Ceritasilat Novel Online

Kembalinya Sang Pendekar Rajawali 6

Eps 6 Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung

Baca online Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung

Cersil Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung.

Untung ilmu silatnya cukup hebat, begitu sebelah kakinya menginjak tanah, dengan segera ia bisa berdiri tegak, cuma ia menjadi kesakitan lagi lukanya "Sudah terang kau lihat aku jatuh terbanting kenapa kau tidak memayang diriku ?"

Dengan gusar ia melampiaskan rasa dongkolnya pada Nyo Ko.

"Bu.... bukankah badanku kotor!"

Sahut Nyo Ko.

"Apa kau tak bisa cuci dulu ?"

Kata Bu-siang lagi Nyo Ko tidak menjawab melainkan nyengir saja.

"Lekas kau dukung aku ke atas keledai,"

Bentak si gadis pula. Nyo Ko menurut, ia menaikkan ke punggung keledai Tetapi begitu merasa punggungnya ada penunggang, segera keledai itu hendak main gila.

"Lekas kau tuntun keledai ini,"

Kata Bu-siang.

"Ti... tidak, aku takut didepak olehnya."

Sahut Nyo Ko. Bu-siang menjadi dongkol "Kurangajar si tolol ini, bilang dia tolol nyatanya dia tidak tolol, bilang tidak ia justru tolol, sudah terang maksudnya ingin memondong diriku,"

Demikian pikirnya. Karena terpaksa, akhirnya ia berkata lagi.

"Baiklah, kaupun menunggang ke atas sini."

"Nah, kau sendiri yang suruh aku, tapi jangan kau bilang aku kotor, lalu mendamperat dan memukul aku lagi,"

Ujar Nyo Ko.

"Ya, ya, cerewet saja !"

Sahut Bu-siang mengkal.

Maka dengan tertawa kecil barulah Nyo Ko melompat ke atas keledai dengan pelahan, dengan kedua tangannya ia rangkul si gadis yang duduk di depannya, ketika kedua kakinya sedikit mengempit karena kesakitan, maka keledai itu tak berani binal lagi, dengan jinak berjalan menurut perintah.

"Pergi ke mana ?"

Tanya Nyo Ko.

"Sana,"

Sahut Bu-siang sambil menunduk ke arah tenggara.

ia sudah mencari tahu sebelumnya tentang perjalanan sebenarnya hendak ditempuhnya arah timur melalui Ciongkoan dan kemudian baru memutar ke daerah selatan, ini memang jalan raya yang biasa dilalui.

Tetapi sejak ketemu empat pengemis yang lain, adalah lebih baik menempuh jalan kecil saja, walaupun sedikit lebih jauh, paling perlu cari selamat.

Begitulah terdengar suara tapak kaki keledai yang ketuprak2 berjalan pelahan ke arah yang dipilihnya itu.

Baru saja mereka keluar dari kota, tiba2 dari tepi jalan ber-Iari2 mendatangi satu anak petani yang berumur belasan.

"Nona Liok, ini sesuatu barang buat kau,"

Demikian seru bocah itu sambil mapaki keledai yang mereka tunggangi.

Berbareng itu menimpukkan seikat bunga ke arah Bu-siang, habis ini ia angkat kaki dan berlari pergi lagi Waktu karangan bunga itu diterima Bu-siang dan diperiksa, ia lihat hanya seikat bunga biasa saja dan disamping terikat sepucuk surat dengan benang, lekas si gadis membuka sampulnya dan keluarkan selembar kertas kuning dari dalamnya, ia lihat surat itu tertulis.

"Sekejap lagi gurumu bakal datang, lekas sembunyikan diri, lekas !"

Kertas surat itu sangat kasar, sebaliknya tulisannya ternyata bergaya sangat bagus.

Bu-siang ter-heran2 dan ragu2 mengapa orang kenal dia she Liok dan siapakah anak itu ?

Mengapa mengetahui juga gurunya segera bakal datang ?"

"Apa kau kenal anak tadi ?"

Demikian ia lantas tanya Nyo Ko.

"Apa Kokohmu yang suruh dia ke sini ?"

Sementara itu dari belakang Bu-siang si Nyo Ko juga dapat membaca isi surat itu, maka iapun sedang memikir .

"Terang sekali anak tadi hanya anak petani biasa, tentu datangnya ini disuruh orang lain untuk mengirim surat. Cuma entah siapakah orang yang menulis surat itu ? Tampak-orang memang bermaksud baik, kalau betul sampai Li Bok-chiu mengejar datang, lalu bagaimana baiknya ?"

Harus diketahui meski Nyo Ko sudah mempelajari Giok-li-sim-keng dan Kiu-im-cin-keng, seorang diri memiliki dua macam ilmu silat yang paling tinggi di dunia persilatan, sejak dulu hingga kini boleh dikatakan hanya dia sendiri saja, cuma sayang karena waktunya belum Iama, meski sudah dipahami intisari pelajaran ilmu silat yang hebat itu, namun latihannya masih kurang matang, maka belum banyak hasilnya untuk digunakan.

Kalau sampai kena disusul Li Bok-chiu, terang ia masih bukan tandingan orang, karena inilah ia sedang pikir dan ragu-ragu.

Mendengar pertanyaan Bu-siang tadi, maka Nyo Ko menjawab.

"Entah, aku tak kenal dia, tampaknya juga bukan Kokoh yang menyuruh dia."

Baru habis ia menjawab, tiba2 terdengar bunyi alat2 tetabuhan dan tiupan, menyusul mana dari depan muncul sebuah joli yang digotong dengan belasan orang pengiringnya, kiranya ada orang sedang melangsungkan perkawinan.

Meski alat2 musik yang dibunyikan itu berbau kampungan, tetapi suasana cukup riang gembira.

Nampak keadaan ini, tiba2 pikiran Nyo Ko tergerak, ia pikir kalau betul2 Li Bok-chiu dan Ang Ling-po mengejar tiba, di siang hari bolong sesungguhnya tiada tempat untuk bersembunyi lagi, Karena itu segera ia tanya Bu-siang.

"Nona Liok, kau ingin menjadi pengantin tidak ?"

Bu-siang sendiri memangnya lagi bingung karena kuatir tertangkap gurunya yang kejam itu, kini mendengar orang bertanya secara tolol, kemari ia gusar.

"ToIol, kau mengaco-belo apa lagi ?"j damperatnya.

"Haha, maukah kita main sembayang dan jadi pengantin ?"

Demikian sahut Nyo Ko dengan tertawa.

"Mau tidak kau menyamar pengantin perempuan ? Sungguh cantik sekali tampaknya, muka ditutup kudung merah, pasti orang lain takkan mengenali kau."

Karena kata2 Nyo Ko terakhir ini, Bu-siang tergerak hatinya.

"ToIol, apa kau suruh aku menyamar untuk menghindari guruku ?"

Ia tanya.

"Aku tak tahu, hihi, kalau kau jadi pengantin perempuan, aku akan jadi pengantin Ielakinya,"

Sahut Nyo Ko. Dalam keadaan terpaksa, Bu-siang tak sempat lagi mendamperat orang, ia pikir.

"Kelakuan si Tolol ini sungguh aneh sekali, tapi kecuali jalan ini memang tiada cara lain lagi."

Karena itu segera ia tanya.

"lalu cara bagaimana menyamarnya ?"

Nyo Ko tidak menjawab, ia tak berani membuang tempo lagi, segera ia pecut bokong keledai mereka maka binatang ini lantas kabur ke depan dengan cepat.

Pada umumnya jalan pedusunan memang sempit, sebuah joli besar dengan digotong delapan orang dengan sendirinya memenuhi jalan, kedua sampingnya sudah tentu tiada lowongan lagi, kini nampak ada keledai berlari memapak dari depan, keruan pengiring2 kemanten itu menjadi ribut, mereka berteriak dan membentak dengan maksud menyuruh penunggang keledai menahan tali kendalinya.

Tetapi bukannya Nyo Ko menahan keledainya.

bahkan ia mengempit semakin kencang hingga lari binatang itu bertambah cepat, maka sekejap saja sudah menerjang sampai di depan pengiring kemanten itu.

Dengan sendirinya mereka tidak tinggal diam, segera ada dua lelaki kekar menyerobot maju hendak menarik tali kendali keledai supaya jangan menubruk joIi pengantin yang digotong.

Mendadak Nyo Ko ayun cambuknya, dengan tepat ujung cambuk itu melilit betis kedua lelaki itu, ketika Nyo Ko menarik dan diulur lagi, maka kedua orang itu lantas terlempar ke pinggir jalan.

"Sekarang aku mau menyamar jadi pengantin !"

Demikian katanya pada Bu-siang.

Habis ini mendadak ia mendoyong ke depan, ketika sebelah tangannya mengulur, tahu2 pengantin laki2 yang menunggang seekor kuda putih itu kena dicengkeramnya.

Pengantin laki2 itu usianya antara 17-18 tahun, badannya lengkap memakai baju pengantin baru, di atas kepalanya tertancap hiasan bunga2 emas, kini mendadak kena dicengkeram oleh Nyo Ko, keruan bukan main kagetnya.

Bukan begitu saja, bahkan Nyo Ko sengaja lemparkan tubuh pengantin laki2 itu ke udara setinggi dua tombak lebih, ketika jatuh ke bawah, di tengah2 ramai suara jeritan orang banyak tahu2 Nyo Ko ulur tangannya dan menangkapnya lagi pengantin laki2 itu, Pengiring2 pengantin itu seluruhnya hampir tiga puluhan orang, sebagian besar bertubuh tinggi besar dan kekar kuat, tetapi melihat ketangkasan Nyo Ko, pula pengintin laki2 jatuh dalam cengkeraman orang, tentu saja mereka ketakutan dan tiada yang berani maju.

Seorang diantara mereka rupanya lebih banyak merasakan asam garam, ia menduga Nyo Ko pasti begal besar, maka dengan cepat ia lantas tampil ke depan.

"Mohon "Tay Ong"

Suka ampuni pengantin-nya,"

Demikian pintanya sambil memberi hormat.

"Berapa banyak kiranya "Tay Ong"

Perlu pakai ongkos, pasti kami turut perintah dengan baik."

"Hihi, nona Liok, kenapa mereka panggil aku "

Tay Ong" ! (raja besar, sebutan bagi pembegal) ? Aku kan tidak she Ong ?"

Kata Nyo Ko pada Bu-siang dengan tertawa.

"Sudahlah, jangan main gila Iagi, aku seperti sudah mendengar suara keleningan keledai tunggangan Suhu,"

Sahut Bu-siang.

Nyo Ko kaget oleh jawaban itu, ia coba pasang kuping, betul saja sajup2 terdengar suara berkumandangnya keleningan Kiranya Li Bok-chiu suka unggulkan ilmu silatnya yang tiada tandingannya di seluruh Kang ouw, maka setiap tindak tanduknya selalu main gertak dahulu, misalnya sebelum dia bunuh sasarannya, lebih dulu ia memberi tanda cap tangan berdarah di rumah orang itu, tiap cap tangannya berarti jumlah jiwa yang akan dibunuh dan sama sekali tak gentar meski lawannya mengundang pembantu atau melarikan diri meninggalkan rumah, sedang keledai belang yang dia tunggangi sengaja dia pasangi tiga belas keleningan emas pada lehernya, suara keleningan ini bisa berkumandang jauh sampai beberapa li, belum tiba orangnya, suara keleningannya sudah terdengar lebih dulu, dengan demikian supaya musuh sebelum lihat mukanya tapi lebih dulu sudah ketakutan setengah mati "Sungguh cepat sekali datangnya,"

Begitulah Nyo Ko berpikir, Tetapi ia masih berlagak bodoh atas peringatan Bu-siang tadi.

"Keleningan ? Keleningan apa maksudmu ? Apa keleningan tukang jual jamu, kenapa aku tak mendengarnya ?"

Habis ini, dengan sikap mengancam ia berpaling dan berkata pada orang tua tadi.

"Kalian harus turut perintahku dengan begitu aku lantas bebaskan dia, kalau tidak, hm..."

Mendadak ia lemparkan pengantin laki2 tadi ke udara lagi Rupanya saking ketakutan, pengantin laki2 itu sampai menjerit dan menangis ter-gerung2.

Sedang si orang tua tadipun terus-menerus memberi hormat sambil memohon .

"Ya, ya, pasti kami turut segala perintah Tay Ong"

"Dia adalah biniku,"

Kata Nyo Ko tiba2 sambil tuding Bu-siang.

"la lihat kalian main sembahyang jadi pengantin segala, maka diapun ketarik dan ingin main2 juga."

"Apa kau bilang, Tolol ?"

Damperat Bu-siang dari samping. Akan tetapi Nyo Ko tak mengurusnya, ia meneruskan pembicaraannya tadi.

"Maka kalian lekas copot pakaian pengantin perempuan itu dan biarkan dipakai dia, akupun main menjadi pengantin lelaki."

Keruan para pengiring kemanten itu menjadi bingung hingga saling pandang, sungguh mereka tidak mengerti mengapa pembegal di tengah jalan ini tiba2 ingin main kemanten2an.

Waktu mereka awasi Nyo Ko dan Liok Bu-siang, yang satu pemuda cakap dan yang lain gadis jelita, kalau dibilang sepasang suami isteri, memangnya sangat mirip juga.

Selagi kejadian itu berlangsung, tiba2 Nyo Ko dengar suara keleningan sudah semakin dekat, lekas2 ia lompat turun dari keledainya dan membiarkan Bu-siang yang menjaganya, ia sendiri lantas pergi ke -joli kemanten, tiba2 ia tarik tirai joli dan tarik keluar pengantin perempuannya.

Tentu saja pengantin itu kaget hingga menjerit tetapi mukanya pakai kerudung kain merah, maka tak diketahuinya apa yang terjadi sesungguhnya.

Di lain pihak Nyo Ko tidak berhenti begitu saja, sekalian ia tarik pula kain penutup muka orang, maka tertampaklah muka pengantin perempuan itu yang bundar bak bulan purnama, badan tampak montok pula.

"Ha, sungguh ayu kemantinnya,"

Demikian Nyo Ko menggoda pula tertawa, bahkan ia towel pipi orang dengan jarinya, Dalam ketakutannya pengantin perempuan itu malah menjadi bungkam tak berani berkutik sedikitpun.

"Jika ingin kuampuni jiwanya, lekas kau tukar pakaian biniku itu dengan pakaian kemantin-mu,"

Nyo Ko mengancam lagi sambil tarik tubuh perempuan itu dan diangkat ke atas.

Sementara Bu-siang mendengar juga suara keleningan keledai belang gurunya sudah tambah dekat lagi datangnya, ia mendelik pada Nyo Ko ketika mendengar kata2 Nyo Ko tadi, pikirnya.

"Si Tolol ini sungguh tak kenal tebalnya bumi dan tingginya langit, sudah dalam keadaan demikian masih terus bergurau ?"

Dalam pada itu didengarnya juga suara si orang tua tadi sedang mendesak kawan2nya .

"Lekas tukar pakai pengantin padanya !"

Maka dengan gugup para pengiring lantas lepaskan pakaian pengantin dengan perlengkapannya dari gadis tadi dan dikenakan pada Liok Bu-siang.

Di sebelah sana Nyo Ko tidak perlu bantuan lagi, ia sendiri lantas mencopot topi pakaian kemantin laki2 tadi terus dipakainya sendiri.

"Nah, isteriku yang baik, sekarang masuklah ke dalam joIi,"

Demikian ia berkata pada Bu-siang sesudah selesai penyamarannya.

Tetapi Bu-siang menyuruh pengantin perempuan tadi masuk dulu ke joli, ia sendiri lantas duduk dipangkuan orang, habis itu tirai joli baru ia tutup.

Semetara itu sebenarnya Nyo Ko masih ingin ganti sepatunya dulu, tetapi sudah tak keburu lagi, suara keleningan sudah berada di tikungan jalan sana.

"Lekas menuju ke arah tenggara, lekas tiup dan tabuh lagi!"

Segera ia memberi perintah, berbareng ini iapun melompat ke atas kuda putih yang dipakai kemantin Iaki2 tadi.

Karena sepasang kemantin baru sudah berada dalam cengkeraman kawanan "penjahat" , tentu saja para pengiring itu tak berani membantah, segera mereka tabuh gembreng dan meniup trompet lagi hingga keadaan berubah riuh ramai Dan baru saja joli itu putar kembali ke jalan lain, belum ada belasan tombak ditempuh atau suara keleningan sudah berbunyi dengan kencang di belakang mereka, dua keledai belang dengan langkah cepat telah memburu datang.

Hati Bu-siang ber-debar2 keras demi mendengar suara keleningan yang sudah berada di belakang itu, ia pikir bisa tidaknya lolos dari elmaut hanya tergantung sedetik ini saja, maka dengan penuh perhatian ia dengarkan gerak-gerik yang terjadi di luar joli.

Di lain pihak Nyo Ko yang menyamar sebagai pengantin laki2, ia pura2 malu dengan kepala menunduk.

"Hai, kalian melihat satu gadis pincang lewat disini tidak ?"

Demikian terdengar Ang Ling-po bertanya.

"Ti... tidak !"

Sahut si orang tua tadi dengan suara tak lancar.

"Apa tidak melihat seorang gadis jelita menunggang keledai lewat sini ?"

Tanya Ang Ling-po lagi.

"Tidak,"

Sahut orang tua itu tetap.

Karena itu, Li Bok-chiu berdua lantas keprak keledai mereka melampaui iring2an kemantin itu dan kabur ke depan dengan cepat.

Tetapi hanya sebentar saja tiba2 Li Bok-chiu dan Ang Ling-po telah putar balik kembali, sesudah dekat joli, mendadak Li Bok-chiu ayun kebutnya, dengan ekor ketat ia lilit kain tirai joIi terus ditarik pelahan, maka terdengarnya suara memberebet, sebagian tirai itu telah robek.

Terkejut sekali Nyo Ko oleh kejadian itu, ia larikan kudanya mendekati joli, ia tunggu apabila Li Bok-chiu ayun ketatnya untuk kedua kalinya, dengan segera ia akan turun tangan buat menolong orang.

Siapa duga Li Bok-chiu tidak geraki tangannya kgi, ia hanya melongok sekejap ke dalam joli, lalu dengan tertawa ia berkata.

"Hah, kemantin-nya sungguh cantik !" -Habis ini ia menoleh dan berkata pula kepada Nyo Ko .

"He, rejekimu sungguh tidak jelek !"

Tetapi dengan cepat Nyo Ko telah menunduk, tak berani ia kesamplok pandang dengan orang..Lalu terdengar pula suara keteprak2 kaki binatang, Li Bok-chiu berdua telah pergi lagi.

Keruan Nyo Ko ter-heran2 oleh kejadian itu.

"Aneh, kenapa dengan begitu saja ia lepaskan nona Liok ?"

Demikian pikirnya tidak habis mengerti.

Waktu ia melongok juga ke dalam joli, ia lihat si kemantin perempuan asli mukanya pucat lesi saking ketakutan dan badannya gemetaran pula, sedang Liok Bu-siang ternyata tak diketahui ke mana perginya, Keruan saja Nyo Ko bertambah heran.

"He, nona Liok, dimanakah kau ?"

Segera ia berseru memanggil.

"Aku sudah hilang,"

Terdengar suara sahutan li gadis dengan tertawa.

Ketika kain panjang yang dipakai pengantin perempuan itu tersingkap, tahu2 Bu-siang muncul dari bawah, kiranya ia sembunyi di bawah kain panjang pengantin perempuan itu.

Nyata nona ini memang cerdik, ia cukup kenal sang guru yang biasanya berlaku sangat teliti dan tidak gampang diingusi meski barang yang kecil saja, ia menduga selewatnya sang guru, tentu sebentar akan balik kembali oleh karena itu ia telah sembunyi lebih dulu.

"Nah, boleh kau menjadi kemanten perempuan dengan tenang, naik joli bukankah jauh lebih enak daripada menunggang keledai ?"

Kata Nyo Ko. Bu-siang memanggut tanda setuju, lalu ia berkata juga pada si kemanten perempuan itu .

"Kau berdesakan di sini dan membikin aku sum-pek, lekas kau enjah keluar!"

Karena terpaksa, mau-tak-mau perempuan itu menurut, ia turun joli dan ganti menunggang keledai yang tadinya dipakai Nyo Ko itu.

Begitulah iring2an itu melanjutkan perjalanan, setelah belasan li dilalui pula, cuaca pelahan mulai gelap.

Dengan tiada hentinya si orang tua tadi memohon pada Nyo Ko agar suka bebaskan tawanan nya supaya tidak bikin kacau waktu upacara mereka, Tetapi Nyo Ko masih belum mau sudah, ia mendongkol oleh kerewelan orang.

"Apa yang kau cerewetkan terus ?"

Demikian ia mendamperat, tetapi baru sekecap saja, tiba2 dilihatnya ada bayangan orang berkelebat di pinggir jalan, ada dua orang dengan tangkas cepat telah lari masuk hutan.

Nyo Ko menjadi curiga, ia tarik tali kendali kudanya dan memburu dengan cepat, lapat2 dapat dilihatnya bayangan kedua orang itu berbaju compang-camping dengan dandanan sebagai kaum pengemis.

"Jangan2 orang Kay-pang sudah mengetahui penyamaranku dan menyiapkan orang di depan sana ?"

Demikian pikir Nyo Ko sambil tahan kudanya.

"Tetapi urusan sudah terlanjur, terpaksa harus diteruskan sampai akhirnya."

Tidak lama kemudian joli kemanten itupun sudah menyusul datang, karena sebagian tirai joli sudah terobek oleh kebut li Bok-chiu, maka Bu-siang melongok keluar dan tanya Nyo Ko .

"Apa kau melihat sesuatu ?"

Nyo Ko tidak memberi penjelasan sebaliknya ia berkata menyimpang.

"Sebagai temanten, layaknya kau menangis, sekalipun hatimu seribu kali ingin kawin, seharusnya kau menangis tak mau meninggalkan rumah, mana ada temanten perempuan di jagat ini tak malu seperti kau ini ?"

Bu-siang pun seorang gadis yang sangat pintar, demi mendengar kata2 orang se-akan2 bilang sasarannya sudah diketahui orang, maka dengan pelahan ia mengomel sekali, lalu tidak membuka para pula.

Setelah berjalan tak lama, jalan pegunungan di depan mulai sempit dan menanjak hingga sangat susah ditempuh, para pengiring kemanten itu sudah dalam keadaan letih, tapi karena kuatir betapa marah Nyo Ko, maka mereka tak berani mengunjuk rasa dongkol.

Tak lama lagi sang dewi malam mulai menongol di ufuk timur, burung gagak dengan suara yang serak terbang di udara kembali ke sarangnya.

Sepasang temanten yang kini menjadi tawanan Nyo Ko itu selamanya belum pernah bertemu muka, kini yang lelaki melihat yang perempuan mengunjuk rasa takut2 namun tak menutupi paras yang cantik, sedang yang perempuan memandang si lelaki yang juga cakap, kedua orang itu disamping merasa kuatir, diam2 pun merasa girang.

Begitulah sedang mereka melanjutkan perjalanan, tiba2 dari balik bukit sana terdengar suara berdendang belasan orang lagi melagukan .

"Nona cilik berbuatlah murah hati, berikanlah sedekah sebelah kuping dan sebuah hidung !"

Mendengar suara nyanyian itu, seketika muka Bu-siang berubah.

"Ha, kiranya keempat pengemis itu bersembunyi di sini,"

Demikian pikirnya."

Sesudah joli kemanten itu melintasi bukit, tertampaklah di depan sana menanti tiga pengemis yang berperawakan tinggi jangkung, sama sekali berlainan dengan keempat pengemis yang dilihatnya siang tadi.

Waktu Nyo Ko meneliti kantong goni yang berada di pundak ketiga pengemis itu, ia lihat masing2 menggendong tujuh buah.

"Tentu ketiga pengemis tujuh kantong ini jauh lebih lihay dari pada empat orang yang berenam kantong itu, tampaknya tidak bisa tidak harus turun tangan sungguh2"

Pikirnya.

Dalam pada itu karena sudah letih dan sedang uring2an, keruan para pengiring kemanten itu menjadi lebih mendongkol demi nampak ketiga pengemis itu mengadang di tengah jalan, segera ada diantaranya ayun cambuk menyabet kepala salah satu pengemis itu.

"Hai, lekas enyah, lekas minggir !"

Demikian bentak mereka.

Akan tetapi pengemis itu tidak berkelit, hanya sekali tarik pucuk cambuk terus dibetot, maka tidak ampun lagi orang yang menyabet itu jatuh ngusruk ke depan seperti anjing menubruk tahi.

Melihat kawan mereka dijungkalkan, kalau dalam keadaan biasa, tentu ramai2 para pengiring itu akan mengerubut maju, tetapi kini mereka sedang ketakutan karena sudah dihajar Nyo Ko tadi, mereka pikir ketiga pengemis ini tentu juga sekomplotan dengan pembegal ini, maka tiada seorang pun yang berani maju, sebaliknya malah pada menyurut mundur.

"Selamat dan bahagialah nona, kami tukang minta2 ini ingin mohon diberi persen beberapa duit,"

Demikian salah satu pengemis itu membuka suara dengan lantang.

"Tolol,"

Kata Bu-siang pada Nyo Ko.

"aku terluka dan tak bisa turun tangan sendiri, kau saja wakilkan aku enyahkan mereka."

"Baik,"

Sahut Nyo Ko tanpa rewel. Habis ini kudanya lantas dilarikan ke depan terus membentak.

"He, hari ini adalah hari baikku sedang kalian pengemisl ini jangan banyak cerewet, lekas pergi dari sini!"

Karena dibentak, salah satu pengemis itu mengamat-amati Nyo Ko, namun mereka tak dapat meraba siapakah gerangan pemuda yang berani mem-bentak2 mereka ini.

Kiranya keempat pengemis kentong enam yang tertutuk oleh duri tulang ikan itu, semuanya menyangka Bu-siang yang menyerang mereka, maka sama sekali mereka tak sebut2 tentang Nyo Ko pada paman2 guru mereka, yakni ketiga pengemis kantong tujuh ini.

Dalam pada itu, salah seorang pengemis itu tiba2 angkat tangannya, karena itu kuda yang ditunggangi Nyo Ko menjadi kaget hingga berdiri dengan kaki belakang, Nyo Ko pura2 terperosot dari kuda dan terbanting jatuh dengan keras2, dan sampai lama tak sanggup bangun.

"Ha, kiranya orang ini memang pengantin laki2nya,"

Pikir ketiga pengemis itu demi menyaksikan jatuhnya Nyo Ko itu.

Kay-pang sebenarnya adalah perkumpulan kaum jembel yang selamanya membela keadilan kaum lemah dan memberantas kaum penindas, sebabnya mereka bermusuhan dengan Liok Bu-siang adalah karena gadis ini tanpa sebab telah melukai orang mereka.

Kini melihat Nyo Ko tak pandai silat, malahan telah jatuh terbanting dengan berat?

rasa mereka menjadi menyesal, satu diantara pengemis itu telah menariknya bangun.

"Ai, kalian ini terlalu..."

Demikian Nyo Ko pura2 mengomel.

"minta ya minta, kenapa biki kaget binatang tungganganku?"

Sambil berkata iapun rogoh keluar tiga mata uang dan diberikan kepada pengemis2 itu, Mengingat peraturan Kay-pang, ketiga pengemis itu terima pemberian itu dan menghaturkan terima kasih.

"Nah, kau suruh aku bereskan mereka, sekarang sudah kuIakukan,"

Dengan menyengir kemudian Nyo Ko berkata pada Liok Bu-siang.

"Hm, untuk apa kau berlagak tolol padaku?"

Omel Bu-siang. Tetapi Nyo Ko hanya mengia saja dan mundur kepinggk jalan sambil mengebut debu yang berada di badannya.

"Sebenarnya kalian inginkan apa ?"

Dengan sikap dingin kemudian Bu-siang tegur ketiga pengemis itu, karena orang masih menghadang di tengah jalan.

"Anak murid golongan kami bilang nona adalah jago dari Ko-bong-pay, karena kagum, maka kami ingin minta petunjuk beberapa gebrakan dari nona,"

Sahut satu diantaranya.

"Aku dalam keadaan terluka, cara bagaimana bisa bergebrak dengan kalian ?"

Kata Bu-siang.

"Jika betul2 kalian penasaran, bolehlah tetapkan harinya, nanti kalau lukaku sudah sembuh, pasti ku datang minta pengajaran kalian, Kalian bertiga adalah jago dari Kay-pang, kini sengaja hendak mengeroyok satu gadis yang sedang luka parah, apakah ini terhitung orang gagah perkasa ?"

Dengan kedudukan yang cukup tinggi ketiga pengemis itu, mereka jadi terdesak oleh debat Bu-siang ini.

"Baiklah, nanti kalau lukamu sudah sembuh, kami cari kau lagi,"

Kata pengemis yang kedua.

"Nanti dulu,"

Tiba2 pengemis yang ketiga berpikir lain.

"Dimanakah lukamu ? Apa betul atau pura2, kami harus periksa dulu, kalau benar kau terluka, hari ini kami boleh ampuni kau."

Ia berkata begitu karena tak diketahuinya luka Bu-siang berada di bagian dadanya, maka tidak sengaja ingin mengetahui tempat luka ini, tapi bagi Bu-siang seketika mukanya menjadi merah, iapun menjadi gusar hingga untuk sesaat tak bisa bicara.

"Hm, orang Kangouw bilang sahabat2 dari Kay-pang semuanya ksatria sejati, siapa tahu semuanya adalah manusia2 yang tak kenal malu,"

Kemudian Bu-siang mendamperat.

Mendengar nama baik perkumpulan mereka dihina, air muka ketiga pengemis itu berubah semua, satu diantaranya yang berwatak berangasan segera melompat maju, dan hendak tarik Bu-siang keluar dari jolinya.

"Eeeeh, nanti duIu, nanti dulu !"

Tiba2 Nyo Ko menyela demi dilihatnya keadaan sudah mendesak "Kalian minta duit, bukankah aku sudah memberi tadi, kenapa sekarang masih merecoki biniku ?"

Sembari berkata iapun maju menghadang di depan joli, lalu ia sambung lagi.

"Tampaknya kalian meski pengemis, tapi tampangmu gagah, potonganmu pun banyak rejeki, kelak banyak harapan akan menjadi orang kaya atau orang berpangkat, kenapa sekarang berani goda biniku dan melakukan perbuatan2 rendah seperti bajingan ini ?"

Teguran ini membikin ketiga pengemis menjadi tercengang hingga mereka tak bisa menjawab.

"Kau menyingkir, kami hanya ingin belajar kenal dengan ilmu silatnya dari Ko-bong-pay, siapa yang melakukan perbuatan rendah ?"

Sahut si pengemis yang berangasan tadi Sambil berkata, berbareng ia mendorong Nyo Ko.

"Haya !"

Nyo Ko berteriak dan pura2 jatuh ke tepi jalan.

Dalam perserikatan kaum pengemis itu ada peraturan yang melarang bergebrak dengan orang yang tak mahir ilmu silat, Sungguh tak terduga oleh pengemis itu bahwa "pengantin laki2"

Ini ternyata begitu tak becus.

hanya sekali dorong pelahan saja sudah terbanting jatuh, kalau terbanting luka, tentu bakal terima hukuman berat dari perkumpulan, dua kawannya pun tidak terluput dari tanggung jawab ini.

Karena itu mereka terkejut, lekas2 mereka memburu maju buat bangunkan orang, sebaliknya Nyo Ko sengaja menjerit kesakitan Karena hari sudah gelap waktu itu, maka pengemis itupun tak jelas apa betul2 orang terluka -atau tidak.

"Ai, kalian bertiga inipun orang tolol, biniku baru jadi pengantin dan masih malu2. mana mau dia bicara dengan orang yang tak dikenalnya,"

Demikian sambil ber-teriak2 sakit masih Nyo Ko berkata lagi.

"Begini saja, pelajaran apakah yang kalian inginkan ? Coba katakan padaku, nanti aku yang bicara dengan biniku yang baru ini. habis itu nanti kuberitahukan lagi pada kalian bukankah baik begitu ?"

Melihat macam Nyo Ko yang dibilang tolol toh tidak tolol, akhirnya mereka tak sabar Iagi.

"Kau mau menyingkir tidak ?"

Pengemis yang berwatak keras tadi membentak pula. Akan tetapi Nyo Ko sengaja pentang kedua tangannya malah.

"Tidak, kalian hendak hina biniku, itulah jangan harap,"

Sahutnya dengan suara keras.

"Nona Liok,"

Kata pengemis yang lain.

"kau pakai si tolol ini sebagai tamengmu, apa dia bisa merintangi kami ? Lekas kau berterus terang saja, apa yang hendak kau katakan !"

"Eh, darimana kaupun tahu namaku si Tolol? Sungguh aneh bin ajaib !"

Tukas Nyo Ko tiba2 dengan lagak heran. Tetapi pengemis yang berangasan tadi tak gubris padanya, ia masih berteriak pada Liok Bu-siang.

"Kami tidak ingin belajar lain, cukup asal belajar kenal dengan tipu seranganmu dengan golok membacok punggung itu saja, apakah nama tipu serangan itu?"

Bu-siang tahu juga bahwa dengan caranya Nyo Ko menggoda mereka itu, sukar juga urusan ini diselesaikan, karena itu dalam hati sedang memikirkan sesuatu jalan meloloskan diri, ketika mendengar orang menanya lagi, tanpa terasa ia telah menjawab .

"Namanya "Tiau-siang-pay-gwe", ada apakah ?"

"Ya, betul, namanya "

Tiau-sian-pay-gwe", begini gerak goloknya, bet, lantas kena bacok di punggungmu,"

Tiba2 Nyo Ko menyambung sambil mulutnya "bat-bet, bat-bet" , tangan pun mendadak memotong ke belakang pundak orang "plok", dengan pinggiran telapak tangan ia hantam punggung pengemis itu.

Keruan saja ketiga pengemis itu sangat terkejut oleh gerak serangan Nyo Ko, berbareng mereka melompat mundur.

"Ha, kiranya orang ini pura2 menyamar sebagai pengantin untuk mempermainkan kami,"

Demikian pikir mereka. Walaupun tak banyak tenaga yang dikeluarkan Nyo Ko, namun punggung pengemis itupun terasa sakit.

"Bagus, anak keparat, kau pura2 tolol Mari, mari sini, biar kubelajar kenal dulu dengan kepandaianmu yang tinggi,"

Segera pengemis itu ber-teriak2 menantang, berbareng tongkat diketokkan ke tanah hingga menerbitkan suara nyaring keras.

"Tadi kau bilang ingin belajar pada biniku, kenapa sekarang hendak belajar kenal padaku ?"

Sahut Nyo Ko berlagak bodoh.

"Belajar kenal dengan kau pun sama saja,"

Kata pengemis itu dengan gusar.

"Wah, bisa celaka, aku tak bisa apa2,"

Ujar Nyo Ko, habis ini ia berpaling dan tanya Bu-siang .

"Bini cilik yang baik, menurut kau, apa yang harus kuajarkan padanya?"

Kini Bu-siang sudah tidak ragu2 lagi akan si Nyo Ko yang pasti memiliki ilmu silat yang sangat tinggi, kalau tidak, mana berani ia cengar cengir berlagak bodoh menggoda ketiga jago Kay-pang ini?

Tetapi karena belum kenal aliran ilmu silat orang, maka sekenanya ia menjawab pula.

"Kau unjuk sekali lagi jurus Tiau-sian-pay-gwe !"

"Baik !"

Sahut Nyo Ko, berbareng ini, tiba2 ia membungkuk ke depan, tangan mengulur.

"plok", dengan tipu "Tiau-sian-pay-gwe"

Atau Tiau-sian menyembah rembulan, kembali ia gebuli sekali lagi punggung si jembel itu.

Melihat serangan Nyo Ko, semua orang bertambah kaget dan heran pula, Terang Nyo Ko berdiri berhadapan dengan lawan dan sama sekali tak menggeser selangkahpun tetapi hanya sedikit membungkuk dan tangan mengulur, tahu2 tangannya berhasil menggebuk punggung orang, sungguh ilmu pukulan yang sangat aneh dan mengherankan.

Bukan saja orang2 itu heran, bahkan Bu-siang pun tergetar hatinya.

"Bukankah ilmu pukulannya ini adalah aliran Ko-bong-pay kami, kenapa diapun bisa ?"

Demikian ia bertanya dalam hati. Dengan ragu segera ia berkata lagi.

"Coba sekali Iagi, sekarang jurus "Se-si-hong-sim !"

"Baik !"

Sambut Nyo Ko cepat. Ketika tinjunya menyodok ke depan, dengan tepat kena pukul ulu hati lawan, itulah tipu serangan "Se-si-hong-sim"

Atau Se Si meraba dada.

Karena genjotan itu, maka terasalah oleh pengemis itu didorong suatu kekuatan yang maha besar hingga tubuhnya mencelat pergi sejauh lebih setombak, anehnya disana ia bisa berdiri dengan tegak, tempat yang terkena pukulan pun tidak terasa sakit.

Walaupun begitu, kedua pengemis yang lain segera menerjang maju berbareng.

"Haya, celaka, bini cilik, tak sanggup aku melawan mereka, lekas ajarkan tipu padaku,"

Nyo Ko ber-teriak2.

"Ciau-kun-jut-sat, Moa-koh-hian-siu !"

Tiba2 Bu-siang menyebut dua nama tipu serangan.

Maka dengan cepat Nyo Ko ulur tangan diri, lima jarinya menjentik berbareng seperti orang menabuh Pi-peh dan lima jari itu juga dengan tepat kena menyentil tubuh pengemis sebelah kanan memang betul itulah tipu "Ciau-kun-jut-sat"

Atai Ciau-kun keluar negeri MenyusuI mana, tubuhnya tiba2 mengegos ke samping, ia hindarkan tendangan si pengemis sebelah kiri yang sementara itu sudah melayang, sedangkan kedua kepalan telah disodokkan ke atas.

"plak", dengan jitu sekali dagu pengemis sebelah kiri itupun kena ditonjok.

"lni "Moa-koh-hian-siu", betul tidak ?"

Teriak "Nyo Ko, Karena tak ada niat buat celakai pengemis itu, maka tenaga hantamannya tadipun tidak keras.

Begitulah ber-turut2 Nyo Ko telah unjuk empat kali serangan dan tiap2 tipu serangan adalah "Bi-li-hoat"

"dari Ko-bong-pay, Ko-bong-pay dimulai sejak cakal-bakalnya, ya itu Lim Tiao-eng, selamanya hanya terima murid wanita dan tidak lelaki, Lim Tiao-eng telah ciptakan ilmu pukulan yang disebut "

Bi-li-kun-hoat"

Atau ilmu pukulan gadis ayu, maka tiap2 tipu serangannya diberi nama dengan mengambil nama2 wanita cantik jaman purbakala, waktu ilmu pukulan itu dimainkan, orangnya lemah gemulai gayanya indah luar biasa.

Sebab Siao-Iiong-li sudah melanggar kebiasaan menerima murid wanita dan telah terima Nyo Ko sebagai murid, dengan sendirinya "Bi-li-kun-hoat"

Itupun diajarkan padanya, Tetapi Nyo Ko merasa tipu2 serangan itu meski lihay, namun gayanya selalu kiyat-kiyut, tidak pantas dilakukan orang Ielaki, maka waktu ia melatih ilmu pukulan itu, ia sendiri telah tambahi dengan tenaga besar dan gaya kaum lelaki, dari gaya yang lemah gemulai itu ia rubah menjadi gaya lelaki yang gagah perkasa, walaupun gayanya lain, tetapi intilnya masih tetap.

Begitulah, sesudah kena diserang Nyo Ko dengan cara2 yang sukar dimengarti, ketiga pengemis yang terhitung jago kelas tinggi dari Kay-pang itu masih belum mau menyerah begitu saja, sekali bersuit berbareng mereka mengerubut maju Iagi.

"Haya, celaka, bini cilik, sekali ini kau bisa menjadi janda!"

Teriak Nyo Ko sambil berkelit ke sana kemari. Bu-siang terkikik geli oleh teriakan itu.

"Thian-sun-cit-kim!"

Tiba-tiba ia menyebut satu nama tipu serangan lagi.

Tanpa pikir Nyo Ko mengayun tangan kanan ke kiri dan tangan kiri menyodok ke kanan, ia bergaya seperti orang memintal, sesuai dengan nama tipu "Thian-sun-cit-kim"

Atau Thian-sun memintal sutera, maka sekaligus pundak kedua pengemis itu kena dihantam semua.

"Bun-kun-taog-lo, Kui-hui-cui-ciu!"

Kembali Bu-siang menyebut dua nama Iagi.

Eh, betul juga, si Nyo Ko lantas angkat tangan seperti menuang arak dan ketok ke atas kepala si pengemis yang bertabiat berangasan itu, menyusul tubuhnya ter-huyung2 dan miring ke kiri, maka perut si pengemis yang lain dengan tepat kena ditumbuk oleh pundak kanannya.

itulah tipu2

"Bun-kun-tang-lo"

Dan "Kui-hui-cui-ciu"

Atau Bun-kun mengipas anglo dan Kui-hui mabuk arak.

Terkejut dan gusar pula ketiga pengemis itu, mereka telah keluarkan ilmu silat seluruhnya, tapi sedikitpun tak bisa menghantam orang, sebaliknya lawannya bebas mengayun tangan atau melayangkan kakinya, ke mana dipukulnya, di situ tentu kena, meski tak sakit tempat yang kena serangan, namun luar biasa anehnya.

Kemudian ber-ulang2 Bu-siang menyebut lagi beberapa tipu serangan yang satu per satu dilakukan Nyo Ko lagi dengan betul.

Sungguh kagum sekali Liok Bu-siang oleh kepandaian "si ToIol" , Segera timbul juga kejadiannya untuk permainkan "si Tolol" , ia lihat Nyo Ko waktu itu sedang ulur kepalan menghantam ke depan, mendadak ia berteriak .

"Cek-thian-sui-liam !"

Menurut keadaan Nyo Ko waktu itu se-kali2 tidak mungkin bisa memakai tipu serangan yang disebut itu, tetapi betapa tinggi Lwekang Nyo Ko sekarang, bisa saja dilakukan tipu apa yang orang inginkan, se-konyong2 tubuhnya menubruk ke depan, kedua tangannya memotong ke bawah dengan gaya seperti menurunnya kerai, tidak salah lagi ini memang tipu "Cek-tbian-sui-Iiam"

Atau Bu Cek-thian menurunkan kerai.

Sebelum itu sebenarnya ketiga pengemis itu lagi menubruk maju karena melihat ada kesempatan, siapa tahu oleh tubrukan Nyo Ko ini, mereka terbalik terdesak mundur beberapa langkah.

Luar biasa heran dan senangnya Liok Bu-siang oleh kemahiran "si Tolol"

Ini, kembali ia berseru .

"lt-siau-cing-kok !"

"lt-siau-cing-kok"

Atau sekali tertawa meruntuhkan negara, inilah satu tipu pilihan Bu-siang sendiri yang tak pernah ada dalam pelajaran "Bi-li-kun-hoat", sebab meski wanita cantik dengan senyum dan tawanya bisa meruntuhkan suatu negara.

tapi mana dapat digunakan untuk bergebrak dengan pihak lawan ?

Akan tetapi disinilah Nyo Ko unjuk kemahirannya, sesudah tertegun sedetik karena nama tipu yang aneh itu, namun segera ia menengadah dan tertawa.

"hahaha...hehehehe... huhuhu... hohoho... hahahaha !"

Sungguh aneh sekali suara tertawanya ini, ternyata Nyo Ko telah keluarkan Lwekang yang paling tinggi dari "Kiu-im-cin-keng"

Yang dilatihnya walau latihannya belum bisa dibilang masak dan belum dapat dipakai untuk melawan jago kelas wahid, tetapi ketiga pengemis itu hanya anak murid Kay-pnng kelas dua-tiga saja, ketika mendengar suara ketawa yang aneh itu, tak tahan lagi telinga mereka se-akan2 pekak dan kepala pusing, mereka ter-huyung2 untuk kemudian terguling'jatuh semua saking tak tahan.

Bukan saja tiga pengemis itu, bahkan Bu-siang ikut terkena juga akbiatnya, iapun merasa pusing hingga hampir jatuh semaput, lekas2 ia pegang erat2 tiang joiij sementara itu di bagian luar keadaan sudah kacau balau, suara jeritan dan gedubrakan bercampur aduk, para pengiring kemanten dan kedua penganten baru itu sudah jatuh terguling semua karena tak tahan oleh suara tertawa Nyo Ko.

Setelah Nyo Ko hentikan tertawanya, dengan cepat ketiga pengemis itu melompat bangun, tanpa berpaling lagi segera mereka angkat kaki.

Dan sesudah mengaso lagi tak lama, kemudian iring2an joli penganten itu melanjutkan perjalanan agi, terhadap Nyo Ko kini para pengiring itu menganggapnya seperti malaikat dewata saja, tiada seorangpun yang berani membangkang lagi.

Menjelang tengah malam, barulah mereka sampai di satu kota, di situlah Nyo Ko membubarkan para pengiring kemanten itu, ia dan Bu-siang antas mendapatkan sebuah hotel untuk menginap.

Waktu mereka hendak bersantap dulu, baru saja mereka duduk, tiba2 Nyo Ko melihat di depan pintu ada berkelebatnya bayangan orang, satu orang telah longak-longok ke dalam dan demi nampak Nyo Ko dan Bu-siang, cepat orang itu meng-eret dan putar pergi.

Nyo Ko jadi curiga, dengan cepat ia menyusul keluar, maka tertampaklah olehnya di pelataran hotel sana berdiri dua Tojin atau imam.

Begitu melihat Nyo Ko keluar, segera kedua imam itu menubruk maju ke arahnya.

Kedua imam itu dapat dikenali Nyo Ko sebagai Tio Put-hoan dan Ki Jing-si yang pernah saling labrak dengan Liok Bu-siang di lembah Srigala tempo hari.

"He, ada apakah kalian marah padaku ?" |nikian Nyo Ko heran karena orang menubruk ke jurusannya, ia berdiri tegak saja tanpa gubris mereka. Tak terduga tujuan kedua imam itu ternyata bukan diri Nyo Ko, tiba2 mereka mengegos lewat di sampingnya terus melompat ke depan Bu-siang. Akan tetapi sebelum terjadi sesuatu, pada saat itu juga, tiba2 terdengar suara keleningan yang nyaring. Suara kelenengan ini datangnya mendadak dan tahu2 sudah berada dalam jarak yang dekal sekali. Muka kedua Tosu itu berubah hebat demi mendengar suara kelenengan, sesudah saling pandang sekejap, segera mereka lari kembali ke kamar yang berada di sebelah barat sana, dengan keraj mereka gabrukan daun pintu dan dikunci rapat untuk kemudian tak berani keluar lagi.

"Ha, imam2 busuk ini tentu pernah merasakan pahit getir tangannya Li Bok-chiu, makanya mereka begitu takut padanya,"

Diam2 Nyo Ko membatin.

"Suhu sudah datang, bagaimana baiknya, Tolol ?"

Dengan suara tertahan Bu-siang menanya Rupanya iapun berkuatir.

"Bagaimana baiknya ?"

Dan selagi ia hendak pondong si gadis, mendadak suara kelenengan tadi sudah berhenti di depan "pintu hotel"

Betul saja lantas terdengar suara Li Bok-chi sedang berkata.

"Ling-po, kau menjaga atas wuwungan rumah !"

Terdengar Ang Ling-po menyahut sekali, dengan cepat sang murid melompat ke atas. Menyusul terdengar lagi suara kasir hotel yang berkata.

"Sian-koan, engkau orang tua.. aduh... Aku..."

Suara si kasir hotel ternyata terputus sampai di situ saja, sebab orangnya mendadak terguling ke lantai dan jiwanya sudah melayang. Kiranya Li Bok-chiu paling benci bila orang menyebut kata2

"tua"

Di hadapannya, apalagi orang terang2an katakan dia "orang tua" , keruan tanpa ampun lagi, sekali kebutnya menyabet, seketika jiwa kasir hotel itu melayang.

"Ada seorang nona pincang tinggal di sini tidak ?"

Lalu Li Bok-chiu tanya pelayan hotel. Tetapi pelayan itu sudah ketakutan melihat keganasannya.

"Aku... aku..."

Demikian sahutnya tak terang. Li Bok-chiu menjadi tak sabar, sekali dorong ia sengkelit pelayan itu hingga cium tanah, habis ini lantas terdengar suara "bang"

Yang keras, pintu kamar pertama di sebelah barat itu didobraknya hingga terpentang, itulah kamar para imam.

"lnilah kesempatan untuk melarikan diri melalui pintu belakang, meski akan dipergoki Ang Ling-po, tetapi aku tak takut padanya,"

Diam2 Nyo Ko terpikir. Karena itu, dengan suara lirih ia berkata pada Liok Bu-siang.

"Bini cilik, lekas ikut aku melarikan diri"

Si gadis pelototi Nyo Ko karena orang berulang kali panggil "bini cilik"

Padanya, tetapi ia berdiri juga, ia pikir sekali ini kalau bisa selamat pula, betul2 Tuhan yang melindungiNya.

Pada saat itu juga, dari pojok ruangan hotel, itu satu tetamu telah berdiri, waktu ia jalan melalui samping Nyo Ko dan Bu-siang, tiba2 dengan suara tertahan ia berkata .

"Aku pancing dia pergi, lekas cari jalan buat selamatkan diri."

Orang ini sejak tadi duduk di satu meja di pojok yang rada gelap, maka Nyo Ko dan Bu-siang sama sekali tak perhatikan muka orang, Kini waktu bicara mukanya pun berpaling ke jurusan lain, baru selesai bicara, dengan cepat orangnya sudah melangkah keluar, hanya potongan belakangnya yang tertampak jelas bahwa perawakannya tidak tinggi, malahan lebih pendek sedikit dari pada Liok Bu-siang, baju yang dipakainya berwarna hijau dan rada kebesaran.

Tentu saja Nyo Ko dan Bu-siang terkejut oleh kata2 orang tadi, sedang mereka bingung, mendadak terdengar suara kelenengan keledai berbunyi riuh terus menjauh menuju ke utara.

"Suhu, ada orang mencuri keledai kita !"

Terdengar Ang Ling-po berteriak. Dengan cepat pula satu bayangan berkelebat dari dalam kamar tadi, Li Bok-chiu melayang keluar terus mengudak ke arah perginya si pencuri keledai.

"Lekas kita lari!"

Segera Bu-siang mengajak. Akan tetapi Nyo Ko berpandangan lain, ia pikir.

"llmu entengkan tubuh Li Bok-chiu cepat luar biasa, tentu segera orang tadi akan dicandaknya dan segera pula ia bisa balik kembali. Kalau aku pondong nona pincang ini, karena tak bisa cepat berlari, sukar juga buat meloloskan diri."

Mendadak ia mendapat akal, dengan cepat kamar pertama di sebelah barat sana dimasukinya.

Di kamar itu ia lihat Tio Put-hoan dan Ki Jing-si dalam keadaan ketakutan sedang duduk di atas pembaringan.

Tahu keadaan mendesak tanpa menunggu kedua imam itu bersuara, dengan cepat Nyo Ko menubruk maju, sekali ia tutuk roboh kedua orang itu.

"Bini cilik, masuk sini!"

Teriaknya pada Bu-siang. Tanpa pikir lagi si gadis menurut, pintu kamar dengan cepat dirapatkan kembali oleh Nyo Ko.

"Lekas copot pakaian !"

Katanya pula. Apa kau bilang, Tolol ?"

Bu-siang mengomel dengan muka merah jengah.

"Terserah ksu mau copot pakaian tidak, tetapi aku sendiri akan mencopot!"

Sahut Nyo Ko sambil melepaskan baju luarnya, menyusul jubah Tosu yang dipakai Tio Put-hoan telah dia lucuti dan dikenakan sendiri, malahan kopiah orang ia samber, dan dipakainya pula.

Nampak perbuatan Nyo Ko ini, segera Bu-siang mengerti.

"Baiklah, kita menyamar sebagai Tosu buat mengelabui Suhu,"

Katanya kemudian. Habis itu bajunya sendiri lantas hendak dibukanya, tetapi mukanya menjadi merah pula, tiba2 ia depak Ki Jing-si sekali sambil mendamperat.

"Pejamkan matamu, imam keparat !"

Meski badan kedua imam itu tertutuk dan tak bisa berkutik, namun pancaindera mereka masih bisa bekerja biasa, maka mata lantas mereka pejamkan mana berani mereka mengintip tubuh Liok Bu-siang ?

"Tolol, kaupun berpaling ke sana,"

Kata Bu-siang pula pada Nyo Ko.

"Takut apa ? Waktu aku sambung tulangmu, bukankah aku sudah melihatnya,"

Sahut Nyo Ko dengan tertawa. Tetapi sesudah berkata, segera Nyo Ko merasa kata2nya itu terlalu bambungan, maka ia menjadi rikuh. Di lain pihak Bu-siang menjadi marah.

"plek" , kontan ia baliki telapak tangannya dan tempeleng orang. Sebenarnya sedikit menunduk saja Nyo Ko bisa hindarkan tamparan itu, tetapi dalam keadaan linglung, ia tak menghindar hingga pukulan itu kena pipi kirinya dengan antap. Kiranya mendadak Nyo ko teringat pada Siao-liong-li karena mimik wajah Liok Bu-siang yang sedang marah2 itu, maka ia menjadi ternganga diam. Sebaliknya Bu-siang menyangka pukulannya tentu mengenai tempat kosong, siapa tahu justru tepat kena sasarannya dengan keras, mau-tak-mau iapun tertegun.

"Sakit tidak, Tolol ? Makanya jangan ngaco-belo dan ngoceh semaunya,"

Katanya kemudian dengan tersenyum. Nyo Ko tidak menjawab, ia raba2 pipinya sendiri yang panas pedas itu, lalu berpaling ke jurusan lain.

"Coba lihat, aku mirip imam kecil tidak ?"

Tanya Bu-siang dengan tertawa sesudah jubah pertapaan orang dikenakannya.

"Tak kelihatan, manaku tahu,"

Sahut Nyo Ko.

"Balik sini, Tolol,"

Omel si gadis.

Kefika Nyo Ko berpaling kembali, ia lihat jubah itu terlalu besar dipakai Bu-siang, tapi makin menunjukkan betapa ramping tubuh Bu-siang.

Selagi Nyo Ko hendak buka suara, sekonyong-konyong terdengar Bu-siang menjerit tertahan sambil menuding ke atas pembaringan.

Eh, kurangajar, kiranya dari dalam selimut di atas pembaringan itu kelihatan menongol satu kepala imam yang dapat Nyo Ko kenali sebagai Bi Jing-hian, imam yang tertabas tangannya oleh Bu-siang di lembah Srigala itu.

Rupanya ia rebah di atas pembaringan karena lukanya, tadi waktu melihat Bu-siang, dalam takutnya ia telah mengkeret ke dalam selimut Karena Nyo Ko dan si gadis sedang sibuk menukar pakaian, maka tak memperhatikan kalau di situ masih ada satu imam lagi.

"Dia... dia..."

Demikian dengan suara samar2 Bu-siang hendak bicara, sebenarnya ia hendak bilang.

"dia mengintip aku tukar pakaian" , tetapi tak enak diucapkannya. Pada saat itu juga, kembali suara kelenengan keledai belang milik Li Bok-chiu terdengar lagi. Nyo Ko tahu iblis perempuan itu kembali lagi, tiba2 tergerak kecerdasannya, ia tarik Bi Jing-hian yang meringkuk di dalam selimut itu, dengan sekali cekal dan tarik itu berbareng ia sudah tutuk jalan darah orang, lalu ia buka rongga pembaringan dan masukkan imam sial itu ke dalam. Hendaklah diketahui bahwa balai2 atau pembaringan yang biasa digunakan di daerah utara itu terbuat dari tanah liat dan dibawahnya berlubang, karena daerah utara hawa sangat dingin, maka rongga balai2 itu dinyalakan api unggun untuk memanaskan badan bagi yang rebah di atasnya. Tetapi waktu itu bukan musim dingin, di bawah kolong balai2 itu tak ada api, sungguhpun begitu di dalamnya hitam gelap penuh debu arang, keruan Bi Jing-hian seluruh muka dan kepalanya berubah menjadi hitam. Sementara itu suara keleningan tadi sudah berhenti. Li Bok-chiu telah sampai di depan hotel.

"Naiklah ke atas baIai2,"

Kata Nyo Ko pada Bu-siang.

"Tak mau, sudah digunakan imam busuk itu.

"tentu kotor dan bau."

Sahut si gadis.

"Jika tak mau, terserah kau !"

Ujar Nyo Ko, Sembari berkata, tangan pun bekerja, Tio Put-hoan telah dijebloskan pula kedalam koIong, sebaliknya tutukan Ki Jing-si malah dia lepaskan.

Di lain pihak, walaupun merasa selimut bekas terpakai itu kotor dan bau, namun bila ingat kekejian gurunya yang tak kenal ampun, terpaksa Bu-siang merangkak ke atas balai2, ia tiduran dengan muka menghadap ke bagian dalam dan baru saja ia rebah, pintu kamar sudah ditendang Li Bok-chiu, untuk kedua kalinya iblis ini melakukan penggeledahan.

Di sebelah sana Nyo Ko pura2 memegangi sebuah cangkir dan dengan kepala tunduk sedang minum, padahal sebelah tangannya ia tekan punggung Ki Jing-si pada Hiat-to yang mematikan hingga imam ini tak berani berkutik.

Melihat isi kamar itu masih tetap tiga imam, pula melihat wajah Li Jing-si pucat lesi seperti mayat dan dalam ketakutan maka Li Bok-chiu hanya tersenyum, lalu pergilah dia menggeledah ke kamar yang Iain.

Tadi waktu pertama kali Li Bok-chiu menggeledah wajah ketiga imam itu sudah jelas dilihatnya, sebab ia kuatir Liok Bu-siang, ganti pakaian dan menyamar, maka waktu menggeledah lagi untuk kedua kalinya, ia tidak memeriksa pun dengan teliti, karena sedikit lengahnya ini ia kena dikelabuhi oleh Nyo Ko.

Malam itu Li Bok-chiu dan Ang Ling-po berdua telah obrak-abrik seluruh kota itu hingga setiap rumah merasa terganggu sebaliknya dengan aman sentausa Nyo Ko merebah di baIai2 berendeng dengan Liok Bu-siang, alangkah senangnya dia waktu mencium bau harum yang menggiurkan dari si gadis.

Pikiran Bu-siang sendiripun timbul tenggelam seperti mendamparnya ombak, ia rebah tanpa berani bergerak sedikitpun, ia pikir kalau si ToIol ini dibilang goblok, nyatanya pintar tiada bandingannya, dikatakan dia pintar, sebaliknya kelakuannya agak2an, sungguh aneh orang ini ia rada kikuk juga karena bertiduran berendeng dengan pemuda, tetapi sampai lama sedikitpun tiada sesuatu gerak-gerik dari Nyo Ko, barulah ia merasa lega hingga akhirnya ia terpulas.

Besok paginya Nyo Ko mendusin lebih dulu, ia lihat Ki Jing-si masih menggeros mendekam di atas meja, sedang Bu-siang dengan napasnya yarig pelahan kelihatan masih nyenyak juga, kedua pipi gadis ini semu merah, bibirnya mungil tanpa terasa jantung Nyo Ko memukul keras.

"Jika pelahan2 aku mencium dia sekali, tentu dia tak akan tahu,"

Demikian ia pikir.

Dasar Nyo Ko baru injak dewasa, walaupun tiada maksud jahat yang terkandung padanya, namun ingin juga mengecup sekali bibir si gadis yang merah mungil itu.

Maka dengan hati2 ia menjulurkan kepalanya, bau harum yang teruar dari badan si gadis membikin Nyo Ko makin lupa daratan.

Tetapi baru saja kedua bibir hampir bersentuh, se-konyong2 Nyo Ko merasakan punggungnya tertimpuk sesuatu Am-gi atau senjata gelap, Luar biasa kaget Nyo Ko hingga ia meloncat bangun.

Sebenarnya dengan kepandaian Nyo Ko sekarang, segala macam senjata rahasia pasti akan diketahuinya sebelum mendekati, tetapi tadi ia sedang lupa daratan hingga pikirannya kabur, maka tak heran senjata rahasia orang bisa mengenai punggungnya.

BegituIah, waktu ia meloncat kaget, segera dapat dilihatnya sebuah wajah sekilas melintas di balik lubang jendela, Wajah itu aneih luar biasa, seperti manusia tapi bukan manusia, dibilang setan pun bukan setan.

Dalam herannya Nyo Ko menguber keluar, namun tiada satu bayangan yang dia dapatkan "jangan2 ini tipu pancingan belaka ?"

Tiba2 terpikir olehnya.

Ketika ia kembali ke kamar dan periksa senjata rahasia tadi, ia lihat di atas lantai hanya terdapat segelintir kertas saja, ia menjemputnya dan diperiksa, ternyata di atas kertas yang dilinting itu tertulis sesuatu.

Waktu itu Bu-siang sudah terjaga bangun, ia pun mendekati Nyo Ko untuk melihat isi surat itu, Maka tertampaklah apa yang tertulis itu berbunyi ".

"Kalau berani kurangajar, segera jiwamu melayang !"

Seperti diketahui sehari sebelumnya ada satu anak petani menghantarkan seikat bunga pada Liok Bu-siang dengan secarik surat pengantar yang memberi peringatan, bahwa gurunya segera tiba dan gadis ini disuruh lekas sembunyi.

Gaya tulisan surat itu ternyata mirip dengan tulisan yang sekarang ini.

Heran sekali Nyo Ko tercampur malu demi membaca kata2 surat itu, pikirnya.

"Kiranya diam2 ada jagoan tinggi sedang melindungi dia, semalam kalau aku melakukan sesuatu yang tak pantas, bukankah..."

Berpikir sampai disini, tanpa terasa seluruh mukanya merah semua.

"Hm, tolol busuk, kau didamperat Kokohmu bukan ?"

Tanya Bu-siang.

"He, ya, jangan2 memang Kokoh ?"

Terkesiap hati Nyo Ko. Tetapi lantas teringat lagi olehnya .

"Ah, tak mungkin, muka orang itu luar biasa aneh-nya, bukan lelaki juga tidak perempuan, seperti manusia, tapi juga bukan setan, terang bedanya seperti langit dan bumi dengan Kokoh, apapula tulisan ini pun bukan tulisan tangan Kokoh !"

Pada saat itu juga suara kelenengan keledai belang Li Bok-chiu berkumandang lagi dan menuju ke arah barat laut Rupanya karena kitab "Ngo-tok-pit-toan" (kitab pelajaran "panca-bisa" ) digondoI Liok Bu-siang, kitab itu belum didapatkan kembali, selama itu pula ia tak tenteram, maka selama beberapa hari ini Li Bok-chiu boleh dikatakan tidur tak nyenyak dan makan tak enak, meski hari masih sangat pagi, dengan keledainya ia telah berangkat mencari Liok Bu-siang.

"Kalau kembalinya ke sana tak ketemukan kau, pasti dia akan balik ke sini puIa,"

Kata Nyo Ko.

"Cuma sayang kau terluka parah dan tak boleh terguncang keras, kalau tidak, kita bisa menunggang dua ekor kuda dan kabur secepat2nya" .

"Bukankah kau sendiri tak luka, kenapa tak kau curi kuda dan kabur sekaligus sehari semalam?"

Bu-siang mengomel Melihat orang marah, Nyo Ko menjadi senang, ia sengaja memancing pula.

"Kalau bukan kau yang mohon diantar ke Kanglam, mana aku mau menghadapi bahaya ini."

"Kalau begitu, bolehlah kau pergi, Tolol, melihat macammu saja aku lantas marah, biar lebih baik aku mati saja,"

Sahut Bu-siang.

"Wah, jika kau mati, akulah yang rugi,"

Kata Nyo Ko tertawa.

Tetapi kuatir si gadis betul naik darah hingga tulangnya yang sudah tersambung itu patah lagi, maka tak digodanya lebih jauh, ia ke kantor hotel dan pinjam tinta bak, dengan bahan tulis ini ia campur air baskom yang akan dibuat cuci muka Bu-Siang, mendadak Nyo Ko celup tangannya pada air baskom dan dengan cepat diusapkan ke muka si gadis.

Sama sekali Bu-siang tak ber-jaga2 kalau orang akan berbuat begitu, 1ekas2 ia keluarkan saputangan buat bersihkan air kotor itu sambil tiada pentinya ia mendamperat "si Tolol".

Dalam pada itu dilihatnya Nyo Ko sendiripun menggosok tangannya kekolong balai2 yang penuh arang itu, lalu ia campur dengan lak dan dipoles pada mukanya sendiri, karena itu, wajahnya yang tadinya ganteng, kini berubah menjadi jelek.

Bu-siang adalah gadis pintar dan cerdas, nampak kelakuan Nyo Ko itu, segera iapun mendusin.

"Ah, memang betul meski aku sudah salin pakaian-kaum imam, tetapi mukaku masih bisa dikenalnya, kalau tersusul Suhu, mana bisa mengelabui matanya ?"

Maka tak sangsi2 lagi air bak tadi ia poles, rata di mukanya, dasar anak gadis memang suka akan kecantikan, meski poles muka dengan air bak, toh masih dilakukannya seperti biasa kalau bersolek dengan bedak dan gincu.

Selesai kedua orang menyamar, Nyo Ko ulur kakinya dan menendang ke kolong balai2 buat lepaskan Hiat-to kedua imam yang dia tutuk itu.

Menyaksikan caranya Nyo Ko melepaskan tutukan orang, tanpa lihat sedikitpun, hanya kakinya menendang beberapa kali sekenanva, lalu kedua imam itu bisa bersuara dan bergerak lagi, sungguh tidak kepalang kagum Bu-siang.

"Si Tolol ini berpuluh kali lebih tinggi kepandaiannya dari pada aku,"

Demikian ia betul2 menyerah kini.

Walaupun begitu, mukanya sama sekali tak mengunjuk sesuatu tanda bahkan ia masih me-maki2 orang "tolol".

Sementara luka Bu-siang sudah baikan, ia sudah bisa menunggang keledai sendiri dengan jaIan pelahan, karena tak ingin setunggangan lagi dengan Nyo Ko, maka masing2 lalu mengambil seekor keledai sendiri dan melanjutkan perjalanan ke tenggara, Apabik letih, mereka mengaso, lalu meneruskan lagi menunggang keledai.

Siapakah gerangan orang yang telah dua kali kirim surat itu ?"

Begitulah sepanjang jalan Ko selalu ber-tanya2 dalam hati.

"Hai, Tolol, kenapa kau diam saja tak bicara?"

Tiba2 Bu-siang menegur. Waktu itu memang Nyo Ko lagi ter-menung2, karena teguran orang, mendadak ia ingat sesuatu.

"Ai, celaka, sungguh aku terlalu ceroboh!"

Ia berteriak.

"Memangnya kau ceroboh, siapa yang bilang kau pintar!"

Kata si gadis.

"Kita sudah menyamar dan ganti rupa, tetapi semua ini telah dilihat ketiga Tojin itu, kalau dia lapor pada gurumu, bukankah kita bakal celaka ?"

Ujar Nyo Ko. Bu-siang tertawa geli oleh pikiran orang ini.

"Tiga imam busuk itu sudah mendahului kabur ke depan sana, mana berani dia tinggal di sana menunggu datangnya Suhu,"

Sahutnya kemudian.

"Kau ter-menung2 saja seperti orang gendeng sejak tadi, masakah mereka sudah mendahului di depan sana kau tak melihatnya?"

"Oh !"

Kata Nyo Ko sambil tertawa ke arah Bu-siang.

Gadis itu menjadi bingung oleh tertawaan itu yang tampaknya mengandung arti yang dalam.

Pada saat itu mendadak keledai yang ditungganginya itu meringkik keras, Waktu Bu-siang menoleh, ia lihat di tikungan jalan sana sudah berdiri Iima pengemis, mereka berdiri berjajar merintangi jalannya, Mata Nyo Ko sangat jeli, sekilas saja dapat dilihatnya dibalik jalan sana ada dua orang lain yang mengkeret kembali sesudah melongok sekejap kedua orang itu bukan lain adalah Tio Put-hoan dan Ki Jing-si.

"Ah, kiranya tiga imam busuk itu telah beritahu orang Kay-pang mengenai penyamaran kami sebagai Tojin."

Demikian segera ia jadi terang duduknya perkara. Karena itu, ia lantas melompat turun dari keledainya dan memapak maju.

"Tuan2 besar pengemis, kalian minta2 di delapan penjuru, maka hari ini mohon kalian suka menderma pada kami,"

Segera Nyo Ko buka suara dahulu.

"Hm, sekalipun kalian cukur gundul menjadi Hwesio, jangan harap bisa mengelabui mata-telinga kami,"

Satu diantara pengemis2 itu menyahut, suaranya keras bagai genta.

"Sudahlah, jangan berlagak bodoh lagi, baiknya terus terang saja dan ikut kami pergi menghadap Pangcu (ketua perserikatan)."

Mendengar orang menyebut Pangcu, diam Nyo Ko memikir.

"Menurut cerita Kokoh, Pangcu dari Kay-pang bernama Kiu-ci-sin-kay Ang Chit kong, betapa tinggi ilmu silatnya orang tak mampu merabanya, walaupun Kokoh sendiri tak pernah tinggalkan kuburan kuno, tapi pernah juga Sui popoh bercerita padanya, agaknya Pangcu mereka ini sangat lihay, kalau betul2 ada disini, rasanya susah buat loloskan diri lagi"

Kedua pengemis yang mencegat di jalan seberang ini adalah murid berkantong delapan dari Kay-pang, menjadi ragu2 melihat Nyo Ko dan Liok Bu-siang hanya anak2 muda yang belum genap 20 tahun usianya, tapi bisa kalahkan empat murid Kay-pang dari kantong enam dan tiga murid kantong tujuh.

Begitulah, sedang kedua belah pihak sama2 ragu2, tiba2 suara kelenengan nyaring berkumandang lagi dari jurusan barat laut, suaranya begitu tajam dan riuh menusuk telinga.

"Celaka, sekali ini bisa celaka,"

Demikian Bu-siang pikir.

"Meski aku sudah ganti rupa dan tukar corak, tapi justru dirintangi kedua pengemis setan ini kalau rahasia penyamaran kami dibongkar olehnya, cara bagaimana aku bisa lolos dari tangab Suhu yang kejam ? Ai, betul2 sial."

Bukannya Bu-siang sesalkan dirinya sendiri yang tanpa sebab melukai anak murid Kay-pang hingga menanam bibit permusuhan, kini ia malah salahkan orang Kay-pang yang merintangi dia.

Memang anak gadis kadang2 lebih suka menyalahkan orang lain daripada koreksi diri sendiri, ditambah pula tabiat Bu-siang memang aneh hingga apa yang diperbuatnya dianggapnya pasti betul dan apa yang dilakukan orang tentu salah.

Dalam pada itu, sekejap saja suara kelenengan Li Bok-chiu sudah tambah dekat.

"Terang aku bukan tandingan Li Bok-chiu itu, tiada jalan lain lagi kecuali terjang ke depan saja,"

Pikir Nyo Ko. Sungguhpun dalam hati ia berkuatir, tapi pada lahirnya ia masih bisa berlaku tenang.

"Haha, kalau kalian tak sudi memberi sedekah itupun tak apalah, harap memberi jalan saja,"

Ia berkata lagi pada kedua pengemis tadi dengan lagak setengah tolol.

Habis berkata, dengan langkah lebar iapun jalan ke depan.

Melihat tindakan orang yang enteng dan seperti tak paham ilmu silat sedikitpun kedua pengemis itu mengulur tangan kanan hendak jambret Nyo Ko.

Namun Nyo Ko sudah siap, tiba2 telapak tangannya mendorong maju, maka beradunya tiga tangan tak terhindarkan lagi, hanya sekali gebrak, ke-tiga2nya sama-sama tergetar mundur semua.

Kiranya murid Kay-pang kantong delapan itu sudah punya keuletan latihan beberapa puluh tahun, tenaga dalam mereka begitu hebat dan jarang ada tandingan lagi di kalangan Kangouw, kalau melulu soal keuletan, boleh dikatakan puluhan kali lebih kuat dari Nyo Ko.

Cuma hal kebagusan dan keanehan gerak serangan, hal ini berbalik jauh di bawah pemuda kita.

Oleh sebab itulah, dengan pinjam tenaga pukulan orang untuk memukul balik, Nyo Ko dapat patahkan tenaga pukulan orang tadi tetapi untuk menerjang lewat begitu saja juga sukar baginya, Karenanya, ketiga orang sama-sama terkejut.

Pada saat itu juga Li Bok-chiu dan Ang Lmg-po sudah datang dekat.

"Hai, pengemis, imam cilik, kalian melihat seorang gadis pincang lewat disini tidak ?"

Segera Ang Ling-po berteriak tanya.

Kedudukan kedua pengemis itu di kalangan Bulim tergolong tinggi tentu saja mereka mendongkol oleh cara tanya Ang Ling-po, cuma terikat oleh peraturan Kay-pang yang keras yang melarang sianak muridnya berkelahi dengan orang dalam persoalan kecil, maka mereka menyahut juga dengatt pendek .

"Tak melihat!"

Namun mata Li Bok-chiu sangat tajam, ia lihat perawakan kedua Tosu muda ini seperti pernah dilihatnya entah di mana, maka timbul rasa curiganya.

Dalam pada itu dilihatnya pula keempat orang itu sedang berhadapan dalam keadaan siap hendak saling labrak, maka diambilnya keputusan akan menonton perkelahian itu, pertama ia ingin menyaksikan sampai dimanakah ilmu silat anak murid Kay-pang, kedua ingin tahu juga dari aliran manakah kedua Tosu cilik itu.

Di lain pihak Nyo Ko pun sedang pikir karena datangnya iblis perempuan itu, waktu ia melirik, ia lihat wajah orang mengunjuk senyum dan hendak menyaksikan perkelahian tiba2 pikirannya tergerak .

"Ah, begini, tentu akan hilang rasa curiganya."

Lalu didekatnya Ang Ling-po, ia memanggut memberi salam, Karena itu, Ang ting-po membalas hormat orang.

"Siauto (imam kecil) kebetulan lewat disini dan tanpa sebab dicegat kedua pengemis galak ini serta ditantang berkelahi"

Demikian kata Nyo Ko.

"Tetapi Siauto tidak membawa senjata, maka tolong Tosu (kawan dalam agama toa) sudilah memberi pinjam pedangmu."

Melihat muka orang benjal-benjol sangat jelek, tetapi budi bahasanya sopan, ditambah lagi orang mengemukakan agama, maka Ang Ling-po merasa tak enak buat menolak permintaan orang pedang lantas dilolosnya, ia berpaling dulu pada gurunya, waktu melihat Li Bok-chiu mengangguk maka disodorkan pedangnya kepada Nyo Ko..

"Terima kasih sebelumnya,"

Kata Nyo Ko pula sambil terima senjata orang.

"dan bila Siauto tak ungkulan, masih mengharap Tosu memandang pada sesama agama kita, sudilah memberi bantuan sedikit"

Ang Ling-po mengkerut kening oleh ceriwis-nya Njo Ko, ia hanya menjengek sekali dan tidak menjawab. Sementara itu Nyo Ko sudah putar balik kesana, dengan suara keras ia berkata pula pada Bu-siang.

"Hai Sute, kau saksikan kutempur mereka dan tak usah ikut turun tangan, biar pengemis2 Kay-pang ini berkenalan dengan ilmu kepandaian anak murid Coan-cin-pay kita."

"Ha, kiranya kedua imam cilik ini adalah orang Coan-cin-kau,"

Li Bok-chiu terkesiap mendengar Nyo Ko ngaku sebagai anak murid Coan-cin-kau.

"Tetapi biasanya hubungan Coan-cin-kau dan Kay-pang sangat baik, kenapa sekarang saling labrak ?"

Dalam pada itu kuatir kalau kedua pengemis itu ber-teriak2 menyingkap rahasianya Bu-siang, dengan cepat Nyo Ko lantas merangsang maju.

"Hayo, majulah Iekas, biar aku seorang diri lawan kalian berdua" , segera ia menantang. Mendengar kata2 Nyo Ko semakin temberang, hati Bu-siang menjadi kuatir.

"Si Tolol ini sudah menyamar sebagai Tosu, masa berani mengaku dari Coan-cin-kau,"

Demikian pikir gadis itu.

"la tak tahu bahwa guruku entah sudah berapa puluh kali berkelahi dengan imam2 Coan-cin-kau, ilmu silat Coan-cin-pay mana yang tak dikenalnya? sungguh kelewat berani dia memalsukan nama orang lain."

Di sebelah sana, demi mendengar Nyo Ko mengaku sebagai anak murid "Coan-cin", seketika juga kedua pengemis itu terkejut, berbareng mereka membentak tanya.

"Apa betul2 kau anak murid Coan-cin? Kau dan dia..."

Tak nanti Nyo Ko memberi kesempatan pada mereka untuk menyebut Liok Bu-siang, maka sebelum selesai perkataan orang, secepat kilat pedangnya menusuk, sekaligus ia mengarah perut kedua pengemis itu, dan itu memang betul adalah tipu serangan dari "TIong-yang-kiam-hoat"

Yang tulen.

Sebenarnya dengan kedudukan mereka yang tinggi di kalangan Bu-lim, kedua pengemis itu tidak nanti mau tempur Nyo Ko dengan dua lawan satu, akan tetapi serangan Nyo Ko ini datangnya terlalu cepat dan aneh, mau-tak-mau mereka berdua harus angkat tongkat untuk menangkisnya.

Nyata, tongkat mereka yang tadinya tak menarik perhatian itu, kiranya terbikin dari besi Tetapi baru saja mereka angkat tongkat, tahu2 pedang Nyo Ko sudah menerobos lewat melalui sela2 tongkat mereka dan masih terus menusuk ke dada kedua orang itu.

Sama sekali tak diduga kedua pengemis itu bahwa ilmu pedang orang bisa begitu cepat, terpaksa mereka mundur ke belakang.

Tetapi Nyo Ko sedikitpun tak kenal ampun, ia mendesak terus setiap detik hingga sekejap saja sudah menusuk 18 kali, bahkan tiap2 tusukan sekaligus membagi dua jurusan puIa, yakni mengarah lawan yang berjumlah dua orang.

itu adalah ilmu silat Coan-cin-pay yang paling hebat yang disebut "lt-gi-hoa-sam-jing"

Atau satu menjelma menjadi tiga, bila sudah terlatih sampai tingkat yang paling hebat, maka sekali serangan bisa berubah menjadi tiga tipu gerakan, dengan begitu, seorang sama dengan tiga orang maju berbareng.

Begitulah, maka tiap2 Nyo Ko menusuk, saban2 kedua pengemis itu dipaksa mundur, sekali saja ternyata tak mampu mereka balas menyerang.

Nampak betapa bagus Kiam-hoat imam cilik ini, diam2 Li Bok-chiu terperanjat katanva dalam hati.

"Pantas nama Coan-cin-kau disegani di seluruh jagat, sebab anak muridnya memang semuanya pilihan, kepandaian orang ini kalau sepuluh tahun lagi pasti aku sendiri tak bisa menandinginya, Tampaknya jabatan Ciangkau (ketua) Coan-cin-kau kelak pasti akan jatuh di tangan orang ini."

Jika Li Bok-chiu saja begitu kagum pada kepandaian Nyo Ko, maka jangan ditanya lagi Ang Ling-po dan Liok Bu-siang, mereka berdua Iebih2 terpesona dan ternganga.

Dalam pada itu Nyo Ko sendiri sedang berpikir.

"Jika sedikit aku main kendur, pasti mereka akan buka suara, dan kalau mereka pentang mulut pasti banyak celaka dari pada selamatnya."

Karena itulah sesudah 18 jurus "Tiong-yang-kiam-hoat"

Habis dimainkan, dengan cepat Kiam-hoatnya berubah, tiba2 ia memutar ke belakang kedua lawannya dan kembali pedangnya menusuk lagi sekali-dua-gerakan, terpaksa kedua pengemis itu membalik tubuh dengan cepat untuk menangkis, namun sebelum tongkat mereka menyentuh pedang, tiba2 Nyo Ko sudah melesat pergi, lagi2 ia mengitar ke belakang orang dan kembali menusuk pula, bila kedua orang itu memutar menangkis, segera Nyo Ko menggeser ke belakang mereka lagi.

Kiranya Nyo Ko insaf bila melulu mengandalkan keuletan, jangan kata satu lawan dua, melawan seorang pengemis itu saja tak nanti bisa menandinginya, oleh sebab itu, ia sengaja main putar dengan Ginkang untuk mengitari kedua lawannya.

Cara Nyo Ko memutar dan menggeser ini, bagi tiap2 anak murid Coan-cin-kau yang sudah cukup matang memang diwajibkan melatih Ginkang semacam ini untuk kelak digunakan dalam barisan bintang2

"Thian-keng-pak-tau-tin" . Hanya saja sekarang Nyo Ko kombinasikan cara bernapasnya dengan inti pelajaran "Giok-li sim-keng"

Yang dilatihnya.

Harus diketahui bahwa Ginkang atau ilmu entengkan badan dari Ko-bong-pay adalah ilmu yang tiada bandingannya, oleh sebab itulah kecepatan Nyo Ko memutar dan berganti tempat se-kali2 tak bisa diikuti oleh kedua jago Kay-pang itu, yang kelihatan hanya bayangan Nyo Ko yang berlari secepat kilat dengan sinar mengkilap menyamber Karena tusukan pedangnya yang silih bergilir.

Dalam keadaan demikian, bila Nyo Ko sungguh2 hendak celakai jiwa kedua pengemis itu, sekalipun berjumlah dua puluh orang juga gampang saja dibunuhnya semua.

Tentu saja kedua orang itu kewalahan, sembari ikut memutar cepat, mereka berusaha ayun tongkat untuk melindungi tempat2 bahaya di tubuh sendiri, kini mereka sudah tak pikirkan buat tangkis serangan orang lagi, mereka hanya berusaha melindungi diri sendiri sepenuh tenaga dan terserah nasib.

Dengan begitu, setelah ratusan kali berputar cepat, akhirnya kedua pengemis itu kepalanya menjadi puyeng dan mata ber-kunang2, tindakan merekapun mulai sempoyongan, tampaknya sudah akan jatuh semaput.

"Hai, kawan dari Kay-pang,"

Tiba2 Li Bok-chiu berseru dengan tertawa.

Nih, kuajarkan satu akal, kalian punggung berdempetan punggung, dengan begitu tak perlu lagi ikut putar2.

Karena peringatan ini, kedua pengemis itu sangat girang, dengan segera mereka akan turut akal itu.

"Celaka, jika mereka berbuat begitu, tentu aku akan kalah,"

Pikir Nyo Ko.

Maka sebelum kedua lawannya berganti tempat, mendadak ia ganti siasatnya, ia tidak geser lagi, melainkan pedangnya sekali serang-dua-gerakan, ia tusuk punggung kedua orang.

Merasa angin santar menyamber dari belakang, tak sempat kedua pengemis itu menangkis, terpaksa mereka melompat maju, tak terduga, baru saja kakinya menginjak tanah, kembali tusukan orang sudah tiba pula, keruan saja tidak kepalang kaget kedua pengemis itu, tanpa pikir lagi mereka angkat kaki terus lari ke depan seperti diudak setan.

Siapa duga ujung pedang Nyo Ko bagaikan bayangan saja yang selalu melengket dengan tubuh mereka, tidak peduli mereka berlari betapa cepatnya, senantiasa Nyo Ko geraki pedangnya di belakang mereka, bila sedikit lambat saja mereka melangkah, segera daging di punggung mereka terasa sakit-tertusuk ujung senjata.

Merekapun tahu kini bahwa tiada maksud Nyo Ko buat membunuh, kalau tidak, asal tangan pemuda ini sedikit diulur lebih panjang saja, pasti punggung mereka akan tertembus oleh ujung pedang walaupun begitu, sedikitpun mereka tak berani berhenti dan masih berlari kesetanan.

Ketiga orang yang udak2an ini memiliki ilmu entengkan badan yang sangat tinggi, maka sekejap saja mereka sudah berlari beberapa li, hingga Li Bok-chiu ditinggalkan jauh di belakang.

Ketika itulah mendadak Nyo Ko tambah "gas"

Sedikit, tahu2 ia sudah mendahului di depan kedua pengemis itu.

"Eeeeeh, kenapa buru2, pe!ahan2 sedikit, jangan jatuh kesandung !"

Demikian dengan menyengir ia hadang di depan orang.

Tanpa berjanji kedua pengemis itu mengemplang berbareng dengan tongkat mereka, namun sekali meraup, dengan tangan kiri Nyo Ko dapat menangkap sebuah tongkat orang, berbareng itu pedang di tangan kanan ia tempelkan tongkat yang satu dari didorong sedikit ke kiri hingga dengan tepat dua tongkat sekaligus kena dicekal pula olehnya.

Tahu gelagat jelek, lekas2 kedua pengemis itu berusaha membetot sekuatnya, Tapi Nyo Ko cukup cerdik, ia tahu keuletannya masih belum memadat kedua pengemis itu, tentu saja ia tak mau betot2an dengan orang, dengan pedang sekonyong-konyong ia membabat mengikuti batang tongkat yang lempeng itu, dalam keadaan demikian, jika kedua pengemis itu tidak lepas tangan, delapan jari mereka pasti akan tertabas kutung.

Karena itu, terpaksa mereka lepaskan senjata dan melompat ke belakang, habis ini dengan mata melotot mereka pandang Nyo Ko dengan gusar, sikap merekapun kikuk dan serba salah, hendak tempur orang tak ungkulan, kalau lari rasanya merendahkan derajat.

Dalam pada itu terdengar Nyo Ko berkata pada mereka.

"Kami dengan perkumpulan kalian biasanya bersahabat hendaklah kalian jangan percaya omongan yang sengaja mengadu-domba. Siapa yang utang harus bayar, bukankah Jik-lian-sian-cu Li Bok-chtu dari Ko-bong-pay itu berada di sana, kalian berdua kenapa tidak mencari padanya saja ?"

Kedua pengemis itu tak kenal Li Bok-chiu, tetapi cukup tahu betapa lihay iblis perempuan itu, karena itu, mereka terkesiap demi mendengar penuturan Nyo Ko.

"Apa betul katamu ?"

Sahut mereka bersama.

"Buat apa aku berdusta,"

Kata Nyo Ko.

"Justru Siauto sendiri kepepet oleh desakan iblis itu, maka tadi telah bergebrak dengan kalian berdua,"

Berkata sampai disini, dengan laku sangat hormat dikembalikannya tongkat2 rampasannya tadi dan disambungnya pula.

"Jik-lian-sian-uu itu selalu membawa benda2 pertandaannya yang terkenal di seluruh jagat, masakah kalian tidak mengenalnya ?"

"Aha, tak salah lagi,"

Kata salah satu pengemis itu.

"la membawa kebut keledai belangnya pakai kelenengan emas, bukankah dia itu yang memakai baju kuning tadi ?"

"Betul-betul,"

Sahut Nyo Ko tertawa.

"Dan nona yang melukai anak murid perkumpulan kalian dengan golok melengkung itu, bukan lain adalah muridnya Li Bok-chiu..."

Sampai disitu mendadak ia berhenti dan pura2 memikir sejenak lalu dilanjutkannya .

"Cuma saja, jangan2... ah, sulit, sulit..."

"Jangan2 apa ?"

Tanya si pengemis yang berwatak aseran.

"Ah, sulit, sulit,"

Kata Nyo Ko lagi.

"Sulit apa ?"

Kembali pengemis itu mendesak.

"Coba pikir saja, Li Bok-chiu itu malang melintang di jagat ini dan siapa di kalangan Kangouw yang tidak pecah nyalinya bila mendengar namanya,"

Demikian sahut Nyo Ko.

"Sungguhpun golonganmu sangat lihay, tapi terang tiada satupun yang bisa menandinginya. Sebab yang melukai kawanmu itu adalah muridnya, maka baiknya kalian anggap sial saja."

Karena, kata2 yang bersifat memancing pengemis itu dibikin murka hingga ber-teriak2.

"Hm, peduli dia setan iblis, hari ini pasti kami tempur dia,"

Demikian teriaknya sambil tarik tongkatnya terus hendak lari kembali ke tempat tadi.

Syukur pengemis yang satu bisa berlaku tenang, ia pikir, melawan seorang bocah ini saja kami berdua tak ungkulan, apalagi hendak perang tanding dengan Jik-lian-sian-cu, apa itu bukan berarti menghantarkan jiwa belaka ?

Karena itu, segera ia tarik tangan kawannya dan mencegah.

"Tak perlu buru2 marilah kita kembali dulu buat berunding lebih jauh." -Habis ini ia rangkap tangan memberi hormat pada Nyo Ko sambil tanya .

"Dapatkah mengetahui nama Toyu (sahabat dalam agama) yang terhormat?"

"Siauto she Sat dan bernama Hua-cu,"

Sahut Nyo Ko.

"Sampai ketemu lagi."

Habis berkata, iapun mohon diri dan balik ke jurusan tadi.

Sat Hua-cu, Sat Hua-cu ?

Aneh sekali nama ini, kenapa tak pernah kudengar, dengan usianya yang masih begitu muda, ilmu silatnya ternyata sudah sangat hebat.

Begitulah kedua pengemis itu menggumam mengulangi nama palsu Nyo Ko yang mengherankan Tetapi sesaat kemudian, mendadak satu diantaranya berjingkrak sambil mencaci maki.

"Ku-rangajar, jahanam, keparat!."

"Ada apakah ?"

Tanya kawannya.

"Bukankah dia mengaku bernama Sat Hua-cu ? itu artinya Sat-hua-cu (menyembelih pengemis)! Kurangajar, kita dicucimaki olehnya tanpa merasa !"

Karena itu, ke-dua2nya lantas mengumpat Nyo Ko, namun demikian merekapun tak berani mencari orang lagi buat bikin perhitungan.

Di lain pihak Nyo Ko sedang tertawa geli sendiri.

Kuatir keselamatan Bu-siang terjadi sesuatu, lekas2 ia kembali ke tempat tadi, di sana ia lihat Bu-siang sedang longak-longok ke arahnya di atas keledainya, tampaknya si gadis kuatir luar biasa.

Tetapi demi melihat Nyo Ko sudah kembali, mukanya berubah girang, lekas2 ia keprak keledainya memapaki.

"Tolol, bagus ya kau, aku ditinggalkan sendirian,"

Dengan suara tertahan ia mengomeli Nyo Ko.

Tetapi pemuda ini tak menjawabnya melainkan tersenyum saja, lalu pedang yang dia pinjam dari Ang Ling-po tadi disodorkan kembali kepada pemiliknya sambil memberi hormat dan menyatakan terima kasih.

Setelah senjata itu diterima kembali Ang Ling-po, selagi Nyo Ko hendak putar tubuh, se-konyong2 Li Bok-chiu berkata .

"Nanti dulu!"

Kiranya karena melihat ilmu silat Nyo Ko sangat bagus, ia pikir kalau orang ini dibiarkan hidup, kelak pasti akan bikin susah dirinya saja, ada baiknya mumpung ilmu-silatnya masih belum memadai dirinya, sekarang juga dibunuh kan beres urusannya, ?

Tetapi betapa cerdiknya Nyo Ko, begitu mendengar orang berkata "nanti du!u" , segera diketahuinya keadaan bakal runyam, lekas2 pedang yang dia serahkan di tangan Ang Ling-po itu dilepaskan.

Sebenarnya Li Bok-chiu hendak pancing orang agar bergebrak padanya, dengan begitu sekali ke-but akan dibunuhnya Nyo Ko, tetapi kini Nyo Ko sudah tak bersenjata, dengan kedudukan Li Bok-chiu, tidak nanti ia sudi mencelakai orang dengan senjatanya.

"Kau ini murid siapa di antara Coan-cin-chit-cu itu?"

Tanyanya kemudian sembari tancapkan ke-butnya ke baju Iehernya.

"Aku adalah murid Ong Tiong-yang cinjin,"

Sahut Nyo Ko tertawa.

Seperti diketahui sebenarnya Nyo Ko adalah murid Tio Ci-keng dan cucu murid Coan-cin Ghit-cu, tetapi terhadap imam2 Coan-cin-kau itu ia sudah mendapat kesan jelek, dalam hati sedikitpun imam2 itu tak dihormatinya lagi, walaupun Khu Ju-ki tidak jelek terhadap dirinya, namun waktu berkumpulnya dengan imam tua itu terlalu singkat, maka sedikit kebaikan itu sudah habis ludes tertutup oleh kesan2 jelek yang dia dapat dari Tio Ci-keng dan Hek Tay-thong, sebab itulah ia, tak sudi mengaku sebagai muridnya Ci-keng.

Tetapi sewaktu berdiam di dalam kuburan kuno, ia telah melatih inti ilmu "Kiu-im-cin-keng"

Yang diukir Ong Tiong-yang dahulu, maka bila dia mengatakan anak murid-cakal bakal Coan-cin-kau itu, sebenarnya juga tidak berlebihan.

Sebenarnya kalau menurut umur Nyo Ko, pa-ling banyak hanya sesuai menjadi murid tingkatannya Tio Ci-keng dan In Ci-peng, tapi melihat ilmu silatnya tidak lemah, maka Li Bok-chiu telah tanya dia murid siapa diantara Coan-cin Chit-cu, yaitu tujuh imam utama murid Ong Tiong-yang, dengan pertanyaan ini sebetulnya sudah meninggikan diri Nyo Ko, kalau pemuda ini menjawab salah satu nama umpamanya Khu Ju-ki atau Ong Ju-it, pasti Li Bok-chiu dapat mempercainya.

Siapa tahu hati muda Nyo Ko masih belum hilang, ia tak sudi lebih rendah tingkatannya daripada Hek Tay-thong yang telah membunuh Sun-popoh yang dicintainya itu, maka nama Ong Tiong-yang sengaja ditonjolkan olehnya.

Padahal Ong Tiong-yang adalah cakal bakal Coan-cin-kau, semua orang Bu-lim tahu kalau dia hanya mempunyai tujuh orang murid yaitu seperti apa yang disebut "Coan-cin Chit-cu"

Itu, sewaktu Nyo Ko lahir malahan Tiong-yang cinjin sudah lama meninggal dunia.

Begitulah, maka Li Bok-chiu menjadi sangsi "Hm, kau imam cilik ini sungguh tak kenal tebalnya bumi dan tingginya langit, rupanya kau tak kenal aku ini siapa, maka berani main gila dengan aku,"

Demikian ia pikir, Tetapi lantas teringat lagi olehnya.

"Namun imam2 Coan-cin-kau se-kaIi2 tak nanti berani main gila dengan nama Cosuya mereka. Kalau dia ini bukan anak murid Coan-cin, mengapa tipu2 ilmu silatnya tadi jelas adalah keluaran Coan-cin-pay ?"

Melihat orang mengkerut kening sedang ber-pikir, Nyo Ko kuatir nanti dikenali Ang Ling-po yang dahulu pernah dikibulinya dengan menyamar sebagai anak gembala, maka tak berani ia tinggal lama2, ia pikir paling perlu kabut dulu, Maka dengan cepat ia cemplak ke atas keledainya tetus hendak dilarikan "Turun dulu, ada yang hendak kutanyakan padamu"

Demikian kata Li Bok-chiu.

"Tak perlu kau bicara juga, aku sudah tahu apa yg hendak kau tanyakan,"

Sahut Nyo Ko tiba2.

"Bukankah kau hendak tanya apa aku melihat seorang gadis pincang atau tidak? Dan tahu tidak kitab yang dibawanya itu, bukan?"

Li Bok-chiu terkejut mengapa orang tahu akal maksud hatinya, Namun dengan adem saja ia menyahut.

"Ya, kau sungguh pintar. Kemanakah kitab itu dibawanya ?"

"Tadi waktu aku dan Suteku ini beristirahat di tepi jalan, kami melihat gadis pincang itu saling gebrak dengan tiga pengemis,"

Sahut Nyo Ko dengan karangannya.

"Satu diantara pengemis itu terkena timpukan goloknya yang melengkung, walaupun demikian, karena masih ada dua pengemis yang lain, maka gadis itu tak ungkulan, akhirnya ia tertawan"

Biasanya Li Bok-chiu selalu berlaku tenang, tetapi kini mendengar Liok Bu-siang tertawan pengemis2 dari Kay-pang, sedang pada gadis itu membekal "Ngo-tok-pit-toan"

Yang tentu akan terjatuh di tangan mereka juga, ingat akan hal ini mau-tak-mau mukanya mengunjuk rasa kuatir juga.

Melihat obrolannya berhasil, keruan Nyo Ko sengaja obral ceritanya yang ditambah dan di bumbu2i pula, ia bilang.

"Dan sesudah tertawan, seorang pengemis telah geledah keluar satu kitab dari badan gadis pincang itu, tapi karena nona itu tak mau menyerahkannya, maka pengemis itu telah persen dia dengan sekali tamparan."

Mendengar dirinya dibuat buIan2an mengobrol tidak kepalang mendongkolnya Bu-siang, lebih2 Nyo Ko bilang dirinya ditempeleng oleh pengemis, maka dengan gemas ia mendeliki Nyo Ko, sedang dalam hati ia berkata.

"Bagus, kau tolol ini, berani kau fitnah diriku, lihat saja kelak kalau aku tidak hajar kau?"

Di lain pihak si Nyo Ko ternyata sangat jahil, ia tahu betul2 hati si gadis waktu itu pasti sangat ketakutan karena berhadapan dengan gurunya yang kejam, tapi ia justru sengaja menanya padanya.

"Betul tidak, Sute? Bukankah itu sangat menggemaskan orang ? Bukankah nona itu telah dipegang sini dan diraba sana oleh beberapa pengemis itu, betul tidak?"

Bukan buatan dongkolnya Bu-siang, tapi ia tak berani membantah, terpaksa ia mengiakan sambil kepala menunduk.

Tengah berbicara, tiba2 terdengar suara derapan kuda yang ramai, menyusul muncul sepasukan tentara dari balik bukit sana dengan persenjataan lengkap dan berbaris sangat rapi, kiranya adalah pasukan tentara Mongol.

Tatkala itu negeri Kim dari Manchu sudah dibasmi oleh bangsa Mongol, maka daerah utara sungai seluruhnya berada dibawah pemerintahan Mongol.

Sudah tentu Li Bok-chiu tidak pandang sebelah mata pada pasukan tentara itu, tetapi karena tujuannya ingin lekas mendapatkan jejaknya Bu siang, maka ia tak ingin banyak cecok lagi dengan pihak lain, ia menyingkir ke tepi jalan untuk menghindari pasukan tentara itu.

Sejenak kemudian, di bawah derapan kuda yang riuh dan mengepulnya debu yang tinggi, ratusan serdadu yang mengiringi seorang pembesar Mongol telah dapat lewat disamping mereka.

pembesar itu berdandan sebagai pembesar sipil, tetapi kepandaiannya menunggang kuda ternyata sangat bagus, meski wajahnya tak kelihatan jelas, namun sikapnya di waktu melarikan kudanya ternyata sangat gagah dan perkasa.

Menunggu setelah pasukan itu lewat, kemudian Li Bok-chiu angkat kebutnya buat membersihkan debu yang mengotori bajunya.

Tiap-tiap kali kebutnya mengebas, tiap-tiap kali juga jantung Bu-siang memukul keras, Ya harus diketahui, bila kebut itu bukan dibuat membersihkan debu melainkan jatuh diatas kepala orang, maka tak perlu disangsikan lagi kepala sasarannya itu seketika pasti pecah berantakan.

"Lalu bagaimana?"

Li Bok-chiu tanya lagi.

"Lalu pergilah pengemis2 itu menuju ke utara dengan membawa nona itu,"

Sahut Nyo Ko menuding ke utara.

"Aku dengar, katanya mereka pergi ke Ciong-koan."

"Em, bagus, terima kasih,"

Li Bok-chiu memanggil dan tersenyum.

"Aku she Li bernama Bok-chiu, orang Kangouw menyebut aku Jik-lian-sian-cu, tetapi ada juga yang panggil aku Jik-lian-mo-tau (iblis ular belang rantai), pernah tidak kau mendengar namaku ?"

"Tak pernah."

Sahut Nyo Ko menggeleng kepala.

"Nona, kau begini cantik pantasnya kau disebut Sian-cu (dewi), mana boleh dipanggil Mo-tau (iblis)?"

Memang dengan paras Li Bok-chiu yang cantik, meski umurnya sudah lebih setengah abad, tapi karena lwekangnya sudah terlatih tinggi, maka kulitnya yang putih halus tanpa keriput sedikitpun kalau dipandang laksana wanita berumur 30 tahun saja.

Selama hidup Li Bok-chiu memang sangat bangga atas kecantikannya, kini mendengar Nyo Ko memujinya, dengan sendirinya ia sangat senang.

"Kau berani main gila dengan aku, sebenarnya kau harus diberi rasa sedikit,"

Katanya kemudian sambil goyangi kebutnya.

"Tetapi mengingat kau pintar bicara, biarlah aku melulu gunakan kebut ini untuk hajar kau,"

"Ah, jangan, jangan, mana bisa tanpa sebab Siauto bergebrak dengan kaum Siaupwe (tingkatan muda),"

Sahut Nyo Ko geleng kepala.

"Hm, ajalmu sudah di depan mata, masih berani kau main gila. Cara bagaimana kau anggap aku ini kaum Siaupwe?"

Damperat Bok-chiu.

"Guruku Tiong-yang cinjin setingkat dengan nenek gurumu Lim-popoh, bukankah aku setingkat lebih tinggi dari kau?"

Kata Nyo Ko. Gusar sekali Li Bok-chiu oleh jawaban itu, tetapi ia tetap tersenyum saja dan berpaling kepada Ang Ling-po.

"Pinjamkan lagi pedangmu padanya."

"Eh, tak boleh jadi, tak.... boleh jadi..."

Ia berteriak sambil goyangl tangannya, akan tetapi di sebelah sana Ang Ling-po sudah cabut pedang-nya, maka terdengarlah suara "kraak" , yang terpegang di tangannya melulu garan pedang saja, sedang mata pedangnya masih ketinggalan di dalam sarungnya.

Sesaat Ang Ling-po tercengang, tetapi segera ia mendusin bahwa itu adalah perbuatan Nyo Ko tadi yang secara diam2 telah bikin patah garan pedang sewaktu mengembalikan padanya, kini mendadak dicabut, dengan sendirinya lantas terpisah menjadi dua.

Keruan saja berubah hebat air muka Li Bok-chiu.

"Nah, memangnya aku tak bisa bergebrak dengan kaum Siaupwe, tapi kau memaksa hendaki saling gebrak dengan aku,"

Ujar Nyo Ko.

"Baiklah begini saja, dengan tangan kosong aku sambut tiga kali serangan kebutmu, Kita berjanji yang terang, hanya tiga gebrakan saja, selewatnya tiga gebrakan, asal kau sanggup bertahan, aku lantai lepaskan kau pergi. Tetapi sehabis itu, kaupun tak boleh recoki aku terus."

Kiranya dalam hati Nyo Ko tahu dalam keadaan demikian tak bisa tidak harus saling gebrak tetapi bila bergebrak sungguh2, dirinya masih bukan tandingan Li Bok-chiu, maka sengaja ia berlagak orang tua, pura2 sebagai kaum Locianpwe ditambah pula kata2 yang tajam, asal Li Bok-chj berjanji hanya bergebrak tiga jurus saja dan tidak lebih.

------------------------Keterangan gambar.

Dengan menjungkir dan berputar Nyo Ko patahkan serangan "Sam-bu-put-jiu"

Li Bok-chiu dengan kebutnya, malah kakinya sempat balas menendang dan jari menutuk Wi-tiong-kiat, ------------------------Li Bok-chiu bukan orang bodoh, dengan sendirinya iapun tahu maksud tujuan orang, cuma ia pikir masakah bocah ini sanggup terima tiga kali seranganku ?

Sebab itulah iapun tidak banyak bicara, segera ia buka serangan sambil berseru.

"Bagus, Locianpwe, berikanlah petunjuk pada Siau-pwe."

"Ah, tak berani..."

Sambut Nyo Ko.

Maka berkelebatlah bayangan orang, sekitarnya penuh dengan bayangan kebut, Li Bok-chiu telah serang dengan tipu "bu-khong-put-jin" (tiada lubang yang tak dimasuki) yang mengarah setiap tempat maut di tubuh Iawan, meski hanya sekali gerakan, sebenarnya luar biasa perubahannya dan berbareng mengincar 36 Hiat-to di tubuh Nyo Ko.

Li Bok-chiu melihat Nyo Ko melawan anggota Kay-pang kantong delapan tadi dengan Kiam-hoat yang sangat bagus, tampaknya memang bukan lawan lemah, dalam tiga gebrakan hendak merobohkan dia, agaknya tidak gampang juga oleh sebab itu, sekali serang segera digunakannya tipu yang paling dibanggakan selama hidupnya, yakni yang disebut "Sam-bu-put-jiu"

Atau serangan tiga serangkai "aksara tidak"

Kaget sekali Nyo Ko oleh serangan yang sangat aneh itu, begitu hebat tipu serangan itu hingga boleh dikatakan tak tertahankan lagi kalau berkelit ke kiri, pasti Hiat-to di kanan akan tersabet dan begitu pula sebaliknya, dalam kepepetnya itu mendadak, ia berjumpalitan dan menjungkir.

Dengan cepat dikeluarkannya ilmu mujija ajaran Auwyang Hong dahulu itu, ia menjalankan darahnya secara terbalik dan tutup rapat semua Hiat-to di tubuhnya, walaupun segera terasa ke-36 Hiat-to rada kesemutan berbareng, namun segera pula tidak berhalangan, Bahkan tubuhnya yang memutar cepat itu tiba2 balas menendang sekali.

Heran sekali Li Bok-chiu, dengan jelas ia sudah berhasil tutuk Hiat-to orang, siapa duga masih bisa Nyo Ko balas menyerang, Karena itu, menyusul tipu serangan kedua dilontarkan lagi, tipu ini disebut "Bu-so-put-ci" (tiada sesuatu yang tak didatangi), yang diarah adalah 72 tempat Hiat-to di seluruh badan lawan.

Akan tetapi mendadak Nyo Ko malah mengukir tangan kirinya, dengan jarinya segera ia jojoh "wi-tiong-hiat"

Di lutut kanan Li Bok-chiu.

Keruan Li Bok-chiu bertambah heran, lekas2 a berkelit, menyusul segera serangan ke tiga "Bu-so-put-wi" (tiada sesuatu yang tak diperbuatnya).

Serangan ini tidak lagi menutuk Hiat-to, melainkan mengincar mata, tenggorokan perut dan bagian belakangan yang lemah, oleh sebab itu disebut tipu Bu-so-put-wi Atau "tiada sesuatu yang tak di-perbuatnya", yang berarti mendekati cara2 yang rendah dan kotor.

Cuma diwaktu Li Bok-chiu lontarkan serangan itu, ia lupa bahwa di dunia ini ternyata ada orang yang berkelahi secara menjungkir seperti Nyo Ko ini, maka serangannya yang dilontarkan secara ter-gesa2 itu bagian mata yang diarah lantas mengenai telapak kaki Nyo Ko, tenggorokan yang diserang berbalik kena betis, begitu pula perut, yang kena pahanya, selangkangan yang diserang, yang kena dadanya, maka sedikitpun tidak membawa hasil yang diharapkan.

Sungguh tidak kepalang kejut Li Bok-chiu sekali ini, selama hidupnya entah berapa banyak pertempuran besar yang pernah dia hadapi, malahan orang yang ilmu silatnya lebih tinggipun pernah dilawannya, segala tindak-tanduknya selalu diperhitungkannya dengan teliti sebelumnya, tapi kini sama sekali tak terpikir olehnya, seorang imam cilik ternyata memiliki ilmu silat yang sukar dijajaki.

Karena sedikit tertegunnya itu, mendadak Nyo Ko mengap mulutnya, tahu2 buntut kebutnya kena dicokot kencang, lalu pemuda itupun membalik, berdiri kembali.

Bahkan sedikit Nyo Ko menarik, tiba2 tangan Li Bok-chiu terguncang hingga kebutnya kena dirampas olehnya.

Hendaklah diketahui bahwa tenaga mana saja dari anggota badan manusia tiada yang bisa lebih kuat daripada gigi, dengan gigi orang biasa sanggup kertak pecah sesuatu benda yang keras sebaliknya betapa kuat tangan seseorang tak bisa membikin remuk dengan remasan tangannya, Oleh sebab itulah, meski tenaga dalam Nyo Ko masih jauh di bawah Li Bok-chiu, namun dengan giginya yang menggigit ujung kebut, senjata kebanggaan Li Bok-chiu ini ternyata kena direbutnya.

Kejadian yang sama sekali tak terduga ini membikin Ang Ling-po dan Liok Bu-siang sama menjerit kaget.

Sebaliknya meski Li Bok-chiu terkejut juga namun sedikitpun ia tak gentar, ketika telapak tangannya ia gosok, dengan Jik-Iian-sin-cianJ atau pukulan sakti ular belang, segera ia memburu maju buat merebut kembali kebutnya.

Tetapi baru saja pukulannya hendak dilontarkan mendadak ia berteriak.

"He, kiranya kau! Di-manakah gurumu?"

Kiranya muka Nyo Ko yang tadinya terpoles dengan debu arang, setelah dia berjungkir dan berputar tanpa sengaja debu arang mukanya itu tergesut hilang sebagian hingga wajah aslinya dapat dikenali orang.

"He, dia adalah Sumoay, Suhu!"

Mendadak Ang Ling-po berteriak juga, sebab waktu itupun Liok Bu-siang dapat dikenaIinya.

Namun Nyo Ko bertindak cepat sekali, kakinya sedikit mengenjot, keledai Li Bok-chiu diceng-klaknya dan terus dilarikan, bahkan sekalian tangan kirinya menjentik, sebuah "Giok-hong-ciam"

Jarum tawon putih) telah ditimpukkan dan dengan jitu masuk di kepala keledainya Ang Ling-po.

Dalam murkanya, tanpa pikir lagi Li Bok-chiu lantas menguber, sekuat tenaga ia melayang ke depan dan tubruk si Nyo Ko dari belakang.

Lekas2 Nyo Ko meloncat dan tinggalkan binatang tunggangan itu, garan kebut rampasannya tadi dia gunakan untuk ketok kepala keledai itu hingga pecah dan otak berhamburan.

"Hayo, lekas, bini cilik, lekas lari ikut lakimu !"

Nyo Ko ber-teriak2 pula sambil turunkan tubuhnya di atas keledainya, lalu kebut rampasannya digunakan menyabet serabutan ke belakang untuk menahan uberan Li Bok-chiu.

Di sebelah sana, tanpa menunggu perintah lagi, Liok Bu-siang telah keprak keledainya dilarikan secepatnya.

Sebenarnya dengan Ginkang Li Bok-chiu, dalam satu-dua li saja dia pasti dapat menyusul binatang tunggangan orang, cuma tadi ia sudah merasakan tipu serangan aneh dari Nyo Ko hingga hatinya rada jeri maka tak berani ia terlalu mendesak melainkan dengan "Kim-na-jm-hoat"

Ia rebut kembali kebutnya saja.

Di pihak lain, keledai Ang Ling-po yang kepalanya tertimpuk jarum tawon putih yang sangat lembut itu, mendadak binatang ini berjingkrak terus menyeruduk ke arah Li Bok-chiu, bahkan pentang mulut hendak menggigit.

"Hai, Ling-po, ada apakah?"

Bentak Li Bok-chiu.

"Binatang ini menjadi gila,"

Sahut Ling-po sambil tarik tali kendali sekuat tenaga hingga seluruh mulut keledai itu penuh darah. Sejenak kemudian se-konyong2 keledai itu menjadi lemas, terguling mati.

"Kita kejar saja, Suhu!"

Seru Ang Ling-po melompat bangun.

Tetapi waktu itu Nyo Ko dan Bu-siang sudah berlari pergi hampir satu li jauhnya, hendak mengejar pun tak bisa menyandak lagi.

Sesudah melarikan keledai mereka se-keras2-nya, kemudian Nyo Ko dan Bu-siang berpaling, namun tak tertampak bayangan Li Bok-chiu yang mengejar.

"ToIol, dadaku sangat sakit, tak tahan lagi aku,"

Seru Bu-siang..Nyo Ko tidak menjawab, ia melompat turun dan mendekam ke tanah untuk mendengarkan tetapi tiada suara derapan kuda yang didengarnya.

"Tak perlu takut lagi, kita lanjutkan lengan pe-lahan2 saja,"

Ujarnya.

Habis itu, mereka melanjutkan perjalanan dengan berendeng.

Tetapi hanya sebentar saja, karena kuatir disusul Li Bok-chiu, kembali mereka keprak keledai dan dilarikan pula, Begitulah, sebentar cepat dan lain saat alon2 hingga haripun sudah magrib.

"Bini cilik, jika kau ingin selamat, hendaklah kau tahan sakit dan lari terus semalaman ini,"

Kata Nyo Ko.

"Ngaco-belo! Awas, kalau aku tidak iris lidah-mu?"

Damperat Bu-siang karena terus-menerus Nyo Ko sebut "bini"

Padanya, Nyo Ko me-lelet2 lidah, tetapi ia berkata lagi.

"Hanya sayang binatang2 ini sudah terlalu letih, kalau semalam berlari terus mungkin akan mampus di tengah jalan."

Dalam pada itu haripun mulai gelap, mendadak terdengar di depan sana ada suara meringkiknya kuda.

"Haha, itu dia, marilah kita tukar kuda ke sana!"

Seru Nyo Ko girang.

Segera mereka kencangkan lari keledai lagi lewat beberapa li, tertampaklah di depan sana ada sebuah perkampungan dan di bagian luar tertambat ratusan ekor kuda.

Kiranya pasulcan berkuda Mongol yang dilihat mereka siang tadi berhenti di sini.

"Kau tunggu di sini, biar aku masuk ke kampung sana menyelidiki keadaan dulu,"

Kata Nyo Ko Lalu ia turun dari keledainya dan masuk sendiri ke perkampungan itu, Pada jendela sebuah gedung besar dilihatnya ada sinar lampu, dengan cepat Nyo Ko menyelinap ke sana, ia mengintip melalui jendela itu, ia lihat seorang pembesar MongoI sedang berduduk di dalam dengan mungkur.

Tiba2 tergerak pikiran Nyo Ko.

"He, daripada tukar kuda, tidakkah lebih baik tukar orang saja,"

Demikian pikirnya.

Tidak antara lama, ia lihat pembesar Mongol itu berdiri, lalu berjalan mondar-mandir di dalam kamar.

Umur pembesar ini ternyata masih sangat muda, hanya likuran saja, tetapi sikap dan tidak tanduknya ternyata sangat kereng, tampaknya pangkatnya tidak rendah.

Nyo Ko menunggu pada waktu pembesar itu mungkur lagi, dengan pelahan ia dorong daun jendela, lalu melompatlah dia ke dalam terus ulur jari buat tutuk punggung orang.

Siapa duga, begitu mendengar ada suara angin menyamber dari belakang, secepat kilat pembesar itu melangkah maju, dengan sendirinya tutukan Nyo Ko menjadi luput, kesempatan itu telah dipergunakan pembesar itu untuk mengayun tangan kirinya buat menangkis, menyusul mana iapun putar tubuh dan sepuluh jari tangannya laksana kaitan-lantas mencakar ke muka Nyo Ko, ternyata yang dipakai adalah tipu serangan yang lihay dari "Tay lik-eng-jiau-kang"

Atau ilmu cakar elang bertenaga raksasa.

Rada terkejut juga Nyo Ko, sungguh tak nyana bahwa seorang pembesar Mongol ternyata memiliki ilmu silat begitu tinggi Karena itu, sedikit mengegos iapun berkelit menghindarkan cakaran tadi.

BeruIang kali pembesar Mongol itu mencengkeram lagi, tetapi selalu dapat dielakkan Nyo Ko.

Biasanya pembesar Mongol itu sangat bangga atas ilmu silatnya yang hebat karena sejak kecil mendapat pelajaran guru pandai dari golongan Eng-jiau-bun.

Siapa duga, begitu bergebrak dengan Nyo Ko, sama sekali ia tak bisa berbuat apa2.

Sementara itu Nyo Ko melihat lawan mencakarnya lagi secara tak kenal ampun, cepat ia melompat ke atas, dengan kedua tangannya ia tahan atas pundak orang sambil menggertak "Duduk saja!"

Tiba2 pembesar itu merasakan kekuatan yang maha besar menekan dari atas, ia tak bisa tahan lagi, kedua lututnya terasa lemas hingga akhirnya, ia duduk terkulai di lantai, dadanya terasakan sumpek, darah serasa akan menyembur keluar.

Tetapi kemudian Nyo Ko remas2 dua kali di bawah bahunya, tiba2 pembesar itu merasa dadanya lapang kembali dan bisa bernapas lancar, tanpa ayal lagi segera ia melompat bangun, dengan tercengang ia memandangi Nyo Ko.

"Siapakah kau? Ada keperluan apa kedatanganmu ini?"

Tanyanya kemudian ternyata bahasa Han yang diucapkannya bagus dan lancar sekali, tiada ubahnya seperti bangsa Han asli.

"Kau bernama siapa? jabatan apa yang kau pangku?"

Berbalik Nyo Ko menanya dengan tertawa.

Pembesar itu melotot dengan gusar, segera hendak dilabrak pula si Nyo Ko.

Tetapi Nyo Ko tak gubris padanya, ia malahan mendahului ambil tempat duduk pada kursi yang tadinya dipakai pembesar itu.

Ketika pembesar itu menyerang beberapa kali, namun selalu dipatahkan oleh Nyo Ko tanpa banyak buang te-naga.

"Hai, pundakmu sudah terluka, baiknya kau jangan banyak keluarkan tenaga,"

Kata Nyo Ko tiba2.

"Ha, apa? Terluka?"

Tanya pembesar itu kaget.

Ketika pundak kiri diraba, ia merasa ada satu tempat yang rada jarem sakit, lekas2 ia raba sebelah yang lain, sama saja terasa sakit pegal, kalau tak disentuh sedikitpun tidak terasa, tetapi bila ditekan dengan jari, segera terasa ada sesuatu yang sangat lembut yang menusuk sampai ke tulang sungsum.

Kaget sekali pembesar itu, dengan cepat ia robek bajunya, waktu ia melirik, ia lihat di atas pundak kirinya terdapat titik merah yang kecil sekali, begitu pula sebelah pundak yang lain.

Segera iapun sadar bahwa ketika Nyo Ko menahan pundaknya tadi, diam2 pada tangannya tergenggam senjata rahasia hingga dirinya telah dikibuli.

"Am-gi apa yang kau pakai? Berbisa atau tidak ?"

Cepat ia membentak dengan gusar tercampur kuatir. Tetapi Nyo Ko tersenyum saja.

"Kau belajar silat, kenapa sedikit pengetahuan umum itu saja tak mengerti,"

Sahutnya kemudian "Kalau Am-gi besar tak beracun, maka Am-gi kecil dengan sendirinya berbisa."

Dalam hati pembesar itu sembilan bagian percaya atas kata2 ini, namun demikian, ia mengharap juga kata2 itu bohong belaka, maka air mukanya lantas tertampak mengunjuk setengah percaya setengah sangsi.

"Pundakmu sudah terkena jarum saktiku, racun itu akan meluas setiap hari, kira2 enam hari sesudah racunnya menyerang jantung, maka jiwamu tak tertolong Iagi,"

Demikian kata Nyo Ko sembari memainkan sebuah pensil di atas meja.

Watak pembesar itu ternyata sangat keras kepala, sungguhpun dalam hati ia mengharapkan pertolongan orang, namun tak sudi diucapkannya.

"Jika begitu, biarlah tuan besarmu mati bersama dengan kau,"

Mendadak ia membentak Iagi. Habis ini, sekali bergerak, segera Nyo Ko hendak ditubruknya pula. Namun sebelum ia bertindak, tiba2 di luar ada suara bentakan orang yang keras.

"Hai Yalu Cin, pembesar anjing dari Mongol, berpalinglah ke sini!"

Mendengar namanya disebut pembesar itu menoleh, segera pula sinar putih yang gemerlapan be-runtun2 menyamber masuk melalui jendela.

Hujan Am-gi atau senjata gelap itu dihamburkan dengan kuat lagi terlalu banyak jumlahnya, dalam keadaan demikian, meski pembesar itupun tidak lemah, namun seketika itu mana sanggup menyambut hujan Am-gi yang begitu banyak?

Sebenarnya tiada maksud Nyo Ko buat menolong pembesar Mongol yang bernama Yalu Cin ini, karena dilihatnya senjata rahasia begitu banyak menghambur masuk, tiba2 ia keluarkan ilmu "Boan-thian-hoa-uh" (hujan gerimis memenuhi langit), sesuatu ilmu dari Giok-li-sim-keng yang dilatihnya, ia menangkap ke kanan dan membentuk ke kiri, sekejap saja senjata2 rahasia yang tertangkap olehnya telah ditimpuk kembali maka terdengarlah suara gemerincing nyaring dan ramai belasan macam senjata rahasia telah memenuhi meja dan lantai "Kepandaian bagus, semoga kelak kita bertemu lagi, dapatlah mengetahui nama saudara?"

Terdengar suara pertanyaan seorang lelaki di luar jendela.

"Aku adalah kaum yang tak terpandang, maka tak punya nama dan tiada she,"

Sahut Nyo Ko. Karena jawaban ini, terdengar lagi suara jengekan seorang lain di luar.

"Marilah pergi!"

Kata orang ketiga, sekali ini suara orang perempuan.

Habis itu, lantas terdengar suara tindakan kaki yang pelahan sekali di atas rumah, ketiga orang itu sudah pergi melintasi pagar rumah.

Tadi waktu Nyo Ko bergebrak dengan Yalu Cin hingga sama2 mencurahkan seluruh perhatian, maka tiada yang mendengar bahwa ada orang laki lagi mengintip di samping, hal ini menandakan pula ilmu entengkan tubuh ketiga orang itupun sangat hebat.

Meski pembesar Mongol bernama Yali Cin itu sudah ditolong jiwanya oleh Nyo Ko, tetapi ketika pundaknya terasa sakit, ia menjadi gusar pula karena telah dikibuli Nyo Ko tadi, mendadak senjata2 rahasia yang berserakan itu, ia samber terus ditumpukkan ke arah Nyo Ko.

Menghamburnya senjata2 rahasia "

Dari luar jendela tadi dilakukan oleh tiga orang bersama, kepandaian menimpuk pun jauh lebih tinggi dari pada Yali Cin, untuk itu saja Nyo Ko sanggup menangkap dan membenturnya kembali, apalagi kini Yali Cin menimpuk dengan satu per satu, mana bisa serangannya mengenai Nyo Ko, malahan satu per satu telah ditangkap olehnya tanpa luput satupun.

"Awas!"

Seru Nyo Ko kemudian.

Ketika tangannya mengayun, tahu2 beberapa puluh senjata rahasia yang ditangkapnya itu dihamburkan kembali Melihat datangnya senjata rahasia itu mengarah dari kanan-kiri maupun atas atau bawah, walaupun berkelit atau mengegos pasti akan terkena juga beberapa diantaranya, tentu saja Yali Cin terkejut, dalam keadaan kepepet, mendadak ia melompat mundur, maka terdengarlah suara "blang"

Yang keras, punggungnya menumbuk dinding dengan keras, Lalu terdengar suara bertok-tok riuh, beberapa puluh senjata rahasia itu telah mengenai dinding semua.

Suara gemerutuk di atas dinding itu ternyata sangat aneh dan berlainan satu sama lain, karena-senjata2 rahasia itu memang beraneka macamnya, Dalam kagetnya itu, lekas2 Yali Cin melompat ke samping Iagi, ketika ia berpaling memandang ke dinding, mau-tak-mau ia ternganga saking herannya.

Ternyata beberapa puluh senjata rahasia itu ambles semua ke dalam dinding, jarak dengan tubuhnya tadi hanya selisih beberapa senti saja, hingga potongan badannya se-akan2 terlukis di atas dinding itu, sedang tubuhnya seujung rambutpun tak terluka, bahkan baju pun tak terobek barang sedikitpun Dalam kaget dan herannya, tak tertahan lagi Yali Cin kagum luar biasa, tiba2 ia jatuhkan diri dan berlutut memberi hormat pada Nyo Ko.

"Terimalah hormatku, Enghiong, hari ini aku betul2 menyerah padamu,"

Demikian katanya.

Sungguhpun ilmu silat Nyo Ko sangat tinggi tetapi selama hidupnya itu biasanya selalu dimaki dan didamperat orang, sampai Liok Bu-siang yang berulang kali ditolong olehnya juga selalu berlaku sangat bengis padanya tanpa mau mengalah sedikitpun kini mendadak ada orang menjura padanya dan menyatakan takluk betul2.

tentu saja hati mudanya menjadi girang luar biasa, saking senangnya ia tertawa ter-bahak2.

"Dapatkah mengetahui nama Enghiong yang mulia?"

Tanya Yali Cin.

"Aku bernama Nyo Ko, dan kau apakah bernama Yali Cin? jabatan apa yang kau pangku di MongoI?"

Sahut Nyo Ko.

Kiranya pembesar muda ini adalah putera Yali Cu-cay, perdana menteri kerajaan Mongol!

Yali Cu-cay telah banyak membantu Jengis Khan dan puteranya membangun kerajaan Mongol yang namanya disegani sampai di daerah barat itu, jadinya sungguh sangat besar, sebab itulah meski umur Yali Cin masih muda, namun berkat jasa sang banyak, ia telah diangkat menjadi Keng-Iiat-su di HoIam, keberangkatannya sekarang ini menuju ke HoIam untuk memangku jabatan.

BegituIah ia telah ceritakan apa yang sebenarnya.

Meski ilmu silat Nyo Ko tinggi, tapi terhadap segala nama jabatan itu sama sekali tak dimengertinya, maka ia hanya angguk2 saja dan bilang bagus.

"Hekoan (aku pembesar rendah) entah sebab apa telah membikin marah Nyo-enghiong? Kalau ada sesuatu, harap Nyo-enghiong suka katakan terus terang,"

Kata Yali Cin.

"Tak ada apa2 yang bikin marah,"

Sahut Nyo to sambil ketawa. Habis ini, mendadak ia meloncat keluar melalui jendela terus menghilang. Keruan saja Yali Cin kaget.

"Nyo-enghiong..."

Ia berteriak sambil memburu ke pinggir jendela, namun bayangan Nyo Ko sudah tak kelihatan "Aneh, orang ini pergi-dataag secara tiba2 saja, padahal tubuhku sudah terkena jarum beracunnya, lalu bagaimana baiknya ?"

Yali Cin menjadi ragu2. Tetapi baru sejenak ia ter-menung2, mendadak daun jendela bergerak, tahu2 Nyo Ko sudah kembali lagi, malahan di dalam kamar kini sudah bertambah dengan satu orang.

"Ah, kau telah kembali!"

Seru Yali Cin girang.

"Dia adalah biniku, lekas kau menjura padanya!"

Kata Nyo Ko tiba2 sambil menunjuk Liok Bu-siang.

"Apa kau bilang?"

Bentak Bu-siang gusar berbareng itu, kontan ia tampar muka Nyo Ko.

Sebenarnya kalau Nyo Ko menghindar dengan gampang saja hal itu bisa dilakukannya, Tetapi entah mengapa, ia merasa lebih senang menerima tamparan atau dicaci maki si gadis.

Oleh sebah itulah, sama sekali ia tidak berkelit maka "plok"

Pipinya telah merasakan tamparan itu hingga pana pedas.

Yali Cin tak tahu kalau kelakuan kedua orang itu sudah biasa begitu, ia mengira ilmu silat Bu siang tentu lebih tinggi dari pada Nyo Ko, maka dengan terpesona ia pandang orang dan tak berani bersuara.

"Kau sudah terkena racun jarumku, tapi sementara masih belum sampai mampus,"

Kata Nyo Ko kemudian sembari elus2 pipinya.

"Asal kau dengar kataku dan menurut, pasti aku akan menyembuhkan kau."

"Hekoan biasanya paling kagum terhadap kaum Enghiong, hari ini bisa berkenalan dengan Nyo enghiong, sekalipun Hekoan tak bakal hidup lagi, rasanya pun rela,"

Sahut Yali Cin.

"Haha,"

Nyo Ko tertawa senang karena orang pintar menjilat.

"tidak nyana, kau terhitung juga seorang gagah berani. Baiklah, sekarang juga ku sembuhkan kau." , Habis itu, ia keluarkan sebuah batu sembrani dan menyedot keluar dua jarum tawon putih orang menancap di pundak orang itu dan dibubuhi obat pula. Selamanya belum pernah Bu-siang melihat Giok-hong-ciam atau jarum tawon putih itu, kini nampak bentuk jarum itu selembut rambut, ia menjadi heran dan tidak habis mengarti benda seringan itu kenapa bisa dipakai sebagai senjata rahasia? Karena itu, rasa kagumnya pada Nyo Ko pun tanpa terasa bertambah setingkat pula, walaupun begitu, di mulutnya ia sengaja ber-olok2, katanya.

"Hm, pakai senjata rahasia begitu, tiada sedikitpun semangat jantan, apa tak kuatir ditertawakan orang?"

Tetapi Nyo Ko hanya tersenyum, ia tidak bantah kata2 orang, sebaliknya ia berpaling dan berkata pada Yali Cin.

"Kami berdua ingin mengabdi padamu."

Yali Cin terkejut "Ah, Nyo-enghiong suka berkelakar saja, ada apakah. silakan berkata terus siang saja,"

Sahutnya kemudian "Aku tak berkelakar, tapi sungguh2, kami ingin menjadi pengawalmu,"

Kata Nyo Ko pula.

"Eh, kiranya kedua orang ini ingin cari pangkat dan kedudukan,"

Demikian pikir Yali Cin. Karena itu segera sikapnya berubah lain, sebab disangkanya orang tentu membutuhkan bantuannya maka dengan sungguh2 dia lantas berkata.

"Enghiong sesudah belajar silat memang harus diabdikan kerajaan, hal ini memang jalan yang tepat."

"Kau telah salah tangkap maksudku,"

Ujar Nyo Ko dengan tertawa.

"Kami bukan hendak mencari pangkat kami sedang dikejar oleh musuh yang sangat lihay sepanjang jalan, karena kami tak ungkulan melawannya, maka ingin menyamar sebagai pengawalmu untuk menghindarinya sementara."

Yali Cin sangat kecewa sebab dugaannya salah, mukanya segera berubah lagi dan tak berani berlagak...

"Ah, kalian suka merendah diri saja, masakah seorang musuh perlu ditakuti?"

Katanya dengan tertawa.

"Tetapi kalau mereka berjumlah banyak, Hekoan dapat kirim pasukan dan menangkap mereka untuk diserahkan padamu."

"Aku saja tak bisa menandingi dia, sebaiknya tak perlu kau ikut repot,"

Sahut Nyo Ko.

"Lekas kau perintah pelayanmu mengambilkan pakaian agar kami bisa menyamar."

Yali Cin tak berani membantah, ia perintah pengawalnya mengambilkan pakaian yang diminta dan silakan Nyo Ko dan Bu-siang salin ke kamar lain.

Sesudah tukar pakaian, waktu Bu-siang bercermin, nyata ia telah berubah menjadi perwira muda bangsa Mongol yang cakap.

Besok paginya berangkatlah mereka ikut rombongan pasukan tentara itu, Nyo Ko dan Bu-siang masing2 digotong dengan sebuah Joli mentereng, sebaliknya Yali Cin malah menunggang kuda.

Sebelum lohor, terdengarlah suara kelenengan nyaring dari jauh, tapi sekejap saja suara itu sudah lewat melampaui rombongan mereka, Tentu saja Bu-siang sangat girang, pikirnya.

"Sungguh nikmat sekali merawat luka di dalam joli ini, biarlah aku digotong mereka sampai daerah Kanglam saja"

Dua hari kemudian, suara kelenengan keledai yang sangat ditakuti itu sudah tak terdengar lagi, agaknya Li Bok-chiu sudah mengejar terus ke desa dan tidak kembali pula.

Begitu juga para Tojin dan anggota Kay-pang yang ingin menuntut balas pada Liok Bu-siang pun tidak menemukan jejaknya.

Pada hari ketiga, sampailah mereka di Liong-Se, satu kota persimpangan jalan yang penting dan ramai.

Sehabis bersantap malam, iseng2 Yali Cin mendatangi kamarnya Nyo Ko untuk meminta petunjuk tentang ilmu silat.

Dasar Yali Cin ini pandai bicara, ia sengaja menyanjung dan mengumpak Nyo Ko setinggi langit, maka untuk jasa itu Nyo Ko telah memberikan sekali dua petunjuk padanya, walaupun hanya dasar2 yang tidak berarti, tapi bagi Yali Cin sudah tterupakan pelajaran yang tak pernah didengarnya, tentu saja tidak sedikit faedah baginya.

Selagi Yali Cin mencurahkan seluruh perhatiannya mendengarkan "kuliah"

Nyo Ko, tiba2 datanglah seorang pengawalnya melapor bahwa dari orang-tuanya di kotataja ada mengirim utusan baginya.

"Baiklah, segera aku datang,"

Sahut Yali Cin girang, Sedang ia hendak mohon diri pada Nyq Ko, mendadak ia timbul pikirannya.

"Ah, kenapa aku tidak menerima kurir pengantar surat itu M hadapannya, dengan begitu bisa menandakan akuj tidak pandang dia sebagai orang asing, dan cara dia"

Mengajarkan ilmu silatnya padaku tentu akan ber-sungguh2 juga."

Segera pengawalnya diberi perintah.

"Panggil dia menghadap padaku di sini."

Pengawal itu merasa aneh oleh karena perintah itu.

"Ma... mana..."

Demikian dengan samar2 ia hendak menjelaskan Namun Yali Cin lantas lambaikan tangannya dan bilang lagi.

"Tak apa, bawalah dia ke sini!"

"Tetapi Lotayjin sendiri yang..."

Kata si pengawal pula.

"Ah, kau hanya banyak omong saja,"

Sela Yali Cin tak sabar.

"Lekas pergi...."

Belum habis ia bicara, tahu2 tirai kamar tersingkap dan masuklah seorang dengan tertawa.

"Anak Cin, tentu kau tak menduga akan diri ku, bukan ?"

Demikian kata orang itu segera. Girang dan kejut Yali Cin demi mengenali siapa adanya orang itu, Iekas2 ia berlari memapak dan menyembah.

"Ah, kiranya Ayah..."

"Ya, memang aku sendiri yang datang,"

Potong orang itu.

Kiranya orang ini memang bukan lain adalah ayah Yali Cin, itu perdana menteri negeri Mongol Yali Cu-cay.

Mendengar Yali Cin panggil orang itu sebagai ayah, Nyo Ko tak tahu bahwa orang adalah Perdana Menteri yang sangat berkuasa di negeri Mongol, ia lihat alis jenggot orang sudah putih, wajahnya alim menandakan seorang yang beribadat, mau-tak-mau dalam hati Nyo Ko timbul juga semacam perasaan menghormat.

Dan baru saja orang itu berduduk, dari luar kembali masuk lagi dua orang terus memberi hormat pada Yali Cin dan menyebutnya sebagai "Toa-ko."

Kedua orang ini yang satu laki2 dan yang lain wanita. Yang lelaki berumur antara 25-26 tahun, sedang usia yang perempuan kira2 sebaya dengan Nyo Ko.

"Ah, Ji-te dan Sam-moay, kalian pun ikut datang!"

Sapa Yali Cin kepada muda-mudi itu dengan girang.

Pemuda itu adalah putera Yali Cu-cay kedua, namanya Yali Ce, dan puterinya bernama Yali Yen.

perawakan Yali Ce kurus jangkung, tetapi sikapnya gagah dan wajahnya cakap, Yali Yen pun berpotongan ramping tinggi, tampaknya mereka sekeluarga memang berketurunan perawakan tinggi.

Meskipun perawakan Yali Yen tinggi, namun wajahnya masih membawa sifat kanak2, dibilang cantik, sebenarnya tak begitu cantik, tetapi di antara senyumannya terdapat juga semacam gayfa yang menggiurkan.

"Ayah, keberangkatanmu dari kotaraja, sedikitpun anak tidak mengetahui."

Sementara itu Yali Cin berkata pula.

"Ya,"

Yali Cu-cay mengangguk "karena ada suatu urusan besar, kalau bukan aku sendiri yang memimpinnya, betapapun rasa hatiku tak lega."

Sambil berkata, pandangannya telah merata Nyo Ko beserta para pengawal yang berada di situ, maksudnya agar mereka diperintahkan menyingkir.

Tentu saja Yali Cin menjadi serba salah, seharusnya ia mengibaskan tangan menyuruh para pengawalnya pergi, tapi Nyo Ko adalah orang yang tak boleh dipersamakan dengan bawahannya, karena itu, sikapnya menjadi kikuk dan ragu-ragu.

Namun Nyo Ko cukup tahu diri, dengan tersenyum ia mengundurkan diri atas kemauan sendiri.

"Siapakah dia tadi?"

Tanya Yali Cu-cay pada Yali Cin segera sesudah Nyo Ko menyingkir.

"Kenalan baru yang bertemu di tengah jalan tadi,"

Sahut Yali Cin samar2 untuk menghindari kehilangan pamor di hadapan adik2nya.

"Ada urusan penting apakah sebenarnya, sampai ayah berangkat sendiri ke selatan?"

Yali Cu-cay menghela napas atas pertanyaan sang putera.

"Ya, pertama-tama untuk menghindari bahaya, kedua demi keutuhan negeri kita yang sudah tertanam kukuh oleh cakal-bakal kita itu,"

Sahutnya kemudian.

Yali Cin terdiam karena jawaban itu, ia saling pandang sekejap dengan adik2nya, wajah mereka pun mengunjuk rasa duka.

Kiranya sesudah cakal-bakal negeri Mongol, Jengis Khan wafat, putera kedua, Gotai menggantikan tahta, setelah Gotai meninggal, kedudukan-nya diganti oleh puteranya yang pendek umur, tatkala pemerintahan dikuasai permaisuri dan karena permaisuri main konco2an dan percaya pada sekelompok kecil orang, banyak pembesar lama dan panglima yang berjasa malah tergencet hingga suasana pemerintahan sangat kacau.

Yali Cu-cay adalah pembesar tiga angkatan sejak Jengis Khan dan berjasa besar sebagai orang yang ikut membangun kerajaan Mongol, karena itu setiap permaisuri membuat kesalahan, ia suka memberi kritik secara jujur.

Tetapi permaisuri menjadi kurang senang karena tindak tanduknya selalu dirintangi.

Sudah tentu Yali Cu-cay juga insaf bahwa keselamatannya dengan sendirinya selalu terancam, tetapi demi kepentingan negara yang dahulu ikut didirikannya dengan susah payah, ia telah berpikir siang dan malam untuk mencari jalan keluar yang paling baik Suatu malam sesudah dia baca kitak "Cu-ti-thong-kam"

Karangan Suma Kong dari ahala Song, mendadak tergerak pikirannya, ia mendapatkan satu akal bagus.

Besok paginya dalam sidang ia mengajukan usul agar dirinya diutus ke daerah Ho-lam untuk menenteramkan keadaan di sana yang sedang bergolak.

Dengan sendirinya usul itu sangat cocok dengan keinginan permaisuri yang sudah lama bermaksud menyingkirkan dia, maka diutuslah Yali Cu-cay ke Holam dengan kuasa penuh.

Yali Cu-cay mengadakan perundingan dengan para sahabat lama dan akalnya ternyata disetujui dan didukung dengan suara bulat oleh kawan2 lama itu.

Kiranya akal yang Yali Cu-cay rencanakan itu yalah pada suatu saat permaisuri hendak dirobohkan dan mengangkat raja baru, yakni meniru cara apa yang terjadi pada jamannya Bu-cek-thian dari ahala Tong.

Mula2 ia mengusulkan dirinya di utus ke Holam dan disetujui permaisuri tetapi di sana ia menghimpun pasukan dan panglima2 yang perkasa, setelah kekuasaan militer berada di tangannya, segera ia mengangkat raja baru dan mendesak permaisuri mengundurkan diri.

Tatkala itu calon raja yang mereka dukungi adalah cucu Jengis Khan, putera Dule yang bernama Monka.

Begitulah, dengan suara pelahan Yali Cu-cay ceritakan rencananya pada sang putera.

Yali Cin merasa girang dan kuatir, sebab kalau rencana itu terlaksana, dengan sendirinya mereka berjasa besar, sebaliknya kalau gagal, itu berarti bahaya bagi kehancuran keluarga mereka.

Selagi mereka berempat sedang berunding secara rahasia, waktu itu juga Nyo Ko sedang duduk semadi di kamar Liok Bu-siang dengan memusatkan pendengarannya mengikuti pembicaraan Yali Cu-cay berempat.

Bagi orang yang sudah tinggi Lwekang yang dilatihnya, penglihatan dan pendengaran atas sesuatu selalu lebih tajam dari pada orang biasa.

Oleh sebab itulah, meski kamar di mana Nyo Ko dan Bu-siang berada masih diseling dengan sebuah ruangan lain, suara bicara Yali Cu-cay pun sangat perlahan, bagi Liok Bu-siang sedikitpun tak kedengaran, tapi untuk Nyo Ko sebaliknya dapat didengar dengan jeIas.

Walaupun apa yang dibicarakan keempat orang itu adalah rahasia pemerintahan Mongol dan tiada sangkut pautnya dengan Nyo Ko, namun uraian Yali Cu-cay itu sangat menarik, Nyo-Ko jadi ingin mendengarkan terus.

"Hai, ToloI, kenapa kau bersemadi di sini." . tegur Bu-siang. sesudah menunggu dan melihat orang hingga sekian lama tak bergerak. Tetapi saat itu justru Nyo Ko lagi pusatkan-perhatiannya untuk mendengarkan pembicaraan orang, terhadap kata2 Bu-siang itu sebaliknya malah tak didengarnya. Sesudah ulangi lagi tegurannya dan masih tiada jawaban, akhirnya Bu-siang menjadi marah.

"Hai, Tolol, kau mau bicara dengan aku tidak?"

Omelnya. Karena Nyo Ko tetap tidak menyahut, ia bermaksud mengitik2nya, tapi se-konyong2 Nyo Ko-melompat bangun.

"Ssssttt, diluar ada orang mengintip,"

Katanya, tiba2 dengan suara mendesis. Akan tetapi sedikitpun Bu-siang tidak mendengar sesuatu suara yang mencurigakan.

"Kau mau dustai aku?"

Sahut si gadis dengan suara rendah.

"Bukan di sini, tetapi di rumah yang sana"

Kata Nyo Ko. Namun Bu-siang lebih2 tak percaya, ia tersenyum sambil mengomel.

"Tolol!"

"Ssst, jangan2 gurumu yang mencari kemari lekas jkita sembunyi dahuIu,"

Dengan suara bisik Nyo Ko peringatkan pula sembari tarik2 baju nona.

Mendengar gurunya di-sebut2, mau tak mau Bu-siang menurut, ia ikut Nyo Ko mendekam di luar jendela untuk mengintai Tiba2 Nyo Ko menuding ke arah barat waktu Bu-siang mendongak, betul saja dilihatnya dari atas rumah yang agak jauh sana mendekam sesosok bayangan orang, Tatkala itu tiada sinar bulan hingga malam gelap gulita, kalau tidak memandang dengan seluruh perhatian, memang sukar untuk membedakan apakah itu bayangan orang atau bukan.

Baru sekaranglah Bu-siang mau menyerah, alangkah kagumnya pada "si Tolol"

Yang tak di-mengerti cara bagaimana bisa mengetahui datangnya orang itu? "Bukan Suhu,"

Katanya kemudian pada Nyo Ko.

Sebab ia tahu gurunya sangat tinggi hati, baju peranti jalan malam yang dipakainya kalau bukan berwarna kuning langsat tentu berwarna putih mulus, sama sekali tak mau mengenakan pakaian hitam.

Belum selesai ia berkata, mendadak orang berbaju hitam itu melompat ke sana dan sekejap saja sudah melintasi tiga deret rumah, sampai di luar jendela kamar di mana terdapat ayah dan anak keluarga Yali, segera sebelah kakinya melayang, ia depak terpentang daun jendelanya, lalu dengan senjata "Liu-yap-to" (golok bentuk sempit panjang dan sedikit melengkung) terhunus, dengan cepat sekali ia melompat masuk.

"Yali Cu-cay, hari ini biarlah aku mati bersama kau,"

Terdengar orang itu berteriak.

Waktu menyaksikan gerak tubuh orang itu yang cepat, tetapi bergaya lemas, Nyo Ko menduga tentu seorang perempuan.

Ketika mendengat suara teriakannya, ia menjadi terang memang suara kaum wanita.

"Ha, ilmu silat orang itu jauh di atas Yali Cin, jiwa orang tua berjenggot putih itu sukar dipertahankan lagi,"

Demikian terpikir olehnya.

"Lekas kita pergi melihatnya,"

Ajaknya pada Bu-siang.

Dengan cepat mereka lantas menyusup ke sana, dari luar jendela mereka melihat Yali Cin sementara itu sudah angkat sebuah bangku sebagai senjata untuk menempui wanita berbaju hitam itu.

Ilmu permainan golok wanita baju hitam itu bagus sekali, golok Liu-yap-to yang dia pakai pun tajam luar biasa, hanya beberapa kali bacokan, empat kaki bangku itu sudah tertabas kutung.

"Lekas Iari, ayah !"

Teriak Yali Cin insaf tak bisa menandingi orang. Habis ini ia berteriak pula.

"Mana orangnya, maju lekas!"

Karena teriakan ini wanita itu kuatir kalau bala bantuan membanjir datang dan tentu tak leluasa lagi bagi tujuannya, maka sebelah kakinya mendadak menendang gerak kakinya cepat, sekali tanpa kelihatan, karena tak ber-jaga2 dengan tepat Yali Cin tertendang pinggangnya dan roboh menggelongsor.

Kesempatan itu tak di-sia2kan oleh wanita muda itu, begitu menyerobot maju, ia angkat goloknya terus membacok kepala Yali Cu-cay.

"Celaka!"

Teriak Nyo Ko di dalam hati.

Segera ia siapkan segenggam Giok-hong-ciam atau jarum tawon putih dan selagi hendak disambitkan tangan si nona yang memegang senjata, tiba2 puteri Yali Cu-cay, Yali Yen yang berdiri di samping itu mendahului membentak.

"Jangan sembrono!"

Berbareng itu sebelah tangannya menghantam ke muka nona baju hitam itu dan tangan yang lain diulur buat merebut senjata orang.

Gerak serangan ini sungguh tepat sekali, terpaksa nona itu harus mengegos menghindari hantaman, namun tidak urung pergelangan tangan yang memegang senjata kena dipegang Yali Yen, walaupun demikian, secara sebat sekali kakinya lantas melayang, Karena tendangan yang mengarah tempat berbahaya ini, Yali Yen dipaksa lepaskan tangan dan melompat mundur, karena inilah Liu-yap-to gadis itu tidak sampai kena direbut.

Melihat gebrakan kedua nona itu sama sebat dan sama lihay, dalam hati Nyo Ko menjadi heran sekali.

sementara itu, sekejap saja kedua gadis itu sudah saling gebrak belasan jurus bergantian.

Waktu itu juga, dari luar telah membanjir masuk belasan orang pengawal karena teriakan Yali Cin tadi, demi melihat kedua nona itu sedang bertarung dengan sengitnya, mereka hendak maju membantu.

"Nanti dulu,"

Tiba2 Yali Ce mencegah mereka.

"Samsiocia (puteri ketiga) tidak perlu bantuan kalian"

Di lain pihak, sesudah menyaksikan ilmu silat kedua nona itu, Nyo Ko menoleh dan berkata pada Liok Bu-siang.

"Bini cilik, kepandaian kedua orang itu lebih tinggi dari pada kau."

Bu-siang menjadi gusar karena orang menyebut lagi "bini"

Padanya, begitu tangan diangkat kontan ia hendak tempeleng orang.

"Ssstt, jangan ribut, lebih baik menonton perkelahian saja,"

Kata Nyo Ko pelahan dengan tertawa sambil mengelakkan diri.

Sebenarnya ilmu silat kedua nona itu kalau dibilang lebih tinggi dari pada Liok Bu-siang juga belum tentu tepat Cuma kedua nona itu memang mendapatkan didikan guru pandai kalau dibandingkan Yali Cin, terang jauh lebih tinggi.

Begitulah maka Yali Cu-cay dan Yali Cin tidak kepalang heran dan terperanjat, sebab sama sekali mereka belum pernah tahu Yali Yen berlatih silat, siapa tahu si gadis memiliki ilmu silat yang begitu bagus, saking herannya hingga mereka ternganga.

Tak Iama lagi, karena Yali Yen tak bersenjata, beberapa kali ia hendak rebut golok orang, namun tak berhasil sebaliknya ia malah terdesak melompat sini dan berkelit ke sana tanpa bisa membalas.

"Sam-moay, biarkan aku yang mencobanya, kata Yali Ce tiba2, Berbareng ini mendadak ia menyela maju, dengan tangan kanan melulu, beruntun2 tiga kali memukul "

Baik, coba kau bagaimana,"

Sahut Yali Yen setelah mundur ke pinggir.

Tadi waktu Yali Yen bergebrak dengan gadis baju hitam itu, Nyo Ko hanya bersenyum dan menonton pertarungan itu dengan sikap dingin, tetapi kini begitu Yali Ce turun tangan, hanya tiga kali serangan saja sudah bikin hatinya terkesiap.

Ia lihat tangan kiri Yali Ce bertolak pinggang, sama sekali tak ikut bergerak, melulu tangan kanan saja yang digunakan buat melawan nona baju hitam itu, kakinya pun tidak pernah menggeser barang selangkahpun secara tenang dan seenaknya mencari kesempatan buat rebut golok lawan, tipu gerakannya sangat aneh, bahkan tempat dan waktu yang digunakannya pun jitu sekali, sungguh suatu ilmu kepandaian yang lain daripada yang lain.

Tentu saja Nyo Ko ter-heran2.

"Mengapa orang ini begini lihay?"

Demikian pikirnya.

"Tolol, kepandaian orang ini jauh melebihi kau!"

Bu-siang balas mengejek si Nyo Ko. Namun Nyo Ko sedang tercengang, maka tak didengarnya apa yang dikatakan si nona.

"Sam-moay, lihatlah yang jelas,"

Terdengar Yali Ce berkata pada adiknya sambil melayani si gadis baju hitam.

"Kalau aku tepuk dia punya "

Pi-su-hiat ", tentu dia akan menghindar mundur ke samping, menyusul aku lantas pegang dia punya "

Ki-kut-hiat ", mau-tak-mau dia harus angkat golok-nya buat membacok. Pada saat itulah kita harus turun tangan secara cepat dan dapatlah merebut senjatanya."

"Cis, belum tentu bisa begitu gampang,"

Damperat gadis baju hitam dengan gusar.

"Tetapi memang begitulah, lihatlah ini,"

Kata Yali Ce. sambil berkata, betul juga ia hantam "pi-sui-hiat"

Si gadis.

Pukulan ini tampaknya seperti menceng dan miring, tetapi justru mengurung rapat segala jalan mundur lawannya, hanya pada ujung belakang kiri sedikit ke samping itulah ada peluang, karena si gadis hendak hindarkan pukulan itu, terpaksa ia mundur miring ke samping sana.

Yali Ce angguk2 suatu tanda pukulannya membawa hasil, menyusul betul juga ia ulur tangan hendak pegang "Ki-kut-hiat"

Lawan. Sebenarnya dalam hati si gadis itu sudah memperingatkan dirinya sendiri agar "se-kali2 jangan angkat golok balas membacok"

Seperti apa yang direncanakan Yali Ce.

Akan tetapi keadaan pada waktu itu sangat berbahaya, jalan lain memang tidak ada kecuali angkat goloknya buat balas membacok yang merupakan satu2-nya gerak tipu yang jitu.

Karena itulah, tanpa bisa pikir banyak, segera goloknya mengayun, ia balas menyerang.

"Nah, begitu bukan?"

Dengan sungguh2 Yali Ce berkata.

Mendengar perkataannya ini, semua orang menduga pasti Yali Ce akan ulur tangan buat merebut senjata si gadis, siapa tahu tangan kanannya malah dia tarik kembali dan dimasukkan ke dalam lengan baju.

Maka luputlah bacokan gadis baju hitam itu, sebaliknya ia lihat kedua tangan orang malah bersedakap seenaknya, keruan saja ia rada tertegun.

Pada saat itu juga, se-konyong2 Yali Ce ulur tangan kanan lagi dengan dua jari ia menjepit punggung golok si gadis dan sedikit diangkat ke atas, karena itu, gadis itu tak mampu pegang kencang senjatanya hingga kena direbut orang secara mentah2.

----------Gambar -----------"Wanyen Ping.

"Beberapa kali kami ampuni jiwamu, kau selalu cari perkara, apa sih maksudmu sebenarnya?"

Demikian kata Yali Yen sambil menahan pukulan orang.

--------------------------------Menyaksikan pertunjukan ilmu sakti itu, seketika semua orang terkesima, menyusul suara sorak sorai memecah kesunyian memuji kepandaian Yali Ce tadi.

"Nah, sekarang iapun tak bersenjata,"

Kata Yali Ce pada adik perempuannya sambil melangkah mundur.

"kau maju lagi menjajal dia, tabah sedikit dan hati2 terhadap tendangan kilatnya."

Karena goloknya direbut orang, wajah gadis baju hitam itu kelihatan muram, untuk sejenak terpaku di tempat. Semua orang menjadi heran oleh kelakuannya, mereka pikir.

"Kalau Jikongcu (tuan muda kedua) tidak menangkap dia sekaligus, terang maksudnya sengaja membebaskan dia lari, tapi dia justru tak mau kabur, lalu apa kehendaknya?"

Dalam pada itu, karena kata2 abangnya tadi, Yali Yen telah tampil ke depan lagi.

"Wanyen Peng, berulang kali kami telah ampuni kau, tapi kau selalu merecoki kami, apa sampai hari ini kau masih belum mau mengakhiri maksudmu itu?"

Begitulah kata Yali Yen pada gadis baju hitam itu.

Mendengar nama yang disebut Yali Yen, diam2 Nyo Ko sangat heran oleh nama beberapa orang yang aneh itu.

Nyata, karena masih muda dan cetek pengalamannya, Nyo Ko tak tahu bahwa "Yali"

Adalah nama keluarga kerajaan negeri Liau, sedang "Wan-yen" , adalah nama keluarga kerajaan negeri Kim, beberapa orang yang berada di dalam kamar itu memang keturunan bangsawan kedua negeri itu.

Cuma tatkala itu negeri Liau sudah ditelan kerajaan Kim, dan negeri Kim telah dicaplok pula oleh Mongol.

Oleh sebab itu, baik Yali maupun Wan-yen, semuanya adalah keluarga raja2 yang sudah musnah negerinya.

Begitulah Wanyen Peng ternyata tak menjawab kata2 Yali Yen tadi, ia masih menunduk dan termenung-menung.

"Baiklah, jika kau memang ingin tentukan unggul dan asor dengan aku, marilah kita mulai lagi,"

Kata Yali Yen kemudian. Berbareng itu, melompat maju terus menjotos susul-menyusul dua kaIi.

"Kembalikan golokku itu,"

Serunya tiba2 dengan nada suara memelas. Yali Yen tertegun karena permintaan itu, katanya dalam hati.

"Kakakku sengaja rebut senjata mu agar kau bergebrak rangan kosong dengan aku, kenapa sekarang kau malah minta kembali senjatamu ?"

Walaupun begitu, karena wataknya memang berbudi, maka iapun tidak menolak "Baiklah" , demikian sahutnya, Habis itu, dari tangan abangnya ia ambil golok Liu-yap-to itu dan dilemparkan pada Wanyen Peng.

"Sam-siocia, kaupun gunakan senjata,"

Kata seorang pengawal sambil menyerahkan goloknya.

"Tak perlu,"

Sahut Yali Yen. Tetapi setelah dipikir lagi, segera ia menambahkan.

"Baiklah, dengan tangan kosong aku memang bukan tandinganmu biarlah kita bertanding golok."

Lalu golok pengawal tadi diterimanya, walau pun beratnya sedikit terasa antap, namun boleh juga sekedar dipakai.

Di lain pihak setelah terima kembali senjatanya sendiri, muka Wanyen Peng tampak putih pucat, dengan tangan kiri memegang golok, tangan kanan menuding Yali Cu-cay dan berkata.

"YaIi Cu-cay, kau telah bantu orang Mongol dan tewaskan ayah-bundaku, selama hidupku ini terang aku tak sanggup menuntut batas lagi padamu, Biarlah kita bikin perhitungan nanti diakhirat saja !"

Begitu selesai bicara, mendadak golok di tangan itu terus menggorok ke lehernya sendiri.

Waktu mendengar kata2 si gadis tadi dengan sorot matanya yang guram, seketika hati Nyo Ko memukul keras, dadapun terasa sesak dan tanpa tertahan berseru .

"Kokoh !"

Pada saat ia berseru itulah Wanyen Peng telah angkat goloknya hendak membunuh diri.

Namun gerak tangan Yali Ce cepat tiada bandingan-nya, ketika tubuhnya sedikit mendoyong dan tangannya menjulur, dengan dua jari saja ia berhasil merebut golok si gadis, bahkan orangnya ditutuk pula hingga tak bisa berkutik.

"Baik2 saja begini, kenapa lantas berpikiran pendek?"

Demikian katanya.

Terjadinya beberapa peristiwa tadi, yakni Wanyen Peng hendak menggorok leher sendiri dan Yali Ce merebut senjatanya dengan jepitan jarinya, semuanya terjadi dalam sekejap saja, ketika dapat melihat jelas oleh semua orang, sementara itu golok si gadis sudah berpindah ke tangan Yali Ce Iagi.

Karena itulah, seketika ramai suara jeritan kaget dari orang banyak hingga seruan "Kokoh"

Yang diucapkan Nyo Ko itu tidak diperhatikan orang sebaliknya Liok Bu-siang yang berada di samping nya dapat mendengar dengan terang.

"Apa kau sebut dia? ia adalah kokohmu?"

"tanyanya dengan suara tertahan.

"Bukan......bukan!"

Sahut Nyo Ko cepat.

Kitanya tadi waktu Nyo Ko nampak sorot mata Wanyen Peng yang menunjuk perasaan penuh sunyi dan hampa, seperti sudah putus asa, hal ini mirip sekali dengan sorot mata Siao-liong-li dahulu sewaktu hendak berpisah dengan dia itu.

Dan karena melihat sorot mata orang itu tadi, tanpa terasa Nyo Ko terkesima seperti orang ling-lung hingga lupa dirinya berada di mana pada waktu itu.

Melihat keadaan Nyo Ko yang aneh itu, Bu siang tak menanya lebih lanjut, sebaliknya ia dengar di dalam sana Yali Cu-cay sedang buka suara dengan pelahan.

"Nona Wanyen, sudah tiga kali kau hendak membunuh aku, tetapi setiap kali selalu gagal,"

Demikian kata orang tua itu.

"Dalam persoalan ini, sebagai perdana menteri negara Mongol, akulah yang musnahkan tanah airmu dan membunuh ayah-bundamu. Tetapi sebaliknya apa kau tahu siapa lagi yang telah "

Bunuh leluhurku dan menghancurkan negeriku?"

"Aku tak tahu,"

Sahut Wanyen Peng.

"Baiklah kuterangkan,"

Tutur Yali Cu-cay.

"Leluhurku adalah keluarga raja Liau dan negeri Liau kami itu telah dimusnahkan oleh negeri Kim bangsamu, Keturunan Yali dari keluarga kami itu habis dibunuh oleh keluarga Wan-yen kalian hingga tidak seberapa gelintir orang yang ketinggalan. Karena itu, pada waktu muda akupun bersumpah buat tuntut balas sakit hati ini, karenanya aku telah bantu raja Mongol menghancurkan negaramu Kim. Ai, cara balas-membalas ini entah akan berakhir kapan ?"

Pada waktu mengucapkan kata2 terakhir itu, Yali Cu-cay mendongak memandang keluar jendela, terbayang olehnya beratus bahkan beribu jiwa yang telah melayang akibat saling bunuh-membunuh tanpa ada habisnya itu.

Sewaktu mendengarkan tadi, tiba2 Wanyen Peng gigit bibirnya hingga beberapa giginya yang putih bersih bagai mutiara tertampak jelas.

"Hm", tiba2 ia menjengek terhadap Yali Ce.

"Tiga kali menuntut balas dan tidak berhasil, kusesalkan kepandaianku sendiri yang tak becus, Tetapi aku hendak bunuh diri, kenapa kau ikut campur tangan pula?"

"Asal selanjutnya nona berjanji tidak akan merecoki kami lagi, segera aku bebaskan kau,"

Sahut Yali Ce.

Wanyen Peng mendengar ia tidak menjawab melainkan matanya yang mendelik gusar.

Kemudian Yali Ce baliki Liu-yap-to rampasannya itu, dengan garan senjata itu ia ketok pelahan beberapa kali pinggang si gadis untuk melepaskan jalan darahnya.

Kiranya Yali Ce ini memang laki2 sejati, tadi dalam keadaan terpaksa, maka dia menutuk dengan jari tangan, tetapi kini ia tak berani menyentuh tubuh si gadis lagi melainkan menggunakan garan golok untuk melepaskan Hiat-to yang tertutup itu.

Sesudah itu segera Yali Ce angsurkan golok itu kepada pemiliknya.

Semula Wanyen Peng rada ragu2, tetapi akhirnya diterimanya kembali juga.

"Yali-kongcu, sudah beberapa kali kau berlaku murah hati dan melayani aku dengan sopan, hal ini aku cukup mengetahuinya" , demikian katanya kemudian "Tetapi sakit hati antara keluarga Wanyen kami dengan keluargamu Yali sedalam lautan, betapapun juga, sakit hati orang tua tak bisa tak dibalas" . Yali Ce pikir.

"Nyata gadis ini masih akan bikin ribut tiada hentinya, ilmu silatnya juga tinggi, padahal aku tak bisa selalu disamping ayah untuk melindungi selama hidupnya, Ah, kenapa aku tidak pancing dia agar dia tuntut sajalah saja padaku."

"Nona Wanyen, begitulah ia berkata "

Kau hendak membalas dendam orang tua, cita2mu itu sungguh harus dipuji Cuma persengketaan angkatan tua, hendaklah orang tua itu selesaikan sendiri dan kita yang menjadi orang angkatan muda, masing2 pun ada budi dan dendamnya sendiri2.

Maka bila kau akan menuntut balas, utang darah antara keluarga kita itu bolehlah kau cari saja padaku sendiri tetapi kalau ayahku yang kau recoki, kelak kalau kita bertemu pula, soalnya tentu akan menjadi sulit.

"Hm, enak saja kau bicara, ilmu silatku jelas tak bisa mengungkuli kau, mana bisa aku balas dendam padamu, sudahlah sudahlah!"

Sahut Wan-yen Peng sambil tutup mukanya terus bertindak Yali Ce mengarti dengan perginya si gadis, tentu orang akan cari jalan buat bunuh diri lagi, karena bermaksud menolong jiwa orang, maka ia sengaja berkata pula dengan tertawa dingin.

"Huh, wanita keluarga Wanyen kenapa tak punya pambekan!"

"Kenapa tak punya kambekan?"

Tanya Wanyen Peng tiba2 sembari berpaling.

"Soal ilmu silatku lebih tinggi dari kau, ya, itu memang betul, tetapi apanya yang perlu dibuat heran? Hal ini oleh karena aku pernah mendapat ajaran dari guru pandai, dan bukan karena aku memepunyai bakat yang melebihi orang lain,"

Kata Yali Ce.

"Kau masih semuda ini, asal kau mau mencari guru dengan penuh keyakinan, apa tak Msa kau mendapatkannya?"

Sebenarnya hati Wanyen Peng penuh mendongkol dan gusar tidak kepalang, tapi mendengar beberapa kata itu, diam2 ia memanggut juga.

"Setiap kali aku bergebrak dengan kau, selalu aku hanya gunakan tangan kanan saja, hal ini bukannya aku sengaja berlaku sombong,"

Kata Yali, Ce lagi.

"Tetapi sebabnya karena tipu serangan tangan kiriku terlalu aneh, bila sampai bergebrak, tentu akan melukai orang, oleh karenanya aku bersumpah kalau tidak dalam detik yang berbahaya, se-kali2 aku tidak sembarangan menggunakan tangan kiri, Maka begini saja sebaiknya, biarlah kalau kau sudah belajar lagi dari guru pandai, setiap saat kau boleh datang mencari aku lagi, asal kau mampu memaksa aku menggunakan tangan kiri seketika juga aku potong leherku sendiri tanpa menyesal"

Dengan uraian ini sungguh2 Yali Ce ingin menolong jiwa orang, ia tahu ilmu silat Wanyen Peng masih berselisih jauh dengan dirinya, sekalipun dapatkan guru pandai juga susah hendak menangkan dirinya.

Maka tujuannya hanya untuk mengulur tempo belaka agar sesudah lewat agak lama, rasa dendam Wanyen Peng bisa mereda hingga tak perlu membunuh diri lagi.

Oleh karena itu, Wanyen Peng berpikir.

"Kau toh bukan dewa, kalau aku berlatih secara sungguh2 masakan dengan dua tanganku tak bisa menangkan sebelah tanganmu itu?"

Maka goloknya segera ia angkat ke atas dan berseru .

"Baik! Laki2 sejati sekali kata..."

"Kuda cepat sekali pecut!"

Sambung Yali Ge tanpa ragu-ragu.

Dengan istilah "Laki2 sejati sekali kata, kuda cepat sekali pecut" , artinya apa yang telah diucapkan itu tak akan dipungkiri lagi.

Habis itu, dengan bersitegang lalu Wanyen Peng bertindak pergi walaupun begitu, pada air mukanya tidak terhindar dari rasa pedih dan lesu.

Melihat tuan muda mereka membebaskan si gadis, sudah tentu para pengawal tak berani merintangi, sehabis memberi hormat pada Yali Cu-cay, kemudian merekapun keluar kamar.

Peristiwa tadi terjadi dengan ramainya, namun sama sekali Nyo Ko tak nampakkan diri, diam2 Yali Cin menjadi heran sekali.

"Ji-ko, kenapa kau bebaskan dia lagi?"

Terdengar Yali Yen tanya abangnya, Yali Ce, dengan tertawa.

"Tidak bebaskan dia, apa harus bunuh dia?"

Sahut Yali Ce.

"Tetapi salah besar kalau kau bebaskan dia,"

Kata Yali Yen lagi.

"Sebab apa?"

Tanya Yali Ce heran.

"Ji-ko, kau kehendaki dia menjadi isteri seharusnya jangan kau lepaskan dia,"

Ujar Yali Yen tertawa.

"Ngaco-belo!"

Omel Yali Ce dengan sungguh2.

Meiihat abangnya ber-sungguh2, kuatir orang marah, maka tak berani lagi Yali Yen bergurau Percakapan kedua orang itu semuanya didengar jelas oleh Nyo Ko yang masih mengintip di luar jendela itu demi mendengar apa yang dikatakan Yali Yen bahwa "kehendaki dia menjadi isteri" , aneh, dalam hatinya tanpa sebab timbul semacam rasa iri, rasa cemburu, ia menjadi begitu benci terhadap si Yali Ce itu.

Padahal ilmu silat Yali Ce sangat tinggi, tingkah lakunya pun berbudi dan sesungguhnya adalah satu laki2 sejati, sebenarnya Nyo Ko diam2 kagum padanya.

Tetapi kini demi terpikir Wanyen Peng akan diperisterikan dia, ia merasa semakin tinggi ilmu silat Yali Ce dan semakin baik prilakunya, hal ini semakin menandakan kemalangan nasib dirinya sendiri Oleh sebab itulah, begitu dilihatnya sorot mata Wanyen Peng sangat mirip Siao-Iiong-li, tanpa terasa bibit asmaranya bersemi dan terlibat pada diri gadis itu.

Tengah ia tertegun, tiba2 dilihatnya berkelebat bayangan Wanyen Peng di atas rumah sana yang menuju ke jurusan tenggara.

"Coba aku pergi melihatnya,"

Katanya tiba2 pada Liok Bu-siang.

"Melihat apa?"

Tanya si nona.

Namun Nyo Ko tak menjawab, dengan cepat Wanyen Peng disusulnya.

Meski ilmu silat Wanyen Peng tak terlalu tinggi, tetapi Ginkang atau ilmu entengkan tubuhnya ternyata amat bagus, sesudah Nyo Ko mengejar dengan "poIgas"

Hingga di luar kota barulah dapat disusulnya.

Ia melihat Wanyen Peng masuk ke sebuah rumah penduduk Dengan cepat Nyo Ko ikut melompat masuk ke pelataran rumah itu dan sembunyi di pinggir tembok, Lewat tak lama, kamar di sebelah barat sana kelihatan sinar lampu yang dinyatakan, menyusul mana lantas terdengar suara orang menghela napas panjang.

Dari helaan napas panjang itu jelas orangnya lagi berhati duka dan menderita batin.

Mendengar suara helaan napas panjang itu, seketika Nyo Ko tertegun seperti orang linglung di luar jendela kamar itu, tanpa terasa iapun ikut menghela napas panjang.

Mendadak mendengar ada orang menghela napas juga di kamar, Wanyen Peng terperanjat, lekas2 ia sirapkan lampu dan mundur ke pojok kamar.

"Siapa?"

Bentaknya kemudian dengan suara tertahan.

"Kalau tidak berduka, mana bisa menghela napas?"

Sahut Nyo Ko. Wanyen Peng semakin heran, dan lagu suara orang agaknya tidak bermaksud jahat, maka ia tanya lagi.

"Siapakah kau sebenarnya?"

"Untuk membalas sakit hati, orang kuno pernah rebah sambil merasakan pahitnya empedu, tetapi kau, gagal sekali sudah hendak bunuh diri, bukankan harus malu dibandingkan orang kuno itu?"

Kata Nyo Ko dari luar.

Dahulu di Tho-hoa-to pernah Nyo Ko bersekolah pada Ui Yong dan banyak diceritakan oleh bibinya itu tentang hikayat orang2 jaman dahulu, diantaranya ialah Wat-ong dari jaman Ciankok yang tertawan musuh, tetapi tanpa putus asa dan dengan penuh sabar menantikan saat baik untuk membalas dendam, sebagai gemblengan atas cita2-nya itu , Wat-ong setiap hari mengicip2 rasa pahitnya empedu sambil merebah, Cerita itulah kini di-sitir oleh Nyo Ko.

Karena itu, lalu terdengar suara pintu kamar dibuka, Wanyen Peng menyalakan lagi lampunya.

"Silakan masuk,"

Begitulah ia sambut Nyo Ko.

Lebih dulu Nyo Ko memberi hormat, habis itu baru dia masuk ke kamar orang.

Wanyen Peng rada heran melihat Nyo Ko memakai seragam perwira bangsa Mongol, lagi pula usianya masih muda.

"Petunjuk tuan memang tepat, dapatkah mengetahui nama dan she tuan yang mulia?"

Tanyanya kemudian. Akan tetapi Nyo Ko tidak menjawab, sebaliknya kedua tangannya ia masukkan ke dalam lengan baju, habis itu baru ia buka suara, tetapi menyimpang dari pertanyaan orang.

"ltulah Yali Ce telah membual secara tak tahu malu, ia kira dengan tangan kanan saja sudah hebat sekali kepandaiannya, padahal kalau mau rebut golok orang dan menutuk Hiat-to orang, apa susahnya meski sebelah tangan tak diperguna-kan?"

Demikian katanya. Namun Wanyen Peng tidak sependapat dengan uraian Nyo Ko yang lebih sombong dari Yali Ce itu, tetapi karena belum kenal asal usul orang, maka ia merasa tidak enak mendebatnya.

"Aku ajarkan kau tiga jurus sakti, dengan ini kau lantas bisa paksa Yali Ce memakai kedua tangannya,"

Kata Nyo Ko lagi "Tetapi kau tentu tak percaya, bukan ? Nah, sekarang juga aku boleh coba2 dengan kau. Aku sama sekali tak menggunakan kaki-tanganku untuk bergebrak dengan kau, bagaimana ?"

Luar biasa heran Wanyen Peng oleh ucapan Nyo Ko, katanya dalam hati.

"Masakan kau bisa rami gaib hingga dengan sekali tiup kau bisa robohkan aku?"

Melihat sikap si gadis, Nyo Ko tahu apa yang dipikir olehnya.

"Kau boleh bacok dengan golok sesukamu, atau aku tak bisa hindarkan diri biar matipun ku tidak menyesal"

Katanya untuk menghiIangkan rasa sangsi si nona.

"Baiklah, cuma akupun tak pakai golok, balas dengan tangan kosong saja kulukai kau,"

Sahut Wanyen Peng.

"Tidak, tidak,"

Kata Nyo Ko lagi sambil menggeleng kepala.

"aku harus rebut golokmu tanpa geraki tangan dan kakiku, dengan begitu barulah kau mau percaya."

Melihat sikap Nyo Ko yang anggap perkara itu seperti hal sepele saja, mau tak-mau Wanyeng Peng mendongkol juga.

"Tuan begini lihay, sungguh, dengar saja aku tak pernah"

Katanya Habis ini, tanpa sungkan2 lagi ia lolos golok terus membacok ke pundak Nyo Ko.

Ketika melihat kedua tangan Nyo Ko masih terselubung di dalam lengan baju dan anggap seperti tidak terjadi apa2, ia menjadi kuatir betulI melukai orang, maka arah goloknya sedikit dimiringkan ke samping.

Gerak senjatanya ini ternyata dapat dilihat jelas oleh Nyo Ko, iapun tidak bergerak sedikitpun.

"Jangan kau sungkan2, kau harus membacok sungguhan."

Demikian katanya. Wanyen Peng menjadi kagum melihat orang sama sekali tak hkaukan serangannya itu.

"Apakah ia seorang dogol?"

Pikirnya.

Menyusul itu, goloknya bergerak pula, sekali ini ia membabat dari samping dengan sungguh2 Tak terduga, secepat kilat mendadak Nyo sedikit berjongkok hingga golok menyamber lewat di atas kepalanya, jaraknya cuma selisih satu-dua senti saja.

Sekarang Wanyen Peng tidak sungkan2 lagi, ia kumpulkan semangat, goloknya diangkat terus membacok pula.

"Dalam bacokanmu boleh diselingi pula dengan Thi-cio (pukulan telapak besi),"

Kata Nyo Ko sembari hindarkan golok. Luar biasa kaget Wanyen Peng oleh kata2 Nyo Ko itu, dengan golok terhunus ia melompat ke pinggir "Da... dari mana kau bisa tahu?,"

Tanyanya cepat dengan suara tak lancar.

"Kau punya Ginkang adalah dari golongan Thi-cio-cui-siang-biau, maka aku hanya coba menerkanya saja,"

Sahut Nyo Ko.

"Baik,"

Kata Wanven Peng kemudian.

Berbareng itu goloknya membacok pula diikuti dengan tangan kiri lantas memotong betul2 diantara goloknya ia selingi dengan Thi-cio.

Namun dengan gampang saja Nyo Ko mengegos lagi "Boleh lebih cepat sedikit."

Katanya malah.

Wanyen Peng menjadi makin heran, ilmu goloknya lantas dikeluarkan seluruhnya, makin menyerang makin cepat nyata dia memang anak murid kaum ahli yang tersohor, gerak serangannya tidak boleh dipandang enteng.

Sungguhpun begitu, namun kedua tangan Nyo Ko masih terselubung di dalam lengan baju, hanya tubuhnya saja vang berkelit kian kemari di antara samberan golok dan hantaman orang, jangan kata hendak melukainya, ujung baju saja Wanyen Peng tak mampu menyenggolnya.

Sesudah sebagian besar ilmu golok si nona dilontarkan, tiba2 Nyo Ko berkata.

"Awas, dalam tiga jurus ini, golokmu akan kurebut!"

Kini Wanyen Peng sudah kagum luar biasa terhadap Nyo Ko, tetapi kalau bilang dalam tiga jurus saja goloknya hendak direbut, inilah dia masih belum mau percaya, maka senjatanya ia genggam terlebih kencang.

"Coba saja rebut!"

Sahutnya, berbareng ia memotong dari samping dengan kuat, tipu serangan ini adalah "Ling-hing-cin-nia" (dengan gesit melintasi bukit Cin).

Siapa tahu, dengan sedikit menunduk Nyo Ko malah menerobos di bawah goloknya, menyusul ini kepalanya sedikit melengos ke atas, dengan batok kepalanya ia bentur siku Wanyen Peng yang memegang golok itu.

Tempat yang dibentur itu adalah "kiok-ti-hiat" , keruan lengan Wanyen Peng menjadi lemas tak bertenaga, ketika Nyo Ko mendongak dan mangap mulutnya, dengan jitu sekali punggung golok kena digigitnya, maka secara gampang saja senjata itupun kena direbutnya, bahkan menyusul kepalanya melengos lagi, dengan garan golok ia tumbuk iga Wanyen Peng, maka tertutuklah Hiat-to si gadis.

Dengan tersenyum Nyo Ko segerapun melompat pergi, waktu kepalanya bergerak, tiba2 ia mengayun ke atas hingga golok yang dia gigit tadi terbang ke udara, dengan melemparkan golok ini, perlunya agar bisa bicara dengan mulutnya.

"Bagaimana, menyerah tidak?"

Begitu ia tanya.

Habis berkata, golok itupun sudah menurun ke bawah, Nyo Ko buka mulut dan dapat menggigitnya kembali Terkejut dan bergirang Wanyen Peng, ia angguk2 oleh pertanyaan Nyo Ko tadi.

Melihat kerlingan mata si gadis sungguh mirip sekali dengan Siao-liong-li, tak tertahan Nyo Ko ingin sekali bisa peluk orang dan menciumnya, cuma perbuatan ini terlalu kurangajar, maka sambil gigit golok, mukanya menjadi merah jengah.

Sudah tentu Wanyen Peng tak tahu apa yang sedang dipikir Nyo Ko, hanya dilihatnya sikap orang yang aneh itu, dalam hati ia ter-heran2, namun seluruh badan sendiri terasa kaku, kedua kaki lemas se-akan2 hendak jatuh.

Nyo Ko melangkah maju dan melamun, tiba2 teringat olehnya.

"Ah, jangan, dia pernah berterima kasih pada Yali Ce karena sopan santunnya, memang aku lebih rendah daripada Yali Ce itu? Hm, aku justru hendak melebihi dia dalam hal apapun juga."

Begitulah tabiat Nyo Ko yang gampang ter-singgung, sejak kecil tak pernah memperoleh didikan orang tua, tentang sopan santun dan tata krama sama sekali tak diketahui, setiap tindak tanduknya bergantung pada pendapatnya apakah itu baik atau buruk.

Waktu itu kalau bukan pikirannya ingin melebihi Yali Ce, boleh jadi ia sudah peluk Wanyen Peng dan menciumnya.

Kemudian dengan garan golok ia tumbuk lagi sekali pinggang Wanyen Peng untuk melepaskan Hiat-to yang ditutuk tadi, lalu golok itu ia angsurkan kembali padanya.

Siapa tahu, bukannya Wanyen Peng terima kembali goloknya, sebaliknya ia terus berlutut di hadapan Nyo Ko.

"Mohon Suhu terima aku sebagai murid, kalau aku dapat membalas sakit hati orang tua, budi ini pasti takkan kulupakan,"

Katanya tiba2. Nyo Ko menjadi kelabakan oleh kelakuan orang, lekas2 ia bangunkan Wanyen Peng.

"Mana bisa aku menjadi gurumu?"

Sahutnya.

"Tetapi, dapatlah kuajarkan satu akal padamu untuk membunuh Yali-kongcu."

Girang sekali Wanyen Peng oleh keterangan itu.

Bagus sekali, asal bisa bunuh Yali-kongcu, abang dan adiknya bukan tandinganku semua, dengan sendirinya aku dapat membunuh lagi ayahnya...

berkata sampai disini, tiba2 terpikir lagi olehnya.

"Ah, kalau sampai aku memiliki kepandaian untuk membunuh dia, apa mungkin Yali tua masih hidup di dunia ini? Bagaimanapun juga, sakit hati ayah-bundaku tak dapat dibalas,"

Tetapi sehari ini saja Yali tua itu rasanya masih tetap hidup,"

Kata Nyo Ko dengan tertawa.

"Apa maksudmu?"

Tanya Wanyen Peng.

"Untuk membunuh Yali Ce, apa susahnya?"

Sahut Nyo Ko.

"Sekarang juga aku ajarkan tiga tipu padamu dan malam ini juga kau dapat membunuhnya."

Sudah tiga kali Wanyen Peng berusaha membunuh Yali Cu-cay, tetapi ketiga kalinya selalu dikalahkan Yali Ce secara mudah saja, maka ia cukup kenal ilmu kepandaian orang yang berpuluh kali lebih tinggi dari dirinya.

Ia pikir, sungguhpun ilmu silat Nyo Ko tinggi, tapi belum tentu melebihi Yali Ce.

Sekalipun bisa menangkan dia, tidak nanti juga hanya tiga tipu saja lantas bisa digunakan buat membunuh orang, apalagi malam ini pula katanya bisa membunuhnya, ini lebih2 tak mungkin.

Begitulah ia menjadi sangsi, karena kuatir Nyo Ko marah, maka tak berani Wanyen Peng mendebatnya, hanya kepalanya menggeleng sedikit, sedang kerlingan matanya yang menggilakan Nyo-Ko tadi semakin menggiurkan.

Betapa pintarnya Nyo Ko, segera iapun tahu apa yang dipikirkan si gadis.

"Ya, memang ilmu silatku belum pasti bisa diatasnya,"

Demikian katanya.

"kalau saling gebrak, boleh jadi aku malah banyak kalahnya daripada menangnya, Tetapi untuk mengajarkan tiga tipu padamu dan buat membunuhnya malam ini juga, hal ini sebaliknya tidak perlu buang tenaga, Soalnya hanya bergantung padamu yang pernah mendapat pengampunan tiga kali dari dia, aku kuatir kau tak tega membunuhnya."

Hati Wanyen Peng tergerak, segera ia keraskan hatinya dan menyahut.

"Meski dia ada budi padaku, namun sakit hati orang tua tidak bisa tidak dibalas."

"Baik, kalau begitu tiga jurus tipu ini segera kuajarkan padamu,"

Kata Nyo Ko.

"Tetapi kalau kau mestinya bisa membunuh dia dan tidak kau lakukan, lalu bagaimana nanti?"

"Bila terjadi begitu, terserahlah kau untuk berbuat sesukamu, toh kepandaianmu begini tinggi kau mau pukul atau mau bunuh aku, apa aku sanggup melarikan diri?"

Sahut Wanyen Peng tegas.

"Mana aku tega pukul, apalagi membunuh kau?"

Demikian pikir Nyo Ko dalam hati. Maka dengan tersenyum ia menjawab.

"Sebenamya tiga jurus tipu inipun tiada yang mengherankan Nih, kau lihat yang jelas!"

Habis itu, golok orang lantas diambilnya kembali, dengan pelahan ia membabat dari kiri ke kanan.

"Tipu pertama yalah "hun-hing-cin-nia","

Kata Nyo Ko. Melihat tipu serangan ini, diam2 Wanyen Peng berpikir.

"Tipu serangan ini aku sudah bisa, perlu apa kau mengajarkan?" -Maka dengan mengegos ia hindarkan serangan itu.

"Dan kini tipu kedua,"

Kata Nyo Ko sambil mendadak ulur tangan kiri buat pegang tangan kanan si gadis.

"ini adalah tipu "ko-tin-jiau-jiu" (akar rotan melingkar pohon) dari ilmu pukulanmu Thi-cio-kang."

"Aneh, tipu inipun satu diantara 18 gerakan Kim-na-jiu dari Thi-cio-kang kami, buat apa kau mengajarkan lagi?"

Kembali Wanyen Peng berpikir "Tetapi aneh juga, darimana dia mempelajari ilmu pukulan golongan Thi-cio-bun kami?"

Ilmu kepandaian golongan Thi-cio-bun, pertama adalah Ginkang atau ilmu mengentengkan tubuh, Kedua yalah Cio-hoat atau ilmu pukulan tangan kosong, lebih2 18 jurus Kim-na-jiu (cara mencekal dan memegang) juga sangat lihay, Karena Kiu-im-cin-keng adalah himpunan dari inti2 itmu silat seluruh jagat, asal satu dipelajari maka semuanya paham dengan sendirinya.

Nyo Ko sudah berhasil melatih Kiu-im-cin-keng, maka iapun kenal Kim-na-jiu-hoat dari Thi-cio-bun itu, hanya cara yang lebih mendalam belum diketahuinya.

Begitulah, maka Wanyen Peng menjadi heran karena tangannya dipegang tadi ia merasa Kim-na-jiu-hoat yang diunjuk Nyo Ko ini sebenarnya tidak lebih lihay dari apa yang dia pernah belajar, karena itu, dengan mata terbuka lebar ia menantikan tipu serangan ketiga yang akan diajarkan padanya itu.

Belum lagi Nyo Ko perlihatkan tipu ketiganya, Wanyen Peng telah membatin pula.

"Jurus seranganmu yang pertama dan kedua semuanya adalah ilmu kepandaian Thi-cio-bun kami sendiri hakekatnya tiada sesuatu yang luar biasa, apakah mungkin melulu andalkan tipu serangan ketiga ini lantas bisa membunuh Yali-kongcu?"

"Nah, sekarang lihatlah yang jelas !"

Begitulah terdengar Nyo Ko berseru padanya, Habis itu goloknya diangkat terus menggorok tenggorokan sendiri. Keruan saja tidak kepalang kaget Wanyen Peng.

"Hai, apa yang kau lakukan ?"

Jeritnya cepat Dan karena tangan kanannya masih dipegang ken-cang2 oleh Nyo Ko, maka dengan tangan kiri ia merebut senjata yang hendak dibuat bunuh diri oleh Nyo Ko itu.

Meski dalam keadaan gugup, namun gerak tangan Wanyen Peng tetap sangat cepat, sekali cekal, pergelangan tangan si Nyo Ko sudah dipegangnya terus ditekuk, dengan demikian mata golok itu tak dapat dipakai membunuh diri lagi.

Nyo Ko lantas kendurkan kedua tangannya dan melompat mundur.

"Nah, sekarang kau sudah tahu bukan ?"

Dengan tertawa ia tanya. Wanyen Peng sendiri masih ber-debar2 hati-nya oleh karena kagetnya tadi, maka ia belum paham apa maksud kata2nya.

"Pertama kau gunakan tipu "hun-hing-cin-nia"

Untuk membabat, lalu dengan tipu oh-tu-jiau-jiu"

Kau cekal tangan kanannya dengan kencang, dan tipu ketiga yalah angkat golok buat bunuh diri.

"Dalam keadaan begitu, pasti dia akan gunakan tangan kiri buat menolong kau, ia pernah bersummpah padamu bahwa asal kau bisa memaksa dia menggunakan tangan kiri, ia akan serahkan jiwanya padamu, itu namanya mati tanpa menyesal dan bukankah urusan menjadi selesai ?"

Demikian Nyo Ko menjelaskan. Betul juga pikir Wanyen Peng, tetapi dengan ter-mangu2 ia memandang Nyo Ko, dalam hati ia pikir.

"Usiamu masih semuda ini, mengapa dapat kau pikirkan cara2 yang begini aneh dan nakal ?"

Dalam pada itu Nyo Ko telah berkata lagi.

"Ketiga tipu tadi tanggung berhasil dengan baik, kalau gagal, aku nanti menyembah padamu!"

"Tidak,"

Tiba2 Wanyen Peng menyahut dengan goyang kepala.

"sekali dia bilang tak akan pakai tangan kiri, tentu tak digunakannya, lalu bagaimana?"

"Lalu bagaimana? Kalau kau tak bisa membalas dendam, bukankah lebih baik mati saja, beres."

Kata Nyo Ko.

"Kau betul,"

Sahut Wanyen Peng dengan suara pilu.

"Terima kasih atas petunjukmu sebenarnya kau ini siapakah ?"

"Dia bernama si Tolol, jangan kau turut ocehannya,"

Belum sampai Nyo Ko menjawab, tiba2 suara seorang perempuan menyela di luar jendela.

Nyo Ko dapat mengenali itu adalah suara Liok Bu-siang, maka ia hanya tersenyum dan tidak gubris.

Sementara itu Wanyen Peng telah melompat ke pinggir jendela, sekilas masih dapat dilihat berkelebatnya bayangan orang yang melompat keluar pagar.

Hendak dikejar oleh Wanyen Peng sebenarnya, namun Nyo Ko telah mencegahnya.

"Tak perlu kau uber dia,"

Kata Nyo Ko dengan tertawa.

"Dia adalah kawan-ku. Dia memang selalu ingin mengacau padaku."

"Tak apalah kalau kau tak mau menerang-kan,"

Ujar Wanyen Peng sesudah termenung sejenak sambil memandangi Nyo Ko.

"Tetapi aku yakin kau tiada maksud jahat padaku."

Watak Nyo Ko suka menyerah pada kelunakan dan se-kali2 tidak sudi tunduk pada kekerasan kalau ada orang menghina dia, memaksa dia, sekalipun mati tak nanti dia menyerah, tetapi kini oleh karena kerlingan mata Wanyen Peng dengan wajahnya yang sayu mengharukan, tanpa terasa timbul rasa kasih sayang dalam hati Nyo Ko.

Maka dengan tarik tangan si gadis, dengan berendeng mereka duduk di dipan, lalu dengan suara halus ia menerangkan .

"Aku she Nyo dan bernama Ko, ayah-bundaku sudah meninggal semua, serupa saja dengan hidupmu..."

Mendengar sampai disini, hati Wanyen Peng tak tertahan lagi air matanya mengucur.

Dasar perasaannya Nyo Ko juga gampang terguncang, mendadak iapun menangis hingga menggerung.

Karena itu, Wanyen Peng keluarkan saputangan dan disodorkan pada Nyo Ko.

Waktu mengusap air mata dengan saputangan orang, Nyo Ko mencium bau harum yang sedap, tetapi ketika ingat pada kisah hidupnya sendiri, air matanya semakin lama semakin mengucur.

"Nyo-ya (tuan Nyo), kaupun ikut2 menangis --gara2 urusanku,"

Kata Wanyen Peng.

"Jangan panggil aku Nyo-ya,"

Sahut Nyo Ko.

"Betapa umurmu tahun ini?"

"Delapan belas,"

Kata si gadis.

"Dan kau?"

"Akupun delapan belas,"

Sahut Nyo Ko, Dalam hati ia berpikir.

"Kalau bulan lahirku lebih muda dari dia hingga aku dipanggil adik olehnya, rasanya kurang nikmat." -Karena inilah, lantas di sambungnya lagi.

"Aku terlahir dalam bulan pertama, maka selanjutnya kau panggil aku Toako saja, Akupun tak akan sungkan 2 lagi dan panggil kau sebagai adik perempuan."

Muka Wanyen Peng menjadi merah, ia merasa si Nyo Ko ini segala apa selalu terang2an, sungguh sangat aneh, tetapi memang nyata tiada maksud jahat terhadap dirinya, maka kemudian iapun.

mengangguk tanda setuju.

Mendapatkan seorang adik baru, rasa senang hati Nyo Ko sungguh tak terkatakan.

Begitulah watak Nyo Ko, kalau Liok Bu-siang suka mendamperat dan marah2 padanya, maka ia pun tiada hentinya menggoda, Tetapi kini wajah Wanyen Peng cantik molek, perawakannya kurus lencir, nasibnya pun malang, seperti dilahirkan supaya dikasihani orang, yang paling penting lagi, jalan kerlingan sepasang mata-bolanya yang begitu mirip seperti Siao-liong-li.

Dengan ter-mangu2 Nyo Ko memandangi mata Wanyen Peng, dalam khayalannya ia anggap gadis berbaju hitam di hadapannya itu seperti berbaju putih, wajah orang yang cantik kurus itu se-akan2 kelihatan seperti muka Siao-liong-li tanpa terasa terunjuklah perasaannya yang mengharap, perasaan rindu rasa kasih sayang yang halus.

Karena guncangan perasaan itulah, maka air mukanya pun menjadi aneh luar biasa, akhirnya Wanyen Peng menjadi takut, pelahan ia lepaskan tangan dari cekalan orang dan menegur.

"Kenapakah kau?"

"Tak apa2,"

Sahut Nyo Ko seperti tersadar dari mimpi, sambil menghela napas.

"Sekarang kau pergi membunuh dia tidak?"

"Segera juga aku pergi,"

Sahut Wanyen Peng cepat.

"Nyo-toako, kau ikut serta tidak?"

Sebenarnya Nyo Ko hendak berkata .

"sudah tentu ikut serta" , tetapi bila terpikir lagi kalau dirinya ikut, tentu hal ini akan membesarkan hati Wanyen Peng, dan lagaknya membunuh diri tentu menjadi tak sungguhan Yali Ce juga tak bisa terjebak akalnya lagi Sebab itu, maka dijawabnya .

"Rasanya tak enak aku ikut pergi."

Karena jawaban ini, tiba2 sorot mata Wanyen Peog menjadi guram Hati Nyo Ko menjadi lemas, hampir2 ia menyanggupi untuk ikut serta kalau tidak keburu si gadis berkata lagi.

"Baiklah, Nyo-toako, cuma aku tak akan bersua lagi dengan kau."

"Mana, ma... mana bisa begitu? ak,..aku...."

Sahut Nyo Ko cepat dan tak lancar.

Namun Wanyen Peng sudah keluarkan serenceng uang perak, ia lemparkan ke atas meja sebagai biaya menginap di rumah penduduk itu, habis mana iapun melompat keluar.

Dengan ilmu entengkan tubuhnya yang hebat, sekejap saja ia sudah berada lagi ditempat tinggalnya Yali Ce.

Tatkala itu Yali Cu-cay dll sudah kembali ke kamarnya sendiri2, Yali Ce baru saja hendak me-ngaso, tiba2 pintu kamarnya diketok orang.

"Wanyen Peng mohon bertemu Yali-kongcu,"

Demikian terdengar suara si gadis yang nyaring. Segera ada empat pengawal datang merintangi Wanyen Peng, namun Yali Ce sudah keburu membuka pintu kamarnya.

"Ada keperluan apa lagi, nona Wanyen?"

Tanyanya segera.

"Aku ingin belajar beberapa gebrak lagi dengan kau,"

Sahut Wanyen Peng. Heran sekali Yali Ce, ia pikir mengapa orang tak tahu diri? Namun tidak urung ia menyingkir ke samping sambil memberi tanda dengan tangan.

"Silakan masuk!"

Begitu masuk, tanpa bicara lagi Wanyen Peng lantas lolos senjata terus mencecar tiga kali, diantara goloknya, ia selingi pula dengan pukulan telapak tangan besinya.

Tetapi Yali Ce memang jauh lebih tinggi ilmu silatnya, dengan tangan kiri lurus ke bawah, ia layani si gadis dengan tangan kanan melulu, ia balas memukul dan hendak menangkap senjata orang, dengan gampang saja semua serangan Wanyen Peng dapat dipatahkannya.

Dalam hati iapun sedang pikirkan sesuatu daya-upaya agar bisa membikin Wanyen Peng kapok dan mundur teratur untuk selanjutnya tak datang merecokinya lagi .

Lewat tak lama, selagi Wanyen Peng hendak keluarkan tiga tipu akal ajaran Nyo Ko, mendadak di luar pintu suara seorang wanita berseru.

"Hmm Yali-kongcu, dia hendak menipu kau menggunakan tangan kiri."

Tidak salah lagi itulah suaranya Liok Bu-siang. Untuk sesaat Yali Ce tercengang, akan tetapi Wanyen Peng tak memberikan kesempatan padannya untuk berpikir, segera dengan tipu "hun-hmg-cin-nia"

Ia membabat, selagi Yali Ce mengegos, se-konyong2 ia ulur tangan kiri terus cekal tangan kanan Yali Ce dengan tipu "koh-tin-jiau-jiu", menyusul golok diangkat terus menggorok ke lehernya sendiri!

Maka insaflah Yali Ce oleh seruan di luar pintu tadi, untuk sesaat pikirannya sudah bergantian beberapa kali.

"Harus kutolong dia! -Tetapi inilah tipunya untuk pancing aku menggunakan tangan kiri, kalau aku geraki tangan kiri, itu berarti aku menyerahkan jiwaku untuk diperbuat sesuka hatinya. Biarlah, laki2 sejati mati biarlah mati, mana boleh melihat orang mau bunuh diri tanpa menolongnya ?"

Sebenarnya Nyo Ko sudah mentafsirkan jalan pikiran Yali Ce, asal mendadak tiga tipu serangan ajarannya itu dilontarkan, maka tak bisa tidak pasti ia akan gunakan tangan kirinya buat menolong, Siapa tahu Liok Bu-siang sengaja mengacau dan sebelumnya memperingatkan Yali Ce.

Sungguhpun begitu, namun Yali Ce memang manusia yang berbudi dan berhati mulia, sudah terang diketahuinya begitu ia keluarkan tangan kiri buat tolong Wanyen Peng, maka jiwanya tak terjamin lagi.

Tetapi pada saat yang berbahaya itu, toh masih tetap tangan kirinya diulur untuk menangkis pergelangan tangan Wanyen Peng, menyusul tangannya membalik dan Liu-yap-to itu dapat direbutnya.

Sesudah saling gebrak tiga jurus itu, kemudian masing2 pun melompat mundur berbareng, Dan sejenak menunggu si gadis buka suara, Yali Ce segera mendahului melemparkan golok rampasannya padanya.

"Nyata kau dapat paksa aku menggunakan tangan kiri maka jiwaku kuserahkan padamu sekarang, cuma ada sesuatu permohonanku padamu,"

Demikian katanya.

"Urusan apa?"

Tanya Wanyen Peng dengan muka pucat.

"Aku mohon kau jangan celakai ayahku lagi,"

Pinta Yali Ce.

Wanyen Peng menjengek sekali, lalu dengan ia melangkah maju, golok ia angkat, di sinar lampu ia lihat sikap Yali Ce biasa saja tanpa jeri sedikitpun, bahkan penuh berwibawa.

Wanyen Peng adalah gadis yang cantik dan halus budinya, melihat seorang Iaki2 sejati sedemikian ini, teringat olehnya sebabnya orang menggunakan tangan kiri tak lain tak bukan adalah karena hendak menolong jiwanya, keruan goloknya itu tak tega dibacokkan.

Tiba2 napsu membunuhnya yang membakar tadi menjadi ludes, Liu-yap-to yang sudah dia angkat itu mendadak dilempar ke lantai, dengan menutup mukanya iapun berlari pergi.

Dalam keadaan begitu, Wanyen Peng menjadi seperti orang linglung, ia melangkah setibanya hingga akhirnya sampai di tepi sebuah sungai, sambil memandangi sinar bintang yang ber-kelip2 guram tercermin di air sungai itu, pikirannya kusut tidak keruan.

Lewat lama dan lama sekali, Wanyen Peng menghela napas panjang, Tiba2 ia dengar di belakangnya ada orang menghela napas juga, di malam yang sunyi itu, kedengarannya menjadi sangat seram.

Dalam kagetnya segerapun Wanyen Peng berpaling, maka terlihatlah satu orang berdiri di belakangnya, siapa lagi dia kalau bukan Nyo Ko !

"Nyo-toako,"

Ia menyapa sekali, lalu kepala menunduk dan tidak buka suara pula.

"Moaycu (adik), urusan membalas dendam orang tua memang bukan perkara gampang, maka tak perlu ter-gesa2 ingin lekas terlaksana,"

Kata Nyo Ko sambil maju dan menggenggam tangan si gadis.

"Kau sudah menyaksikan semuanya?"

Tanya Wanyen Peng. Nyo Ko mengangguk.

"Manusia seperti aku ini, soal balas dendam sudah tentu bukan urusan gampang."

Kata pula si gadis.

"Tetapi kalau aku bisa mempunyai setengah kepandaianmu rasanya tak nanti aku bernasib begini,"

"Sekalipun bisa memiliki ilmu silat seperti aku, apa guna?"

Ujar Nyo Ko sambil gandeng tangan orang dan duduk berendeng di bawah satu pohon rindang.

"Meski kau belum bisa membalas dendam, namun sedikitnya kau sudah tahu siapa musuhmu. sebaliknya aku? Sampai cara bagaimana ayahku tewas, hingga kini akupun tidak tahu, begitu pula siapa pembunuhnya juga tak tahu, jangankan hendak menuntut balas, lebih2 tak perlu disebut lagi"

"Ayah-bundamu juga dibunuh orang?"

Tanya Wanyen Peng dengan tercengang.

"Bukan, ibuku tewas digigit ular berbisa, sedangkan ayahku mati secara tak jelas, malahan selamanya belum pernah aku melihat mukanya,"

Sahut Nyo Ko sambil menghela napas.

"Kenapa bisa begitu ?"

Tanya si gadis.

"Ya sebab waktu aku dilahirkan ayahku sudah keburu mati,"

Tutur Nyo Ko.

Sering aku tanya ibu sebab apakah sebenarnya ayah mati dan siapa musuhnya, Tetapi setiap kali aku tanya, selalu ibu mengucurkan air mata dan tak menjawab, belakangan akupun tak berani bertanya lagi.

Aku pikir biarlah kelak kalau aku sudah dewasa barulah aku tanya pula, siapa tahu ibu mendadak di-gigit ular, pada sebelum ajalnya kembali aku bertanya tentang kematian ayah.

Kata ibu.

"Sepak terjang ayahmu memang tidak baik, maka kematiannya itu merupakan ganjarannya, Orang yang membunuhnya berkepandaian tinggi sekali, pula adalah orang baik. Sudahlah, nak, seumur hidupmu ini jangan se-kali2 kau berpikir tentang balas dendam segala" , Ai, coba, cara bagaimana sebaiknya aku ini?"

Dengan penuturannya ini, maksud Nyo Ko hendak menghibur Wanyen Peng, tetapi akhirnya ia sendiri menjadi berduka juga.

"Lalu siapakah yang membesarkan kau?"

Tanya Wanyen Peng.

"Siapa lagi? Sudah tentu kubesarkan diriku sendiri,"

Sahut Nyo Ko.

"Sejak wafatnya ibu, aku lantas ter-lunta2 di kalangan Kangouw, disini aku mengemis sesuap nasi, di sana kulewatkan semalam, kadang2 saking tak tahan lapar aku lantas curi sebuah semangka atau sepotong ubi sekedar tangsal perut, namun sering kali kena ditangkap pemiliknya dan dihajar babak belur, lihat ini, di sini masih ada bekasnya, dan yang ini tulangnya... sampai menonjol, semua ini akibat dihajar orang semasih kecil"

Sambil berkata sembari lengan celananya di gulung untuk menunjukkan tempatnya pada si gadis, tetapi keadaan remang2, Wanyen Peng tak jelas melihatnya, Nyo Ko memegang tangannya dan diletakkan pada belang bekas luka di betisnya itu.

Wanyen Peng berhati Iemah, ia memang dilahirkan sebagai gadis perasa dan suka bersedih, sambil meraba bekas luka betis orang, tak tertahan hatinya terasa pilu, diam2 ia pikir nasib dirinya yang meski negara hancur dan rumah runtuh, namun masih tidak sedikit terdapat sanak kadang serta tidak sedikit kekayaan yang ditinggalkan sang ayah, kalau dibandingkan dengan nasib pemuda di depannya ini dirinya masih boleh dikatakan jauh lebih beruntung.

Begitulah mereka saling diam sejenak, kemudian pelahan2 Wanyen Peng tarik tangannya dari betis orang, hanya masih membiarkan digenggam Nyo Ko.

"Dan cara bagaimana lagi kau berhasil melatih ilmu silat seperti sekarang ini? Dan kenapa menjadi perwira Mongol pula?"

Tanyanya dengan lirih.

"Aku bukan perwira MongoI,"

Sahut Nyo Ko.

"Aku sengaja pakai baju bangsa Mongol, sebabnya hendak menghindari pencarian seorang musuh."

"Bagus kalau begitu ?"

Kata Wanyen Peng tiba2 dengan girang.

"Kenapa bagus?"

Nyo Ko bingung. Sedikit merah muka Wanyen Peng.

"Bangsa Mongol adalah musuh besar negara kami, dengan sendirinya aku mengharap kau bukan perwira mereka,"

Sahutnya kemudian. Hati Nyo Ko terguncang sambil genggam tangan si gadis yang halus dan lunak itu.

"Moaycu, jika aku adalah perwira Mongol, lalu bagaimana perasaanmu terhadapku?"

Tanya Nyo Ko tiba-tiba.

Sejak mula Wanyen Peng melihat tampan Nyo Ko yang gagah dan ilmu silatnya tinggi, memangnya ia sudah suka, belakangan mendengar lagi kisah hidupnya yang mengharukan itu, hal ini lebih menambah rasa kasihannya, maka iapun tidak menjadi marah meski mendengar kata2 Nyo Ko tadi rada blak-blakan.

"Jika ayahku masih hidup, apa yang kau inginkan tentu akan menjadi mudah, tetapi kini ayah-bundaku sudah tiada semua, apalagi yang dapat kukatakan?"

Sahutnya kemudian dengan menghela napas. Mendengar lagu suara orang lemah Iembut, si Nyo Ko menjadi dapat hati, ia berani ulur tangannya buat memegang pundak orang.

"Moaycu, bolehkah kumohon sesuatu,"

Rayu-nya dengan bisik2. Ber-debar2 hati si gadis, sudah beberapa bagian dapat diduganya apa yang dikehendaki Nyo Ko.

"Hal apa?"

Sahutnya rendah.

"Aku mohon diperkenankan mencium matamu ! Ya, mata saja, yang lain2 tak nanti aku melanggarnya,"

Kata Nyo Ko.

Semula Wanyen Peng menyangka tentu si Nyo Ko hendak meminang dirinya, malahan ia kuatir juga jangan2 pemuda ini menjadi lupa daratan dan main kasar terus melakukan perbuatan2 yang tak senonoh di tempat terbuka ini, kalau sampai hal ini terjadi terang sekali dirinya tak bisa melawannya.

Siapa tahu orang hanya mohon mencium matanya, maka terasa lega sedikit baginya, namun entah mengapa, rasa dalam hatipun rada2 kecewa dan sedikit heran pula, sungguh perasaan yang sangat ruwet dan aneh.

Karena itu, dengan tercengang ia pandang Nyo Ko dengan kerlingan matanya yang basah2 sayu dan sedikit rasa malu.

Melihat kerlingan mata Wanyen Peng, tiba2 Nyo Ko teringat pada saat sebelum perpisahannya yang terakhir dengan Siao-Iiong-li, di mana Siao-liong-li pun pernah memandang padanya dengan kerlingan mata yang maIu2 dan mengandung arti yang dalam, Tak tertahan lagi ia menjerit orangnya pun melompat bangun.

Tentu saja Wanyen Pcng kaget oleh kelakuan si Nyo Ko itu, ingin dia tanya oleh sebab apa, namun sukar membuka mulut rasanya.

Dalam pikiran yang kacau itu, Nyo Ko merasa kerlingan mata di depannya itu adalah kerlingan mata Siao-liong-li melulu.

Dahulu waktu pertama kali ia melihat kerlingan mata seperti demikian ini, saat itu ia masih hijau pelonco dan sama sekali tak mengarti arti kerlingan mata demikian itu, tetapi sejak ia turun gunung, sesudah berkumpul beberapa hari dengan Liok Bu-siang, pula hari ini bergaul dengan Wanyen Peng, maka mendadak jadi teringat olehnya maksud baik dan cinta halus dari Siao-liong-li dahulu, semua itu baru dia pahami sekarang.

Keruan ia menyesal tidak kepalang, bisa2 kepalanya hendak ditumbukkan saja ke batang pohon di sampingnya biar mati sekalian "Begitu tulus cinta Kokoh padaku, pula ia sudah bilang hendak menjadi isteriku, tetapi aku telah kecewakan maksud baiknya itu, sekarang ke mana harus kucari dia?"

Demikian terpikir olehnya.

Karena itu, mendadak ia menjerit sekali lagi, tiba2 Wanyen Peng ditubruknya dan dipeluk ken-cang2, dengan bernapsu kelopak mata si gadis di-ciumnya.

Melihat orang seperti kalap dan seperti gila Wanyen Peng terkejut tercampur girang, hendak meronta pun sukar karena didekap Nyo Ko dengan kencang, akhirnya iapun pejamkan matanya dan membiarkan orang mencium sepuasnya, terasa olehnya selalu kelopak matanya itu saja yang ke kanan dan ke kiri diciumi Nyo Ko, ia pikir orang ini meski kasar dan seperti gila, namun apa yang sudah dikatakannya tadi ternyata dapat dipercaya juga, sungguh aneh, sebab apakah melulu mata saja yang terus diciuminya?

"Kokoh, Kokoh!"

Se-konyong2 didengarnya Nyo Ko ber-teriak2, suaranya penuh rasa hangat dan menggelora, tetapi terasa juga seperti sangat menderita.

Selagi Wanyen Peng hendak tanya siapa yang dipanggilnya itu, mendadak terdengar suara seorang perempuan berkata di belakang mereka.

"Ma'af, kalian berdua!"

Nyo Ko dan Wanyen Peng sama2 kaget, segera tangan mereka yang saling genggam tadi terlepas kian melompat pergi, waktu mereka berpaling, maka tertampaklah di bawah pohon itu berdiri seorang gadis berbaju hijau yang dapat dikenali Nyo Ko sebagai orang yang beberapa kali mengirim berita serta menolong Liok Bu-siang itu.

"Berulang kali mendapat bantuanmu, budi ini tak nanti kulupakan,"

Cepat Nyo Ko menyapa sambil memberi hormat. Dengan laku sangat sopan gadis itu membalas hormat orang.

"Rupanya Nyo-ya sedang senang2 karena ada kenalan baru, tetapi apa masih ingat pada kawan lama yang pernah mengalami mati-hidup bersama itu?"

Begitu katanya.

"Kau maksudkan..."

"Li Bok-chiu guru bermurid tadi telah menawannya pergi!"

Potong gadis itu sebelum Nyo Ko selesai berkata. Keruan Nyo Ko terkejut.

"Apa betul?"

Ia menegas dengan suara gemetar "Dia... dia ditawan ke mana?"

"Waktu kau sedang asyik-masyuk dengan nona ini, saat itulah nona Liok ditawan Li Bok-chiu,"

Sahut gadis itu.

"Apa... apa tidak berhalangan atas dirinya?"

Tanya Nyo Ko pula.

"Untuk sementara rasanya tidak mengapa bagi keselamatannya,"

Kata si gadis.

"Nona Liok tetap mengatakan kitab pusakanya itu telah direbut oleh Kay-pang, maka Jik-lian-mo-tau itu telah giring dia pergi pada kaum pengemis itu, jiwanya sementara tak menjadi soal tetapi siksaan badan rasanya sukar dihindarkan."

Nyo Ko adalah seorang yang gampang terguncang, maka segera ia mengajak .

"Marilah, lekas kita pergi menolongnya."

Siapa duga gadis itu hanya menggoyang kepala.

"Meski ilmu silat Nyo-ya tinggi, tapi rasanya masih bukan tandingan iblis itu,"

Demikian sahutnya.

"Mungkin jiwa kita hanya akan melayang percuma, sedang urusannya masih belum bisa ditolong,"

Walau dalam kegelapan, namun mata "

Nyo-Ko sangat tajam seperti memandang benda di siang hari saja, maka wajah si gadis baju hijau ini dapat dilihatnya sangat jelek dan aneh luar biasa, otot daging di mukanya kaku tanpa bergerak sedikitpun seperti mayat hingga membikin seram orang yang memandangnya, Karena itu, Nyo Ko tak berani memandang lebih lama.

"Orang ini sangat baik terhadapku, tetapi aneh, mukanya kenapa terlahir begini rupa?"

Demikian pikirnya, Maka kemudian iapun bertanya.

"Dapatkah mengetahui she dan nama nona? selamanya kita belum kenal, kenapa begitu mendapat perhatian nona?"

"Namaku tiada harganya buat di-sebut2, kelak Nyo-ya tentu akan tahu juga, kini yang paling penting yalah lekas berdaya-upaya buat menolong orang saja,"

Sahut gadis itu.

Diwaktu berkata air mukanya sedikitpun tidak tampak perubahannya, kalau bukan mendengar suara keluar dari mulutnya, sungguh orang bisa menyangka dia adalah mayat hidup.

Namun aneh juga, suaranya ternyata nyaring merdu menarik.

"Jika begitu, cara bagaimana menoIongnya, terserahlah pada keputusan nona, dengan hormat aku menurut petunjukmu saja,"

Kata Nyo Ko kemudian.

"Nyo-ya hendaklah jangan sungkan2,"

Sahut gadis itu.

"Ilmu silatmu berpuluh kali lipat di atasku berpuluh kali lebih pintar juga dari padaku, pula usiamu lebih tua, dan seorang laki2 lagi, apa yang kau bilang baik tentunya baik, kedatanganku justru untuk terima perintahmu saja,"

Mendengar kata2 orang yang merendah dan menyenangkan ini, sungguh Nyo Ko menjadi senang sekali "Kalau begitu, kita mengintilnya secara diam2 saja, kita mencari kesempatan baik untuk turun tangan,"

Sahutnya kemudian sesudah berpikir.

"ltulah paling baik,"

Kata si gadis.

"Tetapi entah bagaimana pendapat nona Wanyen?"

Habis berkata, ia sendiri lantas menyingkir pergi dan membiarkan Nyo Ko berunding dengan Wanyen Peng.

"Moaycu. aku hendak pergi menolong seorang kawan, kelak saja kita bertemu puIa,"

Demikian kata Nyo Ko pada gadis itu.

"Tidak, Nyo-toako, meski kepandaianku rendah, mungkin dapat juga aku memberi bantuan sekadarnya, biarlah aku ikut serta dengan kalian."

Sahut Wanyen Peng. Memangnya Nyo Ko merasa berat kalau harus berpisah dengan dia, mendengar orang mau ikut, tentu saja ia amat girang.

"Bagus kalau begitu !"

Serunya senang. Habis ini, dengan suara keras ia teriaki si gadis baju hijau tadi.

"Nona, adik Wanyen Peng suka bantu kita dan ikut pergi menolong orang!"

"Wanyen-kohnio, kau adalah puteri bangsawan sebelum bertindak hendaklah kau suka pikir dahulu,"

Dengan laku sangat hormat gadis baju hijau itu berkata pada Wanyen Peng.

"Harus kau ketahui bahwa musuh yang akan kami hadapi ini kejam luar biasa, orang Kangouw memanggil dia Jik-lian Sian-cu, yalah mengumpamakan dia sekeji ular belang rantai, sungguh tidak mudah untuk menghadapinya,"

"Jangan cici berkata begitu, jangankan Nyo-toako ada budi padaku, apa yang menjadi urusannya adalah urusanku juga, walaupun seorang kawan seperti cici saja, aku Wanyen Peng pun ingin kenal Maka biarlah aku ikut pergi bersama cici, asal segalanya kita berlaku hati2"

Demikian sahut Wanyen Peng.

"Baik sekali kalau begitu,"

Kata gadis itu dengan suara halus sambil tarik tangan Wanyen Peng.

"Cici, umurmu lebih banyak dari padaku, boleh kau panggil aku Moaycu saja,"

Dalam keadaan gelap Wanyen Peng tak bisa melihat wajah orang yang sangat jelek itu, tetapi mendengar suaranya yang begitu merdu, tangannya yang menggenggam padanya terasa juga sangat halus dan lemas, maka disangkanya orang tentu gadis yang cantik moIek, dalam hati iapun sangat senang.

"Berapakah umurmu tahun ini?"

Ia tanya.

"Ah, tak perlu kita merecoki umur, paling perlu segera pergi menolong orang saja, bukankah begitu, Nyo-ya?"

Sahut gadis itu bersenyum.

"Ya, silakan nona menunjuk jalannya,"

Kata Nyo Ko.

"Aku melihat mereka menuju ke arah tenggara, tentu pergi ke Hengcikoan,"

Ujar gadis itu.

Segera mereka keluarkan Ginkang dan dengan cepat memburu ke arah tenggara.

Bahwa Giok-li-sim-keng dari Ko-bong-pay yang dipelajari Nyo Ko itu terkenal karena Ginkang yang hebat dan boleh disebut nomor satu di seluruh kolong langit, hal ini tak perlu dijelaskan lagi.

Sedang Wanyen Peng adalah anak murid Thi-cio-pang, dahulu pangcu atau pemimpin Thi-cio-pang yang bernama Kiu Jian-yim berjuluk "Thi-cio-cui-siang-biau"

Atau Telapak tangan besi me-layang2 di atas air, kalau bisa disebut "melayang di atas air", dengan sendirinya Ginkangnya pasti terhitung kelas satu juga.

Siapa tahu si gadis baju hijau itu, senantiasa cepat tidak, lambat pun tidak, tapi selalu mengintil di belakang Wanyen Peng.

Kalau Wanyen Peng cepat, maka iapun cepat, jika lambat, iapun ikut lambat, jarak antara mereka selalu dipertahankan dua-tiga tindak.

Keruan Nyo Ko terperanjat "Anak murid dari aliran manakah nona ini?

Kalau melihat Ginkangnya ini, tampaknya sudah di atasnya Wanyen Peng,"

Demikian ia heran, Dan karena tak mau main menang2an dengan kedua nona itu, maka ia sengaja tertinggal saja di belakang.

Sampai hari sudah terang, gadis baju hijau itu keluarkan rangsum kering dan dibagikan kedua kawannya, Melihat baju orang meski terbikin dari kain biasa saja, tapi potongannya sangat serasi dengan perawakan pemakainya, pula perbekalannya seperti rangsum kering, botol air dan sebagainya diatur secara begitu baik, semua ini menunjukkan ketelitian seorang gadis yang rajin.

Di lain pihak, ketika Wanyen Peng melihat wajah orang begitu aneh, ia menjadi tak berani-memandang lebih jauh.

"Di dunia ini kenapa ada wanita bermuka sejelek ini?"

"Nyo-ya Li Bok-chiu itu kenal padamu, bukan?"

Kata gadis baju hijau itu sesudah menunggu kedua orang habis makan.

"Ya, beberapa kali ia pernah bertemu dengan aku,"

Sahut Nyo Ko. Gadis itu mengeluarkan sehelai benda tipis seperti kain sutera, lalu berkata pula pada Nyo Ko.

"lni adalah topeng kulit manusia, sesudah kau pakai, tentu dia tak kenal kau lagi."

Waktu Nyo Ko periksa topeng itu, ia lihat di atasnya ada lubang2 tempat mata, mulut dan hidung, bila dipakai maka topeng ini bagaikan karet saja mencetak muka si pemakainya dengan persis seperti wajah asli, tentu saja Nyo Ko sangat girang dan menghaturkan terima kasih.

Melihat wajah Nyo Ko seketika berubah menjadi jelek luar biasa setelah memakai topeng itu, barulah kini Wanyen Peng sadar.

"Ah, Moaycu, kiranya kaupun memakai topeng seperti ini, sungguh aku sangat goblok, aku mengira wajahmu memang terlahir begitu aneh,"

Demikian katanya pada gadis baju hijau.

"Muka Nyo-ya yang ganteng dan bagus ini, sesungguhnya sayang dan merendah dirinya saja bila pakai topeng ini,"

Sahut gadis baju hijau.

"Mengenai diriku, memangnya mukaku adalah begini, pakai topeng atau tidak serupa saja."

"Ah, aku tak percaya,"

Ujar Wanyen Peng.

"Moaycu, maukah kau copot topengmu dan unjukkan muka aslimu ?"

Dalam herannya Nyo Ko pun ingin tahu wajah asli si gadis itu, namun permintaan itu ternyata ditolak.

"Jangan, mukaku yang jelek ini mungkin akan bikin kalian kaget,"

Sahut gadis itu."

Melihat orang berkeras tak mau perlihatkan mukanya, terpaksa Wanyen Peng sudahi permintaannya.

Pada waktu lohor, mereka bertiga sudah sampai di kota Bukoan, mereka masuk ke atas loteng sebuah restoran untuk mengisi perut.

Melihat Nyo Ko berdandan sebagai perwira Mongol, pengurus restoran itu tak berani ayal dan cepat memberi pelayanan.

Tetapi baru setengah jalan mereka bersantap, ketika kerai pintu tersingkap, tiba2 masuk pula tiga wanita yang bukan lain daripada Li Bok-chiu dan Ang Ling-po yang menggiring Liok Bu-siang.

Nyo Ko sangat cerdik, ia tahu meski saat itu Li Bok-chiu tak kenali dirinya, namun mukanya yang aneh karena memakai topeng tentu akan menimbulkan rasa curiga orang, karena itu segera ia berpaling ke jurusan lain sambil menjumpit nasi terus, ia hanya pasang kuping tajam2 untuk mendengarkan percakapan mereka.

Siapa tahu sama sekali Bu-siang tidak buka suara, bahkan Li Bok-chiu berdua pun tidak bicara sehabis pesan daharan seperlunya, Nampak orang yang mereka cari sudah berada di depan mata, Wanyen Peng gunakan sumpitnya dan mencelup ujung sumpit pada air kuwah, lalu ia corat-coret beberapa huruf di atas meja dengan maksud.

"turun tangan tidak?"

Nyo Ko diam2 sedang memikir.

"Dengan kekuatan kami bertiga, ditambah lagi dengan "

Bini cilik ", rasanya masih susah melawan mereka guru dan murid berdua, urusan ini hanya bisa dimenangkan dengan akal dan tak mungkin dengan kekerasan."

Oleh sebab itu, ia goyangi sumpitnya pelahan-lahan sebagai tanda "jangan".

Li Bok-chiu juga orang cerdik, sesudah berada, di loteng restoran itu, ia lihat sorot mata Bu-siang seperti bersinar harapan, tentu saja ia merasa heran hingga tiada hentinya Wanyen Peng bertiga di-diincar olehnya.

Tapi Nyo Ko duduk mungkur dan tidak bergerak sedikitpun maka tiada sesuatu tanda yang menimbulkan curiganya.

Begitulah sedang kedua belah pihak sama2 menantikan kesempatan baik, tiba2 suara tangga loteng berbunyi, kembali orang masuk pula ke situ.

Waktu Wanyen Peng melirik, ia lihat yang datang adalah Yali Ce dan Yali Yen kakak beradik.

Ketika nampak Wanyen Peng juga berada di situ, kedua orang itu rada terperanjat, tetapi sesudah memanggut, lalu mereka mengambil tempat duduknya sendiri.

Diam2 Li Bok-chiu sangat kagum terhadap sepasang muda-mudi yang ganteng dan cantik itu, ia menyangka orang adalah suami isteri, tak tahunya hanya saudara saja.

Kiranya setelah peristiwa Wanyen Peng mencari balas pada ayahnya, Yali Ce menduga si gadis tak berani datang lagi, maka bersama adik perempuannya, Yali Yen, mereka pesiar keluar untuk menikmati keindahan alam daerah Kanglam ini, disini pula bertemu dengan Wanyen Peng, tentu saja mereka bertambah lega meninggalkan ayah mereka.

Sementara itu karena "Ngo-tok-pit-toan"

Atau "Kitab Panca-bisa"

Yang tercuri itu disangkanya terjatuh di tangan orang Kay-pang, Li Bok-chiu sedang masgul, dalam beberapa hari ini boleh dikatakan tak doyan makan dan tak nyenyak tidur, oleh karenanya, baru setengah mangkok bakmi yang dia pesan itu dimakan, kemudian ia taruh sumpitnya dan memandang iseng keluar restoran itu.

Tiba2 tertampak olehnya di simpang jalan sana berdiri sejajar dua pengemis, pada punggung mereka masing2 menggendong tujuh buah kantong kain, nyata mereka adalah "Chit-te-tecu"

Atau anak murid berkantong tujuh dari Kay-pang.

Dalam pada itu muncul lagi satu pengemis yang lain, dengan ter-gesa2 pengemis belakangan ini mendekati kedua kawannya dan bisik2 sejenak, habis itu dengan langkah cepat lantas pergi lagi.

Ter gerak pikiran Li Bok-chiu, tiba2 ia memanggil kedua pengemis itu melalui jendela loteng.

"Kedua Enghiong dari Kay-pang, silakan naik ke atas sini, ada sesuatu yang ingin kuminta tolong kalian sampaikan pada pangcu perkumpulanmu."

Li Bok-chiu tahu kalau memanggil orang begitu saja pasti kedua pengemis itu tak mau gubris padanya, tapi kalau bilang ada pesan untuk pangcu mereka, sekalipun harus menghadapi bahaya betapapun besarnya pasti anak murid Kay-pang itu akan datang padanya.

Karena mendengar gurunya memanggil orang dari Kay-pang yang diduga tentu hendak ditanyai kemana dibawanya kitab "panca-bisa" , tanpa tertahan lagi muka Liok Bu-siang menjadi pucat, ia insaf sekali ini kebohongannya pasti akan terbongkar.

Di sebelah sana Yali Ce juga sedang merasa heran oleh kelakuan Li Bok-chiu.

ia kenal nama Kay-pang yang pengaruhnya sangat besar di daerah utara, tetapi satu Tokoh setengah umur yang biasa seperti ini ternyata bilang ada sesuatu pesan hendak disampaikan pada Pangcu mereka itu, ia menjadi tertarik untuk mengetahui macam apakah diri si To-koh ini maka ia berhenti minum araknya, ia melirik dan memperhatikan gerak-gerik orang.

Selang tak lama, naiklah kedua pengemis yang dipanggil tadi, mereka memberi hormat pada Li Bok-chiu dan menanya.

"Ada pesan apakah Sian-koh, tentu akan kami sampaikan,"

Sesudah berdiri tegak, salah satu pengemis itu melihat Liok Bu-siang berada bersama juga dengan imam wanita itu, keruan saja air mukanya seketika berubah.

Kiranya pengemis ini pernah ikut mencegat Bu-siang di tengah jalan dengan beberapa kawannya berkantong tujuh itu.

Karena itu, cepat ia tarik pengemis satunya, keduanya lantas melompat ke dekat tangga, dengan sebelah telapak tangan berlindung di depan dada, mereka siap buat melayani musuh.

Li Bok-chiu tersenyum melihat kelakuan kedua pengemis itu.

"Coba kalian berdua melihat punggung tanganmu,"

Dengan suara halus ia berkata.

Berbareng kedua pengemis itu memandang balik tangan mereka, maka terlihatlah setiap telapak tangan mereka masing2 telah tercetak sebuah cap tangan yang merah darah, nyata, entah dengan cara bagaimana, tahu 2 Li Bok-chiu telah unjuk pukulan saktinya.

Ngo-tok-sin-ciang, pukulan sakti panca bisa.

Cara turun tangan Li Bok-chiu bukan saja di luar tahu kedua pengemis itu, bahkan Nyo Ko dan Yali Ce juga tidak melihatnya dengan jelas.

"Kau... kau adalah Jik-Iian-sian-cu?"

Teriak kedua pengemis itu berbareng sesudah terkejut sejenak.

Li Bok-chiu tidak menjawab melainkan dengan pelahan ia tuang setengah cawan araknya, ia angkat cawannya, ketika jarinya menyentil, mendadak cawan arak itu terbang ke atas, isi cawan terus mancur turun lurus ke bawah.

Ketika Bok-chiu menengadah, setengah cawan arak itu masuk semua ke mulutnya tanpa menciprat keluar setetespun, Yang lebih aneh, cawan arak yang terbang disentil itu, tahu2 menyamber balik lagi ke tangannya sesudah berputar di udara.

Ternyata tenaga menyentil yang dipakai Li Bok-chiu begitu tepat, inilah ilmu kepandaian tertinggi dari cara menimpuk senjata rahasia, meski termasuk juga ilmu dari Ko-bong-pay, tapi Nyo Ko harus malu diri karena belum bisa memadai sang Supek dan masih jauh daripada sanggup "menyentil cawan dan menenggak arak"

Itu.

"Nah, bilanglah pada pangcu kalian,"

Kata Li Bok-chiu kemudian sesudah unjuk ilmu saktinya tadi "bahwa Kay-pang kalian dengan aku orang she Li selamanya "

Air sungai tak menggenangi air sumur ", selamanya akupun mengagumi kawan2 Kay-pang yang gagah perkasa, cuma sayang tiada kesempatan untuk bertemu dan minta petunjuk sungguh hal ini harus dibuat menyesal..."

"Enak saja kata2nya itu, tetapi kenapa tanpa sebab tiada alasan kau turun tangan keji kepada kami?"

Demikian pikir kedua pengemis itu sambil saling pandang.

"Kalian berdua sudah kena pukulanku Ngo-tok-sin-ciang, tapi hal ini tak perlu dibuat kuatir asal kitab yang direbut itu dikembalikan, tentu akan kusembuhkan kalian berdua,"

Kata Li Bok chiu lagi setelah berhenti sejenak.

"Kitab apa?"

Tanya salah satu pengemis itu.

"Kalau diceritakan kitab itupun tak laku beberapa duit, jika perkumpulan kalian berkeras tak mau kembalikan, sebenarnya pun tidak menjadi soal,"

Demikian sahut Bok-chiu dengan tertawa.

"Cuma sebagai gantinya, terpaksa kuminta bayar dengan seribu jiwa pengemis goIonganmu."

Walaupun kedua pengemis itu masih belum merasakan tangan mereka ada tanda2 aneh, tapi tiap2 Li Bok-chiu berkata, tanpa tertahan mereka pun memandang ke tangan yang terpukul itu, saking jerinya terhadap Jik-lian-sin-ciang yang maha kesohor karena kejinya itu, dalam bayangan kedua pengemis itu se-akan2 merasakan tanda merah di telapak tangan mereka peIahan2 sedang meluas.

Kini mendengar lagi Li Bok-chiu bilang hendak minta ganti seribu jiwa kawan mereka, mereka pikir tiada jalan lain kecuali lekas2 kembali melapor pada Pangcu.

Maka setelah saling memberi tanda, segera mereka berlari turun ke bawah.

Nampak orang melarikan diri, Li Bok-chiu pikir.

"Kalian sudah terkena aku punya pukulan maut, di jagat ini kecuali It-ting Taysu tiada lagi yang mampu mengobati, jika Pangcu kalian inginkan jiwa kalian tentu dia akan menurut dan serahkan Ngo-tok-pit-toan padaku. Tapi, nah, celaka, kalau mereka menyalin kitab itu dan kitab aslinya baru dikembalikan padaku, bukankah aku kena ditipu mentah2?"

Segera ia berpikir pula.

"Memang celaka, padahal segala macam cara memunahkan racun pukulan dan senjata rahasia, semuanya sudah kutulis di dalam kitab itu dengan jelas, kalau mereka sudah dapat memiliki kitab itu, buat apa mereka datang memohon pertolonganku?"

Teringat akan itu, tanpa terasa mukanya menjadi pucat, begitu tubuhnya melesat, tahu2 ia mencelat dan menghadang di tengah tangga di depan kedua pengemis yang sedang melarikan diri itu.

Begitu kedua tangannya bekerja, susul menyusul dua kali pukulan telah paksa kedua pengemis itu balik lagi ke atas loteng.

Tindakan Li Bok-chiu ternyata cepat luat biasa, hanya terlihat bayangannya berkelebat tahu2 sebelah lengan salah satu pengemis sudah dia pegang terus ditekuk sekuatnya, maka terdengarlah suara gemelutuk, tulang lengan orang sudah patah hingga tangannya melambai ke bawah dengan lemas.

Tentu saja pengemis yang lain sangat kaget, tetapi disinilah terbukti betapa setia kawan antara kaum pengemis itu, bukannya dia melarikan diri, sebaliknya ia menubruk maju untuk melindungi kawannya yang terluka, ketika melihat Li Bok-chiu merangsak maju lagi, kontan iapun mendahului memukul.

Tak terduga, kembali tangan Li Bok-chiu bergerak pelahan, kepalan si pengemis yang memukul ini kena ditangkapnya dan sekalian pula ditekuk, maka tulang lengannya segera senasib dengan kawannya, kena dipatahkan lagi.

Hanya sekali gebrak saja kedua pengemis itu sudah dihajar Li Bok-chiu hingga luka parah, maka insaflah mereka bahwa hari ini mereka tentu celaka, namun demikian, mereka tidak menyerah mentah2, dengan punggung menempel punggung mereka berdempetan satu sama lain dan dengan sebelah tangan masing2 yang masih sehat itu siap menempur musuh.

"Kalian berdua baiknya tinggal di sini dulu, tunggu saja Pangcu kalian datang sendiri dengan membawa kitabku itu untuk tukar menukar,"

Terdengar Li Bok-chiu berkata dengan lembut.

Melihat orang habis berkata terus kembali ke mejanya buat minum arak, malahan duduknya mungkur ke arah mereka, maka kedua pengemis itu menggeser pelahan ke tepi tangga dengan maksud kalau ada kesempatan terus hendak kabur.

Tak terduga mendadak Li Bok-chu berpaling.

"Tampaknya tulang kaki kalian berdua harus dipatahkan juga, dengan begitu baru kalian kerasan tinggal di sini."

Katanya dengan tersenyum, sembari berkata iapun berdirilah.

"Suhu, biarlah aku, menjaga mereka, tak nanti mereka bisa kabur,"

Tukas Ang Ling-po trba2. Rupanya ia tak tega juga melihat kekejian sang guru.

"Hm, bajik juga hatimu,"

Jengek Li Bok-chiu, pelahan2 ia masih terus mendekati kedua pengemis itu.

Saking murkanya mata kedua pengemis itu merah berapi, mereka sudah ambil keputusan tiada jalan lain daripada adu jiwa dengan musuh.

Sejak tadi Yali Ce kakak beradik hanya menonton dengan tenang, watak mereka berdua sebenarnya sangat keras, kini tak tahan lagi, serentak mereka berdiri.

"Sam-moay, lekas kau pergi, perempuan ini terlalu lihay,"

Dengan suara pelahan Yali Ce pesan adiknya.

"Dan kao?"

Tanya Yali Yen.

"Sesudah tolong kedua pengemis ini, segera aku melarikan diri,"

Sahut Yali Ce.

Biasanya Yali Yen menjunjung sang kakak ini bagai malaikat dewata, tetapi kini mendengar orangpun nanti akan selamatkan diri dalam hati si gadis menjadi ragu-ragu.

Pada saat itulah, dengan keras mendadak Nyo Ko gebrak meja, lalu didekatnya Yali Ce.

"Yali-heng (saudara Yali), marilah kita turun tangan bersama untuk menolong orang, bagaimana?"

Ajak Nyo Ko.

Melihat Nyo Ko mengenakan pakaian Mongol dan mukanya sangat jelek, Yali Ce merasa belum pernah kenal orang demikian ini, ia pikir kalau orang berada bersama Wanyen Peng, tentu saja kenal siapakah dirinya.

Tetapi ilmu silat Li Bok-chiu sudah dia saksikan tadi, ia yakin tak bisa menandinginya, kalau sembarangan turun tangan, itu berarti antar jiwa belaka, oleh karena itu, seketika ia ragu2 tak menjawab ajakan Nyo Ko tadi.

Di lain pihak demi mendengar Nyo Ko membuka suara, segera Li Bok-chiu mengamat-amati si pemuda dari kepala sampai ke kaki dan sebaliknya, ia merasa lagu suara orang sudah dikenalnya entah dimana.

Akan tetapi muka orang begitu rupa, kalau pernah dikenalnya, tidak mungkin bisa melupakannya, maka dapat dipastikan memang belum pernah kenal.

"Aku tak bersenjata, terpaksa harus pinjam dulu,"

Sementara Nyo Ko berkata lagi.

Habis itu, mendadak tubuhnya melesat cepat, ia menyerempet lewat samping Ang Ling-po, wak-tu tangannya menguIur, tahu2 kerangka pedang yang tergantung di pinggang orang sudah dia ambil malahan pipi Ang Ling-po dia kecup pula sekali.

"Ehm, wanginya!"

Demikian seru Nyo Ko sengaja.

Keruan Ang Ling-po sangat murka, tangannya membalik terus menggablok, namun sedikit menunduk Nyo Ko sudah hindarkan serangan itu dan menerobos pergi untuk kemudian berdiri diantara kedua pengemis itu dan Li Bok-chiu.

Tindakan dan perbuatan Nyo Ko itu dilakukan secara cepat luar bisa, keruan dalam hati Li Bok-chiu diam2 terperanjat sebaliknya Yali Ce menjadi girang.

"Siapakah she dan nama saudara yang mulia ini?"

Segera ia berseru menanya.

"Siaute she Nyo,"

Sahut Nyo Ko sembari geraki tangannya, ia angkat kerangka pedang samberan dari pinggang Ang Ling-po itu dan menyambung pula.

"Aku tahu isi di dalamnya adalah pedang buntung!"

Dan waktu pedang ia IoIos, betul saja pedangnya memang kutungan. Mendadak Ang Ling-po mendusin "Anak keparat,"

Serunya cepat.

"Suhu, dia inilah yang kita cari."

Karena orang sudah kenali dirinya, Nyo Ko tak perlu maut sandiwara pula, topeng kulit yang dia pakai segera ditanggalkan.

"Supek, Suci, Tecu Nyo Ko memberi hormat,"

Katanya segera pada Li Bok-chiu dan Ang Ling-po. Mendengar Nyo Ko panggil Supek dan Suci, bukan saja Yali Ce menjadi bingung, begitu pula Liok Bu-siang pun luar biasa kagetnya.

"He, kenapa si Tolol ini panggil mereka Supek dan Suci?"

Demikian Bu-siang tidak habis mengerti. Sementara itu dengan tersenyum dingin Li Bok-chiu telah menjawab.

"Em, gurumu baik2-kah?"

Mendengar Siao-liong-li ditanyakan, seketika hati Nyo Ko berduka hingga matanya pun basah.

"Gurumu sungguh pintar mengajar murid,"

Demikian kata Li Bok-chiu pula dengan tertawa.

Kiranya kemarin setelah saling gebrak tiga jurus di tengah jalan itu, dengan tipu gerakan yang aneh Nyo Ko telah patahkan tiga kali serangan "Sam-bu-sam-put-jiu" , ia telah berpikir dan tetap tak bisa meraba "

Dari aliran manakah tipu2 Nyo Ko itu, Oleh sebab itu ia menjadi ragu2 apakah imam kecil yang bertarung dengan dirinya itu Nyo Ko adanya?

ia pikir bila betul murid sang Sumoay itu, lalu darimana bisa memiliki ilmu silat yang begitu tinggi dan aneh?

Kini setelah mendengar si Nyo Ko memanggil "Supek"

Dan "Suci" , maka percayalah dia memang betul ialah si pemuda yang beberapa tahun yang lalu dilihatnya di kuburan kuno itu. Keruan saja diam2 ia terperanjat, pikirnya.

"Sekarang saja bocah ini sudah begini lihay, apa Iagi Sumoay sendiri, lebih2 jangan ditanya betapa hebat kepandaiannya,"

Walaupun berpikir begitu, namun mukanya sedikitpun tidak mengunjukkan perasaan hatinya itu.

Namun Nye Ko sangat cerdik, ia dapat menerka apa yang orang sedang pikir, maka kembali ia memberi hormat dan berkata lagi.

"Suhu suruh aku menjampaikan salam pada Supek!"

"O, dimanakah dia?"

Tanya Li Bok-chio.

"Kami berdua sudah lama tak berjumpa."

"Suhu berada di sekitar sini saja, tak lama tentu beliau akan datang menemui Supek,"

Sahut -Nyo Ko.

Nyata pemuda ini tahu dirinya jauh bukan tandingan Li Bok-chiu, sekalipun ditambah dengan Yali Ce masih sukar memperoleh kemenangan maka ia sengaja pakai akal "gertak sumber, ia coba tonjolkan gurunya -Siao-liong-li -untuk menakuti orang.

"Aku lagi berurusan dengan murid sendiri, sangkut paut apa dengan gurumu?"

Demikian kata Li Bok-chiu, Dari lagu suaranya ini nyata ia rada miring terhadap Siao-Iiong-li.

"Tetapi Suhu ingin minta kemurahan hati Supek agar suka ampuni Sumoay (maksudnya Liok Bu-siang) saja,"

Kata Nyo Ko.

"Huh, kau telah main gila dan melakukan perbuatan terkutuk seperti binatang dengan gurumu sendiri, kini kau masih panggil dia Suhu terus menerus di hadapan orang banyak, sungguh tidak tahu malu?"

Ejek Li Bok-chiu tiba2 dengan tertawa. Tiba2 Li Bok-chiu merobah gerakan, badannya mencelat naik kaki kirinya menginjak mulut cangkir, berbareng kebutnya menyapu ke belakang, katanya menggoda .

"Apakah gendakmu tidak ajarkan jurus ini kepadamu?"

Nyo Ko tertegun, lekas dia merendahkan badan sarung pedang menyapu seraya membentak .

"Gendak apa ?"

Alangkah murkanya Nyo Ko mendengar nista itu, mukanya seketika pucat lesi, Dalam hati ia junjung Siao-Iiong-li bagai malaikat dewata, kini orang berani menista gurunya itu, seketika darah se-akan2 mendidih, tanpa pikir lagi kerangka pedang rampasannya tadi segera dipakai sebagai pedang terus ditusukannya pada Li Bok-chiu.

"Haha, perbuatanmu yang kotor itu memangnya takut dibongkar orang, ya?"

Li Bok-chiu tertawa meng-olok2 lagi Namun dengan Kiam-hoat dari Coan-cin-pay, Nyo Ko melontarkan serangan yang gencar dan lihay luar biasa, itu adalah ilmu silat warisan mendiang Ong Tiong-yang khusus untuk mengalahkan ilmu pedang "Giok-li-kiam-hoat"

Ciptaan Ong Tiao-eng, setiap serangannya selalu diarahkan tempat yang berbahaya di tubuh Li Bok-chiu.

Sedikitpun Li Bok-chiu tak berani ayal, ia putar kebutnya dengan sama cepatnya, ia tangkis setiap serangan dan menyambut pertempuran itu dengan seluruh perhatiannya.

Setelah lewat beberapa jurus, Li Bok-chiu merasakan Kiam-hoat lawannya ternyata hebat luar biasa, daya tekanannya pun semakin berat, setiap gerak-gerik dirinya se-akan2 sudah dapat diketahui sebelumnya oleh lawan hingga selalu kena didahului orang, kalau bukan dirinya memang lebih ulet, mungkin sejak tadi sudah terkalahkan.

"Suhu betul2 pilih kasih, Kiam-hoat sebagus ini hanya diajarkan pada Sumoay saja,"

Demikian pikir Li Bok-chiu dengan gemas.

ia menyangka itu adalah Kiam-hoat golongan mereka sendiri.

Mendadak permainan silatnya berubah, tiba2 ia melompat ke atas meja, ketika kaki kanan menendang kesamping, kaki kiri lantas berdiri di atas sebuah cawan arak, Cara mengajaknya di atas cawan, arak itu begitu tepat dan tantangan badannya begitu bagus, maka cawan itu sama sekali tak tumpah atau miring barang sedikitpun "Haha, gendakmu itu pernah mengajarkan kepandaian seperti ini tidak?"

Dengan gelak tertawa Bok-chiu menyindir pula, Nyo Ko tercengang bingung sejenak Tetapi segera ia menjadi gusar.

"Gendak apa maksudmu?"

Damperatnya kemudian.

"Ha, pura2 bodoh,"

Sahut Bok-chiu.

"Sumoay-ku pernah bersumpah takkan turun gunung kalau Siu-kiong-seh belum lenyap dari lengannya, kini dia telah turun gunung ikut kau, siapa lagi dia itu kalau bukan gendakmu ?"

Tidak kepalang murka Nyo Ko oleh tambahan nista orang yang keji itu, tanpa berkata lagi, kerangka pedang dia putar, begitu enjot tubuhnya segera iapun melompat ke atas meja.

Cuma Ginkangnya masih belum memadai orang, maka tak berani Nyo Ko berdiri di atas cawan arak melainkan di atas sebuah mangkok, lalu kerangka pedang dia angkat terus menyerang dengan kalap.

"Ehm, tidak jelek juga Ginkangmu ini!"

Dengan tertawa Li Bok-chiu mengejek pula sembari menangkis serangan orang.

"Nyata baik sekali gendakmu itu terhadapmu, sudah cinta lagi berbudi semuanya telah diajarkan padamu."

Mendengar makin lama makin menjadi orang menistanya, sungguh tak tertahankan asa murka Nyo Ko.

"Orang she Li kau ini manusia atau binatang?, Kau mau bicara secara manusia tidak ?"

Teriaknya murka, sembari memaki iapun menyerang lebih nekad.

"Hm, kalau ingin orang lain tak tahu kecuali kalau diri sendiri tak berbuat"

Jengek Li Bok-chiu.

"Ko-bong-pay kami bisa timbul dua manusia sampah seperti kalian ini, boleh dikata telah mencoreng muka habis-habisan."

Begitulah, seraya menyambut setiap serangan Nyo Ko, sambil tiada hentinya Li Bok-chiu menyindir dan meng-olok2.

Karena tak tahu hal ikhwalnya, Yali Ce kakak beradik dan Liok Bu-siang hanya saling pandang, kemudian karena Nyo Ko tak sanggup membantah lagi sepatah-katapun, mereka berpikir tentu apa yang dikatakan Li Bok-chiu itu adalah kejadian sebenamya, maka tanpa terasa timbul rasa hina terhadap Nyo Ko.

Harus diketahui meski ilmu silat Nyo Ko sudah jauh maju, tetapi sama sekali Li Bok-chiu tak gentar terhadapnya, yang dia kuatirkan ialah kalau Siao-Iiong-li sembunyi di sekitar situ hingga mendadak muncul, ini berarti sukar baginya untuk melawannya, oleh sebab itu ia sengaja menista mereka dengan kata2 yang se-kotornya dengan tujuan agar Siao-liong-Ii menjadi malu dan tak berani menampakkan diri.

Dasar sifat Nyo Ko memang gampang tersinggung dan wataknya keras, karena dinista secara kotor itu, perasaannya menjadi terpukuI, kaki tangannya menjadi lemas dan gemetar, tiba2 kepala pun terasa puyeng, lalu pandangannya menjadi gelap, ia menjerit sekali kerangka pedang terlepas dari cekalannya dan orangnya pun roboh ke bawah.

Melihat ada kesempatan, Li Bok-chiu menjengek sekali, kebutnya bekerja cepat, sekali pukul kepala Nyo Ko segera disabetnya.

Tahu keadaan sangat berbahaya, lekas Yali Ce samber dua cawan arak dari meja terus ditimpukkan ke punggung Li Bok-chiu, kedua cawan itu menghantam "Ci-yang-hiat"

Dan "Yang-koen-hiat"

Yang merupakan urat nadi penting di tubuh manusia.

Mendengar dari belakang ada samberan angin Am-gi atau senjata rahasia, namun Li Bok-cIiu cukup tinggi Lwekangnya, tiba2 ia tarik napasnya dalam2 untuk menahan semua jalan darahnya, ia pikir sekali pukul mampuskan Nyo Ko dahulu, sekalipun Am-gi pembokong itu mengenai punggungnya juga takkan melukainya.

Tak tahunya, belum tiba cawannya atau arak di dalam cawan itu sudah muncrat datang lebih dulu hingga terasa kedua urat nadi tadi rada kesemutan.

"Celaka! Kiranya Sumoay telah datang, Araknya saja begini lihay, apa lagi cawannya?"

Demikian keluhnya dalam hati.

Maka lekas2 ia putar tubuh dan ayun kebutnya ke belakang, dengan tepat kedua cawan arak itu kena disampuknya, namun terasa juga lengannya terguncang hebat, keruan hatinya bertambah kuatir, ia heran mengapa tenaga sang Sumoay bisa begitu kuat kini?

Tapi sesudah dia mengawasi ia lihat orang yang menimpukkan cawan arak itu ternyata bukan Siao-liong-li melainkan si pemuda ganteng berdandan bangsa Mongol itu.

Tentu saja hal ini semakin menambah terperanjatnya.

Baca Juga: Persekutuan Pedang Sakti 6

Baca Juga: Pendekar Mata Keranjang Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert