Eps 2 Walet Besi - Cu Yi
Baca online Walet Besi - Cu Yi
Cersil Walet Besi - Cu Yi.
"Tu Liong, sebaiknya kau juga ikut berpikir. Cu Taiya adalah seorang pendekar yang ternama di kalangan persilatan. Hui Taiya memiliki banyak kekayaan dan kekuasaan yang tidak kalah besarnya. Leng Taiya sangat terkenal dikalangan pemerintahan. Dia memiliki hubungan yang sangat luas. Oey Souw memiliki banyak prajurit bawahan, mereka semua tidak ragu-ragu membunuh jika diperintahkan, aku bisa bergaul bersama beberapa orang besar ini, karena mereka menyukai sifatku....Tu Liong, ketika mereka berpikir ingin mencelakai seseorang, apakah aku masih bisa bertanya pada mereka apa alasan mereka melakukan itu?"
Tu Liong dan Wie Kie-hong saling bertukar pandang, lalu melanjutkan pertanyaannya "Pada waktu itu bagaimana mereka mencelakai Tiat Liong-san?"
"Mereka menuduh....mengatakan bahwa dia berkomplot membelot pemerintahan"
"Apakah ada bukti?"
"Tentu saja ada. Namun bukti itu dibuat-buat, tidak sebenarnya terjadi."
"Apakah paman bisa menceritakan pada kami lebih jelas lagi?"
"Surat tuduhannya ditulis oleh Leng Taiya. Aku dan Hui Taiya adalah saksi. Oey Souw menyuruh tentaranya pergi menangkap dia. Hui Ci-hong mengaku melihat dengan mata kepalanya bahwa Tiat Liong-san telah membunuh seorang prajurit pemerintahan. Aku mengaku pernah mendengar dia didepan umum berpidato ingin menggulingkan pemerintahan.... Oey Souw melempar sepatah kata yang terukur di papan yang bertulisan "bunuh", lalu keputusan dibuat dengan memenggal kepala Tiat Liong-san. Hukuman penggal kepala dilakukan pada pagi buta hari berikutnya"
"Oh, kalau begitu aku mengerti."
Tiba-tiba Tu Liong seperti mendapat pencerahan.
"Leng Taiya menulis surat yang menyesatkan, oleh karena itu tangan yang digunakannya untuk menulis dipotong. Hui Taiya berkata kalau dia melihat dengan mata kepalanya kalau Tiat Liong-san sudah membunuh seorang prajurit, oleh karena itu kedua matanya dicongkel, paman Tan mengaku mendengar Tiat Liong-san ingin membelot, oleh karena itu kedua daun telinganya dipotong.... Oey Souw sudah meninggal, oleh karena itu anaknya yang menebus dosanya, dia mendapat luka di dekat mulutnya........cara Thiat-yan membalas dendam benar-benar bagus. Namun dia belum turun tangan pada Cu Taiya"
"Tu Liong, mungkin Thiat-yan tidak tahu kalau Cu Taiya adalah orang yang sudah mengusulkan untuk mencelakai Tiat Liong-san."
Dari tadi Wie Kie-hong tidak berkata apa-apa, sekarang tiba-tiba saja dia ikut berbicara.
"Tu Toako, yang dikatakan oleh paman Tan tidak salah. Mungkin saja nona Yan tidak mengetahui bahwa Cu Taiya adalah orang yang sudah mengusulkan untuk melukai ayah kandungnya."
"Tidak!"
Kata kata Tu Liong terdengar sangat yakin.
"dia pasti sudah tahu"
"Bagaimana dia bisa tahu?"
Tan Po-hai balik bertanya.
"Tiat Liong-san memiliki kakak dan adik, juga memiliki banyak teman yang sangat akrab. Apakah semua orang disekelilingnya tidak akan bertanya-tanya dan mencari tahu kejadian yang sebenarnya terjadi? Tuan dengan Hui Taiya memberikan kesaksian di depan pengadilan, semua orang pasti akan mengetahui nya. Tapi Leng Taiya sudah menulis surat yang menyesatkan, seharusnya hal ini tidak mungkin tidak diketahui oleh orang lain. nona Yan juga tentu mengetahui tentang hal ini. kalau dia mengetahui hal ini, mana mungkin dia tidak mengetahui hal yang lain? "Tapi mengapa sampai sekarang dia belum turun tangan membunuh Cu Taiya?"
"Cu Taiya memiliki ilmu silat yang tinggi, dia tidak akan mudah dihadapi, tidak seperti kalian ini. lagipula Cu Taiya adalah dalang dari semua urusan ini. nona Thiat-yan pasti akan menghukumnya dengan cara yang paling kejam"
"Tu Liong, kalau menurut logika, seharusnya nona Thiatyan membunuh Cu Taiya dulu. Dengan begitu dia akan mendapatkan hasil yang lebih memuaskan. Namun sekarang ini dia turun tangan dan melukai kami kaki tangannya, bukankah ini namanya memukul rumput dan mengagetkan ular, dengan begini semua orang akan memperkuat penjagaan terhadap Cu Taiya"
Tu Liong tampak sangat bingung. Dia berkata.
"Sebenarnya ini sebuah hal yang aneh. Dibalik semuanya tentu terdapat sebuah cerita, namun bagaimanapun juga aku tidak dapat memikirkan apa kira-kira ceritanya"
Wie Kie-hong kembali ikut bicara.
"Kalau menurut pandanganku, sepertinya Thiat-yan sengaja ingin menakut-nakuti Cu Taiya...."
"Mengapa?"
Tu Liong dan Tan Po-hai bertanya bersamaan.
"Tentu saja dia memiliki tujuan. Setidaknya kita sudah mengetahui tentang satu hal, dia ingin mendapatkan barang yang disimpan di dalam kopor kulit."
Tan Po-hai menatap mereka kebingungan.
Jelas jelas terlihat kalau dia sama sekali tidak mengetahui tentang kopor kulit ini.
Tapi Tu Liong tidak ingin membahas masalah kopor kulit itu dengan Tan Po-hai.
Oleh karena itu dia cepat cepat memalingkan muka dan mengalihkan topik pembicaraan.
"Paman Tan, mengenai masalah Hui Taiya, apakah anda memiliki pandangan sendiri?"
"Tampaknya dia tidak dapat menahan rasa sakitnya. Kedua mata yang sudah dicokel keluar, rasanya pasti jauh lebih sakit dibandingkan dengan kedua daun telinga yang dipotong."
"Aku menduga kalau dia bunuh diri karena dia takut Thiatyan akan terus melanjutkan balas dendamnya"
Tu Liong mengatakan ini dengan perlahan-lahan. Dia terus memperhatikan reaksi Tan Po-hai terhadap komentarnya. Lalu dia melanjutkan kata-katanya.
"Mungkin juga ini adalah permulaan balas dendam bagi Thiat-yan....paman Tan....bagaimana menurutmu?"
"Tidak...."
Tan Po-hai berkata dengan penuh keyakinan.
"sekarang dosaku sudah impas. Thiat-yan sudah berkata padaku sewaktu dia turun tangan melukaiku, bahwa semua ini sudah berlalu. Asalkan aku tidak mencari dirinya, dia juga tidak mungkin mencari diriku. Oleh karena itu aku sangat lega .... aku sudah bermimpi buruk selama bertahun-tahun, akhirnya aku bisa bangun dan kembali sadar."
Dari kata kata Tan Po-hai dapat diambil kesimpulan, bukan saja dia tidak menyimpan dendam terhadap Thiat-yan, malah dia merasa bersyukur karena semua hutang masa lalunya sudah terbayar lunas.
Wie Kie-hong menoleh pada Tu Liong, namun Tu Liong tidak berkata apa apa lagi.
kedua orang ini lalu pamit pulang.
Setelah keluar dari pintu, sambil terus berjalan Wie Kiehong berkata pada Tu Liong.
"Tu Toako, sekarang kau sudah salah jalan"
"Salah?"
"Iya, salah, diantara mereka berlima, Tan Po-hai paling tidak memiliki kekuatan apa-apa. kita tidak mungkin mendapat banyak informasi darinya"
"Kie-hong, aku punya sebuah firasat lagi .... Ugh, aku selalu berkata tentang firasat ...., aku rasa diantara mereka semua, Tan Po-hai lah satu-satunya orang yang paling mungkin membocorkan rahasia"
"Betul, tampaknya dia tidak bisa menyimpan rahasia. Sayang sekali dia juga tidak banyak tahu tentang semua urusan ini..."
"Sekarang bagaimana ya...?"
Tu Liong seperti bertanya pada dirinya sendiri.
"Tu Toako, bukankah kau sudah berpesan agar aku selalu mengikuti petunjukmu?"
"Baiklah... kalau begitu kita berdua berbagi tugas. Sekarang kau pulang dan beritahukan pada Leng Taiya tentang kopor kulit yang kosong.."
"Dia sudah berpesan padaku berkali-kali agar tidak penasaran, membuka kopor dan melihat isinya. Bagaimana mungkin aku memberitahukan hal ini padanya?"
"Kie-hong, kadang-kadang dalam hidup seseorang harus berkata bohong demi kebaikan. Kau katakan saja bahwa ada seseorang yang menjambret kopor itu, dan lalu ketika sedang berebut, tanpa sengaja kopor itu terbuka, dan kau baru menyadari bahwa didalam kopor tidak terdapat apapun."
Wie Kie-hong tidak berkata apa apa.
"........Kau kerjakanlah sesuai dengan petunjukku. Aku yakin Leng Taiya pasti akan bereaksi terhadap ceritamu. Mungkin saja reaksi dia akan memberikan sebuah petunjuk baru bagi kita...."
"Kalau dia menanyakan tentang kopor kulit itu, bagaimana aku menjawabnya?"
"Kau katakan saja bahwa kopor itu sudah dibawa lari oleh seesorang yang tidak dikenal."
"Tu Toako, aku tidak pernah berbohong, dan aku pun tidak mungkin berbohong."
"Segala sesuatunya pasti harus dipelajari, dan harus dicoba....baiklah, itulah keputusan yang sudah kubuat....dua jam dari sekarang kita akan bertemu di taman umum Bei Hai. Kita tidak pergi sebelum bertemu"
"Kemana kau akan pergi?"
"Aku akan mencari Bu Tiat-cui"
Kebetulan sekali waktu yang bersamaan sebuah kereta kuda melintas didepan mereka.
Tu Liong lalu berjalan menaiki kereta dan duduk disana.
--Setelah beberapa lama, kereta kuda tiba di gang San-poa tempat kediaman peramal Bu Tiat-cui, Tu Liong tidak menyangka pemiliknya akan berada ditempat, ternyata Bu Tiat-cui sedang duduk di ruang samping menunggu tamu.
"Apakah tuan ingin diramal? Apa ingin tahu masa lalu tuan? Atau tuan ingin tahu tentang karakter tuan dari wajah?"
Bu Tiat-cui menyapa.
"Tuan Bu! Tadi pagi aku sudah mengutus seseorang datang kemari untuk membawakan tanggal kelahiranku. Aku berharap engkau dapat meramalkan berdasarkan tanggal itu. Namun sampai sekarang orang itu belum kembali dan melapor padaku. Tolong bantu mencari tahu, dimana sekarang dia?"
"Oh....Baiklah... berapa umurnya?"
"Empat puluh tahun lebih."
"Mohon maaf! Aku belum pernah melihat tamu itu sebelumnya...."
"Tapi...."
"Tamu yang terhormat! Bukannya aku ingin mempromosikan pekerjaanku, aku akan membantumu mencarinya dengan bantuan kartu. Bagaimana?"
"Apakah akurat?"
"Akurat atau tidak kita akan tahu setelah meramal."
Bu Tiat-cui tidak pernah berkata diluar perkara ini.
"Baiklah kalau begitu boleh coba"
Bu Tiat-cui mengeluarkan sebuah kotak yang terbuat dari kayu.
Didalamnya terdapat banyak gulungan kertas, ini adalah kartu yang akan digunakan untuk meramal.
Dia lalu menyuruh Tu Liong untuk mengambil satu.
Tu Liong memilih sebuah gulungan kertas secara acak.
Setelah dibuka ternyata bertuliskan sebuah huruf mandarin 'Ci'yang berarti senja.
Melihat gulungan ini, kedua alis Bu Tiat-cui mengerut.
Tu Liong tidak percaya tentang ramal meramal, apalagi meramal hanya dari sebuah huruf yang tertulis diatas kertas, dengan begitu dia juga tidak akan percaya ramalan yang akan dibuat oleh Bu Tiat-cui.
Oleh karena itu dengan santai dia bertanya.
"Tuan Bu! Melihat alismu yang mengkerut, apakah ini sebuah alamat yang buruk?"
"Mmm! Sangat tidak baik....sangat tidak baik... ...."jawabnya.
"Oh! Mengapa kau berkata seperti itu?"
"Matahari senja tenggelam disebelah barat. Setelah itu bumi diselimuti kegelapan."
Bu Tiat-cui sambil berbicara sambil mengambil sebuah kuas dan diatas kertas yang bertuliskan tersebut mencoret sesuatu.
"Lihatlah. Huruf ditambah sebuah garis -yang berarti satu, akan berubah menjadi huruf yang berarti jahat. Orang ini sudah terlepas hubungan dengan dirimu. Ini berarti urusan sudah berubah. Huruf (Pian) berarti perubahan. Kau mencari orang, jadi orang tersebut menghilang, jika huruf [Jin] yang berarti manusia yang ada disana dihilangkan, itu akan membuat huruf [Cit] yang berarti tujuh... setelah itu huruf digabungkan dengan huruf akan membuat sebuah huruf (Si) yang berarti kematian. Tamu yang terhormat, orang yang kau tanyakan sudah meninggal."
Sebenarnya Tu Liong memang sudah tahu bahwa orang yang ditanyakan olehnya sudah meninggal.
Sebuah jarum baja sudah menancap diantara kedua alisnya, mana mungkin orang itu tidak meninggal?
Namun ramalan yang dibuat oleh Bu Tiatcui benar benar sangat akurat.
Entah bagaimana rupa Tu Liong ketika mendengar semua penjelasan yang didengarnya tadi.
Lagipula dia sendiri yang asal memilih gulungan kertas yang dipakai tadi.
"Tuan! Mohon maaf, aku benar-benar tidak menyangka ramalan yang ku buat adalah sebuah berita yang sangat buruk. Aku tidak ingin menerima pembayaran dari mu sebagai ungkapan bela sungkawa."
Berdasarkan cerita Wie Kie-hong, Bu Tiat-cui sama sekali tidak mengetahui bahwa ada seseorang yang mati didalam kamarnya. Apakah dia benar-benar tidak tahu? "Ramalanmu sungguh tepat!"
Tu Liong berkata padanya dengan nada dingin.
"Hei... Hei... Semua ramalan yang kubuat selama ini biasanya selalu tepat."
"Sebenarnya kau dari awal pun sudah tahu orang itu sudah mati."
"Oh...? Dari awal aku sudah tahu? Tidak mungkin!"
"Karena orang ini sudah mati didalam kamar ini"
"Tuan!"
Mendadak Bu Tiat-cui berdiri, sikap-nya berubah menjadi sangat tegas.
"tadi ada seseorang yang memberitahuku bahwa ada seseorang yang dibunuh disini. Tapi aku tidak melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Tuan! Kau juga tidak melihatnya dengan mata kepalamu sendiri. Apa yang kau dengar, belum tentu kenyataan, namun apa yang sudah kau lihat, itu barulah bisa kau percaya."
"Bu Tiat-cui!"
Seru Tu Liong dengan kecut "kau tidak usah macam-macam, melihat keadaan, aku tahu kau bukan orang sembarangan........bibirmu keras seperti kulit tanduk, kau katakan! bagaimana orang itu matinya?"
"Ini sebuah hal yang aneh! Bagaimana orang itu dibunuh? bagaimana aku bisa mengetahui hal ini?"
"Aku kataan sekali lagi. Kau pasti tahu karena orang itu mati disini!"
"Tuan! Bu Tiat-cui sama sekali tidak pernah berbuat salah padamu! Untuk apa kau tiba-tiba datang menudingku seperti ini?"
"Bukankah kau mengatakan kalau kau bisa meramal, melihat karakter seseorang dari raut wajah, kau bisa meramal baik dan buruk, meramal masa lalu? Kalau begitu mengapa kau tidak mencoba meramal, mengapa aku bisa datang kemari dan menudingmu seperti ini?"
"Jangan melotot seperti itu! Aku bisa meramal orang lain dengan tepat, namun aku tidak bisa meramal diriku sendiri. Kalau aku bisa meramal diri sendiri, untuk apa aku mencari hidup dengan meramal?"
"Bu Tiat-cui! Sedikit banyak kau pasti sudah mengetahui kalau aku bukanlah orang yang senang berbasa-basi. Terlebih lagi seharusnya kau sudah tahu. aku datang kemari, aku tidak akan pergi dengan mudah hanya karena ditakut-takuti olehmu....! Aku ingin bertanya sebuah pertanyaan padamu. Tolong jawab dengan jujur!...
"Pertanyaan apa?"
"Siapa yang sudah menyetir gerak gerikmu dan bersembunyi dibelakangmu? Aku hanya ingin tahu siapa orang ini. kau lihatlah aku bukanlah seorang yang senang mendapat hasil yang kecil. Aku tidak ingin mencari penakut yang melarikan diri. Aku ingin mencari juragan besar! Juragan besar yang ada dibelakangmu!"
"Tuan yang terhomat ini... !"
Bu Tiat-cui tidak menjadi panik sedikitpun. Semua kata-kata meluncur dari mulutnya dengan sangat teratur.
"apapun kata-katamu itu semuanya tidak ada gunanya, aku sudah tinggal di dalam kota ini selama puluhan tahun, orang yang sudah kukenal pun tidak sedikit. Siapa yang berani berkata kalau aku adalah seorang pengecut yang senang melarikan diri? Kalau kau tidak percaya, silahkan bertanya pada orang-orang. Pada waktu itu raja Su-cen juga sudah pernah datang kemari mencariku untuk menghitung dirinya dan meramal masa depannya."
Setelah mendengar sepatah kata "raja Su-cen", emosi Tu Liong kembali mereda.
Sekarang nada bicaranya sudah kembali seperti biasa.
Dia kembali ramah tamah, karena topiknya pasti akan beralih pada Leng Souw-hiang.
"Apa anda mengenal Leng Taiya?"
"Kepala bagian kepercayaan raja Su-cen. Siapa yang tidak mengenalnya?"
"Menurut kabar yang beredar, Leng Taiya sudah menitipkan sebuah kopor kulit padamu untuk dijaga. Bagaimana hal ini bisa terjadi?"
"Aku tidak akan menutup-nutupi padamu. Hari ini sudah ada setidaknya tiga sampai lima orang yang datang kemari bertanya seperti itu. Namun bagaimanapun juga jawabanku tetap satu....itu tidak pernah terjadi"
"Benarkah tidak pernah terjadi?"
"Tidak pernah"
Bu Tiat-cui benar-benar seorang yang bermulut besi (Tiat Cui) setelah berkata, dia tidak pernah sekalipun merubahnya.
"Ada seseorang yang melihatmu datang ke stasiun kereta dan menukarkan sebuah kopor kulit berwarna kuning dengan seseorang yang masih muda."
"Kapan hal ini terjadi?"
"Belum lama"
"Bohong! Sedari pagi ini aku pergi keluar berjalan-jalan seperti biasa. Setelah kembali aku tidak pergi keluar lagi. Orang yang sudah mengatakan itu padamu, kalau bukan seorang pembohong, dia pastilah seorang buta!"
Pada awalnya Tu Liong berharap untuk mendapatkan informasi yang lain dari dirinya, namun tidak disangka semua kata-kata yang diucapkan oleh Bu Tiat-cui benar-benar sangat bersih.
Tidak terlihat kejanggalan sedikitpun.
Apakah Thiat-yan sudah datang kemari dan mencuri dengar?
Dan apakah Bu Tiat-cui menjawab semua pertanyaannya dengan cara yang sama seperti dirinya?
Apakah Thiat-yan akan percaya dan segera pergi.
Sepertinya hal ini sangat tidak mungkin "Tuan!
silahkan pulang!
Aku berani menga-takan kalau kau ingin mencari sebuah berita, kau sudah menggonggong pada pohon yang salah.
Kau sudah bertanya pada orang yang salah"
Tu Liong kecewa, otaknya yang cemerlang pun seolah-olah berhenti berputar. Tiba-tiba saja dari luar terdengar suara orang.
"Apakah ada orang didalam?"
"Siapa?"
Bu Tiat-cui cepat-cepat pergi ke pintu dan menyibakkan tirai.
"Kami datang kemari untuk diramal"
Orang yang datang ada dua, semuanya masih sangat muda.
Melihat dari penampilannya, dan dari cara mereka berjalan, langsung dapat diketahui kalau mereka berdua menguasai ilmu silat, hal ini tidak dapat lolos pandangan Tu Liong.
Bu Tiat-cui sama sekali tidak mencurigai maksud kedatangan kedua orang ini.
dia langsung pergi mengambil kotak kayu yang berisi gulungan kertas dan menyerahkannya pada kedua orang itu.
Dengan sangat sopan santun dia berkata.
"Silahkan ambil salah satu gulungan kertas ini sesuka hati anda"
Salah satu diantara mereka mengulurkan tangan dan mengambil sebuah gulungan.
Bu Tiat-cui membukan gulungan kertas dan melihat tulisan didalamnya.
Sebuah kata P (kau) yang berarti mulut.
Orang yang satunya sepertinya menaruh minat pada pernak-pernik yang ada ditempat Bu Tiat-cui.
Dia melihatlihat, dan meraba-raba semuanya.
Terakhir dia mengambil sebuah mistar tembaga dari meja tempat Tu Liong duduk.
Bu Tiat-cui sama sekali tidak menaruh kecurigaan apa pun terhadap mereka.
Dia bertanya.
"Tuan inginbertanya tentang apa?"
"Mencari seseorang"
"Oh?"
Sekali lagi Bu Tiat-cui mengambil kuas dan mencoret-coret pada sebuah lembar kertas yang masih kosong.
Pertama-tama dia menggambar sebuah huruf P (kau).
Setelah itu dia menggoreskan dua buah garis.
Sekarang huruf Pberubah menjadi huruf Jl(Ci).
Huruf ini berarti "hanya".
Setelah menggambar, dia kembali berkata pada kedua pemuda itu.
"Ramalanku dapat diandalkan, biasanya selalu akurat., karena kalian datang berdua, dibawah huruf (kau) aku menggambar dua buah garis. Huruf P berubah menjadi il(ci) yang berarti hanya. Itu berarti kalian berdua datang kemari mencari orang yang sama....tuan yang ini memegang mistar tembaga di tangannya, karena itu kita akan menambahkan sebuah huruf K.[cek] yang berarti "mistar (penggaris)", dan tulisan kita berubah menjadi FH ....Hmmm... orang ini berada ditempat yang sangat dekat!"
"Apa artinya?"
"Orang ini ada di bawah kaki langit, tapi sangat dekat didepan mata..."
Tiba-tiba saja Bu Tiat-cui tersentak kaget dan langsung terdiam.
Sepertinya dia baru menyadari bahwa ramalannya sekali lagi adalah sebuah ramalan yang tidak baik, karena didepan matanya masih ada orang ketiga.
Dari awal Tu Liong mengawasi semua dengan tatapan mata dingin, saat ini Tu Liong pun menyadari ada sesuatu yang kurang baik.
Pemuda yang memegang mistar tembaga tertawa terkekeh-kekeh dan berkata.
"Bu Tiat-cui! Semua orang berkata bahwa ramalanmu sangat tepat, ternyata memang yang diomongkan orang orang tidak salah....kami berdua memang datang kemari mencari teman yang berada didalam ruangan ini"
Jawaban ini memang sudah diduga oleh Tu Liong sebelumnya, hanya saja dia tidak menyangka kedua orang ini harus menemui Bu Tiat-cui untuk diramal.
Ini membuat keadaan berubah menjadi sedikit lebih rumit.
Apakah ramalan Bu Tiat-cui benar-benar sangat akurat?
Ataukah kedua orang ini memang pada dasarnya sudah bekerja sama dengan Bu Tiat-cui untuk membuat sebuah ramalan?
Apakah mereka sengaja membuat sandiwara?
Walaupun sedang menghadapi dua orang lawan yang kuat, Tu Liong masih belum bisa melepaskan ketertarikan untuk memecahkan sebuah misteri.
"Tu Liong!"
Orang yang membawa mistar tembaga berkata dengan nada dingin "kami benar-benar tidak menyangka bisa bertemu denganmu disini. Bagaimana kalau kita bertiga pergi berjalan-jalan sebentar?"
"Mengapa aku harus ikut kalian?"
Tatapan mata Tu Liong sama sekali tidak berpindah dari muka Bu Tiat-cui.
Tampaknya dia ingin menggunakan kesempatan ini untuk melihat pendirian lawannya.
Bu Tiat-cui tampak sangat kaget.
Raut muka seperti ini tidak mungkin dipalsukan.
"Sahabat!"
Orang yang membawa mistar tembaga berkata pada temannya.
"sepertinya sahabat mongol ini tidak ingin bekerja sama. Sebaiknya apa yang harus kita lakukan?"
"Kalau tidak berhasil menggunakan cara yang halus, kita harus menggunakan kekerasan"
"Saudara berdua!"
Tu Liong berkata dengan nada dingin. Tentu saja dia tidak menganggap enteng kedua orang ini.
"kupikir kalian berdua pun tentu sudah mendengar kabar. Kalau kalian menggunakan cara kekerasan, kalian berdua belum tentu bisa men-dapatkan apa yang kalian inginkan dengan mudah.... kemana kalian ingin membawaku? Untuk menemui siapa? Kalau kalian bisa menjelaskan semuanya, mungkin aku bersedia pergi bersama kalian menemui orang ini...."
"Menemui siapa, bertemu dimana... pada waktunya nanti kau akan tahu sendiri."
"Huh! Apakah kalian berpikir ingin menutup mataku, menggiringku seperti kambing bodoh ke rumah pejagalan?"
Dengan cepat kedua orang pemuda itu saling bertukar pandang.
Akhirnya mereka membuat sebuah rencana lain.
Sekarang Tu Liong sudah tahu bahwa mereka adalah anak buah Thiat-yan yang sudah diutus untuk menjemputnya.
"Kalian pulanglah dan beritahu pada Thiat-yan, aku tidak ingin menjumpai dirinya. Kalau dia ingin menjumpai aku, aku yang akan menentukan, tempat dan waktu harus kalian ingat dengan baik. Sore jam empat tepat, di kedai teh Tong-ceng"
Setelah berkata seperti itu, Tu Liong segera berjalan keluar.
Kedua orang pemuda tadi tidak mencegat kepergiannya.
Ternyata di pekarangan rumah masih ada orang lain.
Mereka juga berdua.
Tu Liong menghirup nafas dalam-dalam.
Kalau dia harus bertarung melawan empat orang sekaligus, belum tentu dia bisa memenangkan pertarungan.
Kedua orang yang ada di dalam pun segera menyusul keluar.
Pertama-tama pemuda yang memegang mistar tembaga yang membuka pembicaraan.
"Tu Liong! Apakah kau pikir kita pasti akan mendengarkan kata-katamu?"
"Kalian datang dari tempat lain. Naga yang kuat akan kalah oleh ular setempat. Tentu saja kalian pasti akan mendengarkan semua yang akan kuucap-kan"
"Kecuali perintah majikan, kami semua tidak akan mendengarkan kata-kata orang lain. Sekarang majikan kami sudah memberi perintah, kau harus mengikuti kami pergi, tidak bisa tidak, kalau kau tidak mau pergi, kami pasti akan menyeretmu."
"Apakah kalian akan mengeroyokku?"
"Untuk menghadapi orang jahat sepertimu, kami semua terpaksa menggunakan cara ini, kau adalah orang yang sangat ternama, kami tidak lebih dari serdadu kecil yang tidak memiliki nama!"
"Kalau kalian benar-benar ingin mencoba, silahkan! Aku khawatir yang akan keluar dari tempat ini dengan dipapah bukanlah diriku, tapi kalian."
Pemuda yang membawa mistar tembaga segera memberi isyarat dengan matanya.
Kedua orang pemuda yang tadi menunggu di dalam pekarangan segera menyerbu kedepan.
Masing-masing menggunakan tinju kosong.
Bersama sama menyerang ke arah Tu Liong.
Tu Liong segera memperagakan kemahiran ilmu silatnya.
Dia menggunakan sedikit tenaga untuk melawan serangan bertenaga kuat....meminjam tenaga orang lain untuk menyerang.
Tinju salah seorang pemuda sudah meluncur menuju dadanya.
Tubuh Tu Long dengan cepat bergerak ke samping, jari tangannya menyambar maju bagai kilat, langsung pergelangan tangan pemuda itu sudah dicengkram dengan erat.
Tinju pemuda yang kedua menyusul cepat.
Tu Liong kembali bergerak menghindari serangan, dengan tangannya yang masih bebas, dia kembali menangkap lengan pemuda ini.
Kedua pemuda ini masih terus mendesak.
Dengan segera Tu Liong menarik kedua tangan nya ke bawah, dan tubuh kedua pemuda itu ikut tertarik ke bawah.
Karena kecepatan larinya, mereka kedua orang itu berputar dan mereka terhempas keras ke lantai.
Itulah jurus bantingan yang menjadi salah satu keahlian Tu Liong.
Kedua pemuda tadi tergeletak di sebelah kiri dan kanannya.
Mereka tampak sulit menarik nafas.
Dari sini jelas terlihat, hanya mengandalkan tangan kosong, walaupun ke empat pemuda ini menyerang bersama-sama pun tidak akan menang melawan Tu Liong..
Mereka segera memikirkan cara lain untuk melawan Tu Liong, terpaksa mereka harus meng-gunakan senjata, tidak bisa tidak....
Benar saja, mereka semua masing-masing mencabut sebuah pedang pendek.
Kalau diban-dingkan, tentu saja empat buah pedang pendek lebih memiliki kemungkinan untuk melawan daripada empat buah kepalan tangan kosong.
Tampaknya mereka berempat sudah tahu posisinya masing masing.
Mereka melangkah perlahan-lahan mulai mengurung Tu Long.
Tu Liong merasa seolah-olah dirinya seekor kambing yang sedang terjebak ditengah laut dikelilingi ikan hiu lapar yang siap menyantapnya.
Pandangan mata keempat orang itu sangat tajam.
Tu Liong dapat merasakan keinginan bertarung mereka, dia bahkan dapat mendengar sayup-sayup empat suara tarikan dan hembusan nafas yang berat Kilau empat buah sinar pedang terlihat bergerak-gerak.
Tu Liong hanya bisa memasang kuda-kuda dan bersiap menerima serangan.
Pada akhirnya acara berjalan keliling pembuka pertarungan selesai dilakukan.
Keempat orang ini sudah menempati posisi masing-masing, Satu orang menempati sebuah penjuru mata angin.
Tu Liong berada ditengah-tengah.
Begitu waktunya sudah tiba.
"SERANG!!!"
Pemuda yang tadi memegang mistar besi memberi perintah.
Tentu saja mistar besinya sekarang sudah berganti dengan pedang besi.
Walaupun dia seperti dia pemimpin penye-rangan kelompok ini, tapi dia juga ikut turun tangan menyerang.
Sesuai dengan yang diduga oleh Tu Liong, ke empat orang ini menyerang berbarengan.
Kalau Tu Liong tetap berdiam ditengah menerima empat serangan, dia sama seperti tikus yang sudah pasrah dikeroyok oleh empat ekor kucing.
Apa lagi saat ini Tu Liong tidak membawa senjata apa-apa, dengan tangan kosong melawan empat pedang.
Mana mungkin Tu Liong bisa memenangkan pertarungan ini?
Tapi Tu Liong cerdik, dia segera bergerak ke sebelah kiri, dia bergerak bersamaan dengan keempat pemuda ini.
Tampaknya ke empat orang ini tidak mengantisipasi hal ini.
Orang yang menyerang dari kiri tampak terkejut, raut mukanya yang bengis mendadak berubah, dia jadi tertegun.
Matanya membelalak lebar melihat Tu Liong yang melompat ke arahnya.
Tu Liong melompat ke arahnya bagaikan singa yang menerkam mangsanya.
Pedang yang sudah dijulurkan tegak lurus dihadapannya segera ditariknya.
Dia bermaksud mengambil ancang-ancang untuk menebas Tu Liong yang sekarang sedang melayang ditengah udara.
Sayang gerakannya kalah cepat.
Dengan satu tubrukan saja, Tu Liong sudah membuatnya terpental ke belakang.
Inilah tubrukan gaya pegulat sumo yang terkenal.
Tu Liong hanya menggunakan tolakan kaki yang kuat dan bahu untuk menyundul pemuda tadi menjauh.
Dia sama sekali tidak menggunakan kepalan tangannya.
Pemuda malang itu jatuh berguling-guling.
Tu Liong tahu beberapa lama lawannya bisa berhasil berdiri diatas kedua kakinya.
Karena itu dia segera membalikkan tubuh untuk menghadapi dua serangan lagi.
Tampaknya walaupun para pemuda ini ber-tubuh besar dan kekar, mereka belum memiliki pengalaman bertarung terlalu banyak.
Ketika Tu Liong membalikkan tubuh, kedua orang ini sudah berada sangat dekat dengannya.
Mereka berdua masih berlari ke arahnya dan mereka berdua melakukan kesalahan yang sama.
Mereka menebaskan pedangnya sebelah menyebelah dari atas ke bawah ke arah Tu Liong secara bersamaan.
Dengan sangat mudah Tu Liong luput dari serangan bersamaan ini.
Dia merunduk sambil memasang ancang-ancang.
Kembali dia melancarkan tubrukannya.
Kaki kiri yang berada didepan segera menghentak lantai dengan sangat keras.
"HIAAAHHH!!!!"
Tu Liong berseru sekuat tenaga.
Telapak tangan yang sudah siap di pinggang segera meluncur dengan cepat menghantam dada kedua pemuda tadi.
Biasanya seorang pegulat berbadan gendut dengan lemak yang berlapis-lapis, tapi tubuh Tu Liong kekar dan berotot, dari hal ini saja sudah terlihat perbedaannya.
Ditambah dengan keadaan mereka berlari, dampak kekuatan pukulan yang diterima terasa jadi berlipat ganda.
Dorongan telapak yang mendarat keras kedada kedua pemuda itu membuat mereka berdua terlempar jauh kebelakang.
Masing-masing pemuda itu berteriak kesakitan.
Pemuda terakhir yang tersisa adalah sang pemimpin rombongan.
Walaupun ke dua pemuda itu sudah jatuh dikiri kanannya, emosinya tampak tidak goyah.
Pemuda yang tersisa terus menerjang ke arah Tu Liong dengan pedang yang teracung tinggi diatas kepala.
Tu Liong menunggu serangan pemuda yang menjadi pemimpin, tapi dia tetap waspada dengan keadaan disekelilingnya.
Dia menyadari, pemuda yang jatuh dibela-kangnya sedang mengendap-endap berusaha menu suknya dari belakang.
Karena itu ketika pedang sang pemimpin mengayun kearahnya, Tu Liong segera menangkap pergelangan tangannya dan berkelit ke arah kanan Dengan cerdik Tu Liong menggunakan pedang sang pemimpin untuk menangkis serangan pemuda yang berusaha menyerangnya dari belakang.
Tu Liong menempatkan kaki kanannya dibelakang kaki kiri sang pemimpin, dia lalu menjatuhkan berat tubuhnya pada kaki sang pemimpin.
Dia melakukan ini agar sang pemimpin jatuh berlutut pada satu kaki.
Tu Liong sudah menggunakan pemimpin ini sebagai tamengnya.
Si pemuda yang menyerang secara diam-diam tidak bisa berbuat banyak.
Dia takut kalau menyerang, dia akan melukai pemimpinnya.
Pada saat ini, dua pemuda lain yang tadi sudah melayang karena serangan Tu Liong sudah kembali berlari mendekat dan menebaskan kembali pedangnya.
Tu Liong kembali menghindar dengan indah diantara kedua serangan itu.
Tapi situasinya bertambah terjepit.
Sekarang dia berada dekat dengan ke empat orang pemuda, mereka bisa membacoknya setiap saat.
Terpaksa dia berusaha menjauh.
Keempat pemuda itu berusaha kembali berdiri diatas kedua kaki masing-masing.
Setelah semua pemuda kembali bersiap, mereka berdiri bersebelahan membentuk pagar betis.
Tatapan mereka kembali terlihat bengis.
Kilau pedang kembali terlihat.
Tu Liong tahu kali ini mereka lebih siap untuk bertarung.
Pertempuran kali ini tidak akan berlangsung mudah seperti tadi.
Tu Liong kembali memasang kuda-kuda.
Tiba-tiba saja dari kejauhan terdengar suara siulan seseorang, mungkin juga ini adalah siulan orang yang sembarang lewat di jalan raya, tapi untuk telinga keempat orang pemuda ini, suara itu terdengar berbeda.
Setelah suara siulan itu menghilang, mereka semua mundur teratur.
Mereka pun masing-masing memasukan kembali pedang pendek ke dalam sarungnya.
Tu Liong jadi tahu, masih ada orang lain yang diam-diam menyaksikan pertarungan ini.
Siapakah orang itu?
Apakah dia adalah Thiat-yan sendiri?
Ataukah masih ada orang lain lagi yang mendalangi keempat pemuda tadi?
Dia lalu menegadahkan kepalanya dan melihat kesekeliling.
Dibelakang rumah kediaman sang peramal terdapat sebuah bangunan bertingkat.
Di loteng bertingkat terdapat sebuah jendela yang sedang ditutup rapat.
Apakah Thiat-yan sedang menyaksikan semua kejadian yang baru saja terjadi?
Pemuda yang membawa mistar tembaga berkata.
"Baiklah! Sore ini jam empat tepat, di kedai teh Tong-ceng, majikan kita pasti akan datang tepat waktu!"
Sekarang Tu Liong jadi lebih waspada menghadapi semua tindakan yang dibuat oleh Thiat-yan.
Setelah kejadian ini, terlihat bahwa dia bahkan bisa mengontrol anak buahnya dari tempat yang jauh.
Terbukti pada hari biasa, para anak buahnya sudah terlatih baik.
Thiat-yan bahkan sudah mempersiapkan rencana cadangan yang tidak terduga.
Hanya dengan sebuah siulan, mereka semua bisa berubah dan mengganti strategi dengan cepat.
Musuh yang sudah siap menyerang, mana mungkin bisa dianggap enteng.
--Tu Liong pulang kerumahnya, baru saja ingin beristirahat memulihkan stamina.
Tiba tiba Cu Siau-thian datang padanya.
"Tu Liong, kulihat kau sangat sibuk seharian ini."
"Mmm.."
"Apakah ada kemajuan?"
"Aku sudah menemukan Thiat-yan"
"Oh! Tindakanmu sangat cepat"
"Walaupun aku sudah menemukan dirinya, apakah yang bisa aku lakukan? Aku tidak bisa mewakili orang-orang yang sudah dilukainya membalas dendam. Walaupun aku bisa membalaskan dendam, juga mungkin tidak bisa langsung turun tangan mengadilinya. Cu Taiya, walau aku katakan, kau mungkin tidak akan percaya. Kekuasaan Thiat-yan terhadap anak buahnya sangat besar, dia datang kemari membawa persiapan."
"Aku tahu."
Suara Cu Siau-thian terdengar berat,"
Seumur hidup aku sudah bertemu dengan banyak musuh-musuh. Aku mengakui nona muda yang dipanggil Thiat-yan ini adalah musuh yang paling lihai yang pernah aku temui. Aku mempunyai sebuah firasat buruk."
"Oh...?"
"Aku merasa bahwa pedang yang dia bawa sudah menempel di leherku"
"Tuan tidak perlu khawatir. Aku sudah mengatur pendekar yang sangat tangguh untuk berjaga dalam kediaman ini. semuanya sudah kuatur dengan baik"
"Aku tidak takut. Hanya saja..."
"Cu Taiya, sebentar lagi aku akan bertemu dengan Thiatyan."
"Ah...? kenapa begitu cepat kau bisa beradu kemahiran dengannya?"
"Pertemuan kali ini untuk berdiskusi, bukan untuk mengadu ilmu silat. Jika ada urusan yang tersimpan di hatinya, dia bisa membicarakannya denganku."
"Aku tahu dia ingin membicarakan apa dengan mu"
"Ah? Tuan sudah tahu?"
"Dia ingin memberitahu, kau jangan ikut campur urusan ini, hingga dia bisa leluasa bertindak"
"Bagaimanapun aku tidak akan setuju dengan permintaannya."
"Kau harus bisa beralasan. Saat terpaksa kau harus menyetujuinya...."
"Apa tuan menyuruhku untuk pasrah saja?"
"Aku mengerti sifatmu, lagi pula kau selalu terus terang, namun menghadapi lawan ini, kau tidak bisa menggunakan siasat ini. Dalam siasat berperang. Prajurit tidak takut dibohongi. Membohongi musuh pun sebuah siasat perang. Tu Liong terdiam tidak berkata apa-apa. Walaupun dia tidak setuju usul yang diajukan Cu Siau-thian, namun dia pun tidak terang-terangan menentang nya. Setelah beberapa saat, dia lalu membuka mulutnya membicarakan tentang suatu hal yang lain.
"Cu Taiya, aku sudah pergi melihat Tan Taiya. Berdasarkan kata katanya, pada waktu itu kalian melukai Tiat Liong-san, tuan sama sekali tidak keluar menampakkan diri. Orang luar tidak mungkin akan mengetahui rahasia ini, oleh karena itu Thiat-yan tidak turun tangan mencarimu".
"itu hanyalah siasatnya saja. sebenarnya semua sudah tahu. Surat yang sudah ditinggalkan untukku, surat itu sudah menjelaskannya?"
Tu Liong tidak berkata apa apa lagi.
Cu Siau-thian melihat Tu Long seperti ingin beristirahat, maka tidak lama kemudian dia pergi meninggalkannya.
Dia datang kesana hanya untuk melihat emosi Tu Liong saja.
Tu Liong berbaring di atas ranjangnya.
Dia benar-benar berusaha memulihkan tenaganya.
Seperti-nya dia memiliki sebuah firasat, bahwa pertemuannya dengan Thiat-yan sore ini bukanlah sebuah hal yang mudah dihadapi.
Dia merasa Thiat-yan bukan orang yang mudah dihadapi.
Setelah berpikir kesana kemari, pada akhirnya dia tertidur.
Namun tiba-tiba saja dia terbangun dari tidurnya, dia tahu bahwa dia tersadarkan bukan tanpa alasan, betul saja disamping bantalnya sudah tergeletak sebuah surat, diatas surat ini sudah ditaruh sebuah hiasan yang terbuat dari besi yang berbentuk seekor burung walet...
Thiat-yan!
Tu Liong segera meloncat turun dari ranjang, emosinya mendadak meluap.
Di siang bolong seperti ini Thiat-yan bisa menerobos masuk kedalam kediaman tuan besar yang sudah dijaga ketat, dia bahkan bisa datang ke sisi tempat tidurnya dan meninggalkan surat peringatan, ini hal yang benar benar tidak disangka.
Tu Liong sama sekali tidak meluangkan waktu untuk melihat isi surat tersebut.
Dia segera berlari keluar kamar dan melihat ke empat penjuru, tapi dia sama sekali tidak menemui kejanggalan apapun.
Di teras rumah terlihat para penjaga berlalu lalang, begitu pula di pekarangan rumah, jadi bagaimana cara Thiat-yan menembus penjagaan yang sedemikian ketat sampai masuk ke dalam kamarnya?
Untuk apa dia datang kemari?
Lagipula tidak lama lagi mereka berdua pasti akan bertemu....Ugh!
Nona Thiat-yan benar-benar sedang unjuk gigi, beraksi untuk menakuti orang, supaya nanti kalau dia ingin membicarakan tentang sesuatu syarat, posisinya pasti akan lebih unggul...
'Jangan berharap terlalu banyak.' Tu Liong diam-diam tertawa dalam hati.
Dia lalu kembali ke dalam kamarnya dan membuka surat.
Isinya hanya selembar kertas putih bertuliskan enam huruf yang berarti "hormat pada dewa dan setan, tapi tetap menjaga jarak"
Apa artinya ini?
Tu Liong menimbang-nimbang, tiba-tiba saja dia mendapat pencerahan.
Thiat-yan ingin agar dirinya menjauhi Cu Taiya....pada saat ini Tu Liong kembali mendapat sebuah firasat.
Didalam mata Thiat-yan, dirinya adalah sebuah rintangan, tentu saja dia harus merasa bangga.
Lalu dia berbaring lagi diatas ranjang, namun dia tidak bisa kembali tidur.
Oleh karena itu dia berpikir., tanggung tidak bisa tidur lagi, lebih baik datang lebih pagi ke tempat pertemuan.
Sebelum berangkat dia masih memeriksa dan memperketat penjagaan.
Tim penjaga yang sudah dipilihnya sendiri, yang menurutnya tidak mungkin akan diterobos dengan mudah malah sudah dilewati Thiat-yan dengan sedemikian mudahnya.
Baginya hal ini sebuah penghinaan yang besar.
--Kedai teh Tong-ceng sudah sering dikunjunginya.
Pemilik kedai otomatis mengenal dirinya.
Dia segera menyambut kedatangannya, bahkan dia sengaja melayaninya sendiri.
Tu Liong berkata bahwa dia datang menunggu beberapa temannya, ini untuk menghindari kecurigaan pemilik kedai.
Saatnya masih lama.
Tu Liong duduk di bangku dan menutup matanya.
Secangkir teh panas tampak masih mengepulkan asap.
Menunggu sampai waktu yang ditentukan bukanlah suatu hal yang mudah dikerjakan.
Namun yang ditunggu-tunggu akhirnya datang sesuai janjinya.
Ternyata yang datang bukan beberapa orang, tapi hanya seorang diri.
Dan orang ini pun bukan Thiat-yan, orang itu adalah Boh Tanping.
"Siapa kau?"
"Namaku Boh Tan-ping"
"Boh Tan-ping?"
Tu Liong tidak pernah mendengar nama ini sebelumnya.
"Apakah anda datang kemari mewakili seseorang bertemu denganku?"
"Betul"
Boh Tan-ping menjawab dengan nada dingin.
"siapa yang aku wakilkan, kau pasti sudah tahu... ....marilah kita mulai bicara."
"Mohon maaf, kalau ingin bicara, aku ingin berbicara langsung dengan orangnya. Aku tidak akan berbicara padamu."
"Tuan muda Tu!"
Sikap yang ditunjukkan oleh Boh Tan-ping sangat dingin, namun tetap ramah.
"sebenarnya kami sudah bermaksud mengundangmu datang ke rumah dan bicara baik baik, namun kau berkeras tidak mau pergi. Kau malah mengundang kami datang kemari, dan sekarang kami sudah datang kesini. Apa lagi yang kau inginkan?"
"Mohon maaf Tuan Boh, aku tidak ingin mengatakan tentang apapun denganmu"
"Berkata ataupun tidak, tidak menjadi masalah. Nona Thiatyan majikan kami hanya ingin memberitahu sepatah kata. Kau sudah tahu apa yang ingin dikatakannya"
"Hormat pada dewa dan setan, tapi tetap menjaga jarak?"
"Tidak salah"
"Siapa dewa dan setannya?"
"Kau pikirlah sendiri...."
Boh Tan-ping segera berdiri.
"Tunggu!"
"Dia hanya menyampaikan sepatah kata itu. Kau pikirkanlah sendiri"
Bagaimana pun Tu Liong tidak ingin semudah itu diperdaya.
Baru saja Boh Tan-ping membalikkan tubuh berjalan menjauh, Tu Liong segera menjulurkan tangan dan mencengkram pergelangan tangan kiri Boh Tan-ping dengan sangat erat Seharusnya Boh Tan-ping merasa terkejut, namun dia sama sekali tidak tampak kaget, seharusnya merasa sangat marah, namun emosi nya tampak masih sangat stabil.
Dia terus mempertahankan sikapnya yang ramah seperti semula.
Dia berkata dengan nada dingin.
"Tuan muda Tu! disini bukan tempat yang cocok bertarung"
"Kalau memang ingin bertarung, untuk apa harus memilih tempat?"
Tiba-tiba Boh Tan-ping menyentakkan pergelangan tangannya.
Dengan sangat mudah dia sudah melepaskan diri dari genggaman Tu Liong yang kuat.
Tu Liong terkejut, hal ini benar benar tidak diduga oleh nya.
Umurnya masih muda, sifatnya masih sangat bergejolak.
Kalau tiba-tiba emosinya keluar, akibatnya sulit dihindari.
Tu Liong segera mengulurkan lagi tangannya.
Dia tahu disini bukan tempat yang cocok, juga saatnya tidak tepat.
Namun bagaimanapun dia tidak mau peduli.
Kali ini Boh Tan-ping mengelak dengan mudah, tidak hanya mengelak, dia pun sempat menepis tangan Tu Liong dengan keras.
Lalu dia meneruskan langkahnya menuju pintu keluar.
Tu Liong semakin emosi, dia tahu kalau dia bertarung disini, pasti akan membuat keributan yang menarik perhatian orang.
Dia lalu melihat ke sekeliling, tatapan matanya jatuh pada cangkir teh panas yang masih mengepulkan asap Tanpa berpikir panjang, tangannya segera terjulur mengangkat cangkir teh, karena gerakan yang cepat, dia tidak sempat merasakan betapa panasnya cangkir itu.
Dengan satu gerakan tangan, dia melemparkan cangkir teh panas ke arah Boh Tan-ping.
Sebelum terlepas, dia masih sempat memutar cangkir teh panas itu.
Cangkir itu sekarang berputar-putar cepat seperti gasing, tapi air teh yang terdapat di cangkir tidak tumpah keluar barang setetespun.
Cangkir teh melayang dengan cepat ke arah kepala Boh Tan-ping.
Walaupun Boh Tan-ping sedang membela-kangi Tu Liong, dia tetap waspada.
Entah bagaimana caranya, dia tahu persis dimana arahnya cangkir.
Dia mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah kiri.
Cangkir segera terbang melewati kepalanya.
Sebelum menabrak pintu keluar, Boh Tan-ping menjulurkan tangannya dengan cepat Dengan dua jarinya, dia sudah berhasil menangkap cangkir teh panas.
Dia segera membalikkan tubuh dan kembali melemparkan cangkir yang sama balik ke arah Tu Liong.
Tu Liong benar-benar terkejut.
Boh Tan-ping ternyata memiliki kepandaian yang tinggi.
Cangkir teh melayang semakin dekat.
Tu Liong tidak dapat berbuat apa apa.
Kalau dia mengelak, cangkir itu akan hancur menabrak dinding, orangpasti akanberdatangan juga.
Akhirnya dia menggunakan tangan menepis cangkir dari arah bawah.
Cangkir ini terlempar ke arah langit-langit ruangan.
Cangkir berputar tidak menentu, air tehnya tumpah kemana-mana.
Dengan gesit Tu Liong menghindari siraman air.
Tapi beberapa tetes air masih mengenainya.
Selagi gelas masih melayang di udara, Tu Liong menatap Boh Tan-ping dengan geram.
Cangkir teh kembali jatuh kebawah.
Setelah melewati wajahnya, Tu Liong sedikit bergeser kebelakang.
Ketika cangkir nyaris menyentuh tanah, Tu Liong segera menendangnya.
Cangkir ini kembali melesat cepat ke arah Boh Tan-ping, jauh lebih cepat dari pada lemparan yang pertama kali.
Namun tampaknya Boh Tan-ping tidak gentar.
Dia hanya menjulurkan kaki kanannya.
Cangkir yang melayang cepat segera terhenti setelah menghantam telapak sepatunya.
Dengan lincah, Boh Tan-ping menggerakkan kakinya sehingga sekarang cangkir itu sudah berdiri dengan tegak diatas jari kakinya.
Boh Tan-ping berdiri dengan kaki kiri.
Kaki kanannya ditekuk untuk menjaga keseimbangan cangkir, kedua tangannya terentang lebar untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.
Kemudian Boh Tan-ping mengayunkan kaki kanannya.
Cangkir teh kembali berayun ke arah Tu Liong dengan lembut, cangkir melayang membentuk sebuah lengkungan cantik, dan lalu mendarat tertelungkup diatas meja tanpa mengeluarkan banyak suara.
Tampaknya Boh Tan-ping tidak ingin balas menyerang Tu Liong.
Dia hanya mengembalikan cangkir ke atas meja.
Setelah itu dia membalikkan tubuh dan meneruskan perjalanannya ke luar.
Tu Liong segera berusaha mengejarnya.
Sebentar saja Boh Tan-ping sudah berjalan sampai ke pintu keluar.
Ketika Tu Liong berhasil mengejarnya, tiba-tiba ada empat orang pemuda yang bertubuh besar menghalangi jalannya.
Kalau dia berkeras melawan keempat orang ini, dia akan membuat keributan besar, dia pasti akan membuat nama baiknya tercemar.
Dari pertarungan kecil tadi, terbukti Boh Tan-ping memiliki ilmu silat yang tangguh.
Dari awal ke empat pemuda tidak turun tangan menyerangnya.
Ini menunjukkan bahwa mereka tidak menganggap Tu Liong sebagai lawan hebat.
Ini benarbenar sebuah penghinaan yang aneh.
Namun Tu Liong pun semen-tara waktu hanya bisa bersabar hati menerimanya.
Setelah beberapa lama, ke empat orang pemuda itu pun pergi meninggalkannya.
Masih dengan perasaan marah, Tu Liong kembali duduk ditempatnya semula.
Pertama tama dia berusaha memulihkan diri agar hatinya kembali tenang.
Setelah itu dia mengoreksi diri dan menimbang-nimbang.
Dia menyadari bahwa posisinya sangat bergantung keadaan, dia tidak bisa berinisiatif sendiri.
Tapi kalau tidak berusaha untuk merubah keadaan, selamanya dia tidak akan berhasil.
Dia membuat keputusan....memikirkan sebuah cara menyelidiki kediaman Thiat-yan, dan memberinya sedikit balasan padanya.
Dia lalu berdiri dan berjalan keluar.
Tidak disangka di pintu keluar sudah berdiri seseorang.
Orang ini berdiri tegak dan menghalangi jalannya...
Orang ini adalah seorang pemuda yang penampilannya sangat aneh.
Kedua alisnya berwarna putih, namun bola matanya berwarna merah.
Seolah-olah dia sudah tidak tidur selama tiga malam.
Satu-satunya yang terlihat menarik padanya adalah postur tubuhnya yang kekar dan ramping.
"Kau mau apa?"
Tu Liong mendelik padanya dengan tatapan marah.
"Berunding denganmu"
Kata pemuda aneh ini sambil melangkah masuk kedalam. Suaranya terdengar serak "Berunding apa?"
"Jual beli"
"Aku bukan pedagang"
"Aku pedagang"
Dengan gaya sangat angkuh orang muda itu duduk tanpa dipersilahkan.
Dia langsung mengambil cawan teh milik Tu Liong dan langsung minum.
Dia sama sekali tidak perduli gelas itu bekas dipakai orang lain.
Dia juga tidak perduli orang lain akan marah padanya.
"Apa yang akan kau jual?"
"Aku menjual nyawa!"
"Kau punya berapa banyak nyawa?"
"Satu nyawa"
"Kalau begitu kau bisa jual berapa kali?"
"Nyawaku ini tidak akan pernah habis dijual. Tu Siauya, saat ini kau sedang membutuhkan orang semacam aku. Asalkan kau membayar dengan uang yang tepat, aku pasti akan menjual nyawaku padamu."
"Keahlian apa yang kau punya?"
"Aku spesialis menghadapi orang yang tidak dapat dihadapi oleh orang lain"
"Bicaramu sangatbesar"
"Kau boleh mencobanya"
Setelah ditantang seperti itu bicaranya malah semakin besar.
Tu Liong mendadak menyerang dengan sangat cepat dan sangat brutal.
Kalau orang itu tidak waspada, dia pasti akan segera terluka dan mati.
Pemuda beralis putih itu tidak menghindar ataupun bergerak.
Dia hanya mengangkat tangan menahan pukulan.
Semenjak lahir, baru kali itu Tu Liong membuat serangan mendadak.
Sebentar kemudian pembunuh beralis putih balik menyerang tiga kali, Tu Long mundur tiga langkah menangkis serangan dengan tangan kosong tanpa bisa berkata apa apa.
Tangannya jadi gemetar dan kaku, hingga dia tidak bisa mengangkatnya "Lumayan, nyawamu itu tangguh juga"
"Apakah sekarang kita bisa bicara?"
"Siapa namamu?"
"Aku tidak memiliki marga ataupun nama. Orang orang memanggilku pembunuh beralis putih" --BAB Pembunuh Seorang pembunuh bayaran lihai tidak mungkin membiarkan dirinya dikenali oleh orang lain. Pembunuh beralis putih memiliki sepasang alis yang sangat jelas berbeda dan sepasang bola mata berwarna merah pekat seperti darah. Tidak masalah betapapun beraninya, betapapun kejamnya dia membunuh orang lain, siapapun yang sudah melihat dirinya pasti akan selalu waspada dan memperketat penjagaan. Dengan demikian dia pasti akan lebih sulit membunuh targetnya. Dengan demikian kehebatannya membunuh pun akan tampak lemah. Oleh karena itu, pembunuh beralis putih tidak dapat terhitung sebagai seorang pembunuh yang benar-benar jagoan. Semua alasan tersebut sudah diketahui oleh Tu Liong. Dia pun tidak ragu ragu untuk mengatakan semua yang ada didalam pikirannya.
"Salah!"
Dengan sangat angkuh, pembunuh beralis putih berkata padanya.
"justru karena sepasang alis mata yang putih dan sepasang bola mata berwarna merah, aku bahkan lebih hebat dari pembunuh paling lihai manapun."
"Mengapa demikian?"
"Aku tidak ingin menjelaskannya padamu. Tapi aku akan memperlihatkannya langsung padamu"
Setelah selesai mengatakan demikian, dia langsung pergi ke kamar mandi.
Pada awalnya Tu Liong bermaksud ingin menarik tangan pembunuh beralis putih untuk terus bicara, namun rasa harga diri membuatnya menahan keinginannya untuk sementara waktu.
Pada saat yang bersamaan didalam hatinya terdapat sebuah firasat.
Dia merasa dirinya telah mencapai tingkat kemahiran ilmu silat yang lumayan tinggi dan mendalam, namun orang yang lebih hebat dari dirinya masih terlalu banyak.
Dia berdiri meninggalkan tempat duduknya, dia bermaksud akan langsung pergi meninggalkan kedai teh.
Namun sebelum keluar, dia sempat melihat pembunuh beralis putih sedang berjalan mendekat....bukan!
Kali ini sudah tidak bisa disebut pembunuh beralis putih lagi, sekarang dia memiliki sepasang alis yang berwarna hitam dan sebuah bola mata putih bening dan memancarkan sinar mata yang sangat terang.
Kalau bukan pakaian yang dikenakannya masih sama dan masih diingat, dia tidak akan berani mengatakan kedua orang itu adalah orang yang sama.
"Apakah kau masih mengenali aku, sebagai pembunuh beralis putih?"
Tu Liong memang tidak mengenalinya lagi.
Sepasang alisnya yang berwarna putih sudah dicat sampai berwarna hitam legam.
Sebenarnya dia bisa saja dengan mudah memalsukan alisnya yang putih dan dicat agar berwarna hitam, namun sepasang bola matanya yang berwarna merah?
Bagaimana mungkin sekarang bisa menjadi putih?
bukankah ini mengherankan?
Pembunuh beralis putih tidak peduli rasa penasaran yang dimiliki Tu Liong, dia berkata seolah olah pada dirinya sendiri.
"Ada seseorang melihat pembunuh beralis putih di kedai teh bertemu dengan dirimu. Setelah itu, tiba-tiba jalan hidup pembunuh beralis putih menjadi lebar. Tidak lama pembunuh beralis putih tampak sedang mondar mandir di dalam rumah kediaman seseroang. Hati orang lain pasti akan berpikir bahwa kau sudah mengeluarkan sejumlah uang dan menyuruh pembunuh beralis putih membunuhnya. Karena itu dia sepenuh hatinya memperhatikan semua gerak gerik pembunuh beralis putih, tetapi sekarang mendadak penampilanku berubah seperti ini. menurutmu apakah aku lebih lihai dibandingkan dengan pembunuh manapun yang kau tahu?"
Sebenarnya menilai dari pandangan dan caranya berbicaranya, dia akan mudah menambah kecurigaan orang lain.
Seorang pembunuh belum tentu memiliki kepandaian paling tinggi di kolong langit.
Mereka hanya pandai menghindari rasa curiga orang lain.
Target yang dimiliki Seorang pembunuh adalah berhasil membunuh korbannya, tidak menunjukkan jati yang sesungguhnya pada orang lain.
Tapi orang ini tampaknya meragukan.
"Apa syaratmu?"
Akhirnya Tu Liong meng-ajukan pertanyaan padanya.
"Aku hanya akan membantumu mengerjakan satu tugas, ataukah aku akan mengabdi padamu dan membantumu mengerjakan beberapa tugas untuk waktu yang lama?"
"Untuk waktu yang lama"
"Biayanya untuk bayaran sebulan adalah tiga ratus uang kertas asing (barat)"
"Murah sekali?"
"Dengarkan dulu sampai habis.... setelah membunuh seseorang harus menambahkan seribu mata uang kertas asing. Melukai kaki tangan orang yang pantas menjadi targetku, membantumu melarikan diri dari suatu masalah, membantumu mengerjakan sebuah tugas, tidak masalah apakah susah atau gampang, kau harus membayarku seratus lagi..."
"Baiklah! Kalau begitu kau saat ini tinggal dimana?"
"Kau menyuruhku tinggal dimana, aku akan tinggal ditempat yang kau tunjuk"
"Kalau begitu apakah kau tahu dimana tempatku tinggal saat ini?"
"Didalam rumah Cu Siau-thian"
"Lalu dimana kediaman tuan Cu?"
"Tentu saja tahu"
"Baiklah kalau begitu. Sekarang aku akan pulang. Kau boleh ikut aku pulang. Aku akan memberimu sedikit uang. Tapi aku ada sedikit pekerjaan yang harus kujelaskan padamu sebelumnya. Kalau kau tidak bisa melalui pintu masuk kediaman tuan Cu, perjanjian kita batal."
"Apa? Kau mau menguji diriku?"
"Tentu saja, karena sebentar lagi aku akan memberimu sebuah tugas"
"Kau tenang saja, dalam mataku tidak ada tembok dan tidak ada pintu"
"Kalau kau benar-benar memiliki kemampuan seperti itu, mengapa kau masih kekurangan uang?"
"Aku tidak ingin mencuri, aku bukan maling rendahan. Setiap sen uang yang kuhasilkan harus berdasarkan kerja keras sesuai kemampuanku. Apakah kau mengerti?"
Ini hanya sebuah alasan.
Di dunia ini banyak sekali orang yang menggunakan alasan yang serupa.
Namun bagaimanapun juga Tu Liong sudah menaruh sedikit kekaguman pada pembunuh beralis putih ini, tidak lama kedua orang ini berjalan keluar dari kedai minum teh.
Tu Liong segera naik kudanya, sementara pembunuh beralis putih ditinggalkan sendirian didepan kedai teh...
Tu Liong memacu kudanya dengan kecepatan penuh, pulang ke kediamannya.
Setelah sampai, pertama-tama dia masuk ke dalam kamar Cu Siau-thian untuk memastikan bahwa semua keadaannya masih aman.
Setelah itu dia pergi berpatroli mengawasi keadaan rumahnya.
Dia memeriksa semua penjagaan dengan sangat teliti, jangan sampai penjagaan itu memiliki celah yang dapat diselusupi dengan mudah.
Namun dia tetap merasa bahwa pembunuh beralis putih pasti masih bisa menerobos masuk kedalam rumahnya.
Karena ketika pembunuh beralis putih mengatakan didalam matanya 'Tidak ada tembok...
tidak terdapat pintu'...
dia mengatakan semua itu dengan penuh rasa percaya diri.
Dia lalu kembali ke kamarnya sendiri, dia bermaksud menunggu pembunuh beralis putih menunjukkan batang hidungnya.
Ternyata yang terjadi bukan dirinya yang harus menunggu kehadiran pembunuh beralis putih, sebaliknya pembunuh beralis putih yang sedang menunggu kehadiran dirinya, pembunuh beralis putih sudah lebih dahulu sampai ke kediaman Cu, sudah memasuki kamarnya, dan bahkan sekarang dengan sangat tenangnya dia duduk diatas bangku yang biasa diduduki olehTu Liong.
Sekarang, dia sekali lagi tampil sebagai pembunuh beralis putih.
Entah bagaimana caranya, alisnya sudah kembali berwarna putih dan kedua bola matanya juga sudah kembali berwarna merah.
Namun sinar mata yang berkilau tajam tampaknya masih terlihat jelas di dalam kedua mata aslinya.
Sepatah kata pun tidak diucapkan oleh Tu Liong, dia terus berjalan mendekati sebuah lemari dan membuka sebuah laci penyimpanan rahasia.
Dari dalam laci tersebut dia mengambil empat lembar uang kertas orang asing.
Cu Siau-thian tidak terlalu ketat mengawasi keuangan dirinya, membuat dia masih sanggup menyimpan sedikit uang untuk digunakan.
"Empat ratus uang kertas asing?"
Tanya pembunuh beralis putih dingin "Tiga ratus uang kertas asing setiap bulan pasti akan kubayar, seratus lagi akan dibayar setelah kau membantuku menyelesaikan sebuah tugas."
"Kau belum mau menyuruhku untuk mem-bunuh seseorang?"
"Saat ini aku belum membutuhkannya"
"Kau ingin aku membereskan urusan apa?"
"Aku ingin kau membantuku mengirim sebuah surat. Surat ini harus diam-diam kau selipkan di samping bantal tempat penerima surat yang biasa tidur. Namun ketika menaruh surat ini sama sekali tidak boleh dilihat orang lain."
"Tenang saja!"
Sekali lagi pembunuh beralis putih berkata dengan nada angkuh dan terkesan membanggakan diri.
"Disini kau memiliki empat penjaga yang jelas terlihat dan empat orang yang bersembunyi ditempat rahasia, aku sudah mempersiapkan semua dengan teliti. Mereka semua tidak mungkin akan mengetahui bagaimana aku bisa masuk kedalam rumah ini...."
Saat ini entah apa yang dirasakan oleh Tu Liong.
Entah perasaan kagum, atau rasa khawatir dan was was.
Kalau pembunuh beralis putih ini seorang musuh, apakah dia masih bisa berharap hidup?
Mengapa dirinya tertimpa rejeki seperti ini?
bertemu dengan pembunuh beralis putih, datang ke depan pintu rumahnya dan menjadi pembantunya?
Sedikit banyak pasti akan menimbulkan kectirigaan orang lain.
Hanya saja Tu Liong tidak ingin mempermasalahkan urusan ini lebih jauh.
Dia lalu duduk didepan meja dan mulai menulis diatas kertas dengan penuh konsentrasi.
Karena dia sangat pintar dan lagi sangat terpelajar, walaupun belum pernah benarbenar mempelajari tentang kesusastraan Tionggoan atau mempelajari buku, namun dia masih mampu menulis tulisan mandarin yang sangat bagus.
Alur kata-kata yang dituliskan pun sangat baik.
Surat yang ditulisnya ini sangat sederhana, namun memiliki penekanan yang sangat keras.
Dia hanya menuliskan sepuluh huruf sederhana....hutang mata harus dibalas mata, hutang gigi harus dibalas gigi.
Setelah selesai menulis surat, dia menaruh kuas dan mulai melipatnya.
Setelah itu dia menyerahkannya pada pembunuh beralis putih, dia juga menjelaskan tempat tinggal Thiat-yan pada pembunuh beralis putih dengan sangat jelas, pembunuh beralis putih mengambil surat itu dan langsung pergi.
Tu Liong mengikutinya pergi keluar kamar.
Diluar tampak para penjaga yang masih sibuk berpatroli, mereka tampak kaget.
Mereka semua tidak menyangka bisa ada orang lain didalam rumah, jelas menunjukkan bahwa mereka sama sekali tidak mengetahui pembunuh beralis putih sudah berhasil masuk.
Bukankah ini adalah hal yang sangat tidak masuk akal?
"Tu Liong!"
Tiba-tiba ada orang yang menyapa dirinya dari belakang. Orang itu adalah Cu Siau-thian. Tampaknya Cu Siau-thian tidak mengetahui kalau pembunuh beralis putih baru saja melenggang keluar dari rumahnya.
"Cu Taiya"
"Apa yang sedang kau pikirkan saat ini?"
"Emm!!"
Dia menjawab dengan bergumam, seperti sedang memikirkan sebuah masalah yang selamanya pun tidak akan memiliki jawaban.
"Aku ingin berunding dengan Thiat-yan."
"Berunding? Aku tidak mengerti...."
"Mungkin nanti bisa terpikir jalan penyele-saian yang lain...."
"Apakah Tuan sudah gentar menghadapi Thiat-yan?"
"Tu Liong, Urusan yang sudah aku kerjakan harus aku selesaikan sendiri, aku tidak mau melibatkan dirimu"
Walaupun Tu Liong sama sekali tidak mengerti perasaan orang-orang generasi diatasnya, namun dia sangat mengerti majikannya Cu Siau-thian.
Didalam hatinya, dia pasti menyimpan rahasia besar yang tidak dapat diberitahukan pada orang lain.
Di dalam hatinya diam-diam Tu Liong membuat sebuah rencana., dia berencana untuk membujuk Cu Siauthian membeber-kan semua rahasia yang sudah disimpannya selama ini.
"Budi yang sudah Tuan berikan padaku sangat besar bagaikan sebuah gunung, dalam sedalam lautan. Mengapa aku mengatakan kata-kata ini? aku hanya memiliki sebuah permintaan."
Tu Liong tidak langsung mengungkapkan apa yang diinginkan. Dia membelokkan kata katanya dengan sangat manis.
"Permintaan apa? Katakanlah"
"Pada waktu kalian mencelakai Tiat Liong-san, bagaimanakah kejadian sebenarnya? Tuan tidak menceritakannya dengan jelas, membuat apa yang ku tahu sangat kabur. Apakah Cu Taiya bisa menceritakannya dengan lebih terperinci?"
"Dari permulaan pun aku sudah memberitahu padamu. Mengenai hal ini kau sama sekali tidak boleh menanyakan tentang apapun, apakah kau sudah lupa pada perjanjian kita pada waktu itu?"
"Betul....Betul...."
Belum apa-apa Tu Liong sudah terbentur janjinya, terpaksa dia mengurungkan niatnya.
"Bagaimana rencanamu nanti menghadapi Thiat-yan?"
Tanya Cu Taiya.
"Mengenai hal ini aku harus memikirkan apa yang tuan inginkan dulu"
"Oh...? kau harus memikirkan keinginanku dulu?"
Emosi yang dipancarkan diraut muka Cu Siau-thian tampak sangat rumit.
"Jujur saja, setelah mencelakai Tiat Liong-san, tidak sehari pun aku tidak menyesali perbuatanku itu. Sedangkan Thiatyan adalah anak perempuan satu-satunya, bagaimana aku harus memperlakukan diri-nya?"
"Bila dia bermaksud mencelakai dirimu?"
"Tentu saja siapapun tidak ingin dirinya dicelakai oleh orang lain. Tapi aku harus tahu dia ingin berbuat bagaimana dulu padaku. Kalau tidak terlalu serius, aku bersedia menanggungnya."
"Cu Taiya, kadang-kadang rasa sakit datang tiba-tiba. Kita tidak mungkin membuat persiapan terlebih dahulu, oleh karena itu aku punya sebuah rencana. Kalau Thiat-yan benar benar ingin mendapat-kan sebuah barang, aku tidak hanya tidak akan menghalangi keinginannya, malah sebaliknya akan diam-diam membantu dirinya. Tapi kalau dia ber-maksud untuk melukai tuan, aku tidak mungkin berdiam diri."
"Tu Liong!"
Cu Siau-thian menggeleng-gelengkan kepalanya "aku tahu kau adalah seorang anak yang berhati mulia.
Kau sangat pemberani, kuat dan gagah.
Kau pun sangat pintar, hanya saja kau juga memiliki sebuah kekurangan.
Dari kecil kau tumbuh besar di Pakhia, kau belum pernah pergi berkelana keluar Pakhia, belum mengetahui kejamnya dunia diluar sana.
Kau belum tahu kejahatan apa yang bisa dilakukan seseorang....
"T u Li Ong, yang selalu aku khawatirkan selama ini, kau bisa saja kalah dibawah tangan Thiat-yan."
"Apakah tuan tidak percaya padaku?"
"Aku bukan tidak percaya kemampuanmu, aku hanya khawatir....kalau aku menerima pembalasan dari Thiat-yan, itu adalah hukuman yang setimpal. Tapi kalau kau yang menerima penderitaan, itu tidak tepat."
"Tuan tenang saja. Aku tidak mungkin mengecewakanmu!"
Setelah berkata demikian, Tu Liong segera berjalan keluar.
Tiba-tiba dia menyadari, Cu Taiya sengaja berkata yang kesana-kemari, tujuannya hanya satu....untuk mengusik dirinya bertindak lebih jauh.
Dia tidak ingin dirinya kalah di tangan Thiat-yan.
dia adalah seorang pemuda jantan yang sangat lurus, dia tidak senang pada masalah yang berbelitbelit.
Tapi dia tidak merasa jenuh terhadap tingkah laku Cu Taiya.
Dia tahu, generasi tua senang sekali memperhitungkan keadaan, siasatnya banyak, sekarang sepertinya hal itu sudah menjadi sebuah kebiasaan.
Dia terus berjalan keluar, Cu Taiya tidak memanggil lagi.
ini menandakan bahwa semua perkiraan Tu Liong tidaklah salah.
Cu Taiya memang tidak bermaksud mencegah dia maju, namun juga dia diam-diam memberi semangat padanya untuk bertindak lebih cepat.
Dia ingin Tu Liong segera mengurus Thiat-yan sampai tuntas.
Kalau saja hal ini terjadi pada orang lain, Tu Liong pasti akan membongkar rahasia tuannya.
Namun rasa hutang budi pada Cu Taiya sudah mencegahnya.
Dia terpaksa mengikuti semua perintah majikan dan melaksanakannya, lagipula dia tidak merasa bahwa melakukan hal itu adalah sebuah kesalahan.
--Ketika Thiat-yan mengirimkan kereta kuda untuk menjemput Wie Kie-hong, Tu Liong sudah mengikutinya diamdiam.
karena itu dia tidak membuang banyak tenaga ataupun waktu untuk mengetahui dimana rumah kediaman Thiat-yan.
Diatas daun pintu masuk terdapat sebuah papan nama besar terbuat dari kayu, yang terukirkan kata-kata "Kediaman Boh"
Dua patah kata sederhana.
Tu Liong berdiri ditempatnya menimbang nimbang sebentar, akhirnya dia berjalan kedepan pintu dan mulai menggunakan pegangan pintu mengetuk.
Yang menjawab ketukan pintunya adalah pembantu perempuannya yang bertanya dengan suara yang mirip suara anak kecil.
"Mencari siapa?"
"Aku datang mencari nona Thiat-yan"
"Apakah kau tidak salah rumah? Disini kediaman keluarga yang bermarga Boh"
"Aku tidak perduli tuan kalian bermarga apa, bagaimanapun aku tahu nona Thiat-yan tinggal disini. Maaf merepotkan, tolong kau laporkan kedatanganku padanya"
Pembantu perempuan itu tampak berpikir, setelah itu ada seseorang lain yang muncul di ambang pintu.
Dia adalah Boh Tan-ping.
Tu Liong tampak sangat tenang, tapi dia tahu kalau Boh Tan-ping adalah seorang lawan yang sangat tangguh.
Boh Tan-ping berkata dengan dingin.
"Rupanya kita bertemu lagi..."
"Sayang sekali orang yang aku cari kali ini bukanlah dirimu"
Balas Tu Liong.
"Ini rumah kediamanku, kau mengeruk pintu kalau bukan mencariku, kau ingin mencari siapa?"
"Aku mencari nona Thiat-yan"
"Nona Thiat-yan?"
Boh Tan-ping tampak sedikit terkejut.
"Nona Thiat-yan, anak satu-satunya Tiat Liong-san. Saat ini dia orang yang sangat populer di kota Pakhia. Apakah katakataku kurang jelas?"
"Mohon maaf, kau sudah mengunjungi rumah yang salah...."
Setelah berkata demikian, Boh Tan-ping segera bermaksud menutup pintu rumahnya.
Dengan sebelah tangannya Tu Liong segera menahan pintu, dan dengan tangan yang satunya dia bermaksud mendorong dada Boh Tan-ping.
Dia sepertinya sudah bermaksud nekat, menggunakan tenaga kasar untuk menyerangnya, tidak memberi kesempatan bagi lawan untuk bergerak.
Betul saja, dengan cepat tangan kanan Boh Tan-ping terangkat keatas, dan segera menangkap pergelangan tangan Tu Liong yang terjulur ke arahnya.
Tu Liong tidak tinggal diam.
Dia melecutkan tangan yang dipegang dengan cara yang sama ketika dia menangkap tangan Boh Tan-ping ketika di kedai teh.
Tapi sayang Boh Tan-ping lebih lihai.
Tu Liong tidak dapat membebaskan tangannya dengan mudah.
Terpaksa dia melangkah masuk kedalam agar bisa melawan Boh Tan-ping dengan lebih leluasa.
Di dalam ada beberapa orang pembantu yang hanya tertegun menonton pertarungan.
Salah seorang diantaranya ada yang berlari masuk ke dalam.
Tu Liong tidak sempat menghiraukan pem-bantu ini.
Tu Liong kembali mencoba menarik tangannya.
Boh Tanping sengaja melepaskan tangannya secara mendadak.
Tapi selain itu dia juga melontarkan tangan Tu Liong dengan kuat.
"HAH!"
Tu Liong terlonjak kebelakang dan mundur beberapa langkah.
Boh Tan-ping segera melangkah kembali ke arahnya.
Tangan kanannya sudah terjulur kembali ke arahnya berusaha menggenggam baju Tu Liong.
Tu Liong menghindar dan menepis dengan tangan kirinya.
Tangan kiri Boh Tan-ping tidak tinggal diam.
Tangan ini pun segera terjulur berusaha mencengkram bahunya.
Tangan kanan Tu Liong bergerak tidak kalah cepat.
Dia berhasil menggenggam pergelangan tangan Boh Tan-ping.
Ini adalah kesempatan satu satunya untuk menyerang dengan sungguh-sungguh.
Dia menarik tangan kanannya dengan kuat.
Tubuh Boh Tan-ping segera tertarik mendekat Tu Liong.
Ketika sudah dekat, kaki Tu Liong segera terangkat untuk menendang Boh Tan-ping.
Boh Tan-ping tampak sangat tenang.
Tangan kirinya yang bebas segera menepis kakinya.
Berbarengan dengan itu, dia berkelit dan berputar ke arah kiri.
Tu Liong jadi menendang udara kosong.
'Gawat,' pikir Tu Liong.
Sekarang posisinya sedikit tidak menguntungkan.
Sekarang Boh Tan-ping balik menyerangnya.
Karena sedang berdiri menyamping, dia tidak dapat mengelak serangan dengan mudah.
Betul saja, tangan Boh Tan-ping sudah terjulur kembali ke arahnya.
Segera tangan kiri Tu Liong menyambut.
Akhirnya kedua orang ini saling bergenggaman tangan.
Boh Tan-ping segera mendorongnya keluar.
Tu Liong melompat menghindari palang pintu masuk yang ada di lantai.
Kali ini Boh Tan-ping masuk dalam perangkap.
Tampaknya Tu Liong sudah bersiap membalas perbuatannya ketika di kedai teh waktu itu.
Sekarang posisi mereka berada berseberangan.
Tu Liong diluar pintu masuk, Boh Tan-ping didalam.
Setelah Tu Liong meloncat keluar, dia segera melepaskan genggaman tangan kanannya.
Tangan ini menjulur ke sebelah kanan, segera dia menggenggam gelang baja yang digunakan untuk mengetuk.
Pada waktu ini dia segera menarik Boh Tan-ping keluar, dan berbarengan menarik gelang baja yang menempel di pintu.
Daun pintu yang tebal dan berat itu menabrak bahu kanan Boh Tan-ping dengan keras.
Kini bahunya jadi terjepit.
Asalkan Tu Liong menggunakan siasat apapun, tangan kanan Boh Tan-ping pasti akan cacat.
"Hentikan!"
Tiba-tiba dari dalam pintu ter-dengar suara seseorang menyahut.
Tu Liong segera melonggarkan pegangan tangannya pada gelang besi yang menempel di pintu.
Dihadapannya kini sudah berdiri seorang nona yang tegap dan perkasa.
Tidak usah dikatakan lagi, orang ini adalah orang yang sedang dicari oleh Tu Liong.
Boh Tan-ping benar-benar merasa marah, sepertinya mulutnya sudah siap menyemburkan api saja.
namun dihadapan Thiat-yan, dia hanya bisa menelan emosinya dan mundur.
"Datang ke rumah orang lain dan mencari perkara, bukankah ini sangat keterlaluan?"
Dengan satu langkah besar saja, Thiat-yan sudah berada dihadapan Tu Liong.
"Nona juga sudah datang ke rumah orang lain dan mencelakai mereka, apakah ini tidak keterlaluan?"
"Baiklah, tadi aku sudah membaca pesanmu yang kau selipkan di pinggir bantalku. Mata sudah dibalas mata. sekarang untuk apa kau datang kemari?"
Dalam hatinya, diam-diam Tu Liong merasa senang, sepertinya pembunuh beralis putih sudah melakukan tugasnya dengan sangat baik.
Selain itu dia juga merasa senang dirinya memiliki seseorang yang demikian mahir yang ada disisinya membantu dia.
Dia juga senang karena saat ini dia berdiri didepan Thiat-yan dan berhasil mengangkat sedikit harga dirinya.
"Nona, aku ada sedikit urusan yang harus dijelaskan padamu. Huruf yang dituliskan diatas kertas saja tidak akan mampu menggambarkan apa yang ingin aku ceritakan. Oleh karena itu aku harus datang kemari dan menjelaskan langsung padamu."
"Urusan apa itu?"
"Nona, kau punya kepintaran, orang lain juga masingmasing punya kepintaran. Kalau kau berpikir ingin datang ke Pakhia dan langsung menjadi jagoan besar disini, kalau begitu kau sudah salah besar."
"Kau jauh-jauh datang kemari, apa hanya demi mengatakan hal ini?"
"Tentu saja masih ada satu urusan yang paling penting"
"Katakanlah! Aku pasti akan mendengarkan penjelasanmu dengan baik..."
"Nona sudah melukai empat orang, dendam yang besar sudah terbalaskan, kau tidak perlu lagi tinggal di dalam kota, kalau dalam waktu tiga hari ini kau tidak pergi, kau akan merusak hubungan baik dengan seseorang."
"Merusak hubungan baik dengan siapa?"
"Merusak hubungan baik diantara kau dan aku"
"Aku tidak begitu mengenal dirimu. Aku juga tidak punya hubungan yang baik, begitu pula hubungan yang buruk dengan dirimu."
"Sebenarnya tidak begitu, budinya Cu Taiya padaku seperti sebuah gunung. Kau. diam-diam meninggalkan surat didalam kediamannya dan menakut-nakuti dirinya, aku sama sekali tidak bisa masa bodoh."
"Oh!"
Thiat-yan tertawa dingin dan berkata ...
"baik sekali, asal saja Cu Siau-thian menyerahkan barang yang sedang kucari selama ini, aku pasti akan segera pergi."
"Barang apakah itu?"
"Ketika ayahku dicelakai, dia membawa sebuah kopor kulit berwarna kuning. Kopor itu tidak digunakan sebagai barang bukti, juga tidak diumum-kan pada keluarga yang ditinggalkan untuk diambil. Jelas barang ini sudah diambil oleh orang lain."
"Apakah barang yang diinginkan oleh nona adalah kopor kulit berwarna kuning?"
"Betul"
"Kopor kulit berwarna kuning, jumlahnya pasti sangat banyak sekali, apalagi yang ukurannya, warnanya, atau bentuknya sama pasti jumlahnya sangat banyak. Walaupun nona mencari kopor ini sampai puluhan tahun, aku khawatir bukanlah sebuah hal yang mudah. Paling baik nona bisa mengatakan padaku, apakah barang yang tersimpan dalam kopor tersebut. Aku yakin sebenarnya barang yang diinginkan oleh nona adalah barang yang berada didalam kopor tersebut, apa benar?"
Thiat-yan hanya bisa termenung saja.
Tu Liong terus menatap dirinya lekat-lekat.
Seolah-olah jawaban semua rahasia yang dicarinya selama ini tertulis dengan jelas pada wajah nona Thiat-yan.
Setelah beberapa lama, Thiat-yan mulai membuka mulut dan berkata.
"Aku tidak ingin menutupinya, sebenarnya aku sendiri pun tidak tahu barang apa yang sudah tersimpan didalam kopor kuning yang sedang ku cari itu"
"Kalau begitu ini benar-benar aneh. Kalau nona tidak tahu barang apa yang ada didalam kopor kulit yang berwarna kuning, untuk apa nona membuang buang waktu, tenaga dan pikiran untuk mencari kopor tersebut?"
"Kau tidak bisa mengatakan demikian"
"Oh?"
"Tu Liong, aku tidak punya waktu untuk berdebat kusir dengan mu (berargumentasi tanpa hasil yang jelas). Pada waktu ayahku sudah dicelakai, aku harus mencari tahu sampai jelas apa alasannya. Kalau urusan balas dendam, ayahku tidak memiliki masalah apapun dengan mereka, aku sudah mencari tahu sampai bertahun tahun lamanya, ketika ayahku dihukum mati, kopor ini tidak terlihat lagi. Aku menebak bahwa alasan ayahku mati pasti ada kaitannya dengan isi kopor tersebut."
"Katakan saja kopor tersebut dipenuhi dengan uang. Kalau begitu ayahmu sudah kehilangan nyawa-nya demi membela harta, betulkah demikian?"
"Orang-orang yang mencelakai ayahku tidak perlu membunuh orang lain hanya demi sedikit uang. Kalau memang kopor tersebut dipenuhi dengan uang, sepertinya uang yang muat kedalam kopor pun tidak begitu banyak."
"Kalau begitu....?"
"Kau tidak perlu bertanya lebih jauh tentang kopor tersebut"
"Rasanya tidak tepat nona berkata seperti ini. kau tadi sudah mengatakan bahwa asalkan kopor kulit kuning tersebut sudah kau miliki, kau pasti akan segera pergi meninggalkan kota. Kalau kau pergi, aku tidak akan lagi melewati hari hariku dengan merasa khawatir, tentu saja aku harus membantumu mencari kopor tersebut."
"Oh? apakah kau serius dengan kata katamu?"
"Aku tidak ingin menutupi. Sebelum aku datang kemari untuk menemuimu, aku sudah mencari tahu tentang kopor ini. beberapa jam sebelumnya, aku sudah menemukan sebuah kopor kulit berwarna kuning seperti yang tadi di ceritakan, sayang sekali didalamnya tidak terdapat barang apapun."
"Aku sudah tahu"
Thiat-yan menjawab dengan dingin.
"Kau sudah tahu?"
"Tentu saja aku tahu. Kopor kulit itu bukan kopor kulit yang dahulu dibawa oleh ayahku. Kalau memang betul itu adalah kopornya, mana mungkin kopor itu bisa jatuh kedalam tanganmu?"
Sekarang Tu Liong tidak lagi memburu dengan pertanyaan. Dia hanya menceritakan semua kejadian yang sudah dialaminya, setelah itu dia berkata.
"Kalau begini duduk perkaranya, aku masih punya sebuah permintaan padamu."
"Silahkan bertanya sesuka hatimu, namun aku tidak berjanji menjawabnya"
"Seseorang terbunuh di dalam kamar kediaman Bu Tiat-cui pagi ini."
"Oh?"
"Penyebab kematiannya adalah sebuah jarum besi yang menembus kepalanya."
"Perbuatannya kejam sekali"
"Perbuatannya dilakukan dengan sangat rapi"
Thiat-yan diam saja.
"Nona, mengapa kau harus membunuh orang tersebut?"
Nona Thiat-yan berkedip sejenak, setelah itu dia kembali berkata dengan dingin.
"Menurut kabar yang beredar kau sangat pintar, kau pun sangat baik mengurusi banyak hal. Sekarang ini kau menanyakan pertanyaan seperti ini, kau jadi tampak seperti orang dungu. Apakah kabar yang beredar itu tidak dapat dipertanggung-jawabkan kebenarannya?"
"Oh? jika demikian, ini berarti orang tersebut tidak dibunuh olehmu?"
"Tentu saja bukan. Sepanjang hidupku, aku belum pernah menghilangkan nyawa orang lain. Melukai orang lain pun baru kali ini aku lakukan."
Dalam hatinya Tu Liong diam-diam merasa kaget, kalau Thiat-yan tidak membunuhnya, siapakah pelaku pembunuhan orang itu?
Jangan jangan masih ada orang lain yang mengejar kopor kulit berwarna kuning tersebut.
"Suatu saat nanti mungkin juga aku akan membunuh seseorang, hanya satu orang yang akan aku bunuh. Selain orang itu, asalkan orang lain tidak berurusan denganku, aku akan menjamin kalau orang itu tidak akan menjumpai masalah."
"Siapakah orang yang kurang beruntung itu?"
Thiat-yan berkata perlahan-lahan, patah demi patah kata diucapkan dengan jelas.
"Cu Siau-thian!"
Ini adalah jawaban yang sudah diduga jauh sebelumnya.
Oleh karena itu sedikitpun Tu Liong tidak merasa kaget, didalam hatinya dia sudah memikirkan sebuah pertanyaan yang lain.
Kalau orang yang mati tertusuk jarum besi di kepalanya bukan dibunuh oleh Thiat-yan, bukankah ini berarti masih ada orang lain lagi yang diam-diam sedang melancarkan aksinya?
"Nona!"
Tu Liong mulai menggunakan keahliannya.
"aku pernah mendengar sebuah kabar, mungkin kau pernah mendengarnya juga"
"Kabar apa?"
"Menurut kabar yang kudengar, Leng Taiya sering pergi mengunjungi peramal Bu Tiat-cui. Kalau mempertimbangkan status jabatannya, tidak seharus-nya dia memiliki hubungan dengan orang orang semacam itu."
"Mengapa kau ingin mengkhianati Leng Taiya?"
"Ini bukan mengkhianatinya, aku hanya sedang meneliti situasi, dan mengejar jawaban. Aku ingin secepatnya mendapatkan barang yang ingin kau cari"
"Apakah kau sungguh berharap demikian?"
"Tentu saja. aku tidak ingin kau melakukan pembunuhan, dan terlebih lagi aku tidak ingin kau membunuh Cu Siau-thian ........baiklah, sekarang marilah kita kembali pada topik pembicaraan .... menurut kabar yang beredar, Leng Taiya sudah menyerahkan sebuah kopor kulit berwarna kuning pada Bu Tiat-cui untuk dijaganya...."
"Bukankah kopor itu sudah berada didalam tanganmu?"
Pada saat ini, Tu Liong tampak seperti ayam yang sudah kalah berkelahi.
Bulu-bulunya sudah rontok bertebaran dimana-mana.
Darahnya pun sudah berlumuran di seluruh tubuhnya.
Sangat pedih, tampak sangat menyedihkan, dan kecewa.
Sepertinya siasat yang digunakannya sudah salah.
Setelah waktu yang lama, Thiat-yan kembali berkata.
"Kopor kulit berwarna kuning itu adalah urusanku. Kau seharusnya memikirkan masalah yang lain"
"Oh?"
"Selain diriku, masih ada orang lain yang menginginkan kopor tersebut. Dan bukan hanya satu orang, tapi sekelompok orang-orang...."
"Nona, apa yang sedang kau pikirkan?"
"Tidak ada"
"Nona, aku merasa sepertinya kau sangat menaruh minat yang dalam terhadap masalah ini"
"Tentu saja. aku ingin mencari tahu tiga jawaban. Siapakah orang yang sudah dibunuh dengan jarum menancap dikepalanya itu? Siapa orang yang sudah membunuhnya? Mengapa harus membunuh-nya?"
"Nona, dari kecil aku sudah senang mengejar jawaban dari sebuah misteri. Sedikit banyak mungkin aku bisa membantumu."
"Betulkah itu?"
Mata Thiat-yan memancarkan sinar penuh harapan.
"Dari awalpun aku tidak pernah berbohong"
"Kalau begitu....aku menunggu"
"Tetapi aku tidak pernah membantu orang lain tanpa balasan yang setimpal"
"Kalau kau punya persyaratan yang ingin diajukan, silahkan katakan padaku."
"Tolong jangan lukai Cu Taiya!"
"Tu Liong!"
Suara Thiat-yan terdengar penuh perasaan.
"aku mengerti maksud hatimu, namun aku tidak bisa menyetujui persyaratan mu ini. alasannya adalah kita berdua sama-sama tidak bisa merubah apa yang akan terjadi di masa mendatang. Sekarang ini entah berapa lama kita berdua bisa mempertahankan posisi setengah teman setengah musuh seperti ini. benar?"
"Kalau begitu, kita berdua harus berdiri berhadapan sebagai musuh?"
Raut muka Tu Liong menjadi gelap.
"Kalau terpaksa, aku dan kau akan bertarung habishabisan"
Thiat-yan mengatakan semua ini dengan nada datar.
"Namun aku tidak ingin kau menghamburkan uang pada orang yang tidak jelas untuk meng-hadapiku"
"Orang yang tidak jelas?"
"Orang seperti Pembunuh beralis putih"
Tu Liong diam-diam merasa sangat kagum, Thiat-yan sepertinya selalu mengetahui semua yang dilakukannya. Sepertinya dia adalah seorang ahli memecahkan misteri.
"Tu Liong"
Perkataan nona Thiat-yan ter-dengar penuh makna.
"Aku bukan takut pada Pembunuh beralis putih, hanya saja aku takut orang lain mentertawakan dirimu. Didalam kota Pakhia ini, kau bisa dibilang adalah seseorang yang memiliki kedudukan. Sekarang kau berhubungan dengan orang semacam itu, apakah itu pantas?"
Tu Liong sengaja menyinggungnya.
"Nona, apakah kau takut pada Pembunuh beralis putih sampai harus berkata seperti itu?"
"Kalau kau ingin aku mati didalam tangan orang yang seperti itu, aku tidak akan rela. aku sama sekali tidak takut padanya. Tu Liong, aku juga ingin menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan apa yang ada didalam pikiranku..."
"Apa kau tidak pernah merasa takut pada orang lain?"
Tu Liong mewakilkan Thiat-yan meng-ucapkan apa yang mungkin sedang dipikirkannya.
"Betul! kadang-kadang aku menaruh rasa hormat terhadap musuhku, juga menghargai musuh-musuhku. Tapi bukan saja aku tidak mungkin merasa takut pada musuh, jujur saja aku katakan, merasa takut pun tidak ada gunanya"
"Bagaimana pandangan dirimu terhadap Pembunuh beralis putih?"
"Tidak buruk, dia adalah pendekar kelas satu, namun tidak bisa disejajarkan bersama-sama dengan pendekar kelas atas"
"Mengapa demikian?"
"Karena barang itu sudah pernah dimakan rayap"
Walau bagaimanapun, Tu Liong sangat mengagumi kemampuan Thiat-yan dalam berbicara, apalagi kemampuannya mengumpamakan sesuatu dan menggunakan kata-kata untuk mengisyaratkan apa yang ingin diucapkannya, dia sangat mahir menggunakannya.
Dia juga sangat berwibawa, dia....dia juga lumayan cantik.
Didalam hati Tu Liong, Thiat-yan sepertinya hanya memiliki sebuah sisi negatif........sayang dia adalah seorang musuh."
Sungguh suatu hal yang sangat disayangkan.
"Nona"
Tiba-tiba saja Tu Liong berkata dengan penuh semangat.
"kau tenang saja, aku tidak mungkin menyuruh orang seperti Pembunuh beralis putih untuk menghadapimu."
"Kalau begitu aku merasa berterimakasih. Bicara terus terang, aku paling takut kotor, apalagi orang yang kotor hatinya."
Tiba-tiba Tu Liong sadar kalau sekarang dia sudah kehabisan kata-kata.
Kehabisan kata-kata didepan Thiat-yan sungguh memalukan.
Karena itu dia tiba-tiba saja mohon diri, segera memutar tubuh dan berjalan pergi.
Dia tidak tahu harus bagaimana memaksakan diri terus berada disana.
--Tu Liong belum menentukan dimana dia akan menemui pembunuh beralis putih, namun dia mengerti karakter para pembunuh semacam ini.
Orang seperti itu selalu menjaga kerahasiaan identitasnya.
Oleh karena itu dia pergi ke kedai teh Tong-ceng tempat pertama dia bertemu dengan Pembunuh beralis putih.
Ternyata memang benar dia sedang berada disana.
"Kau pasti merasa sangat puas"
Pembunuh beralis putih berkata dengan sombong.
"Hasil kerja mu memang sangat memuaskan"
"Ini adalah awal hubungan kerja sama yang sangat bagus"
"Dan ini pun akhir yang bagus"
"Apa arti kata-katamu itu?"
Sepasang bola mata Pembunuh beralis putih yang berwarna merah sekarang melotot.
"Ada beberapa urusan yang harus aku kerjakan sendiri"
Arti tersirat yang ingin dikatakan oleh Tu Liong sangat jelas. Pembunuh beralis putih tertegun.
"... Apakah kau ingin mengatakan kalau aku dipecat?"
"Tidak. Kau sudah melakukan pekerjaanmu dengan sangat baik"
"Aku tidak mungkin mengembalikan uang yang sudah kau berikan, karena aku memiliki hutang. Uang itu sudah aku berikan pada orang lain."
"Kau tidak perlu mengembalikan uang itu"
"Kau sangat dermawan, tapi aku tidak suka menerima pemberian orang lain begitu saja. Aku sudah mengambil uang sewa kontrakmu selama sebulan, tentu saja dalam waktu sebulan ini kapanpun aku harus mendengar semua perintahmu."
"Kau tidak berhutang apapun padaku. Ini bukanlah sebuah pemberian tanpa hasil yang sesuai, pekerjaan yang sudah kau lakukan tadi sudah dibalas setimpal dengan empat ratus uang barat, apakah ini tidak cukup?"
"Tidak bisa"
"Mengapa?"
"Aku sudah mengatakan. Aku tidak suka menerima uang tanpa menghasilkan apa-apa."
"Apakah kau berpikir ingin menggunakan cara ini untuk mengikatku?"
"Terserah kau ingin berpikir apa, dalam waktu sebulan ini aku pasti akan muncul didekat dirimu, aku akan mendengarkan semua perintah yang kau berikan"
Tiba-tiba saja tangan kanan Tu Liong melesat bagai petir.
Tangannya segera menyambar pergelangan tangan Pembunuh beralis putih.
Sepertinya dia ingin menguji kemampuan lawannya.
Pembunuh beralis putih sama sekali tidak bergerak, dia membiarkan pergelangan tangannya di pegang erat-erat.
Dia hanya bertanya pada Tu Liong dengan nada dingin.
"Apa maksudmu melakukan hal ini?"
"Aku hanya ingin mengatakan padamu bahwa apapun yang bisa kau lakukan, akupun bisa melakukannya"
"Sekarang aku tahu"
"Pembunuh beralis putih, kalau kau melakukan pekerjaan ini demi mendapatkan uang, kau seharusnya sudah merasa puas. Tapi kalau kau memiliki niatan yang lain, kau adalah orang yang benar-benar bodoh.
"Sebenarnya pada dasarnya orang-orang yang melakukan pekerjaan seperti diriku adalah orang-orang yang bodoh."
Tu Liong melepaskan genggaman tangannya dan segera berjalan keluar. Kedua alis yang berwarna putih dan sepasang bola mata berwarna merah darah memburu kedepan.
"Apakah hari ini tidak ada perintah untukku?"
"Sudah tidak ada lagi"
Tu Liong menyadari bisa melepaskan diri sepenuhnya dari Pembtmuh beralis putih adalah pekerjaan yang sangat sulit. Oleh karena itu dia tidak berkata apa-apa lagi.
"Kalau begitu aku akan menemuimu lagi besok"
Tu Liong pergi meninggalkan kedai teh Tong-ceng dengan kecepatan penuh.
Dia memacu kudanya secepat mungkin.
Sekarang dia sadar pada sesuatu hal lagi....
didalam sebuah rahasia masih terdapat sebuah rahasia.
Dia harus menenangkan diri dulu untuk menjernihkan pikirannya.
Dia harus menentukan arah tujuan penyelidikan ini.
dia tidak boleh menyeruduk secara serampangan.
Baru saja dia mencapai jalan besar, dia segera bertemu dengan Wie Kie-hong.
Tampaknya Wie Kie-hong baru saja datang mencari dirinya.
Tu Liong segera bertanya.
"Kie-hong, apakah ada masalah?"
"Tu toako, aku sudah menceritakan semuanya pada Leng Taiya, dia lalu memarahiku habis-habisan. Terlebih lagi... terlebih lagi...."
"Apakah ada sesuatu yang tidak bisa kau katakan padaku?"
"Untuk sementara ini Leng Taiya melarangku berhubungan denganmu"
"Oh? Apakah dia tidak memberitahukan padamu apa alasan larangannya?"
"Dia tidak berkata apa apa"
"Semua orang punya pendirian sendiri, bagaimana keputusanmu?"
"Tu toako, selama ini aku hanya mendengar kan perintah majikanku....terlebih lagi, rasanya aku pun tidak bisa banyak membantu dirimu...."
Tu Liong tidak tega menatap Wie Kie-hong yang penuh rasa sesal, segera dia mengganti topik pembicaraan "Kie-hong, tadi aku menemui Thiat-yan."
"Dimana?"
"Tentu saja dirumah kediamannya"
"Bagaimana penilaianmu terhadap dirinya?"
"Tidak jelek"
"Oh...?"
Wie Kie-hong tertegun sesaat. Tidak tahu bagaimana melanjutkan kata-katanya.
"Kie-hong! Kita berdua sama-sama terjepit, di satu sisi, mereka adalah sesepuh kita. Mereka adalah majikan kita. Disisi sebelah sana demi membalaskan dendam ayah yang dicelakai, dia ingin mencari barang peninggalan ayahnya. Apakah ini adalah hal yang salah?"
"Aku ingin mengutarakan apa yang sedang aku pikirkan. Asalkan Leng Taiya tidak dilukai lagi, tidak mendapat shock, segalanya pun tidak aku perdulikan"
"Sebenarnya pendirianmu dengan pendirian ku tidak jauh berbeda. Asalkan Cu Taiya tidak mendapat celaka, apapun aku tidak perduli. Masalahnya adalah....... jika Thiat-yan menemukan barang yang sudah ditinggalkan ayahnya, maka akan ada orang yang ingin mencelakai dirinya, ini adalah hal yang sulit dihindarkan."
"Tu toako, waktu ayahku pergi menjalankan perintah Leng Taiya, setelah pergi dia tidak pernah kembali lagi, belakangan barulah urusan ini diselidiki, apakah kau sudah tahu tentang hal ini?"
"Sepertinya aku pernah mendengar kau mengatakan hal ini"
"Thiat-yan pernah berkata bahwa dia tahu kejadian yang sesungguhnya terjadi"
"Apakah dia sudah memberitahumu?"
"Belum"
"Kalau dia memang sudah mengetahuinya, mengapa dia tidak memberitahu padamu?"
"Dia mengajukan sebuah syarat...."
"Sebagai teman baik, aku ingin memberimu sebuah peringatan, terhadap orang yang memiliki karakter kuat seperti Thiat-yan, kau tidak boleh kompromi....! Aku bisa menduga keadaan yang sebenarnya, jangan percaya katakatanya."
"Tu Toako, aku hanya mempercayai dirimu"
Pada waktu Wie Kie-hong mengatakan kata kata ini, ekspresinya dipenuhi rasa lembut.
Wie Kie-hong adalah seorang laki-laki yang lembut.
Terhadap Leng Souw-hiang dan Tu Liong, yang dipikirnya hal yang baik.
Kalau dikatakan secara normal, karakternya tidak cocok untuk berlatih silat.
Seorang pendekar silat, kadang-kadang perlu kecepatan dalam membuat keputusan dan kepastian dalam melakukan tindakan.
"Kie-hong, kau pulanglah sekarang. Kau harus menghormati keputusan yang sudah dibuat oleh majikanmu. Seperti aku pun harus menghormati keputusan yang dibuat oleh Cu Taiya. Untuk sementara waktu ini, kita berdua tidak saling bertemu pun tidak apa apa, kalau nanti ada berita bagus, aku pasti akan pergi memberitahumu...."
"Tu toako, kalau begitu... kalau begitu aku harus meminta maaf padamu"
"Kie-hong, kalau aku membutuhkan bantu-anmu, aku pasti akan mencari dirimu, mungkin nanti kau harus keluar menolongku."
"Kita lihat saja nanti"
Wie Kie-hong sudah tidak berani melanjutkan kata-katanya lagi.
Kedua orang ini berpisah ditengah jalan.
Ketika Wie Kiehong membalikkan tubuh dan akan melangkah pergi, Tu Liong mengernyitkan keningnya dalam-dalam, jelas terlihat dia kesal sebab untuk sementara waktu ini dia kehilangan satu satunya orang yang dapat menolongnya.
Ini bukan suatu hal yang mudah dilewatkan begitu saja.
Akhirnya Tu Liong kembali memacu kudanya pergi, langkah kudanya sama gontai dengan pikirannya yang kacau, didalam kepalanya berseliweran banyak urusan yang tidak menentu.
Secara tidak terasa dia berjalan masuk kedalam sebuah gang yang sepi, sebenarnya tidak bisa dikatakan "secara tidak sadar", gang ini adalah gang yang harus dilalui kalau ingin kembali ke rumah kediaman Cu Taiya....
Tiba tiba saja ada orang yang menghadang jalannya.
Tu Liong sadar dari lamunannya.
Orang ini berpakaian sangat aneh.
Dia mengenakan pakaian serba hitam yang panjang menyelubungi tubuhnya, saat itu orang yang mengenakan pakaian hitam sangat jarang ditemui.
Kepalanya mengenakan sebuah topi kupluk, topi ini dikenakannya sangat rendah sehingga menutupi raut mukanya.
Tu Liong tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas.
Tu Liong langsung merasa ada sesuatu yang kurang beres.
"Saudara, aku ingin meminta suatu barang padamu"
Orang itu berkata dengan dingin.
"Oh...?"
Tu Liong sama sekali tidak menyangka lawannya akan berlaku seperti itu. dia tertegun beberapa saat.
"Kau ingin minta barang apa?"
"Bahu kananmu...."
Baru saja kata-katanya diucapkan setengah jalan, orang itu sudah meluncur ke arah Tu Liong bagaikan panah yang terlepas dari busurnya.
Biasanya orang yang mengenakan jubah panjang yang berat tidak akan bisa bergerak dengan mudah.
Namun ternyata orang ini sebaliknya, tidak hanya gerak-geriknya sangat cepat, kegesitannya sempat membuat Tu Liong merasa kaget.
Dia mengeluarkan pedang yang memiliki gigi bagaikan sebuah gergaji yang di ambil dari sarang yang digantung di punggungnya.
Sinar kilau pedang berkelebat ketika pedang itu menebas mengarah ke bahu kanan Tu Liong.
Tu Liong mahir bertarung jarak dekat dan ahli jurus bantingan, tentu saja dia mahir menggunakan tangan kosong untuk melawan seseorang yang membawa senjata, tapi menghadapi senjata yang aneh ini dia merasa sedikit raguragu.
Karena merasa ragu ragu, Tu Liong sudah kehilangan waktu yang berharga.
Pedang itu sekarang sudah sampai ke atas bahunya.
Gang itu sangat sempit, untuk menghindari serangan tidaklah mudah.
Apalagi Tu Liong masih duduk diatas seekor kuda.
Sekali salah bertindak, Tu Liong sudah berada dalam bahaya besar.
Untung kemahiran Tu Liong menghindari serangan tidak jelek.
Ditengah situasi berbahaya seperti itu, dia masih mampu menghindar serangan.
Sebelum bahunya putus ditebas pedang bergigi, dia meloncat mundur kebelakang dari pelana kuda.
Kuda putihnya merasa kaget.
Binatang itu meringkik keras mengangkat kedua kaki depannya.
Serta merta binatang itu lari menerjang menuju orang yang memegang pedang gigi gergaji.
Walaupun raut mukanya tidak terlihat, namun Tu Liong tahu orang yang memegang pedang gigi gergaji tidak merasa panik.
Dengan tetap tampak tenang, dia menendang tembok yang ada disebelah kirinya dan membuatnya menjadi injakan untuk meluncur ke atas.
Kuda berlari semakin dekat.
Ternyata orang yang memegang pedang gigi gergaji belum cukup loncatannya untuk menghindari terjangan kuda.
Sekali lagi dia menendangkan kaki kirinya ke tembok di sebelah kanannya.
Sekarang dia sudah berada cukup tinggi diatas kuda.
Kuda putih terus berlari dibawahnya, setelah mencapai titik loncat tertinggi, orang yang memegang pedang gigi gergaji mulai bersalto menuju Tu Liong.
Setelah dekat, dia segera mengayunkan lagi pedang bergigi gergaji ke arah Tu Liong.
Tebasan pedangnya tampak sangat kuat.
Jika Tu Liong tidak segera berkelit, kepalanya pasti sudah terbelah dua.
Dia segera memutar tubuhnya menyamping.
Nyaris pedang bergigi gergaji itu menyentuh hidungnya.
Sekarang Tu Liong berdiri merapat ke dinding, pedang gigi gergaji berada tidak jauh dari dadanya.
Orang yang memegang pedang gigi gergaji segera memutar pegangan pedang, sehingga gigi gergaji yang tajam mengarah pada Tu Liong.
Pedang itu kembali disabetkan ke arahnya.
Tu Liong langsung mengangkat kedua tangan dan melempar dirinya menjauh.
Pedang gigi gergaji hanya berhasil merobekbajunya.
Orang yang memegang pedang gigi gergaji tidak membuang waktu.
Dia kembali menusukkan pedang bergigi gergaji ke arah dada Tu Liong.
Serangan beruntun ini sangat cepat.
Tu Liong kaget.
Terpaksa dia menggunakan kedua telapak tangannya untuk menghentikan laju tusukan pedang.
Tu Liong terseret mundur beberapa langkah.
Orang yang memegang pedang gigi gergaji segera mendorong pedang gigi gergaji ke arah bawah.
Pedang itu terlepas dari jepitan telapak tangan Tu Liong.
Setelah terlepas, pedang itu segera ditarik lagi ke arah atas.
Secara reflek Tu Liong menarik ke dua tangannya.
Kalau gerakan Tu Liong tidak cukup cepat, dia pasti sudah kehilangan kedua pergelangan tangannya.
Tu Liong melangkah mundur.
Setelah beberapa saat, dia menyadari kalau bajunya sudah koyak koyak karena serangan pedang yang beruntun.
"Berhenti!"
Tu Liong berteriak keras-keras. Orang itu ternyata menuruti kata-katanya dan menghentikan serangan. Dia bertanya dengan nada dingin.
"Kau mau minta ampun?"
"Aku hanya ingin bertanya namamu ! Aku ingin bertanya apa alasanmu menyerangku!"
"Kau bertanya saja pada Thiat-yan ...."
Sebelum kata katanya selesai diucapkan olehnya.
Sekali lagi dia menyerang ke arah Tu Long.
Tu Liong menjadi emosi, segera dia mencabut pedang yang diikatkan di pinggangnya.
Orang yang memegang pedang gigi gergaji menyabetkan pedangnya memutar secara vertikal dari atas ke bawah.
Tu Liong juga menyabetkan pedangnya memutar secara vertikal dari bawah ke atas.
Kedua pedang ini mengayun cepat.
Kilau sinar pedang yang terpancar karena sinar matahari membentuk suatu lengkung cahaya yang indah.
"TRAAANGGG!!!"
Kedua pedang beradu dengan keras.
Pedang Tu Liong terpental ke bawah karena kuatnya tebasan orang yang memegang pedang gigi gergaji.
Dia memanfaatkan hal ini untuk kembali mengangkat pedangnya memutar dari bawah.
Setelah pedangnya berada setinggi kepala, dia segera menyabetkannya secara mendatar ke arah kepala orang yang memegang pedang gigi gergaji.
Orang yang memegang pedang gigi gergaji segera menghindar menunduk.
Pedang Tu Liong nyaris mengenai topi yang dikenakannya.
Orang yang memegang pedang gigi gergaji segera menusukkan kembali pedang gigi gergajinya ke arah Tu Liong.
Tu Liong sangat gesit.
Dia meloncat dan menginjak pedang yang melaju ke arahnya.
Dia menggunakan pedang ini sebagai pijakan untuk meloncat jauh ke belakangnya.
Tu Liong bersalto indah di atas punggung orang yang memegang pedang gigi gergaji.
Namun belum sempat Tu Liong mendarat, orang yang memegang pedang gigi gergaji sudah membalikkan tubuh dan kembali menyerbunya.
Baru saja Tu Liong mendarat ketika orang itu kembali mengayunkan pedang gigi gergaji dari atas kebawah.
Tu Liong merasa kewalahan.
Segera dia melintangkan pedang yang dibawanya diatas kepala untuk menahan tebasan pedang yang mematikan ini.
"TRAAANGGG"
Kedua pedang kembali beradu.
Kepala Tu Liong nyaris terbelah dua....
lagi....
Serangan orang yang memegang pedang gigi gergaji tidak berhenti sampai disini.
Dia menarik pegangan pedang gigi gergaji.
Pedang Tu Liong bergetar hebat ketika gigi gergaji pedang mengiris pedangnya dengan mudah seperti sebuah gergaji yang memotong sebatang kayu yang melintang.
Kedua orang ini kembali berdiri berhadapan.
Pedang Tu Liong rompal cukup dalam.
Untung pedang itu belum belah menjadi dua.
Tampaknya nafas kedua orang ini sudah mulai memburu.
Ini adalah sebuah pertarungan dahsyat yang menghabiskan banyak tenaga.
Segera kedua orang berusaha mengatur nafas-nya.
Saat istirahat tidak berlangsung lama.
Mendadak orang yang memegang pedang gigi gergaji kembali berteriak pada Tu Liong..
"BAHU-MUU!!!...."
Kembali dia meluncur berlari ke arahTu Liong.
Tu Liong mengerang singkat.
Istirahat singkat itu belum cukup baginya.
Sebentar saja pedang gigi gergaji sudah ditusukkan kembali ke arah dadanya.
Tu Liong segera menepis pedang gergaji sekuat tenaga.
"TRANGGG!!!"
Pedang gigi gergaji terpental ke arah kanan dengan keras. Gang itu sangat sempit. Dinding gang segera menyambut pedang gigi gergaji.
"BRAAAKKK!!!"
Debu-debu berterbangan, pecahan dinding batu berjatuhan kebawah.
Tu Liong mengambil kesempatan ini untuk menerjang dengan cepat ke arahnya.
Dia menapakkan kakinya dengan keras dan berusaha menyundul orang yang memegang pedang gigi gergaji.
Itulah jurus bertarung jarak dekat yang menjadi keahliannya.
Namun orang yang memegang pedang gigi gergaji benar benar tangguh.
Dia segera meloncat mundur cukup jauh untuk menghindari serangannya.
Setelah mendarat, Tu Liong menusukkan pedangnya ke arah dada orang yang memegang pedang gigi gergaji.
Orang itu segera mengangkat pedangnya melintang di dada untuk menangkis serangan.
Tu Liong melihat ada kesempatan emas.
Dia segera memanfaatkannya.
Tu Liong menusuk-nusuk dengan cepat berulang kali ke arah depan.
Orang yang memegang pedang gigi gergaji segera melompat mundur sangat jauh untuk menghindar.
Kembali mereka beristirahat singkat.
Tampaknya tidak satupun diantara mereka yang masih kuat untuk terus bertarung dengan kepala dingin.
Mereka terjebak dalam kondisi yang menyulitkan.
Jika mereka ingin menyelesaikan pertarungannya, sekarang mereka harus mengerahkan semua tenaga yang tersisa.
Tu Liong terengah-engah, keringat dingin terus mengucur turun di tubuhnya, tubuhnya terasa panas, kabut asap putih terlihat di sekelilingnya karena udara masih sangat dingin.
Dia melihat orang yang memegang pedang gigi gergaji menurunkan pedangnya menyentuh tanah.
Pertarungan segera akan dimulai kembali.
"BAHU-MUUUUU!!!! ..."
Orang itu kembali berteriak sambil berlari menyeret pedangnya di lantai. Pedang itu membuat percikan bunga api kecil di tanah.
"HIAAAAHHH!!!"
Tu Liong pun ikut mengerahkan sisa-sisa tenaganya untuk melawan.
Kedua pedang berayun bersamaan saling menyilang.
Terdengar suara benturan dua logam yang sangat keras.
Tu Liong terpental kebelakang nyaris kehilangan keseimbangan....
Tenaga orang yang memegang pedang gigi gergaji memang luar biasa kuat.
Tu Liong segera siaga.
Namun dia terkejut, ternyata orang itu sudah dekat dengannya.
Dia sedang meloncat dan mengayunkan pedangnya kuat-kuat ke arahnya.
"GAWAT!!"
Tu Liong meloncat lagi kebelakang jauh-jauh untuk menghindari tebasan maut ini. Pedang gigi gergaji menghantam tanah dengan sangat keras. Batu dan debu bertebaran kemana-mana.
"Bagus., satu kesempatan emas lagi."
Pikir Tu Liong.
Dia menghentakkan kaki kanannya dan segera meluncur kedepan menyerang orang yang memegang pedang gigi gergaji.
, Namun alangkah kagetnya Tu Liong..
Ternyata orang yang memegang pedang gigi gergaji sudah menghilang.
Tu Liong bengong sesaat.
Mendadak dia mendengar suara dari atas.
Dia segera menegadah ke atas.
Ternyata orang yang memegang pedang gigi gergaji sudah meloncat tinggi dan kembali menghujamkan pedangnya kebawah.
"TRAAAANNGGG!!!"
Untunglah Tu Liong masih sempat meng-angkat pedangnya menangkis.
Kepalanya sudah nyaris terbelah tiga kali berturut-turut Orang itu mendarat dengan mulus, dan kembali menarik pedang gergajinya.
Tu Liong pikir ini adalah saat istirahat selanjutnya.
Ternyata orang itu tidak menghentikan serangan.
Dia kembali meluncur menuju Tu Liong sambil menebaskan pedang gergajinya melintang ke arah pedangnya.
Kali pedang yang di pegang Tu Liong patah menjadi dua karena tebasan terakhir ini.
Saking kerasnya tebasan pedang gergaji, pedang Tu Liong sampai terlepas dari tangannya.
Pedang gergaji kembali menusuk ke arahnya.
Tu Liong berusaha meloncat mundur.
Tapi pedang lawan masih mengenai pinggang kirinya dan membuat sedikit terluka.
Darah segar membasahi baju yang dikena-kannya.
"Hahahahahahaha!"
Orang yang memegang pedang gigi gergaji tertawa melihat sekarang Tu Liong sudah tidak berdaya.
Tidak menanti lama dia kembali melaju menyerbunya.
Pedang gigi gergaji teracung kedepan melesat dengan cepat.
Kali ini terpaksa Tu Liong menggunakan jurus bantingannya.
Ketika sudah dekat, tubuh Tu Liong menggeliat ke sebelah sisi menghindari pedang dan pergelangan tangan kanannya meliuk bagaikan seekor naga menyambar ke arah pergelangan tangan kanan orang yang sedang menyerangnya.
PLAK!
Pergelangan tangan yang memengang pedang gergaji digenggam dengan erat.
Siapa sangka tangan kiri orang yang juga sedang menggenggam pedang gergaji, tiba-tiba saja mengeluarkan sebuah pisau kecil yang panjangnya tidak lebih dari tiga puluh senti meter.
Dengan secepat kilat pisau itu menyambar bagian-bagian penting di tubuh Tu Liong.
Serangan ini benar benar diluar dugaan Tu Liong.
Jangankan dirinya, seorang pendekar ternama di kalangan persilatan pun tidak akan menyangka akan mendapatkan serangan seperti ini.
Ditengah tengah situasi yang sangat genting seperti ini, Tu Liong hanya bisa melepaskan genggaman tangan kanannya dan segera meloncat mundur menjauh, untung dia masih sempat meng-hindari serangan pisau kecil yang bertubi-tubi.
Walaupun dapat menghindari sebagian besar serangan pisau kecil, namun bahu kanannya sekarang sudah terluka parah, segumpal daging terpapas dari bahu kanannya.
Sebelumnya Tu Liong sudah berada dalam situasi yang buruk, sekarang ini darah segar mengalir dari bahunya.
Situasi semakin genting saja.
"Saudara!"
Dari awal orang ini sama sekali tidak menampakkan raut muka aslinya.
"julurkanlah bahu kananmu, aku berjanji selain mengambil bahu kananmu, kau tidak akan mendapatkan luka apapun lagi."
Tu Liong menelan ludah, otaknya segera berputar memikirkan bagaimana cara mengatasi masalah yang sekarang ini sedang terjadi didepan matanya.
--BAB Rahasia Dari kejauhan seseorang berdiri.
Dia mengawasi semua kejadian yang terjadi didalam gang sempit itu.
Dia sepertinya sedang menimbang-nimbang, apakah dia harus ikut campur tangan dalam urusan ini atau tidak.
Dia tidak terlihat seperti orang yang hanya menonton kebakaran, (tidak mau menolong ketika terjadi musibah), karena sepanjang peristiwa dia tampak sangat tegang.
Pada akhirnya dia perlahan-lahan berjalan mendekat.
Orang yang memegang pedang gergaji mendengar suara langkah mendekat.
Dia segera berteriak dengan suara tinggi "Orang yang lewat harap berhenti!"
"Kenapa? Kau ingin menyuruhku pergi?"
Orang yang membawa pedang gergaji berkata dengan hambar...
"Maaf !"
Ditengah tengah sambaran pedang gergaji, gerakannya berhenti diudara.
"disini kami sedang menyelesaikan dendam amarah antara dua orang pendekar kalangan persilatan, aku harap sahabat tidak ikut campur"
Pada waktu pedang gergaji itu berhenti ditengah udara, penjagaan orang yang memegang pedang gergaji sangat lemah, sebenarnya itu adalah kesempatan emas bagi Tu Liong untuk menyerang balik.
Tapi dia tidak melakukan hal ini.
Tu Liong benar benar seorang pendekar jantan.
Orang itu semakin lama berjalan semakin mendekat.
Setelah dekat, tampaknya orang itu tidak menunjukan akan menghentikan langkahnya.
Dia terus berjalan maju.
Pedang gergaji segera berbalik arah, kecepatan gerakannya tidak berkurang sedikitpun, segera saja pedang gergaji sudah ditebaskan ke arah pinggang orang yang datang.
Tu Liong sekali lagi mendapatkan kesempatan emas untuk menyerang, tapi sekali lagi dia tidak bergerak.
Orang yang memegang pedang gergaji tampaknya sangat mengerti bahwa Tu Liong tidak mungkin menyerangnya dari belakang, karena itu dia berani membalikkan tubuh menghadapi orang yang baru datang.
Tapi ternyata lawan yang baru ini tidak begitu mudah untuk dihadapi.
Tu Liong hanya sempat melihat orang itu menghindari serangannya ke samping, sebentar saja pedang gergaji sudah membelah udara kosong.
Pada waktu yang bersamaan terdengar dia berteriak.
"Orang she Boh! sudah cukup "
APA...?
orang she Boh?
Boh Tan-ping?
Diam-diam hati Tu Liong merasa sangat terkejut.
Sekarang dia mengambil kesempatan untuk menyambarkan senjatanya yang terjatuh yang tinggal sepotong, dipegangnya dan menebas topi yang sedang dipakai oleh orang yang memegang pedang gergaji.
Topi itu segera terlempar jauh.
Ternyata dia memang Boh Tan-ping.
"Boh Tan-ping !"
Tu Liong bertanya dengan nada yang tertekan rendah "aku tidak memiliki dendam terhadap dirimu, untuk apa kau menyerang-ku?"
"Aku tidak dapat menerima perlakuanmu menyelipkan surat peringatan itu disisi bantal nona Thiat-yan."
"Orang she Boh!"
Asalnya orang yang baru datang ini terlihat sangat emosi, namun sekarang tiba-tiba saja dia terlihat tenang.
"kau boleh pergi"
"Sebutkan namamu!"
"Untuk apa?"
"Agar aku dapat mengingatmu dalam hati"
"Hiong-ki"
Hiong-ki?
Boh Tan-ping seperti pernah mendengar nama ini sebelumnya, dia tidak berkata apa-apa.
dia segera menurunkan senjatanya dan pergi.
Hiong-ki?
Tu Liong sebaliknya terlihat kebingungan, dia belum pernah mendengar nama ini sebelumnya.
Hiong-ki tampak mengambil sesuatu dari balik bajunya.
Dia mengeluarkan sebuah barang yang berwarna kuning dan lalu membalurkan pada luka Tu Liong, setelah itu dia menggunakan sebuah kain dan membalut lukanya.
Pada waktu ini Tu Liong mencoba meneliti Hiong-ki dengan baik.
Tampak dia kira-kira baru berumur tiga puluh tahun.
Tampangnya seperti orang yang lugu, namun sinar matanya sangat dalam.
Yang tampak berbeda adalah orang ini tampak seperti seorang pemurung yang menyimpan banyak pemikiran.
"Terima kasih"
"Di jalan menemui ketidak adilan." (artinya. ditengah jalan menemui orang yang mendapat masalah, dia tidak mungkin tinggal diam) Hiong-ki menjawab singkat.
"Ini ramuan obat apa? aku tidak pernah melihatnya sebelumnya"
"Ini adalah tanaman "singa berbulu emas"
Yang hanya tumbuh di daerah selatan.
Tanaman ini banyak tumbuh dimana-mana, semacam tanaman liar.
Aku tidak perlu mengeluarkan uang untuk mendapatkan-nya.
Tanaman ini sangat baik untuk mengobati luka sayatan pedang"
"Apakah saudara Hiong mengenali orang yang she Boh tadi?"
"Aku hanya pernah mendengarnya"
"Dia....dia sebenarnya orang seperti apa?"
"Dia orang yang sangat setia. Seumur hidupnya dia hanya setia pada satu orang saja. Dia dulu setia hanya pada orang yang bernama Tiat Liong-san, sekarang ini dia mengabdi pada Thiat-yan"
Hiong-ki sepertinya mengerti semua urusan dengan jelas "Aku ingin mengundang saudara Hiong minum arak dan berbincang-bincang. Tentu saja ada banyak hal yang ingin aku tanyakan pada saudara"
Hiong-ki hanya tertawa dan berkata.
"Kau baru saja terluka, apakah kau masih bisa minum arak?"
"Ku dengar arak juga memiliki kemampuan untuk menyembuhkan luka"
Kata Tu Liong ikut tertawa.
"Tidak masalah apakah omongan ini benar atau tidak, niat baikmu sudah membuatku kagum. Marilah kita pergi!"
Arak belum tentu memiliki kemampuan untuk menyembuhkan luka, tapi yang pasti arak bisa membuat suasana kaku antara dua orang menjadi cair.
Situasi yang canggung pun menjadi hidup, membuat orang yang baru dikenal menjadi dekat bagaikan teman lama.
Sekarang ini, arak sudah menghancurkan jurang pemisah antara Tu Liong dengan Hiong-ki, mereka berdua pun menjadi akrab.
"Hiong-ki!"
Tu Liong sudah memanggil langsung nama teman barunya "aku lebih enak memanggilmu seperti ini, apakah kau pikir aku sudah tidak sopan?"
"Tentu saja tidak"
"Aku ingin bertanya padamu, tapi kau boleh tidak menjawabnya."
Hiong-ki hanya diam tidak berbicara. Kalau kedua orang ini dibandingkan, jelas terlihat Hiong-ki lebih mantap dan dewasa dibanding Tu Liong.
"Tadi kau tidak pergi meninggalkan perta-rungan, jelas terlihat sepanjang waktu kau selalu memperhatikan gerak gerik Boh Tan-ping...."
Setelah berhenti beberapa saat dia melanjutkan kata katanya.
"Topi yang dikenakan oleh Boh Tan-ping dipasang sangat rendah, aku tidak bisa mengenali siapa dirinya. Namun melihatnya sebentar saja kau bisa langsung mengenalinya. Kau langsung memanggilnya "orang she Boh"
Bukankah ini terlihat sangat jelas?"
"Aku dengar kabar katanya kau sangat pandai memecahkan misteri, ternyata kabar itu tidak salah."
"Selain memperhatikan dirinya, ternyata kau juga sudah memperhatikan diriku."
"Kuakui"
Hiong-ki menggenggam cangkir arak dengan sangat tegak dan lalu minum isinya.
Ini adalah gerak-gerik yang sudah umum dilakukan para pendekar ketika merasa tidak nyaman, jelas terlihat dia tidak ingin banyak bicara.
"Mengapa?"
Tu Liong tidak ingin melepaskan kesempatan begitu saja.
"Aku sering memperhatikan urusan orang lain"
"Jawaban ini terlalu ditutup-tutupi"
"Tu Liong, bagaimanakah jawaban yang kau ingin dengar agar kau merasa puas?"
"Niat........kau sering memperhatikan urusan orang lain pastilah kau punya niat"
"Niat?"
Hiong-ki kembali mengulang kata tersebut perlahan-lahan, lalu menjelaskan.
"ini jawaban ku. Apakah niat Thiat-yan yang sudah mencelakai empat orang tapi dia belum melukai Cu Siau-thian? Dia sudah berhasil membuatmu terusik dan keluar menampakkan muka. apa niat yang kau miliki?"
"Jawabannya sangat sederhana"
"Apakah benar sederhana?"
"Niat Thiat-yan melukai orang-orang adalah untuk membalaskan dendam lama ayahnya. Aku keluar menampilkan muka niatnya melindungi Cu Taiya. Dia adalah majikanku. Hubungan kasih sayang yang kami miliki sudah seperti seorang ayah pada seorang anak. tidak terlalu jauh berbeda. Aku tidak ingin dia mendapat celaka."
"Apakah benar sesederhana itu?"
"Memang sesederhana itu"
"Kalau benar-benar sederhana, aku sudah tidak berminat pada urusan ini lagi"
Tu Liong terdiam sangat lama.
Dia mene-mukan bahwa ternyata Hiong-ki memiliki pemikiran yang jauh melebihi dirinya.
Menghadapi orang seperti ini, dia seharusnya sedikit bicara dan banyak mendengarkan.
Masalahnya adalah kalau dia tidak membuka mulut, Hiong-ki juga tidak akan membuka mulutnya.
"Kelihatannya kau sudah mengetahui banyak hal"
"Belum tentu"
"Jangan menyangkal, kalau kau tidak tahu banyak hal, mana mungkin kau bisa mengatakan kalau masalah ini tidak sesederhana seperti yang ku pikir?"
"Kalau Thiat-yan melukai hanya demi membalaskan dendam, mengapa setelah melukai orang-orang itu dia tidak segera meninggalkan Pakhia?"
"Ini karena dia masih ingin melukai satu orang lagi"
"Cu Siau-thian?"
"Betul sekali, didalam hati Thiat-yan, Cu Siau-thian adalah target utama"
"Salah !"
Nada ucap Hiong-ki terdengar sangat pasti.
Tu Liong merasa terkejut.
Namun dia berusaha untuk tidak menampilkan rasa kagetnya.
Dia melihat pada Hiong-ki dengan tatapan heran, sepertinya dia berharap menemukan jawaban misteri yang lebih dalam yang tertulis pada wajahnya yang datar dan biasa-biasa saja.
Sayang sekali raut wajahnya tidak tampak tanda sedikitpun, bagaikan kertas putih yang belum dicoretkan apa-apa.
Hiong-ki kembali mengatakan kalimatnya.
"Aku berani mengatakan Thiat-yan selamanya tidak akan melukai Cu Siauthian"
Kalimat ini diucapkan terlalu serampangan, terlalu yakin.
Bahkan Cu Siau-thian ataupun Thiat-yan sendiri tidak mungkin berani mengatakan kalimat ini.
selamanya....ini adalah sebuah kata yang tidak bisa diperkirakan dan tidak bisa dikendalikan.
Didunia ini tidak ada teman yang selamanya selalu menjadi teman, begitu pula tidak ada musuh yang selamanya selalu menjadi musuh.
Sebenarnya entah apa yang Thiat-yan dan Cu Siau-thian sedang rencanakan berkenaan dengan rahasia ini.
siapapun tidak bisa menjamin bahwa hubungan ini tidak akan pernah berubah.
"Apakah yang sebenarnya sedang kau coba katakan padaku?"
"Memangnya kau pikir aku sedang ingin mengatakan apa padamu?"
"Kau tampak seperti sedang mencoba mengatakan sesuatu padaku, bahwa Cu Siau-thian dan Thiat-yan sebenarnya berteman, dan bukan saling bermusuhan"
"Kalau kau berpikir seperti ini, kau juga sudah salah"
Muka Tu Liong sekarang berubah menjadi merah, didepan Hiong-ki dia tampak seperti tidak tahu apa-apa. mana mungkin mukanya tidak menjadi merah.
"Apakah kata-kataku sudah membuatmu merasa serba salah?"
"Aku merasa malu"
"Inilah keunggulanku, juga kejelekkanku."
"Bagaimanakah itu?"
"Untuk sisi baikku, aku sangat berterus terang. Untuk sisi jeleknya kata-kataku ini sangat tidak enak didengar. Tapi bagaimanapun juga aku lebih senang mengucapkan kata-kata yang tidak enak didengar tapi terus terang."
"Tapi dari apa yang kurasakan, kata-katamu itu diucapkan dengan gegabah"
"Kamu berkata seperti ini aku juga senang. Bukan hanya dirimu saja, tapi siapapun pasti akan mencurigai kesimpulan yang sudah kubuat, namun mereka semua tidak memiliki keberanian untuk mengatakannya....Tu Liong! Kalau kau bersedia terus berlaku seperti ini ketika berbicara padaku, aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan padamu"
"Baik...."
Tu Liong menjawab cepat.
"Di dalam dunia ini, siapakah menurutmu orang yang kau anggap paling penting? Tentu saja dirimu tidak masuk kedalam pertimbangan"
"Cu Taiya!"
Tu Liong menjawab tanpa banyak pertimbangan "Alasannya?"
"Karena dia sudah mengurusku sampai dewasa, hutang budiku terhadapnya sudah tidak terhitung lagi. kalau tidak ada dirinya, maka aku pun tidak ada."
"Inilah tahu balas budi, tidak melupakan hutang budi, betul?"
"Betul."
"Tapi pandangan yang kau miliki ini salah"
Padahal Tu Liong baru berbincang-bincang dengan Hiong-ki beberapa kalimat saja, Hiong-ki sudah tiga kali berturut-turut menunjukkan dengan gamblang kesalahan yang dibuat oleh Tu Liong.
Ini membuat Tu Liong merasa jengkel.
Dia berkata.
"Hiong-ki! Kalau menurutmu pandangan tahu balas budi pun adalah sebuah kesalahan, aku ingin berdebat denganmu"
"Tidak perlu berdebat, aku akan segera menjelaskan padamu...."
Hiong-ki minum secangkir arak, sepertinya dia memanfaatkan kesempatan ini untuk mencuri sedikit waktu, menimbang-nimbang.
"Tu Liong, saat ini kau sedang memburu konsep membalas budi dengan membabi buta, bisa dibilang saat ini kau berjalan mirip seperti kerbau yang dicocok hidungnya oleh rasa balas budimu itu. sebenarnya didunia ini, selain balas budi masih ada banyak hal yang lebih besar dan penting."
"Apakah itu?"
"Kebenaran dan kebijakan"
"Kebenaran dan kebijakan?"
Tentu saja ini bukan pertama kalinya Tu Liong mendengar kata-kata ini.
"Betul sekali. Balas budi adalah definisi yang sangat sempit, sedangkan kebenaran adalah definisi yang sangat luas. Balas budi masih memiliki batas tertentu yang tidak bisa dilewati. Bagaimanapun besarnya hutang budi yang kau miliki, Kau tidak mungkin menjadikannya alasan sampai tidak memperdulikan nyawamu sendiri, ataupun tidak lagi menjaga nama baikmu. Sedangkan kebenaran yang sesungguhnya tidak memiliki batasan. Demi membela kebenaran, kau bisa tidak memperdulikan apapun lagi."
"Hiong-ki, penjelasanmu ini benar-benar sangat mendalam."
"Kau merasa seperti ini karena matamu sudah ditutupi konsep balas budi"
Tu Liong tertegun, dia seperti mendengar suara suara dari kejauhan.
"Hiong-ki, apakah menurutmu semua tindakan ku selama ini salah?"
"Mengapa kau punya pikiran seperti ini?"
Dari mula Hiong-ki tidak pernah benar benar menjawab sebuah pertanyaan.
"Sepertinya dari kata-kata yang sudah kau ucapkan tadi sudah terlihat jelas"
"Apakah kau mengakui kalau kau adalah orang yang baik?"
"Ya"
"Kalau begitu apakah kau membenci orang yang jahat?"
"Tentu saja"
"Pada waktu itu Cu Siau-thian sudah memiliki permusuhan dengan Tiat Liong-san. Karena ilmu silatnya tidak rendah, dan memiliki koneksi yang sangat luas, sehingga dia menghubungi orang-orang penting dari kalangan pemerintahan untuk bekerja sama menghasut dirinya. Menurutmu apakah tindakan semacam ini adalah tindakan yang dilakukan oleh orang yang baik ataukah tindakan yang hanya akan dilakukan oleh orang yang berhati jahat?"
Tu Liong menutup mulutnya rapat-rapat, dia hanya menundukkan kepala. Melihat gelagat ini, Hiong-ki tidak mengendurkan katakatanya.
"Jelas-jelas terlihat dalam hatimu, kau sudah memiliki jawabannya. Mengapa kau tidak mengatakannya langsung padaku?"
Tu Liong menenggak secangkir besar arak dan lalu berkata dengan suara keras.
"Menghasut Tiat Liong-san sebenarnya adalah tindakan orang jahat"
"Kau berkata, kau merasa majikanmu orang yang jahat, mengapa kau masih mati matian membelanya? Mengapa kau masih menganggapnya sebagai orang paling penting dalam hidupmu?"
"Mungkin saja orang lain akan menilainya sebagai orang yang jahat, namun bagaimanapun bagiku dia adalah orang yang baik."
"Kalau misalnya ada seorang pencuri yang sudah merampok semua orang di dunia, dia hanya tidak merampok dirimu. Apakah kami masih merasa bahwa dia adalah seorang bandit? Kalau misalnya dia menyerahkan semua hasil jarahannya padamu, tidak saja kau tidak akan lagi menganggapnya sebagai seorang bandit, malah sebaliknya, apakah kau akan menganggapnya sebagai seorang pahlawan..."
Kata kata Hiong-ki terus-menerus keluar menusuk hati, membuat Tu Liong merasa susah.
Dia tidak bisa mengatakan sepatah katapun.
Setelah berhenti beberapa saat, Hiong-ki kembali berbicara dengan nada ramah "Tu Liong !
manusia mungkin memiliki karakter yang berbeda beda.
Bagi orang yang pertama, mungkin saja sebuah tindakan akan dinilai sebagai sebuah tindakan brutal yang sangat tidak terpuji.
Namun untuk orang yang kedua mungkin saja tindakan yang sama dianggap sebagai pahala yang mulia.
Namun kita tidak bisa mengatakan bahwa orang yang pertama adalah orang yang baik, dan orang yang kedua adalah orang yang jahat."
Tu Liong sudah tidak ingin meneruskan argumentasi yang rumit ini, karena dia merasa bagaimanapun juga dia tidak mungkin bisa berada diatas angin dan memenangkan perdebatan.
Karena itu dia berusaha membelokkan topik pembicaraan.
"Hiong-ki, pembicaraan kita sudah melenceng jauh dari topik utama. Baiknya sekarang kita kembali pada topik awal, dan melihat dari sudut pandang yang lain.... ... Cu Siau-thian sudah mencelakai Tiat Liong-san memang adalah tindakan yang sangat tidak baik, betul tidak?"
"Tidak salah"
"Thiat-yan adalah putri satu-satunya Tiat Liong-san. Betul tidak?"
"Juga tidak salah"
"Membalaskan dendam ayah adalah sebuah perkara besar, mengapa kau mengatakan bahwa selamanya Thiat-yan tidak akan melukai Cu Taiya?"
Kali ini keadaan berbalik dan Tu Liong memiliki keunggulan dalam perdebatan.
Sangat jelas terlihat Tu Liong merasa sangat senang.
Dia menunggu Hiong-ki melotot terbengong-bengong karena tidak bisa menjawab.
Hiong-ki malah tertawa.
"Apa yang kau tertawakan?"
"Kata-kataku adalah sebuah kontradiksi, semua orang pun bisa dengan mudah melihat kesalahan seperti ini. Apakah kau pikir aku sudah melakukan kesalahan yang bodoh seperti ini?"
"Kau selalu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Mengapa kau selalu membalikkan pertanyaan dan tidak menjawab secara langsung?"
"Membalikkan pertanyaan dapat banyak membantu mempertimbangkan jawaban"
"Membantu siapa mempertimbangkan jawaban?"
Sekarang wajah Tu Liong tampak murung.
"Membantu dirimu, juga diriku"
Karena jawaban terakhir yang diucapkan oleh Hiong-ki tidak tajam, kata-kata Tu Liong kembali terdengar melembut. Namun dia tetap tidak melepas-kan pertanyaan yang sudah diajukannya tadi.
"Aku masih menunggu jawabanmu"
"Ada sebuah barang yang mungkin bisa membantu mewakilkan jawabanku."
"Barang apa?"
"Sebuah surat"
Hiong-ki mengeluarkan sebuah tas yang terbuat dari kulit kambing. Dari dalamnya dia mengeluarkan sebuah amplop yang sudah terlihat tua. Diatas amplop kertas tertulis kata-kata berikut.
"Untuk adik Tan-ping"
Beberapa huruf ini benar benar terlihat sangat familiar dimata Tu Liong.
"Tan-ping? Boh Tan-ping?"
"Sebaiknya kau lihat dulu isi suratnya...."
Tu Liong mengeluarkan surat dari dalam amplop. Diatas surat tertulis.
"Adik Tan-ping yang terhormat, lakukanlah semua sesuai dengan rencana yang sudah ditetapkan sebelumnya, ketika melakukannya harus akurat, tindakanmu harus kejam. Harap diingat ! -tertanda Siau Tian"
Siau Tian? Cu Siau-thian! Tidak salah. Ini memang tulisan tangan majikannya Cu Siau-thian. Sekali lihat saja Tu Liong sudah langsung mengenali bahwa ini adalah tulisan tangannya.
"Tu Liong, Cu Siau-thian dengan Boh Tan-ping memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat. Apakah kau tidak memikirkan ini sebelumnya?"
"Aku hanya ingat tadi kau mengatakan sepatah kata berikut. Boh Tan-ping adalah orang yang setia. Dahulu dia setia kepada Tiat Liong-san, dan sekarang dia setia pada Thiat-yan. Kalau dilihat dari surat ini, dia jelas-jelas juga setia pada Cu Siau-thian. Satu orang bisa setia dan mengabdi pada lebih dari dua orang, pastilah kesetiaannya akan sedikit berkurang."
"Kata katamu itu masuk diakal. Namun kau tidak mengerti kejadian yang sesungguhnya"
Tu Liong hanya bisa melihat Hiong-ki sambil terdiam. Dia menunggu lanjutan kalimatnya.
"Kesetiaan adalah salah satu syarat mendasar yang harus dimiliki seorang pendekar silat. Setia kepada majikannya, setia kepada kawan-kawannya. Pada waktu itu dia sudah mengangkat saudara dengan Cu Siau-thian, ini adalah kesetiaan sebagai seorang teman. Tentu saja mereka juga bekerja sama dalam menghadapi banyak persoalan. Asalkan urusannya tidak menyinggung Tiat Liong-san, dia pasti bersedia melakukan apapun itu..
"Kalau sekarang?"
"Kalau sekarang?"
Hiong-ki sepertinya tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Tu Liong.
"Sekarang ini majikannya adalah Thiat-yan. Sedangkan Thiat-yan dan Cu Siau-thian saling menyimpan dendam. Kirakira Boh Tan-ping berdiri di sisi mana?"
"Tentu saja berdiri di sisi Thiat-yan"
"Kata-katamu itu terdengar terlalu yakin, sehingga terkesan gegabah"
"Apakah mungkin Boh Tan-ping bisa berdiri di sisi Cu Siauthian?"
"Mengapa kau tidak mengatakan apa yang sedang ada dipikiranmu?"
"Apakah kau pikir aku sedang menyimpan sesuatu darimu?"
"Setidaknya kau tidak berterus terang?"
"Oh? Apakah kau bisa menyadarkanku?"
"Tadi kau berkata bahwa Thiat-yan selamanya tidak mungkin akan melukai Cu Siau-thian. Kata kata ini mengandung arti lain yaitu Thiat-yan selamanya pun tidak mungkin akan menemukan cara untuk melukai Cu Siau-thian. Mengapa demikian? Karena semua tindakan yang dilakukan oleh Thiat-yan pasti langsung akan diketahui oleh Boh Tanping, oleh karena itu dia pasti akan selalu melaporkannya pada Cu Siau-thian. Betul tidak?"
"Betul. Tu Liong! aku merasa sebaiknya masalah ini kau coba buktikan sendiri. Pasti akan lebih berguna daripada aku yang memberitahumu."
"Kalau begitu, Boh Tan-ping bukanlah orang yang benarbenar setia."
"Kata-katamu benar juga, setidaknya diper-mukaan dia terlihat seperti itu."
"Selama ini dia selalu menjadi kuping dan mata bagi Cu Siau-thian."
Hiong-ki tidak menyetujui pernyataan ini, sebaliknya dia pun tidak membantah.
"Mengapa Cu Taiya tidak menceritakan semua masalah ini padaku?"
Sebenarnya Tu Liong bergumam sendiri, tapi juga Hiong-ki menjawabnya.
"Pertanyaan itu hanya memiliki satu jawaban. Cu Siau-thian merasa bahwa kau masih belum cukup dapat dipercaya sepenuhnya."
Tu Liong minum arak banyak-banyak. Setelah itu dia kembali bertanya.
"Apakah surat ini boleh aku bawa pulang?"
"Jangan. Ini adalah sebuah barang bukti. Aku harus ingatkan dirimu. Kau sama sekali tidak boleh menceritakan semua masalah ini dihadapan Cu Siau-thian. Sedikitpun tidak boleh bocor."
"Memangnya kalau rahasia ini bocor, ada akibat yang seperti apa?"
"Kau bisa mati"
"Kalau begitu biarkanlah aku mati"
Tu Liong bergegas pergi keluar. Hiong-ki segera berdiri dan mencegat jalannya.
"Apa maksud dari kata-kata mu tadi?"
"Aku akan selalu mengingat kesetiaan hatiku pada Cu Siauthian. Namun ternyata dia belum mempercayai diriku. Apakah hidupku ini masih ada artinya?"
"Kau seorang laki-laki dewasa. Demi membela kebenaran, demi membela keadilan lalu mati, ini bukanlah hal yang jelek. Namun kau mau mati demi rasa ingin membalas budi, demi melampiaskan emosi? Itu adalah tindakan yang sangat bodoh. Aku rasa kau sudah tahu"
Tu Liong hanya menatap Hiong-ki. Setelah beberapa lama dia baru meneruskan kata-katanya.
"Hiong-ki, aku sangat senang mendapat seorang teman seperti dirimu. Sekali melihat dirimu pun aku langsung merasa suka. Bukan karena kau sudah menolong diriku. Ini hanyalah sebuah rasa suka yang ada dalam hatiku. Hiong-ki, apakah kau tahu apa akibat yang akan terjadi kalau misalnya kau sudah membohongiku?"
"Aku tidak mungkin mati"
"Mungkin juga saat ini aku tidak memiliki kemampuan seperti itu"
"Kalau misalnya seseorang benar-benar menginginkan seseorang yang lain mati, dia pasti akan menemukan cara untuk mencapai apa yang diinginkannya"
"Hiong-ki.. ingat lah... kau yang mengucapkan kata-kata tersebut."
Hiong-ki hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala. Dia sudah tidak perlu berkata apa-apa. Tu Liong sudah hampir berangkat, namun dia bertanya lagi.
"Kapan kita akan bertemu lagi?"
"Kalau kita harus bertemu lagi"
Kata-kata ini terdengar seperti omong kosong yang asal diucapkan sembarangan.
Tapi sebenarnya kata-kata ini mengandung arti yang sangat dalam.
--Tu Liong kembali ke kediaman Cu.
Setelah sampai, dia segera pergi menemui Cu Siau-thian.
Luka yang didapatnya di bahu kanannya sangat jelas terlihat, tidak mungkin dapat dengan mudah ditutupi dari pandangan orang lain.
Kelakuan yang ditunjukkan oleh Cu Siau-thian membuat Tu Liong kembali sangsi dengan semua yang sudah diceritakan oleh Hiong-ki.
Dia membantu Tu Liong membasuh luka, merawatnya membalutkan obat dan perban dengan tangannya sendiri.
Setelah semuanya selesai, dia hanya menanya-kan sebuah kata.
"Perbuatan siapa?"
"Boh Tan-ping"
Tu Liong sengaja mengatakan dengan nada datar.
"Boh Tan-ping?"
"Hanya seorang prajurit rendahan"
"Kalau kau mengatakan ini kau sudah mem-buat kesalahan. Pada waktu itu dia adalah pengawal setia nomor satu yang mengabdi pada Tiat Liong-san. Dia bukanlah seseorang yang pantas disebut prajurit kecil."
"Kalau begitu aku sudah terlalu memandang rendah dirinya"
"Karena kau sudah memandang rendah dirinya makanya kau mendapat luka ini ....mengapa kau bertarung dengannya?"
"Sebenarnya semua ini salahku"
Tu Liong sekali lagi sengaja menutupi kejadian yang sebenarnya.
"sebenarnya aku yang pertama menyerangnya"
Tu Liong sedang membuat sebuah percobaan.
Kalau Boh Tan-ping selalu melaporkan kejadian yang terjadi pada Cu Siau-thian, seharusnya dia sudah mengetahui kejadian yang sesungguhnya terjadi dengan cepat.
Karena itu Cu Siau-thian tidak perlu bertanya terlalu jauh karena tidak banyak gunanya.
"Aih !"
Cu Siau-thian hanya menghembuskan nafas panjang.
"kalau dikatakan lagi sepertinya terdengar sangat memalukan. Sebenarnya Boh Tan-ping itu dahulu pernah menjadi saudara angkatku...."
Tu Liong diam-diam merasa kaget.
Seharusnya ini adalah sebuah rahasia yang sangat besar !
mengapa Cu Siau-thian membocorkannya pada dirinya?
"Semuanya karena pada waktu itu emosiku tidak dapat dikontrol.
Aku masih sangat muda.
Aku tidak tahu bagaimana menghadapi orang lain.
Aku lalu membuatnya marah dan dia langsung pergi, setelah itu dia menjadi kaki tangan Tiat Liongsan."
"Apakah setelah itu kalian berdua tidak pernah berhubungan lagi?"
"Sebelum Tiat Liong-san mati, hubungan kami baik-baik saja. Walaupun tidak dekat, tapi kami masih berhubungan. Namun setelah Tiat Liong-san mendapat celaka kami tidak pernah bertukar kabar lagi. dia pasti sangat membenciku"
"Sekarang dia bersama-sama dengan Thiat-yan. Dia pasti akan membelanya"
"Rasanya memang begitu. Apakah kau perlu mengatakannya lagi?"
Cu Siau-thian menyayangkan maksud Tu Liong untuk mengejar masalah ini.
Tu Liong sempat berpikir untuk menceritakan pada Cu Siauthian tentang semua hal yang sudah dipelajarinya tadi.
Namun mengingat peringatan yang diberikan oleh Hiong-ki, dia jadi menahan niatnya.
"Luka yang kau derita ini tidak bisa dibilang sebuah luka ringan. Mengapa kau masih pergi ke kedai arak dan minum arak disana? kau benar-benar tidak tahu bagaimana cara merawat tubuhmu."
"Aku dengar arak bisa menyembuhkan luka"
"Siapa yang memberitahumu kalau arak bisa menyembuhkan luka?"
"Banyak orang mengatakan demikian..."
Tu Liong serampangan bergumam pada dirinya sendiri.
"Omongan itu adalah omongan yang tidak memiliki dasar..."
Kata kata Cu Siau-thian penuh arti.
"Setelah kejadian ini, sebaiknya kau mendengar kan omongan yang sudah benar-benar terbukti. Kau tidak boleh sembarangan mempercayai omongan orang lain."
"Baiklah"
Tu Liong menjawabnya dengan sangat berhatihati. sepertinya rahasia yang disimpan didalam hati sudah diketahui oleh Cu Siau-thian dengan sekali tatap.
"Sekarang kau pergilah beristirahat. Aku akan mengutus seseorang pergi membeli obat untukmu. Urusan ini sebaiknya dilupakan saja."
"Cu Taiya, aku punya sebuah pertanyaan yang tidak berani aku tanyakan"
"Oh...?"
"Apakah Thiat-yan benar-benar tidak berani melukai dirimu?"
"Apa maksud kata-kata mu?"
"Aku hanya mengatakan, orang seperti Leng Taiya adalah orang yang terpelajar, namun Thiat-yan melukainya dengan mudah. Cu Taiya menguasai ilmu silat, apakah dia masih bisa melukai Cu Taiya? Walaupun misalnya dia berhasil mencapai apa yang diinginkannya, dia juga pasti akan takut balasannya ! mana mungkin Cu Taiya tidak memiliki satupun saudara ataupun teman untuk membalas dendam?"
Cu Siau-thian hanya mengerutkan kening diam tidak berbicara apa-apa "Aku berpikir seperti ini, apakah aku sudah membuat kesalahan?"
"Sekarang ini masalahnya bukan Thiat-yan berani melukaiku atau tidak. Masalahnya apakah dia memiliki kemampuan untuk melukaiku"
"Oh...?"
Tu Liong tidak berani sembarangan melanjutkan kata-katanya. Mendadak Cu Siau-thian duduk tegak dan mengangkat kepalanya. Sinar matanya terlihat sangat tajam. Dia memandang Tu Liong dalam-dalam.
"Kau pasti sudah pernah menemui nona Thiat-yan. Betul tidak?"
"Betul"
Tu Liong tidak berani menyangkal.
"Mengapa sejak tadi kau tidak memberitahu?"
Baca Juga: Jaka Lola 4
Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 7