Ceritasilat Novel Online

Seruling Samber Nyawa 1

Eps 1 Seruling Samber Nyawa - Chin Yung

Baca online Seruling Samber Nyawa - Chin Yung

Cersil Seruling Samber Nyawa - Chin Yung.

Bu Lim Su Cun Karya . Chin Yung

Jilid 01 Malam telah larut, musim rontok menjelang habis, puncak Tay-soat san nan abadi ditaburi salju yang membeku, Diatas ngarai bersalju di puncak pegunungan yang jarang diinjak kaki manusia, terlihat sinar pelita kalap-kelip ditengah kabut tebal yang mengembang datar diatas permukaan bumi.

Sebuah gubuk reyot dibangun diatas ngarai itu terbungkus oleh kembang salju, sinar pelita kelap-kelip itu tersorot keluar dari gubuk reyot melalui celah-celah jendela.

Kesunyian mencekam alam sekelilingnya dibawah cahaya pelita yang remang-remang menyinari keadaan prabot dan suasana yang yang sederhana dalam gubuk reyot itu, menghadapi pelita kecil diatas meja duduklah dua orang berhadapan keduanya membisu sekian lamanya.

Seorang yang duduk diatas adalah seorang nyonya cantik yang menyanggul rambat diatas kepalanya, pada wajahnya yang cantik itu terunjuk rasa masgul dan penuh gelisah, matanya mendelong memandangi pelita entah apa yang tengah direnungkan, seorang lain yang duduk di hadapanaya adalah pemuda yang berusia empat-lima belas tahun berwajah putih cakap.

Dengan mendelong ia awasi wajah si nyonya yang dirundung kesedihan itu, diapun membisu, tak berani bersuara.

Suasana yang sunyi ini sangat menekan perasaan.

Angin malam yang dingin diatas puncak pegunungan terdengar menderu-deru di luar gubuk, sinar pelita bergoyang-goyang hampir padam, tiada terdengar lagi suara lain.

"Ibu..."

Akhirnya pemuda yang mengenakan jubah putih panjang itu membuka suara.

"Beberapa hari ini kau kelihatan tidak tenang, adakah sesuatu yang mengganjal dalam hatimu ataukah badanmu kurang sehat?"

Setelah diberondong pertanyaan panjang lebar baru si nyonya kelihatan terbangun dari lamunan, sahutnya lemah lembut.

"Giok-liong, apa yang kau katakan?"

"Ibu, apakah berapa hari ini badanmu kurang sehat ?"

"Hus, anak bodoh, jangan sembarangan omong. Bukankah ibumu baik-baik saja."

"Tidak bu, Giok-liong tahu pasti kau terkenang lagi akan ayah."

Si nyonya tertawa dibuat-buat, lalu menghela napas dengan masgul tanpa membuka suara lagi.

"Bu, jikalau hatimu kurang enak, besok kita keluar tinggalkan tempat ini untuk menghibur diri, dari pada kita selalu berdiam ditempat sunyi yang jarang diinjak manusia."

Sekali lagi si nyonya mengunjuk tawa dipaksa, sahutnya selengan berbisik.

"Ya, memang kita harus meninggalkan..."

Sampai disini sengaja ia memutar kepala untuk menitikkan dua butir air mata diatas lengan bajunya.

"Hm, bu sungguh menyenangkan kita sudah puluhan tahun tidak pernah keluar..."

Memang sejak kecil ia sudah di sekam diatas ngarai bersalju ini, kini setelah mendengar ibunya melulusi untuk meninggalkan tempat yang sunyi dan menyebalkan ini tanpa terasa ia berjingkrak kegirangan, tapi secepat itu ia lantas berdiri termangu melihat sikap ibunya yang kurang wajar itu.

kata-katanya selanjutnya lantas ditelan kembali, pandangannya penuh tanda tanya, katanya bertobat .

"Bu, Giok-liong memang tidak berbakti sampai melukai hatimu, Bu, jangan kau bersedih hati, untuk selanjutnya Giok-ilong tidak berani lagi."

Perlahan-lahan si nyonya angkat kepala, diulurkan tangannya yang putih lembut mengusap-ngusap pundak Giok liong, dengan sorot mata yang penuh cinta kasih dan sayang ia awasi wajah anaknya, lalu ia tertawa getir dan berkata halus.

"Nak, seumpama kau seorang diri harus meninggalkan tempat ini, dapatkah kau menjaga dirimu baik-baik?"

Giok-liong tersendat oleh pertanyaan yang mendadak ini, sejenak ia tertegun lalu menggeleng kepala, sahutnya.

"Bu, jika kau tidak pergi, Giok-liong juga tidak mau pergi."

Si nyonya menghela napas panjang yang rendah, pandangannya penuh kasih sayang.

Keadaan dalam gubuk tenggelam lagi dalam kesunyian yang menekan perasaan, Akhirnya Giok-liong pula yang memecahkan kesunyian ini.

"Bu, sebetulnya dimanakah ayah berada ? Kenapa dia tidak pernah kembali ?"

Tiada jawaban.

"Bu, beritahulah kepadaku, bukankah Giok-liong sudah besar sampai nama ayahnya sendiri juga tidak mengetahui, kemana pula dia pergi aku juga tidak tahu ..."

"Ai, memang sengaja tidak kuberitahu."

"Bu, kenapa kau selalu menyimpan rahasia ini ? Kau larang aku meninggalkan ngarai ini meskipun hanya satu tindak pun, sampai turun gunung untuk membeli segala keperluan juga tidak boleh ikut, Aku sudah belajar silat selama sepuluh tahun, bekal untuk menjaga diri kukira sudah lebih dari cukup..."

Saat itu tampak wajah si nyonya jelita itu mengunjuk mimik aneh yang sudah diraba, bukan saja masgul gelisah juga rada lega dan riang.

Tapi kedua matanya yang indah itu berlinang air mata.

Giok-liong tercengang, sambungnya.

"Bu besok juga kita turun gunung untuk mencari ayah ..."

Mendadak wajah si nyonya berubah membeku dan mengunjuk sikap tegas, terdengar ia berkata dengan suara dingin dan tenang.

"Nak, ibu boleh memberi tahu, tapi kau harus dapat memenuhi permintaan ibu."

"Baik bu, apapun yang kau katakan, pasti akan kulakukan."

"Nak, ayahmu terbokong dan dikepung serta dikeroyok oleh musuh-musuhnya sampai menderita luka berat, untung dia masih sempat melarikan diri sampai dirumah, setelah lukanya sedikit baikan, kita lantas memboyong kau pindah ke tempat ini, untuk menghindarkan pengejaran musuh-musuhnya supaya tidak mengancam keselamatan kita ibu beranak, maka dia segera tinggal pergi lagi seorang diri... pergi ..pergi ke Lembah putus nyawa..."

Berkata sampai disitu terasa hatinya pilu air matanya tak tertahan lagi mengalir dengan deras!

Kontan Giok-liong merasa pandangannya berkunangkunang, seperti kepalanya dipukul godam, badan juga sempoyongan sekuat tenaga ia menghimpun semangat menguatkan hati, tanyanya.

"Bu, maksudmu ayah pergi ke Lembah putus nyawa yang tidak bakal dapat kembali lagi ?"

"Ya,"

Sahut ibunya sambil merogoh keluar sapu tangan sutra untuk mjmbasut air matanya, lalu sambungnya lagi.

"IImu silat ayahmu bukannya tidak tinggi, dik alangan Kangouw dia mempunyai kedudukan tinggi dan sangat disegani tapi tak urung masih dapat dilukai orang sedemikian rupa, Tujuannya menuju ke Lembah putus nyawa adalah untuk mencari pelajaran silat yang maha tinggi, tapi ... dia ..takkan kembali lagi ..."

Tak tertahan air mata menderai lagi membasahi pipinya.

Giok-liong seorang bocah yang sejak kecil telah kehilangan kasih sayang dari ayahnya sekarang wajahnya mengunjuk sikap tegas dan penuh ketekadan, tanyanya kalem.

"Bu, siapakah musuh besar ayah itu?"

"Ai, sebelum pergi ayahmu pernah berkata.

"jikalau setelah lima tahun dia tidak kembali, dia minta aku menjaga dan mengasuh kau baik-baik seumpama dapat mempelajari ilmu maha sakti, maka kau diharuskan menuju kemata air di rawa naga berbisa yang terletak di Bu ki-san untuk mengambil se

Jilid buku peninggalannya, buku itu berisi keterangannya yang jelas !

Tapi dia juga berkata, jikalau kau tidak dapat mempelajari ilmu tinggi maka dia minta aku tidak usah memberi tahu namanya kepadamu untuk menghindari bencana yang mungkin bisa mencabut nyawamu."

"Bu..."

"Maka sekarang belum saatnya aku memberi tahu nama ayahmu. Kecuali kau sudah dapat turun kedalam rawa naga beracun itu dan mengambil buku peninggalannya itu, Tapi ketahuilah bahwa air rawa naga beracun itu dingin sekali bisa menusuk tulang, bulu burung juga akan tenggelam ke dasar air yang sangat dalam itu, Betapapun sebelum ilmu silatmu dapat mencapai tingkat tertinggi, kau takkan mampu turun kesana."

"Bu, dapatkah kau sendiri turun kesana ?"

Giok Liong tahu bahwa ilmu silat ibunya sangat tinggi, pelajaran silat dan Lwe-kang yang dipelajari itu juga ibunya sendiri yang langsung menurunkan kepada dirinya.

Menurut tutur ibunya, dengan bekal pelajaran yang telah dipelajari selama sepuluh tahun ini, tokoh kelas satu di Kangouw juga belum tentu dapat mengalahkan dirinya, Tapi kenyataan bahwa dirinya tidak mampu melawan ibunya dalam sepuluh jurus saja.

Maka dalam kesannya, pasti ilmu silat ibunya itu sangat tinggi dan sudah diukur Iagi.

"Ai, jika ibumu ada kemampuan itu, siang-siang aku sudah kesana, seumpama sepuluh lipat lagi lebih lihay dari kepandaian ibumu sekarang, juga belum tentu dapat menyelam kedasar rawa naga beracun itu."

Keterangan ibunya ini seumpama air dingin yang diguyurkan keatas kepalanya, hatinya yang telah membara dan penuh ketekatan tadi mulai tenggelam dan padam, tapi Giok liong adalah pemuda yang berwatak keras, sebentar dia merenung, lalu angkat kepala dan bertanya lantang.

"Bu, ilmu silat dari Lembah putus nyawa itu apa tiada bandingannya diseluruh jagat ini ?"

"lni ... ibumu juga tidak kurang terang, Dalam jangka ratusan tahun ini, benggolan pertama dari aliran hitam yaitu Sim-hiat-ling Toan-bok ki, pendekar aneh dari laut utara Withian-khek Ma Hua dan ayahmu serta tiga empat puluh orang lainnya yang pernah masuk kesana tiada seorangpun yang kelihatan dapat keluar ..."

Sampai disini mendadak tergetar, lalu sambungnya lagi.

"siapapun tiada yang tahu apakah didalam Lembah putus nyawa itu benar-benar ada harta karun, bahan obat-obatan yang mustajab serta pelajaran silat maha tinggi, Mungkin itu merupakan tipu muslihat atau perangkap, kelak sekali-kali kau jangan pergi kesana, Kalau tidak, keluarga Ma kita hanya tinggal kau seorang, janganlah sampai putus turunan."

"Oh, bu, jadi ayah dan aku sama-sama anak tunggal ?"

"Ai, ayahmu memang seorang anak tunggal sedang kau masih mempunyai seorang adik kandung, dia bernama Ma Giok-hou, tapi adikmu itu hilang sebelum berusia satu bulan."

"Bu, bolehkah Giok-liong mengetahui namamu ?"

"Memang kau belum tahu nama ibumu tapi ibu juga belum mau memberitahukan. Nanti setelah kau mampu menyelam ke dasar rawa naga beracun itu, segala-galanya kau akan paham !"

Setelah berkata pelan-pelan ia bangkit terus berjalan keluar pintu, disini ia berdiri dan termangu-mangu memandang keluar.

Betapa tidak hati Giok-ling takkan mendelu dan murung, sebagai seorang putra ternyata sampai nama bundanya tidak diketahui sungguh sangat memalukan.

Hatinya terasa pilu laksana digigit ular berbisa, Tak terasa air mata meleleh berderai menetes ke tanah.

"Nak, apakah kau mau dengar nasehat ibu ?"

Terdengar si nyonya berkata lembut sambil memutar tubuh.

"Aku patuh akan pesan ibu!"

"Baik, bawalah batu kumala ini pergi ke Ih-hun-sam cheng di daerah Lok tiong menemui Toan-bok Ih-hun, Mintalah kepadanya untuk mencarikan guru kenamaan untuk belajar silat maha tinggi, Kalau sepanjang jalan ini kau menemui rintangan tunjukanlah batu kumala ini, pasti kau dapat leluasa dan mendapat bantuan diperjalanan."

"Bu, lebih baik besok pagi kita pergi bersama !"

"Tidak, kau pergi seorang diri, sekarang juga harus berangkat."

"Tidak, kalau ibu tidak berangkat, aku juga tidak pergi, Aku segan berpisah dengan ibu."

Air muka si nyonya mendadak merengut gusar, desisnya.

"Kau harus segera pergi!"

Saking kaget Giok-liong sampai tertegun.

Sejak ia mempunyai ingatan dan dapat berpikir mereka ibu beranak hidup tentram dan saling kasih sayang, belum pernah ibunya selama ini mengeluarkan makian dan berlaku galak terhadap dirinja, entahlah mengapa malam ini...

"Perbekalan sudah kusiapkan, sebagai seorang putra yang baik, kau harus ingat dan menurut kata-kata ibu!"

"Ibu. kau ...."

"Masih ada suatu urusan yang harus ku urus, setelah urusan itu selesai aku juga segera menyusul ke In-hun-samcheng, atau mungkin juga sementara waktu aku tidak datang."

Habis berkata ia menghampiri pembaringan mengambil sebuah buntalan kecil.

Dalam sekejap mata itulah dia telah meneteskan air mata yang mengembeng dikelopak matanya, Lalu dirogohnya keluar sebuah batu kumala yang bewarna merah maron, sekali berkelebat kembali kehadapan Giok-liong.

Diikatnya buntalan itu dipunggung Giok liong serta mengkalungkan batu kumala itu dilehernya, Tak lupa dipakai juga sebuah jubah panjang warna putih sambil katanya lembut.

"Nak, ibu tak berada disisimu, kau harus jaga dirimu sendiri"

Suaranya tersendat dan tak kuat diucapkan lagi.

Betapapun sebetulnya Giok-liong sangat tidak rela disuruh pergi, Tapi dia adalah seorang anak yang sangat berbakti terhadap orang tua, selamanya belum pernah dia membangkang terhadap ucapan ibunya, maka sambil mengembang air mata, katanya memohon.

"Bu, Giok-liong menunggu kau saja untuk pergi bersama. .."

"Jangan, sekarang juga kau harus berangkat."

Sambil berkata sedikit menggunakan tenaga sekali jinjing tubuh Giok-liong diseretnya keambang pintu, sedang tangan yang lain segera membuka pintu, Angin badai disertai bunga salju segera menghembus keras masuk kedalam rumah.

Keadaan alam diluar adalah sedemikian dingin dan gelap, Tanpa terasa air mata Giok liong mengalir semakin deras.

Sedetik sebelum berangkat ini mendadak terasa suatu pirasat jelek dalam hati kecilnya, berpaling ia memandangi wajah ibunya yang telah membesarkan dirinya selama puluhan tahun ini, mohonnya sekali lagi.

"Bu, harap kau suka ..."

"Tutup mulutmu! Segera pergi, tak peduli kau melihat dan mendengar apa, jangan sekali-kali kau berpaling! Kalau kau tidak dengar pesan ibu, kau anak yang tidak berbakti!"

Terasa suatu tenaga besar mendorongnya, kontan tubuh Giok liong lantas terbang meninggi sejauh lima tombak, terdengar suara ibunya tengah beritata.

"Nak, jagalah dirimu baik-baik, ingat ..,..pesan . ,., , ibu selamat tinggal"

Suara yang terakhir terdengar sayup sayup sampai akhirnya tersendat hilang saking pedih perasaannya. Begitu kaki Giok-liong menyentuh tanah, segera ia berpaling kebelakang, kebetulan "brak"

Pintu gubuk itu telah tertutup rapat.

Angin malam diatas pegunungan sungguh sangat dingin, Giok-liong sampai menggigil dihembus badai yang dingin menusuk tulang ini.

Lekat-lekat ia memandangi gubuk reyot tempat dirinya menetap selama puluhan tahun yang telah membesarkan dirinya lalu sigap sekali ia memutar tubuh terus lari sekencang-kencangnya sambil berteriak lantang.

"Bu, Giokliong pergi!"

Dimana tubuhnya melesat bagaikan meteor cepatnya tubuhnya meluncur turun kebawah gunung.

Ditengah ributnya hembusan angin malam, sayup-sayup terdengar olehnya isak tangis ibunya dari dalam gubuk, Hatinya menjadi tidak tega dan pilu rasanya, serentak ia menghentikan langkah kakinya, ingin dia kembali, tapi lantas terpikirkan ucapan ibunya tadi.

"Kalau kau tidak dengar kata ibu, maka kau tidak berbakti."

Maka sambil mengerahkan seluruh tenaganya segera ia lari sekencang-kencangnya, dengan lari secepatnya yang banyak menghabiskan tenaga ini ia hendak melampiaskan perasaan hatinya yang tertekan.

Belum ada satu jam ia sudah berlari sejauh puluhan li, diam-diam ia menghentikan langkah dan berpaling kebelakang memandang keatas ngarai sana.

Diatas ngarai ber-salju itu, samar-samar terlihat sinar pelita kuning yang kelap kelip itu, Hatinya menjadi pilu dan mengalirkan air mata, tanpa meiasa mulutnya mengeluh lirih .

"Bu, oh ibu ..."

Mendadak dari kejauhin sebelah timur luar sana terdengar sebuah suitan panjang yang menusuk tinggi semakin nyaring dan mendekat, agaknya tengah meluncur menuju kearah gubuk tempat tinggalnya diatas ngarai itu.

Terkejut hatinya.

Terdengar pula sebuah suitan panjang lain yang lebih keras dan lebih dekat, dari suara suitan yang keras dan nyaring ini, dapatlah diperkirakan bahwa Lwekang dan kepandaian silatnya orang ini pasti sangat tinggi tujuannya terang adalah ngarai yang baru saja ditinggalkan itu.

Dilain kejap lantas terdengar pula suitan susul menyusul saling bersahutan dari empat penjuru, semua melesat menuju kearah ngarai ....Pada saat itulah lantas terlihat sinar pelita kelap kelip diatas ngarai itu padam.

Bukan kepalang kejut Giok-liong, batinnya.

"Apa, mungkin para musuh ayah dan ibu telah meluruk datang ?"

Dengan seksama ia lantas berpikir.

"sejak beberapa hari yang lalu setelah pulang dari bawah gunung membeli perbekalan, ibunya selalu murung dan lesu, malah saban saban mengalirkan tir mata secara sembunyi-sembunyi. Hari ini tingkah laku ibunya juga luar biasa terbalik dari kebiasaan, berbeda jauh dari pribadinya semula seakan telah berganti rupa dan bentuk orang lain, Malam ini memaksa dirinya untuk pergi, malah dipesan meskipun mendengar dan melihat apapun juga dilarang berpaling dan kembali. Berpikir sampai disini, mendadak ia berseru kecut.

"Celaka!"

Begitu putar tubuh ia terus lari balik dari arah datang semula.

Tak lama kemudian ia telah tiba dibawah lereng bukit, dengan ketajaman matanya ia memandang keatas, Angin badai yang dingin masih tetap ribut, keadaan sekelilingnya menjadi pekat, sayup-sayup terdengar dua kali gerangan orang yang kesakitan.

Begitu menjejakkan kakinya bagaikan anak panah yang terlepas dari bujurnya tubuhnya melenting tinggi meluncur keatas ngarai.

Dekat dan semakin dekat...

Diatas ngarai sana benar juga terdengar suara pertempuran yang dahsyat, dikegelapan malam samar-samar terlihat berkelebatnya bayangan orang, kiranya ada beberapa orang tengah berkutet dan bergebrak dengan sengitnya secara mati-matian.

Giok Liong semakin gelisah dan gugup, mengerahkan seluruh tenaganya ia meloncat tiba diatas mengarai, tepat pada saat itu terdengar pekik kesakitan suara seorang perempuan disusul sebuah bayangan putih kecil langsing terbang tinggi dan arah pertempuran terus meluncur kearah batu es diluar sebelah sana.

Walaupun ia tidak melihat tegas siapa orang itu, tapi suara yang sangat dikenalnya itu, serta rasa prihatin yang terjalin antara ibu dan anak adalah sedemikian kuat kontan.

Giokliong lantas dapat meraba bahwa itulah ibunya.

Rasa gusar yang membara dalam rongga dadanya membuat ia menjadi nekad dan berteriak beringas .

"Bu jangan takut, aku datang !"

Tubuhnya meluncur secepat kilat menerjang kearah depan.

Sekonyong-konyong suara tawa dingin yang menjengek hina terdengar dari sampingnya, disusul angin pukulan yang panas membara lantas melandai menggulung dirinya.

Perasaan Giok-Iiong sudah begitu murka matanya mendelik dan wajahnya merah padam, kontan ia juga ulurkan kedua tangannya terus mendorong kedepan menyambut pukulan musuh sekuat tenaganya.

"Tahan ... !"

Sebuah teriak perempuan yang mengerikan terdengar dari arah samping sana, Tapi sudah terlambat.

"Blang"

Begitu terdengar dentuman yang keras ini kontan Giok-liong merasakan jantungnya seperti dipukul godam, darah terasa mengalir terbalik, tubuhnya lantas melayang tinggi ketengah udara, begitu pentang mulut ia menyemburkan darah segar dengan derasnya.

"Keparat, bangsat kurcaci biarlah aku adu jiwa dengan kalian, Kembalikan jiwa anakku .."

Terdengar angin semakin ribut, matanya terasa berkunangkunang, Giok-Iiong merasa sangat tersiksa seperti badannya dipanggang diatas tungku yang panas membara.

"Bluk"

Terasa punggungnya sangat kesakitan sampai menusuk jantung, tubuhnya terus terkapar lemas tak ingat diri lagi.

Lama dan lama sekali, entah sudah berapa lama ia jatuh pingsan akhirnya perlahan-lahan ia membuka mata dan siuman, sekarang terasa tubuhnya sangat dingin hampir membeku.

Matanya terbuka semakin lebar, ia memandang keatas dan kesekelilingnya.

Ternyata tubuhnya semampai dan tercantol di atas dahan sebuah pohon Siong yang menonjol keluar ditengah-tengah ngarai, waktu ia memandang kebawah, hanya terlihat awan yang mengembang tidak terlihat dasar jurang yang dalam ini.

Dua titik air mata meleleh membasahi pipinya.

Oh Tuhan, dimanakah ibu dan bagaimana keadaannya?

Susah payah ia menggerakkan lengannya, terasa tulangtulang seluruh tubuh seperti sudah hancur lebur, sakitnya bukan main, Tapi dia paksakan juga merogoh keluar puntung obat dari kantong bajunya terus menelan beberapa butir pil.

setelah itu ia pejamkan matanya mulai menghimpun semangat dan mengalir serta melancarkan hawa murni dalam tubuhnya, setelah mengalami banyak penderitaan, jerih payahnya ternyata berhasil menghimpun kembali hawa murni yang telah buyar tadi, dibantu khasiat obat yang ditelannya tadi mulailah darahnya lancar mengalir memasuki seluruh uratnadi.

Entah berapa lama berselang, ia merasakan sebagian besar luka-lukanya sudah dapat disembuhkan maka dia berjalan merangkak keatas menyelusuri akar-akar pohon terus merambat keatas ngarai.

Pagi hari itu cuaca terang benderang, namun keadaan diatas ngarai itu sungguh sangat menyedihkan, gubuk reyot tempat tinggalnya itu kini tinggal tumpukan puing saja, dimana-mana terlihat noda-noda darah yang berceceran diatas tanah, keadaan ini sungguh sangat menyedihkan.

Tiba-tiba terlihat secuil sobekan lengan panjang yang penuh berlepotan darah, inilah bekas sobekan baju ibunya.

Terasa kepalanya berat dan pusing tubuh juga lantas sempoyongan tak tertahan lagi mulutnya menyemburkan darah segar sebanyak-banyaknya.

"Blang..."

Badannya roboh terkapar dan tak ingat diri lagi.

Waktu hari menjelang magrib baru Giok Liong siuman kembali dari pingsannya.

Alam sekelilingnya diliputi kabut tebal angin badai juga tengah mengamuk dengan dahsyatnya.

Susah payah ia merangkak bangun berdiri, kedua biji matanya mengalirkan air darah, bibit dendam kesumat sudah bersemi dengan cepatnya dalam sanubarinya, sesaat ia termangu memandang puing-puing bekas gubuknya, terus perlahan lahan berengsot turun dari atas ngarai itu tanpa bersuara lagi.

Angin badai terus menghembus dengan kerasnya, badan sampai terasa dingin hampir membeku, Dengan badan yang terasa kecapaian serta hati yang remuk redam, dia tinggalkan ngarai tempat tinggalnya selama sepuluhan tahun dimana ia dibesarkan !

Akhirnya dicarinya sebuah tempat tersembunyi dimana ia mengobati luka-lukanya serta mengerahkan tenaga dan hawa murni memulihkan kesehatannya.

Berselang lama kemudian pikirannya mulai menerawangi ucapan ibunya tentang letak dan arah dimana Lembah putus nyawa berada, dia tahu bahwa lembah putus nyawa itu juga berada didalam lingkungan pegunungan Tay-soat-san ini diam-diam ia berdoa.

"Bu, ampunilah anakmu yang tidak berbakti ini, aku tidak akan menuju ke Ih-hun-san-ceng! Tapi aku harus menuju ke Lembah putus nyawa, satu pihak mencari ayah, lain pihak untuk belajar ilmu kepandaian untukku dan menuntut balas untuk ayah! Oh, ibu, lindungilah anakmu yang malang ini!"

Selesai berdoa ia berdiri mulai beranjak menuju kedalam rimba sebelah dalam yang lebat dan angker, Dalam waktu satu harian yang pendek ini dia berubah segala galanya, Pendiam dan dingin mewakili semua sifat-sifatnya.

Jubah panjang pemberian ibunya itu, kini sudah sobek compang camping tidak karuan iagi, namun ia masih memakainya.

Hari itu dia tiba dibawah sebuah puncak yang mencakar langit, setelah istirahat sekian lamanya, dengan banyak makan tenaga ia mulai manjat keatas, waktu ia sampai di-atas puncak dengan kelelahan hari sudah menjelang malam, baru sekarang ia berkesempatan duduk istirahat mendadak pandangannya terasa menjadi terang, terpaut dari tempat duduknya didepan sana terlihat ada sebuah puncak lainnya yang menembus awan, puncak gunung itu gundul plontos tanpa tumbuh tumput atau pepohonan lainnya.

Ditengah keremangan kabut terlihat didinding puncak gunung didepan sana samar-samar terlihat sebuah celah celah.

Bukankah keadaan ini seperti Lembah putus nyawa yang dituturkan ibunya itu, Kontan darah bergelora dalam benaknya.

Melupakan badan yang capai lemas ini segera ia melompat berlari-lari menuju ke-puncak, didepan sana waktu dekat dan di-tegasi benar juga dipinggir puncak sebelah kiri berdiri tegak sebuah papan batu yang tinggi, diatas papan batu ini tertuliskan tiga hurup warna merah darah sebesar tampan sangat menyolok.

ketiga huruf itu berbunyi "Toan-bing-loh" -jalan pendek nyawa.

Dibelakang atas papan batu ini menjulur jauh kebelakang kearah celah -celah sebelum depan sana sebuah batu jembatan sebesar lengan orang.

Dan diatas celah-calah dinding itu pula terlihat tiga huruf besar lagi yang berbunyi "Lembah putus nyawa."

Tanpa merasa Giok-liong berjingkrak kegirangan ia masih ingat ibunya pernah berkata.

"Memanjat ngarai sukma gentayangan melewati jalan pendek yang tibalah di-Lembah putus nyawa, jurang dibawah jalan pendek nyawa yang tidak kelihatan dasarnya itu diliputi kabut tebal yang bergulung

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com/ gulung, itulah dinamakan selokan setan masgul.

Ya, terang bahwa sekarang dirinya sudah berdiri dingarai sukma gentayangan.

Betapa girang hatinya ini, pelan-pelan ia memutar tubuh memandang kearah timur, terpesona memandangi sang dewi malam yang baru saja muncul deri tempat peraduannya, pelan-pelan mulutnya menggumam.

"Rembulan oh bulan, besar harapanku malam ini kau dapat selamat dan abadi melampaui angkasa yang terang cerah, janganlah sampai terganggu dan ditutupi oleh awan. Begitulah mendongak keatas langit ia berdoa dan bersujud kepada Tuhan. Darah panas sudah menjalar diseluruh tu-buhnya, wajahnya terun juk tekad dan kemauan yang teguh, Sigap sekali mendadak ia membalik tubuh -jalan pendek nyawa huruf huruf yang menyolok dan menggetarkan sukma itu terpajang didepan matanya. Jauh memandang kearah Lembah putus nyawa didepan sana, hatinya timbul suatu keraguan. Dengan kemauan kepandaiannya sekarang, paling banter sekuatnya ia dapat melompat sejauh puluhan tombak saja, ini berarti paling sedikik ia harus berloncatan dua kali diatas jembatan batu kecil yang penuh ditumbuhi lumut dan licin sekali itu. Konon bahwa jalan pendek nyawa ini sebegitu licin sampai tiada tempat cukup menggunakan tenaga. Entah sudah berapa banyak tokoh-tokoh silat yang sudah terjerumus masuk kebawah selokan setan yang masgul dalam itu, Mengandalkan kepandaian sekarang, mungkin dirinya juga takkan terhindar dari nasib yang lain, terjungkal kebawah jurang. Lama sekali ia harus berpikir dan mempertimbangkan, akhirnya terpikirkan olehnya sebuah cara. Cepat-cepat ia menanggalkan jubah panjang yang compang-camping itu terus dipuntir-puntir menjadi tali besar terus melesat kearah jalan pendek nyawa, kedua tangannya kencang-kencang memegangi kedua ujung tali besar itu terus disampirkan keatas batu jembatan jadi tubuhnya bergelantungan waktu ia memandang kebawah, awan putih bergulung gulung angin menghembus keras membuat pandangan dimukanya samarsamar. Hatinya menjadi mengeluh dan berdoa.

"Oh Tuhan, bantulah hambamu ini!"-Saat itu hatinya sudah bergelantungan ditengah jurang dlbawah jalan pendek nyawa. Begitu menyedot hawa dalam-dalam kakinya terus menjejak kearah dinding batu di belakangnya dengan sekuat tenaga, kontan tubuhnya terus meluncur maju membesut sejauh dua pukulan tombak baru daya luncurnya agak lambat dan sebelum berhenti mendadak tubuhnya mengayun kebelakang terus kedepan lagi sehingga meluncur beberapa tombak pula, sebelum berhenti karena jarak sudah agak dekat, tiba-tiba kedua tangannya menarik tubuh ke-atas sekuatnya terus lepas tangan sehingga tubuhnya melambung naik jumpalitan ditengah udara lantas dengan tangannya hinggap diatas tanah diseberang sana. Waktu ia berpaling dan memandang kebawah, jubah putihnya yang digulung menjadi tali itu kini sudah melayang jatuh kebawah selokan setan masgul, semakin kecil dan akhirnya menghilang dari pandangan mata ditelan kabut tebal. Seketika timbul perasaan haru dan semangat yang berkobar dalam benaknya, sebuah kulum senyum tersungging di ujung bibirnya, pelan-pelan ia memutar tubuh, di hadapannya terbentang sebuah gua yang hitam gelap, dia kerahkan seluruh ketajaman pandangannya keadaan didalam memang sangat gelap tak terlihat apapun jua. Malah terasa hembusan angin dingin yang dapat membekukan terus bergulung-gulung dari dalam gua itu, sampai tubuhnya terasa hampir membeku dan menggigil. Tapi dia tidak hiraukan keadaan yang menyiksa tubuh ini. Yang terang gua di depan matanya ini adalah jalan masuk kedalam Lembah putus nyawa yang serba misterius selama ratusan tahun ini. Entah berapa banyak tokoh-tokoh silat yang memasuki gua ini tak keluar kembali, diantara mereka adalah ayahnya sendiri. Teringat akan ayahnya seketika timbul rasa bangga yang jiwa kesatrianya,teriaknya lantang.

"Yah, lihatlah anak mu ini, bukan seorang pengecut yang takut mati! Yah, anak Liong juga datang!"-sambil berteriak ia kerahkan seluruh hawa murninya untuk melindungi seluruh badan dengan langkah lebar terus memasuki gua mulut Lembah putus nyawa. Mulut gua lembah putus nyawa adalah sedemikian dingin dan gelap sekali. Meskipun Giok-liong sudah digembleng sejak kecil dan mempunyai dasar Lwekang yang kuat ketajaman matanya melebihi orang biasa, tapi begitu memasuki gua ini yang terpandang disekitarnya adalah gelap pekat melulu sampai kelima jari sendiri juga tidak kelihatan. Hembusan angin dingin yang menusuk tulang dan ulu hati membuat seluruh bulu romanya merinding semua, seluruh badannya menggigil kedinginan dan hampir membeku. Tapi Giok-liong pusatkan seluruh perhatian dan semangatnya tanpa mau mundur di tenjah jalan dengan langkah pelan ia terus maju semakin dalam, hanya satu ingatan yang berkecamuk dalam pikirannya.

"Terus maju! Untuk mencari jejak ayahnya. Demi sakit hati ibunya demi keadilan dan kebenaran kaum persilatan, aku harus berhasil,"

Sambil menggertak gigi dia terus maju dengan derap langkah yang tegap !

Sebetulnya gua ini merupakan celah-celah dari himpitan dua gunung yang berendeng, tinggi gua ini ada beberapa tombak sedang lehernya hanya tiga empat kaki, semakin dalam semakin sempit setelah beberapa li kemudian jalanan hanya tiba cukup untuk berjalan satu orang saja, semakin dalam daya hembusan angin dingin itu semakin lemah, tapi hawa disini bertambah dingin.

Sepanjang jalan goa ini adalah lurus tanpa suatu rintangan apapun juga, maka Giok-liong dapat beranjak maju terus didalam kegelapan tanpa ragu-ragu dan takut-takut.

Entah sudah berapa lama dan berapa jauh ia berjalan dalam kegelapan itu, lambat laun terasa keadaan gua yang gelap pekat ini menjadi agak sedikit terang, dan tak berapa jauh kemudian, di kedua sisi dinding kedua samping gua itu tersoren keluar puluhan sinar terang yang menyolok mata sehingga keadaan dalam gua menjadi terang benderang seperti disiang hari bolong.

Sekian lama Giok-liong harus memejamkan matanya, karena pandangannya masih terasa silau, waktu di tegasi terlihat diatas dinding batu diatas sana ada delapan huruf besar-besar yang disusun dengan butir-butir mutiara beraneka warna yang terporotkan diatas dinding batu, tulisan itu berbunyi.

"Dilarang menggunakan ilmu silat."

Sejak kecil Giok-liong dididik ibunya menjadi bocah yang mengenal sopan santun bakti serta setia dan patuh berhati bijaksana terhadap sesamanya, setelah melihat kedepan huruf-huruf yang tertulis dengan porotan butir-butir mutiara sebesar jeruk itu bukan saja hatinya tidak merasa tersinggung dan timbul suatu angan-angan yang tidak genah, malah segera ia buyarkan hawa murni yang terhimpun tadi, diamdiam hatinya membatin.

"Ternyata Lembah putus nyawa ini masih ada penghuninya, entah siapakah dia, pasti dia seorang tokoh yang hebat dan lihay sekali."

Karena timbul rasa hormatnya ini segera ia angkat tangan serta membongkok hormat kearah delapan huruf-buruf besar itu serta berkata.

"Wanpwe sudah tahu!"

Pelan-pelan ia mulai beranjak maju lebih jauh, tidak lama kemudian dia sampai pada satu pengkolan, begitu ia membelok pandangannya menjadi lebih terang lagi, keadaan dalam gua ini lebih datar dan rata dinding kedua samping serta atapnya sampai lantai goa ini semua berbuat dari batu pualam yang sangat indah, diatas dinding ada lukisan indah yang terporotkan dari butirbutir mutiara besar kecil, sekilas lihat gambar-gambar ini adalah sedemikian indah mempesonakan.

Giok-liong menjalani keadaan seluruh gua terlihat dimanamana sinar segala permata saling berlomba menunjukkan keindahan masing-masing sampai sedemikian jauh dan panjang sampai tidak terlihat lagi ujung pangkalnya.

Tanpa merasa hatinya menjadi gelisah "Kalau tidak mengembangkan Ginkang, entah berapa lama aku harus menempuh habis jalan panjang ini.

Tapi bila teringat peringatan huruf-huruf besar diatas dinding itu, segera ia batalkan niatnya hendak menggunakan ilmu ringan tubuhnya.

dengan langkah lebar segera ia maju kedepan.

Saban-saban terlihat ada kotak-kotak yang melekuk kedalam dinding dimana tertaruh dan terpenuhi dengan berbagai intan serta permata yang tak ternilai harganya, semua benda-benda itu memancarkan cahaya terang yang dapat memincut dan menimbulkan loba dan tamak dihati orang.

Tapi Giok-liong sendiri sudah tahu bahwa Lembah putus nyawa ini adalah tempat yang berpenghuni apalagi memang dia tiada hasrat hendak mengangkangi harta benda yang tidak halal ini, maka sedikitpun tiada minatnya untuk mengambil barang sebutirpun.

Kira-kira dua li telah dilampaui lagi, sedikit kurang hati hati kakinya terpeleset dan hampir saja ia roboh terjengkang, Waktu ia menunduk ternyata dibawah kakinya penuh bertaburan intan kecil yang menyilaukan mata, selepas pandang didepan dan kedua dinding sepanjang jalan ini masih penuh berserakan berbagai permata serta butiran-butiran mutiara besar kecil yang tidak terhitung banyaknya membuat matanya terasa pedas dan berkunang-kunang.

Tanpa ragu-ragu dan sayang lagi kakinya melangkah maju terus butiran-butiran mutiara dan intan serta lainnya bertaburan sedemikian tebal ditanah sampai gerak jalan Giokliong menjadi terganggu karena tidak boleh mengembangkan ilmu ringan tubuh belum lama dalam perjalanan ini ia sudah megap-megap dan banyak mengepulkan peluh.

Tapi ia tidak peduli segala-galanya, setindak demi setindak ia terus maju kedepan secara hati hati supaya tidak sampai terjerumus jatuh.

Berselang tidak lama, tiba-tiba didepannya mencorong cahaya warna merah yang keras dan terang benderang.

Waktu ia angkat kepala, terlihat didinding sebelah kanan sana terporotkan mutiara besar-besar merah marong yang dijajar sedemikian rupa menjadi beberapa huruf tulisan yang berbunyi.

"Gudang harta disini."

Dibawah huruf-huruf warna merah itu adalah sebuah pintu bundar kecil yang terbuat dari batu pualam warna merah pula, agaknya asal sedikit dorong saja lantas dapat terbuka dan masuk kesana, dari celah-celah pintu yang tidak tertutup cepat itu terpencar keluar cahaya beraneka warna dan hawa yang hangat, ini menandakan bahwa didalam ruang sana pasti tersimpan harta benda serta barang-barang pusaka yang tak ternilai harganya.

Gioi-liong menghela napas, batinnya.

"Siapakah penghuni lembah ini, tak ayal sedemikian banyak simpanan harta bendanya, mungkin merupakan koleksi barang-barang pusaka dan benda benda terbesar diseluruh dunia ini! "

Dalam hati membatin, namun kakinya terus bergerak maju, kira-kira puluhan tombak kemudian ia tiba lagi disebuah pengkoIan, begitu ia tiba dibagian lain tanpa merasa Giokliong berdiri tertegun ditempatnya.

Terbentang dihadapannya yang melintang adalah sebuah selokan pendek selebar lima tombak dan sedalam puluhan tombak, ini masih belum yang membuatnya mengkirik adalah bahwa didasar selokan ini ternyata hidup penuh ular berbagai jenis, semua tengah mendongak keatas menjulurkan lidahnya yang berwarna merah darah, sambil mendesis-desis mengerikan dan menakutkan sekali, sedang dinding kedua selokan adalah sedemikian tajam dengan batu-batu runcing yang dapat mengkoyak badan manusia.

Giok-liong menjadi bimbang dan menghentikan kakinya pikirnya.

"selokan selebar lima tombak ini sebetulnya gampang saja dapat kulompati, tapi penghuni lembah ini sudah melarang untuk menggunakan kepandaian ... ."

Karena pikirannya ini maka sambil mengangkat alis segera ia mulai merambat turun melalui batu-batu runcing yang tajam mengiris kulit itu, Darah segar mengalir membasahi seluruh badan, seluruh tangan kaki dan perutnya sudah penuh Iukaluka teriris koyak darah bercampur keringat terus mengalir membasahi seluruh tubuh, Dengan sudah payah akhirnya ia tiba juga didasar selokan, Entah berapa banyak ular yang tak terhitung banyaknya menjulurkan lidah dan pentang mulutnya bersiap mematuk dirinya, desis ular-ular itu membawa bau amis yang memualkan hampir saja ia muntah-muntah sampai kepala terasa pusing tujuh keliling.

Tapi tanpa gentar sedikitpun ia terus maju tindak demi tindak, dimana ia lewat ular-ular itu lari menyingkir sendiri, Sudah tentu hatinya menjadi heran dan tak habis mengecil menurut apa yang diketahui semua ular-ular itu adalah ular paling berbisa di seluruh dunia ini sekali gigit saja pasti jiwa akan melayang, Tapi sekarang begitu bertemu dengan dirinya mengapa semua malah mundur menyingkir?

Tapi tiada banyak kesempatan bagi Giok liong untuk banyak berpikir setelah melewati selokan pendek ini mulailah ia manjat lagi keatas dengan kedua tangan dan kaki yang sudah penuh luka-luka dan berdarah, Tiba-tiba dari belakangnya terdengar angin mendesis meluncur kearah dirinya, seketika tangan serta kaki dan punggungnya kesakitan luar biasa, entah berapa banyak ular berbisa itu telah menggigit tubuhnya.

Kontan pandanganya menjadi gelap, tahulah dia bahwa dirinya telah tergigi oleh ular-ular berbisa itu.

Namun dia tak berani melepaskan pegangan tangannya dengan sekuatnya terus berusaha merambat naik sampai diatas tanah datar, Begitu sampai dan dapat berdiri segera ia meraba kebelakang kakinya terus menarik bergantian satu persatu ular yang menggigiti paha dan punggungnya ditariknya sampai daging tubuhnya ikut terbetot dedel duwel.

Pahanya menjadi linu gatal dan kesakitan luar biasa sampai merangsang seluruh tubuh ditambah luka luka dikedua tangannya, pandangannya menjadi gelap dan kepala juga menjadi berat, kerongkongan terasa kering dan dahaga sekali tak kuat lagi kedua kakinya menunjang badan yang terasa semakin berat.

Waktu ia angkat kepala terlihat diatas dinding batu ada beberapa huruf besar yang terukir dari batu putih berbunyi.

"jangan berhenti ditempat ini!"

Terpaksa sekuat tenaga dengan susah payah dia harus merangkak maju kedepan setelah jatuh bangun beberapa kali, mendadak ia merasa rasa linu dan gatal diatas kedua pahanya itu sudah mulai merambat naik, keatas tubuhnya saat itu sudah merambat naik sampai pangkal pahanya, kalau sampai pinggangnya maka susahlah jiwanya dapat diselamatkan lagi.

Tanpa terasa ia menghela napas serta membatin .

"sebetulnya lembah ini tiada sesuatu yang harus dibuat takut, apakah tokoh silat yang lihay serta aneh aneh itu semuanya juga mati dalam keadaan seperti aku ini ?"

Demikian dia bertanya dalam hati, sampai begitu jauh ia masih belum berani mengerahkan hawa murninya untuk menutup jalan darah, ia maju terus kedepan.

Tak lama kemudian hawa racun sudah menjalar sampai dibawah pinggangnya, sampai saat itu kakinya sudah susah digerakkan lagi untuk berjalan, seluruh tubuh basah kuyup oleh keringat, syarafnya juga mulai membeku dan semangatnya juga mulai kabur.

Baru sekarang timbul sedikit penyesalan dalam benaknya .

"Ah, Tuhan, aku harus mengerahkan rawa murni untuk menolak racun mati cara begini ..."

Kesadarannya semakin hilang, sedikit sempoyongan tubuhnya lantas jatuh terkapar d atas tanah tak ingat diri.

Seluruh tubuh dari pinggangnya kebawah sekarang sudah berubah menjadi hitam, air beracun yang berwarna hitam merembes keluar melalui seluruh luka-lukanya, hawa racun juga dengan cepatnya menjalar keatas, pernapasannya mulai berat dan lemah hampir berhenti seorang lagi bakal menjadi korban didalam lembah putus nyawa ini.

Pada saat itulah mendadak dari gua sebelah sana terhembus keluar segulung kabut tebal yang berwarna hijau demikian indah warna kabut itu malah berbau harum lagi.

Lambat laun kabut hijau yang lebat itu mulai memenuhi seluruh ruangan gua dan terus menjalari seluruh tubuhnya, sungguh heran bin ajaib, sekarang pernapasannya malah mulai pulih lagi.

Bau harum yang merangsang hidungnya itu menyadarkan Giok-liong dari pingsannya, Waktu ia membuka mata, terlihat diatas tanah didepan matanya terukir diatas batu putih beberapa huruf besar yang berbunyi.

"jangan berhenti disini."

Tanpa banyak berpikir lagi segera ia merangkak bangun sekuatnya terus merambat jatuh bangun kedepan, Luka luka dipahanya yang sebetulnya sudah mampet dan darah yang sudah membeku karena gerakannya itu menjadi pecah dan mengeluarkan darah lagi, darah hitam yang mengandung racun berceceran sepanjang jalan, semakin berjalan kedalam, kabut warna hijau itu semakin tebal menghalangi pandangan didepan matanya, tapi semangat dan kesadarannya malah semakin pulih dan badan menjadi segar bugar.

Hawa beracun diseluruh tubuhnya juga mulai punah dan hilang, kini darah yang mengalir keluar dari luka-lukanya adalah darah segar yang berwarna merah.

Tak larna kemudian seluruh hawa beracun dalam tubuhnya indah terusir keluar semua.

Tatkala itu juga sudah melewati gulungan kabut hijau yang tebal itu, sekarang ia tiba disebuah persimpangan jalan, Diatas dinding sebelah atas terpancang sebuah papan batu yang bertuliskan.

"Gudang obat obatan !"

Sekarang walaupun hawa beracun didalam tubuhnya sudah punah semua, namun seluruh tubuh masih terasa sakit dan pegal sekali, kalau orang lain pasti segera masuk kedalam gudang obat obatan itu, karena bukan mustahil dalam gudang obat-obatan itu tersimpan segala macam obat mujarab yang sukar didapat didunia ini."

Sebentar-ia ragu-ragu lantas hatinya memaki diri sendiri.

"Giok-liong, wahai Giok-liong, semua benda dan barang barang itu adalah milik orang lain, mana boleh seenaknya saja kau ambil dan kau gunakan untuk kepentinganmu pribadi ?"

Karena pikirannya ini, maka dengan sekuatnya sambil menahan sakit ia beringsut maju lagi, keadaan jalan dalam lorong itu kembali menanjak keatas dan lurus sepanjang lobang ini adalah terdiri dari batu-batu pualam putih, setiap jarak sepuluh langkah diatas dinding terporotkan dua butir mutiara sebagai penerangan.

Dia maju dan maju terus dengan susah payah dan banyak makan tenaga Meskipun pikirannya sudah sadar, tapi karena luka lukanya serta seluruh tulang belulangnya terasa linu dan pegal tubuhnya menjadi lemah sampai tenaga untuk mengangkat kaki berjalan juga tiada lagi.

Keringat terus membanjir keluar, terasa seluruh tubuh panas dan gerah sekali, Mendadak entah kakinya menginjak apa sehingga terpeleset dan tubuhnya kontan tersungkur jatuh disertai suara gemerayak yang ramai, saking keras jatuhnya itu sampai matanya serasa berkunang-kunang, setelah napasnya tenang kembali waktu ia pentang mata hampir saja ia berteriak saking kaget.

Ternyata tepat didepan matanya tergeletak sebuah kepala tengkorak manusia, demikian juga di-sekeliling tubuhnya berserakan tulang tulang putih manusia yang hancur berantakan, sebetulnya itulah sebuah kerangka manusia yang masih lengkap bergaya duduk, tapi begitu tertendang dan berinjak menjadi putus dan berantakan.

Sungguh kejut Giok-liong bukan buatan, tersipu-sipu ia merangkak bangun, tanpa sengaja tangannya meraba badan sendiri terasakan sesuatu yang ganjil pada tubuhnya, waktu ia menunduk lagi-lagi ia hampir berseru kaget, Ternyata seluruh tubuh sendiri berlepotan darah dan kotor amis ini masih belum apa-apa, yang paling mengejutkan entah sejak kapan ternyata seluruh tubuhnya telanjang bulat.

Sungguh tanpa disadari entah kapan baju ditubuhnya itu sudah hancur luluh tanpa ketinggalan bekas-bekasnya.

Sekian lama ia menunduk dan berpikir, akhirnya ia sadar.

"Ya, tentu kabut hijau itu mengandung racun yang berbisa sekali, sedemikian lihaynya racun itu sampai baju yang dipakainya hancur luluh tanpa meninggalkan bekas. Tapi kenapa aku sendiri tidak kurang suatu apa?" -diperiksanya kerangka tuIang-tulang yang berserakan ditanah itu, betul juga tidak dilihatnya kada bekas-bekas barang benda lain. Siapakah orang ini? Tentunya dia mati keracunan setelah melewati kabut beracun itu, berpikir sampai diiini, timbul pula keheranan dalam benaknya.

"Tubuhku pasti juga sudah keracunan, hanya belum saatnya kumat, Hm, entah apa maksud dari penghuni lembah itu. Sebelum aku ajal ini betapa juga aku harus menemumya dan minta penjelasan."

Karena tekadnya ini, seketika timbul lagi sedikit tenaganya terus melangkah maju ke-depan lagi tanpa menghiraukan tulang-tulang kerangka yang berserakan itu.

Betul juga tepat seperti dugaannya, sepanjang jalan kedepan ini dimana-mana terlihat sesosok tumpukan tulang kerangka manusia setiap kerangka itu tanpa meninggalkan bekas-bekas benda apapun, Tak lama kemudian terlihat dikedua dinding kanan kiri ada tulisan yang berbunyi.

"Gudang kecerdikan", dan yang lain adalah.

"Gudang ilmu silat."

Diatas kedua huruf-huruf besar ini masing-masing ada sebuah lorong untuk masuk.

Giok-liong sudah tidak hiraukau mati hidupnya lagi, besar tekadnya hendak menemui penghuni lembah ini, maka dengan dada terangkat dan langkah tegak ia maju terus.

Puluhan tombak kemudian sebuah dinding batu besar mencegat ditengah jalan, diatas dinding ini ada tulisan pula yang berbunyi.

"Menghadap dinding ini harus berlutut tiga kali dan menyembab sembilan kali."

Hati Giok-liong menjadi dongkol dan uring-uringan tapi sebelum tahu sebab musababnya serta seluk beluknya betapapun harus menghormati peraturan yang telah di tegakkan oleh tuan rumah, maka segera ia berlutut tiga kali dan menyembah sembilan kali.

setelah penghormatan besar ini tiba-tiba pandangannya menjadi terang dan terbelalak, kiranya dinding baju didepannya itu kini sudah terbuka sendirinya terus amblas kedalam tanah.

Belakang dinding batu ternyata adalah sebuah ruangan batu yang kosong melompong, dibelakang ruangan sebelah samping sana terdapat sebuah pintu bundar berbentuk bulan sabit, pintunya sudah terpentang lebar, setelah melangkah masuk kedalam ruangan batu ini serta merta Giok-liong lantas berpaling memandang kebelakang, dinding batu itu ternyata telah menutup lagi secara otomatis tanpa mengeluarkan suara.

Dalam hati Gion-liong menjengek, batinnya."Penghuni lembah ini benar-benar seorang tokoh yang lihay, sayang cara pengaturan jebakan ini terlalu kejam sedikit."

Dalam pada itu dia sudah melangkah sampai diambang pintu bulan sabit itu, baru saja kakinya melangkah masuk "Brak""

Sebuah suara keras terdengar, cepat-cepat ia menarik kakinya waktu dipandang, ternyata diambang bulan sabit itu tuiang-tulang kerangka berserakan, semua sudah hancur tiada satupun yang utuh.

Terang bahwa orang itu sebelum ajal sudah dihancurkan tubuhnya, sehingga setelah mati keadaannya menjadi demikian mengenaskan.

Hati Giok-liong menjadi mengkirik, dengan hati-hati kakinya melangkah maju dari antara sela-sela tulang tulang yang berserakan itu terus maju puluhan langkah kemudian, disini ia dihadang sebuah dinding batu lagi, diatas dinding batu ini juga bertuliskan "Berlutut tiga kali menyembah sembilan kali!"

Giok liong harus menekan rasa gusarnya, terpaksa ia maju berlutut dan menyembah, dinding batu ini juga bergerak secara otomatis amblas kedalam tanah, Demikian Giok-liong harus melewati sembilan dinding batu semacam ini.

Dari lapis kelapis dinding ini tulang-tulang kerangka yang dilihatnya semakin sedikit dan pada lapis kedelapan sudah tiada sekerat tulangpun yang dilihatnya, ini menandakan bahwa belum pernah ada seorang juapun yang bisa sampai mengembalikan kakinya dilapis kedelapan -kesembilan.

Giok-liong sendiri sudah pasrah nasib dan percaya pasti mati, sebab ia sendiri sudah terkena racun jahat, maka sepanjang jalan tiada henti-hentinya ia patuh dan berlutut tujuannya hanyalah ingin menemui penghuni lembah ini untuk minta penjelasan.

Begitu dinding batu lapis sembilan terbuka, kontan hidung Giok-liong dirangsang semacam bebauan yang wangi semerbak dihadapannya terbentang pula sebuah ruang batu, Tapi ditengah ruang batu itu terlihat duduk bersila seorang berpakaian pelajar yang cakap berusia bertengahan.

Pelajar pertengahan umur ini berwajah bersih angker dan agung, dudut tenang sambil memejamkan kedua matanya, Tangan kanannya diangkat lurus kedepan dengan sikut sedikit ditekuk kedalam, diantara kedua jari-jari tengah menjepit selembar kain sutra warna putih.

Begitu melihat orang ini timbul rasa hormat dalam benak Giok-liong, batinnya.

"pelajar pertengahan umur ini mungkin adalah penghuni lembah putus nyawa ini, sungguh tak terduga usianya masih begitu muda..."

Dalam membatin ini segera ia sudah berlutut dan menyembah serta serunya.

"Wanpwe Ma Giok-liong, memikul dendam kesumat dan masuk kemari untuk mencari ayah, untuk kelancangan mana harap cianpwe suka memaafkan serta harap diberi sedikit petunjuk."

Setelah berkata ia bangkit berdiri.

Lama sekali tiada kelihatan suatu reaksi Mendadak badan pelajar pertengahan umur itu pelan-pelan mundur kebelakang, kain sutra yang terjepit di jari tangannya itu melayang jatuh didepan kaki Giok-liong.

Tersipu-sipu Giok liong membungkuk badan menjemput kain sutra itu, dengan seksama ia baca tulisan yang tertera diatas kain sutra putih itu.

"Aku mengasingkan diri dalam lembah ini sudah selama dua abad, kau adalah satu-satunya manusia persilatan yang dapat menghadap kemari selama dua abad ini, sikapmu luhur tahu tata kehormatan pula, memang harus dipuji, setelah membaca surat ini, segeralah kau berlutut dan menyembah maju sampai kehadapanku."

Sutra putih dengan tulisan bak hitam seperti baju saja ditulis, ini tak mungkin benda peninggalan pada dua abad yang lalu, apalagi makna dalam tulisan itu sedemikian takabur dan angkuh sekali.

Giok-liong membatin .

"Watak orang yang kelihatan luhur dan bersih, seperti tiada maksud hendak mencelakai aku. Tapi menurut katanya aku adalah orang pertama yang mampu sampai ditempat ini, bukan mustahil ayah ..."

Tak berani ia banyak berpikir pula, setelah berlutut waktu ia angkat kepala lagi pelajar pertengahan itu sudah mundur sampai puluhan tombak jauhnya baru berhenti.

Tanpa raguragu lagi segera Giok-liong berlutut dan menyembah berulang kali sambil merangkak maju sampai dihadapan tempat duduk pelajar pertengahan umur itu.

Luka-luka pada pahanya itu sebetulnya sangat parah, kini harus menjalani sedikit siksaan badaniah lagi, kekuatan tubuhnya menjadi semakin kendor dan sampai akhirnya sudah tidak kuat bertahan lagi.

Tiba-tiba secarik kain sutera melayang jatuh lagi didepannya, dimana tertulis.

"Duduklah bersila dihadapanku, himpunlah semangat dan semadilah, selama satu jam!"

Tulisan ini bernada memerintah tak bisa tidak harus dituruti.

Giok-liong menjadi dongkol, tapi ia turuti saja apa yang diperintahkan mulailah ia duduk bersila menghimpun semangat mengatur pernapasan sampai akhirnya ia tidak ingat spa-apa lagi.

Tiba-tiba jalan darah Bing-bun-hiat terasa linu, lantas sejalur hawa hangat merembes masuk dari kepalanya terus menerjang masuk kemana-mana, seketika itu dia lantas kehilangan kesadaran, Lama dan lama kemudiaa baru dia siuman kembali.

Baru saja ia membuka mata lantas terasa badannya segar bugar, semangatnya berkobar menyala-nyala, rasa capai dan lelahnya hilang lenyap seluruhnya, Waktu ia angkat kepala entah kapan pelajar pertengahan umur itu telah mundur lagi setombak jauhnya.

Didepan bawah kakinya terbentang secarik kain sutra lagi yang bertuliskan.

"Kau sekarang telah membakal Lwekang selama ratusan tahun, kau ada jodoh masuk perguruan menjadi muridku. Aku bernama Pang Giok bergelar To-ji."

Begitu membaca habis tulisan itu kaget Giok liong bukan kepalang, Kiranya pelajar tengahan umur dihadapannya, ini adalah To-ji Pang Giok salah satu dari Ih-lwesu-can yang telah menggetarkan dunia persilatan, pada dua abad yang lalu.

Setelah hilang rasa kagetnya, tersipu-sipu Giok liong merangkak maju serta berlutut dihadapan To-jin Pang Giok, dengan rasa haru dan kegirangan, ia menyembah serta berkata sambil mengalirkan air mata.

"Guru diatas terimalah sembah sujud murid ini."

Sebuah suara yang kalem halus seakan-akan diucapkan dipinggir telinganya tapi juga seperti terdengar dari kejauhan berkata.

"Anak baik, sepanjang jalan masuk gua ini sungguh menyusahkan kau saja, lekaslah bangun!"

Tersipu-sipu Giok-liong angkat kepala dilihatnya wajah Tojin Pang Giok mengulum senyum manis, pelan-pelan kedua matanya terbuka lalu menatap tajam kearah muka Giok-liong. Giok-liong jadi membatin.

"Ai, orang ini sudah hidup sekian lamanya. tapi masih kelihatan sedemikian muda, betapa tinggi ilmu silatnya pastilah sudah mencapai kesempurnaannya."

Walaupun tengah berpikir tapi kakinya tak berani gerak bangun. Segera To-ji Pang Giok mengulurkan sebelah tangannya yang putih laksana batu giok mengusap-usap kepala Giok-Iiong, ujarnya.

"Anak baik, bangunlah, jangan kau terpaku disitu saja, apa tidak lelah dan sakit kakimu!"

Giok-liong menyembah lagi serta berkata "Terima kasih Suhu, Tecu Ma Giok-liong menyampaikan sembah sujud."

Habis memberi hormat baru dia bangkit berdiri, sesaat To-ji Pang Giok mengawasinya dengan seksama, lalu berkata.

"Giok-liong cara bagaimana kau bisa sampai memasuki Lembah putus nyawa ini?"

Giok-liong menyahut.

"Murid tengah mencari jejak ayah, juga ingin belajar ilmu silat untuk menuntut balas"

"Siapakah nama ayahmu?"

"Aku..,.....aku tidak tahu."

To-ji Pang Gi,ok tercengang, dengan sorot mata yang aneh ia pandang Giok-liong lalu katanya.

"Semua orang yang pernah masuk kedalam lembah ini, semua aku mengetahui namanya, tapi tiada seorangpun yang she Ma."

Tergetar perasaan Giok-liong, tanyanya mendesak.

"Apakah betul?"

To-ji tersenyum, ujamya.

"Masakah gurumu ini menipu kau!"

"Lalu... bukankah Sip-hiat-ling Toan-Bok-ki juga masuk kedalam lembah ini?"

Giok-liong berseru kaget kepala terasa puyeng matapun berkunang-kunang. Batinnya.

"Apakah selama dua abad ini tiada seorangpun yang masuk ke dalam Lembah putus nyawa ini? Lalu kemanakah mereka telah pergi?"

"Giok-liong."

Tanya To ji dengan sungguh-sungguh.

"Kau ada dendam sakit hati apa, mengapa tanpa hiraukan keselamatan jiwa sendiri menempuh bahaya hendak mohon belajar kepandaian dalam lembah putus nyawa ini?"

Jilid 02 Jawab Giok liong sambil menunduk.

"Tecu hidup berdampingan bersama ibu sejak kecil, orang tua tewas dengan mengenaskan dalam tangan para musuh yang kejam ..."

Tak terasa air mata mengalir deras membasahi pipi.

"Anak baik,"

Ujar To-ji sambil mengusap-usap kepala Giokliong, janganlah bersedih mari ikut aku."

Habis berkata ia berputar tubuh terus berjalan kearah dinding kiri sebelah sana dengan langkah tegap dan tenang.

Glok-liong mengintil dibelakangnya sambil mengusap air matanya waktu dekat dengan dinding batu, tampak To-ji mengulur tangap jarinya menekan sebuah tombol disebelah kiri, segera terbukalah sebuah pintu.

Belakang pintu ini adalah sebuah ruangan batu juga yang berhawa sejuk dan lebar, di atas dinding sebelah kanan berlukiskan tiga gambar orang, sedemikian indah dan menakjubkan gambar itu bagai hidup saja.

Ketiga gambar menunjukkan gaya yang berlainan.

Kata Pang Giok kepada Giok-liong.

"inilah tiga jurus pelajaran dasar dari perguruan kita, bagi yang baru belajar harus menyelaminya dengan seksama dan tekun, selanjutnya masih banyak dan rumit pelajaran lain yang harus kau pelajari !"

Selanjutnya dengan sabar sejelas-jelasnya ia terangkan ketiga jurus pelajaran dasar itu.

Setelah diberi penjelasan baru Giok-liong maklum, kiranya ketiga jurus dasar pelajaran dasar kepandaian yang harus dipelajari ini ternyata adalah ilmu yang bernama Sam-ji-cuihunchiu yang telah menghilang selama ratusan tahun dikalangan Kangouw.

Jangan dikata hanya tiga jurus saja, namun dalam jurus ada jurus tersembunyi tipu-tipu lihay lagi, ini benar-benar pelajaran yang rumit dan dalam sekali dasarnya.

Giok-liong memang seorang bocah cerdik sudah mempunyai bekal Lwekang murni yang lumayan pula, ditambah penyaluran tenaga dalam ratusan tahun dari Pang Giok tadi, kondisinya sekarang sudah dapat menyamai tokoh tokoh silat kelas tinggi di Bulim, sekarang setelah mendengar penjelasan To-ji yang mendetail, meski belum dapat memahami seluruhnya sedikitnya separoh dari inti pelajaran sudah dapat dicukup dalam benaknya.

Jurus pertama bernama .

"Cin-chiu,"

Jurus kedua adalah "Hoat-bwe"

Dan yang ketiga adalah "Tiam-ceng."

Ketiga jurus ini masing-masing mempunyai keistimewaannya sendirisendiri.

Menurut pesan dan petunjuk To-ji Giok-liong terus menyelami dengan tekun dan mempelajarinya dengan giat tak mengenal lelah.

Akhirnya gerak tubuh serta langkah kakinya juga sudah semakin teratur dan akhirnya sudah apal diluar kepala, tapi badannya juga sudah basah kuyup oleh keringat.

Entah kapan tahu-tahu To-ji sudah tak berada lagi dalam ruang batu itu, tinggal Giok-liong sendirian yang masih giat berlatih dengan kepala penuh keringat.

Beberapa lama kemudian tiba-tiba kepalanya terasa berat dan pusing sekali, hawa murni dalam tubuhnya juga lantas mengalir balik terus menerjang dengan kerasnya, saking kejut dan takut, segera ia menghentikan latihannya, batinnya.

"Celaka,"

Sungguh tak nyana bahwa sam-ji cui-hun-chiu ini ternyata terlalu banyak mengulas tenaga murni orang ...."

Tengah berpikir itu, badannya sudah tak kuat bertahan Iagi, segera ia duduk bersila dilantai pejamkan mata menghimpun semangat mengerahkan hawa murni untuk memulihkan tenaganya.

Mendadak terdengar kata-kata To ji terkiang dipiaggir telinganya.

"Nak, bertahamlah."

Lalu terasa segulung tenaga hawa yang hangat seperti bara mencurah memasuki badannya melalui ubun-ubun kepalanya.

Dan bersamaan dengan itu segulung arus hawa murni yang dingin seperti gulungan es menerjang masuk juga melalui jalan darah Bing-bun-hiat.

Keadaan Giok-liong sudah sangat lemah, seluruh hawa murninya sudah terkuras habis, begitu dituangi dua jalur hawa murni yang bertentangan ini, terus menerobos dan menerjang kesegala urat nadi dan sendi-sendinya secepat air bah, keruan sakitnya luar biasa seperti disiksa, mata sampai berkunangkunang.

Tapi dasar wataknya keras dan teguh pendirian, sambil mengertak gigi ia terus bertahan tanpa mengeluh sedikitpun.

Setelah hawa panas dingin bergabung dan dapat lancar berputar sebanyak tujuh putaran dalam seluruh tubuhnya, mendadak seperti satnberan geledek kedua jalur hawa yang berbeda itu berpencar lagi terus mengembang kekiri-kanan langsung menerobos kejalan darah Ji-ti jalan darah terpenting bagi mati hidup manusia.

"Bus."

Terdengar getaran yang agak ringan, seketika Giokliong rasakan seluruh badan seperti ditusuki beribu jarum, sakitnya sampai menyusup ketulang-tulangnya, seolah-olah seluruh badannya telah dirobek-robek sampai dedel dowel.

Tak kuat lagi segera mulutnya terpentang terus memuntahkan segumpal darah segar.

Pada saat itu juga kedua gulungan hawa panas dingin itu kontan lantas bergabung menjadi satu terus berubah menjadi hawa yang hangat halus berputar dan merembes keseluruh badan dengan pelan-pelan dimana hawa hangat ini lewat, rasa sakit segera hilang dan badan semakin bertambah segar.

Lambat laun seluruh kesegarannya telah pulih kembali dan memasuki kealam sejadinya yang tak irfat segalanya lagi.

To-ji Pang Giok sendiri tampak duduk bersila disamping Giok-Iiong, jidatnya basah oleh keringat, wajahnya juga sedikit pucat tangannya merogoh kedalam sakunya mengeluarkan sebuah pulungan kecil dituangnya dua butir pil warna hijau, sebutir dimasukkan kedalam mulut sendiri sedang sebutir yang lain dijejalkan ke mulut Giok-liong, Lalu ia sendiri juga menghimpun semangat mulai latihan dalam semadinya.

Entah berapa lama berselang Giok-liong baru siunaan, begitu kedua matanya dibuka, dua sorot tajam bagai kilat memancar keluar dari kedua biji matanya, tapi juga hanya sekejap saja terus berganti sinar tajam yang penuh wibawa, membuat orang tak berani beradu pandang secara berhadapan.

pelan-pelan ia bangkit berdiri, terasa seluruh tubuhnya segar bugar, hawa hangat yang menyegarkan itu terus berputar-putar dan mengalir didalam badan Waktu ia memandang ke sekelilingnya, bayangan To-ji sudah tak kelihatan lagi, Di-bawah kakinya terletak seperangkat pakaian yang bersih, sedang baju yang dipakainya itu sudth basah oleh keringat dan kotor sekali.

Sekonyong-konyong suara To ji terdengar berkata.

"Dibelakang ruang batu ini ada sebuah empang, kau harus merendam diri dan bersemadi dalam air empang itu selama dua belas jam, lalu kau nantikan petunjuk gurumu selanjutnya."

Blang "

Suaranya keadaan menjadi sunyi senyap.

Sebuah suara keresekan terdengar, terbuka pintu di sebelah samping kanan sana, kontan terasa hawa dingin yang menusuk tulang menghembus masuk kedalam ruang batu ini, Memang di belakang ruang batu ini terdapat sebuah empang seluas satu tombak.

Giok-liong segera menekuk lutut serta berseru lirih.

"Budi Suhu yang besar ini, Tecu menghaturkan banyak terima kasih, terimalah sembah sujud Tecu!" -habis berkata ia menyembah sembilan kali, setelah itu baru menanggalkan pakaian dan turun kedalam air. Air dalam empang ini ternyata sedemikian dingin seolaholah dapat membekukan darah. Cepat-cepat Giok-liong mengerahkan hawa murni untuk bertahan, lambat laun rasa dingin itu mulai terusir keluar dari tubuhnya. Begitulah dengan duduk semadi lambat laun Giok-liong sudah mengerahkan seluruh tenaganya sampai pada puncak tertinggi tapi masih sulit menahan serangan hawa dingin itu, untung suhu hangat masih mengembang dalam badannya, sehingga tubuhnya masih kuat bertahan sekian lama. Dua belas jam kemudian baru Giok-liong perlahan-lahan berdiri dan keluar dari empang. Hawa murni dalam tubuhnya sudah kokoh dan karena pengerahan pada puncak tertinggi untuk bertahan terhadap serangan dingin itu. Setelah keluar dari empang, dipakainya pakaian yang telah disediakan oleh To-ji itu. Tiba-tiba terlihat dinding batu bergeser, To-ji Pang Giok lantas melangkah masuk sambil mengulum senyum. Cepat-cepat Giok-liong-berlutut memberi hormat serta katanya.

"Suhu diatas, terimalah hormat Tecu ini!"

Ujar To-ji tertawa.

"Baik, bagus sekali, sudah tak usah banyak peradatan!"

Habis berkata ia tertawa riang, lalu sambungnya.

"Anak Liong. apa kau tahu betapa tinggi latihan Lwekang yang telah mengeram dalam badanmu itu."

Giok-liong menggeleng, sahutnya.

"Tecu tidak tahu!"

"Kau sekarang sudah mempunyai dasar latihan Lwekang selama seabad lebih, dalam kalangan Kangouw sekarahg ini tokoh yang dapat melawan kau sudah sangat sedikit jumlahnya."

Karuan girang Giok-liong bukan main, cepat-cepat ia berlutut dan menghaturkan terima kasih lagi.

"Terima kasih akan budi Suhu yang telah menyempurnakan Tecu! "

To-ji diam-diam saja menerima sembah sujudnya tiga kali, lalu katanya lagi.

"Hawa murni yang mengeram dalam tubuhnya itu merupakan pelajaran tunggal dari golongan kita yaitu "Ji-hua"

Yang dinamakan "Ji-lo"

Merupakan hawa murni yang paling lurus dan mandraguna, Kuharap kau dapat menyesuaikan diri dalam segala tindak-tandukmu kelak, janganlah kau mengecewakan harapan suhumu yang susah payah ini !"

Didengar dari nada perkataannya ini, agaknya ada maksudnya yang hendak segera menyuruh Giok-liong meninggalkan lembah putus nyawa ini. Hati Giok liong menjadi terharu, ujarnya perlahan.

"tecu paham !"

To ji tersenyum, tanyanya .

"Anak Liong, apakah kau tahu ada berapa tokoh-tokoh silat yang dulu sejajar dalam tingkatan dengan Suhumu?"

Sebentar Giok-lioag berpikir, lalu sahutnya.

"Ada Kim-lengcu, Pat-ci-kay-ong dan Hoat-ceng yang termasuk daiam Ih

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com/ lwe-su-cun, Masih ada lagi Thian-lan-sam yau, Mo-pak it-jan dan majikan pulau tanpa bayangan di Lam-hay."

To jin manggut-manggut, ujarnya.

"Benar, tapi masih ada seorang yang paling lihay belum kau sebutkan."

Giok liong terperanjat tanyanya.

"Siapa dia?"

"Hiat-eng-cu, Congcu dari Hiat-eng-bun!"

Giok-Iiong belum pernah dengar akan nama ini, tapi dia juga tidak berani sembarangan tanya, tanyanya lebih lanjut.

"Apakah mereka masih belum menjadi dewa?"

To ji menghela napas, ujarnya .

"Gurumu juga tidak jelas, setelah turun gunung kau harus hati-hati, pelan-pelan kau resapilah pelajaran Sam-ji-cui hun chiu itu dalam praktek. Aku masih ada satu urusan yang harus kuselesaikan, bersama itu juga perlu menuju keluar lautan untuk mencari bahan-bahan obat untuk membantu kau melatih badan yang kuat seumpama badan baja yang tak tembus senjata sebagai murid ahli waris-ku !"

Bukan kepalang rasa haru dan terima kasih Giok-liong, air meleleh dengan deras, katanya sesenggukkan sambil mendekam ditanah .

"Budi besar Suhu ini, seumpama badanku hancur lebur juga sulit membalasnya."

To-ji tertawa lagi, ujarnya.

"Anak bodoh, ini semua tergantung dari kerajinan latihanmu, kalau tidak betapapun gurumu takkan menerima seorang murid yang jahat dan buruk, maka dalam berkecimpung didunia persilatan ini kau harus mengutamakan "Lurus"

Dan tegak dalam keadilan dan kebenaran. Kalau sebaliknya janganlah kelak kau mengatakan bahwa gurumu berlaku kejam terhadapmu, bukan saja harus kupunahkan kepandaianmu jiwamu juga harus dicabut !"

Mendengar petuah serta ancaman gurunya ini tanpa merasa Giok liong sampai merinding segera ia menghentikan tangisnya serta sahutnya.

"Tecu pasti tidak berani!"

"Gurumu percaya kau takkan berani berbuat begitu ..."

Lalu dirogohnya keluar sebatang seruling batu giok bewarna putih mulus yang mengeluarkan cahaya kemilau, seruling itu diangsurkan kepada Giok liong serta katanya.

"seruling ini bernama Jan-hun ti."

Tergetar hati Giok-Hong mendengar nama seruling itu, Janhun ti atau seruling samber nyawa adalah merupakan sebuah benda antik yang sangat tua usianya, Seruling ini selama ratusan tahun selalu menjadi incaran dan idaman setiap tokoh-iokoh silat, senjata sakti mandraguna yang telah menghilang ratusan tahun yang Ialu itu ternyata berada ditangan To-ji Pang Giok.

Bukan saja seruling samber nyawa ini adalah senjata kuno yang sakti mandraguna, malah konon kabarnya didalamnya ada terpendam suatu rahasia besar dunia persilatan.

Pemilik utama dari seruling samber nyawa ini adalah Janhun cu, Jan-hun cu sudah sempurna pelajaran agama dan sudah menjadi dewa pada ribuan tahun yang lalu, intisari pelajaran ilmu silatnya semua terpendam dalam seruling pusaka ini.

Selama ribuan tahun ini seruling sakti ini hanya pernah muncul satu kali, biarpun satu kali tapi cukup menimbulkan buru-hara serta kekacauan yang besar, dimana-mana terjadi pembunuhan kejam untuk memperebutkannya sehingga kaum persilatan tidak bisa hidup tentram, akhirnya seruling pusaka ini menghilang pula tanpa diketahui jejak, dan sejak itu belum pernah muncul lagi.

Dengan tersenyum lebar To ji menyerahkan seruling itu, ujarnya.

"seruling ini ada serangkaian jurus hawa murni yang melandasinya, dalam jaman ini tiada seorangpun yang dapat menggunakan. Pada ratusan tahun yang lalu secara kebetulan gurumu memperoleh seruling ini, dengan landasan Jilo dari perguruan kita kuciptakan ilmu Jan hun-su sek, ilmu ini cukup hebat dan besar perbawanya tapi juga cukup ganas, kau harus mempelajarinya dengan baik-baik sebelum turun gunung."

Saat itu juga ia turunkan pelajaran Jan-hun-su sek itu kepada Giok-liong, Makna dari pada pelajaran keempat jurus itu terdiri dari masing-masing kejut hati kehilangan sukma, putus nyawa sukma tersiksa."

Sebetulnya kedelapan kata itu setiap suku katanya merupakan salah satu jurus yang tergabung menjadi tipu pukulan, kalau digabung lagi maka perbawanya semakin hebat, tiada seorangpun yang bakal kuat bertahan dari serangan rangkaian ini.

Tanpa mengenal lelah dengan giat Giok-liong mempelajari keempat jurus serangan yang lihay ini, sepuluh hari kemudian baru dia selesai mencakup seluruh intisari pelajaran empat jurus tipu-tipu dari Jan-hun-su-sek itu.

Sete!ah Giok-Iiong benar benar sudah lancar dapat mempergunakan pelajarannya ini baru To-ji memberi pesan supaya dia memasuki sebuah ruangan batu lain, setelah mereka duduk berhadapan, barulah To ji membuka kata dengan nada serius.

"Anak Liong, kau sudah tahu peraturan perguruan kita belum ?"

"Tecu masih belum tahu !"

"Setia serta kebajikanlah yang diutamakan, dengan jiwa yang lurus dan hati yang murni baru kau dapat menegakkan peraturan yang keras ini."

Giok-Iiong mengiakan.

"Setelah kau turun gunung, jangan sekali-kali sembarangan kau tunjukan seruling samber nyawa ini kepada orang lain, Kalau tidak kau akan menghadapi banyak kesukaran. Setelah kau berkelana di Kangouw bila ada perlu, carilah majikan Pulau tanpa bayangan di Lam-hay, dia seorang sahabatku yang paling kental, dari mulutnya kau akan tahu berita mengenai gurumu, carilah tahu tentang keadaan Kim leng cu apakah dia masih hidup, jika masih sehat walafiaf, kau harus berdaya upaya untuk bertemu dengan dia, beritahulah kepadanya.

"Sampai mati baru asmara terbawa kubur, lilin luluh baru air mata kering."

Segera dia akan tahu siapa kau adanya, pasti dia pesan kepadamu untuk aku. Dan lagi kau boleh beritahukan alamat ku ini kepadanya."

Setelah itu, tak lupa To ji berikan keterangan tentang asal usul serta wajah muka serta keistimewaan semua tokoh-tokoh ternama.

Diberikan pula sebuah senjata berupa pena yang memancarkan sinar kekuningan, panjang senjata berbentuk potlot setengah meter, katanya.

"Walaupun potlot emas ini tak sebanding dengan seruling menyiksa sukma, senjata ini sudah bertahun tahun mengikuti gurumu berkelana di Bulim, cara penggunakannya adalah jurus-jurus tipu dari gerakan dasar Jan-hun-su-sek itu, semua sekandung dalam delapan gerakan tangan, cara menggunakannya kau sudah bisa. Potlot ini mempunyai asal usulnya tersendiri masih adalagi tiga potlot emas kecil sepanjang tiga inci, potlot-poilot kecil ini merupakan pertanda chas dari sepak terjangku semasa muda dulu."

Lalu diserahkan juga sebuah buntalan sederhana, serta pesannya.

"sekarang pergilah, kelak aku akan mencarimu sendiri."

Perasaan Giok-liong menjadi haru dan bergelora, namun sekuatnya ia tekan perasaan ini serta katanya.

"Suhu, aku , ,. ."

Akhir nya tak terelakkan lagi dua titik air mata meleleh membasahi pipinya. To-ji tertawa dingin, katanya.

"Anak bodoh, lekaslah berangkat, Kaum persilatan telah menanti kau untuk menegakkan keadilan dan kebenaran!"

Giok liong memaksa untuk tertawa, setelah menyeka air mata dipipinya dia berkata.

"Suhu harap terimalah hormat Tecu yang terakhir ini."

Habis memberi hormat cepat-cepat ia berdiri terus memutar tubun melangkah lebar keluar ruang batuc Wajah To ji yang kelihaian bersih berwibawa itu juga kelihatan sedikit murung dan berat, berapa tahun sudah baru sekarang angan-angannya terkabul memperoleh seorang murid yang mencocoki seleranya, baru berkumpul beberapa lama saja sekarang sudah harus berpisah lagi tak tertahan ia berteriak memanggil.

"Giok liong!"

Giok-liong segera berpaling, sahutnya.

"Suhu, ada apa?"

Dengan tajam Toji memandang, wajahnya sekian saat baru bicara.

"Semua jebakan rahasia dalam lembah gua ini sudah kututup kau boleh keluar mengembangkan Ginkang!"

Giok liong mengiakan sambil membungkuk.

Belum hilang suaranya berkelebatan sebuah bayangan putih secepat anak panah dan seringan asap Giok-liong sudah melesat berlari kencang menuju keluar lembah.

Dengan mengembangkan pelajaran Gin-kang perguruannya yang dinamakan Leng hun toh ( melampaui awan mengembang ) tubuhnya seperti angin melayang sekejap saja sudah melewati jalan-jalan rahasia yang terpenting dilembah putus nyawa itu, dan dilain saat ia sudah berada diluar lembah.

Selepas pandang, dilihatnya selokan setan masgul masih seperti sedia kala, kabut tebal masih meliputi seluruh alam sekitarnya angin pegunungan yang dingin juga ribut menghembus keras.

Tiba-tiba terkiaug pesan To ji yang wantiwanti.

"Anak Liong, jagalah dirimu baik-baik sepanjang jalan, segeralah berangkat gurumu hendak menutup seluruh jalan masuk lembah ini. Kelak kalau kau datang lagi, bilamana mulut lembah belum terbuka, itu tandanya bahwa Suhu belum kembali!"

Giok liong maklum bahwa gurunya meng gunakan ilmu Cian li thoan-im (mengirim suara ribuan li) untuk bicara dengan dirinya, maka segera menggunakan ilmu yang sama untuk menjawab "Tecu sudah tahu."

Selanjutnya ia bertanya lagi.

"Suhu, kapan kau orang tua kembali kedalam lembah?"

"Perjalanan ini sulit ditentukan, kapan aku pulang tidak pasti, Waktu mulut lembah terbuka, gurumu pasti ada didiami Sudah lekaslah berangkat, lekas berangkat."

"Tecu terima perintah."

Sahut Giok-liong sambil membungkuk lagi.

Begitu menyedot hawa dalam-dalam menghimpun hawa murni, kakinya terus menjejak tanah melesat kearah sebuah batu gunung yang menonjol keluar diieberang sebelah sana, jaraknya tidak kurang dua puing tombak lebih, namun dengan ringan sekali tubuhnya meluncur seperti snnk i anah, Sungguh diluar perhitungannya begitu pesat lurcuran tubuhnya ini seperti kilat saja melambung ditengah kabut, terpaksa ia harus menekuk tubuh dan meliukkan badan seperti seekor bangau saja tubuhnya segera meluncur turun tepat diatas ngarai sukma gentayangan.

"Oh, Tuhan,"

Hampir saja ia berteriak saking tak tahan menahan rasa girang yang meluap-Iuap.

Hanya sekali jejakan kakinya saja ternyata sekarang dirinya mampu melompati jurang yang lebarnya tiga puluhan tombak ini.

Benar-benar suatu hal yang mustahil bila dibayangkan masakah mungkin tenaga manusia dapat mencapainya ?

Teringat waktu datang, betapa ia harus memeras keringat mengalirkan darah serta menghabiskan seluruh tenaganya baru dapat melampaui selokan setan masgul ini dan masuk kedalam Lembah putus nyawa.

Siapa akan menduga hanya beberapa hari saja sekarang dirinya sudah dapat melewati jurang yang berbahaya ini hanya sekali lompat saja.

Anugrah Suhu terhadap dirinya sungguh besar dan tak tenilai, sekian lama ia berdiri terpesona saking senang, hampir-hampir ia sendiri tidak percaya akan kenyataan ingin dia membuktikan apakah dirinya benar-benar sudah melampaui selokan setan masgul ini !

Tak kira begitu ia memutar tubuh seketika ia berdiri tertegun, Kabut masih tebal angin masih ribut tapi bekasbekas atau bayangan jalan pendek nyawa itu kini telah menghilang ?

Demikian batu besar itu juga telah menghilang tanpa bekas, Ngarai disebrang sana juga sudah tidak kelihatan iagi, hanya tinggal lereng gunung yang menjulang tinggi keangkasa, tiada celah-celah yang merekah yang telah dilewati tempo hari.

Hanya dalam sekejap mata itu saja, seluruh jalan yang menuju ke Lembah putus nyawa sudah tertutup rapat.

Hati Giok liong serasa mencelos dan gegetun, Dengan bekal Lwekangnya sekarang, untuk malang melintang di Kangouw menuntut balas pasti bukan persoalan yang berat.

Tapi sebuah jalanan pendek nyawa yang besar itu, sekejap saja menghilang tanpa suara tanpa diketahui kapan jalanan itu lenyap.

Bangunan alat-alat rahasia semacam ini benar-benar sangat menakjubkan.

Tidak usah dibuat heran sedemikian banyak tokoh-tokoh Bulim yang terjungkal dan menemui ajalnya dalam lembah putus nyawa ini.

Untuk selanjutnya dirinya harus berlaku waspada dan hati hati berkelana didunia persilatan supaya tidak sampai kena terbokong.

Baru lenyap pikirannya, mendadak dipinggir telinga seperti ada orang berkata riang.

"Giok-liong, lekaslah turun gunung, gurumu juga segera akan berangkat !"

Giok liong tergagap, cepat ia berpaling kearah datangnya suara, terlihat ditengah keremangan kabut tebal samar-samar berkelebat sebuah bayangan putih terus hilang di telan kabut tebal, dari kejauhan sayup-sayup terdengar pula suara To-ji berkata.

"Hati-hatilah menjaga dirimu dalam perantauan !"

Habis suaranya orangnya juga sudah jauh beberapa li.

"Tecu tahu !"

Sahut Giok-liong hormat, dimana tubuhnya melenting berubah segulung bayangan putih terus meluncur kebawah dari ngarai sukma gentayangan ini.

setelah sampai dikaki gunung hatinya menjadi hampa dia celingukan kian kemari, tak tahu dia kemanakah dirinya harus menuju, pelanpelan kakinya melangkah tak terasa ia beranjak melalui jalan yang pernah dilalui tempo hari waktu datang.

Ditengah jalan ia berpikir.

"Baiklah, terlebih dulu aku harus kembali keruman gubuk yang telah terbakar menjadi puing itu,"

Teringat akan rumah, sakit hati yang sekian lama sudah terpendam dalam hatiaya mulai berkobar lagi.

Tragedi berdarah akan masa yang lalu kembali terbayang dikelopak matanya, hatinya mengeluh dan berteriak.

"Bunuh, berantas habis semua iblis laknat yang jahat itu ..."

Wajahnya tidak menunjukkan sesuatu expresi yang luar biasa, namun gerak tubuhnya melesat semakin pesat susah diukur kecepatannya menuju kearah ngarai tempat tinggalnya dulu.

Tiba-tiba sebuah persoalan lain timbul dalam benaknya.

Ke-manakah ayah telah pergi?

Bukankah Hwe-thian-khek Ma Hun dari laut utara itu juga she Ma?

Dan lagi iblis nomor wahid paling kejam, membunuh orang tanpa berkedip Sip-hiat-leng Toan Bok-ki kemana pula dia pergi?

Kesan semua orang dunia persilatan adalah bahwa mereka berdua sudah mampus didalam lembah putus nyawa.

Tapi suhunya, majikan lembah putus nyawa ini memberi tahu bahwa ketiga orang itu hakekatnya tidak atau belum pernah memasuki lembah yang bertuah ini.

Kemanakah mereka telah pergi?

Tak tertahan hatinya berdenyut bertanya-tanya, Apakah mungkin menghilangnya ketiga tokoh kenamaan itu merupakan suatu muslihat yang keji dalam kalangan persilatan?

jikalau dugaannya ini kenyataan, itu sungguh berbahaya dan menakutkan.

Tapi kalau diselami lebih lanjut dugaannya ini juga banyak kelemahannya dan tak mungkin bisa terjadi.

Sebab kepandaian silat dan kecerdikan ketiga tokoh-tokoh lihay itu sangat tinggi, betapapun juga mereka takkak semudah itu kena tertipu atau terjebak.

Pikir punya pikir badannya masih berlaju, terus berloncatan didaratan pegunungan yang tidak rata dengan tanah penuh ditaburi salju tebal, Tatkala itu tanpa merasa Giok-liong sudah kembangkan gerak tubuh Leng-hun-toh sampai sepuluh bagian tenaganya, sebuah bayangan putih laksana asap berkelebat seperti bayangan tanpa ujud saja melintas secepat kilat diatas pegunungan yang memutih sampai tak dapat dilihat tegas dengan pandangan mata biasa.

Tak lama kemudian jauh-jauh ngarai tempat tinggalnya itu sudah kelihatan.

Tanpa merasa darah bergejolak dalam rongga dadanya, semakin cepat kakinya bergerak luncuran tubuhnya semakin pesat terus melesat-keatas ngarai itu.

Tiba-tiba di dapatinya bahwa diatas ngarai itu ada bayangan orang tengah bergerak -gerak terus berkelebat menghilang.

Kontan timbul kewaspadaan dalam benak Giokliong, Besar kemungkinan pihak Kim i-pang atau Hiat-hongpang masih meninggalkan anak buahnya untuk menjaga diatas sana.

Dengan beberapa kali loncatan lagi, Giok-liong sudah sampai dibawah bukit terus sembunyi dibawah tebing ngarai itu.

Samar-samar terdengar sebuah percakapan tengah berkata.

"Lo-ong, araknya masih ada tidak?"

"Keparat, mana bisa ada arak? Tapi dalam dua hari ini komandan piket pasti akan lewat disini, mungkin beliau akan menghadiahi dua guci arak kepada kita."

"Ai, nenekmya kedudukan kita dikalangan Kangouw juga cukup disegani, tak nyana kita malah mendapat tugas untuk berjaga ditempat dingin semacam ini untuk menunggu orok kecil yang tak berguna."

"Hei, menurut pendapatku saudara Tan meskipun tugas ini agak menyiksa kita, tapi siapa tahu kalau kita bisa ketiban rejeki, benar-benar orok kecil itu muncul dan dapat kita ringkus, bukankah merupakan pahala besar, Saat mana bukankah pangkat kita akan naik beberapa tingkat paling rendah juga menjadi Tocu, saat itu apa yang kita inginkan pasti kesampaian bukankah sangat menyenangkan."

"Ai, memang gampang diucapkan, jangan jaga punya jaga yang datang malah malapetaka yang bakal menghabisi jiwa kita, jangan kata dapat makan enak, celakalah kalau jiwa sendiri melayang."

"Sudahlah, mengandal kebesaran Hiat-hong-pang kita, siapa yang berani mengusik kepada kita? Apalagi setan kecil itu sudah terjungkal kedalam jurang, meskipun jenazah-nya tidak ketemu, tapi betapa keras tulang tulangnya, seumpama dapat ditolong orang saat ini juga tengah menyembuhkan luka-lukanya itu, mana mungkin ada malapetaka pencabut jiwa apa segala."

"Itu juga belum tentu, siapa tahu..."

"Siapa tahu dewa elmaut sekarang telah datang! "demikianlah sebuah suara dingin mendadak menyentak pembicaraan mereka. Ketika anak buah Hiat hong pang sebetulnya tengah duduk mengobrol didepan pintu gubuk yang baru mereka bangun lagi, begitu mendengar suara ini bukan kepalang kejut mereka. Waktu angkat kepala, tampak terpaut lima kaki disamping mereka berdiri angker seorang pemuda berpakaian jubah putih panjang seperti seragam pelajar umumnya, matanya tajam beringas menatap kearah mereka. Meskipun suara pemuda ini dingin dan mengejutkan tapi wajahnya sedemikian halus dan ganteng, Demikian juga ketajaman kedua matanya bersinar terang seperti kilat, tapi tiada sorot kewibawaan yang menusuk hati sebagai orang yang pernah belajar silat. Kedua arak buah Hiat-hong-pang she Tan dan she Ong itu saling pandang sebentar, lantas tertawa gelak-gelak, sambil tertawa orang she Ong menunjuk si pemuda pelajar katanya.

"Hahahaha, mengandal kau ini ? Mengandal kau anak masih berbau bawang?"

Habis berkata mereka berkakakan lagi dengan temberang, Pemuda pelajar ini bukan lain adalah Ma Giok liong yang baru saja tiba dari Lembah putus nyawa, sikapnya tetap dingin memandangi kedua antek Hiat-hong pang tertawa mengejek sepuasnya.

Tiba-tiba ia membuka suara lagi.

"Sudah puas belum tertawa kalian ?"

Orang she Tan menyeringai ancamnya mendelik.

"Keparat, agaknya kau sudah bosan hidup berani datang kemari untuk dibelejeti oleh tuan-tuanmu ini. Lekas tinggalkan uang sangu dan seluruh perbekalan, biar tuan besarmu ini ampuni jiwa kecilmu."

Giok-liong menjengek dingin.

"Ibu keluarga Ma sekarang berada dimana ?"

Orang she Ong yang berdiri disamping mendadak menghentikan tawanya, hardiknya beringas.

"Bocah keparat, kaukah ini keturunan haram dari keluarga Ma itu?"

"Tuan mudamu ini berjalan tidak mengganti she, duduk tidak berganti nama, memang akulah yang bernama Ma Giokliong!"

Orang she 0ng menggeram gemas, ujarnya.

"Saudara Tan, keiajaroan mataku ini agak boleh diandalkan Malam itu memang aku berjaga dipinggir ngarai sebelah sana, sepintas saja aku melihat bocah dungu ini. Hm, ternyata dia masih hidup malah mengantar jiwanya kepada kita. Hahahaha bagus benar nasib kita!" -Ialu sambil melangkah setindak matanya mendelik dan berkata kepada Giok liong.

"Bocah jangan harap hari ini kau dapat pergi, menyerah saja biar kuringkus."

Giok liong menjengek dingin.

"Tuan kecil mu ini tidak suka main-main, maka kuanjurkan kalian sukalah tahu diri jawablah setiap pertanyaan tuan kecilmu ini."

Tanpa merasa orang she Ong dan she Tan saling pandang dan tertawa gelak-gelak lagi.

Dalam pandangan mereka pemuda seperti pelajar yang lemah ini, seumpama datang lagi sepuluh orang juga tidak menjadi soal lagi bagi mereka berdua.

Belum lenyap suara gelak tawa mereka, orang she Ong sudah membentak.

"Bocah hayo masuk rumah."

Sambil membentak dimana terlihat tangannya menjambret dan menarik pergelangan tangan Giok-liong tepat kena dicengkeramnya, sedikit menggunakan tenaga untuk menikung, seketika terdengar teriakan panjang yang kesakitan, Tahu-tahu tubuh orang she-Ong yang tinggi besar itu terpental tinggi seperti bola terus terbanting keras jatuh di atas tanah sejauh beberapa tombak, tubuhnya berkelejetan mulutnya mengerang kesakitan.

Kejadian ini terjadi begitu mendadak sesaat orang she Tan berdiri tertegun tiba-tiba tangannya membalik.

"Siut..."

Selar ik sinar merah melesat membumbung tinggi keangkasa, di lain saat dengan gerakan yang cekatan sebat sekali ia telah menghunus golok yang tersoreng dipinggangnya.

Dengan jurus Tok-bi-hoa-san (membelah gunung Hoa ) goloknya terus membacok keatas batok kepala Giok-liong, sedemikian besar nafsonya untuk membunuh musuh kecil ini sehingga ia mengerahkan seluruh tenaganya sampai sambaran goloknya berbunyi menderu.

Tidak ketinggalan mulutnya juga memaki kalang kabut.

"Bocah keparat, berani kau melukai orang ...."

Belum lenyap suara makiannya, mendadak terdengar Giokliong tertawa dlngin, jari tengah tangan kirinya diulurkan menyelentik ke arah golok musuh, sedang tangan kiri ringan sekali menampar.

Terdengar pekik kesakitan yang tersendat, hujan darah memenuhi udara dan bercecer kemana-mana.

"Plak"

"Aduh .., ."

Dimana terlihat tubuh orang she Tan jungkir balik, tepat sekali tubuhnya jatuh menindih keatas tubuh orang she Ong, celakanya ujung goloknya itu justru menusuk tembus kedada kawan sendiri darah kontan menyemprot keluar seperti sumber air jiwa keduanya berbareng menghadap raja akhirat Giok-liong menyeringai dingin, gumamnya.

"Bala bantuan mereda segera akan datang, besar harapanku, Komandan piket sek-te utara mereka juga tiba hari ini. Mungkin dari mulut mereka aku bisa mendapat kabar tentang keadaan ibu !"

Lalu dengan langkah ringan perlahan lahan ia memasuki gubuk yang baru dibangun, keadaan didalam gubuk morat marit, berbau apek dan arak, kotornya luar biasa, Giok-liong mendengus dongkol, dicarinya bahan api terus disulut lalu dilemparkan kedalam gubuk, Tidak lama kemudian, asap membumbung tinggi ketengah angkasa membuat burungburung kaget ketakutan dan beterbangan kemana-mana, kembang api juga beterbangan keempat penjuru.

Giok-liong berdiri membelakangi gubuk yang tengah berkobar sambil menggendong tangan, sekarang baru ia merasa keriangan hati setelah melaksanakan pembalasan.

Hawa hangat dan panas dari kobaran api bergelombang menghembus kearah tubuhnya, membuat tekadnya menuntut balas semakin besar, semakin mendesak.

Bibit dendam kesumat semakin bersemi dan berkobar wajahnya yang putih halus semakin merah membara, tapi sikapnya dingin membesi tanpa emosi.

Mendadak dari bawah ngarai sana terdengar suara lirih dari melambainya pakaian orang yang tengah berlari mendatangi.

Tanpa merasa Giok-liong mendengus ejek.

"Yang mengantar nyawa telah tiba puIa."

Memang tidak salah dugaannya, dari lamping ngarai sebelah depan sana berbareng muncul tiga orang laki-laki yang mengenakan seragam ketat warna hitam.

Orang yang berdiri ditengah berjenggot kambing dan bergodek panjang, kedua matanya berkilat-kilat memandang kedua mayat orang she Tan dan she Ong bergantian, lalu memandang ke arah kobaran api yang tengah menelan gubuk baru itu.

Perlahan dengan tindakan mantap ia maju ketengah, setelah batuk sekali lantas ia buka suara bertanya kepada Giok liong.

"Tuan ini kawan dari aliran mana ?"

Dua Iaki-laki dikanan kirinya terus berendeng dibelakangnya.

Dilihat dari cara dandanan pakaiannya ini, agaknya dia salah seorang Tocu yang berkedudukan di suatu tempat.

Giok-liong tetap berdiri dengan tegap, sikapnya angkuh dan temberang sekali.

Setelah sampai ditengah ngarai baru ketiga orang itu menghentikan langkahnya, orang ditengah itu bertanya lagi lebih keras.

"Apakah nian ini dari aliran yang sama?"

Suasana yang tetap sunyi ini adalah jawabannya Orang yang berdiri disebelah kanan, kini sudah tidak sabaran lagi, jengeknya dingin.

"Tocu tak perlu banyak bacot lagi, biarlah hamba yang maju membekuk bocah kurang ajar ini !"

Orang yang dipanggil Tocu itu manggut-manggut, dengusnya.

"Kematian sudah di-depan mata masih berani bertingkah."

Sekali bergerak dengan sekali loncatan gaya harimau menubruk, laki-laki sebelah kanan itu melesat sampai dibelakang Giok-liong dimana tangan kanannya bergerak langsung ia mencengkram kepundak kanan Giok liong.

"Brak."

"Jatuh !"

Terdengar suara keras lalu disusul teriakan panjang yang kesakitan, tahu-tahu badan laki-laki itu terjungkal terbang menyemburkan hujan darah.

Dimana sebuah bayangan putih berkelebat, tahu-tahu Giokliong sudah berdiri di-hadapan sang Tocu terpaut lima kaki, wajahnya membeku dingin pandangannya mengancam, tanyanya.

"Kalian mengapakan ibu keluarga Ma disini, dan dimana beliau sekarang !"

Sang Tocu dan seorang bawahannya hanya merasakan pandangannya kabur, tahu-tahu Giok-liong sudah berdiri begitu dekat didepannya, karuan kejut hatinya bukan main, setelah tercengang sebentar, baru mereka dapat bernapas lega dan menenangkas semangatnya, bentaknya gusar.

"Buyung, benar-benar kau sudah bosan hidup, berani kau mencari perkara dengan Hiat-hong-pang?"

"Aku bertanya dimana sekarang ibu keluarga Ma berada ?".

"Pergi kerumah gendaknya ..."

Bayangan putih berkelebat ,lantas terdengar pekik yang menyeramkan serta suara plakplok bergantian yang nyaring, sebuah tubuh manusia lagi-lagi terbang bergulingan tujuh delapan tombak terus rebah celentang tidak bergerak lagi.

Sementara itu sang Tocu tengah berlutut diatas tanah, mulutnya penuh berlepotan darah, sorot matanya mengandung minta ampun yang sangat memandang wajah si pemuda yang berdiri gusar mendelik dihadapannya, mohonnya gemetar.

"Ampun Siauhiap, ham ... hamba ... tidak tahu ..."

"Kalau kau ingin hidup, lekas katakan sebetulnya."

Demikian ancam Giok-liong. Tocu itu benar-benar sudah ketakutan, sahutnya lirih.

"Hamm ... hamba benar-benar tidak tahu, Hamba hanya tahu bahwa pangcu sendiri pernah datang kemari, malah telah dikeluarkar perintahnya untuk mencari jejak seorang pemuda tanggung, raut muka serta asal usulnya sudah ditulis dan digambar serta disebarkan ke berbagai cabang dimana-mana ..."

Sampai disini mendadak ia berhenti, dengan terbelalak dan ketakutan ia memandang wajah Giok-liong. Giok liong menyeringai dingin.

"Bagaimana? Apa yang kau lihat ? persis dengan gambar itu bukan ? Hehehehe, Tuan muda ini tak lain adalah Ma Giok-liong, akulah yang menjadi dewa elmaut bagi Hiat-hong-paag kalian. Kalau kau tidak bicara secara terus terang, kaupun jangan harap bisa kembali dengan masih hidup!"

Tocu ini terlongong memandangi wajah Giok-liong, sekian lama kemudian baru ia membuka mulut lirih.

"Ma-siau-hiap, dulu Ma-nio-cu juga bersikap baik sekali terhadap hamba terutama bodr terhadap beliau. Asal hamba tahu dimana sekarang beliau berada, masa hamba berani merahasiakan..."

Baru dia bicara sampai disini, dari kejauhan ditengah hutan sana, tiba-tiba melengking tinggi sebuah suitan panjang yang memecah angkasa terus meluncur tiba dengan pesatnya.

Wajah yang berlepotan darah dari sang Tocu itu seketika berubah pucat pasi dan mulutnya terdengar mengguman.

"Komandan Ang telah tiba, Komandan Ang telah tiba ..."

Mendadak ia menyembah berulang-ulang kepada Giok-liong serta memohon.

"siauhiap ampun !"

Melihat tingkah tengik orang ini, Giok-liong menjadi geli dalam hati, tanyanya menegas dengan nada berat.

"siapakah komandan Ang itu ?"

Tocu itu menyahut gemetar.

"Beliau adalah wakil komandan piket sekte utara. Thi-bin-to hu Ang k-hwi ....... Siau-hiap ampun ..."

Giok-liong mendengus hina, ujarnya.

"Baik, kau pergi lah!"

Bergegas Tocu itu bangkit berdiri sambil membungkukbungkuk dan berkata.

"Terima kasih akan budi pengampunan Siau-hiap"

Habis berkata terus berlari terbuit-birit kebawah ngarai. Mendadak alis Giok-Iiong tegak berdiri, bentaknya.

"tunggu sebentar!"

Tocu itu mengiakan dan segera menghentikan langkahnya,siapakah komandan piket sekte utara kalian ?"

"Thian~siu-su-cia le Pong !"

"Baik, kau boleh pergi !"

Sambil menyatakan terima kasih, kedua kaki Tocu menjejak tanah terus berlari pesat seperti anak panah melesat kebawah ngarai. Sekonyong-konyong.

"Hehehehe ..,."

Serangkaian suara tawa yang panjang terdengar dari pinggir ngarai sana, Sang Tocu yang baru saja berlari sampai dipinggir ngarai segera menghentikan langkahnya, teriaknya ketakutan.

"Wakil komandan piket ..."

"Hehene..."

"Prak"

Suara tawa dingin itu melayang tiba, serangan angin lalu disusul jeritan yang mengerikan.

Badan sang Tocu kelihatan melayang tinggi jungkir balik ditengah udara terus terbanting mampus, dari tujuh lobang indranya mengalirkan darah segar.

"Hehehe... kurcaci macam ini yang berlutut minta ampun. Heheheh ..."

Diiringi suara dingin seperti tawa setan gentayangan yang menggiriskan ini, seperti bayangan setan saja dari pinggir ngarai didepan sana muncul sebuah bayangan besar.

"Hehehehe, buyung, perhitungan ini harus segera dilunasi Hehehehe ..."

Waktu Giok-liong memandang lebih tegas, tanpa merasa hatinya terperanjat.

Tampak dipinggir bawah ngarai sana perlahan-lahan muncul sebuah bayangan manusia yang tinggi besar seiring dengan tawa dinginnya itu, ia melayang seringan daun seperti setan layaknya, Selayang pandang dari gerak geriknya saja lantas dapat dipastikan bahwa ilmu silat serta Lwekang orang ini pasti sudah mencapai kesempurnaan Iatihannya.

Jarak mereka sekarang semakin dekat, Thi-bin to-hu (sijahat bermuka besi) Ang It hwi ternyata berwajah warna kehijau-hijauan, beringas mengandung hawa membunuh yang tebal, kedua biji matanya melotot besar seperti keliningan berkilat-kilat memandang wajah Giok-liong dengan tajam, tanyanya dingin .

"Buyung, kau ini yang bernama Ma Giokliong ?"

Dimulut ia bertanya, namun dalam hati jaga membatin.

"Bocah ini terang adalah bocah yang diperintahkan harus ditangkap oleh Pangcu, Tapi mengapa Pangcu tidak mengatakan bahwa ilmu silatnya sangat lihai. Dilibat sikap pemuda ini, kedua matanya bersinar, bernapas enteng berdiri tegap tanpa bergerak, terang kalau dia membekal Lwekang yang tinggi, mungkin sudah mencapai taraf yang paling sempurna hanya tersembunyi ..."

Sedikit menggerakkan kepala, Giok-Iiong menyahut dingin.

"Aku yang rendah memang Ma Giok-liong adanya, Tuan ini tentu Ang It-hwi si jagal bermuka besi bukan ?"

"Hehehehe... di surga ada jalan kau tak mau kesana, sebaliknya di akhirat tertutup jalan kau menerjaug datang, Buyung serahkan saja jiwamu. Hehehe ..."

Sambil tertawa dingin, kakinya melangkah maju dengan tenang dan mantap. Giok-liong ganda menyeringai ejek, tanyanya.

"Ang It-hwi, bagaimana keadaan ibu keluarga Ma ?"

Si jagal bermuka besi tertawa iblis, jengeknya.

"Buyung nyawamu sendiri belum tentu selamat, masih banyak tingkah mengurusi persoalan lain ?"

Berbareng dengan habis ucapannya, tiba-tiba tubuhnya melejit maju, dimana kedua tangannya bergerak secepat kilat ia melayang tiba, bayangan kedua gerak tangannya memenuhi seluruh tubuh Giok-liong, Tahu-tahu lima jalan darah terpenting didada Giok-liong sudah terancam bahaya.

Giok liong mendengus hina, tiba-tiba tangan kirinya diayun bergerak setengah lingkaran ditengah udara, terus bergerak laksana kilat menutuk kejalan darah Thian-king hiat kedua sikut tangan si jagal manusia bermuka besi.

Bersama itu tangan kanan juga tidak ketinggalan sedikit diangkat lurus kedepan bergerak pulang pergi menekan kedada lawan.

Baru saja Aag Il-hwi lancarkan pukulannya mendadak ia rasakan dua jalur angin kencang langsung menerjang kearaft jalan darah Thian king-hiat dikedua sikutnya, betapa kejut hatinya, cepat-cepat pinggangnya sedikit ditekuk berbareng kedua tangannya dipentang berbareng kesamping terik melompat mundur dengan sigap sekali.

Dalam saat genting secara kilat itulah, sebuah tangan yangputih, laksana bayangan-setan saja tahu-tahu tanpa bersuara telah menyelonong kedepan dadanya, bergerak-gerak seperti melayang menekan dengan sebuah tusukan kearah jalan darah Thian ti di-dadanya.

Saking kejutnya si jagal bermuka besi cepat-cepat menyedot hawa menekuk dadanya, berbareng kakinya bergerak menggeser kedudukan terus melesat kesamping, dimana kedua kakinya menjejak sekuat tenaga kontan tubuhnya mumbul menerjang keatas.

Segera terdengar dua kali teriakan keras disusul suara "blang"

Yang keras, lantas dua bayangan orang terpental berpisah.

Wajah si jagal bermuka besi kelihatan hijau membesi badannya terpental setombak lebih kedua lengannya bergerak berbareng sebat sekali, ia tanggalkan jubah hitamnya, kini kelihatan pakaian dalamnya yang ketat juga perlente, bentaknya geram.

"Bocah serahkan nyawamu!"

Membarengi dengan bentakannya, secepat kilat ia merangsang kearah Giok-liong sambil lancarkan pukulannya dimana kedua tangan oleh bayangan tangan pukulannya yang mengandung tenaga luar biasa sampai angin menderu-deru bagai badai yang langsung menerpa ketubuh Giok-liong.

Giok-liong tertawa dingin, jengeknya.

"Mutiara sebesar beras juga berani memancarkan sinar."

Sambil menjengek itu tubuhnya sedikit-sedikit berputar, tubuhnya malah melesat menerjang masuk kedalam lingkungan angin badai yang membumbung tinggi keangkasa, Diantara bayangan, kepalan tangan dia bergerak sedemikian lincah sambil lancarkan juga pukulannya yang tidak kalah hebatnya, secara dekat ia tandangi adu kepalan dengan si jagal bermuka besi dengan cepat lawan cepat.

Seketika terlihatlah bayangan berkelebatan angin pukulan bagai badai dan lebih dahsyat lagi dari tadi, tidak lama kemudian bayangan mereka sudah terbungkus tak kelihatan.

Kira-kira dua puluh jurus kemudian, tiba-tiba terdengar Giok-liong menghardik rendah.

"Lihat pukulan!"

Dari kedua biji matanya tiba-tiba mencorong sinar dingin setajam kilat, demikian juga tiba-tiba gerak geriknya menjadi lamban, tapi tangan kiri sebaliknya bergerak secepat kilat membuat lingkaran ditengah udara terus ditepukkan kedepan.

Ditengah udara seketika mengembang gumpalan awan putih yang bergulung-gulung dengan mengeluarkan suara yang menggelegar, langsung menerjang kearah Ang It-hwi.

Bertepatan dengan itu tangan kanan Giok-liong juga ikut melambat keatas ringan sekali menekan kedada musuh.

Si jagal bermuka besi Ang It-hwi sebenarnya adalah salah satu iblis besar dikalangan Kangouw, kepandaian serta pengalamannya sudah tentu sangat tinggi dan luas sekali, Tapi begitu berhadapan dengan Giok-liong ia lantas menambah kewaspadaan Setelah saling gebrak lantas ia merasa gerak gerik Giok-liong sangat ringan dan cekatan sekali, cara turun tangannya juga sangat ganas dan telengas, seolah-olah dirinya sulit dapat melawan.

Maka setelah sepuluh jurus kemudian, segera ia kerahkan seluruh hawa murninya sampai sepuluh bagian, dengan dilandasi kekuatan yang hebat ini ia lancarkan ilmu pukulan To chiu-cap-sek (sepuluh jurus Jagal tangan), ilmu yang jarang sekali dikeluarkan.

Siapa nyana baru saja pukulan To-chiu-cap-cek dilancarkan gerakan lawan tiba tiba menjadi lamban, seakan-akan kehabisan tenaga, Keruan hatinya girang, dengan gerak-gerik jurus Hiat-kong-beng-sian (sinar darah mendadak memancar) buru-buru tangan kirinya bergerak.

Mendadak dilihatnya air muka Giok-iiong diliputi hawa agung yang murni, belum lagi rasa herannya hilang, mendadak angin badai disertai gelombang awan putih yang menggulung.

Begitu melihat macam pukulan yang dahsyat ini seketika hatinya bercekat sambil berseru ketakutan sampai suaranya tersendat lirih.

"Sam-ji-cui-chiu!"

Ditengah teriakannya itu, kedua kakinya dijejakan sekuatnya, kontan tubuhnya melesat menghindar kearah samping kiri, bersama itu ia kerahkan ilmu Sim-hiat-kang yang dilatihnya selama dua puluh tahun meski belum sempurna sambil mundur itu kedua tangannya juga bergerak cepat terus didorong kedepan memapak serangan musuh.

Terdengarlah ledakan dahsyat yang gegap gempita menggetar langit dan bumi, dua jalur sinar layung warna merah darah segera memancar dari kedua telapak tangannya terus melesat keluar seperti kepala ular sanca yang sedang gusar terus menerjang kearah awan putih yang melayang datang.

Tepat pada saat itulah sebuah tangan kecil yang putih halus tanpa-mengeluarkan suara tahu-tahu sudah menepuk tiba didepan dadanya hanya terpaut dua kaki saja.

Begitu melihat tangan halus yang menyelonong ini nyawa Ang lt-hwi hampir melayang keluar raganya, hatinya terasa membeku serta timbul rasa kejut dan takut yang selama ini belum pernah menghampiri sanubarinya.

Hilanglah sifat-sifat kejam dan keberanian semula, Dari telapak tangan putih halus ini ia membaui hawa keaslian yang semakin mendekat.

"Dar....weeest ..."

Ditengah ledakan dahsyat yang menggetarkan seluruh ngarai itu, sinar layang merah darah itu kontan pecah berhamburan menjadi titik kecil bersinar seperti kunang-kunang menyemprot ke empat penjuru, gelombang awan putih segera mengembang pecah berguIung-gulung.

Si jagal bcrmaka besi segera meliukkan pinggang, sayang gerakannya kurang cepat dan terlambat sedetik, meskipun tangan halus itu tidak melukai dadanya tak urung pundaknya yang menjadi sasaran empuk.

Dimana terdengar geraman rendah bayangan kedua orang segera terpental berpisah.

Badan Ang It-hwi yang tinggi besar itu disertai hujan darah menggelinding sejauh lima tombak jauhnya seperti bola saja layaknya, sekuat sisa tenaganya ia berusaha menahan daya luncuran tubuhnya, dengan susah payah baru ia dapat bangun dengan sempoyongan.

Baru saja dapat berdiri tegak, kontan mulutnya terpentang terus menghamburkan darah segar, perlahan-lahan ia angkat kepala sorot matanya yang mengandung kebencian menyalanyala menatap wajah Giok-liong seakan-akan seperti hendak dipatuknya.

Pada waktu tenaga pukulan kedua belah pihak saling kebentur tadi, Giok-liong juga rasakan sebuah tenaga tekanan yang besar dan aneh menerjang kearah dadanya.

Maka ccpat-cepat menyedot hawa murni, tangan kanan terus didorong lagi dengan di tambahi tiga bagian tenaga lagi, sedang gerakan tangan kiri sedikit diperlambat Meskipun tipunya ini berhasil melukai si iagal bermuka besi, tapi dia sendiri juga merasa dadanya rada sakit, napasnya sesak, matapun berkunang-kunang, ternyata dirinya juga menderita luka dalam yang tidak ringan.

Tanpa ajal perlahan-lahan ia menyedot hawa mengatur pernapasan sambil mengerahkan Ji-lo untuk menelusuri seluruh badan untuk menyembuhkan luka-lukanya.

Waktu si jagal bermuka besi dapat berdiri tegak lagi, darah yang bergolak dirongga dadanya juga sudah dapat diatasi, sedikit kakinya bergerak enteng sekali tubuhnya lantas melayang maju kehadapan Ang It-hwi.

Mendadak Ang It-hwi merasa pandangannya kabur, secara tiba-tiba Giok-liong tahu-tahu sudah berdiri didepan matanya, tak kuasa geram hatinya, dengan suara serak ia membentak gusar.

"Bocah Lohu adu jiwa ..."

Belum habis kata-katanya, lagi-lagi ia muntah darah. Sekonyong konyong terdengar sebuah suara dingin dari samping yang tidak jauh dari sana.

"Saudaraku, kau boleh istirahat dulu!"

Seiring dengan suara ini sebuah bayangan laksana seekor burung besar mendadak muncul disampingnya, sekali jinjing sebat sekali kawannya dibawanya menyingkir delapan tombak jauhnya, suaranya tetap dingin.

"Kau istirahatlah disini !"

Setelah merebahkan si jagal berduka besi, gesit sekali bayangan itu sudah melayang tiba dihadapan Giok-liong lagi. Bercekat hati Giok-Iiong, batinnya.

"Ternyata banyak juga jago silat kelas tinggi didalam Hiat-hong-pang. Tak heran mereka berani malang melintang bsrsiinaharaja."

Sambil berpikir matanya memandang menyelidiki kearah bayangan hitam ini.

Tampak bentuk tubuh orang ini kurus kecil, kedua biji matanya cekung kedalam, tapi bersinar tajam.

Diatas kedua biji matanya yang memancarkan sinar kehijauan itu adalah alisnya yang tebal gompyok, hampir menutupi seluruh dahinya, Hidungnya besar bengkak seperti paruh elang, bibirnya tipis kering merekah, selayang pandang bentuk rupanya ini pasti akan menggiriskan orang yang melihatnya.

Giok-liong berdiri diam dan tenang, sikapnya dingin memandang, baru ini tanpa mengeluarkan suara.

Tapi hawa Ji-lo sudah terkerahkan untuk melindungi badan bersiap menghadapi setiap pertempuran.

Tatkala itulah dibelakangnya terdengar berkesiurnya angin dari lambaian baju, dengan seksama ia hitung pendatang baru dibelakangnya sebanyak lima orang, Dari gerak.

langkah serta lambaian baju mereka dapatlah diukur kepandaian mereka, paling banyak juga setingkat lebih rendah dibanding si jagal bermuka besi.

Tiba-tiba si kurus kecil berhidung bengkak itu membuka suara dingin.

"Bukankah tuan ini Ma Giok-liong? Pun-coh (aku) adalah Thian-siu-su cia Ie Pong"

Giok-liong insaf bahwa Thian-siusu cia Ie Pong didepannya ini benar-benar berkepandaian aneh dan tinggi, salah seorang iblis besar yang berwatak aneh pula. Sambil bersiaga ia menyahut.

"Sudah lama kudengar nama tuan, laksana geledek membisingkan telinga, Aku yang rendah memang Ma Giokliong!"

Sekian lama Thian-siu-su-cia le Pong mengamatinya, lalu katanya manggut-manggut "Benar-benar seorang gagah, sayang terlalu angkuh.

Hm.

tuan berani membakar gubuk dan melukai orang orangku, mungkin kau tidak akan terhindar dari kejaran keadilan."

Mendadak Giok-liong mendongak sambil perdengarkan tawa gelak-gelak, ujarnya.

"Tak terduga kata kata keadilan juga dapat tuan katakan, Hahahaha."

Air muka Thian siu-su-cia tetap membeku tanpa emosi, setelah suara tawa Giok-liong reda, baru ia berkata dingin.

"Memang tuan harus tertawa puas sebelum ajal"

Sikap Giok-liong tidak kalah dingin.

"Hari ini berapa anak buah yang tuan bawa kemari. Lebih baik suruh mereka maju berbareng supaya aku tidak membuang tenaga dan waktu."

Thian-siu-su-cia mendengus keras, mendadak ia berteriak kearah belakang Giok-liong.

"Para Hiang-cu diharap mundur kesamping, biar aku sendiri yang turun tangan, Kalau menang itulah baik, kalau kalah segera kita mundur. Anggaplah peristiwa malam ini belum pernah terjadi!"

Sekilas Giok-liong melirik kebelakang, terlihat dibelakangnya, berdiri jajar lima orang laki-laki yang mengenakan pakaian sangat perlente, semua bersikap garang, berbareng mereka melompat mundar kesamping.

Berkata pula Thian-siu-su-cia kepada Giok-liong.

"Tuan boleh kerahkan seluruh kemampuan untuk melawan aku, Kalau sejurus atau setengah jurus tuan dapat menangkan aku, urusan malam ini kita sudahi sampai disini. tapi setelah malam ini bila bertemu lagi itu menjadi persoalan lain."

Giok liong tersenyum.

"Tuan tidak usah kuatir tentang hal ini seandainya tuan tidak datang, aku yang rendah juga akan meluruk kemarkas besar Hiat-hong-pang kalian."

"Baiklah aku silakan tuan menyerang tiga jurus lebih duIu, supaya tidak menjadi buah tertawaan orang yang mengatakan aku le Pong menindas anak kecil"

"Baiklah aku juga tidak main sungkan-sungkan lagi."

Lenyap suara kakinya sedikit menggeser kesamping kiri sedang tangan kanannya bergerak perlahan dengan jurus Beng-houju-tong (harimau gilik keluar gua), gerakannya sedemikian lamban dan berat karena tanpa menggunakan tenaga murninya, Bersama itu mulutnya juga berseru keras.

"jurus pertama !"

Gerak gerik Giok-liong ini merupakan jurus serangan yang paling umum dilancarkan dengan sengaja tanpa mengerahkan hawa murninya lagi keruan Thian siu-su-cia menjadi tercengang, sedikit bergerak ia menyingkir setengah langkah.

Kini Giok-liong merubah gerakannya, tubuh sedikit mendak kedepan, kepelan tangan kanan tergantung, sedang telapak tangan kiri menyambar miring dari samping lagi-lagi ia lancarkan gerak tipu Hu-hou tio-yang (harimau mendekam menghadap matahari) jurus umum yang paling rendah tingkatnya.

Sekali ini baru Thian siu su cia paham bahwa Giok-liong sengaja tidak mau terima kemurahan akan serangan tiga jurus terdahulu ini, keruan bukan kepalang rasa hatinya, tapi ia segan pula membuka mulut.

Dalam pada itu, Giok liong sudah selesai melancarkan tiga jurus serangan pura-pura, lantas katanya.

"Tuan marilah jangan main sungkan-sungkan lagi !"

Ringan sekali tubuhnya melayang mundur lima kaki.

Kelima Hiang-cu yang berdiri membelakangi jurang diatas ngarai itu, melihat betapa congkak sikap Giok liong ini, diamdiam mereka membatin, bocah ini tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi, hari ini terhitung dia pasti mampus.

Jilid 03 Terdengar Thian-siau-su-cia mendengus hina, jengeknya.

"setelah kau tidak mau terima kemurahanku akan ketiga jurus serangan tadi, nanti jangan kau menyesal bahwa aku telah berlaku telengas dan keji kepada kau !"

"Hahahahaha, legakan hatimu dan silakan turun tangan saja, Siapa bakal menang atau kalah masih sukar ditentukan."

Dimulut ia bersikap temberang, namun diam-diam ia bersiaga dengan mengerahkan hawa Ji-lo dalam tubuhnya untuk bersiap siaga menghadapi setiap perubahan.

Terhadap Hiat-nong-pang dan Kim-i-pang dia merasa dendam dan membenci sampai ke tulang sumsum.

Saat mana bara dendam kesumat sudah membakar dadanya.

Menghadapi salah satu tokoh dari Hiat-hong-pang yaitu Thian siu-su-cia le Pang timbul rasa simpatiknya, terasa olehnya bahwa orang ini tidak sejahat dan seburuk apa yang pernah dipikirkan, sedikitnya dia masih mempunyai sikap gagah sebagai kaum persilatan.

Sementara itu sedikit mengangkat tangan Thia l-siau-su-cia le Pang berkata.

"Tuan hati-hatilah !"

Membarengi ancamannya selicin belut tiba-tiba tubuhnya melejit kesamping kiri Giok-liong, kelima jarinya dirangkap terus membacok miring laksana sebilah pedang yang diarah adalah jalan darah King-bun hiat dibawah ketiaknya.

Giok-liong tersenyum geli, kaki kanan menggeser setengah langkah kebelakang, sedang tangan kanannya diulur mencengkeram pergelangan tangan kanan Thian-siu-su cia.

Thian-siu-sucia juga perdengarkan jengeknya, matanya memancarkan kilat hijau, dimana tangan kiri terayun seketika terbitlah angin lesus yang dibayangkan dengan pukulan tangan yang memenuhi udara sekitarnya.

Hampir dalam waktu yang bersamaan dengan gerakan kilat dilandasi tenaga ampuh serentak ia lancarkan empat belas kali pukulan serta delapan kali tendangan.

Baru sekarang benar benar Giok-liong terkejut, sedemikian cepat tahu-tahu angin pukulan musuh sudah hampir mengenai tubuhnya, dalam gugupnya tiba-tiba tubuhnya menjengkang kebelakang, disusul tumitnya sedikit menjangkit, tubuhnya lantas melenting miring kebelakang secepat anak panah meluncur.

Baru saja tubuhnya melenting mumbul, pinggangnya lantas ditekuk dan berjumpalitan ditengah udara serta menyedot hawa murni dalam-dalam, dengan gaya yang indah sekali tubuhnya melengkung turun, dimana kedua tangannya menari-nari dengan bayangan pukulan yang dahsyat ia meluncur turun mengeprok batok kepala Thian siu-su cia.

Thian-siu cu cia mengekeh panjang, kedua kakinya sedikit ditekuk dengan gaya berjongkok ini ia kerahkan dua belas tenaga murninya terus mengayunkan kedua lengannya.

Langsung menyambut kedatangan pukulan Giok-liong, sengaja ia hendak menjajal dengan latihan Lwekangnya selama puluhan tahun itu untuk menandingi kekuatan Giok-liong.

"Bum . ...byeerr ... ."

Ledakan yang lebih hebat dan dahsyat membuat alam sekitarnya gelap gulita angin badai membumbung tinggi sehingga batu dan pasir beterbangan seketika itu juga dua bayangan orang terpental berpisah kedua jurusan, sekarang Giok-liong dan Thian-siu su-cia berdiri berhadapan terpaut satu tombak.

Adu pukulan kali ini ternyata sama-sama kuat alias seri.

Adalah Thian-siu-su-cia sediri diam-diam bercekat hatinya, batinnya.

"sungguh tak nyana sedemikian kuat tenaga dalam bocah cilik ini, betapapun aku harus hati-hati"

Karena pikirannya ini ia kerahkan hawa murninya untuk melindungi badan, sorot matanya memancarkan sinar kehijauan, mendongak keatas ia bersuit panjang melengking menembus angkasa, Kedua tangan ditekuk bersilang mulailah ia kerahkan ilmu pukulannya yang dinamakan Thiau-siu-sacap-chit-ciang, seluruh tubuhnya bergetar hebat membawa gulungan hawa hitam seperti gugur gunung terus menerjang kearah Giok-liong.

Dalam adu kekuatan tadi Giok-liong sudah kerahkan tujuh bagian tenaga murninya, begitu saling sentuh, darah segar mengalir balik dalam rongga dadanya, jantungnya lantas berdetak keras, secara mentah-mentah tubuhnya terpental balik dan meluncur jatuh lima kaki jauhnya.

Sudah tentu bukan main kejut hatinya, sekarang melihat musuh menerjang dengan seluruh kekuatan seperti banteng ketaton, tanpa berani ajal lagi segera ia kerahkan Ji-Io sampai sepuluh bagian, jurus pertama dari Sam-ji-cui-hun-chit yaitu Cin-chiu segera dilancarkan, Dimana terlihat bunujj-imnnrrrniaT-rsgtetiiiifPn?a segera terbit kabut putih yang bergulung-gulung diselingi angin badai yang menderuderu.

Begitu kabut putih dengan hawa hitam itu saling bentrok terdengar lagi dentuman hebat yang menggetarkan bumi.

Para Hiangcu yang berdiri jauh menonton serta si jagal bermuka besi yang duduk bersila berobat diri agak jauh disebelah sana kontan merasa diri masing-masing diterpa hawa panas yang membakar kulit.

Begitu bayangan hitam dan putih saling bentrok seketika tubuh mereka terbungkus oleh bayangan pukulan tangan yang serabutan sehingga susah dibedakan lagi mana hitam dan mana putih.

Lambat laun kabut putih dan hawa hitam semakin tebal bergulung-gulung menjadi satu memenuhi alam sekeliling ngarai, ditengah gelombang kabut putih dan hawa hitam yang saling tumbuk dan bentok itu, terdengar juga angin pukulan yang menderu berat, kedua belah pihak sudah lancarkan ilmu pukulan masing masing yang paling dahsyat.

Tanpa mengenal kasihan sang waktu terus berjalan tanpa meninggalkan bekas.

Cuaca sudah mulai terang, dua orang yang bertempur diatas ngarai sekarang sudah kerahkan seluruh kekuatan hawa murni masing-masing, mereka berebut waktu untuk melancarkan serangannya lebih duIu, dalam bertempur gerak cepat macam ini, masing-masing harus berlaku gesit dan tangkas untuk menangkis atau menjaga diri serta melancarkan serangan yang paling ganas dan keji untuk secepatnya merobohkan lawan.

Sekejap saja dua ratus jurus telah berlalu, namun sedemikian jauh belum tampak tanda-tanda mana lebih kuat atau asor, sekonyong-konyong Giok-liong berteriak melengking keras sekali dimana terlihat bayangan putih berkelebat seringan asap.

Tenaga murni sudah terkerahkan sampai sepuluh bagian dengan jurus Hwat bwe, ia menyerang dengan sekuat tenaga.

Sungguh menakjubkan begitu jurus kedua dari Sam-ji-cuihun-chiu ini dilancarkan seketika terjadilah pemandangan yang sungguh indah, terlihat sinar kelap-kelip berbintang seumpama gumpalan salju berkembang meluncur turun dari tengah angkasa, entah lambat atau cepat semua memberondong kearah Thi-an siu-su cia.

Belum lagi jurus kedua ini memperlihatkan kewibawaannya, jurus ketiga yaitu Tiam-ceng juga sudah menyusul dilancarkan sebuah tangan kecil yang putih halus bak setan gentayangan saja layaknya tahu-tahu sudah melambai tiba didepan dada Thian-siu su-cia le Pang, tapi sebelum mengenai sasarannya ditengah jalan mendadak tangan itu membelok arah naik keatas tentu menepuk keatas batok kepalanya.

Saking kejut Thian siu-su cia menggembor keras, saking gusarnya kedua tangan ditarik terus didorong kedepan berbareng, kabut hitam segera bergulung-gulung melambung keluar.

Bersama itu dimana giginya menggigit kencang ujung lidahnya telah digigit sendiri sampai pecah berdarah.

"crat"

Segulung sinar merah berdarah langsung disemprotkan ketangan putih halus yang menyerang tiba.

Dentuman dahsyat menggelegar menggoyangkan gunung menggetarkan bumi, batu dan pasir beterbangan batu gunung dimana tempat mengadu pukulan juga sampai retak dan berbolong sebesar lima kaki bundar.

Berbareng pada saat pasir dan debu beterbangan itu, mendadak terdengar bentakan gusar.

Kelima Hiangcu dari Hiat hong-pang itu mendadak melejit berbareng berubah lima bayangan hitam diselingi angin pukulan yang membadai terus menubruk kearah Giok-liong.

"Blang". -sekali lagi terdengar dentuman yang bergemuruh, sebuah bayangan putih terjungkal sungsang sumbal terus terbanting keras diatas tanah bersalju, begitu pentang mulut kontan ia menyemburkan darah segar, pelanpelan dengan kedua sikutnya ia menyanggah tubuh terus bergegas bangun berdiri kedua kakinya terasa gemetar. Karena pengalamannya yang masih cetek dalam cara menghadapi musuh, sedikit meleng saja ia kena terbokong oleh gabungan pukulan yang dilancarkan oleh kelima Hiangcu itu. Sambil menyeringai iblis kelima Hiangcu maju lagi setindak demi setindak ... Sementara itu Thian siu-su-cia yang telah beradu pukulan melawan ilmu Sam-ji-cui-feua-chia yang dilancarkan Giokliong kini juga sudah merangkak bangun, dengan suaranya yang serak ia membentak gusar.

"Para Hiangcu..."

Tanpa berjanji serentak kelima Hiangcu menghentikan langkahnya berbareng menoleh kemari.

"Kemari!"

Sebagai komandan piket sekte utara kedudukan Thian-stu-su-cia ini sangat tinggi didalam Hiat-hong pang, kepandaiannya yang lihay merupakan salah satu jago yang paling dibanggakan dalam perkumpulan itu.

Sekarang mereka diperintahkan mendekat walaupun dalam hati ingin membangkang tapi mereka tidak berani melanggar perintah, berbareng mereka berkelebat maju kehadapannya, tanyanya.

"Bagaimana keadaan luka komandan ..."

Thian-siu-su-cia mengulapkan tangan, setelah menenangkan semangatnya, sekuatnya ia buka mulut bicara.

"Urusan malam ini, selesai sampai disini saja !"

Saat mana Giok-liong sudah berengsot maju mendekap jubah luarnya yang putih sudah kotor berlepotan darah, jengeknya dingin.

"Memang tidak memalukan, nama Hiathong-pang memang serasi benar dengan perbuatan kalian..."

Belum habis ucapannya, Thian siu su-cia sudah bangkit berdiri sambil mengerut alis, serunya membungkuk diri.

"Atas pelanggaran yang telah dilakukan oleh para Hiang-cu kami, harap suka dimaafkan ! Hari ini jelas sudah kalah... urusan malam ini ... baiklah setelah sampai disini saja! Selewatnya hari ini ... kelak kita tentukan lagi siapa lebih unggul dan kalah !"

Habis berkata napasnya juga memburu, agaknya luka dalamnya juga tidak ringan.

Salah satu diantara para Hiangcu itu seorang diantaranya seorang berusia pertengahan umur berbadan kurus tinggi dengan air muka kecut segera angkat tangan kepada Thiansiu-su cia, katanya.

"Komandan, bocah ini sudah loyo kehabisan tenaga, lebih baik diringkus . ."

"Kentut !"

"plak, plok"

Saking gusar kontan Thian-siu su-cia persen dua tamparan para Hiangcu yang kurang ajar ini, Dia sendiri karena menggunakan tenaga sekali lagi memuntahkan darah segar.

Dua orang Hiangcu yang lain segera maju memapak badannya, katanya.

"Komandan kau harus menjaga kesehatan badanmu !"

Thiansiu-su-cia mendengus geram, katanya kepada Giokliong. Ma-siauhiap, ada satu hal yang ingin Losiu tanyakan, entah dapatkah kau memberi keterangan?"

Sebenarnya keadaan luka Giok-Iiong juga tidak ringan, namun sekuatnya ia coba bertahan, sahutnya lirih.

"Tuan ini tanya soal apa ?"

"Apa hubungan tuan dengan Toji Pang Giok?"

"Beliau adalah guruku."

"Oh ... baik sampai jumpa lagi !"

Berubah sir muka Thiansiu su-cis, sambil mengulapkan tangannya ia memberi perintah.

"Mari kita pulang !"

Kedua Hiangcu yang lain segera memayang si jagal bermuka besi Ang It-hwi yang sedang berobat diri itu, terus pelahan-lahan turun gunung.

Giok-liong terlongong-longong memandangi punggung mereka menghilang dikejauhan, lalu ia menghela napas rendah, gumannya.

"Oh Tuhan, rata-rata sedemikian tinggi kepandaian mereka, kapan dendam kesumat ini bisa terbalas ..."

Air mata tak tertahan mengalir deras membasahi tubuhnya berlepotan darah itu.

"Apapun yang bakal terjadi,"

Demikian ia berpikir sambil menggertak gigi.

"Dendam kesumat ini harus kubalas berlipat ganda ! Bunuh, akan kutumpas mereka ! Aku harus memperoleh pelajaran ilmu silat sakti, untuk ibu dan membalaskan sakit hatinya !"

Sekonyong-konyong terdengar suara tawa cekikikan dibelakangnya, sebuah suara merdu berkata.

"sungguh tidak malu, hanya terkena sedikit luka saja lantas menangisi."

Hilang suaranya lagi-lagi ia tertawa genit berkakakan.

Tergetar hati Giok liong, seorang diri menangis ditempat sunyi ini, ternyata sekarang konangan oleh seseorang, bukankah ini sangat memalukan!

Dalam gugupnya segera ia menyeka air matanya terus memutar tubuh.

Suara tawa genit yang terkekeh itu masih terdengar, lalu terdengar orang mengejek.

"Aku sudah melihat kau menangis, seeepat-cepat kau menyeka air matamu apa lagi gunanya ?"

Waktu Giok-liong memandang tegas, seketika matanya terbeliak, orang yang tertawa genit serta mengejek dan berdiri didepannya ini ternyata adalah seorang gadis remaja yang ayu jelita bsrpakaian serba merah.

Tawa genit yang menggila itu ternyata keluar dari bibir yang kecil mungil itu.

Memang begitu cantik wajahnya dengan mata yang jeli hidung yang mancung serta dadanya yang montok benar-benar potongan tubuh yang sangat memikat hati setiap laki-laki.

Demikianlah juga Giok-liong tanpa merasa ia berdiri terpesona mematung ditempatnya.

Setelah puas tertawa, tampak alis si gadis diangkat tinggi serta ujarnya aleman.

"Eh, apakah aku elok ?"

Tanpa sadar Giok-liong manggut-manggut.

"Apakah kau suka kepadaku ?"

Sungguh diluar dugaan Giok-liong orang bakal mengajukan pertanyaan seperti ini, sesaat ia tertegun tak tahu cara bagaimana ia harus menjawab.

"Hm, agaknya kau tidak tahu, jadi kau hendak ambil keuntungan dari aku ?"

Perasaan sebal dan benci seketika timbul dalam benak Giok liong, sambil mendengus ia terus putar tubuh tinggal pergi turun ngarai.

Belum lagi ia melangkah jauh terdengar pula suara tawa genit yang mengiblis itu semakin keras dan menggila, disusul sebuah bayangan merah berkelebat tahu tabu gadis baju merah yang cantik itu sudah menghadang didepannya, alisnya dikerutkan dalam mulutnya cemberut, tanyanya.

"Masa kati tidak ingin tahu siapakah aku ini ?"

Alis Giok-Jiong juga berjengkit tinggi, sahutnya dingin.

"selamanya aku belum pernah bertemu muka dengan nona, harap nona suka mengenal sopan sedikit."

Lagi-lagi si gadis baju merah ini terkekeh genit dan semakin jalang, serunya.

"Aduh, pura-pura malu kucing dengan istilah belum pernah jumpa apa segala. Justru sekarang aku minta kau segera menjawab pertanyaanku?"

"Hm, kalau nona tidak mau menyingkir jangan menyesal kalau aku sampai turun tangan."

"Aah garangnya, aku tidak mau minggir coba kau berani turun tangan."

Timbul amarah Giok-liong, sambil menahan sakit "Wut"

Langsung ia menampar ke depan.

Bayangan merah berkelebat seketika ia rasakan sikut tangannya kesemutan seluruh lengannya itu lantas lemas semampai tak mampu bergerak lagi.

Suara tawa jalang dari gadis merah itu terdengar pula.

"saudara kecil, tabiatmu itu sungguh sangat kasar ..."

"Cis, siapa menjadi saudaramu, hayo minggir ..."

Dengan marahnya ia terus menerjang maju dengan langkah lebar.

"Kembali lah!"

Kontan ia merasa dirinya menumbuk sebuah dincing yang tidak kelihaian sampai badannya terpental balik dan terhuyung tiga langlah, darah dalam dadanya seketika bergolak, tenggorokan terasa panas darah segar terus menerjang naik kedalam mulut.

Namun ia mengertak gigi, muntah-muntah ia telan kembali darah yang sudah menyembur keluar itu.

Matanya mendelik mengawasi wajah gadis baju merah, semprotnya gusar.

"Apa keinginanmu?"

"Jawab pertanyaanku!"

"Kalau aku tidak mau jawab?"

"Hm, Takabur benar, jangan harap kau dapat pergi!"

"Hah, aku Ma Giok-liong seorang laki-laki tak sudi diperas dan ditekan oleh perempuan yang jalang kotor seperti kau."

Seketika berubah air muka gadis baju merah, meskipun memperlihatkan sikap tawanya tapi kini wajahnya itu sudah diliputi nafsu keji yang ingin membunuh, tawa jalangnya semakin keras, teriaknya.

"Apa yang kau katakan tentang aku ini?"

"Perempuan jalang."

"Plok!"

Kontan Giok liong merasakan pipi kanannya pedas dan panas sakit sekali, tahu-tahu dia sudah terkena sebuah tamparan.

"Hayo coba berani katakan tidak ?"

"Perempuan jalang !"

Bayangan merah berkelebat lagi, sejalur angin keras langsung menerjang kearah dadanya, Bercekat hati Giok-liong, dalam gugup tangannya diangkat untuk menangkis.

Tapi dia sendiri sudah terluka dalam yang sangat parah, faktanya tiada kekuatan untuk membela diri, seketika itu juga ia menjerit nyaring, mulut Giok-liong menyemburkan darah segar, badannya terpental terbang delapan kaki jauhnya terus terbanting keras diatas tanah bersalju.

Gadis baju merah itu berkecek mulut lalu mendekati, ujarnya.

"Ternyata hanya sebegitu saja kemampuanmu ..."

Memang Giok-liong sudah terluka parah kini terpukul dan terbanting begitu keras lagu seketika mata berkunang-kunang kepala terasa pusing tujuh keliling, sungguh pedih rasa hatinya, namun sambil menggertak gigi ia masih memaki.

"perempuan cabul, perempuan jalang, akan datang satu hari aku Ma Giok-liong pasti membunuh kau !"

Pada saat itulah tiba tiba terdengar berkesiurnya angin serta berkelebatnya sinar emas kekuningan, tahu-tahu diatas ngarai situ telah muncul tiga orang laki-laki pertengahan umur yang mengenakan pakaian seragam kuning emas.

Salah seorang yang berdiri ditengah berperawakan tinggi kekar berdada bidang, alisnya tebal bermata sempit sepetti mata tikus, dipipi sebelah kiri ada bekas luka terbacok berwarna merah menyolok.

Begitu mereka muncul, enam biji mata yang bersinar tajam lantas terpusatkan memandangi si gadis baju merah.

Terdengar salah seorang mereka berkata.

"He, kurang ajar, tidak nyana bocab itu mempunyai rejeki demikian besar, sebelum ajal masih ditemani oleh gadis cantik yang menggiurkan!"

"Hahahaha, Ong-tong-cu, justru aku berkata bahwa kau sendirilah yang bakal ketiban rejeki, Gadis cilik ini cukup cantik benar ?"

Orang yang dipanggil Ong-tong-cu itu segera melangkah maju berapa langkah, sekilas ia melirik kearari Ma Giok-Iiong yang rebah ditanah, katanya.

"Hm, memang dia adanya, ringkus dia dan mundur kesamping."

Baru lenyap suaranya, gadis baju merah itu segera tertawa genit dan maja menghampiri katanya.

"Oho, enak benar kau berkata, mau ringkus tinggal ringkus, kenapa tidak tanya dulu kepada aku!"

Sejenak Ong-tong-cu tertegun, tapi lantas tertawa terbahak-bahak, serunya.

"Dia ini apamu, sedemikian besar rasa prihatianmu ? Urusan kita dari kaum Kim-i-pang selamanya tidak suka diusik oleh orang luar.

"Aku tidak perduli, dihadapan aku Li Hong, tiada seorangpun yang dapat kubiarkan berlaku congkak dan bertingkah."

Li Hong!

Begitu mendengar kedua nama ini disebut, Ongtong cu dan kedua temannya itu bercekat hatinya, sebentar mereka tercekat lalu dengan mata yang penuh kecurigaan mata mereka menyelidik dan menyelusuri seluruh badan gadis berbaju merah itu, tanyanya perlahan.

"Nona adalah ... adalan Ang-i-mo-li Li Hong?"

Li Hong mengekek dulu, sahutnya.

"Aku memang Ang-imo-li Li Hoog, kalian mau apa ?"

Pandangan Ong-tong-cu serasa gelap, otknya juga seperti dipukul godam, batinnya.

"Celaka, habis sudah, bagaimana bisa hari ini kita bisa berjumpa dengan wanita iblis yang terkenal sulit dilayani ini ..."

Dalam hati ia mengeluh namun lahirnya tetap berlaku hormat dan menyanjung, ujarnya sambil memberi hormat.

"Karni tidak tahu bahwa ternyata nona Li telah berkunjung kemari, harap nona suka memberi maaf se-besar-besarnya akan sikap kami yang kasar tadi, baiklah hamba beramai minta diri."

Sembari berkata ia mundur berulang-ulang. Iblis wanita baju merah terloroh-loroh semakin keras sekali melejit ia mendesak maju dihadapan Ong tong cu, katanya tertawa.

"Setelah melihat mukaku. mana boleh pulang tanpa membawa sedikit oleh-oleh dari aku,"

Habis kata-katanya terendus bau harum semerbak berkembang terus terdengar teriakan berulang-ulang.

Dalam sekejap itu enam buah kuping dari tiga antek-antek Kim i-pang telah dibetot putus dan tempatnya terus dibanting diatas tanah.Darah mengalir deras dikedua pipi mereka.

iblis wanita baju merah tertawa riang serunya.

"Sekarang kalian boleh pergi!"

Tanpa berani bercuit lagi Ong-tong-cu bertiga segera lari terbirit-birit turun ngarai.

Waktu Li Hong membalik tubuh lagi, saat mana Giok-liong sudah bangkit berdiri dengan tubuh masih limbung kerlingan tajam ia tatap iblis wanita baju merah, tanyanya.

"Kau, sebetulnya apa kemauanmu?"

"Orang yang sudah kupenujui, sudah tentu tidak boleh terjatuh ketangan orang lain."

Mendengar ocehan yang kurang ajar ini seketika naik hawa amarah Giok liong sampai kepala terasa berdenyut-denyut, semprotnya murka.

"Apa maksud kata katamu itu? Aku tidak mengerti"

"Nanti sebentar kau akan mengetahui."

Dengan gaya yang lemah lembut serta gesit sekali ia menghampiri kearah Giokliong, kedua matanya yang bersinar bening itu kini memancar sorot kejalangan yang panas membara menatap wajah Giok liong.

Tanpa merasa tergetar perasaan Giok-liong, cepat-cepat ia himpun semangat dirogohnya sebutir obat yang dibekal dari Lembah putus nyawa terus ditelannya suasana diatas ngarai menjadi sunyi, tegang.

Meskipun luka parah Giok-liong masih belum sembuh namun diam-diam ia sudah kerahkan seluruh kekuatan Ji-lo untuk melindungi tubuh, Kalau gerak gerik iblis wanita baju merah ada sedikit mencurigakan terhadap dirinya, segera ia akan turun tangan sekuatnya untuk merobohkan atau bila perlu membunuhnya.

Sebaliknya Ang i-mo-li masih berdiri di-tempatnya, kedua pipinya semakin merah, ke-dua bibirnya juga sedikit terpentang bergerak-gerak laaana delima merekah, dari badannya mengeluarkan bebauan harum yang memabukkan setindak demi setindak, sekarang ia maju mendesak kearah Giok liong.

Pada saat itulah mendadak terdengar sebuah suara tawa dingin yang rendah dan sember memecah suasana yang tegang menyekam sanubari ini.

Tahu-tahu diatas ngarai kini muncul sebarisan laki-laki yang semuanya mengenakan pakaian seragam kuning emas.

Pemimpin yang terdepan adalah seorang tua berambut uban dan berjenggot putih panjang, wajahnya tepos, kedua matanya memancarkan sorot berkilat-kilat, jengeknya dingin.

"Ang i-mo-li, selamanya perkumpulan kita tidak pernah saling melanggar dengan kamu. Hari ini kau berani turun tangan ikut mencampuri urusan dari kita, malah melukai anak buah kita lagi. Bagaimana kau hendak membereskan perhitungan ini?"

Sigap sekali mendadak Ang-i-mo-lt memutar tubuh, serunya terkekeh.

"Oho, tidak nyana tuan besar pelaksana hukum dari Kim-i-pang juga telah datang kemari !"

"Nona Li, bicara terus terang, kalau hari ini kau lepas tangan tidak turut campur, semua urusan yang telah terjadi bolehlah di hapus sama sekali."

"Boleh saja, tapi dengan satu syarat, kalian tidak boleh membawa pergi Ma Giok-liong."

"Apa maksudmu ini ?"

"Siapa berani menyentuh dia, pasti kubunuh !"

"Jadi kau sengaja ingin menjagoinya ?"

"Bukan begitu maksudku, tapi siapapun kularang menyentuh dia."

"Sudah pasti kau hendak melindungi dia ?"

"Betul !"

"Hehehe ... nona Li, dengan baik tadi Lohu membujuk kau tidak mau dengar kata, janganlah nanti kau menyesal bahwa Lohu berlaku kejam terhadapmu !"

Tatkala itulah, tiba-tiba Giok-liong pelan-pelan maju ketengah gelanggang. Tertegun Ang i-mo li dibuatnya, teriaknya gugup.

"Ma-siauhiap, jangan kau sembarangan bergerak."

Giok-liong melotot sekali kearahnya, ejeknya.

"urusanku tidak perlu kau turut campur."

"Ma-siau-hiap, mereka sengaja hendak mencari perkara kepadamu .."

"seumpama aku sampai mati juga tidak sudi minta bantuan kepada perempuan jalang macammu ini !"

Pelaksana hukum Kim-i-pang itu tiba-tiba terkekeh dingin, ujarnya mengejek.

"Bagus, bagus, nona Li si dia, tidak mau terima kebaikanmu."

Sebaliknya Ang-i-mo-li Li Hong malah melirik penuh perhatian kearah Giok-liong, lalu serunya tersenyum.

"Apa betul ?"

Belum lenyap suaranya mendadak tubuhnya bergerak cepat sekali, dimana bayangan merah berkelebat membawa gulungan angin pukulan dahsyat terus merangsak maju langsung memukul kedada pelaksana hukum Kim-i-pang itu.

Kecepatan turun tangan serta tipu serangannya yang telengas ini betul-betul sangat mengejutkan Tapi pelaksana hukum Kim-i-pang ini agaknya juga bukan kaum lemah, sedikit tertegun kemudian, segera mendengus dingin, serunya.

"Diberi arak suguhan tidak mau, malah minta dihukum..."

Tanpa ajal ia juga segera menggerakkan kedua tangannya maju menyambut serangan lawan berbareng berseru memberi aba-aba.

"Ringkus dulu bocah she Ma itu?"

Serentak kelima laki-laki berpakaian kuning emas itu berbareng mengiakan terus melejit maju mengepung disekeiiling Giok-liong. Ang-i mo-li terdengar terloroh loroh lagi, serunya.

"Tidak begitu gampang !"

Bertepatan dengan pukulan tangannya hampir saling bentur dengan tangkisan pelaksana hukum Kimi-pang itu, mendadak pergelangan tangannya dibalikkan, selicin belut pingangnya meliuk ringan sekali badannya lantas melayang menerjang kearah lima laki-laki yang mengepung Giok-liong itu.

Kontan terdengarlah jerit dan pekik saling susul disertai hujan darah berceceran, dua diantara lima laki-laki baju kuning emas itu sudah roboh terkapar karena terserang dadanya, dalam keadaan yang tak terduga dan tanpa siaga lagi mereka diserang keruan seketika mereka roboh bergulingan terus tak bergerak lagi, jiwanya melayang.

Sungguh gusar pelaksana hukum Kim i-pang bukan kepalang, teriaknya dengan murka.

"Maju semua !"

Sambil berteriak ia mendahului menubruk kearah Giok-liong sambil melancarkan pukulan dahsyat yang membawa angin menderu hebat.

Saat mana Giok-liong sudah ada kesempatan menelan obat serta mengerahkan Ji-lo berputar tiga putaran dalam tubuhnya luka luka dalam badannya sudah setengah sembuh melihat dirinya sekarang yang dijadikan sasaran, maka dengan tertawa dingin ia menjengek.

"Tambah selipat lagi juga tuan mudamu ini takkan gentar."

Pelan-pelan kedua tangannya bergerak mendorong maju, kekuatan tenaga murninya segera memberondong keluar, terdengar suara plak plok berulang-ulang disertai jeritan yang mengerikan, dua orang lagi kena terpukul terjungkir balik dan akhirnya rebah ditanah.

Bersamaan dengan hasil pukulannya itu, pelaksana hukum Kim-i-paag juga tengah melancarkan pukulannya yang lihay bagai gugur gunung menungkrup keatas kepalanya.

Giok-liong masih tertawa ejek saja, kemudian Ji-lo ia terkerahkan sampai delapan bagian tangannya terus disorong kedepan untuk menyambut pukulan musuh.

"Darrr .. , Byaar"

Sedemikian keras ledakan benturan dua tenaga yang saling beradu ini, pelaksana hukum Kim-i-pang terdengar menguak keras seperti babi hendak disembelih, badannya terpental terbang jauh sambil menyemburkan darah menyemprot keras sekali sampai beberapa meter, terang jiwa pelaksana hukum Kim-i-pang ini juga sulit diselamatkan kembali.

Sementara itu dalam gelanggang masih saling susul terdengar jeritan yang mengerikan darah sudah membanjir dimana-mana, saban-saban terdengar pula suara tawa jalang yang keras itu.

Ang-i-mo-li bergerak begitu lincah, cara turun tangannya juga cukup kejam, dalam sekejap mata itu dimana tangannya bergerak gampang sekali ia sudah merobohkan anak buah Kim-i pang.

Air muka Giok-liong semakin membeku, sebaliknya bara sakit hati semakin berkobar dalam rongga dadanya seolaholah gunung berapi yang hendak meletus, Dia sendiri tidak tahu, apakah pihak Kim-i-pang ini ada bermusuhan dengan dirinya.

tapi gerak gerik serta kata-kata mereka tadi ia menyimpulkan bahwa pasti mereka adalah musuh-musuhnya juga.

Karena anggapannya ini, gesit sekali bayangannya bergerak, Sam-ji-cui-hun chiu dilancarkan berulang kali.

Dalam gelanggang pertempuran segera kelihaian gelombang awan putih yang bertaburan menyelubungi bayangan putih yang terus mengembang keempat penjuru mengejar dan merobohkan para anak buah Kim-i-pang yang sudah ciut nyalinya dan sedang berusaha menyelamatkan diri.

Jeritan ngeri yang mendirikan bulu roma, terdengar saling bergantian, darah segar yang nangat terbang memenuhi angkasa dan berceceran ditanah menjali aliran panjang.

Tatkala itu, Ang-i-mo-Ii sudah mundur dan berdiri menonton diluar gelanggang, melihat cara turun tangan Giok liong yang tengah melancarkan pembunuhan kejam besar besaran, tanpa merasa hati kecilnya menjadi li'jt dan jijik rasanya.

Sekejap saja anak buah Kim i-pang yang masih berada diatas ngarai tinggal tidak seberapa banyak lagi, mereka yang masih ketinggalan hidup berusaha lari memencarkan diri, saking takut seiasa arwah sudah melayang meninggalkan badan.

Meskipun mereka sudah berusaha lari sekencangkencangnya, tapi toh tak luput dari kejaran hantaman tangan dari bayangan putih yang diselubungi kabut pula, Akhirnya setelah jerit dan pekikan seram sebelum ajal itu sirap dan semua sudah roboh terkapar ke aiaan diatas ngarai itu menjadi sunyi pula.

Dengan tenang Giok-liong berdiri tegak diantara mayatmayat yang bergelimpangan serta darah yang mengalir tergenang disekitar kakinya, jubah panjang yang berwarna putih itu, sedikitpun tidak terkena noktah-nokcah darah.

Tapi wajah Giok-liong yang membesi, jubahnya yang melambai tertiup angin serta potongan tubuhnya yang tinggi lencir berdiri diantara tumpukan mayat dan genangan air darah, keadaan ini benar-benar sangat menyeramkan dipandang mata.

Ang-i-mo li sendiri juga seorang iblis wanita yang kejam membunuh orang tanpa mata berkedip, namanya sangat tenar dikalangan Ka-ngouw, setiap kali mengerahkan tangan membunuh musuh musuhnya selalu diiringi dengan tawa jalangnya yang menusuk kuping, Kini melihat keadaan dan pandangan didepan matanya ini tak urung merasa mengkilik dan ciut nyalinya.

Untuk berapa lamanya suasana diatas ngarai tenggelam dalam kesunyian.

Giok liong terlongong-longong melepaskan pandang kearah yang jauh dan jauh sekali, sorot matanya memancarkan perasaan hampa.

Mendadak ia berpaling muka, sinar matanya yang tajam bagai kilat menatap wajah Li Hong yang berseri bagai kuntum bunga dimusim semi.

Tiba-tiba timbul suatu perasaan aneh yang belum pernah terjadi dalam sanubari Li Hong, Memang lahirnya sifatnya kelihatan jalang dan genit sekali, namun dia sendiri sangat keras menjaga kesuciannya, Berapa banyak para mata keranjang di Kangouw yang terpincut dan tergila gila oleh kecantikannya ini, tapi mereka semua menjadi setan gentayangan korban keganasannya.

Tetapi waktu untuk pertama kali ia bersua dan melihat Giok-liong, hati kecilnya timblul suatu perasaan manis mesra, namun ia tidak terlalu besar menaruh perhatian akan hal ini, karena dia sudah kebiasaan dalam permainannya mengalah sifat laki-Iaki.

Siapa tahu setelah sebuah tragedi pembunuhan besarbesaran terjadi, perasaan dalam sanubarinya itu mendadak mengembang dan memperbesar sampai tiada batasnya dan susah dibendung lagi sehingga memenuhi rongga dadanya yang penuh padat itu.

Pandangan kasih mesra segera terlontar dari sorot matanya yang bening dan terbelalak bundar itu menatap sayu kewajah Giok-liong yang dingin membesi dan berdiri terpekur itu.

Tali asmara sudah terikat kencang diatas badan Giok-liong.

selintas itu terbayang olehnya gambaran indah dan impian muluk dalam otaknya.

Tanpa terasa mulutnya menyungging senyum manis mesra bak sekuntum kembang mekar dan segar di pagi hari.

Sekonyong-konyong dengusan rendah dan berat menyesakkan dia dari lamunannya.

Sorot mata Giok-liong yang memancarkan kilat dingin tengah berapi-api mengandung nafsu membunuh beranjak, mendekat ke arahnya setindak demi setindak.

Walaupun expesi wajahnya sangat menakutkan namun sepasang pipinya bersemu merah sangat elok dipandang mata.

Bercekat hatinya, diam diam ia kerahkan tenaga dan hawa murninya untuk siaga, lalu dengan lantang ia bertanya.

"Masiau-hiap, bukankah mereka adalah musuh-musuh besarmu?"

Giok-liong mandah menyeringai dingin tanpa membuka suara, kakinya tetap melangkah maju dengan mantap. Melihat gelagat ini, semakin ciut perasaan Ang-i-mo li, batinnya.

"mungkinkah ia sudah kerasukan setan laknat, sehingga dianggapnya aku juga kamprat-kamprat dari kaum Kim i-pang?"

Karena anggapannya ini segera ia menghardik keras.

"Stop, berdiri disitu! "

Giok-liong juga tercengang dibuatnya, betul juga ia menghentikan langkahnya.

"Ma-siauhiap, aku adalah Li Hong, bukan antek dari Kim-ipang!"

"Hm, aku tahu kau Li Hong adanya, tapi kau harus rnampus!"

Habis berkata dengan langkah tetap ia maju mendesak lagi.

Mendengar ancaman Giok Lioag itu, seketika dingin perasaan Li Hong seumpama diguyur air dingin, pemuda pujaan hatinya ini ternyata bersikap kaku dan berkata demikian, sekuatnya ia menghimpun semangat dan menenangkan pikiran, ujarnya dengan lemah lembut.

"Masiau-hiap. apa , ..apakah sikapku tadi terlalu kasar terhadapmu? "

Aku harus membalas kedua tamparan dan sekali genjotan didadaku tadi."

Serasa pecah kepala Li Hong, tanpa terasa dua butir air mata kontan mengalir membasahi pipinya, Berapa tinggi kepandaian Giok liong tadi ia sudah menyaksikan sendi ri, bagaimana juga dirinya bukan tandingan orang, seumpama dirinya mau menggunakan senjata rahasia yang jahat yaitu Sia-hun-ciam (jarum penyedot sukma), mungkin dengan gampang dapat menundukkan dan meringkus dia, tapi bukankah impian muluknya tadi bakal buyar himpas.

Pengalaman yang dulu pernah membuat dia patah hati, dia tahu dan dapat merasakan betapa sukar membina cinta murni ini, taji dia juga tahu cara bagaimana untuk menghalang ikatan perasaan itu, Dalam saat-saat pendek laksana sepercik kilat itu, diam-diam ia sudah mengambil suatu keputusan yang penuh mengandung resiko.

Langkah Giok-liong sudah semakin dekat tinggal lima langkah lagi jaraknyj, tersipu penuh pandangan sayu dan hampa ia angkat kepala, tersapu bersih sifat-sifat jalangnya semula, katanya parau dengan pedih "Ma...

seumpama aku mandah menerima balasan dua tamparan dan pukulan dada tadi, maukah kau memaafkan kesalahanku tadi ?"

Melihat macam pandangan orang, tergetar hebat sanubari Giok-liong, oo Tuban, sikap dengan air muka serta pandangan semacam ini sungguh sudah sangat dikenalnya.

Malam itu, diwaktu ibunya terpekur merenungkan sesuatu bukankah pandangan mata serta mimiknya seperti itu.

Tapi suatu kesan lain segera mendorong dan melenyapkan pikiran serta keraguannya ini.

"Cis, perempuan cabul semacam dia, masa sejajar dibanding ibuku."

Sambil berpikir tangan kanannya sudah pelan-pelan terangkat tinggi, dengusnya.

"Kalau kau berkepandaian lancarkanlah seranganmu, supaya jangan dikatakan aku menindas orang yang tidak mampu melawan."

Betapa perih hati Li Hong mendengar ejekan Giok-liong ini, air mata semakin deras mengalir.

Tadi waktu dirinya memukul Giok-Iiong bukankah orang tengah terluka berat?

Oleh karena itu pelan-pelan ia memejamkan kedua mata yang penuh mengembang air mata, serta mengangsurkan kedua belah pipinya yang halus dan bersemu merah itu, katanya sayu.

"pukullah ..."

Giok-liong menjadi serba sulit, hatinya gundah dan bimbang, tangan kanan yang telah terangkat tinggi menjadi susah diturunkan.

Dia bukan seorang gagah yang mau begitu saja menurunkan tangannya memukul orang yang tidak mau melawan !

Akhirnya dia membentak dengan marahnya.

"Apa kau orang mati, apa kau tidak bisa berkelit?"

"Ai, memang aku rela kau pukul sampai mampus."

Semakin melonjak amarah Giok-iiong, tangan kanan yang sudah terangkat tinggi itu segera diayun dipukulkan kearah tanah.

"Blang,"

Saking keras pukulannya tanah sampai tergempur dan berlobang besar sambil berjingkrak gusar Giok

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com/ liong memaki.

"perempuan cabul, perempuan bangsat pergi kau menggelindinglah dari hadapanku ..."

Dimaki sedemikian rerdah dan kotor keruan terketuk sanubari Li Hoag seolah-olah ditusuk sembilu, giginya berkereot dengan gemasnya, teriaknya beringas.

"Siapa yang kau maki ?"

Berbareng bayangan merah berkelebat sebat sekali ia melejit maju sambil menampar dengan bernafsu kearah muka Giok-liong, Giok-liong mandah tertawa ejek, sekali berkelebat mudah saja ia menyingkir disusul terdengar dua kali srara "plak, plok"

Yang nyaring diselingi pekik kesakitan suara perempuan.

Tahu-tahu kedua belah pipi Li Hong sudah bengap membengkak besar, mulutnya melelehkan darah segar, dengan terlongong-longong ia memandangi Giok-Iiong.

Giok-liong tersenyum sinis, jengeknya.

"perempuan rendah, segera menggelinding dari ngarai ini, kelak jangan sekali-kali kebentur ditanganku lagi, kalau tidak jangan kau sesalkan perbuatan tuan mudamu yang tidak kenal kasihan !"

Sepasang mata Li Hong segera memancarkan sorot kebencian yang menyala-nyala, Bukan karena pukulan atau tamparan Giok-liong tadi, adalah karena makian yang kotor dan hina itu telah melukai harga dirinya.

Sebab, Giok-liong telah menghancurkan impian muluk dari seorang gadis remaja, sehingga sanubari yang sudah terluka itu semakin parah lagi.

Sekejap ia menatap kcarah Giok-liong dengan pandangan bengis dan kebencian yang tak bertara terus membalik tubuh melesat turun ngarai dengan pesatnya.

Setelah bayangan Li Hong hilang dari penglihatannya baru Giok-liong dapat menghela napas panjang, selintas pandangnya merayapi mayat-mayat yang bergelimpangan disekeIilingnya, tiba-tiba timbul perasaan hampa dan masgul dalam hati kecilnya.

"Haruskah aku menghantamnya tadi ? Bukankah dia telah menolong jiwaku tadi ? Apalagi sewaktu aku memakinya sebagai perempuan cabul, sedemikian galak reaksinya, apakah aku salah lihat orang ?"

Sekarang setelah rasa gusarnya hilang dan dapat berpikir secara tenang dan sabar diam-diam baru ia sadar dan mengeluh dalam hati.

"Celaka! "

Dimana badannya berkelebat pesat sekali laksana meteor ia terus berlari turun gunung, sepanjang jalan pengejaran ini ia berpikir "Pandangannya yang penuh kebencian dan sayu itu mirip benar dengan sorot mata ibu.

Tentu dia seorang yang pernah merasakan pahit getirnya hidup dan merana.

Tidak seharusnya aku melukai hatinya tidak seharusnya aku begitu kejam memakinya."

Semakin dipikir hatinya semakin gundah dan tidak tentram, tanpa merasa sekuat tenaga ia kembangkan gerak tubuh Leng-hun-toh, dengan kecepatan maximum lari mengejar kedepan. Dia tengah berpikir.

"Bilamana dapat mengejarnya, cara bagaimana aku harus minta maaf kepadanya..."

Batu-batu gunung serta hutan dikedua sampingnya laksana kilat saja mundur kebelakang, Tapi sedemikian jauh masih belum terlihat bayangan Ang-i-moli.

Matahari sudah semakin doyong kearah barat, haripun sudah mulai sore, dengan lari kencangnya dalam pengejaran ini, mungkin sudah ratusan li lebih ia tempuh.

Tengah ia celingukan kian kemari keadaan bingung kemana pula ia harus mengejar, tiba-tiba dihutan kejauhan sana terlihat sesosok bayangan merah yang langsung berkelebat terus menghilang.

Betapa tajam pandangan Giok-liong sekarang, begitu menjejakkan kaki badannya terus melesat kearah hutan didepan sana secepat meteor terbang.

Waktu Giak-liong sampai dihutan yang dituju, bayangan merah itu sudah menghilang tanpa jejak, keadaan hutan ini sedemikian lebat dan keadaan didalam sana sangat gelap pekat serta sunyi lagi.

Diam diam Giok-liong bimbang dan berpikir "Apakah dia sudah memasuki rimba ini."

"Tanpa banyak pikir lagi badannya segera melenting menerjang masuk kedalam rimba. Tidak lama setelah Giok-liong masuk, sebuah sososok bayangan kecil langsung melesat keluar dari dalam rimba terus berlari kencang menuju kearah timur. Baru saja Giok liong menginjakkan kakinya didalam rimba hidungnya lantas dirangsang bau apek yang menyesakkan dada. Selepas pandang terlibat keadaan dalam rimba ini gelap gulita, tapi pohon pohon tumbuh begitu subur sekali. Tanah sekitarnya tebal bertumpuk tumpuk daun-daun kering yang basah, bau apek yang memualkan itu justru teruar dari timbunan daun-daun kering yang sudah membusuk itu. Tatkala itu sudah musim kemarau, tapi tetumbuhan dalam hutan ini masih sedemikian suburnya berkembang baik, sampai daunnya tumbuh begitu lebat hingga menutupi sinar mata hari. Ketajaman sepasang mata Giok liong bagai kilat menjelajah keadaan dalam rimba itu, dilihatnya sekiur tubuhnya tiada jejak atau bayangan manusia, tanpa merasa ia mengguman sendiri.

"Apakah dia sudah memasuki rimba sebelah dalam sana ?"

Sambil berpikir ia angkat langkah maju semakin dalam. Kiranya hutan ini adalah sebuah rimba belantara yang besar sekali.

"semakin jauh dan dalam Giok-liong maju, keadaannya semakin gelap, jikalau Lwekangnya sudah sempurna serta ketajaman kedua matanya yang luar biasa, mungkin dia takkan dapat melihat situasi sekelilingnya. Lama kelamaan hatinya menjadi heran.

"Untuk apakah Ang i-mo li memasuki hutan ini? Atau mungkin juga dia tidak memasuki hutan ini ?"

Karena pikirannya ini, lantas timbul niatnya hendak mengundurkan diri.

Bertepatan dengan saat ia memutar tubuh hendak balik, tiba-tiba pandangan matanya meajadi terang mendadak muncul diatas sebuah dahan besar yang terkuras licin memutih dimana tertuliskan huruf huruf yang berbunyi.

"daerah kramat hutan mati, siapa masuk dia mati."

Kedelapan huruf huruf besar itu berkilau-kilau terang dikegelapan yang pekat ini, membuat orang merasa mengkirik dan takut.

"Hutan... mati."

Kedua huruf ini secepat kilat berputar dalam otak Giok-liong.

selamanya belum pernah ia dengar nama angker ini, Dilihat dari nada kedua buruf huruf yang bernada angkuh dan congkak ini, dapatlah diperkirakan tokoh lihay macam apa yang tengah bermukim didalam rimba belantara ini.

Teringat olehnya betapa sengsara riwayat hidupnya sebatang kara ini, keselamatan ayah bundanya belum jelas serta dimanakah jejaknya juga tidak diketahui, dan yang terpenting nama-nama beliau juga dirinya tidak tahu, Di tambah pengalaman yang berat serta dikejar-kejar hendak dibunuh oleh musuh, Untuk apa sekarang dirinya mencari kesukaran lain menambahkan beban saja.

Tapi setelah dipikir kembali, seumpama Li Hong benarbenar memasuki hutan ini, sedang dia tidak melihat akan kedelapan huruf huruf larangan ini, bukankah jiwanya bakal terancam bahaya kematian ?

Terpikir sampai disint tak tahu dia bagaimana ia harus bersikap, Akhirnya ia berkata dalam hati.

"Baikah, tiada halangannya aku coba masuk melihat-lihat, betapapun aku tidak bisa membiarkan Li Hong mati konyol dalam rimba ini, sebab aku masih berhutang budi kepadanya !"

Keheningan dalam rimba ini demikian aneh tanpa sedikit suatapun.

Keadaaa sekeliling yang gelap ini jaga rada janggal tanpa sepercik sinar terang, Hanya delapan huruf berkilauan itulah yang memancarkan cahayanya yang kelap kelip serta menyeramkan Sekonyong-konyong terasa dingin membeku perasaan hati Giok-liong badan juga mengkirik dan berdiri bulu romanya, suatu perasaan takut yang mencekam hati seketika menyelubungi seluruh badannya, keadaan semacam itu belum pernah terjadi selama hidup.

Terasa kegelapan dan ketenangan dalam rimba ini mengandung suatu kejanggalan yang seram dan menakutkan.

Siapa menempatkan diri ditempat semacam ini pasti selalu dibayangi bahwa kematian selalu menimpa dirinya.

Sedikit ragu-ragu lantas ia unjuk tawa tawar, pikirnya.

"Kenapa hari ini aku menjadi begitu penakut ? jangan kata dialam semesta ini tiada setan, seandainya memang ada aku juga tidak perlu takut,"

Seketika timbul keberaniannya sedikit menyedot hawa lantas dengan membusungkan dada ia beranjak terus memasuki rimba kematian ini.

Baru saja ia melintas batas batas rimba kematian tiba-tiba terdengar suara helaan napas sedih yang memilukan.

Terperanjat hati Giok-liong, kepandaian siapa begitu tinggi sampai datang dekat dibelakangnya masih belum diketahui oleh dirinya.

Secepat kilat ia membalik tubuh, hutan sedemikian lebatnya pohon berdiri dengan tegak dan tenang, keadaan disekitarnya kosong melompong mana ada bayangan manusia.

Sedikit bimbang lantas ia berlaku nekad, segera badannya meluncur sebat sekali menuju kehutan yang lebih dalam.

Tidak lama kemudian terasa olehnya keadaan didalam mana semakin menjadi terang, remang-remang sinar cahaya menembus masuk diantara celah-celah dedaunan yang lebat.

Sekonyong konyong sebuah dengusan hidung yang keras terdengar tidak jauh didepannya, seiiring dengan suara dengusan itu, berkelebat sesosok bayangan besar yang terus hinggap menghadang didepannya.

Selintas waktu bayangan besar ini muncuI, lantas Giok liong dapat melihat tegas sipendatang ini adalah seorang yang tinggi besar berbadan tegap gagah, rambutnya awut-awutan demikian juga godek dan cambang bauknya, berpakaian kasar sederhana berusia lanjut.

Sorot pandangan orang tua sedemikian tajam laksana ujung golok yang dingin menatap tajam kearah Giok liong, katanya dengan nada dingin.

"Buyung, ini bukan tempat dimana kau harus datang, lekaslah pergi, kalau tidak jiwa kecilmu itu susah diselamatkan."

Dari kilatan tajam sinar mata si orang tua lantas Giok-Iiong dapat mengukur betapa lihay kepandaian orang tua ini, sedikitnya tidak dibawah kemampuannya sendiri.

Munculnya sedemikian mendadak, tapi nada perkataannya tidak mengandung ancaman yang serius, maka segera Gsok-Iiong angkat tangan memberi hormat serta katanya.

"Wanpwe Ma Giok-liong, karena mengejar seorang sahabat sehingga memasoki tempat tuan ini"

"Hutan kematian ini mana boleh kau sembarangan trobosan? sebelum jejakmu ini konangan oleh mereka, lebih baik kau lekas meninggalkan tempat ini. Kulihat usiamu masih sangat muda masa depanmu sangat gemilang, maka sedikit kulepas bantuanku. Kalau kau tidak mau dengar nasehatku, kematianmu sudah didepan mata."

"Harap tanya Cianpwe apakah melihat seorang gadis berbaju merah memasuki rimba ini"

"Sudah tak perlu banyak bacot lagi, lekas tinggal kan tempat ini, Kalau tidak jangan salahkan Lohu berlaku keras..."

Bicara sampai disini mendadak ia merandek, matanya menunjuk rasa heran dan penuh kecurigaan menatap wajah Giok liong, tanyanya rada gugup.

"Buyung, katamu kau she Ma ?"

Giok-liong mengiakan.

"Siapakah nama ayahmu?"

Sejenak Giok-liong tercengang, tapi lantas tertawa, sahutnya.

"Sebelum ini kita belum pernah bertemu, maaf wanpwe tidak bisa menjawab pertanyaan ini."

Seketika si orang tua ini lantas mengunjuk rasa gelisah dan gusar, sikapnya yang garang membuat rambutnya yang ubanan melambai-lambai tanpa terhembus angin, mungkin hatinya geram sekali.

Tapi akhirnya tenang kembali serta katanya dengan nada yang ditekan.

"Buyung......"

Sekonyong-konyong dari hutan yang lebih dalam sana terdengar sebuah lengking jeritan setan yang mengerikan sedemikian panjang dan tinggi jeritan ini membuat merinding dan berdiri bulu roma pendengarannya.

Air maka si orang tua lantas mengunjuk rasa gugup dan gelisah, katanya dengan suara lirih.

"Mereka sudah datang Buyung, kulihat wajahmu persis benar dengan salrh seorang sahabat kentalku, kalau benar-benar adalah keturunannya, seumpama jiwa tuaku ini harus melayang betapapun aku harus menolongmu meninggalkan tempat ini."

Melihat orang bicara setulus hati, tergetar hati Giok-liong, tercetus perkataannya.

"wanpwe tidak tahu siapakah nama ayah"

"Tidak tahu?"

"Benar,"

"Lalu mana ibumu?"

"Juga tidak tahu."

"Sebagai putra manusia tidak mengetahui nama ayah ibu kandung sendiri, bukankah tidak berbakti?"

Perkataan ini bak sebilah sembilu yang tepat menusuk dalam keulu hati Giok-liong terasa nyeri dan pedih sekali, Tapl dia sudah pernah tertimpa penderitaan dan pukulan yang lebih besar dan sengsara, sehingga lahiriahnya bersikap terlalu pendiam dan dingin, Oleh karena itu ia kuat bertahan dan dapat menelaah teguran ini, dengan manggut-manggut kepala saja, Sejenak si orang tua tinggi tegap itu berdiri termenung, lalu tanyanya lagi.

"Dimana sekarang ibumu berada ?"

"Entahlah !"

"Tidak tahu lagi ?"

"Ya!"

Ibu mendapat celaka dikerubut oleh musuh, jejak serta mati hidupnya tidak diketahui !"

"Siapakah musuh musuh itu ?"

"Mungkin adalah orang-orang dari Hiat-hong pang, mungkin juga bcgundal dari Kim i pang,"

"Hm, Toan Bok-ki si iblis Jahat itu, akan datang suatu hari Lohu ..."

Kiranya dia juga belum tahu bahwa Toan Bok-ki telah menghilang banyak tahun yang lalu, sesaat mendadak ia mendelik lalu katanya lagi.

"Buyung, jelaslah keluar rimba di sini bukan tempat untuk kau berdiam lama-lama. Ketahuilah bahwa majikan dari rimba kematian itu sangat kejam dan telengas, segala kejahatan dan kekejaman tiada yang tidak dilakukannya. Dengan bekal ilmu silat Lohu sekarang ini, sudah berjaga disini selama puluhan tahun namun belum dapat membongkar rahasianya, apalagi aku tidak berani bergerak terlalu menonjol dan aktif sekali supaya tidak konangan asal usulku. Kepandaian majikan rimba kematian ini sangat tinggi, konon kabarnya seumpama dikeroyok oleh gabungan kekuatan Ih-lwe-su-cui dulu juga belum tentu dapat mengalahkan dia. Maka kunasehati supaya kau jangan terlalu sombong untuk malu coba-coba ! Lekaslah pergi."

Keterangan panjang lebar yang tiada juntrungannya ini membuat Giok-liong berdiri melongo keheranan, dasar otaknya cerdik sedikit berpikir segera ia balas bertanya.

"Agaknya Lo-cianpwe tengah berusaha untuk mencegah terjadinya suatu bencana besar yang bakal menimpa kaum persilatan bukan?".

"Betul! Kalau soal itu telah tiba, paling tidak harus mengumpulkan seluruh kekuatan dari kaum persilatan untuk menghadapi baru dapat mengatasinya. Tapi saatnya belum tiba, maka jangan sekali kali kau membocorkan rahasia ini..."

Sampai disini mendadak alisnya dlkerutkan, katanya lebih lirih.

"Ada orang datang, kau sembunyi dulu dibelakang pohon besar itu."

Lalu di tunjuknya sebuah pohon besar yang letaknya puluhan langkah di sebelah samping sana.

Sedikit menggerakkan badan, enteng sekali Giok-liong melayang masuk kedalam lobang besar didalam batang pohon i.u, Diatas lobang mulut lobang pohon besar ini ternyata ada seutas tangga yang terbuat dari tali temali yang terus menjulur kebawah dasar lobang, agaknya dibawah sana masih ada psrabot dan peralatan dan lain lain.

Tatkala mana ditengah rimba mana sudah terdengar suara orang bercakap-cakap, sedikit merunduk Giok-Iiong mengintip ke luar, terlihat olehnya si orang tua tengah berdiri membelakangi lobang besar dimana ia berada, badannya bongkok bersikap dan bertingkah laku seperti seorang tua renta yang lemah, sedikitpun tidak terlihat sikap dan semangat gagahnya seperti tadi yang garang dan perwira.

Dihadapannya berdiri hormat sambil menunduk dua orang berseragam ungu, air muka mereka kaku membesi berusia pertengahan salah seorang diantara mereka terdengar berkata.

"Tong-cu mempersilahkan kau orang tua masuk, ada urusan penting yang hendak dirundingkan."

Si orang tua menyahut dingin.

"Kalian boleh pulang dulu, segera Lohu datang."

Suaranya rendah dan sember serta kaku, sedikitpun tidak berperasaan, membuat kedua orang dihadapannya merasa merinding dan bergidik.

Segera kedua orang itu mengiakan bersama terus melejit mundur seringan burung terbang mereka menerobos hutan terus menghilang entah kemana.

Melihat kegesitan gerak gerik orang, diam-diam bercekat hati Giok liong, batinnya.

"Entah tokoh macam apakah majikan rimba kematian ini, orang orang bawahannya berkepandaian begitu tinggi, jikalau mereka sengaja mengatur rencana hendak bersimaha-raja di dunia persilaian, akibatnya pasti susah dibayangkan."

Saat mana si orang tua sudah memutar tubuo, tampak tangannya cepat sekali mengusap kearah mukanya, seakan akan menanggalkan sesuatu kedok dimukanya suaranya terdengar lirih.

"Buyung keluarlah !"

Giok-liong segera menerobos keluar dari lobang pohon langsung memberi hormat kepada si orang tua, tanyanya.

"Harap bertanya, siapakah nama mulia Lo cianpwe ?"

Si orang tua menghela napas panjang, katanya tanpa menghiraukan pertanyaan .

"Ai, Buyung siapakah gurumu ? Hebat benar dia dapat mendidik murid sepandai kau ini ?"

"Suhu bernama Pang Giok kaum persilatan memberi julukan To-ji pada beliau."

Si orang tua berpekik kaget, air mukanya mengunjuk kegirangan, serunya penuh haru.

"Masakah Ih Iwe sun-cun masih belum berangkat menjadi dewa..."

"Suhu masih sehat walafiat, tentang ketiga tokoh yang lain belum dapat kepastian."

Agaknya si orang tua tengah menekan perasaan haru dan girangnya, sekian lama ia mengamat ngamati Giok-liong dari bawah keatas dan dari atas kebawah, Mendadak wajahnya merengut bengis, kedua matanya melotot gusar berapi-api, serta bentaknya keras.

"Bedebah lihat seranganku."

Di kala mana tubuhnya bergerak tiba-tiba keiat kepalan-nya bergerak selincah kera memetakkan bundaran-bundaran besar kecil yang membawa angin menderu menerjang kearan Giok liong.

Sudah tentu kaget Giok-liong bukan main, cepat-cepat ia loncat menyingkir sambit berteriak kuatir.

"Cianpwe ....."

Si orang tua hanya mendengus rendah kedua kepalanya bergerak semakin kencang dan menyerang semakin gencar, besar kecil yang timbul dari bayangan pukulan tangannya selulup timbul saling tambal laksana bayangan yang mengikuti bentuknya saja layaknya terus mengejar datang, Batapa besar kekuatan pukulan ini benar-benar sangat mengejutkan pula sangat rapat dan kencang lagi sehingga tidak terlihat ada lobang kelemahannya.

Saking gelisah dicecar sedemikian rupa Giok-liong menjadi naik pitam bentaknya gusar.

"Bila Lo cian-pwe tidak berhenti, jangan salahkan Wanpwe berlaku kurang ajar!"

SAMBIL MEMBENTAK ITU BADANNYA melayang ringan sekali sepuluh tombak lebih meluputkan diri dari rangsakan musuh walaupun gerak mundurnya ini secepat angin tapi cara turun tangan juga tidak kalah cepatnya seumpama kilat menyamber karena bundaran yang terpeta dari serangan pukulan itu menari-nari serta menutuk, hakikatnya tiada tempat luang lagi unutuk meloloskan diri.

Terdesak oleh keadaan yang mengancam jiwa ini apa boleh buat terpaksa Giok-liong kerahkan Ji lo sampai delapan bagian, dengan sejurus Ciu-Chiu dilancarkan seketika berkuntum-kuntum mega mengembang membungkus seluruh tubuh terus meluncur menyongsong tamparan musuh, Baru saja Cin-Chiu di lancarkan, lantas terdengar gelak tawa gelak gelak dalam hutan, mendadak si orang tua menghentikan serangannya terus melompat mundur sepuluh tombak, serunya.

"Sungguh tidak memalukan sebagai murid To-ji, buyung kiranya kau tidak menipuku."

Giok-liong sendiri juga melengak heran, Maklum bahwa Sam-ji-cui-hun chiu adalah kepandaian tunggal yang tiada keduanya di dunia persilatan, perbawa dan kekuatan ilmu ini besar dan sakti luar biasa, sekali dilancarkan lantas bergelombang saling susul tak mengenal putus, hakikatnya musuh takkan mampu mengundurkan diri dengan tetap masih segar bugar.

sungguh diluar dugaan kepandaian si orang tua ini bukan saja tinggi juga sangat aneh, sekejap mata saja lantas dapat lolos dari kekangan angin pukulannya.

Jilid 04 Dan lagi ilmu pukulan yang dilancarkan tadi juga merupakan ilmu pukulan tunggal yang sangat disegani didunia persilatan yaitu Wi-hian-ciang.

ilmu pukulan semacam ini dulu pernah dimiliki dan digunakan oleh seorang tokoh aneh yang bernama Liong-Bun, tokoh ini terkenal juga akan wataknya yang keras dan tidak kenal apa artinya ka-)ata, tapi pada ratusan tahun yang lalu jejak Liong Bun ini sudah menghilang, konon kabarnya sudah meninggal dikalahkan oleh musuh besarnya, sejak kematian Liong Bun ini maka ilmu pukulan Wihian-ciang ini lantas ikut lenyap dan tidak terturunkan lagi.

Baca Juga: Pemberontakan Taipeng 5

Baca Juga: Kasih Diantara Remaja 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert