Ceritasilat Novel Online

Kembalinya Sang Pendekar Rajawali 5

Eps 5 Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung

Baca online Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung

Cersil Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung.

Karena itu, segera ia keluarkan dua jarum Peng-pek-sin-ciam, ia lemparkan jarum2 itu ke lantai hingga mengeluarkan suara gemerincing yang halus.

"Awas, jika aku menghitung dari satu sampai sepuluh dan kau masih belum bicara, terpaksa kusuruh kau mengicipi rasanya jarum perak ini,"

Demikian ia mengancam. Namun Siao-liong-Ii tetap tak menjawab, bahkan ia pejamkan matanya dan tidak gubris gertakan orang.

"Satu... dua... tiga... empat..."

Demikian Li Bok-chiu mulai menghitung.

"Jika Kokoh kenal jalan keluarnya, kenapa kami tidak melarikan diri sejak tadi, sebaliknya masih tinggal di sini ?"

Tiba2 Nyo Ko membentak.

"Hm, pandai juga kau bicara,"

Jengek Li Bok-chiu.

"Aku sudah mempelajari keadaan tempat ini, aku taksir tentu ada jalan keluar yang dirahasiakan kalian bermaksud tidur dahulu, sesudah semangat pulih, bukankah kalian lantas angkat kaki ?"

Lalu ia menyambung perhitungannya lagi.

"lima... enam... tujuh... delapan... sembilan..."

Sampai di sini ia berhenti sejenak, ia coba peringatkan orang lagi .

"Sumoay, apa betul2 tak mau kau katakan ?"

Pada saat itu juga, tiba2 di lorong bawaf itu meniup angin dingin yang menghembus masuk hingga lilin yang dipegang Ang Ling-po tersirap.

"Hmmm, aku masih ngantuk, jangan kau bikin ribut lagi,"

Kata Siao-liong-li tiba2 dia sengaja menguap keras.

"Baiklah, Peng-pek-ciam ini adalah warisan Cosu-popoh kita sendiri, maka jangan kau sesal kan aku, kini aku sudah menghitung sampai sepuluh,"

Demikian kata Li Bok-chiu. Sembari berkata, ia gunakan ujung jarum peraknya yang berbisa jahat itu menggosok sekali "Ciang-tay-hiat"

Di punggung Nyo Ko, menyusul "Hian-ki-hiat"

Di dada Siao-liong-li ia gosok sekali juga dengan cara yang sama.

Walaupun biasanya sifat Siao-liong-li sangat dingin dan tenang, tetapi kini tidak urung ia merasa ngeri juga, sebab racun jarum perak ini pe-Iahan2 akan merembes masuk melalui jalan darah di pinggangnya itu dan lambat laun merata ke seluruh tubuh, tatkala itu akan terasa seluruh tubuh se-akan2 ribuan semut menggerogoti tulang sumsum dan be-ribu2 bisul tumbuh di seluruh badan, dalam keadaan demikian rasanya tiada yang lebih lihay daripada siksaan ini.

Sebenarnya Siao-liong-li punya obat pemunah racunnya, sebab asalnya jarum berbisa ini dari perguruannya sendiri, tetapi kini Hiat-to kena ditutuk orang dan tak mampu berkutik, cara bagaimana ia bisa berdaya buat menolong diri sendiri?

Di lain pihak Li Bok-chiu memang keji juga kejam, sesudah gosok jarum berbisa itu di atas badan orang, ia terus duduk di samping untuk menantikan bekerjanya racun jarumnya, ia pikir orang tentu akan bicara terus terang.

Selang tak lama, aliran darah di tubuh Siao-liong-li dan Nyo Ko berjalan tambah cepat, pelahan-lahan pun terasa panas, Siao-liong-li tahu racun mulai bekerja, tidak Iama lagi tentu akan merembet lagi lebih dalam, Akan tetapi kini ia djustru merasakan enak yang tak terkatakan.

"Kokoh, jangan kau katakan rahasia keluar kuburan ini pada mereka, kedua perempuan jahat5 itu betapapun tidak boleh lepas begitu saja,"

Dengan suara pelahan Nyo Ko bisiki Siao-liong-li.

"Ya,"

Sahut nona itu.

Teringat tentang rahasia jalan keluar kuburan itu, tanpa terasa ia menengadah dan memandang ke langit-langitan kamar yang terdapat peta bumi itu.

Kiranya dahulu demi mengetahui Lim Tiao-eng telah meninggal dunia di dalam kuburan itu, walaupun dia sudah bersumpah tidak akan memasuki lagi, akhirnya Ong Tiong-yang masuk lagi ke kuburan itu secara diam2 melalui jalan rahasia, Teringat oleh Ong Tiong-yang betapa cintanya Lim Tiao-eng kepada dirinya dan suka-duka mereka semasa mudanya, maka menangislah Cosu dari Coan-cin-kau itu di hadapan jenazah bekas kekasihnya itu.

Setelah puas menangis seorang diri dan sesudah melihat untuk penghabisan kalinya wajah kekasihnya yang sudah tak bernyawa, kemudian Ong Tiong-yang memeriksa lagi keadaan kuburan raksasa buah karyanya itu, di situ bukan saja ia melihat gambar dirinya sendiri yang dilukis oleh Lim Tiao-eng, bahkan dia dapatkan pula ukir2an di langit2an kamar yang ditinggalkan kekasihnya itu, ketika diketahuinya betapa bagus dan betapa hebat ilmu kepandaian yang terkandung dalam Giok-li-sim-keng, setiap gerakan dan setiap tipu pukulan ternyata merupakan lawan dan khusus anti ilmu silat Coan-cin-pay, dalam kagetnya muka Ong Tiong-yang menjadi pucat, lekas2 ia keluar dari kuburan itu.

Lalu seorang diri dia tirakat di puncak gunung, selama tiga tahun selangkahpun tidak turun gunung, dengan memusatkan pikirannya dia mempelajari cara2 untuk memecahkan ilmu Giok-li-sim-keng itu, namun demikian, hasilnya terlalu kecil, bagaimanapun juga dia tak mendapatkan semacam ilmu yang sempurna untuk mengalahkannya.

Dalam putus asanya, terhadap kecerdikan dan kepintaran Lim Tiao-eng ia menjadi sangat kagum, lalu ia terima menyerah dan tidak melanjutkan pelajarannya lagi.

Siapa tahu belasan tahun kemudian, karena adanya "Hoa-san-lun-kiam"

Atau pertandingan pedang di atas Hoa-san, di mana Ong Tiong-yang telah keluar sebagai juara dan dapat merebut kitab tertinggi dari ilmu silat, yaitu "Kiu-im cin-keng"..

sebenarnya dia sudah bersumpah tidak akan berlatih ilmu yang terdapat di dalam kitab itu, tetapi terdorong oleh rasa ingin tahu, tidak urung ia balik-balik halaman kitab itu dan membacanya.

ilmu silat Ong Tiong-yang waktu itu sudah diakui sebagai juara dunia, dengan sendirinya inti sari dari apa yang tertulis di dalam Kiu-im-cin-keng itu dengan gampang saja dapat dia pahami, hanya sepuluh hari saja seluruhnya sudah dapat dia selami dengan baik, ia tertawa panjang sambil menengadah lalu masuk lagi ke Hoat-su-jin-bong, di langit2 kamar batu yang paling dirahasiakannya telah dia ukir bagian penting dari Kiu-im-cin-keng dan satu per satu dia tunjuk cara2 untuk mematahkan ilmu Giok-li-sim-keng.

Kemudian pada jari tangan lukisan dirinya itu dia tinggalkan pula beberapa baris tulisan, dia bilang jika keturunan Lim Tiao-eng ada jodoh, biarlah orang itu mengetahui bahwa ilmu silat dari pendiri Coan-cin-kau itu.

Sekali-kali tidak bisa dikalahkan Giok-li-sim-keng dengan begitu saja.

Sesudah Ong Tiong-yang keluar lagi dari kuburan, ia coba memenangkan pula bekas tulisan dengan jari yang dilakukan Lim Tiao-eng di atas batu gunung Cong-lam-san, terpikir lagi olehnya kata2 yang ditinggalkan di atas lukisan yang terlalu halus itu, belum pasti orang keturunan Ko-bong-pay dapat melihatnya, tetapi kalau ditunjukkan secara terang2an, apakah itu bukan berarti kitab Kiu-im-tin-keng yang hebat itu sengaja dia siarkan pada umum ?

Tengah ia ter-menung2, tiba2 terdengar olehnya ada suara orang perempuan sedang menangis dengan sedih sekali, ia coba mendekatinya dan ditanya, kiranya wanita itu she Sun, dahulu jiwanya pernah ditolong Lim Tiao-eng, maka kini sengaja naik gunung hendak menemuinya, demi mengetahui Lim Tiao-eng sudah meninggal, ia bermaksud masuk kuburan buat sembahyang, namun jalan masuknya tidak diketemukan.

Ong Tiong-yang telah tunjuk cara memasuki Hoat-su-jin-bong itu dan pesan pula.

"Aku memberi enambelas huruf, hendaklah kau ingat2 dengan baik, tetapi jangan dibocorkan pada orang lain, Kelak bila dekat hari tuamu baru boleh kau beritahukan tuan rumah dari kuburan kuno itu."

Wanita she Sun itu menghaturkan terima kasih dan ingat baik2 ke-16 huruf itu dan kemudian berziarah ke dalam Hoat-su-jin-bong, belakangan ia diterima oleh dayang Lim Tiao-eng yang kemudian menjadi gurunya Siao-liong-li untuk tinggal terus di dalam kuburan, dia inilah lalu dikenal sebagai Sun-popoh.

Enambelas huruf tinggalan Ong Tiong-yang itu kemudian oleh Sun-popoh telah ditulis di atas secarik kain putih dan dijahit dalam baju kapasnya dan pada saat sebelum ajalnya baju kapasnya telah dia berikan pada Nyo Ko, 16 huruf itu yang berarti.

"Guru besar Tiong-yang, meninggalkan ilmu kepandaian, periksa lukisannya dan pelajari jari tangannya," . Tetapi karena bakat Sun-popoh tidak pintar, maka terhadap enam-belas huruf itu tidak pernah dia selidiki hingga tidak mengetahui rahasia yang terpendam di dalam kamar batu itu, Sedang mengenai peta bumi rahasia yang terukir di atas langit-langit kamar itu memeng sudah ada sejak kuburan kuno ini dibangun muIa2, hal ini malahan Lim Tiao-eng sendiripun tidak mengetahuinya. Begitulah ketika Siao-liong-li dapat melihatnya, maka segera dia menjadi jelas jalan rahasia untuk keluar dari kuburan itu, hanya sayang jalan darahnya ditutuk Li Bok-chiu, sekalipun sudah mendapatkan jalan hidup toh percuma juga, ia menjadi menyesal kenapa tadi tidak lantas melarikan diri bersama Nyo Ko, sebaliknya malah duduk2 saja untuk mengobrol segala permainan anak2 yang tak berguna. Lambat-laun seluruh badannya menjadi makin panas, ia memandang lagi beberapa kali peta bumi itu, ia menghela napas panjang, pandangan matanya beralih lagi pada tulisan pelajaran Kiu-im-cin-keng yang berada di sebelah peta bumi itu. Mendadak matanya jadi terbelalak seperti sinar kilat yang mendadak berkelebat tiba2 dapat dilihatnya ada empat huruf yang bertuliskan "Kay-hiat-pit-koat"

Atau kunci rahasia membuka jalan darah.

seketika hatinya tergerak, ia coba mengamat-amati beberapa kali lagi pelajaran ilmu itu.

keruan bukan buatan senangnya, saking girangnya hampir2 saja dia berteriak.

Kiranya ilmu itu telah menjelaskan cara2 untuk melancarkan jalan darahnya sendiri, sebenarnya bagi seorang yang melatih Kiu-im-cin-keng, ilmu silatnya pasti juga sudah mencapai tingkatan kelas wahid dan se-kali2 tidak nanti kena ditutuk orang, tetapi dalam keadaan kepepet seperti Siao-liong-li sekarang ini, ilmu ini justru merupakan bintang penolong baginya.

Tetapi bila terpikir lagi olehnya meski bisa melepaskan diri dari tutukan toh tak lebih ungkuIan daripada sang Suci, bukankah percuma juga?

Karenanya dia lantas baca lagi lebih cermat tulisan2 di atas kamar itu, ia bermaksud mencari lagi semacam ilmu silat yang praktis, yang begitu dipelajari segera dapat dipergunakan dan sekaligus bisa mengalahkan Li Bok-chiu.

Tetapi meski dia ulangi membaca dari awal sampai akhir dan dari akhir kembali ke awal sampai dua kali ulangan, ia dapatkan meski ilmu yang-paling gampang dipelajari sedikitnya juga harus makan beberapa puluh hari baru bisa jadi.

Dalam keadaan putus harapan itu, tiba2 ia merasakan tubuh Nyo Ko yang bersandaran dengan tubuhnya itu rada2 gemetar, agaknya racun jarum perak sudah merembes masuk, pada saat genting ini, tiba2 pikirannya menjadi jauh lebih tajam dari biasanya, tergerak pikirannya dan dapat diperoleh sesuatu akal bagus, dengan cepat ia menengadah lagi, ia apalkan baik2

"Kay-hiat-pi-koat"

Dan "Pi-gi-pit-koat" , yakni dua macam ilmu membuka jalan darah dan menutup jalan pernapasan, lalu dengan apa yang dia apalkan ini dia bisikkan ke telinga Nyo Ko untuk mengajarkan pemuda ini.

Dasar Nyo Ko memang sangat pintar, sedikit diberi petunjuk saja dia lantas mengerti, diberi tahu awalnya, segera ia paham lanjutannya.

"Nah, sekarang kita membuka jalan darah dahulu,"

Kata Siao-Iiong-li kemudian dengan pelahan.

Nyo Ko manggut2 sebagai tanda mengerti.

Dalam pada itu seluruh kamar dalam keadaan gelap gulita, Li Bok-chiu berdua hanya menanti bila Siao-liong-li dan Nyo Ko tidak tahan oleh serangan racun dalam badannya, tentu dengan sendirinya akan mengatakan rahasia jalan keluar kuburan itu, sudah tentu tidak dia duga bahwa mereka justru sedang main gila secara diam-diam.

Begitulah, maka Siao-liong-li dan Nyo Ko telah menuruti petunjuk Ong Tiong-yang pada ukiran2 itu, diam2 mereka menjalankan darah menurut ajaran "Kay-hiat-pit-koat".

Memangnya Lwekang mereka berdua sudah cukup kuat, maka hanya sebentar saja dua tempat Hiat-to yang tertutuk tadi sudah berhasil mereka Iepaskan.

Lalu Siao-liong-li ulur tangan pelahan2 ke dalam bajunya, ia ambil dua pil penawar racun jarum itu, lebih dulu ia jejalkan sebutir ke mulut Nyo Ko, kemudian ia sendiri telan sebutir.

Meski perbuatannya ini dilakukan dengan sangat pelahan dan hati2, tapi Li Bok-chiu mana bisa dikelabui, segera hal ini dapat diketahuinya.

"Apa yang kau lakukan ?"

Bentaknya tiba2 terus melompat maju.

Namun Siao-liong-li sudah siap sedia, segera ia papaki orang dengan sekali gablokan, ini adalah ilmu silat tertinggi dari Giok-li-sim-keng, pundak Li Bok-chiu tahu2 telah kena hantam sekali walau pun hanya pelahan.

Sungguh tidak pernah Li Bok-chiu duga bahwa sang Sumoay ini ternyata mampu melepaskan Hiat-to sendiri, dalam kagetnya kena pukulan itu, lekas2 ia melompat mundur lagi.

"Suci, kami hendak keluar, kau mau ikut keluar tidak ?"

Demikian Siao-liong-li berkata padanya.

Li Bok-chiu menjadi mati kutu menghadapi sang Sumoay, biasanya ia suka unggulkan ilmu silatnya sendiri yang tiada tandingannya di seluruh jagat, pula kecantikannya susah dicari lawannya, siapa tahu kini bisa dipermainkan oleh sang sumoay yang masih muda-belia dan belum pernah kenal muka jagat itu, keruan tidak kepalang gusar dan dongkolnya.

Akan tetapi karena kepepet, ia kuatir bila sampai sang Sumoay menjadi marah, mungkin sungguh2 dirinya tidak dibawa keluar, hal ini berarti dirinya bakal celaka, karena itu ia tak berani berlaku kasar, ia pikir paling penting keluar dulu dari kuburan ini, ilmu silat sendiri toh lebih tinggi daripada Sumoaynya, nanti kalau sudah di luar, tidak sukar untuk bikin perhitungan dengan dia.

Maka Li Bok-chiu coba menahan amarahnya, dengan tertawa ia coba membujuk.

"Nah, beginilah baru betul2 seorang Sumoay yang baik, biarlah aku minta maaf padamu dan bawalah aku keluar dari sini !"

"Tetapi Kokoh bilang, hanya satu orang saja diantara kalian berdua yang bisa ikut, maka katakan saja, bawa kau atau bawa muridmu itu ?"

Sahut Nyo Ko tiba2. Nyata Nyo Ko ini sangat licin, melihat ada kesempatan, segera ia berusaha memecah-belah antara guru dan murid itu.

"Anak keparat, tutup bacotmu !"

Damperat Li Bok-chiu gusar. Kata2 Nyo Ko tadi sebenarnya belum dipahami Siao-Iiong-li, tetapi selamanya ia membela pendirian pemuda itu, maka segera ia menyambung.

"Ya, memang, aku hanya dapat membawa seorang saja, tidak bisa lebih ?"

"Nah, apa kataku,"

Ujar Nyo Ko dengan tertawa.

"Supek, menurut pendapatku, biarkan Suci saja yang ikut kami keluar, kau toh sudah tua, sudah hidup cukup lama bukan ?"

Sungguh tidak kepalang gusar Li Bok-chiu hingga dadanya se-akan2 meledak, namun soalnya menyangkut mati hidupnya, maka sedapat mungkin ia coba menahan api amarahnya, ia bungkam dan tidak menjawab lagi.

"Baiklah, sekarang kita berangkat,"

Kata Nyo Ko.

"Kokoh jalan di depan sebagai penuntun jalan, aku nomor dua, dan siapa yang berada paling belakang, dia yang tak akan bisa keluar."

Maka tahulah sekarang Siao-liong-Ii maksud kata2 Nyo Ko, karena itu, ia tersenyum manis, lalu dengan gandeng tangan Nyo Ko mereka mendahului keluar dari kamar batu itu.

Saat itu juga, Li Bok-chiu dan Ang Ling-po telah sama2 berlari menyusul sehingga kedua orang ini berdesakan di ambang pintu, mereka berebutan lebih dahulu, mereka takut kalau benar2 Siao-liong-li menggerakkan alat perangkap rahasia sehingga ada seorang diantara mereka yang tertutup di bagian dalam.

"Berani kau berebutan dengan aku ?"

Bentak Li Bok-chiu menjadi gusar, Berbareng sebelah tangannya telah cekal pula pundak Ang Ling-po.

Walaupun keadaan sangat berbahaya, namun Ang Ling-po kenal watak gurunya yang tidak segan turun tangan kejam, jika dirinya tidak mengalah, pasti segera terbinasa di tangan gurunya sendiri, maka terpaksa ia mundur selangkah dan mempersilahkan Li Bok-chiu jalan di depan, sudah tentu dengan perasaan mendongkol tetapi takut pula.

Begitulah, maka dengan rapat Li Bok-chiu mengintil di belakang Nyo Ko, sedikitpun tak berani ketinggalan jauh, ia merasa jalan yang ditempuh Siao-liong-li itu seperti belok ke sini dan putar ke sana, makin jauh makin menurun ke bawah, sementara itu kakinya terasa pula menginjak tempat becek, dalam hati dia mengerti telah berada diluat kuburan kuno itu, hanya saja dalam kegelapan itu, remang2 cuma kelihatan di mana2 jalannya selalu me-lingkar2 dan ber-putar2.

Tak lama jalanan menjadi aneh pula, kini menurun lurus, syukur ilmu silat keempat orang cukup tinggi, maka mereka tiada yang sampai ter-peleset, jika orang Iain, tentu sejak tadi sudah jatuh keserimpet.

"Cong-lam-san ini memang tidak terlalu tinggi, dengan jalan cara begini, tidak lama tentu sudah berada di bawah gunung, apakah kami kini sudah berada di dalam perut gunung ?"

Demikian diam2 Li Bok-chiu berpikir sendiri.

Sesudah jalan menurun agak lama, akhirnya jalanan mulai lapang, hanya rasa basah itu semakin banyak hingga akhirnya terdengar suara gemerciknya air, lalu betis merekapun terendam dalam air.

Tidak hanya begitu, makin jauh air makin dalam, dari betis bertambah sampai paha, dari paha terus perut dan pe-lahan2 naik lagi sampai setinggi dada.

"ltu Pi-gi-pit-koat (rahasia menutup jalan napas) apa sudah kau apalkan dengan baik ?"

Dengan suara pelahan Siao-liong-li tanya Nyo Ko.

"lngat,"

Sahut Nyo Ko lirih.

"Baik,"

Ujar Siao-liong-li.

"Dan sebentar lagi kau tutup jalan napasmu, jangan sampai kemasukan air."

"Ya, engkau sendiri juga harus hati2, Kokoh,"

Kata Nyo Ko, Siao-liong-li angguk2. Sedang mereka bicara, air di bawah itu sudah merembes sampai di tenggorokan. Keruan yang paling kaget adalah Li Bok-chiu, ia menjadi bingung pula.

"Sumoay, apa kau bisa berenang ?"

Teriaknya kuatir.

"Selamanya aku hidup di dalam kuburan, mana bisa berenang ?"

Sahut Siao-liong-li.

Mendengar jawaban ini, hati Li Bok-chiu rada lega, ia melangkah maju lagi, tak terduga air mendadak mendampar sampai mulutnya, Dalam kagetnya lekas2 ia mundur ke belakang.

Tetapi pada saat itu juga Siao-liong-li dan Nyo Ko malahan terus menyelam ke dalam air.

Dalam keadaan demikian, sungguhpun di depan sana sudah menanti gunung golok atau lautan pedang, terpaksa Li Bok-chiu juga menerjang maju.

Dalam pada itu, mendadak ia merasakan baju di pungungnya tiba2 menjadi kencang, kiranya tangan Ang Ling-po telah menjamberetnya.

Li Bok-chiu menjadi dongkol, diri sendiri saja dalam keadaan bahaya, apalagi diganduli seorang, ia coba meronta sekuatnya, namun tak bisa terlepas.

Maklumlah, seorang yang tak bisa berenang, bila kelelap di dalam air, tentu orang itu akan bergolak sebisanya dan bila ada sesuatu benda sampai terpegang, maka sampai mati sekalipun tidak bakal dilepaskannya, Begitulah halnya dengan Ang Ling-po sekarang.

Dengan bergandengan tangan Siao-Iiong-li bersama Nyo Ko menyelam ke bawah air, sementara Li Bok-chiu menyekal kencang tangan Nyo Ko, sedang Ang Ling-po tetap menjambret baju, punggungnya, matipun tidak dilepaskan.

Tatkala itu suara menggerujuknya air sudah terdengar sangat keras, walaupun ini adalah sungai di bawah tanah, namun suara yang berkumandang keras itu cukup mengejutkan orang, Dan karena terdampat oleh arus ait yang keras, Li Bok-chiu dan Ang ling-po berdua menjadi terapung ke atas.

Meskipun ilmu silat Li Bok-chiu sangat bagus, tetapi dalam keadaan demikian ia menjadi gugup dan bingung, ia ulur tangan menjamberet dan menarik serabutan, mendadak berhasil disentuhnya sesuatu, keruan saja ia pegang dengan kencang, matipun tidak dilepaskannya.

Kiranya itu adalah tangan kiri Nyo Ko tatkala itu Nyo Ko sedang menahan napas dan sedang melangkah maju setindak demi setindak di dalam air dengan menggandeng tangan Siao-liong-li, kini mendadak dipegang Li Bok-chiu, lekas2 ia pakai Kim-na-jiu-hoat untuk melepaskan diri.

Akan tetapi sekali Li Bok-chiu sudah pegang, mana mau dilepaskan pula, meski air dingin terus-menerus masuk ke mulut dan hidungnya, bahkan sampai jatuh Pingsan juga masih dipegangnya erat2 tangan Nyo Ko itu.

Beberapa kali Nyo Ko coba kipatkan lengannya terlepas, tetapi tidak berhasil Karena kuatir terlalu banyak buang tenaga hingga air masuk perutnya, akhirnya iapun membiarkan lengannya dipegang orang.

Begitulah secara bererotan seperti kereta gandengan mereka berempat jalan terus di dasar sungai, sesudah agak lama, akhirnya terasa sesak juga napas Siao-liong-li dan Nyo Ko, mereka mulai tak tahan hingga perut merekapun kenyang minum air.

Syukur lambat laun arus air mulai reda, keadaan tanahpun makin tinggi, tidak lama kemudian mereka dapat menongol ke permukaan air.

Mereka berjalan terus, makin jauh keadaan di depan sana bertambah terang, akhirnya merekapun keluar melalui sebuah gua gunung.

Bukan main rasa letih Siao-Iiong-li dan Nyo Ko, boleh dikatakan tenaga mereka sudah habis, apalagi terendam lama di dalam air, maka lebih dulu mereka kumpulkan tenaga untuk memuntahkan air dalam perut yang kembung itu, kemudian mereka merebah di tanah dengan napas terempas-empis.

Tatkala itu dengan kencang tangan Li Bok-chiu ternyata masih pegang erat2 di lengan Nyo Ko, jari tangannya harus dipentang satu per satu oleh Siao-liong-Ii barulah bisa terlepas.

Lalu Siao-liong-li menutuk Hiat-to di bahu Li Bok-chiu dan muridnya, habis ini baru taruh mereka di atas satu batu, dengan demikian air di dalam perut mereka pe-lahan2 mengalir keluar Selang agak lama, dengan mengeluarkan suara serak Li Bok-chiu mendusin dahulu, tiba2 sinar matahari menjilaukan matanya, sekarang dia betul2 sudah di alam terbuka, bila ingat tadi terkurung di dalam kuburan kuno itu dan terancam berbagai macam bahaya, mau-ta-mau ia merasa ngeri pula, kini meski separuh tubuhnya bagian atas dalam keadaan lumpuh karena ditutuk Siao-liong-Ii, namun hatinya malah jauh lebih lega daripada tadinya.

Tidak antara lama Ang Ling-po pun tersadar juga, tetapi karena ditutuk jalan darahnya, tangannya sudah tak bertenaga lagi, maka sebelah tangannya masih terletak di atas punggung Suhunya.

Cara menutuk Siao-liong-li sekali ini hanya dapat dilepaskan dengan "Kay-hiat-pit-koat"

Seperti ajaran Kiu-im-cin-keng yang ditinggalkan Ong Tiong-yang itu atau ditolong oleh kaum ahli, hila tidak harus tunggu 7 X 7 = 49 hari lagi baru bisa sembuh sendiri "Sekarang kau boleh pergi, Suci!"

Demikian kemudian Siao-liong-li berkata pada Li Bok-chiu.

Walaupun kedua tangan Li Bok-chiu dan Ang Ling-po sudah lumpuh, tetapi setengah badan bagian bawah masih baik2 saja dan bisa bergerak seperti biasa, karena itu dengan bungkam guru dan murid itu saling pandang sekejap, entah rasa girang atau gusar dalam hati mereka waktu itu, lalu pergilah mereka ber-iring2an.

Menghadapi alam semesta dengan pemandangan yang indah permai itu, sungguh tidak terbilang rasa girang Nyo Ko.

"Kokoh, bagus tidak pemandangan sekitar ini ?"

Tanya Nyo Ko, Tetapi Siao-liong-li tak menjawab, ia hanya bersenyum simpul.

Bila teringat oleh mereka kejadian selama beberapa hari ini rasa mereka seperti menjelma lagi di dunia Iain.

Malam itu mereka berdua tidur seadanya dibawah pohon yang rindang.

Kiranya gua gunung ini sudah berada di bawah Cong-lam-san, hanya tempatnya sangat sepi dan terpencil.

Besok paginya, sehabis mereka buang air, racun yang mengalir dalam tubuh mereka ternyata sudah ikut lenyap, Kalau menuruti Nyo Ko, segera pemuda ini ajak pergi pesiar, tetapi selamanya Siao-liong-li belum pernah berkenalan dengan dunia fana, entah mengapa, ia menjadi takut2.

"Tidak, kita harus melatih dulu Giok-Ii-sim-keng hingga selesai,"

Kata Siao-liong-li.

Betul juga, pikir Nyo Ko, ia menurut, memang kalau berada di tempat ramai dan banyak orang, untuk melatih Giok-li-sim-keng dengan mencopot pakaian bersama gurunya sesungguhnya tak pantas dipandang Maka mereka lantas mencari dan mendapatkan satu tempat semak2 yang lebat sekali, malam itu juga mereka lantas mulai melatih diri lagi dengan di-aling2i oleh semak2 rumput bunga itu.

Begitulah mereka lantas mendirikan gubuk, mereka meneruskan latihan ilmu di gunung sunyi ini, siang mereka tidur dan malam hari berlatih dengan giat, sekejap saja beberapa bulan sudah lalu tanpa sesuatu kejadian, Mula2 Siao-liong-li mendahului berhasil dengan ilmunya, lewat sebulan lagi Nyo Ko pun menyusul selesai dengan sangat memuaskan.

Meski begitu mereka berdua masih mengulangi lagi, nyata tiada sesuatu lagi yang kurang, karena itu Nyo Ko lagi2 bicara tentang pesiar sebagai kesenangan hidup manusia.

Tetapi bagi Siao-liong-li, hidup secara aman tenteram seperti sekarang ini rasanya di dunia ini sudah tiada lagi yang melebihi.

namun dilihatnya Nyo Ko selalu suka pada keramaian, tampaknya sukar untuk tinggal di gunung sunyi untuk selamanya.

"Ko-ji", akhirnya ia berkata.

"meski ilmu silat kita sudah berbeda jauh dari pada dahulu, tetapi kalau dibandingkan dengan kau punya paman dan bibi Kwe kira2 bagaimana ?"

"Tentu saja kita masih jauh ketinggalan,"

Jawab Nyo Ko.

"Kalau begitu, kau punya paman Kwe sudah turunkan kepandaiannya pada puterinya dan kedua saudara Bu, kalau kelak saling bertemu lagi, tetap kita akan dihina mereka,"

Kata Siao-liong-li pula. Mendengar kata2 ini, seketika Nyo Ko menjadi gusar.

"Kokoh, jika mereka berani hina diriku lagi, mana bisa aku menyerah mentah2 ?"

Teriaknya melonjak bangun.

"Tetapi kau tak dapat menandingi mereka, bisa apa kau ?"

Ujar Siao-liong-Ii.

"Jika begitu, kau bantu aku, Kokoh,"

Kata Nyo Ko.

"Akupun tak bisa menangkan kau punya paman Kwe, percuma saja,"

Sahut Siao-1iong-1i. Nyo Ko tak bisa buka suara lagi, ia menunduk dengan bungkam, ia coba pikirkan cara bagaimana harus menghadapinya kelak.

"Sudahlah, demi Kwe-pepek, aku takkan berkelahi dengan mereka,"

Katanya kemudian sesudah merenung sebentar.

"Tetapi kalau mereka tidak mau lepaskan dirimu, bagaimana ?"

Kata Siao-liong-li lagi.

"Biar aku menghindari mereka saja,"

Sahut Nyo Ko.

"Betapapun juga dengan mereka aku toh tiada permusuhan apa2, Tidak nanti mereka sampai incar jiwaku."

"Sudah tentu, bagaimanapun mereka toh besar hubungannya dengan kau,"

Kata Siao-liong-li sambil menghela napas.

"Cuma orang2 di Tho-hoan to itu bukan sanak dan bukan kadangku."

Dengar kata2 orang yang terakhir ini, hati Nyo Ko jadi tertekan "Kokoh, apa kau maksudkan mereka bakal menghina kau ?"

Tanyanya ragu2.

"Ya, kalau sampai mereka tahu aku telah rebut anak murid Coan-cin-kau dan Tho-hoa-to, mana bisa mereka antapi dirimu begitu saja,,"

Sahut Siao-liong-Ii.

"Jangan kuatir, Kokoh!"

Teriak Nyo Ko tiba-tiba.

"Tak peduli siapa saja yang berani menyenggol seujung rambutmu, pasti aku akan adu jiwa dengan dia."

"Tetapi sayang kita tak punya modal untuk mengadu jiwa itu,"

Sahut Siao-liong-li. Nyo Ko adalah anak yang sangat cerdik, demi mendengar kata2 gurunya ini, maka tahulah dia akan maksud orang.

"Kokoh,"

Katanya lagi dengan bersenyum.

"kalau kita berhasil melatih baik2 ilmu yang ditingalkan Ong Tiong-yang itu, pasti kita akan dapat kalahkan orang2 Tho-hoa-to itu, bukan ?"

Tiba2 alis Siao-Iiong-li bergerak, ia tertawa.

"Tentu saja, memangnya orang2 di Tho-hoa-to itu punya tiga kepala dan berenam tangan ?"

Sahutnya kemudian.

Dan oleh karena percakapan mereka inilah, Nyo Ko telah tinggal setahun lebih lama dengan Siao-liong-li di lembah pegunungan ini.

Dalam setahun ini, baik Lwekang maupun Gwakang mereka berdua telah mencapai kemajuan pesat, sering kali mereka berdua mengambil tangkai2 bunga terus saling serang menyerang dan gempur-menggempur untuk melatih diri di lembah gunung, Tangkai bungai itu sebenarnya adalah benda yang lemas saja, tetapi berada di tangan mereka berdua yang sudah memiliki Lwekang kelas wahid, maka serupa saja seperti golok tajam atau pedang pusaka.

Pada suatu hari, sehabis berlatih, Siao-liong-li kelihatan bermuka muram durja, nyata hatinya tak senang.

Nampak perubahan wajah orang ini, terus-menerus Nyo Ko berusaha menghiburnya agar tertawa, namun tetap Siao-liong-Ii bungkam tanpa ber-kata2.

Nyo Ko menjadi bingung, ia kehabisan akal, Setelah pikir pergi-datang, akhirnya ia menduga tentu karena ilmu tinggalan Ong Tiong-yang yang mereka latih sudah berakhir, maka Siao-Iiong-li merasa berat kalau ditinggalkan dirinya, sebaliknya untuk menahannya juga tiada alasan, oleh karena itu menjadi kesal hatinya.

"Kokoh, jika engkau tak ingin aku turun gunung, biar kita tinggal di sini saja untuk selamanya,"

Demikian dikatakannya kemudian Keruan saja Siao-liong-Ii menjadi girang karena memang itulah yang menjadikan kesal pikirannya.

"Baik sekali..."

Demikian serunya, tetapi baru sepatah dua kata dia ucapkan, mendadak ia berhenti, ia mengerti pula apa yang dikatakan Nyo Ko itu sukar dilaksanakan, sungguhpun Nyo Ko terpaksa tinggal terus disitu, tentu pula hati pemuda itu tidak gembira, Maka dengan suara lirih ia lanjutkan.

"Sudahlah, kita bicarakan besok saja,"

Malam itu Siao-liong-Ii tiada napsu makan, ia kembali ke gubugnya sendiri untuk tidur.

Gubuk yang mereka dirikan di bawah pohon besar itu ada dua, Melihat gurunya kesal, maka Nyo Ko ikut muram, ia duduk sendirian di depan gubuk sendiri dengan ter-mangu2, lama sekali baru dia masuk tidur.

Sampai tengah malam, se-konyong2 ia terjaga bangun oleh suara deru angin yang santar, suara angin yang lain dari pada jang lain, Keruan ia kaget, lekas2 ia pasang kuping lebih cermat, akhirnya dapat dikenali itu adalah angin pukulan orang yang sedang saling berhantam.

Lekas2 Nyo Ko menerobos keluar dari gubuknya, ia lari ke gubuk Siao-liong-li, dari luar segera ia memanggil dengan suara pelahan.

"Kokoh, Kokoh, kau dengar tidak ?"

Waktu itu menderunya angin pukulan telah bertambah keras, sepantasnya Siao-liong-li mendengar juga, tetapi aneh, dalam gubuk tidak terde Ngar sesuatu suara sahutan, Nyo Ko memanggil dua kali lagi dan masih tetap sunyi, akhirnya ia tak sabar, ia dorong pintu dan melongok ke dalam, tetapi yang dia dapatkan hanya dipan yang kosong, ternyata gurunya sudah menghilang.

Dalam kejutnya Nyo Ko berlari menuju ke tempat dimana datangnya suara angin pukulan, setelah belasan tombak dia lari, meski orang yang sedang saling labrak itu belum kelihatan, namun dari angin pukulannya Nyo Ko dapat membedakan satu diantaranya bukan lain adalah gurunya, jakni Siao-liong-li.

Tetapi lawannya ternyata terlebih hebat angin pukulannya, agaknya kepandaiannya masih diatas gurunya.

Nyo Ko percepat larinya, Ginkang atau ilmu entengkan tubuhnya kini sudah terlatih masak, jauh berlainan daripada dulu, maka sekejap saja lereng gunung itu sudah dilintasinya, tertampaklah olehnya di bawah sinar bulan yang remang2 itu Siao-liong-li yang berbaju putih mulus sedang bertempur melawan seorang laki2 yang bertubuh tinggi besar.

Tinggi sekali ilmu silat orang itu hingga meski Siao-liong-li berlaku sangat gesit dan enteng, namun selalu terkurung di dalam angin pukulan orang dan hanya bertahan sebisanya saja.

"Suhu, jangan kuatir, kubantu kau !"

Demikian segera Nyo Ko berseru sambil melompat maju.

Tetapi sesudah sampai di samping kedua orang dan melihat muka Iaki2 itu, tanpa terasa Nyo Ko menjadi kesima, orang itu ternyata penuh berewok yang pendek kaku seperti sikat kawat,hingga mukanya se-akan2 kulit landak, siapa lagi dia kalau bukan ayah angkatnya yang sudah lama berpisah, Auwyang Hong !

"Berhenti, orang sendiri semua, jangan berkelahi lagi!"

Teriak Nyo Ko.

Siao-liong-li tertegun mendengar seruan Nyo Ko ini, ia pikir lelaki gila bermuka berewok ini mana bisa orangnya sendiri ?

Dan karena sedikit melengnya ini, secepat kilat Auwyang Hong telah mengirim serangan yang mengarah muka Siao-liong-li dengan kekuatan luar biasa.

Kaget sekali Nyo Ko, lekas ia melompat maju hendak memisah, tetapi Siao-liong-li sudah keburu angkat tangannya buat menangkis hingga kedua tangan mereka jadi saling dorong.

Nyo Ko tahu tenaga gurunya masih jauh tak bisa menandingi ayah angkatnya, kalau bertahan lama, tentu akan terluka dalam, karena itu, segera ia ulur lima jarinya dan menyabet pelahan ke lengan Auwyang Hong, ini adalah ilmu "jiu-hun-ngo-hian"

Atau tangan mengebut lima senar, kepandaian yang baru dipelajarinya dari kitab Kiu im-cin-keng.

Meski ilmu itu belum matang dilatihnya, namun datangnya cepat dan tempatnya jitu, maka tiba2 Auwyang Hong merasakan lengannya rada bui hingga tenaganya hilang.

Setiap kesempatan selalu digunakan Siao-liong-li dengan cepat sekali, begitu ia merasa daya tekanan musuh menjadi kendur, segera pula ia balas menghantam.

Dalam keadaan begitu Auwyang Hong yang seluruh tubuhnya tak bertenaga hanya ditutuI pelahan saja pasti akan terluka parah.

Syukur Nyo Ko menyelak lagi, ia putar tangannya terus cekal lengan Siao-liong-li, berbareng ia nyelip ke-tengah2 kedua orang itu.

"Berhentilah kalian berdua, semuanya orang sendiri,"

Demikian dengan tertawa ia berkata pula.

Dilain pihak Auwyang Hong masih belum mengenali Nyo Ko, ia hanya merasa ilmu silat pemuda ini terlalu aneh dan sangat tinggi se-kali2 tidak boleh dipandang enteng.

Maka dengan gusar dia membentak .

"Siapa kau ? Orang sendiri apa ?"

Nyo Ko sudah kenal kelakuan Auwyang Hong yang linglung dan gila2an, ia kuatir orang betuI2 lupa padanya, maka segera iapun berseru memanggil.

"Akulah, ayah ! Anakmu sendiri apa kau tak kenal lagi ?"

Kata2 Nyo Ko ini membawa lagu suara yang mengguncangkan perasaan, seketika Auwyang Hong tercengang, ia tarik tangan si Nyo Ko, ia putar muka pemuda ini ke arah sinar bulan, kemudian baru dikenalnya memang betul dia ini anak angkatnya sendiri yang selama beberapa tahun ini telah dicarinya kian kemari karena perawakan Nyo Ko kini sudah tumbuh tinggi pula ilmu silatnya hebat, maka semula tak dikenalnya.

Dasar Auwyang Hong juga seorang yang suka umbar perasaannya, seketika juga dia rangkul Nyo Ko sambil ber-teriak2.

"O, anakku, sudah lama sekali aku mencari kau !"

BegituIah kedua orang itu saling rangkul dan sama mengulurkan air mata.

Kiranya sejak Auwyang Hong berpisah dengan Nyo Ko di kelenteng bobrok di daerah Kanglam dahulu, di mana dia sembunyi di dalam genta raksasa untuk menghindari pencarian Kwa Tin-ok Setelah dia menjalankan ilmu saktinya untuk menyembuhkan luka dalamnya selama tujuh hari tujuh malam, akhirnya lukanya telah pulih kembali, ya Iuka2 luar yang babak-belur karena dihajar Kwa Tin-ok itu seketika masih belum sembuh.

Sesudah dia angkat genta raksasa itu dan keluar, ia merawat lukanya lagi selama dua puluhan hari di dalam hotel, habis ini kesehatannya baru pulih seluruhnya, Karena dia pernah berjanji pada Nyo Ko bahwa tidak peduli ke mana bocah ini pergi, ke sana juga akan dicarinya, tetapi sudah sebulan, bumi begitu luas, ke mana dia bisa mencari jejaknya.

Auwyang Hong pikir bocah ini tentu telah pergi ke Tho-hoa-to, turuti wataknya yang suka berlaku cepat, maka segera juga ia cari satu perahu kecil dan berlayar ke pulau itu.

ia tahu juga dirinya se-kali2 bukan tandingan Kwe Cing beserta isterinya, Ui Yong, apalagi ditambah seorang Ui Yok-su, ayah Ui Yong (tentang kepergian Ui Yok-su dari pulau itu tak diketahui Auwyang Hong), sekalipun kepandaiannya sekali lipat lebih tinggi lagi juga tidak ungkuIan melawan ketiga orang itu.

Oleh sebab itulah ia tunggu malam tiba batu berani mendarat, siang hari ia sembunyi di dalam gua pegunungan pulau itu, kalau malam baru diam2 kelayapan keluar dengan harapan bisa ketemukan Nyo Ko.

Meski secara hati2 sekali dia sembunyi selama lebih dua tahun tanpa berani keluar selangkah pun di waktu siang hari toh tetap tak diketemukan kabar beritanya Nyo Ko.

Kemudian pada suatu malam, secara kebetulan ia dengar percakapan diantara Bu Siu-bun dan Bu Tun-si berdua saudara, ia baru tahu bahwa Nyo Ko sudah dikirim oleh Kwe Cing kepada Coan-cin-kau untuk belajar silat.

Tentu saja Auwyang Hong sangat girang memperoleh kabar itu, malam itu juga dia tinggalkan pulau itu dan memburu ke Tiong-yang-kiong di Cong-lam-san.

Siapa duga tatkala itu Nyo Ko sudah bikin ribut dengan imam2 Coan-cin-kau dan sudah masuk ke Hoat-su-jin-bong.

Peristiwa itu oleh Coan-cin-kau dianggap sebagai suatu noda besar yang sangat memalukan, maka seluruh imam Coan-cin-kau tiada satupun yang mau bicara, meski Auwyang Hong sudah berusaha dengan segala daya-upaya untuk mencari tahu toh tetap tiada satu kabarpun yang dia peroleh.

Selama beberapa tahun seluruh gunung Cong-lam-san boleh dikatakan sudah dijelajahi oleh kaki Auwyang Hong, siapa tahu Nyo Ko justru bersembunyi di bawah tanah gunung itu dan sedang melatih ilmu sakti secara giat.

Sangat kebetulan juga malam itu, ketika Auwyang Hong lalu di lembah gunung, mendadak dilihatnya ada satu gadis berbaju putih mulus sedang menghela napas sambil duduk tepekur mengidapi bulan.

"Hai, di manakah anakku ? Kau lihat dia tidak ?"

Demikian dengan kelakuan kasar dan gila Auwyang Hong telah menegur.

Gadis itu adalah Siao-liong-li, memangnya dia sedang kesal ia menjadi tambah sebal demi melihat seorang gila menegur padanya, maka dia hanya melotot saja dan tak digubrisnya.

Tak terduga Auwyang Hong tiba2 melompat maju, ia pegang lengan Siao-liong-li dan membentak pula.

"He, dimanakah anakku ?"

Siao-liong-li menjadi kaget demi merasakan tenaga cengkeraman orang yang sangat kuat, nyata ilmu silat orang tinggi luar biasa dan belum pernah dilihatnya seumur hidup, sekalipun jago paling lihay dari Coan-cin-kau juga masih jauh di bawahnya.

Dalam terkejutnya itu, lekas2 ia lepaskan diri dengan Kim-na-jiu-hoat (ilmu cara menawan dan memegang) yang lihay.

Dengan sekali pegang tadi Auwyang Hong mengira lawan pasti akan terpegang kencang, siapa tahu dengan gampang saja orang bisa mengelakkan diri, dasar dia memang linglung, iapun tidak tanya2 lagi, segera sebelah tangannya menyerang pula, dan begitulah tanpa sebab musabab mereka berdua lantas saling labrak Kembali tadi Karena sudah beberapa tahun berpisah, maka Nyo Ko dan Auwyang Hong lantas saling menceritakan rasa kangennya masing2 selama ini, pikiran Auwyang Hong masih tetap setengah jernih dan setengah butek, kejadian yang lalu sudah tak banyak lagi yang bisa diceritakan, terhadap cerita Nyo Ko iapun tak begitu mengerti, yang dia tahu hanya selama beberapa tahun ini Nyo Ko telah belajar silat pada Siao-liong-Ii.

Meski usianya sudah lanjut toh Auwyang Hong masih bersifat kanak2, segera dia bilang lagi.

"llmu kepandaiannya tidak bisa mengungkuli aku, untuk apa belajar padanya, biar aku sendiri yang mengajar kau."

Baiknya watak Siao-liong-li dingin saja, maka ia tidak merecoki urusan ini, meski dengar, ia hanya tersenyum saja terus menyingkir pergi. Sebaliknya Nyo Ko menjadi rikuh terhadap Siao-liong-li.

"Tetapi Suhu sanggat baik terhadap diriku, ayah !"

Demikian Iekas2 ia jelaskan. Tiba2 Auwyang Hong menjadi cemburu.

"Dia baik, apa aku tidak ?"

Teriaknya.

"Baik, kaupun baik,"

Sahut Nyo Ko cepat dan tertawa.

"Di dunia ini hanya kalian berdua saja yang baik terhadap diriku."

Karena itu, dengan memegangi tangan Nyo Ko, Auwyang Hong menyengir.

"Ilmu silat yang kau pelajari sebenarnya tidak jelek juga,"

Katanya kemudian.

"cuma sayang dua macam ilmu paling hebat di dunia ini tak kau pelajari satupun."

"llmu apakah itu,"

Tanya Nyo Ko. Se-konyong2 Auwyang Hong tarik muka, alisnya yang tebal se-akan2 menegak.

"Percuma kau sebagai seorang berilmu silat, sampai dua ilmu sakti di jagat ini saja tak kan kenal, lalu apa gunanya kau angkat dia sebagai guru ?"

Bentaknya tiba-tiba. Nampak orang sebentar girang sebentar marah, hati Nyo Ko bukan menjadi takut, sebaliknya ia merasa sedih.

"Nyata penyakit ayah sudah terlalu mendalam, entah kapan baru bisa sembuh kembali ?"

Demikian ia berpikir. Dalam pada itu tiba2 terdengar Auwyang Hong bergelak ketawa.

"Ha, ini biar ayah mengajar kau,"

Katanya.

"Kedua macam ilmu mujijat itu yalah Ha-mo-kang dan Kiu-im-cin-keng. Semasa kecilmu, pernah ku ajarkan kau sedikit penuntunnya dasar, sekarang coba kau berjungkir dan berlatih di hadapanku !"

Memang sejak masuk kuburan kuno itu, sudah lama Nyo Ko tidak berlatih lagi ilmu menjungkir dengan kepala di bawah itu, kini diingatkan kembali tentu saja dengan senang hati ia menurut.

Dahulu semasih di Tho-hoa-to saja Nyo Ko sudah berlatih dengan masak sekali, kini ditambah lagi Lwekangnya telah tinggi sekali, keruan seperti macan tumbuh sayap saja, ia bisa berputar kayun secepat kitiran dengan kepala menjungkir dibawah.

"Bagus, bagus ! Segera kuajarkan kau pula seluruh intisari yang paling hebat!"

Seru Auwyang Hong kegirangan.

Habis ini betul saja dia lantas geraki kaki dan tangannya, ia mencerocos tiada hentinya, dia tidak urus apakah Nyo Ko bisa ingat seluruhnya atau tidak, tetapi sejak mulai ia terus menutur seperti mitraliur.

Di Iain pihak setelah mendengar beberapa kali ajaran Auwyang Hong itu, hati Nyo Ko mendadak tergerak, ia merasa setiap kata, setiap istilah ternyata luas sekali artinya, seketika mana bisa paham begitu banyak, terpaksa ia gunakan ketajaman otaknya untuk mengingatnya dengan paksa.

Sesudah Auwyang Hong mencerocos tak lama, tiba2 ia tepuk tangan dan berseru pula .

"He, celaka, jangan2 si budak cilik itu ikut mencuri dengar !"

Segera pula ia pergi ke belakang pohon sana, ia dekati Siao-liong-li dan bilang padanya.

"Eh, budak cilik, aku sedang mengajarkan ilmu kepandaian kepada anakku, jangan kau mencuri dengar."

"Macam apakah kepandaianmu itu ? Siapa pingin mendengarkan ?"

Sahut Siao-liong-Ii dengan sikap dingin saja. Sejenak Auwyang Hong tertegun oleh jawaban orang.

"Baik, kalau begitu kau menyingkir yang jauh,"

Katanya kemudian, Tetapi sama sekali siao-liong-li tidak gubris padanya, ia masih bersandar pada batang pohon besar itu.

"Hm, kenapa aku harus turut perintahmu ? jika aku suka pergi segera aku akan pergi, kalau tidak suka, tak nanti aku pergi,"

Demikian sahutnya ketus.

Keruan Auwyang Hong gusar hingga rambut alisnya se-akan2 berdiri, ia ulur tangan hendak mencakar muka Siao-liong-li.

Tetapi Siao-liong-li masih tidak gubris padanya, bahkan dia pura2 tidak tahu atas serangan orang.

Tentu saja dengan cepat jari tangan Auwyang Hong menyelonong ke mukanya, tetapi sesudah dekat, tiba2 Auwyang Hong mendapatkan pikiran lain.

"Ah, dia kan Suhu anakku, tidak baik kalau aku melukai dia, Tetapi seketika akupun tak bisa berbuat apa2 jika dia tak mau menyingkir pergi,"

Demikian ia membatin Karena itu, segera tangan yang dia ulur itu ditarik lagi kembali.

"Baiklah, kalau begitu kami saja yang menyingkir tetapi kau jangan mengintip, ya ?"

Kata-nya.

Siao-Iiong-li pikir meski orang ini sangat tinggi ilmu silatnya, tetapi orangnya dogol, maka iapun malas buat meladeninya, ia malah berpaling ke jurusan lain dan tak menjawab.

Siapa tahu begitu dia melengos, mendadak punggungnya terasa kesemutan.

Kiranya Auwyang Hong tiba2 telah ulur tangan dan menutuk sekali pada Hiat-to di punggungnya, Oleh karena gerak tangannya terlalu cepat dan aneh, pula sama sekali Siao-liong-li tidak me-nyangka2, ketika dia kaget dan bermaksud tutup jalan darahnya buat menolak tutukan orang, namun sudah terlambat, seketika setengah badannya bagian atas terasa tak bebas lagi.

Bahkan menyusul Auwyang Hong menambahi pula sekali tutukan di pinggangnya.

"Nah, budak cilik, jangan kau kuatir, sebentar saja sesudah selesai aku ajarkan ilmu pada anakku, segera aku datang melepaskan kau,"

Demikian terdengar Auwyang Hong berkata dengan tertawa sambil berjalan pergi.

Tatkala itu Nyo Ko sedang mengingat2 Ha-mo-kang dan Kiu-im-cm-keng yang diajarkan oleh ayah angkatnya tadi, ia merasa apa yang diajarkan dari Cin-keng atau kitab asli itu, bukan saja berlainan dengan apa yang terukir di kamar batu oleh Ong Tiong-yang, bahkan seluruhnya berlawanan dan terbalik, maka ia sedang peras otaknya untuk menyelaminya lebih mendalam hingga sedikitpun dia tak mengetahui sang guru kena diserang Auwyang Hong.

"Marilah kita menyingkir kesana, jangan sampai didengar oleh Suhu-mu."

Demikian kata Auwyang Hong sambil tarik tangan Nyo Ko.

Tetapi Nyo Ko cukup kenal tabiatnya Siao-liong-li yang aneh dan menyendiri jangan kata tidak nanti si gadis ini sudi mencuri dengar, sekali pun dipertontonkan di hadapannya, belum tentu dia mau lihat dan pasti dia akan menyingkir juga.

Tetapi karena pikiran ayah angkatnya dalam keadaan kurang waras, iapun merasa tidak perlu banyak berdebat, segera ia ikut pergi.

Sementara itu karena kena ditutuk jalan darahnya, dengan lemas Siao-liong-li telah terkulai di tanah, sungguh tidak kepalang rasa mengkalnya pula geli, ia pikir ilmu silatnya sendiri meski sudah terlatih masak dan bagus, namun apapun juga masih kekurangan pengalaman menghadapi musuh, sehingga sudah kena dibokong oleh Li Bok-chiu, kini mengalami pembokongan lagi oleh makhluk aneh si berewok ini.

Maka diam2 ia kumpulkan tenaga sakti dari apa yang dia pelajari dalam Kiu-im-cin-keng, yakni "Kay-hiat-pi-koat" , rahasia caranya melepaskan tutukan, ia sedot napasnya da1am2 terus menggem-pur aliran jalan darahnya.

Tetapi aneh, susudah dua kali dia ulangi, bukan saja Hiat-to yang tertutuk itu tidak menjadi lancar dan terbuka, bahkan bertambah pegal dan linu, Keruan saja tidak kepalang terkejutnya oleh kejadian yang tak dimengerti ini.

Kiranya cara tutukan Auwyang Hong itu justru berlawanan dengan jalan darah biasa, sebab memang dia melatih Kiu-im-cin-keng secara terbalik kini Siao-liong-li pakai cara biasa untuk melepaskan diri, dengan sendirinya bukan menjadi kendor, sebaliknya bertambah kencang dan makin rapat.

Dan karena sudah coba dan dicoba lagi masih belum berhasil, bahkan bertambah sakit, akhirnya Siao-liong-li tak berani coba2 lagi.

Terpikir pula olehnya nanti sehabis si gila ini selesai mengajarkan ilmu pada Nyo Ko.

dengan sendirinya dia akan kembali buat menolongnya, biasanya Siao-liong-li memang tidak suka banyak pikiran, maka kini iapun tidak menjadi kuatir atau gugup, ia malah ter-mangu2 sambil menengadah untuk memandang bintang2 yang tinggi di langit, hingga lapat2 akhirnya ia tertidur.

Entah sudah berapa lama ia terpulas, ketika terasa kelopak matanya pelahan2 seperti tergosok sesuatu, ia terjaga dari tidurnya, ia coba buka matanya, Biasanya dalam kegelapan Siao-liong-li bisa pandang sesuatu seperti di siang hari, tetapi kini sedikitpun ternyata tak dilihatnya, kiranya kedua matanya telah kena ditutup orang dengan selapis kain.

Luar biasa kaget Siao-liong-li sekali ini, malah menyusul ini segera terasa pula ada orang memeluk dirinya, Diwaktu memeluk, mula-mula orang ini agaknya rada2 takut, tetapi belakangan lambat laun menjadi tabah dan pelahan2 menjadi berani Dalam kagetnya itu niat Siao-Iiong-Ii hendak berteriak, Tetapi percuma sebab mulutnya susah dipentang karena tutukannya Auwyang Hong tadi.

Segera pula, ia merasa orang itu berani mencium pipinya.

SemuIa Siao-iiong-ii menyangka Auwyang Hong yang mendadak telah pakai kekerasan hendak perkosa dirinya, tetapi ketika muka orang itu menyentuh pipinya, ia merasa muka orang halus licin saja tanpa berewok seperti Auwyang Hong, Hatinya terguncang juga, rasa terkejutnya tadi pe-lahan2 pun hilang, maklum Siao-liong-li sendiri pun muda, dalam hati iai pikir tentu ini perbuatan si Nyo Ko.

Dalam pada itu ia merasa kelakuan orang itu mulai tidak sopan, tangan meraba sini dan menarik sana.

"Kurangajar, si Nyo Ko ini !"

Demikian diam-diam Siao-liong-li mengelak Tetapi karena tubuhnya sedikitpun tak bisa berkutik, maka tiada jalan lain ia serahkan diri apa yang hendak diperbuat orang, Hanya tidak karuan rasa dalam hatinya, ia terkejut girang, malu dan rada-rada sakit.

Sementara itu di sebelah sana Auwyang Hong sedang asyik memberi pelajaran ilmu silatnya pada Nyo Ko.

ia menjadi senang demi nampak bakat Nyo Ko sangat pintar, sedikit diberitahu saja, lanjutannya dengan sendirinya dipahami Oleh karena itulah, makin mengajar Auwyang Hong semakin bersemangat hingga fajar menyingsing barulah selesai pokok2 kedua ilmu mujijat itu diajarkan "Ayah, pernah juga kupelajari Kiu-im-cin-keng, tetapi kenapa berlainan sekali dengan apa yang kau uraikan ini ?"

Tanya Nyo Ko kemudian sesudah diulangi dan diapalkan pula pelajaran yang baru diperolehnya.

"Apa ? Pernah kau pelajari ? Ah, bohong, kecuali ajaranku ini, mana ada lagi Kiu-im-cin-keng lain ?"

Sahut Auwyang Hong membentak.

"Tetapi betul, seperti cara melatih melemaskan otot dan kuatkan tulang, menurut kau, langkah ketiga harus sedot napas dan jalankan darah ke arah atas. Tetapi Suhu sebaliknya bilang napas harus dipusatkan di perut dan darah dilancarkan ke bawah,"

Kata Nyo Ko.

"Mana bisa begitu, salah, salah..."

Teriak Auwyang Hong sambil geleng kepala, tetapi baru sampai di sini tiba2 ia berhenti ia memikir sejenak, lalu disambungnya lagi.

"He, ehm, nanti dulu..."

Habis ini ia coba melakukan apa yang dikatakan Nyo Ko tadi, betul saja seluruh badannya dirasakan sangat nyaman dan segar, ternyata sangat berbeda dengan caranya sendiri.

Sudah tentu tak pernah dia pikir bahwa dahulu dia telah dipermainkan Kwe Cing atas suruhan Ang Chit-kong (salah satu gurunya Kwe Cing) telah menuliskan kitab palsu Kiu-im-cin-keng yang telah diubah sana sini dan diputar-balik tak keruan untuk kemudian baru diserahkan padanya, dengan sendirinya hasil dari apa yang dilatihnya menjadi terjungkir-balik juga dan berlawanan dengan intisari Kiu-im-cin-keng yang asIi.

BegituIah, maka Auwyang Hong menjadi bingung, pikirannya kacau lagi.

"He, kenapa bisa begini ? Ah, mana bisa ? sebenarnya aku yang salah atau dia yang keliru ? Ah, mana bisa, mana bisa jadi begini ?"

Demikianlah Auwyang Hong mengomel sendiri tiada hentinya. Nyo Ko menjadi kaget melihat kelakuan orang yang tak beres ini.

"Ayah, ayah !"

Ia coba memanggil beberapa kali, tetapi tiada sahutan yang dia peroleh, Nyo Ko menjadi kuatir penyakit ayah angkatnya ini kumat lagi.

Sedang ia terkejut itu, tiba2 terdengar olehnya suara gemerisik diantara semak2 rumput sana, berbareng itu dilihatnya berkelebatnya bayangan orang, lapat2 diantara semak2 itu tertampak pula sebagian dari ujung jubah imam yang ke-kuning2-an.

Tempat ini sebenarnya sunyi senyap dan terpencil kenapa sekarang bisa didatangi orang luar ?

pula kelakuan orang itu celingukan tidak beres, terang tidak mengandung maksud baik Demikianlah Nyo Ko menjadi curiga, maka dengan langkah cepat segera ia memburu ke sana.

Namun dengan cepat orang itu sudah kabur ke jurusan sana, kalau melihat bagian belakangnya, nyata seorang Tojin atau imam.

"Hai, siapa kau ?"

Segera Nyo Ko membentak.

"Hayo, berhenti ! Apa kerjamu disini ?"

Sambil berteriak, dengan Ginkang yang tinggi segera Nyo Ko mengudak.

Dilain pihak demi mendengar suara bentakan Nyo Ko, imam itu semakin percepat larinya, Tetapi mana sanggup dia balapan lari dengan Nyo Ko, hanya sedikit "tancap gas"

Saja tahu2 Nyo Ko sudah melompat sampai di belakangnya, begitu pundaknya dia cekal dan diputar balik, seketika Nyo Ko menjadi heran, sebab imam ini dapat dikenalnya bukan dari pada In Ci-peng, itu murid Khu Ju-ki dari Coan-cin-kau.

Nyo Ko semakin tak mengerti ketika dilihatnya pakaian In Ci-peng kusut tak teratur, mukanya sebentar merah dan sebentar pucat.

"He, katakan, kerja apa kau di sini ?"

Nyo Ko menegur lagi.

In Ci-peng terhitung salah satu jago utama dari anak murid Coan-cin-kau angkatan ketiga, ilmu silatnya tinggi, tindak tanduknya biasanya juga cukup gagah, tetapi entah mengapa, kini sama sekali berubah lain, kena di-bentak2 Nyo Ko tadi, kelihatan dia menjadi gugup hingga tak sanggup bicara.

Melihat orang tetap tak menjawab meski beberapa kali ia mengulangi pertanyaannya, keruan Nyo Ko tambah tidak mengerti Tetapi segera teringat olehnya dahulu In Ci-peng pernah menanam budi atas dirinya ketika dia melarikan diri dari Tiong-yang-kiong.

Oleh karenanya ia tak tega untuk membentak lebih lanjut lagi.

"Baiklah, kalau tiada apa2, bolehlah kau pergi !"

Demikian katanya kemudian sambil melepaskan In Ci-peng.

Keruan saja In Ci-peng seperti terlepas dari genggaman elmaut, sambil menoleh beberapa kali memandang Nyo Ko, segera ia lari pergi dengan langkah cepat dan ketakutan seperti orang berdosa.

"Sungguh menggelikan kelakuan imam ini."

Demikian diam2 Nyo Ko tertawai orang.

Lalu ia menuju ke gubuk mereka, tetapi diantara semak2 di depan gubuk sana tiba2 dilihatnya kedua kaki Siao-liong-Ii melonjor keluar tanpa bergerak sedikitpun, agaknya seperti tertidur nyenyak.

"Kokoh, Kokoh !"

Nyo Ko coba memanggil.

Akan tetapi tiada jawaban.

ia berjongkok dan menyingkap semak2 yang lebat itu, maka terlihat Siao-liong-li rebah terlentang di tanah, sedang kedua matanya tertutup oleh selapis kain biru.

Rada kaget juga Nyo Ko melihat keadaan sang guru lekas2 ia melepaskan ikatan kain biru dari muka orang, dilihatnya wajah dan sorot mata berlainan sekali dengan biasanya, kedua pipinya pun bersemu merah seperti ke-malu2an.

"Kokoh, siapakah yang ikat kain ini atas dirimu ?"

Tanya Nyo Ko kemudian.

Namun Siao-liong-li tak menjawab, hanya sorot matanya tertampak mengandung maksud mengomelinya.

Melihat tubuh orang seperti lemas lunglai, agaknya seperti tertutuk jalan darahnya oleh orang, Nyo Ko coba menariknya, betul juga sama sekali Siao-liong-li tak bisa bergerak.

Nyo Ko memang pintar, melihat keadaan orang, segera dapat diterka apa sebab-musababnya.

"Tentu dia ditutuk ayah angkatku dengan Tiam-hiat-hoat yang terbalik, kalau tidak, dengan kepandaian Kokoh, Tiam-hiat-hoat yang lebih lihay sekalipun dapat dibukanya sendiri,"

Demikian pikirnya.

Maka dengan cara yang telah dipelajarinya dari Auwyang Hong tadi, lantas Nyo Ko membukakan Hiat-to Siao-liong-li yang tertutuk itu.

Siapa tahu, waktu tertutuk tubuh Siao-liong-li oleh Nyo Ko, toh Siao-liong-li tetap lemah lunglai dan meringkuk di dalam pangkuan Nyo Ko seperti seluruh tubuhnya tidak bertulang lagi.

"Kokoh,"

Kata Nyo Ko dengan suara halus sambil pegang lengan orang.

"kelakuan ayah angkatku memang tak genah, maka jangan kau sesalkan dia."

"Kau sendiri yang tak genah, Tak malu, masih kau bilang orang Iain!"

Sahut Siao-liong-li tiba2 secara samar2 dan menyembunyikan mukanya ke dalam pangkuan pemuda itu. Melihat kelakuan sang guru semakin aneh dan berbeda sekali dengan se-hari2nya, Nyo Ko mulai bingung.

"Kokoh, ak... aku..."

Demikian kata2-nya menjadi tak lancar.

"Masih kau panggil aku Kokoh ?"

Omel Siao-liong-li tiba2 sambil mendongak. Keruan saja Nyo Ko semakin bingung dan gugup.

"He, tidak panggil kau Kokoh, lalu panggil apa ? Apa panggil Suhu saja ?"

Sahutnya heran.

"Kau perlakukan aku cara begitu, mana bisa lagi aku menjadi gurumu ?"

Kata Siao-liong-li dengan senyum malu-malu.

"Aku ? Aku kenapa ?"

Nyo Ko tambah tak mengerti. Tetapi Siao-liong-li tak menjawab lagi, ia gulung lengan bajunya, maka tertampaklah tangannya yang berkulit putih "bersih seperti salju.

"Lihat!"

Katanya dengan wajah ke-malu2an sambil menunjuk lengannya yang putih mulus itu. Ternyata andeng2 merah "Siu-kiong-seh"

Yang dahulu terdapat di lengannya itu kini sudah hilang tanpa bekas. Tetapi Nyo Ko masih bingung, ia cakar2 kuping dan garuk2 kepala.

"Kokoh, apakah artinya ini ?"

Demikian katanya.

"Dengarkan, tidak boleh lagi kau panggil aku Kokoh,"

Ujar Siao-liong-li setengah mengomel Dan demi dilihatnya wajah Nyo Ko penuh mengunjuk bingung, entah mengapa hati gadis ini tiba2 timbul rasa cinta mesra yang tak terkatakan.

"Ahliwaris Ko-bong-pay kita selamanya turun-temurun adalah gadis yang suci bersih,"

Kemudian dengan suara pelahan Siao-liong-li berkata pula.

"Oleh sebab itu Suhu telah menisik setitik andeng2 merah itu di tanganku, Tetapi semalam... semalam kau perlakukan aku begitu, mana bisa lagi andeng2 merah itu tinggal di atas tanganku ?"

"Aku perlakukan kau apa semalam ?"

Tanya Hyo Ko rapat dan bingung. Muka Siao-liong-li menjadi merah jengah.

"Sudahlah, tak perlu dibicarakan lagi,"

Sahutnya kemudian, dan sesudah sejenak pula, dengan pelahan ia berkata lagi.

"DahuIu aku takut2 untuk turun gunung, tetapi kini sudah lain, tidak perduli ke mana kau pergi, dengan rela aku akan mengikuti kau."

"Bagus sekali, Kokoh, kalau begitu!"

Seru Nyo Ko girang "He, kenapa kau masih memanggil aku Ko-koh ?"

Tegur Siao-liong-li dengan wajah sungguh2.

"Apa kau tidak dengan hati murni terhadap diriku ?"

Karena Nyo Ko tidak menjawab, akhirnya Siao-liong-Ii menjadi tak sabar lagi "Sebenarnya kau anggap diriku ini apamu ?"

Tanyanya dengan suara gemetar.

"Kau adalah guruku, kau sayang padaku, aku sudah bersumpah bahwa selama hidupku ini pasti menghormati kau dan suka padamu,"

Demikian dengan sungguh2 dan tulus Nyo Ko menjawab.

"Apa kau tidak anggap aku sebagai isterimu?"

Teriak Siao-liong-li tak tahan. Sungguh hal ini belum pernah terlintas dalam pikiran Nyo Ko, kini mendadak ditanya orang, keruan ia kelabakan dan tak mengerti cara bagaimana harus menjawabnya.

"Ti... tidak, tak mungkin kau adalah isteriku, mana aku cakap ?"

Demikian sahutnya kemudian dengan tak lancar.

"Tetapi kau adalah Suhu, adalah Kokoh-ku" . Tidak kepalang gusarnya Siao-liong-li mendengar jawaban ini hingga seluruh tubuhnya gemetar, mendadak darah segar menyembur keluar dari mulutnya.

"Kokoh, Kokoh !"

Nyo Ko ber-teriak2 bingung melihat keadaan orang.

Mendengar orang terus-menerus masih panggil demikian padanya, dengan sorot mata yang gemas tiba2 Siao-liong-li angkat telapak tangannya terus hendak digablokkan ke kepala Nyo Ko.

Tetapi, pe-lahan2, sorot matanya dari gemas dan menyesal tadi berubah menjadi benci dan dendam, lalu dari benci dan dendam berganti lagi menjadi sayang dan kasihan.

"Baiklah kalau begitu, selanjutnya jangan kau bertemu dengan aku lagi,"

Dengan menghela napas panjang akhirnya ia berkata dengan lirih dan lemah. Habis berkata, ia kebas lengan bajunya yang panjang terus putar tubuh dan lari pergi dengan cepat turun ke bawah gunung.

"Kokoh, Kokoh! Ke mana kau ? Akut ikut bersama kau !"

Nyo Ko ber-teriak2.

"Jika kau ketemu lagi dengan aku, mungkin sulit ku ampuni jiwamu,"

Sahut Siao-liong-li tiba2 sambil menoleh.

Dalam bingungnya Nyo Ko semakin tak tahu apa yang harus dilakukannya.

Karena tertegunnya ini, sementara bayangan Siao-liong-li sudah menghilang diantara jalan pegunungan yang menurun itu.

Sungguh tidak kepalang berdukanya Nyo Ko hingga dia menangis ter-gerung2.

Sungguh tidak dimengerti olehnya sebab apakah dia membikin gurunya begitu marah hingga kelakuannya begitu aneh.

Kenapa sang guru bilang mau jadi isterinya, pula melarang dia memanggil Kokoh lagi padanya ?

Semua ini membuatnya bingung.

"Ya, tentu urusan ini ada hubungannya dengan ayah angkatku, pasti dia yang bikin marah Suhu."

Demikian akhirnya Nyo Ko menarik kesimpulan sesudah berpikir lama.

Lalu ia pergi ke dekat Auwyang Hong lagi, di sana ia lihat orang tua ini sedang berdiri tegak dengan kedua matanya terbelalak tanpa berkedip.

"Ayah, sebab apakah kau membikin marah guruku ?"

Segera Nyo Ko bertanya. Akan tetapi Auwyang Hong tidak menjawab, hanya terdengar mulutnya menggumam sendiri.

"Kiu-im-cin-keng, Kiu-im-cin-keng !"

"He, kenapa kau tutuk jalan darah guruku hingga bikin dia begitu marah ?"

Kembali Nyo Ko tanya lagi. Namun Auwyang Hong tetap tak menjawab, ia berkata seorang diri pula.

"Sebenarnya harus dijalankan ke atas atau ditekan ke bawah ?"

"He, ayah,"

Teriak Nyo Ko akhirnya, ia menjadi tak sabar.

"aku tanya kau tentang Suhu, katakanlah, apa yang telah kau lakukan terhadap dia?"

"Siapa gurumu ? Siapa aku ? siapakah Auwyang Hong ?"

Tiba2 Auwyang Hong ber-teriak2 sendiri. Melihat penyakit gila orang kumat lagi, Nyo Ko jadi kuatir tercampur kasihan.

"Ayah, tentu kau sudah letih, marilah mengaso ke dalam gubuk,"

Ajaknya kemudian. Tetapi mendadak Auwyang Hong berjumpalitan dan tahu2 tubuhnya sudah menjungkir sambil ber-teriak2 .

"Siapakah aku ini ? siapakah aku ini ? Dimanakah Auwyang Hong ?"

Berbareng itu kedua tangannya bergerak tak keruan, tubuhnya yang menjungkir pun berputar cepat, dengan kepala di bawah secepat angin Auwyang Hong ber-lari2 ke bawah gunung.

"Ayah, ayah!"

Dalam bingungnya Nyo Ko coba menarik orang.

Siapa duga mendadak Auwyang Hong memancal dengan sebelah kakinya dan dengan tepat mengenai rahang Nyo Ko, Depakan ini sedikitpun ternyata tak kenal ampun hingga Nyo Ko tak tahan berdiri tegak lagi, ia jatuh terjengkang.

Ketika dia berdiri lagi, sementara itu Auwyang Hong sudah pergi jauh dan sekejap saja lantas menghilang dari pandangan.

Dengan terkesima Nyo Ko terpaku di tempatnya, entah perasaan apa waktu itu yang dia rasakan.

Suasana sekelilingnya se-akan2 sunyi senyap, sayup2 hanya diselingi oleh suara berkicaunya burung.

"Kokoh ! Ayah ! Kokoh ! Ayah !"

Akhirnya Nyo Ko ber-teriak2 seorang diri.

Sudah tentu tiada sesuatu sahutan dari kedua orang yang dipanggil itu, yang ada hanya suaranya sendiri yang berkumandang balik dari lembah pegunungan yang luas itu.

Dalam keadaan demikian Nyo Ko menjadi putus asa, perasaannya se-akan2 hancur.

Maklumlah, selama beberapa tahun ini boleh dikatakan tak pernah dia berpisah dengan Siao-liong-li, hubungan mereka begitu rapat bagai ibu dan anak, kini mendadak tanpa diketahui apa sebabnya orang pergi begitu saja, sudah tentu tidak keruan rasa hatinya.

Dalam putus asanya itu dan memang perasaan halus Nyo Ko lain dari pada orang biasa, maka hampiri saja dia mau bunuh diri.

Syukur dia masih bisa berpikir panjang, lapat2 timbul semacam harapan bahwa gurunya yang pergi mendadak itu mungkin akan kembali juga secara mendadak.

Meski Kokoh dibikin marah ayah angkatnya, namun dirinya toh tiada berbuat sesuatu kesalahan, tentu sang guru akan kembali lagi mencari padanya, begitulah dia pikir.

Tentu saja malam itu ia lewatkan sendirian dengan tak bisa tidur, beberapa kali, asal terdengar sesuatu suara gemerisik, segera ia melompat bangun menyangka Siao-liong-li yang kembali, ia berteriak dan me-manggil2 dan berlari keluar, namun setiap kali selalu ia kecewa dan cemas.

Begitulah dia sibuk semalam suntuk merindukan Siao-liong-li sampai fajar menyingsing.

"Jika Suhu tidak mau kembali, biarlah aku yang pergi mencari dia,"

Tiba2 terpikir olehnya.

"Asal bisa ketemukan dia, tidak peduli bagaimana dia akan menghajar atau mendamperat aku, yang pasti aku tak akan berpisah lagi dengan dia."

Berpikir sampai di sini, tanpa terasa ketabahannya banyak bertambah.

Segera ia bebenah seperlunya, ia bugkus pakaian sendiri dan milik Siao-liong-li kedalam sepotong kain, ia gendong di punggungnya lalu dengan langkah lebar ia turun ke bawah gunung.

Sepanjang jalan ia coba menanya penduduk di tepi jalan apakah ada melihat seorang nona putih yang cantik lewat di situ, Tetapi beruntun ia tanya beberapa orang, semuanya hanya goyang kepala menyatakan tak tahu.

Karena itu, akhirnya Nyo Ko menjadi gopoh, dengan sendirinya cara bertanya kemudian menjadi kurang sopan, Dan para penduduk yang ditanya itu sebaliknya mendongkol juga melihat pemuda seperti Nyo Ko ini selalu mencari tahu tentang nona cantik segala, dengan sendirinya lalu ada orang yang ingin tahu untuk apa dia cari dan siapa nona ayu itu, pernah apakah dengan dia.

Sebaliknya Nyo Ko jadi marah2 oleh pertanyaan kembali itu.

"ltu kau tak perlu urus, aku hanya ingin tahu kau melihat dia lewat di sini tidak ?"

Demikian dalam gusarnya Nyo Ko tak sadar kata2nya ini halus atau tidak."

Sedang orang yang ditanya tentu saja marah juga melihat sikap Nyo Ko ini, syukur setelah terjadi ribut2, dari samping seorang tua telah memisah, lalu orang tua ini menunjuk ke satu jalanan kecil di jurusan timur dan berkata pada Nyo Ko.

"Semalam aku melihat satu gadis secantik bidadari menuju ke arah timur, tadinya aku menyangka dia itu Koan-im-po-sat (Budha Satwa) yang menjelma, siapa tahu dia kenalan baik saudara..."

Mendengar kabar ini, tidak menanti orang selesai bicara, Iekas2 Nyo Ko menghaturkan terimakasih terus memburu ke jalan kecil menurut arah yang ditunjuk itu.

Tetapi begitu ia mungkur, orang banyak tertawa ramai, Kiranya karena kelakuan Nyo Ko yang tak punya sopan santun, maka orang tua tadi sengaja mempermainkan dia.

Namun Nyo Ko sama sekali tak tahu kalau dirinya telah didustai orang, ia masih memburu ke jurusan itu dengan cepat, Lewat tak lama, tiba2 didepan terdapat simpang jalan tiga jurusan, ia menjadi bingung ke arah mana harus dia tempuh.

"Biasanya Kokoh tak suka tempat ramai, tentu dia pilih jalanan kecil yang sepi,"

Demikian Nyo Ko pikir sendiri, Habis ini lantas dipilihnya jalanan kecil yang membelok ke kiri.

Siapa duga jalanan kecil ini makin Iama makin lebar dan sesudah menikung beberapa kali, akhirnya malah menembus satu jalan raya.

Waktu itu hari sudah magrib, Nyo Ko sendiri sudah sehari semalam tak makan tak minum, perutnya sudah keruyukan, dilihatnya di depan sana rumah ber-deret2 dan gedung ber-jajar2, nyata ada satu kota yang cukup ramai.

Cepat Nyo Ko menuju ke kota dan masuk sebuah hotel (pada umumnya hotel merangkap restoran), lalu ia menggembor minta disediakan daharan.

Tak lama pelayan sudah antar santapan sederhana ke hadapan Nyo Ko, tetapi baru beberapa kali sumpitan saja anak muda ini tak punya napsu maka lagi, karena merasa kesal, tenggorokannya penjadi seret dan tak bisa menelan.

"Meski hari sudah mulai gelap, tapi lebih baik lekas aku pergi mencari Kokoh saja, bila malam ini dibiarkan lewat, untuk selanjutnya mungkin sukar bertemu lagi,"

Demikian pikir Nyo Ko. Oleh karenanya segera ia taruh mangkok nasinya dan memanggil pelayan."

"Aku ingin tanya kau, pelayan,"

Kata anak muda ini sesudah petugas itu datang.

"Boleh saja, tuan, katakanlah ! Apakah karena santapan ini tidak cocok dengan lidah tuan, biarlah hamba membuatkan yang lain, tuan suka masakan apakah ?"

Demikian sahut si pelayan mencerocos.

"Tidak, aku tidak maksudkan makanan,"

Kata Nyo Ko sambil goyang2 tangannya "Tetapi aku ingin tanya, apakah kau melihat seorang gadis jelita berbaju putih lewat di sini ?"

"Baju putih ?"

Si pelayan menggumam sendiri "He, apakah nona itu sedang berkabung ? Ada keluarganya yang meninggal bukan ?"

Begitulah si pelayan mencerocos tak keruan dari menyimpang dari pertanyaan orang, Keruan Nyo Ko sangat mendongkol.

"Aku hanya tanya kau, lihat atau tidak ?"

Mengulanginya lagi.

"Wanita sih memang ada, juga orang pakai baju putih"

"Dan menuju ke arah mana ?"

Tanya Nyo Ko cepat dan girang.

"Tetapi sudah hampir setengah hari dia lewat tadi!"

Sahut pelayan itu. Habis ini tiba2 ia pelahankan suaranya seperti kuatir didengar orang, lalu menyambung lagi.

"Adalah lebih baik jangan pergi mencari dia !"

Merasa mendapatkan jejak Kokoh yang dicari, dalam girangnya Nyo Ko terkejut pula mendengar perkataan orang itu.

"Se... sebab apa ?"

Tanyanya dengan suara rada gemetar "Coba aku tanya dahulu, tuan tahu bahwa wanita itu pandai silat ?"

Tiba2 pelayan itu menanya.

"Kenapa aku tak tahu ?"

Demikian Nyo Ko membatin, Maka dengan cepat ia menjawab .

"Su-dah tentu tahu, dia memang pandai silat."

"Nah, kalau begitu untuk apa kau mencari dia ? Bukankah sangat berbahaya ?"

Kata si pelayan pula.

"Sebab apakah sebenarnya ?"

Nyo Ko menjadi bingung.

"Coba terangkan dulu, pernah apakah gadis baju putih itu dengan tuan ?"

Tanya si pelayan. Nyo Ko mengerti kalau tidak sekadar menerangkan, agaknya orang tak mau ceritakan ke mana perginya Siao-liong-li, maka terpaksa ia menjawab.

"Dia adalah Enci-ku, aku sedang cari dia."

Mendengar jawaban ini, seketika pelayan itu berubah sangat hormat pada Nyo Ko, Tetapi hanya sekejap saja, sebab segera si pelayan geleng2 kepala "Tidak, tidak sama !"

Katanya tiba2. Bukan main mendongkolnya Nyo Ko oleh kelakuan si pelayan, saking gopohnya sekali jamberet dia cengkeram baju orang.

"Sebenarnya kau mau katakan tidak ?"

Bentaknya gusar. Melihat Nyo Ko naik darah, mendadak si pelayan me-lelet2 Iidahnya.

"Persis, persis ! Kalau begini baru sama !"

Demikian katanya.

"Kurangajar, apa2an ini sebentar sama sebentar tidak sama, apa maksudmu ?"

Damperat Nyo Ko.

"Le lepaskan dahulu, siauya (tuan mu-da), leherku tercekik.,.he he... aku tak bisa buka suara,"

Sahut si pelayan dengan suara ter-putus2. Melihat rupa orang dasarnya memang ceriwis, percuma saja meski pakai kekerasan, maka Nyo Ko lantas lepaskan tangannya.

"Siauya,"

Tutur si pelayan kemudian sesudah berdehem beberapa kali.

"aku bilang tidak sama, soalnya karena perempuan... eh, Enci-mu itu, tampaknya lebih cakap dan lebih muda daripada kau, pantasnya dia mirip adikmu dan bukan kakak. Aku bilang sama, sebab kalian berdua sama2 berwatak keras, sama2 bertabiat suka angkat senjata dan main kepalan."

Nyo Ko tertawa oleh cerita itu.

"Apakah Enci-ku telah berkelahi dengan orang ?"

Tanyanya kemudian.

"Betapa tidak ?"

Sahut pelayan itu.

"Tidak hanya berkelahi, bahkan telah melukai orang. Coba lihat itu !" -Berbareng ia menunjuk beberapa bekas bacokan senjata tajam di bawah meja, lalu dengan muka ber-seri2 ia sambung pula .

"Walau kejadian tadi itu sunguh berbahaya, memang kepandaian Enci-mu sangat hebat, hanya sekali ta-bas saja sebelah kuping Toya (tuan imam) itu lantas kena di-irisnya."

"Apa katamu ? Toya apa ?"

Tanya Nyo Ko terkejut.

"Ya, dia itu..."

Baru berkata sampai disini, se-konyong2 muka si pelayan berubah hebat, seketika ia mengkeret terus mengeluyur pergi.

Nyo Ko memang luar biasa cerdiknya, melihat kelakuan si pelayan tadi, ia tak menegur juga tak menyusulnya, sebaliknya ia angkat mangkok nasi-nya tadi terus menyumpit daharannya lagi, Pada saat lain, terlihatlah olehnya ada dua Tojin muda masuk ke dalam hotel.

Usia kedua imam ini kira 26-27 tahun saja, jubah pertapaan mereka bersih dan rajin sekali, mereka ambil tempat duduk pada meja disamping Nyo Ko.

Lalu imam yang beralis tebal panjang tiada hentinya berteriak2 mendesak diantari arak dan daharan.

Dengan muka ber-seri si pelayan lekas2 meladeni kedua tetamunya itu, pada suatu kesempatan ia mengedipi matanya pada Nyo Ko sambil mulutnya merot2 ke jurusan kedua imam itu.

Nyo Ko pura2 tidak tahu, ia masih terus menyumpit santapannya dengan asyik, Kini dia betul2 merasa lapar, apalagi kabar Siao-liong-Ii sudah diperoleh, hatinya menjadi lega dan gembira, maka tanpa terasa beberapa kali isi mangkoknya telah ditambah dan dilangsir ke dalam perutnya.

Baiknya pakaian Nyo Ko memang sederhana, apalagi sudah sehari semalam ia susul Siao-liong-li hingga seluruh badannya penuh debu dan mukanya kotor, oleh sebab itu kedua imam tadi sama sekali tidak perhatikan padanya melainkan asyik ber-cakap2 sendiri dengan suara pelahan.

Sebaliknya Nyo Ko semakin pura2, ia kecap2 mulutnya dan mainkan lidahnya, dia sengaja makan begitu rupa hingga mengeluarkan suara keras, habis itu ia angkat semangkok wedang panas dan diseruput dengan bernapsu, akan tetapi telinganya justru dia pasang, untuk mendengarkan apa yang sedang dipercakapkan kedua Tojin atau imam itu.

"Bi-sute, menurut pendapatmu, malam ini Han-cecu dan Tan-lokunsu bakal datang tidak ?"

Demikian ia dengar imam yang beralis tebal tadi sedang berkata. Imam satunya lagi bermulut Iebar, suaranya kasar serak dan terdengar dia menjawab.

"Kedua orang ini adalah laki2 gagah perkasa yang bersahabat kental dengan Thio-susiok, kalau Thio-susiok sudah mengundangnya, tidak boleh tidak mereka pasti akan datang."

Nyo Ko terkesiap hatinya demi mendengar orang menyinggung nama "Thio-susiok". pikirnya dalam hati.

"Jangan2 Thio-susiok yang mereka maksudkan adalah guruku yang dahulu, Thio Ci-keng ?"

Ia jadi curiga kenapa kedua imam ini belum pernah dilihatnya di Tiong-yang-kiong, ketika ia melirik dan mengamat-amati orang, ternyata tiada yang dia kenal.

"Boleh jadi karena jauhnya perjalanan, dia tak keburu datang"

Demikian imam alis tebal tadi berkata lagi.

"He, Ki-suheng, kau ini memang suka takut ini dan kuatir itu,"

Demikian sahut imam she Bi tadi.

"Hanya seorang perempuan saja, berapa besarkah kemampuannya."

"Ya, sudahlah, marilah minum, jangan dibicarakan lagi,"

Begitulah imam she Ki memotong.

Kemudian ia memanggil pelayan hotel dan minta disediakan satu kamar kelas satu, nyata mereka juga bermalam disini.

Sementara itu Nyo Ko sedang memikirkan isi percakapan kedua imam tadi, ia dapat meraba tentu orang bermaksud cari setori pada Suhu-nya, mungkin disebabkan ada kawan kecundang, maka "Thio-susiok"

Tampil kemuka untuk mengundang seseorang she Han dan seorang she Tan sebagai bala bantuan, kalau terus kintil kedua imam ini, tentunya akan bisa bertemu dengan Suhu.

Berpikir akan ini, hati Nyo Ko menjadi gembira sekali, Sudah jelas kedua imam ini adalah musuh gurunya, tapi dengan petunjuk mereka nanti akan ketemukan sang guru, maka terhadap mereka ternyata tiada timbul perasaan benci, ia tunggu sesudah kedua imam itu masuk kamar mereka, kemudian ia sendiripun minta disediakan sebuah kamar di sebelah kamar imam2 itu.

"Siauya, baiklah kau hati2 sedikit, Enci-mu telah iris kuping seorang Toya, tentu mereka akan menuntut balas,"

Demikian si pelayan membisiki Nyo Ko ketika datang ke kamarnya membawakan lampu.

"Sungguh aku tidak mengerti, Enci-ku biasanya sangat sabar, kenapa mendadak dia bisa me-ngiris kuping orang ?"

Kata Nyo Ko dengan suara lirih.

"Terhadap kau tentu saja baik, tetapi terhadap orang lain mungkin tidak menjadi baik,"

Kata si pelayan pula dengan suara yang di-bikin2

"Enci-mu tadi sedang bersantap disini dan Toya yang sial itu duduk di sebelahnya, hanya disebabkan Toya itu melirik beberapa kali pada kaki Enci-mu, siapa tahu Enci-mu lantas naik darah terus lolos senjata dan melabrak orang."

BegituIah si pelayan mencerocos terus, dan masih hendak dilanjutkannya, namun Nyo Ko sudah mendengar lampu di kamar sebelah telah disirapkan, maka cepat ia memberi tanda agar si pelayan tak perlu cerita lagi.

"Kurangajar, tentu imam busuk itu terus-menerus mengincar Kokoh karena kecantikannya hingga akhirnya Kokoh menjadi marah,"

Demikian Nyo Ko menggerutu sendiri setelah pelayan itu pergi.

Habis ini segera iapun padamkan lampunya, malam ini ia memang tidak ingin tidur lagi, ia hanya duduk sambil pasang kuping untuk mengikuti sesuatu gerak-gerik di kamar sebelah.

BegituIah Nyo Ko berjaga sampai tengah malam, tiba2 didengarnya pelataran luar bersuara keresek dua kali, menyusul seperti ada orang melompat masuk ke bagian dalam melintasi pagar tembok.

Habis itu jendela kamar sebelah terdengar dibuka dan imam yang she Ki itu membuka suara .

"Apakah Han dan Tan berdua ?"

"Ya,"

Terdengar suara sahutan seorang yang berada di pelataran sana.

"Silakan masuklah!"

Demikian kata imam she Ki lagi.

Menyusul itu pintu kamar pelahan dibuka, lampu telah dinyalakan juga.

Tentu saja Nyo Ko sangat tertarik, ia kumpulkan seluruh perhatiannya untuk mendengarkan percakapan mereka berempat itu.

"Tecu Ki Jing-hi dan Bi Jing-hian memberi hormat pada Han-cecu dan Tan-lokunso,"

Terdengar imam she Ki bersuara pula. Mendengar nama kedua imam itu, diam2 Nyo Ko membatin.

"Ternyata mereka bukan orang dari Tiong-yang-kiong, tetapi nama mereka memakai urut2an Jing, mereka terhitung juga orang dari Coan-cin-pay."

"Begitu kami terima undangan Thio-susiok kalian, segera kami memburu kesini,"

Terdengar suara sahutan yang tajam "Apakah betul perempuan hina itu sangat sulit dilawan ?"

"Sungguh memalukan untuk diceritakan,"

Demikian kata Ki Jing-si lagi.

"Dari golongan kami sudah ada dua anak murid yang ber-turut2 dilukai perempuan hina-dina itu."

"Sebenarnya dari aliran manakah ilmu silat perempuan itu ?"

Tanya orang yang bersuara tajam tadi.

"Thio-susiok bilang dia adalah ahli waris dari Ko-bong-pay, oleh sebab itu, meski usianya masih muda, namun kepandaiannya sesungguhnya sangat hebat,"

Sahut Ki Jing-si. Diam2 Nyo Ko menjengek demi mendengar orang sebut "Ko-bong-pay."

"Ko-bong-pay apakah ?"

Rupanya orang yang bersuara tajam itu tak mengerti.

"Menurut Thio-susiok, orang dari golongan mereka itu selamanya jarang sekali berkecimpung di kalangan Kangouw, sebab itu nama mereka tidak terkenal dalam Bu-lim, pantas kalau Han-cecu tidak kenal,"

Demikian sahut Ki Jing-si.

"O, kalau begitu, agaknya tiada perlu dipandang berat,"

Kata orang yang dipanggil Han-cecu itu.

"Dan di mana besok harus bertemu ? Pihak lawan mendatangkan berapa orang ?"

"Thio-susiok telah janji dengan wanita itu untuk bertemu besok lohor di lembah Cay-long-kok yang 40 li jauhnya dari sini ke jurusan barat, di sana kedua pihak akan menentukan siapa yang unggul dan siapa yang asor,"

Ki Jing-si menjelaskan.

"Soal pihak lawan ada berapa orang, itulah aku tidak tahu. Tetapi kalau sudah ada Han-cecu dan Tan-lokunsu yang membantu kami, tak perlu lagi kita takut meski mereka berkawan banyak."

Lalu terdengar suara seorang tua berkata .

"Baiklah kalau begitu, kami pasti datang tepat besok lohor, Marilah, Han-laute, kita pergi."

Lalu Ki Jing-si mengantar tetamunya keluar kamar, sampai di depan pintu, dengan suara bisik2 terdengar ia pesan orang.

"Tidak jauh ke Tiong-yang-kiong, urusan kita akan bertanding dengan orang se-kali2 jangan sampai diketahui Ma, Khu dan Ong (maksudnya Ma Giok, Khu Ju-ki dan Ong Ju-it), kalau sampai konangan, pasti kita akan didamperat habis2an."

Han-cecu bergelak ketawa oleh pesan itu.

"Kalian takut pada Ma Giok dan Khu Ju-ki imam2 tua itu, kami sebaliknya tidak berada dibawah perintahnya,"

Demikian katanya.

"Sudahlah, jangan kau kuatir,"

Demikian Tan-lokunsu menjelak.

"pasti kami tidak membocorkan rahasia ini."

Mendengar percakapan terakhir mereka ini, diam2 Nyo Ko membatin, kiranya mereka hendak keroyok Kokoh dan para imam tua sebangsa Ma Giok itu tiada yang mengetahui.

Meski Nyo Ko tidak berkesan baik pada Coan-cin-kau, tetapi bila mengingat Ma Giok dan Khu Ju-ki toh tidak jelek juga terhadap dirinya, karenanya terhadap kedua imam tua itu dia tidak dendam, hanya kepada Hek Tay-thong yang membinasakan Sun-popoh itulah dia telah ambil keputusan kelak pasti akan menuntut balas.

Dalam pada itu keempat orang yang diluar itu sesudah berunding dengan suara pelahan lagi, kemudian Han-cecu dan Tan-lokunsu pergi dengan melompati pagar tembok lagi, Ki Jing-si dan Bi Jing-hian mengantar juga keluar, keadaan menjadi sepi.

Tiba2 pikiran Nyo Ko tergerak, segera ia buka pintu pelahan, dengan cepat ia menyelinap masuk kamar kedua imam di sebelah itu, Ia lihat di atas pembaringan kamar itu terletak dua buntalan, ia ambil satu bungkusan itu dan merogoh isinya, kiranya di dalam ada uang perak sekira 20 tahil.

"Ha, kebetulan, memangnya aku lagi kekurangan duit,"

Demikian pikir Nyo Ko, Lalu ia pin-dahkan uang perak itu kedalam sakunya sendiri.

Ia lihat lain bungkusan rada panjang, kiranya berisi dua batang pedang, sengaja Nyo Ko lolos pedang itu satu per satu dan dengan tekanan tenaga berat ia patahkan garan pedang lalu dimasukkan kembali ke dalam sarungnya dan dibungkus lagi dengan rapi.

Selagi ia hendak keluar kembali, tiba2 pikirannya tergerak pula, ia lepas kolor dan buka celana terus kencingi kasur di kolong selimut kedua imam itu hingga basah kuyup.

Sementara itu ia dengar di luar ada suara orang melompati pagar, ia tahu tentu kedua imam itu telah kembali, dapat diketahuinya pula bahwa ilmu entengkan tubuh kedua imam itu ternyata biasa saja, sebab tak mampu sekali lompat melintasi pagar tembok, melainkan harus tancapkan kaki dahulu di atas pagar untuk kemudian baru loncat turun.

Lekas2 Nyo Ko menyelusup kembali ke kamarnya sendiri, ia tutup pintu kamarnya dengan pelahan, nyata sama sekali kedua imam itu tak merasa bahwa mereka sedang diincar orang, sesudah di kamarnya sendiri, Nyo Ko pasang kuping ke dinding kamar untuk mendengarkan gerak-gerik dan suara2 apa yang bakal terjadi di kamar sebelah.

Ia dengar kedua imam itu masih berembuk dengan suara rendah, agaknya mereka cukup yakin bakal menang akan pertarungan besok, maka sembari bicara merekapun buka baju dan naik pembaringan untuk tidur.

Tetapi baru saja Bi Jing-hian memasukkan kakinya ke dalam selimut, mendadak ia berteriak.

"He, apa ini basah2 becek di dalam selimut ? Ai, baunya! He, Ki-suheng, sudah tua, kenapa kau masih ngompol ?"

"Apa? Ngompol?"

Sahut Ki Jing-si bingung, Tetapi segera pula ia sendiri ikut berteriak.

"He, ya, darimanakah kucing keparat yang kencing di sini ?"

"Kencing kucing mana bisa begini banyak,"

Ujar Bi Jing-hian.

"Ya, memang aneh,"

Kata Ki Jing-sin habis ini tibal ia berteriak pula .

"He, dimanakah uang perak kita ?"

BegituIah seluruh kamar menjadi geger dan kacau-balau, kedua imam ini sibuk mencari uang perak mereka, Sudah tentu mereka tidak bakal menemukannya.

Diam2 Nyo Ko sangat senang dan merasa geli, sementara itu ia dengar Bi Jing-hian sedang ber-teriak2 lagi.

"He, pelayan, pelayan ! Apakah hotelmu ini hotel perampok, mengapa tengah malam buta mencuri uang tamu ?"

Karena suara ribut2 ini, pelayan hotel datang menanyakan sambil masih kucek2 matanya yang sepat.

Tak terduga segera Bi Jing-hian pegang baju dada si pelayan dan menuduh hotel ini adalah hotel perampok, kenapa malam2 gasak uang tetamu.

Tentu saja si pelayan tak mau terima tuduhan itu, terdengar dia berteriak penasaran, dengan sendirinya pegawai hotel lainnya dimulai dari tukang api sampai pada kuasa hotel lantas terjaga semua dari tidur mereka dan merubung datang, menyusul pula para tetamu lainpun be-runtun2 ikut terbangun dan be-ramai2 datang menonton keributan itu.

Dan diantara mereka terdapat pula si nakal, Nyo Ko.

Begitulah dengan menahan perasaan geli Nyo Ko melihat pelayan hotel itu sedang "main pidato" , dasar pelayan ini memang ceriwis pula pandai bicara, maka Bi Jing-hian dan Ki Jing-si berdua telah terdesak oleh debatannya hingga tak sanggup berkata lagi.

Dari malu Bi Jing-hian menjadi gusar, begitu ayun tangannya, kontan ia persen si pelayan dengan sekali tamparan.

Keruan pelayan itu menjadi kalap tanpa pikir lagi ia menubruk maju hendak adu jiwa.

Namun sebelum dia datang dekat, menyusul kaki Bi Jing-hian sudah melayang, ia tambahi si pelayan dengan sekali tendangan hingga pelayan itu terjungkal.

Melihat imam ini tanpa sebab memukul orang, keruan pegawai2 hotel lainnya sama solider, mereka berteriak dan be-ramai2 merangsang maju hendak mengeroyok.

Sudah tentu beberapa orang yang tak masuk hitungan ini se-kali2 bukan tandingan kedua imam itu, hanya sekejap saja, baik kuasa hotel, tukang api dan Iain2nya telah mendapat hajaran malah.

Senang sekali Nyo Ko menyaksikan peristiwa hasil perbuatannya itu, dengan geli ia kembali ke kamarnya sendiri untuk tidur lagi, ia tidak pusingkan apa yang terjadi lebih lanjut dari lelakon di luar itu.

Besoknya, selagi Nyo Ko sarapan pagi, dilihatnya si pelayan yang ceriwis itu sedang mendatangi dan menyapa padanya, mukanya tampak babak-belur dan hidung bengkak, meski demikian toh pelayan ini masih tiada hentinya mencaci maki tentang kejadian semalam.

"Mana kedua imam bangsat itu ?"

Dengan tertawa Nyo Ko coba bertanya.

"Hm, memang imam bangsat keparat, sudah pukul orang, masih gegares percuma dan tinggal gratis, habis itu lantas angkat kaki,"

Demikian kata si pelayan dengan marah2.

"Hm, hari ini pasti akan kulaporkan ke Tiong-yang-kiong, biasanya imam2 di Cong-lam-san ini semuanya sopan-santun, entah darimana mendadak bisa muncul imam bangsat liar seperti mereka ini."

Nyo Ko tidak ketarik lagi oleh obrolan orang, segera ia bereskan rekening hotel dan menanya jalan yang menuju ke Cay-long-kok atau lembah srigala, kesanalah dia lantas pergi.

Tidak antara lama Nyo Ko sudah menempuh perjalanan sejauh dua puluhan li, Cay-long-kok atau "lembah srigala"

Itu sudah tidak jauh lagi di depan, cuaca waktu itu agaknya masih pagi, maka keadaan sepi-sepi saja.

"Biarlah aku sembunyi dahulu dan menyaksikan cara bagaimana Kokoh bereskan kawanan pengganas itu, paling baik kalau Kokoh seketika tak bisa mengenali aku,"

Demikian diam2 Nyo Ko berpikir.

Segera pula teringat olehnya tempo hari pernah menyamar sebagai anak gunung dan telah berhasil mengingusi Ang Ling-po, teringat akan ini hati Nyo Ko menjadi geli, ia ambil keputusan hendak meniru cara itu sekali lagi, segera dia mendatangi satu rumah petani, ia longak-longok ke sana ke sini, tiada seorang pun yang dia lihat, di kandang hewan di belakang rumah itu ia lihat ada seekor sapi jantan yang besar yang rupanya sedang mengamuk, binatang ini sedang tunduk kepala dan gunakan tanduknya untuk menyongkel dan menumbuk pagar kayu yang melingkarinya, begitu keras tumbukannya hingga terdengar suara gedubrakan yang tiada henti2nya.

Nampak adanya sapi jantan besar ini, tiba2 Nyo Ko mendapatkan satu pikiran.

"He, kenapa aku tidak menyamar sebagai penggembala sapi saja, biar Kokoh melihat diriku juga pasti tak kenal aku lagi."

Demikian keputusannya.

Begitulah diam2 Nyo Ko lantas melompat masuk ke dalam rumah, ia cari barang lain yang sekiranya cocok baginya, akhirnya dapatlah dia ambil sepasang baju petani yang sudah robek, ia ganti pakai sepatu rumput pula dan poles mukanya dengan lumpur agar kelihatan kotor dan lebih mirip bocah angon, habis ini ia mendekati kandang sapi tadi.

Di dinding kandang dapat dilihatnya pula tergantung sebuah caping dan sebatang suling, kedua ini memang barang yang biasa suka dipakai oleh anak gembala.

Keruan Nyo Ko sangat girang, ia pikir penyamarannya sekali ini pasti akan menjadi mirip sangat Karena itu tanpa pikir lagi ia pakai caping yang diketemukannya itu, ia ambil seutas tali rumput pula dan dipakai sebagai ikat pinggang, lalu suling bambu itu ia selipkan di pinggangnya dan kemudian dia membuka pintu kandang sapi.

Sementara itu sapi jantan raksasa itu sedang mengamuk, binatang ini jadi lebih beringas lagi ketika melihat ada orang membuka pintu kandang, tanpa ayal lagi segera ia pentang kaki terus menerjang keluar hendak menyeruduk Nyo Ko.

Namun Nyo Ko sudah siap sedia, dengan telapak tangan kiri ia tahan kepala sapi jantan (atau banteng) itu, di lain saat ia sudah meloncat ke atas punggung binatang itu.

Sapi ini ternyata sangat tinggi dan besar, bulunya panjang dan tanduknya lancip tajam, tampaknya sangat perkasa sekali, maka dengan sekali terjang sekejap saja sudah menyelonong sampai di jalan besar dengan Nyo Ko masih menunggang di atas punggungnya.

Rupanya sapi jantan ini sedang birahi, maka wataknya menjadi beringas luar biasa, tiada hentinya ia me-loncat2 dan ber-jingkrak2 dengan maksud hendak banting Nyo Ko ke bawah.

Akan tetapi mana begitu gampang Nyo Ko bisa dibikin terperosot dari tempatnya, bahkan ia menjadi senang oleh kelakuan si binatang.

"Ha, rupanya kau minta digebuk,"

Dengan tertawa Nyo Ko membentak.

Habis ini ia angkat telapak tangan dan dengan pinggiran telapak tangan ia hantam pundak sapi itu dengan pelahan.

Kalaupun pukulan ini hanya memakan sedikit tenaga saja, namun bagi sapi itu sudah tak tertahan rasa sakitnya, keempat kakinya seketika lemas dan hampiri mendoprok tekuk lutut, tentu saja binatang ini tak mau menyerah begitu saja, masih melompat dan hendak mengamuk lagi, tak terduga kembali Nyo Ko beri persen sekali potong lagi dengan telapak tangan.

Dan begitulah seterusnya, sesudah merasakan belasan kali gebukan seperti itu, akhirnya sapi jantan itu menjadi kapok dan tak berani ngotot lagi.

Kemudian Nyo Ko mencoba jojoh kiri leher binatang itu dengan jari tangannya, segera sapi itu membelok ke kanan dan bila menjojoh sebelah kanan lantas dia menikung ke kiri, kalau diketok pantatnya, segera ia lari ke depan, dan jika digebuk depan pundaknya, sapi ini lantas mundur ke belakang, nyata binatang yang tadinya liar itu kini sudah menjadi jinak dan dapat dikendalikan menurut keinginannya.

Bukan maki girang Nyo Ko, dengan keras ia tepuk pantat sapi itu, maka larilah binatang itu ke depan seperti kesetanan, begitu cepat larinya hingga boleh dikatakan tidak kalah dengan kuda pacuan yang paling bagus.

Maka sebentar saja sesudah menyusuri sebuah rimba lebat, sampailah Nyo Ko di suatu lembah gunung yang sekitarnya dilingkungi oleh bukit2 yang menghijau permai.

Melihat keindahan alam tempat ini, diami Nyo Ko heran kenapa lembah sebagus ini diberi nama "lembah srigala"

Yang sama sekali tidak tepat dengan keadaannya.

Kemudiari iapun giring sapi jantan tadi ke lereng bukit yang terdekat biar makan rumput sendiri Nyo Ko sengaja pura2 tidur dengan merebah di tanah rumput dengan hati ber-debar2 ia menantikan ketika sang surya sudah menggeser sampai di tengah langit, tetapi keadaan masih tenang dan sepi nyenyak, hanya kadang2 terdengar suara menguaknya sapi jantan itu.

Tengah Nyo Ko bertambah gelisah mendadak didengarnya di mulut lembah sana sayup2 berkumandang beberapa kali suara tepukan tangan, menyusul di belakang bukit sebelah selatan pun membalas beberapa kali.

Maka tahulah Nyo Ko sudah tiba waktunya, ia tetap rebah di tanah rumput yang miring itu, sebelah kakinya sengaja dia tumpangkan keatas kaki yang lain, capingnya untuk tutupi kaki yang menumpang dan sebagian mukanya, maka yang kelihatan hanya kaki kanan saja yang menjulur lurus.

Selang tak lama, tertampaklah dari mulut lembah sana mendatangi tiga orang Tojin, Dua diantaranya ternyata sudah Nyo Ko kenal di hotel semalam, yakni Ki Jing-si dan Bi Jing-hian, sedang seorang lagi berumur sekira setengah abad, perawakannya pendek buntek, agaknya ialah apa yang mereka sebut sebagai "Thio-susiok"

Itu. Melihat "Thio-susiok"

Yang dimaksudkan orang bukan Thio Ci-keng yang diduga semula, dalam hatinya timbul semacam perasaan aneh, entah rasa kecewa atau rasa syukur karena orang itu lain guru silat tua she Tan.

Habis ketiga imam ini, lalu dari lereng bukit sana muncul lagi dua orang, yang satu berperawakan kekar, agaknya dia inilah Han-cecu, Dan yang lain bersilat tua she Tan.

Meski kelima orang ini sudah datang dekat dan sudah berhadapan pula, namun mereka hanyasaling kiongchiu (merangkap kedua tangan saling memberi hormat), tiada satupun yang buka suara, hanya terus berbaris sejajar dan menghadap ke barat.

Ketika selintas Thio-susiok mendongak memandang matahari hingga sinar terang menyorot mukanya, dari samping Nyo Ko dapat melihatnya lebih jelas, ternyata imam tua ini bermuka kuning, sikapnya tenang sekali dan ber-sungguh2, sedikitpun tidak punya perasaan memandang enteng bakal lawannya nanti.

Pada saat itulah, dari mulut lembah sana pula sayup2 terdengar suara menderapnya kaki binatang yang makin mendekat, ketika kemudian sesosok bayangan putih berkelebat maka tertampaklah seekor keledai hitam dengan membawa seorang gadis berbaju putih sedang mendatangi dengan cepat.

"Ah, dia bukan Kokoh !"

Hati Nyo Ko seketika lemas demi melihat siapa yang mendatangi ini.

"Apakah dia ini juga bala bantuan mereka ?"

Demikian ia pikir dan berharap demikian pula.

Sementara gadis berbaju putih tadi dengan cepat sudah makin mendekat, sesudah berjarak antara 78 tombak dari kelima orang yang duluan tadi, tiba2 ia tahan keledainya, dengan sorot mata yang dingin tetapi tajam ia pandang sekejap pada mereka, dari muka si gadis nyata tertampak sikap yang memandang hina dan seperti hakikat-nya tiada harganya mengajak bicara mereka.

Rupanya Ki Jing-si sudah tak sabar, segera ia berteriak .

"Orang she Liok, nyata kau cukup tabah untuk memenuhi janji ini, maka boleh sekalian kau suruh keluar saja semua pembantumu !"

Namun gadis itu tidak menjawab, ia hanya menjengek sekali dengan tertawa dingin, Berbareng itu.

"sret" , entah darimana datangnya, tahu2 ia telah lolos keluar sebilah golok melengkung yang kecil dan tipis laksana bulan sabit dengan memancarkan sinar putih ke-hijau2an dan menyilaukan mata.

"lni, kami seluruhnya ada lima orang, dan pembantumu ada berapa dan kapan datangnya, kami tak sabar lagi buat tunggu lebih lama,"

Demikian kata Ki Jing-sj pula memandang.

"lnilah pembantuku yang utama !"

Sahut gadis itu tiba2 sambil mengayun golok tipisnya tadi.

Begitu tipis dan agaknya saking tajamnya hingga begitu golok diputar, seketika udara di atas kepala gadis itu seperti digenangi oleh lingkaran sinar putih dan mengeluarkan suara mendenging yang nyaring tajam.

Karena jawaban tadi, enam orang termasuk Nyo Ko -yang lain semuanya menjadi terperanjat.

Kelima orang di sana terkejut oleh sebab seorang gadis seperti dia ini ternyata begitu besar nyalinya, tanpa mengajak barang seorang pembantupun berani mengadakan pertandingan silat dengan lima jago tinggi.

Sedang Nyo Ko sebaliknya terperanjat bercampur kecewa, mula2 dia yakin bahwa Siao-liong-Ii pasti akan diketemukannya di sini, siapa tahu apa yang disebut "si gadis cantik berbaju putih"

Itu ternyata adalah seorang nona lain.

Saking masgulnya, seketika dada Nyo Ko se-akan2 menjadi sesak, perasaannya yang mudah terguncang itu tak terkendalikan lagi, tiba2 ia meng-gerung2 menangis keras.

Mendengar suara tangisan Nyo Ko yang mendadak ini, keenam orang itupun terkejut, tapi sesudah mereka tahu yang menangis adalah seorang bocah gembala yang mungkin karena ketakutan melihat ada orang hendak berkelahi, maka mereka pun tidak mengambil perhatian kepadanya.

Sementara itu terdengar Ki Jing-si telah buka suara sambil menunjuk Han-cecu.

"lni Wi-cin-lam-pak Han-cecu, yang ini adalah Tan-lokunsu, tertua dari Ho-siok-sam-hiong, dan ini adalah Liong-kim-kiam Tio Put-hoan, Tio-totiang !"

Demikian Ki Jing-si memperkenalkan ketiga jagonya kepada gadis itu, ia mengira sesudah orang mendengar nama ketiga kawannya itu, tentu akan menjadi jeri dan mundur teratur.

Siapa tahu gadis itu anggap saja seperti tidak mendengar dan tidak menggubris, ia hanya mengerling orang dengan sorot mata yang tajam dingin, ia anggap kelima orang di hadapannya seperti barang2 sepele belaka "Karena kau hanya datang seorang diri, kami pun tak mau bergebrak dengan kau,"

Terdengar Tio Put-hoan angkat bicara.

"Maka kami beri kau tempo sepuluh hari, sepuluh hari kemudian kau boleh ajak empat orang pembantu dan datang lagi bertemu kesini."

"Aku sudah bilang ada pembantuku,"

Sahut gadis itu sambil ayun2 golok-sabitnya lagi.

"untuk melayani kalian sebangsa gentong nasi dan guci arak ini masakah perlu pakai bantuan orang ?" . Keruan Tio Put-hoan menjadi gusar.

"Kau anak dara ini sungguh keterlaluan..."

Sebenarnya ia hendak mendamperat orang, syukur sebelum diucapkan ia masih bisa menahan api amarahnya dan menanya pula.

"Kau sebenarnya orang Ko-bong-pay atau bukan ?"

"Kalau betul mau apa dan kalau bukan ada apa ?"

Sahut gadis itu ketus.

"Hayo, imam tua hidung kerbau, katakan lekas, kau berani tidak bergebrak dengan nonamu ?"

Tio Put-hoan sudah rada berumur, maka orangnya cukup bisa kendalikan diri, ia lihat orang meski seorang diri, tetapi bukannya jeri, bahkan menantang, maka ia kuatir kalau2 sebelumnya si gadis telah atur perangkap dengan menyembunyikan bala bantuan.

Oleh sebab itulah lantas dijawabnya.

"Nona, aku ingin tanya kau dahulu. Tanpa alasan kau telah lukai anak murid golongan kami, sebenarnya disebabkan urusan apakah ? jika kesalahannya terletak pada pihak kami, tanpa segan2 pasti aku akan minta maaf pada gurumu. Tetapi kalau nona tak bisa mengatakan sesuatu alasannya, hm, jangan kau sesalkan kami kurang sopan."

"Sudah tentu disebabkan kedua hidung kerbau golonganmu itu yang kurang ajar, maka kuberi sedikit hajaran pada mereka,"

Sahut gadis itu dengan tertawa mengejek.

"Kalau tidak, di jagat ini tidak sedikit terdapat sebangsa kutu busuk, kenapa harus hidung mereka yang ku-iris ?"

Mendengar jawaban yang semakin ketus dan bersifat menantang ini, Tio Put-hoan menjadi lebih ragu2 terhadap kemampuan lawannya, Dalam pada itu meski usia Tan-lokunsu sudah lanjut, namun tabiatnya ternyata berangasan.

"Eeeh, bicara dengan kaum Cianpwe, kenana tidak turun dari keledaimu ?"

Demikian segera ia menyerobot maju dan cari2 persoalan.

Menyusul itu tahu2 ia sudah berada di depan binatang tunggangan orang dan ulur tangannya buat menarik lengan kanan si gadis.

Karena gerak tangannya itu sangat cepat hingga gadis itu tak sempat menghindarkan diri, seketika lengannya kena dicekal, dan karena lengan kanannya dipakai untuk memegang golok-sabitnya, maka goloknya tak bisa dipakai menangkis.

Tak tersangka se-konyong2 sinar tajam berkelebat sedikit gadis itu tekuk sikutnya, golok-sabitnya tahu2 memotong dari samping, dari jurusan yang sama sekali tak terduga.

Tentu saja tidak kepalang kagetnya Tan-lokunsu, lekas2 ia lepaskan cekalannya bila ia tidak mau merasakan tajamnya golok itu.

sungguhpun begitu, tidak urung dua jari tangannya sudah terluka.

Dengan cepat segera ia melompat mundur terus cabut goloknya sendiri, dalam gusarnya ia ber-teriak2 mendamperat.

"Perempan bangsat, agaknya kau sudah bosen hidup !"

Melihat kawannya dilukai, mau-tak-mau yang lain2 ikut mengangkat senjata, Han-cecu pakai sepasang ganden berantaai, sedang Tio Put-hoan lolos pedangnya, begitu pula Ki Jing-si dan Bing-hiam juga lantas tarik pedang mereka.

Akan tetapi mereka menjadi kaget ketika merasa senjata yang mereka genggam itu bobotnya sangat enteng, ketika mereka tegasi, celaka tiga-belas, kiranya yang terpegang di tangan mereka melainkan garan pedang belaka, sedang bagian yang tajam ketinggalan di dalam sarungnya.

Sudah tentu mereka tidak tahu bahwa itu adalah perbuatan Nyo Ko semalam di mana pedang mereka diam2 dipatahkan dan selimut mereka dikencingi juga, sedang kini musuh tangguh sudah berhadapan senjata saja mereka tak punya.

Rupanya melihat kelakuan kedua imam yang kikuk dan serba salah itu, si gadis tadi tertawa ngikik geli.

Waktu itu Nyo Ko sendiri lagi berduka, tetapi demi mendengar suara tertawa gadis itu dan melihat kelakuan kedua imam yang lucu itu, tak tertahan iapun tertawa maski sebenarnya ia masih tersenggak-sengguk.

Sementara itu terlihat si gadis telah membuka serangan, se-konyong2 ia ayun goloknya terus memotong ke telinga Bi Jing-hian.

Dengan sendirinya lekas2 Bi Jing-hian tarik badan dan mengkerut kepala buat hindarkan elmaut, siapa tahu gaya serangan golok itu ternyata sangat hebat, ketika tangan si gadis sedikit memutar senjatanya yang aneh itu tiba2 membelok di tengah jalan terus mengiris ke bawah lagi karena tidak ter-duga2 akan perubahan serangan ini, tidak urung sebelah kuping Bi Jing-hian tetap menjadi korban.

Keruan saja keempat kawannya terkejut, sama sekali tak mereka duga bahwa To-hoat atau ilmu permainan golok orang bisa begitu bagus dan aneh.

Keadaan sudah memaksa, kini mereka tak pikirkan lagi keroyokan atau tidak, segera mereka mengerubut maju terus kepung si gadis bersama keledainya di tengah2.

Cuma yang mengeroyok hanya tiga orang saja, Bi Jing-hian dan Ki Jing-si terpaksa mundur ke belakang karena mereka tak bersenjata, yang mereka pegang hanya garan pedang, hendak dibuang sayang, tidak dibuang toh tidak terpakai mereka menjadi bingung, tidak tahu apa yang harus di-buatnya.

Dalam pada itu tiba2 terdengar gadis itu bersiul nyaring sekali, ia tarik tali kendali keledainya terus melompat pergi sejauh beberapa tombak dengan maksud memboboIkan garis kepungan orang.

Namun dengan cepat Tan-lokusu bertiga lantas mengerubut maju lagi.

Bahkan sebelum tiba orangnya, lebih dulu Han-cecu timpukkan ganden besinya yang berantai itu.

Melihat senjata orang cukup berat, pula tipu serangannya cukup ganas, diam2 gadis itu merasa heran juga, maka tak berani lagi ia memandang enteng, ketika tubuhnya mengegos, timpukkan ganden tadi telah dia hindari.

Memang senjata "Lian-cu-tui" (ganden berantai) Han-cecu itu bukan senjata ringan dan mempunyai daya tekanan yang sukar ditahan.

Sebaliknya ilmu pukulan Tan-lokunsu sebenarnya lebih tinggi dari pada permainan goloknya, pula jarinya sudah terluka, maka serangan goloknya boleh dikatakan tak seberapa, hanya Kiam-hoat Tio Put-hoan sebaliknya tidak bisa dipandang rendah, serangannya jitu lagi keji, setiap tipu serangannya selalu mengincar tempat2 yang berbahaya.

Tatkala itu hati Nyo Ko rada tenang, kini baru dia amat-amati wajah gadis itu, ia lihat raut muka orang potongan daun sirih dan sanggat cantik, usianya agaknya setahun dua tahun lebih muda dari pada dirinya, pantas kalau si pelayan hotel tidak percaya bahwa itu "gadis cantik berbaju putih"

Adalah kakak perempuannya.

Di samping muka orang yang cantik itu, kulit badannya sebaliknya rada hitam2 manis, sama sekali berlainan dengan kulit Siao-Iiong-li yang putih bersih.

Senjata yang dipakai gadis inipun sangat aneh dan lain dari pada yang Iain, ilmu permainan goloknya sangat gesit, meski dikatakan golok, tetapi yang dipakai adalah gerak tipu permainan pedang, lebih banyak menusuk dan memotong dari pada membacok dan membabat.

Hanya menyaksikan beberapa jurus permainan golok orang, segera Nyo Ko tahu orang memang menggunakan ilmu silat dari golongan yang sama dengan dirinya, yakni Ko-bong-pay.

Apakah dia ini juga muridnya Li Bok-chiu ?

demikian Nyo Ko menjadi heran.

Semula sebenarnya Nyo Ko sangat penasaran karena lima orang lelaki mengeroyok seorang gadis cilik, tetapi kemudian sesudah mengetahui dari mana asal-usul ilmu silat orang, karena menduga orang pasti muridnya Li Bok-chiu, seketika timbul rasa antipatinya Nyo Ko, ia pikir biarkan saja pihak mana yang bakal menang, semuanya tidak kugubris.

Begitulah dia lantas berbaring lagi dengan sikunya sebagai bantal, hanya kadang2 saja ia melirik pertarungan yang sedang berlangsung dengan sengit itu.

Untuk belasan jurus permulaan, karena gadis itu berada lebih tinggi di atas keledainya, maka kelima lawannya dipaksa harus melompat kian ke mari untuk menghindari sabetan golok-sabit yang diayun pergi datang.

Sesudah belasan jurus lagi, karena senjata yang dipegangnya hanya gagang pedang yang sudah patah dan tak sanggup membantu kawannya, tiba2 hati Ki Jing-si tergerak "Mari Bi-sute, ikut padaku !"

Ia teriaki Bi Jing-hian.

Habis itu ia berlari menuju ke tempat yang banyak tumbuh pohon, di sana ia pilih satu pohon muda dan sekuat tenaganya ia patahkan bongkot-nya, ia hilangkan tangkai dan daunnya, maka ber-wujutlah kini sebatang pentung yang dapat dipakainya sebagai gaman.

Tentu saja Bi Jing-hian sangat girang, iapun tiru2 sang Suheng dan patahkan satu pohon yang lain untuk digunakan sebagai senjata.

"Hantam keledainya dan tidak orangnya!"

Demikian Ki Jing-si beri petunjuk lagi, Habis ini, dua pentung kayu mereka lantas menyerampang dari kanan dan kiri dengan cepat mereka arah kaki keledai tunggangan gadis tadi.

"Hm, tak punya malu !"

Dengan pelahan gadis itu menjengek berbareng ia ayun goloknya buat tangkis pentung orang.

Karena sedikit melengnya ini, dari samping lain ganden berantai Han-cecu sudah menyerang juga bersama dengan pedang Tio Put-hoan.

Dalam keadaan terancam, lekas2 gadis itu keluarkan gerak tipu yang berbahaya, ia tunduk kepala dan luputkan ganden yang menyamber, saat lain terdengar pula suara "trang"

Yang nyaring, goloknya telah ditangkiskan pedang lawan yang lain.

Tetapi pada waktu itu juga keledainya telah melengking kesakitan terus menegak dengan kaki belakang, kiranya binatang ini telah kena ditoyor sekali oleh pentungnya Ki Jing-si.

Melihat ada kesempatan, segera Tan-lokunsu menjatuhkan diri terus menggelundung mendekati musuhnya, ia keluarkan ilmu golok dan berhasil menghantam sekali paha keledai hitam dengan punggung goloknya.

Dengan demikian tak mungkin lagi bagi si gadis mengandalkan keledainya, dalam pada itu senjata lawan baik pedang maupun ganden berbareng telah menyamber datang pula, terpaksa ia meloncat ke atas, sedang tangan kiri menyamber dan pentung Bi Jing-hian berhasil dicekalnya, ketika ia gunakan tenaga dalamnya, tahu2 pentung itu telah patah menjadi dua potong.

Dan begitu kedua kakinya tancap kembali di atas tanah, sekalian pula goloknya dia babat ke samping untuk patahkan bacokan Tan-lokunsu yang sementara itu telah menyerang.

"He, kenapa ? Dia sudah terluka ?"

Tiba2 Nyo Ko kaget demi nampak gaya berjalan si nona.

Kiranya kaki kiri si gadis rada pincang, dengan sendirinya untuk berjalan, apa lagi buat melompat menjadi tidak leluasa.

Dan dengan sendiri-nya, sebab inilah maka sejak tadi dia tidak mau turun dari keledainya.

Tahu akan ciri gadis ini, seketika rasa keadilan Nyo Ko tergugah, ia niat turun tangan buat membantunya, Tetapi ketika dia pikir dan ingat pengacauan Li Bok-chiu hingga dirinya yang tinggal aman tenteram bersama Siao-liong-li di dalam kuburan itu berakibat seperti keadaan sekarang ini, kembali hatinya menjadi panas Iagi, ia berpaling ke jurusan lain dan tak mau menyaksikan lebih lanjut Namun telinga toh mendengar suara "crang-creng" , suara beradunya senjata tajam yang nyaring dan tiada hentinya, rasa ingin tahunya tak bisa ditahan, kembali ia berpaling buat menonton lagi, Hanya sejenak tadi ternyata keadaan pertarungan itu sudah banyak berubah, gadis itu telah terdesak lari kian kemari, sudah lebih banyak menangkisnya daripada balas menyerang.

Dalam pada itu mendadak Han-cecu telah tim-puk sebelah gandennya, terpaksa gadis itu miringkan kepalanya, tetapi pada saat yang sama juga pedang Tio Put-hoan sudah menusuk pula, terdengarlah suara "cring"

Yang nyaring pelahan, ternyata gelang perak pengikal rambut gadis itu telah kena ditabas kutung hingga sebagian rambutnya yang panjang terurai.

Maka tertampaklah alis si gadis yang lentik itu menjengkit, bibirnya pun sedikit bergerak dan digigit, mukanya seketika seperti tertutup oleh selapis awan hitam, kontan goloknya membabat, ia balas sekali serangan orang.

Melihat tarikan alis dan gerakan bibir si gadis, seketika hati Nyo Ko terguncang keras.

"Di waktu Kokoh marah padaku, persis mimik wajahnyapun begitu,"

Demikian pikirnya.

Oleh karena melihat rasa gusar yang diunjuk gadis itu, tanpa pikir lagi Nyo Ko ambil keputusan pasti akan membantu padanya.

Sementara itu ia lihat keadaan gadis itu semakin terdesak, gerak-geriknya tak teratur lagi.

"Hayo, lekas katakan, sebutan apa sebenarnya antara kau dengan Jik-lian-sian-cu Li Bok-chiu ?"

Demikian terdengar Tio Put-hoan memperingatkan lawannya.

"Jika masih tetap tidak menjelaskan jangan kau sesalkan senjata kami tak bermata."

Di luar dugaannya, bukan saja gadis itu tidak menjawab, bahkan goloknya tahu2 menabas dari belakang kepala karena senjata ini memang me-lengkung, Terkejut sekali Tio Put-hoan oleh serangan yang aneh itu, syukur dengan cepat Tan-lo-kunsu keburu wakilkan dia menangkis hingga dengan demikian jiwa Tio Put-hoan dapat diselamatkan.

Melihat tipu serangan si gadis begitu keji, ketiga lawannya kinipun tidak pakai murah hati lagi, Maka dalam sekejap saja, gadis itu sudah ber-ulang2 menghadapi serangan berbahaya, Tio Put-hoan pikir gadis ini pasti ada hubungan rapat dengan Li Bok-chiu, kalau kelak diketahui oleh Li Bok-chiu, tentu dikemudian hari akan menjadikan bibit bencana saja, oleh sebab itu serangan2nya kini selalu mengincar tempat2 yang berbahaya.

Melihat keadaan si gadis sudah dalam detik yang sangat genting, segera Nyo Ko melompat ke atas punggung sapi jantan tadi, ia jojoh sekali pantat binatang itu dengan jerijinya, karena kesakitan dengan sekali menguak sapi jantan itu pentang kaki dan menerjang ke jurusan enam orang yang sedang saling labrak itu.

"Haya, celaka ! Sapiku kesetanan, tolong, tolong !"

Demikian Nyo Ko sengaja ber-teriak2.

Baru saja selesai ia berteriak, orangnya berikut sapinya sudah menyerbu sampai di kalangan pertempuran sana.

Tatkala itu keenam orang itu asyik bertempur mati-matian, ketika mendadak melihat seekor banteng menyeruduk tiba dengan kalap, niat mereka hendak melompat ke samping buat hindarkan diri, namun secepat kilat banteng itu sudah menerjang sampai di belakang Ki Jing-si dan Bi Jing-hian.

Nyo Ko sendiri tengkurap di atas sapinya, tangan dan kakinya bergerak naik turun seperti orang kebingungan dan ketakutan setengah mati, sesudah dekat dengan kedua orang tadi, dengan cepat "hong-gan-hiat"

Di punggung kedua orang dicengkeramnya.

"Hong-gan-hiat"

Adalah salah satu jalan darah penting di tubuh manusia, karena kena dicekal, seketika Ki Jing-si dan Bi Jing-hian menjadi lemas kesemutan dan tak bisa berkutik, Dengan pelahan Nyo Ko angkat tangannya, kedua orang itu dia tarik keatas terus digantung pada kedua tanduk sapi jantan itu, sedang mulutnya masih tiada hentinya berteriak "Tolong !

Tolong!"

Kemudian dengan ujung kaki ia tendang pantat sapi itu, maka berlari kesetanan lagi binatang itu ke lereng bukit dengan membawa tiga orang, satu tengkurap di punggungnya dan yang dua ter-cantol pada tanduknya.

Melihat perubahan yang mendadak dan aneh ini, baik si gadis tadi maupun Tio Put-hoan seketika berhenti dari pertempuran mereka.

Nyata ilmu silat Nyo Ko masih jauh lebih tinggi daripada keenam orang itu, apa yang dilakukannya ternyata tiada seorangpun yang mengetahuinya.

Ketika sampai di tanah rumput dimana dia angon sapi tadi, Nyo Ko buang kedua imam itu ke tanah terus giring sapi itu menerjang ke bawah puIa, sekali ini yang dia incar adalah Han-cecu dan Tan-Iokunsu.

Rupanya Han-cecu pikir tenaganya cukup besar untuk menundukkan binatang yang mengganas ini, maka gandennya yang berantai dia libat di pinggangnya, lalu dengan pasang kuda2 kuat ia tunggu sapi itu mendekat, se-konyong2 ia melangkah maju setindak terus tanduk binatang itu dia pegang erat2 dengan kedua tangannya, dengan demikian ia hendak taklukkan banteng ngamuk itu.

Dilain pihak Nyo Ko masih bertingkah serabutan sambil berteriak2, namun pada saat yang jitu sekali.

"cian-tay-hiat"

Di pinggang Tan-lokunsu dia tutuk pula dengan tendangan.

Dan sebelum kedua sasarannya ini roboh atau mereka sudah dia samber terus digantung lagi di atas tanduk sapi dan diangkut pula ke tanah rumput tadi.

Melihat banteng ngamuk ini begitu aneh, mau tak mau si gadis dan Tio Put-hoan saling pandang dengan tak mengarti, jika tadi mereka saling labrak dengan adu jiwa, maka kini sebaliknya ada persamaan perasaan diantara mereka, yakni "senasib."

Dalam pada itu dilihatnya banteng ngamuk tadi sudah balik kembali, suara teriakan bocah angon yang tengkurap di atas binatang itu kedengarannya sudah serak, terang sekali keadaan sangat genting.

Segera Tio Put-hoan ber-siap2, ia menunggu banteng itu menyeruduk tiba kira2 setengah tombak sebelum tubuhnya, sekonyong-konyong pedangnya berputar, ia hindari serudukan banteng itu dari depan, dengan cepat tubuhnya melangkah ke samping sambil pedangnya menusuk, begitu cepat dan tepat saat yang digunakan, dengan segera banteng ngamuk itu bakal tembus tertusuk perutnya.

Siapa tahu, baru saja ujung pedangnya hampir menyentuh kulit sapi itu, se-konyong2 bocah angon itu tangannya bergerak pontang-panting sambil pegang sulingnya dan dengan persis batang suling membentur ujung pedang, karena itu, arah pedang menjadi menceng, Karena luput serangannya, Tio Put-hoan terkejut untuk menghindar agar tidak diserempet banteng itu, lekas2 ia melompat ke atas dengan maksud melewati binatang itu, siapa duga selagi orangnya terapung di udara, se-konyong2 mata kakinya terasa kaku kesemutan, ketika tubuhnya jatuh ke bawah, dengan tepat menyangkol di ujung tanduk banteng hingga kena dibawa binatang yang berlari itu ke tanah lapang tadi untuk kemudian dilemparkan di sana.

Habis itu, Nyo Ko putar haluan sapi itu, kembali menerjang cepat pula ke arah si gadis yang masih tersisa itu.

Di lain pihak sesudah menyaksikan kelima jago seperti Tio Put-hoan kena diseruduk jatuh semua oleh banteng ngamuk itu, meski gadis itu merasa curiga juga, tetapi ia pikir hanya seekor sapi jantan saja, kena apa harus ditakuti ?

Segera dia bersiap-siap.

Dilihatnya dengan mulut berbusa binatang itu telah memyeruduk tiba pula, Pada saat yang tepat mendadak ia meloncat ke atas, berbareng itu goloknya terus membacok leher banteng itu.

"Haya, celaka, jangan bunuh sapiku !"

Jerit Nyo Ko mendadak Berbareng itu diam2 ia jojoh pundak sapi itu dengan jarinya, karena sakit, dengan sendirinya kepala sapi itu meleng ke samping dan dengan persis bacokan orang dapat dihindarinya.

Sedangkan Nyo Ko sendiri pura2 jatuhkan diri tergelincir ke bawah sambil ber-teriak2 .

"Tolong ! tolong !"

Sebaliknya sapi jantan itu rupanya sudah terlalu letih, sesudah beberapa tindak berlari lagi dia lantas berhenti dengan napas empas-empis.

Melihat binatang itu tidak main gila lagi, setelah tenangkan diri mendadak gadis itu jinjing goloknya terus berlari ke tanah datar sana.

"Celaka, kelima orang itu pasti akan teraniaya,"

Pikir Nyo Ko diam-diam.

Karena itu, sebelum gadis itu sampai di tem-patnya, lebih dulu Nyo Ko sudah jemput beberapa batu kecil, sekali ayun batu2 itu ditimpukkan ke badan kelima orang yang rebah tak berkutik itu.

Meski umur Nyo Ko masih kecil, tetapi ilmu silatnya sudah terlatih sampai tingkatan yang tiada taranya, walaupun jaraknya dengan kelima orang itu sangat jauh, namun tiap2 batu yang ditimpukkan itu dengan tepat mengenai Hiat-to di tubuh masing2.

Ketika Tio Put-hoan cs.

mendadak merasakan tubuh kesakitan, tetapi rasa kesemutan juga segera hilang, mereka menyangka gadis itu diami sembunyikan bala bantuan yang sangat lihay, cara mereka kena ditutuk dan mendadak terlepas pula jalan darahnya tentu perbuatan jagoan yang tersembunyi itu, kini orang suka memberi jalan hidup, mana berani lagi mereka terlibat dalam pertarungan pula ?

Maka begitu mereka merangkak bangun, tanpa pikir lagi segera mereka angkat langkah seribu alias kabur.

Dalam gugupnya karena ketakutan itu, rupanya Bi Jing-hian menjadi bingung hingga tak bisa bedakan arah timur dan barat, bukannya dia lari ke jurusan yang selamat, sebaliknya ia malah lari ke arah si gadis yang sedang memarani mereka itu.

"Bi-sute, lekas kembali !"

Seru Ki Jing-si kuatir.

Ketika Bi Jing-hian sadar keliru jalan dan berniat putar kemudi, namun sudah terlambat, si gadis sudah datang dekat, goloknya sudah diangkat dan dibacokkan padanya.

Sungguh luar biasa kaget Bi Jing-hian, ia sendiri sudah tak bersenjata, Iekas2 ia mengegos buat luputkan diri dari ancaman maut, tak terduga arah serangan yang dilontarkan gadis itu ternyata susah dipastikan, mula2 seperti mengarah ke kiri, tahu2 telah sampai di kanan, disertai berkelebat-nya sinar dingin, tahu2 golok-sabit telah berada di depan mukanya.

Dalam keadaan kepepet dan tiada jalan lain, terpaksa Bi Jing-hian angkat sebelah tangannya buat menangkis, maka tidak ampun lagi terdengar sekali suara "cret", telapak tangannya tertabas putus oleh golok-sabit si nona.

Walaupun demikian Jing-hian masih belum merasakan sakit, ia masih sempat putar tubuh terus lari ter-birit2 lagi, Waktu itu Tio Put-hoan sudah berpaling juga, dengan pedang melintang di dada ia berusaha melindungi kawannya.

Rupanya gadis itu telah kenal juga lihaynya orang, maka tak berani ia mendekati, ia menyaksikan Bi Jing-hian dipayang pergi oleh Ki Jing-si untuk kemudian menghilang di balik gunung sana.

Nampak musuh sudah pergi, gadis itu masih ketawa2 dingin, sedang dalam hati penuh curiga, ia pikir apakah mungkin ada orang luar yang bersembunyi di sekitar sini ?

Dengan cepat ia mengelilingi sekitar sana, tetapi keadaan sunyi senyap tanpa satu bayangan pun, Dia kembali lagi ke lembah sana, ia lihat Nyo Ko masih duduk di tanah dengan muka mewek2 seperti mau menangis.

"Hai, bocah angon, apa yang kau keluh-kesahkan ?"

Tegur gadis itu.

"Sapi ini tadi telah gila hingga tubuhnya babak belur, kalau pulang nanti pasti aku akan dihajar setengah mati oleh majikan."

Sahut Nyo Ko. Tetapi waktu si gadis periksa keadaan sapi jantan, ia lihat kulit tubuh binatang itu halus bersih, tiada kelihatan sesuatu luka.

"Baiklah, hitung2 sapimu ini telah menolong aku tadi, ini, aku beri serenceng uang perak,"

Kata si gadis pula. Habis itu ia keluarkan serenceng uang perak yang berbobot sekira lima tahil terus dilemparkan ke tanah, ia menduga "bocah angon"

Itu pasti akan girang tidak kepalang dan mnghaturkan terima ka-sih, siapa tahu orang masih bermuka muram durja, sambil geleng2 kepala, tetapi tidak mengambil uang perak itu.

"Kenapakah kau ?"

Tanya gadis itu tak sabar.

"lni uang perak, tahu tidak kau, tolol ?"

"Hanya serenceng tidak cukup !"

Sahut Nyo Ko kemudian Waktu gadis itu merogoh sakunya, kembali ia keluarkan serenceng uang perak lain yang masih ada dan dilemparkan ke tanah lagi.

Tapi Nyo Ko sengaja goda padanya, dia masih tetap goyang kepala.

Akhirnya gadis itu menjadi marah, alisnya tertarik tegak dan mukanya merengut.

"Sudah habis, tolol!"

Damperatnya, Habis ini ia putar tubuh dan berjalan pergi.

Melihat sikap orang sewaktu marah, seketika hati Nyo Ko terguncang, teringat tiba2 olehnya sikap Siao-liong-li waktu mendamperat dirinya, karenanya ia telah ambil suatu keputusan.

"Jika seketika tak bisa ketemukan Kokoh, biarlah aku senantiasa menyaksikan wajah nona ini saja yang suka marah2."

Maka sebelum orang melangkah pergi, tiba2 Nyo Ko merangkul kaki kanan si gadis sambil ber teriak2 .

"Tidak, kau jangan pergi!"

Dengan kuat gadis itu coba meronta kakinya, tetapi saking kencangnya Nyo Ko merangkul, ia tak berhasil melepaskan diri, keruan ia bertambah gusar.

"Lepas, ada apa kau merangkul kakiku ?"

Dengan suara garang gadis itu membentak. Melihat air muka orang yang sedang marah2, bukannya Nyo Ko melepaskan, sebaliknya ia malah senang.

"Tidak, aku tak bisa pulang rumah lagi, kau harus tolong aku,"

Demikian sahutnya. Sudah gusar gadis itu menjadi geli pula melihat kelakuan Nyo Ko.

"Jika kau tak lepaskan, segera aku bacok mati kau,"

Dengan angkat golok-sabitnya si gadis coba menakut-nakuti. Tetapi rangkulan Nyo Ko berbalik tambah kencang, ia malah pura2 menangis sekalian.

"Baiklah, boleh kau bacok mati aku saja, toh kalau pulang akupun tak bakal hidup lagi,"

Serunya sambil meng-gerung2.

"Lalu apa yang kau kehendaki ?"

Tanya si gadis kewalahan.

"Entahlah, aku ikut kau saja."

Sahut Nyo Ko. Rupanya gadis itu menjadi sebal karena di-ganduli orang.

"Kenapa harus berurusan dengan si tolol semacam ini,"

Demikian pikirnya, Habis ini ia angkat goloknya terus membacok sungguh2.

Semula Nyo Ko menduga orang tidak nanti bacok padanya secara sungguh2, maka ia masih pegang kaki orang erat2, siapa duga hati gadis itu ternyata keji, bacokannya ini betul2 diarahkan ke atas kepalanya, meski tiada niatnya untuk menewaskan jiwa orang, tetapi ia bermaksud memberi bacokan di batok kepala agar "si tolol"

Ini tahu rasa dan tak berani main gila lagi.

Syukur Nyo Ko sangat cekatan, begitu golok orang tinggal beberapa senti lagi bakal berkenalan dengan batok kepalanya, mendadak ia jatuhkan diri terus menggelinding pergi.

"Haya, tolong, tolong !"

Demikian ia menjerit-jerit pula.

Karena bacokannya tadi luput, si gadis menjadi tambah sengit, ia melangkah maju, kembali sekali bacokan diberikan pada Nyo Ko.

Nyo Ko telentang di atas tanah, kedua kakinya mancal2 serabutan.

"Mati aku ! Mati aku !"

Demikian ia berteriak-teriak, sedang kedua kakinya terus memancal dan mendepak tak keruan, tampaknya seperti tak teratur tetapi pergelangan tangan gadis itu ternyata beberapa kali hampir kena ditendang, meski berulang kali ia hendak bacok pula, namun tidak sekalipun bisa mengenai sasarannya, sudah tentu ia bertambah gusar.

Melihat muka orang penuh mengunjuk marah, Nyo Ko justru ingin menikmati wajah orang semacam ini, karena itu, tanpa terasa ia terkesima dan memandangi orang.

Gadis itu juga seorang yang pintar luar biasa, ketika melihat kelakuan Nyo Ko yang aneh, tiba2 ia membentak .

"Hayo, bangun !"

"Tetapi kau bunuh aku tidak ?"

Tanya Nyo Ko ke-tolol2an.

"Baiklah, aku tak bunuh kau,"

Sahut si gadis.

Karena janji ini, dengan pelahan Nyo Ko merangkak bangun, napasnya sengaja dia bikin ter-engah2, diam2 ia kumpul tenaga dalam dan bendung aliran darahnya, maka mukanya seketika berubah menjadi putih lesi, begitu pucat hingga tiada warna darah sedikitpun, seperti orang yang ketakutan.

Melihat rupa orang, diam2 si gadis sangat senang.

"Hm, berani lagi tidak kau main gila ?"

Demikian ejeknya sambil angkat golok-sabitnya terus menuding pada telapak tangan Bi Jing-hian yang terkutung dan masih ketinggalan di tanah datar itu, lalu ia mengancam.

"Coba, orang begitu galak dan bengis, toh cakarnya kena ditabas oleh golokku tadi."

Sambil bicara, goloknya yang melengkung itu diulurkan, tiba2 ia kesut senjatanya di atas baju Nyo Ko yang memang dekil, kiranya ia gunakan baju Nyo Ko sebagai lap untuk menghilangkan noda darah goloknya.

Diam2 Nyo Ko geli oleh lagak si gadis.

"Hm, kau anggap aku ini orang macam apa, berani kau begini kurangajar padaku ?"

Demikian ia membatin.

Walaupun begitu, pada mukanya tetap ia pura-pura mengunjuk rasa keder, ia sengaja mengkeret mundur seperti takut pada senjata orang yang mengkilap itu.

Gadis itu masukkan goloknya ke sarungnya, lalu dengan sebelah kakinya ia cukit renceng uang perak tadi ke arah Nyo Ko.

"Nih, sambuti!"

Serunya dengan tertawa, dengan membawa sinar putih yang gemerdep, serenceng uang perak itu menyamber ke arah muka Nyo Ko.

Menyambernya perak itu sebenarnya tidak keras, orang biasa saja pasti sanggup menangkapnya.

Tetapi Nyo Ko justru pura2 bodoh, ia melangkah mundur dan menubruk maju secara gugup, sedang tangannya diulur ke atas buat menangkap, tiba2 terdengar suara "plok"

Sekali, uang perak itu kena menimpuk dia punya batok kepala.

"Aduh !"

Jerit Nyo Ko sambil mendekap batok kepalanya.

Sementara itu jatuhnya uang perak itu kena menindih pula di atas kakinya, Maka dengan sebelah tangan pegang batok kepala dan lain tangan tarik sebelah kaki, Nyo Ko ber-jingkrak2 dengan kaki tunggal sambil ber-teriak2.

"Auuuh, kau pukul aku, kau pukul aku !"

Begitulah Nyo Ko pura2 meng-gerung2 menangis. Nampak ketololan orang sudah begitu rupa hingga tiada obatnya, dengan suara pelahan gadis itu mencemoohnya sekali.

"Tolol !" -Habis ini ia putar tubuh dan pergi mencari keledai hitam-nya. Akan tetapi binatang itu sejak tadi entah sudah kabur kemana sewaktu dia bergebrak dengan Tio Put-hoan, terpaksa ia pergi dengan jalan kaki. Nyo Ko jemput uang perak tadi dan masukkan ke sakunya, lalu dengan menuntun sapinya ia ikut di belakang si gadis.

"Bawa serta aku, nona !"

Demikian ia berseru.

Namun gadis itu tak gubris padanya, sebaliknya ia percepat langkahnya, hanya sekejap saja Nyo Ko sudah ketinggalan hingga tak kelihatan.

Tak terduga, baru saja ia berhenti sebentar, tiba2 Nyo Ko sudah muncul lagi dari jauh dan masih tetap menuntun sapinya.

"Bawalah aku, bawalah aku !"

Demikian Nyo Ko masih terus ber-teriak2.

Mendongkol sekali gadis itu karena orang mengintil terus, sambil kerut kening, segera ia keluarkan Ginkang, sekaligus ia berlari sejauh beberapa li, dengan demikian ia yakin "si tolol"

Itu pasti tak sanggup menyusulnya. Diluar dugaan, tidak antara lama, sajup2 kembali terdengar pula suara teriakan.

"Bawalah aku !" -Luar biasa rasa gemasnya gadis itu, sekali ini ia tidak lari menyingkir sebaliknya ia putar balik mendatangi Nyo Ko.

"sret", golok-sabit-nya dia loIos.

"Haya, celaka !"

Teriak Nyo Ko pura2 ketakutan, berbareng ia putar tubuh dan angkat langkah seribu.

Maksud si gadis asal orang tidak selalu mengintip sudah cukup, Oleh karena itu, ia masukkan kembali golok ke sarungnya, ia putar kembali dan melanjutkan pula perjalanannya.

Tetapi belum seberapa jauh ia berjalan, tiba2 didengarnya di belakang ada suara menguaknya sapi, waktu ia menoleh, ia lihat Iagi2 Nyo Ko mengintil di belakang sambil masih tuntun binatang angonnya itu, jarak dengan dirinya kira2 beberapa puluh tindak saja.

Sungguh tak terbilang mengkal si gadis, sekali ini ia sengaja berhenti di tempatnya untuk menunggu datangnya Nyo Ko.

Akan tetapi, demi nampak orang tak berjalan, segera pula Nyo Ko berhenti kalau si nona melangkah Nyo Ko lantas menyusul lagi apabila dia putar balik dan hendak hajar padanya, segera Nyo Ko kabur pula.

Begitulah terjadi kucing-kucingan diantara Nyo Ko dan gadis itu, sebentar mereka kejar mengejar dan sebentar lagi berhenti sementara itu hari sudah magrib dan gadis itu masih tetap tak bisa melepaskan diri dari godaan Nyo Ko.

Keruan tidak kepalang gemasnya gadis itu, ia lihat meski bocah angon ini tolol2 goblok, tetapi gerak kakinya ternyata cepat luar biasa, mungkin sudah terlalu bisa berlarian di tanah pegunungan beberapa kali ia kejar orang hendak menutuk jalan darahnya atau melukai kedua kakinya, tetapi setiap kali selalu Nyo Ko bisa meloloskan diri dengan menggelinding dan merangkak pergi dengan cepat.

Sebenarnya ilmu silat Nyo Ko jauh di atas gadis itu, cuma dia sengaja lari kalau sudah dalam keadaa yang paling berbahaya, dengan demikian ia gadis itu tidak menjadi curiga.

Begitulah maka sesudah beberapa kali digoda lagi, karena kaki kiri gadis itu memang pincang, sesudah jalan lama ia menjadi payah, Tiba2 ia mendapat satu akal, dengan suara keras dia teriaki Nyo Ko.

"Baiklah, kubawa serta kau, tetapi kau harus turut segala perkataanku,"

"Apa betul kau mau membawa aku ?"

Dengan girang Nyo Ko menegas.

"Ya, siapa dustai kau ?"

Sahut si gadis.

"Aku sudah letih, kau menunggang sapimu dan biar aku ikut membonceng."

Betul saja Nyo Ko lantas tuntun sapinya mendekati dengan cepat, dibawah cuaca senja yang re-mang2 Nyo Ko dapat melihat mata si gadis menyorot tajam, ia tahu pasti orang tak bermaksud baik, maka diam2 ia berlaku waspada, dengan cara yang susah pajah ia merambat ke atas punggung sapinya.

Sebaliknya gadis itu hanya sedikit menutul kakinya, dengan enteng sekali ia telah melompat ke atas dan menunggang di depan Nyo Ko.

"Keledaiku sudah hilang, tidak jelek juga menunggang sapi jantan ini saja,"

Pikir gadis itu, kemudian dengan ujung kakinya ia tendang iga banteng itu, karena kesakitan, maka sapi itu membedal ke depan seperti kesetanan.

Melihat tibanya kesempatan baik, diam2 gadis itu tersenyum dingin, mendadak sikutnya dengan kuat menyodok ke belakang, dengan tepat sekali kena sodok "ki-bun-hiat"

Di dada Nyo Ko.

"Aduuh !"

Jerit Nyo Ko, menyusul mana ia pun terjungkal dari punggung sapinya. Gadis itu sangat senang karena serangannya berhasil "Betapapun kau berlaku bambungan, sekarang kau kena juga kuingusi,"

Demikian katanya dalam hati Lalu ia sogok pula iga sapi itu dengan jari tangannya, karena merasa sakit, sapi jantan itu kabur terlebih cepat lagi.

Sekali jari si gadis menjojoh punuk kerbau itu, lari si kerbau semakin kencang, tiba-tiba didengarnya Nyo Ko masih berkaok-kaok di belakangnya, waktu ia berpaling, tampak dengan kedua tangannya Nyo Ko ganduli ekor kerbau ikut lari berlompatan naik turun, lucu sekali tingkah lakunya.

Diluar dugaan, tiba2 terdengar Nyo Ko men-jerit2 dan berteriak2, suaranya terdengar berada di belakang saja, waktu gadis itu menoleh, ia lihat Nyo Ko sedang menggendoli ekor sapi dengan kedua tangannya, saking cepatnya dibawa kabur sapi itu hingga kedua kakinya sedikitpun tidak menempel tanah, jadi seperti terbang saja Nyo Ko inL hanya keadaannya sangat mengenaskan, mukanya penuh debu pasir, ingus dan air mata membasahi mata hidungnya.

Karena merasa tak ada jalan lain lagi, tiba2 gadis itu kertak gigi, ia tegakan hati, golok dia angkat terus hendak membacok tangan Nyo Ko yang menggendoli ekor sapi dengan kencang, Tetapi sebelum serangannya dilontarkan tiba2 didengarnya suasana sekitarnya riuh ramai, kiranya sapi itu telah berlari sampai disuatu pasar.

Oleh karena pasar itu penuh berjubel dengan orang hingga tiada jalan lewat, akhirnya sapi itu berhenti sendiri dengan Nyo Ko masih tetap "me-lengket"

Di belakangnya. Karena sengaja hendak goda si gadis untuk menikmati wajah orang diwaktu marah2, maka Nyo Ko lantas rebahkan diri di tanah sambil ber-teriak2 .

"Aduh, dadaku sakit, kenapa kau pukul aku ?"

Karena suara teriakannya ini, orang2 di pasar itu lantas berkerumun untuk mencari tahu sebab-musababnya dan apa yang terjadi.

Karena dirubung orang banyak, dengan sekali menyelusup segera gadis itu bermaksud mengeluyur pergi.

Tak terduga Nyo Ko lebih cerdik dari dia, mendadak Nyo Ko merangkak maju, sebelah kaki si gadis dia pegang dengan erat2.

"Jangan pergi, jangan pergi!"

Demikian ia ber-teriak-teriak pula.

"He, ada apakah ? Apa yang kalian ribut-kan ?"

Beramai-ramai orang yang merubung itu bertanya.

"Dia adalah biniku, biniku ini tak suka pada-ku, bahkan dia pukul aku pula,"

Teriak Nyo Ko dengan lagak lagu yang toloI.

Mendengar orang berani mengaku bini atas dirinya, sungguh tidak kepalang gusar gadis itu hingga kedua alisnya seakan-akan menegak, tanpa segan2 lagi sebelah kakinya melayang, segera ia hendak tendang Nyo Ko.

Akan tetapi Nyo Ko tidak kurang akal, mendadak lelaki yang berdiri di sebelahnya didorong nya ke depan, karena itu, tendangan si gadis dengan tepat mengenai pinggang lelaki itu.

Keruan saja lelaki itu sangat gusar.

"Perempuan keparat, berani kau tendang aku ?"

Damperatnya kontan, Menyusul kepelannya sebesar mangkok lantas menjotos.

Namun gadis itu tak gampang dihantam, tiba2 tangan orang dipegangnya, sebelah tangannya menyusul mengangkat lelaki itu terus dilempar pergi dengan meminjam tenaga pukulan orang tadi, Dengan sekali sengkelit ini, tubuh lelaki yang gede itu se-konyong2 melayang ke atas udara sambil tiada hentinya berteriak-teriak dan kemudian pun jatuhlah dia di antara orang banyak yang berkerumun itu hingga keadaan menjadi tuggang langgang karena ada beberapa orang pula yang ke-tindih oleh tubuh lelaki itu.

Dengan sekuat tenaga sebenarnya si gadis tadi ingin melepaskan diri dari Nyo Ko, tetapi karena digendoli Nyo Ko dengan mati-matian seketika ia menjadi kewalahan Dalam pada itu dilihat-nya ada lima-enam orang lagi yang maju dan rupanya akan bikin perhitungan padanya karena di-sengkelitnya si lelaki tadi, dalam keadaan demiki-an, mau-tak-mau ia berkuatir juga.

"Tolol, baiklah aku bawa serta kau, lekas kau lepaskan kakiku !"

Terpaksa dengan kata halus ia mengalah pada Nyo Ko.

"Dan kau masih akan hantam aku tidak ?"

Nyo Ko sengaja tanya lagi.

"Baiklah, tak pukul lagi,"

Sahut si gadis.

Sehabis itu barulah Nyo Ko melepaskan kaki orang yang dia pegang erat2 tadi, kemudian iapun merangkak bangun, Lalu dengan cepat mereka ber dua menerobos keluar diantara orang banyak dan tinggalkan pasar itu, dari belakang mereka mendengar ramai suara teriakan2 orang yang penasaran tadi.

"Lihatlah, sekarang sapiku telah hilang pula, tak bisa tidak lagi aku harus ikut kau,"

Kata Nyo Ko kemudian sesudah di tempat sepi.

"Hm, sekal, lagi kau ngaco-belo bilang aku adalah binimu segala, awas, kalau aku tidak penggal kepalamu,"

Dengan sengit gadis itu mengancam. Berbareng goloknya diayun pula ke arah kepala Nyo Ko.

"Haya, jangan,"

Teriak Nyo Ko sambil melompat pergi dan kepalanya dipegang dengan kedua tangannya.

"Baiklah, nona manis, tak berani lagi aku bilang begitu."

"Hm, melihat macammu yang kotor ini, siluman yang paling jelek juga tak sudi menjadi bini-mu,"

Demikian cemooh si gadis.

Nyo Ko tak menjawab, ia hanya me-nyengir2 tolol saja.

Tatkala itu hari sudah mulai gelap, dengan berdiri di ladang yang luas, dari jauh tertampak mengepulnya asap dapur di rumah2 penduduk karena itu barulah mereka merasa perut sudah lapar.

"Aku sudah lapar, pergilah kau ke pasar tadi membelikan barang makanan,"

Kata si gadis kemudian "Tidak, tak mau aku pergi,"

Sahut Nyo Ko meng-geleng2 kepala.

"Kenapa tak mau ?"

Damperat gadis itu dengan tarik muka.

"Masak aku tolol, kau tipu aku pergi beli makanan, lalu kau sendiri mengeluyur kabur,"

Sahut Nyo Ko.

"Aku bilang tak kabur, tentu tak kabur,"

Ujar si gadis.

Tetapi Nyo Ko masih geleng kepala saja.

Karena merasa jengkel, gadis itu ajun bogemnya hendak meninju, tetapi dengan cepat Nyo Ko bisa menyingkir pula.

Sebelah kaki gadis itu pincang, dengan sendirinya jalannya tidak begitu leluasa, percuma saja dia memiliki Ginkang, tetapi selalu tak bisa me nyandak orang, Tentu saja ia sangat mendongkol ia pikir sia2 saja memiliki ilmu silat yang tinggi dan percuma mengaku dirinya cerdik dan banyak akal, nyatanya kini digoda seorang anak tolol yang kotor dan berbau busuk tanpa bisa berbuat apa2.

Begitulah dengan pelahan ia meneruskan perjalanan dengan mengikuti jalan besar, dalam hati ia pikir cara bagaimana nanti secara mendadak beri sekali bacokan dan bunuh si tolol ini.

Selang tak lama, cuaca menjadi gelap seluruhnya, tiba2 dilihatnya di pinggir jalan ada sebuah rumah batu yang bobrok, agaknya sudah tiada penghuninya, mendadak ia dapat satu akal "Biarlah malam ini aku menginap di sini, tengah malam nanti kalau si tolol sudah pulas, sekali bacok saja kubunuh dia,"

Demikian pikirnya.

Setelah ambil keputusan, segera ia menuju ke rumah batu itu, waktu pintu didorong, tiba2 tercium bau apek yang menyenggerok hidung, terang sekali rumah ini sudah terlalu lama ditinggalkan penghuninya.

Kemudian gadis itu pergi mencari segenggam rumput kering dan lap bersih sebuah meja, di atas meja inilah dia berbaring, ia pejamkan mata untuk mengumpul tenaganya.

"Tolol, tolol !"

Panggilnya ketika dilihatnya Nyo Ko tidak ikut masuk ke dalam. Akan tetapi tiada sahutan yang dia peroleh.

"Jangan2 si tolol ini mengetahui aku hendak membunuh dia, maka telah kabur lebih dulu ?"

Demikian ia pikir.

Sesudah agak lama, ketika lajap2 hendak pulas, mendadak tercium olehnya bau sedap yang sangat menusuk hidung, Dalam terkejutnya segera pula ia melompat bangun, waktu dia lari keluar, dilihatnya di bawah sinar bulan yang terang Nyo Ko sedang berduduk sambil mencekal sepotong entah paha binatang apa dan sedang pentang mulut menggerogoti dengan lahap, di samping sana menyala segunduk api unggun dan di pinggir gundukan api itu terletak bahan makanan itu dan sedang dipanggang, dari situlah bau sedap tadi menguar.

"Mau tidak ?"

Tanya Nyo Ko dengan tertawa demi nampak gadis itu keluar, Habis itu ia ambil sepotong daging paha yang telah dipanggang hingga berbau sedap itu terus dilemparkan kepadanya.

Waktu gadis itu menyambutinya, ia lihat daging paha itu seperti paha kijang, memangnya perut sudah lapar, maka tanpa sungkan2 lagi ia sebret daging itu dan dimakan sepotong demi sepotong, meski kurang asin karena tidak digarami, tetapi dalam keadaan lapar rasanya sangat lezat juga.

Maka dengan duduk di tepi api unggun itu ikutlah dia makan dengan bernapsu.

Tetapi dasar anak gadis, maka cara makannya tidak main lalap seperti Nyo Ko, lebih dulu ia sobek2 daging paha itu dalam potongan kecil2, kemudian dengan pelahan baru dia memakannya, Tetapi bila dilihatnya cara makan Nyo Ko yang lahap hingga air liurnya ikut mencerocos, ia menjadi mual dan jijik, kalau tak jadi makan, perutnya terasa lapar, karena itu, terpaksa ia berpaling ke jurusan lain dan tidak pandang Nyo Ko lagi.

Sesudah sepotong daging itu habis, kembali Nyo Ko lemparkan sepotong lagi kepadanya.

"He, tolol, kau bernama siapa ?"

Tiba2 gadis itu menanya.

"Eh, apa kau ini dewa ? Kenapa kau tahu bahwa aku bernama Tolol ?"

Dengan lagak bebal yang di-bikin2 berbalik Nyo Ko menanya.

"Haha, jadi kau memang bernama si tolol ?"

Gadis itu tertawa demi mendengar jawaban orang, rupanya ia menjadi gembira.

"Dan dimanakah Bapa dan Mak-mu ?"

"Sudah mati semua,"

Sahut Nyo Ko.

"Dan kau sendiri bernama siapa ?"

"Tak tahu, Buat apa kau tanya ?"

Kata si gadis.

"Dia tak mau katakan, biarlah aku pancing dia,"

Demikian pikir Nyo Ko karena orang tak mau memberitahukan namanya. Lalu dengan berlagak ber-seri2 ia berkata pula .

"Hahaa, aku tahu, kaupun bernama si tolol, maka kau tak mau mengatakan namamu."

Tentu saja gadis itu menjadi gusar, segera ia melompat maju, ia angkat kepalan terus menggetok dengan keras ke atas kepala Nyo Ko.

"Siapa bilang aku bernama si tolol, kau sendiri yang tolol,"

Demikian damperatnya pula. Karena kepala digetok orang, Nyo Ko pura2 kesakitan sambil menutup kepala dengan tangan-nya.

"Ya, sebab kalau orang tanya nama ku, bila aku katakan tak tahu, lantas orang panggil aku si tolol, sekarang kaupun bilang tak tahu, dengan sendirinya kaupun bernama si tolol,"

Kata Nyo Ko dengan mewek2 bikinan.

"Siapa bilang aku tak tahu ?"

Bentak si gadis sengit "Hanya aku tak suka katakan padamu, Aku she Liok, mengarti tidak ?"

Kiranya gadis ini adalah Liok Bu-siang, itu gadis cilik pemetik ubi teratai yang sudah kita kenal pada permulaan cerita ini.

Sebagaimana masih ingat, dahulu waktu dia main panjat pohon bersama Piaoci-nya, yaitu Thia Eng, dan kedua saudara Bu, ia telah jatuh dari atas pohon hingga tulang kakinya patah, Syukur secara kebetulan Bu-samnio numpang menginap dirumahnya dan telah menyambungkan tulang kakinya yang patah itu.

Tetapi karena ayah Bu-siang, jakni Liok Lip-ting mencurigai Bu-samnio, akhirnya mereka saling gebrak sehingga sambungan tulang kaki Bu-siang rada terganggu dan sedikit meleset sesudah sembuh, kaki kirinya yang patah itu telah mengker sekira satu senti, maka bila berjalan menjadi sedikit pincang pula.

Walaupun kulit badan Liok Bu-siang tidak begitu putih, tetapi dasar pembawaannya cantik raut mukanya, setelah besar ia bertambah manis pula, tapi karena pincang kakinya, inilah yang menjadi penyesalan selama hidupnya.

Sesudah seluruh keluarganya dibunuh habis oleh Li Bok-chiu, sebenarnya Bu-siang pun tidak terluput dari kematian, tetapi setiap kali bila melihat saputangan sulaman yang menggubet di leher Bu-siang, lantas Li Bok-chiu teringat pada cinta Liok Tian-goan dahulu hingga selalu ia tak tega menghabisi jiwa anak dara itu.

Liok Bu-siang sendiri meski usianya masih kecil, tetapi ia sudah pandai berpikir, ia mengerti dirinya terjeblos di dalam cengkeraman iblis perempuan ini, jiwanya boleh dikatakan seperti telur di ujung tanduk yang setiap saat terancam bahaya, oleh sebab itu ia berlaku sangat hati2 dan berusaha sedapat mungkin me-narik2 hati orang, dan karena pintarnya Bu-siang membawa diri dan rajin melayani sehingga Jik-lian-sian-cu yang biasanya bunuh orang tanpa berkedip itu lambat laun menjadi reda juga maksud membunuhnya pada Liok Bu-siang.

Kadang2 Li Bok-chiu terkenang pada peristiwa di masa mudanya yang sangat menyesatkan itu, segera Bu-siang dipanggil ke hadapannya, lalu nona kecil itu disiksa dan dihina untuk melampiaskan dendamnya.

Namun Bu-siang pintar pura2, ia sengaja bikin mukanya kotor dan rambutnya serawutan sambil berjalan pincang sebagaimana seorang gadis yang harus dikasihani maka bila melihat macamnya ini, mestinya Li Bok-chiu hendak umbar dendamnya lantas tak sampai hati dilontarkan lagi.

Begitulah caranya Liok Bu-siang mencari selamat bagi dirinya sendiri, beruntung juga seorang gadis cilik seperti dia itu ternyata bisa hidup terus berdampingan dengan Li Bok-chiu yang kejam itu.

sungguhpun demikian, dalam hati Bu-siang tidak pernah melupakan sakit hati ayah-bundanya yang dibunuh Li Bok-chiu secara kejam, sebaliknya apabila Li Bok-chiu coba menanyakan tentang ayah-ibunya, selalu Bu-siang berlagak linglung dan pura-pura tidak mengingatnya lagi.

Bila Li Bok-chiu sedang mengajarkan ilmu silat pada Ang Ling-po, ia lantas menunggunya di samping untuk melayani bila orang perlu diambilkan handuk atau Iain2, atau dia pura2 menyapu dan bersihkan meja kursi.

Memangnya ilmu silat Bu-siang sudah ada dasarnya, maka diam2 ia mengingatnya dengan baik apa yang dilatih kedua orang tadi, lalu di waktu malam diam2 ia sendiri lantas melatihnya kembali.

Ditambah lagi di waktu biasa ia sengaja membaiki Ang Ling-po hingga belakangan ketika sang guru sedang gembira, Ang Ling-po lantas memohon bagi Liok Bu-siang untuk diterima sekalian sebagai murid Li Bok-chiu.

Dengan begitulah beberapa tahun telah lalu, ilmu silat Bu-siang sudah banyak maju pula, hanya perasaan Li Bok-chiu betapapun masih terdapat sisa-sisa rasa benci padanya, jangankan ilmu silat yang paling tinggi, meski ilmu kepandaian kelas dua saja tak sudi diajarkan padanya, baiknya ada Ang Ling-po yang merasa kasihan padanya dan diam2 suka memberi petunjuk2, maka ilmu silatnya walau tak bisa dikatakan tinggi, namun dibilang rendah pun tidak rendah.

Hari itu, ber-turut2 Li Bok-chiu dan Ang Ling-po telah berangkat ke Hoat-su-jin-bong untuk mencuri "Giok-li-sim-keng" , karena sampai lama belum nampak kedua orang itu kembali, maka Bu-siang telah ambil keputusan untuk pulang ke daerah Kanglam buat mencari tahu mati-hidup ayah-bundanya yang sebenarnya, sebab waktu kecil ia hanya melihat ayah-ibunya dipukul Li Bok-chiu hingga luka parah, tentunya banyak celaka daripada selamatnya, tetapi karena belum melihat meninggalnya kedua orang tua dengan mata kepala sendiri, bagaimanapun dalam hatinya masih selalu menaruh sedikit sinar harapan semoga ayah-bundanya masih hidup, maka ingin sekali dia mencari tahu keadaan yang sebenarnya.

Oleh karena kaki kirinya cacat, yakni pincang, ciri2 ini telah merubah sifatnya hingga rada rendah diri, dia paling benci apabila ada orang memandang kakinya pincang itu.

Hari itu di tengah jalan justru kedua imam telah memandang beberapa kali pada kakinya yang cacat itu hingga menimbulkan amarahnya, kontan Bu-siang melontarkan kata2 yang menghina, dasar kedua imam itu juga bertabiat buruk, maka dari perang mulut akhirnya berubah menjadi perang senjata, dalam pertarungan itu, dengan golok-sabitnya yang melengkung itu Bu-siang telah tabas daun kuping dan batang hidung kedua imam itu, sebagai ekornya kemudian terjadi pertarungan sengit di Cay-long-kok itu.

Dulu tatkala Bu-siang digondol pergi oleh Li Bok-chiu, di gua pegunungan dekat Oh-chiu sebenarnya dia sudah pernah berjumpa sekali dengan Nyo Ko, tetapi waktu itu sama2 masih kecil, sekarang keadaan mereka berdua pun sudah banyak berubah, dengan sendirinya perkenalan kilat dahulu itu sudah tidak mereka ingat lagi.

BegituIah setelah Bu-siang menghabiskan dua potong daging paha kijang panggang, iapun merasa kenyang.

Di lain pihak sebaliknya Nyo Ko sedang memandangi wajah si nona yang manis.

"Saat ini Kokoh, entah berada di mana ? Gadis di depanku ini kalau Kokoh adanya, lalu kuberi dia paha kijang panggang, bukankah akan sangat menyenangkan ?"

Demikian pikirnya diam2.

Karena hatinya memikir, maka matapun menatap orang terlebih kesima.

Melihat begitu rupa orang pandang padanya, Bu-siang menjengek sekali, habis ini ia berdiri hendak menyingkir Mendadak dari jauh terdengar seorang sedang mendatangi dengan menyeret sandalnya yang menerbitkan suara "srat-sret, srat-sret" , sambil mendekat orang itu sembari gunakan hidungnya untuk mengendus se-keras2nya.

"Ehm, wangi, sedap !"

Demikian ia berseru.

Dan sesudah dekat, maka jelas kelihatanlah baju yang dipakai orang itu penuh tambal-sulam di sana-sini, kiranya seorang kere, seorang pengemis.

Walaupun kere, tetapi dia mendekati orang dengan lagak tuan besar, lalu dia duduk di samping Nyo Ko, tanpa disuruh pun tanpa permisi segera dia samber sepotong daging kijang panggang yang masih digarang di atas api unggun tadi terus digeragoti dengan lahap seperti orang yang sudah tujuh hari tujuh malam tidak makan.

Nyo Ko sih tidak menggubris diri orang, tetapi Bu-siang yang mencium bau busuk tubuh orang yang kotor, memangnya dia sudah mendongkol, kini melihat kelakuannya yang tak kenal aturan, rasa mendongkolnya bertambah lipat, mendadak dia berdiri lantas tinggalkan orang hendak masuk kedalam rumah untuk tidur.

Rupanya sikap Bu-siang ini dapat diketahui si jembel tadi, tiba2 ia mendongak dan memandang sekejap pada si gadis sambil tersenyum, habis ini ia menunduk kembali untuk makan daging panggangnya.

Bu-siang menjadi gusar melihat kelakuan orang.

"Apa yang kau tertawakan ?"

Damperatnya segera.

"Aku tertawa sendiri, sangkut-paut apa dengan kau ?"

Sahut pengemis itu dengan dingin. Dalam gusarnya Bu-siang sudah pegang goloknya dan berniat bunuh orang, syukur dia memikir pula.

"Jangan dulu, kalau aku bunuh dia si tolol itu tentu akan ketakutan dan melarikan diri, biarlah aku bersabar sementara."

Maka dengan menahan rasa gusarnya, tanpa berpaling lagi ia lantas masuk ke rumah batu itu.

Di luar dugaan, baru saja dia melangkahi am-bang pintu, tiba2 terdengar si pengemis membuka suara pula dan sedang bertanya pada Nyo Ko .

"Siapakah dia tadi, apa dia binimu ? Kenapa kakinya pincang ? Tidak laku dijual ?"

Sungguh tidak kepalang rasa gusar Liok Bu-siang oleh serentetan kata2 yang semuanya sangat menusuk hatinya, per-tama2 orang bilang dia adalah bini si tolol yang kotor dan berbau busuk itu, kedua, kakinya yang cacat di-olok2 dan ketiga dia dianggap seperti khewan saja, bukan saja harus dijual, bahkan dikatakan tidak laku.

Sejak kecil Bu-siang sudah kenyang oleh segala siksa-derita yang diperoleh dari Li Bok-chiu, oleh sebab itu, dalam pandangannya setiap orang di jagat ini dianggap sebagai musuh semua dan setiap orang pasti akan membikin susah padanya, ditambah kakinya pincang sehingga tabiatnya berubah aneh, yakni merasa rendah harga diri, maka bila siapa saja berani coba2 memandang sekejap pada kakinya yang cacat itu, tentu akan menimbulkan amarahnya, apa lagi si pengemis tadi telah mengeluarkan kata-kata yang sangat menghina itu, keruan dia tak tahan lagi, dengan cepat golok-sabitnya dilolos, begitu memutar, secepat angin dilabraknya si jembel itu.

Si pengemis itu terhitung anak murid Kay-pang (Persatuan Pengemis) angkatan keenam, di kalangan pengemis mereka ilmu silatnya tergoIong tengahan, maka kepandaiannya pun tidak terlalu rendah.

Persatuan Pengemis itu sejak Ang Chit-kong menjabat ketua, anggotanya banyak terpengaruh-oleh sifat ketua mereka, yakni menganggap di mana-mana adalah kediaman mereka, berpikiran jujur dan suka terus terang, suka bersahabat dengan siapapun juga yang dijumpai.

Oleh sebab itulah demi bertemu dengan Nyo Ko yang lagi panggang daging di tempat sepi, pula melihat pakaian Nyo Ko compang-camping, maka pengemis tadi pikir meski orang bukan sesama anggota, sedikitnya masih terhitung segolongan, golongan kere.

Karena itu iapun tidak sungkan2 lagi, begitu datang ia lantas duduk terus ikut makan, siapa tahu Bu-siang telah mengunjuk muka jemu dan kurang senang, bahkan terus berdiri dan menyingkir pergi karena tak tahan ia telah tertawai orang beberapa kata, tak terduga si gadis ternyata sangat pemarah, begitu putar kembali lantas main senjata.

BegituIah, maka atas serangan Bu-siang tadi pengemis itu telah berteriak sambil melompat bangun.

"Haya, jangan ngamuk, jangan ngamuk, aku telah makan panggang daging lakimu. biarlah aku muntahkan kembali saja!"

Justru Bu-siang paling benci kalau orang berkelakar atas dirinya, keruan ia bertambah murka, tanpa berhenti lagi goloknya membabat dari kiri dan memotong pula dari kanan, be-runtun2 dua kali mengarah tempat lawan yang berbahaya.

Namun dengan cepat pengemis itu dapat menghindarkan diri, ketika serangan ketiga menyamber lagi, karena arah yang dituju tidak tetap, sedikit meleset saja dugaan pengemis itu, maka terdengarlah suara merobeknya kain, ternyata bajunya yang memang rombeng telah tertabas robek.

Keruan pengemis itu terkejut.

"Eh, tidak nyana ilmu silat anak dara ini ternyata sangat lihay,"

Demikian katanya dalam hati.

Dalam pada itu untuk keempat kalinya Bu-siang telah menyerang lagi, maka tak berani pula si pengemis pandang enteng lawannya, segera tongkat yang terselip di pinggangnya dia cabut terus ditangkiskan.

Tetapi setelah saling gebrak belasan jurus, rangsakan Bu-siang semakin lama semakin ganas, diam2 pengemis itu mengelak.

"Anak dara ini entah dari golongan dan aliran mana datangnya, perlu apa aku terlibat permusuhan dengan dia tanpa sebab ? Asal aku tancap gas se-kencang2nya terus mengeluyur pergi, masakan gadis pincang ini sanggup mengejar padaku ?"

Demikian pikirnya, Demi ingat kaki orang pincang, tanpa terasa ia memandang sekejap lagi ke arah anggota badan orang yang cacat itu.

Sebenarnya kalau dia sudah ambil keputusan buat angkat kaki, asal dia putar tubuh terus kabur mungkin segala persoalan akan menjadi selesai, tetapi celaka baginya, justru karena pandangannya tanpa sengaja itu kepada kaki orang yang pincang, habis ini baru dia melarikan diri, kelakuannya ini telah menyinggung perasaan Liok Bu-siang yang paling benci kalau kakinya yang cacat itu dipandang orang, sebab inilah dikemudian hari telah banyak menimbulkan ekor panjang.

Ketika Bu-siang mengetahui orang menatap kakinya yang pincang sambil mengunjuk rasa senang, habis ini tongkat ditarik terus kabur, keruan rasa gusarnya me-Iuap2 tak bisa ditahan lagi.

"Pengemis maling, apa kau kira aku tak bisa berjalan leluasa dan tak sanggup mengejar kau ?"

Damperatnya sengit.

Habis ini segera dia mengudak.

Melihat pengemis itu lari ke arah utara, segera Bu-siang putar goloknya yang melengkung itu, setelah diayun beberapa kali, se-konyong2 ia lepaskan se-keras2nya ke arah tenggara hingga membawa samberan angin yang santer.

Tatkala itu dengan se-enaknya Nyo Ko sedang makan daging panggang dan menyaksikan perkelahian orang sambil duduk, ia menjadi sangat senang melihat si pengemis sengaja bikin Bu-siang marah2.

Tetapi ia menjadi heran ketika mendadak melihat Bu-siang menimpukkan goloknya ke arah tenggara, namun baru saja ia tercengang atau tiba2 terlihat golok-sabit itu memutar sendiri di udara seperti dikemudikan saja.

Golok-sabit yang melengkung ini bentuknya sangat aneh, mata goloknya begitu tipis seperti kertas, diwaktu Liok Bu-siang menimpuk, tenaga yang digunakan sangat tepat pula, maka tertampaklah golok itu membawa suara ngaungan terus menyamber ke tubuh si pengemis tadi.

Saat itu si jembel sedang berlari dengan cepat, siapa duga golok ini seperti punya mata saja, se-konyong2 menyamber tiba terus menancap di atas punggungnya.

Saking sakitnya oleh tusukan golok itu, tanpa ampun lagi pengemis itu jatuh terjungkal.

Tentu saja Bu-siang tidak sia2kan kesempatan itu, dengan gunakan ilmu entengkan tubuh ia memburu maju dengan niat cabut goloknya yang menancap di punggung orang untuk kemudian menambahi orang dengan sekali bacokan lagi.

Namun pengemis itu tidak menyerah mentah2, belum sampai orang datang dekat, sekuat tenaganya ia telah merangkak bangun terus berlari pula ke depan seperti kesetanan, sekejap kemudian orangnya sudah menghilang tanpa bekas di kegelapan.

Sesudah dicoba dan merasa tidak bisa menyandak larinya orang, akhirnya Liok Bu-siang tidak mengudak lebih jauh, ia kembali ke tempatnya tadi.

"Lekas pergi mengambil kembali golokku itu."

Bentaknya tiba-tiba sesudah berhadapan dengan Nyo Ko.

"Golok apa ? Aku tak tahu !"

Sahut Nyo Ko acuh tak acuh.

"Bukankah kau melihat golokku menancap di punggungnya ?"

Kata Bu-siang pula.

"Lekas pergi mengambil !"

"Tak bisa mengambilnya lagi,"

Ujar Nyo Ko sambil goyang2 tangannya.

Bu-siang tahu percuma saja meski banyak bicara, karena itu, ia putar tubuh terus masuk rumah batu tadi untuk tidur sendiri, Baiknya padanya masih terdapat sebilah belati, maka katanya dalam hati.

"Walaupun golok-sabit sudah tak ada, dengan belati inipun cukup untuk bikin beberapa lubang di badanmu."

Tengah malam, diam2 Bu-siang bangun, dengan ber-indap2 ia keluar rumah, ia lihat Nyo Ko sedang menggeros di tepi gundukan api itu tanpa bergerak sedikitpun.

Gundukan api itu sudah lama padam, rembulan pun mulai doyong ke barat, hanya remang2 masih kelihatan bayangannya.

Segera Bu-siang cabut belatinya, dengan pelahan ia mendekati orang, begitu sudah dekat, tanpa pikir lagi belati diangkat terus ditusukkan se-keras2nya ke punggung orang, tapi mendadak tangannya kesemutan, tangannya terguncang sakit, karena itu tak kuat lagi ia genggam lebih kencang, dengan menerbitkan suara nyaring, belatinya terlepas dari cekalan, terasa olehnya tempat yang kena tusukan belatinya itu seperti mengenai besi atau batu yang keras.

Keruan saja bukan buatan terkejutnya Bu-siang, tanpa pikir lagi ia putar tubuh terus lari menyingkir dalam hati ia pikir.

"Jangan2 Si tolol ini telah melatih diri begitu rupa sehingga tubuhnya kebal tak mempan senjata ?"

Sesudah berlari pergi beberapa tombak jauhnya, karena tak mendengar suara kejaran Nyo Ko, kemudian Bu-siang menoleh, dilihatnya masih meringkik di samping gundukan api yang sudah padam itu tanpa bergerak sedikitpun.

Dengan sendirinya Bu-siang menjadi curiga.

"Tolol, he, Tolol !"

Ia ber-teriak2 memanggil Tetapi meski sudah berulang kali ia memanggil toh orang masih tetap tidak menyahut Waktu Bu-siang menegasi, ia lihat tubuh Nyo Ko dalam keadaan meringkuk, bentuknya sangat aneh dan mencurigakan.

Maka dengan tabahkan hati ia mendekati.

Setelah dekat, nyatanya barang yang meringkuk itu tidak mirip bentuk manusia, ketika ia coba meraba, rasanya sangat keras, barang yang berada di bawah baju itu laksana batu.

Tanpa ayal lagi segera Bu-siang singkap baju itu, betul saja di dalamnya berisi sebuah batu padas yang panjang besar, jadi hanya baju membungkus batu, tetapi bayangan Nyo Ko sudah tak kelihatan.

Seketika Bu-siang terkesima oleh kejadian di luar dugaan itu, kembali ia memanggil pula .

"He, Tolol."

Namun tetap tiada jawaban, Ketika ia coba pasang kuping mendengarkan tiba2 terdengar dalam rumah batu itu sayup2 seperti ada suara orang mengorek.

Keruan saja Bu-siang ter-heran2, segera ditujunya tempat datangnya suara itu, betul saja ia lihat Nyo Ko sedang tidur pulas di atas meja yang tadi digunakan dirinya.

Karena serangannya tadi tidak mengenai sasarannya, dalam gusarnya Bu-siang tidak berpikir pula secara teliti kenapa orang bisa mendadak tidur di atas mejanya, mendadak ia melompat maju, belati diangkat dengan sekali tusuk kembali ia tikam pula punggung orang.

Bu-siang menjadi senang karena sekali ini ia telah tepat menikam orang yang sesungguhnya ia lihat Nyo Ko tidak melompat bangun pula tidak menjerit kesakitan, maka tanpa ayal ia cabut belatinya dan tambahi pula sekali, tempat dimana melatinya menusuk terang sekali adalah daging tubuh orang, sedikitpun tiada perbedaan lain, cuma aneh, sama sekali tidak tertampak mengalirnya darah.

Karena itu, kembali Bu-siang terkejut tetapi gusar pula, susul menyusul ia menusuk lagi beberapa kali, tetapi yang terdengar malah suara meng-gerosnya Nyo Ko yang semakin keras.

"Ai, siapakah yang mengitik-ngitik punggungku ? Hihi, jangan guyon ! Haha jangan main2, aku tak tahan geli!"

Demikian terdengar Nyo Ko malah menginggau.

Saking terperanjatnya Bu-siang sampai mukanya pucat lesi, akhirnya kedua tangannya pun menjadi gemetar sendiri "Jangan2 orang ini adalah setan atau siluman ?"

Katanya dalam hati.

Oleh karena pikiran itu, segera ia putar tubuh hendak melarikan diri, akan tetapi, entah saking takutnya atau mengapa, seketika kedua kakinya seperti tak mau turut perintahnya, dia masih terpaku di tempatnya.

"Ai, pungungku kenapa begini geli, tentu ada tikus yang hendak colong daging kijangku,"

Demikian kembali terdengar Nyo Ko menempati lagi.

Habis itu ia malah ulur tangan ke punggung, dari dalam bajunya ditarik keluar sepotong dagang kijang panggang terus dibanting ke lantai.

Melihat ini barulah Bu-siang menarik napas Iega, kini baru dia mengerti duduknya perkara.

"Kiranya si tolol ini simpan daging kijang dekat punggungnya, pantas belasan kali tikamanku tidak membikin jiwanya melayang sebab semuanya mengenai daging kijang, sebaliknya aku sendiri malah dibikin takut!"

Begitulah ia pikir. Karena dua kali menikam dan dua kali tidak berhasil tewaskan orang, rasa benci Bu-siang terhadap Nyo Ko menjadi tambah pula.

"Si tolol busuk, lihat sekali ini jiwamu melayang tidak ?"

Dengan geregeten Bu-siang berkata dengan suara pelahan, menyusul ini tiba2 ia menubruk maju, lagi2 dengan belatinya ia menikam punggung Nyo Ko, ia menduga sekali ini pasti Nyo Ko tak terluput dari kematian.

Siapa tahu pada waktu belatinya hampir mengenai tubuh Nyo Ko, mendadak dalam keadaan masih mengorek pemuda itu telah membaliki tubuhnya, keruan tusukannya menjadi luput hingga mengenai meja sampai ambles sebatas gagang belati Selagi Bu-siang sekuatnya hendak cabut kembali belatinya, di lain pihak Nyo Ko seperti mimpi saja, tiba2 berteriak .

"Tolong, Mak ! Tolong, ada tikus busuk hendak gigit aku !"

Menyusul itu kedua kakinya yang kotor dan bau itu bahkan menjulur ke depan, tahu2 kaki kiri tepat ditaruh di atas siku Bu-siang tempat kiok-ci -hiat Dan kaki kanan sebaliknya menggeletak di atas pundak si gadis tepat mengenai tempat "ko-cing-hiat".

Kedua tempat yang disebut itu adalah kedua Hiat-to yang berbahaya di tubuh manusia, ketika Nyo Ko ulur kedua kakinya, entah sengaja atau secara kebetulan, secara persis telah membentur kedua tempat jalan darah itu.

Keruan seketika Bu-siang merasakan tubuhnya menjadi kesemutan lalu tak bisa berkutik lagi ia hanya berdiri membisu saja di tempatnya dan dijadikan penyanggah kaki Nyo Ko.

Sungguh bukan buatan murka Liok Bu-siang oleh kejadian ini, meski tubuhnya tak bisa bergerak, tetapi mulutnya masih bisa buka suara, Karena itu segera ia membentak mendamperat.

"Hai, ToloI, lekas singkirkan kakimu yang bau ini!"

Tetapi jawaban yang dia peroleh hanya suara mengoroknya Nyo Ko yang semakin keras.

Tidak kepalang gemasnya Bu-siang hingga dia kehabisan akal, dalam keadaan murka, tiba2 ia pentang mulut terus meludahi tubuh Nyo Ko.

Tak kira lagi2 Nyo Ko membaliki tubuhnya, sedang ujung kaki kanannya seperti tak disengaja saja tiba2 melayang dan dengan tepat membentur pelahan "pi-su-hiat"

Di bawah dagu Liok Bu-siang.

Karena benturan itu, seketika seluruh tubuh Bu-siang menjadi kaku semua, kini mulut saja tak bisa dipentang lagi, hanya hidungnya yang kenyang mencium bau kaki Nyo Ko yang bacin.

Bcgitulah gadis itu telah dibuat tempat penyanggah kaki Nyo Ko hingga sekian lama, saking dongkolnya sampai Bu-siang hampir semaput, Dalam hati tiada hentinya ia mengutuk dan menyumpahi Nyo Ko.

"Jahannam kau si Tolol ini, besok kalau aku sudah bisa bergerak bebas, pasti kucincang kau hingga menjadi baso."

Tidak lama, rasanya Nyo Ko sudah cukup puas mempermainkan orang, tiba2 ia membaliki tubuh lagi berbareng melepaskan kedua kakinya dari atas tubuh orang, kini ia membalik menghadap keluar, karena itu, meski dalam keadaan gelap Nyo Ko masih bisa melihat cukup jelas air muka si nona yang penuh gusar dan mangkel itu.

Tetapi semakin Bu-siang mengunjuk gusar, rupanya semakin mirip Siao-liong-li hingga dengan ter-mangu2 Nyo Ko menikmati wajahnya seperti orang yang kehilangan semangat Di lain pihak, karena waktu itu rembulan mendoyong ke barat hingga sinar sang dewi malam menyorot masuk melalui pintu, maka muka Nyo Ko dapat dilihat dengan jelas oleh Liok Bu-siang, ia lihat pemuda ini sedang pentang kedua matanya lebar2 dan lagi memandang padanya dengan tersenyum-simpul.

Keruan hati Bu-siang terkesiap.

"Jangan2 si Tolol ini sengaja berlagak bodoh dan pura2 bebal ? Memang tak disengaja tadi ia menutuk jalan darahku ?"

Demikian ia ber-tanya2 pada diri sendiri.

Oleh karena pikiran itu, tanpa tertahan keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya.

Justru pada saat itu juga, tiba2 dilihatnya Nyo Ko sedang melirik ke lantai, waktu Bu-siang ikut melirik ke arah yang diincar Nyo Ko itu, maka tertampaklah olehnya di atas lantai itu terdapat tiga bayangan hitam yang sejajar, kiranya ada tiga orang telah berdiri di ambang pintu sana.

Waktu ia menegasi lagi, ternyata ketiga orang itu semuanya bersenjata.

"Celaka, celaka, ada musuh lagi menunggu, tetapi justru Hiat-to kena ditutuk si Tolol ini,"

Diam2 Bu-siang mengeluh.

Nyata, meski tadi dia sudah curiga, namun apapun juga sukar dipercaya bahwa seorang bocah angon yang bodoh dan kotor seperti dia ini memiliki ilmu silat yang tinggi Dalam pada itu demi dilihatnya bayangan orang2 itu, segera Nyo Ko pejamkan mata lagi dan pura2 tidur.

"Hayo, budak hina, lekas keluar, apa dengan berdiri tegak begitu saja lantas dikira Toya (tuan imam) bisa mengampuni kau ?"

Demikian terdengar salah seorang di luar itu berteriak.

"Ah, kiranya kaum imam lagi,"

Kata Nyo Ko di dalam hati demi mendengar tantangan orang itu.

"Kamipun tidak inginkan jiwamu, asal iris juga batang hidungmu, potong sebelah daun kuping dan sebelah telapak tangan saja sudah cukup,"

Terdengar seorang Iain berkata lagi.

"Kami sudah menunggu di sini, lekas keluar kau untuk turun tangan saja,"

Demikian kata orang ketiga. Habis itu, ketiga orang itu lantas melompat pergi, mereka kepung pintu keluar itu dengan rapat.

"He, suara teriakan apakah di luar itu, di manakah kau nona Liok ?"

Demikian kemudian Nyo Ko bangun terduduk dengan mengulet ke-maIas2-an.

"Eh, nona Liok, kenapa kau berdiri saja di situ ?"

Habis berkata, seperti tidak sengaja ia tarik2 lengan baju si gadis dan digoyangkan beberapa kali, Maka terasalah tiba2 oleh Liok Bu Siang ada suatu kekuatan yang besar sekali telah menggun-cang2kan seluruh tubuhnya hingga ketiga tempat Hiat-to yang tertutuk tadi seketika lancar kembali dan dapat bergerak bebas lagi.

Bu-siang pun tidak sempat berpikir secara teliti, segera ia jemput belatmya dari lantai terus melompat keluar rumah, di bawah sinar rembulan itu terlihatlah olehnya tiga orang lelaki sudah menantikan di situ, iapun tidak bicara lagi, begitu tangannya bergerak belatinya segera menusuk pada orang yang berdiri di sebelah kiri.

Orang itu bersenjatakan ruyung besi, karena serangan Bu-siang itu, ia incar2 dengan baik ruyungnya terus disebetkan ke bawah.

Ruyungnya ini memang cukup berat, ditambah lagi tenaganya juga besar, sabetannya itupun diincar dengan tepat sekaii, maka terdengarlah suara "trang"

Yang keras, belati Bu-siang seketika terlepas dari tangan.

Waktu itu Nyo Ko masih merebah miring di atas mejanya, ia lihat Bu-siang melompat ke samping, sedang tangan kirinya diangkat miring ke depan, segerapun Nyo Ko menduga imam yang diarah itu pasti tak mampu pertahankan goloknya.

Memang betul, ketika Bu-siang membaliki tangannya lagi, dengan ilmu silat Ko-bong-pay yang sangat hebat itu, tahu2 golok salah satu imam itu sudah kena disebutnya dan bahkan dibarengi pula sekali membacok, tidak ampun lagi pundak imam itu telah merasakan tajam goloknya sendiri.

Dengan disertai caci maki, lekas2 imam itu melompat ke samping untuk merobek kain bajunya buat membalut lukanya itu.

Sesudah mendapatkan goIok, seketika semangat Bu-siang bertambah, tanpa ayal lagi ia tempur lelaki yang memakai ruyung besi itu dengan sengit, Sedang seorang lainnya adalah lelaki pendek kecil dan memakai senjata tumbak, iapun tidak berpeluk tangan ia ikut terjun ke dalam pertempuran, tumbaknya bekerja cepat menusuk ke sini sana untuk bantu kawannya, cuma dia tak berani terlalu mendekati Bu-siang.

Ilmu silat lelaki yang pakai ruyung itu ternyata sangat tinggi, setelah belasan jurus, lambat laun Liok Bu-siang merasa kewalahan Agaknya lelaki itu mempunyai tingkat yang tidak rendah di kalangan Bu-lim, hal ini terbukti gerak-geriknya ternyata sangat beraturan, meski beberapa kali Bu-siang berbuat kesalahan dalam serangannya, namun orang itu ternyata tidak mau terlalu mendesak dan gunakan kesempatan itu untuk melukai Liok Bu-siang.

Sementara itu imam tadi sudah selesai membalut lukanya, dengan tangan kosong ia menerjang maju lagi.

"Darimana datangnya perempuan keparat seperti kau ini, kenapa cara turun tanganmu begitu keji ?"

Demikian dengan tangan menuding Bu-siang mencaci-maki, Habis ini, begitu kepalanya menunduk, segera ia menyeruduk Liok Bu-siang dengan cepat.

"Celaka !"

Diam2 Nyo Ko berteriak demi dilihat keadaan pertarungan keempat orang diluar itu.

Betul saja dibawah berkelebatnya sinar senjata, punggung imam itu kembali merasakan sekali bacokan lagi, bersamaan dengan itu tumbak si lelaki pendek itupun menusuk sampai di belakang Liok-Bu-siang, sedang telapak tangan si lelaki kuat tadipun sudah menghantam ke dada si gadis.

Karena keadaan berbahaya itu, dengan cepat dua batu kecil disamber Nyo Ko terus ditumpukkan sekaligus, sambitannya ini ternyata sangat jitu, yang sebuat tepat mengenai tumbak musuh hingga senjata ini terguncang pergi, sedang batu yang lain kena pula pergelangan tangan lelaki kuat tadi.

Lelaki itu ternyata sangat tinggi ilmu silatnya, meski tangan kanan kena sambitan batu dan seketika lemas tak bertenaga, tapi telapak tangan yang lain masih bisa bergerak secepat kilat dan mendadak dipukulkan lagi, maka terdengarlah suara "plak", dada Bu-siang kena digenjot dengan keras.

Keruan Nyo Ko terkejut Ya, bagaimanapun usia Nyo Ko masih muda dan pengalamannya cetek, sama sekali tak diduganya bahwa lelaki itu memiliki kepandaian lihay "Lian-goan-siang-ciang"

Atau pukulan berganda secara susul-menyusul.

Ketika pukulan kedua orang itu dilontarkan lekas2 Nyo Ko melayang maju buat menolong Liok Bu-siang, dengan sekali tarik saja ia dapat jambret baju leher lelaki itu, lalu dengan tenaga raksasa nya terus dilempar pergi se-jauh2nya.

Tubuh lelaki itu beratnya sedikitnya lebih dua ratus kati, tetapi oleh lemparan Nyo Ko ini, seketika ia ter-apung2 di udara untuk kemudian jatuh terbanting sejauh beberapa tombak Melihat Nyo Ko begini lihay, imam tadi dan si lelaki pendek menjadi jeri, Iekas2 mereka membangunkan kawannya terus pergi tanpa berpaling lagi.

Kemudian Nyo Ko memeriksa keadaan Bu-siang, ia lihat muka si gadis pucat kuning, napasnya sangat lemah, nyata lukanya tidak ringan.

ia ulur sebelah tangan ke bahu orang dengan maksud memayang Bu-siang supaya duduk kembali, siapa tahun tiba2 terdengar suara "gemerutuk"

Dua kali, suara saling gosoknya tl!ang, kiranya dua tulang iga Bu-siang telah patah oleh hantaman lelaki tangkas tadi.

Sebenarnya Bu-siang sudah jatuh pingsan, tapi karena terguncangnya tulang iga yang patah hingga menimbulkan sakit hebat, saking sakitnya berbalik ia sadar dari pingsannya itu, lalu ia merintih-rintih dengan kepala tunduk.

"Kenapa ? Apa sangat sakit ?"

Lekas2 Nyo Ko bertanya.

Dalam sakitnya sampai jidatnya Bu-siang penuh berkeringat kini mendengar pertanyaan Nyo Ko, keruan ia mendongkol.

Masih tanya, sudah tentu sangat sakit!

demikian dengan mengertak gigi menahan sakit dia mendamperat.

"Hayo pondong aku ke dalam rumah !"

Nyo Ko tak membantah Iagi, ia pondong tubuh si nona, tapi tidak urung terjadi juga guncangan hingga tulang iga yang patah itu kembali saling gosok hingga Bu-siang kesakitan Iagi.

"Bagus ya kau si Tolol setan alas, kau sengaja siksa aku, ya ?"

Demikian ia me-maki2.

"Dan, dimanakah ketiga orang tadi ?"

Nyata pada waktu Nyo Ko turun tangan menolongnya, waktu itu ia kebetulan jatuh semaput oleh hantaman musuh, sebab itu tak diketahuinya "si Tolol"

Inilah yang telah menolong jiwanya.

"Mereka mengira kau sudah mati, maka mereka lantas pergi,"

Dengan tertawa Nyo Ko menjawab. Mendengar keterangan ini hati Bu-siang merasa lega.

"Apa yang kau tertawa ?"

Damperatmya pula demi dilihatnya Nyo Ko menyengir2.

"Kau kesenangan ya melihat aku kesakitan ?"

Mendengar orang mendamperat dan memaki terus-menerus padanya, setiap kali orang memaki, Nyo Ko lantas teringat pada kejadian dahulu ketika dirinya didamperat Siao-liong-li.

Selama beberapa tahun ia hidup berdampingan dengan Siao-liong-Ii di dalam kuburan Hoat-su-jin-bong, hari yang dilewatkannya itu dianggap masa yang paling menyenangkan selama hidupnya, sungguhpun Siao-liong-Ii selalu mendamperatnya dengan bengis, tapi karena, diketahuinya sang guru mengajarnya dengan sesungguh hati, meski mendapat damperatan, toh tetap dirasakannya sangat senang.

Kini karena tidak bisa ketemukan Siao-liong-li yang dia cari, tetapi kebetulan ada seorang gadis lagi yang mendamperatnya dengan kata2 yang bengis, tanpa terasa hati kecilnya lantas anggap orang sebagai duplikatnya Siao-liong-li sekedar pelipur hati yang kosong, dengan demikian rasa deritanya menjadi sedikit berkurang.

Begitulah, maka terhadap cacimaki Liok Bu-siang tadi, Nyo Ko hanya tertawa saja tanpa di-gubrisnya.

Melihat wajah orang mengunjuk ketawa, Bu-siang teringat pada dirinya sendiri yang sudah cacat, kini menderita luka parah pula, sebaliknya bocah angon ini meski kotor namun seluruh anggota badannya dalam keadaan baik.

Memangnya tabiat Bu-siang sudah ada kelainan, kini dalam keadaan luka ia menjadi iri terhadap Nyo Ko, ia gemas sekali bisa2 dengan sekali bacok hendak dibunuhnya Nyo Ko.

Nyo Ko pondong Bu-siang dan direbahkan di atas meja tadi, Karena gerakan merebahkan itu, kembali tulang iganya yang patah itu berbunyi lagi saling gosok, saking sakitnya Bu-siang men-jerit2 tak tahan.

Dan justru waktu menjerit itu pernapasannya menjadi tambah keras hingga menarik urat2 iganya, maka rasa sakitnya menjadi lebih hebat lagi.

"Maukah kusambungkan tulangmu yang patah ini ?"

Tanya Nyo Ko kemudian.

"Anak angon bau busuk, kau mampu sambung tulang apa ?"

Damperat Bu-siang.

"Pernah anjing piaraanku yang borokan berkelahi dengan anjing tetangga dan tulang kakinya patah tergigit, maka akulah yang sambungkan tuIangnya,"

Kata Nyo Ko.

"Dan ada lagi, babi betina kepunyaan tetanggaku terbanting patah tulang iganya, itupun aku yang menyambungkan tulangnya."

Bu-siang menjadi gusar karena dirinya disamakan dengan khewan, tetapi ia tak berani berteriak sebab akan mengakibatkan rasa sakit, terpaksa dengan suara tertahan ia mendamperat lagi.

"Kurangajar, kau memaki aku sebagai anjing borokan dan maki aku pula sebagai babi betina, Kau sendirilah yang anjing borokan dan babi betina."

"Tidak, salah, seumpamanya babi, aku kan babi jantan,"

Sahut Nyo Ko dengan tertawa.

"Lagipula, anjing borokan itupun betina, anjing jantan tak bisa borokan kulitnya."

Biasanya Bu-siang sangat pintar bicara dan pandai adu mulut, tetapi karena rasa sakitnya tidak kepalang setiap ia buka mulut, maka maksudnya balas makian orang itu ia urungkan, terpaksa ia pejamkan mata dan menahan rasa sakit, ia tak gubris lagi keceriwisan Nyo Ko.

"Tahukah kau, tulang anjing totokan itu lantas sembuh dalam beberapa hari saja sesudah ku sambung, ketika berkelahi lagi dengan anjing tetangga, keadaannya seperti tulangnya tak pernah patah,"

Demikian Nyo Ko sengaja menerocos terus.

"Eh, nona Liok, bagaimana dengan kau, mau tidak akupun sambung tulangmu ?"

Dalam keadaan kepepet, dalam hati Bu-siang berpikir juga.

"Boleh jadi bocah angon kotor ini betul2 bisa menyambung tulang, apa lagi disinipun tiada tabib, kalau tiada yang mengobati aku, tentu aku akan mati konyol kesakitan."

Tetapi lantas terpikir lagi olehnya.

"Tulang igaku yang putus, kalau dia menyambungkan tulangku ini tentu tubuhku akan kelihatan, bukankah ini sangat memalukan ? Hm, kalau dia tak bisa menyembuhkan Iuka2ku, biar kuhabiskan jiwaku bersama dia. Dan kalau bisa sembuh, akupun tidak membiarkan seorang yang pernah melihat tubuhku tetap hidup di jagat ini,"

Dasar sifat Bu-siang memang sudah menyendiri karena penderitaannya sejak kecil pula begitu lama ikut Li Bok-chiu hingga terpengaruh juga oleh sifat2 Jik-lian-sian-cu yang kejam dan enteng tangan, walaupun umurnya masih sedikit, tapi dalam pikirannya penuh dengan angan2 yang keji.

Begitulah, maka dengan suara rendah lalu ia berkata .

"Baiklah, boleh coba kau menyambungkan tulangku, sebenarnya kau bisa atau tidak ? jangan kau coba membohongi aku, bocah angon busuk, awas kau !"

Nyo Ko menjadi senang melihat orang akhirnya menyerah Katanya dalam hati.

"Jika dalam keadaan begini aku tidak goda dia, mungkin selanjutnya tiada kesempatan baik lagi."

Oleh karena itu, dengan lagak dingin saja dia berkata lagi.

"Sewaktu babi betinanya wak Ong tetanggaku itu patah tulang iganya, beribu kali anak gadisnya memohon padaku dan beruntun memanggil aku seratus kali "

Engkoh yang baik"

Baru aku mau menyambungkan tulangnya."

"Cis, cis, bocah angon busuk, cis... auuh..."

Damperat Bu-siang ber-ulang2, tetapi mendadak ia menjerit karena dadanya terasa sakit pula.

"Kau tak mau panggil aku, tak mengapalah,"

Kata Nyo Ko dengan tertawa.

"Nah, aku akan pulang sajalah, nona Liok, selamat tinggal, sampai ketemu lagi."

Sambil bicara, betul saja Nyo Ko lantas melangkah keluar pintu.

"Celaka, dengan kepergiannya ini, pasti aku akan mampus kesakitan di sini,"

Demikian pikir Bu-siang. Karena itu, terpaksa ia tanya dengan menahan amarahnya .

"Lalu apa yang kau kehendaki ?"

"Sebenarnya kaupun harus panggil aku seratus kali "

Engkoh yang baik ", tetapi sepanjang jalan aku sudah kenyang dicaci maki olehmu, maka kau harus panggil aku seribu kali baru jadi,"

Sahut Nyo Ko. Betul2 Bu-siang mati kutu.

"BIarlah kusanggupi semuanya, nanti kalau aku sudah sembuh, satu persatu baru kubikin perhitungan padanya,"

Demikian pikirnya diam2. Karena itu, segera ia menurut.

"Baiklah, Engkoh yang baik, engkoh yang baik, engkoh yang baik... auuh..."

"Sudahlah, masih ada 997 kali, sementara ku catat saja sebagai utangmu, nanti kalau kau sudah baik barulah dilunaskan lagi,"

Kata Nyo Ko. Habis berkata, ia lantas mendekati Bu-siang terus hendak membuka bajunya. Karena kelakuan Nyo Ko ini, tanpa terasa Bu-siang sedikit mengkeret dan membentak.

"Pergi, apa yang hendak kau lakukan ?"

Karena bentakan itu, Nyo Ko menyurut mundur.

"Untuk menyambung tulangmu, kenapa bajumu tak boleh dibuka ? Aku pernah dengar orang bilang ada ilmu "

Ke-san-pak-gu " (memukul kerbau dari balik gunung), tetapi tak pernah mendengar ada ilmu "

Ke-ih-ti-gu" (mengobati kerbau dari balik baju),"

Demikian katanya dengan tertawa.

Mendengar kata2 ini, Bu-siang merasa lucu juga akan kelakuannya tadi, tetapi kalau dibiarkan orang membuka bajunya, sesungguhnya rada malu juga.

Karena itu ia menjadi ragu-ragu.

"Baiklah, tak bisa kutolak kau,"

Katanya kemudian dengan kepala menunduk dan berpikir lama.

"Kalau kau tak mau disembuhkan boleh tak usah saja, akupun tidak kepingin..."

Baru saja Nyo Ko berkata sampai disini, mendadak didengarnya di luar sana ada suara orang sedang berbicara .

"Budak hina ini pasti berada di sekitar sini, kita harus lekas menemukannya."

Bu-siang menjadi pucat lesi mendengar suara orang itu, dalam keadaan demikian rasa sakit dadanya tak terpikir lagi olehnya, dengan cepat ia mendekap mulut Nyo Ko yang sedang berkata tadi Kiranya yang bicara di luar itu tidak lain dari pada Jik-lian-sian-cu Li Bok-chiu, gurunya yang sangat ditakutinya itu.

Nyo Ko sendiripun sangat terkejut setelah dikenalnya suara siapa orang itu.

"Yang menancap di punggung pengemis itu terang adalah "Gin-ko-to"

Milik Sumoay, cuma sayang tak keburu kita mencabutnya buat mengenalinya lebih pasti,"

Demikian terdengar suara seorang wanita lain.

Orang ini dengan sendirinya Ang Ling-po adanya.

Kiranya sejak mereka guru dan murid terlolos dari kematian di Hoat-su-jin-bong, kemudian mereka telah pulang ke Jik-keh-ceng yang menjadi kediamannya, di sana diketahui bahwa Liok Bu-siang meninggalkan perkampungan mereka itu tanpa pamit, bahkan sebuah kitab Li Bok-chiu, yaitu "Ngo-tok-pit-toan" (kitab rahasia "Panca-bisa") telah ikut dicuri juga.

Sebabnya Li Bok-chiu disegani di seluruh jagat hingga tokoh2 Bu-lim pada jeri bila mendengar namanya, titik pokoknya bukan karena ilmu silat-nya, tetapi pada bisa jahat "Ngo-tok-sin-ciang"

"pukulan sakti panca-bisa, yakni lima macam racun) dan senjata "

Peng-pek-gin-ciam" (jarum perak batu es). Justru kitab "Ngo-tok-pit-toan"

Itu memuat resep obat racun pembuatan jarum perak dan pukulan saktinya yang berbisa itu dengan obat pemunahnya pula, kalau kitab itu teruar di kalangan umum, lalu ditaruh kemana lagi nama baik dan wibawa Jik-Iian-sian-cu yang disegani itu?

Li Bok-chiu sendiri sudah apal di luar kepala semua isi kitab pusakanya itu, dengan sendirinya tak perlu kitab itu selalu dibawa, pula penyimpanannya di Jik-he-ceng sangat dirahasiakan siapa tahu Liok Bu-siang yang pintar dan cerdik, segala apa selalu diperhatikannya hingga tempat penyimpanan benda2 rahasia gurunya telah diketahui olehnya, dan karena sudah ada niatannya hendak melarikan diri, maka jarum perak berbisa dan obat pemunah sang guru, bahkan kitab "Panca-bisa"

Itupun dicuri dan dibawa lari sekalian Keruan amarah Li Bok-chiu bukan buatan oleh perbuatan Liok Bu-siang itu, dengan membawa Ang Ling-po, siang malam segera diubemya, Terapi sudah lama Bu-siang kabur, pula yang ditempuh adalah jalanan kecil yang sepi, meski Li Bok-chiu berdua sudah menguber dari utara sampai selatan dan dari selatan kembali ke utara untuk mencegatnya, namun tetap tak kelihatan bayangan si gadis yang dicari itu.

Kebetulan juga malam hari itu, waktu mereka berdua sampai di sekitar kota Cingkoan, mereka mendengar berita dari anak murid Kay-pang yang mengatakan bahwa ada pertemuan golongan mereka di sesuatu tempat.

Li Bok-chiu pikir anggota persatuan kaum pengemis itu tersebar di mana2, kabar berita merekapun sangat cepat dan tajam, tentu diantara mereka ada yang pernah melihat Liok Bu-siang.

Oleh karena itu mereka berdua lantas pergi ke tempat pertemuan itu dengan maksud mencari kabar.

Tetapi di tengah jalan mereka telah ketemukan satu anak murid Kay-pang dari angkatan ke-enam yang digendong lari oleh seorang kawannya dalam keadaan luka2, selain itu ada belasan pengemis yang mengawalnya.

Dengan kejelian mata Li Bok-chiu, sekilas dapat dilihatnya di punggung pengemis yang di gendong itu menancap sebilah golok yang melengkung dan dapat dikenalinya adalah "Gin-ko-to"

Atau golok perak melengkung milik Liok Bu-siang.

Oleh karena tak ingin bikin onar dengan kaum pengemis yang berpengaruh besar itu, maka diam2 Li Bok-chiu mengintil dari belakang untuk mengintai kebetulan lapat2 dapat didengar percakapan kawanan pengemis itu dalam keadaan marah2, katanya yang melukai kawan mereka itu adalah seorang gadis pincang yang menimpukkan golok melengkung itu.

Tentu saja Li Bok-chiu sangat girang, ia pikir kalau pengemis itu baru saja dilukai, tentu Liok Bu-siang masih berada juga di sekitar sini, Karena itu dengan langkah cepat segera ia menguber lagi hingga sampai di depan rumah batu bobrok itu.

Disini tertampak olehnya ada segundukan abu bekas api unggun, hidungnya pun mengendus bau darah yang anyir, lekas2 ia nyalakan api dan coba periksa sekitarnya, betul saja di atas tanah diketemukannya lagi bekas2 noda darah yang masih baru, terang sekali terjadinya pertarungan sengit itu belum lama berselang.

Dari itu segera Li Bok-chiu tarik2 ujung baju sang murid sambil menuding ke arah rumah bobrok itu.

Ang Ling-po mengerti maksud sang guru, ia mengangguk habis itu pintu ramah yang setengah tertutup itu ia dorong, dengan putar pedang untuk melindungi tubuhnya segera ia terjang ke dalam.

Di Iain pihak, demi mendengar, suara percakapan antara Suhu dan Sucinya, Bu-siang insaf sekali ini tak luput lagi dari kematian, karena itu, ia malah kuatkan hatinya dan berlaku tenang saja merebah untuk menantikan ajalnya.

Begitulah ketika terdengar suara pintu didorong, menyusul satu bayangan orang menyelinap masuk yang bukan lain adalah sang Suci -Ang Ling-po.

Sejak kecil Bu-siang pandai ambil hatinya, maka terhadap sang Sumoay tidak jelek juga kasih sayang Ang Ling-po.

Sekali ini sang Sumoay telah melanggar peraturan besar perguruannya, pasti gurunya akan siksa habis2an dengan macam2 cara yang keji terhadap Bu-siang, habis itu sedikit demi sedikit baru dihukum mati, kini nampak si gadis masih rebah di atas meja, segera Ang Ling-po angkat pedangnya terus menusuk ke ulu hati sang sumoay, dengan demikian ia pikir anak dara ini boleh terbebas dari segala siksaan guru mereka.

Siapa duga, baru saja ujung pedangnya hampir menempel ulu hari Liok Bu-siang, tiba2 Li Bok-chiu telah tepuk pelahan pundaknya, karena ini, seketika Ling-Po merasakan tangannya menjadi lemas tak bertenaga, segera pula tangannya melambai ke bawah.

"Hm, apa aku sendiri tak bisa membinasakan dia ? Perlu apa kau kesusu ?"

Kata Li Bok-chiu dengan tertawa dingin. Habis ini ia berpaling dan ditujukan pada Liok Bu-siang.

"Hm, apa di hadapan Suhu kau tak melakukan penghormatan lagi?"

Tetapi Bu-siang sudah teguhkan hatinya.

"Hari ini aku sudah jatuh ke tangannya, baik minta ampun atau membangkang pasti juga akan merasakan siksaan yang kejam,"

Demikian pikirnya, Karena itu, dengan dingin saja ia jawab.

"Keluarga kami dengan kau sudah menanam dendam sedalam lautan, tidak perlu lagi kau banyak bicara."

Tetapi Li Bok-chiu hanya pandang anak dara itu dengan diam, entah rasa suka atau duka yang terkandung pada sorot matanya itu.

sebaliknya Ang Ling-po memandangi sang Sumoay dengan wajah yang penuh rasa duka dan kasihan, namun Bu-siang ternyata tidak gentar sedikitpun oleh sikap sang guru itu, bibirnya sedikit terjibir, tampaknya malah mengunjuk sikap yang angkuh dan menantang Dengan begitulah mereka bertiga telah saling pandang.

"Mana kitab itu, serahkan !"

Kata Li Bok-chiu kemudian sesudah terdiam agak lama.

"Sudah direbut seorang Tosu (imam) dan seorang pengemis !"

Sahut Bu-siang. Terkejut sekali Li Bok-chiu oleh jawaban itu. Dengan kaum pengemis itu meski tak pernah Li Bok-chiu bermusuhan, tetapi dengan "Coan-cin-kau"

Tidak sedikit dendamnya, iapun tahu antara Kay-pang dan Coan-cin-kau mempunyai hubungan yang sangat rapat, kalau kitab "Ngo-tok-pit-toan"

Itu sampai jatuh di tangan mereka, itulah sungguh celaka !

Sayup2 Bu-siang dapat mendengar suara tertawa dingin sang guru, ia tahu pasti orang sedang memikirkan akal keji untuk siksa dirinya.

jika waktu melarikan diri sepanjang jalan selalu ketakutan ditangkap oleh gurunya, kini setelah betul2 tertangkap, ia malah tidak begitu takut lagi seperti semuIa.

"Eh, kemanakah si tolol itu telah pergi ?"

Demikian tiba2 ia jadi teringat pada Nyo Ko.

Dalam keadaan jiwanya terancam maut ini, tanpa terasa timbul semacam perasaan hangat terhadap bocah angon yang tolol dan kotor itu.

Pada saat itu juga, mendadak ada berkelebatnya sinar api, menyusul mana dengan membawa suara gedebukan tiba2 seekor banteng ngamuk menerjang masuk dari luar.

Waktu Li Bok-chiu dan Ang Ling-po menoleh, maka tertampaklah seekor sapi jantan yang tinggi besar telah menyerobot masuk, pada ujung tanduk kanan binatang itu terikat sebilah belati dan sebelah tanduk yang lain terikat pula seikat kayu dengan api yang me-nyala2.

Terjangan binatang itu ternyata hebat sekali, walaupun ilmu silat Li Bok-chiu sangat tinggi, tetapi tak berani juga ia menghadapi serudukan sapi jantan itu dari depan, segera ia berkelit ke samping, ia lihat binatang itu mengitar sekali di ruangan rumah itu, habis ini lantas berputar keluar lagi.

Tatkala menerjang masuk sapi itu main seruduk seenaknya, waktu keluarpun berlari secepat keranjingan setan, karenanya hanya sekejap saja sapi itu sudah lari pergi sejauh belasan tombak.

Dengan memandangi bayangan binatang itu mula2 Li Bok-chiu rada heran, tetapi segera terpikir olehnya.

"He, siapakah yang mengikat pisau dan kayu berapi itu di tanduknya ?"

Waktu mereka berpaling kembali, tanpa berjanji mereka -guru dan murid -menjerit berbareng, ternyata Liok Bu-siang yang tadi masih rebah di atas meja itu, kini sudah lenyap tanpa bekas.

Lekas Ling-po menggeledah seluruh rumah bobrok itu, habis ini ia melompat lagi ke atas atap rumah.

sebaliknya Li Bok-chiu menduga pasti sapi tadi yang bikin gara2, maka dengan sekali melayang, dengan enteng dan gesit segera diuber-nya binatang itu.

Dalam keadaan gelap itu, sinar api yang menyala pada tanduk sapi itu cukup jelas kelihatan nyata binatang itu sudah menerobos masuk ke sebuah hutan, Dari sorot api terlibat juga oleh Li Bok-chiu bahwa di atas punggung sapi itu tiada penunggangnya, tampaknya Liok Bu-siang toh bukan kabur dengan menunggang sapi Tetapi segera tergerak pikirannya.

"Ah, tentu tadi ada orang yang sembunyi di luar, sapi aneh itu digunakan untuk mengalihkan perhatianku dan dalam keadaan kacau budak hina itu lantas ditolongnya pergi."

Namun seketika ia menjadi bingung karena tak tahu ke jurusan mana harus mengejar, hanya langkahnya dia percepat hingga sebentar saja sapi jantan itu sudah dapat disusulnya, Waktu ia melompat ke atas punggung binatang itu dan diperiksanya teliti namun tiada menemukan sesuatu tanda yang mencurigakan.

Kemudian ia lompat turun dan tendang sekali bokong binatang itu, lalu dengan tekap bibir ia bersuit memberi tanda pada Ang Ling-po, mereka lantas menguber lagi dari dua jurusan, yang satu dari utara ke selatan dan yang lain dari barat ke timur.

Munculnya sapi jantan itu dengan sendirinya adalah perbuatan si Nyo Ko.

Tadi begitu mendengar suara Li Bok-chiu berdua, diam2 ia mengeluyur keluar melalui pintu belakang dan mengintip dari luar, mendengar satu kata saja segera ia tahu Li Bok-chiu mau membunuh Liok Bu-siang.

Meski Li Bok-chiu masih terhitung Supek atau "paman"

Guru Nyo Ko sendiri namun bencinya terhadap perempuan kejam itu sudah terlalu mendalam. Semula ia bingung cara bagaimana harus menolong jiwa Liok Bu-siang, mendadak dilihatnya "

Dari jauh sapi jantan yang kemarin itu sedang menguak tak bertuan, keruan saja ia bergirang, ia ber-Iari2 memarani binatang itu, ia ikat belatinya Bu-siang dan seikat kayu yang dinyatakan dulu tanduk sapi, ia sendiri terlentang menggempit di bawah perut binatang itu, ia giring sapi itu menerjang ke dalam rumah.

Waktu sapi itu berlari mengitari ruangan, tubuh Bu-siang telah disambernya dengan masih tetap menggemblok sembunyi di bawah perut sapi.

Dasar ilmu silat Nyo Ko sudah terlalu hebat, gerak-geriknya pun dilakukan dengan cepat sekali, ditambah lagi rupa sapi jantan itupun aneh, maka sekalipun Li Bok-chiu luar biasa lihaynya, sesaat itu ia kena dikelabui juga oleh Nyo Ko.

Dan ketika ia berhasil menyusul sapi jantan yang kabur itu, tatkala mana Nyo Ko sudah menyembunyikan diri diantara semak2 rumput sambil pondong Liok Bu-siang.

Sudah tentu, karena guncangan hebat itu, rasa sakit Bu-siang menjadi melebihi di-sayat2, cara bagaimana Nyo Ko menolong dan cara membawa dirinya menggemblok di bawah perut sapi dan cara bagaimana melompat turun dan sembunyi di semak alang2, semuanya itu tak diketahuinya oleh karena keadaannya yang setengah pingsan.

Sesudah agak lama kemudian baru pikirannya sedikit pulih kembali, dalam sakitnya segera ia hendak berteriak.

"Jangan bersuara !"

Lekas2 Nyo Ko dekap mulutnya sambil membisikinya. Betul saja lantas terdengar suara tindakan orang yang tidak jauh dari tempat sembunyi mereka.

"He, kenapa sekejap saja sudah tak kelihatan ?"

Itulah suaranya Ang Ling-po.

"Marilah kita pergi saja, budak hina ini tentu sudah kabur jauh,"

Terdengar Li Bok-chiu menyahut dari jauh.

Habis itu lantas terdengar pula suara tindakan Ang Ling-po yang makin menjauh.

Saking sesak oleh karena mulutnya ditutup rapat orang, segera Bu-siang meronta dan hendak berteriak lagi, namun sedikitpun Nyo Ko tak melepaskannya, tangannya masih dekap kencang2 pada mulutnya.

Ketika Bu-siang meronta lagi dan merasa dirinya berada dalam pelukan si pemuda, ia menjadi malu tercampur gugup, segera ia bermaksud memukul orang, Namun sebelumnya tiba2 terdengar Nyo Ko membisikinya lagi.

"Ssst, jangan kau tertipu, gurumu sengaja akali kau !"

Baru selesai ia bicara, betul saja lantas terdengar Li Bok-chiu lagi berkata.

"Ah, rupanya memang tiada di sini lagi." -Begitu dekat suara nya se-akan2 berada di samping mereka saja. Keruan Bu-siang terkejut "Untung ada si tolol ini, kalau tidak, tentu aku sudah tertawan oIehnya."

Kiranya Li Bok-chiu memang cerdik, ia sangsi Bu-siang masih sembunyi di sekitar sini, maka sengaja ia bilang pergi, padahal dengan ilmu entengi tubuh "Chau-siang-hui" (terbang di atas rumput) diam2 ia putar kembali lagi tanpa terbitkan sesuatu suarapun, dan karena ini hampir saja Bu-siang terjebak kalau Nyo Ko kurang cerdik.

Sesudah Nyo Ko pasang kuping mendengarkan, kemudian dapat diketahuinya Li Bok-chiu berdua sekali ini betuI2 sudah pergi, barulah ia lepaskan tangannya yang mendekap mulut si nona.

"Baiklah sekarang tak perlu kuatir lagi."

Dengan tertawa ia berkata.

"Lepaskan aku,"

Bentak Bu-siang karena badannya masih dalam pelukan orang. Maka dengan pelahan Nyo Ko meletakkan Bu-siang ke tanah rumput itu.

"Segera juga kusambung tulangmu, kita harus lekas meninggalkan tempat ini, kalau sampai fajar mendatang mungkin tak bisa meloloskan diri lagi,"

Katanya.

Bu-siang manggut2 tanda setuju.

Karena kuatir orang kesakitan pada waktu menyambung tulangnya dan me-ronta2 hingga diketahui oleh Li Bok-chiu, segera Nyo Ko tutuk dulu jalan darah Bu-siang hingga gadis ini tak mampu berkutik, habis ini baru baju orang dibukanya.

"Se-kaIi2 jangan bersuara,"

Demikian ia pesan, Sesudah baju luar dibuka, tertampaklah baju dalam si gadis yang berwarna biru muda.

Tiba2 kedua tangan Nyo Ko rada gemetar, tak berani ia membuka baju orang lebih jauh, Waktu ia pandang si gadis, ia lihat Bu-siang pejamkan kedua matanya lengan alis berkerut rapat Dasar Nyo Ko memang baru menginjak masa remaja, ketika mencium bau wangi badan gadis, tak tertahan jantungnya memukul keras.

"Sembuhkanlah aku !"

Kata Bu-siang tiba-tiba sambil buka matanya, Hanya sepatah kata saja, lalu ia pejamkan matanya pula dan berpaling ke jurusan lain.

Akan tetapi Nyo Ko berhenti lagi tak berani meraba badan orang ketika badan si gadis yang putih halus tertampak olehnya, ia berdiri terpesona.

Karena sudah lama menunggu, pula terasa angin silir menghembusi badannya yang sudah terbuka hingga rada sejuk rasanya, tiba2 Bu-siang membuka matanya lagi hingga kelakuan Nyo Ko yang ter-mangu2 seperti patung itu dapat dilihatnya.

"A...apa yang kau... kau lihat ?"

Bentaknya gusar.

Nyo Ko terkejut, lekas2 ia ulur tangan buat meraba tulang iga orang yang patah, tetapi baru menyentuh kulit badan orang yang halus itu, Nyo Ko merasa seperti kena aliran listrik, tangannya cepat ditarik kembali lagi.

"Lekas tutup matamu, jika kau pandang aku lagi segera ku... ku..."

Bentak Bu-siang puia dengan suara ter-putus2, sampai disini tak tahan lagi air matanya lantas menetes.

"Ba... baiklah, jangan kau menangis,"

Sahut Nyo Ko gugup, Habis itu betul saja ia pejamkan matanya, lalu tangannya meraba lagi tulang iga orang, di pasang dengan tepat kedua tulang iga yang patah itu, lalu baju si gadis lekas2 ia tarik buat menutupi bagian badannya itu.

Sesudah rada tenang perasaannya Nyo Ko mendapatkan pula empat potong kayu, dua batang diapit di bagian depan dada dan yang dua batang di punggung, dengan kulit pohon yang dia beset ia pakai sebagai perban, lalu diikatnya dengan kencang supaya tulang yang patah itu tidak tergeser lagi.

Habis ini baru dia betulkan baju si gadis dan lepaskan tutukannya tadi.

Waktu Bu-siang pentang matanya, remangl ia lihat muka Nyo Ko yang tersorot sinar bulan bersemu merah dan dengan rasa kikuk2 sedang mengintip meliriknya, tetapi begitu sinar mata kedua belah pihak kebentrok, dengan cepat Nyo Ko melengos ke samping.

Meski sekarang tulang iganya sudah tersambung betul, namun masih dirasakan sakit jarem, cuma sudah jauh berkurang daripada rasa sakit waktu tulangnya saling gosok hendak disambung tadi.

"Si tolol ini ternyata punya sedikit kepandaian juga,"

Demikian ia pikir.

Sebenarnya Bu-siang bukannya gadis bodoh, kini sudah dapat dilihat juga bahwa se-kali2 Nyo Ko bukan anak udik biasa, lebih2 bukan anak tolol segala, tetapi karena sejak mula ia sudah perlakukan orang dengan caci maki dan pandang hina, kini meski sudah ditolong ia tetap belum mau merubah sikapnya.

"Lalu bagaimana baiknya sekarang, Tolol ?"

Demikian ia tanya.

"Apa kita harus terpaku disini atau harus menyingkir pergi yang jauh ?"

"Bagaimana menurut kau ?"

Balas Nyo Ko tanya.

"Sudah tentu pergi saja, apa tunggu kematian di sini ?"

Sahut Bu-siang tertawa. Keruan girang sekali si gadis hingga ia tertawa riang.

"Tolol, daerah Kanglam begitu jauh letaknya, apa bisa kau pondong aku terus sampai di sana ?"

Ujar Bu-siang.

walaupun berkata demikian, namun iapun tidak bantah lagi dan membiarkan tubuhnya meringkuk dalam pelukan Nyo Ko.

Karena kuatir kepergok Li Bok-chiu berdua, maka jalan yang dipilih Nyo Ko adalah jalanan kecil yang sepi, Dasar Ginkang Nyo Ko memang sudah sangat tinggi, meski langkahnya cepat, namun bagian tubuh yang atas sedikitpun tidak ter-kocak sehingga sama sekali Bu-siang tidak merasakan sakit lagi.

Begitu cepat larinya Nyo Ko hingga Bu-siang melihat pepohonan di tepi jalan berkelebat lewat ke belakang, sungguh cepatnya seperti kuda balap, kalau dibandingkan malahan Ginkang pemuda ini tidak dibawah gurunya, keruan diam2 Bu-siang sangat heran dan terkejut.

"Ha, kiranya si Tolol ini memiliki ilmu yang tinggi luar biasa, dengan umurnya semuda ini, mengapa sudah dapat melatih diri sampai begini lihay ?"

Demikian ia bertanya di dalam hati. Sementara itu hari sudah mulai terang, waktu "Bu-siam"

Menengadah ia lihat muka Nyo Ko meski kotor, namun tidak menutupi mata dan alisnya yang cukup jelas bukan anak tolol sebagaimana dia anggap, melainkan pemuda yang ganteng.

Betapapun juga hatinya tergerak, lambat laun iapun lupa rasa sakit di dadanya, selang tak lama.

"Pergi ke mana ?"

Tanya Nyo Ko.

"Aku mau pulang ke Kanglam, mau tidak kau antar aku ke sana ?"

Kata Bu-siang lagi.

"Aku harus mencari Kokoh, tak dapat ku pergi begitu jauh" , sahut Nyo Ko. Mendengar jawaban ini, tiba2 Bu-siang tarik muka.

"Baiklah, kalau begitu lekas kau pergi ! Biarkan aku mati di sini saja,"

Demikian katanya kemudian.

Kalau si gadis ini memohon dengan kata2 halus dan membujuk umpamanya, dapat dipastikan Nyo Ko tidak nanti mau terima, tetapi kini melihat wajah orang mengunjuk rasa gusar dan alisnya ter-kerut rapat, lapat2 memper sekali dengan sikap Siao-Iiong-li diwaktu marah, tak tertahan ia lantas menerima baik permintaan orang.

"Bisa jadi Kokoh kebetulan juga berada di daerah Kanglam, biar kuantar nona Liok ini ke sana, siapa tahu kalau Thian kasihan padaku dan berhasil ketemukan Kokoh di sana ?"

Demikian ia pikir, walaupun demikian, sebenarnya dalam hati ia cukup tahu juga bahwa harapan itu terlalu kecil sekali, cuma tiada jalan buat menolak permintaan Liok Bu-siang, maka pikirannya tadi boleh dibilang hanya untuk menghibur dirinya sendiri saja.

Karena itulah, sambil menghela napas, kemudian iapun pondong lagi tubuh Bu-siang.

"Untuk apa kau pondong aku ?"

Bentak Bu-siang dengan gusar.

"Pondong kau ke Kanglam,"

Sahut Nyo Ko lagi, lapat2 iapun terpulas dalam pelukan Nyo Ko.

Sampai hari sudah terang benderang, akhirnya Nyo Ko merasa letih juga, ia lari sampai dibawah satu pohon besar, ia turunkan Bu-siang dengan pelahan dan ia sendiri duduk di samping si gadis untuk mengaso.

Setelah Bu-siang mendusin, dengan tersenyum manis tiba2 ia berkata pada Nyo Ko .

"Aku lapar, kau lapar tidak ?"

"Sudah tentu lapar,"

Sahut Nyo Ko.

"Baiklah, kita mencari kedai nasi untuk tangsal perut."

Lalu ia pondong lagi si gadis, sudah sepanjang malam ia pondong orang, maka kedua lengannya terasa pegal, maka tubuh si gadis ia angkat dan didudukkan di atas pundaknya, dengan demikian ia melanjutkan perjalanan dengan pelahan.

"He, Tolol, siapa namamu ?"

Tanya Bu-siang dengan tertawa sambil kedua kakinya menggeduk-geduk dada Nyo Ko.

"Rasanya tidak baik di hadapan umum selalu kupanggil kau si Tolol saja!"

"Memangnya aku tiada nama lain, semua orang panggil aku si Tolol,"

Sahut Nyo Ko.

"Hm, tak percaya aku, tak mau kau katakan juga masa bodoh,"

Kata Bu-siang dengan mendongkol "Kalau begitu, siapakah Suhumu ?" ,Mendengar orang menyebut "Suhu" , karena terhadap Siao-liong-Ii luar biasa menghormatnya, maka Nyo Ko tak berani bergurau atas nama gurunya itu.

"Suhuku adalah Kokoh,"

Demikan ia jawab dengan sungguh2 Atas jawaban ini, Bu-siang mau percaya.

"Kiranya ilmu silatnya ini adalah keturunan keluarga sendiri,"

Demikian ia pikir.

"Dari tempat mana dan aliran manakah Ko-kohmu itu ?"

Segera ia tanya pula.

"Tempatnya di rumah,"

Sahut Nyo Ko pura2 tolol "Dan aliran apa itulah aku tak tahu."

"Hm, pura2 bodoh kau,"

Omel si gadis.

"Yang aku tanya yalah ilmu kepandaianmu itu dipelajari dari pintu perguruan mana ?"

"Pintu? Apa kau tanya pintu rumahku itu ?"

Sahut Nyo Ko berlagak linglung.

"Pintu itu bukankah terbikin dari kayu ?"

Mendengar jawaban yang tak keruan juntrung-nya ini, diam2 Bu-siang pikir.

"Jangan2 orang ini memang betul2 tolol, hanya karena terlahir bisa lari cepat dan bukannya memiliki ilmu silat yang tinggi ? Tetapi salah juga, terang sekali ia mampu menutuk dan menyambung tulang, sudah tentu dia adalah jagoan Bu-lim, jangan2 ilmu silatnya meski hebat, namun orangnya memang dasarnya dungu" . BegituIah Bu-siang berpikir dengan bingung, Kemudian dengan kata2 halus ia coba menanya lagi.

"Coba katakanlah baik2 padaku, tolol, sebab apakah kau menolong jiwaku ?"

Pertanyaan ini seketika sulit dijawab Nyo Ko, karena itu ia telah pikir sejenak, habis ini baru ia berkata .

"Kokoh suruh aku menolong kau, maka aku lantas menolong kau !"

"Siapakah kau punya Kokoh itu ?"

Tanya Bu-siang.

"Kokoh ya Kokoh, dia suruh aku kerja apa lantas kukerjakan apa,"

Kata Nyo Ko. Si gadis menghela napas lagi oleh jawaban yang tak genah ini, ia pikir .

"Ah, kiranya orang ini memang betul2 toloI."

Dan karena pikiran ini, rasa marahnya terhadap Nyo Ko yang mulai timbul tadi, kini mendadak berubah lagi menjadi jemu dan gemas. Melihat orang terdiam, tiba2 Nyo Ko malah tanya .

"Hei, kenapa kan tak bicara lagi ?"

Bu-siang tak menjawab, ia hanya menjengek saja sekali, Karena itu Nyo Ko mengulangi pula pertanyaannya, Kalau aku tak suka bicara lantas tak bicara, tahu, Tolol ? Lekas kau tutup mulut !"

Bentak Bu siang tiba-tiba.

Nyo Ko pikir wajah orang dalam keadaan muring2 demikian tentu enak sekali dipandang, tetapi si nona duduk di atas pundaknya, maka sukar dilihat, diam2 ia merasa sayang.

Begitulah sambil bicara itu, kemudian tibalah mereka di suatu kota kecil.

Melihat cara sepasang muda-mudi ini, yaitu Bu-siang didukung dengan duduk di atas pundak Nyo Ko, semua orang di jalan sama ter-heran2.

Akan tetapi Nyo Ko tak peduli, ia mencari satu restoran dan minta disediakan daharan, mereka duduk berhadapan Mendadak Bu-siang mengkerut kening ketika terendus olehnya bau tapi sapi yang menghembus keluar dari badan Nyo Ko.

"He, Tolol, kau duduk ke meja sana saja, jangan duduk semeja dengan aku,"

Katanya pada si pemuda dengan sikap mual.

Nyo Ko tidak membantah, dengan tertawa ia duduk ke meja yang lain.

Walaupun demikian, melihat duduk orang masih menghadap ke arahnya, makin dipandang tampang tolol orang semakin menjemukan, maka dengan tarik muka Bu-siang berkata lagi.

"Jangan kau pandang aku,"

Habis ini ia menuding meja yang lebih jauh letaknya dan menyambung .

"Sana, pindah ke meja itu !"

Nyo Ko menurut, dengan tertawa sambil membawa mangkok nasinya ia malah pindah ke ambang pintu dan duduk di sana lalu makan nasinya.

"Nah, begitulah seharusnya,"

Kata Bu-siang.

Sungguhpun perut si gadis terasa lapar, tapi dadanya terasa sakit oleh tulang yang patah itu, ia menjadi uring2an dan maunya melampiaskan marah2nya pada Nyo Ko saja, tetapi karena orang sudah duduk begitu jauh, ia tak ada alasan lagi untuk mem-bentak2 atau mengomel padanya.

Begitulah selagi ia kesel sekali, tiba2 didengarnya di luar pintu sana ada suara orang ber-dendang .

"Nona cilik berlakulah murah hati."

Habis ini ada seorang lagi terus menyambung.

"Sedekahlah semangkok nasi pada si pengemis !"

Waktu Bu-siang angkat kepalanya, terlihatlah empat pengemis berdiri sejajar di luar pintu, ada yang tinggi, ada yang pendek, semuanya sedang memandang ke arahnya.

Karena dia pernah melukai seorang pengemis dengan senjatanya "Gin-ko-to"

Atau golok perak melengkung, kini nampak kedatangan empat orang ini tidak mengandung maksud baik, diam2 ia terkejut.

Sementara itu ia dengar orang ketiga dari pengemis2 itu sedang menyambung dendangan kawannya tadi.

"Jalan ke sorga tidak kau tempuh !"

Lalu orang keempat lantas menyambung juga .

"Neraka tak berpintu hendak kau masuki!"

Begitulah lagu yang dinyanyikan keempat pengemis itu adalah lagu minta2 yang biasa disuara-kan kaum pengemis, Pada tangan kanan tiap2 pengemis itu membawa sebuah mangkok rusak dan tangan kiri mencekal sepotong kayu yang masih berkulit, pundak mereka masing2 menggendong 6 buah kantong goni.

Melihat dandanan pengemis2 ini, teringat oleh Bu-siang apa yang pernah dia dengar dari cerita sang Suci -Ang Ling-po, bahwa anggota Kay-pang mem-beda2kan tingkatan dengan menghitung kantong goni yang digendong mereka, melihat empat pengemis yang membawa 6 kantong ini, maka dapatlah diketahui mereka adalah anak murid 6 kantong yang tergolong tinggi tingkatannya dalam Kay-pang.

Pengaruh Kay-pang di daerah utara dan selatan sungai -Yangce -waktu itu sangat besar, maka demi nampak sekaligus didatangi empat jago2 Kay-pang berkantong 6, kuasa hotel lantas tahu bakal terjadi peristiwa besar, keruan ia menjadi gugup dan tegang, Iekas2 ia memberi tanda pada kawan2 pelayannya dan suruh mereka sekali2 jangan membikin marah tokoh2 Kay-pang itu.

Di samping Iain Liok Bu-siang tidak lagi memandang empat pengemis itu, ia hanya pandang daharan yang berada di mejanya, sedang dalam hati ia memikirkan tipu-daya untuk meloloskan diri, Tetapi musuh ada empat orang, dirinya sendiri terluka, sedang si Tolol itu apa betul2 pandai ilmu silat masih sukar dipastikan sekalipun betul bisa silat, namun kelakuannya gila-gilaan tak genah, tidak nanti tinggi ilmu silatnya dan susah juga melawan empat jagoan Kay-pang.

Begitulah meski Bu-siang biasanya sangat pintar dan cerdik, kini terasa tak berdaya juga seketika.

Sebaliknya Nyo Ko lagi sibuk urusi isi mangkoknya dan sama sekali tidak ambil pusing terhadap empat pengemis itu, sehabis "langsir"

Isi se mangkok ke dalam perutnya, ia mendekati mejanya Bu-siang dan tambah nasi lagi semangkok penuh, berbareng itu ia samber sepotong ikan (laut), karena ikan itu masak kuah, maka airnya menetes-netes di atas meja.

"Hehe, makan ikan !"

Dengan ke-tawa2 tolol ia berkata.

Melihat rupa orang, alis Bu-siang terkerut terlebih rapat, tetapi kini tiada banyak tempo lagi buat mendamperat orang, sebab terdengar olehnya keempat pengemis tadi sesudah melagukan "si nona cilik"

Tadi secara sambung-menyambung hingga berulang tiga kali, empat pasang mata merekapun terus membelalak ke arahnya.

Oleh karena masih belum mendapatkan sesuatu akal untuk melayani orang, terpaksa Bu-siang pura2 tidak dengar saja dan dengan kepala menunduk menyumpit nasinya dengan pelahan.

"Nona cilik, jika semangkok nasi saja tak kau beri, maka harap memberi sedekah sebilah golok lengkung saja,"

Kata seorang diantara pengemis itu tiba2, rupanya mereka sudah tak sabar.

"Marilah kau ikut bersama kami, takkan kami persulit kau, kami hanya ingin tanya duduknya perkara dan tentu ada keputusan secara adil,"

Demikian kata yang lain pula. Selang tak lama, pengemis yang ketiga pun mendesak lagi.

"Hayo, lekaslah, apa perlu kami gunakan kekerasan ?"

Dalam keadaan demikian Bu-siang menjadi serba salah, ia tidak tahu apa harus menjawab atau tidak.

"Tidak nanti kami minta2 secara paksa dan empat laki2 menghina seorang nona cilik, kami hanya ingin kau ikut pergi untuk menimbang siapa kiranya di pihak yang benar,"

Akhirnya pengemis yang keempat pun ikut berkata.

Mendengar lagu suara orang, Bu-siang insaf sebentar lagi tentu pakai kekerasan, meski tahu tak ungkulan, namun tak bisa mandah menerima kematian, maka dengan tangan kiri memegang bangku ia, tunggu bila lawan berani maju, segera dengan bangku itu akan kuhantamkan dahulu kepada musuh.

"Sudah tiba waktunya kini,"

Demikian Nyo Ko juga sedang pikir, Kemudian ia mendekati meja Bu-siang lagi, ia angkat piring ikan orang untuk mengambil lauk-pauk.

"Ah aku minta kuahnya,"

Demikian dengan samar2 ia bicara karena mulutnya sedang mengunyah sepotong ikan dengan lezatnya.

Sembari berkata, piring ikan yang dia angkat tadi sengaja ia miringkan hingga setengah mangkok kuah yang masih panas tertuang semua di atas lengan Bu-siang.

Karena kejadian ini, tiba2 Bu-siang berpaling dan menggeser sedikit tubuhnya untuk periksa kuah yang menuang badannya itu.

"Ai, celaka !"

Seru Nyo Ko pura2 kaget, habis ini ia berlagak kelabakan hendak membersihkan noda kuah itu, Pada saat itu juga, dengan sedikit miringkan mukanya keluar, tiba2 ia menguap terus menyemprot hingga belasan duri tulang ikan yang tajam menyamber keluar dengan cepat ke arah keempat pengemis tadi.

Sama sekali keempat pengemis itu tidak menduga akan kejadian ini, sedikitpun mereka tidak nampak jelas atau tiba2 siku mereka tempat "kiok-ti-hiat"

Terasa kesemutan, lalu terdengar suara gedubrakan, empat mangkok mereka yang bobrok itu terbanting ke lantai hingga pecah berantakan be-himpun empat pentung kayu mereka.

Sementara itu dengan bajunya yang sudah rombeng Nyo Ko tiada hentinya menyeka air kuah yang menuang lengan Bu-siang tadi sambil dengan ter-putus2 ia berkata.

"Ja... jangan kau marah, aku... aku bersihkan kau."

"Pergi!"

Mendadak Bu-siang membentak.

Ketika ia menoleh kembali untuk melihat keempat pengemis tadi menghilang di simpang jalan raya sana, sedang empat pentung dan mangkok yang sudah pecah berantakan terserak di lantai Bu-siang menjadi ragu2 dan heran oleh kelakuan pengemis2 itu, mengapa tanpa sebab lantas pergi begitu saja ?

Dalam pada itu ia lihat Nyo Ko dengan kedua tangannya yang kotor dengan kuah ikan dan air sayur lainnya masih mengusap dan menyeka serabutan di atas meja, ia menjadi marah dan men-damperat lagi.

"Pergi menyingkir apa kau kira tak kotor ?"

"Ya, ya !"

Sahut Nyo Ko ber-ulang2 sambil kedua tangannya menggosok2 bajunya untuk menghilangkan kotorannya.

"Cara bagaimanakah keempat pengemis itu pergi ?"

Tanya Bu-siang kemudian sambil mengkerut kening.

"Tentunya karena nona tak mau memberi sedekah, toh tiada gunanya minta2 terus, maka mereka lantas pergi,"

Ujar Nyo Ko.

Si gadis ber-pikir2 sejenak lagi dan tetap tak diketahui apa sebabnya, Lalu ia ambil serenceng uang perak dan suruh Nyo Ko membeli seekor keledai sesudah bayar uang daharan, dia lantas menunggang keledai yang baru dibeli ini untuk berangkat.

Tetapi tulang iga dekat dadanya yang patah itu belum sembuh, maka baru saja ia naik, terasa lah sakit sekali sampai mukanya putih pucat.

"Sayang aku terlalu kotor lagi bau, kalau tidak, boleh juga kudukung kau di atas pundak" , demikian kata Nyo Ko.

"Hm, omong yang tidak2,"

Bu-siang menjengek berbareng ia tarik tali kendali menjalankan keledainya.

Siapa duga binatang itu ternyata sangat bandel, tabiatnya pun buruk, bukannya ia jalan ke depan, sebaliknya tubuhnya me-nyirik2 minggir hingga mepet tembok bahkan badan Bu-siang di-gosok2kan lagi pada tembok itu.

Memaognya Bu-siang masih lemas karena luka, keruan ia berteriak kaget dan terbanting jatuh.

Baca Juga: Dewi Sungai Kuning Kho Ping Hoo

Baca Juga: Keris Pusaka Sang Megatantra 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert