Eps 1 Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying
Baca online Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying
Cersil Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying.
Ilmu Ulat Sutera (Tian Chan Bian)
Tiraikasih Website
http.//kangzusi.com / Karya . Huang Ying Disadur oleh . Ai Cu
Jilid 1 Angin barat menerbangkan dedaunan bagaikan sedang menari-nari.
Musim semi hampir berakhir.
Di bawah percikan air terjun, di samping rimba pohon yang lebat.
Di atas sebuah batu besar yang terdapat di tengah sungai yang sedang mengalir, berdiri seorang laki-laki berpakaian putih.
Pakaiannya yang putih laksana salju yang menerpa.
Rambut orang itu seluruhnya berwarna putih seolah ditutupi salju musim dingin.
Bukan hanya rambutnya yang berwarna putih.
Alisnya juga berwarna putih.
Mestinya wajah seperti itu hanya dimiliki orang yang berusia lanjut, namun anehnya tidak ada sedikit pun kerutan pada wajah orang ini.
Sulit menerka berapa usia orang itu sebenarnya.
Sepasang alisnya tinggi dan tebal.
Mimik wajahnya dingin dan datar.
Terasa sekali hawa pembunuhan yang memancar dalam sinar matanya.
Warna kulitnya pucat seperti kulit ikan yang sudah mati.
Tidak terlihat sedikit pun rona merah sebagaimana manusia yang mempunyai darah.
Bibirnya juga 1 demikian.
Tidak beda dengan sesosok mayat hidup.
Yang paling mengerikan dan membuat hati bergetar justru sepasang matanya.
Bentuknya sipit dan panjang.
Bola matanya hanya berwarna putih secara keseluruhan.
Tidak ada bola hitam di tengahnya.
Di tangan kirinya tergenggam sebatang pedang panjang yang membuat penampilan orang itu semakin angker.
Panjang pedang itu kira-kira satu setengah meter.
Nyata sekali pedang yang dibawanya bukan pedang sembarangan.
Orang akan berpikir dalam hati, bagaimana cara menggunakan pedang sepanjang itu?
Untuk menghunusnya saja pasti akan menemui kesulitan.
Orang ini menggunakan pedang sepanjang itu sebagai senjata.
Apabila bukan untuk memamerkan diri, pasti ilmunya sangat tinggi.
Kecepatannya juga tentu secepat kilat.
Pokoknya semua yang ada pada diri orang ini lain daripada yang lain.
***** Air sungai yang deras itu bergerak-gerak menghantam batu tersebut.
Butiran air memercik ke mana-mana.
Angin masih bertiup dengan kencang.
Daun-daunan rontok beterbangan dan menimbulkan suara menderu-deru.
Lengan baju orang itu melambai-lambai.
Rambutnya yang putih beriap-riap.
Benda-benda yang ada antara langit dan bumi seperti sedang berlomba saling bergerak.
Hanya manusia berpakaian putih itu yang bergeming sedikit pun.
Tubuhnya seolah telah bersatu dengan batu yang dipijaknya.
2 Dari jauh tampaknya seperti gumpalan kabut yang menutupi sebuah arca.
Gumpalan kabut yang membisu ....
Angin bertiup menerpa alam sekeliling.
Mata orang itu tiba-tiba terbelalak.
Sinar matanya yang sedingin es tidak menampilkan perasaan apa-apa.
Siapa pun tidak akan menyangka bola mata yang sedemikian rupa dapat menyorotkan sinar setajam belati.
Matanya bergerak, demikian juga tubuhnya.
Suasana mencekam jadi riuh seketika.
Tubuhnya melesat bagaikan sebatang anak panah.
Pedang dan sarungnya ikut berkelebat.
Sarung pedang itu patah dibuatnva.
Hanya melesak ke dalam batu yang dipijaknya.
Tubuh manusia berpakaian putih itu meloncat di udara.
Pedangnya telah terhunus.
Keduanya berkelebat di udara bagai sebaris pelangi dan mengarah ke sehelai daun yang sedang terbang ditiup angin.
Panjang pedang tersebut satu setengah meter.
Dengan kecepatan yang sulit dijelaskan, dia menusuk ke arah daun merah yang sedang melayang itu.
"Crep!"
Pedang itu menembus daun tersebut.
Mengagumkan!
Daun itu sama seperti daun yang sering terlihat.
Gerakan pedang yang kuat ternyata tidak membuat daun itu terempas.
Hanya satu hal yang dapat dijelaskan dari keadaan itu.
Gerakan pedang itu terlalu cepat.
Melebihi kecepatan daun tersebut.
Belum sempat daun terempas oleh deruan angin yang ditimbulkan, pedang sudah menusuknya.
Tiba-tiba pedang itu ditarik kembali.
Daun itu terlepas dan melayang kembali.
Sebelum sempat mencapai tanah, 3 manusia berpakaian putih itu sudah berdiri tegak di tempatnya semula.
Kedua kakinya bergeming sedikit pun.
Tangan kanannya masih menggenggam pedang seperti sebelumnya.
Dan pedang itu juga masuk kembali ke dalam sarungnya.
Matanya tetap bersinar tajam.
Tubuhnya tidak bergerak juga, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Angin tetap bertiup kencang.
Daun merah tadi masih melayang-layang.
Pada saat itu, sebuah suara mengumandang lewat semilir angin ....
"Belum mencapai tiga bulan ilmu pedang sute sudah mengalami kemajuan demikian pesat!"
Suara itu lembut menyeramkan.
Kedengarannya berada di kejauhan, namun kata-katanya jelas sekali seperti berbicara di hadapan.
Baru saja perkataannya selesai, tubuh orang itu melayang melalui hutan yang rimbun dan mendarat di tepi sungai.
Ternyata jatuhnya persis bagai sehelai daun merah tadi.
Sama sekali tidak menimbulkan suara.
Bentuk tubuhnya tinggi kurus.
Pakaiannya berwarna abu-abu.
Dari jauh tampak seperti sebatang bambu.
Sebelum tubuhnya mendarat di tanah tadi, tangannya terulur dan membentuk cengkeraman.
Daun merah yang sedang melayang tadi dijepitnya dengan dua buah jari.
Ternyata daun merah yang sedang melayang itu juga tidak terempas oleh angin yang ditimbulkan oleh gerakan tubuhnya.
Ketika mendarat di tanah, kakinya tidak memperdengarkan suara sedikit pun.
Tidak beda dengan segumpal kabut yang melayang turun di tanah.
Sebelum mencapai tanah, setiap jengkal tubuhnya bagai bergerak semua.
Sampai kakinya memijak baru semua 4 gerakan itu berhenti.
Tampaknya manusia berpakaian abu-abu ini sudah berumur.
Seluruh wajahnya penuh keriput.
Rambut dan jenggotnya berwarna putih keabu-abuan.
Tidak lebat sehingga dapat dihitung.
Manusia berpakaian putih tadi memperhatikannya.
"Tampaknya ginkang toako juga maju pesat!"
Hanya sepatah kata itu saja katanya.
Manusia berpakaian abu-abu tadi tertawa lebar.
Tangannya dikibas.
Selembar daun marah tadi tersentak dan melayang kembali dari jarinya.
Dalam waktu yang bersamaan, berpuluh sinar berwarna keperakan meluncur ke arah daun tersebut kemudian menusuk di permukaannya dan tembus di atas batu besar di tengah sungai.
Setelah diperhatikan dengan seksama, ternyata sinar putih itu terdiri dari berpuluh-puluh batang jarum.
Puluhan batang jarum itu begitu halus bagaikan bulu kerbau.
Tampak seorang wanita berpakaian mewah berjalan keluar dari hutan yang lebat.
Pakaiannya berwarna-warni.
Usianya tidak muda lagi.
Namun sulit untuk menerka berapa usia wanita itu yang sebenarnya.
Tubuhnya sedang.
Penampilannya mempesona.
Alisnya lebat dan matanya jeli sekali.
Siapa pun yang melihatnya pasti sukar mengalihkan pandangan.
Langkah kakinya tidak seberapa cepat.
Pinggangnya melenggang-lenggok.
Gerakan pinggulnya membuat orang menduga bahwa pinggang itu bisa patah dibuainya.
Namun 5 ternyata tidak.
Kedua tangannya yang tersembul dari balik lengan baju demikian halus dan berseri.
Apa lagi ketika dia mengangkat tangan kanannya dan merapikan rambutnya yang tergerai karena tiupan angin nakal.
Gayanya begitu mempesona.
Tidak beda dengan wajahnya yang cantik menggiurkan.
Kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, siapa pun tidak akan percaya bahwa tangan yang indah dapat menyebarkan jarum yang demikian beracun dan mematikan.
Begitu tangannya yang halus mengebas, jarum yang berjumlah empat puluh sembilan batang itu menghambur bagai hujan anak panah di angkasa.
Kecepatannya sulit dilukiskan.
Sekali lihat saja, orang akan tahu bahwa ilmu menggunakan senjata rahasia wanita itu tidak dapat dipandang remeh.
Manusia berpakaian abu-abu itu menatap daun yang melayang jatuh di alas batu tadi.
Dia menghela napas panjang.
"Sayang sekali ...."
"Apanya yang sayang sekali?"
Tanya wanita itu sambil tersenyum simpul. Senyum dan suaranya ternyata sama menggiurkan seperti orangnya sendiri.
"Empat puluh sembilan batang jarum sekaligus dilancarkan dan tepat mengenai daun tersebut. Siapa pun akan mengakui bahwa cara menggunakan senjata semacam ini termasuk kelas satu di dunia kangouw. Namun belum dapat disebut tidak terkalahkan,"
Sahut manusia berpakaian abu-abu. 6
"Bagaimana menutupi kekurangan tersebut?"
Tanya wanita itu kembali.
"Perubahan dalam gerakan,"
Sahut manusia berpakaian abu-abu.
"Untuk menyebarkan empat puluh sembilan batang jarum tersebut, setidaknya harus menggunakan tujuh perubahan."
"Apakah tujuh jurus perubahan tidak terlalu banyak?"
"Tidak banyak ...."
Mata manusia berpakaian abu-abu itu beralih kepada wajah wanita itu.
"Sebelum senjata rahasiamu mencapai sasaran, paling tidak aku dapat menjalankan lima jurus perubahan. Meskipun belum dapat disamakan dengan jurus Te-hun-cong dan Bu-tong-pai, namun sudah pasti dapat menghindarkan diri dari senjata rahasiamu. Mungkin aku masih sempat melancarkan sebuah serangan kepadamu."
"Untung saja manusia yang mempunyai ginkang setinggi toako sudah jarang di dunia ini. Menurut apa yang aku ketahui, ilmu Te-hun-cong dari Bu-tong-pai sudah kehilangan ahli warisnya,"
Kata wanita itu.
"Kalau menurut apa yang aku ketahui, justru tidak ...."
Mata manusia berpakaian abu-abu itu menyorot bagai seekor elang sedang menanti mangsanya.
"Paling tidak, aku sudah melihat salah seorang murid Bu-tong-pai yang sanggup memainkan jurus tersebut."
"Mungkinkah yang kau maksudkan adalah Bu-tong Tiang Ceng?"
Tanya wanita itu penasaran.
"Benar ... memang Ci Siong tojin,"
Lagi-lagi manusia berpakaian abu-abu itu menarik napas panjang.
"Te-hun-cong 7 adalah salah satu dari tujuh ilmu pusaka Bu-tong-pai. Mana mungkin dibiarkan kehilangan ahli warisnya begitu saja?"
"It-ciu-jit-am-gi (sekali lempar tujuh senjata rahasia) juga termasuk salah satu di antaranya."
"Memang betul,"
Sahut manusia berpakaian abu-abu.
"Bagaimana kalau dibandingkan dengan Moa-ti-hue-ho (hujan bunga di seluruh permukaan bumi)?"
Tanya wanita itu.
"Dapatkah kau melancarkan tujuh buah senjata rahasia yang jenisnya berlainan dan beratnya tidak sama serta harus mencapai sasaran dalam waktu yang bersamaan?"
Malah balas bertanya sewaktu ditanya.
"Apakah demikian cara memainkan jurus It-ciu-jit-am-gi?"
Manusia berpakaian abu-abu itu menganggukkan kepalanya tanpa bersuara.
Wanita itu merenung sekian lama.
Tidak terlihat lagi sedikit pun senyuman menghias bibirnya.
Manusia berpakaian putih yang berdiri tegak di atas batu itu mengedarkan pandangan dengan sinar matanya yang tajam.
"Apakah kecepatan dan ketepatan Liong-gi-kiam-hoat dari Butong-pai dapat menandingi ilmu pedangku tadi?"
Tanyanya tiba-tiba.
"Jauh lebih cepat dan tepat."
"Apakah semua yang dikatakan toako ini benar adanya?" 8 tanya manusia berpakaian putih itu lagi sambil tertawa dingin. Yang ditanya tidak menyahut lagi. Dia hanya tertawa lebar. Manusia berpakaian putih itu masih memandangnya. Wajahnya berubah pucat. Pada saat itu juga terdengar sebuah suara berkumandang dari dalam hutan.
"Entah bagaimana kalau dibandingkan dengan Peng-lui-to aku ini?"
Seorang laki-laki bertubuh tinggi besar berjalan keluar dari dalam hutan.
"Maksudmu ... membandingkannya dengan Kui-soa-to dari Bu-tong-pai?"
Tanya si manusia berpakaian abu-abu.
Tubuhnya kekar.
Gumpalan daging di dadanya sudah berotot.
Pakaiannya berwarna merah seperti para pemburu yang mana sebelah lengannya telanjang.
Namun dia menyandang sebuah golok yang besar.
Cahaya memijar, goloknya yang telah terhunus berkelebat, lalu melayang turun ke arah daun yang tertancap berpuluh batang jarum beracun tadi.
Sebelum mata yang lain sempat melihat dengan jelas, batu besar yang terdapat di tengah sungai itu telah terbelah menjadi dua bagian.
Manusia berpakaian merah tadi menarik goloknya kembali kemudian mengacungkannya ke atas langit dan berteriak nyaring.
Suara teriakannya persis seperti petir yang menyambar, membuat hati yang lainnya tergetar dan jantung mereka berdegup kencang.
Pandangan mata manusia berpakaian abu-abu mengikuti 9 gerakannya.
"Bagus!"
Katanya. Manusia berpakaian merah itu tertawa terbahak-bahak.
"Toako hanya berharap setiap musuh yang kau hadapi seperti batu itu adanya,"
Rupanya perkataan manusia berpakaian abu-abu tadi belum selesai.
"Apa maksudnya?"
"Berdiri tegak di tempatnya dan menantikan kedatangan golokmu yang akan menebasnya menjadi dua bagian,"
Jawaban selanjutnya.
Manusia berpakaian merah itu menggertakkan giginya.
Dia langsung menerjang ke arah manusia berpakaian abu-abu dan menyerangnya sebanyak tiga belas kali.
Manusia yang menyebut dirinya toako itu seperti tidak tahu.
Namun begitu golok itu sudah berada dekat dengan dirinya, tubuhnya yang tinggi kurus mencelat ke atas seperti terbang di udara.
Dengan gesit dia menghindarkan semua serangan itu lalu melayang turun ke atas sebuah batu yang lain.
Manusia berpakaian merah itu tidak mengejarnya.
Dengan kesal dia melemparkan goloknya di atas tanah.
***** "Delapan belas tahun ...,"
Gumam si manusia berpakaian abu-abu itu. Dia menarik napas panjang. Wajahnya seakan bertambah tua beberapa tahun.
"Bagaimana kepandaian kami bila dibandingkan dengan delapan belas tahun yang lalu?"
Tanya si wanita berpakaian warna-warni penasaran.
"Jauh lebih baik. Namun menurut pendapatku, masih tetap terpaut cukup jauh. Misalnya sam-moay ...,"
Pandangan mata manusia berpakaian abu-abu beralih kepada satu-satunya wanita yang ada di sana.
"Kau masih belum mengubah kebiasaanmu mengenakan pakaian yang berwarna-wami itu."
"Aku memang menyukai pakaian yang indah,"
Sahut wanita itu sambil mengembangkan sebuah senyuman yang dipaksakan.
"Toako lupa bahwa sam-moay adalah seorang wanita. Mencintai keindahan adalah sifat wanita pada umumnya,"
Tukas manusia berpakaian merah.
"Lagipula, dengan pakaian warna-warni yang begitu mencolok, setiap musuh yang memandangnya mungkin akan menjadi silau dan lupa diri. Pada saat itu tepat sekali untuk melancarkan senjata rahasia,"
Kata manusia berpakaian abu-abu yang kemudian menarik napas sekali lagi.
"Namun, bisa jadi pihak musuh malah menjadi waspada sebelumnya."
Semua orang terdiam. Mata manusia berpakaian abu-abu itu beralih kepada yang lain lalu berpindah pada setiap orang.
"Seandainya kita gagal lagi kali ini, tampaknya kesempatan kita tidak akan ada lagi. Ada sedikit perkataan yang sebetulnya ingin kusimpan dalam hati ini. Namun seperti sesuatu yang mencekat di tenggorokan, rasanya tidak enak kalau belum dikeluarkan."
"Kalau begitu, keluarkan saja."
"Selama beberapa tahun ini, aku percaya kalian sudah banyak menderita. Aku juga yakin orang yang dapat melawan kita di dunia kangouw sekarang sudah tidak banyak."
"Lalu ... apa lagi yang kita nantikan?"
Tanya si manusia berpakaian merah sambil membusungkan dadanya.
"Dengan mengandalkan kepandaian kita, rasanya masih belum cukup untuk menguasai dunia kangouw. Kita semua sudah berusaha sekuat tenaga, tampaknya kita tidak mungkin maju lebih jauh lagi. Meskipun kita berlatih dengan berat dan tanpa mengenal panas atau pun hujan. Kita tetap tidak bisa maju lebih banyak lagi,"
Kata manusia berpakaian abu-abu itu dengan wajah tertunduk.
"Mungkin kita harus mempelajari ilmu orang lain ...."
Manusia berpakaian putih paling jarang membuka mulut. Tiba-tiba dia menukas "Bukankah tujuh ilmu pusaka dari Bu-tong-pai paling cocok sebagai pilihan?"
Manusia berpakaian abu-abu menganggukkan kepalanya tanpa menyahut. Wanita dengan pakaian warna-warni itu tertawa lebar.
"Sayangnya usia kita semua sudah terlalu tua. Meskipun dengan kebulatan tekad ini, kita tidak segan-segan datang ke Bu-tong-san dan memohon diterima sebagai murid, namun aku yakin Ciangbunjin (ketua) Bu-tong-pai tidak akan 12 menerima kita,"
Sahutnya.
"Lalu ... apa yang harus kita lakukan?"
Tanya manusia berpakaian merah dengan wajah cemas.
"Untuk mempelajari ilmu aliran orang lain, menurut pendapatku, paling tidak ada tujuh ratus cara untuk melakukannya,"
Kata sang toako.
"Tidak salah. Kalau toako berani berkata demikian, aku yakin toako pasti sudah menemukan jalan yang dapat diandalkan,"
Sahut si manusia berpakaian putih. Manusia berpakaian abu-abu menganggukkan kepalanya.
"Sebenarnya bukan aku yang menemukan jalan ini. Sebelumnya sudah ada orang lain yang pernah mencobanya dan berhasil."
Ketiga orang yang lainnya seperti teringat sesuatu. Mimik wajah mereka berubah-ubah.
"Setelah mengalami kegagalan satu kali, rasanya kita tidak akan ceroboh lagi,"
Kata si manusia berpakaian abu-abu.
"Tapi siapa di antara kita yang cocok mengemban tugas ini?"
Tiba-tiba si putih itu bertanya.
"Siapa pun tidak cocok,"
Si putih kembali mengedarkan pandangannya.
"Usia kita terlalu tinggi. Lagipula dengan nama besar yang pernah kita sandang, aku yakin tidak seorang pun di antara kita yang kuat menahan hinaan seperti ini,"
Lanjutnya. Ia lalu mengerutkan keningnya.
"Apakah toako menginginkan 13 dia?"
Tanyanya seperti kepada diri sendiri.
"Coba katakan, bukankah 'dia' yang paling sesuai dan tepat untuk mengemban tugas ini?"
Manusia berpakaian abu-abu itu tersenyum lebar. Kembali si putih manggut-manggut mengiakan. Wanita yang mengenakan pakaian warna-warni itu mengerling genit. Dia tertawa terkekeh-kekeh.
"Sebenarnya 'dia' juga anak yang cerdas sekali,"
Tukasnya.
"Setidaknya lebih cerdas dari aku,"
Sahut rekannya yang berpakaian merah.
"Kalau kalian semua tidak ada yang merasa keberatan, maka kita putuskan begitu saja,"
Selesai berkata tubuh toako mereka melesat ke atas bagaikan segumpal asap.
Kemudian dia menutulkan kakinya di atas sebuah batu kerikil dan melayang pergi.
Ketika manusia berpakaian merah memungut goloknya yang dilempar tadi, bayangan si wanita berpakaian warna-warni sudah tidak terlihat lagi.
"Sungguh menyenangkan! Sungguh menyenangkan!"
Serunya lantang.
Dia tertawa terbahak-bahak lalu berjalan ke arah dari mana dia datang tadi.
Si putih memandangi bayangan punggung laki-laki tinggi besar berpakaian merah itu sampai menghilang dari pandangannya.
Dia memutar pergelangan tangannya dan mencabut sarung pedang yang amblas dalam batu besar tadi.
Tubuhnya berkelebat, terbang melalui sungai yang mengalir 14 deras, menghilang dalam hutan yang lebat.
Batu besar itu pecah berantakan.
Kepingan-kepingannya jatuh ke dalam air dan menimbulkan percikan-percikan.
Ketika bunga-bunga air tidak terlihat lagi, semuanya kembali seperti sedia kala.
Angin barat bertiup makin kencang.
***** Menjelang pagi ...
kegelapan belum seluruhnya memudar.
Kabut masih menebal.
Dua puluh tujuh bangunan besar kecil tertutup kabut.
Begitu tebalnya sehingga atap bangunan itu pun tidak dapat terlihat jelas.
Seluruh Bu-tong-san (Gunung Bu-tong) tampak bagai nirwana bagi manusia.
Lonceng nyaring berbunyi.
Kumandangnya bergema melalui gunung yang tinggi.
Bagi Bu-tong-san sendiri, suara lonceng itu menandakan bahwa hari yang baru sudah dimulai.
Suara lonceng itu terdengar terus.
Saling susul-menyusul.
Kabut perlahan mulai menipis, seolah terpencar oleh suara lonceng tersebut.
Ketika suara bacaan ayat suci perlahan menghilang dari gedung yang beratap ungu, para murid Bu-tong-pai sudah bersiap di lapangan terbuka.
Mereka mulai melatih ilmu yang mereka kuasai.
Suara sentakan pasang surut.
Sebagian besar murid Bu-tong-pai bertelanjang dada.
Mereka adalah murid-murid yang berlatih ilmu tinju.
Suara dan gerakan mereka sama teraturnya.
Beberapa depa dari tempat tersebut, di hadapan sebuah 15 tembok tinggi, belasan murid Bu-tong-pai sedang melatih ilmu melemparkan senjata rahasia.
Seseorang bertubuh tinggi kurus berdiri di belakang memperhatikan.
Tangannya juga kurus sekali.
Namun yang mengherankan justru telapak tangannya begitu besar dan jauh berbeda dengan biasanya.
Dialah generasi muda dari Bu-tong-pai.
Ilmu silat dan senjata rahasianya terlatih dengan baik.
Dia bernama Yo Hong.
Di hadapan tembok terdapat sebuah papan kayu berbentuk tubuh manusia.
Di sekitarnva sudah terdapat beberapa senjata rahasia yang dilemparkan.
Yo Hong berjalan melalui salah seorang murid di situ.
Tubuhnya bergerak ke samping.
Secepat kilat tangannya diulurkan dan mengibas.
Sebatang pisau terbang menancap di tengah dada papan kayu berbentuk tubuh manusia tadi.
Setiap murid Bu-tong-pai yang ada di tempat itu mengangkat wajahnya dan memandang dengan terkejut.
Yang paling terkejut justru seseorang yang berdiri beberapa senti di samping papan kayu tersebut.
Pagi hari di atas gunung memang jauh lebih dingin dari pada di kaki gunung.
Namun sekarang masih belum saatnya untuk memakai mantel berbulu yang tebal.
Orang itu mengenakan beberapa helai mantel yang cukup tebal.
Kelihatannya aneh sekali.
Bahkan kaki dan lengannya juga tertutup oleh mantel yang tebal dan kepanjangan itu.
Begitu pun bagian kepalanya.
Hanya sepasang matanya yang kelihatan.
Dan yang paling aneh justru di depan dan belakang tubuhnya dilapisi oleh selembar besi yang lebar.
Secara otomatis kepalanya menoleh ke arah suara pisau terbang yang menancap di atas papan kayu tadi.
Matanya 16 terbelalak dan ketakutan.
"Berlatih senjata rahasia bukan saja memerlukan kecepatan, tapi juga harus dapat mengukur dengan tepat dan memakai naluri,"
Kata Yo Hong tenang. Matanya mengerling dan terhenti kepada orang yang memakai mantel tebal tersebut.
"Sekarang giliranmu."
Tubuh orang itu gemetar.
"Aku?"
Tanyanya gugup.
"Mengapa bengong-bengong di sana?"
Sentak Yo Hong.
Mata orang itu bersinar.
Akhirnya dia menyandarkan tubuhnya pada sebuah papan kayu berbentuk tubuh manusia dan mengikatnya ke pinggang sendiri.
Yo Hong membalikkan sebagian tubuhnya dan berseru.
"Pukul tambur!"
Di bawah pohon di ujung sana ada sebuah tambur yang terbuat dari kulit kerbau.
Seorang murid Bu-tong-pai yang bertelanjang dada mendekati tambur tersebut dengan dua buah pentungan kayu di sepasang tangannya.
Dia memukul tambur dengan sekuat tenaga.
Suaranya yang memekakkan telinga membuat orang itu terkejut.
Dia meloncat beberapa kali dan akhirnya berhenti di hadapan para anak murid Bu-tong-pai yang sedang berlatih senjata rahasia.
"Mulai!"
Teriak Yo Hong.
Mendengar suara Yo Hong, kaki orang itu semakin lemas.
Dia 17 tidak sanggup berdiri tegak, apa lagi melarikan diri dari tempat itu.
Sementara itu murid-murid Bu-tong-pai yang sedang berlatih itu segera menimpukkan senjata rahasianya.
"Sret! Sret! Sret!"
Suara senjata rahasia segera terdengar susul-menyusul.
Beberapa di antaranya mengenai papan kayu tadi.
Dan sisanya persis menancap di samping bahu orang tersebut.
Senjata rahasia itu terdiri dari berbagai jenis.
Keahlian mereka pun berbeda-beda, baik gerakan pinggang maupun kuatnya tenaga ketika menimpuk.
Namun mereka belum seberapa pandai melakukannya.
Tampaknya orang yang bersandar pada papan kayu itu kapan saja dapat menjadi sasaran empuk senjata rahasia tadi.
Untung saja pakaiannya tebal sekali.
Sedangkan pada bagian yang berbahaya dilindungi oleh selembar besi yang lebar.
Tentu saja otaknya sama sekali tidak sinting.
Dia sadar dirinya dijadikan sasaran hidup.
Untuk berlatih senjata rahasia, tentu saja sasaran hidup lebih sukar daripada sasaran yang berbentuk benda mati.
Setelah berhasil berlatih dengan benda mati.
mereka baru boleh melanjutkan dengan benda hidup.
Para murid Bu-tong-pai sudah mempunyai kemampuan tersebut.
Namun hari ini adalah untuk pertama kalinya mereka berlatih dengan sasaran hidup.
Bagi mereka, tentu saja latihan ini sangat menyenangkan.
Namun bagi orang yang menjadi sasaran itu, sama sekali tidak menyenangkan, bahkan mengerikan.
Entah apa maksud orang yang memukul tambur itu.
Mungkin dia sengaja ingin menyulitkan orang yang menjadi sasaran hidup tersebut.
Dia memukul tamburnya semakin keras saja.
18 Di ringi suara desingan senjata rahasia.
Bahu orang yang menjadi sasaran terkena lagi tiga batang senjata rahasia.
Suara pukulan tambur dan desingan senjata masih terus berlangsung, namun senyum lebar orang yang memukul tambur sudah lenyap.
Begitu juga dengan murid Bu-tong-pai yang lain.
Pada saat itu, senjata rahasia yang ditimpukkan tidak mengarah pada papan kayu tadi lagi, tapi pada orangnya.
Orang itu juga dapat merasakan kesengajaan mereka.
Matanya yang tersembul di balik kerudung memancarkan kemarahan.
Kakinya berdiri tegak.
"Apa sebetulnya yang kalian inginkan?"
Teriaknya.
Dalam waktu yang bersamaan, beberapa senjata rahasia sudah mengincar dirinya kembali.
Kedua tangannya terangkat dan menangkis secara serabutan.
Dia dapat melihat sasaran mereka bukan lagi papan kayu tadi.
melainkan dirinya.
Suara yang memekakkan telinga tetap terdengar.
Senjata rahasia yang ditimpukkan tidak satu pun yang mengenai papan kayu.
Semuanya menancap di pakaiannya yang tebal.
Baru sekarang orang yang memukul tambur itu dapat tertawa kembali.
Sebelumnya mereka begitu serius sehingga suasana menjadi hening.
"Siapa suruh kau berdiam diri di tempat itu? Kalau masih tidak mau lari, jangan salahkan kami kalau tubuhmu menjadi perkedel!"
Teriaknya lantang.
Pukulan tamburnya semakin bergemuruh dan membisingkan.
19 Kali ini, orang yang menjadi sasaran hidup itu segera lari kalang kabut.
Dia tidak menentukan arah ke mana dia harus lari.
Akibatnya, senjata rahasia tetap mengikutinya dan menancap di belakang tubuhnya.
Untung saja pakaiannya begitu tebal sehingga tidak ada satu pun yang melukai dirinya.
Tujuh orang murid Bu-tong-pai yang sedang berlatih itu tiba-tiba saja menjadi bodoh.
Timpukan senjata rahasia mereka semakin melenceng jauh.
Hal ini tidak perlu diherankan.
Mereka biasa berlatih dengan papan kayu yang tidak bergerak, sedangkan sekarang sasaran mereka merupakan manusia hidup yang bergerak mengikuti kemauan hatinya.
Suara tambur semakin keras, menenggelamkan suara tawa mereka.
Hanya suara Yo Hong yang terdengar jelas.
Dia malah terpingkal-pingkal melihat kejadian tersebut.
Mata orang yang dijadikan sasaran menyorot semakin berang.
Tiba-tiba dia berteriak nyaring dan menerjang secepat kilat.
Dia menerjang ke arah Yo Hong.
Namun sesampainya di hadapan pemuda itu, langkah kakinya berhenti.
Dia masih belum mempunyai keberanian untuk melawan Yo Hong.
Dengan kesal dia membuka papan kayu yang terikat di pinggangnya dan dilemparkan ke atas tanah.
Dia juga membuka kerudung kepalanya yang tebal.
"Aku tidak mau melakukannya lagi?"
Katanya kesal.
Ketika kerudungnya dibuka, terlihatlah sebuah wajah yang masih muda belia.
Dia tidak disebut tampan, namun kalau diperhatikan juga tidak terlalu jelek.
Rambutnya sudah basah oleh keringat.
Keningnya dipenuhi keringat sebesar-besar 20 kacang kedelai.
Mengenakan pakaian yang demikian tebal pada cuaca seperti ini sungguh tidak menyenangkan.
Wajahnya merah padam, pertanda bahwa dia marah sekali.
Matanya menatap ke arah tujuh orang murid Bu-tong-pai lainnya secara bergantian, kemudian beralih kepada Yo Hong dengan dingin dan akhirnya berhenti pada kayu papan yang dilemparkannya tadi.
"Trang!"
Terdengar suara yang memekakkan telinga.
Sasaran hidup itu terkejut setengah mati.
Yang lainnya malah tertawa terbahak-bahak.
Yo Hong maju beberapa langkah.
Tangannya menuding orang itu dengan mata mendelik.
"Wan Fei-yang! Apa maksudmu dengan tidak ingin melakukannya lagi?"
Tanyanya garang.
"Aku tidak mau menjadi sasaran senjata rahasia kalian lagi!"
Sahut pemuda yang rupanya bernama Wan Fei-yang itu.
"Kalau kau tidak mau, lalu siapa yang mau?"
"Aku tidak peduli!"
"Kau lupa apa yang dipesan oleh ji-suheng?"
Tanya Yo Hong.
"Ji-suheng memang menyuruh aku memegangi kayu agar kalian dapat berlatih, tapi bukan meminta aku menjadi sasaran senjata rahasia kalian,"
Sahut Wan Fei-yang.
"Manusia pasti pernah berbuat kesalahan. Tanpa sengaja senjata rahasia mereka mengenai tubuhmu. Dalam latihan, hal ini memang tidak terelakkan,"
Kata Yo Hong. 21
"Kalian memang sengaja mengarahkan senjata rahasia itu kepada diriku. Jangan kira aku tidak tahu!"
Sahut Wan Fei-yang mendongkol.
"Baik! Kalau begitu, kau memang sudah bertekad tidak mau melakukannya lagi?"
Tanya Yo Hong dengan mata menyorotkan hawa amarah.
"Memang tidak!"
Sahut Wan Fei-yang sambil membalikkan tubuhnya dan berniat meninggalkan tempat itu.
Yo Hong maju lagi beberapa langkah.
Para saudaranya yang lain segera mengikuti tindakannya.
Mereka mengurung Wan Fei-yang.
Pemuda itu mundur tiga langkah.
"Apa yang kalian inginkan?"
Tanyanya.
"Baik ... anak haram ... kami ingin melihat apa yang kau andalkan sehingga begitu berani melawan kami?"
Kata salah seorang murid perguruan itu dengan maksud ingin mencengkeram pemuda itu. Wajah Wan Fei-yang berubah hebat.
"Apa yang kau katakan?"
Teriaknya marah.
"Anak haram!"
Kata orang tadi sambil mencengkeram leher baju Wan Fei-yang.
"Apakah kata-kataku salah?"
Wajah Wan Fei-yang semakin berubah. Dadanya hampir meledak. 22
"Kalau kau tidak bersedia, semua tidak bisa melatih ilmu senjata rahasia lagi. Seandainya ji-suheng sampai menegur, jangan salahkan kami, kau yang memang memintanya,"
Kata Yo Hong sebelum Wan Fei-yang sempat menyahut apa-apa.
"Sekarang juga aku akan menemui ji-suheng,"
Sahut Wan Fei-yang.
"Pergilah ...!"
Kata orang yang mencengkeram leher baju pemuda itu. Wan Fei-yang mengibaskan kedua tangannya.
"Lepaskan dulu aku!"
Bentaknya. Orang itu segera melepaskan cengkeramannya, namun tangan kanannya segera melayang dan menampar pipi Wan Fei-yang.
"Apa hakmu untuk membentak-bentak di sini?"
Tanyanya garang. Pada saat itu, terdengar sebuah suara yang berat dan tegas.
"Bukannya melatih ilmu silat senjata rahasia, kalian malah membuat keributan!"
Setiap orang menoleh ke arah datangnya suara.
Seorang laki-laki bertubuh tinggi besar dan bertampang kasar berjalan menghampiri.
Dia adalah Cia Peng, Ji-suheng yang ingin mereka temui.
Wan Fei-yang segera menyongsongnya.
"Ji-suheng ...!"
Sapanya. 23 Cia Peng melirik ke arahnya. Keningnya berkerut.
"Lagi-lagi kau yang membuat keributan?"
Tegurnya sinis. Tangan Wan Fei-yang menuding beberapa saudara seperguruannya.
"Beberapa orang itu ...."
Belum juga perkataannya selesai, Cia Peng memukul jari tangannya yang sedang menuding.
"Sungguh tidak sopan!"
Bentaknya marah. Tangan Wan Fei-yang sampai kesakitan dibuatnya, namun dia menahannya dalam-dalam dan tidak berani memperlihatkan.
"Mereka ... mereka ...."
"Mereka menghina engkau lagi bukan?"
Tukas Cia Peng. Wan Fei-yang hanya dapat menganggukkan kepalanya. Belum sempat dia menjelaskan lebih lanjut, Cia Peng sudah melayangkan tangannya dan menambah sebuah tamparan di pipinya.
"Kau kira siapa dirimu itu? Mengapa mereka harus menghinamu?"
Bentaknya. Mendapat tamparan yang tidak disangka-sangka itu, Wan Fei-yang sampai berdiri termangu-mangu. Cia Peng mendengus dingin.
"Dalam satu hari, entah berapa kali aku harus mendengar perkataan yang sama .... Apakah seluruh murid Bu-tong-pai memusuhimu semuanya?"
Wan Fei-yang tidak berani menyahut. Dia berdiri dengan kepala tertunduk. Cia Peng mengalihkan pandangannya 24 kepada murid yang lain.
"Sebetulnya apa yang terjadi?"
Baru dia membuka mulut untuk bertanya.
"Kami sedang berlatih ilmu am-gi (senjata rahasia). Bocah itu tiba-tiba ngambek dan melemparkan papan kayu yang kami pakai sebagai landasan. Dia mengatakan bahwa dia tidak bersedia melakukannya lagi,"
Sahut orang yang mencengkeram leher baju Wan Fei-yang dan menampar pipinya satu kali tadi.
Mata Cia Peng melirik ke arah papan kayu yang tergeletak di atas tanah.
Kemudian dia menoleh kepada Wan Fei-yang.
"Kau yang melemparkan papan kayu itu?"
"Mereka sengaja menimpukkan senjata rahasia ke arah tubuhku, sama sekali tidak memerlukan papan kayu tersebut!"
Teriak Wan Fei-yang dengan rasa tidak puas.
"Oleh karena itu, kau melemparkannya ke atas tanah?"
Tanya Cia Peng galak. Wan Fei-yang merasa sulit menjelaskan duduknya perkara. Sementara itu Cia Peng sudah melanjutkan perkataannya.
"Seandainya mereka benar-benar sudah ahli menggunakan senjata rahasia tersebut dan sasarannya selalu jitu, mereka tentu tidak memerlukan papan kayu itu lagi!"
"Tepat sekali perkataan Ji-suheng!"
Tukas Yo Hong.
"Tutup mulut!"
Bentak Cia Peng kepada Yo Hong. Dia mengalihkan pandangannya kembali kepada Wan Fei-yang. 25
"Sebetulnya apa yang kau inginkan? Disuruh begini tidak mau, disuruh begitu tidak mau!"
Wan Fei-yang menggigit bibirnya sendiri.
"Tujuanku naik ke atas gunung ini tentu saja untuk mempelajari ilmu aliran Butong-pai,"
Sahutnya.
"Untuk mempelajari suatu ilmu, kita harus mempelajari dasarnya terlebih dahulu. Apa yang kau lakukan sekarang adalah pelajaran pertama untuk menggembleng dirimu menjadi murid Bu-tong-pai yang baik."
Wan Fei-yang tidak berkata apa-apa.
"Semua murid Bu-tong-pai pasti mengalami hal yang sama ketika baru belum lama naik ke gunung Bu-tong-pai ini."
"Mereka hanya digembleng dengan cara yang sama selama beberapa bulan, sedangkan aku sudah melakukannya bertahun-tahun,"
Sahut Wan Fei-yang mendongkol.
"Apa sebabnya tidak sama? Kau harus mengerti, Bu-tong-pai adalah sebuah aliran lurus yang mempunyai nama besar di dunia kangouw. Kami tidak mungkin sembarangan menurunkan ilmu perguruan kami kepada orang yang asal-usulnya tidak jelas!"
Kata Cia Peng tegas. Wajah Wan Fei-yang menunjukkan sikap serba salah.
"Anak haram! Apakah kau sudah mendengarkan dengan jelas?"
Tanya Yo Hong.
Hawa amarah seakan naik ke atas kepala Wan Fei-yang.
Dia 26 ingin sekali menerjang ke arah Yo Hong dan berduel dengannya.
Namun akhirnya dia berhasil menahan emosi dalam hatinya.
Kata-kata hinaan semacam itu bukan satu kali ini saja pernah didengarnya.
"Menurut pendapatku ..."
Cia Peng melirik ke arah pemuda itu dan tertawa dingin.
"Sebaiknya kau cari tahu dulu siapa ayahmu yang sebenarnya Kalau tidak, sampai tua pun, kau tetap tidak akan mempelajari apa-apa di Bu-tong-pai!"
Wan Fei-yang menundukkan kepalanya dalam-dalam. Cia Peng menatapnya sambil mengelus-elus jenggotnya yang jarang.
"Kalau kau memang tidak suka menjadi sasaran hidup, dan kami terus memaksa, berarti kami memang menghinamu. Baiklah, kalau kau tidak mau, tentu tidak apa-apa."
"Tidak ada sasaran hidup, bagaimana caranya melanjutkan latihan kami?"
Teriak orang yang memukul tambur.
"Siapa bilang tidak ada?"
"Dia toh ...!"
"Kau yang menggantikannya!"
Tukas Cia Peng. Dia melirik ke arah Yo Hong.
"Bagaimana kalau kau yang memukul tambur?"
Yo Hong menganggukkan kepalanya.
Wajah orang yang memukul tambur tadi berubah kelam.
Dia tidak berani membantah.
Melihat keadaan orang itu, diam-diam hati Wan Fei-yang melonjak gembira.
Hampir saja dia tertawa lebar.
27 Mata Cia Peng beralih kembali kepadanya.
"Mengenai engkau ...."
"Aku juga bisa memberikan bantuan, misalnya memunguti senjata rahasia yang berserakan di atas tanah,"
Kata Wan Fei-yang cepat. Cia Peng tertawa lebar.
"Bukankah kau mengatakannya tidak angin melakukannya lagi?"
Tawanya seakan mengandung maksud tertentu.
Wan Fei-yang merasa hatinya berdebar-debar.
Dia tahu betul arti senyum seperti itu.
Baru saja dia ingin mengatakan sesuatu, tapi kembali ditukas oleh Cia Peng.
"Tukang urus babi yang di bukit sana kebetulan sedang hajatan. Dia harus turun gunung beberapa hari. Tadi aku sempat sakit kepala memikirkan siapa yang harus menggantikannya. Babi-babi itu toh harus diurus,"
Kata Cia Peng sambil pura-pura merenung. Mendengar perkataan itu setiap orang tertawa terbahak-bahak tanpa sadar Wan Fei-yang termangu-mangu.
"Aku ...."
Gumamnya.
"Jangan khawatir .…"
Kata Cia Peng sambil tertawa lebar.
"Aku jamin di sana tidak ada senjata rahasia yang mengincar dirimu."
Seluruh wajah Wan Fei-yang merah padam mendengar sindiran itu. Warna merah bahkan menjalar sampai ke lehernya. Terlihat Cia Peng melambaikan tangannya.
"Ikut aku!"
Katanya. 28 Kakinya seakan enggan melangkah. Tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya dan berkata.
"Aku akan melaporkan hal ini kepada Cik-hoat-tianglo (ketua bagian hukuman)."
Sekarang Cia Peng yang menghentikan langkah kakinya. Alisnya bertaut ketat.
"Oh ...?"
Reaksinya cepat. Orang yang memukul tambur tadi segera menyiram minyak di atas api yang sudah menyala.
"Ji-suheng ... dia sengaja membantah perkataanmu. Biar kita beri pelajaran agar tahu rasa!"
Cia Peng mengibaskan tangannya dengan wajah merah padam.
"Mundur!"
Bentaknya kemudian seraya menoleh kepada Wan Fei-yang.
"Baik! Tapi kau jangan menyesal!"
Perkataan memang sudah diucapkan, untuk menyesal sudah terlambat bagi Wan Fei-yang.
Bagaimana sifat Cia Peng, dia tentu tahu dengan jelas.
Ji-suheng itu juga tidak mengatakan apa-apa lagi.
Langkah kakinya mantap maju ke depan.
Kepalanya tidak menoleh sama sekali.
Wan Fei-yang merasa serba salah.
Orang-orang yang mengerumuninya tadi memberi jalan kepadanya.
Mereka bahkan mendorong punggungnya agar mengikuti Cia Peng.
***** Cik-hoat-tong berada di gedung yang lain.
Meskipun tempatnya sendiri tidak begitu besar, namun bawaannya sangat angker.
Sepanjang hari tercium bau hio yang dibakar.
Yang tidak berkepentingan dilarang keluar masuk tempat 29 tersebut.
Di atas tembok yang berwarna putih pucat tertulis sepuluh peraturan Bu-tong-pai yang harus dituruti oleh semua murid di sana.
Hanya memandang tulisan itu saja, para murid Bu-tong-pai sudah merasa kebat-kebit hatinya.
Kedua orang Cik-hoat-tianglo juga sangat berwibawa.
Mereka adalah sute dari Ciangbunjin Bu-tong-pai.
Usia Gi-song lebih tua, hampir mencapai lima puluh tahun.
Kewibawaannya juga berada di atas Cang-song.
Tubuhnya tidak terlalu tinggi.
Namun tidak termasuk pendek juga.
Apabila batinnya sedang tenang, maka sepasang matanya bagaikan uang logam yang warnanya sudah pudar.
Tapi begitu marah, sinarnya akan mengejutkan siapa pun yang memandangnya.
Suaranya pun seperti guntur yang menyambar.
Cang-song lebih pendek sedikit daripada Gi-song.
Tubuhnya juga lebih kurus.
Matanya sipit.
Suaranya jauh lebih lemah.
Kalau tertawa seperti kuda meringkik, sama sekali tidak menakutkan, malah sering menjadi bahan pembicaraan murid-murid Bu-tong-pai.
Dia sendiri menyadari kekurangannya itu, karena itulah setiap kali ada masalah di ruangan Cik-hoat-tong, dia selalu membiarkan Gi-song yang berbicara.
Apabila terpaksa baru dia mengucapkan sepatah dua kata.
Baru saja kakinya menginjak ruang Cik-hoat-tong, Wan Fei-yang merasa rada menyesal.
Melihat kemuraman wajah ketua-tianglo, rasanya dia ingin menendang dirinya sendiri.
Tapi Cia Peng sudah melangkahkan kakinya ke dalam ruangan tersebut, terpaksa ia menahan perasaannya 30 mengikuti dari belakang.
Para murid Bu-tong-pai yang mengiringi segera berbondong-bondong masuk ke dalam.
Namun mereka mendapat teguran seketika.
"Apa yang kalian lakukan?"
Bentak Gi-song dengan suaranya yang seperti geledek. Belum sempat satu pun dari mereka menyahut, Cang-song sudah memperdengarkan suara tertawanya yang seperti ringkikan kuda dan berkata.
"Tentu saja untuk menyaksikan keramaian."
"Apa yang perlu disaksikan?"
Bentak Gi-song dengan mata mendelik.
"Gelinding keluar semuanya!"
"Hayo! Gelinding keluar!"
Teriak Cang-song seperti burung beo.
Meskipun dalam hati mereka masing-masing merasa keberatan, namun tidak satu pun yang berani membantah.
Dengan kalang kabut mereka keluar dari ruangan tersebut, kemudian memencarkan diri ke kiri dan kanan.
Mereka tidak pergi jauh-jauh melainkan bersembunyi di sepanjang koridor panjang tersebut.
Gi-song tidak mempedulikan mereka lagi.
Dia membalikkan tubuhnya dan menatap Cia Peng dengan mata bertanya.
"Sebetulnya apa yang terjadi?"
Cia Peng mengulurkan tangannya menuding Wan Fei-yang.
"Tecu meminta dia memegangi papan kayu agar saudara yang lain dapat berlatih am-gi. Ternyata ada beberapa senjata rahasia yang mengenai tubuhnya,"
Sahutnya. 31 Sinar mata Gi-song-tianglo beralih kepada Wan Fei-yang.
"Oh?"
Bibirnya mengulum sebuah senyuman mengejek.
"Kau lagi?"
"Aku ..."
Wan Fei-yang menggaruk-garuk kepalanya tanpa tahu apa yang mau dikatakannya.
"Kau yang bernama Wan Fei-yang, bukan?"
Mata Gi-song membelalak makin lebar. Baru saja dia bermaksud menyahut, Gi-song sudah menggebrak meja dengan wajah penuh amarah.
"Mengapa kau senang sekali menimbulkan kesulitan bagi kami?"
Bentaknya. Wan Fei-yang sampai termangu-mangu mendengar dampratan itu.
"Berlutut!"
Bentak Gi-song dengan suara semakin keras. Wan Fei-yang terpaksa menurut.
"Kami sudah cukup repot ..."
Sahut Cang-song.
"Betul sekali ... betul sekali,"
Kata Cia Peng dengan menahan tawa. Gi-song mengalihkan pandangannya kepada Cia Peng.
"Sampai di mana ceritamu tadi?"
"Dia mengatakan bahwa ada beberapa senjata rahasia yang melenceng dari sasarannya dan mengenai tubuh Wan Fei-32 yang,"
Sahut Cang-song menggantikan Cia Peng.
"Kenyataannya memang demikian,"
Kata Cia Peng melanjutkan. Wan Fei-yang masih mengenakan pakaiannya yang tebal. Beberapa senjata rahasia masih menancap di pakaiannya. Gi-song meliriknya sekilas.
"Manusia pasti bisa kesalahan tangan. Kuda saja bisa salah menyepak. Seandainya aku menggunakan senjata rahasia, kadang-kadang juga ..."
Cang-song cepat-cepat menjawil lengannya. Kata-kata Gi-song segera berhenti dan terdiam sejenak. Apa yang dikatakannya kemudian bukan kelanjutan dari ucapannya tadi lagi.
"Dalam selaksa kali, mungkin akan kesalahan satu kali."
"Ciangbun-suheng sendiri tidak berani menyombongkan diri bahwa beliau tidak pernah melakukan kesalahan,"
Sahut Cang-song.
"Benar sekali!"
Kata Gi-song sambil menepuk bahu Cangsong.
"Kau sudah mendengar sendiri. Kami saja yang sudah tua dan jauh berpengalaman masih bisa melakukan kesalahan, apa lagi anak-anak ingusan macam mereka."
"Lagipula mereka baru menimpuk satu kali,"
Sahut Cia Peng yang tidak mau kehilangan kesempatan bagus itu.
"Kalau demikian, lebih-lebih harus dimaklumi,"
Kata Gi-song sambil memandang Wan Fei-yang dari atas kepala sampai ke ujung kaki.
"Tampaknya kau sama sekali tidak terluka oleh 33 senjata rahasia mereka ..."
Wan Fei-yang terpaksa menganggukkan kepalanya. Alis Gi-song semakin berkerut.
"Mengapa kau masih datang ke Cik-hoat-tong ini?"
Tanya Gi-song kembali.
"Dia yakin bahwa kami sengaja mencari perkara dengannya,"
Tukas Cia Peng sebelum Wan Fei-yang sempat menyahut.
"Ketika kami berusaha menjelaskannya, dia malah marah dan melemparkan papan kayu yang kami gunakan untuk berlatih."
"Sungguh besar nyalimu!"
Bentak Gi-song.
"Dia sudah mengatakan bahwa dia tidak ingin melanjutkan tugasnya, kami tidak berani memaksa. Apabila terdengar oleh Ciangbunjin, tentu kami disangka menghinanya. Sedangkan Lopek yang mengurus babi-babi di bukit sana sedang cuti, kita toh tidak dapat membiarkan babi-babi itu mati tanpa ada yang mengurus. Oleh karena itu, Tecu menyuruh dia yang menggantikan untuk beberapa hari,"
Tukas Cia Peng sekali lagi.
"Bagus sekali saranmu itu!"
Kata Gi-song setelah mendengar keterangan Cia Peng tadi. Dia mengelus-elus jenggotnya sambil tertawa lebar.
"Tapi dia membantah dan malah mengancam akan datang ke Cik-hoat-tong ini,"
Sahut Cia Peng. Senyuman di wajah Gi-song sirna seketika. Dia melirik kepada Wan Fei-yang.
"Tidak bersedia berlatih ilmu dengan giat ...." 34
"Melanggar peraturan Bu-tong-pai yang kedua ...."
Sahut Cang-song. Cik-hoat-tianglo itu menunjuk ke arah tulisan yang tertera di atas tembok.
"Melaporkan hal yang tidak benar ...."
"Melanggar peraturan yang keenam,"
Tampaknya Cang-song sudah hafal luar kepala semua peraturan tersebut.
"Berani menyalahkan orang yang tingkatannya lebih tinggi ...."
"Melanggar peraturan nomor sembilan."
"Sekaligus melanggar tiga macam peraturan. Sebetulnya kau harus diusir dari Bu-tong-san ...."
Gi-song merandek sejenak.
"Tapi kami mengingat usiamu yang masih terlalu muda sehingga belum terlalu mengerti."
Sejak tadi Wan Fei-yang memang sudah malas membantah. Dia hanya menarik napas panjang.
"Tecu sudah tahu salah. Bersedia mengurus peternakan babi,"
Sahutnya.
"Mengerti akan kesalahan sendiri masih bisa diubah. Asalkan ada tekad dalam hati dan tidak boleh mendendam,"
Gi-song mengibaskan lengan bajunya.
"Pergilah!"
Wajah Wan Fei-yang kelam sekali. Dia menganggukkan kepalanya dan mengundurkan diri. Gi-song menoleh kepada Cia Peng.
"Lain kali urusan tetek bengek begini jangan libatkan kami!"
Katanya.
"Baik! Baik!"
Sahut Cia Peng tergopoh-gopoh. 35
"Urusan kami sendiri banyak sekali,"
Kata Cang-song. Cia Peng menganggukkan kepalanya berkali-kali. Dalam hatinya dia tertawa senang atas kemenangannya.
"Kembali ke tempatmu!"
Sekali lagi Gi-song mengibaskan lengan bajunya.
***** Bagaimana baunya kandang babi, Wan Fei-yang sudah dapat membayangkan.
Meskipun selama ini dia belum pernah masuk ke dalam kandang babi tapi entah sudah berapa puluh kali dia melewati tempat ini.
Tampaknya bau kandang babi itu hari ini lebih busuk dari sebelumnya.
Beberapa kali dia memijit hidungnya, namun akhirnya dia harus melepas tangannya juga.
Biasanya hidung Wan Fei-yang selalu menjadi masalah.
Penciumannya kurang tajam.
Tapi hari ini justru tajamnya kelewatan.
Bahkan pendengarannya juga menjadi peka.
Beberapa ekor babi itu seperti sengaja memberi kesulitan kepadanya.
Atau memang menyambutnya dengan gembira.
Wan Fei-yang tidak tahu.
Pokoknya babi-babi itu berteriak terus-menerus.
Bau yang begitu tajam dan suara yang memekakkan telinga membuat Wan Fei-yang hampir tidak dapat menahan diri.
Kalau ditilik dari wajahnya, siapa pun akan mengira dia akan jatuh pingsan sejenak lagi.
Tapi rupanya dugaan itu tidak menjadi kenyataan.
Hal ini malah membingungkan dirinya sendiri.
Akhirnya dia mengambil keputusan untuk menggebah babi-babi tersebut masuk ke dalam sungai agar tubuh mereka 36 lebih bersih.
Sebetulnya air sungai itu jernih dan bening.
Namun begitu babi-babi tersebut masuk ke dalam, air yang jernih tadi berubah kotor seketika.
Air sungai yang mengalir membawa kesejukan dalam hati.
Angin semilir membawa keharuman dedaunan yang lembab.
Babi-babi itu tidak mengeluarkan suara yang memekakkan telinga lagi.
Baunya juga tidak menusuk seperti sebelumnya.
Semangat Wan Fei-yang menjadi terbangkit.
Dia menggeliatkan pinggangnya yang pegal.
Dia membantu babi-babi itu membersihkan dirinya.
Pada saat itulah dia melihat seseorang ...
Seseorang yang paling suka dilihatnya.
Orang itu berada di seberang sungai di mana terdapat sebuah padang rumput yang luas.
Dia mengenakan pakaian berwarna cokelat muda.
Sulamannya berwarna hijau muda.
Paduan yang sangat serasi.
Dari jauh seperti sekuntum bunga krisan kuning yang sedang mekar.
Ketika tubuhnya bergerak, dia seakan berubah menjadi seekor kupu-kupu yang sedang terbang.
Wan Fei-yang yang sedang duduk di tepi sungai membantu babi-babi tersebut mandi segera bangun.
Wajahnya yang kelam berubah berseri-seri.
Namun sebentar kemudian dia menggaruk-garuk kepalanya kebingungan.
"Hush! Hayo ke sana! Hayo ke sana!"
Dihalaunya babi-babi tersebut agar menyeberangi sungai.
Dia tidak membentak-bentak bahkan suaranya terdengar 37 lemah lembut.
Seakan babi-babi itu tiba-tiba sangat menyenangkan baginya.
Seandainya tidak ada babi-babi tersebut, tentu dia tidak menemukan alasan untuk menyeberangi sungai dan melihatnya dari dekat.
***** Di bukit yang menghijau itu hanya ada Lun Wan-ji seorang.
Dia merupakan murid perempuan satu-satunya dari Bu-tong-pai.
Juga merupakan kesayangan semua orang.
Bukan hanya karena dia seorang gadis.
Dia lincah dan cantik.
Hatinya juga welas asih.
Semua ini membuat dirinya disenangi setiap murid Bu-tong-pai yang lain.
Dalam hati Wan Fei-yang sendiri, dia merupakan orang satu-satunya yang baik hati di perguruan ini.
Juga hanya gadis itu yang tidak pernah menghina ataupun memberi kesulitan kepadanya.
Bahkan dia sering mengulurkan tangan membantunya ataupun membelanya di hadapan saudara seperguruan yang lain.
Usianya masih sangat muda.
Mungkin belum mencapai tujuh belas tahun.
Tapi ilmu silatnya sudah lumayan sebagai generasi muda Bu-tong-pai.
Andai ia bertanding dengan Pek Ciok, Cia Peng, Ceng Fang-guan, Kim Can-peng, Yo Hong yang semuanya merupakan suhengnya, dia masih sanggup menandingi.
Hal ini terjadi karena dia mempunyai guru yang pandai dan sabar.
Sejak kecil dia sudah mulai belajar ilmu silat.
Kemauannya pun sangat keras.
Wan-ji selalu giat berlatih.
Tanpa mempedulikan hujan maupun angin.
Apabila udara sedang cerah, kebanyakan dia berlatih di luar rumah.
Seperti halnya hari ini.
38 ***** Gerakan tubuhnya lincah.
Kiam-hoat yang dimainkannya sudah cukup matang.
Jurus-jurusnya mengandung keindahan.
Pokoknya setiap gerakan gadis itu dapat memukau siapa pun yang melihatnya.
Dia tidak seperti sedang berlatih ilmu pedang, tapi terlihat seperti sedang menarikan tarian pedang.
Angin bertiup lembut.
Anak rambut di keningnya melambai-lambai.
Lengan bajunya yang lebar berterbangan persis seperti sayap seekor kupu-kupu.
Wan Fei-yang memandangnya sampai termangu-mangu.
Tanpa disadarinya tubuh Lun Wan-ji berkelebat dan hanya dalam waktu lima detik, gadis itu sudah berada di belakangnya.
Dengan bentakan lirih, pedangnya menusuk.
Wan Fei-yang terkejut sekali.
Belum sempat dia berteriak, pedang itu berhenti tepat tiga cun di hadapannya.
Serangkum hawa dingin seakan menyelinap di dalam hatinya.
Tubuhnya gemetar.
"Harap kasihani aku!"
Serunya. Pedang Wan-ji masih menuding dada Wan Fei-yang.
"Mengapa kau mengendap-endap seperti pencuri? Apa yang kau lakukan?"
Seperti biasa, dalam keadaan gugup Wan Fei-yang selalu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku sedang melihat kau berlatih pedang,"
Sahutnya. Pedang di tangan Wan-ji digetarkan.
"Tahukah kau apa hukumannya mencuri belajar ilmu orang 39 lain?"
Tanyanya.
"Aku tidak mencuri belajar ilmumu. Karena kau sedang memusatkan perhatian dengan serius, maka aku tidak berani mengganggu,"
Sahut Wan Fei-yang.
"Masih tidak mau mengaku? Hayo ikut aku temui Cik-hoat-tianglo, biar mereka yang menanyakan persoalan ini,"
Kata Wan-ji. Wan Fei-yang menjadi panik seketika. Dia menggoyang-goyangkan tangannya berulang kali.
"Keadaanku sudah cukup mengenaskan, andai kata Wan-ji kouwnio mengatakan masalah ini kepada mereka ..."
"Bagaimana mengenaskannya keadaanmu sekarang?"
Tanya Wan-ji. Wan Fei-yang tertegun. Dia sulit mengatakan masalahnya.
"Aku ... aku tidak apa-apa,"
Sahutnya gugup. Mata Wan-ji melirik ke arah babi-babi tersebut.
"Ada apa dengan babi-babi itu? Mengapa mereka kau halau ke tempat ini?"
"Aku memang sengaja,"
Sahut Wan Fei-yang.
"Mengapa kau yang mengurus babi-babi itu sekarang? Ke mana lopek yang menangani tugas tersebut?"
"Lopek yang biasa mengurus babi-babi itu sedang ada urusan. Dia pergi ke kota beberapa hari. Dia menanyakan siapa yang 40 bersedia menggantikannya. Siapa lagi kalau bukan aku?"
Sahut Wan Fei-yang. Pemuda itu tidak biasa berdusta. Hanya berbohong beberapa patah kata saja, seluruh keningnya sudah basah oleh keringat. Wan-ji tersenyum simpul.
"Aku tidak menyangka persahabatan kalian begitu dalam,"
Katanya.
"Lumayanlah,"
Sahut Wan Fei-yang.
"Tampaknya kau ini pandai juga bergaul,"
Kata Wan-ji. Tanpa sadar Wan Fei-yang membusungkan dadanya.
"Apakah tujuanmu datang ke Cik-hoat-tong tadi untuk merundingkan masalah ini dengan Gi-song dan Cang-song kedua tianglo tersebut?"
Tanya Wan-ji menyembunyikan senyumannya.
Mendengar pertanyaan itu, wajah Wan Fei-yang merah padam.
Seandainya ada sebuah lubang di dekat sana, ingin rasanya dia menyusupkan kepala dalam-dalam.
Wan-ji menatapnya dengan tajam.
Wajahnya serius sekali.
"Mulai kapan kau belajar berbohong?"
Tanyanya. Wan Fei-yang tertawa tegir. Bola matanya mengerling gadis itu sekilas.
"Aku ... lebih baik aku kembali saja ke sana ..."
Sahutnya gugup. Baru saja dia berjalan beberapa langkah, Wan-ji sudah memanggilnya kembali.
"Hai! Kau belum menjawab pertanyaanku!" 41
"Aku ... aku ...."
Wan Fei-yang menggaruk-garuk kepalanya sekali lagi. Untuk sesaat dia tidak tahu harus mengatakan apa. Wan Fei-yang menarik napas panjang.
"Sekarang kau mengerti, apabila dustamu ketahuan, kau bisa malu sendiri. Maka lain kali jangan berbohong lagi,"
Katanya. Wan Fei-yang terpaksa menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana sikapmu selama ini?"
Wan-ji menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apabila kau berani sedikit, mereka tentu tidak berani menghinamu, benar tidak?"
Wan Fei-yang memaksakan sebuah senyuman.
"Sebetulnya tidak apa-apa. Ingatkah kau seorang yang bernama Han Sing yang terkenal jaman dahulu? Dia dihina oleh semua orang, namun akhirnya dia berhasil menjadi goan-swe (jenderal)."
"Kau selalu begitu,"
Kata Wan-ji kembali menggelengkan kepalanya. Wan Fei-yang tidak membusungkan dadanya lagi. Namun dia masih juga menggaruk-garuk rambut kepalanya.
"Lebih baik aku pergi saja."
Wan-ji merasa kesal juga geli. Baru saja dia ingin mengatakan sesuatu, lonceng di gedung pusat berbunyi sembilan kali. Wan Fei-yang terpana.
"Tanda bahaya!"
Mata Wan Fei-yang mengerling panik.
"Entah apa yang terjadi?"
Gumamnya seorang diri.
"Ada orang menerjang Bu-tong-san!"
Kata Wan-ji. Tubuhnya membalik secepat kilat dan berlari menuruni bukit.
"Wan-ji kouwnio!"
Panggil Wan Fei-yang gugup. Wan-ji menolehkan kepalanya.
"Cepat halau babi-babi itu kembali ke kandang!"
Katanya tanpa menghentikan langkah.
Tiga kali kakinya menutul dia sudah hampir sampai di bawah gunung.
Gerakannya bagai seekor burung layang-layang.
***** Angin musim semi nan lembut.
Matahari pun bersinar setengah hati.
Air sungai membasahi atas batu sudah mengering.
Dedaunan masih menampakkan butiran embun yang bening.
Di bawah sinar mentari, patung yang menjadi tanda bagi Bu-tong-pai bagaikan manusia yang berdiri tegak dan angker.
Di depan patung tersebut, tampak seseorang berdiri mematung.
Usianya sekitar tiga puluh tahunan.
Alisnya tebal, matanya sipit.
Hidungnya pesek, bibirnya tebal.
Raut wajahnya jelek sekali.
Orang yang melihatnya akan berkesan seperti melihat seekor binatang buas.
***** 43 Bentuk tubuhnya gemuk pendek, tapi bukan gemuk yang mengesankan kepandiran.
Dia memakai mantel panjang.
Tidak rapi sekali.
Rambutnya pun rada acak-acakan.
Sulit melukiskan kepribadian orang tersebut.
Serombongan murid Bu-tong-pai mengadang di depan orang ini.
Empat orang tosu digotong beberapa rekannya yang lain.
Di bahu mereka masing-masing terdapat segurat luka bekas sayatan pedang.
Wajah murid-murid Bu-tong-pai menyorotkan kemarahan yang dalam.
Sinar mata orang yang memakai mantel itu justru tampak meremehkan.
Pakaiannya mewah sekali.
Sungguh tidak sesuai dengan penampilannya.
Gagang pedang di tangannya ditaburi dengan tujuh macam permata.
Nilainya tentu tinggi sekali.
Seorang tosu berusia setengah baya menyibak kerumunan murid-murid Bu-tong.
Pedang di tangannya digetarkan.
"Giok Ciok dari Bu-tong minta pelajaran,"
Katanya. Sinar mata orang yang memakai mantel panjang itu melirik ke arahnya.
"Generasi Bu-tong-pai dengan nama Ciok mungkin tidak akan membuat aku terlalu kecewa,"
Sahutnya.
Giok Ciok tertawa dingin.
Secepat kilat pedangnya ditusukkan.
Terdengar suara "trang", pergelangan tangan orang yang memakai mantel panjang berputar.
Dua jurus dimainkannya sekaligus.
Baru setengah jalan, gerakannya berubah lagi.
Dua jurus menjadi delapan jurus.
Giok Ciok yang tidak menyangka akan diserang delapan jurus sekaligus, terpaksa mundur satu langkah.
Orang yang memakai mantel panjang itu tampaknya tidak 44 ingin membuang-buang waktu.
Sekali lagi dia membentak nyaring.
Tiga puluh enam tusukan dilancarkannya berturut-turut.
Giok Ciok terdesak mundur beberapa langkah.
Kaki kanan dan kiri orang itu melangkah bersilangan.
Tiba-tiba dia memutar dan gerakannya tubuhnya membalik seratus delapan puluh derajat.
Langkah kakinya tidak kalah lincah dengan sabetan pedangnya.
Tiga puluh enam tusukan berhasil dilalui, tanpa menunda lebih lama tusukan ketiga puluh tujuh menyusul.
Giok Ciok segera menangkisnya.
Namun tusukan ketiga puluh delapan sudah di depan mata.
Tidak sempat lagi dia memutar pedangnya, Giok Ciok terpaksa mencelat mundur beberapa langkah.
Kelebatan pedang dengan jurus yang berlainan menyerang silih berganti.
Giok Ciok sendiri sudah mengeluarkan tujuh jurus andalannya.
Meskipun dia berhasil meloloskan diri, namun serangan berikutnya membuat dia mati kutu.
Ujung pedang yang tajam berhenti di pergelangan tangannya.
"Buang pedangmu!"
Bentak orang yang memakai mantel panjang.
Dia menggetarkan pergelangan tangan Giok Ciok.
Tanpa dapat mempertahankan diri lagi, Giok Ciok terpaksa melemparkan pedangnya apabila pergelangan tangannya masih ingin utuh seperti sedia kala.
"Trang!"
Orang yang memakai mantel itu tidak mendesaknya lebih lanjut. Dia menengadahkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"Rupanya hanya begitu saja!"
Katanya angkuh.
45 Giok Ciok marah dan malu.
Para murid Bu-tong-pai yang lain sudah menghunus senjatanya masing-masing sejak tadi.
Mereka tidak dapat menahan kesabaran lagi.
Serentak mereka maju menghampiri orang yang memakai mantel panjang itu.
"Tahan!"
Terdengar suara bentakan keras.
Dua orang berlari secepat terbang dari atas gunung.
Yang satunya adalah Cia Peng, sedangkan yang mengiringinya adalah seorang tosu berusia setengah baya.
Wajahnya berbentuk persegi, penampilannya berwibawa.
Dia adalah murid pertama Ciangbunjin Bu-tong-pai yang sekarang yaitu Ci Siong tojin.
Tosu itu sendiri bernama Pek Ciok.
Mata orang yang memakai mantel itu menatapnya tajam.
"Kau adalah ...."
"Bu tong Pek Ciok."
"Murid pertama dari Ci Siong?"
Tanya orang itu.
"Sicu (saudara) ...."
"Kongsun Hong!"
Sahut orang yang memakai mantel. Tampaknya Pek Ciok merasa di luar dugaan. Wajahnya rada berubah mendengar keterangan orang itu.
"Pek Ho Tong tongcu dari Bu-ti-bun?"
Tanya Pek Ciok. 46
"Betul!"
Kongsun Hong tersenyum simpul.
Sikapnya seakan bangga sekali.
Bu-ti-bun menggetarkan dunia kangouw.
Ketenarannya hampir menyamai sembilan partai besar.
Sedangkan Kongsun Hong adalah murid tertua dari Buncu (ketua) dari Bu-ti-bun yang mempunyai gelar Tok-ku Bu-ti (sendiri tanpa lawan).
Tentu saja dia patut menyombongkan dirinya.
"Kedatangan sicu sejauh berapa ribu li ini ..."
Tanya Pek Ciok selanjutnya.
"Mendapat perintah dari Suhu. Aku harus menyerahkan dua macam hadiah kepada Ci Siong dari Bu-tong-pai,"
Kata Kongsun Hong.
Dia mengeluarkan sebuah kotak dari balik pakaiannya.
Di atasnya terdapat sehelai amplop merah yang besar.
Dia menyebut Ciangbunjin Bu-tong-pai dengan gelarnya langsung.
Hal ini membuat para murid Bu-tong-pai menjadi marah.
"Kurang ajar!"
Teriak Cia Peng tidak dapat menahan emosinya. Pek Ciok membalikkan tubuhnya ke arah para murid Bu-tong-pai yang lain.
"Tamu datang untuk mengantarkan hadiah bagi Ciangbunjin. Mengapa kalian begitu tidak tahu sopan santun,"
Apa maksud perkataannya itu, tidak ada orang yang tahu. Mungkin dia menyindir Kongsun Hong. Giok Ciok yang masih mendongkol cepat-cepat maju ke 47 depan.
"Suheng tidak mengerti. Sicu ini berkeras membawa pedang ke atas gunung. Bagaimana mungkin kami tidak menghalanginya?"
Katanya menjelaskan.
"Oh?"
Pek Ciok rada terpana mendengar keterangan tersebut. Dia menoleh kembali kepada Kongsun Hong.
"Kalau memang benar, sicu yang bersalah dalam hal ini."
Kongsun Hong melirik ke arah patung yang berdiri tegak. Di sana memang terdapat tulisan yang mengatakan bahwa siapa pun yang bermaksud mengunjungi Bu-tong-pai harus meninggalkan pedangnya di sana.
"Tidak boleh membawa pedang ke atas gunung adalah peraturan Bu-tong-pai bukan?"
Kata Kongsun Hong.
"Sejak Cosu mendirikan Bu-tong-pai, peraturan itu memang sudah ada,"
Sahut Pek Ciok tegas. Kongsun Hong menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba dia tersenyum.
"Sayangnya peraturan itu ditentukan oleh Bu-tongpai sendiri."
"Apabila kita masuk ke daerah orang lain, kita harus mengikuti peraturannya,"
Kata Pek Ciok kembali.
"Sejak usia tujuh tahun aku sudah belajar ilmu pedang. Pada waktu usia dua belas tahun aku sudah bisa membunuh orang dengan ilmu tersebut. Selama tujuh belas tahun malang melintang, aku selalu menggunakan pedang ini,"
Kata Kongsun Hong sambil mendekapkan pedangnya di dada. 48
"Pinto juga dapat merasakan bahwa pedang yang digunakan sicu adalah pedang yang sangat bagus,"
Sahut Pek Ciok. Kongsun Hong tertawa dingin.
"Selama berpuluh tahun ini, kecuali Suhu, siapa pun tidak bisa menyuruh aku melepaskan pedang ini. Kedatanganku kali ini ke Bu-tong adalah sebagai utusan Bu-ti-bun yang tiada tandingannya di dunia ini. Oleh karena itu, benda apa pun yang kubawa juga merupakan wakil dari Bu-ti-bun dan tidak boleh dilanggar."
Jilid 2
"Bu-tong-pai juga mempunyai peraturan yang tidak boleh dilanggar!"
Kata Pek Ciok tak mau kalah.
"Bagaimana kalau aku tetap hendak membawa pedang ini naik ke atas?"
Tantang Kongsun Hong.
"Berarti kau sengaja mencari masalah dengan seluruh murid Bu-tong-pai,"
Sahut Pek Ciok.
"Selama tiga ratus tahun terakhir, Bu-tong-pai dan Bu-ti-bun memang tidak pernah akur,"
Kongsun Hong tertawa lebar.
"Perintah Suhu setinggi langit. Hadiah tetap hadiah diantarkan sedangkan pedang tetap tidak boleh ditinggal,"
Katanya.
"Kalau Sicu tetap bersikeras, Pinto tidak dapat mengatakan apa-apa lagi,"
Pek Ciok menepuk tangannya dua kali.
"Siapkan barisan!" 49 Tujuh orang tosu keluar dari kerumunan tersebut. Gerakan tubuh mereka berubah-ubah. Mereka mengelilingi Kongsun Hong. Mata laki-laki itu bersinar tajam.
"Apakah ini yang disebut Bu-tong Pat Tou jit-sing (tujuh bintang bertaburan di delapan penjuru)?"
"Betul!"
Sahut Pek Ciok sambil mundur beberapa langkah. Kongsun Hong tertawa terbahak-bahak. Dia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
"Maaf ... Po-kiam (pedang pusaka) tidak bermata,"
Katanya.
"Sicu harap berhati-hati!"
Kata Pek Ciok.
Wajahnya berubah sedingin es.
Selesai berkata, dia berteriak nyaring.
Pedang ketujuh tosu tadi terhunus seketika.
Barisan mereka sangat teratur.
Dengan melihat cara mereka menggerakkan pedangnya saja, kita segera tahu bahwa mereka telah berlatih dalam waktu yang cukup lama dan sudah matang permainannya.
Kongsun Hong menatap seksama dengan pandangannya yang dingin.
Tubuhnya menyatu dengan pedang.
Tangan kanan ketujuh tosu tadi menggenggam pedang, sedang tangan kiri mereka menjalankan jurus-jurus ampuh.
Mata mereka semua tertuju pada wajah Kongsun Hong.
Sinar mata mereka tajam sekali.
Hal ini membuktikan bahwa Tai Yang-kiat mereka telah dilatih sampai dalam.
Lwekang mereka juga tinggi sekali.
Hal ini sudah dapat dipastikan.
50 Kongsun Hong mengedarkan pandangannya.
Dia mendengus dingin.
Pedangnya digetarkan.
"sreettt" , suaranya mendengung-dengung. Tubuh ketujuh tosu tadi bergerak serentak. Pedang juga diulurkan dalam waktu yang bersamaan. Bahu-membahu menghadap ke kanan. Tosu yang berada di tengah berteriak.
"Bo liang Sou hud (kasih Buddha tiada batas)!"
"Jit-sing-kiam (pedang tujuh bintang) selalu digerakkan oleh tujuh orang. Jangan dikira kami mencari keuntungan. Melawan musuh yang banyak pun kami selalu bertujuh!"
Sahut Tosu yang lainnya.
"Nama Jit-sing-kiam telah menggetarkan dunia kangouw. Aku Kongsun Hong sudah lama ingin berkenalan. Tidak usah ragu-ragu,"
Kata Kongsun Hong langsung menggerakkan tubuhnya dan menyerang.
Ketujuh Tosu tadi segera bersiap siaga.
Bu-ti-bun juga merupakan partai yang mempunyai nama besar.
Sebagai murid tertua dari Buncu partai tersebut, Kongsun Hong tentu dapat diandalkan.
Dan dia pula yang dipilih oleh suhunya sebagai utusan ke Bu-tong-san.
Kibaran lengan baju menimbulkan suara deruan angin.
Kaki mereka maju beberapa langkah dan mengurung Kongsun Hong di tengah.
Murid tertua Bu-ti-bun itu hanya merasakan hawa pedang yang semakin menebal.
Bayangan manusia di depan matanya berkelebat.
Dia seakan melihat satu orang menjadi tujuh orang.
Dengan teriakan keras dia menggetarkan pedangnya.
Sinar 51 dingin beterbangan.
Tusukannya berubah menjadi berpuluh-puluh titik.
"Pat-fang-hong-ho" (hujan angin di delapan penjuru). Gerakan yang dimainkannya persis seperti nama jurus itu sendiri.
"Trang! ting! trang! ting!" , tujuh kali suara benturan senjata terdengar. Tujuh orang tosu itu masing-masing telah menerima satu kali serangan Kongsun Hong. Serangan pedang laki-laki itu sendiri yang tertuju ke arah tenggara luput mengenai sasarannya. Tubuhnya tegak kembali. Baru saja dia memutar ke arah selatan, dua orang tosu sudah mengadang dari kiri dan kanan. Pedang mereka bersilangan bagai sebuah gunting besar mengarah kepadanya. Kongsun Hong mengibaskan pedangnya membentuk lingkaran. Dia menyambut serangan pedang lawan. Tubuh mereka sama tergetar. Baru saja kaki Kongsun Hong mundur beberapa langkah, serangan tosu yang lain sudah tiba. Terpaksa dia mengangkat pedangnya menangkis. Kakinya kembali surut beberapa langkah. Dia sudah berada di tempatnya semula. Kedua tosu yang tadi menyerangnya tidak mengejar. Mereka memperbaiki posisi dan bergabung dengan lima rekannya yang lain. Kongsun Hong masih memandangi mereka dengan sinar matanya yang dingin.
"Jit-sing-kiam ternyata bukan nama kosong,"
Katanya tenang.
Ketujuh orang tosu tadi masih mengambil sikap menunggu.
Sedangkan Kongsun Hong juga menyilangkan tangannya di dada dan bersiap-siap membuka serangan.
Tiba-tiba berkumandang sebuah suara yang lantang.
"Ciangbunjin 52 menurunkan perintah. Tamu harap diantar ke atas gunung. Tidak boleh dihalangi!"
Suara pertama berkumandang dari jauh. Suara kedua menyusul, dan suara ketiga terdengar jaraknya sudah dekat sekali.
"Berhenti!"
Teriak Pek Ciok kepada ketujuh tosu tadi. Tubuh mereka berkelebat. Pedang masing-masing telah dimasukkan kembali ke sarungnya. Pek Ciok menganggukkan kepala kepada Kongsun Hong.
"Sicu ... silakan!"
"Tidak diteruskan?"
Tanya Kongsun Hong dengan tertawa dingin. Pedangnya sendiri diturunkan kembali.
"Ciangbunjin telah menurunkan amanat. Kami tidak berani membantah,"
Sahut Pek Ciok menahan kejengkelan hatinya. Kongsun Hong memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung.
"Bila ada kesempatan, aku masih ingin berkenalan lebih lanjut dengan Jit-sing-kiam kalian,"
Katanya.
Tujuh tosu tadi tidak mengatakan apa-apa.
Pek Ciok juga berdiam diri.
Dia hanya melangkah ke depan sebagai penunjuk jalan.
Kongsun Hong juga tidak menyindir lebih lanjut.
Dia mengikuti di belakang Pek Ciok.
Para murid Bu-tong yang lain juga mengikuti tindakan mereka.
Sekali lagi terdengar suara lonceng berbunyi.
Kumandangnya sayup-sayup mengalun ke bawah gunung.
53 ***** Senja hari.
Lentera-lentera telah dinyalakan.
Asap hio wangi bergumpal-gumpal membuat suasana yang memang sudah mencekam menjadi lebih angker.
Di tengah ruangan yang menghadap pintu keluar, terdapat sebuah meja pemujaan.
Di bagian kiri kanannya, masing-masing berdiri dua orang tosu.
Usianya pasti sudah memasuki kepala tujuh.
Rambut dan jenggotnya sudah memutih.
Mereka adalah keempat Hu-Hoat-tianglo (semacam penasihat hukum).
Di sudut ruangan berdiri Gi-song dan Cang-song.
Enam orang itu tidak ada satu pun yang bersuara.
Apabila Gi-Song tidak mengucapkan apa-apa, Cang-song pun seperti tiba-tiba menjadi bisu.
Tampang mereka semua serius sekali.
Di dalam ruangan pendopo tersebut hanya terdapat enam orang ini.
Sedangkan di luar berkumpul banyak sekali murid-murid Bu-tong-pai.
Mereka berpencar menjadi dua bagian.
Ada yang berbaris di sebelah kiri.
dan ada pula yang menjaga di sebelah kanan.
Meskipun begitu banyak orang yang berkumpul, tapi tidak terdengar sedikit suara pun.
Hal ini membuktikan betapa gentingnya suasana.
Mulut mereka tertutup rapat-rapat.
Kongsun Hong berjalan melewati barisan orang-orang ramai.
Mata setiap orang terpusat kepadanya.
Melihat keadaan itu, tampaknya apabila ada perintah ketua, maka Kongsun Hong akan dikeroyok secara ramai-ramai.
Namun laki-laki itu sama sekali tidak menunjukkan kegentaran sedikit pun.
Wajahnya tidak berubah.
Dengan tenang dia melangkah, dadanya 54 membusung, seakan berada di kandang sendiri.
Pek Ciok masih berjalan di muka.
Penampilannya tidak berbeda dengan tosu lainnya.
Wajahnya berbentuk persegi.
Dahinya tinggi dan bercahaya.
Seperti sebuah batu yang digosok sampai licin.
Dia mengantar Kongsun Hong sampai di depan pintu pendopo.
Tangannya dikembangkan.
"Silakan!"
Katanya.
"Apakah Ci Siong menunggu aku di dalam ruangan ini?"
Tanya Kongsun Hong dengan keangkuhan yang tidak berubah. Wajah Pek Ciok rada berubah mendengar kata-katanya.
"Silakan!"
Ujarnya sekali lagi Kongsun Hong mendongakkan wajahnya dan tertawa terbahak-bahak.
Dia melangkah ke dalam ruangan dengan tenang.
Di dalam masih berdiri enam orang yang sama.
Kursi kebesaran yang berada di depan meja pemujaan masih kosong.
Begitu melihat kehadiran Kongsun Hong, dua belas mata dari enam orang itu menyorot tajam.
Kongsun Hong seperti tidak merasakan apa-apa.
Matanya menatap ke arah kursi tinggi yang masih kosong itu.
"Di mana Ci Siong?"
Tanyanya sinis.
"Bo-liang-sou-hud (kasih Buddha tiada batasnya)!"
Ujar keempat Hu-Hoat-tianglo. Gi-song mendelik matanya lebar-lebar.
"Kurang ajar!"
Bentaknya dengan suara berat. 55 Kongsun Hong tertawa terbahak-bahak sekali lagi.
"Tamu sudah masuk ke dalam ruangan. Tuan rumah masih belum keluar menyambut. Siapa yang lebih kurang ajar dan tidak tahu sopan santun?"
Katanya tenang. Cang-song mengernyitkan keningnya, matanya juga mendelik.
"Kau anggap apa Ciangbunjin kami? Beliau bersedia menerimamu, sudah boleh dikatakan bahwa rezekimu sedang terang,"
Sindirnya tajam.
Kembali Kongsun Hong tertawa tergelak-gelak.
Suaranya bergema di seluruh ruangan.
Getarannya membuat abu dari hio yang sedang dinyalakan berhamburan ke mana-mana.
Wajah Ci-song menampilkan kemurkaan.
Begitu pula Cang-song.
Sedangkan keempat Hu-Hoat-tianglo sekali lagi menyebut.
"Bo-liang-sou-hud!"
Suara tawa yang bergema tadi ternyata surut dan tertekan oleh sebutan "Bo-liang-sou-hud"
Itu. Kongsun Hong rada terkejut mengetahui dalamnya lwekang keempat Hu-Hoat-tianglo tersebut. Tepat pada saat itu, dari luar pendopo terdengar kumandang suara yang lain.
"Ciangbunjin tiba ...!"
Dua orang tosu cilik yang berteriak segera muncul dan berpencar di kiri dan kanan.
Kemudian terdengar suara langkah kaki.
Yang terdengar adalah suara langkah kaki dua orang, tapi ternyata yang muncul berjumlah tiga.
Yang berjalan di muka adalah seorang laki-laki yang gagah.
56 Dia memakai pakaian tosu berwarna kuning gading.
Langkah kakinya demikian ringan menampilkan kesan seakan tidak menginjak tanah.
Alisnya lebih panjang dari matanya sendiri.
Bahkan rada menjuntai ke bawah.
Hidungnya tegak.
Wajahnya yang dihiasi dengan jenggot tebal sangat sesuai dan enak dipandang.
Rambut dan jenggotnya sudah berwarna abu-abu keputihan.
Ada sedikit keriput di sekitar matanya.
Usianya paling tidak di atas lima puluh lima tahun, atau mungkin hampir enam puluh, namun sedikit pun tidak mengesankan ketuaan.
Di belakangnya mengiringi dua orang tosu cilik.
Yang sebelah kiri memegang tasbih, sedangkan yang sebelah kanan memegang sebatang pedang panjang.
Pedang tersebut bagus sekali.
Dapat dipastikan bahwa bukan sembarang pedang, melainkan pedang pusaka.
Keempat orang Hu-Hoat-tianglo, Gi-song dan Cang-song segera merangkapkan sepasang tangan mereka dan menjura dengan hormat.
Meskipun baru kali ini bertemu, tapi dengan melihat keadaan yang berlangsung.
Kongsun Hong segera dapat menduga bahwa yang datang adalah Ciangbunjin Bu-tong-pai generasi sekarang, Ci Siong tojin!
Ci Siong tojin langsung duduk di kursi kebesarannya.
Sedangkan kedua orang tosu cilik yang mengiringi di belakang memencarkan diri dan berdiri di kedua sisi.
Kongsun Hong menatap Ci Siong yang duduk di atas kursi tersebut.
Bibirnya mengembangkan sekulum senyum dingin.
"Kau yang bernama Ci Siong?"
Tanyanya. Keempat Hu-Hoat-tianglo mengerutkan kening mereka. Gi-song tidak dapat menahan emosinya lagi.
"Penjahat bernyali besar!"
Bentaknya nyaring. Ci Siong tojin mengangkat tangan kanannya dan mencegah Gi-song berkata lebih lanjut.
"Jangan membuat keributan,"
Dia menoleh kembali kepada Kongsun Hong.
"Pinto memang Ci Siong adanya. Lai-su (tamu) ...?"
"Kongsun Hong!"
"Murid pertama Bu-ti-bun?"
"Kita belum pernah berjumpa."
"Belum,"
Sahut Ci Siong tojin.
"Tapi kau bisa tahu siapa aku. Tampaknya hanya desas-desus tidak benar bahwa Bu-tong-pai menutup diri terhadap urusan dunia luar, kenyataannya tidak demikian,"
Sindir Kongsun Hong.
"Bu-tong dan Bu-ti merupakan musuh bebuyutan sejak jaman dahulu,"
Kata Ci Siong sambil tertawa datar.
"Meskipun Bu-tong ingin melepaskan diri, tapi rasanya tidak begitu mudah."
"Sebetulnya masalah ini sederhana sekali. Asal Bu-tong-pai bersedia bertekuk lutut di bawah panji Bu-ti-bun, semuanya dapat diselesaikan dengan mudah,"
Sahut Kongsun Hong.
"Lebih sederhana lagi kalau Bu-ti-bun yang mengundurkan dari dunia kangouw,"
Kata Ci Siong tojin pula.
"Omong kosong!"
Kongsun Hong mengibaskan tangan kanannya.
"Kedudukan Bu-ti-bun di dunia kangouw sekarang 58 ibarat matahari yang bersinar terik. Bagaimana bisa dibandingkan dengan Bu-tong-pai yang selalu bersembunyi di liang kura-kura?"
Wajah Ci Siong tojin tidak berubah sama sekali.
"Apakah Tok-ku Bu-ti menyuruh kau kemari untuk mengatakan semua ini?"
Tanyanya tenang. Kongsun Hong menggelengkan kepalanya. Dia menyodorkan kotak kain ke hadapan Ci Siong tojin.
"Pertarungan yang tidak berkesudahan kembali mencapai sepuluh tahun."
Mata Ci Siong tojin setengah terpejam.
"Dua puluh tahun yang lalu, ketika pertarungan di gua harimau, kau kalah di bawah ilmu Suhu!"
Suara Kongsun Hong meninggi, seakan dia ingin seluruh murid Bu-tong-pai mendengar jelas apa yang dikatakannya.
"Sepuluh tahun yang lalu di Yen Tang, kembali kau mengalami kekalahan. Mengenai hal ini, aku yakin kau tidak akan melupakannya."
"Bu-tong-pai dan Bu-ti-bun mengadakan perjanjian untuk bertarung setiap sepuluh tahun sekali. Dengan hari ini, jaraknya masih ada tiga bulan,"
Sahut Ci Siong tojin.
"Tapi sampai sekarang, Bu-tong-pai belum mengambil tindakan apa-apa,"
Kata Kongsun Hong.
"Setahu pinto, kesabaran Bu-ti selamanya tinggi sekali."
"Persoalannya adalah Bu-tong-pai yang seakan menutup diri terhadap dunia luar. Suhu rada curiga, apakah Bu-tong-pai 59 masih berani mengadakan pertarungan sekali lagi,"
Kongsun Hong merandek sejenak.
"Oleh karena itu, Suhu memerintahkan aku ...."
"Menyampaikan kata-kata ini?"
Tanya Ci Siong tojin.
"Masih ada dua macam benda yang harus kusampaikan,"
Sahut Kongsun Hong sambil mengambil amplop merah yang terletak di atas kotak kain tadi.
"Surat tantangan!"
Baru saja ucapannya selesai, dia melayangkan amplop tersebut ke arah Ci Siong.
Amplop tadi meluncur kencang bagaikan sebatang pedang yang tajam.
Ci Siong sama sekali tidak panik.
Dia mengangkat tangan kanannya dan menyambut kedatangan amplop tadi.
"Crep", amplop itu terjepit di antara jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Ternyata tidak malu menyandang jabatan sebagai Ciangbunjin Bu-tong-pai,"
Kata Kongsun Hong. Ci Siong tojin mengulurkan tangannya dan menyobek kertas amplop tersebut. Di dalamnya tertera dua baris huruf dengan tinta emas.
"Sebelum matahari terbit, tanggal sembilan bulan sembilan .... Tung-gi Kuan-jit-hong (pegunungan Kuan-jit) Giok Hong-teng (bukit Giok Hong)."
"Pada tanggal sembilan bulan sembilan, Suhu pasti hadir di Tung-gi. Sedangkan engkau sendiri, boleh datang, boleh juga tidak,"
Kata Kongsun Hong. Ci Siong tojin hanya berdehem. 60
"Selain surat tantangan, masih ada sebuah kotak yang disiapkan oleh Suhu,"
Kongsun Hong melanjutkan kata-katanya.
Mata setiap orang tertumpu pada kotak kain tersebut.
Kongsun Hong mengulurkan tangannya dan membuka kotak itu.
Isinya ternyata sehelai pakaian dalam seperti penutup dada (oto) yang biasa dipakai perempuan-perempuan jaman itu.
Keempat Hu-Hoat-tianglo yang biasanya mempunyai kesabaran tinggi tiba-tiba menjadi marah.
Mata Gi-song membelalak seakan hampir lepas dari pelupuknya.
Cang-song menggertakkan gerahamnya keras-keras.
Kedua tinjunya terkepal.
Seakan sebuah bom waktu yang siap meledak setiap saat.
Meskipun biasanya Ci Siong tojin pandai mengendalikan emosinya, tapi sekarang tak urung dia marah juga.
Sepasang alisnya bertaut.
Matanya menyorot tajam.
Sinar matanya bagaikan sepasang pedang yang baru diasah.
Mata Kongsun Hong bertemu dengan mata Ci Siong tojin.
Tanpa sadar tubuhnya bergetar.
Namun penampilan dan cara bicaranya tetap tidak berubah.
"Kalau kau memang tidak berani datang, maka jangan kepalang tanggung. Bubarkan Bu-tong-pai dan pakailah pemberian suhu ini lalu mengundurkan diri dari dunia kangouw untuk selamanya!"
"Tutup mulut!"
Bentak Gi-song marah. 61 Cang-song segera menghambur ke depan beberapa langkah.
"Suheng ... bocah ini benar-benar kurang ajar. Kita tidak boleh membiarkan ...!"
Tukasnya. Ci Siong tojin mengibaskan tangannya agar Cang-song tidak berkata lebih lanjut. Dia menatap tajam ke arah Kongsun Hong.
"Surat tantangan sudah kami terima. Mengenai oto perempuan itu ... harap Anda membawanya kembali."
Kongsun Hong tertawa dingin.
"Lebih baik kau pikirkan dulu matang-matang,"
Katanya.
"Kalau menurut pendapat pinto, pasti bukan Bu-ti yang mempunyai ide semacam ini,"
Kata Ci Siong tojin datar.
"Apa maksudmu?"
"Bu-ti mempunyai nama besar. Selamanya dia seperti awan yang bergerak secara terang-terangan. Jiwanya cukup gagah. Tidak mungkin dia mengusulkan lelucon anak-anak kemarin sore seperti ini,"
Sahut Ci Siong tojin. Kongsun Hong tertegun. Beberapa saat kemudian dia baru tersadar.
"Baik, mendengar pujianmu itu aku akan membawa oto ini kembali. Apabila pada saat perjanjian aku tidak melihat kehadiranmu, aku akan membawa oto ini kembali ke sini."
Dia menutup kembali kotak kain tersebut dan kemudian berdiri.
Dia bersiap-siap meninggalkan tempat tersebut.
Wajah keempat Hu-Hoat-tianglo, Gi-song dan Cang-song berubah pucat.
62 Wajah Ci Siong tojin sendiri berubah kelam.
"Tahan!"
Bentaknya nyaring. Kongsun Hong baru berjalan tiga langkah. Mendengar bentakan itu, tanpa sadar dia berdiri terpaku.
"Aku hanya menjalankan perintah Suhu. Sekarang tugasku sudah selesai ..."
Katanya tanpa menolehkan kepala.
"Datang sesuka hatimu, pergi seenak perutmu, kau anggap apa tempat Bu-tong-pai ini?"
Tanya Ci Siong tojin dengan nada berwibawa.
"Bu-tong-san toh tidak lebih dari sebuah gunung,"
Sahut Kongsun Hong angkuh.
"Biarpun Bu-ti yang datang sendiri, dia juga tidak akan bertingkah demikian tidak sopan di Bu-tong-san!"
Kata Ci Siong angker.
"Suhu mungkin akan bertindak jauh lebih tidak sopan,"
Sahut Kongsun Hong sambil membalikkan tubuhnya. Jari tangan keempat orang tianglo sudah menggenggam pedang masing-masing. Bola mata Kongsun Hong mengerling sekilas.
"Mau bergebrak? Hah! Kalian boleh maju sekaligus. Meskipun laksaan pedang menembus tubuhku dan Kongsun Hong terkapar mandi darah, jangan harap aku membuka mulut memohon pengampunan,"
Katanya sinis.
"Sebagai utusan negara, tidak ada yang boleh saling melukai," 63 sahut Ci Siong masih dengan nada sedingin tadi.
"Lalu apa yang kalian inginkan?"
Tanya Kongsun Hong.
"Ketika masuk ke daerah Bu-tong, kau tidak bersedia meninggalkan senjata. Malah kau tetap naik membawa pedangmu,"
Kata Ci Siong tojin.
"Betul, pedangku masih terselip di pinggang,"
Kata Kongsun Hong sambil menepuk pedangnya dengan perasaan bangga.
"Melepas senjata sebelum naik ke atas gunung merupakan peraturan yang ditetapkan oleh Cosu kami. Selama ratusan tahun belum pernah ada orang yang berani melanggarnya"
Sahut Ci Siong tojin.
"Maka aku boleh berbangga sebagai orang pertama yang melanggar peraturan tersebut,"
Kata Kongsun Hong angkuh.
"Oleh karena itu, meskipun kau mewakili Bu-ti-bun, mewakili Tok-ku Bu-ti, aku hanya menyambutmu di ruang pendopo ini."
"Siapa yang peduli peraturan Bu-tong-pai!"
Kata Kongsun Hong. Wajahnya tetap datar.
"Kau menyuruh aku berhenti, hanya untuk mendengarkan kata-katamu ini?"
"Pinto masih ingin melepaskan pedangmu dengan tanganku sendiri!"
Sahut Ci Siong tojin tegas.
"Oh?"
Kongsun Hong menggenggam pedangnya erat-erat.
"Peraturan adalah benda mati, sedangkan manusia adalah benda hidup. Seorang manusia yang hidup, apabila menjadi orang mati karena sebuah peraturan, bukankah merupakan 64 hal yang menggelikan?"
"Hati-hati! Aku akan merebut pedangmu sekarang!"
Kata Ci Siong tojin tenang.
"Pedang tajam tidak berperasaan, manusia biasa bisa kesalahan tangan. Lebih baik kau orang tua yang harus lebih waspada!"
"Cring!" , Kongsun Hong menghunus pedangnya. Tubuh Ci Siong tojin melesat dari atas kursi. Dia menerjang ke arah Kongsun Hong. Kedua kakinya masih tertekuk. Tubuh Kongsun Hong juga bergerak, pedangnya diluncurkan ke depan. Pedangnya meluncur bagai bintang jatuh, sasarannya bagian bawah perut tosu itu. Seandainya Ci Siong tojin masih menerjang ke arahnya, dapat dipastikan sebentar lagi bagian bawah perutnya akan tertusuk oleh pedang Kongsun Hong. Tepat pada saat itu tubuh Ci Siong tojin tiba-tiba berjungkir balik. Sekarang kepalanya yang ada di bawah, sedangkan kakinya di atas, kedua telapak tangannya menumpu di atas tanah. Pedang Kongsun Hong meluncur tiga cun dari bagian kepalanya dan luput dari sasaran. Dia menarik pedangnya kembali, gerakannya tetap mengikuti kelebatan tubuh Ci Siong tojin. Sekaligus dilancarkan tiga belas kali serangan. Pedangnya sangat cepat, gerakan tubuh Ci Siong tojin lebih cepat lagi. Kembali serangannya luput. Tahu-tahu tosu itu sudah berada di belakang tubuhnya. Ternyata pancaindera Kongsun Hong cukup peka, dia menyabetkan pedangnya ke belakang. 65 Jari tengah Ci Siong tojin tajam bagaikan pedang. Ditotoknya pergelangan tangan kanan Kongsun Hong. Laki-laki itu merasa tangannya kesemutan dan pedang pun terlepas dari tangan.
"Ting!" , jari tengah Ci Siong beralih ke badan pedang dan menotok sekali lagi. Tiba-tiba pedang itu seakan bersayap dan melayang ke atas menjauhi Kongsun Hong. Laki-laki itu merasakan bagian pinggangnya tersentuh sesuatu. Matanya segera mengerling, sarung pedang sudah berpindah tangan. Gerakan tubuh Ci Siong tojin masih belum berhenti. Dia berputar di tengah udara mengulurkan sarung pedang tersebut. Kakinya menutul dan sarung pedang di tangannya diangkat untuk menyambut pedang yang sedang menukik tadi.
"Crep!" , sedikit pun tidak meleset. Pedang Kongsun Hong masuk kembali ke sarungnya tanpa melenceng sedikit pun. Ci Siong tojin kembali menyentakkan tubuhnya dan melayang kembali di atas kursi yang didudukinya. Napasnya masih tetap teratur. Wajahnya tidak berubah, seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Gerakan tubuhnya yang lincah, kakinya yang mantap, perhitungannya yang matang, semua membuktikan betapa tinggi ilmu yang dikuasainya. Kongsun Hong memandang dengan mata terbelalak dun mulut terbuka. Saat itu, dia baru merasakan keringat dingin telah membasahi keningnya. Dia sama sekali tidak menduga bahwa ilmu silat Ci Siong telah mencapai taraf demikian tinggi. Seandainya pihak lawan memang bermaksud mengambil nyawanya, tentu semudah membalikkan telapak tangan. 66 Ketika Ci Siong tojin menyentuh pinggangnya untuk mengambil sarung pedang, paling tidak dia sudah mati tiga kali. Ternyata bukan hanya dia yang terkejut, keempat Hu-Hoat-tianglo, Gi-song dan Cang-song juga terpana. Mereka tidak pernah menyangka suheng mereka berilmu demikian tinggi.
"Ambil kembali!"
Bentak Ci Siong sambil melemparkan pedang tadi ke arah Kongsun Hong.
Dengan panik Kongsun Hong mengulurkan tangannya menyambut.
Tenaga yang dipantulkan oleh pedang itu membuat kakinya mundur beberapa langkah.
Wajahnya bukan saja pucat pasi tapi berubah kehijauan.
Dia mendelik kepada Ci Siong tojin.
"Bagus! Paling tidak Kongsun Hong sudah merasakan kelihaian ilmu Ciangbunjin dari Bu-tong-pai!"
Ci Siong tojin mengibaskan tangannya.
"Kau boleh pergi sekarang,"
Katanya.
Kongsun Hong baru menyadari kesalahannya.
Justru karena dia terlalu memandang remeh pihak lawan sehingga dia menerima akibat yang demikian mengenaskan.
Namun, mau tak mau dia terpaksa harus mengakui bahwa ilmu silat Ci Siong tojin memang jauh di atasnya.
Mata Kongsun Hong masih mendelik ke arah Ci Siong tojin.
Setelah tertegun beberapa saat dia baru menarik napas panjang.
"Ilmu manusia she Kongsun memang tidak dapat menandingi 67 orang, tidak ada yang dapat kukatakan lagi. Tentang pedang ini ...."
Dia mengangkat tangannya dan menimpuk dengan tenaga penuh.
Pedang itu menancap di dinding sebelah kiri, sarung pedang tersebut melesak ke dalam dinding.
Ternyata pedang yang ada di dalam sarung tersebut tidak tergetar olehnya.
"Biar kutinggalkan pedang ini di Bu-tong-pai. Suatu hari, aku, Kongsun Hong akan datang lagi untuk mengambil pedang tersebut."
Kongsun Hong melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan tersebut.
Dia tidak menoleh sama sekali.
Keluar dari ruangan tersebut, langkah kakinya dipercepat.
Ci Siong tojin juga tidak menghalangi.
Dia memandangi punggung Kongsun Hong sampai menghilang.
Keempat Hu-Hoat-tianglo, Gi-song dan Cang-song masih duduk terpaku di tempatnya.
***** Bagian belakang gunung lebih sepi dari bagian depannya.
Bagian belakang gunung tersebut adalah daerah terlarang Bu-tong-pai.
Sebuah jalan tapak yang dipenuhi batu-batu berwarna putih memanjang dari bagian depan gunung tersebut Di ujungnya terdapat hutan bambu.
Angin bertiup semilir, menembusi celah-celah batang bambu.
Ci Siong tojin berjalan melintasi batu-batu putih tadi.
Langkahnya goyah seperti batang bambu yang tertiup angin.
Di dalam hutan bambu juga terdapat jalan setapak.
Setelah berjalan beberapa langkah, tampak sebuah tembok pendek melintang di hadapan.
Di tengahnya terdapat sebuah pintu 68 berbentuk rembulan yang bundar.
Di atasnya ada sebaris tulisan.
"daerah terlarang, siapa yang masuk akan mendapat kematian" . Ci Siong tojin menghentikan langkah kakinya di depan pintu itu. Dia melirik tulisan itu sekilas. Akhirnya dia melangkah ke dalam. Di bawah tembok pendek itu masih terdapat banyak batang-batang bambu. Setelah berjalan beberapa depa terlihat sebuah rumah tembok berukuran kecil. Rumah itu letaknya demikian terpencil. Pintunya juga tertutup rapat. Undakan di depannya berwarna kehijauan. Bukan warna aslinya tapi karena terlalu lama tidak dibersihkan sehingga berlumut. Ci Siong melangkah perlahan menuju pintu rumah batu tersebut. Kesunyian menyelimuti hutan bambu itu. Sayup-sayup terdengar kicauan burung. Ci Siong mendongakkan wajahnya menatap langit. Dia menaiki undakan batu dan mengetuk pintu rumah tadi sebanyak tiga kali.
"Masuk!"
Terdengar sahutan dari dalam rumah.
Suara itu tidak terlalu keras namun jelas sekali.
Ci Siong tojin mengulurkan tangannya dan mendorong pintu rumah batu tersebut.
Serangkum hawa yang membuat perasaan tidak enak terpancar dari dalam rumah itu.
Ci Siong tojin melangkahkan kakinya ke dalam.
Dia seakan tidak merasakan apa-apa.
***** 69 Keadaan di dalam rumah itu remang-remang.
Meskipun di bagian sudut terdapat dua buah jendela namun ada sebaris batu bata berlubang kecil-kecil menghalangi cahaya yang memancar ke dalam.
Udara dapat menerobos lewat celah jendela tersebut.
Di bagian tengah ruangan terdapat sebuah tempat tidur yang terbuat dari batu.
Di atasnya duduk bersila seorang laki-laki berusia lanjut.
Rambut dan jenggot orang itu sudah putih semua.
Entah sudah berapa lama dia tidak mencukur rambut dan jenggotnya.
Pakaiannya yang berwarna abu-abu juga kotor sekali.
Wajahnya kurus, begitu juga tubuhnya.
Tetapi terlihat tulang belulangnya sangat besar.
Lain sekali dari manusia biasa.
Dia menyandarkan punggungnya ke tembok.
Seluruh tubuhnya membawa kesan seakan dia malas bergerak.
Ada juga sebagian dari dirinya yang memberi kesan seperti penyakitan.
Ci Siong tojin memutar tubuhnya dan merapatkan pintu batu itu kembali.
Kemudian dia menghadap orang tua tersebut dan membungkuk dengan hormat.
Orang tua itu memicingkan sebelah matanya dan tersenyum.
"Kau rupanya ...."
"Ci Siong menghadap Suheng!"
"Antara saudara seperguruan sendiri mengapa harus sungkan? Duduklah,"
Kata orang tua itu mempersilakan. Ci Siong tojin duduk di ujung tempat tidur. 70
"Tadi aku mengira-ngira siapa yang datang. Langkah kakimu sedemikian ringan. Sampai di depan pintu, baru telingaku mendengarnya."
Ci Siong tojin menggelengkan kepalanya.
"Harap Suheng jangan mentertawakan."
Mata orang itu menatap wajah Ci Siong tojin lekat-lekat.
"Rona wajahmu tidak sedap dipandang. Apakah terjadi sesuatu di atas gunung?"
Tanyanya serius.
"Tadi Bu-ti mengutus muridnya mengantarkan surat tantangan,"
Sahut Ci Siong tojin dengan kepala tertunduk.
"Tok-ku Bu-ti dari Bu-ti-bun?"
"Betul,"
Nada suara Ci Siong tojin menjadi berat.
"Bu-tong dan Bu-ti selamanya seperti air dengan api. Beberapa kali pertarungan selalu Bu-tong yang mengirimkan surat tantangan. Kecuali kali ini."
Orang tua itu merenung sejenak.
"Apakah kau khawatir ada maksud tertentu yang terkandung di balik semua ini?"
"Pribadi Tok-ku Bu-ti sangat angkuh. Aku yakin dia tidak akan menggunakan akal licik untuk meraih kemenangan. Sedangkan dua puluh tahun terakhir, aku sudah pernah kalah dua kali di tangannya. Seandainya dia memang mengandung maksud tertentu, pasti tidak akan menunggu sampai hari ini," 71 kata Ci Siong tojin.
"Hal ini menjelaskan bahwa dia mempunyai keyakinan besar dalam pertarungan kali ini."
"Selain itu pasti masih ada rencana lainnya,"
Ci Siong tojin menarik napas panjang.
"Beberapa tahun terakhir ini, Bu-ti mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk mengumpulkan jago-jago bayaran. Dia sedang melebarkan sayapnya dengan tenaga bantuan berjumlah besar."
"Apakah tidak ada orang lain yang menghalanginya?"
"Tidak ada. Siau-lim-pai sedang mengalami masa suram. Go-bi-pai tidak menelurkan seorang murid pun yang dapat diandalkan. Sembilan partai besar hanya tinggal namanya saja."
"Mereka hanya menyaksikan tanpa berbuat apa-apa?"
"Bu-ti sendiri tentunya mengerti. Pertarungan kali ini kemungkinan besar merupakan pembuka jalan untuk menguasai bu-lim."
"Bagaimana menurut pendapatmu sendiri?"
"Dia tidak akan menggunakan akal licik untuk meraih kemenangan. justru dia ingin meraih kemenangan dengan cara sejati agar dunia takluk kepadanya."
"Tujuanmu mencariku?"
"Aku ingin mengetahui lebih jelas ilmu Mit-kip-mo-kang 72 (rahasia ilmu iblis) yang dilatih oleh Tok-ku Bu-ti,"
Sahut Ci Siong tojin.
"Tentunya kau sendiri telah berlatih keras selama sepuluh tahun belakangan ini. Aku percaya kau juga mendapat kemajuan yang tidak sedikit,"
Kata orang tua itu.
"Kalau Bu-ti yang sekarang sama dengan Bu-ti yang dulu, aku tentu mempunyai keyakinan diri,"
Ci Siong tojin kembali menarik napas panjang.
"Sepuluh tahun telah berlalu, sekarang ilmu Bu-ti tentu juga mendapat kemajuan pesat."
"Ketika kau mengalami kekalahan sepuluh tahun yang lalu, kita sudah pernah membahas masalah ini bersama-sama."
"Pada saat itu, Suheng yakin Mit-kip-mo-kang yang dipelajari Tok-ku Bu-ti sudah mencapai tingkat kelima. Sekarang sepuluh tahun sudah berlalu, kemungkinan dia sudah mencapai tingkat enam atau tujuh, delapan."
Tiba-tiba orang tua itu tertawa lebar.
"Belum pernah ada orang yang mempelajari ilmu Mit-kip-mo-kang mencapai taraf tingkat tujuh,"
Katanya.
"Oh?"
Ci Siong rada curiga mendengar keterangan tersebut.
"Tentu kau tahu Sia Ho Tiang Cong. Dia adalah guru Tok-ku Bu-ti. Kecerdasannya melebihi manusia umumnya. Pada usia tujuh tahun dia mulai berlatih ilmu Mit-kip-mo-kang. Masuk usia empat belas tahun, dia sudah hampir tiada tandingannya di dunia kangouw. Dalam usia sembilan belas tahun saja dia sudah mencapai tingkat keenam ilmu Mit-kip-mo-kang. Namun meninggal ketika berusia delapan puluh, ilmunya sama sekali 73 tidak mendapatkan kemajuan lagi. Dia tetap berada di tingkat enam."
"Sedangkan pada usia empat puluh tahunan, Bu-ti baru mencapai tingkat lima,"
Gumam Ci Siong tojin.
"Oleh karena itu, aku yakin Bu-ti sekarang paling banter baru mencapai tingkat enam seperti suhunya."
"Sampai di mana kehebatan Mit-kip-mo-kang tingkat enam itu?"
Tanya Ci Siong tojin penasaran.
"Maksud kedatanganmu adalah untuk mengetahui hal ini bukan?"
Ci Siong tojin menganggukkan kepalanya.
"Terima!"
Teriak orang tua itu. Dia melemparkan sebilah pedang tua yang berada di atas tembok tempat tidur. Ci Siong tojin mengulurkan tangannya menerima pedang tersebut.
"Hunus pedangmu!"
Perintah orang tua itu sekali lagi.
Ci Siong tojin mencabut pedang tersebut dari sarungnya.
Serangkum hawa dingin segera menyebar di dalam ruangan.
Sinar mata orang tua itu tertuju pada pedang di tangan sutenya.
"Tenaga dalam dipusatkan pada Yang. Hidupkan Liang-gi …."
Pedang di tangan Ci Siong tojin diasongkan ke depan.
Tubuhnya memutar.
Pedang dan tubuh bergerak serentak.
Suara angin berderu-deru karena sabetan pedang tersebut.
74 Tubuh Ci Siong tojin seakan menyatu dengan pedang di tangannya.
Sekali berkelebat dia memainkan tiga puluh enam jurus.
Tubuhnya melayang di udara.
Dalam waktu sekejap dia telah menggerakkan pedangnya sebanyak tujuh puluh dua kali.
Pedangnya telah berubah menjadi bayangan.
Tubuh Ci Siong sendiri bagaikan gasing yang berputar-putar.
Keduanya seakan berubah menjadi gumpalan kabut yang tebal.
Lengan baju orang tua itu berkibar-kibar terempas deruan angin yang ditimbulkan oleh pedang di tangan Ci Siong tojin.
Matanya menatap tajam.
Bibirnya menyunggingkan senyuman.
Telapak tangan kanannya tiba-tiba dikembangkan.
Lengan bajunya bagai sebilah golok tajam mengincar diri Ci Siong.
Siapa pun tidak sangka manusia yang tubuhnya sekurus itu bisa mempunyai tenaga yang begitu kuat.
Lengan bajunya tegak lurus bagaikan lempengan besi.
Suara yang diterbitkannya tidak kalah keras dengan deruan pedang tadi.
Gerakan Ci Siong tojin masih belum berhenti.
Lengan baju yang mengandung kekuatan itu hilang tertutup oleh bayangan pedang.
Melihat keadaan ini, orang tua itu tertawa terbahak-bahak.
Ci Siong menarik pedangnya kembali.
Dia berdiri tegak.
Dalam waktu sekejap tadi dia benar-benar memusatkan perhatian pada permainan pedangnya.
Sekarang hatinya bimbang lagi mengingat lawan yang harus dihadapinya.
Orang tua itu masih tertawa terbahak-bahak.
Ci Siong tojin mengangkat pedangnya dan memasukkannya kembali ke dalam sarung.
Dia menghampiri tempat tidur batu tersebut.
"Suheng ...."
"Bagus!"
Tawa orang itu akhirnya berhenti juga.
"Selama sepuluh tahun ini, meskipun kau tidak mengatakan apa-apa, tapi aku tahu kau sudah berlatih dengan keras. Menurut sepengetahuanku, orang yang berhasil melatih Liong-gi-kiam sampai taraf ini hanya engkau seorang,"
Katanya dengan nada puas. Ci Siong merasa jengah mendengar pujian itu. Belum lagi dia sempat menyahut apa-apa, orang tua itu sudah melanjutkan kembali.
"Seandainya Mit-kip-mo-kang Bu-ti benar-benar sudah mencapai tingkat tujuh, kau pun tidak usah khawatir lagi."
Ci Siong tojin tampaknya kurang percaya mendengar keterangan tersebut.
"Bagaimana pribadi suhengmu ini, tentunya kau mengetahui dengan jelas. Sedangkan sekarang toh bukan saat yang tepat untuk main-main,"
Kata orang tua tersebut. Dia tahu apa yang dipikirkan sutenya. Ci Siong tojin terpaksa menganggukkan kepalanya.
"Apabila ilmu Mit-kip-mo-kang Bu-ti masih tetap hanya mencapai tingkat enam, maka kau akan mudah meraih kemenangan dari pertarungan yang akan datang. Namun apabila dia berhasil mencapai tingkat tujuh, kecuali kau ceroboh, maka rasanya juga tidak akan menjadi persoalan."
"Siaute pasti akan berhati-hati,"
Kata Ci Siong tojin. 76
"Sebetulnya memang kau orang yang penuh waspada."
"Pertarungan antara Siaute dan Bu-ti kali ini adalah untuk yang ketiga kalinya."
"Pikiran tentang kekalahan yang terus menghantuimu harus dilenyapkan. Apabila bertarung dengan musuh tangguh, kita harus mempunyai perhitungan yang matang. Bukan hanya mengandalkan ilmu yang tinggi saja. Kecermatan, keteguhan, keyakinan juga harus diutamakan. Bahkan tempat dan waktu pun mempunyai pengaruh yang kuat. Apabila kau dihantui kekalahanmu yang lalu sebelum bertanding, berarti kau sudah kalah satu langkah. Kau harus mengerti rumus ini!"
Kata orang tua itu dengan nada tinggi. Tanpa sadar, keringat dingin menetes di kening Ci Siong.
"Tenangkan dirimu dalam menghadapi pertarungan kali ini!"
Akhirnya Ci Siong menarik napas panjang.
"Baiklah ...."
Bagaimana perangai orang tua itu, tentu dia jelas sekali.
Dan sekarang memang saat yang tepat untuk berguyon.
Oleh karena itu, hatinya menjadi jauh lebih tenang.
Namun ketika dia meninggalkan rumah batu tersebut, dia merasakan firasat yang tidak enak dalam hatinya.
Perasaan murung yang tidak bisa dihilangkan begitu saja.
Mungkin juga hal ini disebabkan karena dia sudah dua kali mengalami kekalahan di tangan Bu-ti.
***** 77 Senja hari ....
Matahari mulai tenggelam.
Angin bertiup membawa kesejukan.
Semilirnya membawa riak-riak kecil di atas permukaan kolam.
Di tempat yang bernama Tian Cu Hong ini terdapat sebuah kolam alam.
Tidak terlalu besar, namun di tengahnya dibangun sebuah bangunan yang disambung dengan jembatan batu.
Bangunan yang dimaksud di sini bukan tempat tinggal, tapi sejenis pesanggrahan atau tempat berteduh.
Ci Siong tojin sering datang ke tempat ini.
Kadang-kadang dia menemui murid-muridnya di tempat tersebut.
Ada kalanya dia menjamu tamu yang merupakan kenalan dekat di tengah kolam tersebut juga.
Banyak sekali persoalan pelik yang dapat diselesaikan dengan baik di tempat peristirahatan itu.
***** Setelah meninggalkan rumah batu tadi, Ci Siong melangkahkan kakinya ke Tian Cu Hong.
Di tengah perjalanan dia memberi perintah kepada muridnya.
Oleh karena itu, baru saja dia duduk sejenak di tengah kolam tersebut, Gi-song, Cang-song dan keempat Hu-Hoat-tianglo sudah menyusul tiba.
Juga kelima orang muridnya yang patut dibanggakan, yakni Pek Ciok, Cia Peng, Kim Ciok, Giok Ciok, Yo Hong.
Pek Ciok masih seperti biasa.
Dia jarang tersenyum dan mimik 78 wajahnya selalu serius.
Cia Peng melangkah dengan dada membusung.
Di bawah sinar mentari yang mulai pudar, warna kulitnya tampak kecokelatan.
Gerakan kakinya mantap sekali seperti seekor kuda.
Bahkan perangainya pun ada beberapa bagian yang mirip binatang tersebut.
Sedangkan Giok Ciok merupakan murid yang paling dekat dengan Ci Siong tojin.
Yo Hong mempunyai bentuk tubuh tinggi kurus.
Begitu kurusnya sehingga orang mengira apabila ada angin yang bertiup kencang maka dia akan tertiup roboh.
Namun di antara kelima murid Ci Siong tojin, ginkangnya pula yang paling tinggi.
Sedangkan Kim Ciok mungkin berasal dari satu daerah dengan Pek Ciok.
Wajahnya juga selalu terlihat kaku dan serius.
***** Gi-song dan Cang-song melangkah masuk terlebih dahulu ke dalam rumah peristirahatan itu.
Ci Siong menarik napas panjang.
Matanya menatap kedua orang itu secara bergantian.
Tampaknya kedua orang itu mempunyai banyak perkataan yang ingin disampaikan, namun kesempatan masih belum ada.
"Dua hari lagi Punco (cara Ciangbunjin menyebut dirinya sendiri) akan berangkat ke Kuan Jit Hong,"
Dia merandek sejenak.
"Kepergian Punco kali ini mungkin makan waktu paling sedikit dua bulan. Berkumpulnya kalian di tempat ini adalah untuk merundingkan masalah ini. Maksud Punco 79 persoalan Bu-tong-pai ketika Punco tidak ada."
Gi-song dan Cang-song saling melirik sekilas.
"Siaute merasa bagaimana pun harus ada orang yang mewakili Suheng menangani persoalan Bu-tong-pai."
Kata Gi-song memberi saran.
"Tidak salah. Di Bu-tong sama sekali tidak boleh tidak ada pemimpin. Kita memang harus mencari seseorang sebagai wakil Ciangbunjin,"
Lanjut Cang-song tidak mau kalah. Ci Siong tojin menganggukkan kepalanya.
"Liong-wi sute (kedua adik seperguruan) anggap siapa yang paling sesuai menggantikan Punco sementara?"
Hati Gi-song dan Cang-song menjadi tegang seketika.
"Tentu saja seseorang yang baik kedudukan maupun usianya sudah cukup tinggi,"
Tukas Gi-song cepat-cepat.
"Siaute malah menganggap lebih baik memilih seseorang yang usianya agak muda. Untuk menangani persoalan yang begitu banyak, orang yang berusia lanjut tentu akan kepusingan,"
Lanjut Cang-song tidak mau kalah cepat.
"Jahe tua baru pedas rasanya,"
Kata Gi-song.
"Yang muda lebih bersemangat!"
Sahut Cang-song.
"Yang lebih tua!" 80
"Muda!"
Kedua orang itu jadi berdebat karena tidak mau saling mengalah. Ci Siong tersenyum melihat kedua orang itu.
"Liong-wi sute tidak perlu bertengkar. Kata-kata keduanya sama beralasan. Baik pengalaman dan semangat sama-sama penting sekali. Pek Ciok selamanya mempunyai pikiran seperti orang tua. Dia masih muda dan kuat. Pengalamannya juga lumayan. Rasanya dia paling sesuai ditunjuk sebagai pengganti Punco, bukan?"
"Pek Ciok?"
Gi-song dan Cang-song kelepasan mulut. Keduanya tertegun mendengar orang itu yang terpilih.
"Mungkin pengalamannya belum terlalu banyak. Tapi dengan adanya Liong-wi sute yang mengawasi, rasanya tidak ada masalah lagi,"
Kata Ci Siong tojin.
"Suheng ...."
Gi-song dan Cang-song memanggil serentak. Sekali lagi Ci Siong tojin tersenyum.
"Punco benar-benar tidak tahu siapa lagi yang paling sesuai untuk tugas ini,"
Dia mengibaskan tangannya.
"Tidak ada persoalan lain lagi. Kalian boleh keluar sekarang."
Pek Ciok dan saudara seperguruannya yang lain melangkah masuk ke dalam rumah peristirahatan itu.
Dengan wajah merah padam Gi-song dan Cang-song mengundurkan diri.
***** 81 Setelah melewati jembatan, Gi-song benar-benar tidak dapat menahan dirinya lagi.
"Terang-terangan dia sudah merencanakan semuanya. Sengaja pura-pura ingin merundingkannya lagi dengan kita,"
Dia menggerutu panjang lebar.
"Tua bangka yang licik!"
Cang-song ikut mengomel.
"Gara-gara kau juga. Mengapa ingin bersaing denganku menggantikan Ciangbunjin? Kalau tidak, dia tidak mungkin memilih Pek Ciok!"
Bentak Gi-song.
"Mengapa bukan kau saja yang mengalah?"
Teriak Cang-song.
Pertengkaran keduanya kembali menjadi seru.
***** Sore hampir berakhir.
Matahari yang mulai tenggelam berwarna kemerahan.
Benar-benar suatu pemandangan yang menyenangkan.
Wan Fei-yang berjalan di bawah sinar matahari yang mulai redup.
Perasaannya sama sekali tidak senang.
Dia baru saja kembali dari tugasnya membersihkan kandang babi dan mengurus makanan mereka.
Tubuhnya letih sekali.
Dia berjalan dengan kepala tertunduk.
Langkahnya tidak tergesa-gesa.
Yang benar-benar letih sebetulnya bukan tubuhnya tapi 82 hatinya.
Begitu letihnya sehingga sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Keletihan itu bagaikan racun yang perlahan menggerogoti tubuhnya.
Meskipun pikirannya kacau, tapi dia tidak lupa jalan menuju kamarnya sendiri.
Seperti sudah hafal di luar kepala dia memutar ke bagian belakang pendopo.
Baru saja kakinya menginjak halaman depan, beberapa orang sudah menghadang di depannya.
Mereka adalah para suheng yang menggunakan dirinya sebagai sasaran hidup untuk berlatih senjata rahasia.
Ketika dia menyadari, kepalanya sudah membentur dada seseorang yang menghadang di tengah.
Otomatis langkah kakinya terhenti.
Orang itu segera memijit hidungnya keras-keras.
"Bau sekali!"
Teriaknya. Wan Fei-yang berdiri tertegun.
"Dari mana saja kau? Mengapa badanmu bau seperti ini?"
Tanya yang lainnya. Wan Fei-yang tidak ingin melayani mereka lama-lama.
"Kandang babi,"
Sahutnya singkat.
"Aku kira kau terjatuh ke dalam comberan,"
Sindir yang lain. Wan Fei-yang mendengus dingin.
"Bagaimana rasanya kandang babi itu? Nyaman?"
Tanya yang lain.
83 Wan Fei-yang malas melayani mereka.
Dia memutari tubuh orang yang menghalanginya dan bermaksud ke kamar.
Namun orang itu sengaja mundur beberapa langkah dan menghadang di depannya kembali.
"Kau belum menjawab pertanyaan itu,"
Katanya.
"Kalau memang mau tahu, mudah sekali. Kau toh tahu di mana letak kandang babi. Coba saja diam di sana barang setengah harian!"
Sahut Wan Fei-yang mendongkol.
"Eh?"
Mata orang itu melirik ke arah rekan-rekannya.
"Coba kalian lihat, Wan-toaya begitu bangga kembali dari kandang babi,"
Katanya. Beberapa orang lainnya tertawa terpingkal-pingkal.
"Tubuhnya begitu bau. Kalau kita biarkan dia masuk ke dalam, siapa yang tahan?"
Sindir yang lainnya.
"Kalau kita tidak mengizinkan dia masuk, Suhu pasti akan mengatakan bahwa kita menghinanya lagi. Apa kira-kira yang harus kita lakukan?"
Tanya yang lainnya.
"Berbuat baik jangan kepalang tanggung, buka saja bajunya yang bau itu!"
Rekan yang lain memberi saran.
Saudara seperguruan yang lain segera bersorak menyetujui.
Mereka maju bersama.
Ada yang mengerumuni dari kiri kanan, ada juga dari depan dan belakang.
Beberapa orang di antaranya menarik sepasang tangan Wan Fei-yang.
Sebagian lagi memegangi perutnya.
Tentu masih tersisa satu orang 84 yang membuka bajunya.
Wan Fei-yang benar-benar tidak dapat mengendalikan emosinya lagi.
Hawa amarah terasa bergemuruh di dadanya dan tiba-tiba meledak.
Dia berteriak sekuatnya.
Tenaganya dikerahkan.
Orang-orang yang memeluk dan menariknya terpental seketika.
Mereka jatuh di atas tanah dan saling bertindihan.
"Bocah busuk! Ternyata kau mempunyai tenaga kerbau!"
Bentak seseorang yang berusaha merangkak bangkit dengan susah payah.
Pantatnya sakit sekali.
Rekannya yang terjatuh dengan kepala membentur tanah lebih runyam lagi.
Di keningnya terlihat benjolan sebesar telur ayam.
Wan Fei-yang memandangi mereka dengan mata mendelik.
Hawa amarahnya belum sirna juga.
"Meskipun dia mempunyai tenaga sakti alamiah, tetap bukan tandingan kita!"
Kata seseorang yang sudah berhasil berdiri tegak.
"Mari kita hajar dia habis-habisan. Biar dia tahu kelihaian kita!"
Sarannya segera mendapat sambutan hangat. Mereka beramai-ramai bersiap mengeroyokinya.
"Ada apa?"
Terdengar sebuah suara dari halaman depan.
Suara seorang gadis.
Di dalam Bu-tong-pai hanya ada seorang gadis.
Dia adalah Lun Wan-ji.
Orang yang melangkah masuk dengan tergesa-gesa dan mengajukan pertanyaan sudah dapat dipastikan dia adanya.
Matanya mengedar sekilas kemudian mendelik ke arah rombongan murid-murid 85 seperguruannya.
Tentu saja dia mengerti apa yang sedang terjadi.
Mereka pasti sedang mempermainkan Wan Fei-yang.
Sedangkan orang-orang yang bersiap-siap mengeroyoki pemuda itu menjadi tertegun melihat kehadiran Wan-ji.
"Kenapa?"
Wan-ji berdiri dengan berkacak pinggang.
"Lagi-lagi kalian mengolok-olok Wan Fei-yang?"
Tanyanya ketus.
"Sumoay ... dia ... dia ...."
"Apa yang ingin kau katakan? Dia yang mengolok-olok kalian?"
Mata Wan-ji mendelik kepada orang tersebut.
"Tidak tahu malu! Jumlah kalian begitu banyak, sedangkan dia hanya sendirian. Lagi pula dia tidak bisa ilmu silat. Apakah dia sanggup mempermainkan kalian? Aku ingin bertanya kepada susiok!"
Orang itu terpana. Wajah mereka menyiratkan kepanikan.
"Sumoay, urusan cakar ayam seperti ini lebih baik jangan merepotkan Suhu orang tua."
"Apa lagi perasaan Suhu sedang tidak enak,"
Tukas yang lainnya cepat-cepat.
"Betul. Kami toh hanya main-main. Mengapa Sumoay menanggapinya dengan serius?"
Kata yang lainnya ikut memberi saran.
Menghadapi Sumoay yang satu ini, mereka memang menaruh rasa hormat yang dalam.
Wan-ji menatap mereka satu per 86 satu.
Dia menghampiri Wan Fei-yang dan memandanginya dengan seksama.
"Bagaimana keadaanmu? Apakah kau terluka?"
Tanyanya dengan penuh perhatian. Wan Fei-yang membalas tatapan gadis itu dengan rasa terima kasih.
"Aku tidak ...."
Gumamnya dengan suara tak jelas.
"Tentang kejadian ini ...."
"Aku juga ikut bersalah. Lebih baik jangan diungkit lagi,"
Sahut Wan Fei-yang.
"Kau tidak usah takut terhadap mereka,"
Kata Wan-ji. Wan Fei-yang terpaksa menganggukkan kepalanya. Wan-ji mengalihkan pandangannya ke arah saudara-saudara seperguruan yang lain.
"Mengapa kalian masih belum pergi juga? Apakah kalian ingin menunggu kesempatan untuk mengolok-oloknya lagi?"
Bentak gadis itu.
Wajah orang-orang itu merah-padam.
Mereka saling melirik sekilas lalu memencarkan diri meninggalkan tempat itu.
Mata Wan-ji mengikuti kepergian mereka.
Akhirnya ia menarik napas panjang.
"Mengapa mereka selalu mengolok-olok dirimu?"
Katanya seakan kepada dirinya sendiri. Wan Fei-yang tertawa getir.
"Aku juga tidak tahu kenapa." 87
"Mungkin karena kau memang sasaran yang empuk untuk mereka olok-olokan."
Tiba-tiba Wan-ji memijit hidungnya.
"Mengapa kau begitu bau?"
Sekali lagi Wan Fei-yang tertawa getir.
"Siapa suruh aku mendapat tugas mengurusi babi-babi itu sepanjang hari!"
Wan-ji memijit hidungnya sekali lagi.
"Pekerjaan semacam ini seharusnya tidak dilimpahkan kepadamu,"
Katanya.
"Hm ...."
Wan Fei-yang tidak tahu harus berkata apa. Tiba-tiba Wan-ji seakan ingat sesuatu.
"Aku harus pergi sekarang!"
Katanya.
"Hm ...."
Wan Fei-yang menggaruk-garuk kepalanya.
"Kalau mereka masih mengolok-olok dirimu, beritahu aku,"
Baru saja ucapannya selesai, tubuh gadis itu berkelebat.
Gerakannya seperti seekor walet menuju ke arah datangnya tadi.
Wan Fei-yang bermaksud memanggilnya, tapi tenggorokannya seperti tercekat.
Kata-kata yang sudah siap dilontarkan ditelannya kembali.
Dia sendiri tidak tahu apa yang dirasakannya saat itu.
Dia termenung beberapa saat, kemudian mengendus pakaiannya sendiri.
"Tidak salah, pekerjaan semacam ini seharusnya bukan tugasku. Aku datang ke Bu-tong-san untuk belajar ilmu silat, bukan mengurusi kandang babi yang baunya memuakkan!"
Katanya kepada diri sendiri.
"Aku harus menemui Ciangbunjin dan minta penjelasan darinya,"
Pikirnya dalam hati.
Langkah kakinya dipercepat.
Dia menuju ke arah tempat tinggal Ci Siong tojin.
Saat itu malam mulai menjelang.
***** Hari belum terlalu gelap.
Namun penerangan di kamar sudah dinyalakan.
Ci Siong tojin berdiri membelakangi cahaya lentera.
Dia terpaku di jendela sebelah barat.
Di depan jendela ada beberapa pohon yang rimbun.
Daun-daunnya berterbangan tertiup angin barat.
Suasana mencekam.
Meskipun malam belum terlalu larut, namun rembulan sudah mulai bersinar.
Ci Siong menatap ke arah kejauhan.
Dia seperti tenggelam dalam lamunannya.
Kedua tangannya menggenggam kepingan batu giok.
Batu giok itu hanya setengah keping.
Batu aslinya bundar, tapi sekarang bagai rembulan yang tertutup awan dan terbelah persis di bagian tengah.
Belahannya begitu rapi.
Sungguh sebuah batu giok yang sangat bagus buatannya.
Cahaya lampu membuat batu itu semakin jernih dan bening.
Bahkan guratan urat di dalamnya terlihat jelas.
Di bagian luarnya 89 terukir seekor burung hong.
Bagian sayapnya hanya terlihat sebelah, tentu yang sebelahnya lagi berada di kepingan yang lain.
Ukiran itu begitu hidup.
Sayapnya yang terbentang seakan seekor burung yang sedang terbang di angkasa.
Ci Siong tojin meraba permukaan giok itu dengan lembut.
Tindakannya seperti mengandung arti yang dalam.
Tampaknya apa yang menggelayuti pikirannya saat itu ada hubungannya dengan belahan giok tersebut.
***** Akhirnya Wan Fei-yang datang juga ke tempat tinggal Ci Siong tojin.
Melihat keadaannya dia seakan ingin menerjang ke dalam rumah itu.
Namun belum lagi mencapai depan pintu, kakinya sudah terasa lemas.
Sesampainya di depan pintu, dia malah tidak sanggup menggerakkan kakinya lagi.
Dia sendiri tidak mengerti mengapa perasaannya begitu takut.
Sedangkan hawa amarahnya entah melayang ke mana.
Dengan gelisah dia berjalan mondar-mandir di depan koridor panjang.
Semakin banyak waktu yang berlalu, semakin dalam rasa takutnya.
Tepat pada saat itu, seorang tosu cilik berjalan menghampiri dengan sebuah baki di tangan.
Di atas baki itu terdapat beberapa mangkuk dan sepasang sumpit.
Juga ada dua macam hidangan yang tertutup atasnya.
Mata Wan Fei-yang segera bersinar.
Dia mendapatkan ide yang cemerlang.
Dengan cepat dia menyambut kedatangan 90 tosu tadi.
"Tiang Ceng koko ...."
Sapanya dengan memamerkan seulas senyuman. Tosu cilik yang bernama Tiang Ceng itu menatap ke arah Wan Fei-yang.
"Oh ... kau …."
Jari Wan Fei-yang menunjukkan ke arah baki yang dipegang oleh tosu cilik itu.
"Hidangan untuk makan malam Suhu?"
Tanyanya.
"Sudah tahu masih tanya!"
Sahut Tiang Ceng pura-pura marah. Wan Fei-yang tersipu-sipu.
"Hei! Jangan menghalangi jalanku,"
Kata Tiang Ceng kembali.
"Aku ...."
"Ada apa?"
"Baki ini ...."
"Mau mencuri makan? Kau benar-benar sudah tidak sayang nyawamu lagi,"
Kata Tiang Ceng sambil mendelikkan matanya.
"Kau jangan salah paham. Aku hanya ingin membantumu mengantarkan makanan ini ke dalam,"
Sahut Wan Fei-yang menjelaskan. Tiang Ceng memandanginya lekat-lekat, tiba-tiba dia 91 mengedipkan sebelah matanya.
"Apakah kau ingin mengatakan sesuatu kepada Suhu, tapi kau tidak berani masuk ke dalam?"
"Sebetulnya memang begitu maksudku,"
Tanpa sadar Wan Fei-yang memuji.
"Apa yang dikatakan Suhu memang tidak salah. Dalam generasi muda yang paling cerdas memang engkau."
"Tidak usah menjilat,"
Kata Tiang Ceng, Meskipun demikian dia termakan ocehan Wan Fei-yang. Disodorkannya baki tersebut kepadanya. Wan Fei-yang menerimanya dengan gembira, tapi Tiang Ceng menariknya kembali.
"Katakan dulu! Kebusukan apa yang ingin kau katakan pada Suhu?"
Tanyanya.
"Aku tidak akan mengatakan kebusukan apa pun."
"Eh? Lalu apa yang ingin kau katakan kepada Suhu?"
Tanya Tiang Ceng penasaran. Wan Fei-yang tertegun, dia tidak menjawab pertanyaan itu.
"Kalau kau tidak mau mengatakannya, aku tidak akan mengizinkan kau membawa baki ini!"
Ancam Tiang Ceng.
"Aku hanya ingin bertanya kepada Suhu .... Mengapa aku selalu menjadi sasaran olok-olok para suheng?"
Sahut Wan Fei-yang dengan tampang sedih. Tiang Ceng memandang Wan Fei-yang lekat-lekat. Dia menggelengkan kepalanya sambil menarik napas panjang, 92
"Kau memang patut dikasihani. Baiklah, aku akan membantumu kali ini."
Sekali lagi Wan Fei-yang mengulurkan tangannya menerima baki tersebut.
"Hati-hati kalau bicara, jangan menyusahkan aku,"
Kata Tiang Ceng selanjutnya.
"Jangan khawatir. Kau tentu bisa menilai bahwa aku bukan manusia semacam itu,"
Kata Wan Fei-yang sambil menatap ke arah baki di tangannya dengan wajah berseri.
"Tampaknya sifatmu memang tidak demikian. Jangan lupa yang kulakukan untukmu sekarang."
Wan Fei-yang menganggukkan kepalanya berkali-kali.
"Tentu ... tentu,"
Sahutnya beruntun.
"Aih ... sebetulnya semua juga hanya omong kosong,"
Kata Tiang Ceng dengan gaya seperti orang tua.
"Apa sih yang disebut balas budi segala? Lagi pula, kau tidak menimbulkan kesulitan untukku, aku malah boleh mengucapkan Bo-liang-sou-hud. Mengharapkan balas budi darimu sih tidak mungkin terjadi."
Wan Fei-yang tertawa getir.
"Aku masuk sekarang,"
Dia membalikkan tubuhnya.
Dengan membawa baki di tangannya, langkahnya berubah menjadi mantap.
Tiang Ceng tidak kepalang tanggung membantunya.
Dia mendekati pintu tempat tinggal Ci Siong tojin dan mengetuknya tiga kali.
"Pintu tidak dikunci!"
Terdengar sahutan dari dalam.
Tiang Ceng mendorong pintu tersebut perlahan.
Dia memberi isyarat dengan kedipan mata.
Wan Fei-yang segera menyelinap ke dalam.
***** Ci Siong tojin masih berdiri di depan jendela sebelah barat.
Dia seakan tahu siapa yang masuk.
Tanpa menolehkan kepala dia menuding ke arah meja.
"Taruh saja di situ,"
Katanya.
Wan Fei-yang meletakkan baki di atas meja kemudian berdiri termangu-mangu di samping.
Pendengaran Ci Siong tojin sangat tajam, dia tahu orang yang mengantarkan hidangan tersebut masih ada di dalam kamarnya.
Keningnya berkerut.
"Kau sudah boleh keluar,"
Katanya.
"Ciangbunjin ...."
Akhirnya Wan Fei-yang memberanikan diri memanggil. Ci Siong tojin membalikkan tubuhnya. Matanya memandang Wan Fei-yang lekat-lekat. Tampaknya dia merasa di luar dugaan melihat anak muda tersebut.
"Kau?" 94
"Tecu menghadap Ciangbunjin,"
Kata Wan Fei-yang sambil menjura dalam-dalam.
"Mana Tiang Ceng?"
"Dia sedang kurang sehat, jadi aku ...."
"Tadi aku melihat dia segar bugar. Fei-yang, generasi muda belajar hal yang berguna, jangan belajar berdusta. Itu bukan hal yang baik dan terpuji,"
Tukas Ci Siong tojin dengan suara lembut.
"Tecu tahu salah,"
Sahut Wan Fei-yang dengan wajah merah padam.
"Seandainya ada sesuatu yang ingin kau katakan kepadaku, masuk saja. Tidak usah cari alasan. Apa lagi meminta bantuan Tiang Ceng."
"Lain kali tecu tidak berani lagi."
"Oh ya ... sebetulnya apa yang ingin kau katakan?"
"Tecu ... tecu ..."
"Kalau mau bicara, bicara saja, mengapa ragu-ragu?"
Wan Fei-yang menggertakkan giginya.
"Suhu, aku benar-benar tidak tahan lagi,"
Katanya setelah mengumpulkan segenap keberanian. 95
"Dalam hal apa?"
"Misalnya saja latihan senjata rahasia .... Mengapa selalu harus aku yang menjadi perisai pemegang papan mereka?"
Wan Fei-yang mengangkat kedua tangannya.
"Ini masih belum seberapa, senjata rahasia yang mereka lemparkan bukan ditujukan kepada papan tersebut tetapi diarahkan pada tubuhku. Seandainya aku tidak mengadakan persiapan terlebih dahulu, mungkin sejak lama aku sudah tidak bernyawa lagi."
"Bukankah kau masih hidup dengan baik-baik?"
"Kebetulan saja nasibku masih baik. Tapi nasib seseorang toh tidak mungkin selamanya baik,"
Sahut Wan Fei-yang.
"Maksudmu ...."
"Harus memperlakukan setiap orang dengan adil, jangan berat sebelah,"
Sahut Wan Fei-yang mulai berani.
"Dalam Bu-tong-pai, keadilan memang harus dijunjung tinggi,"
Kata Ci Siong tojin tersenyum.
"Namun, selain aku tidak ada orang lain yang menjadi sasaran hidup."
"Mungkin Cia Peng akan mengerti. Kau harus membicarakan hal ini kepadanya."
"Tidak .... Pagi ini aku justru mengeluh kepadanya. Memang aku tidak perlu menjadi sasaran hidup lagi, tapi aku malah disuruh menggantikan Lopek di bukit sana untuk mengurusi 96 babi-babi,"
Gerutu Wan Fei-yang.
"Kau jangan mengira bahwa kehidupan sekarang sangat menderita. Sebetulnya apa yang kau lakukan sekarang, pernah dilakukan oleh para suhengmu. Tapi mereka tidak secerewet engkau,"
Kata Ci Siong tojin. Wan Fei-yang menggelengkan kepalanya.
"Ciangbunjin tidak mengerti. Aku sudah kenyang menghadapi olok-olok mereka."
"Aku mengerti semuanya,"
Kata Ci Siong tojin dengan lembut. Wan Fei-yang tertegun mendengar perkataan Ci Siong tojin.
"Manusia yang jiwanya lapang tidak takut dihina, sebelum berhasil jangan takut menghadapi kesusahan,"
Kata Ci Siong tojin selanjutnya.
"Tecu yang bodoh tidak paham,"
Sahut Wan Fei-yang.
"Dengan kata lain, apa yang kau alami sekarang merupakan ujian mental dan langkah dasar mempelajari ilmu Bu-tong-pai. Misalnya jadi sasaran hidup, itu merupakan latihan untuk perubahan gerakan manusia."
"Lalu mengurus, memberi makan dan memandikan babi termasuk latihan apa?"
Tanya Wan Fei-yang tidak puas. Ci Siong tojin tersenyum tanpa menyahut.
"Mereka memanggilku anak haram, latihan apa yang 97 memerlukan hinaan semacam itu? Tolong Ciangbunjin jelaskan."
Bibir Ci Siong tojin masih terlihat seulas senyuman, namun tampaknya kali ini senyuman itu terlalu dipaksakan.
"Aku akan menasihati mereka agar hati-hati kalau bicara,"
Katanya.
"Aku rasa kau orang tua harus lebih memperhatikan segalanya lebih teliti. Mereka toh bukan anak kecil lagi."
"Justru karena mereka bukan anak kecil lagi, maka mereka tentu mengerti peraturan yang ditentukan Bu-tong-pai. Mereka tidak berani melanggarnya begitu saja."
"Tidak berani melanggarnya? Ciangbunjin, dalam hal ini kau tidak sejelas aku. Misalnya saja kedua tianglo dari Cik-hoat-tong. Di luarnya mereka manis-manis, dalam hati mereka tidak menuruti peraturan. Seandainya terjadi sesuatu pada Suhu, Bu-tong-pai pasti akan hancur lebur di tangan mereka ...."
Jilid 3
"Tutup mulut!"
Bentak Ci Siong tojin.
"Aku hanya berpikir demi kebaikan Bu-tong-pai …."
Tidak tampak senyuman lagi yang menghiasi bibir Ci Siong tojin.
"Aku hanya mengerti satu hal,"
Katanya sinis. 98
"Apa itu?"
Tanya Wan Fei-yang kebingungan.
"Apa pun yang akan terjadi pada Bu-tong-pai, tidak perlu kau khawatirkan,"
Ci Siong tojin mengucapkannya sepatah demi sepatah.
"Kau hanya seorang bawahan di Bu-tong-pai."
Wan Fei-yang terpana mendengar ucapan itu.
Tampangnya sungguh mengenaskan.
Dia seakan baru ditonjok perutnya oleh Ci Siong tojin.
Dia sama sekali tidak menduga orang tua itu bisa mengucapkan kata-kata yang menyakiti hatinya.
Namun mau tidak mau dia harus mengakui bahwa apa yang dikatakan oleh Ci Siong tojin memang beralasan.
"Di sini tidak ada urusanmu lagi!"
Kata Ci Siong tojin masih dengan nada sinis seperti tadi.
"Keluar!"
Wan Fei-yang merasa dadanya hampir meledak.
Dia mendengus dan menghambur keluar dari tempat itu.
Namun baru saja dia berlari beberapa langkah, dia merasa tindakannya itu kurang sopan.
Oleh karena itu dia kembali lagi dan menjura di depan pintu.
"Suhu, tecu mengundurkan diri,"
Katanya.
Setelah itu dia melanjutkan langkahnya dengan perlahan.
Ci Siong tojin memandangi bayangan punggung Wan Fei-yang yang semakin menjauh.
Di ujung bibirnya terhias senyuman.
Senyuman getir.
Kemudian dia kembali lagi termenung seperti sebelumnya.
***** 99 Malam sudah larut.
Wan Fei-yang membolak-balik tubuhnya di atas tempat tidur.
Pikirannya melayang-layang.
Dia tidak bisa tidur sama sekali.
Namun matanya tetap terpejam.
Setiap kali dia membuka matanya, bayangan para suheng yang sedang mengolok-oloknya segera bermunculan.
Ia seakan mendengar kembali sindiran-sindiran mereka yang menyakitkan.
Tanpa sadar dia menutup kepala dengan sepasang tangannya.
Tubuhnya mengkeret seperti orang yang kedinginan.
Kamarnya sangat kecil.
Dan tempat tidurnya yang terbuat dari papan tentu tidak enak dan membuatnya semakin sulit pulas dalam mimpi.
Sebetulnya Wan Fei-yang sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu.
Namun apa yang dialaminya hari ini memang terlalu banyak.
Hinaan yang diterimanya juga tidak kurang banyak.
Kamar itu tidak mempunyai penerangan.
Sinar rembulan yang menyorot dari celah-celah jendela terasa sedingin air es.
Angin bertiup semilir.
Membawa suara kentungan dari kejauhan.
Dua kali!
***** "Kentungan kedua!"
Kata Wan Fei-yang dalam hatinya.
Dia seperti seekor kelinci yang kena panah.
Tiba-tiba dia meloncat dari atas tempat tidur.
Begitu tubuhnya membalik dia langsung meloncat dengan 100 sigap.
Hanya dalam waktu beberapa detik dia sudah memakai sepatunya.
Kemudian sekali lagi dia berkelebat, bayangan tubuhnya sudah berada di luar kamar.
Tiba-tiba saja gerakannya menjadi lincah.
Di luar jendela tidak ada orang.
Sepanjang koridor sepi mencekam.
Pada saat seperti ini, kebanyakan orang sedang pulas dalam mimpi.
Dengan seksama Wan Fei-yang melirik ke kiri dan kanan.
Dia berkelebat secepat kilat.
Sebentar saja dia sudah sampai di pintu depan.
Perlahan didorongnya pintu tersebut.
Setelah yakin tidak ada orang di sekitar tempat itu, dia segera menyelinap keluar dan menutup kembali pintu tersebut.
Kemudian Wan Fei-yang melintasi taman dan menuju bagian belakang gunung.
Kamarnya memang terpencil.
Tidak ada kamar lain di sekitar itu.
Di bagian ujung taman terdapat hutan pohon Siong.
Setelah melalui hutan kecil itu, sampailah dia di bukit yang tidak pernah di njak murid Bu tong lainnya.
Di sana tidak ada jalan setapak.
Bagi Wan Fei-yang hal itu sama sekali tidak menjadi masalah.
Dia berjalan di atas batu-batu karang yang berilalang.
Langkah kakinya demikian ringan dan cepat.
Akhirnya dia sampai pada sebuah padang rumput yang tidak terurus.
Wan Fei-yang menarik napas dalam-dalam.
Tubuhnya mencelat dan meluncur secepat anak panah.
Kedua kakinya seakan tidak berpijak pada tanah.
Gerakan tubuhnya seperti melayang di atas padang rumput tersebut.
Dalam generasi muda Bu-tong-pai, dapat dikatakan Yo Hong mempunyai ginkang paling tinggi.
Tapi seandainya dia ada di sana saat itu, tentu dia akan terkejut setengah mati.
Dia pasti terpaksa 101 harus mengakui bahwa dalam generasi muda, yang menguasai ginkang paling tinggi bukanlah dirinya, namun Wan Fei-yang!
***** Dari mana Wan Fei-yang mempelajari ginkang setinggi ini?
Angin bertiup semakin kencang.
Wan Fei-yang seakan mempunyai sayap di tubuhnya.
Gerakannya seperti terbang saja.
Setelah melintasi padang tersebut, dia sampai pada jalanan gunung yang terpencil.
Langkahnya tidak berhenti.
Dia terus berlari melewati sebuah hutan lagi.
Akhirnya dia menghentikan gerakannya di sebuah tanah kosong.
Tanah kosong itu cukup luas.
Ada tiga batang pohon di bagian utara.
Juga terdapat beberapa buah balok kayu yang berserakan.
Kalau dibilang terpencil, tempat itu memang cukup terpencil dan seakan mengandung misteri yang dalam.
Wan Fei-yang menghentikan langkah kakinya di tempat itu.
Kemudian dia bersiul panjang.
Kakinya tiba-tiba menutul, dia melayang ke atas sebatang pohon dan berpegangan pada sebuah ranting, kemudian dia berjungkir balik tiga kali di udara dan turun kembali ke tanah persis di tengah tanah kosong tersebut.
Kepalan tangannya diasongkan ke depan.
Kakinya yang sebelah kiri terangkat.
Kemudian dengan gaya seekor bangau dia berputaran.
Gerakan tubuhnya sama sekali tidak kikuk.
Bahkan mengejutkan.
Apabila dikatakan dia sama sekali tidak 102 mengerti ilmu silat, maka yang dimaksudkan tentu Wan Fei-yang yang setiap hari menerima hinaan dari para suhengnya.
Siapa yang akan percaya kalau Wan Fei-yang yang sekarang merupakan orang yang sama?
***** Rembulan tepat di tengah angkasa.
Di bawah sinar rembulan yang mencekam, kepalan tangan Wan Fei-yang seakan berubah menjadi ribuan.
Suara angin menderu-deru.
Lengan bajunya berkibaran.
Dia berlatih dengan pikiran terpusat penuh.
Ketika gerakannya terhenti, seluruh tubuhnya sudah basah kuyup oleh keringat.
Segala penderitaan, rasa sedih dan kecewa seperti menguap bersama keringatnya yang mengucur deras.
Akhirnya dia duduk di atas tanah.
Dengan sekuat tenaga dia menarik napas dan mengembuskannya.
Deru napasnya begitu keras dan memancar sampai kejauhan serta menyusup di telinga seseorang.
Orang itu bertubuh tinggi kurus.
Pakaiannya hitam pekat.
Kepalanya juga ditutupi sehelai kain hitam.
Hanya sepasang matanya yang kelihatan.
Sekarang mata itu sedang memperhatikan Wan Fei-yang, dia juga melangkahkan kakinya menuju tempat di mana anak muda itu berada.
Tiba-tiba tubuhnya bergerak, sama sekali tidak menerbitkan suara.
Manusia yang mengenakan pakaian hitam itu seperti roh halus layaknya.
Bukankah saat seperti ini juga memang 103 merupakan saat yang tepat di mana roh halus berkeliaran?
***** Wan Fei-yang duduk membelakangi orang tersebut.
Dia terus menarik napas dan sama sekali, tidak sadar akan kehadiran orang tersebut.
Ketika dia tersadar, kepalanya segera menoleh, jarak orang itu tinggal tujuh depa dengannya.
Dia memandang dengan termangu-mangu.
Setelah beberapa saat dia baru menarik napas kembali.
"Suhu rupanya."
Ilmu silatnya yang demikian tinggi, tidak usah diragukan lagi, pasti hasil didikan manusia berpakaian hitam ini. Sekarang manusia berpakaian hitam itu sedang memandangnya lekat-lekat.
"Apakah kau lelah sekali?"
Suaranya tidak berbeda dengan gerakan tubuhnya, seakan bukan suatu yang nyata.
"Tidak ... aku tidak lelah,"
Sahut Wan Fei-yang sambil menggelengkan kepalanya.
"Dari jauh aku sudah mendengar suara napasmu. Lagi pula seandainya kau tidak lelah, mengapa sampai aku berada sedemikian dekat, kau masih tidak menyadari?"
Wan Fei-yang tidak tahu bagaimana harus menyahut.
"Seandainya yang datang tadi adalah musuhmu, maka biarpun kau mempunyai sepuluh lembar nyawa, semuanya tentu sudah melayang saat ini,"
Kata manusia berpakaian 104 hitam selanjutnya. Meskipun kata-kata yang diucapkannya seperti sedang menggurui Wan Fei-yang, namun nada suaranya tetap datar dan tidak mengesankan apa-apa.
"Aku …."
Untuk sesaat Wan Fei-yang menjadi gugup. Manusia berpakaian hitam itu mengerling ke arah Wan Fei-yang sekilas.
"Apakah kau menerima hinaan lagi?"
"Siapa lagi kalau bukan para murid Bu-tong-pai.
"Mereka selalu menganggap aku sebagai semacam permainan yang menyenangkan,"
Kata Wan Fei-yang. Hawa amarahnya mulai meluap.
"Pada suatu hari nanti, aku akan menunjukkan kelihaianku."
Manusia berpakaian hitam itu tidak menunjukkan reaksi apa-apa.
"Aku benar-benar tidak mengerti!"
Wan Fei-yang makin kesal mengingat semua yang dialaminya.
"Apa maksud tua bangka Ci Siong itu sebetulnya? Mengapa dia tidak bersedia menerima aku sebagai murid?"
Manusia berpakaian hitam itu hanya memandanginya tanpa mengucapkan apa-apa.
"Dia tahu aku selalu dihina, tapi dia tidak pernah menanggapi persoalan ini!"
Gerutu Wan Fei-yang kembali.
"Mungkin dia masih belum tahu,"
Akhirnya manusia berpakaian hitam itu mengeluarkan pendapatnya. 105
"Huh! Tidak menerima ya sudah ... lagi pula kalau dilihat dari ilmu yang dikuasai oleh para murid Bu-tong, tampaknya tidak ada yang perlu dibanggakan. Pokoknya biasa-biasa saja. Begitu aku mengerahkan sedikit tenaga, mereka bakal terjatuh pontang-panting...!"
Berkata sampai di situ, Wan Fei-yang baru merasa dia sudah kelepasan. Kata-katanya terhenti, dengan pandangan takut-takut dia menatap manusia berpakaian hitam itu.
"Aku hanya ingin melepaskan diri dari cengkeraman mereka, tidak satu jurus pun yang aku perlihatkan,"
Wan Fei-yang menjelaskan.
"Aku hanya berharap kau akan memenuhi syarat yang aku ajukan. Sebelum berhasil mempelajari ilmu Bu-tong-pai, kau sama sekali tidak boleh menunjukkan bahwa kau mengerti ilmu silat,"
Kata manusia berpakaian hitam.
"Tecu selalu mengingatnya setiap saat,"
Walaupun bibirnya berkata demikian, namun hatinya tercekat. Kalau saja Wan-ji tidak datang pada saat yang tepat, dia pasti tidak dapat menahan diri lagi dan bocorlah rahasianya selama ini.
"Tidak mengerti ilmu silat lalu berpura-pura seakan mengerti sudah merupakan hal yang sulit, tapi mengerti ilmu silat lalu berpura-pura tidak mengerti sama sekali lebih sulit lagi,"
Kata manusia berpakaian hitam dengan suara datar.
"Tapi kau sudah berjanji kepadaku, aku harap kau akan mematuhinya."
"Beberapa kali hampir saja aku tidak dapat menahan diri. Rasanya ingin aku meninju mereka sampai babak belur. Justru karena mengingat perjanjian antara aku dengan Suhu maka terpaksa aku menahan sekuatnya dan menelan semua hinaan itu,"
Kata Wan Fei-yang. 106
"Seandainya rahasiamu sampai bocor oada saat kau belum sempat mempelajari ilmu Bu-tong-pai, mereka pasti akan menanyaimu panjang lebar. Dari mana kau bisa memperoleh ilmu silat setinggi itu. Seringan-ringannya kau diusir dari Bu-tong-pai, seberat-beratnya mereka akan memutuskan urat nadimu dan kau akan menjadi orang cacat untuk selamanya."
Mimik wajah Wan Fei-yang berubah hebat.
"Kau tentu tahu bahwa aku bukan menakut-nakuti dirimu,"
Lanjut manusia berpakaian hitam itu. Wan Fei-yang hanya dapat menganggukkan kepalanya.
"Dengan berdasarkan ilmu yang kau miliki saat ini, untuk melarikan diri saja dari Bu-tong-pai, tentu tidak jadi masalah. Hanya saja kau jangan berharap mendapatkan sejurus saja ilmu silat dariku untuk selamanya,"
Kata manusia berpakaian hitam.
Dia mendongakkan wajahnya dan menarik napas dalam-dalam.
Wan Fei-yang menjatuhkan diri berlutut di tanah.
Matanya menyorotkan kesedihan.
Namun dia tidak berani mengatakan apa-apa.
"Apakah kau masih merasa lelah?"
Tanya manusia berpakaian hitam itu.
"Tidak ...."
Wan Fei-yang meloncat bangun dan berjungkir balik dua kali di udara.
"Bagus sekali!"
Kata manusia berpakaian hitam. Tubuhnya 107 berkelebat ke arah hutan dan sekejap saja dia sudah kembali lagi. Dia membawa setangkup kayu bakar juga sebuah pentungan.
"Sambut!"
Teriaknya nyaring.
Dia melemparkan pentungan itu kepada Wan Fei-yang.
Dalam waktu yang bersamaan, dia mengeluarkan sebuah korek api dari balik pakaiannya.
Secepat kilat dia menyatakan kayu bakar yang diambilnya tadi dan dilemparkan ke arah Wan Fei-yang satu per satu.
Nyala api berpijaran seketika.
Wan Fei-yang kelabakan.
Dia tidak bersiap-siap sama sekali.
Tapi dia mengerti, Suhunya memang sengaja.
Dengan demikian dia dapat meningkatkan kewaspadaannya apabila diserang secara tiba-tiba oleh pihak musuh.
Dengan cepat dia menenangkan hatinya dan memukul kayu-kayu bakar yang sedang mengarah kepadanya.
Bukan sembarang memukul.
Dia harus menunggu sampai setiap batang kayu bakar itu hampir mencapai tanah baru memukulnya agar terpental kembali di udara.
Bayangan tubuh Wan Fei-yang diselimuti cahaya api yang menyala.
Gerakannya begitu cepat sehingga susah ditangkap mata biasa.
Tampaknya apa yang dilakukan Wan Fei-yang sangat sederhana.
Tapi bagi orang biasa hanya melihat cahaya api yang memenuhi udara saja sudah merasa kepalanya tujuh keliling, apa lagi menunggu kayu bakar itu hampir mencapai tanah baru memukulnya agar terpental kembali.
Bukan saja memerlukan ketajaman mata untuk melakukannya, tapi gerakan juga harus gesit dan tidak boleh lambat sama sekali, 108 Meskipun Wan Fei-yang sanggup melakukannya, namun tampaknya dia agak kewalahan juga.
Perlahan gerakannya mulai kacau.
Sebatang kayu bakar hampir mencapai tanah, tergesa-gesa Wan Fei-yang mengejarnya.
Tapi baru saja dia mengulurkan pentungan untuk memukul kayu bakar tersebut, kayu bakar lainnya sudah menyusul tiba.
Sebatang kayu bakar pertama jatuh ke tanah.
Disusul yang lain.
Tiga batang sudah.
Siapa nyana gerakannya makin kacau dan pikirannya makin tidak terpusat, maka konsentrasinya semakin buyar dan semakin banyak kayu bakar yang luput dari sasaran.
Manusia berpakaian hitam itu menarik napas panjang.
Tubuhnya berkelebat.
Empat puluh sembilan batang kayu bakar sudah berada di pelukannya kembali.
Semua api yang tadi masih menyala sudah padam seketika.
Dapat dibayangkan tingginya ilmu yang dikuasai orang itu.
Dia mengambil pentungan dari tangan Wan Fei-yang dan menyalakan kembali kayu-kayu bakar tadi.
Tangannya bergerak cepat.
Satu batang dinyalakan, pentungan pun segera menyambut.
Sampai semua kayu bakar sudah menyala dan melayang di angkasa, gerakannya semakin cepat dan setiap kayu bakar yang kena pukulannya jatuh di tengah tanah kosong dan membentuk barisan yang rapi.
Wan Fei-yang memandang dengan terkesima.
Beberapa tahun belakangan ini, setiap kentungan kedua tiap malam, dia selalu datang ke tempat ini dan berlatih dengan giat.
Dia tidak peduli meskipun hujan lebat atau angin kencang.
Manusia berpakaian hitam itu kadang-kadang muncul, kadang-kadang tidak.
Dia selalu mengenakan sehelai kain penutup muka.
Sampai sekarang Wan Fei-yang sama sekali belum pernah melihat wajahnya.
109 Dia memang tidak tahu bagaimana bentuk wajah manusia berpakaian hitam itu.
Dia juga tidak tahu asal-usulnya dan tidak tahu mengapa dia bersedia mengajarkan ilmu silat kepadanya Namun dia tahu bahwa manusia berpakaian hitam itu mengajarkan segenap ilmunya dengan sepenuh hati dan sungguh-sungguh.
Waktu pada malam hari singkat sekali.
Penderitaan Wan Fei-yang dapat dibayangkan.
Namun dia menahan semua penderitaan itu.
Tujuannya naik ke Bu-tong-san adalah untuk mempelajari ilmu silat yang tinggi, agar suatu hari nanti dia mendapat nama di dunia kangouw.
Tapi karena asal-usulnya, dia tidak pernah mendapat kesempatan dan selalu menjadi bawahan.
Selamna beberapa tahun terakhir ini, dia tidak pernah diajarkan setengah jurus pun ilmu Bu-tong-pai, malah dia bertemu dengan manusia berpakaian hitam yang mengajarkannya bermacam-macam ilmu.
Namun sampai sekarang dia tidak tahu aliran perguruan mana ilmu yang dipelajarinya selama ini.
Manusia berpakaian hitam itu juga tidak pernah menjelaskannya.
Oleh karena itu, Wan Fei-yang selalu mempunyai pikiran, meskipun ilmu silat manusia berpakaian hitam itu sangat tinggi, tapi belum tentu dari aliran lurus.
Oleh sebab itu juga, sampai sekarang dia masih menaruh harapan besar untuk mempelajari ilmu Bu-tong-pai.
Nama Bu-tong-pai sudah menggetarkan dunia kangouw.
Bu-tong-san sendiri terkenal sebagai tempat yang suci dan penuh wibawa.
Tidak sembarang orang berani naik ke atas Bu-tong-110 san tanpa seizin Ciangbunjinnya.
Perguruan tersebut termasuk di antara sembilan partai besar di dunia kangouw.
Sejarahnya sudah ratusan tahun.
Nama mereka tidak kalah dengan Siau-lim-pai.
Apa lagi sekarang Siau-lim-pai sedang mengalami masa suram, maka Bu-tong-pai menjadi lebih menonjol dibandingkan delapan partai lainnya.
Itulah sebabnya Bu-ti-bun selalu mengincar Bu-tong-pai sebagai sasaran pertamanya.
Tapi, siapa yang menyangka bahwa di Bu-tong-san yang terkenal angker dan disegani ternyata bersembunyi seorang manusia berpakaian hitam yang ilmunya demikian tinggi?
***** Gerakan manusia berpakaian hitam itu sudah berhenti.
Dia berdiri dengan tenang dan memandang Wan Fei-yang dengan sorot matanya yang tajam.
Anak muda itu tidak tahu harus berbuat apa.
Dia mengakui bahwa dirinya belum sanggup melakukan seperti apa yang ditunjukkan suhunya tadi.
Manusia berpakaian hitam itu membuang pentungannya ke atas tanah.
Matanya masih memandang Wan Fei-yang lekat-lekat.
"Ilmu apa pun yang kau pelajari, tetap harus dengan latihan keras baru bisa berhasil. Perhatianmu sama sekali tidak boleh berpencar. Terutama pikiranmu,"
Katanya. Wan Fei-yang menundukkan kepalanya. Dia diam seribu bahasa.
"Ikut aku!"
Ajak manusia berpakaian hitam tersebut.
Dia 111 membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah hutan tadi.
Wan Fei-yang terpaksa mengikuti dari belakang.
Setelah melewati hutan tersebut.
Mereka sampai di sebuah air terjun yang deras.
Percikan air yang disinari cahaya rembulan membuat butiran-butiran seperti permata yang berkilauan.
Di bawah air terjun ada sebuah batu besar yang licin karena diterpa air yang deras sepanjang jaman.
Batu itu kokoh dan bagai tertanam mati di sana.
Manusia berpakaian hitam itu menunjuk ke arah batu besar tersebut.
"Duduk di sana!"
Katanya. Wan Fei-yang melongo mendengar perintah manusia berpakaian hitam itu.
"Duduk di atas batu itu!"
Perintahnya sekali lagi. Wan Fei-yang tertawa getir.
"Apakah aku harus seperti batu itu yang dapat menahan terjangan air terjun yang deras?"
Tanyanya.
"Memang demikian maksudku. Kau harus berlatih sampai sekokoh batu itu. Sama sekali bergeming oleh terjangan air terjun yang deras,"
Sahut gurunya.
Wan Fei-yang terpaksa menguatkan hatinya dan berjalan ke arah air terjun.
Suara air yang jatuh dari atas bergemuruh.
Apa lagi di malam yang sunyi dan mencekam seperti itu.
Begitu mendekat, suara gemuruh itu memekakkan telinga seketika.
Wan Fei-yang maju lagi beberapa langkah.
Telinganya tidak mendengar apa-apa lagi selain gemuruh air yang jatuh.
Ketika 112 air terjun yang deras itu menerpa kepalanya, dia merasa matanya berkunang-kunang dan hampir saja jatuh tidak sadarkan diri.
Tapi dia memang tidak pingsan.
Kakinya perlahan menginjak ke atas batu tersebut.
Namun baru saja dia berusaha naik ke atasnya, tubuhnya terempas kembali oleh terjangan air yang deras.
Batu itu telah diterpa air sepanjang jaman.
Licinnya jangan dikatakan lagi.
Di bawahnya terdapat sebuah sungai yang menampung jatuhnya air dari atas.
Sejenak kemudian Wan Fei-yang bangkit kembali.
Dia terpaksa muncul tenggelam beberapa kali sebelum berhasil.
Namun dia sempat meneguk air beberapa kali.
Sinar mata manusia berpakaian hitam itu semakin dingin.
"Naik lagi!"
Katanya sinis. Wan Fei-yang menggertakkan giginya. Sekali lagi dia berusaha naik ke atas batu tersebut, namun terempas kembali oleh terjangan air terjun.
"Pusatkan perhatian. Kumpulkan hawa murni di perut. Alirkan tenaga sinkang ke arah telapak tangan lalu naik ke atas batu itu,"
Kata manusia berpakaian hitam memberi petunjuk.
Meskipun air terjun itu menerbitkan suara yang bergemuruh, namun kata-kata manusia berpakaian hitam tersebut dapat ditangkap jelas oleh telinga Wan Fei-yang.
Dia mendengarkan dengan seksama.
Otaknya berputar cepat menyimak arti ucapan itu.
Masih ada sedikit yang tidak dimengertinya.
Baru saja dia ingin bertanya, tubuh manusia berpakaian hitam itu 113 sudah bergerak.
Dalam waktu singkat bayangannya sudah menghilang dari pandangan mata.
Wan Fei-yang termangu-mangu memandang kepergian suhunya.
Setelah sekian lama, akhirnya dia tersadar.
Dia menyelamkan seluruh tubuh dan kepalanya ke dalam air.
Ketika muncul kembali, tampangnya menjadi serius.
Dia berenang kembali mendekati batu besar tadi.
Kali ini dia tidak tergesa-gesa.
Bahkan dia sangat tenang.
Perhatiannya dipusatkan.
Hawa murni dikumpulkan di daerah pusar.
Tenaga sinkang dialirkan pada kedua telapak tangan.
Sekali menyentak, dia naik ke atas batu itu.
Tubuhnya sempat terhuyung-huyung namun tidak terempas kembali seperti tadi.
Kedua telapak kakinya diberatkan memasang kuda-kuda lalu duduk bersila.
Wan Fei-yang mendapatkan keajaiban.
Dia berhasil duduk di atas batu itu.
***** Beberapa hari telah berlalu.
Lonceng di Bu-tong-san berbunyi.
Suaranya saling susul-menyusul.
Getarannya berkumandang ke mana-mana.
Kabut yang menutupi kuil-kuil di gunung itu bagai buyar seketika olehnya.
Dengan di ringi oleh bunyi lonceng yang tidak putus-putus itu, Ci Siong tojin duduk d tengah pendopo dengan sebuah mahkota berbentuk topi emas di kepalanya.
Sejak Tio Sam-hong mendirikan Bu-tong-pai, peraturan untuk mengadakan upacara sembahyang seperti itu sudah ada.
114 Ci Siong tojin menyembah satu kali.
Setelah itu dia menyembah lagi sebanyak tiga kali lalu bangkit kembali.
Seorang Hu-hoat yang berada di sebelah kiri mengeluarkan sebatang pedang pusaka ke hadapan Ciangbunjin tersebut.
Seorang Hu-hoat-tianglo yang ada di sebelah kanan mengasongkan sebuah baki dalam waktu yang bersamaan.
Di atasnya terdapat cap bertuliskan kuning keemasan dan sepasang gelang emas.
Di samping pendopo tersebut ada sebuah kolam air yang jernih.
Bau hio wangi memenuhi ruangan tersebut.
Ci Siong tojin menepuk sepasang tangannya pada pakaiannya agar sisa debu hio yang digenggamnya tadi hilang.
Dia menerima pedang pusaka itu dengan penuh hormat.
Upacara itu sederhana namun khidmat.
Setelah menerima pedang pusaka tersebut, Ci Siong tojin mengambil cap yang diasongkan tadi dan dia mencap sehelai kertas yang berisikan semacam pemberitahuan bahwa dia mengangkat Pek Ciok sebagai penggantinya untuk sementara.
Sedangkan sepasang gelang emas itu dimasukannya ke dalam saku pakaian.
Akhirnya dia melangkah keluar dari ruangan pendopo tersebut.
Semua anak murid Bu-tong-pai berkumpul di pendopo.
Mereka memencarkan diri menjadi dua bagian.
Tidak terlihat kecemasan yang terpancar di wajah mereka.
Ci Siong tojin duduk di atas sebuah kursi batu di luar pendopo.
Dua orang tosu setengah baya berdiri di kedua sisinya.
Mereka adalah murid-murid pendahulu Ci Siong tojin.
Yang satunya bernama Bok Ciok, sedangkan saudaranya bergelar Ti Ciok.
Mereka juga yang akan mengiringi kepergian Ci Siong tojin dan bertugas melayani sepanjang jalan.
115 Bok Ciok menyandang sebuah bungkusan di bahunya.
Ci Siong tojin memang tidak mau membawa orang banyak.
Dia merasa kedua orang ini saja sudah cukup.
Lonceng masih berbunyi, ketiga orang itu melewati barisan para murid Bu tong.
Wajah mereka tenang sekali.
Angin bertiup perlahan, membawa kesejukan yang menggigil.
***** Wan Fei-yang tidak ikut meramaikan suasana di pendopo itu.
Ketika lonceng berbunyi, dia sudah menyibukkan diri di kandang babi.
Dari bukit di mana dia bekerja, dia dapat melihat batu-batu tangga yang menuruni bawah gunung.
Dia juga melihat ketika Ci Siong dan kedua muridnya meninggalkan Bu-tong-san.
Angin mulai kencang.
Rambutnya awut-awutan.
Wan Fei-yang memanjangkan lehernya memandang ke bawah.
Dalam hatinya diam-diam dia berdoa.
Biarpun selama ini Ci Siong tojin selalu membuat hatinya sedih, namun pada saat seperti ini dia masih mendoakan keselamatan orang tua itu.
Dia sendiri merasa heran.
Tak perlu diragukan lagi, sebetulnya dia memang orang yang baik hati.
***** Para murid Bu-tong-pai berkumpul di kaki gunung untuk 116 mengantarkan kepergian Ci Siong tojin.
Kuda-kuda sudah disiapkan.
Ketika orang itu naik ke atas kuda dan memulai perjalanan.
Pagi sudah merayap sedikit demi sedikit, tapi tidak terlihat matahari bersinar.
Awan kelabu menutupi langit.
Apakah ini suatu pertanda buruk?
***** Senja hari.
Tembok kota sudah terlihat di kejauhan.
Ci Siong malah menghentikan kudanya di tepi jalan.
Kuda yang mereka naiki sekarang bukan kuda yang sama ketika mereka meninggalkan Bu-tong-san.
Selama tujuh belas hari perjalanan, mereka sudah tiga kali ganti tunggangan.
Bok Ciok dan Ti Ciok mengikuti Ci Siong tojin dari belakang.
Melihat Suhunya berhenti, mereka segera menghampiri.
"Suhu, kota tidak seberapa jauh lagi,"
Kelanjutan kata-kata Ti Ciok tidak sulit dimengerti.
"Kota itu sudah termasuk wilayah Bu-ti-bun Kalau kita ingin tenang, maka lebih baik tidak masuk ke kota itu,"
Sahut Ci Siong tojin. To Ciok menganggukkan kepalanya.
"Lebih baik kita menumpang satu malam di rumah penduduk 117 sini. Mungkin mereka bersedia menerima kita,"
Kata Ci Siong tojin seraya turun dari kudanya.
Baca Juga: Pedang Berkarat Pena Beraksara 7
Baca Juga: Suling Pusaka Kumala 6