Eps 2 Seruling Samber Nyawa - Chin Yung
Baca online Seruling Samber Nyawa - Chin Yung
Cersil Seruling Samber Nyawa - Chin Yung.
Justru ditempat ini dan pada saat ini juga seorang tua aneh ini ternyata bisa melancarkan ilmu pukulan hebat yang sudahputus turunan itu, bukansaja kaget Giok-liong heran pula dibuatnya.
Tatkala mana si orang tua tengah mendatangi dengan tenang, wajahnya tampak serius lantas membungkuk memberi hormat kepada Giok-liong, ujarnya.
"Ma-siau-hiap, harap maaf akan kelancangan Lohu tadi."
Sebenarnya Giok-liong merasa dongkoI, namun begitu melihat sikap orang ini lantas ia merasa rikuh sendiri cepatcepat ia menjawab "Mana berani, harap Cian-pwe jangan berlaku sungkan."
Si orang tua tertawa lantang, katanya.
"Tadi Lohu hanya ingin coba-coba asal usul kepandaian Ma-siau-hiap saja, untuk memastikan bahwa Ma-hiau-siap betul-betul adalah murid tunggal Pang-lo-cian-pwe. Karena aku ada sebuah urusan penting yang minta di-sampaikan."
Giok liong juga tertawa, sahutnya.
"Kalau ada pesan apaapa, silahkan Cian-pwe katakan saja, asal Wanpwe mampu melakukan aku berjanji untuk melaksanakannya"
"Dimanakah sekarang gurumu menetap?"
"Sekarang Suhu tengah menuju ke Lam-hay, jejaknya juga tidak menentu!"
Terdengar si orang tua itu mengeluh seperti kehilangan sesuatu, katanya sambil menghela napas.
"Kuharap Siau-hiap berusaha dalam tempo setengah tahun harus dapat menemukan gurumu. Haturkan sembah Sujud-ku kepada beliau katakan bahwa sahabat kecilnya Liong Bun menghaturkan selamat kepada beliau!"
Tanpa merasa Giok liong berseru kaget, si orang tua dihadapannya ini ternyata tidak salah adalah Wi-hian-ciang Liong Bun yang pernah menggetarkan dunia persilatan pada ratusan tahun yang lalu, tidak heran ia memiliki Lwekang sedemikian hebat dapat Iolos dari lingkungan angin pukulannya tadi.
Tampak Wi-hian-ciang Liong Bun mengunjuk sikap risau dan gundah, katanya tertekan.
"Bencana dunia persilatan sudah diambang pintu, Harap sampaikan pada guru-mu, katakan bahwa para iblis pada masa silam kini telah bangkit kembali dari liang kuburnya, mereka bermaksud menggulung dan menguasai seluruh jagat raya ini. Harap dia orang tua segera mengundang Ih-lwe-su cun serta para sahabat tua yang lain untuk berkumpul merundingkan cara mengatasi mala petaka yang bakal terjadi ini. Pula aliran Hiat ing bun juga ada tanda-tanda tengah menghimpun kekuatan untuk menunjukkan perbawanya, betapapun kita harus berjagajaga."
Tergetar hebat hati Giok-liong, serunya tak tertahan.
"Apa mungkin Hiat-ing cu masih hidup?"
"Tentang hal ini Lohu sendiri juga tidak tahu pasti, Hanya pada bulan yang lalu waktu Lohu bertemu dengan majikan hutan kematian ini, dia pernah bilang bahwa Hiat-ing-bun sudah mulai unjuk gigi ingin merajai dunia persiiatan, ini merupakan tandingan paling kuat bagi hutan kematian kita!"
"Kepandaian siapakah yang lebih tinggi diantara Hiat-ing-cu dengan majikan hutan kematian?"
"Kepandaian mereka sama-sama sudah mencapai taraf yang paling tinggi, siapapun belum ada yang pernah melihat, juga belum pernah ada seseorang yang betul betul membuat mereka harus melancarkan ilmu kepandaiannya sampai puncak tertinggi. Pula belum pernah terdengar mereka berdua pernah adu kepandaian, maka Lohu sendiri juga tidak berani memastikan."
"Jadi Lo-cian-pwe memendam diri dalam hutan ini sudah delapan puluh tahun lama-nya?"
Liong Bun manggut-manggut, sahutnya.
"Losiu dengan Siau-hiap adalah seangkatan selanjutnya harap panggil saja lazimnya sebagai kaum seangkatan! Baiklah sampai disini saja perkataanku, harap Siau-hiap secepatnya meninggalkan hutan ini, supaya tidak mengejutkan mereka sehingga terjadi sesuaiu hal yang tidak diinginkan"
Giok-Iiong menunduk berpikir sebentar lalu tanyanya.
"Bagaimanakah susunan tingkat perguruan dari hutan kematian ini?"
"Disini dibagi dua belas seksi i tau tong, setiap seksi mempunyai Tong-cu dan wakilnya serta Hou-hoat (pelindung) pelaksana hukum atau komisaris masing-masing satu orang semua jabatan ini masing-masing dipegang oleh tokok-tokoh silat yang berkepandaian sangat tinggi, Maka kelak merupakan ancaman yang serius bagi kita."
"Locian-pwe..."
"Hai jangan mengagulkan Losiu lagi, Jikalau kau tidak pandang rendah Losin sebagai orang yang lebih tua baiklah kau panggil aku sebagai Liong-loko saja, aku sangat girang."
"Liong-Ioko, sampai dimana kedudukanmu didalam hutan kematian ini?"
"Sebagai pelindung dari Liong-tong (seksi jaga)."
"Kalau begitu dengan kepandaian Liong loko, yang hebat itu masih berada di bawah para Tong-cu serta wakilwakilnya?"
"Ya, masih kalah setingkat."
"Laln siapa pula para Tong cu serta wakil wakilnya itu?"
"Bagi mereka yang menduduki jabatan Tong-cu atau wakil Tong ca bila bukan para tokoh yang dulu menjagoi dan malang melintang di Kangouw yang selebihnya adalah para murid terpercaya dari majikan hutan kematian sendiri..."
Mendadak dari dalam hutan yang jauh sana terdengar pula sebuah jeritan yang panjang melengking bergema sekian lamanya. Seketika berubah air muka Liong Bun, katanya dengan nada berat.
"Mereka tengah mendesak aku harus segera kembali. Kuharap hiante bisa segera meninggalkan tempat ini. secepat bertemu dengan gurumu laporkan perihal yang kuceritakan tadi, ini menyangkut untung rugi seluruh kaum persilatan!"
Cepat-cepat Giok -liong menyahut.
"Siaute sudah paham bemi, oh, ya, apakah Liong-loko ada melihat seorang gadis baju merah memasuki hutan ini ?"
"Dia sudah kubujuk dan segera pergi, menuju kearah timur sana!"
Habis suaranya lantas berkesiar angin dan hilanglah bayangannya entah kemana.
Giok liong juga tidak berani tinggal terlalu lama, bergegas ia menggunakan Leng-hun-poh seringan burung ia melesat keluar dari hutan kematian yang kramat ini.
Setelah sampai di luar hutan sedikit menerawang serta melihat keadaan sekitarnya ia lari sekencangnya menuju kearah tirnur, sepanjang jalan ini pikirannya terus bekerja, semakin dipikir hatinya menjadi gundah dan tidak tentram.
Entah tokoh macam apakah majikan hutan kematian ini, tak terkira ia mempunyai kekuatan sedemikian besar malah bertujuan membuat onar dan bersijahaiajaleia didunia persilatan.
Wi-hian ciang Liong Bun tidak malulah sebagai seorang gagah yang perwira, demi keselamatan kaum persilatan diseluruh kolong langit ini, ia rela merendahkan diri bersembunyi serta menyelundup didalam hutan kematian itu selamanya delapan puluh tahun, semangat serta tekad yang besar ini benar-benar harus dipuji dan diagungkan.
Dari pengalaman yang baru dialami lambat laun pikirannya melayang kearah soal diri pribadi, tentang asal usul serta riwayat hidup sendiri yang sebatang kara ini.
Banyak tahun yang lalu ayahnya telah menghilang, konon kabarnya adalah memasuki lembah putus nyawa, tapi tidak bertemu jenazah atau tulang beIulangnya.
Suhunya sendiri juga berkata belum pernah ada seorang she Ma memasuki lembah putus nyawa itu, lalu kemana beliau pergi dan apalah sebabnya ?
Apakah mungkin ibundanya juga masih hidup dalam dunia fana ini ?
Menurut tutur ibu aku masih mempunyai adik kandung yang bernama Giok-hou, ia telah hilang setelah lahir belum beberapa lama, apakah adikku itu juga masih hidup ?
Dan lagi nama ayah bunda sendiri aku tidak mengetahui, sungguh tak berguna aku sebagai manusia sebagai anak orang, Pikir punya pikir tak terasa ia merogoh dan mengelusngelus kalang batu giok yang dipasang sendiri oleh ibunya diatas lehernya.
Perkataan ibu lagi-lagi terngiang dalam telinganya ...
jikalau di jalanan kau mengalami kesukaran kalung batu giok ini mungkin dapat membantu kau ..."
Ini berani bahwa kalung batu giok warna merah darah ini pasti dikenal oleh banyak orang.
Berpikir sampai disini tahu-tahu mulutnya menyungging senyum manis dan puas.
Dari asal usul batu giok ini rasanya aku dapat menyelidiki nama serta asal usul riwayat hidup ibu, selanjutnya juga dapat mencari tahu nama ayah, lalu berusaha lagi menyelidiki siapasiapakah musuh besar keluarganya...
Mendadak ia merandek dan teringat akan perkataan Liong Bun tadi, bukankah Wi hian-ciang tadi pernah berkata bahwa dirinya persis besar dengan seorang sahabat kentalnya?
Karena kelalaiannyalah sehingga ia lupa menanyakan siapakah orang yang dimaksudkan itu, Ai sungguh sangat ceroboh aku ini.
Begitulah setelah berkeluh kesah seorang diri, akhirnya ia membatin lagi.
"Peduli semua itu, yang penting bahwa sekarang aku sudah dapat mempelajari kepandaian tingkat tinggi, lebih baik segera aku langsung menuju ke Bu ki-san mencari mata air sumber nasa itu untuk mengambil kotak serta mengeluarkan buku peninggalan rahasia itu, bukankah dengan demikian segalanya dapat dibikin terang. Tapi betapa jauh gunung Bu ki-san itu sedikitnya juga ada ribuan li, seumpama siang malam terus menempuh perjalanan tanpa mengenal juga beras memakan waktu kira-kira tiga bulan, apalagi ia sendiri tidak mengetahui letak dari pada sumber mata air naga beracun itu, untuk mencarinya memakan waktu lagi, hitung hitung sedikitnya dalam tempo setengah tahun ini pasti dirinya takkan ada harapan dapat menemui gurunya. Menurut pesan ibu bahwa air rawa naga beracun itu dingin luar biasa, bila kepandaian silat orang belum mencapai tingkat sempurna pasti sukar dapat terjun kedalam air, sekarang bila tingkat kepandaiannya belum mencapai syarat dan akhirnya mampus didalam rawa itu atau terluka, sedikitnya dalam tempo setengah tahun ini pasti dirinya takkan ada harapan dapat menemui gurunya. Oleh karena itu bila majikan hutan kematian benar-benar mengerahkan seluruh kekuatannya dalam keadaan yang belum tahu dan tanpa siapa sedikitpun pasti sangat menakutkanlah akibatnya bagi kaum persilatan didataran tengah ini. Apalagi musuh bebuyutan terbesar dari perguruannya yaitu Hiat-ing-bun juga telah bangkit kembali dan segera muncul dikalangan Kangouw, hal iai juga harus prihatin benar-benar. BegituIah sepanjang jalan ini ia terus berpikir dan berpikir hingga tanpa merasa Leng-hun-toh dikembangkan sampai puncak tertinggi, badannya melesat secepat anak panah dan seenteng burang walet mengembang dan laju diatas tanah didalam atas pegunungan. Sampai saat itu ia masih belum dapat kepastian bagaimana ia harus bertindak, Urusan pertama adalah mengenai pembalasan dendam kesumat keluarganya serta mencari jejak asal usul riwayat hidupnya. persoalan yang lain adalah mengenai nasib atau mati hidup bagi kesejahteraan kaum persilatan umumnya. Ke-dua urusan penting ini, yang manakah harus ia dahulukan."
Setelah mengalami berbagai pertimbangan akhirnya ia bertekad untuk mencari suhunya dulu melaporkan berita itu, tentang pribadinya bolehlah ditunda untuk sementara waktu ini.
terpikir dalam benaknya bahwa kepentingan kaum persilatan umumnya adalah lebih besar dan lebih mendesak dari kepentingan pribadinya.
Dengan adanya keputusan ini hatinya menjadi terbuka dan pikiran menjadi jernih sedikit menyedot hawa, badannya meluncur semakin pesat lagi.
Mendadak dalam keremangan menjelang malam ini dilereng gunung dikejauhan sana, tampak dua bayangan manusia cepat sekali berkelebat menghilang, Ditengah alas pegunungan yang jarang dijajagi manusia ini kiranya juga ada kaum persilatan muncul disini, diam-diam ia merasa heran dan bertanya-tanya.
"Mungkinkah ada sesuatu peristiwa apa yang terjadi ? Atau mungkin, ..tiba tiba teringat olehnya gadis cantik Ang-i-mo-li Li Hong, Orang pernah menyelamatkan jiwanya, dirinya masih hutang budi padanya, bukankah dia juga tengah menuju kearah ini juga, bukan mustahil disini ia mengalami rintangan dan menghadapi bahaya ? Munculnya dua bayangan tokoh silat di atas pegunungan ditengah malam ini dengan perjalanan Li Hong menuju ketimur sebenarnya adalah dua persoalan, kini bergandeng menjadi satu dalam pemikirannya, mungkin ia sendiri juga tidak dapat menerangkan apakah sebabnya. Karena pikirannya ini, diam-diam ia berkata dalam hati.
"Aku harus kesana untuk mencari tahu!"
Segera ia putar badan dan terus berlari sekencang meteor melesat kearah Iamping gunung dikejauhan sana.
Sekonyong-konyong terdengar pekik nyaring suara perempuan yang ketakutan dan kaget, tapi teriakan itu terputus setengah jalan terus lenyap dan kembali menjadi sunyi.
Suara itu kedengarannya laksana sebatang anak panah menusuk di lubuk hati Giok-liong.
Bukankah itu suara Li Hong?
Kepandaiannya sudah sedemikian tinggi, mungkin ia ketemu tokoh bangkotan yang berkepandaian lebih tinggi.
Begitulah dengan dirundung pertanyaan dan hati gelisah Giok liong sudah kembangkan Leng-hun toh sampai tertinggi, tidak lama kemudian ia sudah sampai di lamping gunung itu.
Keadaan disini remang-remang disinari cahaya bulan suasana sangat sunyi senyap.
Sekilas Giok-liong menyapu pandang keadaan sekelilingnya, matanya yang tajam melihat kira-kira tiga puluhan tombak didepan sana ada sebuah hutan rimba yang lebat dan gelap, tergerak hatinya, secepat kilat badannya segera terbang menuju kearah rimba gelap itu.
Begitu sampai sepasang matanya yang tajam berkilat itu segera menjelajah setiap pelosok yang mencurigakan, Betul juga dilihatnya di sebelah dalam sana, samar-samar terlihat adanya bayangan manusia yang bergerak gerak, sedikit menyedot hawa ringan sekali bagai asap melayang tubuhnya melejit kedepan, dimana mata memandang, seketika mukanya merah padam dan serasa kepalanya berdenyut saking gusar.
Ternyata diatas rumput dalam hutan sana rebah terlentang seorang gadis cantik yang seluruh pakaiannya sudah dilucuti sehingga telanjang bulat, kulitnya yang putih serta sepasang buah dadanya yang montok menonjol tinggi sangat menusuk pandangan seluruh badan tengah berkelojotan, kedua pipinya yang putih halus itu kini sudah berwarna merah matanya separo dipejamkan, pinggangnya terus bergerak meliuk liuk, seakan akan tengah dirangsang nafsu birahi yang tengah membara diseluruh tubuh.
Tapi dilihat keadaannya itu terang bahwa ia dalam setengah pingsan atau mungkin terkendali oleh obat bius, Gadis cantik bagai bunga mekar ini bukan lain adalah Ang-imo-li Li Hong adanya.
Dipinggir kedua sampingnya tengah berjongkok dua lakilaki pertengahan umur berbadan kurus tengah mengulurkan kedua cakar iblis, masing-masing mengelus serta meremas tubuh yang putih bersih itu.
Orang yang disebelah kiri mengenakan pakaian kembang berjenggot pendek bermata juling.
Sedang yang berada disebelah kanan karena membelakangi Giok-liong jadi tidak terlihat wajahnya, tapi terlihat dipunggungnya menggemblok sepasang pedang panjang..!
Tatkala itu kebetulan orang dlsebelah kiri itu tengah meremas dan mengelus-ngelus sepasang bukit padat yang menonjol itu, serta katanya sambil tersenyum girang.
"Hehehehe, siapa akan percaya bahwa Ang-i-mo-li yang kenamaan itu akhirnya terjatuh ditangan kita bersaudara."
Orang yang disebelah kanan juga tengah meraba-raba pinggang Li Hong yang meliuk-liuk, sahutnya.
"Haha, Toako ini berkat obat biuskulah sehingga berhasil, betapapun harus menjadi hakku untuk hjemecabkaa kesuciannya ini."
"Tidak yang lain boleh tapi yang ini jangan, Kau minggir saja dan menonton permainanku dulu, kalau aku sudah selesai menjadi giliranmu nanti, apa yang kau gelisahku !, Hehehehe ..."
Habis berkata langsung ia berdiri terus mulai mencopoti pakaian sendiri.
Cepat-cepat orang disebelat kanan itu mengulur tangannya mencubit pinggang Li Hong dengan gemas terus berdiri dengan uring uringan, mulutnya juga mengomel panjang pendek.
"Setiap kali memperoleh barang baik selalu kau monopoli dulu ..."
Mendadak sebuah gelak tawa dingin yang menciutkan nyali terdengar dari hutan sebelah sana, sungguh kejut kedua orang ini bukan kepalang.
"sret"
Serempak mereka mencabut senjata masing-masing. Orang disebelah kiri itu menyeringai tawa aneh serta serunya.
"Kawan, seorang laki-Iaki harus berani berlaku terang-terangan. jikalau tiada suatu urusan yang dapat di rundingkan siiakan keluar berhadapan dengan Bu-san bersaudara."
Kiranya kedua orang ini bukan lain adalah Bu-san siang im, dua manusia cabul dari Bu-san yang sangat terkenal sebagai maling pemetik bunga dikalangan Kangouw."
Belum lagi lenyap suaranya, terdengar suara dingin dari dalam rimba.
"srilitiiitt"
Terdengar suara ringan disertai kilatan sinar melesat datang, tahu-tahu ditengah hutan di hadapan mereka sudah tertancap sebatang potlot emas panjang beberapa senti.
Itulah pertanda khas dari aliran Ji-bun yang sudah turun temurun selama ratusan tahun.
Begitu melihat potlot emas ini, berubah pucat dan ketakutan Bu-san siang-im, setelah saling berpandangan mendadak mereka menjejak tanah terus melesat tinggi melarikan diri kedalam hutan dibelakang mereka.
Dalam hutan lagi-lagi terdengar jengekan dingin, terlihat sebuah bayangan putih berkelebat melayang turun, tahu-tahu seorang pemuda berpakaian serba putih dengan ikat kepala yang putih pula telah menghadang dihadapan mereka.
Pemuda ganteng seperti pelajar ini melangkah maju dengan ringan mendekat dinadapan Busan-siang im.
Bukan saja Bu-sansiang-ini terkenal manusia cabul juga wataknya sangat kejam dan telengas, licik dan banyak akalnya lagi ditambah kepandaian silat mereka tinggi, jejaknya tidak menentu, sehingga kaum aliran lurus menjadi kewalahan menghadapi mereka.
Sekarang begitu mereka melihat pertanda khas dari To-ji yang berupa pottot emas yang sudah menghilang ratusan tahun mendadak muncul disangkanya bahwa satu diantara Ihlwe su-cua yaitu To-ji Pang giok telah datang sendiri, maka tidak heran sedemikian rasa takut mereka berdua sampai lupa membetulkan pakaiannya yang masih kedodoran terus melarikan diri.
Tapi setelah melihat yang muncul ini kiranya hanya seorang pemuda cilik yang mirip pelajar lemah, sesaat mereka tertegun melenggong.
Terkilas cepat sekali dalam otaknya.
"Bocah ini paling tidak berusia dua puluh, seandainya ia sudah belajar silat dalam kandungan ibunya, juga tidak mungkin begitu menakjupkan kepandaiannya."
Saudara tua dari sepasang manusia cabul itu segera tegak berdiri, sambil mendongak tertawa terbahak-bahak teriaknya melengking.
"Bocah keparat, berani kau mengandal pamor perguruan Ji-bun hendak mengganggu usik kesenangan tuan besarmu."
Takut kalau dibelakang bocah ini masih ada tokoh yang menjadi andalannya, maka ia memancing lebih dulu dengan kata katanya itu.
Pemuda pelajar berpakaian serba putih ini bukan lalu adalah Giok-liong adanya.
Kedua pipinya itu sekarang sudah bersemu merah menambah kegantengannya.
Tapi expresi wajahnya adalah sedemikian dingin laksana es, kedua matanya memancarkan kilat tajam yang dingin pula mengamati Bu-san-siang-im, katanya menjengek.
"Silakan kalian memilih jalan sempurna sendiri, bunuh diri atau tuan mudamu ini yang harus turun tangan "
Jawabannya ini secara lang sung menerangkan bahwa dia datang seorang diri."
Betapa licik dan licin tokoh-tokoh Bu-san-siang-im ini ?
Begitu mendengar jawaban ini legalah hati mereka tanpa merasa mereka saling pandang dan tertawa terloroh-loroh.
Belum lenyap suara tawa mereka mendadak mereka berbareng menghardik.
"Bocah goblok, serahkan jiwamu."
Dimana sinar kuat berkelebatan dua batang pedang tahu-tahu sudah menusuk dan membabat tiba mengarah tempat mematikan.
Bertepatan dengan aksi saudara tuanya ini, demikian juga adiknya dari Siangliro ini tidak ketinggalan mengajukan tangan kirinya, seketika kelap kelip sinar hijau kebiruan beterbangan memenuhi angkasa seperti bintang-bintang layaknya secepat kilat meluruk semua kearah Giok-liong.
Giok-liong berlaku tenang sekali, malah ujung mulutnya menyungging senyum ejek, begitu bayangan putih berkelebat tahu tahu bayangan Giok-liong sudah menghilang, Terdengar sebuah suara yang mendirikan bulu roma terkiang dipinggir telinga mereka.
"Kalian cari mampus."
Keruan kejut kedua manusia cabul ini bukan kepalang, siapa akan nyana bahwa pemuda cilik yang kelihatan lemah ini kiranya adalah tokoh silat yang berkepandaian begitu lihay.
Tidak banyak kesempatan untuk mereka berpikir dan menduga-duga tanpa berjanji berbareng mereka memutar tubuh sambil mengayun senjata kebelakang, nyata gerak gerik mereka juga cukup gesit dan tangkas sekali.
Tapi baru saja badan mereka berputar selengan jalan, terdengar lagi tawa dingin lantas terlihat bayangan putih berkelebatan selulup timbul diselingi bayangan tangan pukulan yang mengaburkan pandangan serta dilandasi angin pukulan yang kencang seperti gugur gunung terus menungkrup keatas badan mereka.
Tapi Bu-san siang-im juga bukan kaum kroco yang berkepandaian rendah.
Berbareng mereka membentak keras, pedang diputar sekencang kitiran sampai mengeluarkan sinar dingin gemerdep menerbitkan angin mendesis terus melambung keangkasa, Ternyata mereka bisa mengerahkan hawa murninya untuk didorong keluar melalui ujung pedangnya terus membentuk suatu hawa pedang untuk melindungi badan, dan yang terpenting adalah hawa pedang ini semakin melebar menyongsong kearah angin pukulan yang dilancarkan Giok-Iiong.
Giok-liong berseru heran tidak duga mengandal dua manusia cabul sampah masyarakat persilatan ini kiranya juga mempunyai kepandaian begitu tinggi, segera ia perdengarkan ejekannya lagi.
"Ternyata ada isinya juga!"
Diam-diam dalam hati ia sudah bertekad.
"kedua orang ini berkepandaian tinggi, kalau tidak dibabat lenyap pasti kelak akan menimbulkan bencana yang lebih besar lagi."
Cepat-cepat kedua tangannya ditekuk serta disilangkan terus berputar ditengah udara membuat setengah lingkaran lantas perlahan-lahan didorong keluar, Kontan terbit angin menderu serta kabut putih mengembang bergulung-gulung terus menerus kedepan.
Terdengar suara teriakan yang ketakutan.
"Sam ji cui-hunchiu, dia adalah Pang Giok..."
Belum habis suaranya, lantas terdengar suara "blang"
Yang keras dua larik sinar melambung tinggi ketengah udara berbareng hujan darahpun terjadi!
Setelah angin reda dan debu hilang suasana menjadi sunyi kembali, tampak Giok-liong berdiri tempatnya dengan tenang, Delapan tombak disebelah sana meringkuk dua mayat Bu sansiang-im dan ditempat yang lebih jauh sana adalah kedua batang pedang mereka yang terbanting ditanah dan sudah patah patah menjadi empat potong.
Tadi dengan jurus Cin-ciu sekuatnya Giok-liong turun tangan, hanya segebrak saja cukup membuat jiwa Bu ~ san -siang im melayang ditangannya, Tapi dia sendiri karena terbentur oleh hawa pedang musuh, dadanya juga sedikit dirasakan sesak, maka sementara ia berdiri diam mengerahkan Ji-lo berputar ke-seluruh badannya.
Tak lama kemudian ia membuka mata, sekilas ia menyapu pandang kearah kedua mayat itu lalu putar tubah memasuki hutan.
Teringat olehnya bahwa Ang i-mo li Li Hong masih telanjang bulat rebah diatas tanah.
Baru saja kakinya melangkah lantas terlihat tubuh Li Hong yang padat menggiurkan itu masih menggeliat dan meliuk-liuk tak henti-hentinya.
Kontan merah jengah seluruh wajah Giokliong, jantungnya juga berdebar sangat keras seperti hendak meloncat keluar.
Cepat-cepat ia berpaling muka tidak berani melihat lagi.
Akan tetapi entah mengapa akhirnya toh dia meliring mencuri pandang pula.
sepasang pipi Li Hong yang merah membara bak sekuntum bunga mekar itu kini telah diliputi pikatan menarik bagi seorang laki Iaki.
Kedua bibirnya juga tengah megap-megap memperlihatkan sebarisan giginya yang putih halus.
Ditambah tubuhnya yang langsing menggiurkan terutama kedua bukit yang montok itu karena bergoyang dan menggeliatnya pinggang ikut bergerak-gerak tak hentihentinya.
Apalagi kedua pahanya yang putih besar itu sabansaban dibuka tutupkan Iebih lebih memikat hati lawan jenisnya.
Usia Giok-liong sedang menanjak dewasa, darah mudanya gampang berkobar, melihat pertunjukan gratis yang menggiurkan ini kontan kepala terasa mendengung pikiran juga menjadi butek, terasa sekujur hawa hangat segera timbul dari dalam pusarnya terus meluber ke atas.
seketika ia merasa kepalanya pusing dan pikiran juga menjadi kabur.
Tanpa disadari kakinya segera melangkah maju dengan sempoyongan terus menghampiri kearah tubuh Li Hong yang rebah telanjang bulat itu, Waktu disamping tubuhnya tiba-tiba pandangan matanya bentrok dengan kilauan sinar mas kuning yang menyolok mata.
Seketika tergetar keras hatinya, pikirannya lantas menjadi jernih dan sadar kembali gumamnya menyesali diri sendiri.
"Giok liong, wahai Giok liong, seorang laki laki tidak mengambil keuntungan secara pengecut! sebagai murid aliran Ji-bun aku harus mengutamakan kelurusan......."
Jalur sinar kuning yang kemilau itu kiranya adalah batang potlot mas tua pertanda khas dari perguruannya.
Segera Giok-liong menjemput potlot kecil itu, waktu pandangannya melihat kearah Li Hong, sekonyong-konyong timbul pula hawa amarahnya.
"Hm, manusia cabul yang rendah menggunakan obat bius bagaimana aku harus menolongnya? Oh ya, diatas badan mereka pasti ada obat pemunahnya."
Karena pikirannya ini segera ia berkelebat keluar rimba langsung mendekati jenazah Bu san-siang-im, setelah semakin lama ia menggeledah seluruh tubuhnya hanya diketemukan sebuah bungkusan kecil obat pemunahnya.
Bergegas ia mem bawa obat pemunah itu kembali.
Tapi waktu ia sampai dimana tadi Li-Hong rebah di atas tanah, seketika ia berdiri tertegun dan terlongong longong sekian lama.
Ternyata keadaan tetap sunyi, bekas bekas diatas rumput masih ada tapi bayangan Li Hong sudah menghilang entah kemana, sampai baju yang dipakainya juga ikut lenyap.
Giok-liong menggeleng, jarak sedemikian dekat dan orang sedemikian besar hilang begitu saja lenyap tanpa diketahui olehnya, Apa mungkin Li Hong sendiri yang sudah siuman terus tinggal pergi?
Tidak mungkin!
Pasti tidak mungkin !
Mendadak ia membanting kaki sambil berteriak kejut.
"Wah, cialat!"
Dimana badannya bergerak laksana segulung asap terus menerobos keluar dari dalam rimba.
Baru saja ia keluar lantas dilihatnya puncak sebelah kanan berkelebat sesosok bayang kecil langsing terus menghilang.
Gerakan siapakah yang sedemikian cepatnya?
Dalam hati ia bertanyatanya, kakinya segera mengerahkan seluruh tenaga mengembangkan Leng-hun-toh terus melesat ke-arah purcak didepan sana.
Laksana meteor terbang sebentar saja ia sudah tiba diatas puncak namun disini tiada apa-apa yang dapat dilihatnya, maka tanpa ragu-ragu lagi Leng hun toh dikembangkan sampai puncak tertinggi untuk mengejar lagi kedepan, Sambil berlari dan terbang itu, kedua matanya yang celingukan kian kemari mengamat-ngamati sekelilingnya, adalah sesuatu tanda-tanda yang mencurigakan.
Hatinya menjadi bingung dan risau selalu.
Betapa tidak Giok-liong menjadi gugup karena dengan telanjang bulat Ang-i moli Li-Hong telah digondol pergi seseorang, kepandaian orang yang menculik itu sedemikian lihay bagai mana hatinya takkan gugup dan kwatir.
Dalam berlari kencang tanpa tujuan ini tanpa disadari ia terus berlari semakin dalam diatas pegunungan, dikejauhan kegelapan samar samar terlihat setitik sinar pelita, jelas kelihatan didepan sana kalau bukan sebuah kampung kampung pasti sebuah kota kecil.
Sinar pelita yang kelap-kelip itu seketika membangkitkan semangatnya.
Memang kenyataan sudah sekian lama dia belum pernah berdekatan dengan khalayak ramai.
Tapi kebangkitan semangat itu hanya sebentar saja.
Hilangnya Li Hong merupakan beban pemikiran dalam benaknya.
Akan tetapi dia tiada tempo atau waktu untuk berusaha mencari jejak Li Hong lagi, Sebab masih banyak tugas yang lebih penting menunggu penyelesaiannya ini merupakan pukulan berat bagi penderitaan batinnya, Entah menyapa dia tidak tahu, kenapa dirinya mengambil perhatian sedemikian besar terhadapnya!
Mungkin adalah karena aku berhutang budi terhadapnya!
demikian ia mengguman sendiri untuk menjawab pertanyaan hati sen-diri, Akan tetapi betapapun setelah mendapat jawaban ini, apalagi yang dapat diperbuatnya.
Dalam jangka setengah tahun dia harus dapat menemukan gurunya, kalau gurunya tidak meninggalkan lembah putus nyawa itulah baik.
Tapi gurunya sekarang telah menuju ke Lam-hay !
sekarang bila berusaha hendak mencari gurunya, satu-satunya jalan hanyalah menuju ke Lam-hay mencari pula Bu-ing-to.
Apakah benar gurunya pernah kesana-Entahlah, tapi sekaligus dapat menyerapi jejak Kim-leng-cu, untuk menyampaikan pesan gurunya tempo hari.
"Ai,"
Perlahan lahan ia menghela napas, batinnya "Nona Li Hong, maaf bahwa aku tiada waktu lagi untuk mencarimu."
Pikir punya pikir lantas timbul perasaan menyesal dalam hatinya. Sekonyong-konyong bentakan keras terdengar bagai guntur menggelegar dari sebelah samping kiri sana.
"Maknya, kurcaci dari mana yang sebal sebul napas ditengah malam gelap ini mengganggu impianku saja."
Seiring dengan bentakan ini, dari belakang sebuah batu besar menggelinding keluar seorang aneh berkepala besar bertubuh kecil setinggi empat kaki.
Sedemikian besar kepalanya seperti semangka saja layaknya, hidungnya mendongak keatas dengan sepasang mata kecil seperti mata ayam, rambutnya awut-awutan, ditambah alisnya yang tebal seperti sapu, mengenakan pakaian kucel dan banyak tambalan, kedua kakinya kecil pendek tapi besar kuat, bentuk tubuhnya yang lucu ini benar-benar sangat menggelikan.
Sambil menyeret sendal bututnya, tangannya diulur untuk menyeka umbel dari hidungnya terus disiutkan kontan memberon-dong keluar liur umbelnya langsung terus dikebutkan "Siuut"
Sedemikian keras samberan titik bayangan putih ini secepat kilat terus melesat kearah muka Giok liong. Giok -liong mengerutkan alis, sedikit menggeser kaki sebat sekali ia menghindarkan diri.
"Plak"
Terdengar suara nyaring, lantas terlihat batu pecah berhamburan bersama percikan api, gumpalan umbel itu sekarang sudah amblas masuk kedalam batu besar dibelakang Giok-liong.
Terdengar orang aneh berkepala besar itu heran, sedikit menggoyangkan pundak, gesit sekali tahu-tahu dia sudah berada dihadapan Giok-liong, terdengar suaranya keras seperti gembreng pecah berkata.
"Bagus, bocah keparat ternyata berisi juga, tak heran berani datang kemari menjual lagak didepan orang tua."
Sambil bertriak tangannya mendadak mencengkeram kedada Giok-liong.
Keruan Giok-liong menjadi dongkol, tapi dia tahu bahwa kesalahan dipihaknya, sedapat mungkin ia berlaku sabar, serunya sambil melompat mundur menghindar.
"Ada omongan marilah dibicarakan, kenapa harus menggunakan kekerasan ..."
Orang aneh kepala benar itu tetap membandel teriaknya.
"Bagus. kau sudah membangunkan impianku, masih berani tidak minta maaf..."
Dimana pundaknya bergerak "wut"
Tangan kanan menampar tiba dengan dahsyatnya. Giok liong menggeser kaki kiri terus menyingkir enam kaki serunya jengkel.
"Diatas pegunungan siapapun boleh gembargembor, dengan hak apa kau mengatakan aku mengganggu tidur nyenyakmu?"
Sebentar orang aneh kepala besar itu tertegun lantas berteriak lucu lagi.
"Bagus... bagus sudah salah tidak mengaku masih berani mengobral mulut, hari ini kalau Lohu tidak memberi pelajaran pada kau sungguh sia-sia aku hidup sekian lama berkelana di Kangouw."
Sambil gembar gembor, dengan suaranya yang aneh melengking itu tubuhnya bergerak cepat berkelebat mendadak ia berputar seperti gangsingan mengitari tubuh Giok liong.
Dimana kedua kepalannya bergerak bayangannya bagai gugur gunung menindih tiba.
Sementara itu, rasa gusar Giok-liong sudah semakin memuncak.
sambil berkelit ia berseru keras.
"Kalau cian-pwe tidak segera berhenti terpaksa Cayhe berlaku kurang hormat! "
"Hm emangnya kau sudah tidak tahu tata kehormatan setelah tahu aku orang tua sebagai cian-pwe, lekas berlutut dan menyembah sembilan kali, kalau tidak Lohu nanti putuskan kedua kaki anjingmu itu."
Semakin memuncak amarah Giok-liong, batinnya.
"Orang ini tidak kenal aturan, kalau aku tidak turun targan, pasti disangka aku ini gampang dipermainkan..."
Dalam hati berpikir, badannya lantas melejit mundur. teriaknya geram.
"Aku menghormat kau baru kupanggil Cianpwe, Siapa tahu ternyata kau tiada harganya untuk dihormati Hui, kalau tuan tidak segera berhenti, terpaksa Cayhe berlaku lancang."
Orang aneh berkepala besar ini bernama Siok-Kui-tiang, tingkat kedudukannya di kalangan persilatan sangat tinggi, kepandaian silatnya juga lihay dan tinggi sekali, biasanya polahnya memang aneh dan suka melucu, wataknya juga sangat aneh suka bawa adatnya sendiri, Bersikap kejam dan telengas lagi, serasi dengan bentuknya yang serba kekurangan itu maka kaum persilatan sama-sama memberikan julukan iblis rudin.
"Iblis rudin Siok Kui-tiang mendelikkan mata, mulutnya menggarang keras.
"Kurcaci mari tumpahkan seluruh kepandaianmu Kalau hari ini Lohu tidak menghajar anak kecil yang kurang ajar dan tidak tahu adat kesopanan ini, sia-sia aku dipanggil iblis rudin Siok Kui-tiang!"
Seiring dengan habis ucapannya segera ia merubah cara permainannya, kontan angin lesus yang deras timbul membumbung tinggi ketengah angkasa sambil mengeluarkan suara mendesis yang menderu hebat, bayangan pukulan tangan yang memenuhi angkasa mendadak berubah tutukan jari yang merata dimana-mana, terus langsung menutuk keseluruh tempat-tempat penting dibadan Giok-liong.
Baru mendengar nada perkataan orang, lantas Giok-liong terkejut dan cepat-cepat siaga, batinnya.
"Celaka, siapa nyana kiranya orang aneh kecil ini ada!ah iblis rudin Siok Kiu tiang yang sudah menjagoi dunia persilatan puluhan tahun yang lalu..."
Meskipun terkejut tapi rasa mau menang sendiri lantas bersemi dalam hati kecil. Maka segera ia bergelak tertawa, serunya.
"Bagus biarlah Cayhe menerima pengajaran dari iblis rudin ytng tenar."
Belum lenyap suara tawanya tenaga ji-lo sudah terkerahkan berputar keras diseluruh badannya, dimana setiap kali tangannya terayun tenaganya memberondong keluar secepat kilat itu ia sudah lancarkan delapan belas kali pukulan serta dua belas tutukan jari.
Seketika angin menderu pasir beterbangan bayangan pukulan serta tutukan saling selulup timbul bergantian laksana angin badai yang mengamuk bertumpuk berlapis-lapis.
iblis rudin tiba-tiba mementang mulut meneriakkan tawa anehnya, tubuhnya juga ikut berputar keras seperti gangsingan berubah bayangan menyelusup kedalam bayangan tutukan, Maka bayangan jari tutukan berlapis meninggi bagai gunung, sebaliknya bayangan angin pukulan menderu-deru bagai hujan batu terus memberondong keluar bergantian tidak mengenal putus.
Beruntun terdengar suara plak-plok, berulang kali dari benturan tangan yang keras sekali.
Dua bayangan manusia yang berwarna ungu dan putih dengan angin melambai secepat kilat menyerang saling melancarkan serangan dahsyat yang mematikan diantara tusukan jari serta pukulan tangan yang rapat dan rumit sekati, mereka mengerahkan segala kemampuan serta kegesitan tubuh untuk menyelimatkan diri.
Sekejap mata saja, enam puluh jurus itulah berlalu.
Dua belah pihak sama-sama sudah mengerahkan seluruh kekuatan.
Tiba-tiba terdengar iblis rudin mendamprat gusar, kekuatan angin tutukannya bertambah semakin besar dan dahsyat, laksana tajam anak panah yang meluncur menembus hawa ditengah udara langsung menusuk kesetiap tempat yang mematikan dibadan Giok-liong.
Giok-liong sendiri juga lantas memperdengarkan suara tawa panjang yang lantang, Dimana terlihat jubah panjangnya melambai-lambai, hawa murninya mendadak dikerahkan sampai sembilan bagian, dimana pukulan tangannya sampai hawa murninya segera memberondong keluar pula, laksana gelombang samudra yang mengamuk terus menerjang kearah musuh.
Angin lesus semakin keras dan menghebat ditengah gelanggang pertempuran ini, semua benda yang berada dekat dari gelanggang semua terseret dan tergulung mumbul ketengah udara dan terus melayang tinggi entah jatuh dimana, saking cepat berputarnya angin lesus ini sampai akhirnya bayangan kedua orang yang tengah bercampur menjadi terbungkus hilang dari pandangan mata.
Kadang kala kalau angin tutukan atau pukulan menerobos keluar gelanggang dan mengenai bumi lantas terdengarlah ledakan keras yang menggetarkan alam sekelilingnya, disertai pasir dan debu beterbangan diselingi percikan api.
Tanpa merasa tahu-tahu mereka sudah bertempur sampai lima ratus jurus banyaknya setelah bertempur sekian lama ini, jidat iblis rudin Siok Kiu-tiang sudah mulai mandi keringat, jelas kelihatan bahwa dia berada diposis terdesak, sebaliknya badai pukulan yang dilancarkan Giok-liong semakin garang dan melebar, bukan semakin lemah malah semakin dahsyat bagai gugur gunung.
Lambat laun ketekatan serta kepercayaan terhadap diri sendiri telah semakin luntur dalam benak Siok Kui-tiang, kepandaian silat serta Lwekang pemuda lawannya ini benarbenar diluar perhitungannya, Kepedihan hati akan keputusan harapan untuk menang segera bersemi dalam lubuk hatinya, malah semakin membesar dan luber.
Betapa ia takkan sedih, sudah puluhan tahun lamanya nama julukannya sangat tenar dan ditakuti, selama hidup ini belum pernah ia temukan tandingan yang setimpal.
Maka begitu menghadapi seorang pemuda yang masih berbau wangi malah dapat mendesak dirinya.
Lambat laun ia kehilangan inisiatif untuk balas menyerang dari pada lebih banyak membela diri, Apalagi jelas dalam waktu singkat ini dirinya sudah pasti bakal dikalahkan.
ia merasa bahwa dirinya bak umpama selembar sampan yang diumbang-ambingkan hujan badai yang bergelombang tinggi ditengah samudra raya dimalam gelap, ini masih belum terang dirinya masih terserang oleh badai dan bayu seorang diri tanpa ada seorangpun yang membantu atau berusaha menyelamatkan jiwanya.
Ia putus harapan serta hampa, sebatang kara tanpa bantuan setelah diterawangi serta dipikirkan secara mendalam, akhirnya ia mengerak gigi mengambil keputusan nekad.
"Meskipun ilmu kepandaian tunggal perguruan ini setiap dilancarkan pasti melukai malah mungkin membunuh orang, tapi dalam keadaan yang terdesak itii, seumpama melukai lawan juga bukan menjadi kesalahanku."
Seperti diketahui Siok Kiu-tiang adalah tokoh kejam yang suka turun tangan dengan keji.
Kalau biasanya siapa-siapa yang mengganggu tidurnya sampai hatinya gusar, tentu ia lampiaskan amarah hatinya itu bagai orang gila layaknya, sekali turun tangan pasti membunuh orang, Tapi menghadapi pemuda pelajar yang ganteng ini, sebaliknya hati kecilnya menjadi tidak tega turun tangan dengan membawa suara hatinya, sebaliknya timbul rasa simpatiknya, hasratnya memberi sekedar hukuman ringan saja.
Diluar tahunya begitu saling gebrak, kepandaian serta kekuatan lawan mudanya ini ternyata sedemikian hebat dan lihay, walaupun dirinya sudah kerahkan seluruh kemampuannya masih kewalahan juga, sekarang demi gengsi dan jiwa dia sudah bertekad untuk menggunakan kepandaian simpanan dari perguruannya yaitu Kam-thian-ci ilmu tunggal perguruan baru dua kali ia pernah gunakan selama malang melintang puluhan tahun di dunia persilatan.
Harap diketahui bahwa dibawah serangan Kam thian-ci selamanya belum ada seorangpun yang masih tetap hidup, inilah sebabnya mengapa sekian lama ini kaum peralatan belum tahu asal usul perguruan iblis rudin ini.
Setelah mengambil ketetapan, hatinya juga 1amasmenjadi tenang.
Sementara daya pukulan Giok-liong yang keras dan dahsyat itu sudah membuatnya tidak kuat berdiri tegak lagi, tubuhnya terhuyung mundur beberapa langkah.
Sekonyong-konyong terdengar ledakan dahsyat yang menggetarkan bumi dan langit, kiranya kedua lawan ini lagi lagi telah mengadu pukulan sekuat tenaga mereka, Kontan terdengar suara gerangan tertahan, menggunakan daya pentulan yang keras ini iblis rudin melambung tinggi tiga tombak, sebaliknya Giok-Iiong juga limbung lima langkah, seketika gelanggang pertempuran menjadi gelap dan ribut oleh debu dan angin yang mengembang keempat penjuru.
Tiba-tiba iblis rudin mendongak serta tertawa gelak-gelak aneh, seluruh rambut diatas kepalanya tegak berdiri, air mukanya juga berubah membesi, badannya berputar cepat seperti roda kereta diatas udara terus meluncur turun sampai mengulur tangan kanannya yang mendadak mulur sekali lipat kelima jarinya juga membesar dan berwarna merah menyerupai wortel, dengan kepala dibawah dan kaki diatas diiringi dengan tawa anehnya langsung ia menerkam turun seperti elang hendak mencabik mangsanya.
Waktu mengadu pukulan tadi Giok-liong sendiri juga rasakan darahnya bergolak dan dadanya menjadi sesak, matanya kunang kunang, tahu dia bahwa dirinya sudah terluka dalam, Kini waktu ia angkat kepada dilihatnya iblis rudin tengah menerkam datang dengan daya luncuranyang pesat serta gaya yang aneh itu, hatinya membatin.
"Bukankah ini Kam-thian-ci dari Pat-ci-kay-ong yang kenamaan itu?"
Tapi sudah tiada waktu lagi untuk memberikan suatu penjelasan atau memperkenalkan diri siapa dirinya sebetulnya, Apalagi sejalur angin keras warna merah merong diselingi sebuah uluran tangan yang menjojohkan sebuah jari tengahnya yang berwarna merah darah itu sudah terpaut setombak diatas kepaianya, tengah menusuk tiba dengan kecepatan yang tak dapat diukur.
Sudah tentu Giok-liong tidsk berani berajal, hawa Ji lo segera terkerahkan sampai sepuluh bagian, tipu Tian-ceng jurus ketiga dari Sam-ji ciu-hun-chiu juga lantas dilancarkan.
Berbareng kakinya juga ikut bergerak mengembangkan Lenghun-toh, tubuhnya melesat mundur menghindarkan diri.
Berkuntum kuntum awan putih bergulung maju didorong hawa murni yang kokoh dan deras gemuruh melandai kedepan, sebuah telapak tangan yang putih halus, tanpa mengeluarkan suara melayang maju memapak kedepan seperti bayangan setan saja.
"Ha, kau..."
Terdengar iblis rudin Siok Kui tiang berteriak keras dan kejut.
"Dar... Byeeeeerrrr,"
Gunung bergerak bumi tergetar, batu pasir menari-nari ditengah udara.
Kabut putih melesat mengembang keempat penjuru dengan derasnya, demikian pula hawa merah itu buyar menembus angkasa.
Hujan darah terjadi diselingi pekik kesakitan yang tertahan, dua bayangan manusia terpental terbang kedua jurusan.
Tubuh kecil pendek dari iblis rudin membawa jalur darah segar yang menyempit keluar dari mulutnya terpental jauh puluhan tombak.
"bluk"
Keras sekali terbanting ditanah.
Sinar muka Giok-Iiong juga pucat pasi, dimana mulutnya terpentang ia juga menyemburkan darah segar badannya tersentak mundur enam tombak terus jatuh terduduk tak bergerak lagi, bintang berkunang kunang didepan matanya, darah dirongga dadanya bagai hendak meledak seakan dipalu oleh godaan yang beratnya ribuan kati.
Meskipun keadaannya sangat payah, namun ingatannya masih segar bugar, segera ia himpun semangat menenangkan hari, pelan-pelan ia kerahkan hawa murninya mengiring berputar keseluruh tubuhnya, Didapatinya bahwa sebagian dari isi perutnya ada yang pecah dan hancur kalau tidak segera diberi pengobatan dan tertolong luka-lukanya itu bakal membahayakan jiwanya.
setelah dapat berganti napas, dengan susah payah dirogohnya sebuah pulung berwarna putih dari balik bajunya, dari pulung kecil ini dituangnya dua butir pil berwarna hijau, bau harum semerbak segera merangsang hidung, langsung ia telan obat obat mujarab itu.
Obat yang baru ditelah ini merupakan obat yang terpenting dan termahal dari semua obat obatan yang diberikan oleh To ji sebagai bekal, Dalam pulung kecil itu hanya berisi sepuluh butir, khasiatnya dapat mengembalikan jiwa orang dan ambang kematian.
Begitu butir pil itu tertelan kedalam perut lantas lumer menjadi cairan wangi terus masuk kedalam perutnya, dengan dilandasi hawa murninya yang kuat itu, segera khasiat obat didorong dan dikembangkan ke berbagai urat nadi serta seluruh isi perut yang luka-luka, Tidak lama kemudian sebagian besar lukanya sudah dapat disembuhkan.
Bergegas ia bangkit berdiri terus memburu kearah iblis rudin yang masih rebah tak bergerak ditanah.
Keadaaa iblis rudin Siok Kiu-tiang lebih parah lagi, wajahnya merah hitam, darah masih mengalir keluar dari telapak tangan kanan, serta meleleh keluar dari ujung mulutnya, inilah akibat dari tokoh silat tingkat tinggi yang terluka berat dari benturan tenaga yang membalik menghantam badan sendiri sehingga seluruh isi perutnya-pecah dan jungkir balik.
Melihat keadaan orang yang parah ini Giok-liong menjadi gelisah, cepat cepat dirogohnya keluar pulung kecil tadi serta dituangkannya dua obat yang mujarab serta mandraguna itu langsung dijejalkan kedalam mulutnya.
Dia sendiri terus duduk bersila disamping iblis rudin serta memayang tubuh orang untuk duduk bersila juga, tangan kanan diulur lurus dijalan darah Bing-bun-hiat mulailah tenaga Ji-Io, dikerahkan serta disalurkan kedalam badan Siok Kuitiang.
Lambat laun kasiat obat mulai bekerja, Hawa murni didalam badan Siok Kui-tiang sendiri juga mulai bekerja, menyambut hawa trobosan yang disalurkan Giok-liong kedalam badannya terus berputar-putar keseluruh pelosok tubuhnya.
Baru saja ia sadar dan kembali kesadarannya lantas merasa bahwa dirinya telah tertolong dari saat-saat yang kritis, ada seorang tokoh silat maha lihay telah menolong mengobati luka luka parahnya, Mata masih tak kuasa dibuka namun mulutnya sudah darat sedikit bergerak serta berkata tergagap.
"Orang ..kosen dari ....manakah yang telah ....menolong ....Siok kui-tiang, ... Selama hidup ini pasti takkan kulupakan -, ..Tapi ... , disebelah sana ....masih ... masih , . ,."
Bicara sampai disini tenaga nya sudah habis sekali lagi ia menghamburkan darahnya.
Cepat-cepat Giok -liong membujuk lirih "jangan banyak bicara lagi, lebih penting lagi kau mengerahkan tenaga dan hawa murni berobat diri."
Seolah-olah iblis rudin tidak mengenai jelas orang yang bicara duduk dibelakang-sya adalah Ma Giok-Iiong atau musuh berat yang tadi adu kepandaian dengan dirinya, setelab menelan air liur, ia meneruskan bicara.
"Ditanah sebelah sana... masih ada ... seorang pemuda berpakaian putih ... yang terluka berat , ..karena kesalahan tanganku , ..sehingga terluka parah .., sila .., silahkan tuan menolongnya lebih dulu... keadaanku . , , rasanya tidak terlalu parah ..."
Habis berkata lagi-lagi ia menyemburkan darah. Mendengar perkataan orang yang penuh prihatin ini, terharu perasaan Giok liong,"
Katanya lembut.
"Kau sendiri perlu tekun berobat diri, dia sudah sembuh !"
"Apa ... apa betul ?"
"Benar."
Sekarang Siok Kiu tiang baru merasa lega dan tentmm, pelan pelan ia mulai kerahkan hawa murni serta menuntunnya mengalir keselumh tubnhnya, bersama dengan aliran panas dari bantuan tenaga yang dikerahkan Giok-Hong mendorong serta membantu bekerjanya obat terus bergerak merambati badannya, Tatkala mana baru Giok-liong benar-benar merasa terperanjat betapa panjangnya dan dalam tenaga hawa murni Siok Kiu-tiang ini benar-benar sangat mengejutkan.
Tanpa memerlukan banyak waktu hawa murni dalam tubuhnya sudah pulih kembali dan mulai lincah bergerak malah.
bergulung deras bagai gelombang samudra yang berderai maju tiada putusnya.
Lambat laun malah Giok-hong semakin merasa tertekan dan banyak mengeluarkan tenaga, air mukanya sampai pucat pias, keringat sebesar kacang membasahi jidat.
Tahu dia bahwa sampai taraf terakhir ini luta-luka Siok Kiutiang sudah tidak perlu dikwatirkan lagi, perlahan-lahan ia menarik kembali tenaga murninya, duduk bersila disamping Siok Kui tiang mengerahkan Ji-lo untuk menormalkan jalan darah serta kemurnian tenaganya lama kelamaan diatas kepala kedua orang yang tengah duduk bersila ini mengepul kabut putih yang semakin tebal dan semakin lama bergulunggulung semakin keras dan cepat.
Akhirnya bagai air mendidih dalam kuali melonjak-lonjak keatas.
Hanya ada perbedaannya, kalau kabut diatas kepala Giokliong adalah putih bersih, sebaliknya kabut yang menguap diatas kepala Siok Kiu tiang adalah bersemu merah marong.
Dari lobang kedua hidungnya juga menjulur keluar dua jalur kabut yang molor modot panjang pendek bergantian demikian juga warna kedua jalur pendek ini berbeda, jalur-jalur kabur diujung kedua hidung Giok-liong ada ada lebih besar satu perempat dibanding kabut yang menjulur keluar dari hidung Siok Kiu-tiang.
Dari sini dapat diukur dan diterangkan bahwa khikang yang dilatih dari masing-masing perguruan ini berbeda.
sedang dalam taraf tingkat kesempurnaannya latihan Siok Kui tiang boleh dikata lebih rendah setingkat dibanding Giok-liong.
ini tidak perlu dibuat heran, Giok-liong mendapat karunia Tuhan harus mengalahkan berbagai rintangan dan petaka sehingga akhirnya mendapat manfaat yang berlimpah dari pelajaran yang diberikan oleh Pang Giok.
kenapa tidak karena sekarang dalam tubuhnya sudah membekal Lwekang dengan latihan seabad lebih, ditambah kasiat obat-obat mujarab yang mandraguna serta bakat Giok-liong sendiri.
Betapapun hebat dan tinggi pembawaan Siok Kui-tiang yang serba pandai itu juga harus mengakui kekurangan dibanding orang lain.
Begitulah latihan dalam usaha penyembuhan diri sendiri ini sudah mencapai pada taraf yang paling genting dan membahayakan.
Kabut tebal diatas kepala mereka sudah semakin kuncup dan menghilang menjadi gumpalan hawa kabut yang berhenti bergerak dan bergantung ditengah udara, sebaliknya dua jalur kabut dikedua lobang hidung mereka masing-masing bergerak panjang pendak semakin cepat, seluruh tubuh juga mulai mengeluarkan keringat dan uap yang hangat, warnanya sama dangan kabut di masing masing kepala mereka.
Jelas bahwa usaha mereka sudah mendapat sukses lari berhasil dengan baik sekali.
Tatkala mana sangat pantang sekali bila ada seseorang datang mengganggu kalau tidak bukan saja berhasil malah sebaliknya jiwa mereka bisa celaka atau sedikitnya juga menjadi cacat seumur hidup, betapa berat dan mengerikan akibat ini !
Sekonyong-konyong terdengar angin ber-kesiur disusul terlihatnya bayangan orang berkelebat, tahu-tahu disekitar mereka berdua telah bermunculan serombongan orang-orang mengenakan seragam hitam, ditengah dada mereka terlukiskan lembayung warna merah, semua laki-laki tinggi besar dan tegap ini menenteng golok-go!ok dan berbagai persenjataan lain.
Gemuruh tawa dingin memecah kesunyian alam sekelilingnya dari rombongan seragam hitam itu ...
Dari rombongan seragam hitam yang mengepung ini, beranjak keluar tiga laki-laki yang mengenakan pakaian serba merah dan mengenakan kedok hitam pula, Diatas pundak masing-masing semampai jubah panjang yang terbuat dari kain sutra.
Orang yang berdiri ditengah barperawakan tinggi kurus tapi gagah garang, sebaliknya dua orang di kanan kirinya bertubuh lebih gemuk dan kekar, pinggang masing-masing menyoreng sebilah pedang panjang, sepasang mata yang tersembunyi dari balik kedoknya memancarkan cahaya dingin yang tajam, Mereka menanti dibelakang kanan kiri orang yang berdiri ditengah.
Gelak tawa dingin yang terdengar rendah sember itu justru keluar dari mulut kedua orang ini, Para laki-laki seragam hitam yang mengepung gelanggang sejak mendengar suara tawa scmber ini lantas semua berdiri tegak dengan sikap hormat, sedemikian patuh sikap mereka sampai menghela napas besar juga tidak berani.
Sunyi dan tebang melingkupi suasana gelanggang dan mencekam sanubari seluruh hadirin, Keadaan dalam hutan ini seolah-olah telah dilingkupi hawa kematian yang tebal, ya, elmaut tengah mengancam dan mengintai setiap jiwa hadirin.
Mendadak laki-laki kurus tinggi mengenakan kedok hitam itu menggeledekkan suara tawa dinginnya yang mendirikan bulu tengkuk ditengah malam gelap ini, suaranya mendengung bergema sekian lama diudara.
Lambat laun suara tawa itu semakin meninggi keras dan melengking bak ujung sebatang anak panah yang menusuk lubuk hati manusia.
Semua laki-laki seragam hitam yang berdiri melingkar diluar gelanggang kontan mengunjuk sikap menderita yang ditahan-tahan keringat sebesar kacang membanjir keluar.
Mereka tahu bahwa tawa panjang ini bukan lain semacam serangan tawa, Karena gema suara ini merupakan hawa panah yang telah didesak dan didorong keras.
kekuatan hawa murni dari Lwekang tertinggi unuk melukai musuh.
Terhadap siapa suara tawa ini ditujukan, maka isi perut dari orang itu pasti akan tergetar hancur dengan menyemburkan darah dan melayanglah jiwanya.
Para laki-laki yang berdiri diluar gelanggang paling-paling hanya keserempet gelombang dari genta tawa itu saja, tapi toh mereka sudah menderita dan mengerahkan tenaga untuk melawan.
Mereka jelas mengetahui siapakah kedua orang yang tengah mereka hadapi ditengah gelanggang ini.
Ma Giok-liong adalah orang yang harus diringkus hidup-hidup atas perintah Pangcu mereka.
Sedang mereka yang lain adalah tokoh lihay yang berulang kali dipanggil dan diundang untuk masuk anggota perkumpulan mereka, tapi selalu membunuh utusan yang membawa surat undangan, bukan saja menolak malah menentang, dia ini bukan lain adalah iblis rudin Siok Kui-tiang yang kenamaan dan disegani.
Mereka tahu pula bahwa kedua orang ini sekarang tengah mengerahkan hawa murni untuk mengobati luka luka dalamnya dan sudah sampai pada taraf yang menentukan, sedikit gangguan saja cukup untuk menamatkan jiwa mereka.
Apalagi menggunakan penyerangan cara tawa bergelombang yang mengerahkan hawa murni dari aliran lurus sana!
Disaat orang berkedok seragam hitam itu mulai perdengarkan suara tawanya tadi, Giok-liong dan Siok Kiutiang yang bersila ditengah gelanggang itu tampak melonjak tergetar tubuhnya Lebih parah lagi keadaan Siok-Kiu-tiang, wajahnya menunjuk rasa derita yang tertahan, mengikuti suara gelombang tawa yang semakin meninggi rasa derita diwajahnya juga semakin tebal, sehingga kulit wajahnya mengkerut dan meringis menggigit bibir sampai berdarah, keringat dingin membanjir membasahi seluruh tubuh.
Lebih mendingan keadaan Giok-liong, setelah seluruh tubuh tergetar hebat, kabut diatas kepalanya itu segera bergulung lebih keras seperti air mendidih diatas tungku yang mengepul tinggi dan melebar sekelilingnya sehingga terlingkup oleh kabut tipis.
Lambat-laun kabut tipis ini mulai membungkus kedua orang ini yang duduk bersila ini.
Suara gelombang tawa mendadak lenyap dan berhenti.
Orang berkedok yang berdiri ditengah itu dengan sorot pandangan dingin berpaling kanan kini serta berkata.
"Cahyu Hu-hoat bunuh mereka."
Sedikit mengerahkan badan kedua pelindung itu segera menghadap didepannya serta katanya sambil memberi hormat.
"Baik Pang-cu!"
Seiring dengan hilang suara mereka, dua bayangan hitam serentak melesat mundur, sedemikian cepat gerak gerik mereka laksana kilat menyambar tahu-tahu badan mereka sudah melambung tinggi sepuluh tombak, dimana pinggang ditekuk serta merentang kedua tangan masing-masing, jalur-jalur kabut warna kehijauan segera merembes keluar dari seluruh badan mereka.
Begitu kedua dengkul masing-masing ditekuk, dari setinggi sepuluh tombak itu badan mereka lantas meluncur turun bak umpama burung garuda yang hendak menerkam dan mencabik mangsatnya, berbareng dengan itu, empat kepalan tangan mereka juga ikut bekerja memancarkan sinar merah yang sangat menyolok (BERSAMBUNG
Jilid KE 5)
Jilid 05 Empat jalur sinar merah mengepulkan asap tebal membawa hawa hangat yang membakar langsung menerjang kearah putih ditengah gelanggang itu.
Waktu badan mereka tinggal lima tombak lagi dari atas tanah, hawa panas yang membakar kulit semakin, tebal, sekejap mata itu, sepuluh tombak sekitar gelanggang sudah terbakar menjadi hangus, Para seragam hitam yang mengurung diluar gelanggang siang siang sudah mundur jauh menyelamatkan diri.
Sorot bara api yang terang menyalanya ia bak umpama gugur gunung telah menindih tiba, Terus menerjang kearah kurungan kabut putih yang menelan seluruh bayangan Giokliong dengan Siok Kiu-tiang.
Ditengah udara tiba-tiba terdengar gelak tawa kepuasan yang berlimpah-limpah.
Sepasang mata Hiat-hong pangcu memancarkan kilat terang yang aneh, wajahnya mengunjuk rasa girang dan puas pula.
Dia tahu betapa besar perbawa Te-hwe-tok-yam yang lihay dan ganas sekali itu.
Kiranya pelindung kanan kiri dari Hiat-hong pang ini adalah saudara kembar, dari kecil memang mereka sudah dibawai kecerdikan dan bakat yang luar biasa, tabiatnya juga sangat keras dan berangasan, sejak kecil mereka diangkat menjadi murid-murid seorang tokoh lihay didaerah barat yang bernama julukan Le hwe-heng-cia, setelah ber-tahun-tahun belajar sekarang kepandaian mereka sudah mencapai tingkat yang cukup dapat dibanggakan.
Untuk memenuhi ambisinya untuk melebarkan sayap memperbesar perkumpulan serta pcngaruhnya, Hiat hong Pangcu menyebar pada pembantunya untuk menampung dan mengundang tokoh-tokoh aneh kaum persilatan yang sudi diperalat olehnya dengan imbalan harta benda yang tiada nilainya, dalam suatu kesempatan yang kebetulan dia bertemu dengan seorang gembong silat kalangan hitam yang sudah lama mengasingkan diri, dari mulut orang ini ia diperkenalkan akan adanya tokoh Le-hwe-heng cia yang lantas diundangnya masuk menjadi anggota memperkuat kedudukan dan tujuan ambisinya.
Kemaruk oleh harta kedudukan akhirnya Le-hwe-heng-cia meluluskan dan menerima undangan agung ini, Tapi saat mana dia tengah mempelajari semacam ilmu yang serba ganas sebelum berhasil latihannya ini tak mungkin dia dapat tinggal pergi dari sarang nya.
Terpaksa ia perintahkan kedua murid kembarnya ini datang lebih dulu ke Tionggoan untuk menambal dulu kekosongan di Hiat-hong-pang.
Begitu tiba kedua saudara kembar ini lantas diangkat menjadi Hu-hoat atau pelindung kanan kiri, sudah tentu mereka sangat berterima kasih dengan kedudukan tinggi ini.
Tak heran tak segan-segab mereka rela turun tangan dan bekerja mati-matian.
Umpamanya peristiwa yang dihadapi kali ini adalah sedemikian penting dan serius sampai sang Pang-cu sendiri harus ikut terjun di medan laga, maka dapatlah diperkirakan betapa pentingnya urusan ini.
Oleh karena itu begitu kedua saudara kembar ini turun tangan, tidak kepalang tanggung lagi mereka lancarkan ilmn perguruannya yang paling lihay dan ganas, dengan dilandasi hawa murni dalam tubuh mereka lancarkan hawa panas yang membara dan berbisa.
Yaitu ilmu, Te-hwe-tok-yam, tujuannya hendak membakar hangus dan melebur abukan kedua orang yang tengah duduk bersila terbungkus kabut ditengah gelanggang itu.
Baru saja suara gelak tawa mereka terdengar bara api yang menyala-nyala menyilaukan mata itu sudah menyampuk keras ke arah gulungan kabut tebal ditengah gelanggang itu.
"Dar.... Dar ..."
Ledakan dahsyat aneh yang menggetarkan langit dan menggoncangkan bumi menggelegar ditengah gelanggang.
Disusul angin lesus membadai menerjang keempat penjuru menerbitkan suara, menderu hawa panas yang membakar kulit.
Belum lagi suara ledakan dahsyat ini lenyap mendadak terdengar gelombang panjang gelak tawa yang lantang dan bentakan keras menggeledek yang terus meninggi menembus angkasa, Dua bayangan putih dan ungu laksana bintang meluncur dimalam hari melesat mumbul ketengah angkasa terus menerjang kearah dua saudara kembar yang masih berada ditengah udara itu.
"Blang Bluk !"
Ledakan hasil dari gempuran hebat ini membuat empat bayangan manusia terpental jatuh keatas tanah.
Tampak Giok liong dan Siok Kiu-tiang dengan wajah membesi berdiri ditengah gelanggang, Sebaliknya dua saudara kembar pelindung Hiat hong pang itu berdiri setombak di sebelah sana dengan raut muka penuh mengunjuk keheranan dan kejut.
Mendadak mulut pelindung kiri menggerung keras, rupanya suatu aba-aba untuk bergerak serentak, karena saat itu juga tampak bayangan melejit pesat sekali kedua pelindung kanan kiri ini sudah merangsak hebat kearah Giok-liong dan Siok Kiutiang.
Giok-liong berdua juga tidak mau tinggal diam, berbareng mereka menggerakkan kedua tangan masing masing terus melompat maju memapak.
Tadi, waktu Giok-liong tengah kerahkan tenaga murninya mengobati luka-luka dalam nya mendadak terasakan olehnya, bahwa sekelilingnya sudah terkepung oleh serombongan orang yang mengenakan seragam hitam, diam-diam hatinya bercekat, batinnya.
"Kalau mereka secara keji turun tangan menggunakan kesempatan baik ini, pasti celakalah jiwa kita berdua."
Tengah berpikir ini, semakin cepat ia lancarkan tenaga murninya disamping itu iapun siaga menghadapi setiap senangan yang membahayakan jiwa mereka.
Dengan sikap siaganya ini maka keadaan dan situasi sekelilingnya tidaklah luput dari pengawasannya.
Tidak lama kemudian Hiat-hong Pangcu serta pelindung dikanan kirinya juga muncul.
Giok-liong tahu dan insaf bahwa pertempuran dahsyat hari ini sudah tidak mungkin dihindarkan lagi, maka sekuat tenaga ia kerahkan Ji-lo menghadapi setiap serangan.
Betul juga tidak luput dari dugaannya, dengan Lwe-kang yang tinggi dari aliran Lwekeh Pang-cu Hiat-hong pang mengirim gelombang suara gelak tawanya yang menyerupai ilmu Syai-cu hong dari aliran Budha berusaha hendak memusnahkan atau melenyapkan kepandaian mereka berdua.
Tanpa ajal segera Giok-liong gerakkan tenaga Ji lo keluar badan dengan kabut putih itu ia bungkus bentuk tubuh mereka berdua didalamnya, lalu dengan gelombang suara lirih ia berkata kepala Siok Kiu-tiang.
"Hiat-hong Pang-cu sendiri datang mungkin susah dihadapi, betapapun kita harus waspada dan hati-hati."
Bersamaan dengan itu dirogohnya pula pulung kecil yang berisi pil mustajab tadi dituangnya dua butir pil, ditelannya sebutir dan diberikan kepada Siok Kiu tiang sebutir lalu dengan cara yang paling cepat mereka berobat diri menyembuhkan luka masing-masing.
Gelombang tawa yang menggema tinggi semakin keras, semangat dan pertahanan Giok-liong sudah hampir tergempur dan tidak kuat bertahan Iagi.
Terpaksa ia tidak hiraukan lagi luka-luka dalam yang belum sembuh seluruhnya, dengan tekun desak seluruh kekuatan Ji-lo keluar badan, dengan mengerahkan dua belas bagian tenaganya baru dia tidak terkalahkan.
Seumpama tekanan pihak lawan ditambah setingkat saja pasti hancurlah pertahanannya itu berarti tamatlah jiwanya atau paling tidak badannya tergetar hancur luka parah.
Tapi ternyata Hiat-hong Pang cu malah menghentikan gelombang tawanya dan menyuruh kedua pelindungnya turun tangan.
Dengan daya kecepatan luar biasa Giok-liong memutar tenaga Ji-Io sekali putaran didalam badannya, lalu berkata lagi kepada Siok Kiu-tiang menggunakan gelombang tekanan lirih.
"Musuh mulai bergerak hati-hatilah!"
Terdengar Siok Kui-tiang menyahut "Aku paham, kau sendiri juga hati-hatilah!"
Tepat pada saat itulah kedua pelindung Hiat hong-pang dengan serangan bara apinya telah menerjang tiba dari tengah udara.
Kebetulan saat itu juga Siok Kiu-tiang sudah kerahkan bawa murni pelindung badannya keluar digabung dan dikombinasikan dengan Ji-lo terus disungsungkan keatas, Setelah terdengar ledakan dahsyat bagai bom meledak, Giok liong bersama Siok Kiu-tiang berbareng melesat naik keatas terus meluncur turun lagi berdiri berendeng.
Dalam gebrak pertama saling gempur ditengah udara ini.
diam-diam Giok-liong terperanjat.
Karena terasakan olehnya bahwa kepandaian dua pelindung Hiat-hong-pang ini masih setingkat lebih tinggi bila dibanding dengan Thian-siu-su-cia Ih Peng.
Tanpa merasa timbullah kewaspadaan yang lebih besar dalam benaknya.
Kalau diterawangi situasi gelanggang, para jago silat dari Hiat-hong-pang pasti bukan beberapa gelintir saja, ini berarti situasi dihadapi sekarang sangat tidak menguntungkan bagi Giok-liong berdua, sedikit alpa atau ceroboh bertindak mungkin jiwa sendiri bakal terkubur ditempat alas ini.
Tengah hatinya menimang-nimang, kedua pelindung Hiathong oang itu sudah menubruk tiba sembari lancankana pukulan deras yang membawa tekanan panas tinggi.
Giok-liong sudah mengejek dingin, Ji-lo dikerahkan sepuluh bagian dimana kedua tangannya bersilang terus disurung kedepan menyambut serangan musuh.
Sekejap saja angin puyuh bergulung bertambah seret tak ubahnya seperti gulungan banjir yang melandai dengan dahsyatnya diselingi bayangan angin pukulan yang santer, sedemikian sengit dan seru pertempuran kali ini, sebaliknya disebelah sana tampak Iblis rudin berputar dan berkisar seperti keong berputar sedemikian lincah, dan gesit tubuhnya berputar, dimana setiap kali tangan kakinya bergerak angin tutukan jarinya yang mendesis menyambar-nyambar dengan bentuk bayangan laksana sekokoh gunung bagaikan gelombang badai pula derasnya.
Tapi kepandaian lawan juga bukan baru saja lulus dari perguruannya, bukan saja aneh dan hebat, kepandaian mereka memang lihay dan ajaib lain dari yang lain ditambah ganas dan berbisa lagi, betapa dalam Lwekang mereka benar benar sangat mengejutkan.
Pertempuran terjadi semakin dahsyat dan ramai, tubuh mereka berempat sedemikian lincah dan tangkas sekali, setiap pukulan atau tendang saja pasti membawa kesiur angin keras yang membawa maut ini masih belum yang paling mengejutkan adalah suhu panas yang terbawa oleh hawa pukulannya yang mematikan itu sedikit ajal saja pasti badan akan hangus meskipun hanya kena samberannya saja karena keracunan...
Empat orang terbagi dalam dua kelompok pertempuran semakin lama jalan pertempuran ini semakin memuncak dan hangat tatkala mana Giok-liong sudah kerahkan Ji-lo sampai tingkat kesepuluh jurus atau tipu tipu permainan Sam-ji-cuihun chiu juga mulai dilancarkan.
Kuntum mega putih mulai mengembang bertaburan mengelilingi sekitar gelanggang, sebuah telapak tangan putih halus laksana banyangan setan seperti perlahan tapi cepat sekali melayang datang menutul kearah musuh.
Waktu ia pandang keadaan pihak lawan, kiranya musuh juga sudah kerahkan seluruh kemampuannya, seluruh tubuh musuh sudah terbungkus oleh cahaya merah marong dari bara api yang panas sekali sampai mengepulkan asap hitam, sedemikian tebal dan kuat hawa panas ini sedang saling gempur dan bertahan mengadu kekuatan.
Dilain pihak iblis rudin Siok Kiu tiang sendiri juga sudah mempamerkan segala kepandaian simpanaunya, jari tangannya me-nari-nari memetakan sorot merah dari keampuhan jari tutukannya, begitu keras angin tutuIannya itu mendesis kemana-mana sampai babak terakhir ini mereka masih saling serang dan gempur dengan sama kuatnya.
Dilihat keadaan pertempuran dahsyat ini kiranya sebelum ribuan jurus susah ditentukan pihak mana yang bakal menang atau kalah Bahkan daya kekuatan suhu panas yang membara itu lama kelamaan terangsang bau hangus terbakar yang memualkan.
Sekitar lima tembak sekeliling gelanggang semua sudah hangus terbakar.
Keruan para seragam hitam yang menonton diluar gelanggang mundur semakin jauh, mereka menyingkir sambil waspada mengawasi gelanggang pertempuran untuk menjaga supaya kelinci yang sudah mereka kepung tidak lolos Iagi.
Sementara itu Hiat-hong pangcu berdiri sambil bersidakep dikelilingi lima orang berkedok yang baru saja tiba belum lama.
Sang waktu terut berlalu tanpa menunggu, Meskipun belum kelihatan bahwa kedua pelindungnya bakal kalah, namun juga tidak banyak mengambil keuntungan.
Sekonyong-konyong terdengar Hiat-tong Pangcu tertawa dingin, ujarnya.
"Binatang dalam jaring juga masih berani berontak."
Setelah mengekeh sekian lamanya, mendadak ia berpaling kepada lima pengikutnya, katanya.
"Kalian berlima boleh maju, bantulah kedua pelindung kita, bunuh atau riugkus ke dua orang ini hidup-hidup."
Walaupun Giok-liong tengah tepat menghadapi musuhnya, tapi kuping dan matanya tetap dapat mengikuti keadaan di sekelilingnya.
Begitu melihat keadaan yang membahayakan ini dia merasa terkejut, bentaknya dengan murka.
"Bagus benar Hiat-hong pang kalian, ternyata tidak tahu malu dan hina dina, main keroyok untuk ambil kemenangan"
Sembari berkata beruntun ia kirim dua kali jotosan, dua gumpal kabut putih teriring dengan angin keras seketika menyentak mundur pelindung musuh yang dihadapinya sampai tersungkur hampir jatuh.
Terdengar Giok-liong bergelak tertawa serta serunya.
"Tuan mudamu jikalau tiada berisi masa berani malang melintang didunia persilatan!"
Terdengar pelindung kiri ini memekik gemetar saking gusar, suaranya aneh, dimana tangannya meranggeh kebelakang, tahu-tahu tangannya sudah melolos keluar senjata tombak pendek bercabang tiga seperti garpu, senjata ini berbentuk aneh panjang tiga kaki dan berkilat menyilaukan mata, Sedikit pergelangan tangan menggertak berbareng badannya melejit maju merangsak dengan serangan yang mematikan kearah Giok-liong.
Secara kebetulan perkataan Giok-liong baru saja habis diucapkan, cepat-cepat tangan kiri bergerak melingkar terus didorong kedepan, re.lang tangan kanan secepat kilat meluncur keluar dari lingkaran bundar itu langsung menutuk ke dada lawan, Maka mega putih menerpa kedepan dengan keras, di tengah kilatan cahaya merah marong juga menerjang datang dari depan, seketika angin menderu dan mendesis bersuitan saking hebatnya.
"Siiiut ..... daaarrr, ..."
Begitu ledakan itu lenyap dua bayangan lantas terpental mundur.
Selarik cahaya kuning emas terus mencorong tinggi ketengah angkasa, ternyata bahwa senjata potlot emas Giokliong sudah dilolos keluar, Namun belum sempat senjata Giokliong ini beraksi, mendadak angin-kencang mendesir disertai sinar hijau dingin meluncur kearah punggungnya dengan kecepatan yang susah diukur.
Lima bayangan terbagi dalam dua kelompok bagai angin badai menerpa kencang menerjang kearah Giok-liong dan Siok Kiu-tiang Bersama itu dua atas rantai warna merah tahu-tahu juga sudah menusuk tiba didepati dada Giok-liong.
Angin pukulan bagai gelombang samudra yang mengamuk, rantai merah berseliweran saling gubat dengan sinar hijau semua menuju satu sasaran, sekonyong-konyong terdengar sebuah tawa panjang yang mengalun tinggi dari mulut Giokliong.
Cahaya kuning lantas mencorong tinggi ketengah udara, selarik sinar kuning yang menyilaukan mata diiringi derai tawa yang lantang melingkar lingkar menggulung keluar.
Kontan terdengarlah pekik mengaduh yang mengerikan ditengah udara disertai suara srat sret bergantian, darah lantas beterbangan berceceran keempat penjuru.
Satu diantara kelima orang seragam hitam itu sudah jatuh mampus dibawah seragam jurus Kong-sim (Kejut hati).
Pertempuran masih belum berhenti sampai disitu saja, sinar kuning masing-masing terus berputar kencang diantara bungkusan kabut putih, bergerak lincah dan tangkas sekali di bawah kepungan rantai merah dan sinar hijau jelas sekali bahwa Giok-liong sudah lancarkan tipu-tipu dari pelajaran Janhu su-sek dengan dilandasi dua belas bagian tenaga Ji-lo, karena para pengerubutnya adalah dua orang seragam hitam dan pelindung kiri yang rata-rata berkepandaian cukup tinggi.
Sekonyong-konyong suara jeritan dan gerengan saling susul terdengar digelanggang sebelah sana.
Dalam kesibukannya melawan musuh Giok-liong berkesempatan untuk berpaling dan melirik kearah sana, Dilihatnya wajah iblis rudin Siok Kiu-tiang pucat pasi serta sempoyongan mundur berulang kali, lengan kiranya sudah terluka panjang mengalirkan darah, besar dan panjang luka itu kira-kira setengah kaki kulit serta daging lengannya sudah terkupas melanda i-lambat sehingga darah susah di bendung lagi.
Sebaliknya ditangan kanannya masih mencengkeram keras sebuah lengan tangan musuh yang dibetotnya putus.
Dengan susah payah dan banyak makan tenaga ia terus hadapi rantai merah yang diputar kencang memenuhi angkasa.
Keadaan ini memang sangat genting, keruan Giok-lioog kaget dan kwatir.
Hanya sedikit terpecah perhatiannya saja hampir saja Giok liong harus membayar mahal kelalaiannya ini.
Mendadak musuh didepannya tertawa terloroh-loroh, dimana terlihat pundak pelindung kiri Hiat-hong-pang bergoyang-goyang.
puluhan sinar kehijauan yang terang dan lembut sekali segera melesat kencang meluruk kearah Giok-liong, Bersama itu dua utas rantai merah yang bergerak lincah laksana ular naga yang hidup membawa angin menderu serta gelombang panas yang membakar kulit sekaligus bersamaan menerpa dan menggulung tiba, Bukan hanya sekian saja Giok-liong menghadapi ancaman elmaut, karena disebelah samping kanan kiri kedua orang seragam hitam itu juga memutar kencang senjatanya menusuk tiba dari kanan kiri terus menubruk dan membabat kearah Giok-liong.
Giok-liong menggerung keras, kedua kakinya mendadak dijejakkan diatas tanah, badannya lantas melesat mundur kesamping, kebelakang, bersama itu sinar kuning dari potlot masnya diputar kencang, jurus Sip-hun dari salah satu Janhun-su-sek dikeluarkan.
Sesuai dengan nama jurus serangan ini yaitu kehilangan sukma, kontan terdengar salah satu dari seragam hitam pengeroyoknya segera melompat mundur sambil menjerit ngeri, terang kalau sukmanya melayang menghadapi raja akhirat.
Tapi tak beruntung bagi Giok-liong tiba-tiba terasakan bahwa paha kirinya juga sakit dan nyeri menusuk tuIang, namun sekuat tenaga ia bertahan dan berlaku tenang, kaki menjejak mendadak ia jumpalitan ditengah udara, badannya meluncur lagi kesamping setombak lebih berbareng terdengar bentakannya menggeledek.
"iblis rudin jangan gugup, Giok-Iiong mendatangi l"
Dimana tangan kanan diayun, sebuah potlot masnya disambitkan dengan kencang berubah selarik sinar kuning langsung meluncur kearah pelindung kanan dari Hiat hongpang yang tengah menusukkan senjatanya kearah Siok Kiu tiang yang mendeprok ditanah kahabisan tenaga dan darah.
Bentakaa Giok liong yang keras dan garang itu cukup membuat pelindung kanan itu tergelak kaget dan keder, sedikit merendek saja tahu-tahu sinar kuning yang mendesis keras laksana anak panah yang sudah menusuk tiba didepan mata, Meskipun ia sudah berusaha berkelit sambil memutar tubuh, tak urung mulutnya menggerung keras seperti babi hendak disembelih.
Karena potlot mas Giok liong dengan telak telah menghunjam amblas kedalam punggungnya sampai tembus kedepan dada kontan badannya roboh terkapar ditanah, Darah segar segera memancur keluar dengan deras dari dadanya, Tapi ia masih membelalakkan kedua matanya mencorong menyakitkan sebelum ajal ini dia masih sempat menyambitkan kedua senjata garpunya kearah Siok Kiu-tiang, Lantas badannya sendiri terbanting sekali lagi dan tak bergerak untuk selama-lamanya.
Begitu potlot masnya disambitkan, menurut perhitungan Giok-liong akan segera mengejar datang untuk mengambilnya kembali untuk menghadapi lagi kejaran dan kepungan pelindung kiri serta dua seragam hitam lainnya, sungguh diluar dugaannya bahwa watak pelindung kanan itu ternyata sedemikian ganas dan kejam, sebelum ajal ini masih mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk menyerang Siok Kiu-tiang dengan sambitan kedua senjata garpunya, Saking kejut segera mulut Giok-liong menghardik keras, tubuhnya juga melenting tiba dengan kecepatan meteor terbang dimana kedua tangannya bergerak saling susul, angin badai segera terbit bergulung-gulung, untung masih sempat menyampok pergi kedua senjata garpu musuh sehingga menyelonong kesamping.
Dilain saat begitu kakinya menyentuh tanah, rasa sakit di paha sebelah kiri segera merangsang hatinya, sampai kakinya lemas dan tenaga hilang, terpaksa ia melolos jatuh ketanah.
Bertepatan dengan itu, pelindung kiri jadi mengamuk dan menggembor keras sambil lancarkan pukulan yang membawa suhu panas membawa terus mengepruk keatas kepalanya.
sementara itu, dua orang seragam hitam lainnya juga sudah meluruk tiba pula dengan serangan senjata yang cukup ganas puIa.
Dalam seribu kerepotan ini, tiba-tiba terdengar Siok Kiutiang membentak keras, badannya tiba-tiba mental naik ketengah udara setinggi tiga tombak.
"Wut"
Beruntun ia kirim dua kali pukulan mengarah kedua orang seragam hitam itu.
Dilain pihak Giok-liong sendiri juga sudah menyedot hawa dan mengerahkan tenaga dari pusarnya, tangan kiri diayun dengan seluruh kekuatannya sedang tangan kanan merogoh kedalam saku terus beruntun menyambitkan tiga batang senjata rahasia yang berbentuk potlot mas kecil.
"Blang !"
Bum !"
Seiring dengan suara gemuruh yang menggetar ini, terdengar lolong panjmg kesakitan dari mulut pelindung kiri Bersamaan itu sinar merah marong juga tengah meluncur menghunjam kearah dada Giok-liong.
Diam-diam Giok-liong bergirang hati, tahu dia bahwa ketiga batang potlot masnya ternyata telah mengenai sasarannya dengan telak, Mendadak dengan kaki kanan sebagai poros ia memutar tubuh sambit mendekam tubuh, tepat sekali ia menghindarkan diri dari sasaran dua garpu musuh yang melesat tiba.
"BIum!"
Disebelah sana Siok Kiu-tiang juga telah saling gempur pukulan dengan kedua lawannya. Tiba-tiba ia menggembor keras,"Maknya, bunuh semua!"
Membawa seluruh badan yang penuh berlepotan darah ia terus menubruk maju lagi, seolah-olah kedua tangannya itu secara mendadak mulur panjang sekali lipat, kiranya jurus Kam-thian ci yang mematikan itu sudah dilancarkan.
Bukan kepalang kaget dan rasa takut ke dua orang seragam itu, sambil berseru ketakutan mereka melompat mundur.
Tapi meski pun mereka sudah bergerak cepat, dan berusaha menyelamatkan diri tak urung juga sudah terlambat, kedua kepalan tangan yang membesar itu menutuk tiba dari tengah udara jeritan yang mengerikan berkumandang sampai sekian lamanya, darah dan daging manusia yang hancur berkeping-keping berterbangan keempat penjuru, kedua orang seragam hitam berbareng direnggut jiwanya.
Cepat-cepat Giok-liong berjongkok menjemput senjata potlot masnya lalu perlahan lahan berdiri tegak.
Saat mana terdengarlah-serentetan getaran tawa dingin yang menggiriskan bulu roma mengalun tinggi.
Tampak Hiat hong Pang-cu mengulapkan tangan sembari memberi perintah.
"Serbu!"
Maka sorak-soraklah para seragam hitam yang mengepung diiuar gelanggang sambil angkat senjata terus menerjang maju sembari kekuatan serbuan yang dibawa oleh pihak Hiat hong-pang tidak hanya terpaut puluhan saja karena dari belakang batu batu besar di kejauhan sana juga beruntun berloncatan ke luar pula berpuluh puluh bayangan hitam yang membawa senjata berkilauan terbang mendatangai menyerbu ketengah gelanggang.
Mendadak Giok-liong merasakan dipaha kirinya merembeskan darah dan terasa hangat, celakanya suhu hangat ini semakin menjalar keatas, maka cepat-cepat ia mengerahkan hawa murni untuk menutup jalan-jalan darah.
Tiba-tiba terdengarlah ejekan tawa dingin dari samping kirinya.
"Buyung, menyerah saja"
Sebuah bayangan hitam berkelebat tahu-tahu Hiat hong Pang-cu sudah berada didepannya, berbareng tangannya ikut bergerak lima jalur angin dingin menyamber kencang melesat kearah lima jalan darah penting di dadanya.
Giok-liong bergelak tawa keras sekali tangan kanan juga digerakkan sinar kuning segera berkelebat berbareng ia juga menggerung keras.
"Siok-toako, bunuh semua!"
Terdengarlah rentetan ledakan keras, di mana jalur-jalur angin saling bentrok dengan potlot mas, konton Giok-liong rasakan telapak tangannya tergetar linu dan sakit sekali, hampir saja senjatanya terlepas dari cekalannya.
Dalam kagetnya kedua kakinya secara otomatis segera menjejak tanah, badannya lantas melenting mundur berbareng kuntum awan putih bergelombang menuruti gerak pukulan sisanya teras melebar dan menerjang keempat penjuru.
Jerit dan pekik mengaduh menyayatkan hati sebelum ajal saling susul, darah berceceran dimana-mana menjadi genangan jang besar.
Dimana-mana bayangan hitam berkelebat kaki tangan daging-daging manusia yang sudah menjadi mayat beterbangan kesana sini.
Para seragam satu persatu roboh menggeletak tanpa bangun kembali.
Seluruh tubuh Giok-liong dan Siok Kui tiang sudah penuh berlepotan darah, tapi mereka masih terus bertempur matimatian.
Matahari sudah mulai mengunjukkan diri dari peraduannya hari sudah menjelang pagi, Hasil dari pertempuran semalam suntuk, ini darah mengalir menjadi genangan besar, mayat bergelimpangan bertumpuk tinggi.
Semakin bertempur jarak Giok-liong dan Siok Kui-tiang semakin jauh akhirnya mereka semuanya terpisah saat mana Giok-liong tangan menghadai empat orang seragam hitam didepan sebuah hutan.
Keempat orang seragam hitam ini biasanya dikalangan Kangouw juga termasuk tokoh kelas satu, tapi sekali ini mereka harus berhadapan dengan Giok liong, betapapun tinggi kepandaian mereka masih jauh dibanding kemampuan Giok liong.
Tapi keadaan Giok-iiong saat mana sangat payah, bukan saja sudah lelah juga badannya penuh luka-Iuka, Apalagi setelah bertempur mati-matian dikeroyok sedemikian banyak musuh-musuh Hiat-hong-pang, tenaga dalamnya sudah banyak terkuras keluar.
Maka dibawah kerubutan keempat musuh ini dia semakin terdesak dibawah angin, Gerak empat pedang panjang musuh sangat cepat merupakan satu tekanan berat bagi dirinya, Kalau desiran angin pedang dapat mengiris kulit sebaliknya bayangan pukulan gabungan mereka berempat juga sangat deras bagai gelombang samudra, sedemikian rapat kerja sama mereka hakikatnya Giok-liong sudah terkekang dalam kepungan mereka.
Mendadak Giok liong kerahkan seluruh sisa kekuatan tenaga murninya sambil memutar potlot masnya satu lingkaran, nyana jurus Toan-bing (putus nyawa) dari Jan-hunsu-sek telah dilancarkan dengan seluruh kekuatannya.
,,Prak -Blum"
Beruntun terdengar benturan keras yang menggetarkan bumi, diselingi lima kali jeritan mengaduh disusul bayangan orang terbang sungsang sumbel ke-empat penjuru, darah beterbangan menari-nari ditengah udara, jenazah mereka terbanting keras diatas tanah.
Giok-liong merasa jantungnya berdebar keras hatinya merasa mual, segulunng darah segar menerjang keatas menembus tenggorokkannya.
Diam-diam hatinya berteriak.
"Tidak, tidak, aku tidak tidak boleh roboh"
Dia tahu sekali ia jatuh, bukan mustahil jiwanya bakal melayang ditangan para kamrat-kamrat Hiat-hong-pang ini.
Demikianlah sedikit pandangannya menjadi kabur dan pikiran tidak tentram, badannya segera melayang tinggi dan jatuh kena pukulan gabungan para musuhnya yang kejam dan telengas, badannya terus terbang tinggi menerobos dahandahan sehingga menerbitkan suara yang berisik, akhirnya Giok-liong merasa seluruh tubuh tergetar keras, kiranya dirinya sudah terbanting masuk kedalaman sebuah rimba dan menindih putus dan merontokkan banyak dahan dan daun pohon.
Tidak tertahan lagi, mulutnya menguak menyemburkan darah segar, kepalanya terasa puyeng dan pusing tujuh keliling, pandangan menjadi gelap lantas dia jatuh celentang tak ingat apa-apa lagi.
Tidak lama setelah Giok-liong terjatuh masuk kedalam rimba, dari lereng gunung sana juga terdengar suara jerit dan lolong kesakitan, beberapa orang saling bersahutan untuk mengakhiri pertempuran berdarah ini.
Alam sekelilingnya masih diliputi keremangan kabut pagi yang tebal, suasana sangat sunyi senyap, angin sepoi-sepoi menghembus lalu membawa pagi yang sejuk dingin.
Diatas lereng gunung sana, didepan hutan ini, darah berceceran .
menggenangi mayat-mayat yang tidak lengkap anggota tubuhnya, Sayup-sayup terdengar suara keluh dan gerangan orang yang menderita kesakitan sungguh keadaan serupa ini sangat mendirikan bulu roma.
Dari kejauhan belakang gunung sana, empat bayangan orang tengah terbang cepat bagai meteor, Begitu sampai kiranya tidak lain adalah Hiat-hong Pang cu sendiri yang seluruh badannya penuh berlepotan darah serta tiga orang berkedok seragam hitam.
Begitu berhenti berlari, segera Hiat-hong Pang-cu berseru dengan penuh kejengkelan.
"Hm, Siok Kiu tiang dan bocah berkedok itu tak mungkin dapat lari jauh, segera keluarkan perintah suruh semua saudara-saudara dari berbagai sekte bekerja keras mencari jejak mereka."
Habis berkata ia menyapu pandang kesekitarnya lalu katanya lagi.
"Bersihkan seluruh gelanggang pertempuran ini, Pun-sii (aku) akan memeriksa kebelakang gunung."
Sambil mengulapkan tangan badannya lantas melesat cepat sekali laksana kilat meluncur kebelakang gunung, Keadaan dibelakang gunung sangat sunyi senyap, kabut pagi masih belum buyar, angin sepoi menghembus lalu melambaikan dahan-dahan pohon.
Diatas sebuah dahan pohon besar yang menjulur keluar dimana terkulai semampai lemas seseorang terluka parah, seluruh tubuh orang ini berlepotan darah keadaannya sangat menguatirkan.
Orang ini bukan lain adalah Giok-liong adanya, darah segar masih meleleh terus dari mulut dan hidungnya, Setetes demi setetes menitik diatas tanah terus meresap kedalam tanah.
Kabut putih yang mengembang halus menyelimuti seluruh badannya terus mengalir lewat tanpa bersuara.
Dewa elmaut seakan sudah mencabut seluruh jiwanya, kesunyian yang mencekam telah meliputi seluruh semesta alam ini, sekonyong-konyong dari dalam rimba sebelah dalam sana terdengar suara halus yang merdu tengah berkata.
"Eh, apakah ada orang sedaag bertempur diluar rimba ?"
Baru saja lenyap suaranya lantas terlihat sebuah bayangan hijau pupus yang berbentuk semampai melayang enteng sekali di keremangan kabut.
Tetesan darah dari atas pohon hampir saja menetes diatas wajahnya yang ayu jelita dan bersemu merah.
sedikit terkejut segera ia mundur beberapa langkah sambil mendongak keatas, kontan terdengar mulutnya berteriak kaget.
"Oh orang ini ..."
Dalam keadaan pingsan itu tiba-tiba Giok-liong sedikit menggeliat mulutnya mengguman lirih menahan sakit.
Bayangan hijau pupus ini adalah seorang gadis remaja yang mengenakan pakaian hijau mulus, tampan alisnya dikerutkan setelah mengamati keadaan Goik-liong yang semampai diatas dahan ia berkata seorang diri.
"Ternyata masih belum mati! Aku harus menolongnya !"
Habis berkata sepasang matanya yang jeli dan bening itu menyapu pandang keluar rimba.
Tampak disana malang melintang rebah empat mayat manusia seragam hitam.
Sekarang baru dia paham duduknya perkara, batinnya.
"Ya, tentu begitu, pasti ke empat orang ini mengeroyok dia seorang..."
Mendadak sebuah bayangan hitam laksana bintang jatuh tengah meluncur cepat sekali dari lereng bukit sebelah sana. Gadis baju hijau segera mengangkat alis dan bersiaga, pikirnya .
"Orang yang datang ini mengenakan baju hitam pula, mungkin adalah kerabat dari keempat orang yang mati itu."
Sedikit menggerakkan badan dan menjejakkan kaki, ringan sekali ia melompat keatas dahan, tangannya yang halus dan lencir segera diulurkan terus menjinjing tubuh Giok-liong, maka dilain kejap bayangan mereka sudah lenyap dari alingan pohon pohon yang rimbun didalam hutan.
Baru saja bayangan gadis baju hijau menghilang didalam rimba, bayangan hitam itupun sudah tiba diluar rimba.
Begitu melihat keempat mayat yang bergelimpangan itu, sepasang matanya yang tersembunyi dibalik kedok memancarkan sorot kegusaran yang meluap-luap, dengusnya dongkol.
"Bocah keparat, betapa juga kau takkan dapat lepas dari cengkeramanku."
Sepasang matanya yang tajam menyapu pandang keempat penjuru, badannya mendadak melenting tinggi terus menerjang keda-larn hutan, sekejap mata saja ia sudah berputar sekali memeriksa situasi terus melayang balik lagi keatas lereng bukit sana.
Lambat laun matahari sudah naik tinggi ditengah cakrawala lalu doyong lagi kearah barat, haripun berganti malam.
Dalam keadaan sadar tak sadar tahu-tahu Giok liong sudah rebah sepuluh hari di atas pembaringan.
Hari itu perlahanlahan ia membuka mata, selarik sinar merah menyilaukan pandangan matanya.
Bersama dengan itu hidungnya juga mengendus bau wangi semerbak yang menyegarkan badan terasa badannya rebah diatas kasur yang empuk dan enak sekali.
Setelah matanya terbuka lebar, terlihat didepan sebelah sana adalah sebuah jendela besar yang terbentang lebar.
Diluar jendela sinar matahari tampak telah doyong kearah barat.
Tanpa terasa Giok-liong bertanya-tanya dalam hati.
"Tempat apakah ini?"
Pandangan segera menjelajah keadaan sekitarnya, didapatinya inilah sebuah kamar kecil yang dipajang dan dilengkapi segala prabot serba antik dan penuh bebauan harum dilihat keadaan semacam ini, tidak perlu diragukan lagi pasti adalah kamar tidur seorang gadis remaja.
Segera terbayang pengalaman selama ini dalam benaknya, Tahu dia bahwa dirinya lelah ditolong orang, tapi siapakah orang yang telah menolongnya ini!
Dilihat dari keadaan kamar ini bukan mustahil yang menolong dirinya adalah seorang gadis.
Untuk ini lantas teringat olehnya akan Ang-i-mo-li Li Hong.
sebetulnya Li Hong adalah seorang gadis yang baik, namun mengapa julukannya sedemikian seram dan tak enak didengar?
Lantas teringat juga akan iblis rudin Siok Kui-tiang, untuk dirinya sampai dia menderita dan bukan mustahil malah mengorbankan jiwanya.
Ya, iblis rudin pasti sudah mati!
Betapa tidak dengan membekal luka-Iuka dalam yang sangat parah itu dia masih terus bertahan melawan dan menggempur mati-matian dengan para durjana dari Hiat-hong-pang, seumpama tidak terbunuh mati oleh musuh pasti juga mati lemas kehabisan tenaga.
Oh, Tuhan!
Nasibku ini sudah sedemikian jeleknya."
Mengapa setiap orang yang bertemu dengan aku harus pula mengalami penderitaan yang hebat ini?
Apakah aku ini seorang yang bertuah?
Ayah sudah menghilang tanpa jejak sejak aku masih kecil, lbu juga karena terlalu baik terhadap aku sampai akhirnya tidak diketahui mati hidupnya, Dalam hati juga akan Li Hong yang telah melepas budi menolong jiwanya dari renggutan elmaut.
akhirnya toh diculik orang dengan keadaan telanjang buIat, iblis rudin setelah tahu bahwa dirinya adalah sahabat yang terdekat, jiwanya melayang di bawah keroyokan kaum Hiat-hong-pang.
Berpikir sampai disitu, tanpa merasa berkobar amarahnya, desisnya sambil menggigit bibir.
"Hiat-hong-pang. Hiat-hongpang, Akan datang satu hari aku Ma Giok-liong pasti menumpas habis menjadi rata dengan tanah seluruh Hiathong-pang. Aku harus menuntut balas ..."
Sekonyong-konyong dari luar pintu sana terdengar suara tawa ringan yang nyaring dan merdu.
"Kongcu, kau sudah sadar!"
Se-iring dengan suara halus ini melayang masuklah sebuah bayangan langsing semampai kedalam kamar.
Seketika Giok liong merasa pandangannya menjadi terang, matanya memandang kesima.
Alis yang melengkung indah bak bulan sabit, menaungi sepasang mata bundar besar yang bersinar bening, Hidung mancung tinggi, dengan mulut mungil yang merah seperti delima merekah.
Sambil tersenyum lebar mengunjuk sebarisan giginya yang putih bersih perlahan-lahan menghampiri kearah pembaringan.
Cepat-cepat Giok-liong bangun berduduk serta katanya.
"Budi pertolongan nona yang sedemikian besar ini, selama hidup pasti cayhe takkan melupakannya."
Gadis ayu berpakaian hijau mulus ini begitu Giok liong membungkukkan badan lantas memutar badan, sahutnya tertawa.
"Kongcu, pakaianmu terlalu kotor, sudah kusuruh orang mencucikannya ! Lekaslah kau benahi pakaian nanti sebentar aku datang lagi !"
Bau wangi merangsang hidung, tahu tahu dia sudah melesat pula keluar kamar.
Merah jengah selembar raut muka Giok liong, tersipu-sipu ia menunduk melihat badan sendiri, baru sekarang ia merasa Iega, Ternyata badannya telah mengenakan pakaian Iain.
Buntalannya juga terletak dipinggir ranjang.
Jubah luarnya yang besar serta putih itu juga tergantung di dinding.
Lekas-lekas dibukanya buntalannya itu, kiranya Jan hun ci sena barang barang bekal lainnya masih ada, Sedang potlot juga tertindih dibawah buntalannya itu, Legalah hatinya, maka cepat-cepat ia berganti pakaian mengenakan jubah putih itu.
Mendadak merasakan suatu keanehan yang mengherankan hatinya, Bukankah dirinya terluka parah dan tertolong sampai disini, mengapa badannya sekarang tiada merasakan bekasbekas luka parah itu?
Dicobanya menyedot hawa mengerahkan hawa murni, terasa hawa murninya penuh padat dan Aotv gairah, rasanya lebih kuat dan kokoh dari sebelum itu.
Tengah ia merasa terheran heran, terdengar pula suara merdu itu berkata diluar pintu.
"Kongcu kau sudah berganti pakaian belum ?"
"Sudahlah !"
Bayangan hijau disertai bebauan harum yang merangsang hidung, tabu-tahu gadis serba hijau mulus itu telah melayang masuk lagi, Bergegas Giok-liong nyatakan lagi rasa terima kasihnya akan pertolongan jiwanya ini.
"Sudah jangan sungkan-sungkan, luka-Iukamu sungguh sangat parah !"
"Ya, luka-luka cayhe ini bila tidak mendapat pertolongan nona, pasti jiwaku saat ini sudah lama melayang."
"Bukan aku yang mengobati lukamu, adalah nenekku yang mengobati !"
"Ah, kalau begitu besar harapanku bisa menghadap kepada beliau untuk menyatakan banyak terima kasih akan budinya ini."
"Tidak perlu, setelah mengobati lukamu lantas nenek keluar pintu menyambangi salah seorang kenalannya."
"Harap tanya tempat apakah ini?"
"Hwi-hun -san-cheng !"
"Hah ..."
Seketika Giok-liong berdiri kesima seperti kehilangan semangat.
Betapa tenar dan disegani Hwi-hun san-ceng ini dikalangan Kangouw, bagi setiap kaum persilatan tiada seorangpun yang tidak mengetahui akan nama yang cemerlang ini, Hanya tiada seorangpun yang tahu dimanakah sebenarnya letak dari pada Hwi-hun-san ceng ini.
Yang mengepalai Hwi-hun-san cheng atau perkampungan awan terbang ini adalah Hwi hun-chiu (tangan awan terbang) Coh Jian-kun ilmu silatnya tinggi wataknya juga aneh, tokohtokoh dari aliran putih atau hitam srnna segan mencari perkara terhadapnya!
Apalagi selama hidup ini dia paling mengutamakan "kependekaran", banyak kebajikan dari pada kejahatan yang telah dilakukan selama hidupnya ini.
Pula dia tidak suka mencampuri urusan orang lain, maka jarang dia tersangkut dalam perkara rumit yang mengikat dirinya.
Melihat sikap Giok liong yang lucu ini, gadis pakaian hijau itu segera berkata halus.
"Kau jangan takut, ayah dan ibu sekarang tidak berada dirumah, Saat ini akulah yang paling besar berkuasa dirumah ini, seluruh penghuni perkampungan ini tiada yaag berani lerobosan di kediamanku."
Giok liong menggelengkan kepala, katanya.
"Bukan cayhe takut! Harap tanya nama nona yang harum?"
"Aku Coh Ki-sia, ayah ibuku biasa panggil aku Siau sia! Nenek paling sayang padaku, sayang dia sekarang tak berada dirumah "Kalau dia ada pasti kau juga akan suka padanya, Eh, siapakah namamu?"
"Ma Giok-liong"! "Nah, kalau begitu bolehkah aku panggil Liong-koko terhadap kau?"
Dalam berkata-kata ini Coh Ki-sia berjingkrak dan melompat.lompat rnengunjukkan jiwanya yang polos dan lincah, Tapi didalam kelincahannya ini menunjukkan juga keagungan jiwanya.
Cepat-cepat Giok-liong msnyahut .
"Sudah tentu boleh."
"Engkoh Liong, luka-luka badanmu hari itu benar-benar sangat parah, Kebetulan seorang diri aku mengeloyor keluar dan menoIongmu pulang kemari! sungguh begitu melihat keadaan luka-lukamu itu aku kaget setengah mati. Seluruh badan berlumuran darah pula aku tidak berani mengabarkan kepada ayah dan ibuku, terpaksa kulaporkan kepada nenekku. Begitu melihat Potlot emasmu itu tanpa banyak bicara lagi segera nenek turun tangan mengobati lukamu, setelah keadaanmu tidak menguatirkan lagi baru dia tinggal pergi menyambangi kenalannya, sebelum berangkat dikatakannya bahwa beliau suka kepada kau !"
Tergerak hati Giok-liong, tanyanya.
"Apakah peraturai dalam Hwi-hun san-cbeng ini sangat keras?"
"Sudah tentu sangat keras, terutama bila ayahku berada dirumah, lebih garang dan galak dari siapa saja, kadangkadang sikapnya itu sangat menakutkan."
"O, kalau begitu... apakah aku harus menunggu ayah ibumu kembali baru menghaturkan terima kasih?"
"Jangan... Hei, kau hendak pamitan?"
"Ya, sebab ada urusan penting yang mengikat cayhe, tidak boleh aku tinggal terlalu lama disini, Budi pertolongan yang besar ini, biarlah lain waktu saja aku berusaha membayarnya."
Mendengar penjelasannya ini, Coh Ki sia lantas mengunjuk sikap yang kecewa dan tidak senang hati, rada lama dia termenung lalu katanya.
"Engkoh Liong, tunggulah beberapa hari lagi, tunggulah nenekku kembali, baiklah ?"
Suaranya halus penuh nada mengharukan membuat hati Giok liong terketuk tak sampai hati ia berlaku keras. Tak enak rasanya kebaikan hati orang, terpaksa Giok-liong manggut-manggut serta katanya.
"Baiklah, paling larna aku hanya boleh tinggal lima hari lagi."
Bukan kepalang girang Coh Ki-sia sampai berteriak dan berjingkrak-jingkrak.
"Engkoh Liong, sungguh baik benar hatimu !"
Sebaliknya diam diam Giok-liong menghela napas, Talni dia, Siau-sia seorang diri dalam Hwi-hun-san-cheng yang sunyi dan sepi begini, tentu dia merasa kesepian, pikir punya pikir dia lantas bertanya.
"Nona Coh..."
Coh Ki-sia lantas menyenggak perkataannya, ujarnya lincah .
"jangan panggil aku Nona Coh lagi, panggil aku Siau-sia saja!"
"Baik, Siau-sia."
"Hrh."
Coh Ki-sia mengiakan "Didalam perkampungan ini pasti ada banyak kawan yang menemani kau bermain bukan ?"
Rasa masgul dan rawan segera menyelubungi seluruh raut muka Coh Ki-sia, tampak alisnya dikerutkan, katanya sedih.
"Tidak, ayah ibuku melarang aku bertemu dengan orang lain ! Tempo hari ada seorang pemuda yang tidak setampan kau, tapi dia baik hati, pandai bicara lagi, secara, sembunyisembunyi ia datang kemari bermain dengan aku, akhirnya diketahui ayah, dikatakan bahwa dia mempunyai maksud jahat yang lantas di bunuhnya, Karena peristiwa itu aku sampai menangis beberapa hari lamanya ! walaupun aku tidak suka pada dia, tapi tidak seharusnya ayah membunuhnya ! Ai, sungguh kalau dipikirkan sangat menjengkelkan."
"Sudahlah Siau-sia, tujuan ayah ibumu adalah baik untuk kau."
"Baik juga tidak seharusnya begitu, justru nenek mengatakan mereka salah."
"Kenapa nenek tidak mau menegor kepada mereka untuk tidak berbuat demikian ?"
"Nenek tidak cocok dengan ayah ibu sering bertengkar dikatakan bahwa ayah tidak berbakti, maka beliau tidak suka bicara dengan ayah ibu. Engkoh Liong, ayah ibumu tentu sangat baik terhadapmu bukan, mereka mengijinkan kau dolan kemari ..."
Hati Giok-liong menjadi terharu tenggorokan juga lantas sesak, katanya setelah menelan air liur.
"Ya, mereda sangat baik terhadap aku."
"Tapi apakah mereka tidak kwatir kau mengalami bahaya diluaran ?"
Dua titik air mata kontan meleleh dari ujung mata Giokliong.
seumpama dalam keadaan biasa pasti tak semudah itu ia mengalirkan air mata soalnya dia sudah biasa ditimpa segala kemalangan dan penderitaan lahir batin, sehingga lahiriahnya sangat pendiam dan dingin, menjadi gemblengan dalam menahan sabar.
Namun menghadapi gadis remaja seayu bidadari yang lincah gerak geriknya pandai bicara lagi, sulit ia mengendalikan perasaan hatinya lagi.
Begitu melihat Giok-liong mengalirkan air mata, Siau-sia menjadi gelisah dan gugup, pelan-pelan dan halus sekali gerakannya ia mengulurkan sebelah tangannya dengan jarijari yang runcing halus seperti tidak bertulang mengusap air mata yang meleleh di kedua pipi Giok-liong, ujarmu lemah lembut "Engkoh Liong, kenapa kau nangis?
Apakah Ayah ibumu juga tidak baik?"
Pertanyaan lemah lembut yang menusuk sanubari ini lebih menambah kedukaan hati Giok-liong, air mata meleleh semakin deras tak terlahanlan lagi. Keruan Siau sia semakin gugup, katanya bingung.
"Engkoh Liong, Siau sia yang salah membuat kau berduka saja..."
Sambil berkata dengan lembut ia mengelus ngelus rambut Giok-lioag. Giok-liong menahan rasa duka serta menahan akan tangisnya, katanya.
"Maaf, Siau-sia, aku terpengaruh oleh perasaan."
"Tidak menjadi soal, aku tahu kau sedang kunang enak badan,"
Aku sendiri kalau tidak enak badan juga sering nangis. Engkoh Liong, urusan apakah yang membuat hatimu berduka, dapatkah kau ceritakan kepada Siau-sia?"
"Aku ....aku , . , . !"
"Engkoh Liong, kita bicara tentang perihal lain saja?"
Sang waktu terus berjalan, hari berganti hari, tahu-tahu lima hari telah berlalu tanpa terasa, Dalam lima hari ini hubungan Giok-liong dengan Siau sia ada banyak kemajuan yang mengejutkan.
Maklum yang pria tampan dan ganteng, berilmu tinggi pandai sastra lagi, sedang yang perempuan secantik bidadari lincah dan polos pula, Memang agaknya mereka sangat cacok dan merupakan sepasang jodoh yang sudah ditakdirkan Tuhan.
Sayang Giok-liong ditakdirkan pengalaman hidup yang pahit getir serta riwayat hidup yang sengsara!
Dia mempunyai tugas berat menuntut balas dendam kesumat keluarganya serta kepentingan kaum persilatan yang tengah terancam mara bahaya kemusnahan.
Sebaliknya Siau-sia dilarang untuk berdekatan dengan segala orang laki-laki, akibatnya adalah laki-laki itu pasti dibunuh oleh ayahnya.
Tapi selama lima hari ini, mereka berdua menyingkirkan segala pikiran buruk, setiap saat selalu berduaan tak pernah berpisah.
Menjelang magrib pada hari kelima, matahari sudah terbenam diperaduannya, sang putri malam juga sudah memancarkan cahayanya yang redup.
Dipinggir sebuah sungai kecil yang mengalirkan air jernih dalam sebuah hutan kecil, sepasang kekasih tengah duduk berhimpitan berkasih mesra.
Terdengar Siau sia sedang berkata "Engkoh Liong, benar benar kau hendak berangkat?"
"Ya, Siau-sia, sukalah kau memaafkan aku."
"Apa kau tega meninggalkan Siau-sia seorang diri kesunyian disini."
"Siau-sia, keadaan di Kangouw serba unik dan banyak bahayanya, jiwa siapapun sulit dapat terlindung! Apalagi dimana mana banyak tersebar musuh besarku, besar niat mereka hendak membunuh aku!"
"Lalu kenapa kau harus berangkat?"
"Banyak sekali urusan yang harus kuselesaikan."
"Engkoh Liong, jikalau urusanmu sudah selesai, apakah kau datang kembali membawa aku?"
"Tentu, Siau-sia aku pasti kemari lagi."
"Betapapun kau jangan melupakan aku."
"Tidak aku tidak akan melupakan kau."
"Engkoh Liong..."
"Heh, ada apa?"
"Aku...aku cinta kau!"
Habis berkata cepat-cepat ia menundukkan kepala kemalu-maluan dengan selebar wajahnya merah jengah, melirikpun tidak berani.
Giok-liong menghela napas, tangannya diulur mengelus rambut Siau-sia yang panjang halus semampai bak benang sutra, katanya lirih.
"Siau-sia, aku juga mencintai kau tapi..."
"Tapi apa , , , ."
"Tapi bila siapa bermain cinta denganku, hari-hari selanjutnya pasti mengalami penderitaan saja, mungkin aku ini seorang yang bertuan..."
"Engkoh Liong, lekas kau jangan berkata begitu?"
Badan yang padat montok, segera merebahkan diri kedalam pelukan Giok-liong.
Kedua bibirnya yang panas hangat juga segera melumat dan melekat erat sekali pada bibir Giok-liong yang menyambutnya dengan penuh nafsu.
Dunia seakan-akan sudah berhenti berputar.
Dibawah cahaya bulan yang remang-remang itu tampak kedua bayangan manusia itu lama-lama berdekapan dari bayangan terbaur menjadi satu.
Memang lekatan pada sang bibir yang merangsang ini semakin mengaburkan kesadaran mereka berdua.
seakan-akan dunia ini sudah menjadi milik mereka sendiri.
Entah sudah berapa lama mereka mengecap rasa nikmat sebagai manusia hidup dalam alam semesta ini, Tahu-tahu sang waktu sudah berlalu tanpa mereka sadari.
Sekarang sang putri malam sudah doyong kebarat.
Sedang diufuk timur sang sinar surya sudah mulai mengintip dari peraduannya.
Suara bisik bisik dari percakapan mereka berdua terdengar lagi.
"Engkoh Liong, aku cinta padamu."
"Adik Sia, aku cinta kau!"
"Engkoh Liong, aku sudah menyerahkan segala milikku kepadamu, kuharap kau tidak melupakan aku!"
"Benar, adik Sia legakan hatimu! Engkoh Liongmu ini bukan pemuda bangor yang suka ingkar janji! Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk selekasnya menyelesaikan tugasku kembali kesini menjemput kau!."
"Engkoh Liong sungguh aku sangat bahagia! Aku sangat girang!"
"Adik Sia!"
"Hmmmm."
"Kini sudah hari keenam, betapapun aku harus segera berangkat!"
"Baiklah, lekaslah kau berangkat dan cepat kembali supaya aku tidak kwatir dan terlalu mengenang dan mengharap harap kau."
"Baik,"
Berdua mereka berjalan berendeng bergandeng tangan keluar dari rimba.
Kasih mesra yang tidak mengenal batas terpaksa harus bubar mengiringi rasa duka nestapa sebelum berpisah ini, mereka sama-sama menghentikan langkah.
Air mata pelan-pelan mengalir keluar dari kedua biji mata Siau-sia yang bening pudar itu.
"Selamat berpisah Engkoh Liong, jagalah dirimu baik-baik, adik Siamu selama hidup ini selalu akan menantimu..."
Tak tertahan lagi air mata mengalir deras. Pelan-pelan Giok-liong mengecup air maia yang mengalir deras itu, serta katanya tersendat "Adik Sia. selamat berpisah, aku berangkat..."
Memutar tubuh terus lari kencang!
Diatas tanah tersiram setetes air mata yang tak terbendung lagi, tak tertahan lagi Siau sia menangis sesenggukan tapi dia masih kuat melebarkan kedua pandangan matanya serta melambaikan tangan, sampai bayangan Giok-liong sudah menghilang dibalik pinggang gunung sebelah depan sana.
Walaupun perpisahan ini bukan untuk selamanya, namun betapapun rasanya sangat berkesan dan menggetarkan hati, Hidup manusia memang kadang kadang harus dikasihani, baru saja mereka terangkap sebagai suami istri, dalam waktu kilat harus berpisah lagi.
Asmara memang suka mempermainkan orang, betapa kejam dan menyedihkan!
Membawa hati yang penuh duka lara Giok-liong kembangan Leng-hua-toh sekuatnya, besar hasratnya untuk membuang jauh-jauh rasa sedih dan pilu hatinya dibelakang.
Tapi apakah itu mungkin?
Betapapun cepatnya ia berlari perasaan yang mengganjal dalam sanubarinya itu selalu mengintil dibenaknya, membuatnya sedikit tiada kesempatan untuk bernapas!
Tuhan!
semakin lari jarak dengan istri tercinta semakin jauh!
Entah kapan dirinya baru dapat tiba kembali diharibaan kekasihnya yang tercinta, Tak tertahan lagi ia berpaling kebelakang, Namun pohon didepan sana sudah teraling oleh lamping gunung, tak kuasa lagi segera kakinya berlari kencang balik kearah datangnya semula, Asal dapat selintas pandang saja melihatnya, meskipun itu dari jarak yang sangat jauh, hatinya juga akan lega dan terhibur.
Tak lama kemudian ia sudah sampai di-puncak lamping gunung.
jauh didepan hutan yang lebat sana, dibawah cahaya sinar matahari yang memancar terang, tampak sebuah bayangan manusia terbayang dalam pandangannya.
"Oh, Siau-sia kekasihku, kenapa kau masih belum kembali?"
Baru saja Giok liong hendak mementang mulut berteriak!
Tatkala itu agaknya bayangan Siau-sia yang langsing semampai itu juga telah melihat bayangan Giok-liong yang lari balik saking girangnya tampak ia berjingkrak sambil melambaikan tangannya.
Ingin rasanya Giok-liong cepat-cepat berlari balik memeluk Siau-sia.
dalam pelukannya, akan dikatakan bahwa untuk selanjutnya dirinya takkan berpisah lagi!"
Tapi dapatlah kenyataan hidup ini memungkinkan tekadnya ini!
Sekarang sudah saatnya ia harus pergi meninggalkan tempat yang penuh kenangan manis ini karena ia telah melihat bayangannya, Maka sambil menunduk perlahan-lahan ia memutar badan berjalan melenggang turun dari puncak gunung, Tak tertahan agi dua butir air mata menetes membantu jubah panjangnya.
Tiba tiba Giok-liong menghela napas panjang untuk menghilangkan kekesalan hatinya.
Mendongak ketengah udara ia berpekik panjang terus berlari sekencang-kencangnya, Tanpa terasa akhirnya ia tiba dijalan raya, terpaksa ia harus melanjutkan langkah kakinya terus menyusun jalan raya ini menuju kekota.
Tatkala itu meskipun sudah tiba pertengahan musim rontok hawa masih dingin sekali, tapi setelah matahari terbit dan meninggi, terasa hawa mulai panas dan hangat.
Semakin dekat dengan kota terlihat satu dua orang berlalu lalang, tapi mereka memandang kearah Giok-liong dengan sorot pandangan yang aneh.
Sebab pemuda yang gagah ganteng ini hanya mengenakan pakaian jubah luar yang tipis, berjalan seorang diri dengan sikap dingin seolah-olah semua orang dalam dunia ini, semua kejadian dalam alam semesta ini sedikitpun tidak menarik perhatian."
Lama kelamaan orang mulai banyak berlalu lalang ditengah jalan, sudah tentu semakin banyak orang dijalanan yang memandang heran kearahnya, Malah ada yang bisik-bisik membicarakan keanehannya.
Terang dia sebagai pelajar yang lemah, dalam musim yang dingin ini hanya mengenakan jubah pelajar yang tipis serta ikat kepala sutra lagi agaknya sedikit tidak takut akan dingin.
Ditambah expresi wajahnya yang membeku tanpa emosi menambah semua orang bertanyatanya, orang macam apakah pemuda gagah ini!
Dari pembicaraan orang-orang dipinggir jalan itu akhirnya Giok-liong tahu bahwa kota didepan yang terletak dipinggir bukit Tay-soat-san ini bernama kota An-tin.
Demikianlah ia menyusuri jalan raya ini, tak lama kemudian didepannya terlihat tembok-tembok ?eadck dibelakang tembok-tembok ini adalah gubuk-gubuk tembok yang rendah.
Terdengar didalamnya suara manusia yang berbisik.
Kiranya para pedagang yang hilir mudik sangat banyak tiada putusnya.
Waktu Giok-liong memasuki kota An-sum matahari sudah cukup tinggi diatas cakrawaIa.
Mengikuti arus manusia yang berbondong bondong itu, perlahan-lahan Giok-liong memasuki kota terbesar disamping pegunungan Tay-soat san ini.
Baru saja ia habis melewati sebuah jalan raya.
lantas terdengarlah suara masakan dio-tth diatas wajan serta hidung juga dirangsang bau masakan yang sedap, perut Giok-liong lantas keruyukan minta diisi.
Memang sudah beberapa hari ini Giok-liong belum makan.
Apalagi bau masakan sedap dan berat ini selain masa kecil dulu, selanjutnya waktu hidup dalam pengasingan diatas gunung beberapa puluh tahun itu, boleh dikata masakan kampungan saja yang dimakannya, maklum sudah sekian lama dia tidak bergaul dengan khalayak ramai.
Seketika timbul selera makannya, mengikuti datangnya arah bau masakan ia membelok ke jalan tanah sebelah kiri rumah pertama pada jalan ini terlihat diluar pintunya ada tergantung papan nama yang bercat merah bertuliskan hurufhuruf hitam besar bernama "warung daging sapi"
Diluar dugaan pintu warung ini tergantung gordyin tebal yang terbuat dari wool. (Bersambung
Jilid Ke 6)
Jilid 06 Diambang pintu berdiri seorang pelayan yang mengenakan baju tebal terbuat dari kapuk, setiap kali ada orang berjalan, ia membungkuk-bungkuk badan sambil menyilakan orang mampir.
Pelan-pelan Giok-liong maju mendekat.
Pelayan itu segera maju menghampiri sambil berseri tawa, ujarnya.
"Kongcu, hawa sedingin ini bajumu tipis lagi, awas nanti kena pilek! Kongcu warung kita merupakan yang paling terkenal dikota ini dengan masakan yang paling lezat, Keadaan didalam hangat lagi silakan masuk dulu untuk sekedar istirahat ! Nanti setelah sang surya naik tinggi keadaan hawa jaga sudah panas setelah perut kenyang tentu semangat bertambah untuk melakukan perjalanan."
Sambil berkata ia lantas menyingkap gordyin tebal itu menyilahkan tamunya masuk.
Begitu gordyin tersingkap bau harum arak serta masakan segera merangsang hidung hawa hangat juga lantas mengalir keluar menyampok badannya.
Giok-liong sedikit menganggukkan kepala kearah si pelayan terus melangkah masuk, Tepat pada waktu Giok-liong melangkah masuk ini, seseorang bajingan yang berada dipinggir emperan memutar biji matanya terus bergegas lari pergi.
Saat itu meskipun hari masih sangat pagi, tapi orang yang datang kepasaran dikota ini sudah banyak selalu tidak heran dalam warung daging sapi ini sudah penuh sesak dan hiruk pikuk oleh pembicaraan para tamu.
Acuh tak acuh Giok liong mencari tempat kosong, dimintanya seporsi Sop buntut serta arak sepoci kecil, seorang diri ia makan minum dengan tenangnya.
Para tamu yang hadir dalam warung makan ini boleh dikata terdiri dari segala lapisan masyarakat dari kaum yang rendah sampai yang terpelajar juga tidak sedikit para buaya darat berkumpul disini.
Sebuah meja besar yang terletak ditengah ruangan penuh dikerumuni banyak laki-laki bermuka garang dengan jambang lebat tebal serta mata yang mendelik besar, sambil makan minum tak henti-hentinya mulutnya mengoceh panjang pendek ngelantur menerbangkan ludahnya.
Terdengar salah seorang laki-laki kasar yang berusia tiga puluhan duduk di paling tengah membuka mulutnya yang besar sedang bicara.
"Maknya, sungguh ajaib dan mengherankan akhir-akhir ini banyak kejadian aneh yang telah timbul dalam kaum persilatan. Dilihat-naga-naganya, bakal ada lagi adegan seram dan mengejutkan bakal terjadi tak lama ini."
Orang-orang yang berduduk disekitarnya lantas bertanya berbareng.
"Thio toako, coba kau ceritakan untuk kita dengar bersama!"
Melihat banyak orang ketarik oleh obrolannya, giranglah orang itu, telapak tangannya segera menepuk dada, serunya tertawa "He, siapa tidak tahu aku simulut cepat Thio Sam paling lincah mendapat kabar, Kalian jangan kesusu, dengarkan dulu suatu suatu peristiwa yang baru saja terjadi di tempat yang berdekatan ini."
Suasana seketika menjadi sunyi dan tenang, semua orang mementang mata lebar-lebar dan memasang kuping untuk mendengar ceritanya.
Terlebih dulu si mulut cepat Thio Sam menenggak araknya, lalu menggerung batuk-batuk.
ujarnya.
"Belakangan ini dikalangan Kangouw telah muncul seorang pemuda pendekar yang diberi julukan Kim-pit-jan-hun, apakah kalian sudah pernah dengar?"
Serentak para hadirin menyatakan tidak tahu.
"Ha, bicara tentang Kim pit-jan-hun ini orang akan mengkirik ketakutan."
Sampai disini ia menenggak lagi araknya, lalu menyumpit sekerat daging sapi terus dijejalkan kedalam mulutnya, pelan-pelan dikunyahnya.
Para teman-teman yang memenuhi sekeliling meja besar ini rata-rata adalah orang-orang yang kenyang berkelana di kalangan Kangouw, melihat tingkah si mulut cepat yang tengik jual mahal itu, ada diantaranya yang berangasan lantas tercetus bertanya.
"Thio-toako, sudahlah lanjutkan ceritamu, jangan jual mahal apa segala."
"Thio toako, siapakah sebenarnya Kim-pit-jan hun itu?"
Si mulut cepat Thio Sam menenggak seteguk arak lagi, lalu berkecek kecek-kecek mulut, katanya.
"Buat apa gugup, bicara tentang Potlot emas samber nyawa ini. Wah kepandaian silatnya benar-benar bukan olah-olah hebatnya!"
"Bagaimana hebatnya?"
"Coba kalian katakan, selain sembilan perguruan besar yang kenamaan itu, sekarang ini kekuatan siapakah yang paling berpengaruh dikalangan Kangouw?"
"Kim i pang."
"Bukan, kukira Siok li-kan lebih kuat,"
"Salah, yang benar adalah Hiat hong-pang"-Begitulah para hadirin menjadi ribut adu mulut, masing-masing mengukuhi pendapatnya sendiri. Si mulut cepat membentang kedua tangannya seraya mencegah.
"Sudah jangan ribut. Memang dalam dunia persilatan sekarang banyak kumpulan atau organisasi yang saling bermunculan, sudah tentu diantara sekian banyak itu ada beberapa yang berkekuatan besar, tapi yang kumaksudkan dalam ceritaku ini adalah Hiat-hong-pang."
"Hiat-hong-pang kenapa? "
"Sekali ini Hiat-hong-pang dibikin kucar-kacir oleh Potlot mas samber nyawa!"
"Ha, ada kejadian begitu?"
Semua hadirin menjadi tertegun kaget, ini betul betul suatu berita yang mengejutkan siapakah orang yang berani memancing kerusuhan dengan pihak Hiat hong-pang.
Melihat ceritanya ini mengejutkan semua hadirin sampai melongo dan melompong saking heran si mulut cepat Thio Sam semakin takabur, sekilas matanya menyapu pandang keempat penjuru dilihatnya dalam warung-daging sapi ini ada begitu banyak orang yang tengah pasang kuping mendengarkan ceritanya maka semakin semangat ia mengobral ludahnya dengan suaranya yang lebih lantang.
"Bukan saja dibikin kocar kacir, sampai kedua pelindung kanan kirinya juga terbunuh oleh musuh."
Sebenarnya tokoh macam apakah Potlot emas samber nyawa itu? Apakah dia seorang diri yang melakukan semua itu."
"Bukan, dia bergabung dan bekerja sama dengan iblis rudin Siok Kui-tiang, kira-kira tiga puluhan jago-jago silat pihak Hiathong-pang yang dikerahkan hampir dibunuhnya semua, pertempuran yang dahsyat itu, ia, seumpama bumi berguncang langit menjadi gelap darah mengalir seperti sungai, mayat bertumpuk seperti bukit."
"Kejadian yang seram ini tidak perlu dibuat heran. bukankah iblis rudin juga ikut andil dalam pertempuran itu, maka tidak perlu dibuat heran akan hasil ini."
"Hehehe, kau salah lagi. walaupun iblis rudin sangat lihay, tapi bila dia tidak dibantu oleh Potlot emas samber nyawa, mungkin jiwa sendiri sudah melayang ditangan pelindung pihak Hiat-hong-pang!"
"Wah, masa demikian? Kalau begitu pasti kedua pelindung kanan kiri itu juga merupakan tokoh silat yang bukan olaholah kepandaiannya?"
"Sudah tentu, karena mereka adalah murid Lwe-hwe-cun cia yang bersemayam didaerah barat sana."
"Apa? Murid iblis tua itu! Mati ditangan Potlot emas samber nyawa?"
"Ya, malah kematiannya sangat mengerikan."
"Thio-toako, dari mana kau ketahui semua kejadian ini?"
"Seorang sahabat kentalku adalah mata hidung dari perkumpulan itu, dialah yang memberi tahu kepadaku! Menurut katanya Hiat-hong Pang-cu sangat murka, sudah dikeluarkan Hiat-hong ling, mereka akan mengerahkan segala kekuatan dan daya upaya untuk membunuh kedua musuhnya itu!"
"Thio-toako, kau sudah bercerita setengah harian, siapakah sebenarnya tokoh macam Kim-pit-jan-hun ini? Bagaimanakah asal-usulnya?"
"Kalau kukatakan siapa dia pasti kalian tidak mau percaya, Hanya seorang pemuda remaja yang lemah lembut, berwajah cakap berdandan sebagai sastrawan, Mengenakan jubah putih panjang, dengan ikat kepala dari kain sutra, hakikatnya seperti bukan seorang yang pandai bermain silat!"
Bicara sampai disini matanya melihat Giok-liong yang duduk disamping sana, latuas ia main tunjuk kearah Giok-liong serta tambahnya lagi.
"Nah, seperti inilah!"
Serentak sorot pandangan seluruh hadirin dalam warung sapi itu lantas tertuju kearah Giok liong dengan pandangan main selidik, Malah terdengar juga ada orang yang menghela napas serta berkata gegetun.
"Masa betul-betul lemah-lembut demikian?"
Dalam hati Giok-liong merasa geli, batinnya.
"Sudah pasti mereka tengah memperbincangkan aku! Hehehe, Kim-pit jin hun atau Potlot emas samber nyawa, julukan ini bagus juga."
Mendadak terasakan olehnya diantara sorot mata yang memandang kearah dirinya, ada beberapa sorot pandangan yang berkilat dingin seperti kilat menyapu lintas kearah dirinya serta-merta dia lantas siaga dan berlaku cermat, sementara itu, terdengar si mulut cepat Thio Sam tengah menyambung ceritanya.
"Apakah kalian tahu asal-usulnya?"
"Tidak tahu?"
"Coba kalian pikir-pikir dulu, apa yang dinamakan Kim-pitjin-hun?"
"Apa mungkin senjatanya itu merupakan Kim-pit?"
"Bukan musahil dia ada hubungan atau sangkut pautnya dengan Jan-hun cu!"
"Hahaha, benar, tapi juga tidak benar! Memang senjata yang digunakan adalah Kim-Pit (Potlot Emas), Tapi dia tiada sangkut-pautnya dengan Jan-hun-cu!"
"Maka menurut kataku, jikalau dia ada sangkut-pautnya dengan Jan hun cu, wah pasti hebat sekali, tokoh silat nomor satu diseluruh dunia persilatan ini pasti akan diperolehnya."
Seorang jago mendadak menjerit kaget.
"Apa Potlot emas ? Apa bukan Potlot emas milik To-ji Pang Giok itu?"
"Tepat sekali menurut tafsiran analisa yang tepat, pasti dia adalah murid dari To ji Pang Giok."
"Wah, apa benar ? Tidak heran ia mempunyai kepandaian sedemikian tinggi. Apakah dia ada permusuhan dengan pihak Hiat-hong-pang ?"
"Perihal ini aku sendiri tidak begitu jelas, tapi sebelum ini memang Hiat-hong Pang-cu pernah mengeluarkan perintah untuk meringkusnya."
"Siapakah namanya ? Coba katakan supaya menambah pengalaman kita beramai."
"Namanya Ma Giok-liong !"
Bicara sampai disini, tiba-tiba gordyin diluar pintu itu tersingkap, bajingan yang jelilatan diluar emper rumah tadi tampak berjalan masuk.
Segera ada salah seorang yang duduk mengelilingi meja itu berteriak.
"Hai, Ong Bi, marilah duduk disini minum seteguk sambil mengobroI."
Bajingan yang dipanggil Ong Bi itu segera maju mendekat, lalu berbisih dipinggir telinga temannya.
"Awas amat-amatilah bocah disana itu, keadaannya rada menyolok mata."
Walaupun ia berbisik suaranya rendah dan lirih, tapi tak luput dari pendengaran kuping Giok-Iioog yang tajam dan jeli.
Sebaliknya, saat mana Giok-liong sendiri juga menemukan tiga orang yang perlu diambil perhatian ikut bercampur baur diantara sekian banyak tamu tamu yang tengah makan minum sambil mendengar obrolan Thio Sam itu.
Dipojok sebelah sana, duduk seorang laki-laki pertengahan umur berpakain jubah ungu yang agak kumal tengah makan minum seorang diri, jubah panjangnya itu sebetulnya bewarna biru, mungkin karena sering dipakai dan sudah lama sehingga luntur berganti warna, Raut mukanya kelihatan rada kurus tepos dengan expresi yang membeku tanpa emosi.
Kedua biji matanya rada di pejamkan, seolah-olah sudah terpengaruh oleh arak sehingga agak mabuk tapi juga seperti terpulas ditempat duduknya.
Namun dalam pandangan Giok-liong meskipun dia tengah memejamkan mata tapi masih tak luput memancarkan sorot pandangan yang tajam dingin.
Selain itu, dipinggir sebelah kiri duduk seorang pemuda berpakaian serba kuning, sambil angkat poci dan mangkuk araknya, terlongong-longong memandang keluar jendela.
Tapi lapat-lapat terdengar ia tengah mengejek memperdengarkan tawa dingin.
Tidak jauh dibelakang laki-laki pertengahan umur berpakaian kucal itu dipojokan yang agak gelap, duduk tenang seorang tua aneh yang berambut putih ubanan, bermuka panjang mengenakan kain kasaran warna merah.
Lain sekali sikap orang tua ini, duduk tanpa bergerak, kadang kadang saja angkat sumpitnya menyumpit sayur dan daging dari mangkuk dihadapannya terus dijejalkan kedalam mulutnya, tapi gerak geriknya ini juga tampak sangat kaku, setelah lebih diamati baru diketahui bahwa lengan baju sebelah kanan serta celana panjang sebelah kirinya kosong melambai.
Terang kalau lengan kanan serta kaki kirinya itu telah kutung nienjadi cacat.
Hakikatnya ia tidak ambil peduli segela sesuatu yang terjadi dalam warung makan ini, Sejak Giok-Iiong datang tadi siangsiang ia sudah duduk disitu, malah gaya duduknya juga terus begitu tanpa berganti atau beringsut.
Melihat keadaan tiga orang yang berlainan ini, Giok-Iiong menjadi mengerutkan kening, Dilihat keadaan mereka naganaganya kepandaian ketiga orang ini pasti luar biasa dibanding tokoh tokoh silat kalangan Kangouw umumnya.
Kalau tafsirannya ini tepat, kepandaian si orang tua cacat itu adalah yang paling tinggi, bukan mustahil sudah mencapai kesempurnaannya, sedang pemuda berpakaian kuning itu mungkin rada rendah sedikit.
Sedang pelajar pertengahan umur itu adalah yang paling rendah.
Tengah Giok-liong berpikir-pikir ini, tiba-tiba terdengar derap langkah kuda yang ribut dan cepat sekali diselingi suara keliningan berbunyi tengah mendatangi dari jauh.
Sampai didepan warung makan itu segera kuda disentakkan berhenti sehingga berjingkrak berdiri dan bebenger keras sekali, suara keliningan terdengar semakin keras dan ribut.
Maka dilain saat begitu gordyin besar didepan pintu itu tersingkap, seorang gadis remaja yang mengenakan pakaian warna un^i dengan rumpi-rumpi panjang berjalan seperti melayang memasuki ruangan warung seketika hilang semua orang dirangsang oleh bebauan yang harum semerbak.
Dimana sepasang matanya yang jeli mengerling, dengan pinggang bergoyang gontai, dia tudah memilih sebuah tempat kosong terus berjalan kearah pintu.
Salah seorang laki-laki dimeja tengah itu seketika membelalakkan kedua matanya terus mengikuti pandangan yang memikat hati ini.
Waktu si gadis remaja ini lewat dipingtir meja ada seorang laki-laki kasar bertubuh tinggi kekar berdiri seraya bersiul ujarnya.
"Wah gadis ayu rupawan, tuan..."
Belum habis perkataannya tiba tiba terdengar suara "Plakplok"
Yang nyaring disertai gerungan kesakitan si laki-laki tinggi besar itu, badannya juga lantas roboh terbanting diatas meja besar itu sehingga mangkuk piring serta sayur mayurnya pecah berantakan terlihat dari tujuh lobang indranya melelehkan darah segar, nyata jiwanya sudah melayang.
Semua hadirin kurang jelas apakah gadis berpakaian ungu ini ada turun tangan tidak, Sebab tatkala itu juga ia sudah sampai ditempat kosong terus duduk seenaknya, suaranya terdengar merdu seperti suara kelintingan memanggil pelayan memesan masakan, Sudah tentu para laki-laki yang mengelilingi meja besar itu menjadi gaduh dan ribut.
Sekonyong-konyong terdengar suara jengek tertawa dingin seseorang, Waktu semua orang memandang kearah datangnya suara tawa dingin ini tampak laki-laki pertengahan umur berpakaian seperti pelajar rudin itu telah mengunyah daging sapi dimulutnya, sedang tawa dingin tadi justru keluar dari mulutnya.
Para bajingan-bajingan kasar yang mengelilingi meja itu terang tidak melihat sigadis turun tangan, sedang kejadian ini terjadi begitu cepat dan mendadak terdengar pelaiar rudin pertengahan umur ini memperdengarkan suara jengeknya, segera seorang mereka tertegun sejenak mendadak tengah laki-laki tromok yang beralis tebal bermata juling lantas melolos golok, bajunya dan punggung terus memaki garang.
"Maknya, coba tertawa lagi, biar tuanmu ini ..."
"Siuuuut"
Terdengar angin keras menyamber lantas terdengar lagi Jeblus"
Disusul suara gaduh lagi akan terbantingnya sesuatu benda yang berat diatas tanah, Kiranya laki-laki tromok itu sudah terjungkal roboh dengan badan meringkik tanpa bergerak lagi, jiwanya melayang, sebatang sumpit yang berlepotan darah melesat masuk kedalam dadanya terus tembus sampai dipunggungnya menancap diatas meja tinggal separo yang muncul di permukaan.
Suara dingin kaku di pelajar rudin itu terdengar berkata pada pelayan.
"Pelayan ambilkan sebatang sumpit kemari!"
Keadaan dalam warung makan kini menjadi gempar dengan adanya keonaran ini.
Bagi yang bernyali kecil segera angkat langkah seribu.
Sebaliknya rombongan para bajingan yang mengelilingi meja besar itu menjadi insaf bahwa mereka sekarang tengah menghadapi musuh kosen, serentak mereka mencabut senjata masing-masing siap bersiaga, lalu perlahan-lahan menggeser keluar pintu.
Begitu tiba diluar serempak mereka berteriak terus berlari kencang sipat kuping seperti di kejar setan.
Pemilik warung makan itu juga entah sudah sembunyi dimana, peristiwa ini terjadi begitu cepat, perubahan yang mendadak ini menjadikan warung makan yang tadi penuh sesak dan hiruk pikuk sekarang menjadi sepi lengang, selain kedua sosok mayat itu tinggal lagi lima orang yang masih duduk tenang dalam warung itu.
Mereka tengah asyik menikmati hidangan di meja mereka masing masing.
Tapi walaupun suasana sunyi tapi tertampak suatu ketegangan yang mencekam hati, Diam-diam Giok liong harus berpikir.
"Lebih baik aku juga segera tinggal pergi. Nagataganya bakal terjadi perkara lagi di-sini."
Baru saja ia hendak berbangkit dan tinggal pergi, diluar pintu sana tiba-tiba terdengar suara ribut yang mendatangi "Nah, lihat Say-bun-siang dan Siau cu-koh telah tiba."
"Heran mengapa mereka juga bisa datang kemari.. .."
"Sungguh kebetulan mereka dapat bersama muncul ditempat ini."
Hati kecil Giok-liong sendiri juga rada tergetar.
Maklum bahwa Say-bun siang Lip Jin-kiong dan Siau-cu-koh Pui Gi adalah pendekar kenamaan nomor satu dari dunia persilatan yang berkedudukan di utara dan selatan sungai besar, berapa tinggi kepandaian mereka tiada seorangpun yang mengetahui seluk-beluknya.
Sesuai dengan nama julukannya sebagai pendekar selama hidup ini perbuatan mereka mengutamakan kebijaksanaan dan menjunjung tinggi kebenaran, bijak pada sesama umat manusia, suka melerai dan menyelesaikan setiap perkara besar atau kecil dengan adil.
Setiap kali terjadi pertikaian asal salah satu diantara mereka turun tangan pasti beres.
Hari ini sungguh mengherankan mereka berdua ternyata bisa bersama datang ditempat perbatasan yang masih rada liar ini.
Tatkala itulah, begitu gordyin besar itu tersingkap beriring berjalan masuk dua orang.
Orang yang sebelah kiri berbadan tinggi besar rada gemuk, mengenakan pakaian sebagai seorang hartawan yang kaya raya dengan sebuah huruf "Siu"
Yang besar tersulam indah dijubah panjang yang mewah itu.
Orang yang disebelah kanan mengenakan jubah panjang warna hijau, tangannya memegang kipas sambil digoyanggoyangkan, wajahnya bersih dan ganteng, badannya rada pendek dibanding temannya yang disebelah kiri, tapi dia sendiri mempunyai suatu sikap dan pembawaan yang lain dari yang lain.
Selayang pandang saja lantas dapat dimengerti bahwa orang tinggi besar disebelah kiri itu pasti Say-bun-siang Lip Jin-kiong seketika tergetar hati Giok-liong, agaknya pernah dilihatnya orang ini, tapi entah dimana, Tapi setelah diamatamati lebih cermat terasa rada asing dan agaknya memang belum pernah bertemu muka sebelum itu.
Pait-m pada itu, begitu mereka memasuki ruang warung makan ini, agaknya mereka rada terkejut Sebab kelima orang yang duduk tenang dimeja masing-masing, tiada seorangpun yang berdiri menyambut kedatangan mereka atau sekedar sapa sapa juga tidak.
Akan tetapi, cepat sekali mereka berdua lantas dapat mengendalikan diri, Terdengar Say-bun siang Lip Jin kiong tertawa terbahak bahak, langsung menghampiri kearah si orang tua cacat itu dengan langkah lebar, begitu tiba dihadapannya lantas membungkuk diri mengangkat tangan memberi hormat sembari katanya.
"Sa-locian-pwe tidak mengecap kesenangan hidup tua digurun utara, ternyata berkecimpung lagi di kalangan Kangouw, ini benar benar merupakan keberuntungan dunia persilatan umumnya."
Begitu mendengar perkataan orang baru Giok-liong terkejut dan teringat olehnya akan seseorang, Tidak perlu disangkal lagi bahwa si orang tua bermuka panjang ini pasti adalah Bokpak it-jan Sa Ko yang dulu sejajar dan setingkat dengan gurunya dalam Ih-lwe-su cun, sungguh tidak diduga iblis kawakan pada ratusan tahun yang lalu kiranya sekarang muncul lagi didunia persilatan ini, benar-benar membuat orang serba sulit untuk memikirkannya.
Tanpa berkedip mata sedikitpun Bo pak-it-jan Sa Ko menyahut dingin.
"Bocah siapa kau ? Berani kau mengurusi aku orang tua ini ?"
Kembali Say-bun-siang Lip Jin-kiong tertawa lebar, sahutnya.
"walaupun Lo cianpwe tidak kenal aku yang rendah, tapi aku yang rendah sudah lama mengagumi kau orang tua, Sungguh tidak nyana hari ini kita bisa bertemu ditempat ini, betul betul merupakan keberuntunganku selama hidup ini."
Sementara Say-bun-siang Lip Jin kiong tengah bertanya jawab dengan Bo-pak-it-jan disebelah sana Siau cu-koh Pui Gi juga telah menghampiri pelajar rudin pertengahan umur itu, sedikit angkat tangan memberi hormat ia berkata tersenyum.
"Tidak nyana ternyata saudara Pek juga sudah sampai ditempat belukar yang liar ini ?"
Pelajar pertengahan umur ini ternyata bukan lain adalah seorang tokoh aneh di-kalangan Kangouw yang telah menggetarkan dunia persilatan dengan julukannya Ham-kang it-ha Pek Su-in.
Tahu dirinya yang dijadikan sasaran pertanyaan itu, ia menjengek dingin, sahutnya.
"Tuan sendiri boleh datang masa aku yang rendah lantas tidak bisa kemari ?"
Siau-cu koh Pui Gi rada tercengang akan sambutan yang dingin ini, tapi sebentar saja ia lantas unjuk senyum lebar lagi, katanya.
"Ucapan saudara Pek ini rada keterlaluan sedikit, siaute hanya sedikit heran, mengapa saudara Pek tidak mengecap hidup senang di atas pulau Pek hun-to, sebaliknya datang di-perbatasan yang belukar dan liar ini."
Ham-kang it bo mendengus hina, sahutnya menyeringai.
"Aku maklum akan ucapan tuan yang mengandung arti itu, sudahlah jangan banyak cerewet lagi."
Lalu diangkatnya poci arak terus ditenggaknya sambil ber kecek-kecek mulut, hakikatnya sedikitpun ia tidak hiraukan lagi akan kehadiran Siau -cu-koh Pui Gi.
Dari samping dengan teliti Giok-liong awasi terus adegan yang terjadi ini, hatinya menjadi gundah dan tidak tentram tak tahu dn apa yang bakal terjadi nanti.
Seketika suasana dalam warung makan ini menjadi serba runyam dan lucu, Tidak heran karena Say-bun-siang dan Siaucu-koh berdua biasanya sangat dijunjung tinggi sebagai pendekar yang kenamaan dikalangan Kangouw.
Tak nyana hari ini mereka bisa berbareng berkunjung ketempat sepi ini bersamaan menghadapi sikap kaku dan ketus dari orang yang diajak bicara, setelah saling pandang memandang, mereka hanya bisa tertawa getir terus angkat tangan serta sedikit membungkuk badan seraya katanya.
"Baiklah kami yang rendah minta diri saja."
Tiada seorangpun hadirin yang memperdulikan mereka lagi.
Tapi lain halnya penerimaan Giok-liong, diam-diam bercekat hatinya.
Karena sebelum beranjak pergi tadi mereka berdua menyapu pandang sekilas kearah Giok-liong.
Terasakan oleh Giok liong bahwa sorot pandangan mereka mengandung arti yang harus dijajaki, seolah-olah mereka ingin dirinya ikut mereka meninggalkan tempat ini.
Begitulah setelah memberi hormat sekedarnya, mereka berdua lantas menyengkap gordyin terus mengundurkan diri keluar pintu.
Sedikit ragu lantas Giok liong ambil ketetapan hati, bergegas ia berdiri hendak meninggalkan warung makan ini.
Namun sebelum kakinya melangkah keluar pintu terdengarlah dengusan dingin dibelakangnya disusul suara merdu nyaring terkiang dipinggir telinganya.
"Ma Giok-liong..."
Begitu mendengar ada orang memanggil namanya, kontan Giok-liong berhenti terus berpaling kebelakang, sahutnya.
"Siapa panggil aku?"
Lantas terlihat gadis rupawan berpakaian ungu itu tersenyum manis kearahnya serta katanya.
"Betulkah kau ini Ma Giok-liong? Akulah yang panggil kau"
Sementara waktu Giok-liong melongo dan terheran heran dibuatnya, ujarnya.
"Aku dan kau selama ini belum pernah berkenalan ..."
Waktu ia angkat bicara ini terasa olehnya berbagai sorot pandangan dingin laksana kilat tertuju kearah dirinya, Serta merta ia merandek bicara, lalu menyapu pandang keempat penjuru, Terlihat olehnya tiga orang lain yang hadir dalam warung makan itu tengah memusatkan perhatiannya kearah dirinya.
Gadis rupawan berpakaian ungu itu menampilkan senyum manis lagi, ujarnya.
"Meskipun kau belum kenal aku, tapi aku sudah tahu siapa kau."
"Aku ada urusan yang hendak kukatakan kepadanya, tiada halangannya kau ikut aku kemari ..."
Tanpa menanti jawaban Gick-liong sudi atau tidak ikut dia, dengan langkah lemah gemulai langsung ia berjalan keluar.
Tadi Giok liong sudah melihat bagaimana telengas cara nona muda ini turun tangan kepada para bajingan yang usil mulut itu, tahu dia bahwa nona lembut ini juga pasti bukan sembarang tokoh silat biasa.
Tapi bagaimana juga ia tidak mengerti cara bagaimana gadis rupawan ini bisa mengenal akan namanya.
sebetulnya ini soal sepele, betapa cepat kabar yang tersiar di kalangan Kangouw berpuluh kali lebih cepat dari rambatan api yang membakar ladang belalang, sebagian besar kaum persilatan hampir seluruhnya sudah mengetahui akan munculnya seorang tokoh muda yang berjuluk Poilot emas sumber nyawa, pendekar gagah murid To-ji Pang Giok yang sangat kenamaan dan disegani pada masa-masa yang silang sebagai tokoh nomer satu dari Ih-lwe-su-cun.
Bagi angkatan yang lebih tua banyak orang mengetahui bahwa benda pusaka seruling samber nyawa peninggalan Janhun cu dulu sudah terjatuh ditangan To ji Pang Giok.
Betapapun susah payah ke!ayak ramai ingin merebut seruling ampuh itu, toh mereka tidak dapat menemukan jejak Pang Giok yang sesungguhnya.
Sekarang bertepatan dengan bakal terjadi keonaran besar yang membahayakan ketentraman hidup kaum persilatan bermunculan pulalah para iblis durjana yang jahat serta telengas itu.
Untung pula muncullah Kim-pit-jan-hun (potlot emas samber nyawa) Ma Giok-liong.
Bukankah gampang saja bagi para takoh-tokoh angkatan tua yang mengetahui duduk persoalan yang tersembunyi itu mengutus kaki tangannya untuk menyirapi kebenaran serta jejak seruling yang ampuh mandraguna itu.
Hanya Ma Giok-liong seorang yang masih diketahui karena pengalamannya yang kurang luas serta kurang dapat berpikir panjang secara mendalam.
BegituIah dengan cepat otaknya berputar, akhirnya ia ambil putusan.
"Terlalu lama aku berdiam ditempat ini pasti tidak menguntungkan jiwaku. Terpaksa aku harus ikut dulu nona ini meninggalkan tempat ini, untuk menentukan langkah selanjutnya."
Karena pikirannya imi, segera ia merogoh pecahan uang perak terus ditaruh diatas meja, memutar tubuh lantas hendak tinggal pergi. Sebuah suara dingin berkata.
"Kau tetap tinggal disitu!"
Kiranya Han-kang-it-ho Pek Su-in buka suara. Dingin-dingin saja Giok-liong memandang sekilas, dalam hati ia mengumpat dengan gusar.
"Orang-orang disini mengapa rata-rata tidak tahu sopan santun dan aturan."
Karena berpikir demikian, ia mandah mendengus hidung terus angkat langkah mengikuti gadis rupawan berpakaian ungu itu menuju ke luar pintu. Ham-kang-it-ho menjadi dongkol, dampratnya.
"Bocah ini terlalu takabur, Hm!"
Seiring dengan gerungannya ini, jari tengahnya sedikit diselentingkan, kontan selarik angin keras yang bersuit nyaring melesat mengarah punggung Giok liong, Giok-liong menjadi pusar, baru saja ia hendak membalik badan.
Tahu-tahu terasa angin berkesiur membawa bau harum disusul bayangan ungu berkelebat suara gadis berpakaian ungu itu telah berkata disampingnya.
"Pek Su in, berani kau bertingkah!"
Jari-jarinya yang halus juga sedikit diangkat kesiur angin kencang itu lantas lenyap sirna berganti suara "blang"
Yang keras, kekuatan selentikan jari kedua belah pihak beradu ditengah jalan dan sama-sama hilang tanpa bekas.
Wajah Ham-kang-it-hi Pek Su-in yang pucat dingin itu sedikit mengunjuk rasa kejut, tapi hanya sebentar saja lantas kembali seperti semula, tanyanya dingin.
"Ci hu-sin-kim itu apamu ?"
Gadis berpakaian ungu tersenyum simpul, sahutnya.
"Kau belum berharga menanyakan."
Setiap kali berkata suaranya terdengar nyaring merdu dan lemah lembut, tapi arti katanya cukup membuat Ham-kang it-ho menjadi malu dan serba runyam saking gemesnya air mukanya menjadi kaku, geramnya.
"Budak, yang bermulut tajam ..."
Merah jengah kedua pipi gadis berpakaian ungu itu, sahutnya tertawa.
"Kalau kau tidak terima, baiklah nanti tengah malam kita bertemu di Thiang-sun-po, sepuluh li diselatan kota ini,"
Setelah itu ia berpaling kearah Giok-iiong sambil tersenyum, katanya.
"Mari kita pergi."
Saking gusar wajah Ham-kang-it-ko sampai mengunjuk nafsu membunuh, sebelah tangannya menekan pinggir meja, sahutnya menyeringai.
"Tepat pada waktunya pasti aku orang she Pek akan memenuhi harapan nona."
"cras"
Pinggir meja itu hancur menjadi bubuk tertekan oleh tenaganya yang dahsyat sampai berhamburan di lantai. Lalu ia melotot kearah Giok-Iiong serta tantangnya.
"Buyung, nanti malam kau juga harus datang."
Rasa dongkol hati Giok-liong masih belum lenyap, diapun tidak mau kalah garang sahutnya temberang.
"Tuan mudamu senantiasa akan mengiringi kau"
Sambil berkata sengaja atau tidak sekilas ia memandang kearah pemuda berbaju kuning yang duduk dipinggir jendela itu.
Terlihat olehnya pemuda baju kuning itu sedikit manggut kepadanya, sebetulnya memang Giok-liong merasa simpatik terhadap pemuda ini, iapun belas sedikit manggut sambil tersenyum.
Saat itulah Bo-pak it-jan yang sejak tadi duduk mematung tanpa bergerak itu mendadak membalikkan sepasang matanya yang aneh, sorot gusar yang meluncurkan kilat tajam dari kedua matanya itu, ia meIingking tajam.
"Anak jadah she Ma lekas kemari mengharap Lohu."
Sejenak Giok-liong tercengang, namun dilain saat segera ia membungkuk memberi hormat, sapanya.
"Adakah petunjuk apa-apa dan Lo-cian-pwe ?"
Mendadak Bo-pak-it-jan Sa Ko terkekeh-kekeh aneh, serunya.
"Kau tidak boleh pergi."
Sekarang Giok-liong sudah paham dan isyaf apa yang bakal terjadi dalam warung makan ini, maka hatinya menjadi sedikit tabah, namun tak urung tercetus juga pertanyaannya.
"Kenapa ?"
"Sebab Lohu tidak mengijinkan kau pergi !"
"Jikalau Wanpwe harus segera pergi bagaimana ?"
"Heheheheheeeeeh! Kccuaii kb,u sudah tidak ingin hidup!"
"Kalau begitu Wanpwe harus segera pergi."
Mendadak gadis berbaju ungu itu tertawa nyaring, telunjuknya yang runcing dan halus putih ifu menunjuk kearah Bo-pak-it-jan, serunya lantang.
"Sa Ko, kalau lain orang takut kepadamu. Aku Ci-hu giok-li tidak mempan akan gertakanmu itu."
Bo-pak-it-jan (sicacat dari gurun utara) Sa Ko membelalakkan kedua biji matanya yang aneh itu, serunya setelah bergelak tertawa.
"Mengandal kau budak kecil yang masih berbau bawang juga berani mengeluarkan kata sombong? Hehehe, betapa juga Lohu hari ini harus menahan buyung she Ma ini!"
Sikap Ci hu-giok-li tetap tenang serta katanya lagi tertawa.
"Sebaliknya aku tidak ijinkan kau menahan dia."
Tatkala itulah pemuda baju kuning yang cakap ganteng itu perlahan-lahan bangkit berdiri serta ujarnya lemah lembut.
"Lo cian-pwe hendak menahan orang, sedang baju ungu ini hendak melepas orang! Lantas bagaimana pendapat Ma kongcu sendiri."
Ham-kang-it-ho (bangau tunggal dari sungai Ham) berdiri sambil menjengek dingin timbrungnya.
"Lebih baik kita bsramai bertemu di Tiang-sun po pada lengah malam nanti."
Si cacat dari gurun utara segera mendengus, katanya.
"Baiklah, jikalau siapa diantara kalian tidak datang tepat pada waktunya, cepat atau lambat pasti Lohu akan puntir batang lehernya sampai mampus.". sorot pandangannya setajam ujung pedang menatap setiap hadirin dengan ancaman yang serius, teristimewa ia tatap wajah Giok-liong dengan lekat! "Marilah kita berangkat."
Tambahnya kepada Giok-liong sambil mengerling penuh arti.
Tanpa bersuara segera Giok-liong mengintil di belakang terus keluar dari warung makan itu, Diiuar pintu banyak orang tengah merubung datang mengintip ingin melihat keramaian, tapi mereka tidak berani maju mendekat.
Maka begitu melihat mereka berdua berjalan keluar segera mereka berlari bubar keempat penjuru.
Tapi cukup hanya selayang pandang saja lantas dapat diketahui oleh Giok -liong bahwa diantara sekian banyak orang menonton itu ada beberapa pasang mata berkilat yang berkelebat diantara mereka, waktu ditegasi lagi, pandangan berkilat itu sudah menghilang tercampur baur diantara sekian banyak orang yang berlari bubar itu.
Selanjutnya pemuda baju kuning, Ham-kang-it-ho dan Bo-Pak-it-jan juga berkelebat keluar, sekejap mata saja bayangan mereka sudah menghilang entah kemana.
Hanya pemuda baju kuning itulah sebelum pergi menampilkan sorot pandangan penuh prihatin kearah Giokliong, sayang Giok-liong tidak tahu akan hal ini.
Sementara itu Ci-hu-giok-li berpaling ke arah Giok-liong.
Serta katanya.
"Marilah kita cari penginapan untuk istirahat dulu!"
Dengan heran Giok liong tatap wajah orang, balas tanya, Bukankah nona ada urusan penting yang minta aku ikut untuk menyelesaikan?"
Ci-hu-giok-li tersenyum memikat, ujarnya "Memang biarlah nanti seteleh sampai di penginapan baru kita rundingkan lagi."
Bergegas ia berlari kesamping rumah untuk menuntun kuda tunggangannya itu.
Baru sekarang Giok-liong melihat tegas, bukan saja kuda tunggangannya ini tinggi besar dan gagah sekali, bulunya memutih bersemu ungu, benar benar merupakan seekor kuda jempolan yang jarang ada.
Dibawah lehernya tergantung sebuah kelintingan warna ungu, juga entah terbuat dari benda apa, seiring dengan goyang gontai kepala kuda berbunyilah keliningan itu nyaring.
Melihat Giok liong terlongong memandangi kuda tunggangannya, Ci hu-giok-li menjadi geli, katanya Iambat.
"inilah Ci-liong-ki yang khusus dipilihkan oleh ayah untukku. Namamu yaitu Ci-liong ( naga ungu). Kekuatannya memang hebat, sehari dapat menempuh seribu li, kalau malam dapat berlari sejauh delapan ratus li. Benar-benar seekor kuda yang jempol."
Tahu bahwa dirinya dipuji oleh majikannya, sang kuda segera angkat kepala manggut-manggut saking girang sorot matanya mengunjuk rasa gembira.
Begitulah sambil berjalan berendeng mereka menyusuri jalan raya sehingga menimbulkan perhatian orang disepanjang jalan.
Sungguh harus dipuji sikap Ci-hu-giok-li yang tetap riang dan wajar tanpa malu-malu suaranya tetap nyaring tanpa ragu-ragu atau rikuh.
Tidak berapa jauh mereka maju ke depan tibalah mereka didepan sebuah penginapan yang cukup besar.
Langsung mereka minta disediakan umpan yang terbaik bagi kudanya, lalu langsung mereka memasuki kamar.
Baru saja duduk, lantas Giok-liong tidak sabaran lagi bertanya.
"Ada urusan apakah yang hendak nona rundingkan dengan aku yang rendah?"
"Aku bernama Kiong Ling ling, selanjutnya kau panggil aku Ling-ling saja."
"Oh, ya, Nona Kiong ada urusan apa"
Kiong Ling-ling membanting kaki, katanya cemberut.
"Kau ini bagaimana, apa tadi yang telah kukatakan?"
"Nona mengatakan bahwa aku yang rendah boleh panggil nona Ling-ling saja."
"Sudahlah, jika kau ingin tahu apa yang hendak kukatakan, untuk selanjutnya tidak perlu lagi menggunakan istilah nona atau noni apa segala."
Giok liong menjadi uring-uringan, batinnya.
"Waa, lucu bin ajaib. Terang kau sendiri yang minta aku ikut kemari, katanya ada urusan yang minta bantuanku untuk menyelesaikannya, Akibatnya sekarang menggunakan alasan ini untuk mengancam aku..."
Tapi begitu melihat sikap Kiong Ling-ling yang polos serta lincah jenaka itu, hatinya menjadi lemas, katanya.
"Baik, baik, Ling ling ada urusan apa yang hendak kau katakan kepadaku?"
Mendengar orang betul-betul patuh akan permintaannya memanggil singkat namanya betapa girang dan terasa syuur hatinya, wajahnya nan ayu jelita bak bunga mekar di-musim semi tersimpuI oleh senyuman manis yang memikat hati, sahutnya dengan lambat-lambat .
"Sebetulnya ..."
"Sebetulnya ada apa ?"
"Sebetulnya kedatanganku ini berusaha merebut suatu benda milikmu."
Giok liong berjiigkrak kaget, serunya tak tertahan.
"Barangku apa yang hendak kau rebut ?"
Air muka Kiong Ling-Iing mengunjuk rasa kikuk dan serba salah, sahutnya tertawa dibuat-buat.
"Aku hendak merebut Jan-hun-ti milikmu itu."
"Apa ? Dari mana kau dapat tahu kalau aku memiliki Seruling samber nyawa?"
"Aku hanya dengar kabar tersiar dikalangan Kangouw."
"Bagaiamana mereka bisa tahu ?"
"Sudah tentu mereka tidak tahu, yang terang mereka hanya tahu bahwa kau adalah murid penutup dari Pang-locianpwe, Maka ayahku berani memastikan bahwa seruling samber nyawa itu pasti berada diatas badanmu."
"0h, menurut analisa mu ini, terang kalau Bo-pak-it-jan serta yvitu laii-it-ho itu juga berniat hendak merebut seruling samber nyawa itu ?"
"Hal ini ...sudah tentu ada kemungkinan itu ! Tapi sekarang mereka takkan berhasil."
"Kenapa ?"
"Sebab aku akan membantu kau."
"Lho, kenapa kau hendak bantu aku ?"
"Aku ... apa jelek kalau orang membantu kau, untuk apa kau nyerocos bertanya."
"Tidak aku harus mengetahui apa alasannya !"
"Tidak ada alasan dan tidak perlu alasan, aku senang berbuat begitu."
"Benar-benar kau tidak ingin merebutnya ?"
"Tepat, aku tidak akan rnerebutnya lagi."
Untuk sementara waktu masing-masing tenggelam dalam renungan masing-masing. Saban-saban Ling-ling melirik mesra kearah Giok liong. Akhirnya Giok-liong buka suara lagi.
"Ling ling, lebih baik kau tidak usah membantu aku."
"Sudahlah tidak perlu dipersoalkan lagi, kau harus segera istirahat, nanti malam mungkin kita harus menghadapi sebuah pertempuran dahsyat."
"Baiklah, kau juga perlu istirahat,"
Lalu ia pamitan kembali kekamarnya sendiri.
Tengah malam telah tiba, seluruh alam semesta ini dilingkupi kegelapan, tiada bintang tiada sinar rembulan udara mendung dan hawa dingin, Saat begini orang-orang banyak yang meringkuk diatas ranjang tidur mendengkur dengan nyenyaknya.
Tian-sun-po yang terletak sepuluh Ii di-sebelah kota An-sun biasanya merupakan tempat semak belukar yang jarang diinjak kaki manusia, lebih seram keadaan malam ini yang sunyi serta dilengkapi hawa membunuh yang menghantui sanubari sedap manusia yang hadir.
Benar benar menggiriskan.
Didepan sebuah hutan gelap yang terletak di Tiang-sun-po itu, mendadak muncul seorang berkedok yang mengenakan pakaian serba hitam, dimana tangannya diangkat bertepuk empat kali.
Suara tepukan tangan yang nyaring ini memecah kesunyian alam sekelilingnya.
Seketika itu juga dari dalam hutan melesat keluar dua orang berkedok yang mengenakan seragam hitam pula, langsung mereka maju menghadap terus membungkuk memberi hormat serta katanya lirih tertahan.
"Bala bantuan yang diandalkan dari kumpulan kita sudah lengkap scmua, adakah petunjuk Tong cu, selanjutnya?"
"Bagainjana dengan saudara dari Kim i-pang?"
"Mereka sudah dipencar keempat penjuru."
Sekonyong-konyong sebuah bayangan kuning mas berkelebat seorang laki-laki perte ngahan umur yang mengenakan baju serba kuning mas berkilau melompat keluar dari belakang batu besar disemak belukar sana, laksana anak panah cepatnya tahu-tahu sudah meluncur datang ditengah gelanggang, sedikit tersenyum lantas katanya.
"Malam ini sedapat mungkin kita harus mengerahkan segala tenaga dan daya upaya."
Orang berkedok hitam manggut-manggut sahutnya.
"Hiathong dan Kim-i menjadi satu seumpama saudara kandung, malam ini untuk pertama kali kita bergabung beroperasi besar harapan bisa mendapat sukses."
"Para Pang-cu kita segera akan tiba, perintahkan kepada semua anak buahmu untuk tidak usah keluar menyambut dan jangan lupa suruh mereka sembunyi yang rapi, jangan terlalu dekat dengan gelanggang pertempuran. Sebab tokoh-tokoh yang datang dalam ini berkepandaian cukup tinggi, jikalau sembunyi kita sudah kenangan sebelum bergerak, pasti gatal total seluruh rencana kita,"
Kedua orang berkedok itu berbareng mengiakan.
"Awas dan ingat, sebelum Kim ding-ling dan Hiat hong-ling dilepas bersama, siapapun dilarang mengunjukkan diri! Tahu? Baik, kembalilan ke tempat masing-masing."
Sinar kuning mas dan bayangan hitam berkelebat, serentak ketiga orang itu melesat hilang di kegelapan.
Tidak berselang lama, jauh di pinggir hutan di lereng gunung sana, dua bayangan sinar kuning keemasan dan sebuah bayangan hitam meluncur datang cepat sekali terus melambung tinggi menghilang didalam hutan.
Alam sekitarnya kembali menjadi sunyi lengang, siapapun takkan menduga bahwa dimalam sunyi berhawa dingin dengan angin badai menghembus kencang ini, diatas lereng gunung yang liar belukar ini,akan terjadi suatu pertempuran besar serta menjadi tempat penjagalan manusia yang tidak mengenal kasihan.
Baru saja terdengar kentongan ketiga berbunyi, sebuah bayangan keputih-putihan melayang tiba diatas lereng bukit itu,sejenak ia berhenti mengamat-ngamati keadaan sekelilingnya, terus berkelebat hilang di kegelapan.
Selanjutnya tampak lagi sebuah bayangan ungu bergerak gerak, tahu-tahu diatas lereng bukit itu sudah bertambah seorang gadis berpakaian ungu berbadan langsing semampai berwajah ayu rupawan.
Berputar badan ia menghadap kearah tempat menghilangnya bayangan keputihan tadi lantas terdengar suaranya berkata.
"Ma Giok-liong, tokoh yang pegang peranan malam hari ini kemungkinan besar adalah kau Iho."
Habis berkata, ia berpaling kearah tempat yang agak jauh sana, lalu katanya lagi sambil tertawa. itulah pelajar rudin kecut itu telah datang."
Giok-liong sembunyi diatas sebuah pohon besar yang rindang, sahutnya tertawa.
"Tadi nona berkata lebih baik aku jangan keluar dulu..."
"Nona yang mana?"
Giok-Iiong tercengang, akhirnya ia paham sendiri, katanya geli.
"Ling-ling, kau bukan yang berkata."
"Apa lagi yang telah kukatakan?"
"Menurut pesanmu...jikalau keadaan tidak menguntungkan, kau menyuruh aku segera angkat kaki, habis perkara,"
"Tapi aku yang rendah bulan manusia macam begitu,"
"Kau ..."
Saat itulah sebuah bayangan hijau telah meluncur tiba dari jarak yang agak jauh sana, langsung hinggap diatas lereng bukit itu, pendatang ini bukan lain adalah Ham-kang-it-ho Pek Su -in adanya.
Begitu menginjak tanah, segera celingukan keempat penjuru, lalu jengeknya dingin.
"Kirarya nona juga dapat dipercaya."
Ci-hu-giok-li Kiong Ling-ling tertawa cekikikan, ujarnya.
"Kaum keluarga Ci-hu selamanya dapat dipercaya."
Ham-kang it-ho menyeringai, katanya mengejek.
"Tidak sedikit jumlah kaum keluarga Ci nu yang ikut datang hari ini."
Sikap Kiong Liag-ling tetap wajar, jengeknya kembali.
"Bantuan yang diundang dari Pek-hun-to, mungkin lebih banyak dari kedatangan orang-orang Ci-hu bukan."
"Hm, aku yang rendah datang seorang diri."
"Nonamu ini juga bertandang sendirian."
Berubah air, muka Pek Su-in, desisnya dengan nada berat.
"Lalu kemana bocah she Ma?"
Sebuah suara tawa dingin yang serak terkiang ditengah gelanggang Dimana angin berkesiur keras disusul bayangan berkelebat tahu-tahu Bo pak-it-jan Sa Ko sudah berdiri tegak dihadapan mereka, sebagainya dingin.
"Kiranya sia-sia saja Pek-bun Toju memberi makan dan membesarkan kau bocah ini ! Bukankao bocah she Ma itu tengah ungkang-ungkang duduk diatas dahan pohon itu?"
Telunjuknya menuding keatas.
"Siuuur"
Meluncurlah selarik angin keras langsung menerjang kearah pohon besar yang diduduki Giok-liong. Giok-liong terbahak-bahak, serunya lantang.
"Ternyata tidak bernama kosong."
Di mana terlinat bayangan putih melejit berkelit enteng sekali Gtok-liong hindarkan diri dari sambaran angin tusukan jari yang lihay itu, setelah hinggap di tengah gelanggang, sedikit saja ia berkata tersenyum.
"Aku yang rendah Ma Giok-liong, harap terimalah hormatku ini."
Disindir sedemikian rupa oleh Bo pak-it-jan Ham-kang-it-ho Pek Su in menjadi malu dan dongkol sampai air mukanya berubah hijau, jengeknya sinis.
"Lohu kira bocah hijau macam mu ini sudah lari sembunyi tak berani muncul lagi, takut mati!"
Mendadak dari dalam rimba sebelah sana terdengar suara penyahutan yang lantang.
"Ya, yang takut mati memangnya takkan berani datang!"
Belum hilang suaranya, tahu-tahu pemuda berpakaian serba kuning itu sudah melangkah ringan berlenggang memasuki gelanggang, menghadap kearah para hadirin ia hunjuk senyum lebar, malah sengaja atau tidak matanya lekat-lekat menatap ke arah Giok-liong.
Bok-pak-it-jan mengekeh tawa, selanya.
"Apa maksud kedatangan kalian ?"
Pemuda baju kuning mandah tertawa tawa saja melangkah ke pinggir tanpa membuka mulut. Sebaliknya Ham-kang-it-ho terdengar mendenguskan hidung. Terdengar Ci hu giok li menyahut lembut.
"Sa-lo-than pertanyaanmu ini sungguh mengherankan."
"Apa yang perlu diherankan ?"
Ci-hu-giok-Ii tertawa lagi, tanyanya.
"Kau sendiri apa maksud kedatanganku ini?"
Bo-pak-it-jan melengak, air mukanya, yang kaku itu sedikit bergerak, sahutnya.
"Budak, kecil, kau sendiri apa kehendakmu kemari ?"
"Alah, main pura-pura."
Sahut Ci-hu-giok-li "Bukankah kau sudah dengar aku ada janji dengan Pek-tay-hiap untuk menyeleaikan suatu urusan disini."
"Hm, sudah tentu Lohu sendiri juga ada urusan yang perlu diselesaikan."
"Sa cianpwe mempunyai urusan apa ?"
Sepasang mata Sa Ko memancarkan cahaya beringas yang aneh menatap kearah Giok-liong, ujarnya.
"Kedatanganku ini hendak membawa buyung kecil ini pulang."
Giok-liong tetap berlaku tenang, dengan sikap dingin ia pandang sekilas kearah orang tua cacad ini lalu berpaling kearah Ci-hu-giok li.
Ci-hu-giok-li tertawa manis, diulurkan telunjuknya yang runcing putih itu menunduk kearah Bo-pak-it-jan seraya berkata.
"Sa-lo-thau, coba kau tanya pada yang bersangkutan, apakah dia sudi pergi dengan kau ?"
Bo-pak-it-jan menyeringai lebar katanya kepada Giok-liong.
"Buyung, ikut Lotau saja, Lohu berani tanggung akan mendidikmu menjadi seorang terlihay nomer satu di jagad ini."
Giok-liong tersenyum ewa, sahutnya sambil sedikit saja.
"Maaf Wanpwe tidak dapat memenuhi harapan cianpwe ini."
Ci-bu-giok-li tertawa cekikikan saking geli sampai dia menekuk pinggang memegang perut, ujarnya.
"Coba lihat, dia tak sudi ikut kau pergi bukan."
Bo-pak-it jan merengut membesi, serunya geram.
"Tidak mau juga harus mau, bagaimana juga hari ini kau harus ikut Lohu."
Seiring dengan lenyap suaranya, badannya mendadak berkelebat sebat sekali laksana kilat merangsak kearah Giokliong.
Sejak tadi Giok-liong sudah kerahkan ilmunya pelindung badan, begitu melihat orang melesat datang gesit sekali kakinya bergerak lincah menggeser kedudukan delapan kaki kesamping.
Baru saja ia berdiri tegak bayangan Bo-pak-It jan sudah menubruk datang dengan didahului terjangan angin keras.
Keruan kejut hati Giok-liong, siapa kan nyana meskipun Bopak-it-jan tinggal sebuah kaki saja, tapi gerak-geriknya ternyata sedemikian tangkas, Terpaksa ia gerakkan kedua tangannya melintang bersilang didepan dada berbareng kakinya menjejak tanah sehingga tubuhnya melayang mundur kebelakang, Pada saat itulah lantas terlihat bayangan ungu berkelebat disertai suara merdu nyaring berkata.
"Tua bangka cacat, Kau tahu malu tidak, pintarmu hanya menghina angkatan muda ,. , ."
Lima jalur angin tutukan jari mendesis meluncur datang dari arah samping sana langsung mengarah lima tempat jalan darah dibawah lambung kanan Sa Ko.
Betapa lihay kekuatan kelima jalur angin tutukan jari ini, disertai kabut ungu berputar.
Sa Ko tahu akan kehebatan serangan ini, tak berani menangkis maka kaki tunggalnya itu berputar lincah sekali muncul beberapa langkah, bentaknya dewasa murka.
"Budak keparat berani kau ... ?"
Ci hu-giok-li lantas menyambung.
"Kalau kau ada kepandaian silakan keluarkan saja, Aku tidak akan bilang kepada ayah bahwa kau telah menindas aku."
Sebetulnya Ci-hu-sin-kun sendiri juga sudah keluar dari tempat kediamannya berkecimpung lagi didunia persilatan.
Tujuan Kiong-ki tak lain adalah hendak mencari jejak Jan-hunti peninggalan Jan-hun-cu yang akhirnya terjatuh ditangan Pang Giok.
Ci-hu-giok li tahu duduk persoalan ini secara jelas maka bagaimana juga dia takkan memberitahukan peristiwa malam ini kepada ayahnya.
Agaknya Bo pak-it-jan rada keder atau segan menghadapi Ci-hun sin kun Kiong Ki.
Mendengar ocehan Ci-hu-giok-li tadi, ia lantas terkekeh, katanya.
"Budak keparat, kau sendiri yang bilang."
"Tentu, selamanya kaum Ci-hu tiada yang pernah berbohong."
"Baiklah..."
Seiring dengan seruannya ini, tiba-tiba lengan tunggalnya seolah-olah mulur menjadi lebih panjang secepat kilat serentak ia kirim delapan belas kali pukulan mengarah seluruh tempat-tempat penting yang mematikan di seluruh tubuh Ci-hu-giok-li.
Ci-hu giok li tertawa ringan, kabut ungu lantas mengembang dimana pinggangnya meliuk gemulai tiba-tiba ia melejit masuk kedalam bayangan pukulan musuh, beruntun kedua tangannya yang putih halus itu bergerak-gerak dengan kecepatan yang susah diukur sekaligus ia lancarkan ajaran tunggal keluarganya untuk bergebrak secara kilat.
Sementara itu, tadi waktu Giok-liong meluputkan diri dari angin pukulan Bo pak-it-jan, baru saja ia berhenti bergerak dan belum sempat berdiri tegak, mendadak terasa sejalur angin kencang langsung menutuk tiba di jalan darah Bing-bun niat di punggung.
Bertepatan dengan itu terdengar suara bentakan yang nyaring pula.
"Pek Su in. membokong dari belakang kau tahu malu tidak?"
Agaknya suara bentakan pemuda baju kuning itu.
Tapi tiada banyak kesempatan bagi GioK liong untuk banyak pikir, tiba-tiba ia membungkukkan badan berbareng kedua kakinya menjejak tanah sambil mengerahkan tenaga murninya, seketika badannya melambung tinggi dua tombak.
"Siut"
Angin kencang yang mendesis itu persis melesat lewat di bawah kakinya. Giok-liong menjadi murka, bentaknya.
"Serangan bagus."
Air mukanya seketika menjadi merah membara, dimana kedua kakinya saling tendang, badannya lantas melambung lebih tinggi lagi dua tombak.
Berbareng dengan berkelebatnya sebuah bayangan diiringi suara jengekan dingin, tahu-tahu Pek Su-in sudah mengejar datang, tangan kanannya diayun berulang-ulang langsung mencengkeram kearah pinggang Giok-liong dimana terletak kantongan yang menyimpan bekalnya.
Giok-liong tertawa terbahak bahak, se-runya.
"Oho, inikah yang dinamakan tokoh kenamaan dari Pek-hun-to, hitunghitung hari ini aku yang rendah sudah berkenalan."
"Wut"
Tiba-tiba menendang kesikut kanan Pek Su-in yang terjulur maju ini.
Pek Suin terperanjat, sungguh tak duga olehnya bahwa pemuda ini kiranya berkepandaian tinggi, badan masih terapung ditengah udara tapi dapat balas melancarkan serangan kearah musuh.
Tapi dia sendiri juga bukan tokoh silat sembarangan dalam seribu kerepotannya, tangan kanannya dibalikkan terus merangsang ketumit Giok-liong di tempat jalan darah Cu-ping hiat.
Tapi baru saja"
Tangannya membalik belum sempat mengarah sasarannya, kaki kanan Giok-liong sudah ditarik balik.
"Wut"
Sekarang ganti kaki kiri yang menendang datang.
Ham-kang-it ho Pek Su in mendengus hidung keras-keras, tangan kanannya juga cepat ditarik balik, ganti tangan kiri yang disodorkan kedepan, seketika timbul gelombang angin membadai menerpa keras sekali kearah Giok-liong mengarah tulang kering di kaki kiri.
Kalau serangan ini tepat mengenai kaki kiri Giok-liong maka kakinya itu pasti akan hancur dan menjadi cacat.
Mendadak Giok-liong bersuit panjang, kedua tangannya dipentang lebar sehingga tubuhnya melejit tinggi lagi bersama itu pinggangnya sedikit ditekuk untuk jumpalitan ditengah udara.
Kedua tangannya lantas bergetar mempetakan bayangan pukulan yang memenuhi ditengah udara terus menyerang kearah Pek-Su-in.
Kejut Pek Su-in bukan alang kepalang, sambil menghardik keras ia kerahkan seluruh tenaga murninya ketelapak tangannya terus menyambut keatas.
"Blang"
Kontan terdengar ledakan dahsyat menggetarkan butni, krikil dan pasir beterbangan menari-nari dahan-dahan putus merontokan dedaunan sekeIilingnya.
Jantung Pek Su-in berdebar keras, terasa kepalanya pusing tujuh keliling segumpal hawa panas lantas menerjang naik dari pusarnya, badannya juga lantas terbanting turun cepat sekali.
Tapi sekuat tenaga ia berusaha bertahan, setelah mendehem keras-keras ia menyedot hawa panjang, kakinya menginjak tanah terus sempoyongan delapan langkah jauhnya baru bisa berdiri tegak.
Giok-liong sendiri meskipun menubruk musuh dari atas, tapi juga tidak banyak mengambil keuntungan, karena daya benturan yang keras ini, badannya terpental balik ketengah udara lebih tinggi lagi.
pandangannya menjadi berkunangkunang susah payah ia coba kendalikan tubuhnya terus meluncur turun dua tombak di sebelah sana.
Tatkala itu, Pek Su in sudah dapat mengatur pernapasannya kembali.
Begitu melihat Giok-liong meluncur turun segera ia mendesis geram.
"Hm, akan kulihat sampai dimana kemampuanmu!"
Jilid 07 Selicin belut tiba-tiba ia menubruk datang sambil menggetarkan tangan kirinya sehingga menjadi bayangan yang mengabarkan pandangan diselingi desis angin kencang terus menusuk ke arah dada Giok-liong.
Bersama itu, kelima jari tangan kanan di pentang terus mencengkeram pinggang Giok-Iiong.
Baru saja Giok-liong dapat berdiri tegak lantas merasakan angin kencang telah merangsang tiba, dalam kesibukaanya kontan ia lancarkan jurus Cin-chiu untuk membeli diri, seketika angin badai bergelombang membawa kabut putih berkelompok kelompok terus menggulung kedepan.
Baca Juga: Pedang Sinar Emas 15
Baca Juga: Bu Kek Siansu 8