Ceritasilat Novel Online

Pendekar Remaja 9

Eps 9 Pendekar Remaja - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Remaja - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Remaja - Kho Ping Hoo.

Luka-luka telah membuat seluruh tubuhnya mandi darah akan tetapi perwira ini harus dipuji ketabahan dan keuletannya, karena ia tidak hendak menyerah sebelum titik darah terakhir!

Pada saat itu, tiba-tiba keadaan pihak orang-orang Haimi menjadi kacau-balau.

Ternyata bahwa entah dari mana datangnya, di gelanggang peperangan itu telah datang seorang gadis cantik yang mainkan pedangnya secara luar biasa sekali.

Pedang tunggal di tangannya berkilauan dan setiap kali tangannya menggerakkan pedang, robohlah seorang lawan!

Gadis muda ini bukan lain adalah Sie Li atau Lili!

Sebagaimana telah diceritakan di bagian depan, setelah mendengar lamaran yang terus terang dan kasar dari Kam Wi, paman dari Kam Liong, gadis ini lalu melarikan diri meninggalkan rombongan Kam Liong.

Karena ia memang tidak tahu jalan dan di sepanjang perjalanannya, ia tidak bertemu dengan seorang manusia pun, ia telah salah mengambil jalan dan yang disangkanya ke utara sebetulnya membelok ke barat!

Demikianlah, ketika ia melihat betapa serombongan tentara kerajaan dikeroyok dan dikurung oleh pasukan berkumis yang jauh lebih besar jumlahnya, tanpa diminta dan tanpa mengeluarkan kata-kata Lili lalu membantu pasukan kerajaan itu dan menyerang barisan berkumis dengan hebatnya.

Akan tetapi, pada saat Lili datang membantu, pasukan kerajaan telah habis, bahkan perwira tua itu hanya sempat melihat Lili sebentar saja, karena perwira ini lalu roboh saking lelah dan banyak mengeluarkan darah.

Beberapa bacokan golok menamatkan riwayatnya.

Sebentar kemudian hanya Lili seorang saja yang masih dikeroyok oleh puluhan orang berkumis.

Saliban yang melihat seorang gadis cantik jelita dan gagah perkasa, merasa sayang kalau gadis ini sampai mengalami kematian, maka ia lalu berseru.

"Kawan-kawan, jangan bunuh gadis ini. Tangkap hidup-hidup!"

Akan tetapi, perintah ini lebih mudah diucapkan daripada dijalankan, karena jangan kata hendak menangkap hidup-hidup, untuk mendekati gadis itu saja sukarnya bukan main!

Tiap orang yang terlalu berani mendekati Lili, tanpa dapat dicegah lagi roboh terkena tendangan atau kena sambaran hawa pukulan dari tangan kiri gadis itu, atau juga roboh karena keserempet pedang!

Lili sengaja tidak mau membunuh orang.

Melihat orang-orang berkumis ini, teringatlah ia akan cerita ayah bundanya tentang bangsa Haimi, maka ia tidak tega untuk membunuh seorang pun di antara mereka.

"Bukankah kalian ini orang-orang Haimi? Mengapa memusuhi tentara kerajaan? Dengarlah, aku adalah puteri Pendekar Bodoh. Ayah ibuku kenal baik dengan kepala kalian, Manako dan Meilani!"

Seru Lili di antara amukannya.

Benar saja, mendengar seruannya ini, sebagian besar orang Haimi lalu mengundurkan diri.

Mereka sudah mendengar nama Pendekar Bodoh yang menjadi sahabat baik daripada kepala mereka yang dahulu, Manako.

Akan tetapi terdengar bentakan-bentakan Saliban yang mendorong mereka untuk maju lagi dan mengadakan pengeroyokan.

Lili menjadi kewalahan juga dan tak mungkin ia akan dapat melepaskan diri dari kepungan tanpa merobohkan atau menewaskan beberapa orang diantara mereka.

"Mana Manako atau Meilani? Suruh mereka keluar biar aku bicara dengan mereka!"

Teriaknya lagi, akan tetapi siapakah yang berani melayaninya?

Biarpun semua orang Haimi itu timbul hati simpatinya terhadap gadis ini, namun mereka takut kepada Saliban.

Celaka bagi Lili pada saat itu, serombongan pasukan Mongol yang lihai datang!

Orang-orang Mongol ini ketika melihat betapa sepasukan orang Haimi mengeroyok seorang gadis Han, cepat mereka menyerbu dan mengeroyok Lili.

Keadaan Lili menjadi lebih berbahaya lagi.

Biarpun ia mengamuk hebat, akan tetapi bagaimana ia dapat melayani ratusan orang musuh yang mengeroyoknya?

Mereka itu kini mulai mempergunakan kaitan dan tambang sehingga gerakan Lili menjadi terhalang.

Ia melawan terus dan pertempuran luar biasa ini sungguh hebat.

Seorang gadis muda jelita dikeroyok oleh ratusan orang Mongol dan Haimi, dan biarpun sudah ribuan jurus, belum juga gadis ini kalah!

Sudah bertumpuk mayat dan pandangan mata Lili sudah menjadi kabur.

Kepalanya pening, peluhnya membasahi seluruh tubuhnya dan tenaganya mulai berkurang.

Tak mungkin baginya untuk keluar dari kepungan, maka dengan nekat ia lalu menyerbu, maksudnya hendak membunuh sebanyak-banyaknya musuh sebelum ia roboh.

Tiba-tiba terdengar sorak-sorai bergemuruh dari jauh.

Sepasukan tentara kerajaan yang lain datang menolong!

Orang-orang Mongol memisahkan diri dan menyambut datangnya pasukan kerajaan yang terdiri dari seratus orang itu.

Pertempuran makin hebat dan besar, akan tetapi Lili sudah lelah sekali sehingga ketika kakinya terjirat tambang, tubuhnya terhuyung lalu terguling.

Banyak tangan yang kuat menubruknya dan dalam sekejap mata saja ia telah diikat kuat-kuat oleh orang-orang Haimi, lalu Saliban mengempitnya dan membawanya lari bersama orang-orangnya.

Lili yang roboh pingsan saking lelahnya tidak ingat sesuatu.

Ketika ia telah siuman kembali ternyata ia telah berada di dalam sebuah hutan dan waktu itu telah malam.

Kegelapan malam di dalam hutan itu terusir oleh cahaya api unggun besar yang dibuat oleh orang-orang Haimi di tempat itu.

Di sini agaknya memang menjadi tempat beristirahat, karena pohon-pohon telah ditebang merupakan tempat terbuka yang dikelilingi pohon-pohon besar.

Lili tak dapat menggerakkan tubuhnya yang terikat erat-erat dan ia didudukkan menyandar batu karang.

Ketika ia membuka matanya, ia melihat banyak sekali orang Haimi mengelilingi api, duduk bercakap-cakap dalam bahasa Haimi.

Dahulu, secara iseng-iseng ayah bundanya yang sedikit mengerti bahasa ini, telah memberi tahu dan memberi pelajaran kepadanya tentang bahasa Haimi, maka biarpun hanya sedikit, Lili dapat menangkap percakapan mereka.

"Jangan, Saliban, dia adalah puteri Pendekar Bodoh, pendekar besar sahabat baik Kwee Taihiap yang sudah banyak berjasa terhadap kita. Jangan ganggu dia!"

Terdengar seorang Haimi yang sudah tua berkata terhadap orang Haimi yang tak berkumis.

Ucapan ini agaknya diterima dan dinyatakan setuju oleh sebagian besar orang-orang di situ, karena mereka nampak menganggukkan kepala.

Akan tetapi orang Haimi yang tidak berkumis itu menjadi marah.

"Siapa takut Pendekar Bodoh? Tidak tahukah kalian bahwa Pendekar Bodoh adalah musuh orang-orang Mongol? Kita harus memperlihatkan jasa, dan sekarang kesempatan yang amat baik ini jangan kita lewatkan begitu saja. Gadis ini demikian cantik jelita dan berkepandaian tinggi pula. Kalau kita membawanya kepada Malangi Khan dan mempersembahkannya, tentu ia akan berterima kasih dan girang sekali. Kalau dia tidak mau, aku sendiri pun membutuhkan seorang isteri segagah dan secantik ini."

Kembali terdengar suara menggumam dari pada hadirin, akan tetapi kali ini menyatakan tidak setuju.

Hal ini tidak terlepas dari pandangan mata Lili yang tajam.

Ia mendapat kesimpulan bahwa orang-orang Haimi ini betapapun juga masih menaruh hati setia kawan terhadap ayahnya, akan tetapi mereka agaknya takut kepada orang yang bernama Saliban, orang Haimi yang tidak berkumis itu.

Diam-diam Lili mengeluh.

Alangkah buruk nasibnya.

Melakukan perjalanan bersama Kam Liong, mendengar lamaran yang kasar dan yang membuat mukanya menjadi selalu merah kembali kalau diingatnya.

Meninggalkan rombongan itu, belum juga bertemu dengan Hong Beng dan Goat Lan bahkan kini terjatuh ke dalam tangan serombongan orang Haimi yang telah berubah dan telah menjadi kaki tangan Mongol!

Kalau ia diserahkan kepada bangsa Mongol itu, akan celakalah dia!

Akan tetapi, Lili tak pernah putus asa.

Selama hayat masih dikandung badan, gadis ini takkan mati putus asa.

Ia masih hidup, kepandaiannya masih ada.

Betapapun hebat malapetaka mengancam, ia akan dapat menolong diri sendiri.

Dengan pikiran ini, hati Lili menjadi tetap dan ia lalu meramkan mata dan tertidur.

Ia menganggap perlu sekali beristirahat dan tidur melepaskan lelahnya.

Besok pagi-pagi ia akan berusaha untuk melepaskan ikatan kaki tangannya.

Memang cerdik sekali pikiran Lili ini.

Kalau ia berusaha atau berkuatir hati, mungkin ia takkan dapat tidur dan hal ini berbahaya sekali.

Ia amat penat dan kehabisan tenaga, kalau ditambah lagi dengan kegelisahan dan tak dapat tidur, keadaannya tentu akan menjadi lebih buruk lagi.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Lili telah bangun dari tidurnya.

Sungguhpun kaki tangannya terasa kaku dan kesemutan, namun ia merasa tubuhnya sehat dan segar, tidak lemas seperti malam tadi.

Dan ia merasa heran sekali ketika melihat betapa semua orang Haimi masih duduk mengelilingi api.

Mereka tidak bercakap-cakap lagi, hanya duduk melenggut.

Melihat keadaan orang-orang ini, timbul hati kasihan di dalam dada Lili.

Alangkah sengsaranya hidup seperti orang-orang ini.

Agaknya tidak berumah, tidak bebas, dan hidup hanya sebagai budak belian, di bawah perintah orang Haimi tak berkumis yang telah diperbudak pula oleh orang Mongol itu.

Kemanakah perginya Manako dan Meilani, kepala suku bangsa Haimi yang menjadi sahabat baik ayah bundanya?

Dan pada saat Lili termenung sambil memandang ke arah Saliban yang juga telah bangun dan sedang menendangi kawan-kawannya memerintahkan mereka bangun, nampaklah oleh Lili berkelebatnya bayangan merah yang luar biasa sekali gerakannya.

Bayangan ini berkelebat bagaikan bintang jatuh dan tiba-tiba tanpa diketahui oleh orang-orang Haimi itu, di depannya telah berdiri seorang wanita.

Cuaca pagi hari di dalam hutan itu masih agak gelap, remang-remang tertutup halimun.

Dalam pandangan Lili, wanita yang berdiri di depannya itu demikian cantiknya seperti seorang bidadari dari kahyangan.

Pakaiannya berwarna merah dan biarpun di sana-sini sudah ditambal, namun tidak mengurangi potongan bentuk tubuhnya yang langsing.

Tangan wanita itu memegang pedang yang mengeluarkan sinar mencorong bagaikan bintang pagi, mengingatkan Lili kepada pedang Liong-cu-kiam dari ayahnya.

Akan tetapi pedang di tangan wanita baju merah itu lebih pendek daripada Liong-cukiam ayahnya.

Wanita itu tidak mengeluarkan sepatah pun kata, akan tetapi tangannya yang memegang pedang bergerak membacok ke arah Lili!

Sungguh aneh dan hebat gerakan bacokan ini sehingga Lili sendiri menjadi ngeri mengira bahwa wanita ini akan membunuhnya.

Tak terasa lagi gadis ini meramkan matanya.

Akan tetapi tiba-tiba ia merasa betapa tangan dan kakinya terlepas dari belenggu!

Ternyata bahwa wanita itu bukan membacok tubuhnya, melainkan membacok belenggu-belenggu yang mengikat kaki tangannya!

Cepat ia melompat berdiri dan karena tubuhnya masih kaku dan kesemutan, Lili menjadi limbung!

Cepat-cepat ia melakukan gerakan bhesi yang disebut Sepasang Gunung Menembus Awan, sebuah bhesi dari Ilmu Silat Pek-in-hoatsut dan kedua tangannya ia gerak-gerakkan sehingga mengeluarkan uap putih.

Lili melakukan gerakan ini selain untuk mencegah tubuhnya limbung dan jatuh, juga untuk melemaskan urat-urat tangannya dan mencegah masuknya hawa atau angin jahat ke dalam tubuhnya.

Akan tetapi wanita itu nampak terkejut sekali.

Sekali kedua kakinya bergerak, wanita itu telah melesat dan berdiri dekat sekali di depan Lili.

Dipegangnya pundak Lili, digoncang-goncangnya beberapa kali sambil bertanya.

"Siapa kau? Dari mana kau mempelajari Pen-in-hoatsut?"

Ketika wanita baju merah itu menggoncang-goncang pundak Lili, gadis ini dapat melihat wajah wanita itu dengan jelas sekali dan terkejutlah dia.

Wajah ini setelah terlihat jelas ternyata merupakan wajah seorang nenek-nenek yang sudah tua sekali!

Rambutnya sudah putih semua dan kulit mukanya sudah penuh keriput.

Sekaligus lenyaplah sifat-sifat kecantikan wanita itu, dan pada saat itu juga teringatlah Lili dengan hati berdebar siapa adanya wanita di depannya itu.

"Ang... Ang... I Niocu...."

Katanya dengan suara gemetar. Kedua tangan yang halus dan amat kuat, yang tadi menggoncang-goncangkan pundaknya dengan kekuatan luar biasa itu kini terhenti tiba-tiba.

"Kau siapakah? Lekas mengaku, kau siapa dan anak siapa!"

Kata pula wanita itu yang memang betul Ang I Niocu adanya.

"Ah... Ie-ie (Bibi) Im Giok...!"

Tak terasa pula Lili lalu merangkul wanita itu.

Semenjak kecilnya, ibunya seringkali menceritakan tentang Kiang Im Giok atau Ang I Niocu yang amat dicinta oleh ayah ibunya ini, wanita perkasa yang telah banyak melepas budi kepada Pendekar Bodoh suami isteri (baca cerita Pendekar Bodoh).

Pertemuan ini amat menggirangkan hatinya juga amat mengharukah karena selalu terbayang olehnya bahwa Ang I Niocu adalah seorang wanita tercantik di dunia ini.

Sungguhpun ia telah mendengar dari ibunya bahwa kini Ang I Niocu telah tertimpa malapetaka dan menjadi tua sekali, namun tidak pernah terduga bahwa wanita ini akan menjadi setua itu, maka ia menjadi amat terharu.

Air mata tak tertahan pula mengalir di atas pipinya.

Sementara itu, melihat wajah dan watak gadis ini, Ang I Niocu tidak ragu-ragu lagi.

"Kau puteri Lin Lin, anak Cin Hai...?"

Bisiknya.

"Betul, Ie-ie Im Giok, aku bernama Sie Hong Li atau Lili. Masih ada saudaraku, yaitu kakakku bernama Sie Hong Beng."

Ang I Niocu memegang kedua pundak Lili, menjauhkan tubuh gadis itu dari padanya dan memandang wajah cantik itu dengan air mata mengalir turun di pipinya yang kisut.

Ang I Niocu, wanita yang keras hati seperti baja ini tak dapat menahan keharuan hatinya melihat puteri dari kawan-kawannya yang tercinta!

Pada saat itu, Saliban dan kawan-kawannya telah melihat Ang I Niocu dan ketika Saliban melihat betapa Lili telah terlepas ikatan kaki tangannya, ia menjadi marah sekali.

Cepat ia mencabut pedangnya dan memerintahkan kawan-kawannya untuk menyerbu.

"Tangkap Nona itu dan bunuh wanita baju merah itu!"

Teriaknya. Berubah wajah Ang I Niocu ketika ia mendengar seruan ini. Cepat ia melepaskan pundak Lili dan berkata.

"Apakah mereka ini yang menangkapmu? Ha-haha, lihatlah anakku, lihat betapa Ie-iemu, biarpun sudah tua masih sanggup membuat puluhan orang ini menjadi setan tak berkepala lagi dalam sekejap mata!"

Sambil berkata demikian, tangan kanannya meraba pinggang dan tahu-tahu pedang yang tajam berkilau itu telah tercabut dan berada di tangannya!

Pedang ini sesungguhnya juga pedang Liong-cukiam, asalnya merupakan siang-kiam (pedang pasangan), sebatang panjang dan sebatang pula pendek.

Ang I Niocu dan Cin Hai yang mendapatkan pedang ini di dalam gua, dan kemudian menurut pesan Bu Pun Su guru Cin Hai, pedang yang panjang diberikan kepada Cin Hai sedangkan yang pendek jatuh pada Ang I Niocu.

Oleh karena itu, pedang yang berada di tangan Ang I Niocu ini hebat sekali dan tajam luar biasa!

Melihat kemarahan Ang I Niocu, Lili menjadi kuatir sekali.

Ia dapat menduga bahwa wanita baju merah ini benar-benar melakukan ancamannya, semua orang Haimi itu tentu akan mati di tangan Ang I Niocu.

Ia pernah mendengar dari ibunya betapa ganas wanita ini kalau sedang marah.

"Ie-ie Im Giok, tahan dulu...!"

Teriaknya sambil melompat maju dan memegang tangan kanan Ang I Niocu yang memegang pedang.

"Orang-orang ini adalah suku bangsa Haimi yang tidak jahat, hanya kepalanya saja yang memaksa mereka menjadi penjahat. Biarlah aku menghadapi mereka, Ie-ie Im Giok. Ampunkanlah mereka, dan tentang kepalanya yang jahat itu, biarkan aku sendiri yang menghajarnya!"

Ang I Niocu memandang kepada Lili dengan matanya yang amat tajam.

Lili kuatir kalau-kalau nyonya luar biasa ini akan marah, akan tetapi ternyata tidak.

Ang I Niocu bahkan tersenyum dan berkata perlahan.

"Kau seperti ayahmu, berbudi dan pengasih, dan berani seperti ibumu. Nah, kaupakailah pedangku untuk menghadapi kepala mereka."

"Terima kasih, Ie-ie, tak usah!"

Jawab Lili gembira.

"Untuk membunuh seekor anjing, tak patut mengotorkan pedang Liong-cu-kiam!"

Ia kini tak ragu-ragu lagi menyebutkan nama pedang ini karena memang ia telah tahu dari ayahnya bahwa pedang Ang I Niocu adalah pedang Liong-cu-kiam.

Dengan kedua tangan di pinggang, Lili berdiri dengan gagahnya, menanti datangnya serbuan puluhan orang Haimi itu.

Orang-orang ini memang sudah merasa kagum dan segan untuk memusuhi gadis itu, maka kini mereka menjadi ragu-ragu.

Mereka maju hanya atas perintah dan desakan Saliban, maka kini setelah berada di depan gadis yang gagah itu, mereka berdiri ragu-ragu, mundur tidak maju pun gentar.

"Saudara-saudara suku bangsa Haimi, dengarlah kata-kataku! Dengarlah ucapan puteri Pendekar Bodoh yang semenjak dahulu menjadi sahabat dan pembela Manako dan Meilani! Agaknya sekarang kalian telah diselewengkan oleh kepalamu yang baru, yang mengekor dan menjadi kaki tangan bangsa Mongol yang jahat! Kalian hidup dalam bahaya kehancuran seluruh bangsamu. Jangan takut kepada kepalamu yang jahat itu, dan jangan takut kepada orang Mongol yang menindasmu. Aku akan melindungimu, aku dan ayah ibuku. Pendekar Bodoh dan kawan-kawan kami akan melindungimu, akan memukul hancur bangsa Mongol! Lebih baik tinggalkan kepalamu yang jahat itu dan kembalilah kepada keluargamu masing-masing!"

Tak seorang pun diantara orang-orang Haimi itu berani menjawab dan tiba-tiba Saliban melompat ke depan dengan pedang di tangan.

"Perempuan sombong! Kau kemarin telah tertawan dan kami tidak membunuhmu karena sayang kepadamu yang masih muda. Dan sekarang kau berani mengeluarkan ucapan sesombong itu? Terpaksa sekarang kami harus membunuhmu karena mulutmu jahat sekali!"

"Ha-ha, kau bernama Saliban? Tidak tahu entah dari mana datangnya harimau tak berkumis yang telah berhasil membujuk dan menipu harimau-harimau Haimi yang gagah perkasa. Kau mau membunuhku? Aduh sombongnya! Kemarin juga kalau tidak dengan secara pengeroyokan yang pengecut sekali, agaknya kau telah mampus dalam tanganku!"

Saliban memang gentar menghadapi kegagahan Lili yang kemarin sudah disaksikannya akan tetapi oleh karena sekarang pedang gadis itu berada di dalam tangannya dan gadis itu sendiri bertangan kosong, ia menjadi berani.

Ia berseru keras.

"Kawan-kawan, serbu dan bunuh perempuan sombong ini!"

Akan tetapi tak seorang pun diantara orang-orang Haimi itu yang mau menggerakkan senjata.

Ucapan Lili tadi telah mempengaruhi mereka dan kini mereka mengambil keputusan hendak berdiam diri dulu, menyaksikan bagaimana gadis ini akan mengalahkan Saliban yang gagah perkasa dan yang mereka takuti.

Sebelum Saliban dapat mengulangi perintahnya, tiba-tiba Lili telah menggerakkan kakinya dan tubuhnya melesat cepat ke arah Saliban.

Saliban mengangkat pedang Liong-coan-kiam, pedang Lili yang sudah dirampasnya lalu membacok dengan kuat dan hebat ke arah kepala gadis itu.

Akan tetapi, dengan amat mudahnya Lili mengelak ke kiri dan dengan lincahnya ia lalu mempermainkan Saliban.

Serangan kepala Suku bangsa Haimi yang dilakukan secara bertubi-tubi itu sama halnya dengan serangan yang ditujukan kepada angin belaka.

Sedikit pun belum pernah pedang itu dapat menyentuh ujung pakaian Lili.

Ang I Niocu mau tidak mau tersenyum geli melihat betapa Lili mempermainkan lawannya sambil mainkan Ilmu Silat Kong-ciak-sinna.

Hebat sekali gadis ini, pikirnya.

Lincah dan tabah seperti ibunya, akan tetapi tenang dan penuh perhitungan seperti ayahnya.

Ah, ia merasa menyesal mengapa ia telah menjauhkan diri dari mereka ini, kalau saja ia tahu bahwa Cin Hai dan Lin Lin mempunyai seorang puteri secantik dan segagah ini, dari dahulu tentu sudah dipinangnya gadis ini untuk puteranya, Lie Siong!

Kalau dibuat perbandingan, ilmu silat Saliban jauh kalah oleh Lili sehingga pertempuran itu seperti seekor kucing mempermainkan tikus.

Pada jurus ke dua puluh, mulailah Lili membalas serangan lawannya.

Ia mengelak cepat dari sebuah tusukan dan begitu tangan kirinya bergerak, terdengarlah suara "plok!"

Yang keras sekali karena pipi Saliban telah kena ditampar.

Saliban merasa seakan-akan kepalanya disambar petir, matanya berkunang dan bumi yang dipijaknya serasa beralun.

Akan tetapi ia masih dapat mempertahankan dirinya, sungguhpun ia merasa betapa separuh mukanya menjadi panas dan bengkak membesar, ia tetap saja maju menyerang dengan mati-matian!

Saliban memekik kesakitan ketika pukulan Pek-in-hoatsut itu mengenai dadanya.

Pedangnya terampas dengan mudah dan akibat pukulan yang lihai itu, tubuhnya terpental sampai beberapa tombak jauhnya dan tiba di tengah-tengah kumpulan kawan-kawannya yang memandang dengan mata terbelalak kagum.

Lili memang betul berhati pengasih dan pengampun seperti ayahnya.

Tadinya ia tidak niat membunuh Saliban, hanya hendak mengalahkannya, memberi hajaran keras merampas pedangnya dan menginsyafkan orang-orang Haimi yang disesatkannya.

Maka ia terkejut sekali melihat betapa tiba-tiba orang-orang Haimi yang berkumis panjang itu kini menghujani tubuh Saliban yang sudah tak bergerak dengan golok dan pedang mereka.

Tentu saja dalam sekejap mata tubuh Saliban menjadi hancur lebur tercacah oleh puluhan batang golok dan pedang.

Lili melompat ke tempat itu hendak mencegah, akan tetapi terlambat.

Tubuh Saliban telah hancur tidak karuan lagi dan ketika orang-orang Haimi itu melihat Lili melompat dekat, mereka lalu melepaskan senjata dan menjatuhkan diri berlutut di depan gadis gagah itu.

"Lihiap, jahanam ini sudah terlampau banyak mendatangkan kesusahan kepada kami,"

Kata seorang Haimi tua yang malam tadi menyatakan tidak setuju terhadap kehendak Saliban.

"Semenjak bangsa kami diserang dan dikalahkan oleh bangsa Mongol sehingga kepala kami yang bernama Manako melarikan diri dan Meilani telah tewas, kami hidup seperti budak-budak belian yang tidak berkuasa atas pikiran dan hati sendiri. Bangsat rendah Saliban ini menambah malapetaka, karena ia pandai bermuka-muka sehingga diangkat oleh Malangi Khan sebagai kepala kami. Hari ini, Lihiap telah datang dan membebaskan kami dari tindasan Saliban, akan tetapi hal ini belum berarti bahwa Lihiap telah membebaskan kami dari tindasan orang-orang Mongol. Bahkan kematian Saliban ini tentu akan mendatangkan malapetaka yang lebih besar lagi dan mungkin sebentar lagi seluruh anak isteri kami dibunuh oleh orang Mongol!"

Setelah orang tua ini berkata demikian, terdengar isak tangis karena sebagian besar orang-orang Haimi itu telah menangis sedih.

Ang I Niocu yang datang berdiri di dekat Lili, lalu berkata kepada orang-orang Haimi itu dengan suara mengejek.

"Hmm, kalian ini orang-orang bodoh hanya kumisnya saja yang panjang, akan tetapi pikiranmu pendek sekali. Hanya tampang saja yang gagah akan tetapi hatinya lemah dan pengecut melebihi wanita yang selemah-lemahnya! Kesukaran tak dapat diatasi hanya dengan cucuran air mata. Persoalan tak mungkin dapat dipecahkan hanya dengan keluh kesah belaka! Kalau kalian mempunyai kesulitan, lebih baik cepat ceritakan kepada Nona ini, karena Nona ini sekali mengeluarkan kesanggupan pasti akan dipenuhi."

Orang-orang Haimi yang mendengar kata-kata ini, menjadi merah mukanya karena malu dan jengah. Mendengar nasihat tentang kegagahan dari seorang wanita tua, sungguh amat memalukan sekali.

"Siapakah kau, Toanio, yang mengeluarkan kata-kata segagah ini?"

Tanya orang Haimi tua tadi. Dengan suara bangga, Lili lalu memperkenalkan Ang I Niocu kepada mereka.

"Kalian tentu pernah mendengar nama Ang I Niocu, bukan? Nah, inilah dia Ang I Niocu, pendekar wanita terbesar di segala jaman! Dia adalah Twa-ieku yang tercinta. Dengan adanya dia di sini, apakah kalian masih ragu-ragu lagi bahwa aku takkan dapat menolong kalian? Jangankan baru Malangi Khan, Raja Mongol yang hanya seorang manusia biasa itu, biarpun orang-orang Mongol mempunyai raja seorang dewata, dengan Ie-ieku ini di sampingku, aku sanggup menghadapinya!"

Nama besar Ang I Niocu memang sudah amat terkenal dari selatan sampai ke utara, dari barat sampai ke timur, maka sebagian besar orang-orang Haimi itu, terutama sekali yang tua-tua, telah mendengar dan mengenal nama ini, maka serentak mereka memberi hormat sambil berlutut dan mengangguk-anggukkan kepala.

"Kalau begitu, kami mulai hari ini mengangkat Lihiap dan Niocu sebagai pemimpin-pemimpin kami. Hanya kepada Lihiap dan Niocu kami menyerahkan nasib bangsa kami. Ketahuilah, Lihiap dan Niocu, setelah kami dikalahkan oleh bangsa Mongol, keluarga kami yaitu isteri, orang-orang tua dan anak-anak kami semua dikumpulkan dalam sebuah kampung dan dijaga oleh pasukan Mongol. Hanya beberapa hari sekali kami diperkenankan menjumpai mereka. Hal itu dilakukan oleh bangsa Mongol yang jahat untuk merantai kaki kami, karena dengan demikian, mau tidak mau kami tidak berani membantah perintah mereka yang dikeluarkan melalui mulut Saliban yang khianat!"

Mendengar penuturan ini, baik Lili maupun Ang I Niocu menjadi marah sekali.

"Di mana tempat keluarga kalian itu terkurung?"

Tanya Ang I Niocu.

"Tidak jauh dari sini, di sebuah dusun di kaki Gunung Alkata-san,"

Jawab orang Haimi tua tadi.

"Nah, kita tunggu apa lagi? Mari berangkat ke sana untuk menolong mereka,"

Kata pula Ang I Niocu. Orang-orang Haimi itu terkejut sekali.

"Akan tetapi... tempat itu dijaga oleh seratus orang-orang yang jahat."

Lili menjadi hilang sabar.

"Pengecut! Kalian tadi sudah mengaku kami berdua sebagai pemimpin, mengapa sekarang masih banyak membantah lagi? Apakah kalian tidak percaya kepada Ie-ieku? Kalau tidak percaya, sudah saja, kami pergi meninggalkan kalian!"

Mendengar ini buru-buru orang-orang Haimi itu berlutut lagi dan minta maaf.

Kemudian dengan wajah gembira orang tua itu lalu mengumpulkan kawan-kawannya yang jumlahnya masih ada empat puluh dua orang lalu beramai-ramai mereka pergi menuju ke dusun di mana keluarga mereka yang jumlahnya hampir seratus orang wanita, orang-orang tua, dan anak-anak itu ditahan dan dikurung.

Tempat dimana keluarga Haimi itu dikurung adalah sebuah dusun yang telah kosong.

Di situ hanya terdapat gubuk-gubuk yang amat sederhana dan miskin, dan penghidupan keluarga Haimi itu tidak lebih baik daripada penghidupan sekelompok ternak.

Di sekeliling kampung itu benar saja dijaga oleh orang-orang Mongol yang bersenjata lengkap, dan tidak jarang orang-orang wanita keluarga Haimi itu mendapat gangguan yang kurang ajar dari para penjaganya.

Ang I Niocu dari Lili yang mengepalai empat puluh dua orang Haimi itu berjalan menuju ke kampung itu.

Di sepanjang perjalanan, kedua orang ini bercakap-cakap seperti dua orang keluarga yang telah lama berpisah.

"Ie-ie, aku pernah bertemu dengan puteramu,"

Kata Lili. Ang I Niocu cepat menengok dan memandang dengan wajah berseri.

"Betulkah? Kau sudah bertemu dengan Siong-ji? Di mana? Bagaimana dia?"

Lili adalah seorang gadis yang jujur seperti ayahnya. Biarpun ia gemar sekali berjenaka, akan tetapi pada saatnya ia dapat berlaku sungguh-sungguh dan jujur sekali.

"Menyesal sekali harus kukatakan bahwa puteramu itu amat aneh dan juga... kurang ajar sekali, Ie-ie!"

Bukan main terkejutnya hati Ang I Niocu mendengar ini, sehingga ia lalu menoleh ke belakang dan membentak semua orang Haimi agar berhenti untuk beristirahat!

Kemudian ia menarik tangan Lili ke bawah batang pohon dan berkata, suaranya amat menyeramkan.

"Nah, katakanlah terus terang, mengapa kau menganggap dia demikian? Apakah yang telah ia perbuat?"

"Perjumpaanku yang pertama adalah ketika dia, dia mengganggu seorang gadis cantik!"

Kembali Ang I Niocu terkejut sekali.

"Tak mungkin! Siong-ji takkan melakukan perbuatan seperti itu!"

Akan tetapi Lili lalu menceritakan pertemuannya dengan Lie Siong ketika pemuda ini hendak meninggalkan Lilani sehingga gadis Haimi itu menangis sambil mengejarnya sehingga kemudian ia bertempur dengan Lie Siong.

"Agaknya puteramu itu... mencinta gadis itu atau sebaliknya."

"Siapa gadis itu, Lili? Dan mengapa puteraku bersama dengan dia dan melakukan perjalanan bersama?"

"Bagaimana aku dapat menjawab pertanyaan ini, Ie-ie? Aku hanya bertemu sebentar dan pertemuan itu pun bukan pertemuan ramah tamah, bahkan kami telah bertempur karena tidak saling mengenal."

"Hmm, sudahlah, dan kemudian di mana lagi kau berjumpa dengan dia?"

"Yang kedua kalinya, kami berjumpa di kuil Siauw-lim-si di Ki-ciu, tempat tinggal Thian Kek Hwesio yang mengobati penyakit Sin-kai Lo Sian. Juga di tempat ini... puteramu dan aku telah bertempur karena puteramu hendak menyerang Lo Sian. Dan dalam pertempuran ini... ia..."

Lili berhenti sebentar karena wajahnya menjadi merah sekali dan untuk sejenak ia menundukkan mukanya.

"dia telah... berlaku amat kurang ajar terhadap aku, Ie-ie..."

"Ia berbuat apakah? Lekas, lekas ceritakan, aku tak sabar lagi."

"Dia telah merampas sebelah sepatuku!"

"Apa...??"

Kini Ang I Niocu memandang dengan mata terbelatak.

"Merampas sepatumu? Untuk apakah?"

Makin merah wajah Lili.

"Entahlah, siapa tahu?"

Ia cemberut, sehingga hampir Ang I Niocu tertawa. Gadis ini sama benar dengan Lin Lin, ibunya.

"Aku tak dapat mengejar karena kakiku telanjang. Ia pergi sambil membawa sepatuku dan luka di punggungnya."

"Hmm, aneh... aneh, mengapa Siong-ji menjadi begitu aneh?"

"Masih belum hebat, Ie-ie. Belum lama ini, dia bahkan berani datang ke rumah dan selagi ayah bundaku pergi ke Tiang-an, puteramu itu telah menculik Sin-kai Lo Sian!"

"Gila! Apa artinya semua ini, Lili? Ada hubungan apakah antara puteraku dengan Sin-kai Lo Sian? Kalau misalnya ia bermusuhan dengan pengemis itu, tentu ia akan membunuhnya. Akan tetapi menculik pengemis, untuk apa?"

Sebetulnya Lili merasa enggan untuk menceritakan sebabnya, akan tetapi oleh karena pandang mata Ang I Niocu demikian tajamnya sehingga seakan-akan hendak menembus dadanya, maka ia tidak berani menyembunyikannya lagi.

"Harap Ie-ie mendengar dengan tenang. Sesungguhnya Sin-kai Lo Sian mengetahui sebuah hal amat penting dan mengejutkan hati. Dia menyatakan dan terdengar oleh puteramu bahwa... bahwa... suamimu telah meninggal dunia."

Lili melihat betapa wajah Ang I Niocu yang sudah keriputan itu menjadi pucat sekali, akan tetapi tidak sebuah pun seruan kaget keluar dari mulutnya.

"Di mana matinya? Bagaimana dan oleh siapa?"

Hanya demikian tanyanya.

"Inilah soalnya, Ie-ie. Ini pula agaknya yang membuat puteramu melakukan penculikan terhadap diri Sin-kai Lo Sian, untuk memaksanya memberi keterangan. Ah, kasihan orang tua itu, dia sesungguhnya tak dapat memberi keterangan itu karena ingatannya telah hilang."

"Apakah maksudmu?"

Dengan jelas Lili lalu menceritakan keadaan Lo Sian.

Mendengar semua ini Ang I Niocu lalu bangkit berdiri.

Ia berdiri diam bagaikan patung, tak sedikit pun kata-kata keluar dari mulutnya lagi.

Lili memandang dengan terharu dan kagum.

Beginilah sikap seorang wanita gagah.

Menderita pukulan batin yang hebat, mendengar kematian suaminya, tidak mencak-mencak atau menangis seperti biasa dilakukan oleh wanita, akan tetapi berdiri mengatur napas dan termenung menenteramkan batin untuk mengatasi pukulan itu.

Tanpa bergerak atau menoleh, tiba-tiba Ang I Niocu berkata.

"Lili, bencikah kau kepada anakku?"

Lili terkejut sekali.

Tak pernah disangkanya akan mendapat pertanyaan seperti ini.

Ia, seorang gadis yang jujur, apalagi terhadap Ang I Niocu, ia tidak boleh membohong.

Bencikah ia kepada Lie Siong pernuda kurang ajar itu?

Wajah pemuda itu seringkali terbayang kembali dengan segala kekasaran dan kekurangajarannya.

"Tidak, Ie-ie. Penuturanku tadi adalah sesungguhnya, bukan berdasarkan kebencianku. Mengapa aku harus membencinya? Biarpun ia telah berlaku kurang ajar merampas dan membawa lari sepatuku..."

"Itu tanda dia suka kepadamu, anak bodoh!"

Lili tertegun.

"Aku... aku tidak benci kepadanya Ie-ie,"

Katanya dengan hati tetap karena ia tidak membenci ketika mengatakan hal ini.

"Dan kau suka kepadanya?"

Tanya Pula Ang I Niocu, masih belum bergerak dan tidak menoleh.

Berdebar jantung Lili.

Sungguh hebat sekali Ang I Niocu ini, menyerang dengan pertanyaan-pertanyaan demikian jitu dan langsung, benar-benar menyulitkannya.

Agaknya demikian pula kalau pendekar wanita ini menyerang lawan dengan pedang.

Jitu, hebat, dan langsung!

"Ie-ie, bagaimana aku dapat menjawab pertanyaanmu ini?

Sungguh sukar bagiku untuk menjawab.

Apakah maksudmu dengan pertanyaan ini, Ie-ie yang baik?"

"Masudku, Lili,"

Kata Ang I Niocu yang kini tiba-tiba menoleh dan memandang tajam kepada gadis itu.

"karena kalau sudah tiba masanya puteraku memilih jodoh, kaulah yang akan menjadi jodohnya! Dulu ketika aku bertemu dengan puteri Kwee An dan Ma Hoa yang bernama Goat Lan, aku berpikir bahwa dialah yang patut menjadi mantuku."

"Enci Goat Lan adalah tunangan Engko Hong Beng,"

Lili memprotes.

"Lebih-lebih begitu. Setelah aku melihatmu, telah tetap dalam hatiku takkan memperbolehkan Siong-ji menikah selain dengan engkau!"

Bukan main jengahnya perasaan Lili mendengar ini. Mukanya menjadi merah sampai ke telinganya dan dadanya berdebar, ia tidak tahu apakah debar jantungnya itu tanda girang atau marah.

"Tak mungkin, Ie-ie. Puteramu itu telah mencintai seorang gadis lain yang melakukan perjalanan bersama dia!"

"Apakah kau yakin bahwa Siong-ji mencintainya?"

"Aku tidak mau tahu urusan orang lain,"

Jawab Lili dan kembali ia cemberut seperti ibunya kalau marah.

"Yang sudah pasti, gadis itu amat mencintainya."

"Tak mungkin Siong-ji menjatuhkan hatinya pada seorang gadis kecuali gadis seperti engkau. Ah, sudahlah, hal itu mudah dilihat nanti. Pendeknya sukakah kau menjadi mantuku?"

"Ie-ie, dalam hal ini, aku hanya menyerahkannya kepada ayah ibuku. Bagaimana aku dapat memutuskannya sendiri?"

Ang I Niocu memberi tanda ke belakang agar rombongan itu bergerak lagi, tanda bahwa percakapan dengan Lili telah dihabisinya.

Kali ini, di sepanjang perjalanan Lili tidak banyak bercakap lagi.

Ia merasa kikuk dan malu-malu terhadap Ang I Niocu setelah pendekar wanita itu menyatakan hendak mengambil mantu padanya.

Terbayang berganti-ganti wajah Kam Liong, Song Kam Seng, dan Lie Siong.

Kam Liong dan Song Kam Seng tak dapat disangkal lagi tentu mencintainya, jelas nampak dalam sikap mereka.

Akan tetapi Lie Siong?

Benarkah ucapan Ang I Niocu bahwa perampasan sepatu itu menjadi tanda bahwa pemuda itu suka kepadanya?

Apakah bukan sekedar menghinanya belaka?

Ketika rombongan sudah tiba di depan pintu gerbang dusun di mana keluarga Haimi itu ditahan, para penjaga menghardik orang-orang Haimi itu.

"Siapa menyuruh kalian datang pada waktu ini? Belum tiba waktunya kalian diperbolehkan masuk ke sini! Mana Saliban? Panggil ia maju, agar dia yang bicara dengan kami,"

Kata kepala penjaga, seorang Mongol yang tinggi besar dan berwajah menyeramkan.

"Bangsat Mongol tak usah banyak buka mulut! Lebih baik buka pintu gerbang dan minggatlah kau dan orang-orangmu dari sini!"

Lili melompat maju sambil menudingkan kipasnya.

Semenjak tadi gadis ini telah mencabut kipasnya dan mengipasi tubuhnya yang berkeringat karena perjalanan itu.

Keadaan gadis ini dan Ang I Niocu memang di sepanjang jalan menimbulkan keheranan para orang Haimi.

Hawa udara amat dinginnya akan tetapi kedua orang wanita itu berpeluh dan nampaknya kepanasan!

Mereka tidak tahu bahwa memang Lili dan Ang I Niocu mengerahkan hawa dalam tubuh untuk membikin panas tubuhnya, melawan hawa dingin dan melancarkan peredaran darah, maka mereka merasa kepanasan sampai berkeringat.

Adapun kipas Lili, ini dahulu tidak dirampas oleh Saliban karena tidak seorang pun menduga bahwa kipas itu adalah sebuah senjata yang ampuh dari Lili.

Orang Mongol tinggi besar yang mendengar bentakan ini, tertawa bergelak gelak.

"Ha-ha-ha! Mana Saliban? Bagus benar, ia telah membawa seorang tawanan wanita yang sedemikian cantiknya! Sayang otaknya agak miring! Akan tetapi aku suka memberinya sepuluh potong uang emas untukmu! Ha-ha-ha!"

Akan tetapi suara ketawanya segera disusul oleh pekik mengerikan ketika Lili menggerakkan kipasnya yang gagangnya dengan telak menotok leher orang Mongol itu.

Pekik mengerikan ini hanya keluar untuk mengantar nyawanya meninggalkan raganya.

Gegerlah seketika karena orang-orang Haimi juga sudah menyerbu dan menyerang para penjaga Mongol itu.

Juga Ang I Niocu segera bergerak, pedangnya merupakan halilintar menyambar-nyambar dan di mana sinar pedangnya berkelebat, sebuah kepala orang Mongol terpisah dari lehernya!

Amukan Lili dan Ang I Niocu sedemikian hebatnya sehingga sebentar saja sisa para penjaga Mongol itu melarikan diri sambil berteriak-teriak ketakutan, meninggalkan kawan-kawan mereka yang sudah tewas bertumpuk-tumpuk di luar pintu gerbang.

Pertemuan antara keluarga Haimi dan para perajurit Haimi itu sungguh amat mengharukan.

Akan tetapi Ang I Niocu segera memberi perintah agar semua orang segera meninggalkan kampung itu dan beramai-ramai menuju ke timur.

Di sebelah timur terdapat sebuah hutan lebat di lereng Bukit Alkata-san dan di sinilah mereka berhenti.

Ang I Niocu tidak takut akan pembalasan orang-orang Mongol, akan tetapi tentu saja sukar baginya untuk melindungi sekian banyaknya orang apabila terjadi pertempuran dengan orang-orang Mongol.

Setelah berada di tengah hutan, orang-orang Haimi lalu membuat pagar dan pondok-pondok darurat, kemudian diadakan penjagaan yang kuat.

Setelah itu, orang Haimi yang tua itu lalu memimpin kawan-kawannya untuk berlutut menghaturkan terima kasih kepada Lili dan Ang I Niocu.

"Lili, kaupimpin orang-orang ini. Kasihan mereka. Aku mendengar bahwa bala tentara kerajaan dan orang-orang gagah sedang melakukan penjagaan untuk memukul mundur orang-orang Mongol. Kalau keadaan sudah aman, barulah kautinggalkan orang-orang ini, atau boleh kau serahkan kepada penjagaan tentara kerajaan."

"Aku akan memimpin mereka mencari kerajaan di mana terbenteng tentara kerajaan di mana terdapat pula Engko Hong Beng, Enci Goat Lan dan mungkin kedua orang tuaku Ie-ie."

"Hmm, jadi Cin Hai dan Lin Lin juga sudah turun tangan untuk mengusir orang-orang Mongol? Bagus! Sayang sekali aku tidak ada nafsu untuk mencampuri pertempuran ini. Aku hendak mencari puteraku, dan untuk mencari pembunuh suamiku. Kaubawalah mereka ke mana kau suka, Lili, akan tetapi berhati-hatilah. Melihat ilmu silatmu aku percaya sepenuhnya bahwa kau akan dapat melakukan tugas ini."

Setelah berkata demikian dan memelyk Lili, Ang I Niocu lalu berkelebat pergi.

Dalam pandangan mata orang-orang Haimi yang berada di situ, nyonya merah ini sama saja dengan menghilang karena lompatannya demikian cepat sehingga tidak kelihatan lagi.

Mereka diam-diam merasa kagum sekali.

"Untuk sementara, dalam beberapa hari ini, biar kita beristirahat dulu di sini,"

Kata Lili kepada orang-orang Haimi itu.

"kita mengumpulkan tenaga dan menjaga kalau-kalau ada pasukan Mongol yang menyerang. Kemudian, kita harus pergi ke lereng Alkata-san untuk mencari benteng pertahanan tentara kerajaan."

"Lihiap, aku tahu di mana adanya benteng itu, hanya kurang lebih seratus li dari sini!"

Kata orang Haimi tua yang ternyata kemudian bernama Nurhacu itu.

"Bagus sekali, Paman Nurhacu. Baiklah, kelak kau yang menjadi penunjuk jalan. Sekarang perkuatlah penjagaan, aku pun perlu sekali beristirahat. Kita tunggu sampai lima hari, kalau keadaan sudah nampak aman, baru kita membawa keluarga ini menuju ke benteng itu."

Lili diperlakukan sebagai kepala atau ratu mereka.

Semua orang menghormati gadis ini yang dianggap sebagai dewi penolong mereka.

Segala macam keperluan gadis ini disediakan dan para wanita juga melayaninya dengan penuh kebaktian sehingga diam-diam Lili merasa terharu.

Kalau saja tidak ada orang tuanya dan kawan-kawan lain, agaknya ia akan suka sekali hidup sebagai kepala suku Haimi yang ternyata selain jujur, juga amat manis budi ini.

Tiga hari kemudian, pada siang hari, seorang penjaga dengan wajah khawatir datang melapor kepada Lili.

"Lihiap, dari arah selatan datang tiga orang. Mereka itu adalah seorang wanita dan dua orang laki-laki. Dan yang wanita kami kenal sebagai puteri dari kepala suku bangsa kami yang dulu, yaitu Lilani, puteri Manako dan Meilani! Menanti keputusan Lihiap apakah yang harus kami lakukan karena mereka itu sedang menuju ke sini!"

Berdebar hati Lili mendengar laporan ini, Lilani, puteri Manako dan Meilani? Gadis Haimi dan dua orang laki-laki? "Bagaimana macamnya dua orang laki-laki itu?"

Tanyanya.

"Yang seorang adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah, agaknya seorang ahli silat karena pedangnya tergantung pada pinggang. Yang ke dua adalah seorang laki-laki tua berpakaian tambal-tambalan."

Makin berdebar dada Lili mendengar ini.

Tak salah lagi, mereka tentulah Lie Siong dan Lo Sian!

Jadi wanita yang melakukan perjalanan bersama Lie Siong itu adalah puteri dari Manako dan Mellani?

Ah, bagaimana ada hal yang demikian kebetulan?

"Jangan menggunakan kekerasan,"

Katanya dengan suara tetap setelah berpikir sejenak.

"akan tetapi tawan mereka dan bawa menghadap kepadaku!"

"Ditawan...??"

Penjaga itu ragu-ragu.

"Akan tetapi wanita itu adalah Lilani, puteri dari..."

"Cukup! Jangan membantah. Bawa mereka menghadap ke sini! Kalau mereka melakukan perlawanan, datang lapor lagi, aku sendiri yang akan menawan mereka!"

Sementara itu, Nurhacu yang mendengar bahwa Lilani datang, dengan girang ia bersama kawan-kawannya lalu berlari-lari menyambut kedatangan puteri kepala mereka itu.

Yang datang memang benar Lilani, Lie Siong dan Lo Sian.

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, mereka ini sengaja melanjutkan perjalanan ke utara untuk mencari suku bangsa Haimi.

Pada hari kemarinnya, tiga orang ini bertemu dengan sepasukan orang Mongol yang terdiri dari belasan orang.

Lie Siong segera menyerbu dan menangkap seorang di antara mereka, memaksanya memberi keterangan di mana adanya suku bangsa, Haimi.

Orang Mongol yang tak berdaya lagi itu memberi tahu bahwa bangsa Haimi yang dipimpin oleh Saliban berada di sekitar kaki Bukit Alkata-san di sebelah barat, maka Lie Siong lalu mengajak kawan-kawannya untuk mencari di daerah itu.

Ketika Lilani mendengar suara bersorak dan melihat serombongan orang Haimi berlari-lari menyambutnya, ia lalu berlari maju dengan air mata berlinang.

"Paman Nurhacu...!"

Serunya penuh keharuan dan kegirangan. Kakek Haimi itu juga berseru.

"Lilani... ah, Lilani..."

Mereka lalu berpelukan sambil bertangis-tangisan.

Ramai mereka bicara dalam bahasa Haimi dan Lie Siong melihat betapa Lilani seakan-akan hidup kembali, seakan-akan menempuh hidup baru.

Wajah gadis ini berseri gembira, matanya bergerak-gerak hidup tidak sayu dan muram seperti tadinya.

Ia menarik napas lega.

Pada saat Lilani bercakap-cakap menuturkan riwayatnya dengan Nurhacu dan kawan-kawannya, datanglah penjaga yang tadi melapor kepada Lili.

"Menurut keputusan Lihiap, mereka bertiga harus ditangkap dan dibawa menghadap kepadanya,"

Kata penjaga ini dalam bahasa Han yang kaku, karena maksudnya agar dimengerti oleh dua orang yang mengantar Lilani itu.

Mendengar ucapan ini, Lie Siong menjadi marah.

Dicabutnya pedangnya dan ia melompat ke hadapan Lilani, melindunginya sambil membentak.

"Apa? Kalian mau menangkap Lilani, mau menangkap kami? Lilani adalah puteri dari bekas pemimpinmu, sekarang hendak kalian tangkap sendiri? Baik, majulah! Ingin kulihat bagaimana kepalamu yang berkumis itu menggelinding meninggalkan tubuhmu!"

"Jangan, Tai-hiap, jangan! Mereka ini adalah keluargaku sendiri. Kalau mereka sudah mempunyai seorang kepala baru yang menghendaki kita datang menghadap, marilah kita lakukan itu dan kita lihat siapa adanya kepala mereka yang ternyata seorang wanita itu. Menurut penuturan Paman Nurhacu, Paman Saliban yang jahat sudah tewas oleh kepala baru ini. Marilah, Tai-hiap, harap kau jangan mengganggu mereka."

Juga Lo Sian menyabarkan hati Lie Siong sehingga apa boleh buat pemuda ini menyimpan kembali pedangnya.

Mereka bertiga lalu diajak oleh orang-orang Haimi itu, pergi menghadap Lili!

Ketika tiga orang "tawanan"

Ini telah tiba, Nurhacu sendiri memberi laporan kepada Lili.

"Suruh mereka tunggu."

Kata Lili dengan angkuh sekali.

"Sediakan dulu makanan karena perutku lapar. Setelah makan, barulah aku akan menerima mereka!"

Nurhacu menjadi heran sekali.

Belum pernah ia melihat Lili bersikap demikian dingin dan nampaknya marah.

Akan tetapi diam-diam ia melakukan perintah ini dari ketika tiba di luar pondok tempat tinggal Lili, ia memberitahukan kepada Lilani bahwa kepala mereka sedang makan serta minta mereka menanti sebentar.

Ketika Lilani menyampaikan warta ini kepada Lie Siong, bukan main mendongkol hati pemuda ini.

"Siapa sih dia, begitu sombong?"

Katanya.

Akan tetapi Lilani menyabarkannya dan sebentar kemudian gadis ini didatangi oleh orang-orang perempuan Haimi.

Riuh rendah di situ, terdengar gelak ketawa dan tangis.

Pertemuan yang amat mengharukan antara Lilani dan para keluarga Haimi.

Dari orang-orang perempuan ini Lilani mendengar bahwa kepala yang baru ini adalah seorang wanita cantik yang gagah yang telah membebaskan mereka dari tahanan orang-orang Mongol.

Diam-diam Lilani merasa heran dan juga kagum sekali.

Tak lama kemudian, seorang penjaga datang dan minta Lo Sian mengikuti.

"Tamu yang tertua dipanggil menghadap lebih dulu,"

Katanya.

Lo Sian bangkit dan mengikuti penjaga itu masuk ke dalam.

Ia diantar sampai di luar pintu dan dipersilakan masuk sendiri.

Ketika Lo Sian menolak daun pintu dan melangkah masuk, hampir saja berseru saking kagetnya.

Akan tetapi Lili cepat memberi tanda dengan jari telunjuk di depan mulutnya dan melambaikan tangan minta kepada Lo Sian agar supaya maju dan duduk di bangku depan mejanya.

"Lili, bagaimana kau berada di sini dan... apakah artinya tindakanmu yang aneh ini? Mengapa kau menyuruh kami ditangkap"

Lili tersenyum.

"Lo-pek-pek, apakah kau baik-baik saja? Tadinya aku kuatir kau telah menjadi kurban dan binasa di tangan pemuda kurang ajar itu."

"Lili, dia adalah seorang pemuda yang baik, dia benar-benar putera Ang I Niocu, aku memang diculiknya, akan tetap itu dilakukannya karena ia ingin tahu tentang ayahnya."

"Aku tahu, Pek-pek. Karena itulah maka lebih-lebih harus disesalkan kekurangajarannya! Aku telah menotong suku bangsa Haimi dan diangkat menjadi pemimpin mereka, sekarang dia dan gadis itu datang mau apakah?"

"Lili, gadis itu adalah puteri kepala suku bangsa Haimi. Lie Siong dan aku sengaja mengantarkannya untuk mengembalikannya kepada suku bangsanya. Kusaksikan sendiri betapa girangnya orang-orang Haimi ketika bertemu dengan Nona Lilani itu. Mengapa kau suruh dia ditangkap?"

"Biarpun dia puteri Manako dan Meilani, akan tetapi pada saat ini akulah yang menjadi kepala di sini, Pek-pek. Tidak boleh ia berlaku sesuka hatinya. Kalau ia ingin menjadi pemimpin ia harus dapat merebutnya dari tanganku! Aku diangkat menjadi pemimpin bukan atas kehendakku, dan aku diberi tugas untuk memimpin mereka sampai ke benteng pasukan kerajaan di mana mereka dapat berlindung, apakah sekarang aku harus menyerahkannya begitu saja kepada seorang gadis bernama Lilani? Sudahlah, Pek-pek, kau duduklah saja dan dengarkan apa yang hendak dikatakan oleh mereka berdua!"

Lo Sian terbelalak heran memandang wajah Lili yang nampaknya marah dan cemburu itu.

Tadinya ia mengira bahwa gadis ini main-main, karena seperti biasanya, Lili suka sekali bermain-main dan berjenaka atau melucu.

Akan tetapi sekarang pemudi ini nampaknya bersungguh-sungguh sehingga Sinkai Lo Sian hanya diam sambil memandang dan menduga-duga.

Sementara itu, Lili sudah menepuk tangannya memanggil penjaga yang berada di luar pondoknya.

Ia memerintahkan agar supaya dua orang muda tawanan itu disuruh masuk, Lilani dan Lie Siong masuk sambil mengangkat kepala, memandang "ratu baru"

Dari suku bangsa Haimi itu dengan hati ingin tahu sekali siapakah orangnya yang telah menolong bangsa itu dan kini menjadi kepalanya.

Sungguh menarik sekali melihat pertemuan antara tiga orang muda yang elok ini dan Lo Sian beruntung sekali dapat menyaksikan pertemuan yang menarik ini.

Tiga orang muda itu saling pandang, Lili dengan bibirnya yang manis tersenyum mengejek, sedangkan Lie Siong dengan mata terbelalak dan muka agak pucat.

Adapun Lilani untuk sesaat seperti orang terkejut sekali dan mukanya menjadi kemerah-merahan akan tetapi gadis ini lalu berlari maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan Lili!

"Nona yang gagah perkasa besar sekali budimu terhadap bangsaku.

Perkenankanlah aku menghaturkan terima kasih atas pertolonganmu dan percayalah bahwa kami bangsa Haimi selamanya takkan melupakan jasa dan pertolonganmu."

Lili tersenyum makin mengejek.

"Aku mendengar bahwa kau adalah puteri dari bekas pemimpin besar suku bangsa Haimi. Bukankah kau datang untuk menduduki pangkat pemimpin menggantikan orang tuamu? Sanggupkah kau menggeser aku dari tempat dudukku? Ketahuilah, aku yang telah dipilih dan diangkat menjadi kepala di sini dan karena aku memperoleh kedudukan ini mengandalkan pedangku, maka kalau kau menghendaki kedudukan ini, cobalah kau kalahkan aku lebih dulu."

"Lihiap, bagaimana aku berani menantang penolong bangsaku? Memang terus terang saja aku tadinya bercita-cita untuk memimpin bangsaku yang bodoh. Akan tetapi sekarang bintang terang telah jatuh dari atas langit menerangi kehidupan bangsaku yang tertindas dari selalu berada dalam kegelapan. Bintang itu adalah kau sendiri, Lihiap. Setelah kau dikirim oleh Tuhan untuk membimbing bangsaku, bagaimana aku dapat menghendaki kedudukan pemimpin? Tidak, aku cukup puas kalau aku dapat menjadi pelayanmu, Lihiap."

Tertegun dan terharu juga hati Lili mendengar ucapan ini, akan tetapi ketika ia melirik ke arah Lie Siong dan melihat betapa jidat pemuda itu berkerut seakan-akan tidak senang hati mendengar dan melihat sikapnya, Lili menjadi makin panas.

"Hemm, siapakah yang ingin menjadi ratu di sini? Aku tidak haus akan kedudukan dan tidak ingin menjadi kepala! Aku hanya kebetulan saja menjadi pemimpin karena mereka pilih dan sudah menjadi tugas seorang gagah untuk menolong mereka yang tertindas. Tentu saja aku akan menyerahkan kedudukan ini kepadamu tanpa kauminta kalau memang betul kau adalah puteri kepala yang berhak menjadi pemimpin. Akan tetapi bagaimana aku dapat menyerahkan kedudukan ini begitu saja? Bagaimana aku dapat menyerahkan nasib ratusan orang ke dalam tangan orang yang belum kuketahui kecakapannya? Oleh karena itu, coba kau perlihatkan kepandaianmu kepadaku untuk kulihat apakah kau sudah cukup kuat memimpin orang-orang sedemikian banyaknya!"

Merah wajah Lilani mendengar ucapan ini.

Biarpun dianggap sudah berkepandaian tinggi diantara bangsanya, mungkin yang paling tinggi diantara semua orang Haimi, akan tetapi bagaimana ia dapat memperlihatkan kepandaiannya itu di hadapan seorang gadis luar biasa seperti Lili ini?

Ia pernah menyaksikan kepandaian Lili ketika bertempur melawan Lie Siong dahulu itu.

Bahkan Lie Siong sendiri belum tentu dapat mengalahkan Lili, apalagi dia?

Dengan gugup dan bingung, Lilani tak dapat menjawab, hanya menundukkan kepala dengan wajah merah.

Ia hendak minta tolong kepada Lie Siong, akan tetapi tidak berani.

Pemuda ini tidak mempedulikan lagi kepadanya dan ia maklum bahwa pemuda ini telah jatuh cinta kepada Lili yang kini menantangnya!

Ia tahu betul bahwa sepatu yang ditimang-timang oleh Lie Siong di malam hari dahulu itu adalah sepatu Lili!

Tak terasa pula, dua titik air mata mengalir turun dan merayap di sepanjang pipinya yang halus dan kemerahan.

Melihat keadaan Lilani, Lie Siong tidak tega sekali dan timbullah hati penasaran melihat sikap Lili yang dianggapnya keterlaluan.

Ia harus mengakui bahwa begitu bertemu dengan Lili hatinya berdebar tidak karuan.

Gadis itu duduk di atas kursinya demikian cantik, demikian agung, demikian jelita sehingga agaknya tidak ada orang yang lebih pantas menjadi seorang ratu!

Rambut yang hitam dan gemuk itu agak kacau di kepala yang bermuka indah itu.

Matanya demikian tajam bersinar dan kocak, dengan bibirnya yang manis sekali tersenyum mengejek, membuat lesung pipit di pipi kiri.

Tubuhnya yang padat dan potongannya yang langsing itu menambah kegagahan dan kemolekannya.

Ah, benar-benar seorang gadis luar biasa yang kenyataannya melebihi mimpinya!

Ketika ia melirik ke arah kaki yang kecil mungil itu, teringatlah ia akan sepatu yang masih dikantonginya dan diam-diam hatinya makin berdebar jengah dan malu.

Akan tetapi kini sikap Lili membuatnya penasaran sekali.

Seorang gadis seperti ini tidak selayaknya bersikap demikian kejam terhadap Lilani.

Biarpun ia tidak mencinta Lilani, namun hatinya penuh rasa kasihan terhadap gadis ini dan siapapur juga, juga tidak Lili yang diam-diam merampas hatinya, boleh mengganggu dan menyakiti hati gadis yang bernasib malang ini!

"Nona Sie, sebagai seorang gagah dan terutama sekali sebagai puteri Pendekar Bodoh yang terkenal budiman, tidak selayaknya kau memperlakukan Nona Lilani seperti ini!

Dia adalah puteri dari kepala suku bangsa Haimi yang amat dihormati oleh bangsanya dan sudah sewajarnya kalau dia menjadi pemimpin bangsanya.

itu sudah menjadi haknya!

Mengapa kau sekarang mengandalkan kepandaianmu bukan untuk membantu dan menolongnya, bahkan kau pergunakan untuk menghinanya?

Tidak malukah engkau!

Untuk apakah kedudukan ini bagi seorang gagah seperti Nona?"

Mendengar ucapan ini merahlah wajah Lili, menambahkan kecantikannya sehingga Lie Siong yang memandangnya merasa napasnya sesak!

Gadis ini marah sekali, dan anehnya, ia tidak marah atas kata-kata yang keras ini, melainkan marah ia melihat pemuda ini membela Liliani!

Boleh dibilang marah karena cemburu, benar-benar aneh.

"Ah, jadi Nona Lilani mempunyai seorang pelindung yang gagah? Pantas saja Nona Haimi ini berani melakukan perjalanan ribuan li tidak tahunya selalu berada di bawah lindungan berada di bawah lindungan seorang pemuda gagah! Ha, kalau begitu, biarlah aku mencoba kepandaian pelindungnya, untuk menguji apakah sudah patut menjadi pelindung dan bayangkari seorang Ratu Haimi!"

Sambil berkata demikian, Lili lalu melompat turun dari bangkunya dan mencabut pedang Liong-coan-kiam dan kipas mautnya!

Lie Song adalah seorang pemuda yang keras hati.

Menghadapi tantangan Lili, biarpun ia menjadi bingung sekali, akan tetapi ia merasa malu kalau mundur.

Ia pun lalu mencabut pedang Sin-liong-kiam dan berkata.

"Nona Sie, sesungguhnya tidak ada alasan bagiku untuk bertempur melawanmu, akan tetapi aku akan mencemarkan nama orang tuaku kalau aku menolak tantangan berkelahi dari siapapun juga. Biarlah aku menebus kekalahanku dahulu di kuil Siauw-lim-si di Kiciu!"

Kini marahlah Lili. Tidak sepatutnya orang menyebut-nyebut peristiwa ini. Sekaligus ia teringat akan sepatunya yang dirampas, maka ia berkata keras.

"Bagus! Biarlah aku pun mendapat kesempatan untuk membalas penghinaanmu. Kau mengaku putera Ang I Niocu, akan .tetapi aku tetap tidak percaya, karena putera Ang I Niocu takkan sekurang ajar itu! Tidak saja kau telah merampas sepatu yang berarti menghinaku, akan tetapi kau juga berani menculik Lo-pek-pek!"

Sambil berkata demikian, Lili lalu melompat keluar dari pondoknya.

Lie Siong juga melompat keluar dan di pekarangan pondok yang luas itu mereka berhadapan bagaikan dua jago yang berlagak hendak bertempur mati-matian.

Semua orang Haimi, tua muda laki perempuan yang memang berkumpul di depan pondok itu untuk menanti Lilani memandang dengan melongo dan terheran-heran.

Lilani dengan diikuti oleh Lo Sian berlari keluar pula dan gadis ini sambil menangis menjatuhkan diri berlutut di depan Lili.

"Lihiap, janganlah... Lihiap, kau tidak tahu... Lie Siong Tai-hiap tidak menghinamu... ia tidak mencintaiku, pembelaannya keluar dari wataknya yang budiman dan gagah. Lihiap, jangan kau menyerangnya..."

Lili tertegun mendengar pengakuan ini, akan tetapi ia tidak pedulikan Lilani dan tetap saja melompat dan mulai menyerang Li Siong dengan pedangnya.

Li Siong menangkis, terdengar suara nyaring dan bunga api berpijar menyilaukan mata!

Lilani melompat nekad, menghalang di antara kedua orang jagoan itu, lalu ia berkata kepada Lie Siong dengan suara penuh permohonan "Tai-hiap, simpanlah pedangmu.

Lihiap ini adalah penolong bangsaku, jangan kaumusuhi.

Senjata tidak bermata, bagaimana kalau kalian saling melukai...?"

Gadis ini menangis dan melihat puteri pemimpin mereka menangis sedih, semua orang perempuan Haimi yang berada di situ tak dapat menahan pula keharuan hati mereka dan ramailah wanita-wanita itu menangis!

Akan tetapi Lie Siong yang keras hati sudah tersinggung keangkuhannya oleh Lili.

Kalau ia dibela oleh wanita-wanita ini dengan tangis mereka, selamanya ia akan merasa rendah dan kurang berharga dalam pandangan Lili, maka ia berseru keras.

"Sie Hong Li, kaukira aku Lie Siong takut kepadamu? Biarpun kau puteri Pendekar Bodoh, akan tetapi aku tidak takut menghadapi pedangmu, ayo keluarkanlah kepandaianmu dan cobalah kau memenggal kepalaku kalau dapat!"

Lili memang seorang yang keras dan pemarah pula, sungguhpun ia mudah marah dan mudah pula ketawa.

Mendengar tantangan ini, ia mengeluarkan seruan nyaring dan tubuhnya berkelebat cepat melampaui atas kepala Lilani dan dengan gerakan yang dahsyat pedang dan kipasnya menyambar kepada Lie Siong.

Pemuda ini sudah merasai kelihaian Lili, maka ia tidak berani berlaku lambat.

Cepat ia memutar pedangnya dan ketika pedang gadis itu dapat ditangkisnya, ia rnerasa betapa angin pukulan hebat menyambar dari tangan kiri yang memegang kipas.

Cepat ia melompat ke belakang, kemudian ia membalas dengan serangan kilat.

Tidak saja ujung pedangnya menuju ke arah dada Lili, akan tetapi lidah pedang naganya yang merah dan panjang itu pun terputar mencari sasaran pada leher lawannya!

Lili memperlihatkan kepandaiannya.

Sekali ia menyampok dengan kipasnya, gagang kipas telah menangkis pedang dan sampokan kipas telah membuat lidah pedang lawannya itu tertiup ke samping.

Demikianiah, dua orang muda ini saling serang lagi dengan hebatnya, mengeluarkan kepandaian masing-masing dan saling tidak mau mengalah.

Lo Sian tidak bisa berbuat sesuatu.

Ia maklum bahwa kepandaiannya masih kalah jauh oleh kepandaian dua orang muda luar biasa ini.

Diam-diam ia menghela napas dan berkata penuh kekaguman.

"Pendekar-pendekar remaja ini benar-benar mengagumkan. Ah, aku orang tua sudah tidak berguna lagi!"

Sedangkan Lilani hanya dapat menutupi mukanya sambil menangis. Pada saat itu terdengar bentakan nyaring sekali dan sesosok bayangan yang luar biasa gesitnya menyerbu ke dalam gelanggang pertempuran.

"Orang jahat dari mana berani sekali berlaku kurang ajar terhadap keponakanku!"

Yang menyerbu ini adalah seorang wanita setengah tua yang cantik dan bersenjata sepasang bambu runcing yang kekuning-kuningan itu, Lie Siong terkejut.

sekali.

Ia telah menangkis serangan bambu runcing dengan pedangnya, akan tetapi ujung bambu runcing kiri hampir saja mengenai pundaknya kalau ia tidak cepat-cepat membuang diri ke kiri!

Juga Lili lalu melompat mundur.

Melihat betapa wanita itu terus mendesak Lie Siong, Lili berseru.

"Pek-bo, jangan lukai dia!"

Seruan ini diucapkan tanpa disadarinya lagi.

Wanita itu yang ternyata adalah Ma Hoa isteri Kwee An atau juga ibu Goat Lan, menahan sepasang bambu runcing dan kini ia berdiri dengan mata heran memandang kepada Lili.

"Hong Li, kau bertempur dengan orang ini kenapa kau melarangku menyerangnya."

Merahlah wajah Lili.

Seruan tadi benar-benar tidak disadarinya, seruan yang keluar dari hatinya yang menaruh.

kekuatiran kalau-kalau pemuda itu akan terluka hebat menehadapi bambu runcing yang lihai dari pek-bonya (uwaknya) itu!

"Pek-bo, dia ini...

dia adalah putera dari Ie-ie Im Giok!"

Terbelalak mata Ma Hoa memandang kepada Lie Siong.

"Apa... ?? Dia putera Ang I Niocu? Pantas saja kulihat tadi Sianli-kiam-hoat terbayang dalam permainan pedangnya. Eh, anak muda, siapa namamu dan bagaimana ibumu? Baik-baik sajakah dia? Sudah lama aku merasa rindu sekali kepada ibumu!"

Matanya memandang dengan penuh kekaguman dan juga dengan kasih sayang.

Menghadapi pandangan mata ini, luluhlah kekerasan hati Lie Siong.

Ucapan yang mesra, pertanyaan-pertanyaan tentang ibunya yang penuh gairah dan perhatian ini, membuat ia mau tidak mau tunduk terhadap Ma Hoa.

Ia cepat menyimpan Sin-liong-kiam lalu menjura deigan hormat sekali.

"Sudah lama sekali aku mendengar ibuku bercerita tentang kegagahan Kwee Tai-hiap dan Kwee Toanio, mohon maaf aku Lie Siong yang muda dan bodoh berlaku kurang hormat kepada KweeToanio."

Ma Hoa tertawa riang, suara ketawa yang merdu dan nyaring, tak ubahnya seperti suara ketawanya di waktu muda.

"Anak nakal, apa-apaan segala sebutan taihiap dan toanio ini? Ibumu adalah seperti enciku sendiri, dan kita boleh dibilang orang-orang sekeluarga. Aku tidak mau kau sebut toanio, lebih baik kau menyebut aku Ie-ie (Bibi) saja."

"Baiklah... Ie-ie!"

Kata Lie Siong dengan muka merah.

"Nah, begitu lebih enak pada telinga. Dan sekarang, mengapa kalian anak-anak nakal ini sampai bertempur mati-matian? Apa yang kalian perebutkan?"

Lie Siong tak dapat menjawab. Lili juga tak dapat menjawab. Tanpa janji lebih dulu mereka saling pandang. Dua pasang mata bertemu, mendatangkan warna merah pada pipi dan telinga.

"Pek-bo, kami hanya berpibu menguji kepandaian masing-masing,"

Kata Lili akhirnya.

Bagaimana ia bisa menjelaskan semua kepada Ma Hoa?

Kalau ia menceritakan semua, tentu ia harus menceritakan pula bahwa pada hakekatnya mereka berebutan...

sepatu!

"Benar, Ie-ie.

Kami hanya mengadu kepandaian saja dan aku...

aku menyerah kalah terhadap...

Adik Hong Li!

Maafkan, Ie-ie, sekarang aku harus pergi untuk mencari pembunuh ayahku!"

Setelah berkata demikian, ia lalu berkata kepada Lilani.

"Lilani, sekarang kau telah kuantarkan kepada bangsamu sendiri dan dengan pertolongan puteri Pendekar Bodoh, kuyakin kau akan dapat menyelamatkan suku bangsamu. Juga Lo-pek, aku menghaturkan banyak terima kasih atas segala bantuanmu. Aku hendak mencari Ban Sai Cinjin dan membalas dendam. Sekarang tidak perlu bantuanmu lagi."

Lie Siong hendak pergi, akan tetapi Ma Hoa yang terheran-heran mendengar ini, segera berkata "Nanti dulu, Siong-ji (Anak Siong)!

Bagaimanakah soalnya?

Sudah pastikah ayahmu terbunuh oleh Ban Sai Cinjin?"

"Memang sudah pasti, Ie-ie, dan aku akan mencarinya untuk membalas dendam sekarang juga."

"Kalau begitu kita bisa mencari bersama-sama! Ban Sai Cinjin tidak berada jauh, dia telah menggabungkan diri dengan tentara Mongol dan aku pun sedang mencarinya. Ketahuilah bahwa dia telah menculik puteraku, Kwee Cin!"

Semua orang terkejut mendengar ini, terutama sekali Lili. Gadis ini lalu maju dan memeluk Ma Hoa.

"Pek-bo, bagaimana Adik Cin sampai dapat terculik oleh bangsat itu? Mari kita cepat mengejarnya, dan aku sendiri akan menghancurkan kepalanya. Memang masih ada perhitungan lama antara bangsat itu dengan aku!"

"Ie-ie, kalau begitu, lebih banyak alasan lagi bagiku untuk segera mencarinya! Aku akan berusaha merampas kembali puteramu dan membinasakan kakek jahanam itu!"

Kata pula Lie Siong.

"Eh, eh, mengapa kau hendak pergi sendiri? Mengapa tidak bersama kami?"

Tanya Ma Hoa.

"Aku... aku lebih senang bekerja sendiri, Ie-ie!"

Setelah berkata demikian, tanpa dapat dicegah lagi Lie Siong lalu melompat pergi.

"Pemuda aneh..."

Ma Hoa berkata perlahan.

"Jangan pedulikan dia, Pek-bo..."

Kata Lili mendongkol.

"Bagaimana aku tidak boleh pedulikan dia, putera Ang I Niocu?"

Sementara itu, Lilani yang semenjak tadi mendengar percakapan itu dan memandang kepada Ma Hoa, tiba-tiba menghampiri nyonya ini dan menjatuhkan diri berlutut.

"Kwee-hujin (Nyonya Kwee), hamba Lilani menghaturkan hormat."

Ma Hoa memandang kepada Lilani dengan heran, kemudian ia memandang kepada orang-orang Haimi yang semuanya berkumis panjang itu.

Teringatlah ia akan pengalamannya dengan suaminya dahulu, ketika suaminya masih menjadi tunangannya (baca cerita Pendekar Bodoh), dan berkatalah dia.

"Kalau aku tidak salah duga, orang ini adalah suku bangsa Haimi yang dulu dipimpin oleh Manako dah Meilani. Kau siapakah, Nona?"

"Hamba adalah puteri yang malang dari Manako dan Meilani, mendiang orang tuaku!"

Ma Hoa lalu membungkuk, memeluk Lilani dan ditariknya gadis itu berdiri.

"Ah, jadi kau, puteri Meilani? Pantas saja kau cantik jelita seperti ibumu. Jadi orang tuamu sudah meninggal semua? Kasihan, kasihan."

Melihat nyonya gagah ini demikian halus dan baik budi, Lilani tak dapat menahan keharuan hati dan menangislah dia.

Lo Sian yang sejak tadi juga melihat semua ini, cepat maju dan memberi hormat kepada Ma Hoa.

"Siauwte yang bodoh telah lama mendengar nama besar dari Kwee-toanio dan sudah mendapat kehormatan bertemu dengan kedua mata sendiri bahwa nama besarmu itu bukan kosong belaka."

Lili lalu memperkenalkan Lo Sian dan dengan singkat ia menceritakan riwayat Pengemis Sakti ini.

Ma Hoa mengangguk-angguk maklum, karena ia telah mendengar hal itu dari Lin Lin dan Cin Hai.

Kini setelah Lie Siong pergi lenyaplah rasa cemburu yang amat tidak enak dalam hati Lili, dan sambil memegang tangan Lilani, berkatalah dia.

"Lilani, tadi aku hanya bergurau saja. Memang, kau harus memimpin bangsamu dan jangan kuatir, aku akan mengantarmu sampai benteng penjagaan pasukan kerajaan."

Lilani makin terharu, ia memeluk Lili dan berkata.

"Nona, aku sudah menduga bahwa hatimu tentu mulia. Orang secantik kau dan puteri Pendekar Bodoh pula, tak mungkin berhati kejam. Tadi kau bersikap galak, akan tetapi aku dapat menangkap sinar matamu yang penuh kebijaksanaan. Akulah yang minta maaf kepadamu, Nona. Kau telah menolong bangsaku, biar selamanya menjadi pelayanmu, aku akan rela dan merasa bahagia."

"Jangan kau bilang demikian, Lilani,"

Kata Lili. Ma Hoa yang tidak tahu akan urusannya, lalu mendengarkan penuturan Lili tentang pengalaman menolong orang-orang Haimi yang dibantu pula oleh Ang I Niocu.

"Sayang dia keburu pergi sebelum mendengar penuturan bahwa ibunya baru tiga hari yang lalu meninggalkan tempat ini,"

Kata gadis ini menutup penuturannya. Yang dimaksudkan dengan "dia"

Tentu saja adalah Lie Siong, pemuda kurang ajar itu.

"Dia sudah pergi, biarlah,"

Kata Ma Hoa.

"Sekarang mari kita melanjutkan perjalanan, mengantar orang-orang Haimi ini ke benteng di mana kita akan menjumpai Goat Lan dan kakakmu Hong Beng. Di sana pula kita tentu akan bertemu dengan ayah ibumu, dan pek-humu yang sudah berangkat lebih dulu."

Bicara tentang suaminya, kembali Ma Hoa teringat akan puteranya yang terculik, maka wajahnya menjadi muram.

"Pek-bo, bagaimana Adik Cin sampai dapat terjatuh dalam tangan orang jahat?"

"Kalau diceritakan membuat hati menjadi gemas sekali,"

Kata Ma Hoa.

"Mari kita berangkat, nanti di jalan kuceritakan kepadamu tentang hal itu."

Setelah rombongan itu berangkat untuk menuju ke benteng pertahanan tentara kerajaan dengan Nurhacu orang Haimi tua itu sebagai penunjuk jalan maka berceritalah Ma Hoa tentang penculikan Kwee Cing puteranya.

Sebagaimana telah diketahui, Ma Hoa pergi bersama Kwee An, Cin Hai dan Lin Lin, karena Kwee Cin masih kecil dan tidak baik ditinggalkan seorang diri di rumah dalam saat mereka terancam oleh musuh-musuh yang jahat.

Untuk membawa Kwee Cin dalam perjalanan ke utara juga kurang baik bagi anak itu.

Semenjak menjadi isteri Kwee An, Ma Hoa belum pernah berpisah lama-lama dari suaminya dan mereka hidup rukun dan saling mencinta.

Tidak mengherankan apabila kepergian Kwee An kali ini membuat Ma Hoa merasa tidak betah di rumah.

Apalagi ia maklum bahwa perjalanan suaminya itu penuh dengan bahaya, maka hatinya selalu merasa gelisah sekali.

Pada suatu hari, menjelang senja dan keadaan terasa sunyi sekali oleh Ma Hoa.

Memang rumahnya amat besar dan dia hanya mempunyai dua orang pelayan.

Biasanya apabila ada Kwee An, di situ nampak gembira dan ramai, apalagi kalau Goat Lan berada di rumah.

Akan tetapi sekarang, berdua saja dengan Kwee Cin, ia benar-benar sunyi.

Tiba-tiba dari pintu pekarangan depan masuk seorang kakek yang berpakaian indah dan mengisap sebatang huncwe panjang.

Dengan tindakan lebar, kakek ini maju menghampiri Ma Hoa yang duduk di ruang depan bersama Kwee Cin.

Kakek ini datang-datang segera bertanya dengan suaranya yang parau dan keras.

"Apakah aku berhadapan dengan Nyonya Kwee An, ibu dari nona Kwee Goat Lan?"

Ma Hoa belum pernah bertemu dengan orang ini, akan tetapi matanya yang tajam dapat menduga bahwa kakek ini bukanlah orang biasa dan ketika ia teringat akan cerita Lin Lin dan Cin Hai, ia menjadi terkejut sekali karena kakek ini cocok sekali dengan gambaran Pendekar Bodoh tentang seorang bernama Ban Sai Cinjin Si Huncwe Maut!

Maka diam-diam Ma Hoa bersiap sedia dan berlaku waspada.

Ia merasa girang bahwa selama ini ia berlaku hati-hati dan selalu mempersiapkan bambu runcingnya di tempat yang tak jauh dari situ.

"Benar, aku adalah Nyonya Kwee, tidak tahu siapakah Lo-enghiong dan ada keperluan apakah datang di rumahku yang buruk ini?"

Ban Sai Cinjin tertawa bergelak dan dengan tenang akan tetapi mulutnya tersenyum menyeringai ia membuang abu tembakau dari pipanya, lalu mengisinya lagi dengan tembakau warna hitam!

Semua ini ia lakukan sambil matanya memandang kepada nyonya itu dengan kagum.

Biarpun Ma Hoa telah berusia hampir empat puluh tahun, akan tetapi nyonya ini tiada bedanya dengan seorang gadis yang cantik jelita saja!

Ma Hoa diam-diam merasa gelisah dan ia berkata kepada Kwee Cin.

"Cin-ji, kau masuklah ke dalam."

Kwee Cin memang selamanya amat taat kepada ayah bundanya, maka sebagai seorang anak kecil yang belum dapat menduga hal-hal hebat yang akan terjadi, ia menyatakan baik dan anak itu lalu masuk ke dalam kamarnya.

Kembali Ban Sai Cinjin tertawa dan kini suara ketawanya terdengar nyaring sekali sehingga terdengar sampai jauh karena kakek ini memang mengerahkan khi-kangnya untuk mengirim suara ketawanya kepada dua orang kawannya yang bersembunyi di luar!

"Kwee-hujin, ketahuilah bahwa aku bernama Ban Sai Cinjin dan kedatanganku ini hendak mencari puterimu, Nona Kwee Goat Lan.

Puterimu telah berkali-kali melakukan penghinaan kepadaku dan sekarang aku sengaja datang hendak membuat perhitungan!"

Warna merah mulai menjalar pada kedua pipi Ma Hoa.

Kini ia bangkit dari tempat duduknya dan Ban Sai Cinjin menjadi makin kagum karena sesungguhnya setelah berdiri, nampak betapa langsing potongan tubuh nyonya yang sudah mempunyai dua orang anak ini.

Ma Hoa berjalan tenang menghampiri tamunya setelah ia menyambar sepasang bambu runcing dan menancapkannya pada ikat pinggangnya.

Dengan mata bercahaya dan bibir tersenyum mengejek ia berkata.

"Ban Sai Cinjin, biarpun baru sekali ini aku bertemu denganmu, akan tetapi telah seringkali aku mendengar namamu yang buruk dan terkenal. Maka aku tidak merasa heran apabila Goat Lan bentrok denganmu, karena memang semenjak kecil dia kudidik untuk membasmi orang-orang jahat dan membela yang benar. Kau datang mencari Goat Lan untuk membuat perhitungan? Sayang, Goat Lan masih belum pulang. Akan tetapi kalau kau merasa penasaran, untuk obat kecewamu, boleh kiranya aku sebagai ibunya mewakili Goat Lan untuk membayar hutang."

"Bagus sekali, sama anak sama ibu! Kau dan anakmu terlalu mengandalkan kepandaian sendiri, tidak memandang mata kepada orang lain. Baiklah, Kwee-hujin, karena anakmu tidak ada dan aku jauh-jauh sudah memerlukan datang, biarlah aku menerima pelajaran darimu!"

Sambil berkata demikian, Ban Sai Cinjin lalu menggerakkan huncwenya dan tersebarlah uap hitam yang berbau amat memuakkan.

Akan tetapi Ma Hoa akan percuma saja disebut seorang pendekar wanita yang gagah perkasa kalau ia gentar menghadapi uap hitam beracun ini.

Puterinya adalah murid Sin Kong Tianglo-Si Raja Obat, sedangkan dia sendiri adalah murid dah anak angkat dari Kong Hwat Lojin Si Nelayan Cengeng, maka setidaknya Ma Hoa sudah tahu akan jahatnya racun ini dan tahu pula obat penawarnya.

Goat Lan sendiri setelah tamat berlajar dari Sin Kong Lojin, banyak meninggalkan pel-pel obat penawar racun maka begitu melihat uap hitam ini, Ma Hoa cepat mengeluarkan tiga butir pel merah dan memasukkan itu ke dalam mulut.

Kemudian sepasang bambu runcingnya bergerak mengimbangi gerakan huncwe lawan.

"Bagus, jadi sebenarnya kaukah yang menjadi murid Hok Peng Taisu?"

Ban Sai Cinjin membentak dan kini huncwenya menyambar ke arah kepala Ma Hoa.

"Ban Sai Cinjin, tak usah banyak cakap, kalau kau mempunyai kepandaian lekas keluarkan semua hendak kulihat!"

Kembali Ban Sai Cinjin mengeluarkan suara ketawa yang bahkan lebih nyaring daripada tadi sambil menyerang dengan hebatnya, dan biarpun Ma Hoa menangkis dengan bambu runcingnya, namun telinganya yang tajam masih dapat menangkap suara seruan seperti seekor burung dari luar rumah.

Hatinya tergoncang dan pikirannya bekerja keras.

Ini tentu ada apa-apanya, dan hatinya mulai berdebar.

Akan tetapi oleh karena tidak terjadi sesuatu ia lalu memutar bambu runcing hendak cepat-cepat mengalahkan lawan ini.

Aku harus melindungi Cin-ji, pikirnya.

Akan tetapi tidak mudah untuk mengalahkan Ban Sai Cinjin dalam waktu singkat.

Setelah mendapat hajaran dari Pendekar Bodoh, Ban Sai Cinjin selain berlaku hati-hati sekali dan sama sekali tidak berani memandang ringan kepada kawan-kawan Pendekar Bodoh yang ternyata memiliki kepandaian yang hebat.

Dulupun kalau dia berlaku hati-hati, tidak mungkin dalam segebrakan saja ia kalah oleh Pendekar Bodoh.

Akan tetapi harus diakuinya bahwa ilmu silat bambu runcing yang dimainkan oleh nyonya ini benar-benar luar biasa.

Ia pernah menghadapi sepasang bambu runcing yang dimainkan oleh Goat Lan dan sudah merasa kagum sekali.

Akan tetapi sekarang, menghadapi permainan Ma Hoa, ia benar-benar terdesak hebat sekali.

Kalau dulu Goat Lan mainkan sepasang bambu runcing sehingga senjata istimewa itu seakan-akan berubah menjadi lima, sekarang bambu runcing ditangan nyonya ini seakan-akan telah berganda menjadi delapan!

Selama ini, Ban Sai Cinjin tiada hentinya berlatih dan memajukan ilmunya sehingga kepandaiannya sudah naik banyak.

Dalam menghadapi nyonya pendekar ini, ia masih dapat mempertahankan diri dengan mainkan huncwenya dan kadang-kadang ia menyemburkan asap hitam biarpun tidak mempengaruhi Ma Hoa yang sudah memasukkan tiga butir pel merah di dalam mulutnya, namun tetap saja Ma Hoa harus menghindarkan kedua matanya dari serangan asap hitam yang lihai itu.

Pertempuran berjalan tiga puluh jurus dan beberapa kali Ban Sai Cinjin hampir saja terkena totokan bambu runcing sehingga keselamatan nyawanya berada di ujung rambut.

Ia terdesak hebat sekali dan hati kakek mewah ini mulai menjadi gelisah sekali.

Tiba-tiba terdengar lagi suara burung hantu dan tiba-tiba Ban Sai Cinjin tertawa menyeramkan dan melompat jauh ke belakang.

"Kwee-hujin, tidak percuma kau menjadi isteri Kwee An yang terkenal namanya, karena memang ilmu silatmu hebat sekali. Aku Ban Sai Cinjin kali ini mengaku kalah. Biarlah kelak kita bertemu lagi untuk melanjutkan pertempuran ini."

"Pengecut!"

Ma Hoa memaki akan tetapi ia tidak mengejar Ban Sai Cinjin karena kuatir kalau-kalau kakek pesolek itu menjebaknya dengan tipu "memancing harimau meninggalkan sarangnya".

Ia bahkan cepat melompat ke dalam rumah dan menuju ke kamar Kwee Cin.

Akan tetapi mukanya tiba-tiba menjadi pucat sekali, ketika ia melihat dua orang pelayannya telah rebah menggeletak dalam keadaan tertotok!

Sambil menekan debaran jantungnya yang seakan-akan hendak memecahkan dada, Ma Hoa cepat berlari ke dalam kamar anaknya.

Benar saja seperti yang telah dikuatirkannya, di dalam kamar itu tidak nampak lagi bayangan anaknya!

Ma Hoa sudah sering sekali menghadapi peristiwa hebat ketika mudanya, akan tetapi malapetaka kali ini benar-benar hebat sekali dan amat menusuk perasaannya.

Hanya saja ia memang telah memiliki pandangan yang luas.

Ia tidak menjadi putus asa, karena puteranya itu hanya diculik orang dan bukan dibunuh.

Siapa pun yang menculiknya, ia masih mempunyai harapan untuk merampasnya kembali.

Cepat ia berlari keluar kamar dan membebaskan totokan dua orang pelayan itu.

"Lekas ceritakan, apa yang telah terjadi?"

Tanyanya dengan tenang.

Dua orang pelayan itu menceritakan bahwa dari belakang datang dua orang pengemis tua yang tak berkata sesuatu lalu menotok mereka dan kemudian mereka melihat betapa kongcu (tuan muda) telah dipanggul oleh seorang di antara kedua pengemis itu dan dibawa lari melalui pintu belakang.

Ma Hoa mendengar penuturan ini lalu cepat mengejar melalui pintu belakang.

Ia mengejar terus sampai sejauh sepuluh li lebih, akan tetapi sebagaimana yang telah diduganya, ia tidak melihat bayangan dua orang pengemis penculik itu.

"Hmm, tak lain ini tentulah perbuatan Ban Sai Cinjin yang sengaja memancing dalam sebuah pertempuran dan kawan-kawannya sementara itu melakukan penculikan terhadap Kwee Cin,"

Pikirnya.

Ia cepat mengambil keputusan, menyerahkan penjagaan rumahnya kepada dua orang pelayan karena hari itu juga ia hendak menyusul suaminya ke utara sekalian mencari jejak Ban Sai Cinjin.

Akan tetapi ketika ia membuka peti di mana ia menyimpan kitab Thian-te Ban-yo Pit-kip (Kitab Rahasia Selaksa Pengobatan Bumi Langit) yang dititipkan oleh Goat Lan kepadanya, ternyata kitab itu bersama anaknya telah lenyap pula!

Ma Hoa menjadi gemas sekali, ia mengertakkan giginya dan membanting-bantingkan kaki kanan di atas lantai.

Ban Sai Cinjin bangsat tua yang curang!

Tunggulah saja kalau sampai aku dapat melihat mukamu lagi, kau pasti akan kujadikan sate dengan bambu runcingku!"

Demikianlah, Ma Hoa lalu cepat melakukan pengejaran ke utara dan karena daerah utara memang sukar sekali dilalui serta Pegunungan Alkata-san masih asing baginya, ia tersesat jalan dan kebetulan sekali dapat menghentikan pertempuran hebat yang terjadi antara Lili dan Lie Siong.

Setelah Lili mendengar penuturan Ma Hoa ini, gadis ini pun menjadi marah sekali dan berkata dengan gemas.

"Ban Sai Cinjin memang jahat sekali. Muridnya yang bernama Bouw Hun Ti telah membunuh Yousuf kakekku dan menculikku ketika aku masih kecil. Kemudian Ban Sai Cinjin menurut penuturan dan dugaanku telah meracun Sin-kai Lo Sian guruku, telah meracuni suhuku itu sehingga Sin-kai Lo Sian, yang membunuh Supek Lie Kong Sian juga Ban Sai Cinjin! Dan sekarang, kembali Ban Sai Cinjin menculik Adik Cin! Benar-benar orang yang jahanam dan ingin mampus."

Ma Hoa menarik napas panjang.

"Memang di dunia ini selalu terdapat orang-orang jahat Lili. Tidak ada bedanya semenjak dahulu sampai sekarang. Dulupun ada seorang jahat bernama Hai Kong Hosiang yang selalu memusuhi orang tuami dan kami. Akan tetapi, dibandingkan dengan Ban Sai Cinjin, Hai Kong Hosiang masih tidak begitu curang dan jahat!"

Lili juga pernah mendengar nama Hai Kong Hosiang ini karena seringkali ayah ibunya menceritakannya tentang pengalaman mereka di waktu muda (baca cerita Pendekar Bodoh).

Demikianlah, sambil bercakap-cakap Ma Hoa dan Lili, diikuti oleh Lilani dan Lo Sian serta semua orang Haimi, melanjutkan perjalanan menuju ke lereng Alkata-san di mana telah nampak tembok besar benteng tentara kerajaan itu.

*** Marilah kita meninggalkan dulu mereka yang sedang menuju ke benteng itu dan menengok keadaan Goat Lan dan Hong Beng yang sudah lama kita tinggalkan.

Karena mendapat pertolongan Kam Liong yang memberi kuda kepada mereka dan semua pengawal, perjalanan Hong Beng dan Goat Lan menuju ke Bukit Alkata-san berjalan cepat dan lancar.

Tetapi sebagaimana yang dituturkan oleh Kam Liong, benteng itu biarpun sudah tua dan banyak yang rusak, namun masih baik dan kuat, juga merupakan tempat penjagaan yang amat baiknya.

Hong Beng bersama semua perajurit yang mengawalnya lalu menggulung lengan baju dan membikin baik bangunan-bangunan yang berada di dalam benteng itu.

Beberapa hari kemudian, Hong Beng dan Goat Lan mengatur siasat untuk mulai menjalankan tugas mereka.

Dari para penyelidik yang mereka sebar di daerah itu, mereka mendapat keterangan bahwa tentara Mongol banyak yang bersembunyi di atas bukit yang berada di sebelah utara Bukit Alkata-san, dan untuk menyerang ke sana amatlah sukarnya.

Selain daerah itu tertutup salju dan dingin sekali, juga pertahanan tentara Mongol amat kuatnya.

Bagaimanakah mereka yang hanya mempunyai sedikit pasukan itu dapat melawan tentara Mongol yang ribuan jumlahnya?

"Lebih baik kita menjaga dan mengatur penjagaan,"

Kata Hong Beng.

"Kita melihat kalau ada barisan musuh yang hendak menyeberang ke selatan dan melalui bukit ini, kita serang mereka."

Penjagaan dilakukan siang malam dan benar saja, beberapa hari berturut-turut, mereka berhasil memukul mundur pasukan-pasukan kecil bangsa Mongol yang hendak menuju ke selatan, untuk melakukan keganasan seperti biasa terhadap penduduk Tiongkok di balik tembok besar.

Setiap kali terjadi pertempuran, selalu Hong Beng dan Goat Lan memperlihatkan kepandaiannya dan tak seorang pun perwira Mongol dapat bertahan menghadapi pendekar-pendekar remaja yang gagah dan sakti ini.

Terpaksa pasukan-pasukan Mongol yang hendak melakukan penggarongan ke selatan, mengambil jalan memutar dan tidak berani lagi melewati Bukit Alkata-san di mana terjaga oleh pasukan yang dipimpin oleh dua orang muda ini.

Sementara itu, hubungan Hong Beng dan Goat Lan makin erat dan cinta mereka berakar makin mendalam.

Namun, sebagai pemuda dan pemudi yang tidak saja gagah lahirnya akan tetapi juga mulia batinnya, kedua orang muda ini membatasi hubungan mereka dan sama sekali tak pernah berani melanggar kesusilaan.

Baik Hong Beng maupun Goat Lan dapat menekan cinta kasih mereka dan sudah merasa cukup bahagia dengan saling berpegang tangan atau saling pandang dengan sinar mata penuh arti, penuh cinta kasih dan mesra.

Tentu saja Goat Lan makin menghargai tunangannya ini.

Beberapa pekan mereka berada di situ dan merasa senang karena daerah Alkata-san boleh dibilang aman, yang termasuk dalam lingkungan benteng itu.

Tidak ada pasukan musuh berani meninggalkan benteng, kuatir kalau-kalau pasukan musuh datang menyerbu, maka mereka sama sekali tidak tahu bahwa hanya seratus li dari tempat itu terdapat Lili dan Ma Hoa.

Juga mereka tidak tahu bahwa dari selatan telah datang serombongan orang terdiri dari Cin Hai, Lin Lin dan Kwee An.

Dan dari jurusan lain datang pula pasukan besar yang dipimpin sendiri oleh Kam-ciangkun atau Kam Liong.

Pada suatu senja kedua teruna remaja ini duduk di bawah pohon di mana mereka seringkali duduk, bercakap-cakap dengan asyik dan mesra.

Bulan hanya sedikit, bercahaya pudar karena kalah oleh cahaya matahari yang masih ada sisanya menerangi permukaan bumi.

"Lan-moi..."

Terdengar Hong Beng berkata perlahan sambil memegang tangan tunangannya.

"Ada apa, Koko?"

Jawab Goat Lan sambil memandang mesra dan bibirnya tersenyum manis sekali.

"Kalau keadaan sudah aman dan kelak kita kembali ke selatan, mendapat pengampunan dari Hong-siang..."

"Ya..."

"Aku akan minta kepada ayah bundaku agar... pernikahan kita dapat segera dilangsungkan"

Wajah yang manis itu memerah sampai ke telinganya dan jari-jari tangan yang runcing dan halus kulitnya itu mencubit.

"Ah, Koko, kau ini ada-ada saja. Tergesa-gesa ada apa sih?"

Hong Beng menengok ke kanan di mana Goat Lan duduk.

Mereka duduk di atas rumput dan angin bertiup sepoi-sepoi menambah segar dan gembira perasaan.

Pada senja hari itu, Goat Lan mengenakan baju berkembang-kembang warna emas, leher baju dan ikat pinggang kuning, demikian pula celananya terbuat dari sutera kuning yang bersih dan halus.

Pinggiran baju sebelah bawah berwarna merah, sama merahnya dengan bunga yang terselip di atas telinga kanannya.

Rambutnya disusun meniru model wanita-wanita Mongol atau Boan yang pernah dilihatnya di sekitar tempat itu, digelung ke atas dan selebihnya diurai memanjang di belakang punggungnya.

Gadis ini benar-benar nampak cantik jelita, terutama sekali dalam pandang mata Hong Beng yang mencintanya.

"Lan-moi, aku tidak tergesa-gesa, akan tetapi aku ingin selamanya, tidak sedetik pun berpisah lagi darimu. Kalau kita sudah menikah, barulah harapan itu terkabul!"

Goat Lan tertawa geli karena merasa lucu mendengar omongan kekasihnya.

Ia memandang dan diam-diam merasa kagum melihat betapa kekasihnya nampak tampan dan gagah sekali dalam pakaian yang berwarna biru itu.

"Kalau begitu, kita harus menjadi sepasang kupu-kupu atau seperti sepasang burung yang selalu beterbangan di udara, siang malam tak pernah berpisah lagi."

"Mengapa harus menjadi kupu-kupu atau burung? Kalau kita sudah menikah, biarpun kita masih menjadi manusia, kita dapat selalu berkumpul, takkan berpisah lagi sebentar pun."

"Mana mungkin?"

Goat Lan tertawa lagi.

"Aku harus mengatur rumah tangga, harus masak, dan kau harus bekerja. Bagaimana kita bisa selalu berkumpul?"

Demikianlah, sepasang orang muda yang bahagia ini bersendau gurau, kadang-kadang bersungguh-sungguh membicarakan masa datang yang penuh harapan dan cita-cita.

Tak terasa lagi cuaca menjadi makin gelap dan dua orang muda yang sedang tenggelam dalam alunan kasih asmara ini sama sekali tidak tahu betapa bayangan sesosok tubuh yang amat gesit laksana burung walet hitam, melompat dari wuwungan ke wuwungan lain di atas bangunan-bangunan dalam benteng itu!

Para perajurit yang sedang bertugas juga tidak melihat bayangan ini yang menandakan bahwa orang itu benar-benar berkepandaian tinggi sehingga dapat menyerobot masuk ke dalam benteng tanpa diketahui orang.

Dari atas wuwungan yang terdekat dengan tempat Hong Beng dan tunangannya duduk, orang itu memandang ke arah mereka.

Kemudian, dengan gerak lompat Naga Hitam Naik ke Langit, ia lalu melompat dari atas wuwungan itu ke atas pohon yang berada belakang Hong Beng.

Gin-kang dari orang itu benar-benar mencapai tingkat tinggi karena ketika ia tiba di pohon itu, tak selembar pun daun pohon bergoyang!

Akan tetapi ia salah hitung kalau mengira bahwa Hong Beng tidak mengetahui kehadirannya.

Biarpun delapan puluh bagian dari semangat pemuda ini telah terbang oleh gelombang asmara, namun yang dua puluh bagian sudah lebih dari cukup untuk mengingatkannya bahwa ada gerakan sesuatu yang mencurigakan di atas kepalanya!

Di dalam keadaan bahaya, semangat pembelaan dan perlindungan terhadap kekasihnya timbul dan tanpa disengaja Hong Beng merangkulkan tangan kanannya pada pundak Goat Lan, sedangkan tangan kirinya sambil mengerahkan tenaga lwee-kang lalu dipukulkan dengan dorongan ke atas pohon dibarengi bentakan.

"Turunlah kau!"

Tenaga pukulan Hong Beng ini biarpun hanya dilakukan sambil duduk dan dengan tangan kiri, namun mengandung hawa pukulan yang cukup hebat sehingga cabang dan daun pohon itu bagaikan tertiup angin dari bawah!

"Sie-enghiong, jangan menyerangku!"

Terdengar seruan dari atas dan bayangan yang amat gesitnya melompat turun dengan gerak tipu Garuda Menyambar Air dan sebentar saja di depan Hong Beng dan Goat Lan yang sudah bangun itu berdirilah seorang pemuda yang tampan.

Goat Lan segera mengenal orang ini sebagai Song Kam Seng.

Ia mendengar dari Lili bahwa pemuda ini dahulunya ditolong oleh Lili dan Lo Sian akan tetapi kemudian telah membalik dan menjadi murid Wi Kong Siansu, juga ia telah mendengar bahwa pemuda ini sesungguhnya adalah putera Song Kun, sute dari Lie Kong Sian yang lihai dan jahat dan yang tewas dalam tangan Pendekar Bodoh!

Tentu saja ia menjadi kaget dan bercuriga sekali.

"Siapa kau dan apa maksud kedatanganmu?"

Hong Beng membentak sambil memandang tajam dengan sikap siap sedia. Sebelum Kam Seng menjawab, Goat Lan mendahuluinya.

"Beng-ko, dia ini adalah Song Kam Seng yang pernah kuceritakan kepadamu. Inilah putera dari Song Kun, orang tak berbudi yang melupakan pertolongan dan berbalik memusuhi Lili!"

Pemuda itu menjura dengan hormat dan berkata dengan suara dingin.

"Memang benar, aku adalah Song Kam Seng putera Song Kun yang terbunuh oleh Pendekar Bodoh."

"Apakah kedatanganmu ini ada hubungannya dengan urusan itu?"

Hong Beng bertanya dengan sikap menantang.

"Tidak, Saudara Sie Hong Beng, sekarang belum tiba waktunya bagiku untuk membuat perhitungan. Semua perhitungan akan kubuat dan kubereskan dengan ayahmu sendiri, kau tak usah ikut campur. Sekarang ada urusan pribadi. Aku hendak bicara tentang urusan negara, tentang pengacauan orang Mongol, dan yang berhubungan pula dengan persekutuan yang diadakan oleh Ban Sai Cinjin dan orang-orang lain."

"Hmm, bukankah Ban Sai Cinjin itu susiokmu?"

Tanya Goat Lan dengan pandangan penuh curiga.

"Betul, Nona Kwee. Akan tetapi dalam hal ini, pahamnya jauh berbeda dengan aku. Betapapun juga, aku bukanlah seorang pengkhianat bangsa dan aku merasa tidak setuju sekali dengan tindakan yang telah diambil oleh Susiok itu. Juga perbuatannya yang terakhir ini, yaitu menculik adikmu, Nona, amat tidak kusetujui dan untuk itulah aku sengaja datang ke tempat ini."

Bukan main terkejutnya hati Goat Lan mendengar ini, juga Hong Beng merasa kaget dan cepat ia mengajak pemuda itu masuk ke dalam bangunan yang menjadi tempat tinggalnya.

Mereka bertiga lalu duduk menghadapi meja.

"Apa maksudmu dengan penculikan adikku yang kukatakan tadi?"

Tanya Goat Lan kepada Song Kam Seng. Pemuda itu menarik napas panjang.

"Sudah bukan rahasia lagi bahwa Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya, juga ayahmu yaitu Kwee-lo-enghiong, sedang menuju ke sini untuk membantu menjaga tapal batas dan mengusir pengacau-pengacau bangsa Mongol dan Tartar. Hal ini amat menggelisahkan hati Malangi Khan, karena baru kalian berdua saja berada di sini sudah merupakan halangan besar, apalagi kalau orang-orang tuamu datang membantumu di sini. Oleh karena itu, Susiok yang menjadi tangan kanan Malangi Khan, lalu turun tangan. Dia tahu bahwa ibumu hanya berada berdua saja dengan adikmu yang masih kecil, maka dengan ditemani oleh Coa-ong Lojin dan seorang pembantunya, Ban Sai Cinjin lalu datang ke Tiang-an dan akhirnya dapat menculik Kwee Cin adikmu, bahkan sudah berhasil mencuri kitab Thian-te Ban-yo Pit-kip dari Sin Kong Tianglo."

Goat Lan menjadi pucat sekali. Ia memandang tajam dan berkata.

"Kau yang memihak musuh, mengapa kau datang menceritakan hal ini? Apa kehendakmu?"

"Sudah kukatakan tadi, Nona, aku bukan datang dengan maksud jahat. Aku terpaksa berada di utara karena terbawa oleh Susiok dan terpaksa karena suhuku malu hati kepada Ban Sai Cinjin, sehingga biarpun Suhu tidak dapat datang sendiri, Suhu menyuruhku mewakilinya. Maksud kedatanganku dan mengapa aku menceritakan semua ini kepadamu, juga kepada Saudara Sie Hong Beng, tidak lain agar kalian bersiap sedia. Ketahulilah bahwa Ban Sai Cinjin hendak menjadikan adikmu sebagai tanggungan. Tak lama lagi kalian tentu akan mendengar ancaman dari Ban Sai Cinjin bahwa kalau Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya membantu tentara kerajaan, maka Kwee Cin adikmu itu akan dibinasakan lebih dulu!"

"Bangsat keji!"

Goat Lan berseru keras sambil melompat bangun dan tak terasa pula sepasang bambu runcingpya telah berada di kedua tangannya.

"Orang she Song, tunjukkan kepadaku di mana adikku ditahan agar aku dapat pergi menolongnya. Kalau kau tidak mau menunjukkan tempat itu, berarti bahwa kebaikanmu ini palsu belaka untuk menjebak kami dan untuk itu aku akan membinasakanmu di sini dan sekarang juga!"

"Nona Kwee, kalau aku mau menunjukkan tempat itu bukan berarti bahwa aku takut akan ancamanmu, aku lebih takut kalau-kalau aku disangka ikut berjiwa pengkhianat. Akan tetapi biarpun dengan segan, aku harus memberitahukan kepadamu bahwa mendatangi tempat itu untuk menolong adikmu sama halnya dengan membunuh diri! Penjagaan di situ selain kuat sekali, juga Susiok sendiri berada di situ, selalu berdekatan dengan adikmu. Dan tentang kepandaian Susiok, dia telah memperoleh kemajuan hebat apalagi dibantu oleh Coa-ong Lojin dengan anak buahnya!"

"Tidak peduli, aku tidak takut! Lekas tunjukkan di mana tempat adikku ditahan!"

Goat Lan mendesak, adapun Hong Beng tidak berkata sesuatu karena ia maklum bahwa tunangannya sedang gelisah, bingung dan kuatir sekali.

Song Kam Seng lalu minta kertas dan alat tulis, lalu menggambarkan keadaan gunung di sebelah utara Alkata-san, di mana terdapat markas Malangi Khan dan bala tentaranya.

Tempat tahanan Kwee Cin itu ternyata berada di paling belakang sehingga untuk datang ke tempat itu harus melalui dulu benteng dari tentara Mongol!

"Nah, kalian ketahui sendiri betapa berbahayanya untuk menyerbu tempat ini.

Aku memberitahukan semua ini agar supaya kalian dapat merundingkan dengan orang-orang tuamu dan mencari siasat baik, jangan sekali-kali berlaku sembrono.

Sungguh mati kalau sampai berlaku nekad dan terjadi sesuatu yang mengerikan, akulah orang pertama yang akan merasa menyesal sekali.

Selamat tinggal!"

"Ucapanmu tidak menakutkan kami, Song Kam Seng! Betapapun juga aku akan pergi membebaskan adikku dan merampas kembali Thian-te Ban-yo Pit-kip!"

Mendengar suara nona ini amat tetap dan nekad, Kam Seng yang sudah melompat sampai di pintu itu segera menunda kepergiannya. Ia menengok dan berkata.

"Jalan satu-satunya yang lebih aman adalah dari belakang bukit di mana tidak ada tentara Mongol, akan tetapi perjalanan melalui tempat itu amat berbahaya. Lagi pula setelah kau berhasil memasuki benteng sebelah belakang, kau masih harus berhadapan dengan Susiok, dengan Coa-ong Lojin, dan banyak lagi orang-orang kang-ouw termasuk empat puluh orang lebih anggota Coa-tung Kai-pang."

Setelah berkata demikian, tubuh Kam Seng berkelebat dan lenyap dari situ! "Gin-kangnya boleh juga!"

Kata Hong Beng.

"Koko, kita harus menyusul Adik Cin sekarang juga. Siapa tahu kalau-kalau jahanam itu akan mengganggunya."

"Lan-moi, kurasa kata-kata Song Kam tadi ada benarnya. Dalam hal ini kita harus berlaku hati-hati. Bukan sekali-kali aku merasa jerih mendengar penjagaan musuh yang demikian kuatnya, akan tetapi kalau memang benar orang tua kita akan datang tak lama lagi, apakah tidak baik berunding dulu dengan mereka, dan minta nasihat mereka bagaimana? Kau tahu bahwa Ban Sai Cinjin akan menjaganya dengan luar biasa kuatnya karena ia maklum bahwa keluarga kita takkan tinggal diam begitu saja!"

"Justru sekaranglah kita harus bertindak, Koko. Bukankah tadi Song Kam Seng menyatakart bahwa tak lama lagi tentu Ban Sai Cinjin akan mengancam kita agar jangan membantu tentara kerajaan? Hal ini berarti bahwa sekarang Ban Sai Cinjin belum tahu bahwa kita telah mendengar tentang diculiknya adikku, maka penjagaan di sana tentu tidak begitu diperkuat. Kita datang tiba-tiba pula, kalau mungkin menangkap Ban Sai Cinjin dan memaksanya mengembalikan kitab Thian-te Ban-yo Pit-kip dan melepaskan Adik Cin."

Hong Beng memandang tunangannya.

Ia tahu bahwa kehendak dan ketetapan hati tunangannya yang tabah ini tak mungkin dapat dibantah lagi, dan ia pun maklum bahwa pekerjaan ini benar-benar amat berbahaya, maka akhirnya ia menyatakan persetujuannya.

Hong Beng lalu memberitahukan kepada para perajurit bahwa dia dan Goat Lan hendak melakukan penyelidikan pada markas musuh, kemudian pemuda ini membuat sepucuk surat yang dimasukkan dalam sampul, diberikan kepada pengawal dengan pesan agar supaya surat itu diberikan kepada Pendekar Bodoh atau kawan-kawan yang lain kalau-kalau ada yang datang mencari mereka di benteng ini.

Maka berangkatlah Hong Beng dan Goat Lan pada malam hari itu juga, membawa tongkat hitamnya yang menjadi tanda bahwa dia adalah ketua dari Hek-tung Kai-pang, sedangkan Goat Lan tidak lupa membawa sepasang bambu runcingnya.

Sie Cin Hai, Lin Lin dan Kwee An yang melakukan perjalanan cepat serta mereka sudah berpengalaman di daerah ini di waktu mereka masih muda dapat lebih dulu tiba di kaki Gunung Alkatasan.

Beberapa kali mereka mengobrak-abrik pasukan-pasukan Mongol yang berhasil menerobos ke selatan dari jurusan lain, menjauhi Bukit Alkata-san yang dijaga oleh sepasang pendekar remaja yang mereka takuti itu.

Oleh karena melakukan perjalanan sambil membasmi pasukan-pasukan musuh inilah, maka mereka agak terlambat tiba di benteng di mana Hong Beng dan Goat Lan mengatur penjagaan pasukan mereka yang kecil jumlahnya.

Para penjaga benteng dari jauh sudah melihat tiga bayangan orang yang mendatangi dengan kecepatan luar biasa sekali.

Ketika melihat tiga orang gagah itu berdiri di depan pintu gerbang, seorang penjaga membentak.

"Siapa diluar?"

"Kami, orang tua dari Sie Hong Beng dan Kwee Goat Lan. Apakah mereka ada di dalam?"

Seru Kwee An dengan suaranya yang nyaring.

Semua orang di dalam benteng itu tidak ada yang mengenal Pendekar Bodoh, isterinya, dan Kwee Tai-hiap, maka mendengar disebutnya orang-orang tua Hong Beng dan Goat Lan, mereka cepat membuka pintu dan tiga orang pendekar ternama itu diterima dengan sinar mata kagum dan juga girang.

Siapa orangnya yang tidak menjadi girang kedatangan pendekar-pendekar yang boleh diandalkan dalam daerah dan keadaan yang amat berbahaya itu?

"Sie-enghiong dan Kwee-lihiap baru dua hari ini pergi meninggalkan benteng untuk menyelidiki kedudukan musuh di gunung utara.

Sie-enghiong malahan meninggalkan sepucuk surat, maka kebetulan sekali Sam-wi datang hari ini.

Kami sendiri sudah merasa amat kuatir."

Kepala pengawal menyerahkan surat yang ditinggalkan oleh Hong Beng. Cin Hai segera menerima surat itu dan membacanya.

"Ayah, Ibu, Kwee-pekhu atau Lili dan siapa saja yang kebetulan menerima surat ini! Kami, Sie Hong Beng dan Kwee Goat Lan, hari ini didatangi oleh Song Kam Seng yang menggambarkan bahwa Kwee Cin telah diculik oleh Ban Sai Cinjin dan kini ditahan di dalam benteng orang-orang Mongol di bukit utara. Oleh karena itu kami lalu pergi ke sana untuk menolong Adik Cin dan mencoba merampas kembali kitab obat yang juga dicuri oleh kawan-kawan Ban Sai Cinjin. Dari sini menuju ke bukit itu melalui belakang benteng, menurut perhitungan Song Kam Seng, dapat dicapai dalam waktu satu setengah hari, maka jika dalam waktu tiga atau empat hari kami tidak kembali ke benteng, berarti kami telah tertahan atau terbinasa oleh musuh. Sekian harap menjadikan maklum. Terima kasih, Sie Hong Beng."

Tidak saja Cin Hai terkejut, tetapi Lin Lin dan Kwee An yang mendengar Cin Hai membacakan surat itu, menjadi amat kaget. Kwee An sendiri menjadi pucat wajahnya.

"Bagaimana bisa terjadi hal seperti ini?"

Tanyanya dengan mata mulai menjadi merah karena kemarahan mulai bernyala di dalam hatinya.

"Kita harus berlaku tenang dan sabar,"

Kata Cin Hai yang dalam menghadapi segala macam urusan bersikap tenang seperti suhunya.

"Menurut laporan kepala pengawal mereka baru dua hari pergi. Kalau sekarang kita menyusul ke sana, belum tentu kita dapat bertemu dengan mereka sehingga bahkan menyulitkan keadaan. Kita harus percaya penuh kepada Hong Beng dan Goat Lan. Agaknya tidak mungkin mereka berdua akan dapat ditawan musuh. Biarlah kita menanti sampai empat hari, jadi dua hari lagi, kalau mereka tidak pulang, barulah kita mengambil keputusan apa yang harus kita lakukan."

Kwee An mengangguk menyatakan setuju.

Sebetulnya ia merasa amat gelisah mendengar bahwa puteranya diculik orang, akan tetapi harus ia akui bahwa kalau sekarang ia nekat menyusul Goat Lan, amat dikuatirkan ia bahkan akan mempersulit dan mengacaukan usaha Hong Beng dan Goat Lan yang sedang berusaha menolong Kwee Cin.

Lagi pula, ia tidak sangsi lagi akan kelihaian puterinya dan juga kelihaian Hong Beng yang seperti ucapan Pendekar Bodoh tadi, agaknya tidak mudah ditawan oleh musuh.

Alangkah girang hati semua orang, termasuk juga para prajurit di dalam benteng itu, ketika pada keesokan harinya, dari jurusan barat datanglah serombongan orang-orang Haimi yang dipimpin oleh Lili dan Ma Hoa diikuti pula oleh Sin-kai Lo Sian!

Ma Hoa lalu menceritakan sejelasnya pengalamannya sehingga puteranya, Kwee Cin, sampai diculik orang, berikut kitab Thian-te Ban-yo Pit-kip, sebagaimana telah dituturkan di bagian depan dengan jelas.

Bukan main marahnya Cin Hai, Lin Lin dan Kwee An mendengar penuturan ini.

"Betapapun juga,"

Kata Kwee An.

"kita harus menanti sampai besok pagi. Kalau Goat Lan dan Hong Beng belum juga kembali barulah kita beramai akan menyerbu ke sana dan awaslah Ban Sai Cinjin kalau ia berani mengganggu Cin-ji (Anak Cin)!"

Ketika membaca surat yang ditinggalkan oleh Hong Beng, Ma Hoa juga sependapat dengan suaminya, yaitu menanti sehari lagi.

Akan tetapi tidak demikian dengan Lili.

Diam-diam hati gadis ini merasa gemas dan benci sekali kepada Ban Sai Cinjin.

Kakek pesolek itu amat pengecut dan licin, siapa tahu kalau-kalau Hong Beng dan Goat Lan terjebak dalam perangkapnya?

Malam hari itu, Lili lalu bertemu dengan Nurhacu, orang Haimi yang tua dan banyak pengalaman di daerah utara ini.

Dari Nurhacu ia mendapat banyak petunjuk tentang keadaan bukit di utara iut.

Benteng itu kini menjadi ramai dan penjagaan diperkuat dengan adanya pasukan Haimi yang juga gagah.

Dan pada malam hari iut, melalui penjagaan yang dilakukan oleh orang-orang Haimi, Lili keluar dengan diam-diam dan di bawah sinar bulan purnama yang muram, gadis ini berlari cepat sekali menuju ke utara!

Dia hendak menyusul Hong Beng dan Goat Lian dan tentu saja kepergiannya ini tidak diberitahukan kepada ayah bundanya, karena ia tahu bahwa mereka pasti takkan mau meluluskannya.

Adapun Lilani segera dapat merampas hati Lin Lin yang merasa suka dan kasihan melihat nasib gadis ini.

Kwee An dan Cin Hai juga menganggap gadis ini seperti keponakan sendiri sehingga Lilani merasa amat terharu.

Gadis yang lincah dan rajin ini lalu cepat-cepat melayani pendekar-pendekar gagah itu sehingga dua pasang suami isteri itu makin menyayanginya.

Benar-benar Lilani dapat menyesuaikan diri dengan keadaan di sekelilingnya, dan inilah yang membuat seseorang selalu disuka.

Tentu saja pada keesokan harinya, semua orang menjadi terkejut dan geger melihat betapa Lili telah tidak ada pula di dalam benteng.

Cin Hai dan Lin Lin mencari ke mana-mana, akan tetapi tidak nampak bayangan Lili.

Nurhacu yang mendengar betapa semua orang mencari Lili, lalu menghadap Cin Hai dan menceritakan bahwa malam tadi Lili mencari keterangan sejelasnya tentang keadaan bukit di utara itu.

"Tidak salah lagi!"

Cin Hai membanting kakinya.

"anak bengal itu dengan lancang tentu menyusul kakaknya ke sana!"

Pada saat semua orang sedang membicarakan urusan perginya Lili ini, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dan tak lama lagi seorang pengawal dengan wajah berseri memberi laporan akan datangnya sebuah barisan yang besar sekali, dipimpin sendiri oleh Kam-ciangkun dari kota raja!

Semua orang menyambut dan benar saja bahwa yang memimpin barisan adalah Kam Liong.

Dengan penuh hormat, Kam Liong memberi penghormatan kepada Cin Hai suami isteri dan Kwee An serta Ma Hoa, yang dianggapnya pendekar-pendekar yang lebih tinggi tingkatnya pehingga semua orang diam-diam menaruh perhatian dan suka kepada panglima muda ini.

Ketika Kam Liong mendengar bahwa Hong Beng dan Goat Lan sudah empat hari tidak kembali dari penyelidikan mereka di markas musuh dan bahwa Lili juga semalam mengejar ke sana, pemuda ini mengerutkan keningnya sambil berkata.

"Berbahaya, berbahaya! Bukit itu penuh dengan tentara Mongol, bahkan Malangi Khan sendiri berada di tempat itu! Ah, terlalu berbahaya! Lebih baik kita segera menyerang dan menyerbu dengan mendadak, barangkali saja masih dapat menolong putera Kwee-lo-enghiong dan kedua Saudara Hong Beng dan Goat Lan!"

"Jangan, Kam-ciangkun. Itu terlalu berbahaya. Kita harus mencari daya upaya lain untuk menolong mereka itu, dan pula belum tentu ketiga orang anak kami akan mudah saja mengalami bencana di tempat itu!"

Kata Cin Hai.

Pada saat itu, terdengar suara kaki kuda dan ternyata seorang Mongol yang berkuda dengan cepat sekali, datang membawa sesampul surat yang katanya harus disampaikan kepada Pendekar Bodoh!

Melihat orang Mongol itu datang membawa tanda utusan Raja Mongol, para perajurit tidak berani mengganggunya dan orang itu lalu dihadapkan kepada Cin Hai.

Orang Mongol itu bertubuh tinggi kurus, bermata tajam dan ganas, sedangkan bibirnya menyeringai seperti sikap seorang yang tidak takut mati.

"Aku datang sebagai utusan Malang Khan yang maha besar!"

Katanya setelah ia dibawa ke dalam benteng.

"Mana surat yang kaubawa?"

Cin Hai bertanya.

"Harus kuserahkan sendiri kepada Pendekar Bodoh,"

Jawab utusan itu.

"Akulah orang yang dimaksudkan itu,"

Jawab Cin Hai.

Orang Mongol itu memandang seperti tidak percaya.

Orang ini nampaknya demikian lemah, pikirnya, mana bisa dia adalah Pendekar Bodoh yang demikian terkenal dan bahkan ditakuti oleh Malangi Khan sendiri?

Cin Hai dapat menduga pikiran orang.

Sambil tersenyum ia berkata.

"Kalau kau berlama-lama, biarlah aku mengambilnya sendiri!"

Tangan kirinya bergerak perlahan ke depan ke arah dada orang Mongol itu.

Orang Mongol itu cepat menangkis sambil mengerahkan tenaganya, akan tetapi ketika lengan tangannya beradu dengan tangan Cin Hai, ia kesakitan dan sedetik kemudian seruannya terhenti karena ia telah terkena totokan jari tangan kiri Cin Hai.

Orang Mongol itu berdiri seperti patung dengan sikap masih menangkis sehingga nampak lucu sekali.

Cin Hai lalu menggeledah saku orang itu dan mendapatkan sesampul surat yang dialamatkan kepada Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya.

Ketika ia membuka sampulnya dan membaca, ternyata bahwa surat itu adalah surat yang ditulis oleh Ban Sai Cinjin dan yang ditujukan kepadanya dan semua kawan-kawannya, bahwa kalau Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya maju membantu bala tentara kerajaan maka Kwee Cin akan dibunuh dan kepalanya akan dibawa ke medan perang.

Cin Hai dan Kwee An menjadi merah sekali mukanya.

Cin Hai lalu membebaskan totokannya dan setelah orang Mongol itu dapat bergerak lagi, ia membentak.

"Kau bilang diutus oleh Malangi Khan, mengapa yang kaubawa ini adalah surat dari Ban Sai Cinjin?"

"Apakah bedanya, Malangi Khan dan Ban Sai Cinjin?"

Orang Mongol itu menjawab.

"Ban Sai Cinjin telah menjadi tangan kanan Malangi Khan, maka setiap perintah Ban Sai Cinjin tentu sudah disetujui oleh Malangi Khan!"

"Baik, kau kembalilah dan sampaikan kepada Ban Sai Cinjin bahwa kami tidak akan melanggar larangannya dan jangan dia sekali-kali berani mengganggu Kwee Cin karena kalau dia mengganggu anak itu, biarpun ia akan lari sampal ke neraka, pedangku pasti akan mendapatkan lehernya!"

Utusan itu lalu dilepaskan dan dengan kudanya yang luar biasa, utusan Mongol ini lalu membalap sehingga sebentar saja ia hanya nampak sebagai titik hitam yang mengebul di belakangnya.

"Nah, Kam-ciangkun, kaulihat dan mendengar sendiri. Kalau kita menyerbu begitu saja, pasti akan terbukti ancaman Ban Sai Cinjin yang berhati kejam dan curang."

"Kalau begitu, Sie Tai-hiap. Biarlah siauwte memimpin sendiri barisan kerajaan untuk menggempur gunung itu. Ada-pun Cu-wi sekalian mengambil jalan belakang untuk mencari saudara-saudara yang sampai sekarang belum kembali."

"Ini pun kurang sempurna, Kam-ciangkun,"

Kata Kwee An.

"Memang kita semua sudah berpikir bulat untuk bersama-sama menghalau pengacau negara dan memusuhi barisan Mongol yang membikin kekacauan. Pihak Mongol selain banyak jumlahnya, juga di sana mereka dibantu oleh orang-orang pandai seperti Ban Si Cinjin dan entah siapa lagi. Kalau kau maju dan sampai mengalami kekalahan, bukankah itu melemahkan semangat para perajurit? Lebih baik kaubiarkan kami mencari anakku lebih dulu dan kalau sudah berhasil dan selamat barulah kita bersama membikin pembalasan dan menghancurkan barisan Malangi Khan di bukit itu."

"Berilah waktu lima hari kepada kami,"

Cin Hai menyambung.

"setelah lewat lima hari boleh kau memimpin barisanmu menggempur musuh."

Tentu saja Kam Liong tidak berani membantah dan menyatakan baik.

Sikap pemuda ini amat menyenangkan hati dua pasang suami isteri pendekar itu, karena berbeda dengan sikap panglima-panglim lain yang biasanya amat sombong dan angkuh.

Sikap panglima muda ini benar-benar menarik hati sehingga diam-diam Lin Lin menyampaikan kepada Ma Hoa dan Kwee An tentang lamaran yang diajukan oleh paman pemuda ini terhadap Lili.

"Memang dia orang baik, agaknya cukup pantas menjadi mantumu,"

Kata Kwee An kepada adiknya ini.

"akan tetapi betapapun juga, sekarang belum waktunya untuk membicarakan soal ini. Lagi pula dalam hal perjodohan harus ada persesuaian antara anak, ibu dan ayah. Jika ketiganya cocok barulah perjodohan itu dianggap baik dan berbahagia. Kita tunggu saja bagaimana pendapat Lili sendiri tentang pinangan itu."

Mereka berempat lalu berunding mengenai urusan mereka untuk menolong Kwee Cin dan juga mencari Hong Beng, Goat Lan dan Lili.

"Lebih baik kita bagi-bagi tugas,"

Kata Kwee An.

"biarlah aku dan Cin Hai pergi ke sarang mereka. Adapun kau dan Lin Lin tinggallah saja di sini. Siapa tahu kalau-kalau utusan Mongol tadi hanya merupakan pancingan agar kita semua pergi mengejar ke sana dan meninggalkan benteng ini. Kalau kita semua pergi dan mereka tiba-tiba datang menyerang, kasihan sekali kalau sampai Kam-ciangkun mengalami kekalahan hebat! Kurasa aku dan Cin Hai berdua sudah cukup untuk menyelidiki keadaan mereka di gunung itu."

"Apa yang dikatakan oleh Kwee An memang benar dan aku merasa setuju sekali,"

Kata Cin Hai yang biarpun menjadi adik ipar Kwee An namun selalu menyebut namanya begitu saja karena sudah menjadi kebiasaan semenjak mereka belum menikah.

Biarpun merasa kecewa, namun Lin Lin dan Ma Hoa tidak membantah, karena memang tepat apa yang diusulkan oleh Kwee An itu.

Pula tugas menjaga benteng itu tidak kalah pentingnya, kalau tidak dapat disebut lebih berbahaya.

Berangkatlah Cin Hai dan Kwee An pada hari itu juga menuju ke bukit utara itu.

Seperti juga Lili sebelum berangkat mereka minta keterangan tentang kedudukan bukit itu kepada Nurhacu, karena biarpun Cin Hai dan Kwee An pernah mengadakan perantauan di daerah utara di waktu mereka muda (baca cerita Pendekar Bodoh), namun mereka belum pernah naik ke bukit itu.

Nurhacu yang tadinya dipaksa membantu orang-orang Mongol, tentu saja sudah pernah masuk ke dalam markas besar Malangi Khan dan dengan jelas ia menggambarkan kedudukan markas musuh yang terjaga kuat itu.

Setelah kedua orang pendekar itu meninggalkan kaki Bukit Alkata-san di sebelah utara dan sedang berlari cepat menuju ke bukit yang menjulang tinggi di sebelah utara itu, tiba-tiba dari sebuah tikungan jalan keluarlah seorang pemuda tampan yang berlari cepat dengan gerakan gesit sekali.

Pemuda itu lalu berhenti menghadang di tengah jalan ketika ia melihat dua orang laki-laki setengah tua yang berlari cepat itu.

Cin Hai dan Kwee An merasa curiga dan mereka pun lalu menahan kaki mereka dan berhenti di depan pemuda itu.

Untuk beberapa lama mereka saling pandang, kemudian pemuda itu dengan sikap sopan lalu menjura dan bertanya.

"Mohon tanya, siapakah Ji-wi Lo-enghiong yang gagah ini? Dalam keadaan seperti sekarang, melihat dua orang gagah menuju ke utara, sungguh amat mengherankan hati."

"Anak muda, kau pandai sekali membolak-balikkan kenyataan. Kami yang menuju ke utara belum dapat dikatakan aneh, sebaliknya kau seorang pemuda yang gagah akan tetapi dalam waktu seperti ini, berkeliaran di daerah musuh benar-benar menimbulkan kecurigaan besar!"

Merahlah wajah pemuda itu.

"Maaf, kau berkata benar, Lo-enghiong. Memang aku Song Kam Seng telah salah memilih jalan. Akan tetapi aku sedang beruasaha mencari jalan yang benar. Kuulangi lagi, siapakah gerangan Ji-wi yang terhormat?"

Mendengar disebutnya nama ini, berubah wajah Cin Hai dan juga Kwee An.

Kedua orang pendekar ini telah membaca surat Hong Beng dan tahu bahwa Hong Beng dan Goat Lan pergi meninggalkan benteng setelah dipancing oleh pemuda ini!

Dan pula, Cin Hai sudah mendengar dari Lili bahwa pemuda ini adalah putera Song Kun dan yang telah mengancam hendak membalas dendam kepadanya!

"Hemm, jadi kaukah yang bernama Song Kam Seng putera Song Kun?

Ketahuilah, aku yang disebut Pendekar Bodoh dan ini adalah saudara tuaku bernama Kwee An!

Hayo lekas kauceritakan di mana adanya anak-anak kami, Hong Beng, Goat Lan dan Kwee Cin?"

Mendengar bahwa yang berhadapan dengannya adalah musuh besarnya, pembunuh ayahnya, tiba-tiba Kam Seng menjadi makin marah.

Ia lalu memandang kepada Cin Hai dengan mata tajam, lalu mencabut pedangnya dan berkata.

"Bagus, jadi kaukah yang bernama Sie Cin Hai, orang yang telah membunuh ayahku dan membuat ibu dan aku hidup menderita bertahun-tahun? Manusia kejam, kau telah berhutang nyawa, sudah selayaknya sekarang aku menagihnya!"

Sambil berkata demikian, Kam Seng lalu mengayun pedangnya menusuk dada Cin Hai.

Pendekar Bodoh hanya tersenyum saja dan sama sekali tidak menangkis atau mengelak.

Akan tetapi tiba-tiba dari samping berkelebat bayangan pedang dan dengan kerasnya pedang Kam Seng terpukul oleh pedang yang digerakkan oleh Kwee An sehingga pedang itu terpental kembali dan hampir terlepas dari pegangan Kam Seng!

"Song Kam Seng, jangan kau berlaku sembrono!

Ayahmu Song Kun bukan mati dibunuh oleh Pendekar Bodoh, akan tetapi ia mati karena kejahatannya sendiri.

Seorang gagah membela kebenaran tanpa memandang kepada hubungan keluarga!

Kalau kiranya ayahmu itu masih hidup dan menjadi seorang yang amat jahat, apakah kau juga akan membantunya dan ikut-ikutan menjadi jahat?"

Dengan pandangan mata liar Kam Seng membalikkan tubuh dan menghadapi Kwee An.

"Kaubilang ayahku jahat? Apa maksudmu?"

"Memang hal yang paling sukar di dunia ini adalah mengakui atau melihat kesalahan pihak sendiri. Ayahmu dahulu mengancam jiwa Lin Lin yang telah menjadi tunangan Cin Hai. Adikku itu terkena racun seorang jahat dan obat penawarnya dirampas oleh ayahmu, kemudian ayahmu mengancam hendak melenyapkan obat penawar itu kalau adikku tidak mau menjadi isterinya!"

Dengan singkat akan tetapi jelas, Kwee An lalu menceritakan kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh Song Kun di waktu mudanya (baca cerita Pendekar Bodoh) dan bahwa kematian Song Kun terjadi di dalam pertempuran melawan Cin Hai yang membela diri, jadi sekali-kali bukan Pendekar Bodoh yang sengaja membunuhnya.

Mendengar penuturan ini, pucatlah wajah Kam Seng.

Alangkah bedanya dengan cerita yang didengarnya dari Ban Sai Cinjin!

Mana yang benar?

Akan tetapi suara hatinya membisikkan bahwa ia harus lebih percaya kepada dua orang pendekar besar ini daripada kepada Ban Sai Cinjin yang berhati khianat.

"Biarpun andaikata mendiang ayahku jahat, sebagai puteranya aku harus berani menghadapi kenyataan dan berani pula membalaskan sakit hatinya. Aku menantang kepada Pendekar Bodoh untuk mengadu kepandaian, lepas dari soal siapa salah siapa benar antara dia dan ayahku. Aku hanya hendak memenuhi kewajiban sebagai seorang anak yang harus berbakti kepada ayahnya. Kalau aku kalah, sudahlah, mungkin ayah yang memang bersalah dalam pertempuran dahulu."

Sambil, berkata demikian, kembali pemuda itu menghadapi Cin Hai dengan sikap menantang.

"Bocah lancang!"

Kwee An membentak marah.

"Kau mengandalkan apakah maka berani menantang Pendekar Bodoh? Mudah saja menyatakan tentang sakit hati dan dendam. Ketahuilah bahwa aku pun menaruh dendam kepadamu kalau pandanganku sepicik engkau! Kau telah memancing dan mencelakakan puteriku Goat Lan dan bahkan mungkin kau telah membantu susiokmu Ban Sai Cinjin untuk menculik anakku Cin-ji! Nah, bukankah aku pun boleh berdendam kepadamu? Coba kauhadapi pedangku dulu kalau memang kau memiliki kepandaian!"

Akan tetapi, sambil tersenyum Cin Hai berkata.

"Biarkanlah, Kwee An, biarkan anak ini, memperlihatkan tanduknya! Sikapnya mengingatkan padaku akan ayahnya, Song Kun. Demikian berani dan keras hati. Eh, Kam Seng, aku sudah mendengar namamu disebut oleh puteriku, Lili. Kau sudah menyeberang ke pihak jahat dan menjadi murid dari Wi Kong Siansu? Kau salah, anak muda. Kalau saja kau tetap menjadi murid Nyo Tiang Le dan kemudian kau datang kepadaku, mengingat hubungan ayahmu dengan aku, kiranya aku takkan menolak untuk memberi bimbingan kepadamu. Sekarang kau bahkan hendak menantangku bertempur? Hmm, cobalah maju dan jangan ragu-ragu, seranglah sesuka hatimu."

Mendengar ucapan yang tenang ini dan melihat sikap yang acuh tak acuh dari Pendekar Bodoh musuh besarnya, Kam Seng menjadi ragu-ragu.

Tadi ia sudah merasai kelihaian tangkisan pedang Kwee An.

Baru Kwee An saja sudah demikian hebat tenaganya, apalagi Cin Hai yang kabarnya memiliki kepandaian jauh lebih tinggi daripada kepandaian Kwee An!

Akan tetapi Kam Seng tidak takut.

Sudah bulat hatinya untuk membalas dendam ayahnya sehingga ia mengorbankan perasaannya dan berpindah ke pihak Ban Sai Cinjin.

Bukan karena ia lebih cocok dengan rombongan ini, tidak, karena sesungguhnya ia benci melihat kejahatan kakek pesolek itu.

Ia rela berguru kepada Wi Kong Siansu hanya karena ia ingin tercapai maksudnya membalas dendam kepada musuh besarnya, yaitu Pendekar Bodoh.

Kalau ia teringat betapa ia dan ibunya terlunta-lunta setelah ayahnya tewas, sakit hatinya terhadap Pendekar Bodoh makin besar.

Dan sekarang setelah ia bertemu dengan musuh besarnya, biarpun ia ingat musuhnya itu ayah dari Lili, gadis satu-satunya di dunia ini yang dicintainya, biarpun ia sudah mendengar keterangan dari Kwee An betapa dahulu sebenarnya ayahnya yang salah dan jahat, namun bagaimana ia dapat membatalkan niat hatinya hendak membalas dendam?

Kini melihat sikap Cin Hai, amat tidak enak hati Kam Seng.

Ia sebenarnya segan melawan pendekar yang bersikap tenang dan gagah ini, namun ia malu terhadap bayangannya sendiri kalau ia tidak melanjutkan niatnya yang telah terpendam di dalam hati sampai bertahun-tahun lamanya.

Maka ia paksakan hatinya dan berseru.

"Ayah di alam baka! Lihat bahwa anak telah melakukan usaha sekuat tenaga!"

Sambil berkata demikian ia lalu maju menyerang dengan hebat sekali kepada Pendekar Bodoh.

Akan tetapi, dengan cara yang amat membingungkan mata Kam Seng, tahu-tahu pendekar besar itu telah dapat mengelak dari tusukan pedangnya.

Ia menjadi penasaran dan melanjutkan serangannya sambil mengeluarkan ilmu pedang yang ia pelajari dengan susah payah dari Wi Kong Siansu.

Kalau dibandingkan dengan dahulu ketika ia menghadapi Lili, ilmu kepandaian pemuda ini sudah maju amat pesat dan jauh.

Tidak saja ilmu pedangnya yang sudah menjadi kuat dan cepat, juga tenaga lwee-kangnya bertambah dan ginkangnya pun amat baik mendekati kesempurnaan.

Diam-diam Cin Hai memuji, akan tetapi dengan amat mudahnya, Pendekar Bodoh mengelak dari setiap serangan.

Pendekar Bodoh tidak mencabut pedangnya, hanya mempergunakan ujung lengan bajunya untuk kadang-kadang menyampok pedang kalau ia tidak keburu mengelak.

Dari sampokan ujung lengan baju ini saja Kam Seng sudah merasa terkejut sekali.

Gurunya sendiri, Wi Kong Siansu, juga ahli dalam hal bersilat dengan ujung lengan baju, akan tetapi kiranya tidak sehebat ini.

Kam Seng makin mempercepat gerakan pedangnya sehingga tubuhnya lenyap dalam sinar pedangnya yang bergulung-gulung.

Pemuda ini mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya, mengambil keputusan untuk bertempur sampai mati!

Ia merasa seakan-akan ayahnya menyaksikan pertempuran ini dari alam baka, maka ia tidak mau berlaku mengalah dan mendesak Pendekar Bodoh dengan nekat.

Pendekar Bodoh maklum bahwa biarpun ia telah mengenal ilmu pedang pemuda ini dan dapat menjaga diri, namun ia tidak dapat menaksir sampai di mana kehebatan ilmu pedang ini apabila dimainkan oleh Wi Kong Siansu.

Ia telah mendapat tantangan dari Wi Kong Siansu, maka ia merasa kebetulan sekali kini dapat menghadapi ilmu pedang pendeta itu yang dimainkan oleh seorang muridnya yang pandai.

Menurut taksirannya, ilmu pedang yang dimainkan oleh Kam Seng ini baru paling banyak tujuh puluh bagian tingkatnya.

Maka ia lalu mencabut sulingnya yang selalu terselip di pinggangnya.

Pendekar Bodoh boleh ketinggalan pakaian atau uang, akan tetapi ia tak pernah ketinggalan suling dan pedangnya!

Suling ini merupakan senjatanya yang istimewa, bahkan lebih lihai daripada pedangnya Liong-cu-kiam!

Setelah mencabut sulingnya, makin ramailah pertempuran itu.

Pendekar Bodoh kini mempergunakan sulingnya untuk mengimbangi ilmu pedang Kam Seng.

Sesungguhnya kalau dia mau, dalam dua puluh jurus saja pasti ia akan dapat merobohkan Kam Seng, akan tetapi Pendekar Bodoh memang ingin sekali mengukur sampai di mana kelihaian ilmu pedang ini yang kelak akan dihadapinya pula.

Sampai penuh keringat tubuh Kam Seng.

Cin Hai berhasil memancingnya sehingga pemuda itu menghabiskan seluruh jurus dari ilmu pedang yang dipelajarinya dari Wi Kong Siansu!

Memang inilah maksudnya, dan setelah ilmu pedang itu habis dimainkan, Cin Hai lalu mengerahkan tenaga pada sulingnya sehingga ketika pedang dan suling menempel, pedang itu tak dapat ditarik kembali!

Betapapun hebat Kam Seng mengeluarkan tenaga untuk membetot pedangnya, tetap saja pedang itu tak dapat terlepas dari suling yang menempelnya.

Akhirnya Cin Hai menggerakkan tangannya membetot dan sambil berseru keras Kam Seng terpaksa melepaskan gagang pedangnya karena tidak kuat menghadapi tenaga tarikan luar biasa ini.

"Kam Seng, kau memiliki bakat yang cukup baik. Sayang sekali kau mempelajari ilmu silat yang keliru. Kepandaianmu kalau dibandingkan dengan kepandaian ayahmu, ah, kau ketinggalan amat jauh! Kalau saja kau tidak dibikin buta oleh dendam dan sakit hati yang bodoh dan sesat, aku akan suka sekali memberi bimbingan kepadamu, mengingat hubunganku dengan mendiang ayahmu."

Kam Seng menjadi malu sekali.

"Aku sudah kalah..."

Katanya dengan muka ditundukkan dan air matanya hampir menitik turun, wajahnya merah sekali.

"Kalau Ji-wi menganggap aku tersesat dan jahat, bunuhlah, apa gunanya hidup dalam kesesatan dan kehinaan?"

Cin Hai merasa terharu melihat keadaan putera dari Song Kun ini, maka ia lalu melangkah maju mengembalikan pedang yang dirampasnya dan menepuk-nepuk pundaknya.

"Anak muda, aku tidak dapat menyalahkan engkau! Aku sendiri di waktu muda selalu menjadi korban dari nafsu sendiri, melakukan perbuatan tanpa dipikir dulu dan menganggap diri sendiri selalu benar! Ketahuilah, bahwa kebaktian terhadap orang tua bukan asal berbakti saja. Membela nama orang tua bukanlah asal kau dapat membasmi musuh-musuh orang tuamu saja. Kau harus dapat mempergunakan akal sehat dan otak yang jernih. Apabila orang tuamu melakukan sesuatu kesalahan, sebagaimana sudah menjadi lajimnya setiap manusia kadang-kadang tersesat dari jalan kebenaran, jalan satu-satunya bagimu untuk berbakti ialah dengan menebus kesalahan orang tuamu itu. Biarpun ayahmu telah dianggap jahat oleh dunia kangouw dan oleh orang-orang gagah, akan tetapi kalau kau sebagai putera tunggalnya dapat melakukan kebaikan, nama buruk ayahmu itu akan terhapus oleh perbuatan-perbuatanmu yang mulia. Sebaliknya, kalau kau dibutakan oleh dendam tanpa melihat sebab-sebab kematian ayahmu, kau berarti akan menambah kotor nama ayahmu sehingga kau merupakan seorang anak yang durhaka!"

Kam Seng memandang dengan wajah pucat dan kedua matanya terbelalak.

Tak pernah disangkanya bahwa ia akan menerima wejangan seperti ini dari mulut musuh besarnya!

Ia makin ragu-ragu, tak tahu apa yang harus diucapkan maupun dilakukannya.

"Ketahuilah bahwa kita semua ini berada di bawah pengaruh hukum alam, yaitu sebab dan akibat. Segala peristiwa yang terjadi merupakan akibat dan juga menjadi sebab peristiwa lain yang akan terjadi. Kematian ayahmu di dalam tanganku juga merupakan akibat yang kini menyebabkan kau mencari dan hendak membalas padaku! Maka aku tidak marah kepadamu, karena di dalam segala petistiwa yang kujumpai, aku menengok dan mencari pada sebabnya. Tak mungkin kau hendak membunuhku tanpa sebab, seperti juga tidak mungkin tanganku membunuh ayahmu jika tidak ada sebab-sebab yang kuat! Carilah sebab-sebabnya dan kau tidak akan kaget melihat akibatnya karena kalau sebab-sebabnya sudah kau ketahui, akibat-akibatnya akan kauanggap sewajarnya!"

Tunduklah hati Kam Seng mendengar ucapan yang mengandung filsafat tinggi akan tetapi mudah ditangkap ini.

Ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Cin Hai dan tak dapat menahan isak tangisnya!

"Susiok (Paman guru), ampunkanlah teecu dan ampunkan pula semua dosa mendiang ayahku..."

Katanya dengan hati terharu.

"Tidak ada salah atau benar dalam hal ini, Kam Seng, dan tidak perlu maaf-memaafkan. Di dalam setiap perbuatan itu terkandung kesalahan dan kebenaran, tergantung yang melihatnya. Aku sudah cukup girang melihat kau dapat berpikir dengan otak sehat."

Cin Hai mengangkat pemuda itu berdiri lagi.

"Bagus, semua kegelapan sudah menjadi terang sekarang,"

Kata Kwee An.

"Akan tetapi, Kam Seng, kau masih harus menerangkan tentang keadaan puteraku dan juga tentang keadaan Goat Lan dan Hong Beng. Kedatanganmu memberitahukan kepada mereka itu bukankah hanya satu pancingan belaka?"

"Tidak, Kwee Tai-hiap, sama sekali tidak! Biarpun harus kuakui bahwa aku telah salah memilih kawan dan telah terjerumus ke dalam lembah kejahatan, namun aku tetap tidak menjadi seorang pengkhianat negara dan bangsa! Aku merasa jijik melihat Susiok Ban Sai Cinjin, dan merasa sayang bahwa aku tak dapat menegurnya. Sesungguhnya, ketika aku melihat bahwa puteramu yang masih kecil itu datang bersama Ban Sai Cinjin dan mendengar bahwa ia hendak menggunakan puteramu itu untuk mencegah orang-orang gagah membantu tentara kerajaan, aku menjadi gelisah sekali. Hendak menolong dan membawa pergi puteramu, aku tidak berani. Maka aku lalu berlaku nekat dan diam-diam mengunjungi benteng Alkata-san di mana aku bertemu dengan Nona Goat Lan dan Saudara Hong Beng. Aku menjelaskan maksud kedatanganku dan bahwa aku memberi gambaran tentang jalan belakang yang akan membawa mereka ke tempat kediaman Ban Sai Cinjin dan yang lain-lain. Sudah kukatakan bahwa tempat itu berbahaya sekali, akan tetapi ternyata Nona Goat Lan dan Saudara Hong Beng nekat dan datang juga ke sana..."

"Lalu bagaimana? Apa yang terjadi dengan mereka?"

Tanya Kwee An dengan rasa ingin tahu sekali.

"Mereka juga telah tertawan oleh Ban Sai Cinjin!"

Kata Kam Seng.

"Oleh karena itu siauwte sengaja hendak pergi ke benteng Ji-wi untuk memberitahukan hal ini dan tak terduga sama sekali telah bertemu dengan Ji-wi di sini."

"Tak mungkin!"

Kata Kwee An.

"Sukar dipercaya bahwa Hong Beng dan Goat Lan akan dapat tertawan sedemikian mudahnya,"

Kata Cin Hai. Kam Seng tersenyum.

"Harus diakui bahwa kepandaian Nona Goat Lan dan Saudara Hong Beng cukup lihai dan memang agaknya akan sukar sekali mengalahkan dan menawan mereka. Akan tetapi dalam hal kecerdikan, mereka itu masih kalah jauh oleh orang-orang seperti Ban Sai Cinjin! Mereka berdua bukan tertawan karena kekerasan, akan tetapi mereka terpaksa mengalah dan menurut setelah Ban Sai Cinjin mengancam hendak membunuh Kwee Cin kalau mereka melawan terus!"

"Pengecut hina dina yang curang!"

Kwee An berseru marah.

"Akan kuhancurkan kepala manusia itu!"

"Kwee Tai-hiap, bagaimana kalau Ban Sai Cinjin mengancam padamu untuk membinasakan puteramu sebelum kau turun tangan?"

Tanya pemuda itu. Kwee An tak dapat menjawab, hanya mengertak gigi dengan marah dan gemas sekali.

"Kam Seng, kau yang mengetahui keadaan mereka, tidak maukah kau menolong kami? Tidak maukah kau melawan kejahatan dan membela kebenaran untuk menebus nama buruk mendiang ayahmu?"

Kata Cin Hai.

"Susiok, kedatangan teecu seperti telah kuceritakan tadi, sesungguhnya untuk memberi tahu kepada benteng tentara kerajaan. Sebetulnya tak usah dikuatirkan karena Kwee Cin telah diminta oleh Malangi Khan dan dijadikan kawan bermain putera Malangi Khan yang bernama Kamangis dan yang usianya sebaya. Untuk sementara ini, biarpun Ban Sai Cinjin sendiri tidak boleh berlaku sesuka hatinya untuk membunuh Kwee Cin yang disuka oleh Kamangis putera Malangi Khan! Akan tetapi, untuk merampas kembali anak itupun bukan merupakan hal yang mudah."

Kemudian dengan jelas Kam Seng lalu menggambarkan tempat kedudukan Ban Sai Cinjin dan juga istana Malangi Khan di dalam benteng itu yang berada di tengah-tengah.

Setelah menuturkan semua ini, Kam Seng lalu minta diri untuk kembali ke benteng Mongol itu.

Ia berjanji bahwa ia akan memasang telinga dan mata serta akan berusaha menolong Goat Lan dan Hong Beng.

"Betapapun juga, kita harus berusaha menolong Cin-ji,"

Kata Kwee An kepada Cin Hai setelah Kam Seng pergi. Cin Hai mengerutkan kening.

"Sekarang lebih ruwet lagi. Kalau kita berkeras memasuki istana Malangi Khan dan andaikata berhasil merampas dan menyelamatkan Cin-ji bagaimana dengan nasib Goat Lan dan Hong Beng? Dan di mana pula adanya Lili? Ah, kita harus mencari akal dan berlaku hati-hati."

Kedua orang pendekar besar itu duduk di bawah pohon dan bertukar pikiran.

Kemudian mereka mengambil keputusan untuk berpisah.

Cin Hai hendak menuju ke tengah benteng, masuk ke dalam istana Malangi Khan, adapun Kwee An akan mencari Goat Lan dan Hong Beng di belakang benteng, di tempat tinggal Ban Sai Cinjin dan kaki tangannya.

Kwee An menyetujui hal ini oleh karena ia pun mengakui bahwa Cin Hai memiliki kepandaian yang lebih tinggi maka patut menerima tugas yang lebih berbabaya dan berat.

Dengan ilmu lari cepat mereka, keduanya lalu melanjutkan perjalanan, mengitari bukit itu untuk masuk melalui belakang benteng.

Tepat seperti yang dituturkan oleh Nurhachu orang Haimi itu dan juga seperti yang digambarkan oleh Kam Seng, jalan itu sunyi saja, akan tetapi penuh hutan yang amat liar dan menyeramkan.

Ketika mereka melintas dengan cepat melalui sebuah hutan, dari jauh nampak bayangan orang yang berjalan cepat.

Cin Hai dan Kwee An merasa curiga, cepat mereka melompat ke arah bayangan itu, akan tetapi ketika mereka tiba di situ, bayangan itu berkelebat dan lenyap dari pandangan mata mereka!

Cin Hai dan Kwee An saling pandang heran.

"Apakah ada setan di tengah hari?"

Tanya Kwee An.

Siapakah orangnya yang dapat menghilang dari depan mata mereka sedemikian anehnya?

Juga Cin Hai merasa heran sekali.

Kalau bayangan tadi benar-benar seorang manusia, maka kepandaian gin-kangnya agaknya tidak berada di sebelah bawah kepandaiannya sendiri!

Gerakan seperti itu menurut ingatannya hanya dimiliki oleh suhunya, yakni Bu Pun Su, atau orang-orang seperti Swi Kiat Sansu, Pok Pok Sianjin, Hok Peng Taisu dan tokoh-tokoh tinggi lain yang kesemuanya telah meninggal dunial "Mungkin kita salah lihat,"

Katanya karena bukan menjadi watak Pendekar Bodoh untuk mengganggu orang yang tidak memperlihatkan diri.

"kita mempunyai tugas yang lebih penting."

Mereka melanjutkan perjalanan dan tak lama kemudian mereka tibalah di bawah tembok benteng sebelah belakang dari benteng tentara Mongol itu.

Mereka mempergunakan gin-kang yang hebat dan melompat ke atas tembok.

Dari sini mereka berpisah.

Cin Hai terus berlari-larian di atas tembok yang tingginya kira-kira empat tombak dan lebarnya hanya kurang dari satu kaki itu.

Tembok ini memanjang sampai beberapa belas li dan Cin Hai terus berlari mencari-cari bangungan istana kepala bangsa Mongol.

Beberapa orang penjaga yang mulai banyak terlihat setelah ia berlari kurang lebih dua li, melihat bayangannya, akan tetapi tak seorang pun di antara mereka yang dapat mengejar.

Bahkan sebagian besar mengira bahwa yang melayang itu bukanlah seorang manusia, melainkan seekor burung besar.

Gerakan Cin Hai amat cepat sehingga kalau tidak kebetulan, jarang ada penjaga yang dapat melihatnya!

Sementara itu, Kwee An setelah berada di atas tembok dan melihat betapa keadaan di bawah sunyi saja, lalu melayang turun.

Memang benar bahwa di situ tidak terjaga sama sekali dan di bawah dinding ini hanya merupakan belukar yang tidak terurus.

Jauh di depan nampak tembok-tembok bangunan yaitu bagian paling belakang dari benteng Mongol itu.

Kwee An berlaku hati-hati sekali.

Waktu itu udara mulai gelap karena matahari telah bersembunyi di barat.

Ia pikir bahwa kalau ia berlaku sembrono dan menyerbu pada malam hari itu sehingga terlihat oleh musuh, maka keselamatan Goat Lan dan Hong Beng akan terancam.

Dari Kam Seng ia mendapat keterangan bahwa Goat Lan dan Hong Beng ditahan di dalam rumah kecil yang berada di tengah-tengah kampung dalam benteng itu, tidak jauh dari rumah yang ditinggali oleh Ban Sai Cinjin.

Goat Lan ditahan di dalam kamar sebelah kiri dan Hong Beng di kamar ke dua sebelah kanan.

Di depan dan belakang, pendeknya rumah itu dikelilingi oleh penjaga-penjaga yang sebenarnya bukan menjaga untuk menghalangi dua orang muda ini pergi, hanya untuk melihat saja kalau mereka pergi, akan segera dilaporkan dan Kwee Cin akan dibunuh!

Kwee An dengan perlahan bergerak maju di balik belukar dan mengintai ke arah kampung itu.

Ia menanti sampai gelap benar barulah ia menggunakan kepandalannya masuk ke dalam kampung itu dan melompat naik ke atas wuwungan rumah.

Ia melompat dari genteng ke wuwungan lain dan akhirnya dapat mendekati rumah kecil di mana puterinya dan Hong Beng ditahan.

Benar saja, di seputar rumah itu dipasang kursi dan meja di mana duduk para penjaga yang nampaknya enak-enak saja, karena mereka tidak ditugaskan untuk mencegah kedua orang muda itu melarikan diri.

Kalau sampai dua orang muda itu memberontak dan melarikan diri, apakah yang dapat mereka lakukan terhadap dua orang gagah itu?

Kwee An memandang ke arah jendeta dan dalam cahaya yang remang-remang ia melihat bayangan seorang gadis yang berpinggang langsing melalui tirai jendela.

Hatinya berbedar.

Itulah Goat Lan, tak salah lagi!

Ingin ia melompat turun dan mengamuk, membunuh para penjaga yang tak berarti itu bahkan kalau perlu mencari dan membunuh Ban Sai Cinjin.

Akan tetapi ia tidak berani melakukan ini sebelum Kwee Cin dapat tertolong oleh Cin Hai.

Pula, sudah jelas bahwa Goat Lan dan Hong Beng tidak mengalami penderitaan dan hanya ditahan karena dua orang muda itu takut kalau-kalau Kwee Cin dibunuh, maka perlu apa menguatirkan keadaan dua orang muda ini?

Lebih baik aku menyusul Cin Hai dan lebih dulu menyelamatkan Kwee Cin pikirnya.

Akan tetapi, sebelum ia berangkat meninggalkan tempat itu untuk menuju ke selatan di mana terdapat istana Malangi Khan yang terpisah jauh, ia mendengar suara orang memaki-maki dan nampaklah Ban Sai Cinjin yang diikuti oleh lima orang lain berjalan ke arah rumah kecil itu.

Di bawah sinar lampu, Kwee An melihat dengan heran betapa kakek pesolek ini nampak matang biru mukanya, bahkan pipinya sebelah kanan nampak ada tanda goresan-goresan dan kedua matanya serta pipinya nampak biru seakan-akan mukanya telah berkali-kali ditampar orang!

Kakek ini tidak hentinya menyumpah-nyumpah.

"Akan kubunuh tujuh turunan... kubunuh tujuh turunan...!"

Kemudian ia memegang pinggangnya dan membungkuk-bungkuk.

"Aduh... aduh... jahanam benar Pendekar Bodoh aduh...!"

Setelah tiba di depan rumah itu, para penjaga segera berdiri dan memberi hormat kepada Ban Sai Cinjin.

Kwee An melihat bahwa Ban Sai Cinjin berjalan dengan sukar, dibantu Coa-ong Lojin dan di belakangnya nampak beberapa orang lain.

Mereka ini sebetulnya adalah pengurus-pengurus dari Coa-tung Kai-pang atau pembantu-pembantu dari Coa-ong Lojin yang dahulu membantu Ban Sai Cinjin melakukan pencurian di Tiang-an dan selain menculik Kwee Cin juga telah mencuri kitab Thian-te Ban-yo Pit-kip.

"Apakah dua orang muda itu masih berada di kamar masing-masing?"

Tanyanya kepada para penjaga.

"Masih ada, mereka tak pernah pergi keluar dari kamar!"

Jawab para penjaga. Tiba-tiba terdengar suara Hong Beng dari kamarnya.

"Ban Sai Cinjin, kau orang yang berhati curang dan pengecut! Kalau kau tidak mau disebut seorang rendah yang tidak pantas hidup di dunia kang-ouw, kaulepaskan Kwee Cin dan mari kita bertempur seribu jurus sampai seorang di antara kita mampus!"

"Tutup mulut! Kau... kau anak Pendekar Bodoh si bangsat kurang ajar! Awas kalau ada kesempatan, akan kubunuh tujuh turunan. Aku tak hendak bicara dengan kau! Kau mau pergi dari sini, pergilah! Aku hanya akan membunuh Kwee Cin dan Nona Goat Lan. Pergi dari sini, aku tidak butuh orang macam kau!"

Terdengar Hong Beng tertawa bergelak, mentertawakan Ban Sai Cinjin yang menyumpah-nyumpah tiada hentinya, kemudian kakek pesolek ini memasuki kamar Goat Lan diikuti oleh Coa-ong Lojin.

Dengan hati berdebar Kwee An memasang telinga mendengarkan percakapan itu.

Dengan amat pandainya, ia dapat mempergunakan kesempatan ketika Ban Sai Cinjin ribut mulut dengan Hong Beng, untuk melompat ke atas genteng dan kini berada di atas kamar Goat Lan!

"Nona Kwee,"

Ia mendengar suara parau dari Ban Sai Cinjin.

"apakah kau masih belum mau insyaf? Alangkah keras kepala kau? Kau sudah ditipu oleh kaisar lalim, sudah dihina, akan tetapi masih saja kau bersetia kepadanya? Kau menyelamatkan nyawa Putera Mahkota, akan tetapi apa yang kau dapat? Hukuman buang! Kau dihina, hendak dijadikan selir, kemudian kau dibuang ke tempat yang seperti neraka di utara ini. Apakah kau tidak mempunyai perasaan keangkuhan sama sekali? Sekarang adikmu berada di tanganku, dan aku tidak minta banyak. Asal kau suka membantu kami, membantu sampai Kaisar lalim itu terguling dari kedudukannya, tidak saja adikmu akan selamat, bahkan banyak kemungkinan adikmu akan menjadi seorang pangeran!"

"Ban Sai Cinjin, percuma saja kau mengoceh di sini! Aku tetap tidak mau mendengar ocehanmu dan aku akan menuruti permintaanmu tidak keluar dari tempat ini. Akan tetapi sebaliknya, kau pun jangan sekali-kali berani mengganggu adikku, karena kalau kau sampai berani mengganggunya, aku akan mempertahankan nyawaku untuk memukul sampai remuk batok kepalamu!"

Ban Sai Cinjin menyumpah-nyumpah dan tersaruk-saruk keluar dari kamar itu.

Masih terdengar keluhannya ketika ia menuju ke bangunan di mana ia tinggal.

Malam itu masih terdengar terus keluhannya ketika ia mengobati luka-luka di tubuhnya yang membuat ia merasa sakit seluruh tubuhnya, terutama sekali hatinya yang terasa amat sakit.

Malam hari itu sial sekali baginya.

Siang tadi ia menghadap Malangi Khan dan hendak minta Kwee Cin, akan tetapi Malangi Khan tidak memperbolehkan, karena Kwee Cin ternyata telah menjadi sahabat yang karib sekali dengan puteranya, Pangeran Kamangis.

Dengan hati mendongkol Ban Sai Cinjin kembali ke kampung di belakang istana akan tetapi di tengah jalan ia bertemu dengan Pendekar Bodoh!

Bangsat tua bangka, kau sungguh curang dan tidak tahu malu!"

Pendekar Bodoh memaki.

"Orang macam kau sepatutnya dibunuh, akan tetapi karena kita ada perjanjian untuk bertemu di puncak Thai-san, kali ini kau takkan kubunuh, hanya ingin memberi hajaran!"

Setelah berkata demikian, tanpa banyak cakap lagi Cin Hai menyerangnya dengan hebat!

Coa-ong Lojin dan kawan-kawannya cepat membantu, akan tetapi ketika Cin Hai mencabut Liong-cu-kiam, sekali gerakan saja senjata mereka terbabat putus!

Terpaksa mereka mundur lagi dan Ban Sai Cinjin yang melawan mati-matian dibuat permainan oleh Cin Hai!

Mukanya ditampar berkali-kali dan pukulan serta tendangan menghujani tubuhnya.

Cin Hai sengaja tidak memukul atau menendang dengan sepenuh tenaga, namun cukup membuat muka kakek itu menjadi matang biru dan tubuhnya menjadi sakit semua.

Setelah Ban Sai Cinjin menjadi setengah pingsan, barulah Cin Hai meninggalkannya!

Tentu saja si Huncwe Maut merasa terhina sekali dan ia menyumpah-nyumpah.

Kebenciannya terhadap Pendekar Bodoh makin meluap, akan tetapi apa yang dapat ia lakukan?

Sementara itu, Pendekar Bodoh telah menghilang di malam gelap, entah ke mana perginya.

Setelah Ban Sai Cinjin pergi, Goat Lan menengok ke atas dan berkata sambil tersenyum.

"Ayah, turunlah sekarang!"

Kwee An girang sekali melihat ketajaman mata dan telinga puterinya. Ia segera membuka genteng dan melompat turun ke dalam kamar anaknya. Goat Lan memegang tangan ayahnya dan berkata.

"Ayah, bagaimana kau bisa datang ke tempat ini?"

Gadis ini mengeluarkan ucapan dengan keras sehingga Kwee An cepat memberi tanda dengan tangannya. Akan tetapi Goat Lan tertawa.

"Ayah, kita bukan ditawan. Aku berada di sini atas kehendakku sendiri, mengapa mesti takut? Biarlah Ban Sai Cinjin monyet tua itu mengetahui bahwa kau berada di sini, biar dia makin panas dan jengkel. Dia bisa berbuat apa terhadap kita?"

Mendengar ucapan ini, Kwee An menarik napas panjang.

"Asal saja dia tidak dapat mengganggu Cin-ji, aku pun tidak takut apa-apa."

Sementara itu, Hong Beng yang mendengar suara Goat Lan, dengan girang lalu datang dan memberi hormat kepada Kwee An.

Mereka bertiga bicara dengan asyik sekali sehingga melupakan waktu.

Ketika Hong Beng mendengar bahwa ayahnya juga masuk ke dalam benteng ini dan bahkan mendatangi istana Malangi Khan dan mendengar bahwa sebetulnya Kwee Cin telah berada di istana dan tidak di dalam tangan Ban Sai Cinjin, Hong Beng lalu bangkit berdiri.

"Ah, kalau kita tahu hal itu, tidak usah lama-lama kita berada di tempat ini,"

Katanya kepada Goat Lan yang mengangguk menyatakan persetujuannya.

"Kalau begitu, biarlah aku pergi sekarang juga menyusul ayah. Siapa tahu kalau dia membutuhkan bantuan!"

Kwee An dan Goat Lan tidak mencegahnya, maka Hong Beng lalu melompat keluar dan pergi dari rumah itu dengan cepat!

Ketika Ban Sai Cinjin mendapat laporan bahwa Hong Beng pergi dari kamar tahanan dan Goat Lan menerima seorang tamu laki-laki yang disebut sebagai ayahnya, ia merasa terkejut dan juga marah sekali.

Cepat ia mengumpulkan orang-orangnya dan mengerahkan semua perajurit Mongol yang berada di situ untuk mengurung rumah tahanan itu!

Kemudian, pada keesokan harinya setelah ia merasa bahwa tubuhnya tidak begitu sakit-sakit lagi, bersama Coa-ong Lojin ia menghampiri rumah itu dan sekali ia mendorong, daun pintu terbuka.

Ia menjadi marah sekali ketika melihat bahwa Goat Lan telah berdiri di situ dengan seorang laki-laki yang bukan lain adalah Kwee An, orang yang pernah dijumpainya dan yang telah memaksa Coa-ong Lojin mengobati Lie Siong dahulu itu.

Kwee An melihat Goat Lan hendak bergerak menyerang Ban Sai Cinjin, maka cepat ia memegang pundak anaknya.

"Sabar dulu, Lan-ji,"

Katanya, kemudian sambil tersenyum mengejek ia memandang kepada Ban Sai Cinjin.

"Selamat pagi, Ban Sai Cinjin, dan selamat bertemu kembali. Agaknya kau masih belum puas menerima gebukan dari Pendekar Bodoh dan masih hendak minta tambah dari aku!"

Ban Sai Cinjin marah sekali dan kemarahannya ini membuat dadanya yang kena tendang oleh Cin Hai terasa sakit lagi.

Ia berdiri tidak tetap dan hanya setelah Coa-ong Lojin memegang punggungnya, ia dapat berdiri teguh.

Huncwenya terpegang dengan tangan kiri, kosong tak berasap, dan dengan tangan kanannya ia menudingkan telunjuknya ke arah Kwee An.

"Orang she Kwee, jangan kau banyak berlagak di sini! Sudah habis kesabaranku dan sekarang juga aku hendak menyuruh orang membunuh puteramu yang telah kutawan!"

Akan tetapi, Goat Lan dan Kwee An hanya tertawa, bahkan Kwee An tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, Ban Sai Cinjin, memang sudah menjadi kebiasaan orang macammu ini selalu menggunakan gertakan, ancaman, penipuan dan lain-lain perbuatan curang dan licin. Apa kaukira sekarang kau dapat menggertak lagi? Aku tahu bahwa puteraku setelah kauculik secara curang dan pengecut, sekarang telah berada bersama putera Malangi Khan dan kau tidak dapat mengganggunya! Sekarang, aku tidak akan berlaku murah seperti Pendekar Bodoh! Untuk perbuatanmu menculik puteraku saja kau sudah layak kubunuh. Akan tetapi, aku masih hendak memberi kelonggaran kepadamu. Kembalikanlah Thian-te Ban-yo Pit-kip, baru aku akan mengampuni nyawa anjingmu!"

"Manusia sombong! Bukalah lebar-lebar matamu dan lihat, rumah ini telah terkurung oleh seratus lebih tentara, dan kau masih sanggup menyombong? Ha, untuk apa kitab itu kalau sebentar lagi kau dan anakmu akan mampus dibawah hujan senjata?"

"Setan Tua, mampuslah kau!"

Goat Lan yang sudah tak dapat menahan sabarnya lagi lalu menyerang dengan tangan kosong!

Biarpun serangan ini dilakukan dengan tangan kosong, namun Ban Sai Cinjin maklum akan kelihaian gadis ini, cepat ia melompat keluar dari pintu, diikuti oleh Coa-ong Lojin.

Goat Lan mencabut bambu runcingnya dan mengejar ke luar, disusul oleh ayahnya yang sudah mencabut pedangnya.

Akan tetapi, benar saja, di luar mereka disambut oleh keroyokan hebat.

Tidak saja Ban Sai Cinjin dan Coa-ong Lojin yang mengeroyok, bahkan di situ terdapat Can Po Gan dan Can Po Tin, dua orang jago dari Shan-tung yang menjadi sahabat Wi Kong Siansu dan yang pernah bertemu dengan Lili dan Lo Sian di rumah makan.

Juga di situ terdapat pengurus-pengurus tingkat satu dari Coatung Kai-pang, perwira-perwira Mongol yang pandai bermain golok yang jumlahnya semua menjadi empat belas orang!

Kagetlah Goat Lan melihat ini, karena sesungguhnya ia tidak pernah menduga bahwa di tempat itu terdapat orang-orang sedemikian banyaknya, yaitu orang-orang pandai.

Melihat gerakan-gerakan senjata mereka, ia maklum bahwa orang-orang ini tidak boleh dipandang ringan dan keadaannya bersama ayahnya bukannya tidak berbahaya.

Apalagi ketika ia menengok, tempat itu sudah terkurung oleh barisan yang amat tebal, barisan orang Mongol yang bersenjata lengkap, jumlahnya tidak kurang dari seratus orang!

Ban Sai Cinjin biarpun sudah dihajar sampai babak bundas oleh Cin Hai, akan tetapi ia tidak menderita luka dalam.

Kini setelah menghadapi pertempuran besar dan karena ia memang marah sekali, seketika itu juga tubuhnya terasa segar kembali.

Ia menyerang dengan huncwenya, dan permainan huncwenya ini tetap saja yang paling berbahaya di antara semua pengeroyok.

Ban Sai Cinjin menyerang Kwee An dan dibantu juga oleh Coa-ong Lojin, yang masih merasa sakit hati terhadap Kwee An.

Raja pengemis ini mainkan sebatang tongkat ular yang ujungnya berbisa sehingga sekali saja ujung tongkatnya mengenai kulit musuhnya, pasti lawannya akan roboh dan tewas!

Selain Ban Sai Cinjin dan Coa-ong Lojin, masih ada lagi lima orang perwira Mongol yang cukup kosen yang mengeroyok Kwee An!

Adapun Goat Lan yang mainkan sepasang bambu runcing, menghadapi keroyokan dua orang jago Shan-tung itu.

Sebagaimana diketahui, dua orang ini memiliki kepandaian yang cukup tinggi, barangkali tidak di bawah tingkat kepandaian Coa-ong Lojin, apalagi Po Tin yang bertubuh kecil itu ternyata memiliki gerakan yang amat lincah dan tenaga lwee-kangnya hebat, berbeda dengan Po Gan yang memiliki tenaga gwa-kang seperti seekor gajah!

Selain dua orang jago Shan-tung yang berhasil dibeli oleh Ban Sai Cinjin ini, Goat Lan masih dikeroyok oleh lima orang pengurus kelas satu dari Coa-ong Kai-pang yang mengeroyok dengan tongkat ular mereka yang berbahaya.

Akan tetapi Goat Lan dan Kwee An tidak menjadi gentar, bahkan dua orang ini merasa gembira.

Wajah mereka berseri-seri dan mereka seakan-akan hendak berlomba merobohkan lawan!

Ayah dan anak ini merasa lega karena berita tentang Kwee Cin yang tidak berada dalam cengkeraman Ban Sai Cinjin lagi.

"Ayah, mari kita berlomba-lomba menghabiskan tujuh ekor tikus ini!"

Seru Goat Lan sambil tersenyum.

"Baik, mari kita coba!"

Kata Kwee An dan berbareng dengan ucapan itu, terdengar jerit kesakitan karena seorang perwira Mongol telah kena ditendang oleh tendangan berantai dari Kwee An sehingga tubuh lawan ini terlempar empat tombak lebih!

"Satu...!"

Seru Kwee An.

Mendengar ini, Goat Lan merasa penasaran sekali.

Dengan bambu runcing di tangan kirinya ia menyerang Po Gan dengan cepat tak terduga, ketika Po Gan dengan kaget melempar tubuh ke samping, Goat Lan lalu menyambarkan bambu runcingnya ke arah dada seorang pengurus Coa-tung Kai-pang yang berdiri di belakang Po Gan.

Orang itu menjerit lalu roboh tak dapat bangun lagi.

"Satu...!"

Goat Lan juga berseru keras. Kwee An tersenyum dan tak lama kemudian, hampir berbareng ayah dan anak ini berseru.

"Dua...!"

Dan terlemparlah dua orang pengeroyok!

Seruan ini disusul dan disusul lagi sehingga empat orang lawan masing-masing telah dirobohkan!

Yang mengeroyok Kwee An kini tinggal Ban Sai Cinjin, Coa-ong Lojin dan seorang perwira Mongol, sedangkan pengeroyok Goat Lan tinggal Can Po Gan, Can Po Tin, dan seorang pengemis Coa-tung Kaipang yang sudah empas-empis napasnya!

Melihat hal ini, bukan main marahnya Ban Sai Cinjin.

Ia berseru keras memberi aba-aba dan menyerbulah puluhan perajurit, mengurung rapat-rapat sambil menyerang dan bersorak-sorak!

Tentu saja Goat Lan dan Kwee An menjadi terkejut sekali.

Mereka tak usah takut menghadapi keroyokan para perajurit yang hanya merupakan orang-orang kasar, memiliki kepandaian biasa saja, akan tetapi karena jumlah mereka banyak sekali, maka untuk melepaskan diri dari kepungan mereka harus membunuh banyak sekali orang!

Hal inilah yang tidak mereka kehendaki.

Kalau saja pertempuran ini merupakan sebuah peperangan, tentu mereka mengamuk dan takkan segan-segan untuk menjatuhkan pukulan maut, akan tetapi sekarang pertempuran ini hanya merupakan perselisihan mereka dan Ban Sai Cinjin, maka kurang baik kalau harus membunuh banyak orang sungguhpun mereka itu adalah orang-orang Mongol yang menjadi musuh negara.

Pada saat Goat Lan dan Kwee An dikeroyok oleh perajurit-perajurit Mongol bagaikan ribuan ekor semut mengeroyok dua ekor burung, tiba-tiba terdengar bentakan keras.

"Mundur semua! Lihat siapa yang berada dalam tawananku!"

Semua orang Mongol menengok dan mereka melihat dua orang laki-laki datang dan di tengah-tengah mereka terdapat seorang anak laki-laki yang membuat mereka semua segera menjatuhkan diri berlutut!

Ternyata bahwa yang datang itu adalah Cin Hai dan Hong Beng, sedangkan yang mereka tawan adalah Pangeran Kamangis, putera dari Malangi Khan!

Melihat betapa semua perajurit mongol berlutut dan tidak berani pula mengeroyok, dan melihat betapa Pangeran Kamangis telah tertawan oleh Pendekar Bodoh, Ban Sai Cinjin menjadi pucat sekali mukanya.

"Pendekar Bodoh, kau curang! Kau menggunakan Pangeran Kamangis untuk mengalahkan aku!"

Cin Hai tersenyum sindir.

"Cacing tua, aku hanya meniru perbuatanmu. Kau telah menculik Kwee Cin yang sekarang disimpan oleh Malangi Khan. Kalau Kaisar Mongol tidak mau melepaskan Kwee Cin, kami pun akan menahan puteranya. Kau masih bernasib baik tidak mampus dalam tanganku, cacing tua!"

Setelah berkata demikian, Cin Hai lalu mengajak Goat Lan dan Kwee An untuk meninggalkan tempat itu sambil memondong Pangeran Kamangis!

Ban Sai Cinjin membanting-banting kakinya dengan jengkel sekali dan ia cepat menuju ke istana Kaisar Malangi Khan untuk mencari keterangan bagaimana pangeran itu sampai dapat tertawan oleh Pendekar Bodoh.

Setibanya di depan Malangi Khan, di luar dugaannya, ia bahkan mendapat teguran keras dari Malangi Khan dan mendengar penuturan tentang keberanian Pendekar Bodoh yang membuat darahnya mendidih saking marahnya.

Malangi Khan, raja orang-orang Mongol menjadi marah sekali karena ada orang berani menculik puteranya begitu saja dari depannya tanpa dapat menangkap orang itu.

Ban Sai Cinjin mendengarkan penuturan Malangi Khan dengan wajah sebentar merah sebentar pucat, tanda bahwa ia merasa malu dan juga mendongkol sekali terhadap Pendekar Bodoh.

Ternyata bahwa Cin Hai setelah memberi hajaran pada Ban Sai Cinjin, lalu melanjutkan perjalanan dengan cepat sekali memasuki istana Malangi Khan.

Dengan kepandaiannya yang luar biasa, Pendekar Bodoh dapat melewati semua penjagaan.

Memang penjagaan istana Malangi Khan di tempat itu tidak berapa kuat, oleh karena memang istana itu berada di tengah-tengah benteng pertahanan barisan Mongol, siapakah yang dapat masuk dan berani mengganggu?

Oleh karena itu, dapat dibayangkan betapa besar keheranan Malangi Khan ketika pada hari itu, selagi dia duduk dihadapi oleh para panglimanya untuk mengatur siasat perang yang hendak dilakukan terhadap pedalaman Tiongkok, tiba-tiba dari luar masuk seorang laki-laki setengah tua bangsa Han yang berpakaian putih sederhana, akan tetapi yang bertindak masuk dengan langkah tegap dan tenang seperti seorang raja saja!

"Hei...!

Siapa kau?

Berhenti!"

Empat orang penjaga segera melompat dan menghadangnya.

"Minggirlah, aku hendak bertemu dengan Malangi Khan, Kaisarmu!"

Jawab Cin Hai dengan suara tenang, akan tetapi cukup keras sehingga terdengar oleh Malangi Khan.

Jawaban ini tentu saja menimbulkan kegemparan diantara para panglima yang menghadap Kaisar itu, juga para penjaga lalu menyerbu dan mengurung Pendekar Bodoh.

"Bunuh saja orang gila ini sebelum membikin kacau!"

Teriak seorang penjaga sambil menyerang dengan goloknya ke arah leher Cin Hai.

Agaknya dengan sekali pancung ia hendak menyembelih orang Han yang lancang ini!

Akan tetapi segera terdengar jeritannya dan orang itu bersama goloknya terlempar jauh menimpa kawan-kawannya sendiri.

"Jangan bunuh dia, tangkap dan bawa menghadap di sini!"

Tiba-tiba terdengar suara Malangi Khan yang menggeledek. Tentu saja semua penjaga dan panglima yang sudah turun tangan, mentaati perintah ini.

"Orang gila, lebih baik kau menyerah untuk kami bawa menghadap Kaisar daripada sakit tubuhmu!"

Kata seorang panglima yang diam-diam merasa khawatir akan amukan "orang gila"

Yang telah disaksikan kelihaiannya ketika menghadapi serangan golok tadi.

Cin Hai tersenyum.

Memang bukan kehendaknya.

untuk menimbulkan keributan, pula agaknya akan lebih mudah menghadapi Kaisar Malangi Khan dengan berpura-pura menyerah daripada dengan jalan kekerasan.

"Baiklah, kau belenggu kedua tanganku!"

Katanya sambil tersenyum.

Melihat sikap orang setengah tua ini, semua penjaga dan panglima menjadi geli.

Tentu orang gila, pikir mereka, mengapa raja ingin menghadapinya?

Dengan cekatan, seorang panglima lalu mengambil rantai besi dan dengan mengeluarkan suara "klik, klik!"

Kedua pergelangan tangan Cin Hai telah terbelenggu erat-erat!

Ada yang menganggap perbuatan panglima itu keterlaluan.

Untuk membelenggu seorang gila, mengapa harus dipergunakan belenggu besi?

Belenggu macam itu biasanya hanya dipergunakan untuk membelenggu pesakitan yang lihai dan berilmu tinggi saja.

Akan tetapi ketika dua orang panglima hendak mencabut dan merampas pedang dan suling yang terselip di pinggang Cin Hai, mereka itu terperanjat dan terheran-heran.

Dengan hanya melenggang dan menggerakkan tubuh, Cin Hai telah dapat mengelak dari mereka ini sehingga pedang dan sulingnya tidak sampai tercabut!

Sementara itu, beberapa kali melangkah ia telah berdiri dihadapan Kaisar Malangi Khan!

"Siapakah kau?

Melihat sinar mata dan sikapmu, kau bukanlah seorang gila, akan tetapi mengapa kau berani berlancang masuk ke sini dan bagaimana kau dapat sampai di istana?"

Kaisar Malangi Khan menyatakan keheranannya. Cin Hai tersenyum dan karena kedua tangannya diikat ke belakang ia hanya menangguk, lalu berkata dengan hormat.

"Malangi Khan yang besar, maaf kalau aku datang mengganggu. Aku bernama Sie Cin Hai, seorang yang bodoh sehingga banyak orang menyebutku Pendekar Bodoh, dan aku masuk ke sini biasa saja, hanya agaknya orang-orangmu sedang mengantuk sehingga tidak melihatku."

Malangi Khan nampak tertegun dan tidak percaya, sedangkan semua panglima yang berada di situ pun terkejut sekali, akan tetapi siapakah mau percaya bahwa orang yang seperti gila dan yang menyerahkan diri dibelenggu tangannya ini adalah Pendekar Bodoh yang namanya menggemparkan sekali dan yang ditakuti oleh Ban Sai Cinjin?

Tak mungkin!

Beberapa orang panglima sudah terdengar tertawa kecil menahan geli hatinya karena mengira bahwa orang ini tentulah seorang gila yang mengaku-aku sebagai Pendekar Bodoh!

Seorang panglima yang berwatak kasar dan keras segera menuding ke arah Cin Hai dan membentak.

"Orang gila, jangan kurang ajar di hadapan raja yang besar! Orang gila macam engkau ini mana patut menjadi Pendekar Bodoh?"

Baru saja orang ini menutup mulutnya, semua orang terkejut, termasuk Malangi Khan karena orang itu kini duduk diam seperti patung dengan mata terbelalak memandang ke arah Cin Hai.

Ketika seorang kawan yang didekatnya menggoyang tubuhnya, orang ini ternyata telah duduk dengan kaku seperti patung!

Orang-orang hanya melihat sinar kecil menyambar ke arah iga panglima ini dan kini nampaklah nyata sebutir batu kecil menggelinding di bawahnya.

Dan karena sinar itu datangnya dari Cin Hai, mereka cepat memandang dan bukan main kaget hati semua panglima ketika melihat bahwa kini kedua tangan Cin Hai yang tadinya dibelenggu menjadi satu di belakang tubuhnya, kini telah berada di depan tubuhnya dalam keadaan masih terbelenggu seperti tadi!

Bagaimana mungkin orang yang kedua tangannya terbelenggu menjadi satu di belakang bisa pindah ke depan tubuh?

Diantara para panglima itu terdapat tiga orang panglima yang berpangkat jenderal, dan mereka ini memiliki kepandaian yang sudah cukup tinggi, dikenal sebagai tugu pelindung negara dan menjadi orang-orang kepercayaan Malangi Khan.

Mereka ini masih terhitung murid keponakan dari Thai Kek Losu dan Sian Kek Losu, jago-jago nomor satu dan dua di Mongol yang menjadi murid-murid Swi Kiat Siansu (baca Pendekar Bodoh) di jaman belasan tahun yang lalu.

Oleh karena itu, tiga pelindung negara atau yang juga disebut Sam-koksu ini pernah mendengar nama Pendekar Bodoh.

Tadinya mereka pun tidak percaya ketika mendengar orang ini mengaku sebagai Pendekar Bodoh karena mungkinkah hanya begini sederhana saja orang yang pernah mengalahkan supek-supek (uwa-uwa guru) mereka Thian Kek Losu dan Sian Kek Losu?

Akan tetapi ketika mereka melihat betapa kini orang yang terbelenggu itu telah dapat memindahkan tangan dari belakang ke depan, mereka menjadi terkejut sekali.

Untuk dapat memindahkan dua tangan yang terbelenggu dari belakang ke depan tubuh, hanya ada dua jalan.

Yang pertama adalah jalan sederhana saja, yaitu melangkahkan kedua kaki ke belakang melewati tengah-tengah antara kedua lengan, dan jalan ke dua hanya dapat dilakukan oleh orang berilmu tinggi yang memiliki ilmu kepandaian Sia-kut-hwat (Ilmu Melepas Tulang Melemaskan Tubuh) sehingga kedua tangan itu sekaligus dapat diputar ke depan melalui atas kepala tanpa merusak sambungan tulang pundak!

Kalau seandainya orang ini melakukan jalan pertama, bagaimana mereka semua tidak dapat melihatnya dan bagaimana pula ia dapat menyerang panglima yang menghinanya tadi dengan sebutir batu kecil?

Mohopi lalu berdiri dan memeriksa panglima yang ternyata benar telah tertotok jalan darah teng-sin-hiat dengan tepat sekali.

Dengan beberapa kali tepukan dan urutan tangan Mohopi dapat menyembuhkan panglima itu yang kini tidak berani banyak tingkah lagi.

Adapun Kaisar yang melihat peristiwa ini, diam-diam berdebar hatinya.

Benar-benar hebat kepandaian Pendekar Bodoh ini, dan apa maunya datang ke tempat ini?

"Eh, kalau benar kau yang bernama Pendekar Bodoh, apakah kau berani menghadapi Samkoksu untuk saling menguji kepandaian?"

Tanya Malangi Khan. Cin Hai tersenyum.

"Khan yang besar, sesungguhnya kejadian seperti inilah yang terbaik! Saling menguji kepandaian, saling memetik pengalaman dan menambah pengertian dari masing-masing pihak! Bukankah ini jauh lebih sempurna daripada saling berperang?"

Malangi Khan mengerutkan keningnya.

"Kau tahu apa tentang perang? Pendeknya, berani atau tidak kau menghadapi Sam-koksu kami?"

"Khan yang baik, aku datang dengan maksud baik, tentu saja aku akan menerima segala macam sambutan dari pihak tuan rumah. Sudah lama aku mendengar bahwa Mongol mempunyai banyak panglima-panglima yang pilihan dan jagoan maka barisan Mongol berani menyerang ke selatan. Kalau Tiga Guru Negara (Sam-koksu) sudi membuka mataku dan menambah pengetahuanku, sebelumnya aku mengucapkan banyak terima kasih!"

"Beri ruangan yang lebar! Buka ikatan tangan tamu kita ini!"

Malangi Khan berseru dengan wajah berseri.

Raja bangsa Mongol ini, seperti juga raja-raja Mongol yang sudah dan yang akan datang, memang terkenal sebagai orang-orang yang menjunjung tinggi kegagahan dan keperwiraan.

Baca Juga: Mutiara Hitam 2

Baca Juga: Bu Kek Siansu 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert