sing Poh, tak diketahui pula olehnya kapan ia telah jatuh pingsan dan tak sadarkan diri lagi.

Waktu Thian-hi membuka mata terasa mukanya dingin, terlihat Hwesio jenaka tengah berdiri dihadapannya sembari cengar-cengir kepadanya.

Thian-hi merasa badannya sedikit segar, ter-sipu2 ia berusaha bangkit berduduk, segera Hwesio jenaka mencegahnya katanya tertawa.

"Kesehatanmu belum pulih, jangan kesusu bangun!"

Memang Thian-hi merasa kaki tangannya lemas tak bertenaga, dengan lirih ia menyapa.

"Siausuhu, hari ini aku tertolong pula oleh kau, sungguh tak ahu cara bagaimana aku harus membalas kebaikanmu ini."

Hwesio jenaka masih cengar-cengir tanpa bicara, rada lama kemudian baru ia buka bicara.

"Urusan yang kau kerjakan kali ini sungguh sangat menggemparkan. Kau tertuduh membunuh Giok-yap Cinjin, apakah kau kuat memikul dosa berat ini? Jangan kata orang luar, mungkin gurumu sendiri pun takkan berani buka bicara untuk membela kau lagi."

Thian-hi maklum apa yang dikatakan itu memang kenyataan, ia menghela napas an bungkam seribu bahasa. Sesaat kemudian tiba2 ia bertanya.

"Kenapa Siau-suhu bisa disini? Bagaimana pula kau tahu bahwa Giok-yap Cinjin bukan aku yang membunuhnya?"

Wajah Hwesio jenaka lantas mengunjuk rasa sedih dan rawan, ia berputar menghadap kejurusan lain, sejenak kemudian ia berpaling serta berkata dengan tersenyum.

"Jangan kau berpikir terlalu jauh, aku mendengar kabar bahwa Mo-bin Suseng hendak mencelakai kau, waktu aku menyusul tiba tapi sudah terlambat!"

Bergegas Thian-hi bangun berduduk, tanyanya cepat.

"Dimana Siau-suhu mendengar kabar ini?"

Hwesio jenaka menyengir, jawabnya.

"Bukan aku tidak mau memberitahu, sebetulnya tak guna mengetahui hal itu."

Thian-hi dirundung rasa cemas dan curiga, pelan2 ia merajap bangun menggelendot dibatang pohon, dengan seksama ia menatap Hwesio jenaka, pikirnya.

"Darimana ia tahu? Mungkinkah.........."

Tampak Hwesio jenaka tetap berseri tawa tanpa menunjukkan sesuatu keganjilan. Akhirnya Thian-hi menghela napas, ujarnya.

"Siau-suhu! Aku memikul dendam kesumat sedalam lautan, kalau Siausuhu suka memberi petunjuk sehingga aku dapat menuntut balas, Siausuhu minta apapun terhadap aku tentu dapat kulaksanakan."

Hwesio jenaka tertawa lebar, katanya..

"Apa yang kutahu saat ini bila kuberitahu kepada kau hanya akan mengagetkan pihak musuh saja, malah mungkin membawa bencana bagi kau."

Thian-hi menerawang sebentar, lalu katanya.

"Apakah Siau-suhu anggap sepak terjangku terlalu gegabah?"

Kata Hwesio jenaka tertawa lebar.

"Sekarang kau lebih baik pergi ke Siau-lim-si, berusaha mendapat bantuan dari Thian-cwan Taysu, kalau beliau yang tampil kedepan mungkin dapat menghapus penasaranmu, Sampai saatnya nanti boleh kau bicara perihal yang lain, karena saat ini kau terancam bahaja dan sulit berdiri dikalangan Kangouw."

Terkancing mulut Thian-hi, memang kenyataan apa yang dikatakan itu.

Mungkin Thian-cwan Taysu belum tentu mau membantu, beliau tidak tahu duduk perkara sebenarnya, bagaimana mungkin beliau mau membantu secara semberono?

Melihat kesangsian Thian-hi, Hwesio jenaka berkata lagi.

"Selain jalan ini tidak ada cara lain untuk mengatasi kesukaranmu ini". Thian-hi merenung sekian lama, hatinya gundah dan bingung, memang selain jalan itu tiada cara penyelesaian lain yang lebih sempurna. Kata Hwesio jenaka.

"Kalau kau sudi aku bisa menunjukkan jalan, sepanjang jalan ini kutanggung tidak akan ada orang yang mencegat, dan tanpa rintangan kau dapat menghadap kepada Thian-cwan Taysu. Tapi persoalan lain aku tak berdaja lagi."

Ter-sipu2 Thian-hi menyatakan banyak terima kasih.

Saat itu juga segera mereka berangkat menuju ke Siau-lim-si.

Mereka menempuh perjalanan dengan gerak cepat, tak terasa lima hari sudah berlalu, luka Thian-hi sudah mulai sembuh, hari itu mereka sudah tiba dibawah kaki Siong-san.

Berjalan didepan Hwesio jenaka membawa Thian-hi berlari naik keatas melalui jalan yang ber-liku2, tak lama kemudian jauh diatas tebing terlihat tembok warna merah.

Tak terasa hati Thian-hi menjadi berdebar dan tegang, dengan memikul dosa yang tak terampun ia hendak menghadap Thian-cwan Taysu, tak tahu bagaimana Thian-cwan Taysu bakal menghadapi dirinya nanti.

Hwesio jenaka terus membawa Thian-hi maju kedepan, secara sembunyi2 mereka melompati tembok merah, serta maju terus kedepan sambil berjalan merunduk.

Tampak para hwesio penjaga berlalu lalang meronda.

Agaknya Hwesio jenaka seperti apal betul dengan keadaan didalam kelenteng besar Siau-lim-si ini, selalu ia mencari jalan yang penuh ditumbuhi pepohonan lebat dan rimbun.

Tak lama kemudian mereka sudah sampai diambang sebuah hutan bambu, dengan jari telunjuk Hwesio jenaka memberi isyarat supaya Thian-hi masuk kedalam hutan bambu itu.

Girang hati Thian-hi, segera ia mencelat melesat menuju kehutan bambu itu, sayang gerak geriknya rada kasar sehingga menyentuh dedaunan dan mengeluarkan suara keresekan.

Keruan Hwesio jenaka kaget sekali, cepat ia celingukan kekanan kiri, tampak olehnya seorang hwesio muda tengah beranjak maju kearah tempat sembunyi Thian-hi.

Hwesio jenaka menjadi gugup dan gelisah, namun dia sendiripun tidak boleh mengunjukkan diri, terpaksa sembunyi tanpa berani bergerak, terserah kepada nasib Thian-hi bagaimana.

Meski Thian-hi mendekam tanpa bergerak, namun tempat sembunyinya sudah korangan, mana mungkin ia dapat mengumpat lagi.

Sementara itu hwesio muda itu sudah semakin dekat ketempat sembunyi Thian-hi.

Waktu Hwesio jenaka melihat tegas wajah hwesio muda itu, hatinya bercekat, kiranya hwesio muda ini tak lain tak bukan adalah murid Ciangbunjin Siau-lim-si Te-kik Taysu, yaitu Ti-hay.

Thian-hi juga mendengar derap langkah orang yang tengah mendatangi kearah dirinya, tapi ia tak berani bergerak, besar harapannya hwesio muda ini hanya salah dengar dan menuju ketempat lain.

Kira2 tiga tomtaak dari jarak tempat sembunyi Thian-hi Ti-hay menghentikan langkahnya.

pelan2 ia buka bicara.

"Siapakah itu? Kalau berani berkunjung ke Siau-lim-si, kenapa main sembunyi segala?"

Thian-hi tahu tak mungkin main sembunyi lagi, dilihatnya hutan bambu itu berjarak tiga lima tombak jauhnya dari tempat sembunyinya, mungkin sekali lompat saja bisa sampai, kalau bisa berjumpa dengan Thian-cwan Taysu, maka tidak sia2lah perjalanan jauh ini.

Melihat orang yang sembunyi dibalik rumpun pohon tidak bergerak dan menunjukkan reaksi, gesit sekali Ti-hay bergerak maju, tubuhnya melayang ringan menubruk ketempat sembunyi Thianhi.

Tepat pada saat itu juga, Thian-hi menjejakkan kedua kakinya meleset kearah hutan bambu.

Melihat orang buruannya sudah muncul lekas2 Ti-hay berse-ru.

"Sicu harap berhenti!"

Mulut berkata gerak kakinya begitu cepat, tubuhnya meluncur kedepan mengejar kearah Thian-hi, kedua jari dirangkapkan langsung menutuk kejalan darah dipungung Thian-hi.

Sejengkal lagi Thian-hi bakal mencapai hutan bambu, namun tutukan Ti-hay sudah hampir mengenai jalan darah dipunggung, terpaksa ia membalikan tangan kanan mengayun Badik buntung, selarik sinar hijau yang tajam dan dingin memapas kepergelangan tangan Ti-hay.

"Badik buntung?"

Teriak Ti-hay dengan kaget, cepat2 ia tarik tangan kanan serta mendegus gusar, sebat sekali tangan kanan sudah membalik maju lagi telapak tangan terpentang menjojoh kedepan mengandung tenaga Ciang-mo-sin-kang, yang diarah punggung Thian-hi lagi..

Melihat Ti-hay melancarkan pukulan yang lebih hebat, sementara tubuh Thian-hi sudah mencelat mumbul sampai diujung sepucuk bambu, terpaksa ia gunakan Badik buntung untuk menangkis kearah pukulan telapak tangan Ti-hay.

Tenaga pukulan Ciang-mo-sin-kang sungguh bukan olah2 hebatnya, kontan Badik buntung kena tergetar lepas dari cekalan Thian-hi.

Maklum Thian-hi baru sembuh dari luka2nya setelah beradu pukulan dengan Sian-thian-cin-gi pihak Bu-tong-pay, seketika tenaga pukulan Ciang-mosin-kang merembes masuk ke lengan kanannya dan terus menerjang jantung, sesaat dadanya menjadi sesak, tak kuasa lagi mulutnya lantas menyemburkan darah segar.

Sementara tubuh Thian-hi melayang jumpalitan kedalam hutan bambu.

Ti-hay tak berani sembarangan mengejar kedalam, cepat2 ia melompat turun dan menerobas masuk dari jalan yang menumpuh kedalam hutan bambu itu.

Sekuatnya Thian-hi mengempos tenaga untuk memusatkan semangat, waktu ia menggelinding jatuh ditanah, samar2 terlihat dalam pandangan matanya seorang Hwesio tua duduk bersila tiga tombak didepan sana.

Susah payah ia merangkak maju serta sembahnya tergagap.

"Wanpwe Hun Thian-hi menghadap Thian-cwan Taysu."

Habis kata2nya, iapun jatuh pingsan.

Waktu Ti-hay juga memburu masuk kedalam hutan bambu tampak Thian-hi sudah menggeletak tak berkutik di tanah, ter-sipu2 ia merangkap tangan memberi hormat dan bersabda.

"Thian-cwan Supek, entah untuk apa orang ini menyelundup ke Siau-lim-si. Harap Supek memberi ijin untuk kubawa keluar!"

Thian-cwan Taysu membuka mata sejenak ia menatap Hun Thian-hi lalu katanya.

"Dia berkata hendak mencari aku, entah ada urusan apa. Bila Sutit berkenan bisakah kutanyakan dulu beberapa patah kata?"

Cepat Ti-hay menjawab.

"Kalau Supek hendak bertanya kepadanya baiklah Sutit mengundurkan diri dulu. Tapi orang ini membekal Badik buntung, pernah membunuh banyak orang di kalangan Kangouw, kabar yang terakhir malah katanya telah membunuh Bu-tong Ciangbun Giok-yap Cinjin, betapapun Supek harus hati2, jangan sampai tertipu oleh obrolannya."

Thian-cwan Taysu tampak terkejut, setelah terpekur sebentar ia berkata.

"Giok-yap Cinjin bisa mati di tangannya ?" -nadanya penuh tanda tanya dan hampir tak percaya. Sahut Ti-hay.

"Sutit pun hanya mendengar kabar saja bagaimana duduk perkara sebetulnya Sutitpun tidak tahu?"

Thian-cwan Taysu manggut2, ujarnya.

"Dia datang ingin bertemu dengan aku, maka aku harus mencari tahu kepadanya. Kuduga urusan ini terselip latar belakang yang sulit diraba, apalagi mungkin hanya dia seorang saja yang tahu segala seluk beluknya."

Ti-hay merangkap tangan didepan dada, serta berkata.

"Sulit sementara mengundurkan diri saja."

Thian-cwan manggut.

Cepat2 Ti-hay membungkuk badan terus mundur keluar.

Sekian lama Thian-cwan Taysu ter-mangu2, baru pelan2 bangkit menghampiri Thian-hi, diulurkan sebelah tangannya menekan nadi pergelangan tangan Thian-hi.

Lalu diangkatnya diletakkan disamping tempat duduknya, dengan jari jemarinya pelan2 ia mengurut jalan darah Thian-hi.

Tak lama kemudian dalam keadaan sadar setengah sadar Thian-hi merasa segulung hawa hangat menjalar kencang menyusup ke seluruh tubuhnya.

Setiap jari Thian-cwan Taysu mengurut, hawa murni dalam tubuhnya serasa bergetar, dan tertuntun oleh hawa hangat tadi serta ikut berputar dan melandai kesegala jalan darah di seluruh tubuhnya.

Waktu Thian-hi membuka mata, dilihatnya disamping duduk seorang Hwesio tua berjenggot dan beralis putih, tahu dia mesti beliau inilah Thian-cwan Taysu adanya, bergegas ia bangun serta katanya.

"Terima kasih akan pertolongan Taysu!"

Thian-cwan Tausy menggoyang tangan per-lahan2.

"Siausicu tak usah banyak peradatan. Siausicu mencari aku entah ada urusan apa?"

Thian-hi segera menyembah serta serunya.

"Tecu Hun Thian-hi tersangkut bencana yang penasaran harap Taysu suka membantu mencuci bersih nama baik Wanpwe."

"Coba kau ceritakan dulu persoalan apakah itu?"

"Bu-tong Ciangbun Giok-yap Cinjin tentu Taysu sudah kenal."

Demikian Thian-hi mulai dengan ceritanya.

"Beberapa waktu yang lalu beliau telah terbunuh secara gelap oleh musuh. Tapi seluruh tokoh2 silat dikolong langit ini semua menuduh adalah buah karya Wanpwe. Andai kata harus berkorban aku Hun Thian-hi takkan menyesal, tapi apakah kita harus membiarkan pembunuh durjana itu ongkang2 kaki dan berpeluk tangan, betapapun aku rada penasaran."

"Hal ini baru saja kudengar beberapa waktu yang lalu,"

Begitulah Thian-cwan bertanya.

"sebetulnya bagaimana duduk perkara sebenarnya, coba kau ceritakan."

Per-lahan2 Thian-hi menutur pengalaman sejak dirinya berpisah dengan Suhunya Kongsun Hong secara ringkas.

dan jelas.

Setelah selesai mendengar cerita Thian-hi, Thian-cwan Taysu pejamkan mata terpekur dalam pikirannya, akhirnya ia berkata.

"Meski apa yang kau uraikan sangat beralasan, tapi aku tak bisa dengar kata sepihak saja, kalau menurut apa yang kau katakan kau memang seorang yang tak berdosa, atau sebaliknya kau adalah seorang durjana yang keliwat batas."

Thian-hi menghirup hawa, desaknya.

"Taysu merupakan tokoh teragung dalam dunia persilatan, perkara ini tentu bisa tercakup dalam genggaman Taysu seorang, memang Taysu tak bisa mendengar kata sepihak dari saja. Sebaliknya kalau Gwat Long dan Sing Poh tidak mau bicara sejujurnya, selanjutnya aku mesti tenggelam semakin dalam dan tak mungkin membongkar rahasia pembunuhan gelap yang misterius itu."

Thian-cwan harus hati2 dan tenggelam dalam pikirannya lagi, katanya.

"Dulu aku pernah berjanji dengan Bu-bing Loni untuk tidak turut campur urusan Kangouw, tapi Giok-yap adalah sahabat tuaku, urusannya menjadi urusanku juga, kalau kau sudi menetap dan tinggal disini selama seratus hari, supaya memberi peluang dan kesempatan aku untuk menyirapi dan menyelidiki peristiwa ini, tentu aku dapat memberikan kepastian dan keputusan, apakah kau bisa?"

Thian-hi juga ragu2, akhirnya ia berkata.

"Taysupun sudah tahu, bahwa Soat-san-su-gou punya perjanjian selama setahun dengan Bu-bing Loni, jangka waktu itu sudah habis seratusan hari, kalau aku tinggal lagi disini selama seratus hari, sisa hari2 selanjutnya tidak banyak untuk menempuh segala usahaku, bagaimana enak perasaanku terhadap Soat-san-su-gou berempat Cianpwe?"

Thian-cwan Taysu menjadi bungkam, sebentar kemudian ia berkata.

"Kau mementingkan persoalan itu aku pun tak bisa menyalahkan kau. Tapi dalam keadaan gawat begini apakah kau mampu dan bisa menempuh perjalanan ke Tiang-pek-san?"

Thian-hi berdesah dengan rawan.

"Soat-san-su-gou berempat Cianpwe wafat karena aku, masa untuk mencoba saja aku tidak sudi?"

Thian-cwan menghela napas, ujarnya.

"Maksud Soat-san-su-gou memang baik. Tapi masa mereka tahu kalau ilmu silat Ce-han-it-ki dan Ciang-ho-it-koay dapat menandingi Bu-bing Loni?"

Thian-hi terlongong2, ia tunduk dan tak kuasa bicara. Kata Thian-cwan Taysu pelan2.

"Saat ini sudah tentu siapapun tidak tahu, bukan saja mereka berdua, dulu situa Pelita pun menyangka Go-cu Taiysu bisa menandingi Bu-bing-Loni, tapi menurut hematku, belum tentu demikian."

Thian-hi melengak dengan rasa tak percaya, tanyanya.

"Apakah Bu-bing Loni betul2 tiada tandingan diseluruh kolong langit ini?"

Thian-cwan Taysu geleng2 kepala, jawabnya.

"Untuk hal ini siapapun tak berani memastikan namun untuk saat ini aku sendiri juga sangsi dan belum tahu ada tokoh mana yang mampu dan kuat menandingi Bu-bing Loni."

Thian-hi terlongong bungkam. Thian_cwan Taysu melanjutkan.

"Kalau kau mau menghimpas sakit hatimu, tiada halangan kau menetap disini selama seratus hari. tapi aku pun tidak memaksa kau, kalau tekadmu hendak pergi ke Tiang-pek-san, boleh silakan kau berangkat!"

Thian-hi angkat kepala memandang kearah Thian-cwan Taysu. Thian-cwan Taysu tahu maksud Thian-hi, sesaat ia menatap wajah orang lalu katanya.

"Aku akan suruh mereka melepas kau pergi."

Thian-hi tertunduk lagi, katanya.

"Terima kasih akan kebaikan Taysu, sekarang juga Hun Thianhi mohon diri!"

"Siau_sicu,"

Ujar Thian-cwan menghela napas.

"Sesat dan lurus hanya terpikir dalam kilasan otak manusia, Sicu berteksd berkecimpung di Kangouw, sungguh Hwesio tua ini merasa kagum. Sebelum berangkat ingin aku memberi sedikit bekal kepadamu, hanya bersabar dan berlaku bijaksanalah baru akan tercapai cita2mu tanpa me-nyia2kan harapan orang banyak."

Thian-hi terlongong sebentar lalu menyembah tiga kali kepada Thian-cwan Taysu, setelah menjemput Badik buntung terus mengundurkan diri. Terdengar Thian-cwan Taysu berseru keluar.

"Ti-hay!"

Tampak Ti-hay beranjak masuk dari luar hutan. Segera Thian-cwan Taysu memberi perintah.

"Hantarkan Hun-sicu keluar!"

Baca Juga: Bagus Sajiwo 1

Baca Juga: Naga Beracun 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert