Eps 10 Hong Lui Bun - Khu Lung
Baca online Hong Lui Bun - Khu Lung
Cersil Hong Lui Bun - Khu Lung.
"Silakan' lalu keduanya bergerak bersama memukul melintang kearah Kiu-bin-giu yang tergantung digelanggelang rantai. Empat buah bola besar berat itu seketika terayun dengan suaranya yang menderu, paya-paya kembang yang terbuat dari kayu seketika berg eta r mengeluarkan suara kriyat kriyut. Empat buah bola bergigi dan berpisau runcing tajam itu terayun pulang pergi dengan kekuatan yang cukup mengejutkan Liok Kiam-ping berkepandaian tinggi, tapi dia tak berani gegabah, sepenuh perhatian dia layani permainan lawan Begitu bola bergerak kedua pihak lantas bergerak mengikuti arah bola terayun, keduanya saling samber dalamjarak setengah kaki disebelah bola, arahnya lurus untuk menghindari hantaman Kiu-bong-giu secara telak Disaat dua bola bersilang lewat, kedua orang itu baru mulai bergerak saling hantam. Seiring dengan gerakan menyelinap ketengah Kong-toaykhek seng lh bun miringkan tubuh kesebelah kiri, kedua tangan memukul kesebelah kanan-Liok Kiam-ping pasang kuda-kuda menurunkan tubuh, padahal dua bola berat bergigi dan berpisau itu sudah terayun balik. terpaksa mereka melompat minggir kesamping utara dan elatan di mana kedua bola yang lain berada. Sebat sekali Liok Kiam-ping bergerak. disaat tubuhnya hinggap kebawah, kebetulan berada disebelah kanan bola, muka menghadap keluar paya-paya kembang, mendadak dia melangkah keluar setindak tangan kiri terayun kebelakang. bola yang berada disebelahnya telah dipukulnya terayun lurus kebelakang. Begitu bola terdorong pergi, orangnyapun melompat keluar dari arah barat, gerak geriknya yang sebat dan tangkas, jelas tak mampu diimbangi oleh jago silat umumnya. Kini empat buah bola itu sudah bergerak semua, gelang-gelang kecil diatas tambang yang mengikat bola besar itu gemerincing sehingga suasana menjadi berisik. Kini kedua pihak mengeluarkan kemampuan sejati, mereka melompat pergi datang diantara samba ran empat bola yang pergi datang secara cepat dan ketat, bila bayangan mereka melompat dekat, keduanya lantas saling serang dan membela diri. Bertempur dengan cara menghindar tumbukan bola lalu saling serang hakikatnya tak boleh bergerak secara lambat atau lena, hatipun harus selalu ingat dan awas akan gerak laju dan arah bola-bola tajam itu, mendadak maju lain saat mundur, menyerang atau membela diri secara bergantian, jelas pertempuran ini jauh berbeda dengan adu kepandaian umumnya. Dalam sekejap mereka sudah saling labrak puluhan jurus, bukansaja sulit mengembangkan Ginkang dalam samberan bola-bola yang samber menyamber itu, tenagapun harus diperhitungkan celakanya perhatian harus selalu ditujukan pada gerak gerik lawan, sudah tentu mereka ingin selekasnya merobohkah lawan dalam adu tenaga, pukulan dan ketangkasan Liok Kiam-ping tahu Kiu-bong-giu sudah diyakinkan Kongtong koay-khek Seng Ih-hun dengan baik, bukan saja permainannya sudah leluasa dan matang, dia masih mahir memainkan Pat-sian-ciang yang lihay, maka dia memperingatkan diri sendiri supaya tidak memandang enteng lawan, bila lawan lolos dari sepasang telapak tangan sendiri, bukan saja malu terhadap leluhur danpara anggota bagaimana dia harus bertanggungjawab sebagai seorang pimpinan. Maka Kiam-ping kembangkan Ling-hi-pou-hoat, diam-diam Wi-liongciang-hoat juga disiapkan, sudah bulat tekadnya untuk tidak memberi ampun kepada Kong-tong-kony-khek seng ih-bun. Kebetulan kedua pihak kini berada dipusat pusaran keempat bola. Seng Ih bun bergerak dari selatan keutara, sebaliknya Liok Kiam-ping dari utara keselatan, keduanya jadi berada tepat ditengah sudut bersilangnya bola-bola itu, kontan Kong-tong-koay-khek menyodok miring kearah bayangan Liok Kiam-ping, berbareng kakinya merebut maju kepinggir, kedua tangan terayun serong ke timur, dengan miring tubuh bergaya memukul harimau. Liok Kiam-ping melompat tiba mengikuti ayunan sebuah bola, gerak geriknya setangkas tupai seringan angin, agaknya Kongtong-koay-khek Seng ih-bun tidak berani mengadujiwa, sebelum serangan mengenai sasaran, lekas dia tarik balik serangan sebelum dia sendiri kesambar bola yang datang dari ping gir. Gerak geriknya memang cekatan namun tenaga serangannya tadi cukup keras, hingga dalam menyelamatkan diri kali ini dia tampak keripuhan Namun gerakan Liok Kiam-ping kali ini juga cukup berbahaya, semula dia menghadap ke barat membelakangi timur, saat mana sepasang tangan Kong-tong-koay khek Seng ih-hun sudah menyerang tiba, sementara depan dan belakang diancam ayunan bola, jelas dia takkan bisa menyelamatkan diri, kalau tidak terluka oleh pukulan lawan, pasti roboh keterjang bola. Untung dalam keadaan terdesak timbul akalnya, sebat dia mengegos tubuh keutara sambil menggeser selangkah. syukur dia selamat, namun jiwanya hampir saja melayang kalau terlambat sedikit saja. Karena serangan kedua tangannya luput, Kong-tong-koaykhek terancam samberan bola yang datang dari belakang, lekas dia menyilang langkah menyingkir keselatan-Dalam hati dia maklum, berdasar kepandaian silat dan kekuatan Lwekang, bertempur ditempat datar elas dirinya bukan tandingan Liok Kiam-ping, Dirinya sudah sekian tahun berlatih secara tekun ditengah ayunan bola-bola yang dapat mengancamjiwa orang ini, betapapun tinggi kepandaian seorang, jelas takkan leluasa bergerak ditengah ayunan bola, jikalau tidak memiliki ketangkasan luar biasa. Tapi dia masih mempunyai permainan rahasia yang belum dikeluarkan bila permainan nakal ini tidak lekas dikembangkan, jelas tidak mudah dia merobohkan lawan yang masih mud a belia ini. Dua puluh tahun yang lalu dia pernah melukai dan mengeroyok ciangbunjin mereka yang sudah tua hingga tewas, permusuhan jelas tak mungkin dilerai atau didamaikan lagi, sekarang apa pula, halangannya bertindak lebih kejam lagi. biar adu jiwa saja dengan bocah ini dan membunuhnya secara licik bila perlu. Pikiran jahatnya timbul wajahnyapun beringas diliputi nafsu membunuh. Saat mana bola dibelakang Liok Kiam-ping baru saja menyamber lewat, disaat orang menyingkir dan merobah gerakan itulah mendadak Kong-tong-koaykhek menyergap dengan tangan kanan menepuk keperut Liok Kiam-ping. Tangan kiri menyerang dengan jurus Tay-beng-can-ji (burung rajawalipentang sayap) merogoh keatas sebelah kiri, dengan tangan kiri ini dia menabas tambang besar yang mengikat Kiubong-giu sehingga bola itu tersendal balik, sementara bola dibelakangnya juga sudah terayun tiba. Maka dia menurunkan pundak kekiri, bola dibelakangnya menyamber lewat diatas pundak kanan, dengan kedua jarinya dia dorong lagi bola itu hingga terayun lurus ke muka Lloh Kiam-ping. Maka Liok Kiam-ping sekaligus diserang dari tiga haluan, kalau kelit kekanan, harus menghadapi bola yang terayun datang dari barat, kiri harus melawan bola yang disendal datang oleh Kng-tong-koaykhek Seng Ih-hun. Terpaksa Liok Kiam-ping gunakan gerakan Thi-pan-kio (Jembatan besi) yang lemas menjengkang tubuh kebelakang datar dengan tanah, namun sebelum Kong-tong-koay-khek mengundurkan diri, dia masih terancam oleh serangan keji lainnya, lekas dia gerakkan tangan kiri mengunci pergelangan Kong-tong-koay-khek seng Ih-hun, tubuhnya terus anjlok pula kebawah, karena bola yang disendal balik lawan sudah menyamber kemukanya.
"Bagus."
Dia menghardik sekali, merangkapjari telunjuk danjari tengah dia menjojoh ketengah bola yang kosong sehingga bola itu berhasil disampuknya kepinggir oleh kekuatan dua jarinya, terayun balik ke arah datangnya semula.
Sementara posisi Kiam-ping tetap tidak bergeming atau berkisar, bola yang menyamber lewat daripundak kanan Kongtong koay-khek menyerempet punggung kirinya sehingga serangan telak kedua bola ini terhindar, sudah tentu pertahanan Kong-tong-koay-khek Seng Ih hun menjadi terbuka lebar.
Betapa lincah dan tangkas gerak tubuh Liok Kiam-ping, kesempatan sebaliknya tidak di abaikan, lawan tak boleh lari, serempak kedua tangan merogoh keatas, denganjurus Liongjiau-king-thian mengincar Hoakay-hiat didada Seng Ih-hun.
Gaya pukulan dan gerak tububnya bukan saja cepat, serangan telak juga tepat, merupakan salah satut gerak tipu Wi-liongpit-kip yang lihay, puluhan tahun yang lalu jurus inipun sudah menjagoi Kangouw, maka ingin berkelitpun Kong-tong-koaykbek seng Ih-hun sudah terlambat.
Ujung jari sudah menyentuh pakaiannya, tenagapun hampir dikerahkan-Melihat lawan merobah gerakan, mendadak pandangan sendiri menjadi kabur, tahu-tahu serangan lawan sudah mendera didepan mata, untung Kong-tong-koay-khek mempunyai kemahiran luar biasa didalam menghadapi saat gawat seperti ini, badan bagian atas dia miringkan, sambil angkat kedua tangan, mengikuti daya pukulan Liok Kiam-ping, dan melompat sambil menyelinap dicelah antara samberan dua bola, sekaligus meluputkan diri dari pukulan telak lawan-Sayang betapapun luas pengaIaman dan sikap reaksinya, tak urung dia tersapu juga oleh pukulan Kiam-ping, tulang rusuk bagian atasnya seketika sakit luar biasa.
"Plak"
Tubuhnya mela yang pergi.
sambil menahan rasa sakit, berdasar pengalaman tempur dan kemahirannya main ditengah barisan bola ini, tangan kanannya menarik tambang besar, tubuhnya kembali meny elinap pergi dari celah-celah samberan bola dan melayang turun.
Ditengah suitan panjang, dia sudah tidak pikirkan keselamatan sendiri, mendadak dia angkat tubuhnya sambil merangkap dua jari menutuk kearah bola yang terayun datang dari belakang, hingga bola ini terayun lebih cepat menyongsong bola yang datang dari depan.
Murid-murid Keng-tong-pay yang menonton dari luar payapaya kembang mendadak ada yang menjerit kaget.
"Susioksuco, jangan.' cepat dia menarik tambang besar yang dipegangnya hingga bola yang terayun itu ketarik naik satu kaki lebih tinggi. Sementara tambang bola yang ditutul Seng Ih-hun dan terayun tiba itu teriris oleh pisau tajam dibola yang ketarik mumbul, maka bola berat berduri dan bpisau tajam itu jatuh menggelindang ditanah. Mendengar teriakan murid Kong-tong-pay itu, Liok Kiamping sudah waspada, lekas dia mendahului lompat keluar dari paya-paya kembang sambil menoleh kebelakang. Mendadak didengarnya sebuah ledakan keras disertai jeritan yang menyayat hati. Ditengah kepulan asap tebal, darah muncrat disertai tulang dan daging. Kong-tong-koay-khek seng Ih-hun tampak roboh celentang ditengah genangan darahnya sendiri, kedua kakinya sebatas paha hancur lebur karena ledakan tadi, keadannya amat mengerikan Ternyata didalam bola bandulan berat ini di isi bahan peledak. agaknya Kong-tong koay-khek Seng Ih-hun sudah bertekad gugur bersama Liok Kiam-ping, maka dia nekad mendorong bola supaya saling tumbuk dan meledak. Bila rencananya ini berhasil, umpama tidak mati pasti Liok Kiam-ping luka parah, untung seorang murid berteriak sambil menarik ujung tali yang menggantung bola sehingga bola itu terangkat, tujuannya hendak menolong kakek gurunya terhindar dari bahaya benturan dan besar ibu jari kaki itu ternyata tergores putus oleh pisau tajam dibola yang lain dan jatuh tepat dibawah kaki Kong-tong-koay-khek Seng Ih-hun, maka kedua kakinya hancur luluh sebatas paha karena ledakan keras itu, orangnya seketika roboh semaput. Liok Kiam-ping sendiri juga kaget dan ngeri hingga dia berdiri menjublek sekian saat. Untung murid Keng-tong-pay tadi menjerit kaget sehingga dia sempat melompat keluar, kalau tidak tentu diapun ikut cidra. Namun melihat keadaan Kong-tong-khek Seng Ih-hun yang begitu mengenaskan, tak tega hatinya, lekas dia menghampiri serta berkata kepada murid-murid Keng-tong-pay yang merubung maju. 'Luka-luka Seng-lotangkeh amat berat, tidak boleh banyak bergerak, apalagi terkena racun belirang, kalau tidak lekas dlobati kadar racun lekas merembes kedalam badan, cayhe sedikit paham ilmu pengob atan, bila kalian percaya kepada cayhe, lekas ambilkan air putih, cayhe akan membantu sekuat tenaga untuk menolong jiwa seng-lo-tangkeh."
Sejak Pi-san-khek The Hong meninggal, Sam-jay-kiam juga gugur, maka murid-murid Kong-tong sudah tiada jago yang bisa diagulkan, kepandaian mereka bertaraf rendah, mana berani melabrak Liok Kiam-ping apalagi mereka juga kehabisan akal tak tahu bagaimana harus menolong Seng ih hun.
syukur Liok Kiam-ping menyatakan kesediaan dirinya memberikan pertolongan-Maka murid-murid Khong-tong menjadi ribut, ada yang lari mengambil air dan mengeluarkan obat-obatan dan kain pembalut serta pelengkapan lainnya.
Dengan teliti Liok Kiamping membersihkan bagian luka-luka lalu membubuhi obat mujarab untuk penawar racun serta menutuk beberapa Hiat-to menghentikan darah keluar, dirogohnya sebutir Soat-lian lalu dibagi dua, separo untuk Seng Ih-hun sisa separo yang lain diberikan kepada Toa-koay Ki Kong.
Wajah Kong-tong-koay-khek seng Ih-hun pucat pasi, masih semaput, sudah tentu dia tak bisa menelan Soat-lian yang sudah masuk tenggorokan, maka Liok Kiam-ping pegang dagungnya lalu dipencet hingga mulut terbuka lalu didorong dengan sekumur airjernih.
Sayang darah keluar banyak.
lukaluka parah lagi, sehingga kasiat Soat-lian berjalan lamb at..
Baru saja Liok Kiam-ping bersimpuh hendak mengerahkan hawa murni desalurkan ketubuh orang supaya membatu kasiat orat.
Mendadak didengarnya dua suara bentakan terus.
Dua orang yang lagi baku hantam disebelah sana tampak terpental mundur, Ai-pong-sut Thong cau dan Ji-koay Ki Ping mundur lima langkah.
Ternyata kedua orang ini adu pukulan..
Kalau Ji-koay Ki Ping merasa kedua lengannya linu dan lemas, sementara dada Ai-pong-sut agak sesak dan tersengal napasnya.
Mendadak Ji-koay Ki Ping menggeram sambil angkat kedua tanganya lurus kedepan, telapak tangannya mulai berobah hijau.
Sekilas melirik Liok Kiam-piang tahu Jikoay siap melancarkan Ko-bok-ciang yang lihay untuk mengakhiri pertempuran, kuatir Aipomg-sut lidak kuat menghadapi ilmu pukulan jahat ini, lekas dia melompat ketengah gelanggang, seraya berseru.
"Tianglo boleh mundur saja."
Kim-kong-put hoy-sinkang dikerahkan melindungi sekujur badan, sementara kakinya bergerak mendadak kearah Ji-koay Ki Ping.
Walau Ko-bok-ciang beracun dan jahat, namun dua kaki di sekitar tubuh Liok Kiam-ping segera buyar tertiup angin tak berbekas.
Karuan Ji-koay mengkirik dan berdiri bulukuduknya.
Dengan tersenyum Liok Kiam-ping berkata.
Ji-tangkeh, selesailah sampai di sini saja.
Kami tidak bermusuhan sebelum ini, aku masih punya separo butir soat lian, silakan berikan kepada Lo toa, yakin luka-lukanya bisa lekas disembuhkan-' habis bicara kedua lengan bajunya dikebas naik turun, kabut hitam segera buyar, di mana tangannya terayun, selarik sinar putih lantas meluncur kearah Ji-koay.
Bahwa Ko-bok-ciang tak mampu melukai lawan, hati Jikoay Ki Ping sudah ketakutan, di saat keripuhan lawan sudah menimpukan separo butir Soar-lian kearah dirinya, lekas dia meraihnya, untung dia lebih sabar dibanding saudara tuanya, kepalanya juga lebih pandai berpikir, segera dia bergelak tawa, katanya.
"Liok-pangcu memiliki ilmu sakti, Losiu benarbenar terbuka hari ini, kesalahan memang dipihak kami, karena tamak dan mudah percaya hasutan orang sehingga Lotoa terluka berat, memang setimpal sebagai imbalannya. Ternyata Siau-hiap berbudi luhur memberi obat lagi, sungguh tak terhingga Lo-siu terima kasih gunung tetap menghijau, air tetap mengalir, biarlah kelak kita bertemu lagi."
"Silakan Siau-hiap"
Setelah memberi hormat dia bopong Lotoa Ki Kong, beberapa kali lompatan dia sudah lenyap dibalik wuwungan.
Mengawasi bayangan orang Liok Kiam-ping menghela napas, lalu dia membalik serta duduk dipinggir Seng lh bun, kedua telapak tangannya menekan Bing-bun-hiat dipunggung Seng ih-hun serta menyalurkan hawa murni kedalam tubuh orang.
Beberapa kejap kemudian, wajah pucat Seng Ih-hun mulai bersemu merah, perlahan orang nyapun siuman, begitu membuka mata melihat Liok Kiam-ping yang sedang mengobati dan menolong dirinya, tak tertahan airmata bercucuran air mata duka bercampur haru..
Deng an mendelu Liok Kiam-ping berkata.
"cianpwe masih harus banyak istirahat, semoga lekas sembuh, selamat tinggal."
Lalu dia ajak Ai-pong-sut meninggalkan tempat itu.
Dengan langkah seperti terbang Kiam-ping langsung turun gunung menuju ke Liang-ping, ditengah jalan dia prihatin akan luka-luka Ai-pong sut, tanyanya prihatin.
"Bagaimana lukaluka Tianglo, apakah perlu diobati, dulu baru melanjutkan perjalanan lagi?"
Ai-pong-sut Thong cau bergelak tawa, katanya.
"Luka-luka seringan ini, Losiu masih kuat menahannya Pangcu, waktu sudah mendesak. kita perlu menempuh perjalanan."
Dibawah gunung menemukan kuda tunggangan mereka terus dibedal kearah timur.
Hari sudah sore, pejalan kaki.sudah jarang maka mereka berani membedal kuda sepertri mengejar angin.
Jarak tiga puluh li mereka tempuh dalam setanakan nasi, hari itu mereka sudah kembali kehotel Eng-an.
Pemilik dan kacung hotel sudah tahu mereka pulang dari Ui-yap-san-ceng maka pelayanan luar biasa.
Setelah membersihkan badan dan makan Ai-pong-sut naik keranjang duduk bersamadi menyembuhkan luka dalamnya.
Setelah sehari penuh bertempur, menempuh perjalanan jauh lagi, meski Liok Kiam-ping memiliki Lwekang tangguh juga merasa lelah, namun dia merasa perlu menjaga keselamatan Ai-pong-sut, maka dia duduk disebelahnya.
Waktu berjalan tanpa terasa mendadak Ai-pong-sut membuka mata, lalu berkata perlahan.
"Pangcu. kenapa kau belum tidur, jangan karena Losiu kesehatanmu sendiri terganggu."
"Liok Kiam-ping tersenyum katanya mengangguk.
"Ya, marilah istirahat, keadaanmu sudah jauh lebih baik."
Lekas sekali fajar telah menyingsing.
Pagi-pagi benar mereka sudah menempuh perjalanan menuju ketenggara.
Dua hari kemudian mereka tiba di Po-ke mulai memasuki jalan raya yang menuju ke Thong-koan keadaan di sini makin sulit dilewati.
Thong-koan adalah kota penting didaerah utara padang rumput, sebagai daerah penting disepanjang tembok besar, membelakangi gunung Hoa-san lagi, keadaannya memang serba alamiah.
sejak dahulu kala tempat strategis ini sudah sering menjadi rebutan dua pasukan besar yang ingin menyerbu ke Tlonggoan.
Liok Kiam-ping berdua kepingin lekas pulang keselatan, pemandangan panorama yang indah sepanjang jalan terutama disekitar tembok besar tidak diperhatikan lagi.
Tapi perjalanan memang amat susah, apalagi kuda lebih sukar jalan, terpaksa mereka turun dan menuntunnya.
Untunglah mereka berhasil mencapai puncak yang bersaiju, bagi yang bernyali kecil tentu tak berani lewat daerah sini.
Setelah tiba dibalikpuncak, kota Thong-koan sudah kelihatan.
Saat mana mentari sudah condang ke barat, mereka tengah mencongklang kuda supaya menempuh perjalanan lebih cepat.
Mendadak dari arah hutan di sebelah belakang mereka mendengar suara tawa lirih, meski suaranya lirih, namun jelas terdengar oleh kuping Liok Kiam-ping, jelas orang sengaja tertawa dengan tekanan tenaga dalam.
Tanpa janji Kiam-ping berdua menoleh namun suasana sepi, tiada bayangan manusia.
Namun karena mereka memiliki kepandaian tinggi kejadian tadi tidak diperhatikan, setelah beradupandang sambil tertawa mereka keprak kuda melanjutkan perjalanan Tapi selanjutnya mereka sedikit pecah perhatian ke belakang.
Puluhan tombak kemudian tawa lirih itu terdengar lagi, suaranya lebih keras, jelas jaraknya lebih dekat.
Ai-pong-sut berjalan disebelah belakang dan sudah waspada, sekilas berhasil ditangkap oleh lirikan matanya berkelebatnya bayangan kelabu melesat kedalam hutan-Sebagai kawakan Kangouw dia tentu jelas segala seluk beluk kaum persilatan, maka dia berseru lantang kedalam hutan.
"Sahabat siapa, kalau ada keperluan boleh silakan keluar dan bicara beri hadapan kenapa sembunyi-sembunyi seperti panca longok, kami tidak sudi melayani orang yang tidak genah."
Maka terdengarlah suara dangin dari dalam hutan, seorang berkata.
"Sahabat, kalau berani, mari ikuti diriku."
Maka melesat lah sebuah bayangan kelabu meluncur dipucuk pohon, menginjak dahan melayang diatas daun pohon, selincah kera setangkas burung terus meluncur keatas puncak gunung disebelah kiri.
Liok Kiam-ping membisiki apa-apa ditelinga Ai-pong-sut, mendadak dia membentak.
"Baik, memangnya kau mampu lari ke mana."
Sebelah tangan menekan pelana kuda tubuhnya mencelat mumbul lima tombak.
ditengah udara dia menggeliat sambil memancal kedua kaki, dengan gaya indah tubuhnya meluncur setengah bundar, hinggap dipinggir hutan-Hanya sedikit tutul kembali badannya melambung lebih tinggi terus mengudak kearah mana bayangan kelabu tadi menghilang.
Kiam-ping kerahkan seluruh tenaganya mengembangkan Ling-hi-pou-hoat, gerak tubuhnya berkelebat seenteng asap melayang, hanya beberapa kali lompatan berjangkit bayangannyapun lenyap.
Aipong-sut menentukan arah, lalu dia keprak kudanya sambil menuntun tunggangan Kiam-ping menuju kekota Tongkoan lebih dulu.
Thong-koan terletak dipusat Ui-ho, kota persimpangan yang ramai perdagangan, penduduknya padat, salah satu kota besar yang penting diwilayah utara.
Saat itupelita mulai dipasang, penduduk kota berduyunduyun di jalan raya, entah pedagang yang menjajakan dagangannya, atau pejalan kaki yang berbelanja, lampulampu sudah dipasang terang benderang, ramainya bukan main-Sambil menuntun kedua ekor kudanya Ai-pong-sut putar kayun di jalan raya, akhirnya dia berputar satu lingkar lalu menemukan hotel Hok-yang dan menetap di situ.
Pelayan menerima kudanya terus dibawa keistal, pelayan lain mengajaknya memilih kamar kelas satu.
Sekarang mari kita ikutipengejaran Liok Kiam-ping, sambil lari kencang kakinya berlompatan diantara pucuk pohon, setiba diatas puncak selepas mata memandang, bayangan kelabu tadi sudah tidak kelihatan.
Padahal dinilai taraf Ginkangnya sekarang yang sudah sempurna, dalam kalangan bulim sekarang, jago yang mampu menandangi dirinya bisa dihitung dengan jari.
Padahal bayangan kelabu tadHanya sepuluhan tombak lebih didepan Kiam-ping, umpama dalam waktu singkat tak berhasil mengejarnya sedikitnya masih bisa mengawasi gerak geriknya.
kenyataan bayangan itu sudah lenyap entah kemana., dari sini dapat disimpulkan bahwa kepandaian orang itu juga amat tinggi.
Seingatnya jago-jago kosen yang pernah bergebrak dengan dirinya, rasanya tiada yang memiliki kungfu setaraf bayangan kelabui ini.
Maka boleh diduga bahwa kemungkinan dia seorang gembong iblis yang sudah lama mengasingkan diri.
Tapi Kiam-ping kebacut angkuh, apalagi sejak menduduki Hong-lui-pang Pangcu, belum pernah dia merasa jeri menghadapi apapun.
Setelah membulatkan tekadnya.
kembali dia celingukan memeriksa sekelilingnya.
Kiri kanan adalah ngarai terjal yang berbahaya, batu-batu cadas beraneka bentuknya, tak mugkin ada jalan yang bisa dilewati orang disana, hanya bagian tengahnya saja ada hutan yang rimbun keadaan di sini agak datar dan bisa diselidiki.
Suasana sepi.
lengang, mentari terus merambat kearah barat, hanya deru angin pegunungan yang sering membuat ribut hingga daon-loon pohon dan rumput liar yang tumbuh tinggi gemulai ditiup angin, yang bernyali kecil pasti tak berani maju lebih lanjut.
Liok Kiam-ping bernyali besar, sedikitpun dia tidak risau atau kuatir meski berada didaerah terpencil lagi serba sukar dan belukar, agaknya bayangan kelabu dari tokoh silat lihay itu betul-betul menarik perhatiannya.
Setelah meneliti keadaan dia segera mengembang Ginkang kesuatu arah yang di rasa betul, tetap menginjak dahan dan daon-daon pohon meluncur dengan kecepatan tinggi.
Setelah memutari ping gang gunung kini dia berada didaerah yang permai dan sejuk.
Tampak dibelakang hutan rimbun sana terdapat sebuah bangunan gedung atau perkampungan besar, perkampungan yang terpencil dipinggir gunung, seperti seekor mahluk raksasa mendekam dibawah gunung.
Di sebelah kiri gedung terdapat sebuah aliran sungai kecil, airnya mengalir deras dari lembah gunung sana kearah selatan,jembatan panjang yang terbuat dari bambu tampak liku-liku, panorama di sini ternyata cukup memukau.
Sebelah kanan terdapat sebuah jalanan kecil yang berlandaskan batu gunung melingkar dari bawah terus keatas, mungkin itulah jalan yang menjurus keluar gunung.
Bahwa ditengah gunung belukar dan terpencil begini terdapat sebuah gedung besar dan megah, bukan saja menyolok mata, kehadiran gedung digunung inipunpatut dicurigai.
Baru saja Liok Kiam-ping turun didepan gedung tengah dia celingukan, dari dalam pekarangan mendadak didengarnya tawa dingin orang, lalu berkata.
"Bagaimana ? Setelah tiba di sini kenapa takut. Memangnya Pat-pi-kim-liong adalah seekor kura-kura."
Suaranya sudah dikenal entah di mana, namun sulit dia mengingatnya.
Orang sudah menyindir secara pedas, watak Liok kiam-ping memangnya tinggi hati, mana dia rela diremehkan, setelah melenggong dia lantas bergelak tawa, katanya.
"Saudara dari mana, berani memancingku ke mari kenapa tidak berani unjuk diri. Memangnya menyambut tamu dengan sindiran tajam beg itu."
Suara serak dan tua yang lain segera berkumandang.
"Lohu beramai sudah sejak tadi menunggumu di sini. memangnya kau sudah tuli, kenapa salahkan orang lain."
Suaranya lembut namun terdengar jelas, pembicara menggunakan ilmu mengirim gelombang panjang.
Liok Kiam-ping sudah perhatikan arah suaranya, maka dia tahu orang berada di pekarangan belakang.
Segera dia melangkah lebar ke dalam, setelah melewati pendopo, hatinya tercengang heran-Gedung sebesar ini ternyata sunyi senyap tidak kelihatan bayangan orang, tapi pajangan dan prabot rumah serba baru antik dan mengkilap bersih.
Tapi Liok Kiamping tidak hiraukan segala keganjilan di sini, dia tetap beranjak kesebelah belakang.
Setelah menyelinap kesamping melewati sebuah pintu belakang dia tiba dipekarangan belakang, di sini ternyata ada kebon kembang kecil, pemandangan serba baru, rumput hijau tumbuh lembut seperti permadani, bunga-bunga berkembang semerbak.
bentuk dan gaya bangunannya serba modern, namun suasana nan tentram seperti dialam dewata.
Liok Kiam-ping beranjak maju sambil celingukan, kini dia beranjak disebuah jalan berbatu sempit yang diapit pepohonan bambu tinggi setombak lebih, bila angin menghembus lalu, dari daon-daon bambu bertaburan serbuk putih laksana halimun beterbangan diudara.
Liok Kiam-ping setengah melamun sambil memperhatikan keadaan sekelilingnya sehingga tidak begitu ambil perhatian akan taburan serbuk putih yang mengenai tubuh dan pakaiannya, semula punggung tangan dan mukanya yang terkena serbuk putih itu terasa gatal-gatal, tapi Hanya sebentar sudah lenyap tak terasa lagi.
Keluar dari jalanan sempit ini, didepannya terbentang sebuah lapangan, baru saja dia beranjak beberapa langkah.
Didengarnya kesiur angin yang meluncur dari berbagai penjuru, gerak geriknya cepat dari tangkas.
Bila Liok Kiam-ping angkat kepalanya, sepuluh tombak didepannya, berjajar belasan orang yang bertubuh tinggi pendek.
gemuk dan kurus tidak merata dan merekapun berbeda, namun usianya sudah tujuh puluhan-Ternyata Kimkong-ci Hong Kiat, Tay-bok it-siu dan Tang -ling-sin-kun ada diantara mereka.
Ditengah barisan adalah seorang kakek berusia sembilan puluhan, rambut dan jenggot sudah memutih saiju, namun sorot matanya berkilat penuh wibawa.
Liok Kiam-ping maju dua langkah, baru saja dia akan bersuara.
Kakek tua ditengah barisan sudah terkekeh, katanya.
"Anak ntuda, anggaplah usiamu memang panjang, ternyata kau mampu lolos dari Jit-pou-tui-hun-san, tapi di sini jangan ha rap kau bisa meloloskan diri."
Liok Kiam-sing tertawa besar, katanya.
"Selama hidup cayhe membedakan tegas budi dan dendam, kapan pernah takut dan undur setapakpun menghadapi tantangan. Agaknya kalian ingin menyelesaikan urusan lama, jelaskan saja, cayhe pasti melayani dengan senang hati."
Kakek ubanan itu terbahak-bahak. katanya.
"Tuan memang pemuda yang supel dan menyenangkan-Tentu kau sudah tahu maksud kami, hari ini kau masuk jaring, maka jangan salahkan kami bertindak keji kepadamu."
Liok Kiam-ping balas menjengek.
"Kalau tidak salah dugaanku, kalian tentu datang dari Ham-ping-kiong ? Tuan siapa, memangnya tak berani memperkenalkan diri ?"
"Anak muda,"
Kakek ubanan tertawa bingar, kau memang cerdik, dugaanmu tidak salah, siapa Lohu, boleh kau lihat ini,"
Lalu dia merogoh kantong mengeluarkan sebuah mainan batu jade warna hijau tua, diatas mainan berbentuk mainan kalung itu bertuliskan dua huruf "Ham-ping".
Itulah Ham-ping-giokling yang pernah ditakuti dan disegani duapuluh tahun yang lalu.
Melihat Ham-ping-giok-ling, maka Liok Kiam-ping yakin bahwa kakek tua ubanan didepannya ini pasti Ham-ping-lengmo.
Didengarnya Ham-ping-leng-mo berkata lebih lanjut.
"Sejak kau keluar kandang, dengan bekal kungfu perguruanmu yang tak seberapa itu, kau mengaduk keributan di Kangouw hingga terjadi Hujan darah, tahun lalu kau membunuh ceng-san-biaukhek, sayang Lohu sedang tetirah hingga tak bisa turun gunung menyelesaikan persoalan ini terpaksa kukeluarkan perintah dengan kebesaran Ham-ping-giok-ling ini, mengutus murid didikku mencarimu keberbagai penjuru, berapa kali kau berhasil lolos dari kejaran, malah tidak sedikit jago-jago kami yang kau lukai, hari ini syukur kau mengantar kematian. maka jangan salahkan kalau Lohu bertangan gapah merogoh jantungmu demi memberantas kejahatan di Bulim."
Mendengar orang menyinggung ceng-san-biau-khek.
maka terbayang oleh Liok Kian-ping akan dendam kematian leluhur perguruannya ciang-kiam-kim-leng dan Lui Kou-ok yang gugur dikeroyok musuh secara keji seketika berdiri kedua alisnya, katanya dengan rada rawan.
"Hong-lui bun berada di selatan, perguruanmu di utara, satu dengan lain tak pernah bermusuhan, saling hormat dan menghargai, dua puluh tahun yang lalu, kalian beritikad jahat ingin merebut pusaka kebesaran kita Wi-liong-pitrkip. tak segan-segan Sekongkol dengan lima perguruan lain secara keji dan picik main keroyok dan membunuh ciangbunjin kita yang terdahulu, perbuatan kotor kalian sudah menimbulkan kemarahan masal. Tak nyana dua puluh tahun kemudian ceng-san-biau-khek kembali membunuh Lui Kou-ok cianpwe yang sudah terluka parah serta merebut Wi-liong-pit-kip. Dandam dan sakit hati perguruan kita tak terlampias, maka menghukumnya secara setimpal sesuai perbuatannya. Sekarang kau sendiri sudah muncul, maka tiba saatnya kematian ciang-kim-kim-ling di Tay-pa-san yang kalian keroyok dua puluh tahun yang lalu diselesaikan."
Ham-ping-leng-mo adalah gembong iblia yang paling laknat diantara pentolan-pentolan iblis, hanya membanting kaki cukup membuat kalangan persilatan jeri kepadanya, apalagi bila Ham-giok-ling muncul, kaum persilatan peduli aliran putih atau golongan hitam akan pusing tujuh keliling dibuatnya.
Sejak muda dia terlalu mengagulkan diri dan anggap wibawanya besar, kapan ada orang berani berdebat dan bicara lantang dengan dirinya, apalagi dicercah seperti Liok Kiam-ping sekarang.
Baru pertama kali ini terjadi sejak dia hidup, karuan amarahnya meluap.
alia berdiri mata melotot, bentaknya murka.
"Tutup mulutmu anak muda, jangan berdebat saja, hari ini kau sudah tidak kuasa akan jiwa ragamu sendiri memang sebentar akan kuberikan keadilan kepadamu, berapa jurus kau berani melawan pukulan Lohu?"
"Liok Kiam-ping tertawa besar, katanya.
"Ya, memang itulah keinginan Cayhe. Berapa banyak kau memukul seluruhnya pasti kusambut.' Jago-jago kosen yang berdiri di kanan kiri Ha m-ping-lengmo menggeram gusar dan mengepal tinju, semua melotot gusar kearah Pat-pi-kim-liong. Maka munculah tiga orang dari samping Ham-ping-leng-mo. sebentar mereka berbisik-bisik seorang lantas berkata kepada Liok Kiam-ping.
"Anak muda,jari tanganku protol, istanaku hancur, dendam ini tak pernah Lohu lupakan, hari ini akan kubuat badanmu hancur lebur baru terlampias dendam kami."
Yang tampil ini adalah Kim-kong-ci Hong Kiat, Tay-bok-itsiu dan Tang-ling-sin-kun, Liok Kiam-ping menyeringai dingin.
"Kukira siapa, kalian jago-jago yang pernah keok ini juga berani petingkah, sepatutnya kalian bertobat dan mengasingkan diri keatas gunung demi jiwa tua kalian, ternyata tidak kapok masih berbuat jahat. Hari ini tak boleh kuberi ampun lagi, boleh kalian maju bersama, untuk menghemat waktu dan tenagaku."
Hong Kiat bertiga termasuk jago kelas wahid di bulim, meski taraf kepandaian mereka kalah setingkat, namun dengan gabungan tiga orang, yakin masih kuat bertahan dan menyelamatkan diri, sekilas mereka saling pandang lalu menyeringai dengan maju bersama, ditengah bentakan menggelegar serempak mereka menyerang satujurus.
Pukulan gabungan tiga jago top sudah tentu bukan olaholah hebatnya, ternyata Liok Kiam-ping berdiri tegak tidak berkelit atau menyingkir, bertolak pinggang sambil tersenyum lebar malah.
"Bocah keparat ini memang ingin mampus."
Demikian damprat tiga lawannya dalam hati, tenaga pukulan ditambah lagi dua bagian.
Bolamata Liok Kiam-ping mendadak mencorong seperti nyala lampu senter dimalam gelap.
diamdiam dia sudah kerahkan ilmu saktinya.
Bila pukulan lawan hampir menyentuh tubuhnya mendadak dia, angkat kedua tangannya, secapat kilat balas memukul sekali.
Begitu tenaga dahsyat beradu "Blang"
Menimbulkan ledakan hebat.
Hawa bergolak dalam arena dua tombak mengeluarkan desir keras balon gembes, jago-jago yang menonton dipinggir gelanggang terdesak mundur setindak.
pakaian mereka berkibar seperti diterjang angin badai, semua terbelalak kaget dan tersirap darahnya.
celaka adalah tiga orang yang memukul serempak itu mengalami tekanan tenaga yang dahsyat hingga tubuhnya terdesak doyong kebelakang, namun sekuatnya mereka bertahan sehingga enam kaki merekaamblas kedalam bumi.
Sementara Liok Kiam-ping masih berdiri santai ditempatnya sambil, tersenyum lagi, sesentipun tak pernah tergeser dari tempatnya, Adu kekuatan gebrak pertama ini jelas tiga orang tua bangkotan itu sudah kalah tenaga, karuan mereka menggerutu dan mengumpat dalam hati.
"Darimana datangnya ilmu sakti bocah ini, Lwekangnya maju secepat ini, sungguh luar biasa."
Tengah mereka bimbang dan mengatur napas dan menghimpun tenaga, dua orang tampil pula kemuka berjajar dengan mereka bertiga. Liok Kiam-ping tertawa hina, katanya.
"Kawanan tikus, boleh kalian maju main keroyok seperti dulu, agaknya memang itulah modal kemenangan kalian-Hari ini kalian akan tahu dan saksikan apa itu Kungfu sejati."
Pernyataan pongah dengan sikap takabur lagi, karuan orang orang Ham-ping-kiong berjingkrak gusar.
Lima orang tua itu menggeram bersama segera mereka berpencar dengan gerakan gesit mengurung Liok Kiarn-ping dengan posisi Ngo-heng-tin.
Liok Kiam-ping hanya melirik hina, katanya tak acuh.
"Barisan macam ini sudah sering cayhe melihatnya. Memangnya Ngo-heng-tin dapat berbuat apa terhadapku."
Kim-kongci Hong Kiat membentak.
"Anak muda, jangan membual saja, kalau tempo hari kau tidak pura-pura mampus, tentu badanmu sudah hancur lebur. Hari ini tubuhmu sudah terkena Toh-bing-tui-hun-san yang beracun, dalam dua jam tubuhmu akan membusuk menjadi cairan darah. Anak muda pikirkan dulu nasibmu, dengan cara apa kau ingin mampus."
Bercekat hati Liok Kiam-ping, lekas dia kerahkan hawa murni dari pusarnya, hawa panas segera tersalur keseluruh badan menembus tiga puluh enam Hiat-to besar dan kembali kepusar pula, ternyata berjalan lancar tanpa gangguan sejenak dia melenggong otaknya bekerja, lekas sekali dia sudah tahu duduknya persoalan, maka segera dia tersenyum, katanya.
"Maksudmu serbuk putih yang bertaburan dari atas pohon dan mengotori sekujur badanku ini."
Hong Kiat tertawa senang dan puas, katanya.
"Agaknya kau sudah meras akan sendiri, maka lekas kau pasrah nasib saja, kami akan membereskan kau secepatnya, daripada kau tersiksa dan menderita."
"Racunmu yang tak berguna ini memangnya dapat berbuat apa atas diriku. Setan tua, agaknya kau sudah makin gila dan sia-sialah akal muslihatmu."
Sudah tentu jago-jago Ha m-ping-kiong yang hadir melengak dan bingung, pada hal mereka juga maklum, sikap yang ditujukan Liok Kiam-piag sekarang, sedikitpun tidak kelihatan keracunan, tapi Toh-bing-tui-hun-san jelas bertaburan dibadannya, tapi entah kenapa kadar racunnya ternyata tak bekerja dan punah karena apa, bocah ini memang serba ganjil dan gaib.
Mendadak Liok Kiam-ping bergelak tawa katanya.
"Bagaimana, kalian sudah insyaf belum akan dosa dan kesalahan. Hahahaha."
Nada tawanya amat pongah dan menghina.
Sudah tentu kelima lawannya menjadi riai dan naik pitam, ditengah gerungan mereka, maka bariaan mulai bergerak.
Serempak kaki mereka bergerak.
bayangan lima orang segera berputar cepat mengelilingi Liok Kiam-ping, gelombang pukulan yang bertenaga dahsyat bertubi-tubi melanda kearah Liok Kiam-ping dari berbagaipenjuru.
Hawa udara menjadi kalut dan bergolak saking kuat dan keras samberan angin pukulan yang saling gubat ditengah arena menjadi pusaran angin puyuh yang dahsyat membumbung tinggi keangkasa.
Liok Kiam-ping menarikan sepasang tangannya, bergerak secepat kilat, beruntun dia lontarkan empat kali pukulan keempat penjuru.
Tapi setiap pukulannya seperti dibendang oleh arus angin puyuh yang dahsyat itu hingga punah tak berbekas.
Pukulannya malah mengeluarkan letupan-letupan kecil beruntun seperti petasan renteng berbunyi.
Makin hantam Liok Kiam-ping merasakan posisinya makin terjepit, betapapun dahsyat tenaga pukulannya, selalu tertolak balik oleh pergolakan hawa udara dari hasil gubatan tenaga pukulan kelima lawannya.
Jikalau cara begini terus cara tempurnya, dalam jangka tiga jam pasti dirinya kehabisan tenaga dan mandah diringkus menjadi tawanan musuh.
Melihat kepungan mereka berhasil membendung pukulan lawan dan mengurungnya hingga tak berkutik, sudah tentu kelima orang itu amat senang dan bangga, mereka berlomba mengerahkan setaker tenaga, menyerang dengan segala kemampuan, barusan gabungan pukulan mereka sedemikian keras dan kuatnya, bukan lagi debu yang tersedot membumbung keudara, tapi pasir dan krikilpun mulai terangkat keudara dan berputar kencang membumbung makin tinggi keudara seperti sebuah saka besar yang menyanggah langit.
Terasa oleh Liok Kiam-ping tekanan angin puyuh yang menggubat tubuhnya makin kuat, lambat laun bernapaspun terasa berat dan sukar.
Walau Seng-sokoan dalam tubuhnya sudah tembus, tenaga dalamnya takkan pernah habis dan berkurang, namun lama kelamaan dia merasa kepayahanjuga karena napasnya sesak.
Sungguh tak habis pikir bahwa kelima orang ini mampu menggabung kekuatan sedahsyat dan setangguh ini.
Makin bertempur mereka makin cepat lagi bergerak dan gencar menyerang, kelihatannya mereka juga sudah kerahkan seluruh kemampuan, Setanakan nasi kemudian, kelima musuhnya juga sudah mandi keringat, hati mereka mulai gugup dan kurang tentram.
Karena mereka amat bernafsu dan menyerang sekuat tenaga maka bila pertempuran Berjalan lebih terus lagi akhirnya mereka sendiri juga akan roboh lemas.
Sementara kedua tangan Liok Kiam-ping masih bergerak lincah seperti tidak pernah merasa lelah karena kehabisan tenaga.
Bagai kilat pandangan tajam Hamping leng-mo, kini dia sudah melihat gelagat yang makin tidak menguntungkan bagi kelima orangnya, maka perasaannya ikut menjadi berat dan prihatin.
Kembali semasakan air telah berlalu.
Mendadak timbul kecerdikan Liok Kiam-ping batinnya.
"Keuletan dan kehebatan barisan lima orang ini terletakpada gabungan tenaga mereka yang terkontrol dalam satu gerakan sehingga berpusar menjadi satu kekuatan, kekuatan daya putar inilah yang memunahkan tenaga pukulan dirinya, kenapa aku tidak menggunakan cara kebalikannya untuk melawan daya putaran musuh."
Segera dia kerahkan sepuluh bagian tenaganya, kedua tangan bertepuk lalu menepuk perlahan, berbareng badannya berputar kearah berlawanan dari daya putaran gabungan tenaga kelima lawannya.
Ternyata upayanya memang membawa perobahan besar, maka terjadilah pergesekan dan benturan dahsyat dari dua arus -kekuatan yang saling tumbuk.
"Blang blung"
Yang keras menggetar bumi, kelima orang lawannya tergetar keras hingga tak kuat berdiri tegak.
semua tersurut mundur beberapa langkah dari kedudukan semula.
Orang-orang Ham-ping-kiong lainnya yang menonton dari luar kalangan juga sudah melihat gelagat jelek bagi pihaknya, sikap dan mimik mereka kelihatan kuatir dan tegang, semua siap siaga untuk bertindak sembarang waktu.
Mendadak terdengar Kim-kong-ci Hong Kiat berteriak.
"Robah barisan-"
Belum lenyap suaranya, bayangan lima orang tahu-tahu sudah berobah gaya dan gerakan, secara aneh dan menakjupkan satu sama lain saling selulup dan samber menyamberpergi datang namun tidak langsung menyerang musuh, hanya membikinpandangan lawan kabur dan kepala pusing, agaknya mereka merobah strategi pertempuran, dengan kelembutan siap mengatasi gerakan sambil menunggu kesempatan bertindak.
Dengan bekal kepandaian yang dimiliki Liok Kiam-ping sekarang untuk membobol kepungan dan meloloskan diri bukan soal sulit Tapi tidak sudi berbuat demikian, dia malu menggunakan kekuatan sendiri, menyambut tantangan cara apapun dari musuh-musuhnya.
Maka dia mengincar salah satu posisi diarah depannya, sembilan bagian tenaga yang sudah dihimpun dilontarkan lewat tepukan sebelah tangannya.
"Byaaarrr."
Ledakan yang dahsyat Sekali, bumi bergetar seperti keterjang lindu.
Ternyata pukulan Liok Kiam-ping kali ini berarti melawan lima pukulan gabungan musuh musuhnya.
kebetulan barisan gabungan lima orang ini terletak pada kumpulan tenaga yang menjadi daya putaran besar untuk memunah kan pukulan musuh, jikalau musuh yang mereka lawan mempunyai Lwekang yang lebih rendah, hakikatnya mereka takkan mampu melawan, begitu terbungkus didalam putaran gabungan tenaga, lawan kalau tidak mati sesak napasnya, pasti lunglai kehabisan tenaga karena tergulung pergi datang oleh putaran arus pukulan yang besar.
kecuali itu, daya tenang menundukan gerakan yang mereka lakukan sekarang juga hebat manfaatnya, bila lawan turun tangan, peduli kepada siapa serangan ditujukan, keempat orang yang lain pasti memberi reaksi dengan serangan serentak.
Kumat sifat angkuh Liok Kiam-ping, beruntun dia melontarkan lima jurus pukulan lagi.
Kelima musuhnya sudah merasakan pukulan dahsyat lawan tak tertahankan, namunsekuat tenaga mereka terus melawan dan bertahan-Lima jurus kemudian tiba-tiba Liok Kiam-ping merobah gaya silatnya, diam-diam telapak tangan kiri menggunakan daya lengket mendadak jarinya mencengkram kearah kiri.
Seorang laki-laki tua berbaju panjang mendadak tersuruk maju dua langkah kedalam lingkaran, sebelum dia menguasai diri dan berdiri tegak.
Telapak tangan kanan Liok Kiam-ping sudah terangkat memukul kearah yang sama dengan tenaga sepuluh bagian.
"Blang"
Bayangan orang seketika mencelat terbang delapan kaki jauhnya "Bluk"
Terbanting keras ditanah.
Betapapun tinggi Lwekangnya, sambil kertak gigi dia menahan sakit dan menelan kembali darah yang sudah menyembur keluar, namun mukanya sudah pucat pasi, jelas sudah terluka dalam yang amat parah.
Jago-jago kosen yang menonton disekitar gelanggang berobah dingin mukanya, beramai mereka melompat maju.
Lekas Hong-kiat juga hentikan gerakan barisan dan menyurut mundur, dilihatnya orang tua yang rebah ditanah mengerut alis dan kening, agaknya menahan derita yang luar biasa, darah meleleh diujung mulutnya, rintihannya perlahan.
Sementara itu jago-jago Ham-ping-kiong yang lain sudah berdiri jajar berbentuk setengah lingkar, semua berwajah beringas gusar menatap Liok Kiam-ping tanpa berkedip.
agaknya mereka menunggu perintah siap bergerak bersama.
Ternyata Ham-ping-leng-mo juga pesona kaget oleh pukulan dahsyat Liok Kaim-ping tadi, tapi sebagai benggolan iblis.
sekilas berpikir dia sudah mendapatkan akal, pikirnya.
"Kalau hari ini tidak berhasil mengganyang bocah ini, Hamping-kiong takkan bisa berdiri di Kangouw, buat apa aku mematuhi peraturan Kangouw segala. lalu dia panggil Hong kiat serta bisik-bisik padanya, akhirnya dia bergelak tawa, katanya.
"Anak muda kau memang hebat, beranikah kau melawan Thian-kan-it-goan-tin dari Ham-ping-kiong kami."
Berdiri alis Liok Kiam-king katanya mengejek.
"Memang cayhe ingin belajar kelihayan ilmu tunggal Ham-ping-kiong, kalian boleh maju bersama."
Ham-ping-leng-mo amat gemas, tanpa bersuara dia mengulap sebelah tangannya.
Maka bayangan orang bergerak.
dua belas jago kosen Ham-ping-kiong segera bergerak terbagi menjadi empat mengepung Liok Kiamping ditengah lingkaran-Setiap kelompok tiga orang, satu sama lain saling mengerahkan ilmu sakti mereka berdiri berjajar.
Laki-laki tua ditengah barisan sebelah timur mendadak membentak.
"Awas anak muda sambut serangan."
Kedua tangan terangkat lurus lalu membundar serta disendal, segulung tenaga menderu seperti badai menggulung kearah Liok Kiam-ping.
Dua orang teman dikanan kirinya berbareng menggapai kosong diudara terus menekan, kelihatannya hanya gerakan kosong, padahal secara langsung tiga orang ini telah bergabung melontarkan pukulan dahsyat yang mengejutkan.
Angin belum sampai deru suaranya sudah melanda tiba mengiris kulit.
Mendengar suaranya Liok Kiam-ping sudah siaga, lekas dia kerahkan seluruh tenaganya dikedua lengan memukul kearah lawan.
Maka dua kekuatan dahsyat dua pihak bertemu ditengah udara.
Benturan keras menggelegar, kedua pihak tertolak sempoyongan.
Sebelum Liok Kiam-ping menurunkan lengannya, sultan sudah melengking dibelakangnya.
Lekas dia memutar tubuh, kedua tangan ditarik lalu dilepaskan pula, kembali dentuman keras menggoncang bumi.
Belum lenyap suaranya, dua jalur tenaga dahsyat sudah menggencet tiba dari kiri kanan-Sebat sekali Kiam-ping mengegos, dua belas bagian tenaganya di kerahkan dikedua tangan menepuk kekanan kiri.
"Byaar, byaar"
Tergencet oleh tekanan tenaga yang tertutul balik, tubuh Liok Kiamping terlempar mumbul lima kaki diudara, dada terasa sesak kepala sedikit pening, hampir saja dia terjungkal roboh.
Untung otaknya cerdik pandai, meski terdesak tidak gugup, mumpung tubuhnya mumbul keatas sekalian dia kerahkan tenaga, kedua kaki memancal kekanan kiri sehingga tubuhnya terangkat tiga kakipula lebih tinggi, kedua lengan menggaris miring hingga tubuhnya rebah datar diudara leksana seekor burung raksasa yang pentang sayapnya berputar diudara, Kiam-ping tahu kalau dirinya melorot turun pasti dirinya akan digempur pukulan dahsyat dari kiri kanan dan depan belakang, lebih celaka kalau dirinya digencet pukulan dari empat penjuru sekaligus, umpama dirinya kerahkan seluruh kekuatannya melawan secara keras, hanya beberapa gebrak.
umpama tidak terpukul luka parah juga pasti dirinya mati lemas saking lelah.
Menuruti adatnya yang keras dan tak mau kalah, apapun akibarnya dia tetap akan melawan sampai titik darah terakhir.
Tapi lawan mengeroyok tanpa memegang aturan bulim jikalau dirinya hanya menuruti adat dan melawan secara keras, bukankah berarti masuk perangkap musuh.
Sebetulnya sebagai insan persilatan demi nama dan kedudukan.
siapapun rela mengorbankan jiwa raga, namun berkorban secara membabi-buta adalah perbuatan yang bodoh.
Apalagi dia insaf dirinya sedang memikul tugas berat dan mulia demi menegakkan kembali wibawa dan kebesaran nama perg uruan, menuntut balas sakit hati leluhur perguruan pula maka dia pantang mati apalagi berkorban secara konyol.
Akhirnya Kiam-ping bertekad untuk berjuang pakai otak.
semangat tempurnya berkobar.
Selingkar dia berputar terbang.
mendadak kedua kakinya memancal terus meluncur kearah timur laut, kedua tangannya menggempur dengan kekuatan gugur gunung, apalagi tubuhnya menukik dan menerjang turun, perbawa serangannya lebih dahsyat, yang diincar adalah orang terakhir yang berkedudukan dipaling timur.
Saking marah serangan ini betul-betul dahsyat bukan kepalang.
Tapi begitu dia mulai balas menyerang, seluruh barisan juga ikut mulai bergerak.
Tampak bayangan orang didepan matanya, bentuk tubuh lawan mendadak lenyap.
"Blum"
Di mana angin pukulannya menggempur, tanah dan batu beterbangan, tanah seperti dikeduk sedalam satu kaki dalam arena setombak luasnya.
Liok Kiam.ping sendiri tertolak oleh daya membal yang keras sehingga daya lajunya teri henti, maka tubuhnyapun melorot turun.
Belam lagi dia berdiri tegak.
suara gernuruh telah melanda dari sekelilingnya menindih tubuhnya Kiam-ping menjublek menghadapi damparan angin besar yang menerjang dirinya, tak tahu bagaimana dia harus balas menyerang.
Padahal serangan sudah tiba, tiada tempo buat dia memutar otak, mendadak dia kerahkan Kim-kong puthoay-sin-kang, biarlah bertahan dulu sementara.
Letak kelihayan barisan musuh adalah dua belas pukulan mereka dapat digabung menjadi satu jalur kekuatan yang makin ketat dan menciut ketengah gelanggang, pukulan biasa dengan Lwekang kepalang tanggung hakikatnya tak mungkin bisa balas menyerang atau melawan, maka betapapun tinggi Lwekang seseorang, akhirnyajuga akan menyerah kehabisan tenaga barisan musuh memang lihay luar biasa.
Untung Liok Kiam-ping berulang kali ketiban rejeki, badannya dilindungi ilmu sakti dari aliran Hud, dalam waktu pendek dia masih mampu bertahan menyelamatkan jiwa, jikalau orang lain, mungkin sudah mati sesak napas atau jatuh pingsan oleh tekanan hawa pukulan lawan.
Akan tetapi Kim-kong-put-hoay-sin-kung yang sakti tiada bentuknya ini takkan kuat bertahan lama karena tekanan hawa yang makin mengecil ruang lingkupnya, apalagi jarak terlalu dekat.
Hanya setengah jam Liok Kiam-ping sudah mandi keringat, namun dia masih bertahan dan berkutet sekuat tenaga.
Dasar otaknya encer, sambil melawan otaknya bekerja mencari akal bagaimana memukul dan membuat barisan musuh berantakan Maka perlahan dia mengendorkan pertahanan ilmu saktinya, maka terasa arus pukulan yang deras makin mengecil ini sumber kekuatannya datang dari arah timur seperti damparan ombak laut yang bergulunggulung, setelah mengitari pertahanan ilmu saktinya ternyata berputar balik lalu bertolak maju pula.
Baru sekarang Liok Kiam-ping teringat bahwa barisan ini di namakan Thian-kan, pasti sumber tenaganya datang dari timur, jikalau dirinya turun tangan dari sumbernya, kemungkinan dapat menemukan jalan pemecahannya .
Kini Kiam-ping kerahkan seluruh kekuatan, arus tenaga lawan yang menggencet keras itu menjadi terdesak mengeluarkan letupan-letupan lirih mundur dua kaki.
Mumpung arus tenaga lawan belum lagi menggencet maju, mendadak Kiam-ping kerahkan dua belas bagian tenaganya menggempur kearah timur sebanyak enam jurus pukulan-Kali ini Liok Kiam-ping menyerang dengan seluruh kekuatannya, maka perbawa pukulannya bukan olah-olah dahsyatnya.
Begitu gelombang pasang menggulung seperti amukan angin puyuh kearah timur, maka terjadilah ledakan-ledakan kecil seperti bunyi petasan-"Blang"
Seorang laki-laki tua di sebelah timur terpukul mundur lima kaki.
Begitu orang tua disebelah timur ini terpukul pergi tekanan arus besar seketika susut sebagian besar.
Bahwa pukulannya berhasil melukai seorang sesuai rencananya.
berkobar sifat gagah Liok Kiamping.
semangat tempurnya makin berkobar, segera dia melompat maju melesat keluar dari lobang pertahanan lawan, berbareng kedua tangan memukul pula kearah seorang laki-laki tua yang berada diarah timur pula.
"Blang"
Ditengah benturan keras diselingi jeritan yang mengerikan, tubuh orang tua itu terbanting setombak jauhnya, darah menyembur tinggi beterbaran diudara, lukanya amat parah, begitu ambruk tak bergerak lagi.
Namun belum sempat Liok Kiam-ping, lolos dari barisan yang jebol diarah timur ini, bayangan orang berkelebat, seorang jago Ham-ping-kiong yang lain telah melompat maju menanbal kedudukan kawannya yang roboh.
Agaknya orang inijuga sudah terlatih dan mahir mengikuti gerakperobahan barisan, karena dia sudah dapat menyesuaikan perobahan barisan ikut berputar dengan lincah.
Tekanan arus pukulan dahsyat mulai bergolak menggencet tubuh Liok Kiam-ping dari berbagai penjuru.
Benci Liok Kiamping sudah bukan kepalang, terpaksa dia kembangkan pula Kim-kong-put-hoay-sin-kang mengincar sasaran mendadak dia mendesak maju selangkah, secepat kilat dia memukul pula sekuat tenaga.
Lolong jeritan terdengar lagi.
bayangan seorang terpukul terbang setombak jauhnya, roboh untuk tidak bangun lagi.
Begitulah secara beruntun setelah terdengar pukulan mengenai sasaran satupersatu lawan menjerit kesakitan serta jatuh terguling.
Setiap korban pukulan pasti menyemburkan darah hingga berceceran ditanah, keadaan amat mengerikan-Hanya beberapa kejap.
dua belas musuh yang membetuk barisan gabungan tinggal lima orang saja yang masih melawan-Namun saking bernafsu merobohkan musuh, Liok Kiamping sendiri juga kehilangan banyak tenaga, mukanya pucat, napasnya tersengal.
Tapi dirinya pantang berhenti dan menyerah.
Rasa bencinya terhadap orang-orang Ham-pingkiong sudah merasap ketulang sungsum.
matanya melotot gusar, sambil kertak gigi dia sudah siap menggunakan serangan terakhir yang paling ampuh.
Mendadak didengarnya Ham-ping-leng mo membentak.
"Anak muda, kejam betul hatimu, hari ini tak terampun jiwamu."
Dari jarak jauh dia, menggerakan kedua tangan satu lingkar lalu disodok kedepan, telapak tangannya menepuk kearah Liok Kiam-ping.
Sebelum tenaganya mengenai sasaran, hawa dingin sudah menerjang tiba lebih dulu.
Seluruh hadirin yang kesampuk angin pukulan dingin ini tiada yang tidak menggigil kedinginan Ternyata gembong iblis ini sudah melontarkan Han-ping-ciang-kang yang ganas dan beracun.
Setelah kehilangan banyak tenaga.
sepantasnya Liok Kiamping berkelit meluputkan diri dari pukulan dingin yang dahsyat ini namun wataknya terlalu keras kepala apalagi menghadapi musuh perg uruan, sedikitpun dia tidak mau mengalah.
Sambil kerak gigi dia kerahkan sisa tenaganya menyongsong pukulan lawan Dua gelombang pukulan beradu ditengah udara.
Ledakan keras seperti letusan gunung beradu menggelegar, kedua orang tertolak mundur selangkah.
Setelah banyak terkuras tenaga murninya, Liok Kiam-ping masih kuat adu pukulan dengan gembong iblis ini, sungguh luar biasa kemampuannya.
Mukanya tambah pucat, sekuatnya dia tekan darah yang bergolak didadanya, matanya mendelik dan siap siaga menanti serangan lawan Bukan main rasa kaget Ham-ping-leng-mo, bahwa Liok Kiam-ping mampu melawan pukulan Lwekang yang sudah diyakinkan hampir enampuluh tahun lebih, ternyata dia tidak mampu mengalahkan anak muda yang sudah banyak terkuras tenaganya, sungguh bukan olah-olah tangguh Lwekang bocah ini.
Jikalau adu kekuatan dalam keadaan biasa, gelagatnya dirinya juga bukan tandingan bocah ini.
Kini mumpung ada kesempatan, lawan sudah terkuras tenaganya, yakin sudah terluka dalam pula, kalau hari ini tidak diganyang sekalian, selanjutnya Ham-ping-kiong tidak akan aman dan tentram.
Amarah menunjang niatjahatnya, lekas dia kerahkan tenaga mengatur pernapasan, diam-diam mulai mengerahkan Hian-ping-im-sat, ilmu yang barusaja berhasil diyakin kan setelah dirinya tetirah sekian tahun lamanya, telapak tangannya berobah mengkilap seperti batu jade yang terbungkus kabut putih yang bergulung-gulung dari tengah telapak tangannya.
Pukulan dangin ini berintikan sumber hawa dingin yang amat keji, disedot dan diserap lewat urat nadi, bila tenaga di kerahkan, hawa yang diserapnya akan membeku menjadi Sekeping es dengan tenaga timpukan dapat menyerang lawan dalam setiap gerakan, bila lawan tersambit kepingan es, urat nadi akan buntu dan membeku badanpun kaku dan jiwa melayang, tiada obat untuk menyembuhkan atau menolong jiwanya, jahatnya bukan main-Hanya tenaga sakti dari aliran Hud saja yang mampu menahan serangan dingin ini, tapi jikalau landasan tenaganya kurang kokoh juga pasti kalah oleh kekuatan musuh, maka akibatnya akan lebih fatal.
Ham-ping-leng-mo tahu bahwa Liok Kiamping meyakinkan ilmu sakti dari aliran Hud, yaitu Kim kong-put-hoay-sin-kang yang mampu menahan serangan gelombang dari ilmu yang dilatihnya, maka sejak tadi dia tak berani melancarkan ilmu simpanannya, terlebih dulu dia suruh anak buahnya mengeroyok Liok Kiamping, sekaligus menguras tenaganya.
Ternyata Liok Kiam-ping bernyali besar, hakikatnya dia tidak pandang sebelah mata kepada musuhnya, wataknya yang angkuh kapan mau menyerah kepada musuh, maka dia gampang ketipu diluar dasarnya.
Setelah beradu pukulan dengan Ham-ping leng-mo, sebetulnya dia sudah terluka dalam yang amat parah, meski Lwekangnya tidak ukuran lagi tingginya, tak urung wajahnya tetap pucat pasi, napaspun memburu.
Betapa luas pengalaman dan tajam pandangan Ham-pingleng-mo sekali pandang lantas hati maklum, mana dia mau mengabaikan kesempatan baik ini, maka dia pergencar mengerahkan Hian-ping-im-sat.
Sudah tentu tujuannya sekali gempur meroboh kan lawan-Begitu tangan bergerak.
dua gulung hawa beruap putih laksana panah melesat kearah Liok Kiam-ping.
Deru angin yang mendesing keras membawa desis angin yang membising telinga.
Liok Kiam-ping terpesona kaget oleh serangan lawan yang mendadak dan aneh ini, Tapi dia cerdik pandai, melihat sikap serius iblis tua ini dalam mengerahkan tenaga dan ilmunya, dia maklum bahwa lawan akan menyerang dengan ilmu keji beracun, malah lebih jahat dari pukulan Heksat-kang.
Walau menyadari dirinya sudah agak terluka dalam, tidak boleh sembarang mengerahkan ilmu sakti, namun ingin hid up adalah kodrat manusia bewatak seperti Liok Kiam-ping yang tidak mau menyerah dan terima ajal.
Maka dia kerahkan kekuatan Kim-kong-put-hoay-sin-kang, apapun yang bakal terjadi, lawan dulu biar akibatnya ditanggung belakangan-Uap putih dari pukulan lawan yang melesat deras itu sudah dua kaki didepan badan
Ternyata terbendung berhenti dan bergolak diudara. karuan Ha rn-ping-leng-mo membatin.
"ilmu sakti bocah ini memang hebat, setelah luka dalam dia masih mampu melawan sembilan bagian tenaga dingin Lohu kalau lawan dalam keadaan segar bugar, Ham-ping-im-sat yang semula dibanggerakan dan yakin dapat mengalahkan musuh manapun hari ini takkan berguna terhadap pemuda yang satu ini, kalau sekarang tidak turun tangan keji, pasti kelak akan menjadikan bibit bencana."
Benaknya bekerja secepat kilat, sementara tangannya tak teri henti menyerang sambil menambah tenaga.
"Bless"
Uap putih itu bergulung-gulung, ditengah desis suaranya yang ramai, mendadak uap putih yang bergolak makin keras itu berhasil mendesak maju satu kaki Liok Kiamping tampak menggertak gigi, sckuatnya dia kerahkan sisa tenaganya dia menahan sambil membusung dada.
Ternyata uap putih berhasil didesaknya mundur satu kaki pula.
Namun demikian sudah menunjukan tenaga Liok Kiam-ping yang makin lemah, keringat sebesar kacang mulai menghiasi jidatnya lalu berketes-ketes mengalir keleher dan wajahnya.
Uap putih mendesak maju setengah kaki pula Sebentar lagi sudah jelas Kiamping takkan kuat bertahan.
Sekonyongkonyong dalam saat genting itulah kumandang sebuah suara bentakan lantang.
"Jangan kuatir Pangcu "
Lenyap suaranya orangnya tiba, sesosok bayangan kelabu meluncur turun digelanggang.
Jago-jago yang hadir seluruhnya tumplek perhatian menyaksikan pertarungan sengit yang susah ditonton selama puluhan tahun ini, sehingga mereka melupakan keadaan sekelilingnya.
Maka bentakan lantang ini menyentak mereka dari lamunan, ingin mencegat juga sudah kasep.
Apalagi gerakan pendatang ini amat cepat, Sebelum kedua kaki menginjak tanah, dua bayangan hitam dengan desing suaranya yang tajam melesat kearah kedua telapak tangan Ham-ping-leng-mo.
Mendengar suara Ai-pong-sut Thong-cau seketika menyala semangat Liok Kiam-ping, sisa tenaga dalam tubuhnya dikerahkan seluruhnya memperkeras ketahanan ilmu saktinya, hingga uap putih lawan didesaknya mundur pula menjadi dua kaki seperti semula.
Baru saja Ham-ping-leng-mo pusatkan pikiran dan tenaganya untuk menambah kekuatan Hian-ping-im-sat.
Mendadak dua bayangan hitam dengan desing suaranya yang tajam melesat bagai kilat kearahnya.
Mendengarkan suara membedakan senjata, dia tahu sejenis pelor besi yang menyerang dirinya, namun desing suaranya justru lebih keras dari biasanya.
Sudah tentu menyelamatkan diri sendiri lebih penting, mendadak dia tarik kedua tangan sambil melangkah minggir kekiri, disaat mengegos itulan dia menarik balik kekuatan Hian-ping-im-sut.
Tak nyana begitu dia mengegos kekiri, dua bayangan hitam yang meluncur datang itu untuk membelok dan tetap menerjang kearah dirinya.
Baru sekarang dia sadar bahwa kedua bayangan hitam ini mungkin adalah Yam-yamtam yang sudah lama terkenal itu.
Bukankah Tay-bok-it-siu kecundang oleh sepasang bandulan besi.
Sambil tertawa dang in dia mengelinjang tubuh.
'Sret"
Tibatiba tubuhnya melesat tinggitujuh tombak keudara, ditengah udara dia menekuk pinggang seraya menjejak kaki, dengan gaya yang indah gemulai tubuhnya melesat sepuluh tombak jauhnya.
Pelor belibis milik Ai-pong-sut memang bisa membelok dan mengejar musuh karena dikendalikan oleh tenaga dalam, tapi paling tinggi hanya dapat mencapai satu tombak.
Begitu Hamping-leng-mo melambungkan tubuhnya, maka Yan-yam-tam tak mampu mengejarnya.
Lekas Ai-pong-sut menggapai dengan kedua tangan, dua pelornya dia tarik kembali.
Setelah membersihkan badan dan sekedar istirahat, di Hotel Hok-eng, Ai-pong-sut keluar jalan-jalan, pikirnya hendak mencari warung untuk mengisi perut, setelah makan malam dia pikir akan segera menyusul Liok Kiamping.
Waktu dia membelok kesebuah gang, mendadak di kaki tembok dipojok jalan sana dia menemukan tanda rahasia tanda rahasia Honglui-bun, tanda itu menyatakan keadaan gawat dan mohon bantuan, mungkin sudah beberapa hari tanda rahasia itu di sana, karena kehujanan hingga kelihatannya sudah agak buram.
Lupa mengisi perut Ai-pong-sut langsung menuju kearah yang ditunjuk dalam tanda rahasia, hatinya gugup setengah mati.
'Sejak tadi Pangcu mengejar jejak musuh, belum ada kabar beritanya, sekarang orang kita sendiri memberi tanda SoS, persoalan yang satu belum beres timbul persoalan yang lainpulapula, agaknya tiada kehidupan tentram dan sentosa dalam kalangan Kangouw.
Dengan perasaan tertekan danprihatin dia terus bergerak kearah tanda yang dilihatnya disepanjang jalan, akhirnya dia membelok beberapa kali dan tiba ditanah tega la n diluar kota a rah selatan.
Daerah tegalan di sini rungkut dengan semak-semak yang subur menghijau, hari sudah menjelang mag rib, halimun mulai timbul, orang jalan makin jarang dan keadaan makin sepi dan belukar.
celoteh burung gagak riuh dan ramai dipucuk pohon, sayang sekali tanda bahaya perguruan lernyata putus sampai di sini, sekeliling tiada jalan lagi, pada hal Lwekang Ai-pongsut tinggi, pengalaman luas, namun dia berdiri kebingungan-Sekilas dia menerawang sekelilingnya, mendadak dia lompat tinggi kepucuk pohon, dengan kelincahan tubuhnya dia mengembangkan Ginkang berlompatan dari pucuk kepucuk pohon yang lain-Matanya memang tajam, dilihatnya dipinggir sebuah tanah gunduk disebelah kirisana, lapat-lapat seperti kelihatan bayangan sebuah biara yang dkelilingi tegalan-Pada hal gunung di sini amat liar tiada bangunan apa -apa disekitarnya.
Kehadiran biara bobrok ini rasanya terlalu menyolok.
Kalau tanda bahaya berhenti di sini, kenapa tidak menyelidiki tempat itu.
Segera dia melesat seperti terbang ke sana.
Pintu biara sudah roboh separo, pigurapun sudah kropos dan takjelas tulisan apa yang terukir diatasnya, mungkin sudah terlalu lama tidak dihuni dan diurus orang, maka cat pintunyapun sudah luntur, galagasi bertebaran di tepi dipinggir daon pintu, kembali dia menemukan tanda bahaya perguruannya.
Penemuannya membuat hatinya girang seperti kafilah yang menemukan oase dipadang pasir, diam diam dia bersyukur bahwa perjalanannya kali ini tidak sia-sia, apapun harus diselidiki, mungkin sekaligus dapat membongkar muslihat licik musuh kenapa Liok-pangcu dipancing musuh.
Dengan rasa senang dan lega namun tak lepas dari kewaspadaan dia menjejak kaki, secepat kilat dia melesat kedepan pintu.
Perlahan dia ulur tangan lalu mengetuk dua kali dengan tanda rahasia perguruan-Dari dalam biara mendadak menerjang keluar sesosok bayangan menghadang didepan sambil berseru.
"Tunggu sebentar. Ibu jari dan jari telunjuk teracung membundar didepan dada. Aipong-sut melihat jelas, orang ini berusia tigapuluhan, berpunggung harimau berpinggang biruang, tampak gagah dan cekatan, gerak tanda yang diperlihatkan ini jelas sebagai seorang wakil Thocu dari salah satu cabang. Maka Ai-pong-sut mengangguk, kelima jarinya terbuka lurus tangan kanan terangkat menyentuh pundak kanan lalu diturunkan-Melihat gerakan itu Ai-pong-sut lantas merangkap kedua tangan menjura dan terangkat diatas kepaia, serunya memberi hormat kepada Ai-pong-sut.
"Tecu Li Eng-siu wakil Thocu cabang Thong-koan menyampaikan sembah hormat kepada Tianglo."
Ai-pong-sut Thong-cau mengulap tangan, katanya dengan tertawa.
'Li-hu-thocu tak usah banyak hormat, apakah disiniterjadiperistiwa genting, apakah tanda sos diluar itu kalian yang meninggalkan.' Seketika merah mata Li Eng sin, mendengar pertanyaanAipong sut, katanya dengan sedih.
'Demi karunia Suco dan kebaikan Pangcu, Tecu diangkat sebagai wakil Thocu di Thong-koan, membantu Thocu cui-pi-jiu Lau Bunja mengatur segala kepentingan Hong Lui-bun kita didaerah Thong-koan ini, disaat aktifitas kita makin maju, mendadak kami memperoleh perintah kilat dari pusat bahwa segala kegiatan diluar harus segera dibekuk, maka kami segera menunaikan tugas dengan baik.
"Disaat kita sibuk memberikan info kepada kader-kader kita yang sedang bertugas diluar mendadak puluhan jago-jago kosen Ham-ping-kiong yang datang dari Bok-pak malammalam menyerbu ke markas, mereka main bunuh, tumpas dan bakar, banyak anggota kita yang gugur, terluka parah, demikianlah nasib Lau-thocu yang terluka parah ditangan orang-orang Ham-ping-kong."
Perawakan Li Eng-siu memang kekar dan gagah, namun dia seorang yang tak kuat menahan emosi, beri hati lemah, membayangkan betapa mengenaskan keadaan para saudaranya yang gugur dan terluka air matapun bercucuran, sambil terisak dia meneruskan ceritanya.
'Waktu itu kebetulan Tecu mendapat tugas diluar daerah, sehingga tidak mengalami tragedi yang mengenaskan-Dikala aku kembali, markas sudah menjadi puing mayat bergelimpangan, keadaan amat mengenaskan, seluruh harta milik dan dokumen telah dirampas musuh."
Ai-pong-sut Thong cau bersuara heran dan gemas.
'Hari itu juga para korban dikebumikan, sambil mengutus orang minta bantuan kemarkas pus at, disamping mengumpulkan sisa anggota yang masih hidup untuk merundingkan langkah selanjutnya, tak nyana hasil penyelidikkan menunjukan bahwa para anggota lain yang masih selamat juga sudah diluruk keruman mereka, seluruh keluarganya juga diganyang habis-habisan, ayam anjingpun tiada yang hidup, Demikian pula Kawan-kawan yang diutus minta bantuan kemarkas atau kecabang lain kedapatan mati ditengah jalan Maka untuk menyelidiki asal usul dan tempat berpijak musuh, kami tak berani jauh meninggalkan daerah ini, terpaksa siang malam menyembunyikan diri sambil melacak jejak musuh.
Berapa orang kami sebar untuk membuat tanda tanda rahasia diberbagai pelosok kota.
dengan harapan ada kawan kita yang melihat tanda mohon bantuan itu segera datang memberi pertolongan.
Agaknya harapan kita terkabul dengan kehadiran Tianglo disini.
Tecu akan berjuang sekuat tenaga, mohon Tianglo pimpin usaha kita untuk menuntut balas bagi kematian para saudara.' Selama mendengar cerita darah Ai-pongsut sudah mendidih gusar, mata melotot muka merah padam rambutnya yang jarang jarangan berdiri.
Tapi sebagai seorang kawakan, dia tahu gugup tiada gunanya, katanya setelah menghela napas panjang.
'Li-hu-thocu tak usah terlalu bersedih hati, musuh tangguh disekeliling kita, dalam menghadapi situasi segenting inipantang emosi, kita harus menghadapinya dengan pikiran dingin, cermat dan sabar.
Entah bagaimana hasil penyelidikan Li-hu thocu tentangjejak musuh ?
Siapa pemimpin mereka ?' Li Eng-siu membungkuk hormat dan memberi keterangan.
'Musuh tidak punya tempat tinggal tetap.
namun diketahui ada tiga tempat di kota sering mereka kumpul di sana, tapi kumpul sebentar lantas berpencar pula, maka dapat diduga mereka pasti mendirikan markas darurat diluar kota.' Ai-pong-sut mengangguk maklum, diperjalanan diluar kota tadi bukan mereka juga dipancing musuh, bukan mustahil kejadian itu ada hubungahnya dengan peristiwa disini, maka dia bertanya 'Pernah kau selidiki sebelah barat luar kota.
Tak heran sampai sekarang Pangcu belum juga kembali.' 'Haya, jadi Pangcu juga telah datang, dimana sekarang beliau?
Musuh menyerbu kaki tangannya di daerah barat kota, penjagaan amat ketat, sudah berapa kali Tecu menyelidik kesana, tapi akhirnya mundur teratur menghadapi penjagaan mereka yang keras, malah hampir saja jiwa Tecu melayang."
Ai-pong-sut Thong cau berkata.
'Waktu lewat daerah barat siang tadi PangCu dipancing musuh, sampai sekarang belum tiba, agaknya mereka sudah berencana sehingga kami terjeblos dalam perangkap mereka.
Urusan amat genting dan tak boleh ditunda lagi, sekarang mari kita bersiap menyambut atau menyusul PangCu.' Li Eng-siu mengiakan, segera dia mendahului bergerak dengan kelincahan tubuhnya menuju kebarat.
Sebagai orang setempat, dia Cukup apal seluk beluk daerah sini, apalagi mereka menguatirkan keselamatan sang Pangcu, maka sekuat tenaga mereka menggenjot langkah berlari bagai terbang naik kepuncak barat.
Satu jam kemudlan mereka sudah tiba diluar kota.
Maju lagi tiga li mereka tiba dipinggir sebuah hutan-Disaat mereka Celingukan memeriksa keadaan sekitar Ai-pong-sut mendahului bergerak hendak masuk ke hutan.
Mendadak terdangar kesiur angin yang cukup keras, dari suaranya seperti ada tiga jenis senjata rahasia yang menyerang dari tiga jurusan-Ai-pong-sut menghardik gusar.
"Bangsat berani mati."
Melompat selangkah, kedua lengan bajunya dikebaskan-Tiga senjata rahasia yang menyerang tiba dipukulnya jatuh ditanah.
Sekejap itu, keadaan dalam hutan hening.
Ai-pong-sut Thong cau yang sudah kenyang berkelana di kangouw menjadi bingung dan tak habis mengerti.
Namun keadaan di sini tidak jelas, lawan ditempat gelap.
bila musuh sudah bersiap didalam hutan, amat berb ahaya bila dirinya nekad masuk kedalam.
Tapi bila mengulur waktu, betapapun tinggi Lwekang Liok Kiam-ping, seorang diri mungkin menghadapi bahaya apa lagi seorang diri mana kuat melawan keroyokan musuh banyak.
bila dirinya datang terlambat, mungkin biaa menyesal seumur hid up, Karena bimbang langkahnya merandek.
Dengan penuh perhatian dia periksa keadaan dalam hutan, tampak bayangan orang bergerak jelas perangkap sudah diatur di umpama dirinya dapat menerobos penjagaan musuh yang ketat, Li Engsiu yang berkepandaian rendah tak mungkin mengikuti langkahnya.
Untuk mengejar waktu, Cara yang paling tepat adalah melayang dari pucuk pohon, disamping lebih Cepatjuga agak kecil ancamannya.
Setelah berbisik-bisik sekejap mereka kerahkan tenaga, sambil bergandeng tangan mereka melompat tinggi keatas pohon, dari dahan pohon yang satu melompat kepucuk pohon yang lain-Kepandaian silat Li Eng-siu memang tidak beg itu tinggi, namun ginkangnya ternyata cukup memadai dibawah bantuan Ai-pong-sut lagi, maka dia bergerak leluasa.
Tak nyana gerak gerik mereka sudah diawasi oleh musuh dalam hutan, begitu mereka beraksi, maka terdengarlah suara "ser, ser' dan keresekan dahan dan daon, senjata rahsia yang tak terhitung banyaknya, dari bawah pohon memberondang kearah mereka-Gerakan mereka diatas pohon memang terlihat jelas dari bawah, maka seranganpun datang bertubi-tubi.
Ai-pong-sut masih bisa mengebas lengan bajunya, senjata rahasia yang menyerang dapat disampuknya jatuh, sementara kaki masih terus melesat kedepan.
Tapi lain keadaan Li Eng-sin yang terpencar kesebelah kanan, terpaksa dia memutar golok tunggal ditangannya, maka terdangarlah dering ramai senjata rahasia yang dipukulnya jatuh beri hamburan, namun serangan dari bawah memang cukup gencar, apalagi goloknya cukup berat, diatas pohon yang sukar mengerahkan tenaga, maka gerakannya menjadi teri halang, bukan maju dia malah dihadang mundur.
Sudah tentu Ai-pong-sut tidak tega tinggal pergi seorang diri tanpa pikirkan keselamatan Li Eng-siu.
pikirnya.
'Arahnya sudah kutemukan di sini.
kalau dia ikut akan membuat beban diriku, lebih baik suruh dia mengundurkan diri keluar hutan dan menunggu dalam persembunyian, denganpikirantenang baru aku bis a menghadapi musuh tangguh.' segera dia, berputar arah melompat mendekati Li Eng-sin serta membisikinya, kembali kedua orang lompat berpencar, Li Engsin melompat mundur lalu melayang turun diluar hutan-Maka Ai-pong-sut mengembangkan Ginkang tinggi, diantara daon-daon pohon tubuhnya meluncur seperti burung walet melesat jauh kedepan, setiap dahan yang diinjaknya berpantul tubuhnya lantas melambung keatas seperti panah yang dijepret dengan pegas, beruntun kedua lengan bajunya bekerja, seluruh Am-gi yang menyerang dirinya rontok beri hamburan-Hanya beberapa lompatan, dia sudah meluncur tiga puluhan tombak jauhnya.
Memikirkan keselamatan Liok Kiam-ping, dia percepat langkah kakinya, Ginkang dikembangkan sampai keliwat batas kekuatan kakinya, tubuhnya meluncur seperti segumpal mega, laksana meteor terbang diangkasa melesat diatas pohon, dalam sekejap lima puluh tombak telah dicapainya pula.
Disaat tubuhnya meluncur dengan kecepatan tinggi itulah, mendadak selarik sinar putih meluncur tinggi dari celah-celah dedaonan yang lebat, lekas Ai-pong-sut mengeram langkahnya sambil berkisar setombak kepinggir.
'Daar' ledakan yang disertai Cipratan kilat api menimbulkan kepulan asap biru dan hijau, sehingga daon-daon dipucukpobon seperti disambarpetir, disamping hangus juga menimbulkan bau yang tidak sedap dicium.
Betapapun tinggi Lwekang dan Kungfu Ai-pong-sut tak urung kagetnya setengah mati, untung dia sempat menyingkir.
Dia tahu pelor beracun musuh amat ganas bila badannya kecipratan sedikit saja, kulit daging pasti akan lecet terbakar Tengah Ai-pong-sut kebingungan, dua larik sinar putih kembali melesat dari kiri kanan-Ditengah udara kedua pelor api itu meledakpula secara beruntun.
Lekas Ai-pongsut menggenjot tubuh menyingkir beberapa tombak jauhnya.
Baru saja tubuhnya meluncur turun, sinar biru tampak berkelebat tiga kaki didepannya, kali ini tanpa sempat berpikir, tubuhnya pasti akan hancur lebur dan terbakaroleh ledakan pelor musuh.
Untung lah disaat gawat itu timbul akalnya.
mumpung tubuhnya melorot turun, meminjam gerakan Ginkangnya yang tinggi ditengah udara dia jungkir balik sehingga kepala dibawah kaki diatas, kedua tangan terulur kedua telapak tangan terangkap ketengah dengan jurus hwi-yan-jeng-lim ( burung terbang menyusup kehutan).
Maka tubuhnya menyelinap turun kedalam rimbunnya dahan-dahan pohon-Baru saja tubuhnya ditelan rimbunnya daunpohon, sinar biru itupun sudah meledak menimbulkan kebakaran yang menjalar kesekitarnya, asap biru dan hijau tehal melingkupi udara sekitar kejadian, baunya amis dan memualkan, senjata rahasia yang satu ini memang jahat dan beracun.
Begitu kaki menyentuh bumi Ai-pong-sut kembangkan kelincahan gerak tubuhnya kaki tangan bekerja, selicin belut dia menyusup ketempat di mana bayangan beberapa orang sedang bergerak.
Dia tahu betapapun kuat daya ledakan dan daya bakarpelor api musuh juga takkan berani ditimpukan dalam jarak dekat, apa lagi orang-orang musuh pasti ada disekitar sini, maka dia berlaku cerdik mendesak ketempat lawan supaya mereka tak berani menyerang pula dengan pelor tapi Langkahnya memang tepat dan manjur, musuh merasa diluar dug a an, serempak mereka lompat menyingkir.
Sudah tentu Ai-pong-sut tidak biarkan musuh menyingkir, dengan kencang dia mengudak lawan yang dicarinya.
Dalam sekejap mereka sudah menerjang keluar hutan.
Didepan adalah sebuah ngaraipendek yang bercabang.
Keadaan menjadi sunyi senyap tanpa bayangan seora ngpun, entah kemana orang-orang Ha m-ping-kiong, dalam waktu sekejap mereka sudah tidak kelih atan bayangannya.
Saat itu senja sudah menjelang, cahaya rembulan bening red up, puncak gunung mulai dibungkus halimun, angin mulai me ngh embus kencang, kadang-kadang terdengar gerungan atau auman binatang buas.
Bagi yang bernyali kecil pasti tak berani beranjak setapakpun dari tempat itu.
Ai-pong-sut sendiri juga berdiri melenggong.
Tapi waktu amat mendesak.
tiada waktu untuk berpikir, namun dia yakin sarang musuh pasti takjauh dari tempat ini.
Mendadak dia putar tubuh terus berlari keatas puncak disebelah kanan.
Puncak gunung d sini mencakar langit, tinggi lagi curam seumpamaburung bangau berdiri diantara gerombolan ayam, bagi yang berkepandaian atau Ginkangnya rend ah jangan harap bisa naik keatasnya.
Ai-pong-sut mengincar arah terus mengembangkan Ginkang tinggi, setangkas kera selincah tupai dia berlompat diatas batu-batu cad as yang runcing dan tajam.
Tubuhnya laksana bayangan kelabu yang menjulang tinggi bagai asap mumbul keudara, dalam sekejap dia sudah tiba dibibir puncak.
Padahal Lwekangnya cukup tangguh, namun untuk manjat k.epuncak ini ternyata cukup menguras tenaga hingga napasnya agak memburu.
Istirahat sejenak segera dia layangkan pedangnya keempat penjuru, gunung gemunung terbentang didepan mata, kecuali Hembusan angin yang membawa pergolakan mega, tiada sesuatu yang bisa dilihat dari tempatnya"
Mendadak disebelah utara diantara puncak dan batu-batu gunung, dilihatnya ada beberara bayangan hitam bergerak cepat laksana pelor yang meluncur secara berjangka.
Bila dia melihatjelas bayangan itu berbentuk manusia, lekas sekali beberapa bayangan itu sudah lenyap ditelan gelap dibalikpohon.
Dunia kembali menjadi Hening dan beku.
Tanpa pikir segera Ai-pong-sut kembangkan Ginkangnya meluncur turun dari atas puncak.
langsung mengudak kearah utara.
Kejap lain bila dirinya sudah hampir mencapai tujuan, mendadak hati Aipong-sut menjadi bimbang malah.
Ternyata daerah ini merupakan ngarai ngarai yang berbahaya dengan dinding-dinding gunung yang tegak.
dibawahnya bertaburan batu-batu aneh yang sukar diinjak kaki manusia, atau binatang buaspun sukar hidup ditempat ini, apa lagi bersembunyi di sini.
Tengah Ai-pong-sut celingukan dan memeriksa keadaan, mendadak dari sebelah belakang kumandang luncuran senjata yang melesat kearah dirinya.
Mendengar suara Ai-pong-sut dapat membedakanjenis senjata yang menyerang dirinya, dia tahu yang menyerang tiba ini termasuk senjata rahasia yang berbobot berat, jumlahnya pasti lebih dari tiga, lekas dia mengepos miring, meminjam tenaga tutulan ujung kakinya, dia gunakan gaya Hu-goa-gian-gu (mendekam melihat kerbau) seluruh tubuhnya mendekam kedepan.
Lima bintik sinar dingin membawa ekor cahaya biru melesat kedepan dengan formasi barisanBwe-hoa.
Ternyata itulah lima batangJam-sin-ting.
Sinar biru menandakan bahwa pakupenembusjantung itu berlumuran racunjahat.
Sigap sekali Ai-pong-sut sudah mencelat berdiripula seraya menoleh kearah datangnya serangan.
Keadaan tetap sepi lengang.
tiada bayangan manusia, atau setan dia tahu dirinya mungkin terkepung dan gerak gerik sendiri selalu dibawah pengawasan musuh, maka hal ini lebih disimpulkan lagi bahwa tempat ini tidak jauh lagi dari sarang musuh.
tapi musuh sembunyi seperti kura-kura, kemana dan bagaimana dirinya harus turun tangan.
Yang penting sekarang adalah memancing mereka serta mengajaknya bicara.
Mendadak dia kerahkan tenaga, kaki mengenjot tubuhpun melesat kearah datangnya serangan.
Beg itu tubuhnya terapung, dari kanan kiri kembali meny amber dua jalur tenaga keras, sebelah kiri ada tiga titik sinar perak.
yang menyamber dari kanan adalah panah pendek bidikan iangan menyerang tiba dari atas dan bawah.
Agaknya penyerang Am-gi ini memiliki tenaga dalam luar biasa, maka luncuran Am-gi ini terasa kuat dan deras.
Baru saja tubuh Ai-pong-sut terapung, senjata lawan dari dua arah sudah melesat tiba, sedikit lena pasti badan cidera, untung Ai-pong-sut memiliki Ginkang tinggi dan latihan yang sudah matang.
Lekas dia menarik napas panjang, tenaga dikerahkan dari pusar, dalam keadaan sudah tidak mungkin selamat, dia menjejak kaki sehingga tubuhnya mumbulpula tiga kaki lebih tinggi,jiwanya selamat.
Namun amarah telah melembari hatinya, begitu kaki menutul bumi, sigap sekali dia memutar tubuh, laksana angin lesus cepatnya dia menubruk kearah kanan.
Gerakan Ai-pong-sut sudah teramat cepat, namun bokongan musuh menyerang lebih cepat lagi.
Baru saja dia bergerak.
angin kencang sudah meluncur pula dibelakang, sambil bersuara heran, tubuhnya yang sudah kebacut menerjang kedepan seketika direm sambil menekuk ping gang dan melompat miring kesamping, angin kencang melesat daripundak kirinya.
Sigap sekali dia sudah membalik badan.
dibelakangnya hanya batu-batu aneh saja yang kelihatan, deru angin gunung makin ribut, bayangan orang tidak kelihatan-Namun pengalaman Ai-pong-sut memang amat luas, sekilas dia menerawang sekililingnya, maka benaknya membatin.
"Pembokong itu jelas sembunyi disekitar sini, kenapa tidak kelihatan bayangannya ? Tapi satu hal dapat dipastikanpembokong itu pasti tidak leluasa juga bergerak, maka lawan hanya menyerang bila dirinya bergerak. entah dari depan belakan atau kiri kanan, maka dapatlah diduga bahwa persoalan terletak pada batu-batu gunung yang aneh-aneh itu.
"Tapi setelah aku bergerak baru lawan menyerang, kalau aku tidak bergerak. mana bisa aku memeriksa gerakan musuh?"
Sekilas dia mengerut kening, maka tersimpul sebuah akal dalam benaknya.
Diam-diam dia mengerahkan tenaga, tiba-tiba tubuhnya berkelebat secepat roda menggelundung dia berputar kebelakang.
kecepatannya memang amat mengejutkan.
Musuh yang ssembunyi itu memang tak berani bertindak, karena hal itu akan memperlihatkan posisi mereka sembunyi.
Hanya sekejap Ai-pong-sut sudah berputar kepinggir sebuah batu besar.
Diam-diam dia perhatikan batu besar itu jelas bukan tumbuh secara alamiah, tapi memang dibuat manusia, cuma buatannya sedemikian api sehingga selintas pandang orang tidak akan bisa membedakan, tapi setelah diperhatikan orang akan menemukan sebuah celah lobang dipermukaan tanah.
Waktu dia, kerahkan tenaga mendorong, batu itu bergerak.
hatinya makin curiga, tekadnya untuk membongkar rahasia musuh makin besar.
Segera dia pasang kuda-kuda kedua tangan mendadak mendorong batu besar itu.
"Pletak"
Ditengah suara pecahan keras, batu itu sudah terpukul jatuh separo dan mengeluarkan suara berdentam, jelas bagian bawah tanah kosong.
Ai-pong-sut menduga dibawah batu ini mungkin terdapat sebuah kamar bawah tanah yang cukup besar, segera dia jemput batu besar serta dibantingnya keras berulang kali dentam suaranya makin nyaring menandakan bahwa memang benar dibawah ada ruang kosong.
Akhir kali dia angkat batu besar hendak membantingnya pula.
Mendadak seorang membentak dibelakang.
"Sahabat berhenti saja, hematlah tenaga dan sambutlah ini."
Belum habis bicara terdengar pula suara "ser, ser, ser", senjata rahasia menyerang dirinya pula.
Ai-pong-sut lompat delapan kaki kesebelah kanan, namun sebelum kakinya berdiri tegak dari kiri terdengar pula bentakan.
"Sambut lagi yang ini."
Serumpun cahaya perak laksana hujan memberondang kepada dirinya.
Ai-pong-sut masih terapung, sinar perak itu sudah dekat ditubuhnya.
Dia kerahkan tenaga dikedua lengannya, mendadak dia menepuk kedua tangan ke tanah "Blang "
Batu gunung dibawahnya terpukul hancur beterbangan dengan debu membumbung keudara.
Meminjam daya pantul pukulan keras nya itu, tubuhnya melenting mumbul lima kaki, di tengah udara menekuk ping gang menjejak kaki, tubuhnya meliuk setengah bundar dengan g indah meluncur dua tombak jauhnya.
Bila dia berdiri tegak pula, maka dilihatnya sekelilingnya sudah berdiri delapan orang setengah umur berseragam ketat, mereka menduduki posisi pat-kwa diatas sebuah batu besar, dirinya terkepung diantara kedelapan orang ini.
Masih sempat Ai-pong-sut meneliti lingkaran musuh, setiapjarak dua langkah dari kedudukan setiap orang itu terdapat sebuah batu yang menonjol keluar daripermukaan bumi setinggi satu kaki lebih.Jarak setiap batu dan bentuknya sama satu dengan yang lain.
Jadi batu-batu ini diatur dengan barisan Pat-kwa yang lihay.
Ai-pong-sutjuga seorang kawakan Kangouw, selintas pandang lantas dia tahu bahwa posisi Pat-kwa ini memang sudah diatur sebelumnya, tapi sebelum dirinya meraba seluk beluk lawan, betapapun dia tidak mau dijadikan bulan-bulanan serangan mereka dan mandah diserang belaka, apapun dirinya harus berjuang memancing tahu asal usul mereka Dia tahu mata barisan terletak dia rah selatan yang dinamakan Kian-kiong, sengaja dia bergelak tawa kearah selatan, serunya.
"Para sahabat, tengah malam mencegat perjalananku, entah apa maksud kalisn coba jelaskan."
Orang yang menduduki posisi Kian-kiong di selatan ini berusia paling tua, sudah lebih lima puluhan tahun, dia terkekeh dingin, katanya.
"Inilah daerah terlarang Ham-pingkiong, kita bertugas atas perintah maka kami Harap tuan datang dari mana dan kembalilah ke asal tempatmu, urusan lain kami tidak tahu."
Diam-diam Ai-pong-sut bersyukur dalam hati bahwa dirinya berhasil menemukan sarang musuh, dilihat gelagatnya untuk maju lebih lanjut, dirinya harus mengalahkan dulu delapan orang ini.
Maka sambil bergelak tawa dia berkata.
"Ada sebuah persoalan Lohu bertandang kemari, sebelum berhasil mana boleh pulang dengan tangan kosong, jikalau kalian tidak keberatan, tolong tunjukan jalan, kalau tidak.."
Belum habis bicara orang tua itu sudah membentak.
Jangan berlagak tua bangka, Ham-ping-kiong kapan pernah takut terhadap musuh, mumpung ada kesempatan lekas pulang saja, kalau membandel di sinilah kuburanmu, kalau sudah mampus, menyesalpun sudah terlambat."
Berdiri alis Ai-pong-sut, katanya.
"Konon Ham-ping-kiong merajai kaum Bulim di daerah utara, mendapat sanjung puji dari golongan hitam maupun aliran putih, namun menurut pandanganku tak lebih hanya komplotan bajingan tengik belaka. Main cegat dari keroyok segala, memangnya beginilah orang-orang Ham-ping-kiong menyambut tamunya."
Lalu dia menambahkan "Umpama kalian tidak mau menunjukkan jalan, maka jangan sesalkan bila Lohu menerjang dengan kekerasan-Nah para sahabat sambutlah."
Diam-diam dia mengincar sebuah tonggak batu kecil terus menjejaknya tubuhnya melompat empat tonggak batu yang lain, kaki lantas menutul batu besar yang terletak di Le-kiong, tenaga murni dari pusar dikerahkan dengan, jurus Hun-liong-tam-jiau (naga mengulur cakar dibalik mega) memukul kearah laki-laki tua di selatan itu.
Pukulannya menerbitkan segulung angin deras.
Laki-lakitua diselatan segera melangkah miring berganti posisi diatas tonggak batu yang lain, sambil berkelit dia merogoh turun, dua jarinya menepis keurat nadi dipergelangan tangan Ai-pong-s ut.
Lekas Ai-pong-sut menarik lengan kanan, kaki kanan terulur kekiri belakang, berbareng telapak tangan kiri menerobos lengan kanan, menyerang dengan Tam tui ciang ketulang rusuk kanan lawan-Daya pukulannya deras dan keras dilandasi tenaga dalam.
Laki-laki tua diselatan ini ternyata juga seorang yang ahli menilai serangan, begitu Tam-tui-ciang tiba lekas dia menjorok selangkah sambil memutar tubuh hingga arahnya terbalik, berpindah langkah menggeser kedudukan, kedua tangan didorong bersama kelambung Ai-pong-sut.
Tidak leluasa Ai-pong-sut menyambut secara keras pukulan lawan dengan sebelah tangan, tubuh bergerak mengikuti tangan yang berputar melintang kekiri melampaui empat tonggak batu, kaki kirinya bpindah kebatu besar yang berada diposisi Tinkiong.
Laki-laki yang bertugas di Tin-kiong segera membentak.
"Sambutlah."
Dengan jurus IHekshou-sin you (macan kumbang meliuk ping gang), kedua tangannya menggempur kearah dada.
"Serangan bagus."
Ai-pong-sut menyambut dengan hardikan keras, dengan gaya Tong-cu-pat-hud dari bawah membalik keatah, jari-jari kedua tangan terayun kebawah, menyelinap ditengah kedua tinju lawan lalu mendadak terpentang melebar.
Lakl-laki setengah umur yang menduduki Tin kiong sudah slap menarik serangan merobah gerakan.
Ditengah jalan mendadak Ai-pong-sut menarik tangan kiri, tenaga tarikan telapak tangan kiri untuk membuang pundak kiri kebelakang pula, sementara tangan kanan bergerak dengan Kim-pau-ciang tetap memukul lawan-G-akperobahan Ai-pong-sut sungguh teramat cepat dan tangkas, jelas laki-laki yang menduduki Tin-kiong ini bakal terpukul jatuh dari batu besar yang didudukinya.
Tapi pada saat yang genting, itu, Ai-pgong-sut juga merasa adanya segulung tenaga dahsyat menyerang tiba dari belakang.
Didengarnya seorang menghardik.
"Sambut seranganku' Demi keselamatan diri sendiri, Ai-pong-sut dipaksa menarik balik tenaga dan pukulannya. Disaat mengganti tenaga itulah tenaga murni yang berpusat di pusarnya di kerahkan lewat telapak tangan kiri, berbareng kaki kiripindah kedudukan kesamping kiri, dengan jurus Giok-bong-to-hoan-siu (ular sanca membalik tubuh), hingga sergapan musuh tidak mengenai tubuhnya. Penyergap dirinya di posisi Ke-kiong tadi. Melihat kawannya yang menduduki posisi Tin-kiong bakal terpukul jatuh, sengaja laki-laki tua yang menduduki posisi Lekiong ini tak hiraukan keselamatan diri sendiri menyergap Aipong-sut menolong temannya. Namun demikian, laki-laki setengah umur itu tetap tergentak mundur tiga langkah baru berdiri tegak pula. Benci Ai-pong-sut bukan kepalang kepada laki laki setengah umur ini, dengan kedua tangan segera dia menyelinap mengirim serangan, kedua telapak tangannya mencengkeram d menabas tulang pundaknya. Laki laki tua ini tak berani melawan, lekas dia melompat danjungkir balik dengan gaya burung jumpalitan, kedua tangannya bergerak mengendalikan keseimbangan tubuhnya beruntun dia harus melompatiJui-kiong dan tiga tonggak batu lagi baru berhasil berdiri pula. Sebat sekali Ai-pong-sut sudah berputar arah begitu serangannya luput kaki kanan menutul tonggak batu, tubuhnya melompat maju ketonggak ketiga dikedudukan Kankiong serta menyerbu kedepan laki-laki setengah umur yang berala disebelah batu. Laki laki setengah umur disebelah barat memang sudah siaga melihat Ai-pong-sut melompat datang, mulutnya menggeram, kakinya menggeser bpindah kedudukkan, tubuhn malah mendesak mau lalu menyerang dengan jurus yu-liong tamjiau (naga berenang ulur cakar), hanya dengan sebelah telapak tangan dia menepuk keulu hati Aipong sut. Diam-diam Ai-pong sut mengeluh, kenapa malam ini dia menghadapi jago-jago kosen tangguh, tiada satupun lawan lemah, lekas dia menyingkir ke kanan menduduki tonggak ketujuh di IHeng-kiong, namun menggerakkan tubuh kearah kanan, kedua tangan terbalik, telapak tangan kiri terbentang keluar menabas urat nadi telapak tangan kanan sebat Sekali memukul Hoa kay hiat didada lawan-Laki laki yang menduduki Kan kiong lekas merendahkan telapak tangan namun tenaga pukulannya malah didorong kedepan, sebat sekali dia berputar badan berkisar ke belakang kanan Aipong-sut, dengan gaya Say cu youthau (singa menggeleng kepala), kedua tangan miring didorong keluar, meny era ng ping gang belakang Aipong-sut. Kaki kiri Ai-pong-sut menutul ketonggak batu kelima dari Heng-kiong di belakangnya berbareng kedua tangan ditarik kebelakang, ujung kaki kanan menutul tonggak batu lalu mendadak diputar ke belakang, tenaga penuh dipusatkan dikedua tangan, tubuhnya mengendap kebawah dengan Siang-tui-ciang menggempur pundak lakl-laki yang berada di Kan-kiong. Laki laki setengah umur di Kan-kiong segera menubrukkan badan kedepan dengan gaya Bing-hou hu-jun (harimau galak mendekam dibalik cagak) sehingga pukulan Ai-pong sut luput, lalu dengan Thi-gu-king-to (kerbau besi meluku sawah) tangannya merogoh kemaluan Ai-pong sut Thong cau. Aipong sut Thong cau melihat serangan ini, diam-diam dia kerahkan Shian-thian-ciu lat tenaga dikerahkan diujung kaki, tubuhnya melambung keatas terus jumpalitan mundur kebelakang. Padahal tempat itu bukan tanah lapang, orang mana beleh sembarangan lompat dan jungkir balik. maju mundur tanpa meninggalkan tonggak batu, setiap langkah berpindah kedudukan harus menggunakan Kungfu asli, sasaran tepat injakanpun harus penuh perhitungan, karena batu-batu yang ditata menurut kedudukan dan bentak barisansudah diperhitungkan dengan baik setiapjarak tepat satu langkah, tak beleh kurang atau lebih meskHanya satu senti. Kedepan atau melompat kekiri kanan boleh dilakukan dengan tubuh terapung keatas hingga beberapa tonggak dilampaui, namun untukjungkir balik ke belakang, betapapun murni kepandaianmu, jelas sukar sekali untuk mengincar kedudukan secara tepat. Karena didesak oleh serangan laki-laki setengah umur di Kan-kiong terpaksa Ai-pong-sut mengembangkan permainan berbahaya, disaat tubuh terapung, tubuhnya berputar setengah lingkar, kaki tepat hinggap diatas tonggak batu keempat diKun-Kiong. cara bertempur diatas barisan Pat-kwa seperti ini, meski pihak menjaga barisan hanya berjaga tidak menyerang, namun bila kau memasuki daerah penjagaannya, maka kau akan menghadapi pencegatan dan didesak mundur supaya tidak menerobos ke luar kepungan, Tapi laki-laki setengah umur yang berjaga di Kun-kiong justru menyingkir tiga tonggak batu ke arah barat, dengan gerakan berat Kim-kiau Cian, dia incar Ai-pong-sut terus menyerangnya. Dalam waktu yang sama laki-laki yang berada di Kan-kiong juga menyusul tiba dengan jurus Sin-liong-to-kak (naga sakti membuang sisik) menyerang Nau-hu-hiat di belakang batok kepala Aipong-sut. Serangan dari dua arah ini dilakukan secara ketat dan keras, gaya serangan Kim-kian-cian dari laki-laki tengah umur dari Kun-kiong lebih cepat, maka tenaga pukulannyapun tiba lebih dulu. Ai-pong-sut menggerakan tubuh kedepan, dengan gerakan Sik-tam-pian menjojoh lengan kanan laki-laki setengah umur di Kun-kiong, bila Ki-ti-hiatnya kejojoh, pasti lengan kanannya cacat seumur hid up, Mendadak. terdengar laki laki tua diarah selatan membentak.
"Kembangkan barisan"
Delapanorang yang berjaga diempat penjuru serempak mengiakan, seluruhnya bergerak melangkah maju setindak kekanan lalu berputar gerakan berkeliling ke kiri.
Mendadak ditengah bentakan keras, empat bayangan orang tampak menyerang maju, masing-masing memukul sejurus pukulan ke arah tengah.
Daya pukulan empat orang ini menggencet dari empat penjuru,perbawanya memang sehebat gelombang pasang lautan teduh, hawa udara seketika bergolak.
menyesakkan napas lagi.
Kungfu Ai-pong-sut amat tinggi, nyalinya besar, pengalaman luas, tadi dia merasa perlu menyimpan tenaga maka serangannya tidak menggunakan banyak tenaga, namun hany mengembangkan ketangkasan gerak tubuhnya saja.
Kini digencet kekuatan sedahsyat ini dari empat penjuru, meski sudah tua, tak urung timbul juga emosinya, tidak mau kalah.
Segera dia kerahkan tenaga murni dari pusar lalu disalurkan kedua lengan, berkelebat sambil menyingkir, hingga teri hindari dari serangan telak.
namun kedua tangannya sudah bergerak dengan gentakan terpencar ke kiri kanan, begitu kekuatan dan lawan saling bentrok terjadilah ledakan dahsyat yang menggetar bumi.
Namun delapan pengepungnya itu tetap bcrputar seperti tidak terjadi apa-apa.
Sebaliknya Ai-pong-sut menjadi sesak napasnya seperti terpukul god am dadanya.
Baru sekarang dia sadar kalau barisan ini memang lihay dan menakupkan, tidak boleh dipandang enteng lagi.
Untung dia membekal Lwekang tangguh, sedikit kerahkan hawa murni kondisi badannya sudah normal kembali.
Tengah dia menepekur mencari jalan bagaimana menjebol kurungan lawan-Hardlkan kembali kumandang, empat jalur pukulan meluncur dari empat sudut, kekuatannya lebih dahsyat lagi, kemungkinan pukulan dilontarkan dari empat orang yang lain-Thong cau tidak sempat memikirkan Cara mengatasi serangan musuh sebat sekali dia menggeser kaki menyingkir ketempat yang dirasa aman lalu melompat tinggi Mengapungkan tubuhnya, dia kira pukulan empat orang dari sudut yang berlawanan itu akan saling tumbuk sendiri.
Tak nyana begitu menyelonong ketengah barisan, pukulan dahsyat itu secara aneh sirna tak berbekas.
Ternyata serangan keempat orang itu tidak menggunakan seluruh tenaga, begitu dilontarkan lantas ditarik balik, tenaga disalurkan sesuai perlawanan lawan,jadi menyerang mengikuti situasi.
Begitu Ai-pong-sut melompat tinggi keudara, empat orang itu segera membatalkan tenaga pukulan yang slap disalurkan dan melompat balik ketempat semula meneruskan langkah barisan yang terus brputar.
Sudah tcntu Aipong-sut mengikuti gerak gerik lawan yang maju mundur bergantian.
Begitu dia meluncur turun hinggap ditanah, empat musuh yang lainpun sudah melanjutkan serangan Ai-pong-sut dipaksa melompat tinggi lagi untuk menyelamatkan diri.
Mau tidak mau dia harus berpikir.
"Jikalau musuh ganti berganti menyerang bertubi-tubi, umpama kepandaianku setinggi langit juga akhirnya akan terluka parah dan kehabisan tenaga,"
Betapapun dia tidak sudi menyerah, berdasarkan ketajaman pengamatannya. sekilas menerawang mendadak dia memperoleh akal untuk membobol kepungan lawan meski dirinya harus menyerempet bahaya.
"Menangkap rampok harus membekuk pentolannya, barisan ini dikendalikan laki laki tua itu, pantasnya aku merobohkan dia atau membekuknya lebih dulu."
Setelah bulat tekadnya segera dia merogoh keluar sepasang bandulannya, setelah mengincar sasarannya mendadak dia ayun tangan kanan, selarik sinar hitam secepat kilat melesat kearah laki laki tua itu.
Dalam keadaan terpepet, sebetulnya serangan nekad inipun untung-untungan, karena timpukan menggunakan seta ker tenaga makapelornya itu meluncur bagaipanan cepatnya membawa deru kencang lagi.
Laki-laki setengah umur itu sudah siaga, dia minggir kepinggir, pikirnya akan mengikuti gerakan lawannya meneruskan putaran barisan Tapi mimpipun tak pernah terpikir olehnya bahwa sepasang buntalan belibis Aipong-sut ini seperti punya mata, begitu dia miring kekiri, bandolan itu ternyata bisa membelok mengejar tubuhnya.
"Plak"
Dengan telak pundak kirinya terhantam keras hingga tulang pundaknya remuk.
saking kesakitan dia mengerang panjang, tubuhnya sempoyongan minggir kekanan lima langkah, Karena pikirkan keselamatan Liok-Kiam-ping, Aipong-sut ingin selekasnya mengakhiri pertempuran maka serangan dilontarkan lagi secara keji.
Namun kesiur angin tajam mendadak menyambar dari belakang.
sambil mendengus mendadak dia menggapai tangan, pelor belibisnya segera ditariknya kembali, sementara tubuh berputar menghindar terjangan angin pukulan dari belakang, lantan balas menggertak kebelakang, sinar hitam itu melesat kebelakang.
Terdengar satu kali jeritan pula disertai darah yang muncrat, maka robohlah sesosok mayat yang pecah mukanya dan batok kepalanya.
Bahwa dua kali timpukan bandulannya berhasil melukai dan membinas akan musuh, sudah tentu makin berkobar semangat tempur Ai-pong-sut.
Kini dia gerakan tangan kiri, buntalannya yang lain kembali ditimpukan kearah yang berbeda.
Di mana sinar hitam menyambar, maka didengarnya jeritan menyayat hati bergema ditanah peg unung an sepi ini.
Dalam sekejap lima musuh sudah dirobohkan.
Sisa tiga orang lagi segera bersuit panjang terus melompat turun kepinggir ngarai dan lenyap dibalik kabut.
Ai-pong-sut tarik sepasang buntalannya terus menerjang kemana tadi ketiga orang itu tadi melarikan diri.
Tapi setiba dia dipinggir ngarai, bayangan ketiga orang itu sudah tidak kelihatan.
Dia tahu letak ngarai ini agak ganjil, tanpa sebab tak mungkin ketiga orang Ham-ping-kiong tadi lenyap disini.
Maka dengan diaperiksa keadaan sekitarnya.
Kira-kira tiga tombak dari tempat semula, dia temukan sebuah batu besar roboh miring ditanah membelakangi dinding gunung, dibelakang batu ternyata menganga separo lobang gua yang gelap gulita.
Ai-pong-sut tersenyum puas, dengan kedua tangan dia kerahkan tenaga mendorong batu besar itu kepinggir, maka tampak sebuah lobang yang gelap setinggi manusia, dengan seksama dia periksa mulut gua, lalu mendengarkan dengan seksama, didalam gua didengarnya suara jengkrik mengerik dalam jarak yang cukup jauh.
Maka Ai-pong-sut keluarkan ketikan apinya menyuluh kedalam gua.
Tinggi gua ini ada beberapa tombak, dindingnya licin halus mengkilap seperti kaca, elas dibikin oleh tangan-tangan ahli, entah betapa dalam dan jauh gua ini, sebelah dalam gelap gulita, kemungkinan gua rahasia ini tembus kesuatu tempat yang jauh letaknya.
Pengalamannya cukup luas, maka dia tahu didalam gua seperti ini tidak boleh menggunakan ketikan api, maka dia putar tubuh keluar, diantara semak-semak dia mengambil ranting pohon yang kering serta rumput dijadikan obor panjang.
Setelah obor menyala kembali dia melangkah kedalam gua.
Setelah membelok dua kali, keadaan dalam gua semakin lebar dan sejuk.
Ai-pong-sut tahu dirinya berada dalam gua musuh yang banyak terdapat perangkap dengan alat rahasia keji, sekali lena jiwa dapat amblas secara percuma, maka dia keluarkan sepasang bandulannya, dengan kedua bandulannya ini tidak sedikit perangkap dan alat rahasia dalam gua yang dirusak dan dihancurkan.
dengan ginkangnya yang tinggi tiga kali dia meluputkan diri dari semburan air beracun dan hujan panah.
Maka makin dalam dia tak berani gegabah sedikitpun.
Kini dia dihadang oleh gua bercabang.
Kearah mana dia harus meneruskan perjalanan, sesaat dia berdiri bingung.
Padahal waktu sadah mendesak terpaksa dia nekad bertindak.
menyerempet bahaya pula.
Maka dia beranjak kegua disebeIah kanan.
Lorong gua ini belak-belok, hanya beberapa tombak sudah membelok entah kekiri atau kekanan, ternyata setelah putar kayun sekian lamanya dia berputar balik ditempat semula.
Tapi keluarnya dari gua yang ditengah.
Maka tanpa sangsi segera dia melangkah masuk kegua sebelah kiri.
Gua di sini ternyata beri hawa lembab dingin, baunya juga apek.
gemericik air bergema didalam gua, tapi entah di mana letak a lira n air, susah dia menemukan di mana letak sumber air.
Lebih penting membantu dan menolong Liok Kiam-ping yang mungkin menghadapi kesulitan, maka dia tidak ingin membuang waktu, dengan langkah enteng dan terus maju kedepan kira-kira puluhan tombak kemudian-"Blang"
Mendadak suara gaduh berkumandang disebelah belakang.
Ternyata lorong bercabang dibelakangnya sudah tertutup oleh sebuah papan besi yang besar dan anjlok dari atas, begitu rapat hingga hawa di sini seketika terasa sesak dan beku.
Jalan mundur sudah buntu, terpaksa harus maju terus.
Aipong-sut percepat langkahnya, dengan kecepatan ginkangnya dan seperti berlomba dengan waktu.
Untung lorong gua disini lurus dan datar, maka Ai-pong-sut tidak begitu payah mesti berlari tancap gas.
Kira-kita setengah jam lamanya Ai-pong-sut berlomba dengan waktu, dari arah depan sudah terasa hembusan angin sejuk yang menyongsong mukanya, maka dia tahu bahwa dirinya sudah akan tiba diujung lorong.
Disaat hati merasa lega dan senang mendadak didengarnya suara gemuruh lagi.
Ternyata mulut lorong didepan sana juga tertutup rapat oleh papan besi.Jalan mundur sudah buntu, jalan keluarjuga tersumbat, betapapun tinggi Lwekangnya, hatinya menjadi gelisah setengah mati, saking kebingUngan dan kehabisan akal, dia sampai berdiri menjublek.
Entah berapa lama dia melamun, mendadak terasa kakinya basah dingin, seketika dia tersentak sadar dari lamunannya.
sambil berjongkok dia periksa keadaan, ternyata air mengalir masuk entah dari mana, yang jelas lantai gua ini mulai digenangi air, arus air ternyata, amat deras, dalam sekejap tinggi air sudah mencapai mata kaki, arus air yang merembes semakin keras dan deras.
Bila air dituang masuk terus seperti ini, hanya sekejap pasti seluruh lorong ini bisa tenggelam dalam air.
Ai-pong-sut dipaksa untuk berdaya mencari jalan keluar, dari pada menuuggu ajal.
Segera dia memburu kedekat papan besi yang menyumbat mulut gua serta memeriksa dengan teliti.
Papan besi ini amblas beberapa kaki didalam tanah, sebelah atasnya juga rapat, demikian kiri kanan dinding gunung.
waktu dia dorong sekuat tenaga.
walau rada bergeming, tapi dia tahu tidak mungkin kuat menjebol papan besi ini.
Dengan putus asa dia mundur beberapa langkah serta menepekur menyesali nasib sendiri.
Sementara itu genangan air sudah mencapai perut, gerak geriknya di air sudah tidak leluasa lagi.
Entah kenapa hatinya seperti berjingkrak.
entah dari mana datangnya tenaga mendadak dia melompat maju seraya erahkan setaker tenaga memukul kearah papan besi ini.
Lwekangnya tangguh.
pukuian setaker tenaga ini entah betapa beratnya.
"Blum"
Seperti ada ledakan gempa, papan besi itu hanya melesak keluar sedikit, namun lantas ketempat semula.
Sayang dia tidak membawa golok atau pedang, dia yakin bila dirinya membawa senjata tajam pasti dalam mengeduk tanah atau dinding gunung, untuk lolos keluar mungkin tidak begitu sukar.
Tambah dia kebingungan itulah, mendadak tangannya menyentuh kedua bandulan besi yang dia simpan dalam kantong bajunya, seketika dia berjingkrak girang serta ingin mencobanya.
Setelah pelor besinya dikeluarkan dia pasang kuda-kuda, tenaga dikerahkan dikedua lengan mendadak dia ayun tangan kanan, salah satu pelor besinya meluncur bagi kilat menyambar.
"Blang"
Papas besi ternyata berhasil dihantamnya melesak mundur setengah kaki. Melihat usahanya mulai membawa hasil Ai-pong-sut tidak sia-siakan kesempatan, kembali dia ayun tangan kiri.
"Blang"
Dekuk dipapan besi karena hantaman pelor besi itu kini mulai retak. pelok besi itupun mereka diatas diatas papan batu"
Lekas Ai-pong-sat menyoreknya keluar lalu mundur, hatinya mulai girang dan timbul secercah harapan, maka beruntun dia timpukanpula kedua pelornya.
"Blang Blum."
Papan besi itu kini betul betul jebol dan bolong sebesar mulut mangkok.
Setiap tangan Ai-pong-sat berpegang pada lobang diatas papan besi itu, pelan-pelan dia kerahkan tenaganya lalu mendadak menyendalnya "Tak"
Bagian tengah papan besi ternyata sempal sebagian hingga terbukalah sebuah lobang lebar dua kaki.
Tanpa ayal Ai-pong-sat segera menerobos keluar.
Saat mana rembulan sedang memancarkan cahayanya yang gemerlang menyorot masuk kemulut gua.
Angin sejuk menghembus sepoi, Ai-pong-sut berdiri sejenak menentramkan hati dan napasnya.
Kejap lain dia sudah berlari-lari pula mengembangkan Ginkang sambil mengawasi keadaan sekelilingnya, didapatinya dirinya seperti berada didasar sebuah lembah, setajam mata memandang hanya bagian barat laut saja yang kelihatan ada titik sinar lampu, yang tersembunyi dibalik daon-daon pohon.
Agaknya cuaca sudah merambat ketengah malam, urusan tidak boleh ditunda maka dia mempercepat langkahnya, laksana mengejar meteor dia meluncur kearah sinar api itu.
Setelah dekat baru dia melihatjelas, didepannya berdiri sebuab pekampungan besar.
Dibalik tembok tinggi yang memagari perkampungan ini sayup-sayup didengarnya suara bentakan dan denting senjata, agaknya pertempuran sudah berlangsung didalam.
Tanpa ayal segera dia menjejak bumi melompat tinggi keatas tembok.
lalu berlari kencang menyusuri tembok kearah barat, kebelakang perkampungan.
Ginkang Ai-pong sut memang tinggi, hanya beberapa kali lompatan, dia sudah melayang turun ditengah arena, secara tepat menolong Liok Kiam-ping yang sudah payah bertahan.
Rasanya hampir meledak dada Ai-pong-sut melihat kelicikan musuh mengeroyok sang Pangcu, begitu tiba dia lantas timpukkan kedua bandulannya sekaligus menghancurkan usaha Ham-ping-long-mo yang mengatur muslihat keji Hendak menguras tenaga Liok Kiam-ping dengan cara bergilir dalam arena pertempuran Syukur Ham-ping-long-mo sendiri juga sudah kerahkan seluruh tenaganya dalam melawan pertahanan Liok Kiam-ping yang tiada taranya, padahal tenaga dalamnya juga sudah banyak tersalur.
bila tidak lekas dihentikan, kemungkinan dia sendirijuga akan terluka parah darah akan bertolak balik, getaran adu tenaga ini akan menimbulkan luka dalam pula bagi dirinya.
Begitu-Ai-pong-sut melontarkan bandulannya, Ham-Pingleng-mo tahu kekuatan pelor besi yang tiada bandingannya ini, lekas dia menarik Ham-pin-im-sat, berbareng kedua kaki menjejak tanah hingga tubuhnya melesat tinggi tiga tombak kedua bandulan itu melesat lewat dibawah kakinya.
Sebetulnya Liok Kiam-ping juga sudah bertahan dengan sisa tenaga yang sudah lemah, mendengar bentakan Ai-pongsut seketika lega hatinya, maka sisa hawa murni yang terhimpun seketika luber.
Begitu hawa murni buyar, orangnyapun lantas meloso jatuh lemas.
Tapi pikirannya jernih, musuh didepan mata, apapun dia pantang semaput, lekas dia kerahkan sisa tenaga dan semangatnya, dengan membalik setengah meronta dia merangkak bangun lalu duduk dan mulai samadi.
Betapapun Hian-ping-im-sat memang teramat jahat dan beracun.
Liok Kiam-ping melawan dengan sekuat tenaga, maka kadar racun sudah meresap keisi perutnya, untung dia memiliki Lwekang tangguh, jantung mampu dilindungi sendiri dari getaran maupun racun, meski kesadarannya semakin layap-layap tapi dia mempunyai daya rasa.
Jikalau orang lain mungkin saat itu jiwanya sudah melayang.
Namun demikian susah Liok Kiam-ping mencapai ketenangan lahir batin, agak lama dia merasa hawa dingin masih bekerja dalam tubuh dan hampir terjang kebagian lain dalam tubuhnya.
Bandulan besi Ai-pong-sut terbatas untuk menyerang keatas, begitu iblis tua itu melambUng tinggi menyelamatkan diri, bandulannya tak kuat ditimpukkan lebih tinggi lagi, terpaksa dia menarik balik kedua bandulannya.
Mumpung ada kesempatan dia sudah putar tubuh hendak menarik keadaan Liok Kiam-ping.
Kelima jago top yang menonton dipinggir gelanggang sudah saling memberi tanda kedipan mata, serempak mereka menubruk maju.
Lima bayangan orang sepuluh jalur angin pukulan, betapa dahsyat perbawa pukulan gabungan ini, ternyata Ai-pong-sut yang dijadikan sasaran-Tapi dia seorang ahli silat yang kawakan, melihat kelima musuh serempak menyerang dirinya secara reftek dia bisa melompat jauh menyelamatkan diri.
Tapi bila dia menyingkir, Liok Kiam-ping bakal celaka.
Terpaksa dia kertak gigi, kekanan dia melangkah dua tindak mengadang didepan Liok Kiam-ping, sisa tenaga dia salurkan kedua lengan lalu menyongsong pukulan gabungan lima orang itu.
"Byaaarr."
Pukulan dahsyat bagai gugur gunung kelima lawannya ternyata berhasil dihadangnya hingga tercerai berai keempat penjuru, sirna tanpa bekas.
Sementara Ai-pong-sut terlempar mundur kekanan setapak lebar, baru berdiri tegak pula.
Diam-diam dia menerawang keadaan dilihatnya Ham-pingleng-mo sudah selesai samadi, pelan-pelan kedua matanya sudah mulai terbuka, karuan hatinya mengeluh dan kuatir.
Maklum mereka berdua dalam keadaan payah diperkampungan musuh, tenaga musuh lebih banyak dan kuat lagi.
Agaknya iblis tua ini belum terluka, tadi hanya kebanyakan keluar tenaga maka dia merasa perlu samadi sekejap memulihkan tenaganya, jelas musuh takkan mau membebaskan mereka berdua.
Padahal Liok Kiam-ping dalam keadaan payah dan belum pulih tenaganya, jelas bukan tandingan musuh lagi, jikalau berhantam pula secara keras, pasti ajal secara konyol.
Maka jalan utama yang harus ditempuh sekarang adalah melarikan diri, biar cari suatu tempat sepi dan tersembunyi, sementara menyembuhkan luka-luka pula.
Setelah bulat pikirannya, Ai-pong-sut gerakan pula kedua tangan menimpuk kedua bandulannya, laksana kilat menyerang dua orang ditengah musuh.
Bila jarak tinggal satu kaki didepan musuh, mendadak kedua pelor itu membelok ke kanan kiri.
Kelima gembong silat Ham-ping-kiong ini tahu betapa lihay pelor bandulan ini, tanpa berjanji mereka melompat mundur menyelamatkan diri.
Melihat ada kesempatan d isaat musuh menyurut mundur, lekas sekali Ai-pong-sut meraih Liok Kiam-ping yang sedang samadi, tangan kiri menggapai kedua pelor itu serta disimpannya didalam lengan baju, kejap lain dia sudah melambung tinggi keudara, dipinggir kuping Liok Kiam-ping dia berbisik.
'Kita menyingkir lebih dulu.' Sebetuinya keadaan Liok Kiam-ping masih lemah, diantara setengah sadarsaja, mendengar seruan Ai-pong-sut secara reflek dia bergerak ikut lompatan Ai-pong-sut menjulang tinggi keatas tembok.
Gerakan nekad kedua orang ini teramat mendadak dan tak terduga lagi, karuan jago-jago Ham-ping-kiong itu tertegun bingung, bila Liok Kiam-ping berdua hinggap diatas tembok.
baru mereka sadar, serempak mereka menggembor sambil lompat memburu.
Mendadak Ha m-ping-leng-mo terkial-kial sambil mengulap tangan, serunya.
"Bocah itu sudah terkena Hian ping-im-sat Lohu, jikalau tidak punya obat penawar khusus, dalam dua jam jiwanya pasti melayang karena urat nadinya akan membeku, kalian tidak perlu terburu-buru, bagilah kalian menjadi dua rombongan dan lacaklah jejak mereka disekitar gunung ini, yakin mereka tidak kuat lari jauh, bila menemukan jejak mereka, jangan digrebek dulu, berikan tanda, Lohu akan segera tiba ditempat itu, kalian harus hati-hati pelor besi itu memang lihay luar biasa."
Jago-jago Ham -ping -kiong mengiakan.
Enam bayang orang segera bergerak menuju kearah yang sudah ditentukan-Sambil memluk ping gang Liok Kiam-ping, Ai-pong-sut kembangka Ginkangnya berlari bagaipanah meluncur, untung Liok Kiam-ping masih punya sedikit rasa, dapat bergerak mengikuti langkahnya meminjam tenaga, mengerahkan tenaga, maka luncuran tubuh mereka masih cukup mengejutkan.
Dalam sekejap mereka sudah tiba didepan ngarai.
Ai-pong-sut mengeluh dalam hati.
Ternyata ngarai di sini sudah putus jalan seperti bergantung diudara, tiada jalan lain menembus keluar, dalam keadaan biasa bukan soal mereka melompat turun dengan Ginkang tinggi, namun keadaan sendiri sudah payah, harus melindungi Liok Kiamping lagi.
Padahal luka-luka Liok Kiam-ping perlu segera di tolong.
ke mana bisa menemukan tempat yang tepat untuk menolongnya.
Pada hal dia tahu jago-jago Ham-ping-kiong sebentar pasti akan mengejar tiba.
Untunglah disebelah depan perkampungan dilihatnya tetumbuhan amat rimbun dan lebat sinar mentari sukar tembus kesebelah bawah, dia pikir mungkin di sana dia bisa berteduh sementara, namun dia masih ingat waktu dirinya disergap waktu datang tadi, hatinya jadi bimbang, tapi dalam keadaan kepepet begini, tiada tempat lain untuk sembunyi, apalagi waktu tak boleh ditunda lebih lama lagi, terpaksa harus berani menyerempet bahaya dan bekerja melihat gelagat.
Setelah berkeputusan lekas dia lompat kebawah karang membimbing Liok Kiam-ping pelan-pelan menyusup kedalam hutan-Racun dingin dalam tubuh Liok Kiamping sudah meresap kedalam sendi tulang, sekujur badannya menggigil kedinginan.
Karuan Ai-pong-sut Thong can semakin gopoh, dan gelisah, tanpa pilih arah dia main terjang saja masuk kedalam hutan.
Hutan tua dan lebat ini terdiri dari pohon-pohon tua dan besar, mungkin karena sudah terlalu tua hingga banyak diantaranya yang sudah keropos kering.
Tergerak pikiran Ai-pong-sut, lekas dia bopong Liok Kiamping terus memilih salah satu pohon besar kropos yang bagian tengahnya belong, setelah mendudukan Liok Kiam-ping lekas dia merogoh keluar Soat-lian serta dijejalkan kemulut Liok Kiam-ping.
Liok Kiamping masih menggigil keras, keadaannya sudah makin lemah, tidak sadarkan diri.
Soat-lian adalah obat mujarab, namun Kiam-ping tak punya tenaga untuk menelan obat sakti ini sehingga kasiat obatnya belum bisa bekerja.
Terpaksa Ai-pong-sut tutuk beberapa Hiat-to disekitar mulut dan lehernya sehingga obat mulai tertelan kedalam perut, kejap lain dia dudukan Liok Kiam-ping menghadap kedinding pohon, dua tangannya menekan Bing-bun-hiat, hawa murni sendiri dia salurkan ketubuh Liok Kiam-ping bantu melancarkan kasiat obat.
Lekas sekali kasiat Soat-lian sudah meresap keseluruh urat nadi, sendi tulang dan Hiat-to, pernapasan sudah mulai lancar, tubuh yang menggigil makin berkurang.
Wajahnya yang pucat pasi mulai semu merah dan orang nyapun sudah siuman.
Dia tahu Ai-pong-sut sedang bantu dirinya menuntun hawa murni supaya kasiat obat bekerja secara efektif didalam tubuh, maka dia unjuk senyum dan mengangguk perlahan maksudnya sekarang dia sudah mampu bersamadi sendiri.
Baru saja Ai-pong-sut hendak menarik kedua tangannya.
Mendadak dari luar hutan terdengar derap langkah kaki orang yang berserakan menginjak daon-daon kering, malam sunyi, maka keresekan ramai ini amat menusuk pendengaran, dengan bekal lwekang mereka berdua, dalam jarak puluhan tombak.
daon jatuhpun dapat didengar jelas.
Mendengar suara dan arahnya Ai-pong-sut lantas tahu, yang datang ada dua orang, sekarang masih ada diluar garis hutan sebelah luar.
Terdengar seorang berkata sinis "Menurut laporan petugas jaga disini, kedua orang tadi pernah muncul disini, kenapa sekarang tidak kelihatan bayangannya, mungkin sembunyi di lobang-lobang pohon sekitar sini ?"
Seorang lagi suara serak berkata.
"Daerah sekitar sini sudah diperiksa dengan teliti, namun tidak menemukan jejak mereka, padahal luka-luka bocah itu, katanya teramat parah tak mungkin dia bisa lari jauh. Bukan mustahil mereka sembunyi dalam hutan ini ?"
"Kukira tidak mungkin, kalau betul mereka masuk hutan, kenapa petugas jaga dalam hutan tidak memberi tanda peringatan-Maka menurut pendapatku, kejadian ini agak ganjil, lebih baik kita lepas dulu tanda peringatan mengundang orang banyak kemari untuk menggeledah hutan ini bersama, kurasa mereka takkan bisa lolos lagi."
"Aku heran, kenapa belakangan ini kau makin ciut nyalimu. Didaerah terlarang kita sendiri memangnya kau tidak berani memeriksa sendiri."
"Jangan bilang begitu, soalnya Kungfu kedua orang itu amat tinggi. bukankah tempo hari Kim-kong-ci Hong Kiat. Taybok itsiu dan Tang-ling sin-kun dan lain-lain kecundang di tangan mereka hanya karena terlalu takabur, apa salahnya kita bertindak hati-hati.' Percakapan mereka cukup keras, maka Ai-pong-sut dapat mendengar jelas. Tapi keadaan Liok Kiam ping sekarang cukup kritis, tidak boleh terganggu, apapun dia harus memancing kedua orang ini ketempat lain Segera dia berbisik dipinggir telinga Liok Kiam-ping, lalu melompat keluar dari lobang pohon. Dengan mengendap dan melompat jauh seperti kelinci dia meluruk kearah datangnya suara. Dia berputar keluar hutan, lalu membalik kearah ngarai dan berlari bagai terbang. Disaat melompat keatas ngarai itulah sengaja dia memberatkan langkahnya. Kedua jago kosen Ha m-ping-kiong tadi sudah bergerak kedalam hutan, mereka tersentak kaget oleh suara berisik ini, lekas mereka memburu keluar dan melongok kearah datangnya suara. Tanpa janji keduanya bersuara heran. Tampak segulung bayangan kelabu bergerak cepat mumbul keatas dari bawah bukit, mereka masih ingat bentuk badan yang buntak adalah Ai-pong-sut Thong cau. Suara serak itu berkata. 'Lekas kejar' Dengan kencang mereka mengudak kearah Ai-pong-sut melarikan diri. Sambil lari At-pong-sut pasang kuping, mendengar lambaian pakaian mereka, dia tahu bahwa kedua orang ini, sudah menyusul datang, tubuhnya yang berlari naik keatas tiba-tiba membelok kekanan, sengaja dia memperlambat langkah lalu berlari pula dengan santai. cepat sekali suara lambaian pakaian kedua orang dibelakang makin keras, dari suaranya Ai-pong-sut memperkirakan jarak mereka tinggal sepuluhan tombak lagi, maka dia percepat lagi langkahnya, bagai terbang dia lari menyusuri bibir ngarai terus keselatan. Kedua jago Ha m-ping-kiong mengejar kencang. Kejar mengejar terus berlangsung dari selatan membelok kebarat lalu berputar keutara lagi. Satu jam kemudian, Ai-pong-sut memperkirakan, mereka sudah lomba lari sejauh dua puluhan li, kini dia tiba ditanah tegalan yang datar, mendadak Ai-pong-sut memperlambat langkah lalu berhenti serta membalik badan, sambil menunggu dia menatap tajam. Lekas sekali kedua orang itupun sudah memburu tiba, berdiri jajar Ai-pong-sut melih at jelas tampang kedua orang ini, usia mereka sudah lebih dari enampuluh yang kiri berpakaian jubah hitam panjang yang long gar, perawakan tinggi, maka pakaiannya itu kelihatan lucu dan ganjil. Kedua alisnya gompyok tebal menjuntai turun, seperti bergantung diatas matanya, tampangnya yang beringas kelihatan lebih sadis. Yang sebelah kanan bertubuh lebih gemuk, mukanya bundarpenuh daging, matanya yang sipit bundar sebesar kelengkeng memancarkan cahaya hijau, jelilatan seperti maling, jelas menandakan bahwa orang ini berjiwa munafik, banyak muslihatnya. Dengan tersenyum Ai-pong-sut berkata.
"Kalian mengejar Lohu, memangnya sudah memilih tegalan yang berpanorama indah ini untuk tempat istirahat kalian "
Laki-laki yang bertubuh tinggi itu terkekeh tawa, katanya.
"Setan buntek kematian didepan mata masih tidak tahu diri. Disini tempat apa memangnya boleh kaupetingkah sesuka udelmu sendiri. Di mana kau sembunyikan bocah itu, lekas terus terang, Lohu akan memberi ampun kepadamu. Kami tahu pukulan Hian-ping im-sat itu dalam waktu pendek memang belum dapat menyusahkan dirinya' Ai-pong-sut bergelak tawa, katanya.
"Asal kalian mampu mengalahkan sepasang tangan Lohu, apapun kehendak kalian boleh terserah saja. tapi apa kalian yakin dapat mengalahkan aku? Kukira..."
Sampai di sini sengaja dia merandek Laki-laki yang kurus lebih gopoh, tanyanya.
"Kau kira kenapa?"
Ai-pong-sut tertawa tak acuh, katanya.
"Gampang saja, asal kalian tinggalkan batok kepala kalian, urusanpun bereslah."
Laki-laki yang gemuk berkata.
"Setan tua, jangan takabur, katakan saja di mana bocah itu sembunyi, Lohu berdua berani bertanggung jawab akan keselamatanmu kalau membandel, terpaksa..."
Ai-pong sut tertawa dingin, jengeknya. 'Terpaksa bagaimana? "
Laki-laki kurus menyeringai.
'Terpaksa akan kami bikin kau sekarat saja, mati tidak hiduppun sukar, menyesalpun sudah kasep.
Dalam wilayah kekuasaan Ham-ping-kiong belum pernah ada korban yang utuh jazadnya, setan tua, kalau kau tahu diri, lekas mengaku saja.' Berdiri alis Ai-pong-sut, katanya.
"Sudah kukatakan bila kalian mampu mengalahkan kedua tanganku, apapun kehendak kalian, terserah. Tapi jika kalian yang kalah?' 'Kau yakin dapat mengalahkan kami berdua?"
Jengek lakilaki kurus.
"Kenyataan akan membuktikan"
Laki laki gemuk itu seret temannya mundur beberapa langkah lalu berbisik-bisik, keduanya lalu berpencar ke kanan kiri, keduanya membentak bersama.
"Setan tua, kau ingin mampus."
""empat pukulantelapaktangan menggencet dari kiri kanan kearah Ai-pong-sut.
"Serangan bagus."
Seru Aipong-sut Thong cau, Ginkang yang tinggi dikembangkan, hanya berkelebat sekali dia sudah teri hindar dari gencetanpukulan kedua lawannya, kedua tangannya membundar lalu ditepukan kearah kedua lawan-Gerakan yang enteng ternyata menimbulkan gelombang pukulan yang dahsyat menggulung kearah jago-jago Hamping kiong itu.
Pukulan tiga pihak beradu dengan dahsyah.
"Blang,"
Tubuh Ai-pong sut limbung saja, tapi kedua jago Ham-ping kiong itu tertolak mundur selangkah.
Karuan tersirap darah mereka, Tak nyana setan buntak ini memiliki Lwekang setangguh ini.' Tanpa janji mereka beradu pandang pula lalu berpencar pula mulai menyerang seCara berputar, maju mundur bergantian, saling isi, kerja sama Cukup mantap dan serasi, mereka bertahan lebih banyak.
Namun juga melancarkan serangan telak.
Bahwa pukulannya kuat menandangi gabungan pukulan lawan lega hati Ai-pong-sut, baru saja dia menyiapkan pukulan selanjutnya, kedua lawan sudah bergerak dengan perobahan permainan, untung Gingkangnya lebih tinggi, untuk berputar dan bermain petak dia, yakin tidak akan kalah.
Tiga puluh jurus kemudian gerak tubuh mereka makin Cepat dan tangkas, bayangan kelabu tampak seliweran diantara dua bayangan hitam, selicin belut setangkas kera, kecepatannya memang mengejutkan.
Ai-pong-sut perhatikan permainan lawan dia tahu kedua orang ini sudah biasa berlatih dengan suatu rumus yang mirip Liang-gi-tin hoat, bila berhasil menyelami seluk beluk permainan mereka, lalu mendadak menyergap salah seorang diantaranya serta merobohkan, sisa yang satu akan mudah dibereskan.
Tapi persoalannya terletakpada bagaimana dia menemukan titik kelemahan permainan mereka, Saat mana Ai-pong-sut sedang berkelit dan Bik-khong-ciang yang dilontarkan laki-laki tinggi dari belakang, kakinya menggeser kekanan, baru saja membalik badan hendak balas menyerang, namun deru angin kencang sudah menerjang tiba pula dari sayap kiri.
Dia tahu orang tua gendut menyergap pula mumpung ad a kesempatan, bila dia meluputkan diri darijurus serangan ini, orang tua tinggi dibelakang tentu akan membarengi dengan serangannya pula.
Setelah menguasai situasi mendadak dia menjatuhkan badannya ketanah lalu mengembangkan Te-tong-kui, seperti bola menggelundumg dia menggelindang kedepan laki-laki tinggi.
Padahal lawannya ini sedang menerjang maju kedepan, kedua tangan sudah siap menggempur, sungguh tak nyana lawan tiba-tiba menyelonong tiba dari bawah, malah kecepatannya mengejutkan.
Saking kagetnya dia berusaha mengerem dan mengendalikan tubuhnya yang terperosok maju, namun Ai-pong-sut sudah berada di depan kakinya.
"Plak"
Keras sekali suaranya, tulang betis laki-laki tinggi telah dipukulnya patah dan remuk.
Ditengah jeritan yang mengerikan tubuhnya terlempar setombak lebih.
Saking kesakitan-sekujur badan sampai menggigil.
Berhasil merobohkan la kl-laki tinggi Ai-pong-sut tidak kenal kasihanpula, segera diaputar balik menggelundung kearah laki-laki gendut pendek.
Mendengar jeritan kawannya sigendut ini sudah tahu gelagat jelek.
untung dia lebih cermat dan teliti, tanpa ayal segera dia kembangkan ketangkasan gerak tubuhnya angkat langkah seribu.
Ai-pong-sut sudah menduga hal ini, sebelum orang melangkah jauh, mendadak dia ayun tangan kanannya, segulung sinar hitam meluncur dari tangannya.
Laki-laki gendut pendek itu ternyata licik dan licin, waktu membalik tubuh dia sudah merogoh keluar sebutir Ling-hwe-tam.
begitu mendengar angin kencang mengejar dibelakang, kontan dia ayun tangannya.
"Daar,"
Selarik cahaya api mendesis panjang membumbung tinggi ke angkasa.
Sekilas Ai-pong-sut melengak oleh perbuatan lawanmerandek sekejap inilah, lawan sudah melompat lagi sehingga jaraknya mencapai belasan tombak.
Betapapun cepat luncuran pelor besinya, jarak belasan tombak tak mampu dicapainya lagi, melihat musuh sudah lari jauh lekas dia menggapai tangan, pelor besi ditariknya kembali.
Segera dia menghampiri laki laki tinggi dan membentak.
"Sahabat, kau harus tahu diri. Kehadiran Ham -ping-kiong keselatan kali ini, kecuali bermaksud cari perkara dengan Hong-lui-pang kita, pasti masih ada tujuan lainnya. berapa banyak orang yang datang, bicaralah terus terang, Lohu pasti tidak akan bertindak kasar kepadamu."
Laki-laki kurus tinggi menjengek dingin.
"Lohu sudah kecundang dan jatuh ditanganmu, mau bunuh atau sembelih boleh terserah, aku pasti takkan mengerut alis.Jangan harap kau bisa mengorek keterangan apapun dari mulutku."
Ai-pong-sut tersenyum, katanya.
"Seorang laki-laki Harus pandai melihat gelagat, apa gunanya kau keras kepaia, badan tersiksa lagi, masih ada kesempatan untuk kau bicara, kalau terlambat menyesalpun sudah kasep."
Lakl-laki tinggi hanya mendengus serta memejam mata. Dengan tertawa Ai-pong-sut Thong cau berkata.
"Baiklah, coba kau rasakan bagaimarra kelihayan Siu-im-ni-meh."
Dia ulur dua jari tangannya lalu menutuk dari bawah keatas di berbagaHiat-to besar ditubuh orang terakhir dia menutuk Bing bun-hiat.
Semula laki-laki tinggi tidak merasakan apa-apa, dalam hati dia membatin, siu-im-ni-meh bukankah sudah lama putus turunan di Kangouw, selama hidup belum pernah dia melihat apa lagi merasakan kelihayannya, apakah lawan sengaja hendak menggertak dan menakuti aku, padahaldia tidak memiliki ilmu tunggal yang keji ini.
Menurut kabar yang pernah didengarnya, bila tertutuk dengan cara yang disebut diatas, sekujur badan akan merasa sakit dan tersiksa luar biasa.
Laki-laki beri hati baja juga akhirnya akan merintih menjerit dan meronta.
Kenapa dirinya tetap dalam keadaan biasa setelah di tutuk.
hal ini menambah tebal dugaannya bahwa lawan hanya menggertak saja, maka sikapnya lebih tak acuh.
Disaat Ai-pong-sut menunggu hasil tutukannya yang bakal kumat ditubuh orang, mendadak didengarnya lengking panjang dari sebuah suitan tinggi datang dari arah gedung besar sana.
Suitan keras tinggi itu berulang kali dan makin dekat jaraknya, volume suaranya juga makin keras dan kuat, jelas pendatang ini memiliki Lwekang yang tangguh.
Ai-pong-sut menduga.
"Mungkin karena tanda bahaya yang ditimpukan laki-laki gendut tadi maka iblis tua itu terpancing kemari."
Segera dia cengkram laki-laki tinggi serta dibawanya lari kearah ngarai.
Hanya sekejap ratus an tombak telah dicapainya, suitan keras dibelakangjuga sudah berhenti, mungkin sudah tiba di mana tadi Ai-pong-sut mengalahkan kedua lawannya.
Kebetulan Ai-pong-sut menemukan sebuah lobang dibawah batu gunung, dia tutuk Hiat-to bisu tawanannya lalu melempar laki laki tinggi ini kedalam lobang.
Kali ini baru lakilaki tinggi ini betul-betul merasa tersiksa.
Sebetulnya meski sudah ditutuk terbalik dari bawah keatas aliran darah dalam tubuhnya belum bertolak balik, namun karena badannya dibuang dan terbanting cukup keras, maka aliran darahnya seketika bertolak mundur.
Seketika napasnya sesak.
jantungnya berdenyut cepat seperti sekujur badan kesakitan seperti dirambati semut serta di grogoti, semula dia masih kuat bertahan sambil kertak gigi..tak nyana makin lama rasa sakit makin menyiksa, seluruh tulang badannya berkeretekan sepertHampir copot, keringat berketes-ketes, sekujur badan menggigil lalu mengejang.
Melihat orang masih bandel tak mau merintih atau minta ampun, makin membara gusar Ai-pong-sut, kakinya segera melayang menendang tubuh orang dua kali, baru terlampias rasa dongkolnya.
Padahal derita sudah cukup kenyang dirasakan laki-laki tinggi, saking kesakitan dia sampai kehabisan tenaga, maka hanyamatanya saja yang bisa menatap tajam kearah Aipongsut Thong cau.
Karena ditatap tajam makin berkobar amarah Aipong-sut, segera dia angkat tangannya hendak menampar muka orang, mendadak dia ingat dirinya telah menutuk Hiatto pembisu orang, tak heran orang tak mampu bersuara.
Lekas dia menepuk pantat orang membebaskan tutukannya lalu berdiri disamping menunggu dengan sabar.
Walau tutukan Hiat-to sudah dibebaskan namun rasa sakit dalam badan masih belum lenyap.
sesaat lamanya dia masih tidak mampu bersuara, hanya mulutnya megap-megap.
Hampir setengah jam lamanya baru laki laki tinggi ini, mampu mengeluarkan suara dengan gagap dan lemah.
"Tolong... dulu...Hiat-... to... ku."
Lalu kepala menganggUk berulang kali, gigipun bergemerutuk.
keadaanmya amat mengerikan.
Ai-pong sut tertawa lebar, segera dia menepuk-tepuk beberapa kali dibadan orang membuka tutukan Hiat-tonya.
Begitu tutukan dibuka aliran darah yang bertolak mundur segera berhenti, rasa sakitpun mulai hilang, namun tutukan siu-im-ni meh memang terlalu keji, sesaat lamanya dia masih lemas dan takmampu bicara.
cukup lama kemudian baru dia bersuara lemah.
"Setelah tetirah sekian tahun lamanya, Ham-ping lojin membawa anak buahnya hijrah ke Selatan dengan tujuan menegakkan kembali kebesaran Ham-giok-ling dan merajai dunia persilatan, tujuan pertama merangkul para sahabat Bulim yang dahulu pernah diajak kerja sama, lalu dengan sekuat tenaga menumpas Hong lui-pang dengan maksud membrantas kawanan jahat dari membekuk pemimpinnya dulu. Hal ini untuk melicinkan jalan dari rencana Ham-ping Lojin untuk merebut Bulim Beng-cu yang akan diadakan di Ui-san-lunkiam tak lama lagi. Kabarnya lima aliran besar yang lain sudah setuju adanya gagasan ini, secara diam-diam mereka juga sudah menyiapkan diri, mengundang berbagai pihak untuk menyergap dan menggeroyok secara bergiliran, bila rencara sudah matang akan langsung menyerbu ke Kwi-hun-ceng dan merebut markas Honglui-pang."
Mendengar lima partai besar juga setuju melakukan perbuatan yang melanggar kebenaran hendak menyerbu ke markas besar, bukan kepalang gusar Ai-pong-sut, bentaknya 'Apa betul keteranganmu.
' Mendelik laki laki tinggi, katanya.
'Lohu salah seorang Huhoat dari ham-ping-kiong, dikalangan Kangouw terhitung seorang tokoh ternama, sampai di sini saja keteranganku, mau percaya atau tidak terserah, kalau masih curiga boleh kau menyiksaku lagi, Lohu tak kan bicara lagi."
"Sikap keras-kepala orang malah menimbulkan rasa simpati Ai-pong sut kepadanya katanya dengan sikap sungguhsungguh.
'Saudara jangan salah paham, persoalan yang menyangkut keruntuhan bulim begini kedengarannya amat menusuk perasaan-Baiklah hal ini kesampingkan dulu, namun sebagai musuh yang berhadapan, terpaksa aku harus bikin susah kau lebin lama lagi, kuharap selanjutnya kau bisa membedakan baik dan buruk, jangan membantu kejahatan lagi, mengasingkan diri lebih baik untuk kelanjutan hidup tuamu.' lalu dia tutuk pula beberapa Hiat-to ditubuh orang serta menambahkan, 'tutukanku ini khusus, dalam lima tahun jangan kau menggunakan banyak tenaga, akibatnya bisa membuat urat nadimu pecah dan jiwa takkan tertolong.
Lima tahun kemudian akan sembuh sendirinya, dalam jangka lima tahun ini jangan kau berusaha mengobati sendiri, akibatnya biaa lebih fatal.
Baiklah saudara sekarang boleh silakan.' Laki-laki kurus tinggi menghela napas.
'Tak nyana Tiang pekssiang-boan dapat berkenalan dengan sahabat seperti dirimu sebelum insyaf akan perbuatannya, baiklah selama-gunung tetap menghijau, air terus mengalir, kelak kita bertemu lagi.' lalu dengan tertatih-tatih dia merangkak berdiri lalu melompat keluar dengan langkah berat, kejap lain bayangannya telah lenyap ditelan kegelapan-Baru sekarang Ai-pong-sut teringat bahwa laki-laki kurus ini adalah Siu-boan Beng Liang, sementara laki-laki gendut itu pasti Pui-boan Bun Tie-hiong.
Sudah lama kedua orang ini angkat nama, kungfu mereka berbeda dan memiliki keunggulannya sendiri.
Tak nyana mereka juga dirangkul oleh Hamping-kiong, dari sini dapat dibayangkan bahwa jago-jago kosen lainnya juga pasti, juga amat tinggi bukan dari golongan rendah.
Baru saja Ai-pong-sut hendak melompat keluar dari lobang dibawah batu.
Mendadak di dengarnya suara Ham-ping-lengmo dikejauhan.
"Bun-huhoat, sebetulnya berapa jauh tempat kejadian tadi, kenapa hanya sekejap bayangan mereka sudah lenyap, apa kau tidak salah arah."
Pu boan BunTlo-bong berkata serak.
"Kiong cu jangan kuatir, tadi memang betul di sini, pasti tidak keliru, mungkin lawan mendengar suitan Kiong-cu lalu lari menyembunyikan diri disekitar sini.' Ham-ping-long-mo mendengus, katanya. 'Lekas bncar dan geledah tempat ini, jangan biarkan dia lolos."
Pui-boan mengiakan-Maka langkah kaki berpencar ke berbagaipenjuru, suaranya jelas makin mendekat. Karuan Ai-pong-sut berkeringat dingin, hatinya gugup, pikirnya.
"Tenagaku seorang pasti bukan tandingan Ham-pingleng-mo, apalagi dikeroyok Puboan Bun Tlo-hiong pasti tak kuat aku melawan mereka."
"Sebetulnya seorang gagah tak mau dirugikan didepan mata, tapi dalam situasi. yang mendesak begini, jalan mundur buntu, didepan ada musuh tangguh, jejakku pasti konangan, lebih baik aku menyingkir saja secara untung untungan Yamyan-tam sudah kusiapkan, bila perlu bisa digunakan. Sedikitnya seorang lawan harus kurobohkan lebih dulu."
Sambil merogoh keluar kedua pelornya dia menggeremet keluar mendekam dipinggir lobang siap bertindak bila musuh muncul.
Ham-ping leng mo bersama Pui-boanBunTlo hiong berjajar sedang memeriksa sekitar dinding gunung dan kebetulan tiba, didepan mulut lobang.
Ai-pong-sut mengincar dengan tepat, tanpa suara mendadak dia ayun tangan, dua jalur sinar hitam melesat bagai panah kearah kedua orang ini.
Lwekang Ham-ping-leng-mo amat tinggi, mendengar angin menderu dia tahu ada orang membokong, ditengah jengek tawanya, lengan baju kanan mengebut, timbullah serangkum angin puyuh membelit kedua sinar hitam itu.
Lekas Ai-pong-sut ulur tangan kiri serta menariknya sekuat tenaga, syukur kedua pelornya masih sempat ditariknya.
Tapi keringat dingin sudah membasahi tengkuknya.
Tapi pelor yang lain masih tetap menyerang kearah Pui boanBun Tlo hiong.
Melihat sanjata rahasia menyambar tiba, jelas Bun Tlohiong berkelit kepinggir, baru saja hendak balas menyerang, ternyata senjata rahasia musuh yang sudah menyambar lewat putar balik ikut membelok kekanan.
"Duk"
Dengan telak pundak kirinya terpukul, tulang pundaknya remuk ditengah jeritannya dia terjungkal roboh sambil menggigil kesakitan-Dihadapannya lawan mampu melukai salah seorang Huhoatnya, sungguh penasaran dan bukan kepalang gusar Ham-ping-leng-mo.
Mendadak dia mendesak maju selangkah, tenaga disalurkan sepenuh dikedua tangan terus menggempur kemulut lobang.
Betapa dahsyat kekuatan pukulan iblis tua ini, tampak gumpalan angin badai bergolak sehingga selebar mulut lobang tersumbat.
"Blum"
Ditengah ledakan yang menggetarkan, batu besar diatas lobang itu tergempur hancur dan runtuh menyumbat mulut lobang.
Ditengah taburan tanah dan batu, bayangan lawan ternyata tidak kelihatan.
Tengah Ham-ping-leng-mo berdiri bingung dan curiga, mendadak disisi kiri didengarnya seorang bergelak tawa serta berkata lantang.
"Buat apa marah sebesar ini. Batu tak berdosa kau pukul sampai Hancur, kelihatannya kau memang perusak nomor wahid didunia ini. Ampun, ampun."
Setelah menimpukan kedua pelornya, mumpung lawan berkelit tadi diam-diam Ai-pong-sut sudah menyelinap keluar.
Karena dia me ng god a dan mencemooh, karuan makin berkobar ama rah Ham-ping-leng-mo, alia berdiri jenggot bertebaran, matanya melotot, mendadak dia memba lik sambil kirim pukulan pula kearah Ai-pong-sut.
Setelah bersuara Ai-pong-sut segera menyingkir, maka disaat pukulan Ham-ping-leng-mo menerjang tiba, dia sudah setombak lebih jauhnya diaebelah kanan.
Kembali terjadi ledakan keras diaertai batu danpasir muncrat kemana-mana.
Batu cadas di mana tadi Ai-pong-sut bersembunyi telah dipukulnya pecah menjadi beberapa potong.
Hati Ai-pong-sut bersyukur dirinya lolos dari elmaut, namun mulutnya masih usil.
"Buat apa ngamuk. Lohu masih banyak urusan tiada tempo meladanimu, sementara kutitip batok kepalamu. Selamat bertemu."
Tanpa menunggu reaksi lawan, dia bersiul panjang terus melompat jauh kedepan-Baru saja siulannya berbunyi, dari arah depan takjauh di sana tahu-tahu mendapat sahutap siulan yang lebih keras seperti menjulang ke langit.
Mendangar sahutan suitan nyaring ini bersorak Ai-.pong-sut dalam hati dia tahu bahwa Liok -Kiam-ping sudah berhasil menyembuhkan luka-luka dalamnya.
Segera dia tancap gas berlari kearah datangnya suitan.
Ham-ping-leng-mo sudah kebacut marah, mana dia berpeluk tangan membiarkan lawan lari, dengan kesebatannya tubuhnya berkelebat bagai segumpal asap mengejar dengan kencang.
Lwekang iblis tua ini amat tangguh betapapun tinggi Ginkang Ai-pong-sut, mana mampu larijauh, hanya beberapa kali lompat berjangkit, dia sudah melayang jauh ke depan Aipong-slut serta mencegat didepannya.
Melihat lawan mampu mencegat jalannya, Ai-pong-sut juga tidak banyak bicara, sambil kertak gigi dia ayun kedua tangan menimpukkan kedua pelor besinya.
Padahaljarak amat dekat, kedua pelor itu ditimpukkan secara mendadak lagi, betapapun tinggi Lwekang iblis tua ini takkan mampu llos.
Tapi kenyataan berbeda, baru saja pelor besi ditimpukan, iblis tua itu sudah melompat minggir setombak lebih jauhnya.
Ai-pong-sutjuga tidak memberi kesempatan lawan, begitu pelornya luput segera dia menggentak tangan memutar lengan, seperti benda hidup saja, kedua pelornya itu terkendali dengan baik, membelok arah terus mengejar kearah bayangan Ham-ping-lengmo Kali ini Ai-pong-sut keluarkan seluruh kemampuannya, maka kedua pelornya itu menderu kencang laksana kilat menyambar.
Tapi Lwekang Ham-ping-leng-mo memang luar biasa dan mengejutkan, mendangar pelor lawan mengejar dibelakang, diam-diam dia kerahkan tenaga dikedua lengan, sedikit menutul tubuh terapung sambil membalik, kedua lengan baju dikebut menangkia kedua pelor.
Thi-sin-sin-kang yang melancarkan ini mengandang tenaga ribuan kati, betapa dahsyat luncuran kedua pelor besi, ternyata berhasil dikebutnya mumbul beberapa kaki lebih tinggi.
Hampir saja Ai-pong sut tidak kuasa mengendalikan kedua pelornya, lekas dia menggapai tangan menarik balik kedua pelornya.
Tengah mencari akal bagaimana meloloskan diri dari lib atan musuh.
Deru angin keras tahu-tahu sudah menindih tiba.
Terutama hawa dingin yang teramat ganas telah melanda tiba lebih dulu.
Ai-pong-sut tahu Ham-ping-ciang iblis tua ini teramat dahsyat bila kurang cermat menghadapi, salah-salah biaa celaka dirinya.
otak bekerja kaki tak berhenti, sekuatnya dia kembangkan kelincahan tubuhnya, bagai kilat beruntun dia melompat kekiri kanan sejauh dua tombak, Syukur jiwanya Selamat.
Namun napas Sedikit Sesak tubuh agak kedinginan.
Melihat pukulan kedua tangannya luput lagi Ham-ping lengmo makin gusar, kedua lengan berputar Satu lingkar lalu digentak pula kedepan, kini kekuatannya dipusatkan pada Sejalur arus dingin menggulung kearah Ai-pong-sut.
Perbawa pukulan kali ini berlipat lebih hebat dari pukulan yang terdahulu.
Sudah tentu Ai-pong-sut tidak berani ayal, lekas dia kembangkan gerak langkah berantai untuk menyelamatkan jiwa, selicin belut dia berkiaar kian kemari melesat minggir.
Makin besar gusar Ham-ping-leng-mo, sambil menghardik kalap kedua tangannya menepuk kearah Ai-pong-sut Thong cau.
Pada hal Ai-pong-sut Thong cau sudah kerahkan seluruh kekuatannya baru berhasil menyelamatkan diri dari rangsakan lawan, rasa kejut belum hilang, serangan dahsyat sudah menindih tiba pula.
Mau menyingkir sudah terlambat, terpaksa dia mengelak pukulan telak lalu melontarkan pukulan menangkis srempetan angin pukulan lawan-Sebat sekali dia melejit kepinggir, kedua tangan mengerahkan setaker tenaganya sambil kertak gigi memukul kearah angin pukulan lawan yang menderu ketubuhnya.
Ditengah ledakan dahsyat tampak tubuh Ai-pong-sut Thong cau menggelundang jatuh seperti bola lima kaki jauhnya, darah mendidih dirongga dadanya, tubuhnyapun menggigil kedinginan-Dia insaf Ham-ping ciang amat kuat dan jahat, lekas dia kerahkan hawa murni, Syukur darah yang bergolak berhasil ditekan dan dilancarkan kembali, diam-diam hatinya girang karena dirinya tidak terluka Sedikitpun.
Mendadak didengarnya iblis tua membentak keras pula, kedua tangannya terjulur lurus kedepan, kabut putih merembes keluar dari telapak tangannya, tubuh bagian atas melengkung maju, otot hijau dijidatnya tampak merongkol, uap putih tampak mengepul dibatok kepalanya.
Kejap lain iblis tua menggentar kedua tangan.
duajalur kabut putih menerjang keluar dari kedua telapak tangannya.
Ai-pong-sut sadar bahwa Ham-ping-leng-mo sudah menyerahkan Hian-ping im-sat yang jahat beracun.
Lekas dia kembangkan pula kelincahan tubuhnya berlari sipat kuping.
Tak nyana gerakannya yang cukup kencang itu masih diungguli kecepatan lawan-Baru saja tubuhnya meluncur kedepan, tiba-tiba bayangan orang berkelebat didepan, kembali Hamping-leng-mo sudah mencegat didepan-Terasa, damparan arus dingin dantajam mengiria kulit sudah mengurung dirinya.
Jelas kali ini dia tidak akan selamat dari.
serangan Hianping-im sat.
Untunglah pada detik yang genting itu, dari a rah samping mengh embus pula sejalur hawa hangat, berbareng bayangan putih berkelebat didepan mata, hawa dingin seketika sirna sepecti es batu ketimpah sinar mentari, tahu-tahu Liok Kiamping sudah berdiri ditengah arena, wajahnya tampak kereng gagah menatap iblis tua.
Seperti diketahui Hawa dingin dari pukulan IHian-ping-imsat sudah meresap ketubuh dan urat nadi Liok Kiam-ping, kalau orang lain tentu jiwanya sudah ajal, Tapi Liok Kiam-ping berulang kali mengalami periatiwa aneh yang menguntungkan dirinya, bukan saja ilmu pengobatan sudah tinggi meski keadaan dirinya sudah dalam sekarat terkena racun dinginnamun diam-diam dia kerahkan Kui-sik tay-hoat, sekuat tenaga dia menutuk urat nadi yang menembus keotak sehingga hawa dingin beracun itu terbendang sampai dileher.
Waktu Ai-pong-sut membawanya kedalam lobang pohon serta memberi Soat-lian dan menyalurkan kekuatan hawa murni sehingga kasiat obat bekerja, segera dia samadi menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya mengusir hawa dingin yang menggangu tubuhnya, sementara itu Ai-pong-sot memancing Tiang-pekssiang-boan ketempat lain-Dalam jangka setanakan nasi lamanya Liok Kiam-ping harus berjuang mati-matian mengusir hawa dingin beracun dari tubuhnya, untung dia menelan Soat-lian kadar racun telah punah hawa dinginpun menguap keluar menjadi kabut putih yang bergulung-gulung diatas kepalanya, lambat laun wajahnya yang semula putih makin bersemu merah dan akhirnya segar kembali.
Akhir kali dia hanyutkan tenaga dalamnya keseluruh badan siaa racun dalam tubuhnya menguap lewat pori-pori menjadi keringat.
Setelah tenaga murni putar balik kedalam pusar terhitung dia selesai menyembuhkan diri, baru saja dia berniat melompat turun.
Mendadak didangarnya siulan panjang yang menusuk kuping dari arah ngarai pendek sana.
Mendangak siulan itu dia tahu bahwa Aipong-sut sedang menghadapi bahaya, maka tanpa ayal segera dia kerahkan hawa murni serta ditekannya keluar tenggorokan menjadi siulan keras mengalun tinggi keudara hingga terdangar cukupjauh.
bagai selarik bayangan panah dia melesat kearah ngarai.
cepat sekali dia sudah tiba ditujuan dan kebetulan menolong Aipong-sut dari bahaya Hiam-ping-im-s at.
Liok Kiam-ping kerahkan Kith-kong-put-hoay sin-kang mendesak pergi kekuatan hawa dingin Hian-ping-im-sat.
Sedetik Kiam-ping tiba terlambat, Ai-pong-sut tentu sudah binasa oleh serangan iblis tua.
Setelah pukulan lawan sirna, Liok Kiam-ping sempat menoleh dan bertanya.
"Bagaimana keadaan Tianglo sekarang?"
Melihat Liok Kiam-ping telah tiba segera Ai-pong-sui melompat berdiri, serunya bergelak tawa.
"Tidak apa-apa, Losiu masih kuat menahannya."
Ham ping-leng-mo sendiri merinding dibuatnya, batinnya.
"Entah setan atau manusia bocah keparat ini, jelas tadi dia terpukul oleh Hian-ping im sat, tanpa obat buatan sendiri tak mungkin sembuh, kenapa keadaan segar bugar malah."
Tengah iblis tua ini berdiri melenggong Liok Kiam-ping maju dua langkah, katanya dingin.
"Hian ping-im-sat sudah kurasakan kelihayannya, ternyata hanya begini saja, kau masih punya ilmu jahat apa lagi, boleh keluarkan saja, malam ini kami Harus membereskan pertikaian ini."
Dengan tajam dia tatap iblis tua.
Mengkirik bulu kuduk Ham-ping-leng mo melihat Liok Kiamping muncul dihadapannya tanpa kurang suatu apa, padahal Hianping-im-sat merupakan ilmu pukulan jahat yang paling dia andalkan sebagai modal gerakannya, ternyata terhadap bocah yang satu ini tak manjur, belum ada dua jam pukulan yang mengenai tubuhnya sudah dipunahkan-Entah bocah ini tumbuh dari otot kawat balung besi atau sebagai robot baja.
Tapi kenyataan dia adalah manusia biasa, terdiri dari darah daging pula, barusan juga dia saksikan sendiri orang terhuyung melarikan diri, walau dibopong lari situa keparat itu, pukulan beracun dingin itu jelas meresap ketubuhnya, kini dia menjublak di tempatnya, benaknya tak habis mengerti, sehingga pertanyaannya Liok Kiam-ping seperti tidak didangarnya.
Setelah dia beradu pandang dengan Liok-Kiam-ping baru dia tersentak sadar.
Padahal sebagai gembong iblis yang disegani dalam Bulim kapan dia pernah bersikap linglung seperti barusan, melihat rona muka Liok Kiam-ping yang serius Jantungnya berdebar keras, tapi tak malu dia sebagai gembong iblis yang munafik, segera dia merobah sikap.
serunya bergelak tawa.
"Kau baru saja lolos dari telapak tanganku, syukur kau telah muncul, agaknya belum kapok, biar sekarang kuantar jiwamu ke akhirat."
Pelahan dia menggerakan kedua tangan sambil menghimpun delapan bagian tenaganya terus mendera kearah Liok Kiam-ping.
Latihan Lwekang Ham-ping-leng-mo sudah lebih dari enampuluh tahun, tokoh Bulim paling top sekarang yang berani melawan sekali pukulannya beberapa gelintir saja.
Maka Hanya delapan bagian tenaganya, namun perbawanya sudah mengejutkan.
Damparan angin pukulannya menggulung dahsyat seperti amukan badai saiju.
Liok Kiam-ping tidak menduga lawan melontarkan pukulan tanpa memberi peringatan lebih dulu.
Menangkis pukulan lawan sudah terlambat, lekas dia menyingkir delapan kaki kepinggir.
Pukulan mengenai batu cadas dibelakangnya sehingga menimbulkan ledakan dan getaran dahsyat.
Rasa benci terbayang dikedua alis Liok Kiam-ping, tangan sudah dilandasi kekuatan siap menyerang, katanya menyeringai dingin.
"Siapa nyana gembong iblis terbesar aliran sesat yang kenamaan juga pandai membokong, nah sambutlah pukulanku."
Perlahan dia menepuk kedua telapak tangannya, serangkum tenaga lunak mendorong kedepan-Semula seperti tiada terjadi apa apa. Karuan Ham-ping-leng-mo keheranan.
"Mungkin bocah ini main licik"
Secara tak acuh dia seenaknya saja dia tepukan sebelah tangannya menyongsong gerakan Liok Kiam-ping.
Tak nyana begitu dua pukulan saling beradu, tenaga pukulan Liok Kiam-ping ternyata bertambah makin kuat, terpaksa Ham-ping-leng-mo gerakan kedua tangannya sambil menambah kekuatan pula, namun gempurannya ternyata sirna.
Padahal tenaga Liok Kiam-ping makin besar.
Ternyata Liok Kiam-ping menggunakan daya tempel, pertama dia sedot kekuatan lawan serta dipunahkan lalu mengerahkan tenvaga getaran menambah kekuatan pukulan send iri untuk menekan lawan-Ham-ping-leng-mo segera tahu gelagat yang tidak menguntungkan ini, lekas dia kerahkan setaker tenaganya dikedua lengan, diapikir dengan enampuluh tahun latihan Lwekangnya siap mengadu pukulan dengan Liok Kiam-ping.
Liok Kiam-ping sudah merasakan kekuatan musuh amat hebat, bila dia sibuk melawan, daya tempel susah dikembangkan lekas dia kerahkan tenaga dalam dipusatkan dipusar, kedua lengan mendadak menggentak keluar.
Timbullah amukan angin pukulan yang melanda kedepan-Betapa besar keyakinan Ham-ping-lengmo terhadap kemampuan sendiri.
melihat serangan orang dia lantas tahu bahwa lawan sudah menyerang dengan seluruh kekuatannya.
Mana dia berani ayal, ditengah gerungan geram diapun kerahkan seluruh kekuatannya menepuk serangan lawan-Gempuran dahsyat kedua pihak kembali beradu.
Ledakan dahsyat menimbulkan pusaran angin lesus seperti tonggak raksasa membumbung tinggi keudara, hawa sekitar gelanggang seperti bergolak hingga menimbulkan deru yang ribut, batu kerikil berlompatan, debu membumbung tinggi keangkaSa.
Lenyap Suara ledakan tampak Ham-ping-leng-mo menyurut Selangkah kebelakang, jantungnya.
berdetak lebih berat.
Sementara Liok Kiamping hanya limbung sedikit saja.
Sebagai orang tua dikalahkan anak muda, sudah tentu tak terlampias amarah dan dangkol Ham-ping leng-mo.
Benci dan dendam bergelut dalam hatinya sehingga membakar sifat liarnya.
Sambil meraung gusar dia kerahkan dua belas bagian tenaganya menggempur pula pada Liok Kiam-ping.
Karena lawan memiliki kekuatan tangguh, merupakan lawan yang jarang dihadapi, maka Liok Kiamping mengobarkan semangat tempur, waspada dan siaga pula, kedua tangannya juga menyerang sekuat tenaga.
Seng-si-koan Liok Kiam-ping sudah tembus, kasiat Kiu-yatlan-ci menambah besar tenaganya pula, maka tenaga dalamnya tak pernah terkuras habis, seperti sumber air saja terus mengalir keluar.
Betapapun tinggi latihan Ham-ping-leng-mo takkan kuat mengisi tenaganya terus menerus maka dalam gebrak permulaan ini, dia sudah kelihatan dipihak yang asor.
Setelah terjadi ledakan dahsyat pula, tampak tubuh Hamping-leng-mo yang tinggi besar itu terlempar lima kaki jauhnya.
dadanya tampak turun naik dengan keras, darah hampir saja menyembur dari mulutnya.
Untung Lwekangnya tinggi.
sedikit kerahkan hawa murni pulihlah keadaannya.
Tapi dia berdiri menjublek oleh perbawa pukulan Liok Kiam ping.
Berhasil mengalahkan lawan gairah semangat tempur Liok Kiam-ping, lawan tidak diberi kesempatan ganti napas.
Sambil menggerung rend ah dia mendesak dua langkah, dua tangan beruntun bergerak.
sekaligus dia lontarkan tiga belas jurus pukulan.
Sekali bentrok Ham-ping-leng-mo dipukul mencelat mundur, kali ini mana berani dia menangkia, lekas dia kembangkan keliucahan gerak kakinya yang ajaib, berkiaar sambil berputar menyingkir, tubuhnya selincah burung camar mengarungi gelombang samudra.
dan tak mau roboh meski keterjang ombak.
tubuhnya selulup diantara samberan bayangan pukulan, sekaligus dia balas menyerang denganJaigiok-ciang sebanyak sebelas jurus.
Liok Kiam-ping kembangkan Leng-hi-pou-hoat sampai puncaknya, tubuhnya melayang bagai asap.
jago kosen sekalipun juga sukar mengikuti gerak geriknya.Jadi kedua pihak lama bergerak cepat dan menyerang secara kilat, tipu lawan tipu, jurus menandingi jurus, seranngan datang dari posisi dan a rah yang tak mungkin dilakukan orang biasa.
Pertandingan jago kosen umumnya hanya mengadu kecepatan dan bagusnya tipu serangan, setiapjurus tak boleh dilancarkan sepenuh hati, begitu melihat lawan siap menyambut atau menangkis serangan, segera harus merobah dengan serangan lain, maka kedua bayangan mereka mundur maju, berkutet lalu berpencar, kelihatannya seperti dua bayangan kelabu s a ling gubat menjadi rangkaian rantai yang mengambang diudara.
Hakikatnya sulit diikuti pandengan mata bagaimana mereka turun tangan.
Bahwasannya mereka menggunakan ilmu tingkat tinggi yang serba gaib, cepatnya gerakkan laksana kilat dengan tiputipu yang mematikan lawan, perbawanya laksana gugur gunung, maka lima tombak sekeliling gelanggang ditaburi debu dan daon-daon kering, hawa tertekan dan terkekang hingga menimbulkan suara letupan lirih.
Pertempuran kali ini memang berlangsung secara mengejutkan, sekejap saja seratus jurus telah dicapai.
Satupihak berjuang demi mencaci bersih dan menegakkan nama perguruan, menuntut balas dendam leluhur.
Pihak lawannya bertempur demi mempertahankan gengsi ratusan tahun sebagai gembeng ibits dari aliran sesat.
Makin bertarung makin sengit, makin kaiap dan beringas, akhirnya bayangan mereka tidak kelihatan lagi.
Mendadak "Blang"
Bayangan kedua orang tampak terpental mundur.
Bolamata Liok Kiam-ping setajam api las menatap lawannya.
Rambut ubanan Ham-ping-leng-mo tampak awutawutan, mukanya beringas, dadanya turun naik, mungkin dalam adupukulan barusan, tidak kecil kerugiannya, rasa benci dan penasaran menggejolak seperti ingin menelan Liok Kiamping bulat-bulat.
Kekalahan inijustru membakar sifat buas dan liarnya.
Lwekang dikerahkan, suara bentakan dilontarkan oleh dorongan tenaga pusar, begitu kedua lengan membundar, dengan kaiap dia menepuk kearah Liok Kiam-ping.
Arus besar laksana letusan gunung melanda dengan amukan dahsyat.
Walau berulang kali mendapat rejeki besar, Lwekang Liok Kiam-ping sekarang sudah maju pesat dantangguh, namun menghadap arus pukulan sehebat ini baru pertama kali ini, maka dia tidak berani lena sedikitpun.
Maka tenaga murni yang sudah dipersiapkan segera dilontarkan melalui kedua telapak tangannya yang menyongsong pukulan musuh.
Pukulannya ini bukan keras dan deras, namun sebaliknya lunak dan lembut.
Kelihatannya daya pukulannya itu lunak tak bertenaga, namun begitu kedua pukulan saling bentur, ternyata timbul daya tahan yang kuat, ulet dan mengandung daya tolak yang kokoh menahan arus pukulan lawan-Setelah terjadi ledakan dahsyat yang menggoncang bumipula, arus hawa berputar keras yang meliputi setombak luasnya bergulung-gulung membumbung makin tinggi keangkasa, pinggir arus berputar itu mengeluarkan suara gesekan yangmenusuk telinga..
Tertolak oleh daya membal benturan keras ini Ha m-pingleng-mo tergetar mundur satu langkah baru berdiritegakpula, tubuh Liok Kiam-ping hanya bergontai sekali.
lblis tua itu tahu bahwa tenaga dalamnya kalah dibanding lawan, meski dirinya mengumbar sifat liar dan kejamnya, ternyata tak berani mengadu kekuatan lagi.
Tapi umpama sudah kebacut naik kepunggung harimau, memangnya apa yang bisa dia lakukan kalau tidak bertempur mati-matian, sekilas dia menenangkan pikiran, akhirnva dia bertekad bulat, diam-diam Hian-ping-im-sat dikerahkanpula, dia sudah berkeputusan mengadu jiwa pada gebrak terakhir, dengan Liok Kiam-ping.
Hati Liok Kiam-ping lega bahwa dirinya tetap lebih unggut sedikit, dilihatnya bola mata lawan jelilatan, wajahnya menampilkan rona serius, maka dia tahu saking malu iblis tua ini gusar dan hendak mengamuk.
akan melontarkan serangan jahat yang terakhbir, maka diapun sudah kerahkan Kim-kongput-hoay-sin-kang siap-siaga.
Dalam sekejap tubuh Ha m-ping-leng mo sudah dibungkus oleh kabut putih, kedua telapak tangannya dari merah berobah putih seperti es, mengkilap dan tembus cahaya, ditengah gerungannya, dua jalur as ap putih sebesarpipa ledang timbul dari telapak tangannya melesat dengan kecepatan yang makin kuat.
Lima kaki menjelang mengenai tubuh Liok Kiam-ping, ternyata daya luncurannya makin keras lagi seperti kilat cepatnya.
Untung Liok Kiam-ping sudah siap.
kalau menghadapi serangan mendadak sekeras ini, hendak kerahkan tenaga menangkis juga mungkin terlambat.
Tap itak pernah terbayang olehnya bahwa Ham-ping leng-mo membekal lwekang sehebat ini.
padahal Hian-ping-im sat adalah sejenis ilmu yang sukar diyakinkan dan berbahaya bagi yang meyakinkan, tapi olehnya berhasil dilatihnya hingga mencapai taraf yang setinggi ini, Karena serangan memang teramat hebat, meski sudah mengerahkan ilmu sakti melindungi tubuh, sedikitpun dia tidak berani lena, selturuh perhatian dia curahkan untuk menghbadapi serangan lawan sambil balas menyerang..
Dengan desing suara yang melengking tajam dua jalur arus putih itu meluncur ke depan Liok Kiam-ping namun dalamjarak dua kaki, seperti tertahan oleh dinding baja yang tidak kelihatan, asap yang bulat berputar ituseketika buyar berpencar keempat penjuru, sirna tak berbekas.
Ham-ping-leng-mo tahu Liok Kiam-ping memiliki ilmu sakti pelindung badan, namun dia yakin Hian-pin-im-sat adalah ilmu sesat yang paling ganas didunia ini, apalagi ilmu Sakti pelindUng tubuh bekerja mengandal tenaga latihan yang dipupuk secara kokoh dari dasar permulaan, sedikitpun tidak boleh dipaksakan, apalagi mengingat usia lawan masih muda, apapun takkan kuat menahan damparan serangan sekuat tenaga darinya yang bertubi-tubi.
Diam-diam hatinya lega dan keyakinan makin berkobarpula.
Maju selangkah pula dia kerahkan pula tenaga menambah dua bagian pukulannya.
Maka jalur asap yang semula sebesar pipa ledang kini tambah besar lagi dalam sekejap seiring dengan geraknya maju selangkah, jalur asap itu juga mendesak satu kaki lebih dekat ketubuh lawan.
Liok Kiam-ping sudah tahu iblis tua ini bertekad adu kekuatan dan melontarkan serangan terakhir sebelum tenaga habis, Iekas dia konsentrasikan segala pikiran dan semangat, tenaga dikerahkan pula untuk melandasi pertahanan ilmu saktinya sambil berusaha mencari akal bagaimana mematahkan serancan musuh.
Hian-ping-im-sat sudah dilancarkan menurut kemampuan Ham-ping-leng-mo.
kedua telapak tangannya ganti berganti menggempur, hawa putih yang remang-remang itu bergolak mengurung dua kaki disekitar tubuh Liok Kiam-ping.
Sambil melawan Liok Kiam-ping membatin.
"Adu kekuatan tenaga dalam yang diyakinkan secara gaib seperti ini sedikitpun tidak boleh mengharap keuntungan, tapi Harus betul-betul berdasarkan ketrampilan yang ada, iblis tua ini tidak segan menguras seluruh kesaktiannya ingin adu jiwa dengan aku, berapa lama dia kuat bertahan dalam mengerahkan tenaga simpanannya, akhirnya juga pasti kewalahan sendiri, lebih baik aku bertahan secara ketat saja, bila ada kesempatan baru balas menyerang."
Maka perhatiannya dia tumplek untuk mengembangkan ilmu saktinya.
Satu jam kemudian, tepukan kedua tangan iblis tua ternyata makin kendor sendiri kelihatannya gerak tangannya tidakpernah kendur, tapi setiap harus ganti napas maka pukulannya sudah kelihatan berat.
Setengah jam lagi, bukan saja tepukan kedua tangannya kelihatan berat, malah kelihatan gemetar pula, namun dia tetap kertak gigi menyerang dengan sengit.
Melihat waktunya sudah tiba, senakin tebal keyakinannya, tenaga tetap disalurkan melawan serangan lawan-Beberapa kejap lagi perbawa serangan Hian-ping-im-sat iblis tua itu sudah makin lemah, hawa putih yang bergolak itu juga makin buyar, kecepatannya juga menurun.
Kini tiba lah saatnya Liok Kiam-ping tidak menunda waktu lagi, segera dikerahkan seluruh kekuatannya.
Kim-kong-puthoay-sinkang bekerja maksimal, tiga langkah dia mendesak maju sehingga tekanan hawa putih dari pukulan lawan terdesak mundur dan buyar lebih cepat.
Didesak oleh aksi Liok Kiam-ping yang mendadak ini, Hamping-leng-mo menjadi kelabakan dan mundur pontang panting, sekuat tenaga dia bertahan sehingga kedua kakinya amblas tiga dim kedalam tanah, sekujur badan menggigil, keadaannya sudah amat berbahaya.
Disaat Liok Kiam ping angkat tangan memukul ke arah lawan dengan sekuat tenaga, tampak segumpal angin deras laksana badai menerjang iblis tua.
Padahal Ham-ping leng-mo sudah tidak punya tenaga ak mampu melawan,jelasjiwanya bakal amblas oleh pukulan hebat ini.
Pada saat genting itulah, lambaian pakaian orang terdengar makin dekat, lima bayangan orang meluncur turun dari udara berdirijajar, sepuluh tangan kontan menggempur ke arah Liok Kiam-ping.
Ledakan adupukulan kali ini tidak sedahsyat tadi, namun akibatnya menimbulkan puluhan arus hawa yang semrawut keberbagai penjuru sehingga hawa seperti dipecah belah.
Itulah akibat perlawanan Liok Kiam-ping seorang melawan pukulan lima orang sekaligus.
Memangnya Liok Kiam-ping membenci cara tempur lawan yang main keroyok.
melihat yang datang ini adalah jago-jago kosen Ham-ping-kiong, makin berkobar amarahnya, ditengah serangan dinginnya, dia putar kedua lengan terus menepuk lurus ketengah, yang d linear adalah laki-laki yang berdiri ditengat diantara lima orang yang baru datang.
Saking murka pukulan menggunakan sepenuh tenaga.
Kelima jago kosen Ham-ping-kiong itujuga pandai menilai keampuh an pukulannya, tak berani mereka melawan, serempak berlompatan minggir keempat penjuru sebagai jago kosen sudah tentu gerak-gerik mereka amat tangkas, begitu menyingkir lantas balas memukul pula.
Belum lagi pukulan Liok Kiam-ping dilontarkan sepenuhnya, pukulan lawan dari berbagai jurus itu sudah menerjang tiba pula karuan amarahnya memuncak.
Sambil bersiul rend ah dia jejak kedua kaki sehingga tubuhnya terbang mumbul, Ginkang tingkat tinggi dengan gaya Eng-swa-kiu-coan dari Leng-hipou-hoat dikembangkan tubuhnya terbang laksana seekor garuda berputar diudara.
Dimana dia menggubat kedua tangan dengan gerakan membunder, jurus Liong hwi kiuthianpun dilancarkan seiring dengan tubuh yang menukik kebawah, yang ditubruk adalah salah satu jago kosen Hamping-kiong.
Wi-liong-pit kip merupakan ajaran tunggal warisan jaman kuno, bukan saja sakti dan dijaya, pada jaman ini yakin tiada bandingan.
Bayangan telapak tangan menggugus gunung dari atas mengurung bayangan tubuh jago Ham-ping-kiong itu belum sempat melihat gaya apa serangan yang mendera kearah dirinya.
pundak kiri sudah kena pukulan-"Plak"
Tubuhnya yang tinggi mencelat lerbang setombak tingginya "Bluk"
Terb anting keras diatas tanah, Tulang pundak remuk sudah kesakitan ketambah tubuh terb anting lagi, karuan sakit ditambah sakit.
Keringat dingin gemerobyos.
Lengan kirinya lemas semampai tak bergerak jelas sudah cacat seumur hidup, Memangnya Liok Kiam-ping sudah kebacut murka, sejurus berhasil merobohkan seorang musuh, nafsunya makin berkobar, lawan takkan diberi ampun lagi.
bagai naga mengegos badannya sebat sekali dia menyelinap ke kiri menubruk seorang jago kosen Ham ping kiong lagi.
Empat jago Ham-ping kiong yang lain sudah tentu meningkatkan kewaspadaan begitu Liok-Kiam-ping bergerak, mereka segera melompat menyingkir tiga tombakjauhnya.
Karena tubrukannya luput makin berkobar angkara murka Liok Kiam-ping, dia pikir kalau urusan disini tidak lekas dibereskan, bila bala bantuan Ham-ping-kiong datang lebib banyak, walau tidak perlu takut, tapi akan lebih banyak memeras keringat Ditengah kurungannya, dia salurkan seluruh kekuatannya berputar badan dengan mendadak dia menubruk kearah kanan.
Ling-hi-pou juga ajaran orang sakti jaman dahulu, begitu Liok Kiam-ping kerahkan kekuatannya, maka tubrukannya ilu cepatnya melebihi kilat menyambar, maka jago Ham-ping kiong yang dijadikan sasaran itu menjadi gelagapan karena sebelum sempat dia melompat mundur musuh sudah menubruk tiba seraya menyerang dengan jurus Liong-hwi-kiu-thian.
Sebelum otak jago Ham-ping-kiong ini bekerja, sebelum timbul keinginan melarikan diri.
"Blang"
Tahu-tahu punggungnya sudah kena pukulan telak, tanpa mengeluarkan suara darah kontan menyembur dari mulutnya, tubuhnyapun mencelat terbang setombak jauhnya.
"Bluk"
Kepalanya menumbuk batu hingga pecah beri hamburan, jiwa seketika melayang, Sudah tentu giris tigajago Ham-ping-kiong yang lain, namun melihat kawan sendiri ajal secara konyol meski jeri, tapi sifat setia kawan membaur dendam mereka, apalagi mereka insaf kalau tidak melawan juga akhirnva pasti akan menjadi korban lebih konyol, maka niat melarikan diri semula sudah mereka buang jauh, satu sama lain saling memberi tanda, dari tiga orang ini lantas merubung maju.
Disamping d end am membara merekapun berjuang demi Hidup sendiri maka serangan serempak ini dilancarkan dengan nekad dan lihay.
Hal ini benar-benar diluar dugaan Liok Kiam-ping, karena disergap secara mendadak, dia terdesak mundur dan sementara mengembangkan kelincahan tubuhnya, dengan leluasa masih mampu dia meluputkan diri dari serbuan ketiga lawam.
Tapi ketiga jago Bulim ini memiliki kepandaian tunggal yang tinggi, gabungan serangan mereka yang berbeda, bukan saja kerja sama dengan baik dan serasi, juga ketat dan rapat, terutama kekuatan gabungan mereka amat mengejutkan
Ling-hi-pou dikembangkan, Liok Kiam-ping berlompatan diantara samba ran pukulan ketiga lawannya, kepandaiannya masih cukup berkelebihan melawan keroyokan tiga musuhnya, tapi dalam waktu dekat sukarjuga dia balas menyerang.
Setengah jam lamanya, serangan ketiga orang ini tidak menjadi kendor, tapi malah makin sengit.
Seumpama seorang nekad mengadujiwa, sepuluh orangpun susah melawan, apalagi tiga orang mengeroyok sekaligus.
Liok Kiam-ping menjadi gelisah, pikirnya.
"Bertempur lebih lama, kalau aku tidak lancarkan sergapan lihay, tentu sukar mengalahkan mereka, tapi dalam dua jurus sukar merobohkan sekaligus, waktunya jelas tidak menguntungkan dirinya.
"Dasar otaknya encer, sambil melawan dan menangkis. hatinya merancang cara bagaimana mematahkan serangan musuh. Mendadak dia tertawa panjang, gerak permaianannya berobah, tenaga murni dipusar dikerahkan kedua tangan siap dilontarkan-Dengan landasan kekuatan tenaga dalam sendiri satupersatu dia akan merobohkan lawan-Langkahnya ini memang lebih berat, makan tenaga namun lebih baik dari pada me ngulur waktu. Setelah berketetapan segera dia mempercepat gerakan tubuh, kedua tangan terpentang kekanan kiri.
"Wut, Wut dia memukul mundur dua lawan yang menyergap dari samping menyusul berputar sambil membalik tubuh, dengan kecepatan tinggi kedua tangan memukul maju kedepan. Terdengar seorang mengerang tertahan, tubuh seorang mencelat dua tombakjauhnya, roboh untuk tidak bangun lagi. Barusaja Liok Kiam-ping hendak lancarkanpulajurus mematikan, mendadak hardikan kalap kumandang dan sosok tubuh secepat kilat menerjang dari depan dan belakang. Seperti diketahui lwekang Ham-ping-leng-mo memang amattangguh, walau mengadu pukulan menguras tenaga dengan Liok Kiam ping karena bernafsu melancarkan Hianping-im-sat, tapisetelah memperoleh peluang beriatirahat, lekas sekali kondisinya sudah pulih sebagian besar. Sebagai bangkotan silat yang berpandengan tajam, tahu mengadu kekuatan dirinya takkan bisa menang, untung kelima orangnya menyusul tiba pada waktunya hinggajiwanya selamat. Apalagi melihat anak buahnya satupersatu d ig any a ng oleh pemuda lihay ini, sudah luluh semangat tempur Sambil samadi menyembuhkan luka dalam nya, dia perhatikan perkembangan diarena, bila perlu dia akan bertindak memungut keuntungan-Diluar sadarnya perb uatan liciknya ini sudah diperhatikan juga oleh Ai-pong sut dari samping, sudah tentu orang tidak berpeluk tangan. Setelah Liok Kiam-ping mengembangkan ilmu silatnya meroboh kan lagi tiga jagonya, seketika dingin perasaan iblis tua. Diam-diam membatin. 'Kalau tidak menyingkir sekarang, nanti bisa celaka diriku."
Mendadak dia berputar terus menjejak kaki meluncur balik kearah datangnya tadi.
Melihat gembong iblis ini merat tanpa hiraukan keselamatanjiwa anak buahnya yang menolong nyawanya, gusar Ai-pong-sut bukan kepalang, sambil menghardik dia melompat jauh mengejar.
Liok Kiam-ping melenggong oleh kejadian diiuar dugaan ini.
Kuatir keselamatan Ai-pong sut terancam dibawah tangan Ham-ping-leng-mo, tak sempat melukai musuh segera, dia mengudak dibelakang kedua orang.
Sebagaijago wahid, sudah tentu kejar mengejar berlangsung amat cepat dan seru, kecepatan mereka susah dibayangkan.
Tiga bayangan kelabu yang tidakjelas bentuknya seperti meteor jatuh meluncur dalam arah yang sama.
Liok Kiam-ping sudah kembangkan Ling-hi-pou, lamb at laun baru dia merasa sedikit unggul, namun karena dia bergerak paling akhir, makajaraknya dengan Ham-pinglengmo tetap dua puluhan tombak.
Tapi beberapa kali lompat berjangkit, dia menarikjarak lebih dekat beberapa tombak, kini berjajar dengan Ai-pong sut.
Aipong-sutjuga memiliki Ginkang yang dibanggakan, seumur hidup kapan dia pernah dikalahkan orang, baru sekarang setelah terjadi lomba lari.
baru dia takluk lahir batin.
hatinya tidak habis memuji.
Demikian pula Liok Kiam-ping amat kagum dan memuji dalam hati.
Mereka beradu pandang lalu tersenyum ewa.
Pada saat itulah, bayangan didepan mendadak berkelebat, jejak iblis tua mendadak lenyap dari pandangan mata.
Waktu mereka mengudak tiba ketempat itu, dicari kian kemari, tetap tidak menemukan jejaknya Gunung belukar sunyi senyap tiada bayangan Seorangpun.
Liok Kiam-ping membanting kaki mengeluh gegetun, pada hal dUrjana besar itu sudah dalam cengkraman tangannya, bila tersusul yakin dirinya mampu mengalahkan dia dan membekuknya, sayang dalam sekejap ini musuh berhasil lolos tak karuan parannya.
Aipong-sut juga kertak gigi saking murka, hampir saja dia mencaci maki.
Syukur dia lebih berpengalaman dan tabah, setelah amarahnya reda dia berpikir dengan kepala dingin.
sejenak berpikir, akhirnya dia tertawa katanya.
"Daerah pegunungan yang penuh jurang dan batu cadas begini, pasti ada jalan tembus kelain tempat, iblis tua itu lebih apal daerah ini dan sementara sembunyi di sini. pasti tak bisa larijauh, marilah kami periksa sekali lagi, menurut pendapatku. persoalanterletakpada batu-batu yang semrawut ini, atau ada lorong bawah tanah."
Memangnya Liok Kiamping kehabisan akal, maka dia mulai memeriksa dengan cermat.
Mereka putar balik mulai pencarian dari pinggir jurang sebelah sana.
Batu-batu runcing dalam bentuk yang beraneka ditengah hembusan angin gunung yang kencang.
cukup lama mereka meneliti setiap jengkal tanah disekitar mereka, namun tidak menemukan tanda-tanda apapun.
Mendadak Ai-pong-sut bersuara heran perlahan lalu dirogohnya keluar sebutirpelor besinya, sambil jongkok dia mengetuk tanah dibawah kakinya beberapa kali, Ketukannya ternyata menimbulkan gema hampa didalam bumi, seketika girang hatinya, dia kira dugaannya tidak meleset, maka sambil setengah jongkok tangannya terus bekerja mengetuk tanah hingga kebibir jurang, sampai disini tak bisa maju lebih jauh.
Ai-pong-sot bimbang sejenak.
dia tahu kunci persoalan ini pasti berada ditengah dinding jurang, namun sukar menemukan mulutnya, sekitarnya tiadajalan untuk turun kebawah, cara satu-satunya hanya melompati ngarai pendek mencari jalan keluarnya digunung belakang, waktu dia mendongak dinding gunung yang curam disebrang tegak menembus mega, jangan kata tiada tempat berpijak burungpun sukar hinggap di sana.
Tengah dia menepekur, Liok Kiam-ping sudah berdiri disamping kanan, setelah mendapat penjelasannya, dia menimang-nimang, yakin dirinya mampu bekerja dengan tersenyum dia berkata.
"Tianglo tunggu saja di sini, biar aku mencobanya."
Tanpa menunggujawaban Ai-pong-sut, dia mulai bergaya mengerahkan hawa murni lalu menggember pendek.
ujung kaki menutul tubuhnya segera melejit mumbul setinggi sepuluhan tombak mendadak kedua tangannya menggaris, dua kaki memancal, tubuhnya lantas rebah datar ditengah udara berputar satu lingkar, kakinya sempat menutul dinding gunung dibawah ngarai, sehingga tubuhnya mumbul lagi lebih tinggi.
Terbang berputar ditengah udara, begini Hanya berlandaskan kekuatan tenaga murni dari pusar, tidak boleh mengg na kan tenaga kasar, namun gaya permainannya ini paling juga hanya dipraktekkan sembilan kali puta ran dengan Ling hi-pou sebatas taraf tertinggi.
Untuk naik lebih tinggi lagi jelas tidak mampu.
Dalam lokasi genting seperti ini kecuali Liok Kiam-ping yang punya kemampuan luar biasa begini, siapapun takkan mungkin melesat terbang diudara, orang lain jangan kata mempraktekkan, mencoba pun pasti tidak berani.
Ai-pong sut biasanya teramat bangga dengan Ginkang sendiri, melihat demontrasi Ginkang Liok Kiamping, disamping kagum dia takluk lahir batin.
Sementara itu beruntun Liok Kiam-ping sudah berputar sembilan kali, dikala tubuhnya sudah hampir melampaui ngarai curam itu, disaat tenaga murninya sudah hampir habis, kedua lengannya menggaris sambil menekuk ping gang hingga tubuhnya berputar arah dan hinggap dengan ringan dibibir jurang, bila dia menunduk melihat betapa dalam jurang dibawahnya, tanpa merasa mengkirik bulu kuduknya.
Waktu dia membalik kedalan memandang kearah ngarai sebelah sana, hatinya diam-diam bimbang.
"Daerah ini merupakan hutan belantara. mustahil dapat menemukan sebuah rahasia dibawah tanah. Kalau bertolak balik rasanya penasaran, dendamperguruan dua puluh tahun kapan baru akan terbatas."
Urusan sudah terlanjur sejauh ini, apapun harus mencobanya.
Segera menjejak kaki tubuhnya meluncur bagaipanah kearah hutan dibawah bukit sana, kakinya menutul enteng diantara dahan-dahan pohon, gerakan tubuhnya indah dan cepat.
Hanya beberapa kali lompatan dia sudah berada ditengah hutan belantara.
Selayang mata memandang, la utan pohon menghijau ini tak berujung pangkal, padahal sekelilingnya sepi lengang.
Yang terdengar hanya deru angin lalu saja.
Liok Kiam ping menerawang sejenak.
dia bertekad tanpa masuksarang mana mampu menangkap anak harimau, maka dia berkeputusan untuk menjelajah setiappelosok hutan ini, ingin dia tahu kemana iblis tua itu menyembunyikan diri.
Menyusuri kaki gunung dia terus mencari ke arah barat, dengan dia meneliti keadaan daerah yang dilalui, namun tiada sesuatu apapun yang ditemukan.
Tiba di ujung barat dia membelok arah keselatan, allu membelok pula menuju ke tengah hutan-sekonyong-konyong suara keresekan yang perlahan berkumandang dari dalam hutan di sebelah bawah.
Lwekang Liok Kiam ping tinggi, mata kupingnya tajam, daon terbang dalam jarak sepuluh tombakpun disa didengarnya dengan jelas, maka suara keresekan dalam hutan di dengarnya dengan diam-diam dia tersenyum lega.
Maju belum ada sepuluh tombak.
mendadak desing suara ramai dalam arena lima tombak melaju kearah dirinya, ratusan batang anak panah melesat ke atas dari dalam hutan-Untung sejaktadi dia sudah meningkatkan kewaspadaan, kaki menutul pucuk pohon, tubuhnya terapung di udara.
Kedua lengan bajuna menari kencang, hujanpanah itu berhasil dirontokkan berhamburan.
Hujanpanah ternyata cukup keras dan kerap.
gelombang demi gelombang sampai sepuluh kali.
Bukan saja keras dan bidikannya rapat dan banyakjumlahnya.
Padahal Liok Kiamping terapung di udara, menghadapi brondongan panah ini, mau tidak mau dia melengak heran juga.
Untung dia berkepandaian tinggi, nyalinya besar, tenang dan tabah, sedikit kerahkan tenaga tubuhnya agak merandek, kaki kanan menjejak kaki kiri, maka tubuhnya melambung lebih tinggi tiga tombak.
Bidikan panah yang lebat dan banyak itu menyambar dari bawah kakinya Dibrondong panah sebanyak itu, gusar Kiam-ping bukan kepalang, ditengah udara dia menekuk pinggang hingga tubuhnya berputar arah serta membalik setengah lingkar, dengan gaya indah tubuhnya melayang tujuh tombak kepinggir.
Tak nyana baru saja kakinya menutul pucuk pohon, brondongan anakpanah yang deras dan lebat menyerbu dirinyapula.
Hakikatnya musuh tidak memberi kesempatan dia ganti napas.
Karuan Liok Kiam-ping murka sekali, meski tahu dirinya sudah terkepung musuh, namun apa boleh buat, sambil bersiulpanjang tubuhnya melejit mumbul pula, secepat kilat tubuhnya melayang delapan tombak.
Kali ini dia tidak berani ayal, ditengah udara dia berputar tubuh sehingga tubuhnya melesat keluar lingkaran yang dapat dicapai bidikan panah.
Sebagai orang pintar, sudah tentu dia tidak mau dijadikan sasaran bidikan panah melulu, sekilas hatinya berpikir, dia bertekad untuk membekuk pimpinan barisan pemanah lebih dulu, mumpung tubuhnya melorot turun mendadak dia kerahkan tenaga, tubuhnya yang menukikturun mengincar bagian pohon yang tidak begitu lebat dahannya menerobos kebawah.
Aksi Liok Kiam-ping ini agaknya diluar dugaan musuh, bayangan orang segera berpencar melarikan diri.
Liok Kiam ping sudah incar beberapa lalu melontarkan pukulannya, jeritan dan jeritan menyayat hati, beberapa orang roboh binasa oleh pukulan jarakjauhnya.
Baru saja Kiam-ping hendak mengudak kearah lain, mendadak dari empat penjuru di dengarnya suara ledakan keras, menyusul asap dan jago merah tampak menyala besar membumbung keangkasa.
Ditengah kepulan asap tebal dan berkobarnya sijago merah beruntun terdengar pula beberapa kali ledakan, bunyi kayu dijilat api menjadikan suasana amat ribut dan gaduh.
Liok Kiam-ping tahu gejala tidak menguntung kan, lekas dia melompat naik kepucuk pohon-Selayang pandang, betapapun tinggi Kungfunya melihat apa yang terjadi, seketika mengkirik hatinya, seketika dia menjublek tak bergerak.
Ternyata empat penjuru hutan disekitar dirinya tengah ditelan sijago merah, angin menghembus kencang lagi, sehingga amukan sijago merah makin besar dan merambat cepat ketengah.
Ditengah kepulan asap tebal tercium bau belirang dan minyak bakar, tak heran api menjalar begitu cepat.
Menyaksiltan keadaan ini Liok Kiamping yakin dalam waktu satu jam hutan belantara ini pasti Habis terbakar, Mengejar hidup sudah menjadi kodrat setiap manusia., apalagi pemuda sepandai Liok Kiam-ping, sudah tentu dia tidak berpeluk tangan menunggu ajal..
Syukur dalam setiap keadaan gawat Liok Kiam-ping selalu dapat menggunakan otaknya dengan dingin, sekilas menerawang keadaan, seketika tersimpul senyuman lega di wajahnya.
Mendadak dia mencabut Liat-jit-kiam, sekali lompat dia terus berlari terbang kearah utara.
Beberapa kali lompatan dia sudah tinggal lima tombak dari daerah kebakaran.
Sigap sekali Liat-jit-kiam ditarikan, dahan-dahan pohon dibabatnya runtuh, robohnya pohon-pohon raksasa itu menimbulkan suara gemuruh ditengah kobaran api.
Entah berapa banyak pohonpohon raksasa itu berhasil di robohkan Liat-jit-kiam, dia sarungkanpula, dengan tenaga raksasanya, dahan-dahan pohon itu dia lempar ketengah kobaran api.
Dengan sendirinya daerah di mana pohon dibabatnya roboh menjadi tanah lapang seluas beberapa bau, maka jago merah yang mengamuk melalap pepohonan berhenti diluar kalangan lapang an-Akan tetapi asapnya yang tebal cukup membikin Liok Kiam-ping sesak napas dan kepanasan lagi.
Lekas Liok Kiam-ping duduk bersimpuh ditengah tanah kosong itu, dia mulai kerahkan Kim-kong-put-hoay sin-kang, tiga kaki disekeliling tubuhnya hawa panas dan asap tebal itu tersibak mundur, seperti tertahan oleh dinding baja yang tidak kelihatan-Suara gemuruh lambat laun menjadi reda dan akhirnya berhenti, hanya kepulan asap saja yang masih kelihatan-Sang waktu terus berjalan, tanpa terasa hari sudah terang tanah.
Waktu Liok Kiam-ping bukamata, baru dia sadar fajar telah menyingsing, berarti semalam suntuk dia terkepung ditengah kobaran api, betapun tangguh Lwekangnya, tak urung dia merasa kelelahan juga, semula dia berniat samadi memulihkan tenaga, namun dia kuatirkan keselamatan Ai-pong-sut Thong Cau, mungkin orang menunggu dengan gelisah, mungkinjuga mengalami kesulitan, namun dia juga tahu dirinya masih berada di daerah berbahaya, lena sedikitpun tidak boleh.
Setelah dia menyelesaikan latihan pernapasan, terasa semangatnya sudah pulih, baru saja dia menggerakan langkah hendak berlalu.
Mendadak diluar hutan didengarnya langkah orang yang ramai, makin lama makin keras seperti menuju ketempat Liok Kiam-ping.
Didengarnya seorang bicara dengan serak seperti bunyi gembreng.
"Entah kenapa cong-tangkeh seperti makin penakut, dalam lautan api sebesar ini, besi baja juga lumer, umpama keparat itu memiliki kepandaian setinggi langitjuga takkan kuat menahan kobaran api, coba lih at pohon sudah hangus, batupun menjadi bubuk.jangan kata manusia binatang buas sampai semut sekalipun tiada yang bisa selamat, kenapa kita disuruh meriksa kemari kukira bocah itu tinggal abu tulangnya saja, apakah tidak sia-sia perjalanan kami.' seorang laki bicara dengan nada runcing. 'Kenyataan mungkin demikian, tapi Kungfu bocah yang satu ini memang luar biasa. berapa kali terjebak dalam keadaan yang tidak mungkin hid up, tapi kenyataan dia masih segar bugar sampai sekarang. Berapa jago kita yang gugur ditangannya. Bahwa Tangkeh suruh kami ke mari pasti punya alasannya, sebagai pelaksana perintah, kukira kita perlu bertindak hati-hati' Keduanya lantas diam cukup lama, hanya langkah suara mereka yang terdengar makin dekat. Suara gembreng serak itu kembali memecah kesunyian-"Sungguh sial, sudah susah payah semalam suntuk, kami masih disuruh memeriksa daerah seperti ini. Eh, Coanghuhoat, bukankah mereka sudah berangkat.' Suara runcing menjawab.
"Soal itu aku sendiri kurang jelas. Cong-tangkeh suruh kami memeriksa daerah ini, lalu langsung kembali kemarkas cabang di Kang pak untuk bergabung dengan pasukan ind uk."
Agaknya orang bersuara serak itu berangasan, katanya uring-uringan.
'Sontoloyo, kiranya mereka sudah sekongkol lebih dulu.
celaka, kami yang disuruh bekerja berat, kami memang harus waspada, kecuali bocah itu, orang tua kate itujuga tidak gampang dilayani.' Suara runcing berkata.
"Kukira tidakjadi soal, kakek kate itu masih mampu kami berdua membereskan dia. Hari sudah terang tanah, lekas kita periksa ala kadarnya, aku kuatir kita terlambat, menyusul mereka"
Langkah berat itu makin dekat tinggal lima tombak dari persembunyian Liok Kiam-ping.
Waktu dia melongok keluar tampak kedua orang ini sudah berusia tujuh puluhan, keduanya berpakaian serba hitam, yang disebelah kiri bertubuh tinggi.
tulang pipinya menonjol tinggi kedua matanya cekung.
bibir nya tipis.
jelas dia seorang culas yang banyak akalnya.
Yang sebelah kanan bertubuh lebih gemuk.
perawakannya juga tinggi, mukanya bundar, alisnya putih pendek.
matanya besar dari gaya jalannya yang kasar kelihatan dia bewatak berangasan., Sebat sekali Liok Kiam-ping menyelinap kebelakang batu besar.
Kedua orang itu tanpa sadar gerak geriknya diintip orang, mereka masih terus maju dengan langkah lebar.
Suasana memang hening, mimpipun mereka tidak menyangka bahwa korban yang mereka cari ternyata sedang mengintip mereka.
Begitu kedua orang itu melewati batu besar, bagai setan gentayangan Liok Kiam-ping melompat keluar dari batu besar merunduk tanpa suara kebelakang mereka, berbareng kedua lengan berputar lalu disodokkan kedepan-Dengan jurus Liongkiap-sin-gan kedua tangannya menepuk punggung musuh.
Sergapan dilontarkan disaat musuh tidak siaga, mendengar angin pukulan kedua orang itu tak sempat membalik atau menangkis, terpaksa mereka melompat berpencar ke kanan kiri.
Tapi menghadapi Wi-liong ciang yang digdaya, walau cepat mereka berkelit, tak urung pundak mereka keserempetjuga oleh angin pukulan-"Plak, Plok"
Tampak kedua orang itu tersuruk tiga langkah, sakitnya bukan main-Mereka kaget dan tersirap darahnya karena insyaf pembokong memiliki kungfu tinggi, mereka punya maksud sama ingin tahu siapa pembokong nya, serempak keduanya membalik badan serta melotot gusar.
Tapi seketika mereka menjublek.
awah seperti copot dari badan kasar mereka, jantung berdebar keras, dalam hati mereka membatin.
"Mustahil bocah ini masih hidup setelah ditelan lautan api. Memangnya dimana dia menyembunyikan diri ? Kecuali masuk kedalam tanah..."
Liok Kiam-ping mendengus sambil maju mendesak. katanya serius.
"Tempat apakah ini ? Kemana Hamping leng-mo? Bicaralah terus terang, jiwa kalian akan kuampuni."
Mendengar suara Liok Kiam-ping baru kedua orang itu tersentak sadar dari lamunanannya yang bersuara runcing tertawa dipaksakan, katanya.
"Kami Hanya menjalankan perintah dan baru saja tiba ditempat ini. Ke mana cong tangkeh pergi mana kami tahu, kalau Siauhiap mendesak ingin tahu, kami berdua tak boleh berpeluk tangan."
Bicaranya kalem, tapi nadanya ketus.
"Tadi kudengar kalian baru berpisah dengan iblis tua itu, kenapa begitu Cepat menjadi lupa ? Tempat apa yang dimaksud dengan "didepan"
Dalam pembicaraan kalian tadi? Ada tujuan apa pula harus ke sana ? Kuharap kalian bicara terus terang daripada awak sendiri kesiksa, kalian akan menderita percuma."
Laki-laki tua agak gemuk itu sudah tak sabar lagi, dengan alls tegak dia bersuara dengan suara serak.
"Buat apa Cerewet saja, memangnya dengan tenaga kami berdua tidak mampu membereskan keparat ini."
"Kalian tidak mau mendengar nasehatku baiklah boleh maju bersama. Menyingkat waktu dan menghemat tenaga."
Ujar Liok Kiam-ping tertawa.
Laki-laki tua bersuara runcing tahu gelagat tidak menguntungkan pihaknya, diam-diam dia memberi kedipan mata kepada kawannya, otaknya bekerja mencari akal, sementara kedua orang ini berdiri menjublek kahabisan akal.
Liok Kiam-ping berseru kereng.
'Sudah takut kalian?
Lekas mengaku terus terang saja, kalau hilang sabarku, kalian akan merasakan kelihayanku."
Tanpa pedulikan sikap temannya, suara serak itu berkata.
"Bocah keparat ingin mampus, lihat serangan."
Kedua tangannya memukul dengan tenaga dahsyat kearah Liok Kiam-ping.
Sudah tentu langkahnya ini membuat gugup dan kuatir laki-laki suara runcing, karena kepepet terpaksa dia harus mengiringi serangan kawannya.
Mendadak dia ikut menyergap dari kiri.
Kedua rangannya menggapai lalu menggulung keluar dengan dorongan dahsyat, perbawa pukulannya jelas tidak lebih asor dari serangan temannya.
Liok Kiam-ping menyeringai dingin, Ling hipou dikembangkan, sekali berkelebat dia menyingkir tiga tombakjauhnya.
Katanya tertawa.
"Biar cayhe mengalah tiga jurus, tiga jurus kemudian kalian harus waspada."
Sudah tentu kedua lawannya gnsar karena dlolok-olok.
terutama laki laki agak gemuk itu, saking gemas giginya sampai berkerutukan-Begitu sejurus serangannya luput, tanpa bicara dia menubruk maju sambil melontarkan pukulan dengan kedua tangan-Demikianpula temannya mendesak maju sambil memukul sejurus dari kanan.
orang ini ebih Cermat dan pandai mengunakan otaknya, tahu bahwa pukulannya takkan mengenai sasaran, maka dia tidak mengerahkan tenaga sepenuhnya.
Liok Kiam-ping memang berkelit dengan Ling-hipou.
Tapi disaat badannya berkelebat itulah segulung tenaga tahu-tahu menguntit gerakannya menerjang dari belakang.
sebat sekali dia kerahkan tenaga diujung kaki mengembangkan gerakan lihay dari Ling-hi-pou beruntun dia ganti tiga posisi langkah sambil berputar dan berhasil menyelamatkan diri.
Karena takabur hampir saja dia kecundang oleh bokongan musuh, karuan berkobar amarahnya engeknya dingin.
"Masih ada sejurus lekas turun tangan-cayhe tidak bisa menunggu lama."
Kedua jago Ham-ping-kiong itu berdiri menjublek, sekilas mereka beradu pandang serempak menghardik keras terus menubruk dari kanan kiri, empat telapak tangan memukul dengan kekuatan dahsyat menerjang kearah Liok Kiamping.
Kali ini mereka mengerahkan dua belas bagian kekuatan, maklum kalau pukulan mereka dahsyat luar biasa.
Liok Kiam-ping tetap gunakan Ling-hi-pou, dengan gaya santai dia melayang pergi luput darijangkauanpukulan lawan, sekali berkelebat pula dia menyelinap diantara bayangaii kedua musuhnya.
Tujuannya membekuk mereka hidup-hidup maka dia tidak ingin melukai lawan, kalau mau sejak tadi kedua orang ini sudah dihantamnya mampus.
G-ak tubuhnya enteng dan lincah berlompatan kian kemari, kedua jago Ham-ping kiong diajak mainpetak meski sudah kerahkan seluruh tenaga dan kembangkan kemampuan, ujung baju lawan ternyata tidak mampu disentuhnya.
Duapuluhjurus kemudian, kedua jago Ham-ping-kiong itu makin ciut nyalinya, gerak kaki tangan makin lambat, melihat saatnya sudah tiba Liok Kiam-ping tidak mau membuang waktu, sekali berkelebat dia menyelinap ke belakang lakl-laki gemuk.
dengan ujung jari dia menutuk darijarakjauh.
Laki laki gemuk mengerang tertahan.
"Bluk"
Tubuhnya roboh mencium tanah.
Karuan pecah nyali orang tua itu, lekas dia putar tubuh hendak lari.
Sudah tentu Liok Kiam-ping tidak tinggal diam, kaki menjejak segera dia melejit jauh, baru saja langkah pertama orang itu bergerak, Hiat-to dipunggungnya sudah tertutuk oleh Kiamping, seketikamata gelap tubuhpun tersungkur jatuh.
Kiam-ping tahu kalau ingin tahu seluk-belukpersoalannya harus dikompes dari keterangan orang tua ini.
Maka tanpa ayal dia memburu maju serta membuka Hiat-tonya, dengan mengancam Bing bun hiatnya dia berkata kereng.
'Kau juga orang ternama dalam Bulim, kenapa tidak tahu diri.
Kuharap kau suka bicara terus terang, kalau membandel biar nanti kau rasakan Siu im cek-meh."
"Semula tersirap darah orang tua ini mendengar Siu-im-cek meh, namun melihat usia orang masih begini muda, padahal Siu im-cek meh, adalah ilmu tutuk ajaran tokoh silat lihay seratus tahun yang lampau, konon sudah putus turunan, bocah ini tak mungkin memiliki ilmu keji ini, mengira orang hanya menggertak maka dia hanya mendengus hidung lalupejam mata tak mau bicara.
Liok Kiam-ping mengulang pertanyaannya dua kali, orang tetap diam tak peduli, karuan amarahnya berkobar, Dua jarinya segera bekerja kilat menutuk belasan Hia-to ditubuh orang terpaksa dia gamplok orang pantat orang lebih keras, dia berdiri santai mundur beberapa langkah menanti reaksi tutukannya.
Semula orang tua itu masih tidak merasa apa-apa setelah beberapa Hiat-tonya tertutuk.
beg itu melihat Liong Kiam-ping mundur agakjauh, merasa ada kesempatan, mendadak dia kerahkan tenaga hendak melompat berdiri.
celaka karena dia mengerahkan tenaga, mendadak darah dalam tubuhnya bertolak belakang sekujur badan sakit linu dan pegal seperti diiris-iris, denyut nadinya keras, darah yang mengalir seperti barisan semut yang ribuan.
Bukan saja sakit, tapi juga gatal, lebih celaka lagi tubuh lemas tenaga tak mampu di kerahkan, keringat berketesketes, namun dia masih kertak gigi sambil bergulingan.
Liok Kiamping tersenyum saja sambil mengawasi dengan sadis, kini korbannya mulai mengejang dan kelejetan, mulutnya megapmegap.
ternyata sukar bicara, beberapa kejap lagi, keduamatanya mendelik, kepala mengangguk kearah Liok Kiam-ping, mulutnya yang megap megap mulai berdarah, namun kini bisa bersuara tergagap.
"To... long... buka .. dulu Hiat... to... ku aku... mau... bicara"
Kuatir orang hanya bermain sandiwara dan berpura-pura, usahanya bukan mustahil bisa gagal, maka dia tutuk dulu Hiat-to pelemas tubuhnya, baru jarinya menutuk pula beruntun membuka siu-im-cek-tek.
Mungkin tutukan yang mengakibatkan aliran darah bertolak belakang ini teramat berat dan menderita, bila berlangsung sedikit lama, tenaga sikorban akan terkuras terlalu besar maka beg itu tutukan dibebaskan, orang tua itu menjadi lunglai dan jatuh semaput malah.
cukup lama kemudian baru siuman sambil merintih-rintih begitu membukamata dia berusaha berduduk.
namun kaki tangan masih lemah tak mampu merangkak.
tahu Hiat-to pelemasnya juga dikuasai lawan, maka dia menghela napas panjang, katanya.
"Sayang setua ini kungfuku bukan tandiganmu, setelah jatuh ditanganmu yah aku pasrah nasib saja. Kau ingin tanya apa?"
Liok Kiam-ping bicara dengan serius.
"Untuk membalas sakit hati cayhe harus melanglang buana, segala Cara kuhalalkan, setiap langkahku penuh bahaya, terpaksa aku harus bertindak secara tegas, jadi bukan sengaja aku mau menghina atau menyiksamu. Kau bertugas ditempat ini? Ham-ping-leng-mo memancing cayhe kemari' Dimana dia menyembunyikan diri? Muslihat apa yang telah dirancangnya?' Setelah menghela napas, orang tua itu berkata.
"Tempat ini di namakan Eng-jiu-gay, merupakan salah satu markas Cabang Ha mping-kiong. Sejak berhasil meyakinkan Hianping-im-sat Ham-ping Lojin bertekad untuk membekuk dan mengalahkan Siauhiap. Maka beliau sengaja memancing kau kemari. Dibawah sini ada jalan rahasia dibawah tanah yang menembus kengarai buntung dibalik gunung sana. Ham-ping Lojin sekarang sudah masuk kota mengerahkan tenaga meluruk keselatan-Kemana tujuannya dan apa rencananya, cayhe tidak jelas, kemungkinan akan bergabung dengan lima perg uruan besar hendak mengeroyok dirimu." -Bahwa persoalan menyangkut pula kelima pergururuan besar. membuat Liok Kiam-ping bimbang dan curiga, katanya dengan menegakkan alisnya.
"Nanti dulu, lima perguruan besar tiada permusuhan dengan kita, kenapa bergabung hendak mengeroyok aku ? Apakah dibalik persoalan ini ada muslihat keji orang lain ?' 'Lohu hanya tahu kulitnya saja, duduk persoalan yang sebenarnya aku tidak jelas."
Sahut orang tua itu.
"Ham-ping Lojin mengerahkan seluruh kekuatannya ke selatan, apakah hendak menyerbu dan menduduki markas besar Honglui-pang kita ? "
"Apa yang kuketahui sudah kupaparkan secara jelas, terserah bagaimana Siauhiap akan bertindak."
"Kalau demikian, baiklah, kau boleh pergi"
Lalu dia buka Hiat-to pelemas orang tua terus melangkah pergi ke ngarai di belakang gunung.
Sekali lagi Liok Kiam-ping telah bertindak gegabah dan lalai, karena hanya ingin menepati janji tidak membunuh orang tua ini Hampir saja dia mati dan terjebak oleh muslihatnya.
Lekas sekali dia sudah menemukan mulut gua yang lebarnya cukup untuk masuk satu orang, karena tetumbuhan disekitar mulut gua sudah terbakar hang us, maka keadaan dalam gua terlih at jelas, menguatirkan keselamatan Aipongsut, tanpa ragu sedikitpun Liok Kiamping lantas menyusup kedalam gua.
Dalam gua, lembab dingin dan gelap.
bau gosong masih merangsang hidung.
Untung Lwekang Liok Kiam-ping tinggi, mata kuping tajam luar biasa, mesti ditempat gelap matanya bisa melihat jelas seperti ditempat terang, Kungf u tinggi nyali besar, dengan langkah lebar dia menyelusuri goa panjang itu.
Melihat Liok Kiamping masuk kedalam gua, orang tua itu seketika unjuk senyum sadis, perlahan dia berdiri, lalu membuka tutukan hiat-to orang tua gemuk.
setelah bisik-bisik, kedua orang ini menguntit jejak Kiam-ping.
Panjang gua ini setengah li, jalan satu-satunya yang menembus ke ngarai buntung, di ujung kedua mulut gua dipasangi pintu rahasia yang dikendalikan dengan alat rahasia.
Setelah mengundurkan diri dari gua panjang ini, Ham-pingleng-mo sudah menyumbat mulut guanya.
Sementara alat rahasia disebelah sini rusak karena terjadinya kebakaran, yang ada hanyalah gua kosong serba gelap dan hangus.
Hal ini tidak diketahui oleh Liok Kiamping, dia tetap berjalan cepat kuatir ketinggalan, kedua kakek kurus gemuk antek Ham ping Lomo terus menguntit, menjelang sampai dimulut gua mereka saling bisik lagi.
Dari dalam bajunya kakek kurus tua itu mengeluarkan Pi-lik-ling hwe-tam (granat geledek berapi) sisa dari granat yang sedianya membumi Hangus kan seluruh hutan belantara ini terus dilempar kedalam gua.
"Blaam."
"ledakan keras dan gemuruh menggoncangkan bumi, tanah dan batu diatap gua runtuh sedahsyat gugur gunung. Waktu Liok Kiamping memburu balik dan tiba di tempat kejadian, mulut gua sudah tersumbat dan buntu, setitik sinarpun tidak kelihatan-Walau Lwekangnya luar biasa tinggi, pengalaman tempur juga amat luas, kini dia betul-betul mati kutu dan menjublek ditempatnya. Jalan mundur sudah buntu, harapan untuk keluar hanya maju terus pantang mundur. Setiba dimulut gua bagian ngarai buntung, Kiam-ping coba dorong daonpintu, ternyata bergemingpun tidak. karuan hatinya gelisah. Menyesal kenapa bertindak secara ceroboh, mau mundur sudah buntu, betapapun tangguh Lwekang dan gagah perwira dirinya, kalau lama terkurung disini juga akhirnya mati kelaparan-Tapi Liok Kiam-ping pemud a yang cerdik panda i, tidak kenal putus asa, pikirnya.. Pintu sebesar dan seberat ini, untuk buka tutup pasti dikendalikan dengan alat rahasia. Kalau ada tombol untuk membuka pasti berada didalam gua ini, dengan ketekunan dan kesabaran pasti dapat kutemukan."
Semangatnya berkobar, dengan penuh perhatian dia lantas mencari dan mencari.
Walau gua ini gelap gulita, tapi bukan jadi soal bagi Liok Kiam-ping yang dapat melihat ditempat gelap.
akhirnya ditemukanj uga dua kuntum kembang hiasan teratai yang bagian bawahnya ada garan pegangan yang bergantung di atas dandang sebelah kanan.
Liok Kiam-ping coba menekan kembang teratai besi itu, rasanya seperti terpalu di atas dinding, diputar dan dipelintir sekuat tenaga juga tidak bergeming, Tapi kembang teratai kedua ternyata bisa dia gerakan dan diputar beberapa kali lingkaran, namun akhirnya berhenti dan mati tak mau bergerak pula.
Terpaksa Liok Kiam-ping memutar pula kearah terbalik.
Diluar dugaan dibalik dinding terdengar suara gemuruh seperti ada roda raksasa bergerak.
seiring dengan gemuruhnya suara itu daon pintu gua yang besardan berat itu bergerak mundur, kekanan kiri.
Girang Liok Kiam-ping bukan main, segera dia tambah tenaga serta menariknya lebih keras, maka daonpintu bergerak lebih cepat dan amblas kedalam dinding gunung.
Ternyata hari sudah terang tanah, sinar pagi menyilau mata, berdiri diatas ngarai buntung Liok Kiam-ping memicing mata, lalu menarik napas panjang.
-ooo0dw0oooo-Dua ekor kuda tengah dilarikan kencang dari arah kota Tong-koan kearah selatan yang menuju ke Ling po, mereka adalah seorang pemuda gagah cakap dan seorang laki-laki tua tambun berusia delapanpuluhantahun.
Seperti diburu tugas penting layaknya mereka membedal kuda dengan sikap gelisah dan kuatir.
Pembaca tentu sudah meraba, tua dan muda penunggang kuda ini bukan lain adalah Liok Kiam-ping dan Aipong-sut Thong cau.
Setelah tahu Ham-ping Lomo dengan para begundalnya meluruk keselatan hendak menyerbu markas pusat Hong-lui-pang mereka, kedua orang ini lupa makan dan tidur, selama beberapa hari ini menempuh perjalanan pulang ke KuHun-ceng.
Untuk menghemat waktu, mereka lewatjalan peg unung an yang lebih dekat.
Setelah singgah di kota Lam-Jiang, mereka meneruskan ke timur Jik-nam, menjelang magrib hari ketiga baru mereka memasuki kota Hap-pui di Propinsi An-hwi.
Bukan saja mereka sudahpenat danpayah, kuda sudah ganti berulang kali juga kepayahan pula.
Terpaksa malam ini mereka harus menginap di Thay-an-khekscin di kota Hap-pui.
Hap-pui adalah kota penghasil beras, perdagangan di kota ini amat makmur, waktu itu magrib telah tiba, penduduk mulai pasang lampu, pejalan kaki makin ramai dijalan raya, makin gelap keadaan makin ramai.
Setelah members ihkan badan mereka keluar kamar mencari makan-Keramaian yang meliputi seluruh kota tidak menjadi perhatian mereka.
Mereka berjalan kebarat sambil celingukan, didepan rumah makan cui-bingkek mereka berhenti, baru saja hendak melangkah masuk, sekilas ujung mata Ai-pong-sut menangkap gerakan seorang yang mencurigakan lenyap ditengah orang banyak.
Terasa oleh Aipong-sut bayangan orang seperti sudah dikenalnya, namun sukar teringat dimana dan kapan dia pernah kenal orang tadi, namun hal ini tidak masuk dalam perhatiannya, hal ini juga tidak diberitahUkan kepada Liok Kiam-ping, sambil tertawatawa mereka beranjak masuk naik keloteng serta mencari duduk yang dekat jendela.
Beberapa hari menempuh perjalanan, perut betul-betul sudah ketagihan, mumpung ada kesempatan maka mereka pesan menu kesukaan mereka dan makan minum sepuasnya.
Mereka makan tanpa banyak bicarajuga tidak peduli orangorang sekelilingnya.
Padahal perhatian Liok Kiam-ping tidak pernah lepas terhadap seorang pemuda berpakaian ringkas yang duduk dimeja dekat undakan loteng sebelah kiri, memakai topi beludru lebar seperti topi yang biasa dikenakan penunggang kuda dipadang rumput, waktu makan topi ditariknya turun hingga menutupi wajah, matanya juga sering melirik kearah Liok Kiamping, gerak geriknya seperti takut dipergoki orang.
Pengalaman Liok Kiam-ping sebetulnya belum cukup matang, namun melihat sikap pemuda ini, dalam hati diasudah merasa ada sesuatu yang patut dicurigai, maka sering dia meliriknya.
Betul juga secara diam-diam pemuda itu menggerakan kedua tangannya dengan suatu gaya aneh sebagai pertanda rahasia dari anggota Hong-luipang mereka bila berhadapan dengan sang Pangcu, lalu dia berdiri membayar rekening dan turun ke bawah.
Dari gerak gerik pemuda tadi Liok Kiam-ping memperoleh firasat bahwa Hong-lui-pang mereka agaknya memang sedang mengalami ketegangan, bahaya sedang mengancam jiwa mereka, kalau tidak tak mungkin mereka bertindak begitu rahasia dan hati-hati.
Maka dia berbisik kepada Ai-pong.sut, kejap lain merekapun sudah berada dibawah loteng.
Begitu berdiri diambang pintu, Liok Kiam-ping bermata tajam, dia melihat tanda rahasia Hong lui-pang yang memberi petunjuk supaya menuju kearah timur.
Maka Liok Kiam-ping berdua terus berjalan menu menuju ke arah yang ditunjuk, lekas sekali satu li sudah mereka capai, kini mereka berada didepan sebuah hutan jauh diluar kota.
Baru saja Liok Kiam-ping hendak menyelinap kedalam hutan, mendadak terdengar suara bentakan dari beberapa orang yang lagi bertarung.
Bergegas Kiam-ping berdua memburu kedalam.
Tampak anggota Hong-luipang yang tadi makan minum direstoran tadi sedang dikeroyok oleh tiga orang persilatan, topi besar pemuda tadi sudah terlempar ditanah, ditengah samberan pukulan tiga pengeroyoknya, pemuda itu sudah pontang panting, napas memburu.
keringat gemerobyos, langkahnya enteng dan sempoyongan, jelas beberapa kejap lagi pasti tak kuat bertanan lagi.
Kiam-ping dan Ai-pong-sut amat benci main keroyok.
hampir meledak dada mereka saking gusar, si tua berangasan Ai-pong-sut segera membentak.
"Anggota Hong-luipang jangan kaget dan takut, serahkan ketiga kurcaci ini kepadaku."
Sebat sekali dia menyelinap terjun ke arena pertempuran, Dimana kedua tangannya terkembang, 'Plak, Plok"
Dua kali pukulan disertaijerit kesakitan, dua diantara lakl-laki pengeroyok itu sudah terpukul terbang tiga tombak jauhnya.
Sisanya yang satu lagi menyurut mundur, usianya sekitar empatpuluh tahun tapi Thay-yang-hiatnya menonjol tinggi, sorot matanya juga bercahaya.
jelas seorang jago Lwekang, dari sikap dan permainannya tadi kelihatan bahwa dia dari golongan lurus.
Dengan tersenyum Ai-pong-sut Thong cau berkata.
"Kalian bertiga bukan kaum kroco, menghadapi seorang pemuda juga tak kenal aturan Bulim, apa kalian tidak takut ditertawakan orang."
Dua laki-laki yang terpukul jatuh sudah berdiri dan merubung maju lagi seorang yang berusia paling tua menjengek, katanya.
"Kalian tentu anggota Hong luipang juga menghadapi manusia macam kalian, kenapa harus mematuhi aturan Kangouw segala?"
Ai-pong-sut makin keheranan, namun sebagai jago kawakan Kangouw otaknya lebih bisa berpikir, katanya tetap sabar 'Sahabat, membunuh orang memang mudah bagi kalian, api mata kalian tidak buta, otak juga berpikirjernih, tentu kalian sadar, apa yang kalian lakukan-Lohu baru pulang dari perjalanan jauh, keadaan Hong-lui-pang kita belum kuketahui, apakah kalian sudi memberi keterangan?"
Seorang laki tertawa gelak-gelak. katanya.
"Kalau takut diketahui orang, lebih baik tidak berbuat. Hong lui-pang bertindak secara keji, perbuatan kalian sudah menimbulkan amarah masal, seluruh kaum persilatan siapa tidak ingin mengganyang kalian, umpama tumbuh sayap juga kalian takkan bisa lolos."
"Kenapa kau berkata demikian' Ai-pong-sut bertanya keheranan "Aku menjalankan tugas. bagaimana duduk persoalannya, nanti kalian akan tahu, kalau tahu diri lekas bunuh diri saja, supaya tidak tersiksa."
Serasa hampir meledak dada Ai-pong-sut, betapa tinggi dan disegani nama besarnya di Bulim, kapan pernah dia dicaci dan diremehkan seperti ini, desisnya dengan nada berat.
"Sahabat jangan memfitnah, kalau banyak bacot lagi, jangan menyesal kalau orang she Thong berlaku keji kepada kaliau."
Tiga orang itu berseru bersama.
"Kematian didepan mata masih beranijual lagak, baiklah biar kami bertiga anta rjiwamu keakhirat."
Habis berkata serempak ketiga orang ini bergerak tangkas mengepung Ai-pong-sut dari tiga jurusan-Agaknya pukulan Ai-pong-sut tadi memang hanya menggunakan tenaga luar saja.
hingga dua orang yang dipukulnya jungkir balik tadi tidak terluka.
Karena didesak terpaksa Ai-pong-sut bertindak.
katanya menyeringai.
"Baiklah, sebelum kuhajar kalian, agaknya belum kapok."
Tiga orang itu menggertak bersama, enam telapak tangan memukul serempak dari tiga a rah.
Kekuatan pukulan mereka ternyata lumayanjuga, tapi Ai-pong-sut tidak pandang sebelah mata, sebelumjelas asal-usul ketiga lawannya, dia tidak akan balas menyerang, maka dia hanya kembangkan ketangkasan gerak tubuhnya berputar, melompat dan menyelinap diantara samberan pukuian musuh.
Tiga jurus kemudian Ai-pong-sut sudah tahu permainan ketiga orang ini adalah Humo-ciang-hoat ajaran murni Butong-pay.
Sebagai jago silat kawakan, sudah tentu kepandaiannya tinggi, Hu-mo ciang-hoat bukan ilmu yang harus ditakuti olehnya, dendam Hong-lui-pang dengan Butong-pay boleh dikata sudah terpendam sejak lama, kini ketiga murid Bu-tong-pay ini cari gara-gara lagi, rasa sengit sudah menjalari hati Ai-pong-sut.
Tapi dia dapat berpikir panjang, beruntun Bu-tong-pay mengalami kekalahan dan kerugian yang fatal, tak mungkin mereka berani mencari permusuhanpula dengan Hong-lui-pang kalau tidak yakin menang atau sudah punya tulang punggung yang kuat pasti takkan berani bermulut kotor dan mencari permus uh an-Pasti ada udang dibalik batu.
Atau ada sangkut pautnya dengan perguruan lain-Tapi sejak Hong luipang berdiri, seluruh anggota bersatu padu, seia sekata, besar tekad kita untuk menuntut balas dendam perguruan, selama ini ta kpernah ada sengketa dengan berbagai perguruan besar kecil manapun, maka kejadian ini perlu diusut"
Makin dipikir makin besar rasa curiganya, maka dia berkata mema ncing.
"Agaknya saudara murid murid Bu tong-pay. Butong-pay adalah perguruan ternama, sepak terjangnya terus terang dan jujur, jikalau kalian tidak menjelaskan persoalannya, jangan menyesal kalau Losiu kebacut turun tangan-"
Sayang ketiga orang itu sudah keranjingan setan, meski ludah Ai-pong sut kering juga mereka takkanpatuh nasehatnya, serangan malah makin gencar dan keji. Karuan Ai-pong-sut naik pitam, bentaknya.
"Kawanan kurcaci yang tidak tahu tingginya langit tebalnya bumi, biar kalian rasakan betapa lihaynya telapak tanganku."
Lenyap suaranya melayang telapak tangannya disertai gelombang angin deras.
Dua kali pukulan telak membuat dua diantara ketiga laki-laki itu terpental mundur lima kaki.
Lengan mereka terasa lemas dan linu, darah bergolak didada, betapa kaget dan ngeri hati mereka setelah berdiri tegak dengan mendelong mereka mengawasi Aipong sut.
Orang ketiga yang berada ditengah dan belum pernah terkena pukulan lebih cerdik, otaknya lebih encer, dia tahu kalau mereka bertiga tidak lekas menyingkir jiwa bisa terancam bahaya, apalagi tugas mereka hanya membuntuti dan mengawasi gerak gerik musuh, tugas sudah terlaksana, kalau berlama-lama di sinijiwa bisa celaka, lekas dia bersiut tiga kali terus menimpukan segenggam Thi-lian ca (biji teratai besi), sekali jejak tubuhnya melambung keatas menutul pucuk pohon terus melesat jauh melarikan diri, kedua temannya mengikuti jejaknya.
Jarak kedua pihak amat dekat sergapan senjata rahasia ini sebetulnya sukar terjaga, Tapi Ai-pong sut lebih pengalaman begitu lawan bersiul dia sudah tahu kalau orang memberi abaaba kepada kawannya untuk melarikan diri, maka dia sudah siap siaga.
Melihat lawan menyerang dengan timpukan segenggam senjata rahasia, segera dia kembangkan Ginkangnya yang tinggi, sekali berkelebat setombak lebih.
Baru saja dia berniat mengejar Liok Kiam-ping keburu mencegahnya.
Kata Liok Kiam-ping.
"Marilah urusan kita rundingkan lebih dulu."
Terpaksa Ai-pong sut batalkan niatnya, mereka bertiga segera bersimpuh ditanah rumput. Liok Kiam-ping buka suara.
"Menurut laporan Pang-yu (anggota) ini, ternyata ada seorang yang menggunakan Wiliong-ciang-hoat melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap kaum persilatan sehingga tak sedikit jatuh korbanjelas tujuannya hendak menjebloskan Hong-lui-pang kita kedalam lumpur kenistaan, sehingga menimbulkan kemarahan masal kaum persilatan, sayang partai-partai besar bertindak kurang teliti dan mud ah diadu domba, kini mereka sudah sepakat untuk bergabung mengutus jago-ago lihay mencegat pulang kita.
"Terpaksa Jin-hong-tong Tongcu, Kim-ji tay-beng mengutus beberapa orang keperbagai cabang untuk memberi peringatan, beberapa orang diutus pula untuk memapak kedatangan kita ditengah jalan, sayang perintah bocor hingga beberapa jago kita dicegat dan dikeroyok sehingga tak sedikit jatuh korban-"Untung Pang-yu ini cukup cerdik, tahu situasi amat tegang, kuatir rencana gagal, sengaja dia sembunyi didalam kota dengan menyamar, tujuannya menunggu kedatangan kita, sayang waktu dia keluar dari restoran tadi, gerakgeriknya sudah menimbulkan curiga ketiga orang tadi maka dia dikuntit sampai disini, untung jiwanya selamat."
"Menurut penyelidikan, beberapa jago musuh yang sekarang berkumpul dikota Hap-pui ada puluhan orang, mereka sedang menunggu kedatangan kita, jelas setiap langkah kita bakal mengalami Hambatan dan kesulitan yang berbahaya."
Demikian kata Pang-yu itu. Berdiri alis Aipong-sut. ketanya berat.
"Kalau harus bergebrak secara keras, kita tidak perlu gentar terhadap mereka. Tapi sebelum pengganas itu tertangkap. aku tetap akan dicap sebagai biang keladi dari kematian sekian banyak jago-jago silat, kan penas a ran kalau aku dijadikan kambing hitam, kalau permusuhan makin mendalam, dan memancing kemarahan masal, akibatnya tentu amat fatal bagi kita. Liok Kiam-ping menghela napas, katanya gegetun. 'Sayang mereka mengagulkan diri sebagai perguruan lurus, orang baik. ternyata bertindak tanpa menggunakanpikiran, tak malu main keroyok lagi, jikalau mereka tak memberi muka, kitapUn tak perlu main sembunyi lagi, lawan saja sampai titik darah penghabisan-"
Ai-pong-sut tabah dan pikirannya lebih panjang, katanya setelah merenung.
Baca Juga: Rumah Judi Pancing Perak 2
Baca Juga: Si Kaki Sakti Menggemparkan Dunia 081721751