Eps 2 Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying
Baca online Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying
Cersil Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying.
Bok Ciok dan Ti Ciok segera mengikuti tindakannya.
Ti Ciok mempercepat langkahnya mendahului Ci Siong tojin.
Dia mengulurkan tangan dan mengetuk sebuah rumah penduduk yang terdapat di samping jalanan itu.
Tidak lama kemudian pintu rumah tersebut dibuka.
Dari dalam muncul seorang nenek tua.
Begitu tuanya sehingga giginya hanya tinggal dua saja.
Wajahnya lembut, senyumannya juga ramah.
Dia agak tertegun melihat kehadiran ketiga orang itu.
"Totiang bertiga ...."
Ci Siong tojin merangkapkan sepasang telapak tangannya dan menyebut nama Budha.
"Lo-jin-ke (orang tua), Pinto bertiga ingin menumpang satu malam. Apakah kedatangan kami ini mengganggu?"
"Totiang terlalu banyak peradatan, Lo-pocu (nenek tua) tidak berani menerimanya. Mari masuk,"
Ajaknya sambil melebarkan pintu rumah dan mempersilakan ketiga orang itu masuk.
"Hanya kami sepasang suami istri tua yang tinggal di sini. Sama sekali tidak merasa terganggu oleh kehadiran para totiang."
"Kalau demikian, kami terpaksa merepotkan,"
Sahut Ci Siong tojin sambil tersenyum lebar.
"Jangan sungkan,"
Nenek tua itu melangkah ke arah kamar tidur di sebelah kanan.
"Harap para totiang duduk di ruang 118 tamu. Aku akan menyuruh Tang-ke (panggilan untuk suami) menyiapkan sedikit hidangan."
Dia merandek sejenak.
"Kuda para totiang biar ditambatkan dekat sumur saja."
Ci Siong menolehkan kepalanya kepada Bok Ciok dan Ti Ciok.
"Ti Ciok, kau jaga kuda-kuda. Bok Ciok, coba kau lihat apa yang dapat kau lakukan untuk membantu lo-jin-ke tersebut,"
Katanya memerintahkan.
Ti Ciok dan Bok Ciok mengiakan.
Ti Ciok segera keluar rumah menuju sumur tua.
Sedangkan Bok Ciok langsung masuk ke dalam dapur.
Sumur tua terdapat di halaman rumah.
Dapur terletak di sebelah kiri.
Apabila membelok ke kanan, maka di sana terdapat sebuah ruang duduk.
Di kiri kanannya masing-masing terdapat sebuah kamar.
Kamar-kamar semacam itu memang biasanya disewakan untuk pelancong-pelancong yang kemalaman.
***** Di dalam kamar sebelah kiri, seorang kakek baru beranjak dari tempat tidurnya.
Melihat wajah sang nenek yang berseri-seri, dia merasa heran.
"Siapa yang datang?"
Tanyanya ingin tahu.
"Tiga orang totiang yang sedang mengadakan perjalanan,"
Sahut istrinya. 119
"Orang asing?"
Tanya kakek itu kembali.
"Aku belum pernah melihat mereka."
"Lebih baik kita laporkan saja. Beberapa waktu yang lalu, utusan Bu-ti-bun sudah menurunkan perintah. Kalau melihat orang asing, kita harus melapor ke kantor pusat,"
Kata kakek tersebut.
"Sudahlah ... kau tua bangka ini .... Buat apa mondar-mandir? Mereka hanya tiga orang totiang yang, mengadakan perjalanan, sama sekali tidak tampak seperti orang dunia kangouw lainnya. Lebih baik hemat sedikit tenagamu itu. Layani para tamu .... Sarang kita ini sudah lama tidak kedatangan tamu,"
Sahut nenek itu mengomel. Kakek tua itu tersenyum lebar.
"Siapa tahu ketiga totiang itu bisa melihat nasib. Mungkin mereka bisa mengatakan kapan kita akan mendapat rezeki besar,"
Sahutnya.
"Otakmu selalu memikirkan bagaimana caranya untuk kaya. Bagi orang seusiamu, kesempatan untuk mendapatkan rezeki besar sudah hampir tidak ada. Jangan berpikir yang bukan-bukan lagi. Cepat bereskan kamar sebelah sana,"
Kata istrinya.
"Baiklah...."
Suara pembicaraan mereka tidak terlalu keras, tapi Bok Ciok yang berada di luar kamar dapat mendengarnya dengan jelas. Dia segera kembali ke Ci Siong tojin.
"Suhu, orang-orang di rumah ini merupakan kaki tangan Bu-ti-bun, katanya melaporkan.
"Mengapa heran?"
Sahut Ci Siong tojin sambil membentangkan kedua tangannya.
"Malam ini kita pasti tidak bisa tidur tenang."
Bok Ciok tertegun mendengar perkataan orang tua itu.
"Tecu yakin mereka tidak akan melaporkannya."
"Sayangnya, kita sudah berada di bawah pengawasan orang Bu-ti-bun,"
Kata Ci Siong tojin sambil menarik napas sekali lagi. Bok Ciok masih tidak mengerti. Ci Siong menolehkan kepalanya ke arah pintu depan. Tiba-tiba dari luar terdengar tiga kali ketukan.
"Ti Ciok ... buka pintu!"
Perintah Ci Siong tojin. ***** Pintu segera dibuka, empat orang laki-laki berpakaian merah berdiri di depan pintu. Ketika melihat Ti Ciok, mereka langsung mengajukan pertanyaan.
"Apakah Ci Siong tojin ada di tempat?"
"Pinto ada di sini,"
Sahut Ci Siong tojin sambil melangkah keluar.
121 Kedua suami istri tua itu mendengar suara percakapan.
Mereka segera ikut keluar.
Melihat kehadiran keempat orang laki-laki berpakaian merah tersebut, wajah mereka berubah hebat.
Ci Siong tojin menoleh kepada kedua orang itu.
"Pinto sungguh menyesal telah mengejutkan kedua orang tua,"
Katanya. Kakek dan nenek itu tidak bisa mengatakan apa-apa.
"Tamu agung telah datang dari jauh, maafkan kami terlambat menyambut. Harap jangan disimpan dalam hati,"
Kata salah seorang laki-laki berpakaian merah tersebut.
"Tidak perlu banyak adat,"
Sahut Ci Siong tojin sambil tampil ke depan. Bok Ciok dan Ti Ciok mengawal di kedua sisinya.
"Kota Cui Hun Ceng di depan sana memiliki sebuah penginapan bernama Go Hok Kek-can. Kami sudah menyiapkan berbagai hidangan yang lezat untuk para totiang. Kami juga sudah menyediakan tiga buah kamar. Anggota Bu-ti-bun cabang Cui Hun Ceng berjumlah seratus tujuh puluh dua orang sudah berkumpul di depan kota menyambut kedatangan para totiang,"
Kata laki-laki berpakaian merah yang tadi. Ci Siong tojin tertawa datar.
"Pinto bertiga tentu tidak enak membiarkan mereka menunggu begitu lama. Ti Ciok, siapkan semuanya."
Ti Ciok mengiakan.
Dia segera menarik kuda-kuda mereka ke depan rumah.
Keempat laki-laki berpakaian merah juga 122 menunggangi kuda masing-masing.
Dua orang berada di depan sebagai penunjuk jalan.
Malam sudah menjelang.
***** Belum lagi memasuki kota, lampu-lampu sudah terlihat.
Dua baris lentera di sepanjang jalan terlihat seperti dua ekor ular panjang.
Malam semakin larut, lentera semakin terang.
Barisan lentera memanjang dari tembok kota sampai penginapan Go Hok Kek-can.
Seratus tujuh puluh dua anggota Bu-ti-bun berdiri memanjang di kiri kanan jalan.
Di pinggang mereka terselip sebatang golok baja.
Tangan kanan memegang sebuah lentera.
Dada mereka dibusungkan.
Berdiri tegak tanpa bergerak ataupun berbicara.
Di bawah sinar rembulan pakaian mereka yang berwarna merah seperti segumpal darah.
Mata mereka pun ikut berwarna merah karena pantulan sinar lentera.
Bumi dan langit mencekam, jalan panjang membisu.
"Suhu ... lihat!"
Kata Ti Ciok sambil menunjuk ke arah barisan orang-orang yang membawa lentera.
"Sungguh besar lagak Bu-ti-bun, semua kegagahan yang ditampilkan ini sudah pasti memang sengaja dipamerkan kepada Bu-tong-pai!"
Tukas Bok Ciok.
"Suatu hari apabila Bu-ti mengunjungi Bu-tong, kita harus tunjukkan penyambutan yang lebih meriah. Biar mereka mengerti bahwa Bu-tong-pai selamanya tidak kalah dengan Bu-ti-bun,"
Sahut Ti Ciok. 123 Ci Siong tojin hanya tertawa datar mendengar perkataan kedua muridnya. ***** Mereka melintasi jalan panjang. Derap kaki kuda yang berbunyi "Tik tak, tik tak"
Memecahkan kesunyian malam.
"Trang!" , seratus tujuh puluh dua anggota Bu-ti-bun menghunus golok mereka serentak. Mulut mereka mengeluarkan suara teriakan nyaring. Sinar golok seperti salju. Pakaian mereka yang merah ibarat lempengan besi. Suara teriakan mereka seperti guntur yang menggelegar memecah angkasa. Sinar lentera bergerak-gerak. Untuk sesaat suasana bagaikan langit runtuh ke bumi. Wajah Bok Ciok dan Ti Ciok berubah hebat. Sedangkan Ci Siong tojin tenang saja. Seakan tidak ada apa-apa sama sekali. Golok terhunus, sekali diputarkan kemudian masuk kembali ke dalam sarungnya. Gerakan dan teriakan mereka sangat teratur. Pasti sudah melalui latihan yang cukup lama. Apakah ini termasuk acara penyambutan atau hanya sekadar memamerkan kekuatan? Tentu hanya orang Bu-ti-bun sendiri yang paling jelas. Ci Siong tojin merangkapkan sepasang telapak tangannya di depan dada.
"Bu-liang-sou-hud!"
Ujarnya.
Suaranya begitu tenang, demikian juga mimik wajahnya.
***** Malam belum terlalu larut.
Lentera masih menyala.
Kamar itu bersih sekali.
Lentera bersinar terang.
Ci Siong duduk seorang diri di sisi lentera.
Tangannya menggenggam belahan giok bergambar burung Hong.
Tentu saja burung Hong itu hanya berupa ukiran.
Tidak mungkin keluar dari belahan giok itu dan menembus langit biru.
Mata Ci Siong menatap belahan giok itu lekat-lekat.
Perasaannya malah seperti melihat burung Hong tersebut terbang di angkasa.
Mimik wajahnya aneh sekali.
Sepertinya sedang memikirkan suatu rencana.
Entah berapa lama sudah berlalu.
Akhirnya dia berdiri dan berjalan menuju jendela.
Tirai jendela setengah terangkat.
Dia dapat melihat jalanan di bawah jendela tersebut.
Beberapa anak murid Bu-ti-bun mondar-mandir di bawah.
Mereka mungkin diperintahkan untuk menjaga ketat.
Kemunculan Ci Siong tojin di depan jendela segera menarik perhatian mereka.
Para penjaga itu mendongakkan wajahnya serentak dan memandang ke arahnya.
Ci Siong tojin menurunkan tirai jendela.
Dia berjalan kembali ke sisi meja dan memadamkan lentera.
Kemudian tubuhnya berkelebat dan menyelinap ke tepi jendela satunya.
125 Di luar jendela yang satu ini adalah taman belakang penginapan.
Di sana juga terdapat murid-murid Bu-ti-bun yang sedang berjaga.
Ci Siong tojin memperhitungkan jarak yang akan diambilnya.
Tubuhnya melesat seperti segumpal asap melintasi taman belakang tersebut.
Dia hinggap di atas sebatang pohon kui yang merapat di dinding.
Tidak ada seorang pun yang tahu perbuatannya itu.
Bunga-bunga yang bermekaran membawa keharuman semerbak.
Sekali lagi Ci Siong tojin melesat.
Gerakan tubuhnya membuyarkan keharuman bunga di kegelapan malam.
***** Malam semakin larut.
Rembulan masih memancar dengan bangga.
Sinarnya seperti air yang mengalir.
Kesejukan yang dibawanya juga ibarat malam di mana musim salju hampir tiba.
Gerakan tubuh Ci Siong semakin cepat.
Tanpa menimbulkan suara sedikit pun dia mendarat di dinding seberang yang tinggi.
Tembok itu hampir mencapai empat cang.
Di bawah sinar rembulan malah tampak hampir mencapai langit.
Ci Siong tojin menarik napas dalam-dalam.
Tubuhnya melesat seringan kapas.
Meskipun ginkangnya sangat tinggi, namun mustahil mencapai dinding tersebut dengan satu kali loncatan.
Sekali menutul dia sudah meloncat setinggi tiga cang.
Sebelum berat tubuh membawanya turun kembali, kakinya 126 cepat menapak tembok dan mencelat lagi ke atasnya.
Dengan demikian dia berhasil mencapai tembok atas dinding tersebut.
Ilmu yang digunakannya merupakan salah satu dari pusaka Bu-tong-pai yaitu Te-hun-cong (mendaki tangga awan).
***** Di balik tembok tersebut ditanam banyak pohon dan bunga-bunga.
Pemandangannya sangat indah.
Di sudut sebelah kiri ada sebuah kolam yang jernih.
Air dalam kolam itu datar bagai cermin.
Halaman di sekitar sunyi mencekam.
Di samping kolam terdapat sebuah bangunan dua tingkat.
Di lantai atas terlihat penerangan masih menyala.
Kertas jendela memperlihatkan bayangan karena pancaran sinar lentera.
Terlihat bayangan seorang wanita yang sedang termenung.
Wanita itu berambut panjang dan mengenakan pakaian suatu daerah tertentu yang bagian bahunya terbuka.
Bayangan wanita itu terpantul dari kertas jendela bagaikan sebuah lukisan.
Kertas jendela seputih salju.
Bayangan hitam menyendiri.
Pemandangan itu membawa keindahan tersendiri.
Indah tapi mengenaskan.
***** Setelah berhasil naik ke atas dinding tinggi itu, Ci Siong tojin langsung dapat melihat bayangan wanita yang indah dan tampak kesepian itu.
Dia seperti ikut merasakan kesepian hati 127 wanita tersebut.
Tiba-tiba dia menarik napas panjang.
Sambil menarik napas, tubuhnya berkelebat mendekati tepi jendela itu.
Cahaya rembulan menyinari bayangan tubuhnya yang laksana kelelawar terbang melintasi malam.
Wanita di dalam loteng itu masih tidak menyadari kehadirannya.
Bayangan itu sama sekali bergeming dari tempatnya.
Ci Siong tojin mengeluarkan dua buah uang logam dari balik pakaiannya.
Matanya menatap bayangan yang terpantul dari jendela tersebut lekat-lekat.
Tanpa sadar sepasang tangannya gemetar.
Apa gerangan yang membuat tokoh besar itu demikian gugup?
***** Akhirnya Ci Siong tojin berhasil mengendalikan perasaannya.
Tangannya tidak gemetar lagi.
Dia melemparkan uang koin itu di angkasa dan keduanya saling berbenturan dan menimbulkan bunyi "ting!".
Bayangan di jendela itu bergerak mundur kemudian maju kembali dan mengangkat tangannya sejenak.
Ci Siong memperhatikan semua gerak-gerik wanita itu.
Perasaannya agak tergugah.
Sebuah suara yang lembut terpancar dari balik jendela tersebut.
"Kau sudah datang?"
"Betul, aku sudah datang,"
Sahut Ci Siong tojin kemudian menarik napas sekali lagi. 128
"Aku mengira kau sudah melupakan tempat ini,"
Kata wanita tersebut.
"Mana mungkin?"
"Tapi, sampai malam ini kau baru datang kembali."
"Aku yakin kau tahu alasannya."
"Aku justru terlalu mengerti,"
Kemudian terdengar suara tawa yang dingin dan datar. Ci Siong tojin menundukkan kepalanya. Sulit menjelaskan perasaannya saat itu.
"Aku tahu ... selama ini aku terlalu banyak salah padamu,"
Katanya.
"Apakah kedatanganmu malam ini hanya untuk mengucapkan kata-kata ini?"
Tanya wanita itu sendu. Ci Siong tojin tidak menyahut.
"Banyak hal yang aku ketahui,"
Kata wanita itu melanjutkan. Dia kembali menarik napas panjang.
"Setelah tanggal sembilan bulan sembilan, pasti ada sesuatu keputusan."
"Berapa bagian keyakinan yang kau miliki?"
Tanya wanita itu.
"Sepuluh bagian,"
Sahut Ci Siong tojin dengan penuh keyakinan. 129
"Lalu bagaimana?"
Tanya wanita itu kembali.
"Apakah kau akan meninggalkan Bu-tong-pai dan melepaskan jabatanmu sebagai Ciangbunjin partai itu?"
"Aku memang berniat melepaskannya,"
Sahut Ci Siong tojin sambil menganggukkan kepalanya.
"Lalu?"
"Aku tidak pernah lupa apa yang pernah kujanjikan kepadamu."
"Benarkah kau tidak pernah melupakannya?"
"Setiap saat selalu teringat dalam hati."
Tiba-tiba wanita itu tertawa terbahak-bahak. Suara tawa itu sungguh mengenaskan. Ci Siong tojin termangu-mangu menatap bayangannya.
"Sayang sekali ...."
Suara tawa itu terhenti seketika.
"Apanya yang harus disayangkan?"
"Masih ada satu hal yang kau lupakan,"
Kata wanita itu.
"Apa?"
"Kau lupa sudah berapa tahun aku menunggumu."
Sekali lagi Ci Siong tojin tertegun.
"Sudahlah,"
Wanita itu kembali menarik napas dalam-dalam. 130
"Aku toh sudah bersiap melupakan segalanya."
"Kau …."
"Kita sudah sama-sama tua. Buat apa kita demikian serius?"
Ci Siong tojin langsung terdiam mendengar ucapan itu.
"Meskipun kau mengatakan bahwa keyakinanmu sampai mencapai sepuluh bagian, sebetulnya dalam pertarungan ini kau sendiri belum seyakin itu."
Mata Ci Siong tojin bersinar tajam.
"Bagaimana kau dapat berkata begitu?"
"Kalau kau memang pasti yakin akan memenangkan pertarungan, untuk apa kau datang ke sini lebih dahulu?"
Ci Siong tojin tidak sanggup menyahut.
"Biar bagaimana pun, aku tetap berharap kau dapat kembali ke Bu-tong-san dengan selamat."
"Selama beberapa tahun ini, bagaimana kehidupanmu?"
Tiba-tiba Ci Siong tojin mengajukan pertanyaan.
"Baik."
"Bolehkah aku masuk ke dalam kamarmu?"
Tanya Ci Siong tojin dengan suara lirih.
"Apakah kau mempunyai demikian banyak perkataan yang ingin kau utarakan?" 131
"Banyak sekali."
"Lebih baik tidak usah dikatakan lagi."
"Apakah ... kau benar-benar tidak ingin bertemu denganku?"
Tanya Ci Siong tojin penasaran.
"Daripada bertemu namun menyakitkan, maka lebih baik tidak."
"Mengapa tidak biarkan kita saling bertemu?"
"Mengapa tidak dibiarkan saja seperti ini?"
Ci Siong tojin terdiam.
"Kau sudah boleh pergi,"
Kata wanita itu masih dengan nada datar dan dingin.
Ci Siong tojin termenung sekian lama.
Wanita itu juga tidak mengatakan apa-apa lagi.
Bayangannya tetap bergeming.
***** Rembulan dingin membisu.
Malam mencekam semakin sunyi.
Malam semakin larut.
Rembulan mulai bergeser ke barat.
Saat menjelang fajar adalah saat paling gelap dan pekat.
Kabut mulai bertebaran di taman tersebut.
Pakaian Ci Siong tojin mulai basah oleh tetesan embun.
Dia menatap bayangan di 132 kertas jendela itu.
Meskipun banyak perkataan yang ingin diutarakan, namun tenggorokannya bagai tercekat.
"Aku akan pergi,"
Akhirnya dia hanya dapat mengucapkan sepatah kata saja.
"Sejak tadi kau memang sudah harus pergi."
"Aku yakin akan kembali secepatnya."
Wanita itu berdiam diri mendengar perkataannya.
"Bagaimana keadaan anak itu?"
Tanya Ci Siong tojin. Bayangan tubuh wanita itu bergetar. Suaranya juga agak gemetar.
"Dia bukan anak kecil lagi, tapi keadaannya baik-baik saja."
Ci Siong tojin menarik napas panjang.
"Apakah aku benar-benar tidak boleh melihatnya? "
Kau tentu tahu jelas bagaimana pendirianku selama ini."
Sekali lagi Ci Siong tojin menarik napas panjang.
Tubuhnya berkelebat melintasi kolam jernih.
Lengan bajunya berkibaran.
Bayangan di atas loteng tetap tidak bergerak.
Ci Siong tojin meloncat ke atas tembok tinggi.
Kepalanya ditolehkan.
Jendela masih tertutup rapat.
Bayangan itu masih saja terpaku di tempatnya.
Akhirnya dia tahu bahwa harapannya sudah pupus.
Suara tarikan napasnya 133 menghilang di balik tembok yang tinggi.
Tepat pada saat itu juga, seseorang muncul dari balik rumpunan bunga yang lebat di tepi kolam.
Dia adalah seorang laki-laki bertubuh tinggi besar.
Seluruh pakaiannya sudah basah kuyup oleh tetesan embun.
Dia berdiri tegak di depan rumpun bunga-bunga yang lebat dan tampaknya sudah cukup lama dia berada di tempat tersebut.
Ternyata Ci Siong tojin sama sekali tidak menyadari kehadirannya sejak tadi.
Ilmu silat yang dimiliki orang ini pasti hebat sekali.
Kesabarannya dalam menahan perasaan juga menakutkan!
***** Tanggal sembilan bulan sembilan.
Matahari belum terbit ...
Thai san tinggi menjulang ...
Tung-gi berada di sisinva ....
***** Di tengah bukit terdapat daerah yang luas.
Untuk naik ke atas bukit tersebut, paling tidak harus menaiki undakan sebanyak enam ribu tujuh ratus tangga batu.
Dari kejauhan 134 pemandangan di tempat tersebut sangat indah.
Anak tangga yang tinggi itu laksana jalan menuju surga.
Di antara awan-awan putih terlihat sebuah tembok merah.
Juga terdapat sebuah pintu besar berwarna kuning.
Itulah Lan-tian-bun (pintu langit selatan) yang sangat terkenal.
Setelah melewati pintu tersebut kita bisa melihat Giok-hong-teng, karena jaraknya sudah dekat sekali.
***** Matahari masih belum terbit.
Angin bertiup semilir.
Seluruh bukit itu diselimuti hawa dingin.
Di bawah sebatang pohon siong berdiri tegak seseorang.
Bahunya menyandang sebuah kotak persegi panjang.
Di atas bukit itu hanya ada dia seorang.
Ci Siong tojin dari Bu-tong-pai!
***** Tiba-tiba angin bertiup dengan kencang.
Lengan baju dan pakaian Ci Siong tojin berkibaran.
Jenggotnya yang panjang juga melambai-lambai.
Tampaknya sebentar lagi dia akan melayang tertiup angin, namun rupanya tidak.
Dia tetap berdiri tegak seperti sebuah arca.
Matanya yang setengah terpejam tiba-tiba terbuka.
Burung-burung beterbangan dari bawah bukit dengan keadaan panik.
Jumlahnya beribu-ribu memenuhi angkasa.
Pada saat itu, udara dingin membuyar.
Di atas sebuah batu berjarak sepuluh 135 depa dari tempatnya telah berdiri tegak seseorang.
Burung-burung masih beterbangan dengan panik.
Orang itu membalikkan tubuhnya.
Dia adalah Tok-ku Bu-ti!
***** Dua pasang mata yang bersinar tajam laksana pedang saling bertemu.
Ci Siong tojin tidak bergerak, Tok-ku Bu-ti juga berdiri bergeming.
Pada saat itu juga, mata dan tubuh kedua orang itu seakan telah membeku menjadi es batu.
Sepasang mata Ci Siong tojin dan mata Tok-ku Bu-ti tetap bersinar tajam.
Mereka tentu sedang mengukur kekuatan masing-masing melalui pandangan tersebut.
Keduanya tidak ada yang saling mengalah.
Awan bergerak di langit di bagian timur.
Segaris sinar berwarna keemasan mulai muncul.
Sinar yang indah itu perlahan berubah menjadi bulatan.
Kemudian berubah menjadi bola api.
Bulat dan merah.
Bola api itu bergerak perlahan melintasi awan putih dan bukit yang menghijau.
Bola api itu bangkit dengan kemalas-malasan.
Warnanya semakin lama semakin terang.
Merahnya seperti batu manau.
Bulatan yang belum jelas semakin kentara.
Menembusi awan putih dan meninggalkan tepian laut.
Naik ke atas langit dan memancarkan cahayanya dengan gagah.
Menikmati matahari terbit di atas Thai-san merupakan pemandangan yang demikian memikat hati.
Ci Siong tojin dan Tok-ku Bu-ti sama sekali tidak tergerak oleh keindahan tersebut.
Angin masih bertiup.
Lengan baju mereka melambai-136 lambai.
Di bawah cahaya sinar mentari, tongkat berkepala naga di tangan kiri Tok-ku Bu-ti seperti benda hidup.
Wajahnya menghadap ke timur.
Mata dan mentari sama-sama bercahaya.
Kelopak matanya bergerak sekilas.
Demikian juga ujung bibirnya.
Akhirnya dia mengucapkan sepatah kata.
"Sepuluh tahun telah berlalu ...."
"Hm ...."
Ci Siong tojin menyahut datar. Sepasang mata dan tubuhnya yang bagaikan es tadi nampaknya mulai mencair.
"Sungguh tidak disangka, sepuluh tahun kemudian, hari ini ... pendekar yang namanya masih menonjol di bu-lim masih juga kita berdua."
Tok-ku Bu-ti menarik napas panjang.
"Setelah hari ini berlalu, aku yakin diriku masih kesepian."
"Aku juga mempunyai perasaan yang sama,"
Kata Ci Siong tojin. Dia juga ikut-ikutan menarik napas panjang.
"Di tempat yang tinggi, hawa dingin selalu berkuasa. Apabila sudah mencapai taraf tertentu, aku yakin setiap manusia pasti akan merasakan hal yang sama."
"Tidak peduli bagaimana, dendam permusuhan antara Bu-ti-bun dan Bu-tong-pai, hari ini harus ada keputusannya."
Tiba-tiba Tok-ku Bu-ti mengajukan pertanyaan.
"Ci Siong, apakah urusan Bu-tong-pai telah kau selesaikan sebelum berangkat kemari."
"Belum ..."
"Tidak apa-apa. Masih ada aku yang akan mengurus segalanya." 137
"Bu-tong-pai telah berdiri sejak ratusan tahun yang lalu. Tanpa Ci Siong, partai itu tetap akan cemerlang,"
Kata-kata Ci Siong tojin masih begitu datar dan dingin.
"Berbeda dengan Bu-ti-bun. Bila Tok-ku-heng sudah tiada, mungkin perguruan kalian tidak akan bertahan lama."
Tok-ku Bu-ti tertegun sejenak. Kemudian dia tertawa terbahak-bahak.
"Bagus ... tidak disangka sepuluh tahun kita tidak berjumpa, lidah to-heng semakin tajam saja. Namun, entah bagaimana dengan ilmu silatnya?"
Penampilan Ci Siong tojin tetap sedemikian tenangnya. Apabila Tok-ku-heng memang ingin tahu, bukankah caranya mudah saja?"
Mata Tok-ku Bu-ti bersinar semakin tajam.
"Waktunya memang sudah tepat,"
Sahutnya dingin.
"Wajah Tok-ku-heng berhadapan ke timur, punggung di sebelah barat. Tepat menghadapi cahaya mentari. Lebih baik pindah ke tempat lain,"
Kata Ci Siong tojin menyarankan.
"Sekarang angin barat sedang bertiup. Wajahku menghadap ke timur. Dengan demikian aku mengikuti arah angin. Sama sekali tidak terasa dirugikan."
"Kalau kau dan aku sama-sama tidak merasa keberatan, baiklah ...."
Ci Siong tojin merandek sejenak.
"Silakan!"
Tangannya bergerak. Kotak persegi panjang yang ada di bahunya segera terlempar dan melayang jauh. Akhirnya tepat menyangkut di atas sebatang ranting pohon siong yang patah.
"Brak!" , kotak kayu itu terbuka. Dasarnya dialasi selembar kulit kerbau. Sedangkan di atasnya terdapat empat macam senjata. Toya, golok, pedang dan semacam senjata lagi yang kedua ujungnya terbuat dari kayu namun disambungkan dengan rantai di tengahnya. Tok-ku Bu-ti mengentakkan tongkat kepala naganya ke atas batu di mana dia berdiri. Batu itu hancur seketika. Kerikil dan pasir berhamburan di udara. Tiba-tiba tubuhnya berputar menjadi bayangan dan mencelat. Tampaknya dia seakan-akan sedang melayang-layang di udara. Ci Siong tojin bergerak cepat. Tangan kanannya menggenggam senjata sepasang kayu yang disambung dengan rantai tadi. Sedangkan tangan kirinya menggenggam toya. Dalam sekali gerakan, senjatanya yang pertama terulur dan menjadi kaku. Tubuhnya juga mencelat di udara. Tongkat Tok-ku Bu-ti bertemu dengan senjatanya dan mengeluarkan suara keras.
"Trang!!!"
Keduanya mendarat kembali ke tanah.
Senjata Ci Siong tojin berputaran dan membentuk bayangan.
Tiba-tiba bayangan itu tidak berputar lagi namun meluncur lurus ke arah tenggorokan Tok-ku Bu-ti.
Tongkat berkepala naga Tok-ku Bu-ti dikibaskan.
Tepat menangkis datangnya serangan Ci Siong tojin.
Namun sebelum tongkat itu sampai, Ci Siong tojin sudah menarik senjatanya kembali lalu secepat kilat diluncurkan lagi ke depan.
Senjata itu ibarat seekor ular yang bergerak-gerak menuju mangsanya.
Sasarannya masih juga tenggorokan Tok-ku Bu-ti.
Gerakan tubuh Tok-ku Bu-ti tiba-tiba berubah.
Jarak senjata Ci Siong tojin yang tinggal setengah cun itu luput juga dari 139 tenggorokannya.
Tiga puluh enam kali serangan berturut-turut dari Ci Siong tojin berhasil dihindarinya.
Ci Siong tojin berteriak nyaring menggelegar membuat suasana pagi jadi mencekam.
Toyanya diluncurkan ke arah bola mata Tok-ku Bu-ti, sedangkan senjata yang satunya tetap mengarah tenggorokan.
"Ting! Ting! Ting!" , tujuh belas kali suara benturan senjata berdenting. Setiap kali dia menyerang, senjatanya selalu berbenturan dengan tongkat kepala naga Tok-ku Bu-ti. Meskipun gerakan tangan Ci Siong tojin amat cepat, namun tangkisan Tok-ku Bu-ti lebih cepat lagi. Serangan masih belum berhenti. Selama ini Tok-ku Bu-ti tampaknya hanya bertahan. Tiba-tiba tubuhnya bergerak. Sebuah jurus "Sin-liong-pa-bwe"
Dikerahkan.
Seperti nama jurusnya sendiri yang berarti naga sakti menggoyangkan ekor.
Tubuh Tok-ku Bu-ti hampir tidak dapat ditangkap oleh mata.
Tongkat kepala naganya berbalik menyerang.
Kibasannya menghalangi gerakan kaki Ci Siong tojin.
Kaki kiri Ci Siong tojin disentakkan.
Tubuhnya mencelat tinggi di udara.
Toyanya diputar lalu dihunjamkan ke bawah.
Mengarah kepala Tok-ku Bu-ti.
Lawannya segera mengangkat tongkat kepala naga dan kakinya bergerak mundur.
Ci Siong tojin berjungkir balik tiga kali.
Baru saja kakinya mencapai tanah, senjatanya yang satu lagi langsung meluncur ke tenggorokan Tok-ku Bu-ti.
Tongkat kepala naga segera dikibaskan.
Berbarengan dengan itu, mulut Tok-ku Bu-ti mengeluarkan teriakan keras.
Senjata Ci Siong tojin yang masih meluncur kembali berbenturan dengan tongkat kepala naga tersebut.
"Trang!"
Keduanya 140 mengambil ancang-ancang sekali lagi.
Senjata Ci Siong tojin meluncur cepat.
Tongkat kepala naga Tok-ku Bu-ti sudah siap-siap menyambutnya.
Mulut naga di atas tongkatnya menggigit senjata Ci Siong tojin seketika.
Tosu itu agak terkejut.
Kakinva cepat-cepat mundur tiga langkah.
Namun Tok-ku Bu-ti tak memberinya kesempatan.
Ci Siong tojin mundur lagi.
Dia menggunakan gerakan Te-hun-cong untuk menghadapi lawannya.
Dengan bantuan jurus itu, dia dapat menanggulangi kesulitannya tadi.
Kedua senjatanya kembali menyerang Tok-ku Bu-ti.
"Bagus!"
Seru Tok-ku Bu-ti melihat kelincahan lawannya. Tubuhnya berkelebat. Senjata Ci Siong tojin lewat di samping lehernya, kemudian membentur gunung-gunung yang ada di belakangnya.
"Prak!", batu itu terbelah menjadi dua. Sekali lagi tubuh Ci Siong tojin mencelat ke udara.
"Hati-hati senjata rahasia!"
Katanya memperingatkan.
Tiba-tiba tubuhnya tertutup oleh titik putih yang berjumlah banyak.
Tujuh macam senjata rahasia dilancarkan dalam waktu yang bersamaan.
Masing-masing berjumlah sembilan batang.
Tangan kirinya membentang, tangan kanan mengibas.
Enam puluh tiga batang senjata rahasia segera meluncur mengarah seluruh tubuh Tok-ku Bu-ti.
Terdengar suara menggelegar di angkasa, menggetarkan hati siapa pun yang sempat mendengarnya.
Gerakan tubuh Ci Siong tojin masih belum berhenti.
Dia berjungkir balik lagi sebanyak tiga kali.
Seratus delapan puluh sembilan batang senjata rahasia diluncurkan dalam waktu yang bersamaan.
141 Gerakan tubuh Tok-ku Bu-ti sendiri ibarat seekor naga yang dikurung titik hujan yang deras.
Sekali lagi dia berteriak, tubuhnya berputar.
Telapak tangannya menghantam keras.
Terdengar suara menggelegar.
Cahaya merah memenuhi tempat itu.
Berpijaran bagai bunga api.
Dua ratus lima puluh dua batang senjata rahasia yang dilancarkan Ci Siong tojin terpental sejauh tiga depa.
Tok-ku Bu-ti tertawa terbahak-bahak.
"Ci Siong, kau sama sekali tidak menyangka aku menguasai jurus yang satu ini, bukan?"
Tanyanya dengan nada angkuh.
Ci Siong tojin tidak menyahut.
Tubuhnya mendarat ke atas tanah.
Tangannya kembali terulur.
Dengan cepat dia sudah meraih kembali toya yang diletakkannya di tanah tadi.
Toya itu sebenarnya berukuran pendek.
Namun dengan memencet sebuah alat yang ada di atasnya, toya itu akan menjadi panjang.
Tak usah diragukan lagi bahwa senjata itu merupakan benda pusaka yang tiada duanya.
Ci Siong segera menggerakkan senjatanya.
Dalam waktu yang singkat, mereka sudah bertarung sebanyak seratus delapan puluh jurus.
Masih belum terlihat siapa yang akan kalah dan siapa yang akan meraih kemenangan.
Namun, justru pada jurus keseratus delapan puluh itulah, toya Ci Siong tojin dihantam oleh tongkat kepala naga Tok-ku Bu-ti sehingga putus menjadi dua.
Ci Siong tojin sempat terkesima sejenak.
Kemudian dia tersadar dan cepat-cepat mengambil golok yang ada dalam kotak persegi tadi.
Kui-soa-to (golok pembuka gunung) merupakan ilmu yang hebat dan keji dari Bu-tong-pai.
Seluruhnya berjumlah empat puluh sembilan jurus.
Setiap 142 jurus memiliki tiga belas perubahan.
Golok dan tubuh Ci Siong tojin bergerak serentak.
Dia menyerang berturut-turut.
Gerakannya begitu cepat, sehingga bukan saja goloknya tidak terlihat.
Bahkan bayangan tubuhnya tertutup sinar golok tersebut.
Tok-ku Bu-ti terdesak mundur sebanyak sepuluh langkah.
Meskipun demikian, tongkat kepala naganya masih menangkis dengan cekatan.
Malah akhirnya mulut naga itu kembali menggigit ujung golok.
"Krek!" , golok itu segera terputus ujungnya. Ci Siong tojin melemparkan golok tersebut dan mengambil pedangnya. Liong-gi-kiam segera dilancarkan. Segaris sinar pedang ibarat pelangi di senja hari meluncur ke arah Tok-ku Bu-ti. Sejak tadi penampilan Tok-ku Bu-ti tenang-tenang saja. Melihat serangan pedang tersebut, barulah mimik wajahnya menjadi kelam. Dia tahu Ci Siong tojin sudah mengerahkan ilmu andalannya. Pertarungan mereka sebelumnya ibarat pemanasan saja. Gerakan kaki Ci Siong tojin mengikuti langkah pat-kwa. Pedangnya bergerak mengikuti im dan yang. Perlahan namun membawa kewibawaan yang sulit dilukiskan. Setiap pedangnya bergerak, selalu ada ratusan titik putih mengiringinya. Gerakan pedang di tangan Ci Siong tojin dari lambat berubah cepat. Sebatang pedang laksana berubah menjadi ribuan batang. Lalu membias lingkaran sinar putih yang terang. Dalam waktu sesaat, tiga puluh delapan kali serangan telah dilancarkan oleh Ci Siong tojin. Tok-ku Bu-ti menyambutnya dengan baik. Meskipun demikian, keringat sebesar kacang kedelai telah membasahi kening kedua orang itu. 143 Sinar pedang yang berkumpul membuyar menjadi sinar terang bagaikan lentera yang dinyalakan. Kadang-kadang terlihat sebaris sinar yang lebih terang berkelebat. Persis seperti petir yang menyambar. Sinar mata Tok-ku Bu-ti semakin tajam. Dari jarak yang jauh dia sudah dapat merasakan percikan nyeri yang ditimbulkan oleh hawa pedang tersebut. Namun Tok-ku Bu-ti bukanlah tokoh nomor satu kalau demikian saja sudah kelabakan. Tongkat kepala naganya memang terpaksa dilepas oleh tangannya. Tongkat itu melayang di udara kemudian menancap di dalam tanah. Tiba-tiba Tok-ku Bu-ti menggelindingkan badannya di atas tanah. Sinar pedang mulai menyurut. Tok-ku Bu-ti mengambil posisi setengah berjongkok. Tangannya menghantam ke atas. Sinar merah sekali lagi memenuhi angkasa. Lalu terlihatlah sesuatu yang mengejutkan. Warna kulit tubuh Tok-ku Bu-ti ikut berubah menjadi merah. Seakan-akan ada darah yang mengalir lewat celah-celah pori-porinya. Wajahnya juga mengalami perubahan. Tok-ku Bu-ti seperti berubah menjadi orang lain. Apa yang terlihat bukan wajah laki-laki itu sebelumnya. Ikat rambutnya terlepas dan rambutnya melambai-lambai oleh embusan angin. Ci Siong tojin mengikuti perubahan itu dengan perasaan tegang. Wajahnya pucat pasi.
"Mit-kip-mo-kang tingkat delapan!"
Katanya seperti memperingatkan dirinya sendiri.
"Tidak salah!"
Sahut Tok-ku Bu-ti.
Sepasang telapak tangannya yang semerah darah segera diluncurkan ke depan.
Pedang di tangan Ci Siong tojin tidak dapat dipertahankan lagi dan lepas seketika.
144 ***** Sekali lagi Tok-ku Bu-ti mengangkat telapak tangannya.
Pedang Ci Siong tojin yang terjatuh di tanah seperti ditarik oleh magnet yang tidak terlihat dan dengan kecepatan tinggi menancap ke arah batu di belakang tubuh Tok-ku Bu-ti.
Ci Siong tojin melancarkan sebuah serangan dengan kedua belah telapak tangannya.
Tok-ku Bu-ti juga tidak kalah cepat.
Sepasang telapak tangan segera terulur menyambut datangnya serangan itu.
"Blam!" , Tok-ku Bu-ti terdesak mundur tiga langkah. Namun tubuh Ci Siong tojin malah terpental dan melayang beberapa depa.
Jilid 4 Rona wajah Tok-ku Bu-ti semakin merah, sedangkan wajah Ci Siong tojin semakin pucat ibarat selembar kertas.
Lengan baju kedua orang itu telah basah oleh keringat.
Gerakan tubuh keduanya sudah berhenti.
Meskipun wajah Ci Siong tojin pucat pasi, tapi tampaknya tidak mendapatkan luka apa-apa.
Malah napas Tok-ku Bu-ti agak memburu.
"Ci Siong, apakah pertarungan ini perlu dilanjutkan?"
Tanyanya.
"Tidak usah. Kalah ya kalah, menang ya menang,"
Sahut Ci Siong tojin dengan nada dingin. 145 Tok-ku Bu-ti menganggukkan kepalanya.
"Baik."
Dia berjalan menuju gunung-gunungan tadi dan mencabut pedang Ci Siong tojin yang menancap di sana "Pedangmu …."
Ci Siong tojin mengulurkan tangan menerima pedangnya.
"To heng, harap hati-hati,"
Kata Tok-ku Bu-ti sambil melambaikan tangannya Ci Siong tojin tidak menyahut.
Dia memasukkan pedang ke dalam sarungnya lalu membalikkan tubuh menuruni gunung.
Tubuhnya tetap tegak seperti semula.
Tok-ku Bu-ti memandangi Ci Siong tojin.
Matanya tidak berkedip.
Langkah kakinya agak lamban.
Dia mengambil kembali tongkat kepala naganya lalu berdiri terpaku.
Angin gunung bertiup semakin kencang, sinar matahari semakin terik.
***** Di luar Lan-tian-bun.
Di sana duduk menunggu Bok Ciok dan Ti Ciok.
Juga ada beberapa anggota Bu-ti-bun seperti Kongsun Hong, Hu-hoat (bagian hukum), Cian-bin-hud (Budha seribu wajah), Han-ciang Tiau-siu (pemancing dari telaga Han-ciang) dan beberapa murid lainnya.
Para murid Bu-ti-bun mengenakan pakaian serba hitam.
Mereka berdiri tegak tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Mereka pasti sudah terlatih baik.
Namun dari mimik wajah mereka tetap terlihat kepanikan dan kegugupan yang disembunyikan.
Awan berarak, kabut melayang.
Mereka sama sekali tidak dapat melihat jalannya pertarungan hidup mati antara Ci Siong tojin dan Tok-ku Bu-ti.
Hanya suara dentingan senjata dan 146 teriakan yang terdengar sayup-sayup.
Sekarang suara-suara itu sudah lenyap.
Sinar mata mereka semua terpusat pada jalan setapak di atas gunung tersebut.
Waktu berlalu perlahan.
Akhirnya mereka melihat bayangan seseorang menuruni gunung.
Ci Siong tojin dari Bu-tong-pai!
Wajah Bok Ciok dan Ti Ciok berseri-seri seketika, sedangkan wajah para murid Bu-ti-bun berubah menjadi kelam.
Alis Kongsun Hong bertaut erat, wajah Han-ciang Tiau-siu berubah seputih kertas.
Hanya Cian-bin-hud seorang yang paling tenang.
Kongsun Hong yang melihat kedatangan Ci Siong tojin segera menggertakkan giginya.
Hampir saja dia melabrak tosu tua itu kalau tidak dihalangi oleh Cian-bin-hud.
Kongsun Hong menolehkan wajahnya kepada laki-laki itu.
Cian-bin-hud hanya menggelengkan kepalanya, mimik wajahnya masih tenang.
Ci Siong tojin langsung menghampiri Bok Ciok dan Ti Ciok.
Keduanya bagai baru tersadar dari mimpi buruk.
Mereka segera bangkit menyambutnya.
"Suhu ...!"
"Jalan!"
Ci Siong hanya menyahut sepatah kata.
Langkah kakinya tidak berhenti.
Dia tergesa-gesa menuruni setengah undakan tangga batu sebanyak enam ribu tujuh ratus buah tadi.
Wajah Bok Ciok dan Ti Ciok menyorotkan sinar kebingungan.
Namun mereka tidak berani bertanya apa-apa.
Mereka melangkah mengiringi belakang Ci Siong tojin.
147 ***** Setelah menuruni undakan tangga tersebut, Bok Ciok memalingkan wajahnya.
Lan-tian-bun seperti istana di langit yang dikelilingi awan putih.
Bok Ciok tidak dapat menahan keinginan tahunya lagi.
Baru saja ingin membuka mulut, dari atas gunung berkumandang suara yang menggelegar.
"Ci Siong ...!"
Suara Tok-ku Bu-ti.
"Aku memberimu waktu dua tahun. Apabila dalam waktu dua tahun tidak ada murid Bu-tong yang sanggup mengalahkan aku, maka dua tahun kemudian aku sendiri yang akan menuju Bu-tong-san dan membasmi Bu-tong-pai!"
Suara itu ibarat gendang yang bertalu-talu.
Kumandang dan gemanya memenuhi seluruh Giok-hong-teng bahkan hutan di bawah sana.
Mendengar ucapan itu, wajah Bok Ciok dan Ti Ciok segera berubah hebat.
Ci Siong tojin memegangi dadanya sendiri.
"oakkk!" , segumpal darah kental muntah dari mulutnya. Batu-batu tangga tersebut merah oleh darah yang dimuntahkan tadi. Wajah Ci Siong tojin bahkan lebih pucat daripada selembar kertas. Bok Ciok dan Ti Ciok segera menghampiri dan memapahnya.
"Suhu ...!"
"Jalan ...."
Suara Ci Siong demikian lemah. Suara teriakan gembira berkumandang dari atas sana, gemuruhnya bagai petir yang menyambar di siang hari.
"Wie-tian-wei-toa, Ju-jit-fang-tiong (hanya langit yang paling besar, ibarat mentari bercahaya di tengah hari)!"
Teriakan itu merupakan semboyan Bu-ti-bun.
Mereka berulang-ulang menyerukan kata yang sama.
***** Suara teriakan bergema sejauh puluhan li.
Di ringi suara teriakan itu, Tok-ku Bu-ti mengendarai kuda menuju kantor pusat.
Dia sudah berganti pakaian.
Di tengah dadanya tersulam matahari berwarna merah keemasan.
Dengan bangga dan angkuh dia melewati ruangan besar dan duduk di atas sebuah kursi yang tinggi yang ditutupi sehelai kulit harimau.
Di sebelahnya terdapat sebuah lukisan yang bergambarkan seekor naga yang sedang mengamuk ketika badai menyerang.
Di tengah-tengah ruangan terhampar sebuah permadani berwarna merah yang memanjang sampai depan pintu.
Di sebelah kiri dan kanan masing-masing terdapat dua buah kursi yang diduduki oleh empat orang Hu-hoat.
Di belakang mereka berdiri tiga dan empat, tujuh orang tongcu dari berbagai bagian.
Di bawah Buncu dari Bu-ti-bun, terdapat empat orang Hu-hoat yang semuanya terdiri dari jago-jago kelas satu.
Cian-bin-hud mempunyai keahlian dalam mengubah wajah.
Dengan sebuah ruyung dia pernah menggetarkan lima propinsi di daerah utara.
Kiu-bwe-hu (musang berekor sembilan) memang sesuai dengan namanya, orangnya licik dan otaknya penuh akal busuk.
Dia adalah seorang Im-yang-jin (banci).
Ban-tok-siang-ong (dewa selaksa racun) merupakan seorang ahli dalam bidang racun.
Han-ciang Tiau-siu selalu menggunakan 149 pancingan sebagai senjatanya.
Sekali terkait, dia mampu melempar orang tersebut sejauh tiga depa dan tidak jarang membentur benda yang keras sehingga kepala lawannya hancur berantakan.
Keempat orang ini mempunyai keahlian masing-masing.
Susah mengatakan siapa yang paling unggul di antara mereka.
Namun yang pasti tidak mudah mengajak mereka bekerja sama, apa lagi bersedia menunduk dan menjadi Hu-hoat Bu-ti-bun.
Dari hal ini saja, dapat dibayangkan besarnya pengaruh Tok-ku Bu-ti.
Selain empat orang Hu-hoat tadi, masih ada bagian luar dan dalam.
Bagian luar terdiri dari Tancu (kepala cabang), Hiongcu (penasihat).
Di mana-mana memang terdapat kantor cabang mereka.
Pokoknya di dalam dunia kangouw, tidak ada perguruan atau pun partai lain yang dapat menandingi banyaknya anggota Bu-ti-bun.
Apa lagi sekarang, dia bagaikan harimau tumbuh sayap.
Wie-tian-wei-toa, Ju-jit-fang-tiong!
***** Tok-ku Bu-ti duduk di atas kursi kebesaran.
Tangannya mengibas satu kali.
Suara seruan yang berkumandang dari dalam dan luar ruangan terhenti seketika.
Salah satu dari Tongcu bagian luar segera menghadap.
"Lapor Buncu, hamba sudah menyuruh orang mengawasi perjalanan. Ci Siong tojin bertiga,"
Katanya.
"Seluruh jagoan yang berada di bawah ruangan bagianku, sudah siap bergerak. Begitu ada perintah, mereka akan 150 segera turun tangan membunuh Ci Siong tojin dan kedua muridnya,"
Sambung Kongsun Hong. Tok-ku Bu-ti hanya mendehem.
"Kek-tong-tongcu!"
Panggilnya.
"Hamba di sini."
"Sebarkan Hiat-ciu-leng (panji tangan berdarah). Katakan pada seluruh anak murid Bu-ti-bun agar tidak boleh ada yang mengganggu perjalanan Ci Siong tojin dan kedua muridnya. Siapa yang melanggar akan mendapat hukuman berat,"
Katanya.
"Baik,"
Sahut Kek-tong Tong-cu. Meskipun demikian dalam hatinya merasa penasaran. Bukan hanya dia saja, yang lainnya juga menampilkan wajah kebingungan. Kongsun Hong segera menghampiri ....
"Suhu …."
"Aku tidak akan mengambil kesempatan orang sedang terluka,"
Kata Tok-ku Bu-ti.
"Buncu benar-benar berjiwa besar dan berhati lapang,"
Tukas Han-ciang Tiau-siu.
"Kalau tidak, bagaimana bisa disebut Bu-lim-pocu?"
Kata Ban-tok-siang-ong. Tok-ku Bu-ti tertawa lebar mendengar pertanyaan anak 151 buahnya.
"Lagi pula, dalam dua tahun ini aku berniat mengunci diri berlatih ilmu. Dalam waktu itu, tidak boleh ada murid Bu-ti-bun yang menerbitkan masalah,"
Katanya. Seluruh murid dan anggota Bu-ti-bun segera mengiakan. Tok-ku Bu-ti masih tertawa lebar.
"Kalian boleh keluar. Masalah lainnya akan kita bahas kembali malam nanti,"
Katanya.
Suara dan senyum Tok-ku Bu-ti tiba-tiba menjadi demikian datar.
Siapa pun tidak dapat menduga apa yang direncanakannya dalam hati.
Namun para muridnya dapat menduga bahwa sekarang Buncu mereka ingin menyendiri.
Semuanya mengundurkan diri kecuali Kongsun Hong.
Dia berjalan ke samping Tok-ku Bu-ti.
"Suhu .... Kau orang tua sering memuji tecu di depan saudara lainnya. Tecu merasa malu sekali. Sebetulnya banyak urusan yang tecu tidak pahami,"
Katanya. Sinar mata Tok-ku Bu-ti beralih ke arah muridnya.
"Suhu tidak memujimu secara percuma. Paling tidak kau dapat mendengar nada suhu yang mengucapkan semuanya dengan terpaksa."
"Tecu bersedia mendengarkan dengan seksama,"
Sahut Kongsun Hong.
"Dengan menggunakan Mit-kip-mo-kang aku berhasil melukai usus besar Ci Siong. Apabila dia berhasil menemukan obat mujarab, maka tidak akan sampai cacat. Sungguh bukan akhir 152 yang gemilang dari suatu pertarungan. Oleh karena itu, aku sengaja menunjukkan rasa gembira. Sebenarnya aku juga mendapatkan sedikit luka dalam akibat pertarungan ini,"
Kata Tok-ku Bu-ti dengan suara berat. Kongsun Hong terkejut mendengar keterangan itu.
"Suhu ... kau …."
"Tidak apa-apa. Asal beristirahat kurang lebih setengah atau satu bulan, pasti akan pulih kembali."
"Si hidung kerbau (olok-olok jaman dulu untuk para pertapa) Ci Siong itu ...."
"Ilmunya sangat tinggi, pasti di luar dugaan kalian,"
Kata Tok-ku Bu-ti.
"Justru sekarang dia sedang mengalami luka parah, mengapa kita tidak mengejarnya ke Bu-tong-san dan membasmi partai itu sampai habis? Bukankah dengan demikian kita tidak meninggalkan bibit penyakit di kemudian hari?"
Sahut Kongsun Hong memberi saran.
"Suhu mempunyai perjanjian dengan Ci Siong tojin untuk bertarung setiap sepuluh tahun sekali. Selama tiga puluh tahun ini, aku sudah meraih tiga kali kemenangan. Dan aku tidak pernah bermaksud mengejarnya sampai ke Bu-tong-san dan membunuh mereka. Tahukah kau apa sebabnya?"
Tanya Tok-ku Bu-ti.
"Maafkan tecu yang bodoh." 153
"Karena di atas Bu tong san masih ada seorang Yan Cong-tian."
"Yan Cong-tian? Dia ...."
"Dia adalah suheng dari Ci Siong tojin. Dua puluh tahun yang lalu sudah diakui sebagai jago nomor satu dari Bu-tong-pai. Sepengetahuanku, selama ini dia selalu bersembunyi di belakang Bu-tong-san dan berlatih keras untuk berhasil mempelajari Tian-can-kiat (perubahan ulat sutera),"
Kata Tok-ku Bu-ti.
"Tian-can-kiat?"
"Kalau kau tidak pelupa, tentu kau ingat apa yang pernah aku ceritakan. Beberapa generasi pendahulu Bu-ti-bun, justru selalu dikalahkan oleh Tian-can-sin-kang (tenaga sakti ulat sutera) dari Bu-tong-pai."
Kongsun Hong menganggukkan kepalanya beberapa kali mendengar penjelasan itu.
"Kalau begitu, Ci Siong ...."
"Tampaknya dia tidak berhasil mempelajari ilmu itu. Ilmu Tian-can-sin-kang merupakan suatu ilmu yang sangat tinggi. Tidak sembarang orang dapat menguasainya. Yan Cong-tian sudah berlatih keras selama dua puluh tahun, namun juga belum berhasil menguasai seluruhnya. Apalagi Ci Siong tojin."
"Seandainya Yan Cong-tian masih ada di dunia ini, tampaknya usaha kita untuk menguasai bu-lim sulit menjadi kenyataan,"
Sahut Kongsun Hong.
"Itu hanya urusan dalam waktu dua tahun ini,"
Kata Tok-ku Bu-154 ti. Tampaknya Kongsun Hong belum mengerti juga. Tok-ku Bu-ti terpaksa menjelaskan sekali lagi.
"Dua tahun kemudian, aku yakin Mit-kip-mo-kang yang aku pelajari akan mencapai tingkat sembilan. Dengan demikian aku berhasil mencapai rekor di mana para ketua pendahulu dari Bu-ti-bun belum pernah berhasil melakukannya. Pada waktu itu, Yan Cong-tian juga tidak akan luput dari kematian!"
Begitu perkataannya selesai. Tok-ku Bu-ti menggebrak meja kecil di sampingnya.
"Brak!" , meja itu hancur menjadi keping-keping kecil. Kongsun Hong seperti ingin mengucapkan sesuatu, namun Tok-ku Bu-ti sudah menukasnya.
"Oh ya ... dari lima orang tongcu bagian dalam, tadi aku hanya melihat empat orang. Ke mana perginya Tongcu dari Gin-hong-tong (ruangan merak perak)"
Kongsun Hong tampaknya serba salah.
"Dia ...."
"Masih marah?"
Kongsun Hong menganggukkan kepalanya.
Tok-ku Bu-ti tertawa terbahak-bahak.
***** Pintu tertutup rapat.
Di atasnya terdapat lukisan seekor merak 155 perak.
Di bawah sinar matahari, lukisan itu tampak berkilau.
Baru saja tangan Tok-ku Bu-ti mendorong pintu tersebut, sebatang golok menyambut kedatangannya.
Untung saja mata laki-laki itu sangat awas, tangannya pun sangat cekatan.
Belum sempat mata menangkapnya dengan jelas, golok itu sudah tergenggam di tangannya.
"Sungguh-sungguh gerakan golok terbang yang sangat cepat!"
Tok-ku Bu-ti tertawa lebar sambil melangkah ke dalam.
Di dalam ruangan hanya terdapat seorang gadis.
Wajahnya cantik penampilannya gagah.
Kesan yang ditampilkannya dingin dan angkuh.
Kedua tangannya menimang-nimang tiga bilah golok terbang.
Matanya menatap tajam ke arah Tok-ku Bu-ti.
Bibirnya mencibir.
Dia diam seribu bahasa.
Tok-ku Bu-ti terus menghampiri gadis itu.
"Hari ini seluruh anggota Bu-ti-bun mengucapkan selamat kepadaku. Mengapa hanya engkau, Tongcu dari Gin-hong-tong yang tidak hadir?"
Tanyanya tersenyum. Gadis itu masih tidak menyahut.
"Kau masih marah kepada Tia (ayah)?"
Tanya Tok-ku Bu-ti kembali. Gadis itu memang putri tunggal Tok-ku Bu-ti yang bernama Tok-ku Hong.
"Mana aku berani?"
Tangannya tetap memainkan ketiga bilah golok terbang tersebut.
"Pertarungan toh sudah lewat. Siapa 156 yang masih memikirkan urusan ini?"
Tok-ku Bu-ti memperhatikan putrinya dengan seksama. Akhirnya dia menarik napas panjang.
"Tia tidak mengajakmu justru karena tidak yakin akan meraih kemenangan. Apabila Tia sampai kalah, mungkin akan terjadi sesuatu pada dirimu,"
Katanya. Mendengar kata-kata Tok-ku Bu-ti itu rasa amarah dalam hati gadis itu sirna seketika. Dia meletakkan golok terbangnya di atas meja dan menghampiri Tok-ku Bu-ti serta merangkul bahunya mesra.
"Tia, apakah kau tidak mendapatkan luka apa-apa?"
Tanyanya khawatir.
"Hanya sedikit luka dalam, sama sekali tidak berbahaya,"
Sahut Tok-ku Bu-ti.
"Benar-benar tidak apa-apa?"
Tanya Tok-ku Hong.
"Apakah Tia pernah membohongimu?"
"Baiklah kalau begitu …."
Tiba-tiba dia menarik lengan Tok-ku Bu-ti mengajaknya ke kursi tamu yang ada dalam ruangan tersebut.
"Tia, duduklah."
Tok-ku Bu-ti kebingungan.
"Ada apa?"
Tanyanya.
Tok-ku Hong hanya tersenyum.
Dia menepuk kedua tangannya beberapa kali.
Empat orang pelayan yang masih 157 muda mengiakan dari luar dan masuk bersamaan.
Di tangan mereka masing-masing membawa sebuah baki berisi berbagai hidangan.
Pertama-tama Tok-ku Bu-ti tertegun melihat semuanya, kemudian tertawa lebar.
"Anak baik, rupanya kau sudah mempersiapkan segalanya untuk menyambut kepulangan Tia,"
Katanya dengan nada gembira. Tok-ku Hong tersenyum-senyum.
"Sejak semula aku sudah yakin bahwa Tia pasti tidak akan kalah,"
Katanya. Tok-ku Bu-ti tertawa terbahak-bahak sampai sekian lama. Tok-ku Hong menuangkan arak ke dalam cawan dan mengangkat cawannya.
"Tia, cawan yang satu ini untuk merayakan kemenanganmu dan mudah-mudahan Tia dapat menghancurkan Bu-tong-pai,"
Katanya.
"Baik,"
Tok-ku Bu-ti tersenyum. Dia mengeringkan isi cawannya sekaligus. Tiba-tiba sesuatu hal terlintas di benaknya.
"Hong-ji (anak Hong), sejak kecil kau hanya merisaukan urusan bu-lim, apakah kau tidak pernah merisaukan hal lainnya?"
"Urusan lainnya? Urusan apa?"
"Umpamanya urusan seumur hidupmu nanti …"
Tok-ku Hong mengatupkan bibirnya erat-erat. Dia tidak menyahut. 158
"Kau sudah berusia delapan belas tahun, Mana boleh hanya mementingkan latihan ilmu silat saja? Anggota Bu-ti-bun demikian banyak ...."
Tok-ku Hong mencibirkan bibirnya.
"Aku akan memandang mereka sebelah mata."
Kemudian tersenyum lembut.
"Yang penting ada Tia yang menemani."
Tok-ku Bu-ti ikut tersenyum.
"Sayang sekali, dalam dua tahun ini, Tia tidak mempunyai kesempatan untuk menemanimu,"
Katanya. Tok-ku Hong terkejut mendengar pernyataan itu.
"Mengapa?"
"Tia hanya ingin menutup diri selama dua tahun untuk berlatih ilmu."
Sahut Tok-ku Bu-ti.
"Kalau begitu …."
"Maka dari itu, kelak kau tidak boleh terlalu keras kepala."
"Dengan mengandalkan ilmu yang aku miliki, tidak ada orang yang perlu aku takuti,"
Sahut Tok-ku Hong angkuh.
"Mulai lagi,"
Tok-ku Bu-ti menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali.
Meskipun ilmu silatmu cukup tinggi, tapi pengalamanmu masih cetek.
Aku takut kau dapat menimbulkan masalah.
Oleh karena itu, aku sengaja meminta Kongsun Hong menjagamu baik-baik."
Wajah Tok-ku Hong berubah menjadi murung seketika.
159 Tampaknya tidak menaruh kesan baik terhadap Kongsun Hong.
Sedangkan Tok-ku Bu-ti sama sekali tidak menyadari hal ini.
***** Malam belum terlalu larut.
Di dalam rumah terlihat penerangan.
Baik penunggang maupun kudanya sendiri sudah lelah sekali.
Ci Siong tojin, Bok Ciok dan Ti Ciok sampai kembali di rumah sepasang suami istri yang tua renta itu.
Wajah Ci Siong tojin pucat pasi.
Dia memang sudah hampir tidak dapat mempertahankan diri.
Ti Ciok segera turun dari kudanya.
"Suhu ... kita bermalam di rumah ini saja,"
Katanya menyarankan. Ci Siong tojin mengangguk lemah. Baru saja Ti Ciok bermaksud mengetuk pintu, terdengar suara.
"krek" , pintu tersebut telah dibuka dari dalam. Kakek pemilik rumah itu menyembulkan kepalanya. Melihat kedatangan Ci Siong tojin bertiga, orang tua itu tertegun lalu menyurutkan kepalanya kembali. Ti Ciok segera maju dan menahannya.
"Lopek ini …."
Kakek itu tampaknya serba salah, tidak tahu harus menyahut apa, malah sang nenek yang akhirnya keluar. Perempuan itu juga tertegun melihat mereka.
"Suhu kami mengalami luka parah, tidak bisa melanjutkan perjalanan, apa lagi malam sudah larut. Oleh karena itu, kami 160 bermaksud merepotkan kalian orang tua barang satu malam saja,"
Kata Ti Ciok menjelaskan.
"Totiang bertiga, kami adalah orang miskin, tentu kalian memaklumi keadaan kami,"
Sahut kakek tersebut.
"Bicara sejujurnya saja, kami tidak berani menerima ketiga totiang. Begini saja … kami akan memasakkan sedikit bubur sekadar penangsal perut. Kalian bertiga istirahat dulu sejenak baru melanjutkan perjalanan. bagaimana?"
Tukas sang nenek. Ti Ciok tampaknya keberatan, namun Bok Ciok segera menerima usul tersebut.
"Baiklah … kami terpaksa merepotkan kalian orang tua,"
Katanya.
Kakek pemilik rumah mengerling sekilas ke arah istrinya, kemudian menoleh kembali kepada Ci Siong tojin.
Akhirnya dia membuka juga pintu rumah itu.
Ti Ciok cepat-cepat memapah turun Ci Siong tojin dari kudanya.
***** Rumah penduduk itu masih sama seperti sebelumnya, namun perasaan dalam hati sudah berbeda jauh.
Sepasang suami istri itu sama sekali tidak tahu siapa adanya Ci Siong tojin dan kedua muridnya itu, mereka langsung menyibukkan diri di dapur.
Ci Siong tojin menyandarkan diri pada sebuah kursi, matanya setengah terpejam.
Ti Ciok dan Bok Ciok berdiri di sampingnya.
Tiba-tiba Ci Siong tojin membuka matanya.
"Suhu, ada apa?"
Tanya Bok Ciok panik. Ci Siong tojin menarik napas dalam-dalam.
"Istirahat sebentar tentu akan lebih baik,"
Sahutnya. Belum lagi suara itu hilang, terdengar dengusan dingin sebanyak dua kali. Asalnya dari dapur. Wajah Ci Siong tojin berubah hebat. Dia langsung berdiri. Ti Ciok segera memapahnya.
"Bok Ciok, kau jaga Suhu ... aku akan lihat ke sana,"
Kata Ti Ciok.
Ci Siong mengajak Bok Ciok menyusul ke belakang.
***** Bubur sudah meluap, suaranya bergelembung-gelembung.
Namun perasaan suami istri itu tidak dapat lagi bersuara.
Mereka sudah menjadi orang mati.
Darah mengalir deras dari tenggorokan mereka.
Persis seperti ayam yang baru disembelih.
Di leher mereka ada sebuah lubang yang menganga.
Ti Ciok sudah menghunus pedangnya.
Dia langsung menerjang ke dalam.
Melihat kematian pasangan suami istri tersebut, dia menjadi tertegun.
Ci Siong tojin dan Bok Ciok menyusul.
Mata Bok Ciok beredar ke sekitar tempat itu.
Tiba-tiba dia menjerit terkesiap.
"Suhu! Lihat!"
Teriaknya. Ci Siong mengikuti arah telunjuk muridnya. Di atas tembok di ujung ruangan terpantek sehelai kain lebar seperti bendera. Di tengahnya terdapat sebuah cap bergambar telapak darah.
"Panji telapak darah!"
Gumam Ci Siong tojin. Tubuhnya langsung bergetar.
"Bukankah ini lambang yang selalu digunakan oleh Bu-ti-bun?"
Tanya Ti Ciok.
Ci Siong tojin menganggukkan kepalanya.
Wajahnya kelam.
Tangannya dikepalkan.
Kukunya sampai memutih.
***** Malam hari ....
Pada saat ini usaha Cui-sian-lou (gedung dewa mabuk) paling laris.
Suara bising memenuhi seluruh ruangan depan.
Tapi ketika Ci Siong tojin dan kedua muridnya melangkah masuk, suara-suara itu surut seketika.
Setiap tamu yang berada di dalam Cui-sian-lou memandang mereka dengan heran.
Ti Ciok tidak mempedulikan pandangan mereka.
Dia langsung menuju meja kasir.
Lao-pan (majikan) pemilik Cui-sian-lou menatapnya dengan curiga.
"Sam-wi, di sana ada tempat duduk yang kosong,"
Katanya.
"Kami bermaksud menginap,"
Sahut Ti Ciok.
"Oh ... selamat datang!"
Lao-pan itu membuka buku catatannya.
"Numpang tanya ...."
"Kami dari Bu-tong-pai,"
Kata Ti Ciok menjelaskan. 163 Belum lagi kata-katanya selesai.
"plak!", Lao-pan itu cepat-cepat menutup kembali buku catatannya. Wajahnya tampak cemas.
"Tempat kami sudah penuh, harap sam-wi tanya tempat lain saja,"
Katanya gugup. Ti Ciok tertawa dingin.
"Kami tidak menginap dengan cuma-cuma,"
Sahutnya kesal. Lao-pan tersebut memaksakan seulas senyuman di bibirnya.
"Tempat kami benar-benar sudah penuh,"
Katanya.
Baru saja ucapannya selesai, dari luar terdengar suara derap langkah yang bisik.
Seorang laki-laki berpakaian hitam mendatangi dengan menunggang seekor kuda.
Dia mengeluarkan sehelai kain putih.
Kudanya sama sekali tidak berhenti sambil melintas di depan Cui-sian-lou membidikkan panah.
"Crep!" , panah tersebut terikat dengan kain tadi. Meleset tepat ke arah tembok di tengah ruangan. Kain itu langsung terbentang. Di atasnya tertera sebuah telapak darah! Tamu-tamu di dalam ruangan itu segera menolehkan kepalanya serentak. Wajah mereka segera berubah hebat. Tanpa mengatakan sepatah pun antara satu dan lainnya, beramai-ramai mereka mendorong kursi dan meja secara serabutan dan melarikan diri dari dalam ruangan tersebut. Dalam jangka waktu tidak lama, ruangan itu sudah hampir kosong. Hanya tersisa satu orang yang masih duduk dengan tenang. 164 Dia adalah seorang pemuda berpakaian mewah. Pasti dari turunan hartawan. Dia hanya meletakkan cawan di atas meja dan menoleh ke arah Ci Siong tojin. Wajahnya tampan sekali. Dalam keadaan kacau balau seperti itu, penampilannya masih tetap demikian tenang dan mantap. Pemilik Cui-sian-lou saat itu sedang berteriak-teriak dengan panik.
"Hei! Kalian belum bayar! Mana boleh pergi begitu saja?"
Dia sama sekali tidak bisa mengadang tamu-tamunya yang melarikan diri kalang kabut.
Dia hanya dapat berteriak-teriak sekenanya.
Namun apa gunanya?
Sama sekali tidak ada yang menghentikan langkah dan mendengar ocehannya.
Akhirnya dia menengok ke arah Ci Siong tojin, tapi tidak berani mengatakan apa-apa.
Wajahnya kelam.
"Kali ini aku benar-benar disusahkan oleh kalian murid-murid Bu-tong-pai,"
Gumamnya seorang diri. Ci Siong tojin tidak tahu harus berbuat apa. Wajah Bok Ciok dan Ti Ciok pucat pasi. Melihat kediaman ketiga orang itu, pemilik tempat itu menjadi agak berani.
"Coba kalian lihat ... apa yang harus aku lakukan?"
Teriaknya kesal.
"Cang-lao-pan, buat apa kau demikian panik?"
Terdengar sebuah suara menyahut dari belakangnya.
Laki-laki itu menolehkan kepalanya.
Baru saja dia bermaksud marah-marah, namun ketika melihat bahwa anak muda yang perlente tadi yang mengucapkan kata-kata itu dia mengurungkan niatnya.
"Fu-kongcu, tamu-tamu itu semuanya mearikan diri. Habislah aku berikut modalku sekalian,"
Katanya sambil tertawa getir. Anak muda yang dipanggil Fu-kongcu itu tersenyum datar.
"Biar aku yang mengganti semua kerugian,"
Katanya sambil mengeluarkan setumpuk uang perak di atas meja. Cang-lao-pan menerimanya dengan malu-malu.
"Fu-kongcu, mana enak aku menerimanya?"
"Soal kecil, tidak usah dipikirkan,"
Kata Fu-kongcu sambil mendorong kembali uang perak yang pura-pura ditolak oleh Cang-lao-pan. Laki-laki itu segera menggenggam uang perak itu erat-erat. Seakan takut kehilangan uang sebanyak itu.
"Tolong kau layani ketiga totiang ini,"
Kata Fu-kongcu kembali. Wajahnya segera mengesankan keadaan yang salah tingkah.
"Fu-kongcu ...."
"Apakah uangnya masih belum cukup?"
Tanya Fu-kongcu.
"Bukan …."
Mata Cang-lao-pan beralih ke arah gambar telapak tangan yang tertera di atas kain putih.
"Pahit getirnya kami yang membuka usaha seperti ini, tentu Fu-kongcu mengerti sendiri."
Mendengar percakapan mereka, Ci Siong tojin segera menukas.
"Maksud baik-kongcu, kami guru dan murid merasa berterima kasih sekali."
Dia menoleh ke arah kedua muridnya.
"Ti Ciok, Bok Ciok, mari kita pergi."
Katanya. 166 Ti Ciok dan Bok Ciok memapah Ci Siong tojin dan melangkah pergi.
"Sam-wi totiang, tunggu dulu!"
Cegah Fu-kongcu sambil mengejar keluar pintu. Ci Siong tojin menghentikan langkah kakinya. Perlahan dia membalikkan tubuh.
"Entah apa maksud-kongcu ...."
"Totiang, aku lihat totiang sedang sakit, lebih baik istirahat di rumahku saja,"
Kata Fu-kongcu menawarkan jasanya. Ci Siong tojin tertegun sejenak.
"Fu-kongcu, apakah kau tidak melihat tanda telapak darah itu?"
Tanya Ti Ciok.
"Aku tahu,"
Sahut Fu-kongcu sambil menganggukkan kepalanya.
"Itu adalah lambang Bu-ti-bun."
"Apakah kongcu tidak takut terhadap Bu-ti-bun?"
"Almarhum ayahku adalah pejabat tinggi kerajaan. Rumahku tidak jauh dari sini. Keluarga kami cukup berpengaruh. Aku yakin Bu-ti-bun tidak berani bertindak sembrono sampai mendatangi rumah keluarga kami,"
Katanya. Ti Ciok dan Bok Ciok menganggukkan kepalanya beberapa kali mendengar keterangan itu. Pantas saja anak muda tersebut demikian tenang meskipun melihat gambar telapak darah.
"Fu-kongcu ..."
Panggil Ci Siong tojin.
"Cayhe bernama Fu Giok-su. Totiang jangan banyak adat. Panggil saja namaku. Cayhe masih belum tahu gelar totiang bertiga,"
Sahut anak muda tersebut.
"Pinto Ci Siong ...."
"Suhu adalah Ciangbunjin Bu-tong-pai,"
Tukas Ti Ciok. Fu Giok-su melongo sejenak. Kemudian wajahnya berseri-seri.
"Rupanya tokoh yang selalu disanjung tinggi, Ci Siong tojin adanya. Maafkan kelancangan cayhe yang sudah bersikap kurang sopan,"
Katanya sambil menjura dalam-dalam.
"Jangan sungkan dan banyak adat,"
Sahut Ci Siong tojin. Tanpa dapat ditahan lagi orang tua itu terbatuk-batuk. Fu Giok-su memperhatikan Ci Siong tojin dengan seksama.
"Tampaknya penyakit yang diderita totiang tidak ringan. Lebih baik selekasnya memeriksakan diri ke tabib,"
Katanya menyarankan. Ci Siong tojin tertawa datar.
"Hidup dan mati adalah takdir Thian,"
Sahutnya sendu.
"Di dekat sini ada seorang tabib sakti bernama Mok Put-ciu ...."
Bok Ciok terpana mendengar perkataannya.
"Apakah Mok Put-ciu yang mendapat julukan It-tiap-hue-cun (satu resep kembali hidup)"
Tanyanya dengan nada gembira. 168
"Tidak salah. Coba periksakan diri di sana. Pasti dia mempunyai obat mujarab yang akan memulihkan penyakit totiang,"
Sahut Fu Giok-su.
Ci Siong tojin hanya tertawa getir.
***** Tempat praktik Mok Put-ciu terletak di sebelah timur kota.
Adanya di samping sebuah sungai kecil.
Kalau dilihat dari luar, tempat itu sudah agak reyot.
Papan mereknya bergelantungan tertiup angin dan tampaknya sebentar lagi copot.
Ti Ciok memicingkan matanya melihat keadaan tempat itu.
"Rasanya usaha tabib sakti ini kurang laris,"
Katanya tanpa sadar. Fu Giok-su tertawa lebar.
"Tabib Mok orang yang berhati luhur. Setiap kali mengobati orang miskin, bukan saja tidak menerima bayaran malah memberikan obatnya sekalian dengan percuma. Maka dari itu, mana mungkin dia mempunyai banyak uang untuk memperbaiki rumahnya ini?"
Sahutnya menjelaskan. Wajah Ti Ciok merah padam mendengar keterangan itu. Dia segera mengalihkan pokok pembicaraan.
"Apakah Fu-kongcu mempunyai hubungan yang baik dengan tabib Mok?"
Fu Giok-su menggelengkan kepalanya.
"Sejak kecil aku belajar ilmu silat. Tubuhku menjadi sehat. Tapi para pembantu di rumah sering meminta pertolongan tabib Mok apabila ada keluarga mereka yang sakit."
"Ternyata Fu-kongcu juga mengerti ilmu silat. Entah aliran 169 partai mana yang dipelajari oleh Fu-kongcu?"
"Aku tidak memilih-milih. Setiap aliran aku pelajari,"
Sahut Fu Giok-su.
"Mana boleh begitu?"
Tanya Ti Ciok heran.
"Ilmu silat cayhe diajarkan oleh para pengawal di rumah. Mereka terdiri dari murid berbagai partai di bu-lim."
"Oh ... rupanya begitu."
Pada saat itu, mereka sudah masuk ke dalam ruangan praktik tabib Mok. Sejak masuk halaman tadi, mereka tidak bertemu dengan satu orang pun. Fu Giok-su merasa heran melihat keadaan itu.
"Menurut para pelayan di rumah, usaha tabib Mok selalu ramai. Mengapa hari ini tidak terlihat seorang pasien pun?"
Tanyanya dengan mimik curiga.
"Kan tidak tiap hari ada orang sakit. Malah kebetulan, dengan demikian Suhu tak usah menunggu lama-lama,"
Sahut Ti Ciok.
Ketika Ti Ciok berbicara, kaki mereka sudah melangkah ke dalam sebuah pendopo kecil.
Di depannya ada beberapa undakan tangga.
Pintu pendopo tersebut setengah terbuka.
Ti Ciok mengendus-endus dengan hidungnya.
"Hm ... bau amis darah ..."
Katanya.
Wajah Fu Giok-su segera berubah.
Dia bersama Ti Ciok segera masuk ke dalam.
Begitu pintu didorong, Ci Siong tojin ikut masuk sambil dipapah oleh Bok Ciok.
Mereka belum 170 pernah menemui masalah dengan indera penciuman.
Apa yang diduga oleh Ti Ciok memang benar.
Bau amis darah semakin menusuk hidung ketika mereka masuk ke dalam.
Di dalam pendopo itu terdapat belasan mayat.
Ditilik dari pakaiannya, mereka pasti penduduk desa yang miskin.
Ternyata Mok Put-ciu memang orang yang berhati mulia.
Dari para pasien yang mengunjunginya hari ini, dapat dibuktikan bahwa apa yang dikatakan Fu Giok-su memang kenyataan.
Tapi dia tidak bisa menolong orang-orang itu lagi.
Mereka sudah menjadi orang mati.
Mok Put-ciu sendiri juga sudah menjadi sesosok mayat.
Dia telentang di depan sebuah dipan yang pasti biasa digunakan untuk memeriksa pasien.
Tangan kanannya masih memijit urat nadi seseorang.
Matanya mendelik.
Jenggotnya yang putih sudah bersimbah darah.
Lehernya hampir putus oleh tebasan pedang.
Tangan kirinya bertumpu pada dipan.
Dia menggenggam sehelai kain putih yang atasnya terdapat gambar telapak tangan berdarah!
"Telapak tangan darah!"
Ti Ciok menggertakkan giginya.
Tampaknya Fu Giok-su terkejut sehingga terpana.
Bok Ciok juga termangu-mangu.
Melihat begitu banyaknya mayat yang berserakan, wajahnya berubah hebat.
Wajah Ci Siong tojin lebih kelam lagi.
Napasnya tersengal-sengal Seluruh tubuhnya gemetar.
"Tok ... ku Bu-ti ... kau benar-benar terlalu menghina!"
Serunya menahan amarah.
Suaranya bergetar.
Langkahnya terhuyung-huyung, kemudian segumpal darah kental muncrat dari mulutnya.
Matanya berkunang-kunang.
Sejenak kemudian 171 tidak ingat apa-apa lagi.
Ti Ciok dan Bok Ciok segera memapahnya, Mereka menjadi kelabakan.
***** Senja mulai tenggelam.
Malam hampir menjelang.
Di dalam gedung keluarga Fu terlihat berbagai penerangan sudah mulai dinyalakan.
Cahaya memijar bagai lukisan putih.
Beberapa orang pengawal bersama para penjaga mondar-mandir di halaman depan.
Di dalam ruangan yang besar terlihat berbagai macam barang antik yang dipajang.
Juga terdapat beberapa lukisan karya pelukis tenar.
Permadani yang terhampar tebal dan lembut.
Ditilik dari keadaannya, pemilik rumah ini pasti kaya sekali.
Para pengawal dan penjaga tampaknya belum tahu apa yang telah terjadi.
Tampang mereka tenang saja, gaya mereka juga amat santai.
Sebentar-sebentar mereka saling menyapa satu dan lainnya.
Mereka melangkah mondar-mandir dengan dada dibusungkan, seakan bangga sekali dengan kedudukannya.
Mereka mengira tugas mereka hanya menjaga jangan sampai ada maling kecil atau perampok kelas teri masuk ke dalam gedung.
Seandainya mereka tahu bahwa yang mereka hadapi kali ini adalah orang-orang dari Bu-ti-bun, pasti penampilan mereka tidak akan demikian tenang dan santai.
Fu Giok-su sendiri tidak mengatakan apa-apa, tampaknya memandang sebelah mata pada ancaman Bu-ti-bun.
172 ***** Di dalam kamar tamu, Ci Siong tojin masih belum sadar.
Ti Ciok dan Bok Ciok menunggu di sampingnya.
Hati mereka cemas memikirkan keadaan suhu mereka yang tampak mengalami luka parah.
Kamar tamu itu mewah sekali.
Hidangan yang tersedia juga tergolong kelas satu.
Namun Ti Ciok dan Bok Ciok sama sekali tidak berselera.
Mata mereka sama terpusat pada diri Ci Siong tojin.
Fu Giok-su juga mondar-mandir saja di dalam kamar itu.
Kecemasan dan ketegangannya sama sekali tidak di bawah Ti Ciok dan Bok Ciok berdua.
Ti Ciok mencoba menyalurkan tenaga dalamnya untuk menyadarkan Ci Siong tojin, tapi tampaknya orang tua itu sama sekali tidak merasakannya.
Keringat sebesar kacang kedelai menetes di kening Ti Ciok.
Akhirnya dia menghentikan usahanya.
Fu Giok-su melihat Ti Ciok menarik napas panjang.
Sedangkan wajah Bok Ciok semakin kelam.
"Liongwi juga tidak perlu khawatir. Suhu kalian memiliki tenaga dalam yang sangat tinggi. Asalkan beristirahat di sini beberapa hari, pasti akan pulih kembali,"
Kata Fu Giok-su menghibur.
"Kami terpaksa merepotkan sicu (saudara),"
Sahut Bok Ciok.
"Kalian selalu terlalu sungkan,"
Belum sempat Fu Giok-su melanjutkan kata-katanya, dari depan pintu terdengar kumandang suara.
"Hujin (nyonya) datang!"
Fu Giok-su tergesa-gesa membukakan pintu. Seorang wanita 173 setengah baya berwajah anggun di ringi dua orang dayang melangkah ke dalam.
"Ibu ..."
Sapa Fu Giok-su. Wanita setengah baya itu menatap Fu Giok-su dengan mimik cemas dan tegang.
"Giok-su, kau memerintahkan para penjaga dan pengawal mengawasi rumah ini dengan ketat. Sebetulnya apa yang telah terjadi?"
"lbu tidak perlu khawatir. Anak hanya menjaga segala kemungkinan,"
Sahut Fu Giok-su lirih. Mata wanita setengah baya tersebut beralih ke Ci Siong tojin dan kedua muridnya.
"Ketiga orang ini …."
"Mereka adalah totiang Bu-tong-pai. Sedangkan ibu tahu sendiri, Bu-tong-pai adalah partai lurus yang selalu membela kebenaran. Mereka adalah orang baik-baik,"
Sahut Fu Giok-su menjelaskan. Wanita setengah baya itu berjalan menghampiri tempat di mana Ci Siong tojin sedang terbaring. Dia memperhatikannya dengan seksama.
"Apakah Totiang tua ini sedang sakit?"
Tanyanya. Ti Ciok dan Bok Ciok segera merangkapkan sepasang tangannya.
"Betul, itulah sebabnya anak memaksa mereka tinggal di sini sementara,"
Kata Fu Giok-su.
"Giok-su, apakah kau tidak menyuruh pembantu 174 memanggilkan tabib untuk memeriksanya?"
Tanya wanita itu cemas.
"Penyakitnya cukup parah, tabib biasa mungkin tidak sanggup mengobatinya,"
Sahut Fu Giok-su pilu.
"Bukankah di daerah sini ada seorang tabib sakti yang bernama It-tiap-hue ...."
"Anak sudah memerintahkan orang kita untuk memanggil tabib Mok itu,"
Sahut Fu Giok-su menutupi keadaan yang sebenarnya.
"Menolong orang akan mendapatkan pahala besar dari Thian yang kuasa. Giok-su kau harus memperhatikan keselamatan totiang ini baik-baik,"
Kata wanita setengah baya itu.
"Anak mengerti."
Ti Ciok dan Bok Ciok segera maju ke depan dan merangkapkan sepasang tangan mereka.
"Sicu berbudi besar dan berhati mulia. Kami guru dan murid tidak akan lupa untuk selamanya."
"Liongwi totiang tidak perlu banyak adat,"
Wanita setengah baya itu membalikkan tubuhnya dan memberi perintah.
"Giok-su, kau layani ketiga tamu ini baik-baik."
"Baik,"
Sahut Fu Giok-su sambil membungkuk hormat.
Wanita setengah baya itu rupanya mempunyai hati yang sangat baik.
Dia masih berpesan beberapa kali, baru membalikkan tubuh meninggalkan tempat itu.
Kedua 175 dayangnya mengikuti dari belakang.
Fu Giok-su mengantarkan sampai di depan pintu.
Dia mengantarkan kepergian ibunya dengan pandangan mata.
Baru saja berniat masuk kembali ke kamar, seorang tukang kebun melewati pintu taman dan menerobos masuk dengan tergesa-gesa.
Orang itu berlari dengan napas tersengal-sengal.
Dia berhenti di depan Fu Giok-su dengan wajah pucat pasi.
"Kongcu...!"
Panggilnya.
"Bagaimana keadaan di luar?"
Tanya Fu Giok-su.
"Di luar tidak terlihat tanda-tanda yang mencurigakan. Namun suasana sepertinya sangat mengerikan,"
Sahut tukang kebun itu.
"Tidak apa-apa. Kau istirahatlah sejenak. Nanti katakan pada Tio-busu (pengawal) untuk berjaga dengan ketat,"
Kata Fu Giok-su.
"Siaujin (hamba) tahu,"
Sahut tukang kebun itu sambil membalikkan tubuh dan bersiap-siap meninggalkan tempat tersebut.
"Tunggu dulu!"
Teriak Fu Giok-su.
"Apakah kongcu masih ada perintah lainnya?"
Tanya tukang kebun itu.
"Apakah tadi ada orang yang berjalan melewatimu?"
Tanya Fu Giok-su.
"Tidak ada. Pertanyaan kongcu ini ...." 176
"Lalu dari mana datangnya tanda telapak darah di punggungmu itu?"
Tanya Fu Giok-su dengan mata mendelik.
"Telapak tangan darah?"
Tukang kebun itu terkejut sekali.
Dia bermaksud menolehkan kepalanya ke belakang untuk melihat.
Tentu saja tidak bisa.
Tapi Fu Giok-su melihatnya dengan jelas.
Di bagian punggung orang itu tertera sebuah telapak tangan darah yang nyata sekali.
Mata Fu Giok-su mengerling sekilas.
"Kau jangan panik. Pulanglah ke kamarmu ganti pakaian. Ingat! Jangan katakan pada siapa pun mengenai masalah ini. Apa lagi kepada ketiga orang totiang itu. Suruh para pengawal lebih ketat lagi. Jangan teledor!"
Perintah Fu Giok-su.
"Siaujin mengerti."
"Cepat pergi!"
Fu Giok-su menolehkan kepalanya.
Pintu kamar tamu masih tertutup.
Tak ada seorang pun.
Cepat-cepat dia menggebah tukang kebun itu sebelum ada orang yang melihatnya.
Tanpa setahunya, percakapan antara dirinya dengan tukang kebun itu telah terdengar oleh Ti Ciok dan Bok Ciok.
Mereka saling memandang dengan cemas.
"Suheng ... apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Tanya Bok Ciok dengan suara rendah. Ti Ciok mengerutkan keningnya.
"Suhu masih belum sadar juga. Apabila kita menggendongnya, aku takut lukanya akan semakin parah,"
Sahutnya ragu. 177 Dia menarik napas panjang. Pada saat itu Fu Giok-su masuk ke dalam kamar. Melihat tampang kedua orang itu, dia cemas sekali. Dikiranya telah terjadi sesuatu pada Ci Siong tojin.
"Liongwi totiang, Suhu kalian ...."
"Suhu masih belum sadar juga."
"Fu-sicu, kali ini kami telah melibatkan keluarga ...."
"Totiang ...."
"Munculnya telapak tangan darah di punggung anak buah sicu sudah kami ketahui."
Wajah Fu Giok-su menampilkan kecemasan.
"Jangan sampai suhu kalian tahu. Lukanya cukup parah. Jangan sampai terkejut mendengar berita ini,"
Katanya.
"Tapi ...."
"Sekarang aku akan memerintahkan anak buahku melapor ke kantor gubernur. Aku tidak percaya Bu-ti-bun berani menyerbu rumahku,"
Kata Fu Giok-su sambil menghambur ke luar dari kamar tersebut. Mata Bok Ciok memandangi kepergian Fu Giok-su.
"Sungguh seorang pemuda berhati luhur,"
Pujinya.
"Kita harus mengambil keputusan yang bijaksana,"
Kata Ti Ciok. 178
"Tunggu sampai Suhu sadar baru kita renungkan masalah ini,"
Sahut Bok Ciok.
Malam mulai larut.
Akhirnya Ci Siong tojin sadar juga.
Dia berusaha bangkit, Ti Ciok dan Bok Ciok segera mengulurkan tangan membantu.
Ci Siong mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar tersebut.
"Di mana kita sekarang?"
Tanyanya dengan suara serak.
"Ini rumah Fu-kongcu. Suhu sedang beristirahat di kamar tamunya,"
Sahut Ti Ciok.
"Anak muda ini benar-benar berhati tulus,"
Kata Ci Siong tojin sambil menghela napas. Ti Ciok tertawa getir.
"Seisi rumah ini sangat ramah. Justru demikian maka tecu khawatir ...."
"Apa yang terjadi?"
Tanya Ci Siong tojin yang segera merasakan nada suara cemas dari Ti Ciok.
"Ti ... dak ... tidak ... apa-apa,"
Sahut Ti Ciok gugup.
"Bilang!"
Bentak Ci Siong tojin.
"Telapak tangan darah sudah muncul di rumah ini,"
Sahut Ti Ciok terpaksa. Wajah Ci Siong tojin berubah hebat. Dia menggebrak meja di samping tempat tidur.
"Hm ... Tok-ku Bu-ti ...!"
Karena hawa amarah meluap, Ci Siong tojin sampai terbatuk-batuk. Bok Ciok menarik napas panjang.
"Suhu, perhatikan 179 kesehatanmu sendiri,"
Katanya dengan nada pilu.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Tanya Ti Ciok kebingungan.
"Meninggalkan tempat ini secepatnya!"
Kata Ci Siong tojin dengan hati mantap.
***** Para pelayan dan pekerja keluarga Fu sudah menyelesaikan tugas masing-masing.
Mereka sedang bersantai mengobrol dengan berkerumun.
Tampaknya Fu Giok-su pandai sekali menutupi keadaan yang sebenarnya.
Juga hanya dia yang tampak tegang dan cemas.
Meskipun keluarga Fu sangat terhormat dan berada.
Rupanya hubungan antara majikan dan bawahan sangat akrab.
Suasana di rumah itu hangat sekali.
Oleh karena itu, niat untuk meninggalkan keluarga Fu sebelum terjadi sesuatu semakin mantap di hati Ci Siong tojin.
Melihat ketiga orang itu, Fu Giok-su segera menghampiri.
"Mengapa locianpwe tidak beristirahat saja. Cayhe sudah memerintahkan pelayan menyiapkan hidangan dan akan diantarkan ke kamar,"
Katanya. Ci Siong tojin menggelengkan kepalanya.
"Maksud pinto menemui kongcu justru untuk memohon diri,"
Sahutnya. Fu Giok-su terpana.
"Oh ...?"
Fu-hujin segera bangkit dan berjalan ke arah mereka.
"Totiang 180 .... kau sedang sakit. Lebih baik jangan banyak bergerak ..."
Katanya. Ci Siong tojin merangkapkan sepasang tangannya.
"Maksud baik Hujin hanya dapat pinto kenang dalam hati."
"Locianpwe ..."` panggil Fu Giok-su dengan nada cemas.
"Masalah telapak tangan darah, pinto sudah tahu,"
Kata Ci Siong tojin. Fu-hujin menoleh kepada putranya dengan mata keheranan.
"Telapak tangan darah apa?"
Tanyanya.
"Ibu, itu hanya mainan orang iseng. Tidak usah dipedulikan"
Fu Giok-su memalingkan wajahnya kepada Ci Siong tojin.
"Locianpwe tidak usah khawatir ...."
Ci Siong tojin menggelengkan kepalanya.
"Hati sicu baik sekali. Pinto justru semakin bertekad untuk meninggalkan rumah ini,"
Katanya.
"Locianpwe, kau tidak usah mempedulikan orang-orang itu. Kalau mereka berani menyerang rumah ini, maka aku, Fu Giok-su yang pertama-tama akan melawan mereka!"
Sahut anak muda itu penuh semangat. Ci Siong tojin memandangnya dengan rasa berterima kasih.
"Bagaimana kejinya orang-orang Bu-ti-bun, mungkin sicu masih belum tahu. Tapi pinto mengetahui dengan jelas. Keputusan kami untuk pergi sudah bulat. Sicu jangan menghalangi lagi." 181 Fu Giok terdiam mendengar perkataannya. Tiba-tiba terdengar suara "Tang! Tang! Tang!", tiga kali berturut-turut. Kemudian disusul dengan kumandangnya bentakan.
"Dentang kematian telah berbunyi tiga kali, binatang pun tidak akan dibiarkan hidup!"
Wajah Ci Siong tojin berubah hebat.
Matanya segera memalingkan ke arah pintu depan.
Tampak tiga helai bendera berkibaran di atas tembok.
Suara tadi menyeramkan sekali.
Seperti ratapan hantu gentayangan.
Tiga helai bendera itu memantulkan sinar menakutkan disorot oleh cahaya rembulan.
Sinar lentera yang redup membuat pemandangan semakin mengerikan.
Fu-hujin dapat merasakan sesuatu yang tidak beres.
Dia segera menarik tangan Fu Giok-su.
"Apa artinya semua ini?"
Tanyanya khawatir.
"Tadi itu merupakan lambang Bu-ti-bun. Mereka sudah siap menyerang gedung ini dan membersihkan seluruh penghuninya dengan darah,"
Kata Ti Ciok menjawab pertanyaan itu. Fu-hujin semakin cemas. Wajahnya tegang.
"Giok-su ... Giok-su ... ini ... bagaimana baiknya sekarang?"
Tanyanya panik.
"Kita bisa melarikan diri lewat ruang rahasia!"
Teriak Fu Giok-su.
"Ruang rahasia?"
Ci Siong tojin memandangnya dengan tatapan tidak mengerti.
"Kakek cayhe dulu adalah seorang pengawal istana. Beliau 182 membangun sebuah ruang rahasia untuk melarikan diri di saat genting. Tempat itu menembus sebuah kamar bawah tanah dan kita bisa melarikan diri lewat tempat itu. Ada sebuah jalan yang menembus taman di belakang rumah,"
Kata Fu Giok-su menjelaskan. Ci Siong masih merenungkan saran itu. Seorang pengawal menghambur masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Kongcu, di halaman bermunculan banyak orang berpakaian hitam. Melihat keadaan, kemungkinan kita sudah terkepung rapat,"
Katanya gugup.
"Kami sudah tahu,"
Sahut Fu Giok-su dengan wajah kelam.
"Kongcu ... kami ...."
Suara dan tubuh pengawal itu bergetar.
Tampangnya sudah tidak segagah semula.
Mereka terdiri dari orang-orang kangouw.
Melihat ketiga helai bendera yang berkibar di depan rumah dan mendengar suara ancaman tadi, mereka segera sadar apa yang telah terjadi.
Tentu mereka juga mengerti bagaimana kejinya orang-orang Bu-ti-bun.
"Perintahkan yang lain agar jangan keluar. Tutup pintu rapat-rapat. Jangan sampai musuh menerjang ke dalam rumah!"
Kata Fu Giok-su, Pengawal itu mengiakan dan mengundurkan diri dengan tergesa-gesa. Pada saat itu, wajah setiap orang yang ada dalam ruangan itu berubah tegang.
"Cep! Cep! Cep!" , terdengar desingan sebanyak tiga kali. Lentera yang tergantung di luar rumah pecah seketika. Api 183 memercik bagai petasan yang disulut. Ci Siong tojin menarik napas panjang.
"Sudah terlambat,"
Dia mengeluh.
"Kalau begitu, kita harus segera bergerak menuju ruang rahasia,"
Kata Fu Giok-su menyarankan. Ci Siong tojin menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada gunanya. Orang-orang Bu-ti-bun sudah mengepung seluruh bangunan ini. Meskipun ada ruang rahasia yang dapat menembus taman belakang, namun kita tetap tidak bisa melepaskan diri dari kejaran orang-orang mereka. Kecuali ...."
"Kecuali apa?"
"Satu-satunya jalan adalah membawa keluargamu melarikan diri lewat ruang rahasia tersebut. Pinto bertiga akan menerjang lewat pintu depan untuk mengalihkan perhatian mereka,"
Kata Ci Siong tojin.
"Locianpwe ...."
Tampaknya Fu Giok-su keberatan dengan usul itu.
"Tidak ada pilihan lain lagi,"
Kata Ci Siong tojin.
"Mana mungkin cayhe membiarkan locianpwe menempuh bahaya ini?"
"Pinto tidak boleh hanya mementingkan diri sendiri. Hidup dan mati adalah takdir. Sama sekali tidak boleh melibatkan kalian 184 sekeluarga,"
Kata Ci Siong tojin tegas.
"Sebagai Ciangbunjin Bu-tong-pai, Locianpwe ...."
"Jangan banyak bicara!"
Bentak Ci Siong tojin.
"Giok-su, apakah kita tidak bisa tetap di sini saja?"
Tukas Fu-hujin dari samping.
"Ibu, lebih baik kita menyembunyikan diri untuk sementara,"
Sahut Fu Giok-su.
"Kongcu, apa yang harus kita lakukan?"
Tanya seorang pelayan tua yang sejak tadi berdiam diri.
"Apakah kita perlu menyiapkan bekal?"
Tanya yang lainnya.
"Tidak perlu, waktu sudah mendesak. Semuanya ikuti aku!"
Teriak Fu Giok-su mengambil keputusan.
"Ti Ciok, Bok Ciok, mari kita pergi!"
Perintah Ci Siong tojin. Ketiga orang itu menghunus pedangnya masing-masing dan menerjang keluar. Melihat keadaan itu, Fu Giok-su panik sekali. Dia berteriak.
"Locianpwe ...!"
"Tidak ada waktu lagi ... kalian segera tinggalkan tempat ini!"
Bentak Ci Siong tojin.
Dia tidak menolehkan kepalanya sama sekali.
Langkah kakinya malah dipercepat.
Bok Ciok dan Ti Ciok mengiringi di sampingnya.
Mereka tenang sekali.
Tidak ada kesan bahwa mereka takut menghadapi kematian.
Fu Giok-su terpaku sejenak.
Kemudian 185 bergegas mengajak keluarganya meninggalkan tempat itu.
Suara teriakan para pelayan, ratapan tangisan anak-anak berbaur.
Suasana semakin tegang dan kacau.
***** Halaman rumah keluarga Fu sepi sekali.
Ternyata tidak terlihat seorang pun di sana.
Sinar rembulan menerangi bebatuan jalan yang menghijau.
Suasana mencekam.
Dengan pedang di tangan Ci Siong tojin jmenghambur ke arah koridor gedung itu.
Wajahnya pucat tersorot cahaya rembulan.
Pedangnya digetarkan.
"Orang-orang Bu-ti-bun! Keluar kalian semuanya!"
Bentaknya marah.
Suara langkah-langkah kaki, suara kibasan lengan baju segera memecah keheningan malam.
Sejumlah manusia berpakaian hitam bermunculan dari segala penjuru.
Tangan mereka menggenggam berbagai macam senjata.
Ci Siong tojin menggetarkan pedang di tangannya.
Dia bermaksud menerjang ke arah manusia-manusia berpakaian hitam tersebut.
Tiba-tiba rasa sakit menyerang dadanya, terpaksa dia menghentikan langkah kakinya.
Manusia-manusia berpakaian hitam itu segera menyerbu dan mengepung Ci Siong tojin beserta kedua muridnya.
Ti Ciok dan Bok Ciok menyilangkan pedangnya.
Mereka melindungi Ci Siong tojin.
Bok Ciok tidak sungkan lagi, setiap kali bertemu dengan musuh, pedangnya menikam tanpa pikir dua kali.
Sedangkan Ti Ciok juga menggerakkan pedangnya secepat kilat.
Percikan darah memenuhi pakaian mereka.
186 Ci Siong tojin berusaha memacu semangatnya.
Pedangnya berkelebat menembus tenggorokan salah satu manusia berpakaian hitam.
Meskipun lukanya cukup parah, tenaga dalamnya melemah, namun jurus-jurus ampuh masih dikuasainya dengan baik.
Pikirannya masih jernih.
Sasaran pedangnya selalu ke arah yang mematikan.
"Terjang terus!"
Teriak Ci Siong tojin dengan suara keras.
Pedangnya menusuk lagi dua kali.
Dua manusia berpakaian hitam roboh seketika.
Hawa amarah sudah memenuhi hati tosu tua ini.
Pedang di tangannya tidak berbelas kasihan lagi.
Sedangkan manusia-manusia berpakaian hitam tersebut tampaknya tidak takut menghadapi kematian.
Jumlah mereka makin lama makin banyak.
Mereka menerjang bagai air bah yang melanda.
Ci Siong tojin mengeluarkan suara teriakan.
Pedangnya menyabet seorang manusia berpakaian hitam dan tubuh orang itu langsung terbelah menjadi dua bagian.
Dia tidak peduli kakinya menginjak mayat-mayat yang bergelimpangan.
Ti Ciok dan Bok Ciok juga turun tangan dengan telengas.
Dengan ketat mereka melindungi Ci Siong tojin.
Darah segar memercik ke mana-mana.
Jalanan berbatu itu telah menjadi merah.
Pakaian ketiga orang itu juga penuh bercak-bercak darah.
Manusia-manusia berpakaian hitam itu menyerang seperti kesurupan setan.
Hujan darah memenuhi angkasa.
Perlahan mereka mulai terpencar dan menjadi tiga kelompok yang masing-masing terkurung oleh musuh.
Ti Ciok dan Bok Ciok berusaha mendekati Ci Siong tojin.
Namun mereka malah 187 terseret semakin jauh.
Bagaimana pun mereka tidak berhasil keluar dari kepungan manusia-manusia berpakaian hitam tersebut.
Bagian perut Ci Siong tojin terasa sakit sekali.
Sebisanya dia mempertahankan diri.
Gerakan pedangnya mulai lemah.
Setiap kali dia menyerang dengan pedangnya, pasti berhasil ditangkis oleh manusia berpakaian hitam itu.
Dia tidak sanggup mengerahkan Liong-gi-kiam lagi.
Dan rasa sakit semakin menghebat!
Keringat mulai membasahi keningnya.
Dia berusaha menghindari setiap serangan manusia berpakaian hitam yang semakin lama semakin banyak itu.
Langkah kakinya mulai limbung.
Kembali sebuah golok mengancam dadanya.
Dengan susah payah dia berhasil menghindar, namun terdesak mundur beberapa langkah lalu muntah darah.
Ci Siong tojin masih berusaha menahan.
Golok kedua sudah tiba.
Tampaknya kali ini dia tidak akan berhasil menghindar diri lagi.
"Trang!" , sebuah pedang lain menyambut kedatangan golok tersebut. Ci Siong tojin menolehkan kepalanya. Dia melihat Fu Giok-su sudah berdiri di sampingnya dan langsung bergerak ke depan melindunginya.
"Fu-kongcu ...!"
"Mereka sudah berhasil meninggalkan tempat ini,"
Sahut Fu Giok-su sambil menggetarkan pedang di tangannya. Seorang manusia berpakaian hitam tidak berani mengambil risiko. Terpaksa dia mundur untuk melepaskan diri dari sabetan 188 pedang Fu Giok-su.
"Mari kita terjang keluar!"
Ajak pemuda itu.
Darah segar masih mengalir.
Gerakan Fu Giok-su sama sekali tidak lambat.
Pedangnya selalu mengambil korban.
Dua orang lagi roboh terkena sabetan pedangnya.
Ti Ciok dan Bok Ciok berhasil juga mendekati Ci Siong tojin.
Mereka melindungi Ci Siong tojin.
"Fu-kongcu, kami akan menghalangi musuh. Harap kongcu membawa suhu meninggalkan tempat ini!"
Teriak Ti Ciok.
"Baik,"
Sahut Fu Giok-su sambil menyabetkan pedangnya ke depan.
Ti Ciok dan Bok Ciok segera menggantikannya.
Mereka membuka jalan bagi Ci Siong tn jin dan Fu Giak Su.
Tosu tua itu tampak bimbang.
Bok Ciok malah panik melihatnya.
"Suhu ... cepat lari!"
Teriaknya.
"Ilmu orang-orang ini tidak seberapa tinggi. Sebentar lagi kami akan menyusul!"
Kata Ti Ciok.
Akhirnya Ci Siong tojin terpaksa menganggukkan kepalanya.
Dia mengikuti Fu Giok-su dari belakang.
Manusia-manusia berpakaian hitam itu kembali menerjang.
Namun mereka berhasil diadang oleh Bok Ciok dan Ti Ciok.
Fu Giok-su juga tidak berpikir panjang lagi.
Pedangnya menyabet dari kiri ke kanan.
Tujuh orang roboh seketika.
Sedangkan dalam keadaan payah, Ci Siong tojin juga sempai melukai dua orang lawan.
Fu Giok-su memalingkan wajahnya ke wajah tosu tua tersebut.
"Locianpwe ... kita ambil arah timur,"
Katanya. 189
"Baik,"
Sahut Ci Siong tojin.
Namun langkah kakinya segera terhenti.
Segumpal darah kembali muncrat dari mulutnya.
Fu Giok-su panik melihat keadaannya.
Dia segera mengulurkan sebelah tangan dan memapah orang tua itu.
"Tidak usah,"
Kata Ci Siong tojin berusaha mempertahankan diri.
Fu Giok-su tidak mempedulikan kata-katanya.
Pedangnya kembali berkelebat.
Tiga manusia berpakaian hitam roboh bermandikan darah.
Dengan memapah Ci Siong tojin, dia menerjang dengan nekat.
Akhirnya dia berhasil mencapai jalan besar.
Mereka membelok di sebuah gang kecil.
Tidak ada lagi manusia berpakaian hitam yang menghalangi mereka.
Juga tidak terlihat ada yang mengejar.
Ci Siong tojin dan Fu Giok-su baru bisa menghela napas lega.
Tiba-tiba terdengar suara jeritan ngeri dari gedung keluarga Fu.
Kemudian disusul sekali lagi jeritan yang lainnya.
Ci Siong tojin segera mengenali bahwa yang terdengar tadi adalah suara Ti Ciok dan Bok Ciok.
Wajahnya berubah hebat, langkah kakinya berhenti seketika.
Fu Giok-su juga merasa curiga.
"Locianpwe .... locianpwe!"
Panggilnya cemas.
"Ti Ciok dan Bok Ciok sudah mengorbankan diri,"
Sahut Ci Siong tojin dengan nada sedih. Fu Giok-su terpana mendengar keterangan itu. 190
"Mungkin pihak lawan sudah mendatangkan jagoannya,"
Kata Ci Siong tojin kembali. Matanya beralih kepada Fu Giok-su.
"Mari pergil"
"Apakah tidak lebih baik kita balik dan lihat ...?"
Ci Siong tojin tertawa datar.
"Hidup dan mati merupakan takdir. Mungkin sudah merupakan suratan nasibnya bahwa mereka hanya dapat hidup sampai malam ini."
Fu Giok-su masih bimbang.
Ci Siong tojin sudah mempercepat langkahnya.
***** Apa yang diduga oleh Ci Siong tojin memang tidak salah.
Pihak lawan memang telah kedatangan seorang jagonya.
Ketika orang yang berilmu tinggi ini datang, Ti Ciok dan Bok Ciok sudah berhasil mendesak manusia-manusia berpakaian hitam dan bersiap-siap menyusul Ci Siong tojin.
"Sute ... mari!"
Teriak Ti Ciok.
Namun baru saja kakinya berjalan beberapa langkah, sekelebatan pedang telah menyerangnya.
Pedang itu hitam berkilauan.
Kedatangannya tidak sempat mengejutkan, namun kecepatan sungguh mengerikan.
Sama sekali tidak terdengar suara kibasan lengan baju.
Ketika Ti Ciok menyadari, pedang itu tinggal tiga cun dari tenggorokannya.
Ti Ciok terkejut sekali.
Dengan panik dia berusaha menghindar, tapi terlambat.
Pedang tersebut menembus dari leher sebelah kiri sampai ke leher kanan.
Pada saat itulah dia menjerit ngeri.
Juga merupakan jeritannya yang terakhir.
191 Darah berhambur bagai anak panah.
Pedang itu sangat tipis.
Panjangnya kira-kira satu setengah meter.
Memang sebuah pedang yang luar biasa dan lain daripada yang lain.
Orang yang menggenggam pedang itu memakai topi pandan berbentuk aneh.
Dan dia adalah seorang kidal.
Topi pandan itu menutupi sebagian wajahnya.
Begitu pedangnya ditarik kembali, dia langsung menyerang Bok Ciok.
Tubuh Ti Ciok ikut tertarik dan berputar satu kali sebelum pedang tersebut benar-benar tercabut semuanya.
Dan tatkala tubuhnya terlempar ke tanah, orang itu sudah menyerang Bok Ciok sebanyak dua puluh tiga kali berturut-turut.
Bok Ciok sangat terpukul melihat kematian suhengnya.
Dia berhasil menghindarkan serangan orang bertopi pandan tersebut.
Dengan, kalap dia membunuh setiap manusia berpakaian hitam yang ada di dekatnya.
***** Usianya memang lebih muda dari Ti Ciok, namun kepandaiannya justru lebih tinggi.
Tapi sayangnya dia sudah bertempur cukup lama, tenaganya sudah banyak terkuras.
Dia tidak sudi membiarkan nyawanya melayang begitu saja.
Seorang manusia berpakaian hitam yang menyerangnya terdesak mundur sejauh tujuh langkah.
"Utang nyawa bayar nyawa!"
Teriak Bok Ciok kalap.
Pedangnya berkelebat, mengejar bayangan manusia hitam tersebut.
Manusia berpakaian hitam itu kembali mundur satu langkah.
Sedangkan orang yang memakai topi pandan berbentuk aneh 192 segera mengadang di depannya.
Bok Ciok memang sudah marah Sekali.
Dia tidak peduli seberapa tinggi ilmu yang dimiliki si topi pandan.
Pedangnya memutar segala arah.
Orang itu terpaksa mundur beberapa langkah.
Bok Ciok tidak memberinya kesempatan.
Sekali lagi dia mengayunkan pedangnya.
Kali ini dari atas ke bawah.
Topi orang itu terbelah menjadi dua bagian.
Di situ pula letak kesalahan Bok Ciok.
Semestinya dia tidak ambisius melihat wajah orang itu.
Karena begitu melihatnya, dia menjadi terpana seketika.
Wajah itu rata semua.
Tidak ada alis, mata, hidung maupun mulut.
Persis sebuah telur saja.
Hati siapa pun akan tercekat melihat pemandangan demikian.
Dan Bok Ciok sendiri seumur hidupnya belum pernah melihat manusia semacam ini.
Mulutnya terbuka, matanya membelalak.
"Kau ..?"
Katanya tanpa sadar.
Justru karena perhatiannya terpecah itulah, manusia aneh itu mempunyai kesempatan untuk menikam jantungnya dengan pedang yang panjangnya luar biasa itu.
Rasa sakit segera menyerang.
Bok Ciok menjerit ngeri.
Darah menyembur.
Dengan susah payah dia mendekap dada.
Kakinya limbung, langkahnya terhuyung-huyung.
Akhirnya roboh ke tanah dan mati seketika.
Manusia tanpa wajah itu membalikkan tubuhnya perlahan.
Wajahnya yang rata terlihat semakin pucat tersorot cahaya rembulan.
Beberapa tetes darah mengucur dari bagian depan kepalanya.
Rupanya pedang Bok Ciok sempat melukainya.
Namun sayang sekali tidak cukup dalam untuk merenggut jiwanya, Manusia tanpa wajah itu menenangkan dirinya sesaat.
Kemudian sepasang kakinya menutul, tubuhnya 193 melesat tinggi dan melayang ke dalam keluarga Fu.
Para manusia berpakaian hitam yang masih tersisa bersorak kesetanan.
Mereka ikut menyerbu ke dalam keluarga Fu dan membunuh siapa saja yang ada di dalam rumah.
Jilid 5 Air sungai beriak-riak.
Kabut belum membuyar.
Daerah di seberang sungai tidak terlihat.
Namun airnya dapat terlihat jelas.
Ci Siong tojin dan Fu Giok-su berdiri berendengan.
Mata mereka menatap di kejauhan.
Sinar mata Fu Giok-su menatap arah yang mereka lalui tadi.
Ci Siong tojin menatap aliran yang seakan tidak terbatas.
Angin dingin melambaikan rambut Ci Siong tojin.
Matanya berkedip satu kali.
"Hari sudah terang,"
Katanya lirih.
"Mengapa mereka masih belum menyusul?"
Tukas Fu Giok-su tanpa sadar.
"Apakah kau menjanjikan keluargamu untuk bertemu di tempat ini?"
Tanya Ci Siong tojin.
"Aku mengatakan bahwa mereka harus menunggu aku di tempat peristirahatan dekat tepi sungai. Dalam jarak dua puluh li dari sini memang hanya ada satu tempat peristirahatan ini saja,"
Sahut Fu Giok-su sambil mengedarkan pandangannya dengan gelisah.
Sayup-sayup terdengar suara roda kereta.
Namun datangnya dari arah yang berlawanan.
194 ***** Suara kereta semakin dekat.
Akhirnya terlihat serombongan kereta membawa peti mati dalam jumlah banyak melintas di samping mereka.
Puluhan laki-laki dengan bertelanjang dada dan kening berkeringat mendorong kereta-kereta tersebut.
Sedangkan di bagian tengah berjalan seorang laki-laki bertubuh gemuk dan bertampang pengusaha.
Dia memberi perintah kepada para laki-laki bertelanjang dada itu agar mendorong kereta berisi peti mati itu lebih cepat.
Fu Giok-su dan Ci Siong tojin saling melirik.
Terlihat segurat kekecewaan pada sinar mata tosu tua tersebut.
Fu Giok-su tidak dapat menahan diri lagi, dia segera maju ke depan menghampiri laki-laki bertubuh gemuk tersebut.
"Maaf, Laopan ... mengapa begitu banyak peti mati?"
"Apa perlu ditanyakan lagi? Tentu saja karena yang mati juga banyak,"
Sahut laki-laki itu dengan wajah berseri-seri. Fu Giok-su segera menjadi panik, namun dia berusaha untuk tidak terlihat.
"Apakah pemerintah sedang menjalankan hukuman kepada para penjahat?"
Tanyanya kembali.
"Bukan. Rasanya urusan balas dendam pribadi. Di dalam kota kecil situ ada sebuah keluarga yang dibunuh bersih dalam satu malam. Justru pihak gubernur yang membereskan mayat-mayat mereka. Aku yang jadi korban, pagi ini juga aku sudah harus sampai di kota itu,"
Sahut laki-laki itu menjelaskan. Ci Siong yang mendengarkan perkataan laki-laki tersebut 195 menjadi semakin tidak tenang. Dia cepat-cepat menghampiri.
"Keluarga siapa yang mengalami kejadian demikian tragis?"
Tanya Fu Giok-su cemas.
"Kalau tidak salah, keluarga Fu. Dulu orang tua mereka juga prajurit istana. Mungkin karena terlalu banyak dosa, jadi mendapat karma seperti sekarang ini, kata laki-laki itu sambil menggelengkan kepalanya. Kemudian dia tersenyum lebar.
"Tapi aku justru beruntung. Belum pernah selama hidupku mendapat pesanan peti mati sebanyak ini. Sampai kehabisan stok dan meminjam dari teman seusaha yang lain."
Selesai berkata, dia segera mempercepat langkah menuju anak buahnya.
Wajah Fu Giok-su pucat pasi.
Dia berdiri termangu-mangu.
Kedua tangannya terkepal, air mata mulai mengembang.
Tubuhnya terhuyung-huyung.
Ci Siong tojin cepat-cepat memegangi bahunya.
Fu Giok-su berusaha memberontak dan melangkah.
"Kau mau ke mana?"
Hardik Ci Siong tojin.
"Aku akan kembali dan mengadu nyawa dengan orang-orang Bu-ti-bun"
Sahut Fu Giok-su. Dia menggertakkan giginya erat-erat dan langsung menerjang ke depan. Ci Siong tojin menariknya kuat-kuat. Akhirnya langkah kaki Fu Giok-su terhenti juga.
"Kalau kau kembali ke sana sama saja kau mengantar kematian,"
Kata Ci Siong tojin menasihati. 196
"Aku tidak takut mati"
Teriak Fu Giok-su. Wajah Ci Siong tojin semakin serius.
"Tapi dengan kematianmu ini, turunan keluarga Fu pun habis sampai di sini, dendam sedalam lautan ini, siapa yang akan membalasnya?"
Fu Giok-su bagai tersambar petir. Kesadarannya tergugah oleh kata-kata Ci Siong tojin. Tanpa kuasa lagi dia terjatuh dan berlutut di atas tanah.
"Tenangkanlah dirimu, pikirkanlah baik-baik,"
Kata Ci Siong tojin selanjutnya.
"Aku ...."
Dengan air mata berlinang Fu Giok-su menengadahkan wajahnya menatap langit. Kemudian dia menoleh kembali kepada Ci Siong tojin. Dengan panik dia bertanya.
"Locianpwe ... apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Ci Siong tojin memandangi Fu Giok-su lekat-lekat.
"Ikutlah aku ke Bu-tong-san. Nanti baru kita pikirkan perlahan,"
Katanya sepatah demi sepatah.
Fu Giok-su tidak memperlihatkan reaksi apa-apa.
Sejenak kemudian dia baru berdiri.
Angin dingin masih bertiup.
Akhirnya kedua orang itu kembali melangkahkan kaki.
Dengan wajah kelam mereka berjalan.
***** Senja hari hampir menyelesaikan tugasnya.
Dingin mulai 197 merayap.
Di dalam pendopo asap hio mengepul.
Semuanya membisu.
Suasana hening mencekam.
Hanya Ci Siong tojin seorang yang berlutut di depan meja sembahyang.
Mimik wajah maupun suaranya demikian pilu.
"Pertarungan di atas Kuan-jit-hong ... tecu benar-benar tidak berguna, tecu kembali mengalami kekalahan di tangan Tok-ku Bu-ti. Hari ini tecu menghadap Cousu untuk menerima hukuman yang berlaku di partai kita,"
Suaranya demikian lirih, tidak terdengar dari luar pendopo.
Namun, justru suara Gi-song dan Cang-song dapat tertangkap jelas oleh para murid yang berkumpul di luar pendopo tersebut.
Kata-kata yang diucapkan Gi-song maupun Cang-song tentu bukan kata-kata yang enak didengar.
"Kali ini cahaya Bu-tong-pai benar-benar dibuatnya,"
Kata Gi-song.
"Apa tidak? Ini merupakan kekalahannya yang ketiga kali,"
Sambung Cang-song.
"Tampaknya luka yang dia dapatkan tidak ringan. Nanti kalau kita membuat obat, takarannya terpaksa dua kali lipat,"
Kata Gi-song sambil tertawa dingin.
Sebagian murid Bu-tong-pai yang mendengar percakapan itu menunjukkan wajah sedih.
Ada pula yang menundukkan kepala dan menarik napas panjang.
Tentu ada juga yang diam-diam merasa gembira.
Siapa pun dapat melihat, bahwa di dalam Bu-tong-pai sendiri memang mulai terpecah belah.
Tiga kali berturut-turut Tok-ku Bu-ti mengalahkan Ci Siong 198 tojin.
Apakah dia akan kembali seperti sebelumnya, yaitu tetap tidak akan melepaskan Bu-tong-pai begitu saja?
Siapa pun tidak berani memastikan hal ini.
Yang pasti Bu-ti-bun semakin naik daun.
Persis seperti semboyannya yang mengatakan bahwa Bu-ti-bun ibarat matahari yang bersinar di tengah hari.
***** Terdengar suara gemuruh.
Sebuah batu berbentuk persegi hancur seketika di tengah udara.
Pecahannya menghampar ke mana-mana.
Suara kibasan batang bambu tertutup oleh gemuruh tadi.
Ci Siong tojin berdiri di antara hutan bambu.
Lengan bajunya berkibar-kibar tertiup angin.
Mimik wajahnya menunjukkan perasaan gembira yang tidak tersangka.
Di antara embusan pecahan batu-batu, terlihat orang tua yang dipanggil sebagai suheng oleh Ci Siong tojin.
Sehari sebelum berangkat memenuhi perjanjian dengan Tok-ku Bu-ti, dia menghadap Yan Cong-tian.
Laki-laki itu masih seperti orang yang berpenyakit dan duduk menyandar di atas tempat tidurnya yang terbuat dari batu.
Tiba-tiba suhengnya berubah menjadi gesit dan sehat.
Tentu saja Ci Siong tojin senang melihat keadaan ini.
Hanya dengan satu kali pukulan, dia sanggup membuat meja yang berbahan batu itu hancur lebur menjadi ribuan pecahan kecil-kecil.
Hal ini membuktikan bahwa lwekang (tenaga dalam) yang dimiliki suhengnya bahkan sudah jauh di atasnya.
Tubuh Yan Cong-tian mendarat di tanah, rambutnya yang putih dan terurai beterbangan.
Matanya memandang Ci Siong tojin.
"Tenaga pukulanku ini ... apakah dapat ditandingi oleh Mit-kip-mo-kang Tok-ku Bu-ti yang sudah mencapai tingkat delapan itu?"
Tanyanya.
"Rasanya tenaga suheng masih menang setengah tingkat,"
Sahut Ci Siong tojin.
"Kalau begitu, Tok-ku Bu-ti masih bukan tandinganku,"
Kata Yan Cong-tian sambil tertawa terbahak-bahak.
Bagaimanapun juga, dia merupakan satu-satunya orang yang masih disegani oleh Tok-ku Bu-ti.
Juga karena adanya Yan Cong-tian di Bu-tong-san, maka sampai hari ini Tok-ku Bu-ti masih belum mengambil tindakan apa-apa.
Meskipun dia berhasil mengalahkan Ci Siong tojin sebanyak tiga kali.
Kalau melihat tenaga pukulan Yan Cong-tian kali ini, tidak heran apabila Tok-ku Bu-ti masih berpikir panjang untuk menyerang Bu-tong-pai.
Yan Cong-tian masih tertawa senang.
"Bagaimana kalau kau lihat lagi pukulanku yang satu ini?"
Dia menarik napas dalam-dalam, urat-urat di tangannya mulai menonjol.
Wajahnya merah padam.
Kemudian tiba-tiba berubah menjadi kehijauan.
Tubuhnya gemetaran.
Melihat keadaan itu, Ci Siong tojin segera merasakan ada yang tidak beres.
Tergesa-gesa dia mendekati Yan Cong-tian dan memandangnya dari atas ke bawah.
"Suheng, apa yang terjadi?"
Tanyanya cemas. Keringat mengalir deras dari kening Yan Cong-tian.
"Benar-200 benar menyebalkan!"
Teriaknya marah.
Dia membalikkan tubuh dan menghambur ke rumah batunya.
Ci Siong tojin cepat-cepat menyusul dan memapahnya, tapi tangannya dikibaskan oleh Yan Cong-tian.
Pada saat itu, Ci Siong tojin dapat merasakan bahwa tenaga dari tolakan suhengnya tidak berbeda dengan orang biasa yang tidak mengerti ilmu silat.
Bukan saja dia tidak berhasil melepaskan tangan Ci Siong tojin, tapi malah dirinya yang terdorong.
***** Keadaan di dalam rumah itu masih remang-remang.
Dengan terhuyung-huyung Yan Cong-tian berhasil juga mencapai tempat tidur.
Dia langsung menjatuhkan diri dan diam seribu bahasa.
Ci Siong tojin menyusul di belakangnya.
Belum sempat kakinya melangkah ke dalam, terdengar Yan Cong-tian marah-marah.
"Kau sudah menyaksikan sendiri, entah di mana letak kesalahannya, tenagaku kadang-kadang ada dan kadang-kadang tidak ada!"
Ketegangannya perlahan mulai mereda.
"Aku sungguh tidak mengerti. Dulunya tidak begini. Sejak melatih Tian-can-sin-kang, aku segera merasakan kelainan ini."
Suara Yan Cong-tian lebih mirip ratapan. Melihat keadaan tersebut, untuk sesaat Ci Siong tojin tidak tahu bagaimana harus menghibur hati suhengnya.
"Tian-can-kiat kali ini benar-benar terasa seperti senjata makan tuan. Kalau sejak semula tahu begini jadinya, lebih baik aku tidak melatih ilmu ini,"
Kata Yan Cong-tian sambil 201 tertawa getir.
"Apakah benar-benar Thian murka kepada Bu-tong?"
Sahut Ci Siong tojin tanpa sadar. Darahnya menggelegak. Wajahnya berubah dan akhirnya dia terbatuk-batuk. Yan Cong-tian memperhatikan Ci Siong tojin dengan seksama.
"Tampaknya lukamu tidak ringan."
Ci Siong tojin menganggukkan kepalanya.
"Paling tidak separo dari urat nadi dalam tubuhku ini sudah terhajar putus. Tenaga dalamku tinggal empat bagian,"
Tanpa dapat menahan diri lagi, dia menarik napas panjang.
"Apa gunanya sedikit-sedikit menarik napas?"
Kata Yan Cong-tian dengan nada tidak senang. Ci Siong tojin diam termenung, Yan Cong-tian juga tidak tahu apa yang harus dikatakan. Setelah sekian lama, Ci Siong baru tersadar dari lamunannya.
"Dalam dua tahun ini, kecuali ada mukjizat atau keajaiban yang terjadi, kalau tidak tenagaku paling-paling dapat pulih menjadi tujuh bagian saja. Kalau dilihat dari keadaan sekarang, satu-satunya jalan hanyalah memilih beberapa murid berbakat dan ajarkan mereka Bu-tong-liok-kiat (enam jurus ampuh Bu-tong). Mereka harus berlatih keras. Setahun kemudian, apabila mereka dapat mencapai hasil yang memuaskan, ditambah lagi dengan Wan ji maka kita dapat membentuk barisan Pat-tou-jit-sing-ceng. Aku berharap cara ini dapat mengalahkan Tok-ku Bu-ti. Seandainya tidak juga, aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi,"
Katanya. 202 Yan Cong-tian merenung sejenak.
"Bagus ... akal bagus!"
Akhirnya dia setuju dengan rencana tersebut.
"Tapi .... Bu-tong-liok-kiat biasanya hanya boleh diwariskan kepada Ciangbunjin saja."
"Urusan sudah sampai sedemikian rupa, bagaimana kita bisa berpikir yang lainnya lagi?"
Tukas Yan Cong-tian.
"Kalau suheng memang tidak keberatan, kita putuskan demikian saja,"
Kata Ci Siong tojin.
Terdengar suara langkah kaki dari luar rumah.
Ci Siong tojin mengerutkan keningnya erat-erat.
Yan Cong-tian malah seperti tidak mendengarnya.
Sekali ketukan pintu terdengar.
Dengan kemalas-malasan Yan Cong-tian menyahut.
"Masuk!"
Sebuah suara mengiakan dan pintu didorong dari luar.
Tangan orang itu membawa baki makanan.
Dia adalah Wan Fei-yang.
Ci Siong tojin terpana melihatnya.
Anak muda itu sendiri tidak menduga Ci Siong tojin ada di sana.
"Ciangbunjin,"
Sapanya. Ci Siong tojin menyahut datar.
"Tecu tidak tahu Ciangbunjin ada di sini. Sekarang juga tecu akan membawakan lagi nasi dan hidangan untuk Ciangbunjin,"
Kata Wan Fei-yang selanjutnya. 203
"Tidak usah ..."
Sahut Ci Siong tojin sambil mengibaskan tangannya. Wan Fei-yang terpaksa mengundurkan diri. Sampai di luar pintu, dia mendengar ucapan Yan Cong-tian.
"Pembawaan anak ini boleh juga."
Tanpa sadar Wan Fei-yang menghentikan langkah kakinya dan berdiri memasang telinga. ***** Tidak terdengar suara Ci Siong tojin memberi reaksi atas ucapan Yan Cong-tian tadi.
"Mengapa kau tidak menerimanya sebagai murid?"
Tanya Yan Cong-tian kembali.
"Justru karena riwayatnya ada masalah,"
Sahut Ci Siong tojin.
"Masalah apa?"
Tanya Yan Cong-tian.
"Dia mengikuti she (marga) ibunya. Sedangkan yang mana ayahnya atau siapa orangnya dia sendiri tidak tahu."
Ci Siong tojin menghela napas panjang.
"Tentu suheng tidak lupa kejadian dua puluh tahun yang lalu."
Yan Cong-tian menganggukkan kepalanya.
"Sejak kejadian itu, suhu telah memutuskan bahwa Bu-tong-pai hanya menerima orang yang riwayatnya bersih sebagai murid,"
Kata Ci Siong tojin selanjutnya.
"Tidak salah. Tapi sekarang kita kekurangan tenaga. Lagi pula, bocah ini sudah tinggal di Bu-tong-san sekian tahun, 204 selama ini tidak terlihat sesuatu yang menghawatirkan. Begini saja, bagaimana kalau aku yang bertanggung jawab,"
Sahut Yan Cong-tian.
"Rasanya Gi-song dan Cang-song tidak akan setuju dengan usul ini,"
Kata Ci Siong tojin seakan kepada dirinya sendiri.
"Kedua orang yang usil itu ... hm .... tidak usah kau pedulikan mereka. Seandainya mereka tidak senang, biar mereka mencari aku,"
Kata Yan Cong-tian sambil mendengus dingin.
"Biar aku pikirkan lagi baik-baik ..."
Wan Fei-yang yang berada di luar dan mendengarkan percakapan ini, tentu saja merasa senang sekali.
Dia langsung berlari menuju luar hutan.
Setelah berada di luar hutan bambu, tanpa dapat menahan diri lagi dia berteriak kesenangan.
Langkah kakinya dipercepat.
***** Angin bertiup sejuk, udara di atas Bu-tong-san hari ini sangat dingin.
Para murid Bu-tong-pai sama sekali tidak mempedulikan keadaan cuaca.
Mereka malah menjadi kemalas-malasan karena udara yang sejuk itu.
Demikian juga Wan-ji.
Ketika Wan Fei-yang melihatnya, dia sedang berjalan mondar-mandir di taman bunga.
Dari jauh Wan Fei-yang sudah melihatnya, dia segera berlari-lari mendekati.
Ketika jaraknya tidak seberapa jauh lagi, Wan-ji baru merasakan kehadirannya.
Melihat cara jalan dan mimik wajah Wan Fei-yang yang berseri-seri, dia menjadi heran.
"Wan-ji kouwnio ...."
Panggil Wan Fei-yang sambil menambah kecepatan kakinya. Mendengar panggilan itu, Wan-ji menghentikan langkah kakinya. Wan Fei-yang melesat ke samping gadis itu.
"Aku ingin memberitahukan sebuah kabar baik. Ciangbunjin telah bersedia menerima aku sebagai murid,"
Katanya tergesa-gesa. Wan-ji terpana mendengar keterangan tersebut.
"Oh?"
"Benar!"
Kata Wan Fei-yang dengan penuh semangat.
Wan-ji semakin terpana ketika pemuda itu menarik tangannya.
Sejenak kemudian dia baru tersadar dan mengibaskan tangan Wan Fei-yang.
Pemuda itu sama sekali tidak peduli dengan sikapnya.
"Mungkin besok akan disiarkan,"
Katanya kemudian. Mendengar keterangan tersebut, Wan-ji ikut senang.
"Lain kali kau tidak akan menerima hinaan lagi dari para suheng,"
Sahutnya.
Kepala Wan Fei-yang manggut berkali-kali.
Pada saat itu juga, Pek Ciok mengiringi Fu Giok-su datang dari pintu samping.
Mereka menghampiri Wan-ji.
Tampang Fu Giok-su kuyu sekali.
Sedangkan Pek Ciok yang masih menyedihkan kekalahan Ci Siong tojin juga tidak berbeda.
Melihat Wan Fei-yang, Pek Ciok menghentikan langkah 206 kakinya.
"Siau Fei (Fei cilik) aku mencarimu ke mana-mana. Tidak tahunya kau ada di sini,"
Katanya. Dengan penuh semangat Wan Fei-yang mendekatinya.
"Toa-suheng, ada urusan apa kau mencariku?"
Tanyanya. Pek Ciok menoleh kepada Fu Giok-su.
"Ini adalah Fu-kongcu, tentu kau sudah tahu,"
Katanya. Wan Fei-yang menganggukkan kepalanya.
"Kami pernah bertemu satu kali ketika Ciangbunjin baru pulang,"
Sahutnya.
"Cepat kau bereskan kamar yang ada di luar taman, biar Fu-kongcu dapat beristirahat segera,"
Perintah Pek Ciok kemudian.
"Ini soal kecil ..."
Wan Fei-yang memalingkan wajahnya.
"Fu-kongcu, mari."
"Merepotkan saudara ...."
Mata Wan-ji bertemu pandang dengan Fu Giok-su, tanpa sadar wajahnya menjadi merah padam. Kepalanya tertunduk.
"Jangan sungkan,"
Sahut Wan Fei-Yang tanpa memperhatikan keadaan kedua orang itu.
Dia mengiringi Fu Giok-su sebagai pendamping.
Setelah berjalan beberapa langkah, Wan Fei-yang seperti 207 teringat sesuatu.
Dia menolehkan kepalanya dan berkata kepada Wan-ji.
"Sungguh-sungguh! Aku tidak bohong!"
Maksud ucapannya itu ditujukan kepada Wan-ji, Pek Ciok salah tangkap. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan Wan Fei-yang.
"Apanya yang sungguh-sungguh?"
Tanyanya bingung.
"Tidak ... tidak apa-apa,"
Wan Fei-yang tersenyum sekali kepada Wan-ji lalu cepat-cepat meninggalkan tempat itu.
Wan-ji membalas senyuman itu.
Senyumannya demikian indah laksana bunga-bunga yang bermekaran.
Fu Giok-su terpesona.
Akhirnya dia meneruskan langkahnya kembali.
Pek Ciok dan Wan-ji memandangi kepergian mereka.
Pek Ciok yang melihat Wan-ji saling tersenyum dengan Wan Fei-yang dengan muka berseri-seri menjadi heran.
"Sumoay, mengapa Siau Fei demikian gembira?"
Tanyanya tanpa sadar.
"Dia bilang susiok akan mengangkatnya sebagai murid."
"Entah sudah berapa kali aku mendengar dia mengatakan hal yang sama,"
Pek Ciok tertawa dingin.
"Aku rasa dia terlalu ambisius ingin belajar silat sehingga keblinger."
"Sebetulnya dia anak yang baik,"
Kata Wan-ji dengan nada kasihan.
Pek Ciok mau tak mau mengakui.
Matanya memandang Wan Fei-yang yang melangkah di kejauhan.
Sekali lagi dia menggelengkan kepalanya.
208 ***** Setelah membereskan kamar, Wan Fei-yang juga menyeduh seteko teh.
Baru saja dia mengambilkan sebuah cawan, Fu Giok-su sudah mengulurkan tangan menerimanya.
"Biar aku sendiri saja,"
Katanya.
"Sama saja,"
Sahut Wan Fei-yang sambil menuangkan teh ke dalam cawan.
"Terima kasih,"
Kata Fu Giok-su sopan. Wajahnya masih bermuram durja. Wan Fei-yang merasa pemuda ini agak cocok dengan dirinya, maka dari itu, dia berani banyak bicara dengannya.
"Kali ini, untung suhu mendapat bantuanmu,"
Katanya. Fu Giok-su tertawa getir, tampaknya dia sedang banyak pikiran. Wan Fei-yang segera menghiburnya.
"Orang yang mati tidak bisa hidup kembali. Jangan sampai kesedihan membuatmu berubah. Pokoknya, kami orang-orang Bu-tong-pai akan membalaskan dendammu."
Fu Giok-su masih tertawa getir.
"Ilmu silat Bu-tong-pai merupakan ilmu nomor satu di kolong langit. Sebuah partai seperti Bu-ti-bun saja tidak akan dipandang sebelah mata oleh kami. Harap kau jangan khawatir,"
Kata Wan Fei-yang sok tahu. Fu Giok-su memandangnya dengan tatapan penuh terima kasih.
"Maksud baik Wan-heng hanya dapat siaute simpan 209 dalam hati,"
Sahutnya.
"Kau panggil aku Siau Fei saja."
"Mana boleh?"
Tiba-tiba Fu Giok-su mengalihkan pokok pembicaraan.
"Oh ya, aku baru pertama kali menginjakkan kaki di Bu-tong-san. Mengenai peraturan-peraturan yang ada, aku masih buta. Harap Wan-heng bersedia menegur apabila ada kesalahan."
"Mulai lagi ..."
Wan Fei-yang merenung sejenak.
"Peraturan khusus sih tidak ada. Hanya para suheng senang sekali bercanda. Jangan masukkan dalam hati."
Tiba-tiba dia seperti teringat sesuatu. Pandangannya menerobos lewat jendela di taman.
"Satu hal lagi yang hampir aku lupakan. Gunung bagian belakang itu adalah daerah terlarang, jangan sekali-kali pergi ke sana."
"Hm ...."
Tanpa sadar mata Fu Giok-su mengerling ke arah yang ditunjuk Wan Fei-yang.
"Aku tinggal di ruangan belakang sana,"
Jari Wan Fei-yang menunjuk ke arah timur.
"Kalau ada perlu apa-apa, kau boleh berteriak saja. Aku pasti akan mendengarnya dan langsung datang ke mari."
Fu Giok-su menganggukkan kepalanya.
Wan Fei-yang segera mohon diri.
Setelah Wan Fei-yang meninggalkan tempat itu, Fu GiokSu masih berdiri termangu-mangu.
Pandangan matanya tidak bergeser dari gunung belakang yang ditunjuk Wan Fei-yang tadi.
Apa yang sedang dipikirkannya?
Tidak ada yang tahu, kecuali 210 dirinya sendiri tentunya.
Sedangkan malam semakin mendekat.
***** Pada hari kedua, ketika Wan Fei-yang bangun dan mendorong pintu kamarnya, dia bagaikan orang yang lain.
Pakaiannya baru, sepatunya baru, bahkan rambutnya juga disisir rapi sekali.
Di antara gelungannya terdapat sebuah pita yang baru pula.
Ini juga merupakan pakaian baru satu-satunya yang dia miliki.
Selama ini dia menyimpannya baik-baik dalam sebuah kotak, baru hari ini semua itu dikeluarkannya.
Sejak pagi buta tadi, sudah ada kabar bahwa Ci Siong tojin meminta semua murid Bu-tong berkumpul di ruangan pendopo.
Dalam pikiran Wan Fei-yang, tidak ada urusan lebih besar lagi daripada menerimanya sebagai murid dan akan disiarkan hari ini, selain memilih murid-murid berbakat untuk mempelajari Bu-tong-liok-kiat.
Dia berjalan menuju pendopo itu dengan dada dibusungkan, tampaknya dia sangat bergaya.
Bertemu dengan para murid Bu-tong lainnya, dia tidak lagi menghindarkan diri, tapi menyapa mereka satu per satu.
Berita ini sudah tersebar.
Melihat keadaannya pagi ini, yang lainnya menjadi setengah yakin setengah tidak.
Sampai di ruangan pendopo yang luas, gaya Wan Fei-yang semakin meyakinkan.
Rasa bangganya semakin menonjol.
Melihat di belakangnya datang beberapa saudara seperguruannya, dia segera mempersilakan mereka.
"Cu-wi 211 suheng, silakan."
Beberapa orang itu kelihatannya sedang memikirkan keadaan mereka sendiri.
"Silakan ... kau saja yang duluan,"
Kata salah satu dari mereka tanpa memperhatikan siapa orangnya yang menyapa. Wan Fei-yang merasa semakin bangga mendengar jawaban orang itu.
"Jangan sungkan, silakan,"
Sahutnya. Yang lainnya segera merasa lucu melihat gayanya.
"Hari ini adalah hari istimewa bagimu, kau saja yang masuk duluan,"
Sahut salah satu orang entah dengan maksud tulus atau menyindir.
Yang lainnya ikut mengalah dan mempersilakan Wan Fei-yang dengan sikap sungkan.
Melihat para suheng itu demikian menghargainya hari ini, hatinya senang sekali.
Dia tidak menolak lagi.
Kakinya melangkah lebar ke dalam ruangan pendopo.
Di dalam ruangan tersebut, para murid Bu-tong sudah banyak juga yang berkumpul.
Tapi wajah mereka tampak agak muram.
Gi-song dan Cang-song memandang ke sekitar.
Mereka mulai kehabisan sabar.
Fu Giok-su juga ada di antara kumpulan murid Bu-tong lainnya.
Melihat pemuda itu, Wan Fei-yang menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Fu Giok-su juga menganggukkan kepalanya sebagai balasan.
Senyumnya agak dipaksakan.
Kelihatannya perasaan anak muda itu masih digelayuti kesedihan.
Lun Wan-ji juga sudah 212 hadir.
Dia berdiri di sudut ruangan yang jaraknya tidak seberapa jauh.
Wan Fei-yang tadinya bermaksud menghampiri, tapi setelah berpikir sejenak dia membatalkannya.
Dia bertemu pandang dengan gadis itu lalu saling mengembangkan senyuman.
Hampir semua mata murid Bu-tong-pai beralih kepada Wan Fei-yang, dada anak muda itu semakin dibusungkan saja.
Tiba-tiba terdengar suara tepukan tangan.
Semua orang terdiam.
Tidak lama kemudian, tampak Pek Ciok mengiringi Ci Siong tojin masuk ke dalam ruangan.
Setiap orang segera membungkuk hormat.
Ci Siong tojin meneruskan langkah kakinya dan duduk di atas kursi.
Dia mengibaskan tangannya.
Pek Ciok mengundurkan diri ke samping.
Sinar mata Ci Siong tojin beredar pada setiap orang dalam ruangan tersebut.
Kepalanya setengah tertunduk, wajahnya pucat pasi.
Kentara sekali bahwa tubuhnya sama sekali tidak sehat.
Sejenak kemudian baru dia berbicara.
"Keadaan bu-lim di Tionggoan selama ini damai tanpa masalah. Namun sejak berdirinya Bu-ti-bun, kedamaian dan ketenteraman tidak ada lagi. Bu-tong-pai dan Bu-ti-bun selalu mempunyai pendirian yang berbeda dan sudah menjadi musuh bebuyutan selama ratusan tahun. Juga merupakan partai pertama yang dianggap menghalangi Bu-ti-bun dan ingin mereka lenyapkan."
Mendengar sampai di sini, sebagian besar paras murid Bu-tong-pai mulai berubah. Ci Siong tojin masih mengedarkan pandangannya. Sejenak kemudian dia meneruskan kembali.
"Tanggal sembilan bulan sembilan yang lalu, Punco kembali memenuhi perjanjian dan mengalami kekalahan. Tok-ku Bu-ti 213 mengeluarkan ucapan, apabila dalam jangka dua tahun partai kita tidak ada yang sanggup mengalahkannya, maka dia akan membumihanguskan Bu-tong-san."
Gi-song tidak dapat menahan diri lagi.
"Kalau begitu kita ..."
Tukasnya. Ci Siong tojin tidak mempedulikannya, dia masih meneruskan perkataannya.
"Ilmu Mit-kip-mo-kang Tok-ku Bu-ti sudah dilatih sampai tingkat delapan. Untuk saat sekarang ini, masih belum ada orang dari partai kita yang dapat menandinginya. Oleh karena itu, Punco kemarin telah merundingkan masalah ini dengan Yan-suheng. Kami memutuskan untuk memilih enam orang yang berbakat, masing-masing mempelajari satu macam ilmu andalan Bu-tong-pai. Setelah itu berlatih keras dan bekerja sama dengan kompak untuk menghadapi musuh di kemudian hari."
Setiap orang yang ada dalam ruangan itu segera memasang telinganya dan mempertajam mata memperhatikan.
"Enam orang ini harus berlatih segiat mungkin. Hari ini tahun depan, Punco akan menguji mereka satu per satu. Siapa yang ilmunya paling tinggi, akan terpilih menjadi Ciangbunjin generasi kesembilan belas."
Gi-song dan Cang-song semakin saling melirik dengan pandangan dingin.
Mereka tidak berkata apa-apa.
Yang lainnya semakin menaruh perhatian atas perkataan Ci Siong tojin.
Fu Giok-su masih berdiri dengan mata menerawang.
Seakan tidak terlalu menaruh perhatian atas apa Yang 214 menjadi pokok pembicaraan Ci Siong tojin.
Sementara itu Wan Fei-yang semakin membusungkan dada.
Tanpa sadar dia merapikan pakaiannya berkali-kali.
Wajah Ci Siong tojin semakin kelam.
"Pek Ciok!"
Panggilnya. Meskipun suaranya sangat lemah namun mengandung kemantapan yang sulit dilukiskan. Pek Ciok segera maju dan berlutut di depan kaki Ci Siong tojin. ***** "Mewarisi Liong-gi-kiam,"
Ujar Ci Siong tojin sepatah demi sepatah.
"Cia Peng ... mewarisi Pik-leng-ciang (telapak tenaga kilat)"
"Yo Hong ... mewarisi senjata rahasia Fei-hun-cong (terjangan awan terbang)"
"Giok Ciok ... mewarisi Suang-kiat-kun (tongkat ganda)"
"Kim Ciok ... mewarisi Kui-sua-to (golok pembuka gunung)"
Setiap orang yang namanya dipanggil langsung berlutut di hadapan kaki Ci Siong tojin.
Wajah Gi-song dan Cang-song semakin lama semakin tidak sedap dipandang.
Hati Wan Fei-yang semakin tegang saja.
Sekali lagi Ci Siong tojin mengedarkan pandangannya.
Dia memperhatikan mereka satu per satu dengan tatapan 215 menyelidik.
"Orang keenam agak istimewa. Punco sudah mempertimbangkan cukup lama. Dia bukan murid Bu-tong-pai. Karena hatinya lurus dan baik dan mempunyai hubungan yang dalam dengan Punco, ditambah lagi rasa hormatnya yang tinggi, maka Punco mengambil keputusan untuk mengambil dia sebagai murid penutup dan mewariskan Sou-hou-cang (senjata pengunci tenggorokan)"
Begitu ucapan Ci Siong tojin selesai, pandangan setiap orang beralih kepada Wan Fei-yang.
Pada saat itu, Wan Fei-yang merasakan tenggorokannya kering kerontang, paniknya setengah mati.
Dadanya masih membusung, menantikan pengumuman dari Ci Siong tojin.
Tanpa sadar dia mengerling ke arah Lun Wan-ji.
"Fu Giok-su!"
Suara Ci Siong tojin seakan menggelegar dalam ruangan.
Wan Fei-yang malah merasa seperti ada seember air dingin menyirami kepalanya.
Murid-murid Bu-tong-pai yang berdiri di belakangnya memperdengarkan suara tawa dingin.
Fu Giok-su tenang sekali.
Dia melangkahkan kakinya setelah menyahut satu kali dan berlutut di depan kaki Ci Siong tojin.
Wan Fei-yang memutar kakinya menuju ke luar ruangan.
Dadanya disurutkan kembali, kepalanya tertunduk.
Seumur hidupnya, baru kali ini dia merasa begitu malu.
Suara Ci Siong tojin yang masih berkumandang bagaikan anak panah yang menusuki hatinya.
"Punco mewariskan Sou-hou-cang kepadamu, harap kau 216 menerimanya dengan sepenuh hati. Jangan mengecewakan Punco, juga jangan sampai membuat harapan Punco tergantung di atas langit."
Sekarang kata-kata yang diucapkan oleh Ci Siong tojin, tidak syak lagi hanya ditujukan, kepada Fu Giok-su.
Wan Fei-yang bermaksud segera meninggalkan ruangan pendopo tersebut, tapi kakinya seperti terpaku, sulit sekali digerakkan.
"Kecuali keenam orang ini, murid-murid lainnya sudah boleh meninggalkan tempat ini,"
Kata Ci Siong tojin selanjutnya.
Semua orang mengiakan dan berjalan keluar.
Generasi yang lebih muda memandang Pek Ciok dan lima orang lainnya dengan tatapan kagum.
Wajah Gi-song dan Cang-song semakin tidak enak dilihat.
Sampai di luar pendopo, Gi-song tidak dapat menahan dirinya lagi.
Dia mengomel panjang lebar.
"Semua yang terpilih merupakan murid-muridnya, murid kita satu pun tidak ada yang terpilih."
Cang-song menganggukkan kepalanya.
"Memang benar ... apa-apaan itu tadi? Kurang ajar ... benar-benar kurang ajar!"
Gerutunya.
"Bagaimana pun kita harus minta keadilan darinya,"
Mulut Gi-song berkata demikian, tapi langkah kakinya semakin jauh meninggalkan ruangan pendopo.
Wan Fei-yang menyelinap di antara orang banyak.
Kepalanya 217 tertunduk dan wajahnya merah padam.
Melihat Lun Wan-ji, semakin malu dan salah tingkah.
Setelah keluar dari halaman pendopo, dia berlari secepatnya.
Meninggalkan kerumunan yang masih ramai membicarakan kejadian tadi.
***** Malam semakin larut, angin semakin dingin.
Di tanah lapang yang terpencil Wan Fei-yang menggerakkan senjatanya seperti orang kalap.
Dia berlatih terus tanpa kenal lelah.
Matanya menyorotkan kemarahan.
Senjatanya yang berbentuk capitan bergerak telengas dan keji.
"Crep!", senjata itu menancap pada sebatang pohon besar.
"krek!" , pohon itu patah seketika. Hawa amarah Wan Fei-yang seperti sudah terlampiaskan, dia mencabut senjatanya dan meletakkan di tanah.
"Suhu, sebetulnya ilmu yang bagaimana Bu-tong-liok-kiat tersebut?"
Tanyanya. Manusia berpakaian hitam berdiri di samping sambil memeluk kedua tangannya.
"Untuk apa kau menanyakan hal ini?"
"Aku hanya ingin tahu, apakah ilmu yang aku pelajari sekarang setaraf dengan ilmu Bu-tong-liok-kiat?"
Kata Wan Fei-yang tanpa berpikir panjang. 218
"Lagi-lagi kau berpikir yang bukan-bukan."
Wan Fei-yang menggelengkan kepalanya.
"Ci Siong tojin itu, aku benar-benar tidak mengerti mengapa dia begitu membenci aku?"
Manusia berpakaian hitam itu tidak memberikan reaksi apa-apa.
"Selama ini aku selalu mengira Gi-song dan Cang-song dua orang tua bangka itu yang selalu mencari gara-gara denganku. Tidak tahunya Ci Siong tojin juga."
"Hm ...."
"Kemarin aku mengantarkan makanan untuk Yan Cong-tian. Aku mendengar dengan jelas, Yan Cong-tian sendiri mengatakan bahwa aku anak yang baik, layak diterima sebagai murid. Malah dia bersedia melunakkan hati Gi-song dan Cang-song. Dia menasihati Ci Siong tojin. Siapa kira orang tua itu malah memilih Fu Giok-su!"
Kata Wan Fei-yang selanjutnya. Manusia berpakaian hitam itu masih berdiam diri.
"Aku sama sekali tidak membenci Fu Giok-su, hanya tidak puas dengan tindakan Ci Siong tojin!"
Wan Fei-yang masih menggerutu panjang lebar.
"Kau tidak perlu sakit hati. Ilmu yang aku ajarkan sama sekali tidak di bawah Bu-tong-liok-kiat. Yang penting kau harus giat berlatih. Suatu hari pasti dapat menonjolkan diri di dunia 219 kangouw,"
Gumam manusia berpakaian hitam tersebut.
Wan Fei-yang memandangi manusia berpakaian hitam itu lekat-lekat.
Akhirnya dia dapat mengendalikan perasaannya.
Gurunya itu juga tidak berkata apa-apa lagi.
Tangannya dikibaskan.
Wan Fei-yang menggertakkan giginya erat-erat.
Sekali lagi senjatanya yang berbentuk capitan diluncurkan.
Suaranya menderu-deru.
***** Pada hari yang sama, di atas meja pada kantor pusat Bu-ti-bun tergeletak tiga helai panji telapak darah.
Mereka mendapatkannya dari tiga tempat yang berbeda.
Pertama di rumah sepasang suami istri yang tua, kedua di tempat praktik tabib Mok dan yang terakhir dari rumah makan dan penginapan Cui-sian-lou.
Seorang anak buah Bu-ti-bun mengambil ketiga helai panji itu dan memanteknya di atas dinding sebelah kiri.
Di dalam ruangan terdapat empat orang Hu-hoat dari Bu-ti-bun, lima orang tongcu.
Mata mereka semua menatap ke arah tiga helai panji yang terpantek di atas dinding.
Wajah mereka kelam sekali.
Tiba-tiba Kongsun Hong menggebrak meja dan berdiri dari kursinya.
"Entah orang dari golongan mana yang telah menelan nyali harimau sehingga berani memalsukan telapak tangan darah dari Bu-ti-bun kita!"
Teriaknya marah.
220 Tok-ku Bu-ti telah menyebarkan panji telapak darah dan memberi amanat bahwa siapa pun tidak boleh mengganggu Ci Siong tojin.
Tentu mereka tidak berani membangkang perintah tersebut.
Tapi Ci Siong tojin sama sekali tidak tahu adanya perintah itu.
Ketika berita tersebar sampai di telinga anggota-anggota Bu-ti-bun, mereka segera turun tangan menyelidiki.
Mereka sama sekali tidak berhasil menemukan orang yang mencurigakan.
Hanya tiga helai panji tersebut yang mereka dapatkan.
Seluruh anggota Bu-ti-bun terkejut mengetahui adanya kejadian semacam ini.
Sejak berdirinya Bu-ti-bun, baru pertama kali mereka menghadapi masalah seperti ini.
Tok-ku Hong bahkan lebih marah daripada Kongsun Hong.
"Pasti musuh besar Bu-tong-pai telah memperhitungkan segalanya dan melemparkan kesalahan kepada pihak kita. Orang itu memang cerdik sekali. Dia menggunakan akal memancing ikan di air keruh,"
Katanya. Kongsun Hong menganggukkan kepalanya berkali-kali.
"Menunjukkan ekor menyembunyikan kepala. Siapa diri mereka pun tidak berani diberitahukan umum. Orang semacam ini juga tidak mungkin mempunyai kepandaian seberapa tinggi!"
Sahutnya dengan wajah merah padam.
"Biar bagaimana, kita harus menyelidiki masalah ini sampai tuntas. Kita harus menemukan orang yang memalsukan telapak darah tersebut,"
Kata Tok-ku Hong dengan nada dingin dan datar. 221
"Tentu saja!"
Cian-bin-hud, salah satu dari empat orang Hu-hoat Bu-ti-bun segera membuka suara.
"Apakah kita harus melaporkan masalah ini kepada Buncu?"
Kongsun Hong menggelengkan kepalanya.
"Suhu sedang menutup diri melatih ilmu, kita tidak boleh mengejutkannya."
Tok-ku Hong mendengus dingin.
"Takut apa? Kau tidak pergi, aku yang ke sana!"
Katanya. Kongsun Hong segera mencegahnya.
"Sumoay ... urusan tetek-bengek semacam ini ...."
"Urusan tetek-bengek?"
Mata Tok-ku Hong mendelik lebar-lebar kepada Kongsun Hong.
"Ada orang yang memalsukan telapak darah Bu-ti-bun kau katakan urusan kecil?"
Kongsun Hong tertawa sumbang.
"Sumoay, biar aku turun gunung untuk menyelidiki urusan ini. Kalau tidak ada hasilnya, baru kita rundingkan kembali, bagaimana?"
Mata Tok-ku Hong mengerling sekilas.
"Aku juga ikut!"
Kongsun Hong terpana, wajahnya berubah pucat. Keempat orang Hu-hoat saling melirik sekilas. Belum sempat mereka menyatakan apa-apa, Tok-ku Hong sudah berteriak kembali.
"Kalau kau boleh pergi, mengapa aku tidak?"
Kongsun Hong semakin terpana. Melihat suhengnya yang diam saja, Tok-ku Hong semakin merajuk.
"Kalau kau tidak mengizinkan aku ikut, lain kali jangan menemui aku lagi!" 222 ancamnya garang. Gadis itu langsung membalikkan tubuhnya dengan maksud meninggalkan tempat itu. Kongsun Hong menjadi panik seketika.
"Sumoay ...!"
Panggilnya gugup.
"Ada apa?"
Tanya Tok-ku Hong tanpa memalingkan kepalanya.
"Kalau kau memang hendak ikut, boleh saja. Tapi sepanjang perjalanan kau harus menurut kata-kataku. Jangan berbuat sekehendak hati sehingga menimbulkan masalah baru,"
Kata Kongsun Hong.
Tok-ku Hong merenung sejenak, kemudian dia menganggukkan kepalanya.
Dia sudah lama menunggu kesempatan seperti ini.
Tok-ku Bu-ti tidak pernah mengizinkan dia merantau seorang diri.
***** Dunia luar bagi Tok-ku Hong merupakan sesuatu yang baru dan aneh.
Oleh karena itu, mereka sama sekali tidak tergesa-gesa dalam melakukan perjalanan.
Kongsun Hong tidak berani mengatakan apa-apa.
Meskipun dia sangat garang, tapi terhadap Tok-ku Hong, dia selalu menurut.
Persis seperti seekor domba.
Hari cerah sekali, angin bertiup sepoi-sepoi.
Ini merupakan hari kelima, mereka sudah sampai di dusun sebelah timur.
Jalanan ramai sekali, rupanya ada yang sedang mengadakan hajatan.
223 Pengantin pria duduk di atas kuda, di belakangnya terdapat sebuah tandu yang indah.
Di antara sorak para penduduk, dia menjalankan kudanya dengan wajah berseri-seri menuju luar kota.
Di kiri kanan jalan banyak penduduk sedang menyaksikan keramaian.
Beberapa laki-laki berpakaian hitam juga berkerumun di antara orang banyak.
Mereka mulai mendekati tandu yang indah itu.
Kerumunan orang-orang yang menghalangi mereka mulai terdorong.
Ada beberapa yang merasa tersinggung, namun ketika melihat orang-orang itu, mereka malah menjadi ketakutan.
Sebagian besar mengalah dan memberi jalan kepada mereka.
Sejak tadi pengantin pria itu masih belum merasakan apa-apa.
Ketika dia mengetahuinya, wajahnya segera berubah hebat.
Laki-laki berpakaian hitam yang mungkin bertindak sebagai kepala rombongan pendatang itu menyeruak di antara orang banyak dan akhirnya mengadang di depan pengantin pria tersebut, Dia memperhatikan sang pengantin pria dari atas kepala sampai ujung kaki.
"Coba kalian lihat, jelek sekali pengantin pria ini!"
Katanya. Laki-laki berpakaian hitam yang ada di belakangnya segera tertawa terbahak-bahak.
"Bagi laki-laki yang penting kantongnya, jelek sedikit kan tidak apa-apa. Lain kalau perempuan,"
Kata salah satunya.
"Coba kalian terka, apakah pengantin perempuan ini cantik atau tidak?"
Kata orang yang pertama. 224
"Kalau cantik, masa dia bersedia menikah dengan laki-laki sejelek itu?"
Sahut yang lainnya.
"Kalau menurut aku, justru sangat cantik. Bukankah pepatah ada yang mengatakan bahwa rembulan selalu menantikan burung pungguk?"
Oceh yang pertama sembarangan.
"Mana ada pepatah seperti itu? Lebih baik kita lihat saja sendiri,"
Sahut rekannya menganjurkan.
Laki-laki berpakaian hitam yang lain segera menyetujuinya.
Mereka mendorong para dayang yang mengawal di depan tandu dan menyingkapkan tirainya.
Pengantin pria tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Pengantin perempuan di dalam tandu sudah menjerit ketakutan.
Laki-laki berpakaian hitam tadi tertawa terbahak-bahak.
Para penduduk yang menyaksikan kejadian itu hanya dapat menahan amarah dalam hati.
"Apa yang kau katakan memang benar. Hanya perempuan sejelek ini yang bersedia menikah dengan si burung pungguk!"
Kata laki-laki berpakaian hitam yang menjadi pemimpin.
Masih tertawa terbahak-bahak mereka segera meninggalkan tandu dan berjalan di tempat semula.
Para penonton segera menghindar dan bubar, ke rumah masing-masing.
Hanya Kongsun Hong dan Tok-ku Hong berdua yang masih tegak di tempat semula.
Tok-ku Hong memandangi laki-laki berpakaian hitam itu dengan tatapan dingin.
Kongsun Hong tentu tahu bagaimana adat Tok-ku Hong.
Dia sudah tahu apa yang akan terjadi, tapi 225 dia sama sekali tidak menasihati Tok-ku Hong untuk pergi dari situ.
Beberapa laki-laki berpakaian hitam tersebut memandangi Tok-ku Hong lekat-lekat.
"Lihat ... yang ini jauh lebih cantik!"
Kata sang pemimpin.
"Kalau dia bersedia menjadi pengantinku, aku bersedia umurku berkurang tiga puluh tahun,"
Sambung rekannya.
"Kalau boleh mengecupnya saja aku sudah puas,"
Kata seorang lainnya.
Dia segera menghampiri Tok-ku Hong.
Siapa sangka gadis itu mengangkat kakinya dan menendang orang itu sampai terpelanting di atas tanah.
Teman-temannya yang lain masih belum menyadari kehebatan Tok-ku Hong.
Mereka malah tertawa terbahak-bahak melihat temannya jatuh terpelanting.
Laki-laki itu malah marah-marah.
"Budak cilik! Kau berani membokong toaya ini?"
Tangannya bergerak.
Sebatang golok sudah berada dalam genggamannya.
Tok-ku Hong tertawa dingin.
Kongsun Hong maju dua langkah dan mengadang di depan sumoaynya.
Pada saat itu, laki-laki berpakaian hitam yang lain baru merasakan bahwa sepasang laki-laki dan perempuan ini bukan orang biasa.
Mereka segera mengurung Kongsun Hong dan Tok-ku Hong.
Di pinggang masing-masing orang itu terselip sebatang golok panjang.
Salah satunya mengibaskan tangan kepada Kongsun Hong.
"Sobat! Di sini tidak ada urusanmu!"
Katanya. Belum sempat Kongsun Hong menyahut, seorang lainnya 226 sudah menukas.
"Lihat yang jelas sebelum bertindak!"
Dia mengeluarkan sebuah simbol dari balik pakaiannya. Di atas simbol yang terbuat dari logam itu tertera dua buah huruf "Bu-ti".
"Kami adalah orang-orang Bu-ti-bun. Kalau kau memang pintar, cepat tinggalkan gadis ini sebelum terlambat!"
Kata orang itu selanjutnya. Sinar mata Kongsun Hong beralih ke arah logam yang ada di tangan orang itu. Wajahnya berubah kelam.
"Wie-tian-wei-toa, Ju-jit-fang-tiong!"
Serunya. Orang itu terpana.
"Rupanya orang sendiri,"
Katanya.
"Jangan percaya begitu saja. Suruh tunjukkan dulu lambang kepercayaan mereka!"
Seru yang lainnya.
Kongsun Hong segera mengeluarkan sebuah giok yang terselip di pinggangnya.
Dia menunjukkan tanda itu kepada orang-orang berpakaian hitam.
Batu giok itu bagus sekali, di atasnya juga tertera dua huruf, malah di dasarnya terlihat ukiran seekor macan tutul.
Para laki-laki berpakaian hitam yang melihat giok itu langsung saling mengadu pandang.
Wajah mereka pucat pasi.
Tanpa banyak cakap lagi mereka segera menjatuhkan diri dan berlutut di atas tanah.
"Cayhe sekalian memang buta melek. Tidak tahu kehadiran Tongcu yang mulia, malah berani .…" 227 Kongsun Hong menyimpan kembali batu gioknya.
"Kalian adalah anggota cabang ketiga belas?"
Tanyanya dingin.
"Betul ...."
Suara pemimpin laki-laki berpakaian hitam itu serak.
"Harap Tongcu bersedia memaafkan dosa kami."
"Kau tahu salah?"
"Ampun, Tongcu ...."
Laki-laki itu langsung membenturkan jidatnya ke atas tanah.
"Baik,"
Kongsun Hong mengibaskan tangannya.
"Kalian boleh kembali sekarang. Malam nanti aku akan berkunjung ke kantor cabang tiga belas."
"Tongcu ...."
Kongsun Hong memalingkan wajahnya.
Tok-ku Hong tertawa dingin.
Dia tidak mempedulikan orang-orang itu dan langsung meneruskan langkahnya.
Mata-mata laki-laki berpakaian hitam itu mengantar kepergian dua orang itu.
Keringat dingin mulai menetes.
Wajah mereka pucat seperti selembar kertas.
"Apa yang harus kita lakukan?"
Pemimpin mereka tertawa sumbang tanpa menyahut. ***** Rumah makan yang mewah, hidangan yang lezat. Hawa amarah Tok-ku Hong sudah lenyap. Dengan perasaan 228 gembira dia menikmati semuanya.
"Hidangan di rumah makan ini boleh juga, sayangnya agak padat."
Tidak jauh di sebelah kanan mereka terdapat dua orang laki-laki berusia setengah baya sedang duduk bercengkerama dengan dua orang wanita yang terus tertawa terkekeh-kekeh.
Pasti bukan orang baik-baik.
Dua orang laki-laki setengah baya itu tidak hentinya mengucapkan kata-kata kotor yang tidak enak didengar.
Kedua wanita itu sama sekali tidak mengambil hati, bahkan ikut mendengarkan dengan penuh perhatian.
Tamu-tamu yang lainnya juga berbincang dengan rekannya masing-masing.
Satu-satunya yang tidak terseret dalam arus mereka hanya Kongsun Hong serta Tok-ku Hong berdua.
Kongsun Hong berusaha menyenangkan hati sumoaynya.
Sekian lama Tok-ku Hong baru menyahut sepatah kata.
Dia tidak begitu mempedulikan Kongsun Hong.
Laki-laki itu akhirnya tidak berani banyak bicara.
Dia takut Tok-ku Hong menjadi tidak senang.
Otaknya terus bekerja.
Matanya mengerling ke sekitar.
Dia berharap dapat menemukan bahan pembicaraan yang menarik.
Dengan demikian hati Tok-ku Hong akan menjadi gembira.
Oleh karena itu ketika dua orang bocah cilik masuk ke dalam ruangan rumah makan tersebut, perhatian Kongsun Hong segera terpusat pada mereka.
Kedua bocah itu sangat tampan, pakaian mereka mewah.
Yang satu membawa pedang, yang satunya lagi membawa harpa.
Mereka menuju tempat duduk di samping jendela.
229 Harpa dan pedang diletakkan di atas meja.
Salah seorang segera melepaskan bungkusan dari bahu dan membukanya.
Di dalamnya terdapat sebuah kotak yang indah.
Bocah yang lainnya segera membentangkan sehelai kain putih.
Dia membersihkan meja dengan kain tersebut.
Seorang pelayan menghampiri mereka.
Melihat apa yang dilakukan kedua bocah tersebut, dia berdiri termangu-mangu.
Kongsun Hong juga merasa heran.
Dia tidak lupa memberitahukan Tok-ku Hong.
"Sumoay, lihat kedua bocah itu,"
Katanya.
Perhatian para tamu yang segera tertarik pada kedua bocah yang sama.
Sedangkan kedua bocah itu seperti menganggap mereka semua tidak ada.
Mereka membersihkan meja itu sampai mengkilap.
Lalu menghamparkan sehelai taplak kursi yang terbuat dari kain wol di atas bangku rumah makan tersebut.
Kemudian mereka berdiri tegak di samping meja itu.
Para tamu semakin penasaran dibuatnya.
Tepat pada saat itu juga, seorang pemuda berpakaian putih masuk ke dalam rumah makan.
Tampangnya tampan dan anggun, pakaiannya mewah.
Sinar matanya angkuh.
Tanpa mempedulikan sekitarnya, dia menghampiri meja di mana kedua bocah berdiri.
Kemudian dia duduk di atas taplak kain wol tersebut.
Sorot matanya tidak jahat, hanya acuh tak acuh terhadap keadaan sekitarnya.
Dia seolah memandang sebelah mata kepada orang lain.
Melihat gaya pemuda ini, pemilik rumah makan segera menghampiri dengan tergopoh-gopoh.
Dia mengibaskan tangan agar pelayannya mengundurkan diri.
Dia bermaksud melayani sendiri.
"Kongcu ...."
Sapanya. 230 Pemuda berpakaian putih meliriknya sekilas, sama sekali tidak mempedulikannya. Bocah sebelah kanannya segera maju dan memberi perintah.
"Bawakan beberapa macam hidangan yang paling terkenal dari rumah makan ini."
"Ingat! Harus yang bersih!"
Sambung bocah yang satunya. Pemilik rumah makan itu terpana sejenak, kemudian dia memalingkan wajahnya memanggil salah seorang pelayan.
"Cepat sediakan cawan dan mangkok sekalian sumpitnya."
"Tidak usah!"
Kata bocah yang pertama.
"Kami membawa sendiri!"
Lanjut bocah yang lainnya sambil membuka kotak yang dibawanya tadi.
Dia mengeluarkan mangkuk, sumpit dan cawan yang terbuat dari perak.
Kemudian dia juga mengeluarkan sehelai sapu tangan dan membersihkan peralatan tersebut satu per satu.
Pemilik rumah makan itu agak kurang senang, tapi tidak berani memperlihatkannya dan segera mengundurkan diri.
Sedangkan dua laki-laki setengah baya yang duduk bersama dua orang wanita yang bertampang genit segera mencibirkan bibirnya.
"Sungguh besar lagaknya,"
Kata salah seorang dari kedua laki-laki tersebut. Perempuan yang duduk di sampingnya malah tertawa terkekeh-kekeh.
"Kau tidak senang melihatnya?"
Sindirnya.
"Hanya banci saja yang banyak lagak seperti itu,"
Kata laki-laki 231 tersebut.
"Peduli amat dia banci atau bukan. Yang penting uangnya banyak dan lagipula wajahnya tampan. Mengapa kau tidak meniru perbuatannya?"
Dengan genit perempuan itu mengerling ke arah pemuda berpakaian putih tersebut. Laki-laki setengah baya itu marah sekali mendengar ucapan perempuan tadi.
"Mengapa aku harus menirunya? Aku yang memberimu uang atau dia?"
Teriaknya. Perempuan itu malah tertawa terbahak-bahak. Laki-laki lainnya segera menengahi pertengkaran mereka.
"Untuk apa kau marah-marah? Kalau kau mau membuat wajahnya menjadi jelek, kan mudah sekali."
Tentu saja laki-laki yang sedang marah itu mengerti apa yang dimaksudkan rekannya.
"Bagus! Pokoknya aku memang tidak suka melihat orang semacam itu,"
Sahutnya.
Kedua orang itu segera berdiri dalam waktu yang bersamaan.
Mereka berjalan menghampiri pemuda berpakaian putih.
Sedangkan pemuda itu sejak tadi tampaknya tidak peduli keadaan di sekeliling mereka.
Tiba-tiba dia berseru.
"Jit Po!"
Bocah yang berdiri di sebelah kanannya segera menyahut dan mengadang kedua laki-laki setengah baya tersebut.
"Kongcu kami mempersilakan kalian meninggalkan tempat ini,"
Katanya. 232 Wajah kedua laki-laki itu berubah hebat, jelas mereka sangat tersinggung. Yang satunya segera tertawa dingin.
"Apakah ini sebuah perintah?"
Tanyanya sinis. Yang satunya lagi tak mau kalah gertak, dia menuding hidungnya sendiri.
"Tahukah kau siapa kami?"
Jit Po tidak mempedulikan. Pemuda berpakaian putih berseru sekali lagi.
"Liok An!"
Bocah yang satunya lagi cepat-cepat maju ke depan.
"Sekarang kalian harus menggelinding dari sini,"
Katanya.
Kedua laki-laki itu marah sekali, sambil menggeram kedua orang itu mencekal Jit Po dan Liok An.
Bagaimana pun mereka pernah berlatih keras dalam ilmu silat.
Begitu tinjunya meluncur, suaranya menggetarkan.
Jit Po dan Liok An seakan memandang sebelah mata, wajah mereka tenang-tenang saja.
Gerakan tubuh mereka sangat lincah.
Begitu berhasil melepaskan diri dari cengkeraman laki-laki tersebut, mereka langsung menerjang dengan jurus burung hong mengembangkan sayap.
Telapak tangan mereka menghantam bagian pundak kedua laki-laki itu.
Meskipun usia mereka masih sangat muda, namun baik ilmu, tenaga dalam ataupun cara menghadapi lawan sudah termasuk lumayan.
Tangan kiri menangkis dengan lincah, telapak tangan kanan dengan telak mengenai bahu kedua laki-laki tadi.
Rupanya tahun ini benar-benar merupakan tahun yang sial bagi kedua laki-laki setengah baya itu.
Sekali bergebrak sudah 233 luput dari sasaran.
Hal ini disebabkan karena pertama terlalu memandang ringan lawan.
Kedua, memang mereka ada sedikit mabuk.
Jit Po menundukkan tubuhnya dan laki-laki yang menjadi lawannya terlongong-longong ketika bocah itu menyeruak lewat selangkangannya.
Belum lagi dia sadar apa yang hendak dilakukan bocah tersebut, tubuhnya sudah terangkat dan terlempar jauh.
Liok An tidak mau kalah, sebelah kakinya diangkat dan menyepak lawannya keluar.
Kedua laki-laki yang melihat bahwa Jit Po dan Liok An saja sudah begitu lihai, mana berani macam-macam lagi.
Sambil menggelinding dan setengah merangkak, mereka cepat-cepat kabur dari tempat itu.
Liok An dan Jit Po juga tidak mengejar.
Setelah merapikan pakaian mereka dengan mengibas-ngibasnya, mereka kembali di samping kiri dan kanan pemuda berpakaian putih itu.
Mata setiap orang terpusat pada ketiga majikan dan pelayan tersebut.
Suara kejutan sudah reda.
Sedangkan kedua wanita yang menemani laki-laki yang sudah kabur itu saling mengerling sekilas kemudian bangkit menghampiri meja pemuda itu.
Di wajah keduanya terpasang senyuman genit.
Belum lagi langkah mereka sempat mendekati pemuda itu, Jit Po sudah berteriak nyaring.
"Tahan!"
Kedua wanita itu terpana sejenak, kemudian mereka tersenyum simpul.
"Anak baik ... siapakah nama Kongcumu yang tampan itu?"
Tanya salah satu dari kedua wanita tersebut. 234 Sedangkan rekannya yang lain menggunakan kesempatan itu menerobos mendekati pemuda berpakaian putih.
"Enyah!"
Bentak pemuda itu sambil tertawa dingin.
Lengan bajunya dikibaskan, terdengar suara menderu-deru, segulung angin kencang menerpa.
Rasa terkejut wanita itu masih belum sirna, tubuhnya sudah terdorong.
Sambil terjatuh terpontang-panting, kibasan lengan baju pemuda itu mengantarnya balik ke tempat semula.
Perempuan yang satunya melihat keadaan itu dengan mata panik.
Tidak menunggu Jit Po turun tangan, dia mengembangkan sebuah senyuman yang dipaksakan, lalu cepat-cepat kembali ke sisi temannya.
Pemuda berpakaian putih itu tidak melirik sama sekali, hanya tertawa dingin.
"Perempuan yang berani mendekati laki-laki tanpa malu-malu pasti bukan perempuan baik-baik,"
Sindirnya.
Apa yang dikatakannya memang tidak salah, kedua wanita itu memang pelacur adanya.
Tapi Tok-ku Hong yang mendengarkan kata-katanya, langsung merasa marah.
Dadanya panas sekali seakan hampir meledak.
Pada saat itu, pemuda berpakaian putih dan kedua pelayannya sedang membayar makanannya dan bersiap meninggalkan tempat itu.
Sinar mata Tok-ku Hong mengedar, sumpit di tangannya melayang cepat.
Pada dasarnya dia memang seorang ahli melempar golok terbang.
Kecuali Kongsun Hong, rasanya tidak ada lagi yang tahu apa yang diperbuatnya.
Sumpit itu meluncur ke arah meja kedua pelacur tadi.
Sebuah teko teh tersenggol dan melayang ke arah pemuda berpakaian putih.
Baca Juga: Bangau Sakti 4
Baca Juga: Pendekar Patung Emas 2