Eps 3 Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying
Baca online Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying
Cersil Ilmu Ulat Sutera - Huang Ying.
235 Namun, punggung pemuda itu seperti mempunyai indera penglihatan saja.
Tubuhnya menggeser sedikit, tangan kanannya terangkat dan menyambut teko itu dengan mudah.
Para tamu sempat terpana sesaat, kemudian meledaklah tawa mereka.
Tampaknya pemuda berpakaian putih itu baru sadar bahwa yang disambutnya tadi adalah sebuah teko.
Lengan bajunya terciprat basah oleh air yang tumpah.
Wajahnya berubah hebat.
Jit Po cepat-cepat menghampiri dan mengambil teko dari tangan tuan mudanya.
Rasa marah Tok-ku Hong akhirnya surut juga.
Ketika dia melangkahkan kaki keluar dari rumah makan tersebut, dia masih sempat mendengar suara tawa tamu yang belum sirna.
Tok-ku Hong sendiri ikut tertawa.
Kongsun Hong yang menatapnya dari samping dan melihat sumoaynya demikian gembira, hatinya jadi berbunga-bunga.
Namun semakin diperhatikan, dia menjadi terpesona.
Senyum Tok-ku Hong demikian indah dan menawan.
***** Malam berbintang, rembulan bercahaya.
Malam semakin larut, angin semakin kencang.
Rumput-rumput liar menari-nari.
Padang rumput yang sehari-harinya memang sudah sunyi semakin mencekam di malam hari.
Ibarat sebuah kota hantu layaknya.
Meskipun jaraknya dengan kota tadi hanya setengah li, tapi 236 penduduk sekitar menganggapnya sebagai tempat yang angker.
Daerah pemakaman yang sudah tidak terurus juga berada di sekitar tempat ini.
Terlihat sebuah rumah yang sudah mulai hancur.
Perasaan semakin tegang.
Tidak heran kalau para penduduk menganggapnya sebagai pemukiman setan gentayangan.
Di depan halaman rumah ada sebuah paviliun kecil.
Menurut cerita penduduk, tadinya ada seorang tukang kayu yang tinggal di sana.
Karena sering diganggu oleh hantu-hantu, maka orang itu sudah kabur ketakutan.
Malah ada yang mengatakan bahwa tukang kayu yang sudah pindah itu menderita sakit berkepanjangan, setiap hari dia merintih dan meratap.
Sejak kejadian itu, rumah tersebut selalu kosong.
Apa lagi setelah terjadi beberapa peristiwa yang aneh, orang-orang semakin ketakutan.
Siang hari pun tidak ada yang berani menginjak daerah tersebut.
Kongsun Hong dan Tok-ku Hong justru berada di depan pintu rumah tersebut malam ini.
Angin bertiup kencang.
Tanpa sadar hati Tok-ku Hong agak tegang.
Tapi di luarnya dia tidak menunjukkan apa-apa.
Kongsun Hong sendiri tidak mempedulikan keadaan di sekitarnya.
Dia meneruskan langkah kakinya sampai di depan pintu.
"Wie-tian-wei-toa, Ju-jit-fang-tiong!"
Serunya tiba-tiba.
"Krek!" , pintu dibuka. Dua orang laki-laki berpakaian putih menyembulkan kepalanya. Wajah mereka pucat pasi bagai mayat hidup. Segulungan angin dingin tiba-tiba menerpa. Tubuh Tok-ku Hong gemetar dibuatnya. Kedua laki-laki berpakaian putih itu segera membungkukkan tubuhnya dalam-dalam.
"Selamat datang kami ucapkan 237 kepada Toa-siocia (nona besar) dan Kongsun-tongcu,"
Kata mereka serentak. Kongsun Hong mengibaskan tangannya.
"Antar jalan!"
Kedua manusia berpakaian putih itu membalikkan tubuh dan masuk ke dalam.
Cahaya lampu memijar.
Lentera telah dinyalakan, sinarnya remang-remang.
Manusianya sendiri seperti setan gentayangan yang melayang menuju ke dalam.
Setelah melewati halaman depan, tampak sebuah pintu besar yang telah terbuka.
Di kiri kanannya masing-masing berdiri seorang laki-laki berpakaian putih dan membungkuk menyambut.
Di belakang pintu terdapat sebuah koridor panjang.
Di sebelah kiri berdiri tegak tiga orang manusia berpakaian hitam, sedangkan di sebelah kanan terdapat empat manusia berpakaian hitam juga.
Tujuh manusia berpakaian hitam itulah yang membuat gara-gara di siang harinya.
Mereka bahkan berani mengganggu Tok-ku Hong.
Kalau dilihat keadaan tujuh orang itu agak aneh.
Setelah diperhatikan, ternyata mereka bukan berdiri tegak tapi disandarkan ke tembok di belakangnya.
Mata mereka terbelalak, semuanya pasti sudah tidak sadarkan diri.
Tok-ku Hong yang melihat keadaan itu, memperdengarkan suara tertawa dingin.
Kakinya terus melangkah ke dalam.
Di ujung koridor merupakan sebuah ruangan yang besar.
Sebelum Tok-ku Hong dan Kongsun Hong sampai di ruangan tersebut, pintu gerbangnya memang telah terbuka.
Seorang laki-laki berusia setengah baya melangkah keluar.
Pakaiannya 238 mewah sekali.
"Tancu (kepala cabang) cabang tiga belas, Tong Piau menghadap Toa-siocia dan Kongsun-tongcu. Harap maafkan kami yang tidak menyambut dari jauh."
Kongsun Hong mengibaskan tangannya.
Dengan Tok-ku Hong mengiringi di samping, dia melangkah ke dalam ruangan.
Sejak masuk dari halaman depan di mana-mana terlihat tembok yang pecah-pecah dan tinggal sepotong.
Tidak terlihat bahwa tempat itu berpenghuni.
Tapi begitu masuk ke dalam ruangan ini, segalanya tampak jauh berbeda.
***** Ruangan ini sangat mewah.
Lentera-lentera bercahaya terang.
Ratusan anggota Bu-ti-bun terbagi dalam dua barisan.
Melihat kedatangan Kongsun Hong dan nona besarnya, mereka segera menjatuhkan diri berlutut.
Di tengah ruangan telah disediakan dua buah kursi besar yang ditutupi dengan kulit binatang.
Tong Piau mempersilakan kedua orang itu duduk.
Dia sendiri berdiri di samping mereka.
Mata Tok-ku Hong beredar lalu berhenti pada wajah Tong Piau.
"Apakah saudara-saudara kita yang bertempat di sekitar sini berada di bawah pengawasanmu?"
Tiba-tiba dia bertanya.
"Ajaran budak kurang becus, anak buah budak berani mati menyalahi Toa-siocia,"
Sahut Tong Piau gugup. 239
"Oh, ternyata kau sendiri menyadarinya?"
Tok-ku Hong mendengus dingin. Kening Tong Piau mulai dibasahi oleh keringat dingin.
"Orang-orang yang membuat gara-gara telah dihukum sesuai peraturan. Harap Toa-siocia jangan marah lagi."
Tok-ku Hong hanya tertawa dingin.
"Mengenai orang-orang yang memalsukan Bu-ti-bun ... apakah kau sudah mendapat kabar?"
Tukas Kongsun Hong. Tong Piau agak lega juga karena pokok pembicaraan dialihkan.
"Budak telah memerintahkan seluruh anggota kita untuk menyelidiki secepatnya. Namun sampai saat ini masih belum ada hasil yang menggembirakan."
Wajah Kongsun Hong berubah serius.
"Apakah kalian sudah menerima panji telapak darah dari kantor pusat yang disebarkan pada pertengahan bulan sembilan?"
Tanyanya kembali. Hati Tong Piau menjadi tegang kembali mendengar pertanyaan itu.
"Kami sudah menerimanya."
"Apa bunyi perintah itu?"
Mulut Tong Piau melongo, sepatah kata pun tidak terucap olehnya. 240
"Bilang!"
Bentak Kongsun Hong.
"Dalam waktu dua tahun, tidak boleh ada anggota Bu-ti-bun yang membuat keributan di luar. Siapa yang melanggarnya, mati!"
Sahut Tong Piau setelah memberanikan diri.
"Kalau perintah itu telah kalian terima, mengapa cabang tiga belas tidak mengurus anak buahnya baik-baik?"
Tanya Kongsun Hong sekali lagi. Keringat Tong Piau menetes bagai air hujan.
"Mungkin karena biasanya budak terlalu memberi kebebasan kepada mereka. Harap Tongcu membuka hati dan melapangkan jiwa."
Kongsun Hong memalingkan wajahnya.
"Apa bunyi peraturan nomor sembilan belas dari perguruan kita?"
Tanyanya.
"Siapa ... yang ... melanggar ... te ... lapak ... darah ... mati ...."
Wajah Tong Piau pucat pasi, suaranya tersendat-sendat.
"Nomor dua puluh satu?"
"Berani ... menghina atasan ... mati."
"Nomor dua puluh empat?"
Tubuh Tong Piau semakin menggigil. Dia tidak sanggup menjawab lagi.
"Membiarkan anak buah melanggar perintah, hukuman apa yang harus diberikan?"
Tubuh Tong Piau semakin gemetar. Kongsun Hong 241 menggebrak meja.
"Hukuman apa harus di terima orang ini?"
Bentaknya keras.
Jilid 6
"Mati ...."
Tong Piau panik sekali. Dia segera menjatuhkan diri berlutut dan membenturkan kepalanya berkali-kali ke lantai.
"Budak tahu salah, harap Tongcu membuka hati lebar-lebar ...."
"Selama sepuluh tahun ini, kau pernah menyapu daerah utara sampai bersih. Meraih kemenangan dalam pertarungan sebanyak tiga puluh enam kali. Membela perguruan mati hidup. Jasamu juga tidak sedikit. Namun tahun terakhir ini, kau sudah tidak mempedulikan baktimu kepada Bu-ti-bun. Lebih banyak berfoya-foya. Memanjakan anak buah. l mu silatmu tidak mengalami kemajuan. Tapi kali ini sungguh keterlaluan. Melihat jasamu pada tahun-tahun yang lalu, aku mengampunimu sekali lagi,"
Kata Kongsun Hong dingin.
"Terima kasih, Tongcu,"
Wajah Tong Piau berseri-seri seketika. Dia langsung berdiri tegak.
"Hukuman mati dibatalkan, hukuman hidup tetap berlaku,"
Kata Kongsun Hong kembali. Tong Piau langsung menjatuhkan diri berlutut kembali.
"Mana bagian Cik-hoat?"
Tanya Kongsun Hong.
Dua laki-laki berpakaian putih keluar dari barisan dengan 242 tergopoh-gopoh.
Wajah mereka menunjukkan ketakutan yang dalam.
Mereka juga menjatuhkan diri berlutut di samping majikannya.
Kongsun Hong melirik sinis.
"Putuskan telapak tangan sebelah kiri!"
Perintahnya.
"Baik,"
Sahut salah satu dari kedua orang bagian Cik-hoat itu.
Dia segera mengambil seutas tali dan mengikat pergelangan tangan Tong Piau.
Laki-laki itu memejamkan mata tidak berani melihat.
Cik-hoat itu segera menarik sekuat tenaga.
Tubuh Tong Piau ikut tertarik dan melayang di udara.
Laki-laki berpakaian putih yang satunya segera mengeluarkan sebilah pisau dan sekali gerak, pergelangan tangan Tong Piau sudah terbacok putus.
Tubuh Tong Piau mendarat ke lantai, dari pergelangan tangannya mengalir darah deras sekali.
Rasa sakitnya jangan dikatakan lagi.
Namun dia tetap berusaha menjatuhkan diri berlutut di depan Kongsun Hong.
"Terima kasih atas kebaikan Tongcu yang tidak menjatuhkan hukuman mati,"
Katanya terputus-putus. Melihat keadaan itu, Tok-ku Hong merasa tidak sampai hati. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain. Kongsun Hong masih tenang seperti semula.
"Cepat mundur!"
Bentaknya.
Tong Piau baru berani merobek lengan bajunya dan membungkus lukanya itu.
Dua orang laki-laki berpakaian putih segera menghampiri dan memapahnya dari kiri dan kanan.
243 Mereka membawanya masuk ke dalam.
Sisa anggota Bu-ti-bun yang masih berada dalam ruangan melihat kejadian itu dengan hati gentar.
Tidak ada satu pun yang berani mengeluarkan suara.
"Hu-tancu (wakil kepala cabang)!"
Panggil Kongsun Hong dengan suara lantang.
"Cu Bong di sini,"
Sahut seorang laki-laki bertubuh tegap sembari berjalan keluar dari barisan anggota Bu-ti-bun. Dia segera menjatuhkan diri berlutut di hadapan Kongsun Hong.
"Perintahkan dua orang untuk membawa Tong Piau ke kantor pusat, rrusan di sini sementara ini kau yang tangani. Tunggu perintah dari kantor pusat!"
Kata Kongsun Hong.
"Baik!"
"Mulai sekarang, perhatikan setiap orang yang keluar masuk kota ini. Apabila terlihat hal yang mencurigakan, segera lapor pada kantor pusat!"
Kata Kongsun Hong.
"Baik!"
Cu Bong membenturkan kepalanya sekali lagi. Tiba-tiba sebuah ingatan melintas di benak Tok-ku Hong.
"Ada seseorang yang patut dicurigai. Dia berada di Sing Long Kek-can (penginapan Sing Long),"
Katanya.
"Orang itu ...."
"Dia mengenakan pakaian putih. Tampaknya dari perguruan yang cukup terkemuka. Ada dua bocah yang melayaninya. Masing-masing membawa sebuah harpa dan pedang,"
Tukas 244 Kongsun Hong.
"Kalian selidiki asal-usulnya!"
"Baik!"
Cu Bong tentunya tidak berani membantah.
Orang yang dimaksudkan Tok-ku Hong adalah pemuda berpakaian putih itu.
Mungkin hawa amarahnya masih belum lenyap semua.
Tapi ...
pemuda berpakaian putih itu memang mencurigakan.
***** Pada saat itu, pemuda berpakaian putih sedang duduk di dalam kamar penginapan.
Di sampingnya hanya ada salah satu dari bocah pelayannya, Jit Po!
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, Liok An masuk ke dalam bersama seorang laki-laki setengah baya menggeser ke samping.
Sinar mata pemuda itu beralih ke arah wajah Sao-laopan.
Pandangannya dingin menusuk.
"Bagus sekali,"
Katanya.
"Entah apa yang dapat aku bantu?"
Tanya laki-laki itu gugup.
"Aku ingin mencari sedikit berita darimu,"
Kata sang pemuda.
"Kalau aku memang tahu, pasti aku akan memberitahukan dengan senang hati."
"Kemana perginya Go-bi Suang-siu (Sepasang gadis cantik dari Go-bi)?"
Tanya pemuda itu.
"Apa?"
Tampaknya Sao-laopan tidak mengerti sama sekali. 245
"Mereka adalah dua orang gadis yang menginap di sini pada bulan enam tanggal tujuh. Yang satu she Ting dan yang satunya lagi she Sun."
Sao-laopan seakan teringat sesuatu. Wajahnya mulai berubah.
"Sejak menginap di Sing Long Kek-can ini, mereka tidak pernah terlihat lagi. Aku ingin tahu di mana sekarang mereka berada,"
Kata pemuda tersebut Dengan susah payah Sao-laopan menelan ludahnya.
"Aku... aku...."
"Kau adalah pemilik penginapan ini, mana mungkin tidak tahu?"
"Aku tidak bisa mengatakannya,"
Kata Sao-laopan panik. Keringat mulai membasahi keningnya.
"Mengapa?"
"Kalau aku mengatakannya dan mereka tahu ... mereka pasti akan membunuh aku."
Pemuda itu tertawa dingin. Liok An dan Jit Po segera menghampiri laki-laki itu. Tangan masing-masing mencekal sebilah pedang pendek. Mereka mengancam leher Sao-laopan dari dua arah.
"Kalau kau tidak segera mengatakannya, maka kau akan mati 246 saat ini juga!"
Kata pemuda itu ketus. Wajah Sao-laopan berubah hebat. Liok An dan Jit Po mendorongnya ke tembok. Hawa dingin yang memantul dari kedua belah pedang pendek itu terasa di lehernya.
"Aku ... aku akan berbicara ..."
Katanya panik.
"Bagaimana keadaan mereka?"
"Mereka sudah mati."
Wajah pemuda itu berubah sesaat. Sejenak kemudian dia tenang kembali.
"Bagaimana matinya?"
Sao-laopan terlihat salah tingkah.
"Di tangan orang-orang Bu-ti-bun. Mereka memperkosa dulu baru membunuh."
Wajah pemuda itu kelam sekali. Sao-laopan menarik napas panjang.
"Menurut cerita orang-orang, mereka yang lebih dulu menyalahi anggota Bu-ti-bun. Melihat kematian mereka yang demikian tragis, aku benar-benar tidak sampai hati. Tapi aku tidak berani berkata apa-apa. Terpaksa aku menguburkan mereka di taman belakang secara diam-diam. Malah peti mati mereka, aku juga yang membelikan."
"Bawa aku ke sana!"
Kata pemuda itu sambil mengibaskan lengan bajunya.
Jit Po dan Liok An segera mengendurkan pisau mereka.
247 ***** Di taman belakang terdapat segerombolan semak-semak dan bunga-bunga.
Bila semak-semak itu dikuakkan, maka terlihatlah dua buah kuburan.
Pemuda berpakaian putih itu berdiri tegak di depannya.
Sedikit suara pun tidak terdengar.
Liok An dan Jit Po terlihat sedih.
Sao-laopan berdiri di samping mereka.
Tangannya menumpu pada bahu seorang pelayan.
Mengingat tragisnya kematian kedua gadis itu, perasaannya ikut terharu.
Tiba-tiba terdengar suara bising dari arah luar taman.
Puluhan manusia berpakaian hitam menyerbu masuk.
"Wie-tian-wei-toa, Ju-jit-fang-tiong!"
Seru orang yang bertindak sebagai pemimpin. Di belakang terlihat seorang manusia berpakaian hitam memanjat lewat tembok.
"Anggota Bu-ti-bun ada urusan di sini, harap orang yang tidak berkepentingan segera menyingkir!"
Teriaknya lantang. Mendengar teriakan itu, Sao-laopan dan pelayannya segera menyingkir dan mencari jalan keluar. Tapi pemimpin yang berteriak pertama-tama segera mengadangnya.
"Sao-laopan!"
"Ada ... ada apa?"
"Apakah di penginapanmu ini ada seorang pemuda 248 berpakaian putih ...."
Kata-katanya belum selesai dia sudah melihat anak muda itu beserta Liok An dan Jit Po yang berdiri di depan kuburan.
"Rupanya kalian ada di sini. Bagus!"
"Memang bagus sekali!"
Sahut pemuda berpakaian putih dingin sinis.
"Hei! Siapa kau? Ada keperluan apa kau datang ke tempat ini? Cepat katakan!"
Tanya manusia berpakaian hitam itu keras.
"Aku she Kuan ... Kuan Tiong-liu,"
Sahut pemuda berpakaian putih itu tenang.
"Kedatangan kami ke sini adalah untuk membunuh kalian!"
Ucapannya selesai, tangannya diulurkan.
"Pedang!"
Jit Po cepat-cepat menyodorkan pedang kepada tuan mudanya. Kuan Tiong-liu menyambut pedang itu dengan keyakinan penuh.
"Satu pun jangan dibiarkan lolos!"
Perintahnya.
Liok An dan Jit Po saling lirik sekilas.
Pedang pendek telah dihunus, tubuh keduanya segera mencelat dan menerjang ke depan.
Manusia berpakaian hitam yang menjadi pemimpin meloncat mundur beberapa langkah.
"Hati-hati!"
Pesannya kepada anggota Bu-ti-bun yang lain.
Kuan Tiong-liu berteriak lantang, tubuh dan pedangnya berubah menjadi segurat garis panjang, bayangan seperti pelangi meluncur ke depan.
Manusia berpakaian hitam segera menghunus goloknya.
Dia mundur dengan kalang kabut.
Belum lagi goloknya sempat diangkat, dadanya sudah tertusuk 249 pedang.
Matanya mendelik lebar, mulutnya mengeluarkan jeritan ngeri.
Seakan masih tidak percaya bahwa apa yang dialaminya sekarang adalah kenyataan.
Kuan Tiong-liu segera menarik pedangnya kembali.
Darah segar mengucur deras dari dada manusia berpakaian hitam itu.
Sao-laopan yang melihat keadaan itu, segera jatuh tidak sadarkan diri.
Kaki pelayan yang sedang memapahnya juga lemas seketika.
Bersama dengan majikannya, mereka jatuh terkulai di atas tanah.
Pedang Kuan Tiong-liu yang tadi dicabut segera menikam sekali lagi.
Kembali seorang manusia berpakaian hitam roboh bermandikan darah.
Tanpa membuang waktu, pedang yang tercabut kembali diputarkan.
Dua orang manusia berpakaian hitam tertebas sekaligus menjadi dua belah.
Pokoknya, setiap kali pedangnya bergerak, selalu ada korban yang jatuh.
Mana pernah manusia berpakaian hitam itu melihat jurus pedang yang demikian cepat dan keji.
Mereka menjerit lantang dan berlarian kalang kabut.
Seorang manusia berpakaian hitam yang tadi berdiri di atas tembok paling cepat mengambil langkah seribu.
Mana tahu baru sempat lari berapa langkah, punggungnya sudah terbacok dari belakang.
Tangannya masih berusaha mencapai tembok, namun setelah berkelojotan berapa kali, tubuhnya melorot ke bawah dan melayanglah nyawanya.
Kembali Kuan Tiong-liu menggerakkan pedangnya.
Satu kali ke arah kanan dan satu kali lagi ke arah kiri.
Dua manusia berpakaian hitam itu tidak sempat menghindar, mereka segera berubah menjadi mayat.
250 Ilmu yang dimiliki pihak lawan sebenarnya terpaut terlalu jauh.
Untuk menghadapi dua orang bocah seperti Liok An dan Jit Po saja mereka tidak sanggup, apa lagi menghadapi Kuan Tiong-liu.
Liok An dan Jit Po mengadang pintu keluar.
Setiap manusia berpakaian hitam yang berniat melarikan diri, pasti menjadi korban pedang pendek mereka.
Empat belas orang menerjang serentak, tidak sampai sepeminuman teh mereka semua menggeletak di tanah dengan jantung yang sudah berhenti berdetak.
Tinggal seorang manusia berpakaian hitam yang mencoba menerobos halangan mereka.
Melihat kematian teman-temannya, kakinya menjadi lemas, pedang di tangannya terlepas, dan tubuhnya menggeser lalu menyandar pada tembok taman.
Pedang Kuan Tiong-liu tidak menikamnya.
Dia hanya menggunakannya untuk mengancam manusia berpakaian hitam tersebut.
"Di mana markas kalian?"
Tanyanya garang. Tenggorokan itu mengeluarkan bunyi "krok! krok!", tampaknya setiap waktu akan semaput, tapi kenyataannya tidak.
"Di ... di ...."
Suaranya tersendat-sendat dan gugup.
"Antarkan kami ke sana!"
Kata Kuan Tiong-liu.
Manusia berpakaian hitam itu menganggukkan kepalanya berulang kali.
Liok An dan Jit Po segera maju ke depan dan mencekal manusia berpakaian hitam itu dari arah kiri dan kanan.
Kuan Tiong-liu mengangkat pedangnya.
Di bawah 251 cahaya rembulan, darah menetes setitik demi setitik terlihat jelas.
Sinar rembulan yang pucat, warna darah semerah api membara.
Dari mata Kuan Tiong-liu juga terlihat hawa panas yang berkobar-kobar.
***** Malam semakin larut.
Lentera pada cabang tiga belas Bu-ti-bun bersinar terang.
Tok-ku Hong dan Kongsun Hong sudah pergi.
Hu-tancu Cu Bong sedang menikmati arak bersama beberapa selir kesayangannya.
Dia sudah menunggu begitu lama.
Beberapa tahun sudah, sampai hari ini dia baru berhasil menguasai sepenuhnya cabang Bu-ti-bun ini.
Biar bagaimanapun, ini merupakan hal yang menyenangkan.
Dia tidak berani ayal.
Setelah Kongsun Hong dan Tok-ku Hong meninggalkan tempat itu, dia segera menyuruh beberapa anak buahnya menyelidiki ke Sing Long Kek-can.
Kemudian dia memesan semeja hidangan dan arak mahal.
Pada saat itu, dia sudah agak mabuk.
Oleh karena itu, suara pertarungan dan jeritan di depan halaman juga tidak jelas terdengar olehnya.
Orang-orang lainnya justru merasa ada yang kurang beres.
"Cu-Laotoa, tampaknya di luar ada yang berkelahi,"
Kata salah seorang temannya. Cu Bong langsung menggebrak meja dengan marah.
"Siapa yang begitu berani? Seret ke dalam biar aku beri pelajaran!" 252 Baru saja perkataannya selesai, terdengar suara "brak!"
Yang keras. Pintu besar ruangan itu hancur berantakan. Kuan Tiong-liu berdiri tegak di depan pintu. Perasaan mabuk Cu Bong lenyap seketika karena terkejut.
"Siapa?"
Bentaknya lantang.
"Kuan Tiong-liu dari Go-bi-pai,"
Suara dan tubuh Kuan Tiong-liu sampai dalam waktu yang bersamaan. Pedangnya menyorotkan sinar yang menusuk mata. Cu Bong terkejut sekali. Tubuhnya segera berdiri tegak.
"Cret! cret!" , matanya membelalak melihat dua orang anak buahnya mandi darah karena tikaman pedang Kuan Tiong-liu.
"Ambil golok!"
Teriaknya lantang.
Biasanya dia tidak pernah meninggalkan goloknya.
Tapi sebagai seorang Tancu, rasanya kurang berwibawa kalau tidak ada orang yang memegangi golok baginya.
Siapa tahu orang yang memegangi goloknya kurang kuat minum arak, sekarang sudah menggeletak mabuk di kursi samping.
Meskipun masih ada tersisa sedikit kesadarannya namun mulutnya susah mengeluarkan sepatah kata pun.
Cu Bong berteriak sekali lagi.
Orang itu bangkit dengan susah payah dan akhirnya dapat juga mengeluarkan suara.
"Goloknya di sini,"
Katanya sambil menyodorkan golok kepada Cu Bong.
Cu Bong panik sekali.
Dia segera mengulurkan tangannya untuk menyambut golok tersebut.
Belum sempat mencapai 253 goloknya, orang yang memegangi golok itu sudah roboh bersimbah darah, golok pun terjatuh di atas tanah.
Cu Bong semakin tegang.
Dia membungkukkan tubuhnya memungut golok itu.
Sekali lagi terlihat sinar pedang berkelebat.
Anak rambut di jidatnya terpapas putus.
Sanggul rambutnya terlepas.
Kuan Tiong-liu tidak memberinya kesempatan, pedangnya terus mengincar Cu Bong.
Keringat sudah membasahi sekujur tubuh Cu Bong.
Mabuknya sudah lenyap entah ke mana.
Dengan kalang kabut dia berusaha menggapai senjatanya.
Akhirnya berhasil juga dia mendapatkan sebatang golok, namun sayang sekali, tangannya baru saja sempat meraih golok tersebut, pedang Kuan Tiong-liu sudah sampai di hadapannya.
Dengan panik dia berusaha menghindar, tapi tidak keburu lagi.
Pedang itu menebas dari keningnya ke bawah dagu.
Para anggota Bu-ti-bun yang melihat kematian Cu Bong menjadi kalang kabut.
Mereka berusaha melarikan diri secepatnya.
Liok An dan Jit Po sudah menunggu di depan pintu.
Sedangkan di tempat itu hanya ada satu jalan keluar yaitu harus melewati tempat Liok An dan Jit Po berada.
Meskipun usia kedua bocah itu masih muda belia, namun sabetan pedang mereka sama sekali tidak dapat dipandang ringan.
Setiap musuh yang ada di hadapan mereka, roboh dalam sekejap mata.
Demikian juga pedang Kuan Tiong-liu, gerakan pedangnya seperti sedang membelah semangka dan memotong sayuran saja.
Sikapnya tenang sekali.
Pakaiannya yang putih sudah penuh dengan bercak-bercak darah.
Darah berhamburan di angkasa bagai bunga-bunga yang 254 rontok di musimnya.
Namun bagi orang-orang Bu-ti-bun, bagaikan sebuah mimpi buruk yang berkepanjangan.
***** Air hangat yang mengepulkan asap.
Tong kayu yang berukuran besar.
Tubuh Kuan Tiong-liu berendam di dalam tong kayu berisi air hangat itu.
Dia merasakan kesegaran yang tidak terkira.
Pakaiannya yang penuh bunga-bunga darah saat itu tergantung di hadapannya.
Kuan Tiong-liu menatap pakaiannya dengan terpesona.
Kemudian dia menarik napas panjang.
"Darah yang indah!"
Gumamnya seorang diri. Liok An dan Jit Po berdiri di sudut ruangan dan melayani keperluannya. Mereka sama sekali tidak mengerti di mana letak keindahan darah yang dimaksudkan.
"Tidak ada hal lain yang lebih menyenangkan di dunia ini daripada membunuh orang,"
Ucapan Kuan Tiong-liu seperti sedang menghafal ayat suci.
Jit Po dan Liok An saling melirik.
Mereka tidak berani mengatakan apa-apa.
Kuan Tiong-liu malah tertawa terbahak-bahak.
***** Sao-laopan sekarang malah tidak bisa tertawa lagi.
Di taman belakang berserakan demikian banyak mayat anggota Bu-ti-255 bun, dia benar-benar tidak berani membayangkan akibatnya.
Dia panik setengah mati.
Ketika pelayannya datang dan mencarinya, dia sedang bersembunyi di kolong tempat tidur.
Pelayan itu tergagap-gagap.
Sao-laopan benar-benar kehabisan sabar melihatnya.
Akhirnya dia menuju taman belakang bersama pelayan itu.
Setelah tahu apa yang telah terjadi, dia semaput sekali lagi.
Di depan kuburan Go-bi Suang-siu, terpasang beberapa batang lilin.
Juga ada beberapa batok kepala manusia sebagai sesajen!
Darah masih menetes dari kepala-kepala itu.
***** Tok-ku Hong dan Kongsun Hong saat itu sedang mengendarai kuda di sebuah jalan kecil berjarak sepuluh li dari kota.
Angin sepoi-sepoi, matahari bersinar lembut.
Tok-ku Hong sama sekali sudah melupakan kejadian kemarin malam.
Wajahnya berseri-seri, kudanya dilarikan secepat kilat.
Melihat keceriaan Tok-ku Hong, Kongsun Hong merasa sangat gembira.
Langit bagai tak berbatas, awan putih beriak-riak.
Tiba-tiba terdengar suara keliningan.
Seekor merpati putih terbang melintas.
Mendengar suara itu, Kongsun Hong segera mendongakkan kepalanya.
"Merpati pos perguruan kita!"
Katanya tanpa sadar.
Baru saja ucapannya selesai, sekali lagi terdengar suara keliningan.
Kembali seekor merpati melintas di angkasa.
Kongsun Hong mengerutkan keningnya.
Kemudian dia mengeluarkan sebuah peluit dari balik pakaian dan meniupnya dua kali.
Burung merpati tadi segera membelok lalu menukik 256 ke arahnya.
Dengan sigap Kongsun Hong menyambutnya.
"Pasti telah terjadi sesuatu,"
Gumamnya seorang diri.
Ada sebuah tabung kecil di kaki burung merpati itu.
Kongsun Hong melepaskan burung tersebut dan mengeluarkan sehelai kertas kecil dari dalamnya.
Selesai membaca, wajahnya berubah hebat.
"Hei! Sebetulnya apa yang telah terjadi?"
Tanya Tok-ku Hong panik.
"Cabang tiga belas hancur lebur. Hu-tancu dan segenap anak buah Bu-ti-bun mati semuanya,"
Sahut Kongsun Hong.
"Apa?"
Wajah Tok-ku Hong juga berubah pucat.
"Cepat kita kembali dan melihatnya sendiri,"
Kata Kongsun Hong sambil membelokkan kudanya dan melarikannya dengan kencang. Debu beterbangan. Kedua ekor kuda dilarikan seperti kesetanan. ***** "Siapa yang melakukannya?"
Ketika Kongsun Hong mengajukan pertanyaan itu, dia dan Tok-ku Hong sudah berada dalam kamar penginapan Sing Long Kek-can.
Kongsun Hong melayang telapak tangannya dan menampar pipi Sao-laopan.
Tubuh pemilik penginapan itu bergetar kencang.
Dengan susah payah dia berhasil mengucapkan 257 sepatah kata.
"Dia bernama Kuan Tiong-liu."
"Kuan Tiong-liu?"
Kongsun Hong mengerutkan keningnya.
"Bagaimana rupanya?"
"Masih sangat muda. Pakaiannya putih. Dia membawa dua orang bocah yang kalau tidak salah bernama Jit Po dan Liok ... apa ya?"
"Apakah namanya Jit Po dan Liok An?"
"Betul."
"Apakah orang ini mempunyai kebiasaan menggunakan mangkuk dan sumpitnya sendiri setiap makan?"
"Betul,"
Tampaknya setiap waktu Sao-laopan akan semaput.
"Rupanya dia lagi,"
Kata Tok-ku Hong sambil menggertakkan giginya.
"Ke mana orang itu sekarang?"
Tanya Kongsun Hong kembali.
"Kalau tidak salah dia pergi melalui hutan,"
Sahut Sao-laopan.
"Kalau melalui hutan, tempat satu-satunya yang berada di jurusan itu hanyalah Bu-tong-san. Apakah orang ini juga murid Bu-tong-pai?"
Kata Kongsun Hong agak heran.
"Kalaupun bukan, tujuannya pasti Bu-tong-san,"
Sahut Tok-ku Hong. 258 Kongsun Hong merenung sejenak.
"Bukankah Suhu telah memerintahkan Han-ciang Tiau-siu mengintai gerak-gerik Bu-tong-pai di sekitar ini?"
"Memang betul."
"Kita harus mengirim surat lewat merpati pos segera, suruh Han-ciang Tiau-siu mengadang orang itu."
"Betul!"
Tok-ku Hong setuju dengan usul itu. Dia segera menghambur keluar kamar. Kongsun Hong mengikuti di belakangnya. Baru beberapa langkah, dia membalikkan tubuhnya dan mendelik ke arah Sao-laopan.
"Sao-laopan ... Kami percaya apa yang kau katakan. Tapi apabila ada setengah kata saja kau berdusta, maka ...."
"Kau akan merasakan seperti apa yang terjadi pada teko itu!"
Teriak Tok-ku Hong sambil menolehkan kepalanya. Tangannya mengebas.
"sret!" , sebilah golok liu-yap-to meluncur ke arah teko teh yang ada di samping Sao-laopan. Sinar dingin berkelebat, teko teh pecah menjadi dua bagian. Pisau itu masih meluncur terus dan menancap di atas tempat tidur. Sao-laopan terkejut sekali. Setelah terhuyung-huyung sejenak, dia semaput kembali. ***** Air sungai mengalir jernih. Tengah hari sudah lewat, namun senja belum menjelang. 259 Seorang pengail bertopi pandan duduk di atas sebuah batu di tepi sungai. Dia hanya seorang diri dan tampak sedang terkantuk-kantuk. Batang kailnya berwarna hijau kehitaman, sedangkan tali pancingnya agak kasar dari yang biasa. Bambu dan tali pancing itu bergerak-gerak berkilauan disoroti sinar matahari. Tidak terlihat seekor ikan pun. Sinar mata pengail itu tertumpu pada batang bambu di tangannya. Sulit menduga apakah dia sedang merasa kecewa atau tidak. Tangannya yang menggenggam batang bambu masih demikian mantap. Sehelai daun terbawa aliran air sungai. Kuan Tiong-liu berdiri di ujung perahu seorang diri. Tampaknya dia sedang menikmati keindahan pemandangan pada kedua tepian sungai. Jit Po dan Liok An duduk di dalam perahu. Tampaknya mereka tidak terbiasa naik perahu. Di bagian buritan ada seorang nelayan. Tangannya juga memegang sebatang bambu sebagai alat untuk memancing. Perahu melintas. Pengail tua tadi menggerakkan batang bambunya. Dia menariknya kencang-kencang. Tali pancing terungkit dari dalam air.
"byar!"
Kailnya tersangkut di bagian ujung perahu.
Perahu yang sedang melintas mengikuti arus air itu berhenti seketika.
Pengail tua itu mengerahkan tenaganya.
Sekali tali pancing ditariknya, perahu tersebut tertarik olehnya.
Lalu perlahan mendekati tepian sungai.
Rupanya yang dipancing oleh pengail tadi bukan ikan tapi manusia.
Nelayan yang berada di buritan terkejut sekali.
Jit Po dan Liok An memalingkan wajahnya memandang Kuan Tiong-liu.
Anak 260 muda itu seperti tidak merasakan apa-apa.
Dia juga menatap ke arah pengail tua tersebut.
Perahu semakin dekat ke tepian sungai.
Tiba-tiba tubuh Kuan Tiong-liu melesat di udara dan mendarat di samping pengail tua itu.
Penampilannya sangat tenang, bahkan di wajahnya terlihat sekulum senyuman.
Liok An dan Jit Po segera mengikuti gerakan tuan mudanya.
Mereka mendarat di samping Kuan Tiong-liu.
Senyuman anak muda itu semakin lebar.
Nelayan tua di atas perahu segera menyurutkan badannya.
Sedangkan pengail di tepi sungai sama sekali tidak mempedulikan mereka.
Tali pancingnya ditarik kembali.
Dia membalikkan tubuhnya perlahan.
"Merepotkan kau orang tua,"
Kata Kuan Tiong-liu setengah bergumam. Pengail tua itu tampak terpana.
"Oh? Apakah kau tahu siapa aku?"
"Orang yang menggunakan pancingan sebagai senjata siapa lagi kalau bukan Siang-ciang Hi-ing?"
"Termasuk makhluk apa Siang-ciang Hi-ing itu? Orang yang menggunakan pancingan sebagai senjata, memangnya cuma dia saja?"
Sahut pengail tua itu sambil mendengus dingin.
"Sebetulnya masih ada satu lagi Han-ciang Tiau-siu,"
Kata Kuan Tiong-liu dengan nada dingin.
"Tapi dengan kedudukan seperti orang tua itu, mana mungkin dia sudi duduk di tepi 261 sungai menunggu aku?"
"Bocah busuk! Lidahmu tajam sekali!"
Pengail tua itu melepaskan topi pandannya. Terlihat rambutnya yang sudah memutih. Wajahnya sudah keriput semua.
"Aku memang Han-ciang Tiau-siu,"
Katanya.
"Ternyata memang kau orang tua!"
Kuan Tiong-liu pura-pura terkejut.
"Harap maafkan boanpwe yang tidak tahu aturan. Entah apa yang kau inginkan orang tua?"
"Kuan Tiong-liu!"
Teriak Han-ciang Tiau-siu.
"Kau menghancurkan cabang tiga belas Bu-ti-bun kami. Dan kau juga membunuh anggota-anggotanya. Lohu hari ini akan menjernihkan utang piutang ini."
"Apakah Lojinke (orang tua) juga merupakan anggota Bu-ti-bun?"
Tanya Kuan Tiong-liu bersandiwara.
"Tidak salah! Wie-tian-wei-toa, Ju-jit-fang-tiong."
"Boanpwe ingin bertanya kepada Lojinke, entah apa kedudukanmu di Bu-ti-bun?"
"Hu-hoat!"
"Boanpwe semakin tidak mengerti,"
Kata Kuan Tiong-liu sambil tertawa dingin.
"Locianpwe pernah menggetarkan dunia kangouw selama puluhan tahun. Dengan kedudukan locianpwe, mengapa sudi menurunkan derajat menjadi hu-hoat orang?"
"Jangan banyak bicara!"
Sahut Han-ciang Tiau-siu dengan 262 wajah garang.
"Setelah membunuh anak buah Bu-ti-bun, kau orang tua segera menampilkan diri. Apabila boanpwe membunuh engkau, apakah Tok-ku Bu-ti akan mencariku untuk membalaskan dendam bagimu?"
Tanya Kuan Tiong-liu sinis.
"Besar sekali mulutmu. Tidak heran kau berani membunuh anak buah Bu-ti-bun,"
Kata Han-ciang Tiau-siu marah.
"Jangan kata baru anak buah, hu-hoatnya juga aku berani bunuh!"
Han-ciang Tiau-siu malah tertawa terbahak-bahak.
"Bagus! Hari ini aku orang tua harus memberi pelajaran kepadamu!"
Batang bambunya segera diangkat ke atas. Jit Po juga mengeluarkan pedang pendeknya. Han-ciang Tiau-siu menutul kakinya dan melayang sejauh tiga depa di mana terdapat sebuah tanah kosong.
"Ke sini!"
Katanya. Kuan Tiong-liu menghunus pedangnya. Pergelangan tangan digetarkan. Sekali loncat dia juga sudah berada di tanah kosong itu dan berdiri berhadapan dengan Han-ciang Tiau-siu.
"Silakan!"
Katanya.
Han-ciang Tiau-siu berteriak lantang, pancingannya segera digerakkan dan mengincar tiga urat darah mematikan Kuan Tiong-liu.
Pancingan tersebut merupakan senjata di luar 263 senjata.
Orang yang menggunakan senjata semacam ini harus mempunyai tenaga dalam yang kuat.
Kuan Tiong-liu juga sadar bahwa pengail tua ini pernah menggetarkan dunia kangouw dua puluh tahun yang silam.
Ilmu silatnya tinggi sekali.
Dia tidak berani memandang ringan.
Tubuhnya meleset dengan ringan.
Pedangnya yang bergerak cepat menangkis datangnya pancingan Han-ciang Tiau-siu.
Kemudian dia balas menyerang.
Belum lagi pedangnya sempat mencapai sasaran, pancingan Han-ciang Tiau-siu kembali meluncur di samping kepalanya.
Kemudian tali pancing ditarik kembali dan dilontarkan ke arah dada Kuan Tiong-liu.
Kuan Tiong-liu menggeser sedikit tubuhnya dan membiarkan pancing itu lewat.
"Ting!" , pedangnya digerakkan dan menebas batang bambu di tangan Han-ciang Tiau-siu. Orang tua itu memutar tubuhnya, persis seekor ikan yang berenang dengan gesit. Tali pancingnya bergerak mengarah tenggorokan Kuan Tiong-liu. Pemuda itu berhasil menghindar, namun kembali pancingan sudah melayang kembali dan mengancam tujuh buah jalan darahnya. Pemuda itu menutulkan kakinya ke tanah dan melayang di udara. Serangan pancingan itu luput semuanya. Sikap Kuan Tiong-liu sangat tenang. Mungkin hal ini pula yang membuat Han-ciang Tiau-siu semakin kesal.
"Hari ini Lohu akan membuat kau menjadi umpan ikan!"
Teriaknya keras.
Sekali lagi bambu di tangannya digetarkan.
Sampai saat itu Kuan Tiong-liu masih belum banyak 264 melakukan serangan.
Dia hanya bergeser dan berputaran menghindari ancaman senjata Han-ciang Tiau-siu.
Seratus dua puluh tujuh jurus sudah berlalu.
Kuan Tiong-liu tidak ingin main-main lagi.
Sudah cukup baginya untuk menjajaki ilmu yang dimiliki Han-ciang Tiau-siu.
Kakinya bergerak cepat, pedang berkelebat.
Tubuhnya berubah menjadi bayangan.
Han-ciang Tiau-siu tidak mengira anak semuda itu sudah mempunyai kepandaian demikian tinggi.
Dia bersikap hati-hati.
Tapi Kuan Tiong-liu bukanlah Kuan Tiong-liu kalau dia mau memberi kesempatan kepada musuhnya.
Pedangnya seakan menari-nari di udara.
Han-ciang Tiau-siu sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk membalas menyerang.
Dia sudah terdesak mundur beberapa langkah.
Sedangkan pedang Kuan Tiong-liu masih merandek terus.
Tampaknya sekarang pemuda itu yang mempunyai posisi di atas angin.
Han-ciang Tiau-siu berhasil menghindarkan diri.
Kali ini dia sempat menggerakkan pancingannya, namun malang, pedang Kuan Tiong-liu yang secepat kilat sudah berada di depan mata.
Sedangkan Han-ciang Tiau-siu terjatuh ke dalam sungai.
Gerakan pedang Kuan Tiong-liu berhenti.
Dia mendongakkan wajahnya dan tertawa terbahak-bahak.
Tidak lama kemudian, terlihat Han-ciang Tiau-siu menyembulkan kepalanya dari dalam air.
Tubuhnya melesat dan berjungkir balik beberapa kali.
Akhirnya dia berhasil mencapai seberang sungai.
Sekali lagi Kuan Tiong-liu tertawa terbahak-bahak.
"Sungguh banyak orang aneh di dunia ini. Seorang Hu-hoat Bu-ti-bun saja tidak malu berbuat demikian, aku harap murid Bu-tong-265 pai tidak akan membuat aku kecewa,"
Katanya.
Ternyata dia memang benar-benar hendak menuju Bu-tong-san.
Sebetulnya apa yang di nginkan Kuan Tiong-liu?
Apakah dia bermaksud mengadu kepandaian dengan murid Bu-tong-pai?
***** Matahari belum tenggelam.
Keenam murid Bu-tong-pai yaitu Pek Ciok, Kim Ciok, Giok Ciok, Cia Peng, Yo Hong dan Fu Giok-su masih berlatih dengan giat.
Mereka berdiri di atas sebuah batu.
Keenam orang tersebut membentuk lingkaran.
Hanya ada sebuah celah di bagian dalam dan di depannya Ci Siong tojin berdiri.
Ci Siong tojin masih belum sehat, wajahnya masih terlihat pucat.
Sejenak kemudian dia berjalan menuju sebatang kayu tinggi dan duduk di sana.
Dia memperhatikan murid-muridnya berlatih.
Setelah cukup puas, dia pindah ke atas sebuah batu berbentuk pat-kwa.
Batu itu dapat berputar segala arah.
Asalkan Ci Siong tojin menumpu tangannya ke samping dan mengentak.
Dengan demikian, dia dapat memperhatikan muridnya satu per satu dan melihat kemajuan latihan mereka.
Wajahnya tidak kelam.
Tampaknya dia cukup puas dengan hasil yang dicapai keenam muridnya itu.
Keringat sudah membasahi tubuh keenam orang itu.
Tapi mereka tidak bermaksud berhenti berlatih.
Pek Ciok, Cia Peng, Kim Ciok, Giok Ciok dan Yo Hong setia kepada Bu-tong-pai, sedangkan Fu Giok-su memikul beban dendam keluarganya.
Suara teriakan lantang terus terdengar.
Kumandangnya mengaung sampai ruangan depan.
266 ***** Wan Fei-yang melewati tempat latihan itu.
Mendengar suara teriakan, langkah kakinya segera diperingan.
Dia seperti terpesona.
Tanpa sadar langkah kakinya semakin mendekati tempat keenam orang itu berlatih.
Dua orang murid Bu-tong menjaga di luar.
Wan Fei-yang yang melihat mereka, segera menyadari apa yang akan terjadi apabila dia meneruskan langkahnya.
Namun dia tetap nekat.
Dia menghampiri kedua murid Bu tong yang sedang menjaga itu.
Tiba-tiba salah satunya mengadang di depan Wan Fei-yang.
"Berhenti!"
"Untuk apa kau datang ke tempat ini?"
Tanya yang satunya lagi.
"Mengantarkan minuman untuk para suheng yang sedang berlatih."
Hal ini memang benar.
"Suheng berdua menjaga di sini sekian lama, tentu kalian juga sudah lelah dan haus."
"Oleh karena itu, jangan lupakan bagian kami,"
Sahut salah satunya.
"Tentu saja ...."
Sahut Wan Fei-yang sambil meletakkan teko teh dan beberapa cawan di lantai.
Dia menuangkan secawan teh untuk masing-masing orang itu.
Warna teh sangat pekat, harumnya semerbak.
Sekali lihat saja, kedua murid Bu-tong itu segera tahu bahwa teh yang disuguhkan diseduh dari daun teh yang baik.
Apa lagi setelah menghirup wanginya.
Kerongkongan mereka semakin kering 267 saja rasanya.
"Harum sekali,"
Kata salah satu orang itu tanpa sadar.
"Ini adalah teh Lung-cing sebelum musim hujan. Para suhu biasanya menyuguhkan tamu dengan teh sejenis ini,"
Kata Wan Fei sembari mengangkat kembali bakinya dari lantai.
"Tidak heran ..."
Setelah meminum tanpa sadar kedua murid Bu-tong itu menghirupnya dalam-dalam.
"Teh Lung-cing sebelum musim hujan memang paling bagus. Dapat menghilangkan dahaga dan menurunkan demam badan. Lain dengan teh umumnya,"
Kata salah satu penjaga tersebut. Wan Fei-yang tidak ingin kehilangan kesempatan baik.
"Suheng berdua silakan menikmati perlahan-lahan. Aku akan mengantarkan teh ini ke dalam,"
Sahutnya buru-buru.
"Baik!"
Kata penjaga itu sambil terus memuji tiada hentinya.
Wan Fei-yang membawa baki berjalan ke depan.
Mereka sama sekali tidak mempedulikannya.
Hatinya gembira sekali.
Belum sempat dia mendorong pintu ruangan itu, salah seorang murid Bu-tong sudah berdiri dan memalingkan wajahnya.
"Berdiri di tempat!"
Bentaknya. Wan Fei-yang terpana. Orang itu mengulurkan tangannya dan mencengkeram, leher baju anak muda itu.
"Mau ngintip? Tidak begitu mudah!"
Penjaga yang satunya segera menghampiri.
"Kau bermaksud 268 menyuap kami dengan secangkir teh Lung-cing sebelum musim hujan? Kau kira kami tidak tahu apa maksudmu?"
Bentaknya marah.
"Kelihatannya kau cukup jujur, siapa tahu hatimu demikian licik. Sayang sekali kau bertemu dengan kami."
"Jangan mempunyai pikiran yang bukan-bukan. Kami yang akan membawa teh ini ke dalam. Kau kembali dan teruskan pekerjaanmu."
Kedua orang itu saling sahut-menyahut mengatasinya.
Kemudian salah seorang penjaga itu mengambil baki dari tangan Wan Fei-yang.
Sedangkan rekannya yang lain mencengkeram leher baju anak muda itu dan melemparkannya keluar dari tempat tersebut.
***** Air kolam sangat jernih.
Memandangi bayangan sendiri di dalam kolam, perasaan Wan Fei yang sangat tertekan.
Dia benar-benar tidak mengerti.
Mengapa Ci Siong tojin tampaknya begitu sentimen kepadanya.
Angin malam membawa keharuman dedaunan dari pegunungan.
Di dalam kolam yang jernih terlihat seekor ikan lele sedang berenang ke tepian.
Mata Wan Fei-yang mengedar.
Tiba-tiba dia mengembangkan sebuah senyum.
Tidak ada orang di sekitarnya.
Dia mengulurkan tangan secepat kilat dan menangkap ikan lele itu.
"Wan-ji, aku berhasil menangkap seekor ikan lele!"
Teriaknya tanpa sadar kemudian menghambur keluar.
269 Lun Wan-ji tidak berada di sekitar situ, tentu saja dia tidak dapat mendengarkan teriakannya.
Kenyataannya malah dia tidak tahu bagaimana perasaan Wan Fei-yang kepadanya.
***** Malam mulai larut.
Di taman bunga sunyi tiada seorang pun.
Sepasang tangan Wan Fei-yang memegang sebuah panci kecil.
Dia berjalan melalui tembok pembatas taman.
Tujuannya kamar Lun Wan-ji.
Langkah kakinya dibuat seringan mungkin.
Dia mondar-mandir di depan pintu kamar.
Beberapa kali dia mengulurkan tangannya untuk mengetuk pintu.
Namun entah kenapa, dia membatalkannya lagi.
Kalau melihat tampangnya, kelihatan sekali dia gugup.
Tangannya yang sudah terangkat ditarik kembali, kemudian diangkat lagi lalu ditarik kembali.
Entah kemana hilangnya keberanian dalam hati anak muda itu.
Akhirnya dia mendapat akal.
Perlahan dia meletakkan panci kecil itu di atas tanah.
Dan dia merasa perbuatannya itu sudah tepat.
Dia menarik napas dalam-dalam.
Kemudian dia membalikkan tubuh dengan maksud meninggalkan tempat itu.
Namun begitu dia membalikkan tubuhnya, dia melihat seseorang.
Mata Wan Fei-yang membelalak, mulutnya terbuka lebar.
Orang itu adalah Lun Wan-ji.
Dia berdiri di gerombolan bunga yang ada di dekatnya.
Wan Fei-yang malah tidak tahu sejak kapan dia sudah berdiri di situ.
270 Dengan perasaan heran dia menatap Wan Fei-yang.
"Untuk apa kau menaruh panci kecil di depan pintu kamarku?"
Tanyanya. Wajah Wan Fei Yan merah padam. Untung saja pada saat itu bulan tak menampakkan seluruh dirinya sehingga remang-remang dan Wan-ji pasti tidak akan memperhatikan.
"Aku ... aku dengar kau sedang kurang sehat. Tidak mau makan nasi. Maka aku memasakkan sedikit bubur untukmu ...."
Sahut Wan Fei-yang salah tingkah.
"Kau sungguh baik."
Hati Wan Fei-yang senang sekali mendengar pujian itu.
"Wan-ji kouwnio, mumpung masih hangat ...."
Lun Wan-ji menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Tolong bawakan ke dalam ya ...."
Katanya sambil mendorong pintu kamar.
"Baik,"
Sahut Wan Fei-yang sambil mengangkat panci berisi bubur itu dan membawanya masuk ke dalam kemudian meletakkannya di atas meja.
"Oh ya ... mengapa tadi tingkahmu aneh sekali. Aku lihat kau sudah beberapa kali mengulurkan tangan untuk mengetuk pintu tapi tidak jadi,"
Tiba-tiba Wan-ji bertanya. Wajah Wan Fei-yang merah padam.
"Aku ... aku sebetulnya malu bertemu lagi denganmu." 271
"Oh?"
"Sebelumnya aku mengatakan bahwa Ciangbunjin akan menerima aku sebagai murid. Ternyata ... ternyata tidak. Kau pasti mengira aku berdusta lagi."
"Siau Fei ... bagaimana sifatmu aku sangat paham. Kalau memang mau disalahkan, salahkan nasibmu yang buruk,"
Sahut Wan-ji menghibur. Mendengar kata-kata itu, perasaan tertekan Wan Fei-yang menjadi lenyap seketika. Lun Wan-ji membuka tutup panci berisi bubur itu.
"Begini banyak? Aku sendirian bagaimana mungkin menghabisikannya. Kau juga makan sedikit ya,"
Kata gadis itu sambil tersenyum manis.
"Aku ...."
"Kalau kau tidak mau makan, aku juga tidak ...."
"Aku makan ... aku makan."
Sahut Wan Fei-yang panik. Dia cepat-cepat menyendokkan semangkuk penuh untuk Lun Wan-ji. Lu Wan-ji menerimanya dan mencoba satu sendok. Tanpa sadar dia memuji.
"Enak sekali."
Kepalanya manggut-manggut.
"Rasanya manis lagi."
"Tentu saja. Aku memasaknya dengan mencampurkan seekor ikan lele." 272
"Benar?"
Lu Wan-ji tersenyum.
"Merepotkan kau saja,"
Katanya.
Melihat kegembiraan Lun Wan-ji, hati Wan Fei-yang senang bukan kepalang.
***** Sambil bercakap-cakap dan tertawa, akhirnya bubur sepanci itu habis juga.
Tadinya Wan Fei-yang menganggap terlalu banyak, sekarang malah merasa kekurangan.
Dia berharap dapat agak lama bersama gadis itu.
Maka ketika dia membereskan panci dan mangkuk kotor, dia sengaja bekerja lambat-lambat.
Malam semakin larut.
"Cring!" , tiba-tiba semilir angin mengumandangkan sebuah suara. Kedengarannya begitu dekat, namun sepertinya juga sangat jauh. Itu adalah suara harpa. Mendengar dentingan itu, hati Lun Wan-ji semakin gembira. Sebetulnya dia senang membantu Wan Fei-yang membereskan perabotan makan mereka, wajahnya tersenyum terus. Sekarang senyuman semakin lebar, namun gerakan tangannya juga menjadi cepat. Wan Fei-yang malah tidak memperhatikan.
"Taruh saja di situ. Nanti aku yang mencucinya,"
Kata Wan-ji.
"Tidak usah ... tidak usah .…"
Baru saja dia menumpukkan perabotan itu menjadi satu Wan-ji sudah menghambur keluar.
Wan Fei-yang terpaksa mengikutinya Suara dentingan harpa masih terus berbunyi, Wan-ji keluar dari kamarnya karena tertarik oleh suara harpa tersebut.
Pikirannya seperti 273 melayang-layang.
"Kalau begitu aku tidak mengantarmu lagi,"
Kata gadis itu selanjutnya.
"Tidak usah ..."
Sahut Wan Fei-yang gugup.
Dia masih ingin meneruskan kata-katanya, tapi Wan-ji sudah mempercepat langkahnya ke depan.
Arah yang diambilnya menuju taman depa Apa yang membuatnya demikian tergesa-gesa?
Wan Fei-yang masih merasa heran ketika melihat sesuatu terjatuh dari pinggang Wan-ji.
Dia cepat-cepat memanggil gadis itu.
"Wan-ji kouwnio ...."
"Lain kali kita ngobrol lagi panjang lebar,"
Sahutnya tergesa-gesa.
Sekali berkelebat, tubuhnya menghilang di tikungan.
Mendengar ucapannya, kembali Wan Fei-yang terpana.
Akhirnya dia mempercepat langkahnya.
Sebuah dompet kain bersulam indah tergeletak di atas lantai.
Tidak diragukan lagi kalau benda itu milik Wan-ji.
Gadis itu selalu membawanya ke mana saja, bagaikan harta kesayangan.
Biasanya dia sangat memperhatikan dompet ini.
Mengapa sekarang begitu mudah terjatuh dari sakunya?
Apakah dia sengaja meninggalkannya untukku?
Wan Fei-yang membungkukkan tubuhnya mengambil dompet kain tersebut.
Dia memandanginya dengan termangu-mangu.
***** Suara harpa berasal dari bawah sebatang pohon siong tua.
Bintang rembulan bersinar redup.
Pohon siong berdiri tegak.
Giok-su yang duduk dibawah pohon siong dengan wajah 274 termenung, tampak semakin tampan memikat.
Sebuah harpa bersenar lima tergeletak di atas sebuah batu di hadapannya.
Kedua jari tangannya bergerak gemulai.
Laksana tenggelam dalam alunan harpanya sendiri.
Wan-ji melangkah mendekati dengan mengendap-endap.
Dia tidak ingin menimbulkan sedikit suara pun yang akan mengejutkan anak muda tersebut.
Namun Giok-su telah mengetahui kehadirannya.
Tangannya masih memainkan harpa.
"Sumoay ... kau rupanya …."
Wan-ji tersenyum manis.
"Suheng ... teruskan saja permainanmu,"
Sahutnya.
Giok-su membalas senyumnya.
Suara dentingan harpa masih terus berlanjut.
Wan-ji duduk di atas sebuah batu yang terdapat di samping anak muda itu.
Dia mendengarkan dengan segenap perhatian.
Sekejap saja dia sudah terlena oleh buaian alunan harpa tersebut.
Ditilik dari keadaannya, dia pasti bukan untuk pertama kali mendengar Fu Giok-su memetik harpa.
Lagi pula dia juga tentu senang sekali mendengarkannya.
Mata Giok-su menatap ke arah Wan-ji.
Sepasang jari tangan tetap menari-nari di atas alat musik tersebut.
Iramanya tidak sumbang sama sekali.
Tentu sudah lama dia mempelajari ilmu yang satu ini.
Irama harpa itu ibarat air sungai yang mengalir, segala perasaan seakan hanyut bersamanya.
Sambil memetik harpa, pikiran Giok-su semakin melayang-layang.
Wan-ji tidak 275 merasakannya.
Giok-su tersenyum simpul.
"Sumoay ... bagaimana menurutmu irama yang aku mainkan ini?"
"Bagus sekali,"
Sahut Wan-ji bagai tersadar dari mimpi.
"Aku gembira kau menyukainya."
"Kenapa? Apakah kau sengaja memetiknya untukku?"
Giok-su tersenyum tanpa menyahut. Wajah Wan-ji merah padam.
"Suheng, kau Bun-bu-coan-cai (pendidikan dan ilmu silat dikuasai dengan baik). Benar-benar mengagumkan,"
Katanya.
"Lagi-lagi kau berkata demikian,"
Sahut Giok-su tersipu-sipu.
"Betul kok .... Suheng, kapan kau akan mengajarkan aku memetik harpa?"
Tanya Wan-ji selanjutnya.
"Kau benar-benar mau mempelajarinya?"
"Aku serius. Katakan ... kapan kau mau mengajarkan aku?"
"Bagaimana kalau sekarang saja?"
Wan-ji tidak mau kehilangan kesempatan baik, dia segera menganggukkan kepalanya dan menghampiri Giok-su.
Anak muda itu berdiri dan membiarkan Wan-ji duduk di hadapan batu di mana harpa itu tergeletak.
Sepasang jari tangannya menekan di atas senar.
"Beginikah caranya?"
Giok-su menggelengkan kepalanya. Jarinya menyentuh senar perlahan.
"Perhatikan baik-baik."
Jarak antara kedua orang itu sedemikian dekat. Giok-su bisa mencium bau harum yang terpancar dari tubuh Wan-ji. Jarinya menyentil.
"tring!" , denting suara harpa menggetarkan sanubarinya. Wan-ji belum paham juga. Jarinya mengikuti gerakan Giok-su, namun nadanya demikian rendah dan tidak enak didengar. Dua pasang mata saling pandang. Wajah Wan-ji menampakkan rona memerah. Kepalanya tertunduk malu.
"Mengapa aku tidak bisa memainkannya seperti engkau?"
"Karena gerakanmu salah. Meskipun jari kirimu sudah betul, tetapi tenaga sentilan jari kanan kurang tepat. Seharusnya begini ..."
Perlahan Giok-su mengulurkan tangannya menyentuh jari Wan-ji lembut.
Wan-ji membiarkannya.
Dia tidak melepaskan tangan anak muda itu.
Wajahnya merah padam.
Giok-su memang tidak dapat melihatnya namun dia merasakan tangan Wan-ji bergetar terus.
Sekali lagi terdengar suara "cring!".
Akhirnya nada suara yang terdengar persis seperti yang dimainkan Giok-su sebelumnya.
"Betul kan?"
Lu Wan-ji tidak mengucapkan sepatah kata pun.
277 ***** Penerangan di dalam kamar redup sekali.
Tangan Wan Fei-yang masih menggenggam dompet kain itu.
Dia duduk termenung di sisi tempat tidur.
Masih terbayang di pelupuk matanya ketika dia menikmati bubur ikan bersama Wan-ji.
Bibirnya tersenyum.
Begitu lugunya sehingga mirip orang bodoh.
Entah berapa waktu sudah berlalu, akhirnya dia tersadar dari lamunannya.
Dia mengedarkan pandangannya lalu meloncat dari tempat tidur.
Dia sibuk mencari-cari, akhirnya dia berhasil menemukan secarik kertas dan sekotak tinta.
Dia duduk termenung di samping meja.
Alisnya berkerut.
Lama sekali dia baru tersenyum-senyum.
Dia mulai menggosok-gosok tempat tintanya.
Kemudian mulai menulis.
Jangan lihat tampangnya ketolol-tololan, ternyata tulisannya boleh juga.
***** Lentera semakin redup.
Di atas lantai berserakan puluhan carik kertas yang telah terpuntel-puntel.
Wan Fei-yang menulis lagi beberapa huruf, dia membacanya sekilas.
Akhirnya dia meremas kertas itu dan membuangnya lagi ke atas lantai.
Dia melakukannya berulang kali.
Kenyataannya, menulis surat bukanlah bakat anak muda itu.
Namun setelah mencoba lagi beberapa kali, dia berhasil juga menyelesaikan sepucuk surat.
Wan Fei-yang mengibas-ngibaskan surat di tangannya agar tinta tulisannya cepat kering.
Setelah itu dia membaca sekali lagi, kemudian melipatnya baik-baik.
Dia memandangi dompet 278 kain yang harum itu, kemudian matanya beralih kembali pada surat di tangannya.
Ia harus mengambil keputusan.
Dimasukkannya lipatan surat tersebut ke dalam dompet kain tadi, lalu dia kembali duduk dengan termangu-mangu.
Sinar matanya menerawang.
Bibirnya tersenyum.
Tangannya menggenggam dompet kain tersebut erat-erat.
Lalu dia memantapkan hatinya dan keluar dari kamar.
Baru berjalan beberapa langkah, dia berhenti lagi.
Tangannya mendekap dada.
Terdengar suara Tik!
Tak!
Tik!
Tak!
Detak jantung yang berdebaran.
Dia berdiri merenung sejenak, kemudian membalikkan tubuhnya dan kembali ke kamar.
Dari kotak kayu di kolong tempat tidur, dia mengeluarkan sebotol arak.
Dia teguk arak itu dengan pikiran kacau.
Setelah beberapa teguk, wajahnya mulai merah.
Pakaiannya juga ikut basah terciprat arak yang berceceran.
Dia tidak peduli akan semua itu.
Entah karena semangatnya terpancing atau karena pengaruh arak itu sendiri, akhirnya dia meletakkan botol arak di atas meja dan menghambur keluar dari kamarnya.
***** Dengan penuh semangat dia berlari menuju kamar Wan-ji.
Langkahnya berhenti di depan pintu.
Matanya celingukan seperti maling.
Di dalam taman itu hanya ada Wan Fei-yang seorang.
Perlu diketahui bahwa rumah jaman dahulu berbeda dengan jaman sekarang, di setiap bagian terdapat taman yang indah.
Biasanya di samping taman-taman itu terdapat beberapa kamar tidur atau ruang tamu.
Wan Fei-yang menggertakkan giginya.
Dia mengeluarkan dompet kain dari balik pakaiannya kemudian menghambur ke kamar Wan-ji.
Namun sampai undakan batu, dia melambatkan 279 kembali langkah kakinya.
Dari dalam kamar terlihat penerangan.
Wan Fei-yang mondar-mandir di depan kamar.
Sejenak kemudian dia menuruni undakan batu kembali.
Mulutnya membuka.
Perkataan yang sudah di ujung lidah ditarik kembali.
Melihat tampangnya, tampaknya lebih gugup daripada ketika mengantarkan bubur tadi.
Karena yang dibawanya sekarang adalah sepucuk surat.
Dia berjalan memutari taman tersebut dengan harapan seperti sebelumnya, Wan-ji berdiri di belakangnya dan menegur.
Dengan demikian dia tidak menemukan kesulitan memberikan surat itu kepada sang gadis.
Dia berjalan berputaran, tiba-tiba dia mendengar suara langkah kaki.
Asalnya dari belakang ....
Langkah kaki terhenti.
Wan Fei-yang pura-pura tidak tahu.
Dia menunggu sampai suara langkah kaki semakin mendekat baru menolehkan kepalanya ....
"Wan ...."
Baru sepatah kata itu keluar dari mulutnya, wajah Wan Fei-yang segera tertegun.
Sepasang tangannya buru-buru diselinapkan ke belakang.
Orang yang datang itu bukan Wan-ji melainkan Gi-song.
Hidung tosu itu sedang bergerak mengendus-endus.
Wan Fei-yang tertawa sumbang.
Sepasang tangannya masih bersembunyi di belakang punggung.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Akhirnya Gi-song mengajukan pertanyaan. 280
"Tidak apa-apa ... aku sedang ... menikmati indahnya rembulan."
"Kurang ajar! Hari ini tanggal satu, mana ada rembulan yang dapat dinikmati?"
Bentak Gi-song marah.
Wan Fei-yang terpana.
Dia mendongakkan wajahnya.
Di atas langit bulan hanya menyembulkan kepalanya sedikit.
Bintang-bintang justru bertaburan.
Sekali lagi hidung Gi-song bergerak-gerak.
"Kau baru minum arak?"
"Aku ... aku …."
"Apa yang kau sembunyikan di belakang tubuhmu?"
Wajah Wan Fei-yang panik sekali.
"Aku ... aku ti ... dak menyembunyikan apa-apa!"
"Kemarikan!"
Bentak Gi-song sambil mengulurkan telapak tangannya. Sinar matanya laksana kilat. Dengan terpaksa Wan Fei-yang menyerahkan dompet kain tersebut.
"Dompet kain?"
Gi-song juga melihat surat yang terselip di dalamnya.
"Apa lagi ini?"
Bentaknya sambil mengeluarkan surat tersebut. Wajah Wan Fei-yang semakin ketakutan.
"Tengah malam buta, mulut bau arak, tangan memegang 281 dompet perempuan. Tingkah laku mencurigakan. Hm ... pasti kau melakukan perbuatan yang memalukan!"
Bentak Gi-song kembali.
"Aku ... tidak ...."
Begitu paniknya Wan Fei-yang sampai tergagap-gagap.
"Tidak ...?"
Gi-song mengangkat dompet di tangannya.
"Dari mana dompet ini?"
Wan Fei-yang menjadi serba salah, tidak tahu bagaimana harus menjawab.
Tepat pada saat itu, Giok-su mengiringi Wan-ji berjalan ke arah mereka.
Melihat kedua orang itu, mereka mempercepat langkahnya.
Wan Fei-yang semakin panik melihat kehadiran Wan-ji.
Gi-song memalingkan wajah ke arah gadis itu.
Wan-ji memperlihatkan tampang heran.
"Susiok ... mengapa dompetku bisa ada di tanganmu?"
Tanyanya.
"Ini kepunyaanmu?"
Gi-song terpana sejenak. Kemudian dia menuding kepada Wan Fei-yang.
"Mengenai persoalan ini, kau harus bertanya kepada bocah itu. Aku mendapatkannya dari dia."
Wan-ji tertegun. Dia memandang ke arah Wan Fei-yang. Anak muda itu hanya tertawa getir.
"Di dalamnya ada sepucuk surat,"
Kata Gi-song selanjutnya. Dia mengeluarkan surat tersebut dan mengibas-ngibaskannya. 282
"Surat itu bukan kepunyaanku,"
Sahut Wan-ji.
"Lalu siapa punya?"
Tanya Gi-song sambil membuka surat itu.
"Di bawahnya tercantum nama ‘Wan Fei-yang’"
Matanya mendelik kepada anak muda itu. Wan Fei-yang hampir semaput dibuatnya.
"Giok-su ... coba lihat apa yang tertulis di dalamnya,"
Kata Gi-song sambil menyerahkan surat tersebut kepada Giok-su. Giok-su menerima surat itu dengan enggan.
"Wan-ji-moay ..."
Baru membaca tiga huruf, alisnya langsung berkerut. Gi-song juga tertegun.
"Teruskan!"
Bentaknya.
"Sehari tidak bertemu bagaikan tiga musim dingin ...."
Wan-ji tidak mengerti apa yang dimaksudkan. Wajah Wan Fei-yang sudah merah seperti kepiting direbus.
"Giok-su, apa sebetulnya yang kau baca? Apakah kau tidak salah baca?"
"Tecu hanya membaca apa yang tertulis dalam surat ini."
Gi-song merebut surat itu dari tangan Giok-su. Dia menyerahkannya kembali kepada Wan Fei-yang.
"Kau saja yang baca!"
Wan Fei-yang terpaksa menerima surat itu. Dia berdiri dengan tubuh gemetar. Mulutnya terkatup rapat-rapat.
"Baca!"
Bentak Gi-song sekali lagi. Wan Fei-yang menenangkan hatinya. Akhirnya dia mulai membaca.
"Wan-ji-moay ... sehari tidak bertemu seakan berpisah tiga kali musim semi."
Tiba-tiba Gi-song tertawa terbahak-bahak.
"Oh ... rupanya surat cinta."
Wan-ji yang berdiri di samping mulai marah.
Matanya mendelik ke arah Wan Fei-yang.
Tanpa berpikir panjang lagi dia menghambur masuk ke dalam kamar dan membanting pintu sekuat-kuatnya.
Dengan wajah ketakutan Wan Fei-yang menatap pintu yang sudah tertutup rapat itu.
Dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang.
Giok-su segera menengahi.
"Wan-heng ... malam sudah larut, lebih baik kau kembali ke kamar dan beristirahat,"
Katanya. Tentu saja Wan Fei-yang mengerti Giok-su sedang membantunya. Dia menganggukkan kepala lalu membalikkan tubuh dengan maksud meninggalkan tempat itu. Siapa tahu Gi-song segera mengadangnya.
"Kau tidak boleh pergi begitu saja!"
Bentaknya garang.
"Tianglo ..."
Hati Wan Fei-yang menjadi tegang kembali. Giok-su segera menghampiri ....
"Susiok ... masalah ini ...."
Gi-song tertawa dingin. 284
"Serahkan kepada Ciangbun-suheng. Lihat bagaimana dia menyelesaikannya."
Mendengar kata-katanya, Wan Fei-yang semakin panik.
Keringat sebesar kacang kedelai menetes di keningnya.
***** Cahaya lentera remang-remang.
Wajah Ci Siong tojin yang pucat menyiratkan rona merah, tampaknya sedang marah.
Melihat keadaan itu, Giok-su tidak berani bersuara.
Gi-song malah memperlihatkan rasa senang melihat penderitaan orang lain.
"Suheng, kali ini kau harus memberi pelajaran sepantasnya kepada orangmu itu,"
Sindirnya. Ci Siong tojin malah menjadi tenang. Matanya menatap Wan Fei-yang lekat-lekat.
"Fei-yang, tanpa mengatakan berani berbuat adalah perbuatan maling. Kau sudah melanggar peraturan Bu-tong kita. Bagaimanapun kau harus menerima hukuman yang berat,"
Katanya tegas. Kepala Wan Fei-yang tertunduk dalam-dalam.
"Mulai besok kau harus memikul air selama satu tahun,"
Kata Ci Siong tojin kembali.
"Terima kasih, Ciangbunjin,"
Wan Fei-yang senang mendengar keputusan itu. 285
"Jangan gembira dulu. Yang Punco maksudkan adalah memikul air dari bawah gunung sampai atas sini,"
Kata Ci Siong tojin.
Tampang Wan Fei-yang berubah ketolol-tololan.
Dari bawah gunung ke atas sini, dia tentu sudah dapat membayangkannya.
Tanpa membawa apa-apa sudah pasti seluruh tubuh akan basah oleh keringat.
Apa lagi mengangkut dua gentong air.
"Ada lagi ..."
Wajah Ci Siong tojin sangat serius.
"Sambil mengangkat dua gentong air, kau harus menghafal peraturan Bu-tong-pai, agar kelak bila akan berbuat kesalahan, kau akan mengingatnya kembali."
Wan Fei-yang terpaksa menganggukkan kepalanya.
"Ada lagi ..."
Tampaknya kata-kata Ci Siong tojin masih belum selesai juga. Keringat dingin mulai membasahi tubuh Wan Fei-yang.
"Ciangbunjin, harap kau orang tua melapangkan jiwa."
Ci Siong tojin mengibaskan surat di tangannya. Dia tidak mempedulikan perkataan Wan Fei-yang.
"Melihat banyaknya huruf yang salah kau tulis. Bu-tong-pai benar-benar malu sekali."
Kepala Wan Fei-yang tertunduk semakin rendah.
"Giok-su ... Suhu minta kau mengajarnya membaca dan menulis setiap hari. Bagaimana pendapatmu?"
Tanya Ci Siong 286 tojin. Giok-su segera maju ke depan dan membungkukkan tubuhnya.
"Sudah lama tecu mempunyai niat yang sama, tapi ...."
"Tapi apa?"
"Tecu tidak berani lancang sebelum ada perintah dari suhu."
"Maksudmu ... dia belum tentu mau menerima maksud baikmu itu?"
"Bukan begitu. Fei-yang-heng jujur dan cerdas. Tapi kalau Suhu menghukumnya mengangkat air sepanjang tahun, sore harinya pasti dia sudah sangat lelah. Mana ada semangat untuk belajar lagi?"
Sahut Giok-su.
"Jadi maksudmu ...."
"Harap Suhu mengurangi masa hukumannya."
"Apa yang kau katakan memang beralasan,"
Kata Ci Siong tojin setelah merenung sejenak.
"Suhu akan bermurah hati sedikit. Hukuman mengangkat air dikurangi menjadi satu bulan saja."
"Terima kasih, Suhu!"
Sahut Giok-su sambil menyenggol lengan Wan Fei-yang.
"Terima kasih Ciangbunjin,"
Kata Wan Fei-yang cepat-cepat. Tidak lupa dia menambahkan sepatah.
"Terima kasih Fu-suheng." 287 Gi-song mendengus dingin.
"Keluar!"
Bentak Ci Siong tojin sambil meremas surat di tangannya.
Hancuran kertas segera membuyar dari tangannya dan beterbangan kemana-mana.
***** Angin bertiup membuyarkan kabut yang tebal.
Juga melambai-lambaikan rambut Kuan Tiong-liu.
Jit Po dan Liok An masing-masing memegang harpa dan pedang mengiringi tuan mudanya dengan ketat.
Mereka sudah berada di kaki gunung Bu-tong-san.
Memandang ke atas, gunung itu diselimuti kabut yang tebal dan melayang-layang.
Seperti bukan suatu tempat yang nyata.
"Banyak pepatah yang mengatakan tentang keindahan pemandangan di suatu tempat. Bu-tong-san pernah di baratkan sebagai tempat bersemayam para dewa. tampaknya memang tempat yang tepat untuk dikunjungi,"
Kata Kuan Tiong-liu sambil tertawa datar. Liok An maju ke depan dan memandang di kejauhan.
"Kongcu, di depan ada beberapa jalan kecil. Entah yang mana yang harus kita tempuh untuk mencapai Bu-tong-san?"
Tanyanya.
"Bukankah dengan bertanya kita akan segera tahu?"
Sahut Kuan Tiong-liu. 288
"Tanya siapa?"
Tanya Liok An mengedarkan pandangannya.
Kuan Tiong-liu juga menengok ke sekitar daerah itu.
Kebetulan Wan Fei-yang mendatangi dari arah depan sambil menggotong dua gentong air.
Sembari berjalan, mulutnya tidak henti menghafal.
"Peraturan Bu-tong-pai. Nomor satu, menghormati guru dan agama. Kedua, berlatih ilmu dengan giat. Ketiga, tidak boleh menghina yang lemah ...."
Dia sendiri tidak tahu berapa kali sudah dia mengulangi kalimat yang sama.
Kata-katanya mulai kacau.
Liok An mempercepat langkahnya menghampiri.
Wan Fei-yang tampak tidak menyadari kehadirannya.
Liok An terus mengejar.
Akhirnya dia berhasil mendahului Wan Fei-yang.
Dia mengadang di depan anak muda itu.
Wan Fei-yang tertegun, kemudian dia bergeser ke samping dan meneruskan langkahnya.
"Hei! Kau ... aku sedang bertanya ... jalanan mana yang harus kutempuh untuk mencapai Bu-tong-san?"
Teriak Liok An. Wan Fei-yang tidak mempedulikannya. Dia meneruskan hafalannya.
"Kesatu ...."
Suaranya mulai serak. Liok An tidak dapat mendengar dengan jelas. Wan Fei-yang melanjutkan kembali hafalannya.
"Kedua …."
Liok An menjadi bingung.
"Hei ... sebetulnya jalan yang kesatu atau yang kedua?"
Teriaknya kesal. 289
"Ketiga ...."
Liok An tertegun sejenak, kemudian berpaling kepada tuan mudanya.
"Kongcu, dia bilang jalanan ketiga yang harus kita tempuh untuk naik ke Bu-tong-san."
Jilid 7 Kuan Tiong-liu menganggukkan kepalanya. Langkah kakinya dipercepat. Pada saat itu Wan Fei-yang seakan tersadar dari lamunannya, segera ia menyusul dan berteriak.
"Yang betul jalanan yang kedua."
Kuan Tiong-liu tertawa dingin. Liok An di sebelah sana malah mencak-mencak karena kesal.
"Tadi kau bilang yang ketiga!"
Bentaknya lantang.
"Aku ...."
Wan Fei-yang menjadi serba salah.
"Di hadapan kami kau berani main-main!"
Bentak Liok An garang. Kakinya terangkat, segentong air yang dipikul Wan Fei-yang terbalik dan tumpah. Kuan Tiong-liu segera mencegahnya.
"Liok An!"
"Kongcu ...."
Wan Fei-yang mengira Kuan Tiong-liu akan menghajar Liok An, siapa tahu anak muda itu malah berkata.
"Bagaimana biasanya aku mendidikmu. Jaga kedudukanmu sendiri, buat apa mencari gara-gara dengan seorang pelayan?" 290 Mendengar ucapannya, Wan Fei-yang terpaku di tempat. ***** Di samping pedupaan, duduk Ci Siong tojin. Wajahnya semakin kuyu dan tampak tua beberapa tahun. Pek Ciok mengundang Kuan Tiong-liu masuk ke ruangan pendopo. Setelah itu dia mengundurkan diri ke sudut kiri. Kuan Tiong-liu yang melihat keadaan Ci Siong tojin, tanpa sadar tertawa dingin. Rasa angkuhnya terbangkit kembali, namun dia tetap menjura di hadapan orang tua itu.
"Murid Go-bi-pai, Kuan Tiong-liu, mendapat perintah dari suhu untuk menanyakan kesehatan Locianpwe ...."
Mata Ci Siong tojin setengah terpejam. Tiba-tiba dia tersenyum.
"Pinto terakhir bertemu dengan It-im-toheng ketika membahas agama di Ui-san. Sampai sekarang sudah ada dua puluh tahun. Entah bagaimana kabar gurumu sekarang?"
"Suhu dalam keadaan sehat-sehat saja,"
Sahut Kuan Tiong-liu.
"Entah ada keperluan penting apa sehingga It-im-toheng meminta keponakan jauh-jauh bertandang ke Bu-tong-san?"
Tanya Ci Siong tojin.
"Suhu mendengar locianpwe mengadakan pertarungan dengan Tok-ku Bu-ti dari Bu-ti-bun, akibatnya orang jahat itu berhasil membokong Locianpwe sehingga terluka parah. Boanpwe diutus mengantarkan Kiu-coan-kim-tan (obat mujarab golongan Go-bi-pai), mudah-mudahan ada 291 manfaatnya ...."
"Pinto sama sekali tidak dibokong oleh Tok-ku Bu-ti. Pertarungan di atas Giok-hong-teng adalah pertarungan sejati,"
Tukas Ci Siong tojin.
"Oh?"
Kuan Tiong-liu seakan kurang percaya dengan keterangan tersebut.
"Kalau begitu ilmu silat Tok-ku Bu-ti benar-benar tidak bisa dipandang ringan."
"Hm ...."
Sahut Ci Siong tojin datar.
"Tugas boanpwe membasmi iblis ini beserta begundalnya, rasanya tidak mudah juga,"
Gumam Kuan Tiong-liu. Ci Siong tojin tersenyum dingin. Pek Ciok mengerutkan keningnya. Kuan Tiong-liu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari balik pakaiannya.
"Kiu-coan-kim-tan dari Go-bi-pai merupakan obat mujarab yang didambakan ribuan orang di dunia kangouw. Pinto tidak sanggup menerimanya,"
Kata Ci Siong tojin ketika melihat kotak tersebut.
"Sebelum boanpwe turun gunung, Suhu telah berpesan berulang kali, bahwa boanpwe harus menyerahkan obat ini ke tangan Locianpwe, apabila sekarang Locianpwe sampai menolaknya, bagaimana boanpwe dapat kembali ke Go-bi-san dan melaporkan kejadian ini? "
Kalau memang demikian, daripada menyalahi, kan lebih baik menurut. Harap keponakan bersedia menyampaikan rasa terima kasih Pinto yang sebesar-besarnya kepada Itim-292 toheng."
Ci Siong tojin berpaling kepada Pek Ciok.
"Pek Ciok..."
Panggilnya. Pek Ciok mengiakan lalu maju untuk menerima kotak kecil tersebut. Kuan Tiong-li menyerahkannya sambil tersenyum lebar.
"Boanpwe masih ada beberapa patah perkataan, rasanya seperti tercekat di tenggorokan apabila tidak dikeluarkan. Namun apabila Boanpwe mengatakannya, boanpwe takut dikira menghina,"
Katanya.
"Bu-tong dan Go-bi selama ini bagaikan jari-jari tangan, apabila keponakan memang ada masalah dalam hati, katakan saja,"
Sahut Ci Siong tojin.
"Setiap kali ada pertandingan pedang di dunia bu-lim, kebanyakan orang selalu memuji-muji kehebatan Liong-gi-kiam sebagai ilmu pedang nomor satu di dunia,"
Mata Kuan Tiong-liu melirik Ci Siong tojin sekilas.
"Selama sepuluh tahun ini, boanpwe giat berlatih Lok-jit-kiam-hoat (ilmu pedang matahari tenggelam) dari Go-bi-pai. Boanpwe merasa ilmu itu sudah cukup sempurna dan tidak ada kelemahannya. Oleh karena itu, boanpwe selalu berharap akan mendapatkan kesempatan mengunjungi Bu-tong-san dan meminta sedikit pelajaran untuk melihat di mana letak kehebatan Liong-gi-kiam. Kebetulan boanpwe sekarang berada di Bu-tong-san ...."
"Setiap ilmu pedang pasti ada kekurangan maupun kelebihannya, tergantung dari orangnya sendiri,"
Tukas Ci Siong tojin.
"Boanpwe malah menganggap kiam-hoat yang hebat lebih 293 banyak kelebihan daripada kekurangannya,"
Kata Kuan Tiong-liu.
"Lok-jit-kiam-hoat yang dipelajari It-im-toheng merupakan warisan langsung dari Tok-pit-sinni, merupakan pusaka tersendiri bagi dunia persilatan, juga merupakan kiam-sut yang di ncar berbagai kalangan. Dalam keadaan biasa pun, Pinto merasa bukan tandingannya, apa lagi sekarang badan Pinto sedang terluka parah,"
Sahut Ci Siong tojin merendahkan diri.
"Locianpwe ...."
Pek Ciok segera maju ke depan dan menjura.
"Suhu sudah mengatakannya dengan jelas, Kuan-sicu ...."
Kuan Tiong-liu mengerling Pek Ciok sekilas.
"Sejak dulu ada pepatah, Guru yang pandai menghasilkan murid yang menonjol. Bu-tong mempunyai demikian banyak murid, boanpwe yakin di antaranya pasti ada yang menonjol. Kalau Locianpwe tidak keberatan, bagaimana kalau boanpwe meminta salah satu murid memberi sedikit pelajaran mengenai Liong-gi-kiam?"
Pek Ciok tidak dapat menahan dirinya lagi, hawa amarah mulai menyelinap dalam hatinya. Segera ia tampil ke depan, tapi dicegah oleh Ci Siong tojin.
"Jangan berlaku tidak sopan terhadap tamu,"
Katanya. Kemudian dia berpaling kepada Kuan Tiong-liu.
"Alasan utama orang belajar ilmu silat adalah untuk mempertahankan kesehatan tubuh. Apabila untuk sekadar mencari kemenangan, mudah sekali hati kita terpengaruh iblis."
"Tapi ...."
"Pek Ciok ...."
Panggil Ci Siong tojin.
"Layani tamu baik-baik."
Dia berpaling kembali kepada Kuan Tiong-liu.
"Di atas Bu-tong-san, banyak sekali tempat yang pemandangannya indah. Keponakan sudah datang dari jauh, tinggal ah di sini beberapa hari. Biar Pinto dapat menjadi tuan rumah yang baik."
"Baik,"
Sahut Kuan Tiong-liu sambil tertawa dingin ***** Pemandangan Bu-tong-san memang sangat indah, namun Kuan Tiong-liu sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk menikmatinya.
Tujuannya datang ke Bu-tong-san, memang bukan untuk menikmati pemandangan.
Liok An dan Jit Po dapat merasakan bahwa hati tuan mudanya sedang kesal.
Mereka tidak berani bersuara, hanya mengikuti di belakangnya.
Setelah melewati jembatan, Kuan Tiong-liu menghentikan langkah kakinya.
"Liok An, Jit Po!"
Panggilnya. Kedua tangannya dikacakkan di pinggang. Kepalanya tidak menoleh sama sekali.
"Kongcu ...."
"Coba kalian perhatikan ... apa beda pemandangan antara Bu-tong-san dan Go-bi-san?"
Tanyanya. 295 Liok An dan Jit Po saling melirik sekilas.
"Bu-tong-san lebih tinggi dari Go-bin-san, hawanya lebih dingin. Kalau dilihat dari bawah, kelihatannya angker dan berwibawa. Kalau dilihat dari atas, terlihat jurang dan tebing yang terjal. Namun suasananya tidak sehangat Go-bi-san. Tempat kita itu lebih rendah, hawa tidak begitu dingin tapi selalu sejuk menyegarkan,"
Sahut Jit Po. Kuan Tiong-liu tertawa puas. Tepat pada saat itu, terdengar suara menyahut dari belakang mereka.
"Tapi justru murid Go-bi-pai sendiri yang kurang hangat dan sama sekali tidak membawa kesejukan."
Tampak Kim Ciok, Giok Ciok, Cia Peng, Yo Hong dan Fu Giok-su mendatangi dari arah pohon-pohon yang lebat.
Mendengar ucapan itu, Kuan Tiong-liu tenang-tenang saja.
Dadanya masih dibusungkan.
Seakan memandang sebelah mata kepada mereka.
Cia Peng menunggu sejenak.
"Kau yang bernama Kuan Tiong-liu dari Go-bi-pai?"
Bentaknya keras.
"Tidak salah!"
Sahut Kuan Tiong-liu tanpa menolehkan kepalanya. Cia Peng tertawa dingin.
"Tadi ada orang yang mengatakan bahwa Lok-jit-kiam-hoat dari Go-bi-pai merupakan ilmu pedang terhebat di dunia ini. Kalau tidak menyaksikannya sendiri, rasanya kami akan menyesal seumur hidup!"
"Sayang sekali pedangku harus ditinggal di kaki gunung,"
Sahut Kuan Tiong-liu tetap membelakangi.
"Aku akan memerintahkan seorang saudara kami untuk mengambilkannya,"
Kata Yo Hong. Perlahan Kuan Tiong-liu membalikkan tubuhnya.
"Tidak perlu. Ilmu pedang Go-bi-pai terkenal keji dan telengas. Apa lagi senjata tidak bermata. Lebih baik kita membatasinya dengan saling menutul saja,"
Sahutnya. Tiba-tiba tubuhnya melesat ke udara. Sekali loncat setinggi beberapa depa. Gerakannya cepat dan pergelangan tangannya memutar, sebatang ranting pohon sudah berada dalam genggamannya.
"Aku menggunakan ranting pohon ini saja sebagai senjata!"
Cia Peng marah sekali.
"Ranting pohon?"
Makinya penasaran.
"Hah! Menggunakan ranting pohon sebagai senjata sudah umum, buat apa harus diherankan?"
Kata Kuan Tiong-liu sambil tertawa terbahak-bahak.
"Oh ya ... apakah Kuan-heng tidak merasa terlalu menyombongkan diri?"
Tanya Fu Giok-su, Mata Kuan Tiong-liu mengedar.
"Ranting pohon di tanganku ini tidak kalah dengan sebatang pedang, harap Cia-heng hati-hati,"
Katanya.
Cia Peng mendengus dingin.
Tubuhnya melesat.
Telapak tangannya yang satu mengepal dan satu lagi mengambang.
Dia meluncur ke arah Kuan Tiong-liu.
Ranting pohon di tangan 297 anak muda itu digetarkan.
Gerakan yang digunakannya ternyata memang ilmu pedang.
Malah kekejiannya tidak kalah dengan sebatang pedang.
Cia Peng berteriak lantang.
Dia membalas serangan tersebut dengan serangan pula.
Suara yang ditimbulkan telapak tangannya menggelegar di angkasa, memekakkan telinga orang yang mendengarnya.
Kuan Tiong-liu sama sekali tidak tampak khawatir.
Tubuhnya berkelebat.
Enam hantaman telapak Cia Peng berhasil dihindarkannya.
Pedangnya belas menyerang sebanyak sepuluh kali berturut-turut.
Tentu saja pedang yang dimaksudkan di sini adalah ranting pohon tadi.
Kenyataannya memang ranting pohon itu tidak kalah tajam dari sebatang pedang.
Sekali digerakkan oleh Kuan Tiong-liu, lengan baju Cia Peng terkoyak seketika.
Dalam keseluruhannya dia hanya menyerang sebanyak dua belas kali.
Sedangkan Cia Peng sudah menghantam telapak tangannya sebanyak tiga puluh enam kali.
Wajah Cia Peng kelam sekali.
Kedua tangannya membentuk kepala ular dan menyodok ke arah Kuan Tiong-liu.
Sekali lagi ranting pohon di tangan anak muda itu digerakkan.
"Si-yang-sie-cao!" (matahari bersinar cerah) merupakan salah satu jurus Lok-jit-kiam-hoat!"
Teriak Kuan Tiong-liu.
Jurus itu mempunyai tujuh perubahan.
Dia menerjang ke arah Cia Peng.
Murid Bu-tong itu berusaha menghindar dengan jurus ‘Tian-liong-kia-ka’ (naga langit menggerakkan kakinya), namun terlambat.
Tiba-tiba dia merasakan tubuhnya sakit sekali.
Ternyata pada saat itu, ranting pohon di tangan Kuan Tiong-liu telah menyabet bahu sebelah kanan Cia Peng.
Wajah anak 298 muda itu berubah hebat.
Kakinya terdesak mundur beberapa langkah.
Kuan Tiong-liu menarik kembali ranting pohonnya.
"Cia-heng, kau sudah kalah,"
Katanya. Wajah Cia Peng dari merah padam berubah menjadi pucat. Dia menggertakkan giginya erat-erat. Fu Giok-su yang berdiri di sampingnya segera tampil ke depan.
"Cayhe Fu Giok-su ingin mencoba beberapa jurus ilmu pedang Kuan-heng!"
"Aku saja,"
Tukas Yo Hong tidak mau kalah. Kim Ciok dan Giok Ciok juga saling berebutan. Kuan Tiong-liu tertawa terbahak-bahak. Bagus ... semuanya saja sekaligus, biar menghemat tenaga!"
Serunya angkuh.
Ucapannya ibarat minyak yang disiramkan ke api.
Semua murid Bu-tong yang ada di tempat itu marah sekali.
Tampaknya setiap waktu pertarungan akan terjadi.
Tiba-tiba terdengar bentakan keras.
"Berhenti!"
Pek Ciok melayang turun di tengah mereka.
"Toa-suheng ...!"
"Suhu menunggu di ruangan pendopo. Ada persoalan yang ingin dirundingkan. Kuan-heng, silakan ...."
Katanya tenang.
299 Kuan Tiong-liu tersenyum lebar.
Ranting pohon di tangannya dilemparkan ke tanah.
Liok An dan Jit Po mengiringi dari kiri dan kanan.
Bersama-sama mereka menuju ruangan pendopo.
Wajah Cia Peng dan rekan-rekannya masih menyiratkan kemarahan.
Mereka segera mempercepat langkah kaki mendahului.
***** Meja hidangan sudah disiapkan di ruangan pendopo.
Meskipun makanan yang dihidangkan hanya terdiri dari sayur mayur, namun arak yang disajikan merupakan arak yang baik.
Ci Siong tojin sebagai tuan rumah duduk di tengah.
Pek Ciok berdiri di sampingnya melayani.
Gi-song dan Cang-song duduk di kiri kanannya.
Di sudut duduk enam murid Ci Siong tojin.
Kuan Tiong-liu duduk berseberangan dengan tempat berdirinya Pek Ciok.
Liok An dan Jit Po berdiri di kedua sisinya.
Mata Kuan Tiong-liu menyiratkan perasaan meremehkan.
Ci Siong tojin menunggu sampai Kuan Tiong-liu duduk di tempatnya.
"Cia Peng ...!"
"Tecu di sini ...."
Sahut Cia Peng dengan kepala tertunduk. Hatinya masih kesal. Sedangkan saudaranya yang lain merasa hati mereka berdebaran.
"Siapa yang mengajarkan engkau demikian tidak tahu sopan santun?"
Tanya Ci Siong tojin penuh wibawa. 300
"Karena luapan emosi, tecu telah menyalahi tamu agung. Tecu bersedia menerima hukuman,"
Sahut Cia Peng setengah terpaksa.
"Kalau begitu, cepat minta maaf kepada Kuan-heng!"
Perintah Ci Siong tojin.
"Suhu ...."
"Cepat ke sana!"
Wajah Ci Siong tojin garang sekali. Dengan menahan kekesalannya, Cia Peng terpaksa berjalan menghampiri Kuan Tiong-liu.
"Cia Peng bertindak tidak sopan. Menyalahi Kuan-heng, harap dimaafkan,"
Katanya dengan kepala tertunduk.
"Tidak apa-apa,"
Kuan Tiong-liu berdiri dan balas menjura. Dia tersenyum kepada Ci Siong tojin.
"Benar-benar sebuah partai yang lurus dan adil."
Tersirat kemarahan di wajah orang-orang yang hadir.
Bocah ini benar-benar kurang ajar, pikir mereka dalam hati.
Tapi Ci Siong tojin tidak menampakkan apa-apa pada wajahnya.
Penampilannya sangat tenang.
"Menurut cerita murid-murid Bu-tong, Cia Peng dikalahkan dengan jurus ‘Si-yang-sie-cao’, hal ini membuktikan bahwa Lok-jit-kiam-hoat telah dikuasai dengan baik oleh keponakan. Benar-benar kabar yang menggembirakan."
Kuan Tiong-liu tersenyum lebar. 301
"Kalau dibilang menguasai dengan baik, boanpwe belum berani menerimanya. Tapi memang tidak jauh lagi. ‘Si-yang-sie-cao’ terdiri dari tujuh jurus yang mempunyai tujuh perubahan. Boanpwe sudah menguasai seluruhnya,"
Sahut Kuan Tiong-liu angkuh. Ci Siong tojin ikut tertawa lebar.
"Membalas dengan ‘Tian-liong-kia-ka’ memang boleh juga, tapi menggunakan jurus ‘Giok-li-cuang-siu’ (wanita cantik berganti pakaian) salah sekali. Kemenangan yang dicapai keponakan boleh dibilang adalah kesalahan Cia Peng sendiri."
"Kalau tidak menggunakan ‘Giok-li-cuang-siu’, lalu jurus apa lagi yang harus digunakan?"
Tanya Kuan Tiong-liu dengan alis berkerut.
"Seharusnya menggunakan ‘Cao-yang-sut’ untuk menotok pergelangan tangan keponakan,"
Sahut Ci Siong tojin.
"Kalau begitu, boanpwe akan menggunakan jurus ‘Kim-ciau-si-yi’ (burung emas kembali ke barat) untuk menyabet bagian pinggangnya,"
Kata Kuan Tiong-liu.
"Kegunaan jurus ‘Cao-yang-sut’ (memanggil matahari) memang untuk menghadapi ‘Kim-ciau-si-yi’ dari keponakan,"
Sahut Ci Siong tojin tenang "Oh?"
Kuan Tiong-liu memperdengarkan suara tertawa dingin. Wajahnya tampak mulai tegang.
"Pada saat itu, pergelangan tangan tinggal memutar, telapak tangan ditarik kembali, jari telunjuk dan tengah diluncurkan 302 untuk menotok urat nadi lengan keponakan maka pedang akan terlepas. Bagaimana?"
"Pergelangan tangan memutar, telapak ditarik, telunjuk dan jari tengah dikerahkan ..."
Keringat mulai membasahi kening Kuan Tiong-liu.
"Ini ...."
"Pada saat itu, ranting pohon di tangan keponakan terpaksa harus dilepaskan, bukan?"
"Tidak mungkin. Sekaligus memutar pergelangan tangan sambil menarik kembali telapak, tidak sempat lagi mengerahkan telunjuk dan jari tengah untuk menotok,"
Kata Kuan Tiong-liu kurang percaya.
"Apakah keponakan ingin mencobanya?"
Tanya Ci Siong tojin.
Kuan Tiong-liu menjawab pertanyaan itu dengan gerakan.
Dia langsung berdiri.
Tubuhnya berkelebat melayang di udara dan mendarat di tengah ruangan.
Ci Siong tojin tersenyum simpul.
Perlahan dia berdiri dan berjalan ke depan.
Kuan Tiong-liu menunggu sampai tosu tua itu berdiri berhadapan dengannya.
"Maaf,"
Katanya. Tiga jari tangan kirinya setengah dibengkokkan, sedangkan dua jari tangan kanannya lurus ke depan seperti sebatang pedang.
"Silakan,"
Sahut Ci Siong tojin.
"Si-yang-sie-cao!"
Teriak Kuan Tiong-liu.
Kedua jari telunjuk dan tengahnya meluncur lurus bagai sebatang pedang.
Ci Siong tojin menggunakan langkah Tian-liong-kia-ka, disusul 303 dengan Cao-yang-sut yang langsung dikerahkan.
Tangannya berubah dalam sekejap mata.
Kuan Tiong-liu agak panik, cepat ia mengubah gerakannya menjadi Kim-ciau-si-yi.
"Telapak ditarik, telunjuk dan jari tengah menyerang, hati-hati pergelangan tangan!"
Seru Ci Siong tojin.
Ucapannya selesai, jari tangannya dengan telak berhasil menotok pergelangan tangan Kuan Tiong-liu.
Anak muda itu tertegun.
Tiba-tiba pergelangan tangannya terasa kesemutan.
Melihat kejadian itu, orang-orang yang ada dalam ruangan segera bersorak.
Wajah Kuan Tiang Liu merah padam.
Ci Siong tojin memeluk kedua tangannya dan tersenyum.
"Dua belas tahun yang lalu, Pinto dan It-im-toheng pernah bertemu satu kali di Ui-san untuk membahas ilmu pedang. Kami juga sempat disulitkan oleh perubahan jurus ini. Pada saat itu, It-im-toheng malah menggunakan jurus ‘Lok-sia-ho-ku-ing-ci-fei’ (pelangi turun dan elang terbang ke udara) untuk membalas serangan. Sedangkan Pinto menyambutnya dengan Cao-yang-sut."
Wajah Kuan Tiong-liu berubah kelam.
"Lok-sia-ho-ku-ing-ci-fei adalah tiga jurus terakhir dalam Lok-jit-kiam-sut."
"Tidak salah! Tampaknya keponakan belum sempat mempelajarinya?"
"Betul,"
Sahut Kuan Tiong-liu dengan keringat membasahi 304 keningnya.
"Di luar gunung masih ada gunung lainnya, memandang ringan lawan malah merugikan diri sendiri, harap keponakan ingat baik-baik,"
Kata Ci Siong tojin menasihati.
"Sungguh mengagumkan!"
Sahut Kuan Tiong-liu. Sejenak kemudian dia menggelengkan kepalanya.
"Hanya ... sayang sekali ...."
Ci Siong tojin terpana mendengar ucapannya yang terakhir.
"Yang boanpwe kagumkan adalah ilmu pedang Bu-tong-pai ternyata benar-benar nomor satu di dunia ini. Yang disayangkan ...."
Kuan Tiong-liu merandek sejenak. Matanya mengedar ke sekeliling ruangan.
"Anak murid Bu-tong-pai justru belum bisa menerapkan pelajaran ini baik-baik. Kalau ditilik dari keadaan sekarang, boanpwe khawatir kelak tidak ada murid yang dapat menonjolkan nama Bu-tong-pai. Seluruh murid Bu-tong terpana mendengar ucapannya. Wajah Ci Siong tojin berubah kelam. Seakan isi hatinya tertebak telak oleh anak muda itu. Dia menarik napas panjang, Kuan Tiong-liu melangkah lambat-lambat ke tempat duduknya. Dia menuangkan arak ke cawan. ***** Senja hari. Awan tebal berarak. Angin ber tiup kencang. Tiba-tiba hujan turun memba sahi seluruh pegunungan. Pekerjaan Wan Fei-yang rampung. Dia segera membersihkan diri lalu menghambur ke kamar Fu Giok-su. Pada saat seperti 305 ini, biasanya Fu Giok-su berada di dalam kamar dan menunggu kedatangannya serta mengajarkan Wan Fei-yang membaca dan menulis. Tapi ketika dia mendorong pintu kamar anak muda itu, ternyata Fu Giok-su tidak ada di dalam. Kemana perginya Fu Giok-su? Wan Fei-yang masih merasa heran ketika telinganya menangkap suara "
Tring!
" , rupanya dia sedang memetik harpa di taman sebelah sana.
Pikirannya tergerak, Wan Fei-yang segera membalikkan tubuhnya menuju asal suara harpa tersebut.
Akhirnya dia melihat Fu Giok-su, tapi yang memetik harpa malah Lun Wan-ji.
Kedua orang itu duduk berdampingan di bawah pohon.
Suara mereka berbisik-bisik, entah apa yang mereka bicarakan.
Wan Fei-yang melihat semuanya dengan jelas, entah bagaimana perasaan hatinya.
Dia mengambil keputusan untuk kembali secara diam-diam.
Tapi Fu Giok-su sudah melihatnya.
Anak muda itu segera bangkit dari duduknya.
"Wan-heng ...."
"Fu-toako ...."
Wan Fei-yang terpaksa menghentikan langkah kakinya. Lun Wan-ji juga berdiri. Melihat Wan Fei-yang, wajahnya kaku membesi.
"Tidak perlu memikul air lagi?"
Sindirnya. Wan Fei-yang menundukkan kepalanya.
"Sudah selesai .... Aku datang untuk belajar membaca dengan Fu-toako,"
Sahutnya lirih. 306 Lun Wan-ji membalikkan tubuhnya ke arah Fu Giok-su.
"Aku sungguh tidak mengerti. Mengapa kau harus meminta pengampunan untuknya? Kalau aku yang jadi engkau, maka aku akan meminta Suhu menghukumnya lebih berat lagi. Paling tidak memikul air selama sepuluh tahun,"
Katanya. Wan Fei-yang tertawa getir.
"Wan-ji, kau ...."
"Jangan memanggil aku .... Aku benci kepadamu!"
Teriak Lun Wan-ji.
"Me ... mengapa?"
Wan Fei-yang benar-benar keheranan.
"Siapa suruh kau menulis namaku saja tidak becus!"
Teriak Lun Wan-ji sambil membalikkan tubuhnya meninggalkan tempat itu. Kedua orang itu segera mengejar. Setelah saling melirik sekilas, keduanya berhenti serentak. Wan Fei-yang tertawa sumbang.
"Fu-toako ... lebih baik kalian teruskan saja latihannya."
Belum Lagi Fu Giok-su menyahut, tiba-tiba petir menyambar.
Suaranya memekakkan telinga.
Petir menyambar sekali lagi.
Terdengar suara jeritan yang menyeramkan.
Entah suara jeritan makhluk apa yang terdengar tadi.
Pokoknya, tidak mirip jeritan manusia.
Laksana dunia sebentar lagi akan kiamat.
Dan angin pun menyurut ketakutan.
Fu Giok-su terkejut sekali.
"Siapa yang datang?"
Tanyanya. Wan Fei-yang malah tenang sekali.
"Itu hanya suara yang berkumandang dari telaga dingin. Tidak apa-apa,"
Sahutnya. 307
"Telaga dingin?"
Tanya Fu Giok-su tidak mengerti.
"Fu-toako ... apakah kau tidak tahu kalau di belakang gunung ini ada daerah terlarang di mana ada sebuah telaga dingin di sana?"
"Tidak tahu ...."
Fu Giok-su tambah penasaran.
"Sebetulnya ada apa di sana? "
Di belakang gunung ada sebuah telaga dingin. Airnya laksana es dinginnya. Di sana terkurung seseorang, kami menyebutnya makhluk aneh."
"Makhluk aneh?"
"Kalau tidak salah, dia sudah terkurung di sana selama sepuluh tahun lebih. Boleh dibilang dia sedang menjalani hukuman karena mencuri ilmu silat Bu-tong-pai. Kakinya terikat rantai dan terendam di dalam air telaga itu."
Fu Giok-su tertegun. Tanpa sengaja Wan Fei-yang meliriknya sekilas.
"Apakah kau mendengar apa yang aku katakan?"
Fu Giok-su tersadar dari lamunannya. Dia menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Masa tidak dengar? Coba teruskan ...."
"Setiap kali turun hujan, air telaga itu akan meluap. Sebagian tubuhnya terendam air. Mungkin karena tidak tahan oleh dinginnya air dalam telaga dan jiwa yang sudah lama tertekan, maka setiap kali ada petir menyambar, dia akan menjerit 308 histeris,"
Kata Wan Fei-yang melanjutkan ceritanya.
"Tentu menderita sekali terendam dalam air yang begitu dingin sepanjang tahun,"
Sahut Fu Giok-su seperti kepada dirinya sendiri. Wan Fei-yang menganggukkan kepalanya.
"Ciangbunjin pernah berpesan, siapa pun tidak boleh mendekati telaga dingin itu. Siapa yang melanggar akan mendapat hukuman berat, kecuali aku tentunya."
"Eh?"
Fu Giok-su tampak kurang percaya. Wan Fei-yang tertawa geli.
"Kalau aku tidak mengantarkan makanan untuknya, pasti sejak lama dia sudah mati."
"Rupanya kau hanya menjalankan tugas."
"Sepuluh hari sekali. Karena hawa di tempat itu sangat dingin, maka makanan tidak akan menjadi basi,"
Kata Wan Fei-yang. Mata Fu Giok-su beralih ke tempat itu. Tiba-tiba dia tampak terpana.
"Di sana ada orang."
Wan Fei-yang menolehkan kepalanya mengikuti pandangan Fu Giok-su. Ternyata dia juga melihat bayangan putih melintas lewat.
"Rasanya anak muda yang bernama Kuan Tiong-liu. Mungkinkah dia juga mendengar jeritan histeris tadi dan sekarang bermaksud mencari tahu?" 309 Kening Fu Giok-su berkerut mendengar perkataannya.
"Kalau begitu kita harus mencegahnya."
Wan Fei-yang tidak menunda waktu.
Dia segera berlari ke arah bayangan yang terlihat tadi.
Fu Giok-su segera menyusul di belakang.
***** Bayangan putih tadi memang Kuan Tiong-liu adanya.
Tubuhnya meloncat beberapa kali, akhirnya dia berhenti di depan rumpunan bunga sekitar belakang gunung.
"Terang-terangan dari sini asalnya, coba aku lihat ke depan sana,"
Katanya dalam hati. Baru saja dia bermaksud melangkahkan kakinya, Fu Giok-su melayang di belakangnya, dan mencegah.
"Kuan-heng, harap berhenti dulu!"
Kuan Tiong-liu melirik Fu Giok-su sekilas.
"Ada apa?"
"Tempat ini adalah daerah terlarang,"
Kata Fu Giok-su.
"Daerah terlarang?"
"Anak murid Bu-tong sendiri tidak boleh menginjak tempat ini, harap Kuan-heng kembali segera."
Kuan Tiong-liu mendelik ke arah Fu Giok-su. Tampaknya hawa amarah anak muda itu akan meledak setiap waktu. Namun akhirnya dia dapat juga menahan diri. Bibirnya 310 menyunggingkan senyuman datar.
"Bu-tong-pai terkenal sebagai partai lurus dan terbuka. Tidak tahunya ada demikian banyak rahasia yang harus ditutupi,"
Sindirnya tajam.
"Harap Kuan-heng segera kembali,"
Kata Fu Giok-su berusaha setenang mungkin. Kuan Tiong-liu mendengus sinis.
"Barang siapa yang memasuki daerah terlarang, langsung dibunuh tanpa perlu banyak tanya. Ini merupakan perintah suhu. Aku tidak ingin terjadi kesalahan,"
Kata Fu Giok-su selanjutnya.
Kuan Tiong-liu masih tidak bersuara.
Pada saat itu, Wan Fei-yang yang tertinggal di belakang menyusul tiba.
Melihat Kuan Tiong-liu, dia berdiri terpaku.
Anak muda itu hanya meliriknya sekilas.
Tiba-tiba petir menyambar lagi.
Suara jeritan aneh kembali berkumandang.
Kuan Tiong-liu mendengus dingin lalu membalikkan tubuhnya meninggalkan tempat itu.
***** Malam semakin larut, hujan semakin lebat.
Petir masih menyambar.
Suara geledek menggelegar.
Dunia seakan terbalik karenanya.
Wan Fei-yang belajar membaca dan menulis dengan giat di bawah cahaya lentera.
***** 311 Di dalam kamar tamu sebelah barat, Kuan Tiong-liu duduk dengan mata terpejam.
Tampaknya dia sedang beristirahat agar semangatnya pulih kembali.
Suara geledek bergemuruh.
Ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke depan jendela.
Perlahan dia membuka jendela tersebut.
Hujan membasahi seluruh tanah dan bunga-bunga ***** Fu Giok-su berbaring di atas tempat tidur.
Matanya terbuka menatap langit-langit.
Kemudian beralih ke jendela.
Hujan seakan segan berhenti.
Lewat cahaya petir yang menyambar, terlihat jelas wajahnya yang resah dan gelisah.
Sekali petir menyambar melintasi gunung sebelah belakang Bu-tong-san.
Sebuah bayangan berkelebat di bawah hujan lebat.
Dia melintasi jalan kecil di belakang gunung tersebut.
Ketika kilat menyambar, dia menyurutkan tubuhnya ke balik sebatang pohon besar.
Setelah petir reda, dia baru melesat lagi menuju di mana telaga dingin berada!
***** Pada saat yang sama, di luar Bu-tong-san, kira-kira sejauh jarak sepuluh li.
Tok-ku Hong dan Kongsun Hong berlari tanpa henti di bawah curahan air hujan.
***** Pagi menjulang ....
Hujan sudah reda.
Di dalam sebuah ruangan rahasia yang terdapat di balik pendopo, Pek Ciok sedang meminumkan Kiu-312 coan-kim-tan kepada Ci Siong tojin.
Tosu tua itu menelannya sekaligus.
"Kiu-coan-kim-tan dari Go-bi-pai tidak dapat digolongkan dengan obat-obatan biasa. Pasti ada gunanya bagi kesembuhan luka dalamku,"
Katanya.
"Betul, Suhu,"
Sahut Pek Ciok sambil mengundurkan diri ke samping.
"Selama aku menutup diri untuk menyembuhkan luka. Semua urusan Bu-tong kuserahkan kepadamu."
"Harap Suhu jangan khawatir."
"Mengenai kedua susiokmu Gi-song dan Cang-song, mereka adalah manusia-manusia berhati sempit. Mereka pasti tidak puas terhadapmu."
Nada suara Ci Siong tojin menjadi berat.
"Tapi kau jangan terlalu mengalah. Apabila ada hal yang kurang beres, kau harus berani menantang.
"Tecu mengerti,"
Sahut Pek Ciok dengan kepala tertunduk.
"Keluarlah,"
Kata Ci Siong sambil mengulapkan tangannya. Pek Ciok mengundurkan diri. Sampai di depan pintu dia berpesan kepada empat orang tosu yang baru datang.
"Selama Suhu menutup diri menyembuhkan luka, kalian harus menungguinya. Jangan teledor. Setiap kali menjaga dua orang saja, bergantian siang dan malam. Jangan sekali-kali meninggalkan tempat ini." 313 Empat orang tosu itu mengiakan sambil merangkapkan sepasang tangannya dan menjura dalam-dalam. ***** Menjelang tengah hari, dahan dan daun pohon-pohon baru tersiram oleh air hujan. Tampak lebih segar. Tanah masih belum kering. Beberapa lembar daun masih menggenang air. Pek Ciok memutar satu kali di depan ruang rahasia di mana Ci Siong tojin sedang menutup diri. Dia bermaksud menuju ruang pendopo. Namun belum lagi dia sampai ke tempat tujuannya, terdengar kumandang suara lonceng.
"Toa-suheng, suara lonceng ini ...?"
Tanya salah satu murid yang kebetulan ada di dekatnya dengan wajah keheranan.
"Hm ... suara lonceng tanda bahaya. Berarti ada orang yang menerjang ke atas gunung. Mari kita tinjau ke kaki guntung,"
Sahut Pek Ciok langsung berkelebat mendahului.
Baru mencapai ruangan pendopo, terlihat salah seorang murid Bu-tong lari mendatangi dengan napas tersengal-sengal.
Begitu melihat Pek Ciok, langkah kakinya dipercepat.
"Toa-suheng ...!"
Teriaknya.
"Siapa yang menerjang ke atas gunung? "Orang-orang Bu-ti-bun,"
Sahut murid itu panik.
"Mereka masih berada di bawah. Salah satunya yang pernah datang mengantarkan surat tantangan, Kongsun Hong, murid Tok-ku Bu-ti sendiri. Sedangkan yang satunya lagi mengaku sebagai putri Tok-ku Bu-ti, Tok-ku Hong." 314 Pek Ciok mengerutkan keningnya.
"Hanya dua orang?"
Tanyanya.
"Betul, dua orang."
"Entah apa maksud kedatangannya kali ini? "
Gi-song susiok sudah mengutus orang mengadangnya di bawah."
Kening Pek Ciok semakin mengerut. Tepat pada saat itu, Fu Giok-su, Cia Peng, Yo Hong, Kim Ciok dan Giok Ciok juga sudah berdatangan.
"Perlukah kita memberitahu suhu masalah ini?"
Tanya Fu Giok-su panik.
"Suhu sedang menutup diri menyembuhkan luka. Kalau tidak terlalu genting, jangan mengganggu dia orang tua."
Pek Ciok mengedarkan matanya.
"Cuwi sute, mari kita ke sana!"
Semua mengangguk mengiakan.
Beramai-ramai mereka mengikuti Pek Ciok yang sudah melesat pergi.
***** Di bawah cahaya matahari, batu besar tempat menyimpan pedang bagi para tamu yang akan mengunjungi Bu-tong-pai masih berdiri tegak.
Namun di bawahnya telah tergeletak beberapa murid partai itu sendiri.
Terlihat luka di bahu orang-orang itu.
Senjata mereka pun terlepas dari tangan masing-masing dan berserakan di sekitarnya.
Kongsun Hong dan Tok-ku Hong terus menerjang ke depan.
315 Tok-ku Hong menggunakan dua bilah golok sebagai senjata.
Sedangkan Kongsun Hong telah mengganti senjatanya dengan Jit-goat-lun (senjata yang bentuknya seperti roda namun bergerigi dan selalu terdiri dari sepasang).
Tujuh orang tosu mengadang di depan mereka.
Semuanya tidak bergerak.
Gi-song membawa belasan muridnya menyusul tiba.
Dari jauh dia sudah berteriak.
"Siapa orangnya yang demikian berani mencoba menerobos ke atas gunung?"
Sinar mata Tok-ku Hong berputaran.
"Suheng, siapa dia?"
"Gi-song dari Bu-tong-pai,"
Sahut Gi-song sendiri. Dia langsung maju ke depan. Melihat Kongsun Hong, dia tertawa terbahak-bahak.
"Lagi-lagi engkau. Ada apa? Apakah kau tidak memiliki pedang yang lain sehingga datang ke Bu-tong-san untuk mengambil pedangmu?"
Kongsun Hong marah sekali.
"Masih ada hubungan apa kau dengan Ci Siong tojin?"
Tanya Tok-ku Hong.
"Ciangbun-suheng sedang menutup diri. Ada urusan apa-apa yang bersangkutan dengan Bu-tong-pai akulah yang bertanggung jawab,"
Sahut Gi-song sesumbar. Kongsun Hong mengangkat Jit-goat-lun-nya.
"Kalau begitu, biar kubunuh dulu dirimu!"
Gi-song terkejut sekali.
"Kau adalah pecundang Ciangbun-suhengku, aku tidak akan 316 bergebrak denganmu!"
Sahutnya panik. Dia merandek sejenak, kemudian lagi.
"Suruh perempuan itu kemari untuk menerima kematian!"
Tok-ku Hong marah sekali, sepasang goloknya digetarkan.
Setelah berteriak lantang, dia menikam ke depan.
Kedua bilah goloknya meluncur secepat kilat, menimbulkan bayangan bagai rangkaian bunga.
Gi-song terkejut sekali.
Pedangnya segera dihunus.
Dia melancarkan sebuah serangan.
Sekali bergerak, jurus yang dimainkannya langsung berubah-ubah.
"Ting! Ting! Tang! Tang!" , senjata kedua orang itu beradu. Tubuh Tok-ku Hong mengikuti gerakan goloknya, sedangkan goloknya sendiri bertindak sebagai perisai. Suaranya menderu-deru bagai angin topan. Gi-song menyambut beberapa jurus sekaligus. Tanpa sadar hatinya bergetar. Setelah menyambut lagi beberapa jurus, dia mulai mempunyai perhitungan. Meskipun ilmu silatnya tidak dapat menandingi Ci Siong tojin, tapi dia mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang cukup luas. Begitu melihat keadaannya yang tidak menguntungkan, dia segera memikirkan jalan keluar. Gi-song menerima lagi tiga kali serangan Tok-ku Hong, kemudian dia mencelat mundur sejauh tiga langkah, lalu berseru.
"Berhenti!"
Tok-ku Hong terpana. Sejenak kemudian dia tertawa dingin.
"Hm! Tidak berani bertarung lagi?"
Sindirnya tajam.
"Memangnya apa kedudukan pinto ... siapa yang sudi bertarung dengan kaum wanita?"
Sahut Gi-song tenang. 317
"Paling tidak wanita yang satu ini sanggup mengalahkanmu!"
Bentak Tok-ku Hong sambil menerjang ke depan.
Gi-song mundur lagi tiga langkah.
Tok-ku Hong mengejar ketat.
Para murid Gi-song segera maju ke depan mengadang.
Kongsun Hong sudah bersiap-siap sejak tadi.
Tubuhnya segera mencelat, sepasang Jit-goat ditanganny bergerak.
Dia menghalau pedang-pedang yang mencoba menghalangi Tok-ku Hong.
Tiba-tiba terdengar sebuah suara menggelegar.
"Tahan!"
Seiring dengan suara itu, tubuh Pek Ciok mendarat di tengah arena. Dia membalikkan tubuhnya dan menatap Tok-ku Hong dan Kongsun Hong lekat-lekat.
"Liong-wi sicu, ada urusan kita bicarakan baik-baik!"
Kongsun Hong melirik Pek Ciok sekilas. Dia tertawa dingin.
"Kita jumpa lagi,"
Katanya datar.
"Rupanya Kongsun-heng."
"Aku juga tidak lupa. Kau adalah Pek Ciok. Murid pertama Ci Siong tojin!"
"Maksud Sicu menerobos gunung kali ini ...?"
"Meminta orang kepada Bu-tong-pai!"
Sahut Kongsun Hong sambil mengulurkan tangannya.
"Siapa?"
Tanya Pek Ciok merasa di luar dugaan.
"Kuan Tiong-liu!" 318 Jawaban itu semakin di luar dugaan Pek Ciok. Tepat pada saat itu, Kuan Tiong-liu di ringi Liok An dan Jit Po melangkah keluar dari rumpunan pohon.
"Siapa yang menginginkan aku?"
Tanyanya lantang. Sinar mata Kongsun Hong mengedar.
"Teryata memang engkau ...!"
"Hai! Apakah kau benar-benar Kuan Tiong-liu yang satu itu?"
Bentak Tok-ku Hong meminta penegasan.
"Tidak salah!"
Kuan Tiong-liu tertawa dingin.
"Entah apa maksud kalia mencariku?"
"Aku ingin bertanya kepadamu. Mengapa kau harus membunuh semua anggota cabang tiga belas Bu-ti-bun?"
"Asal mula persoalan ini, Liong-wi pasti tahu jelas,"
Sahut Kuan Tiong-liu sambil menengadahkan wajahnya ke atas. Tok-ku Hong menoleh kepada Kongsun Hong.
"Suheng ..."
"Aku hanya menginginkan utang darah bayar darah dari cabang tiga belas kalian."
"Membunuh habis-habisan. Apakah kau tidak merasa cara turun tanganmu itu terlalu keji?"
"Tidak perlu ragu kalau yang dibunuh itu komplotan iblis,"
Sahut Kuan Tiong-liu senang. 319
"Utang piutang ini, Bu-ti-bun akan memperhitungkannya sampai tuntas!"
Kata Kongsun Hong sambil menuding Kuan Tiong-liu dengan sepasang Jit-goat-lun di tangannya.
"Seorang yang berbuat, seorang yang bertanggung jawab, kalian jangan menimbulkan kesulitan bagi orang-orang Bu-tong-pai!"
Sahut Kuan Tiong-liu dengan gaya angkuh. Kongsun Hong menatap Kuan Tiong-liu lekat-lekat.
"Baik! Aku lihat kau juga termasuk seorang laki-laki sejati. Kau sendiri yang memutuskan!"
Kuan Tiong-liu tertawa terbahak-bahak.
"Hanya mengandalkan kalian berdua berani bergebrak dengan aku?"
Kongsun Hong dan Tok-ku Hong marah sekali.
"Sebentar lagi aku akan meringkus kalian berdua. Setelah itu baru mencari Tok-ku Bu-ti untuk menjelaskan masalahnya,"
Kata Kuan Tiong-liu kembali.
"Kurang ajar!"
Bentak Tok-ku Hong. Tangannya masing-masing menggenggam sebilah golok. Dia segera menerjang ke depan. Pek Ciok segera membentangkan tangannya menghalangi.
"Tunggu dulu!"
Dia menghadap kepada Kuan Tiong-liu.
"Sicu sekarang adalah tamu agung Bu-tong-pai, sekarang pun masih berada di wilayah Bu-tong-san. Masalah ini harus diselesaikan oleh Bu-tong-pai,"
Katanya. Pek Ciok beralih kepada Kongsun Hong dan Tok-ku Hong. 320 Wajah dan suaranya sangat berwibawa.
"Kalian berani mengacau di Bu-tong-san. Apakah kalian mengira Bu-tong-pai sudah tidak ada orang lagi?"
Tok-ku Hong tertawa dingin.
"Ci Siong tojin terluka parah di tangan ayahku, sampai sekarang tentu belum sembuh. Masih ada siapa lagi di Bu-tong-pai yang dapat diandalkan?"
Tanyanya sinis.
"Masih ada kami!"
Sahut Pek Ciok garang.
"Kalian?"
Kongsun Hong tertawa terbahak-bahak.
"Siapa yang tidak memandang sebelah mata kepada kalian?"
Para murid Bu-tong menyorotkan sinar kemarahan di mata mereka. Wajah Pek Ciok sendiri tetap tidak berubah. Dengan tenang dia membalikkan tubuhnya.
"Siapkan barisan pedang!"
Perintahnya. Tujuh orang tosu segera mengiakan. Mereka membentuk barisan Jit-sing-kiam-ceng.
"Jit-sing-kiam-ceng ... sudah lama aku memang ingin mengenalnya,"
Kata Kongsun Hong sambil mengerlingkan matanya.
"Pada saat itu, Ciangbun-suheng menurunkan perintah. Anggap saja kau sedang beruntung,"
Tukas Gi-song masih sok seperti biasanya, Kongsun Hong tetap tertawa lebar menanggapi kata-kata itu. Gi-song ikut tertawa.
"Kalau kalian bisa menerobos keluar dari Jit-sing-kiam-ceng, kami akan menyerahkan orang yang kau 321 hendaki,"
Katanya kemudian.
"Apakah kau berhak memberikan keputusan?"
Sinar mata Kongsun Hong semakin dingin. Gi-song menepuk dadanya sendiri. Pek Ciok segera menghampirinya.
"Susiok ..."
"Selamanya tidak ada orang yang sanggup menerobos Jit-sing-kiam-ceng. Apa yang kau takuti? Setujui saja perjanjian itu!"
Tukas Gi-song yakin. Kongsun Hong mengalihkan matanya kepada Tok-ku Hong.
"Baik! Mari kita pecahkan barisan Jit-sing-kiam-ceng dari Bu-tong-pai ini,"
Kata Tok-ku Hong.
"Bagaimana kalau kalian tidak berhasil menerobosnya?"
Tanya Gi-song.
"Kami akan menarik kembali permintaan kami,"
Sahut Tok-ku Hong.
"Sumoay ... jangan memandang ringan mereka,"
Kata Kongsun Hong dengan suara berbisik. Tok-ku Hong tergetar juga hatinya, namun dia tidak memperlihatkannya sama sekali.
"Apa sih kehebatan ketujuh orang tosu ini?"
Sahutnya sambil menggetarkan kedua pergelangan tangannya.
Sepasang goloknya berputaran bagai rangkaian bunga.
322 Tubuh tujuh orang tosu itu bergerak serentak.
Mereka membentuk lingkaran dan mengurung Kongsun Hong di tengah.
"Trang! Trang! Trang" , tujuh batang pedang telah dihunus. Sinar dingin memencar. Kongsun Hong berteriak lantang. Jit-goat-lun berputar. Dia mendahului ke depan menerjang. Terdengar suara angin menderu yang diterbitkan ketujuh batang pedang tadi. Cahaya Jit-goat-lun bagai salju beterbangan, berkombinasi dengan sinar pedang. Suara benturan senjata saling susul-menyusul. Jit-goat-lun memang merupakan senjata langka. Hanya perguruan tertentu yang menurunkan ilmu silat dengan menggunakan senjata jenis ini. Pedang dan golok biasanya mudah terkait senjata ini. Namun meskipun Kongsun Hong sudah berusaha beberapa kali, tujuh batang pedang yang dimainkan para tosu Bu-tong-pai itu sama sekali tidak berhasil terkait oleh gerigi senjatanya. Tujuh orang tosu itu bergantian menerima serangan Jit-goat-lun Kongsun Hong, kemudian beralih menyambut serangan golok Tok-ku Hong. Golok dan Jit-goat-lun berhenti, pedang tujuh orang tosu itu juga berhenti. Golok dan jit-goat-lun menyerang, pedang mereka bergantian menyambut. Kongsun Hong dan Tok-ku Hong mengerahkan berbagai jurus andalan mereka. Beberapa kali berturut-turut mereka menerjang, tapi tetap saja terkurung di dalam barisan. Bayangan tubuh kedua orang itu saling berkelebat. Tok-ku Hong merasa penasaran.
"Bagaimana bisa begini? Di depan mata terang-terangan hanya tampak satu orang, tapi dalam sekejap mata ada tujuh batang pedang yang menghalanginya,"
Katanya heran. 323
"Jit-sing-kiam-ceng ini merupakan ilmu pusaka Bu-tong-pai. Kalau begitu mudah dipecahkan, mana mungkin namanya begitu terkenal?"
Sahut Kongsun Hong gugup.
"Aku tidak percaya barisan ini dapat mengurung kita,"
Mata Tok-ku Hong bersinar tajam.
"Suheng, kita berpencar dari belakang dan depan lalu membuka jalan darah untuk menerjang keluar,"
Katanya.
Kongsun Hong menganggukkan kepalanya.
Tubuh mereka segera bergerak, satu di depan dan satu lagi di belakang.
Mereka menerjang dengan kalap.
Jit-goat-lun diputar sekuat tenaga, golok Tok-ku Hong menari-nari.
"Trang! Trang!" , suara benturan senjata memekakkan telinga. Cahaya berpijar, berkelebat-kelebat menutupi tubuh mereka, kemudian memudar kembali. Ternyata Kongsun Hong dan Tok-ku Hong terdesak mundur dan kembali ke tempatnya semula. Tubuh ketujuh tosu itu masih berputaran.
"Bu-liang-sou-hud!"
Puji mereka serentak.
Tok-ku Hong mendengus kesal.
Wajah Kongsun Hong berubah menghijau.
Tubuh tujuh orang tosu setengah baya itu berputar sekali lagi kemudian memancar, namun tetap membentur lingkaran.
Tujuh batang pedang tegak lurus di depan dada.
Kongsun Hong dan Tok-ku Hong tidak bergerak.
Mereka masih mencari akal untuk menerobos barisan itu.
Tujuh orang tosu juga tidak menyerang.
Hawa pedang semakin menebal.
324 ***** Di dalam ruang rahasia....
Asap pedupaan mengepul.
Suasananya demikian tenang.
Obat Kiu-coan-kim-tan mulai bereaksi.
Ci Siong tojin duduk bersila di atas tempat tidur.
Dia sudah masuk dalam keadaan lupa diri.
Meski ada apa pun yang terjadi di luar ruang rahasia tersebut, dia sama sekali tidak tahu lagi.
Kenyataannya, apabila ada seseorang yang masuk ke dalam kamar itu, kecuali jiwanya sudah terancam bahaya, kalau tidak dia pasti tidak menyadarinya.
Pintu ruangan rahasia i u setebal tiga cun.
Apabila hendak mendobrak pintu tersebut, tentu bukan hal yang mudah.
Oleh karena itu, dia sama sekali tidak khawatir.
***** Pedang berkelebat tanpa henti.
Berhasil melepaskan diri dari perangkap pedang yang pertama, perangkap kedua sudah di depan mata.
Kendala berupa pedang itu susul menyusul bergantian mengurung Kongsun Hong dan Tok-ku Hong.
Meskipun mereka mulai menyadari apabila berdiri tidak bergerak, pedang-pedang tidak akan melukai mereka.
Namun mereka tetap tidak berhasil menerobos barisan tersebut.
Para murid Bu-tong-pai sudah berkumpul di tempat itu.
Mereka menonton dari luar barisan.
Hati mereka tegang sekali.
Cang-songlah yang paling khawatir.
Melihat kedua orang lawan berhasil menghindari setiap gerakan pedang, hatinya semakin 325 kebat-kebit.
Tiba-tiba dia melihat Lun Wan-ji yang berdiri di ujung.
Pikirannya segera tergerak.
Dengan tergesa-gesa dia menghampiri gadis itu.
"Wan-ji ..."
Lun Wan-ji menatapnya dengan heran.
"Ada apa?"
Tanyanya.
"Kedua orang Bu-ti-bun itu tampaknya berilmu tinggi. Kalau diteruskan, mungkin mereka akan berhasil menerobos barisan Jit-sing-kiam-ceng,"
Kata Cang-song panik.
"Kata Gi-song susiok tidak mungkin,"
Sahut Lun Wan-ji.
"Dia tahu apa?"
Cang-song mengecilkan suaranya.
"Aku rasa sebaiknya kau undang suhumu ke sini."
"Ini ...."
Lun Wan-ji tampaknya keberatan.
"Paling tidak kau harus melaporkan keadaan di sini, lihat bagaimana reaksinya nanti,"
Kata Cang-song kembali.
"Boleh juga,"
Sahut Lun Wan-ji setelah berpikir sejenak. Kemudian dia ngeloyor pergi. ***** Ternyata Yan Cong-tian sama sekali tidak kelihatan panik. Dia menunggu Lun Wan-ji menyelesaikan ceritanya.
"Kau tidak perlu khawatir. Jit-sing-kiam-ceng terdiri dari empat puluh sembilan jurus. Dua puluh delapan jurus sebenarnya hanya tipuan berupa serangan ataupun tangkisan, sedangkan 326 dua puluh satu jurus lainnya baru mematikan,"
Katanya menjelaskan.
"Tapi sekarang .…"
"Mereka pasti tidak akan berhasil menerobosnya,"
Kata Yan Cong-tian yakin.
"Dulu guru dari Tok-ku Bu-ti, Sia-hou-tian-cong pernah terkurung dalam barisan yang sama. Setelah tiga hari tiga malam, baru menerjang keluar dengan paksa. Yang datang sekarang hanya dua orang murid Tok-ku Bu-ti, bagaimana mungkin mereka bisa memecahkan barisan ini?"
Lun Wan-ji tampaknya masih ragu-ragu.
"Apakah ucapan gurumu sendiri sudah tidak kau percayai lagi?"
Tanya Yan Cong-tian kurang senang.
"Tecu tidak berani,"
Lun Wan-ji memang tidak berani mengatakan apa-apa lagi.
"Urusan kecil semacam ini saja, buat apa kalang kabut,"
Yan Cong-tian mengulapkan tangannya.
"Lebih baik kau kembali ke sana untuk menonton keramaian,"
Katanya.
Lun Wan-ji hanya dapat menganggukkan kepalanya.
***** Pada saat itu, keadaan barisan Jit-sing-kiam-ceng memang sedang seru-serunya.
Kongsun Hong dan Tok-ku Hong berusaha menerjang belasan kali, namun mereka tetap terkurung di dalamnya.
327 Akhirnya mereka berhenti menerjang.
Setidaknya pengalaman Kongsun Heng di dalam dunia kangouw sudah cukup luas.
"Sumoay, tampaknya mereka sengaja menguras habis tenaga kita,"
Katanya. Tok-ku Hong tidak menyahut.
"Lebih baik kita berhenti dulu. Perhatikan baik-baik perubahan gerakan mereka, nanti kita pikirkan akal lain untuk menerjang keluar,"
Lanjut Kongsun Hong.
Tok-ku Hong mengangguk tanpa menyahut.
Tujuh orang tosu itu juga berhenti bergerak.
Pedang tegak lurus di depan tiada mereka.
***** Malam semakin kelam.
Para murid Bu-tong sudah menyalakan api unggun.
Tok-ku Hong dan Kongsun Hong masih terkurung di dalam barisan.
Mereka menerjang lalu berhenti.
Setelah itu menerjang kembali.
Sampai sekarang sudah merupakan yang ketujuh kalinya.
Tapi bagaimanapun, mereka tetap tidak berhasil menemukan kelemahan barisan tersebut.
Juga tetap tidak berhasil menerobos keluar.
Pakaian Kongsun Hong sudah basah kuyup oleh keringat.
Dia duduk di tengah barisan, Tok-ku Hong duduk membelakanginya.
Posisi mereka berlawanan.
Rambut gadis itu sudah berantakan.
Tujuh orang tosu ikut duduk.
Posisi mereka masih sama seperti tadi.
Membentuk lingkaran.
Pedang tergeletak di 328 pangkuan.
Mata mereka menatap kedua orang lawan lekat-lekat.
Angin masih bertiup.
Api unggun menari-nari.
Sembilan orang itu duduk tanpa bergerak sedikit pun.
***** Cahaya api tidak dapat mencapai pepohonan di atas gunung.
Namun dari ketinggian di atas sana, barisan Jit-sing-kiam-ceng malah terlihat jelas.
Di antara dedaunan yang lebat, tersembul kepala seseorang.
Ternyata dia adalah Ciangbunjin Bu-tong-pai, Ci Siong tojin adanya.
Kening tosu tua itu terpaut ketat.
Tampaknya ada sesuatu yang dipikirkan olehnya.
Sebetulnya dia dapat terang-terangan berdiri di depan barisan dan memberi petunjuk kepada para muridnya.
Namun dia justru bersembunyi di antara dedaunan yang lebat di atas sebatang pohon.
Sebetulnya apa yang terlintas di benaknya saat ini?
***** Tanpa dapat menahan diri lagi, akhirnya Tok-ku Hong bangkit berdiri.
Di wajahnya masih tersirat keangkuhan hatinya.
Kongsun Hong segera ikut berdiri.
"Sumoay ...."
Panggilnya.
"Suheng, aku tetap tidak percaya kita tidak sanggup memecahkan barisan ini,"
Katanya kesal.
"Lebih baik kita menghemat tenaga. Barisan Jit-sing-kiam-ceng ini mempunyai perubahan yang tidak terduga. Kita sama sekali tidak dapat melihat titik kelemahannya,"
Sahut Kongsun 329 Hong menasihati.
"Maksudmu ...."
"Tidak perlu mencari tahu titik kelemahannya. Pergunakan segala cara untuk menerobos barisan ini dan meninggalkan Bu-tong-san untuk sementara,"
Kata Kongsun Hong lirih.
"Boleh juga,"
Tok-ku Hong setuju.
Sepasang goloknya segera digerakkan.
Tujuh batang pedang menimbulkan cahaya serentak.
Tujuh orang tosu sudah berdiri tegak.
Mereka menunggu kedua orang itu mulai menyerang.
Kongsun Hong dan Tok-ku Hong berteriak nyaring.
Bersama-sama mereka menerjang.
Tapi kaki mereka baru maju tiga langkah, serta merta terdesak mundur kembali.
Merek membalikkan tubuh dan menyerang arah yang berlawanan.
Tujuh orang tosu itu tenang-tenang saja.
Pedang bergerak serentak, hawa dingin menerpa lalu meluncur ke depan.
Tok-ku Hong tidak sempat menghindar.
Sebuah pedang berkelebat menyayat pahanya.
Dengan marah dia terus menyerang.
Tidak peduli rasa sakit yang mulai terasa.
Kongsun Hong dengan Jit-goat-lunnya mengadang di depan dengan gugup.
Suara benturan senjata langsung berkumandang.
Kedua orang itu terdesak lagi.
Tok-ku Hong semakin penasaran.
Wajah Kongsun Hong semakin kelam.
Dia nekat mengadang di depan Tok-ku Hong.
"Sumoay ... kita tidak boleh menguras tenaga lagi,"
Katanya. Tok-ku Hong mendengus dingin. 330
"Kalau begini terus, rasanya kita tidak kuat sampai hari terang."
"Memangnya kenapa kalau hari sudah terang?"
Kongsun Hong hanya tertawa getir. Gi-song yang berada di luar barisan menggunakan kesempatan itu untuk menyindirnya.
"Kongsun Tongcu, mengapa tidak menyerang lagi?"
Kongsun Hong mendelik kepadanya dengan sorot kemarahan.
"Tok-ku Siocia, mengapa masih belum berhasil juga memecahkan barisan Jit-sing-kiam-ceng kami?"
Tok-ku Hong menggertakkan giginya dengan benci, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Kalian terlalu banyak berbuat kejahatan. Jit-sing-kiam-ceng adalah alat untuk menghukum mati kalian,"
Kata Gi-song selanjutnya.
"Namun kalian boleh berlega hati menuju perjalanan neraka. Murid Bu-tong pasti akan mengadakan upacara sembahyang yang meriah,"
Sambung Cang-song tak mau kalah. Para murid Bu-tong segera tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan itu. Mata Tok-ku Hong beredar. Wajahnya kaku sekali.
"Kalian juga tidak perlu terlalu bangga. Kalau malam ini aku, Tok-ku Hong mati oleh barisan Jit-sing-kiam-ceng, ayahku 331 pasti akan membawa seluruh anak buahnya naik ke atas Bu-tong-san. Pada saat itu kalian juga belum tentu dapat hidup lebih lama,"
Sahutnya.
Gi-song langsung tertegun.
Tanpa sadar para murid Bu-tong juga mengusap keringat dingin yang membasahi di kening mereka seketika.
Mereka semua terdiam dan tidak berani mengatakan apa-apa lagi.
"Kedua orang ini, yang satu adalah putri tunggal Tok-ku Bu-ti, sedangkan yang satunya adalah murid kesayangannya. Seandainya mereka mati di sini, Tok-ku Bu-ti pasti tidak mau menyudahinya begitu saja,"
Kata Gi-song dengan suara lirih.
"Siapa tahu belum sampai batas waktu dua tahun, dia akan membumihanguskan Bu-tong-pai,"
Sahut Cang-song. Gi-song menganggukkan kepalanya berkali-kali.
"Cepat suruh mereka berhenti,"
Kata Cang-song kembali. Gi-song tertawa getir.
"Kau telah melupakan sesuatu, barisan Jit-sing-kiam-ceng ini tidak boleh dihentikan lagi setelah lewat tujuh jurus. Kalau tidak, kedua pihak sama-sama celaka."
"Ini ... sudah pasti ada yang mati."
"Maksudmu ... mereka?"
"Maksudku ... pihak kita." ***** 332
"Apa akibatnya kalau kedua orang Bu-ti-bun itu mati oleh Jit-sing-kiam-ceng?"
Yang mengajukan pertanyaan ini justru manusia berpakaian hitam.
Di hadapannya berdiri Wan Fei-yang.
Seluruh tubuhnya basah oleh keringat.
Dia baru selesai berlatih.
Di sekitar mereka sepi sekali.
Cahaya api di tengah pegunungan tidak akan memancar sampai tempat ini.
Suara mereka yang ada di sana pun tidak mungkin terdengar sampai di sini.
Jaraknya terlalu jauh.
Dan Wan Fei-yang merasa heran mengapa suhunya tiba-tiba bertanya demikian.
"Bu-tong-pai dan Bu-ti-bun adalah musuh bebuyutan. Pihak mana pun ada yang mati, sebetulnya tidak banyak pengaruh. Namun kedudukan kedua orang ini tidak dapat disamakan. Seandainya mereka mati di dalam barisan Jit-sing-kiam-ceng, Tok-ku Bu-ti pasti akan membalas dendam habis-habisan,"
Sahutnya.
"Tidak salah!"
Kata manusia berpakaian hitam tenang.
"Kemungkinan besar Tok-ku Bu-ti akan memajukan tanggal perjanjiannya."
"Para murid Bu-tong-pai juga mempunyai pikiran yang sama,"
Sahut Wan Fei-yang.
"Kalau ditilik dari keadaan Bu-tong-pai sekarang ini, kekuatannya masih belum dapat menandingi Bu-ti-bun. Apalagi anggota Bu-ti-bun begitu banyak. Bisa jadi Bu-tong disapu bersih dan tidak bisa berdiri lagi."
Kening Wan Fei-yang berkerut erat-erat.
"Sayang sekali ilmu 333 silatku belum cukup tinggi, lagi pula aku tidak bisa menampilkan muka di depan mereka,"
Sahutnya. Manusia berpakaian hitam hanya memandangi Wan Fei-yang lekat-lekat.
"Bagaimana pun aku ini dibesarkan di Bu-tong-san, begitu ada masalah, masa aku hanya berdiam diri. Hatiku sungguh tidak tenang, namun aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kadang-kadang aku merasa aku benar-benar tidak berguna,"
Kata Wan Fei-yang kembali.
"Siapa bilang?"
Nada suara manusia berpakaian hitam berubah menjadi berat.
"Fei-yang, sebetulnya ini merupakan kesempatan bagus bagimu untuk membantu Bu-tong-pai."
"Eh?"
Wajah Wan Fei-yang menyiratkan perasaan heran.
"Kalau kau pandai menutup diri lalu memecahkan barisan Jit-sing-kiam-ceng, maka kedua orang itu bisa keluar dan sama artinya kau sudah menolong Bu-tong-pai."
"Mengapa aku harus menolong orang-orang Bu-ti-bun?"
Desak Wan Fei-yang.
"Kalau tidak ingin jatuh korban, satu-satunya jalan hanya demikian,"
Kata manusia berpakaian hitam itu tenang.
"Tidak salah ...."
"Lagi pula, ini merupakan kesempatan bagimu untuk menguji ilmu silatmu sendiri." 334 Mendengar ucapan itu, semangat Wan Fei-yang terbangkit seketika.
"Baik, aku pergi!"
"Ingat! Melihat ilmu kedua orang Bu-ti-bun itu, sampai jurus empat puluh mereka pasti akan mati dengan tubuh hancur oleh barisan Jit-sing-kiam-ceng, maka kau harus mencegah jangan sampai hal itu terjadi. Tepat sebelum jurus keempat puluh dilancarkan, kau sudah harus bergerak. Dan kau juga harus mengantarkan kedua orang Bu-ti-bun itu meninggalkan Bu-tong-san,"
Kata si manusia berpakaian hitam menjelaskan.
"Ini ...."
"Mereka sudah terluka. Kita tidak yakin kalau tidak ada orang yang akan menggunakan kesempatan tersebut mencelakai mereka. Kita harus menjaga segala kemungkinan."
"Betul juga ...."
Wan Fei-yang menganggukkan kepalanya berkali-kali.
"Sekarang ... aku akan mengajarkan caranya memecahkan barisan Jit-sing-kiam-cengl"
Dengan pandangan penasaran Wan Fei-yang menatap manusia berpakaian hitam.
Pengetahuan gurunya ini sungguh luas.
Benar-benar di luar dugaannya.
Manusia berpakaian hitam itu sama sekali tidak mempedulikan tatapan Wan Fei-yang itu.
Dengan sembarangan dia memungut tujuh butir batu kerikil berwarna putih dan dua butir batu berwarna hitam.
Dia menyusunnya di atas selembar kain.
Kedudukannya persis barisan Jit-sing-kiam-ceng.
Kedua butir batu hitam tadi terkurung di tengah.
"Jit-sing-kiam-ceng juga disebut Tian-cik-kiam-ceng (barisan pedang penggetar langit). Sebetulnya barisan ini diciptakan menurut posisi bintang tujuh di langit. Dan kemudian dikombinasikan dengan perubahan im dan yang."
Mata Wan Fei-yang memperhatikan batu-batu itu dengan seksama.
"Ketujuh bintang ini sebenarnya mempunyai nama masing-masing. Setiap titiknya mempunyai fungsi dan tugas tersendiri. Kita tidak boleh terkecoh olehnya. Pusatkan perhatian pada yang tengah. Karena posisi inilah yang paling penting dan mematikan."
Wan Fei-yang semakin kagum kepada gurunya. Dia tidak berani ayal dan berpikir pada hal yang lain.
"Seluruhnya berjumlah empat puluh sembilan jurus. Banyak yang menyangka bahwa mulai jurus ketujuh, barisan ini tidak bisa dihentikan lagi. Sebetulnya bukan demikian, asal kita tahu cara kerjanya. Malah mulai jurus kedua puluh satulah barisan itu baru benar-benar membahayakan ...."
Sambil menjelaskan, manusia berpakaian hitam itu menggerakkan batu-batu di atas kain itu.
Tampaknya dia paham sekali mengenai barisan Jit-sing-kiam-ceng ini.
Siapa sebetulnya dia?
Mengapa dia harus bersembunyi di Bu-tong-san?
Apakah dia juga bertujuan mencuri ilmu Bu-tong-pai seperti makhluk aneh yang terkurung dalam telaga dingin?
***** Cahaya keemasan mulai muncul, ayam jantan sudah 336 berkokok.
Wan Fei-yang mengenakan setelan pakaian berwarna hitam dan menggunakan sehelai kain untuk menutupi wajahnya.
Yang tersembul hanya sepasang matanya saja.
Tiba-tiba dia mengeluarkan sebatang pedang dari kolong tempat tidur dan berkelebat melalui jendela.
Di luar tidak ada orang, dia memperhatikan sejenak, kemudian melayang pergi dengan tergesa-gesa.
***** Bumi mulai dihiasi cahaya terang.
Meskipun api unggun belum padam, namun sinarnya sudah tidak kentara lagi.
Tidak ada yang mempedulikan api unggun tersebut.
Mata mereka semua terpusat pada barisan Jit-sing-kiam-ceng.
Tok-ku Hong dan Kongsun Hong masih terkurung di dalam barisan.
Tampang mereka sudah tidak karuan.
Mereka pasti sudah lelah sekali.
Demikian juga ketujuh orang tosu tersebut.
Ketujuh orang tosu itu sudah terluka, namun luka yang diderita Tok-ku Hong dan Kongsun Hong jauh lebih parah.
Seandainya bertarung satu lawan satu, tidak ada seorang pun dari tosu itu yang dapat mengalahkan salah satu dari kedua murid Bu-ti-bun tersebut.
Dan apabila mereka mengeroyok Tok-ku Hong dan Kongsun Hong bertujuh sekaligus tanpa membentuk barisan Jit-sing-kiam-ceng, mereka juga bukan tandingan kedua orang Bu-ti-bun itu.
Namun begitu membentuk Jit-sing-kiam-ceng, tenaga tujuh orang tosu itu segera tergabung.
Kongsun Hong dan Tok-ku Hong bukan lagi tandingan mereka.
Bahkan mereka berdua 337 juga tidak berhasil menemukan titik kelemahan barisan itu.
Oleh karenanya, mereka tetap terkurung sampai saat ini.
Sedangkan pengepungan barisan Jit-sing-kiam-ceng semakin lama semakin hebat.
Jilid 8 Matahari timbul di ufuk timur.
Cahayanya menyinari dari puncak pegunungan.
Tujuh orang tosu itu kini sudah berganti posisi, bergerak terus tanpa henti.
Sinar matahari menyoroti pedang mereka.
Cahayanya berkilauan.
Tok-ku Hong dan Kongsun Hong merasakan bayangan manusia dan pedang berkelebatan.
Mereka tidak dapat lagi melihat jelas posisi ketujuh orang tosu tersebut, mata mulai berkunang-kunang.
Tepat pada saat itu, dari atas sebatang pohon berjarak tiga depa muncul Wan Fei-yang yang mengenakan pakaian hitam dan menutu[I wajahnya dengan kain hitam pula.
Sepasang matanya yang tersembul memperlihatkan ketegangan hatinya.
Dadanya berdebar-debaar, tangan menggenggam pedang erat-erat menonjolkan urat berwarna kehijauan.
Pek Ciok yang berada di luar barisan tersebut juga tegang sekali.
Dia menarik napas dalam-dalam.
Dan tiba-tiba berseru.
"Yin-ho-lim-heng (sungai jernih meneguk kebencian)!"
Tujuh orang tosu itu bergerak cepat, tujuh batang pedang diputar ke atas. Tampak tujuh gulungan cahaya memijar.
"Hati-hati!"
Teriak Kongsun Hong.
Jit-guat-lun tergenggam di 338 kedua tangan dan mengadang di depan Tok-ku Hong.
Wan Fei-yang segera menghunus pedangnya.
Tubuhnya melesat ke depan.
Tepat pada saat itu pula terdengar bentakan yang memekakkan telinga.
"Berhenti!"
Tanpa sadar Wan Fei-yang menghentikan gerakan kakinya.
Tujuh orang tosu itu juga berhenti bergerak.
Cahaya pedang perlahan memudar.
Tok-ku Hong dan Kongsun Hong saling pandang sekilas.
Wajah mereka menyiratkan perasaan tidak mengerti.
Orang lainnya juga sama.
Serentak mereka menolehkan kepala.
Ci Siong tojin berdiri di atas sebuah batu besar.
Angin yang bertiup melambai-lambaikan lengan bajunya.
Tubuhnya bagai akan terbang tertiup angin.
"Bubarkan barisan. Lepaskan mereka yang datang dan biarkan mereka turun gunung!"
Bentaknya menggelegar memekakkan telinga.
Wajah setiap orang menampilkan perasaan kebingungan.
Wan Fei-yang hampir tidak dapat menahan dirinya dan ingin berteriak sekeras mungkin.
Cang-song langsung mengelus jenggotnya sendiri.
"Biarkan mereka turun gunung?"
Tanyanya penasaran.
"Melepaskan harimau pulang ke kandang, kelak pasti menimbulkan masalah!"
Teriak Gi-song kesal.
Wajah Ci Siong tojin sedingin es.
Dia mengibaskan lengan bajunya.
Sekali melesat, tubuhnya hilang dari pandangan 339 mata bagaikan para dewa di kayangan.
Kongsun Hong dan Tok-ku Hong tidak ingin membuang waktu.
Mereka menggunakan kesempatan ini untuk menerobos keluar dari barisan Jit-sing-kiam-ceng.
Tujuh orang tosu tersebut hanya memandangi mereka dengan mata mendelik.
Kongsun Hong menarik tangan Tok-ku Hong dan menyeretnya meninggalkan tempat itu.
"Cepat pergi!"
Katanya.
Para murid Bu-tong yang berkumpul di luar barisan semuanya tidak puas melihat keadaan itu, namun mereka tidak berani mengambil tindakan apa-apa.
Mereka terpaksa memberi jalan kepada kedua orang itu.
Gi-song dan Cang-song hampir muntah darah karena jengkelnya.
"Mari kita naik ke atas dan minta penjelasan!"
Teriaknya mengajak.
Dia mendahului mereka melesat ke atas.
Sedangkan para murid Bu-tong lainnya terpaksa mengikuti di belakang.
***** Suara lonceng berbunyi.
Di dalam ruangan pendopo sunyi mencekam.
Yang terdengar hanya kumandang suara lonceng.
Selain itu tidak terdengar lagi suara lainnya.
Seluruh murid Bu-tong berkumpul di dalam ruangan tersebut.
Sinar mata mereka terpusat pada Ci Siong tojin yang duduk di tengah ruangan.
340 Ci Siong tojin tidak memperlihatkan reaksi apa-apa.
Matanya setengah terpejam.
Entah berapa lama sudah berlalu, akhirnya Ci Siong tojin membuka matanya.
Gi-song tidak dapat menahan kedongkolan hatinya.
"Ciangbun-suheng, kedua murid Bu-ti-bun sudah pasti akan mati dalam barisan Jit-sing-kiam-ceng, mengapa kau malah membubarkan barisan itu dan melepaskan mereka?"
Tanyanya penasaran.
"Dengan berbuat demikian dan tersebar di luaran, teman-teman di dunia kangouw pasti akan menganggap kita bernyali kecil dan takut urusan. Kelak meskipun orang-orang Bu-ti-bun tidak datang menyerang kita, partai lainnya mungkin akan naik ke Bu-tong dan mencari masalah dengan kita,"
Sambung Cang-song.
"Seandainya kali ini suheng tidak mempunyai alasan yang tepat, para murid Bu-tong pasti tidak mau mengerti,"
Kata Gi-song sengaja membakar-bakar.
"Betul!"
Lanjut Cang-song sok serius. Sinar mata Ci Siong tojin bercahaya bagai kilat. Dia menatap tajam kepada Gi-song dan Cang-song.
"Kali ini, toh tidak ada anak murid kita yang mati. Kita sudah memberikan pelajaran yang pahit kepada kedua bocah itu. Sudahlah... tidak usah diperpanjang lagi,"
Sahutnya. Gi-song mendengus dingin.
"Datang seenaknya, pergi sesukanya. Kelak mana ada orang lagi yang akan menghargai Bu-tong-pai kami? "Orang menghargai Bu-tong-pai bukan hanya karena ilmu silat kita, tapi juga pribadi kita yang bijaksana dan adil dalam mengambil keputusan,"
Sahut Ci Siong tojin tenang. Cang-song tertawa dingin.
"Aku justru menganggap musuh akan melihat kelemahan kita."
Gi-song menganggukkan kepalanya.
"Suheng, sejak kau menjadi Ciangbunjin, Bu-tong-pai tampaknya semakin lemah kian hari,"
Katanya.
"Kalau menurut liong-wi sute, apa yang seharusnya kita lakukan?"
Tanya Ci Siong tojin dengan wajah tidak berubah meskipun disindir secara terang-terangan.
"Seharusnya membiarkan kedua orang itu terbunuh di dalam barisan Jit-sing-kiam-ceng,"
Kata Gi-song.
"Memang seharusnya begitu."
Sahut Cang-song menyetujui.
"Keenam muridku belum sempurna ilmunya Apabila Tok-ku Bu-ti marah karena kematian putri dan muridnya lalu langsung menyerang dalam waktu dekat, coba liong-wi sute katakan bagaimana kita harus menghadapinya?"
Tanya Ci Siong tojin kembali. Gi-song dan Cang-song tertegun.
"Kalau kita tidak dapat menahan diri dalam masalah kecil, maka masalah besar akan timbul."
Ci Siong menarik napas panjang. Tiba-tiba matanya mengedar.
"Kemana perginya 342 Kuan Tiong-liu?"
"Apakah suhu ingin tecu mencarinya untuk menanyakan letak duduk persoalan yang sebenarnya?"
Tanya Fu Giok-su. Ci Siong tojin menganggukkan kepalanya. Yo Hong yang berada di sudut ruangan segera berdiri.
"Tidak perlu dicari lagi. Tadi aku melihat dia membawa dua pelayannya turun gunung dengan tergesa-gesa,"
Katanya menjelaskan. Cang-song mendengus dingin.
"Pergi tanpa pamit, orang ini benar-benar tidak tahu sopan santun!"
Sebuah ingatan melintas di benak Gi-song.
"Mungkinkah dia turun gunung mengejar kedua murid Bu-ti-bun itu?"
Katanya dengan suara lirih. Mata Cang-song bercahaya seketika.
"Bisa jadi ...."
Gumamnya.
"Kedua orang itu sudah terkurung demikian lama di dalam barisan. Dan mereka juga sudah terluka. Pasti bukan tandingan bocah she Kuan itu."
"Tidak salah!"
Suara Cang-song semakin rendah sehingga menyerupai bisikan.
"Ci Siong tua bangka itu pasti sudah memperhitungkan segalanya."
"Hm ... benar-benar siasat melempar batu sembunyi tangan yang hebat."
"Jangan dikira musang tua ini tidak lihai,"
Kata Cang-song sambil melirik sekilas kepada Ci Siong tojin.
Sebelah 343 tangannya menutup di samping bibir agar suaranya tidak terdengar oleh orang lain.
Ci Siong tojin tidak mempedulikan mereka sama sekali.
Dia hanya tertawa datar.
***** Angin bertiup kencang.
Dua ekor kuda yang gagah melangkah perlahan di sebuah jalan kecil.
Tok-ku Hong berusaha mempertahankan diri, dia tidak kuat lagi melarikan kudanya cepat-cepat.
Kongsun Hong mengendarai kudanya di belakang Tok-ku Hong, tanpa sadar kepalanya berulang kali menoleh ke sekitarnya.
Rasanya tidak ada orang yang mengejar.
Setelah melalui jalan kecil tadi, Tok-ku Hong baru bisa bernapas lega.
Pinggangnya diluruskan, dia menggigit bibir sendiri.
"Pada suatu hari nanti, aku akan mencuci Bu-tong-san dengan darah,"
Gerutunya. Kongsun Hong menjalankan kudanya perlahan.
"Dendam ini pasti harus dibalas. Lain kali apabila kita datang lagi ke Bu-tong-san jangan beri ampun. Ketemu satu bunuh satu. Kita gunakan api dan bakar habis seluruh Bu-tong!"
Sahutnya dengan amarah yang meluap di dada. Tok-ku Hong mendengus dingin. Dia mengedarkan pandangannya.
"Heran … mengapa tidak terlihat adanya orang kita yang menyambut?" 344 Kongsun Hong tertawa datar.
"Apakah kau lupa, kau sendiri yang menyuruh mereka menunggu di tepi sungai?"
Tok-ku Hong mendengus sekali lagi ***** Setelah melintasi padang rumput, di kejauhan sudah tampak air sungai yang beriak-riak.
Sebuah perahu besar berlabuh di tepi sungai dan ditambatkan pada sebatang pohon besar.
Kongsun Hong menjalankan kudanya menuju ke tempat itu.
Dia segera mengenali bahwa yang terlihat di sana memang perahu Bu-ti-bun.
Tapi anehnya tidak ada yang berjaga-jaga.
Juga tidak ada orang yang menyambut mereka.
Kuda dilarikan ke tepi sungai.
Mata Kongsun Hong mengedar sekelilingnya.
Tanpa sadar dia tertegun.
Tok-ku Hong melarikan kudanya menyusul.
Wajahnya merah padam karena marah.
"Mereka benar-benar mencari mati. Satu orang pun tidak ada yang menjaga di sini!"
Gerutunya. Wajah Kongsun Hong malah sedingin es. Tiba-tiba dia menuding.
"Sumoay ... lihat!"
Tok-ku Hong juga sudah melihat.
Seorang anggota Bu-ti-bun tertelungkup di dalam sungai.
Tubuhnya terombang-ambing oleh gerakan air dan membentur badan perahu.
Kongsun Hong segera turun dari kudanya dan menghambur 345 ke sana.
Sebuah titian kayu sudah terpasang sebagai landasan dari daratan untuk naik ke atas perahu.
Sekarang terlihat beberapa mayat bergeletak di atas titian kayu tersebut.
Darah masih menetes.
Air di bawah titian kayu telah berubah warna menjadi merah.
Di atas perahu tergantung beberapa sosok mayat.
Tanpa ragu lagi, mereka adalah anggota Bu-ti-bun.
Perasaan Kongsun Hong tergetar.
Dia meloncat naik ke atas titian kayu.
Tepat pada saat itu, terdengar suara harpa.
Suara itu berasal dari sebuah hutan kecil di ujung sungai.
Di depan hutan itu sendiri tidak terlihat satu orang pun.
Kongsun Hong cepat-cepat mundur ke samping Tok-ku Hong.
"Siapa yang membunuh orang-orang dari Bu-ti-bun kita?"
Tanyanya marah.
Tidak ada yang menyahut.
Suara harpa masih terus terdengar.
Nadanya mengandung hawa pembunuhan yang tebal.
Kongsun Hong celingak-celinguk.
Tok-ku Hong perlahan turun dari kudanya.
Dia mendengus dingin.
Sepasang goloknya disiapkan di tangan.
"Hati-hati,"
Kata Kongsun Hong memperingatkan. Dia melindungi Tok-ku Hong dari depan. Suara harpa semakin cepat.
"Cepat gelinding keluar!"
Bentak Tok-ku Hong sinis.
Suara harpa meninggi satu kali, lalu berhenti.
Dua orang 346 bocah cilik, satu membawa harpa dan satunya lagi membawa pedang melangkah keluar dari dalam hutan.
Mereka adalah Jit Po dan Liok An.
Kuan Tiong-liu menampakkan diri di belakang.
Kedua belah tangannya dipeluk di depan dada.
Sikapnya angkuh sekali.
Dia menatap angkasa seakan tidak ada orang lain di tempat itu.
"Kau rupanya!"
Kata Kongsun Hong terkesiap.
"Tidak salah!"
Sahut Kuan Tiong-liu dengan wajah tetap mendongak ke atas.
"Sejak semula aku sudah menduga tentu semua ini hasil perbuatanmu,"
Kata Kongsun Hong sambil bersiap diri dengan sepasang Jit-guat-lun di tangannya.
"Bukankah kalian datang untuk menagih utang? Sekarang kita sudah jauh dari Bu-tong-san, utang piutang kita sudah dapat dihitung dengan tenang,"
Sahut Kuan Tiong-liu tenang. Tok-ku Hong tertawa dingin.
"Menggunakan kesempatan ketika orang terluka, itukah tindakan yang dilakukan partai jurus dan ternama?"
"Untuk menghadapi manusia-manusia iblis seperti kalian, buat apa harus mematuhi peraturan dunia bu-lim?"
Sinar mata Kuan Tiong-liu menatap Tok-ku Hong lekat-lekat.
"Enak sekali kedengarannya."
"Apa pun yang kalian katakan ...."
Kuan Tiong-liu merandek sejenak.
"hari ini, bagaimana pun aku tidak akan melepaskan 347 kalian."
Tok-ku Hong menggetarkan kedua bilah goloknya.
"Kuan Tiong-liu, jangan dikira kau bisa meraih keuntungan besar hanya karena kami sedang terluka,"
Sahutnya sinis.
"Kalian boleh maju bersama,"
Kuan Tiong-liu mengulurkan tangannya.
"Pedang!"
Perintahnya kepada pelayannya. Jit Po segera menyerahkan pedang ke tangan anak muda itu. Tok-ku Hong mendengus dingin.
"Untuk menghadapimu, aku seorang saja sudah cukup!?"
Katanya.
Baru saja tubuhnya bergerak, Kongsun Hong sudah mendahului dan melindungi di depannya.
Kuan Tiong-liu tertawa dingin.
Tubuhnya melesat bagaikan terbang di angkasa, kemudian berjungkir balik dan mendarat di hadapan Kongsun Hong.
Jit-guat-lun di tangan Kongsun Hong segera dibenturkan oleh pemiliknya.
"trang!" , terdengar suara sangat nyaring. Dia langsung menerjang ke arah Kuan Tiong-liu. Dengan gesit pemuda itu menggeserkan tubuhnya. Pedangnya yang panjang menyapu ke kiri dan kanan. Sembilan belas kali sabetan dilancarkannya sekaligus. Kongsun Hong terdesak mundur sepuluh langkah.
"Lebih baik kalian maju bersama!"
Katanya.
Dengan marah Tok-ku Hong tidak memikirkan gengsi lagi.
Dia menerjang ke depan.
Tangannya masing-masing 348 menggenggam sebilah golok.
Kongsun Hong takut terjadi apa-apa pada Tok-ku Hong.
Jit-guat-lunnya menyerang Kuan Tiong-liu dengan kalap.
Seandainya mereka tidak terluka, dengan bergabung mereka pasti bisa mengalahkan Kuan Tiong-liu.
Tapi keadaan mereka sekarang justru bertolak belakang.
Luka yang mereka derita tidak ringan dan sangat lelah karena telah terkurung dalam barisan Jit-sing-kiam-ceng selama sehari semalam.
Keadaan mereka sekarang sudah kembang kempis.
Oleh karena itu, meskipun hanya dengan seorang diri, Kuan Tiong-liu dapat menghadapi kedua orang lawannya dengan tenang.
Pedangnya bagai menari-nari, bayangan tubuh bagai kupu-kupu.
Melayang ke kiri dan ke kanan.
Tangan masih membalas serangan!
Belum sampai seratus jurus dia sudah berhasil mendesak Tok-ku Hong berdua sampai tidak dapat melancarkan serangan dan hanya bertahan saja.
Pedangnya bergerak, jurus yang digunakan adalah Si-yang-sie-cao.
Cia Peng saja tidak sanggup menerima jurus tersebut, apa lagi Tok-ku Hong yang sedang terluka parah.
Melihat keadaan itu, Kongsun Hong panik sekali, tanpa memikirkan akibatnya dia segera menerjang ke depan.
"Crep!" , pedang Kuan Tiong-liu menusuk bahu Kongsun Hong sedalam tiga cun. Anak muda itu meraung murka, namun rasa sakit hampir tak tertahankan. Jit-goat-lun di tangan kanan terlepas jatuh, Jit-goat-lun di tangan kiri segera melancarkan sebuah serangan, tapi kecepatannya sudah jauh berkurang. Dengan seenaknya Kuan Tiong-liu berhasil menghindarkan diri dari serangan tersebut. Telapak tangan anak muda itu 349 bergerak secepat kilat. Dada Kongsun Hong terpukul telak, ia terdesak mundur beberapa langkah kemudian muntah darah. Kuan Tiong-liu tidak berhenti sampai di situ saja. Pedangnya masih berkelebat mengarah tenggorokan Tok-ku Hong. Dengan panik gadis itu menggerakkan kedua bilah goloknya berputaran. Namun biar bagaimana dia berusaha, pedang Kuan Tiong-liu tetap mengejarnya ketat. Sekali lagi pedang meluncur bagai kilat mengancam tenggorokan Tok-ku Hong! Kongsun Hong berniat menolong, namun tidak keburu lagi. Tok-ku Hong juga tampaknya tidak akan berhasil menghindarkan diri lagi. Keadaannya mengenaskan sekali. Rambutnya sudah acak-acakan. Pakaiannya kotor tidak karuan. Dia hanya dapat memejamkan mata menunggu kematian.
"Trang!" , benturan senjata terdengar memekakkan telinga. Sebatang pedang menangkis serangan Kuan Tiong-liu.
"Srettt!" , pedang pemuda itu terdorong ke samping. Dengan terkejut Kuan Tiong-liu menolehkan kepalanya. Dilihatnya seorang manusia berpakaian hitam dengan wajah tertutup berdiri di sana. Dia pernah melihat Wan Fei-yang, tapi mana pernah dia membayangkan bahwa manusia berpakaian hitam itu Wan Fei-yang adanya. Hanya sepasang mata yang tersembul dari balik kain hitam tersebut. Mata itu menyorotkan sinar kemarahan yang sulit dilukiskan dan mendelik ke arah Kuang Tiong-liu. Pemuda berpakaian putih itu marah sekali. Dia memperhatikan Wan Fei-yang dari atas kepala sampai ke ujung kaki.
"Siapa kau?"
Tanyanya garang. Wan Fei-yang hampir saja menyebut namanya sendiri. Namun untung dia cepat tersadar dan membatalkannya. Dia sama sekali tidak menyahut.
"Katakan!"
Bentak Kuan Tiong-liu sekali lagi.
"Bu-beng-siau-cut (prajurit tanpa nama)! Aku katakan juga kau tidak kenal,"
Sahutnya dengan pada suara dibuat-buat.
"Menampakkan ekor menyembunyikan kepala, rasanya kau juga bukan manusia baik-baik!"
Kata Kuan Tiong-liu kemudian.
"Paling tidak aku tidak pernah menggunakan kesempatan ketika orang terluka untuk menyerang,"
Sahut Wan Fei-yang.
Kuan Tiong-liu semakin marah, pedangnya bergerak bagai kilat meluncur cepat ke arah Wan Fei-yang.
Dengan mudah pemuda itu berhasil menghindarinya!
Sementara itu Tok-ku Hong dan Kongsun Hong yang melihat keadaan itu menjadi terheran-heran.
Mereka tidak habis pikir siapa orangnya yang akan membantu mereka dalam keadaan seperti ini.
"Apakah orang itu anggota Bu-ti-bun kita?"
Tanya Tok-ku Hong dengan suara rendah.
"Rasanya bukan"
Sahut Kongsun Hong setelah memperhatikan sejenak.
"Lagi pula, kalau dia memang anggota Bu-ti-bun, buat apa di menutupi wajahnya?"
"Lalu, siapa dia?"
Tanya Tok-ku Hong dengan alis berkerut. 351
"Kalau bukan orang yang kita kenal, dia pasti orang yang dikenal Kuan Tiong-liu. Itulah sebabnya dia takut dikenali sehingga menutupi wajahnya dengan kain hitam,"
Sahut Kongsun Hong.
"Lalu, mengapa dia harus menolong kita?"
Tok-ku Hong masih tidak habis pikir.
Kongsun Hong juga tidak tahu, maka dia hanya dapat menggelengkan kepala.
Pada saat itu, pertarungan antara Wan Fei-yang dengan Kuan Tiong-liu semakin seru.
Mereka sudah bergebrak sebanyak seratus jurus lebih.
Pada mulanya Wan Fei-yang masih agak gugup.
Selama hidupnya dia belum pernah benar-benar bertarung dengan seseorang, namun lambat laun dia mulai bisa menguasai dirinya.
Gerakannya semakin mantap dan tenang, tangan juga semakin cepat.
Setelah menyambut tiga puluh enam kali serangan Kuan Tiong-liu, akhirnya dia terdesak ke tepi sungai.
Dengan kemarahan yang meluap Kuan Tiong-liu tertawa dingin.
Gerakannya berubah.
Dia mulai menggunakan jurus Si-yang-sie-cao andalannya.
Wan Fei-yang cepat-cepat menggeser kakinya.
Ternyata jurus yang digunakan adalah Tian-liong-kia-ka, lalu tangannya memainkan Cao-yang-sut.
Melihat gerakan itu, wajah Kuan Tiong-liu berubah hebat.
Pedang di tangannya digerakkan, sebuah jurus Kim-ciau-si-yi langsung dikerahkan.
Telapak tangan Wan Fei-yang ditarik kembali.
Jari tengah dan telunjuknya langsung meluncur ke depan dan menotok pergelangan tangan Kuan Tiong-liu.
Kuan Tiong-liu menjerit lantang.
Pedang di tangan kanannya terlepas.
Namun kakinya segera menutul, dengan gesit tangan 352 kirinya menyambut pedang yang masih meluncur di udara.
Setelah berhasil, secepat kilat dia menyabet ke arah wajah Wan Fei-yang!
"Bret!", kain penutup wajah Wan Fei-yang tersayat koyak.
Di keningnya terdapat segaris luka kecil bekas tebasan pedang Kuan Tiong-liu.
Pedang pemuda itu sendiri masih terus diluncurkan menyerang ke arah tenggorokan Kuan Tiong-liu.
Pemuda murid Go-bi-pai itu terkesiap.
Gerakannya terhenti.
Wajahnya berubah hebat.
Dia mendelikkan matanya lebar-lebar.
"Kau rupanya!"
Pedang Wan Fei-yang tidak lagi menusuk tenggorokan anak muda itu.
Dia memang hanya berniat menghentikan pertarungan antara Kuan Tiong-liu dengan kedua murid Bu-ti-bun.
Sekarang kain penutupnya sudah terlepas.
Wajahnya berubah pucat.
Sejenak kemudian dia tertawa getir.
"Memang aku,"
Sahutnya sambil memasukkan pedangnya ke dalam sarung. Seluruh tubuh Kuan Tiong-liu bergetar saking marahnya. Tiba-tiba dia tertawa terbahak-bahak.
"Bu-tong-san memang tempat bersarangnya naga dan harimau. Tidak tersangka hari ini, aku Kuan Tiong-liu terjungkal di tangan seorang Bu-beng-siau-cut!"
Katanya. Wan Fei-yang ikut tersenyum.
"Hal ini hanya kebetulan saja."
Kuan Tiong-liu mendengus dingin.
"Anggap saja aku sedang 353 sial!"
Tiba-tiba dia menggerakkan pedangnya dengan maksud menggorok lehernya sendiri. Untung saja gerakan Wan Fei-yang cukup cepat. Dia segera merebut pedang di tangan Kuan Tiong-liu.
"Apa yang kau lakukan?"
Teriak Kuan Tiong-liu marah. Wan Fei-yang mengembangkan kedua tangannya.
"Tidak apa-apa."
"Apa urusanmu dengan mati hidupku?"
Bentak Kuan Tiong-liu kesal.
"Mana bisa tidak ada hubungannya. Selama ini aku belum pernah membunuh orang. Andai kata kau mati begitu saja, bagaimana aku bisa hidup tenang kelak?"
Sahut Wan Fei-yang sembarangan.
"Sebetulnya, kau pernah belajar pedang bukan?"
Tanya Kuan Tiong-liu marah.
"Tentu pernah ...."
"Kalau begitu, kau tentu mengerti bagaimana menderitanya perasaanku sekarang."
Wan Fei-yang tertegun.
"Apa yang kau derita? Kau kan tidak terluka?"
Dia mengusap luka kecil di keningnya.
"Malah aku yang menderita,"
Katanya. Hampir saja Kuan Tiong-liu jatuh pingsan karena jengkel.
"Cukup ... kau memang sudah mengalahkan aku, tidak perlu mengucapkan kata-kata yang menghibur." 354 Wan Fei-yang tidak mengerti apa yang dikatakan Kuan Tiong-liu. Dia menatap anak muda itu lekat-lekat.
"Aku sering mendengar orang mengatakan bahwa kalah menang dalam suatu pertarungan adalah hal yang umum. Mengapa pikiranmu begitu sempit?"
Tanyanya heran. Akhirnya Kuang Tiong-liu dapat merasakan kalau Wan Fei-yang bukan sedang mengejeknya.
"Usiamu juga masih sangat muda. Belum tujuh atau delapan puluh tahun. Asal kau berlatih dengan giat, siapa tahu kelak kau akan berhasil mengalahkan aku,"
Kata Wan Fei-yang selanjutnya. Kuan Tiong-liu menggertakkan giginya erat-erat.
"Baik ... aku pasti akan berlatih dengan giat. Tapi, kau harus berhati-hati kelak."
"Terima kasih,"
Sahut Wan Fei-yang lugu. Dia sama sekali tidak mengerti maksud Kuan Tiong-liu yang sebenarnya.
"Kelak, apabila aku datang kembali mencarimu dan engkau tidak ada atau pendek usia, maka aku akan lebih menderita daripada sekarang,"
Kata Kuan Tiong-liu kembali.
Tanpa menunggu jawaban dari Wan Fei-yang, tubuhnya segera melesat meninggalkan tempat itu.
Baru beberapa langkah dia kembali lagi untuk mengambil pedangnya yang ketinggalan.
Kemudian dia melesat dan naik ke atas sebatang pohon.
"Jit Po, Liok An, mari kita pergi!"
Teriaknya. Pada saat itu, jarak 355 mereka agak berjauhan dengan orang lainnya. Tanpa sadar mereka bertarung terus sehingga tubuh mereka bergeser sampai tepian sungai bagian hulu.
"Cara bicara orang ini aneh sekali,"
Gumam Wan Fei-yang seorang diri.
Baca Juga: Walet Besi 1
Baca Juga: Sakit Hati Seorang Wanita 5