Eps 5 Pendekar Bunga - Chin Yung
Baca online Pendekar Bunga - Chin Yung
Cersil Pendekar Bunga - Chin Yung.
"Jika ingin meminta derma bukan dengan cara demikian...... cepat Taysu berlalu!"
Katanya dengan suara yang garang. Tetapi hweshio itu seperti tidak meladeninya, dia terus juga memukuli bokhie ditangannya.
"Kalau memang Taysu tidak mau pergi, biarlah aku akan melemparkan kau dari tempat ini!"
"Hemmm.... aku meminta derma!!"
Kata si hweshio, terus juga memukuli bokhie.
Tentu saja si pelayan tambah mendongkol, tampaknya dia gusar sekali.
Tetapi disaat itu tampak kasir rumah makan tersebut telah keluar dan membawa lima tail, diberikan pada hweshio itu.
"Kami memberikan derma ini kepada Taysu dan kami minta agar Taysu jangan mengganggu kami dengan kelakuan Taysu yang menghadang dipintu seperti itu."
Si hweshio telah melirik kearah uang yang diangsurkan padanya. Dan dia telah berkata sambil memejamkan matanya lagi .
"Lolap meminta derma sebesar lima ratus tail!"
"Apa?"
Berseru si kasir dengan suara yang keras saking terkejutnya.
"Lolap meminta derma lima ratus tail!"
"Mana mungkin itu!?"
Berteriak si kasir.
Si hweshio sudah tidak mau mengacuhkannya lagi, dia telah memukuli terus bokhie.
Tentu saja hal ini telah membuat pelayan dan si kasir jadi gusar.
Dia telah mengeluarkan suara bentakan yang keras sekali .
"Hemmm..... jika memang demikian, kami bisa mengambil tindakan kekerasan, jika kau tidak mau menggelinding pergi!!"
Kata si pelayan yang bertubuh tinggi besar itu.
Tetapi si hweshio tidak juga mengacuhkannya, dia telah memukul terus bokhie ditangannya.
Si pelayan telah habis sabarnya, dia mengulurkan tangannya mau menjambak jubah si pendeta untuk melemparkan pendeta itu keluar.
Namun ketika tangannya terulur, dan disaat dia belum sempat menjambak, tiba-tiba si hweshio telah menggerakkan tangannya.
Gerakan yang dilakukannya itu bukan main cepatnya, dia telah menyampok.
Dan.....
luar biasa sekali, tubuh si pelayan yang tinggi besar telah terlantarkan, ambruk menimpah sebuah meja.
Keras bukan main!
"Bukkkk!"
Mangkok-mangkok telah bertumpahan, dan dua orang tamu yang lengah bersantap di meja itu tentu saja jadi terkejut.
Mereka telah melompat berdiri sambil memaki-maki dan telah memandang mendelik pada si pelayan.
Peristiwa ini telah mengejutkan si kasir rumah makan itu.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
Sedangkan si hweshio tetap saja duduk dimuka pintu memukuli bokhie.
Dia terus juga tidak mengacuhkan keadaan didalam rumah makan yang mulai panik.
Pelayan yang bertubuh tinggi besar itu tampaknya gusar sekali, berdiri dengan muka yang bengis.
Empat orang pelayan telah maju untuk membantuinya mengurung si hweshio.
Mereka telah menerjang untuk memukuli pendeta itu, namun dengan sekali menggerakkan tangannya, kembali keempat pelayan itu telah dapat dibikin terjungkel balik dengan keras.
Tubuh si pelayan tampak berlumuran darah, karena mereka telah terbanting dengan keras.
Seketika itu juga keadaan jadi kacau balau dan panik.
Dan disaat itu, terlihat jelas sekali, betapa beberapa orang pelayan lainnya yang dengan gusar telah meluruk akan melancarkan serangan.
Namun kenyataannya mereka telah kena dirubuhkan juga oleh si hweshio.
Dan malah salah seorang pelayan, yang tadi bertubuh besar dan tegap itu, yang telah kena dirubuhkan oleh si pendeta dengan nekat telah menerjang dan melancarkan serangan pula.
Tetapi kali ini si hweshio telah mengayunkan tanganya.
"Plakk!"
Kepalanya kena ditepuk.
Kontan kepala pelayan itu hancur berantakan, dengan sendirinya telah menyebabkan tubuh pelayan itu jadi terjungkel rubuh.
Dan tidak bergerak lagi menggeletak tidak bergerak sedikitpun juga.
Dengan sendirinya, tidak ada pelayan lainnya yang berani maju ketika melihat pelayan yang seorang itu telah binasa.
Dan si kasir rumah makan juga jadi panik ketakutan sendirinya.
Dia telah menghampiri si hweshio.
"Taysu, jangan membalikkan mangkok nasi kami! Baiklah kami akan memberikan derma seratus tail!"
Kata si kasir kemudian.
"Hemmmmmm.... limaratus tail!"
Kata si pendeta.
"Dan bukan limaratus tail perak, tetapi limaratus tail emas!"
"Hah?"
Muka si kasir rumah makan jadi berobah seketika itu juga.
"Lima...... limaratus tail emas?"
Tanyanya dengan suara tergetar.
"Ya.......... lima ratus tail emas......!"
Kata si hweshio dengan suara yang keras.
"Mana...... mana mungkin itu? Kami dari mana uang sebanyak itu?"
"Hemmmm....... kalau memang kau memberikan limaratus tail emas, aku akan angkat kaki........!!"
Katanya kemudian.
"Tentu saja hal itu tidak mungkin Taysu..... karena kami mana memiliki uang sebanyak itu!"
Tetapi betum lagi si kasir menyelesaikan perkataannya, si hweshio telah menggerakkan tangannya.
"Wutttt......!"
Keras bukan main tubuh si kasir telah dilontarkannya.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
Tentu saja si kasir jadi ngeri bukan main, dia sampai mengeluarkan suara seruan keras.
Dan tubuhnya telah terbanting dilantai.
Si hweshio telah memukuli bokhie itu pula, dan dia tampaknya tenang sekali.
Karena pendeta ini duduk melintang dimuka pintu, dengan sendirinya orang yang telah menjadi panik itu tidak bisa untuk keluar atau masuk.
Saat itu, disudut ruangan itu, disebuah meja, duduk seorang pemuda yang berpakaian serba putih.
Dia telah menyaksikan kejadian ini.
Dengan tenang, pemuda ini waktu merasakan segalanya telah cukup, dia bangkit, menghampiri si hweshio.
"Taysu, jangan bersikap begitu.... jika memang engkau ingin meminta derma, mintalah secara baik-baik...."
Katanya sabar. Si pendeta membuka matanya, dia melihat yang menegur dirinya seorang pemuda berpakaian putih. Dia mendengus. Dan tidak mengacuhkan pemuda itu, si pendeta telah memejamkan matanya.
"Taysu....."
Panggil pemuda ini yang jadi hilang kesabarannya.
"Jika Taysu tidak mau menyudahi segalanya ini, biarlah aku yang mengambil tindakan untuk meminta Taysu meninggalkan tempat ini!"
Mendengar perkataan pemuda itu, si hweshio jadi membuka matanya.
Dia telah memandang tajam pada pemuda itu, tanpa mengatakan suatu apapun juga.
Hanya tangannya yang terus juga memukuli bokhie.
Pemuda berbaju putih itu telah tersenyum dingin, dia telah berkata lagi .
"Terpaksa aku harus melemparkan hweshio jahat seperti kau ini ketengah jalan!"
Muka si hweshio merah padam, tampaknya dia gusar sekali.
"Siapa kau hei bocah ingusan?"
Bentaknya.
"Aku she Ma dan bernama Eng Song!"
"Hemmmmmm.... kalau memang kau ingin main dengan lolap, silahkan!"
Kata si pendeta dengan suara yang dingin, kemudian dia telah memejamkan matanya lagi sedangkan kedua tangannya terus juga memukuli bokhie.
Pemuda yang berbaju putih itu, yang tidak lain dari Ma Eng Song, telah tertawa dingin.
"Hemmm... rupanya Taysu memang keterlaluan sekali!"
Katanya.
Dan membarengi dengan perkataannya dia mengulurkan tangannya.
Namun belum lagi Ma Eng Song sempat mencekal baju pendeta itu, si hweshio telah menggerakkan tangannya.
Maksud si pendeta ingin menyampok seperti apa yang dilakukannya terhadap si pelayan.
Namun Eng Song lain dengan pelayan itu, maka waktu itu dengan memutar tangannya, dia telah meloloskan diri dari sampokannya dan dapat mencekal baju si hweshio.
"Pergilah!"
Dibarengi deagan bentakan Eng Song, tubuh si hwesbio yang tinggi besar itu telah berhasil dilontarkan ketengah jalan.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
Jatuh ambruk dijalanan, sehingga si hweshio merasakan kesakitan bukan main.
Tentu saja hal ini telah membuat si hweshio telah murka bukan main.
Dia telah bangkit dengan gerakan yang gesit sekali.
Cuma saja, seketika itu juga dia menyadarinya bahwa pemuda yang dihadapinya ini bukan seorang pemuda sembarangan dan memang memiliki kepandaian yang cukup tinggi.
Maka dari itu, dengan cepat si hwesnio telah melompat untuk menerjang.
Gerakannya begitu cepat, dia bermaksud akan mencengkeram Eng Song.
Tetapi Eng Song mana jeri menghadapi pendeta seperti ini?
Dengan mengeluarkan suara tertawa dingin, dia menantikan tibanya serangan.
Di saat itulah, ketika kedua tangan si hweshio hampir dapat mencengkeramnya, dengan mengeluarkan suara seruan yang keras bukan main, Eng Song telah menyampoknya, dia telah mengibas dengan kekuatan yang bukan main.
Tubuh si hweshio jadi tergoncang keras dan terhuyung mundur.
Di saat itu, dengan kuat sekali Eng Song mengulurkan tangannya.
"Plakkkkk!"
Dia dapat menghajar telak dada si hweshio, sehingga tubuh si hweshio jadi terpental di saat itu pula seperti daun kering belaka.
Lalu ambruk ditanah dengan disertai suara jeritaanya!
Dengan muka yang berlumuran darah, tampak pendeta ini telah merangkak bangun.
Dia murka bukan main, sampai tubuhnya gemetaran keras sekali.
Dan dia telah mengeluarkan suara bentakan yang keras bukan main sambil menerjang karena saking penasaran sekali.
Gerakan yang dilakukannya itu memiliki hawa maut yang mengerikan.
Dan juga hweshio itu telah melancarkan serangan dengan jurus "It Liong Po Thian", gerakan mana merupakan gerakan yang cukup berbahaya.
Apa lagi memang hweshio yang tengah murka itu, telah menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya pada kedua telepak tangannya.
Maka dari itu, dengan sendirinya telapak tangannya itu mengandung hawa maut.
Tetapi Eng Song tetap berdiri tenang ditempatnya, sedikitpun juga tidak bergeming.
Diawasinya telapak tangan hweshio itu yang tengah meluncur datang.
Dengan gerakan yang sangat cepat dia telah menangkap tangan itu.
"Rubuhlah kau!"
Bentaknya dengan suara yang nyaring.
Dan tubuh si hweshio bergoyang.
Namun kali ini hweshio itu tidak rubuh terguling, karena dia telah mengeluarkan tenaga dalamnya, sehingga tubuhnya tidak sampai terjungkel.
Cepat bukan main dia juga telah menggerakkan kedua tangannya itu untuk ditarik pulang.
Namun cekalan Eng Song ternyata kuat sekali, sehingga dia tidak bisa menarik pulang kedua tangannya itu, yang tetap tercekal.
Begitulah, Eng Song bermaksud untuk mencekal terus dan merubuhkan hweshio itu, sedangkan si hweshio bermaksud untuk menarik pulang kedua tangannya.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
Masing-masing telah mengeluarkan tenaga mereka.
Si hweshio terkejut bukan main waktu merasakan cekalan telapak tangan Eng Song mengeluarkan hawa yang panas bukan main.
Dan juga, disamping semua itu dia merasakan bahwa dari kedua telapak tangan Eng Song telah mengeluarkan uap bagaikan ada baranya.
Dengan mati-matian hweshio itu telah menarik pulang tangannya.
Di saat itulah Eng Song telah melepaskan cekalannya, sehingga tubuh si hweshio kehilangan keseimbangan tubuhnya dan telah terjungkel rubuh.
Cepat bukan main, si hweshio bergulingan diatas tanah.
Waktu dia telah dapat berdiri kembali, dia tidak lantas melancarkan serangannya.
Ditatapnya Eng Song dengan sorot mata yang bengis bukan main.
"Hemmmmm..... rupanya engkau memang seorang pemuda yang memiliki kepandaian lumayan!"
Katanya dengan suara mendesis.
"Siapa kau sesungguhnya dan siapa gurumu?"
"Ada urusan apa kau menanyakan guruku?"
Bentak Eng Song dengan suara yang tawar.
"Hemmmm, hari ini jika aku tidak ingat bahwa kau hanya ingin meminta uang dengan cara memaksa begitu, tentu aku telah mengambil jiwamu!"
"Jangan terkebur anak muda! Tiang Liang Siansu tidak pernah takut pada siapapun juga!"
Kata si hweshio dengan suara yang dingin.
Dan membarengi dengan suara bentakannya itu, tahu-tahu si hweshio telah menghunus pedangnya yang sejak tadi tergantung dipinggangnya, tersembunyi dibalik jubahnya.
Sreeenggg........!
Pedang itu berkilauan tertimpah cahaya matahari.
Di saat itulah, dengan cepat dan gerakan yang bagaikan kilat pedangnya telah menikam.
"Binasalah kau!"
Bentaknya. Tetapi Eng Song mendengus tertawa dingin, dia telah menggerakkan tangannya.
"Tappppp........"
Pedang si hweshio dapat dijepitnya dengas jari tangannya.
Dengan cepat sekali pedang itu tidak dapat bergerak.
Namun hweshio ini juga tidak memiliki ilmu yang lemah, dengan cepat dia memutar membalikkan pedangnya.
Mau tidak mau Eng Song harus melepaskan jepitannya itu, karena kalau tidak mata pedang akan mengutungkan jari tangannya itu.
Di saat pedangnya terlepas dari jepitan jari tangan Eng Song, di saat itulah si pendeta telah meneruskan tikamannya tanpa menarik pulang pedangnya lagi.
Gerakannya yang dilakukannya merupakan gerakan yang luar biasa kuatnya.
Dan pedang itu meluncur kearah perut Eng Song.
Tetapi Eng Song telah menggeser kaki kanannya, dengan gerakan "Pat Kwa Sam Liong"
Dia berhasil mengelakkan tikaman tersebut.
Dengan gerakan yang tidak kalah cepatnya Eng Song mengulurkan tangan kanannya.
Maksudnya akan menotok biji mata dari si pendeta itu, dia bermaksud akan mencongkel mata si hweshio.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
Tentu saja si hweshio yang bergelar Tiang Liang Siansu terkejut bukan main.
Dia mengeluarkan suara seruan yang keras dan telah melompat mundur.
Gerakannya begitu cepat sekali, dan tubuhnya juga telah melompat sejauh beberapa tombak.
Di antara kesempatan yang ada ini, Eng Song tidak mau membuang-buang waktu.
Disertai siulannya yang panjang, tahu-tahu tubuh Eng Song telah meloncat ketengah udara.
Dan kedua tangannya dipentangnya, dia telah mengeluarkan ilmu pukulan Bunganya, sehingga ketika itu tampak gelembung-gelembung tenaga dalamnya telah berhamburan menghantam kearah si hweshio.
Hal ini bukan main mengejutkan hati si pendeta, sehingga Tiang Liang Siansu mengeluarkan suara pekikan nyaring dan cepat-cepat telah melompat mundur.
Gerakan yang dilakukannya itu juga memiliki kesehatan yang bukan main, karena pendeta ini yakin, jika memang terlambat mengelakkannya, niscaya dia akan kena dicelakai oleh Eng Song.
Tetapi Eng Song yang telah melihat sejak tadi bahwa pendeta ini ternyata memiliki tangan yang telengas, telah menjadi gusar.
Maka dia tidak mau kasih hati.
Di saat tubuhnya telah meluncur turun, kakinya menotok tanah, dan tubuhnya telah mencelat ketengah udara melancarkan serangan lagi.
Gcrakan yang dilakukan oleh Eng Song bukan main cepatnya.
Dengan sendirinya, mau tidak mau hal itu telah membuat Tiang Liang Siansu jadi begitu ketakutan, dia telah menjatuhkan dirinya bergulingan diatas tanah.
Gerakan yang dilakukannya ini memiliki kegesitan bukan main.
Tetapi gerakan Eng Song lebih cepat lagi, karena pemuda ini waktu meluncur turun, kedua tangannya telah digerakkan menghantam dengan pukulan jarak jauh.
Hawa pukular itu mengandung kekuatan yang dahsyat, sehingga debu dan batu-batu kerikil berterbangan.
Si hweshio yang telah terdesak begitu, tentu saja jadi kalap dan nekad.
Dengan cepat dia telah menangkisnya, dia mempergunakan kekerasan pula.
Gerakan yang dilakukannya itu merupakan gerakan yang bukan main kuatnya.
Dan juga, tenaga Eng Song telah saling bentur dengan tenaga Tiang Liang Siansu.
"Bukkkkkk!!"
Sekitar tempat itu seperti telah tergetar oleh benturan yang terjadi ini.
Dan suatu kejadian yang mengerikan telah tampak, tubuh si hweshio telah melesak kedalam tanah sebatas setengah tombak!
Ini membuktikan bahwa tenaga serangan Eng Song bukan main kuatnya.
Tubuh si hweshio kaku diam mengejang tidak bernapas lagi.
Dia telah terbinasakan dengan cara yang mengerikan itu.
Semua orang yang menyaksikan pertempuran ini dengan hati yang tegang, kali ini dapat menghela napas panjang.
Hati mereka jadi lega.CHIN YUNG PENDEKAR BUNGA
Kolektor E-Book
--ooo O ooo --ᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒ 17 ᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒᵒ DENGAN kematian hweshio yang jahat itu, berarti urusan telah menjadi beres.
Dan kematian si pelayan yang bertubuh tinggi besar yang tadi telah dihajar oleh si hweshio berarti telah terbayarkan.
Si kasir rumah makan, cepat-cepat telah datang menjurah memberi hormat.
Dia mengucapkan rasa terima kasih syukur berulang kali atas bantuan dan pertolongan yang diberikan oleh Eng Song.
Tetapi Eng Song tidak mau menerima penghormatan itu, dia telah menyingkir.
"Jangan banyak peradatan! Jangan banyak peradatan! Semua itu memang sudah kewajiban kita semua untuk memberantas manusia-manusia jahat seperti dia!"
"Siapakah gelaran Tayhiap yang harum?"
Tanya si kasir.
"Aku tidak memiliki gelaran, dan orang-orang biasa menggelari aku dengan sebutan Pendekar Bunga....!"
Dan setelah berkata begitu, Eng Song menjejakkan kakinya, tubuhnya mencelat untuk meninggalkan tempat tersebut disertai perkataannya.
"Selamat tinggal...!!!"
Tubuh Eng Song dengan cepat telah lenyap dari pandangan mata semua orang yang berada disitu.
Mereka sangat kagum sekali atas kehebatan Pendekar Bunga itu.
Setidak-tidaknya mereka tadi telah menyaksikan betapa ilmu yang dipergunakan oleh si Pendekar Bunga merupakan ilmu yang langka didalam rimba persilatan......
Mulai saat itulah, nama Eng Song semakin membubung naik dan dikenal didalam rimba persilatan sebagai Pendekar Bunga.
Dan selalu pula disanjung oleh orang-orang yang mendengarnya.
Semua pihak, mau pihak lawan atau kawan, selalu menaruh rasa hormat pada si Pendekar Bunga, karena biar bagaimana memang kenyataannya si Pendekar Bunga memiliki kepandaian yang tinggi dan juga hati yang luhur selalu membela pihak lemah dan dalam keadaan tertindas.......
TAMAT
Baca Juga: Pendekar Buta 2
Baca Juga: Bu Kek Siansu 6