Eps 6 Si Kaki Sakti Menggemparkan Dunia Persilatan - Hong San Khek
Baca online Si Kaki Sakti Menggemparkan Dunia Persilatan - Hong San Khek
Cersil Si Kaki Sakti Menggemparkan Dunia Persilatan - Hong San Khek.
"tetapi boleh dikatakan agak menyinggung perasaan dan kehormatanku yang mempunyai sangkutpaut dekat sekali terhadap orang yang mengalami peristiwa tidak enak itu. Oleh sebab itu, rasanya tidak terlalu keliru apabila aku turut campur tangan untuk memperoleh pemberesan yang seadil-adilnya dengan jalan meminta bantuanmu yang berharga itu." .. Penyesalan Ca-kee-chungcu Ketika Ca Tiauw Cin mendengar begitu, sudah tentu ia jadi heran dan berbalik menanyakan.
"Toako, maafkanlah kepadaku yang bodoh ini, aku sungguh tidak bisa mengerti apa maksud omonganmu itu. Oleh sebab itu, sudilah apa kiranya Toako berbicara dengan katakata yang lebih sederhana dan jelas, sehingga dengan begitu, dapat juga aku membantu apa-apa untuk membereskan persoalan ini." 457 Pemuda kita jadi tertawa menjindir sambil berkata.
"Ca Lo-suhu, aku percaya kau juga tentu belum lupa dengan halnya piauw-su Cin Kong Houw yang bendera lambangnya — maaf, Ca Lo-suhu — kau telah curi dengan maksud untuk "
Merobohkan mereknya"
Di kalangan usaha pengangkutan. Kemudian kau telah melukakan juga padanya dengan secara bergelap.
"Perbuatan itu sebenarnya tidak bisa dimaafkan. Tetapi lantaran mengingat kepada persaudaraan di kalangan Kang-ouw, maka aku telah bujuk padanya buat bikin habis saja persoalan ini dengan jalan kau meminta maaf atas kekhilafanmu dan kembalikan juga kepadanya bendera lambangnya yang telah kau curi itu. Maka selain urusan bisa jadi beres dengan secara damai, bagi kedua pihak pun tidak sampai mengalami peristiwa-peristiwa lain yang tidak enak. Tetapi belum tahu bagaimana pendapat Ca Lo-suhu?"
Wajahnya Ca Tiauw Cin dengan mendadak jadi berubah merah tempo mendengar omongan itu.
Ia sebenarnya tidak menduga, jikalau kunjungan Lie Poan Thian ini adalah hubungannya dengan urusan Cin Kong Houw, dan jikalau ia ketahui hal ini dari di muka, sudah pasti tak mau ia bertemu dengan pemuda kita ini.
Tetapi karena urusan itu telah ketelanjuran dibicarakan, maka dengan sikap yang menandakan kurang senang ia lantas berkata.
"Tuan Lie, urusan ini sebenarnya tidak ada sangkut-pautnya meski dengan siapapun juga. Oleh karena itu, aku sangat harap supaya kau jangan campur tangan dalam urusanku ini. Aku tidak melarang atau merasa iri hati terhadap setiap orang yang pandai berusaha dengan secara jujur atau curang, asalkan itu jangan menyinggung atau membusukkan nama orang lain seperti apa yang pernah diperbuat oleh Cin Kong 458 Houw itu."
Aku juga ada dapat dengar tentang namanya yang terkenal di kalangan Kang-ouw sebagai seorang piauwsu yang jujur dan boleh dipercaya.
Tetapi janganlah menganggap bahwa diri sendiri paling jempolan di kolong langit, sehingga berani membuka mulut besar dan mengaku sanggup untuk bertanding dengan ahli silat yang mana juga di seluruh jagat Tiongkok.
"Tidak tahunya, ketika aku saksikan sendiri ilmu kepandaiannya, bukan saja masih terlalu jauh dari sempurna, bahkan orang-orangku sendiri barangkali masih banyak yang mampu tandingi padanya."
Oleh karena mendengar omongan Ca Tiauw Cin yang begitu menusuk hati, keruan saja Poan Thian jadi mendongkol dan lalu menyindir sambil berkata.
"Ya, ya, akupun bukan tidak percaya tentang ilmu kepandaianmu yang kau katakan jempolan dan paling sempurna itu, tetapi aku belum mau percaya itu seratus persen, pada sebelum menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri.
"Aku suka mengindahkan setiap orang gagah yang jujur dan suka melakukan segala perbuatan dengan secara berterang, tetapi..... aku tidak senang dan tidak bisa menghargakan terhadap perbuatanmu yang telah kau unjukkan di hadapan Cin Piauw-su itu!"
Ca Tiauw Cin jadi sengit dan segera berbangkit dari tempat duduknya dengan wajah kemerah-merahan bagaikan kepiting direbus.
"Tuan Lie!"
Katanya dengan suara keras.
"sekarang aku ingin tahu, ada apakah hubungannya antara kau dan Cin Kong Houw itu, sehitigga kau mesti ikut-ikutan kurang senang dalam suatu hal yang sudah terang tidak ada sangkut-pautnya seperti pengakuanmu sendiri tadi?" 459 Poan Thian jadi tertawa menjindir sambil menjawab.
"Ca Lo-suhu, kau harus ketahui, bahwa Cin Kong Houw itu adalah "guruku"
Sendiri!
Apabila sang guru mengalami hinaan dari orang lain, apakah orang yang jadi muridnya boleh tinggal peluk tangan saja melihat dari kejauhan dengan hati dingin?
Beruntung juga peristiwa itu telah terjadi selagi aku tidak ada di Kim-leng.
Jikalau pada waktu itu aku tidak keluar bepergian ke mana-mana, aku tidak tahu apa jadinya sekarang ini."
Sementara Ca Tiauw Cin yang mendapat keterangan begitu dari Lie Poan Thian, bukan saja tidak menjadi jerih atau takut, malah sebaliknya lalu menjawab selaku mengejek, katanya.
"Ah, menurut pendapatku yang cupat, sebenarnya tuan tidak perlu terlalu besar hati dalam hal menghadapi soal ini, yang sesungguhnya bukan mudah untuk dibereskan dengan omongan saja. Aku bukan memandang rendah kepada dirimu. Apabila ilmu kepandaian seorang guru hanya baru sekian saja, cara bagaimana ilmu kepandaian muridnya bisa diharap lain dari pada begitu-begitu juga? Sekarang aku telah ketahui jelas apa maksud kunjunganmu ini. Jikalau kau belum datang ke sini, boleh jadi ini masih bisa dimaafkan, tetapi setelah kau berada di sini. apakah masih juga kau tetap akan mempertahankan niatanmu itu?"
"Ya, benar,"
Sahut Poan Thian dengan pendek.
"Apakah kau tidak menyesal, apabila nanti kau kembali dengan membawa luka-luka yang lebih hebat dari pada gurumu itu?"
Menjindir Ca Tiauw Cin sambil tertawa.
"Malah lebih dari itu,"
Kata Lie Poan Thian pula.
"aku akan rela mengangkat kau menjadi guru, apabila ilmu kepandaianmu ternyata lebih tinggi dari pada apa yang diketahui oleh guruku Cin Kong Houw." 460 "Kalau begitu,"
Kata Ca Tiauw Cin.
"marilah kau ikut padaku ke sebidang lapangan tempat aku berlatih."
Poan Thian menurut.
Tatkala mereka sampai di sebidang lapangan dimana benar saja tampak beberapa orang yang sedang berlatih, dengan rupa bangga Tiauw Cin lalu menunjuk pada orang-orang itu sambil berkata.
"Tu, itulah ada muridmuridku yang sedang berlatih dengan secara giat sekali."
"Sungguh mengagumkan!"
Kata Lie Poan Thian sambil tersenyum.
"Aku harap saja yang mereka itu akan merupakan benih-benih yang subur dan jujur di antara kalangan orang-orang gagah di kemudian hari. Dan moga-moga mereka ini — sebagai benih-benih baik yang ditanam dalam sebidang tanah yang kurang baik — akan keluar dengan membawa sifatnya yang baik, tetapi tidak menuruti sifat tanahnya yang buruk itu!"
Ca Tiauw Cin yang selalu dipukul sindir, sudah tentu saja jadi amat marah, dan jikalau ia ada seekor harimau, niscaya ia sudah terkam pemuda ini buat ditelan bulatbulat!
Begitulah setelah Tiauw Cin memerintahkan supaya murid-muridnya itu menyingkir ke satu pinggiran, lalu ia mempersilahkan Poan Thian akan menanggalkan baju luarnya.
"Tetapi belum tahu apa kita akan bertempur satu lawan satu atau seorang melawan musuh-musuh yang berjumlah banyak,"
Kata Lie Poan Thian sambil menunjuk pada murid-muridnya cabang atas she Ca itu yang berkumpul di situ.
"Sudah tentu saja kita akan bertempur satu lawan satu,"
Kata Ca Tiauw Cin dengan rupa penasaran. 461 "Kalau begitu,"
Kata pemuda kita.
"Kau boleh terangkan dahulu niatanmu pada sekalian muridmuridmu, supaya jikalau nanti kau kena kurobohkan, mereka jangan turut campur tangan dalam pertempuran ini. Dan jikalau kau sudah beritahukan mereka begitu, aku jadi tahu bagaimana harus kubuat selanjutnya, kalau nanti mereka mengeroyok padaku.
"Aku sekarang ada membekal senjata lengkap di badanku, tetapi aku tidak akan gunakan itu apabila mereka suka mengindahkan perintahmu dan tidak campur tangan dalam urusan kita ini."
"Ya, baiklan,"
Kata Ca Tiauw Cin yang lantas utarakan niatannya di hadapan para muridnya yang berkumpul di situ.
"Apabila kamu sekalian tidak mendengar perintahku,"
Kata cabang atas itu pada akhirnya.
"kamu harus terima sendiri risiko-risiko yang akan diakibatkan dari perbuatanmu masing-masing, buat mana aku yang menjadi guru tidak bertanggung jawab sama sekali dalam urusan ini. Kamu mengerti?"
Hati para murid itu mendadak jadi berdebar-debar, ketika mendengar bahwa sang guru akan mengadu ilmu silat dengan tetamu yang baru pada kali itu mereka lihat romannya.
"Wah! Jikalau dua ekor harimau berkelahi,"
Kata salah seorang murid-murid itu.
"niscaya kedua-duanya akan mengalami kerusakan badan disamping seekor yang mungkin juga akan menemui kematian!"
"Itulah kita nanti lihat bagaimana kesudahannya nanti,"
Jawab yang lainnya.
Dalam pada itu, Poan Thian pun telah menanggalkan 462 baju luarnya dan kumpulkan itu di suatu tempat dengan pedang dan Joan-piannya.
Sementara Ca Tiauw Cin sendiri yang menjadi tuan rumah, iapun lalu menuruti juga teladan tetamunya dan menanggalkan baju luarnya, akan kemudian menindak ke tengah lapangan sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah pemuda she Lie itu.
"Tuan Lie!"
Katanya dengan suara menantang.
"marilah kita boleh lantas mulai!"
Poan Thian menurut sambil menjawab.
"Aku persilahkan buat Lo-suhu membuka serangan terlebih dahulu."
"Itu tidak aturan,"
Kata Ca Tiauw Cin.
"Kau sekarang ada menjadi tetamuku. Oleh sebab itu, aku persilahkan kau buat menyerang terlebih dahulu."
Begitulah dengan ditonton oleh para murid cabang atas she Ca itu, Poan Thian lalu membungkukkan badannya memberi hormat pada Ca Tiauw Cin sambil berkata.
"Lo-suhu, aku segera akan mulai!"
"Persilahkanlah!"
Sahut Tiauw Cin dengan mata tidak berkesip.
Dan tatkala Poan Thian maju menerjang, Ca Tiauw Cin lalu mengegos buat menyingkirkan diri dengan tidak balas menyerang apa-apa terhadap pada diri pemuda kita.
Tetapi setelah mengegos dan berkelit sehingga tiga kali, barulah ia balas menerjang sambil berseru.
"Poan Thian, sekarang adalah giliranku yang akan menyerang kepadamu. Berhati-hatilah! Aku akan membuka serangan dengan menggunakan siasat Hek-liong-tam-jiauw!"
"Ya, kau boleh keluarkan segala macam siasat silat 463 yang kau rasa cukup berbahaya,"
Kata Lie Poan Thian.
"aku tak akan mundur pada sebelum mampu memenuhkan janjiku kepada Cin Kong Houw Lo-suhu!"
"Terimalah ini!"
Sambil menggaet kaki pemuda kita, Tiauw Cin lalu membarengi mencengkeram ke arah muka orang.
Tetapi Poan Thian yang menganggap bahwa cara menggaet kaki itu hanyalah merupakan siasat belaka untuk membikin terkesiap hatinya, buruburu ia angkat sebelah kakinya ke atas, seolah-olah orang yang mempertunjukkan siasat Kim-ke-tok-lip.
Dengan tangan kirinya ia menangkis tangannya Ca Tiauw Cin yang datang mencengkeram itu, sedangkan kakinya yang diangkat ke atas lantas ditendangkan ke jurusan dada musuhnya.
Ca Tiauw Cin lekas mengegos dengan jalan miringkan badannya, kemudian ia berdongko sedikit sambil menjotos pada Lie Poan Thian dengan menegunakan siasat Pa-ong-song-khek.
Tetapi Poan Thian yang bermata jeli, sudah tentu saja tidak mau kasih dirinya "dimakan mentah-mentah".
Buru-buru ia berkelit, hingga jotosan pihak lawannya mengenai tempat kosong, tetapi sebegitu lekas ia terlolos dari serangan itu, kembali Ca Tiauw Cin telah maju menerjang dengan menggunakan seruntunan ilmu pukulan yang telah membikin Poan Thian agak sibuk dan mengakui tentang kepandaian ilmu silat lawannya yang amat lihay itu.
Banyak ahli-ahli silat ia telah jajal tenaganya, tetapi ilmu kepandaian Ca Tiauw Cin ini ternyata masih jauh lebih tinggi dari pada mereka semua.
Maka kalau ilmu silat orang she Ca ini hendak diperbandingkan dengan musuh-musuh lain yang pernah dijumpainya, ia harus akui bahwa itulah tidak ada di bawah dari pada Sin-kun Louw Cu Leng, ahli silat satu-satunya yang ia anggap 464 paling jempol dalam hal berkelahi dengan tangan kosong.
Dan jikalau semulanya ia menganggap ilmu kepandaian Ca Tiauw Cin hanya terbatas pada ilmu Heksee-ciang saja yang ia memang paham, nyatalah ia telah keliru jauh sekali.
Karena sebagaimana apa yang ia bisa saksikan sekarang, ia mendapat kenyataan bahwa ia masih kalah jauh apabila hendak dibandingkan ilmu pukulannya dengan sang lawan ini.
Maka buat merubah supaya pertempuran itu jadi berimbang, Lie Poan Thian segera merubah siasat penyerangannya dengan lebih banyak menggunakan ilmu tendangan yang ia memang sangat mahir, dari pada ilmu pukulan dengan tinju yang memang ternyata ia lebih lemah.
Begitulah tatkala pertempuran telah berlangsung kirakira tigapuluh jurus lamanya, Tiauw Cin kelihatan mulai terdesak.
Lie Poan Thian merangsak dengan tendangantendangannya yang terkenal lihay dan bikin namanya tersohor di kalangan Kang-ouw sehingga memperoleh gelaran Sin-tui Lie atau Lie Si Kaki Sakti itu.
Pada suatu saat karena ia menendang dengan agak terburu napsu, Poan Thian telah terpeleset dan jatuh mengusruk ke muka bumi.
"Celaka!"
Teriak murid-muridnya Ca Tiauw Cin dengan tidak terasa pula.
Semua orang menyangka, bahwa di sinilah pertempuran itu akan berakhir, dengan Lie Poan Thian yang akan keluar sebagai pecundang.
Karena dalam jatuhnya itu, tangannya Poan Thian mendadak tidak dapat digerakkan, hal mana pun dapat dilihat oleh semua orang.
465 Tetapi Poan Thian yang memang bisa berpikir cepat di waktu kesusu, dengan menahan sakit lalu berlompat bangun dengan menggunakan siasat Lee-hie-ta-teng, sambil melakukan tendangan kilat ke arah lawannya, hingga Ca Tiauw Cin yang hendak menumbuk batok kepala musuhnya dengan menggunakan ilmu Hek-seeciang, keruan saja jadi terkesiap dan lekas hendak mengegos dari tendangan Lie Poan Thian yang menyamber ke arah kakinya dengan gerakan secepat kilat.
Kesudahannya, biarpun ia terluput dari tendangan yang pertama, tetapi ia tak berdaya untuk menjaga tendangan musuhnya yang datang menyusul belakangan.
Maka berbareng dengan tibanya kaki Lie Poan Thian yang telah menyepak dengan tepat pada tulang lututnya Ca Tiauw Cin, Chung-cu dari Ca-keechung itu segera memperdengarkan satu jeritan yang ngeri dan terlempar jatuh ke suatu tempat yang terpisah belasan kaki jauhnya.
Dan di situ, karena Ca Tiauw Cin tinggal rebah dengan rupa yang menandakan kesakitan, maka Poan Thian pun lalu menghampirinya sambil berkata.
"Ca Lo-suhu, ayolah kau lekas bangun buat melanjutkan pertempuran ini!"
Tetapi sambil meringis Ca Tiauw Cin lalu berkata.
"Lie Poan Thian Toako, sekarang aku harus akui, bahwa gelaran Sin-tui memang tepat sekali akan dipunyai olehmu......"
"Oleh karena itu,"
Kata Lie Poan Thian.
"apakah itu berarti bahwa pertempuran ini hendak dilanjutkan atau dihentikan sampai di sini saja?"
"Aku minta supaya pertempuran ini segera dihentikan saja,"
Kata Ca Tiauw Cin.
"Sekarang aku suka mengaku dengan sejujur-jujurnya. Aku menyerah kalah kepadamu! 466 Ayolah kau tolong banguni aku."
"Apakah kau bukannya hendak memperdayakan dan menumbuk kepalaku dengan ilmu Hek-see-ciang, seperti apa yang pernah kau berbuat terhadap pada guruku?"
Kata Lie Poan Thian dengan rupa masih ragu-ragu.
"Oh, tidak, tidak,"
Kata Ca Tiauw Cin.
"Aku bersumpah, Thian boleh kutuk padaku, apabila aku memperdayakan dan berbuat curang terhadap pada dirimu."
Oleh karena itu, maka apa boleh buat Poan Thian pun lalu menghampirinya, meski di dalam hati belum mau percaya ia akan kejujuran pihak musuhnya itu.
Pada waktu hendak membanguninya, Poan Thian mendengar Tiauw Cin berbisik di telinganya.
"Tendanganmu telah membikin kakiku patah,"
Katanya dengan lemah dan terus jatuh pingsan.
Poan Thian meski jengkel bukan main akan kecongkakan perbuatan si tuan rumah tadi, tetapi dalam keadaan begitu ia jadi kasihan dan lalu panggil muridmuridnya Tiauw Cin, untuk menggotong guru mereka itu ke dalam rumah, sedangkan ia sendiri lalu membalut kaki Tiauw Cin yang patah kena tendangannya itu.
Maka setelah Tiauw Cin tersadar dari pingsannya dan dapatkan kakinya sudah dibalut oleh pemuda kita, ia jadi sangat berterima kasih dan berkata.
"Toako, sekarang aku baru ketahui, bahwa selain ilmu kepandaianmu sangat tinggi, kau juga ada seorang gagah yang bijaksana. Maka kalau nanti kau kembali ke kota Kim-leng dan berjumpa dengan Cin Kong Houw Piauw-su, sudilah apa kiranya kau sampaikan pernyataan menyesal dan maafku, yang pada beberapa waktu yang lalu telah memperlakukannya dengan secara 467 tidak jujur."
Dan bersamaan dengan ini, Tiauw Cin pun lalu perintah salah seorang muridnya buat mengambil bendera lambang Cin Kong Houw yang telah dicurinya itu, yang lalu diterimakan pada Lie Poan Thian sambil berkata.
"Toako, haraplah kau tolong kembalikan bendera lambang ini pada Cin Piauw-su, buat mana aku sekarang merasa sangat menyesal telah menuruti saja hasutan orang, sehingga hari ini aku telah mendapat celaka oleh karena perbuatanku sendiri. Sedang terhadap pada dirimu juga, aku harus menyatakan rasa menyesal dan maafku yang sebesar-besarnya, dan berbareng dengan itu, akupun harus mengucapkan juga terima kasih banyak-banyak, atas kesudian Toako akan menolong pada seorang lawan."
Maka Poan Thian yang mendengar omongan itu, di dalam hatinya jadi sangat menyesal, yang ia barusan telah mempergunakan ilmu Lian-hwan-sauw-tong-tui, berhubung ia sudah lupa dan hanya ingat akan merobohkan pihak musuh, dari pada dirinya sendiri yang dirobohkan oleh pihak lawannya.
Tetapi beras sudah menjadi nasi, hingga biar bagaimana ia sesalkan juga, urusan yang telah terjadi pasti tak dapat ditarik pulang kembali.
Begitulah setelah meminta diri pada tuan rumah yang sekarang seakan-akan telah menjadi cacad, Poan Thian lalu kembali ke tempat penginapannya di waktu hari telah larut malam, kemudian ia pergi masuk tidur, sesudah membaluri tangannya yang salah urat tadi, dengan yosan untuk kepukul yang terlebih dahulu dihancurkan dengan arak obat yang ia memang ada bawa di dalam pauw-hoknya.
468 Ketika di hari esoknya ia bangun tidur kira-kira jam sepuluh, Poan Thian telah diberitahukan oleh pelayan rumah penginapan tersebut, bahwa pada barusan pagipagi sekali ada seorang tetamu yang datang mencari padanya.
Tetapi tatkala diberitahukan bahwa Poan Thian masih tidur, ia lantas berangkat pergi sambil mengatakan, bahwa ia akan balik kembali sebentar di waktu lohor.
"Cobalah kau terangkan bentuk tubuh orang itu,"
Kata pemuda kita pada si pelayan.
Orang yang ditanyakan lalu menerangkan menurut apa yang ia ketahui, dengan menambahkan bahwa orang itu bermisai dan menggendong pedang yang memakai serangka diukir bagus sekali di atas bebokongnya.
Mendengar keterangan dan lukisan perawakan tubuh orang yang dikatakan hendak balik kembali sebentar lohor itu, Poan Thian jadi terkejut dan berkata di dalam hati.
"Oh, itulah ternyata si Hok Cit yang menyamar! Dan jikalau dugaanku tidak keliru, maksud kedatangannya tentulah akan mencari setori pula denganku di sini."
Maka buat menunjukkan bahwa ia tidak takut menghadapi segala kemungkinan karena akibat dari pada perbuatannya sendiri.
Poan Thian sengaja tidak bepergian ke mana-mana buat menantikan kedatangannya musuh itu.
Mula-mula ia minta disediakan makanan pada pelayan tadi, dan setelah selesai dahar, ia lantas duduk membaca sehingga beberapa jam lamanya.
Kira-kira hari hampir lohor, pelayan tadi telah kembali ke kamarnya dan memberitahukan, bahwa tetamu yang ditunggu-tunggu itu telah datang dan sekarang sedang 469 menunggu di luar dengan sikap yang sabar sekali.
"Heran, heran,"
Pikir pemuda kita di dalam hatinya.
"Adakah Hok Cit begitu sabar sebagaimana penuturannya si pelayan ini?"
"Katakanlah padanya, bahwa aku akan segera keluar menjumpakan padanya,"
Kata Lie Poan Thian sambil menjemput beberapa hui-piauw yang lalu dimasukkan ke dalam saku bajunya. Si pelayan mengatakan.
"Baik,"
Dan segera berlalu, akan mengasih kabar pada tetamu yang sedang menunggu itu. Tatkala Poan Thian keluar menjumpai tetamu itu, ia hampir tidak percaya penglihatannya, hingga ia berseru dengan girang.
"Hoa-suheng!"
Orang itu tampak tersenyum kegirangan.
"Lie-sutee!"
Katanya.
Kedua orang itu lalu saling merangkul satu pada lain.
Poan Thian hampir kepingin menangis saking kegirangan, karena orang yang disangka Hok Cit itu, ternyata bukan lain dari pada suhengnya sendiri Hoa In Liong.
Tetapi ia tidak mengerti bagaimana suheng itu telah berlaku begitu see-jie, juga ia agak kurang mengerti bagaimana In Liong telah mengetahui bahwa ia menumpang di rumah penginapan itu.
"Hal ini sebenarnya terlalu panjang buat bisa dituturkan selesai dengan satu-dua perkataan saja,"
Kata Hoa In Liong sambil tertawa.
"Kalau begitu,"
Kata Lie Poan Thian.
"marilah kita duduk mengobrol di kamarku." 470 In Liong menurut. Sesampainya di dalam kamar, mereka lalu mengambil tempat duduk dengan berhadap-hadapan, setelah terlebih dahulu In Liong gantungkan pedangnya pada paku yang ditancapkan di dinding tembok.
"Aku sungguh ingin mengetahui, bagaimana suheng ketahui yang aku ada menumpang di sini,"
Kata pemuda kita.
"Dan selain dari itu, bagaimanakah dengan guru dan saudara-saudara kita di Liong-tam-sie?"
"Mereka semua baik-baik saja dan mengharapkan akan kau sewaktu-waktu berkunjung ke sana."
Sahut Hoa In Liong.
"Sementara sebab-musabab mengapa aku ketahui kau berada di sini, sudah tentu saja kau juga tidak mengerti, pada sebelum aku menerangkan satupersatu duduknya perkara yang benar."
"Ya, ya, cobalah suheng tolong terangkan kepadaku,"
Meminta pemuda kita. In Liong lalu tuturkan pengalamannya, hingga Poan Thian yang mendengar penuturan itu, saban-saban mengucapkan.
"Beruntung kau keburu datang! Ah, sungguh jahat sekali orang itu!"
Demikianlah jelasnya penuturan Hoa In Liong itu.
Sebagaimana para pembaca juga tentu masih ingat, orang tua she Bie itu yang telah diloloh oleh Lauw Thay sehingga sinting dan membuka rahasia sendiri, akhirnya telah mendusin juga yang ia telah dipedayakan orang, hingga setelah ia bertempur dengan Lie Poan Thian dan melarikan diri pada sesudahnya merobohkan Lauw Thay, hatinya jadi begitu penasaran, sehingga pada malam itu juga ia telah balik kembali ke tempat penginapan Lie Poan Thian, buat membalas dendam dan membunuh 471 mereka berdua selagi tidur nyenyak.
Tidak tahunya setelah kembali ke sana, ternyata Poan Thian telah keluar dan di dalam kamar itu hanya tampak Lauw Thay saja yang disangkanya masih belum tidur.
Oleh sebab itu, maka ia lantas pasang sebatang Hun-hio buat membikin hilang ingatannya piauw-su dari Siang-hap Piauwkiok itu.
Dan tatkala kemudian ia yakin bahwa pengaruh Hun-hio nya telah "memakan"
Dengan betul, barulah ia korek daun pintu jendela yang ternyata tidak terkunci, berhubung tadi Poan Thian telah keluar dari situ buat coba satroni Mo Jie yang akan diminta keterangannya, mengenai peristiwa yang bersangkutpaut dengan namanya Sin-tui Bie yang dengan berulangulang telah kita ceriterakan di bagian atas.
Orang tua she Bie itu yang melihat daun jendela itu tidak terkunci, sudah tentu dengan mudah saja bisa masuk ke dalam kamar, dimana mula-mula ia berniat akan membunuh Lauw Thay.
Tetapi berhubung ia melihat ada bayangan manusia yang berkelebat di depan jendela, buru-buru ia urungkan niatannya dan lalu gendong Lauw Thay yang telah dibikin tidak berdaya oleh pengaruh Hun-hio, akan di bawah ke tempat lain untuk ditanyakan keterangan-keterangannya mengenai perbuatannya yang dianggap sangat curang itu, kemudian barulah piauw-su itu dibunuh, jikalau ini dirasa perlu.
Tidak tahunya ketika ia melayang keluar dari dalam kamar itu dengan menggendong Lauw Thay, ia baru ketahui bahwa bayangan yang terlihat berkelebat tadi bukan lain dari pada Hok Cit yang dengan secara kebetulan telah sampai juga ke situ, tatkala di waktu siangnya ia (Hok Cit) ketahui, bahwa Poan Thian menumpang di rumah penginapan tersebut.
472 Orang tua she Bie dan Hok Cit ini ternyata mempunyai perhubungan sebagai guru dan murid.
Maka setelah orang tua itu mengasih perintah Hok Cit buat pergi membunuh Lie Poan Thian.
buru-buru ia berlalu sambil berkata.
"Aku tunggu padamu di kelenteng Hok-tek-bio!"
Bio itu rupanya sudah cukup terkenal sebagai tempat pertemuan mereka, karena Hok Cit sudah lantas menjawab.
"Ya, ya, guruku boleh berangkat duluan. Dan jikalau urusan ini sudah selesai. aku nanti menyusul ke sana selekas mungkin." .. Bantuan Suheng Hoa In Liong Begitulah kejadian Hok Cit bertempur dengan Lie Poan Thian, sekembalinya pemuda kita pergi mengompes pada Mo Jie dan menampak Lauw Thay telah menghilang entah kemana perginya. Tetapi dalam pertempuran itu, Hok Cit terpaksa melarikan diri, sambil sesumbar akan bertemu pula dengan Lie Poan Thian pada nanti tiga tahun kemudian. Pada hari esoknya, ketika Poan Thian kembali ke kedai dimana Mo Jie bekerja, pemuda kita diberitahukan pula oleh pelayan itu, bahwa pada malam kemarin ada seorang yang mencari padanya, dengan lukisan bentuk tubuh orang itu membuat Poan Thian menyangka, kalaukalau orang itu adalah Hok Cit yang menyamar dengan memakai misai. Sudah barang tentu, karena keterangan ini hati si pemuda jadi semakin kuatir bagi keselamatan dirinya Lauw Thay, tidak tahunya orang yang disangka Hok Cit itu, bukan lain dari pada Hoa In Liong, yang ketika itu 473 sedang mencari Poan Thian buat menanyakan lebih jauh tentang tanggal dan bulan pernikahannya pemuda kita dengan nona Giok Tien, yang ia telah ketahui dari keterangan yang didapatnya dari Lauw Thay. Tetapi In Liong dan Lauw Thay ini yang belum pernah saling mengenal satu sama lain, cara bagaimanakah yang satu bisa memberi kabar kepada yang lain tentang keadaan diri pemuda kita? Hal ini memang agak membingungkan, apabila kita tidak mundur sedikit jalannya cerita, pada sebelum peristiwa-peristiwa lain yang telah lampau dijelaskan dahulu kepada pembaca kita. Lauw Thay yang ternyata masih panjang umurnya, ketika belum sampai dicelakai oleh orang tua she Bie itu, di tengah jalan terlihat oleh Hoa In Liong. Ketika rasa curiga melihat Lauw Thay yang digendong itu, lalu dengan diam-diam ia menguntit belakangan. Orang tua she Bie itu yang kemudian telah mengetahui juga, bahwa dirinya tengah dikuntit orang, lalu percepat tindakannya dan membiluk ke jalan-jalanan kecil yang sunyi dan jarang dilewati orang. Sementara In Liong yang jadi semakin heran dengan gerak-gerik orang tua itu, sudah barang tentu jadi semakin curiga dan lalu menguntit terus dengan tindakan yang sama cepatnya. Dan tatkala mereka berada di suatu tempat yang jauh ke sana-sini, barulah In Liong memanggil-manggil pada orang tua itu, yang telah dimintanya akan berhenti sebentaran. Tetapi orang tua she Bie itu yang melihat gelagat tidak baik, bukan saja tidak mau meladeni, malah menengok pun tidak, hingga panggilan itu seolah-olah tidak dihiraukannya sama sekali. 474 Hoa In Liong yang jadi semakin curiga dan tak mau membiarkan orang tua itu berlaku begitu saja, iapun membuntuti terus dengan menggunakan ilmu berjalan cepat yang jarang dapat dipahamkan oleh sembarang orang. Dan ketika telah mendekati kira-kira beberapa puluh tindak jauhnya, kembali In Liong memanggil.
"Saudara, berhenti dulu! Aku ada sedikit omongan yang hendak disampaikan kepadamu!"
Tetapi sebagai jawaban dari pada panggilan tersebut, tiga buah barang yang berkilau-kilau telah menyamber padanya dengan berturut-turut, hingga In Liong yang mengetahui, bahwa itulah ada huipiauw-huipiauw yang orang telah sambitkan ke jurusannya, buru-buru ia berkelit dengan jalan berlompat ke samping, dari mana dengan mengeluarkan suara bentakan yang menandakan rasa mendongkolnya, ia lantas mencabut pedang sambil menyomel.
"Kurang ajar! Kau ini ternyata ada satu manusia tidak bisa diajak berurusan dengan secara baik! Jangan lari!"
Sementara orang tua she Bie itu yang melihat tidak ada jalan lain dari pada meladeni bertempur orang yang membututinya itu, lalu melemparkan Lauw Thay ke sisi jalan, kemudian mencabut juga goloknya yang digendong di atas bebokongnya.
"Kau ini siapa?"
Ia membentak sambil putarkan badannya ke belakang akan menghadapi Hoa In Liong yang mengejar kepadanya.
In Liong lalu menerangkan siapa dirinya, tetapi nama itu agak asing dalam pendengaran orang tua itu di kalangan Kang-ouw hitam.
Oleh sebab itu, ia pikir In Liong tentu mudah digertak oleh segala gelaran kosong, dari itu, sambil 475 membusungkan dada ia lantas mengeluarkan suara jengekan dari lobang hidung.
"Hm!"
Katanya.
"Tidak kunyana segala bu-beng-siauw-cut hendak campur tangan dalam urusanku ini?"
"Terangkanlah siapa dirimu, dan siapa itu orang yang kau gendong tadi!"
Tanya Hoa In Liong dengan suara keren.
"Di waktu duduk tidak menukar she, dan di waktu berjalan tidak mengganti nama,"
Kata orang tua itu.
"Aku inilah Sin-tui Bie dari Kanglam!"
Hoa In Liong jadi tertawa tempo mendengar gertakan sambel itu.
"Kau jangan mengacau!"
Katanya.
"Sin-tui Bie sudah lama mencuci tangan dan tidak campur lagi dengan segala urusan tetek bengkek di kalangan Kang-ouw, cara bagaimanakah sekarang bisa muncul lagi satu Sin-tui Bie?"
"Kau dan aku belum pernah saling mengenal atau terbit permusuhan apa-apa-apa kata orang tua she Bie itu.
"tetapi apakah sebabnya kau hendak mencampuri urusanku?"
"Aku bukannya hendak menyampuri urusan orang lain,"
Sahut Hoa In Liong.
"tetapi karena gerak-gerikmu agak mencurigakan, maka aku merasa berhak buat menanyakan. Apakah perlunya di waktu tengah malam buta kau memasuki kamar orang lain? Dan kemana kau hendak bawa pergi orang yang kau gendong itu?"
Pertanyaan itu sudah tentu saja telah membikin orang tua itu jadi sangat terperanjat, karena ia sama sekali tidak pernah menyangka, bahwa segala perbuatannya telah dapat dilihat oleh Hoa In Liong, yang 476 dengan secara tidak disengaja melewat di tempat penghinapan Poan Thian tadi.
Kesudahannya karena mengerti bahwa ia sukar berbantahan dengan orang yang tidak dikenalnya ini, maka Sin-tui Bie tertiron itu jadi mendongkol dan lantas membentak.
"Persetan dengan segala percampuran tanganmu dalam urusanku ini! Sekarang hendak kuperingatkan kepadamu satu kali lagi. Apabila kau masih saja berkepala batu mencampuri urusanku, janganlah kau anggap aku keterlaluan, jikalau akan terpaksa mengambil tindakan apa-apa yang tidak selayaknya!"
"Kalau begitu,"
Kata Hoa In Liong pula.
"cobalah jawab pertanyaanku ini. Siapakah sebenarnya orang yang kau gendong itu? Dan apakah maksudnya kau menyambitkan hui-piauw kepadaku tadi?"
Orang tua itu jadi "terdesak"
Dan akhirnya timbullah amarahnya dan lantas beseru.
"Kurang ajar! Sekarang sudah teranglah bahwa perbuatanmu ini semata-mata hendak mencari setori belaka! Nah, cobalah kau boleh rasakan golokku ini!"
In Liong yang melihat orang tua itu mendadak jadi sengit dan membacok kepadanya, sudah tentu saja iapun segera menangkis dengan pedang di tangannya.
Begitulah selanjutnya kedua orang itu lantas bertempur di antara jalanan yang sunyi dan gelap itu.
Tetapi Hoa In Liong ternyata lebih unggul dalam permainan pedangnya, dalam waktu sedikit saat saja ia telah mendesak lawannya sehingga tidak berdaya akan melanjutkan terus pertempuran itu.
Dan tatkala pada suatu ketika ujung pedang In Liong menyamber ke arah ulu hati orang tua itu dengan siasat Tok-coa-chut-tong, 477 Sin-tui Bie tetiron itu terdengar menjerit sambil membuang diri berguling di tanah sampai beberapa kali, kemudian dengan menggunakan siasat Lee-hie-ta-teng ia mencelat ke atas dan terus melarikan diri sambil sesumbar.
"Sampai kita bertemu pula!"
Sementara Hoa ln Liong yang merasa tidak perlu buat mengejar pada orang tua itu, lalu buru-buru menghampiri pada Lauw Thay yang ternyata telah tersadar dari pingsannya dan lekas berbangkit menanyakan.
"Saudara, terangkanlah dahulu, apakah kau ini ada seorang lawan atau kawan?"
"Aku ini adalah seorang kawan yang telah bantu mengusir orang yang telah menculik padamu tadi. Tetapi belum tahu kau ini siapa? Dan siapakah sebenarnya orang tadi yang telah menculik kepadamu?"
Lauw Thay jadi terbengong dan minta diberikan keterangan, tentang peristiwa-peristiwa apa yang telah terjadi tadi, dan cara bagaimanakah ia sekarang telah berada di situ.
In Liong yang sekarang baru mendusin, bahwa Lauw Thay telah digendong tadi dalam keadaan tidak ingat orang, lalu tuturkan pada sang piauw-su hal apa yang telah terjadi, sehingga ia bertempur dan telah berhasil mengusir si penculik yang mengaku bernama Sin-tui Bie itu.
Lauw Thay yang mendengar keterangan begitu, tanpa terasa lagi ia jadi bergidik sambil menyebut.
"O Mi To Hud! To Hud! Jikalau Cong-su tidak datang menolong, niscaya pada saat ini jiwaku telah melayang ke tempat baka!"
Lebih jauh karena ia berpendapat yang Hoa In Liong ini bukan orang jahat, maka dengan singkat tetapi jelas 478 Lauw Thay lalu tuturkan segala peristiwa yang telah dialaminya, dengan antaranya ia menyebut-nyebut juga namanya Lie Poan Thian.
Hoa In Liong jadi kelihatan girang mendengar nama adik seperguruannya itu, hingga ia lantas menanyakan.
"Belum tahu dia sekarang ada dimana?"
"Lie-toako sendiri justeru berdiam di rumah penginapan yang sama, dari mana kau katakan aku telah diculik oleh Sin-tui Bie tetiron tadi,"
Sahut Lauw Thay.
Hoa In Liong mengangguk-anggukkan kepalanya selaku orang yang sedang berpikir keras, hingga buat beberapa saat lamanya ia kelihatan terbengong tanpa mengucapkan barang sepatah katapun.
Dan tatkala Lauw Thay mengajak ia kembali ke tempat penginapan Lie Poan Thian, mendadak ia jadi menghela napas sambil berkata.
"Ah, beginilah rasanya orang yang hidup keliaran di kalangan Kang-ouw! Pada sebelum terkenal orang berlomba akan memperebuti nama dan gelaran kosong, dan tatkala sudah berhasil dan jadi terkenal, lalu timbullah permusuhan di kiri kanan dari orang-orang yang iri hati oleh karena gelaran kosong itu. Ai, saudara, dunia ini benar-benar terlalu gila bagi kita orang-orang yang hidup di kalangan Kang-ouw!"
Lauw Thay yang tidak mengerti ke mana tujuan omongan itu, tentu saja tidak bisa berbuat lain dari pada mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata.
"Ya, ya,"
Dengan suara yang tertahan di dalam tenggorokan.
Selanjutnya, karena mendengar pengakuan Lauw Thay yang telah diperintah oleh Cin Kong Houw akan membantu dengan secara diam-diam kepada Lie Poan Thian yang akan pergi ke Ca-kee-chung buat menempur Ca Tiauw Cin, maka In Liong lalu menyatakan pikirannya, 479 bahwa Lie Poan Thian yang memangnya bertabiat tidak suka mengunjuk kelemahan sendiri, pasti akan jadi kurang senang apabila ia ketahui tindakan ini yang sebenarnya bermaksud baik.
"Maka jikalau kita hendak membantu padanya,"
Kata Hoa In Liong.
"paling baik jikalau kita mengambil jalan lain dengan secara tidak langsung, untuk dapat meringankan usaha yang sedang ditempuhnya. Misalnya, walaupun dengan membiarkan ia pergi sendirian ke Ca-kee-chung, tetapi kita yang berada "
Di garis belakang"
Harus berdaya sedapat mungkin buat menentang muslihat-muslihat keji orang lain yang akan ditujukan kepadanya.
Oleh sebab itu, yang pertama-tama kita harus tentang Sin-tui Bie tetiron yang selalu mencari "lantaran"
Buat "menjatuhkan dengan secara diam-diam"
Nama baik Lie-sutee itu.
Karena tidak mustahil, selagi Lie-sutee sedang berhadapan dengan Ca Tiauw Cin, orang she Bie itu akan mendadak muncul dan melakukan pembokongan yang Lie-sutee sendiri tidak pernah pikir akan bisa terjadi."
Dengan keterangan itu, Lauw Thay pun membenarkan pendapat Hoa In Liong, walaupun dia menanyakan.
"Hanya belum tahu bagaimana cara itu akan diaturnya?"
"Buat sekarang,"
Kata Hoa In Liong.
"hanya ada satu jalan yang kelihatannya dapat dilakukan, yaitu buat beberapa hari lamanya kau jangan kembali dahulu ke rumah penginapanmu, agar supaya Sin-tui Bie tetiron dan kambrat-kambratnya jadi bimbang dan tidak berani sembarangan "
Bergerak dahulu"
Pada sebelum mengetahui bahwa segala perbuatan mereka, tidak ada lagi orang yang akan merintanginya.
"Tetapi jikalau ia tahu bahwa kau telah bisa kembali 480 dengan selamat, urusan bisa jadi berlainan dari pada apa yang kukira, dan inilah ada sangat berbahaya, karena pihak kita yang lebih sedikit jumlahnya, bisa juga kejadian terdesak dan akhirnya akan mudah juga terjebak oleh pihak mereka yang berjumlah lebih banyak.
"Itulah bahayanya akan bertindak dengan secara berkawan dalam keadaan berbahaya seperti sekarang ini."
Lauw Thay menyatakan mufakat dengan omongan itu.
"Tetapi, oleh karena aku mesti bersembunyi sehingga beberapa hari lamanya,"
Katanya.
"apakah ini tidak membikin Lie-toako jadi bingung dan mencari padaku kian-kemari?"
"Hal itu memang tak dapat dicegah,"
Sahut Hoa In Liong.
"tetapi — apa boleh buat — kita harus berbuat begitu untuk membimbangkan hati pihak lawan kita. Liesutee pasti tidak akan berlalu dari sini, karena ia ada seorang yang tidak suka salah janji. Bukankah kau pernah mengatakan tadi, bahwa ia telah berjanji akan kembali ke rumah Ca Tiauw Cin pada hari esok di waktu magrib?"
"Ya, benar,"
Sahut Lauw Thay.
"Maka selama kau bersembunyi beberapa hari ini,"
In Liong melanjutkan pembicaraannya.
"aku sendirilah yang nanti berkeliaran akan menyelidiki segala gerakan Sin-tui Bie tetiron itu beserta sekalian kambrat-kambratnya di luaran. Malah kalau aku sendiri yang pergi menjumpakan pada Lie-sutee, rasanya ada lebih baik dari pada kau yang mesti berbuat begitu, karena disamping aku masih agak asing bagi orang-orang di sini, juga kambratkambratnya Sin-tui Bie tetiron tidak mengenali bahwa aku 481 inilah pihak lawan mereka."
"Ya, ya,"
Kata Lauw Thay.
"kalau begitu aku turuti saja pengunjukan-pengunjukanmu. Tetapi belum tahu apakah kau di sini ada kenalan atau handai taulan yang boleh ditumpangi untuk beberapa hari lamanya?"
"Aku di sini tidak mempunyai sahabat atau kenalan,"
Kata Hoa In Liong.
"Tetapi untuk tidak menerbitkan rasa curiga, pihak lawan kita, kukira ada lebih baik jikalau kau berdiam di bagian tempat-tempat yang agak ramai dari pada di tempat-tempat sunyi seperti di sini. Karena buat sekarang ini, bagimu, ada lebih banyak bahayanya dari pada selamat jikalau berdiam di tempat sunyi, karena pihak musuh tentu lebih suka memilih tempat-tempat sunyi sebagai tempat pertemuan mereka. Oleh sebab itu, kiranya lebih baik jikalau kau menumpang di rumahrumah penginapan yang ramai, asalkan kau di situ jangan keluar bepergian ke mana-mana.
"Tunggu sampai nanti Lie-sutee telah keluar dari Cakee-chung dengan memperoleh kemenangan, barulah kau boleh ketemukan padanya dan tuturkan segala pengalamanmu, sehingga ia ketahui bagaimana duduknya perkara yang benar. Maka dengan berbuat begitu, bukankah kita di sini seakan-akan telah bantu meringankan usahanya dengan tak usah kuatir disesalkan oleh Lie-sutee yang bertabiat agak luar biasa itu?"
"Ya, benar,"
Menyetujui Lauw Thay.
"Kalau begitu, biarlah aku kembali saja ke tempat penginapanku yang duluan, di mana aku telah pesan kamar ketika aku datang pada beberapa hari yang lampau."
Maka sambil beromong-omong dengan pelahan, mereka lalu berjanji akan bertemu pula di suatu tempat 482 yang mereka telah tetapkan dari di muka.
Kemudian mereka segera berpisahan buat melakukan tugas masing-masing yang bertujuan sama, yaitu untuk meringankan usaha Lie Poan Thian yang akan masuk ke Ca-kee-cung atas nama pengurus usaha pengangkutan Siang-hap Piauwkiok yang hendak "dirobohkan mereknya", dengan jalan dicuri bendera lambangnya oleh Chung-cu dari desa tersebut.
Begitulah ketika pada malam itu juga Lauw Thay kembali ke tempat penginapannya dan justru pergi ke kamar kecil dengan meninggalkan pakaiannya di muka kamar tidurnya yang pintunya tidak terkunci, ia jadi terperanjat bukan main, tatkala kembali dari kamar tersebut, akan menyaksikan pakaiannya itu telah lenyap entah kemana perginya, hingga biarpun ia menanyakan hal ini pada beberapa pelayan yang bekerja di situ, tidak seorang pun yang ketahui atau mendapat keterangan siapa pencurinya pakaian itu.
Tetapi karena mengingat bahwa ia masih mempunyai beberapa perangkat pakaian yang dititipkan di rumah penginapan tersebut, maka selanjutnya Lauw Thay tidak ambil pusing pula tentang kehilangan pakaian kotor yang tak berharga seberapa itu.
Tahu-tahu ketika di hari esoknya ia mendengar ada orang yang terbunuh, ia sama sekali tidak menyangka, bahwa orang itu ada pencuri pakaiannya, yang tatkala dapat dilihat oleh orang tua she Bie itu, lalu disangkanya bahwa dialah Lauw Thay yang dikenalinya karena pakaiannya.
Maka setelah melakukan pembunuhan, kepala pencuri yang malang itu lalu dibawanya pergi, dengan pengharapan supaya pihak yang berwajib tak dapat menyelidiki perkara pembunuhan itu.
Pada hal ia sama sekali tidak menyangka, bahwa pembunuhan itu 483 telah dilakukan terhadap pada seorang-orang yang keliru dan tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya sendiri!
Lie Poan Thian yang mendengar penuturan suhengnya, dengan tak terasa lagi jadi menggebrak meja sambil berkata.
"Allah! Tidak kunyana urusan bisa berbalik jadi begitu rupa! Maka apabila orang mengatakan bahwa kejadian yang benar itu kerapkali lebih aneh dari pada dongengan, itulah sesungguhnya tidak bersalahan barang sedikitpun!"
In Liong tertawa sambil menyatakan mufakat dengan pendapat suteenya itu.
"Tetapi aku sungguh tidak bisa mengerti,"
Kata Lie Poan Thian pula.
"cara bagaimana kau telah berlaku begitu see-jie, tidak mau membanguni aku, ketika kau datang ke sini pada hari tadi pagi-pagi?"
"Itulah karena aku tahu, bahwa semalam kau telah pulang ke sini dalam keadaan lelah, habis bertempur dengan Ca Tiauw Cin,"
Sahut Hoa In Liong.
"hingga aku rasa tidak baik akan mengganggu padamu yang sedang tidur dengan nyenyak."
Poan Thian jadi heran dan lantas bertanya.
"Cara bagaimanakah kau mengetahui, bahwa aku telah pulang terlambat pada malam kemarin?"
"Karena aku telah menguntit padamu dari sebelah belakang,"
Sahut Hoa In Liong.
"berhubung aku kuatir kau akan dijebak oleh Ca Tiauw Cin dan kambratkambratnya, terutama oleh akal muslihat Hek-houw-lie Cian Cong yang terkenal likiat itu."
Tatkala Poan Thian menanyakan lebih jauh, mengapa ia tahu nama Hek-houw-lie yang menjadi gundal orang she Ca itu, Hoa In Liong lalu menerangkan, 484 bahwa nama itu telah dapat didengar dari penuturannya Lauw Thay.
"Tetapi sungguh aneh sekali,"
Ia menambahkan.
"ke mana perginya manusia busuk itu, selagi induk semangnya bertempur dengan mati-matian denganmu."
"Entah kemana perginya dia itu,"
Poan Thian berkata, sambil kemudian perintah pelayan rumah penginapan itu untuk menyediakan makanan buat dua orang.
Dan tatkala makanan yang dipesan itu telah disajikan, mereka berdua lalu duduk makan minum sambil membicarakan soal-soal yang telah lampau, antara mana, In Liong tidak lupa menanyakan kepada sang su-tee, bilamana ia akan menikah dengan nona Giok Tin yang ia dapat dengar dari penuturannya Lauw Thay.
Lebih jauh buat bisa hidup tenteram pada hari-hari yang akan datang, maka In Liong telah menganjurkan supaya Poan Thian lekas menikah, kemudian mencuci tangan dan "mundur teratur"
Dari kalangan Kang-ouw, untuk menuntut lain macam penghidupan yang lebih berarti, buat mana Poan Thian akui kebenaran nasihat suhengnya itu.
Sehabis mereka makan minum, In Liong lalu ajak Poan Thian pergi ke tempat penginapan Lauw Thay, untuk merembukkan tindakan apa yang selanjutnya perlu diambil terhadap pada Sin-tui Bie tetiron itu yang selalu mencari setori dan terutama memusuhi pada Lie Poan Thian, yang dikatakan telah membunuh muridnya yang bernama Liu Tay Hong itu.
"Jikalau urusan ini dapat disudahi dengan secara damai,"
Kata Hoa In Liong lebih jauh.
"itulah memang yang kita harapkan. Tetapi apabila cara kompromi itu 485 sukar diperoleh, rasanya tak ada jalan lain dari pada mesti menghadapi pertempuran yang terakhir untuk mendapatkan pemberesan, asalkan tindakan ini disetujui oleh Tie Hwie Taysu, yang menurut pendapatku, tidak tahu-menahu tentang adanya peristiwa ini. Tetapi belum tahu, bagaimana pendapat Su-tee?"
"Benar, benar,"
Kata Poan Thian yang seolah-olah orang yang baru sadar dari tidur yang nyenyak.
Karena, bersamaan dengan itu, ia jadi ingat pada Sin-siu-tayseng Bie Tiong Liong, yang pernah disebut-sebut namanya oleh Hok Cit di waktu bertempur pada kemarin dulu malam.
Dan setelah ia tuturkan hal ini pada In Liong, sang suheng lantas berkata.
"Nah, kalau saja memang ada kesempatan dan alasan buat kau coba bicara dengan secara baik dengan Sin-tui Bie yang sejati atau Tie Hwie Taysu, mengapakah kau tidak ambil ketika itu untuk membereskan persoalan ini selekas mungkin?"
"Ya, ya,"
Menyetujui Poan Thian.
"kalau begitu aku perlu selekasnya kembali ke kota Kim-leng dan menyampaikan kabar ini pada Tie Hwie Taysu di kelenteng Ceng-hie-koan."
Kemudian mereka lalu pergi ke tempat penginapan Lauw Thay buat merembukkan urusan ini terlebih jauh.
◄Y► Lauw Thay yang diberitakan oleh pelayan rumah penginapan tentang kedatangannya kedua orang itu, tentu saja lekas keluar menyambut dan persilahkan mereka masuk akan duduk pasang omong di halaman kamarnya yang memang agak luas dan cocok akan 486 dijadikan kamar tamu.
Di sini, setelah berembuk beberapa lamanya, akhirnya telah diambil keputusan, akan Lauw Thay kembali ke kota Kim-leng buat membawa bendera lambang yang telah dapat diambil pulang dan sekalian melaporkan tentang kemenangan Poan Thian dalam pertempuran dengan Ca Tiauw Cin kepada Cin Kong Houw suami isteri, karena ia sendiri bersama In Liong akan berkunjung ke kelenteng Ceng-hie-koan buat coba menyelidiki tentang lelakon Sin-tui Bie tetiron itu pada Tic Hwie Taysu di sana.
Dan jikalau urusan ini sudah beres, barulah mereka akan masuk ke kota Kim-leng buat berjumpa dengan Cin Kong Houw dan yang lain-lainnya.
Lauw Thay mufakat dengan omongan itu.
Maka setelah sore itu ia menerima bendera lambang Siang-hap Piauw-kiok yang telah dicuri oleh Ca Tiauw Cin itu dari tangan Lie Poan Thian, di hari esoknya pagipagi sekali Lauw Thay lalu berangkat ke kota Kim-leng, sedangkan Poan Thian dan In Liong lalu menuju ke kelenteng Ceng-hie-koan yang terletak di luar kota tersebut.
Pada suatu hari Poan Thian dan In Liong telah sampai di sebuah dusun di luar kota Kim-leng, dimana mereka telah menunda pauw-hok mereka di suatu rumah makan yang sekalian menyewakan juga kamar pada tetamu-tetamu yang kebetulan ingin beristirahat di luar kota, kemudian mereka lalu menuju ke kelenteng Cenghie-koan buat menjumpai Tie Hwie Taysu.
Sesampainya di sana, Poan Thian lalu mengetok pintu beberapa kali, kemudian barulah kelihatan muncul seorang toosu kecil yang oleh Tie Hwie diakui sebagai cucunya Sin-kun Louw Cu Leng, hingga toosu kecil yang 487 kenali Poan Thian sebagai salah seorang tetamu yang pada beberapa waktu pernah datang berkunjung ke situ, lalu memberi hormat sambil bertanya.
"Kisu, apakah kedatanganmu ini bukannya hendak mencari guruku?"
"Ya, benar,"
Sahut yang ditanya sambil balas memberi hormat.
"Belum tahu apakah kunjungan kami ini tidak mengganggu pada Taysu di sini?"
"Oh, itulah sama sekali tidak mengganggu apa-apa, malah kedatangan tuan ini justru sangat diharapkan sekali oleh guruku,"
Kata toosu kecil itu.
"hanya sangat menyesal pada beberapa hari ini ia tidak ada di kelenteng, hingga kedatanganmu itu berarti sia-sia belaka."
"Apakah ia tidak memberitahukan padamu bilamana ia akan kembali?"
Poan Thian bertanya.
"Tidak,"
Sahut toosu kecil itu.
"ia orang tua mungkin juga akan kembali pada hari ini atau pada hari esok, tetapi ia belum pernah bepergian lebih lama dari pada lima hari." 4.31. Saudara Kembar Tie Wie Taysu "Belum tahu semenjak kapan ia keluar bepergian?"
Poan Thian bertanya pula.
"Sudah empat hari,"
Sahut yang ditanya.
"Kalau begitu,"
Kata In Liong yang campur bicara.
"baiklah kita kembali lagi di hari esok saja pada waktu begini."
Poan Thian menyatakan setuju.
Begitulah setelah minta si toosu kecil itu supaya suka manyampaikan kepada gurunya tentang kunjungan 488 mereka itu, pemuda kita lalu mengajak In Liong kembali ke rumah makan tempat mereka menginap.
Di hari esoknya pada waktu yang bersamaan, kedua orang itu kembali telah berkunjung ke kelenteng tersebut, tetapi lagi-lagi mereka telah "pulang kosong", berhubung Tie Hwie Taysu belum kembali dari bepergiannya.
Begitu juga setelah mereka pulang pergi sampai beberapa kali dan tidak juga bisa menjumpai toosu tua itu, lambat-laun mereka jadi timbul rasa curiga, kalau-kalau Tie Hwie memang sengaja menyuruh muridnya menjawab yang agak menyimpang, biarpun sebenarnya ia ada dalam kelenteng tersebut dan tidak pergi ke mana-mana.
Maka sambil berjalan pulang setelah berkunjung berkali-kali dengan tidak dapat menyampaikan maksudnya, akhirnya kedua orang itu lalu berembuk akan coba melakukan penyelidikan ke situ di waktu malam hari.
Apabila ternyata benar Tie Hwie tidak ada di dalam kelenteng, urusan itu boleh dianggap saja sebagai suatu hal yang kebetulan, tetapi apabila ia ada di kelenteng, dan sesungguhnya tidak mau bertemu dengan mereka, mereka boleh coba menanyakan dan menegur atas perbuatannya yang tidak manis itu.
"Cara ini memang bisa berakibat tidak baik dan berarti juga penanaman benih permusuhan antara kita dan dia,"
Kata Lie Poan Thian.
"Tetapi urusan meminta akan kita berbuat begitu. Apa boleh buat......"
"Asalkan kita jangan berlaku sembrono dan kurang taktis,"
Menasehati Hoa In Liong.
Poan Thian menyatakan mufakat dengan omongan itu.
489 Demikianlah sesudahnya selesai dahar dan bersedia apa yang perlu untuk melakukan pengintipan menurut rencana yang mereka atur tadi, maka pada malam itu juga Poan Thian dan In Liong lalu menuju ke kelenteng Ceng-hie-koan dengan masing-masing mengenakan pakaian yang ringkas untuk berjalan di waktu malam hari.
Sesampainya di muka kelenteng tersebut, kembali mereka berunding dari arah mana mereka akan memasuki kelenteng itu.
Tetapi In Liong yang selalu bisa berlaku hati-hati, mendadak dapat pikiran lain yang segera dinyatakan pada adik seperguruannya itu.
"Cara ini baiklah kita jangan lakukan dahulu,"
Katanya.
"Aku di sini ada suatu cara yang akan dapat melancarkan penyelidikan kita ini dengan tidak mesti mengalami risiko begitu besar sebagaimana apa yang kita pikirkan pada siang hari tadi."
"Cobalah tuturkan tindakan apa yang hendak kau lakukan itu,"
Meminta Lie Poan Thian.
"Jikalau kita melakukan penyelidikan ini dengan berduaan,"
Kata Hoa In Liong.
"niscaya kita akan terlibat berduaan pula, apabila urusan sampai tak dapat diselesaikan dengan secara damai. Maka dari itu, apakah tidak baik kalau aku saja yang melakukan pekerjaan ini, sedangkan kau boleh menunggu dahulu akan melihat hasil-hasil dari pekerjaan yang akan datang itu?"
"Ya, jikalau dipandang sepintas lalu, tindakanmu itu memang ada benarnya juga. Tetapi oleh karena mengingat yang kau belum pernah kenal atau melihat romannya Tie Hwie Taysu, apakah urusan ini tidak akan jadi gagal apabila nanti kau berjumpa dengan seorang yang romannya bersamaan dengan toosu tua itu?"
Poan Thian berkata dengan rupa yang menyatakan keragu490 raguannya.
"Justru karena aku tidak kenal padanya,"
Kata In Liong.
"maka kukira segala perbuatanku itu masih mudah akan diperbaikinya, apabila nanti aku berbuat kekeliruan, sedangkan jikalau itu diperbuat olehmu yang memang kenal padanya, niscaya urusan bisa berubah menjadi permusuhan, yang kukuatirkan, tidak mungkin disudahi tanpa ada salah seorang yang "
Keluar"
Dari situ dalam keadaan utuh. Apakah barangkali Su-tee tidak memikirkan sampai di situ?"
Poan Thian berdiam sejurus, kemudian ia berkata.
"Ya, sudahlah. Sekarang kita atur begini saja. Kau sendiri mengintip dan mendengari dari atas wuwungan kelenteng tentang ada tidaknya Tie Hwie di dalam kelenteng ini, sedangkan aku di luar akan coba mengetok pintu buat menanyakan pada toosu kecil yang kita biasa ketemukan itu. Jikalau Tie Hwie telah kembali, aku boleh lantas pergi menjumpainya, jikalau ia belum kembali, kita boleh lantas lanjutkan penyelidikan ini. Kita harus berlaku sangat hati-hati dalam melakukan pekerjaan ini, karena Tie Hwie itu bukan seorang yang boleh dipersamakan dengan segala orang yang pernah berkeliaran di kalangan Kang-ouw."
"Ya, ya, begitupun boleh,"
Sahut Hoa In Liong.
"Tetapi aku masih ada sepatah dua patah omongan yang hendak kusampaikan kepadamu.
"Jikalau Tie Hwie ternyata ada di kelenteng ini dan kau pergi menjumpainya, aku di atas wuwungan tidak akan lekas turun buat mengunjukkan rupa, apabila aku melihat atau mendengar yang agak tidak baik. Tetapi jikalau ia ternyata bermaksud baik terhadap kita berdua, aku nanti berpura-pura mengetok pintu akan mencari 491 padamu, sambil mengatakan yang aku tidak mendapat cari padamu di tempat penginapanmu, tetapi akhirnya lantas datang mencarimu di sini, setelah mendapat keterangan dari "
Pelayan"
Rumah penginapan."
"Ya, ya, caramu itu aku sangat mufakat,"
Kata Lie Poan Thian yang lalu menghampiri ke muka kelenteng Ceng-hie-koan buat mengetok pintu.
Sedangkan In Liong setelah menoleh ke kiri kanan, lalu menggunakan siasat Hui-yan-ciong-thian, ia tendangkan, kakinya ke tanah dan terus melayang ke atas wuwungan kelenteng, dari mana ia berjalan dengan indap-indap untuk mencari tahu di bagian mana yang terdengar ada suara manusia.
Sementara Lie Poan Thian sesudah mengetok pintu beberapa kali, kemudian melihat toosu kecil itu membuka pintu sambil berkata.
"Oh, nyatalah Siecu yang telah mengetok pintu. Guruku sekarang sudah kembali."
"O Mi To Hud!"
Toan Thian berkata di dalam hatinya.
"Beruntung aku tidak mengambil tindakan dengan secara semberono!"
"Harap supaya kau sudi memberitahukan pada Losuhu tentang kedatanganku ini,"
Kata pemuda kita dengan paras muka berseri-seri.
Tatkala toosu kecil itu berlalu tidak berapa lama.
Poan Thian telah menampak Tie Hwie sendiri keluar menyambut dengan sikap yang manis dan ramah-tamah.
,,Selamat sore, Lie Siecu,"
Kata toosu tua itu.
"Selamat sore, Lo-suhu,"
Kata Lie Poan Thian sambil memberi hormat.
"Aku harap saja kedatanganku ini tidak mengganggu kepadamu."
"Oh, itulah sama sekali tidak,"
Sahut Tie Hwie Taysu.
492 "Marilah kita duduk beromong-omong di dalam kelenteng.
Hwat Lok telah melaporkan padaku tadi, bahwa Siecu telah beberapa kali datang ke sini mencari aku, tetapi selalu tidak bisa bertemu saja, berhubung aku belum pulang.
Kemanakah kawanmu yang pernah disebutkan oleh Hwat Lok itu?"
Mendengar pertanyaan itu, hati pemuda kita jadi agak terkejut, tetapi kesediaannya dalam hal menghadapi soal-soal yang agak kesusu, telah membikin ia sadar dan segera menjawab.
"Sahabatku hari ini tidak datang ke tempat penginapanku, maka aku telah berkunjung ke sini dengan hanya seorang diri saja."
"Marilah kita masuk,"
Mengajak toosu tua itu.
Poan Thian menurut dengan sikap yang agak see-jie.
Tatkala tuan rumah dan tetamu telah duduk bersamasama, toosu kecil Hwat Lok lalu datang membawa air teh dan bebuahan kering.
Tie Hwie Taysu yang dari setadian memperhatikan pada pemuda kita lalu mulai bertanya.
"Aku lihat Siecu tampak sibuk benar pada petang hari ini. Ada urusan apakah yang perlu diurus olehmu?"
Bertanya Tie Hwie yang dari setadian memperhatikan Poan Thian yang mengenakan pakaian untuk berjalan di waktu malam itu.
Poan Thian kembali jadi terperanjat, ketika mendengar pertanyaan sang toosu yang agak mendadak itu.
Tetapi ketika baru saja ia hendak menjawab, mendadak di atas wuwungan kelenteng terdengar suara orang yang bertempur sambil mengeluarkan kata-kata yang mengutuk dan bersifat penasaran.
"Kalau tidak kau tentulah aku!"
Teriak satu suara yang 493 telah membikin Tie Hwie Taysu kelihatan jadi terperanjat.
"Di atas ada orang yang bertempur,"
Kata sang toosu yang lalu berbangkit dengan diikuti oleh pemuda kita.
"Marilah kita coba tengok."
Bagaikan seekor burung kepinis, toosu itu lalu melayang ke atas wuwungan rumah dengan diikuti oleh Lie Poan Thian.
Di sana, di bawah sinar bulan sabit yang mulai mengintip dari cela-cela awan yang bergerak-gerak oleh silirannya angin malam, mereka menampak dua orang tengah bertempur dengan menggunakan barang tajam.
Salah seorang antaranya, Poan Thian kenali sebagai kakaknya seperguruan Hoa In Liong, tetapi yang lainnya ia tidak kenal siapa.
Ah, itulah si tua bangka Tiong Liong yang datang membikin ribut di sini!"
Kata Tie Hwie Taysu yang segera masuk ke dalam kalangan pertempuran, untuk memisahkan mereka berdua dengan menggunakan ilmu Khong-siu-jip-pek-jim.
"Berhenti!"
Ia membentak pada salah seorang yang dikatakan bernama "Tiong Liong"
Itu. Tiong Liong apa boleh buat berlompat ke suatu pinggiran dengan sikap yang masih sangat penasaran. Kemudian Poan Thian buru-buru menghampiri Hoa In Liong sambil berpura-pura menanyakan.
"Suheng, cara bagaimanakah kau bisa berada di sini?"
"Hal ini akan kau ketahui nanti,"
Kata Hoa In Liong dengan cepat. Setelah berkata begitu, diapun lantas maju memberi hormat pada Tie Hwie Taysu sambil menghaturkan maaf 494 atas keributan yang telah diterbitkannya tadi.
"Kamu sekalian marilah mengikut padaku ke dalam kelenteng,"
Kata Tie Hwie Taysu setelah balas pemberian hormat Hoa In Liong.
Begitulah keempat orang itu lalu dengan berturutturut melompat turun dari atas wuwungan rumah dan masuk ke halaman kelenteng dalam suasana yang masih agak "panas".
Di situ semua orang lalu dipersilahkan duduk dan disuguhkan air teh dan buah-buahan kering oleh Tie Hwie Taysu.
Mula-mula toosu itu perkenalkan kepada Poan Thian dan In Liong, bahwa orang yang bernama Tiong Liong ini, yang ternyata mempunyai roman yang hampir mirip dengan Tie Hwie sendiri, adalah adiknya sekandung yang bernama Bie Tiong Liong, yang di kalangan Kangouw terkenal dengan gelaran Sin-siu-tay-seng atau Nabi yang bertangan sakti, berhubung ia dapat "bergerak"
Dengan amat sebat dan gesit dengan "menggunakan"
Kedua tangannya.
Dan setelah itu, barulah ia menanyakan pada adiknya sendiri, karena apa ia telah datang membikin ribut ke tempat kediamannya pada waktu malam hari beritu?
Sin-siu-tay-seng Bie Tiong Liong tinggal bungkem dan saban-saban melirik pada ketiga orang itu dengan sorot mata mengandung kebencian.
"Beritahukanlah padaku sebab-musabab dari pada pertempuran ini,"
Berkata Tie Hwie pula, yang sekarang mengunjukkan dengan nyata sikapnya yang kurang senang pada saat itu.
"Segala urusan jikalau masih boleh didamaikan, mengapakah orang mesti berlaku begitu goblok akan coba saling mencelakai pada satu sama 495 lain? "
Aku bukan hendak campur tangan dalam urusan orang lain.
Tetapi sebagai seorang yang ingin melihat segala sesuatu berlangsung dalam suasana damai, kukira tidak buruknya jikalau aku dapat membantu akan perlaksanaan yang menuju ke arah perdamaian itu.
Oleh sebab itu, aku minta dengan baik supaya kau suka memberitahukan padaku sebab-musabab dari perselisihanmu dengan kedua tuan ini, agar supaya aku ketahui bagaimana selanjutnya aku harus bertindak."
"Ya, tetapi hal itu toh tidak ada sangkut pautnya dengan urusanmu,"
Selak Bie Tiong Liong.
"Perlu apakah kau mesti menanyakan hal itu kepadaku dengan secara melit? Sekarang paling betul kau boleh ke sampingkan urusan itu. Dan jikalau kau masih mengaku saudara kepadaku, aku ingin supaya kau memilih satu antara dua jalan dengan secara tegas. Apakah kau menyatakan suka memilih pihakku atau pihak kedua orang ini?"
"Aku sungguh tidak bisa mengerti,"
Kata Tie Hwie Taysu.
"cara bagaimana aku harus memihak ke sana sini, apabila dalam hal ini aku tidak tahu terang kemana juntrungannya. Cobalah kau tuturkan dahulu sebabmusabab dari perselisihan ini, agar supaya aku bisa menimbang dengan secara bijaksana, pihak mana yang harus disalahkan dan pihak mana yang harus dibenarkan."
Tetapi Bie Tiong Liong tampak semakin kurang senang mendengar pertanyaan itu.
Entahlah apa ia merasa bahwa dirinya bersalah dan ingin dieloni atau menganggap Tie Hwie selalu berpihak pada orang lain karena ia tidak suka dikatakan berlaku berat sebelah 496 dengan hanya memihak pada saudaranya sendiri.
Maka setelah berdiam sejurus lamanya, Tiong Liong lalu berkata dengan suara menyindir.
"Aku tahu,"
Katanya.
"bahwa segala sesuatu yang termasuk dalam pertimbanganmu, hampir selalu membenarkan pada pihak orang lain dari pada pihak saudara sendiri. Oleh sebab itu, apakah perlunya aku memberitahukan urusanku, kalau saja kesudahannya akan jatuh di pihakku juga yang bersalah?"
Toosu tua itu jadi menghela napas ketika mendengar pembicaraan Tiong Liong yang mengandung sindiran itu, hingga semakin lama ia kelihatan jadi semakin jengkel dan segan akan menanyakan apa-apa pula kepada saudaranya yang memang ia kenal baik sangat keras kepala itu.
"Ji-wie Siecu,"
Akhir-akhirnya ia berkata pada Lie Poan Thian dan Hoa In Liong.
"Maafkanlah padaku, apabila dalam hal ini tak berkuasa aku mengambil jalan damai sebagaimana mestinya.
"Maka untuk selanjutnya mengetahui sebab-musabah dari pada perselisihanmu dengan saudaraku ini, sudikah kiranya tuan memberitahukan kepadaku asal-usul peristiwa celaka itu?"
Sementara Lie Poan Thian yang merasa bahwa pokok persoalan itu telah dimulai dari pengalamannya sendiri, lalu mulai menerangkan pada Tie Hwie Taysu, semenjak ia diganggu dan ditantang di kelenteng tua oleh seseorang yang mengaku bernama .,Sin-tui Bie" , sehingga kemudian ia datang ke kelenteng Ceng-hiekoan buat pertama kalinya dengan diantar oleh Ciu Kong Houw, untuk menanyakan keterangan-keterangan lebih jauh pada Tie Hwie Taysu, pada waktu mana ia tidak mengetahui, bahwa Tiong Liong itu adalah saudara 497 kandungnya, yang dengan secara tidak sah telah menggunakan nama sang kakak itu.
Kemudian ia telah ke sampingkan dan hampir melupakan soal-soal yang tidak enak itu, ketika mendadak Tiong Liong telah muncul pula dan kembali datang mencari setori, hingga setelah merasa bahwa urusan ini tidak boleh dibiarkan dan mungkin juga ada sangkut-pautnya dengan sang toosu, maka ia jadi mengambil keberanian akan menanyakan hal ini pada Tie Hwie, dengan dikawani oleh kakaknya seperguruan yang sekarang datang bersama-sama ke kelenteng Ceng-hie-koan di situ.
Demikianlah singkatnya pengaduan yang diajukan oleh pemuda kita pada toosu tua itu.
telah Tiong Liong yang mendengar pengaduan Lie Poan Thian di hadapan Tie Hwie alias Sin-tui Bie yang memang bukan lain dari pada saudaranya sendiri, sudah barang tentu jadi sangat mendongkol dan lalu berkata dengan suara keras.
"Poan Thian, aku sungguh merasa amat menyesal tidak lantas bunuh saja padamu, ketika aku menjumpai kau bersendirian di kelenteng tua itu, hingga aku sama sekali tidak menyangka bahwa urusan akan menjadi begitu ruwet seperti hari ini!"
"Tetapi kau harus jangan lupa,"
Begitulah Tie Hwie telah mencampuri bicara.
"bahwa cara itu adalah suatu perbuatan pengecut yang tiada taranya!"
Sin-siu-tay-seng Bie Tiong Liong jadi sengit mendengar kecaman kakaknya, yang dianggapnya seolah-olah mengeloni pada pihak musuh.
"Sekarang telah jelaslah, bahwa kau telah memihak pada orang yang menjadi musuh besarku!"
Katanya.
"Ia telah membunuh muridku, kemudian telah menghinakan 498 nama baikku. Apakah perbuatan itu boleh dibiarkan dengan tidak segera diambil tindakan keras atau diberantas sebagaimana mestinya? Tampaknya kau selalu lebih senang membenarkan pihak orang lain dari pada memihak saudara sendiri!"
"Kau jangan salah paham,"
Kata Tie Hwie Taysu.
"Pendek, aku tidak perduli siapa, kalau dia benar, walaupun kau mau putar balik bagaimana juga, dia tetap benar. Bukan sebab kau ada saudaraku. sehingga segala perbuatanmu — meski yang bagaimana sesat juga — lantas harus dibenarkan olehku. Kau sendiri telah memakai namaku dengan tiada seijinku, itu saja sudah menjadi suatu kesalahan besar yang tidak boleh dimaafkan, dan bukan karena kau ada saudaraku, hingga kau boleh punya suka membawa-bawa namaku yang sudah "
Dipendam"
Dan tidak campur lagi di kalangan Kang-ouw untuk "dipamerkan"
Pula di antara khalayak ramai!
Telah beberapa hari lamanya aku berkeliaran mencarimu, karena aku mendengar orang di luaran menceritakan tentang munculnya kembali Sin-tui Bie di kalangan Kang-ouw.
Kau sendiri yang mempergunakan nama itu, boleh enak-enakan "mengadu biru"
Kian kemari, tetapi aku sendirilah yang harus tanggung risikonya yang paling besar.
"Eh, eh, heran benar. Sin-tui Bie yang sudah menjadi seorang toosu, mendadak sontak "mengamen"
Pula di kalangan Kang-ouw!"
Begitulah orang nanti bisik-bisik di sana sini.
Apakah itu kau anggap suatu reklame baik bagi diriku?
"Pikirlah dahulu masak-masak pada sebelum kau berbuat apa-apa.
Bagaimana akibatnya bagi dirimu, dan terutama bagaimana akibatnya pula terhadap orang yang namanya kau "bawa mengamen"
Cuma karena akan 499 dapat melampiaskan napsu amarah dengan jalan mengadu dombakan diriku pada Lie Siecu ini, sedangkan kau sendiri yang tersangkut mau enak-enakan mencuci tangan.
meminjam nama orang buat keuntungan diri sendiri.
"Itulah — rupanya — maksud yang terutama mengapa kau telah mengganggu pada Lie Siecu dengan mempergunakan namaku sebagai "
Benderanya". Apa bukan begitu, orang tua yang baik hati?"
Sambil menyindir, Tie Hwie Taysu melirik adik kandungnya Sin-siu-tay-seng Bie Tiong Liong jadi semakin tidak enak hatinya mendengar "semprotan-semprotan"
Kakaknya yang begitu pedas. Dengan cepat ia bangun berdiri sambil menepok dada dan berkata.
"Hm! Setelah kau berpihak pada musuhku, sekarang kembali kau menghinakan aku, apakah itu bukan berarti bahwa persaudaraan kita terputus sampai di sini?"
Poan Thian dan In Liong yang merasa tidak enak tinggal menonton saja, lalu merekapun coba campur bicara, tetapi mereka telah dibentak oleh Bie Tiong Liong yang mengatakan.
"Persetan dengan kamu berdua! Inilah bukan urusanmu, dimana kau boleh teturutan membuka bacot!"
Wajah kedua orang muda itu jadi merah jengah, menyesal dan mendongkol tercampur aduk dalam hati mereka.
Apabila mereka bukan berada di Ceng-hie-koan dan di hadapannya Tie Hwie Taysu, niscaya salah seorang antara mereka sudah turun tangan buat memberikan 500 hajaran pada orang tua yang kurang "penerima"
Itu. Tetapi Tie Hwie Taysu yang terlebih siang telah dapat membaca perasaan kedua tetamunya, dengan lantas ia menuding pada Tiong Liong sambil membentak.
"Dasar manusia tidak berbudi! Ji-wie Siecu ini bukan takut padamu, hanyalah karena mereka mengindahkan kepadaku, maka mereka apa boleh buat tinggal bersabar dan tidak mengunjukkan aksi apa-apa yang dapat memperhebat ketegangan ini.
"Maka apabila kau tetap berkeras kepala tidak sudi diperlakukan dengan baik oleh orang lain, apakah barangkali kau kepingin supaya peristiwa ini diakhiri dengan suatu pertempuran yang menentukan pihak mana yang lebih unggul atau rendah? "
Cobalah kau terangkan dengan secara terbuka di hadapanku, supaya selanjutnya aku ketahui cara bagaimana aku dapat bantu membereskan soal-soal yang tentunya akan terus meruncing bagi kedua pihak, apabila salah satu pihak belum ada yang suka mengalah untuk menyudahi perselisihan ini!"
Lic Poan Thian yang tadinya berniat akan menjudahi saja peristiwa itu untuk mencegah perpecahan persaudaraan antara Tie Hwie dan Tiong Liong, sekarang jadi berbalik "sebal"
Dan tinggal menantikan saja bagaimana jawabannya sang lawan itu.
"Aku telah mengambil keputusan buat menentukan siapa di antara kita yang lebih unggul atau rendah!"
Kata Bie Tiong Liong dengan suara kaku.
"Kalau begitu,"
Kata sang toosu sambil menghela nanas"
Aku tak berdaya buat mencegah keruntuhan salah satu pihak yang mengancam di depan mata! Ya, apa boleh buat." 501 Kemudian ia menoleh pada Bie Tiong Liong sambil berkata.
"Jikalau ternyata kau rela akan membela muridmu yang telah kuketahui bukan seorang baik, itulah tinggal terserah atas pertimbanganmu sendiri. Karena biarpun aku selalu berikhtiar buat coba mencegah perselisihan ini, ternyata masih juga kau berkeras kepala tidak mau mendengari nasihat-nasihatku yang baik itu......"
"Kau sendiri berpihak pada musuhku,"
Tiong Liong memotong pembicaraan kakaknya dengan wajah kemerah-merahan karena gusar.
"buat apakah mesti dibicarakan tentang kebaikanmu, yang hanya berarti baik bagi pihak musuh dan tidak baik bagi diriku sendiri?"
Mendengar kata-kata yang diucapkan oleh adiknya itu, Tie Hwie jadi kelihatan semakin mendongkol.
"Jadi dengan perkataan lain,"
Katanya pada akhirakhirnya.
"kau ingini supaya peristiwa ini dilanjutkan dengan suatu pertempuran yang menentukan? Aku ulangi perkataanmu ini. agar supaya selanjutnya kau jangan menyesal, apabila kau sendiri yang akan mengalami apa-apa yang tidak enak nanti."
"Segala risiko akan kutanggung sendiri dan tidak akan minta pertolongan pada siapapun juga!"
Kata Bie Tiong Liong yang kelihatan sudah hilang sabar dan selalu melirik pada Poan Thian dan In Liong dengan sikap menantang.
Kedua orang itu yang memang mengharapkan juga akan lekas dapat mengakhiri perselisihan itu, dengan hati berdebar-debar tinggal menantikan jawaban Tie Hwie Taysu yang terakhir.
Begitulah setelah berdiam sejenak, toosu tua itu lalu bertanya pada Sin-siu-tay-seng Bie Tiong Liong.
"Apakah 502 kau sekarang telah siap sedia?"
"Aku selalu siap sedia!"
Jawab yang ditanya dengan pendek. Kemudian Tie Hwie menoleh pada kedua orang tetamunya itu.
"Kamu berdua janganlah menganggap bahwa omongan yang telah kuucapkan ini hanya berarti mainmain belaka,"
Katanya.
"Aku telah berdaya sedapat mungkin buat mendamaikan urusanmu ini, tetapi semua — sebagaimana kamu juga mendengar sendiri tadi — tidak berhasil dan tidak dapat tidak diakhiri dengan suatu pertempuran yang akan menentukan salah satu pihak, yang mana lebih unggul atau rendah, biarpun sudah terang, bahwa semua kesalahan telah terjadi karena kesemberonoannya saudaraku ini.
"Maka buat menghilangkan rasa penasaran saudaraku ini, aku minta dengan hormat supaya Lie Siecu suka meladeni ia bertempur beberapa jurus. Bukan secara main-main, tetapi kau boleh unjukkan ilmu kepandaianmu seadanya dengan tak usah merasa seejie lagi."
Lie Poan Thian yang mendapat anjuran dan kesempatan akan mengakhiri perselisihannya dengan jalan bertempur dengan Bie Tiong Liong yang pernah menggganggu dan melakukan "perang dingin"
Dengan memakai nama kakaknya, sudah tentu saja jadi merasa girang dan lalu mengucap terima kasih atas ijin yang telah diberikan oleh toosu tua itu. .. Penyelesaian Sengketa "Sin-tui Bie"
"Tetapi oleh karena mengingat bahwa dalam suatu 503 pertempuran tidak semua orang akan "keluar"
Dengan badan utuh,"
Katanya.
"maka aku banyak harap supaya Lo-suhu sudi memaafkan kepadaku, apabila dalam pertempuran ini aku kesalahan tangan sehingga melukai pada saudaramu."
"Ya, ya, itulah memang ada suatu hal lumrah yang tidak usah kau jelaskan pula kepadaku,"
Kata Tie Hwie Taysu, yang berbareng dengan itu, ingin coba menyaksikan juga sampai di mana kepandaiannya Lie Poan Thian yang begitu disohorkan orang di kalangan Kang-ouw sebagai si Kaki Sakti.
Maka dengan mengajak pihak yang bersangkutan ke suatu lapangan yang agak luas dan terletak di belakang kelenteng dengan dilingkungi pagar tembok tinggi, Tie Hwie Taysu lalu kumpulkan semua murid-muridnya buat turut menyaksikan pertempuran itu, sambil dipesan akan jangan bersorak-sorak atau menerbitkan suara ribut-ribut yang akan dapat menarik perhatian orang yang kebetulan melewat di luar atau di muka kelenteng itu.
Begitulah setelah kedua pihak telah saling berhadapan di tengah lapangan, Tie Hwie Taysu lalu memberi tanda bahwa pertempuran itu boleh segera dimulai.
Dalam pada itu, dengan tidak menunggu lagi sampai sang toosu selesai berbicara, Sin-siu-tay-seng Bie Tiong Liong segera menerjang pada Lie Poan Thian dengan menggunakan siasat Go-houw-pok-yang, atau harimau kelaparan menerkam kambing.
Ilmu pukulan itu memang amat cepat dan sangat berbahaya bagi seorang yang kurang paham ilmu silat, tetapi bagi seorang yang sudah ulung dalam pertempuran sebagai Lie Poan Thian, ilmu pukulan itu 504 seakan-akan merupakan remeh yang hampir tidak ada artinya sama sekali.
Tetapi karena ia ada seorang yang tidak suka memandang ringan pada musuh-musuh dari tingkat yang mana juga, maka ia selalu bisa berlaku tenang dan melakukan penjagaan dengan baik pada tiap-tiap pukulan yang orang telah ajukan kepada dirinya.
Apalagi karena ia telah menduga bahwa Bie Tiong Liong akan "ngepiah"
Buat merobohkan padanya sebagai lawan dan musuh besar dari muridnya sendiri, sudah tentu saja ia belum mau sudah apabila belum melihat Poan Thian rebah di tanah dengan mendapat luka-luka parah yang bisa membahayakan jiwa dan mengalami keruntuhan nama baiknya yang telah sekian lamanya mengharum di kalangan Kang-ouw.
Begitupun Lie Poan Thian yang tidak mau dinodakan namanya oleh seorang yang belum begitu tersohor sebagai dirinya sendiri, selalu berjaga-jaga dan menunjukkan kepandaiannya dengan dimulai dari gerakan-gerakan yang kendor dahulu, kemudian semakin cepat dalam babak-babak berikutnya.
Poan Thian yang melihat dengan tegas bahwa letaknya kelemahan pihak musuhnya itu adalah di bagian kaki, (yang toh dengan secara berani mati ia "membual"
Sin-tui dengan memakai gelaran kakaknya), diam-diam jadi geli di hati dan kemudian lalu mulai mempertunjukkan serentetan tendangan-tendangan yang telah diperlihatkannya di hadapan Bie Tiong Liong, dengan pengharapan supaya musuh itu bisa mengerti, bahwa apa yang telah bikin ia terkenal di kalangan Kangouw, bukanlah SIN-TUI tetiron seperti apa yang pernah "dipamerkan"
Oleh Tiong Liong dengan memalsukan nama julukan orang lain.
505 Sementara Tiong Liong sendiri yang ternyata mengerti juga apa maksudnya pemuda kita berbuat begitu, sudah tentu saja jadi amat mendongkol dengan "sentilan halus"
Itu. Maka dengan tidak memikirkan pula akan akibat-akibat dari pada perbuatan-perbuatan yang dilakukannya pada saat itu, Tiong Liong lalu "ngepiah"
Dengan mengajukan berbagai macam ilmu pukulan lihay yang ia pernah yakinkan seumur hidupnya.
Tetapi karena segala rahasia kelemahannya telah diketahui cukup jelas, sudah barang tentu tidak sukar buat Poan Thian membikin setiap gerakannya Bie Tiong Liong jadi "ngawur" , dengan jalan mengajukan seranganserangan yang hebat ke arah bagian-bagian yang lemah dari pihak lawannya itu.
Tie Hwie Taysu yang sekian lamanya menaruh perhatian atas ilmu tendangan yang dipergunakan oleh Lie Poan Thian, diam-diam ia jadi memuji di dalam hati atas kebagusan dan kegesitan pemuda kita yang telah mempertunjukkan ilmu kepandaiannya itu.
Bahkan In Liong sendiri yang telah sekian lamanya tidak pernah menyaksikan sang sutee bersilat, dengan tidak terasa lagi jadi kelepasan omong dan mengatakan.
"sungguh tidak kunyana, bahwa ilmu kepandaianmu telah maju sedemikian pesatnya!"
Tie Hwie yang mendengar pujian In Liong untuk alamat adik seperguruannya itu, dengan tersenyum lalu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mencampuri bicara.
"Benar, benar. Itulah memang suatu ilmu tendangan sangat lihay yang pernah kusaksikan seumur hidupku, walaupun aku sendiri mempunyai nama gelaran yang sama pada beberapa puluh tahun yang lampau itu.
"Maka dengan menyaksikan ilmu kepandaian Lie Siecu ini, aku harus akui bahwa adikku yang keras 506 kepala itu bukanlah merupakan lawannya yang setimpal, hingga kekalahan baginya, hanya tinggal menunggu beberapa saat lagi saja lamanya."
Dan selagi Tie Hwie hendak melanjutkan omongannya, mendadak Tiong Liong yang berkelit sambil berjongkok dari tendangan Lie Poan Thian yang dijujukan pada bagian kempungannya, dengan gerakan secepat kilat telah memukul dari bawah ke bagian atas, sehingga kalau pukulan itu tidak lekas dihindarkan, pemuda kita akan menjadi korban terpukul bagian anggota rahasianya dengan ilmu pukulan Ya-ce-chut-hay yang sangat berbahaya itu.
Poan Thian sendiri yang menyaksikan Tiong Liong menggunakan ilmu pukulan itu, bukannya tidak kuatir atau terperanjat, tetapi karena ia biasa berlaku tenang di dalam keadaan kesusu, maka sikapnya yang kuatir dan kaget itu hampir tidak kentara pada paras mukanya.
Semulanya In Liong tidak menyangka akan bahaya yang sedang dihadapkan suteenya itu, dan ia baru mendusin setelah melihat Poan Thian menjatuhkan diri ke belakang dengan menggunakan tipu Say-cu-hwansin, pukulan Bie Tiong Liong telah jatuh ke tempat kosong!
"Aih, sungguh tak kunyana, bahwa jalannya pertempuran bisa jadi begitu rupa!"
Kata In Liong dengan rupa terkejut.
Sekarang kita mengikuti pada Bie Tiong Liong, yang setelah melihat pukulannya luput, segera ia berlompat bangun dan maju merangsek sambil berniat akan menendang.
Tetapi Poan Thian yang seolah-olah telah dapat menerka dari di muka apa maunya sang lawan itu, buru-buru berlompat bangun dan mencelat ke atas 507 dengan menggunakan siasat Lee-hie-ta-teng, kemudian di waktu turunnya ke bawah ia telah menggunakan duadua kepalannya buat menumbuk kepala Bie Tiong Liong dengan menggunakan siasat Jie-lui-ta-kun-san, atau dua geledek yang memukul gunung Kun-san.
Orang tua itu telah berhasil dapat mengelakkan salah satu tinju pemuda kita yang menyamber padanya dari sebelah atas, tetapi tinju Lie Poan Thian yang lainnya telah berhasil tiba di bahunya dan bikin ia berteriak karena kesakitan.
"Aduh!"
Tiong Liong roboh dan jatuh terlentang di muka bumi.
Tetapi pada sebelum kaki Poan Thian menginjak tanah, tiba-tiba ia berlompat bangun sambil meluncurkan tendangan berantai Wan-yio-lian-hwan-tui!
"Aya!"
Poan Thian berteriak dengan hati terkesiap. Oleh karena gerakan tendangan itu yang amat cepat dan sukar disingkirkan, maka Tie Hwie dan In Liong pun jadi teturutan menyebut.
"Celaka!"
Dalam pada itu Lie Poan Thian yang melihat tidak ada jalan lain buat meluputkan diri, segera dengan sebat ia cekal kaki kiri Bie Tiong Liong yang menendang ke arah ulu hatinya, tetapi berbareng dengan itu, kaki kanannya Tiong Liong pun telah sampai, hingga Poan Thian terpaksa mencekal kaki itu dengan tangan kirinya, kemudian ia lemparkan orang tua itu sehingga beberapa belas kaki jauhnya!
"Aya!
Celaka!"
Poan Thian berkata pada diri sendiri.
Karena biarpun tendangan-tendangan itu tidak mengenai dengan langsung pada dirinya, sedikitnya ia bisa rasakan juga bagaimana tenaga yang keluar dari kaki-kaki yang menendang itu telah berhasil juga melukai 508 dan membikin sebelah paru-parunya tergoncang, biarpun luka itu tidak seberapa besar atau cukup membahayakan bagi jiwanya.
Sementara Bie Tiong Liong yang dilemparkan oleh pemuda kita, segera berputar-putar sampai beberapa kali, kemudian barulah jatuh ke tanah dan berdiri tegak bagaikan tak terjadi apa-apa!
"Sungguh bagus sekali ilmu kepandaian saudaramu ini!"
Memuji In Liong sambil menoleh pada Tie Hwie Taysu.
Toosu tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya, tanpa berkata-kata barang sepatahpun, tetapi matanya selalu ditujukan pada Lie Poan Thian yang ia tahu telah mendapat luka karena tendangan saudaranya tadi.
Hal mana, pun bukan tidak diketahui oleh Hoa In Liong, tetapi ia tidak menjadi kaget atau kecil hati, berhubung luka itu tidak sukar akan disembuhkannya.
Menurut aturan, Poan Thian tidak boleh melanjutkan pula pertempuran itu.
Ia harus beristirahat dan berobat, walaupun lukanya itu tidak berapa berbahaya.
Tetapi pemuda kita yang tidak suka mengunjukkan kelemahan diri sendiri, bukan saja tidak mau berbuat begitu, malah sebaliknya ia bersumpah di dalam hati, bahwa Bie Tiong Liong ia harus bisa robohkan dahulu, kalau saja ia mesti mati dalam pertempuran ini.
Dan jikalau seumpama Tiong Liong tak dapat dikalahkan, ia akan menetapkan suatu tanggal dimana ia akan bertempur dengan matimatian dengan disaksikan oleh orang banyak.
Demikianlah, keputusan yang telah diambil oleh pemuda kita itu.
Maka ketika buat kedua kalinya Tiong Liong maju menerjang, Poan Thian lalu sengaja berlaku kendor, 509 guna memancing mendekati.
pihak musuhnya akan datang Sebegitu lekas Tiong Liong membuka serangan baru, Poan Thian lalu bentangkan kedua tangannya dengan siasat Pek-ho-liang-cie, atau bangau putih membentangkan sayap, hingga orang tua she Bie itu yang menyangka Poan Thian kehabisan tenaga untuk bergebrak pula dengan ilmu tendangan-tendangannya yang berat dan meminta banyak tenaga, lalu maju menerjang dengan ilmu-ilmu pukulan yang cepat dan dapat menewaskan jiwa.
Pada hal ia tidak pernah pikir, bahwa Poan Thian bisa sapu seluruh ilmu pukulan itu dengan hanya satu kali jalan saja, ialah menjujukan serangan kilat pada bagian lemah sang musuh dengan ilmu tendangan yang ia memang sangat paham.
Maka jikalau ia ingat bagaimana ia telah kena "dicepol"
Dengan ilmu tendangan Wan-yio Lian-hwan-tui oleh Sin-siu-tay-seng Bie Tiong Liong tadi, Poan Thian sungguh malu bukan buatan karena tidak patut akan seorang ahli dalam ilmu menendang, bisa kena dilukai dengan ilmu yang dipahaminya itu.
Maka buat membalas atas serangan sang musuh itu tadi, Poan Thian telah mengambil keputusan akan "mengembalikan"
Itu dengan sertai bunganya sekaligus, sehingga dengan begitu, ia boleh tidak usah merasa penasaran lagi atas kelalaiannya itu.
Begitulah setelah pertempuran itu berlangsung pula sampai beberapa belas jurus lamanya, Poan Thian lalu tunjukkan pula "tangan besinya" , dengan jalan mempergunakan lain macam ilmu tendangan yang ia telah sengaja "simpan"
Karena merasa see-jie pada Tie Hwie, buat keluarkan itu guna mencelakai pada Bie Tiong Liong yang menjadi saudaranya.
510 Tetapi kenyataan telah mengunjuk dengan tegas sekali, bila ia tidak mau turun tangan sebagaimana mestinya, ia sendirilah yang akhirnya akan menjadi korban dari sang musuh itu.
Jadi dengan begitu, ia boleh merasa see-jie terhadap pada toosu itu, tetapi tidak mestinya ia berlaku see-jie pada Bie Tiong Liong yang menjadi musuhnya.
Tidak perduli akibat apa yang akan dialaminya nanti.
"Jikalau aku tidak berlaku see-jie seperti tadi,"
Pikir Lie Poan Thian di dalam hatinya.
"niscaya aku tidak sampai dicelakai orang. Ah! Dasar goblok sekali aku ini!"
Tetapi beras yang sudah menjadi nasi biar bagaimanapun tak dapat dikembalikan menjadi beras pula.
Maka setelah menetapkan pikirannya, Poan Thian lalu ajukan ilmu Sauw-tong Lian-hwan-tui yang telah diciptakannya sendiri, dan kemudian disempurnakan pula oleh Kak Seng Siang-jin dari kelenteng Liong-tam-sie.
Ilmu tendangan ini agak bertentangan gerakangerakannya dengan ilmu-ilmu Lian-hwan-tui yang biasa, oleh sebab itu, maka tidak sedikit ahli-ahli silat yang telah dirobohkan oleh pemuda kita, berhubung mereka tidak menyangka sama sekali, bahwa dalam ilmu tendangan tersebut terdapat gerakan-gerakan yang luar biasa itu.
Demikian juga setelah Tiong Liong menyaksikan keistimewaan ilmu tendangan yang sekarang diajukan oleh pihak lawannya, iapun segera dapat membayangkan sendiri, betapa besarnya bahaya yang sedang mengancam pada dirinya itu.
Tetapi, seperti juga seorang yang menunggang harimau dan tak berani turun karena kuatir diterkam, Tiong Liong apa boleh buat melanjutkan juga pertempuran itu.
Walaupun harapan 511 menang dengan mendadak sontak telah buyar bagaikan awan yang tertiup angin.
Sementara Lie Poan Thian yang melihat musuhnya telah keteter, segera ia menghujani tendangantendangan yang amat gencar dan akhirnya telah bikin Tiong Liong pusing dan jatuh bangun sehingga beberapa kali, tetapi kekerasan hatinya orang tua itu tidak menjadi lumer dan tinggal tetap ia berlaku agung dengan tak mau menyerah mentah-mentah.
Oleh sebab itu, pemuda kitapun jadi semakin sengit dan semakin gencar pula mempergunakan tendangan-tendangannya.
Dan ketika Tiong Liong terpaksa menyebut.
"Lie Poan Thian! Sekarang aku suka menyerah kalah kepadamu!"
Tendangan pemuda kita sudah tak dapat ditahan pula.
Dan berbareng dengan terdengarnya suara yang mirip dengan dua benda yang saling bertubrukan dengan hebat.
Tiong Liong menjerit dan terlempar ke tengah lapangan dengan dada melesak dan dari mulutnya memuntahkan darah hidup yang, menyemprot keluar bagaikan air yang muncrat dari sebuah pipa yang pecah!
Hal mana sudah barang tentu telah membikin semua orang yang berkumpul di situ jadi sangat terperanjat.
Lalu Hoa In Liong, Twie Taysu dan toosu kecil yang menyaksikan pertempuran itu pada datang berkerumun buat menolong pada orang tua yang celaka itu.
Dan ketika baju Tiong Liong yang penuh darah ditanggalkan, ternyata pelindung hatinya yang dibuat dari pada baja tipis telah pecah kena tertendang oleh Lie Poan Thian, sedangkan pecahan baja itu pada menancap ke dadanya Tiong Liong yang melesak karena beberapa tulang rusuknya telah patah!
Menyaksikan keadaan lawannya yang sedemikian 512 payahnya itu, buru-buru Poan Thian maju memberi hormat pada Tie Hwie Taysu buat meminta maaf atas kesemberonoannya itu.
Tetapi toosu tua itu lantas berkata justru ada kecelakaan yang aku berniat akan cegah, tetapi sekarang sudah kasip akan dapat dihindarkannya.
Kau tidak bersalah, Lie Siecu, juga tidak usah kau menyesal oleh karenanya."
Maka setelah Tiong Liong diangkut ke dalam kelenteng dan dirawat luka-lukanya sebagaimana mestinya, barulah Poan Thian mendapat giliran buat diobati dan lalu diminta oleh Tie Hwie supaya diapun suka beristirahat juga di kelenteng itu untuk beberapa hari lamanya.
Poan Thian mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan toosu tua itu.
Demikian juga In Liong yang menyaksikan sikap Tie Wie yang sportif itu, tidak lupa menyatakan kekaguman hatinya dan berterima kasih atas kesudiannya buat menerima adik seperguruannya akan menumpang beristirahat di tempat kediamannya.
"Apabila pertempuran itu tidak membawa kesudahan yang agak hebat itu,"
Kata Tie Hwie.
"Niscaya adikku belum puas hatinya dan urusan akan tinggal meruncing terus dengan tidak sudah-sudahnya. Luka-lukanya Tiong Liong itu memang kelihatan berbahaya, tetapi aku percaya ia akan dapat disembuhkan setelah meminta waktu pengobatan dan perawatan yang agak lama. Ia akan sembuh kembali, tetapi bersamaan dengan itu, ia akan menjadi cacad dan tak berguna lagi seumur hidupnya."
Mendengar keterangan begitu, Hoa In Liong lalu menyatakan penyesalannya dan persalahkan Poan Thian yang telah berlaku "terlampau keras" , buat mana ia menghaturkan maaf sebesar-besarnya atas perbuatan 513 adik seperguruannya itu.
"Tiong Liong bukan anak kecil,"
Kata sang toosu.
"hingga ia tak boleh menyesal akan memetik buah buruk dari akibat perbuatan-perbuatannya yang tidak baik itu."
Demikianlah, setelah mereka beromong-omong pula buat beberapa saat lamanya, Tie Hwie lalu persilahkan In Liong akan masuk tidur.
Pada hari esoknya sehabisnya bersantap pagi, Hwat Lok telah datang melaporkan pada gurunya, bahwa di luar ada dua orang tetamu yang datang berkunjung dengan diantar oleh seorang pelayan rumah penginapan dimana Poan Thian dan In Liong menumpang.
"Kedua orang itu,"
Katanya lebih jauh.
"hendak mencari pada Lie Kok Ciang dan Hoa In Liong, Ji-wie Siecu. Tetapi belum tahu apakah Jie-wie Siecu yang berada di sini bernama begitu atau bukan?"
"Ya, ya, benar,"
Sahut In Liong.
"Itu ada kami berdua yang mereka cari."
"Persilahkanlah mereka itu masuk,"
Kata Tie Hwie Taysu. Sementara Poan Thian yang mendengar ada orang yang mencari pada mereka, lalu berniat akan bangun dari pembaringan, tetapi Tie Hwie lekas mencegahnya sambil berkata.
"Lie Siecu tidak perlu keluar menyambut sendiri. Di sini ada Hoa Siecu yang akan mewakilkan kau."
"Itu benar,"
In Liong menambahkan. Kedua orang tamu itu yang bukan lain dari pada Cin Kong Houw dan Lauw Thay, buru-buru memberi hormat dan mengucap.
"Selamat pagi, Lo-suhu! Selamat pagi Hoa-toako!" 514 "Selamat pagi!"
Kata Tie Hwie dan In Liong dengan suara yang hampir berbareng.
"Dari setadian aku telah menduga-duga,"
Kata In Liong dengan paras muka yang berseri-seri.
"bahwa kedua orang tamu itu tentunya bukan lain dari pada kamu berdua."
"Marilah, silahkan Jie-wie duduk,"
Kata Tie Hwie dengan sikap yang ramah-tamah.
Kedua orang itu setelah perintah pelayan tadi kembali ke rumah penginapan dengan diberikan persenan berupa uang, mereka lalu menanyakan pada In Liong, mengapakah Poan Thian tidak tampak di situ?
In Liong lalu tuturkan peristiwa apa yang telah terjadi pada malam kemarin, hingga kedua orang itu jadi kaget dan lantas memohon pada Tie Hwie Taysu, supaya mereka diperbolehkan menyambangi Poan Thian dan Bie Tiong Liong yang telah menderita luka-luka dalam pertempuran itu.
"Saudaraku sekarang masih tidur,"
Kata si toosu.
"Oleh sebab itu, biarlah kita pergi sambangi Lie Siecu saja."
Cin Kong Houw dan Lauw Thay menurut.
Maka dengan diantar oleh Tie Hwie, mereka dan In Liong lalu menyambangi Poan Thian yang rebah di pembaringan dan dilarang bergerak oleh toosu tua itu.
Tetapi karena Poan Thian tidak diperbolehkan bicara, maka setelah menyambangi beberapa saat lamanya, merekapun lalu kembali ke ruangan pertengahan, dimana Kong Houw dan Lauw Thay disuguhkan air teh dan sedikit bebuahan kering oleh Hwat Lok, yang selalu mengerti cara bagaimana buat melayani para tamu yang 515 berkunjung ke kelenteng mereka, sehingga Tie Hwie tidak perlu lagi akan memerintahkannya cara bagaimana ia mesti berbuat terhadap pada tamunya itu, tidak perduli apa ia kenal atau tidak pada orang-orang yang datang berkunjung itu.
Di sini, setelah mereka saling menyatakan rasa kagum dan terima kasih mereka atas kebaikan sang toosu kepada sahabat mereka, Cin Kong Houw lalu menyatakan pikirannya akan mengajak Poan Thian kembali ke tempat kediamannya di dalam kota, yang jaraknya memang tidak berapa jauh dengan kelenteng itu.
Tetapi Tie Hwie menyatakan tidak berkeberatan buat merawat dahulu sampai Poan Thian sembuh betul dari lukanya, barulah kemudian berpindah tinggal ke dalam kota.
Hanya karena Kong Houw meminta dengan sangat, supaya Tie Hwie tidak usah membikin banyak susah dengan merawat dua orang yang sakit dengan berbareng, maka apa boleh buat toosu itupun mengabulkanlah permintaannya Cin Kong Houw itu.
Maka setelah In Liong pergi membayar uang sewa rumah penginapan dan sekalian juga mengambil pauwhok Poan Thian dan punyanya sendiri, lalu ia berpamitan pada Tie Hwie dan mengikut pada Kong Houw dan Lauw Thay akan kembali ke kota Kim-leng, buat bantu merawat Poan Thian yang sebelum pemuda itu boleh bergerak pula seperti sediakala.
◄Y► Sebulan telah lalu.
Pada suatu hari ketika Poan Thian tengah duduk pasang omong dengan In Liong dan Kong Houw suami isteri, mendadak ada seorang piauw-khek 516 yang masuk melaporkan, bahwa di luar ada seorang tua dari Cee-lam bernama Louw Cu Leng yang minta bertemu dengan pemuda kita.
Poan Thian yang diberi kabar begitu, dengan tidak terasa lagi jadi berjingkrak saking kegirangan, karena ia hampir tidak mau percaya pendengarannya, bahwa sahabat lawas itu bisa datang juga ke kota Kim-leng dalam cara yang begitu tiba-tiba.
"Apakah dia itu bukan Sin-kun Louw Cu Leng yang dahulu pernah bertempur denganmu di kelenteng Tayseng-tian?"
Bertanya Hoa In Liong seperti juga orang yang memikirkan apa-apa.
"Ya, benar,"
Sahut pemuda kita.
"Itulah memang dia, seorang jago tua yang namanya sangat terkenal di kalangan Kang-ouw di masa ini."
Kemudian ia ajak semua orang keluar menyambut orang tua itu.
Sin-kun Louw Cu Leng meski usianya sudah lanjut, tetapi gerakan-gerakannya masih gesit dan sama gagahnya dengan seorang yang usianya baru tigapuluh tahun lebih.
Rambut, misai dan jenggotnya sudah putih semua, tetapi tubuhnya masih tetap kekar dan kuat, meski sedikit perubahan terjadi semenjak ia pertama bertemu dengan pemuda kita, ialah punggungnya tampak agak bungkuk.
Maka setelah ia dan yang lain-lainnya memberi hormat, Poan Thian lalu menjabat tangan sahabat itu sambil berkata.
"Aku sama sekali tidak nyana, bahwa pada hari ini ada angin baik yang telah membawa kau ke kota Kim-leng. Oleh sebab itu, aku harap supaya Loenghiong sudi memaafkan, apabila aku tidak keburu datang menyambut padamu dari kejauhan." "Ah, buat apa Lao-tee meski berlaku begitu sungkan, sedangkan kita orang semua toh ada orang-orang sendiri juga,"
Kata orang tua itu sambil tertawa.
Setelah itu Kong Houw lalu panggil semua piauwkhek-piauwkhek buat diperkenalkan pada jago tua itu, kemudian dengan beramai-ramai mereka mengadakan beberapa meja perjamuan untuk menghormati pada Cu Leng, hingga orang tua itu jadi kelihatan sangat girang atas penyambutan sekalian sahabat-sahabatnya yang begitu hangat dan ramahtamah.
Dan tatkala Poan Thian menanyakan hagaimana Cu Leng ketahui yang ia menumpang pada Kong Houw, orang tua itu lalu tuturkan tentang pertemuannya dengan Tie Hwie Taysu, dari siapa ia mendapat keterangan tentang terjadinya pertempuran antara pemuda kita dengan adiknya si toosu pada beberapa waktu yang lampau itu, dalam pertempuran mana Tiong Liong telah menderita luka-luka dan sehingga pada hari itu belum juga diperbolehkan turun dari pembaringan oleh Tie Hwie yang menjadi kakaknya.
"Lohu dan Tie Hwie — atau yang di masa mudanya terkenal dengan nama gelaran Sin-tui Bie — sebenarnya ada dua orang musuh besar yang saling bersaingan dengan hebat di kalangan Kang-ouw untuk berebut gelaran jago,"
Kata orang tua itu.
"Tetapi karena kemudian kita telah berbalik pikir dan insyaf bahwa cara kita itu bukan suatu persaingan yang sehat, maka akhirnya kita lantas saling meminta maaf satu sama lain atas kegoblokan kita itu, dan semenjak itu kita telah bersahabat kekal sehingga pada hari ini.
"Aku sendiri sebenarnya tidak tahu-menahu tentang peristiwa ini atau dimana sekarang Lao-tee berada, kalau 518 saja kemarin malam — ketika aku berkunjung ke Cenghie-koan — Tie Hwie tidak menceritakan padaku tentang kejadian ini. Dan dalam pembicaraannya, Tie Hwie sangat sesalkan adiknya yang keras kepala itu, sehingga ia mesti mengalami kecelakaan yang membikin ludes seluruh nama baiknya yang telah mengharum di kalangan Kang-ouw sekian tahun lamanya. Sementara dalam omong-omong dengan Tiong Liong sendiri, aku telah mendapat keterangan-keterangan banyak sekali tentang segala perbuatannya, bagaimana ia telah membikin kau mengalami banyak kepusingan, semenjak ia mengganggu padamu di kelenteng rusak, sehingga kau bertempur di Ceng-hie-koan dan melukai padanya, buat mana — dengan secara berterang — aku sesalkan benar atas perbuatan-perbuatannya yang tidak baik itu."
Semua orang mendengari penuturan orang tua itu dengan penuh perhatian.
"Belum tahu di waktu kau beromong-omong dengan Tiong Liong,"
Kata Poan Thian.
"apakah ia pernah menceritakan juga cara bagaimana ia telah berhasil dapat ,mengambil"
Pakaianku yang basah ketika aku sedang bersemedi?" 4.33. Pembunuh Kiriman Ca-kee-chung "Ya, hal itupun ia telah ceritakan juga kepadaku,"
Kata Louw Cu Leng.
"yaitu tatkala kau sedang bersemedi, Tiong Liong yang bersembunyi di atas para di sebelah atas kepalamu, telah kail pakaianmu dengan menggunakan galah. Itulah sebabnya mengapa kau tidak ketahui dengan jalan bagaimana orang telah ambil pakaianmu." 519 "Ah!"
Kata pemuda kita yang sama sekali tidak menyangka, bahwa pakaiannya telah dicuri secara demikian.
"Sementara Tiong Liong sendiri yang menyangka bahwa perbuatannya ini akhirnya akan dapat diketahui juga olehmu,"
Kata Cu Leng.
"sebenarnya telah bersedia akan menempur kau di kelenteng rusak itu. Tetapi oleh karena kau tidak pernah menyangka ia bersembunyi di atas para, maka urusan telah berlangsung dengan tidak terjadi apa-apa. Maka sebegitu lekas kau keluar dari kelenteng tersebut pada malam itu juga. Tiong Liong lalu bawa pergi pauw-hokmu dan titipkan itu pada pemilik rumah makan, yang kemudian telah kau jumpai dan memanggilmanggil ketika kau berjalan lewat di muka rumah makan itu. Si pemilik rumah makan ini, yang memang telah dipesan oleh Tiong Liong bagaimana ia mesti menjawab apabila ditanyakan olehmu, sudah tentu saja memberikan keterangan yang menyimpang, sehingga kau menyangka bahwa pencuri pauw-hokmu itu adalah seorang muda, yang kalau aku tidak keliru — dikatakannya berpakaian biru dengan menyoren pedang."
"Ya, ya, benar begitu,"
Poan Thian memotong pembicaraan orang.
"Hal mana, pun bersamaan saja dengan keterangan pelayan rumah makan di Ca-keechung, yang juga telah disuruh mengatakan begitu oleh Bie Tiong Liong, tetapi kemudian telah mengaku juga dengan sebenarnya, setelah aku gertak dan ancam akan mengambil tindakan keras, apabila ia berani menjustakan aku." 520 "Tetapi urusan itu sekarang telah menjadi beres,"
Kata Louw Cu Leng.
"maka tidak baik akan saling mendendam mengenai peristiwa-peristiwa celaka itu. Apalagi ia ada saudara kandung Tie Hwie Taysu atau Sin-tui Bie yang tulen, maka kita harus pandang padanya dan mengakhiri permusuhan itu sampai di situ saja. Karena, biarpun Tiong Liong masih tetap memusuhi kepadamu, iapun selanjutnya tak akan bisa berbuat apaapa pula, berhubung ia akan menjadi seorang yang tidak berguna lagi oleh karena tendangan-tendanganmu itu, meskipun umpama luka-lukanya itu kemudian dapat disembuhkan."
Semua orang menyetujui atas omongan orang tua itu.
Dan tatkala pada akhirnya Kong Houw memberitahukan pada Louw Cu Leng, bahwa Poan Thian akan menikah dengan nona Giok Tin, orang tua itu jadi kelihatan girang dan mengharap akan bisa turut hadir juga dalam pesta pernikahan itu.
Buat mana Poan Thian yang mengetahui bahwa Louw Cu Leng itu ada seorang jujur dan tidak pernah salah janji, sudah barang tentu segera mengucap banyak-banyak terima kasih atas kecintaan sababat lawas itu.
Demikianlah perjamuan makan minum itu telah berlangsung sehingga hari menjelang senja, barulah semua orang pada bubaran dan pergi ke tempat masingmasing untuk beristirahat.
Pada malam itu Cu Leng bermalam di rumah Kong Houw dan tidur bersama-sama Poan Thian di sebuah pembaringan.
"Banyak tahun aku telah hidup di dunia ini,"
Kata Cu Leng sambil menguap.
"tetapi tidak sama dengan banyaknya urusan yang kudengar terjadi di luaran seperti 521 juga dalam tahun ini."
"Benar,"
Menyetujui Lie Poan Thian.
"Dunia ini sudah tua dan semestinya sudah mengalamkan beberapa kali perubahan,"
Cu Leng melanjutkan.
"Tetapi keadaan masih tinggal tetap buruk dan agaknya akan tinggal tetap begitu, apabila manusia yang menjadi para penduduknya belum juga mempunyai keinsyafan akan menuju ke arah perdamaian. Dan setelah orang ingat pada perdamaian, pada umumnya sang waktu sudah kasip dan sukar diperbaiki oleh karena akibat-akibat dari pada kerusakan-kerusakan yang telah dideritanya itu.
"Sebagai salah satu contoh yang terdekat, aku boleh kemukakan soalnya Bie Tiong Liong, yang setelah ia mendapat luka yang sukar dapat memulihkan keadaannya pada waktu dahulu pula, barulah ia merasa menyesal atas segala perbuatannya yang sesat itu....."
"Dan penyesalan itu,"
Poan Thian memotong pembicaraan orang.
"tentunya ditimpahkan langsung atas diriku. Apakah bukan begitu, Louw Lo-enghiong?"
"Hal itu tak pernah aku dengar diucapkannya,"
Sahut jago tua itu.
"Tetapi meski di dalam hati ia mungkin bermaksud begitu, tetapi ia sekarang sudah tidak berdaya lagi akan membalas dendam kepadamu. Ia sudah cacad."
"Itu benar,"
Kata Lie Poan Thian.
"ia sudah tak mampu pula akan melawan padaku, tetapi ia masih mempunyai mulut yang ada kemungkinan akan dapat juga menghasut ke kiri kanan, agar supaya aku jadi celaka di dalam tangan orang lain. Dan meskipun dia tak dapat berbuat apa-apa, tetapi dengan secara tidak langsung ia bisa juga membalas dendam dengan 522 menggunakan tenaga orang lain, yang dianggapnya mempunyai ilmu kepandaian yang seimbang dengan diriku."
"Apakah barangkali kau menyangka Tie Hwie akan dapat dihasut olehnya?"
Kata orang tua itu, yang seolaholah hendak menyelami rahasia hati pemuda kita.
"Tie Hwie Taysu itu adalah kakak kandung Tiong Liong,"
Kata Lie Poan Thian.
"Oleh sebab itu, apakah ia sesungguhnya merasa rela melihat adiknya dilukai orang sampai begitu?"
"Kecurigaanmu ini memang sesungguhnya masuk akal juga,"
Kata Cu Leng.
"Tetapi berdasarkan pengetahuanku selama aku bergaul dengan Tie Hwie beberapa belas tahun lamanya, aku rasanya tak percaya, akan Tie Hwie bertindak hingga sejauh itu, walaupun Tiong Liong benar saudara kandungnya. Ia ada seorang jujur yang tidak suka mengeloni pada sesuatu pihak yang olehnya dianggap bersalah, tidak perduli orang itu sanak saudaranya atau orang lain. Dan itulah sebabnya mengapa ia tidak bisa hidup akur dengan adiknya itu."
"Sudikah kiranya Lo-enghiong menuturkan padaku bagaimana sikap kedua orang ini, dalam kalangan persaudaraan mereka menurut apa yang telah kau ketahui?"
Bertanya Lie Poan Thian setelah berdiam beberapa saat lamanya.
"Mereka ini,"
Sahut Louw Cu Leng.
"Memang sesungguhnya tak dapat hidup bersama-sama di satu tempat. Coba saja kau lihat nanti. Jikalau Tiong Liong sudah sembuh dan dapat bergerak seperti biasa lagi, ia lantas berlalu dari Ceng-hie-koan dengan tidak berpamitan lagi.
"Tiong Liong ini ada seorang yang kurang penerima. 523 Di waktu susah atau kesakitan, ia ingat pada saudaranya, tetapi dalam kesehatan dan kesenangan, ia lupa pada saudaranya, hingga tampaknya ia lebih suka membagi-bagi kesenangan itu pada orang lain dari pada saudara kandungnya sendiri. Apakah manusia serupa itu boleh dikasihani orang?"
"Oh. oh, begitu?"
Kata Poan Thian yang baru tahu benar tentang perhubungan persaudaraan Tie Hwie dan adiknya itu.
Maka dengan diperolehnya keterangan-keterangan dari Louw Cu Leng itu, barulah hati pemuda kita merasa lebih lega dan tidak antara lama iapun tidak terdengar berbicara pula.
Demikianpun orang tua itu.
Mereka berdua telah kepulesan, sehingga pembicaraan merekapun telah jadi terputus sampai di situ.
Pada hari esoknya ketika Kong Houw selesai melayani duduk bersantap pagi pada jago tua itu dan sahabat-sahabatnya, mendadak muncul seorang piauwkhek yang membawa menghadap seorang dari Ca-keechung yang membawa surat untuk Lie Poan Thian.
"Tuan-tuan,"
Kata si pembawa surat sambil memberi hormat pada orang banyak.
"apakah boleh aku numpang tanya, yang mana satu antara kamu yang bernama Lie Poan Thian Toako?"
Sikap orang itu tidak dapat dikatakan hormat, tetapi agak congkak dan kasar, hingga ini telah membikin orang banyak jadi mendongkol dan hampir tidak suka meladeninya bercakap-cakap.
Tetapi Poan Thian yang disebutkan namanya dan dicari oleh orang itu, apa boleh buat menahan hatinya 524 yang jengkel dan lalu menjawab.
"Itulah aku sendiri. Belum tahu saudara ada urusan apa mencari padaku?"
"Di sini ada sepucuk surat yang Chungcu-ya perintah aku sampaikan sendiri kepadamu,"
Sahut orang itu.
Sambil berkata begitu ia lantas keluarkan sepucuk surat yang lalu diterimakan kepada Lie Poan Thian.
Tetapi sebegitu lekas Poan Thian mengulurkan tangannya akan menerima surat itu, tiba-tiba si pembawa surat telah menggerakkan tangannya secepat kilat dan menyolok kedua biji mata pemuda kita dengan menggunakan siasat Thian-ong-tok-tha, atau raja malaikat menyanggap mercu.
Syukur juga Poan Thian yang dari setadian telah memperhatikan dengan teliti gerak-gerik orang, lebih siang telah berjaga-jaga dan mengerti tentang datangnya gelagat yang tidak baik itu.
Maka sebegitu lekas orang itu menggerakkan tangannya buat menyolok ke arah matanya, buru-buru ia miringkan kepalanya sambil dengan tangan kirinya menyampok tangan orang itu, sedangkan kaki kanannya lantas menendang sambil membentak.
"Kurang ajar! Tidak kunyana kau telah datang ke sini buat mencari setori! Mari, mari, kita boleh bertempur di atas pekarangan yang luas di luar halaman ini!"
Sementara orang itu setelah menghindarkan diri dari pada tendangan pemuda kita, iapun buru-buru berlompat keluar sambil menantang "Ayo!
Marilah kita menentukan siapa salah seorang antara kau dan aku yang lebih unggul atau rendah!"
Sementara orang banyak yang mendengar tantangan itu, sudah tentu saja jadi sangat mendongkol dan lalu berlomba akan meladeninya bertempur, tetapi Lie Poan 525 Thian segera berseru.
"Kamu sekalian tidak usah campur tangan! Aku yang ditantang maka aku jugalah yang harus meladeninya!"
Begitulah setelah mereka berada di atas sebidang pekarangan yang luas, dengan tidak banyak bicara lagi kedua orang itu seeera bertempur sambil mengunjuk ilmu kepandaian masing-masing, hingga para piauw-khek yang tidak mengetahui sebab-musabab pertempuran itu, semua jadi pada melongo dan kemudian mengatakan.
"Mengapa sih tak hujan tak angin lantas jadi bertempur? Ai, sungguh tidak salah jikalau orang yang tua-tua mengatakan.
"mencari musuh gampang, tetapi mencari sahabat yang jujur terlalu sukar."
Padahal mereka tak tahu peristiwa apa yang telah terjadi dibalik tabir yang meliputi keheranan mereka itu.
Siapakah orang itu?
Dan karena apakah dengan secara sekonyong-konyong ia melakukan penyerangan kilat terhadap pemuda kita yang agaknya ia belum kenal sama sekali?
Demikianlah orang banyak telah bertanya pada diri sendiri, selama menyaksikan pertempuran yang maha dahsyat itu.
Ilmu silat orang itu ternyata tak dapat dicela.
Ia bergerak dengan gesit bagaikan seekor kera, sedangkan kaki tangannya digerakkan dengan sama cepat dan gencarnya untuk memukul dan menendang lawannya.
Tetapi Poan Thian yang dihujani jotosan dan tendangan, bukan saja tidak balas menyerang atau mengunjukkan tendangan-tendangannya yang terkenal, malah sebaliknya sambil melawan bertempur sambil ia mundur, seakan-akan orang yang kena terdesak.
Hal mana, telah membuat orang banyak yang menyangka 526 bahwa Poan Thian masih lelah karena baru baik dari lukanya, sudah tentu saja jadi kuatir dan menyaksikan pertempuran itu dengan hati berdebar-debar.
Tidak tahunya ketika pertempuran berlangsung beberapa jurus lamanya, mendadak pemuda kita telah merubah silatnya dengan secara yang amat tiba-tiba yaitu, jikalau pada semula ia kelihatan sabar dan lebih banyak bersikap menjaga, adalah sekarang tiba-tiba ia telah berubah jadi beringas dan berbalik menyerang pada lawannya dengan sikap yang tidak mengasih hati.
Dan jikalau semula lawan itu boleh tersenyum, adalah sekarang ia jadi meringis dan berkelit kian-kemari untuk menghindarkan diri dari pada tendangan-tendangan Lie Poan Thian yang semakin lama jadi semakin gencar.
Dan tatkala serangan-serangan itu telah sampai pada titik yang terhebat, penglihatan orang itu jadi kabur dan akhir-akhirnya terpaksa mundur karena tidak tahan dicecer terus-menerus dengan tendangan-tendangan kilat yang tampaknya dilakukan oleh beberapa orang, walaupun kenyataan mengunjukkan dengan jelas, bahwa di situ hanya ada satu Lie Poan Thian yang sedang meladeninya bertempur di saat itu!
Orang itu, ketika melihat tidak ada jalan lain untuk dapat mengalahkan pemuda kita, buru-buru ia membalikkan badannya dengan maksud akan melarikan diri.
Tetapi, apa celaka, pada sebelum ia berhasil bisa berbuat begitu, kaki Poan Thian telah menyapu kaki lawan itu, hingga dengan dibarengi oleh satu jeritan ngeri, orang itu telah terlempar dan jatuh di suatu tempat yang terpisah beberapa belas kaki jauhnya dalam keadaan pingsan, berhubung tulang kakinya telah patah kena tersabet oleh tendangan Lian-hwan Sauw-tong-tui pemuda kita yang terkenal sangat lihay itu.
527 "Celaka!"
Poan Thian berseru, karena ia sama sekali tak menyangka.
bahwa tendangan itu akan mengakibatkan kecelakaan di luar dugaannya.
Tahu-tahu ketika kemudian ia tersadar dari pingsannya, orang itu telah dapatkan dirinya terbaring di atas ranjang dengan kaki yang patah tulangnya telah dibalut orang sebagaimana mestinya.
Dan ketika melihat Poan Thian pun berada di situ dengan dikawani oleh In Liong, Kong Houw dan piauwkhek-piauwkhek yang lainnya, orang itu jadi kelihatan terperanjat dan buat beberapa saat lamanya tinggal menundukkan kepalanya dengan tidak berkata-kata barang sepatah katapun.
Tetapi Poan Thian yang tidak mau menghinakan orang yang telah menjadi pecundangnya, dengan sikap yang tenang ia lantas berkata.
"Saudara, antara kau dan aku sebenarnya tidak pernah terbit permusuhan apa-apa, bahkan bertemu denganmu pun saja pada kali ini. Apakah sebab-musabab yang telah membikin kau begitu memusuhi aku?"
Orang itu jadi menghela napas dan berkata.
"Lietoako, aku mohon dengan sangat, supaya kau sudi memaafkan pada sebelum aku berbicara."
"Ya, aku bersedia akan memaafkan kepadamu,"
Kata Lie Poan Thian.
"Kau tidak perlu berlaku malu atau takut akan berbicara dengan secara terus terang di hadapan kita sekalian."
"Aku ini adalah seorang suruhan dari Hek-houw-lie Cian Cong dari Ca-kee-chung,"
Kata orang yang celaka itu.
"Olehnya aku telah dijanjikan sejumlah upah yang besar sekali, guna mencelakai pada dirimu sehingga namamu menjadi ternoda di kalangan Kang-ouw."
"Aku dan Cian Cong tidak pernah terbit permusuhan 528 apa-apa,"
Kata pemuda kita dengan heran.
"Juga aku tidak kenal siapa dia itu. Oleh sebab itu, apakah kau bisa memberikan sedikit keterangan kepadaku, karena apa dia memusuhi aku?"
"Tentang ini aku tidak tahu jelas,"
Kata orang itu.
"Kau ini siapa?"
Kong Houw mencampuri bicara.
"Aku bernama Teng Kie,"
Sahut orang yang ditanya. Mendengar nama itu, Hoa In Liong jadi turut juga berbicara dan menanyakan.
"Apakah kau ini bukan Teng Kie yang di kalangan Kang-ouw dikenal orang dengan nama gelaran Sin-kauw-jie?" (Sin-kauw-jie berarti si kera sakti).
"Ya, benar,"
Sahut Teng Kie dengan rupa malu. In Liong jadi membanting kaki sambil menggerutu.
"Sayang, sayang! Kau telah mempertaruhkan nama baikmu oleh karena kemaruk dengan upah besar. Tidak kunyana bahwa urusan bisa jadi begitu......"
Tetapi ia tidak melanjutkan terus omongannya, berhubung kuatir Teng Kie akan jadi tersinggung dan berbalik menjadi sakit hati kepadanya.
"Sekarang cobalah kau boleh lanjutkan omonganmu,"
Poan Thian menganjurkan.
Teng Kie sambil menahan rasa sakit dan malu lalu menuturkan sebagai berikut.
Pada suatu hari ketika kembali ke Ca-kee-chung dari Hang-ciu, Teng Kie telah mendapatkan Ca Tiauw Cin telah menjadi seorang cacad karena dilukai oleh Lie Poan Thian.
Tatkala itu Teng Kie telah menyatakan pikirannya akan membalas dendam pada pemuda kita, tetapi niatan itu telah dicegah oleh Ca Tiauw Cin yang 529 mengatakan, bahwa ia tidak menyesal mengalami kecelakaan itu.
"Aku rela dirobohkan oleh seorang yang namanya begitu tersohor seperti Lie Poan Thian,"
Katanya.
"tetapi aku tidak bisa terima dengan begitu saja, jikalau Lie Poan Thian itu ada seorang Bu-beng Siau-cut. Selain dari itu, aku tahu juga bahwa kau sendiri bukan tandingan Lie Poan Thian, maka itu aku nasehatkan kepadamu, janganlah kau coba memusuhinya tanpa sebab."
Teng Kie yang mendengar omongan Chungcu itu, dimulut ia mengatakan "ya" , tetapi di dalam hati ia masih sangat penasaran dan berjanji pada dirinya, akan di suatu waktu menjajal sampai dimana kepandaian orang yang begitu disohorkan oleh induk semangnya itu.
Maka pada suatu hari ketika ada seorang tamu yang berkunjung ke Ca-kee-chung buat menjumpai Hek-houwlie Cian Cong, di situlah Teng Kie telah diberi kesempatan oleh Cian Cong dengan membelakangi perintah Ca Tiauw Cin yang telah menjadi cacad, akan coba melawan bertempur pemuda kita dengan dijanjikan upah seribu tail perak, apabila ia mampu mengalahkan Lie Poan Thian sehingga namanya jadi tercemar di kalangan Kang-ouw.
Dan tatkala Poan Thian menanyakan, apakah Teng Kie kenal siapa nama tamu yang mencari Cian Cong itu, ia mendapat jawaban dia itulah bernama Hok Cit.
"Oh. oh, tidak tahunya dia itulah yang hendak mencari setori pada kita?"
Kata orang banyak ketika mendengar Teng Kie menyebut nama penjahat muda itu.
"Boleh, boleh, aku bersedia buat ,,tangani"
Semua sisa berandal dari Jie-sian-san itu,"
Kata Lie Poan Thian sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. 530 Kemudian ia menoleh pada Teng Kie buat minta penjelasan terlebih jauh.
"Pada waktu kau berangkat ke sini,"
Tanyanya.
"apakah Hok Cit itu masih ada di Ca-kee-chung?"
"Ya, sehingga hari inipun dia mungkin masih berada di sana,"
Sahut Teng Kie.
"Membabat rumput harus dicabut dengan akarakarnya,"
Poan Thian menggerutu dengan tak tentu kemana juntrungannya. Sekarang ia mulai tahu jelas. mengapa Teng Kie bisa datang mencarinya ke kota Kim-leng dengan menyamar sebagai seorang pembawa surat.
"Apakah kau kenal siapa Hok Cit itu?"
"Tidak,"
Teng Kie menggelengkan kepalanya.
"Apakah dia kelihatan bersahabat rapat dengan Hekouw-lie Cian Cong?"
Teng Kie membenarkan pertanyaan itu. .,Kalau begitu,"
Kata pemuda kita.
"mungkin juga Cian Cong telah dihasut oleh dia itu, sedangkan kau sendiri telah dijadikan alat mereka. Tidak bisa salah lagi."
Kong Houw yang melihat sikap Poan Thian terhadap pada pecundangnya itu, iapun lalu mendekati ke muka ranjang sambil berkata.
"Suudara, sekarang kau boleh berdiam dan berobat di sini sehingga beberapa hari lamanya. Apabila kau merasa haus atau lapar, panggillah pelayan-pelayan yang akan kuperintahkan berdiam di sini untuk melayani segala keperluanmu. Kau tidak usah merasa sungkan apa-apa, dan anggaplah bahwa rumah ini adalah rumahmu juga."
Hal mana, sudah barang tentu, telah membikin Teng 531 Kie jadi sangat berterima kasih dan malu bukan main mendapat perlakuan yang justru sebaliknya dari pada apa yang semula dipikirkannya.
Dan jikalau ia bisa berdiri dengan tegak, ia tentu sudah bersoja dan berlutut buat menyatakan bertobat atas perbuatannya yang sangat hina dan rendah itu.
Lebih-lebih tatkala ia tahu bahwa orang yang menjadi tuan rumah itu adalah Cin Kong Houw, pemimpin dan pemilik Siang-hap Piauwkiok, Teng Kie jadi terperanjat dan berkata.
"Tuan Cin. kepadamu aku harus menghaturkan beribu-ribu maaf, buat kesukarankesukaran yang kau telah alami selama kehilangan bendera lambangmu pada beberapa waktu yang telah lampau itu. Karena bendera lambang itu bukan dicuri oleh Ca Chung-cu sendiri, hanya tangankulah yang telah mencurinya. Tetapi aku harus puji Ca Chung-cu sebagai seorang Tay-tiang-hu sejati, berani berbuat, juga berani memikul risikonya. Itulah sebabnya mengapa ia tidak mengatakan bahwa pencurian itu telah dilakukan olehku."
"Jadi dengan begitu,"
Kata Lie Poan Thian.
"inilah ada buat kedua kalinya kau diperintah akan melakukan pekerjaan dengan...... secara bergelap?"
"Ya,"
Sahut Teng Kie sambil menundukkan kepalanya, karena merasa sangat menyesal dan malu dengan perbuatannya sendiri.
"Seorang yang perbuatannya sesat tetapi kemudian insyaf dan bersedia akan berbuat baik, itulah masih belum kasip akan dipimpin menjadi seorang baik,"
Kata Louw Cu Leng yang bermaksud buat menyadarkan pikiran Teng Kie yang telah terliput oleh pengaruhpengaruh yang tidak baik. 532 "Ya, benar,"
Sahut Teng Kie.
"Dari itu, aku rasanya kepingin mati saja karena penyesalan-penyesalan yang aku harus timpakan atas diriku sendiri."
"Kau jangan putus asa,"
Kata jago tua itu.
"Dan jikalau kau tidak buat celaan, aku bersedia akan mendidik padamu ke jalan yang benar, yang aku percaya akan membawa bahagia bagi penghidupanmu yang bakal datang. Kau masih muda, mengapakah tidak berusaha untuk hari kemudianmu? Tuan Cin di sini mempunyai perusahaan angkutan yang meminta banyak orang yang paham ilmu silat buat menjadi pengantar kereta piauw. Oleh karena itu, aku pujikan benar, jikalau nanti kau telah sembuh dari lukamu, akan membantu pada tuan Cin di sini, yang tentu bagimu akan lebih baik sepuluh kali dari pada berkeliaran di kalangan Kang-ouw dengan tidak tentu tujuannya. Hanya belum tahu pikiranmu bagaimana?"
Teng Kie tidak mampu mengucapkan barang sepatah perkataan.
Ia jadi begitu terharu dan berterima kasih atas nasihat-nasihat orang tua itu, sehingga dengan tidak terasa lagi ia mangucurkan air mata oleh karena menyesal atas segala perbuatannya yang sudah-sudah.
Sementara Kong Houw dan orang banyak yang pada menyaksikan begitu, semua jadi merasa kasihan dan berjanji akan sedapat mungkin bantu membukakan jalan untuk Teng Kie menjadi seorang baik.
Dan sesudah mereka pada berlalu dan berkumpul di ruangan pertengahan, di situ Poan Thian lalu menyatakan pikirannya akan mencari pada Hok Cit, yang ia percaya akan mengacau terus menerus apabila ia belum dikasih hajaran yang, cukup hebat.
Tetapi hampir semua orang menyatakan tidak 533 mufakat, akan Poan Thian berlaku begitu tergesa-gesa.
Penguasa Ca-kee-cung?
"Memotong rumput harus dicabut dengan akarakarnya,"
Kata pemuda kita.
"Buat apakah mesti ditinggal separuh-separuh?"
"Itu benar,"
Kata Hoa In Liong.
"Tetapi kau harus jangan lupa, bahwa itulah ada urusan remeh. Ingatlah, seekor naga boleh menjagoi di lautan, tetapi tak dapat ia berbuat begitu dalam sebuah sungai, dimana ada kemungkinan ia diganggu oleh kawanan udang."
"Itu benar, itu benar. Aku mufakat,"
Kata Louw Cu Leng sambil tertawa.
Tetapi Poan Thian tetap berkeras akan mencari juga pada Hok Cit, hingga orang banyak tidak bisa mencegah lagi akan pemuda kita pergi mencari pada sisa berandal dari Jie-sian-san itu, yang menurut keterangannya Teng Kie, ada kemungkinan masih berada di Ca-kee-chung.
"Kedatanganku ke sana,"
Katanya.
"bisa dipergunakan sebagai pelabi akan menyambangi pada Ca Tiauw Cin yang telah kulukai sehingga cacad itu."
Begitulah setelah minta supaya Kong Houw sudi melayani Louw Cu Leng dan Hoa In Liong sementara ia pergi "membereskan perhitungan"
Dengan Hok Cit di Cakee-chung, pemuda itu lalu menyatakan juga menyesalnya pada orang tua itu dan kakak seperguruannya, bahwa ia tidak bisa melayani mereka sebagaimana mestinya, berhubung ia tak senang akan Hok Cit yang berada di luaran masih saja mencari garagara dan menghasut ke kiri-kanan untuk membikin ia jadi bertambah banyak musuh dan dibenci orang tanpa 534 alasan yang bisa masuk diakal.
Maka dengan hanya membawa beberapa stel pakaian saja, pedang hadiah dari In Cong Sian-su dan kantong kulit yang berisikan senjata-senjata rahasia, pemuda kita segera berangkat ke Ca-kee-chung dengan menunggang seekor kuda yang dapat berlari cepat.
◄Y► Dan tatkala melakukan perjalanan sehingga beberapa hari lamanya, akhirnya sampailah ia di muka gerbang desa Ca-kee-chung, dimana ia lantas minta salah seorang pengawal akan pergi memberitahukan pada Ca Tiauw Cin tentang perkunjungannya itu, tetapi di luar sangkaannya ia memperoleh jawaban bahwa Chungcu-ya justru keluar bepergian.
Oleh sebab itu, maka si pengawal minta supaya Poan Thian suka kembali lagi nanti, dua atau tiga hari pula kemudian.
Oleh karena mendengar keterangan itu, Poan Thian terpaksa pergi mencari rumah penginapan untuk berikhtiar, cara bagaimana ia bisa mencari Hok Cit yang saban-saban telah membuat ia mengalami banyak kesukaran.
Bahkan kalau ia bisa bertemu dengannya di saat itu, niscaya ia akan bunuh padanya dengan tidak ampun lagi.
Demikianlah sambil dahar di rumah penginapan, Poan Thian berpikir dengan tidak henti-hentinya.
Lama-lama timbul ingatan dalam hatinya akan menerobos saja ke Ca-kee-chung.
Tetapi karena mengingat bahwa Ca Tiauw Cin sekarang sudah menjadi seorang baik, ia jadi tidak enak buat berlaku semberono, memasuki rumah orang dengan tidak mengindahkan 535 kepada orang yang menjadi tuan rumahnya.
Sebaliknya, jikalau dibiarkan saja Hok Cit diberi ketika akan merat, lalu segala kecapaiannya yang dari jauh datang ke situ dengan maksud khusus untuk membereskan perhitungan dengan sang musuh itu, akan menjadi sia-sia belaka.
Oleh karena itu, bagaimanakah ia harus berbuat sekarang?
Pikirannya bekerja dengan keras, pemecahannya belum juga dapat diperoleh.
tetapi "Pelayan,"
Ia berkata.
"cobalah bawakan pula aku dua kati arak."
Si pelayan yang memang telah pernah kenal pada pemuda kita, tentu saja heran dan balik bertanya.
"Tuan, hari ini tidak sari-sarinya kau minum banyak, sedangkan di waktu biasa, hanya kau minum sekadarnya saja."
Poan Thian tertawa.
"Aku sebenarnya telah lupa,"
Katanya.
"bahwa hari ini adalah hari ulang tahunku. Aku di sini tidak punya kenalan atau sanak saudara, oleh karena itu, sudikah kau menemani aku duduk makan minum sambil mengobrol buat melewati waktu yang terluang?"
Si pelayan itu kelihatan ragu-ragu.
"Tuan,"
Katanya.
"aku ini adalah seorang pelayan yang tugasnya khusus untuk melayani para tamu yang menumpang menginap di sini, tetapi bukan mestinya akan melayani para tamu bermakan minum. Induk semangku akan menjadi kurang senang dan menganggap aku kurang ajar, kalau saja aku berani berhuat begitu."
"Ya, tetapi inilah ada kehendakku sendiri,"
Kata Lie Poan Thian sambil tertawa.
"bukan kau yang sengaja 536 berbuat begini atas kehendak sendiri. Dan jikalau nanti induk semangmu datang menegur kepadamu, aku suka pikul risiko dan menjawab semua tegorannya."
"Kalau begitu,"
Kata si pelayan.
"aku bersedia akan mengabulkan permintaanmu, dengan terlebih dahulu aku mengucap Selamat ulang tahun! Semoga Thian memberi kurnia panjang umur dan bahagia bagi dirimu dalam tahun-tahun yang akan datang."
Poan Thian mengucapkan pemberian selamat si pelayan itu. terima kasih atas "Tetapi karena aku bukan orang kaya,"
Katanya.
"maka perayaan ulang tahun ini hanya dapat kurayakan dengan seada-adanya saja."
"Tetapi siapa tahu perayaan ini akan dirayakan dengan lebih besar dan mewah pada lain tahun?"
Kata si pelayan itu dengan wajah yang berseri-seri.
"Ingatlah, tuan, bahwa segala apa yang besar tidak dimulai dengan secara besar-besaran."
"Itu benar,"
Kata pemuda kita.
"Sekarang aku persilahkan kau memilih makanan dan minuman yang digemari sendiri olehmu. Nanti rekeningnya aku bayar sekalian dengan makanan yang telah aku pesan tadi."
Si pelayan itu jadi kelihatan girang dan lalu pergi mengambil makanan dan minuman itu tanpa diperintah sampai dua kali.
Dan tatkala makanan dan minuman itu telah disajikan, Poan Thian lalu persilahkan si pelayan akan duduk makan minum bersama-sama.
Tetapi ketika ia persilahkan si pelayan minum beberapa cawan arak dan mengobrol dengan gembira, mendadak pemuda kita telah bertanya.
"Ah, barusan aku 537 telah lupa menanyakan siapa she dan namamu." 4.34. Penguasa Ca-kee-cung? "Aku bernama Kwie Jie,"
Sahut si pelayan sambil dahar santapannya dengan secara bernapsu sekali.
"Aku sekarang justru sedang bo-thauw-lo,"
Begitulah Poan Thian pura-pura berkata.
"Aku dengar Ca Chung-cu kini sedang mengundang orang-orang yang paham ilmu silat buat dijadikan kauw-su di gedungnya, tetapi ia tidak mau terima sembarangan orang yang tidak punya sanak saudara atau sedikit-sedikitnya mempunyai kenalan yang berdiam di dalam desa ini. Oleh sebab itu, apakah saudara sudi mengajak aku ke gedungnya Ca Chung-cu buat melamar pekerjaan itu, dengan mengakui bahwa aku inilah seorang sanak saudara atau handai taulanmu?"
"Oh, itulah suatu pekerjaan yang gampang sekali, aku juga bisa minta perantaraan mereka buat memperkenalkan kau pada Ca Chung-cu. Tetapi belum tahu kapan kau hendak pergi ke sana?"
"Aku sendiri baik menunggu saja di sini dahulu,"
Kata pemuda kita.
"sedangkan kau sendiri boleh berhubungan pada salah seorang kenalanmu di sana, sambil menerangkan juga niatanku akan meminta pekerjaan tersebut. Tetapi belum tahu apa ini tidak menyusahkan, apabila urusan diatur begitu rupa?"
"Tidak, tidak,"
Sahut Kwie Jie.
"Malah kalau aku sendiri yang bantu bicara, aku percaya dalam sepuluh tentulah ada sembilan bagian yang mesti bisa berhasil."
"Apabila dengan pertolonganmu itu aku bisa berhasil bekerja di gedung Ca Chung-cu,"
Kata Lie Poan Thian, 538 "niscaya aku tidak lupakan atas budi kebaikanmu itu."
"Itu perkara kecil,"
Kata si pelayan itu sambil tertawa.
"Sebentar sore aku tanggung kau sudah mendapat kabar baik."
"Syukurlah kalau usahamu itu bisa berhasil,"
Sahut Poan Thian yang lalu berpura-pura juga tertawa buat mengunjukkan kegirangannya.
Tidak antara lama setelah si Kwie Jie kelihatan mulai sinting, Poan Thian lalu menggunakan ketika itu buat coba menanyakan tentang hal-hal yang bersangkutan dengan keadaan di Ca-kee-chung.
Misalnya, bagaimana pandangan si pelayan itu terhadap dirinya Ca Tiauw Cin, siapa orang kepercayaannya, dan soal-soal lain yang tidak ada kepentingannya untuk dijelaskan satu persatu.
Si Kwie Jie iang diloloh dan ternyata tahu benar tentang keadaan di dalam desa tersebut, sudah tentu saja lantas berbicara ke timur dan ke barat buat mengunjukkan bahwa ia ada seorang "ahli"
Dalam hal memberikan keterangan-keterangan yang bersangkut paut dengan keadaan desa yang didiaminya itu.
Dari keterangan-keterangan yang diperolehnya dari Kwie Jie, Poan Thian segera ketahui, bahwa Ca Tiauw Cin itu sebenarnya bukan orang jahat, tetapi sifatnya memang benar congkak, tidak suka mengunjuk kelemahan diri sendiri dan agak "gila hormat".
"Ia itu sekarang telah cacad karena dilukai oleh Sintui Lie Poan Thian,"
Kata Kwie Jie yang sama sekali tidak mendusin, bahwa tetamunya itu adalah orang gagah dari utara yang disebutkan namanya itu.
"Tetapi ia kelihatan tidak menjadi menyesal, karena ia insyaf, bahwa semua itu telah disebabkan oleh karena kekeliruannya sendiri." 539 "Keterangan itu cocok benar dengan keterangan Teng Kie,"
Kata Poan Thian di dalam hatinya.
"Tetapi karena ia sekarang telah menjadi cacad,"
Kwie Jie melanjutkan.
"Maka pengaruhnya telah hampir lenyap sama sekali, sehingga Hek-houw-lie Cian Cong yang menjadi orang kepercayaannya, hampir tidak mau bertunduk lagi di bawah perintahnya. Dan jikalau sampai hari ini Cian Cong masih berada di sana, adalah karena aku kira ia hendak merampas hartanya Ca Chung-cu dengan menggunakan tenaga orang dalam yang sedikit demi sedikit telah kena juga dipengaruhinya. Bahkan setiap sahabat Ca Chung-cu yang sengaja datang berkunjung untuk menyambanginya, hampir selalu ditolak oleh Cian Cong ini, dengan mengatakan bahwa Chungcu keluar bepergian buat beberapa hari lamanya. Padahal Chungcu-ya semenjak menjadi seorang cacad, tak pernah keluar bepergian kemana-mana. Malah keluar pintu saja belum pernah aku dapat lihat.
"Sementara lain hal lagi yang telah membikin banyak penduduk desa ini berkuatir, adalah selama ini Cian Cong selalu mengundang kambrat-kambratnya buat berdiam sama-sama di gedung Ca Chung-cu, dengan Ca Chung-cu sendiri kabarnya tidak tahu menahu tentang urusan ini, berhubung orang-orang sebawahannya telah "
Ditutup mulutnya"
Dengan menggunakan persenanpersenan yang besar serta dipesan akan jangan menyampaikan sesuatu gerakan yang telah dilakukannya dengan secara diam-diam di belakang pengetahuan induk semang mereka itu.
"Maka supaya kau bisa berhasil bekerja di gedung Ca Chung-cu, kukira tidak ada jalan lain yang lebih baik dari pada coba "
Menempel"
Pada Hek-houw-lie Cian Cong ini. Karena tanpa persetujuan gundal yang licin ini, 540 maksudmu itu pasti tak akan berhasil."
"Kalau begitu,"
Kata pemuda kita.
"cara bagaimana urusan ini hendak kau aturnya?"
"Dalam hal ini tidak usah kau kuatir,"
Sahut Kwie Jie.
"Aku nanti atur begitu rupa sehingga kau bisa berhasil bekerja di gedung Ca Chung-cu. Percayalah padaku, tuan Lie."
Lie Poan Thian diam-diam menjadi girang juga di dalam hatinya. Maka setelah mereka puas bermakan minum, tidak lupa pemuda kita telah "selipkan"
Juga beberapa buah uang perak di telapak tangan pelayan itu. Kwie Jie yang "mengerti"
Maksud Lie Poan Thian, mula-mula telah berpura-pura berlaku see-jie dan hendak menolak pemberian itu, tetapi ketika Poan Thian memaksa beberapa kali, barulah ia mau terima juga hadiah itu, yang dikatakannya sebagai "tanda persahabatan".
Kemudian ia berlalu setelah memesan supaya Poan Thian jangan pergi kemana-mana, sementara ia menantikan kabar baik dari Ca-kee-chung.
Poan Thian berjanji akan berbuat begitu.
Pada petang hari itu, Kwie Jie telah kembali dari luaran dan mengunjungi pemuda kita di kamarnya dengan wajah yang berseri-seri.
"Beruntung, beruntung,"
Katanya.
"Ketika aku datang menghadap pada Cian-ya dan terangkan maksud kedatanganku, ia lantas menyatakan tidak berkeberatan akan menerima kau sebagai salah seorang kauw-sunya. Aku katakan, bahwa kau adalah seorang saudaraku dari pihak ibu. Maka kalau nanti kau datang menghadap padanya, jangan lupa buat mengaku begitu, ya?" 541 "Baik, baik,"
Kata Lie Poan Thian yang merasa mendapat suatu jalan akan mencari Hok Cit di sana.
"Bilamanakah aku dapat menghadap kepada Cian-ya?"
"Petang hari inipun boleh,"
Sahut Kwie Jie.
"Malah kalau kau suka, akupun boleh juga pergi mengantarkan kau ke sana."
"Itu tidak perlu menyusahkan kepadamu,"
Kata pemuda kita.
"Biar saja aku nanti jumpai sendiri kepadanya. Tetapi belum tahu bagaimana bentuk tubuh dan roman Cian-ya itu?"
Kwie Jie lalu coba melukiskan raut muka dan perawakan Cian Cong dengan menggunakan kata-kata dan gerakan-gerakan dengan tangannya.
"Cian-ya ini orangnya tidak berapa tinggi,"
Katanya.
"Kira-kira lebih tinggi sedikit dari pada kau sebegini."
Sambil ia petakan dengan tangannya yang diangkat ke sebelah atas kepala Lie Poan Thian.
"Badannya agak gemuk." (Sambil membentangkan kedua tangannya ke kiri-kanan).
"Usianya lebih tua dari padamu. Kulitnya kehitam-hitaman. Dan jikalau kau masih merasa raguragu, tanyakanlah keterangan lebih jauh pada pengawal yang bernama Tong Yan, dia tentu akan memberikan keterangan padamu sebagaimana mestinya. Katakan saja bahwa kau datang ke sana atas perantaraannya Kwie Jie, dia tentu akan menolong kepadamu."
"Baik, baik,"
Sahut Lie Poan Thian sambil mengucap terima kasih atas bantuan pelayan itu.
Maka sesudah selesai menukar pakaian dan tak lupa membekal Joan-pian yang dilibatkan di pinggangnya, pada petang hari itu juga Poan Thian lalu masuk ke Cakee-chung dan bertemu dengan Hek-houw-lie Cian Cong atas perkenalannya Tong Yan yang dikatakan oleh Kwie 542 Jie tadi.
Cian Cong menyambut kedatangan pemuda kita sebagaimana mestinya seorang yang menjadi tuan rumah.
"Saudara ini apakah bukan sanak saudara Kwie Jie?"
Tanyanya sambil memperhatikan dengan teliti gerakgeriknya pemuda kita.
"Benar,"
Sahut Lie Poan Thian, yang juga pasang mata dengan tajam buat menyelidiki kalau-kalau di situ ada Hok Cit yang sedang dicarinya untuk "membikin perhitungan".
"Menurut keterangan yang aku peroleh dari Kwie Jie,"
Kata Cian Cong.
"kau ini ada seorang ahli silat yang berasal dari utara. Oleh karena itu, kau tentu kenal juga dengan beberapa orang jago silat kenamaan di tempat kelahiranmu itu, misalnya, dengan Sin-tui Lie Poan Thian, Sin-kun Louw Cu Leng, dan yang lain-lainnya pula, tidakkah?"
"Ya, nama-nama itu memang telah lama aku dapat dengar di kalangan Kang-ouw,"
Poan Thian mendusta.
"tetapi berhubung aku telah mengembara semenjak masih anak-anak, maka aku tidak kenal bagaimana roman mereka itu."
"Malam ini oleh karena kita kebetulan mengadakan sedikit perjamuan sederhana,"
Kata Cian Cong.
"maka tidak jahatnya akan kami minta supaya saudara Lie Kok Ciang sudi mengunjuk sedikit ilmu kepandaian silatmu, buat bantu meluaskan pemandangan kita sekalian."
Tetapi Poan Thian lantas merendahkan diri dengan mengatakan, bahwa ilmu kepandaian silatnya masih sangat terbatas, hingga jikalau nanti ternyata ia tak dapat 543 mengunjuk kepandaiannya scbagaimana mestinya, ia sangat mengharap supaya Cian Cong tidak buat celaan atau merasa kecewa kepada dirinya.
Sementara Cian Cong yang menyangka bahwa Lie Poan Thian dan Lie Kok Ciang itu ada dua orang, tentu saja beranggapan, bahwa pemuda kita telah sengaja merendahkan diri karena menaruh harga sangat tinggi atas dirinya yang sekarang berlaku sebagai tuan rumah.
"Saudara Lie ini memang terlalu merendahkan diri,"
Katanya sambil tertawa.
"Kita semua adalah orang-orang sendiri dan harus menganggap bahwa kita semua adalah sama rata. Oleh sebab itu, perlu apakah kau mesti berlaku sungkan sampai begitu? Marilah, silahkan kuperkenalkan kau dengan saudara-saudara kita yang lainnya."
Sambil berkata begitu.
Cian Cong lalu ajak pemuda kita masuk menjumpai beberapa orang gagah yang menjadi kambrat-kambratnya, tetapi mereka ini ternyata tiada seorang pun yang dikenal oleh Lie Poan Thian, bahkan Hok Cit yang dicarinyapun tidak kelihatan mata hidungnya.
Maka selama diperkenalkan oleh Cian Cong pada orang-orang gagah tersebut, Lie Poan Thian tidak hentihentinya memikirkan di dalam hatinya.
"Kemanakah perginya si Hok Cit? Apakah barangkali ia telah mencium bau bahwa aku bakal datang ke sini, sehingga siangsiang ia lantas menyingkir ke tempat lain buat bersembunyi?"
"Sebentar lagi apabila semua sandara-saudara telah berkumpul,"
Kata Cian Cong pula.
"barulah perjamuan yang kukatakan tadi akan dimulai. Maka selama kita menantikan kedatangan mereka, marilah kita pergi ke 544 ruangan belakang buat melihat murid-muridku yang sedang berlatih."
Poan Thian menurut dan mengikuti pada Cian Cong dengan hati yang semakin curiga.
"Saudara Cian,"
Katanya pada akhir-akhirnya.
"apakah boleh saudara perkenalkan aku pada Ca Chungcu? Aku belum pernah kenal kepadanya, selain mendengar namanya yang begitu tersohor di kalangan Kang-ouw."
Cian Cong tertawa dingin waktu mendengar Poan Thian menyebut-nyebut nama Ca Tiauw Cin.
"Dahulu nama Ca Chung-cu memang amat disegani oleh jago-jago di kalangan Kang-ouw, tetapi sekarang...... hm, siapakah lagi yang mau mengindahkannya yang telah menjadi cacad karena dipecundangi oleh Lie Poan Thian yang tergolong sebagai seorang jagoan tingkat terendah di antara golongan kita? Dia boleh buka mulut besar dan merasa bangga dengan gelaran Sin-tui yang dipunyainya, tetapi ia lupa, bahwa di belakang dirinya masih ada saingan lain yang sepuluh kali lebih jempolan dari pada dirinya! Dia boleh main gertak terhadap orang-orang yang takut kepadanya, tetapi gertakan-gertakan itu tak akan "
Mempan"
Terhadap pada orang-orang yang memang sesungguhnya berani."
Selain dari pada itu, iapun telah berbuat suatu kekeliruan besar dan mengira bahwa semua orang ada begitu goblok sehingga tak dapat mengenali padanya yang telah memasuki desa ini dengan secara bergelap.
"Sahabat, Hek-houw-lie Cian Cong itu bukanlah seorang yang mudah dikelabui matanya, sehingga seolah-olah ia buta dengan kedatangan seseorang yang 545 mengandung maksud tidak baik. Dan orang itu adalah kau sendiri, Sin-tui Lie Poan Thian!"
Mendengar omongan itu, sudah barang tentu pemuda kita jadi sangat terperanjat, karena dengan begitu telah jelaslah, bahwa penyamarannya telah diketahui oleh si Musang Hitam!
"Dan jikalau aku mesti akui bahwa omongan itu memang benar begitu,"
Katanya.
"apakah yang kau akan berbuat padaku selanjutnya?" .. Kebaikan Menghilangkan Permusuhan Cian Cong mundur beberapa tindak ke belakang sambil menentang wajah pemuda kita. Sedangkan sorot matanya yang semula bersifat simpatik, sekarang telah berubah menjadi beringas dan penuh dengan kebencian. Kemudian ia menghunus goloknya dengan cepat dan membentak.
"Sekarang aku hendak buktikan sendiri sampai dimana keunggulanmu!"
Sambil berkata begitu, Cian Cong lalu menerjang pada Lie Poan Thian dengan menggunakan siasat Tokcoa-chut-tong, hingga pemuda kita yang mengetahui betapa berbahayanya serangan itu, buru-buru ia miringkan badannya buat mengasih lewat tusukan itu, kemudian ia maju setindak sambil melakukan tendangan kilat ke arah si Musang Hitam.
Tetapi Cian Cong yang bermata sangat celi dan ternyata bisa berlaku amat sebat, lalu mengegos buat menghindarkan diri dari pada tendangan itu, dan tatkala ia membacok ke arah kepala lawannya dengan menggunakan siasat Tok-pek-hoa-san, Lie Poan Thian telah keburu mencabut Joan-pian di pinggangnya, 546 dengan mana ia telah menangkis golok Hek-houw-lie yang dijujukan ke arah kepalanya.
Maka dalam waktu hanya sekejapan mata saja, tuan rumah dan tamu yang semula kelihatan begitu hormat dan saling mengindahkan, sekarang telah berbalik menjadi musuhmusuh yang telah mencoba segala daya-upaya untuk saling membunuh dan merobohkan pada satu sama lain.
Sementara kambrat-kambrat Cian Cong yang menyaksikan pertempuran itu, sudah barang tentu segera mengambil pihak pemimpinnya.
Dan sesudah mereka mengambil senjata masing-masing, dengan serentak mereka lalu mengeroyok pemuda kita dengan tidak banyak bicara lagi.
Poan Thian yang melihat dirinya dikeroyok begitu rupa, dengan tidak berlaku see-jie lagi iapun lalu putar Joan-piannya dan menerjang ke kiri dan kanan bagaikan Tio Cu Liong yang sedang dikepung oleh laskar-laskar Tio Coh di daerah Tong-yang-kwan.
Dan tatkala pertempuran itu tengah berlangsung dengan amat hebatnya, tiba-tiba terdengar seorang orang yang berseru.
"Saudara-saudara. janganlah lepaskan musuh kita itu, pada sebelum ia berlutut meminta ampun di hadapan kita!"
"Kurang ajar!"
Kata pemuda kita setelah mengetahui siapa yang telah memperdengarkan seruannya itu, karena orang itupun bukan lain dari pada Hok Cit yang sedang dicarinya untuk "membereskan perhitungan"
Yang telah diperbuat untuk kerugian jiwa dan nama baiknya.
"Hai, pengecut!"
Teriak Lie Poan Thian dengan hati sangat penasaran.
"Hari ini jikalau aku tak dapat mengambil kepalamu, aku bersumpah tak akan menjadi 547 manusia lagi! Ayoh, kau boleh maju buat terima binasa!"
Baca Juga: Mestika Burung Hong Kemala Kho Ping Hoo
Baca Juga: Si Bangau Merah Kho Ping Hoo