Ceritasilat Novel Online

Seruling Samber Nyawa 3

Eps 3 Seruling Samber Nyawa - Chin Yung

Baca online Seruling Samber Nyawa - Chin Yung

Cersil Seruling Samber Nyawa - Chin Yung.

Tepat pada saat itu sebetulnya kelima jari Pek Su-in sudah menyentuh pinggang Giok-Iioig, sayang ia terlambat sedetik, Karena bila cengkeraman kekantong bekal di pinggang Giokliong itu terus dilaksanakan pasti jiwa sendiri bisa melayang kena jurus serangan Cin-chiu ini.

Apalagi iapun sudah kenal asal usul dari jurus serangan dahsyat Babna kagetnya, tersipu-sipu ia tarik balik tangannya dengan kaki kiri sebagai poros badannya mendadak berputar terus rebah celentang serta meluncur kesamping beberapa kaki, dimana kedua tangannya menyanggah tanah, selamatkan jiwanya dari mara bahaya, Tapi dia tidak berhenti bergerak begitu saja begitu luput dari serangan lawan badannya lantas membalik seraya mendorongkan tangan kanan menjojoh pusar Giok-liong.

Giok-liong mandah tertawa ejek, saking dongkol tanpa kepalang tanggung jurus kedua ketiga dari Sam jicui hun chiu yaitu Hoat-bwe dan Tiam-ceng beruntung dilancarkan seketika timbul gelombang badai yang dahsyat, kuntum mega putih mengembang ikut menggulung kedepan, Terpaksa Ham-kangit-ho Pek Su-in harus kerahkan seluruh tenaga serta kepandaian tunggal simpanan dari perguruannya yaitu Pek hun-jicap-pwe-sek.

Kontan terjadilah perang tanding kekerasan yang hebat sekali.

Tidak lama kemudian kedua lawan ini sudah terbungkus kedalam kabut putih saban-saban terdengar desis keras serta samberan angin menderu yang membawa kabut putih, terlihat bayangan pukulan tangan berlapis-lapis, saling tindih dan serang, sehingga batu pecah berantakan pasirpun beterbangan.

Dahan pohon serta rumput disekitar gelanggang pertempuran menjadi tumbang dan roboh berserakan.

Begitulah dalam waktu singkat sulit ditentukan siapa yang bakal menang atau asor dalam pertempuran dahsyat ini.

Maklum kedua lawan ini sama-sama kuat dan lagi kalau yang satu memang berbakat dan sudah gemblengan dalam pengalaman hidup pahit getir sebaliknya yang lain juga seorang tokoh persilatan yang banyak pengalaman dan sudah tekun berlatih sekian tahun tanpa mengenal lelah, tak heran masing-masing susah dapat mengalahkan lawannya.

Sementara itu, pemuda baju kuning itu menonton dipinggiran sambil menggendong tangan serta mengunjuk senyum-senyum manis, cermat sekali ia mengamati segala perobahan dalam gelanggang pertempuran.

Juga didalam rimba sana tengah banyak pasang mata dengan terbelalak, tanpa berkedip menonton serta menanti perobahan yang bakal terjadi di tengah gelanggang sini, Mereka sudah siap siaga untuk serentak turun tangan entah dengan cara yang bagaimana kejam serta telengas tidak perduli, yang terang mereka harus sukses atau berhasil mencapai tujuan terakhir.

Sekonyong konyong terdengar suara "Blang"

Yang keras disusul pekik nyaring yang merdu, lantas terlihat bayangan, ungu berkelebat gesit sekali.

Tahu-tahu Ci hun-giok-li meloncat keluar kalangan pertempuran bagai seekor ular yang kaget kena gebok, sementara itu Bo-pak-jan Sa Ko juga terdengar menggerung rendah, cepat-cepat iapun mundur lima kaki terus mendongak tertawa terkekeh-kekeh, serunya.

"Bagus, bagus sekali, sungguh tak nyana, hari ini Lohu seperti kapal terbalik didalam selokan ...."

Suaranya berganti terloroh-loroh menyedihkan tiba-tiba badannya melenting tinggi terus melesat masuk dalam hutan.

Wajah Cihu-giok li tampak pucat pasi, setelah melihat Bopak it-jan menghilang didalam rimba, wajah nan ayu jelita itu baru menampilkan senyum manis yang terhibur.

Pelan-pelan ia menghela napas panjang, badannya juga lantas bergoyang goyang seperti kehabisan tenaga, sedikit membuka mulut, darah segera kontan meleleh keluar dari ujung bibirnya.

Sebat sekali tahu-tahu pemuda baju kuning berkelebat tiba disamping Ci-hu-giok-li sambil tertawa-tawa ia jinjing lengan kirinya serta tanyanya penuh prihatin.

"Nona Kiong, bagaimana keadaanmu?"

Pelan-pelan Ci-hu giok-li menggelengkan kepala, tiba-tiba ia menyipatkan tangan serta meloloskan tangan dari cekalan orang, katanya sambil tertawa ewa.

"Tak nyana kepandaian si cacat tua bangkotan itu lihay benar..."

Pemuda baju kuning tertawa, katanya.

"Cici terluka parah, perlukah kubitabaags ketawa untuk istirahat I"

Mendengar tawaran ini Ci-hu-giok-li sedikit terkejut sekilas ia melerok lalu sahutnya.

"Terima kasih akan kebaikanmu luka-lukaku ini tidak menjadi soal ... lalu dengan langkah ringan pelan-pelan ia maju kedepan sana, sepasang matanya yang indah cerah dan bening itu memandang penuh perhatian kearah pertempuran Giok-liong. Tatkala mana Giok liong sudah kerahkan sepuluh bagian tenaga Ji-lo ilmu Sam-ji cui-hun chiu juga sudah dilancarkan sampai puncaknya, dorong mendorong sampai berlapis-lapis bayangan pukulan tangan laksana gelombang samudra mengamuk terus berbondong-bondong menerjang kearah Ham-kang-it-ho Pek Su in. Semakin bertempur hati Ham-kang it -ho Pek Su-in semakin gentar dan ciut nyalinya, sekuat tenaga ia sudah lancarkan seluruh kemampuan dalam ilmu Pek-hun-ji cap-pwe-sek kenyataan toh dirinya masih terdesak dibawah angin tanpa dapat balas menyerang dari pada banyak membela diri saja. Lambat laun, kabut semakin tebal bayangan pukulan tangan semakin banyak berlapis, Lama kelamaan keringat mulai membasahi seluruh badan dan jidat Ham-kang-it-ho, terang bahwa dirinya sudah semakin terdesak dibawah angin. Sebuah telapak tangan putih yang halus tanpa suara tahutahu sudah menyelonong tiba disamping tubuhnya terus berputar kencang sekali, setiap kali kesempatan lantas menepuk datang dengan ringannya. Selain itu, sekeliling tubuhnya sadah terbungkus oleh angin badai yang menderuderu, tekanan juga terasa semakin berat, ditambah lapisan bayangan pukulan tangan yang susah ditembus, semakin terasakan jiwanya sudah terpencil dipinggir jurang kematian. Pada detik terakhir ini baru timbul rasa penyesalan dalam sanubarinya. Dia menyesal bahwa dirinya sudah menjadi tamak dan loba ingin merebut benda milik orang lain, Selain itu iapun menyesal terlalu mengandalkan kemampuan kepandaian sendiri untuk menindas dan menghina seorang pemuda remaja yang baru pertama kali berkelana di dunia ramai. Tapi sayang sekali penyesalan ini mengetuk hati kecilnya pada saat-saat ia menghadapi bahaya, seumpama dia berhasil secara gampang merebut benda yang diinginkan itu, pasti takkan timbul rasa penyesalannya ini, Begitulah karena sedikit terpecah pikirannya, sehingga gerak-geriknya sedikit lambat, seketika terasakan tekanan dari luar disekeliling tubuhnya itu bertambah berat dan kuat. Bersamaan dengan itu kedengaran Giok-liong tengah mengejek.

"llmu silatmu memang lumayan, sayang mempunyai hati yang kurang lurus."

Ditengah gelombang angin badai yang menderu-deru serta ditengah bayangan lapisan pukulan tangan itu, tangan putih halus yang misterius itu tiba-tiba sudah menyelonong tiba menekan kedepan dadanya.

Saking kagetnya Pek Su in lantas memutar badan dengan jurus pertolongan yang dinamakan Pek-hun-yu-yu, kedua telapak tangannya yang besar itu mendadak didorong maju, diantara tekanan angin badai yang menerpa dari berbagai penjuru.

Giok liong tertawa dingin, mulutnya menyungging rasa menghina, jengeknya.

"Binatang berontak dalam kepungan tak perlu dikwatirkan lagi!"

Sepasang tangannya disilangkan lantas menggapai-gapai, berbareng kakinya menggeser gesit sekali badannya melesat ke samping. ejeknya.

"Hentikan pertempuran ini, nanti kuampuni jiwamu!"

Melihat Giok liong mundur Pek Su-in malah mendapat hati, dikiranya orang juga sudah kehabisan tenaga dan tiada kekuatan melancarkan ilmunya lagi, maka sambil mendengus iapun balas menjengek.

"Asal kau mau serahkan seruling samber nyawa itu, Lohu segera lepas tangan tinggal pergi."

Sembari berkata lagi-lagi jurus Pek-hun yu-yu tadi dilancarkan lagi, kedua telapak tangannya itu dengan ganas mencengkeram kearah Giok-liong.

Rasa dongkol Giok-lioni semakin membakar kemarahannya, Tadi ia merasa sedikit kasihan karena tindak tanduk lawannya ini bukan gembong penjahat yang sudah penuh dosanya, maka sedikit memberi kelonggaran, serta memberi peringatan dengan kata-katanya itu, Siapa nyana kebaikannya ini malah digunakan sebagai kesempatan untuk balas menyerang oleh lawan malah dengan tujuan jelek lagi, ditambah mulutnya berkata begitu takabur.

Karuan kemarahan Giok-liong seumpama api disiram minyak sambil menghardik keras dan menggertak gigi ia memaki.

"Memang kau ini bangsat yang setimpal dibunuh!"

Tapi sedikit kelonggaran yang diberikan sudah menjauhkan kesempatan bagus bagi musuh untuk melancarkan ilmu mautnya, Untung ia sudah kerahkan ilmu pelindung badannya tapi tak urung sepasang telapak tangan besar itu toh sudah menyengkeram tiba dengan ganasnya.

Dalam keadaan gawat ini.

Mendadak Giok-liong mendongak keatas terus kertakakan keras tangan kiri berputar setengah lingkaran ditengah udara sedang tangan kanan merogoh kearah pinggang.

Tahu-tahu selarik sinar kuning keemas-emasan memancar ketengah udara.

Kiranya Potlot emas yang telah menggetarkan dunia persilatan pada masa silam telah mengunjuk keampuhannya.

Memang kesaktian Potlot emasini tidak perlu diragukan lagi, dimana waktu kepalan tangan merangsak tiba berbareng sinar mas meluncur tiba seketika terjadilah hujan darah lalu disusul pekik serta gerengan kesakitan yang menyayatkan hati.

Begitu usahanya memperoleh hasil yang memuaskan Giokliong lantas merandek.

Kiranya sambil mengerahkan sepuluh bagian tenaga murninya dengan jurus Keng-sim (kejut hati) untuk menolong jiwa sendiri dari renggutan elmaut cengkeraman cakar musuh, begitu berhasil ia merandek tidak terus mengejar malah segera ia melejet mundur setombak lebih sambil menjinjing potlot masnya itu.

Dalam pada itu, Pek Su in sendiri juga melompat mundur dua tombak jauhnya, Air mukanya pucat pias, tangan kirinya mengalirkan darah deras sekali.

Meskipun ia sudah berusaha menutuk jalan darah, tapi tak urung darah segar masih terus merembes ke luar.

Mimpi juga dia tak menduga bahwa pot-lot emas Giok-liong itu masih kuat menembus penjagaan ilmu pelindung badannya malah melukai pula tangan kirinya.

Setelah menenangkan diri dan mengatur pernapasannya, dengan penuh kebencian ia tatap wajah Giok-liong, tiba-tiba ia terloroh-loroh sedih, ujarnya.

"Bagus Ma Giok-liong terhitung Lohu sudah berkenalan dengan kepandaianmu !"

Lalu ia menyapu pandang ke empat penjuru, Dilihatnya Ci-hu-giok-li dan pemuda baju kuning itu tengah memandang kearah Giok liong dengan penuh rasa simpatik Hatinya menjadi mengkeret, batinnya.

"Dilihat naga-naganya jikalau aku berkeras kepala situasi yang runyam ini pasti tidak bakal menguntungkan bagi diriku. Terpaksa aku harus memancing dia dengan janji tiga hari lagi untuk bertemu Dalam jangka waktu tiga hari ini aku harus berusaha memberi tahu dan mengundang majikan pulau awan putih dan bantuan lain ..."

Tengah ia menimang-nimang ini. Mendadak terdengar serentetan suara tawa panjang yang dingin seram berkumandang di tengah udara, Hatinya menjadi tergetar, batinnya lagi.

"Mungkinkah dia sudah datang? Kalau begitu tak bisa aku tinggal pergi, jikalau seruling samber nyawa itu sampai terjatuh ditangan orang lain, bukankah sia-sia saja perjalanan ini."

Berpikir demikian sepasang matanya lantas memancarkan cahaya terang yang menyeramkan, katanya tertawa besar.

"sekarang Pek Su-in minta diri, kelak pasti takkan kulupakan tanda mata di tanganku ini"

Habis berkata kedua kakinya menjejak tanah badannya lantas meluncur kedalam hutan dan menghilang.

Suara seram bagai pekik kokok beluk itu masih terus berkumandang semakin keras bergema dialas pegunungan gelap ini, sehingga menambah keseraman suasana yang sunyi lengang diliputi ketegangan.

Dalam hutan disemak belukar sana tengah terpancar entah berapa banyak pasang mata tajam yang diliputi hawa membunuh tengah mengancam setiap saat.

Tadi sekuat tenaganya Giok-liong melancarkan serangannya, meskipun memperoleh kemenangan namun hawa murni dalam tubuhnya juga susut sebagian malah kena tergetar pula sehingga sedikit cidera.

Ci-hu-giok-li bersama pemuda baju kuning itu bergegas melejit maju mendekat dengan gelisah, bersama pula mereka membuka mulut bertanya.

"Kau terluka ?"

Pelan-pelan Giok-liong manggut-manggut sahutnya kalem.

"sedikit luka, tapi tidak menjadi soal."

Air muka Ci-hu-giok li yang kelihatan pucat itu seketika bersemu merah dan unjuk rasa girang, katanya lembut.

"Wah, membuat gugup orang saja !"

Pemuda baju kuning melirik sambil terkikik geli, katanya menggoda.

"Aduh, benar-benar mesra dan penuh kasih sayang!"

Kedua pipi Ci-hu-giok-li kontan bersemu merah jengah kemalu-maluan, ujarnya merengut.

"Cis, siapa suruh kau banyak mulut, kalau cerewet lagi kusobek mulutmu yang langcang."

Pemuda baju kuning meleletkan lidah, segera ia soja minta minta maaf.

"selanjutnya aku yang bodoh ini tidak berani lagi !"

Melihat sikap orang yang sedemikian prihatin akan dirinya, Giok-liong menjadi terharu, Tanpa terasa terkenanglah akan istrinya Coh Ki-sia yang tinggal dalam Hwi-hun san cheng itu, wajahnya yang gagah ganteng itu lantas tersimpul senyum manis.

Melihat Giok-liong juga tersenyum, hati Ci-hu-giok-li merasa syuur seakan arwahnya terbang keawang-awang, katanya dengan lembut .

"Nada tertawa ini rada aneh. Mungkin Ko-bok imhun tokoh ketiga dari Thian-1ai-sam-yau sudah tiba. Menurut hematku marilah segera kita tingal pergi saja."

Pemuda baju kuning tertawa penuh arti, ujarnya "Mau pergi, kukira juga tidak begitu gampang !"

Ci hu-giok-li lantas tertawa lantang, tanpa menoleh lagi ia menyambut.

"Apa kau coba merintangi ?"

Pemuda baju kuning juga tertawa-tawa, katanya "Mana aku yang bodoh ini berani, apalagi terhadap kau nona masa aku berani kurang ajar lagi !

Hanya ...

apakah kalian tidak merasa bahwa sekitar kita ini rada-rada janggal dan mencurigakan ?"

Tanpa merasa Ci-hu-giok-li tertawa geli, ujarnya.

"Masa mengandal para tokoti bangsa Panca-longok itu juga berani berusaha merintangi jalan kita ?"

Pemuda baju kuning menekan suaranya. katanya.

"Menurut pendapatku yang b-jdoh, dalam rimba sana mungkin bersembunyi tokoh-tokoh lihay, sementara waktu mungkin sukar dapat meloloskan diri."

Jauh sebelum berkecimpung didalam Kang ouw Giok-liong sudah pernah mendengar akan ketenaran nama Thian lamsam-yau, sekarang mau tidak mau dirinya harus berhadapan dengan gembong iblis yang ditakuti itu, sehingga hatinya kebat-kebit tidak tentram tercetus pertanyaannya.

"Bagaimana kepandaian silat Ko-bok-im-hun itu?"

Pemuda baju kuning menjawab serius.

"Dibanding Bo-pakit-jan kukira, boleh lebih tinggi dari pada dikatakan lebih rendah. Apalagi tokoh kesatu dan kedua Thian-lam-sam-yau itu kepandaian silatnya lebih tinggi lagi! jikalau mereka bertiga bergabung datang, Mungkin ...... malam ini kita bisa celaka !"

Ci-hu-giok-Ii juga manggut-manggut, katanya.

"Hal itu memang kenyataan, menurut kata ayahku, ketiga tokoh Thian-lam-sam-yau itu ilmu kepandaiannya masing-masing berlainan."

Tapi akhirnya mereka menutup pintu dan bergabung melatih semacam ilmu ganas dari aliran Lwe-keh yang dinamakan Hian-si-im-cu.

Bila mereka benar-benar masih melatih ilmunya itu, pasti tak mungkin bisa keluar dari sarangnya, Kalau kenyataan sudah keluar itu berarti bahwa ilmu gabungan itu sudah selesai dilatih bersama."

Suasana sementara menjadi sunyi senyap tenggelam dalam masing-masing pikirannya.

Gelombang tawa dingin yang menggiriskan itu masih terus bergema semakin dekat dan keras, Didengar dari gema suaranya yang semakin keras, jaraknya mungkin tinggal puluhan li saja.

Tiba-tiba pemuda baju kuning bertanya kcpada Giokliong."

Ma-siau-hiap, apakah benar kau menyimpan seruling sambar nyawa itu?"

Penuh tanda tanya dan keheranan Giok-liong mengamati orang, otaknya berputar cepat, batinnya.

"Meskipun dilihat perangainya ini pemuda baju kuning tidak seperti seorang jahat, bagaimana juga aku harus berjaga-jaga, Apalagi siapa namanya serta usul atau dari perguruan mana sedikitpun aku tidak tahu!"

Dasar pemuda baju kuning ini cukup cerdik sekilas saja ia lantas dapat menebak isi hati yang terkandung dalam benak Giok-liong, matanya yang besar berkedip-kedip serta ujarnya penuh jenaka.

"Agaknya Ma~ siau hiap agak ragu-ragu dan kurang percaya akan pribadiku! Aku yang rendah bernama Tan Hak-kiau, aku bertempat tinggal di Kau-jiang-san, dari perguruan Kau-jiang-pula! Baru belum lama ini aku berkelana di Kangouw, maka belum banyak dikenal oleh kalayak ramai."

"Dari kabar yang tersiar aku dengar katanya bahwa Janhun-ti (seruling samber nyawa) terjatuh ditangan To-ji Pang-lo cianpwe. Tapi selama rstusan tahun terakhir ini Pang-lo canpwe sudah menghilang jejaknya dari dunia persilatan. Maka begitu Ma-siau-hiap mengunjukkan diri segera menggemparkan seluruh rimba persilatan Tiada seorangpun dari kaum persilatan yang tidak mengharapkan sedikit sumber berita yang paling terpercaya tentang seruling sakti itu."

"Aku yang rendah hanya kebetulan saja kebentur dengan peristiwa ini, sebagai seorang dari aliran Ciang-pay betapapun aku tidak bisa berpeluk tangan melihat kesukaran orang lain tanpa mengulur tangan membantu, jikalau seruling samber nyawa itu benar-benar berada ditangan Ma-siau-hiap, mau tidak mau kita harus mundur teratur untuk menentukan langkah langkah selanjutnya."

"Terima kasih akan uluran tangan saudara yang sudi membantu kesukaran yang tengah kuhadapi ini. Memang seruling sakti itu telah diserahkan kepadaku oleh guruku. Tapi betapapun aku harus dapat menanggulangi sendiri kesukaran yang timbul karena seruling sakti itu. Kuharap saudara berdua tidak ikut menjadi korban oleh karena ketamakan pada durjana yang mengincar seruling pusaka itu.

"Akh Ma-siau-hiap berat kata katamu ini, rasanya malu bagi kita kaum persilatan yang mengutamakan kebijaksanaan bagi sesama umat jikalau berpeluk tangan melihat penderitaan orang lain, Kita harus berani berkorban demi keadilan dan kebenaran betapa juga aku sudah bertekad untuk membantu kau untuk menegakkan keadilan demi kesejahteraan kaum persiiatan!"

"Benar, kita kaum keluarga Ci-hu juga selamanya belum pernah menarik kembali ucapan yang pernah dikatakan, Meskipun bakal mendapat marah dari ayah aku tidak peduli lagi akan segala tetek bengek. Suka rela aku membantu kau, marilah kita galang persatuan dan kesatuan kita bertiga, air datang kita bendung musuh datang kita tandangi meskipun sampai titik darah penghabisan aku rela berkorban demi kepentingan kaum persilatan."

Sungguh haru Giok-liong tak tak terhingga sampai tenggorokkan terasa sesak sukar bicara namun belum sempat ia angkat bicara lagi gema suara panjang itu sudah meluncur tiba ditengah gelanggang membuat kuping mereka bertiga terasa hampir pecah.

Kini dalam gelanggang sudah bertambah seorang tua kurus kering bertubuh tinggi seperti genter bertangan panjang, Matanya yang berkilat itu langsung menatap kearah Giok-liong lalu tanyanya dengan suara rendah.

"Kau inikah yang bernama Giok-liong murid To-ji ?"

Sebelum Giok-liong sempat buka suara dari samping Kiong Ling-ling sudah menyelak, serunya.

"Paman Ki, sehat walafiatkah kau orang tua selama ini, untuk apakah kau datang kemari ?"

Ko bok-im hun terkekeh-kekeh, lalu ujarnya.

"Eeeeeh, sudah tahu pura-pura tanya lagi, Budak kecil dimanakah ayahmu, apakah beliau baik-baik saja selama ini."

"Berkat lindungan Tuhan, ayah masih sehat dan baik-baik saja !"

"Hm, baik sekali, Kau minggir saja ke-samping. Biar Lohu minta seruling itu dulu."

Berubah air muka Ci-hu-giok-li, katanya penuh aleman.

"Paman, Ma Giok-liong adalah engkoh angkat Wanpwe."

Tubuh Ko bok im-hun rada tergetar, sesaat baru ia berkata dingin.

"Omong kosong!"

Ci-hu-giok-li maklum bahwa orang rada keder dan segan menghadapi ayahnya, maka dengan wajar segera ia berkata.

"Ya, memang betul."

"Kapan Sin-kun mengangkat dia sebagai anak angkat ?"

"Setengah tahun yang lalu !"

Sekonyong-konyong Ko-bok im hun ter-loroh-loroh keras, suaranya bergema lantang menggiriskan sukma orang, lama dan lama kemudian baru ia menghentikan tawa seram ini.

"Paman apa yang perlu ditertawakan ?"

"Setengah bulan yang lalu baru saja Lohu bertemu dengan Sin-kun. Menurut tutur katanya hakikatnya ia tidak kenal mengenal tentang bocah she Ma ini, Hahahaha."

Sembari terbahak dingin ini mendadak timbul lima jalur angin dingin membawa warna hijau menyolok secepat kilat melesat mengarah Giok liong.

Bersama itu dia sendiri juga berkelebat cepat laksana bayangan setan tahu-tahu sudah melejit tiba dipinggir kanan Giok-liong.

Sungguh tidak terduga oleh Giok-liong bahwa gerak tubuh Ko-bok-im-hun ternyata bisa begitu cepat, untuk berkelit sudah tidak sempat lagi, dalam seribu kerepotan terpaksa ia gerakkan potlot mas ditangan kanannya, dengan jurus Siphum (menghilang sukma) jurus kedua dari ilmu Jan-hun-sisek untuk membela diri.

Seketika cahaya kuning memanjang seperti rantai emas berputar mengelilingi tubuhnya, sehingga menerbitkan angin menderu untuk melindungi badan.

Bertepatan dengan itu, terdengar juga hentikan nyaring halus, disusul bayangan ungu melayang tiba terus memberondong dengan kepalan tangannya yang hebat laksana gelombang samudra yang tengah mengamuk.

Tidak ketinggalan bayangan kuning juga berkelebat diselingi suara tawa dingin, seketika angin lesus membumbung tinggi laksana gunung.

Setelah terdengar ledakan dahsyat yang menggetarkan bumi, terlihat bayangan orang terpental keempat penjuru.

Ko-bok-im-bun berdiri tegak sambil melotot sepasang matanya yang besar beringas memancarkan cahaya terang kehijau-hijauan.

Wajah Ci-hu giok-li rada merah jengah katanya lembut penuh aleman.

"Paman, mana boleh kau gunakan kekerasan hendak merampas barang milik orang lain."

Pemuda baju kuning Tan Hak-siu ikut menyindir.

"Beginilah tokoh angkatan tua dunia persilatan yang disegani, Membuat angkatan muda bergidik dan malu saja."

Sebaliknya Giok liong mandah tersenyum ejek sambil berdiri menjinjing senjata potlotnya.

Tiba-tiba suara tawa Ko bok-im-hun yang parau mendesis terlontar dari bibirnya yang menyeringai seram mendirikan buluroma, katanya.

"Hari ini Loou harus mencapai tujuan siapa yang berani merintangi pasti kubunuh!"

Belum selesai ia berkata terdengar angin berkesiur dari dalam hutan gelap sana berkelebat dua bayangan satu hitam dan yang lain kuning berkilau menyolok mata, Maka dilain saat tahu-tahu dalam gelanggang sudah bertambah dua orang berkedok.

Yang berdiri sebelah kiri berperawakan tinggi, seluruh tubuhnya terbungkus pakaian hitam, didada sebelah kiri tersulam gambar pelangi merah darah yang menyolok mata.

Lain yang berdiri sebelah kanan bertubuh perteugahan seluruh tubuhnya berkilauan terbungkus kain kuning emas hanya terlihat sepasang matanya yang hitam berkilat dari belakang kedoknya.

Begitu muncul langsung mereka menerjang dengan membawa kekuatan pukulan dahsyat laksana gugur gunung menindih kearah Giok-liong.

Ko bok-im-hun menjadi murka, teriaknya beringas.

"Berhenti!"

Sepasang matanya memancarkan cahaya liar buas kehijauan, sembari menarikan kedua tangannya, tubuhnya bergerak lincah laksana bayangan setan gentayangan terus menubruk maju, badannya terbungkus oleh kabut hijau itu yang cemerlang, Betapa cepat gerak tubuhnya ini sungguh sangat menakjubkan.

Tiba-tiba terdengar pemuda baju kuning Tan Hak-siau mendengus hina, katanya.

"Hm, Hiat-hong-hong Pang cu dan Kiam Pang cu muncul berbareng, kiranya mereka sudah ada intrik dan bersekongkol dalam satu lobang hidung."

Ci-hu giok li mengunjuk senyum manis kearahnya serta katanya.

"Bagaimana menurut maksudmu?"

Saat itulah terdengar benturan keras ditengah gelanggang. setelah angin mereda dan kabut menghilang terdengar Hiathong Pang-cu mengekeh panjang, katanya sinis.

"Ki-cian-pwe, kalau dapat dilerai lebih baik kau lepas tangan saja, sekali kesalahan tangan nama bisa runtuh, badanpun bakal hancur, hal ini tidak menguntungkan bagi kau."

Ko-bok-im-hun menyeringai tawa, jengeknya.

"Tak nyana selama puluhan tahun ini Lohu tidak muncul didunia ramai, kiranya telah bermunculan para bocah keparat yang tidak tahu tingginya langit tebalnya bumi..."

Seiring dengan ucapannya ini kelima jari tangan kanannya berjentik bcrulang-ulang, lima jalur angin kencang terus melesat langsung menerjang Giok liong.

Belum lagi serangan tutukan jari ini mengenai sasarannya, mendadak tubuhnya juga ikut melejit tinggi melambung ketengah udara, badannya masih tetap terbungkus oleh kabut hijau, kaki dan tangan serentak bekerja, tangan mencengkram batok kepala dan sedang leher kakinya menendang perut Giok-liong.

Disebelah sana Hiat hong Pang cu terloroh-loroh aneh, berbareng kedua tangannya menepuk kearah pinggang, dilain saat kedua tangannya itu sudah mencekal dua benda warna merah darah yang berbentuk sangat aneh.

Kiranya itulah lencana Hiat-hong-ling penanda tertinggi dan Hiat-hong-pang.

Dengan membekal senjata pusaka perkumpulan ini terbitlah dua jalur sinar merah memapak maju kearah Ko bo-im-hun.

Sementara itu, Kim-i Pang cu juga tidak mau ketinggalan meloIos keluar cambuk panjang menyerupai seekor ular yang bewarna kuning mas.

Sekali gentak keudara seketika dipenuhi bayangan kuning mas beterbangan terus mematuk dan melihat kearah Giok-liong juga.

Melihat keadaan ini, seketika Ci-hu-giok-Ii berseru kejut.

"Dia ... mungkin adalah Kim-coa-long-kun adanya ?"

Pemuda baju kuning Tan Hak-siu menjawab .

"Tidak mungkin Kim coa long-kun sudah mengasingkan diri selama dua ratus tahun lebih !"

Gelombang badai terbit lagi membumbung tinggi ke tengah angkasa bayangan orang berkelebat gesit sekali, Terjadilah dua kelompok pertempuran sengit yang mendebarkan dalam gelanggang, Ko bok-im-bun melawan Hiat hong Pang-cu.

Sedang Giok-Iiong melawan Kim-i Pang-cu, terjadilah perang tanding yang jarang terjadi dalam dunia persilatan selama ini.

Sekonyong-konyong dua jalur bianglala warna kuning dan merah darah meluncur tinggi ketengah angkasa dari tengah hutan, sedemikian terang cahaya api dua jalur bianglala itu menerangi malam gelap dan sunyi ini menyolok mata.

Tak tertahan pemuda baju kuning berseru kejut.

"Celaka, Hiat-hong-pang dan Kim-i pang mengerahkan seluruh bala bantuannya . ."

Benar juga belum lenyap suaranya dari dalam hutan yang gelap itu lantas kelihatan bayangan orang berkelebatan membawa kesiur angin yang keras.

Entah berapa puluh lakilaki berbadan besar-besar mengenakan seragam hitam dan kuning mas berloncatan keluar dengan gesit dan tangkasnya meluruk kearah gelanggang pertempuran ini.

Ditangan para pendatang ini pasti membekal senjata yang berkilauan entah pedang tombak atau senjata tajam lain, sekejap saja mereka sudah mengepung rapat gelanggang pertempuran ini, seolah-olah mereka sudah mengatur suatu macam barisan.

Ci-hu-giok-li mengerutkan kening, katanya pada pemuda baju kuning.

"Mereka sudah membentuk barisan apa, kenapa aku tidak mengenalnya ?"

Dengan sikap serius pemuda baju kuning menjawab.

"Barisan apakah ini aku sendiri juga tidak tahu Naga-naganya malam ini kita harus turun tangan tidak mengenal kasihan, bunuh dulu sebanyak mungkin supaya barisan mereka kocar kacir, setelah itu kita berdaya menolong Ma-siau-hiap meloloskan diri dari kepungan ini p BcIum habis omongannya tiba-tiba terdengar suara.

"Hyuuuu," ... , wuuuu , , ..wu !"

Dari kejauhan terdengar bunyi sangkalala yang keras sekali berkumandang dimalam gelap. Tak terasa pemuda baju kuning membanting kaki seraya katanya gegetun.

"Celaka, bala bantuan orang-orang Pek-hunto telah tiba . ."

Perlu diketahui meskipun letak Pek-hun to jauh dimuara sungai Ham-kang, mereka jarang sekali beroperasi atau berkecimpung didaerah Tiong-goan, Tapi tokoh-tokoh silat dari pulau Mega putih ini tidak sedikit jumlahnya, apalagi kepandaian mereka sangat hebat dan banyak ilmu tunggal serta simpanan yang sakti, hakikatnya kekuatan mereka sangat besar tidak boleh dipandang ringan.

Maka begitu mendengar bunyi sangkala itu, seketika semua orang yang hadir dalam arena adu kepandaian itu melengak kaget.

Saat mana situasi pertempuran sudah mencapai titik puncak yang paling seru.

senjata Hiat-hong ling ditangan Hiathong pangcu sudah diputar dan dimainkan sedemikian rupa sampai seluruh badannya bertabirkan cahaya merah darah yang berhawa dingin, sedemikian hebat dan menakjubkan sampai mengaburkan pandangan.

Betapapun hebat dan lincah permainannya ini selulup timbul diantara kabut hijau yang menderu dingin, berloncatan tangkas dan menari-nari.

Tapi diatas kelihatan gerak geriknya sudah semakin terkekang dan semakin terdesak dibawah angin.

Cambuk sebenarnya berbentuk rantai ular mas ditangan Kim i Pang cu saat mana juga telah dimainkan begitu rupa laksana naga hidup, jurus serangannya sangat aneh dan lucu lagi, seluruh angkasa dilingkupi sinar kuning bayangan ular mas.

Demikian juga sepasang potlot mas ditangan Giok-liong juga telah mengunjukkan perbawa sebagai senjata pusaka yang ampuh mandraguna, lambat laun dan pasti akhirnya Giok liong sudah mendesak lawannya.

Begitu bunyi sangkala terdengar, mendadak Hiat-hong Pang-cu membenturkan sepasang senjata dikedua tangannya sendiri berbareng bersuit keras, seketika seluruh tubuhnya mengepulkan uap merah, pancaran sinar merah darah dari kedua senjatanya itu juga mendadak melebar besar terus menggulung deras sekali kearah Ko-bok im-hun.

Disebelah sana dalam waktu yang bersamaan Kim i pangcu juga mementang mulut memekik panjang dan nyaring menenbus angkasa, setiap kali tangannya menggentak cambuk ular mas di tangannya menari dan membelit-belit dengan kencangnya sampai berbunyi nyaring.

Baru saja para anak buah Kim-i-pang dan Hiat-hong-pang baru bisa berdiri tegak karena terdesak oleh samberan deru angin senjata yang tengah bertempur ditengah gelanggang mendadak melihat pertanda aba-aba serbuan serentak dari pimpinan masmg-masing.

Serempak para komandannya segera menggerakkan senjata beramai-ramai, berbareng puluhan senjata tajam meluncur menyerang musuh ditengah gelanggang itu.

Pada saat yang sama pula, Pemuda baju kuning mendongak bergelak tawa, suaranya nyaring merdu bagai pekik burung hong, sekali membalik tangan tahu-tahu ia sudah melolos keluar sebatang pedang pendek yang memancarkan sinar dingin.

Tangkas sekali badannya menubruk maju laksana burung garuda raksasa, diseling dengan bantalan sinar tajam langsung iapun menerjunkan diri ketengah gelanggang pertempuran.

Ci-hu-giok-li juga insyaf bahwa situasi sudah di ambang pintu, paling gawat, sekali berlaku lambat atau ceroboh sulit dapat mengejar harapan menang.

Terdengarlah suara pemuda baju kuning berkumandang, katanya.

"Nona Kiong, serbulah pintu hidup, biar aku yang rendah menerjang pintu belakang!"

Belum lenyap suaranya sudah disusul garang dan jerit kekalutan berulang-ulang, darah menyemprat deras membasahi rumput nan hijau subur, Ternyata Tan Hak-siau telah menari-nari kencang dan gesit sekali, badannya terbungkus oleh cahaya terang dari pedang pendeknya yang galak dan ganas sekali, sedemikian lincah ia menggerakkan senjatanya laksana bintang bertaburan ditengah angkasa.

Ci-hu-giok li Kiong Ling-ling juga tidak mau ketinggalan terdengar teriakannya nyaring.

"Awas saudara Tan aku menurut saja pada petunjukmu!"

Sekali raih gampang sekali ia merogoh keluar sepotong sapu tangan sutra halus seringan asap seenteng kabut.

Enteng saja digentakkan lantas menerbitkan kabut ungu.

Laksana bidadari menari nari lemah gemulai sebat sekali badannya melayang masuk melalui pintu hidup yang ditunjukkan tadi.

Pintu hidup ini sebetulnya dijaga oleh lima laki-laki kekar berseragam kuning mas, mereka berputar putar cepat dan rapi serta teratur, sinar golok berkelebat cepat bagaikatt bunga salju.

Namun karena barisan ini baru bergerak.

berputarnya masih agak lamban, tapi toh sudah menunjukkan perbawanya yang kompak.

Begitu Kiong Ling-ling menerjang masuk kedalam pintu hidup, kontan ia merasa empat penjuru badannya berkelebatan bayangan kuning mas yang menyilaukan pandangannya, Entah berapa banyak sinar golok berbareng meluruk kearah badannya.

Dasar berkepandaian tinggi hatinya menjadi tabah, tanpa gemetar sedikitpun ia malah tertawa riang, serunya.

"Bagus, kiranya kalian juga ingin mencabut jiwaku!"

Lemah gemulai Ci-hu-giok-Ii bergerak melambaikan seputangannya, sedikit tangan kanan bergetar segulung kabut ungu segera bergulung menerjang kearah seorang laki-laki baju kuning mas didepannya, selain itu tangan kiri juga tidak tinggal diam melambai perlahan kelihatannya memang pelan tapi serentak dengan lambaian tangannya ini ia sudah lancarkan tiga gelombang angin pukulan tangan yang berlainan tujuan dan berbeda sasarannya.

Tak terduga saat mana para peserta pembentuk barisan itu sudah dapat pernahkan diri mereka masing-masing dengan menduduki tempat tempat yang tepat dan penting, yang memberi komando cukup berpengalaman lagi.

Lima orang jadi satu kelompok saling bantu membantu dan bahu membahu, Maka jurus serangan yang rada terlambat menjadi susut bawa hasil, tidak seperti pemuda baju kuning sekali gebrak beberapa orang musuh segera terjungkal, Hati Kiong Ling-ling jadi dongkol, batinnya.

"Agaknya sudah tiba saatnya kita berantas para kurcaci jahat ini."

Seiring dengan tawa merdu yang berkumandang, gerak badannya mendadak berubah, pelajaran tunggal yang istimewa dari keluarga Ci-hu segera dilancarkan.

Maka tampaklah bayangan ungu berkelebatan selulup timbul kadang-kadang jelas dilain saat bergerak menghilang, kabut ungu juga bergulung-gulung semakin tebal melebar keempat penjuru.

Seketika kelima orang baju kuning mas yang menjaga dipintu hidup ini merasa dihadapan mata dan sekitar tubuhnya bermunculan bayangan gadis rupawan berpakaian ungu yang tengah tertawa menggiurkan, tapi setiap kali tangannya bekerja lantas terasa sampokan angin keras yang menyerang ke arah tempat tempat penting ditubuh mereka.

Demi keselamatan jiwa sendiri, kelima orang baju kuning mas yang sudah menduduki tempatnya masing-masing menjadi pontang-panting dan kacau balau, tak bisa bekerja sama lagi.

Masing-masing menggerung dan menjadi nekad memutar golok sendiri untuk melindungi badan.

Dengan demikian bentuk barisan mereka ini menjadi bubar, hal ini memang menjadi tujuan Ci hu-giok-li dengan riang ia berseru.

"Nah kan begini !"

Kelima jari tangannya mendadak menjentik berulang-ulang kearah lima sasarannya, Kontan terdengar laki-Iaki baju kuning yang berdiri paling dekat menggereng tertahan, golok ditangannya tampak dilintangkan serta gerak cepat sekali menangkis angin kencang yang menerjang tiba.

Tapi baru saja sinar goloknya bergerak, lantas terdengar suara tawa ringan yang berkumandang, segulung kabut ungu mengepul datang membawa bau harum terus menungkrup keatas kepalanya.

"Aduuuh"

Jerit yang mengerikan setengah tertahan darahpun berceceran keras sekali, Nyata separo kepala lakilaki baju kuning mas ini sudah terbelah sebagian.

Sebelum tubuh musuh ini roboh ditanah bayangan Ci hugiok li sudah melayang ke arah sasaran Iain.

Di pihak lain kiranya pemuda baju kuning lebih leluasa bekerja, karena berulang-ulang terdengar pekik dan lolong kesakitan serta robohnya para musuh yang merintangi, darah mengalir deras berceceran dimana-mana.

Pada waktu itu terdengar pula suara sangkala yang panjang tinggi melengking menembus angkasa, setelah itu lantas berhenti tak terdengarlah suara apa-apa.

Agaknya Ko-bok-im-hun sudah tidak sabaran lagi, mendadak mulutnya mencebir bersuit keras sekali, badan yang bergerak selincah kera selicin belut itu mendadak berhenti berdiri dengan tegak bagai terpaku diatas tanah, sepasang matanya memancarkan cahaya buas yang berwarna hijau, seluruh tulang badannya berkeretekan, uap hijau murni mengepul dari seluruh badannya.

Sungguh kejut Hiat-hong Pang cu bukan main, sedikit menutulkan kakinya di atas tanah tubuhnya terus melambung tinggi tiga tombak di tengah udara ia menyedot hawa murni, berbareng Hiat-hong-ling di kedua tangannya dibenturkan, seketika terdengar samber angin keras yang membawa suara gemuruh laksana geledek.

Dari ketinggian ini langsung meluncur turun menubruk dengan kekuatan yang dahsyat bagai gugur gunung.

Betapapun dengan itu, mendadak seluruh tubuh Ko bok-imhun mengepulkan hawa merah marong yang menyolok terus menyelubungi seluruh badannya, malah hawa kabut ini semakin meninggi sehingga seluruh badannya tertelan tak kelihatan lagi.

Diam-diam Hiat-hong Pang-cu berteriak dalam hati.

"Celaka, inilah Hian sim-im-ou!"

Seluruh tenaga murninya dikerahkan badan yang meluncur turun itu mendadak jumpalitan terus meluncur minggir kesamping kiri.

Tapi meskipun ia bergerak selincah burung walet, tak urung sudah terlambat setindak.

"Blang", benturan bagai guntur berbunyi ini menggetarkan seluruh gelanggang, angin badai melambung keempat penjuru menggulung seluruh benda yang berada disekitarnya, Terdengar Hiat-hong Pang-cu menguak keras seperti babi hendak disembelih, Kontan badannya mencelat jumpalitan jauh sekali, dari mulutnya segera menyembur darah segar sampai membasahi seluruh kedok dimukanya. Ditengah kabut yang masih mengepul terlihat bayangan merah yang kaku bagai mayat hidup laksana anak panah melesat menubruk kearah Giok-liong. Tatkala itu, Giok-liong sudah lancarkan seluruh ilmu Janhun si sek sampai puncaknya, Sinar kuning mas seperti rantai kuning menggubat seluruh tubuhnya, ditengah angin yang menderu kencang, dengan susah payah ia tengah mendesak Kim-i Pang cu sampai dua tombak, baru saja ia hendak menerjang lagi dengan serangan terakhir sekonyong-konyong dari atas kepalanya terasa segulung hawa dingin telah menungkrup datang. Bertepatan dengan itu, dari dalam rimba sana beruntun muncul beberapa bayangan orang laki laki yang bermuka cakap bertubuh kekar, gerak-geriknya juga cukup gesit dan tangkas sekali, para pendatang ini sama mengenakan seragam jubah biru. Ditengah gelak tawa yang berkumandang nyaring, dua bayangan biru tua yang menyolok muncul lagi dari balik pohon besar membawa cahaya biru yang terang terus menubruk maju memapak kearah Kobok-im hun. Sedang dua bayangan biru lainnya laksana angin lesus menerpa kearah Giok-liong. Melihat situasi yang tidak menguntungkan ini, segera Kim-i Pang-cu mendongak mengeluarkan pekik panjang sebagai aba-aba, serentak dari dalam hutan menerjang keluar lagi puluhan orang seragam hitam dan kuning mas. Maka terjadilah pertempuran gaduh yang gegap gempita, suasana menjadi kacau balau. Ci hu-giok-li dan pemuda baju kuning saat mana sudah terkepung ditengah tengah gelanggang pertempuran. Badan mereka bergerak dengan tangkas dan sebat sekali, setiap kali tangan dan kakinya bergerak, pasti ada beberapa orang yang jatuh roboh sambil menjerit ngeri. Diatas tanah yang datar di lamping gunung yang tidak begitu besar ini, sekarang sudah berkumpul ratusan gembonggembong silat yang berkepandaian tinggi pertempuran yang demikian hebat ini tidak lain hanya bertujuan merampas seruling samber nyawa, jadi hakekatnya sasaran utama bagi mereka sebenarnya hanya satu yaitu Giok-liong. Mana mungkin mereka berdua kuat menahan dan membendung arus serangan musuh yang bertubi-tubi tak kenal putus, sementara itu, Kim-i Pang-cu sekarang sedang berdiri dipinggir gelanggang sambil menenteng cambuk ular masnya, dengan tekun dan cermat matanya tak berkedip mengamati setiap gerak gerik Giok-liong. Begitu tiba didalam gelanggang kedua bayangan biru tadi lantas melancarkan serangan yang berantai tanpa mengenal kasihan lagi, dua jalur sinar biru yang mencorong terang laksana biang lala, kontan membelit dan menyabet kearah pinggang Giok-liong. Tadi dalam menghadapi Kim-i Pang-cu meskipun sudah mengeluarkan setaker tenaganya, untung masih belum mendapat cidera apa-apa, tapi hakikatnya tenaga murninya sudah banyak susut atau tercurah keluar, Kini dilihatnya dua bayangan biru tengah menerjang tiba, timbullah hawa amarahnya, air mukanya yang rada pucat itu seketika menjadi merah padam terbakar oleh kemarahannya, sepasang matanya juga lantas memancarkan sorot kebuasan yang berkilat-kilat. Tenaga Ji-lo mulai dikerahkan berputar cepat diseluruh tubuhnya, potlot mas ditangan kanan rada ditekan sedikit kebawah, lalu bentaknya sinis.

"Yang tidak ingin hidup coba maju kemari!"

Sekarang ia sudah melihat tegas satu diantara kedua bayangan biru adalah Ham-kang-lt ho Pek Su-in adanya.

Luka luka ditangan kirinya itu kini sudah dibalut rapi, agaknya sedikit luka ditangan kiri itu tidak mengurangi atau mengganggu kesehatan dan gerak geriknya.

Salah seorang lain kiranya adalah seorang kakek tua berambut uban, bermuka tepos bertubuh kurus ceking, Tapi gerak gerik si orang tua ini nyata lebih gesit dan lihay, Hamkang-it.ho langsung meluncur datang, belum tiba suara gelak tawanya sudih terdengar suaranya.

"Ma Giok liong, seorang kesatria harus dapat melihat gelagat, Menyerah saja dan seishkan seruling samber nyawa itu, seluruh kaum Pek hun-to tidak akan menyia-nyiakan kebaikanmu ini."

Giok-liong menjadi murka, hardiknya keras.

"Kalau kau mampu marilah ambil sendiri."

Sedikit potlot masnya bergerak, seiring dengan hawa Ji-lo yang melindungi tubuh terus terayun kedepan berubah menjadi seutas bayangan mas menerjang kedepan, Maka terdengarlah suara "trang, trang ..."

Berulang-ulang dari benturan senjata yang nyaring, tiga bayangan orang sedikit terpental mundur sebelum mereka dapat berdiri tegak, ditengah udara masih kelihatan percikan api.

Mendadak si orang tua renta itu memperdengarkan gelak tawa menggeledek, jengeknya.

"Bocah takabur, biarlah tuan besarmu menjajal sampai dimana tinggi kepandaianmu"

Badannya bergerak goyang gontai, sinar dingin seketika berkelebatan, berbareng ia merangsak maju lagi bersama Ham-kang-it-ho.

Sementara itu, di gelanggang lain, baru saja Ko-bok-im-hun melancarkan ilmunya yang baru berhasil dilatih sempurna yaitu Hian-si im-ou, memukul mundur Hiat-hong Pang-cu tengah ia bersiap hendak menubruk kearah Giok-Iiong, Tahutahu dua jalur sinar biru yang berkilauan telah melesat tiba mengancam jiwanya.

Tanpa ayal ia menggerung keras, berbareng kedua tangannya terayun, sekonyong-konyong badannya melejit tinggi ketengah udara membawa kabut merah gelap terus memapak maju.

Begitu kedua belah pihak saling bentur lantas bayangan tiga orang kelihatan mundur gentayangan, tapi gesit sekali mereka sudah menyerang maju lagi bertempur seru sambil membentak-bentak.

Di lain pihak, Ci-hu-giok-li dan pemuda baju kuning juga tengah menari nari dengan lincah dan tangkas sekali membabat dan membacok serta menikam semua orang yang menghalangi didepan tanpa memandang bulu entah mereka dari seragam hitam atau kuning mas serta baju biru tua, yang terang bila berani merintangi pasti dibabat habis-habisan, sedemikian lincah mereka bergerak laksana sepasang kupukupu bermain ditengah rumput bunga, setiap kali senjata dan kaki bergerak saat itu terdengar teriak kesakitan, laksana membabat rumput alang-alang saja gampangnya para musuh satu persatu roboh bergelimpangan.

Sekarang Hiat-hong Pang-cu dan Kim-i Pang-cu malah tidak hiraukan lagi pada Giok-liong.

Tubuh mereka bergerak gesit dan sclicin belut selulup timbul diantara kelompok orang orang seragam biru dari kaum Pek hun-to, Mereka lancarkan tangan ganas yang tidak bertara, beruntun terjangan jerit dan pekik menyayatkan hati menjelang jiwa melayang menghadap Giam lo-ong, terjadilah penjagalan manusia secara sadis.

Mayat manusia sudah bertumpuk laksana bukit darah bergenang menjadi aliran sungai yang masih ketinggalan hidup semakin berkurang, dimana-mana terdengar keluh kesakitan serta bentakan nyaring menambah semangat pertempuran saling susul bersahutan.

Dengan dilantai ilmu Hian-si-im-ou perbawa dan kekuatan Ko-bok-in-hun menjadi lebih besar dan semakin garang.

Betapapun tinggi kepandaian kedua orang berpakaian seragam biru mengeroyoknya itu lambat laun semakin payah dan terkepung oleh bayangan pukulannya, terang mereka lebih banyak membela diri dari pada balas menyerang.

Dalam pada itu, beruntun menghadapi musuh tangguh, tenaga murni Giok-liong sudah tercurah banyak sekaii, tenaganya semakin lembek, keruan akhirnya ia terdesak dibawah angin.

Terdengar Ham-kang-it-ho mengejek dingin.

"Ikan sudah masuk jaring masih berusaha lolos, Ma Giok-liong, kulihat kau ini memang goblok keliwat batas."

Habis katakatanya senjata ditangannya di lancarkan semakin kencang dengan serangan berantai.

Gerak-gerik si orang tua renta kawannya itu juga cukup lihay, tubuhnya bergerak secara aneh, ilmu goloknya juga sudah sempurna betul, serentetan serangan berantai yang dilancarkan secara bernafsu membuat Giok liong terus mundur lagi.

Namun demikian, dalam keadaan yang gawat begitu, Giokliong masih berlaku tenang.

gerak geriknya masih teratur rapi, sahutnya dingin.

"Cengcoreng, hendak menerkam tonggeret, tak tahunya burung gereja berada dibelakangnya. Menurut hemadku justru kalianlah manusia berotak tumpul yang paling goblok melebihi babi?kiranya maki itu ini membawa hasil, sekilas lantas Pek-Su-in berpaling muka menyelidiki kesekitar gelanggang pertempuran. Dilihatnya anak buah dari Pek hunto tengah mulai dibabat roboh habis-habisan, yang masih ketinggalan hidup juga tengah lari pontang panting menyelamatkan diri. Temyata Kim-i-pang cu dan Hiat-hong pang-cu tengah pimpin seluruh anak buahnya yang sedang memberantas seluruh anak buah Pek-hun to ditambah cara turun tangan Cihu-giok-li dan pemuda baju kuning yang secepat kilat bergerak selincah kupu-kupu menari, tanpa pandang bulu lagi, siapa saja yang dekat pasti diserang dan diroboh-kan dengan serangan ganas yang mematikan. Bukan kepalang kejut hati Pek Su-in melihat keadaan yang mengenaskan ini, orang Hiat hong-pang dan Kim-i-pang telah bergabung melancarkan serangan babat habis terhadap Pekhun-to sedang empat tokoh paling kuat dan lihay dari Pekhun-to tengah menghadapi Ko-bok-im-hun dan Giok-liong yang sukar dikalahkan kalau keadaan begini terus berjalan, pasti akibatnya susah dibayangkan lagi. Sesaat tengah mereka sedikit merandek inilah, mendadak Giok-liong menghardik keras, Ji-lo sudah terkerahkan sampai tingkat ke sepuluh, sinar kuning menjadi bianglala berputar deras terus menggulung kedepan menerpa dahsyat kearah musuh, Hanya sekejap saja situasi pertempuran lantas berubah seratus delapan puluh derajat. Kini berbalik Giok-liong mengambil inisiatif pertempuran Ham-kang it-ho berdua berbalik mulai terdesak dibawah angin, Pertempuran dalam gelanggang sudah mulai mereda, tinggal beberapa kelompok orang saja yang masih berkutet. Kim i-pang-cu dan Hiat-hong Pang-cu sudah perintahkan anak buahnya menghentikan pertempuran dan merubung maju mengelilingi gelanggang pertempuran. Sekonyong-konyong terdengar jeritan mengerikan, salah seorang dari dua orang berpakaian biru tua itu terpental jungkir balik sambil menyemburkan darah segar, badannya terbanting keras lima tombak jauhnya, sedikit bergerak dan berkelejetan lantas diam untuk selamanya. Sesaat setelah merobohkan salah seorang musuh tangguh ini, Ko-bok im-hun terkekeh-kekeh terus melejit tinggi ketengah udara dan langsung meluncur kearah Giok-liong laksana seekor burung garuda yang menerkam mangsanya. Kebetulan saat itu Giok-liong tengah mengadu pukulan dengan Ham-kang it-ho.

"Blang"

Sewaktu badannya terpental sempoyongan mundur inilah ia menyedot hawa murni bersiap hendak menerjang maju lagi, tapi mendadak terasa angin dingin kencang sudah menindih tiba diatas kepalanya, tahu dia bahwa dirinya terancam bahaya, maka sambil menggerung rendah potlot mas ditangan kanannya bergerak laksana bianglala menungging keatas terus menyambut maju.

Kontan terdengar keluh kesakitan yaitu keras disusul hujan darahpun terjadi.

Darah mengucur deras dari paha kiri Ko bok-im-hun!

Namun demikian iapun berhasil menutuk jalan darah Pak ki-hiat dipunggung Giok-liong seketika Giok-Iiong rasakan punggungnya linu kesemutan lantas ia jatuh pingsan, hilang kesadarannya.

Dilain pihak Ci hu giok li juga sudah melihat malapetaka yang menimpa Giok liong itu sambil menjerit kwatir badannya secepat angin melesat tiba hendak menolong, namun tubuhnya sudah terlambat, sebab jaraknya terlalu jauh.

Sambil bersuit melengking tadi sebelum kakinya menyentuh tanah, Ko-bok-im hun sudah berhasil mencengkeram kuduk Giok-liong terus dibawa lari kedalam rimba.

Seketika terdengar suara bentakan berantai ramai, baru saja semua hadirin berniat bergerak mengejar....Sementara itu, pemuda baju kuning saat mana juga sudah melihat bahwa Giok-liong sudah terjatuh dibawah cengkeraman musuh, dalam gugupnya ia membentak nyaring terus meluncur mengejar dengan kencang.

Sekonyong-konyong samar-samar terlihat sebuah bayangan merah melambung dari dalam hutan bergerak cepat dan seenteng setan gentayangan serentak semua hadirin menghentikan langkah berbareng berteriak kaget puIa?

"Hiating-bun...

Hiat-ing bun!

..."

Bayangan merah ini sungguh bergerak sangat cepat laksana meteor terbang terus memapak kearah Ko-boi-im-hun "PIak"

Seiring dengan suara benturan keras ini terdengar Kobok-im-hun melolong kesakitan, dua bayangan lantas terpecah mundur dua jurusan, darah berceceran ditengah udara, Sekejap saja bayangan merah itu lantas Ienyap.

Begitu banyak tokoh tokoh silat dalam arena pertempuran ini, tapi tiada seorangpun yang dapat melihat tegas, sebetulnya Giok-liong sudah direbut dan terjatuh di tangan siapa.

Mendadak Hiat-hong Pangcu berkata kepada Kim-i-pang cu.

"Kita berpencar, kejar !"

"Benar !"

Serentak mereka keluarkan perintah berbareng kedua jurusan, sebentar saja bayangan mereka sudah menghilang. Ham-kang-it ho memeriksa keadaan gelanggang pertempuran sebentar lantas iapun berseru keras.

"Mari kejar !"

Berbareng tangan diulapkan terus berlari kencang ke jurusan titnur, Tinggal para korban yang sudah mati atau yang luka berat masih ketinggalan dalam arena pertempuran ini bersama pemuda baju kuning dan Ci-hu-giok-li berdua.

Pemuda baju kuning tertawa getir, katanya.

"Marilah kita juga mengejar !"

Ci-hu-giok-li manggut-manggut dengan hampa. Kata pemuda baju kuning pula.

"Pergilah kau mengejar orang dari Hiat-ing-bun itu, biar aku mengejar Ko bok-im hun !"

Ci-hu-giok-it manggut-manggut lagi, terus mereka mengejar kedua jurusan.

Kini Tiang sun po menjadi sunyi lengang lagi, tinggal terdengar keluh kesakitan mereka yang tertinggal dengan luka parah, keadaan yang mengenaskan ini benar-benar bisa mendirikan bulu roma orang yang menyaksikan.

Seluruh penghuni alam semesta ini seolah-olah sudah mati seluruhnya, keadaan dalam dunia ini mengapa sedemikian tenang dan sunyi senyap.

Giot-liong merasa seluruh badan sakit-sakitan dan sedikitpun tak mampu bergerak, tapi matanya saja yang dapat terbuka dan bergerak, Begitu ia pentang kedua matanya, terlihat keadaan sekelilingnya kotor penuh gelagasi laba-laba, atap rumah penuh dalam hati ia menebak-nebak mungkin dirinya sekarang berada dalam sebuah kuil bobrok yang Iama tiada penghuninya.

Tak jauh dari tempatnya berbaring ini dilihatnya dua gadis remaja berwajah putih halus tengah duduk bersila, mungkin mereka sedang semadi memulihkan tenaga.

Pengalaman semalam lantas terbayang lagi dalam lautan pikirannya, hanya teringat olehnya bahwa dirinya sudah terjatuh ditangan Ko-bok-im-hun Ki Jtiat.

Kejadian selanjutnya lantas tidak diketahui Maka sekarang dia merasa heran dan gelisah.

Cuma yang mengherankan adalah dari masa Ko-bok-im hun bisa mempunyai pelayan gadis remaja berwajah ayu menggiurkan ini?

Hatinya gelisah karena menguatirkan apakah Potlot mas dan Jan-hun ti peninggalan perguruannya itu masih berada dalam buntaIannya.

Tapi hakikatnya dia sendiri sekarang tidak dapat bergerak sampai memutar kepalapun tidak bisa, apapula untungnya hati kwatir dan gelisah?

Lambat laun pengalaman selama ini laksana gelombang samudera dipesisir laut bergulung-gulung mendebur hatinya.

Teringat ayah bunda yang hilang entah kemana, saudara kandung yang berpisah tinggal dia seorang diri hidup sebatang kara dengan membekal tugas berat.

Betapa juga aku harus mencari jejak ayah bunda serta adikku, apalagi sebelum dendam sakit hati orang tua belum terbalas, ini merupakan tanggung jawab yang harus dilaksanakan sebagai putra berbakti.

Kenangan lama ini menimbulkan rasa dendam dan kebencian yang semakin berkobar membakar hati terhadap Kim-i-pang dan Hiat-hong-pang, sungguh dia sangat gegetun kepada kepandaian sendiri yang kurang sempurna sehingga dalam pertempuran semalam tidak mampu membongkar kedok Kim i Pang-cu dan Hiat-hong Pang cu.

Pesan gurunya untuk mencari dan menemukan Kim leng-cu juga belum dapat terlaksana, Dimanakah Ang-I mo li Li Hong, seumpama dia mengalami cidera atau terancam jiwa dan kesuciannya, bukankah ini perbuatan salah dirinya?

Teringat pula akan Wi-thian-ciang Liong Bun yang menyelundup dalam hutan kematian, dimana ia memberi pesan akan tugas berat tentang mati hidup kaum persilatan umumnya.

(BERSAMBUNG

Jilid KE 8)

Jilid 08 Dan lagi murid Pat-ci-kay-ong yaitu iblis rudin Siok Kuitiang, istri tersayang Coh Ki-sia masih berada di Hwi-hun-sancheng yang tengah menunggu dirinya puIang.

Kasih sayang dan perhatian Ci-bu-giok-li terhadap dirinya, Gerak gerik misterius pemuda baju kuning Tan Hak-siau, serta uluran tangan membantu kesukaran yang tengah di hadapi itu, semua peristiwa ini laksana gambar bioskop bergantian terbayang didalam benaknya.

Dalam jangka setengah tahun ini ia harus dapat menemukan gurunya, untuk berusaha menghadapi gerakan besar-besaran yang mungkin dikerahkan oleh hutan kematian.

Sungguh besar tanggung jawab yang dipikulnya ini !

Selain sakit hati keluarga dan tugas berat perguruan, sekarang secara tidak langsung dirinya sudah menjadi kurir sebagai penyambung berita akan bahaya kehidupan kaum persilatan khususnya.

Tapi sekarang dirinya sudah terjatuh di cengkeraman Kobok-im-hun, jalan darah tertutuk tak mampu bergerak, Sudah tentu Kim-pit dan Jan-hun-ti peninggalan gurunya itu sudah terampas oleh musuh, kalau dirinya tidak hati-hati dan sabar menghadapi situasi mungkin jiwanya sendiri juga bisa melayang.

Karena pikirannya ini, hatinya menjadi rawan dan masgul, tanpa merasa dua titik air mata mengalir keluar.

Sinar sang putri malam yang cemerlang menyorot masuk melalui celah-celah genteng yang pecah, menambah keadaan dan suasana dalam rumah bobrok ini menjadi sunyi seram.

Karena tidak dapat bergerak, pandangan mata Giok-liong hanya tertuju keatas, kebetulan di ujung atap sana ada lobang cukup besar untuk dapat memandang keluar, terlihat bintang kelap kelip diatas cakrawala nan biru kelam.

Air mata semakin membanjir keluar menggenangi kelopak matanya sehingga pandangan menjadi buram.

Giok-Iiong berusaha mengerahkan hawa murni untuk menjebol jalan darah yang tertutup, tapi usahanya ternyata sia-sia !

Baru sekarang didapatinya bahwa jalan darah yang tertutuk di dalam tubuhnya bukan satu dua tempat saja, Maka tidak mungkin lagi ia dapat menghimpun hawa murninya yang terpencar untuk menerjang jalan darah yang buntu.

Sungguh dia tidak tahu cara bagaimana ia harus berbuat.

Tengah pikirannya tenggelam dalam kehampaan, kedua gadis remaja yang duduk bersila itu sudah siuman.

Gadis disebelah kanan beraut muka rada lonjong pelan-pelan berdiri lemah gemulai, katanya kepada gadis disebelah kiri.

"Chiu-ki cici, apa Siocia ada memberitahu kapan beliau bakal kembali ?"

Gadis sebelah kiri itu juga bangun berdiri, sahutnya tersenyum manis.

"Ha-lian-cici tidak lama lagi pasti siocia bakal tiba."

"Siocia ini memang, kemanakah ia pergi, Sudah sekian lama belum pulang, sekarang sudah menjelang malam."

"Katanya Siocia pergi ke kota yang berdekatan untuk membeli makan."

"Ya, Allah. Berapa lama dari sini ke kota! Mengapa mendadak timbul keinginan Siocia hendak membeli makanan apa segala? Biasanya kalau melakukan perjalanan diatas belukar, selamanya belum pernah beliau membeli makanan tetek bengek."

Tanpa tedeng aling-aling mereka memperbincangkan sang majikan, tak tahunya ini Giok-liong sudah sadar sejak tadi.

Mendengar pembicaraan kedua gadis remaja ini, hati Giokliong menjadi heran.

Terang gamblang bahwa dirinya sudah terjatuh ditangan Ko bok-im-hun, lalu dari mana pula muncul seorang "Siocia"

Pula?

Apakah Ci-hu-giok-li telah menolong dirinya?

Tidak mungkin, Kalau benar Ci-hu giok-Ii, mengapa dia tidak membebaskan tutukan jalan darahnya?

Tengah ia berpikir-pikir ini, tidak jauh dipinggir tubuhnya sana mendadak terdengar suara cekikikan merdu, serta suara berkatai "Ha lian, Chiu-ki, jangan sembarang ngomong ya, awas nanti kupotong kedua kaki kalian."

Ha-lian dan Chiu-ki saling berpandangan dan membuat muka setan sambil berjingkrak bangun, serunya.

"Siocia kau sudah datang!"

Bau arak dan daging panggang lantas terendus ke dalam hidung Giok-liong, sayang ia tidak mampu bergerak, kalau tidak tentu ia sudah berpaling kearata sana untuk melihat sebentar orang macam apakah siocia yang dibicarakan tadi sekarang dia hanya dapat memastikan sedikit, yaitu suara Siocia ini adalah sangat asing bagi pendengarannya.

Meskipun masih asing tapi enak didengar, seolah-olah bunyi kelintingan perak yang dapat menggetarkan sanubari pendengarannya.

Bau arak dan daging panggang yang harum semerbak membuat perutnya terasa keroncongan berbunyi kerutukan.

Suara merdu yang nyaring itu lantas berkata lagi.

"Ha-lian, orang she Ma itu sudah kelaparan, pergilah kau bebaskan jalan darahnya supaya dia makan sekedarnya."

Ha-lian mengiakan, lalu katanya.

"Orang ini memang cukup kasihan, ya, Siocia!"

Suaranya yang terakhir diulur panjang seakan-akan memang sengaja hendak bergurau dan menggoda.

"Hus, Ha lian, kau ini dengar perkataan ku tidak?"

Saat itulah Chiu-ki lantas menyela.

"Sio-cia, badan orang ini menderita luka-luka yang tidak ringan, apalagi jalan darahnya sudah tertutuk sehari semalam, mungkin rada... menurut hemat hamba, terlebih dulu harus dijejali obat kuat dulu."

"Hm ... terserahlah kepadamu."

Baru saja perkataan ini lenyap, terlihatlah sebuah tangan putih halus pelan-pelan diulurkan kedepan ointanya, jari-jari runcing bagai duri harus itu menjepit sebutir pil warna merah yang mengkilap terus dijejalkan kedalam mulutnya.

Segulung bau wangi yang menyegarkan badan dan semangat terus menerjang kedalam otaknya, sehingga badan yang tadi terasa pegal linu serta pikiran pepatnya seketika segar kembali, Pil itu begitu masuk kedalam mulut lantas lumer menjadi cairan tertelan masuk kedalam perut terus menembus ke pusarnya.

Dan bertepatan dengan itu tubuhnya terasa tergetar bergantian, nyata tutukan jalan darahnya telah dibebaskan.

Cepat-cepat ia kerahkan hawa murni menuntun khasiat obat berputar diseluruh badannya.

Tak lama kemudian terasa tenaga dalamnya penuh sesak, hawa murni bergulung-gulung seperti hendak melonjak keluar.

Nyata bahwa luka lukanya sudah sembuh seluruhnya.

Bergegas segera ia melompat bangun sam bil memandang celingukan Tampak terpaut setombak disebelan sana ada sebuah meja sembahyang yang sudah dibersihkan kedua sisi meja diduduki Ha-lian dan Chiu-ki sedang yang duduk ditengah adalah seorang gadis jelita yang mengenakan pakaian warna merah muda, Rambutnya panjang semampai laksana sutra halus berkilau gelap terjulur diatas pundaknya, alisnya lentik bagai bulan sabit, dengan bibir merah laksana delirna merekah, kulitnya putih halus laksana batu giok.

Melihat Giok liong sudah berdiri segera ia unjuk senyum manis, terlihatlah dekik menggiurkan di kedua pipinya, katanya nyaring.

"Ma-siau hiap, kau tidak kurang suatu apa bukan ?"

Tersipu-sipu Giok liong soja sembari katanya.

"Banyak terima kasih akan budi pertolongan nona ini, aku yang rendah takkan melupakan selamanya."

Dalam hati ia beranggapan bahwa dirinya telah tertolong dari cengkeraman Ko bok-imhun oleh ketiga majikan dan pelayan. Gadis jelita itu tersenyum simpul.

"Ah mengikat diriku saja, Ma-siau-hiap pasti sudah lama tidak makan bukan, mari silakan tangsel sekedarnya."

Giok-liong soji lebih dalam lagi, tanyanya.

"Harap tanya siapakah nama nona yang harum ?"

"Aku bernama Liong Soat-yan ....."

Lalu ia berdiri menunjuk kedua pelayannya di kanan kiri lalu sambungnya lagi ini Ha-lian dan ini Chiu-ki "

Giok-liong maju pelan-pelan menghampiri meja Ling Soatyan segera mengulurkan tangannya menyilakan Giok-liong duduk di-hadapannya.

Diatas meja penuh dihidangkan makanan-makanan lezat, ada sayur mayur dan ayam panggang serta arak dan lain-lain.

Setelah sekedarnya sapa sapi bermain sungkan-sungkan, mulailah mereka gegares bersama, Tapi terasa suasana rada janggal dan kikuk.

sedang Ha lian dan Chiu-ki saban-saban tertawa cekikikan sambil pelerak-pelerok.

Setelah menenggak secangkir arak, Ling Soat-yan berkata kepada Giok-liong sambil unjuk senyum manis.

"Konon kabarnya Ma-siau-hiap adalah murid penutup dari majikan Kim pit dan Jan-hun-ti !"

Bercekat hati Giok-liong, baru sekarang teringat potlot mas dan seruling samber nyawa itu olehnya, Entah apa masih digembol dalam badannya tidak, kalau sudah bilang entahlah harus bagaimana !

Namun sekarang tengah duduk makan minum berhadapan dengan nona Ling, kalau merogoh menggagapi kantong rasanya kurang hormat.

Sebaliknya pertanyaan yang diajukan sekarang ini, haruslah ia menjawab secara jujur atau perlu mengapusi saja ?

Tapi setelah dipikir dipikir kembali, apa pula halangannya berkata terus terang ...

Ling Soat yan tertawa geli, ujarnya.

"Apakah Ma-siau-hiap ada kesukaran untuk menerangkan?"

Cepat Giok-liong unjuk tawa dibuat-buat, katanya.

"Ah, bukan, bukan begitu, potlot mas dan seruling samber nyawa itu memang pemberian guruku."

Raut muka Ling Soat-yan mengunjuk sedikit perubahan, tapi hanya sekejap saja lantas terlindung oleh senyum manisnya yang memikat hati, ujarnya nyaring.

"Kudengar katanya pertempuran semalam yang sengit itu adalah untuk memperebutkan seruling samber nyawa itu ?"

Giok-liong manggut-manggut.

"semalam Kim-i pang, Hiathong pang, Pek -hun -to dan Ko bok im-hun serentak turun tangan, situasi waktu itu sungguh sangat berbahaya. Mendadak Ling Soat-yan berseru heran, raut mukanya yang jelita itu mengunjuk rasa heran dan aneh, katanya.

"Lalu mengapa Ma-siau hiap semalam bisa berada didalam kuil bobrok ini, dengan tertutuk jalan darahnya ?"

"Apa?"

Tercetus pertanyaan Giok-liong keras-keras saking kaget, Bersama itu tangan kanan lantas menggagap kearah pinggang, dilain saat lantas terlihat selebar mukanya menjadi pucat pias.

Keringat dingin merembes diatas jidatnya, Kiranya Potlot mas memang masih ada tapi seruling samber nyawa itu sudah lenyap.

Terdengar Ling Soat yan berkata lagi.

"Waktu kami semalam lewat ditempat ini kulihat kau tertutuk jalan darahmu dan di baringkan disebelah sana . ."

"Kalau begitu ..... jadi nona Ling belum pernah bergebrak dengan Ko-bok-im-hun Ki-kiat?" .

"Tidak !"

Tanpa merasa Giok-liong menggigit gigi kencang-kencang sampai berbunyi berkeriutan, hawa amarah merangsang dalam benaknya, desisnya berat.

"Budi pertolongan nona Ling kali ini biarlah kelak kubalas, sekarang juga aku harus mengejar kembali benda pusaka milik perguruan itu, kalau tidak mana aku ada muka menghadap kcpaia guruku ... , belum habis kata-katanya, kaki kanan sedikit menggentak tanah, tubuhnya melejit ringan sekali laksana segulung kabut putih terus menerobos keluar lenyap dibalik hutan. Tercetus teriakan Ling Soat-yan.

"Ma-siau hiap tunggu sebentar. Dari jauh terdengar kumandang ucapan Giokliong.

"Harap maaf, lebih penting aku mengejar kembali milikku itu."

Suaranya terdengar semakin jauh dan lirih, akhirnya sirna, setelah Giok-liong pergi tanpa merasa Ha lian dan Chiu-ki terlongong longong memandangi Ling Soat-yan.

Mendadak seperti paham sesuatu soal Ha lian berkata riang.

"siocia sungguh pintar! Kalau kita pulang tentu Loya sangat girang. Sebaliknya Chiu-ki berkata mendelu penuh sesal.

"siocia tidak seharusnya kau ngapusi dia Dia seorang yang sangat baik, jikalau dia tahu kau bohong, selamanya dia tak kan kembali lagi."

Ling Soat-yan menghela napas dengan masgul, ujarnya.

"Ayah menyuruh aku mencabut nyawanya dan merebut benda pusaka miliknya untuk memutus keturunan Ji-bun, tapi aku ... ."

Butir air mata laksana mutiara lambat laun menggenangi kelopak matanya terus mengalir membasahi pipinya, Pelanpelan dirogohnya keluar dari dalam bajunya sebatang seruling batu giok warna putih mulus bening.

Terang itulah Jan-hun-ti milik Giok-liong itu.

Butiran air mata berderai mengalir deras, kalanya sambil sesenggukkan dengan rawan.

"Oh, Tuhan, Kenapa aku harus terlahir di Hiat ing-bun...aku hendak kembalikan seruling ini lagi pada dia . ."

Ha-lian maju mendekat, katanya.

"Siocia, marilah kita lekas pulang, Loya pasti sangat senang, buat apa kau harus bersedih, seumpama seruling ini digembol olehnya, lambat laun cepat tentu juga direbut orang lain, bukankah sama saja persoalannya "

Sebaliknya Chiu-ki membujuk dengan kata-kata halus.

"Jikalau siocia tidak mau melukai hatinya segera harus menyusul ke-sana, Kalau terlambat mungkin dia bisa terjatuh dibelenggu Thian-lam-say-yau. Sampai saat mana menyesal juga sudah kasep !"

Ha lian juga tidak mau kalah debat, bentaknya.

"Orang she Ma itu boleh terhitung seorang pemuda gagah ganteng, tapi belum tentu siocia pasti ketarik akan tampangnya itu, seumpama lebih cakap lagi juga apa gunanya, sifatnya rada ketolol-tololan..."

Mendadak Ling Soat-yan mendehem pelan-pelan terus bergegas berdiri, agaknya ia sudah ambil keteiapan, katanya pada Ha-lian dan Chiu-ki.

"Kalian boleh pulang dulu memberi lapor kepada ayah, bahwa aku pergi mencarinya, jikalau ayah mendesak biarlah kelak aku yang memberi keterangan,"

Segera Ha-lian mengajukan usul yang menentang kehendak siocianya itu.

"Tidak bisa, kalau siocia pulang, tentu Loya akan marah."

Chiu-ki juga membujuk dengan lemah lembut.

"Siocia, biarlah hamba ikut kau saja, paling tidak sepanjang jalan ini kau punya kawan bicara."

Ling Soat-yan manggut-manggut, katanya.

"Baiklah.."

Lalu ia berpaling kearah Ha-lian dan berkata pula.

"Kau pulang lebih dulu, mari kita berangkat!"

Ha lian menjadi gugup, serunya.

"siocia mana boleh begini ..."

Namun Ling Soat-yan sudah berjalan pergi diikuti Chiu-ki, seruling samber nyawa disimpan lagi kedalam bajunya, tak lama kemudian bayangan mereka sudah menghilang didalam hutan.

Ha lian menjadi gemas dan dongkol, gumamnya sambil membanting kaki.

"Tidak hiraukan aku lagi, aku pulang lapor! "

Lalu iapun berlari-lari kencang kearah yang berlawanan.

Setelah meninggalkan kuil bobrok itu Giok-Iiong terus berlari dengan pesatnya menerobos hutan lebat.

Timbul banyak pikiran yang menyangsikan membuat hatinya bergejolak.

Ling Soat-yan, gadis ayu jelita ini naga-naganya memiliki ilmu silat yang tinggi, Tapi diteropong dari seluruh dunia persilatan masa kini, hakikatnya tiada seorang tokoh kenamaan yang mempunyai nama she Ling, Begitulah sambil berlari otaknya terus bekerja.

Tidak terasa tahu-tahu dia telah menerobos ke luar dari hutan lebat itu.

Tiang sun po sudah diambang matanya.

Mayat bergelimpangan dimana-mana terlihat kaki tangan yang tidak lengkap dengan darah berceceran bercampur otak yang kepalanya pecah, sungguh pemandangan yang mengerikan.

Pertempuran berdarah semalam sudah lalu, keadaan disini menjadi begitu sunyi leosan, Ci-hu giok-li dan Tak Hak-siau tidak diketahui ujung parannya.

Yang paling celaka adalah kemana pula juntrungan Ko-bok-im hun.

Jikalau tidak dapat menemukan Ko-bok-im hun berarti seruling sambar nyawanya juga susah dicari kembali.

Tapi kemanakah sebetulnya Ko bokim hun telah pergi ?"

Mau tak mau Giok-liong harus berpikir secara cermat.

"Dia menaruhku didalam sebuah kuil bobrok, hanya menggondol seruling samber nyawa itu saja, ini menandakan bahwa dia sendiri juga menderita luka-luka parah, jikalau benar-benar ia terluka parah menggondol pergi benda pusaka lagi, pasti tindakan yang terutama baginya adalah mencari suatu tempat yang tersembunyi untuk mengobati iuka-lukanya dulu, baru mencari jalan keluar melalui semak belukar yang jarang diinjak manusia."

Analisa ini memang rada masuk diakal.

Semakin dipikir semakin tepat dugaannya, segera ia menyedot hawa dalam-dalam terus kembangkan Ieng-hun toh sampai puncak kemampuannya.

Maka terlihatlah segulungan bayangan putih yang samar-samar meIayang pesat sekali dari puncak kepuncak dengan gerik langkah laksana burung terbang.

Begitulah setelah sudah lama ia berlari lari diatas pegunungan yang senaak belukar iai tahu-tahu dia sudah berlari sejauh ratusan li, Keadaan disini rada datar tapi sekelilingnya penuh ditumbuhi pohon-pohon alas yang besar tinggi, kiranya dia semakin dalam memasuki hutan lebat yang belum pernah diinjak manusia.

Sekonyong-konyong Giok-liong merandekan langkahnya, Gesit sekali badannya mendadak berhenti meluncur terus berdiri tegak bagai terpaku didepan noktah-noktah darah yang masih segar.

Dari noktah darah yang masih belum membeku seluruhnya ini boleh dipastikan tentu ditinggalkan belum lama ini, ini berarti bahwa orang yang terluka tentu masih berada ditempat yang berdekatan saja.

Sambil mengerutkan alisnya Giok-liong beranjak memeriksa keadaan sekelilingnya.

Ditemukan disemak-semak rumput kering di sebelah kiri sana ada tetesan darah yang memanjang menuju kedalam sebuah hutan gelap.

Pelan-pelan Giok-liong menarik napas lalu mengerahkan tenaga Ji-lo untuk melindungi badan setindak demi setindak ia maju kearah hutan gelap itu.

Setelah berada dalam hutan yang sunyi dengan keadaan yang seram mencekam sanubari, dimana-mana terlihat rumput dan dedaunan kering berserakan mulai membusuk, walaupun saat itu tiada angin dingin menghembus, cuaca menjelang terang tanah ini dalam keadaannya yang sunyi menakutkan benar-benar membuat siapapun pasti bergidik merinding.

Sekonyong-konyong secuil kain kuning menarik perhatian Giok-Iiong.

Disemak di antara rumput-rumput kering yang tertumpuk dedaunan kering pula muncul selarik kain kuning, Kalau lebih ditegasi lagi lantas terlihat noktah-noktah darah bertetesan memanjang itu langsung menuju ketumpukan rumput dan dedaunan kering itu.

Bergetar jantung Giok-liong, Bukankah secarik kain kuning yang dilihatnya ini persis benar dengan pakaian kuning yang dikenakan oleh Tan Hak-siau, Tanpa ragu-ragu lagi segera ia melompat maju terus menyingkap tumpukan rumput kering itu.

Ya Allah, Pemuda baju kuning Tan Hak-siau rebah dengan kedua biji mata dipejamkan, air mukanya rada bersemu merah jingga.

Ujung mulutnya masih merembes darah segar badannya kaku rebah diatas tumpukan rumput kering itu.

Diulurkan tangan meraba pernapasannya terasa jalan pernapasannya sudah sangat lemah dan kempas kempis, jiwanya tinggal menunggu waktu saja, yang paling mengherankan adalah dari badan yang telah membeku kejang ini menguap hawa dingin.

Tak kuasa Giok-liong sampai berseru kwatir.

"Hian si im-cu. Mungkinkah Ko-bok-im-hun...."

Tidak banyak waktu untuk berpikir lagi, sebab kalau ia tidak segera memberikan pertolongan kemungkinan besar jiwa pemuda baju kuning ini takkan tertolong lagi.

Sedikit bimbang lantas Giok-Iiong merogoh keluar sebuah pulung kecil yang terbuat dari batu giok sedikit pencet pulung kecil itu pecah menjadi dua potong, Didalam pulung kecil ini tersimpan tiga butir pil merah, satu diantaranya lantas dijejalkan kedalam mulut Tan Hak siau, Lalu ia sendiri juga berjongkok membungkuk badan, setelah menarik napas panjang terus menempelkan mulut sendiri kemulut pemuda baju kuning.

Menanti pil merah itu sudah hancur mencair didalam mulutnya dan tertelan habis baru Giok liong bangkit dan menjinjing tubuhnya dibawa masuk kearah hutan yang lebih daIam.

Disebelah muka sana adalah lereng bukit yang rada curam, dilereng ini ada sebuah batu besar berdiri tegak ditengahtengah.

Waktu Giok-liong mengitari batu besar ini dilihatnya dibelakang sana ternyata terdapat sebuah gua besar.

Keruan hatinya girang bukan main, sambil menjinjing tubuh pemuda baju kuning Tan Hak-siau, Giok liong terus menerobos masuk.

Sampai saat itu Tan Hak-siau yang berada didalam pelukan dadanya semakin dingin dan kaku, seperti setunggak belok besar.

Teringat olehnya betapa simpatiknya pemuda baju kuning ini berulang kali mengulurkan tangan membantu dirinya.

Kini ternyata terluka oleh ilmu Hian-si-im-ou yang jahat dan berbisa, Betapa juga dirinya harus menolong sekuat tenaga.

Tadi ia sudah memberikan sebutir pil Hwe -yang -tan, obat paling mujarab dari perguruannya, bukan saja obat termahal dan paling manjur, obat ini juga tidak sembarangan boleh digunakan kalau tidak menghadapi jurang kematian.

Giok liong insyaf, jalan satu satunya untuk menolong jtwanya hanya mengorbankan ketiga butir Hwe-yang-tan ini, lalu menggerakkan hawa murni dan bara hangat dalam badannya untuk membamu bekerjanya kasiat obat malah harus mengerahkan seluruh tenaga lagi.

Dengan tubuh yang telanjang bulat saling dempet dan merapat mendesak hawa racun keluar badan, Selain cara ini agaknya tiada cara lain lagi yang lebih sempurna.

Dilihatnya pernapasan Tan Bak-siau semakin lemah, raut makanya juga sudah mulai berubah menggelap, Giok-liong tahu kalau tidak segera memberikan pertolongan, mungkin tiada harapan lagi.

Tapi cara pengobatan yang diketahui ini adalah cara yang paling menghabiskan semangat dan tenaga, Giok-liong juga tahu dengan kemampuan atau Latihan Lwekangnya sekarang jauh dari ukuran yang semestinya melakukan pengobatan cara berbahaya ini.

Seumpama ia nekad melakukan cara pengobatan ini, bukan mustahil bukan saja tidak dapat mengobati penyakit orang malah jiwa sendiri juga bakal dikorbankan seluruh hawa murni dan semangatnya akan terkuras habis.

Kalau hal ini sampai kejadian bagaimana mungkin dirinya dapat mengejar balik seruling samber nyawa itu?

Pelan-pelan dengan ringan ia merebahkan badan Tan Hak siau diatas tanah.

Memandangi wajah yang mulai menggelap hitam itu, hati Giok-liong semakin gundah tak tentram.

Akhirnya ia menggertak gigi, berkata lirih.

"Seumpama harus berkorban lagi lebih parah betapa juga aku harus menolong jiwanya."

Setelah teguh tekadnya lalu dikeluarkan pula putaran kecil itu.

Dituangnya sisa kedua butir pil Hwe-yang-tan terus dimasukkan ke-dalam mulut sendiri terus dikunyah sampai hancur, seperti tadi ia membungkuk badan terus menjejalkan obat yang dikunyah itu ke dalam mulut Tan Hak-siau, malah harus mengerahkan hawa murni lagi untuk menyurung obat masuk ke dalam perutnya.

Pada saat mana diluar gua berkelebat bayangan merah jingga, bersama itu terdengar pula seru kejut yang tertahan.

Tapi perhatian Giok-liong seluruhnya sedang terpusatkan menyurung kasiat obat ke-dalam mulut Tan Hak siau, sudah tentu ia tidak perhatikan akan kejadian diluar.

Setetah seluruh cairan obat masuk kedalam mulut Tan Haksiau, Giok liong membimbing badan orang duduk lalu ia sendiri duduk bersila di belakangnya persis, Kedua telapak tangannya menyungging kepunggungnya, mulai ia mengerahkan tenaga murni menuntun kasiat obat bekerja diseluruh badannya.

Kira-kira seperminum teh berselang, jidat Giok-liong sudah basah kuyup oleh keringat sebesar kacang kedele, baru ia lepas tangan dan berdiri sungguh diluar perhitungannya bahwa Hian-si-im-ou ini ternyata sangat berbisa.

Membuat kekuatan bekerja tenaga murninya sangat lambat dan sangat dipaksakan.

Begitu lepas tangan ia baringkan lagi badan Tan Hak-sian.

Badannya kini rada sedikit lemas, Hawa dingin yang merembes keluar juga rada berkurang.

sebetulnya Giok-liong harus istirahat dulu menghimpun semangat baru bekerja lagi, namun dalam keadaan gawat dengan kemampuan sendiri yang terbatas ini ia tidak berani ajal-ajalan, sebab dia tahu cara pengobatan berat ini tidak boleh berhenti ditengah jalan, sekali berhenti kemungkinan besar jiwa pemuda baju kuning Tan Hak-siau ini bisa melayang.

Maka begitu ia berdiri langsung ia bekerja melucuti seluruh pakaian sendiri.

Walaupun ditempat sunyi tiada orang lain yang melihat, tak urung Giok-liong merasa jengah dan malu juga sampai muka terasa panas.

Tapi demi menolong jiwa orang apa boleh buat!

Setelah seluruh pakaian sendiri dilucuti muIailah ia membuka pakaian pemuda baju kuning Tan Hak-siau.

Baru saja ia melucuti pakaian bagian atas, lantas Giok-liong berhenti dan melongo, Kontan merah padam kedua pipinya, Sebab apa yang terpentang didepan matanya tak lain adalah bukit tandus yang halus mengganjal padat dengan kulit yang putih mulus.

Tak lain inilah dada milik dara jejaka, Giok-liong mengeluh dalam hati.

"Oh Tuhan, mungkinkah dia seorang... Tapi bagaimana juga dia tidak boleh berhenti sebab tertunda sedetik saja jiwa Tan Hak-siau mungkin bisa tidak tertolong lagi, Maka setelah seluruh pakaiannya dilucuti pula, sepasang pandangan mata Giok liong menjadi gelap, otaknya juga butek seperti dipalu. Perempuan, tak lain memang perempuan adanya, Tubuh yang ramping menggiurkan dengan dada yang montok padat berkulit putih halus laksana batu giok yang bening. Giok liong menjadi ragu-ragu dan bimbang. Oh Tuhan bagaimanakah ini! Tak mungkin melihat kematian tanpa menolongnya. Tapi kenyataan dia adalah seorang gadis remaja bagaimana ia harus berbuat? Akhirnya ia nekad dan mengertak gigi, sambil pejam mata hawa murni terus dikerahkan seluruh badan sendiri terus menindih lempang dibadan Tan Hak-siau, Desis hawa murni yang panas mengepul keluar dari lobang pori pori seluruh badannya terus meresap masuk kedalam badan Tan Hak siau. Tiba-tiba diambang pintu gua muncul sesosok bayangan merah jingga, nyata Hiat-ing Kiongcu Ling Soat-yan telah tiba kedua matanya berlinang air mata. Sebetulnya ia sudah rada lama mengintip diluar gua dan menonton seluruh adegan yang terjadi didalam sini, pelanpelan ia angkat jari telunjuknya yang runcing halus tertuju kejalan darah Bing-bun hiat Giok-liong. Saat mana sedikit ia kerahkan tenaga saja, pasti Giok-liong dan Tan Hak-siau bakal melayang jiwanya secara penasaran. Lama dan lama kemudian, butiran air mata yang berkilau bening pelan-pelan mengalir turun dari kedua pipinya. Sambil menghela napas gegetun ia turunkan jari tangan kanannya, sepasang matanya yang bening indah memancarkan sorot kehampaan yang merawankan hati, sedikit bergerak laksana bintang jatuh bayangan merah menghilang sekejap saja ia sudah melesat keluar gua. Diluar gua tak jauh dari batu besar itu, Chiuki berdiri dengan gelisah. Begitu melihat majikannya keluar segera ia maju menyambut tanyany.

"Siocia, orang she Ma ... eh, siocia kau..."

Kata Hiat ing Kongcu Ling Soat-yan sesenggukkan.

"Terhitung ....aku ini yang buta melek ... manusia rendah seperti binatang itu .., . pergi. pergi, pergi, Marikita tinggal pergi, aku ....selamanya tak sudi berjumpa pula dengan dia..."

Lemah semampai badannya bergerak, laksana kilat badannya meluncur keluar dari rimba gelap ini.

Meninggalkan butiran air matanya yang menyiram ditanah pegunungan.

Terpaksa Cniu-ki harus kembangkan juga Ginkangnya untuk mengejar majikannya.

Dalam pada itu begitu Giok-liong rebah menindih tengkurup rapat dengan tubuh yang langsing semampai, Meskipun ia kerahkan seluruh hawa murninya dengan sepenuh perhatian disalurkan masuk ketubuh orang, lama kelamaan ia merasa diatas badannya mulai ada sedikit perubahan yang aneh.

Dua benda padat yang tertekan dibawah dadanya mengeluarkan bau harum semerbak yang memabukkan kesadarannya.

Rangsangan bau perawan mengetuk hati kecilnya membuat hampir susah bernapas, segulung aliran panas mulai berjangkit dari bawah pusarnya terus mengalir naik.

Giok-Jiong menjadi kaget, tahu dia sekali pikirannya kabur dirinya sendiri pasti bakal tersesat dan badan mungkin bisa cacat untuk selama-lamanya.

Tapi dia seorang manusia yang punya perasaan malah masih muda mangkat kedewasaan dengan tubuh kekar dan sehat, Dalam keadaan macam itu untuk membendung dan menindas nafsu birahinya yang sudah mulai menjalar ke seluruh urat syarafnya boleh dikata seperti membendung air bah yang melanda datang, Beginilah aliran darah panss itu terus meluber ke seluruh sendi dan urat syarafnya malah terus bergelombang dari pusar tiada hentinya, kesadaran pikiran mulai kabur, seluruh badan sudah basah kuyup oleh keringat dingin.

Sekonyong-konyong, sebuah dengusan dingin yang keras menyentak kesadarannya dari jurang kenistaan, sedikit kesadaran ini cukup menarik kembali semangatnya yang sudah kabur tadi, dengan tekun dan giat ia kerahkan tenaganya untuk mengobati.

Kini pikiran dan semangatnya sudah sadar dan bening kembali.

Gelombang hangat dari pengerahan rawa murni dan tenaga panas berdebur semakin keras berbondong merembes masuk ke badan Tan Hak-siau.

Tatkala itulah sebuah bayangan seiring dengan gelak tawanya yang terloroh-loroh melesat datang secepat kilat tiba diambang pintu gua, jelas bahwa Ko bok-im-hun telah memutar balik lagi.

Begitu berdiri diambang pintu gua, lagi-lagi ia perdengarkan serentetan gelak tawa panjang, ujarnya.

"Bagus, tontonan gratis, ck, ck, ck ... Bocah ini, kematian sudah di ambang pintu masih coba mengecap kenikmatan Hehehehe ..."

Pikiran Giok-liong sudah sadar seluruhnya, mendengar ejekan ini tergetar sanubarinya, sungguh malu bukan buatan, dalam hati ia membatin.

"Tamat sudah. Kalau saat ini juga ia turun tangan pasti hancurlah seluruhnya."

Tapi dia tidak lantas menghentikan saluran tenaganya dan menghentikan pengobatannya, Malah ia kerahkan seluruh kemampuannya supaya lebih cepat selesai.

Maka terlihatlah seluruh badannya mulai mengepulkan asap putih, semakin lama semakin tebal bergulung-gulung bagai awan menyelubungi seluruh badan mereka berdua.

Ko bok im-hun mendongak sambil bergelak tertawa.

"Buyung, kau kira dengan berbuat begitu lantas dapat melindungi nyawamu ? ck ck, ck, Buyung, kalau kau tahu gelagat, lekaslah serahkan saja ..."

Pada saat-saat genting inilah sebuah bayangan merah jingga berkelebat tiba diiringi suara ejekan yang nyaring merdu berkata diluar sana.

"Manusia macam setan seperti kau ini, juga berani buka mulut besar, menyalak seperti anjing galak yang minta gebuk !"

Ini adalah suara Hiat-ing Kongcu Ling Soat-yan.

Kiranya waktu Ling Soat-yan melihat adegan yang dilakukan Giok liong atas tubuh Tan Hak-siu, disangkanya Giok-liong sebagai pemuda mata keranjang yang menggunakan kesempatan baik ini hendak memperkosa gadis suci.

Sudah tentu ini merupakan pukulan lahir batin bagi Ling Soat-yan, sebetulnya besar niatnya saat itu juga hendak turun tangan menutuk mati Giok-liong, tapi saban-saban ia tidak tega turun tangan.

Akhirnya sambil menghela napas dengan hati hancur ia tinggal pergi membawa Chiu ki.

Sepanjang jalan berlari-lari itu ia masih terus sesenggukan dengan sedihnya.

Sejak kecil Chiu-ki sudah ikut majikannya, ia tahu akan watak nonanya ini, maka segera ia membujuk.

"Siocia, orang she Ma itu baru sembuh dari luka-lukanya, sedang orang yang dijinjing masuk itu agaknya juga terluka berat, Kalau mereka ditinggal didalam gua itu, bila Ki-kiat si bangsat tua itu kembali bukankah celaka jiwa mereka."

Ling Soat-yan mendengus jengkel katanya penuh kedongkolan.

"Dia hidup atau mati bukan urusanku. Aku sudah berjanji tidak mau melihat tampangnya lagi! selama hidup ini tak sudi aku berjumpa dengan dia melirikpun aku tidak sudi ..."

Dalam berkata-kata ini air mata semakin deras mengalir, kakipun masih beranjak dengan cepat laksana angin lalu, sehingga rambut panjangnya yang terurai melambai-lambai, keadaannya ini sungguh kasihan betul.

Chiu-ki sendiri juga merah kelopak matanya tergenang air mata hampir menangis, Diulurkan tangan untuk menyingkap rambutnya yang dihembus angin mudai msdil, kakinya sedikit diperkencang terus berendeng dengan Ling Soat-yan, katanya membujuk lagi.

"Siocia, marilah kembali lagi melihat keadaannya."

Sebetulnya Ling Soat-yan sudah menghentikan tangisnya, mendengar bujukan halus ini tak terasa air mata meleleh kembali, katanya.

"Chiu-ki, kau tidak tahu apa yang sedang dilakukan, kalau kau melihat dengan matamu sendiri, pasti kau bisa mati saking jengkel !"

Chiu-ki rada melengak, lantas sambungnya.

"Siocia, menurut hemat hamba, Ma-siau-hiap bukan manusia macam itu, Aku berani pastikan tentu kau salah lihat."

"Tidak mungkin, aku melihat sendiri dia sedang melucuti pakaian perempuan itu, Lalu membuka pakaian sendiri juga ..."

"Siocia, bukankah orang itu terluka parah ? Tadi waktu Ma siau hiap menjinjing tubuhnya, kita kan sudah melihat jelas. Dia tidak tahu dimana letak luka-luka itu, kemungkinan besar Ma-siauhiap sedang memeriksa keadaan luka-lukanya."

"Tidak mungkin, Memeriksa luka! Mengapa harus melucuti pakaian sendiri ? Apalagi orang itu adalah seorang gadis remaja ....."

Sampai disini tiba-tiba ia merandek. Lalu mulutnya mengguman sendiri.

"Apa mungkin perempuan itu terserang bisa dingin yang sangat jahat lantas dia menggunakan hawa murni dalam tubuhnya untuk mengobati ... hm, kalau sedemikian kasih sayang dia mau mengobati perempuan lain, buat apa aku..."

Chiu ki segera menyanggah.

"Nah siocia cara berpikirmu ini terang berat sebelah. Bagaimana kalau jiwa orang itu sudah di-ambang pintu kematian ? Apalagi sebelum ini Ma-siau-hiap tidak tahu kalau dia seorang perempuan. Siocia, seumpama kau menjadi dia, kau mau menolong atau tidak ?"

Kontan merah jengah selebar pipi Ling Soat yan, jengeknya aleman.

"Cis, aku tak sudi menolongnya."

"Siocia, marilah kira kembali melihat keadaan, kita harus mencari tahu duduk perkara sebenarnya, Menurut kabarnya cara pengobatan semacam ini paling menghabiskan semangat dan tenaga. Malah tidak boleh mendapat gangguan dari luar. Kalau Ki-kiat bangsat tua itu muncul kembali, kejadian akan lebih parah lagi!"

Ling Soat-yan sudah memperlambat langkahnya, katanya masih jengkel.

"Ada apa yang perlu dikwatirkan ?"

"Sudah tentu Ma siau hiap terancam bahaya !"

"Kalau dia mati ada sangkut paut apa dengan aku ?"

Dari nangis Chiu-ki malah tertawa geli.

"Kalau dia betulbetul mati, hati hamba sendiri juga akan ikut bersedih, masa siocia kau takkan bersedih hati !"

"Cis, budak binal, Baiklah aku turut permintaanmu, kita kembali!"

Sebat sekali ia memutar tubuh terus berlari lebih kencang kearah datang semula. Di belakangnya Cbiu-ki mengulur lidah dan membuat muka setan, godanya lirih.

"NaH kembalinya kok berjalan begini cepat!"

Tanpa ajal iapun percepat langkahnya.

Tempo dalam berlari kencang kembali ini sudah tentu lebih cepat, baru saja mereka menembus hutan, dikejauhan sana lantas terlihat sebuah bayangan kurus kering berkelebat menghilang di balik batu besar itu.

"Celaka."

Seru Chiu-ki kaget.

"Tua bangka renta itu betulbetul datang kembali."

Ling Soat-yan lantas berpaling, ujarnya.

"Chiu-ki kau sembunyi dulu, bekerjalah melihat keadaan."

Habis ucapannya badannya lantas melenting maju secepat anak panah lepas dari busurnya menubruk ke arah batu besar itu.

KebetuIan saat mana ko-bok-im-hun tengah bergelak tawa hendak beranjak masuk ke-dalam gua.

Begitulah sambil mengerahkan hawa murni untuk melindung badan, Ling Soat -yan menyambung obrolan orang.

"Manusia macam setan seperti kau ini juga berani pentang bacot, menyalak seperti anjing galak yang minta gebuk!"

Sembari berkata-kata ini halus seringan sutra melambai lengan bajunya dikebutkan segulung angin halus sepoi-sepoi menerpa keluar mengarah ke arah Ko-bon-im hun Ki-kiat.

Ki-kiat menjadi terkejut, batinnya.

"Kapan budak perempuan ini mendesak tiba di belakangku mengapa sedikitpun aku tidak merasa?"

Tengah ia berpikir ini, segulung angin halus sudah menerjang tiba didepan dadanya. Segera ia tertawa gelak-gelak, serunya.

"Budak ayu jelita, Marilah kita juga adakan pertunjukan macam itu,"

Tahu-tahu badannya bergerak berputar seperti gangsingan sembari mengisar kesamping, dengan indah sekali ia hindarkan diri dari seraagan angin kebutan ini, dalam kejap lain tahu-tahu tubuhnya sudah berkisar dibalik batu besar sebelah sana.

Tahu-tahu sebuah bayangan merah jingga berkelebat didepan mata, Ling Soat-yan yang mengenakan selendang sutra semampai melambai-lambai itu sudah berdiri dihadapannya sambil tersenyum menggiurkan jaraknya tidak lebih delapan kaki.

Wajah ayu jelita berkulit putih itu kini bersemu merah, sepasang mata yang indah dan bening kini memancarkan sorot pandangan penuh nafsu membunuh.

Meskipun Ko bok-im-hun Ki-kiat seorang gembong iblis yang suka membunuh manusia tanpa berkedip, tak urung merasa gentar juga sanubarinya katanya dalam hati.

"Agaknya Lwekang budak perempuan ini sudah sempurna, Tapi sukar dilihat dari aliran mana. Tapi apa pedulinya, Lo ji berada disekitar ini segera bakal tiba kemari . .."

Ternyata semalam ia bertempur sengit melawan pemuda baju kuning yang melawan dengan mati-matian, meskipun lawan kecilnya dapat dilukai, tak urung dia sendiri juga terluka parah, untung ditengah jalan ia bertemu dengan saudara angkatnya kedua yaitu Ui-cwan-te-mo (iblis tanah dari akhirat) Ciok Kun, setelah Iuka-Iukanya diobati sembuh mereka berpencar mencari dan memeriksa sekitar pegunungan ini.

Kepandaian silat iblis tanah akhirat Ciok Kun benar hebat luar biasa, dibanding dengan Ko-bok-im-hun (sukma gentayangan dari kuburan) Ki-kiat entah berapa tingkat lebih tinggi, Maka begitu teringat akan saudara angkat kedua itu berada tak jauh dari tempat ini, legalah hatinya mendongak ke atas ia terkekeh kekeh, serunya sinis.

"Budak keciI, bagaimana ? Marilah kita juga adakan pertunjukkan semacam itu?"

Ling Soat-yan tertawa ringan mengunjuk kedua dekik didua pipinya, serunya aleman.

"Ki-kiat, nyawamu sudah hampir tamat, orang yang sudah hampir masuk liang kubur, maka nonamu ini juga tidak perlu main sungkan-sungkan lagi !"

Bercekat hati Ki-kiat, gelak tawanya semakin keras.

"Budak kecil, siapakah gurumu, sombong dan menyenangkan benar kau ini, Lohu ... ck, ck, ck, , .."

Sebetulnya orang yang kemarin malam beradu pukulan dengan dia bukan lain adalah Ling Soat-yan namun agaknya Ki-kiat tidak tahu dan melihat jelas waktu itu.

Ling Soat-yan unjuk senyum menggiurkan, ujarnya.

"Guruku bernama Giam-lo-ong, Aku diutus kemari untuk mencabut nyawa iblis durjana seperti kau ini."

Baru lenyap suaranya lemah gemulai badannya bergelak maju terus menyerang.

Diam-diam Ko-bok-im-hun Ki-kiat terperanjat.

Walaupun wajah Ling Soat-yao menguIum senyum, berjalan gemulai kearahnya sedikitpun tidak mengunjuk gaya hendak menyerang, tapi sebetulnya sikapnya ini merupakan inisiatip penyerangan yang mengikuti gerak perubahan musuh yang hendak di serang, bagaimanapun polah gerak musuh akan dapat diikuti dengan perubahan yang tidak kalah rumitnya pula.

Maka begitu ia melihat cara gerak langkah Ling Soat-yan ini lantas terasalah olehnya bahwa kanan kiri depan dan belakang dirinya sudah tertutup rapat oleh kesiap siagaan orang, Selain ia berlaku nekad menempur dengan mati-matian tiada jalan lain untuk meloloskan diri.

Tapi lantas terpikir pula olehnya.

"Budak kecil ini naga-naganya masih hijau, muda usia lagi seumpama ia membekal kepandaian setinggi langit juga tentu latihannya belum sempurna betul"

Karena pikirannya ini berjangkitlah nyalinya kembali ia berkata, serunya.

"Budak kecil, siapa namamu ? Turut saja Lohu pulang kutanggung selama hidup ini kau akan senang berfoya-foya."

Seringan kupu menari selangkah demi selangkah Ling Soatyan maju mendekati mulutnya menyahut lincah.

"Nonamu ini bernama Ling Soat-yan, Kematian sudah di-depan matamu masih berani kau bermulut kotor, sungguh menggelikan,"

Mendadak langkah kakinya dipercepat, sekali berkelabat tahutahu ia sudah melejit sampai dihadapan K.o-bok-im-hun.

Dinana lengannya diangkat berayun pelan-pelan terus mengebut kearah muka Ki-Kiat.

Ki-kiat berjingkrak kaget, batinnya.

"Terhitung jurus silat dari aliran mana ini?"

Sembari berpikir sebat sekali tangan kanannya juga diulur maju terus mencengkeram kepergelangan tangan halus putih itu.

Baru saja tangannya terulur, mendadak bayangan merah berkelebat didepan matanya puluhan angin kencang secepat kilat berbareng menyerang keseluruh tempat-tempat penting tubuhnya laksana gugur gunung dahsyatnya.

Jantung Ki-kiat serasa hendak melonjak keluar teriaknya ketakutan.

"Hiat-ing-bun ..."

Lekas-lekas tangan kiri diayun keatas, selarik bara api warna hijau meluncur tinggi ketengah angkasa. Bertepatan dengan itu, suara tawa cekikikan terdengar disamping telinganya.

"Nonamu ini memang bukan lain adalah Hiat-ing Kongcu!"

"Haaaaa...duh..."

Jerit ketakutan yang menyayatkan hati terdengar keluar dari mulut Ko-bok-im-hun yang setengah sekarat belum mampus.

Bukan saja belum sempat ia menggunakan ilmu Hian-si-im ou, sampai mengerahkan tenaga untuk melindungi badansendiri juga tidak sempat lagi, tahu-tahu dirinya sudah menjadi korban dari serangan Hiat-ing Kongcu yang lihay.

Begitu bayangan orang terpencar, terdengar pula suara tawa cekikikan, Air muka Ko-bok-im-hun berubah hijau pucat, dengan langkah sempoyongan ia berusaha lari kedalam hutan.

Terlihat beberapa jalan darah penting ditubuhnya berbareng mengucurkan darah segar.

Setelah menerjang maju beberapa langkah badan bergoyang-goyang tubuhnya lantas tersungkur jatuh keatas tanah, kakinya berkelejetan sebentar dilain saat ia sudah mendaftarkan diri pada raja akhirat sebagai pendatang baru.

Wajah Hia -ing Kongcu mengunjuk senyum kepuasaan, mendongak keatas ia memandang mercon api yang meledak dan ber kembang warna hijau ditengah udara, Mulutnya mengguman,Kemungkinan betul Pit-loh thian-mo atau Ut-ttte-mo berada disekitar yang berdekatan sini.

selamanya Thian-lan sam-yau jarang beroperasi seorang diri.

Sejenak ia merenung lalu batinnya lagi.

"Bila mereka berdua datang bersamaan lalu bagaimana aku harus menghadapi mereka?"

Sambil berpikir pelan-pelan kakinya melangkah memutari batu besar itu terus melongok kedalam gua.

Dilihat didalam sana penuh diliputi kabut putih yang tebal bergulung-gulung sehingga badan Giok-liong dan gadis remaja itu tidak kelihatan.

Tapi dari kabut putih yang masih mengepul terus itu menandakan dimana Giok-liong masih berada.

Tanpa merasa Ling Soat-yan tersenyum getir, katanya menghibur diri.

"Kiranya dia tengah menolong orang, Aku..."

Hatinya menjadi sedih, air mata mengembang di kelopak matanya.

Sekonyong-konyong diatas pegunungan yang sunyi ini bergema suitan panjang yang berkumandang nyaring menembus angkasa, Gema suitan itu semakin dekat dan terus ku mandang di tengah udara, membuat pendengarannya merasa merinding dan mengkirik.

Hiat-ing Kongcu Ling Soat yan melolos keluar selarik selendang sutra sedikit pergelangan tangan menggertak lendang sutra itu mulur memanjang berkembang lebar, tertua ta panjang lima enam kaki, pelan-pelan lalu dilempitnya kembali dan digubatkan dipergelangan tangannya, tangannya yang halus membalut air matanya yang mengalir dipipinya serta batinnya.

"Ui cwan-te-mo Giok-Kun telah tiba!"

Benar juga tidak lama kemudian suitan itu berhenti, sesosok bayangan kuning laksana kilat menyamber tahu-tahu sudah meluncur turun diatas tanah sana, begitu tegak ia berdiri tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.

Tempat berdirinya itu tepat berada disisi mayat Ko-bok-im-hun Ki-kiat adik angkatnya itu.

Tampak pendatang ini mengenakan kain kasar yang terbuat dari kaci kotor, Rambut panjangnya itu penuh dihiasi kertas uang sembahyang yang lazimnya dibakar setelah sembahyang memperingati almarhum, Badannya tinggi kirakira setombak lebih, kurus kecil bagai geater, seluruh kulitnya berwarna kuning seperti sakit-sakitan dan yang terlebih aneh lagi adalah sepasang matanya yang cekung dalam itu setiap merem melek memancarkar sorot kektmingan yang berkilat menakutkan seperti mata serigala yang buas.

Sekian lama ia berdiam diri berdiri disamping mayat Ko bok-im hun, mendadak ia memutar badan menghadap kearah batu besar, sedikit angkat tangan lalu katanya kaku.

"Tokoh kosen darimanakah yang berani membunuh adik angkatku ini, Kukira setelah berani turun tangan tentu bukan seorang pengecut yang beraninya sembunyi kepala mengunjukkan ekor bukan?"

Suasana tetap sepi dibelakang batu besar tetap sunyi tanpa ada reaksi. Ui-cwan-te mo Ciok Kun mendengus hina, sambungnya lagi.

"Kalau tuan tidak mau keluar, apa perlu Lohu sendiri yang harus menyilakan keluar?"

Suara cekikikan geli terdengar dari belakang batu besar.

Seiring dengan tawa cekikikan ini dari balik batu besar itu gemulai berjalan keluar seorang gadis rupawan yang mengenakan pakaian serba merah dengan sari jingga melambai dipuncaknya.

Seketika Ui-cwan-te-mo melengak, diam-diam ia memuji dalam hati.

"Budak perempuan yang cakap jelita, tak mungkin dia mampu membunuh Losam!"

Dalam hati ia merasa kagum, tapi mulutnya bertanya dingin."

Budak kecil, apa kau yang membunuh dia?"

Sembari tangannya menunjuk kearah jenazah Ko-bok-im-hun. Ling Soat-yan tersenyum menggiurkan, sahutnya.

"Kematiannya memang setimpal!"

Bercekat Ui cwe-te mo Ciok Kun mendengar jawaban ini, katanya.

"Kau dari perguruan mana? siapa nama gurumu ?"

Tanpa bersuara Ling Soat-yan melayang maju dengan enteng, begitu bayangan merah berkelebat tahu-tahu ia sudah melejit tiba di-hadapan Ciok Kun terpaut satu tombak.

Sedikit berubah raut muka Ciok Kun, tapi cepat sekali lantas kembali seperti sedia tala, katanya.

"Kau..... kau dari aliran Hiat Ing-bun"

"Sungguh tajam pandangan Ciok-cianpwe!"

"Kau ini..."

"Hiat-ing Kong-cu Ling Soat-yan."

"Oh, jadi kau adalah Hiat ing cu punya..."

"Putri tungga Hiat ing cu!"

Tergetar hati Ciok Kun mendengar pengakuan terus terang ini.

Ketahuilah bahwa Hiat-ing-cu merupakan seorang tokoh aneh yang kejam dan telengas lain dari yang lain.

Tiada seorang tokoh silat di Kangouw ini yang pernah melihat wajah asIinya.

Dulu waktu ia menggetarkan dunia persilatan, yang muncul dan terlihat oleh umum tak lain hanyalah berupa segulung merah darah saja.

Itulah pertanda bahwa latihan kepandaian tunggal Hiat-ing-bun sudah mencapai puncak setinggi yang sukar dijajaki.

Menurut kabarnya bagi semua korban yang mati dibawah tangan golongan Hiat-ing-bun, mayatnya pasti tidak ketinggalan utuh lagi, tinggal segenang air darah melulu.

Mengingat akan ini, tanpa merasa Ciok-Kun mendadak membuka mulut tertawa gelak-gelak dingin mendirikan dulu roma, katanya menyeringai.

"Sudah tentu kepandaianmu sangat tinggi. Tapi belum pasti kau merupakan salah seorang kerabat dari Hiat-ing-bun itu."

Ling Soat-yan tersenyum manis, katanya memandang kearah mayat Ko-bok-im-him.

"Baik, biar aku membuktikan siapa aku sebenarnya."

Habis ucapannya lantas terlihat sari panjang yang menggubat di badannya itu melambai-lambai tanpa terhembus angin, bergelombang semakin keras, pelanpelan dari atas badannya menguap kabut warna merah berkilau.

Terdengar Ling Soat-yan tertawa nyaring badannya berubah segulung bayangan merah terus melesat di tengah udara dengan kecepatan yang susah diukur terus menukik turun menubruk kearah mayat Ko-bok-im-hun.

Tokoh macam apakah iblis tanah akherat ini ?

Bukan lain adalah gembong persilatan yang sudah malang melintang pada puluhan tahun yang lalu, kakinya sudah menjelajah seluruh dunia tanpa mengenal apa yang dinamakan kebaikan, Melihat tindak tanduk Ling Soat-yan yang bakal tidak menguntungkan jenazah saudara mudanya.

Mulutnya terus berpekik panjang seluruh tubuhnya mendadak menguapkan kabut kuning yang bergulung seperti air mendidih dalam kuali, Tubuhnya yang kurus tinggi itu memperdengarkan suara keretakan panjang seperti petasan, lambat laun berubah menjadi ungu gelap.

Dimana kakinya menjejak sambil terus berpekik panjang itu badannya melenting mengejar kearah Ling Soat-yan.

Sayang langkahnya terlambat setindak.

Tampak bayangan merah itu laksana kilai menyamber dari tengah angkasa terus menubruk keatas mayat Ko-bok-im-bun.

Begitu kena terus merembes masuk sirna didalam badan Ko bok-im-hun.

Hampir pecah dada iblis tanah akhirat saking marah bercampur sedih.

Dengan pekikan panjang yang menusuk telinga itu mendadak kedua tangannya bergerak cepat bersamaan dua gulung badai angin warna antara kuning dan ungu langsung menerpa kearah mayat Ko bok im-hun juga sedemikian dahsyat terjangan angin pukulan ini laksana gugur gunng.

Sebab dia insyaf kalau lambat sedikit tentu habis sudah nasib mayat saudara mudanya itu.

Angin pukulan membadai ini menderu hebat berputar berguIung-guIung laksana angin lesus Baru saja badai angin warna kuning ungu ini menerpa datang hampir menyentuh tanah, sesosok bayangan merah langsing mendadak melejit tinggi terus melayang kesamping mengikuti dorongan angin.

Waktu ditegasi mayat Ko bok-im hun itu kini sudah hilang berubah segenang air darah yang berceceran diatas tanah membasahi pakaian kosong yang masih ketinggalan.

Iblis tanah akhirat Ciok Kun menjerit pedih, kedua tangannya bergerak bersilang, badannya sekarang berubah warna merah ungu seluruhnya, terbungkus oleh gulungan kabut dingin yang berkilauan terus menubruk kearah bayangan merah darah yang lebih menyolok dan tebal dari semula itu, setelah melayang kesamping begitu menginjak tanah bayangan merah yang semakin menyala ini laksana bintang meteor langsung memapak maju kearah iblis akhirat yang menyerang datang ini.

Iblis tanah akhirat tahu akan kelihayan Hiai-ing-kang musuh, terutama setelah menyedot darah segar korbannya, kekuatan bertambah berlipat ganda terbukti dari warnanya yang semakin merah dan menyala itu.

Saking murka dan sedih, Ciok Kun menjadi nekad, bentaknya garang .

"Cari mati!"

Kontan Hian-si im-ou dikerahkan sampai puncak tertinggi, sinar merah ungu lantas memancar keluar angin badai yang dingin terus berkembang.

Perbawa ilmu yang dilancarkan ini jauh berbeda dengan yang pernah dilancarkan Ko-bok-im-bun tempo hari, keadaannya lebih seram dan menakjubkan.

Bayangan merah darah itu bergerak tanpa membawa suara sedikitpun.

Agaknya bayangan merah ini cukup cerdik, ia tidak mau bertanding berhadapan mengadu kekuatan, selincah kupu menari diantara rumpun bunga bayangan ini selulup timbul melayang kesana berkelebat kesini, selalu mencari lubang kelemahan terus menempel kearah badan Ciok Kun.

Naga-naganya Ciok Kun memang takut juga bersentuhan secara berhadapan, cara turun tangannya juga lantas tidak mengenal kasihan lagi angin badai yang dingin membeku badan terus berseliweran membawa kabut gelap, sementara waktu kedua belah pihak sama kuat bertahan.

Dalam pada itu, Giok-liong tengah mengarahkan hawa murninya yang terakhir dalam usahanya menolong jiwa Tan Hak-siau, hawa murni dalam pusarnya sudah hampir terkuras habis melalui pori-pori kulitnya terus merembes masuk kebadan pemuda baju kuning.

Sang waktu terus berjalan detik demi detik, keringat diatas badan Giok liong terus tercurah membasahi seluruh tubuh seperti kehujanan, cahaya air mukanya juga semakin guram.

Tan Hak siau yang tertindih dibawah badannya itu masih tetap celentang kaku tanpa bergerak seolah-olah jiwa sudah melayang, Hati Giok-liong menjadi gelisah dan gundah kemampuannya sudah dikerahkan sampai titik tertinggi, keadaan badannya sudah capek kehabisan tenaga.

Kalau keadaan seperti ini masih terus bertahan lagi seperminuman teh bukan mustahil Giok-liong sendiri bisa mampus saking lemas.

Sekarang badannya mulai mendingin seperti es, sulit untuk bertahan lebih lama lagi.

Tapi ia masih kertak gigi mengerahkan sisa tenaganya supaya hawa murninya terus menerobos dan bekerja bergelombang seputaran dalam badan Tan Hak-siau.

Sekonyong-konyong ia rasakan Tau Hak-siau yang tertindih di bawah itu bergerak-gerak, keruan girang bukan main hatinya.

Tapi menyusul itu ia rasakan kepalanya pusing tujuh keliling pandangannya menjadi gelap, hawa murni sudah luber seluruhnya, badannya menjadi dingin membeku, tak tertahan lagi ia terus menggelinding jatuh ke samping.

Tepat pada saat itulah Tan Hak-siau mulai siuman, pelanpelan ia membuka matanya yang bening cemerlang, pelan pelan ia mengulet dengan bernafsu, Tapi baru bergerak setengah saja ia lantas merandek kesima, mendadak ia menjerit kaget.

"Ah, ini..."

Waktu ia menunduk seketika merah jengah seluruh wajahnya cepat-cepat disambernya pakaian yang terletak disampingnya untuk menutupi badannya, terus bergegas loncat berdiri serta mundur sejauh lima kaki.

Mata yang bening indah itu seketika mengembang air mata terus meleleh kedua pipinya, Kini iapun sudah melihat Giok liong yang rebah tengkurep diatas tanah dengan telanjang bulat pula bermuka pucat pias laksana kertas.

Timbul rasa curiga dan heran dalam sanubarinya, lantas disusul perasaan marah membakar hatinya geramnya mendesis sambil mengertak gigi.

"Kiranya kau tak lain binatang rendah yang tidak tahu malu. Terhitung aku Tan Soat-kiau salah menilai orang, sehingga aku terluka parah ditangan Ko-bok-im hun karena kau. Siapa nyana air mata membanjir semakin deras, cepat cepat dikenakan pakaian sendiri. Sebetulnya Giok liong, hanya dalam keadaan sadar tak sadar, Kupingnya masin bisa mendengar suara Tan Hak siau tapi seolah-olah diucapkan dari tempat yang jauh sekali. Tahu dia, karena dirinya terlalu membuang tenaga sehingga hawa murninya kena cidera, asal bisa istirahat beberapa hari pasti kesehatannya bisa lekas pulih, Besar niatnya bangkit berdiri memberi penjelasan, tapi hakekatnya ia sendiri bergerak saja tidak bisa. Setelah mengenakan pakaiannya, sekian lama Tan Soatkiau menatap wajah Giok-liong. Mendadak seperti kesurupan setan ia menggembor terus menangis gerung-gerung, mulutnya mengigau.

"Aku benci, aku benci. Akan kubunuh Kau, bunuh kau ...."

Terus diangkatnya badan Giok-liong, beruntun tangannya bergerak "plak-plok "

Puluhan kali ia tampar muka Giok-liong keras, darah segar mengalir dari ujung mulutnya. Kedua pipinya bengap merah seperti bakpao. Dengan sulit Giok-hong coba berkata.

"Aku . .."

Lantas jatuh pingsan. (BERSAMBUNG

Jilid KE 9)

Jilid 09 Tan Soat-kiau seperti kehilangan kesadaran mulutnya mengguman seperti orang gila.

"Hantam, kuhantam mampus manusia rendah melebihi binatang ini , .."

Air matanya mengalir dengan deras, demikian juga kedua tangannya itu masih terus bekerja bergantian sehingga seluruh muka Giokliong benjal benjol, sekarang mata dan hidungnya juga melelehkan darah segar, setelah sekian lama melampiaskan kedongkolan hatinya dengan memukul secara membabi buta itu, akhirnya Tan Soat Kiau berhenti kelelahan, dengan cerrott ia awasi muka Giok-liong yang matang biru itu, tanpa merasa ia sesenggukan lagi dengan sedih.

Dengan penuh rasa sesal ia amati sepasang tangannya yang halus memerah itu, tetesan air mata menitik jatuh ditelapak tanganaya.

Lalu diloloskannya keluar sapu tangan untuk membalut air mata.

selanjutnya ia pandang kepala Giok-liong dengan hati-hati dan teliti ia membersihkan noda darah yang mengotori muka Giok-liong.

Mulutnya masih menggumam lagi sambil sesenggukan.

"Aku bila ...bisa ... membunuhmu ... lalu , ..aku juga bunuh diri , . , biarlah kita berdampingan di akhirat..."

Setelah membersihkan darah dimuka Giok-liong ia membalut lagi air mata dipipinya, pelan-pelan tangan kanan diangkat jarinya mengarah tepat ke Bing-bun hiat Giok-liong, lalu pelanpelan diturunkan menotok kebawah..

jelas kelihaian dari telunjuknya yang terjulur keluar itu gemetar hebat, ini menandakan betapa haru dan sedih hatinya, semakin dekat ketubuh Giok-liong getaran jari itu semakin hebat, siapapun takkan mau percaya bahwa jari halus yang putih indah itu bakal dapat mencabut nyawa seseorang.

Tapi kenyataan akan membuktikan bahwa jari halus kecil ramping itu akan mencabut nyawa Giok-liong ini tinggal tunggu waktu saja.

Begitulah tutukan jari itu sudah semakin dekat tinggal satu kaki, setengah kaki sekarang tinggal beberapa senti lagi.

Asal jari telunjuk itu menyentuh punggung Giok-liong, kiranya cukup mengorbankan nyawa Giok-liong sebagai pelampiasan dendam hatinya.

Tepat pada saat itulah, sekonyong-konyong terdengar sebuah bentakan ringan nyaring dari mulut gua.

"Tahan!"

Tanpa merasa Tan Soat-kiau merandek menghentikan gerakannya, Hati kecilnya tengah berperang secara kontras, Bunuh atau tidak, dua pikiran ini tengah berkecamuk dalam sanubarinya.

Diambang pintu gua melayang masuk sesosok bayangan gadis yang mengenakan pakaian serba merah dengan mengenakan sari panjang merah jingga yang membelit dipundak dan badannya, sambil tersenyum manis gadis pendatang ini langsung menuju ke arah Giok-liong dan bertanya.

"Kau hendak membunuhnya ?"

Seketika merah jengah selebar muka Tan Soat kiau tersipusipu diraihnya pakaian Giok liong terus ditutupkan keatas badannya sahutnya dengan hampa.

"Ya."

"Kenapa ?"

"Dia .. dia .., siapa kau ? ini urusan ku sendiri orang lain tidak perlu turut campur !"

Pipinya yang halus bertemu merah lagi, tak kuasa ia memberi penjelasan. Gadis itu tersenyum manis, katanya penuh jenaka.

"Aku bernama Chiu ki, aku datang ikut siocia kemari, malam itu kami merebutnya . , ."

Bicara sampai disini ia menunjuk Giok

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com/ liong lalu sambungnya lagi.

"Merebutnya dari tangan Ko-bokim-hun serta mengobatinya."

Tan Soat-kiau berseru kejut, tapi telunjuknya masih mengarah ke punggung Giok-liong, katanya.

"Tua bangka Kikiat yang kejam telengas itu ..."

Chiu-ki tersenyum riang, ujarnya.

"setelah bertempur dengan nona Tan, kedua belah pihak sama menderita luka parah, Tapi untung ia bersua dengan saudara angkatnya kedua bernama Ciok Kun serta menolongnya, sekarang lukalukanya sudah sembuh !"

"Oh,"

Keluh Tan Soat-kiau, mulutnya menggumam.

"Lukanya sudah sembuh, lalu lukaku ..."

Chiu-ki segera menyambung.

"Untung nona ketemu oleh Ma-siau-hiap, Dengan berkorban ia berusaha menyembuhkan luka-Iukamu."

Tergetar seluruh badan Tan Soat-kiau, tangannya menjadi lemas Iunglai, air mata mengalir deras lagi, katanya tergagap.

"Tapi, dia... dia tidak mengenakan pakaian . .... dia. ."

Kata Chiu-ki lagi menjelaskan.

"seumpama tidak pantas dia melucuti seluruh pakaianmu. Tapi situasi yang mendesak demi menolong nyawa nona yang sudah diambang pintu kematian itu, Selain berbuat demikian tiada lain cara lagi, kalau tidak tentu nona ..."

Tan Soat-kiau memalingkan muka, air mata berderai bercucuran, katanya penuh tekad.

"Aku rela mati dari pada ..."

Sedikit matanya melirik dilihatnya mulut dan hidung Giokliong melelehkan darah kembali, pipi yang bengap, dan mata yang biru membuat hatinya terketuk dan tidak tega tak tertahan lagi ia menangis pula sesenggukan, Chiu-ki menghela napas, bujuknya.

"Nona Tan kesehatanmu lebih penting, sudah jangan nangis."

Sambil sesenggukan Tan Soat-kiau mengertak gigi, katanya .

"Semua ini gara-gara kesalahan Ki-kiat bangsat tua itu, jikalau nonamu ini tidak menghancur leburkan..."

"Ko-bok-im-hun sudah mati !"

"Apa ? Siapa yang membunuh dia ?"

"Nona majikanku Ling Soat-yan!"

"Dimana nona Ling ?"

"Diluar sedang bergebrak dengan musuh ?"

"Siapa ?"

"Iblis tanah akherat Ciok Kun !"

"Ha, dia, mari lekas kita keluar ..."

"Untuk sementara siocia masih kuat bertahan, hanya dia ini ..."

Katanya menunjuk kepala Giok-liong lalu sambungnya lagi.

"Mungkin dia tidak kuat bertahan lama."

Tan Soat-kiau menjadi pilu, batinnya.

"Untuk aku dia mengerahkan seluruh tenaga dan menguras habis hawa murninya untuk mengobati luka-Iukaku, tapi aku masih tega melukai dia sedemikian rupa ..."

"Lekaslah."

Bujuk Chiu-ki lagi.

"Meski pun Thian lam-samyau sudah mati seorang tapi dua yang lain lebih lihay, nona Tan harus segera berusaha mengobati luka-luka Ma-siau hiap untuk menjaga segala kemungkinan ! lalu dirogohnya keluar dua butir pil warna biru diserahkan kepada Tan Soat-kiau serta katanya lagi.

"Biarlah aku keluar dulu, tak peduli apa yang terjadi diIuar, lebih penting kau mengobati luka-luka Masiau-hiap dulu."

Habis berkata lantas ia berkelebat keluar gua.

Setelah Chiu-ki menghilang di luar gua, teringat akan Giokliong rela berkorban demi menolong dirinya, seketika timbul rasa kasih dalam benaknya, tak terasa selebar mukanya menjadi merah jengah, batinnya.

"Kiranya cukup baik juga dia padaku."

Lalu ia maju mendekat serta memayang badan Giokliong dengan teliti penuh kasih sayang ia membersihkan noda darah dan kotoran di atas tubuhnya.

Meskipun ia merasa malu sampai mukanya terasa merah panas, tapi dia masih bekerja membersihkan seluruh tubuh yang kotor itu sambil menundukkan kepala, Serelah bersih baru dikenakan pakaiannya, siapa bilang hatinya tidak bahagia ?

Setelah semua sudah selesai, kedua butir pil biru diendusnya di dekat hidung, kiranya memang obat yang baik dan mujarab, pelan-pelan dipentangkan mulut Giok-liong lalu dijejalkan masuk.

Dengan jarak yang rada dekat ini baru dia melihat lebih jelas, bahwa muka Giok-liong benjal benjol kena pukulannya sampai bibir pecah-pecah, pipi sembab dan mata melepuh.

Dua titik air mata mengalir lagi dari kelopak matanya.

pelan-pelan ia mengelus-ngelus pipi Giok-liong, gumannya.

"Siapa suruh kau begitu goblok tidak mau bicara dulu dengan aku. Ai!"

Dari dalam bajunya dikeluarkan tiga butir obat terus diremuk menjadi babuk lalu dipoleskan keluka-luka dimuka Giok-liong, setelah itu ia panjang Giok-liong bergaya duduk mulailah ia mengerahkan tenaga sendiri untuk memberikan pertolongan.

Sebetulnya pertempuran diluar gua saat itu sudah mencapai puncak yang hampir menentukan.

Memang kepandaian silat iblis tanah akhirat hebat luar biasa, sekuat tenaga ia kembangkan ilmu Hiat-si-im-ou, setiap kali menggerakkan tangan atau angkat kaki, kabut tantas bergulung gulung disertai angin dingin menderu-deru tajam laksana sebuah pisau mengiris kulit.

Bukan saja ia sudah membendung tiga kaki bundar sekitar tubuhnya dengan rapat, malah serangan balasannya juga dilancarkan semakin sengit dan gencar, Hiat si-im-ou terus memberondong bagai amukan gelombang samudera raya, berlapis-lapis sambung menyambung.

Keadaan Hiat ing Kongcu (putri bayangan darah) rada payah ia tak mau adu kekuatan secara langsung, mengandal kesebatan gerak tubuhnya bayangan darah melayang dan berkelebat lincah sekali, setiap kali ada lubang kelemahan meskipun hanya sekejap saja cukup sebagai peluang untuk melancarkan serangan gerak kilat.

Tapi bagi orang yang berpengalaman sekali pandang saja lantas dapat tahu, bahwa keadaannya sudah rada banyak membela diri dari pada balas menyerang, keadaannya ini memang sangat berbahaya.

Sang waktu terus berlalu terasa Hiat-ing Kongcu sudah semakin lemah.

Bayangan merah darah yang menyolok itu kini semakin guram dan luntur, ini menandakan bahwa ia sudah kecapean kehabisan tenaga, tak kuat bertahan lama lagi.

Iblis tanah akhirat mempergencar serangannya, saking puas ia terloroh loroh bangga, serunya.

"Budak ayu, terhitung Lohu hari ini sudah berhadapan langsung dengan Hiat ing-bun kalian!"

Sekonyong-konyong bayangan darah berkelebat melambung ketengah udara, kedua telapak tangan bertepuk nyaring, muncullah bayangan asli dari bentuk rupa Ling Soatyan.

Tampak wajahnya pucat badannya sudah basah kuyup oleh keringat, napasnya juga sudah memburu.

Diiringi angin badai yang gemuruh dengan seluruh sisa kekuatannya ia menubruk turun dari atas seraya hirdiknya.

"Biarpun hari ini harus kalah melawan kau, jangan sekali kau bertemu dengan ayahku..."

Gesit sekali CiokKun berkelebat kesamping menghindar diri sembari mengulur cengkeraman tangannya terus menjojoh ke dada Ling Soat yan, jengeknya tertawa.

"Lohu akan menutuk jalan darah perasa besar lalu kubawa pulang untuk bersenang-senang. setelah puas lalu kututuk lagi Khi-hay hiat dan kupecahkan kantong suaramu, kuserahkan kepada anak buahku supaya menikmati bentuk tubuhmu yang menggiurkan ini secara bergiliran, seumpama Hiat-ing-cu sendiri datang, juga takkan tahu bahwa kau terjatuh ditanganku."

Berubah hebat air muka Ling Soat-yan, jari-jari tangannya digerak tutupkan seperti menggunting sesuatu terus dikebutkan ke arah cengkeraman Ciok Kun yang mengarah dadanya, bentaknya dengan murka.

"Bangkotan tua tidau tahu malu. Dunia persilatan dikotori sampah persilatan macam kau ini, Kalau nonamu hari ini tidak membunuhmu, bersumpah...."

"Blang,"

Benturan keras sekali dari adu kekuatan mereka berdua, Terdengar Ciok-Kun semakin tertawa riang.

sementara putri bayangan darah terhuyung mundur tiga langkah, Ciok Kun melejit lagi sambil lancarkan tutukan mengarah jalan darah Thian-ti-hiat.

Tepat pada saat itulah ditengah alas pegunungan yang sunyi lengang itu terdengar suitan panjang yang berkumandang, Sedemikian tinggi suitan ini sampai menusuk telinga, membuat pendengarannya merinding dan merasa seram.

Begitu mendengar suitan ini seketika Ciok Kun menghentikan aksinya, wajahnya menunjukkan rasa girang, mulutnya masih terloroh-loroh tak henti-hentinya.

Sebaliknya putri bayangan darah Ling Soat-yan semakin pucat pjkirnya.

"Celaka, habis sudah. Tertua dari Thian-lam sam-yau Pit-loh-thian-mo Kiau Pwe juga sudah datang."

Ma Giok liong berdua entah sampai kapan baru saja sembuh seluruhnya seumpama sembuh juga percuma tentu tidak kuat melawan gabungan mereka dua saudara..."

Ling Soat-yan tahu bahwa kepandaian Pit-loh-thian mo ini pada ratusan tahun yang lalu sudah mencapai kesempurnaan apalagi setelah giat berlatih sekian lama lagi, maka dapatlah dibayangkan sampai dimana tingkat kepandaiannya..."

Kalau kepandaian silat Ciok Kun dibanding dengan saudaranya tua ini, entah terpaut berapa jauhnya.

sekarang menghadapi Ciok Kun seorang saja dirinya tidak mampu apalagi menghadapi Pik-thian-mo Kiau-Pwe.

Suasana dalam gua dibelakang batu besar itu tetap sunyi senyap tanpa terdengar suara.

Tatkala itu iblis tanah akhirat Ciok Kun lebih mempergencar serangannya dengan di landasi Hian-si-im-ou, angin dingin menderu deru, bayangan pukulan tangan setajam golok terus memberondong ke arah putri bayangan darah Ling Soat-yan.

Dalam keadaan serba runyam dan kepepet ini tergetar sanubari Ling Soat yan akhirnya ia berlaku nekad, hardiknya.

"Kubunuh dulu kau ..."

Lemah gemulai pinggang meliuk-liuk seperti menari, awan merah mulai mengembang menyelubungi badannya, tangan yang putih halus itu beruntun digerakkan, kekuatan hawa merah darah seketika melambung memenuhi udara samberan angin kencang berseliweran saling berlomba melesat maju memapak kearah musuh.

Sesaat sebelum pukulan kedua belah pihak saling beradu terdengar suara kekeh dingin ditengah gelanggang.

"Budak perempuan, takabur benar kau ya !"

Timbul angin Hsi-s yang bawa kelebat bayangan biru lalu disusul terdengar "Bum"

Yang keras memekak telinga, seketika bayangan orang terpental mundur.

Kini ditengah gelanggang tahu-tahu sudah bertambah seorang tua berambut uban mengenakan jubah panjang warna biru bermuka merah bertubuh tambun pendek.

Air muka putri bayangan darah Ling Soat-yan semakin pucat, badannya terhuyung bergoyang gontai hampir roboh, mulutnya menguak lantas menyemburkan darah segar, Agaknya iblis tanah akhirat sangat menghormati dan takut terhadap saudara tuanya ini cepat ia unjuk soja dan maju menyapa.

"Toako, bocah she Ma itu sekarang sudan terluka berat sedang berobat didalam gua itu l"

Lalu ditunjuknya gua di belakang batu besar. Pit-toh tbian-mo sedikit manggut sebagai jawaban, lalu katanya.

"Biarlah aku melihatnya kesana !"

Enteng sekali tanpa melihat kakinya bergerak tahu-tahu badannya berubah segulung bayangan biru sudah meluncur kearah belakang batu besar itu.

Melihat ini saking gelisah tanpa hiraukan luka-luka dirinya lagi segera Ling Soat-yan membentak.

"Berdiri. ."

Tapi bertepatan dengan itu iblis tanah akhirat Ciok Kuo juga lantas terkekeh-kekeh sedikit menggerakkan badan tahutahu ia sudah merangsak dekat terus mengulur tangan mencengkram ke dada orang, jengeknya.

"Bocah ayu, menikah saja menjadi istriku. Kutanggang selama hidup ini kau dapat senang sekali !"

Sungguh malu dan geram putri bayangan darah bukan kepalang, sedikit membuka mulut ia menyemburkan darah lagi, tapi ia tidak berhenti bergerak, beruntun tangannya digerak silangkan, dengan mengembeng air mata ia membentak nyaring.

"iblis tua, biarlah aku adu jiwa"

Laksana kilat bayangan merah mengembara berubah bayangan darah terus menerjang maju dengan nekad.

Baru saja Pit-loh-thian mo sampai diambang pintu gua, sekonyong-konyong terasa angin menungkrup tiba dari atas kepalanya, Bersama itu beberapa jalur angin tajam yang mendesis disertai bayangan merah dari sosok tubuh langsing telah menubruk kearah dirinya.

Kiau Pwe terbahak-bahak, tangan kanan dikiblatkan kebelakang menerbitkan gelombang angin dingin yang bergulung-gulung seperti ombak, sementara itu tubuhnya masih terus meluncur cepat laksana anak panah memutar kebelakang batu besar dan melesat masuk kedalam gua "Blang..aduh ..,"

Terjadilah benturan keras diselingi pekik nyitim". Tahu-tahu Chiu-ki terpental jungkir balik seperti bola menggelinding sejauh tiga tombak, mulutnya lantas menyemburkan darah segar.

"Plak terbanting keras di tanah. Begitu Pit-Iah thian-mo memasuki gua, terlihat olehnya seorang gadis mengenakan jubah panjang warna kuning sebagai seorang satrawan umumnya tengah mengerahkan tenaga berusaha menolong menyembuhkan seorang pemuda berpakaian putih didepannya. Diatas kepala kedua orang itu sudah mengepulkan uap, ini menandakan bahwa semadi mereka sudah mencapai puncak yang paling gawat, sekarang asal mendapat ganguan ringan saja dari luar pasti celakalah jiwa kedua orang ini, paling tidak juga luka berat. Kiau Pwe tertawa ejek, batinnya.

"Pemuda baju putih ini mungkin dikabarkan bernama Ma Giok liong itu !"

Karena pikirannya ini langkah kakinya malah diperlambat terus maju mendekat sambil mendekat ini tak urung wajahnya menampilkan rasa kaget dan heran, matinya lantas berpikir lebih jauh.

"Bakat bocah ini benar-benar susah dicari selama ratusan tahun terakhir ini, jika aku bisa membujuknya menjadi murid tunggalku, itu bagus benar"

Sambil berpikir ini matanya lantas mengerling kearah Giok-liong, seketika ia melonjak kaget.

Ternyata raut muka Giok liong yang pucat seperti kertas itu, saat mana mendadak berubah menjadi merah padam, lalu lambat laun berubah menjadi putih lalu bersemu merah lagi, ini pertanda sebagai seorang tokoh silat yang mempunyai dasar latihan Lwekang yang tinggi dan ampuh tengah terluka berat dan luka-lukanya itu sudah hampir dapat disembuhkan.

Sangat kokoh berat dasar latihan Lwekang bocah ini.

Tapi bagi penilaian Pit-lo-thian-mo, tingkat latihan Lwekang Giokliong sudah tentu tidak masuk dalam hitungan perhatiannya.

Supaya tidak mengulur waktu terlalu lama, seenaknya saja Kiau Pwe lantas angkat jarinya menutuk tepat pada saat air muka Giok liong belum pulih menjadi sedia kala, sedang lukanya jaga sudah dalam taraf penyembuhan ini.

ditutuknya dua jalur angin dingin dan lemas.

masing-masing meluncur mengarah kearah Giok-liong dan Tan Soat-kiau.

Siapa tahu baru saja tutukan angin jarinya menyamber keluar, lantas terbit segulung angin sepoi-sepoi yang aneh menggulung tiba, seketika angin tutukan jarinya itu lantas sirna tanpa bekas !

Keruan hatinya terperanjat, dengusnya dingin.

"siapakah yang malu sembunyi ditempat gelap?"

Lwekang lantas dikerahkan terpusat dikedua lengannya, dengan cermat ia mendengar dan meneliti keadaan sekitarnya dalam gua itu.

Tapi keadaan gua lebih dalam sana -sunyi senyap tanpa ada suatu suarapun.

Pada saat itulah Giok-liong bersama Tan Soat-kiau berbareng membuka matanya, terbayang akan keadaan telanjang bulat tadi seketika merah jengah selebar mukanya sambil menunduk segera ia memberi soji serta katanya tergagap.

"Aku ... aku... kalau perbuatanku tadi menyakitkan kau harap..."

Giok-liong tersenyum, sahutnya.

"Yang sudah lalu biarlah sudah, bukankah nona juga telah menolong jiwaku !"

Mendengar pertanyaan Giok-liong ini otak Tan Soat-kiau serasa dipukul godam, tak terasa air mata meleleh deras, katanya lirih.

"Ya ... yang sudah lewat.... biarlah lalu."

Melihat sikap orang ini Giok liong menjadi heran, tanyanya dengan lemah lembut.

"Nona Tan kenapakah kau..."

Mana dia tahu sebagai seorang gadis remaja yang masih suci bersih betapa tinggi harga dirinya, jangan kata begitu seenaknya badannya disentuh malah berdempetan mengobati luka dengan telanjang bulat lagi, seumpama dilirik orang juga sudah merupakan pengorbanan besar.

Air mata semakin deras mengalir namun Tan Soat-kiau berusaha mengendalikan perasaannya, katanya lagi tergagap sambil sesunggukan.

"Aku... aku baik ... .ti... ..tidak apaapa .., ."

Sedemikian tekun mereka bicara sehingga tidak menyadari akan kehadiran Pit-lo-thian-mo tak lebih tiga tombak jauhnya dari samping mereka, Melihat keadaan kedua muda mudi ini Pit-lo-thian-mo sendiri juga ikut dibuat heran dan hampa.

Seolah-olah ia tenggelam dalam kenangan lama yang mengetuk sanubarinya.

Sekonyong-konyong raut mukanya bergetar, bentaknya dingin.

"Buyung, kau ini yang bernama Ma Giok-liong ?"

Giok-liong berjingkat kaget, sinar matanya berkilat, begitu angkat kepala lantas ia memberi soja, sahutnya.

"Ya, benar, siapakah tuan ini ?"

Perasaan Tan Soat-kian saat mana benar-benar pahit getir dan mendelu, perlahan-lahan ia mengangkat kepala, mendadak ia berseru kaget.

"Kau... bukankah Pit-lo-thian-mo Kiau Pwe Kiau-lo cianpwe."

Kiau Pwe terbahak-bahak, sahutnya.

"Tajam benar matamu, ternyata masih kenal wajah asliku semasa masih muda dulu."

Sedapat mungkin Tan Soat-kian kendalikan rasa pedih hatinya, katanya lembut.

"Kedatangan Kiau lo-cianpwe ini entah ada keperluan apakah ?"

Sekilas Kiau Pwe melirik kearah Giok-liong, sahutnya lantang.

"Untuk minta seruling sambar nyawa milik bocah ini !"

Tan Soat-kiau melengak. Tapi Giok-liong malah tersenyum geli, katanya.

"Cian-pwe sudah terlambat setindak !"

"Apa ? Masa ..."

"Ya. seruling itu sudah terjatuh ketangan orang lain."

"Siapa?"

"Adik angkat Cian-pwe sendiri, yaitu Ko-bok-im-hun Ki-kiat! "

"Apakah benar kata-katamu ini?"

"Sudah tentu benar."

"Buyung, mari kalian ikut aku."

"Wanpwe masih banyak urusan yang perlu segera diselesaikan, harap maaf tidak dapat memenuhi permintaan Cian-pwe."

"Hah, berani kau membangkang akan ke hendakku!""

"Selamanya Wanpwe tidak pernah membangkang terhadap siapapun."

"Hm, Lohu ingin menerima kau sebagai murid tunggalku, seluruh kepandaianku kuturunkan kepadamu ... ."

"Wanpwe tidak ingin menjadi murid Cianpwe,"

"Bocah sombong akan Lohu lihat sampai dimana akan kemampuanmu sehingga begini berlaku kukuh terhadapku!"

Sambil membentak gusar, seluruh rambut uban diatas kepalanya itu bergerak melambai Enpe tfrrer bvs nrg'n, dimana tangan mendahului maju angin dingin meluncur laksana seutas rantai terus menggubat tiba kearah badan Giok-liong.

Giok liong juga nnendengus dongkol, baru saja ia hendak turun tangan membela diri, tahu-tahu terdengar sebuah seruan berkumandang seperti dari jauh mendatng liu-nya.

"Bocah gendeng, lekas mundur kau bukan tandingan tua bangka ini."

Tapi tepat begitu suara itu lenyap pandangan semua orang serasa kabur, tahu tahu ditengah diantara mereka sudah muncullah seorang perempuan pertengahan umur bertubuh tinggi semampai meskipun sudah menanjak umur tapi raut mukanya masih kelihatan jelita.

Pakaian putih panjang yang dikenakan diatas tubuhnya itu seperti selarik selendang sari panjang yang seluruhnya digubatkan, diatas badannya sehingga menunjukkan lengan putih laksana batu giok juga seperti salju, membuat siapa saja yang melihat pandang bergejolak semangatnya.

Di jari-jari tangan kanannya yang halus putih itu kelihatan menyekal sebuah keliningan kuning yang memancarkan sinar berkilauan, ditambah wajahnya yang ayu dengan pakaian yang putih bersih lagi.

Seolah-olah seperti dewi kayangan membuat orang tidak berani memandang lama-lama.

Begitu muncul lantas ia melirik kearah Giok-liong dan Tan Soat-kiau, mulutnya menyungging senyum ma-nis.

katanya.

"Kalian istirahat dulu kesamping ....bersama itu tangan kiri sedikit terangkat, lemas gemulai seperti tak bertulang seenaknya saja terayun maju, dimana angin halus dikebutkan, serangan angin dingin dari cengkeraman tangan Kiau Pwe tadi seketika sirna menghilang tanpa bekas. Sejenak Pit-loh-thian-mo melengak, di lain saat ia terbahakbahak lagi sambil menggerak-gerakkan kepala, serunya.

"Hahahaha, tak kira, kiranya kalian perempuan ayu jelita ini masih kulihatan muda dan menggiurkan !"

Perempuan pertengahan umur berpakaian putih itu mengunjuk senyum, katanya.

"Kiau-lo-ji, banyak tahun tidak bertemu, Tak nyana kau masih sedemikian kolot dan tiada kemajuan tamak lagi, hendak merebut barang milik anak kecil."

Berubah air muka Kiau Pwe, dengusnya.

"Bu-lim-su bi yang kenamaan dulu kiranya juga masih berani memincut simpatik pemuda gagah ganteng ini."

Seketika membesi raut muka perempuan pertengahan umur ini mendengar ejekan ketua itu desisnya dingin.

"Kiau Pwe, dengan obrolanmu uang kotor ini kau setimpal di hukum mati. Mengingat dan kupandang muka adik Yong, biarlah kuampuni jiwamu sekali ini ! Pergilah !"

Begitu wajahnya membesi, ujung matanya lantas menunjukkan kerut kerut kulit yang tak terlindung lagi dengan segala obat rias, sehingga selebar laut muka yang jelita itu lantas menampilkan rasa duka dan kelanjutan usia yang kenyataan.

Sementara itu, pelan-pelan Tan Soat-kiau menggeser kaki mendekat kesamping Giok-liong, katanya lirih.

"inilah Kim-lingcu Kim lo-cianp-we, salah satu dari Bu-1im-su-bi ...."

Tergentak kaget hati Giok-liong, batinnya.

"Bukankah pesan Suhu menyuruhku menyampaikan beberapa patah kata terhadap beliau ?"

Dalam pada itu, air muka Kiau pwe juga berubah iebat, katanya lirih dan seperti kehilangan semangat katanya gemetar.

"Adik Yung, dia ... dia apakah dia masih hidup?"

Kim-ling-cu tertawa sedih, sahutnya, hambar.

"Sejak dulu kala umbaran cinta pasti akan membawa kekosongan hampa. Ai, baiklah! Tiga puluhan tahun yang lalu aku pernah melihatnya sekali di laut selatan, Wajahnya masih tetap tak berubah, hanya sayang hari-hari kepedihan melulu yang melingkupi hidupnya, jaman yang tidak mengenai waktu ini sudah berubah seluruh rambut halusnya yang indah menghitam dulu."

Kini raut muka Kiau Pwe mengunjuk rasa girang, dalamdalam ia membungkuk kearah Kim-ling-cu, katanya.

"Lo-toaci, apakah kau tahu tempat tinggalnya yang tetap?"

"Kau benar-benar ingin tahu?"

"Tak peduli di ujung langit atau didalam samudera, selama ratusan tahun ini Kiau Pwe sudah mencarinya kemana-mana dengan penuh jerih payah."

Sembari berkata tak tertahan lagi air mata meleleh dengan deras dan sedihnya sampai sesenggukan.

Keadaan ini lantas mengetuk pula hati Tan Soat-kiau yang berdiri berdampingan dengan Giok-liong, tak tertahan air matanya juga meleleh tak terbendung lagi.

Pelan-pelan Kim-ling-cu menggeleng kepala, katanya.

"Baiklah, biar kuberitahu kepadamu, Dia sudi tidak menemui kau, aku tidak berani memastikan! Dia bersemayan di pulau Biau-to diteluk ombak hitam dilaut selatan!"

"Apa! Bertempat tinggal dipulau yang beriklim jahat dan sulit penghidupan itu?"

"Keadaan pulau Biau bong-to sebaliknya adalah sedemikian subur dengan segala tumbuhan kembang dan rumput. Binatang hidup bebas keliaran dimana-mana seumpama tempat dewa yang aman sentosa! Kiau Pwe kalau adik Yung mau rukun kembali dengan kau, seharusnya kau sendiri juga perlu menyekap diri menyempurnakan hidupmu dan membina diri."

"Terima kasih akan petunjuk toaci ini Kalau adik Yung benar-benar mau mengampuni segala kehilafan dulu, untuk selanjutnya pasti merubah kebiasaan burukku selama ini membina diri menjadi manusia baik2."

"Itulah bagus, bolehkah kau segera berangkat janganlah kau sia-siakan pengharapanku."

Dengan wajah riang gembira Kiau Pwe segera menjura kepada Kim ling-cu serta katanya.

"Selamat bertemu kembali Toaci, aku berangkat!!"

Berkata sambil menggerakkan kepalanya yang besar bayangan biru lantas berkelebat meluncur keluar gua.

Sekonyong-konyong terdengar tawa terkekeh dingin dan pekik tertahan yang ketakutan diluar, Berubah air muka Kimling-cu cepat cepai iapun berlari keluar gua.

Giok-liong sendiri juga tergetar hatinya, tercetus teriaknya.

"Celaka, nona Ling mungkin..."

Seperti anak panah yang melenting dari busurnya, iapun melesat keluar.

Tersipu-sipu Tan Soat-kiau menyeka air matanya terus ikut mengejar keluar.

Waktu tiba diluar, tampak Ling Soat-yan pucat pasi, ujung mulutnya melelehkan darah badannya rebah lemas dalam pelukan Pit-loh-thian mo Kiau Pwe.

Saat mana Kiau Pwe telah merogoh botol kecil menuang dua butir pil terus dijejalkan kemulutnya, sementara itu dengan pandangan penuh keheranan iblis tanah akhirat tengah berdiri melongo disebelah sana, tanpa bergerak juga tidak bersuara.

Tapi begitu ia melihat Giok-liong meloncat keluar, seketika dia menghardik keras.

"Dia inilah Ma Giok-liomg adanya."

Secepat setan gentayangan mendadak ia menubruk datang, belum tubuhnya tiba tangannya sudah terayun lebih dulu menyerang dengan angin pukulan dahsyat menerpa kearah Giok-liong.

Giok-liong mendengus ejek, kakinya menggeser sebat sekali.

"sret"

Gesit sekali ia berkelit kesamping meluputkan diri. Tepat pada saat itulah terdsngar bentakan gusar Kiau Pwe.

"Ciok Kun berhenti."

Iblis tanah akhirat Ciok Kun berhenti dengan melengak, tanyanya tak mengerti.

"Toako, kau , ..mengapa , .."

Kata Kiau Pvve sambit mendukung tubuh putri bayangan daiah Ling Soat-yan.

"Kau tunggu dulu, saudara tuamu ini pasti akan membuat penyelesaian yang adil,"

Lalu ia melejit kehadapan Kim ling-cu dengan kedua tangannya ia sodorkan badan putri bayangan darah diserahkan kepada Kam-ling-cu, katanya.

"Toaci, aliran keluarganya berhubungan erat dengan kau, tapi dia sendiri merupakan seorang gadis suci yang polos."

Setelah Kim-ling cu menyambuti tubuh Ling Soat-yan, lalu Kiau Pwe menghadapi Ciok Kun serta angkat tangan, ujarnya.

"Hiante masih tidak mengerti akan maksud perbuatanku ini !"

Ciok Kun manggut-manggut kepala tanpa bersuara. Kiau Pwe tertawa getir, katanya tertawa.

"Angin, api air dan tanah kalau berjodoh tentu bergabung, tiada berjodoh lantas berpisah. Lurus dan sesat selamanya tiada dapat berdiri berdampingan yang kalah biarlah kalah, Kuharap Hiante bisa berpikir dua kali sebelum bertindak dalam sesuatu persoalan, Kelak biarlah kita bertemu lagi, Kalau kelak Hiante masih belum dapat merubah cara hidup sesat seperti sekarang ini saudara tuamu ini mungkin tidak menghargaimu lagi sebagai saudara muda ..."

Bicara sampai terakhir air matanya sudah membanjir keluar, tenggorokannya menjadi sesak, serunya serak .

"selamat bertemu !"

Secepat kilat bayangan biru meluncur hilang memasuki hutan lebat didepan sana, langsung ia menuju ke Biau-hong-to yang terletak di teluk ombak hitam di laut selatan untuk mencari Hu-yung Siancu Ci Yung.

Iblis tanah akhirat menjadi gugup, teriaknya.

"Toako, tunggu sebentar !"

Iapun lantas mengejar dengan kencang, dilain kejap bayangan mereka sudah hilang dari pandangan mata.

Memandang kearah bayangan yang telah hilang itu, Kimling-cu gcleng-geleng kepala serta tanyanya menghela napas rawan.

"Lurus atau sesat hanya terpaut satu pikiran saja ! Ai, Banyak mengumbar cinta akhirnya pasti berakibat mengejar kekosongan yang hampa dalam hidup."

Ditundukkannya kepala memandangi wajah nan ayu pucu di pelukannya.

Putri bayangan darah Ling Soat-yan masih pingsan seperti terpuji lemas.

Lalu pandangan Kim-ling-cu beralih kearah Tan Soat-kiau, ujarnya.

"janganlah asmara banyak diumbar, kehampaanlah yang akan kau dapat, Ai, Jiac, seumpama kau secantik bidadari namun bagi orang yang membabi buta mengobral cinta, pasti berakibat ngenas dan menderita maka hati-hatilah kalian anak-anak muda !"

Sekilas ia lirik Chiu-ki yang masih rebah diatas tanah, lalu katanya kepada Tan Soat-kiau.

"Nak, coba kau dukung tubuhnya masuk kemari."

Naga-naganya dia tiada simpatik terhadap Giok-liong maaka sekejappun ia tidak bicara terhadapnya tapi saban-saban ia melirik dengan sorot pandangan yang susah diterka.

Tan Soat-kiau menunduk dengar nafsu, mukanya merah jengah.

Tanpa bersuara ia bopong tubuh Chiu-ki terus mengikuti dibelakang Kim-ling-cu dengan melangkah lebar menuju ke gua dibelakang batu besar itu.

Giok-liong berdiri terlongong-longong ditempatnya, timbul rasa dongkol akan dirinya yang diremehkan.

Tapi betapa juga Kim-ling cu adalah penoIongnya, bagaimana ia harus bersikap?.

Baru saja kakinya bergerak hendak ikut masuk Kim-Iingcu sudah berpaling ke arahnya serta berkata sambil tersenyum.

"Kau, kau boleh pergi!"

Tiba-tiba Giok-liong angkat kepala, katanya.

"Cian-pwe harap berhenti, ada beberapa patah kata yang ingin Cayhe sarnpaikan."

"O, ada urusan apa?"

Benar juga Kim-limg-cu menghentikan langkahnya.

Tatkala itu sang surya sudah doyong ke-arah barat, cahaya kuning emas memancar terang menerangi setengah angkasa, Meskipun saat itu adalah pertengahan musim rontok, angin menghembus rada kencang, sari panjang yang membeku dibadan Kim ling cu melambai lambai laksana bidadari turun dari kahyangan.

Pelan-pelan Giok liong menghela napas, katanya.

"Budi kebaikan Cian-pwe yang telah menolong jiwa Cayhe, selama hidup ini tentu takkan kulupakan."

Kim-ling-cu juga menghela napas rawan, tanyanya lemah lembut.

"Asal selanjutnya kau bisa berdiri tegak berjalan lurus, janganlah kau mengail banyak cinta asmara, ini sudah terhitung kau membalas sekedar kebaikanku Ai., janji kalian orang laki laki ..."

Sepasang matanya yang indah ini entah kapan ternyata salah mengembeng air mata, mulutnya mengguman bersenandung.

"Sejak dulu bagi yang banyak pengobral cinta pasti rasa peroleh kekosongan yang hampa ..."

Mendadak melonjak sanubari Giok-liong, lantas tercetus senanduns pula dari mulutnya.

"Ulat bersutra sampai mati air mata kering setelah lilin habis...belum habis senandungnya ini tiba-tiba pandangannya serasa kabur, terasa hembusan angin sepoi yang membawa bau harum merangsang hidung, terdengar pula suara keliningan berdering nyaring di pinggir kupingnya.

"Siapa yang suruh kau berkata begitu?"

Tahu tahu Kim lingcu sudah berdiri didepannya sambil menatap dengan sorot pandangan tajam bersikap serius, kedua belah pipinya sudah dibasahi oleh airmata yang meleleh turun.

Sungguh Giok liong tak menduga bahwa gerak gerik Kimling-cu ternyata sedemikian cepat dan lincah sekali, cepatcepat ia mundur selangkah, sahutnya sungguh-sungguh.

"Itulah guruku, beliau bernama Pang Giok."

"Alis lentik Kim-ling cu berjengkit tinggi, sepasang matanya yang mengembang air mata mengunjuk rasa duka dan rawan, katanya sedih.

"Bagaimana pesannya?"

Giok-liong menutur sambil menunduk.

"Suhu menyuruh Wanpwe meskipun sampai diujung langit atau didalam lautan juga harus mencari sampai ketemu jejak Cianpwe, untuk menyampaikan perkataan tadi."

Kim ling-cu menggigit bibir, mulutnya mengguman.

"Dia ....mengapa sejak dulu-dulu tidak mau mengatakan...mengapa membuat aku hidup merana sepanjang masa ini ..."

Perasaan Giok liong menjadi terkejut, dalam hati ia membatin pasti Kim-ling-cu ini ada hubungan asmara dengan gurunya.

Tapi entah mengapa akhirnya mereka berpisah.

Teringat olehnya akan cinta kasihnya terhadap Coh Ki-sia yang telah mengikat janjinya sehidup semati sampai hari tua.

Baru beberapa lama mengecap kesenangan hidup sebagai suami istri sekarang telah berpisah sejauh ini.

Tak tertahan air mata pelan-pelan mengalir dari ujung matanya.

Pelan pelan Kim-Iing cu menarik pandangan matanya yang melihat kearah jauh sana, sekilas memandang kearahnya, lalu bertanya dengan penuh canda tanya.

"Kau masih ada urusan?"

"Haraf maaf akan kelancangan Wanpwe, Wanpwe tiada urusan apa lagi."

Kim-ling cu menghela napas katanya.

"Ya, mungkin kau mempunyai kesukaranmu sendiri. Tapi, nak kau harus ingat selama hidupmu ini jangan sampai ditunggangi oleh asmara, Dan jangan pula kau mengikat orang lain dalam belenggu cinta asmara, Sekali kau menyadari bahwa dirimu tengah mencintai seseorang, sekali-sekali jangan kau membuat suatu kesalah pahaman atau urusan sehingga merebut sang waktu yang seharusnya dapat kalian kecap dengan mesra ! seumpama harus hidup menderita, tidak menjadi soal asal dapat hidup rukun dan saling memberikan kasih mesra,"

Sampai disini ia merandek sebentar, wajahnya berkembang kulum senyuman getir memandang kearah Giok-liong, katanya lagi.

"Nak, marilah ikut masuk i Kedua teman perempuan itu mungkin tidak boleh tunggu terlalu lama."

Giok-liong mengiakan sambil menunduk.

Lalu mengintil dibelakang Kim-ling-cu masuk kedalam gua pula, Setelah mendengar wejangan Kim-ling-cu tadi kini hatinya tengah bergejolak tidak tentram seperti damparan ombak samudera yang mengamuk.

"Apakah ucapannya itu betul ? Antara aku dan Coh Ki-sia memang mempunyai banyak rintangan, baru bertemu lantas berpi-sah, kelak apakah dapat rukun dan bahagia ..."

Demikian dengan pikiran pepat dan hati gundah langkahnya terus beranjak, sampai tidak diketahui olehnya bahwa Tan Soat-kiau yang rupawan itu tengah memandang kearahnya dengan sorot pandangan girang dan terhibur, Tapi semua adegan ini tidak luput dari pengawasan Kim-ling cu yang banyak pengalaman dalam bidang itu, tanpa merasa ia menghela napas, langkahnya seringan awan mengembang terus memasuki gua besar itu.

Waktu pertama kali masuk tadi keadaan dalam gua kelihatan sederhana dan cekak pendek saja, berjalan tidak berapa sudah sampai di ujung dinding gua.

Tapi Kim-ling-cu lantas mengulur tangan menekan sebuah tombol di atas sebuah batu yang menonjol keluar diatas dinding, maka dilain saat terbukalah sebuah lubang pintu setinggi orang, Dibelakang pintu ini adalah sebuah lorong panjang setelah melewati lorong panjang ini, sampailah mereka pada ruangan batu yang diatur rapi dan bersih.

Dikedua samping ruangan batu ini masing-masing terdapat sebuah pintu lagi, lalu Kim ling cu menyuruh Tan Soat-kiau membopong Chiu ki memasuki ruangan batu lain lalu katanya kepada Giok-liong.

"kau istirahat disini, Nanti kita bicara lagi setelah kutolong mengobati mereka."

Lalu ia sendiri juga memasuki ruangan batu yang ditunjukan kepada Tan Soat-kiau tadi sesaat kemudian keadaan menjadi sunyi lengang.

Giok-liong tenggelam dalam kenangan lagi Cinta!

Entahlah sudah berapa umat manusia didunia ini sudah menjadi korban akan sepatah kata ini sehingga melewatkan masa remaja dengan penuh penderitaan dan segera.

Teringat akan diri pribadi Coh Ki sia, Li Hong, Kiong Lingling, Tan Soat-kiau serta Ling-Soat-yan, betapa tidak mereka menaruh perhatian besar terhadap dirinya.

Bukankah kecantikan mereka tidak kalah dibanding bidadari dari kahyangan?

seumpama mereka terhadap dirinya ....wah akibatnya benar-benar tidak berani dipikirkan.

Serta merta timbul kewaspadaan dalam benaknya diamdiam ia berjanji dalam hati.

"Giok-liong hai Giok-liong, janganlah sekali-kali kau menjadi seorang yang ingkar janji dan tidak setia, gampang menerima uluran cinta lain orang, janganlah lantaran kau sehingga menyia-nyiakan masa remaja orang lain yang penuh nikmat dan mesra."

Pikir punya pikir tak terasa lagi seluruh badan basah kuyup oleh keringat dingin.

Sang waktu berlalu secara diam-diam.

Lambat laun Giokliong dapat mengekang gejolak hatinya, mulailah menerawangi tindak selanjutnya.

Pertama-tama apakah dirinya perlu segera menuju ke Lam-hay untuk mencari suhunya ataukah mengerjakan urusan lain.

Tepat pada saat mana pintu samping ruang batu terbuka, beriang berjalan keluar Kim-ling-cu diikuti Tan Soat-kiau, Ling Soat-yan dan Chiu-ki.

Agaknya perasaan Kim-ling-cu sudah banyak longgar, tanyanya.

"Apa yang celaka?"

Segera Giok liong menyahut hormat.

"Seruling samber nyawa pemberian Suhu itu kini sudah terjatuh ditangan Kobok -im-hun Ki-kiat ..."

Dengan langkah gemulai putri bayangan darah Ling Soatyan lantas maju mendekat, katanya sambil tertawa geli.

"Bukankah Ki-kiat sudah mati."

Lalu dikeluarkan seruling samber nyawa dari dalam balik bajunya langsung disodorkan kearah Giok-Iiong, katanya lagi.

"Aku ..."

Sebetulnya ia hendak menutur duduk perkara kejadian ini sejujurnya. Tapi sudah keburu disanggah oleh Giok-liong. Betapa girang hati Giok liong, segera ia unjuk soja serta katanya.

"Nona Ling sedemikian dermawan dan baik budi, bagaimana aku yang rendah harus membalasnya."

Terdengar Kim-ling cu ikut menyela bicara.

"Ya, akan kulihat cara bagaimana kau hendak menyelesaikan utang piutang ini, Karena kau nona Ling sampai terluka parah di tangan Ciok Kun malah merebutkan kemba li seruling samber nyawa ! Demikian juga nona Tan hampir mati karena kau juga, secara sewajarnya dengan kebesaran jiwanya ia mau menemui kau lagi, akhirnya menolong jiwamu pula ..."

Serentetan kata-kata ini seketika membuat Ling Soat-yan dan Tan Soat-kiau malu jengah.

Tapi hatinya merasa syuuuur senang sekali, dengan sorot kegirangan matanya melirik kearah Giok-liong.

Sesaat Giok-liong menjadi kesengsem sampai tidak berani menyambuti seruling samber nyawa yang disodorkan kepadanya.

Akhirnya Kim-ling-cu sendiri yang maju ambil seruling samber nyawa itu dari tangan Ling Soat-yan terus disesapkan ketangan Giok-liong, katanya.

"Akan kulihat cara bagaimana kau hendak menyatakan terima kasih terhadap orang, Hm, ada guru mesti ada murid"

Merah jengah selembar muka Giok-liong seperti kepiting direbus, Hanya Chiu-ki yang bertingkah paling jenaka, sepasang matanya yang bundar besar itu pelerak pelerek dengan lincahnya seakan-akan ada sesuatu persoalan yang menggirangkan hatinya.

Sekilas Kim-ling cu melirik ke arahnya serta tanyanya.

"Chiu ki kau punya saran apa?"

Chiu-ki tertawa terkikik sambil menutupi mulutnya dengan tangan, sahutnya.

"Hamba punya sebuah saran, entah dapat tidak dilaksanakan."

"Saran apa itu? Coba katakan!"

"Nona Tan ini dan nona majikanku bersama menjadi anak angkat Lo cianpwe harap Lo-cian-pwe suka memberikan pertimbangan serta membela kepentingan mereka berdua."

Kim-ling-cu menjadi girang, namun dilahirkannya ia purapura sungkan, makinya sambil mengerutkan alis.

"Budak binal, kau ambil persoalan rumit untukku."

Tanpa banyak pikir lagi segera Tan Soat-kiau dan Ling Soat-yan tersipu-sipu malu berlutut dihadapan Kim-ling-cu sambil memanggil.

"Ibu diatas, terimalah sembah putrimu !"

Saking girang air muka Kim-ling-cu berseri tawa, dengan tangannya ia bimbing mereka bangun seraya berkata.

"Kalian siapa yang lebih tua ?"

Setelah masing-masing menyebutkan umurnya akhirnya diketahui Tan Soat kiau menjadi cici berusia delapan belas tahun, Ling Soat-yan lebih muda setahun menjadi adik.

Adalah merupakan keberuntungan Tan Soat-kiau dan Ling Soat-yan dapat diambil anak angkat oleh Kim-ling cu yang berkepandaian hebat itu, Tapi sebaliknya bagi Giok-liong merupakan hal yang memusingkan kepala.

Dengan adanya Kim-ling cu sebagai sandera, maka runyamlah keadaan dirinya untuk hari-hari selanjutnya, Meskipun banyak keberatan yang perlu dikemukakan namun apakah ia berani buka mulut ?

Tatkala itulah Kim-ling cu lantas berpaling kearahnya, ujarnya.

"Untuk selanjutnya mereka adalah anak putriku, kalau kau berani menggoda mereka, awas bukan saja kupatahkan sepasang kakimu itu, akan kulaporkan juga kepada gurumu untuk menghukummu berat."

Tersipu-sipu Giik-liong menjura serta sahutnya hormat.

"Mana Wanpwe berani."

"Apa kau perlu segera pergi ke Bu-ing-to dilaut selatan untuk menemui gurumu ?"

Giok-liong mengiakan "Apakah ada urusan yang benar-benar penting ?"

"Dalam setengah tahun ini hutan kematian berhasrat untuk menggerakkan suatu aksi besar-besaran, dengan menyebar banyak tipu muslihat dunia persilatan untuk memperbudak kaum persilatan."

"Hutan kematian ....hutan kematian yang mana ? siapakah pemimpin Hutan kematian itu ? Berani dia begitu sombong dan takabur !"

"Hal ini Wanpwe kurang jelas, menurut Liong Bun Liong Cian-pwe yang mengatakan langsung kepada Wanpwe, supaya Wanpwe segera menemukan Suhu untuk mengumpulkan seluruh golongan sealiran untuk berjaga dan bersiap membendung serangan besar-besaran mereka."

"Hah, jadi Liong-tay-hiap masih hidup?"

"Benar!"

"Dimana kau bersua dengan dia ?"

"Didalam hutan kematian !"

"Untuk apa dia didalam sana ?"

"Liong-cian-pwe menyelundup kedalam hutan kematian sudah hampir seratus tahun, Menurut analisanya bahwa kekuatan hutan kematian itu, mungkin seluruh aliran dan golongan persilatan dalam Tionggoan ini tidak satupun yang kuat untuk melawanya,."

Sampai sekarang Kim-ling-cu baru paham dan sadar betapa penting persoalan ini setelah ia minta penjelasan lebih cermat dan teliti, lantas ia berkata.

"Kau boleh langsung menuju keselatan mencari Suhumu di pulau bayangan, untuk merundingkan serta mencari daya upaya, Biarlah dengan waktu yang masih ada ini kuturunkan beberapa kepandaianku kepada putri-putriku ini disamping itu juga berusaha mengundang beberapa kenalan kental dulu untuk berkumpul di Gak-yang-lo di pesisir danau Tong-king pada malam Cap-go meh pada tahun akan datang !"

Giok liong menjadi girang, dalam-dalam ia membungkuk tubuh, serta katanya.

"Wanpwe minta diri untuk segera berangkat."

Kim ling-cu merenung sebentar, lalu katanya.

"Pergilah. Hati hatilah sepanjang jalan ini supaya jangan terjebak dalam muslihat orang. Terutama Serulrig sumber nyawa itu yang paling gampang menimbulkan keonaran."

"Wanpwe sudah paham."

Sahut Giok-liong memberi hormat Iagi, Lalu dipandangnya Tan Soat kiam dan Ling Soat yan bergantian serta katanya.

"Adik berdua selamat bertemu !"

Memutar tubuh terus berjalan keluar dengan langkah lebar.

Begitulah dilain saat ia sudah keluar dari dalam gua dengan diiringi pandangan mereka yaag segan dan berat berpisah.

Dibelakangnya sayup-sayup terdengar pesan mereka berdua.

"Engkoh Liong, hati-hatilah di jalan, jangan suka menimbulkan onar ..."

Dengan langkah cepat laksana terbang Giok-liong terus berlari-lari kencang menuju arah tenggara, berselang dua hari kemudian ia sudah memasuki daerah propinsi Sucwan, sepanjang jalan yang dilalui selalu adalah alas pegunungan, apalagi setelah memasuki daerah Su-cwan itu, gunung gemunung saja yang dilalui, lembah yang dalam binatang buas sering ditemui sepanjang jalan ini.

Terutama dipuncakpuncak pegunungan dengan awan putih mengembang halus laksana berada ditempat dewa saja.

Semakin keselatan pegunungan semakin belukar, jarang ditemui penduduk sepanjang jalan ini, sehingga sering sampai berhari-hari ia narus menahan lapar.

Tatkala itu matahari sudah doyong kearah barat menjelang magrib, awan bergulung gulung gelap angin pegunungan menghembus keras, Diatas pegunungan yang liar dan sepi ini dimana ia harus mencari makanan untuk sekedar untuk tangsel perut ini benar benar bulan soal yang gampang.

Sekonyong konyong dari kejauhan didepan sana terdengar gema suara auman harimau yang sedang marah.

Meskipun jaraknya rada jauh tapi dari suaranya yang keras dan garang itu dapatlah diperkirakan bahwa itulah seekor harimau yang besar tentunya, Entah sedang berkelahi dengan siapa sehingga binatang itu mengeluarkan gerangan marah yang keras.

Tergerak hati Giok-liong, batinnya.

"Dilihat keadaan ini, terpaksa harus berburu binatang untuk sekedar mengisi perut yang keroncongan ini."

Dengan minat yang besar ini bergegas ia lari kedepan menuju arah datangnya suara auman harimau itu.

Setelah berlari semakin dekat suara gerungan harimau itu benar-benar sangat keras sampai memekakkan telinga menggetarkan pegunungan sekitarnya lagi.

Giok-liong berdiri tegak diatas sebuah batu yang menonjol diatas ngarai, dengan ketajaman matanya ia menyelidik kebawah yang dipenuhi kabut gelap, samar-samar terlihat dikeremeng dibawah sana, empat titik sinar terang tengah mengurung segulung bayangan merah yang sedang berloncatan dengan gesit dan tangkas sekali.

Sekarang jelas terdengar pula oleh -Giok liong bunyi pernapasan orang yang rada lemah di bawah jurang sana, Giok-liong menjadi kaget, pikirnya.

"Mungkin ada orang yang diserang terluka oleh binatang buas ini hingga timbulIah jiwa kependekarannya, buru-buru ditanggalkan jubah luarnya, lalu dirogohnya beberapa pulung obat pemunah hawa beracun terus ditelan ke dalam muIut, setelah menarik napas panjang lalu merambat turun melalui dinding jurang, keadaan di dasar jurang ini memang cukup gelap dan remang-remang, suara gedebukan dan langkah-langkah berat semakin nyata terus berkumandang saling susul. Giok liong kerahkan Ji-lo untuk melindungi badan, lalu dari ketinggian puluhan tombak itu ia melompat turun waktu masih mengapung ditengah udara ia lolos keluar Kim-pit ditangan kanan. Waktu kakinya menginjak tanah dimana ia pandang kedepan seketika ia melonjak mundur. Ternyata keempat titik sinar terang yang dilihatnya tadi bukan lain adalah dua pasang mata harimau, kedua harimau ini sama besar dan garangnya hampir setombak panjang tubuhnya dan setinggi kerbau. Sambil mendekam dikanan kiri mulutnya menggerung gerung, kedua ekor mereka tak henti-hentinya disabetkan diatas tanah dan kekiri kanan, sehingga debu mengepul, batu dan pasir beterbangan memercikkan lelatu api. Meskipun gerungannya sangat keras dan garang, tapi naga-naganya mereka tahu gelagat tidak berani sembarangan bergerak. Cahaya merah marong itu bukan lain adalah mata tunggal seekor ular besar yang berkepala menyerupai kepala ayam jago, sedemikian aneh bentuk kepala ular ini, matanya memancarkan sinar merah yang berkilau dengan tajam ia awasi gerak gerik kedua harimau besar dihadapannya yang sudah siap menyerang setiap saat. Badan ular yang besar dan panjang ini tengah melingkar menggubat seluruh badan seorang Hwesio tua yang berjenggot putih duduk bersila diatas tanah. Mulut Hwesio tua itu menganga lebar mengulum sebuah benda bundar sebesar kepalan bocah berwarna putih kemilau laksana perak, agaknya Hwesio tua ini berusaha menelan benda bundar itu. Tapi karena seluruh badannya tergubat kencang oleh badan ular, hakikatnya bernapas saja sangat sukar, mana bisa ia menelan benda di mulutnya itu. Meskipun seluruh badan tergubat ular tapi kedua tangan Hwesio tua itu tepat mencengkeram tenggorokkan kepala ular itu. Pada mulut ular ini juga menggigit sebutir benda bundar warna putih perak. Benda bundar dimulut ular ini jauh lebih kecil dibanding yang berada dimulut Hwesio tua. Kabut beracun bergulung-gulung menyembur keluar dari mulut ular tapi karena adanya rintangan benda bundar putih perak yang tergigit dimulutnya itu sehingga semburan kabut berbisanya ini tidak banyak mengambil keuntungan malah kehilangan perbawanya. Saban-saban Hwesio tua melepas salah satu tangannya hendak meraih benda bundar dimulut ular itu. Tapi begitu ia lepas tangan mulut ular lantas terbuka semakin lebar, agaknya bisa segera menelan benda bundar itu, malah berpaling dan kepalanya ku menerjang datang hendak mematuk. Saking ketakutan cepat-cepat ia cengkeram lagi tenggorokan ular tempat paling lemas diseluruh badan ular yang terletak tujuh senti dibawah kepala ular. Kedua harimau besar itu naga-naganya adalah binatang piaraan si Hwesio tua ini. Berulang kali mereka sudah bergerak hendak menubruk maju tapi selalu disapu mundur oleh ekor ular besar yang keras laksana baja itu. Dengan cermat Giok-liong meneliti dan mengamati benda bundar dimulut ular dan yang dikulum dimulut si Hwesio tua itu, akhirnya ia berjingkrak kaget karena kedua butir benda bundar itu bukan lain adalah Cu-hok-gin-kong -ko, buah sinar perak ibu beranak yang sudah berusia ribuan tahun yang merupakan benda pusaka yang paling dikejar-kejar oleh kaum persilatan umumnya. Kulit dari buah sinar perak ibu beranak ini sangat keras laksana besi ibu buah lebih besar, itulah yang dikulum dimulut si Hwe-sio tua, seribu tahun berbuah sekali sedang anak buah lebih kecil adalah yaitu tergigit di mulut ular, selaksa tahun baru berbuah. Buah ajaib yang mujarab semacam ini kalau tahu cara penggunaannya, sedikitnya dapat menambah latihan Lwekang orang sebanyak seratus tahun lebih! Bagi orang biasa dapat panjang umur dan tak gampang diserang penyakit. Tapi kasiat anak buah adalah setingkat lebih besar dan mujarab dari pada ibu buah nya. Melihat orang dan ular sedang berebutan menelan buah ajaib yang mujarab ini sampai saling tempur dan bertahan sekian lama. bukan mustahil akhirnya mereka sama-sama mampus kelelahan Diam-diam Giok liong membatin dalam hati.

"Hwesio tua itu sungguh cukup tamak dan nyeleweng dari ajaran sang Budha, sebagai yang suci bersih."

Dalam kejap pemikirannya inilah, dilihatnya keadaan si Hwesio tua sudah rada payah dan tak kuat bertahan lagi, cengkeraman kedua tangannya itu semakin lama semakin kendor dan hampir terlepas, lidah ular sudah semakin memanjang, senti demi senti menjulur mendesak kearah mukanya.

Diam-diam Giok liong mengeluarkan Kim-pit-siti-piau dari buntalannya, begitu kakinya menjejak tanafa, badannya lantas meluncur maju waktu badannya masih terapung ditengah udara tangan kanannya terus diayun menyambitkan selarik sinar kuning mas.

Ular aneh berjambul seperti ayam jago itu mendadak merasakan adanya serangan gelap dari luar ini, mendadak mengeluarkan suara aneh dari mulutnya, seluruh badannya mendadak merontak keras sekali, sedang buah bundar putih perak yang digigit di mulutnya itu terus disemburkan kearah Giok-liong membawa kabut berbisa.

Baru saja Giok liong menyambitkan piau potlot masnya kearah tempat kelemahan dibadan leher si ular aneh berkepala jambul ayam jago, serentak iapun ayun potlot mas di tangan kirinya.

Sewaktu badannya masih terapung dan meluncur maju inilah mendadak dilihatnya anak buah sinar perak yang tengah menyemprot datang itu pecah ditengah jalan, Sari buah yang berupa cairan putih itu berubah selarik sinar putin perak menyemprot datang kearah dirinya di belakang kulit buahnya.

Dalam kesibukannya ini Giok liong tidak sempat banyak berpikir, lekas-lekas ia angkat tangan kirinya meraih pecahan kulit buah sembari membuka mulut dan menyedot dengan keras, Maka sari buah yang berupa cairan warna putih perak itu langsung tersedot masuk seluruhnya ke dalam mulutnya terus tertelan kedalam perut.

Tepat pada waktu itu juga terdengarlah "cras"

Disusul pekik aneh yang mengerikan ternyata piau potlot mas yang disambitkan Giok-liong itu tepat mengenai tempat kelemahan dibawah leher ular aneh berkepala jambul ayam itu.

Hebat sekali kekuatan ular aneh itu, meskipun kelemahannya sudah kena tusuk tapi masih kuat meluncur datang mengejar ke arah Giok-liong dengan garangnya.

Giok-liong pentang kedua lengan tangannya, selarik sinar kuning lantas berkelebat dan terus meluncur cepat sekali memapas kearah batok kepala sang ular, seketika terjadi hujan darah, kiranya potlot mas sambitan Giok liong yang terakhir inipun dengan telak amblas ke dalam batok kepala yang berjambui ayam jago itu, serentak dengan aksinya tadi Giok-liong masih harus membungkuk tubuh sambil lompat maju, karena saat itu juga terasa angin keras menyampok di belakang kepalanya, Kiranya buntut ular yang besar dan keras itu telah menyapu tiba.

Diam-diam Giok liong mengeluh, cepat-cepat ia mengerahkan pinggang berbareng sekuatnya kaki menjejak tanah sehingga tubuhnya melejit tinggi ke tengah udara.

Gerakan yang tepat dan indah ini berhasil meloIos keluar pula sebatang potlot mas lainnya terus disongsongkan ke belakang.

"Plok"

Benturan keras terjadi, seketika Giok liong rasakan seluruh lengannya tergetar linu dan luar biasa, kontan badannya juga lantas meluncur jatuh.

Jilid 10 Disebelah sana dengan mengeluarkan suara gemuruh sepanjang badan ular yang besar itu juga terbanting keras di tanah terpaut beberapa langkah saja di sebelah tubuhnya, seketika bergulingan dan berkelejetan meloncat-loncat menimbulkan debu dan kerikil beterbangan sekian lamanya baru berhenti dan melayanglah nyawanya.

Karena sudah menelan obat pemunah hawa beracun pemberian suhunya yang bernama Pit-tok-tan, Giok-liong sudah tidak usah kwatir lagi menyedot hawa berbisa yang di semburkan dari mulut ular.

Dengan cekatan dicabutnya potlot mas serta membungkuk mengambil piau kecil yang tertancap di bawah leher ular itu bersama terus dimasukkan ke dalam buntalannya.

Sementara itu si Hwesio berkesempatan menggigit pecah Gin-kong-bok-co (ibu buah sinar perak), setelah menyedot habis sarinya, sepasang matanya lantas memancarkan sorot kebuasan yang garang berkilat-kilat, Pada saat itu dilihatnya Giok-liong tengah membungkuk menjemput sesuatu dari kepala ular aneh itu, maka segera ia menghardik bengis.

"Tahan."

Berbareng tangannya menyambitkan kulit buah yang berubah sinar perak langsung menyerang jalan darah Pak-simhiat di punggung Giok-liong, bersama itu tangkas sekali iapun meloncat menubruk membawa serangan membadai dengan pukulan dahsyat dari tengah udara.

Demikian juga kedua ekor harimau besar itu berbareng menggereng keras bergetar terus menubruk kearan Giokliong.

Sungguh mimpi juga Giok-liong tidak mengira pertolongannya secara berbahaya tadi bukan saja tidak mendapat simpatik atau tanda penghargaan malah orang membalas air susu dengan air tuba, serentak turun tangan menyerang dia mengancam jiwanya.

Dalam keadaan yang serba kritis begini tiada banyak kesempatan untuk berpikir Secara gerak reflek ia ayun tangan kirinya, maka kulit anak buah bersinar perak lantas meluncur dengan kecepatan yang susah diukur bersama dengan gerakan tangan ini badannya juga ikut menggeliat terus melambung tinggi ketengah udara dari celah-celah diantara kedua harimau yang persis menubruk tiba dari atas kepalanya.

Dalam pada itu si Hwesio tua yang masih mengapung di tengah udara begitu melihat Giok-liong menyambitkan selarik sinar putih perak, hatinya lantas mengeluh lirih.

"Celaka !"

Badannya mendadak jumpalitan balik terus meluncur turun sambil mengulur tangan meraih kearah kulit anak buah sinar perak yang meluncur datang.

Baca Juga: Pendekar Lembah Naga 10

Baca Juga: Pemberontakan Taipeng 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert