Ceritasilat Novel Online

Walet Besi 1

Eps 1 Walet Besi - Cu Yi

Baca online Walet Besi - Cu Yi

Cersil Walet Besi - Cu Yi.

WALET BESI Karya . Cu Yi

Jilid KE SATU BAB I Beringas Bulan ke tiga.

Pakhia.

Angin segar berhembus pada bulan ke tiga hari ke tiga.

Sepanjang tepian sungai Tiang-an tampak perempuan cantik pergi berlalu lalang.

Sepotong syair ini tidaklah menggambarkan keadaan Pakhia yang sesungguhnya.

Di negara di sebelah utara, musim semi datang terlambat.

Pada hari-hari di bulan ketiga, salju dan air-air yang membeku belum semua meleleh.

Bahkan rerumputan liar pun belum menampakkan pucuk daun mudanya.

Angin utara masih berhembus sangat dingin.

Langit pun sebagian besar masih terlihat muram.

Orang-orang yang berlalu lalang belum bisa melepas jaket kulit dengan topi kupluk kulit yang biasa mereka kenakan.

Apalagi pada pagi hari.

Dari sepuluh orang yang keluar rumah, sembilan diantaranya pasti akan menyembunyikan kedua tangannya ke dalam kantong jaketnya.

Kehidupan sungguh pahit dan menyakitkan, kedua tangan itu harus dipertahankan hidup bagaimana pun caranya.

Atau orang itu tidak akan hidup sama sekali.

Keempat blok rumah bertingkat dan sepuluh gang kecil di sebelah timur adalah tempat tinggal para bangsawan kelas atas.

Rumah-rumah yang ada di kesepuluh gang itu semuanya adalah rumah yang dilengkapi taman mewah.

Temboknya tinggi dan pintunya berhiaskan mutiara.

Apalagi rumah kedua disebelah kanan di dalam gang yang pertama.

Ini adalah rumah kediaman seorang konglomerat yang bermarga Leng (dingin).

Marga ini benar-benar cocok menggambarkan pemilik namanya.

Nama lengkapnya adalah Leng Souw-hiang.

Nama Souw-hiang dalam bahasa mandarin bunyinya mirip dengan nama rak buku.

Namun sosok Leng Taiya ini, seumur hidupnya tidak pernah menaruh berminat pada buku.

Dia juga tidak pernah menjadi seorang pejabat yang memegang kedudukan yang tinggi.

Kalau bukan termasuk dalam keluarga yang terpelajar, dan juga bukan keturunan bangsawan, bagaimana dia bisa menjadi seorang konglomerat?

Semua ini karena dia memiliki banyak uang, tidak masalah orang sedang berada di belahan bumi manapun, uang dan emas selalu memiliki kekuatan yang sangat luar biasa.

Ketika masih muda, Leng Souw-hiang adalah seorang kepala bagian di dalam keluarga kerajaan.

Raja Su-cen bisa dibilang adalah seorang raja yang paling terbuka di kalangannya.

Dia bukan seorang pejabat korup.

Ketika dinasty Ceng sudah goyah dan nyaris rubuh, demi mempertahankan dinasty, dia sudah memikirkan banyak sekali siasat.

Sosok raja besar ini sudah menolong menyelesaikan banyak sekali perkara selama tiga ratus tahun Dinasty Ceng berjaya.

Pendiriannya adalah pembaharuan terus-menerus.

Namun dia juga menyetujui sistem kerajaan.

Sayang sekali pejabat dinasty Ceng sudah terlalu banyak yang korup, sebuah tiang tidak akan dapat menyangga sebuah bangunan yang besar.

Akhirnya tetap saja dinasty tersebut runtuh.

Karena Raja Ceng senantiasa mengkhawa-tirkan keadaan negara yang dipimpinnya, dia memberi-kan kesempatan pada Leng Souw-hiang untuk bertindak bebas.

Mengunakan kesempatan ketika keadaan sedang kacau seperti ini, dia mendapat kesempatan mencari uang.

setelah raja mengungsi ke Tong-yang, dan tinggal di luar negri.

dia mempercaya-kan harta dan bisnisnya agar diurus oleh Leng Souw-hiang.

Dari sepuluh bagian, dia mendapat tujuh sampai delapan bagian.

Hanya dalam waktu dua-tiga tahun yang singkat, dia sudah menjadi salah seorang konglomerat terkaya yang hanya berjumlah beberapa orang di kota Pakhia.

Lagi pula pada waktu itu pemerintahan baru saja berdiri, keadaannya belum stabil.

Desas-desus tentang kembali berdirinya dinasty Ceng, kadang-kadang sering terdengar.

Raja Su-cen tinggal di sebuah negara yang sangat jauh, namun dia tetap berpikir untuk pulang dan mendirikan kembali dinasty Ceng.

Apalagi Leng Souw-hiang adalah kepala bagian raja Su-cen, sementara ini dia masih bisa mempertahankan hubungan.

Sebagian besar orang yang ingin mengambil kesempatan, pasti akan terus mempertahankan hubungan baiknya.

Oleh sebab itu, Leng Souw-hiang menjadi seorang yang sangat termasyur di kalangan masyarakat di dalam kota Pakhia.

Setiap hari saat masih sangat pagi, kira-kira suasana masih sunyi-senyap, pintu utama yang berhiaskan permata masih terkunci, pintu-pintu kecil di sudut juga tertutup rapat, seolaholah bangunan mewah dengan taman yang besar ini tidak pernah memiliki penghuni.

Dari kejauhan terdengar sayup-sayup suara derap langkah kaki kuda sedang mendekat.

Tidak lama kemudian, sebuah kereta yang ditarik oleh sepasang kuda datang memasuki gang perumahan mewah itu.

Kereta ini lalu berhenti didepan rumah mewah milik Leng Taiya.

Hari masih sangat pagi, namun keluarga Leng sudah kedatangan tamu.

Ini benar-benar kejadian yang sangat langka.

Sais kereta adalah seorang pria separuh baya yang kira-kira berumur empat puluh tahun lebih.

Namun penampilan dan caranya berpakaian sedikit pun tidak menyerupai seorang sais kereta.

Perawakan-nya tinggi besar dan terkesan kasar, namun pakaiannya sangat rapi.

Tingkah lakunya juga sangat sopan, dia menuruni kereta, setelah itu dia merapikan bajunya.

Perlahan-lahan dia menaiki tangga yang terbuat dari batu granit.

Setelah itu dia menarik pegangan pintu yang berkilau, dan mulai mengetuk perlahan-lahan.

Dia hanya mengetuk sebanyak tiga kali, dan suaranya benar-benar terdengar sangat lembut.

Namun walaupun demikian, pintu di pojok segera membuka.

Ini menggambarkan bahwa rumah kediaman keluarga Leng memiliki penjagaan yang sangat ketat.

Dilihat sepintas keadaan terlihat sangat tenang, namun sebenarnya didalam entah ada berapa banyak orang yang sedang sibuk berjaga.

Tentu saja, seorang konglomerat seperti Leng Souw-hiang sangat mem-butuhkan orang-orang untuk menjaganya dengan ketat.

Orang yang datang menyambut tamu dan kemudian membukakan pintu adalah seorang pemuda yang tampak berumur sekitar tiga puluh tahun, raut mukanya terlihat sangat lelah, sepertinya dia belum tidur semalam suntuk, namun tatapan matanya memancarkan kilau yang biasanya hanya dipancarkan oleh orang kaya.

Setelah membukakan pintu, dia mengamati sais ini dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, barulah dia bertanya dengan perlahan lahan.

"Mau apa?"

"Maaf, apakah ini kediaman Leng Taiya?"

Sepertinya sais ini sangat mengerti tata krama, juga menunjukkan bahwa dia pernah memiliki pendidikan bersopan santun.

"Tidak salah. Ada urusan apa?"

"Majikanku memiliki urusan penting yang harus diselesaikan, dan dia harus langsung menemui majikanmu Leng Taiya. Tolong sampaikan"

Secara reflek, pemuda itu langsung menengok ke arah tirai bambu yang menggantung menutupi jendela kereta kuda.

Dalam hatinya dia pasti berpikir, 'tamu ini sangat sombong, dia bahkan tidak turun dari kereta dan menunjukkan diri!' "Datang dari mana?"

"Luar kota"

Dua kata ini "Luar kota"

Sepertinya menimbulkan berbagai macam perasaan dan pikiran. Sinar mata pemuda tadi jadi bertambah terang.

"Apakah anda memiliki kartu nama?"

"Maaf"

Sais kereta itu menjawab dengan sangat sopan "majikanku sedang mendapat tugas yang sangat rahasia, tidak baik untuk memberikan kartu nama. Setelah menemuinya, Leng Taiya pasti akan langsung mengerti."

Pemuda yang menyambut tamu terlihat sedikit ragu. dia lalu menjawab dengan sopan dan berkata.

"Karena tidak memiliki kartu nama, aku tidak berani membuat keputusan. Maaf menyusahkan anda, Silahkan anda menunggu diluar dan menunggu kedatangan majikanku."

"Silahkan... silahkan..."

Pemuda yang menyambut tamu kembali melangkah masuk kedalam rumah.

Pintu di pojok tadi kembali menutup.

Namun sepertinya dibalik pintu terdapat banyak pasang mata yang diam-diam memperhatikan.

Sang tamu lalu menunggu diluar.

Dia menunggu kira-kira setengah jam lebih.

Majikan yang duduk didalam kereta sama sekali tidak bertanya sepatah katapun pada sang sais.

Sais kereta juga tidak terlihat tidak sabar, kedua orang ini, majikan dan bawahannya terlihat sangat tenang.

Tidak lama keluar lagi orang lain yang datang menyambut.

Kali ini berganti menjadi seorang tua yang sudah berumur lima puluh tahun lebih.

Tingkah lakunya sangat rendah hati.

hanya beberapa langkah besar saja dia sudah menuruni tangga granit, dia lalu merangkupkan kedua tangannya didepan dada dan berkata.

"Mohon maaf, mohon maaf! Maaf sudah merepotkan anda menunggu sangat lama. Leng Taiya tidak terbiasa bangun sepagi ini. setelah mendengar bahwa dia mendapat tamu yang datang dari tempat jauh, dia segera bangun dan langsung membersihkan diri. oleh karena itu dia harus menghabiskan sedikit waktu. Sekarang ini dia sudah menunggu anda berdua di ruang tamu bagian depan. Silahkan...."

Sepertinya dari dalam tirai bambu terlihat gerakan.

Sais kereta cepat-cepat mendekat ke kereta dan membukakan pintu.

Orang yang ada didalam kereta segera keluar.

Ternyata dia adalah seorang nona yang masih berusia sangat muda.

Pria berumur lima puluh tahun lebih yang datang menyambut tamu benar-benar merasa kaget.

Secara reflek mulutnya menganga.

Sepertinya dia sama sekali tidak menyangka bahwa tamu besar yang datang mengunjungi majikannya dari tempat yang jauh ini adalah seorang tamu wanita.

Perempuan muda ini sepertinya baru berumur sekitar dua puluh tahun, tubuhnya tegap dan kekar namun sangat ramping, wajahnya cukup rupawan, sangat menarik perhatian.

Sekali melihat semua orang pasti langsung tahu kalau dia sudah berpengalaman, perempuan ini tidak dapat dibilang cantik sekali.

Namun dia memiliki kharisma yang sangat menarik perhatian.

Dia berkata dengan perlahan-lahan.

"Mohon tunjukkan jalan"

Kalimat ini bagaikan kicau burung kutilang, apalagi karena hari masih sangat pagi, kata-katanya terasa sangat enak didengar.

Pria tua yang menyambut tamu tiba-tiba tersentak dan kembali sadar.

Dia segera membalikkan tubuh, mengulurkan tangannya dan berkata.

"Nona, silahkan..."

Perempuan ini mengenakan celana sutra, diluarnya dia masih mengenakan mantel panjang berwarna ungu kemerahan yang memiliki kerah bulu tebal.

Gerakannya sangat ringan bagaikan sedang melayang.

Dia terlihat unik.

Leng Souw-hiang sekarang sudah hampir berusia enam puluh tahun, namun karena dia pandai merawat tubuhnya, dia masih tetap terlihat sangat sehat dan tegap.

Hanya saja di kedua pelipis dia rambutnya mulai berubah warna menjadi putih, namun ini tidak membuatnya terlihat tua, malah membuatnya semakin berwibawa.

Setelah melihat bahwa tamunya adalah seorang nona yang masih muda, Leng Souw-hiang juga sempat tertegun beberapa saat.

Namun, dia sama sekali tidak memandang rendah tamunya.

Kalau dia memang datang dari luar kota, sudah delapan puluh persen dapat dipastikan kalau dia adalah orang yang diutus datang kemari oleh raja Su-cen.

Raja tidak mungkin sembarangan mengutus seseorang yang tidak bisa apa-apa.

perempuan ini pastilah memiliki keistimewaan tersendiri sehingga mendapat kepercayaannya.

Setelah berpikir sampai sedemikian, secara otomatis dia segera berdiri.

"Leng Taiya!"

Tamu perempuan itu menyapa dengan sangat hormat.

Leng Souw-hiang kembali tertegun, karena perempuan ini dalam memberi hormat tidak menunjukkan tata krama yang ditemui diantara masyarakat umumnya dan juga bukan tata krama yang ditemui diantara masyarakat suku Han.

kedua tangan-nya tetap dirangkupkan didepan dadanya.

Karena dia menggunakan mantel terusan yang besar, ditambah dengan gerak-geriknya seperti ini, dia terlihat sangat gagah.

Namun ini adalah cara menyapa para pendekar yang umum ditemui di dunia persilatan!

Leng Souw-hiang bertanya pada dirinya sendiri, rasanya dia tidak pernah berurusan dengan orang yang datang dari kalangan persilatan!

Karena tertegun kaget, dia sampai lupa mem-balas salamnya.

Untunglah pria tua yang sudah menunjukkan jalan masuk padanya segera mewakilkan tuan besar untuk membalas salamnya dan memper-silahkannya duduk.

"Tidak perlu sungkan, tidak perlu sungkan!"

Barulah Leng Souw-hiang kembali sadar.

"melihat nona sangat rupawan, sangat berwibawa, tidak terasa aku sudah tertegun melihat nona........nona datang dari mana?"

"Li-sun"

Setelah mengatakan tempat asal usul kedatangannya, hati Leng Souw-hiang langsung menjadi tenang.

Raja Su-cen tinggal di daerah itu.

melihat tingkah laku dan penampilan nona muda ini, dia mungkin sekali adalah utusan raja Su-cen.

Kalau tidak, Siapa yang lebih cocok?

"Bagaimana kabar raja?

Apakah dia baik-baik saja?"

Leng Souw-hiang sambil sedikit membungkuk-kan tubuh memberi hormat dengan sangat sopan dan bertanya dengan perlahanlahan.

Sepertinya dia ber-maksud memancing nona ini untuk mengatakan siapa yang menyuruhnya datang.

"Sangat baik"

Jawabannya sangat singkat.

"Bagaimana keadaan disana?"

Kali ini dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya menganggukanggukkan kepala. Pada waktu yang bersamaan dia melirik ke arah pelayan tua yang mengantarnya masuk.

"Pergi!"

Leng Souw-hiang segera mengibaskan tangannya.

Pria tua penunjuk jalan segera mundur dan melangkah keluar meninggalkan ruangan.

Dia menutup pintu dibelakangnya.

Sekarang di dalam ruangan hanya tinggal kedua orang ini.

"Leng Taiya, aku ingin bertanya padamu. Anda biasa menggunakan tangan yang mana untuk memegang pena ketika sedang menulis surat?"

"Tangan kanan"

"Kalau begitu, tolong ulurkan tangan kanan-mu!"

Leng Souw-hiang merasa sedikit heran, namun dia tetap mengulurkan tangan kanannya.

Tidak biasa-nya dia langsung menuruti apa yang diperintahkan padanya.

Namun kali ini benar-benar aneh.

Sepertinya ini disebabkan oleh kharisma yang sangat besar yang dipancarkan dari dirinya.

"Kalau ada seseorang yang sudah berbuat kesalahan dan membuat seseorang marah, lalu orang yang sudah dibuat marah itu bertanya padanya. 'mana yang akan kau pilih? Apakah kau lebih rela dipotong tenggorokan ataukah dipotong tangan kanan?' kalau orang itu adalah kau, yang mana yang akan kau pilih?"

Leng Souw-hiang benar benar tersentak kaget, cepat-cepat dia menarik tangan kanan yang sudah diulurkannya.

Gerak-gerik perempuan ini benar-benar sangat cepat, hanya dengan satu langkah besar saja dia sudah berada dihadapan Leng Souw-hiang, di tangannya sekarang sudah terlihat sebilah pisau yang sangat tajam.

Ujung pisau yang runcing menekan dada Leng Souw-hiang dengan kuat, dia sebenarnya berpikir untuk melangkah mundur menghindari serangan, namun kedua kakinya sama sekali tidak mau menuruti keinginannya.

"Leng Taiya, sebenarnya kau akan membuat pilihan yang mana?"

"No... Nona, se... sebenarnya ba... bagaimana bisa seperti ini? a....apakah kau benar orang suruhan raja Su-cen?"

"Cepat tentukan pilihanmu!"

"No....Nona, apakah aku pernah berbuat salah padamu sebelumnya?"

"Pilih!"

Hanya sepatah kata... namun sepatah kata ini memiliki kekuatan yang luar biasa. Perlahan lahan tangan kanan Leng Souw-hiang yang gemetar hebat kembali terjulur.

"Leng Taiya, dengar baik-baik! Sepuluh tahun yang lalu tangan kananmu ini sudah berbuat kejahatan semacam apa, kau sendiri sudah mengerti. Sekarang sudah tiba waktu pembalasannya. Leng Taiya, sebelah tanganmu akan terputus, pasti akan terasa sangat sakit. Namun kau harus menahan rasa sakitnya, kau tidak boleh berteriak. Kalau kau sampai berteriak sedikit saja, bukan hanya kau akan kubunuh, bahkan seisi kediaman ini pun pasti akan berjatuhan korban yang tidak bersalah. Apakah kau sudah mengerti?"

"No...nona, apakah aku bisa mengeluarkan uang untuk menebus kesalahanku? Kau ingin berapa....berapa banyakpun, aku pasti akan memberi....memberi sebanyak itu"

"Kau sekarang pasti sudah mengerti, uang tidak selalu bisa menyelesaikan semua urusan. Tidak masalah kau memiliki berapa banyak uang, kau tidak punya cara untuk kembali menumbuhkan lenganmu yang putus dari pundakmu itu....tolong angkat tangan kananmu sedikit"

Tubuh Leng Taiya gemetar hebat, namun seluruh tubuhnya terasa sangat lemas.

Tangan kanannya sama sekali tidak memiliki tenaga untuk diangkat.

Gerakan tangan nona muda ini sangat kejam, dia tidak segera menebaskan pisaunya kuat-kuat untuk memutuskan tangan lawannya, namun dia dengan perlahan-lahan menyayatkan pisaunya.

Leng Taiya tidak hanya harus menahan sakit yang luar biasa, namun juga harus menahan sakit hati yang sangat dalam.

Nona muda ini menggunakan tangannya untuk menekan ujung jari Leng Taiya, sehingga tangannya terjulur lurus kedepan.

Melihat dari gerak-geriknya, dia tampak seperti akan memotong seekor ikan, atau seekor ayam.

"Aku akan berkata sekali lagi. kau sama sekali tidak boleh berteriak. Sekali berteriak, kau akan segera kehilangan nyawa. Kau pun akan mempersulit hidup orang lain!"

Leng Taiya bercucuran keringat dingin, sepasang kakinya gemetar sangat hebat, dia merasa akan segera pingsan.

--Pada hari yang sama, di Pakhia terdengar empat kasus yang kejam.

Tangan kanan Leng Taiya terpotong, sepasang bola mata milik direktur utama sebuah perusahaan bank terkemuka yang bernama Hui Ci-hong dicokel keluar.

Seorang seniman yang serba bisa di Pakhia, yang mahir bermain alat musik, adu catur, terpelajar dan pandai menggambar, yang bernama Tan Po-hai, juga mengalami kejadian yang serupa.

Pelakunya sudah memotong kedua daun telinganya.

Seorang tuan besar yang pernah mengabdi di Ciu-mui pada dinasty Ceng yang bernama Oey Souw menderita luka paling ringan.

Dengan pisau yang tajam, pelakunya menorehkan tanda X pada pipinya.

Setelah pelaku melukai para korbannya, pada setiap tempat kejadian perkara, dia selalu meninggal-kan sebuah tanda yang sama ........ukiran seekor burung walet yang terbuat dari besi dan juga terdapat tetesan lilin berwarna merah menempel di bagian mata burung walet tersebut.

Leng Souw-hiang dan Hui Ci-hong yang masing-masing sudah kehilangan tangan dan matanya.

Setelah menahan penderitaan yang sangat parah, mereka berdua segera pingsan.

Setelah ditolong mereka barulah kembali sadar, luka yang diderita oleh Tan Po-hai dan Oey Souw tidak termasuk parah, namun mereka semua melakukan hal yang tidak dimengerti banyak orang.

Terhadap kasus ini, mereka semua sama sekali tidak mempermasalahkannya, malah sebaliknya mereka berkeras mereka tidak melihat pelakunya.

Jelas bahwa mereka semua sedang berbohong.

Alasan mereka berbohong sepertinya ada dua.

Pertama mereka takut pelakunya akan lebih beringas dan membalas dendam.

Kedua, mereka tidak ingin kasus ini membuat semua rahasia yang mereka miliki akan terbongkar.

Tentu saja orang lain juga akan mengambil kesimpulan yang sama, bahwa semua pelakunya adalah orang yang sama.

Alasan keempat orang yang menjadi korban pun pasti sama.

Karena mereka semua pernah melukai si pelaku.

Beratnya kejahatan yang sudah mereka lakukan setimpal dengan luka yang mereka derita saat ini.

hanya anak Oey Souw yang tidak ikut melakukan kejahatan dengan tangannya sendiri.

Dia hanya menanggung dosa yang diperbuat orang tuanya.

Dia baru berumur dua puluh tahun, tidak mungkin dia bisa melakukan kejahatan bersama-sama dengan para tuan besar yang sudah berumur itu.

Keempat kejadian yang mengerikan ini terjadi ketika hari masih sangat pagi.

Belakangan berdasarkan atas bukti-bukti yang ada, tempat kejadian dan waktu terjadinya peristiwa, Leng Souw-hiang adalah korban yang mendapatkan luka paling parah.

Leng Souw-hiang memiliki empat anak laki laki dan tiga anak perempuan, dia juga masih memiliki seorang anak angkat yang bernama Wie Kie-hong.

Ayah kandungnya yang bernama Wie Ceng, sebenar-nya terlahir di dalam keluarga gerombolan penjahat, namun belakangan dia berubah menjadi orang yang baik.

Dia mengabdi di dalam keluarga kerajaan raja Su-cen selama beberapa tahun menjadi seorang penjaga.

Dia benar-benar mendapat kepercayaan pejabat Leng.

Satu kali dia pernah mendapat perintah dari pejabat Leng, pergi keluar kota untuk menyelesaikan suatu tugas rahasia, entah tugas apa yang diberikan padanya?

sepertinya tugas ini hanya mereka berdua yang tahu.

Setelah pergi menunaikan tugasnya, dia tidak pernah kembali lagi.

Setelah diselidiki ternyata dia sudah mengorbankan nyawanya demi Leng Souw-hiang.

Leng Taiya masih memiliki sedikit hati nurani, dia kemudian merawat dan mendidik anak yang ditinggal-kannya.

Dia menjadi anak angkat kesayangannya, dan diperlakukannya seperti anaknya sendiri.

Semenjak kecil, Wie Kie-hong sudah mem-pelajari ilmu silat yang diajarkan ayahnya, ditambah dengan bakat alamnya, belajar sebentar saja dia sudah mencapai tingkat yang lumayan tinggi.

Jika saat peristiwa itu berlangsung, dia sedang berada di sisi Leng Souw-hiang, pelakunya belum tentu dapat memotong tangan Leng Taiya dengan begitu mudah.

Tiga orang ahli pengobatan spesialis merawat luka yang terkenal dipanggil ke kediaman Leng Taiya untuk merawat lukanya.

Berkat kepandaian mereka, nyawa Leng Souw-hiang dapat terselamatkan.

Luka fisiknya dapat disembuhkan, namun luka batinnya sulit untuk diobati.

Setelah peristiwa itu dia selalu mengurung diri dan tidak ingin bertemu dengan siapapun juga.

Leng Souw-hiang menyuruh semua orang untuk meninggalkannya, dia hanya ingin menemui anak angkatnya Wie Kie-hong seorang diri.

"Kie-hong!"

Kata Leng Souw-hiang tampak sangat lemah, namun dia masih terlihat mantap.

"duduklah, ada urusan yang ingin aku beri tahukan padamu."

Wie Kie-hong memindahkan sebuah bangku panjang dan duduk disamping ranjang.

"Tadi aku dengar kalau Hui Ci-hong, Tan Po-hai, dan Oey Souw juga terluka sangat parah...."

Leng Souw-hiang mengatakan kalimat ini kata per kata dengan sangat jelas.

"kalau betul seperti ini, aku bisa menebak asal-usul pelakunya."

"Ayah!"

Setelah ayah kandungnya meninggal, Wie Kie-hong lalu memanggil Leng Souw-hiang dengan sebutan itu.

"Aku dengar pelakunya adalah seorang perempuan muda yangbaru berumur dua puluh tahun."

"Memang dia adalah seorang perempuan muda, namun kau sama sekali tidak boleh memandang rendah perempuan ini. di seluruh tubuhnya aku merasakan hawa yang dimiliki seorang pembunuh yang sangat beringas, sangat tidak baik untuk dihadapi .... Kie-hong, sekarang aku ingin kau mengerjakan suatu tugas. Tapi ingat! Kau tidak boleh memberitahukan tugas ini pada siapapun juga!"

"Baiklah ayah"

"Di seberang gang San-poa tempat kediaman raja Su-cen, ada seorang peramal, dia selalu membawa spanduk tanda ramal. Dia selalu dipanggil Bu Tiat-cui. Kalau kau sudah menemuinya, berikan barang ini padanya...."

Leng Souwhiang mengeluarkan sebuah hiasan yang terbuat dari giok dari balik bantalnya.

Melihat dari warna dan garis-garis di permukaannya, mudah ketahuan kalau itu bukanlah sebuah barang yang berharga.

"berikanlah barang ini pada Bu Tiatcui, nanti dia akan memberikanmu sebuah kotak kecil yang terbuat dari kulit impor dari luar negeri."

"Ayah! Apakah aku harus membawa kotak itu dan memberikannya padamu?"

"Tidak!"

Suara Leng Souw-hiang.

"kau harus cepat-cepat pergi naik kereta ke sebelah utara Tai-ouw, dan buanglah kotak itu ke laut."

Wie Kie-hong tertegun. Leng Souw-hiang mengulang perintahnya.

"Kie-hong, ada dua hal yang harus kau ingat. Walaupun kau harus kehilangan nyawamu, kau tidak boleh membiarkan orang lain merebut kotak yang akan kau bawa itu, kau juga tidak boleh melihat isi kotak itu!"

"Baik"

"Kau cepatlah pergi, pergilah seorang diri, jangan sampai ada seorang pun yang mengikutimu. Jangan sampai ada seorangpun mengenali siapa dirimu!"

"Baik"

Tahun ini Wie Kie-hong barulah berumur dua puluh duatiga tahun.

Sebenarnya sejak awal pun dia sudah mencari mempelai perempuan dan menikah.

Namun dia membuat ikrar di depan para dewa, bahwa sebelum dia mengetahui dengan jelas apa yang sudah membuat ayah kandungnya meninggal, dia iidak akan memiliki seorang istri.

Dia selalu menuruti dan melakukan semua perintah yang diberikan 'oleh Leng Souwhiang, hanya perintah mencari istri ini saja yang tidak digubrisnya.

Walaupun Wie Kie-hong masih muda, namun dia sangat berpengalaman.

Dia sangat tenang, kharisma nya yang besar seperti sudah menjadi pembawaan sejak lahir!

Setelah menyanggupi perintah ayahnya, dia segera meninggalkan kediaman keluarga Leng.

Dia tidak menaiki kereta kuda miliknya sendiri, tapi dia pergi ke depan gang dan menyewa sebuah kereta.

Kereta yang dikendarainya berhenti di depan gang Sanpoa.

Wie Kie-hong turun disana.

Pertama-tama dia melihat kiri dan kanan memperhatikan keadaan disekelilingnya.

Setelah itu dia perlahan-lahan berjalan menuju ke dalam gang dengan sangat santai, tempat tinggal raja Su-cen yang berukuran dua puluh hektar masih ada disana, hanya saja pada sekarang gangnya sangat ramai.

Banyak kereta kuda berlalu lalang bagaikan air yang mengalir.

Dia terus berjalan kedalam, setelah berjalan beberapa lama, dia akhirnya melihat sebuah tanda yangbertuliskan "Bu Tiat-cui"

Ini.

Tempat ini adalah sebuah rumah yang memiliki tiga pekarangan.

Pintu masuk ke tamannya setengah terbuka.

Wie Kie-hong masuk kedalam dengan langkah santai.

Setelah melewati pintu taman, pada pintu masuk rumah yang ada dihadapannya terpasang pelat yang bertuliskan syair.

"percaya tidak percaya, boleh segera dicoba ... tepat tidak tepat, nanti akan segera diketahui, setelah melewatinya pasti akan mendapat pengetahuan"

Dua kalimat ini bahkan anak yang berumur tiga tahun pun sudah bisa menghafalnya diluar kepala.

Dia berdiri didepan pintu masuk bangunan, dia tidak melepas topi yang dikenakannya ketika menengok kedalam ruangan.

Dengan suara yang enteng dia menyapa.

"Apakah ada orang didalam?"

Tidak ada jawaban.

Wie Kie-hong mendorong pintu masuk dan bertanya sekali lagi.

Namun tetap tidak terdengar jawaban apapun dari dalam, karena itu dia langsung berjalan masuk.

Ruang tamu bangunan itu tidak jauh berbeda dengan ruang tamu bangunan biasa, di sebelah kiri dan kanan terdapat ruang samping.

Pada pintu masuk ruang samping sebelah kanan tergantung tirai bambu, didepan pintu masuknya terdapat sebuah pelat kayu yang bertuliskan "Tamu yang terhormat, silahkan masuk"

Wie Kie-hong berjalan kesana dan menyibak kan tirai bambu.

Dia terus berjalan masuk ke dalam.

Didalam terlihat Bu Tiat-cui sedang tertidur bersandar pada sebuah meja.

Namun dia segera sadar kalau dia sudah salah sangka.

Bu Tiat-cui bukan sedang tertidur di meja, tidak ada seorang pun yang bangun dari ranjang pagi-pagi sekali untuk segera kembali tertidur dimeja.

Apalagi barang-barang di seluruh ruangan itu sangat berantakan, sepertinya telah terjadi suatu perkara disini.

Wie Kie-hong berjalan mendekat untuk memeriksa keadaan Bu Tiat-cui dan segera dia merinding, dia belum pernah melihat kejadian yang seperti ini sebelumnya.

Diantara sepasang alis Bu Tiat-cui sudah tertancap sebatang jarum besi.

Dari keadaan jarum yang terlihat, dapat diduga kalau jarum itu sangat panjang.

Paling sedikit panjangnya bisa mencapai empat puluh centimeter.

Sekarang yang terlihat diluar keningnya hanya tinggal lima centimeter saja.

Jarum itu sudah menembus otaknya sejauh tiga puluh lima centimeter.

Tidak terlihat setetes darahpun disana.

Bu Tiat-cui meninggal dengan sangat bersih.

Sepertinya pelakunya benar-benar sangat kejam.

Wie Kie-hong sama sekali belum melupakan tugas yang sudah diberikan padanya.

Namun sayang dia tidak menemukan kotak yang harus diberikan padanya.

Mungkin juga kotak itu sudah direbut oleh orang lain.

Apa yang sedang dikerjakan oleh Bu Tiat-cui sebelum dia meninggal?

Wie Kie-hong memeriksa keadaan ruangan dengan sangat teliti.

Dia menemukan bahwa sesaat sebelum meninggal, Bu Tiat-cui sedang menulis.

Kuas bulu tergeletak di lantai, tinta hitam tampak tercecer dimana-mana.

Namun apapun yang sedang ditulisnya, suratnya sudah diambil oleh orang lain.

Wie Kie-hong secara samar-samar dapat membayangkan kejadian pembunuhan yang terjadi pada waktu itu.

Dua orang laki-laki yang berperawak-an tinggi besar berdiri di sisi kiri dan kanannya dan memegangnya dengan kuat.

Orang yang satunya lagi memaksa Bu Tiat-cui untuk menyerahkan kotak yang dicarinya.

Dia menempelkan jarum panjang itu diantara kedua alisnya untuk mengancam Bu Tiat-cui.

Kalau tebakan Wie Kie-hong tidak salah, sepertinya pelakunya sudah mendapatkan barang yang dicarinya.

Kalau tidak, dia tidak mungkin membunuh Bu Tiat-cui.

Berdasarkan keadaan ruangan ini, Wie Kie-hong kembali menebak.

Bukan Bu Tiat-cui yang ter-paksa memberitahukan tempat kotak itu disembunyi-kan, namun si pelaku kejahatan sudah berhasil menemukan kotak itu sendiri dengan mengobrak-abrik semua barang-barang yang ada didalam kamar.

Wie Kie-hong merasa tidak perlu berada didalam ruangan itu lebih lama lagi.

dia harus cepat-cepat kembali pada Leng Souw-hiang dan melaporkan semua kejadian yang sudah dialaminya, dia akan melihat apakah Leng Souw-hiang memiliki jalan lain untuk menyelesaikan masalah ini.

Dia segera melangkah keluar.

Namun sewaktu dia sudah keluar dari bangunan, ketika masuk kedalam taman, tiba-tiba saja dia berhenti.

Sewaktu dia masuk ke dalam, dia tidak menutup pintu masuk taman.

Namun sekarang pintu masuk taman sudah tertutup dengan rapat.

Juga pada waktu itu dia sama sekali tidak merasakan ada angin yang bertiup.

Kalau misalnya memang daun pintu menutup karena tertiup angin, Wie Kie-hong pasti sudah mendengar suara pintu yang terbanting menutup.

Dia sudah menguasai ilmu silat selama puluhan tahun, semua pendekar yang menguasai ilmu silat pasti akan memiliki firasat bahwa ada sesuatu yang salah disini.

Oleh karena itu Wie Kie-hong menduga ada dua kemungkinan ...

kesatu sewaktu dia pertama masuk keruang pinggir didalam bangunan, seseorang masih berada di ruang tengah.

Dia memanfaatkan kesempatan ketika Wie Kie-hong berada diruang pinggir, diam-diam melarikan diri keluar, setelah itu dia menutup pintu.

Yang kedua adalah saat ini masih ada seseorang di dalam.

Mungkin dia berniat untuk berbuat sesuatu, sehingga dia sengaja menutup pintu masuk agar orang-orang yang lewat diluar tidak akan memperhatikan apa yang terjadi didalam.

Wie Kie-hong yakin bahwa kemungkinan kedua lebih masuk akal.

Kalau musuh cepat cepat pergi, dia tidak mungkin diamdiam keluar dengan menutup pintu.

Peluangnya sangat kecil.

Menutup pintu dari luar kemungkinan akan menimbulkan suara, bukankah itu akan membuat orang lain lebih curiga?

Sekarang Wie Kie-hong sudah mempersiapkan diri, dia segera berjalan keluar.

Benar saja, tiba-tiba ada orang yang datang menyelinap dan berhenti dihadapan Wie Kie-hong.

Namun dugaannya tidak seratus persen tepat.

Yang keluar hanya satu orang saja, dan orang itu tidak terlihat akan menyerang.

Orang itu sepertinya berumur sekitar tiga puluh tahun, tubuhnya tinggi besar dan terkesan sangat kasar, gerakgeriknya ringan dan gesit.

Di sebelah tangannya memegang secarik surat.

Dia segera mengangkat tangan yang memegang surat dan menyodorkannya pada Wie Kie-hong.

Wie Kie-hong langsung mengerti apa yang diinginkan oleh orang itu.

Wie Kie-hong mengambil surat.

Di amplop surat tidak tertulis sepatah katapun, setelah surat dikeluarkan dari amplop, di atas kertas surat hanya tertulis.

"Semua fitnah ada permulaannya, semua hutang pasti ada pemiliknya. Tidak ingin menyulitkan orang yang tidak terlibat. Juga tidak mengijinkan orang lain ikut campur tangan. Aku mengharapkan anda tahu diri! Peringatan dari. Thiat-yan (Walet Besi)."

Setelah selesai membaca surat ini, orang yang mengantarkan surat tidak segera pergi, tampak dia sedang menunggu Wie Kie-hong untuk mengatakan sesuatu.

"Siapa yang sudah menyuruhmu untuk mengantarkan surat ini?"

"Thiat-yan"

"Apakah Bu Tiat-cui dibunuh Thiat-yan?"

"Tidak tahu"

"Baiklah, antarkan aku menemui Thiat-yan"

"Mohon maaf, aku tidak mendapat perintah untuk melakukan hal ini"

Wajah Wie Kie-hong tampak sedikit berubah, sepertinya dia berpikir hendak melakukan sesuatu, namun dia tidak segera bertindak.

Dia tidak gegabah.

Dia bisa melihat, tidak masalah muslihat apapun yang akan digunakannya, orang ini tidak mungkin akan mengkhianati tuannya.

"Kau sedang menunggu apa?"

Suara Wie Kie-hong tetap terdengar tenang.

"Menunggu jawabanmu"

Surat yang ada ditangan Wie Kie-hong mulai disobek-sobek tapi tidak dibuang. Setelah habis disobek dia berkata dengan dingin.

"Ini adalah jawaban dariku. Kalau suatu hari nanti Thiatyan jatuh ke dalam tanganku, aku pun pasti akan menyobeknyobeknya seperti surat ini..."

Setelah mengatakan ini, Wie Kie-hong terus berjalan keluar.

Setelah membuka pintu di taman, dia melihat diluar masih ada empat orang lagi.

Ada yang berdiri, ada yang berlutut, ada yang berjalan mondar-mandir.

Dilihat sekilas mereka tampak seperti pejalan kaki yang kebetulan sedang lewat, namun sebenarnya mereka pasti orang yang diutus oleh Thiat-yan.

Kalau saja tadi dia turun tangan menyerang, tampaknya dia tidak akan mudah memenangkan perkelahian.

Di mulut gang San-poa, Wie Kie-hong kembali menyewa sebuah kereta kuda.

Dia meminta sais kuda agar cepat mengantar kembali pada keempat blok rumah bertingkat di sebelah timur.

Dia menyadari bahwa Thiat-yan tidak hanya memiliki tenaga yang sangat besar, namun gerakannya juga bisa sangat cepat.

Jelas terlihat kalau dia sudah menyusun tipu muslihat dengan baik dan sudah sejak lama mempersiapkan semuanya.

Sepintas saja sudah terlihat kemam-puannya yang luar biasa, dan lagi dari surat yang diberikan padanya bisa terlihat kalau pembunuhan yang tadi terjadi bukanlah yang terakhir tapi sebuah awal.

Dia berencana untuk berunding dengan ayah angkatnya sampai tuntas.

Dia juga ingin mengetahui, mengapa bisa terjadi hal seperti ini.

untuk menghadapi seorang musuh yang kuat, dia harus mengerti asal-usul kejadiannya.

Sekarang Thiat-yan sudah menjadi musuh nomor satu Wie Kie-hong.

Wie Kie-hong sudah kembali ke gang tempat tinggal ayah tirinya.

Dia melihat bahwa tempat kediaman Leng Souw-hiang kedatangan seorang tamu, karena di depan pintu masuk ada seekor kuda berwarna putih yang diikat disana.

kuda ini sangat dikenalnya dengan baik.

Pemilik kuda ini adalah Tu Liong.

Dia sebenarnya berasal dari mongolia.

Karena nama aslinya terlalu panjang untuk diingat, oleh karena itu dia diberikan nama mandarin sesuai tata bahasa Han yang pendek dan sederhana.

Tu Liong berperawakan tinggi besar, dia sangat senang bertarung, terutama dalam pukulan tangan kosong, dia benar-benar sangat mahir.

Tu Liong adalah pengawal Cu Siau-thian yang sangat termashyur di Pakhia, mengenai Cu Siau-thian, Wie Kie-hong tidak terlalu banyak mengetahui seluk beluknya.

Dia hanya tahu kalau Leng Souw-hiang sangat sombong pada orang lain.

Namun pada Cu Taiya yang satu ini dia benar-benar menaruh hormat, dia sangat kagum pada Tu Liong.

Sekarang ini setelah melihat kuda putih itu, dia cepat-cepat berlari masuk kedalam.

Walaupun Tu Liong turunan Mongolia, namun dia sudah berbaur dengan budaya Han sejak lama.

Yang tersisa dari kesan Mongolianya adalah tampang dan perawakannya, melihat Wie Kie-hong, dia cepat-cepat berdiri menyambutnya.

Dia merangkupkan tangan didepan dada, dan berkata dengan penuh perasaan.

"Kie-hong, kau sudah pulang?"

"Tu Toako, sudah berapa lama disini?"

"Sudah lumayan lama. Cu Taiya mendengar bahwa disini telah terjadi sebuah perkara, oleh karena itu dia menyuruhku untuk datang kemari dan mencari tahu. Namun aku tidak dapat mencari tahu terlalu banyak, karena Leng Taiya tidak mau menemuiku. Ini.... bagaimana aku bisa pulang kembali untuk melapor kalau aku tidakbisa menemuinya?"

"Tu Toako, kau harus maklum pada hal ini. ayah angkat sudah tua, dan lagi dia baru saja terluka parah, dia mengalami shock yang sangat berat. Semangatnya pastilah masih sangat labil. Dia harus banyak beristirahat!"

"Apakah kau melihat siapa yang melakukan semua ini?"

"Tidak"

"Apakah tidak seorang pun yang melihat pelaku kejahatan ini masuk ke rumah?"

"Untuk apa Tu Toako menanyakan semua ini?"

"Baiklah, aku tidak bertanya lagi....Kie-hong, kau tadi pergi kemana?"

"Mengerjakan tugas kecil yang diberikan ayah.... betul juga, Tu Toako, silahkan anda duduk sebentar, aku akan masuk dan melihat keadaannya."

Leng Souw-hiang sudah menyuruh beberapa orang untuk berjaga di depan pintu masuk kamarnya.

Wie Kie-hong tentu saja bisa masuk tanpa dihalangi.

Setelah Leng Souw-hiang melihat dirinya, raut wajahnya langsung berubah.

"Apakah urusannya sudah beres?"

"Ayah, Bu Tiat-cui sudah mati"

"Hah?"

"Ada orang yang mendahuluiku kesana....pada waktu aku pergi meninggalkannya, ada orang yang memberiku surat ini. Coba lihat!"

Setelah Leng Souw-hiang selesai membaca suratnya, kepalanya langsung mengucurkan keringat dingin, hatinya seperti sudah diselimuti rasa takut yang pekat.

"Ayah! sebenarnya apa yang terjadi?"

"Isi surat ini harus kau ingat. Sapu salju yang ada dihalaman, jangan perdulikan salju yang berada diatas genting....apakah Tu Liong masih ada diluar?"

"Masih"

"Apakah kau memberitahukan sesuatu padanya?"

"Sepatah katapun tidak"

"Suruhlah Tu Liong pulang, dan beritahu Cu Taiya, luka kecil ini tidak perlu diingat-ingat, setelah sembuh nanti boleh tengok kembali."

"Baiklah"

Wie Kie-hong segera melakukan perintah ayahnya, dia segera pergi keluar kamar dan memberitahukan Tu Liong apa yang sudah diperintahkan ayahnya.

Tu Liong segera mohon diri, namun dia meminta Wie Kie-hong untuk menemani dan mengantarnya keluar.

"Kie-hong"

Sambil berjalan Tu Liong mengajak bicara.

"aku ingin memberitahumu tentang suatu hal. Setelah pelakunya melukai empat orang, dia masih ingin membunuh satu orang lagi, barulah tercapai keinginannya, apakah kau tahu siapa orang yang kelima?"

"Siapa?"

"Majikanku Cu Taiya"

"Benarkah...?"

"Aku tidak mungkin berbohong didepanmu. Aku sekarang datang kemari, tujuan utamanya adalah untuk berbicara padamu. Kie-hong, berilah aku sedikit petunjuk."

Wie Kie-hong hanya terdiam, dia tidak tahu harus bagaimana menjawab.

"Sekarang ini kau tidak terbuka dan terus terang seperti dahulu"

"Hatiku terasa sangat berat... Tu Toako! Kalau Cu Taiya sudah tahu bahwa dia akan menjadi sasaran penyerangan selanjutnya, dia pasti tahu siapa pelakunya."

"Aku mengerti apa yang kau maksud. Semua itu hanya baru berupa dugaan, harus diteliti lebih dalam lagi. Kie-hong, hanya memberi sedikit bocoran saja sudah cukup"

"Ayah tidak memberitahu apapun padaku. Namun berdasarkan dugaanku, pelakunya kemungkinan besar adalah seorang wanita, seorang nona yang masih sangat muda."

Walaupun Tu Liong hanya meminta sedikit bocoran informasi, namun apa yang dikatakan oleh Wie Kie-hong tampak sangat memuaskannya.

Seperti-nya sepotong kalimat ini, apa yang dia ingin dengar, dia segera berkata.

"Ini sudah cukup.... Ini sudah cukup, aku sekarang pergi. Titip salamku untuk Leng Taiya nanti."

Tu Liong menaiki kuda putihnya dan mulai memacunya pulang, dia memacu kudanya sangat cepat, membuat Wie Kiehong merasa sedikit aneh.

Dia berpikir hendak menyusul untuk menanyakan keadaannya sampai jelas, namun dia tidak berbuat demikian.

Tu Liong adalah orang yang selalu bergerak cepat.

Biasanya ketika sedang bertemu dengan Wie Kie-hong pun dia selalu menjaga jarak, sampai-sampai kalau Wie Kiehong ingin tahu apa-apa darinya, tidak selalu yang dia tanyakan bisa langsung dijawab olehnya.

Pengurus tuan besar yang tinggal di dalam kediaman Leng yang bernama Su-cie datang menghampiri, dialah pelayan yang mengantarkan perem-puan muda itu menemui Leng Taiya.

Perlahan-lahan dia berkata.

"Wie Siauya, ada sedikit hal yang ingin aku bicarakan denganmu."

"Oh?"

Wie Kie-hong memperhatikan bahwa sikap Su-cie sangat serius, dia sedikit merasa khawatir.

"Wie Siauya, apakah Leng Taiya tidak memberi tahumu siapa yang sudah melakukan kejahatan padanya?"

"Tidak"

"Aneh? Kenapa Taiya tidak mau memberi-tahukan padamu?"

"Sebenarnya walaupun tidak diberitahu, tapi kami semua juga sudah bisa menebaknya, dia pasti tamu wanita muda yang datang pagi itu."

"Wie Siauya, bukan aku ingin melalaikan tanggung jawabku, namun berdasarkan pengamatan-ku, belum tentu perempuan itu pelakunya. Pada waktu dia keluar, aku masih melihat dia mohon pamit dengan tuan besar"

"Apa kau melihat dengan mata kepalamu sendiri?"

"Tidak, aku menunggu mereka berdua diluar kamar"

"Apakah waktu itu kau melihat Gihu (ayah angkat) ku?"

"Tidak. Aku hanya melihat tamu perempuan itu keluar dari ruangan. Sambil memberi hormat, dia berkata pada tuan besar agar tetap tinggal ditempat-nya."

"Pengurus Su, ini hanya tipu muslihat menghindari kesulitan yang lebih besar, dia tidak ingin membuat keadaan menjadi kacau."

"Wie Siauya, kata-katamu masuk akal juga, tapi... tapi... apakah tidak sakit kalau kehilangan sebelah tangan? Kenapa aku tidak mendengar tuan besar menjerit kesakitan?"

Wie Kie-hong mengkerutkan kedua alisnya sampai nyaris bersatu.

Dia tidak bisa memikirkan alasan yang masuk akal untuk menjawab pertanyaan ini.

Kediaman Leng Taiya dipenuhi oleh orang-orang yang mahir dalam ilmu silat.

Asalkan Leng Souw-hiang memanggil, tidak masalah betapapun lihainya perempuan itu, dia tidak mungkin bisa menang.

Namun Leng Souw-hiang sama sekali tidak mengeluarkan suara, dia benar-benar pasrah, ini...

"Pengurus Su, aku dengar didekat tubuh ayah angkat ditemukan semacam barang. Apakah barang itu ditinggalkan oleh pelaku kejahatan?"

"Iya. Itu adalah ukiran seekor walet. Walet yang terbuat dari besi"

"Coba bawa kemari, aku ingin melihatnya"

"Taiya sudah menyimpannya. Dia sudah berpesan padaku agar tidak memberitahukan pada orang lain"

"Thiat-yan... Thiat-yan! Tidak salah, orang yang sudah melukai ayah angkat adalah Thiat-yan. Pengurus Su, pasti perempuan itu orangnya. Kau tidak usah merasa bersalah. Pelakunya pun tidak akan menggores-kan tulisan dikepalanya Akulah pelakunya,' tapi aku ingin meminta suatu hal padamu, beberapa hari ini kau jangan keluar rumah, tidak masalah pergi kemanapun juga, kau harus ditemani oleh beberapa orang pengawal. Kau pernah melihat Thiat-yan dengan mata kepalamu sendiri, kemungkinan besar dia akan membunuhmu untuk menutup mulut."

"Benarkah?"

Pengurus Su terloncat kaget "Pengurus Su, ingatlah.

Kau harus tetap hidup sebagai saksi pelaku kejahatan" --BAB Terkejut Usia Cu Siau-thian kurang lebih sama dengan usia Leng Souw-hiang.

Apalagi Cu Siau-thian adalah seorang yang menguasai ilmu silat, walaupun sudah tua namun dia tetap tampak gagah perkasa, kalau hanya dilihat sekilas, orangorang pasti akan menyang-ka dia masih muda.

Tangannya sedang asyik memainkan sebuah alat penghisap cerutu yang terbuat dari gading, sewaktu mendengarkan cerita Tu Liong, dia tidak mengatakan apa apa.

dia hanya duduk diam seperti sebongkah batu.

Dia terlihat tenang dan tampangnya pun terlihat sangat tentram.

padahal Tu Liong sedang menceritakan kejadian yang sangat mendebarkan hati.

"Cu Taiya! Aku tidak melihat orang-orang yang biasa dikenal baik oleh kita. Malah orang-orang yang tinggal di dalam rumah ini pun semua tutup mulut, seperti tidak ingin membicarakan hal ini. Menurut tuan bukankah ini adalah suatu hal yang sangat aneh?"

"Ada sebuah pepatah kuno, bencana timbul dari mulut. Mereka semua sedang melindungi jiwa mereka masingmasing, mereka tidak ingin menyebar luaskan berita ini, sebab kalau disebarluaskan, mereka akan mendapat masalah. Ini juga merupakan sifat egois yang dimiliki manusia ...."

Kata Cu Siau-thian sambil memegang cerutunya dan menempelkannya dimulut. Terdengar suara cerutu yang dihisap dalam-dalam. Setelah itu dia melanjutkan kata-katanya.

"Tu Liong, kali ini sepertinya kau sudah pergi dengan siasia"

"Aku tidak sia-sia, bisa dibilang aku pergi dan kembali mendapatkan informasi yang paling penting. Pelakunya adalah seorang wanita, dia adalah seorang nona yang masih sangat muda"

"Apakah kau yakin?"

Sepasang alis yang tebal sedikit terangkat.

"Tidak salah"

Suara Tu Liong terdengar sangat yakin "Cu Taiya, aku ingin bertanya sesuatu"

"Tentang apa?"

"Menurut Leng Taiya, Tuan adalah target kelima yang akan didatangi pelakunya...."

"Tu Liong"

Cu Siau-thian menegakkan kepalanya, sekarang wibawanya sudah menghilang lama.

"bagaimanapun juga aku tetap merasa senang, aku tidak memiliki keturunan, Kau pun seorang yatim piatu. Walaupun kita berdua tidak pernah benar-benar dekat, namun aku sudah menganggapmu sebagai anakku sendiri..."

"Cu Taiya! Aku sangat tersentuh"

"Dihadapanmu aku tidak punya rahasia, aku juga tidak ingin menyimpan rahasia apapun....aku, Leng Souw-hiang, Hui Ci-hong, Tan Po-hai, dan masih ada Oey Souw, kami berlima pernah bekerja sama mencelakakan seseorang. Sekarang sudah tiba waktu pembalasannya."

"Cu Taiya! Anda....?"

"Dengarkan kata-kataku. Orang-orang per-silatan semuanya ganas dan kejam. Ini adalah keadaan yang sulit dihindari. Namun aku Cu Siau-thian punya sedikit...??, aku tidak ingin menggunakan kekuasaanku sebagai seorang pejabat untuk menghadapi orang itu ...? Sekarang ini aku pun merasa bahwa saat itu aku benar-benar sudah kelewatan. Huh! Kalau sekarang menyesal, apakah ada gunanya?"

"Cu Taiya, anda pasti terlalu banyak menebak yang bukanbukan. Mungkin saja...."

"Aku Cu Siau-thian sudah berkelana di dunia persilatan puluhan tahun, dan sekarang sudah menjadi orang. Aku harus berani mengakui kesalahan yang pernah aku perbuat. Pada waktu itu Tiat Liong-san..."

"Siapakah Tiat Liong-san?"

"Tiat Liong-san adalah seorang pemuda dari suku Han, ...? pada waktu itu aku juga seorang pemuda yang ceroboh. Dia selalu tidak akur denganku, akhir-nya dia menyingkir pergi ke kota. Lalu aku bekerja sama dengan Leng Souw-hiang untuk mencelakai dirinya."

"Kenapa pada waktu itu Tuan tidak mencabut permasalahan sampai ke akarnya?"

"Bukannya aku tidak ingin, aku hanya tidak menyangka Tiat Liong-san sudah mengatur semua dari awal. Sepertinya dia tahu bahwa dia tidak., dia lalu mencari aku dan orang-orang dari masa lalunya ...? semenjak saat itu, aku setiap hari selalu menunggunya. Menunggu keturunan Tiat Liong-san datang membalaskan dendam. Hemm.! Sepertinya waktu yang ditunggu akhirnya tiba"

"Bagaimana Tuan bisa sangat yakin tentang hal ini?"

"Lihatlah! barang apa ini?"

Cu Siau-thian mengeluarkan sebuah benda berwarna hitam dari sakunya.

"ini adalah sebuah Walet yang terbuat dari besi. Thiat-yan, seorang perempuan yang masih muda. Empat kejadian yang terjadi hari ini. pelaku semua ini pastilah anak perempuan dari Tiat Liong-san."

"Dari mana Tuan dapatkan barang ini?"

"Aku menemukannya tadi ketika sedang berbaring santai. Selain itu masih ada sebuah surat."

"Surat?"

Cu Siau-thian menyerahkan surat yang ditemukannya pada Tu Liong dan menyuruhnya membaca. Di atas surat hanya terlihat tulisan...

"Sepuluh tahun menunggu, hari ini akan diperhitungkan... barulah.. .membunuh..tersangka."

Tu Liong tidak berbicara apa-apa, dia juga tidak merasa perlu berbicara apa-apa.

Yang dikatakan oleh Cu Taiya tidak salah.

Sekarang sudah tiba saat pembalasan.

Cu Siau-thian duduk terdiam disana, dari raut wajahnya jelas terlihat kalau dia merasa putus asa, dia sudah berkelana di dunia persilatan selama puluhan tahun.

Dia sudah menemui banyak peristiwa pembunuhan yang kejam, dan tidak sedikit menjumpai para pelaku kejahatan.

Dalam ingatannya, dia tidak pernah menjumpai siapapun yang bisa menandingi kekejaman yang dilakukan oleh Thiat-yan.

Pembunuhan yang terjadi biasanya dilakukan karena luapan emosi yang tidak terbendung.

Namun nona muda ini akan membunuh untuk membalas dendam, keadaannya sangat sadar dan dengan kepala dingin.

Kalau hatinya tidak sedingin besi, gerak-geriknya tidak mungkin sekejam itu.

Dengan pertim-bangan ini, bukankah hal ini sudah menjadikan nona Thiat-yan sebagai seorang pembunuh yang menakut-kan?

Untuk menghadapi seorang musuh seperti ini, akal apakah yang akan dibuat oleh Cu Siau-thian?

"Cu Taiya!"

Setelah terdiam sangat lama, Tu Liong akhirnya bertanya padanya.

"apakah dia bisa datang dan pergi begitu mudah? dengan penjagaan yang sangat ketat, apakah kita tidak mampu menahan-nya?"

"Tu Liong, dia sudah memberikan peringatan. Tidak sembarang orang dapat menembus penjagaan dan memberikan peringatan seperti ini dengan mudah..."

"Dia bisa meninggalkan surat peringatan itu di sebelah bantalmu ketika sedang tidur. Mengapa dia tidak memanfaatkan kesempatan dan langsung membunuhmu? Apa lagi yang sedang dia tunggu?"

"Mungkin saja dia ingin agar aku merasakan bagaimana takutnya menjadi sasaran pembunuhan."

"Aku memiliki pandangan lain"

"Oh ya?"

Semangat Cu Siau-thian sedikit meningkat.

"Mungkin saja Thiat-yan sudah memanfaatkan orang yang ada didalam rumah. Tujuan meninggalkan surat ini adalah untuk menghancurkan semangatmu. Saat Tuan sudah tidak berdaya melawannya, dengan mudah dia akan turun tangan membunuhmu"

Mula-mula sinar mata Cu Siau-thian berkilau sangat terang.

Dia berharap mendengar kemungkinan yang masuk akal.

Namun mendengar teori ini, sinar matanya meredup kembali.

Terakhir dia menggeleng-gelengkan kepala dengan sepenuh hati dan berkata.

"Tidak mungkin."

"Jangan terlalu percaya diri!"

"Orang-orang yang mengabdi padaku adalah para pendekar yang sudah berjuang bersama-sama disisiku selama bertahuntahun. Mereka semua rela mati demi diriku. Mana mungkin diantaranya ada seorang pengkhianat?"

"Tuan jangan lupa kalau di dunia ini masih ada banyak barang-barang yang lebih menarik. Ketika barang-barang ini muncul didepan mata, kesetiaan dan nama baik pun bisa terlupakan"

"Barang apakah itu?"

"Harta dan kecantikan"

"Harta dan kecantikan?"

"Mungkin Tuan dahulu juga pernah ter-pengaruh oleh dua hal ini"

Cu Siau-thian tidak berkata apa-apa.

"Cu Taiya! Aku punya sebuah permintaan!"

"Katakanlah"

"Mulai dari sekarang, aku ingin meminta Tuan untuk tidak pergi diluar pemantauanku. Pertama-tama aku harus segera mencari pengkhianat ini. Aku akan menyingkirkannya. Lalu aku akan turun tangan memilih beberapa orang untuk membentuk penjagaan yang sangat kuat. Setelah aku tidak lagi memiliki kekhawatiran, aku akan keluar. Aku akan mencari Thiat-yan dan akan mengadilinya. Cu Siau-thian tertawa. Walaupun tawanya terlihat dipaksakan, namun tertawa adalah hal yang sulit didapatkan.

"Apakah Tuan berpikir bahwa aku tidak mampu melakukannya?"

"Aku tertawa karena aku senang memiliki seorang yang begitu setia di sampingku dan sedang mencoba membuatku tenang. Pada waktu yang sama, aku juga mentertawakanmu yang bodoh, karena dugaan dan teori yang kau kemukakan salah semua."

"Salah?"

"Tepat sekali, semuanya salah. Harta dan kecantikan memang dapat membuat seseorang mabuk kepayang. Namun hal itu tidak mungkin membuat orang yang ada disekelilingku lupa daratan. Hiasan Thiat-yan itu, surat itu, semua itu ditaruh di sisi bantalku oleh Thiat-yan. Dia memang memiliki kesempatan untuk langsung membunuhku namun kesempatan itu sengaja tidak dipergunakannya."

"Mengapa?"

"Karena dia masih mencari sebuah barang"

Sekarang topik pembicaraan beralih.

Tu Liong kemudian mulai mendaftar para pendekar yang bertugas menjaga rumah.

Cu Siau-thian mendengarkan dengan seksama.

Sebenarnya dia juga tidak sepenuhnya mempercayai mereka.

Bahkan sampai saat ini, ketika bicara dengan Tu Liong yang dipercayanya, dia tidak mau mengutarakan semua informasi yang diketahuinya.

Mungkin ini tidak sengaja dilakukannya, karena orang yang sudah berkecimpung di dunia persilatan terlalu lama, kebanyakan pasti akan membuat sebuah kebiasa-an untuk tidak percaya pada siapapun.

Tu Liong masih sangat polos, dia sama sekali tidak berpikir seperti ini.

Dia masih penasaran, dia terus mengajukan pertanyaan pada Cu Siau-thian.

"Sebenarnya Thiat-yan ingin mendapatkan barang apa?"

"Tu Liong, aku tidak mampu menjawab pertanyaanmu. Aku tidak tahu barang apa yang diinginkannya, atau Siapa yang memilikinya. Thiat-yan pasti menyangka kalau aku mengetahui semuanya, itulah alasan yang paling masuk akal mengapa aku masih hidup sampai sekarang."

"Berarti Tuan tidak punya petunjuk apa pun mengenai kasus ini. Kalau memang begitu mengapa Tuan bisa tahu selain untuk membalas dendam, Thiat-yan juga sedang mencari sebuah barang?"

"Aku tahu suatu saat kau pasti akan menanya-kan hal ini........dengan kesempatan ini, aku ingin memberitahu pandanganku. Di dunia persilatan tidak mungkin terdapat rahasia. Selalu ada kemungkinan, berita sekecil apapun bisa terdengar oleh orang lain sampai ribuan Li jauhnya. Bagaimana ini terjadi? Karena para pendekar di dunia persilatan selalu berkelana ke tempat-tempat yang jauh. Selain itu hubungan antar manusia pun dijaga dengan baik. Kalau menuruti hati nurani, sesama teman akan selalu menjaga rahasia mereka dari musuh. Namun orang itu mungkin tidak tahu bahwa temannya yang dipercaya itu juga adalah musuhnya. Kau mengerti?"

"Aku mengerti, Thiat-yan mungkin menga-takan hal ini pada orang lain, namun akhirnya Tuan mendengar tentang berita ini dari gosip yang beredar."

"Betul."

Pada wajah Cu Siau-thian terbersit rasa senang yang dalam.

"kau benar benar sangat pintar, kau dapat mengerti banyak masalah dengan cepat. Akutidak akan menghabiskan banyak tenaga untuk menjelaskan padamu"

"Semenjak aku masih kecil, aku sudah meninggalkan kampung halamanku. Tentang adat istiadat di tempat yang baru, aku sama sekali tidak mengerti, dalam pembuluh darahku mengalir darah bangsa Mongolia, namun aku merasa bahwa diriku tidak berbeda dengan bangsa Han. Aku juga sangat menyukai festival yang diadakan tahunan disini. Yang paling aku sukai adalah perayaan festival Goan-siau. Cu Taiya! Apakah Tuan tahu mengapa aku menyukainya?"

"Karena kau sangat menyukai teka-teki"

"Betul! Cu Taiya sangat mengerti aku. Aku sangat menyukai teka-teki semakin rumit teka-teki dan semakin sulit dipecahkan, aku semakin bersemangat. Jika sedang berusaha memecahkannya, aku bahkan tidak ingat makan dan tidur. Sekarang ini didepanku sudah ada satu teka teki."

"Sedangkan solusi teka-tekinya ada dalam diri Thiat-yan"

"Kata kata anda ini kurang tepat, mungkin juga Thiat-yan sedang memikirkan cara untuk menebak teka teki yang sama. Kalau dia sudah memiliki jawabannya, situasinya mungkin tidak akan seperti ini."

"Betul, mungkin juga Thiat-yan tidak dapat memecahkan teka teki ini ...."

Cu Siau-thian lalu mengajukan pertanyaan dengan hati-hati.

"apakah kau berencana untuk memecahkan misteri ini?"

"Jika Tuan mengijinkan, aku ingin mencoba menebaknya."

"Aku tidak mengijinkanmu"

Jawab Cu Siau-thian singkat Walaupun merasa berat hati, Tu Liong menatap majikannya, setelah terdiam beberapa lama, dia lalu bertanya.

"Tuan... tuan tidak mengijinkan?"

"Betul. Aku tidak mengijinkanmu"

"Mengapa?"

"Kesatu, teka-teki tingkat tinggi pasti memiliki banyak jebakan. Ini akan menuntunmu berjalan ke tempat yang salah. Mungkin kau akan merasa gembira karena merasa sudah menemukan pintu masuk pemecahan teka teki, dan kau akan berusaha sekuat tenaga untuk mendalaminya. Akhirnya semakin kau berusaha, kau akan terlibat semakin jauh. Terakhir kau akan terjebak di dalamnya. Hanya beda sedikit saja kau mungkin akan merasa bahwa jawaban teka-teki sudah ada dalam genggamanmu. Sebenarnya itu adalah pemecahan yang salah, jawaban dari teka teki yang sebenarnya mungkin jauh berbeda dari jawabanmu."

"Aku mengerti...."

"Tu Liong, kau mungkin masih belum mengerti. Kalau kau sedang bermain tebak kata dan membuat kesalahan, kau dapat mengulang menebak-nya lagi, kalau salah, kau hanya membuang waktu dan tenaga. Namun misteri yang sekarang ada didepan matamu bukanlah sebuah tebakan seperti itu, kau hanya memiliki satu kesempatan menebak saja. Sekali salah tebak, kau tidak mungkin bisa mengulang lagi. Apakah kau tahu konsekuensinya kalau salah tebak?"

Setelah Cu Siau-thian berkata sampai disini, tiba-tiba saja dia menggunakan seluruh emosinya untuk menjawab garang.

"Kau akan MATI!"

Tekanan suara, tatapan matanya, semuanya pasti sudah lebih dari cukup untuk membuat Tu Liong takut, namun diluar dugaan, Tu Liong hanya tertawa.

"Kenapa kau tertawa?"

Ternyata yang terkejut malah Cu Siau-thian.

"Apakah kau pikir aku sedang bercanda? Apakah kau pikir aku sedang menakut-nakutimu untuk mencoba nyalimu?"

"Aku mengerti setiap kata yang sudah Tuan ucapkan, aku juga mengerti apa maksud Tuan mengatakannya. Aku tertawa karena hal itu malah membuatku merasa semakin bersemangat. Siapa yang bisa bermain kucing-kucingan dengan dewa kematian?"

Dalam sekejap, raut wajah Cu Siau-thian berubah-rubah tidak menentu.

Sangat sulit diduga bagaimana perasaannya, dia sangat senang memiliki anak buah yang demikian tangguh.

Namun dia juga mengkhawatirkan anak buah tangguh yang sangat pemberani ini.

Tidak bisa disangkal, dia memiliki perasaan sayang yang dalam terhadap Tu Liong.

"Tu Liong! sewaktu kau kecil, apakah kau pernah bermain kucing-kucingan?"

"Ya, aku pernah"

"Dalam permainan ini, sambil menghindari musuh, kau pun harus mencoba menangkapnya. Namun permainan sekarang ini kau bermain dengan dewa kematian, tidak sama seperti kau waktu kecil, kau hanya bisa menghindari dia....Tu Liong! Kau masih sangat muda, jalan yang membentang dihadapan mu masih sangat panjang.... kau harus melahirkan anak, mengurus cucu..."

"Tuan sudah merawatku sampai aku besar, tuan pun sudah melatihku ilmu silat, bagaimana aku bisa membalas budi besar ini? Aku sudah mem-bulatkan tekatku. Namun demi menghormati dirimu, aku tetap mohon mengijinkanku."

"Apakah kau benar-benar sudah membulatkan tekatmu?"

"Tuan tentu tahu, aku bukanlah orang yang mudah berubah pikiran. Aku tidak akan mengganti keputusanku begitu saja"

"Baiklah!"

Cu Siau-thian menggangguk-angguk kan kepala dengan sangat terpaksa. Setelah itu dia berkata lagi.

"tapi kau harus menepati sebuah janji, kau sangat senang memecahkan teka teki, Silahkan kau menebak sesuka hatimu. Aku hanya tidak ingin kau bertanya tentang apapun padaku. Apa kau dapat meluluskan permintaanku?"

"Baiklah!"

Tu Liong menyetujuinya.

"aku tidak akan menanyakan apapun"

Tu Liong segera bekerja dan menyusun siasat untuk bersiap, walaupun Cu Siau-thian merasa bahwa semua anak buahnya dapat dipercaya, Tu Liong tetap saja memilih para pendekar yang akan dipakainya.

Dia sangat mengutamakan kesetiaan, ketinggian ilmu silat tidak terlalu penting.

Terakhir, diantara semua pendekar tangguh tersebut, dia memilih sekitar dua puluh nama.

Kedua puluh nama ini dibagi lagi menjadi tiga kelompok.

Satu kelompok untuk berjaga jaga, kelompok berikutnya beristirahat, yang terakhir sebagai cadangan untuk menolong jika terjadi peristiwa yang tidak diinginkan.

Kecuali keempat orang pende-kar dalam kelompok ini semuanya ingin memberontak, sepertinya pengaturan ini tidak akan menimbulkan masalah.

Setelah selesai menyusun rencana, Tu Liong segera mengendarai kuda putihnya pergi ke empat blok rumah bertingkat didalam sepuluh gang kecil.

Tujuan pertamanya menemui Wie Kie-hong.

Melihat Tu Liong kembali datang kembali, Wie Kie-hong segera menyadari, tentu ada urusan penting.

Dia cepat-cepat menyambut Tu Liong dan membawa-nya ke dalam kamar tidurnya.

Mereka mulai bercakap-cakap.

"Kie-hong... apakah kau ingat pada Gu Thian-beng? ketika suatu malam kau pernah mengajakku berburu babi hutan. Alangkah baiknya jika kita mendapat kesempatan keluar dari sini dan pergi ke atas Tiang-pek-san, bersenang-senang berburu disana. Bagaimana menurutmu?"

"Tu Toako, kita hanya bisa membicarakan saja."

Kata Wie Kie-hong sedikit murung.

"kita berdua sama-sama tahu, kita tidak mungkin mendapatkan kesempatan itu lagi"

"Sebenarnya aku ingin mengajakmu pergi berburu sekarang"

"Sekarang?"

Wie Kie-hong terlihat sangat kaget.

"apakah kau sedang bergurau?"

"Aku tidak bergurau, aku serius mengajakmu"

"Mana mungkin kita bisa melakukan hal ini? sekarang...."

"Kie-hong, aku tidak memintamu untuk pergi jauh. Tempat perburuannya ada di dalam kota Pakhia ini. Sasaran buruannya tidak lain perempuan muda yang dipanggil Thiatyan. Kalau berhasil, perburuan kali ini pasti sangat memuaskan"

Wie Kie-hong hanya bisa terbengong-bengong melihat ke arahnya.

Sepatah katapun tidak diucapkannya.

Dalam hatinya dia pasti sedang berpikir, mengapa Tu Toakonya bisa memiliki pikiran seperti itu sementara dia sama sekali tidak memikirkannya.

"Apakah kau tidak punya nyali menerima tantangan ini? "Seharusnya kau tahu, aku bukanlah seorang pengecut. Lagipula aku juga ingin menangkap Thiat-yan dan memberinya pelajaran. Namun aku tidak mengerti. Mengapa Tu Toako bisa berpikir mengguna-kan perumpamaan berburu babi hutan?"

"Kau jangan menanyakan dulu maksudku. Sebelum aku menjelaskan semuanya, kau harus menjawab dulu pertanyaanku. Apakah kau bersedia ikut perburuan yang mendebarkan hati ini?"

"Aku pasti ikut!"

Wie Kie-hong cepat-cepat menjawab. Namun setelah itu dia masih menam-bahkan.

"tapi sebelumnya aku harus bertanya dahulu pada ayah angkat, aku harus meminta persetujuannya dahulu...."

"Kie-hong...! Leng Taiya sedang mendapat trauma yang parah dan shock yang berat. Apakah kau tega menceritakan urusan ini padanya? Kau sekarang sudah menjadi seorang pria dewasa. Laki-laki dewasa harus berani bertanggung jawab atas keputusan yang dibuatnya..."

"Baiklah!"

Akhirnya Wie Kie-hong berkata.

"aku tidak akan minta persetujuannya, aku ikut!"

"Janji?"

"Janji!"

"Tidak akan menyesal?"

"Mengapa kau bertanya seperti ini?"

"Perburuan babi hutan kali ini bukanlah perburuan babi hutan biasa. Oleh karena itu sebelumnya aku harus membuat aturan mainnya, diantara kita berdua, tidak masalah siapa yang lebih tua, tidak masalah siapa yang lebih hebat ilmu silatnya, kita berdua harus membuat sebuah keputusan. Menurutmu siapakah yang akan menjadi pemimpin?"

"Tentu saja kau yang memimpin"

"Kalau begitu kau akan selalu mendengar semua kata-kata dan perintahku?"

"Tentu saja!"

Wie Kie-hong mulai merasa sedikit tidak sabar.

"Baiklah, sekarang aku akan menceritakan semuanya padamu...."

Selanjutnya Tu Liong menceritakan kembali apa yang sudah terucap dari mulut Cu Siau-thian pada Wie Kie-hong. Terakhir dia berkata.

"Sekarang, kita berdua harus mencari tahu barang apakah yang sedang dicari oleh Thiat-yan? Barang itu berada dimana? Siapa yang meme-gangnya?"

Wie Kie-hong tidak berani berkata apa apa, karena tiba-tiba saja dia teringat janjinya pada ayah angkat.

"Kie-hong, ketika aku datang tadi, kau sedang tidak berada dirumah"

"Aku sedang pergi keluar"

"Leng Taiya sudah mendapat musibah dan trauma berat, seluruh pemerintahan pun dibuat kacau. Kalau bukan urusan yang benar benar sangat penting, kau tidak mungkin pergi meninggalkan rumah. Betul tidak?"

Wie Kie-hong tahu kalau rahasia ini tidak dapat terus disembunyikan, Akhirnya dia memutuskan sekaligus menceritakan semuanya.

Tu Liong sebenarnya berpikir kalau dia harus bekerja keras membujuk Wie Kie-hong untuk bercerita.

Tidak disangka dia sudah berhasil mencapai tujuannya dengan sangat mudah.

Dengan pertimbangan seperti ini, sepertinya Wie Kie-hong mau bekerja sama dan membantunya memecahkan teka-teki ini.

"Baiklah. Sekarang kita berdua sudah dapat membuat sebuah kesimpulan awal. Barang yang dicari oleh Thiat-yan adalah sebuah koper kecil."

"Mungkin juga"

Wie Kie-hong tidak berani memastikan.

"Koper kecil ini dititipkan oleh Leng Taiya pada orang yang bernama Bu Tiat-cui. Sekarang Bu Tiat-cui sudah dibunuh, koper itu juga sudah hilang, tetapi koper itu belum jatuh kedalam tangan Thiat-yan."

"Mengapa demikian?"

"Kalau dia sudah berhasil mendapatkan koper itu, dia tidak perlu memberikan surat peringatan untukmu"

"Surat peringatan itu sudah disiapkan olehnya jauh sebelum kejadian"

"Tidak salah. Surat itu sudah dipersiapkan sebelum kejadian. Mungkin juga ada beberapa surat peringatan yang serupa. Semuanya itu digunakan untuk memperingatkan orang-orang yang tidak ingin dilukainya, yang tidak mau menyingkir walau sudah merintangi jalannya. Kalau dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan, surat peringatan itu sama sekali tidak berguna. Betul tidak?"

"Orang suruhannya seharusnya bertanya padaku. Apa yang sedang aku lakukan di tempat Bu Tiat-cui? Atau setidaknya mencuri dengar"

"Mereka sama sekali tidak bertanya sepatah katapun. Betul tidak?"

"Betul"

"Mereka tidak perlu bertanya, karena Thiat-yan sudah tahu barang apa yang ingin dicarinya. Terlebih lagi dia pasti sudah tahu bahwa kau tidak memiliki barang tersebut. Kalau begini kita berdua bisa membuat sebuah kesimpulan yang lain. Bu Tiat-cui tidak dibunuh oleh Thiat-yan."

"Ada pembunuh lainnya?"

"Kie-hong, perburuan babi hutan kita semakin lama menjadi semakin rumit. Sebelumnya kita berdua hanya mengincar sebuah target, tidak disangka sekarang sudah muncul target kedua."

Tu Liong menceritakan semua kesimpulannya dengan sangat berapi api ketika tiba-tiba saja terdengar suara pintu kamar diketuk-ketuk dari luar.

Wie Kie-hong benar-benar sangat terkejut.

Biasanya jika dia sedang menerima tamu dan bercakap-cakap dalam kamar, orang-orang di dalam rumah tidak ada yang berani datang mengganggunya.

"Siapa?"

"Wie Siauya, ini aku"

Ternyata yang sedang mengetuk pintu adalah Su-cie. Wie Kie-hong membuka pintu, dia berkata padanya dengan sedikit emosi.

"Pengurus Su, apakah kau tidak tahu, aku sedang menerima tamu?"

"Aku tahu, tapi...."

Sebenarnya Wie Kie-hong sudah tahu apa yang ingin dikatakan Su-cie hanya dengan melihat raut mukanya. Dia cepat-cepat berkata.

"Untung saja Tu Toako bukan orang luar, kalau ada urusan, cepat katakanlah"

"Rumah keluarga Hui sudah mengutus seseorang datang untuk mengabarkan berita duka."

"Rumah keluarga Hui?"

Wie Kie-hong lang-sung merasa terkejut. Tu Liong juga merasa terkejut, namun dia tetap mempertahankan tata-kramanya sebagai seorang tamu. Dia tidak ikut campur mulut.

"Betul sekali. Hui Taiya sudah meninggal dunia, aku tidak tahu apa aku harus melaporkan hal ini pada Leng Taiya, oleh karena itu aku menghadap Wie Siauya untuk membantu membuat keputusan"

"Pengurus Su, Leng Taiya sudah menutup pintu, beristirahat merawat lukanya. Selain dirinya masih ada anak Leng Taiya, Toa-kongcu, dan Ji-kongcu mereka berdua bisa mengurus perkara ini. Aku sama sekali tidak memiliki wewenang membuat keputusan.

"Tadi sebelum Leng Taiya menutup pintu, beristirahat, dia sudah menitipkan pesan padaku. Urusan apapun baik besar ataupun kecil, aku harus melapor pada Wie Siauya untuk membuat keputusan"

"Tu Toako, seseorang yang sudah dicongkel kedua belah matanya, apakah mungkin luka itu bisa membuatnya meninggal?"

"Seharusnya tidak mungkin, namun karena umur Hui Taiya yang sudah sangat tua dan sedang stress berat, jadi sepertinya sulit dipastikan."

"Pengurus Su, apakah orang yang datang membawakan berita duka itu tidak menceritakan apa yang sudah menjadi penyebab kematiannya?"

"Tidak. Namun aku telah mendengar kabar burung yang beredar di kalangan masyarakat sekitar, katanya Hui Taiya mati karena gantung diri"

Tu Liong dan Wie Kie-hong cepat-cepat saling bertukar pandang.

Didalam pandangan mereka berdua terlukiskan sebuah tanda tanya besar.

Hui Ci-hong mati gantung diri.

apakah dikarenakan dia tidak kuasa menahan derita lukanya?

Ataukah dia tidak sanggup melarikan diri dari rasa takut?

Ataukah karena dia merasa malu menemui teman-temannya?

"Pengurus Su"

Dengan sangat cepat Wie Kie-hong membuat sebuah keputusan.

"hubungan kerabat antara Hui Taiya dengan Leng Taiya sangat dekat. Seharusnya berita ini segera dikabarkan padanya. Namun sekarang situasinya sangat berbeda. Sebaiknya kita tidak menambah rasa kaget yang sudah didapat-nya. untuk sementara waktu berita ini sebaiknya ditutupi, mengenai upacara melayat, kita lakukan sesuai dengan peraturan"

"Baiklah. Aku akan melaksanakan keputusan yang sudah diberikan Wie Siauya."

Su-cie mundur keluar, sekaligus menutup pintu kamar.

"Tu Toako, kelima Taiya semuanya menyim-pan sebuah rahasia dalam hati masing-masing, rahasia yang tidak dapat diceritakan pada siapapun juga."

"Betul. Namun kita juga tidak bisa bertanya"

"Kita harus menebaknya. Kita harus memcoba menduga. Tu Toako, menebak sebuah misteri adalah keahlianmu. Menurutmu, apa yang harus kita perbuat?"

"Yang paling sulit dalam memecahkan sebuah misteri adalah memutuskan harus mulai dari mana. Namun aku sudah membuat keputusan tentang apa yang harus kita lakukan. Pertama-tama, kita harus mencari jejak Thiat-yan. Dia adalah orang yang sangat aktif, lagipula dia memiliki banyak kaki tangan. Tidak mungkin dia datang dengan tiba-tiba dan pergi tanpa jejak. Sedikit banyak dia pasti meninggalkan bekas"

"Betul! Kalau begitu aku akan mengurus masalah yang satu ini."

"Tidak. Aku yang akan mengurusnya, aku punya tugas lain untukmu"

"Oh..? Tugas apa?"

Tu Liong mulai merendahkan nada suaranya dan berbicara pelan-pelan. Wie Kie-hong harus mengerahkan tenaga dalamnya untuk mendengar kata-katanya.

"Apakah kau mengingatnya?"

"Sudah ingat... hanya saja..."

Kie-hong, kau hanya perlu melakukan apa yang sudah kuperintahkan padamu. Kau tidak usah banyak bertanya. Ingat semua harus mendengar kata-kataku."

Wie Kie-hong sangat mengagumi Tu Liong.

Tidak saja dia sangat berani, Tu Liong juga memiliki banyak siasat.

Kebanyakan pendekar yang berilmu silat tinggi memiliki otak yang sangat sederhana.

Namun Tu Liong tidak saja mahir silat, namun dia juga sangat cerdas.

Siapapun yang mengenalnya pasti akan salut.

Tu Liong mohon pamit dan segera pergi.

Wie Kie-hong kembali masuk kedalam untuk mem-bereskan sedikit urusan, setelah itu dia pun berlari keluar.

Thiat-yan sudah memotong sebelah tangan Leng Taiya, katanya ini adalah ganjaran setimpal yang pantas diterimanya atas perbuatannya di masa lalu.

--Wie Kie-hong sangat menyukai perumpamaan yang dipakai oleh Tu Liong.

Pada awalnya mereka berdua berencana berburu babi hutan.

Namun tiba-tiba saja di daerah perburuan muncul seekor rusa.

Ini tentu saja akan membuat pemburu manapun merasa gembira.

Sekarang ini mereka berdua berbagi tugas melacak jejak buruan, namun Wie Kie-hong merasa sedikit ragu.

Waktu sedang mengejar rusa, mungkin saja secara tidak sengaja mereka akan membuat kaget babi hutan.

Dibandingkan bekerja sama memburu satu target, pasti tidak akan lebih baik daripada membagi tugas dan mengejar buruan masing masing........Wie Kie-hong bermaksud hendak mengungkapkan apa yang sudah dipikirkannya, namun Tu Liong memintanya untuk tidak mengata kan apa pun.

Oleh karena itu Wie Kie-hong terpaksa menyimpan semuanya dalam hati.

Wie Kie-hong kembali menyewa kereta kuda untuk pergi ke gang San-poa.

Tiga buah pekarangan milik Bu Tiat-cui sangat sunyi.

Sepertinya setelah dia mati, tempatnya tidak ada orang yang kembali mengunjunginya.

Dia segera berjalan melalui pekarangan dan masuk melewati pintu utama.

Dia masuk ke dalam aula rumah, tepat pada saat ini, tiba-tiba terdengar suara batuk-batuk dari ruang pinggir.

Wie Kie-hong sangat terkejut.

Setelah suara batuknya berhenti, menyusul terdengar suara seseorang menyapa.

"Tamu yang terhormat, silahkan masuk"

Walaupun Wie Kie-hong adalah seorang pendekar yang mahir ilmu silat, namun dia tidak menyukai kekerasan.

Dia tidak pernah membiasakan diri pergi keluar rumah dengan membawa senjata tajam.

Namun sekarang ini situasinya sangat berbeda.

Dia mengeluarkan sebilah pedang pendek dari dalam tas yang dibawanya.

Pedang pendek ini panjangnya tidak lebih dari setengah meter.

Walaupun sangat pendek, namun pedang ini tetap memiliki sebuah kegunaan dalam menghadapi musuh.

"Silahkan masuk, tamu yang ada diruang sebelah kiri...."

Orang yang ada didalam kembali menyapanya, jelas dia sedang berbicara pada dirinya.

Wie Kie-hong membulatkan tekad, dia menyibakkan tirai penutup pintu penghubung kedua ruangan.

Setelah itu dia masuk ke ruang samping yang ada disebelah kanan.

Sebelumnya sesosok mayat sudah terbujur kaku di atas meja besar yang ada didalam.

Sekarang di tempat yang sama duduk seorang yang masih hidup dan sehat.

Orang ini berumur sekitar empat puluh tahun, dia memelihara jenggot mirip kambing.

Kedua pasang matanya bersinar penuh semangat.

Dia melambaikan tangannya sambil berkata.

"Apakah anda ingin diramal? Apakah anda ingin menebak karakter dari raut muka? Apakah anda ingin menanyakan nasib yang sedang berjalan? Silahkan duduk disebelah sini."

Dalam sekejap saja Wie Kie-hong mencoba membandingkan dua buah kejadian yang sebelumnya sudah dilihatnya.

Mayat yang dilihatnya kemarin tidak memiliki janggut, dan lagi tubuhnya pun sangat gemuk.

Selain itu ruangannya sangat berantakan.

Sekarang ruangannya sudah tertata sangat rapi.

Sebelumnya dia melihat kuas untuk menulis sudah tergeletak dilantai, namun sekarang kuas tersebut sudah ditaruh dengan rapi di atas lemari buku.

Ternyata di lantai pun tidak terlihat bekas tinta yang tercecer.

Wie Kie-hong bingung.

Apakah tadi dia sudah salah masuk ruangan?

Ataukah ruang yang berantakan yang dilihatnya sebelumnya hanya khayalan dirinya saja?

Wie Kie-hong lalu duduk dihadapan pria setengah baya dan lalu menyapanya.

"Tuan adalah...."

"Namaku Bu Tiat-cui, apakah anda tidak melihat spanduk nama yang sudah kupasang di pintu masuk? Apakah anda ingin diramal?"

Apabila orang ini benar-benar Bu Tiat-cui, kalau begitu mayat yang sudah dilihatnya sebelumnya pastilah bukan dirinya.

Tentu saja ada kemungkinan orang ini adalah Bu Tiatcui gadungan.

Namun kemungkinan ini sangat kecil, ini adalah tindakan nekat, orang yang mengenalnya pasti langsung akan mengetahui kalau Bu Tiat-cui adalah Bu Tiat-cui gadungan.

"Apakah tuan Bu tinggal disini?"

"Betul"

"Sebetulnya tadi pagi aku sudah datang kemari, namun tidak menjumpai tuan Bu"

"Oh, aku selalu bangun pagi pagi, dan pergi keluar untuk berjalan-jalan. Sekali aku pergi berjalan-jalan, aku selalu menghabiskan waktu dua sampai tiga jam. Mohon maaf anda sudah repot datang kemari tanpa menemuiku."

Sekarang Wie Kie-hong baru menyadari bahwa atap ruangan itu bergambar seekor naga.

Sewaktu dia memasuki ruangan ini sebelumnya, dia tidak memperhatikannya.

Pada waktu Bu Tiat-cui sedang pergi keluar untuk berjalanjalan ........sebelum dia kembali ke dalam ruangan........pastilah ada orang lain yang datang membersihkan ruangan sampai rapi.

Bu Tiat-cui pasti tidak akan tahu apa yang sudah terjadi di dalam ruangan ini sebelumnya.

Apakah ini mungkin?

Wie Kie-hong bertanya dalam hatinya, walaupun kemungkinannya sangat besar, namun mengapa pelaku kejahatan harus memilih ruang yang dihuni oleh Bu Tiat-cui untuk membunuh orang lain?"

"Tamu yang terhormat! Apakah anda ingin diramal?"

Wie Kie-hong tidak menjawab pertanyaan yang sudah diajukan padanya.

Dalam benaknya, dia sedang memikirkan jawaban dari pertanyaan yang lain....

namun sebelumnya dia harus memastikan apakah orang yang ada didepannya ini adalah Bu Tiat-cui yang asli.

Cara membuktikannya hanya ada satu.

Dia segera mengeluarkan ornamen yang terbuat dari giok yang sudah diberikan oleh Leng Souw-hiang padanya.

Dia lalu menaruh ornamen tersebut diatas meja.

Kalau orang ini benar-benar Bu Tiat-cui yang asli, dia seharusnya sudah tahu apa arti ornamen tersebut.

Sekarang sepasang mata peramal tersebut sudah terpaku pada ornamen giok yang ada didepan-nya.

Setelah itu dia mengambil ornamen giok dengan penuh rasa hormat, menutup matanya dan menghela nafas.

Terakhir dia menyimpan ornamen giok itu kedalam saku bajunya dengan sangat hati hati.

Wie Kie-hong terus meneliti gerak-gerik orang yang ada dihadapannya.

Sekarang sepertinya dia bisa mendapat kepastian bahwa peramal yang sedang duduk didepan-nya adalah Bu Tiat-cui yang asli.

"Apakah kau datang dari tempat yang jauh?"

Tiba tiba saja peramal ini bertanya.

"Tidak terlalu jauh"

Jawab Wie Kie-hong.

"Anda tinggal di kediaman keluarga yang mana?"

"Untuk apa bertanya tentang hal ini?"

"Bukankah anda datang kemari untuk mengambil sebuah barang? Anda tidak perlu menunggu disini. Silahkan tinggalkan alamat rumah anda. Nanti aku akan mengantarkan barang itu langsung ke tempat anda"

Setelah melihat ornamen giok, peramal ini sepertinya langsung percaya dan memberikan barang yang diminta.

Dia tidak mengetahui siapa yang saat ini sedang memegang koper yang harus dibawanya, juga tidak mengetahui siapa yang akan membawanya, dia hanya mewakilkan permintaan temannya saja.

Kalau begitu peramal ini pastilah tidak akan tahu barang apa yang ada didalam koper.

Kesimpulan ini dibuat oleh Wie Kie-hong dengan cepat.

"Mengapa tidak kau berikan sekarang?"

"Karena barang itu tidak disimpan disini. Aku tidak memiliki sanak keluarga, dan aku punya kebiasaan untuk berjalan pagipagi sekali. Tidak aman menyimpannya disini"

"Apakah barang bukti yang tadi kuserahkan padamu itu sudah betul?"

"Betul"

"Kalau begitu, aku harus memastikan dulu apakah barang yang akan kudapat itu barang yang tepat, barang apa yang akan kau berikan padaku?"

"Sebuah koper kecil"

Peramal itu masih menam bahkan penjelasan ...

"koper ini terbuat dari kulit kerbau berwarna kuning. Diatasnya masih ditambah-kan kunci unik yang dibuat oleh orang luar negri. Barang ini adalah barang yang sangat istimewa. Barang ini keluaran Tian Jin dengan merk Hardman. Menurut kabar, kopornya saja sudah bernilai seratus uang kertas orang asing"

"Apa kau menyimpan barang ini di temanmu?"

"Betul"

"Apakah dia bisa dipercaya?"

"Mmm!"

Peramal itu berpikir sebentar lalu katanya lagi.

"orang yang masih hidup di bumi, tidak dapat dipungkiri pasti akan memiliki beberapa orang teman, meski memiliki teman, sebatang jarum dan seutas benang pun tidak dapat langsung minta tolong dijagakan oleh mereka. Ada sebagian teman yang dapat dipercaya mewakilkanku untuk menjaga barang tersebut, harap tenang saja. Temanku ini benar benar dapat diandalkan."

"Kalau begitu, apakah aku bisa mengambil koper ini dari temanmu sekarang juga? Aku sudah menyerahkan ornamen giok sebagai bukti kalau aku adalah orang yang tepat, aku tidak mungkin pulang kerumah dengan tangan hampa.

"Apakah kau tidak mempercayaiku?"

"Bukan., bukan begitu... bukan itu maksudku."

Wie Kiehong menjelaskan.

"pemilik koper dapat menyimpan koper itu disini, dia tentu saja sangat mempercayai dirimu. Dia sudah mempercayaimu, mana mungkin aku tidak mempercayaimu?"

"Kalau begitu, silahkan anda pulang ke tempat tinggal anda dan menunggu disana. kira kira tengah hari besok, aku pasti akan membawa-kan koper itu ketempat tinggalmu."

"Tuan Bu, aku memanggilmu seperti ini, apakah panggilanku tepat?"

"Margaku memang Bu"

"Sewaktu aku masuk tadi aku sudah mengatakan, kalau tadi pagi aku sudah datang kemari"

"Anda sudah datang sia-sia, aku benar benar ingin meminta maaf."

"Bukan itu maksudku ........yang ingin kukatakan adalah sewaktu aku datang tadi, aku menemukan sebuah kejadian aneh. Berita ini sangat mengejutkan. Aku tidak tahu apakah tuan Bu juga sudah mendengarnya?"

Selain sinar matanya yang sedikit terlihat berkilau sewaktu melihat ornamen dari giok, Bu Tiat-cui terus duduk diam.

Emosinya tidak tergugah sedikitpun.

Dia tetap tidak terlihat kaget, dia hanya bertanya dengan nada datar "apakah maksud perkataanmu, kejadian itu terjadi didalam ruanganku ini?"

Wie Kie-hong menjawab singkat "Betul"

"Apa yang tadi kau lihat?"

"Seseorang duduk ditempat dimana kau sedang duduk sekarang. Sebatang jarum panjang sudah tertancap diantara kedua alisnya. Jarum itu panjangnya sekitar tiga atau empat puluh centimeter. sewaktu aku menemukannya dia sudah mati"

"Oya?"

Sekarang Bu Tiat-cui mulai tampak terkejut.

"Ruangan ini tadi berantakan, jelas terlihat kalau seseorang telah mencari sesuatu"

"Apakah kau sangat yakin kau tadi tidak salah masuk ruangan?"

"Yakin! Aku masih mengingatnya dengan sangat jelas. Pada waktu aku meninggalkan tempat ini, seseorang mencegat ku di pekarangan luar. Orang itu memberiku sepucuk surat peringatan, agar aku tidak ikut campur urusan ini."

"Tapi sewaktu aku pulang jalan-jalan, disini tidak ada yang berubah...."

Wie Kie-hong menunjuk ke kuas yang tersimpan di atas rak buku dan berkata.

"Tuan Bu, apakah aku boleh melihat kuas yang anda pakai untuk menulis?"

"Silahkan!"

Wie Kie-hong mengambil kuas dari atas lemari.

Dia lalu membuka tutup kuas.

Tiba-tiba saja dia memekik girang.

Ternyata ujung kuas masih basah oleh tinta.

Bahkan di ujung kuas masih terlihat debu lantai yang menempel.

"Sebelum kau kembali ke dalam kamar ini, mereka sudah membereskan tempat ini sampai rapi. Silahkan lihat, kuas yang biasa kau pakai ini bahkan masih basah oleh tinta."

Bu Tiat-cui dari awal terus curiga semua yang sudah dikatakan oleh Wie Kie-hong. Namun sekarang sepertinya dia sudah percaya.

"Setiap malam aku selalu mencuci kuas itu sampai bersih. Hari ini aku belum sempat mengguna-kan kuas untuk menulis, namun ternyata....yang kau katakan tidak salah. Ternyata memang benar ada seseorang yang sudah masuk kedalam kamarku ini. katamu tadi mereka masuk kemari dan membunuh seseorang?"

"Betul sekali! Sebenarnya aku mengira orang yang sudah dibunuh itu adalah dirimu, dan dirimu adalah seorang Bu Tiatcui palsu. Namun setelah aku mengeluarkan ornamen giok aku baru menyadari kalau kau bukanlah Bu Tiat-cui palsu. Orang lain seharusnya tidak tahu hal ini."

"Betul sekali. Orang lain tidak mungkin tahu"

"Dari tadi tuan Bu sama sekali belum menanyakan namaku...."

"Dahulu aku pernah membuat janji, tidak perduli, siapapun yang akan datang menagih koper kecil itu, aku tidak akan bertanya apapun juga. Ini adalah janji."

"Tuan Bu, marilah kita berdua pergi mengambil koper itu. mungkin juga sementara waktu kau harus berusaha menghindar, jika si pembunuh itu mempunyai niat yang tidak baik, mungkin dia akan turun tangan membunuhmu untuk menutup mulut."

Bu Tiat-cui tidak mengatakan apa-apa lagi, Mendadak dia melompat berdiri, lalu menengok ke kiri dan kanan melihat seisi kamarnya dengan gugup seolah-olah mencari sesuatu yang tidak terlihat.

Terakhir dia membuka laci meja, dari sebuah pojok yang sangat rahasia, dia mengeluarkan dompet.

Di dalam dompet itu terdapat sejumlah uang kertas asing.

"Marilah kita berangkat"

Wie Kie-hong melihat semua ini, sepertinya Bu Tiat-cui merasa ketakutan sekali, mereka berdua segera pergi meninggalkan ruang pinggir Ketika keluar dari aula rumah dan memasuki pekarangan, tiba-tiba mereka melihat pintu besar terbuka lebar dengan cepat.

Wie Kie-hong menarik Bu Tiat-cui dengan tangan kanannya.

Bu Tiat-cui dengan cepat terlempar ke pinggir untuk menghindari serangan.

Namun diluar pintu tidak terlihat siapapun.

"Apa yang terjadi?"

Tanya Bu Tiat-cui pelan.

"Ada seseorang diluar pintu besar itu"

"Kalau begitu, apakah kita berdua sudah terlambat?"

"Jangan takut, kau sembunyi dulu di belakang pintu. Apapun yang terjadi nanti, kau jangan sampai keluar. Apa mengerti?"

Kedua kaki Bu Tiat-cui gemetar hebat.

Tampak dia langsung mengerjakan apa yang dikatakannya, segera bersembunyi di belakang pintu.

Wie Kie-hong terus berdiri dengan gagah didepan pintu masuk.

Sunyi senyap selama beberapa lama.

Dari luar pintu masuk terlihat seseorang.

Dia datang seorang diri.

Wie Kiehong mengenali orang ini, orang yang tempo hari sudah memberinya surat peringatan dari Thiat-yan.

Orang itu terus berjalan kedalam pekarangan.

Setelah melihat Wie Kie-hong, dia berhenti, berkata dengan nada dingin.

"Kau datang lagi?"

"Aku sudah melupakan sebuah barang"

Wie Kie-hong menggenggam pegangan pintu.

"oleh karena itu aku kembali kesini untuk mengambilnya, tapi disini aku menemukan sebuah kejadian aneh."

"Pesanmu sudah kusampaikan."

Orang itu sama sekali tidak memperhatikan pernyataan Wie Kie-hong. Sepertinya dia tidak perduli kejadian aneh yang dikatakan Kie-hong.

"Thiat-yan?"

"Betul."

"Kau sengaja datang kemari memberitahu?"

"Majikanku ingin menemuimu"

"Sekarang?"

"Betul"

"Dimana?"

"Ikutlah denganku"

"Seharusnya kau tahu, aku tidak sembarangan ikut orang lain"

"Kau pasti pergi"

Orang itu terdengar sangat yakin.

Tangan kanannya segera terjulur ke arah Wie Kie-hong berusaha memegang bahunya.

Secara reflek tangan kiri Wie Kie-hong menangkis tangannya.

Dan pertarungan pun terjadi.

Dengan pakaian yang rapi, orang itu berkali-kali menjulurkan tangan terus berusaha memegang Wie Kie-hong.

Tapi setiap uluran tangan yang ditangkis selalu terdengar bentakan mereka..

"Hait!Hah!Shah...."

Sambil mengelak, Wie Kie-hong terus bergerak mundur. Ilmu silat orang itu lumayan juga. Dia terus mendesak maju.

"Hait!Hah!Shah...."

Pertarungan ini tampak unik, karena kedua pihak tidak tampak seperti ingin melukai lawannya.

Yang satu berusaha memegang, yang satu lain berusaha mencegah.

Tangan orang yang berpakaian rapi terus melesat kesana kemari.

Pertama-tama tangan kanannya berusaha memegang bahu kanan Wie Kie-hong, setelah ditangkis, tangan kirinya bergerak berusaha memegang tangan kiri...

...

demikian seterusnya bersilang-silang.

"Hait!Hah!Shah...."

Jarak Wie Kie-hong menuju tembok semakin lama semakin dekat. Dari belakang pintu tiba-tiba Bu Tiat-cui berteriak memperingatkan...

"Had hati! tembok!"

Wie Kie-hong segera sadar...

ketika ada kesempatan, dia mencuri pandang berapa jauh lagi dirinya dari tembok melalui sudut matanya.

Ternyata dia sudah kehabisan jarak.

Tembok hanya tinggal dua langkah lagi.

Karena itu ketika orang yang berpakaian rapi berusaha meraih agak tinggi, Wie Kie-hong segera merunduk, melepaskan diri kesamping.

Orang yang berpakaian rapi tampaknya hanya tersenyum melihatnya.

Dengan gesit dia membalikkan tubuh dan terus memburu ke arah Wie Kie-hong.

Wie Kie-hong sekarang sudah lebih siap.

Dia tidak ingin dirinya didesak seperti sebelumnya, karena itu dia memaksa menerjang ke arahnya juga.

Tangan kanan Wie Kie-hong terjulur dengan cepat, dia berhasil menggenggam baju sutra orang yang berpakaian rapi.

Secepat kilat tangan kanan orang yang berbaju rapi mengkait pergelangan tangan Wie Kie-hong yang terjulur Genggaman tangannya sangat keras Mendadak tangan kiri orang yang berbaju rapi melesat hendak menampar pipi Wie Kie-hong.

Terpaksa Wie Kie-hong melepaskan genggam-an tangannya dari baju orang itu dan segera mencondongkan kepalanya kebelakang untuk meng-hindari sabetan.

Walaupun tidak mengenai pipinya, namun kerasnya sabetan tangan, menimbulkan angin yang cukup kuat.

Angin ini terasa dingin pada hidung Wie Kie-hong.

Tangan Wie Kie-hong masih belum terlepas dari genggaman keras orang yang berpakaian rapi.

Pergelangan tangannya mulai terasa sakit.

Wie Kie-hong sadar ini adalah kesempatan baik baginya untuk balas menyerang.

Posisi tangan orang yang berbaju rapi sangat tidak menguntungkan, tangan kiri yang tidak berhasil menampar sudah menyilang didepan dadanya.

Segera Wie Kie-hong memutar tubuhnya, dan menjulurkan tangan kiri yang masih bebas untuk menekan tangan kiri orang yang berbaju rapi.

Sekarang posisi mereka berdua agak kikuk, tangan kedua orang ini tampak berbelit.

Wie Kie-hong segera berteriak keras.

"CIAAATTT!!!"

Sekuat tenaga dia mendorong orang yang berpakaian rapi, dia berusaha memojokkan orang itu pada dinding, seperti dirinya tadi.

Kaki Wie Kie-hong berputar cepat diatas tanah.

Orang itu hanya menjejakkan kedua kakinya dengan mantap di lantai untuk menahan laju dorongan.

Pelan tapi pasti, orang itu terdorong mendekati dinding.

"BAGUS!"

Pikir Wie Kie-hong.

Sekarang dia sudah berada diatas angin.

Namun diluar dugaan, orang yang berbaju rapi tidak kehabisan akal saat terdesak ini.

Ketika sudah benar-benar dekat, kaki kiri orang yang berbaju rapi ditendangkan kebelakang.

"BRAAKK!!!"

Kaki itu menjejak dinding dengan kuat.

Orang yang berbaju rapi tidak membuang waktu lagi, serta merta kaki kanannya dilecutkan kebelakang tinggi melewati kepalanya.

Masih dengan tangan yang saling berkait, orang yang berbaju rapi sudah bersalto meloncat keatas Wie Kie-hong.

Wie Kie-hong tersentak kaget, dia benar benar tidak menyangka akan terjadi seperti ini.

"HAAAAHHH !!!!"

Mereka berdua menjerit bersamaan, masing-masing melepaskan cengkraman tangan lawannya.

Orang yang berbaju rapi terus melayang menjauh karena lompatan salto nya yang keras.

Dia mendarat agak jauh dari Wie Kie-hong dengan sangat anggun...

Wie Kie-hong terpana, dia membungkuk mengatur nafas.

"Ilmu silatmu tidak jelek"

"Tentu saja"

Wie Kie-hong terengah-engah.

"Sekarang silahkan ikut denganku"

Wie Kie-hong mengatur napas, lalu berkata.

"Kenapa aku harus ikut denganmu?"

"Karena tuanku memiliki sebuah kabar yang ingin diberitahukan padamu, kabar itu adalah kabar yang sedang kau cari selama ini"

Wie Kie-hong mulai menyadari bahwa orang yang dihadapinya bukanlah orang yang gampang di atasi.

Majikannya sudah jelas bukan orang yang lemah.

Dia berusaha mengingatkan dirinya sendiri, jangan sampai terpengaruh oleh lawannya.

"Bolehkah memberi sedikit bocoran kabar apa yang akan dikatakannya padaku?"

"Mengenai bagaimana kematian ayahmu"

Kalimat ini menggelegar bagaikan suara petir membelah langit.

Kepala Wie Kie-hong serasa meledak menjadi seribu bagian.

Setelah bertahun-tahun, dia selalu menyelidik mencari jawaban ini kesana kemari.

Sekarang tiba-tiba jawabannya akan terwujud di diha-dapannya.

Hanya saja jawabannya terhalang oleh selembar 'kertas', asal saja dia menjulurkan tangannya, dia sudah bisa menyibakkan 'kertas'nya dan melihat jawabannya.

Mungkin juga dengan menyibakkan kertas ini dia akan menghadapi konsekuensi yang besar, mungkin juga 'kertas' ini adalah sebuah jebakan, namun dia tidak memperdulikan lagi.

"Apakah kau mau pergi?"

"Baiklah!"

Wie Kie-hong menjawab tanpa berpikir lebih banyak lagi.

"harap anda menunggu sebentar diluar pintu masuk, aku akan segera keluar."

Orang itu mengangguk, dia berjalan keluar pintu, lalu membalikkan tubuh, menutup pintu taman.

"Tuan Bu"

Wie Kie-hong pelan berkata.

"sekarang kita harus berbagi tugas. Kita akan bertemu lagi disuatu tempat nanti. Bagaimana menurutmu?"

"Kalau begitu kau tentukanlah dahulu kapan dan dimana kita akan bertemu"

"Bagaimana kalau kita bertemu disini lagi"

"Tidak"

Bu Tiat-cui menjawab dengan nada takut "untuk sementara waktu aku tidak ingin kembali ke tempat ini. bagaimana kalau bertemu ditempatmu saja?"

"Repot. Tengah hari nanti apakah kau bisa mengambil koper tersebut?"

"Waktunya lebih dari cukup"

"Kalau begitu kita berdua akan bertemu di taman Bu Ling di kota Pek Hai. Bagaimana?"

"Jangan. Kau menyuruhku membawa koper itu pergi ke tempat yang jauh, itu sangat berbahaya."

Tiba-tiba Wie Kie-hong teringat pesan yang dititipkan oleh Leng Souw-hiang. Oleh karena itu dia segera berkata.

"Kalau begitu kita berdua bertemu di stasiun kereta saja tepat pukul dua belas siang. Kita bertemu di pintu masuk, disana orang-orang yang membawa koper pasti sangat banyak"

"Baiklah! Tepat jam 12 nanti kau harus datang."

"Aku akan berusaha datang secepatnya. Namun jika terjadi sesuatu diluar dugaan dan aku terlambat datang, kita tidak boleh berpisah sebelum kita bertemu .......Tuan Bu! Harap berhati-hati jangan sampai diikuti orang"

"Aku tahu"

Wie Kie-hong segera berjalan melalui pekarangan, dia membuka pintu dan terus berjalan keluar.

Di luar sebuah kereta kuda sudah menunggu-nya.

Pria berpakaian rapi yang tadi melawannya sudah duduk di tempat kusir menunggunya.

Sambil mempersiapkan cambuknya, dia turun kereta dan berdiri disamping pintu masuk kereta kuda.

Dia menyambut Wie Kie-hong seperti tamu terhormat naik kereta.

--BAB Perburuan Kereta kuda terus melaju.

Namun Wie Kie-hong tidak tahu kereta ini sedang melaju ke arah mana.

Sebelum naik kereta, orang itu meminta Wie Kie-hong dengan hormat mengikat sebuah kain berwarna hitam menutupi matanya.

Kie-hong sama sekali tidak bertanya.

Tampaknya Thiat-yan tidak ingin bertindak gegabah ....lagipula bisa terlihat bahwa ini adalah undangan yang diberikan padanya dengan cara yang sopan.

Wie Kie-hong menyetujui undangan ini.

dia berharap nona Thiat-yan akan mengatakan dimana ayahnya berada.

Setelah mulai berangkat, Wie Kie-hong terus mencoba berkonsentrasi mengingat kemana arah kereta kuda ini pergi.

Dia ingin mengetahui dimana kira kira tempat tinggal Thiatyan.

Namun akhirnya dia menyerah, karena sais kereta kuda rupanya sangat pintar.

Setelah berangkat, dia sengaja mengemudikan kereta kudanya berputar-putar.

Sebentar saja dia sudah membuat Wie Kie-hong kebingungan.

Dari hal kecil ini sudah terlihat kemampuan yang dimiliki oleh Thiat-yan.

bahkan seorang kusir kereta kuda pun berpakaian rapi dan memiliki ilmu silat tinggi.

Dia pasti mendapat pengarahan yang ketat darinya.

Sepanjang perjalanan Wie Kie-hong merasa kereta kuda selalu berjalan diatas jalanan yang rata.

Ini menunjukkan bahwa kemanapun mereka pergi, mereka belum meninggalkan kota.

Setidaknya Wie Kie-hong yakin tentang kesimpulannya.

Setelah berkendaraan selama kurang lebih setengah jam, akhirnya kereta berhenti.

Wie Kie-hong mendengar suara pintu mem-buka.

Setelah itu kereta kembali bergerak maju.

Bahkan pekarangan didalam rumah Thiat-yan memiliki jalan untuk dilalui oleh kereta kuda.

Walau belum melihatnya, Wie Kie-hong sudah bisa membayangkan betapa besarnya rumah yang dikunjunginya ini.

Akhirnya kain pembalut berwarna hitam dilepaskan.

Wie Kie-hong dipersilahkan turun dari kereta.

Yang pertama kali dilihatnya adalah sebuah pekarangan dengan taman bunga yang berwarna hijau segar.

Pekarangan rumah besar ini tidak hanya luas, namun juga sangat nyaman, didalam benaknya berpikir, jika dibandingkan dengan kediaman Leng Taiya, tempat ini jauh lebih menyejukkan hati.

Kesan pertama mengunjungi tempat ini benar-benar sangat menyenangkan.

Sekarang dihadapannya sudah berdiri dua orang gadis pesuruh yang berusia sekitar lima-enam belas tahun.

Mereka berdua berdiri sebelah menyebelah, merangkupkan tangan dan menyambut kedatangannya.

Tingkah laku mereka sangat ramah dan sopan santun.

Kesan kedua juga sangatbaik.

Keadaan didalam ruangan tertata dengan sangat rapi dan megah.

Syair literatur dan gambar-gambar yang tergantung di tembok juga sangat istimewa.

Peralatan semuanya terbuat dari kayu merah.

Jika dibandingkan dengan perabotan yang ada di kediaman keluarga Leng, semuanya tampak jauh lebih bagus.

Tidak terasa Wie Kie-hong mendecak kagum.

Kira-kira berapa banyak kekayaan Thiat-yan ini?

Tentang Tiat Liongsan, sebelumnya dia sudah men-dengar sedikit.

Biasanya orang yang sangat kaya atau memiliki kekuasaan, kebanyakan keluarganya tidak utuh.

kesan ketiga membuat Wie Kie-hong diam-diam merasa aneh, dia merasa curiga.

Peralatan minum teh yang disuguhkan semuanya terbuat dari porselen mahal dari daerah Kang Sie.

Wie Kie-hong merasa seolah olah dia sedang berada di alam mimpi dan dijamu oleh para dewi.

Wie Kie-hong sudah sering keluar masuk rumah orang-orang penting dan para pejabat kaya, namun dia belum pernah menjumpai rumah mewah seperti ini sebelumnya.

Akhirnya tuan rumah keluar menyambutnya, menilai raut mukanya, sepertinya dia tidak ramah, namun tidak licik, postur tubuhnya kekar namun tetap langsing.

Dinilai dari tubuhnya, tampak dia berusia kurang lebih baru sekitar dua puluh tahun saja.

Namun berdasarkan raut mukanya, Wie Kie-hong merasa umurnya seperti tidak hanya dua puluh tahun saja.

Orang inilah orang yang sudah membuat empat perkara yang sangat kejam.

Perempuan ini adalah penjahat yang sedang diburu oleh Tu Liong dan dirinya.

Wie Kie-hong benarbenar tidak percaya, dia merasa situasinya kurang baik.

Ini karena dia tidak tahu bagaimana menghadapi nona yang cantik dan menarik sekaligus melampiaskan dendam kesumatnya.

"Wie kongcu?"

Ini adalah kalimat pertama yang diucapkan oleh tuan rumah.

"Betul. Namaku adalah Wie Kie-hong. Anda adalah....?"

"Thiat-yan"

Jawabannya singkat, sederhana namun sangat bertenaga.

Lawan bicaranya sudah memperkenalkan diri sebagai orang yang sudah memotong tangan Leng Souw-hiang.

Namun tetap saja Wie Kie-hong tidak bisa menunjukkan niat bermusuhan.

Dia diam-diam hanya mengatupkan rahangnya kuat kuat.

"Wie Kongcu mungkin akan merasa bahwa undangan yang kuberikan pada anda sangat mendadak. Sebenarnya undangan ini sudah kurencana-kan semenjak setengah tahun yang lalu."

"Aku tidak mengerti apa maksudmu"

Wie Kie-hong kebingungan...

"Maksudku adalah aku sudah mengetahui tentang penyebab kematian ayahmu sekitar setengah tahun yang lalu. Semenjak hari itu aku bertekat mencari kesempatan untuk memberitahukan sendiri padamu"

Setelah menyinggung tentang penyebab kematian ayahnya, Wie Kie-hong merasakan emosi yang sulit dikendalikannya.

Namun dia tidak ingin salah tingkah dihadapan Thiat-yan.

Karena itu dia sekuat tenaga menahan diri.

dengan tenang dia berkata.

"Maaf aku berkata terus terang. Berdasarkan pendirianmu dan pendirianku, aku tidak mungkin akan datang kemari menjadi tamumu. Aku datang kemari karena ingin mencari tahu tentang sebuah masalah...."

Thiat-yan memotong kalimatnya dan berkata.

"Aku pasti akan memberitahu dirimu, namun aku punya sebuah syarat sebagai imbalannya."

"Oh...? syarat?"

"Wie Kongcu jangan terkejut. Jadi manusia haruslah adil. Mengurus sebuah masalah pun tetap harus adil. Satu tael bisa membeli kue bakar, sepuluh tael barulah bisa membeli kue bakar ditambah dengan daging. Betul tidak?"

Wie Kie-hong tumbuh besar di rumah kediaman keluarga Leng Souw-hiang.

Dengan begitu secara otomatis dia tidak kampungan.

Setelah men-dengar Thiat-yan mengucapkan kata 'syarat' hatinya langsung merasa waspada.

"Sebelum kau mengatakan syarat yang harus kupenuhi, kau sebaiknya menilai baik-baik diriku. Persyaratan apapun yang akan kau berikan nanti, mungkin saja aku tidak dapat memenuhinya."

"Wie kongcu terlalu sungkan."

"Coba katakanlah dulu syaratmu, supaya kita tidak membuang-buang waktu"

"Setelah Leng Souw-hiang terluka, kau cepat-cepat pergi ke gang San-poa dan menemui Bu Tiat-cui. Mengapa kau pergi kesana? Inilah syarat satu-satunya yang ingin kuketahui, kau harus menjawab dengan jujur."

"Pergi meramal nasib"

"Meramal nasib?"

Thiat-yan tertawa dingin "meramal nasib siapa?"

"Meramal nasib si pelaku kejahatan. Aku ingin melihat kapan dia akan terjerat jaring takdir yang jarang namun tetap tidak bisa tertembus, (kapan Thiat-yan akan kalah)"

"Wie Kie-hong!"

Panggilan ramahnya sudah berubah. Nada bicaranya juga berubah.

"apakah kau tahu apa akibat dari kata-kata lelucon semacam ini?"

"Aku tidak sedang bercanda"

Rahang Thiat-yan mengatup sangat keras, dia sepertinya hendak segera berubah pikiran. Namun dia tetap saja tabah menahan semua emosinya, tetap dengan suara lembut dan ramah berkata.

"Wie Kie-hong! Penyebab kematian ayahmu merupakan hal yang sangat penting bagimu. Apakah kau mengerti?"

"Tentu saja aku mengerti"

"Kalau begitu, mengapa kau bersikap begini semacam itu dihadapanku? Aku benar benar beritikad baik menceritakan padamu."

"Aku juga beritikad baik"

"Tapi yang kau katakan tadi adalah sebuah kebohongan. Aku tahu itu!"

"Bagaimana kau tahu aku sedang berbohong?"

"Wie Kie-hong! Karena relasi tertentu, aku harus tetap menjaga sopan santunku padamu. Aku tidak bisa menggunakan kekerasan, juga tidak bisa menghadapimu dengan cara kejam, terhadap orang lain aku tidak akan berbuat seperti ini. kalau kau tidak bicara, aku bisa bertanya pada orang lain."

"Bertanya pada siapa?"

"Aku bisa bertanya langsung pada Bu Tiat-cui. Tentu saja tidak akan bertanya baik-baik seperti ini. apakah kau ingin membuat dia menderita?" 'Untung Bu Tiat-cui sudah pergi menghindar,' pikir Wie Kiehong dalam hati.

"Wie Kie-hong! Aku berharap kau ingat hal itu dengan baik"

"Kau tadi mengatakan bahwa karena relasi tertentu, kau harus tetap menjaga sopan santun padaku. Apa maksud dari kata-katamu ini ??"

"Sekarang aku tidak dapat mengatakan pada-mu. Waktunya belum tepat."

"Nona Yan!"

Wie Kie-hong mendadak berdiri lalu berkata.

"aku merasa kabar yang kau miliki mengenai kematian ayahku adalah jebakan untuk menipuku. Dari awal kau sudah sengaja membuat urusan sederhana menjadi rumit. Aku tidak suka berurusan dengan orang yang berbelit-belit. Sekarang aku ingin pergi, bisakah kau menyuruh memper-siapkan kereta kuda dan mengantarkanku pulang?"

"Wie Kie-hong! Sebelum kau meninggalkan tempat ini, sebaiknya kau mempertimbangkan keputusan itu matangmatang...."

"Mengapa?"

"Sekarang ini kita berdua masih terhitung sebagai teman. Sebenarnya aku tahu kau tidak ingin mengakui kalau kita berdua adalah teman. Setidaknya kau tidak kuanggap seorang musuh. Setelah kau meninggalkan tempat ini, kita berdua akan segera menjadi musuh bebuyutan."

"Cepat atau lambat aku pasti akan meninggalkan tempat ini. betul tidak?"

"Jika kau pergi setelah kita mendapat titik temu, bukankah lebih baik?"

"Kata-katamu sungguh membuat orang sulit untuk tertawa ataupun bersedih. Kau sudah melukai ayah angkatku, setelah itu kau masih ingin menjalin hubungan yang baik denganku. Bagaimana bisa?"

Kata-kata Wie Kie-hong ini sudah menggambarkan keputusan yang sudah dibuatnya.

Tidak salah, semula dia ingin mengetahui penyebab kematian ayahnya, namun dia lebih menghargai jasa Leng Souw-hiang yang sudah merawatnya sampai dewasa.

Thiat-yan sudah melukai Leng Souw-hiang, tentu saja dia tidak mungkin menjalin hubungan yang baik dengan Thiat-yan.

"Nyalimu sangat besar!"

"Apa maksudnya?"

"Nyawamu saat ini sedang berada diujung tanduk, namun kau masih berani mengatakan semua itu. apakah kau tidak takut aku berubah pikiran dan mencelakaimu?"

"Kalau kau berpikir seperti itu, kau benar-benar masih kolokan kau sudah mengundangku datang kemari, tentu saja kau akan mengantarkanku pergi. Kalau kau mencelakaiku disini, kau benar-benar picik. Apakah kau akan melakukan hal picik semacam itu padaku?"

Muka Thiat-yan menjadi merah.

"Maaf !!"

Wie Kie-hong berdiri.

"sekarang aku akan pergi"

"Tunggu sebentar. Aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan"

"Katakanlah!"

"Apakah kau bermaksud membalaskan dendam ayah angkatmu?"

"Apa maksudnya membalaskan tangannya yang sudah kau potong?"

"Betul"

"Ayah angkatku tidak pernah menyuruhku membalas dendam"

"Orang yang bersangkutan pun tidak berkata apa-apa. itu menggambarkan hatinya tidak ada rasa sesal. Sebaiknya kau tidak usah ikut campur dalam urusan ini. umurmu masih sangat muda, kalau kau ikut campur kau pun pasti akan ikut terbunuh....pelayan! antar tamu!"

Wie Kie-hong berkata dengan nada yang terdengar sangat dingin.

"Nona Yan, aku sungguh ingin mengetahui penyebab kematian ayahku, namun aku tidak akan menanyakan padamu. Aku percaya, tidak ada urusan yang bisa selamanya ditutupi"

Sewaktu pergi dari tempat itu, dia kembali diantar oleh orang yang sudah menjemputnya tadi.

Dan seperti sebelumnya, kepalanya kembali dibungkus dengan kain berwarna hitam.

Dia kemudian diturun-kan didepan sebuah jalan besar.

Setelah turun, kereta kembali pergi menjauh, tadinya Wie Kie-hong ingin membuntutinya kembali, namun dia tidak berbuat demikian.

Thiat-yan tidak mengakalinya dengan tipu daya, dia juga tidak boleh berbuat seperti ini.

Tiba-tiba saja seseorang menepuk bahunya, ternyata orang itu adalah Tu Liong.

"Tu Toako....?"

Tu Liong menatap, setelah itu dia menarik tangannya dan segera pergi. Mereka berdua memasuki sebuah gang kecil yang sepi. Disana barulah Tu Liong mulai berkata.

"Apakah kau sudah menemui Thiat-yan?"

"Aku sudah menemuinya! Tapi dari mana kau tahu aku menemuinya?"

"Sebenarnya dari tadi aku sudah mengikuti-mu. Ada banyak urusan yang jika sekarang diceritakan padamu, mungkin kau tidak akan mengerti...."

"Kalau begitu kau pasti sudah tahu dimana tempat tinggal Thiat-yan"

"Tentu saja aku tahu"

"Dimana?"

"Kalau aku katakan, kau pasti akan terkejut. Thiat-yan tinggal tepat disebelah rumah Bu Tiat-cui. Kedua rumah ini hanya dibatasi sebuah tembok"

"Hah?"

"Kereta kuda itu sudah membawamu berputar-putar beberapa keliling. Setelah itu kereta kembali lagi ke tempat semula. Hanya kau tidak menyadarinya."

"Thiat-yan benar-benar sangat cerdik, namun dia tetap sangat sopan. Walaupun tadi percakapan kami berdua tidak ada kecocokan, dia tidak mempersulit aku."

"Kalian bercakap-cakap tentang apa?"

Wie Kie-hong menceritakan kembali semua percakapan yang dialaminya dengan Thiat-yan.

Setelah ini dia juga menceritakan perihal Bu Tiat-cui yang masih hidup Tu Liong mendengarkan semua ini dengan sepenuh hati.

setelah itu dia bertanya.

"Apakah kau sekarang bermaksud pergi ke stasiun kereta menemui Bu Tiat-cui?"

"Betul"

"Percuma"

"Mengapa?"

"Bu Tiat-cui tidak mungkin pergi"

Tu Liong terdengar sangat yakin.

"Tu Toako! Apakah kau ingin mengatakan bahwa Bu Tiatcui sudah ditangkap oleh Thiat-yan?' "Kie-hong! Aku hanya seorang diri. Dari tadi aku memperhatikan dirimu, otomatis aku tidak memperhatikan Bu Tiat-cui. Apa yang sudah dilakukan nya aku sama sekali tidak tahu. Namun aku sudah membuat sebuah tebakan. Kie-hong! aku senang sekali memecahkan misteri! Karena itu tebakan yang kubuat pada umumnya dapat diandalkan!"

"Aku tetap harus pergi kesana"

"Dengar kata-kataku! Sebaiknya kau jangan pergi kesana"

"Kenapa?"

"Kau pikirlah dengan baik. Thiat-yan tinggal disebelah rumahnya. Semua gerak gerik Bu Tiat-cui sudah pasti diketahuinya dengan jelas. Aku tahu alasanmu berkeras untuk menemui Bu Tiat-cui di stasiun kereta. Ini karena dia akan memberikanmu kopor kecil yang sudah kau ceritakan itu. di tempat ramai seperti itu, orang yang membawa sebuah kopor kecil tidak akan menimbulkan kecurigaan orang lain."

Wie Kie-hong benar-benar mengagumi kehebatan Tu Liong membuat kesimpulan.

"Kalau kopor itu adalah barang yang diincar oleh Thiat-yan, apakah mungkin dia akan membiarkan barang itu jatuh ke tanganmu? Kie-hong! Sebelum misteri kematian orang yang kedua alisnya ditembus jarum panjang itu dipecahkan, sebaiknya kau tidak terlalu dekat dengan Bu Tiat-cui"

Wie Kie-hong tidak berkata apa-apa.

namun dalam hatinya dia berpikir, 'Tu Toako, kau terlambat mengatakan hal itu padaku.

Satu satunya barang bukti sudah diberikan pada Bu Tiat-cui.

Kalau aku tidak mendapatkan kopor itu, bukankah aku sudah mengecewakan janjiku pada Gihu (ayah angkat)?' "Aku tahu dalam hatimu kau sedang memikirkan apa."

"Oh...?"

"Kau sedang berpikir tentang janjimu pada ayah angkatmu. Betul tidak?"

"Siapa bilang tidak? Sekali tebak saja semua sudah kau ketahui"

"Kalau aku mengatakan sebuah kalimat yang nekat, kau pasti akan kaget"

"OH..?"

"Leng Taiya menyuruhmu mengambil kopor itu juga sebenarnya adalah sebuah jebakan. Terlebih lagi Bu Tiat-cui sudah membuat janji untuk menemui-mu, aku khawatir ini juga sebuah jebakan."

"Tu Toako! Kau sudah membuatku sangat bingung!"

"Kau jangan pergi ke stasiun kereta!"

"Ada sesuatu yang belum kukatakan padamu, pada waktu itu aku pikir Bu Tiat-cui sudah meninggal, dan kopor kecil itu selamanya tidak akan pernah kudapatkan, aku pikir mengatakan hal ini ataupun tidak, tidak akan membuat banyak perubahan........namun sekarang setelah aku mengetahui lebih banyak, sepertinya keadaan sudah berubah"

"Kalau kau mau memberitahukan padaku sekarang, sepertinya masih sempat"

"Ayah angkat sudah menitipkan pesan padaku, setelah mendapatkan kopor tersebut aku harus secepatnya naik kereta ke sebelah utara Tai-ouw, dan membuang kopor tersebut ke laut. Selain itu dia juga berpesan agar aku tidak curiga dan membuka kopor untuk melihat apa isinya"

"Oh...?"

Tu Liong memalingkan pendangan nya, dia kembali memikirkan sesuatu.

"Barang yang digunakan sebagai tanda bukti pengambilan kopor sudah kuserahkan pada Bu Tiat-cui. Kalau aku tidak pergi menemui dia, itu benar-benar celaka"

"Baiklah! Kau pergilah!"

Tu Liong tiba-tiba saja merubah keputusannya. Wie Kie-hong tidak mengerti.

"Bagaimana dirimu?"

"Aku harus mengurus hal yang lain"

"Apakah kita masih bisa bertemu lagi?"

"Bukankah kau harus pergi ke sebelah utara Tai-ouw dan membuang kopor itu? kalau menunggu sampai nanti kau kembali, langit pasti sudah menjadi gelap. Mungkin nanti sudah tengah malam"

"Tu Toako! Bukankah tadi kau berkata bahwa Bu Tiat-cui tidak mungkin datang?"

"Aku pikir dia mungkin datang"

"Mengapa kau berubah pikiran?"

"Karena aku sudah membuat satu dugaan yang baru....Bu Tiat-cui mungkin akan datang, malah dia akan membawakan kopor yang kau inginkan itu."

Setelah berkata demikian, Tu Liong menepuk bahunya, lalu pergi.

Sekejap saja Wie Kie-hong merasa curiga.

Apakah otak Tu Liong benar-benar sangat pintar sampai bisa menebak semuanya bagaikan seorang dewa?

Ataukah ada hal lainnya?

"Tuan!

Apakah ingin naik kereta?"

Ternyata sebuah kereta kuda sudah berada didepan matanya.

"Ke stasiun kereta"

Wie Kie-hong duduk diatas kereta kuda.

Setelah sampai di stasiun kereta, waktu menunjukkan tepat pukul dua belas siang.

Wie Kie-hong cepat-cepat turun dari kereta kuda dan berjalan ke pintu masuk.

Disana dia melihat Bu Tiat-cui sedang berjalan mendatanginya dari arah yang berlawanan.

Tangannya menggenggam sebuah kopor kuning.

Walaupun Wie Kie-hong merasa sedikit gugup, namun melihatnya dia merasa sedikit lega.

Tugas yang diembannya sebentar lagi akan selesai...

Bu Tiat-cui akhirnya berdiri di sisi sebelah kanan Wie Kiehong.

Dia lalu memindahkan kopor kuning itu dari tangan kanan ke tangan kirinya.

Saat ini Wie Kie-hong hanya tinggal mengulurkan tangannya, mengambil kopor itu dari tangannya.

Ini tidak akan membuat orang lain merasa curiga.

Tepat pada saat itu, tiba-tiba saja ditengah kerumunan didalam stasiun kereta muncul seseorang.

Orang ini berjalan di belakang mereka berdua.

Wie Kie-hong tentu saja tidak bisa mencegah hal ini.

orang ini berjalan menerobos diantara Wie Kie-hong dan Bu Tiat-cui.

Sambil menerobos, dia berhasil merebut kopor kuning yang akan diberikan.

Setelah merebut kopornya, dia tidak berlari seperti seorang maling pada umumnya.

Dia hanya berjalan dengan kecepatan yang normal keluar stasiun kereta.

Dia melakukan semuanya seolah-olah kopor kuning itu adalah miliknya sendiri.

Bu Tiat-cui sangat terkejut dan hanya bisa menatap Wie Kie-hong.

Wie Kie-hong hanya melihat Bu Tiat-cui sekilas, cepat-cepat berjalan kedepan untuk mengejarnya.

Tiba-tiba sebuah tangan yang bertenaga memegang bahu kanannya.

"Hei... pelayan... kita sudah sangat lama tidak berjumpa. Apa kabar?"

Tubuh Wie Kie-hong berputar dengan cepat, setelah itu dia berkata dengan dingin "Kau salah orang!"

"Maaf!"

Sambil menyapa, orang yang meme-gang bahu menarik kembali tangannya.

Setelah Wie Kie-hong kembali memalingkan kepala untuk mengejar, orang yang merebut kopor sudah pergi entah kemana.

Dia sudah tidak terlihat.

Jelas ini adalah sebuah tipu muslihat.

Pepatah mengatakan "biksunya bisa melarikan diri, namun viharanya tetap berada ditempatnya".

Walaupun dia sudah kehilangan orang yang mencuri kopor, namun dia tahu pelakunya pastilah orang suruhan Thiat-yan.

Sedangkan sekarang dia sudah tau tempat tinggal Thiat-yan.

Tentu saja Wie Kie-hong harus menangkap orang yang sudah salah mengenalnya tadi.

Dia segera membalikkan tubuh, Namun ternyata orang ini juga sudah menghilang entah kemana.

"Sial!"

Wie Kie-hong mendamprat "Kenapa?"

"Kau masih bertanya? Kopor itu sudah direbut orang lain!"

"Aku pikir orang itu adalah suruhanmu."

Sekarang Wie Kie-hong mulai memutar otaknya. Dia bertanya.

"Tuan Bu, setelah kau meninggalkan gang San-poa, kau pergi kemana saja?"

"Aku langsung pergi mengambil kopor itu"

"Apakah kau ditengah jalan diikuti orang lain?"

"Aku tidak tahu"

"Bagaimana mungkin mereka tahu kita berdua sudah membuat janji bertemu disini?"

"Aku....aku tidak tahu"

Orang yang merebut kopor itu pastilah sudah membuntuti Bu Tiat-cui sepanjang jalan, sampai dia kemari.

Kalau begitu, dari awalpun mereka sudah memiliki kesempatan untuk merebut kopor itu, langsung dari tangan Bu Tiat-cui.

Mengapa mereka harus menunggu merebutnya di sini?

Mengapa harus mengambil resiko merebut kopor itu di depan mukanya?

Apakah mungkin ini untuk melepaskan kesalahan dari tangan Bu Tiat-cui?

Apakah tipu muslihat ini ada hubungan dengan Bu Tiat-cui?

"....sekarang kita harus bagaimana?"

Bu Tiat-cui tampak sangat gugup.

"Sekarang tuan Bu akan pergi kemana?"

"Aku akan pulang kerumahku"

"Bukankah kau tadi berkata bahwa sementara waktu kau akan menjauh dari rumah itu?"

"Aku tidak punya tempat melarikan diri"

"Baiklah, nanti aku akan menghubungimu lagi"

Setelah mengatakan ini, Wie Kie-hong segera berjalan pergi, dia tidak ingin menanyai Bu Tiat-cui lebih lanjut.

Lagipula dia tidak memiliki alasan untuk menanyainya lebih jauh.

Dia juga tidak mungkin mengulur urusan ini lebih lama.

Dia harus segera menemui Tu Liong.

Dia segera pergi ke kediaman Cu Taiya.

Ter-nyata Tu Liong ada dirumah, membuat Wie Kie-hong merasa senang.

Melihatnya Tu Liong segera berkata.

"Aku tahu kau pasti akan datang. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu"

Ternyata barang itu adalah sebuah kopor kuning. Kopor itu sudah terbuka. Didalamnya kosong.

"Ini....?"

Wie Kie-hong tidak menyangka melihat barang itu disini.

"Ini adalah kopor yang akan diberikan oleh Bu Tiat-cui padamu tadi."

"Benarkah?"

"Untuk apa aku membohongimu? Orang yang sudah merampas kopor dan langsung pergi, dan juga orang yang sudah salah mengenal dirimu, mereka berdua adalah orang yang sudah aku suruh untuk melakukannya."

"Barang yang ada didalam kopor itu?"

"Kopor itu pada awalnya memang sudah kosong"

Tu Liong berkata dengan nada dingin.

Wie Kie-hong tidak memiliki alasan untuk tidak mempercayai Tu Toakonya yang sudah dipujanya selama ini.

Namun dia lebih tidak memiliki alasan untuk tidak mempercayai ayah angkatnya Leng Souw-hiang....

Tu Liong melihat rasa curiganya, maka berkata.

"Didalam hati para generasi tua pastilah tersimpan sebuah rahasia yang tidak bisa diberitahukan pada orang lain. Kita ambil contoh Cu Taiya, dia adalah majikan yang sangat kusanjung. Namun dari awal dia sudah menjelaskan, kalau aku senang bermain tebak tebakan dan memecahkan misteri, aku boleh terus bermain, namun aku tidak boleh menanya-kan apapun padanya....Kiehong, oleh karena itu tadi aku sudah berkata padamu, bahwa perintah Leng Taiya Souw-hiang yang sudah menyuruhmu untuk mengambil kopor pun kemungkinan adalah sebuah jebakan."

Wie Kie-hong hanya menggeleng-gelengkan kepala. Dia benar-benar kebingungan.

"Kalau aku tidak merebut kopor ini kedalam tanganku, kau akan bagaimana? Kau pasti sudah naik kereta ke sebelah utara Tai-ouw dan mengerjakan perintah ayah angkatmu dan membuang kopor ini ke laut. Dengan begitu bagian pemecahan teka-teki dari kopor ini akan hilang selamanya."

"Tu Toako, tapi sebelumnya kau melarangku untuk pergi ke stasiun kereta...."

"Tujuannya juga tidak jauh berbeda. Aku bermaksud mengambil kopor ini kedalam tanganku. Kau tidak mungkin akan mengingkari janjimu pada ayah angkatmu. Aku sedikitpun tidak meragukan hal ini...."

"Tidak, Tu Toako, ini bukanlah hal yang baik untuk dilakukan...."

"Kie-hong... kau benar-benar seorang laki-laki sejati. Sebagai seorang laki-laki sejati, apakah kau tidak ingin mengetahui duduk perkara yang sebenarnya?"

"Tapi...."

"Sekarang coba kita lihat dari sudut pandang yang lain. Kalau misalnya Bu Tiat-cui sudah menukarkan kopor ini dengan yang lain, lalu kau membuang kopor ini begitu saja kelaut dan merasa bahwa kau sudah menyelesaikan tugas, Leng Taiya juga menyangka kalau kau sudah menyelesaikan tugas dan membuatnya merasa tenang sesisa hidupnya. Namun bagaimana sebenarnya?"

Penjelasan yang dikemukakan oleh Tu Liong terdengar sangat keras, namun sangat masuk akal.

Wie Kie-hong kehabisan kata-kata.

Dalam hatinya dia tetap terus mengagumi kemampuan Tu Liong dalam membuat kesimpulan.

Namun bagaimanapun juga dalam hatinya dia merasa khawatir.

"Aku sudah membuat janji dengan tuan besar Tan. Nanti kita berdua akan pergi mengunjunginya. Walaupun kedua kupingnya sudah dipotong Thiat-yan, namun itu tidak akan merintanginya untuk bicara."

"Apakah yang kau maksud dengan tuan besar Tan adalah Tan Po-hai?"

"Betul"

"Tu Toako ingin menanyakan apa padanya?"

"Masalah yang berkenaan dengan kejadian pada waktu itu dimana lima orang tua turun tangan dan mencelakai Tiat Liong-san. Untuk satu hal ini, Cu Taiya sudah mengakuinya sendiri dihadapanku. Namun tetap saja aku merasa urusan ini tidak sederhana seperti yang aku bayangkan. Kalau sederhana, dimana serunya memecahkan sebuah misteri?"

"Kalau kau hanya memikirkan mendapat kesenangan dengan memecahkan sebuah misteri, aku tidak akan melayanimu lagi."

"Eh?"

Tu Liong sangat kaget mendengar kata-kata ini. dia menatap Wie Kie-hong. Didalam benaknya mengatakan, selama ini Wie Kie-hong adalah seorang yang sangat penurut.

"Tu Toako, ini bukanlah sebuah permainan. Ini adalah urusan yang menyangkut hidup dan mati. Sekarang ini urusan sudah ada didepan mata. Sudah dua orang yang mati dan tiga orang yang terluka. Kalau menuruti omongan Cu Taiya, dia belum dibunuh karena Thiat-yan sedang mencari sebuah barang. Kalau begitu suatu saat nanti pastilah akan ada orang yang mati atau terluka lagi. Tu Toako, tanggung jawab yang kita pikul sangat besar."

"Kie-hong...."

Tu Liong menepuk bahu Wie Kie-hong katanya.

"aku benar-benar tidak menyangka kau akan berkata serius seperti itu....tenang saja, aku tidak sedang bermain sebuah permainan. Setidaknya aku juga memiliki tanggung jawab untuk melindungi Cu Taiya agar tidak terluka. Jangan lupa kita berdua sedang berburu. Yang sedang kita buru bukanlah Thiat-yan atau orang apapun, namun yang kita buru adalah kejadian yang sebenarnya. Diantara kelima orang tersebut, hanya ada satu orang yang benar-benar mengetahui kejadian sesungguhnya." --BAB Kasih Sayang Thiat-yan duduk menopang wajahnya. Jelas terlihat dia sedang murung karena sebuah masalah. Kusir kuda separuh baya berpakaian rapi yang sudah mengantarnya ke kediaman keluarga Leng sedang berdiri didepannya. Raut mukanya juga sangat tidak enak dilihat, namun yang berbeda adalah bahwa dia terlihat sedikit khawatir. Kedua orang ini terdiam sangat lama. Situasi terasa sangat canggung.

"Nona?"

Pada akhirnya pria separuh baya itu mulai membuka mulut dan memulai percakapan.

"apakah kau sedang marah padaku? Apakah kau sedang menyalahkanku karena tadi aku sudah salah bicara?"

"Paman Boh..."

Thiat-yan terus menopang wajahnya, namun nada suaranya terdengar lemah lembut.

"kau lebih tua dariku, mana mungkin aku berani marah padamu? Aku hanya merasa bahwa kau tidak mengerti isi hatiku."

"Nona, semenjak ayahmu meninggal, kau selalu memanggilku dengan sebutan paman. Tentu saja aku harus mengerahkan semua kemampuanku untuk melindungimu dari bahaya apapun. Sewaktu kau lengah, aku juga akan segera merespon dan menyadarkanmu. Sekarang kau sedang murung, aku pun harus berkata sesuatu. Kau tadi sudah melepaskan Wie Kie-hong, itu adalah sebuah tindakan yang gegabah. Benar-benar tidak masuk akal."

"Bukankah tadi aku sudah mengatakan padamu? Paman Bohbenar-benar tidak mengerti isi hatiku"

"Nona, saat ini kita berdua berada dekat dengan ibu kota, sama dengan berada di dalam kandang macan. Kita tidak boleh bertindak gegabah."

"Kalau begitu kau sudah salah lebih jauh lagi. Apakah kau pikir kalau aku punya perasaan istimewa terhadap Wie Kiehong? Tidak mungkin....sama sekali tidak mungkin. Hatiku sudah lama menjadi dingin.... kalau dinilai dari sifatku, aku tidak mungkin akan langsung jatuh cinta dengan seorang lakilaki pada pandangan pertama.

"Kalau begitu aku tidak tahu ada urusan apa lagi yang membuatmu murung seperti itu"

"Mengenai ayah kandung Wie Kie-hong yang bernama Wie Ceng, kau sudah mengetahui keadaannya sangat baik. Sewaktu ayahnya masih hidup di dunia, kau juga pernah menyebutnya sebagai seorang laki-laki tangguh."

"Tidak salah. Wie Ceng bisa disebut seorang laki-laki tangguh. Namun dia tidak cukup baik menjadi laki-laki sejati. Nona, dia adalah laki-laki tangguh yang ceroboh atau laki-laki tangguh yang bodoh"

"Paman Boh berkata seperti ini, apakah menurutmu ini adil baginya?"

"Nona, aku Boh Tan-ping tidak pernah berurusan ataupun bermusuhan dengan Wie Ceng. Untuk apa aku menjelekjelekkan dirinya? Orang semacam itu bodoh sekali mau menjadi pesuruh Leng Souw-hiang. Kalau bukan laki-laki tangguh yang ceroboh atau laki-laki tangguh yang bodoh, julukan apa yang lebih pantas untuk diberikan padanya?"

"Aku harus membantah ucapanmu yang terakhir ini. Wie Ceng berasal dari keluarga perampok. Dia meninggalkan hidupnya dari merampok dan membunuh orang. Dia lari ke tempat Leng Taiya dan menjadi seorang pengawal. Menjadi seorang pengawal yang dipercaya adalah suatu hal yang sangat sulit didapatkan. Apa yang bisa dilakukannya? Leng Souw-hiang adalah orang kepercayaan raja Su-cen. Lagi pula diatas kepalanya tidak terukirkan kata "Penjahat". Rasanya tidak salah kalau dia melayaninya."

"Aih, nona, aku sudah tidak mampu memberi nasihat padamu."

"Kita tidak sedang berdebat, tapi sedang mencoba meluruskan perkara ini sampai jelas, kalau kau berkata seperti itu, aku tidak berani melanjutkan."

"Baiklah!"

Boh Tan-ping kembali berusaha berkompromi dengan Thiat-yan. Dia jelas terlihat sangat menyayangi dirinya.

"Aku mendengarkanmu"

"Menurut kabar, kudengar, Leng Souw-hiang sudah beberapa kali mencoba mencarikan jodoh untuk dinikahkan dengan Wie Kie-hong. Namun dia selalu menolaknya. Alasannya adalah....sebelum penyebab kematian ayahnya diketahuinya, dia tidak akan pernah menikah dan berkeluarga. Dari sana dapat terlihat dia adalah seorang anak yang tahu balas budi."

"Mmmm, untuk yang satu ini aku setuju dengan pendapat nona."

"Pada saat yang sama juga bisa terlihat bahwa didalam hati Wie Kie-hong, dia lebih menghargai ayah kandung yang sudah melahirkannya daripada ayah angkat yang sudah membesarkan dan mendidiknya sampai sekarang."

Boh Tan-ping tidak berkata apa-apa. Seolah-olah dia sangsi kata-katanya.

"Paman Boh, dari sini kita bisa mengambil kesimpulan, Wie Kie-hong seharusnya menuruti permintaan ayah angkatnya dan segera menikah. Tapi dia malah menolak permintaan Leng Souw-hiang, karena penolakannya, sedikit banyak pasti akan membuat Leng Souw-hiang tidak senang. Wie Kie-hong pintar, apakah dia tidak berpikir sampai sejauh ini? rasanya tidak mungkin"

"Mmmm..."

Boh Tan-ping hanya mengangguk-anggukkan kepala.

"Terhadap seorang pemuda yang patut di-hargai seperti ini, apakah kita masih harus melukainya? Bukankah seharusnya kita menghormati dan membantunya?"

"Kalau memang kau ada pemikiran semacam ini, mengapa kau tidak langsung memberitahukan penyebab kematian ayahnya sewaktu ada kesempatan tadi?"

"Sekarang ini dia tidak mungkin akan percaya pada katakataku..."

"Nona, nanti pun dia tidak mungkin berubah dan percaya padamu"

"Paman Boh terlalu cepat membuat kesim-pulan. Kalau kita bisa membangun kepercayaan didalam hatinya, dia tidak punya alasan..."

"Nona, umurmu masih terlalu muda. Berapa banyak kau mengerti tentang sifat manusia sebenar-nya? Orang yang dari kecilnya tumbuh didalam sebuah sangkar macan, dan setelah besar bisakah seseorang sudah membuatnya sadar bahwa dia adalah seorang manusia dan bukan seekor macan? Namun bagaimana pun juga dia tetap akan membenci orang yang berburu macan. Wie Kie-hong tumbuh besar di sisi Leng Souw-hiang. Dia tidak mungkin merubah pandangannya dan tiba-tiba saja menolong dirimu."

"Sebenarnya aku tidak butuh bantuannya. Asalkan dia tidak menghalangi pekerjaanku, sudah cukup, aku berlaku seperti ini, bukannya takut padanya, namun aku tidak ingin dia terluka. dia pasti akan mengerti maksudku."

"Ah...!"

Boh Tan-ping menghembuskan nafas panjang. Setelah itu dia hanya terdiam. Dia jelas tidak ingin meneruskan perdebatannya.

"Paman Boh, aku sudah menimbang nimbang. apa akibatnya kalau kita membiarkan dia begitu saja? sekarang ini dia tidak mengetahui apa-apa, kalaupun misalnya dia benarbenar mengerti semuanya, apakah dia akan membuka mulut? Kalau memang itu terjadi, apakah kita masih bisa memberikan surat peringatan untuk membuatnya tutup mulut? Paman Boh, sebenar-nya aku berencana untuk melakukan sesuatu, aku yakin kau pasti akan setuju rencanaku."

Boh Tan-ping terdiam dan tampak semakin murung. Setelah beberapa lama Thiat-yan berkata lagi.

"Paman Boh, apakah kau marah padaku?"

"Tidak... aku bukan orang yang semacam itu, tiba-tiba aku sadar, sepertinya urusan ini menjadi semakin rumit saja. Dan lagi aku merasa kalau kita terlalu cepat bertindak."

"Aku sama sekali tidak berpikir seperti itu. dari sudut pandangku, tujuan kita hanya satu"

"Siapa?"

"Cu Siau-thian!"

"Nona, orang yang sudah mencelakai ayahmu, waktu itu bukanlah dirinya."

"Itu adalah kabar yang sudah kita dengar sebelumnya, namun bagaimanakah kenyataannya? Siapa yang benar-benar mengetahui bahwa dia adalah dalang dibalik pembunuhan ayahku. Paman Boh, aku merasa dia adalah satu satunya target yang kita sekarang, karena diantara kelima orang tersebut, hanya dia yang berasal dari kalangan persilatan. Dia juga memiliki ilmu silat tinggi. Dia sangat sulit dihadapi."

"Dan masih ada lagi, seorang pemuda tangguh yang melindunginya"

"Betul"

"Nona, kau sudah membuat kesalahan yang sangatbesar..."

"Oh...?"

Thiat-yan membelalakkan sepasang matanya. Walaupun dia selalu keras kepala, dan tidak gampang mengalah, namun menghadapi Boh Tan-ping dia bisa menyabarkan diri dan menaruh kepercayaan besar padanya.

"Nona Yan, kali ini kepergian kita ke kota, apakah untuk melampiaskan kemarahan saja?"

"Tentu saja tidak"

"Kalau begitu tolong anda beri penjelasan, urusan penting apa lagi yang masih harus kita kerjakan?"

"Kita harus tahu kejadian yang sebenarnya. Apa alasannya, waktu itu ayahku dikeroyok oleh kelima orang tersebut bersama-sama"

"Betul. Itu adalah salah satu tujuan kita datang ke kota. Oleh karena itu target kita selanjutnya adalah mencari orang yang benar-benar tahu kejadian yang sebenarnya. Tidak masalah orang ini bisa ilmu silat ataupun tidak."

"Mendengar perkataanmu, tampaknya jarang orang tahu kejadian ketika ayahku dikeroyok"

"Betul"

Boh Tan-ping berkata tanpa ragu-ragu.

"aku sudah meluangkan waktu bertahun tahun untuk mencari tahu, diantara mereka semua hanya ada satu orang yang benarbenar tahu kejadian yang sebenarnya"

"Siapakah orang ini?"

"Aku juga tidak tahu... aku hanya tahu, kecuali orang itu, tidak ada orang lain lagi yang tahu"

Thiat-yan tampak murung dan terdiam.

Dia terus-menerus menatap Boh Tan-ping dengan tatapan curiga dan kaget, dia merasa aneh, mengapa Boh Tan-ping tidak pernah memberitahukan tentang hal ini padanya.

Tapi akhirnya dia tetap tidak mendesak Boh Tan-ping.

Setelah sangat lama, Thiat-yan akhirnya berkata.

"Sekarang kita seperti sedang berjalan dalam kabutyang tebal. Entah kita harus mulai dari mana"

"Tan Po-hai"

Boh Tan-ping berkata dengan keras.

--Tan Po-hai tampak berumur sekitar empat puluh tahun lebih, namun tidak sampai lima puluh tahun.

Kuliy eajah yang berada diantara kedua alisnya sangat lebar, siapapun bisa tahu bahwa dia adalah seorang yang menikmati hidup, kedua kupingnya masih terluka, namun dia tetap bermain alat musiknya.

Lagu yang dimainkannya adalah lagu yang sangat terkenal.

Dia pun sedang memainkan alat musiknya dengan tenang.

Permainan alat musiknya benar-benar tidak jelek.

Petikan senar biolanya sangat bertenaga.

Jari jemari yang menekannekan senar pun bergerak lincah dan sangat cepat.

Lagu yang dibawakannya benar benar sangat enak didengar, orang yang mendengarnya pasti akan tertegun karena kagum.

Namun meskipun demikian, Tu Liong dan Wie Kie-hong sama sekali tidak menikmati lagu yang sedang dibawakan.

Bukan berarti mereka tidak mengerti arti lagu itu, namun karena mereka berdua sedang memikirkan sebuah masalah lain didalam hati masing-masing, walaupun demikian, mereka terus menunggu Tan Po-hai selesai bermain dengan sabar.

"Baiklah!"

Akhirnya Tan Po-hai selesai memainkan lagu terakhir, lalu memasukkan alat musik kedalam sarung yang dibawanya.

"Paman Tan"

Tu Liong bertepuk tangan perlahan.

"benarbenar sangat bagus. Aku tidak sedang menyanjung dirimu, namun permainanmu memang sangat bagus, pantas mendapat predikat nomor satu di kolong langit"

"Aku tidak berani menyandang gelar pemain musik nomor satu di kolong langit"

Kata Tan Po-hai dengan nada datar. Dia menyimpan alat musiknya dengan baik, setelah itu dia bertanya.

"ada urusan apa kalian berdua datang kemari?"

Wie Kie-hong berkata.

"Kami datang kemari untuk menengok anda"

"Menurutku, orang yang tidak memiliki telinga tidak enak dilihat..."

"Paman Tan, tampaknya anda tidak merasa dendam."

Tu Liong benar-benar mengerti cara mengambil kesempatan. Dia tidak membuang-buang waktu.

"Merasa dendam?"

Tan Po-hai mengangkat bahu dan menunjukkan telapak tangannya, dia lalu berkata "apa yang sudah kita tabur, itu yang harus kita tuai....

Kie-hong, bagaimana kabar Leng Taiya?

Apakah dia masih baik baik saja?"

"Masih baik-baik. Umurnya sudah tua, dan baru mendapatkan musibah yang sangat besar. Namun dia sangat tabah, tidak sedikitpun masalah yang tidak bisa diatasinya, orang tua ini masih bisa bertahan terus"

"Hui Ci-hong sudah meninggal, aku benar benar memuji kebesaran hati Leng Taiya setelah mendengar berita ini. kau berkata seperti ini, hatiku menjadi tenang."

"Paman Tan!"

Tu Liong berkata dengan nada berat "sepertinya kau juga sudah tahu, kali ini pelakunya belum sampai mendatangi Cu Taiya.

Namun cepat atau lambat dia pasti akan datang, menurut paman dia sudah melukai empat orang, mengapa masih belum turun tangan pada Cu Taiya?"

"Aku pikir.....dia pasti sedang menunggu"

"Menunggu apa?"

"Menunggu kesempatan tentunya. Cu Taiya adalah seorang pendekar yang mahir ilmu silat, pelakunya tidak berani bertindak gegabah?"

"Maksud paman, pelakunya masih takut pada Cu Taiya?"

"Tentu saja"

"Paman..."

Melihat Tan Po-hai menjawab semua pertanyaannya tanpa sedikitpun merasa ragu ragu. Maka Tu Liong terus mengajukan pertanyaan padanya.

"menurut kesimpulanku, pelakunya ingin membalas dendam. Bagaimana menurut paman?"

"Tidak salah"

"Kalau begitu, seharusnya kita mencari tahu hutang apa yang telah dibuat sebelumnya... Pertama-tama kita bicarakan diri paman. Apakah paman memiliki dendam dengan Tiat Liong-san?"

"Tidak ada"

"Apakah ada hubungan saling merugikan?"

"Tidak ada"

"Kalau begitu, apakah pada saat Tiat Liong-san dicelakai, paman ikut ambil bagian?"

"Ada"

"Kalau begitu aku tidak mengerti. Kalau memang Tiat Liong-san tidak memiliki dendam ataupun merugikan, mengapa paman mencelakai-nya?"

"Tu Liong"

Kata Tan Po-hai penuh perasaan.

"apa tujuanmu menanyakan semua ini?"

"Aku ingin melindungi majikanku agar tidak dicelakai. Karena itu aku harus bertanya dan mengerti keadaan yang sebenarnya terjadi. Aku berharap semua yang paman ketahui bisa diceritakan pada kami"

"Tu Liong, kalau diceritakan juga kau pasti tidak akan percaya, pada waktu itu kami berlima melukai Tiat Liong-san, aku pun tidak tahu mengapa kami melakukannya."

"Diantara kalian berempat, sebenarnya siapa yang memiliki permusuhan dengan Tiat Liong-san?"

"Tidak tahu"

"Oh? Kalau begitu siapa yang mengajukan usul mencelakai Tiat Liong-san?"

"Cu Taiya"

"Apakah kalian tidak bertanya padanya apa alasannya?"

Tan Po-hai kembali mengangkat bahu dan membukakan telapak tangannya, dari raut wajahnya terlihat jelas kalau dia sudah pasrah.

Baca Juga: Jaka Lola 5

Baca Juga: Pendekar Remaja 9

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert