Eps 5 Seruling Samber Nyawa - Chin Yung
Baca online Seruling Samber Nyawa - Chin Yung
Cersil Seruling Samber Nyawa - Chin Yung.
Kejadiao yang mendadak ini menimbulkan kegemparan diluar gelaaggang, banyak orang memaki dan berteriak "Dimana keadilan dunia persilatan, bocah keparat ini sekali turun tangan lantas melukai orang ..."
"Kinilah saatnya kita tumpas kejahatan dan ringkus iblis laknak ini ..."
"Sungguh kejam dan telengas betul cara turun tangan bocah keparat ini ..."
"Maknya, sekali turun tangan mencabut jiwa orang, emangnya jiwa manusia tidak berharga, permainan apa ini ..."
Bayangan orang berkelebatan tujuh delapan orang sudah melompat memasuki gelanggang di sebelah sana banyak para Tosu yang berangasan sudah mencabut pedang serta menghardik galak.
"Kita harus tuntut balas bagi Go-bi-pay, berabtas sampah persilatan, sekarang sudah tiba saatnya."
Semakin banyak orang berdatangan mengepung diluar gelanggang, mungkin jumlahnya tidak kurang dari seratus orang.
Ketua Siaulim si Hian-khong Tajsu malah pejamkan mata dan tunduk kepala, mulutnya bersabda Budba, Demikian juga Thian-san-sam-kiam berdiri diam saja.
Sekonyong konyong gema tawa dingin yang merindingkan pendengaran berkumandang diantara keributan itu, Ringan sekali Ji-ngo si Tosu aneh dari Clong-lam malah berdiri sejajar dengan Giok-liong, serunya dingin.
"Ketiga kurcaci ini membokong dari belakang. Dengan cara kematiannya ini cukup setimpal dengan perbuatan mereka ini sudah boleh dikata cukup bijaksana! Kalian semua coba siapa yang tidak terima, mari hadapi Lohu."
Memang ketenaran dan kebesaran nama si Tosu aneh dari Ciong-lam pay ini bukan kosong belaka, seketika seluruh hadirin terbungkam mulutnya. Giok-liong tersenyum ewa kearah Ji-ngo ujarnya.
"Teriina kasih akan bantuan cianpwe..."
Ciang-lam-koay to Ji-ngo menjengek dingin.
"Aku bekerja menurut gelagat sekarang, setelah urusan ini selesai, perhitungan lainnya harus diselesaikan secara lain."
Baru selesai ia bicara, meluncurlah dua bayangan abu-abu kedalam gelanggang tahu-tahu dua orang tua dengan jenggot panjang menjulai didepan dada menggunakan baju abu abu mendarat dihadapan Ciong-lam-koay-to, serunya.
"Selamat bertemu! selamat bertemu!"
Air muka Ciong-lam-koay to membeku dingin dengusnya.
"Untuk apa kalian kemari?"
Diluar terdengar suara bisik bisik.
"Cihu ji-lo juga datang, mungkin Ci hu-sin-kun sudah tidak jauh dari sini."
"Biarkan saja, coba lihat Ji-ngo si tua bangka itu cara bagaimana hendak menghadapi mereka."
Salah seorang dari Ci-hu-ji-lo yang berdiri disebelah kanan air mukanya mengunjuk warna abu-abu, segera ia merubah sikap lalu berkata menyeringai.
"Ma Giok-liong adalah orang yang sudah di tunjuk untuk diringkus pulang oleh Sin kun, kita berdua menerima perintah beliau untuk menyambutnya pulang!"
Tepat pada saat itulah muncul sesosok bayangan hijau pupus, laksana dedemit hinggap ditengah gelanggang, suasana seketika menjadi seram diliputi kengerian, sebuah suara yang mengalun lemah merdu berkata.
"Apakah obrolan Sin-kun saja lantas menjadi perintah kerai?"
Keruan semua hadirin menjadi kaget, beramai mereka berpaling kearah datangnya suara.
Kiranya bayangan hijau pupus ini adalah seorang pertengahan umur berwajah pucat pias, tubuhnya kurus semampai kelihatan sangat lemah.
Dari bentuk tubuhnya yang tinggi semampai raut mukanya yang lonjong indah serta bibirnya yang tak berdarah itu, dapatlah diperkirakan semasa mudanya pasti perempuan ini adalah seorang wanita cantik yang menggemparkan jagat.
Begitu orang ini muncul seluruh gelanggang menjadi ribut bisik-bisik dan seruan tertekan "Bik-lian-hoa..."
"Bu-lim-su-bi kiranya masih hidup ..."
Samar-samar Giokliong mendengar bahwa perempuan pertengahan yang baru datang ini ternyata adalah Bik-liam-taoan salah satu dari Bu -lim -su -bi serta merta darinhati kecilnya timbul rasa dekat dan bersahabat Berulang kali ia melirik memandang dengar seksama.
Apa yang dilihatnya menjadikan hati Gi-ok-liong merasa terkesiap dan kasihan..
Meski sudah pertengahan umur namun wajah Bik-lian-hoa masih kelihatan halus cantik kedua biji matanya yang hitam sebaliknya meoiankan rasa duka dan pedih sedalam lautan.
"Oh, Tuhan! Sangguh kasihan benar perempuan tercantik di jagat ini harus hidup merana sebatang kara."
Kebetulaa saat mana Bik-lian-hoa juga tengah memandang kearahnya, begitu pandangan kedua belah pihak saling bentrok, sorot mata Bik-Iian-hoa mendadak memancarkan sinar aneh yang sangat ganjil, tapi itu terjadi dalam kilasan yang pendek sekali.
Begitu melihat kehadiran Bik-lian-hoa, wajah tua Ciong lamkoay-to yang bersitegang leher tadi lantas pelan-pelan pulih kembali mengunjuk senyum girang, sambil soja ia berkata seperti tidak tertawa.
"Nona Li apakah baik-baik saja sekian tahun ini?"
Bik-lian hoa tertawa lemah, ujarnya perlahan.
"Terima kasih akan perhatianmu, baik-baik saja."
Adalah Ci-hu ji-lo lah yang merasa disepelekan, air muka mereka bersemu abu-abu, agaknya mereka tengah menahan gusar dan mengerahkan tenaga, terdengar yang disebelah kiri berkata dengan nada berat.
"Jadi nona Li sengaja hendak menghina Sin-kun?"
Kebetulan Thian-san-sam-kiam juga tengah maju menghampiri dan unjuk hormat kepada Bik-lian-hoa, seru mereka.
"Apa kabar Li-cian-pwe?"
Hakikatnya Bik-Iian-hoa seperti tak hiraukan ucapan Ci-hu ji-lo, katanya kepada Thian-san-sam-kiam.
"Apakah kalian juga baik?"
"Kita sehat walafiat berkat lindungan Tuhan, selama ini mengasingkan diri di Thian-san."
Sementara itu ketua Siau lim-si Hian-khong Taysu juga membungkuk tubuh mengunjuk hormat dari kejauhan, Bik lian hoa menyambut dengan menganggukkan kepala.
Keruan Ci-hu ji-lo menjadi berjingkrak gusar seperti kebakaran jenggot.
Tapi mereka tahu bahwa Bu-lim su-bi bukan musuh sembarang musuh yang gampang diganggu usik.
Maka sedapat mungkin mereka berlaku sabar, tanyanya dengan suara lirih.
"Lalu cara bagaimana penyelesaiannya menurut pendapat nona Li?". Sekilas Bik-lian-hoa melirik hina kearah mereka, lalu semprotnya dingin.
"Apa kalian ada harga ikut-ikutan memanggilku dengan sebutan nona Li apa segala? "Lalu ia melangkah menghampiri kearah Giok liong, katanya lemah lembut.
"Nak marilah ikut aku."
Giok liong menjadi tertegun, pikirnya.
"Kenapa dia minta aku ikut dia?"
Demikian ia berpikir sehingga susah ambil kepastian.
Sekonyong-konyong terdengar galaknya menggila yang riuh rendah menusuk telinga semua hadirin bagai geledek menggelegar sampai bumi terasa bergetar kuping juga seperti ditusuk-tusuk.
Dimana bayangan merah berkelebat beruntun muncul empat orang kata berkepala besar bermuka gepeng mengenakan jubah panjang warna merah.
Sungguh lucu bentuk keempat orang cebol ini, rambut kepalanya awut-awutan kaku seperti bulu landak, raut mukanya merah darah, mata merekapun memancarkan kilat merah yang tajam membuat orang tak kuat beradu pandangan dengan mereka.
Kepalanya terlalu besar, raut wajahnya juga gepeng sungguh lucu jelek dan jenaka sekali.
Segera terdengar ada orang yang berteriak kejut.
"Hiat-ing su-ai..."
Begitu Hiat-ing-su ai (empat cebol dari Hiat-ing-bun) muncul lantas gelak tawa mereka berhenti, secepat itu mereka sudah mendarat tiba di hadapan Giok-liong, mereka memutar tubuh menyapu pandang ke seluruh gelanggang lalu berteriak tertawa.
"Bagus, kiranya nona Li yang pegang peranan digelanggang sini!"
Hadirin semakin tegang dan was-was.
Harus diketahui bahwa kedudukan Hiat ing-bun bagi kaum persilatan masih setingkat lebih atas dari aliran Ci-hu, justru Hiat-ing-su-ai ini merupakan tokoh terpenting didalam Hiat ing bun mereka, jarang dan sulit sekali keempat orang cebol ini pernah unjuk diri karena kedudukannya yang tinggi, kecuali mereka turun tangan maka apa yang dituju pasti berhasil dan itu merupakan urusan besar.
Lain lagi dengan pihak Ci hu-ji-lo meskipun ilmu silat mereka sangat tinggi, hakikatnya mereka bukan merupakan tokoh penting dalam golongannya, kedudukan mereka juga tidak begitu tinggi, maka meskipun semua orang tidak berani memandang rendah pada rnereka, tapi juga tidak berlebihan seperti sikap mereka terhadap Hiat-ing su ai.
Terdengar Bik lian-hoa tertawa sinis.
"Urusan disini tiada tempat bagi kalian untuk ikut campur !"
"Belum tentu !"
Sebuah suara serak dan berat mendadak menyelak diluar gelanggang sana, serta merta semua orang berpaling ke arah datangnya suara.
Sebuah bayangan abu-abu meluncur tiba terus hinggap didepan Ci-hu ji-Io.
orang ini bertubuh kekar dan gagah, bermuka ungu dengan jenggotnya yang menjiwai panjang sungguh garang dan angker sekali sikapnya, ia mengenakan jubah panjang warna ungu terbuat dari sutra mahal serba perlente.
Sekali lagi suasana gelanggang menjadi sunyi begitu orang ini muncu.
Dia bukan lain adalah Ci-hu sin-kun Kiong Ki, salah satu tokoh silat yang tenar, selama ratusan tahun namanya tak pernah luntur, tindak tanduknya serba misterius.
Tanpa bersuara Ci-hu-jilo membungkuk tubuh terus mundur ke belakangnya.
Sikap raut muka Hiat-in su-ai sekarang kelihaian mulai rada kikuk dan kurang wajar.
Demikian juga Ciong-lam-koay-to Ji-ngo yang berdiri disamping Giok-liong mengerutkan kening, katanya kepada Giok-liong.
"Buyung, cara bagaimana kau mengganggu usik gembong gembong aneh sebanyak ini."
Giok liong menjawab dengan sombongnya.
"Kalau Cianpwe takut urusan, boleh silakan mundur saja sebagai penonton."
Ciong-lamnkoay-to menjengek dingin, katanya.
"Selamanya Lohu belum pernah takut kepada siapapun ... ."
Sementara itu, Ci-hu-sin-kun sudah maju beberapa langkah sedikit membungkuk hormat kearah Bik-Iian hoa serta katanya.
"Naga-naganya nona Li sengaja hendak memikul seluruh persoalan ini ke atas pundakmu sendiri, bukankah begitu?"
Bik-lian-hoan juga balas sedikit menekuk lutut, sahutnya.
"Ternyata semakin tua Sin-kun semakin sehat dan bersemangat!"
"Mana, mana, berkat pujian melulu."
"Tapi semakin tua juga semakin ceroboh."
Ci-hu-sin kun menarik muka dingin, seringainya.
"Nona Li kalau bicara sukalah memberi muka."
Bik lian-hoa juga tertawa dingin.
"Secara langsung Sin-kun menunjuk anak ini, entah untuk keperluan apakah?"
Ci-hu sin-kun mengakak tawa, kedua biji matanya membelalak besar berkilat serunya lantang.
"Urusan sudah sampai begitu jauh, aku juga tidak perlu main pat gulipat. Tujuan Lohu adalah seruling sambar nyawa yang digembol oleh bocah ingusan itu."
Waktu mengucapkan kata-katanya ini sengaja ia bikin nadanya menjadi tinggi dan keras memamerkan Lwekangnya, jadi hakikatnya kata-katanya ini bukan melulu ditujukan kepada Bik-lian-hoa seorang ini merupakan peringatan dan tantangan bagi seluruh kaum persilatan yang hadir.
Betul juga seluruh hadirin menjadi gempar.
Satu sama lainnsaling pandang tapi tiada seorang pun yang berani tampil kedepan menandingi urusan ini, Sebab semua orang tahu, bagi siapa saja yang mengajukan diri pasti seluruh perhatian orang tertuju pada dirinya, Coba pikirkan siapa, yang kuat bertahan menghadapi sekian banyak orang.
Bik-lian hoa terkekeh-kekeh geli, begitu geli sampai ia meliukkan pinggang menekan perut.
Hawa ungu berkelebat lagi dimuka Ci-hu-sin-kun, hardiknya bengis.
"Apa yang kau tertawakan?"
Bik lian hoa menjebir bibir, katanya serba kalem.
"Harap tanya Sin-kun, apakah seruling samber nyawa sudah ditakdirkan menjadi milikmu seorang?"
Ci-hu-sin-kun terhenyak terkancing mulutnya. Terdengar Bik-lian-hoa menyambung lagi.
"Seruliag samber nyawa adalah benda pusaka kaum persilatan, siapa yang tidak ingin memiliki, kukwatir bukan kau saja yang mengincar."
Dalam berkata-kata ini sengaja atau tidak sepasang matanya yang hitam besar dan jeli menggiurkan itu menyapu pandang keseluruh hadirin yang berjumlah ratusan orang itu.
Sebaliknya Ci-hu sin-kun menantang dengan takabur.
"Siapa yang ingin mengincarnya, silakan keluar menghadapi aku bermain silat."
Sungguh sombong dan takabur sekali, hakikatnya ia tidak pandang sebelah mata seluruh kaum persilatan yang hadir.
Tapi kedudukan Ci-hu-sin-kun yang tinggi serta kepandaian silatnya yang lihay, kiranya cukup membuat keder seluruh gembong-gembong silat dari aliran putih dan hitam, mereka gusar dalam hati, sedikitpun tidak berani unjuk kegarangan dilahiriah, berbisik-bisik tanpa berani banyak tingkah.
Sebaliknya Bik-lian-hoa mempunyai perhitungannya sendiri, suara tawanya merdu menggiurkan, katanya memancing.
"Ucapan Sin-kun ini apa tidak keterlaluan . ."
Sengaja ia tarik panjang suaranya sehingga ucapan selanjutnya dihentikan. Ci-hu sin kun menjadi berjingkrak gusar semprotnya gusar.
"Apa ? Takabur ? Atau kurang sembabat ?"
Cepat Bik-lian hoa menyahut.
"Bukan!, bukan takabur, kalau mengandal nama Cihu dari Sin-kun, Lwekang serta kepandaian silat, meskipun diantara hadirin ada yang kuat bertahan bergerak sampai tiga ratusan jurus melawan Sinkun, tapi toh takkan mendapat keuntungan yang diharapkan Apa boleh buat ..."
Lagi lagi ia sengaja jual mahal akan katakatanya memancing kemarahan Ci-hu-sin-kun. Betul juga Ci-hu sin-kun menjadi tidak sabaran, selaknya.
"Apa boleh buat gimana?"
Bik-lian hoa meninggikan suaranya.
"Apa boleh buat karena siapapun yang hadir disini mempunyai hak mendapat bagiannya, Kau sendiri terlalu tamak hendak mengangkangi sendiri apa kau tidak takut orang orang ini bergerak maju mengeroyokmu ?"
Lagi-lagi seluruh hadirin menjadi geger oleh ucapan propokasi dari Bik-lian hoa ini.
Ci hu-sin kun sendiri juga menjadi ter-longong-longong.
Betapa juga ia harus waspada dan memperhitungkan rugi untungnya sebelum bertindak.
Agaknya propokasi Bik lian-hoa mendapat hasiI, pertamatama Hiat ing-su ai tampil kedepan, salah seorang diantaranya segera berteriak sambil menggerakkan kepalanya yang besar tercetus teriakannya .
"Ucapan nona Li memang benar siapapun jangan harap bisa mengangkangi seorang diri !"
Ciong-lam kay to Ji ngo mengerutkan kening, Sambil meraba gagang pedangnya ia pun ikut bicara.
"seruling samber nyawa ini menyangkut suatu urusan besar dunia persilatan. Tujuan sembilan partai besar bukan terletak pada benda pusaka itu, Tapi keselamatan dan kesejahteraan hidup kaum persilatan betapa juga harus dipikirkan."
Sembari berkata matanya berkedip memberi syarat kearah Thian sansam-kiam. Maka Thian-san-sam-kiam segera mengiakan bersama .
"Tepat sekali ucapan ini."
Selanjutnya Bik-lian hoa angkat bicara lagi.
"Nah, kan begitu, siapapun berhak memikirkan kepentingan bersama."
Begitulah percakapan yang bersifat menyindir dan nada tajam ini membuat Ci-hu-sin-kun tambah gusar sampai lidahnya terasa kaku tak bisa bicara, hawa ungu bertambah tebal menyelubugi mukanya, desisnya berat.
"Sudah jangan cerewet tak karuan, Lohu sendiri sudah datang kemari betapapun harus berhasil membawanya puIang."
Bik lian hoa tidak mau kalah wibawa, tanpa kelihatan ia bergerak mendadak tubuhnya melayang tiba disamping Giokliong, katanya lemah lembut.
"Nak, mari kita pergi."
Tak terduga tiba-tiba Giok-liong mementang mulut menggembor keras dan panjang, suaranya mengalun tinggi bagai pekik naga nyaring dan menggetarkan sukma.
Sudah tentu perbawa gemboran Giok-liong ini sangat mengejutkan semua hadirin.
Siapa akan menduga pemuda yang kelihatan lemah ini ternyata membekal latihan Lwekang yang sudah sempurna dan tinggi.
Mengandal suara gemborannya ini saja cukup untuk menggetarkan nyali setiap tokoh silat kelas satu.
Ci hu-sin kun sendiri juga menjadi berang, hardiknya bengis.
"Buyung, gembar gembor mengeluarkan kentut busuk apa kau?"
Sikap Giok liong gagah sambil membusungkan dada serunya lantang.
"seruling satnber nyawa adalah benda pusaka peninggalan perguruanku. Siapa yang bermaksud jelek hendak merebut seruling ini, kecuali dapat merobohkan aku dulu, Kalau tidak, hm."
Angker benar sikap garang Giok-Iiong ini sambil berdiri bertolak pinggang dan bercagak kaki.
"Kunyuk sombong benar!"
Tiba-tiba bayangan abu-abu berkelebat hawa berkabut ungu mengembang luas. Baru saja suara Ci-hu-sin-kun lenyap tahu-tahu telapak tangannya segede kipas sudah menyelonong tiba menekan dada Giokliong.
"Serangan bagus!"
Giok-liong membentak gusar, tangan kanan bergerak memapas, sedang, tangan kiri bergerak melingkar menimbulkan mega putih membawa kekuatan hawa dahsyat jurus Ciu-chiu cari salah satu jurus ilmu Samji ciu-huchiu dilancarkan.
Seketika terdengar ledakan gemuruh bagai gugur gunung.
sebelum seluruh penonton sempat mengedipkan mata kedua orang sudah secepat kilat mengadu pukulan.
Betapa cepat adu pukulan ini sungguh luar biasa, hakikatnya lebih cepat dari kilatan kilat.
Terlihat wajah Ci-hu-sin-kun diselubungi hawa ungu, kulit mukanya menjadi kaku membesi penuh kemarahan, suaranya bernada berat.
"Memang kepandaian Pang Giok tidak lemah, tapi Lwekang Pang Giok belum tentu dapat kau pelajari seluruhnya."
Seluruh hadirin banyak adalah gembong dan tokoh-tokoh silat kenamaan dan ahli dalam bidang ini, entah mereka dari aliran hitam atau putih, rata-rata mereka tahu bahwa adu pukulan tadi merupakan pelajaran besar ilmu silat tunggal yang jarang punya tandingan di jaman ini, yaitu Ci-hu-sinkang dan Sam-ji-hui-cun-chiu.
Wajah Bik-lian-hoa berubah dingin, segera ia menerjang maju sambil menarikan kedua tangannya, cukup kesiur kebasan lengan bajunya saja dapat mengundurkan mereka berdua.
Jengeknya dingin.
"Kiong Ki, seorang orang tua seperti kau tidak malu menindas yang masih muda?"
"Ha. kan dia sendiri yang tidak tahu tingginya langittebalnya bumi, berani kurang ajar terhadap orang tua."
"Terang gamblang aku melihat kau dulu yang turun tangan."
Ucapan ini terang memihak dan mengeloni Giokliong, sungguh Ci-nu-sin kun Kiong Ki menjadi penasaran.
Karuan air makanya semakin tebal diselubungi hawa ungu, kedua biji matanya semakin mendelik besar.
garangnya murka.
"Jadi kau sengaja hendak ikut campur dalam urusan ini?"
Acuh tak acuh Bik lian-hoa berkata.
"Sudah puluhan tahun aku tilak pernah bergebrak, Kalau Sin-kun ada minat tiada halangan aku melayanimu tiga gebrak atau dua jurus."
Meskipun tidak menantang secara terang-terangan, namun kata-kata halus dan dingin ini cukup menyebalkan dan menjengkelkan bagi pihak Iawan.
Ci-hu-sin-kun adalah Bing cu dari golongan hitam, sebagai seorang yang berkedudukan tinggi mana rela menerima ejekan yang merendahkan martabatnya ini, maka sambil menggentakkan kedua lengannya ia berteriak.
"Baik, marilah akan kulayani setiap tantanganmu."
Belum lenyap suaranya tiba-tiba kakinya melangkah setengah langkah, dimana kedua telapak tangannya bergerak silang, samar-samar terlihat jalur hawa ungu melesat serabutan, telapak tangan segede kipas itu menari-nari lincah sekali ditengah kabut ungu.
Bik-lian-hoa mandah berseri riang, namun sepasang matanya berkilat dingin, Sret, tiba-tiba ia kebaskan lengan bajunya, seketika timbul sorot sinar hijau memancar sampai delapan kaki, hawa dingin menembus keluar dari kebasan lengan bajunya itu.
Seketika lima tombak sekeliling gelanggang samar-samar terdengar suara gemuruh seperti guntur menggelegar diseling hawa dingin yang meresap kebadan masuk kedalam tulang sungsum, tanpa merasa para hadirin terdekat menjadi merinding dan bergidik kedinginan.
Situasi menjadi tegang dan mencekam leher, kedua belah pihak sudah siap siaga seperti busur yang tinggal melepas anak panah, seluruh tokoh-tokoh silat menjadi tegang serius dan kwatir, beramai-ramai mereka menyurut mundur sampai lima tombak jauhnya, sehingga terluang arena bertempur yang cukup lebar.
Besar minat mereka menonton pertunjukan adu silat tingkat tinggi yang jarang terjadi ini, sekonyong-konyong bayangan putih melejit maju terdengar suara berseru.
"Lician-pwe, tunggu dulu!"
Tahu-tahu Giok-liong sudah menghadang ditengah kedua tokoh besar yang sudah berhadapan sambil membusung dada ia berdiri dengan tersenyum simpul, katanya sambil membungkuk badan kepada Bik -lian -hoa.
"Yang dia tuju adalah aku, maka harap Li-cianpwe tak usah mencapekan diri"
Rasa gusar Ci hu-sin-kun semakin merayu eak, serunya bergelak tawa.
"Hehehe! Hahaha Bik-lian-hoa! Boeah ingusan ini tidak mau terima budimu!"
Bik-lian-hoa menatap Giok-liong tajam, katanya terhenyak.
"Kau..."
Kata Giok-liong Iantang.
"Yang dicari adalah aku, biarlah aku bertanding dengan dia untuk menentukan siapa yang lebih unggul, seorang laki laki berani berbuat berani bertanggung jawab, aku tidak mau mengandal bantuan orang lain."
Jikalau Ci-hu-sin-kun betul-betul bertempur melawan Biklian hoa, siapa bakal menang atau asor sulit ditentukan.
Ketahuilah bahwa Bu lim-su-bi adakah tokoh lihay yang sukar dilayani, jangan sekali-kali diganggu usik.
Begitulah setelah menerawang situasi di hadapan ini, secara licik ia berusaha mengambil keuntungan tanpa menanti Bik lian-hoa sempat membuka mulut ia mendahului ber-kata.
"Baik, kita tentukan demikian, biar Lo-hu melawanmu satu demi satu."
Ma Giok-liong menyahut dengan gagah.
"jikalau aku minta orang membantu, hitunglah aku yang kalah."
"Demikian juga Lohu!"
Ci-hu-sin-kun menyeringai licik, Lalu ia mengulapkan tangan keaiah Ci-hu-ji-lo.
"Kalian mundur dan jangan sembarangan bergerak."
Ci-hu-ji-lo mengiakan terus melompat mundur dua tombak jauhnya menonton dari kejauhan.
Nama Kim-pit-jan hun memang sudah tenar dan menggetarkan Bulim, tapi yang betul betul pernah melihat atau menjajal kepandaian Giok-liong sejati masih belum banyak orang.
Seluruh hadirin bersitegang leher menahan napas, suasana menjadi sunyi seakan tiada insan hidup ditempat ini, seumpama sebatang jarum jatuh juga dapat didengar dengan jelas.
Dalam pada itu Ci-hu-sin-kun sudah mulai mengerahkan tenaga Lwekangnya serta menggeser tempat mencari kedudukan yang menguntungkan.
Ma Giok-liong menjura kearah Bik-lian-hoa tanpa bersuara, terus melompat ke samping setelah sana berhadapan dengan lawan sejauh setombak lebih, kabut putih mulai mengepul bergulung seperti gumpalan bunga salju.
"Buyung, sambutlah pukulanku !"
"Silakan keluarkan kemampuanmu !"
Mega putih berkelompok menyelubungi pancaran sinar putih perak, sebaliknya di sebelah sana bayangan kepelan tangan berlapis-lapis, hawa ungu membumbung tinggi bagai asap.
Begitu kedua lawan melancarkan serangannya terdengarlah ledakan gemuruh, batu pasir beterbangan menari-nari, hawa sekitar gelanggang menjadi mengalir cepat menghembus deras melambaikan baju para penonton diluar gelanggang.
Lambat laun sinar perak dan hawa ungu itu saling bergulung dan menggubat menjadi satu, begitu cepat dan tangkas sekali mereka bergerak sehingga bayangannya saja sukar dibedakan mana Giok-liong dan yang mana pula Ci-husin-kun.
Yang jelas kelihatan banyalan hawa ungu kadang-kadang mumbul tiba-tiba tenggelam naik turun bergantian, Demikian juga kabut putih itu-saban-saban melambung luas dan melayang ringan, sekonyong-konyong bergulung-gulung cepat seperti dihembus angin badai mengelilingi pancaran linar perak yang cemerlang.
Diam diam Bik-lian hoa manggut-manggut.
Demikian juga para penonton lainnya merasa kagum dan memuji.
Mendadak terdengar suara gemboran keras diselingi jengek tawa dingin, kedua bayangan musuh yang sedang berkutet itu mendadak berpencar melompat mundur sejauh setombak.
Kedua biji mata Ci-hu-sin kun mendelik besar seperti kelereng yang hendak mencelat keluar, air mukanya serius dan membesi, lengannya digerak-gerakkan sambil mengusapngusap telapak tangan, bergaya siap menubruk lagi.
Ma Giok-liong pentang kedua matanya yang memancarkan sorot berkilat, wajahnya yang putih ganteng bersemu merah, tenang sekali ia bergaya memasang kuda-kuda, sambil menyiapkan kedua tangannya melintang di depan dada.
Melihat sikap Giok-liong ini Bik-lian-hoa menjadi kwatir, omelnya dalam hati.
"Bocah ini terlalu berani, bagaimana kuat dia berani mengadu Lwekang dengan Ci-hu-sin-kun."
Namun ia tidak berani bersuara memperingatkan, takut mengganggu konsentrasi Giok-liong.
"Omitohud !"
Siau lim Ciang-bun Hian-khong Taysu bersabda Budha dengan nada rendah.
Hakikatnya siapapun tiada yang berani mengorbankan jiwanya untuk menempuh bahaya menolong situasi yang gawat ini, sebenarnya memang tiada seorangpun diantara hadirin yang punya pegangan termasuk Bik-lian hoa sendiri yang berani menempuh bahaya ini.
Tapi betapa juga Bik-lian-hoa sudah menghimpun Lwekang bersiap-siap turun tangan bila diperlukan.
Tatkala mana hawa ungu diwajah Ci hu-sin-kun semakin tebal Demikian juga semu merah dimuka Giok-liong semakin besar, seluruh badannya diselubungi kabut putih, akhirnya kabut ungu menjadi gelap dan Ci-hu-sin kun dikerahkan sampai puncak tertinggi.
Berhadapan dengan mega putih yang semakin tebal.
Jilo sudah dihimpun sampai titik paling sempurna.
Dua musuh tua dan muda dalam waktu sedetik atau semenit ini bakal mengadu kepandaian membagi hidup dan mati.
Sekonyong-konyong, dari kejauhan diufuk langit sana terdengarlah suitan panjang yang melengking tinggi menggiriskan sukma orang, disusul suitan lain saling berebut dari berbagai penjuru, seluruh pegunungan Bu-tong-san, dari berbagai penjuru terdengar lengking suitan yang menggetarkan sukma itu.
Kalau disebelah sana terjadi suatu keributan yang menggemparkan lagi, tapi ditengah gelanggang bayangan putih dan ungu sedikitpun tidak terganggu atau tergugah oleh suitan yang menyayatkan itu."
Mereka masih tegas dalam tujuan pertama mengadu jiwa sampai mati.
"Haha ..."
"Hai ..."
Dua gerangan dan gemboran keras berbareng keluar dari mulut kedua lawan yang berhadapan itu.
Kabut ungu tiba-tiba meletus sampai lima tombak luasnya terus menubruk kedepan dengan kekuatan dahsyat.
Mega putih juga mengembang luas sekitar lima tombak sekelilingnya, menerpa deras kearah musuh, sedetik sebelum kedua kekuatan dahsyat kedua belah pihak saling bentrok, mendadak sejalur bayangan ungu meluncur datang dengan kecepatan anak panah terus menyelusup diantara gelombang pukulan yang hampir beradu itu terdengar suara berteriak keras "Jangan!"
Namum suara itu menjadi kelelap oleh ledakan gemuruh yang menggoncangkan bumi dan memekakkan telinga sehingga jantung para penonton berdebur keras, napas juga menjadi sesak seperti dada ditimpa godam.
Kejadian adalah begitu cepat, kabut ungu seketika lenyap tampak badan Ci hu-sinkun yang tinggi itu melayang ringan jatuh meluncur setombak diluar sana.
Begitu juga mega putih lantas ditarik kembali, bayangan Giok-liong jumpuIitan mendarat diatas tanah.
Sebuah bayangan ungu lain adalah seorang gadis jelita yang terbanting keras diatas tanah, mulut kecilnya langsung menyemburkan darah segar, wajahnya pucat pasi, rambutnya nap-riapan menggeletak celentang tanpa bergerak.
Peristiwa ini terjadi begitu cepat dan di luar dugaan, boleh dikata hanya sekedipan mata belaka.
Serentak Ci hu-ji lo melejit maju, berbareng mereka berseru.
"Tuan putri!"
Belum sempat Ci tau-sin-kun pernahkan diri dan menormalkan pernapasannya ia menjadi kaget setengah mati, seketika air mukanya berubah pucat dengan terhuyung ia memburu maju sambil berteriak.
"Anak Ling! anak Ling!"
Saat mana Giok-liong juga sudah melihat, keadaan Kiong Ling-ling yang mengenaskan itu.
Teringat akan budi kebaikan Kiong Ling-ling yang telah berdampingan bersama Tan Soatkiau menolong jiwanya, hatinya menjadi haru dan tak tega, sekuatnya ia melangkah maju sambil berteriak.
"Nona Kiong!"
Ci-hun-sin-kun mendelikan matanya semprotnya mendesis.
"Apa pedulimu!"
Ma Giok-liong juga tidak mau kalah garang, tentangnya berani.
"Apa! Mau coba-coba lagi?"
Ci-hu-sin-kun sudah malang melintang memimpin golongan hitam sekian tahun lamanya, jelek-jelek ia seorang cikal bakal sebuah perguruan silat maha agung, dalam gebrak pertama ini tanpa dapat dibedakan siapa menang dan asor, ini sudah merupakan pukulan batin dan jatuh pamor baginya, mana kuat ia mendengar ejekan Giok-liong yang kurang ajar ini.
Maka sambil melintangkan kedua tangannya, ia menghardik dengan murka.
"Bocah sombong, kau sangka aku takut!"
Tiba-tiba bayangan hijau melejit datang menghadang dihadapan mereka. ternyata Bik-lian hoa sudah berdiri ditengah gelanggang sambil berseri tawa, ujarnya.
"Tidak perlu bertanding lagi, kalah menang sudah kelihatan! "
"Apa kalah menang sudah berketentuan?"
Semprot Ci-hu-sin-kun tercengang, matanya membelalak gusar. Bik-lian-hoa menarik badan Giok-liong, ujarnya lembut.
"Nah, mari kita pergi, gebrak pertama ini kemenanganmu bagus sekali."
Giok-liong tidak tahu kemenangan cara bagaimana yang dikatakan itu, tanyanya.
"Aku ..."
Bik-lian-hoa menyelak.
"Pihak Ci-hu-bun telah melanggar janji, dua lawan satu malah yang satu terluka parah lagi bukankah sangat mentereng kemenangan mu ini."
Ci hu-sin-kun menjadi gugup dan menggerung gusar.
"Omong kosong belaka anakku..."
"Anak gadismu membantu kau toh masih kewalahan jaga, Haha, sungguh memalukan!"
Demikian jengek Bik-lian-hoa. Sebaliknya Ma Giok liong menyangkal.
"Dia bukan membantu, tapi..."
Giok-liong tahu bahwa tujuan Kiong Ling-ling adalah hendak melerai dan mencegah pertampuran ini, siapa tahu dia sendiri yang konyol terluka parah.
Tak duga Bik lian hoa melerok kearahnya sambil omelnya.
"Bocah gendeng, ayah anak kandung sendiri kalau tidak membantu dia masa membantu kau malah, Mari pergi!"
Keruan Ci hu-sin-kun semakin berjingkrak gusar seperti kebakaran jenggot, rambut diatas kepalanya sampai berdiri bergo-yang-goyang.
Tapi seumpama si bisu menelan empedu yang pahit, ada maksud berkata tapi tak dapat bersuara.
Dalam pada itu terdengarlah keluhan sakit Kiong Ling-ling yang mulai sadar dari pingsannya, Ujung mulutnya masih melelehkan darah, badannya lemah celentang di-tanah, dadanya kembang kempis pernapasannya memburu cepat.
Menolong orang lebih penting, maka sambil membanting kaki segera Ci-hu-sin-kun merogoh pulungan obat dari dalam bajunya terus berjongkok menuang dua butir pil sebesar anggur terus dijejalkan ke mulut anaknya.
Lalu dijinjing dan dipeluknya badan putrinya lalu ancamnya kepada Giok liong penuh kebencian.
"Buyung, ingat perhitungan hari ini."
Lalu membentak kearah Ci-hu ji-lo.
"Ayo pulang!"
Sekejap saja bayangan mereka sudah meluncur jauh keluar hutan sana dan menghilang.
Mengantar kepergian Ci-hu-sin-kun, perasaan Giok-liong menjadi mendelu dan tertekan seperti kehilangan sesuatu.
Enjah mengapa hatinya merasa menyesal, terasa olehnya bahwa derita yang menimpa Kiong Lin-ling adalah penasaran belaka, meskipun dirinya tidak sengaja hendak melukainya, tapi mengapa ia merintangi pukulan ayahnya sedang serangan tangannya ...
Giok liong menduga bahwa iuka-Iukanya itu pasti sangat parah, karena serangan yang dilancarkannya itu merupakan himpunan seluruh kekuatannya, betapa hebat hantaman dahsyat itu boleh dikata merupakan ketahan seluruh tcekuatan latihannya selama ini.
Masa ia kuat bertahan jikalau hantaman nya ini sampai menghancur leburkan isi perutnya ...
Giok-liong tidak berani memikirkan akibat selanjutnya.
"Cian-pwe selamat bertemu !"
Setelah menjura kearah Bikliau-hoa Giok-liong ber-siap angkat langkah mengejar kearah jurusan Ci-hu sin-kun itu.
"Kemana kau ?"
Bayangan hijau berkelebat tahu tahu Biklian-hoa sudah menghadang dihadapannya menatap tajam kearahnya.
"Aku hendak melihat keadaan Kiong Ling-ling."
Situasi menjadi ribut iagi, bayangan berloncatan mendesat, terdengar dengusan dan makian orang banyak.
"Enak benar mau tinggal pergi !"
"Hutang darah golongan Go-bi-pay Harus kau bayar dengan darahmu pula !"
"Benar urusan ini tokh belum selesai, mau ngacir !"
Thian-san-sam-kiam, Ciong-lam koay-to berserta Hiankhong yang memimpin kedua belas muridnya segera merubung datang mengelilinginya, Tak ketinggalan Hiat-ing-su ai juga berpencar keempat penjuru.
Melihat sepak terjang pihak musuh, Giok-Iiong menjadi bergelak tawa dengan angkuhnya, Sorot matanya mulai buas penuh nafsu membunuh, teriaknya keras.
"Kalian mau apa ?"
Bik-liap hoa juga bertolak pinggang dan berdiri dengan angkernya, bentaknya nyaring.
"Hendak main keroyok ya ?"
Siau-lim Ciang-bun Hian khong Taysu merangkap tangan sambil bersabda Buddha lalu sahutnya perlahan .
"Nona Li jangan kau lupa bahwa Bu-lim-su-bi adalah kaum cendekia yang mengenal keadilan, golongan kependekaran yang diagungkan !"
"EaidtjiTifa kau sangka Sia-mo-gwa-to !"
Jengek Bik-lianhoa. Ka Liang-kiam salah satu dari Thian-san-sam-kiam ikut menyelak bicara.
"Lalu mengapa tidak menegakkan keadilan dan kebenaran."
Berubah air muka Bik-lian hoa didesak begitu rupa, makinya tak senang.
"Hidung kerbau menjadi filiranmu berani menuding nonamu ?"
Meagandal kedudukan dan wibawa Thian-san sam-kiam memang tidak berani banyak mulut lagi terhadap Bik-lian-hoa. Muka Ka Ling-kiam menjadi merah, sahutnya tergagap.
"Mana berani, tapi...tapi bocah ini ..."
Giok-liong menjadi gusar selalu dimaki bocah ingusan semprotnya congkak.
"Hai, mari tampil kedepan, jangan pintar bersifat lidah melulu !"
Hiat-ing su-ai terkekeh-kekeh dingin, terlihat bayangan merah darah mulai bergerak "Sungguh menyenangkan. Memang harus begitulah cara penyelesaiannya !"
Serentak mereka bergerak siap hendak melancarkan serangan gabungan.
Belum lagi mereka sempat bergerak, tiba-tiba sebuah jeritan panjang mengalun tinggi ditengah udara, Dipuncak Butong-san didalam Sam cing koan terdengar suara bentakan yang riuh rendah.
Sebuah bayangan orang melesat turun bagi anak panah, begitu cepat seperti mengejar setan laksana meteor jatuh langsung menuju ke kalangan sini.
Keruan seluruh hadirin bercekat hatinya, serentak mereka mementang lebar mata masing masing memandang kearan sana.
"Bluk!"
Tahu-tahu bayangan hitam yang meluncur datang itu tiba-tiba terkapar jatuh diatas tanah, terang menderita luka berat ditambah harus mangerahkan tenaga berlari kencang sehingga tak kuat lagi dan terbanting keras.
Serentak puluhan bayangan tokoh-tokoh silat melejit maju memeriksa.
Tampak bayangan yang meluncur jatuh itu bukan lain adalah seorang Tosu tua yang berjenggot panjang dan bermuka kuning, sepasang matanya mendelik banyak putih dari hitamnya, dari lubang kuping, hidung dan mulutnya merembes darah segar.
"Bu-tong-ciang-bun !"
"Cin-cin-cu, dia ..."
Hiat khong Taysu Ciang bun-jin Siau-lim-pay segera memburu maju terus membopongnya, tangannya segera meraba pergelangan tangan, suaranya terdengar gemetar .
"Toheng! Ciang-bun! Kau ..."
Pernapasan Cin cin-cu Ciang bun-jin Bu-tong pay banyak dihembuskan dari disedot, kelopak mata serta bibirnya bergerak-gerak, agaknya ingin berkata namun tak kuasa mengeluarkan suara, napasnya sudah kempas kempis.
Kesepuluh jarinya mencengkeram dalam kedalam tanah dari sini dapat dibayangkan betapa sakit dan parah luka yang dideritanya.
Dari dalam Sam ceng-koan saban-saban terdengar jeritan dan pekik kesakitan yang mengerikan, sungguh seram dan mendirikan bulu roma.
"Celaka, pasti Sam ciang-koan telah terjadi sesuatu mara bahaya!"
Demikian teriak Ciong-lam-koay to Ji-ngo.
"Ya, bencana kehancuran telah terjadi di sana."
Ujar Biklian-hoa sambil mengerutkan kening.
"Apakah ini juga perbuatanku ?"
Jengek Giok-liong aseran. Thian-san-sam-kiam tadi jatuh pamor karena disenggak oleh Bik-lian-hoa. kini saatnya telah tiba untuk melampiaskan kedongkolan hatinya, seringainya sinis.
"Ada kemungkinan..."
Sedapat mungkin Giok-liong menahan sabar, gerungnya.
"Mari kita tengok kesana."
Tanpa menanti jawaban kaki segera menjejak tanah, tubuhnya lantas melambung tinggi, hebat memang ilmu Leng-hun-toh yang dikembangkan begitu melesat langsung berlari kencang menuju kearah Sam-cengkoan!
sengaja ia mendahului yang lain saking dongkol tadi, besar harapannya dapat memeriksa dan mencari sumber kejahatan yang tengah berkecamuk ini.
Maka sedikitnya ia tinggalkan para tokoh-tokoh silat itu dua puluhan tombak jauhnya.
Keadaan Sam-cing-koan ternyata sunyi senyap, tanpa terdengar sedikit suarapun.
Luncuran tubuh Giok liong begitu pesat, sekali loncat puluhan tombak dapat dicapainya, undakan batu sebanyak tiga ratus enam puluh lapis hanya dua kali loncatan saja tubuhnya gudah menerobos masuk kedalam biara agung.
Begitu kakinya mendarat ditanah, hidung Giok liong lantas dsrangsang bau amis yang memualkan, dilihatnya noktahnoktah darah berceceran, mayat bergelimpangan patungpatung pemujaan banyak yang roboh dan tak keruan lagi letaknya, Diatas dinding darah dan cairan otak manusia menjadikan peta bergambar yang menyolok mata, kaki tangan serta kepala manusia yang tidak lengkap lagi dengan badannya berserakan dimana-mana.
Sesaat Giok-liong menjadi tertegun dan mengkirik.
segera ia kerahkan Leng-hun-toh badannya menerobos pesat beberapa bangunan biara lain menerjang kebelakang.
Sepanjang jalan yang dilalui jenazah orang tiada seorangpun yang ketinggalan hidup, jangan dikata hidup yang terluka parah saja tiada.
"Siapa yang turun tangan sekejam ini!"
Demikian Giok-liong membatin, tubuhnya masih bergerak lincah berloncatan dari ruang sini keatas rumah sana, sampai akhirnya tiba di-ruang belakang Sam ceng-koan, keadaan sama tiada bedanya.
Tiba-tiba dari ruang semadi sebelah samping sana terlihat sebuah bayangan kuning berkelebat teraling kain gordyin terus menerobos keluar melalui jendela.
"Siapa!"
Seiring dengan bentakannya Giok-liong melesat mengejar, Betapa cepat gerakkan Giok-liong itu, namun bayangan kuning itu mendahului bergerak dan lebih cepat lagi.
Tampak tungku besar didalam ruang semadi itu roboh, api masih membara, segala barang perabot morat-marit tak karuan, Dua orang Tosu muda tampak menggeletak digenangi air darah, perut mereka sobck sehingga isi perutnya dedel dowel, dan badannya terasa belum dingin seluruhnya, terang bahwa belum berselang lama ia dibunuh orang.
"Tak percaya kau dapat bergerak begitu cepat !"
Giok-liong menggumam seorang diri, jendela sebelah belakang dipentangnya terbuka.
Betul juga dilihatnya sebuah bayangan kuning seperti meteor jatuh laksana anak panah terlepas dari busurnya tengah berloncatan lincah sekali lari ke arah hutan lebat di belakang gunung sana inilah sumber penyelidikan satusatunya yang ada.
Tanpa ayal lagi Giok-liong segera menerobos keluar dengan kencang ia kembangkan Leng-huntoh seperti awan mengembang entengnya terus mengejar dengan pesatnya.
Baru saja Giok-liong melesat keluar Di luar ruang semadi sana terdengar suara ribut serta dc.SJ p 1 a'ci o^,ng banyak yang menda ia u(ji.
Ciong-lam-koay-to Ji.ngo baru saja sampai diambang pintu, mendadak melompat mundur lagi serta berteriak .
"Kita semua sudah diapusi dan tera&nli oleh tipu muslihatnya."
"Diakali bagaimana?"
Teriak Ka Liang-kiam dengan uringuringan.
"Bocah itu banyak tipu muslihatnya dengan tipu harimau meninggalkan sarangnya serta cara suara di timur hantam dibarat, seorang diri ia menghambat kita di depan gunung, sedang kamrat serta kawan-kawan-nya mencuci bersih Samcing-koan dengan darah."
Hian-khong Taysu Siau-lim Ciang-bun-jin menjadi raguragu, katanya .
"Ini, .."
"Ini apa ? Pasti tidak akan salah !"
"Tapi selama perjalanan ini Kim-pit-jan hun tiada punya seorang temanpun."
"Itukan kelicikannya saja. Coba kalian lihat !"
Semua orang berpaling kearah yang ditunjuk oleh Cionglam koay-to di belakang jendela sana, Terlihat jauh ratusan tombak sana dua titik kuning dan putih tengah berkejaran dengan pesatnya.
"Bocah licik dan keji!"
Maki Thian-saa-sam-kiam bersama. Sesaat Bik-lian-hoa sendiri menjadi bimbang, lalu katanya sambil mengerutkan kening.
"Sebelum duduk perkaranya dibikin terang, lebih baik kalian jangan main tebak dan tuduh sembarangan."
Ciong lam-koay to menjadi tidak senang bantahnya.
"pendengaran kuping mungkin bisa salah, tapi kenyataan mata kita sudah melihat sendiri, Apakah nona Li tadi tidak melihat ?"
Bik-lian-hoa menjadi dongkoI, semprotnya.
"Jadi kau sudah tahu pasti dan terang bahwa dia yang melakukan semua ini ? Apakah tidak mungkin ia mengejar musuh yang tengah mengundurkan diri !"
Ciong-lam koay-to bergelak tertawa, serunya .
"Bukankah nona Li rada eman dan sayang pada bocah itu, Terpaksa Pinto tak bisa banyak bicara lagi."
Kapan Bik -lian-hoa pernah dibantah otnongannya di hadapan sekian banyak orang seketika ia menjadi gusar, semprotnya.
"Hidung kerbau, berani kau bicara kurang ajar terhadap aku, sudah bosan hidup kiranya ?"
Orang kebiasaan berkata.
"Membunuh seorang Hwesio membikin malu seluruh penghuni kelenteng."
Sudah tentu makian "hidung kerbau"
Ini bukan saja memaki Ciong-lamkoay-to, tapi bagi pendengaran Thian-san-sam-kiam juga menusuk telinga dan mengetuk hati, seketika merah jengah selebar muka mereka.
"No ... Li ..."
Ka Liang-kiam tergagap bicara.
"Kau panggil aku apa ?"
Tuding Bik-lian-hoa sambil mendelik.
"Li-cian-pwe kau membela bocah itu, begitu rupa, apa mungkin..."
Sepasang mata Bik lian hoa yang jeli seperti mata burung Hong yang memancarkan sorot aneh, sinar matanya ini sukar dapat dilihat tapi sebetulnya begitu agung dan penuh rasa welas asih.
Lama dan lama kemudian baru ia meghela napas, katanya lembut.
"Ai, umpama aku tidak ikut campur dalam pertikaian ini. Mengandal kalian para tua bangka yang tidak berguna ini masa dapat berbuat apa terhadap dia. Tadi kalian sudah melihat sendiri betapa hebat Sam-ji cui-hun-chiu, Lwekang yang hebat serta hawa pelindung badan yang kokoh."
Ciong-lam koay-to masih belum kapok, jengeknya.
"Sinar kunang-kunang, silat kembangkan belaka."
"Bik lian hoa mengejek hina, dengusnya.
"Hm, coba kutanya bagaimana kepandaianmu dibanding Ci-hu-sin-kun?"
Cep celakep Ciong lam koay-to menjadi bungkam seribu basa, Sudah tentu Thian-san sam kiam juga menjadi malu, kalian lama mereka menjadi kikuk dan keki, akhirnya Ka Liang kiam mencari alasan belaka.
"Omong kosong belaka tak berguna, To heng! Kejar bocah itu lebih penting."
Inilah kesempatan untuk menarik muka, sudah tentu Ciong-latn-koay-to menjadi ber-semangat."
Ya betul, mari kita kejar !"
Lalu beriring mereka melompat keluar jendela.
Melihat tiada sesuatu yang perlu digondeli di tempat ini, tanpa bersuara apa-apa Hiat ing-su-ai saling memberi syarat kedepan mata, serentak mereka mengapung tubuh menerjang keluar juga terus menghilang di kejauhan sana.
"Kalian boleh kejar!"
Ejek Bik-lian hoa.
"kuharap kalian tidak ketemu, ini terhitung untung kalian!"
Tanpa pamit lagi ia melayang keluar terus menghilang. Sete!ah mereka pergi Thian-san sam kiam mendesak kepada Siau-lim Ciang-bun Hian-khong Taysu.
"Taysu adalah Bing cu dari partai sembilan besar aliran lurus, urusan kali ini bukan sembarang urusan, betapa juga jangan menggendong tangan tinggal menonton saja"
"Ai!"
Hian-khong menghela napas panjang, Alisnya berkerut dalam, katanya penuh prihatin.
"Urusan ini harus kita rundingkan dan hadapi dengan hati-hati. Bencana besar yang menimpa Kangouw sejak ratusan tahun agaknya mulai kumat lagi, ini bukan kekuatan Lolap seorang dapat mengatasinya."
"Maka itu marilah kita pikirkan bersama cara bagaimana harus membendung bahaya ini."
Demikian seru Thian san sam-kiam bersama. Hian-khong Taysu tertawa getir, katanya sambil manggutmanggut.
"Maksud Pinceng, seumpama kita gabung seluruh kekuatan sembilan besar aliran lurus juga belum tentu dapat berlawanan dengan para iblis laknat yang mengganas itu ! Maka ..."
Sekian lama ia merenung tak kuasa ambil keputusan yang positip.
"Kalau begitu kita hidup berdikari secara untung-untungan saja, Mari pulang !"
Ujar Ka Liang-kiam sambil tertawa ejek.
"Omitohud ! Mari kita juga pulang gunung !"
Serentak dua belas murid besar Siau-lim pay merangkap tangan bersabda Buddha sambil meramkan mata, mengiring di belakang Ciang bunjin mereka terus berjalan keluar melalui mayat-mayat yang bergelimpangan dibiara besar Sam ceng koan ini terus turun gunung.
Sementara itu Giok-liong yang mengerahkan seluruh tenaganya mengembangkan Leng-hun-toh dengan kecepatan kilat meluncur, sekejap mata saja sedikitnya sudah puluhan li ditempuhnya.
Namun bayangan kuning didepannya itu masih berjarak tiga empat puluh tombak, begitu lincah dan pesat sekali dari bayangan itu hahikatnya tiada niat hendak berhenti.
BegituIah kejar mengejar terus terjadi akhirnya Giok-liong merasa akan keganjilan keadaan yang ditempuhnya ini.
Ternyata gerak langkah bayangan kuning didepan itu cepat atau lambat memang sengaja dilakukan, mengikuti perobahan Leng hun-toh dirinya yang dikembangkan ini.
Terang bayangan kuning ini memang sengaja hendak memancing dirinya.
Apakah ia hendak memancing aku masuk ke dalam perang-kapnya ?
Sekilas pikirannya ini menjadi hati Giok-liong yang berdarah panas menjadi dongkol, keinginan menang sendiri membara dalam benaknya, serentak ia empos semangatnya dan himpun tenaga sampai tingkat ke sepuluh, sedikit saja pundaknya bergoyang, bayangan tubuhnya laksana segulung asap mengembang meluncur lebih cepat lagi berapa lipat ganda.
Bayangan kuning didepan itu agaknya rada terkejut ditengah udara ia bergaya indah berjumpalitan terus membelok kesamping terus meluncur kepuncak sebuah bukit yang terjal dan tinggi, nyata gerak geriknya ini juga tidak kalah pesatnya.
"Seumpama harus menerjang rawa naga dan sarang harimau juga harus kulakukan !"
Demikian Giok-liong berpikir dalam hati, sedikitpun tidak kendor pengejarannya, Tanpa disadari kini ia telah kembangkan tenaganya sampai puncak kedua belas, suatu hal yang belum pernah dilakukan selama ini.
Bayangan kuning didepan itu secara tiba tiba putar balik dan meluncur dengan cepat sekali, Giok-liong yang berada dibelakang mengejar dengan penuh nafsu, karena tidak sengaja hampir saja mereka saling bertubrukan ditengah udara, kedua belah pihak sama-sama berseru kejut, begitu saling sentuhan lantas berpisah.
Bayangan kuning berdiri terlongong disebelah sana, Demikian juga Giok-liong menjadi mengeluh heran.
"Malam telah larut dilembah pegunungan yang sepi ini, kenapa tuan mengejar aku sedemikian kencang, apa maksud tujuanmu?"
Suaranya merdu lincah menggerakkan lidah lagi seumpama burung kutilang tengah berkicau, bukan saja nyaring merdu, malah mengandung daya sedot yang mempesonakan menjadikan perasaan orang ringan dan berangan-angan.
"Hai, mengapa kau tidak bicara?"
Berkedip-kedip Gionk-Iiong mengamati bayangan kuning itu, Tampak olehnya bahwa bayangan kuning tadi kiranya adalah seorang gadis remaja belia yang mengenakan pakaian serba kuning ala dayang-dayang dikraton kerajaan, baju yang longgar itu dihembus angin melambai-lambai ditambah rambut sanggulnya yang meninggi raut mukanya lonjong bundar telur, alisnya melengkung laksana bulan sabit menaungi sepasang mata yang bundar bening kemilau, hidung mancung bibir tipis seperti delima merekah, sikapnya agung seperti tertawa, jadi sukar diraba perasaan hatinya.
Gadis cantik semampai yang bersikap agung mempesonakan ini tak ubahnya seperti bidadari yang turun dari kahyangan.
"Hai apa kau seorang juri yang sedang menilai pragawati, Aku bukan sedang beraksi!"
Ucapan yang nyaring tawar, seketika membuat selebar muka Giok-liong merah padam. Agak lama kemudian baru ia menjilat-jilat bibir dan batuk batuk, katanya.
"Di Sam ceng-koan tadi, kau..."
Tak kuduga si gadis sudah menyenggak lebih dulu.
"Kim pit-jan-hun! Kau kan bukan Tosu, urusan di Sam ceng-koan itu lebih baik kau jangan turut campur!"
Giok-lioug tersurut mundur dengan kaget, tanyanya.
"Kau kenal aku?"
Gadis remaja itu tertawa kering cekikikan, sahutnya.
"Siapa yang tidak kenal Kim-pit-jan-hun Ma Giok-liong yang namanya sudah tenar cemerlang di tengah jagat ini!"
Giok liong menjadi rikuh, katanya.
"Nona..."
"Aku dari aliran Ui hoa-kiau!"
Giok liong lebih tercengang, Ui-hoa-kiau atau agama kembang kuning ini adalah suatu aliran luar lain yang sejajar dan kenamaan bersama Bu-lim-su-bi dulu, ratusan tahun yang lalu sudah menggetarkan Bulim.
"Kaucu Ui-hoa kiau sekarang bernama Kim Eng, berwatak aneh diantara lurus dan sesat, banyak akal muslihatnya, seorang yang tidak mempunnyai pendirian tetapi suka bekerja melihat jurusan angin, selamanya bekerja seorang diri. Karena terlalu banyak perbuatannya yang tercela sehingga seluruh kaum persilatan dari golongan hitam dan aliran lurus sangat membenci dan hendak melenyapkan kumpulan jahat ini dari muka bumi. Sungguh tak nyana setelah sekian lama memendam diri kini mulai muncul lagi di-kalangan Kangouw."
Bercekat hati Giok-liong, sebab Hutan kematian Mo-kok, (Sarang iblis) serta Istana beracun tiga aliran besar persilatan golongan jahat yang sudah sekian lamanya mengasingkan diri dari keramaian dunia sekarang mulai bermunculan kembali ditambah Kim-i dan Hiat-hong-pang, menjadikan situasi dunia persilatan semakin gawat dan kacau balau.
Sekarang kalau Ui-hoa-kiau jaya kembali, maka dunia persilatan bertambah sealiran golongan iblis laknat sumber bencana, maka tidaklah heran dan tidak perlu disangsikan lagi pembunuhan berdarah dalam kalangan Kangoaw bakal terjadi sawaktu-waktu.
Demikianlah karena kekuatirannya dan Giok-liong menjadi tunduk berpikir dan menerawang tindakan apa yang harus dilaksanakan sehingga ia terlongong berdiri di tempatnya.
"Siau-hiap, kenapa kau ? semalaman suntuk kau mengejar aku, kenapa malah bungkam ?"
"Karena urusan yang terjadi di Sam-ceng koan itulah !"
"Bukankah sudah kukatakan bahwa para Tosu di Sam cengkoan itu semua adalah laki-laki palsu belaka. Lahirnya mereka mensucikan diri, tak tahunya secara diam-diam dengan jalan belakang saling rebutan kedudukan dan tamak jabatan, siangsiang mereka sudah setimpal untuk diberantas seluruhnya !"
"Tapi perbuatan kalian ini kenapa sampai menyangkut diriku ?"
"Oh, jadi kau takut kena perkara ?"
"Takut ? Apa yang perlu kutakutkan ?"
"Kalau tidak takut peduli apa ?" (BERSAMBUNG
Jilid KE 14)
Jilid 14 Gadis remaja ayu jelita serba kuning itu unjuk senyum manis lalu putar tubuh, pelan-pelan ia berlenggok menuju kesebuah jalanan gunung.
Sang putri malam tengah memancarkan cahayanya yang gemilang, pemandangan alam semesta malam nan sunyi ini bertambah semarak dan mempesonakan.
Giok-liong mencuri lihat bayangan punggung gadis jelita yang sedang berlenggok itu, sedemikian gemulai ia berjalan seakan-akan bidadari tengah menari dibawah sinar bulan purnama, sungguh indah cantik molek lagi.
Sesaat Giok-liong menjadi terlongong-longong kesima, teringat olehnya akan istri tercinta yang masih ketinggalan di Hwi-hun-san-ceng, bukankah saat-saat mereka berpisah juga di waktu bulan purnama begini.
Dirabanya saputangan pemberian sang kekasih yang penuh kenangan itu, tak terasa ia menghela napas sedih, pikirnya .
"Kapan baru aku dapat membikin terang riwayat hidupku, menuntut balas sakit hati keluarga, melenyapkan awal ilalang bencana yang bakal menimpa Bulim, lalu kembali ke Hwi hunsan cheng berkumpul dan hidup bahagia bersama istri tercinta. Remuk luluhlah angkara murka yang selama ini menghantui sanubari Giok-liong yang selalu dikejar keributan, Akhirnya ia menghela napas lalu membalik tubuh hendak tinggal pergi.
"Hendak kemana kau ?"
Sebuah seruan nyaring merdu disusul bayangan kuning berkelebat tiba-tiba gadis remaja baju kuning itu telah menghadang dihadapannya.
Lagi-Iagi bercekat hati Giok-liong timbul kesiap siagaan dalam hatinya, Ji lo dikerahkan sehingga mega putih mulai menguap keluar keluar dari badannya, matanya menyapu pandangan, katanya.
"Jadi kau bermaksud merintangi aku?"
"Yang terang adalah kau yang mengejar aku bukan?"
"Sekarang aku tidak perlu mengejar lagi."
Setelah berkata Giok-liong melangkah maju melewati sisi samping gadis serba kuning terus berjalan turun gunung.
"Hm, hm! "
Jengek dan tertawa dingin keluar dari mulut gadis baju kuning yang tnung!h Giok-liong jadi tersentak berhenti.
"Apa yang kau tawakan?"
Tanyanya.
"Aku geli dan kecewa karena mataku buta melek, salah mengenal orang."
Giok-liong semakin tak mengerti dan garuk-garuk kepala yang tidak gatal, tanyanya selidik.
"Apa maksud ucapan ini?"
Terdengar suara sesenggukan terlihat pula si gadis rupawan itu tengah menyeka matanya dengan ujung lengan bajunya, terang bahwa ia yang sedang menangis, agaknya hatinya sangat rawan dan sedih sekali sampai tak tertahan ia sesenggukan semakin keras.
Diatas pegunungan yang sunyi pada tengah malam, dibawah pancaran sinar sang bulan purnama terdapat seorang gadis remaja yang rupawan ini sudah sangat janggal dan mengherankan.
Tapi justru sesenggukan tangis si gadis ini lebih aneh Iagi.
Terpaksa Giok-liong tidak bisa tinggal pergi begitu saja, urusan banjir darah di Sam ceng-koan boleh dikesampingkan.
Sebaliknya gadis jenaka ini mengapa rnendadak menangis ini harus dicari tahu.
"Nona, kenapa kau?"
"Jangan tanya aku!"
Urusan di dunia ini sungguh sangat aneh dan ganjil sesuatu yang ditanyakan kalau tidak dijelaskan semakin menarik perhatian. Maka Giok-liong melangkah setindak serta desaknya.
"Apakah kau punya sesuatu kesukaran?"
"Peduli apa dengan urusanmu?"
"Mungkin aku yang rendah dapat membantu sekuatnya untuk mengatasi kesukaranmu itu."
"Semula memang aku berpikir begitu, maka besar sekali harapanku !"
"Lalu sekarang bagaimana ?""
"Lenyap dan sirna sudah harapanku itu, menjadi kosong belaka."
"Kenapa bisa begitu ?"
Gadis baju kuning mendongak melihat rembulan, air mata meleleh deras membasahi pipinya, sebelum membuka suara ia menghela napas rawan, lalu ujarnya penuh duka.
"Selama puluhan tahun aku hidup merana dan penuh dengan derita, Belum lama ini aku dengar berita akan munculnya seorang pendekar besar di kalangan Kangouw, maka kuimpikan untuk bertemu dengan kau, ingin aku minta bantuanmu untuk menolongku keluar dari serangan derita yang menyiksa badan ini. Maka kutempuh suatu bahaya, melanggar pantangan atau disiplin agama memancingmu datang kemari, Tak duga kau ternyata bernama kosong belaka, tak lain seorang yang bersikap dingin mengenal ..,"
Sebetulnya ia hendak mengatakan tak mengenal kasih.
Tapi agakaya rada likuk dan malu maka ditelannya kembali setelah jelas ia sesenggukan lagi semakin sedih, air mata tak terbendung lagi.
Giok liong seperti orang linglung tak dapat menyelami penjelasan orang tanpa juntrungan ini, katanya sekenanya.
"Aku tidak paham apa maksudmu!"
"Sudah tentu kau takkan paham !"
Gadis baju kuning menyeka air matanya lalu menunjuk delapan dedaunan warna hi.jau yang menghias mukanya serta berkata dengan sedih.
"Meskipun didalam Ui-hoa-kiau kedudukan hanya setingkat dibawah Kaucu, Tapi penderitaan batinku serta tempaan lahiriah yang penuh kegetiran ini siapapun takkan tahu !"
"Nona punya ganjalan hati apa, silakan jelaskan ..."
"Apa gunanya? Semula, harapan satu-satunya kulekatkan pada dirimu. sekarang ai ..."
Dasar GioK-"iong seorang lugu tak tahu ia harus bicara dari mana, katanya tertawa getir sembari mengelus-elus leher.
"Siapa tahu Tuhan maha pengasih, akhirnya aku bisa jumpa dengan kau. Wah, haha hahahaha..."
Gadis baju kuning tertawa menggila, belum selesai ia tertawa mulutnya sudah berteriak keras.
"Melihat lebih kenyataan dari pada mendengar Tak lebih hanyalah harimau kertas melulu, sia-sialah aku berdaya upaya menempuh bahaya melanggar peraturan agama. sekarang selain kematian, adakah harapan untuk hidup bahagia?"
Berkata sampai ucapan sedih yang mengetuk sanubari tak tertahan lagi, ia menggerung gerung.
Mendadak ia angkat tangan kanan serta membalikkan telapak tangan terus mengepruk kebatok kepala sendiri seraya berteriak memilukan.
"Ayah! Ibu, harap maafkan anakmu yang tidak berbakti ini. Dendam sakit hari kalian sela ma hidup ini sulit lagi untuk menuntut balas."
Kalau hantaman tangan sendiri itu benar-benar sampai telak mengenai sasarannya pasti jiwanya itu bakat melayang dan tamat diatas gunung yang semak belukar ini.
"Nanti dulu! "bayangan putih memburu maju coba mencegah.
"Hahahaha, bocah bagus, tepat sekali dalam dugaan, hahahaha!"
Seiring dengan gelak tawa yang menggelegar ini, empat bayangan merah kecil saling susul mendarat tiba, kiranya bukan lain adalah enpat manusia cebol dari Hiat-ing-bun.
Begitu Hiat-ing-su-ai muncul seketika merah jengah selebar muka Giok-liong, mulutnya terkancing sementara tangannya masih menyekal lengan gadis baju kuning.
Salah seorang manusia cebol itu menggoyangkan kepala serta berkata.
"Elmaut kematian sudah diambang mata masih mata keranjingan menggoda perempuan !"
PuIang pergi selalu dipanggil bocah ingusan menjadikan Giok-liong bertambah berang, ia lepas genggamannya sembari berkata lirih.
"Nona jangan lagi mencari jalan pendek, persoalanmu nanti kita bicarakan lagi. Biar kugebah dulu para kurcaci ini."
Sembari berkata ia tatap wajah gadis baju kuning penuh arti seperti menelan pil penenang syaraf gadis baju kuning kontan unjuk senyum dan hilanglah rasa sedih, sahutnya aleman .
"Baik !"
Di sebelah sana terdengar Hiat-ing-su ai berseru bersama.
"serahkan seruling samber nyawa, terserah kau hendak mengumbar nafsu, kita berempat tidak akan mengganggu mu lagi."
Giok-liong mengudal gelak tawa sekeras-kerasnya saking marah, kabut putih mulai menguap, cahaya perak mulai terpancar dari badannya.
Diam-diam Giok liong sudah kerahkan Ji lo untuk melindungi badan serta merta kedua tangannya bergerak setengah lingkaran sembari berkata dengan nada berat.
"Mana ada urusan begitu gampang, seumpama ada juga tidak menjadi giliran kalian, sungguh igauan belaka."
Sekonyong-konyong cahaya merah darah terpancar melebar keempat penjuru, ditimpa sinar sang putri maIam menjadi ribuan ombak bayangan darah bergelombang.
Kiranya dalam sekejap ini keempat orang cebol ini sudah saling memberi syarat serentak mengerahkan ilmunya untuk menyerang bersama.
Mega putih bergulung berjubel semakin tebal menyelubungi sinar putih perak yang menyolok mata, sebuah telapak tangan putih halus bergerak kalem dan menari indah berseliweran lincah sekali.
"Sret, sret,"
Sekejap mata saja Giok-Iiong sudah lancarkan delapan belas kali tipu pukulan yang dahsyat menyerang keempat musuhnya di empat penjuru.
Terdengar pekik keras berbareng, bukan mundur Hiat ingsu-ai malah merangsak maju menerjang kearah gulungan mega putih sambil lancarkan juga pukulan hebat.
Harus diketahui bahwa kedudukan Hiat-ing-su-ai dalam golongan Hiat ing-bun hanya setingkat lebih rendah dari Cong-cu mereka, Lwekang dan kepandaian silatnya rata-rata punya latihan dan kehebatannya sendiri-sendiri.
Meskipun belum mencapai titik sempurna namun juga boleh dikata sudah mencapai puncak yang boleh dibanggakan jauh lebih tinggi dari golongan tokoh kosen kelas satu di kalangan kangouw Tatkala mana Su-ai bergabung mengeroyok maka betapa hebat perbawa tenaga gabungan mereka bukankah main-main belaka, Sinar darah masih bergerak seperti ujung panah, berputar lincah menusuk cepat, sebaliknya pukulan tangan juga begitu rapat dan ganas sekali.
Mendadak gerungan aneh serentak berbunyi dari empat penjuru, bayangan hitam jauh bergerak lincah cepat sekali laksana angin badai menerpa.
Sebaliknya pihak lawan mandah tertawa dingin saja, bayangan putih juga ikut berputar cepat, angin ribut menderu deras sehingga udara sekitar gelanggang menjadi gelap oleh debu dan pasir yang beterbangan menjadikan suatu pemandangan indah dan menakjupkan diatas pegunungan yang sepi.
"Blang".
"blum", Ledakan dahsyat menyebabkan Hiat-ingsu-ai masing-masing terpental surut ke belakang tujuh kaki jauhnya namun kedudukan serta kuda-kuda mereka masih berada di tempat semula, sebaliknya Giok liong kelihatan masih berdiri tegak dengan tenangnya, kedua tangan bersilang melindungi dada. Tadi kedua belah pihak sudah mengadu seluruh kekuatan, boleh dikata masih sama kuat belum kentara pihak mana yang lebih unggul atau asor. Masing-masing pihak mempunyai perhitungan serta pengukuran atas standart kepandaian lawan. Mendadak salah seorang manusia cebol itu mendelikkan matanya yang kelihatan buas seperti biji mata ikan, suaranya bergetar seperti bunyi kokok-beluk.
"Lenyapkan dia dengan sinkang !"
Tiga kawannya yang lain segera mengiakan serentak .
"itulah jalan satu-satunya."
Serentak keempat cebol menggerakkan kaki tangan sampai berbunyi keretekan, mata mereka lantas memancarkan sinar warna merah darah, demikian juga air mukanya menjadi merah gelap, Hiat-ing-kang memancarkan cahaya merah laksana jaringan rapat mengapung sekeliling Giok-liong.
Hawa udara menjadi buntu seperti didalam ruangan tertutup rapat.
Seketika Giok-liong merasa pernapasannya sesak, pembuluh darahnya menjadi membeku darah susah mengalir.
Cepat-cepat ia empos semangat mengerahkan hawa murni Ji lo berkembang melindungi sekitar badannya.
Cahaya putih cemerlang yang terbungkus oleh merah darah semakin mengecil mengkeret seperti sebutir sinar mutiara yang kemilau menyilaukan mata.
Mega putih semakin teba.
Demikian juga bayangan merah darah itu semakin marong.
Hiat-ing su-ai mempercepat pengarahan ilmunya, dari delapan telapak tangan mereka masing-masing melesat keluar delapan jalur cahaya panah.
Mendadak serentak mereka menggembor keras, empat bayangan mereka merangsak bersama, cahaya panah dari delapan telapak tangan mereka kontan menerjang kearah buntalan mega putih yang membungkus cahaya sinar perak.
Terdengar kumandang gelak tawa panjang yang menggetarkan isi seluruh alam semesta ini.
"Dar..!"
Gemuruh laksana gugur gunung, darah beterbangan tercecer kemanamana, mega putih luber menjulang tinggi ke tengah udara.
Bayangan orang lantas terpencar mundur sambil mengelak kesakitan.
Kini Hiat ing su ai sudah mundur tiga tombak, ujung mulut, hidung dan mata mereka berlepotan darah, Serempak mereka berteriak.
"Gigit lidah semprotkan darah!"
Bercekat hati Giok-liong.
Gigit lidah menyemprotkan darah merupakan suatu ilmu jahat dan paling ganas dari golongan Hiat-ing-bun mereka.
Ilmu ini merupakan pusaka terakhir bagi mereka yang sudah kewalahan menghadapi musuh, tidak dalam keadaan terpaksa biasanya jarang dan terlarang keras menggunakan ilmu yang berrcjn ini.
Sebab setitik saja pihak musuh terkena semprotan darah ini, selama tujuh kali tujuh jam seluruh badan akan membusuk menjadi genangan darah.
Apalagi tiada obat pemunahnya, bagi yang terkena terang jiwa sukar tertolong lagi.
Sudah tentu orang yang melancarkan ilmu ini juga pasti kehabisan hawa murni dan menjadi lumpuh, sedikitnya kehilangan daya latihan selama tiga empat tahun.
Sekarang agaknya Hiat-ing-su-ai sudah merasa kewalahan dan gusar busan main, terpaksa mereka melancarkan ilmu gigit lidah menyemprotkan darah yang sangat berbahaya itu.
Giok liong menghardik keras.
"Hiat-ing-bun tiada dendam permusuhan dengan aku, kalian hendak melancarkan ilmu jahat, adakah harganya?"
Tertua dari keempat cebol membentak gusar.
"Biia tidak mendapatkan seruling samber nyawa pihak Hiat-in-bun bersumpah tidak akan lepas tangan."
"Baik, terpaksa aku adu jiwa dengan kalian! inilah seruling samoer nyawa disini!"
Serempak sorot kuning dan cahaya putih berkelebat tahu-tahu Giok-liong sudah mengeluarkan Potlot mas dan seruling samber nyawa.
Dengan sikap gagah Giok-liong bergerak lincah berputar seperti gangsingan sepiring dengan gerak-geriknya ini irama seruling lantas mengalun tinggi seperti ular naga sedang menggelosor.
Begitu melihat seruling samber nyawa dikeluarkan seketika timbul semangat Su-ai, tergetar seluruh badan mereka, berbareng mulut mereka mendengus-dengus seperti binatang buas mengendus daging mentah.
Kepala besar mereka bergoyang goyang air muka juga menjadi bengis dan menyeringai iblis, lidahnya diulur odotfcau seperti setan gentayangan seperti lidah ular yang mulur pendek.
Tiba-tiba gadis baju kuning yang menonton dipinggir gelanggang sekian lama itu berteriak.
"Siau-hiap, biarlah aku membantumu!"
Dalam keadaan yang genting ini Giok-liong sempat berteriak. Jagalah keselamatan nona sendiri, mereka takkan dapat ... Hai, awas!"
Pada saat itulah mendadak Su ai lancar kan serangannya dengan delapan jalur panah darah menyerang kearah Giokliong, sedikit saja perhatian Giok-liong terpencar ia harus membayar mahal akan kecerobohannya ini, belum lagi kata katanya habis diucapkan mulutnya berganti berteriak kesakitan, darah terasa bergolak dan mengalir balik, mata berkunang-kunang.
Giok liong merasa tenggorokannya menjadi panas anyir.
"Wah ....."
Darah segar menyemprot keras sekali sampai sejauh tiga tombak.
Begitu serangan mereka memperoleh hasil Su-ai semakin mendapat hati, serentak mereka berteriak-teriak aneh terus memburu maju, diantara cahaya merah darah yang masih melingkupi sekitar gelanggang, delapan cakar iblis mereka sudah menubruk tiba.
"Tahan!"
Liba-tiba terdengar sebuah bentakan nyaring merdu disusul bayangan merah berkelebat datang, Tahu-tahu dihadapan mereka sudah bertambah dua orang gadis remaja.
Sekuatnya Giok-liong pentang matanya, namun tubuhnya terhuyung mundur dan jatuh terduduk diatas tanah, Terasa isi perutnya se perti dipelintir dan dicocoki jarum, sesaat lamanya hawanya murni sulit terhimpun.
Sungguh diluar perhitungannya sedikit saja perhatian terpencar sedetik itu pula, ia sudah terserang telak oleh pukulan gabungan su-ai yang dahsyat itu.
Untung ilmu gigit lidah menyemprotkan darah mereka belum sempat dilancarkan kalau tidak habis sudah riwayatnya.
Kaki tangan terasa lemas lunglai, sekuatnya ia bertahan mengempos semangat mengerahkan hawa murninya.
Melihat sergapan bersama mereka berhasil merobohkan lawan, baru saja Hiat ing-su-ai hendak bertindak lebih lanjut merebut seruling samber nyawa mendadak terdengar bentakan nyaring merdu itu, seketika mereka tertegun berdiri.
Ternyata orang yang mencegah tindakan mereka selanjutnya tak lain tak bukan adalah putri tunggal Congcu mereka sendiri yaitu tuan putri Hiat-ing Kong-cu Ling-Soat-yau bersama pelayan pribadinya Chiu-ki dengan angkernya mereka berdiri ditengah gelanggang.
Lekas-lekas Su-ai menarik kembali serangan selanjutnya, berjama mereka menjura sambil berseru.
"Menghadap Kongcu!."
Hiat ing Kong cu Ling Soat-yan mengulapkan tangan, ujarnya.
"Bebas!"
Habis berkata matanya yang jeli menyapu penrtarg kearah Giok-liong yang duduk bersila, seketika berubah hebat air mukanya, pandangan mata yang penuh nafsu membunuh terunjuk pula rata perasaan dan jelas.
"Diam-diam ia membatin.
"Siapakah gadis baju kuning ini, kenapa membopong dan menolongnya, apa mungkin."
Tak berani ia melanjutkan dugaannya.
Ternyata setelah terkena pukulan Hiat-ing-ciang dari gabungan serangan Hiat-ing-su-ai, Giok liong terluka parah, sampai duduk-pun tak kuat lagi seluruh badannya rebah dalam pelukan si gadis baju kuning, dengan mata meram dalam keadaan sadar tak sadar.
Sekuatnya ia bertahan mengempos semangat menahan sakit yang mengiris-ngiris seluruh badan.
Air mata membanjir keluar dari kedua mata si gadis baju kuning, katanya disamping telinganya dengan lemah lembut.
"Siau-hiap! Kenapa kau? Akulah yang harus mampus terlalu banyak cerewet sampai kau terpencar perhatianmu sehingga terluka parah, akulah yang mencelakakan kau!"
Mata memandang dengan beringas, dalam hati Ling Soatyan mendelu seperti ditusuk-tusuk, ia berdiri termangu sambil menggigit bibirnya. Terdengar Hiat-ing-su-ai menyembah bersama.
"Lapor kepada Kong-cu, hamba sekalian menerima perintah Cong-cu kemari untuk. ."
Tanpa menanti mereka habis berkata Hiat-ing Kong cu sudah tidak sabar lagi, sentaknya.
"Aku sudah tahu untuk merebut benda pusaka seruling samber nyawa itu bukan?"
"Ya, betul! "empat cebol mengiakan bersama.
"Congcu segera juga akan tiba."
"Apa ayah juga segera datang?" -terang Ling Soat-yan tercengang diluar dugaan. Sesaat ia hanya melirik saja, tapi akhirnya toh melangkah maju pelan-pelan sampai dipinggir Giok-Iiong, tanyanya lirih.
"Bagaimana lukamu? Apakah berat?"
"Hm,"
Jengek sigadis baju kuning.
""Kucing menangisi tikus, main pura-pura segala!"
Selebar muka Ling Soat-yan merah padam penuh rasa kebencian dan jelus, desisnya mengancam.
"Apa katamu?"
Gadis baju kuning juga tidak kalah galak dengan tangan sebelah masih memeluk Giok liong, tanpa melirik sedikit kearah Ling-Soat-yau ia menjengek.
"Terang kaum kerabatmu yang memukulnya sampai luka parah, kini kau pura-pura menaruh kasihan apa segala, tidak tahu malu!"
Jikalau ia tidak memeluk Giok-liong mungkin Ling Soat yan sudah menampar pipinya, sedapat mungkin ia menahan rasa gusarnya, semprotnya.
"Kau omong kosong belaka, Tahukah kau apa hubunganku dengan dia?"
Gadis baju kuning tertawa cekikikan dengusnya menghina.
"Paling tidak adalah laki-laki harammu !"
"Cis"
Terbakar panas selebar muka Ling Soat yau, perasaannya sangat tersinggung, setelah meludah ia memaki dengan marahnya .
"Kau ini genduk yang tidak tahu malu, lepaskan dia, kalau nonamu ini tidak mampu membunuhmu aku bersumpah tidak menjadi orang !"
Serentak Su ai melayang maju serta serunya bersama.
"Lapor Kong-cu, kini Ma Giok-liong sudah kehilangan kemampuannya, tidakkah lebih baik kita mengambil Jan-huntinya itu, kalau tidak ..."
"Pendapat siapa itu!"
Selat Ling Soat-yau sambil menggoyangkan kepala.
"Hamba berempat mendapat perintah Cong-cu, kalau tugas ini tidak dapat terlaksana sekembali kita pasti mendapat hukuman berat ..."
"Semua aku yang bertanggung jawab !"
Nada ucapan Ling Soat-yan sangat ketus, Su-ai menjadi saling berpandangan mengunjuk serba salah, Tapi mereka tahu bahwa putri bayangan darah ini adalah putri tunggal Hiat-ing-cu yang paling disayang, mana mereka berani menentang kehendaknya, keruan mereka menjadi gugup seperti semut didalam kuali.
Sementara itu gadis baju kuning sudah membimbing Giokliong bangun duduk, katanya lirib .
"Siau hiap, kau istirahatIah. Biar kuukur sampai berapa tinggi kepandaian budak baju merah yang tidak tahu malu ini."
Melihat sikap yang memprihatin terhadap Giok liong, Ling-Soat yau semakin mendelu serasa hatinya dirusuk sembilu.
"Maknya genduk yang tidak tahu malu!"
Seiring dengan makiannya ini bayangan merah lantas berkelebat merangkak maju sambil mengirim gelombang pukulan dahsyat sekali.
"Silat kampungan, masa dapat merobohkan nonamu !""
Gadis baju kuning juga tidak mau unjuk kelemahan, serempak iapun kirim berbagai tipu pukulan balas menyerang dengan hebat.
Masing-masing pihak membawa adatnya sendirisendiri, maka dapatlah dibayangkan betapa seru dan sengit pertempuran ini, dalam jangka pendek sulit menentukan siapa lebih unggul atau asor.
Giok liong mendengar semua kejadian ini dengan jelas, apa boleh buat luka-lukanya perlu perhatian serius, kaki tangan lemas lunglai lagi, terpaksa ia tinggal diam menghimpun semangat mengerahkan tenaga, pelan-pelan hawa murni mulai lancar untuk mengobatiya luka lukanya.
Sekonyong-konyong dari kejauhan sana terdengar teriakanteriakan nyaring merdu lalu baju terhembus angin berseliweran terdengar kencang lantas terlihat bayangan kuning berloncatan mendatang, terdengar sebuah suara nyaring.
"Nah itu disini bertempur dengan orang!"
Belum lenyap suara seruan seorang gadis serentak dari tengah udara beruntun melayang turun delapan gadis remaja yang mengenakan seragam kuning, di masing masing dadanya tersulam sekuntum kombang.
Dari cara berpakaian kedelapan gadis yang baru datang ini terang bahwa mereka adalah sekomplotan dengan gadis baju kuning yang tengah bertempur itu.
Betul juga gadis baju kuning yang bertempur itu lantas berteriak kearah mereka .
"sekalian cici waspadalah, gadis baju merah ini adalah siluman dari golongan Hiat-ing-bun."
Delapan gadis baju kuning itu berbareng berseru kejut, serentak mereka melejit maju terus mengepung Hiat-ing Kong-cu.
SebetuInya kepandaian Ling Soat-yau setingkat lebih tinggi dari lawannya, maka sedikitpun ia tidak ambil takut, tapi setelah dikeroyok akhirnya ia menjadi kerepotan juga, lambat laun keadaannya menjadi terdesak.
Hiat-ing-su ai melihat keadaan tuan putrinya yang tidak menguntungkan ini, saling memberi syarat, lantas berseru bersama.
"Tuan putri tak usah gugup hamba berempat disini !"
Demikian juga Chiu Ki tidak mau ketinggalan, dilolosnya sehelai sapu tangan merah jingga terus menerjunkan diri dalam gelanggang pertempuran.
Keadaan gelanggang menjadi kacau balau, bayangan kuning bergerak lincah laksana asap mengembang, sebaliknya sinar merah menyala laksana bianglala, puluhan orang berkutet begitu seru sehingga angin menderu deru mengepul tinggi.
Entah sudah berselang berapa lama kedua belah pihak masih bertahan sama kuat, Mendadak terdengar sebuah hardikan keras yang kumandang memekakkan telinga.
"semua berhenti !""
Bagai geledek menggelegar sekuntum mega merah melayang ringan sekali, kelihatan lambat tapi kenyataan cepat sekali meluncur datang susah dibedakan bentuk bayangan manusia.
Pertama-tama Hiat-ing su ai meloncat keluar dari pertempuran terus menjura dalam serta berseru lantang.
"Menyambut kedatangan Cong cu !"
Tak ketinggalan Hiat-ing Koug-cu juga meloncat keluar kalangan, teriaknya .
"Ayah !"
Meski Giok liong tengah istirahat mengerahkan hawa murni, tapi iapun dapat mendengar dengan jelas, lekas lekas ia membuka mata memandang.
Kelihatan olehnya segulung bayangan merah darah yang sukar dibedakan bentuk badannya hanya samar-samar saja seakan tiada tapi ada kelihatan seperti sosok manusia warna merah darah.
Tujuh delapan gadis baju kuning itu juga menjadi terlongong ditempatnya, terdengar diantaranya ada yang berseru lirih.
"Hiat-ing cu !"
"Setelah tahu kebesaran nama Lohu masih tidak segera menggelinding pergi jauh, apa kalian sedang menunggu kematian!"
Nadanya rendah berat dingin lagi membuat pendengarnya merinding. Gadis baju kuning yang terdahulu tadi terpaksa membantah.
"Apa mau menindas yarg kecil dan lemah ?"
"Budak besar nyalimu !"
Belum bentuk badan Hiat-ing cu kelihatan nyata gulungan bayangan merah itu ringan dan cepat sekali melayang kearah kelompok gadis gadis baju kuning itu.
seketika terdengar angin badai menderu keras menghempas kearah mereka.
kontan terdengar jerit pekik yang riuh rendah dari mulut mereka, badan mereka terpental berpencaran sungsang sumbel, sampai Giok-liong yang duduk setombak lebih di-sebelah sana juga merasakan darah bergolak dirongga dadanya, haoipir saja ia tak kuat duduk bersila.
Hanya kelihatan bayangan darah itu sedikit bergerak saja cukup menggetarkan tujuh delapan gadis-gadis baju kuning anak buah Ui-hoa-kiau sehingga mereka lari pontang-panting.
Perbawa semacam ini benar-benar belum pernah dengar dan melihatnya.
"Apakah dia ini Kim pit-jan-hun Ma Giok-liong ?"
"duk ... duk ... duk ..."
Setiap langkah kaki Hiat ing cu terdengar berbunyi berat dan nyaring sehingga menggetarkan bumi terus langsung maju kearah Giok-liong.
"Benar, dialah adanya !"
Seru Su-ai mengiakan bersama.
"Mana seruling samber nyawa itu ?"
"Hamba berempat didepan gunung tadi bersua dengan Biklian-hoa, sehingga belum dapat hasil terus mengejarnya sampai disini, lantas ..lantas ..."
"Telur busuk yang tak berguna!"
"Hamba berempat tengah merebut seruling itu, kebetulan bersua dengan Kong-cu!"
"O, biarlah Lohu turun tangan sendiri !"
Lwekang Giok-liong belum pulih, semadinya sudah mencapai saat-saat yang paling genting, sepasang matanya rada meram, dari sela-sela kelopak matanya itu ia melihat sebentuk bayangan merah darah sedang menghampiri kearah dirinya.
Tanpa berasa dalam hati ia mengeluh .
"Celaka! Tamatlah segala-galanya !"
Tiba tiba bayangan merah jingga berkelebat menghadang didepan Giok liong disusul terdengar suaranya merdu berteriak.
"Ayah !"
"Yau-in, kau minggir !"
"Ayah! Dia .., dia , . .!"
"Dia bagaimana ?"
"Sekarang dia tengah terluka parah, sedang semadi menyembuhkan luka-luka itu ?"
"Demi seruling samber nyawa ayahmu tak peduli segala tetek bengek!"
"Ayah tak boleh kau ..."
"Budak goblok ! Apa kau sudah gila, lekas minggir!"
Tampak sebuah telapak tangan merah darah menyelonong keluar dari guIungan merah itu, sehingga hawas sekelilingnya seketika terasa panas membakar.
Giok-liong sedang berusaha dengan susah payah mengerahkan hawa murninya seketika terasa olehnya seluruh isi perutnya menjadi mengangah seperti dibakar, keringat sebesar kacang mengalir deras dari atas jidatnya !
"Ayah, apa kau bisa mengampuni jiwa nya?"
"Budak, kenapa kau ini tidak lekas menyingkir ?"
"Ayah ! Kau ... kau ... ampunilah jiwanya !"
"Ai, budak ini ! Baik ambillah seruling samber nyawa itu, nanti ayahmu mengampuni jiwanya"
Hati Giok-liong gelisah seperti dibakar, dia rela berkorban demi keselamatan seruling samber nyawa itu, betapapun ia tidak rela kehilangan benda pusaka pemberian perguruan yang diandalkan kepadanya.
Apa boleh buat namun tenaga untuk berdiri saja tiada apalagi hendak melawan sampai bergerak juga susah takut membuyarkan hawa murni yang sudah mulai terhimpun, akibat ini akan membuat tubuhnya cacat untuk selama-lamanya.
Terpaksa harus pasrah nasib saja melihat orang sesuka hati berbuat atas dirinya.
Sinar mas mencorong menyilaukan mata.
Begitu putri bayangan darah merogoh kesaku Giok liong seketika ia berseru kaget, Karena yang dirogohnya keluar bukan lain tuanya Potlot masnya itu.
Semula ia sangka itulah Seruling samber nyawa, maka bahkan heran ia berseru kejut tadi.
Hiat ing-cu mendesak dua langkah, ujarnya.
"Mana Serulingnya ?"
Meski Ling Soat-yan sudah menggeledah seluruh tubuh Giok liong, namun bayangan seruling samber nyawa saja tidak kelihatan !
Dengan mendelong Hiat-ing cu awasi putrinya menggeledah tubuh Giok-liong, namun seruling samber nyawa itu belum juga diketemukan seketika hawa amarah merangsang benaknya, bentaknya dengan bengis .
"Bocah licik ?"
Lengan kanannya sedikit digentakkan pancaran sinar merah darah lantas berkembang dengan gusar ia membentak.
"Biarlah Lohu menyempurnakan kau !"
Segulung kekuatan dahsyat seperti berkuntum-kuntum bunga langsung menerjang kearah Giok-liong, Bayangan merah jingga segera menubruk maju menghadang didepan Giok-liong.
Mulut Ling Soat-yau berpekik sambil menyemburkan darah segar badannya terpental jauh terkena angin pukulan Hiat-ing cu yang dahsyat itu.
Keruan Hiat-ing-cu sangat terkejut, gerungnya keras .
"Anak ing"
Segera bayangannya berkelebat, sebelum badan Ling Soat-yau menyentuh tanah sudah diraihnya ke dalam pelukannya.
Tampak wajah Ling Soat-yau pucat pasi, darah masih meleleh dari ujung mulutnya, dari kedua matanya yang terpejam masih mengalirkan air mata, membuat siapa yang melihat merasa kasihan dan terharu.
Sedang sebelah tangannya dengan kencang menyekal secarik sapu tangan yang terbuat dari sutra halus, Sapu tangan sutra halus ini digeledahnya dari dalam baju Giokliong.
Mimpi juga Hiat ing-cu tidak menyangka putrinya bakal berbuat sebodoh itu, rela berkorban untuk menalangi pukulan yang dihantamkan kcarah Giok-liong tadi.
Kini melihat keadaan putrinya yang kempas kempis ini, hatinya menjadi duka dan perih.
"Anak Yau, kenapa kau senekad ini!"-sementara telapak tangannya menekan dijalan darah Tiong-ting tepat didepan jantungmya. Pelan-pelan Ling Soat-yau membuka mata, napasnya masih memburu, ujarnya lemah.
"Ayah, kau ampunilah dia!.dia ..."
Hiat ing-cu menjadi keheranan dan tak habis mengerti akan sikap putrinya ini, jiwa sendiri sudah hampir direnggut oleh elmaut toh masih menguatirkan keselamatan Giok-liong, pikir punya pikir akhirnya ia menghela napas panjang, ujarnya.
"Ayah mengabulkan permintaanmu, mari pulang!"
Begitu ia mengulapkan tangan Hiat-ing-su-ai melesat bersama, lalu bayangan darah melambung pergi.
Sambil membopong tubuh putrinya yang terluka berat, Hiat-ing-cu melirik sekilas kearah Chiu ki lalu ia melompat tinggi tiga tombak lebih terus menghilang.
Alas pegunungan ini menjadi kosong dan sunyi, malam semakin berlarut, kesunyian mencekam alam sekelilingnya, Hawa malam semakin dingin, butiran air kabut membasahi seluruh tubuh Giok-liong sehingga merasa kedinginan.
Entah sudah berselang berapa lama baru Giok-liong selesai dengan semadinya.
Terasa seluruh tubuhnya sudah tiada gejala apa apa, namun ia masih tetap duduk bersila sedikit pun tidak bergerak sepasang matanya terlongong melihat barang-barang yang berserakan diatas tanah potlot mas, obat
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com/ obatan, perhiasan batu giok ...
Dimanakah seruling samber nyawa?
Kenapa pula sapu tangan sutra Ya, sapu tangan sutra pemberian istrinya, Coh-Ki-sia sebagai kenang-kenangan?
Untuk apa Ling Soat-yau mengambil nya ?
Dia adalah ..."
Lama dan lama sekali ia berpikir namun tak kuasa memecahkan pertanyaan hati sendiri.
Mendadak ia berjingkrak bangun kepalanya mendongak ke langit, mulutnya lantas menggembol keras mengalun tinggi seperti gerangan naga laksana pekik burung hong.
Memang malam ini dia merasa sangat dirugikan, selama berkilana di Kangouw belum pernah ia dihina sedemikian rupa, belum pernah tertimpa penderitaan serta siksaan lahir batin semacam ini.
Pertama di gunung Bu-tong san sana ia menjadi penasaran menjadi tuduhan yang semena mena tanpa alasan, Lalu di pancing gadis baju kuning itu, belum lagi mereka bicara habis, dirinya sudah terluka parah terkena gabungan pukulan Hiat-ing-su ai, kalau Ling Soat yau tidak muncul tepat pada wakunya, saat ini...
Jelek-jelek sebagai seorang laki laki sejati, tak duga sekali dua selalu dibela dan dimintakan pengampunan olen perempuan.
Terpikir sampai disini, seolah memperoleh suatu penghinaan yang diluar batas.
"Hiat-ing-cu, sakit hati malam ini betapa juga harus kubalas!"
Sambil berkata-kata telapak tangan kanan menghimpun tenaga terus diserang kedepan terarah kebutan didepannya yang berjarak tiga rombak jauhnya.
Tenaga yang melampiaskan kedongkolan hati ini sungguh dahsyat perbawanya, seketika terjadi suara gcmnruh akan tumbang dan patahnya dahan dahan pohon serta debu pasir yang beterbangan Pohon pohon menjadi roboh dan tumbang seperti didera oleh hujan badai.
Rada lega juga setelah Giok liong melampiaskan dongkol hatinya, Mendakak ia teringat apa-apa, Teriaknya gugup.
"O ! ya. Tentu seruling samber nyawa telah dicurinya. Waktu ia membopong aku karena pukulan Su-ai yang hebat itu, sekaligus ia merogoh dari sakuku, Kalau tidak buat apa seorang gadis tak dikenal mau membopong aku."
"Nona yang manakah membopong aku?"
Dari lamping gunung sebelah sana terlihat sebarisan gadisgadis ayu rupawan laksana bidadari mengiring seorang perempuan yang mengenakan pakaian serba kratonan, pelanpelan mereka sudah tiba didaratan tanah di hadapan sebuah batu besar, terpaut dengan Giok-liong tak lebih satu dua tombak saja.
Seketika terbangun semangat Giok-liong, tersapu habis segala pikirannya yang mengganggu benaknya tadi menjura dalam ia menyapa.
"Harap tahan, apa kalian adalah orangorang dari Ui-hoa-kau?"
Perempuan yang mengenakan pakaian serba kratonan yang mewah itu tersenyum manis, telunjuknya menunjuk sebuah sulaman kembang besar yang berada di depan dadanya, suaranya terdengar merdu.
"Apakah ini perlu ditanya lagi?"
Sulaman kembang mas didalam itu masing masing sampingnya tersulam pula enam lembar daun hijau jadi seluruhnya berjumlah dua belas lembar, sangat jelas dan menyolok mata.
Bercekat hati Giok-Iiong, katanya sungguh.
"Jadi Cian-pwe adalah Ui-hoa-kiaucu Kim Eng Kim-cianpwe?"
Perempuan itu tidak menjawab pertanyaan ini, sebaliknya ia berkata.
"Kau hendak menanyakan murid yang telah memancing mu kemari itu ?"
"Ya, nona itulah yang kumaksud !"
"Mari ikut aku !"
Habis berkata sepasang biji mata Ui-hoakiaucu Kim Ing menyapu pandang dengan sorot kilat, sambil mengebaskan lengan bajunya badannya Iantas melambung ringan laksana bayangan setan, tanpa mengeluarkan suara pesat sekali bayangannya sudah menghilang dikejauhan sana!
Diam-diarn Giok-Iiong merasa kagum dan memuji dalam hati.
"Hebat benar Gin-kangnya, kiranya latihannya sudah sempurna betul!"
Bukan saja gerak gerik Ui-hoa-kiaucu Kim Ing "serba aneh".
para dayang yang mengiringi dibelakangnya itu juga rata-rata berkepandaian tinggi pula.
Tanpa ayal segera Giok-liong jemput Potlot mas serta benda lain miliknya terus lari mengejar sambil mengembangkan Leng-hun-toh.
Tatkala itu sudah menjelang terang tanah, putri malam sudah hampir tenggelam kearah barat, ditengah cakrawala tinggal bintang-bintang yang berserakan memancarkan sinarnya yang kelap kelip, inilah saat paling gelap menjelang senja.
Tak lama kemudian dari depan kejauhan sana terdengar suara gemuruh laksana derap langkah kuda seperti juga air ditumpahkan dari tengah langit, sekelompok bayangan kuning berlari pesat beriring, paling belakang setitik bayangan putih mengintil dengan ketat.
Suara gemuruh itu semakin dekat dan memekakkan telinga Kiranya itulah sebuah air terjun, air tertumpah jatuh dari sebuah saluran setinggi puluhan tombak.
Bayangan kuning tadi tengah menuju kearah air terjun itulah.
Tidak ketinggalan Giok-liong juga mendarat diatas sebuah batu besar tak jauh disamping air terjun itu.
Ui-hoa-kiau cu membalik tubuh sambil unjuk senyum manis, katanya kepada Giok-liong.
"Ternyata ketenaran nama tuan tidak nama kosong belaka, Gerak tubuh yang pesat sekali. Giok-liong mandah tertawa getir, sahutnya merendah.
"Ah, Cianpwe terlalu memuji. Harap tanya dimanakah nona yang memancingku keluar dari Sam-ceng koan tadi ! Bolehkah aku menemuinya sebentar?"
Tiba-tiba Ui-hoa-kiaucu Kim Ing menarik muka, sikapnya berubah dingin, serunya sambil menunjuk kearah terjun.
"Nah itulah di-sana!"
Tak tertahan Giok liong berjingkrak kaget, kiranya diatas air terjun itu ada sebuah bayangan kuning tengah terayun-ayun bergoyang gontai karena terdorong oleh carahan air terjun.
Kadang-kadang saking keras timpahan air terjun itu sehingga bayangan kuning itu terdorong dan terayun keras menumbuk dinding batu dipinggirnya.
Setelah diawasi dengan seksama barulah jelas ternyata bayangan kuning itu bukan lain terikat kencang oleh tali menjalin sebesar ibu jari, kaki tangan ditelikung ke belakang dan diikat bersama, terus digantung diatas sebuah dahan pohon yang menjulur keluar tepat diantara air terjun yang tercurah deras itu.
Air terjun setinggi puluhan tombak maka dapatlah dibayangkan betapa keras daya timpakan air yang tercurah turun itu, manusia apakah dapat bertahan terus?
Setelah berseru kejut, Giok-liong lantas bertanya dengan tak habis mengerti.
"Harap tanya Kau cu, nona ini..."
"Dia sudah berani melanggar undang-undang keras dari agama kita!"
Acuh tak acuh Ui hoa-kiancu memberi keterangan, maka begitulah cara hukuman yang harus dia jalani. Bagaimana ? Apakah karena dia tadi membopong kau lantas merasa kasihan padanya ?"
"Tidak ! Aku mencarinya karena ada persoalan lain !"
"Persoalan lain? Apakah boleh kau katakan kepadaku ?"
Agaknya Ui hoa-kiaucu merasa diluar dugaan dan terkejut. Tanpa tedeng aling-aling lagi segera Giok-liong berkata .
"Karena urusan sebuah "Seruling."
"Seruling ? Apakah seruling sarnber nyawa ?"
"Tidak salah ! Mungkia secara tidak sengaja telah dibawa pergi oleh nona itu, maka . ."
Belum habis dia berkata, terlihat berubah hebat air muka Ui hoa kiaucu, hawa membunuh seketika menyelubungi wajahnya, matanya mendelik tajam.
Tiba-tiba ia ayun kedua tangan mengebaskan lengan bajunya, Sepuluh jalur angin kencang laksana anak panah melesat cepat sekali kearah bayangan kuning yang tergantung ditengah air terjun itu, meski dari kejauhan namun serangan ini kiranya cukup hebat dan ganas, Terdengar mulut Ui-hoakiaucu berteriak memaki.
"Murid murtad! Ternyata besar sekali nyalimu !"
Seketika terdengar jeritan panjang yang mengerikan dan mendirikan bulu roma, sedemikian keras jeritan menyayatkan hati ini sampai kumandang meninggi menembus alam sekelilingnya.
Bayangan kuning yang bergoyang gontai itu kelihatan bergerak semakin kencang, lambat laun berubah dari warna kuning menjadi seluruhnya berwarna merah darah, Terang bahwa serangan telunjuk jari itu telah melukai tubuhnya sehingga seluruh badan berlepotan darah.
Giok-liong menjadi kesima, serunya tergagap .
"Cianpwe ... ini ..."
Agaknya kemarahan Ui-i oa-cu masih belum reda tangan yang terayun tadi lagi lagi bergerak mirirjg seperti membacok, mulutnya seraya berseru .
"Baiklah, sia sia aku membesarkan kau selama puluhan tahun!"
Segulung angin menerjang keluar lantas terdengar suara "Byak".
"Krak"
Air tersampuk muncrat, tali menjalin sebesar jari di atas air terjun itu juga mendadak putus mengikuti aliran air terjun yang tercurah jatuh kebawah, bayangan kuning bersemu merah itu kontan tergulung jatuh kedalam telaga dibawah jurang sana, lalu tergulung oleh ombak besar sehingga menumbuk sebuah batu cadas yang runcing, seketika badannya hancur lebur, sungguh mengerikan !
Wajah Ui-hoa-kiaucu Kim lng tetap wajar seperti tidak pernah terjadi apa-apa, ujarnya sambil mendengus.
"Menguntungkan murid murtad saja !"
Sekonyong-konyong sebuah bayangan biru meluncur datang cari tengah lamping air terjun sana terus menubruk datang, belum lagi orangnya tiba suaranya sudah berteriak memaki.
"Kim Ing ! sungguh kejam dan ganas benar hatimu !"
"Tuiiiit ...."
Lima irama seruling mengalun tinggi, disertai sinar terang memancar berkembang.
"seruling samber nyawa !"
Giok liong berteriak girang, terus menyongsong maju. Ui-hoa-kiaucu mendengus hidung, jengeknya.
"Aku tahu budak busuk itu tentu sudah memberikan seruling samber nyawa ini kepadamu !"
Tatkala mana bayangan biru itu sudah hinggap di atas sebuah batu besar.
Kiranya tak lain seorang pemuda yang mengenakan pakaian ketat warna biru, bermuka pucat, berusia kurang lebih dua puluh tiga tahun, badannya yang agak kurut tinggi itu kelihatan kencang berotot keras.
Senjata yang di bekal ditangan kanannya itu bukan lain memang seruling samber nyawa.
Memandang ke arah jenazah yang hancur lebur tergulunggulung di dalam air bah dibawah jurang sana, ia berteriak dengan penuh kepedihan .
"Adik Yau ! Legakan dan tenframkan kau berada di alam baka, Aku bersumpah akan menuntut balas bagi sakit hatimu ini."
Lalu dengan beringas ia mengayun seruling samber nyawa seiring dengan irama seruling yang menyedot semangat ini ia menubruk kearah Ui-hoa-kiaucu Kim Ing, meskipun gerak geriknya cukup gesit namun kelihatan bahwa Lwekangnya masih belum sempurna.
Bayangan putih melesat tiba, tahu-tahu Giok-liong sudah mencegat ditengah jalan, masih ditengah udara ia sudah berseru.
"Tuan ini harap sabar sebentar !"
Sudah tentu pemuda baju biru merasa gusar karena aksinya dirintangi, tanpa banyak buka mulut ia ayun seruling di tangannya dengan jurus To pian-toan-tui (mengayun pecut memutus air) langsung mengepruk ke jalan darah di pundak Giok-liong.
Gerak serangan ini adalah jurus umum dari ilmu silat yang paling rendah, mana bisa membawa hasil.
Gampang Giok-liong mendakan puncaknya sambil tertawa dingin, sebat sekali sebuah tangannya meraih hendak mencengkram seruling samber nyawa.
Pemuda baju biru berseru kejut, lekas-lekas ia melompat mundur sejauh tiga tombak, gerak geriknya cukup lincah.
"Apa kau juga dari golongan Ui-hoa-kiau?"
Aku yang rendah bukan orang Ui-hoa-kiau!"
"Kenapa kau merintangi aku!"
"Aku hanya minta kembali benda pusaka peninggalan perguruanku, yaitu seruling samber nyawa di tanganmu itu!"
"Kau? Kau adalah Kim-pit jan-hun Ma Giok liong? "
"Tidak berani! Memang itulah aku yang rendah,"
"Karena seruling samber nyawa ini sehingga adik Yau meninggal sedemikian mengenaskan, biarlah Hoa Sip-i adu jiwa dengan kau!"
Dengan kalap ia menerjang maju sambil mengayun seruling mengalunkan irama panjang jurus yang dilancarkan adalah Cui-hun-toh-hun membawa deru angin kencang terus menyerang kelima jalan darah penting di tubuh Giok-liong.
"Bocah yang tidak tahu mampus. Berani kau turun tangan terhadap Kim-pit-jan-hun, bukankah minta gebuk belaka mencari sengsara! Begitupun baik mengurangi tenagaku untuk mengajar bocah kurang ajar ini. Hehehe!"
Mendengar ujar Kim Ing ini lekas-lekas Giok-liong tarik kembali kedua tangannya yang sudah melancarkan serangan tiba-tiba ia mencelat mundur setombak lebih serunya.
"Aku belum pernah ketemu dengan tuan, Mengapa kau turun tangan mendesak orang."
"Sebelum melihat peti mati bocah ini tidak mengenal takut, buat apa kau main sungkan terhadap kurcaci ini."
Demikian sela Ui-hoa-kiaucu. Seruling ditangan pemuda baju biru memancarkan sinar berkeredep beratus beribu jalur, teriaknya penuh kebencian.
"Betul! Kecuali kau bunuh aku, sambutlah seranganku!"
"Baik, aku mengalah sejurus lagi! "
"Ma Giok liong, jangan kau takabur dan ceroboh Lan-i -long-kun Hoa Sip-i juga bukan seorang yang bijaksana, Dengan seruling sakti di tangannya kau lebih lebih harus hatihati."
"Kim lng, sundel kau, jangan putar bacot mengadu bibir, Betapapun sakit hati adik Yau aku harus membalaskan juga!"
Meski kepandaian pemuda baju biru tidak begitu tinggi, namun dengan seruling sakti di tangannya perbawanya cukup hebat juga.
Begitulah dengan hati yang terbakar dan penuh duka ia terus menerjang maju sambil menyerang dengan senjata di tangannya.
Hati Giok-liong penuh ditandai kecurigaan entah bagaimana paling baik ia bertindak, jelas bahwa pemuda baju biru ini dengan gadis baju kuning yang telah mati itu tentu adalah sepasang kekasih.
Mungkin King Ing memerintahkan gadis baju kuning memancing dirinya, dengan tujuan seruling samber nyawa itu sebaliknya sang gadis menyerahkan seruling yang berhasil dicurinya kepada kekasihnya ini, sebab itu...
Bagaimana juga kejadian ini dirinya harus merebut kembali seruling itu dulu.
Karena pikirannya ini Giok liong tertawa lantang, serunya.
"Maaf aku berlaku kasar."
Mega putih berkelompok hawa ji-lo terkerahkan menyelubungi badan terus menerjang ke arah bayangan sinar seruling yang berputar kencang.
Dikata lambat sebenarnya cepat sekali, Terdengar keluhan tertahan, gerak bayangan biru seketika berhenti, demikian juga mega putih lantas menjadi hancur.
"Serahkan seruling samber nyawa, nanti kita berkompromi lagi!"
Kiranya dalam satu jurus saja kedua jari tangan Giok
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com/ liong telah berhasil menutuk jalan darah Ciang-hiat dibawah ketiak Hoa Sip-i, sehingga pemuda baju biru ini mati kutu.
"HoaSip i, bagaimana kata-kataku tadi?"
Karena jalan darah besar sudah tertutuk Hoa Sip i tidak berani sembarangan bergerak jidatnya basah oleh keringat dingin, kedua matanya mengalirkan air mata, tiba tiba ia ayun seruling ditangan kanannya seraya berteriak dengan kalap.
"Kalau ingin seruling ini kembali, lekas kau bunuh Ui-hoa-kiau cu. Kalau tidak aku Hoa Sip i rela gugur dan hancur bersama seruling ini."
Benar juga tanpa memberdulikan jalan darahnya yang tertutuk itu ia laksanakan ancamannya hendak membanting seruling itu diatas batu gunung.
Giok-liong berjingkrak kaget, cepat-cepat ia mencegah dengan gugup.
"Tahan-tahan!"
"Lekaslah bunuhlah Kim Ing sundel laknat itu. Kalau tidak meski harus adu jiwa. maka jangan harap kau dapat memperoleh kembali seruling mu ini dengan masih utuh!"
Seruling samber nyawa terbuat dari ukiran batu giok yang paling baik mutunya, mana boleh main banting diatas batu cadas yang keras.
Sesaat Giok-liong menjadi kehilangan kontrol.
Tiba tiba sejalur bayangan kuning meluncur pesat sekali Serempak pemuda baju biru lantas mengayun tangan melemparkan seruling ditangannya itu kearah batu cadas.
Ui hoa-kiaucu Kim Ing lancarkan sebuah pukulan jarak jauh terus maju hendak merebut Giok-liong menjadi gelagapan tanpa berpikir melukai orang, lekas lekas ia menubruk maju sambil mencengkeram.
saking bernafsu mereka merebut sehingga angin pukulan juga terlalu besar, sehingga seruling itu terpental membelok meluncur ketengah udara.
Kedua belah pihak sama-sama menang-Kap tempat kosong begitulah karena dorongan angin pukulan seruling itu melesat setinggi puluhan tombak terus meluncur turun kedalam jurang telaga yang dalam sana.
"Celaka!"
Sambil mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuannya Giok-liong meluncur mengejar dengan tanpa memikirkan akibatnya, jelas seruling itu sudah separo amblas kedalam air, mendadak terlihar air muncrat air menjadi bergelombang tinggi.
Kiranya begitu dekat dengan seluruh kekuatannya Giokliong menghembuskan napas dari mulutnya berbareng cepat sekali tangannya meraih maju.
Hanya sedetik saja kaki, muka dan selebar dadanya sudah basah oleh air.
Tapi gerakan Giokliong belum berhenti sampai disitu saja, sedikit menutul kaki tubuhnya terus jumpalitan meluncur ketepi sana sejauh tujuh tombak ringan sekali kakinya mendarat disebelah sana, dimana kakinya berpijak tepat diatas dahan sebuah pohon Siong yang tua.
Memandangi seruling ditangannya sungguh susah dilukiskan perasaan hatinya, jantungnya masih berdebar keras, seluruh tubuh basah kuyup oleh keringat dan air, air mukanya serius.
Betapa tidak, seandainya seruling ini benar-benar terjatuh kedalam air terjun yang tidak terukur dalamnya itu bukankah dirinya menjadi durhaka ternadap perguruan dirinya akan menyesal dan putus asa selama hidup ini, sampai nama Kim pit jan-bun yang sepele itu juga harus dicuci bersila dan dihapus dari peninggalan sejarah dunia persilatan.
"Hm, cepat benar gerak tubuhnya !"
Sebuah dengusan dingin dari sebelah sana, Tampak Ui-hoa kiaucu Kim Ing setindak demi setindak menghampiri kearah Hoa Sip-i, kira
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com/ kira sejauh tujuh kaki ia berhenti membentak dengan nada berat.
"Memincut anak murid agama kita, ditengah jalan kau mencuri dan merampok seruling pusaka lagi, Besar nyalimu !"
Pemuda baju biru Hoa Sip-i menjadi nekad dan tidak mau kalah garang, semprotnya dengan histeris .
"Kim Ing! Sungguh memalukan dan sia-sia belaka kau menjadi seorang pimpinan agama, dengan cara kejam dan telengas kau siksa seorang gadis sebatang kara yang sengsara. Kau sudah membunuh ayahnya, menyiksa ibunya, sekarang ..."
Sambil berkata-kaia air mata meleleh dengan deras sampai ia tak kuat meneruskan kata-katanya, akhirnya sambil membanting kaki ia mendelik dan berseru kalap .
"Biarlah aku adu jiwa dengan kau !"
"Kau belum ada harga bergebrak dengan aku !"
Seperti banteng ketaton Hoa Sip-i menyeruduk maju sambil mencengkeram kearah Kim Ing.
Tapi yang diserang mandah tertawa dingin, sedikit menggeser kaki bagai bayangan setan saja layaknya tahu-tahu ia sudah memutar di belakang Hoa Sip i.
Sebetulnya Hoa Sip-i sudah kerahkan seluruh tenaganya untuk menyerang tapi tahu-tahu bayangan orang didepannya mendadak menghilang, belum lagi ia sempat menarik kembali serangannya dan menanan badan yang menjorok kedepan itu, tahu-tahu ia sudah rasakan lima jalur angin kencang menutuk tepat dilima jalan darah penting ditubuhnya.
Seketika ia menggembor keras tertahan, badannya tersungkur jatuh terus bergulingan ditanah dari tujuh lubang indranya mengalirkan darah, kaki tangannya berkelejetan betapa saat dan derita yang dirasakan sungguh ngeri dan memilukan hati.
"Hahaha, bocah keparat ! kepandaianmu seperti sinar kunang-kunang juga berani kurang ajar terhadap aku ! Hahaha, biar kau coba rasakan betapa nikmat hajaran yang setimpal ini !"
Saking kesakitan Hoa Sip-i sudah tidak mampu lagi mengeluarkan suara, seluruh tubuh sudah dekil dan kotor oleh keringat dan debu tak menyerupai orang lagi.
Setelah seruling sudah dapat direbut kembali Giok liong berniat tinggal pergi saja, tapi entah bagaimana juga kesan lantas timbul dalam benaknya sekali loncat ringan sekali ia sudah sampai ditepi sana, sambil unjuk senyum yang dipaksakan ia menjura, katanya.
"Kaucu, kalau kau tiada permusuhan yang mendalam, silakan kau bebaskan tutukan Toan hun siok-bing-im bong-ci itu !"
"Kau mintakan balas kasihannya ?"
"Ya, cukup kasihan keadaannya !"
"Agaknya kau sudah khilaf dan lupa, sedikit terlambat tadi seruling pusakamu pasti sudah hancur lebur bukan !"
"Tentang ini aku tidak bisa salahkan dia. Bukankah kekasihnya kau ..."
"Ck, ck, ck, ck, ... tak kira ternyata Kim-pit-jan hun jaga seorang pemuda romantis."
"Terserahlah, aku tidak ikut campur lagi !"
Ujar Giok liong dengan muka merah, menjejak tanah pesat sekali ia melompat ke luar hutan sana.
"Tunggu sebentar!"
Bayangan kuning berkelebat tahu-tahu Ui-hoa kiaucu Kim Ing sudah menghadang didepannya, ujarnya sambil unjuk senyum menggiurkan.
"sebelum pergi tinggalkan dulu seruling samber nyawa!"
"Kenapa?"
"Sebab Ui hoa-kiau sangat memerlukan seruling pusaka itu."
"Apa kau sudah lupa bahwa seruling ini sebenarnya adalah milikku?"
"Hanya kupinjam setahun saja, setelah waktunya tentu kukembalikan!"
"Kalau aku tidak ingin pinjamkan?"
"Terpaksa harus kurebut dengan kekerasan!"
"Hahahaha ... ."
Saking gusar Giok-liong bergelak tertawa serunya lantang.
"Baik! justru aku paling senang orang main kekerasan terhadap aku, Ui hoakiau kalian ada ilmu simpanan apa, biarlah aku yang rendah belajar kenal seluruhnya!"
Alisnya berkerut dalam, ujung bibirnya menjengek menghina.
Mendadak ia melompat maju menghampiri tubuh Hoa Sip i, beruntun jarinya bergerak sebat sekali menutuk tiga puluh enam jalan darah besar ditubuhnya, lalu bentaknya keras.
"Kawan lekas pergi."
"Kau berani melepas dia!"
Terdengar hardikan marah disusul bayangan kuning menerjang dengan serangan membadai.
"Terang kau tidak memberi muka kepadaku. Masa Ma Giok liong gampang dipermainkan. Kalau kau berani merintangi aku, seumpama manjat kelangit sukarnya!"
Sembari berkata sebat sekali iapun bergerak menangkis dan balas menyerang dengan keras lawan keras.
Mega berkembang angin menderu bayangan orang menjadi berseliweran kurang jelas dipandang mata nyata kedua belah pihak sudah bertempur sengit.
Sementara itu pemuda baju biru Hoa Sip-i tengah merangkak bangun dengan napas memburu dengan ujung bajunya ia seka kotoran mukanya, dengan susah payah ia merangkak dan berusaha bangun, baru saja ia melangkah dua tindak mata terasa berkunang-kunang, puluhan bayangan kuning berkelebat melayang datang seiringan daun jatuh menghadang dihadapannya, saat mana ia sudah kempas kempis tenaga untuk berdiri juga sudah payah, akhirnya ia meleso jatuh duduk lagi, suaranya serak seperti kera berterisk.
"Kalian ini siluman jahat, bunuhlah tuan mudamu ini..." (BERSAMBUNG
Jilid KE 15)
Jilid 15 Sekarang Giok-liong tidak main sungkan lagi, kedua tangannya tampak bergetar terpentang, Sam-jicui-hun chiu mulai dilancarkan.
Kelihatan mega putih berkembang hawa Jilo menyelubung tubuhnya, sebuah telapak tangan putih halus bergerak lincah berubah laksana ribuan bayangan tangan, dengan ketat ia lindungi pemuda baju biru, sekaligus ia lancarkan delapan belas pukulan dan tendangan menyerang para gadis baju kuning anak buah Ui-hoa-kiau itu.
Perbawa ilmu sakti memang bukan olah-olah hebatnya, dimana angin badai melandai bayangan kuning lantas tergulung berpencaran keempat penjuru sambil berteriak kesakitan, Untung Giok-liong tidak bermaksud mengambil jiwa mereka, kalau tidak tentu mereka sudah mampus.
Keruan Ui-hoa-kiaucu Kim Ing berjingkrak gusar melihat anak buahnya dihajar bulan bulanan segera ia menubruk maju dengan sengit, bentaknya.
"Besar nyalimu !"
Bayangan putih dan kuning kini saling berkutet lagi, masing-masing lancarkan serangan yang lebih ganas dan lihay, sampai detik itu belum kelihatan siapa bakal menang dan asor.
Sambil menghadapi serangan musuhnya yang sudah sengit ini, Giok-liong masih berkesempatan berteriak.
"Hoa Sip-i ! Kesempatan yang baik ini kau masih tidak mau pergi, kapan baru kau hendak menyingkir!"
Napas Hoa Sip i masih ngos-ngosan, sahutnya lemah.
"Aku betul-betuI sudah tidak bertenasa, Tuan penolong dendam penasaran kau balas dengan budi pekerti. baiklah aku terima dengan tulus hati ! Adik Yau sudah mangkat, aku juga tidak ingin hidup lagi!"
Giok-liong merasa toleran akan keadaan orang yang hampir sama dengan riwayat dirinya maka tanpa banyak pikir lagi ia berteriak.
"Cobalah kau semadi sebentar mengumpulkan tenaga ! Selama gunung masih tetap menghijau, jangan kwatir takkan memperoleh kayu bakar."
"Hahaha !"
Terdengar Ui hoa-kiaucu Kim Ing mengejek.
"jiwamu sendiri susah terlindung masih coba perhatikan keselamatan orang lain."
Tiba-tiba bayangan kuning bergerak melebar, kiranya sepasang lengan baju Ui-hoa-kiaucu yang besar gondrong itu ditarikan sedemikian cepat dan lincah main kebas, menyapu, menusuk dan menghantam.
Semua yang diarah adalah tempat-tempat penting ditubuh Giok-liong dengan berbagai ragam tipu silat.
Sementara itu, menurut anjuran Giok liong, Pemuda baju biru Hoa Sip i tengah duduk bersila menghimpun tenaga dan semangat.
Kira-kira setengah peminuman teh telah berlalu.
Sebuah bayangan biru besar laksana seekor burung besar tengah meluncur tiba dari puncak atas sana, jubah mantelnya yang besar melayang-layang seperti sayap yang besar belum lagi orangnya sampai ia sudah berteriak memanggil "Sip i.
Sip i !"
Terbangun semangat pemuda baju biru Hoa Sip i, teriaknya pula dengan suara parau.
"Suhu! Suhu!"
Mendengar suara panggilan pertama tadi, Ui-hoa-kiaucu Kim Ing lantas mengebaskan kedua lengan bajunya membuat Giok-liong mundur berkelit kesempatan ini digunakan untuk melompat mundur keluar gelanggang sejauh setombak lebih.
Giok-Iiong juga lantas menghentikan aksinya.
Matanya terbuka lebar, kini dihadapannya sudah bertambah seorang laki-laki tua yang bercambang bauk lebar bermata juling seperti mata garuda, hidungnya bengkok seperti betet, kupingnya kecil terbalik keatas-sepasang matanya berkilat dan berjelilatan dengan kasar, selayang pandang saja lantas dapat diketahui bukan seorang baik-baik.
Begitu tiba ia menghampiri kearah pemuda baju biru Hoa Sip-i.
bentaknya dengan uring-uringan.
"Aku sudah duga tentu kau terpincut lagi oleh perempuan siluman dari Ui hoa-kiau itu! Siapa yang membuatmu begitu rupa!"
Sikap bicaranya sangat garang dan angkuh sekali, hakekatnya ia tidak pandang sebelah mata para hadirin, sungguh sombong. Ui-hoa kiaucu Kim Ing menarik muka cemberut, hardiknya.
"Lo Siang-san, hati-hatilah kau bicara, Apakah Ui hoa-kiau kita tidak sembabat dibanding Thian-mo hwe kalian. Sekali buka mulut lantas siluman tutup mulut siluman lagi ! apa yang kau andalkan!"
Thian-mo-hwe?
Lagi-lagi hati Giok-liong bertambah bingung dan khawatir.
Thianmo-hwe adalah sebuah kumpulan orang jahat dari golongan hitam pada lima puluh tahun yang lalu, anggotanya tidak banyak, namun setiap generasi mereka pasti dapat menampilkan seorang-seorang berbakat yang benar-benar hebat kepandaiannya.
Mereka merupakan salah satu kumpulan golongan jahat yang paling kejam dan telengas, tidak gampang dan sembarangan waktu mengunjukkan diri di kalangan Kangouw.
Liang ing-mo-ko (iblis Elang) Le Siang-san ini adalah salah satu gembong iblis yang kenamaan pada jaman itu manusia yang sulit didekati dan diajak berkompromi.
Terdengar Le Siang san tertawa sinis, ujarnya penuh sindir.
"O, Kim Ing-kaucu berada disini, Maaf aku sudah tua mataku kabur, wah benar-henar aku berlaku kurang hormat!"
Sampai disini mendadak ia menarik muka, air mukanya berubah membesi, sepasang mata julingnya memancarkan cahaya dingin, bentaknya gusar sambil menunjuk Hoa Sip-i.
"jadi kau yang membuat anak ini begitu rupa ?"
Kim Ing juga tidak mau kalah galak, sahutnya sambil manggut-manggut.
"Tidak salah! Toan hun-siok bing im-yangci cu-kuo untuk memberi sekedar hajaran padanya, Memang aku sengaja mengajar adat muridmu yang nakal ini!"
"Apa kau lupa menggebuk anjing juga harus pandang muka majikannya?"
"Dia sudah berani melanggar pantangan dan undangundang agamaku tahu."
"Pantangan apa?"
"Memincut anak muridku, mencuri seruling samber nyawa lagi."
"SeruIing samber nyawa ?"
Le Siang-san menjadi kesima, tidak menggerecoki kenapa anak muridnya diajar adat tadi, kini malah ia bersitegang leher, tanyanya.
"Apakah betul omonganmu ?"
"Coba kau tanyakan kepada murid atasmu itu !"
"Sip i, mana seruling samber nyawa itu?"
"Berada ditangannya !"
Sahut pemuda baju biru Hoa Sip-i sambil menunjuk Giok-liong.
Bayangan biru berkelebat dengan menggembor keras Le Siang-san menubruk kearah Giok-liong sambil mencengkeram dengan ilmu cakar garuda, sedetik mereka saling adu kekuatan mendadak bayangan mereka terpental mundur.
Terdengar Giok-liong berseru dengan nada berat.
"Kenapa kau menyerang dengan ganas, Sungguh tidak punya aturan."
Le Siang-san terloroh-loroh suaranya seperti kokok beluk, penuh kepalsuan.
"Serahkan seruling samber nyawa itu, nanti kuampuni jiwamu!"
Mukanya penuh nafsu membunuh, matanya semakin jalang seperti binatang kelaparan membuat orang yang melihat merasa giris dan ketakutan pelan-pelan ia angkat kedua lengannya keatas kepala dengan gerakkan kaku seperti mayat hidup, kakinya berjengkit keatas.
Ui hoa kiaucu Kim Ing mandah tertawa tawar, ujarnya.
"Le Siang-san ! Jangau kau anggap gampang. Kali ini kau akan ketemu batumu, awas kau jangan terjungkal."
Le Siang-san mengekeh seram suaranya seperti pekik keras.
"He, Le Siang-san tidak pandang sebelah mata bocah ingusan masih berbau bawang ini."
Giok-liong menjadi gusar, air mukanya semakin gelap, geramnya rendah.
"Kukira sikapmu akan berlainan kalau kau berhadapan dengan Kim-pit-jan-hun !"
"Jadi kau inilah Kim-pit-jan-hun Ma Giok-liong?"
Agaknya hal ini benar-benar diluar dugaan Le Siang san.
"Benar, itulah aku yan rendah adanya!"
Mata Le Siang-san berkedip-kedip, dari kepala ia mengamati sampai kaki, mendadak ia melepas gelak tawa terpingkal-pingkal, serunya.
"Ketemu muka lebih nyata dari mendengar. Kukira kau seorang laki laki yang punya tiga kepala dan enam tangan. Tak kira hanya seorang pemuda yang masih hijau berbau popok, sungguh menggelikan."
"Bedebah, jangan sombong kau!"
Membawa deru angin kencang Giok-liong menerjang musuh dengan gusar.
"Baik! Le-ya akan mengukur sampai dimana kelihayan Sam ji cui-hun-chiu! Tobat!"
Sekali gebrak saja cukup membuat Le Siang san berjingkrak mundur dengan penuh keheranan sungguh mimpi juga ia tidak menduga bahwa pemuda baju putih didepannya ini begitu mahir melancarkan Cui-hun-chiu yang sedemikian sempurna.
Apalagi Lwekangnya juga sudah mencapai begitu tinggi.
Betul-betul membuat orang sulit percaya, sedikit ayal hampir saja jiwanya kena dikorbankan.
Disebelah sana terdengar Ui hoa kiaucu Kim Ing menjengek hina.
"Bagaimana Le Siang-san?"
Muka Le Siang san kelihatan pucat bersemu ungu, dari malu ia menjadi gusar, gerungnya dengan marah-marah.
"Payah, payah! puluhan tahun ketenaran nama Le-yam kena dirobohkan oleh bocah ingusan yang berbau bawang ini, Tapi gebrak kali ini belum masuk hitungan, coba kau juga sambut ilmu pukulanku ini!"
Mendadak ia ia pentang kesepuluh jarinya, giginya berkerut dengan gemas. sepuluh jalur kilat laksana duri landak mendadak menembus udara mendesing mendesis kearah Giok-liong.
"Le Sian-san!"
Teriak Ui-hoa-kiaucu Kim Ing.
"akhirnya toh kau keluarkan ilmu simpanan mu Cap-ci tam-kan ciu! (ilmu jelentikan sepuluh jari)!"
Giok-liong mandah tersenyum ewa, hawa murni terkerahkan dari pusarnya, hawa Ji-lo segera tersalur mengembangkan mega putih melindungi seluruh badannya.
Sepuluh jalur sinar biru laksana duri landak itu begitu menyentuh mega putih lantas buyar sima tanpa bekas.
Keruan berubah hebat air muka Le Siang-san saking kejut bahwa ilmu yang paling di andalkan katanya tak berguna lagi menunjukkan perbawanya.
Saking dongkol ia membanting kaki sehingga sepatu rumputnya amblas kedalam batu cadas dibawah kakinya sampai beberapa dim, sekali ini ia kerahkan seluruh kekuatannya, lagi-lagi puluhan jalur sinar biru meluncur lebih panjang dan besar serta keras.
Namun betapapun ia mati-matian kerahkan seluruh tenaganya, alhasil puluhan jalur sinar tutukan jarinya itu tak dapat menembus pertahanan mega putih yang bergulung tebal, laksana puluhan sabuk biru, yang berputar menggubat sebuah bola putih besar, saking ulur odot sungguh suatu pemandangan yang menarik hati.
Baru sekarang pemuda baju biru Hoa Sip-i berkesempatan bersuara, teriaknya .
"Suhu! Doa seorang baik, dia seorang baik!"
Le Siang-san sudah tidak hiraukan lagi seruannya dengan bernafsu ia kerahkan seluruh kemampuannya dalam usaha untuk merebut seruling samber nyawa.
Sebab itu tenaga yang dikerahkan dan dilancarkan semakin kuat dan besar.
Kakinya juga semakin dalam melesak kedalam batu yang keras.
Mukanya berubah menyeringai seperti wajah setan yang tersiksa sungguh menggiriskan sekali.
Lama dan entah sudah berselang berapa lama, sekonyongkonyoag terdengar sebuah ledakan dahsyat seperti bom meledak mega putih menjadi buyar dan berkembang kemanamana.
Diantara kelompok mega putih itu kelihatan sebuah telapak tangan putih halus menyampok dan menangkis puluhan sinarbiru itu terus langsung menepuk kedada Le Siang san.
"Celaka !"
Saking kagetnya Le Siang sau menggembor keras, tubuhnya yang tinggi besar itu tersurut mundur lima enam langkah ke belakang Tak tertahan lagi mulutnya menyemburkan darah segar.
Sejenak keadaan menjadi sunyi gelanggang pertempuran juga menjadi terang lagi, mega putih menghilang demikian juga puluhan sinar biru tadi telah kuncup.
Dalam pada itu pemuda baju biru Hoa-Sip i sudah melangkah maju memayang Le Siang san yang sudah lemas tak bertenaga, berulang-ulang ia berseru .
"Suhu ! Kuatkan hatimu, himpunlah semangatmu !"
Ujung mulut Le Siang san mengalirkan darah, matanya mendelik memutih, cahaya biru yang terang dan bersemangat tadi sudah sirna tanpa bekas, ujarnya dengan napas masih ngos-ngosan.
"Ma Giok liong, lekas kau bunuh aku sekalian !"
"Aku tiada dendam sakit hati dengan kau, tak perlulah !"
"Hari ini kau tidak mau bunuh orang she Le, tielak jangan kau menyesal sesudah kasep!"
"Kenapa ?"
"Sakit hati pukulanmu hari ini betapapun harus kubalas !"
"Terserah, aku tidak peduli, setiap saat akan kunantikan kedatanganmu !"
"Baik, Gunung selalu menghijau, air selalu mengalir perhitungan hari ini selama hayat masih dikandung badanku, setiap saat aku akan mencarimu !"
"Boleh, selalu kuterima kedatanganmu."
"Mari pulang !"
Dibawah bimbingan Hoa Sip-i Le Siang san meninggalkan tempai itu dengan ierpincang-pincang.
Giok liong menghela napas panjang pikirnya kenapa manusia yang hidup kelana di dunia persilatan harus saling bunuh.
Kenapa hidup manusia harus mengalami banyak sengsara dan derita.
Pikir punya pikir sampai sekian lama ia terlongong ditempatnya sampai terlupakan olehnya bahwa disamping sana Ui-hoa kiaucu bersama anak buahnya masih mengawasi dirinya.
Tak terasa ia menghela napas lagi.
"Anak muda kenapa berkeluh kesah !"
Merubah sikapnya yang dingin dan bermusuhan tadi, kini sikap Kim Ing menjadi begitu ramah dan penuh kemesraan.
Hakikatnya usia Kim Ing sudah menanjak pertengahan abad, namun wajahnya masih kelihatan jelita karena ia pandai bersolek, terutama kepandaian main matanya dengan sikapnya yang genit dan menggiurkan siapapun pasti akan terpincut dan tertarik batinya.
Akan tetapi sedikitpun Giok-Jiong tidak tertarik hatinya, sikapnya tetap dingin.
Sambil meraba batu giok berbentuk jantung hati yang dikalungkan dilehernya pelan pelan ia menyelusuri pinggir jurang berjalan ke arah sana ternyata dari peristiwa yang baru saja disaksikan ini, dilihatnya betapa besar dan murni cinta Hoa Sip i terhadap kekasihnya, sehingga terketuk hatinya, pikirannya melayang jauh ke Hwi
Tiraikasih WEBSITE
http.//kangzusi.com/ hun-cheog di mana sang istri yang tercinta tengah menantikan kedatangannya.
Sekarang saputangan sutra pemberian istrinya itu dibawa pergi oleh Hiat ing Kongcu.
Benda satu-satunya sebagai kenang-kenangan tinggal batu giok berbentuk jantung hati warna merah yang dikalungkan di lehernya ini.
Tiba-tiba berubah air muka Ui-hoa-kiaucu, pandangannya kesima memandangi batu giok itu, serunya terkejut.
"Ma Giok liong. Dari mana kau peroleh batu giok di-tanganmu itu ?"
Tidak kepalang tanggung segera Giok-liong rogoh keluar di depan bajunya kalung batu giok jantung hati itu, sahutnya dengan parau .
"Dari Hwi hun-san-ceng."
"Hwi-hun-chiu Coh Jian-kun yang memberikan kepadamu ?"
"Bukan, putrinya !"
"Oh..."
Ui hoa kiaucu terlongong-longong, mendadak matanya memancarkan sorot aneh terus berdiri mematung seperti orang linglung.
Rada lama kemudian baru ia bergerak sambil menghela napas penuh kesedihan, katanya sambil membanting kaki.
"Seruling samber nyawa aku tidak perlu lagi, serahkan saja batu giok itu kepadaku !"
"Giok-pwe ini ? jangan !"
"Kau keberatan ?"
"Bukan begitu! soalnya batu ini adalah tanda mas kawinku dengan adik Ki-sia, tidak kalah berharga dengan seruling samber nyawa."
"Mas kawin ! "
"Sedikitpun tidak salah!"
Tanpa berkata-kata lagi Ui-hoa-kiacu mengulapkan tangan menggiring para dayangnya terus tinggal pergi dengan cepat, sebentar saja bayangannya sudah menghilang dikejauhan.
Tatkala mana sang surya sudah muncul dari peraduannya, seluruh maya pada ini sudah terang benderang, Segera Giokliong juga tinggalkan tempat air terjun itu, badannya melenting dengan ringannya, sepanjang jalan ini pikirannya melayang tak tentu arahnya, rentetan peristiwa vang tidak menyenangkan hati ini membuat semangatnya runtuh total.
Ling Soat-yau, Tan Soat-kiau, Kiong Ling ling, Li Hong serta Coh Ki-sia silih berganti terbayang olehnya, Sudah tentu yang paling dirindukan adalah Coh Ki-sia.
Menurut adatnya ingin rasanya tumbuh sayap untuk segera terbang kembali ke Hwihun-san cheng untuk bercengkerama dengan isteri tercinta.
Apa boleh buat tugas berat yang dipikulnya perlu segera diselesaikan, pula kejadian dikangouw ini memang penuh likuliku yang sulit diduga sebelumnya.
Dimana-mana selalu terjadi banjir darah dan penjagalan manusia.
Hutan kematian, istana beracun, Kim i-pang, Hiat-hongpang, Pek-hun to, Ui-hoa kiau, dan Lan ing-hwe.
Masih adalah Hiat-ing-bun serta Bu-lim-su bi.
Semua-semua ini boleh dikata merupakan kekuatan terpendam yang bakal meledak pada suatu saat.
Dengan takdir dari ayah bunda, tugas berat perburuan serta kesejahteraan penghidupan kaum Bulim, sampai pesan dari Wi-hian ciang Liong Tay-hiap sampai sekarang juga belum sempat terlaksana.
Begitulah pikir punya pikir Giok-liong semakin merasa otaknya menjadi tumpul dan butek.
Tak tahu ia cara bagaimana harus mencari jalan keluar untuk mengatakan semua urusan yang sama pentingnya ini.
Terutama yang membuat hatinya sedih adalah permusuhannya dengan pihak para iblis dari dari golongan hitam, tapi toh pribadi juga mendapatkan simpati dari kaum aliran putih khususnya dalam hal ini adalah sembilan partai besar.
Untuk sesaat Giok-liong menjadi merasa terjepit, mesti dunia begitu besar, agaknya sudah tiada tempat berpijak lagi untuknya, jalan punya jalan entah berada jauh ia berlenggang.
Tahu tahu didepan sana terlihat sebuah gardu dipinggir jalan, gardu ini agaknya sudah lapuk dan reyot, bila dihembus angin besar pasti akan roboh.
Sebelah kiri dari gardu ini adalah semak belukar dari alas pegunungan yang meninggi, dimana banyak terdapat kuburan yang berserakan, berlapis-lapis meninggi keatas, peti mati dan tulang-tulang manusia berserakan dimana-mana terlihat jelas.
Kabut pagi masih belum hilang angin pagi menghembus sepoi sepoi membawa bau apek dan amis yang memualkan, sekonyong-konyong sebuah benda hitam melesat keluar dari arah kuburan yang berserakan sana.
Hebat benar Ginkang orang ini, sekejap saja tahu-tahu ia sudah tiba di luar gardu reyot itu, Kini terlihat jelas kiranya bukan lain seorang laki-laki yang mengenakan kedok hitam, jadi tak terlihat air mukanya.
Sorot matanya dari balik kedoknya itu memancarkan sinar areh yang terang dan dingin.
Bercekat hati Giok-liong, bergegas ia berdiri didalam gardu, tanyanya.
"siapakah tuan ini ?"
Orang berkedok itu mandah mendengus dingin, balas tanyanya .
"Hm, kau ini Kim-pit-jan-hun?"
"Aku yang rendah memang Ma Giok-liong !".
"Baik, ambil ini !"
Orang itu merogoh kantong bajunya mengeluarkan sebuah benda terus dilemparkan kedalam gardu lalu berlari pergi.
Benda itu mengeluarkan suara berkerontangan di atas lantai.
Keruan Giok-liong terkejut heran, benda yang dilempar adalah sebuah lencana besi yang memancarkan sinar berkilau, sebesar tiga empat senti.
Diatas lencana besi ini terukir sebuah huruf "mati", di kedua sisinya adalah dua pohon pek yang besar yang saling bergandengan sehingga menjadi bentuk huruf Bun atau pintu, huruf mati itu tepat berada di tengah-tengah huruf pintu.
Giok-Iiong membungkuk badan menjemput lencana besi itu, dibalik lencana tertulis dengan huruf-huruf kecil yang berbunyi, dalam jangka tiga hari ini harus datang kepada seksi Liong-tong dari Hutan kematian untuk menanti perintah dan jabatan.
Giok-liong menjadi bingung, apa-apaan maksud tulisan ini ?
"Hai, tunggu sebentar !"
Seiring dengan bentakannya ini Giokliong melesat keluar mengejar orang berkedok hitam itu.
Tapi orang didepan itu agaknya tidak mau peduli dengan kencang ia berlari terus.
Giok-liong semakin gelisah, segera Leng-hun toh dikembangkan ditengah udara ia menggumam gaya Hwi-hunjot-sio, badannya laksana anak panah meluncur dengan pesatnya, sekejap saja jaraknya sudah tidak jauh dari orang berkedok di depan itu.
Didepan sana ujung gunung dari pekuburan yang berserakan ini sudah kelihatan,sebelah depan lagi adalah sebuah hutan yang lebat dan gelap.
Orang berkedok itu main selulup diantara semak belukar terus menerobos masuk kedalam hutan yang gelap itu.
Giok-liong sudah tidak peduli lagi akan segala pantangan tetek bengek, Dengan gaya Ham-ya-kui-jau ( burung gagak kembali ke sarangnya ia langsung ia melesat memasuki hutan.
Berulang kali terdengar suara gerungan marah yang rendah dan menusuk telinga membuat merinding bulu roma.
Begitulah beruntun suara gerangan seperti auman binatang buas saling susul.
Kepandaian tinggi membuat nyali Giok-liong semakin tabah, mengan-dal lencana besi itu ia kerahkan Ji-lo melindungi badannya, terus menerobos kedepan, ke tempat yang semakin gelap dan lembab, Semakin jauh semakin gelap.
"Stop! "
Tiha-tiba terdengar sebuah bentakan yang amat nyaring dari belakangnya, Lalu angin berkesiur dari empat penjuru, terlihat bayangan orang laksana setan gentayangan saling bermunculan.Sekejap saja puluhan orang berkedok berseragam hitam sudah mengepung dirinya.
Orang-orang ini semua berambut panjang terurai sampai di pundaknya, demikian juga jubahnya terlalu panjang sampai menyentuh tanah, setindak demi setindak mereka mendesak maju menghampiri Giok-liong.
Ancaman yang serius ini betul-betul menciutkan nyali orang, jangan kata turun tangan bergebrak, mengandal hawa dingin serta keadaan yang tegang menakutkan ini laksana di akhirat cukup menggetarkan nyali orang, yang bernyali kecil tanggung sudah pecah jantungnya dan mampus saking ketakutan.
Diam-diam Giok-Iiong kerahkan Lwekangnya, ujarnya dengan serius.
"Apa-apaan tindakan kalian!". Tiba-tiba suara mendengus tersiar dari hutan sebelah dalam sana, katanya.
"Lencana besi sebagai undangan. Tiada maksud jahat!"
Tanpa merasa Giok liong membuka telapak tangan melihat lencana besi itu, serunya lantang.
"siapa yang berkuasa di hutan ini, kenapa tidak keluar untuk bicara!"
"Pun-tong-cu hanya mendapat perintah untuk mengundang tuan, sebelum ada perintah dari majikan, tidak boleh bertemu muka. Silakan tuan pergi!"
Giok-liong menjadi heran, serunya lagi.
"Terima kasih akan undangan ini, lantas kemana aku harus pergi, tiga hari lagi aku harus kemana?"
"Bukankah diatas lencana itu sudah tertulis jelas, Tuan sendiri juga pernah kesana bukan, kenapa main tanya segala!"
"Aku pernah kesana ". akhirnya Giok-liong paham, dengan mendelong ia pandang lencana besi itu, serunya tertahan.
"Apakah majikan Hutan kematian?"
"Tidak salah! Majikan Hutan ....kematian . , ! "sepatah demi sepatah laksana guntur menggeleger kupandang keras sekali memekakkan telinga, seakan bicara diribuan Ii jauhnya tapi juga seperti di pinggir telinga. Hutan kematian merupakan suatu golongan yang paling misterius dan susah dijajagi, tidak diketahui sepak terjang mereka yang sebenarnya dari golongan mana pula aliran kepandaian mereka, maka sedikitpun Giok liong tidak berani berlaku gegabah. Terang-terangan aku telah diundang, betapapun aku harus menuju ke Hutan kematian untuk menyirapi kesana, baru dari sana mencari jejak Suhu, kalau tidak menanti pada bulan lima pada perjanjian bertemu di Gak-yang-lau kelak baru diatur lagi tindakan selanjutnya, perjalanan kali ini sekaligus dapat menyirapi kabar dari Wi-hin-ciang Liong Bun Liong Tay-hiap, entah kabar apa pula yang bisa diperolehnya, supaya kelak dapat mengatasi lebih sempurna demi kejayaan dan ketentraman hidup kaum persilatan. Karena pikirannya ini segera ia menyahut keras.
"Baik, dalam tiga hari ini aku pasti tiga disana!"
Sebelum kakinya bergerak tiba-tiba terdengar suara orang.
"Tunggu sebentar! "
Lalu beruntun muncul beberapa bayangan hitam.
Kini yang muncul adalah delapan laki-laki yang mengenakan jubah abu-abu, dengan rambut panjang terurai juga, dengan kaku mereka berloncatan maju mendekat, Salah seorang diantaranya berkata dingin.
"Petugas Liong-tong, menghadap pada Tong-cu!"
Habis berkata delapan orang itu terentak menjura dalam kearah hutan kosong sebelah dalam sana. Sebuah suara menyahut dari dalam hutan sana.
"Silakan para petugas hukum, apakah Lim-cu (Majikan) ada pesan lain?"
Serentan kedelapan orang didepan hutan itu mengiakan. Salah seorang berseru lantang.
"Terima kasih akan perhatian Tong cu, kita beramai menggusur tawanan kemari untuk melaksanakan hukuman, harap Tong-cu suka saksikan dan buktikan."
Suara orang dalam hutan rada terkejut heran.
Terdengar tindakan berat berjalan keluar, tahu-tahu dihadapan mereka sudah berdiri seorang laki-laki yang tinggi tegap melebihi orang biasa, karena tidak mengenakan kedok jadi wajahnya bisa terlihat jelas.
Bentuk wajahnya bundar bersegi seperti wajah harimau, matanya berjengkit miring keatas, diatas jidatnya tumbuh secomot rambut putih yang diatur sedemikian rupa sehingga menyerupai huruf "Ong" ( Raja ).
Ini masih belum aneh yang lebih aneh, yang lebih mengejutkan lagi bahwa dari kedua ujung mulutnya tumbuh dua taring yang besar memutih.
Begitu mengunjukkan diri langsung orang ini bertekuk lutut menyembah seraya berseru lantang.
"Hou-tong Tongcu, hamba menerima perintah Congcu, Harap Tongcu kalian suka memberi petunjuk!"
Sebuah bayangan abu-abu melayang masuk dari luar, seorang laki-laki berambut merah bermuka hijau melayang tiba.
Diatas jidatnya tumbuh jaling tunggal, Matanya berkilat tajam segera ia menjura kearah Hou-tong Tong cu yang berlutut itu, ujarnya.
"Perintah sudah disambut, Selain aturan biasa. Tong-cu silakan!"
Hou-tong Tong-cu bertanya dengan muka serius.
"Pesakitan siapakah sampai begitu penting digusur kemari untuk melaksanakan hukuman disini!"
Liong-tong Tong-cu yang berambut merah bermuka hijau itu terkekeh kekeh dingin, matanya melirik kearah Giok-liong, sahutnya.
"Pesakitan ini ada sangkut pautnya dengan Ma Siau-hiap ini. Betapa tepat perhitungan Lim cu, beliau tahu bahwa Ma Siau-hiap hari ini pasti akan lewat Hou-tong sini, maka segera diperintahkan aku membawa dua belas petugas hukum menggusur tawanan itu kemari !"
Terkesiap hati Giok-liong, selanya gugup! "Ada sangkut pautnya dengan aku. Siapakah dia?"
"Sebentar lagi kau akan tahu!"
Jengek Liong-tong Tong-cu.
Lalu tangannya bertepuk dua kali, kecuali delapan orang seragam abu-abu yang segera bergerak keempat penjuru mengepung Giok liong dari luar hutan sana berlari masuk lagi empat laki laki seragam abu-abu yang berambut panjang juga.
Keempat laki-laki seragam abu-abu yang baru masuk ini menggusur seorang tua renta, air muka yang kaku dan dingin pucat tanpa kelihatan berdarah.
Kedua tulang pundaknya berlubang ditembusi rantai panjang sebesar jari tangan, karena diseret maju sehingga jalannya sempoyongan, rantai panjang itupun berbunyi nyaring menyentuh tanah.
Beriring keempat laki-laki seragam abu-abu ini menggusur tawanannya kehadapan Liong-tong Tong-cu lalu menjura hormat.
"Hamba beramai menunggu perintah selanjutnya!"
Liong-tong Tong-cu manggut manggut, ujarnya.
"Harap Hou-tong Tong-cu memeriksa akan kebenaran tawanan ini!"
Houtong Tong-cu mengunjuk rasa heran dan penuh tanda tanya, katanya sambil mengerutkan alis.
"Bukankah dia seorang Goan-lo ( sesepuh ), petugas Lim-cu yang terdekat pembesar berjasa dalam pembukaan Hutan kematian ... ."
Tanpa menanti ia selesai bicara habis mendadak Liong-tong Tong-cu bergelak tertawa.
"Hahahaha...Tak heran Tong-cu kena diapusi. Lim-cu sendiri juga kena dikelabuhi selama puluhan tahun, siapa akan mau percayai Hahahaha!"
Tatkala itu Giok-liong berdiri mematung sambil menerawangi perubahan yang dilihatnya dihadapannya ini, saking asyik dan kesima mendengar ia sampai berdiri terlongong-longong.
Terdengar Liong-tong Tong cu menghardik keras dengan bengis.
"Lucuti kepalsuannya supaya Houtong Tong cu memeriksa sendiri."
"Hamba terima perintah,"
Empat laki-laki seragam abu-abu itu mengiakan bersama.
Lalu beramai-ramai bergegas mereka menekan si orang tua tawanannya itu diatas tanah, salah seorang menggosok dan menepuk diatas mukanya, seorang lagi menarik narik dipunggung dengan sekuatnya, sedang dua orang lainnya masing masing menarik kedua lengannya."
"Hah!"
Tak tertahan Giok liong berseru terkejut. Liong tong Tong cu berkata kan, ujarnya.
"Nah, begitu lebih tepat lagi, Hanya dengar seruan kejut Ma Siau-hiap ini, merupakan bukti yang paling nyata!"
Sementara itu Houtong Tong'Cu juga tengah kesima sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatel tanyanya melongo.
"Siapa dia?"
"Delapan puluh tahan yang lalu,"
Terdengar Liong-tong Tong-cu berseru lantang.
"Seorang Tay-biap yang sudah menggetarkan dunia persilatan Wi-hian-ciang Liong Bun, bukan lain adalah tawanan kita ini!"
Dalam pada itu Giok-liong sudah tak kuat mengendalikan keharuan hatinya serunya mendebat.
"Apa hubungannya orang ini dengan aku?"
Liong-tong Tong cu tertawa ewa ujarnya.
"Dalam hal ini Lim cu ada memberi pesan supaya aku tidak membuka banyak mulut. Dipersilatan dalam jangka tiga hari ini Siau-hiap datang kesekte kita, nanti aku tentu akan mengiringimu setelah menghadap Lim-cu, tentu segalanya dapat dibikin jelas!"
"Apa yang akan kalian perbuat akan diri Liong Tay-hiap ini?"
"Lwekang dan kepandaian silatnya sudah dipunahkan, kita beramai tak lain hanya melaksanakan tugas melalui... Bahwasannya ini bukan urusan yang sangat penting!"
Memang sorot pandangan Wi-hian-ciang Liong Bun sangat redup tanpa bersinar dari wajahnya yang pucat pasi itu menandakan bahwa Lwekangnya memang sudah punah, bentuknya menyerupai tengkorak hidup yang mengalami penuh penderitaan.
Akan tetapi, apakah Giok-liong harus diam saja melihat seorang pendekar besar pada jamannya dulu yang sudah tenar puluhan tahun meninggal begitu saja, saking haru dan pedih badan sendiri sampai gemetar.
"Siau hiap harap berpikir kembali sebelum bertindak l"
Serentak delapan laki laki seragam abu-abu berkelebatan masing masing menggerakkan lengan tangannya, serempak mereka berseru hormat meski belum turun tangan secara kenyataan kepungan mereka ini sangat rapat sulit ditembus.
Untuk menerjang keluar meski tidak sukar, sedikitnya juga harus memeras keringat.
Sambil mengerut kening segera Giok-liong berteriak.
"Hai, kalian jangan berlaku ceroboh, tunda dulu pelaksanaannya setelah aku bertemu langsung dengan Lim-cu kalian !"
"Lain urusan lain perkaranya, Maaf Pun-tong tak dapat mengabulkan permintaan mu ini !"
"Kalau kalian tidak melepas Liong Bun, maka akupun tidak sudi menemui Lim-cu kalian."
"Itu kan urusan Ma Siau-hiap sendiri, nanti Limcu tentu dapat mengatur sendiri, jangan persoalan itu dicampur baurkan dengan pelaksanaan hukum ini !"
Saat mana Houtong Tong-cu sudah mengulapkan tangan memberi aba aba kepada dua belas laki-laki berambut panjang ber-seragam hitam, serunya.
"Sambut tugas ini dan siapkan melaksanakan hukuman."
Empat orang seragam hitam maju menggantikan kedudukan empat seragam abu-abu yang menggusur Liong Bun tadi, Keempat seragam abu-abu itu lantas meloncat mundur ikut mengepung Giok liong diluar batas tiga tombak jauhnya.
Dua belas pelaksana hukum berseragam abu-abu ini siap waspada tanpa mengeluarkan suara atau sembarangan bergerak, tenaga sudah dihimpun dengan pandangan mata yang berkilat menatap tajam kearah Giok-liong tanpa berkedip.
Giok-Iioug semakin gelisah seperti dibakar hardiknya menggerung .
"Lekas lepaskan Liong Tay-hiap, mari kita bicarakan lagi urusan ini !"
Liong-tong Tong-cu memberi salam kepada Houtong Tongcu serta katanya.
"Tugas ini sudah kami serahkan, seluruh tanggung jawab dan pelaksanaannya terserah kepada seksi kalian."
Lalu ia melangkah maju beberapa tindak, katanya kepada Giok-liong.
"Siau-hiap, dalam tiga hari ini aku menanti kedatangan tuan, Harap tuan tidak mengecewakan harapan Lim-cu."
Tatkala itu, Houtong Tong-cu mencibirkan bibir bersuit nyaring dan keras menembus angkasa laksana gerungan harimau yang berang.
Dari luar hutan dari berbagai penjuru lantas terdengar derap langkah berlari, geseran daun daun pohon serta berkelebatnya bayangan orang samar-samar terlihat ratusan orang seragam hitam serentak merubung datang kearah sini.
Pandangan Houtong Tong cu berkilat tajam, serunya lantang ."Atas perintah Lim-cu, seorang yang bernama Wihian-ciang Liong Bun, memendam diri menjadi mata-mata dengan tujuan yang tidak menguntungkan bagi Hutan kematian, menurut undang-undang hukum kita dihukum cacat jiwa, Kali ini sekte kita mendapat penghargaan untuk melaksanakan hukuman ini, Laksanakan hukuman !"
Serentak berpuluh sampai beratus mulut bersama mengiakan sehingga hutan ini menjadi bergoncang seperti air mendidih, sedemikian keras sampai kumandang dan bergema sekian lama.
"Mulai !"
Terdengar Houtong Tong-cu melompat maju sambil berteriak bengis seperti pekik kokok beluk, seiring dengan bentakannya ini kedua tangannya bergantian menghantam kearah Liong Bun.
Giok liong melompat maju sambil menggerung gusar.
"Nyali besar ! Tahan !"
Namun belum lagi Giok-liong dapat bergerak maju, Liongtong Tong cu bersama dua belas pelaksana hukumnya sudah serentak menggerakkan tangan menyerang sekaligus dengan gabungan tenaga mereka seketika Giok-liong menjadi terhalang ditengah jalan, terpaksa ia harus membela diri demi keselamatan sendiri.
Di sebelah sana terdengarlah jeritan panjang yang mengerikan.
Itulah pekik Liong Bun dalam jiwa meregang sebelum ajal.
Giok liong mendengar dengan jelas sampai badannya terasa merinding, hatinya seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum.
Tapi gabungan serangan dua belas jago jago kelas wahid dari Liong-tong mana mungkin dapat ia atasi begitu saja.
Apalagi dua puluh enam telapak tangan mereka sekaligus melancarkan tipu-tipu aneh yang sulit diraba sebelumnya, sungguh pengepungan yang rapat tiada lubang titik kelemahannya.
Diluar gelanggang pengepungan saban-saban masih terdengar jerit kesakitan dan gerangan gusar dari pelampiasan dongkol, angin menderu dari tenaga pukulan yang menimpa diatas tubuh manusia sampai berbunyi gedebukan.
Entah sudah berselang berapa lama, dan berapa banyak pukulan sudah dijatuhkan diluar gelanggang sana, Tiba tiba Liong-tong Tong-cu berseru keras.
"Liong-tong Tecu siap kembali !"
Angin berkesiur disertai lambaian baju, begitu cepat gerak gerik mereka sekejap saja keadaan menjadi sunyi dan sekelilingnya sudah kosong meIompong.
Tiga belas orang dari Liong-tong sudah menghilang tanpa bekas dalam sekejap mata.
Demikian juga seluruh anak buah Houtong Tongcu sebanyak ratusan orang itu sudah tak kelihatan lagi mata hidungnya, semua sudah pergi tanpa meninggalkan jejak.
Keadaan dalam hutan kembali menjadi sunyi senyap, angin berlalu membawa bau amis darah yang memualkan.
Diatas tanah sana terlihat segundukan daging dan tulang-tulang manusia yang terpukul hancur lebur tanpa ujud lagi.
Tinggal rantai yang mengikat di tulang Liong Bun saja yang masih ketinggalan memancarkan sinarnya yang redup menyolok mata.
Tak tertahan lagi kepedihan hati Giok-liong, ujarnya sambil sesenggukan dengan sedihnya.
"saudara tua, belum lagi citacitamu terlaksana badan sendiri sudah hancur lebur, siaute ..."
Sekonyong-konyong...
"Bocah keparat, akhirnya toh kutemukan juga!"
Seiring dengan bentakan ini dari luar hutan sana menerjang datang seorang laki-laki bertubuh kekar, bermuka kuning persegi, alisnya lentik menaungi sepatang mata yang berkilat tajam, dagunya tumbun lima jalur jenggot pendek hitam.
Mengenakan pakaian ketat dengan mantel kuning berkembang, sepatunya tinggi peranti untuk jalan jauh, sikapnya garang dan angker kegusaran.
Giok liong melihat air muka orang rada bersih, semangatnya menyala-nyala, terang bukan anak buah dari Hutan kematian.
Maka tak berani ia berlaku gegabah, serunya lantang.
"Kenapa tuan bicara tidak sopan?"
"Terhadap siapa bicara apa!"
"Kau kira siapa aku ini ?"
"Manusia rendah hina dina, mata keranjang hidung belang !"
"Kau terlalu menghina !"
Secara langsung dimaki begitu kotor keruan Giok-liong tak kuat menahan hawa amarah dengan sengit ia mengerjakan tangannya melancarkan jurus Cin-chiu dari ilmu Sam-ji-cui-hun chiu, maka mega putih bergulung keluar menerjang dengan dahsyatnya.
Apalagi tenaganya ditandai rasa gusar sudah tentu bukan olah-olah hebatnya.
"Hei, apa hubungan mu dengan Toji Pang Giok ?"
Laki-taki kekar itu berkelit ke samping, wajahnya mengunjuk rasa kejut dan heran.
"Murid tunggalnya!"
Sedikit merenung laki-laki kekar itu lantai membanting kaki, ujarnya.
"Merusak nama baik Bu-lim-su cun Pang lo cianpwe saja. Sayang sekali!"
Mendengar ucapan orang tergetar hati Giok-liong, pikirnya "Apa mungkin orang ini ada hubungan erat dengan perguruanku tak boleh aku berlaku kasar."
Karena pikirannya ini maka jurus kedua dari Sam jicui-hun chiu yaitu Tiam-bwe lekas lekas ditarik kembali ditengah jalan, serunya sambil melompat mundur .
"Apa maksud ucapan tuan ini ?"
"Jangan kau pura-pura linglung menjadi gendeng, seumpama aku harus berlaku salah terhadap Pang-lo cian pwe ,betapapun aku harus mewakili dia untuk menghajar bocah keparat seperti kau ini sampah dunia persilatan. Baru terlampias rasa dongkolku ini."
"Wut... ."
Segulung angin kencang laksana badai angin terus menerjang datang dari tengah udara, sungguh dahsyat dan berbahaya sekali.
Karena tidak menduga hampir saja Giok-liong tergulung oleh serangan lawan.
Cepat-cepat ia menjejakkan kaki mencelat mundur setombak lebih untung benar dapat terhindar dari bahaya elmaut, walaupun demikian, daun dan rumput beterbangan mengotori seluruh tubuhnya, juga ujung bajunya telah tergetar hancur berkeping-keping melayang ditengah udara.
"Bocah keparat, kiranya cuma begitu saja kepandaianmu!"
Begitu mendapat kesempatan merangsak laki laki kekar itu lantas menarikan kedua tangannya dengan lincah dan secepat kilat, sekejap mata saja beruntun ia menepuk dan memukul dua belas pukulan, setiap pukulan mesti dilandasi kekuatan dahsyat, tak jauh dari sekitar badan Giok-liong.
Keruan Giok-liong menjadi kelabakan berputar dan berkelit dengan susah payah.
Terpaksa Ling hun-toh harus dikembangkan ringan sekali tubuhnya berkelebat selulup timbul berlarian diantara dahan-dahan pohon besar disekitar gelanggang.
Mendapat angin laki-laki kekar itu semakin bernafsu dan tidak memberi ampun untuk lawan sempat ganti napas.
Dengan menggereng marah, lagi -lagi ia lancarkan sebuah pukulan dahsyat, laksana arus sungai Tiangkang membadai menggulung dari segala penjuru angin.
Akhirnya memuncak juga rasa gusar Giok liong, sekali kesempatan ia berkelit ke belakang sebuah dahan pohon besar terus melejit jauh beberapa meter, serunya gusar.
"selama ini kita belum saling kenal, tuan terlalu mendesak orang, maka jangan salahkan kalau aku berlaku kurang hormat!"
Habis ucapannya segera ia bergerak gesit sekali ia melancarkan jurus serangan balasan.
Seketika mega putih bergumpal melebar luas, bayangan telapak tangan berubah laksana ratusan dan ribuan pukulan telapak tangan, serentak ia balas menyerang dengan nafsu dan sengit.
Gerak berkelit, mengambil imsiatif balas menyerang, berganti jurus melompat menerjang dilakukan dalam satu gerakan serempak sehingga menambah semangat dan melihat gandakan daya kekuatan serangannya.
BegituIah terjadi pertempuran sengit tanpa juntrungan, empat kepalan tangan menari pesat dan lincah sekali di tengah udara, tipu lawan, tendangan lawan kegesitan, bukan saja mereka harus cekatan menjaga diri juga harus pandai melihat gelagat, mengincar lubang kelemahan pihak musuh untuk melancarkan serangan total berusaha menang.
Saking seru dan sengit pertempuran ini masing masing pihak sudah kerahkan seluruh kekuatannya sehingga angin menderu, suasana gegap gempita ini merobohkan pohonpohon sekitar gelanggang sehingga menambah pertempuran ini semakin gaduh.
Sinar matahari begitu cemerlang menyinari pertempuran yang aneh dan menjadikan pemandangan mata yang menakjubkan sekali pertempuran bagi tokoh kosen, setiap jurus setiap gerak langkahnya harus dilakukan hati-hati dan secepat kilat, sebentar saja tahu-tahu pertempuran ini sudah berlangsung seratus jurus lebih.
Setelah sekian lama bertempur tanpa dapat merobohkan lawan, Giok-liong menjadi semakin gelisah, sekilas berkelebat pikirannya, sinar matanya terpancar semakin tajam, timbul hawa membunuh.
Mendadak ia menggembor keras, suaranya mendengung menembus angkasa.
Belum hilang gema suara gemborannya tiba tiba ia menghardik lagi .
"Awas, sambut ini !"
Kontan terdengar seruan tertahan, bayangan kuning terpental mundur sejauh lima tombak badan masih terhuyung lagi tiga langkah terus jatuh terduduk, untung belakangnya terdapat sebuah pohon besar yang menahan badannya, sehingga ia tidak jatuh ternauar.
Mulut laki-laki kekar ita mengalirkan darah, sinar matanya menjadi redup, wajahnya yang kaatng seperti berpenyakitan itu kini berubah pucat pasi, nafasnya memburu kencang, sebelah tangannya menekan dada, terputus-putus ia berkata menuding Giok-liong.
"Baik ... aku , ..mengaku . , . tapi . , , kau ... hidung belang , . tak tahu malu , ..ba . , , bagai .., mana ... terhadap ... Wahaaahh !"
Ia berkata terlalu dipaksakan sekaligus ia menyeburkan dua gumpal darah segar. Melihat luka orang yang rada berat, Giok-liong menjadi tidak tega, batinnya.
"Aku tiada bermusuhan atau dendam sakit hati terhadap dia, untuk apa aku turun tangan terlalu berat !"
Maka segera ia maju beberapa langkah terus berjongkok, katanya rendah.
"selamanya aku belum pernah kenal dengan tuan, namun kau begitu bernafsu menyerang dengan jurus mematikan sehingga aku kelepasan tangan melukai tuan !"
"Crot !"
Lakf-laki kekar itu meludahi muka Giok liong dengan riak tercampur darah.
"Kau ! Cari mampus !"
Giok liong berjingkrak gusar, sebat sekali tangannya diulur, dua jari tangannya dengan tepat menutuk dijalan darah Hiat hay di dada orang. Desisnya mengancam .
"Kau tidak dapat membedakan salah dan benar, jangan salahkan aku tidak mengenal kasihan."
"Kalau kau berani, cobalah bunuh aku!"
"Hm, kau kira aku tidak berani ?".
"Keparat kau memang telengas kejam, rendah dan hina lagi, perbuatan apa yang tidak pernah kau lakukan."
"Sekaii lagi tuan mengudal mulut semena-mena, asal aku mengerahkan sedikit tenaga, cukup membuat kau mampus tanpa liang kubur ..."
Tiba-tiba sebuah hardikan nyaring menembus angkasa, sebuah bayangan putih meluncur datang dari tengah udara, Siuuur, sejalur kain sutra panjang mendesis keras tahu-tahu sudah menggubat dileher Giok-liong, sedikitpun Giok liong tidak menduga dirinya bakal dibokong dari belakang, begitu mendengar angin mendesis dan tahu gelagat yang membahayakan untuk berkelit sudah tidak sampai lagi.
Tahu-tahu ia merasa napasnya menjadi sesak lehernya terikat kencang, sedapat mungkin ia meronta berusaha melepaskan diri, tapi gerak gerik pendatang baru ini betulbetul cepat luar biasa, begitu serangannya berhasil tanpa ayal tangannya lantas menarik dan menyendal dengan keras.
Karena leher digubat selendang satra, Gi-ok-liong sulit mengerahkan Lwekangnya, kontan tubuhnya kena digentak mumbul ketengah udara, melayang seperti layang layang putus benang setinggi tiga tombak terus terbanting keras di tanah.
Karena tiada kesempatan untuk mengerahkan hawa murni melindungi badan, seketika ia terbanting celentang dengan kaki tangan menghadap kelangit.
Keruan sakitnya bukan buatan, sampai mata berkunangkunang kepala pusing tujuh keliling.
Bantingan keras ini betul-betul merupakan suatu pukulan keras bagi Giok-liong selama kelana di Kangouw, betapa dia takkan berjingkrak gusar seperti kebakaran jenggot.
Begitu tubuhnya menyentuh tanah, hawa murni segera di empos, dengan mengerahkan seluruh kekuatannya ia mencelat setinggi tiga tombak, badannya terus meluncur tiba sambil menggerakkan kedua telapak tangannya.
Saking susar dan gemas maka luncuran serta serangannya ini betul-betui hebat sekali, seolah-olah ingin rasanya sekali pukul hancur leburkan lawan menjadi bergedel.
Begitulah dengan nafsu membunuh yang bergelora di badannya Giok-liong meluncur turun laksana air bah dicurahkan dari tengah udara, tapi tiba-tiba ia berseru kejut.
Lekas lekas ia menarik serangannya dan punahkan tenaga kekuatan pukulannya, badan juga lantas berhenti meluncur dan hinggap ditengah jalan, Begitu berdiri tegak dengan kesima ia berdiri mendelong, berutang kali ia kucek-kucek matanya menatap pendatang baru ini, air mukanya kaku tanpa perasaan ia berdiri terlongong seperti patung.
"Bocah keparat, apa yang kau lihat !"
Giok-liong tetap kesima berdiri ditempatnya, Sebab perempuan pertengahan umur yang membawa selendang sutra sepanjang dua tombak itu betul betul persis seseorang, seorang yang selalu dirindukan oleh Giok-liong.
"Persis benar, seperti pinang dibelah dua !"
Dalam hari Giok-liong membatin .
"Selain usianya yang berbeda, boleh dikata orang ini seperti duplikat adik Sia, mungkinkah didunia ini terdapat orang yang begitu mirip satu sama lain ! "
Sementara itu, perempuan pertengahan umur itu sudah menggulung selendangnya terus menghampiri kesamping lakilaki kekar, suaranya lembut penuh kekwatiran .
"Bagaimana luka-Iukamu ..."
Wajah laki-laki kekar mengunjuk penasaran dan gusar, sahutnya dengan kepedihan.
"jangan kau hiraukan aku ! carilah dia ...."
Sampai disini ia sudah tak kuat meneruskan sambil menunjuk Giok liong yang masih berdiri terlongong itu ia berkata lagi tergagap.
"Ringkus dia ... tuntut pertanggungan jawabnya !"
Perempuan pertengahan umur menjadi terharu dan mengembeng air mata, Tar ...tiba-tiba ia mengayun selendang sutra ditangani nya seperti pecut, terus menerjang maju kehadapan Giok liong, bentaknya sengit.
"Bocah keparat, kembalikan anak putriku!"
Saat mana Giok-liong, tengah berdiri kesima, seketika ia menjadi tertegun mendengar seruan orang mundur selangkah ia bertanya.
"Putrimu! Dari mana asal pertanyaanmu ini, selamanya kiia belum pernah bertemu muka. apa kau sudah gila!"
"Apa, jadi kau hendak mungkir!"
"Bukan aku ingin mungkir, adalah menista orang semenamena!"
"Kau melepas api membakar rumah, pura-pura mau sembunyi tangan, lihat serangan."
Selendang sutranya berputar ditengah udara melingkar seperti-ular hidup terus menukik turun menindih ke atas kepala Giok-liong, perbawa serangan ini cukup lihay dan hebat.
Kalau Giok-liong tidak mau melawan, terpaksa ia harus melompat mundur baru bisa menghindar dari ancaman berbahaya ini, Tapi pelajaran yang dialami tadi membuat ia harus berpikir dua belas kali, berulang kali ia sudah berusaha mengalah dan main mundur, akhirnya dirinya malah kehilangan kontrol dan kepepet semakin payah, kehilangan inisiatif menyerang setiap tindak, setiap langkahnya selalu menghadapi mara bahaya melulu.
Maka untuk kali ini terpaksa ia tidak sudi main mengalah atau mundur lagi, jurus Cin chiu pelan-pelan dilancarkan untuk memunahkan serangan musuh mengurangi tekanan dahsyat.
bentaknya keras.
"Nama atau shemu saja aku tidak tahu darimana . .."
"Tidak tahu sudah tentu akan kubuat tahu!"
Perempuan pertengahan umur ini menyerang dengan penuh nafsu, seiring dengan makiannya, selendang sutra dilarikan semakin kencang sebegitu lincah dan cepat sekali seumpama hujan angin juga sudah menembusnya.
Begitu besar tenaga yang terkerahkan di atas senjata panjangnya ini sampai angin menderu menyapu debu dan rumput disekitar geIanggang.
Tatkala itu sudah menjelang tengah hari, bayangan selendang berlapis-lapis melayang ditengah udara memancarkan sinar sutra yang berkiiau menyilaukan mata.
Apalagi pakaian panjang yang dikenakan perempuan pertengahan juga warna putih dari sutra lagi.
Demikian juga jubah panjang Giok-liong berwarna putih bersih pula, Maka terlihatlah dua bayangan putih saling berloncatan dengan diselubungi seleadang sutra yang selulup timbul diantara mega putih laksana naga mengamuk.
Sebetulnya kalau Giok-liong mau melancarkan kepandaian simpanannya, selendang sutra lawan sejak tadi sudah berhasil dapat dihantam hancur berkeping-keping, paling tidak musuh juga sudah terluka parah, Andaikata tidak bagian Lwekangnya saja yang terkerahkan kiranya cukup dapat mengambil kemenangan tanpa menghadapi rintangan yang berarti !
Tapi Giok-liong tidak mau berbuat demikian, karena apakah ?
Tak lain karena wajah perempuan pertengahan umur persis benar dengan istri tercinta yang tengah mengharap dirinya pulang ke Hwi-hun san-cheng.
Betapapun ia tidak tega turun tangan untuk menurunkan tangan kejam.
Pertempuran silat tingkat tinggi memerlukan kosentrasi yang berlipat ganda, bagaimanapun sekali pikirannya bercabang, bukan saja tidak dapat mengambil kemenangan malah mungkin sedikit saja saja lantas mengunjuk setitik lubang kelemahan ini cukup kesempatan bagi musuh untuk melancarkan serangan mematikan.
Demikianlah keadaan pertempuran saat itu, sekejap mata lima enam puluh jurus sudah berlalu.
Diatas dataran lamping gunung ini, selendang sutra putih sepanjang dua tombak telah ditarikan demikian rupa oleh perempuan pertengahan umur sehingga angin menderu laksasa angin lesus, laksana hujan badai seperti pula gelombang ombak samudra, semakin lama ternyata semakin cepat dan semangat, sebaliknya keadaan Giok liong semakin terdesak dan terkekang didalam lingkungan angin menderu, keadaannya sudah semakin payah dan terdesak dibawab angin, terang tidak lama lagi dirinya pasti dapat dikalahkan.
Sekonyong-konyong terdengar bentakan nyaring merdu.
"Roboh!"
Bayangan putih berkelebat sejalur serangan dahsyat bagai layung menerjang tiba "Celaka !"
Dalam kesibukannya, lekas-lekas Giok-liong gunakan tipu Jiang-liong-jip-hun (ular naga menyusup ke dalam awan) sekuat tenaga kakinya menjejak tanah, seketika tubuhnya mencelat tinggi melambung ke tengah udara setinggi lima tombak.
"Blang."
Ledakan dahsyat seperti gugur gunung menggetarkan bumi pegunungan.
Ternyata selendang sutra yang lemas itu telah melilit sebuah pohon besar terus digulung tinggi tercabut keakar-akarnya terbang meninggi ketengah udara.
"Krak".
"Byar!"
Daun dan debu beterbangan sejauh tujuh delapan tombak.
Bayangkan betapa dahsyat perbawa keku atan selendang sutra ini, seumpama orang yang kena dililit dan dibanting pasti badannya hancur lebiir menjadi perkedel, masa bisa hidup lagi.
Begitu jurus serangan ampuhnya melilit roboh sebuah pohon, bukan saja rasa amarah perempuan pertengahan belum reda malah semakin berkobar seperti api disiram minyak, Kelihatan rasa gemas dan dongkolnya semakin mendalam, sekali lagi ia ayun dan tarikan selendang senjatanya itu, seraya melompat menubruk.
Udara serasa menjadi gelap kerena tertutup oleh putaran selendang yang melebar dan mendesis kencang itu, laksana mega mendung menjelang hujan lebat dengan angin badai menerpa dahsyat.
Belum lagi badan Giok-liong menyentuh tanah, selendang sutra yang lemas itu sudah memecut tiba lagi.
Bercekat hati Giok-liong, hatinya rada gentar menghadapi senjata lemas musuh yang hebat tadi, cepat-cepat ia gunakan gaya Hoan-inhu hu.
untuk kedua kalinya badannya melenting tinggi, dalam seribu kerepotannya, tangannya meraih sebatang dahan pohon dengan meninjam daya pantulan dahan pohon ini badannya terus terayun lima tombak lebih jauhnya.
Waktu badannya meluncur turun dan hinggap ditanah kebetulan tiba disamping laki laki kekar yang tengah duduk semadi mengerahkan tenaga istirahat, sebetulnya bagi Giokliong tiada maksud tertentu.
Tapi lain bagi penerimaan perempuan pertengahan umur itu, bentaknya nyaring penuh kekuatiran.
"Bocah keparat, berani kau!"
Ternyata ia mengira Giok-liong hendak mengambil keuntungan ini menyerang orang yang sudah terluka tak mampu bergerak itu.
Seiring dengan bentakannya, selendang putih panjang itu telah disapukan datang dengan kencang laksana sebatang tongkat besi dengan jurus Heng cio-jian-kun dengan kencang menyerampang tiba.
Kembali amarah Giok liong semakin berkobar beruntun ia sudah mengalah malah jiwa sendiri hampir melayang karena musuh mendapat kemurahan hatinya, kini saking marah timbul nafsu membunuh dalam benaknya.
Tanpa berkelit atau menyingkir lagi ia kerahkan hawa Ji-lo melindungi badan, seketika mega putih bergulung mengitari dan menyelubungi badannya, ditengah mega putih yang bergulung gulung itu telapak kanannya tiba-tiba menyampok maju menangkis selendang musuh yang lempang seperti tongkat besi itu, bersama itu selicin belut segesit kera melompat tahu-tahu ia bergerak lincah sekali melesat kehadapan perempuan pertengahan umur.
Telapak tangan kiri pelan-pelan menyelonong maju menekan kejalan darah Tiong-ting perempuan pertengahan umur.
Perempuan pertengahan umur terkejut bukan main, lekaslekas ia menarik balik selendang putihnya.
"Waa..."
Aduh" -"Hm!"
Tiga macam jerit dan seruan yang berlainan berbunyi bersama, bayangan orang lantas berpencar kedua jurusan.
Sebetulnya telapak tangan kiri Giok-liong sudah tepat menekan kejalan darah Tiong-ting, tapi mendadak ia teringat bahwa musuh adalah kaum hawa, tak mungkin dirinya berlaku begitu kurang adat, maka ditengah jalan ia rubah sasarannya berganti menepuk pundaknya, ternyata dengan telak serangannya telah mengenai sasarannya.
Jilid 15 Sekarang Giok-liong tidak main sungkan lagi, kedua tangannya tampak bergetar terpentang, Sam-jicui-hun chiu mulai dilancarkan.
Kelihatan mega putih berkembang hawa Jilo menyelubung tubuhnya, sebuah telapak tangan putih halus bergerak lincah berubah laksana ribuan bayangan tangan, dengan ketat ia lindungi pemuda baju biru, sekaligus ia lancarkan delapan belas pukulan dan tendangan menyerang para gadis baju kuning anak buah Ui-hoa-kiau itu.
Perbawa ilmu sakti memang bukan olah-olah hebatnya, dimana angin badai melandai bayangan kuning lantas tergulung berpencaran keempat penjuru sambil berteriak kesakitan, Untung Giok-liong tidak bermaksud mengambil jiwa mereka, kalau tidak tentu mereka sudah mampus.
Keruan Ui-hoa-kiaucu Kim Ing berjingkrak gusar melihat anak buahnya dihajar bulan bulanan segera ia menubruk maju dengan sengit, bentaknya.
"Besar nyalimu !"
Bayangan putih dan kuning kini saling berkutet lagi, masing-masing lancarkan serangan yang lebih ganas dan lihay, sampai detik itu belum kelihatan siapa bakal menang dan asor.
Sambil menghadapi serangan musuhnya yang sudah sengit ini, Giok-liong masih berkesempatan berteriak.
"Hoa Sip-i ! Kesempatan yang baik ini kau masih tidak mau pergi, kapan baru kau hendak menyingkir!"
Napas Hoa Sip i masih ngos-ngosan, sahutnya lemah.
"Aku betul-betuI sudah tidak bertenasa, Tuan penolong dendam penasaran kau balas dengan budi pekerti. baiklah aku terima dengan tulus hati ! Adik Yau sudah mangkat, aku juga tidak ingin hidup lagi!"
Giok-liong merasa toleran akan keadaan orang yang hampir sama dengan riwayat dirinya maka tanpa banyak pikir lagi ia berteriak.
"Cobalah kau semadi sebentar mengumpulkan tenaga ! Selama gunung masih tetap menghijau, jangan kwatir takkan memperoleh kayu bakar."
"Hahaha !"
Terdengar Ui hoa-kiaucu Kim Ing mengejek.
"jiwamu sendiri susah terlindung masih coba perhatikan keselamatan orang lain."
Tiba-tiba bayangan kuning bergerak melebar, kiranya sepasang lengan baju Ui-hoa-kiaucu yang besar gondrong itu ditarikan sedemikian cepat dan lincah main kebas, menyapu, menusuk dan menghantam.
Semua yang diarah adalah tempat-tempat penting ditubuh Giok-liong dengan berbagai ragam tipu silat.
Sementara itu, menurut anjuran Giok liong, Pemuda baju biru Hoa Sip i tengah duduk bersila menghimpun tenaga dan semangat.
Kira-kira setengah peminuman teh telah berlalu.
Sebuah bayangan biru besar laksana seekor burung besar tengah meluncur tiba dari puncak atas sana, jubah mantelnya yang besar melayang-layang seperti sayap yang besar belum lagi orangnya sampai ia sudah berteriak memanggil "Sip i.
Sip i !"
Terbangun semangat pemuda baju biru Hoa Sip i, teriaknya pula dengan suara parau.
"Suhu! Suhu!"
Mendengar suara panggilan pertama tadi, Ui-hoa-kiaucu Kim Ing lantas mengebaskan kedua lengan bajunya membuat Giok-liong mundur berkelit kesempatan ini digunakan untuk melompat mundur keluar gelanggang sejauh setombak lebih.
Giok-Iiong juga lantas menghentikan aksinya.
Matanya terbuka lebar, kini dihadapannya sudah bertambah seorang laki-laki tua yang bercambang bauk lebar bermata juling seperti mata garuda, hidungnya bengkok seperti betet, kupingnya kecil terbalik keatas-sepasang matanya berkilat dan berjelilatan dengan kasar, selayang pandang saja lantas dapat diketahui bukan seorang baik-baik.
Begitu tiba ia menghampiri kearah pemuda baju biru Hoa Sip-i.
bentaknya dengan uring-uringan.
"Aku sudah duga tentu kau terpincut lagi oleh perempuan siluman dari Ui hoa-kiau itu! Siapa yang membuatmu begitu rupa!"
Sikap bicaranya sangat garang dan angkuh sekali, hakekatnya ia tidak pandang sebelah mata para hadirin, sungguh sombong. Ui-hoa kiaucu Kim Ing menarik muka cemberut, hardiknya.
Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 14
Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 9