Ceritasilat Novel Online

Seruling Samber Nyawa 4

Eps 4 Seruling Samber Nyawa - Chin Yung

Baca online Seruling Samber Nyawa - Chin Yung

Cersil Seruling Samber Nyawa - Chin Yung.

Sayang sekali sedetik sebelum tangannya berhasil menangkap kulit buah itu tahu-tahu terdengar suara "pyaarrr", yang halus, samar-samar percikan cahaya putih perak berkembang ditengah udara lantas terendus bau harum semerbak merangsang hidung.

Begitu tangannya meraih tempat kosong, sepasang mata Hwesio tua lantas memancarkan sorot kebuasan yang penuh nafsu membunuh.

Begitu kaki menginjak sekali tutul lagi, badannya lantas menggeliat dengan gaya yang indah sekali melompat maju mengejar sambil membentak gusar.

"Bunuh !"

Tapi kali ini bukan meluruk kearah Giok-liong sebaliknya melambung tinggi terus menubruk kearah ular aneh yang setengah sekarat itu.

Sekali tangan terayun, lantas terlihatlah sinar dingin berkeredep "cras"

Suara sannberan enteng ini menimbulkan cahaya merah mengalir dan berputar, tahu-tahu digenggaman tangannya sudah menyekal sebutir mutiara merah sebesar kepelan tangan kecil yang berkilauan.

Tepat pada saat si Hwesio tua berseru dengan teriakan "Membunuh"

Tadi.

Kedua ekor harimau besar itu lantas mengabitkan ekor masing-masing sambil menggerung sekeras kerasnya sampai menggetarkan tanah pegunungan sekelilingnya, Dengan membawa bau amis yang memuakkan serentak mereka menubruk kearah Giok-liong.

Keruan Giok-liong menjadi gusar, sedikit kakinya menutul, ringan sekali badannya lantas melompat mundur tiga tombak jauhnya, bentaknya dongkol.

"Toa-suhu, apa-apaan kelakuaamu yang ingin melukai orang tanpa sebab ?"

Dalam pada itu si Hwesio tua juga tengah berdiri tegak lalu membentang telapak tangannya, dengan cermat ia awasi mutiara ular merah yang berada di telapak tangannya, Dilain saat ia lantas masukkan mutiara pusaka ini kedalam buntalannya, wajahnya mengunjuk rasa puas dan gembira.

Tapi di lain saat tiba tiba air mukanya berubah gelap, gerungnya rendah.

"Berhenti !"

Benar juga kedua ekor harimau besar itu segera menghentikan aksinya, tapi mereka mendekam ditanah dengan gaya siap menerkam begitu mendengar aba-aba dari tuannya, Tajam dan cermat si Hwesio tua mengamati Giokliong, samar-samar air mukanya sedikit mengunjuk rasa kejut dan heran tapi ini hanya terjadi dalam kilasan saja, maka dilain saat air makanya semakin memberengut, tanyanya dengan tiada berat.

"Siau-si-cu telah merusak anak buah sinar perak wi-iinku, cara bagaimana kau harus menggantinya ?"

Giok-liong menjadi tidak senang, tanyanya balik.

"Jikilau Toa-suou tadi meninggal keperut ular aneh itu lantas cara bagaimana penyelesaiannya ?"

Hwesio tua mendengus hidung, jengeknya.

"LoIap percaya tidak akan tertelan keperut ular."

Jelas tadi Toa suhu sudah tidak kuat bertahan, dalam keadaan yang gawat demikian, jikalau Cayhe tidak lekas-lekas turun tangan, paling tidak Toasuhu tadi sudah berkenalan dengan ciuman ular berbisa tadi."

"Lolap tadi hanya berledek saja dengan ular, bukan saja Sian-si-cu telah membunuh barang permainanku, malahan merusak buah ajaibku lagi, Dengan dosamu ini kalau Lolap tidak turun tangan rasanya belum terlampias rasa dongkol ini !"

Giok liong semakin menjadi dongkol dan gemas pikirnya.

"Dijagat ini kiranya ada juga orang beribadat yang tidak kenal aturan begini."

Terdengar Hwesio tua itu membuka mulut lagi.

"Siau-si-cu apakah kau ini murid To ji Pang Giok ?"

Giok-liong manggut-manggut, tanyanya.

"siapakah nama julukan Toa-suhu ini ?"

Si Hwesio mendehem dulu lalu menjawab.

"Go-bi Goanhwat itulah Lolap ada-nya, dulu pernah bertemu sekali dengan gurumu."

Goan-hwat Taysu adalah Susiok dari Hian Goan Taysu Ciang-bunjin Go-bi-pay sekarang, Kepandaian silatnya tinggi dan lihay, tapi wataknya aneh dan suka sirik dan berat sebelah berhati tamak dan loba, Kelakuan yang buruk ini memang sudah menjadi rahasia umum bagi kalangan kaum persilatan.

Menurut aturan, tingkat kedudukannya setingkat lebih rendah dari To-ji Pang Giok, namun dia sendiri mengangkat diri dengan sebutan setingkat dalam jajaran para angkatan tua.

Dari sini bolehlah kita bayangkan betapa congkak dan sombong serta takabur sifat buruknya ini.

Giok-liong bersikap dingin, katanya.

"Kalau Taysu tidak ada petunjuk lainnya lagi baiklah Caybe segera minta diri."

Goan-hwat Taysu menyeringai katanya.

"LoIap ada dua jalan boleh Siau si-cu pilih."

Giok-liong bersikap sungguh, tanyanya.

"Kenapa ?"

"Ganti kerugian Lolap tadi."

"Hoo, cobalah Taysu sebutkan dulu!"

"Syarat pertama, serahkan seruling samber nyawa itu untuk kupinjam selama setahun, Kedua, dengan batok kepala Siausi-cu sebagai ganti rugi."

Seketika berkobar hawa marah Giok-liong, coba pikirkan dengan menempuh bahaya tadi dirinya telah menolong jiwa Si Hwesio ini, sekarang Goan-hwat Taysu sebaliknya berkata demikian mengancam bukan kah bisa bikin orang mati saking jengkel ?

Saking marahnya Giok-liong tertawa bahak-bahak, ujarnya.

Sungguh merdu dan enak didengar ucapan Taysu ini.

Kalau mampu marilah silakan turun tangan sendiri."

Goan hwat Taysu mendengus ejek, katanya.

"Kalau benarbenar harus Lolap sendiri yang turun tangan, jiwa Siau-si-cu ini sudah pasti harus diserahkan. Marilah, lebih baik kita bicara dan berdamai saja. silahkan serahkan Seruling samber nyawa itu dan selanjutnya kita menjadi sahabat."

Ucapan Goan-hwat ini semakin mengobarkan kemarahan Giok-liong, seketika air mukanya berubah dingin membeku bersemu merah, desisnya geram.

"Ji-bun Tecu Ma Giok-liong. Minta pengajaran lihay dari Taysu !"

Mendadak Goan-owat Taysu mendongak serta bergelakgeiak, serunya takabur.

"Kau bocah kurcaci ini masa menjadi tandingan LoIap ..."

Belum habis kata-katanya mendadak ia mengebutkan tangannya, segulung angin pukulan lantas menderu keluar menerpa dengan dahsyat.

Serentak dalam waktu yang sama, kedua ekor harimau itu menggerung keras, buntutnya yang panjang dan besar itu lantas menyabet tiba, berbareng mereka menubruk, maju dari kanan kiri, ini betul betul merupakan suatu penghinaan bagi Giok-liong, memandang rendah dengan menyuruh binatangnya menyerang.

Betapa takkan murka hatinya, maka sambil berkekanan panjang suaranya mengalun tinggi, jubah panjang tangannya dikebutkan, badannya lantas melayang enteng sekali, berbareng Ji lo dikerahkan sampai tingkat kesepuluh jurus Cin-chiu juga lantas dilancarkan.

Gerungan harimau menggetarkan bumi angin menderuderu, awan putih berkelompok-kelompok mengembang terus memapas kedepan.

Goan hwat Taysu berteriak kejut .

"Celaka, mundur!"

Lengan bajunya yang panjang lebar cepat-cepat dikebutkan badannya juga ikut meluncur tiba secepat burung terbang, Sayang ia bergerak lambat setindak, masih ia terapung ditengah udara, terdengarlah gerung keras kesakitan dari kedua binatang piaraannya itu.

Darah muncrat kemana-mana, berbareng kedua ekor harimau besar itu terbang terpental kedua jurusan sejauh puluhan tombak terus terbanting keras ditanah, seketika keempat kakinya menghadap langit dan jiwanya melayang.

Goan hwat Taysu menggeram murka, hardiknya .

,,Berani kau membunuh binatang cerdik penunggu gunungku, Go Bipay tak berdiri sejajar dengan bocah keparat macam kau ini."

Setelah itu ia menggerung dan memekit keras dan panjang sedemikian kerasnya sampai terdengar puluhan li jauhnya.

Bersama itu kedua lengan bajunya yang besar gondrong itu berkibar-kibar, tubuhnya berputar cepat laksana gangsingan, angin menderu-deru hebat, seketika Giot-liong terkepung didalam bayangan pukulan dan tutukan yang berseliweran cepat dan mengancam jiwanya.

Malam ini Giok-liong betul-betuI sangat marah, Pikirpun tidak terpikir olehnya dalam pegunungan yang liar dan sepi ini pakai ketemu seorang Hwesio tua yang tidak mengenal sopan santun dan aturan, maka segera dengusnya mengejek "Jelekjelek aku sebagai murid aliran Ji-bun, masa takut terhadap Go bi-pay kalian,"

Ji-lo terus dikerankan, ilmu Sam-ji-cui-him-chia juga lantas dilancarkan Dalam gelanggang segera timbul segundukan bayang pukulan tangan laksana gunung meninggi berlapis bersusun tiada habisnya, sedemikian rapat dan keras berputar mengembang keluar ditengah deru angin pukulan awan putih mulai berkelompok mengembang bergulung-gulung hebat menerjang kearah Goan hwat Taysu.

"Blang, blung"

Suara dahsyat saling berganti menggetarkan bumi dan langit, batu sampai pecah berhamburan, udara menjadi gelap oleh kabut debu, bayangan kedua orang tibatiba berpencar kedua samping.

Tampak air muka Giok-liong rada bersemu, jubah panjangnya melambai-iambai tertiup angin ia berdiri tegak dan waspada.

Sebaliknya Goan-hwat Taysu tak kuasa berdiri tegak, ia tersurut tiga langkah kebelakang, mulutnya lantas menyeringai tawa sinis.

"Kim-pit-jan-hun Ma Giok liong, hehehehe, kiranya memang cukup hebat dan lihay tak bernama kosong !"

Seiring dengan tawa dinginnya tangkas sekali kedua tangannya bergerak-gerak didepan dadanya lalu masing-masing berputar setengah lingkaran terus didorong maju ke depan dengan sepenuh kekuatan.

"Pyar,"

Begitu angin pukulannya dilancarkan keluar saling sentuh lantas mengeluarkan gesekan yang keras itu, sehingga menimbulkan geseran angin lesus kecil-kecil berpencar ke berbagai sasaran merangsang kearah Giok-Iiong.

Bersama itu, sepuluh jarinya beruntun menjentik, menyambitkandesis angin kencang, sekaligus mengarah ke jalan darah penting ditubuh Giok-Iiong.

Setelah melancarkan serangan bergelombang ini toh, Goanbwat Taysu sendiri masih belum berhenti bergerak, tiba-tiba ia melejit ketengah.

udara, jubah Hwesionya yang besar gedobrakan itu melambai-lambai serentak kedua kaki tangannya bergerak-gerak menari-nari laksana seekor labalaba yang menungkrup keatas kepala.

Melihat tingkah laku orang yang aneh ini, Giok-Iiong betulbetul kaget.

ilmu semacam ini agaknya pernah didengarnya dari cerita suhunya, ini merupakan semacam ilmu jahat yang sangat berbisa dan sudah sekian lama putus turunan.

Sekarang dalam keadaan kepepet begini sulit teringat olehnya apakah nama ilmu macam begini aneh ini.

Karena saat mana angin kencang yang tajam berseliweran bagai badai mengamuk telah menerpa tiba.

Giok-Iiong insyaf akan kelihayan ilmu semacam mi, tanpa berani berayal lagi, cepat ia menarik napas panjang, Ji-lo dikerahkan sampai tingkat kesepuluh, sedemikian deras aliran hawa murni ini sampai terasa gemetar berputar melindungi badannya, Bersama itu Leng-hun-toh juga lantas dikembangkan sedikit kakinya menutul tanah, laksana ikan gesitnya setangkas belut membelesot badannya bergerak lincah seperti kera berloncatan menerjang keluar dari sela-sela angin kencang yang merangsang tiba, belak belok tepat benar seperti belut melesat keluar dari kurungan ilmu musuh.

Agaknya Goan-bwat Taysu tidak mengira akan perbuatan Giok-liong, meski dalam hati ia kagum namun mulutnya menjengek gusar.

"Bocah keparat ternyata berisi juga, Lohu semakin tidak akan mengampuni kau."

Tiba-tiba badannya yang terapung ditengah udara itu bisa berputar cepat segesit burung terbang terus mengejar dan menubruk datang kearah Giok-liong.

Setelah lolos dari serangan angin totokan musuh, lantas Giok-liong berpikir, kalau hari ini dirinya tidak hati hati menghadapi Hwesio jahat tidak kenal aturan ini, pasti celakalah dirinya.

Maka iapun tidak mau kalah garang, ejeknya menghina.

"Tuan mudamu ini masa takut menghadapi ilmu siluman dari aliran sesat yang kau pelajari ini."

Karena pengarahan Ji-io sampai tingkat kesepuluh ini, tiga kaki sekitar tubuhnya sudah terpenuhi dan dilingkupi oleh Sian-thian-cin-khi, berbareng potlot mas juga dilolos keluar terus diacungkan keatas bersiap menghadapi serangan dari atas.

Saat mana badan besar Goan-hwat Taysu kebetulan sudah melayang sampai diatas kepala Giok-liong, ditengah udara ia terloroh-loroh dingin, katanya.

Bocah keparat, kalau kau mau tunduk dengar perintahku maka akan kuampuni jiwamu."

Giok-liong semakin murka, bentaknya.

"Kentut, tuan muda mu ini berkelakuan lurus berlaku bajik dan genah, Mana bisa mendengar perintah dan tunduk pada tua bangka brutal macam kau ini yang menjual nama baik kakek moyangmu demi kesenangan sendiri."

Sebetulnya makiannya ini melulu untuk ucapan pancingan belaka, Tak terduga justru tepat mengenai borok dari keburukan Goan-hwat Taysu.

seketika berubah hebat air mukanya.

Mulutnya lantas terkekeh-kekeh dingin menyakitkan pendengarnya.

"Keparat dari mana kau mengetahui rahasia pribadi Lohu, hehehehe... ."

Suaranya sedemikian sadis dan mengerikan.

Waktu Giok-liong mendongak keatas, Tampak badan Goanhwat Taysu yang terbang terapung dan bergerak-gerak seperti laba-laba lazimnya, lambat laun terbungkus oleh kabut gelap warna biru tua yang bersinar kemilau.

Demikian juga seluruh air mukanya sudah berubah menjadi biru tua, sungguh ngeri dan menakutkan.

Tersentak kesadaran Giok-liong, tiba-tiba selintas pikiran berkelebat dalam benaknya.

"inilah Lancu tok yam ilmu jahat berbisa pelajaran Ibun Hwat, pemimpin istana beracun pada empat ratus tahun yang lalu. Tapi jelas bahwa latihannya masih belum matang, Begitulah otaknya bekerja, sebaliknya mulutnya tertawa gelak-gelak, ujarnya.

"Mengandal latihanmu Lan cu-tok-yam yang masih cetek ini, berani kau unjuk kegarangan dan pamer dihadapan seorang ahli, Sungguh takabur dan memalukan!"

Agaknya Goan hwat Taysu sangat terkejut akan ucapan Giok-liong ini.

Tapi badannya sudah mulai amblas menurun terus meluncur tiba dengan seluruh badan terselubung kabut biru, sepasang tangannya berubah seperti cakar burung garuda, telapak tangannya masing-masing memancarkan cahaya terang kebiruan yang bergemerlapan.

Disaat badannya menungkrup turun, sepuluh tombak sekelilingnya menjadi dilingkupi oleh cahaya biru yang terang cemerlang oleh kabut yang semakin tebal.

Giok-liong berdiri tegak sambil menahan napas menanti setiap perubahan Potlot mas-nya masih teracung keatas, Ji lo terus dikerahkan berputar melindungi badan.

Gelombang suara tawa Goan-hwat Taysu semakin berkumandang keras dan menusuk telinga tak enak didengar seolah-olah gelak tawanya ini bukan keluar dari mulut manusia.

Kabut biru yang cemerlang itu semakin tebal, seluruh badan Giok -liong menjadi ikut tersorot menjadi biru terkena sinar reflek dari cahaya kabut biru yang bersinar itu bahwa Lan cu-tok-yam ini sangat berbisa, meskipun bagaimana cara permainan ilmu ini belum jelas.Tapi pernah didengarnya dari cerita gurunya tentang ilmu jahat ini.

Katanya jurus permainannya sangat aneh dan ganas tidak mengenal perikemanusiaan, setiap jurus merupakan serangan mematikan bagi lawan, apalagi banyak perubahan dan sulit diraba mengarah kemana sasaran yang dituju sebetulnya, sehingga sukar dibendung atau bersiaga sebelumnya.

Maka dalam saat ia sendiri menghadapi bahaya seperti yang pernah didengar dari cerita gurunya itu, sedikitpun Giok -liong tidak berani berayal, hawa dan tenaga murninya dikerahkan serta mendorong keluar di luar badan sampai melebar semakin luas kira tiga kaki sekitar tubuhnya terkekang dan diselubungi seluruh kekuatan ilmu Ji-lonya itu.

Jarak musuh sudah semakin dekat dari delapan sampai tujuh dan semakin dekat lagi menjadi enam kaki...

Sekonyong-konyong Giok-liong merasakan adanya perubahan diatas badannya, ternyata tiba-tiba pusarnya telah sedikit tergetar dan mendingin, keruan kejutnya bukan kepalang, Pada saat itulah sesuatu telaga maha dahsyat laksana gugur gunung telah menindih diatas kepala Giok liong.

"PIup !"

Terdengar ledakan ringan, waktu kabut biru kebentur oleh hawa murni diluar tubuh Giok-liong, seketika hawa udara di sekitar gelanggang menjadi berubah keras.

Giok-liong terdengar mendehem keras, potlot mas yang teracung keatas mendadak memancarkan sinar kemilau terus mencang-keatas.

Sesaat lama kedua belah pihak saling bertahan tanpa bergerak.

Tenaga tindihan atau gencetan terasa semakin besar dari berbagai arah terus terpusat ke seluruh badannya.

Giok-liong harus memusatkan pikiran dan mengerahkan tenaga, cahaya bersinar terang yang terpancar di ujung potlot masnya kelihatan mencorong keempat penjuru terus melebar luas.

Lambat laun keringat mulai membanjir diatas jidatnya.

Pancaran cahaya sinar potlot mas yang cemerlang juga semakin mengecil dan redup, Terkilas suatu pikiran dalam benaknya.

"sedemikian kokoh dan kuat nya Lwekang Goanhwat Taysu, mengapa tadi bisa terkalahkan oleh ular aneh berjambul ayam jago ? Apakah ia tengah berlatih semacam ilmu berbisa ?"

Sedikit pikiran ini terlintas, sorot pancaran sinar kekuningan dari kekuatan senjatanya semakin suram lagi, Keringat semakin banyak mengalir sehingga berketes-ketes membasahi seluruh badan seperti kehujanan layaknya.

Giok-liong merasa tenaga tindih dan gencetan dari luar semakin berat, boleh dikata sudah mencapai titik yang tidak kuat dibendung atau ditahan lagi, Hawa murni dalam tubuhnya juga terasa sudah terkuras habis, selayang pandang matanya hanya kabut biru melulu yang melingkupi sekitar badannya.

Sungguh ngeri dan menakutkan Jelas sekali dia mendengar kumandang gelak tawa yang menggiriskan semakin keras terkiang kiang dipinggir kupingnya, kepalanya mulai terasa pusing tujuh keliling, pandangan mulai berkunang-kunang, kaki tangannya juga mulai lemas dan linu gatal tak tertahan lagi.

Perasaan putus harapan lantas menggelitik dalam hati kecilnya.

"Masa aku harus mati secara demikian ini ! Apakah aku lantas demikian ..."

"Ya, dia tahu sekali kabut biru berbisa itu menyentuh tubuhnya, kesadarannya bakal kabur dan terkekang lalu menjadi domba selama hidup ini. Kalau tiada obat pemunahnya yang khusus untuk mengobati dalam tujuh kali tujuh empat puluh sembilan jam orang yang terkena kabut berbisa itu bakal mati dengan seluruh badan menjadi segenang cairan air darah. Begitulah dalam keadaan pikiran tidak tenang dan hawa murni sulit dikerahkan lagi ini. Mendadak terbayang akan adegan dikala ibunya mengalami bencana terlintas dalam otaknya. Lantas pemikiran lain lantas terkilas dalam benaknya secepat kilat.

"Aku tidak boleh mati, masih banyak tugas yang harus kulakukan! Terutama tugas berat yang akan jaya dan runtuhnya penghidupan kaum persilatan di seluruh jagat ini, Dan lagi dengan adanya Lan Cu-tok yam yang kenyataan mulai bersemi pula dikalangan Kangouw ini, bukan mustahil ini merupakan benih kehidupan dari istana beracun, maka ..."

Semakin dipikir terasa betapa besar dan berat tugas yang dipikulnya ini, serentak mulutnya lantas menghardik keras.

"Yaaaa!"

Kedua lengan tangannya mendadak berontak sekuat tenaga, dimana tenaga murninya terkerahkan terus didorong keatas.

Kabut biru rada terdesak keatas, Tapi Goan hwat Taysu masih terus berusaha menekan kebawah, sekonyong-konyong terasa segulung hawa dingin hangat bersemi didalam pusarnya terus menjalar naik langsung menyusup dan menerjang kesuluruh urat nadi dan sendi-sendi seluruh tubuhnya.

Seketika pikiran Giok-liong menjadi terang, keruan girang bukan main hatinya.

batinnya.

"Ya, mungkin karena hawa murni dalam tubuhku sendiri sudah terkuras habis, sekarang kasiat buah ajaib itu telah menunjukkan kegunaannya."

Sungguh tidak disadari olehnya secara serampangan saja pengalaman yang penuh bahaya didasar jurang ini malah merupakan cara yang tepat penggunaannya obat buah ajaib itu.

Saat mana cairan perak atau sari mujarab dari buah ajaib itu, karena tenaga dari dalam tubuhnya sendiri sudah terkuras habis, digencet lagi dari tenaga luar, lantas terbaur menjadi satu dan terkombinasi dengan hawa murni dalam tubuhnya, sekarang sudah mulai menunjukkan keampuhannya yang luar biasa.

Begitulah sewaktu hawa dingin itu meresap keseluruh urat nadi dan sendi-sendi di kaki tangannya, Giok-liong lantas merasa tenaganya banyak bertambah kokoh, pancaran sinar kuning diujung potlot masnya juga mencorong semakin terang, seluruh badannya tiba-tiba menjadi cemerlang mengeluarkan cahaya terang putih perak yang samar-samar.

Saking kegirangan Giok-liong mendongak sambil berpekik lantang serentak kedua lengan tangannya meronta sekuatnya.

"Blang"

Benturan keras seperti ledakan petir terdengar dengan dahsyatnya menggetarkan seluruh pegunungan.

Terlihatlah bayangan orang terbang jumpalitan angin badai melesus membubung tinggi ketengah udara membawa debu dan pasir sehingga udara menjadi gelap.

Seketika Giok-liong merasa bahwa gencetan atau tenaga tindihan dari atas seketika buyar dan lenyap seluruhnya, badan terasa ringan dan nyaman, Teriihat Goan-hwat Taysu jungkir balik ditengah udara sampai beberapa a ir tak jauhnya baru mendaratkan kedua kakinya diatas tanah.

Sejenak kemadian kabut dan sinar biru mulai suram lalu sirna sama sekali, Giok-liong menarik napas dalam-dalam, sikapnya angker dan dingin, tapi kedua pipinya bersemu merah penuh ketampanan semangat sepasang matanya menatap n"ka-.i kebuasan dan penuh nafsu membunuh, dengan tajam ia tatap Goan-hwat Taysu tanpa berkedip.

Wajah Goan-hwat Taysu penuh diseIubungi kabut biru yang berkilauan sungguh perbawanya ini bisa menakutkan orang, Demikian juga kedua biji matanya mendelik besar seperti kelereng memancarkan cahaya biru dingin bagai mata dracuIa, menatap ke arah Giok-liong dengan penuh kegusaran, suaranya terdengar serak dan sember, katanya rendah.

"kau sudah menelan sari buah ajaib ini ?"

Giok-liong mandah menyeringai ejek, bukan menjawab malah bertanya.

"Go bi-tiang-lo, ternyata adalah siluman jahat kaum persilatan. Kabut laba-laba berbisa macam pelajaranmu tadi dari mana kau pelajari ?"

Mendadak Goan-hwat Taysu terloroh-loroh kering mengkirikkan kuduk dan bulu roma, serunya bersenandung.

"Seluas alam semesta, hanya akulah yang teragung Ibun-Hud co (kakek moyang ibun) bertsbi aku panjang umur !"

Baru saja lenyap suaranya, tiba-tiba badannya bergeser berputar cepat sekali entah dengan cara apa tahu-tahu tubuhnya sudah melejit tiba disamping Giok-liong, Dimana sinar biru menyala, tahu-tahu kelima jari tangannya bagai cakar garuda sudah menjojoh datang dibawah ketiak kanan Giok-liong.

Betapa besar nyali dan keberanian Giok-liong, menghadapi ilmu jahat dari kalangan sesat yang lihay dan ampuh ini hatinya rada keder dan gentar juga.

Maka sejak tadi Ji-lo masih terkerahkan terus berputar melindungi seluruh badannya, Begitu melihat cahaya biru berkelebat, potlot mas ditangan kanan lantas bergerak menacup kedepan, samarsamar kabut putih menguap keluar berputar putar mengitari badannya.

Tangkas sekali Goan-bwat Taysu menarik balik tangannya, gerak tubuhnya seenteng kupu kupu menari-nari berkelebat cepat laksana kilat diiringi gelak tawanya yang keras kering menusuk telinga.

Begitu cepat gerak tubuhnya itu sehingga terbentuklah puluhan bayangan manusia berwarna biru, semua sedang berlenggang mengitari Giok-liong dengan langkah gesit dan teratur.

Giok-1iong mendongak sambil berpekik panjang dan keras sekali sampai menembus langit, Potlot masnya mulai bergerak berputar dan menari cepat memancarkan sinar kuning yang memanjang seperti seutas rantai mas yang mengitari seluruh tubuhnya, awan putih mulai berkembang bergulung-gulung, Mulailah ia lancarkan ilmu Jan-hun-su-sek.

Sejak menelan sari buah ajaib, Lwekang Giok-liong mendadak bertambah dalam dan tinggi berlipat gaada, Maka begitu ia lancarkan jurus-jurus tipu silat Jan hun-su-sek perbawanya sudah tentu lain dari biasanya.

Tampak mega putih berputar semakin cepat menderu-deru berdesir diseling pancaran cahaya putih perak yang keluar dari badannya menerangi sekitar badannya, Terutama sesosok bayangan putih yang selulup timbul kadang-kadang jelas dilain saat samar-samar, bergerak seperti lambat namun hakikatnya berkelebat laksana kilat, begitulah sosok bayangan putih ini terbungkus rapi dan ketat oleh seutas sinar kuning yang memanjang selincah kera menari tengah berputar dan bergerak dengan tenang.

Adalah diluar lingkungan badannya ini kabut biru masih tetap bergulung-gulung dengan tebalnya, Gelak tawa Hks,tna jeritan setan masih terdengar menusuk telinga.

Goan-hwat Taysu yang berwajah biru berkilau tengah bergerak dan berputar secepat angin, gerak tubuhnya seakan-akan setan gentayangan, dimana setiap kali lengannya bergerak lantas menimbulkan berbagai bayangan cakar setan warna biru selalu mengancam badan Giok-liong tempat yang diarah terutama adalah jalan darah yang mematikan diatas badannya.

Beginilah tanpa mengenal waktu kedua belah pihak bertempur mempertahankan hidup, begitu saling sentuh lantas terpental berpencar, Ditengah udara saban-saban terdengar benturan keras laksana guntur menggelegar sampai menggetarkan bumi pegunungan, batu-batu besar kecil sampai bergelundungan dari atas tebing.

Sekarang kelebat tubuh mereka yang bertempur ditengah gelanggang semakin cepat, sekitar gelanggang kini sudah diliputi kabut biru yang mengembang tebal bayangan manusia bergerak laksana belut diantara hawa beracun yang mulai mengembang luas setiap saat diancam oleh cengkeraman cakar setan.

Seumpama ombak badai samudera raya yang mengamuk berderai berlapis-lapis tak mengenal putus, dari delapan penjuru angin serempak menuju ke arah Giok-liong.

Meskipun setiap saat jiwanya terancam cakar setan dan hawa beracun disertai serangan-lain yang ganas lagi, tapi Giok-liong tetap berlaku tenang dan angker, sekali bergerak memberikan perlawanan yang gagah berani laksana seekor naga tangguh berlincah menari ditengah udara balas menyerang dengan tidak salah dahsyatnya.

Sang waktu berjalan terus tanpa menamti.

Seiring dengan lewatnya sang waktu situasi pertempuran ditengah gelanggang juga ikut berubah setelah mengalami saling serang menyerang secara keras tawan keras ini, akhirnya didapati oleh Giok-liong bahwa memang perbawa dari Lan-cu tok-yam itu hakikatnya sangat menakutkan.

Namun mengandal bekal Lwekang yang melandasi setiap jurus serangan sendiri ini, untuk menghadapi ilmu Goan hwat Taysu yang masih setengah matang, paling banter baru mencapai empat lima bagian latihannya, kiranya cukup berlebihan untuk mengatasi.

Lambat laun rasa gentar yang tadi menghantui sanubarinya lantas sirna dari membela diri kini balas menyerang dengan tidak kalah garang dan lihaynya, pancaran sinar kuning semakin menyala dan berkembang luas, ditengah kabut yang bergulung bayangan kuning dari ujung potlot mas berkilauan memanjang laksana seutas rantai.

Terlebih hebat lagi adalah gerakan sebuah tangan yang lincah menari membawa deburan gelombang angin yang menderu laksana hujan badai.

Sumber tenaga terus mengalir bergelombang tak mengenal putus seperti gelombang samudera, sedemikian kuat dan ampah sekali tenaga yang dikerahkan ini sehingga sampai gebrak terakhir ini Giok-liong mengambil inisiatif penyerangan, berbalik sekarang Goan-hwat Taysu dengan cakarnya yang ganas dari kabutnya yang berbisa terkepung dan terkekang didalam kekuatan yang dilancarkan Giok-liong malah.

Arena kabut biru yang tadi meluas lebar kini semakin kuncup mengecil akhirnya hanya dapat melindungi sekitar tubuhnya sekitar tiga kaki lebarnya, Suara gaduh dari benturan yang gemuruh terdengar berulang-ulang kali.

Setiap akhir dari benturan itu, kelihatan Goan-hwat Taysu pasti berjengkit dan terpental berloncatan tapi waktu jatuh mendarat lagi masih tetap terkekang didalam mega putih yang mengurungnya.

Lama kelamaan Goan-hwat Taysu menjadi gentar dan takut, keputus asaan mulai melingkupi sanubarinya, Terasa olehnya malaikat kematian sudah membentang lebar kedua lengannya siap menyambut kedatangannya diakhirat.

Baru sekarang terasakan betapa sengsara dan menyedihkan hidup sebatangkara tanpa bantuan seorang yang terdekat, seumpama dirinya sudah merupakan manusia buangan dari masyarakat ramai.

Laksana sebuah sampah yang terombang-ambing di tengah samudera tanpa mengenal arah tujuan tertentu tinggal menunggu waktu tertelan oleh gelom bang ombak yang mengamuk.

Bau kematian mulai bersemi menindih benaknya.

Pedih dan rawan, sungguh tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa dirinya bakal mengalami hari-hari naas seperti ini.

Tapi dia masih berusaha hidup sekuatnya melancarkan sisa-sisa tenaganya.

Cahaya biru kelihatan menyala lantas padam, suara ledakan bagai guntur menggelegar disertai pekik panjang yang melengking tinggi, tampak sesosok bayangan biru membawa hujan darah terus meluncur tinggi menghilang di kejauhan sana.

Sesosok bayangan lain berwarna putih sebaliknya melejit tinggi ketengah udara dua puluhan tombak, ringan sekali kakinya menutul diatas sebuah batu diatas lereng bukit terus jumpalitan naik lagi lalu mendarat diatas ngarai.

Dibawah jurang sana kabut debu masih mengepul tinggi, lambat laun pulih kembali seperti sedia kala.

Tatkala mana sang putri malam kebetulan sudah mulai memancarkan sinarnya yang terang redup berwarna perak halus menerangi kebawah jurang sana.

jelas kelihatan bangkai kedua ekor harimau menggeletak tak berkutik lagi, sebaliknya bangkai ular aneh tiu tersembunyi ditempat gelap yang tidak sampai diterangi sinar bulan purnama ini.

Giok liong berdiri tegak dan berdiam diri, betapa rasa hati ini sulit dilukiskan dengan kata-kata, sungguh tidak nyana olehnya karena mengalami bahaya malah dirinya mendapat rejeki, Malah sekaligus dapat melancarkan kasiat dan kegunaan rejeki yang ampuh itu.

sekarang Lwekang dalam tubuhnya swdab bertambah berlipat ganda.

Namun demikian masih ada suatu persoalan yang selalu mengganjal hatinya, yaitu mungkinkah pimpinan istana beracun Ibun Hwat telah bangkit kembali dari liang kuburnya ?

Kalau tidak bagaimana mungkin Lan cu-tok-yam (kabut beracun laba laba biru) bisa muncul pula di kalangan Kangouw?

KaIau dugaan ini menjadi kenyataan, ini benarbenar sangat menakutkan.

Lan-cu-tok-yam merupakan ilmu sesat yang diajarkan bukan dari jalan benar, boleh dikata malah semacam ilmu sihir yang jahat dan beracun.

Betapa besar perbawa dan keampuhan ilmu ini, boleh dibuktikan dari apa yang telah dipertunjukkan oleh Goan hwat Taysu tadi, padahal ia hanya berlatih sampai tingkatan empat lima bagian saja.

Hutan kematian tengah menghimpun kekuatan yang terpendam, merupakan bibit bencana atau bisul diantara kaum persilatan.

Kini telah muncul lagi kaum istana beracun.

Ditambah Hiat ing-bun, serta para gembong-gembong iblis jahat yang sebelum ini banyak mengasingkan diri diatas pegunungan kini mulai mengunjukkan diri dan muncul di muka umum.

Dunia persilatan bakal timbul gelombang kejaran yang penuh membawa derita sena bencana bagi kaum persilatan, Entahlah keributan apa lagi yang bakal terjadi.

Tengah ia termenung-menung, dari kejauhan sana didengarnya suara lambatan baju yang tertiup angin, Dari suara lambaian angin dapatlah diperkirakan para pendatang ini kurang lebih berjumlah dua puluh orang.

Malah setiap orangnya adalah tokoh-tokoh kosen yang berkepandaian tinggi termasuk tokoh kelas satu di dunia persilatan.

Jarak mereka kira-kira masih kurang lebih tujuh delapan li, sebetulnya Giok liong berniat tinggal pergi begitu saja, serta dipikir lebih lanjut, mungkin tempat ini tidak jauh letaknya dengan puncak Go bi-san, maka Goan-bwat Taysu bisa membawa kedua ekor harimau penunggu gunung itu ke tempat ini.

Apalagi sebelum merat tadi Goan-hwat Taysu pernah bersuit melengking minta bala bantuan, Mungkin para pendatang ini adalah kelompok dari kaum Go-bi-pay.

Kalau benar para pendatang ini adalah anak murid dari Gobi-pay, dirinya harus memberi penjelasan cara bagaimana sampai terjadi pertempuran disini, dirinya telah kelepasan tangan membunuh binatang piaraan penunggu gunung mereka.

Malah yang lebih tepat dia harus memberitahukan kepada Ciang-bun-jin mereka bahwa Goan-hwat Taysu adalah salah seorang kamprat dari istana beracun.

Karena adanya pikiran terakhir ini ia batalkan niatnya untuk pergi, dengan tenang dan bebas seakan tidak terjadi apa-apa.

ia masukkan potlot mas kedalam buntalannya, dengan menggendong tangan ia mendongak memandang rembulan yang memancarkan sinar purnama.

Tidak lama ia menunggu, menyusun pinggir ngarai sana berlari-lari serombongan Hwesio hwesio gundul, jumlahnya memang kurang lebih dua puluhan orang.

Giok-liong tersenyum sendiri, batinnya.

"Kasiat buah ajaib itu ternyata memang luar biasa. Dari jarak tujuh delapan li jauhnya tokoh-tokoh silat ini berlari, kiranya dengan jelas telah dapat kudengar malah dapai menghitung jumlahnya lagi."

Dalam pada itu dengan langkah enteng dan gerakan yang gesit tangkas sekali para Hwesio itu sudah loncat berseliweran hinggap di sekitar Giok-liong.

Dua orang yang berlari paling depan berusia pertengahan umur, diatas pundak masing-masing memikul Hong-pian-jan (tongkat hwcsio), sikap mereka sangat angker dan galak, Di belakang mereka berdua beriring serombongan hwesio-hwesio yang berusia lebih muda dengan tubuh tegap-tegap.

Begitu mereka sampai segera terdengar salah seorang dari mereka berteriak kejut.

"Celaka, Harimau sakti penunggu gunung kita telah mampus dibawah jurang sana."

Seketika dua puluhan pasang mata serentak memandang kebawah jurang sana.

Kedua Hwesio tua pemimpin itu segera melejit tiba dihadapan Giok-liong berjarak setombak, Hwesio yang berdiri disebelah kanan segera membuka mulut.

"Harap tanya Siau si-cu, apakah kau tahu harimau sakti penunggu gunung kita telah dibunuh oleh siapa ?"

Giok-liong angkat tangan sedikit saja, sahutnya.

"Kedua binatang itu telah mampus di kedua tanganku ini !"

Serempak Kedua Hwesio tua itu lantas angkat kedua tongkatnya sampai mengeluarkan suara kentongan, Hwesio yang bicara tadi segera memaki dengan gusar serta melotot.

"Binatang, berani kau bertingkah di atas gunung Go-bi. Berapa sih batok kepalamu, serahkan seluruhnya sebagai hukuman yang setimpal. Hwesio tua di sebelah kiri rada dapat mengendalikan diri, katanya mendengus.

"Buyung, siapa yang suiuh kau membuat gaduh disini ? Siapa namamu, lekas sebutkan, kenapa pula kau telah bunuh binatang sakti kita?"

Dimaki sebagai binatang dan kata-kata kotor lainnya, memuncak kemarahan Giok-liong bagai api disiram minyak, namun sedapat mungkin ia menahan sabar, katanya sambil memberi hormat.

"Aku yang rendah Ma Giok liong, maaf bila kami tidak tahu bahwa daerah ini merupakan lingkungan Go bi-pay kalian, harap para Taysu suka memberikan maaf..."

"Kentut, terang gamblang tempat ini sebagai leluhur berdirinya Go bi-pay kami, mana mungkin kau bisa tidak tahu."

Semakin berkobar amarah Giok-liong sampai alisnya berkerut dalam, kedua matanya memancarkan sinar tajam berkilat kiiat, namun ia masih tidak kehilangan kesabaran sebagai murid aliran lurus yang mengenal tata krama, sahutnya dengan suara tertekan.

"setelah aku yang rendah memasuki daerah ini, lantas bersua dan melihat Goan hwat Taysu dari partai kalian tengah memimpin kedua ekor harimau piaraannya bertempur seru melawan seekor ular berbisa berkepala jambul ayam jago. Dalam keadaan yang sangat gawat sebelum jiwa Goan-hwat Taysu terenggut oleh ular berbisa, aku yang rendah turun tangan menolongnya, Tapi bukan saja kebaikanku tidak diterima malah beliau menyalahkan aku dan hendak mengambil jiwaku. Dari saling serang tadi baru kuketahui bahwa ternyata Goan hwat Taysu merupakan sisa murid dari istana beracun yang sudah diberantas itu ..."

"Bocah ingusan, jangan seenakmu buka mulut. Mana boleh Goan hwat Taysu kau tuduh dan kau nista tanpa bukti oleh bocah berbau bawang macam kau ! serang !"

Dengan mengeluarkan suara gemerantang, dua tongkat Hong-pian jan berbareng telah mengemplang dan menyerampang datang membawa deru angin dahsyat, jangan dikata tongkat itu sangat berat dan besar, namun cara menyerangnya sangat tangkas dan dilandasi Lwekang yang hebat, sasarannya tepat dan tempat yang mematikan lagi, sekali gebrak ini terang Giok-liong telah terkepung diarena serangan musuh, jalan mundurpun telah tertutup.

Bersama itu, para Hwesio lainnya serentak berteriak riuh rendah terus menghunus senjata masing masing mengepung Giok-liong ditengah gelanggang.

Baru saja kedua tongkat besar itu menyambar tiba, tibattba pandangan semua orang serasa kabur, tahu-tahu Giokliong sudah berkelebat menggeser tempat setombak disebelah sana, katanya mengejek.

"Sungguh tak nyana para Taysu dari Go bi-pay yang diagungkan sebagai pendeta welas-asih, kiranya jwga tidak mengenai sopan santun?"

Tanpa merasa-para Hwesio itu terketuk hatinya diam-diam merasa membatin.

"Ternyata bocah ini bersih juga ,.."

Meskipun otak berpikir, namun gerakan mereka masih terus dilanjutkan serentak terdengar mereka membentak-bentak, terlihatlah sinar senjata berkelebat diiringi angin pukulan menderu berbareng mereka menyerang kearah Giok-liong.

Bertubi-tubi Giok-liong harus main kelit, lalu hardiknya keras.

"Kalau kalian benar benar mendesak terus, terpaksa aku yang rendah harus turun tangan!"

"Hahaha, kunyuk, kurcaci macammu ini, silakan kau turun tangan, supaya bisa mampus dengan merem!"

Kemarahan Giok liong sudah sampai pada puncaknya, mendongak keatas ia bersuit panjang, sedemikian keras suaranya sampai para Hwesio merasa tergetar dan tertusuk telinganya, dimana bayangan putih berkelebat seketika terlihatlah sosok tubuh orang terpental jungkir balik disertai suara senjata berjatuhan mengeluarkan suara ramai, Dua titik sinar terang meluncur tinggi ketengah udara, Terdengar kedua Hwesio tua pemimpin tadi mengerang kesakitan, kontan darah menyemprot berceceran "Plak, plak"

Tubuh mereka terbanting keras ditawan sejauh berapa tombak.

Timbul napsu membunuh dalam benak Giok-liong.

Terbayang akan adegan dimana waktu ibunya menghadapi bencana dulu, matanya lantas memancarkan sorot jalang kebuasan gerak tubuhnya semakin gesit dan berloncatan gesit seka!i.

Dimana bayangannya tubuh serta kaki tangannya bergerak, seketika terdengar jeritan ngeri berturut turut, darah berhamburan.

Dalam sekejap saja puluhan sosok tubuh manusia beterbangan dan terbanting mampus ditanah.

Para Hwesio lain yang masih ketinggian hidup berubah air mukanya, dengan berteriak ketakutan serentak mereka berlari berpencar sipat kuping seperti dikejar setan.

Giok-liong menjadi geli dan bergelak tawa sepuas-puasnya, serunya.

"Akan kulihat Go-bi-pay kalian bisa berbuat apa terhadap aku Ma Giok-liong."

Salah seorang dari Hwesto yang melarikan diri itu terdengar berteriak keras.

"Ma-Giok-liong, Kaiau kau berani datanglah menghadap kepada Ciang-bunjin kami,.,, ,,."

Ditengah kumandang gelak tawa Giok-liong menutulkan kakinya, Badannya lantas melayang ketengah udara dengan gaya yang sangat indah ia jumpalitan ditengah udara terus mengejar kearah para Hwesjo melarikan diri tadi, Dengan para Hwesioyang ketakutan sebagai petunjuk jalan ia terus berlari melewati atas kepala mereka.

Belum lama ia berlari dari kejauhan didepan sana lantas berkumandang suara genta dipukul bertalu-talu.

itulah pertanda habis atas saat isirahat malam bagi para Hwesio didalam kelenteng.

Tapi suara genta kali ini lain dari biasanya karena terus bertalu-talu dan bergema lama ditengah udara semakin keras.

Ini pula merupakan pertanda terjadi suatu perubahan besar yang menimpa didalam kelenteng Go-bi-san.

Giok-liong menjadi merasa heran.

Adalah orang yang bernyali begitu besar berani menyerbu keatas Go-bi-san sebagai salah satu aliran ternama dari sembilan golongan silat yang diagungkan didunia persilatan.

Menurut apa yang diketahui saja, diantara para Tiang-lo Gi bi-pay sekarang ada seorang Tianglo yang berkedudukan paling tinggi, beliau adalah Goan-hwat Taysu punya Cosu, seorang Hwesio tua berusia lanjut yang masih ketinggalan hidup, berilmu tinggi pula.

Hwesio tua ini beratus julukan Ngo-hui-heng-cia.

Jejak Ngo-hui-heng-cia selamanya tidak diketahui oleh orang luar, justru karena dengan adanya Ngo-hui-heng-cia inilah maka Go-bi-pay yang sudah disegani oleh kaum persilatan lebih dipandang agung wibawanya lebih besar dimata umum serta bisa sejajar dengan Siau-lim, Bu-tong Thian-san sebagai salah satu aliran yang jempolan diantara sembilan partai besar.

Malam ini entah siapa yang berani menerjang keatas Go-bi san membuat onar, sungguh sukar dimengerti, Tengah ia berpikir kakinya masih melangkah cepat, dari kejauhan sudah terlihat bangunan kelenteng yang berlapis-lapis bukan saja pelita api tidak dipadamkan banyak tempat dipasang lilin dan tengloleng yang besar ditiang-tiang tinggi, seolah olah tengah mengadakan suatu upacara sembahyang atau peringatan besar.

Tapi dengan ketajaman pendengaran Giok-Iiong, pikirnya.

"Apa mungkin keadaan yang angker dan khidmat ini untuk menyambut kedatanganku. Bukan mustahil Goan-hwat Taysu yang melarikan diri membawa luka-luka menghadap kepada Go-bi Ciang-bun-jin Hian Goan Taysu serta mengadu biru dihadapan beliau dengan adanya kenyataan dan bukti yang telah dilakukannya tadi, bukan mustahil menjadikan mereka bersiap siaga ada alasan kuat untuk menghadapi dirinya sebagai musuh besar."

Terpikir sampai disini timbul kekuatiran dalam benaknya.

Tingkat kedudukan Ngo hui heng-cia konon katanya masih setingkat lebih tinggi dari To-ji Pang Giok, gurunya sendiri.

Tingkat kepandaian silatnya katanya juga sangat tinggi hampir menjadi pendekar pedang menjadi dewa.

Tapi berita tinggal berita, hampir selama ratusan tahun ini tiada seorangpun yang pernah melihat beliau mengunjukkan diri mau memamerkan ilmunya yang sejati.

Hian Goan Taysu Ciang-bun-jin Go-bi-pay yang seorang adalah bakat yang sukar dicari keduanya dikalangan persilatan masa kini, terbukti selama dua puluhan tahun ia memegang tampuk pimpinan Go bi-pay sejak masih muda sampai sekarang, Go bi-pay semakin menjulang tinggi dan tenar sebagai aliran besar yang lurus.

Tak peduli selama dua puluhan tahun tahun ini sepak terjangnya.bagaimana,hakikatnya ternyata Go bi-pay telah dipimpinnya sedemikian rapi berdisiplin keras, tingkat kepandaian para muridnya juga merata menjadi tingkatan kelas satu dikalangan Kangouw.

Kalau malam ini membunyikan genta memanggil kumpul seluruh penghuni kelenteng besar ini semata-mata untuk menghadapi dirinya.

Kedatangannya ini melulu mengandal ilmu silat tiada pegangan pasti dapat menang, mengandal kenyataan, dikawatirkan mereka tidak akan mau percaya.

Seumpama terjadi keributan dengan pihak Go bi ini berarti pula menentang dan bermusuhan dengan pihak sembilan partai lainnya.

sekarang keadaan Bu-lim tengah menghadapi ancaman terpendam yang suatu waktu bakal meletus dan gawat dalam dunia yang luas ini kalau kalangan lurus persilatan tidak dapat bersatu dan saling solider, sebaliknya saling bunuh dan bermusuhan, dan sumber kejadian ini melulu karena perbuatannya yang salah langkah ini, ini sungguh sangat menguwatirkan.

Sambil berpikir tubuhnya terus meluncur dengan kecepatan anak panah maju kedepan Tak lama kemudian pintu gerbang pertama sudah kelihatan Dengan ringan Giok-Iiong mendaratkan kakinya dijalan besar disini ia berhenti sejenak mengosentrasikan pikiran dan mengendalikan diri, Lalu pandangannya menjelajah kesekitarnya terlihat empat penjuru sunyi senyap tanpa terdengar suara sedikitpun.

Sebagai tanda hormatnya selangkah demi selangkah ia beranjak maju melintang dari lapangan besar itu lurus menuju ke aula besar, Suara genta yang bertalu talu tadi sudah berhenti, Sang putri malam memancarkan sinarnya yang cemerlang angin menghembus sepoi-sepoi kesunyian disekelilingnya itu membawa suasana yang hening dan angker menegangkan.

Waktu Giok-liong beranjak sampai ditengah lapangan, tibatiba terdengar suara mantram yang mengalun tinggi, pintu besar bercat hitam itu juga pelan-pelan terbuka lebar, Dari belakang pintu beriring keluar dua barisan Hwesio hwesio berseragam kuning terus maju !kedepan pintu lalu berdiri tegak dikedua sisi tak bergerak lagi.

MenyusuI itu berjalan keluar pintu pula empat Hwesio tua yang mengenakan jubah besar warna merah.

Dibelakangnya para Hwesio berkasa merah ini adalah dua Hwesio yang lebih lanjut usia membuntuti di belakang seorang Hwesio bertubuh tinggi kekar berwajah merah bersikap gagah dan garang.

Pelan-pelan dengan langkah berat mereka maju kedepan pintu.

Salah satu Hwesio yang berusia lanjut itu bukan lain adalah Goan hwat Taysu.

Dari keadaan yang penuh keangkeran ini terang sekali Hwesio bertubuh tinggi tegap dengan kedua mata sedikit meram itu pasti bukan lain adalah Hian Goan Taysu Cian-bunjin Go bi-pay sekarang.

Baru saja mereka muncul, keempat Hwesio berkasa merah itu langsung maju ketengah lapangan kira-kira setombak di hadapan Giok-liong baru mereka menghentikan Iangkah.

Berbareng mereka pentang mata memandangi Giok-liong dari bawah keatas dan dari atas kebawah, sejenak kemudian satu diantaranya yang ditengah berseru menyapa dan bertanya.

"Apakah Siau si-cu ini adalah Ma Giok-lioag adanya ?"

Cepat cepat Giok-Iiong merangkap tangan serta menyahut hormat.

"Benar !"

Air muka si Hwesio tua ini berkelebat rasa heran dan kejut, agaknya ia rada tidak percaya maka, ditandaskan lagi sebuah pertanyaan.

"Jadi Si-cu adalah Kim pit jan-hun Ma Giok-liong ?"

Kata Giok-liong.

"Aku yang rendah memang Ma Giok-Jiong, Tentang julukan Kim pit-jan-hun itu, mungkin adalah para sahabat Kangouw yang sembarangan saja yang mengangkatnya,"

Tiba tiba Goan-hwat Taysn maju selangkah serta membentak.

"Benar kurcaci rendah ini, kenapa kalian ..."

Segera Hian Goan Taysu mengulapkan tangan mencegah kata-kata Goan-hwat selanjutnya, lalu manggut manggut kepada ke empat Hwesio tua berkasa merah itu.

Hwesio tua berkasa merah itu menatap pula kearah Giok-Hong serta serunya lantang.

"LoIap berempat Hwat Khong, Hwat Bing, Hwat Hui dan Hwat Hay berkedudukan sebagai pelindung Go-bi-pay, ada satu peristiwa yang belum jelas bagi kita mohon sicu suka memberi keterangan."

Giok-liong tersenyum tawar, katanya.

"Ada soal apakah yang perlu kujelaskan cobalah katakan, menurut apa yang aku tahu akan kujelaskan."

Orang yang tampil bicara tadi bukan laju adalah tertua dari keempat Huhoat Go-bi pay yang bernama Hwat Khong, Air mukanya membesi serius, alisnya dikerutkan dalam, suaranya rendah berat.

"Malam-malam Siau-si-cu menerjang keatas gunung Go-bi mencuri buah ajaib kita, membunuh harimau sakti penunggu gunung malah berani melukai Tianglo kami..."

Pada saat itulah terlihat sesosok bayangan meluncur datang terus menubruk ketengah lapangan langsung menghadap kedepan Hian Hoan Taysu terus berlutut serta katanya sambil sesenggukan.

"Tecu beramai sungguh tidak becus, sebagian besar dari para suhengte telah gugur atau terluka berat ditangan musuh, harap Ciang-bun-jin suka memberi keadilan."

Hian Goan Taysu mendehem sekali lalu tanyanya.

"Berapa banyak yang menjadi korban ?"

"Ada empat belas Suheng-te telah menjadi korban keganasannya, enam orang lagi terluka berat, Hanya tecu dan capwe Sute tidak terluka sama sekali ..."

"Baik, kau mundur ..."

Goao-hwat Taysu menggereng rendah, serta maju seiangkah, katanya.

"Ciang-bun..."

Air muka Hian Goan Taysu membeku dingin, Kepalanya manggut kepada Hwat Khong yang kebetulan tengah berpaling ke arahnya.

Hwat Khong sendiri juga telah berubah cemberut membesi kaku, sepatah demi sepatah ia lanjutkan kata-katanya.

"Membunuh pula empat belas murid-murid serta melukai enam orang."

Sampai disini ia merandek menelan liur, mendadak ia berkata lagi lebih keras dengan nada lantang.

"Kalau Siau-si-cu tidak memberikan keadiian, seumpama pihak Go-toi-pay kita tidak meringkus dan menghukum kau, seluruh orang gagah di dunia ini pasti bakal mentertawakan Go bi-pay kita sebagai gentong nasi melulu !"

Giok-liong membelalakkan kedua matanya dengan tajam berkilat ia menyapu pandang ke seluruh gelanggang, lalu sedikit saja ke arah Hwat Khong taysu, berseri tawa, ujarnya.

"Harap Ciang-bun jin kalian suka tampil kedepan untuk bicara."

Berubah air muka Hwat Khong, desisnya berat.

"Benar takabur !"

Telapak tangan yang tersembunyi didalam lengan bajunya yang gedobrahan besar itu mendadak mengebas dan menekan kebawah lambung Giok liong.

Seketika segulung arus deras bagai damparan ombak menerpa dengan dahsyatnya.

Giok liong bergelak tawa, serunya.

"Ternyata Go bi-pay kalian memang banyak cecongor yang pandai membokong,"

Belum lenyap suaranya, tangan kanan Iantas dibalikkan seolah-olah sengaja atau tidak di kebalikan keluar, seperti mengebutkan debu kotoran yang melekat dilengan bajunya saja layaknya.

"Blang...."

Suara pecah bagai ledakan guntur menggelegar ditengah gelanggang.

Ke-dua belah pihak berjarak setombak lebih, maka timbullah dua angin lesus seperti cagak kayu yang didirikan ditengah lapangan bertahan keras itu terus membumbung tinggi dan melayang keempat penjuru.

Terdengar Hwat Khong menggereng keras seperti hendak muntah beruntun ia tersurut empat tindak baru bisa berdiri tegak lagi, air mukanya berubah hebat, sebelum ia dapat pernahkan diri untuk menerjang maju lagi, Hwat Bing, Hwat Hi dan Hwat Hay disampingnya serentak telah mengirim sebuah pukulan sambil melangkah maju setindak.

Meskipun pukulan dilancarkan dari kejauhan namun tiga jalur aium pukulan ini bertemu dan bergabung ditengah jalan terus bergulung maju mengeluarkan bunyi guntur menggeledek menerjang kearah Giok-liong..Dengan gagah dan congkaknya Giok-liong berdiri tegak diujung mulutnya menyungging senyum ejek, dengusnya mengejek.

"Aku tak percaya tidak dapat minta ciangbunjin kalian tampil kedepan."

Setelah berkata, ia menarik napas, meminjam gaya kebasan, lengan tangan kanan tadi sekali lagi ia membalik sambil mendorong dengan rada jongkok.

"Byaaaarrrr"

Seperti gunung meledak dan batu batu hancur lebut beterbangan membumbung tinggi ketengah udara.

Ditengah gelanggang kini terlihat tiga lubang besar sedalam beberapa kaki, Bayangan orang juga berkelebat sungsang sumbel di iringi pekik kesakitan.

Kontan tiga Hu-hoat jubah merah lainnya juga tersurut mundur dua langkah.

Sebaliknya Giok liong hanya menggeliat sedikit, tapi tubuhnya masih tetap tegak berdiri sedikitpun kakinya tidak tergeser, suasana mulai diliputi ketegangan yang mencekam hati dengan nafsu membunuh telah membakar hati.

Air muka Ciang-bun-jin Go bi-pay Hian-Goan Taysu membeku dingin dan kaku, kedua matanya membelalak besar dengan sorot tajam berkilat, tiba-tiba badannya melejit ketengah udara tanpa kelihatan menggerakkan kaki atau pundakpun ia bergerak, kelihatan lambat tapi kenyataan sangat sebat dalam sekejap saja tahu tahu dia sudah berdiri di depan keempat Hu-hoat berkasa merah itu, Terdengar ia membuka suara.

"Para Hu hoat diharap mundur kesamping untuk istirahat."

Sebetulnya Hwat Khong berempat sudah bersiap hendak menerjang maju lagi, serta mendengar seruan Hian Goan Taysu, Mereka insyaf bahwa ketua mereka telah memberi sedikit muka kepada mereka.

Tanpa berani ajal lagi beruntung mereka mengundurkan diri sambil mengiakan.

Sementara itu, Goan-hwat Taysa dan seorang Hwesio tua lainnya juga telah ikut mendesak maju.

Dengan wajah membesi penuh kelicikan berkatalah Goanhwat Taysu dingin.

"Lapor Ciang bun-jin, bocah keparat ini telan mencuri buah ajaib yang telah lolap temukan sehingga membunuh binatang sakti menunggu gunung piaraan kita malah melukai dan membunuh para anak murid kita lagi. Betapa besar dosanya ini sudah terang tak terampunkan lagi, Tapi bocah ini telah menelan sari buah ajaib itu, Lwekangnya maju berlipat ganda lihay bukan main. Harap Ciang-bun-jin hati-hati dan waspada menghadapinya supaya tidak mendapat cidera."

Ciang bun jin Go-bi-pay Hian Goan Tay-su hanya mendengus dingin saja, katanya.

"Sudah tahu, harap Susiok mundur biar ku-hadapi."

Walaupun Goan Hvvat Taysu sebagai Susioknya, tapi dihadapan Ciang-bun-jm dia tidak berani bersikap keras kepala, setelah membungkuk serta mengiakan segera ia mengundurkan diri, tapi masih menjubluk berkata.

"Dosa keparat ini setinggi langit, haki-katnya dia tidak pandang Go bi-pay sebelah matanya saja...."

Saat mana Hian Goan Taysu dengan sorot pandangan dingin mengamat-amati Giok-liong, tanyanya.

"Siau-sicu ada permusuhan atau sakit hati apakah dengan pihak Go bi-pay kita, setelah membunuh harimau penunggu gunung, melukai beberapa murid dan mencuri buah ajaib lagi, sekarang masih belum puas menerjang kemari membuat keributan." (BERSAMBUNG

Jilid KE 11)

Jilid 11 Giok-liong tersenyum ewa, katanya memberi penjelasan.

"Aku yang rendah secara kebetulan lewat digunung kalian tanpa masuk biara menyulut dupa bersembahyang, hal ini memang kekuranganku, Tapi tentang membunuh harimau, melukai orang dan mencuri buah ajaib adalah persoalan lain, Demi wibawa dan ketenaran nama Go-bi-pay selama ratusan tahun yang telah dijunjung tinggi itu, biarlah secara kenyataan dengan bukti-bukti yang ada kujelaskan seperlunya harap Ciang-bun-jin suka bersabar."

Baru saja ucapan Giok-liong selesai, Goan-hwat Taysu sudah melesat maju sambil terkekeh-kekeh dingin, ejeknya.

"Kunyuk yang sombong, wibawa dan ketenaran nama baik Gobi-pay selama ratusan tahun ini mana boleh dirusak oleh bocah berbau bawang macam kau Hm !"

Lalu ia menghadap kearah Hian Goan Taysu serta memohon.

"Tecu, mohon perintah untuk meringkus bocah keparat ini."

Hian Goan Taysu Ciang-bun-jin Go-bi-pay sekarang bukan saja berkepandaian silat maha tinggi, otaknyapun encer dan cerdik, Melihat sikap terjang Susioknya yang kasar dan berangasan ini tergeraklah hatinya, katanya dengan rasa tak senang.

"Harap susiok suka berlaku sabar ..."

Tapi Goan-bwat Taysu sendiri juga bukan orang goblok, dia seorang yang licik dan cermat dalam segala tindakan, Tanpa menanti Hian Goan Taysu berkata habis dengan kecepatan kilat tiba-tiba tubuhnya menubruk maju sambil mengayun tangan kanan dengan jurus Koan-im-jatt-hud (Kenn ini menghadap Badha) serentak timbullah bayangan pukulan beratus kepalan yang membawa deru angin yang dilancarkan Goan-hwat Taysu ini sehingga kata kata selanjutnya dari ucapan Hian Goan Taysu tertelan hilang.

Sebetulnya memang Giok-liong sudah merasa sebal dan murka melihat tingkah tengik pendeta serakah ini.

batinnya.

"Hm, kalau bukan karena memikirkan jaya dan rumahnya Go bi-pay kalian,mana aku sudi datang kemari...."

Belum habis pikirannya melintas Goan-hwat Taysu sudah menubruk datang disertai serangan dahsyat bagai gugur gunung. Baru saja Giok-liong mendengus jengkel dan belum sempat turun tangan.

"Tahan!"

Tiba-tiba terdengar sebuah bentakan keras ditengah gelanggang. Disusul terlihatlah bayangan orang berkelebat terasa segulung tenaga lunak yang besar tiba tiba menerjang datang dari arah samping kiri.

"Byaarrrr!"

Terjadilah getaran angin, tahu tahu Hian Goan Taysu Ciang-bun jin Go bi pay sudah berdiri berdiri diantara Giok-liong dan Goan hwat Taysu dengan sikap kereng, Suaranva rendah sembari membentak kearah Goan hwat Taysu.

"Harap Susiok segera mundur kesamping, urusan ini betapa juga harus kuselesaikan sampai beres."

Goan-hwat Taysu melengak, sesaat ia terlongong longong lalu merangkap tangan mengundurkan diri, Tapi sepasang matanya mendelik mengawasi Giok liong, seolah-olah kuatir Giok-liong bergerak membokong secara tiba-tiba.

Tapi samar-samar di ujung mulutnya menyungging senyum sinis dan seringai sadis yang mengerikan, sementara itu, seorang Hwesio tua lainnya juga sudah melangkah maju berjaga disamping kanan Hian Goan-Taysu.

Bertanyalah Hian Goan Taysu kepada Giok liong dengan serius.

"Siau-sicu, kalau punya omongan apa silakan katakan saja, Go-bi-pay kami tidak akan mempersukar kepadamu tanpa alasan."

Giok-liong tertawa ringan.

"Kalau minta aku yang rendah bicara terus terang, lebih baik suruh Goan-hwat Taysu menyingkir jauh dulu."

Hian Goan Taysu tertegun heran, sebaliknya Goan-hwat Taysu tertawa dingin.

"Kalau Lolap mengundurkan diri, kunyuk lantas kau berkesempatan mengobral mulut sembarangan ngotnong!"

Giok-liong bergelak tertawa.

"Apa boleh buat. Maksudku menyuruh tuan menyingkir sebab utamanya karena kwatir tuan nanti menggunakan Lan-cu-tok-yam untuk mencelakai ... , ."

Maksud ucapan Giok-liong ini adalah akan memberi bisikan kepada Hian-Goan Taysu supaya beliau waspada dan berjaga-jaga.

Bahwa Goan-hwat Taysu sebenarnya sudah menjadi kamprat atau anak buah istana beracun.

Tidak nyana belum lagi perkatanya habis, tiba-tiba terdengarlah pekik panjang yang aneh dari tangan gelanggang disusul kabut biru bercahaya berkilat telah timbul di sekeliling Goan-hwat Taysu, Bersama itu terlihat tiga gumpal kabut biru melesat berkecepatan seperti kilat berpencar masing-masing menyerang kearah Giok liong, Hian Goan Taysu dan Goan Ci Taysu.

Peristiwa terjadi begitu mendadak, memang tiada seorangpun mengira bahwa Goan hwat Taysu ternyata sudah menjadi anak buah istana beracun yang menyelundup di dalam Go bi-pay mereka, apalagi berani turun tangan secara berhadapan demikian.

Terdengarlah jeritan ngeri, terlihat badan Goan Ci Taysu terpental jungkir balik.

"bluk"

Terbanting keras beberapa jauhnya, sejenak kaki tangannya berkelejetan dari tujuh lubang panca indranya mengalirkan darah, Terus tak bergerak lagi.

Bertepatan dengan itu, terdengar pula sebuah suitan panjang yang melengking tinggi.

Sinar perak berkelebat mega putih lantas mengembang berkelompok lewat disamping tubuh Hian Goan Taysu langsung menyerang kebelakangnya.

Hian Goan Taysu sendiri juga menggerung gusar, gesit sekali badannya berputar terus melambung tinggi ketengah udara, Dimana ter-Jtr-ft leTK'i,n jubah Hwesionya dikebutkan, dua jalur angin kencang lantas diberondong keluar mulutnyapun menghardik murka.

"Pengkhianat!"

Baru saja badannya melenting ditengah jalan, mendadak paha kakinya terasa sakit kesemutan seperti digigit nyamuk, sejalur hawa dingin terus merambat naik dari pahanya, Keruan kejut hatinya bukan kepalang, Tahu dia bahwa dirinya sudah keserempet oleh kabut berbisa dari Lan cu-tok-yam, lekaslekas ia menarik napas dan mengerahkan hawa murni, menggunakan ilmu Cian-kin-tui membuat tubuh terus meluncur jatuh lurus kebawah.

Dalam pada itu terdengarlah ledakan dahsyat yang menggetarkan seluruh gelanggang, dua bayangan lantas berpisah, tampak Giok-liong dan Goan hwat Taysu melompat mundur deagan cepat setelah saling adu pukulan keras.

Perubahan yang terjadi secara mendadak ini berlaku begitu cepat, setelah Giok-liong beradu pukulan dengan Goat-hwat Taysu,baru seluruh hadirin diluar gelanggang insyaf akan situasi yang gawat dan mengancam.

Serempak mereka berteriak dan membentak beramai-ramai maju merubung ketengah gelanggang, Pada saat mana Hian Goan Taysu telah duduk bersila di tanah mengerahkan tenaga murni mendesak menjalamya hawa beracun di dalam tubuh.

Sekonyong-konyong rangkaian suitan panjang yang serak dan sember saling bersahutan dari segala penjuru, sedemikian riuh ramainya suitan sumbang itu melanda datang kearah puncak Go-bisan.

Mendengar suitan-suitan sumbang dari berbagai arah penjuru itu, girang bukan main Goan-hwat Taysu, mendongak keudara ia menggembor keras berbarengkedua tangannya menarik serabutan dengan keras, jubah Hwesio yang besar gondrong itu seketika dirobek menjadi berkeping-keping, kini terlihatlah pakaian dalamnya yang mengenakan seragam biru ketat, teriaknya dengan beringas.

"Yang ikut aku hidup yang menentang harus modar dengan diselubungi kabut biru yang bercahaya terang menyolok mendadak badannya pelan-pelan terbang ketengah udara. Udara pegunungan Go-bi-san seketika diliputi oleh kabut biru berbisa, udara menjadi gelap dan diliputi suasana yang seram menakutkan. Di tengah riuh rendahnya suara suitan yang bersahutan itu terdengar pula serangkaian tembang rendah tnengalun.

"Seluas alam semesta. hanya kamilah yang teragung. Ibun Cosu, berkahilah aku panjang umur!"

Tembang pemujaan ini mengalun saling bersahutan, suaranya terdengar serak sumbang menggiriskan sukma.

Maka terlihatlah kelompak-kelompok kabut biru dengan bentuk seperti laba-laba tengah beterbangan mendatang dari segala jurusan jumlahnya ada puluhan banyaknya, seperti meteor terbang dengan kecekatan kilat terus meluncur memasuki gelanggang.

"Tang ... tang ... taag tang , . ,tang tang tang -, ."

Genta peringatan dari kelenteng Go-bi-san segera bergema bertalu-taIu.

Tapi hanya sebentar saja lantas terdengarlah jeritan lengking tinggi yang mengerikan, suara genta juga lantas berganti ini menandakan bahwa penjaga atau Tianglo pemukul genta itu sudah mengalami nasib sial.

Para anak murid Go-bi-pay menjadi geger, ditambah melihat Ciang-bun-jin mereka sudah terluka dan tengah duduk bersila mendesak hawa racun dalam tubuhnya, ini lebih mengejutkan lagi sebab mereka tahu kalau luka yang diderita Ciang-bun-jin mereka tidak parah dan tidak mungkin beliau tinggal mengurus diri sendiri tanpa hiraukan lagi anak muridnya, Dalam pada itu keempat Hu-hoat berjubah merah itu serentak melambung tinggi ditengah udara terus meluncur turun laksana empat gumpal awan merah berdiri di empat penjuru melindungi Hian Goan Taysu.

Tepat pada anak buah istana beracun saling bermunculan itu, Goan-hwat Taysu menjerit keras seperti pekik setan, mendadak tubuhnya meluncur turun terus menerjang kearah Giok liong, dimana tangannya bergerak, puluhan utas sinar biru berkilat serentak meluncur mengarah puluhan tempat mematikan ditubuh Giok-liong.

Diam-diam Giok-Iiong mengeluh dan kaget sungguh diluar tahunya bahwa para kamprat dari istana beracun bisa bergerak secepat itu.

Apalagi dari gerak-gerik puluhan pendatang itu kelihatan bahwa kepandaian silat mereka rasanya tidak dibawah kepandaian Goan-hwat Taysu Naganaganya, malam ini Go-bi-pay bakal mengalami keruntuhan total.

Sambil berpikir tanpa berayal Giok-Iiong kerahkan Ji-lo pada tingkat kesepuluh, saking bernafsu hawa murni dalam tubuhnya mengalir deras sampai terdengar bergeser dengan kencang, tubuhnya juga lantas memancarkan cahaya putih perak, yang samar-samar.

Berbareng kedua tangannya digentakkan, sepuluh jalur angin kencang melesat ke luar dari ujung jari-jarinya.

Bersama itu badannya juga lantas melejit ketengah udara, beruntun kedua tangannya mendelong bergantian gelombang tenaga halus yang empuk tak terasa bagai gugur gunung serentak menerpa dengan dahsyat kearah Goan-hwat Taysu.

Dengan mengenakan pakaian ketat warna biru itu perbawa Goan-hwat Taysu makin menakutkan, air mukanya kini berubah hijau gelap, kedua biji matanya mendelik sebesar kelereng memancarkan sinar biru seperti mata dracula.

Kaki tangannya bergerak-gerak seperti merambat kelakuannya sangat aneh dan mengerikan desisnya menyeringai.

"Kunyuk, kalau kau tahu diri, lekaslah menyerah dan bergabung di bawah asuhan Ibun Cosu, mungkin kau diberi jalan hidup atau sebaliknya kematian tanpa liang kuburlah bagianmu."

Habis berkata lekas-lekas ia miringkan tubuhnya sambil bergeser ke sebelah kiri.

Serentetan suara mendesis menimbulkan gelombang angin yang membadai, tutukan angin jari saling beradu dan di tengah udara lantas sirna tanpa bekas.

Giok-liong bergelak tawa, serunya.

"jangan kau kira aku ini seorang linglung yang tengah terpojok. Malam ini tuan mudamu harus membuka pantangan, ketemu satu bunuh satu ..."

Tangkas sekali kedua tangannya bergerak gerak di depan dada terakhir membuat setengah lingkaran lantas didorong dengan sepenuh tenaga.

Dua gumpal mega putih dengan mengeluarkan desis keras yang memekik telinga terus memberondong kearah Goan-hwat Taysu.

Dari sebelah barat meluncurlah mendatang dua sosok bayangan orang warna biru tua dengan seluruh tubuh diselubungi kabut biru terus meluncur memasuki gelanggang.

Seketika terjadi perang tanding yang serabutan belum lama berselang lantas terdengarlah jeritan kesakitan saling susul darah menyemprot berceceran kaki tangan atau batok kepala manusia beterbangan kemana-mana.

Giok-liong menggerung dengan murka kedua tangannya tiba-tiba membalik ditambah dengan landasan dua bagian tenaganya lagi terus dipukulkan kedepan pula.

"Blang . , ..byuuurr"

Kelihatan bayangan orang saling berjatuhan jungkir balik.

Giok-liong seketika merasa napasnya sesak darah bergejolak dalam rongga dadanya.

Badannya juga lantas mental balik dan meluncur dengan kencang dalam seribu kesibukannya ini cepat ia menarik napas panjang untuk mengendalikan darah yang hampir tak terbendung lagi.

Mendongak keudara ia bersuit lantang, kedua lengannya dipentang dan sedikit bergetar, laksana seekor burung garuda dari tengah udara ia jumpalitan terus menubruk turun menerjang kearah salah seorang berpakaian biru lainnya.

Tepat pada saat itu didalam kelenteng besarsana beruntun terdengar bentakan gusar dan jerit mengerikan yang saling bersahutan tanpa putus putus.

Giok-liong insaf bahwa keruntuhan total bagi pihak Go bi pay malam ini sudah pasti dan tak mungkin tertolong lagi.

Besar harapannya bahwa tokoh tertinggi dari pihak Go bi-pay yaitu Ngo hui-heng-cia berada di dalam biara, pasti keadaan tidak bakal terjadi sedemikian buruk ini, sayang sekali menurut gelagat apa yang dilihat sekarang, terang kalau Ngohui-heng cia tengah keluar kelana dan belum pulang kalau tidak mana mungkin dia mau berpeluk tangan melihat anak muridnya disembelih dan dibunuh begitu saja.

Melihat keadaan mengerikan para anak murid Go-bi-pay yang bergelimpangan ditanah itu.

Terbayang dalam mata Giok-liong akan kematian ibunya yang mengerikan itu, tanpa merasa menimbulkan gairah nafsu membunuh dalam benaknya, Dengan mendengus keras, luncuran tubuhnya berubah segulung bayangan putih secepat anak panah menyamber terus menerjang turun.

Kebetulan siorang berpakaian seragam biru itu tengah mendorongkan kedua tangannya memukul roboh seorang murid Go-bi-pay sampai jungkir balik setombak lebih dengan muntah darah, saking puas ia tengah terkekeh-kekeh riang dan bersiap lagi menubruk kearah seorang murid Go-bi pay lainnya, Mendadak didengarnya suara tawa dingin memecah udara masuk kedalam telinganya, Belum lagi ia sempat bersiap, sebuah kekuatan besar bagai gugur gunung tahu tahu sudah menindih tiba diatas kepalanya.

Agaknya murid istana beracun ini tidak mengira bahwa diatas Go bi-san ini ternyata ada seorang tokoh lihay yang masih hidup mempunyai lwekang tinggi.

Dalam kejutnya secara gerak reflek badannya melenting miring kesamping kiri, berbareng kedua tangan nya diayun serentak untuk memapak ke-atas.

Diluar perhitungannya Giok-liong sudah menjadi sengit dan timbul nafsu membunuhi menjengek dingin mendadak ia tarik kembali kedua tangannya, badannya bukan meluncur lurus lagi tetapi melengkung bundar melejit ke belakang orang itu, kelima jarinya berbareng menjentik bersama-sama!

Angin keras mendesis memecah kesunyian.

Murid istana beracun itu sangat bernapsu menyongsongkan kedua angin pukulan tangannya, tapi tiba-tiba terasa bayangan putih berkelebat kearah samping belakang, diam diam ia mengeluh.

"celaka !"

Lekas-lekas membuang tubuhnya kesamping, Tapi sudah terlambat jerit kesakitan lantas keluar dari mulutnya.

Tampak dibawah lambung kanan kirinya berlubang terkena tutukan jari, darah mengalir deras seperti air leding.

Sementara itu dengan ringan sekali kaki kiri Giok liong menutul diatas tanah badannya lantas meluncur ke tempat lain.

Dalam anggapannya dengan tertutuk luka parah ditempat jalan darah penting, pasti murid istana beracun itu bakal mampus.

Diluar dugaannya, sekilas matanya melirik, dilihatnya orang seragam biru itu tengah merangkak bangun dari tanah, mulutnya agaknya seperti mengunyah sesuatu apa, Sekali berkelebat ia terus lari kencang menuju kearah hutan sana.

Tergerak hati Giok-liong, pikirnya."Mungkin mereka punya suatu obat mustajab yang dapat menolong jiwa orang dipinggir jurang kematian?

Lebih baik kukuntit untuk melihat keadaan..."

Baru saja pikirannya ini terlintas tidak jauh di sebelahnya sana terdengar lolong kesakitan yang panjang, tempatnya adalah dimana tadi Go bi Ciang-bun jin tengah duduk bersila berobat diri.

Giok liong terkejut terpaksa ia batalkan niatnya semula, kakinya terus menjejak tanah tubuhnya meluncur seperti burung kepinis ditengah udara, selepas pandangannya, Terlihat keempat Hu hoat berkasa merah itu sudah pacing geletak di tanah, sedang Go bi Cian-bun-jin Hian Goan Taysu tengah berkutet dengan susah payah melawan keroyokan tiga orang berseragam biru, keadaan Hian Goan Taysu memang sangat berbahaya, terdesak dibawah angin dan terus mundur.

Dengan pandangan Giok-liong yang tajam lantas je.ag olehnya, bahwa Hian Goan Tavsu menggigit giginya kencang, agaknya tengah menahan sakit, sedang air mukanya juga sudah bersemu kebiru biruan, keruan semakin kejut hati Giokliong, batinnya.

"Celaka, agaknya racun dibadan Hian Goan Taysu sudah mulai bekerja."

"Blang."

Dengan kekerasan Hian Goan Taysu menangkis pukulan gabungan ketiga orang seragam biru, kakinya menjadi sempoyongan dan akhirnya ia terjerembab setombak jauhnya, begitu jatuh lantas tak dapat bangun lagi.

Giok-liong menghardik gusar, beruntun ia gerakan kedua tangannya melancarkan serangan dahsyat, seperti dewa elmaut saja layaknya, tubuhnya melayang turun dari tengah udara langsung menerjang kearah ketiga orang berseragam biru itu.

Ketiga orang seragam biru itu terkekeh-kekeh serak, mendadak mereka berputar bersama, enam tangan pukulan serentak dilancarkan menyongsong luncuran tubuh Giok-liong.

Dilain pihak masih ada lagi empat orang seragam biru lainnya melejit turun disamping tubuh Hian Goan Taysu bersama berjongkok terus menjinjing tubuhnya dibawa lari pergi dengan cepat sekali.

Betapapun gugup dan gelisah hati Giok-liong, namun apa yang dapat dibuatnya.

Terpaksa ia kerahkan seluruh kekuatannya terus memukul kebawah, saking bernafsu kelihatan tubuh rada bergetar dan terus ceEerjar ke arah musuh.

"Dar ..."

Ledakan dahsyat menimbulkan bayangan kepalan tangan yang serabutan.

Dua sosok bayangan biru tua meluncur tiba pula diarena pertempuran, sesaat itu keadaan menjadi bertambah seram, seluruh gelanggang mulai dilingkupi kabut biru yang tebal terang Giok-liong sudah terkepung rapat di dalam bayangan kepalan dan kabut beracun.

Pikiran Giok liong hanya menguatirkan keadaan Hian Goan Taysu, maka gerik tangannya tidak mengenal ampun lagi, mega putih berkembang cepat dan bergulung-gulung, setiap kali ia menambah tenaga pukulannya terus meluas berlapislapis tiada putusnya.

Sedang Giok liong sendiri sekarang berubah menjadi segulung bayangan putih yang samar-samar hampir tidak terpandang oleh mata telanjang, dengan gerak kecepatan seperti setan gentayangan, ia bergerak melincah dan menarinari diantara samberan berlapis bayangan pukulan Iawan, meskipun kabut berbisa sudah mengepung disekitar garis luar gelanggang, tapi masih terus diterjangnya keluar.

Namun agakaya para musuh juga sudah menduga akan maksud tindakan Giok-liong ini, maka mereka menjadi semakin bernafsu nerintangi dengan segala daya upaya, sedemikian ganas dan keras pukulan mereka di tambah beracun lagi, sampai semburan anginnya juga berbau amis memuakkan.

Kalau Giok-liong bertindak lambat sedikit saja pasti tempat-tempat penting diseluruh tubuhnya serentak bakal berlubang dan melayanglah jiwanya.

Sampai pada detik yang menentukan ini Giok-liong menjadi semakin gelisah, hatinya membara seperti dibakar, tiba-tiba ia rontakan kedua tangannya sambil menggembor keras, seutas uap putih dan selarik sinar kuning lantas meluncur menembus udara sekitarnya.

Ternyata Potlot mas bersama seruling samber nyawa sudah dikerjakan keluar.

Seketika di udara berkumandang lima jalur macam irama seruling yang menusuk telinga, Pelangi putih itu bergerak begitu lincah seperti naga terbang tengah menari dengan iringan mega putih yang bergulung-gulung terus disapukan keluar, Ternyata Jan hun su-sek sudah dilancarkan sampai puncaknya.

Kontan terdengar dua jeritan orang, empat bayangan biru lainnya segera melenting tinggi membawa aliran darah yang deras terus meluncur dengan kecepatan seperti burung terbang menyelinap hilang didalam hutan.

Tatkala mana tubuh Giok-lioag masih melayang ditengah udara, waktu ia mendaratkan kakinya di tanah keadaan sekelilingnya sudah sunyi senyap, Selayang pandangannya menjelajah, mayat manusia bertumpuk bergelimpangan darah mengalir panjang menggenangi seluruh tanah lapang, semua mayat yang bergelimpangan itu adalah para anak murid Go-bipay melulu.

Begitu banyak mayat manusia ini satu pun tiada mayat murid istana beracun.

Keruan hawa amarah yang tidak terkendali lagi lantas membakar dadanya, Menjejakkan kaki ia terus berlari mengejar kemana para murid istana beracun tadi menghilang.

Keadaan puncak Go-bi-san kembali diliputi kesunyian, pihak musuh mundur secara begitu cepat, begitu cepat sampai diluar prasangka.

Sambil berlari kencang itu Giok-liong menyimpan kembali Potlot mas dan seruling samber nyawa, tanpa gentar dan banyak kwatir lagi ia terus menerjang masuk kedalam hutan, dengan cermat dan teliti ia cari jejak para anak murid istana beracun itu.

Tapi suasana dalam hutan begitu hening, mana ada jejak manusia ?"

Perasaan Giok-Iiong menjadi hampa dan tertekan.

Sungguh tak terkira olehnya tokoh -tokoh istana beracun begitu berani muncul lagi dikalangan Kangouw, malah berkepandaian begitu tinggi, kalau tidak menyaksikan sendiri siapa bakal mau percaya.

Apalagi justru Go bi-paylah yang dijadikan mangsa pertama dengan keruntuhan total ini, untuk selanjutnya entah pihak mana lagi yang bakal menjadi korban.

"Ai."

Giok liong menghela napas sedih, mulutnya menggumam.

"Geger dunia persilatan sudah tiba diambang pintu! terpaksa ia memutar tubuh dan berlari kembali ke Gobi-san. Tak lansa kemudian ia sudah tiba di depan kelenteng besar yang berhau amis. Melihat pemandangan yang seram menyedihkan ini, sehingga membayangkan kenangan lama. Pelan-pelan ia angkat langkah memasuki kelenteng besar yang diagungkan ini, Besar harapannya didalam kelenteng sebesar ini dapat menemukan salah seorang murid Go-bi pay yang ketinggalan hidup, supaya ada yang disuruh turun gunung memberitakan bencana besar yang menimpa pihak Go-bi ini kepada aliran lurus dunia persilatan untuk bergabung mencari daya upaya untuk memberantas Istana beracun. Bersama itu perlu dimaklumkan kepada seluruh kaum persilatan di jagat ini bahwa Go-bi Ciang-bun-jin Hian Goan Taysu sendiri juga sudah jatuh dalam cengkeraman pihak istana beracun, Tak lupa pula diharapkan Ngo-hui-heng cia bisa segera pulang ksatan. Go-bisan untuk memimpin peristiwa pembalasan dendam. Demikian jalan pikiran Giok-Iiong. Keadaan didalam kelenteng ini kiranya tidak banyak bedanya dengan diluar, disini darah muncrat kemana-mana, sampai dinding yang putihpun berhiaskan lepotan darah yang menyolok mata banyak mayat lumer menjadi genangan air darah, kaki tangan atau kepala manusia berserakan setindak ia semakin dalam beranjak hatinya semakin tertekan dan terasa dingin, sungguh ngeri, satupun tidah yang ketinggalan hidup. Baru setengah jalan ia sudah tidak kuat lagi menahan hasi, Tiba-tiba ia mendongak dan bersuit panjang dengan penuh kesalahan dan kepiluan hati, Mendadak ia enjit tubuhnya melambung ketengah udara terus meluncur keluar kelenteng. Baru saja kakinya mendarat dttartah, lantas terdengar sebuah dengusan dingin di-pinggir kupingnya, Dengtisan dingin ini laksana sebatang anak panah dingin yang tepat menusuk kedalam kupingnya, Tanpa merasa Giok-liong tersentak kaget, batinnya.

"Hebat benar Lwekang orang ini!"

Sambil berpikir dengan kecepatan yang sukar diukur tiba-tiba ia memutar badan menghadap kearah mana suara dengusan dingin tadi datang.

Baru saja ia bergerak lantas diujung matanya berkelebat sebuah bayangan abu abu, dengusan dingin tadi kini terdengar lagi dari belakangnya.

"Kunyuk, pihak Go-bi-pay mempunyai dendam atau sakit hati apa terhadap kau, sedemikian kejam kau turun tangan."

Baru saja lenyap suaranya segulung angin kencang seperti gugur gunung telah menerjang di belakang punggungnya.

Kecepatan serangan dari belakang ini, hakekatnya tiada memberi kesempatan untuk Giok-Iiong sempat berkelit, Dalam keadaan gawat ini, tiba-tiba ia menarik napas dalam tubuhnya lantas melejit maju kedepan sebaliknya kedua tangannya ditepukkan kebelakang.

"Plak !"

Keras sekali terjadi bentrokan ditengah udara diseling suara bentakan nyaring .

"Keparat, kiranya memang ada isi !"

Angin menderu deru segulung kekuatan yang tidak kentera tahu-tahu sudah menindih diatas kepalanya.

Giok liong kehilangan serangan penduhuIuan yang menguntungkan, dengan tepukan menangkis ke belakang tadi belum dapat melancarkan kekuatan sepenuhnya, maka begitu kedua pukulan saling bentrok lantas ia merasa darah bergolak, pandangan mata menjadi berkunang-kunang.

Badannyapun tergetar keras sempoyongan kedepan.

Belum lagi ia sempat berdiri tegak tenaga besar sudah menindih tiba lagi laksana air bah yang sukar dibendung.

Merasa serangan ini adalah sedemikian dahsyat, otak Giokliong lantas berpikir.

"Ini pasti ngo-heng-cia telah pulang...."

Tapi dia tak kuasa membuka mulut untuk membela diri, tiada tempo untuk berpikir lagi, Sekuatnya ia memberatkan tubuh mendarat kaki di tanah, Ji-lo dikerahkan seluruhnya kedua lengannya terus disayang maju.

"Pyaaarr"

Angin badai berguIung-gulung membumbung tinggi ke tengah udara, dua bayangan putih dan abu-abu mendadak terpental berpencar ke dua jurusan, Giok-liong tak kuasa mengendalikan tubuhnya, beruntun ia tersurut mundur tujuh langkah baru bisa berdiri tegak.

Dada terasa sesak seperti di-godam, segulung hawa panas sudah menerjang naik ke tenggorokannya, lekas-lekas ia melepas napas mentahmentah menelan kembali darah yang hampir menyemprot keluar.

Bayaagan abu-abu berkelebat terdengar bentakan keras.

"Kalau hari ini Lobu tidak dapat membunuh bocah iblis jahat seperti kau ini, sia-sia belaka aku menjadi Toang-lo Go bipay!"

Sering dengan bentakan ini bayangan telapak tangan yang membawa deru angin kencang dengan kecepatan yang susah diukur laksana angin lesus tiba-tiba menggulung tiba dengan serangan yang mematikan.

Baru sekarang Giok-liong dapat melihat tegas bahwa Ngohui heng-cia ternyata adalah seorang Hwesio tua yang berperawakan kurus kecil.

Tapi kedua matanya itu karena marahnya telah memancarkan sorot kegusaran yang berlimpah-Iimpah, Meskipun Giok-liong dapat melihat tegas wajah Ngo hui-heng-ca, tapi saat itu juga kepalan tangan dan tutuIan jari musuh yang sengit itu sudah tiba didepan matanya.

Dasar watak Giok liong terakhir ini suka uring

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com/ uringan ditambah Ngo hui-heng cia mendesak sedemikian rupa, memuncaklah hawa amarahnya, bentaknya dengan sengit.

"Berhenti dulu !"

Aku ada omongan !"

Sambil membentak tubuhnya bergelak lincah sekali berputar melancarkan gerak tangannya yang membawa deru angin membadai, dengan tipu terangan yang cukup ganas pula ia balas menyerang.

Ngo-hui-heng-cia mandah tertawa dingin katanya.

"jangan harap Lohu dapat kau tipu."

Wajah Giok-liong semakin membesi ka-ku, hardiknya .

"Tua bangka gundul, jangan kau menuduh semena-mena ! peristiwa hari ini adalah buah tangan anak murid istana beracun ..."

Sekonyong-konyong Ngo-hui-heng-cia memperdengarkan serentetan gelak tawa dingin yang memilukan, teriaknya.

"Kunyuk, hahahaha, kau kira gampang menipu Lohu... Kecuali kau sendiri adalah murid dari istana beracun ..."

Mendadak serangannya semakin gencar, sekaligus berpetakan empat bayangan abu-abu, menyelinap masuk kedalam gelombang angin pukulan Giok-liong yang membadai itu.

Giok-liong semakin penasaran, serunya sambil kertak gigi.

"Memang Go-bi pay kalian setimpal dibunuh semua!"

Sam-jiuchun-chia tak kepalang tanggung lantas dilancarkan, pertama jurus Cin-chiu, lalu Hiat bwe dan yang terakhir adalah Tiamceng, dilancarkan secara bergelombang sambung menyambung.

Mega putih bergelombang mengikuti gerak tangannya menerjang kesana kemari, menyelubungi sebuah bayangan putih yang memancarkan cahaya putih perak, dengan gerak serangan kilat melancarkan beratusribu pukulan serta tutukan jari menyerang kesegala tempat kematian Ngo-hui-heng-cia.

Tidak ketinggalan sebuah telapak tangan yang memutih laksana batu giok juga tanpa bersuara telah muncul, inalah dengan gerak kecepatan yang luar biasa mendadak menyelonong tiba menepuk kearah dada Ngohui-heng-cia tepat dijalan daran Yu-bun hiat.

Bercekat hati Ngo-hui-heng cia melihat kehebatan serangan ini, tak kuasa tercetuspertanyaan dari mulutnya.

"Sam hi cui hun chiu? Apa hubunganmu dengan Pang Giok."

Baru saja ia berkata habis, telapak tangan putih sudah melayang dekat tinggal tiga kaki didepan dadanya mendadak bergerak semakin cepat menepuk tiba dengan kecepatan kilat.

Tanpa banyak ragu-ragu lagi segera Ngo-hui-heng cia memutar kepalan tangan kanan menimbulkan gelombang angin deras, bersama itu telapak tangan kiri tiba-tiba diselonong kan maju kedepan untuk menangkis.

Kontan terdengar samar-samar suara guntur yang bergemuruh semakin keras.

Telapak tangan kiri Ngo hui-heng cia itu mendadak bersemu merah darah, seiring dengan getaran suara guntur yang gemuruh itu tangan kirinya sudah menyelonong maju memapak kearah telapak tangan putih yang sudah menyerang dekat itu.

Giok-liong sendiri juga terperanjat sampai air mukanya berubah, batinnya.

"lnilah Pik-lik-chiu kepandaian tunggal Gobi-pay mereka yang sudah beratus tahun putus turunan."

Cepat cepat ia menarik kembali kedua tangannya berbareng tubuhnya ikut melompat kesamping menghindarkan benturan secara berhadapan lalu ia tambah dua lipat tenaganya untuk menyerang lagi dari arah yang lebih menguntungkan.

Saat mana mendadak Ngo-hui-heng-cia berdiri tegak tanpa bergerak, mulutnya bersuit panjang berkumandang menembut langit, sampai menggetarkan seluruh alam pegunungan, daun menghijau diatas pohonpun sampai rontok berjatuhan.

Wajah tuanya yang tirus kini memancarkan cahaya terang, pelan

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com/ pelan kedua tangannya dirangkapkan terus pelan-pelan pula diangkat meninggi terus didorong kedepan.

Gema tembang matram didalam lingkungan suasana yang hidup dibawah pancaran sinar kesunyian mendadak berkumandang ditelinga Giok-liong, Begitu mendengar suara mantram ini perasaan Giok-liong menjadi hampa dan kosong melompong.

Giok liong tahu asal usul pukulan hebat yang dilancarkan tadi, Dulu tatkala Tat mo cosu melawat kedaerah timur, salah satu ilmu bekalnya yang berjumlah seratus delapan puluhan khusus untuk menundukkan iblis, yaitu Cu sim ti mo.

Tat mo Cosu pernah bersabda kepada para muridnya.

"Bahwa ilmu pukulan ini sangat jahat dan ganas tak mengenal belas kasihan setiap kali kau turun tangan kalau tidak sampai melukai lawan diri sendirilah yang bakal celaka. Maka kalau bukan menghadapi durjana yang benar benar jahat tidak digunakan, kalau bukan dalam saat-saat yang genting untuk membela diri ilmu ini dilarang digunakan,"

Maka ilmu Cu-simti-mo ( hati suci mengusir iblis ) ini lambat laun menjadi di lupakan orang dan akhirnya putus turunan.

Sungguh tidak nyana hari ini ilmu yang ganas dan paling ditakuti itu bisa muncul ditangan seorang Go-bi-tiang-lo yang tinggal seorang ini.

Lebih tidak terkira olehnya Ngo hui heng cia bisa melancarkan Cau sam-ti mo ini untuk menghadapi dirinya.

Hati yang gelisah bingung dan marah ini semakin gentar dan takut mengingat perbawa kehebatan ilmu itu.

Tak kira Ngo hui-heng cian menghadapinya sebagai durjana-yang patut dilenyapkan dari muka bumi ini kerana hatinya takkan berang mana dapat melampiaskan kedongkolan hati ini?

Maka sambil menjengek dingin Ji-lo dikerahkan sampai puncanya cepat sekali ia merogoh ke pinggang dilain saat alunan kelima gelombang irama seruling segera memecah alam pegunungan dimalam nan sunyi.

Dua jalur sinar kuning dan putih yang menyilaukan mata mendadak melejit ketengah udara terus menerjang turun pula.

"Jan hun-ti"

Terdengar mulut Ngo-hui-heng cia berseru kaget belum lenyap suaranya, suara ribut seperti hawa udara pecah bercerai berai berkumandang di tengah udara disusul dua jeritan keras berbareng bergema lantang.

Hujan darah memenuhi angkasa berceceran kemana-mana Dua bayangan putih dan abu-abu seperti bayangan setan gentayangan terpental mundur terus melesat kedua arahjurusan yang berlainan Setelah itu Go bi-san kembali dilingkupi suasana sunyi, angin malam sepoi-sepoi menghembus lewat, tak lama kemudian diufuk timur terpencar sinar kuning yang cemerlang dengan munculnya sang Surya menerangi jagat raya.

Kini lebih jelas lagi keadaan sekitarnya pemandangan yang seram mengerikan dengan mayat-mayat gelimpangan tergenang air darah menambah suasana yang sunyi lengang ini semakin menakutkan.

Go bi-pay runtuh total hanya semalam saja.

Kecuali Ngo-heng-hui-cia, Giok-liong dan para murid dari istana beracun, tiada seorangpun yang tahu dan takkan mungkin bisa tahu atau mengira, dengan kejayaan Go-bi-pay sekian tahun, hanya semalam saja seluruh penghuni atau anggauta Go-bi-pay telah diberantas dan dibunuh semua tanpa meninggalan satupun yang masih hidup.

Akhirnya kabar jelek ini terdengar pula oleh kaum persilatan dari aliran lurus.

Gelombang pembunuhan besarbesaran bakal bersemu di dunia persilatan dan kini mulai terpecahkan menjadi rahasia umum Terang dan gamblang, delapan aliran terbesar lainnya juga bakal mengalami nasib yang serupa.

Hari kedua baru saja matahari muncul dari peraduannya, masih pagi pagi benar, Dikalangan Kangouw sudah tersiar berita gempar yang sulit dapat dipercaya.

Kim-pit-jan-hun Ma Giok-liong pendekar tunas muda yang menggemparkan dunia persilatan itu membekal Jan-hun-ti, itu seruling pusaka yang menjadi incaran setiap insan persilatan yang tamak, beruntun sebelah melukai beberapa banyak tokoh-tokoh silat kenamaan cukup hanya semalam saja telah memberantas dan membunuh seluruh anak murid Go bi-pay yang tinggal diatas gunung.

Pertama-tama delapan aliran besar serta para murid Go-bipay lainnya berteriak dan menyuarakan seruan penuntut balas.

Begitu berita ini tersiar luas dikalangan Kangouw seperti jamur berkembang biak dimusim seni.

Bagi kaum lurus satria gagah beramai-ramai angkat senjata berteriak hendak mengejar dan meringkus Kim-pit-jan-hun Ma Giok-liong.

Dengan Hong-tiang Siau-lim sebagai pemimpin besar disebar luaskan Lok-Iim ciam serta Enghiong-tiap, Diminta kepada mereka untuk menegakkan keadilan dan kebenaran demi kesejahteraan kaum persilatan umumnya, menumpas dan menghukum berat durjana besar yang ganas untuk menuntut balas para murid Go-bi-pay yang telah mangkat dialam baka.

Maka dikalangan Kangoaw bermunculan banyak gembonggembong silat yang telan mengasingkan diri sekian tahun lamanya, alasannya saja demi ketentraman dan keamanan hidup kaum persilatan tapi hakikatnya dan maksud tujuan mereka yang sebenarnya tiada seorangpun yang tahu.

Kalau dunia Kangouw tengah digegerkan akan berita naas yang menimpa pihak Go-bi-pay.

Adalah didalam sebuah gua dibawati jurang didalam pedalaman dipegunungan Go-bi-pay seorang pemuda berpakaian putih tengah duduk bersila mengheningkan cipta.

Dia bukan lain adalah Kim-pit-jan-hun yang terluka parah dan melarikan diri setelah pukulan melawan Ngo hui-heng cia.

Waktu pertama kali melihat Ngo-hui-heng cia, sebenarnya Giok-liong sudah mau membuka mulut memberi penjelasan asal mula kejadian yang mengenaskan ini, malah besar harapannya dapat mengajak beliau masuk didalam barisan besar kaum persilatan aliran lurus untuk menolong nasib buruk kaum persilatan yang bakal timbul tak lama ini, bersama menanggulangi dan melawan gembong gembong silat-silat jahat dan para iblis yang telah bermunculan kembali akan menimbulkan huru hara.

Tak duga kesempatan untuk membuka mulut saja tiada baginya.

sedemikian keras desakan Ngo-hui-heng-cia dengan serangan ganas malah melancarkan Cu-sim-ti-mo yang ganas itu untuk membunuh dirinya lagi.

Dalam keadaan kepepet demi hidup terpaksa ia keluarkan seruling samber nyawa dan Potlot mas, dengan sekuat tenaga mengadu kepandaian secara kekerasan.

Begitu kedua belah pihak saling bentrok, Giok-liong lantas merasa kepalanya seperti hampir pecah saking keras getaran yang menimpa dirinya, napas terasa sesak darahpun bergolak serasa hampir meledak dadanya.

Mata berkunang-kunang kepala pusing tujuh keliling, tak tertahan lagi darah segar menyemprot keluar dari mulutnya.

Hebat penderitaan Giok-liong.

Tapi ia pun mendengar jeritan Ngo hui heng-cia terbaur senada dan seirama dengan jeritannya menjadi perpaduan suara yang melengking tinggi Giok-liong insyaf bahwa dirinya sudah terluka teramat parah.

Kalau lebih lama lagi ia tinggal ditempat ini, pasti lebih celaka dan tidak akan banyak bermanfaat.

Maka sekuat tenaga ia bertahan sambil menahan napas, tubuhnya bergerak lincah secepat terbang kearah hutan yang lebat dan menghilang disana.

Waktu menyingsing fajar, ditemukan sebuah gua yang tersembunyi dan terahasia, Pada saat mana ia sudah kehabisan tenaga dan susah bertahan lagi, mata tanpa banyak pikir dan kwatir lagi segera ia menerobos masuk kedalam gua itu.

Dimana ditelannya beberapa butir pil peranti penyembuh luka-luka dalam lalu mulailah ia mengerahkan tenaga murni untuk berobat diri setelah memakan waktu sehari semalam baru seluruh luka-luka parahnya dapat disembuhkan seluruhnya.

Dalam hati ia merasa beruntung!

Jikalau ia tidak membekal seruling samber nyawa senjata pusaka yang ampuh mandraguna serta Potlot mas seumpama ia tidak menelan sari buah ajaib dan khasiatnya setelah menunjukkan perbawanya, pasti dan tentu jiwanya siangsiang sudah melayang di bawah ilmu Cu sim-ti-mo atau Hati suci melenyap iblis itu.

Matahari mulai terbenam kearah barat, hari menjelang magrib dan mulai petang, pekerjaan Giok-liong dalam usahanya menyembuhkan luka-lukanya sudah mulai mencapai titik yang paling gawat.

Alam pegunungan yang liar dan sunyi serta angin malam mulai menghembus keras menambah suasana terasa lengang menekan perasaan.

Giok-liong duduk bersila, lambat laun dari badannya memancarkan cahaya putih perak yang cemerlang, kepalanya juga mulai menguap kabut putih yang bergulung-gulung seperti air mendidih.

Demikian juga air mukanya selalu berganti warna dengan cepat, Lama kelamaan asap putih terus mengepul semakin tebal membungkus seluruh badan sampai tidak kelihatan lagi.

"Krek!"

Pada saati(n tiba-tiba terdengar sebuah suara lirih dari dalam gua, lalu disusul suara helaan napas panjang.

sedemikian memilukan dan sedih sekali helaan napas itu dalam suasana yang lengang dan seram itu.

Ditempat pegunungan sunyi serta hari pun mulai petang, maka suara helaan napas itu terdengar begitu jelas sekali.

Beruntun suara helaan napas terdengar lagi, lalu terdengar pula suara rantai panjang yang terseret berbunyi gemerantang, sebentar saja lalu keadaan menjadi hening lelap.

Meskipun Giok-liong tengah tekun mengerahkan tenaga mengobati luka-lukanya, tapi sesuatu gerakan sekelilingnya masih tetap dapat didengar dengan telinganya yang tajam.

Maka begitu mendengar helaan napas itu bercekat hatinya, batinnya.

"Mungkinkah di gua sebelah sana ada seseorang yang terkurung dan dibelenggu dengan rantai?"

Sedikit terpencar perhatiannya, hawa murni dalam tubuhnya lantas menjadi kacau balau tak terkendalikan lagi, cepat-cepat ia himpun semangat dan pusatkan pikiran tak berani sembarangan banyak pikir segala tetek bengek.

Lambat laun pernapasannya dapat teratur dan darah dapat mengalir lancar dan normal kembali, sekonyong-konyong sebuah suitan panjang memecah kesunyian alam pegunungan berkumandang diluar gua.

Makin lama terdengar semakin keras dan malah mendekat menggetarkan bumi dan bergema didalam gua.

setelah tiba diluar gua baru suara suitan itu berhenti.

Dari suara serta kecepatan lari orang itu dapatlah diperkirakan betapa tinggi kepandaian silat pendatang ini, paling tidak juga sudah mencapai tingkat yang sempurna.

Baru saja suata suitan itu berhenti, mendadak Giok-liong merasa hawa murni dalam tubuhnya bergejolak dan luber, Sesaat sebelum Giok-liong dapat mengendalikan diri, sebuah benda yang keras dingin tahu-tahu sudah menekan dijalan darah Bing hun hiatnya.

Bersama itu terdengar bisikan lirih dari suara serak sambil berkata dipinggir telinganya.

"Ai buyung, biarlah Lohu membantumu""

Baru selesai perkataan osang dari benda keras yang menekan jalan darahnya itu, tiba tiba tersalur segulung tenaga dingin yang menembus tulang belulang, laksana panah es meluncur memasuki seluruh sendi dan urat syaraf Giok liong.

Dalam sekejap saja gelombang tenaga dingin itu laksana air bah terus menerjang dan menembus seluruh badannya berputar satu putaran, setelah Giok liong merasa seluruh badan kedinginan hampir membeku, perasaan lantas mulai berangsur pulih dan segar nyaman.

Banyak jalan darah yang dulu belum pernah teroboskan oleh hawa murninya sekarang telah tertembus lancar oleh terjangan tenaga dingin bagai es itu.

Sekarang sedikit ia kerahkan tenaga murninya semangatnya lantas bergairah dibanding sebelum ini seperti bumi dan langit.

Ternyata Lwekangnya, semakin dalam dan kokoh, hawa murni dalam tubuhnya juga berjalan semakin lancar.

Kini tak terasakan lagi sakit akan penderitaan oleh luka luka parahnya tadi.

Karuan tersentak kaget sanubarinya, sungguh kokoh dan kuat benar lwekang orang yang membantunya ini, Tapi entah dari aliran atau golongan mana, mengapa tenaga dalamnya bisa begitu dingin dan hampir membekukan, selama itu Giok liong juga keheranan dan curiga.

Mengapa orang berkepandaian begitu tinggi bisa di kurung dan dibelenggu didalan gua ini.

Mengapa dia tidak membantu aku sejak mula tadi, setelah diluar gua kedatangan tokoh kosen baru dengan secara kilat membantu aku berobat?

Apakah dia mempunyai maksud tertentu?

Kalau dia menggukan alasan ini untuk menekan aku, apakah aku harus melulusinya ?

Tengah pikirannya bekerja diluar gua tampak berkelebat sesosok bayangan orang kurus tinggi.

Waktu Giok-Iiong menegas pendatang ini berbadan tinggi hampir setombak mengenakan jubah panjang warna abu abu, sedemikian panjang pakaian yang dikenakan sampai telapak kakinya teraling tidak kelihatan.

Rambutnya yang memutih abu-abu riap-riapan tak teratur, wajahnya juga bersemu ungu kaku tanpa expresi, Hanya sepasang matanya yang celong itu memancarkan sinar kilat dingin yang menatap kedalam gua ini.

Begitu pandangan Giok-liong bentrok dengan sorot mata orang hatinya lantas tergetar sungguh dingin pandangan orang ini !

Terdengar ia membuka mulut dengan suara dingin tertegun.

"Buyung, dari mana kau datang? Berani masuk ke dalam gua ini apakah kau sudah tidak ingin hidup ?"

Kata demi kata diucapkan dengan tekanan nada yang dingin dan jelas, membuat pendengarnya berdiri bulu romanya.

Baru saja Giok-liong niat berdiri membuka mulut, suara lirih serak tadi terkiang di pinggir telinganya.

"Duduklah jangan bergerak! jangan hiraukan orang ini. Dia adalah rasuI jubah abu abu dari Yo-Wog-mo-kek. Ada Lohu disini takkan berani masuk dan sembarangan bergerak."

Giok-liong menurut nasehat orang duduk lagi tanpa bergerak namun diam-diam ia kerahkan hawa pelindung badan untuk berjaga dan siap siaga menghadapi segala kemungkinan yang bakal terjadi.

Melihat Giok-liong mematung tanpa menghiraukan pertanyaannya, orang aneh jubah abu-abu itu mendadak mendengus dingin, jengeknya.

"Keparat, menyerah atau mati, pilihlah satu diantaranya."

Suaranya terdengar dingin tanpa nada namun mengandung sifat sifat keangkuhan yang keluar batas. Giok-liong menjadi dongkol, katanya sambil seringai dingin.

"Tuan bertampang seperti setan, sebenarnya dari aliran atau partai mana, lekas sebutkan asalmu,"

Memang Giok-liong menjadi pusing adanya Yu-bing-mo kek apa segala, belum pernah didengarnya di kalangan Kangouw ada golongan silat yang bernama demikian.

Orang aneh jubah abu-abu mendadak terkekeh-kekeh aneh, suaranya sember seperti gembreng pecah.

"Buyung, kau harus mampus."

Baru lenyap suaranya tubuhnya mendadak melejit dengan kecepatan yang luar biasa meluncur kearah Giok-Iiong.

Tergerak hati Giok Hong, baru saja ia hendak turun tangan, Mendadak dilihatnya gerak tubuh orang merandek ditengah jalan mendadak membalik-balik lagi tepat dan persis sekali ditempatnya tadi.

Gerak pergi datang tubuhnya adalah begitu cepat dan cekatan, kalau Giok liong dapat melihat dengan mata sendiri sampai jelas, mungkin orang lain takkan dapat melihat tegas, paling-paling pandangannya terasa kabur, sampai si orang jubah abu-abu bergerak juga tidak diketahui!

Begitu mencelat balik ketenipatnya semula lagi, kata sekata orang jubah abu-abu ini berseru.

"Apakah Li-cianpwe ada di dalam ?"

Nadanya terdengar sangat menghormat kepada orang di dasar gua itu, seakan-akan orang dalam sekeluarga saja.

Tanpa merasa Giok-liong semakin bingung dan tak mengerti.

Apakan mereka sejalan dan sehaluan ?

Tidak mungkin !

curang di dasar gua ini lagak lagunya rada tidak simpatik terhadap si orang aneh jubah abu-abu ini !

Giok-liong menjadi tertawa geli dalam hati karena keraguannya ini, batinnya.

"Mengandal kepandaian silat rasul jubah abu abu ini masih belum kuat berbuat sesuatu terhadapku, coba kulihat tingkah tengik apa yang akan dia lakukan di hadapanku !"

Beruntun dua kali Rasul jubah abu-abu itu berteriak kedasar gua tanpa memperoleh penyahutan apa-apa, agaknya menjadi dongkol, dengusnya.

"Li Hian, Pun-su-cia (aku si rasul) memanggilmu dengan sebutan Cianpwe, karena kau masih ada harapan masuk menjadi anggota kita dengan kedudukan Tongcu, Tak nyana kau tua bangka ini ternyata tidak mengenal kebaikan."

Sebuah suara serak yang keras segera menyelak dari dasar gua sana.

"Karena sedikit kelalaian Lohu maka telah tertipu oleh kalian kalah judi dan terkurung dalam gua ini selama lima puluh tahun, Begitu sampai pada batas waktunya Lohu dapat memutus rantai ini sendiri dan keluar dari tempat gelap ini, untuk membuat perhitungan dengan kalian, Minta lohu menjadi anggota iblis seperti kalian, itulah angan-angan mimpi belaka !"

Rasul jubah abu abu berludah, tanyanya.

"Apakah setan kecil ini orangmu ?"

"Hahaha, dialah sahabat kecil yang baru Lohu kenal, apa yang kau dapat perbuat atas dirinya?"

"Harus dibunuh !"

"Dengan alasan apa kau hendak mencabut jiwa orang ?"

"Bagi setiap orang yang berani melanggar ketentuan golongan kita, kalau tidak menyerah harus dibunuh!"

"Sekarang dia berada didalam gua Lohu ini, tiada alasan kau mencari perkara dengan dia."

"Hm, kau sendiri sebagai tahanan, pesakitan loyo, apa yang dapat kau lakakan?"

"Hahahahahahaha ... ,"

Dari dasar gua sana mendadak terdengar kumandang gelak tawa panjang yang bergema keras menggetarkan bumi memekakkan telinga. Begitu lenyap suara gelak tawa lantas terdengar suara Li Hian berkata.

"Mengandal Rasul jubah abu-abu macam tampangmu ini, kukira kau takkan berani!"

"Hehehehehe .... kenapa kau tidak berani..."

Saat itulah suara Li Hian berkumandang lagi di pinggir telinga Giok-liong.

"Buyung, jangan takut, silakan kau turun tangan menggebahnya, asal kau tidak bergeser dari tempat dudukmu, Lohu dapat menyalurkan tenaga dalam untuk membantumu mengusir dia. Sebetulnya Giok-liong belum pernah berlatih cara mengirim gelombang suara, tapi dia tahu caranya, Maka wajahnya lantas mengunjuk senyuman, menghimpun tenaga lantas ia mendesak suaranya menjadi lirih sekecil benang menyusup kedasar gua.

"Harap Cian-pwe tidak menjadi kuatir, Wanpwe percaya berkelebihan dapat mengatasi manusia macam setan ini."

Dari dasar gua terdengar si orang tua berseru kejut, katanya.

"Wah buyung, kiranya Lwekangmu memang sangat hebat dan kuat!"

"Terima kasih akan perhatian Cian-pwe ini?"

Mereka mengobrol terjadi dalam waktu yang sangat singkat sekali. Tapi agaknya si rasul jubah abu-abu sudah tidak sabaran menunggu, katanya dengan nada tinggi-kepada Giok-liong.

"Bocah, mau menyerah atau rela mati?"

Sambil tersenyum lebar Giok-liong pelan-pelan berdiri, benda yang melekat di belakangnya itu lantas di tarik kembali.

Melihat Giok liong tersenyum lebar ke-arahnya, rasul jubah merah menjadi salah sangka ujarnya cemberut.

"Bocah jadi kau sudi menyerah?"

Melihat cecongor orang yang begitu takabur dan sombong sekali, timbul rasa muak dalam benak Giok-liong, kedua pipinya lantas bersemu merah, tapi sikap dan emosinya menjadi semakin dingin membeku, kedua matanya mendadak memancarkan sorot yang bernafsu membunuh, suaranya terdengar kaku.

"Tuan ingin aku turun tangan, atau lebih baik tuan sendiri bunuh diri?"

Begitu pandangan mereka bentrok bertingkat kaget si rasuI jubah abu-abu.

Tapi hatinya lantas memikirkan suatu keumpamaan.

Tidak mungkin!

dengan usianya yang masih muda ini, seumpama sejak berada dalam kandungan ibunya ia sudah berlatih selama dua puluh tahun, tingkat kepandaian silatnya tidak mungkin bisa mencapai sedemikian tinggi, Lwekangnya juga tidak mungkin begitu kuat!

Mungkin hanya sepasang matanya itu yang luar biasa."

Karena perumpaannya ini lantas kembali ia percaya akan kemampuannya sendiri, mendongak ia terkekeh-kekeh lantang, ujarnya.

"Bocah yang sombong, kalau Pun-sucia langsung turun tangan, pasti kau akan menyesal setelah terlambat!"

Sikap Giok-Iiong sekarang juga semakin kaku, air mukanya semakin bersemu merah, ujarnya.

"Kalau tuan tidak segera turun tangan bunuh diri, agaknya minta aku yang rendah turun tangan sendiri bukan?"

Mendadak Rasul jubah abu abu mengakak panjang, seiring dengan kumandang gelak tawanya ini tiba-tiba tubuhnya melayang seringan burung kepinis seperti bayangan setan layaknya menyerbu tiba.

Giok-liong mandah berkecek mulut, serunya.

"Mari, kita bermain dipelataran sana yang lebar."

Sekali berkelebat "wut"

Kencang sekali tubuhnya meluncur memberosot lewat dipinggir tubuh rasul jubah abu-abu keluar gua. Samar ramar kupingnya mendengar helaan napas serta kata-kata.

"Patah tumbuh hilang berganti, tunas muda tumbuh lebih cepat melangkahi yang tua ..."

Begitu rasul jubah abu-abu sampai diluar gua, tampak Giok-liong sudah menunggu di luar gua puluhan tombak jauhnya tengah menggendong tangan seenaknya.

Melihat ia melayang datang lantas unjuk senyuman, katanya .

"Tuan kau sudah hampir masuk ke liang kubur, berlakulah sabar dan janganlah tergesa-gesa, kalau tidak bila tulang belulang dalam tubuhnya patah atau retak tak enak rasanya lho !"

Keruan bukan kepalang gusar rasul jubah abu abu dikocok demikian rupa, tiba tiba ia hentikan luncuran tubuhnya, seperti tongkat yang terpaku di tanah ia berdiri tegak, dengan nada dingin yang menakutkan ia berkata.

"Bocah sebutkan namamu untuk terima kematian !"

"Aku yang rendah tak lain tak bukan Ma Giok liong !"

"Ma Giok liong ?"

"Itulah aku yang rendah !"

"Henehehe, dicari sampai sepatu besi bejat tidak ketemu, kiranya ketemu disini tanpa mengeluarkan tenaga ! Hebehehe..."

Giok liong mandah berdiri dengan sikap dingin melihat tingkah laku orang yang kehilangan kontrol terhadap diri sendiri sampai suara gelak tawa orang berhenti, baru ia membuka mulut.

"Sudah cukup tertawa tuan ?"

Rasul jubah abu-abu memang sudah menghentikan tawanya, kedua matanya memancarkan sinar aneh, katanya.

"Ma Giok-liong, kalau kau mau menyerahkan seruling samber nyawa dan menjadi anggota kita. Bolehlah Punsu cia mewakili kau lapor kepada Kokcu, membantumu menuntut balas memberantas seluruh musuhmu, sehingga kau dapat hidup mewah bahagia ..."

"Kentut ! Aku Ma Giok liong seorang laki-laki yang kenal apa artinya kebajikan dan kebaikan, mana sudi bergaul dengan manusia macam kalian seperti setan gentayangan !"

Rasul jubah abu abu menjengek dingin, katanya.

"Kuharap Tuan berpikir dan berpikir lagi secara cermat, Kalau kau tidak mau melulusi bayangkanlah akibatnya."

Saking dongkol Giok liong terbahak-bahak selepas tawanya, serunya.

"Jikalau tuan mudamu ini takut pada congormu, sia sialah aku bernama julukan Kim-pit-jan -hun !"

Sepasang mata Rasul jubah merah semakin memancarkan nafsu membunuh, suaranya semakin tertekan dingin.

"Baik sekarang kuberi kesempatan untuk kau berpikir..."

"Hahahaha, kau ada kemampuan apa, silakan keluarkan!"

Rasul jubah abu-abu membanting kaki dan serunya keras.

"Buyung, jangan kira Li Hian bisa menjadi tulang punggungmu lantas bersikap begitu takabur. Ketahuilah. sampai besok pagi waktu matahari terbit baru genap lima puluh tahun ia dapat keluar dari kurungannya itu. Sebelum menjelang pagi setindakpun dia tidak boleh berkisar dari dalam gua ini! Maka, hehe, seandainya ia berniat membantu kau juga tiada mampu lagi."

Maksud tujuan ucapannya ini kepihak hendak memperingatkan kepada Giok liong janganlah menarik Li Hian sebagai pembantu utama, dilain pihak juga memberitahu kepada Li Hian tidak boleh melanggar janji keluar gua.

Mendengar obrolan orang ini, ujung mulut Giok-liong menyungging senyum sinis, katayna menjengek.

"Hanya mengandal pokrol bambu macammu yang tengik ini masa perlu membikin cape Li-cian-pwe! "

Dasar keras kepala rasul jubah abu-abu mandah kekehkekeh, tiba-tiba bayangannya berkelebat secepat kilat laksana setan gentayangan terus menubruk ke arah Giok liong, sembari menghardik rendah.

"Kunyuk, arak suguhan kau tidak mau sebaliknya minta dihukum, janganlah kau salahkan Pun su-cia tidak kenal kasihan"

Sembari menubruk maju itu tiba-tiba tangan kirinya diayun ke atas, maka meluncurlah selarik cahaya api warna abu-abu dengan bunyi suitan yang menembus angkasa.

Terang tujuannya adalah memanggil bala bantuan teman-temannya, bahwa di tempat ini telah terjadi peristiwa besar.

Tatkala itulah suara Li Hian itu telah membisiki lagi di telinga Giok-liong.

"Buyung, jangan kau memandang rendah musuhmu jikalau tidak kuat bertahan lekaslah mundur kembali kedalam gua, Lohu masih dapat membantumu."

Giok-lioog mengerahkan Ji-lo, berbareng tubuhnya menggeser kedudukan ke sebelah kiri untuk bertemu dari rangsangan musuh, mulutnya tampak berkemik.

"Harap Cianpwe berlega hati. Wanpwe pasti takkan ceroboh menghadapi setan alas ini."

Baru selesai ia berkata Rasul jubah abu-abu sudah berhadapan ditengah udara dengan dirinya, Giok liong menyeringai dingin, sebat sekali tangan kanannya menjojoh, lima jalur angin kencang mendesis keluar langsung mencengkeram ke bawah ketiak rasul jubah abu-abu.

Dalam saat genting itulah samar-samar terdengar seruan Li Hian berkata.

"..... awas panah tanpa bayangan..." (BERSAMBUNG

Jilid KE 12)

Jilid 12 Terdengar rasul jubah abu-abu membentak.

"Bocah keparat, kiranya boleh juga ,.."

Masih terapung ditengah udara tiba-tiba ia meliukkan pinggang terus jumpalitan dengan gaya yang indah, kini ia berada di belakang Giok-liong lebih atas, dimana jubah panjang nya kelihatan melambai-lambai, mendadak ia perdengarkan serentetan gelombang tawa yang menusuk telinga, segulung angin dingin yang kencang membawa bau amis yang memuakkan langsung menerjang ke punggung Giok-liong.

Dilihat expresi wajahnya yang kaku membesi tak kelihatan perubahan apa-apa, tapi dari sorot matanya yang buas jalang terlihatlah nafsunya yang besar ingin membunuh, seringai sadis membayangkan pada pandang yang penuh kepuasan.

Mereka meluncur lewat benda pundak ditengah udara ini kejadian dalam sekejap mata saja, Tapi dalam waktu yang singkat ini rasul jubah abu-abu dapat jumpalitan melambung lebih tinggi sambil melancarkan serangan ganas dengan cara membokong menyerang punggung Giok-liong, terang kedudukan lebih menguntungkan.

Terang gamblang serangan angin dingin kencang itu sudah menggulung kearah punggung Giok-liong, namun rasul jubah abu-abu rasanya masih belum puas, kelima jarinya mendadak terjulur keluar dan lengan bajunya beruntun menjentik lima kali, maka lima utas uap putih yang samar-samar hampir tak terlihat oleh pandangan mata secepat kilat melesat terbagi atas tengah dan bawah menyerang kelima tempat jalan darah mematikan ditubah Giok-liong.

Bukan sampai sebegitu saja lihay serangan ini, terasa oleh Giok Iiong sekitar tubuhnya kini telah terkekang dan tertutup rapat oleh kebutan angin dingin yang dilancarkan oleh rasul jubah abu abu tadi.

Lapat-lapat terdengar helaan napas sedih dari dalam gua.

"Bocah ini terlalu membawa adat sendiri, oh sungguh tidak beruntung!"

Suaranya semakin lirih dan pilu, naga-naganya Li Hian seperti memejamkan mata tak tega melihat lagi.

Secara tiba-tiba terdengar lima macam irama seruling mengalun tinggi menggetarkan bumi memecahkan batu, Didalam gelanggang tiba-tiba timbul selarik sinar putih menari-nari laksana naga hidup.

Lantas terdengar jeritan ngeri yang memecah kesunyian malam.

"Bluk !"

Keras sekali badan rasul jubah abu abu terbanting diatas tanah sejauh lima tombak, darah mengalir deras dari lubang panca inderanya, setelah berkelojotan sekian lama lantas tak bergerak lagi, jiwanya melayang.

Sementara itu dengan tenang Giok liong berdiri tegak di samping sana tangan kanan menggenggam Seruling samber nyawa, air mukanya merah membara, mulutnya menggumam.

"sungguh berbahaya ! senjata berbisa yang jahat ini benarbenar lihay!"

Dari dalam gua terdengar pula suara Li Hian berkata .

"Buyung, lebih baik kau masuk saja kedalam gua sini Terang kau sudah mengikat permusuhan dengan pihak Hian-bing-mokek ! Masuklah biar Loltu lebih tegas melihat wajahmu..."

Dari nadanya ini terang telah timbul rasa simpatik dalam benaknya terhadap Giok liong.

Giok-liong sendiri juga merasa kecut dan terkam mendengar nada perkataan orang yang penuh welas asih dan prihatin, hampir tak tertahan ia mengalirkan air mata.

sudah lama sekali tiada seorang orang tua pernah berkata sebegitu cinta kasih terhadap dirinya.

Maka segera ia menyahut perlahan.

"Baiklah, Lo-cian-pwe !"

Lalu seruling samber nyawa diselipkan diikat pinggangnya berputar tubuh terus melangkah kedalam gua. Tapi baru saja ia melangkah berapa tindak, tiba-tiba terdengar bentakan dingin dari belakangnya.

"Berhenti!"

Kesiur angin dingin yang membekukan juga segera melingkari sekitar tanah lapang diluar gua itu.

Sigap sekali Giok-liong membalik tubuh, Tampak dibelakangnya beranjak puluhan tombak disana berjajar berdiri empat orang yang mengenakan pakaian seperti rasul jubah abu-abu tadi.

selayang pandang saja lantas bergetar perasaan Giok-liong.

Bukan saja cara berpakaian besar tinggi badan mereka yang sama, sampai wajahdan raut muka mereka juga persis benar, malah kaku dingin tanpa emosi lagi seperti wajah mayat hidup.

Setelah membalik badan Giok-liong juga mandah berdiam diri, hadap berhadapan tanpa membuka suara sekecappun, namun diam-diam otaknya berpikir cara bagaimana hendak menghadapi pendatang baru ini.

Diukur dari kepandaian silat dan Lwekang rasul jubah abuabu yang mampus itu terang masih setingkat dibawah kemampuannya.

Tapi bila kepandaian silat keempat rasul jubah abu-abu ini juga setarap dengan yang telah mampus itu, dengan gabungan kekuatan rnereka, payahlah pasti dirinya.

Sementara itu, tanpa bersuara keempat rasul jubah abu-abu sudah beranjak maju semakin dekat, Otak Giok-liong berputar cepat sekali sayang sekian lama ini tak terpikirkan olehnya cara yang tepat untuk menghadapi mereka.

Akhirnya ia ambil keputusan yang drastis.

"Permusuhan ini relatif sudah terjadi, sifat merekapun begitu buas tanpa perikemanusiaan, Berantas dan bunuh mereka habis-habisan!"

Waktu dia ambil ketetapan hati ini, keempat rasul jubah ibu abu sudah mendekat beranjak delapan tombak.

Wajah Giok-liong mulai bersemu merah nafsu membunuh sudah mencorong dari sorot matanya, pelan-pelan dirogohnya Kim-pit dan Jan hun-ti serta dicekal kencang-kencang, menarik napas panjang ia kerahkan Ji-lo berputar melindungi badan, dalam segala waktu ia bisa segera melancarkan seluruh kekuatannya untuk merobohkan musuh.

Tapi sikap ia berdiri rada acuh tak acuh kelihatan seperti tiada minat untuk bertempur.

Kupingnya mendengar pula bisikan Li-Hian berkata.

"Buyung, lekas masuk kemari, kau bukan menjadi tandingan mereka."

Nada perkataannya mengandung rasa kuatir dan gelisah. Dengan lemah lembut Giok-liong menyahut.

"Harap Cianpwe lega hati, Wanpwe pasti tidak akan menanggung kerugian! "-lalu pelan-pelan ia pejamkan mata untuk menutupi sorot matanya yang sudah membara penuh nafsa membunuh. Para rasul jubah abu abu sekarang sudah semakin dekat, malah berpencar membentuk setengah lingkaran terus memapak maju ketengah gelanggang. Kelopak mata Giok-liong merem melek, matanya hampir terpejam tinggal sebaris pandangan saja daIam penglihatannya, Ujung mulutnya juga mulai menyungging senyum ejek. Angin dingin menghembus rada keras melambaikan jubah putih Giok-liong, seperti sebatang pohon yang berdiri kokoh diterpa hujan baju dengan angker dan tenang ia berdiri dengan sikap gagah. Hening, melingkupi seluruh gelanggang seakan akan tiada insan penghidupan disekeliling ini, hawa membunuh semakin tebal melingkupi sanubari mereka. Serentak secara tiba-tiba keempat rasul jubah abu abu meluncur lurus menerjang kearah Giok-liong, pertempuran mati matian sudah tak mungkin terhindar lagi. Sekonyong-konyong rasul jubah abu abu nomer dua mendengus rendah, seketika empat suitan nyaring menembus angkasa, Berbareng bayangan abu abu yang bergerak lincah dengan kecepatan luar biasa membawa deru angin pukulan yang dahsyat dingin membeku menggulung tiba kearah Giokliong. Dari pengalaman tempur dengan rasul jubah abu-abu yang dibunuhnya tadi Giok-liong tahu bahwa mereka pasti juga membekal senjata rahasia yang jahat dan berisi, malah kepandaian silat yang mereka latih juga dari aliran amgi yang beracun lagi, Maka dengan berdiri tekun menghimpun semangat meski matanya rada merem melek, hakekatnya ia siap siaga mengawasi gerak gerik musuh dan siap menghadapinya. Baru saja keempat bayangan musuh meluncur dekat masih sejarak satu tombak, tubuh Giok-liong mendadak mengepulkan uap putih terus merembes dan meluas kesekitarnya. Semakin dekat Iuncuran keempat bayangan musuh semakin cepat udara sekitar gelanggang mendadak dilingkupi hawa dingin dan mega mendung. Bayangan kepalan dan telapak tangan pukulan laksana bunga salju menari-nari menerjang dan menyerang keperbagai jalan darah besar yang mematikan di tubuh Giokliong. Bayangan orang berseliweran, deru angin kencang mengamuk bergelombang besar, pekik pertempuran menambah ramai suasana arena perkelahian. Irama seruling mulai mengalun tinggi, sebuah bayang putih membawa tarikan sinar putih dan kuning melambung tinggi ketengah udara, ditengah udara menekuk pinggang sambil membentang kedua tangannya, dua jalur cahaya kuning dan putih lantas berputar memenuhi angkasa laksana naga mengamuk di tengah awan membawa deru gemuruh terus menyapu turun kearah keempat rasul jubah abu-abu. Agaknya keempat rasul jubah abu-abu tidak mengira bahwa pemuda baju putih yang kelihaian lemah lembut ini kiranya membekal ilmu silat dan tenaga dalam yang begitu hebat dan lihay. Saking kagetnya sedikit mereka tertegun irama seruling sudah mengalun dan angin keras juga sudah menyampuk tiba didepan muka, berbareng dua jalur sinar kuning dan putih juga sudah menyapu dan menyerampang datang. Dalam saat saat genting ini mereka berempat saling memberi tanda lalu serempak meloncat tinggi ketengah udara dan meluncur kesamping. Gagal dalam serangannya ini, Giok-liong lantas bersuit panjang nyaring, dimana badannya bergerak seketika ia lancarkan ilmu ajaran Jan-hun-su-sek. Sebuah bayangan putih laksana bayangan dedemit bergerak lincah secepat kilat, tubuhnya dijabat sinar kuning putih dan cemerlang mengeluarkan cahaya putih perak, begitu indah dan menakjupkan benar gerakannya sehingga keempat rasul jubah abu-abu hakikatnya terkekang, dalam serangan potlot mas dan seruling samber nyawa. Tapi keempat rasul jubah abu-abu juga bukan kaum kroco belaka ? Dengan bergabung mereka merangsak semakin hebat meronta seperti binatang dalam kurungan kabut gelap dan angin dingin menghembus keras menderu-deru, empat bayangan abu-abu bergerak limbung seperti setan gentayangan, meski serangan Giok-liong sedemikian gencar dan hebat, tapi mereka masih sekuatnya melawan dan balas menyerang dengan tidak kalah ganas dan lihay. Pertempuran semakin menjadi kacau balau, ditengah udara sekitar gelanggang terbayang mempetakan sebuah bundaran berwarna warni laksana bola kembang. Diatas bundaran bola kembang ini selain kelihatan sebuah bayangan putih bergerak dengan kecepatan seperti kilat, adalah yang paling menyolok mata dua sinar kuning putih yang meluncur memanjang laksana dua ekor naga yang menari lincah sekali. Adalah bola bundar berkembang itu hakikatnya bukan lain adalah kabut gelap dan mega putih yang bergulung berputar. Demikianlah pemandangan dari jauh. Kalau didekati maka dapatlah diketahui bahwa dari tengah-tengah kabut bundar itu saban-saban terdengar ledakan yang menghamburkan batupecah dan tanah, dahan dan daun pohon juga tidak ketinggalan beterbangan, malah mengeluarkan suara gemuruh lagi. Sekali serang tadi sebetulnya bermaksud menggetar menyiutkan nyali pihak lawannya membobol kepungan mereka. Diluar perhitungannya bahwa kepandaian lawan

Tiraikasih WEBSITE

http.//kangzusi.com/ lawannya ternyata begitu lihay sekian lama mereka jadi sama kuat alias setali delapan uang. Sang waktu berjalan terus tanpa menanti hati Giok-liong menjadi gelisah.

"Bagaimana bila pihak Hiau bing-mo kek datang bala bantuan lagi ?"

Demikian batinnya.

Baru saja ia berpikir demikian, diujung timur sana berkumandang sebuah suitan yang melengking tinggi menembus awan, dengan kecepatan yang susah diukur tengah meluncur mendatang .

Begita mendengar suara lengking suitan ini, lantas Giokliong tahu bahwa pihak lawan kedatangan lagi seorang kosen yang berkepandaian lebih tinggi dari keempat lawannya ini.

Maka segera ia kerahkan seluruh hawa murninya, tangan kanan memainkan potlot mas dengan tipu Kang-sim-sek-bun (mengejutkan hati kehilangan sukma) sedang tangan kiri dengan bersenjatakan seruling samber nyawa menggunakan jurus Toan-bing-jao hun (kehilangan nyawa sukma tersiksa).

Jurus tipu ini terbagi dalam delapan gerakan yang berantai, seketika angin badai bergulung-gulung, pancaran sinar putih kuning semakin cemerlang, dimana mega putih menerjang dengan kekuatan dahsyat, seketika terdengar dua jeritan yang mengerikan lalu disusul ledakan keras yang menggetarkan bayangan orang terus berpencaran kabut masih tebal dan mengurung sekitar gelanggang.

Dua bayangan abu-abu membawa aliran darah yang deras terpental sungsang sumbel terbanting keras puluhan tombak jauhnya, setelah tergulung-gulung ditanah lantas tak bergerak lagi, sebaliknya kedua rasul jubah abu-abu lainnya matanya malah memancarkan sorot kegirangan tercampur rasa kejut berbareng mereka melejit mundur delapan tombak jauhnya dengan pandangan dingin mendelik tanpa bergerak mereka memandang kearah Giok-liong dengan berkedip.

Adalah jantung Giok liong bergejolak keras sekali, mata berkunang dan kepala pusing sehingga tak kuat berdiri tegak, beruntun ia tersurut mundur puluhan langkah baru berdiri tegak pula.

Lekas lekas ia himpun semangat dan kerahkan tenaga murni untuk memulihkan pernapasannya yang memburu.

Giok liong insaf bahwa pertempuran lebih dahsyat bakal dihadapinya.

Belum lenyap dugaannya, terdengarlah kesiur angin ringan tahu-tahu ditengah gelanggang sudah bertambah seorang, orang aneh yang mengenakan jubah panjang warna hitam gelap, berwajah hitam pula dengan sikap kaku dan dingin.

Begitu orang aneh jubah hitam itu muncul, kedua rasu!

jubah abu abu itu lantas menyembah serta menyapa hormat.

"Rasul jubah abu-abu menghadap pada Hek-i-tong cu."

Terdengar Hek i-tong cu mendenguskan hidungnya, sekilas ia menyapu pandang kearah tiga mayat rasul jubah abu abu jengeknya dingin.

"Inikah hasil kalian?"

Kedua rasoi jubah abu-abu tidak berani bercuit sekian lama mereka menyambai tak berani bersuara dan bergerak akhirnya baru berkata dengan suara lirih.

"pihak musuh terlalu kuat malah membekal senjata pusaka seruling samber nyawa."

Teriihat badan Hek-i Tong-cu rada tergetar tercetus seruan kaget dari mututnya.

"Siapa?"

"Kim-pit-jan hun Ma Giok-liong!"

Pandangan Hek i Tong-cu penuh selidik melirik kearah Giok-liong yang berdiri tenang dengan tangan bertolak pinggang, menatapnya tanpa menunjukkan sesuatu mimik perubahan, tapi nada perkataannya rada ragu dan kurang percaya.

"Dia inikah?"

Kedua rasul jubah abu-abu manggut-manggut berbareng sambil mengiakan. Kata Hek i Tong cu.

"Yang mati siap dibawa puIang, yang luka diberi obat."

Kedua rasul jubah abu-abu mengiakan sambil membungkuk badan, lalu tinggal pergi mengurus ketiga kawannya yang luka-luka dan meninggal.

Dengan pandangan matanya yang tajam berkilat Hek-i Tong-cu tatap Giok liong lalu maju menghampiri dengan langkah lebar.

Angin malam menghembus keras sampai jubah panjang warna hitam yang dipakainya itu berbunyi melambai, demikian juga rambutnya yang hitam panjang menjadi riap riapan menari-nari.

Hanya dua titik sinar matanya yang berkilat itulah yang jelas mencorong dari badannya yang serba hitam, bagi yang bernyali kecil pasti ketakutan melihat rupanya bagai setan.

Belum orangnya sampai sudah terasa hawa sekelilingnya menjadi dingin mendesak kearah Giok liong membuatnya susah bernapas.

setelah mengamati dengan seksama Giokliong berpendapat bahwa Tong cu ini bersikap cukup tabah dan tenang, gerak geriknya sangat tangkas, jalan napasnya begitu ringan ini menandakan tenaga dalamnya sangat kokoh.

Kalau dibanding dirinya, paling tidak masih setingkat berada lebih atas.

Dengan pendapatannya ini hatinya menjadi kaget, pikirnya.

"Tokoh macam apakah sebetulnya Kek-cu ( pemimpin) dari Hian-bing-mo kek ini? Anak buahnya dari para rasul sampai Tong-cunya ini rata-rata berkepandaian begitu tinggi, Kalau anak buahnya saja sudah begini lihay maka dapatlah dibayangkan sifat pemimpinnya tentu hebat luar biasa."

Kira kira jarak tiga empat kaki dihadapan Giok-Iiong baru Hek-i Tong-cu menghentikan langkannya, dari kebawah ia amati lagi seluruh badan Giok-liong, lalu katanya sambil menyeringai dingin.

"Tuan adalah Ma Giok liong ?". Melihat orang mendesak sampai sedemikian dekat baru menghentikan langkah, diam-diam Giok-liong menjadi merinding, seumpama lawan mendadak turun tangan membokong sungguh sukar dijaga dan sungguh berbahaya, sebaliknya kalau dirinya turun tangan lebih dulu, agaknya sangat memalukan. Demikian dalam hati berpikir, mulutnya menyahut .

"Aku yang rendah benar Ma Giok liong adanya ! siapakah tuan ini ?"

"Kami merupakan salah satu diantara delapan belas Tongcu yang dipimbing oleh Hian-bing-mo-kek Kek cu !"

"Dimanakah letak Hian-bing mo-kek kalian ? selamanya aku yang rendah belum pernah dengar di kalangan Kangouw ada suatu organisasi macam Hian-bing-mo kek ini?"

Nada suara Hek i Tong cu selalu terdengar kaku sember sepatah demi sepatah tanpa irama.

Demikian juga mimik raut mukanya kaku membesi tanpa bergerak sedikitpun tidak terlihat expresi wajahnya, hanya sepasang sorot matanya itu yang memancarkan cahaya dingin masih dapat mengunjuk perubahan isi hatinya.

Tapi kala ini sorot matanya tidak berubah, suaranya senadakannya dingin.

"Tuan masih berusia muda sudah tentu belum pernah dengar perihal Hian-bing mo-kek, Kalau tuan sudah pernah dengar ketenaran nama organisasi kita ini. tentu tuan tidak batal berani turun tangan begitu kejam terhadap para rasul kita."

Ucapannya ini tak lain berarti.

"seumpama ilmu silatmu tinggi, sayang usiamu masih sangat muda. Begitu sempit pengalamanmu sampai Hian-bing-mo kek yang begitu tenar ditakuti orangpun kau belum pernah dengar, maka tidaklah heran kau berani berlaku lancang dan bertangan gapah "

Sudah tentu Giok-liong juga maklum akan isi kata-katanya ini, sahutnya.

"Mereka setimpal dihukum mati karena perbuatan yang kurang ajar, bukan menjadi dosaku malah."

"Hm ! Mereka kurang pandai belajar silat sehingga membikin malu nama baik wibawa Hian bing-mo,kek, nanti kalau pulang pasti mendapat ganjaran yang setimpal. Tapi kwatir kau sendiri tidak bisa lepas dari keadaan ini."

"Aku juga kwatir tuan tidak dapat melaksanakan seperti apa yang telah terjadi."

"Sudah tentu aku punya cara lain untuk menyelesaikan ?"

"Coba terangkan !"

"Pertama, serahkan seruling samber nyawa dan menghamba diri dibawah matian Kek-cu, hidupmu akan senang dan banyak mendapat kebaikan. Kedua, kalau tuan tidak ingin serahkan seruling samber nyawa itu kepadaku, bolehlah kau serahkan sendiri kepada Kek cu, tentu Kek cu tidak menyia-nyiakan kebaikanmu ini. Ketiga, tuan harus berkorban demi seruling samber nyawa itu, biarlah aku yang bawa pulang seruling sarnber nyawa ini, tentang jenazahmu kita akan mengurusnya dengan upacara besar. Keempat, kalau tuan mempunyai syarat apa silahkan sebutkan, pasti Kek cu tidak akan membuat tuan merasa kehilangan."

"Kalau satupun aku tidak mau pilih syarat tuan ini bagaimana ?"

"Tuan harus pilih satu diantaranya."

"Kalau tidak ?"

Tanpa bersuara lagi Hek-i Tongcu mundur tiga langkah, tangan kiri diayun keatas.

Sebuah benda bundar kecil meluncur dan meledak di udara membawa cahaya terang menyolok mata berbunyi nyaring kumandang ditengah malam nan gelap diatas alas pegunungan ini.

Baru saja cahaya ini meluncur setengah jalan, dari kejauhan sana lantas terdengar suara suitan saling bersahutan, sekejap saja suaranya sudah meluncur dekat.

Berkelebatlah beberapa bayangan abu-abu, tahu-tahu dipinggir gelanggang sudah bertambah sepuluh rasul jubah abu-abu, pakaian serta bentuk badan dan muka mereka sama, hanya kesepuluh rasul jubah abu-abu yang baru datang ini pinggangnya digubat sabuk hitam.

Begitu muncul lantas berpencar membentuk satu bundaran, dan Giok-liong dan Hek-i Tong-cu terkepung ditengah gelanggang, sekejappun tiada yang buka suara atau berani sembarangan bergerak.

Baru saja lingkaran pengepung ini bergerak rapi, tiba tiba tiga titik bayangan orang meluncur datang dari hutan semak belukar sana sambil bersuit nyaring menggetarkan sukma memekakkan telinga.

Begitu mendarat di sana sedikitpun kaki mereka tidak mengeluarkan suara atau menimbulkan debu mengepul.

Dengan tegak mereka berdiri bagaikan terpaku, mereka tak lain tak bukan adalah tiga orang Hek-i Tong-cu lagi, tepat sekali mereka berdiri berpencar diempat penjuru dalam lingkungan kepungan para rasul jubah abu-abu, jadi Giok-liong terkurung lapis dua.

Untuk selanjutnya masih terdengar suara lambai baju berseliweran, dari empat penjuru yang gelap sana mendadak bermunculan lagi tiga puluhan rasul jubah abu abu, dengan gerak cepat dan langkah ringan mereka membentuk suatu barisan, lalu berdiri tegak berdiam diri menanti komado.

Sekilas pandang lantas Giok-liong bercekat, dalam hati ia menimbang.

"Meski aku belum pernah belajar ilmu barisan, tapi formasi sesuatu barisan yang umum sudah sering kulihat malah mengetahui cara membobolnya. Tapi barisan yang mereka bentuk ini sungguh sangat aneh, seperti Su li-tin, tapi juga seperti Pat kwa-tin atau Ngo-heng-tin..."

Hek-i Tongcu yang terdahulu datang tadi melirik kearah Giok-liang lalu bertanya.

"Apakah tuan punya pegangan untuk menang melawan kekuatan gabungan kita berempat Hek-i Tong-cu ?"

Waktu ketiga Hek i Toog-cu yang ada datang tadi, Giokliong sudah melihat jelas cara gerak mereka adalah begitu cekatan dan tangkas sekali, paling tidak lebih unggul dari para tokoh kelas satu dari kalangan Kangouw umumnya.

Kalau benar-benar mereka bergabung mengeroyok dirinya, mungkin dalam dua puluh gebrakan saja dirinya takkan kuat bertahan.

"Maka menurut hematku lebih baik tuan memilih salah satu syarat yang ku ajukan tadi, kalau tidak bila benar benar bertempur bukan saja kalah malah teringkus lagi, buat nama dan muka nanti tentu tidak enak di dengar dan memalukan bukan?"

Hawa amarah seketika bergelak menerjang otak Giok-liong, Sekuatnya ia menahan napas dan mengendalikan diri, baru dapat mengekang sabar sekian lamanya, tapi bahwasanya otaknya bekerja cepat memikirkan cara bagaimana menghadapi atau mengatasi situasi yang gawat dan berbahaya ini.

Bila ia melulusi untuk menepati janji mengunjungi Hianbing-mo-kek itu berarti bahwa dirinya harus masuk mulut harimau, sampai pada saat itu apa yang dapat dilakukan dirinya tidak lain menjadi antek atau mengekor saja apa yang mereka perintahkan atas dirinya.

Namun seumpama menolak undangan ini, kalau kena digusur dan terbinasa inipun tidak menguntungkan bagi dirinya.

Sekonyong-konyong suara Li Fian berkumandang dipinggir telinganya.

"Buyung, dilihat dari situasi yang kau hadapi ini, terpaksa kau harus, melulusi permintaan mereka! Ketua mereka bukan seorang yang tidak mengenal aturan. Kalau kau mempunyai akal dan pintar memutar haluan, mungkin akibatnya baik dari pada keadaan sekarang bila kau melawan dengan kekerasan. Para Tong-cu ini rata-rata memliki kepandaian silat yang lihay dan banyak ragamnya, bukan tandingan sembarang tandingan."

Otak Giok liong berkeljat, sesuatu pikiran, katanya kepada Hek-i Tong-cu itu.

"Baik, Kuputuskan untuk menemui ketua kalian!"

"Yah, itulah baik sekali!"

"Tapi bukan sekarang?"

"Ini, lantas..."

"Sekarang aku punya urusan penting yang mendesak, kalau kalian percaya akan omonganku, apa bedanya kita bertemu lagi tiga bulan yang akan datang?"

Hek-i Tonf!-cu menjengek dingin.

"Hian-bing-mo-kek mana gampang ditipu orang ! Baik, tiga bulan yang akan datang kita nantikan kedatanganmu dipuncak ia hong-gay di gunung Bu lay san."

Habis berkata lantas ia berpaling menghadap ketiga Hek-i Tong-cu lainnya serta katanya.

"Terima kasih akan kedatangan para saudara."

Sembari mengulap tangan tubuhnya bergerak gesit sekali ia pimpin para rasul jubah abuabu terus menghilang dibalik hutan sebelah kiri yang gelap gulita, ditengah udara kupandang suitan panjang yang bergema lama mengalun tinggi.

Angin malam menghembus keras terasa dingin, sang putri malam sudah mulai doyong kearah barat, kegelapan yang pekat menjelang senja sudah mulai mendatang.

Seorang diri Giok-liong berdiri tegak dan termenung didepan gua dalam atas pegunungan yang sunyi ini, jubah putihnya melambai-lambai terhembus angin.

Dari dalam gua sana terdengar suara Li Hian berkata.

"Nak, marilah masuk mengobrol."

Giok liong mengiakan dengan suara lirih.

Pelan pelan ia masuk kedalam gua.

Diujung kiri dalam gua sana kini sudah duduk seorang tua yang berpakaian butut kasar dan rombeng, rambutnya sudah uban seluruhnya, air mukanya bersemu merah, jidat sebelah kiri kelihatan jelas sekali mengkilap bekas bacokan senjata tajam, orang tua ini bertubuh tinggi kekar.

Sambil melangkah masuk, mendadak Giok-liong merasa hatinya menjadi hampa dan kosong melompong.

Dengan pandangan berkilat orang tua ini menatap tajam kearah Giok-liong, wajahnya menampilkan rasa heran dan tidak percaya, Tapi begitu Giok-liong sudah melangkah dekat lantas ia bersikap biasa lagi, katanya.

"Nak, betulkah nama aslimu adalah Ma Giok-liong?"

"Betul, masa Cianpwe tidak percaya ?"

Li Hian menatapnya sekali, lalu katanya pula.

"Bukan begitu, mendadak Lohu teringat oleh suatu persoalan! Hm, apakah ayah bundamu masih hidup?"

Begitu membicarakan ayah bundanya lantas Giok-liong merasa berduka, kedua matanya menjadi merah dan hampir saja menangis, sahutnya lirih.

"Aku tidak tahu."

"Tidak tahu?"

"Ya, ayah sudah menghilang sejak aku masih kecil! sedang ibu mendapat celaka terbokong oleh musuh laknat, entah bagaimana mati hidupnya sekarang."

Tak tertahan lagi dua titik air mata mengalir membasahi pipinya. Selintas pandangan Li Hian mengunjuk rasa kejut dan tak mengerti, pelan-pelan ia menghela napas serta katanya.

"Nak, janganlah bersedih! Apakah kau tahu nama ibumu? Banyak kawan Lohu di kalangan Kang-ouw, mungkin aku bisa ikut menyirapi!"

Giok-Iiong sadar akan sikapnya yang kehilangan kontrol, cepat ia mengeluarkan sapu tangan untuk menyeka air matanya, ka-tanya. sambil tertawa dibuat-buat.

"Membuat tertawaan Cian pwe saja!"

Lalu ia menyambung lagi.

"Dulu ibu sudah kenamaan dengan julukan Toh hu Siancu, tapi agaknya banyak orang Kangouw yarg tidak mengetahui akan hal ini."

Codet bekas luka di jidat Li Hian itu mendadak seperti melepuh besar merah membara sampai memancarkan sinar berkemilauan.

Terang bahwa hatinya juga ikut terharu dan terbawa arus perasaannya yang tak terkendali lago.

Rada lama kemudian baru ia dapat mengendalikan hatinya seperti biasa lagi, tanyanya.

"Nak, kapan ayahmu telah menghilang? Siapa pula namanya ?"

Giok-liong menggeleng, sahutnya.

"Wan-pwe kurang jelas."

"Ai, sungguh kasihan ... ."

Agaknya Li Hian tenggelam dalam kenangan lama, kedua matanya rada dimeramkan lalu menunduk kepala tak bersuara lagi.

Sebetulnya Giok-liong bermaksud menceritakan apa yang pernah didengar dari cerita ibunya tentang didasar mata air rawa naga beracun di gunung Bu-i san ada peninggalan kata kata ayahmu."

Tapi setelah dipikir kembali kelihatan memang Li Hian sangat prihatin akan riwayat hidupnya ini, namun betapa juga mereka baru saja kenal, dunia persilatan penuh akal dan tipu muslihat kejam yang sering membawa bencana, serba serbi kejadian pernah terjadi maka ada lebih baik tutup mulut saja, karena disadari olehnya bahwa bencana kadang kadang datang dari mulut yang suka bicara.

Sekarang Li Hian angkat kepala lagi, sejenak ia menatap Giok-liong, matanya memancarkan cahaya aneh, tanyanya dengan pelahan.

"Nak, mereka memanggilmu Kim-pit-janhun?"

Giok liong mengiakan.

"Kenapa?"

"Sebab senjata yang Wanpwe gunakan adalah sebatang potlat mas."

"O, siapakah tokoh kosen gurumu itu?"

"Suhu bernama Pang Giok berjulukan To-ji!"

"Ha, beliau? Tak heran ilmu silatmu sedemikian hebat. Tapi ilmu kepandaiannya mungkin tidak banyak unggul dari kemampuan sekarang bukan?"

Giok liong tersenyum, katanya "Mana Waupwe bisa tahu betapa dalam dan tinggi kepandaian Suhu, yang terang kepandaian beliau sudah jauh sempurna.

Meskipun sejak berpisah dengas Suhu memang Wanpwe ada sedikit kemajuan, tapi mana berani dibanding dengan Suhu."

Li Hian menjadi geli, tanyanya lagi.

"Kuduga tentu kau menggembol suatu benda pusaka maka banyak kawanan manusia tamak di-Kangouw itu selalu membuntuti dan mengejar-ngejarmu, sehingga terpaksa kau terdesak dan membunuh orang, bukankah begitu?"

"Ya, benar."

Sahut Giok-liong manggut-manggut."

Wanpwe punya sebatang seruling samber nyawa benda pusaka inilah yang selalu menjadi incaran mereka, mereka selalu menggunakan kekerasan hendak merebut milikku ini, terpaksa Wanpwe harus turun tangan membunuh orang, apalagi kadang-kadang juga sangat dongkol dan susah bertahan lagi!"

"Oleh karena itu mereka lantas menjuluki kau Kim pit-jan hun!"

"Ya, begitulah!"

"Tahukah kau bahwa didalam seruling samber nyawa itu tersembunyi suatu rahasia besar persoalan dunia persilatan?"

"Harap Cian-pwe suka memberi petunjuk."

"Seruling samber nyawa adalah benda kuno yang sakti mandra guna, dari jaman kejaman menjadi tradisi peninggalan yang memilikinya, puluhan tokoh kosen yang pernah memegangnya sudah melebur bergantian dengan kekuatan mereka sehingga benda ini semakin hebat dapat menambah semangat dan kekuatan Lwekang orang yang menggunakannya, seribu tahun yang lalu seruling ini terjatuh ditangan sepasang suami istri suatu cikal bakal aliran persilatan yang kenamaan bernama Jan-hun cu, dengan suatu cara yang teristimewa, mereka menutup atau menyumbal daya sedot yang timbul dari seruling ini pada para pemakainya. Cara yang digunakan itu sudah dilebur kedalam seruling ini dijadikan sebuah lagu irama seruling yang hebat sekali."

Giok-liong menjadi heran dan tak mengerti, tanyanya.

"Seluruh batang bersih kemilau tiada tanda-tanda luar biasa, Wanpwe pernah memeriksa seruling ini dengan seksama, darimana bisa ditiupkan sebuah lagu irama seruling."

Li Hian mengelus-ngelus jenggot panjangnya yang memutih, katanya tertawa.

"Sudah tentu, karena beliau tidak mengukir not lagu itu diatas seruling itu."

"Lalu bagaimana bisa tahu cara bagaimana lagu itu harus ditiup dengan seruling?"

"Kalau Lwekangmu sendiri sudah mencapai tingkat yang sempurna tidak sembarang orang dapat mencapainya, lalu kau kerahkan Lwekang kedalam seruling itu, maka seruling itu akan melagukan beberapa irama seruling yang beraneka macam, ragam dari lagu itu itu tergantung dari kekuatan Lwekang orang yang memilikinya."

"Satu diantara irama lagu itu adalah curahan hasil semayam Jan-hun cu suami istri selama memperdalam ilmunya didalam gua semedinya itu, ada banyak peninggalan hasil jerih payahnya dalam memperdalam dan menyelidiki berbagai ilmu, umpamanya buku-buku ilmu pukulan, pedang serta buku perang serta ilmu pengobatan dan lain lain."

Giok-liong semakin tak mengerti tanyanya lagi.

"Kalau begitu banyak ragam lagu-lagu itu. Lalu dari mana bisa diketahui lagu manakah yang menyatakan petunjuk itu?"

"Rasa kecewa Jan huncu suami sitri selama hidup ini justru tidak memperoleh seorang murid yang baik. Sedang murid satu satunya malah mendirikan sebuah aliran tersendiri diluaran, bukan saja kejam dengan berbagai siksaan malah bersimaharaja puIa. Sudah tentu hal ini membuat mereka sangat sedih dan putus asa, waktu mereka mendengar kabar ini justru sedang saat-saat genting mereka menghadapi latihan ilmunya maka tiada tempo lagi untuk mengurusi murid murtad itu. Tapi mereka suami istri tahu, cepat atau lambat murid murid itu pasti akan menimbulkan bencana bagi dunia persilatan, maka didalam gua semadinya itu mereka meninggalkan hasil ciptaan jerih payah selama bertahun-tahun disana, lalu diatas seruling sambar nyawa itulah mereka meninggalkan kunci rahasia cara mendapatkan peninggalan mereka itu. Harapannya adalah dalam waktu yang tidak lama ini terdapat seorang berbakat dalam segala bidang dapat menerima peninggalannya itu menjadi murid resmi mereka.

"Sayang sekali selama seribu tahun ini, tiada seorangpun yang memperoleh seruling ini yang dapat atau mencocoki taraf yang telah ditentukan itu, juga tiada seorangpun yang dapat memasuki atau menemukan tempat gua semedinya itu. Maka jerih payah hasil ciptaan Jau-hun cu itu juga menjadi khayalan belaka."

Mendengar penjelasan yang panjang lebar ini Giok-liong jadi berpikir.

"Siapakah murid Jan-hun cu dulu itu ? Bukan mustahil adalah cikal bakal Hian-bing-mo-kek atau hutan kematian ?"

Dalam hati ia berpikir mulutnya lamas bertanya.

"siapakah murid Jan-hun cu dulu itu ? Apakata nama aliran yang telah didirikannya itu ?"

"Untuk persoalan ini aku sendiri juga kurang jelas,"

Sahut Li Hian.

"Apa yang tadi saya ceritakan kudengar dari penuturan majikanku dulu."

Terketuk hati Giok-liong! Li Hian masih punya majikan! Baru saja ia hendak bertanya siapakah majikan yang dimaksudkan itu, keburu Li Hian sudah membuka mulut lagi.

"Diluar gua sudah terang tanah, tak lama lagi Lohu harus meninggalkan tempat ini. Mungkin tidak lama lagi kita bakal berjumpa pula di kalangan Kangouw, tatkala itu kita bisa duduk mengobrol panjang lebar lagi memperbincangkan situasi dunia persilatan masa ini ! Waktu itu kalau kau banyak persoalan yang menimpa dinmu, sekuat tenaga Lohu akan membantumu . ."

Belum habis ia bicara, mendadak dari kejauhan sama kumandang gelak tawa yang menggila, suaranya seperti orang kegirangan dan mencak-mencak karena putus lotre, cepat sekali gema gelak tawa itu meluncur datang kearah gua ini.

Lantas terdengarlah sebuah suara serak seperti gembreng pecah berkata diluar gua sana.

"Li Hian bocah kurcaci, tidak lekas keluar kau, Apakah belum cukup derita yang kau terima ini ?"

Giok liong menjadi terperanjat, disangkanya musuh besar Li Hian siapa yang telah tiba lagi, atau anak murid dari Hian bing-mo-kek telah balik kembali.

Kalau Giok-liong merasa khawatir sebaliknya Li Hian mandah tersenyum girang, serunya.

"Kunyuk kalian, tungguh menyenangkan punya teman-teman seperti kalian ! Lima puluh tahun sudah kalian masih ingat untuk datang kemari !"

Lalu ia mendongak dan terawa terbahak bahak juga, begitu keras gema tawanya itu sampai kuping Giok-liong mendengung.

Kini keaaaan diluar gua sudah terang benderang.

Gelak tawa yang ramai tadi berkumandang lagi, terdengar seseorang berkata.

"Bocah keparat Li Hian, agaknya kau tidak pandang sebelah mata pada kawan lama lagi, berani berkata omongan yang tidak enak didengar begitu ayo merangkak keluar, marilah kita bertemu dan bercengkerama akan kulihat macam apa lagi tampangmu yang bagus dulu."

Li Hian berkata kepada Giok-liong.

"Mari kita keluar melihat-lihat ! Hahahaha, lima puluh tahun sudah akhirnya aku bebas kembali,"

Sekali berkelebat ringan sekali tubuhnya melayang keluar gua secepat anak panah.

Giok-liong juga tidak mau ketinggalan ikut melesat keluar gua, Kelihatan diluar gua sana berjajar berdiri tiga orang mengenakan juban putih panjang, dengan rambut kepala ubanan semua, tapi air muka mereka beraneka ragam, berbeda-beda tapi bertubuh tinggi kekar.

Yang berdiri di sebelah kiri bermuka hitam kehijau-hijauan hidungnya bengkok, bermata juling seperti mata garuda sikapnya garang.

Di tengah yang terapit bertubuh tinggi besar hampir setombak lebih, kulit mukanya bersemu merah ungu, jenggot panjang terurai di depan dadanya, matanya besar berkilat sangat galak sekali.

Orang yang berdiri paling kanan lain pula rupanya penuh codet seperti bekas kena penyakit kudis, matanya bundar bermulut lebar besar berjambang bauk lebat, ia berdiri sambil bertolak pinggang sangat gagah dan angker.

Begitu sampai diluar segera Li Hian membungkuk memberi soja kepada mereka sambil berseru.

"Haya, Toako bertiga datang berkunjung bersama, sungguh menyiksa adikmu saja."

Si orang tua yang berdiri ditengah bertubuh kekar besar itu, begitu Li Han melangkah dekat lantas pentang kedua lengannya yang besar kuat memeluk Li Hian dengan kencang, sepasang matanya yang berkilat itu berlinang airmata, suaranya keras dan tertawa aneh.

"Losu beberapa puluh tahun ini, sungguh kau menderita ..."

Dua orang dikanan kiri itu juga merubung datang ikut berpelukan berempat mereka saling bertangisan, melampiaskan rasa rindu sekian lama ini sampai suara tangis yang menggerung-gerung ini bergema didalam alas pegunungan.

Giok-liong berdiri disamping, melihat adegan yang mengharukan ini, hatinya terasa kecut, batinnya.

"Ketiga orang ini kepandaian silatnya pasti sangat hebat tak dibawah Li Hian sendiri, sungguh merasa heran . , . tengah ia berpikir, mereka berempat sudah menghentikan tangisnya. Li Hian memutar tubuh, wajahnya berseri girang, tapi air mata masih meleleh saking kegirangan, katanya kepada Giokliong.

"Harap maaf karena kita sudah lama sekali tidak pernah bertemu .., mari, biar Lohu perkenalkan kepada ketiga Toakoku ini."

Lalu berpaling berkata kepada mereka bertiga.

"Toako, Jiko dan samko, mari kukenalkan seorang sahabat muda Ma Giok liong yang berjuluk Kim pit-jan hun!"

Serentak mereka tertegun memandang kearah Giok-liong.

Giok-liong merasa tiga pasang mata mereka laksana kilat menatap kearah wajahnya sehingga hatinya menjadi bercekat, namun lahirnya tetap tenang malah unjuk senyum wajar, serunya sambil unjuk hormat.

"Wanpwe Ma Giok-liong, selamat bertemu para Cian-pwe!"

Lalu satu persatu Li Hian perkenalkan mereka bertiga.

"Si tinggi besar ditengah itu bernama julukan Kiug-thian-sin La Say sebagai Toako, yang sebelah kiri adalah Wi-thian-ing KLo Biauw sebagai Jiko dan yang terakhir adalah Ka-long Ci Hong. Waktu satu persatu mereka membalas hormat Giok-liong, didapati olehnya sorot pasangan mereka memancarkan sinar aneh yang sulit diselami. Giok-liong tidak tahu apakah sebabnya, Tatkala ini tiada waktu untuk memperhatikan hal ini, maka persoalan ini juga lantas berlalu begitu saja, setelah basa basi sekadarnya lantas King-thiao-sin (malaikat penunggak gunung) Lu Say merangkap tangan didapati dada serta katanya sungguh.

"Losiu berempat sungguh sangat beruntung dapat berkenalan dengan Siau-hiap, sayang sekali waktu memburu kita harus segera kembali Ping goan di laut utara sana, terpaksa tidak banyak waktu untuk saling bercengkrama dengan siauhiap ! Besar harapan kami beberapa waktu lagi kita bisa bertemu dan berkunjung lagi dikalangan Kangouw !"

"ergerak hati Giok-Iiong, ada niatnya hendak menjelaskan tentang keonaran yang bakal menimpa kaum persilatan, diminta mereka suka memberikan bantuannya, namun setelah dipikirkan lebih lanjuf, rasanya rada janggal dan rikuh, P&Fog tidak mereka bakal kembali ke Tiong-goan lagi, tatkala mana pasti pada saatnya mereka bisa bertemu dan ngobrol. Maka segera ia unjuk soja, serunya.

"sungguh besar rejeki Wanpwe dapat berkenalan dengan para Cianpwe yang oiutai. Besar harapan Waupwe kelak dalam waktu yang tidak lama bertemu lagi, masih ada sesuatu hal yang Wanpwe akan minta bantuan dari para Cian-pwe."

King thian-sin berempat berbareng berkata.

"Kelak kalau kita kembali lagi ke Tiong goan, bila Siau-hiap benar-benar memerlukan bantuan kita, menerjang gunung bergolok atau lautan api juga pasti kita lakukan tanpa pamrih."

Habis berkata berbareng bayangan mereka berkelebat membawa kesiur angin yang ringan sekali tahu-tahu bayangan mereka sudah menghilang didalam hutan lebat di depan sana.

Hati Giok liong serasa kosong hampa, tapi rada terhibur dan bersyukur pula.

Menurut katanya tadi King-thian-sin Lo Say buru-buru hendak kembali ke Ping goan dilaut utara, terang bahwa pangkalan mereka pasti disana.

Apakah mereka ada hubungan dengan Hwi thian-khek Ma Huan dari laut utara itu ?

Kalau dugaan ini benar maka-hari-hari selanjutnya banyak sekali pertolongan yang harus dinyatakan kepada mereka.

Sesaat Giok-liong berdiam diri, matahari sudah terbit semakin tinggi menerangi jagat raya ini, dalam hati ia tengah menerawang tindakan selanjutnya yang harus dilaksanakan.

Teringat tugas berat yang di-pikulnya, tanpa merasa ia menghela napas panjang.

Menjejakkan kaki, badan seringan asap lantas meluncur dengan pesat sekali sambil mengembangkan Leng-hun-toh ia berlari-lari kencang menuju ke timur laut.

Giok-liong sudah kerahkan seluruh tenaganya untuk mengembangkan ilmu ringan tubuh leng hun-toh ini, maka badannya seperti berubah segulung jalur putih melesat kencang dan meluncur gesit selulup timbul di hutan lebat dan semak belukar.

Tapi hati Giok-liong sedang gundah dan memutar otak berpikir, sejak meninggalkan hutan kematian hampir satu bulan sudah.

Menurut pesan Wi hian ciang Liong Bun diharuskan dalam jangka waktu setengah tahun dirinya harus sudah dapat menemukan gurunya, menyatukan Ih lwe-su-cun bersama seluruh kaum gagah persilatan untuk melawan kekuatan terpendam dari Hutan Kematian.

Satu persoalan belum lagi dapat diatasi bersama pula, telah muncul golongan Hiat-ing-bun di Kangouw, Selama hampir satu bulan ini apa yang telah dialami sungguh sangat banyak dan ruwet sekali.

Istana beracun sudah ietaBS-tv".ausaii muncul kembali dengan taasNj terornya yang ganas meruntuh totalkan pihak Go bi-pan.

Serta Hian-bing-mo-kek yang serba misterius ini, ini cukup mengejutkan dan menguatirkan sekali.

Kalau dihitung secara total, kecuali Hiat-hong dan Kim-i dua organisasi jahat yang malang melintang di Kangouw tak terhitung didalamnya.

Hutan kematian, istana beracun, Hiat -ing -bun, Hian-bing-mo-kek serta aliran Ctrm merupakan lima golongan dan aliran yang hebat dan berkekuatan besar pula.

Kelima aliran jahat ini masing-masing tentu mempunyai kaki tangannya yang hebat dan lihay dengan berbagai ajaran silatnya yang tersendiri dan aneh.

Satu saja dari kelima golongan ganas ini cukup untuk menyapu dan memberantas golongan lurus kaum persilatan.

Jikalau delapan besar aliran silat lurus serta para orang gagah dan satria jantan tidak bisa bersatu padu, bekerja sama untuk membendung bencana yang bakal timbul ini, maka dunia persilatan didataran tengah ini sulitlah untuk angkat kepala atau hidup aman dan sentosa."

Karena pikirannya ini, seketika Giok-liong terbayang adegan pembunuhan total dipuncak Go bi-san tempo hari, tanpa merasa ia menjadi merinding dan ngeri, diam-diam ia ambil ketetapan dalam benaknya.

"Istana beracun sudah mulai mengulurkan cakar jahatnya, aku harus segera menuju ke Butong-san untuk mencegah terulangnya kejadian bencana darah."

Ya, memang letak Bu-tong adalah yang paling dekat dengan Go bi-san.

Maka dapatlah dipastikan sasaran kedua akan teror yang bakal dilaksanakan oleh pihak istana beracun pasti adalah Bu-tong pay!

Maka tanpa ayal lagi kakinya semakin cepat bergerak terus melesat dengan kencang, membelok arah menuju ketimur laut.

Sehari-harian ia berlari kencang tanpa merasa sampai hari telah menjelang magrib Lwekang latihan Giok-liong boleh dikata sudah mencapai puncak kesempurnaannya, meskipun hari sudah mulai gelap matanya masih dapat melihat tegas dan jelas, pada saat mana ia sudah mulai memasuki daerah pegunungan Bu-san pada puncak kedua belas.

Suara burung gagak ramai dan ribut kembali kcdalam sarangnya, matahari memancarkan sinar kuningnya sebelum sembunyi kedalam peraduannya, setelah menembus sebuah hutan lebat Giok-liong tiba disebuah dataran rumput yang luas dan menghilang jelas terlihat didepan sana terbentang sebuah aliran sungai kecil, dengan aliran airnya yang bening gemericik, sungguh indah pemandangan panorama menjelang malam ini.

Setelah menempuh perjalanan jauh selama satu hari Giokliong merasa letih juga, sampai dipinggir sungai ia duduk serta menggayung air, dengan telapak tangannya untuk membasuh mukanya yang kotor penuh debu, seluruh badan seketika serasa nyaman dan silir sehingga semangatnya pulih kembali bergegas ia berdiri dan menggeliat dan memandang kesekitarnya.

Dilihatnya setelah melampaui padang rumput ini didepan sana terdapat sebuah hutan lebat pula, di belakang hutan ini adalah sebuah puncak gunung yang menembus awan sambung menyambung memanjang tak kelihatan ujung pangkalnya.

Menurut perhitungannya dengan kecepatan larinya ini, mungkin tengah malam nanti ia sudah dapat tiba di Sam-cingkoan di Bu-tong-san.

Begitulah setelah beristirahat sekedarnya, ia bergerak lagi dengan pesat berlari kencang didataran padang rumput ini terus menyelinap memasuki hutan lebat langsung menuju kearah letak Bu-tong-san.

Tidak lama setelah Giok liong melewati hutan lebat ini, dipinggir sungai sana terdengar kesiur angin dari lambaian pakaian orang, ternyata disana sini sudah berdiri jajar empat Hwesio pertengahan umur yang mengenakan jubah abu-abu disebe!ah samping lagi berdiri dua orang Tosu yang bersikap agung dan suci.

Salah seorang Hwesio yang terdepan menjengek kasar "Hm, betul juga dugaan ketua kita, kiranya tidak sia-sia kita menunggunya didalam hutan ini!

iblis laknat ini terang sedang menuju ke Bu-tong-san."

Lalu ia ayunkan tangan menyambitkan selarik sinar putih perak berbunyi nyaring menembus angkasa, dibawah pancaran sinar matahari kuning sungguh sangat menyolok dan terang sekali.

Salah satu dari kedua Tosu yang berdiri disamping itu mengekeh dingin, katanya.

"Bocah keparat itu sekali ini pasti takkan dapat lolos, Hehehe, disorga ada jalan dia tak wau pergi, neraka tertutup sebaliknya ia datang menerjang, Butong-san agaknya bakal menjadi tempat kuburnya!"

Seorang Tosu yang lain mengerutkan alis, ujarnya.

"Aneh benar kulihat Ma Giok liong ini bukan ini bukan seorang tokoh kejam yang bertangan gapah dan berhati kejam. Kenapa lengannya itu berlepotan darah..."

Segera seorang Hwesio menyelak bicara.

"To heng menilai seseorang jangan dari raut mukanya, demikian juga mengukur dalamnya laut jangan dari permukaan airnya "Apa kau bisa menduga kalau bocah keparat itu memiliki kepandaian silat yang sehebat itu? Kalau hari ini tidak melihatnya sendiri sungguh aku tak percaya."

"Hahahaha, apapun yang bakal terjadi terang tindak tanduknya sudah masuk kedalam perhitungan kita! Mari jangan berayal, kita kuntit dirinya!"

Mereka saling pandang sambil tersenyum puas terus berloncatan dan berlari enteng seperti awan mengembang dan air mengalir langsung menembus kedalam hutan.

Baru saja bayangan mereka lenyap, dari atas pohon besar yang terdekat dipinggir sungai itu tiba tiba terdengar jengekan tertawa dingin orang, sedikit daun bergerak lantas berkelebatan bayangan scsok abu-abu melambung tinggi terus terbang pesat menyelinap kedalam hutan lebat di depan sana.

Suasana di padang rumput kembali menjadi sunyi, namun kadang kadang terdengar kesiur anngin dari lambaian baju orang yang tengah berlari kencang.

Tiba tiba berkelebat dua sosok langsing semampai, tahutahu dipinggir sungai itu telah berdiri dua gadis ayu jelita yang mengenakan mantel kuning serta baju putih.

Gadis sebelah kiri agaknya lebih tua dan matang dalam pengalaman, alisnya berkerut dalam, ujarnya lirih.

"Si moay, Kaucu menduga dia pasti lewat daerah sini, kiranya tepat sekali ! Tapi situasi sekarang semakin gawat, bagaimana kita harus cepat bekerja supaya berita ini dapat segera sampai pada Kaucu?"

Adik keempat disebelah kiri itu berseri tawa, biji matanya yang bundar hitam mengerling lalu sahutnya.

"Begini saja Samci, pergilah kau melapor kepada Kaucu, biar adikmu membuntuti dia!"

"Begitu juga baik, segera aku pulang meIapor!"

"Ingat, kau harus lekas pergi cepat kembali, urusan kali ini bukan persoalan sepele."

"Baiklah kita jumpa lagi nanti!"

Serentak mereka bergerak berpencar kedua jurusan sebentar saja bayangan mereka sudah berkelebat menghilang.

Keadaan pinggir sungai kembali hening lelap.

Sekarang marilah kita ikut perjalanan Giok-liong bagai angin lalu seperti burung terbang saja ia menembus hutan yang lebat ini, jurang dilompati lembah diselusuri seenak berlari di dataran lapang, begitulah menyelusuri pegunungan Bu-san ia terus menuju ke utara menempuh ke arah Bu-tongpay.

Kepandaian silatnya boleh dikata sudah dibekali Lwekang ratusan tahun lamanya, maka begitu ia mengembangkan ilmu ringan tubuhnya sekuat tenaga maka perbawanya sungguh sangat hebat.

Tepat tengah malam, sang putri malam memancarkan sinarnya yang cemerlang menerangi jagat raya, dari kejauhan Bu-tong sudah kelihatan seperti raksasa yang tengah berjongkok di bumi yang luas diliputi kegelapan.

Sepanjang jalan ini didapati oleh Giok-liong sudah beberapa kelompok kaum persilatan yang kosen dan lihay tengah menguntit dan mengawasi gerak geriknya.

Tapi dia tidak ambil peduli.

Sebab dia tahu, bahwa dirinya sudah menjadi tokoh yang menggemparkan dunia persilatan.

Maka dalam situasi yang genting dan banyak tokoh-tokoh silat yang mengasingkan diri saling bermunculan ini, tidaklah mengherankan kalau dirinya semakin menarik perhatian dan pengejaran mereka.

Tatkala ia sudah melampaui Bu san dan mulai menginjak daerah Bu-tong-san dengan pegunungan yang lebat memanjang itu.

Mendadak ia melihat dilamping gunung dikejauhan sana ada dua puluhan bayangan orang tengah melayang dan berkelebat menghilang.

Betapa tajam pandangan Giok-liong sekarang, sekilas pandang saja sudah cukup mengejutkan hatinya.

Karena kedua puluh bayangan manusia itu masing masing kepalanya berambut-panjang dan terurai melambai.

Dilihat gelagatnya naga naganya pihak Hian-bing-mo-kek juga sudah ikut bergerak didaerah pegunungan Bu tong-san ini.

Untuk apakah kedatangan mereka?

Apakah mereka sudah akan mulai dengan pergerakan?

Begitulah sambil berpikir ia meogempos semangat dan mengerahkan tenaga, kini badannya melenting semakin pesat menuju kepuncak Bu-tong-san.

Belum lama ia menempuh perjalanan, tiba-tiba terdengar kumandang tembang mantra dari belakang sebuah batu besar di pinggir jalan.

segera Giok liong menyilangkan kaki badannya terus berhenti bergerak dan berdiri tegak diatas tanah.

Dari belakang batu cadas besar berjalan keluar sebarisan pendeta gundul mengenakan seragam ungu.

Seorang yang memimpin didepan alisnya tampak gombyok memutih menjulai turun, air mukanya bersemu merah seperti muka bayi, sepasang matanya sedikit dipejamkan gerak geriknya sangat lamban dan agung sebagai pembawaan seorang suci.

Yang mengekor di belakangnya terdiri dua baris, kanan kiri masing-masing enam orang, semuanya berjumlah dua belas, rata rata sudah mencapai pertengahan umur, dengan pandangan mata berkilat tajam.

Sekali pandang saja lantas dapatlah diketahui bahwa kedua belas pendeta ini memiliki kepandaian silat yang cukup tinggi.

Iringan para pendeta ini maju terus sampai didepan Giok liong sejauh lima tombak baru menghentikan langkahnya.

Pendeta pemimpin yang lebih tua itu masih beranjak maju dengan langkah lamban dan kalem sampai empat tindak di hadapan Giok-hong baru berhenti.

Sepasang matanya yang merem melek itu dengan seksama tengah mengamati Giok liong.

Melihat sikap pendeta tua yaag agung serta penuh hidmat ini, tahu Giok-liong bahwa orang dihadapannya ini pasti tokoh bukan sembarangan tokoh, sedikit soja ia berseru lantang.

"Toasuhu merintang jslan, entah ada petunjuk apakah?"

Pendeta tua angkat sebelah tangannya di-depan dada sambil bersabda Budha, lalu ia bertanya dengan suara rendah.

"Apakah Siau-si-cu ini adalah Kim-pit-jan hun Ma Giok liong yang baru-baru ini menggemparkan Bu lim?"

Alis Giok liong rada berjengkit, sahutnya sambil merangkap tangan.

"Aku yang rendah memang Ma Giok-liong adanya, Harap tanya siapakah nama julukan Taysu ini serta dari aliran atau seaiaysjaa dikuil yang mana ?"

Sebentar sepasang mata pendeta tua memancarkan kilat tajam lantas menghilang, sahutnya tertekan.

"Loceng Hiankhong, Hong-tiang, Siau lim-si beserta dua belas muridku, sudah lama kita menunggu kedatangan tuan disini."

Terkejut Giok-liong dibuatnya, pikirnya.

"sungguh tak nyana Hong tiang Siao-lim-si Hian-khong Taysu pimpin para muridnya ikut campur dalam urusan ini. Apa mungkin kedatangan mereka disini melulu hendak menghadapi aku ?"

Ternyata ketua Siau-lim-si Hian-khong Taysu ini sudah puluhan tahun lamanya mengasingkan diri, sekian tahun lamanya tidak ikut campur mengurus perkara duniawi, Begitu hebat kepandaiannya menurut kabarnya sudah sempurna betul, tapi selama ini belum pernah dengar ada orang pernah menjajal ilmu silatnya itu.

Otaknya berpikir, namun lahirnya Giok liong tetap berlaku tenang, sikapnya ini sungguh sulit untuk dijajaki, katanya sambil tersenyum.

"O ini ... aku yang rendah sungguh tidak berani terima sampai sampai ketua Siaulim-si serta para Taysu menunggu aku disini, Hian-khong Lo cianpwe apakah ada urusan harap suka memberi petunjuk!"

Sekali lagi Hian-khong bersabda Budha, baru berkata lirih.

"Kedatangan pendeta tua ini tak lain bukan hanya untuk menolong bencana pembunuhan yang berkenaan di Bu-lim."

"Oh."

Ujar Giok-Hong.

"Menghindarkan bencana pembunuhan besar yang berkancah di Bulim ini, adakah sangkut pautnya dengan diriku ?"

"Kulihat Siau-si cu bermuka cakap bersinar terang, kalau dugaan Loceng tidak salah pasti kepandaian silatmu tidak sudah dibawah gurumu Pang cian-pwe bukan ?"

Giok liong unjuk senyum lagi, ujarnya.

"Cian-pwe terlalu memuji, aku yang rendah sungguh tak berani menerima pujian ini."

"Kalau Siausicu mempunyai dendam sakit hati dengan delapan aliran besar lurus Loceng ingin benar mendengar penjelasan serta seluk beluknya. Mungkin aku bisa jadi penengah untuk melerai pertikaian, demi Siau-sicu sendiri juga bagi kaum persilatan umumnya."

Mendadak Giok-liong mendongak bergelak tertawa, nada gelak tawanya kumandang meninggi seperti gerungan naga dan aum singa, bergema lama dan menembus ketengah awan.

Setelah menghentikan tawanya, mendadak ia berseru lantang "Para kawan sudah jauh berdatangan kemari, sungguh aku yang rendah merasa sangat beruntung mendapat kehormatan begini besar.

Mengapa bermain sembunyi kepala mengerutkan ekor seperti bangsa panca longok ?"

Kelihatan Hian-khong Taysu sedikit mengerutkan alis, hatinya membatin.

"Baru saja aku mendengar kesiur angin. Dia lantas bisa mengetahui ..."

Benar juga dari belakang batu besar sebelah samping sana lantas kumandang tawa terkekeh yang menusuk telinga, beruntun melompat keluar tiga orang enam puluhan tahun, rambut dan jenggot mereka sudah beruban semua.

Jilid 13 Seorang tua yang terdepan berseru keras sambil tertawa lebar.

"Ma Giok-Iiong kiranya memang tidak bernama kosong, Aku Ka Liang-kiam benar-benar tunduk akan kelebihanmu ini."

Habis berkata berbareng mereka lantas unjuk hormat kearah Hian-khong Taysu serunya.

"Kita bertiga saudara setindak rada lambat, harap Taysu suka memberi maaf !"

Hian-khong membalas hormat sambil merangkap sebuah tangan didepan dada sahutnya.

"Thian-san-sam-kiam mau turun gunung sendiri, benar-benar merupakan keberuntungan Bulim."

Tengah mereka berbasa basi ini, dari hutan sana berjalan keluar pula seorang Tosu tinggi kurus, punggungnya memanggil sebatang pedang panjang enam kaki, raut muka rada pucat, kedua matanya sipit sembari jalan menghampiri ia menyelak dingin.

"Hehehehe, ternyata kalian sudah datang lebih dulu !"

Begitu melihat Tosu tua ini, Hian-khong serta Tian sansam-kiarn seketika tercengang segera mereka buru-buru unjuk hormat sambit tertawa.

"Tak nyana Ji-ngo Lo cian-pwe tidak menikmati hidup ma di Ciong-lam ini betul betul merupakan rejeki besar bagi kaum persilatan."

Tatkala itu dari empat penjuru beruntun berdatangan banyak macam dan ragam tokob-tokoh silat, ada Hwesio ada Tosu serta banyak pula orang-orang preman, sedikitnya ada puluhan orang jumlahnya.

Serta merta Giok-liong menjadi terkurung ditengah gelanggang.

BegituIah setelah semua hadirin saling sapa sekadarnya, pandangan semua hadirin lantas terpusatkan pada diri Giok liong, Suasana menjadi sunyi dan tegang melingkupi benak seluruh hadirin.

Begiulah setelah semua hadirin saling sapa sekedarnya, banyak orang meloncat tinggi di belakang Giok-liong.

Dimana mereka berbareng mengayun tangan, digabung sinar berkeredepan dari pancaran jarum berbisa warna biru meluncar kearah pinggang Giok liong.

Bukan sampai disitu saja serangan ganas ini, bersama itu tiga gulung angin pukulan juga sekaligus menerpa tiba.

Giok-liong berdiri tenang seperti tidak tahu bahwa dirinya terancam bahaya, ujung mulutnya menyungging senyum ejek yang samar-samar tak dapat dilihat orang lain.

Adalah Ciong-lam-koay-to (Tosu aneh dari Ciong-lam-san) Ji-ngo mendelikkan sepasang biji matanya yang membara, sambil mendengus hina ia menggumam.

"Dihadapan aku orang tua juga berani bermain pola !"

Lengan bajunya yang panjang gondrong pelan pelan dikebutkan, segulung angin segera menerjang keluar tanpa mengeluarkan suara. Giok-liong sedikit manggut kearahnya serta katanya.

"Terima kasih akan kebaikan Cian-pwe!"

Seenaknya saja sebelah tangannya mengulap sedepan, ditengah gelanggang lantas terdengar pekik kesakitan yang tertahan ketiga bayangan orang yang bergerak membokong mendadak jungkir baiik terpental balik tergulung didalam jarum jarum beracun yang disambitkan tadi, seketika terjadi hujan darah dan mereka terbanting sejauh beberapa tombak sebelum terbanting ditanah jiwanya sudah melayang.

Sementara itu Ji-ngo merasa seakan-akan suatu tenaga lunak yang tidak kentara membendung tenaga kebasan lengan bajunya itu sehingga badannya sedikit tergeliat.

Baca Juga: Pendekar Bodoh 7

Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert