Ceritasilat Novel Online

Si Kaki Sakti Menggemparkan Dunia Persilatan 7

Eps 7 Si Kaki Sakti Menggemparkan Dunia Persilatan - Hong San Khek

Baca online Si Kaki Sakti Menggemparkan Dunia Persilatan - Hong San Khek

Cersil Si Kaki Sakti Menggemparkan Dunia Persilatan - Hong San Khek.

Sang hari yang semakin lama telah menjadi semakin gelap, telah membikin Poan Thian jadi semakin enak buat menerjang ke kiri dan ke kanan dengan memperoleh hasil yang sangat memuaskan.

Tidak sedikit kambrat-kambratnya Cian Cong dan Hok Cit telah roboh atau kabur karena tidak tahan bertempur dengan Lie Poan Thian, maka akhirnya Hok Cit pun terpaksa mencabut goloknya buat bantu mengepung pemuda she Lie itu.

Tetapi meski dikerubuti begitu hebat dan gencar oleh Cian Cong dan Hok Cit yang maju di muka sekalian kawan-kawannya yang telah mulai keteter, perhatian Poan Thian hampir seluruhnya dipusatkan pada Hok Cit sendiri yang memang sedang "dimauinya".

Begitulah tatkala Poan Thian telah berhasil dapat memukul Cian Cong sehingga beberapa kali dan sabansaban terdengar ia menjerit karena kesakitan, akhirnya sang lawan itu jadi jerih juga dan sedikit demi sedikit telah coba menjauhkan diri dari kalangan pertempuran, hingga Hok Cit yang melihat gelagat tidak baik, sudah tentu saja lantas panjangkan langkah dan terus melenyapkan diri di antara kegelapan.

Dan meskipun Poan Thian hendak memaksakan diri akan mengejarnya, tetapi ternyata tidak mungkin akan ia bisa berbuat begitu, berhubung musuh-musuhnya yang terbanyak selalu datang merintangi untuk ia dapat melanjutkan pengejarannya atas diri si Hok Cit yang sangat dibencinya itu.

Maka pada waktu Cian Cong telah terpukul roboh sehingga otaknya berarakan dan binasa di seketika itu juga, Hok Cit telah berlalu jauh dan tak mungkin lagi akan 548 dapat dicekal!

Oleh karena itu, Poan Thian yang melihat maksudnya telah gagal, tentu saja menjadi sangat menyesal dan beranggapan bahwa manusia keji itu selanjutnya akan lari jauh dan tidak bakal menunjukkan muka pula seumur hidupnya.

"Sayang, sayang!"

Kata si pemuda di dalam hatinya. Tetapi sisa musuh-musuhnya yang masih melakukan perlawanan dengan secara hebat, tidak dapat dibiarkan begitu saja.

"Mereka harus dipukul habis-habisan!"

Itulah ada pikiran yang semula dipikirkan di dalam hatinya.

Tetapi setelah mengingat yang mereka itu tidak berdosa dan terpaksa campur tangan atas anjuran Cian Cong yang sekarang telah mati terbunuh, ia jadi berbalik pikir dan lalu berlompat ke atas pagar tembok sambil menyerukan.

"Saudara-saudara, tahan dahulu! Kamu sekalian sebenarnya tidak terikat permusuhan apa-apa denganku, seperti juga aku sendiri yang belum pernah mengambil sikap bermusuh kepada kamu sekalian. Oleh sebab itu, hentikanlah dengan segera pertempuran ini, agar supaya penumpahan darah lebih jauh dapat dicegah!"

"Tetapi kau telah membunuh pemimpin kami,"

Kata seorang yang bertubuh kate dan bersikap agak kasar.

"Pendek permusuhan ini tak dapat disudahi dengan begitu saja, apabila kau tak mampu menghidupkan kembali Hek-houw-lie Cian Cong ini!"

"Saudara,"

Kata Lie Poan Thian.

"Kau jangan salah paham dan menyangka bahwa aku telah membunuhnya dengan maksud sengaja. Dan jikalau ia sampai kejadian terbinasa di dalam tanganku, itulah telah terjadi karena kesalahannya sendiri, yang terlalu mengeloni pada Hok 549 Cit yang busuk itu, yang toh bukan membela pada Cian Cong seperti kau, tetapi sebaliknya telah meninggalkan sahabat-sahabatnya yang hendak membela dirinya.

"Aku harus akui, bahwa rasa persahabatanmu itu kepada Cian Cong cukup tebal. Aku bukan datang ke sini dengan maksud untuk membunuh kepadanya tetapi itulah ada Hok Cit yang aku "

Maui".

"Maka setelah orang yang "kumaui"

Telah melarikan diri entah kemana perginya, cara bagaimana aku mesti memusuhi padamu sekalian yang tidak ada sangkut pautnya dengan urusanku ini?"

Pikirlah olehmu masak-masak, saudara, pada sebelum kau bertindak menuju ke arah perpecahan antara persahabatan kita di kalangan Kang-ouw.

Sementara buat mengunjukkan bahwa aku tidak bermaksud akan memusuhi saudara-saudara yang lainlainnya, dengan ini aku Lie Poan Thian menghaturkan beribu-ribu maaf pada kamu sekalian."

Demikianlah, sambil mengangkat kedua tangannya, pemuda kita lalu memberi hormat pada sisa kambratkambratnya Cian Cong yang berada di bawah pagar tembok.

"Jikalau kau sesungguhnya memandang kita sebagai sahabat, marilah kau boleh turun buat menerangkan duduknya perkara yang benar pada kita sekalian,"

Kata orang banyak yang telah mulai insyaf dari kekeliruankekeliruan yang telah diperbuat mereka itu.

Poan Thian mengabulkan atas permintaan mereka itu.

Dalam pada itu Ca Tiauw Cin yang mendengar suara ribut-ribut dari beberapa orang yang bertempur, lalu 550 dengan diantar oleh orang-orang kepercayaannya telah datang juga ke tempat keributan itu.

Dan tatkala menampak Lie Poan Thian tengah dikerubungi oleh kauwsu-kauwsunya di situ, segera juga ia maju menghampiri sambil bertanya.

"Saudara-saudara, ada urusan apakah ini yang telah menerbitkan suara ributribut?"

Semua orang lalu membuka jalan buat mengasih lewat pada pemuda kita yang lalu maju menghampiri pada Ca Tiauw Cin sambil memberi hormat dan berkata.

"Chungcu-ya, aku mohon beribu-ribu maaf atas kunjunganku ini yang telah menimbulkan keributan tadi. Tetapi agar supaya kau mengetahui duduknya perkara yang benar, biarlah aku nanti tuturkan peristiwa ini dari awal sehingga diakhirnya, supaya Chungcu-ya dapat bantu menimbang perkara ini, siapa yang salah dan siapa yang benar."

Ca Tiauw Cin menyatakan mufakat dengan omongan pemuda she Lie itu.

"Tetapi karena di sini bukan tempat untuk berunding,"

Katanya.

"biarlah Lie-toako dan saudara-saudara sekalian suka mengikut aku ke ruangan pertengahan untuk membicarakan perkara ini terlebih jauh."

Begitulah setelah Tiauw Cin telah mengajak semua orang berkumpul di ruangan tersebut, lalu ia minta supaya semua orang duduk dengan tenang sambil mendengarkan segala penuturan yang akan disampaikan oleh Lie Poan Thian kepadanya, yang tentunya — dimaksudkan juga untuk diperhatikan oleh mereka yang terbanyak.

Maka setelah Poan Thian selesai menuturkan sebab musabab mengapa ia telah datang kedesa Ca-kee-chung 551 dalam cara yang begitu mendadak dan tergesa-gesa, barulah Tiauw Cin jadi kaget dan berkata.

"Ah, kalau begitu, ternyata aku telah keliru memilih kawan seperti Cian Cong itu. Aku percaya betul kepadanya dan turuti segala permintaannya. Tetapi, bukannya ia mengatur segala apa dengan sebaik-baiknya sebagai tanda terima kasihnya, malah berbalik hendak mengkhianati aku dengan secara keji dan diam-diam. Hal mana, aku percaya, karena ia pikir bahwa aku telah menjadi seorang cacad, seorang yang tidak berguna lagi."

Kemudian, sambil menoleh pada kauwsu-kauwsunya yang terbanyak, ia telah melanjutkan omongannya.

"Nah, sekarang dengarkanlah olehmu sekalian. Apakah Cian Cong itu bukan merupakan sebagai seekor kutu yang menumpang hidup dengan menggigit dan menghisap darah di atas kepalaku? Lie-toako ini,"

Sambil ia menunjuk pada Lie Poan Thian.

"Dahulu memang benar pernah menjadi seorang lawanku, tetapi sekarang ternyata telah membuktikan diri di hadapanku, bahwa dia inilah seorang sahabat yang berharga. Jikalau ia tidak lekas menolong padaku, belum tahu Cian Cong akan berbuat bagaimana padaku yang sudah tidak berguna lagi, sehingga dalam segala hal ia hendak berlaku lebih berkuasa dari pada aku yang menjadi tuan rumah yang asli di desa Ca-kee-chung ini.

"Bahkan kalau aku nanti sudah tidak ada lagi di dalam dunia ini, ada kemungkinan ia akan ubah nama desa ini menjadi Cian-kee-chung, dengan ia sendiri yang akan bercokol sebagai Chungcu nya!"

Semua orang yang mendengar keterangan begitu, sudah tentu saja jadi agak terkejut dan pada menghela napas sambil berkata.

"Sungguh tidak dinyana bahwa Cian Cong yang begitu dipercaya, ternyata ada seorang 552 musuh dalam selimut!"

"Ya, ya, memang tepat sekali sebagaimana katamu sekalian,"

Kau Ca Tiauw Cin.

Maka semua orang yang sekarang telah mengetahui duduknya perkara yang benar, dengan sendirinya mereka kelihatan rela akan menyudahi perselisihan mereka dengan pemuda kita, yang ternyata mendapat dukungan sepenuhnya dari pihak Ca Tiauw Cin yang menjadi induk semang mereka.

Lebih jauh sebagai tanda mempererat persahabatan kedua pihak, Ca Tiauw Cin lalu melangsungkan perjamuan yang telah dirancangkan oleh Cian Cong untuk mengatur siasat, cara bagaimana mereka harus "menggulingkan"

Sang induk semang dan menggantikan kedudukan itu dengan mencokolkan dirinya sendiri dalam kedudukan sebagai Chung-cu dari desa tersebut.

Tetapi, apa mau, Poan Thian telah datang dan menolong dengan secara tidak langsung pada Ca Tiauw Cin dari keadaan yang sangat kritis itu, hingga karena ini, Poan Thian kelihatan agak puas juga, biarpun ia tidak berhasil dapat membekuk Hok Cit yang menjadi pokok dari perkunjungannya itu.

Tatkala perjamuan itu ditutup pada kira-kira hampir tengah malam, barulah Poan Thian meminta diri pada Ca Tiauw Cin dan terus kembali ke rumah penginapannya, dengan pikirannya selalu tidak lupa pada Hok Cit, yang ia belum berhasil dapat binasakan untuk melampiaskan rasa penasarannya.

Sesampainya di rumah penginapan, ia telah disambut oleh Kwie Jie yang mengatakan, bahwa dari setadian ada seorang tamu yang menantikan dan minta bertemu pada pemuda kita.

553 "Orang itu asal dari mana dan siapa namanya?"

Menanya Lie Poan Thian dengan rupa heran.

"Entahlah,"

Sahut Kwie Jie sambil menggelengkan kepalanya.

"karena ia tidak mau menjawab pertanyaanku. Katanya dialah salah seorang sababatmu...... Hanya sebegitu saja."

"Sekarang dia ada dimana?"

"Di sana, di kamar tamu,"

Sahut si pelayan sambil menunjuk ke ruangan yang dimaksudkan itu. Poan Thian berdiam sejurus lamanya, seorang yang sedang memikirkan apa-apa. seperti "Apakah dia bersenjata?"

Tanyanya kemudian.

"Ya,"

Sahut Kwie Jie.

Pada waktu Poan Thian berjalan masuk ke ruangan yang ditunjuki oleh si pelayan, tamu yang sedang dudukduduk dengan menghadap ke sebelah dalam segera berbangkit sambil membalikkan badannya, sehingga sekarang ia jadi berhadap-hadapan dengan pemuda kita.

Lie Poan Thian jadi berlompat ke belakang dengan hati terkesiap, karena tamu itu bukan lain dari pada......

Hok Cit yang sedang "dimauinya"!

Sementara Hok Cit yang melihat Poan Thian datang dan kelihatan terperanjat, buru-buru membungkukkan badannya sambil memberi hormat dan berkata.

"Tuan Lie, ampunkanlah padaku yang telah membikin kau banyak mengalami kesukaran dan kepusingan oleh karena perbuatan-perbuatanku yang tidak baik itu. Sekarang baru kuinsyaf itu semua, setelah mengetahui bahwa kita orang adalah berasal dari satu golongan Siauw-lim juga. Aku telah berdosa dan melanggar pesan guruku yang telah marhum!" 554 Sambil berkata begitu, Hok Cit lalu cabut goloknya dan serahkan itu dengan kedua tangannya kehadapan pemuda kita.

"Kau kelihatan masih sangat penasaran kepadaku,"

Katanya.

"tetapi semua itu tak dapat aku persalahkan kepadamu. Aku insyaf telah berdosa besar, dari itu, bunuhlah aku dengan golokku ini......."

Poan Thian biarpun terhitung seorang yang berhati baja, tetapi ternyata tidak tahan uji dengan sikap yang lemah dan minta dikasihani.

Maka setelah menerima golok itu, ia lantas lemparkan senjata itu sambil berkata.

"Kau edan!"

Hok Cit lantas berlutut dengan mengembang air mata dan berkata.

"Aku rela mati di tanganmu, aku telah menodakan nama guruku yang telah berada di tanah baka!"

"Siapakah yang kau katakan menjadi gurumu itu?"

Kata Poan Thian yang dengan laku gugup lalu membanguni pada Hok Cit, yang sekarang telah menjadi begitu jinak bagaikan seekor anak kambing yang menganggap "sepi"

Seekor harimau di hadapannya.

"Itulah Cie Ceng Suthay dari Ngo-tay-san,"

Sahut orang yang ditanya. Lie Poan Thian jadi membanting kaki sambil menghela napas dan menyebut.

"Allah! Cara bagaimanakah urusan bisa jadi berputar balik begitu rupa? Cie Ceng itu adalah adik seperguruan Beng Sim Suthay dari kelenteng Giok-hun-am, sehingga dengan begitu, ia masih menjadi kepernah Su-kouw ku. Aku sungguh tidak bisa mengerti mengapa kau, sebagai seorang murid golongan Siauw-lim, bisa jadi ikut-ikutan ke dalam golongan Kang-ouw hitam? 555 "

Mari, duduklah di sini. Aku ingin mengetahui sebabmusabab yang telah membikin kau tersesat sampai begitu jauh."

Hok Cit menurut dengan tak perlu diajak sampai dua kali.

"Sebenarnya jikalau guruku tidak meninggal dalam usia yang boleh dikata belum begitu tua, aku tidak sampai tersesat begini jauh,"

Katanya.

"Cobalah tuturkan semua riwayat hidupmu,"

Meminta Poan Thian yang sekarang seolah-olah telah lenyap perasaan antipatinya.

"Semasa aku diajak datang ke Pek-lian-am oleh Cie Ceng Suthay."

Hok Cit mulai menuturkan.

"Usiaku baru saja beberapa belas tahun. Ayah bundaku telah menutup mata ketika aku belum cukup usia sepuluh tahun, oleh karena itu, aku lalu menumpang tinggal di rumah pamanku, seorang petani yang boleh dikatakan mampu juga. Karena selain mempunyai beberapa puluh bouw sawah-sawah, iapun mempunyai juga beberapa belas ekor kerbau, yang setiap hari diperintahkannya aku untuk memeliharanya."

Oleh sebab itu, aku semulanya buta huruf, pada sebelum masuk kelenteng Pek-lian-am dimana aku telah diberi kesempatan untuk belajar ilmu silat dan surat dengan berbareng oleh Cie Ceng Suthay yang baik hati itu.

"Paman dan bibiku mungkin juga tak akan mengizinkan aku berlalu dari rumah mereka, kalau saja aku tidak bertemu dengan Cie Ceng Suthay, yang karena kasihan melihat keadaanku yang begitu "

Dianak tirikan ", dengan secara diam-diam telah melarikan aku dari rumah pamanku. 556 "

Tetapi, sungguh tidak beruntung, ketika aku berdiam di Pek-lian-am baru saja kira-kira 2,5 tahun lamanya guruku telah meninggal dunia, hingga ini telah memaksa aku lari dari kelenteng tersebut karena hasutan Hekhouw-lie Cian Cong, yang ketika ita masih menjadi seorang bajak di telaga Thay-ouw, yang justru itu tengah berada dalam perjalanan mencari kawan untuk melakukan perampokan dengan secara besar-besaran."

Aku tertarik benar oleh omongan Cian Cong ini, yang selalu menyanjikan aku segala keuntungan dan kesenangan, hingga aku tidak pikirkan sama sekali akibat-akibat dari pada perbuatan-perbuatanku yang tidak baik itu."

Tidak tahunya ketika tiba pada waktunya perampokan itu dilakukan, mereka telah dipukul hancur oleh tentara negeri yang dikepalai oleh beberapa ahli silat kenamaan, hingga tercerai berailah aku dari Cian Cong dan melarikan diri untuk mencari tempat berlindung lain yang lebih selamat."

Dalam keadaan terlunta-lunta, aku telah bertemu dengan Liu Tay Hong yang kemudian telah perkenalkan aku pada Wie Hui yang menjadi pemimpin dari kawanan berandal di pegunungan Jiesian-san.

Maka dengan mempergunakan nama pemimpin ini, Tay Hong telah ajak aku memeras ke kiri kanan, sehingga akhirnya aku bertemu dengan An Chun San, dengan siapa aku telah bertempur di kelenteng Touw-tee-bio, yang mana kiranya tak perlu lagi buat aku tuturkan di sini, berhubung kau sendiripun telah ketahui cukup jelas peristiwa ini.

"Tidak berapa lama setelah kau berhasil membinasakan Wie Hui dan kawan-kawannya, aku segera melarikan diri ke daerah Kim-leng, dimana aku telah bertemu dengan Sin-siu-tay-seng Bie Tiong Liong, 557 pada siapa aku kemudian telah berguru, mengetahui bahwa dia itulah guru Liu Tay Hong. tatkala "

Oleh karena hasutan orang tua ini, maka aku jadi semakin bermusuh kepadamu, sehingga selanjutnya aku telah sengaja membikin kau banyak pusing dengan melakukan berbagai-bagai perbuatan yang tidak patut, yang sekarang sangat kusesalkan tidak sudah-sudahnya, apabila hal itu dikenang-kenangkan dalam peringatanku."

Paling belakang karena segala sepak-terjangku untuk mencelakai padamu telah menjadi gagal, sedangkan guruku sendiri telah dirobohkan olehmu, mendadak aku bertemu dengan Hek-houw-lie Cian Cong, yang aku lalu hasut untuk memusuhi juga kepadamu.

Begitulah ia lantas kirim Teng Kie buat melakukan penyerangan gelap kepadamu, tetapi maksud itu — sebagaimana aku telah dapat kabar kemarin — kembali telah gagal.

Karena selain maksud itu tidak kesampaian, malah Teng Kie sendiri berbalik kena dilukai olehmu."

Maka setelah aku terlolos dari tanganmu barusan, di luar sangkaan aku telah bertemu dengan seorang bekas Suhengku yang dahulu bersama-sama berdiam di kelenteng Pek-lian-am, hingga dalam omong dengan secara berterus terang, ia amat sesalkan atas perbuatanku itu, dan ia mengatakan bahwa tuan Lie ini bukan lain dari pada salah seorang murid Kak Seng Siang-jin Supek, hingga ini bikin aku jadi kaget dan merasa sangat berdosa besar.

Karena selain aku telah berani melawan pada seorang yang masih kupernah suheng, akupun telah mengabaikan pesan guruku ketika beliau hampir menutup mata.

"Ingatlah,"

Katanya.

"bahwa nama Siauw-lim telah mengharum sekian abad lamanya di seluruh negeri, dan barang siapa di antara murid-murid kami yang berani 558 melanggar dan menodakan nama baik golongan kita, ia harus tebus dan perbaiki dengan suatu pengorbanan jiwa!"

"Tetapi aku sendiri bersedia akan mengampuni kepadamu,"

Kata Lie Poan Thian, setelah selesai mendengar penuturan Hok Cit.

"apabila kau suka merubah perbuatanmu sehingga kau kembali lagi menjadi seorang yang baik. Hal mana, aku percaya, Cie Ceng Su-kouw yang sudah berada di tempat baka, tentu akan menyetujui juga atas tindakanku itu."

Lebih jauh untuk mengakhiri permusuhanpermusuhan dengan segala pihak, pemuda kita telah menganjurkan supaya Hok Cit membantu pada Cin Kong Houw yang membuka Siang-hap Piauwkiok di kota Kimleng, buat mana Hok Cit menyatakan kesediaannya akan melaksanakan maksud itu, asalkan Poan Thian suka memperkenalkannya dan menerangkan pada Kong Houw, bahwa selanjutnya ia akan menjadi orang baik dan mohon dipimpin ke jalan yang terang dalam penghidupannya di kemudian hari.

"Lebih-lebih karena di sana-pun turut membantu juga dua saudara Lauw yang dahulu pernah bekerja di bawah perintah Liu Tay Hong bersama-sama kau sendiri,"

Kata pemuda kita.

"kukira kau akan merasa senang menuntut penghidupan sebagai seorang piauw-su, yang tentu jauh lebih terhormat dari pada berkeliaran di kalangan Kangouw dengan tidak tentu kemana juntrungannya. Karena sesuatu orang yang pernah terjerumus dan kemudian insyaf atas segala kekeliruannya, sedapat mungkin aku suka bantu mencarikan jalan agar supaya ia bisa hidup bahagia dan dapat mencicipi keberuntungan dalam cara yang halal."

Sementara Hok Cit yang mendengar omongan itu, 559 iapun tampaknya sangat berterima kasih dan berjanji akan menjalankan tugasnya yang akan datang itu dengan sebaik-baiknya.

Begitulah setelah kedua pihak melupakan permusuhan yang telah lampau itu, pada hari esoknya Poan Thian lalu mengajak Hok Cit akan menjumpai Cin Kong Houw di kota Kim-leng, dan kedatangan mereka ke sana bukan saja telah disambut dengan gembira oleh Kong Houw dan kedua saudara Lauw yang memang kenal pada Hok Cit, tetapi Cu Leng dan In Liong pun menyatakan turut bergirang, akan melihat kedua orang musuh besar itu akhirnya telah bisa kembali dan menjadi sahabat-sahabat yang jauh lebih menguntungkan pada kedua pihak dari pada kalau mereka saling bermusuhan dan mengancam akan saling membunuh jiwa masingmasing.

Maka sebagai tanda turut bersyukur atas kejadian yang menggirangkan itu, Kong Houw telah mengadakan perjamuan dengan secara besar-besaran, dalam mana telah diundang orang-orang gagah yang menjadi handai taulan Kong Houw dan Poan Thian, dengan nama-nama Sin-kun Louw Cu Leng, Hoa In Liong dan Hok Cit tercantum sebagai orang-orang yang turut mengundang.

Tetapi perjamuan itu masih belum dapat dikatakan besar, apabila dibandingkan dengan perayaan pesta pernikahan Lie Poan Thian dengan nona Giok Tin yang diadakan di rumah keluarga Na, dimana selain turut hadir handai taulan Lie Poan Thian, juga Kak Seng Siang-jin sendiri telah datang memberi berkah kepada kedua mempelai.

Dan sedikit waktu setelah melangsungkan pernikahannya, Poan Thian pun telah "mencuci tangan"

Dan keluar dari kalangan Kang-ouw sebagai salah seorang ahli silat yang seumur hidupnya tak pernah 560 dikalahkan orang. — TAMAT — 561

Baca Juga: Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan 6

Baca Juga: Sepasang Naga Lembah Iblis Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert