Ceritasilat Novel Online

Kembalinya Sang Pendekar Rajawali 4

Eps 4 Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung

Baca online Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung

Cersil Kembalinya Sang Pendekar Rajawali - Chin Yung.

BegituIah, sesudah Nyo Ko menjura, kemudian ia berdiri kembali dihadapan orang dengan muka ber-seri2 tanda gembira.

"Apa yang membikin kau begini senang ?"

Tanya Siao-Iiong-li.

"Kepandaianku toh belum tentu bisa menangkan imam2 tua dari Coan-cin-kau itu, lebih2 tak mungkin bisa diatas kau punya Kwe-pepek."

"PeduIi apa meski kepandaian mereka lebih tinggi,"

Sahut Nyo Ko spontan.

"yang penting, engka mau mengajarkan ilmu kepandaian padaku dengan sungguh-sungguh."

Siao-liong-li menghela napas mendengar jawaban orang.

"Padahal apa gunanya meski sudah belajar ilmu silat ?"

Ujarnya.

"Cuma, daripada iseng menganggur di dalam kuburan sunyi ini, baiklah aku akan ajarkan padamu, sekarang kau tunggu dulu disini, biar aku keluar sebentar."

Mendengar dirinya akan ditinggal pergi, Nyo Ko menjadi takut karena harus tinggal sendirian dalam kuburan.

"Kokoh, aku ikut keluar saja,"

Demikian katanya cepat Akan tetapi Siao-liong-Ii segera pelototi padanya.

"Baru saja kau berjanji akan turut perkataanku untuk selamanya, tapi hari pertama kau sudah membangkang,"

Damperatnya.

"Tetapi, aku aku takut,"

Sahut Nyo Ko.

"Laki2 jantan sejati, takut apa ?"

Damperat Siao-liong-li pula.

"Tadi kau masih bilang hendak membela diriku dan bunuh orang jahat segala !"

"Baiklah, kalau begitu lekasan engkau kembali ya !"

Kata Nyo Ko sesudah berpikir.

"ltupun tak bisa ditentukan, bagaimana jika seketika sukar menangkapnya ?"

Ujar Siao-Iiong-li. Nyo Ko menjadi heran oleh jawaban ini.

"Menangkap apa, Kokoh ?"

Tanyanya.

Namun Siao-liong-Ii tak menjawab, ia terus bertindak pergi sendiri.

Dengan keluarnya Siao-liong-Ii, keadaan di dalam kuburan menjadi sepi nyenyap.

Dalam pada itu Nyo Ko masih me-nerka2 dalam hati oleh kata2 Siao-liong-li tadi yang bilang hendak pergi menangkap sesuatu, ia tidak tahu siapakah yang hendak ditangkapnya.

Tapi mengingat Siao-liong-li tidak pernah turun selangkah pun dari Cong-km-san, Nyo Ko yakin tentu sasaran yang ditangkapnya adalah imam Coan-cin-kau, hanya tidak diketahui imam mana yang akan ditangkapnya dan guna apa menangkapnya ?

BegituIah Nyo Ko berpikir serabutan sendirian, tanpa terasa iapun sudah melangkah keluar ruangan besar kuburan itu dan menuju ke arak syrat melalui satu lorong, tetapi baru belasan tindak dilalui, tiba2 pandangannya menjadi gelap gulita.

Karena kuatir akan kesasar, lekas2 Nyo Ko balik kembali pe-lahan2 dengan merembet dinding, siapa tahu meski sudah beberapa puluh tindak ia berjalan masih belum juga dilihatnya sinar pelita di ruangan besar tadi.

Dalam gelisah dan takutnya, Nyo Ko tambah cepat melangkah ke depan, Akan tetapi ia jadi kesasar lebih jauh lagi.

Memangnya ia sudah salah jalan, dalam keadaan gugup semakin salah pula.

Makin jalan makin cepat, beberapa kali ia kebentur sini dan tertumbuk sana, dalam kegelapan ia merasa jalan lorong itu bersimpang-cabang belaka, hingga tak bisa lagi ia kembali ke ruangan besar di depan tadi.

"Kokoh, Kokoh ! Lekas tolong !"

Saking kuatirnya ia ber-teriak2.

Akan tetapi suara gemborannya segera berkumandang balik diantara lorong kuburan itu hingga membisingkan telinga.

Namun Nyo Ko tidak putus asa, ia maju terus mencari jalan keluarnya, kemudian tiba2 terasa tanah di mana dia injak ternyata basah becek, kiranya dirinya sudah tidak berada di lorong kuburan lagi melainkan berada di jalan lembah pegunungan yang bertembusan dengan lorong kuburan dibawah tanah itu.

Keruan Nyo Ko semakin ketakutan.

"Jika aku kesasar di dalam kuburan, bagaimanapun Kokoh pasti dapat mencari kembali di-riku,"

Demikian ia pikir.

"Kini aku telah sampai disini, kalau tak bisa menemukan aku, tentu ia mengira aku melarikan diri, dan tentu pula dia akan berduka sekali."

Oleh karena itu, sesudah me-raba2 mendapatkan sebuah batu, lalu ia bersedakap tangan dan berduduk di atas batu itu sambil ter-menung2.

Lama sekali ia duduk ter-mangu2, tiba2 ia dengar suara sajup2 orang sedang memanggilnya.

"Ko-ji Ko-ji!"

Nyo Ko dapat mengenali suara orang itu, tentu saja ia sangat girang, tanpa ayal lagi ia melompat bangun dan balas berteriak .

"Aku ada di sini, Kokoh !"

Akan tetapi suara panggilan "Ko-ji, Ko-ji"

Itu bukannya makin mendekat, sebaliknya malah menjauh. Keruan saja Nyo Ko sangat cemas, lekas-lekas ia pantang mulut dan berteiak lebih keras.

"Aku ada di siniiiiiii!"

Tetapi sejenak kemudian ia tidak mendengar suara panggilan lagi, tentu saja ia menjadi kesal dan putus asa. Tak terduga, mendadak ia merasakan daun kupingnya menjadi "nyes"

Dingin, tahu2 kupingnya dijewer orang terus diangkat. Dalam kagetnya hampir saja Nyo.Ko-menjerit akan tetapi segera ia menjadi girang sekali "He, Kokoh, kau ! Kenapa sedikitpun aku tidak merasa,"

Demikian teriaknya kemudian.

"Apa yang kau lakukan di sini ?"

Omel Siao-liong-li.

"Aku kesasar,"

Sahut Nyo Ko.

Siao-liong-li tidak menanya lebih jauh, ia tarik tangan Nyo Ko dan diajak kembali walaupun dalam keadaan gelap gulita, namun Siao-liong-li ternyata bisa jalan dengan cepat dan belak-belok seperti jalan di siang hari saja.

"Kokoh, kenapa engkau dapat melihat dengan terang ?"

Tanya Nyo Ko kagum.

"Seumur hidupku dibesarkan dalam kegelapan dengan sendirinya aku tidak memerlukan sinar terang,"

Sahut Siao-liong-li. Tidak antara lama, kembali Siao-liong-li membawa Nyo Ko sampai di ruang besar semula.

"Kokoh,"

Kata Nyo Ko sambil tarik napas panjang.

"sungguh, tadi aku merasa kuatir sekali"

"Kuatir apa ? Toh pasti aku akan menemukan kau,"

Sahut Siao-liong-li "Bukan kuatirkan soal ini,"

Kata Nyo Ko pula.

"tetapi aku kuatir engkau akan menyangka aku melarikan diri hingga merasa berduka dalam hati"

"Jika kau lari, janjiku pada Sun-popoh lantas batal pula, apanya yang perlu dibuat duka ?"

Sahut Siao-liong-li Nyata watak kedua orang ini sama sekali terbalik, jika Nyo Ko berpikir dengan penuh perasaan hangat, sebaliknya Siao-liong-li berhati dingin sebagai es.

"Apa engkau telah berhasil menangkapnya, Kokoh ?"

Tanya Nyo Ko lebih jauh.

"Sudah,"

Jawab Siao-liong-li "Kenapa engkau menangkap dia ?"

Tanya Nyo Ko lagi "Bukankah buat membantu kau melatih silat, sahut Siao-liong-li.

"Sini, ikut padaku,"

Mendengar jawaban ini, seketika Nyo Ko menjadi girang.

"Eh, kiranya dia pergi menangkap imarn Coan-cin-kau untuk dibuat untuI (mangsa latihan) bagiku,"

Demikian pikirnya, Keruan ia sangat ketarik, maka tanpa berkata lagi dia ikut di belakang Siao-liong-li Setelah memutar beberapa kali kemudian Siao-liong-li membuka sebuah pintu dan masuk ke dalam sebuah kamar batu.

Yang aneh jalan kamar batu ini ternyata sangat kecil dan sempit, dua orang berada di dalamnya saja sukar memutar tubuh, pula langit2an kamar sangat rendah, hampir Siao-liong-li menyundul langit2 kamar itu apabila mengangkat tangannya...

Dalam pada itu Nyo Ko juga heran, sebab tiada satu imam Coan-cin-kau yang terdapat di dalam kamar itu.

"Di manakah Tosu yang engkau tangkap itu ?"

Begitulah ia lantas tanya.

"Tosu apa ?"

Berbalik Siao-long-li balas tanya.

"Bukankah engkau bilang hendak pergi menangkap orang buat membantu aku latihan silat?"

Sahut Nyo Ko.

"Siapa bilang orang ?"

Kata Siao-liong-li "Tetapi ini, di sini"

Habis ini ia berjongkok dan tarik sebuah kantong kain dari pojok kamar, setelah tali pengikat kantong dilepas, kantong itu dia kebas beberapa kali, maka terbang keluarlah tiga ekor burung gereja.

Luar biasa herannya Nyo Ko setelah mengetahui isi kantong itu.

"Eh, kiranya Kokoh keluar tadi untuk menangkap burung gereja,"

Demikian ia membatin.

"Nah, sekarang coba kau tangkap ketiga burung gereja itu, tetapi tak boleh kau membikin rontok bulunya atau melukai cakarnya,"

Demikian Siao-liong-li berpesan padanya. Nyo Ko menjadi senang oleh permainan ini.

"Bagus !"

Serunya gembira, Dan begitu menubruk maju segera ia hendak menangkap salah satu burung gereja itu.

Akan tetapi burung2 gereja itu ternyata sangat gesit, meski Nyo Ko sudah tubruk sini dan samber sana, tetap tak bisa menyenggol sedikitpun, jangankan hendak menangkapnya, Akhir-nya napas Nyo Ko sendiri yang ter-engah2 dan berkeringat.

"Cara kau menangkapnya itu salah, Harus begini, lihat ini kuajarkan kau caranya,"

Kata Siao-liong-Ii.

Habis itu, dia lantas memberi beberapa petunjuk caranya meloncat ke atas dan menubruk ke bawah, cara menangkap dan mencekal dengan cepat.

Nyo Ko memang sangat pintar, ia tahu dengan melalui cara menangkap burung gereja itu sebenarnya Siao-liong-li lagi mengajarkan semacam ilmu silat yang tinggi padanya, maka ia memperhatikan sepenuhnya semua pelajaran itu dan di-ingatnya dengan baik.

Dengan main tubruk dan samber tanpa teratur nyata Nyo Ko kewalahan sendiri untuk menangkap ketiga ekor burung gereja itu.

Cara2 yang diajarkan Siao-liong-li padanya itu sudah bisa dipahaminya, hanya seketika belum dapat dia pergunakan Namun Siao-liong-li tidak peduli lebih jauh, ia membiarkan Nyo Ko sibuk sendiri didalam kamar itu dengan burung2-nya, sedang ia sendiri lantas keluar sesudah merapatkan pintunya.

Hari pertama itu nyata Nyo Ko belum sanggup menangkap burung gereja itu meski hanya seekor saja, sesudah bersantap malam, dia latih Lwekangnya lagi di atas ranjang batu pualam dingin, Besok paginya, kembali ia mengudak burung gereja lagi, cara melompatnya ternyata sudah bertambah tinggi, gerak tangannya pun jauh lebih cepat daripada tadinya.

Begitulah seterusnya, sampai hari kelima, akhirnya berhasil juga dia menangkap seekor burung gereja itu, luar biasa girang Nyo Ko, segera ia mencari Siao-liong-li dan melaporkan kemajuannya itu.

Siapa tahu, bukannya Siao-liong-li memuji atas hasilnya itu, sebaliknya ia dingin saja menerima laporan itu, bahkan ia menyindir.

"Huh, apa gunanya hanya seekor ? Tetapi harus menangkap tiga ekor sekaligus !"

Nyo Ko tak berani menjawab, dalam hati ia pikir.

"Kalau sudah bisa menangkap seekor, menangkap lagi dua ekor apa susahnya ?"

Tak tersangka prakteknya ternyata tidak begitu gampang sebagaimana dia sangka, beruntun-runtun dua hari seekor saja tak mampu ditangkapnya lagi.

Setelah ketiga burung gereja itu sudah payah karena terus menerus di-uber2 oleh Nyo Ko, kemudian Siao-liong-li melepaskannya setelah di-lolohi sedikit makanan, lalu ia menangkap lagi tiga ekor yang baru yang masih segar dan kuat untuk melatih Nyo Ko.

Dan pada hari kedelapan barulah sekaligus Nyo Ko mampu menangkap ketiga burung gereja itu.

"Cukuplah sekarang, mari kita pergi ke Tiong-yang-kiong,"

Kata Siao-Iiong-li. Tentu saja Nyo Ko rada terperanjat oleh ajakan ini.

"Untuk apa ke sana ?"

Tanyanya heran.

Akan tetapi Siao-liong-li tidak menjawab pertanyaannya, ia tarik tangan bocah itu terus diajak menuju Tiong-yang-kiong.

Selama itu meski hanya selisih delapan hari saja, namun keadaan Nyo Ko ternyata sudah berlainan, kini tindakannya kuat dan langkahnya enteng, jelas sekali lebih tangkas daripada sebelumnya.

"Thio Ci-keng ! Hayo lekas keluar!"

Seru Siao-liong-li sesudah sampai di depan Tiong-yang-kiong kaum Coan-cin-kau itu.

Tadi sebelum mereka berdua sampai di depan istana ini, lebih dulu sudah ada imam Coan-cin-kau yang telah melaporkan kedatangan mereka, maka baru saja Siao-liong-li berteriak, segera dari dalam istana itu membanjir keluar beberapa puluh orang Tosu atau imam, Di antaranya dua imam cilik memayang Thio Ci-keng.

Wajah Ci-keng tertampak pucat lesu, kedua matanya cekung, kelihatannya tak sanggup berdiri sendiri.

sementara itu para imam dapat mengenali Siao-liong-li berdua, mereka semua memegang ferijata dan memandang dengan mata melotot gusar Siao-liong-li lantas keluarkan sebuah botol putih dari bajunya.

"Ini adalah air madu untuk menyembuhkan racun antupan tawon, ambil dan berikan pada Thio Ci-keng,"

Katanya dengan suara keras sambil menyerahkan botol itu kepada Nyo Ko.

Waktu melihat Thio Ci-keng, sebenarnya hati Nyo Ko masih belum hilang rasa benci dan dendamnya pada imam ini.

Hanya karena dihadapan orang banyak, rasanya tak enak membantah maksud Siao-liong-li itu, Maka dengan langkah lebar terpaksa ia membawa botol madu tawon itu, dan ditaruh di depan Thio Ci-keng.

Ketika para imam Coan-cin-kau mendengar bahwa Siao-liong-li datang lagi, mereka menyangka gadis ini tentu akan cari gara2 dan bikin onar, untuk membalas sakit hatinya Sun-popoh, maka disamping mereka siap berjaga, di lain pihak segera dilaporkan kepada Ma Giok dan Khu ju-ki yang tingkatannya lebih tua.

Tak terduga bahwa kedatangan Siao-liong-li ini ternyata sama sekali tidak bersifat permusuhan melainkan malah mengutarakan madu tawon penawar racun, keruan mereka menjadi heran, dalam bingungnya sampai mereka tak bisa menyambut perkataan Siao-liong-li Tadi, sementara itu setelah Nyo Ko menaruh botol madu tawon didepan orang, ia pandang sekejap pula kepada Thio Ci-keng dengan sorot mata yang penuh menghina dan merasa jijik,habis ini ia putar tubuh terus jalan kembali.

Slkap Nyo Ko ini agaknya dapat dilihat dengan jelas oleh Ceng kong yang berada juga di antara kawanan imam itu, ia tak bisa menahan amarahnya lagi.

"Anak celaka, sudah mengkhianati perguruan, sekarang kau mau pergi begitu saja ?"

Demikian segera ia membentak sambil memburu maju hendak menawan Nyo Ko.

"Ko-ji, hari ini jangan membalas serangannya,"

Tiba2 Siao-liong-li berpesan pada Nyo Ko.

Dalam pada itu Nyo Ko mendengar dari belakangnya ada suara tindakan orang dengan cepat, menyusul mana terdengar pula menyambernya angin pukulan, nyata ada orang hendak menjamberet punggungnya, Karenanya, tanpa pikir segera ia mendaki tubuh ke bawah, lalu mendadak ia meloncat ke samping.

Meski baru delapan hari Nyo Ko berlatih menangkap burung gereja di dalam Hoat-su-jin-bong atau kuburan orang hidup itu dan tidur di atas ranjang batu pualam dingin delapan malam pula, walaupun Siao-liong-li hanya mengajarkan sedikit caranya menangkap burung, akan tetapi semua itu justru adalah intisari dari kunci dasar latihan Ginkang atau ilmu entengkan tubuh yang tinggi dari Ko-bong-pay (aliran kuburan kuno) itu, maka kepandaiannya sekarang sudah jauh berbeda daripada waktu bertanding dengan imam Coan-cin-kau dahulu.

BegituIah, maka dengan tepat sekali, pada saat tangan Ceng-kong hampir menempel punggungnya, mendadak ia melompat pergi, bahkan berbareng itu sekalian ia tarik kain baju orang, Memangnya karena Ceng-kong luput menubruk orang dan tubuhnya mendoyong ke depan, kini ditambah oleh tarikan Nyo Ko, keruan ia tak sanggup berdiri tegak lagi, tanpa ampun ia jatuh tersungkur dengan antap sekali.

Ketika Ceng-kong bisa merangkak bangun, sementara itu Nyo Ko sudah berdiri di samping Siao-liong-li.

Dalam gusarnya Ceng-kong berteriak murka terus hendak menyeruduk maju lagi, syukur pada saat itu mendadak dari rombongan imam2 itu telah maju satu orang dan secepat kilat menghadang dihadapan Ceng-kong sambil menarik tangannya dan diseret kembali ke tempat berdiri mereka semula.

Seketika Ceng-kong merasakan setengah tubuhnya menjadi kaku kesemutan, waktu ia mendongak kiranya yang menariknya adalah Susiok atau paman gurunya, In Ci-peng.

Karena itu, kata2 makian yang sebenarnya akan dia lontarkan, seketika juga ia telan kembali mentah2.

"Banyak terima kasih atas pemberian obat nona tadi,"

Demikian In Ci-peng membuka suara sambil membungkuk memberi hormat. Sebaliknya Siao-liong-li ternyata tidak balas hormat orang, iapun tidak menjawab, Dia gandeng tangannya Nyo Ko terus diajak kembali.

"Mari Ko-ji, kita pulang saja !"

"Liong-kohnio,"

Tiba2 In Ci-peng Berseru lagi.

"Nyo Ko ini adalah anak murid Coan-cin-kau kami, tetapi secara paksa kau telah menerimanya sebenarnya cara bagaimana urusan ini harus diselesaikan ?"

Siao-liong-H tertegun oleh teguran ini dan tak bisa menjawab.

"Aku tak senang mendengarkan ocehan orang,"

Katanya akhirnya.

Habis ini, tanpa menghiraukan orang Iain ia tarik tangan Nyo Ko dan masuk kembali ke dalam rimba dengan langkah cepat Di lain pihak In Ci-peng dengan para imam Coan-cin-kau jadi terkesima, mereka hanya saling pandang saja dengan bingung.

"Ko-ji, kepandaianmu memang nyata sudah ada kemajuannya,"

Demikian kata Siao-liong-li kepada Nyo Ko sesudah berada di dalam kuburan kuno itu,cuma cara kau hajar imam gemuk tadi itu sebaliknya salah besar.

"lmam gendut itu pernah hajar aku secara tidak se-mena2, sayang tadi aku belum sempat membalas dia dengan setimpal,"

Sahut Nyo Ko.

"Dan mengapa Kokoh bilang aku salah menghajarnya ?"

"Maksudku bukan tak boleh menghajar dia, tetapi caramu menghajarnya itu yang salah,"

Ujar Siao-liong-li "Seharusnya jangan kau tarik dia hingga jatuh tersungkur ke depan, tetapi harus tidak pakai tarikan dan biar dia jatuh terjengkang sendirinya ke belakang,"

Nyo Ko menjadi girang mendengar penuturan ini.

"Ha, menarik sekali hal ini, hayo, Kokoh, ajarkan caranya !"

Serunya cepat.

"Nah, anggap aku ini Ko-ji dan kau adalah imam gendut busuk itu, coba kau tangkap diriku,"

Demikian kata Siao-liong-li puIa, Habis berkata, segera dia mulai melangkah pelahan ke depan.

Nyo Ko menurut, dengan tertawa2 ia ulur tangannya untuk memegang tubuh orang, Akan tetapi seperti bermata saja dipunggung Siao-liong-li, meski Nyo Ko menubruk dan meraup bagaimanapun juga, tetap tak dapat menyenggol baju orang, kalau Nyo Ko berlari cepat, Siao-liong-li segera lari lebih cepat, dan kalau Nyo Ko lambat, Siao-liong-li pun ikut lambat, jarak mereka selalu berselisih kira2 satu kaki jauhnya.

"Haha, Kokoh, awas sekali ini !"

Dengan tertawa Nyo Ko berseru, mendadak ia menubruk maju dengan gerak cepat, dan Siao-liong-li ternyata tidak menghindarinya.

Tentu saja Nyo Ko bergirang, ia yakin kedua tangannya segera pasti akan dapat merangkul leher orang, Siapa duga, baru saja kedua tangannya dipentang dan hampir merangkul, se-konyong2 Siao-liong-li mencelat ke belakang hingga terlepas dari rangkulannya.

Karena menangkap angin, dengan cepat pula Nyo Ko mendongak dan hendak menjambret akan tetapi dia baru saja menubruk ke depan lalu mendadak menekuk ke belakang sambil mendongak, karena terlalu besar menggunakan tenaga, maka Nyo Ko tak bisa berdiri tegak lagi, ia jatuh terjengkang ke belakang hingga tulang punggung terasa sakit sekali.

"Caramu ini sangat bagus, Kokoh,"

Teriak Nyo Ko girang sesudah merangkak bangun.

"Dan kenapa engkau bisa begini cepat ?"

"Jika kau berlatih menangkap burung gereja setahun lagi, tentu kau akan jadi begini juga,"

Sahut Siao-liong-li.

"He, bukankah aku sudah bisa menangkapnya,"

Ujar Nyo Ko.

"Hm, dapatkah itu dianggap ?"

Siao-liong-H menjengek.

"Apa kau kira ilmu silat Ko-bong-pay kita ini begitu gampang kau pelajari ?"

Karena dampratan ini, Nyo Ko tak berani bicara lebih jauh.

"Sini ikut padaku,"

Kata Siao liong-li kemudian.

Lalu ia bawa Nyo Ko pergi ke satu kamar batu yang lain.

Kamar batu yang sekarang ini ternyata sekali lebih besar dan luas daripada yang dulu waktu mula2 Nyo Ko belajar menangkap burung, di dalam kamar ini sudah tersedia lagi enam ekor burung gereja.

Kalau tempatnya bertambah luas, dengan sendirinya untuk menangkap burung gereja itu menjadi jauh lebih sulit, Tetapi Nyo Ko tak perlu kuatir karena Siao-liong-li telah memberi petunjuk beberapa kepandaian lagi cara meloncat tinggi dan melompat jauh dari ilmu entengkan tubuh dan ilmu cara menangkap dan menawan.

Dengan demikian lewat delapan atau sembilan hari lagi, sekaligus Nyo Ko sudah bisa menangkap enam burung gereja itu.

Selanjutnya kamar latihannya lantas bertambah besar dan makin luas, jumlah burung gereja yang harus ditangkapnya bertambah banyak juga, dan akhirnya dia harus menangkap 9x9 -81 burung gereja di ruangan tengah yang sangat besar, Untung ranjang batu pualam dingin yang dibuat tidur Nyo Ko itu ternyata besar sekali khasiatnya untuk membantu latihan Lwekang, hanya dalam tempo tiga bulan saja, 81 ekor burung gereja itu sekaligus dapat Nyo Ko tangkap semua.

Tentu saja Siao-liong-li sangat girang melihat kemajuan Nyo Ko yang begitu pesat.

"Dan sekarang kita harus menangkapnya di luar kuburan,"

Demikian katanya kemudian.

Selama tiga bulan itu Nyo Ko terkurung di dalam kuburan, memangnya ia sudah bosen dan kesal juga, kini mendengar akan latihan di luar kuburan, keruan ia menjadi senang dan muka ber-seri2.

"Apanya yang perlu digirangkan ?"

Ujar Siao-liong-li dingin.

"justru ilmu kepandaian ini sukar sekali melatihnya. 81 burung gereja ini seekor saja tidak boleh terlolos."

Begitulah dengan membawa kantong kain yang penuh berisi 81 ekor burung gereja ia ajak Nyo Ko keluar kuburan kuno itu.

Tatkala itu adalah bulan tiga dan terhitung permulaan musim semi, karena itu alam semesta di luar kuburan itu boleh dikatakan menghijau permai dan hawa sejuk diselingi hembusan harum bunga yang semerbak.

Ketika mendadak Siao-liong-li mengebas kantong yang dibawanya, maka terbanglah ke-81 ekot burung gereja itu, tetapi justru pada saat burung itu hendak kabur, tiba2 kedua tangan Siao-liong-li putih halus itu bergerak, dari sana ia tarik sini dan dari sana ditepuk pula, tahu2 dua ekor burung gereja yang hampir kabur itu dapat ditoIaknya kembali.

Begitu mendapat kebebasan, dengan sendirinya ke-81 ekor burung gereja itu segera ingin terbang pergi Tetapi aneh juga, ketika Siao-liong-li keluarkan Ciang-hoat atau ilmu pukulan tangan kosong, di sana ia menolak dan di sini mengebas, ke-81 ekor burung gereja itu ternyata terhimpit semua di depan dadanya dalam jarak tiga kaki satupun tak sanggup kabur.

Terlihat Siao-liong-li geraki kedua tangannya se-akan2 sedang menari kedua tangan seperti berubah menjadi 81 tangan saja, bagaimanapun ke-81 ekor burung gereja menubruk sana dan menerobos sini namun tetap tak mampu kabur keluar dari lingkaran kedua tangan Siao-liong-li.

Nampak keajaiban ini Nyo Ko hanya ternganga belaka, dalam kagumnya iapun bergirang pula, waktu ia tenangkan diri ia pikir.

"Ah, ini adalah ciang-hoat hebat tiada bandingannya yang Kokoh sedang ajarkan padaku, aku harus mengingatnya dengan baik."

Karena itu, segera ia pusatkan perhatiannya untuk mengikuti gerak-gerik Siao-liong-li, ia ingat dengan baik cara bagaimana orang ulur tangan buat menahan dan cara bagaimana membaliki tangan buat meraup, meski cara Siao-liong-li menggerakkan tangan sangat cepat dan aneh, tetapi tiap gerakan dan tiap jurus cukup jelas dan teratur.

Sesudah mengikuti agak lama, walaupun Nyo Ko masih belum paham di mana letak keajaiban Ciang-hoat orang, namun sedikitnya ia tidak bingung lagi seperti tadi.

Sementara itu sudah lama Siao-liong-li menari ketika mendadak kedua tangannya mengebas lagi sekali, lalu ia luruskan tangannya ke belakang, Karena terlepas dari kekangan tenaga tangan Siao-liong-li, segera burung2 gereja itu bercuitan hendak terbang kabur pula, Diluar dugaan, mendadak Siao-liong-li mengebas lagi dengan kedua lengan bajunya yang membawa sambaran angin santer, Karena itu, ke-81 ekor burung itu seketika terjatuh kembali ke atas tanah dengan suara cuitan yang ramai.

Lewat agak lama, kemudian burung2 gereja itu baru bisa pentang sayap dan terbang pergi satu demi satu.

Sungguh luar biasa girang Nyo Ko oleh pertunjukan kepandaian yang hebat itu, ia tarik2 baju Siao-liong-li sambil berkata.

"Kokoh, kukira sekalipun Kwe-pepek juga tak bisa seperti engkau tadi."

"Chiang-hoat yang kutunjukkan tadi disebut "

Thian-lo-te-bang-sik " (gaya jaring langit dan jala bumi), adalah ilmu kepandaian pengantar dari Ko-bong-pay kita,"

Sahut Siao-liong-li menerangkan.

"Maka kau harus belajar dengan baik."

Lalu Siao-liong-li mengajarkan belasan jurus Ciang-hoat itu dan semuanya dipelajari Nyo Ko dengan baik. Lewat belasan hari lagi, Nyo Ko ternyata sudah bisa mempelajari "Thian-lo-te-bang-sik"

Yang meliputi 108 jurus itu dengan baik dan apal sekali.

Oleh karena itu, Siao-Iiong-Ii lantas pergi menangkap seekor burung gereja dan suruh Nyo Ko mencoba merintangi kaburnya burung ini dengan Ciang-hoat yang baru dipelajarinya itu.

Tentu saja dengan senang hati Nyo Ko melakukan perintah itu, Mula2 ia hanya sanggup menahan dua-tiga kali dan burung gereja itu sudah menerobos lolos dibawah telapak tangannya.

Tetapi Siao-liong-li selalu mendampingi dia, hanya sekali ulur tangannya, segera burung gereja itu dapat ditolak kembali.

Maka Nyo Ko lantas melanjutkan permainan Ciang-hoatnya lagi, tapi lantaran gerak geriknya masih kurang cepat, pula kurang tepat mengepas waktunya, maka hanya beberapa kali gerakan kembali burung gereja itu lolos lagi.

Begitulah, tiap2 hari Nyo Ko meneruskan latihannya itu tanpa kenal lelah.

Sang tempo lewat dengan cepat, hari berganti bulan dan bulan berganti bulan puIa, tanpa terasa perawakan Nyo Ko sudah tambah tinggi, suaranya yang kekanak-kanakan dulu sudah berubah besar pula seperti orang dewasa umumnya, pelahan ia sudah berubah menjadi pemuda yang tampan, berlainan daripada waktu dia masuk ke dalam kuburan kuno ini.

Berkat juga bakat pembawaan Nyo Ko, pula Siao-liong-li telah mengajar dengan sepenuh tenaga, maka selewatnya, musim rontok, ilmu pukulan gaya "jaring langit dan jala bumi"

Itu telah berhasil dilatihnya.

Kini bila ia permainkan Ciang-hoat ini, sekaligus ia sudah sanggup menahan ke-81 burung gereja tanpa bisa lolos, kalau terkadang terlolos juga satu ekor, itu boleh dikatakan hanya penyakit kecil saja dari Ciang-hoat yang baru dia pelajari itu.

"Ko-ji,"

Kata Siao-liong-Ii pada suatu hari.

"Ciang-hoat yang kau latih ini, dikalangan kangouw sudah jarang lagi ada tandingannya, maka kapan bertemu pula dengan imam gendut itu, boleh kau banting dia beberapa kali lagi yang keras."

"Tetapi jika bergebrak dengan Thio Ci-keng, bagaimana ?"

Tanya Nyo Ko. Siao-liong-li tidak menjawab pertanyaan itu, sebab dalam hati ia lagi pikir.

"Ya, Thio Ci-keng itu adalah jago terkemuka dari anak murid Coan-cin-kau angkatan ketiga, kalau hanya dengan kepandaian Ko-ji sekarang, memang betul masih belum bisa mengalahkan dia."

Melihat Siao-liong-li tidak menjawab pertanyaannya, segera Nyo Ko tahu juga apa yang sedang dipikirkan orang.

"Tak bisa menangkan dia juga tidak mengapa, lewat beberapa tahun lagi tentu aku dapat menangkan dia,"

Demikian ia kata.

"Kokoh, bukankah ilmu silat Ko-bong-pay kita memang jauh lebih lihay dari ilmu silat Coan-cin-kau ?"

"Apa yang kau katakan ini, dijagat ini mungkin hanya kita berdua saja yang percaya,"

Sahut Siao-liong-Ii sambil menengadah memandang langitl mangan.

"Tempo hari waktu aku bergebrak dengan imam she Khu dari Coan-cin-kau itu, rasanya kalau soal ilmu silat memang aku belum bisa menangkan dia, tetapi ini tidak berarti Ko-bong-pay kita tidak bisa menandingi Coan-cin-kau, melainkan karena aku masih belum berhasil meyakinkan ilmu kepandaian yang paling hebat dari Ko-bong-pay kita."

Sebenarnya Nyo Ko kuatir kalau Siao-liong-li tak dapat menangkan Khu Ju-ki, kini mendengar kata2 itu, ia bergirang dan mantap.

"llmu kepandaian apakah itu, Kokoh ?"

Cepat ia tanya.

"Apa susah melatihnya ? Kenapa engkau tidak mulai melatihnya ?"

"Biarlah kututurkan satu cerita pendek dahulu, supaya kau mengetahui asal usul golongan Ko-bong-pay kita ini,"

Sahut Siao-liong-li "

Pada sebelum kau menyembah aku sebagai guru, bukankah kau ingat pernah menjura pada Cosu popoh, Dia itu she Lim, namanya Tiao-eng.

Pada, kira-kira 60-70 tahun yang talu, di kalangan Kangouw terkenal dengan kata2 Di selatan ada Lim dan di utara ada Ong, tetapi Im (negatip, perempuan) menangkan Yang (positip, 1aki2), apa yang dikatakan Lim di selatan itu ialah Cosu-popoh, dia berasal dari Kwisay, dan Ong di utara bukan kiri ialah Ong Tiong-yang dari Soa-tang.

"Di kalangan Bu-lim waktu itu, ilmu silat mereka berdua terhitung paling tinggi sebenarnya kepandaian mereka boleh dikatakan sembabat dan sukar dibedakan mana yang lebih tinggi, tapi belakangan karena Ong Tiong-yang sibuk dengan gerakan membela tanah air untuk melawan pasukan Kim, ia repot siang dan malam, sebaliknya Cosu-popoh bisa berlatih silat lebih tekun, maka akhirnya dia jadi lebih tinggi setingkat daripada Ong Tiong-yang, oleh karena itu orang sama bilang Im lebih unggul dari Yang"

"Kemudian pergerakan Ong Tiong-yang gagal, dengan perasaan menyesal ia lantas asingkan diri di dalam Hoat-su-jin-bong ini, saking iseng setiap hari, waktu senggang itu ia lewatkan buat berlatih silat dan mempelajari segala ilmu sakti, sebaliknya waktu itu Cosu-popoh malah menjelajahi Kangouw untuk melakukan berbagai perbuatan yang terpuji, oleh sebab itu, sampai Ong Tiong-yang untuk kedua kalinya turun gunung, kembali ilmu Cosu-popoh tak lebih unggul daripadanya. Dan paling akhir kedua orang entah soal apa terjadi percekcokan hingga saling gebrak dan bertaruhan, ternyata akhirnya Ong Tiong-yang kalah dan kuburan kuno inipun diserahkan pada Cosu-popoh. Mari sini, biar kubawa kau pergi melihat bekas2 yang ditinggalkan kedua Locianpwe itu."

Sebenarnya kuburan kuno itu seluruhnya dibangun dari batu dan entah dibangun sejak kapan, Tetapi kamar yang ditunjukkan Siao-liong-li pada Nyo-Ko sekarang ternyata sangat aneh bentuknya, depan sempit, bagian belakang lebar, sedang sebelah timur bundar, sebaliknya sebelah barat berbentuk lencip hingga berwujud segi tiga "Kenapa kamar ini dibikin sedemikian rupa Kokoh?"

Saking herannya Nyo Ko bertanya.

"lni adalah tempat Ong Tiong-yang mempelajari ilmu silat,"

Sahut Siao-Iiong-li.

"baglan depan yang sempit dibuat latihan pukulan telapakan, dan yang lebar di belakang buat latihan pukulan kepalan, yang bundar disebelah timur buat mempelajari ilmu pedang dan bagian barat yang lancip itu buat latihan senjata rahasia."

Dengan jalan mondar-mandir di dalam kamar aneh ini, Nyo Ko menjadi heran luar biasa, sama sekali ia tidak paham kegunaannya.

"ltu intisari ilmu silat Ong Tiong-yang semuanya berada di situ,"

Tibal Siao-liong-li berkata sambil menuding ke atas.

Waktu Nyo Ko mendongak, ia lihat langit2 kamar yang terbuat dari papan batu itu ternyata penuh terukir goresan dan tanda2 rahasia yang beraneka macamnya.

Coretan itu semuanya digores dengan senjata tajam, ada yang dalam dan ada yang cetek secara tidak teratur.

Nyo Ko tidak tahu apa maksudnya.

Sementara itu Siao-liong-li telah mendekati dinding sebelah timur, ia mendorong tembok yang mendekuk setengah bundar itu, dengan pelahan sebuah batu menggeser, lalu tertampak sebuah pintu rnembentang, dengan membawa lilin Siao-liong-li ajak Nyo Ko masuk ke situ.

Kiranya di dalam sana kembali terdapat sebuah kamar batu, kamar ini ternyata mirip sekali dengan kamar yang duluan, cuma tiap2 tempatnya berlawanan, kalau yang duluan sempit di depan dan bagian belakang luas, maka kamar yang kedua ini terbalik menjadi depan luas dan belakang sempit, begitu pula bagian ,barat bundar dan ujung timur lancip.

Waktu Nyo Ko mendongak ia lihat di atas langit2an kamar itu juga penuh terukir tanda2 rahasia yang aneh.

"lni adalah rahasia ilmu kepandaian Cosu-popoh", demikian Siao-liong-li berkata padanya.

"Dahulu meski beliau menangkan kuburan ini, namun boleh dikatakan berkat tipu akal belaka, kalau soal ilmu silat sebenarnya belum bisa menandingi Ong Tiong-yang, Tetapi sesudah Cosu-popoh berdiam di dalam kuburan kuno ini, ia telah mempelajari dan menyelami ilmu silat yang ditinggalkan Ong Tiong-yang di atas langit2 kamar sebelah tadi, akhirnya beliau bahkan berhasil menciptakan tipu2 cara mematahkan ilmu silat Ong Tiong-yang, Dan tipu2 yang dia ciptakan itu semuanya telah ditulis di atas ini."

"Bagus kalau begitu, Kokoh,"

Teriak Nyo Ko girang.

"Pikir saja, sekalipun kepandaian Khu Ju-ki dan Ong Ju-it bisa lebih tinggi lagi juga tak akan melebihi Ong Tiong-yang yang menjadi guru mereka, kini kalau kau sudah mempelajari ilmu silat tinggalan Cosu-popoh ini, bukankah dengan sendirinya akan menangkan para imam Coan-cin-kau itu."

"Kata2mu memangnya tidak salah, hanya sayang tiada orang Iain yang bisa membantu aku,"

Sahut Siao-Iiong-li.

"Aku bantu kau,"

Seru Nyo Ko tiba2 dengan membusungkan dada. Diluar dugaan, Siao-liong-li sambut kata2nya itu dengan mata melotot.

"Tetapi sayang kepandaianmu belum cukup,"

Sahutnya kemudian dengan dingin. Muka Nyo Ko menjadi merah karena malu.

"llmu silat ciptaan Cosu-popoh itu disebut Giok-li-sim-keng (ilmu suci si gadis ayu), untuk melatihnya harus dilakukan dua orang berbareng dengan saling bantu membantu,"

Demikian kata Siao-liong-li lebih lanjut. Dahulu, Cosu-popoh telah melatihnya bersama dengan guruku."

Mendengar penjelasan ini, dari rasa malu tadi Nyo Ko berubah menjadi girang.

"Ha, kalau begitu, aku adalah muridmu, tentu bisa juga berlatih bersama engkau,"

Serunya cepat. Karena kata2 ini, Siao-liong-li ter-mangu2 sejenak.

"Baiklah, boleh juga kita mencobanya dahulu,"

Akhirnya ia berkata.

"Langkah pertama, lebih dulu kau harus latih ilmu silat perguruan kita sendiri langkah kedua baru kau mempelajari ilmu kepandaian Coan-cin-kau dan langkah penghabisan baru kita latih Giok-li-sim-keng yang diciptakan untuk mengalahkan ilmu silat Coan-cin-kau itu."

BegituIah, maka sejak hari itu Siao-liong-li lantas ajarkan semua ilmu kepandaian Ko-bong-pay kepada Nyo Ko, baik mengenai Kun-hoat dan Ciang-hoat (ilmu pukulan telapak tangan) maupun pakai senjata tajam dan senjata rahasia.

Selang setahun, semua ilmu kepandaian itu sudah diperoleh Nyo Ko, walaupun latihannya masih belum cukup masak, namun berkat bantuan ranjang batu pualam dingin, kemajuannya ternyata sangat pesat sekali.

ilmu silat Ko-bong-pay atau aliran kuburan kuno ini asalnya diciptakan seorang wanita, yakni kakek guru Siao-liong-Ii yang menjadi kekasih Ong Tiong-yang, sedang guru dan murid mereka tiga turunan juga wanita semua, dengan sendirinya ilmu silat yang diciptakan itu gerak-geriknya rada2 halus dan lincah sebagai kaum wanita.

Karena sifat Nyo Ko memang suka bergerak, maka semua tipu silat Ko-bong-pay ini menjadi sangat cocok dengan tabiatnya malah.

Sementara usia Siao-liong-Ii makin bertambah, makin lama wajahnya ternyata semakin cantik, Tahun ini umur Nyo Ko pun menginjak enam belas, anak ini ternyata mempunyai perawakan tinggi, kalau berdiri sudah setinggi gurunya, walaupun demikian, Siao-liong-Ii masih tetap anggap Nyo Ko sebagai bocah saja, sama sekali mereka tidak pusingkan soal perbedaan laki-perempuan.

Di lain pihak, semakin lama Nyo Ko tinggal bersama Suhunya semakin menaruh hormat juga kepadanya, selama dua tahun itu, ternyata belum pernah dia membantah sesuatu perintah sang guru, Bocah ini ternyata pandai menuruti kemauan orang, baru saja Siao-liong-li inginkan Nyo Ko melakukan sesuatu, belum sampai diutarakan atau Nyo Ko sudah mendahului mengerjakannya dengan baik.

Hanya saja sifat Siao-liong-li yang dingin laksana es masih tetap seperti sediakala, terhadap apa saja yang dikatakan Nyo Ko masih selalu ia sambut dengan dingin dan kadang2 menyindir sedikitpun ia tidak mengunjuk rasa kasih sayang.

Tetapi karena sudah biasa, lambat laun Nyo Ko tidak memikirkan pula sikap sang guru ini.

Pada suatu hari, berkatalah Siao-liong-li kepada Nyo Ko.

"Ko-ji, kini ilmu lo-bong-pay kita sendiri sudah kau pelajari semua, maka mulai besok bolehlah kita mulai berlatih ilmu silat Coan-cin-kau."

Karena itu, besoknya mereka lantas mendatangi kamar batu yang berbentuk aneh dengan ukiran2 aneka macam di atas langit2-an, dengan menurutkan tanda2 yang terukir ini mereka mulai berlatih.

Kiranya tanda2 ukiran itu dahulu digores oleh Ong Tiong-yang dengan meloncat ke atas dengan ujung pedang, Dan karena Lim Tiao-eng adalah bekas kekasih Ong Tiong-yang, maka ia cukup paham intisari ilmu silat orang, sesudah diselaminya mendalam, kemudian ia turunkan kepada dayang kepercayaannya dan dayang ini akhirnya mengajar kepada Siao-liong-li, dan kini Siao-Iiong-Ii mengajarkan pula rahasia silat itu kepada Nyo Ko.

Sesudah Nyo Ko berlatih beberapa hari, oleh karena dia memang sudah punya landasan yang tidak jelek, maka banyak bagian penting begitu diberi petunjuk segera dapat dia terima, maka kemajuannya mula2 sangat cepat.

Akan tetapi sesudah belasan hari, keadaan mendadak berubah lain, -be-runtun2 beberapa hari Nyo Ko ternyata tidak memperoleh kemajuan kalau tidak mau dikatakan malah mundur, semakin ia latih, semakin keliru dan nyasar.

Waktu Siao-liong-li membantu muridnya ini memecahkan kesulitan itu, namun dia juga tak tahu di mana letak gangguan itu.

Dasar Nyo Ko ingin lekas pandai, keruan ia menjadi gopoh hingga sering uring2-an sendiri.

"Tidak perlu kau uring2-an,"

Demikian kata Siao-liong-li padanya.

"soal ini sebenarnya tidak sulit, asal kita pergi tangkap seorang imam Coan-cin-kau dan paksa dia mengajarkan kunci rahasia penuntun ilmu silat mereka, bukankah lantas beres urusannya ? Nah, marilah kita pergi ke sana !"

Kata2 Siao-liong-ll telah menyadarkan Nyo Ko, tiba2 teringat olehnya dahulu Thio Ci-keng pernah ajarkan istilah2 penuntun dasar ilmu silat Coan-cin-kau itu.

Maka dengan segera ia apalkan-nya pada Siao-liong-li.

Siao-liong-li sangat memperhatikan istilah2 yang diucapkan Nyo Ko jni, dengan cermat ia menyelami intisari istilah2 itu.

"Ya, memang tepat itulah yang kita inginkan,"

Katanya kemudian setelah berpikir "Dahulu waktu kubelajar ilmu silat Coan-cin-kau ini dengan mendiang guruku, sesampainya setengah jalan tiba2 sukar untuk maju setindak lagi, saat mana Cosu-popoh sudah meninggal maka tiada orang yang bisa kami mintai petunjuk2, walaupun kami tahu juga soalnya karena belum mengetahui rahasia penuntun dasarnya, tetapi kami tak berdaya pula, justru mendiang guruku orangnya sangat alim, pernah kukatakan hendak pergi mencuri dengar rahasia ilmu Coan-cin-kau itu, tetapi aku telah didamperat habis2-an olehnya, Syukurlah kini kau sendiri malah sudah mengetahuinya, sudah tentu hal ini sangat baik sekali"

Kemudian satu persatu Nyo Ko memberitahukan pula yang lebih jelas dari apa yang pernah dia pelajari dari Thio Ci-keng.

Tempo hari apa yang diajarkan Thio Ci-keng kepada Nyo Ko itu memang betul2 adalah istilah2 pelajaran dasar Lwekang Coan cin kau yang paling tinggi, soalnya karena sengaja Nyo Ko tidak diberi pelajaran cara bagaimana mempraktekkannya, Kini setelah diselami mendalam oleh Siao-Iiong-li, tentu saja segera menjadi terang dan semua kesulitan dapat ditembus, ditambah lagi Lwekang yang dahulu Tjin Lam-khim ajarkan pada Nyo Ko memang juga Lwekang asli ajaran Ma Giok dari Coan-cin-kau, dengan digabungnya dua dasar ini, keruan tidak antara beberapa bulan Siao-liong-li dan Nyo Ko sudah dapat mempelajari seluruh intisari ilmu silat yang ditinggalkan Ong Tiong-yang di atas langit2 kamar batu itu.

Pada suatu hari, setelah kedua orang selesai berlatih ilmu pedang di dalam kamar batu itu, dengan menghela napas Siao-liong-li berkata.

"SemuIa aku pandang rendah ilmu silat Coan-cin-kau, kuanggap apa yang disebut sebagai ilmu silat asli dunia persilatan toh tidak lebih hanya sekian saja, tapi hari ini barulah aku mengerti bahwa ilmu silat mereka sesungguhnya terlalu dalam untuk dimengerti dan tidak ada habis2nya untuk dipelajari Ko-ji, meski sekarang kau sudah paham semua rahasia ilmu ini, tetapi untuk bisa mencapai tingkatan yang sempurna hingga dapat dipergunakan sesuka hati, untuk ini entah harus sampai tahun kapan ?"

Akan tetapi Nyo Ko se-akan2 anak banteng yang baru lahir dan tidak kenal apa artinya takut, segera dia menjawab.

"Ya, sungguhpun ilmu silat Coan-cin-kau sangat bagus, tetapi ilmu yang ditinggalkan Cosu-popoh itu dengan sendirinya ada jalannya untuk menangkan dia."

"Ya, maka mulai besok kita harus latih Giok-li-sim-keng,"

Ujar Siao-liong-li.

Hari berikutnya, lalu Siao-liong-li ajak Nyo Ko ke dalam kamar batu yang kedua, mereka melatih diri pula dengan menuruti petunjuk2 ukiran yang terdapat di atas kamar itu, sekali ini mereka sudah lebih gampang melatihnya daripada yang pertama, sebab ilmu silat yang diciptakan Lim Tiao-eng untuk mematahkan ilmu silat Ong Tiong-yang ini berinti ilmu silatnya sendiri, hanya di mana dipandang perlu telah ditambah hingga lebih bagus dan lebih sempurna.

Maka dalam beberapa bulan saja, mereka berdua sudah berhasil melatih Gwa-kang (bagian luar) dari "Giok-li-sim-keng"

Dengan baik, waktu latihan, kalau Nyo Ko menggunakan Kiam-hoat dari "

Coan-cin-kau, maka Siao-liong-li lantas pakai Giok-li-kiam-hoat untuk mematahkannya, sebaliknya, kalau Siao-liong-li memainkan Coan-cin-kiam-hoat, maka Nyo Ko yang mengeluarkan kepandaian Giok-li-kiam-hoat untuk mengatasinya.

Nyata, Giok-li-kiam-hoat (ilmu pedang gadis ayu) itu sengaja diciptakan untuk mengalahkan Coan-cin-kiam-hoat, setiap gerakan dan setiap tipu serangan Coan-cin-kiam-hoat selalu dapat dipatahkan dengan tepat sekali hingga tak mampu berkutik, walaupun bagaimana Coan-cin-kiam-hoat bisa berubah dan berganti gerakan, namun selalu tak dapat melepaskan diri dari kurungan lingkaran Giok-li-kiam-hoat.

Karena Gwakang yang dilatih mereka sudah jadi, langkah selanjutnya lantas berlatih Lwekang (ilmu bagian dalam).

Sebenarnya Lwekang Coan-cin-kau sangat luas dan bagus sekali kalau ingin menangkannya dengan menciptakan Lwekang baru sesungguhnya bukan suatu soal gampang.

Akan tetapi Lim Tiao-eng ternyata pintar luar biasa, nyata ia bisa mencari jalan lain untuk menembus kesukaran itu, ia telah kumpulkan ilmu silat berbagai aliran lainnya untuk mengungkulinya, Meski ilmu silat yang dia ciptakan ini sulit sekali untuk dilatih, tapi bila sampai berhasil mempelajari, maka dengan mudah menangkan lwekang Coan-cin-kau.

Untuk mempelajarinya, Siao-Iiong-li mendongak memahami lukisan dan tulisan penjelasan yang terukir di atas langit2 kamar batu itu, lama sekali ia berdiam diri tanpa buka suara, dengan tekun ia membacanya sampai beberapa hari, tetapi akhirnya.

"Apa ilmu kepandaian ini sangat sukar dilatih, Kokoh ?"

Tanya Nyo Ko demi nampak sikap sang guru.

"Ya,"

Sahut Siao-liong-li.

"dahulu pernah kudengar dari Suhu bahwa Giok-li-sim-keng ini harus dilatih dua orang bersama, semula kukira bisa melatihnya bersama kau, siapa tahu ternyata tak dapat."

Tentu saja Nyo Ko menjadi cemas oleh keterangan ini.

"Sebab apa, Kokoh ?"

Tanyanya cepat.

"Jika kau wanita, itulah soal lain lagi,"

Sahut Siao-liong-li.

"Apa bedanya untuk itu ?"

Kata Nyo Ko.

"Laki2 atau perempuan yang melatihnya, bukankah sama saja ?"

"Tidak, Iain", sahut Siao-liong-li sambil menggeleng kepala.

"Tidakkah kau lihat, bagaimana corak gambar yang terukir di atas itu ?"

Waktu Nyo Ko angkat kepalanya dan memandang dengan penuh perhatian menurut arah yang ditunjuk Siao-liong-li, maka tertampaklah olehnya dipojok langit2 kamar itu ada ukiran gambar bentuk manusia, rupanya seperti potongan kaum wanita, tetapi gambar itu semuanya telanjang bulat tanpa terukir memakai baju selembar-pun, Gambar2 wanita itu seluruhnya ada beberapa puluh, gerak-gerik dan gayanya berlainan semua, semuanya juga dalam keadaan telanjang.

Melihat gambar2 itu, segera pikiran Nyo Ko tergerak, iapun segera mengerti akan maksudnya.

"O, jadi waktu berlatih Lwekang Giok-li-sim-keng ini orang tidak boleh berpakaian, begitukah, Kokoh ?"

Katanya kemudian.

"Ya, betul,"

Sahut Siao-liong-li.

"Di dalam kitab pelajaran ini telah dikatakan dengan jelas bahwa waktu berlatih Lwekang seluruh badan orang yang berlatih menjadi panas dan beruap, maka harus dipilih suatu tempat terbuka yang luas dan sepi tanpa orang lain, dengan begitu baru bisa berlatih dengan melepas baju supaya hawa panas badan bisa buyar keluar tanpa tertahan di dalam. Kalau tidak, tentu hawa panas itu akan tertimbun di dalam badan dan sedikitnya akan bikin orang sakit berat atau mungkin jiwanya akan melayang pula."

"Jika begitu, marilah kita melatihnya tanpa pakai baju,"

Sahut Nyo Ko tanpa pikir. Muka Siao-liong-li menjadi merah oleh kata2 ini.

"Tetapi akhirnya kedua orang yang latihan harus membantu satu sama lain dengan hawa murni badannya masing2, kau dan aku berlainan jenis, jika harus berhadapan tanpa pakaian, lalu apa jadinya ?"

Sahut Siao-liong-li.

Tatkala itu umur Nyo Ko sudah menginjak enambelas, walaupun perawakannya tinggi besar, urusan 1aki2 dan perempuan dan soal cinta segala sama sekali ia tidak paham, sedikit belum tahu.

Hanya lapat2 ia merasa sang guru ini cantik luar biasa, setiap kali melihat dia dengan sendirinya timbul semacam rasa suka dalam batinnya, ia pikir kalau berhadapan dengan melepas pakaian, agaknya memang tidak baik, tetapi sebab apa tidak baik, inilah dia sendiri tidak dapat menjawab.

Sebaliknya Siao-liong-li sejak kecil sudah hidup di dalam kuburan kuno ini, terhadap segala urusan keduniawian boleh dikatakan lebih tak mengerti daripada Nyo Ko.

Tahun ini ia sudah berusia 22 tahun, tetapi karena giat berlatih dan tekun belajar, maka segala cita rasa manusia umumnya ternyata sudah terlatih hingga lenyap sama sekali Meski guru dan murid berdua, mereka boleh dikatakan merupakan pasangan gadis cantik dan pemuda tampan, namun siang malam berhadapan, yang satu dingin dan yang lain jujur polos, sedikitpun mereka tak pernah berbuat sesuatu yang melanggar susila.

Kini meski berbicara tentang telanjang bulat untuk melatih silat, merekapun merasakan itu hanya suatu soal sulit saja dan sama sekali tiada pikiran lain yang menyimpang.

"Sudahlah, asal kita berlatih lebih masak lwekang ini, kiranya sudah cukup juga untuk mengalahkan para imam kolot Coan-cin-kau itu. Tentang Lwekang yang sulit ini tak perlu kita mempelajarinya,"

Ujar Siao-liong-li.

Karena pendapat gurunya ini, Nyo Ko mengiakan juga, urusan inipun tidak dia pikirkan lagi.

Hari itu, setelah Nyo Ko latihan, ia keluar untuk berburu sebangsa kijang dan kelinci buat rangsum, setelah dapat seekor menjangan kecil kemudian ia meng-uber2 lagi seekor kelinci, siapa tahu kelinci ini ternyata licin luar biasa, binatang ini lari ke sini dan loncat ke sana, meski Ginkang atau ilmu entengkan tubuh Nyo Ko kini sudah hebat, namun seketika ternyata tak mampu menyandaknya.

Karena uber2an ini, hati kanak2 Nyo Ko menjadi timbul, ia tak ingin melukai kelinci itu dengan Am-gi atau senjata rahasia, pula ia tak mau menangkapnya dengan paksa pakai Kim-na-jiu-hoat (ilmu menawan dan menangkap), tapi ia malah berlomba Ginkang dengan binatang kecil itu, ia ingin bikin kelinci itu kehabisan tenaga dan akhirnya berhenti tak sanggup lari lagi.

BegituIah, maka satu manusia dan satu kelinci terus udak2an dan makin lama semakin jauh hingga melintasi sebuah lereng bukit, kelinci itu tiba2 memutar beberapa kali lalu menyelusup masuk semak2 bunga merah yang tumbuh sangat lebat di sana.

Semak2 bunga merah itu terbentang seluas beberapa tombak jauhnya dan tumbuh lebat dan rapat sekali, baunya pun wangi semerbak, ketika Nyo Ko kemudian memutar lewat semak2 bunga ini, nyata kelinci itu sudah menghilang tanpa bekas Iagi.

Sebaliknya Nyo Ko melihat semak2 bunga ini bagaikan sebuah pintu angin raksasa saja yang membentang Iebar, bunga2nya tumbuh merah dengan tangkai segar menghijau, sungguh indah sekali, begitu lebat tumbuhnya bunga2 itu hingga mirip sebuah panggung alam.

Sesaat itu pikiran Nyo Ko jadi tergerak, lekas2 ia kembali dan mengajak Siao-liong-li datang lagi buat melihat semak2 bunga itu.

"Aku tak suka bunga, jika kau suka, bolehlah kau memain sendiri di sini,"

Demikian dengan dingin Siao-liong-li berkata.

"Bukan itu maksudku, Kokoh,"

Sahut Nyo Ko menjelaskan keinginannya,"

Tempat ini justru adalah suatu tempat bagus untuk kita gunakan, tapi siapapun tak bisa melihatnya, Di waktu kau berlatih aku menjaga engkau, kalau aku yang berlatih, engkau yang melindungi aku, bukankah itu sangat bagus ?

Kiranya diwaktu berlatih Lwekang yang paling hebat, orang harus tekun dengan memusatkan segala pikirannya, terhadap segala kejadian di luar tidak boleh memandang dan tidak boleh melihat, jika ada serangan dari pihak luar, sekalipun tempat yang tidak berarti juga sukar menangkisnya dan pasti akan celaka dan gagal semua ilmu yang dilatihnya.

Begitu lihay akibatnya, maka perlu ada orang lain yang menjaganya di samping.

Oleh karena itulah, Siao-Iiong-li merasa apa yang dikemukakan Nyo Ko tadi masuk di akal juga, Segera ia panjat ke atas satu pohon dan memandang sekeliling, ia lihat semua penjuru sunyi senyap belaka, yang terdengar hanya suara mata air yang gemercik dan berkicaunya burung, tetapi bayangan manusia satupun tidak kelihatan, nyata tempat ini memang satu tempat yang sangat bagus untuk berlatih ilmu.

"Bagus sekali tempat ini, beruntung kau bisa mendapatkannya, baiklah malam nanti kita datang ke sini mulai berlatih,"

Demikian katanya kemudian.

Tentang penuntun dasar Giok-li-sim-keng itu memangnya Siao-liong-li sudah apal sekali, maka tanpa susah ia ajarkan kepada Nyo Ko.

Malamnya antara pukul sebelas mereka lantas mendatangi semak2 bunga yang sangat lebat itu.

Di tengah malam sunyi, bau harum bunga terlebih terasa, Mereka berdua mengambil tempat sendiri2 di dalam semak2 bunga itu, mereka lepas baju dan berlatih Giok-li-sim-keng.

Nyo Ko ulur tangan kanannya melalui semak2 dan saling menempel dengan telapak tangan Siao-liong-li, dengan demikian bila salah seorang mengalami kesulitan dalam latihan itu, segera pihak yang lain akan terasa dan segera kumpul tenaga buat membantunya.

Sejak itulah malam hari mereka anggap sebagai siang hari dan tekun berlatih, Malam hari latihan di semak2 bunga dan siangnya mengaso di dalam kuburan kuno.

Tatkala itu justru musim panas, tentu saja menjadi lebih segar dan nyaman menggunakan malam hari untuk berlatih, maka dengan cepat lebih dua bulan telah lewat tanpa terjadi sesuatu.

Giok-li-sim-keng itu seluruhnya terbagi dalam sembilan bagian, malam itu, Siao-liong-li sudah melatihnya sampai bagian ketujuh, Menurut kitab Giok-Ii-sim-keng itu, bagian hitungan yang ganjil waktu menjalankan tenaga adalah "lm-cin"

Atau perempuan yang aktip, sebaliknya bila jatuh angka genap, yang menjalankan tenaga adalah "Yang-dwe"

Atau laki2 yang pasip, Waktu itu Siao-liong-li sudah sampai bagian ketujuh, sedang Nyo Ko sampai bagian keenam.

Dalam pada itu, dengan di-aling2i semak bunga, mereka berdua sedang tekun menjalankan tenaga dalam hingga seluruh badan mereka panas beruap, bunga2 yang mekar itu se-akan2 ter-garang, keruan harumnya semakin semerbak.

Sementara itu rembulan kelihatan sudah berada di tengah cakrawala, lewat setengah jam lagi latihan kedua orang bagian ketujuh dan keenam itu dengan segera akan selesai, pada saat itu juga se-konyong2 dari belakang sana terdengar suara kumandang orang berjalan, terdengar pula ada dua orang sedang bicara.

Apa yang dilatih Nyo Ko waktu itu adalah "Yang-dwe"

Atau bagian yang pasip, maka se-waktu2 ia boleh berhenti latihannya, sebaliknya Siao-liong-li tidak bisa demikian karena yang dilatihnya waktu itu adalah aktip, bila terdapat gangguan, maka akan timbul bahaya besar.

Karena waktu itu Siao-liong-li sedang berlatih sampai titik yang penting, maka terhadap suara tindakan dan bicara orang sama sekali ia tidak mendengarkan, sebaliknya Nyo Ko telah mendengar dengan jelas, dalam hati ia heran sekali, Iekas2 ia atur pernapasannya dan berhentikan Iatihannya.

Sementara itu ia dengar kedua orang yang bercakap itu semakin mendekat, suaranya kedengaran sudah dikenalnya, waktu Nyo Ko pasang telinga lebih cermat, kiranya kedua orang itu adalah gurunya.

Thio Ci-keng dan In Ci-peng adanya.

Suara pembicaraan kedua orang itu semakin menjadi keras, nyata sekali mereka sedang bertengkar.

"ln-sute", demikian terdengar Thio Ci-keng berkata.

"meski kau mungkir lagi juga percuma. Biarlah kulaporkan Khu-supek dan terserah dia untuk memeriksanya sendiri."

"Dengan sengaja kau mendesak diriku, apakah tujuanmu sebenarnya ?"

Terdengar In Ci-peng menjawab dengan gusar.

"Apa kau kira aku tak tahu, bukankah karena kau ingin menjadi murid pertama dari angkatan ketiga? Dengan begitu ke Mk kau "

Bisa menjadi ciangbunjin kita ?"

"Kau sendiri tak patuh pada peraturan suci ini, telah melanggar larangan besar agama kita, mana bisa kau menjadi murid pertama lagi dari angkatan ketiga kita ?"

Sahut Thio Ci-keng dengan tertawa dingin.

"Larangan besar apa yang kulanggar ?"

Terdengar In Ci-peng mendebat.

"Larangan ke-4 Coan-cin-kau kita, yaitu.

"berjinah !"

Bentak Ci-keng dengan suara keras. Nyo Ko coba mengintip dari tempat sembunyinya, ia lihat kedua iniam itu berdiri berhadapan muka In Ci-peng tertampak pucat.

"Berjinah apa ?"

Demikian terdengar Ci-peng menjawab dengan suara berat sambil mengucapkan kata2 ini tangannya meraba pedangnya.

"Sejak kau melihat itu Siao-liong-li dari Hoat-su-jin-bong, bukankah setiap hari kau selalu tak bersemangat siang-malam kau selalu mengenangkan wajahnya, dalam hatimu entah sudah beratus kali atau mungkin ribuan kali ingin sekali memeluk Siao-liong-li untuk dicumbu dan dirayu,"

Demikian sahut Ci-keng.

"Justru agama kita mengutamakan latihan batin, kini hatimu menyeleweng berpikirnya, apa itu bukan melanggar pantangan berjinah ?"

Terhadap Siao-liong-li yang menjadi gurunya boleh dikatakan Nyo Ko menghormat tiada taranya, ia pandang orang se-akan2 dewi kayangan saja, kini mendengar percakapan kedua imam Coan-cin-kau ini, keruan luar biasa gusar dan dendam, walaupun tidak begitu dipahami apa artinya "dicumbu dan dirayu"

Seperti apa yang dikatakan Thio Ci-keng tadi, tapi ia yakin tentu perbuatan yang busuk, Sementara ia dengar In Ci-peng telah mendebat lagi dengan suara rada2 gemetar.

"Ngaco-belo, sampai apa yang kupikirkan dalam hati kaupun mengetahuinya ?"

Demikian sahutnya.

"Hm, apa yang kau pikirkan sudah tentu aku tak tahu, tetapi waktu kau mengigau dalam tidur, apakah tidak mungkin didengar orang lain?"

Kata Ci-keng dengan mengejek "Dan bolak-balik kau menuliskan nama Siao-liong-li di atas kertas, kau robek kertasnya lalu tulis lagi, apakah perbuatan inipun tidak bisa diketahui orang lain ?"

Karena isi hatinya kena betul dikatai, seketika muka In Ci-peng menjadi lebih pucat lagi, ia bungkam dan tak bisa mendebat pula.

Dilain pihak rupanya Thio Ci-keng jadi mendapat angin, dengan ber-seri2 ia keluarkan selembar kertas putih dan dibeberkan kehadapan Ci-peng.

"lni, apa ini bukan tulisanmu ?"

Katanya.

"Nah, biarlah kita serahkan pada Ma-supek dan gurumu sendiri Khu-supek untuk mengenalinya."

Karena kata2 yang lebih mirip ancaman ini, Ci-peng tak tahan lagi, dengan cepat pedangnya dilolos terus menusuk ke ulu hati orang.

Namun dengan sedikit mengegos Ci-keng bisa hindarkan serangan itu, ia masukkan kembali kertas tadi ke dalam bajunya.

"Hm, kau ingin bunuh aku untuk menghilangkan saksi bukan ?"

Ejeknya lagi dengan tertawa dingin.

"Tetapi rasanya tidak begitu gampang."

Ci-peng tidak buka suara puIa, be-runtun2 ia menusuk tiga kali lagi secepat kilat, tapi tiap2 serangannya selalu dapat dihindarkan Ci-keng. Sampai jurus ke-empat, mendadak terdengar suara "trang"

Yang nyaring, Ci-keng telah lolos senjata juga, maka bertempurlah kedua saudara seperguruan itu dengan serunya disamping semak2 bunga dan di bawah sinar bulan yang terang.

Ci-keng dan Ci-peng sama2 tergolong murid pandai Coan-cin-kau angkatan ketiga, yang satu murid utama Ong Ju-it dan yang lain murid pertama Khu Ju-ki, ilmu silat mereka sebenarnya sama kuatnya.

Tapi In Ci-peng terus-menerus merangsak dengan mati-matian, sebaliknya Thio Ci-keng kadang2 menyelingi pula kata-kata ejekan ditengah pertarungan sengit itu dengan maksud membikin marah lawannya agar terjadi kesalahan2.

Waktu itu Nyo Ko sendiri sudah mempelajari semua Kiam-hoat dari Coan-cin-kau, maka demi menyaksikan pertarungan sengit kedua imam ini, ia lihat setiap tipu yang dikeluarkan meski banyak sekali perubahannya, namun tiap2 gerakan selalu dalam dugaannya, Karenanya ia pikir apa yang Kokoh (Siao-liong-li) ajarkan itu ternyata tidak salah.

Sementara itu kedua orang itu sudah saling labrak beberapa puluh jurus lagi, tiap2 tipu yang dilontarkan In Ci-peng semuanya adalah tipu serangan, maka ber-ulang2 Thio Ci-keng terpaksa harus menggeser langkah.

"Hm, apa yang aku bisa, kaupun bisa semua, begitu pula apa yang kau bisa, akupun sudah seluruhnya bisa, kini kau hendak membunuh aku, itulah jangan kau harap selama hidup ini,"

Demikian Ci-keng mengejek pula.

Dan memang nyata penjagaannya terlalu rapat hingga meski In Ci-peng sudah berusaha menyerangnya dari segala jurusan yang dianggapnya lemah, tapi selalu dapat dipatahkan oleh Ci-keng.

Tak lama kedua orang itu menggeser ke dekat semak2 dimana Siao-liong-li berada, keruan Nyo Ko terkejut.

"Kurangajar, jika kedua imam bangsat ini saling labrak sampai di samping Kokoh, tentu keadaan bisa runyam !"

Demikian pikirnya, Oleh karenanya ia lantas ber-siap2.

Dalam pada itu mendadak Thio Ci-keng melakukan serangan balasan, Ci-peng kena didesak mundur, ia merangsak maju tiga kali, beruntun2 Ci-peng pun mundur tiga langkah.

Diam2 Nyo Ko bergirang karena jarak mereka makin menjauh dari tempat gurunya, Diluar dugaan, mendadak In Ci-peng menyerang lagi, ia pindahkan pedang ke tangan kiri dan tangan kanan se-konyong2 memukul ke depan mengarah dada orang.

"Sekalipun kau punya tiga tangan, paling banter kau hanya pandai curi perempuan, tidak nanti kau bisa bunuh diriku,"

Dengan tertawa Thio Ci-keng menyindir lagi, Habis ini ia angkat tangannya buat menangkis.

BegituIah kembali mereka saling labrak terlebih seru dan lebih sengit daripada tadi.

Sementara Siao-Iiong-Ii masih tekun berlatih, terhadap semua kejadian di luar tetap ia tidak mau tahu dan tidak mau Iihat.

Sebaliknya Nyo Ko melihat kedua orang yang lagi saling labrak itu mendekat, dalam hati ia lantas kuatir, dan bila mereka menggeser pergi lagi, ia menjadi lega pula.

Sampai akhirnya, mendadak Ci-peng membentak dengan murka, habis ini ia merangsak maju dengan kalap, dia tidak hiraukan lagi serangan lawan, ia sendiri merangsak dengan hebat.

Nampak Ci-peng sudah nekat, diam2 Ci-keng mengeluh, ia tahu kedudukan Ci-peng memang sulit dan lebih suka ditusuk mati olehnya dari pada rahasianya yang secara diam2 mencintai gadis orang disiarkan walaupun biasanya Ci-keng tidak akur dengan Ci-peng, tetapi sebenarnya tiada maksud buat bunuh orang, karenanya, dengan perubahan Ci-peng yang menjadi nekat, seketika ia sendiri terdesak dibawah angin.

Setelah berapa jurus berlangsung pula, tiba2 Ci-peng membuka serangan lagi, pedangnya menusuk cepat berbareng tangan yang lain menghantam pula, bahkan dia tambah dengan menyapu dengan sebelah kakinya, inilah tipu serangan "sam-lian-hoan" (serangan mata-rantai tiga) yang lihay.

Untuk menghindari lekas2 Ci-keng meloncat ke atas berbareng pedangnya memotong ke bawah, Namun Ci-peng terlebih lihay lagi, se-konyong2 pedangnya ditimpukkan se-keras2nya, menyusul ini kedua tangannya dipukulkan berbareng sekaligus.

Menyaksikan beberapa kali serangan yang mendebarkan hati ini, mau-tak-mau Nyo Ko ikut berkeringat dingin, ia lihat tubuh Ci-keng waktu itu masih terapung di udara, mungkin pukulan Ci-peng yang hebat itu akan bikin tulangnya patah dan ototnya putus.

Namun Thio Ci-keng betul2 tidak malu sebagai jago utama anak murid angkatan ketiga Coan-cin-pay, dalam saat yang sangat kepepet dan luar biasa bahayanya, tiba2 ia berjumpalitan di udara terus mencelat mundur sejauh beberapa tombak, lalu dengan enteng ia turun ke bawah.

Menurunnya ini bukan soal tetapi tempat di mana ia akan tancapkan kaki justru tempat sembunyian Siao-Iiong-li, walaupun tidak persis akan menjatuhi kepala orang, namun bila sampai terjatuh ke dalam semak2 bunga itu, sedikitnya tubuh Siao-liong-li yang telanjang bulat sedang berlatih ilmu Giok-Ii-sim-keng itu pasti akan kelihatan di bawah sinar cahaya bulan.

Karena ituIah, luar biasa kaget Nyo Ko, tanpa pikir lagi segera ia meloncat ke atas, sebelah tangannya dia ulur untuk menyanggah punggung Thio Ci-keng, lalu dengan gerak tipu "Say-cu-bau-kiu" (singa melempar bola), dengan kuat dia kipatkan ke samping, maka tidak ampun lagi tubuh Thio Ci-peng yang besar terlempar sejauh lebih tiga tombak.

Tetapi waktu turunnya kembali, Nyo Ko sendiri tanpa sengaja sebelah kakinya menginjak pada setangkai bunga, karena tergoyangnya tangkai bunga yang sedikit mentul itulah, maka separoh tubuh Siao-liong-li bagian atas sekilas berkelebat juga dibawah sinar bulan yang terang.

Meski tangkai bunga itu dengan cepat dapat merapat kembali, namun karena itu Siao-liong-li jadi terkaget, seketika keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, sesaat pernapasannya jadi terganggu hingga tak bisa dihempas keluar dari perut, maka jatuhlah dia semaput.

Ketika melihat Nyo Ko mendadak unjuk diri dan sekilas pula melihat nona yang di-idam2kan siang dan malam itu tahu2 ternyata sembunyi di antara semak2 bunga itu, sesaat itu In Ci-peng jadi terkesima, ia ternganga ragu, apa yang dilihatnya itu entah sungguh2 atau khayal belaka.

Sementara itu Thio Ci-keng sudah sempat tancapkan kakinya ke bawah, sebagai seorang ahli silat, dengan sendirinya pandangan matanya sangat tajam sekali, meski dalam jarak sejauh beberapa tombak, namun sekilas ia sudah dapat melihat juga wajah Siao-liong-li.

"Bagus, bagus ! Kiranya dia sedang main gila dengan laki2 di sini,"

Demikian segera ia berteriak. Keruan Nyo Ko menjadi gusar.

"Kalian imam busuk ini jangan coba lari, se-kembaliku nanti kubikin perhitungan dengan kalian,"

Dengan suara geram segera ia membentak. Berbareng itu cepat ia samber celananya sendiri dan dipakai, lalu ia jemput juga pakaian Siao-liong-li dengan maksud hendak menyerahkan ke-padanya.

"lni pakailah dulu, Kokoh !"

Serunya-sambil mengangsurkan pakaian Siao-liong-li itu.

Akan tetapi ditunggu-tunggu masih tidak terdengar suara jawaban, juga orang tidak angsur-kan tangan buat menerima baju itu, waktu ia berpaling, diantara semak2 yang remang2 itu ia lihat Siao-liong-li sudah menggeletak roboh.

Tiba2 teringat olehnya Siao-liong-li pernah pesan wanti2 bahwa diwaktu latihan harus menjaga diri sepenuh tenaganya, sekalipun hanya ditubruk atau diterjang seekor kelinci saja pasti akan mengakibatkan malapetaka.

Kini dia terkaget oleh peristiwa tadi, tentu tidak kecil bahaya yang menimpa gurunya ini.

Keruan Nyo Ko gugup dan kuatir, lekas2 ia jereng baju orang dan dike-muIkan pada badan Siao-liong-li.

Waktu Nyo Ko meraba jidatnya, ia merasa dingin sekali seperti es, maka lekas2 ia samber pula bajunya sendiri dan bungkus rapat seluruh tubuh Siao-liong-li dan kemudian dipondongnya.

"Kau tak apa2 bukan, Kokoh ?"

Demikian ia bertanya dengan kuatir. Terdengarlah suara sahutan Siao-liong-li yang sangat lemah, lalu nona ini tidak membuka suara lagi. Namun demikian, sedikit lega juga hati Nyo Ko.

"Marilah kita pulang dulu, Kokoh,"

Kata Nyo Ko pula.

"Nanti kudatang lagi buat bunuh kedua imam bangsat ini."

Namun seluruh badan Siao-liong-li ternyata lemas tak bertenaga sedikitpun, ia hanya meggelendot dalam pelukan Nyo Ko, Maka berjalanlah Nyo Ko dengan langkah lebar melalui samping kedua imam Coan-cin-kau itu.

Ternyata In Ci-peng masih terpesona dengan berdiri menjublek di tempatnya, sebaliknya Thio Ci-keng lantas tertawa ter-bahak2.

"Hahaha, In-sute, jantung hatimu itu telanjang bulat sedang melakukan perbuatan yang tidak tahu malu dengan orang lain di sini, daripada kau hendak bunuh aku, tidakkah lebih baik kau bunuh saja dia (maksudnya Nyo Ko) !"

Demikian ia berolok-olok. Namun In Ci-peng anggap tidak mendengar ia tidak gubris dan tetap bungkam. Mendengar kata2

"perbuatan yang tidak tahu malu"

Yang diucapkan Thio Ci-keng tadi, meski Nyo Ko masih hijau pelonco dan tidak paham apa maksud orang sebenarnya, namun ia yakin pasti kata2 caci-maki yang sangat keji.

Maka ia naik darah juga, dalam gusarnya ia letakkan Siao-liong-li tanah, ia biarkan gurunya ini bersandar pada satu pohon dan betulkan bajunya yang membungkus tubuhnya, lalu dengan menjemput setangkai kayu segera ia dekati Ci-keng.

"Kau membacot apa tadi ?"

Damperatnya segera sambil menuding dengan kayunya.

Semula sebenarnya Ci-keng tidak tahu bahwa laki2 yang berada bersama dengan Siao-liong-li itu ialah Nyo Ko, sebab sudah lewat dua tahun, tubuh Nyo Ko sudah tumbuh menjadi jejaka cakap, kini sesudah Nyo Ko bersuara untuk kedua kalinya, pula mukanya menghadap sinar bulan, maka tertampak jelas olehnya bahwa orang ini kiranya adalah muridnya sendiri.

Tadi waktu dirinya sedang terapung di udara malah kena dibanting pergi olehnya, keruan ia menjadi malu tercampur gusar.

"Ha, Nyo Ko, kiranya kau si binatang cilik ini!"

Segera ia membentak memaki.

"Hm, kau mencaci maki aku tidak mengapa, tapi kenapa kau memaki juga aku punya Kokoh ?"

Jawab Nyo Ko. Namun kembali Ci-keng bergelak tertawa.

"Haha, orang bilang Ko-bong-pay turun-temurun hanya kepada wanita dan tidak menurun kepada pria, katanya tiap2 murid suci bersih tetap perawan, siapa tahu secara diam2 berbuat begini kotor dan rendah, mengeram anak 1aki2 dan melakukan perbuatan terkutuk secara blak2an di tempat terbuka seperti ini!"

Demikian ia ber-olok-olok dan memfitnah pula.

Belum lagi Nyo Ko paham maksud kata-kata orang, saat itu juga Siao-Iiong-li baru siuman kem-bali, demi mendengar fitnahan kotor itu, dalam marahnya napasnya yang sudah teratur kembali itu tiba2 terasa sesak lagi di dada, ia tahu dirinya telah terluka parah dalam, Dan baru saja ia mendamperat.

"Tutup bacotmu, kami tidak..."

Mendadak darah segar menyembur dari mulutnya seperti pancuran air. Kaget sekali Nyo Ko dan In Ci-peng, keduanya memburu maju serentak.

"Kenapakah kau ?"

Tanya Ci-peng.

Lalu ia membungkuk dengan maksud hendak memeriksa keadaan Siao-liong-li.

Tapi Nyo Ko menyangka Ci-peng bermaksud jahat, tanpa pikir ia ayun tangannya terus menghantam dada orang.

Sudah tentu In Ci-peng tidak tinggal diam, ia angkat tangannya buat menangkis, Tak terduga, setiap gerak tipu serangan Coan-cin-kau boleh dikata sudah dipahami semua oleh Nyo Ko, maka begitu telapak tangannya membalik seketika tangan Ci-peng malah kena terpegang, segera Nyo Ko mendorong dan dilepaskan, kontan Ci-peng kena disengkelit pergi.

Kalau soal ilmu silat sejati sebenarnya Nyo Ko belum lebih unggul dari pada Ci-peng, cuma dahulu sewaktu Lim Tiao-eng menciptakan ilmu silatnya yang khusus buat mematahkan tipu serangan silat Coan-cin-kau, setiap gerakan dan setiap tipu melulu dipergunakan untuk melawan Coan-cin-pay.

Pula sejak ciptaannya ini berhasil selama itu belum pernah dipergunakan maka anak murid Coan-cin-kau selama itu juga belum tahu bahwa di jagat ini ternyata ada semacam kepandaian yang khusus dapat mengalahkan ilmu silat mereka.

Kini kepandaian luar biasa itu mendadak dikeluarkan Nyo Ko, sudah tentu In Ci-peng tidak mampu bertahan, walaupun ia tidak sampai jatuh terjengkang, namun tubuhnya telah terlempar sejauh beberapa tombak dan berdiri sejajar dengan Thio Ci-keng.

"Sudahlah tak perlu kau gubris mereka, Kokoh, biar aku pondong kau pulang dahulu."

Nyo Ko berkata.

"Tidak-tidak,"

Sahut Siao-liong-Ii dengan napas memburu.

"kau bunuh saja mereka, supaya... supaya mereka tak bisa siarkan di luaran bahwa... bahwa kita..."

"Baiklah,"

Kata Nyo Ko tanpa menunggu perintah lagi, Segera ia angkat tangkai kayunya tadi, sekali bergerak, segera ia tutulkan ke dada Thio Ci-keng.

Sudah tentu Ci-keng tidak pandang sebelah mata pada Nyo Ko, pedangnya bergerak, segera ia bermaksud memotong tangkai kayu orang.

Tak terduga Kiam-hoat Ko-bong-pay yang dimainkan Nyo Ko ini justru merupakan lawan keras yang tiada bandingannya dari Coan-cin-kiam-hoat, begitu Nyo Ko sedikit sendal ujung kayunya, se-konyong2 tangkai kayu itu seperti bisa melengkung dan tahu2 menerobos lewat terus menutul Hiat-to pergelangan tangan Ci-keng.

Begitu cepat serangan ini hingga tiba2 Ci-keng merasakan tangannya kesemutan, diam2 ia mengeluh Dalam pada itu, serangan susulan Nyo Ko sudah dilontarkan lagi, sekali ini telapak tangan kirinya hendak menempeleng pipinya.

Gerak tempelengan ini caranya ternyata sangat aneh, yakni tahu2 datang dari jurusan yang tak ter-sangka2.

jika Ci-keng ingin pertahankan pedangnya, maka dia harus terima ditempeleng mentah2, sebaliknya kalau mau berkelit, maka pedangnya tidak boleh tidak harus terlepas dari tangan.

Namun ilmu silat Ci-keng sudah terlatih cukup sempurna, meski berada dalam kedudukan berbahaya, sedikitpun ia tidak jadi bingung, ia lepas tangan buang pedang, berbareng kepala menunduk menghindarkan pukulan, bahkan menyusul tangan kirinya terus diulur maju, dalam sekejap ia bermaksud merebut kembali pedangnya yang dia lepaskan itu.

Tetapi lagi2 tak terduga bahwa beberapa puluh tahun yang lalu Lim Tiao-eng yang menciptakan ilmu silat yang lihay itu sudah memperhitungkan lebih dulu akan adanya perubahan gerakan ini, terhadap segala kemungkinan perubahan tipu lihay dari Coan-cin-pay, semuanya sudah dia atur cara2 untuk melanyaninya.

Dengan tipu serangan balasan buat merebut kembali pedangnya, Thio Ci-keng mengira bisa merubah kalah menjadi menang.

Tapi sama sekali tak diduganya bahwa Nyo Ko dan Siao-liong-Ii justru sudah apal dengan cara2 untuk mematahkan tipunya ini, hanya melihat tangannya bergerak segera Nyo Ko tahu ke mana Ci-keng hendak mengarah.

Maka segera ia mendahului, dengan pedang yang dapat rebut dari Ci-keng itu ia menabas tangan lawan.

Karuan saja tidak kepalang kaget Ci-keng, lekas2 ia tarik kembali tangannya.

Walaupun demikian, namun sudah terlambat juga, tahu2 ujung pedang Nyo Ko telah menempel di dadanya.

"Rebah !"

Bentak Nyo Ko sambil kaki menjegal.

Karena tempat berbahaya terancam, Thio Ci-keng jadi tak bisa berkutik, apalagi ditambahi pula dengan terjegal kakinya, tanpa ampun lagi ia jatuh terlentang.

Dengan segera pula Nyo Ko angkat pedangnya terus menusuk ke perut orang.

Diluar dugaan, mendadak dari belakang terdengar suara samberan angin, nyata ada senjata telah menusuk punggungnya.

"Berani kau bunuh guru sendiri ?"

Terdengar suara bentakan keras In Ci-peng.

Serangannya ini mengarah tempat yang harus dihindari apabila Nyo Ko tetap meneruskan tusukannya hingga Ci-keng dibinasakan maka ia sendiripun akan tertembus oleh pedang In Ci-peng.

Karena itu, tanpa pikir Nyo Ko putar kembali pedangnya buat menangkis, maka terdengarlah suara "trang"

Yang nyaring, kedua pedang telah saling bentur.

Nampak balikan senjata orang begitu cepat lagi jitu, mau-tak-mau In Ci-peng memuji juga di dalam hati sementara itu mendadak terasakan pula pedangnya sendiri telah kena ditarik pergi seperti melengket dengan senjata orang, dalam kagetnya lekas2 Ci-peng kumpulkan tenaga dalamnya untuk menarik kembali sekuatnya.

Tenaga Ci-peng dengan sendirinya lebih kuat daripada Nyo Ko, maka dengan segera pedang Nyo Ko kena ditarik ke jurusan Iain, Di luar dugaan, justru hal ini sengaja dilakukan Nyo Ko untuk memancingnya, sebab begitu orang menarik mendadak ia malah lepaskan senjatanya sendiri menyusul kedua telapak tangannya dipukulkan berbareng ke dada orang, sedang batang pedangnya juga mental ke depan, dengan demikian serangannya sekaligus datang dari tiga jurusan, yakni kedua telapak tangan dan satu pedang.

Dalam keadaan demikian, lebih tinggi lagi ilmu silat In Ci-peng juga sukar hendak menangkis tipu serangan yang aneh luar biasa ini.

Dibawah ancaman elmaut ini, terpaksalah In Ci-peng melepaskan senjatanya sendiri dan tekuk tangannya, dengan tangan melintang di dada lekas2 ia paksakan diri buat menangkis serangan orang yang hebat tadi, tapi karena tangannya ter-tekuk terlalu rapet hingga sukar mengeluarkan tenaga besar, syukur latihan Nyo Ko juga belum mendalam, maka kedua tulang tangannya tidak sampai dipatahkan, walaupun demikian, dadanya juga terasa sakit sekali karena getaran pukulan itu dan kedua lengannya pegal linu, cepat ia lompat mundur beberapa tindak, dengan mengatur pernapasannya ia coba lindungi Hiat-to penting di dadanya itu.

Sementara itu, demi kedua pedang lawan terebut semua olehnya, segera Nyo Ko melakukan rangsakan pula.

Hanya beberapa gebrakan saja, Ci-keng dan Ci-peng telah dibikin kalang kabut oleh seorang pemuda "anak kemarin", mereka terperanjat lagi gusar, mereka tak berani ayal lagi.

Segera mereka berdiri sejajar dan mengeluarkan ilmu menjaga diri saja dan tidak menyerang, tiap2 serangan lawan selalu dipatahkan, dengan demikian supaya mereka menyelami sampai dimana kelihayan musuh, Dengan perubahan siasat ini, kini Nyo Ko tak bisa se-mau2nya lagi seperti tadi, sekalipun ia bersenjata, namun kedua lawannya bertahan dengan rapat, bagaimanapun ia menyerang tetap tak sanggup menembus pertahanan mereka.

Sungguhpun Kiam-hoat Ko-bong-pay diciptakan sebagai penunduk ilmu pedang Coan-cin-kau, tetapi kesatu karena Ci-keng dan Ci-peng jauh lebih ulet dari pada Nyo Ko, kedua, mereka bertahan bersama, ketiga, mereka hanya menjaga diri saja dan tidak balas menyerang, maka akhirnya Nyo Ko berbalik tak berdaya.

Meski kedua pedangnya masih me-layang2 kian kemari, tapi lambat laun ia sendiri malah terdesak di bawah angin, apalagi tenaga pukulan Thio Ci-keng teriak berat dan kuat, pelahan senjata Nyo Ko malah kena tertekan ke bawah.

Dalam pada itu Ci-peng sudah bisa menenangkan dirinya diam2 ia pikir apa orang akan berkata bila mengetahui dua orang tua mengerurbut seorang anak kecil ?

Kini tampaknya pihak dirinya sudah dalam kedudukan tak terkalahkan pula hatinya sesungguhnya sangat menguatirkan keadaan Siao-liong-li, Maka tiba2 ia membentak "Nyo Ko, lekas kau bawa pulang Kokoh-mu saja, untuk apa kau masih terus membabi-buta berkelahi dengan kami ?"

"Kokoh benci cara kalian mengoceh tak keruan dan suruh aku membunuh kalian,"

Jawab Nyo Ko. Mendadak In Ci-peng menghantam sehingga pedang kiri Nyo Ko terguncang ke samping, berbareng Ci-peng melompat mundur tiga tindak lagi berseru .

"Bethenti dulu l"

"Apa kau ingin kabur ?"

Kata Nyo Ko.

"Nyo Ko,"

Jengek In Ci-peng.

"kau ingin membunuh kami, memangnya kau mampu ? Cuma untuk membuat lega hati Kokohmu, biarlah aku berjanji bahwa kejadian hari ini pasti takkan ku siarkan, jika sampai kusiarkan sepatah saja segera kubunuh diri, kalau mungkir janji biarlah serupa jari ini."

Sampai di sini mendadak ia menyerobot maju dan merampas sebuah pedang Nyo Ko terus menabas kutung dua jari tangan kiri sendiri.

Beberapa gerakan In Ci-peng itu dilakukan dengan cepat luar biasa, sedikitpun Nyo Ko tidak menduga dan tidak berjaga, seketika ia menjadi kesima, tapi segera iapun tahu ucapan In Ci-peng itu memang timbul dari hati yang tulus, ia pikir untuk mengalahkan Ci-peng berdua memang sulit, ada lebih baik bunuh saja orang she Thio itu lebih dulu, habis itu baru kubunuh orang she In ini.

Walau usia Nyo Ko masih muda, tapi pikirannya sangat cerdik, segera ia membentak.

"Orang she In ini, apa gunanya kau mengutungi jari tanganmu, jika kau memenggal kepalamu sendiri barulah tuanmu mau percaya padamu."

Ci-peng menjawab dengan menyeringai.

"Menghendaki jiwaku, hehe, boleh juga asalkan, Kokohmu membuka suara sepatah kata saja."

"Baik !"

Kata Nyo Ko sambil melangkah maju, tapi mendadak pedangnya menusuk kebelakang mengarah dada Thio Ci-keng.

Tipu serangan ini lihay luar biasa, Saat itu Ci-keng lagi mendengarkan percakapan mereka dengan penuh perhatian, sama sekali tak menduga akan diserang secara mendadak ketika dia menyadari apa yang terjadi namun ujung pedang menempel ulu hatinya.

Di sini tertampak juga betapa hebat kepandaian Ci-keng, sebisanya dia menarik napas sehingga perutnya seakan-akan mendekuk dua-tiga senti ke dalam, berbareng sebelah kakinya terus menendang, dalam keadaan kepepet ternyata dia dapat mengubah keadaan menjadi kemenangan, pedang Nyo Ko tertendang terbang ke udara.

Namun Nyo Ko juga tidak kalah lihaynya, sebelum kaki orang tertarik mundur, cepat ia tutuk Hiat-to dengkul musuh dengan tepat Meski Ci-keng berhasil menyelamatkan jiwanya, tapi ia tidak sanggup berdiri lagi, dengan sebelah kaki ia bertekuk lutut di depan Nyo Ko.

Pada saat lain Nyo Ko sempat menangkap kembali pedang yang mencelat ke udara tadi, dengan ujung pedang itu ia tuding tenggorokan Ci-keng dan membentak.

"Aku pernah mengangkat dan menyembah padamu, sekarang kau bukan lagi guruku, lekas kau menyembah kembali padaku!"

Sungguh tidak kepalang gusar Ci-keng sehingga mukanya merah padam, Ketika Nyo Ko sedikit tekan pedangnya, ujung pedang menusuk masuk satu senti ke dalam daging lehernya dan menimbulkan sakit.

Dengan bandel Ci-keng mendamperat.

"Mau bunuh boleh bunuh, untuk apa banyak omong ?"

Baru saja Nyo Ko hendak menusukkan pedangnya lebih keras, tiba-tiba terdengar Siao-liong-li berkata.

"Ko-ji, membunuh guru sendiri tidak membawa berkah, Boleh kau suruh dia bersumpah takkan menyiarkan kejadian ini, lalu boleh boleh mengampuni dia."

Nyo Ko mematuhi ucapan Siao-Iiong-li seperti titah malaikat dewata, tanpa pikir segera ia membentak Ci-keng.

"Nah, lekas kau bersumpah!."

Dalam keadaan demikian, sungguhpun tidak kepalang rasa gusar Thio Ci-keng, namun apa da-ya, selamatkan jiwa paling perlu, Maka berkatalah dia .

"Asal aku tidak biIang2, buat apa bersumpah segala ?"

"Tidak bisa, harus bersumpah berat,"

Sahut Nyo Ko.

Mau-tak-mau Ci-keng harus menurut "Baik, kejadian ini, hanya kita berempat saja yang tahu.

jika aku sampai mengatakan pada orang kelima, biarlah badanku sial dan namaku rusak, diusir keluar perguruan dan tidak akan diampuni sesama orang Bu-lim, akhirnya mati tak teram-punkan !

Demikian sumpahnya kemudian, Nyo Ko dan Siao-liong-li sama2 belum paham seluk-beluk orang hidup, mereka mengira orang betul2 telah bersumpah berat, sebaliknya In Ci-peng menarik kesimpulan bahwa diantara sumpah itu tersembunyi akal licik, sebenarnya ia hendak peringatkan Nyo Ko, namun merasa salah juga, karena tidak baik terang2an membantu orang luar.

Sementara ia lihat Nyo Ko telah pandong Siao-liong-Ii dan dengan langkah cepat melintasi lereng bukit sana, Saking terkesimanya, meski darah segar dari luka jarinya yang kutung tadi masih mengucur tak terasakan sakit olehnya.

Di lain pihak, setelah Nyo Ko pondong Sao-liong-li kembali ke kuburan kuno mereka, ia letakkan gurunya ini di atas ranjang batu pualam dingin.

"Aku terluka parah, darimana ada kekuatan melawan hawa dingin itu ?"

Dengan menghela napas Siao-liong-Ii berkata. Nyo Ko bersuara kaget, ia menjadi kuatir, pikirnya diam2.

"Kiranya Kokoh begini berat lukanya."

Karena itu, dia lantas pondong Siao-Iiong-li ke bekas kamarnya Sun-popoh.

Tetapi baru saja Siao-Iiong-li rebah, kembali ia menyemburkan darah segar pula, tatkala itu Nyo Ko masih belum memakai bajunya, keruan seluruh dadanya penuh tersemprot darah.

Siao-liong-li coba pejamkan mata buat mengatur pernapasan dengan maksud menutup urat nadinya, siapa tahu otot darahnya yang sudah terluka itu semakin dia gunakan tenaga dalam, luka itu semakin hebat, darah segarpun menyembur terus menerus.

Sudah tentu Nyo Ko kelabakan, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, hanya air mata saja yang bercucuran.

"Asal darahku sudah habis keluar, dengan sendirinya akan berhenti, untuk apa kau berduka,"

Dengan senyum tawar Siao-liong-li coba menghibur padanya.

"Kokoh, jangan kau mati,"

Kata Nyo Ko.

"Ha, kau sendiri takut mati bukan ?"

Kata Siao-liong-li.

"Aku ?"

Tukas Nyo Ko bingung.

"Ya, sebab sebelum aku mati, sudah tentu kubunuh kau dahulu,"

Kata Siao-liong-li pula.

Apa yang dikatakan ini dua tahun yang lalu sudah pernah diucapkannya juga, sebenarnya Nyo Ko sudah lama melupakannya, tak dinyana sekarang Siao-liong-li mengulangi kata2 itu 1agi.

"Jika aku tidak bunuh kau, setelah mati cara bagaimana aku harus menemui Sun-popoh ?"

Kata Siao-liong-li demi nampak muka Nyo Ko mengunjuk heran dan kaget "Dan kau seorang diri hidup di dunia ini, siapa lagi yang akan menjaga kau ?"

Pikiran Nyo Ko sudah kusut, saking ruwetnya hingga ia tak tahu bagaimana menjawabnya.

Dalam pada itu Siao-liong-li masih terus muntahkan darah, tapi sikapnya ternyata sangat tenang, ia anggap saja bukan soal apa-apa.

Tiba2 tergerak kecerdasan Nyo Ko, ia ber-lari2 pergi mengambil semangkok madu tawon dan di-cekokan pada Siao-liong-li.

Khasiat madu tawon itu untuk menyembuhkan luka dalam ternyata sangat mujarab, selang tak lama, Siao-liong-li tidak muntah darah lagi, ia rebah di ranjang dan akhirnya terpuIas.

Melihat gurunya bisa tidur, hati Nyo Ko rada lega, ia sendiri sudah letih ditambah rasa kuatir pula, sesungguhnya diapun tak tahan lagi, maka sambil berduduk di lantai, ia bersandar pada dinding dan akhirnya ia pun tertidur.

Sampai suatu saat entah sudah lewat berapi lama, se-konyong2 Nyo Ko terjaga dari kantuknya karena terasa lehernya sendiri rada dingin, dalam kagetnya segera ia meleki matanya, ia sudah beberapa tahun tinggal di dalam kuburan kuno itu, meski dia tak dapat melihat sesuatu benda dalam kegelapan seperti siang hari seperti kepandaian Siao-liong-Ii, tapi untuk mondar-mandir di dalam kuburan yang gelap itu sudah tidak memerlukan sinar lampu lagi Demi matanya terpentang, tertampaklah olehnya Siao-liong-li duduk di pinggir ranjang, tangannya mencekal pedang dan ujung senjata ini tepat ditudingkan ketenggorokannya, maka terasa dingin.

"Kokoh !"

Teriak Nyo Ko kaget.

"Ko-ji,"

Dengan sikap tawar Siao-liong-li berkata padanya.

"lukaku ini terang tak akan bisa baik, maka kini juga kubunuh kau, marilah kita pergi bersama untuk menemui Sun-popoh!"

Sungguh bukan buatan kejut Nyo Ko, ia berteriak lagi memanggil.

"Kokoh!"

"Dalam hati kau sangat ketakutan, bukan ?"

Siao-liong-li berkata lagi "jangan takut, hanya sekali saja sudah cukup, cepat sekali."

Tiba2 Nyo Ko lihat mata Siao-liong-li memancarkan sinar yang aneh, ia tahu dengan segera orang pasti akan turun tangan, dalam saat demikian ini, keinginan buat pertahankan hidup menjadi berkobar, iapun tidak hiraukan Iain2 lagi, dengan sekali jatuhkan diri kesamping, kakinya berbareng melayang hendak menendang senjata yang dipegang Siao-liong-Ii.

Siapa tahu meski luka Siao-liong-li susah disembuhkan namun gerak tangannya masih gesit dan cepat luar biasa, begitu tubuhnya miring sedikit dapatlah ia hindarkan tendangan orang dan kembali ujung pedangnya menuding di tenggorokan Nyo Ko.

Beberapa kali lagi Nyo Ko ganti ti-punya buat meloloskan diri, tapi setiap gerak tipunya semuanya diperoleh dari petunjuk2 Siao-liong-li sendiri sudah tentu ke mana ia hendak pergi selalu dalam dugaannya, pedang Siao-liong-li selalu membayanginya dan tidak pernah berjarak lebih jauh dari tiga inci di depan lehernya.

Saking takutnya hingga Hyo Ko mandi keringat dingin, Diam2 ia mengeluh.

"Celaka, jika hari ini tak bisa menyelamatkan diri, akhirnya aku pasti akan dibunuh Kokoh."

Karena kepepet, se-konyong2 ia angkat kedua tangannya memukul ke depan sekaligus, ia pikir dalam keadaan luka tentu Siao-liong-li tak bertenaga dan tentunya kurang kuat untuk mengadu tangan dengan dirinya.

Rupanya Siao-liong-li mengetahui juga maksud tujuannya, ia hanya sedikit miringkan tubuh saja dan membiarkan tenaga pukulan itu susul menyusul menyambar lewat di atas pundaknya, Habis ini mendadak ia berseru .

"Ko-ji tak perlu kau melawan lagi!"

Berbareng itu, mendadak pedang diluruskan ujung senjata ini tergetar beberapa kali, lalu dengan tipu "hun-hoa-hut-liu" (memisahkan bunga mengebut pohon liu), seperti mengarah ke kiri, tapi tahu2 menjurus ke kanan, leher Nyo Ko se-konyong2 sudah ditempel oleh ujung pedang.

Dan selagi Siao-liong-li hendak menyurung senjatanya ke depan, dengan demikian tenggorokan Nyo Ko pasti akan tertusuk tembus, Diluat dugaan, mendadak seluruh tubuhnya menjadi lemas dan lumpuh.

"trang" , terdengar suara nyaring, pedang jatuh ke lantai, menyusul tubuhnya ikut roboh dan pingsan. Ketika Siao-liong-li menusukkan pedangnya tadi Nyo Ko sudah pejamkan mata menantikan kematian, siapa tahu pada saat yang menentukan itu mendadak Siao-liong-li jatuh pingsan, Keruan Nyo Ko tertegun, sungguh dia boleh dikatakan lolos dari lubang jarum, lekas2 ia merangkak bangun, tanpa hiraukan apa yang bakal terjadi lagi, dengan langkah cepat segera ia lari keluar kuburan kuno itu. Begitu ia injak keluar pintu kuburan, tertam-paklah olehnya sinar sang surya yang menyilaukan mata, angin meniup sepoi2, burung berkicauan di atas pohon, nyata bukan lagi suasana yang gelap seram seperti di dalam kuburan kuno tadi. Dalam keadaan masih ber-debar2, Nyo Ko kuatir kalau2 Siao-liong-li mengejarnya dari belakang, maka ia angkat langkah seribu lebih jauh, dengan menggunakan Ginkang ia lari cepat ke bawah gunung. Kini tenaga dalamnya sudah terlatih kuat dan penuh, meski ilmu silatnya belum terlatih sampai puncaknya kesempurnaan, tapi sudah terhitung jago kelas atasan di kalangan Bu-lim. Dengan cara larinya yang cepat itu, pula jalan pegunungan yang menurun dengan sendirinya lebih cepat daripada menanjak, maka pada lohor itu juga ia sudah sampai di kaki gunung. Melihat Siao-liong-li tidak mengubernya, barulah Nyo Ko merasa lega, kini dia baru berani lambatkan langkahnya untuk melanjutkan perjalanan. Ia jalan dan jalan terus, akhirnya ia merasa lapar, perutnya sudah keroncongan, sudah berkeruyukan, ia pikir harus mencari rumah penduduk untuk membeli sedikit penganan buat tangsal perut, tetapi ketika dia rogoh sakunya, nyata duit tak ada, satu mata uang saja tidak gableg. Namun Nyo Ko tidak kurang akal, sudah sejak kecil ia terlunta-Iantung di kalangan Kangouw, kepandaiannya mencari pangan sudah sangat besar, ketika ia melongok sekitarnya, tertampaklah olehnya di lereng bukit sebelah barat sana banyak tanaman jagung, segera ia menuju ke sana dan memetiknya beberapa buah jagung itu. Jagung itu belum cukup tua, tetapi sudah bisa dimakan, Nyo Ko kumpulkan sedikit kayu kering, sedang akan menyalakan api buat bakar jagung, tiba2 terdengar di belakangnya ada suara keresekan pelahan, nyata ada orang sedang jalan mendekatinya. Lekas2 Nyo Ko miringkan tubuh dengan maksud meng-aling2i jagung colongan itu agar tidak dilihat orang apabila yang datang ini adalah penduduk setempat, tetapi ketika ia melirik, ternyata yang datang ini adalah seorang To-koh yang masih muda jelita, To-koh atau imam wanita ini memakai jubah kuning langsat, langkahnya enteng dan bergaya manis seperti bidadari yang baru turun dari kayangan. Nyo Ko melirik lebih jauh, ia lihat di punggung To-koh itu terselip dua batang pedang, gagang senjata yang bertali sutera berwarna merah darah itu menambah kecantikan si To-koh, jelas sekali To-koh ini pandai ilmu silat. Nyo Ko pikir tentu orang ini adalah imam yang hendak naik ke Tiong-yang-kiong, besar kemungkinan adalah murid jing-ceng Sanjin Bun Put-ji, itu imam wanita satu2nya dari Coan-cin-ciat-cu. Karena Nyo Ko tak ingin mencari onar, maka ia sengaja menunduk kepala dan menyalakan api lagi. Sesudah dekat di samping Nyo Ko, mendadak To-koh itu berhenti "Eh, adik cilik, mana jalannya kalau hendak naik ke atas gunung ?"

Tiba2 ia bertanya.

"Aneh", diam2 Nyo Ko heran.

"Jika perempuan ini adalah anak murid Coan-cin-kau, mengapa dia tak kenal jalan ke atas gunung? Hah, tentu dia tidak mengandung maksud baik !"

Karena itu tanpa menoleh ia menunjuk ke atas gunung dan menjawab .

"lkut saja jalan besar ini terus ke atas."

Melihat baju Nyo Ko compang-camping dan jongkok di pinggir jalan sedang membakar jagung, To-koh itu mengira Nyo Ko adalah anak petani.

Biasanya To-koh ini sangat bangga dengan kecantikannya sendiri, lelaki mana saja bila meIihat dia pasti akan terpesona hingga mata tak berkesip, tetapi pemuda desa ini ternyata hanya melirik sekali saja padanya lalu tidak memandang buat kedua kalinya, nyata kecantikannya dianggap seperti rupa wanita pegunungan saja, diam2 To-koh itu rada mendongkol.

Akan tetapi segera ia berpikir pula.

"Ah, orang desa semacam ini tahu apa ?"

Karena itu, ia lantas membuka suara lagi .

"He, berdirilah, aku ingin tanya padamu."

Tetapi Nyo Ko sudah terlanjur berpikir jelek terhadap semua orang Coan-cin-kau, dia tidak mau menggubrisnya lagi, ia pura2 tuli dan berlagak bisu.

"Hei, anak tolol, apa yang kukatakan kau dengar tidak ?"

To-koh itu menanya lagi.

"Dengar, cuma aku malas berdiri,"

Sahut Nyo Ko. Karena jawaban ini To-koh itu tertawa geli.

"He, lihatlah kau, ini, lihat dulu padaku, aku lah yang suruh kau berdiri!"

Dengan tertawa merdu ia berkata pula. Suara ucapannya ini begitu halus dan genit pula, rasanya menis lagi berminyak. Keruan mau-tak-mau hati Nyo Ko terkesiap.

"He, kenapa suara wanita ini begitu aneh,"

Demikian ia membatin.

Lalu ia mendongak dan tertampak olehnya wanita ini berkulit putih bersih, kedua pipinya bersemu merah, sinar matanya bening dan sedang memandang mesra padanya, Nyo Ko menunduk lagi untuk menyalakan api pembakaran jagungnya.

Demi nampak muka Nyo Ko yang masih bersifat hijau, sudah melihat dirinya untuk kedua kalinya, namun sedikitpun tetap tidak terguncang hatinya, maka bukannya marah, sebaliknya si To-koh tertawa geli.

"Eh kiranya anak yang masih pelonco, kebetulan dapat kuperalat dia sebagai pembantu,"

Demikian pikirnya.

Karena pikiran ini, dari bajunya segera ia mengeluarkan dua renceng uang perak dan sengaja dikocok-2 hingga menerbitkan suara gemerincing yang nyaring, dengan uang perak ini ia coba mengiming-imingi Nyo Ko.

"Adik cilik, asal kau turut perkataanku, dua renceng perak ini segera kuberikan padamu,"

Katanya kemudian.

Nyo Ko sangat cerdik, sebenarnya dia tidak ingin cari penyakit, tetapi demi mendengar kata2 orang semakin aneh, akhirnya ia tertarik juga dan ingin tahu cara bagaimana orang akan perlakukan dkinya, maka sekilas ia sengaja pura2 tolol dan berlagak bodoh, dengan rasa tercengang ia pandang kedua renceng perak itu.

"Eh, barang mengkilap ini apa namanya ?"

Dengan sikap dungu ia sengaja tanya. Kembali To-koh itu tertawa geli oleh kebodohan "anak udik"

Ini.

"lni uang perak."

Sahutnya kemudian.

"Kau ingin pakaian baru, ingin ayam goreng, nasi liwet, semuanya dapat dibeli dengan ini!"

"Ah, kembali kau justai aku lagi, aku tak percaya,"

Kata Nyo Ko dengan air muka seperti orang linglung.

"Kapankah pernah aku mendustai kau ?"

Sahut imam wanita itu dengan tertawa pula.

"He, siapa namamu ?"

"Aku bernama Sah Thio (Thio si tolol), apa kau belum kenal ?"

Jawab Nyo Ko dengan nama palsunya.

"Dan kau sendiri bernama siapa ?"

"Ah, tak usah tanya, panggil saja Sian-koh (bibi dewi),"

Sahut si To-koh.

"Dimana makmu ?"

"Buat apa kau tanya mak-ku ?"

Berbalik Nyo Ko tanya.

"Dia sedang mencari kayu di atas gunung."

"Ha, kebetulan, akupun ingin naik ke atas gunung,"

Kata To-koh itu.

"Pakaianku ini tidak baik di pakai ke sana, pergilah kau mengambilkan baju mak-mu dan pinjamkan padaku !"

Luar biasa heran Nyo Ko oleh kelakuan orang. Tetapi lahirnya ia unjuk muka tololnya semakin mirip, ber-ulang2 ia geleng kepala oleh bujukan orang tadi.

"Tidak, tak berani aku, mencuri baju mak, nanti aku pasti akan dihajar, kalau menghajar, mak-ku menggunakan palang pintu,"

Sahutnya dengan lagak lucu.

"Begitu melihat uang perak ini, mak-mu pasti akan kegirangan, tentu kau tak takkan dipentung lagi,"

Ujar si To-koh dengan tertawa.

Berbareng itu, sekali tangannya bergerak, se-renceng uang perak itu segera dia lemparkan pada Nyo Ko.

Nyo Ko ulur tangannya buat menangkap, tetapi dia sengaja membiarkan rencengan perak itu tertimpuk pada pundaknya dan jatuh ke bawah membentur sebelah kakinya.

"Aduh kau pukul aku,"

Ia berteriak-teriak sambil memegang sebelah kaki yang tertimpuk uang perak itu dan dengan sebelah kaki yang lain ia ber-jingkrak2, pura2 kesakitan "Akan ku adukan pada mak !"

Habis ini, sambil masih menjerit, uang perak itu ia tinggalkan terus lari pergi dengan cepat.

Nampak kelakuan orang yang tolol2 lucu itu, si To-koh tersenyum geli.

Tiba2 ia lepaskan ikat pinggang yang terbikin dari kain sutera, dengan sekali mengebas, ikat pinggang disabetkan dan menggubet sebelah kaki Nyo Ko terus diseret kembali.

Mendengar suara menyambarnya ikat pinggang dan merasakan tenaga tarikan yang menggulung kakinya itu, seketika Nyo Ko menjadi kaget.

"He, gaya ini terang sekali adalah ilmu golongan Ko-bong-pay kami, apa dia ini bukan imam dari Coan-cin-pay ?"

Diam2 ia bertanya dalam hati.

Oleh karena itu, ia sengaja lemaskan badannya, ia membiarkan dirinya diseret kembali si To-koh, hanya dalam hati ia bertambah waspada dan ber-siap2 untuk menjaga segala kemungkinan "la hendak naik ke atas gunung, apa tujuannya hendak memusuhi Kokoh ?"

Demikian ia membatin pula.

Apabila teringat olehnya keadaan Siao-liong-li yang waktu itu tidak diketahui mati atau hidup, mau-tak-mau ia menjadi kuatir dan sedih sekali, segera ia ambil suatu keputusan.

sekalipun nanti harus mati di tangan Siao-liong-li, dia bertekad akan naik lagi ke atas buat menyambanginya.

Pikiran itu sekilas bekerja dalam otaknya, sementara tubuhnya sudah kena diseret ke hadapan si To-koh tadi.

Ketika si To-koh melihat muka Nyo Ko penuh berlepotan debu, tetapi toh tidak menutupi wajahnya yang cakap, diam2 ia berpikir.

"Anak gunung ini mukanya ternyata tampan juga, cuma sayang, bantal sulam, isinya jerami belaka."

Dalam pada itu ia dengar Nyo Ko masih ber-teriak2 dan mengoceh sendiri tak keruan.

"He, Sah Thio kau cari mampus atau ingin hidup ?"

Dengan tersenyum segera ia menegur.

"Sret" , tahu2 pedangnya sudah dilolos dan ditudingkan ke dada Nyo Ko. Melihat gerak tangan orang barusan ini jelas adalah tipu "kim-pit-tiam-cu" (potlot emas menutul titik) yang merupakan ajaran asli -Ko-bong-pay, maka Nyo Ko tidak ragu2 lagi.

"Orang ini pasti anak murid Li Bok-chiu Su-pek, ia hendak naik ke atas gunung mencari Ko-koh, tentu tidak bermaksud baik, Kalau melihat caranya mengayun ikat pinggang dan caranya melolos senjata ini, terang keuletannya masih jauh di atas diriku, Orang ini hanya bisa dimenangkan dengan akal, tapi tak boleh dilawan dengan kekerasan aku harus pura2 bodoh sampai saat terakhir agar supaya dia sama sekali tidak ber-jaga2,"

Demikian Nyo Ko berpikir Oleh karenanya atas ancaman orang tadi, dengan mengunjuk rasa takut segera ia memohon.

"Jangan... jangan kau bunuh aku, Sian-koh, aku... aku akan menurut perkataanmu !"

"Baiklah, tetapi bila kau membangkang lagi.

"ngek", sekali gorok saja aku sembelih kau,"

Kata si To-koh dengan ketawa sambil memberi contoh dengan pedang menggorok leher.

"Menurut, pasti menurut,"

Sahut Nyo Ko cepat, Habis itu, sekali geraki tangannya lagi, tahu2 To-koh itu telah ajun ikat pinggangnya hingga melilit kembali pada pinggangnya sendiri gayanya manis dan caranya menarik.

"Bagus !"

Dalam hati Nyo Ko memuji juga atas kepandaian orang, Tetapi wajahnya tidak mengunjuk sesuatu perasaannya melainkan masih ber-pura2 seperti orang linglung.

Sudah tentu hal ini tidak diketahui si To-koh, dalam hati ia membatin.

"Hm, si tolol ini mana mengerti kebagusan kepandaianku tadi ? Aku ini seperti main mata dengan orang buta saja."

"Nah, Sah Thio, lekas kau pulang dan mengambilkan sebuah kampak, aku mau pakai,"

Demikian katanya kemudian.

Nyo Ko menurut, ia ber-lari2 menuju ke rumah petani yang tertampak di depan sana, ia sengaja berjalan lambat, tubuhnya ber-goyang2 dengan gaya "lenggang sampan" , langkahnya berat, kelakuannya lucu, tampaknya tepat sekali sebagai seorang yang goblok, mana bisa orang berilmu silat berlaku seperti dia ini ?

Menyaksikan macam orang ini, agaknya si To-koh rada2 muak.

"He, Sah Thio, jangan kau bilang2 pada orang lain, lekas pergi dan lekas kembali!"

Serunya pula memesan.

"Ya,"

Sahut Nyo Ko sambil berjalan terus.

Akhirnya tibalah dia sampai di depan pintu rumah petani, ia longak-longok ke dalam rumah nyata tiada seorangpun penghuninya, mungkin orangnya sedang sibuk bercocok tanam di sawah ladang, maka dengan bebas Nyo Ko menyamber sebilah kampak pendek yang biasa dipakai membelah kayu, lalu dengan lagak ke-tolol2an ia berlari kembali Iagi.

Sungguhpun dengan senangnya Nyo Ko mempermainkan si To-koh, namun dalam hati ia menguatirkan keselamatan Siao-liong-li, oleh sebab ini, mau-tak-mau air mukanya kelihatan mengunjuk rasa sedih.

"He, Sah Thio, kenapa kau muram durja ?"

Omel si To-koh.

"Hayo, lekas ketawa !"

Eh, betul juga Nyo Ko lantas menyengir beberapa kali. Tentu saja si To-koh mengkerut alis melihat macamnya itu.

"Mari, ikut aku !"

Katanya kemudian.

"Tidak, tidak, mak-ku sedang tunggu aku untuk makan siang !"

Seru Nyo Ko cepat.

"Kurangajar,"

Bentak si To-koh.

"berani kau membangkang, segera kusembelih kau !"

Habis berkata, sekali ulur tangannya, segera daun kuping Nyo Ko kena dijewer terus ditarik sambil mengancam dengan pedang.

Nyo Ko berteriak-teriak kesakitan seperti babi hendak disembelih "Auuuuh, sakit!

baiklah, aku ikut, aku ikut!"

Teriaknya.

"Orang ini sebodoh kerbau, kebetulan dapat kuperas,"

Demikian To-koh itu membatin.

Lalu ia tarik lengan baju Nyo Ko terus diseret ke atas gunung.

Orang yang memiliki ilmu silat, cara jalannya dengan sendirinya sangat cepat, Tetapi Nyo Ko justeru sengaja berlaku ayal2an, ia tumbuk sini dan kesandung sana, langkahnya sekali cepat sekali lambat, ia sengaja bikin dirinya ketinggalan di belakang.

Tak lama lagi ia pura2 tak tahan, ia duduk di atas satu batu di tepi jalan sambil mengusap keringatnya, napasnya ter-engah2 senin-kemis.

Karena kelakuannya ini, dalam gelinya si To-koh ber-ulang2 mendesaknya agat melanjutkan perjalanan lagi.

"Begitu cepat kau berjalan, mana bisa aku menyusulmu ?"

Sahut Nyo Ko.

Akan tetapi karena sang surya sudah mendoyong ke barat, hari sudah sore, To-koh itu menjadi tak sabar Iagi, segera ia dekati Nyo Ko, dipegang lengannya dan ditarik terus berlari cepat lagi ke atas.

Tetapi Nyo Ko tetap tak bisa mengikuti tindakan orang yang terlalu cepat, kedua kakinya harus mancal2 tak keruan dan tiba2 menginjak sebelah kaki dengan keras si To-koh.

"Auuh ! Kau cari mampus l"

Jerit To-koh itu sambil mendamperat. Dia melihat napas Nyo Ko memang meraba m dan terlalu payah, segera ia ulur tangan kirinya, tiba2 ia angkat pinggang Nyo Ko sambil membentak .

"Naik !"

Maka tubuh Nyo Ko lantas di-rangkulnya terus dibawa lari ke atas gunung, dengan menggunakan Ginkang yang hebat, hanya sekejap saja beberapa li sudah dilalui.

Karena tubuhnya dirangkul sebelah tangan orang, maka terasalah oleh Nyo Ko punggung sendiri menempel dada orang yang hangat dan empuk, hidungnya tercium pula bau wangi kaum gadis umumnya, keruan saja Nyo Ko kesenangan, sekalian ia menggelendot tanpa mengeluarkan tenaga sedikitpun, ia biarkan dirinya dicangking orang ke atas.

Sesudah beberapa li pula, ketika To-koh itu tiba2 memandang kebawah, ia lihat wajah Nyo Ko mengunjuk senyuman, tampaknya enak sekali rasanya, keruan ia mendongkol begitu tangannya dikendorkan segera Nyo Ko terbanting ke tanah.

"Senang ya, kau ?"

Bentak si To-koh. Karena bantingan ini, Nyo Ko me-raba2 bo-kongnya sambil ber-teriak2 kesakitan Mau-tak-mau To-koh itu tertawa lagi oleh kelakuan Nyo Ko yang tolol2 lucu itu, ia mendongkol juga geli.

"Kenapa kau begini tolol ?"

Ia mengomel.

"Ya, memangnya namaku Thio si tolol,"

Sahut Nyo Ko.

"Sian-koh, aku she Thio, dan kau apa she Sian ?"

"Asal kau panggil aku Sian-koh, peduli kau urus aku she apa,"

Damperat si To-koh.

Kiranya To-koh atau imam wanita ini memang betul adalah murid pertama Jik-lian-siancu Li Bok-chiu, ia she Ang dan bernama Ling-po, To-koh yang dahulu disuruh pergi membunuh seluruh keluarganya Liok Lip-ting dan akhirnya kena diusir Bu-samnio, bukan lain ialah Ang Ling-po ini, Tetapi meski Nyo Ko ingin menyelidiki nama-nya, namun sama sekali ia tak mau menerangkan.

Begitulah, lalu Ang Ling-po duduk juga di atas satu batu sambil membetulkan rambutnya yang tersebar tertiup angin.

Ketika Nyo Ko berpaling dan memandangi orang, mau-tak-mau ia berkata dalam hati.

"To-koh ini terhitung cantik juga, cuma masih belum bisa mengungkuli Kwe-pekbo (bibi Kwe, maksudnya Ui Yong), lebih2 tak bisa menandingi aku punya Kokoh (maksudnya Siao-liong-li)."

Walaupun demikian pendapat Nyo Ko, kalau soal kecantikan sebenarnya Ui Yong dan Siao-liong-li boleh dikatakan sukar dibedakan mana yang lebih elok, tapi lantaran Nyo Ko sudah pakai pikiran yang berat sebelah, dengan sendirinya ia merasa Siao-liong-li terlebih cantik.

Dalam pada itu demi tahu orang sedang menikmati kecantikannya, Ang Lin-po melerok sekali pada Nyo Ko.

"Kenapa kau pandang aku terus, Sah Thio ?"

Dengan tertawa ia tanya.

"Pandang ya pandang, kenapa, itulah aku tak tahu, jika kau tak boleh kupandang, baiklah aku tak memandang lagi, siapa yang kepingin lihat ?"

Sahut Nyo Ko ke-tolol2an. Ang Ling-po tertawa genit.

"Kau mau pandang, nah, pandanglah terus, Eh, aku ini bagaimana, cantik tidak kelihatannya ?"

Ia tanya sembari mengeluarkan sebuah sisir emas kecil dan dengan pelahan ia sisir rambutnya yang gombyok indah itu.

"Bagus sih bagus,"

Sahut Nyo Ko, hanya... hanya..."

"Hanya apa ?"

Sela Ang Ling-po.

"Hanya kurang putih,"

Kata Nyo Ko.

"Sah Thio, kau cari mampus ya ? Berani kau bilang aku kurang putih ?"

Mendadak Ang Ling-po membentak sambil berdiri Kiranya selama ini Ang Ling-po paling bangga akan kulit badannya sendiri yang putih mulus seperti susu, ia kira di jagat ini pasti tiada bandingannya lagi, siapa tahu Nyo Ko berani bilang kulitnya masih kurang putih, keruan ia sangat gusar.

Di luar dugaan, meski sudah dibentak, toh Nyo Ko tetap geleng kepala.

"Ya, kurang putih,"

Sahut tegas.

"Lalu siapa yang lebih putih dari padaku ?"

Tanya Ang Ling-po dengan marah.

"Yang tidur bersama aku setiap malam jauh lebih putih dari padamu,"

Kata Nyo Ko.

"Siapa dia, binimu atau mak-mu ?"

Tanya Ang Ling-po.

"Bukan, semua bukan, tetapi adalah domba-ku,"

Sahut Nyo Ko akhirnya. Mendengar toh bukan manusia lain yang lebih putih dari pada dia, maka dari marah Ang Ling-po berubah tertawa geli.

"Sungguh tolol, manusia mana bisa dibandingkan dengan hewan ?"

Omelnya kemudian.

"Ayo, kita berangkat lagi."

Habis ini ia tarik lagi tangan Nyo Ko dan diseret ke atas gunung pula, Pada waktu hampir mendekati jalan yang lurus menuju Tiong-yang-kiong, tiba2 Ang Ling-po membelok ke barat dari menuju ke arah Hoat-su-jin-bong.

"He, betul dia hendak mencari Kokoh,"

Pikir Nyo Ko diam-diam. Selang tak lama lagi Ang Ling-po mengeluarkan sebuah peta dari bajunya dan berdasarkan peta ini ia mencari jalannya.

"Sian-koh,"

Kata Nyo Ko tiba2.

"lebih ke depan lagi jalan ini buntu, di dalam rimba sana ada macannya."

"Dari mana kau tahu ?"

Tanya Ling-po.

"Ya, di dalam rimba sana ada suatu kuburan raksasa, di dalam kuburan terdapat mayat hidup dan setan gentayangan siapapun tak berani men-dekatinya,"

Sahut Nyo Ko.

"Ha, ternyata Hoat-su-jin-bong memang betul ada di sini,"

Ujar Ang Ling-po girang.

"Kiranya Ang Ling-po ini belakangan ini telah memperoleh ajaran tingkat terakhir dari gurunya, Li Bok-chiu, maka ilmu silatnya maju pesat sekali, setelah membantu gurunya mengalahkan keroyokan kalangan Bu-lim di Soasay, lebih2 ia sangat bangga diri. Belakangan ia dengar cerita tentang asal-usul perguruan sendiri dari Li Bok-chiu, dari itu ia tahu di Hoat-su-jin-bong masih ada kitab rahasia pelajaran ilmu silat kelas wahid, terutama "

Giok-li-sim-keng " .

Li Bok-chiu memang seorang yang suka jaga gengsi sendiri, terhadap kejadian2 cara bagaimana ia diusir terbirit keluar dari Hoat-su-jin-bong ketika dirinya mengeluruk lagi ke sana, hal ini sama sekali tak diceritakan pada sang murid.

Karena itu, ketika Ang Ling-po tanya dia kenapa tidak mendatangi kuburan kuno itu untuk pelajari ilmu silat yang hebat itu, namun selalu Li Bok-chiu menjawabnya dengan samar2, ia bilang tempat kuburan itu sudah diberikan pada Sumoaynya yang masih muda dan karena kedua saudara seperguruan tidak akur, maka sudah lama tiada hubungan satu sama lain.

Walaupun begitu, Ang Ling-po selalu menghasut sang guru agar pergi mengangkangi Hoat-su-jin-bong itu, padahal Li Bok-chiu sendiri siang dan malam tidak pernah melupakan hal itu, hanya perangkap di dalam kuburan itu belum bisa dia menembusnya, oleh karena itu juga sampai kini ia masih belum berani sembarang turun tangan.

Kini mendengar bujukan sang murid yang begitu bernapsu ia hanya tersenyum dan tak menjawab.

Sesudah Ang Ling-po beberapa kali mengemukakan maksudnya dan sang guru tetap tinggal diam, maka diam2 ia sendiripun mulai mengincar ia telah tanyai keadaan dan jalan2 yang menuju ke kuburan itu, lalu ia sendiri menyiapkan sebuah petanya.

Kali ini, pada kesempatan dia diperintah gurunya ke Tiang-an untuk membunuh seorang musuh, selesai tugasnya, diam2 ia menuju ke Cong-lam-san dan diluar dugaan telah bertemu dengan Nyo Ko.

Kalau menurut cerita gurunya, katanya sekitar kuburan kuno dilingkari tumbuh2an lebat dan terputus hubungan dengan dunia luar, Tetapi dia tak tahu bahwa Li Bok-chiu sebenarnya belum cerita seluruhnya yang betul, padahal kuburan kuno itu masih ada jalan rahasia lain yang bertembusan dengan dunia luar.

Begitulah, lalu ia perintahkan Nyo Ko membabat belukar yang merintangi jalan dengan menggunakan kampak curian, dengan cara ini ia mencari jalan yang menuju Hoat-su-jin-bong.

Sebenarnya Nyo Ko cukup apal jalan yang menembus ke kuburan kuno itu, dengan membabat hutan belukar seperti apa yang dilakukan ini bukan saja membuang tenaga dan waktu, bahkan berbahaya pula, Tetapi ia pura2 linglung dan tak mengerti apa2, Ang Ling-po suruh kerjakan apa, dia lantas lakukan apa.

Sampai akhirnya, cuaca sudah gelap juga, tetapi baru lebih satu li mereka tempuh, jaraknya dengan kuburan kuno itu masih sangat jauh.

Oleh karena masih menguatirkan keselamatan Siao-liong-li, maka Nyo Ko menjadi tak sabar, ia pikir tidaklah lebih baik bawa To-koh ini ke sana dan melihat apa yang hendak dia lakukan, Maka-sengaja ia mem-babat2 beberapa kali lagi, ia mengincar sebuah batu terus mengampak dengan keras, keruan lelatu api bercipratan, mata kampak itu segera gumpil pula.

"Ai, celaka, di sini ada sebuah batu besar, kampaknya telah rusak, tentu nanti aku bakal dihajar mak-ku !"

Teriak Nyo Ko pura2 takut.

Ang Ling-po sendiri sebenarnya juga sudah tak sabar melihat cara mereka menempuh perjalanan ini, agaknya malam ini tidak bisa sampai di kuburan kuno itu, Oleh karenanya terus-menerus ia rnendamperat.

"ToIol, sungguh tolol !"

"Sian-koh, kau takut setan atau tidak ?"

Tiba2 Nyo Ko bertanya.

"Takut setan ?"

Sahut Ling-po.

"Hm, setan yang takut padaku, tahu ? -Dengan sekali tabas nanti kubikin setannya terkurung menjadi dua."

Nyo Ko pura2 girang oleh jawaban orang.

"BetuIkah, Sian-koh ? Kau, tidak dusta ?"

Tanyanya.

"Buat apa dusta !"

Ujar Ling-po.

"Baiklah, jika memang kau tak takut setan, segera kubawa kau pergi ke kuburan raksasa itu,"

Kata Nyo Ko.

"Cuma kalau setannya keluar, kau harus mengusirnya, ya !"

Girang sekali Ang Ling-po mendengar si tolol kenal jalan ke kuburan itu.

"Kau kenal jalannya ? Baiklah, lekas bawa aku ke sana !"

Sahutnya cepat.

Kuatir orang curiga, Nyo Ko sengaja mengoceh lagi, ia minta Ang Ling-po harus janji akan membunuh setan bila muncul.

Karena itu, berulang kali Ling-po bersumpah dan suruh dia jangan kuatir.

"Beberapa tahun yang lalu."

Demikian kata Nyo Ko pula.

"aku pernah mengangon domba ke samping kuburan raksasa itu, di sana aku tertidur, waktu mendusin, ternyata sudah tengah malam, Dengan mata kepalaku sendiri kulihat satu setan perempuan berbaju putih menongol keluar dari kuburan itu, saking takutnya aku lari ter-birit2 hingga di tengah jalan aku jatuh kesandung, kepalaku sampai bocor dan luka, lihat ini, di sini masih ada bekasnya."

Sambil berkata Nyo Ko sengaja mendekati Ang Ling-po agar orang suka meraba kepalanya, Meski Nyo Ko masih pelonco, namun terasa juga badan -Ang Ling-po sangat wangi, kalau bisa berdekatan, rasanya sangat sedap dan enak, maka kini sengaja ia gunakan kesempatan untuk akali orang, kepalanya dimiringkan ke dekat mulut orang.

"Tolol!"

Dengan tertawa Ang Ling-po mengomel karena kelakuan Nyo Ko itu, Lalu sekenanya ia meraba kepalanya, tetapi toh tidak terasa ada sesuatu belang bekas luka, namun iapun tidak pedulikan, segera ia mendesak lagi.

"Lekas bawa aku ke sana !"

Maka tanpa bicara lagi Nyo Ko menggandeng tangan orang dan diajak keluar dari semak2 belukar itu dan memutar menuju jalan yang menembus ke kuburan kuno.

Waktu itu sudah dekat tengah malam, Dengan memegangi tangan orang, terasa oleh Nyo Ko tangan Ang Ling-po ini sangat halus dan empuk, pula hangat Diam2 Nyo Ko menjadi heran.

"Kokoh dan dia sama2 wanita, tapi tangan yang satu kenapa dingin seperti es, sedang tangan yang ini begini hangat ?"

Demikian pikirnya dengan tak mengerti.

Karena tak tahan, tanpa terasa ia gunakan tenaga sedikit dan me-remas2 tangan orang yang halus itu beberapa kali.

Jika orang Bu-lim ada yang berani main gila seperti kelakuan Nyo Ko ini, sudah sejak tadi pasti Ang Ling-po lolos pedangnya dan bikin jiwanya melayang, Tetapi, pertama karena dia anggap Nyo Ko betul2 seorang bebal, pula melihat wajahnya yang tampan dan gagah, dalam hati Ang Ling-po mau-tak-mau rada suka juga, maka iapun tidak menjadi gusar, Hanya dalam hati ia berpikir.

"Si tolol ini ternyata tidak seluruhnya tolol, nyata ia tahu juga akan kecantikanku."

Dengan membawa orang ke kuburan kuno itu, sekali ini Nyo Ko tidak pura2 lagi, maka tidak seberapa lama ia sudah membawa Ang Ling-po sampai di tempat tujuannya.

Waktu Nyo Ko lari keluar kuburan kuno itu, karena takutnya dia belum sempat menutup kembali pintunya, kini batu yang dipakai sebagai daun pintu ternyata masih menggeletak di samping dan belum ditutup kembali, Sesaat hati Nyo Ko menjadi ber-debar2, diam2 ia berdo'a.

"Harap saja Kokoh belum mati, supaya aku bisa berjumpa dengan dia sekali lagi."

Karena sudah tak sabar, ia tidak permainkan Ang Ling-po pula, ia berkata padanya.

"Sian-koh, kubawa kau masuk ke sana untuk bunuh setan, tetapi jangan kau biarkan setannya menelan diriku." -Habis berkata segera ia melangkah dulu ke dalam kuburan yang aneh. Melihat Nyo Ko tiba2 menjadi berani, diam2 Ling-po merasa heran, pikirnya.

"Sungguh si tolol ini mendadak besar nyalinya ?"

Maka iapun tak sempat berpikir panjang lagi, segera ia kintil di belakang Nyo Ko, pedang disiapkan di tangan untuk menjaga segala kemungkinan Dari gurunya Ang Ling-po mendengar, katanya jalan di dalam Hoat-su-jin-bong itu belak-belok dan ber-putar2, asal salah jalan selangkah saja segera jiwa bisa melayang, Tapi tanpa pikir Nyo Ko ternyata berani melangkah sesukanya dengan cepat ia memutar ke timur dan membelok ke barat, di sini ia dorong sebuah pintu dan masuk nanti dia tarik sebuah batu besar lagi, tampaknya sudah apal luar biasa.

Diam2 Ang Ling-po mulai curiga.

"Jangan2 Suhu yang mendustai aku karena kuatir aku masuk ke sini sendiri ?"

Demikian batinnya.

Dalam pada itu, sekejap saja Nyo Ko sudah membawa Ang Ling-po masuk ke kamarnya Siao-liong-li yang terletak di tengah2 kuburan itu.

Pelahan Nyo Ko mendorong pintu kamar, ia coba pasang kuping, tapi tidak terdengar suara sedikitpun, sebenarnya ia hendak memanggil Ko-koh, tetapi urung ketika teringat olehnya bahwa Ang Ling-po berada di sampingnya, maka dengan suara pelahan ia berkata padanya .

"Sudah sampai !"

Sekalipun ilmu silat Ang Ling-po tinggi dan nyalinya besar, tetapi sesudah berada di tengah2 kuburan raksasa, bagaimanapun juga hatinya kebat-kebit, maka demi mendengar perkataan Nyo Ko, segera ia ketik batu api dan menyalakan lilin yang berada di atas meja.

Kemudian tertampaklah olehnya ada seorang gadis berbaju putih sedang rebah tenang tanpa bergerak sedikitpun.

Memang sudah diduga juga olehnya bahwa di dalam kuburan ini dia akan bertemu dengan Susiok atau paman gurunya, Siao-liong-li, tetapi sama sekali tak tersangka Siao-liong-li sedang tidur se-enaknya saja di atas ranjangnya se-akan2 tak gentar dengan bahaya apa yang akan menimpa juga tidak pandang sebelah mata padanya.

Karena itu, Ang Ling-po tak berani ayal, ia melintang pedangnya di depan dada sebagai penghormatan lalu ia buka suara .

"Tecu Ang Ling-po mohon bertemu Susiok !"

Hati Nyo Ko memukul keras seperti mau melompat keluar dari dadanya, dengan mulut melongo ia curahkan seluruh perhatiannya untuk melihat gerak-gerik Siao-liong-li, tetapi sedikitpun Siao-liong-li tidak bergerak, sudah kma sekali baru terdengar ia menyahut dengan suara yang pelahan tetapi orangnya masih rebah menghadap tembok Sejak mulai Ang Ling-po berkata sampai Siao-liong-li menyahut, selama itu Nyo Ko menunggu dengan luar biasa gopohnya, bisa2 ia ingin menubruk maju dan merangkul Suhunya buat menangis se-puas2nya.

Kemudian setelah mendengar Siao-liong-li bersuara, hatinya baru merasa lega seperti sebuah batu besar yang menindih tiba2 dapat di angkat, dalam girangnya ia tak sanggup menguasai perasaannya lagi, menangislah dia tersedu-sedu, Keruan Ang Ling-po sangat heran.

"He, ada apa, Sah Thio ?"

Ia tanya.

"Hu huk... aku takut,"

Sahut Nyo Ko terguguk-guguk Dalam pada itu Siao-liong-li telah berpaling dengan pelahan.

"Tak usah kau takut,"

Katanya tiba2 dengan suara lemah.

"tadi aku sudah mati satu kali, rasanya sedikitpun tidak menderita."

Terperanjat sekali Ang Ling-po ketika mendadak melihat wajah Siao-Iiong-li yang begitu cantik tiada taranya, tetapi mukanya pucat lesi tanpa berdarah.

"Ternyata di dunia ini ada wanita sedemikian molek seperti dia ini."

Demikian pikirnya, Karenanya seketika ia merasa dirinya sendiri menjadi jelek.

"Tecu Ang Ling-po, menghadap Susiok di sini,"

Ia berkata pula.

"Dan dimanakah Suci (kakak guru perempuan) ? juga datangkah dia ?"

Dengan pelahan Siao-liong-li menanya.

"Suhu suruh Tecu ke sini dulu buat menyampaikan salam hormat pada Susiok,"

Sahut Ang Ling-po.

"Lekas kau keluar saja, jangankan kau, sekalipun gurumu tidak diperkenankan masuk ke sini,"

Ujar Siao-liong-Ii.

Melihat muka Siao-iiong-!i yang mirip orang sakit, pula baju di dadanya penuh noda darah, cara bicaranya ter-putus2 dan napasnya memburu, terang sekali orang terluka parah, keruan Ang Ling-po menjadi berani, rasa kebat-kebitnya tadi seketika hilang sebagian besar.

"Dan dimanakah Sun-popoh ?"

Ia coba tanya lagi.

"Sudah lama dia meninggal, lekas kau keluar saja,"

Sahut Siao-liong-li. Ang Ling-po tambah lega demi mendengar Sun-popoh sudah mati, diam2 ia bergirang dan berpikir .

"Sungguh sangat kebetulan dan rupanya memang ada jodoh, tak terduga aku Ang Ling-po ternyata bisa menjadi ahliwaris Hoat-su-jin-bong ini."

Tampaknya jiwa Siao-liong-li sudah tinggal sesaat saja, Ang Ling-po kuatir orang mendadak mati hingga tiada orang Iain lagi yang mengetahui di mana tersimpannya kitab "Giok-li-sim-keng", maka cepat2 ia buka suara pula.

"Susiok,"

Demikian ia memanggil "Suhu suruh Tecu ke sini buat mohon kitab Giok-li-sim-keng, Harap engkau suka serahkan padaku dan Tecu segera mengobati lukamu."

Selama ini hati Siao-liong-li selalu dalam keadaan tenang tenteram, semua cita-rasanya sudah terbuang jauh dan terlupa, tetapi kini setelah menderita luka, ilmu kepandaian yang dilatihnya sudah ludes semua, hakikatnya ia sudah tak punya kekuatan untuk menguasai perasaan sendiri, maka demi mendengar apa yang dikatakan Ang Ling-po, Dalam gugup dan gusarnya, tiba2 matanya mendelik terus jatuh pingsan, secepat kilat Ang Ling-po telah memburu maju, ia pijat sekali "Jin-tiong-hiat"

Di atas bibir orang, maka secara pelahan Siao-liong-li telah siu-man kembali.

"Kalian guru dan murid lebih baik jangan berpikir secara muluk2, di manakah Suciku ? Lekas kau suruh dia ke sini ada sesuatu hendak ku katakan padanya,"

Kata Siao-liong-li kemudian dengan gusar. Tetapi Ang Ling-po tidak menjawab, ia hanya tertawa dingin, lalu dari bajunya ia keluarkan dua buah jarum perak yang panjang.

"Susiok, kau tentu kenal sepasang jarum ini,"

Katanya mengancam.

"jika tak mau kau bicara, jangan kau sesalkan aku berlaku kurangajar."

Melihat orang mendadak unjuk senjata, Nyo Ko kenal itu adalah Peng-pek-gin-ciam yang pernah dipakai Li Bok-chiu untuk membunuh orang, ia sendiri tanpa sengaja pernah memegangnya hingga terkena racunnya yang sangat jahat, maka ia cukup tahu betapa lihaynya jarum perak itu.

Di lain pihak, sudah tentu Siao-liong-li terlebih kenal betapa lihay dan keji senjata perguruannya sendiri, masih mendingan bila orangnya segera mati setelah tertusuk jarum perak berbisa itu, yang paling ngeri kalau jarum itu dipakai menggosok beberapa kali di tempat jalan darah yang bisa bikin kaku kesemutan, segera seluruh tubuh orang akan terasa gatal pegal laksana be-ribu2 semut merubung dan menggigit kian kemari diantara tulang sungsum.

Dalam keadaan demikian, si pende-rita itu boleh dikata ingin hidup tak bisa dan minta mati pun tak dapat Karena itulah, ketika melihat Ang Ling-po pegang jarum peraknya sambil digerakkan beberapa kali, lalu maju mendekatinya, saking kuatir hampir2 Siao-Iiong-li jatuh kelengar lagi.

Nampak keadaan sudah genting, Nyo Ko tak bisa tinggal diam lagi, tiba2 ia berteriak .

"Sian-koh, di sana ada setan, hiiih, aku takut!"

Sembari berteriak, segera Nyo Ko berlari mendekati orang terus merangkulnya, seketika tangan merangkul punggung orang, tanpa ayal segera ia menutuk dua kali tempat "Ko-ceng-hiat"

Dan Jiau-yao-hiat".

Sungguh mimpi pun Ang Ling-po tak pernah menduga bahwa Thio si tolol ini ternyata memiliki kepandaian silat yang tinggi, selagi ia hendak men-damperat, tahu2 seluruh tubuhnya sudah terasa Iumpuh, seketika ia sendiri roboh ke lantai.

Kuatir kalau2 orang mampu melancarkan jalan darah sendiri, Nyo Ko menambahi pula menutuk sekali lagi di tempat "ki-kut-hiat".

yakni tulang punggung yang besar.

Dengan demikian orang tak nanti bisa berkutik lagi.

"Kokoh, perempuan ini sangat jahat, bagaimana kalau aku tusuk dia beberapa kali dengan jarum peraknya, supaya senjata makan tuannya ?"

Dengan ketawa Nyo Ko tanya Siao-liong-li.

Sambil berkata betul juga Nyo Ko lantas membungkus jari tangannya dengan ujung bajunya, lalu ia jemput jarum perak Ang Ling-po tadi.

Meski badan Ang Ling-po lumpuh tak bisa berkutik, tetapi setiap perkataan Nyo Ko dapat dia dengar dengan terang, apalagi dia lihat Nyo Ko telah jemput jarumnya tadi dan sambil tertawa sedang memandang padanya, keruan tidak kepalang terkejutnya hingga semangat serasa terbang meninggalkan raganya, ia ingin buka suara buat minta ampun, tetapi sayang, mulutnya tak berkuasa, terpaksa ia hanya mengunjuk maksud minta ampun melalui sinar matanya yang redup dan harus dikasihani itu.

"Ko-ji, pergilah kau menutup pintu untuk menjaga agar Suci tidak masuk kemari,"

Demikian Siao-liong-li berkata pada Nyo Ko.

"Baik,"

Sahut Nyo Ko. Segera ia hendak melakukan perintah itu. Tetapi baru saja ia putar tubuh, se-konyong2 ia di-kejutkan oleh satu suara seorang perempuan yang sangat genit merdu di belakangnya.

"Baik2kah kau, Sumoay? -Sudah sejak tadi aku masuk ke sini" , demikian kata suara itu tiba2. Sungguh bukan buatan kaget Nyo Ko, cepat ia berpaling, maka tertampaklah olehnya di bawah sorot sinar lilin, di ambang pintu kamar sudah berdiri seorang To-koh setengah umur, raut mukanya potongan daun sirih, pipinya putih bersemu merah, sayang matanya buta sebelah. Siapa lagi dia kalau bukan Jik-lian-siancu Li Bok-chiu yang sebelah matanya kena ditotol buta oleh burung merahnya sendiri dahulu. Dari manakah Li Bok-chiu bisa muncul di situ secara tiba-tiba ? Kiranya sewaktu Ang Ling-po selalu menanyakan jalan ke Hoat-su-jin-bong kepadanya, sejak mula Li Bok-chiu sudah menduga pasti anak muridnya ini secara diam2 akan pergi mencuri kitab Giok-li-sim-keng, maka sengaja dia peralat muridnya ini ia sengaja mengirim Ang Ling-po pergi membunuh seorang musuh di Tiang-an, padahal ini adalah siasat Li Bok-chiu agar dengan demikian Ang Ling-po ada kesempatan buat pergi ke kuburan kuno itu, sedang ia sendiri diam2 menguntit di belakang sang murid. Maka pertemuan antar Ang Ling-po dan Nyo Ko, lalu masuk ke kuburan dan cara bagaimana muridnya itu memaksa Siao-liong-li menyerahkan kitab Giok-li-sim-keng, semua kejadian itu dapat disaksikannya dengan mata kepala sendiri. Cuma karena gerak tubuhnya sangat gesit dan cepat maka Ang Ling-po dan Nyo Ko tiada yang merasa sedikitpun dan baru sekarang inilah, karena dianggap sudah tiba waktunya, maka dia lantas unjukkan diri. Pandangan Li Bok-chiu ternyata sangat tajam, meski kejadiannya sudah lewat beberapa tahun, pula Nyo Ko sudah tumbuh besar, namun dia masih tetap mengenali pemuda ini adalah anak yang menggunakan burung merahnya untuk menotol sebelah biji matanya sehingga buta. Kejadian itu senantiasa dianggap oleh Li Bok-chiu sebagai suatu peristiwa yang menyakitkan hati, kini demi saling bertemu lagi, tentu saja ia sangat gusar. Akan tetapi sebelum Li Bok-chiu sempat bertindak sesuatu, se-konyong2 Siao-liong-li telah bangun.

"Suci!"

Serunya tiba2, kembali darah segar menyembur dari mulutnya.

"Siapa dia ini ?"

Dengan sikap dingin Li Bok-chiu bertanya tanpa menghiraukkn keadaan sang Sumoay yang payah.

"Tidakkah kau tahu larangan Cosu-popoh bahwa dalam kuburan ini tidak boleh diinjak kaum laki2 busuk barang selangkahpun dan kenapa kau berani ijinkan dia tinggal di sini?"

Mendadak Siao-liong-li ter-batuk2 hebat, ia tak sanggup menjawab teguran sang Suci. Nampak keadaan Siao-liong-li, tanpa disuruh segera Nyo Ko maju menghadang ke depan buat melindunginya.

"Dia adalah aku punya Kokoh, urusan disini tidak perlu kau ikut campur !"

Dengan suara lantang ia wakilkan Siao-liong-li menjawab.

"Hm, bagus kau Sah Thio, kau betul2 pandai berlagak bodoh !"

Sindir Li Bok-chiu.

Habis ini, mendadak kebut yang dia pegang bergerak, susul menyusul ia menyerang tiga kali.

Walaupun tiga serangan itu dilontarkan susul-menyusul, namun datangnya kepada sasarannya se-akan2 berbareng saja saatnya.

Tipu serangan cepat itu memang termasuk tipu serangan yang paling lihay dari ilmu silat Ko-bong-pay, bagi jago silat golongan lain tidak kenal kebagusan tipu2 serangan itu, begitu maju, seketika pasti akan dihantam hingga otot putus dan tulang patah.

Akan tetapi Nyo Ko sendiri sudah matang dan apal terhadap semua ilmu silat Ko-bong-pay, walaupun belum bisa dibandingkan keuletan Li Bok-chiu yang sudah terlatih, namun untuk menghindari tiga kali serangan yang disebut "sam-yan-tau-lim" (tiga burung sriti menyusup masuk rimba) itu masih bisa dilakukannya dengan gampang.

Dan karena serangan yang lihay itu luput mengenai sasarannya, tentu saja Li Bok-chiu sangat kaget, ia masih ragu2 akan pemuda yang berhadapan dengan dirinya sekarang ini, dengan sebelah matanya ia coba melirik tajam, akan tepi jelas pemuda ini adalah anak yang dahulu dijumpainya di Oh-ciu di daerah Kanglam itu, kenapa berpisah beberapa tahu saja ilmu silatnya sudah maju begitu pesat?

Apalagi melihat cara bergeraknya buat menghindari serangannya tadi ternyata adalah ilmu silat dari perguruan sendiri keruan hal ini makin menambah rasa curiganya.

"Sumoay, ada hubungan apakah antara kau dengan bangsat cilik ini ?"

Dengan suara bengis segera ia membentak Siao-liong-li Kuatir, muntah darah lagi, Siao-liong-li tak berani buka suara keras, hanya dengan pelahan ia bilang pada Nyo Ko.

"Ko-ji, lekas memberi hormat pada Supek (paman guru)."

"Cis, paman guru macam apa ini ?"

Nyo Ko berbalik meng-olok2.

"Ko-ji, coba tempelkan kupingmu ke sini, ada yang hendak kukatakan,"

Kata Siao-liong-li pula.

Tentu saja Nyo Ko rada penasaran karena dia mengira Siao-liong-li akan bujuk dirinya buat menjura pada Li Bok-chiu.

walaupun demikian, terpaksa ia menurut juga, ia tempelkan kupingnya ke mulut Siao-liong-li.

"Di pojok kaki ranjang ini terdapat satu papan batu yang menonjol,"

Demikian dengan suara lembut seperti bunyi nyamuk Siao-liong-li berkata.

"lekas kau melompat turun dan dongkel sekuatnya papan batu itu."

Dalam pada itu, melihat cara mereka bisik2, Li Bok-chiu mengira juga Siao-liong-li sedang pesan sang murid agar menjura padanya untuk minta ampun, apalagi orang2 yang berada di hadapannya ini yang satu terang terluka parah dan yang lain hanya satu bocah angkatan muda, tentu saja tiada yang dia pikirkan.

Li Bok-chiu sendiri justru lagi peras otak untuk mendapatkan akal bagus agar bisa memaksa sang Sumoay menyerahkan Giok-li-sim-keng tinggalan guru mereka.

Sementara itu atas kisikan Siao-liong-li tadi, terlihat Nyo Ko meng-angguk2, Lalu dengan suara lantang ia berkata .

"Baiklah, Tecu memberi hormat pada Supek !"

Sambil berkata ia lantas melompat turun dari ranjang, dan ketika tangannya meraba ke pojok ranjang yang di bawah sana, betul saja tangannya menyentuh sepotong batu yang menonjol, tanpa ayal lagi segera ia tarik dengan seluruh tenaganya maka terdengarlah suara "kreeek"

Yang berat, mendadak ranjang batu itu ambles ke bawah.

Dengan sendirinya Li Bok-chiu terperanjat oleh kejadian mendadak itu, ia tahu dalam kuburan kuno di mana2 terpasang perangkap rahasia, mendiang gurunya telah pilih kasih dan dirinya telah dikelabui, sebaliknya semua rahasia itu telah diturunkan kepada sang Sumoay.

Karenanya, tanpa pikir lagi segera ia melesat maju, dengan sekali jamberet ia hendak cengkeram Siao-liong-li.

Tatkala itu Siao-liong-li sedikitpun tak punya tenaga buat menangkis jambereten itu, meski ranjang batunya mendadak ambles ke bawah, tetapi karena Li Bok-chiu cepat mengetahui dan mengambil tindakan kilat pula, cara turun tangannya pun sebat luar biasa, maka dengan jamberetannya itu tampaknya segera Siao-liong-li akan ditarik kembali mentah-mentah.

Keruan saja Nyo Ko kaget, sekuat tenaga ia tangkiskan sebelah tangannya, maka terdengarlah suara "crat"

Sekali, tiba2 lengannya terasa kesakitan kiranya lengan kirinya dan lengan kanan Siao-liong-li ber-sama2 telah terkena kuku jari Li Bok-chiu hingga menusuk masuk daging.

MenyusuI mana matanya tiba2 menjadi gelap, lalu terdengarlah suara gedebukan yang keras dua kali, kiranya ranjang batu mereka telah anjlok sampai ruangan dibawah tanah, sedang papan batu di bagian atas secara otomatis telah menutup sendiri, seketika Siao-liong-li dan Nyo Ko kena dipisahkan dengan Li Bok-chiu dan Ang Ling-po, yang satu pihak terpotong di bagian atas dan yang lain berada di bawah.

"Coba kau meraba dinding di mana terdapat sebuah bola batu, kau putar tiga kali ke kiri lalu empat kali ke kanan,"

Kata Siao-liong-li kemudian.

Nyo Ko menurut, ia melompat turun dari ranjang batu, ia me-raba2 dalam kegelapan, betul saja ia dapatkan sebuah batu bundar, ia menuruti petunjuk Siao-liong-li tadi, diputarnya ke kiri dan kanan, maka terdengarlah suara "kerkak-kerkek"

Beberapa kali, tiba2 tubuhnya terasa terguncang.

Kiranya ruangan di bawah tanah dimana mereka berada itu dibangun tergantung, karena alat rahasianya tergerak, segera ruangan ini bergeser pindah tempat, Dengan demikian sekalipun kini Li Bok-chiu berhasil menyerbu ke bawah juga tak akan mendapatkan jejak mereka lagi.

"Untuk sementara ini boleh dikata kita sudah lolos dari tangan jahat kedua orang tadi,"

Kata Siao-liong-li dengan menghela napas lega.

Dalam pada itu remang2 Nyo Ko melihat di dalam ruangan itu seperti terdapat benda2 sebangsa meja kursi, secara geremet didekatinya meja itu, ia ambil ketikan api dan menyalakan lilin yang ada di atas meja.

Tetapi setelah lilin menyala, tanpa tertahan ia terkejut, sebab terlihat olehnya separoh bajunya sudah basah kuyup oleh darah, sedang luka diatas lengan yang terkena cakaran tadi masih terus mengalirkan darah segar.

Waktu ia periksa keadaan Siao-liong-li ia lihat di lengannya juga terdapat goresan yang cukup parah oleh cakaran kuku Li Bok-chiu tadi, hanya Siao-liong-li sudah terlalu banyak mengeluarkan darah, maka darah yang merembes keluar dari luka cakaran ini cuma sedikit.

"Ko-ji,"

Kata Siao-liong-li lagi menghela napas.

Aku sudah kekurangan darah, susahlah untuk menyembuhkan luka dengan menjalankan Lwekang sendiri, Tetapi sekalipun aku tak terluka, kita berdua juga tak mampu menandingi aku punya Suci.

Belum habis bicara, mendadak Nyo Ko melompat naik ke atas ranjang batu pula.

Kiranya tadi waktu Nyo Ko mendengar Siao-liong-li bilang kekurangan darah, mendadak otaknya yang cerdas itu tergerak, sebelum orang habis bicara ia sudah melompat ke atas ranjang, ia tempelkan luka pada lengannya sendiri dengan luka di lengan Siao-liong-li hingga dempet menjadi satu, dengan cara demikian ia bermaksud menyalurkan darahnya sendiri kepada nona itu.

Akan tetapi mengalirnya darah dari lengannya ternyata tidak dapat dikendalikan oleh keinginan hatinya, meski darah masih mancur keluar dari lengannya, namun tidak dapat menyalur masuk ke otot darahnya Siao-liong-li.

"Ko-ji, usahamu ini hanya sia2 saja, sekalipun kau dapat menolong diriku, tapi jiwamu sendiri bukankah akan melayang malah,"

Dengan menghela napas Siao-liog-li berkata.

Tetapi Nyo Ko tidak menghiraukan kata2 orang, sebaliknya ia semakin kuatir karena melihat darah merembes keluar dari celah2 lengan mereka yang berdempetan itu, nyata usahanya memang tidak berhasil.

Tiba2 ia jadi teringat pada Lwekang yang dipelajari dari Auwyang Hong, ilmu itu memaksa aliran darah menjadi terbalik, kenapa tidak dicobanya ?

Karena itu, segera ia baliki tubuhnya, ia menjungkir dengan kepala menahan di atas ranjang batu, ia jalankan ilmu Kiu-im-sin-kang yang terbalik ajaran Auwyang Hong itu, betul saja jalannya darah menjadi terdesak oleh semacam hawa yang dia keluarkan sehingga ber-angsur2 secara teratur bisa mengalir masuk ke dalam badan Siao-liong-li.

Sebenarnya seluruh badan Siao-liong-li sudah terasa dingin bagai es, tetapi aneh, tiba2 ia merasakan ada aliran darah hangat yang merembes masuk ke dalam tubuhnya, Tiba2 terpikir olehnya hal ini kurang baik, segera ia niat memberontak.

Diluar dugaan.

sebelumnya Nyo Ko sudah memperhitungkan akan reaksinya ini, lebih dulu ia sudah ulur jarinya dan menutuk Hiat-to Siao-liong-li sehingga tak bisa berkutik.

"Transfusi darah"

Yang dilakukan Nyo Ko ini kira2 berjalan beberapa saat, akhirnya Nyo Ko sendiri merasa kepala pusing dan mata berkunang-kunang, ia mengarti tidak sanggup bertahan lebih lama lagi, maka barulah dia duduk kembali seperti biasa, ia balut luka mereka berdua dan melepaskan tutukannya tadi atas diri Siao-liong-li Dengan terkesima Siao-liong-li memandang Nyo Ko hingga lama, akhirnya ia menghela napas pelahan, iapun tidak ber-kata2 lagi melainkan melakukan semadi sendiri untuk memulihkan kekuatannya.

Malam itu mereka berdua masing2 memulihkan diri sendiri2.

Kalau Nyo Ko bersemadi untuk memulihkan rasa letih karena kehilangan darahnya, adalah Siao-liong-li sesudah mendapatkan transfusi darah dari Nyo Ko, semangatnya ternyata banyak bertambah segar, ia telah menjalankan darah baru yang hangat itu ke seluruh tubuhnya hingga beberapa kali, lewat dua-tiga jam, ia mengarti jiwanya tidak berhalangan lagi, maka waktu ia membuka matanya, ia tersenyum kepada Nyo Ko.

Sebenarnya pipi Siao-liong-li selalu putih pucat, tetapi kini tiba2 Nyo Ko melihat ada semu merah pada kedua belah pipinya sehingga tertampak lebih cantik.

"Ha, Kokoh, kau sudah baik,"

Seru Nyo Ko girang.

Siao-liong-li angguk2 dan selagi hendak buka suara, mendadak terdengar suara letikan api, kiranya lilin yang dipasang itu sudah tersulut habis, keruan seketika seluruh ruangan menjadi gelap guIita.

Karena itu, luar biasa rasa senangnya Nyo Ko, tetapi toh dia tidak tahu cara bagaimana harus berbicara.

"Marilah kita pergi ke kamarnya Sun-popoh, ada sesuatu akan kukatakan padamu,"

Kata Siao-liong-li kemudian.

"Apa kau tidak letih ?"

Tanya Nyo Ko.

"Tidak apa2 !"

Sahut Siao-liong-li.

Habis itu ia menarik beberapa kali pada pesawat rahasia yang terpasang di dinding batu, segera terasa dinding itu bergerak, lalu terbentanglah sebuah pintu, jalan baru ini sudah tak dikenal lagi oleh Nyo Ko, tetapi Siao-liong-li mengajaknya memutar kian kemari beberapa kali dalam suasana gelap itu, akhirnya tiba juga mereka di kamarnya Sun-popoh dahulu.

Waktu Siao-liong-li menyalakan lilin lagi, dia lantas gulung pakaian Nyo Ko hingga berupa satu buntalan, ia bungkus pula sepasang sarung tangan benang emas miliknya ke dalam buntalan baju itu.

perbuatan Siao-liong-li ini disaksikan Nyo Ko dengan terkesima karena heran.

"Kokoh, apa yang kau lakukan ?"

Tanyanya tak mengerti. Siao-liong-li tak menjawab, ia malah ambil lagi dua botol besar madu tawon dan masukkan ke dalam buntalan pula.

"He, kita akan meninggalkan kuburan kuno ini bukan, Kokoh ?"

Tanya Nyo Ko tiba2 dengan girang.

"Pergilah saja kau, kutahu kau adalah anak baik, terhadap diriku kaupun berlaku sangat baik,"

Ujar Siao-liong-li. Luar biasa terperanjatnya Nyo Ko.

"Dan kau sendiri, Kokoh ?"

Tanyanya cepat.

"Aku sudah bersumpah selama hidupku ini tidak akan keluar lagi dari kuburan ini,"

Sahut Siao-liong-li.

Melihat orang berkata dengan sungguh2, lagu suaranya pun sangat tegas, terang tidak bisa di-bantah, oleh karenanya Nyo Ko tak berani bicara lebih banyak.

Akan tetapi karena soalnya terlalu penting, akhirnya ia beranikan diri buat buka suara lagi.

"Kokoh, jika kau tak pergi, akupun tak mau pergi, biarlah aku mengawani kau disini."

"Suci-ku menunggui kita di mulut kuburan dan headak paksa aku menyerahkan Giok-li-sim-keng,"

Kata Siao-liong-li pula.

"Sedang ilmu kepandaianku tidak bisa menandingi dia, maka pasti tak bisa lolos, bukan ?"

"Ya", sahut Nyo Ko.

"Dan rangsum yang tertinggal di sini, aku kira paling tahan hanya dua puluhan hari saja, umpama bisa makan sedikit madu tawon, paling lama tidak lebih juga sebulan, dan sesudah sebulan, lalu bagaimana baiknya ?"

"Kita terjang keluar saja,"

Sahut Nyo Ko sesudah tertegun sejenak "Walaupun kita tak bisa mengalahkan Supek, tapi belum tentu kita tak mampu menyelamatkan jiwa kita."

"Susah,"

Kata Siao-liong li dengan menggeleng kepala.

"jika kau kenal ilmu kepandaian dan tabiat Supek, tentu kau akan tahu sekali2 kita tak mampu menyelamatkan diri. Apabila sampai tertangkap, tatkala itu tidak hanya akan mengalami siksaan dan hinaan, bahkan diwaktu akan mati terlebih susah lagi penderitaan badaniah kita."

"Jika begitu, bukankah seorang diri akan lebih2 tak mampu lari,"

Ujar Nyo Ko.

"ltulah soal lain."

Sahut Siao-liong-li "Aku ke bagian dalam kuburan, pada kesempatan itulah kau lantas melarikan diri Sebelummu lantas kau pindahkan batu besar di sebelah kiri pintu kuburan dan tarik alat rahasia di dalamnya, menyusul itu segera ada dua batu raksasa akan anjlok turun dan menutup rapat pintu kuburan untuk selama-lamanya."

Nyo Ko semakin terkejut oleh cerita orang.

"Dan Kokoh tahu akan ja!an2 rahasia lain dan bisa keluar sendiri, bukan?"

Tanyanya cepat.

"Tidak,"

Sahut Sio-liong-li sambil geleng kepala pula.

"Dahulu waktu Cikal-bakal Coan-cin-kau, Ong Tiong-yang mendirikan Hoat-su-jin-bong ini, ia tahu dirinya selalu dikejar dan diincar oleh raja Kim, oleh sebab itu ia sengaja atur kuburan ini dan taruh dua batu raksasa yang berlaksa kati beratnya, ia tunggu bila dirinya kepepet dan tak sanggup melawan musuh yang jauh lebih banyak, segera ia akan lepaskan batu raksasa itu untuk menutup dirinya didalam kuburan, dengan demikian sampai matipun ia tidak mau takluk pada musuh. Akan tetapi karena selama itu musuh2nya tiada satupun yang sanggup melawan ilmu silat Ong Tiong-yang yang tinggi, maka kedua batu raksasa ini selamanya belum pernah terpakai. Dan sewaktu Ong Tiong-yang harus menyerahkan kuburan kuno ini kepada Cosu-popoh, ia telah memberitahukan juga semua alat rahasia yang dia"

Atut di dalam kuburan hingga akhirnya turun temurun sampai pada diriku."

"Tetapi Kokoh, mati atau hidup aku tetap akan berada di dampingmu."

Dengan air mata ber-linang2 Nyo Ko berkata pula.

"Apa gunanya kau mengikuti diriku terus ?"

Kata Siao-liong-li.

"Kau bilang di dunia luar sana indah sekali, maka pergilah kau bermain sepuasnya, nanti kalau kau sudah berhasil melatih cinkeng sampai sempurna, maka tiada satupun diantara imam2 busuk Coan-cin-kau itu yang berani cari gara2 lagi padamu, Tatkala itu kau tentu bisa malang melintang di seluruh jagat, bukankah itu sangat menyenangkan ?"

Akan tetapi Nyo Ko ternyata tidak tergoyah oleh bujukan itu, tiba2 ia menubruk maju dan merangkul tubuh Siao-liong-li sambil menangis tersedu-sedan.

"Kokoh, di jagat ini hanya kau saja seorang yang sangat baik terhadapku,"

Demikian katanya cemas.

"Jika kau tak hidup lagi, pasti seumur hidupku tak akan merasa senang."

Sebenarnya watak Siao-liong-li selalu dingin dan lenyap dari segala macam perasaan, apa yang dia ucapkan pun selalu tegas dan tidak bisa ditarik kembali pula.

Tetapi aneh, entah mengapa, sesudah mendengar kata2 Nyo Ko yang diucapkan dengan setengah meratap ini, tanpa tertahan darah dalam tubuhnya se-akan2 bergolak, dalam pilunya hampir2 ia meneteskan air mata.

Tapi segera ia terkejut, teringat olehnya apa yang pernah dipesan wanti2 oleh mendiang gurunya sewaktu hendak mangkat bahwa ilmu yang dilatihnya itu adalah semacam ilmu rohaniah yang harus menghilangkan segala cita rasa serta napsu, bila sampai mengalirkan air mata karena seseorang hingga menggoncangkan perasaan, bukan saja ilmu silatnya akan punah, bahkan membahayakan jiwa sendiri pula.

Teringat oleh pesan sang guru itu, segera Siao-liong-li mendorong pergi Nyo Ko, lalu dengan lagu suara dingin ia berkata pula.

"Apa yang aku katakan kau harus menurut, kau berani adu mulut dengan aku ?"

Melihat orang kembali berubah sungguh2 dan keren, Nyo Ko tak berani buka suara lagi.

Segera Siao-liong-li ikat buntalan yang sudah disiapkan itu dan diikat pada punggung Nyo Ko, ia ambilkan sebatang pedang yang tergantung di dinding.

"lni ambil, sebentar bila aku katakan pergi, segera juga kau harus angkat kaki, begitu keluar dari kuburan ini, seketika juga kau lepaskan batu raksasa penutup pintu itu,"

Dengan suara bengis Siao-Iiong-li memesan sambil menyerahkan pedang tadi.

"lngat, Supek-mu teramat lihay, kesempatan sedetik saja bila ayal akan segera hilang, maka kau mau turut tidak perkataanku ini ?"

"Aku menurut,"

Sahut Nyo Ko dengan suara berat.

"Jika kau tidak melakukan apa yang aku katakan, di alam baka sekalipun aku akan benci padamu,"

Kata Siao-liong-Ii pula.

"Dan sekarang marilah berangkat !"

Habis berkata, ia tarik tangan Nyo Ko dan membuka pintu untuk keluar ke ruangan semula.

DahuIu Nyo Ko pernah menyentuh tangan Siao-liong-li yang selamanya terasa dingin bagai es, tetapi kini demi tangannya dipegang orang pula, tiba2 ia merasa tangan Siao-Iiong-li sebentar dingin dan sebentar lagi hangat, ternyata berlainan sekali dengan biasanya.

Tetapi karena perasaannya sedang bergoIak, maka urusan inipun tidak sempat dia pikirkan lagi, ia hanya ikut Siao-Iiong-li keluar kembali.

Sambil meraba satu dinding batu Siao-liong-li berpesan lagi pada Nyo Ko.

"Di dalam kamar inilah mereka berada, sebentar bila aku pancing menyingkir Suci, segera kau terjang keluar melalui pintu ujung barat-laut, Bila Ang Ling-po mengejar kau, boleh kau lukai dia dengan Giok-hong-soa (pasir tawon putih)."

Nyo Ko tidak menjawab sebab perasaannya tidak kepalang kusutnya, ia hanya mengangguk saja.

Giok-hong-soa atau pasir tawon putih yang disebut Siao-liong-li itu adalah Am-gi atau senjata gelap Ko-bong-pay yang khas, Dahulu Lim Tiao-eng disegani di kalangan Bu-lim disebabkan dia memiliki dua macam Am-gi yang sangat lihay, satu diantaranya adalah Peng-pek-gin-ciam yang dipakai Li Bok-chiu itu dan yang lain adalah Giok-hong-soa ini.

Bentuk Giok-hong-soa ini segi enam dan terbikin dari pasir emas yang digembleng pula dengan racun tawon putih, meski bentuknya kecil lembut, tetapi karena terbuat dari emas yang berat, maka waktu dihamburkan dapat mencapai jarak jauh.

Tetapi karena Am-gi ini terlalu keji, maka selamanya jarang digunakan Lim Tiao-eng.

Guru Siao-liong-li tahu akan jiwa Li Bok-chiu yang tidak gampang dikendalikan dan tidak sudi tinggal selamanya di dalam kuburan, maka yang diturunkan kepadanya hanya Peng-pek-gin-ciam, sedang Giok-hong-soa tidak diajarkan padanya.

Begitulah, maka setelah Siao-liong-li tenangkan semangatnya, segera ia menekan suatu alat rahasia di atas dinding batu, menyusul terdengarlah suara "krak-krak"

Beberapa kali, ternyata dinding batu itu telah menggeser terbuka sendiri Dan begitu dinding melekah, tanpa ayal Siao-liong-li ayun selendang suteranya, sekaligus ia serang kedua lawannya, Li Bok-chiu dan Ang Ling-po, serangannya cepat dan orangnya ikut melayang maju juga dengan gesit.

Tatkala itu Li Bok-chiu sudah dapat melepaskan tutukan Hiat-to pada tubuh Ang Ling-po, ia telah damperat muridnya ini yang tak becus sampai kena diingusi satu "anak kemarin"

Habis itu guru dan murid berdua ini telah meraba keadaan dalam kuburan kuno itu hingga akhirnya tujuh atau delapan kamar sudah dapat dibobolkan dan masih hendak masuk lebih dalam lagi.

Tentu saja mereka menjadi kaget ketika mendadak nampak Siao-liong-li malah menyerbu ke-luar, Lekas2 Li Bok-chiu ayun senjata kebut untuk menangkis serangan selendang sutera orang.

Kebut dan selendang sutera semuanya adalah benda yang lemas, kini lemas lawan lemas, namun Li Bok-chiu terlebih ulet, maka begitu kedua senjata saling beradu, seketika selendeng sutera Siao-liong-li menggulung balik.

Tetapi Siao-liong-li tidak andalkan serangan tadi saja, ketika ujung selendang membalik, sebelah ujung yang lain segera menyamber maju pula, sekejap mata saja ia sudah melontarkan beberapa kali serangan, begitu lemas saja penampilan selendangnya hingga se-akan2 sedang menari.

Dalam kagetnya tadi Li Bok-chiu menjadi dongkol pula.

"Nyata Suhu memang tak adil, bila kah dia pernah mengajarkan kepandaian padaku seperti Sumoay ini ?"

Demikian ia membatin.

Akan tetapi karena ia menaksir masih sanggup menandingi sang Sumoay, maka sementara tipu serangan mematikan belum dia lontarkan, sebaliknya ia justru mengulur tempo hendak menyaksikan ilmu silat lihay apa yang telah diajarkan kepada Siao-liong-li oleh gurunya.

Dilain pihak Ang Ling-po ternyata tidak tinggal diam.

Selama hidup ia sangat bangga atas dirinya yang pintar dan cerdik, siapa tahu hari ini bisa terjungkal dibawah tangan satu "anak kemarin" , bahkan dirinya telah dipermainkan setengah harian oleh orang yang berlagak tolol dan untuk ini sedikitpun dirinya ternyata tidak mengetahui, keruan saja tidak kepalang gemasnya.

Dalam pada itu ia lihat sang Suhu dengan sengitnya sedang menempur sang Susiok, maka kesempatan ini hendak dia gunakan untuk balas dendam.

"Hayo, Sah Thio, kau keparat ini betul2 kurangajar,"

Demikian segera ia bentak Nyo Ko dengan suara garang, Habis ini ia lolos sepasang pedangnya sambil melangkah maju, lalu ia membentak lagi .

"lni lihat, akan ku iris batang hidung-mu !"

Nampak orang cukup kalap, terpaksa Nyo Ko harus angkat pedang buat menangkis.

Sebenarnya kalau dalam keadaan biasa, turuti adat Nyo Ko, tentu dia akan keluarkan kata2 sindiran untuk menggoda orang, tetapi kini kare-teringat dirinya bakal berpisah dengan Siao-liong-li, maka matanya telah basah mengembeng air hingga pandangannya menjadi remang2, karena itu atas serangan orang ia hanya menangkis asal menangkis saja, sama sekali ia tidak melakukan serangan balasan.

Di pihak sana setelah Ang Ling-po melontarkan beberapa kali serangan, meski tidak bisa melukai Nyo Ko, namun melihat gerak tangan orang seperti tak bertenaga, ia menyangka kepandaian bocah ini hanya sekian saja, keruan ia tambah gemas dan penasaran kena diingusi orang.

Sementara itu setelah saling gebrak belasan jurus antara Li Bok-chiu dan Siao-Iiong-li, mendadak yang tersebut duluan itu putar kebutnya hingga selendang sutera Siao-liong-li kena terlibat.

"Sumoay, lihatlah kepandaian Suci-mu ini,"

Kata Li Bok-chiu.

Habis berkata, se-konyong2 ia getarkan kebutnya dengan tenaga dalam karena itu, selendang sutera lawannya segera terputus menjadi dua.

Ilmu kepandaian yang diunjukkan Li Bok-chiu ini memang lihay luar biasa, Biasanya dalam pertarungan senjata tajam melawan senjata tajam, untuk mematahkan senjata lawan saja sangat sulit, apalagi kini baik kebut maupun selendang tergoIong benda2 yang lemas, tetapi Li Bok-chiu toh sanggup membetot putus selendang sutera itu, sungguh hal ini berpuluh kali lipat lebih sukar daripada mematahkan senjata tajam yang keras.

Sungguhpun demikian, namun Siao-liong-Ii sedikitpun tidak menjadi jeri oleh kepandaian orang.

"Hm, sekalipun kepandaianmu bagus, kau mau apa lagi ?"

Sambutnya dingin, Berbareng itu tiba2 ia gunakan separoh selendangnya yang terputus itu untuk menyerang, sekali dia ayun, tahu2 ujung kebut Li Bok-chiu kena terlilit juga, menyusul ini ujung selendang yang lain segera menyamber dan melilit pula garan kebut yang terbikin dari kayu, ketika yang satu ditarik ke kiri dan yang lain di-betot ke kanan, maka terdengarlah suara "pletak", nyata kebut Li Bok-chiu juga telah kena dipatahkan.

Kalau mempersoalkan kekuatan, serangan balasan Siao-liong-li ini memang belum bisa melebihi tenaga betotan Li Bok-chiu yang memutuskan selendang dengan tenaga getaran tadi, tetapi tepatnya, kesebatannya mengeluarkan serangan balasan cukup membikin Li Bok-chiu tak berdaya.

Begitulah, maka Li Bok-chiu rada terperanjat juga oleh serangan kilat tadi, namun segera ia buang garan kebut yang patah itu, lalu dengan tangan kosong merangsang maju hendak merebut selendang Siao-liong-li.

Karenanya Siao-Iiong-li di desak hingga terus mundur ke belakang.

Setelah belasan jurus berlalu lagi, akhirnya Siao-liong li telah mundur sampai di dekat dinding batu sebelah timur, tampaknya untuk mundur lebih jauh sudah tidak mungkin lagi.

Dalam keadaan demikian, mendadak ia baliki sebelah tangannya terus menekan pada tembok batu sambit berteriak.

"Ko-ji, lekas pergi !"

Berbareng dengan itu terdengarlah suara "krak"

Yang keras, ternyata di ujung barat-daya sana telah terbuka satu lobang, Sungguh terkejut sekali Li Bok-chiu, dengan cepat ia putar tubuh hendak merintangi larinya Nyo Ko.

Akan terapi Siao-liong-li lidak membiarkan lawannya sempat memutar, ia buang selendang suteranya, dengan kedua tangannya, sekaligus ia menyerang dengan tipu2 yang mematikan.

Karena terpaksa, dengan sendirinya Li Bok-chiu memutar balik untuk menangkis serangan itu.

"Ayo, Ko-ji, lekas kau berangkat !"

Teriak Siao-Iiong-li pula. Semula Nyo Ko agak ragu2, ia coba memandang Siao-liong-li, namun segera dia insaf bahwa urusan ini tak mungkin bisa ditarik kembali Iagi.

"Kokoh, pergilah aku !"

Demikian teriaknya segera.

berbareng ia ayun pedang dan susul menyusul menyerang tiga kali, semuanya ia arahkan ke muka Ang Ling-po.

Oleh karena tadi Ang Ling-po melihat gerak pedang Nyo Ko tak bertenaga, maka sama sekali dia tak duga bahwa mendadak Nyo Ko bisa melontarkan serangan berbahaya ini, dalam keadaan kepepet, terpaksa ia melompat mundur ke belakang.

Karena kesempatan inilah, begitu Nyo Ko geraki tubuhnya, tahu2 ia sudah menyerobot keluar pintu gua tadi, namun demikian, ia masih coba menoleh hendak memandang lagi pada Siao-liong-li untuk penghabisan kalinya.

Sebenarnya kalau dia tidak menoleh buat memandang, tetapi terus pergi begitu saja, kelak entah betapa banyak kesulitan akan terhindar dan berkurang dengan macam2 godaan, tetapi karena Nyo Ko dilahirkan dengan watak dan perasaan yang penuh kemanusiaan, meski berada dalam keadaan yang sangat berbahaya, toh ia masih ingin memandang sekali lagi pada Siao-liong-Ii.

Justru oleh karena pandangan inilah, seumur hidup Nyo Ko lantas berubah juga nasibnya.

Siao-liong-li melawan kakak seperguruan sendiri dengan sama2 bertangan kosong, kalau hanya beberapa puluh jurus saja belum tentu dia akan dikalahkan, tapi oleh karena kepergian Nyo Ko yang bayangan tubuhnya berkelebat keluar pintu, tiba2 teringat oleh Siao-liong-li bahwa dengan perginya Nyo Ko ini mereka tak akan bersua lagi untuk se-lama2nya, maka dadanya tiba2 se-akan2 menjadi sesak, matanya pun menjadi sepat dan ingin meneteskan air mata.

Selama hidup Siao-liong-li tidak pernah terguncang perasaan murninya, siapa tahu hari ini saja sudah dua kali ia hampir menangis, keruan seketika ia tersadar dan luar biasa terkejutnya, justru pertandingan diantara jago silat sedikitpun pantang teledor, sedikit tertegunnya tadi yang sejenak saja telah digunakan Li Bok-chiu dengan baik, se-konyong2 ia berhasil mencengkeram "hwe-cong-hiat"

Pergelangan tangan Siao-liong-li, menyusul ini sebelah kakinya menjegal, keruan saja Siao-liong-li tak sanggup berdiri tegak, ia kena dirobohkan ke lantai.

Pada saat robohnya Siao-liong-li itulah, saat itu juga Nyo Ko tepat sedang menoleh memandangnya, Dengan sendirinya luar biasa kagetnya demi dilihatnya sang guru hendak dicelakai Li Bok-chiu, darahnya seketika mendidih, dalam keadaan demikian, sekalipun langit ambruk atau bumi terbalik juga tidak dia hiraukan lagi.

"Jangan mencelakai Kokoh !"

Demikian ia berteriak Berbareng ini ia menubruk masuk kembali, dari belakang segera ia merangkul pinggang Li Bok-chiu dengan kencang. Tipu serangan Nyo Ko ini betul2

"diluar kamus silat" , sama sekali tidak terdapat dalam teori persilatan golongan manapun, hanya saking kuatirnya Nyo Ko tidak pikirkan apakah rangkulannya ini masuk akal atau tidak, yang dia pikir hanya menolong Siao-liong-li saja. Sebaliknya karena Li Bok-chiu hanya memikir hendak tawan Siao-liong-li, maka se-kali2 tak diduganya bahwa Nyo Ko yang sudah kabur keluar itu bisa masuk kembali, bahkan terus menubruk punggungnya, karena tak ter-sangka2, maka pinggangnya seketika kena terangkul kencang dan tak dapat dilepaskan meski dia coba me-ronta2. Walaupun tindak-tanduk Li Bok-chiu biasanya sangat kejam dan tidak suka terikat oleh segala adat-istiadat umum, namun tubuhnya yang suci bersih senantiasa dia jaga baik2, oleh sebab itu, meski sudah beberapa puluh tahun berkelana di dunia Kangouw toh dia masih tetap bertubuh perawan, tetapi kini mendadak dirangkul Nyo Ko se-kencang2nya, seketika terasa olehnya semacam hawa hangat kaum lelaki se-akan2 menembus punggungnya terus masuk ke lubuk hatinya, tanpa tertahan seluruh badannya menjadi lemas tak bertenaga, mukanyapun berubah merah. Dahulu waktu di daerah Kanglam sebelah matanya sampai kena ditotol buta oleh burung merahnya Nyo Ko, soalnya juga disebabkan oleh rangkulan Nyo Ko, tatkala itu Nyo Ko masih kecil, namun toh sudah memiliki bau laki2 umumnya yang khas, siapa tahu kejadian mana kini bisa terulang lagi, apa pula kini Nyo Ko sudah berupa pemuda, maka hawa hangat yang mengalir keluar dari tubuhnya itu lebih2 menggoncangkan perasaan kaum wanita. Oleh karena rangkulan Nyo Ko inilah, tangan Li Bok-chiu yang mencekal pergelangan Siao-liong-li lantas menjadi kendor, sudah tentu kesempatan ini tidak di-sia2kan Siao-liong-li, seketika ia baliki tangannya dan bergantian menekan urat nadi tangan orang, namun di lain pihak ujung senjata Ang Ling-po sudah menempel juga di punggung Nyo Ko. Tatkala itu Siao-liong-li sudah terebah di lantai ketika dilihatnya Nyo Ko terancam bahaya, segera ia menggulingkan tubuhnya ke kiri, sekaligus ia tarik Li Bok-chiu serta Nyo Ko ke samping, dengan demikian tusukan Ang Ling-po menjadi mengenai tempat kosong.

"Ko-ji, lekas berangkat !"

Bentak Siao-liong-li sesudah melompat bangun. Akan tetapi sekali ini Nyo Ko ternyata tidak turut perintahnya ia masih merangkul pinggang orang kencang-kencang.

"Tidak, Kokoh, kau saja yang pergi, aku menyikap dia begini, tidak nanti dia bisa lolos,"

Teriak Nyo Ko.

Di lain pihak, dalam sekejap itu pikiran Li Bok-chiu sudah berputar belasan kali, sebentar ia insaf keadaan sangat membahayakan dirinya, terpaksa dia harus kumpulkan tenaga dalam untuk melepaskan diri dari pelukan orang, tetapi lain saat terasakan olehnya berada dalam pelukan Nyo Ko, rasanya begitu enak, begitu meresap hingga sukar dilukiskan.

Keruan saja Siao-Iiong-li ter-heran2, ia pikir ilmu silat sang Suci begitu tinggi, kenapa bisa ditaklukkan Nyo Ko hingga tak mampu berkutik ?

Dalam pada itu dilihatnya Ang Ling-po telah angkat pedangnya hendak menusuk Nyo Ko lagi.

"Perempuan ini kurangajar terhadap diriku tadi, harus kuhajar adat padanya,"

Demikian ia pikir dengan lekas.

Karena itu, tiba2 kedua jarinya menyentil ke batang pedang Ang Ling-po yang kiri, begitu hebat selentikan ini hingga pedangnya mendadak meloncat terus membentur pedang Ang Ling-po di tangan kanan dengan mengeluarkan suara nyaring Keruan Ang Ling-po terkejut, kedua tangannya pun linu oleh karena tenaga benturan tadi sehingga sepasang pedangnya terjatuh ke lantai, saking kaya sampai Ang Ling-po berkeringat dingin, pula ia melompat mundur.

Dan oleh karena saling beradunya kedua pedang tadi sehingga mencipratkan lelatu api, maka sekilas terlihat oleh Li Bok-chiu bahwa diantara sinar mata sang Sumoay seperti mengunjuk semacam perasaan aneh dan sedang memandang padanya dengan dingin.

Karena itu, tanpa terasa Li Bok-chiu jadi malu juga.

"Anak busuk, apa kau minta mampus ?"

Damperatnya segera, Berbareng ini kedua lengannya tiba2 bekerja, yang satu meronta dan yang lain melepas, maka berhasil dia loloskan diri dari pelukan Nyo Ko yang "mesra" , bahkan menyusul telapak tangannya terus memukul ke arah Siao-liong-li Dengan sendirinya Siao-liong-li menangkis, tetapi segera terasa olehnya tenaga pukulan sang Suci terlalu hebat, terlalu kuat, ia sendiri baru sembuh dari luka parah.

dadanya kini menjadi sakit lagi oleh karena getaran pukulan orang.

Dalam pada itu, dilihatnya Nyo Ko merangkak bangun dan kembali menubruk maju hendak membantu dirinya pula, Karuan ia sangat mendongkol "Ko-ji, apa betul2 kau tidak mau turut perkataanku ?"

Bentaknya.

"Apa saja yang bibi katakan akan kuturut, hanya sekali ini saja aku tak mau turut,"

Sahut Nyo Ko tiba2.

"O, Kokoh yang baik, biarlah aku mati-hidup bersama saja dengan kau."

Mendengar lagu suara orang begitu tulus dan begitu sungguh2, kembali hati murni Siao-Iiong-li"

Terguncang lagi.

Sementara ia lihat Li Bok-chiu kembali melontarkan sekali gablokan pula, ia insaf kepandaian sendiri kini banyak terganggu, pukulan keras ini se-kali2 tak dapat ditangkisnya, tanpa pikir segera ia melompat ke samping, berbareng ini ia samber tubuh Nyo Ko terus melarikan diri keluar dari lubang pintu tadi.

Namun Li Bok-chiu tidak tinggal diam, segera ia menyusul di belakang orang dan ulur tangan hendak menjambret punggung Nyo Ko.

"Jangan lari!"

Demikian bentaknya pula.

Tetapi Siao-liong-li sudah siap, tiba2 ia baliki tangannya dan berhamburlah segenggam pasir tawon putih dengan cepat ke arah Li Bok-chiu.

Begitu lihay Giok-hong-soa atau pasir tawon putih itu hingga se-akan2 tak bersuara, tetapi tahu2 sudah menyamber tiba, Namun betapapun juga Li Bok-chju terhitung sesama guru dengan Siao-liong-li, dia kenal betapa lihaynya Am-gi ini, ketika mendadak hidungnya mengendus bau manis dan harum madu tawon, dalam kagetnya sekonyong-konyong ia mengayun tubuhnya sendiri ke belakang, karena perbuatannya ini sama sekali tak ter-duga2, maka Ang Ling-po yang membuntut dibelakang sang guru kena tertumbuk hingga ke-dua-duanya jatuh terjungkal.

Dalam pada itu terdengarlah suara "cring-cring"

Nyaring halus, kiranya belasan butir pasir tawon putih itu telah kena menyambit dinding batu, menyusul terdengar pula suara "krekat-kre-ket"

Dua kali, nyata Siao-liong-li sudah lari keluar kamar batu dengan menggondol Nyo Ko, alat perangkap rahasia dikerahkan, maka kembali pintu gua tersumbat rapat pula.

Sesudah meloloskan diri keluar kuburan itu bersama gurunya, Nyo Ko tidak kepalang girang-nya, ia menghisap hawa segar beberapa kali di alam terbuka itu.

"Kokoh, sekarang biar kuturunkan batu raksasa itu, agar dua wanita jahat itu mampus di dalam kuburan,"

Katanja kemudian pada Siao-liong-li, habis ini lantas ia hendak pergi mencari alat rahasianya. Diluar dugaan Siao-liong-li telah goyang2 kepala atas usulnya tadi.

"Nanti dulu, tunggu kalau aku sudah masuk pula ke dalam,"

Katanya tiba2. Keruan Nyo Ko terkejut "He, kenapa mau masuk lagi ?"

Tanyanya cepat.

"Ya, Suhu sudah pesan aku menjaga baik2 kuburan ini, maka se-kali2 tidak boleh aku mem-biarkannya dikangkangi orang lain,"

Kata Siao-liong-li.

"Jika kita tutup rapat pintu kuburan, mereka kan tidak bakal hidup lebih lama lagi,"

Ujar Nyo Ko.

"Ya, tetapi akupun tidak bisa masuk kemba-li,"

Sahut Siao-liong-li.

"Apa yang dikatakan Suhu tak berani kubantah, Hm, tidak seperti kau !" -Habis berkata, dengan sengit ia pelototi Nyo Ko sekejap. Seketika hati Nyo Ko terkesiap, darahnya segera bergolak lagi, tiba2 ia pegang lengan Siao-liong-li dan berkata.

"Baiklah Kokoh, aku pasti turut segala perkataanmu."

Mendengar kata2 Nyo Ko yang diucapkan dengan mesra ini, Siao-liong-li sedapat mungkin menahan perasaan hatinya, tak berani dia terguncang lagi, maka sepatah-katapun ia tidak menyahut, ia kipatkan tangan orang terus masuk kembali ke dalam kuburan kuno itu.

"Nah, lekaslah kau turunkan batu penutupnya !"

Katanya kemudian sambil berdiri mungkur, ia sengaja membelakangi Nyo Ko yang masih berdiri di luar kuburan, ia kuatir kalau dirinya tak sanggup menguasai perasaan sendiri, maka dia tak mau memandang pemuda itu lagi.

Di lain pihak Nyo Ko sendiripun diam2 sudah ambil suatu keputusan, ia sedot dalam2 hawa segar alam terbuka itu, waktu ia menengadah, ia lihat cakrawala penuh bertaburan dengan bintang2 yang berkelap-kelip.

"lnilah untuk penghabisan kalinya aku memandang langit dan bintang,"

Katanya di dalam hati.

Kemudian ia mendekati sebelah kiri pilar kuburan itu, ia turuti apa yang pernah Siao-liong-li tunjuk padanya, dengan kuat ia geser pilar batu itu, betul saja di bawahnya terdapat sepotong batu lagi yang berbentuk bundar, maka dipegangnya batu bulat itu terus ditarik sekuat tenaganya.

Oleh karena tarikan itu, batu bundar itu terlepas hingga berwujut satu lubang, menyusul dari dalam lubang itu pe-lahan2 mengalir keluar pasir halus seperti mata air yang mengalir keluar dari sumbernya, maka tertampaklah dua batu raksasa di atas kuburan pe-lahan2 mulai menurun.

"Kedua potong batu raksasa ini beratnya beratus ribu kati, dahulu waktu Ong Tiong-yang membangun kuburan ini, untuk memasang batu2 ini saja diperlukan tenaga ratusan orang secara gotong-royong, kini kalau sampai pintu kuburan tersumbat rapat oleh batu raksasa ini, maka dapat dipastikan Li Bok-chiu, Siao-liong-li dan Ang Ling-po selama hidup tidak bakal bisa keluar kembali. Menyadari akibatnya apabila batu raksasa itu merapat, tak tertahan lagi air mata Siao-liong-li bercucuran, mendadak dia menoleh. Dalam pada itu batu raksasa itu kira2 tinggal dua kaki lagi hampir sampai di tanah, se-konyong2 dengan gerak tipu "

Giok-li-tau-so (si gadis ayu melempar tali), secepat kilat Nyo Ko menerobos masuk lagi ke dalam kuburan melalui lubang selebar dua kaki itu secepat anak panah terlepas dari busurnya.

Siao-liong-li menjerit kaget oleh perbuatan Nyo Ko yang tak terduga itu.

sementara itu Nyo Ko sudah berdiri tegak lagi di hadapannya.

"Kokoh, kini kau tak bisa mengusir aku lagi,"

Kata bocah ini dengan tertawa.

Baru habis berkata, tiba2 terdengar dua kali suara keras, kiranya kedua batu raksasa itu sudah membentur tanah hingga kuburan itu tertutup rapat.

Dalam kagetnya tadi segera Siao-liong-li merasakan kegirangan yang tak terhingga pula, saking hebat guncangan perasaannya, hampir2 saja ia jatuh pingsan lagi, dengan badan lemas ia bersandar pada dinding batu, napasnya ter-sengal2.

"Baiklah, biar kita mati bersama di suatu tempat,"

Katanya kemudian sesudah agak lama, Habis ini ia gandeng tangan Nyo Ko dan masuk ke ruangan dalam.

Tatkala mana Li Bok-chiu berdua sedang berusaha hendak membuka pintu kamar yang tertutup rapat itu, tetapi belum berhasil, keruan mereka kaget ketika melihat Siao-liong-li dan Nyo Ko mendadak muncul kembali, segera pula mereka kegirangan begitu bergerak, segera Li Bok-chiu melompat ke belakang Siao-liong-li dan Nyo Ko dengan tujuan memotong jalan mundur mereka.

Namun demikian, sikapnya Siao-liong-li tetap tenang saja.

"Suci, marilah kubawa kau ke suatu tempat,"

Katanya tiba2 dengan dingin. Karena ajakan ini, Li Bok-chiu berbalik ragu2, ia tak menjawab, hanya dalam hati ia membatin.

"Di dalam kuburan ini penuh terpasang perangkap rahasia, jangan aku sampai kena dikibuli."

"Aku hendak bawa kau berziarah ke depan abu Suhu, jika kau tak mau pergi, terserahlah !"

Kata Siao-liong-li pula.

"Jangan kau coba gunakan nama Suhu untuk menipu aku,"

Sahut Li Bok-chiu.

Siao-liong-li tersenyum dingin oleh jawaban orang, iapun tidak ber-kata2 lagi, tetapi lantas berjalan menuju ke pintu sambil masih gandeng tangan Nyo Ko.

Lagu suara dan tingkah laku Siao-liong-li seperti membawa semacam keangkeran yang tak bisa dibantah orang, maka Li Bok-chiu berdua pun lantas mengikut di belakangnya, cuma senantiasa ia berlaku waspada, sedikitpun tak berani lengah.

Meski diikuti orang dari belakang, namun Siao-liong-li masih terus jalan ke depan dengan gandeng tangan Nyo Ko, sama sekali dia tak pikir kalau sang Suci mungkin akan membokong dirinya, ia terus masuk ke kamar peti mati batu itu.

Meski Li Bok-chiu sudah pernah tinggal di dalam kuburan kuno ini, namun kamar makam ini ternyata belum dikenalnya, teringat olehnya budi mendiang gurunya yang telah mendidiknya, dalam hatinya mula2 rada pilu juga, tetapi bila teringat pula sang guru yang berat sebelah, pilih kasih pada sesama murinya, dari rasa duka seketika berubah menjadi gusar, dan karena ini dia tidak berlutut dan menyembah pada abu makam guru-nya.

"Hubungan kami antara guru dan murid sudah lama terputus, untuk apa membawa aku ke sini ?"

Dengan marah segera ia damperat Siao-liong-li.

"Bukankah disini masih ada dua peti mati kosong, yang satu disediakan untuk kau dan yang lain buat aku,"

Kata Siao-liong-li kemudian dengan tawar saja.

"Sebab inilah aku ingin tanya dulu padamu, kau suka peti yang mana, boleh kau pilih sesukamu."

Ia berkata sambil menuding pada kedua peti batu yang masih kosong itu. Keruan saja tidak kepalang gusar Li Bok-chiu.

"Kurangajar, berani kau permainkan aku ?"

Bentaknya murka, sekali pukul tahu2 telapak tangannya telah menuju dada Siao-liong-li.

Begitu cepat pukulan ini hingga tampaknya dengan segera tangannya akan mampir di dada orang, namun Siao-liong-li ternyata masih diam2 saja, sedikitpun ia tidak berusaha menangkis atau mengelakkan diri, keruan berbalik Li Bok-chiu sendiri tertegun.

"Jika kena, pasti dia mampus seketika,"

Pikir Li Bok-chiu diam2, dan karena orang masih tetap tidak menangkis, tiba2 telapak tangannya yang tinggal beberapa senti di depan dada Siao-liong-li itu mendadak dia tarik kembali mentah-mentah.

Di lain pihak Siao-liong-li ternyata masih tenang2 saja meski setiap saat jiwanya terancam bahaya.

"Suci, Toan-liong-ciok pintu kuburan sudah menutup rapat!"

Demikian katanya.

"Ha ?"

Seru Li Bok-chiu kaget, seketika mukanya menjadi pucat lesi pula. Ya, meskipun tidak semua perangkap rahasia di dalam kuburan ini dia dikenalinya, namun "Toan-liong-ciok"

Atau batu-pemotong-naga, yaitu kedua batu raksasa penutup pintu kuburan tadi, cukup dikenalnya sebagai satu jalan paling lihay pada saat terakhir, dahulu batu raksasa itu disediakan gurunya untuk men-jaga2 bila kedatangan musuh tangguh yang tak bisa dilawan, maka batu itu dapat dipakai sebagai benteng pertahanan siapa tahu dirinya kini justru kena ditutup rapat di dalam kuburan oleh sang Sumoay.

"Kau tahu jalan ke... keluar lain, bukan ?"

Tanyanya kemudian dengen suara ter-putus2.

"Kau sendiri cukup tahu, apabila Toan-liong-ciok sudah menutup, maka pintu kuburan tidak nanti bisa dibuka lagi,"

Kata Siao-liong-li dingin.

"Kau bohong !"

Teriak Li Bok-chiu tiba2 dengan bengis sambil janmbret dada orang. Walaupun diperlakukan secara kasar, tetap Siao-liong-li tidak melawan atau menjadi marah.

"Nah, di sanalah Giok-li-sim-keng yang ditinggalkan Suhu itu, kau ingin membacanya, pergilah baca sesukamu,"

Kata Siao-liong-li lagi tetap tenang."

Aku sendiri menanti disini bersama Ko-ji, mau kau bunuh, boleh kau lakukan, tetapi bila kau ingin keluar dari sini, itulah kukira tidak mungkin lagi!

Nampak sikap orang, tangan Li Bok-chiu yang menjambret baju dada Siao-liong-li pe-lahan2 menjadi kendur dan lurus ke bawah lagi, dengan penuh perhatian ia coba awasi orang, lihat wajah Siao-liong-li mengunjuk sikap yang acuh tak acuh, maka percayalah dia se-kali2 sang Sumoay tidak ber-dusta.

"Baik juga, biar kubunuh dahulu kalian berdua !"

Katanya tiba2, pikirannya mendadak berubah.

Berbareng ini sebelah telapak tangannya dia pukulkan ke muka Siao-liong-li.

Diluar dugaannya, se-konyong2 Nyo Ko melompat maju terus menghadang di hadapan Siao-liong-li.

"Mau bunuh, bunuh saja diriku !"

Demikian teriaknya pula.

Karena ini, telapak tangan Li Bok-chiu berubah arah menuju dada Nyo Ko, namun sesudah dekat, sesaat masih dia tahan dan tidak dipukulkan terus, dengan sorot mata gemas ia pandang marah ini "Lagi2 begini rupa kau membela dia, apa kau memang sudah rela mati untuk dia ?"

Tanyanya kemudian "Ya !"

Sahut Nyo Ko dengan suara lantang.

Atas jawaban ini, secepat kilat tahu2 Li Bok-chiu sudah dapat merampas pedang Nyo Ko yang terselip di ikat pinggangnya itu, dengan senjata rampasan ini segera ditodongkannya ke tenggorokan anak itu.

"Aku hanya perlu bunuh seorang saja,"

Kata Li Bok-chiu.

"Coba kau katakan sekali lagi, kau yang mati atau dia saja yang mati ?"

Nyo Ko tidak menjawab, ia pandang Siao-liong-li sambil tertawa, Nyata tatkala itu mereka berdua ini sudah tak menghiraukan mati-hidup lagi, tidak peduli Li Bok-chiu akan membunuh mereka dengan cara bagaimana, yang jelas mereka tidak akan menggubrisnya.

Nampak kelakuan Nyo Ko dan Siao-liong-li ini, tiba2 Li Bok-chiu menghela napas panjang, pedangnya dilemparkan ke lantai.

"Sudahlah, Sumoay, sumpahmu sudah batal, kau boleh bebas keluar dari sini,"

Katanya dengan suara lemah.

Sebab apakah tiba2 Li Bok-chiu berkata demikian ?

Kiranya Ko-bong-pay yang didirikan Lim Tiao-eng ini, karena dahulu dia mencintai Ong Tiong-yang secara sepihak dan tidak terbalas, dalam dukanya maka Lim Tiao-eng telah menetapkan satu peraturan perguruan yang keras, yalah barang siapa yang menjadi ahliwaris golongan Ko-bong-pay ini harus bersumpah untuk selama hidup akan menetap di dalam kuburan kuno dan seumur hidup tidak akan turun dari Cong-lam-san, Tetapi ada suatu kekecualian, yakni apabila ada seorang pemuda dengan rela dan tulus hati bersedia mati untuknya, maka sumpah seumur hidup tidak akan turun gunung itu menjadi batal.

Hanya saja hal ini se-kali2 tidak boleh diketahui lebih dulu oleh si lelaki itu.

Sebab Lim Tiao-eng anggap kaum laki2 di seluruh jagat ini semuanya berhati palsu, tidak nanti ada laki2 yang rela mati untuk seorang perempuan, bila betul2 ada orangnya, maka anak murid keturunannya boleh mengikuti lelaki itu turun gunung.

Li Bok-chiu sendiri lebih dulu masuk perguruan daripada Siao-liong-li, seharusnya dialah yang menjadi ahliwaris Ko-bong-pay, tetapi karena dia tak mau bersumpah untuk tidak turun gunung, maka akhirnya Siao-liong-li yang diangkat sebagai ahliwaris Ko-bong-pay.

Melihat Nyo Ko begitu tulus dan setia pada Siao-liong-li, tanpa terasa dari kagum, iri, terasa menjadi benci pula, teringat oleh Li Bok-chiu dahulu Liok Tian-goan telah ingkar janji dan patahkan hatinya, maka tiba2 ia beringas lagi.

"Ya, Sumoay, kau sungguh beruntung sekali,"

Teriaknya mendadak, habis ini ia samber pedang yang jatuh tadi terus ditusukkan ke tenggorokan Nyo Ko.

Melihat tusukan orang sekali ini benar2 keji dan sungguhan, dalam keadaan berbahaya, tidak bisa tidak Siao-liong-li harus menolong Nyo Ko.

belasan butir Giok-hong-soa segera dia hamburkan lagi.

Lekas2 Li Bok-chiu enjot kakinya, ia meloncat ke atas untuk menghindari serangan pasir berbisa itu.

Tetapi kesempatan ini kembali dipergunakan Siao-liong-li dengan baik, ia tarik Nyo Ko dan berlari lagi ke pintu dengan cepat.

"Suci, sumpahku batal atau tidak perlu dipikirkan pendek kata kita berempat rupanya sudah pasti akan mati bersama di dalam kuburan ini,"

Demikian Siao-liong-li masih berpaling dan berseru pada Li Bok-chiu.

"Aku tak ingin melihat rupamu lagi, biarlah kita mati sendiri2 saja."

Sembari berkata, ia raba pada ujung dinding, lalu turun lagi pintu batu, kembali mereka berempat di-pisah2kan pula.

Dalam pada itu, saking tergoncangnya perasaan Siao-liong-li seketika sukar melangkah lagi, Iekas2 Nyo Ko memayangnya dan dibawa mengaso ke kamarnya Sun-popoh.

Nyo Ko menuang dua cangkir madu tawon, ia serahkan secangkir pada Siao-liong-li dan dia sendiri minum secangkir.

"Ko-ji, coba katakan, mengapa kau rela mati untuk aku ?"

Tanya Siao-liong-li kemudian sambil menghela napas pelahan.

"Ya, di dunia ini melainkan kau saja yang sangat baik padaku, mengapa aku tidak mau mati untukmu ?"

Sahut Nyo Ko tegas. Mendengar jawaban yang pasti ini, Siao-liong-li berbalik terdiam.

"Jika tahu begini sebelumnya, kitapun tidak perlu lagi kembali ke dalam kuburan untuk mati bersama mereka,"

Katanya sesudah lewat sejenak.

"Kokoh, apa kita tak bisa berdaya untuk keluar ?"

Tanya Nyo Ko.

"Nyata kau tidak tahu betapa kuat bangunan kuburan ini"

Sahut Siao-liong-li "Sungguhpun kepandaianku sepuluh kali lebih tinggi lagi juga tak mampu keluar."

Mengerti jawaban orang ini bukan omong kosong belaka, Nyo Ko menjadi putus asa dan menghela napas.

"Kau menyesal bukan ?"

Tanya Siao-liong-li.

"Tidak, tidak,"

Sahut Nyo Ko cepat dan pasti "sedikitnya di sini aku berada bersama kau, padahal di luar sana tiada seorangpun yang sayang padaku lagi."

Dahulu Siao-liong-li telah melarang Nyo Ko membilang "kau sayang padaku"

Segala, karenanya sejak itu Nyo Ko tak pernah mengucapkannya lagi, tetapi kini perasaannya sudah berubah, maka demi mendengar ucapan itu, sebaliknya terasalah semacam perasaan yang hangat dan mesra.

"Kalau begitu, kenapa kau menghela napas ?"

Ia tanya lagi.

"Kokoh, aku pikir apabila kita bisa sama2 turun gunung, di dunia luar sana banyak sekali hal2 yang menarik, pula kau selalu mendampingi aku, siapapun tentu tiada berani menghina aku lagi,"

Sahut Nyo Ko.

Hati Siao-liong-li sebenarnya bersih dan tenang, sebab sejak bayi dia tinggal di dalam kuburan kuno ini selamanya sang guru dan Sun-popo tidak pernah bercerita tentang keadaan di dunia luar, dengan sendirinya hal semacam itupun tidak pernah dia bayangkan, tetapi kini di-sebut2 Nyo Ko, tanpa tertahan perasaannya menjadi bergolak dan susah ditekan.

Siao-liong-li merasa darah hangat di dadanya serasa mendidih dan membanjir ke atas, ia berniat kumpulkan Lwekangnya buat mengatasi namun toh tetap tidak menjadi tenang, diam2 ia heran dan terkejut, ia merasa seumur hidupnya belum pernah mengalami pergolakan serupa ini, ia pikir tentu hal ini disebabkan sehabis terluka parah, maka tenaga dalam sukar dipulihkan kembali.

Nyata dia tidak tahu disebabkan dalam tubuhnya sudah banyak mengalir darahnya Nyo Ko yang panas, keadaan sudah jauh berbeda dengan wataknya dahulu yang tenang dan dingin selalu, oleh karena itu gangguan2 tenaga dan berbagai macam pikiran se-konyong2 lantas membanjir.

Ia coba bersemadi di atas dipan, tetapi rasanya tetap gelisah, begitu kusut pikirannya, dia lantas mondar-mandir dalam kamar itu, tetapi semakin jalan rasanya semakin sumpek dan langkahnya juga semakin cepat hingga akhirnya dia ber-Iari2 sendirian.

Melihat kedua pipi orang semu merah dan sikapnya berobah aneh, Nyo Ko luar biasa heran-nya, belum pernah dia melihat kelakuan Siao-liong-li seperti sekarang ini semenjak mereka berkenalan.

Setelah ber-lari2 sebentar, kemudian Siao-liong-li duduk lagi di atas pembaringan, ia coba pandang Nyo Ko, ia lihat wajah pemuda ini cakap, tapi penuh rasa kuatir atas dirinya, tibal hatinya tergerak, ia pikir.

"Toh aku sudah mau mati, begitu juga dia, Lalu buat apa lagi urus segala soal guru dan murid atau bibi dan kemenakan ? jika dia mau peluk aku, pasti aku tidak akan menolak dan biarkan dia peluk aku se-kencang2nya."

Dalam pada itu Nyo Ko sedang mengamat-amati juga pada Siao-liong-li, ia lihat mata orang seperti sedang bicara, dadanya naik-turun dengan napas rnemburu, ia sangka sang guru kambuh lagi luka dalamnya.

"Kokoh, kenapakah kau ?"

Segera ia tanya.

"Mari sini, Ko-ji,"

Panggil Siao-liong-li dengan suara halus. Nyo Ko menurut, ia mendekatinya.

"Ko-ji, kau suka tidak padaku ?"

Tanya Siao-liong-li tiba2 dengan suara rendah sambil memegang tangan Nyo Ko dan di-gosok2an ke pipinya sendiri.

Karena tangannya menempel pipi orang, Nyo Ko merasakan muka Siao-liong-li sepanas dibakar keruan ia kaget dan kuatir.

"Ko kokoh, ap... apa dadamu sangat sakit ?"

Tanyanya dengan suara gemetar.

"O, tidak, sebaliknya rasa hatiku enak seka-li,"

Sahut Siao-liong-li dengan tertawa.

"Ko-ji, aku sudah hampir mati, coba katakanlah apakah betul2 kau sangat suka padaku ?"

"Tentu saja, di dunia ini melainkan kau saja seorang yang baik terhadap diriku,"

Sahut Nyo Ko cepat.

"Tetapi bila ada seorang gadis lain yang sangat baik, ya, baik sekali terhadap kau, bisa tidak kau suka padanya ?"

Kata Siao-liong-li lagi.

"Siapa saja yang baik padaku, tentu aku perlakukan dia dengan baik pula,"

Sahut Nyo Ko.

Se-konyong2 Nyo Ko merasakan tangan Siao Iiong-li yang menggenggamnya itu gemetar beberapa kali, habis ini mendadak berubah menjadi dingin bagai es, waktu Nyo Ko memandang muka orang, ia lihat pipi Siao-liong-li yang tadinya merah dadu kini sudah kembali pucat lesi seperti tadi lagi.

Keruan Nyo Ko sangat terkejut.

"Apakah aku salah omong, Kokoh ?"

Tanyanya kuatir.

"Apabila kau masih suka pada gadis lain di dunia ini, maka janganlah kau suka lagi padaku,"

Kata Siao-liong-li. Nyo Ko tertegun, tetapi segera ia dapatkan pikiran lain.

"Kokoh, tidak seberapa hari lagi kita akan mati mana ada gadis lain lagi yang bisa suka padaku,"

Katanya kemudian dengan tertawa. Karena ucapan inilah, Siao-liong-li ketawa juga.

"Ya, benar2 aku sudah pikun,"

Katanya.

"Cu-ma aku tetap ingin mendengar kau bersumpah di hadapanku."

"Sumpah apakah ?"

Tanya Nyo Ko.

"Aku ingin kau mengucapkan bahwa kau hanya menyukai aku satu orang, apabila kau berubah pikiran dan suka lagi pada orang lain, maka kau harus dibunuh olehku."

Kata Sio-liong-li tiba2.

Nyata meski Siao-Iiong-li sudah berusia dua puluhan tahun, tetapi selama hidupnya dilewatkan di dalam kuburan kuno ini, maka kelakuannya masih ke-kanak2an dan suka terang2an, sedikitpun dia tidak bersikap malu2 seperti gadis umumnya, makanya tanpa tedeng aling2 ia minta sumpah setia dari Nyo Ko.

"Jangan kata selamanya tidak bakal terjadi hal demikian, seandainya memang aku berlaku tidak baik dan tidak turut pada perkataanmu kau hendak membunuh akupun kuterima,"

Demikian Nyo Ko menyahut dengan tertawa, Habis ini betul juga ia lantas mengucapkan sumpah.

"Tecu Nyo Ko selama hidup ini hanya menyukai Kokoh seorang saja, apabila aku berubah pikiran, tidak usah Kokoh membunuh aku, begitu melihat muka Kokoh, segera Tecu bunuh diri sendiri"

Senang sekali hati Siao-liong-li mendengar sumpah ini.

"Bagus sekali apa yang kau katakan, dengan demikian aku tak perlu kuatir lagi,"

Katanya kemudian dengan menghela napas lega, ia genggam tangan Nyo Ko kencang2. Maka terasalah oleh Nyo Ko ada semacam hawa hangat menembus ke tubuhnya melalui tangan orang.

"Ko-ji, sungguh aku ini orang tidak baik,"

Kata Siao-Iiong-li pula.

"Tidak, kau sangat baik,"

Nyo Ko membetulkan kata2 orang.

"Tidak,"

Kata Sio-liong-li sambil geleng kepala.

"dahuIu aku terlalu kejam terhadap kau, mula2 aku hendak usir kau, syukur Sun-popoh menahan kau, jika waktu itu aku tidak usir kau, tentunya Sun-popoh tak akan mati juga !"

Berkata sampai disini, tak tertahan lagi air mata Siao-liong-li mengucur keluar.

Sejak umur lima Siao-liong-li mulai melatih diri sampai kini, selama itu tak pernah lagi dia menangis dan mengalirkan air mata, tetapi kini ia telah menangis, seketika perasaan hatinya tergoncang hebat, ruas tulang seluruh tubuhnya se-akan2 berkeretakan hingga sebagian tenaga latihannya menjadi buyar.

Kaget sekali Nyo Ko melihat keadaan Siao-liong-li yang hebat itu.

"He, Kokoh, Kokoh !"

Teriaknya kuatir, justru pada saat genting itu, tiba2 terdengar suara "krekat-kreket"

Beberapa kali, ternyata pintu batu mulai terpentang didorong orang, menyusul mana terlihat Li Bok-chiu dan Ang Ling-po telah melangkah masuk.

Kiranya Li Bok-chiu yang terkurung di dalam kuburan itu telah berusaha keras untuk loloskan diri.

ia pikir meski batu Toan-liong-ciok itu sudah menutup, tetapi daripada duduk terpekur menanti kematian, lebih baik berusaha mencari hidup.

Oleh karena itu nyalinya menjadi besar, ia tidak jeri lagi pada alat2 perangkap yang lihay di dalam kuburan itu, dengan berani ia lantas terjang terus hingga beberapa ruangan akhirnya dapat ditembus dan tibalah sampai di kamarnya Sun-popoh.

Nampak munculnya orang secara mendadak, lekas2 Nyo Ko tampil ke depan mengalingi Siao-liong-li.

"Kau mau apa lagi ?"

Teriaknya sengit.

"Kau menyingkir ada yang hendak kukatakan pada Sumoay,"

Kata Li Bok-chiu. Tetapi kuatir orang pakai tipu muslihat dan gurunya nanti dicelakai, Nyo Ko tetap tak mau menyingkir "Apa yang hendak kau katakan boleh katakan saja di situ,"

Sahutnya kemudian. Melihat kebandelan pemuda ini, dengan mata melotot Li Bok-chiu pandang sejenak pada Nyo Ko.

"Lelaki semacam kau ini sungguh jarang terdapat di dunia ini,"

Akhirnya ia berkata dengan menghela napas.

"Suci, kau bilang apa tentang dia ?"

Tanya Siao-liong-li tiba2 sambil turun dari pembaringannya.

"Dia baik atau tidak ?"

"Sumoay, selamanya kau tak pernah turun gunung, maka kau tidak kenal hati manusia di dunia ini yang kejam dan palsu,"

Sahut Li Bok-chiu.

"Orang yang berbudi luhur dan berhati setia seperti dia ini, boleh dikatakan di seluruh jagat ini sukar dicari bandingannya."

Rupanya Siao-liong-li sangat senang dan terhibur oleh kata2 sang Suci.

"Kalau begitu, seorang seperti dia ini suka mati bersama aku, hidupku ini terasa tidak penasaran lagi,"

Katanya dengan pelahan.

"Sebenarnya pernah apakah dia dengan kau, Sumoay ? Apa kau sudah mengawini dia ?"

Tanya Li Bok-chiu lagi.

"Tidak, dia adalah muridku, dia bilang aku sangat baik padanya. Tetapi sebenarnya baik atau tidak, aku sendiripun tidak tahu,"

Sahut Siao-liong-li. Sudah tentu Li Bok-chiu sangat heran oleh jawaban ini.

"Aku tidak percaya,"

Ujarnya sambil geleng kepala, Habis ini se-konyong2 ia menarik tangan kanan Siao-liong-li, ia gulung lengan baju orang, maka tertampaklah olehnya di atas kulit yang putih bersih bagai salju itu terdapat satu titik merah, tidak salah lagi itu adalah "Siu-kiong-seh"

Yang ditisik guru mereka pada mula2 masuk perguruan golongan Ko-bong-pay.

"Siu-kiong-seh"

Atau andeng2 cecak, menurut cerita kuno dibuat dengan cara demikian. setelah cecak dipelihara dan diberi makanan obat2an khusus sebangsa "Cuseh"

Sebanyak tujuh kali bertu-rut-turut sehingga akhirnya seluruh badan binatang cecak ini berubah merah darah, lalu cecak ini dibunuh dan darah merah itu diambil untuk di-tisikan pada tubuh kaum wanita, apabila wanita ini masih bertubuh perawan, maka selama itu Siu-kuong-seh Atau andeng2 merah buatan ini akan tetap tinggal di tempatnya, tetapi bila wanita itu sudah melanggar kesuciannya, maka andeng2 merah segera lenyap.

Cara ini di jaman kuno konon dipakai untuk menjaga perjinahan.

Begitulah, oleh karena itu demi nampak "Siu-kiong-seh"

Atau andeng2 merah itu masih tetap di tangan Siao-liong-li, mau-tak-mau diam2 Li Bok-chiu sangat kagum atas prilaku kedua orang yang tinggal berdampingan di dalam kuburan ini ternyata bisa menjaga diri dalam batas2 kesopanan hingga Siao-Iiong-li masih tetap putih bersih bertubuh perawan.

Lalu Li Bok-chiu sendiri menggulung lengan bajunya juga, maka tertampak pula tangannya terdapat juga setitik merah segar yang menyolok sekali, sungguh menarik sekali dua lengan yang putih mulus itu berjajar menjadi satu, hanya saja Li Bok-chiu mempertahankan diri dan tetap bertubuh suci disebabkan karena terpaksa, sebaliknya sang sumoay ternyata ada lelaki yang rela membelanya, kalau dipikir, yang beruntung dan yang malang, nyata bedanya seperti langit dan bumi.

Berpikir sampai di sini, tak tahan lagi Li Bok-chiu menghela napas panjang.

"Tadi kau bilang ada yang hendak dikatakan padaku, nah, katakanlah lekas,"

Terdengar Siao-liong-li memecahkan kesunyian Semula Li Bok-chiu hendak menghina dan membikin malu Siao-liong-Ii karena bergendak dengan lelaki dan merusak nama baik perguruan, namun demi melihat Siu-kiong-seh sang Sumoay masih belum lenyap, ia berbalik bungkam.

"Sumoay, kedatanganku ialah untuk minta maaf padamu,"

Akhirnya ia berkata sesudah merenung sejenak.

Tentu saja hal ini sama sekali tak diduga Siao-liong-Ii, ia cukup kenal watak sang Suci yang sombong dan angkuh, tidak nanti dia mau tunduk pada orang lain, siapa tahu kini bisa buka mulut minta maaf padanya, ia menjadi ragu2 apa orang tiada maksud2 tertentu.

Karenanya dengan dingin2 saja ia menjawab.

"Kau lakukan urusanmu dan aku kerjakan urusanku masing2 tentu anggap diri sendiri yang betul tidak perlu kau minta maaf segala."

"Sumoay, dengarlah kataku,"

Kata Li Bok-chiu.

"kita yang menjadi wanita ini, selama hidup paling beruntung yalah bila mempunyai seorang kekasih yang berhati tulus, Nasibku sendiri jelek, itu sudah tak perlu dibicarakan lagi, tetapi pemuda ini begini baik terhadapmu, maka boleh dikatakan kau tidak kekurangan apa2 lagi hidupmu ini,"

Siao-Iiong-Ii tersenyum senang oleh kata-kata sang Suci, .

"Ya, sesungguhnya akupun sangat suka padanya,"

Katanya kemudian.

"Selamanya dia tak akan-mengingkari aku, aku yakin benar" . Rasa hati Li Bok-chiu menjadi lebih pedih oleh keterangan Siao-liong-li itu.

"Kalau begitu seharusnya kau turun gunung saja untuk hidup baru yang menggembirakan, hen-daklah diketahui, usiamu masih muda, hari depan-mu yang bahagia masih tidak habis2nya."

Siao-liong-li mendongak, ia ter-menung2.

"Ya, memang, cuma sayang kini sudah terlambat,"

Akhirnya ia berkata.

"Sebab apa ?"

Tanya Li Bok-chiu cepat.

"Bukankah Toan-Iiong-ciok itu sudah menutup, sekalipun Suhu hidup kembali, juga tak mungkin bisa keluar,"

Sahut Siao-Iiong-li.

Bukan buatan rasa kecewa Li Bok-chiu oleh jawaban orang, ia sengaja merendah diri dan me-muji2 orang dengan putar lidah, memangnya ia berharap bisa menimbulkan keinginan Siao-liong-li untuk mencari hidup, dengan apa yang dikenal Siao-liong-li keadaan kuburan kuno ini tentu dapat mencari satu jalan keluar, siapa tahu akhirnya tetap putus asa.

Karena itu, tanpa terasa napsu membunuhnya mendadak timbul, begitu tangannya diangkat, segera ia menghantam ke atas kepala Siao-liong-li.

Sejak tadi Nyo Ko mendengarkan percakapan mereka disamping dengan bingung, ketika tiba2 melihat Li Bok-chiu menyerang, dalam gugup dan kuatirnya, otomatis ia berjongkok lalu berteriak "kok"

Sekali, kedua telapak tangannya didorong pula ke depan.

Ternyata yang dilontarkan ini adalah Ha-mo-kang yang lihay yang dipelajarinya dari Auwyang Hong itu.

Waktu itu pukulan Li Bok-chiu sudah sampai di tengah jalan, ketika mendadak terasa olehnya ada samberan angin pukulan yang keras dari samping, lekas2 ia putar tangannya buat menangkis.

Tak terduga tenaga dorongan Nyo Ko ternyata kuat luar biasa, begitu hebat sampai tubuhnya kena didorong ke belakang, maka terdengarlah suara "blek"

Yang keras, punggung Li Bok-chiu tertumbuk dinding batu, percuma saja dia memiliki ilmu silat yang tinggi tidak urung ia merasakan tulang punggungnya tidak kepalang sakitnya.

Keruan Li Bok-chiu menjadi murka, sekonyong-konyong ia gosok2 kedua telapak tangan-nya, seketika seluruh kamar timbul semacam bau amis.

Nyata ia telah keluarkan "Jik-Iian-sin-ciang" , Di lain pihak Siao-Iiong-li tahu serangan Nyo Ko tadi hanya secara kebetulan saja berhasil setelah sang Suci melontarkan "Jik-lian-sin-ciang", maka sukar dilawan lagi meski mereka berdua mengeroyoknya bersama.

Karena itu, segera ia tarik lagi tangan Nyo Ko, dengan cepat pula mereka menyelinap keluar pintu kamar.

Namun gerak tubuh Li Bok-chiu secepat kilat, tidak nanti dia biarkan kedua orang itu melarikan diri kembali sebelah tangannya telah memukul.

Siapa tahu, baru saja tangannya sampai di tengah jalan, tahu2 pipi kiri sendiri merasakan sekali tempelengan meski tamparan ini tidak sakit, namun suaranya terdengar jelas, ia dengar pula Siao-Iiong-li berseru.

"lnilah Giok-li-sim-keng yang hendak kau pelajari nah, rasakan dahulu !"

Dalam tertegunnya lagi2 li Bok-chiu merasakan tangan orang telah mampir pula di pipi ka-nannya, ia kenal ilmu Giok-li-sim-keng luar biasa lihaynya, kini menyaksikan sendiri gerak pukulan Siao-liong-li begitu cepat, pula datangnya pukulan tidak diketahui arahnya, maka ia menjadi jeri terpaksa ia saksikan sang Sumoay masuk kamar lain dengan bergandengan tangan Nyo Ko, lalu pintu kamar lain itu tertutup rapat lagi.

Seperginya orang, Li Bok-chiu masih terkesima sendiri ia me-raba2 kedua belah pipinya, katanya dalam hati.

"Beruntung pukulannya tadi sengaja bermurah hati jika digunakan tenaga keras, tentu jiwaku sudah melayang"

Nyata tidak diketahuinya bahwa ilmu Giok-li-sim-keng itu masih belum jadi terlatih oleh Siao-liong-li, meski pukulannya sudah mahir, namun belum bertenaga dan tak dapat melukai orang, Sementara itu di kamar lain Nyo Ko sedang senang sekali karena melihat gurunya dengan gampang saja telah hajar Li Bok-chiu dengan dua kali tempelengan.

"Kokoh, sungguh tidak nyana ilmu kepandaian Giok-li-sim-keng itu bisa begitu bagus..."

Tetapi belum habis ia berkata, se-konyong2 dilihatnya Siao-liong-li dalam keadaan gemetar, tampaknya seperti tak sanggup menguasai diri lagi, keruan Nyo Ko kaget, cepat ia berteriak.

"Kenapakah kau, Kokoh ?"

"A... aku... di... dingin..."

Sahut Siao-liong-li sambil menggigil.

Kiranya tadi karena dia menyerang orang dua kali, meski tenaga yang dikeluarkannya sangat enteng, namun yang dipakai adalah tenaga dalam.

Padahal dia baru sembuh dari luka berat, kesehatannya belum pulih seluruhnya, kini mendadak terganggu lagi, tentu saja tidak sedikit resikonya.

Selama hidupnya dia melatih diri di atas ranjang batu pualam yang dingin itu, dasarnya menjadi terlatih dingin sekali, kini daya tahannya telah hilang, keruan seketika Siao-liong-li seperti terjerumus ke dalam lembah es, ia merasakan dingin luar biasa sampai menusuk tulang sumsum, giginya tiada hentinya pada berkerutukan.

"Celaka, bagaimana baiknya ini ?"

Dalam gugupnya Nyo Ko hanya ber-teriak2 tak berdaya.

Begitu rupa ia lihat Siao-liong-li kedinginan hingga tibal teringat sesuatu olehnya, lekas2 dia lepaskan buntalan yang menggemblok di punggungnya, ia keluarkan baju kapas tinggalan Sun-popoh dan dengan cepat dikemulkan atas badan Siao-liong-li.

Karena tambahan baju kapas ini, mula2 Siao-liong-li merasa rada hangat, tetapi sebentar saja hawa hangat baju kapas itu menjadi hilang pula dikalahkan rasa dingin yang timbul dari dalam tu-buhnya, kembali ia menggigil terus.

Dalam gugupnya, tanpa pikir lagi Nyo Ko peluk orang kencang2, ia pikir dengan hawa hangat badan sendiri dapat bantu menghalau rasa dingin orang.

Tetapi sebentar saja Nyo Ko rasa tubuh Siao-liong-li semakin menjadi dingin, ia sendiri seperti ketularan hingga lambat laun iapun tak tahan.

"Ko-ji, lepaskan !"

Teriak Siao-liong-li tiba2.

"Tidak, Kokoh, jangan kuatir, aku peluk kau, tentu kau akan baikan,"

Sahut Nyo Ko.

Namun rasa dingin Siao-liong-li sukar ditahan pula, dengan kertak gigi ia bertahan sedapat-nya, tiba2 ia meronta-ronta, kedua tangannya menjambret dan menarik sekenanya, karena itu mendadak terdengar suara "brebet" , tahu2 kain baju kapas tinggalan Sun-popoh itu robek tertarik, di bawah sinar lilin tiba2 tertampak diantara robekan baju itu ada sepotong kain putih pula dan lapat2 di atasnya seperti tertulis sesuatu.

Dasar Nyo Ko memang sangat cerdik, tiba2 teringat olehnya kelakuan Sun-popoh pada saat orang tua ini mendekati ajalnya, tetapi seperti maha penting baju kapas ini diserahkan padanya, mungkin tidak melulu untuk tanda mata saja, melainkan di dalamnya masih mengandung maksud2 lain.

Maka dengan cepat Nyo Ko tarik keluar kain putih itu, betul saja ia lihat di atas kain itu tertulis 16 huruf yang maksudnya.

"GURU BESAR TIONG-YANG MENINGGALKAN ILMU KEPANDAIAN. PERIKSA LUKISANNYA DAN PELAJARI JARI TANGANNYA"

Sebenarnya Nyo Ko lagi kehabisan akal dan tak berdaya menghadapi keadaan Siao-liong-li yang kedinginan itu, kini mendadak membaca enam belas huruf ini, seketika seperti sebuah perahu yang terombang-ambing di samudera raya dalam kegelapan dan sekonyong-konyong melihat mercu suar.

Dalam girangnya ia rangkul Siao-liong-li terlebih kencang lagi.

"Marilah Kokoh, kita pergi melihat gambarnya Tiong-yang Cosu,"

Demikian ajaknya.

Tetapi Siao-liong-li seperti tidak mendengar kata2nya, kedua matanya tertampak terpejam rapat.

Terpaksa Nyo Ko melompat turun, dengan memondong Siao-liong-li, dengan gugup dan bingung ia berlari ke ruangan depan sana,.

Dalam hati diam2 ia berdo'a.

"Semoga Li Bok-chiu beriba jangan berada di sana."

Begitulah, dengan pelahan sekali ia dorong pintu, ia lihat keadaan gelap gulita, syukur Li Bok chiu berdua tidak berada disitu, ia dudukan Siao-liong-li pada satu kursi, lalu ia menyalakan lilin dan pergi memeriksa gambar yang melukiskan pribadi Ong Tiong-yang itu.

Tempo hari waktu Nyo Ko menjalankan upacara pengangkatan guru pada Siao-liong-li, pernah dia diperintahkan meludahi lukisan ini Sejak itu, sering juga ia melihatnya lagi, tetapi selamanya tidak merasa ada sesuatu yang aneh atas lukisan itu, Kini teringat olehnya kata2 tentang "pelajari jari tangannya"

Maka dengan teliti ia coba periksa jari tangan Ong Tiong-yang dalam lukisan itu yang sedang menuding.

Gambar itu melukiskan tangan kiri orang berada di depan tubuh yang mungkur, dengan sendirinya tidak kelihatan jari-nya, hanya tangan kanan yang menuding miring ke ujung atas, Meski sudah dia lihat dan lihat lagi, tetap tak bisa dimengerti dimana letak rahasianya.

Selagi ia hendak memeriksa lebih cermat, ketika ia menoleh, dilihatnya Siao-liong-li pe!ahan2 sedang mendatangi dengan berpegangan kursi, lekas2 Nyo Ko memayangnya.

Kemudian Siao-liong-li ikut memeriksa lukisan itu, lama sekali keadaan menjadi sunyi.

"Jika badanku baik2 saja, mungkin rahasianya dapat kuselidiki lebih mendalam,"

Kata Siao-liong-li sesudah agak lama.

"tetapi kini... kini matakupun terasa menjadi buram..."

Segera Nyo Ko melompat ke atas, ia tanggalkan lukusan itu dan ditaruh ke depan Siao-liong-li Maka diperiksanyalah lebih teliti oleh Siao-liong-li.

Ia lihat guratan2 pada jari lukisan Ong Tiong-yang itu memang digores dengan jelek dan kasar, berbeda sekali dengan goresan pada bagian lain, kecuali ini, tiada lagi sesuatu yang menimbulkan pertanyaan.

Karena belum juga ketemukan rahasianya, Nyo Ko ambil Cektay (tancapkan lilin) dan didekatkan Siao-liong-li agar bisa melihat lebih jelas.

"Sudahlah, tak perlu lihat lagi "

Kata Siao-liong-li tiba2, tetapi belum habis bicara, se-konyong2 badannya gemetar lagi, karena itu cek-tay yang dipegang Nyo Ko tergentak hingga minyak lilin yang lumer tercecer di atas lukisan.

Siao-liong-li terkejut.

"Ai, aku telah bikin kotor lukisan ini!"

Katanya dengan menyesal "Tak apa, toh tiada sesuatu yang aneh,"

Ujar Nyo Ko.

Habis ini ia payang Siao-liong-li duduk kembali ke kursi.

Selang tak lama, minyak lilin tadi sudah kering, Nyo Ko coba merhbersihkannya dengan kukunya.

Di luar dugaan, sehabis kertas gambar itu ketetesan minyak lilin, kini menjadi tembus dan kelihatan terang, lapat2 jari tangan gambar itu seperti tertulis huruf2

"dua... tiga dan lain2"

Hati Nyo Ko tergerak, ia memeriksanya lebih dekat lagi, kiranya jari tangan yang sedang menuding dalam lukisan itu, di samping goresan yang Iembut itu penuh tertulis pula huruf kecil, tetapi tulisan2 ini terlalu halus, kecuali beberapa huruf sederhana yang dapat dilinatnya, selebihnya sukar dibaca pula.

"Kokoh, lihat ini!"

Dalam girangnya segera Nyo Ko berteriak, berbareng ia pindahkan lukisan itu dan lilin ke hadapan Siao-liong-li.

Selama hidup Siao-liong-li dilewatkan dalam kuburan kuno yang gelap gulita ini, maka pandangan matanya sangat tajam, melihat barang di tempat gelap dianggapnya seperti siang hari saja, maka sesudah diperiksanya dua kali, akhirnya dia mendongak, mukanya mengunjuk senyuman tetapi bukan senyuman, sikapnya sangat aneh.

"Kokoh, apakah kata tu1isan2 itu ?"

Tanya Nyo Ko tak sabar "Kiranya sesudah Cosu-popoh meninggal, Ong Tiong-yang telah masuk lagi ke dalam kuburan kuno ini,"

Sahut Siao-liong-li sambil menghela napas.

"Untuk apa dia kembali ?"

Tanya Nyo Ko pula.

"Dia datang lagi buat ziarah Cosu-popoh,"

Kata Siao-liong-li "Dan disini dilihatnya Giok-li-sim-keng tinggalan Cosu-popoh yang diukir diatas langit2an kamar ini yang ternyata dapat memecahkan semua tipu silat Coan-cin-kau, karenanya ia telah tinggalkan tulisan di atas lukisan ini, dia bilang apa yang dipecahkan Cosu-popoh itu hanya kepandaian2 kasar yang tak berarti dari Coan-cin-kau, bagi ilmu paling tinggi dari Coan-cin-pay yang dipahaminya, Giok-li-sim-keng inipun tidak akan berarti lagi!"

"Cis, imam tua ini membual,"

Kata Nyo Ko tiba2 meng-olok2.

"ya, toh Cosu-popoh sudah meninggal, maka dia boleh omong sesukanya."

"Tetapi dia bilang lagi dalam tulisannya ini bahwa di suatu kamar lain lagi dia juga tinggalkan pula ilmu cara memecahkan Giok-li-sim-keng. kelak kalau ada yang punya jodoh, tentu akan tahu bila sudah melihatnya,"

Kata Siao-liong-li. Hati muda Nyo Ko jadi tertarik oleh keterangan ini.

"Ayoh, Kokoh, kita pergi melihatnya,"

Ajaknya.

"Baik juga pergi melihatnya,"

Sahut Siao-liong-li.

"seumur hidupku tinggal di sini, belum pernah kumengetahui masih ada kamar batu sebagaimana dikatakan ini."

Tapi ketika dia membaca pula, tiba2 ia geleng2 kepala dan menyatakan aneh.

"Aku tak percaya,"

Katanya kemudian sesudah lewat sejenak.

"Akupun tidak,"

Sambung Nyo Ko.

"kebagusan Giok-li-sim-keng"

Tiada taranya, betapapun tinggi kepandaiannya se-kali2 tidak nanti mampu memecahkannya."

"Bukan itu maksudku,"

Ujar Siao-liong-li.

"Kamar batu yang dikatakan Ong Tiong-yang itu terang sekali adalah tempat di mana terletak peti mati Cosu-popoh, darimana lagi ada kamar batu lain ?"

"Marilah Kokoh, toh tiada halangannya kita memeriksanya,"

Pinta Nyo Ko. Kini Siao-liong-li tidak begitu garang lagi terhadap Nyo Ko, meski tubuhnya sebenarnya sangat letih, namun ia paksakan diri buat turuti permintaan pemuda itu.

"Baiklah" , sahutnya kemudian dengan senyuman manis, Maka pergilah mereka menuju kamar peti mati itu. Menghadapi dua peti mati yang masih kosong itu, tiba2 timbul pikiran aneh dalam hati Siao-liong-Ii.

"Dalam kuburan kini ada empat orang, lalu cara bagaimana harus mengisi dua peti mati batu ini?"

Demikian katanya.

"Kita tidur dalam satu peti dan biar kedua perempuan jahat itu pakai yang satu,"

Ujar Nyo Ko. Apa yang dikatakan Nyo Ko ini timbul dari hatinya yang murni, sedikitpun dia tidak berpikir yang tidak2, tetapi muka Siao-liong-li tiba2 menjadi merah jengah.

"Tetapi kalau kita mati dahulu, kedua perempuan jahat itu pasti tidak perbolehkan kita tinggal bersama, tentu mereka akan pisahkan tubuh kita sejauh mungkin,"

Ujar Siao-liong-li dengan suara rendah.

BetuI juga pikir Nyo Ko, karena ini ia se-akan2 membayangkan sehabis dirinya dan sang guru mati dan mayatnya lagi dihina dan dirusak oleh Li Bok-chiu bersama Ang Ling-po, tanpa terasa ia menjadi gusar luar biasa.

"Kokoh, kita harus bunuh dahulu mereka berdua !"

Teriaknya tiba-tiba.

"Tetapi sayang, kita tak mampu mengalahkan mereka,"

Sahut Siao-liong-li menghela napas. Sesudah melatih lwekang tenaga Nyo Ko sudah luar biasa hebatnya, tanpa susah dia dorong dan balikkan tutup peti mati itu.

"Ya, jika kita dapat mempelajari ilmu silat tinggalan Ong Tiong-yang itu, mungkin kita bisa menangkan mereka,"

Kata Nyo Ko sesudah berpikir. Siao liong-Ii tertawa oleh pikiran orang ini.

"Seumpama betul2 ada ilmu silat yang begitu lihay, apakah dapat dipelajari dalam setahun setengah saja ?"

Katanya.

"Sedangkan rangsum kita paling banyak hanya cukup untuk beberapa hari."

Tentu saja kembali Nyo Ko putus asa. Melihat wajah orang mengunjuk kecawa, hati Siao-liong-li jadi tak tega.

"Ko-ji,"

Katanya lagi.

"menurut apa yang dikatakan Ong Tiong-yang, untuk datang ke kamar batu yang dia sebut diharuskan memindahkan jenazah Cosu-popoh, dan ini yang kuatirkan jangan2 inilah tipu muslihat Ong Tiong-yang, tujuannya agar kita masuk perangkap."

Dasar perasaan Nyo Ko memang gampang terguncang, maka segera ia mencaci-maki orang.

"Ya, betul, imam hidung kerbau ini mana mungkin punya maksud baik ?"

Ketika dilihatnya Siao-liog-Ii mengunjuk rasa sangsi, segera ia menanya pula.

"Kenapa lagi, Kokoh ?"

"Tetapi menurut cerita Sun-popoh, sebenarnya Ong Tiong-yang sangat baik sekali terhadap Cosu-popoh,"

Sahut Siao-liong-li.

"Cuma disebabkan watak Cosu-popoh terlalu aneh, maka hubungan mereka menjadi retak, jika begini soalnya, agaknya tidak nanti sesudah Cosu-popoh mati, lalu dia datang lagi buat-menganiaya padanya."

Setelah dia pikir lagi, tiba2 ia ambil keputusan.

"Ko-ji, mati kita buka tutup peti matinya !"

Ajaknya kemudian Habis ini, bersama Nyo Ko mereka menarik sekuatnya untuk membuka tutup peti batu itu.

Waktu membuka peti mati, mula2 Nyo Ko menyangka pasti akan terhembus bau busuk mayat dari dalamnya, maka sebelumnya dia sudah siap2 menahan napas, Siapa tahu begitu tutupnya terpentang, bukannya bau busuk lagi yang dia cium, melainkan bau wangi semerbak yang teruar keluar, walaupun ia tahan napas dan tidak menyedot namun terasa juga bau harum itu.

Sebagai seorang yang sudah melatih Lwekang, maka tenaga Nyo Ko sudah beberapa kali lipat dari orang biasa, ketika sedikit ia gunakan tenaga, tutup peti batu itu sudah kena dibaliknya ke atas tanah, ketika dia pandang ke dalam peti, mendadak ia sendiri terkejut "He, Kokoh, dalamnya kosong!"

Teriaknya cepat.

Betul juga, waktu Siao-liong-li melongok ke dalam peti, ia dapatkan peti batu itu kosong-blong, di dalamnya hanya terdapat dua mangkok porselen yang masing2 berisi setengah mangkok minyak gemuk, bau harum itu agaknya teruar dari minyak gemuk ini.

"Aneh, lalu di manakah jenazah Cosu-po-poh!?"

Siao-liong-li menggumam sendiri "Jika begini, tampaknya apa yang dikatakan Ong Tiong yang bukannya dusta." 02

"Jangan2 kamar batu yang disebut imam tua itu yalah peti batu ini ?"

Kata Nyo Ko.

"Bukan begitu maksudnya,"

Sahut Siao-liong-li tersenyum, Dia sudah lama tinggal dalam kuburan kuno ini, maka dia mahir sekali tentang segala macam alat2 rahasia, ia coba memeriksa teliti peti batu itu sejenak, lalu terdengar ia berkata lagi.

"Alas peti ini bisa dibuka."

Tentu saja Nyo Ko sangat girang.

"Ah, tahulah aku sekarang, itu adalah pintu yang menuju ke kamar batu itu,"

Serunya.

Habis ini, tanpa diperintah segera ia melompat masuk ke dalam peti mati itu, ia keluarkan dahulu kedua mangkok berisi minyak wangi itu, lalu ia me-raba2 seluruh peti, betul juga, akhirnya diketemukan satu tempat dekuk yang bisa dipegang, dengan kencang ia tarik ke atas sekuatnya, tetapi sedikitpun ternyata tidak bergerak "Putar dulu ke kiri, baru ditarik ke atas,"

Kata Siao-liong-li. Nyo Ko menurut, ia putar lalu ditarik, betul saja lantas terdengar suara "krak"

Yang keras, satu papan batu telah kena ditarik naik.

"Kokoh, berhasil sudah !"

Serunya girang.

"Jangan kesusu dahulu. duduklah sebentar, biar bau apek di dalam gua teruar keluar baru kita masuk,"

Ujar Siao-liong-li. Dalam keadaan demikian Nyo Ko menjadi tidak sabar, hanya sebentar saja dia sudah tanya.

"Bagaimana Kokoh, apa sudah cukup ?"

"Ai, orang tak sabar seperti kau ini sukar dimengerti bisa tahan mengawani aku beberapa tahun,"

Ujar Siao-liong-li dengan menghela napas.

Habis berkata, pelahan2 ia berdiri, ia angkat cektay dan turun ke bawah melalui peti batu itu, sesudah melalui satu lorong di bawah tanah yang sempit dan membelok lagi dua kali, betul saja akhirnya mereka sampai di satu kamar batu.

Kamar batu itu ternyata tiada sesuatu yang sepesial, waktu mereka sama2 mendongak ke atas, maka tertampaklah oleh mereka di langit2an kamar itu penuh tertulis huruf2 dan tanda2, sedang ujung paling kanan tertuliskan empat huruf besar .

"Kiu-im-cin-keng". Siao-liong-li dan Nyo Ko tidak mengerti bahwa "Kiu-im-cin-keng"

Adalah suatu kitab ilmu silat paling tinggi di seluruh kolong langit, tetapi sesudah mereka melihat tulisan serta tanda2 itu, mereka merasakan tiada terbilang bagusnya intisari yang terkandung di dalamnya, seketikapun mereka tak bisa memahami seluruhnya.

"Sekalipun ilmu kepandaian ini dapat mengalahkan Giok-li-sim-keng, namun kitapun tak keburu lagi mempelajarinya,"

Ujar Siao-Iiong-li.

Karena itu Nyo Ko menjadi kecewa dan putus asa lagi, sebenarnya ia tidak mau melihat lagi, tak disengaja, sekilas mendadak terlihat olehnya pada ujung barat langit2 kamar itu terlukis satu yang tampaknya tiada hubungannya dengan ilmu silat.

Oleh karena tertarik, kembali ia kumpulkan perhatian memandang lebih jauh, agaknya gambar itu seperti sebuah peta.

"Kokoh, apakah itu ?"

Katanya kemudian pada Siao-liong-li.

Siao-liong-li berpaling, ia pandang menurut arah yang ditunjuk, tiba2 ia pandang peta itu dengan ter-mangu2, tubuhnya sedikitpun tidak bergerak Lama dan lama sekali masih tetap tidak bergerak Akhirnya Nyo Ko sendiri menjadi ngeri, ia coba tarik2 lengan baju orang dan menanya .

Ko-koh, kenapakah kau ?"

Tetapi Siao-liong-li masih tetap memandang dengan terkesima, kira2 lewat beberapa lama, mendadak ia mendeprok terduduk, ia menangis ter-guguk2 bersandar di tubuh Nyo Ko.

"Apakah badanmu sakit lagi, Kokoh?"

Pemuda itu tanya dengan bingung.

"Bukan, bu... bukan,"

Sahut Siao-liong-li tersenggak-sengguk, Selang tak lama lalu dia sambung lagi.

"Ki... kita kini bisa keluar sudah."

Keruan bukan buatan rasa girang Nyo Ko, seketika ia ber-jingkrak2.

"Betulkah katamu ?"

Teriaknya gembira, Dengan masih mengembeng air mata Siao-liong-li mengangguk2. Tentu saja Nyo Ko semakin ber-girangan.

"Dan kenapa engkau malah menangis ?"

Tanyanya kemudian.

"Entah, akupun tak tahu, mungkin terlalu bergirang,"

Sahut Siao-liong-li tersenyum manis dalam menangisnya.

"Ko-ji, dahulu tak pernah aku gentar mati, sebab seumur hidupku toh pasti akan tinggal di dalam kuburan ini, mati sekarang atau mati kelak toh tiada bedanya ? Tetapi aneh, dalam beberapa hari ini selalu timbul pikiran ingin pergi me-lihat2nya keluar,"

"Marilah Kokoh, kita keluar bersama, aku nanti petik bunga untukmu, tangkap jangkrik buat kau, mau tidak ?"

Kata Nyo Ko sambil tarik kencang tangan orang.

Nyata meski usia Nyo Ko sudah menanjak, namun pikirannya masih tetap kanak2.

Sebaliknya Siao-liong-li selamanya tidak pernah bermain dengan anak lain, kini mendengar cerita Nyo Ko yang menarik dan begitu bernapsu, ia sendiripun merasa senang.

Dalam keadaan buntu mendadak kedua orang ini mendapatkan jalan hidup, mereka menjadi lupa daratan, bukannya mereka lantas cari jalan keluarnya itu, sebaliknya mereka duduk bersandaran pundak, mereka bercerita tentang aneka macam permainan kanak2, makin cerita Nyo Ko semakin bernapsu hingga akhirnya Siao-liong-li lupa letih dan lupa capek, tetapi apapun juga ia habis luka parah, sesudah setengah jam mendengarkan cerita, akhirnya ia tak tahan lagi, tanpa berasa ia terpulas bersandaran di pundak Nyo Ko.

Sesudah bercerita sendiri dan mendapatkan orang tidak tanya-jawab seperti semula, waktu Nyo Ko menoleh, ia lihat Siao-liong-li sudah menggeros, nona itu ternyata sudah tertidur.

Oleh karena tekanan batinnya sudah lapang, akhirnya Nyo Ko sendiri merasa letih, kemudian iapun terpulas.

Keadaan itu entah lewat berapa lama, ketika mendadak Nyo Ko merasakan pinggangnya sakit linu.

"jiau-yao-hiat"

Di pinggangnya tahu2 kena di| tutuk orang sekali, Dalam kagetnya ia terjaga dari tidurnya, selagi ia hendak melompat bangun buat melawan, tahu2 tengkuknya telah kena dicekal orang dengan kencang hingga Nyo Ko tak mampu berkutik.

Waktu Nyo Ko sedikit melengos, ia lihat Li Bok-chiu dan Ang Iing-po berdua sudah berdiri di samping dengan ter-tawa2, sebaliknya gurunya, Siao-liong-li, sudah kena ditutuk orang juga hingga tak berdaya.

Kiranya Nyo Ko dan Siao-Iiong-li berdua sama sekali tak punya pengalaman Kangouw yang selalu harus waspada terhadap musuh dan berjaga-jaga diri, dalam girangnya mereka ternyata lupa daratan hingga tutup peti batu tadi belum mereka tutup kembali.

karena itulah kemudian dapat diketahui Li Bhok chiu bahwa di bawah tanah ini masih terdapat kamar lagi dan berhasil dia menyergapnya selagi mereka tertidur.

"Ha, bagus, bagus, kiranya disini masih terdapat tempat seenak ini, kalian berdua lantas bersembunyi untuk senang2 sendiri,"

Demikian Li Bok-chiu mengejek "Sumoay, cara bagaimanakah, keluarnya dari sini, tentu kau mengetahuinya, jika kau masih merahasiakannya, jangan kau sesalkan Enci-mu berlaku kejam nanti."

Namun Siao-liong-li sama sekali tak gentar oleh gertakan orang.

"Jangan kata memang aku tak tahu, seumpama tahupun tak sudi kukatakan padamu."

Sahutnya ketus.

Li Bok-chiu cukup kenal watak sang Sumoay yang kepala batu, sekalipun Suhu mereka dahulu suka mengalah juga padanya, maka bila menggunakan kekerasan, pasti tak bethasil, tetapi dalam keadaan demikian, soalnya menyangkut ma-ti-hidupnya, bagaimanapun juga dia harus memaksa sang Sumoay.

Baca Juga: Tugas Rahasia Gan Kh

Baca Juga: Pedang Darah Bunga Iblis 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert