Eps 10 Pendekar Remaja - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Remaja - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Remaja - Kho Ping Hoo.
Malangi Khan sendiri juga terhitung seorang yang memiliki kepandaian silat tinggi, maka tentu saja ia merasa amat gembira melihat tamunya yang mengaku Pendekar Bodoh ini sanggup menghadapi ketiga orang koksunya!
Kegembiraan Raja ini kiranya sama dengan kegembiraan seorang penggemar adu ayam melihat dua ekor ayam berlaga hendak bertarung!
"Tidak usah, Khan yang baik!"
Jawab Cin Hai dengan kegembiraan pula, karena pengalamannya dengan orang-orang Mongol ini mengingatkan dia akan pengalamannya di waktu muda dahulu (baca cerita Pendekar Bodoh).
"Tidak usah dibuka belenggu ini, biarlah aku menghadapi tiga jago-jagomu dengan tangan terbelenggu!"
Tentu saja ucapan ini membuat semua melengak.
Malangi Khan memandang ke arah Cin Hai dengan ragu-ragu dan mulailah ia bersangsi apakah orang yang dikira sebagai Pendekar Bodoh ini bukannya seorang gila.
Akan tetapi tiga orang koksu itu menjadi marah sekali.
Ucapan ini saja sudah merupakan penghinaan yang tak boleh diampuni lagi!
Bagaimana seorang tamu berani menantang koksu-koksu yang terkenal ini untuk dilawan dengan tangan kosong yang terbelenggu?
Sementara itu, para penghadap raja sudah mundur dan membuat lingkarar yang cukup lebar sehingga ruang persidangan itu kini berubah menjadi semacam Lian-bu-thia (ruang bermain silat).
Cin Hai menjura di hadapan Raja, lalu berjalan dengan langkah enak berlenggang kangkung menuju ke tengah ruangan itu.
Kedua tangannya masih terbelenggu dan tergantung di depan perutnya.
"Khan yang mulia, hamba merasa malu untuk melawan seorang yang berotak miring!"
Kata Ganisa, orang tertua dari Sam-koksu itu kepada rajanya.
"Tidak apa, Ganisa, biarlah kaucoba menyerangnya. Kalau dia Pendekar Bodoh yang sesungguhnya, boleh kau mengukur sampai di mana tinggi ilmu kepandaiannya sehingga ia sesombong itu. Kalau dia bukan Pendekar Bodoh melainkan seorang gila, kau boleh membunuhnya karena dia telah berani bermain gila di tempat ini!"
Mendengar perintah Raja ini, Mohopi yang paling muda lalu maju mewakili kakaknya.
Ia lalu mendapat ijin dari Malangi Khan dan Mohopi lalu melompat cepat berdiri di hadapan Cin Hai.
Melihat gerakan ini, Cin Hai tersenyum lalu berkata dengan beraninya.
"Malangi Khan yang baik, bukankah tadi kau menantang padaku untuk menghadapi Sam-koksu (Tiga Guru Negara)? Mengapa yang maju hanya satu orang saja? Apakah yang dua sudah merasa jerih untuk menghadapi aku, takut kalah?"
Cin Hai sengaja mengeluarkan ucapan ini bukan tiada alasannya.
Pertama karena ia ingin sekali mempengaruhi Raja itu agar tunduk kepadanya sehingga mudah diajak berunding untuk membebaskan Kwee Cin, kedua kalinya karena gerakan melompat dari Mohopi tadi sudah cukup baginya untuk menilai sampai di mana gerakan tingkat kepandaian tiga orang jago Mongol itu.
"Orang gila, kau benar-benar sombong sekali!"
Mohopi berseru marah mendengar ucapan ini dan serentak ia melakukan serangan bertubi-tubi.
Pertama-tama tangan kanannya dikepal menghantam dada Cin Hai dan pukulan ini disusul dengan tusukan dua jari tangan kiri ke arah mata, lalu disusul pula dengan tendangan kaki kanan yang hebat sekali ke arah ulu hati!
Tiga macam pukulan maut ini bergerak dengan beruntun hampir berbareng dan satu saja di antara tiga serangan ini mengenai sasaran, dapat dibayangkan bahwa orang yang diserangnya pasti akan roboh.
Baru hawa pukulan dan tendangan itu saja sudah menerbitkan suara bersuitan!
Akan tetapi sebelum tiga macam serangan itu melayang, lebih dulu Cin Hai telah dapat menduganya.
Pendekar Bodoh adalah seorang pendekar sakti yang memiliki pengetahuan tentang pokok dasar segala macam gerakan ilmu silat, semacam pengetahuan yang menjadi raja segala macam ilmu silat.
Diserang dengan gerak tipu dari cabang persilatan manapun juga, sebelum serangan itu melayang ia telah dapat menduganya hanya dengan melihat gerakan pundak dan paha untuk dapat menduga pukulan dan tendangan lawan.
Ketika semua orang, termasuk Malangi Khan, mengharapkan bahwa segebrakan serangan yang mengandung tiga macam pukulan ini akan berhasil menjatuhkan tamu itu, tahu-tahu Mohopi sendiri menjadi kebingungan dan terdengar suara ketawa dari beberapa orang panglima yang merasa geli melihat pemandangan amat lucu.
Ketika kelihatannya Pendekar Bodoh seperti mau terkena pukulan yang tiga macam itu, tiba-tiba ia merendahkan tubuhnya dengan kegesitan yang tak terduga dan dengan gerakan cepat sekali ia lalu bergerak maju menyusup di bawah kaki lawan yang menendangnya!
Dengan demikian, ia telah berhasil menyelamatkan diri dan kini berada di belakang Mohopi tanpa diketahui oleh lawannya, karena memang gerakan Pendekar Bodoh tadi cepat sekali.
Ketika melihat betapa Mohopi nampak tercengang mencari-cari lawannya, Malangi Khan sendiri menjadi terheran-heran, lalu tertawa bergelak.
Gerakan dari Pendekar Bodoh tadi bukanlah gerakan ilmu silat, lebih mirip gerakan seekor monyet yang lucu, akan tetapi buktinya Mohopi dapat ditipu mentah-mentah.
"Majulah, majulah kalian bertiga!"
Perintah Malangi Khan dengan wajah gembira sekali.
Ganisa dan Citalani atau yang biasa disebut Thai-kok (Guru Negara Pertama) dan Ji-koksu (Guru Negara kedua) jadi marah sekali melihat betapa mereka dipermainkan oleh orang mengaku Pendekar Bodoh itu.
Mereka pun tadi melihat betapa gerakan Cin Hai bukanlah gerakan silat, walaupun harus mereka akui bahwa gerakan itu selain amat cepat juga tidak terduga.
Mereka masih mengira bahwa hal itu hanya kebetulan saja, akan tetapi kini mendengar perintah Malangi Khan, mereka serentak maju berbareng mengirim serangan dengan maksud sekali serang merobohkan atau menewaskan tamu ini.
Akan tetapi kembali semua orang menjadi tercengang.
Sambil tersenyum-senyum, Cin Hai dapat menghindarkan diri dari semua serangan dengan hanya sedikit menggerakkan tubuhnya, miring ke kanan kiri, melompat ke depan belakang bagaikan seekor monyet yang amat gesit dan sukar diserang.
Biarpun penyerangnya ada tiga orang, akan tetapi mana dapat mereka ini melukai Cin Hai?
Dahulupun ketika supek mereka masih hidup, yaitu Thai Kek Losu dan Sian Kek Losu, kedua orang ini pun tidak berdaya menghadapi Pendekar Bodoh, apalagi murid keponakannya!
Tingkat kepandaian Sie Cin Hai masih beberapa tingkat lebih tinggi dari tingkat kepandaian Sam-koksu ini maka biarpun mereka menyerang sambil mengerahkan semua kepandaian, tetap saja Pendekar Bodoh dapat menghadapi mereka dengan kedua tangan terbelenggu tanpa dapat teluka sedikit pun.
"Koksu, serang dia dengan senjatamu!"
Bentak Malangi Khan yang menjadi merah mukanya karena malu dan penasaran mengapa tiga orang jagonya yang dijadikan pelindung negara ternyata tidak bisa apa-apa terhadap seorang yang demikian sederhana saja.
Mendengar perintah ini, tiga orang itu lalu mencabut senjata masing-masing.
Akan tetapi yang menarik perhatian dan membuat Cin Hai terkejut adalah senjata di tangan Thai-koksu Ganisa, karena orang tua ini memegang seuntai rantai yang ujungnya diikatkan pada sebuah tengkorak kecil yang amat mengerikan!
Teringatlah Cin Hai kepada Thian Kek Losu yang dahulu juga memiliki senjata macam ini, maka ia berlaku hati-hati sekali.
Senjata Ji-koksu dan Sam-koksu tidak begitu diperhatikan karena kedua orang guru negara ke dua dan ke tiga ini hanya bersenjatakan golok besar yang biasa saja.
Kedua golok besar itu menyambar cepat hanya dielakkan oleh Cin Hai sambil mempergunakan gin-kangnya yang luar biasa, akan tetapi ketika tengkorak kecil di ujung rantai yang dipegang oleh Thaikoksu itu mengarah mukanya, ia cepat mengangkat kedua tangannya yang terbelenggu.
Ia maklum dari pengalamannya dahulu menghadapi Thai Kek Losu, bahwa tengkorak kecil ini mengandung hawa mujijat dari kekuatan sihir dan selain ini, juga di dalam tengkorak ini terdapat senjata-senjata rahasia yang berbisa dan amat berbahaya apabila ditangkis.
Oleh karena itu, tanpa mempedulikan dua buah golok yang menyambar-nyambar, ia lalu mencurahkan perhatiannya kepada tengkorak kecil itu, ketika melihat tengkorak menyambar cepat ke arah mukanya seperti hendak menciumnya, ia lalu menggerakkan kedua tangan dan sebelum Thai-koksu tahu, tengkorak itu telah kena terpegang oleh kedua tangan Pendekar Bodoh!
Thai-koksu terkejut dan hendak membetot dan menggunakan senjata rahasia yang berada dalam tengkorak, akan tetapi cepat bagaikan kilat, Pendekar Bodoh sudah mengirim tendangan ke arah pergelangan tangannya.
Thai-koksu berseru keras karena dengan tepat sekali tendangan itu telah membuat sambungan pergelangan tangannya terlepas!
Sambil membawa tengkorak kecil itu, Cin Hai melanjutkan gerakannya.
Sepasang golok dari Ji-koksu dan Sam-koksu menyambar dari kanan kiri, maka cepat ia lalu melangkah mundur, miring ke kanan, menggunakan sikunya "dimasukkan"
Ke dalam perut Sam-koksu.
"Ngek!"
Biarpun Mohopi atau Samkoksu itu mengerahkan lwee-kangnya ke arah perut, namun tentu saja ia tidak dapat menahan pukulan siku ini dan segera ia terhuyung mundur sambil memegangi perutnya yang tiba-tiba menjadi mulas!
Adapun Ji-koksu yang menjadi marah sekali lalu menerjang dengan goloknya, membabat bertubi-tubi ke arah pinggang dan leher Pendekar Bodoh.
Cin Hai yang kedudukannya masih miring ketika merobohkan Mohopi tadi, melihat datangnya babatan golok, cepat menotol kedua kakinya dan mengerahkan tenaga sehingga tubuhnya lalu mencelat ke atas bagaikan seekor burung terbang.
Citalani atau Ji-koksu yang memiliki ilmu golok paling lihai di antara saudara-saudaranya, cepat menerjang terus selagi tubuh Cin Hai masih berada di udara.
Akan tetapi, dengan enaknya Cin Hai menggunakan tendangan menyerong yang kelihatannya ditujukan ke arah kepala lawannya, akan tetapi sesungguhnya lalu menyerong dan menendang ke arah golok!
Seorang yang tidak memiliki ilmu gin-kang yang luar biasa tingginya tidak mungkin melakukan tendangan selagi tubuh masih berada di udara, dan lagi pula, kalau tidak mengandalkan tenaga lwee-kang yang hebat juga tak mungkin orang akan berani menendang sebatang golok yang tajam sekali.
Akan tetapi, Pendekar Bodoh merupakan kekecualian karena sebagai murid terkasih dari mendiang Bu Pun Su, guru besar nomor satu dalam dunia persilatan, ia telah memiliki kepandaian yang sukar diukur sampai di mana tingginya.
Begitu ujung kakinya mengenai golok Ji-koksu, terdengar suara nyaring sekali dan golok itu menjadi rompal dan terlepas dari tangan lawannya, terus meluncur ke bawah dan menancap di lantai sampai setengahnya.
Adapun Ji-koksu meringis-ringis karena dua buah jari tangannya ternyata telah patah tulangnya keserempet tendangan dari Pendekar Bodoh!
Setelah mengalahkan tiga orang lawannya, Cin Hai lalu melompat ke hadapan Malangi Khan, menjura sambil berkata.
"Harap Malangi Khan yang mulia sudi memaafkan kekasaranku tadi terhadap tiga Koksu!"
Malangi Khan untuk beberapa lama tidak dapat mengeluarkan kata-kata saking kagum dan herannya melihat kelihaian Pendekar Bodoh.
Ia turun dari tempat duduknya dan dengan kedua tangan sendiri hendak membuka belenggu di tangan Cin Hai, akan tetapi sekali lagi ia melengak ketika tiba-tiba Cin Hai menggerakkan kedua tangannya dan belenggu besi itu rontok dan jatuh terlepas dari tangannya!
Tidak hanya Malangi Khan yang terkejut, bahkan semua panglima yang berada di situ menjadi pucat mukanya melihat kehebatan demonstrasi tenaga raksasa ini.
"Hebat sekali, Pendekar Bodoh. Pantas kau disebut pendekar yang terbesar di dunia persilatan. Aku merasa kagum dan tunduk sekali. Ah, tinggallah bersamaku di sini, kau akan kuangkat menjadi pelindung negara, menjadi raja muda yang kuberi kekuasaan penuh sebagai wakilku!"
Raja Mongol itu berseru saking kagumnya. Akan tetapi Cin Hai menggelengkan kepalanya dan berkata dengan suara sungguh-sungguh.
"Malangi Khan yang baik, semenjak dahulu aku paling tidak suka menjadi pembesar negara. Banyak cara untuk menolong rakyat dan cara yang paling tak kusukai ialah menjadi pembesar negara, karena kedudukan menjadi sekutu harta benda dan ke dua, hal ini suka meracuni pikiran membutakan mata batin. Terima kasih atas tawaranmu yang amat ramah ini, Khan yang mulia."
Malangi Khan mengerutkan keningnya.
"Kalau begitu apa maksudmu datang ke sini? Apakah kau datang dengan niat mengacau?"
Cin Hai menggeleng kepala.
"Tidak sama sekali. Kedatanganku ini tak lain hendak menjemput keponakanku, Kwee Cin yang sedang menjadi tamu di istanamu. Orang tuanya telah amat mengharapkan kembalinya, maka harap kau suka menyuruh dia keluar agar dapat pulang bersamaku, Malangi Khan."
Mendengar ucapan ini, Raja Mongol itu memandang tajam.
"Dan selain itu, apa lagi kehendakmu?"
"Aku mendengar bahwa seorang Turki bernama Bouw Hun Ti berada di tempat ini dan membantumu. Karena orang jahat itu telah melakukan pembunuhan terhadap ayah mertuaku, maka kuharap Khan yang mulia suka pula menyerahkan orang itu kepadaku untuk diadili!"
Malangi Khan mengangkat tangan kirinya dan pada saat itu juga pendengaran Cin Hai yang tajam dapat menangkap derap kaki ratusan orang yang mengurung ruangan itu! "Apa maksudnya ini, Malangi Khan?"
Tanya Pendekar Bodoh dan sepasang matanya yang lebar dan jujur itu kini bersinar-sinar dan bergerak-gerak, menunjukkan betapa cerdiknya otak yang berada di belakang mata itu.
Malangi Khan tertawa bergelak.
"Pendekar Bodoh, kau telah kuberi kesempatan untuk mendapatkan kedudukan setinggi-tingginya yang mungkin dicapai orang di negaraku, akan tetapi kau berani sekali menolak, bahkan menuntut dikembalikannya keponakanmu dan kau hendak menangkap seorang pembantuku pula."
Ucapan terakhir ini sesungguhnya bohong, karena biarpun tadinya Bouw Hun Ti juga membantu suhunya, Ban Sai Cinjin di benteng itu, akan tetapi belum lama ini Bouw Hun Ti telah melakuan perjalanan untuk mengumpulkan orang-orang yang kelak akan dimintai bantuan dalam menghadapi Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya di puncak Thai-san.
Maka sebenarnya Bouw Hun Ti bukan merupakan pembantunya pula.
Malangi Khan sengaja mengatakan demikian agar dapat mencari alasan yang berat untuk menyalahkan Pendekar Bodoh.
"Selanjutnya apa kehendakmu, Malangi Khan?"
Tanya Cin Hai, sedikit pun tidak merasa takut.
"Kau akan kutahan di sini dan takkan kulepaskan sebelum kaunyatakan suka menerima pengangkatan atau sebelum bala tentara Tiong-goan dapat kuhancurkan!"
Cin Hai tersenyum.
"Kalau aku melarikan diri?"
Malangi Khan juga tersenyum.
"Kau dikurung oleh ribuan orang tentara yang kuat! Dan pula, begitu kau memberontak, anak itu akan kupenggal lehernya!"
"Malangi Khan, kau benar-benar cerdik dan licik! Akan tetapi siapa percaya omonganmu? Kalau aku tidak melihat sendiri anak itu, aku takkan percaya bahwa anak itu masih belum kau bunuh!"
"Pendekar Bodoh, kaukira aku Malangi Khan pembunuh anak-anak tanpa alasan?"
"Siapa tahu watak seorang Raja Besar yang licik seperti kau?"
Cin Hai sengaja menghina sehingga Kaisar itu mendelikkan mata dan memberi perintah kepada penjaga untuk membawa datang Kwee Cin.
Teganglah seluruh urat dalam tubuh Cin Hai ketika ia mendengar perintah ini.
Ia mengambil keputusan untuk segera merampas Kwee Cin dan membawanya pergi dari situ.
Penjagaan ribuan orang tentara Mongol sama sekali tidak ditakutinya, karena sesungguhnya dengan kepandaiannya ia dapat membobolkan kepungan itu.
Pintu belakang terbuka dan muncullah Kwee Cin dan seorang anak Mongol yang berpakaian mewah.
Cin Hai dapat menduga bahwa ini tentu putera Raja Mongol itu.
"Kouw-thio (Paman)...!"
Kwee Cin berseru girang ketika ia melihat Cin Hai dan hendak berlari menghampiri, akan tetapi sekali sambar saja Malangi Khan telah menangkap lengan Kwee Cin yang ditariknya dekat.
Tangan kanan Malangi Khan telah menghunus pedangnya dan dengan gerakan mengancam ia memandang kepada Cin Hai.
Pendekar Bodoh merasa lega melihat bahwa Kwee Cin berada dalam keadaan selamat dan sehat, dan dapat diduga bahwa anak itu diperlakukan dengan baik di tempat itu.
"Paman Malangi, mengapa kau memegang tanganku?"
Kwee Cin bertanya sambil memandang heran kepada Raja itu, yang menjadi bukti bagi Pendekar Bodoh bahwa biasanya Raja ini bersikap baik terhadap Kwee Cin.
Akan tetapi melihat ancaman Malangi Khan, ia tak dapat berbuat sesuatu.
Ia tahu bahwa orang seperti Malangi Khan akan memegang teguh ancamannya dan kalau ia bergerak merampas Kwee Cin, tentu Raja itu akan mengerjakan pedangnya dan celakalah nasib keponakannya itu.
"Malangi Khan, jangan kau mengganggu keponakanku itu. Aku bersumpah takkan merampasnya dengan kekerasan."
Malangi Khan memandang heran, lalu melepaskan tangan Kwee Cin.
Bahkan ia lalu duduk bersandar dengan wajah lega.
Pendekar Bodoh merasa kagum sekali betapa Raja ini dapat melihat orang, dan sekali ia mengeluarkan ucapan dan janji Raja itu telah percaya penuh kepadanya!
Kalau saja ia mau mempergunakan kepandaiannya, pada saat itu ia dapat menyambar Kwee Cin, akan tetapi tentu saja Cin Hai tidak mau melanggar sumpahnya.
Sebetulnya sumpah tadi termasuk rencana dan siasatnya, karena biarpun kelihatan bodoh, Cin Hai sebetulnya cerdik sekali.
Ia tidak melihat harapan untuk mempergunakan kekerasan, maka sengaja ia bersumpah takkan merampas Kwee Cin dengan kekerasan.
Kini melihat Malangi Khan tidak mengancam lagi kepada Kwee Cin, tiba-tiba Cin Hai menubruk maju.
Malangi Khan terkejut sekali karena tak disangkanya Pendekar Bodoh mau melanggar sumpahnya.
Ia hendak membentak dan memaki, akan tetapi menahan suaranya ketika melihat bahwa Pendekar Bodoh tidak merampas Kwee Cin melainkan menangkap Putera Mahkota!
Tak seorang pun dapat mengikuti gerakan Pendekar Bodoh yang demikian cepatnya sehingga tahu-tahu Pangeran Kamangis, putera tunggal Malangi Khan, telah berada di dalam pondongan Pendekar Bodoh!
Dan sebelum orang dapat bergerak, Cin Hai sudah melompat keluar sambil berkata.
"Malangi Khan, kau harus kembalikan Kwee Cin baik-baik untuk ditukar dengan puteramu. Aku menanti di benteng Alkata-san!"
Para panglima dan penjaga serentak maju hendak mencegat Pendekar Bodoh, akan tetapi Malangi Khan berseru keras.
"Jangan ganggu dia, kalian anjing-anjing bodoh! Jangan serang dia!"
Raja ini takut kalau-kalau serangan anak buahnya akan mengenai tubuh puteranya, karena maklum akan kelihaian Pendekar Bodoh.
Demikianlah penuturan yang didengar dengan hati gemas dan mendongkol sekali oleh Ban Sai Cinjin ketika ia datang menghadap Malangi Khan.
"Dan sekarang bagaimana kehendak Khan yang mulia?"
Tanya Ban Sai Cinjin sambil mengepulkan asap huncwenya.
Kedudukan Ban Sai Cinjin sebagai sekutu boleh dibilang sejajar dengan Malangi Khan dan karena Raja Mongol ini pun maklum akan kelihaian Si Huncwe Maut, maka ia memberi kemerdekaan kepada Ban Sai Cinjin untuk bersikap sebagai seorang tamu agung.
"Sayang sekali dengan adanya seorang tokoh seperti kau, Pendekar Bodoh masih berani mengganggu tempat ini,"
Kata Raja itu dengan suara menyindir.
"Akan tetapi sudahlah, memang sukar mencari seorang yang cukup kuat untuk menghadapi seorang sakti seperti Pendekar Bodoh. Tidak ada lain jalan, terpaksa aku harus mengantarkan keponakan Pendekar Bodoh itu ke benteng Alkata-san untuk ditukar dengan puteraku."
"Harap Paduka berlaku hati-hati."
Ban Sai Cinjin memperingatkan.
"Siapa tahu kalau-kalau mereka sudah mengatur perangkap untuk mencelakakan Paduka. Biarlah saya saja yang membawa anak she Kwee itu untuk ditukarkan dengan putera Paduka."
Beberapa orang panglima membenarkan pendapat Ban Sai Cinjin ini.
Memang resikonya terlalu besar bagi maharaja itu untuk pergi sendiri melakukan penukaran tawanan, karena kalau Malangi Khan sampai tertawan musuh, berarti semua gerakan tentara Mongol akan kehilangan kepalanya.
Dan selain Ban Sai Cinjin yang berkepandaian tinggi, tidak ada yang lebih baik untuk melakukan penukaran tawanan penting ini.
"Kau harus berhati-hati dan perlakukan anak itu baik-baik, karena aku pun menghendaki puteraku diperlakukan dengan baik oleh mereka!"
Kata Malangi Khan.
Demikianlah, dengan amat sembrono sekali Malangi Khan mempercayakan penukaran tawanan itu ke dalam tangan Ban Sai Cinjin!
Kalau saja Raja ini sudah kenal betul watak Ban Sai Cinjin, tentu sama sekali ia takkan suka mempercayakan keselamatan putera tunggalnya ke dalam tangan Si Huncwe Maut ini!
Kwee Cin lalu dikeluarkan dari kamar di mana ia ditahan dan dijaga keras, kemudian Ban Sai Cinjin menjepit anak ini yang menjadi pucat sekali ketika melihat Ban Sai Cinjin.
Kwee Cin ingat bahwa kakek mewah inilah yang menculiknya dahulu, dan tadinya ia sudah merasa lega karena terlindung oleh Malangi Khan dan menjadi kawan bermain dari Putera Mahkota Mongol yang baik.
Akan tetapi sekarang ia diserahkan lagi kepada kakek berhuncwe yang ditakuti dan dibencinya itu, maka ia menjadi pucat dan ingin menangis.
Setelah berpamit kepada Malangi Khan, Ban Sai Cinjin lalu melangkah keluar dari istana itu.
Akan tetapi pada saat ia hendak mempergunakan kepandaiannya untuk berlari cepat, tiba-tiba dari luar benteng menyambar bayangan dua orang yang cepat sekali gerakannya.
Ketika dengan terkejut Ban Sai Cinjin memandang, alangkah herannya ketika melihat bahwa yang datang adalah Lie Siong, pemuda yang beberapa kali bertempur dengan dia itu, pemuda yang sudah berani mengacau di rumahnya dan membakar rumahnya di desa Tong-si-bun.
Akan tetapi, pemuda ini kini dipegang lengannya oleh seorang tua yang bongkok, yang jalannya terpincang-pincang dan kalau tidak berpegang pada lengan pemuda itu agaknya pasti akan roboh terguling!
"Suhu, inilah anak itu yang harus dirampas, dan ini pula orang jahat bernama Ban Sai Cin in Si Huncwe Maut!"
Kata pemuda itu kepada kakek bongkok terpincang-pincang yang berpegangan pada lengannya.
Kakek itu membuka-buka matanya yang agaknya sukar dibuka, lalu mengeluarkan suara seperti ringkik kuda, disambung dengan ketawanya yang lemah.
"heh-heh-heh, berikan kepadaku anak itu..."
Suaranya perlahan dan lambat seperti suara kakek-kakek yang sudah tua sekali, agak menggetar pula.
Biarpun sudah pernah merasai kelihaian Lie Siong, tentu saja Ban Sai Cinjin tidak takut sama sekali terhadap anak muda itu, karena selain kepandaiannya memang masih lebih unggul daripada Lie Siong, juga di tempat itu ia mempunyai banyak pembantu.
"Apakah kau datang mengantar kematian?"
Bentaknya kepada Lie Siong sambil menggerakkan huncwenya di tangan kanan dan dibarengi teriakan memberi tahu kawan-kawannya.
Sebetulnya teriakan ini tidak perlu karena para panglima Mongol, bahkan Malangi Khan sendiri sudah mendengar ribut-ribut dan sudah memburu keluar semua.
Lie Siong yang diserang dengan hebat oleh Ban Sai Cinjin tidak menangkis maupun mengelak.
Sebaliknya yang bergerak adalah kakek tua renta itu yang menggerakkan kedua tangannya sambil terkekeh-kekeh.
Biarpun kedua tangannya kurus tinggal kulit dan tulang dan gerakannya lambat sekali, namun Ban Sai Cinjin terkejut setengah mati.
Sekali sambar saja huncwe Ban Sai Cinjin itu telah kena direbut lalu dibalikkan dan kini huncwe itu menyodok ke arah perut Ban Sai Cinjin, dibarengi dengan tangan kiri ditamparkan ke arah kepala kakek mewah itu.
Angin pukulan dari kakek tua renta ini terasa oleh Ban Sai Cinjin bagaikan angin puyuh menyambar ke arahnya, maka tentu saja ia cepat-cepat mengelak, akan tetapi sebelum ia mengetahui bagaimana kakek ini bergerak, Kwee Cin yang berada di dalam pondongannya telah terbang dan pindah ke dalam pondongan kakek tua bangka itu!
"Tangkap...!
Keroyok...!!"
Ban Sai Cinjin memekik bingung melihat kelihaian kakek ini dan para panglima lalu maju mengurung, dipimpin sendiri oleh Malangi Khan yang merasa gelisah melihat betapa penukar puteranya itu telah dirampas orang.
Ban Sai Cinjin sendiri masih tertegun karena baru satu kali selama hidupnya ia menyaksikan orang yang tingkat kepandaiannya sama dengan kakek tua renta ini, yaitu Bu Pun Su yang sudah mati.
Tadinya ia mengira bahwa di dunia ini tidak ada orang lain yang memiliki kepandaian seperti Bu Pun Su, akan tetapi sekarang ia menghadapi kakek tua renta yang sudah mau mati saking tuanya ini, ia menjadi bingung dan terkejut.
Agaknya kepandaian kakek tua renta ini tidak berada di sebelah bawah kepandaian Empat Besar, yaitu Bu Pun Su, Hok Peng Taisu, Pok Pok Sianjin, dan Swi Kiat Siansu yang semuanya sudah meninggal dunia.
Bagi Ban Sai Cinjin, agaknya tidak ada tokoh besar dunia kang-ouw yang tidak diketahui atau dikenalnya, akan tetapi selama hidupnya belum pernah ia melihat atau mendengar tentang kakek yang aneh ini!
Adapun kakek itu biarpun dikurung oleh panglima-panglima yang bersenjata tajam, kelihatan enak-enak saja.
Ia mengisap huncwe rampasan itu yang masih ada tembakaunya mengepul, disedotnya beberapa kali sambil matanya berkedap-kedip dan memondong Kwee Cin yang memandang dengan ketakutan.
Sementara itu, karena para penglima sudah mulai menyerang, Lie Siong mencabut pedang naganya dan setelah ia menggerakkan pedangnya, terdengar suara nyaring dan beberapa batang golok atau tombak menjadi patah.
Akan tetapi kurungan tidak mengendur, bahkan makin merapat.
Kakek tua yang menyedot asap huncwe, nampak mengernyitkan hidungnya dan wajahnya menjadi makin buruk.
"Ah, huncwe tidak enak, tembakaunya apek berbau busuk!"
Katanya menyengir lalu ia menyodorkan huncwe itu kembali kepada Ban Sai Cinjin.
Si Huncwe Maut ini terbelalak matanya memandang penuh keheranan karena tadi ia melihat sendiri betapa kakek ini telah menyedot sedikitnya lima kali dan melihat nyala api di dalam huncwe, tentu banyak sekali asap yang tersedot.
Akan tetapi ia tidak melihat asap itu keluar lagi seakan-akan lima kali sedotan itu membuat asapnya tersimpan di dalam dada Si Kakek Aneh.
Padahal tembakau yang dipasangnya di dalam huncwenya adalah tembakau hitam yang beracun!
Oleh karena kaget dan heran, setelah menerima kembali huncwenya, ia hanya berdiri bengong.
Kakek itu memandang ke arah Lie Siong yang terdesak hebat, dan kini Malangi Khan sendiri lalu memimpin sebagian orangnya untuk menyerang kakek itu dan merampas kembali Kwee Cin.
Akan tetapi tiba-tiba kakek itu terkekeh-kekeh dan dari mulutnya menyambar keluar asap hitam bergulung-gulung seperti naga hitam yang jahat.
Inilah asap dari huncwe Ban Sai Cinjin yang tadi disimpan dengan kekuatan lwee-kang dan khi-kang luar biasa sekali dan kini dikeluarkan untuk menyerang para pengeroyok.
"Awas, mundur...! Asap itu berbahaya sekali...!"
Ban Sai Cinjin berteriak gagap, karena ia maklum akan berbahayanya asap huncwenya sendiri yang mengandung racun hebat.
Akan tetapi beberapa orang sudah tersambar oleh asap itu dan seketika menjadi roboh pingsan.
Yang lain-lain menjadi takut dan mundur.
Kakek itu mendekati Lie Siong.
"Muridku, hayo kita pergi!"
Baru saja ucapan ini habis dikeluarkan, tiba-tiba tubuhnya dan tubuh Lie Siong melayang cepat sekali ke atas genteng dan lenyap dari pandangan mata!
Kembali Ban Sai Cinjin terkejut.
Itu adalah ilmu gin-kang yang luar biasa sekali.
Bagaimana pemuda itu tiba-tiba saja telah memiliki kepandaian ini?
Melihat gerakan pedang pemuda tadi, masih tidak jauh bedanya dengan dulu.
Setelah berpikir sebentar, dapatlah ia menduga bahwa tentu pemuda itu dipegang lengannya oleh kakek yang sakti tadi dan dibawa melompat pergi.
Ketika ia memandang ke arah Malangi Khan, dari sepasang mata Raja Mongol ini terbayang maut yang ditujukan kepadanya, sehingga ia menjadi kaget.
Ia tahu bahwa Raja ini marah sekali kepadanya dan menganggap dia menjadi biang keladi sehingga Kwee Cin terampas orang.
"Biar hamba mengejar mereka!"
Seru Ban Sai Cinjin dan cepat ia pun melayang ke atas genteng dan melarikan diri!
Kakek mewah ini tahu bahwa dia tidak sanggup mengejar, dan alasannya ini hanya dipergunakan agar dapat melarikan diri dari situ.
Ia tahu bahwa setelah kini Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya datang dan berada di benteng Alkata-san, amat berbahaya baginya berada di tempat itu.
Ia lalu pergi cepat sekali dengan tujuan menyusul muridnya, Bouw Hun Ti, untuk mengumpulkan pembantu-pembantu yang pandai guna menghadapi Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya yang ditakuti.
*** Bagaimana Lie Siong bisa datang bersama kakek tua renta itu dan siapa pula kakek yang aneh itu?
Seperti telah diketahui, setelah Lie Siong bertemu dengan Lili dan Ma Hoa dan meninggalkan Lilani pada suku bangsanya sendiri yang kemudian diantar oleh Lili dan Ma Hoa ke benteng Alkata-san, Lie Siong lalu pergi seorang diri untuk mencari Ban Sai Cinjin guna membalas dendam ayahnya dan juga untuk mencoba menolong Kwee Cin yang diculik oleh kakek mewah berhuncwe maut itu.
Ia telah mendengar bahwa Ban Sai Cinjin membantu bala tentara Mongol, maka ia lalu melakukan penyelidikan di sekitar daerah pegunungan yang dijadikan markas besar bala tentara Mongol.
Tentu saja dia tidak berani memasuki perbentengan itu karena tahu bahwa perbuatan ini hanya berarti mengantar nyawa saja.
Di dalam benteng itu selain terdapat puluhan ribu, bahkan mungkin ratusan ribu tentara Mongol juga terdapat banyak panglima-panglima kosen dan orang-orang gagah seperti Ban Sai Cinjin dan lain-lain.
Demikianlah ia hanya bersembunyi saja sambil menanti-nanti kalau-kalau ada kesempatan baik.
Banyak akal terpikirkan dalam otaknya.
Ia dapat menangkap seorang perajurit Mongol dan kemudian menyamar sebagai perajurit itu memasuki benteng.
Atau ia bisa menanti sampai Ban Sai Cinjin keluar untuk diserang dengan tiba-tiba atau menyelidiki di mana ditahannya Kwee Cin untuk kemudian coba dirampasnya.
Ketika ia sedang berjalan di dalam hutan di kaki bukit itu, tiba-tiba ia mendengar suara orang tertawa-tawa.
Suara ketawa ini seperti suara ketawa anak kecil yang sedang bermain-main dengan riang gembira.
Heran dan kagetlah Lie Siong mendengar suara ini.
Bagaimana di dalam hutan seperti ini, dekat perbentengan tentara Mongol dan di daerah pertempuran, bisa terdengar suara ketawa anak-anak yang bermain-main?
Ia segera mencari siapa yang ketawa itu dan ketika ia keluar dari belakang sebatang pohon besar, ia berdiri terpukau saking herannya.
Di bawah pohon itu nampak seorang kakek yang kurus kering dan bongkok, kulit mukanya keriputan sehingga sukar sekali dibedakan mana hidung mana mulut, seorang kakek ompong yang tak berdaging lagi, tengah bermain-main seorang diri sambil berjongkok di atas tanah!
Ketika Lie Siong memandang penuh perhatian, ternyata bahwa kakek tua renta ini sedang bermain gundu seorang diri dan tiap kali ia menyentil gundunya mengenai gundu yang lain, ia tertawa-tawa puas seperti seorang anak kecil!
Hampir saja Lie Siong tak dapat menahan kegelian hatinya ketika melihat kakek yang saking tuanya telah kembali menjadi kekanak-kanakan ini!
Akan tetapi ketika ia memandang cara kakek itu bermain gundu, kegeliannya lenyap dan jangankan menertawakannya, bahkan kini sepasang mata pemuda itu menjadi terbelalak.
Ternyata bahwa cara kakek itu bermain gundu amat istimewa sekali.
Gundunya terbuat dari tanah liat dikeringkan, jumlahnya sepuluh butir.
Yang hebat ialah tiap kali kakek itu menyentil "jagonya", maka gundunya itu akan meluncur berlenggak-lenggok, kemudian dengan tepat sekali lalu membentur sembilan butir gundu itu satu demi satu, seakan-akan jagonya itu hidup dan memiliki mata yang dapat mencari-cari sembilan lawannya!
Tentu saja Lie Siong mengerti bahwa hal ini baru mungkin dilakukan kalau orang memiliki tenaga lwee-kang yang sempurna.
Dia sendiri paling banyak bisa menyentil gundu untuk membentur tiga atau empat gundu lain sebelum berhenti, akan tetapi kakek ini biarpun gundu jagonya telah membentur sembilan gundu lain masih saja gundu jagonya itu dapat berputar kembali ke tangannya yang sudah siap menanti.
Dan juga gundu-gundu yang terbentur itu terlempar pada jarak tertentu sehingga sembilan butir gundu itu membentuk suatu garis-garis perbintangan yang luar biasa sekali!
"Hebat..."
Bisiknya di dalam hati dan saking kagumnya bibirnya ikut bergerak. Tanpa menoleh kepadanya, kakek tua renta itu lalu berkata.
"Hayo, sekarang giliranmu, orang muda. Kaubidikkan gundumu!"
Ketika Lie Siong diam saja, kakek itu menengok ke arahnya dan kagetlah pemuda itu ketika melihat sepasang mata bagaikan mata harimau menyambarnya.
"Aku... aku tidak punya gundu,"
Jawabnya gagap. Kakek itu tertawa terkekeh-kekeh.
"Ha-ha-ha, aku lupa! Kau masih bodoh bermain gundu, tentu saia gundumu habis, kalah semua olehku. Nah, ini, kuberi hadiah sebuah gundu agar kau dapat ikut bermain-main."
Tangan kiri kakek itu mencengkeram ke arah batu karang hitam yang berdiri di sebelah kirinya. Terdengar suara "krak"
Dan gempallah sepotong batu karang!
Kemudian, seakanakan batu karang itu hanya sepotong tahu saja kakek itu lalu mencuwil-cuwilnya dan membentuk sebutir gundu yang bundar dan halus dalam sekejab mata.
Dengan hati berdebar kagum, Lie Siong menerima gundu istimewa itu dan ketika ia menekan, gundu itu memang benar terbuat dari batu karang yang luar biasa kerasnya, akan tetapi yang diperlakukan seperti tanah liat basah oleh kakek luar biasa ini.
"Hayo, bidiklah!"
Kakek itu berseru girang.
Lie Siong terpaksa lalu berjongkok dan melayani kakek ini bermain gundu!
Ia membidikkan gundunya sambil berpikir.
Gundu yang diberikan kepadanya dan menjadi gundu jagonya adalah terbuat dari batu karang yang keras dan lebih berat daripada gundu-gundu yang berada di atas tanah, karena semua gundu itu terbuat dari tanah liat yang kering.
Mana bisa gundunya yang berat itu akan membentur gundu lain ke dua, ke tiga dan seterusnya?
Paling-paling yang akan terpental adalah gundu yang dibentur oleh gundu jagonya!
Setelah berpikir sebentar, Lie Siong lalu membidik dan melepaskan gundunya dengan keras.
Gundunya menendang gundu terdekat yang mencelat dan membentur gundu ke dua yang sebaliknya terpentat pula membentur yang ke tiga.
Demikianlah, dengan pengerahan tenaga yang besar dan tepat, Lie Siong berhasil membuat gundu-gundu itu saling bentur sampal gundu ke lima, akan tetapi sampai kepada gundu ke lima, tenaga benturan telah habis dan mogok di jalan.
"Kau licik...!"
Kakek itu bersungut.
"Gundu jagomu diam saja, yang membentur adalah gundu sasaran! Tidak boleh begitu!"
"Tentu saja, karena gundu jagoku lebih berat dan keras sedangkan gundu-gundu sasaran ringan sekali!"
Lie Siong membantah dan mereka ini benar-benar seperti dua orang anak-anak yang sedang bersitegang dalam permainan mereka.
"Siapa bilang gundu jagomu keras dan berat? Coba lihat sekarang hendak kubidik gundumu, lihat saja mana yang lebih keras!"
Sambil berkata demikian, kakek itu mempergunakan gundu jagonya yang kecil dan terbuat dari tanah liat yang dikeringkan untuk disentil dan membentur gundu jago Lie Siong yang terbuat dari batu karang.
"Prak!!"
Kalau dibicarakan memang sungguh aneh dan mengherankan, bahkan Lie Siong yang sudah mahir dalam ilmu lwee-kang dan tahu akan kemujijatannya tenaga lwee-kang, masih terbelalak memandang karena belum pernah ia menyaksikan demonstrasi tenaga lweekang yang demikian hebatnya.
Begitu dua butir kelereng atau gundu itu beradu, gundu jagonya yang terbuat dari batu karang itu telah hancur berhamburan, sedangkan gundu kakek itu yang terbuat dari tanah liat kering, sama sekali tidak apa-apa, gugus sedikit pun tidak!
Lie Siong adalah seorang pemuda yang amat cerdik.
Melihat sikap kakek ini dan menyaksikan kehebatan tenaga lwee-kangnya, ia dapat menduga bahwa kakek ini tentulah seorang sakti yang telah menjadi pikun atau berubah menjadi anak-anak saking tuanya, atau mungkin juga berubah pikirannya.
Kalau saja betul kakek ini seorang luar biasa yang telah dilupakan orang, alangkah baiknya kalau ia menjadi muridnya!
Maka ia lalu ingin mencoba apakah dalam hal ilmu silat, kakek ini juga lihai.
Ia berpura-pura marah dan membentak.
"Kau merusak gunduku! Kau menghancurkan gunduku!"
Sambil berkata demikian Lie Siong maju menampar pundak kakek itu.
Kelihatannya kakek itu tidak mengelak, akan tetapi sedikit saja ia menggerakkan pundak, tamparan Lie Siong meleset!
"Kau yang licik, kalah pandal main gundu, mengapa penasaran?
Gundumu pecah bukan karena salahku, salah gundumu mengapa pecah dan mudah hancur, ha-ha-ha!"
Kakek itu kelihatan senang sekali karena tidak saja ia menang bermain gundu, juga gundu lawannya menjadi pecah! "Kau harus dipukul!"
Seru Lie Siong pula dan cepat ia mengirim pukulan yang lebih kuat dan cepat ke arah pundak orang.
Sekali lagi pukulan ini melesat.
Lie Siong mulai penasaran dan ketika sekarang kakek itu berdiri dengan tubuhnya yang bongkok, ia lalu menyerang dengan Ilmu Pukulan Sian-li Utauw (Tari Bidadari) yang kelihatan lembek akan tetapi mengandung tenaga lwee-kang dan gerakannya indah dan cepat.
Kembali ia tercengang, karena kakek itu sambil tertawa haha-hehe selalu dapat menggerakkan tubuh menghindari pukulannya dan mulutnya tiada hentinya berkata mengejek.
"Kalah main gundu kok mengamuk, sungguh anak yang licik sekali kau ini!"
Yang membuat Lie Siong merasa amat penasaran sekali adalah sikap kakek itu yang seakanakan tidak memandang sedikitpun juga kepada ilmu silatnya Sianli Utauw, buktinya kakek itu tidak memandang kepadanya, bahkan sambil mengelak ia lalu mengambil gundu-gundu itu sebutir demi sebutir dan dimasukkan ke dalam kantongnya.
Biarpun matanya ditujukan kepadai gundu, namun tetap saja setiap pukulan Lie Siong dapat dihindarkan dengan amat mudah.
"Sudahlah, main gundunya tidak becus, mana mau main pukul? Anak nakal dan licik, lebih baik kau pulang belajar lagi main gundu yang betul!"
Kata kakek itu dan sekali saja ia mengangkat tangan menangkis pukulan Lie Siong, pemuda ini terlempar sampai dua tombak lebih dan merasa betapa tangannya sakit sekali.
Namun Lie Siong masih belum merasa puas.
Ia maju lagi dan kini setelah ia menggerak-gerakkan kedua tangannya, dari tangan dan lengannya mengebul uap tipis putih.
Inilah limu Silat Pek-in-hoatsut yang ia pelajari dari ibunya, ilmu pukulan yang amat lihai dari sucouwnya, yaitu Bu Pun Su!
Kakek itu nampaknya tertegun melihat ilmu pukulan ini, dan berdiri bengong.
Tangan kanannya memijit-mijit pelipis kepalanya seakan-akan ia mengumpulkan ingatan untuk mengingat kembali ilmu silat yang ia lihat dimainkan oleh anak muda ini.
"Apakah Bu Pun Su hidup lagi?"
Demikian terdengar ia bertanya kepada diri sendiri.
Lie Siong yang mendengar ini menjadi terkejut, akan tetapi ia juga merasa bangga karena agaknya kakek ini mengenal ilmu silatnya dan takut menghadapinya!
Maka ia lalu menerjang lagi dengan ilmu pukulan Pek-in-hoatsut.
Akan tetapi alangkah heran dan terkejutnya ketika ia melihat kakek itu pun bergerak dan mengebullah uap putih yang tebal dari kedua lengannya.
Lie Siong maklum bahwa kakek ini pun mahir Pek-in-hoatsut, bahkan tenaganya jauh lebih besar daripada tenaganya sendiri.
Akan tetapi ia sudah kepalang dan memang ingin menguji sampai puas betul.
Ia menyerang hebat dan begitu kakek itu mengangkat tangannya, Lie Siong berseru keras karena tubuhnya mencelat ke atas sampai tiga tombak lebih!
Baiknya kakek itu tidak bermaksud jahat sehingga ia terlempar saja tanpa menderita luka dan dapat turun kembali dengan kedua kaki menginjak tanah.
"Ha-ha, main gundu kalah, main pukulan juga keok!"
Kakek itu mengejek seperti seorang anak kecil mengejek lawannya. Kini Lie Siong tidak ragu-ragu lagi dan serta merta ia menjatuhkan diri berlutut di depan kakek aneh itu.
"Suhu yang mulia, mohon Suhu memberi petunjuk kepada teecu yang bodoh!"
Untuk beberapa lama, kakek itu diam saja, kemudian ia terbahak-bahak, seakan-akan merasa amat lucu.
"Kau minta belajar apa dari padaku? Aku hanya pandai bermain gundu. Maukah kau belajar main gundu?"
"Segala nasihat dan pelajaran dari Suhu, tentu akan teecu terima dan perhatikan dengan sungguh-sungguh."
"Bagus, aku akan mengajarmu bermain gundu sehingga kau akan menjadi jago gundu yang paling istimewa."
Kakek yang pikun itu lalu mulai memberi pelajaran bermain gundu atau kelereng kepada Lie Siong!
Akan tetapi sebagai seorang ahli silat tinggi, Lie Siong mengerti bahwa permainan gundu ini bukanlah sembarang permainan.
Sentilan pada gundu itu merupakan gerakan melepas am-gi (senjata rahasia) yang hebat sekali, digerakkan oleh tenaga lwee-kang yang tinggi.
Oleh karena itu, mempelajari menyentil gundu seperti yang diajarkan oleh kakek ini, sama halnya dengan mempertinggi tenaga lwee-kang dan kepandaian melepas am-gi.
Oleh karena itu, ia memperhatikan dengan seksama ajaran-ajaran gurunya yang diberikan sambil bermain-main ini.
Akan tetapi kakek ini ternyata telah menjadi pikun benar-benar sehingga namanys sendiri pun ia tidak tahu lagi!
Juga ia mengerti ilmu-ilmu silat tinggi akan tetapi tidak tahu lagi namanya ilmu-ilmu silat itu sungguhpun ia masih dapat menggerakkannya dengan amat sempurna.
Lie Song menjadi girang sekali dan sedikit demi sedikit suhunya mulai memperlihatkan ilmu-ilmu silat yang belum pernah dilihat sebelumnya.
Kemudian pemuda ini teringat akan Kwee Cin yang diculik oleh Ban Sai Cinjin, maka ia lalu berkata kepada suhunya beberapa hari kemudian.
"Suhu, ada seorang anak kecil she Kwee diculik oleh orang jahat yang bernama Ban Sai Cinjin. Anak itu berada di dalam benteng orang-orang Mongol dan teecu tidak dapat menolongnya. Sukakah Suhu menolong anak itu? Kasihan, Suhu, kalau tidak ditolong nyawa anak itu terancam bahaya."
Lie Song dalam beberapa hari berkumpul dengan suhunya, tahu bahwa kakek ini paling suka kepada anak kecil, maka sengaja menceritakan keadaan Kwee Cin dan menyebutnya anak kecil pula.
"Hmm, apakah dia kawanmu bermain?"
Lie Siong hanya menganggukkan kepalanya dan mendesak supaya suhunya suka menolong anak kecil itu dan membantunya menangkap atau membunuh musuh besarnya yang bernama Ban Sai Cinjin yang juga menculik anak kecil ltu.
"Apakah kaukira aku tukang bunuh orang?"
Tiba-tiba kakek itu berkata dengan muka murka dan marah.
Sampai lama dia diam saja tidak mau bicara dengan Lie Siong, bahkan tidak mau mengajak pemuda itu bermain-main.
Lie Siong terkejut dan tahu bahwa suhunya marah dan "ngambul", merajuk seperti anak kecil yang tersinggung hatinya.
Maka ia tidak berani bicara tentang pembunuhan.
Pada sore harinya barulah gurunya mau mengajaknya bermain-main lagi dan kembali Lie Siong membujuknya untuk menolong Kwee Cin.
Akhirnya kakek itu mau juga dan setelah mereka hendak berangkat, dengan berpegang pada lengan Lie Siong, kakek itu berjalan terpincang-pincang keluar dari hutan dan mendaki bukit di mana terdapat perbentengan orang Mongol itu.
Alangkah girangnya hati Lie Siong ketika mendapat kenyataan bahwa biarpun berpegang kepada lengannya, gurunya ini bukan merupakan beban, bahkan sebaliknya.
Ia seakan-akan didorong oleh tenaga yang hebat sekali dan ketika ia menggerakkan kedua kaki menggunakan ilmu lari cepatnya, ia dapat berlari jauh lebih cepat daripada kalau ia berlari sendiri!
Juga ketika ia melompati jurang, ia merasa tubuhnya ringan sekali.
Ia tahu bahwa tanpa disengaja, gurunya telah mengeluarkan kelihaiannya dan tentu saja ia menjadi amat girang dan kagum sekali.
Demikianlah, dengan amat mudahnya Lie Siong membawa suhunya memasuki istana Malangi Khan dan berhasil merampas Kwee Cin.
Ia makin girang sekali menyaksikan kelihaian suhunya yang benar-benar di luar persangkaannya itu.
Ia kini makin kenal baik keadaan suhunya dan tahu bahwa suhunya adalah seorang kakek yang sudah amat tua, terlalu tua sehingga berubah seperti kanak-kanak, berkepandaian yang luar biasa tingginya, tidak suka membunuh, dan paling senang bermain gundu.
Dari istana Malangi Khan, ia langsung membawa suhunya dan Kwee Cin ke benteng tentara kerajaan di Pegunungan Alkata-san.
Memang Lie Siong bermaksud untuk mengembalikan Kwee Cin kepada orang tuanya di benteng Alkata-san, kemudian menghilang dengan suhunya dari orang banyak untuk mempelajari ilmu silat yang tinggi.
Ia ingin belajar sampai dapat mengimbangi atau melebihi kepandaian Lili, Hong Beng, Goat Lan, atau kepandaian Pendekar Bodoh sekalipun!
*** Kedatangan Cin Hai, Kwee An, Hong Beng, dan Goat Lan di benteng Alkata-san disambut dengan girang oleh semua orang.
Ma Hoa menjadi cemas ketika melihat bahwa puteranya tidak berada di antara mereka, sebaliknya Pendekar Bodoh bahkan membawa seorang anak laki-laki bangsa Mongol yang berwajah tampan dan berpakaian indah.
Akan tetapi ketika ia mendengar bahwa anak ini adalah putera Malangi Khan yang sengaja diculik untuk kelak ditukarkan dengan Kwee Cin, Ma Hoa menjadi girang dan penuh harapan.
Tentu saja ia merawat Pangeran Kamangis dengan baik, karena ia pun menghendaki agar supaya puteranya diperlakukan dengan baik oleh ayah anak ini.
Pada hari itu juga, datang rombongan Tiong Kun Tojin dan Sin-houw-enghiong Kam Wi, dua orang tokoh besar Kun-lun-san itu yang membawa kawan-kawannya untuk membantu perjuangan negara menghadapi orang-orang Mongol.
Diantara rombongan ini terdapat pula Ceng To Tosu dan Ceng Tek Hwesio, Si Cengeng dan Si Gendut yang sudah kita kenal itu.
Kemudian kelihatan pula Hailun Thai-lek Sam-kui, tiga orang kakek aneh yang suka berkelahi, dan masih ada beberapa belas orang gagah dari dunia kang-ouw lagi.
Sungguh amat menarik hati kalau dilihat sikap orang-orang gagah ini ketika bertemu dengan Pendekar Bodoh.
Rata-rata menyatakan hormatnya terhadap Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya yang sudah tersohor.
Yang amat menggembirakan adalah Sikap Ceng To Tosu dan Ceng Tek Hwesio.
Dua orang pendeta bersaudara ini ketika melihat Cin Hai dan Lin Ling segera berlari menghampiri.
Ceng Tek Hwesio tertawa-tawa sampai perutnya yang besar itu bergerak gerak sedangkan Ceng To Tosu meweknya makin menyedihkan.
Cin Hai juga amat gembira bertemu dengan mereka sehingga Pendekar Bodoh menowel-nowel perut Ceng Tek Hwesio sambil berkelakar.
"Aduh, biar mati pun aku tidak penasaran lagi setelah bertemu dengan kalian suami isteri!"
Kata Ceng Tek Hwesio kepada Cin Hai dan Lin Lin.
Akan tetapi yang paling aneh dan mengesankan adalah sikap dari Hailun Thai-lek Sam-kui, karena tiga orang iblis ini sudah lama sekali mendengar nama besar dari Pendekar Bodoh dan ingin sekali menguji kepandaiannya.
Apalagi mereka sudah pernah mencoba kelihaian Goat Lan puteri Kwee An dan juga Lili puteri Pendekar Bodoh, maka begitu berhadapan dan saling diperkenalkan oleh Kam Liong sebagai tuan rumah, tiga orang kakek aneh ini lalu meloloskan senjata masing-masing!
Thian-he Te-it Siansu si kate menggerak-gerakkan payungnya, Lak Mouw Couwsu si hwesio gemuk itu menarik keluar rantai besarnya, sedangkan Bouw Ki si tinggi kurus mengeluarkan tongkatnya dan Thian-he Te-it Siansu berkata.
"Pendekar Bodoh, sungguh kebetulan sekali! Tanpa disengaja kita telah saling bertemu di tempat ini, hal yang sudah seringkali kami impikan. Hayolah kauperlihatkan kelihaianmu dan mari kita main-main sebentar agar puas hati kami bertiga!"
Tentu saja Cin Hai menjadi tertegun melihat sikap mereka ini dan untuk sesaat tidak mampu menjawab!
Bagaimanakah ada orang-orang yang baru saja dikenalkan lalu menantang berpibu (mengadu kepandaian)?
Akan tetapi hal ini telah membuat Tiong Kun Tojin menjadi merah mukanya.
Ia melangkah maju dan menjura kepada Cin Hai.
"Sie Tai-hiap, harap suka memaafkan Hailun Thai-lek Sam-kui yang suka main-main."
Kemudian ia berkata kepada tiga orang aneh itu.
"Sam-wi sungguh-sungguh tidak memandang kepadaku! Pinto yang menjadi kepala rombongan ini, apakah sengaja Sam-wi datang-datang hendak membikin malu kepada pinto?"
Suara Tiong Kun Tojin terdengar tandas sekali, memang tosu ini amat berdisiplin dan memegang teguh aturan, juga berwatak keras.
Thian-he Te-it Siansu bergelak mendengar dan melihat sikap tokoh Kun-lun-san ini.
"Ah, Tiong Kun Totiang mengapa begitu galak? Apa sih buruknya menambah pengetahuan ilmu silat selagi bertemu dengan orang gagah? Kesenangan kita satu-satunya hanya ilmu silat, kalau sekarang tidak bergembira mau tunggu kapan lagi?"
"Bicaramu memang benar, Siansu. Akan tetapi pibu harus dilakukan dengan aturan, pada waktu dan tempat yang tepat, tidak sembarangan seperti kau ini! Kita datang di sini bukan untuk main-main, melainkan untuk berjuang. Sie Taihiap adalah seorang pendekar gagah yang datang juga untuk membantu mengusir orang-orang Mongol, apakah datang-datang kau mau menimbulkan kekacauan? Berlakulah sabar, kalau semua urusan yang besar telah selesai, kau mau mengajak pibu siapapun juga, pinto takkan ambil peduli."
Thian-he Te-it Siansu memandang kepada dua orang adiknya, lalu menghela napas berulang-ulang dan kemudian sambil tertawa ia berkata kepada Pendekar Bodoh.
"Pendekar Bodoh, kalau begitu terpaksa kita harus menanti sampai nanti di puncak Thai-san nanti tahun depan pada musim chun (musim semi)."
"Sam-wi Lo-enghiong (Tiga Orang Tua Gagah), siauwte adalah seorang yang bodoh, maka tentu saja kalau ada yang hendak memberi petunjuk siauwte akan merasa berterima kasih sekali,"
Jawab Cin Hai dengan merendah, dan ternyata bahwa pendekar besar ini telah dapat menekan kemarahannya melihat sikap tiga orang tua ini.
Kam Wi yang mendengar bahwa keponakannya, yaitu Kam-ciangkun atau Kam Liong masih belum menyerang musuh dan menanti sampai lima hari, dan mendengar pula tentang usaha Pendekar Bodoh yang berusaha merampas kembali Kwee Cin dan kini berhasil menawan putera Malangi Khan, lalu berkata sambil mengerutkan kening.
"Tidak baik, tidak baik! Dengan penundaan serangan kedudukan lawan akan menjadi makin kuat dan orang-orang Mongol akan menyangka bahwa kita takut!"
Tokoh Kun-lun-san yang berwatak keras ini berkata dengan sikap seolah-olah ia seorang penglima perang yang ulung.
Hal ini tidak mengherankan oleh karena semua orang juga tahu bahwa dia adalah adik dari Panglima Besar Kam Hong Sin.
"Lebih baik pukul hancur perkemahan Malangi Khan kalau sudah dekat dengan mereka dan memukul hancur pasukannya, akhirnya kita akan dapat membebaskan putera Kwee Tai-hiap juga. Sekarang kebetulan sekali putera dari Malangi Khan telah berada di tangan kita, kita pergunakan untuk mengancamnya. Apabila dia tidak mau menyerah dengan damai, besok aku akan membawa kepala puteranya di ujung tombak di luar dari bentengnya!"
Pendekar Bodoh, Kwee An, Ma Hoa dan Lin Lin mengerutkan kening, dan mereka ini merasa tak setuju sama sekali atas usul orang kasar ini.
Akan tetapi, dipandang darl sudut siasat kemiliteran, memang usul ini tidak buruk, maka Kam Liong biarpun menduduki pucuk pimpinan, tidak berani berkata sesuatu, hanya memandang kepada orang-orang tua yang ia hormati itu dengan mata penuh pertanyaan.
Cin Hai lalu menghadapi Kam Wi dan setelah menjura, ia berkata.
"Memang apa yang dikatakan oleh Kam-enghiong betul sekali, akan tetapi mengingat akan keselamatan keponakanku, aku dan saudara-saudaraku mengharapkan pengertian Kam-ciangkun agar supaya penyerbuan itu ditunda dua hari lagi. Aku percaya bahwa Malangi Khan takkan membiarkan puteranya terlalu lama menjadi tawanan dan akan menyerahkan Kwee Cin untuk ditukar dengan puteranya. Setelah itu, barulah tentang penyerbuan kita rundingkan lagi."
Alis mata Kam Wi yang tebal itu dikerutkan, kemudian ia mengangguk-angguk dan berkata.
"Kalau saya tidak mengingat bahwa Sie Tai-hiap adalah calon besan dan calon mertua Kam Liong, tentu Kam Liong akan merasa keberatan melakukan penundaan-penundaan ini. Akan tetapi biarlah, biar kita menanti sampai dua hari lagi..."
"Kam-enghiong, urusan perjodohan itu belum diputuskan, harap kau suka bersabar setelah urusan ini selesai dan kita kembali ke pedalaman, barulah akan kita pertimbangkan lagi,"
Kata Cin Hai tak senang. Kam Wi tersenyum.
"Aku tidak melihat lain halangan lagi, maka aku sudah berani memastikan, bukan begitu, Kam Liong?"
Kam-ciangkun hanya menundukkan mukanya yang menjadi amat merah akan tetapi ia tidak berani melayani pamannya yang kasar ini.
Dan pada malam hari itu, Kam Liong menjamu para orang gagah itu dengan pesta makan yang cukup besar dan meriah.
Di tengah-tengah benteng itu, dalam ruangan yang lebar, dipasang meja-meja besar dan semua orang duduk mengelilingi beberapa buah meja dan makan minum dengan gembira.
Sebagai seorang panglima perang yang berhati-hati, di waktu berpesta malam itu, Kam Liong sengaja memesan dengan keras kepada para perwiranya agar supaya penjagaan di luar benteng diperkuat, takut kalau-kalau ada sesuatu yang tidak diingini terjadi.
Akan tetapi, tetap saja terjadi hal yang luar biasa dan di dalam benteng itu masuk tiga orang tanpa ada seorang pun penjaga yang mengetahuinya!
Tahu-tahu tiga bayangan orang itu telah berada di atas genteng ruang pesta itu.
Dan orang pertama yang dapat mendengar suara kaki mereka adalah Pendekar Bodoh.
Pada saat itu, Cin Hai yang duduk menghadapi meja bersama Lin Lin, Kwee An, Ma Hoa, Lo Sian, Lilani, Hong Beng, Goat Lan dan Kam Liong sendiri tiba-tiba menaruh sumpitnya di atas meja dan berkata dengan suaranya yang keras karena dikeluarkan dengan pengerahan tenaga khi-kang.
"Ji-wi (Tuan Berdua) yang berada di atas, silakan turun saja kalau hendak bicara!"
Tentu saja semua orang yang berada di dalam ruangan itu menjadi heran dan terkejut.
Rata-rata mereka memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi, akan tetapi mereka tadi tidak mendengar sesuatu.
Kini semua orang berdiam dan memasang telinga, benar saja terdengar suara kaki dua orang di atas genteng.
Setelah teguran Pendekar Bodoh lenyap, terdengarlah jawaban dari atas genteng.
"Sie Tai-hiap, yang datang hanyalah siauwte untuk mengantarkan Adik Kwee Cin!"
"Lie Tai-hiap...!"
Seru Lilani yang segera mengenal suara Lie Siong. Ma Hoa, Kwee An, Lin Lin, dan Pendekar Bodoh segera berdiri.
"Siong-ji (Anak Siong), lekas bawa Cin-ji (Anak Cin) turun!"
Seru Ma Hoa.
Akan tetapi biarpun berkata demikian, ia sudah melompat keluar diikuti oleh suaminya dan juga oleh Cin Hai dan Lin Lin.
Juga Hong Beng dan Goat Lan segera menyusul.
Enam bayangan orang yang amat gesit gerakannya melompat ke atas genteng.
Benar saja di atas genteng itu mereka melihat Lie Siong bersama Kwee Cin.
Anak kecil itu ketika melihat bundanya segera bergerak menubruk dan Ma Hoa memeluk Kwee Cin dengan mata membasahi pipinya.
"Terima kasih... terima kasih, Siong-ji..."
Kata Ma Hoa sambil memandang ke arah Lie Siong dengan mata bersyukur "Bukan akulah yang telah menyelamatkan Adik Cin, Ie-ie (Bibi),"
Kata Lie Siong merendah.
"Ibu, yang menolongku adalah En Siong dan suhunya, kakek pincang yang bisa terbang itu!"
Tiba-tiba Kwee berkata sehingga semua orang terheran dan terkejut mendengarnya.
"Lie Siong, mengapa kau tidak mengajak suhumu ke sini?"
"Dia sudah berada di sini!"
Tiba-tiba Kwee Cin berkata pula.
"Tadipun dia yang mengantar kami ke sini, entah sekarang ke mana dia pergi!"
Kembali semua orang merasa terheran, lebih-lebih Cin Hai.
Dia tadi hanya mendengar suara kaki dua orang, yang ternyata adalah injakan kaki pada genteng dari Lie Siong dan Kwee Cin.
Kalau benar ada tiga orang, mengapa ia tidak mendengar suara kaki yang seorang lagi?
"Siong-ji, manakah gurumu itu?
Biar kami bertemu dengan dia dan menghaturkan terima kasih serta belajar kenal,"
Kata Lin Lin kepada pemuda yang tampan dan yang berdiri dengan muka tunduk itu.
"Dia... dia tidak suka bertemu dengan lain orang. Maafkan siauwte... maafkan karena aku tidak dapat lama-lama tinggal di sini."
Ia menengok ke belakang dan berkata.
"Suhu, marilah kita pergi."
Terdengar suara terkekeh dan tiba-tiba berkelebat bayangan yang cepat bagaikan setan ke arah Lie Siong dan tahu-tahu pemuda itu berkelebat dan lenyap di malam gelap!
Cin Hai, Lin Lin, Kwee An, dan Ma Hoa telah memiliki ilmu kepandaian yang hampir sempurna, apalagi Cin Hai, maka biarpun gerakan kakek aneh itu cepat sekali, mereka masih saja melihat wajah dan bentuk tubuh kakek itu dan mereka berempat saling pandang.
Sedangkan Hong Beng dan Goat Lan, karena mereka dapat mengetahui bahwa ilmu gin-kang dari kakek itu masih lebih hebat daripada kepandaian kedua orang tua mereka, hal ini membikin sepasang anak muda ini penasaran sekali.
Bagi mereka, orang-orang tua mereka memiliki kepandaian yang paling tinggi diantara orang-orang kang-ouw!
"Siapakah dia...?"
Pendekar Bodoh mengerutkan kening dan mengingat-ingat. Juga Kwee An dan Ma Hoa belum pernah melihat orang itu.
"Kepandaiannya mengingatkan kepada suhu Bu Pun Su,"
Kata Lin Lin.
Tiba-tiba Cin Hai menepuk jidatnya.
Ucapan isterinya ini mengingatkan dia akan sesuatu.
Pernah dahulu Bu Pun Su gurunya menyebut-nyebut tentang seorang yang bernama The Kun Beng yang pernah menjadi sahabat baik gurunya.
Menurut gurunya, orang ini memiliki kepandaian yang tidak berada di sebelah bawah kepandaian Bu Pun Su sendiri, yaitu ketika keduanya masih muda.
"Hmm, siapa lagi yang dapat memiliki kepandaian setingkat dengan Empat Besar selain dia?"
Pikir Pendekar Bodoh.
Ia tidak berkata sesuatu kepada orang lain karena hanya menduga-duga, akan tetapi diam-diam ia merasa girang bahwa putera Ang I Niocu bertemu dengan seorang guru yang demikian lihainya.
Dengan wajah girang semua orang lalu membawa Kwee Cin turun ke ruang pesta, di mana Kwee Cin disambut dengan ucapan selamat dari semua orang yang hadir.
Tiba-tiba terdengar suara girang "Kwee Cin...?"
Anak ini menengok dengan wajah berseri, lalu berseru.
"Kamangis!!"
Keduanya lalu berlari saling menghampiri dan saling berpegang lengan dengan wajah girang sekali.
"Kamangis, kau sudah berada di sini?"
Tanya Kwee Cin.
"Aku suka sekali ikut ayah bundamu, mereka orang-orang baik sekali!"
Jawab Kamangis.
"Ayahmu juga seorang baik, Kamangis,"
Kata Kwee Cin. Ma Hoa dan Kwee An yang mendengar ini menjadi amat terharu dan juga girang. Akan tetapi tiba-tiba Kam Wi berdiri dan berkata dengan suara lantang.
"Kebetulan sekali, Kwee-kongcu telah tertolong dan terampas kembali. Besok pagi-pagi kita boleh serbu benteng orang-orang Mongol dan kita gunakan Putera dari Malangi Khan ini sebagai perisai! Ha-ha-ha! Malangi Khan kali ini tentu akan dapat dihancurkan segala-galanya."
"Tidak boleh!"
Tiba-tiba Ma Hoa menarik Kamangis dalam pelukannya dan sambil memandang ke depan dengan sepasang matanya yang tajam, nyonya ini berkata.
"Siapapun juga tidak boleh mengganggu Kamangis! Dia datang di sini karena dibawa Pendekar Bodoh dan kini berada dalam perlindunganku! Siapapun juga tidak bisa mengganggunya dan aku akan mengembalikannya kepada ayah bundanya dengan baik-baik, karena orang tuanya pun telah memperlakukan anakku dengan baik pula. Siapa pun boleh tidak menyetujui omonganku, dan kalau ada yang hendak mengganggu Kamangis, boleh coba-coba mengalahkan sepasang senjataku!"
Sambil berkata demikian dengan sekali gerakan Ma Hoa telah mencabut sepasang bambu runcingnya yang terkenal lihai.
Sikapnya amat gagah dan membikin orang menjadi jerih juga melihatnya!
Kam Wi adalah seorang yang berdarah panas.
Mendengar ucapan ini ia sudah melotot dan hendak maju mendebat, akan tetapi tiba-tiba Kam Liong yang tidak menghendaki perpecahan, segera maju dan menjura kepada Ma Hoa dan berkata dengan suara lemah-lembut dan sikap sopan santun.
"Mohon Toanio sudi memaafkan, pamanku tadi hanya mengeluarkan kata-kata yang ditujukan karena kebenciannya kepada Malangi Khan yang sudah menyerang negara kita. Siauwte dapat memaklumi perasaan Toanio terhadap anak ini setelah Kwee-kongcu bebas dari benteng orang Mongol, dan kiranya diantara kita juga tidak ada yang ingin mencelakakan Pangeran Kamangis yang masih kecil dan tidak berdosa sesuatu. Akan tetapi, oleh karena putera Toanio telah tertolong sedangkan Putera Mahkota Mongol ini masih tertahan di sini, tentu saja Malangi Khan takkan tinggal diam dan bala tentara Mongol sewaktu-waktu bisa menyerang pertahanan kita dan hal ini amat berbahaya. Oleh karena itu, sebelum mereka menyerang, kita harus mendahului mereka menyerang benteng mereka dan sesungguhnya..."
Ia melirik ke arah Pangeran Kamangis.
"sesungguhnya dengan adanya Pangeran Mongol ini di sini kita telah mendapatkan kemenangan perasaan yang amat besar. Sangat boleh jadi bahwa Malangi Khan akan menyerah dan takluk tanpa perang karena puteranya berada di dalam kekuasaan kita. Maka demi kepentingan negara dan demi kemenangan kita, harap Toanio menahan dulu anak itu, jangan dikembalikan kepada Malangi Khan sebelum selesai perang ini."
Ma Hoa menggeleng-geleng kepalanya.
"Aku tidak setuju dengan cara-cara yang licik itu! Aku memang tidak tahu tentang siasat perang akan tetapi ayahku dahulu juga seorang panglima perang dan karena semenjak kecil aku dididik kegagahan, maka aku menghargai kegagahan dan keadilan. Di dalam pertempuran maupun perang besar, aku lebih mengutamakan kegagahan dan keadilan dan tidak suka menggunakan cara-cara yang curang dan licik. Apakah kita takut terhadap bala tentara Mongol maka harus menggunakan kecurangan? Lebih baik kalah dengan cara gagah perkasa dari pada, menang dengan menggunakan akal curang!"
Merahlah muka Kam-ciangkun mendengar ucapan ini, akan tetapi karena Pendekar Bodoh melihat betapa kedua pihak telah memerah muka, ia cepat maju dan sambil tersenyum, Cin Hai berkata.
"Sebetulnya tidak ada urusan sesuatu yang harus diributkan. Biarlah besok pagi-pagi aku pergi ke benteng Malangi Khan dan mengajak bicara dengan baik. Syukur kalau ia bisa mengakhiri perang ini dengan damai, karena betapapun juga kalau terjadi perang tentu akan mengorbankan banyakmanusia. Perlukah kematian dan kehancuran ini kita hadapi kalau di sana terdapat jalan lain ke arah perdamaian?"
Semua orang menyatakan setuju dengan usul ini dan urusan Pangeran Kamangis itu selanjutnya tidak disinggung-singgung lagi, pesta perjamuan berjalan terus sedangkan Kamangis dan Kwee Cin bicara dengan amat gembiranya di dalam kamar mereka.
Dua orang anak ini memang merasa amat cocok dan watak mereka sama pula, gembira dan suka akan kegagahan.
*** Pada keesokan harinya, baru saja Cin Hai keluar dari benteng untuk melakukan tugasnya, yaitu mencari Malangi Khan membicarakan tentang Putera Mahkota yang masih tertahan di benteng Alkata-san, tiba-tiba dari depan ia melihat debu mengebul tinggi.
Cepat Pendekar Bodoh menyelinap di belakang sebatang pohon dan memandang ke depan.
Ternyata yang datang adalah sepasukan berkuda, terdiri dari kurang lebih lima puluh orang.
Di depan sendiri, menunggang seekor kuda bulu putih yang besar dan kuat, adalah Malangi Khan yang berwajah muram dan keningnya berkerut.
Melihat bahwa yang datang hanya sepasukan kecil, maka Cin Hai maklum bahwa Malangi Khan hendak mendatangi benteng bukan dengan maksud menyerang, maka ia lalu melompat keluar dari balik pohon itu dan menghadang di jalan sambil mengangkat tangannya.
Ketika Malangi Khan melihat Pendekar Bodoh, ia memberi perintah berhenti dan ia cepat melompat turun dari kudanya, berlari menghampiri Cin Hai.
Begitu datang, dengan wajah merah saking marahnya, Raja Mongol itu menudingkan telunjuknya kepada Pendekar Bodoh dan berkata.
"Tidak kusangka bahwa Pendekar Bodoh adalah seorang yang tidak bisa dipercaya mulutnya, seorang yang mudah melanggar janji!"
Cin Hai sudah mengerti mengapa Raja Mongol ini datang-datang begitu marah dan gemas, maka ia lalu menjura dan berkata dengan senyum simpul.
"Malangi Khan, kebetulan sekali aku pun sedang menuju ke bentengmu untuk bicara tentang puteramu."
"Kembalikan puteraku, kalau tidak, demi nenek moyangku, aku akan mengerahkan seluruh bangsaku untuk menerjang ke selatan sampai orang terakhir. Akan kubumihanguskan setiap jengkal tanah di selatan!"
"Sabar, sabar, Khan yang baik. Seorang Raja yang besar tidak demikian mudah dikuasai oleh nafsu marah. Dengarlah dulu, sesungguhnya tentang keponakanku Kwee Cin, bukan akulah yang merampasnya, maka jangan dikira bahwa Pendekar Bodoh tidak memegang janji."
"Biarpun bukan kau, tentu kawan-kawanmu atas perintahmu!"
Cin Hai menggeleng kepala.
"Sayang sekali bukan, Khan yang mulia. Aku tidak tahu-menahu tentang perampasan kembali anak itu. Akan tetapi sudahlah, anak itu sudah kembali kepada ayah bundanya, adapun puteramu sedang bermain-main dengan anak itu dibawah perlindungan Kwee An dan isterinya yang amat mencintainya!"
"Puteraku tidak diganggu? Kamangis tidak apa-apa?"
Tanya Khan ini dengan muka gelisah.
"Siapa yang akan berani mengganggu puteramu kalau ibu dari Kwee Cin menantang setiap orang yang akan mengganggunya? Ketahuilah, ibu dari anak yang tertawan di bentengmu itu, bersedia mengorbankan nyawanya untuk melindungi puteramu!"
Cin Hai dengan sejujurnya lalu menceritakan tentang pembelaan Ma Hoa terhada Kamangis sehingga Kaisar Mongol ini menjadi terharu sekali.
"Maafkan aku, Pendekar Bodoh. Aku telah meragukan kegagahanmu dan sifat ksatriamu! Di mana anakku?"
Kata Malangi Khan dengan terharu sambil memegang lengan tangan Cin Hai.
"Malangi Khan, apakah ini berarti bahwa selanjutnya kau akan mengaku sahabat kepadaku?"
"Tentu, bahkan kuakui kau dan saudara-saudaramu sebagai sanak saudaraku sendiri. Lebih dari itu, aku menyerahkan Kamangis putera tunggalku itu sebagai muridmu!"
Melihat sikap sungguh-sungguh dari Malangi Khan, Cin Hai merasa girang sekali dan bertanya lagi.
"Tidak hanya aku dan saudara-saudaraku, akan tetapi rakyat Tiongkok seluruhnya, maukah kau menganggapnya sebagai saudara? Kau takkan mengganggu mereka lagi, takkan menyerang ke selatan lagi?"
"Tidak, tidak! Dengan adanya orang-orang seperti engkau, aku merasa malu kalau harus menyerang ke selatan. Biarlah, aku lupakan pembunuhan yang sudah-sudah, yang dilakukan oleh tentara-tentara selatan di perbatasan utara. Aku akan mengunjungi kaisarmu, akan mengirim bulu ternak yang paling halus sebagai tanda penghargaan."
Kini Cin Hai yang memegang lengan Malangi Khan dengan kuat sehingga Kaisar itu meringis kesakitan. Cin Hai yang lupa diri lalu mengendorkan pegangannya dan berkata.
"Malangi Khan kau berjanji untuk membuktikan omonganmu tadi?"
"Tentu saja! Bagiku berlaku ucapan dari bangsamu . It-gan-ki-jut, su-ma-lam-twi (Sekali perkataan keluar, empat ekor kuda takkan dapat menarik kembali)."
Bukan main girangnya hati Pendekar Bodoh.
Tak disangkanya bahwa tugasnya ini terpenuhi dengan demikian mudahnya.
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk dari arah belakangnya dan sepasukan besar tentara kerajaan yang dipimpin oleh Kam Liong sendiri, dikawani pula oleh semua orang gagah yang berkumpul di benteng Alkata-san, datang menuju ke tempat itu!
Ini adalah gara-gara para penjaga yang melaporkan bahwa Malangi Khan bersama pasukannya yang amat kuat telah datang menyerbu!
"Pendekar Bodoh, apakah artinya ini?"
Kembali wajah Malangi Khan menjadi muram dan bercuriga akan tetapi Cin Hai segera menjawab.
"Jangan kuatir, Khan yang mulia. Akulah yang bertanggung jawab dan mencegah mereka bertindak!"
Kemudian, Cin Hai lalu menghadang di tengah jalan sambil mengangkat tangan, lalu mengerahkan tenaganya berseru dengan amat nyaringnya.
"Kam-ciangkun, jangan menyerang! Malangi Khan datang dengan maksud damai!"
Kam Liong terheran melihat Pendekar Bodoh berada di situ dan setelah mendengar seruan ini, ia lalu memberi perintah pasukannya berhenti.
Ia sendiri lalu turun dari kudanya dan bersama Tiong Kun Tojin, Kam Wi, dan juga Kwee An dan yang lain-lain, Kam Liong lalu menghampiri Cin Hai dan Malangi Khan.
Dengan angkuh Malangi Khan berdiri menghadapi mereka dengan dada terangkat, sikapnya agung sesuai dengan kedudukannya, yaitu sebagai seorang Khan yang besar.
Kam Liong adalah seorang panglima yang tahu diri dan tidak sombong, maka ia lalu memberi hormat terlebih dahulu yang segera dibalas oleh Malangi Khan.
"Malangi Khan, benarkah kata-kata Sie Tai-hiap tadi bahwa kau bermaksud damai?"
"Memandang muka Pendekar Bodoh, yang menjadi saudaraku dan juga menjadi guru dari puteraku, memang benar aku akan mengakhiri permusuhan, melupakan segala kejadian yang lalu dan aku akan mengadakan kunjungan kehormatan kepada Kaisarmu. Sampaikan kata-kataku ini kepada Kaisar dan juga kepada semua perajuritmu yang menjaga tapal batas, agar jangan sampai mengganggu orang-orangku yang hendak memasuki daerah Tiong-goan dalam perjalanannya berdagang."
Bukan main girangnya hati Kam Liong mendengar ini.
Hal ini memang amat diharapkan oleh Kaisar dan biarpun yang berjasa dalam hal ini adalah Pendekar Bodoh, namun karena dia adalah pemimpin besar barisan, tentu saja kepada dia pahalanya terjatuh!
Akan tetapi Kam Wi yang beradat kasar itu merasa curiga.
Sambil melangkah maju ia berkata.
"Dengan latar belakang dan alasan apakah maka tiba-tiba Malangi Khan hendak berdamai?"
Malangi Khan memandang dengan mata mendelik, juga Kam Wi melotot sehingga dua orang tinggi besar itu berlagak bagaikan dua ekor ayam jantan akan bertarung. Akan tetapi Cin Hai cepat berkata.
"Kam-enghiong, Malangi Khan yang mulia telah melihat bahwa orang-orang yang tadinya dianggap musuhnya ternyata tidak mengganggu puteranya, dan hal ini melembutkan hatinya dan ia suka sekali berdamai dengan orang-orang yang tidak mengganggu anak kecil, biarpun anak itu anak musuhnya pula."
Keterangan ini diterima oleh Kam Wi dengan muka menjadi merah karena merasa tersindir. Tadinya dia bermaksud untuk memenggal leher Putera Mahkota Mongol itu untuk melumpuhkan semangat barisan Mongol.
"Malangi Khan, untuk membuktikan kesungguhan maksud hatimu yang baik, aku mewakili panglima kerajaan yang menjadi keponakanku sendiri untuk mengundangmu makan minum di dalam benteng Alkata-san, sesuai dengan sikap persaudaraan yang kau kemukakan tadi,"
Kam Wi berkata kepada Malangi Khan.
Dia adalah seorang kang-ouw yang selalu jujur dan kasar, juga amat berhati-hati, maka ia sengaja melakukan siasat ini untuk mencari tahu sikap sesungguhnya dari Malangi Khan.
"Selain Kaisarmu sendiri, aku tidak mau menerima undangan dari segala orang!"
Malangi Khan berkata dengan angkuh.
"Kalau begitu, bagaimana kami bisa percaya bahwa kau mempunyai maksud damai?"
Kam Wi membentak marah dan suasana menjadi panas lagi. Melihat ini Kam Liong lalu berkata dengan halus.
"Malangi Khan, benar seperti yang diucapkan oleh pamanku tadi. Kami mengundangmu menghadiri perjamuan sederhana untuk merayakan perdamaian kita."
Akan tetapi Malangi Khan tetap berkepala batu dan menggelengkan kepala. Akhirnya Pendekar Bodoh turun tangan. Ia menghampiri Malangi Khan dan berkata.
"Khan yang baik, mengapa kau menolak undangan persaudaraan? Marilah sekalian kau menyambut puteramu yang tentu telah lama menanti-nantikan kedatanganmu. Kaubawalah pengiring-pengiringmu, karena dalam suasana perdamaian ini, perlu sekali diadakan malam gembira antara kita sama kita!"
Mendengar ucapan ini, lenyaplah kemuraman di wajah Kaisar Mongol itu.
"Kalau kau yang mengundang, itu lain lagi, Saudaraku!"
Dan ia lalu memberi tanda dengan tangannya kepada semua pengiringnya yang berada di belakangnya, maka majulah mereka bergerak menuju ke benteng Alkata-san dalam suasana damai!
Diam-diam Kam Wi membisikkan sesuatu kepada Kam Liong.
"Suruh para penyelidikmu menyelidiki keadaan di luar, siapa tahu kalau Malangi Khan diam-diam memerintahkan penyerbuan besar."
Kam Liong mengangguk-angguk, karena tanpa nasihat ini, dia pun tentu takkan melupakan hal ini. Pertemuan antara Malangi Khan dan Kamangis amat menggembirakan.
"Ada orang yang mengganggumu di sini?"
Ayah itu bertanya kaku. Kamangis menggelengkan kepalanya, lalu menunjuk ke arah Ma Hoa.
"Aku mendapatkan perlindungan dari dia yang kuanggap seperti ibuku sendiri. Dia amat manis budi dan baik sekali, Ayah."
Malangi Khan memandang kepada Ma Hoa lalu menjura.
"Bukankah Toanio ini Ibu dari Kwee Cin?"
Ma Hoa mengangguk, maka Malangi Khan dengan girang dan kagum lalu tertawa besar.
"Eh, Kamangis, kalau begitu mengapa kau tidak menyebut ibu saja kepadanya? Kau boleh menjadi anak angkatnya. Ha-ha-ha!"
Dan serta merta Kamangis yang amat patuh kepada ayahnya itu lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Ma Hoa sambil menyebut.
"Ibu..."
Ma Hoa girang dan juga terharu. Ia memeluk Kamangis dan berkata.
"Bagus, memang kau baik sekali. Patut menjadi saudara Cin-ji. Karena kau telah menjadi anak angkatku, sepatutnya kau kuberi nama julukan, yaitu Kwee Hong"
Malangi Khan tertawa terbahak-bahak.
"Bagus, bagus! Memang burung Hong merupakan lambang kebesaran dan kemuliaan. Terima kasih, Toanio!"
Pendekar Bodoh lalu bertepuk tangan diikuti oleh orang-orang lain sehingga suasana di situ gembira sekali.
"Eh, aku hampir lupa, Kamangis, hayo kau memberi hormat kepada gurumu!"
Ia menuding ke arah Cin Hai. Kamangi terheran dan memandang kepada Cin Hai.
"Apakah dia lebih lihai daripada ibu, Ayah? Ibu memiliki ilmu silat yang luar biasa sekali, juga ayah angkatku, demikian kata Kwee Cin. Apakah dia lebih lihai dari mereka?"
"Ha-ha-ha, anak bodoh. Dialah orang yang paling hebat diantara kita semua. Dialah Pendekar Bodoh, dan kau beruntung sekali bisa menjadi muridnya."
Karena Kamangis memang cerdik, ia lalu berlutut di depan Cin Hai dan memberi hormat sambil menyebut "suhu"! Kemudian atas perintah ayahnya, anak ini pun lalu memberi hormat kepada "ayah angkatnya"
Dan juga kepada Lin Lin yang disebut "subo" (isteri guru).
Perjamuan berjalan dengan lancar, gembira sampai tengah malam.
Karena merasa girang sekali puteranya selamat dan permusuhan dapat dihabiskan malam itu, Malangi Khan minum arak sebanyak-banyaknya dan karena arak dari selatan memang jauh lebih keras daripada arak yang seringkali diminumnya, maka ia menjadi mabuk.
Hal ini disengaja oleh Kam Liong karena panglima muda ini ingin sekali mendengar ocehan Malangi Khan dalam mabuknya.
Seperti biasa, orang tak dapat menyimpan rahasianya apabila sedang mabuk dan kalau Malangi Khan mempunyai rencana tertentu dan "perdamaian"
Yang diperlihatkannya itu hanya tipu belaka, tentu di dalam mabuknya Kaisar ini akan membuka rahasia.
Akan tetapi, ternyata Malangi Khan tidak membuka rahasia apa-apa, kecuali nama-nama beberapa orang selir yang disayanginya!
Dengan bantuan Pendekar Bodoh, Malangi Khan lalu diantar ke dalam sebuah kamar di mana ia lalu tidur mendengkur keras sekali.
Kemudian Kaisar Mongol itu ditinggalkan tidur seorang diri di dalam kamar itu, karena yang lain-lain masih melanjutkan perjamuan yang amat gembira.
Siapakah orangnya yang tidak gembira menerima berita bahwa perang dihentikan dan perdamaian membuat mereka mendapat kesempatan untuk bertemu kembali dengan keluarga masing-masing?
Di dalam perjamuan itu, ikut serta para perwira dan orang gagah yang menemani pemimpin-pemimpin pasukan pengawal Malangi Khan.
Kwee An dan Ma Hoa mengantar Kamangis dan Kwee Cin tidur dan Kwee An berpesan kepada Ma Hoa agar jangan meninggalkan dua orang anak itu, karena siapa tahu kalau-kalau ada orang jahat diantara para pengikut Malangi Khan.
Kemudian ia kembali ke ruang perjamuan akan tetapi ia mengambil jalan memutar ke belakang.
Tiba-tiba ia melihat bayangan orang berkelebat, dan gerakan orang ini luar biasa gesitnya.
Tubuh orang itu pendek dan gemuk, mengingatkan dia akan tubuh Thian-he Te-it Siansu, orang pertama dari Hailun Thai-lek Sam-kui, akan tetapi orang ini tidak berjenggot.
Diantara kawan-kawannya dan orang-orang gagah yang berkumpul di Alkata-san, tidak ada lagi orang yang berbentuk seperti ini tubuhnya, maka timbuilah kecurigaannya.
Diam-diam ia lalu mengikuti bayangan ini yang dengan hati-hati, menggunakan kesempatan semua orang sedang makan minum untuk mendatangi jendela kamar dimana Malangi Khan tidur mendengkur dengan pulasnya!
Setibanya di luar jendela, ia lalu mencabut sepasang golok dari punggungnya dan sekali cokel saja, terbukalah jendela itu yang lalu diganjalnya dengan sebatang ranting.
Kemudian, dengan gerakan gesit sekali orang ini lalu melompat ke dalam kamar.
Ternyata bahwa Malangi Khan tidurnya pulas sekali akibat pengaruh arak sehingga ia tidak mendengar sama sekali akan perbuatan orang yang mencurigakan ini.
Orang ini adalah seorang Panglima Mongol yang bertubuh pendek gemuk, berusia kurang lebih tiga puluh tahun.
Ia bernama Khalinga, seorang panglima Mongol keturunan Tartar yang amat benci kepada orang-orang Han.
Hal ini tidak mengherankan oleh karena ayahnya dahulu tewas oleh orang Han, maka ia telah bermaksud untuk menumpas setiap bangsa Han yang dijumpainya.
Kemudian ia terpilih menjadi panglima oleh Malangi Khan karena memang Khalinga memiliki kepandaian yang lumayan, apalagi permainan siang-to (sepasang golok) darinya amat lihai.
Ketika Khalinga mendapat kenyataan bahwa Malangi Khan menyatakan damai dengan orang-orang Han, bahkan hendak mengunjungi Kaisar dan menyatakan persahabatan, hatinya menjadi panas dan mendongkol sekali.
Timbullah kebenciannya yang hebat terhadap Kaisarnya yang dianggapnya lemah, pengecut dan mengkhianati cita-cita bangsa Mongol.
Oleh karena itu, diam-diam ia mendatangi tempat tidur Malangi Khan dan hendak mempergunakan kesempatan selagi kaisar itu tidur dan para tamu sedang makan minum, untuk membunuh Kaisar Malangi Khan!
Niat ini bukan semata-mata terdorong oleh kebenciannya yang tiba-tiba terhadap Malangi Khan, melainkan merupakan siasat yang amat licin dari orang pendek peranakan Tartar Mongol ini.
Kalau ia dapat membunuh Malangi Khan tanpa diketahui oleh siapapun juga, tentu peristiwa hebat ini akan melenyapkan sama sekali maksud damai dari Malangi Khan dan tentu dengan mudah ia akan dapat menghasut para panglima dan bala tentara Mongol bahwa dengan sengaja Malangi Khan dijebak ke dalam perangkap oleh orang-oran Han, kemudian diam-diam dibunuhnya!
Dengan demikian seluruh bala tentara Mongol tentu akan serentak bangkit dan memusuhi orang-orang Han dan siapa tahu kalau-kalau ia akan dapat memperoleh kedudukan tinggi!
Akan tetapi semua itu hanya mimpi atau lamunan kosong belaka karena tanpa ia ketahui, pada saat itu ia telah diikuti oleh seorang pendekar besar yang lihai, yaitu Kwee An!
Di dalam kamar Malangi Khan itu masih terang karena lilin yang bernyala di atas ciak-tai (tempat lilin) masih belum habis dan belum padam.
Ketika Kwee An melihat betapa orang pendek itu mengangkat golok dan hendak membacok Malangi Khan, cepat tangan kanannya bergerak dan sebutir batu kerikil tajam melayang ke arah pergelangan tangan kiri orang yang telah mengangka golok kiri untuk dibacokkan ke arah leher Malangi Khan itu!
Orang itu menjerit perlahan dan goloknya terlepas dari pegangan.
Ia merasa tangan kirinya menjadi lumpuh.
Bukan main herannya ketika ia tidak mendengar suara goloknya yang terlepas itu berdentang di atas lantai, dan tiba-tiba api lilin bergoyang.
Alangkah kagetnya ketika ia menengok, ia melihat goloknya yang terlepas tadi sebelum jatuh ke atas lantai, telah disambar oleh bayangan yang gagah yang kini berdiri dengan golok rampasan itu di hadapannya sambil tersenyum mengejek.
Khalinga mengenal orang ini sebagai Kwee An, ayah dari anak yang dulu ditahan didalam benteng, maka dengan nekat ia lalu menerjang dengan goloknya.
Akan tetapi tentu saja ia bukan lawan Kwee An, pendekar besar yang berilmu tinggi itu.
Setelah belasan jurus mereka bertempur, bukan Khalinga yang menyerang, bahkan ia menjadi pihak yang diserang kalang-kabut oleh Kwee An!
Kwee An hendak menawannya hidup-hidup, maka agak sukar ia mengalahkan lawannya.
Kalau saja ia mau menurunkan tangan maut, dalam satu dua jurus saja tentu ia akan dapat membuat lawannya roboh tak bernyawa lagi atau terluka berat.
Suara golok yang beradu menimbulkan suara nyaring dan membangunkan Malangi Khan dari tidurnya.
"Hei! Kalian sedang berbuat apa di sini?"
Tegurnya heran ketika melihat seorang panglimanya bertempur melawan Kwee An.
"Malangi Khan! Penjahat ini berusaha membunuhmu!"
Berkata Kwee An.
Malangi Khan bukanlah seorang Kaisar besar kalau ia tidak tahu akan watak semua panglimanya.
Begitu mendengar hal ini, maklumlah dia bahwa Khalinga tentu akan menimbulkan kekeruhan, hendak membunuhnya untuk memancing permusuhan diantara orang-orang Han dan orang-orang Mongol, karena Malangi Khan tahu betul akan kebencian Khalinga terhadap orang Han.
"Khalinga, kau berani hendak mengkhianati aku?"
Bentaknya marah.
Khalinga berdiri dengan muka merah dan dada berombak di depan kaisarnya yang telah duduk di atas pembaringan, sedangkan Kwee An juga menunda serangannya dan memandang dengan penuh kewaspadaan.
"Malangi, kau bilang aku mengkhianati engkau? Kaulah orangnya yang mengkhianati bangsa Mongol, kau Kaisar lemah dan pengecut! Kau menyerah kepada bangsat-bangsat Han tanpa mengeluarkan setetes darah, alangkah rendah dan hinanya, alangkah pengecut. Orang macam kau harus mampus di ujung golokku!"
Sambil berkata demikian, Khalinga lalu menubruk maju dan menusukkan goloknya ke arah dada Malangi Khan!
Akan tetapi Kwee An membentak marah dan sekali goloknya berkelebat, Khalinga berseru kesakitan dan goloknya terlempar ke atas lantai sedangkan tangan kanannya berlumur darah terkena ujung golok Kwee An.
Malangi Khan melompat turun, mengambil golok yang terlepas dari tangan Khalinga, lalu mengangkat golok itu untuk dibacokkan ke arah kepala Khalinga.
"Ha-ha! Kaisar pengecut, kau hendak membunuhku? Bunuhlah, ini dadaku! Aku Khalinga tidak takut mati, tidak seperti engkau!"
Melihat sikap Khalinga ini, lemaslah tangan Malangi Khan. Kaisar ini paling suka dan kagum akan kegagahan dan sikap yang berani mati dari Khalinga ini menimbulkan sayangnya.
"Khalinga, pergilah! Aku ampuni jiwamu. Akan tetapi jangan sekali-kali kau berani memperlihatkan mukamu di depanku lagi. Kembalilah kau kepada orang-orang Tartar, kau tidak berhak menyebut diri menjadi orang Mongol lagi!"
Bagaikan seekor anjing dipukul, Khalinga melompat keluar dari jendela dan melarikan diri.
Setelah Kaisar menyatakan ia bukan orang Mongol lagi ia tidak berani membuka mulut membuka mulut memaki Malangi Khan, karena sebagai orang Tartar tentu saja ia tidak berhak mencampuri urusan Negara Mongol!
Sementara itu, ribut-ribut ini telah menarik perhatian orang dan Cin Hai diikuti yang lain-lain telah memburu ke tempat itu.
Mereka masih dapat melihat betapa Malangi Khan mengampuni calon pembunuh itu, maka Cin Hai makin kagumlah kepada Kaisar Mongol ini.
Juga Kim Wi dan Kam Liong, demikian pula Tiong Kun Tojin, diam-diam memuji Kaisar yang bijaksana ini.
Lebih-lebih Kam Wi mengakui kebenaran sikap Pendekar Bodoh yang berhasil menarik hati Kaisar Mongol, karena menurut hasil penyelidikan para petugas, ternyata bahwa barisan Mongol yang luar biasa besar jumlahnya telah mengurung Pegunungan Alkata-san!
Kalau saja Malangi Khan mereka ganggu dan kalau saja pecah pertempuran besar, biarpun orang-orang gagah ini tidak merasa jerih dan belum tentu mereka kalah, akan tetapi sudah pasti bahwa banyak korban akan roboh diantara kedua pihak.
Adapun Malangi Khan tentu saja merasa amat berterima kasih kepada Kwee An, karena kalau tidak kebetulan pendekar ini melihat Khalinga, tentu ia telah terbunuh oleh orang pendek itu.
Dan lebih bersyukur lagi hati Kaisar ini bahwa penolongnya adalah ayah angkat dari Kamangis putera tunggalnya!
Pada keesokan harinya, Malangi Khan membawa serta seluruh pasukan dan bala tentaranya untuk kembali ke utara setelah menerima janji dari Pendekar Bodoh bahwa kelak pendekar ini akan menyusul ke utara mengunjungi istana Malangi Khan dan untuk menurunkan ilmu kepandaian kepada Pangeran Kamangis.
Kemudian, juga Kam Liong membawa kembali pasukannya ke kota raja setelah mengangkat seorang komandan untuk bertugas menjaga tapal batas utara, dengan pesan agar supaya memperkuat disiplin agar anak buahnya tidak mencari perselisihan dengan orang-orang Mongol yang berlalu-lintas membawa barang dagangan mereka.
Semua orang merasa puas dengan kesudahan dari perang besar yang akan meletus itu, hanya Cin Hai dan sekeluarganya yang merasa amat gelisah karena sampai pada waktu itu, Lili masih juga belum pulang!
Terutama sekali Lin Lin merasa gelisah sekali.
Oleh karena itu, ketika Goat Lan dan Hong Beng dengan disertai oleh Kwee An dan Ma Hoa kembali ke kota raja untuk membuat laporan kepada Kaisar tentang hasil tugas hukuman mereka dan minta dibebaskan serta diampunkan, Cin Hai dan Lin Lin tidak ikut pulang, melainkan hendak pergi mencari Lili.
Dengan diperkuat oleh laporan Kam Liong, Kaisar yang mendengar tentang kesudahan perang itu menjadi amat girang dan memuji Hong Beng serta Goat Lan sebagai sepasang pendekar yang setia dan gagah.
"Aku telah mendengar bahwa kalian berdua sudah bertunangan,"
Kata Kaisar dengan ramah.
"biarpun kalian belum menikah, sudah sepatutnya aku memberi selamat dengan sedikit tanda mata."
Kaisar lalu memberi hadiah kepada sepasang pendekar ini, yaitu sepasang siang-kiam (pedang pasangan) yang bergagang emas dan sebuah giok-ma (kuda kumala), yaitu sebuah perhiasan berbentuk kuda terbuat dari batu kemala yang diukir indah sekali sehingga nampaknya seperti hidup saja.
Adapun Pangeran Mahkota yang merasa amat berterima kasih kepada Goat Lan karena telah menolong nyawanya dari maut berupa penyakit hebat itu, meloloskan sebuah kancing bajunya yang terbuat dari pada intan.
Kancing baju ini berbentuk bulat dan intan yang luar biasa besarnya ini terukir dengan huruf Hok (Rezeki) dan di belakangnya terukir pula dengan huruf-huruf yang berarti Putera Pangeran.
Dengan memegang kancing seperti itu berarti Goat Lan telah memegang kekuasaan yang besar, karena ke manapun juga ia pergi, asal ia memperlihatkan kancing ini kepada para pembesar negeri, ia tentu akan diterima dengan penuh penghormatan seperti orang menerima kunjungan Pangeran sendiri!
Demikianlah, setelah menghaturkan terima kasih dengan hati terharu, Hong Beng dan Goat Lan lalu meninggalkan istana dan bersama dengan Kwee An dan Ma Hoa, mereka lalu kembali ke Tiang-an.
Di sepanjang jalan mereka bergembira, apalagi Kwee Cin yang memang belum pernah menikmati perjalanan yang demikian jauh.
Adapun Sin-kai Lo Sian, ketika oleh Cin Hai disuruh kembali lebih dulu ke Shaning karena suami isteri ini hendak mencari Lili, Pengemis Sakti ini menolak dengan halus dan menyatakan bahwa ia sudah bosan untuk berdiam menganggur di dalam rumah dan darah perantauannya memanggilnya untuk kembali mengadakar perantauan seperti dahulu.
*** Ke manakah perginya Lili, gadis remaja yang cantik dan gagah berani itu?
Mari kita ikuti perjalanannya yang penuh bahaya.
Sebagaimana telah diketahui, Lili yang berani dan bengal ketika mendengar bahwa Goat Lan dan Hong Beng pergi ke benteng orang Mongol untuk menolong Kwee Cin, menjadi tergerak hatinya dan malam-malam ia lalu minggat dari benteng Alkata-san untuk menyusul kakaknya dan calon sosonya (kakak ipar) itu.
Ia mempergunakan ilmu lari cepat di malam terang bulan dan ia merasa gembira sekali.
Melalui gunung-gunung dan hutan-hutan liar di malam disinari bulan itu sama sekali tidak membuat hatinya menjadi takut, sebaliknya ia malah demikian gembira sehingga ia berlari-lari sambil bernyanyi-nyanyi kecil seperti ketika ia masih kanak-kanak dahulu.
Akan tetapi oleh karena selama hidupnya Lili belum pernah menginjak daerah ini dan ia pun masih belum berpengalaman dalam hal mencari jalan dengan hanya mengandalkan petunjuk lisan dari seorang Haim-i tua seperti Nurhacu itu, maka tanpa disadarinya kedua kakinya menyeleweng dan makin jauh ia meninggalkan arah tujuannya!
Ia membelok ke barat menuju ke rimba raya di atas sebuah bukit yang gelap dan menghitam mengerikan.
Setelah malam hampir terganti fajar, kian jauhlah ia tersasar dan makin bingunglah hati Lili.
Menurut Nurhacu, hutan yang dilaluinya ini tidak panjang dan sebelum fajar ia telah dapat keluar dari hutan ini dan tiba di padang rumput dari mana benteng orang-orang Mongol akan tampak.
Akan tetapi sekarang sudah menjelang fajar, hutan yang dilalui ini makin lama makin liar dan makin padat oleh pohon-pohon raksasa.
Ia menjadi mendongkol sekali kepada Nurhacu, disangkanya sengaja memberi petunjuk menyesatkan.
Mulai lenyaplah kegembiraan wajahnya, terganti oleh kemarahan yang terlihat pada bibirnya yang cemberut.
Akan tetapi dasar watak Lil amat gembira, setelah fajar terganti pagi dan matahari mulai bersinar, timbul kembali kegembiraannya bersama dengan datangnya suara burung-burung hutan berkicau dan munculnya binatang-binatang hutan yang amat elok.
Beberapa ekor binatang kecil seperti kelinci, rusa, dan lain-lain keluar dari semak-semak, berlari-lari kecil bermandi cahaya matahari sehingga Lili menjadi gembira sekali.
Ia pun ikut berlari-lari, mengeiar ke sana ke mari untuk melihat binatang-binatang itu bermain-main sambil kadang-kadang terdengar suara ketawanya yang merdu dan nyaring.
Kalau ada orang melihat keadaan di dalam hutan liar ini pada waktu itu, ia akan melihat binatang-binating kecil berlari-larian dan bermain-main di dalam sinar matahari pagi, mendengar suara burung-burung berkicau, melihat kembang-kembang mekar indah dengan hiasan mutiara-mutiara embun pagi yang bergantungan pada kelopaknya, kemudian melihat seorang dara juita berbaju kembang berlari ke sana-sini sambil tertawa merdu, tentu orang itu akan mengira bahwa Lili adalah seorang peri atau seorang bidadari!
Ketika melihat sepasang rusa di bawah pohon sedang berkasih-kasihan, yang jantan membelai-belai yang betina dengan lehernya yang panjang indah, hati Lili berdebar dan tiba-tiba di depan matanya terbayang wajah seorang pemuda!
Ia mengerutkan kening dan menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa amat aneh dan marah kepada diri sendiri.
Mengapa wajah yang terbayang itu wajah...
Lie Siong, orang kurang ajar itu?
Kalau saja ia teringat pertama-tama kepada Kam Liong atau bahkan kepada Song Kam Seng sekalipun, ia takkan merasa aneh.
Akan tetapi...
Lie Siong??
Tak terasa lagi ia menjumput pasir dan menyambitkannya arah sepasang rusa itu yang menjadi terkejut dan melarikan diri.
Lenyap pulalah bayangan wajah Lie Siong dari depan matanya dan Lili menjadi gembira kembali.
Tiba-tiba ia melihat seekor kelinci putih yang gemuk dan timbullah seleranya.
Ia telah melakukan perjalanan selama setengah malam tanpa istirahat dan kini ia merasa amat lapar.
Dikerjarnya kelinci itu, akan tetapi kelinci putih itu biarpun gemuk dan keempat kakinya pendek-pendek, ternyata dapat berlari cepat sekali dan sebentar saja ia menghilang di dalam semak-semak.
Lili memang beradat keras dan tidak mudah mengaku kalah.
Ia lalu mencabut pedang Liong-coan-kiam dan membabat semak-semak itu sampai bersih!
Sebelum semak-semak itu habis dibabat, kelinci itu telah melompat pergi lagi dan menyusup ke dalam semak-semak yang lebih lebat lagi.
Lili menggigit bibirnya.
"Kelinci manja! Ke mana kau hendak pergi? Biarpun kau pergi ke neraka, tetap saja aku akan dapat menangkap dan menikmati dagingmu yang empuk!"
Kembali Lili membabat semak-semak berduri itu dan seperti tadi juga, kelinci itu melompat dan berpindah-pindah dari semak itu ke semak yang lain.
Sebentar saja, sudah lebih dari sepuluh rumpun semak-semak belukar dibabat oleh pedang Liang-coan-kiam di tangan Lili.
Akhirnya, kelinci itu menjadi ketakutan dan berlari terus, dikejar oleh Lili yang menjadi makin gemas.
Setelah kehabisan jalan, kelinci itu kembali menyusup ke dalam semak-semak yang penuh dengan tetumbuhan daun hitam yang gelap sekali.
Lili tidak peduli dan mulai membabat.
Pedang Liong-coan-kiam adalah pedang pusaka yang amat tajam, maka dengan mudah saja semak-semak itu dibabat berhamburan ke kanan kiri sampai terlihat tanah di bawahnya.
Setelah semak-semak ini habis terbabat, tidak seperti tadi, kelinci itu tetap tidak kelihatan.
Lili menjadi penasaran sekali.
Sudah terang bahwa kelinci itu tidak melompat keluar, akan tetapi mengapa tidak berada di dalam semak-semak ini?
Apakah kelinci itu pandai menghilang?
Ia mencari terus, melempar-lemparkan semak-semak yang sudah terbabat itu ke kanan kiri, akan tetapi tetap saja kelinci tidak nampak.
Akhirnya ia melihat sebuah lubang bundar yang lebarnya kurang lebih satu setengah kaki.
Ia mengangguk-angguk dan tersenyum.
"Kelinci licik, kaukira aku tidak tahu ke mana bersembunyi? Keluarlah!"
Ia menepuk-nepuk pinggir lobang itu dan menjadi terheran-heran ketika mendengar suara berdengung dari bawah tanah.
Lobang itu ternyata di sebelah dalam kosong, pikirnya.
Tempat apakah ini?
Goa tertutup?
Ia lalu menggunakan pedangnya untuk menggali lubang itu dan baru saja satu kaki dalamnya, ternyata bahwa lobang di bawah luar biasa besarnya, merupakan sumur yang lebar sekali.
Jadi lubang tadi merupakan "cerobong"
Pada langit-langit ruang di bawah tanah ini!
Lili menjadi tertarik sekali.
Ia melebarkan cerobong itu sampai kira-kira tiga kaki segi empat, lalu mengambil batu dan melemparnya ke bawah.
Tidak dalam, pikirnya, dan di bawah tanah lunak biasa saja.
Hal ini diketahui karena dalam waktu singkat batu itu mengenai dasar ruang dan terdengar suara berdebuk.
Ia harus menangkap kelinci itu dan di samping itu, ia pun ingin tahu apakah yang berada di dalam ruang di bawah tanah ini.
Memang ia memiliki nyali yang amat besar.
Dengan pedang Liong-coan -kiam di tangan kanan, gadis ini lalu melompat ke dalam lubang tadi!
Benar seperti yang disangkanya, kakinya menyentuh tanah dan ternyata lubang itu dalamnya hanya dua tombak kurang.
Setelah matanya sudah biasa dengan pemandangan suram-suram di dalam lubang itu, ia mulai melakukan penyelidikan.
Sinar matahari yang masuk dari lubang atas, cukup untuk melihat keadaan di sekelilingnya.
Sumur itu ternyata besar juga, kurang lebih tiga tombak luasnya dan dikelilingi oleh dinding batu karang yang kehitaman dan mengkilap.
Akan tetapi yang amat mengherankan hatinya, ia tidak melihat kelinci putih tadi!
Ia menjadi penasaran sekali karena sumur itu ternyata kosong melompong tidak ada apa-apanya yang menarik, sedangkan kelinci itu lenyap begitu saja.
Ia menyelidiki dinding di seputar tempat itu bagian bawah kalau-kalau ada lubangnya dari mana kelinci itu dapat masuk.
Usahanya berhasil karena memang betul di sebelah kiri terdapat lubang kecil di bagian bawah.
Ia mendongkol sekali, tentu kelinci tadi telah melarikan diri dari lubang ini, dan bagaimana dirinya bisa masuk?
Lubang itu hanya dapat dimasuki kedua tangannya saja.
Ia mencoba memasukkan kedua tangannya di dalam lubang ini dan mendapat kenyataan yang mengejutkan hatinya bahwa di balik dinding ini pun merupakan ruang terbuka!
Lili makin tertarik.
Ia memeriksa dinding itu dan mendapat kenyataan yang mendebarkan hatinya bahwa di situ terdapat pecahan yang merupakan sebuah pintu!
Akan tetapi pintu ini rapat sekali dan ketika ia mencoba untuk mendorong nya, ternyata pintu itu kuat sekali.
Ia lalu mencari akal dan memeriksa lagi.
Mungkin bukan pintu dorongan, melainkan pintu angkat semacam penutup lubang jendela, pikirnya.
Ia lalu memasukkan kedua tangannya di dalam lubang di bawah pintu ini dan mengerahkan tenaganya mengangkat sambil mendorong ke luar.
Ia berhasil!
Pintu bundar itu bergerak keluar, akan tetapi Lili harus segera melepaskan kedua tangannya karena pintu itu itu terlampau berat baginya.
Peluhnya membasahi jidat dan ia beristirahat sebentar.
Setelah tenaga terkumpul kembali ia lalu mencoba lagi, akan tetapi tetap saja tidak dapat ia membuka pintu itu terus sampai ia dapat masuk melalui lubangnya.
Lili adalah seorang yang keras hati dan apabila sudah mempunyai kehendak, akan berusaha mati-matian untuk mencapai kehendak ini.
Berkali-kali ia mencoba dan ketika ia mengangkat untuk yang ke sekian belas kalinya, tiba-tiba pintu itu terbuka terus dan tidak menindih kembali seperti ada sesuatu yang mengganjalnya!
Cepat ia merayap masuk ke dalam ruang di balik pintu itu dan alangkah herannya ketika melihat bahwa pintu yang tebal dan berat sekali kini tertahan oleh sebatang tongkat bambu yang kecil panjang, sebatang tongkat yang dipegang oleh seorang nenek tua.
Atau bukan manusiakah nenek ini?
Lili memandang dengan mata terbelalak.
Ia melihat bentuk tubuh yang kurus kering dan kecil sekali, bongkok dan kulitnya sudah menjadi satu dengan tulang, melekat sehingga hampir kelihatan seperti sebuah rangka hidup.
Rambut nenek ini putih semua dan awut-awutan menutupi mukanya yang kehitaman.
Bajunya hitam menutupi kedua pundak terus bawah.
Kalau saja dua lubang yang merupakan matanya itu tidak bergerak-gerak dan tangan kiri yang memegang tongkat tidak sedang menjaga pintu batu, Lili akan menyangkanya sebuah patung rusak.
Tangan kanan nenek ini memegang kelinci putih yang tadi dikejar-kejar oleh Lili.
Setelah dara itu masuk, nenek ini lalu menggerakkan tangan kanannya dan kelinci putih itu melayang keluar melalui pintu batu kemudian terdengar suara keras ketika ia menarik kembali tongkatnya dan daun pintu batu yang berat itu menimpa turuh lagi, menutup tempat itu.
Akan tetapi tempat itu terang karena mendapat cahaya matahari dari atas yang turun melalui lubang-lubang kecil yang tinggi sekali dari tempat itu.
Lili menjadi terkejut bukan main.
Ia cepat memandang ke sekelilingnya dan tidak melihat sebuah pun jalan keluar.
Ketika ia memandang kembali kepada nenek itu, kini nenek itu telah duduk bersila dan diam tak bergerak bagaikan patung aseli dari batu hitam!
Lili mulai merasa takut.
Ia seakan-akan berada di dalam kuburan, dikubur hidup-hidup bersama sebuah patung batu yang mengerikan, karena kelihatannya seperti tengkorak.
Cepat ia menghampiri pintu batu tadi dan berusaha membukanya untuk keluar dan melarikan diri.
Akan tetapi seperti tadi, ia tidak mampu membuka pintu itu, tidak mampu membuka lebih lebar dari satu dim saja!
Bagaimanakah nenek tadi dapat menahan pintu itu dengan sebatang tongkat bambu?
Lili lalu menghampiri nenek itu dan dengan suara halus membujuk.
"Nenek tua yang baik, maafkanlah kelancanganku masuk ke sini dan tolonglah aku keluar dari gua ini. Aku tidak dapat membuka pintunya."
Berkali-kali ia mengucapkan permintaan ini akan tetapi jangankan membuka mata atau mulut, bergerak pun tidak nenek aneh itu.
Tiba-tiba Lili teringat dengan bulu tengkuk berdiri bahwa mungkin sekali nenek ini bukan manusia, melainkan seorang iblis penjaga bumi!
Maka ia lalu menjatuhkan diri berlutut dan berkata.
"Liok-te Pouwsat (Dewi Bumi), mohon ampun atas kekurangajaran hamba. Hamba Sie Hong Li telah melakukan dosa dan berlancang masuk di tempat kediaman Pouwsat tanpa disengaja, mohon ampun dan tolonglah hamba keluar dari kuburan ini!"
Kembali Lili mengulangi permohonannya ini sampai sepuluh kali, akan tetapi nenek itu tetap saja duduk bersila tanpa membuka mata atau mulut.
Akhirnya Lili menjadi marah sekali.
Ia melompat bangun dan membentak.
"Aha, tidak tahunya kau seorang Iblis Bumi yang jahat, ya? Kau hendak mengurungku sampai mati di sini atau sampai menjadi tua dan buruk seperti engkau? Lebih baik aku mati! Akan tetapi sebelum aku mati, kalau kau tidak mau membuka pintu gua ini, kaulah yang akan kubikin mampus lebih dulu!"
Ia mencabut Liong-coan-kiam yang berkilauan didalam keadaan suram-suram itu.
Ia menggerak-gerakkan pedangnya untuk menakut-nakuti nenek itu, dan benar saja, sekarang nenek itu membuka kedua matanya yang mencorong seperti mata kucing.
Akan tetapi, bukannya menjadi takut, bahkan tiba-tiba nenek itu tertawa terkekeh-kekeh dengan suara ketawa yang membuat bulu tengkuk Lili berdiri saking seremnya.
Nenek itu ketawa tiada ubahnya seperti mayat atau tengkorak tertawa!
"Kau menertawakan aku?
Agaknya kau tidak tahu sampai di mana kelihaian Liong-coan-kiam ini!"
Sambil berkata demikian, Lili lalu mainkan pedangnya dengan hebat, menyerang nenek itu.
Akan tetapi, pedangnya terbentur dengan tongkat bambu dan terpental kembali, diiringi suara ketawa nenek itu.
Lili tahu bahwa nenek ini tentu memiliki kepandaian tinggi, maka ia lalu mainkan jurus-jurus dari Liong-coan-kiam-sut ciptaan ayahnya.
Pedangnya lenyap menjadi segulung sinar yang mengurung tubuh nenek itu.
Akan tetapi ke manapun juga pedangnya berkelebat, selalu pedang ini terbentur kembali oleh tongkat bambu yang luar biasa itu dan tiba-tiba, dibarengi oleh suara ketawanya, nenek itu menggunakan tangan kanannya merampas pedang Lili!
Dengan amat mudahnya ia menangkap pedang itu dan membetotnya tanpa Lili dapat berdaya apa-apa!
Dan ketika gadis ini memandang, ia membelalakkan kedua matanya karena sekali tekuk saja dengan jari-jari tangan kanannya, pedang Liong-coan-kiam telah dipatahkan!
"Nenek gila kau berani merusak pedangku?"
Bentak Lili dengan marah dan kini ia mengeluarkan kipasnya, kemudian tanpa menanti lagi ia lalu mainkan ilmu kipas yang ia pelajari dari Swi Kiat Siansu, yakni Ilmu Kipas San-sui-san-hoat yang lihai.
Kembali ia terperanjat ketika semua jurus dari San-sui-san-hoat diperlihatkan, sekali ulur tangannya saja nenek itu telah merampas kipasnya dan mematahkannya pula seperti pedang tadi!
Lili menjadi makin gelisah.
Celaka pikirnya, sekarang aku menemui kematian di tempat ini.
Akan tetapi ia tidak menjadi takut, bahkan mengambil keputusan untuk melawan sampai napas terakhir, ia kini maju menyerang dengan tangan kosong, dan mengeluarkan ilmu silat tangan kosong yang dipelajari dari orang tuanya, yaitu Pek-in-hoatsut diganti-ganti dengan Kong-ciak-sinna!
Dua macam ilmu silat tangan kosong ini adalah ilmu yang tangguh dari Bu Pun Su, akan tetapi menghadapi nenek ini agaknya seperti tenaga air sungai bertemu dengan laut karena nenek itu sambil tertawa-tawa kini juga mainkan Pek-in-hoatsut untuk melawan Lili!
Akhirnya, Lili kehabisan tenaga dan robohlah ia pingsan di depan nenek itu saking lelah, lapar, marah dan putus harapan!
Ketika ia siuman kembali, nenek itu memberinya tiga butir buah hitam dan memberi tanda supaya ia makan buah itu.
Lili merasa tubuhnya letih dan lapar, maka karena sudah tidak ada jalan keluar lagi, ia menjadi seperti seekor harimau betina yang menemui manusia kuat.
Ia makan tiga butir buah itu yang ternyata enak dan wangi dan perutnya terasa penuh dan kenyang!
Kemudian, nenek itu menggurat-guratkan ujung tongkatnya di atas lantai dan ternyata bahwa nenek itu telah menuliskan beberapa huruf yang cukup indah.
Lili lalu membacanya.
"Kau berjodoh untuk menjadi muridku selama dua pekan. Kau harus mempelajari ilmu silat ciptaanku yang kuberi nama Hang-liong-cap-it-ciang-hoat (Ilmu Silat Penakluk Naga Sebelas Jurus). Akan tetapi ada syaratnya, yaitu di waktu kau masih mempelajari dan melatih ilmu silat ini selama satu bulan kau tidak boleh bicara dan harus bertapa gagu!"
Lili merasa aneh sekali akan tetapi setelah ia maklum bahwa ia tidak akan mati dan bahkan menjadi murid seorang yang pandai luar biasa, ia menjadi girang dan cepat menjatuhkan diri berlutut di depan nenek itu.
"Teecu akan mentaati semua perintah Suthai."
Demikianlah, selama dua pekan, dara perkasa ini mempelajari semacam ilmu silat yang baru dan yang luar biasa lihainya, dan biarpun ilmu silat Hang-liong-cap-it-ciang-hoat hanya terdiri dari sebelas jurus, akan tetapi setiap jurus memerlukan gerakan yang sukar dan sempurna serta tenaga yang luar biasa.
Setiap hari, gurunya menempelkan telapak tangan kiri pada telapak tangan kanannya, sedangkan tangan kiri Lili lalu disuruh mendorong daun pintu itu untuk membukanya.
Pertama kali Lili masih saja tidak kuat, kecuali setelah gurunya mengerahkan tenaga dan menyalurkannya melalui telapak tangannya.
Begitu gurunya melepaskan tempelan telapak tangannya, pintu itu turun kembali tanpa Lili dapat menahannya!
Akan tetapi lambat laun, setelah sembilan hari, Lili dapat membuka daun pintu itu dengan tenaga sendiri!
Ternyata bahwa lwee-kangnya telah meningkat secara luar biasa dan cepat sekali.
Setelah dua minggu, tamatlah pelajarannya.
Gurunya bertanya kepadanya melalui tulisan di atas lantai.
"Aku menurunkan ilmu silat ini kepadamu hanya karena kau pernah mempelajari Pek-in-hoatsut dari Lu Kwan Cu (Bu Pun Su). Pernah apakah kau dengan dia?"
"Dia adalah Sucouw-ku (Kakek Guruku),"
Jawab Lili, juga dengan tulisan di atas lantai karena ia menepati janjinya bertapa gagu selama sebulan! Kemudian ia menambahkan.
"Dan bolehkah teecu bertanya, siapakah nama Suthai?"
Nenek yang seperti tengkorak itu hanya menuliskan tiga huruf di atas lantal yang berbunyi .
"Bu-liang-sim"
Yang artinya "Tiada Pribadi", kemudian ia menudingkan tongkatnya ke arah pintu gua mengusir Lili pergi dari situ.
Lili berlutut dan mencium tangan gurunya yang aneh ini sebagai tanda terima kasih, kemudian ia lalu membuka batu besar yang menjadi pintu gua dan keluar dari situ.
Alangkah girangnya ketika ia melihat kelinci putih yang dulu dilempar keluar oleh gurunya masih berada di situ, akan tetapi kelinci ini telah menjadi begitu kurus karena selama dua pekan tidak makan!
Kalau dulu Lili ingin sekali makan dagingnya, sekarang gadis ini menjadi kasihan melihatnya.
Ia memegang binatang itu pada kedua telinganya, lalu membawanya melompat ke atas, keluar dari sumur itu.
Setelah tiba di atas, ia lalu memandang ke kanan kiri dan melemparkan kelinci itu ke dalam semak belukar.
Ia menarik napas panjang dengan penuh kebahagiaan karena merasa masih hidup setelah mengalami pengalaman yang hebat.
Kemudian, setelah ia menghafal keadaan sekeliling itu untuk mengingat tempat tinggal gurunya, ia lalu menggunakan semak-semak untuk menutupi lubang itu agar jangan sampai terlihat oleh orang lain.
Kemudian pergilah dia dari situ, tidak lupa untuk melatih Ilmu Silat Hang-liong-cap-it-ciang-hoat yang masih dipelajarinya.
Biarpun ia telah kehilangan Liong-coan-kiam dan kipasnya, dua senjata yang diandalkannya akan tetapi sekarang karena ia telah mendapatkan ilmu silat yang luar biasa ini, ia merasa lebih percaya kepada diri sendiri daripada dahulu.
*** Setelah Malangi Khan menyatakan damai dengan bala tentara Kaisar, perdagangan di tapal batas utara menjadi ramai lagi, bahkan lebih ramai daripada sebelum terjadi perang.
Kota-kota di utara yang tadinya kosong dan sunyi karena ditinggalkan oleh penduduknya yang pergi mengungsi, kini menjadi penuh lagi, bahkan bertambah pula oleh orang-orang Han dan orang Mongol yang datang, untuk mencari untung dalam perdagangan di tempat itu.
Kota Kun-lip juga menjadi ramai sekali.
Kota ini terletak di sebelah selatan tembok besar dan perdagangan di situ ternyata maju sekali.
Oleh karena itu, tidak heran apabila kota ini banyak dikunjungi orang dan karenanya, hotel dan restoran menjadi subur dan maju.
Lili setelah mendengar bahwa peperangan telah selesai dan semua orang itu telah kembali ke selatan, tidak segera kembali ke Shaning karena ia masih belum menghabiskan tapa gagunya.
Tidak enak untuk berhadapan dengan orang-orang yang dikenalnya, terutama keluarganya, dalam keadaan bertapa gagu dan tidak boleh bicara ini!
Sekarang ia maklum mengapa gurunya yang aneh itu melarangnya bicara selama sebulan dalam waktu ia masih melatih diri dengan Hang-liong-cap-it-ciang-hoat.
Selain tapa gagu ini merupakan ujian yang berat bagi kekerasan hatinya untuk bertekun mempelajari ilmu silat yang aneh dan sulit itu, juga pada waktu melatih ilmu silat ini, tenaga lwee-kang terkumpul selalu di dalam dadanya yang dengan mudah disalurkan ke arah kedua tangannya.
Kalau ia membuka mulut bicara, maka itu berarti perhatiannya akan terpecah dan hawa yang terkumpul itu bisa buyar atau membocor keluar.
Untuk berlatih Hang-liong-cap-it-ciang-hoat, dibutuhkan perhatian yang khusus dan pengerahan tenaga dalam yang sepenuhnya.
Pada pagi hari itu, telah genap dua puluh hari ia bertapa gagu.
Ilmu Silat Hang-liong-cap-it-ciang-hoat telah hampir dilatih sempurna.
Tiga hari lagi ia akan membuka pantangan bicara, dan hari itu ia berjalan-jalan di dalam kota Kun-lip.
Ketika ia berjalan sampai di depan sebuah restoran besar, tiba-tiba ada orang memanggilnya.
"Lili...!"
Ia cepat menengok dan melihat Song Kam Seng duduk di belakang sebuah meja di halaman luar restoran itu sambil menghadapi hidangan.
"Nona Hong Li, kau hendak kemanakah? Silakan duduk dan mari kita bercakap-cakap. Sudah amat lama kita tidak bertemu. Bagaimana keadaan kedua orang tuamu?"
Kam Seng bertanya dengan ramah dan nyata sekali kegembiraannya bertemu dengan nona ini.
Akan tetapi, biarpun di dalam hatinya Lili tidak marah lagi kepada Kam Seng yang telah memperlihatkan jasa-jasanya dalam keadaan perang yang lalu, namun tentu saja ia tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini karena ia masih sedang berpantang bicara.
Maka ia berpura-pura tidak melihat, membuang muka dan hendak melanjutkan perjalanan meninggalkan pemuda itu.
Akan tetapi, tiba-tiba terdengar bentakan keras.
"Gadis liar, baru sekarang aku mendapat kesempatan melunaskan perhitungan!"
Tiba-tiba dari belakangnya, Lili merasa sambaran angin hebat dan cepat ia lalu miringkan tubuh melompat ke kanan.
Ternyata yang menyerangnya itu adalah Ban Sai Cinjin dengan huncwe mautnya!
Kakek ini memang sedang berada di kota itu dan tadi ketika Kam Seng duduk seorang diri, sebetulnya kakek itu sedang memesan masakan ke meja pengurus restoran, maka Lili tidak melihatnya.
Ketika kakek ini melihat Lili, timbullah marahnya karena ia teringat betapa gadis ini telah menghina dan mengganggunya, dan betapa ayah gadis ini telah menghinanya secara luar biasa sekali.
Karena Lili tidak bisa membalas dengan kata-kata, gadis ini hanya berdiri dan memandang ke arah Ban Sai Cinjin dengan alis berkerut dan mata bernyala.
Ia tidak ada nafsu untuk berkelahi karena ia sedang melatih ilmu silatnya yang sebentar lagi akan sempurna.
Kalau ia pergunakan dalam pertempuran, maka akan banyak hawa dipergunakan dan ini berarti ia menderita rugi sebelum ilmu silatnya tamat.
Kalau saja ia sudah tamat, tentu dengan gembira gadis yang suka berkelahi ini akan melayani dan menghajarnya.
"Bocah, bersedialah untuk mati!"
Kembali Ban Sai Cinjin membentak dan sekaligus ia mengirim dua macam serangan.
Tangan kanannya memukulkan huncwe maut ke arah kepala Lili sedangkan kaki kirinya diangkat untuk mengirim tendangan yang menjaga kalau-kalau gadis itu melompat ke belakang.
Melihat gerakan kakek ini, tahulah Lili bahwa dibandingkan dengan dahulu, kakek ini telah memperoleh kemajuan yane pesat sekali.
Memang benar, Ban Sai Cinjin yang telah mengalami kekalahan berkali-kali, dan bahkan pernah dihajar setengah mati oleh Pendekar Bodoh, menjadi sakit hati dan dengan prihatin ia lalu memperdalam ilmu silatnya atas bantuan suhengnya, yaitu Wi Kong Siansu yang lihai, dan yang berjuluk Toat-beng Lomo (Iblis Tua Pencabut Nyawa ).
Menghadapi serangan Ban Sai Cinjin yang hebat ini, Lili lalu merendahkan tubuhnya dan menekuk lutut, mengelak dengan gerakan dari Ilmu Silat Sianli-utauw, karena ia masih belum mau mempergunakan ilmu silatnya yang baru.
"Susiok, jangan ganggu Nona Sie!"
Kam Seng berkali-kali berseru mencegah susioknya, sedangkan orang-orang yang makan di restoran itu terutama yang dekat dengan tempat pertempuran, pada melarikan diri dengan ketakutan.
Delapan jurus telah dimainkan oleh Ban Sai Cinjin untuk merobohkan Lili, akan tetapi gadis ini ternyata setelah melatih Ilmu Silat Hang-liong-cap-it-ciang-hoat, telah memperoleh kemajuan yang amat luar biasa dalam ilmu ginkang sehingga tubuhnya menjadi ringan dan gesit sekali.
Sambaran-sambaran huncwe maut dari Ban Sai Cinjin itu seakan-akan menyerang sehelai bulu yang ringan sehingga yang diserang telah melayang pergi sebelum pukulannya tiba.
"Susiok, jangan berlaku kejam!"
Tiba-tiba Kam Seng yang semenjak tadi memandang dengan penuh kegelisahan, kini tiba-tiba meloncat maju dan terdengar suara "traaang!"
Ketika huncwe itu tertangkis oleh pedang di tangan Kam Seng!
Lili mempergunakan kesempatan ini untuk melompat jauh dan berdiri memandang kepada kedua orang yang kini saling berhadapan itu.
Sepasang mata Ban Sai Cinjin mendelik dan terputar-putar saking marahnya, dan karena pipi kanannya masih ada tanda luka-luka goresan yang dihadiahkan oleh Pendekar Bodoh kepadanya di benteng orang Mongol, maka ia kelihatan menyeramkan sekali.
Seakan-akan apilah yang keluar dari mulut dan hidungnya dan ia seolah-olah hendak menelan pemuda yang berdiri di depannya itu.
"Bangsat terkutuk! Jadi kau hendak membalas budi kami dengan pengkhianatan? Kau hendak membela orang yang menjadi musuh kami, menjadi musuhku dan musuh gurumu? Kau berani melawan Susiokmu, anjing tak kenal budi?"
"Susiok, kalau kau menyerang orang lain, aku masih dapat melihatnya, akan tetapi Nona itu... ? Tidak, Susiok, biarpun aku harus mati, aku akan membelanya!"
"Bangsat, kau cinta padanya, ya? Kau jatuh cinta kepada anak musuh besarmu? Benar-benar anjing pengecut, kau harus mampus!"
Dengan kemarahan yang meluap-luap, Ban Sai Cinjin menyerang murid keponakannya sendiri, Song Kam Seng cepat menangkis dengan pedangnya, akan tetapi biarpun ia telah memperoleh warisan ilmu silat yang tinggi dari Wi Kong Siansu, bagaimana ia dapat melawan susioknya (paman gurunya)?
Sebentar saja ia telah terdesak hebat sekali dan hanya dapat menangkis sambil mundur.
Sementara itu, Lili berdiri dengan kedua mata menjadi basah.
Ia teringat pula akan pengalamannya dahulu ketika ia tertawan oleh Ban Sai Cinjin.
Betapa pemuda itu telah menciumnya dan hampir saja mencemarkan namanya.
Betapa pemuda itu hampir saja membunuhnya dan semua itu hanya dicegah oleh perasaan cinta kasih dari pemuda itu.
Ia maklum bahwa Kam Seng amat membenci ayahnya dan juga tentu berusaha membencinya karena ayah Kam Seng tewas dalam tangan Pendekar Bodoh, akan tetapi ternyata pemuda itu tetap tidak mampu membencinya, bahkan sampai sekarang cintanya terhadap dirinya masih amat besar sehingga pemuda itu sampai berani melawan paman guru sendiri dan berani pula mengorbankan nyawa.
Mengingat sampai di sini, Lili lalu melompat maju hendak membantu Kam Seng, akan tetapi terlambat!
Dengan sebuah serangan kilat, Ban Sai Cinjin telah berhasil mengemplang kepala pemuda itu yang terhuyung-huyung ke belakang dan pedangnya terlepas dari tangannya!
Ban Sai Cinjin memburu maju hendak memberi pukulan maut, akan tetapi tiba-tiba ia merasa iganya disambar oleh angin pukulan yang hebat sekali!
Ia cepat memutar tubuhnya dan mengelak dari pukulan Lili ini, kemudian ia mengayun huncwenya ke arah kepala gadis ini.
Lili menyambutnya dengan gerakan dari Hang-liong-cap-it-ciang-hoat dan dengan amat mudah huncwe itu terampas olehnya, ditekuk di antara jari tangannya dan "pletak!"
Patahlah huncwe maut dari Ban Sai Cinjin yang diandal-andalkan itu!
Terbelalak mata Ban Sai Cinjin memandang ke arah Lili karena tak disangkanya sama sekali bahwa gadis ini mampu merampas huncwenya dengan tangan kosong.
Ia lalu melompat ke belakang dan melarikan diri!
Lili hendak mengejarnya akan tetapi ia mendengar keluhan perlahan, maka ia teringat kembali kepada Kam Seng.
Cepat ia menghampiri pemuda yang merintih-rintih itu.
Bukan main mencelos dan terheran hatinya ketika melihat kepala pemuda itu telah retak dan berlumur darah!
Lili berlutut dan mengangkat kepala pemuda itu, dipangkunya dan dengan saputangannya, ia menyusut darah yang mengalir ke arah mata Kam Seng.
Pemuda itu membuka matanya dan tersenyum!
"Lili...
akhirnya aku dapat menebus dosaku kepadamu...
aku telah tersesat...
aku salah sangka...
ayahmu seorang pendekar besar, seorang budiman, sedangkan ayahku...
ayahku...
dia...
dia seperti aku...
tersesat..."
Sampai di sini kedua mata pemuda itu mengalirkan air mata.
Lili tidak dapat menahan keharuan hatinya dan ia mendekap muka Kam Seng dengan kedua tangannya sambil menangis terisak-isak!
Biarpun tidak boleh bicara, gadis ini masih boleh menangis atau tertawa, demikian pesan gurunya.
"Lili... kau meriangis...? Kau menangisi aku? Terima kasih! Kau memang gadis baik... tak pantas menangisi seorang siauw-jin (orang rendah) seperti Song Kam Seng... Lili, terima kasih... sampaikan hormatku kepada ayah bundamu..., dan salamku kepada... kepada... semua keluargamu juga kepada Kam-ciangkun... tunanganmu..."
Maka habislah napas Kam Seng, pemuda bernasib malang itu yang pada saat terakhir dapat menghembuskan napas penghabisan di dalam pangkuan dara yang dicinta sepenuh hatinya!
Lili menggunakan tulisan untuk menyuruh pengurus restoran membeli peti mati.
Gadis ini masih mempunyai banyak potongan uang emas maka segala urusan penguburan jenazah Kam Seng dapat dilakukan dengan baik.
Orang-orang yang berada di situ menganggap bahwa dia adalah seorang gadis gagu, maka tak seorang pun merasa heran bahwa ia tidak dapat bicara.
Setelah mengurus beres pemakaman dan bersembahyang di depan makam Song Kam Seng, Lili lalu melanjutkan perjalanannya.
Kini kebenciannya terhadap Ban Sai Cinjin bertambah lagi, dan ia berjanji di dalam hati untuk membalaskan sakit hati Song Kam Seng, pemuda yang malang itu.
Hatinya berdebar tidak enak kalau ia teringat akan kata-kata terakhir dari Kam Seng, yang menyebut-nyebut Kam-ciangkun sebagai tunangannya.
Sampai di mana kebenaran ucapan ini?
Ia tidak merasa bertunangan dengan Kam Liong, sungguhpun paman dari Kam Liong, yaitu Sin-houw-enghiong Kam Wi yang kasar dan sembrono itu pernah membikin dia marah karena hendak menjodohkannya dengan Kam Liong secara begitu saja!
Juga diam-diam ia merasa girang karena didalam usahanya menolong Kam Seng tadi, ia telah mempergunakan sejurus dari Hang-liong-cap-it-ciang-hoat dan yang sejurus itu telah membuat ia berhasil merampas dan mematahkan huncwe maut dari Ban Sai Cinjin!
Ia maklum bahwa sebelum ia memiliki ilmu silat ini dengan sempurna, biarpun ia memegang pedang dan kipas, belum tentu ia akan dapat mengalahkan kakek itu secepat dan semudah tadi!
Maka ia lalu melatih diri dengan amat tekun dan rajinnya dan tiga hai kemudian ia telah berani mengakhiri pantangannya bicara.
Dari kota Kun-lip, Lili lalu menuju ke selatan dan di dalam perjalanannya pulang ke Shaning, ia bermaksud untuk singgah dulu di dusun Tong-sin-bun, untuk mencari kalau-kalau Ban Sai Cinjin berada di tempat itu.
Juga ia ingat bahwa Ang I Niocu juga menuju ke tempat itu dalam usahanya mencari pembunuh suaminya, maka ia mempercepat perjalanannya karena ia pun merasa kuatir kalau-kalau Ang I Niocu mengalami kecelakaan pula.
Menghadapi orang-orang seperti Ban Sai Cinjin dan kawan-kawannya yang selain lihai juga amat curang dan licik, sungguh merupakan hal yang amat berbahaya, biar yang menghadapi mereka itu seorang pendekar wanita hebat seperti Ang I Niocu sekalipun!
Ketika ia tiba di dusun Tong-sin-bun menuju ke rumah Ban Sai Cinjin, sebuah gedung besar dan mewah, ia terkejut sekali karena gedung itu kini telah lenyap, rata dengan bumi dan menjadi abu!
Ia pernah mendengar bahwa Lie Siong dahulu pernah membakar bagian dari rumah ini, akan tetapi sekarang rumah ini betul-betul telah habis dan menjadi abu.
Perbuatan siapakah ini?
Agar jangan menarik perhatian orang dan membuat pihak Ban Sai Cinjin bersiap-siap, ia diam-diam lalu meninggalkan Tong-sin-bun dan masuk ke dalam hutan di mana terdapat kelenteng tempat Ban Sai Cinjin dan kawan-kawannya bersembunyi itu.
Ia sengaja menunggu sampai hari menjadi gelap, baru ia mempergunakan kepandaiannya jalan malam dan masuk ke dalam hutan dengan cepat.
Ketika ia tiba di sebuah hutan pohon pek di mana terdapat sebuah bukit kecil di tengahnya, tiba-tiba ia menahan langkah kakinya.
Ia mendengar suara orang menangis di atas bukit kecil itu!
Kalau Lili bukan seorang yang berhati tabah, tentu ia akan merasa ngeri dan seram mendengar suara orang menangis di dalam hutan yang gelap, liar, dan sunyi itu.
Akan tetapi, puteri Pendekar Bodoh ini tidak menjadi takut, bahkan lalu menghampiri tempat itu!
Malam hari itu bulan muncul setelah hampir tengah malam, akan tetapi cahayanya masih terang dan permukaannya masih lebih dari setengahnya.
Oleh karena cahaya bulan memang mengandung sesuatu yang romantis akan tetapi juga menyeramkan, tergantung dari tempat di mana bulan mematulkan cahayanya, maka di dalam hutan itu nampak benar-benar mengerikan.
Pohon-pohon pek yang besar itu kini di bawah sinar bulan nampak seperti setan-setan raksasa yang menjulurkan lengannya yang panjang hendak menangkap orang.
Setiap rumpun merupakan binatang berbentuk aneh yang hitam dan yang bersiap untuk menyeruduk siapa saja yang lewat di hutan itu.
Semua keseraman ini ditambah lagi oleh suara binatang hutan.
Sudah sepatutnya kalau orang akan merasa lebih ketakutan dan bulu' tengkuknya berdiri apabila pada saat dan di tempat seperti itu, tiba-tiba mendengar pula suara tangis orang!
Akan tetapil Lili yang amat tabah hatinya, bahkan menjadi penasaran dan ingin sekali tahu siapa orangnya yang menangis di dalam hutan itu dan mengapa pula ia menangis.
Ketika ia menyusup-nyusup di antara pohon-pohon pek dan tiba di bukit kecil itu, tiba-tiba ia terkejut sekali oleh karena kini orang yang menangis itu mengeluarkan kata-kata yang jelas terdengar dan yang membuat wajahnya menjadi pucat sekali.
Ia masih belum percaya dan memperhatikan baik-baik suara itu sambil menahan tindakan kakinya.
"Ang I Niocu... tak kusangka akan begini jadinya nasibmu dan nasib suamimu yang gagah perkasa. Ah, kini aku teringat... aku teringat akan semua hal yang mengerikan itu..."
"Suhu...!"
Lili berteriak ketika mengenal suara Sin-kai Lo Sian, Pengemis Sakti yang tadinya berada di benteng Alkata-san ketika ia meninggalkan benteng itu dahulu.
Gadis ini melompat dan setelah tiba di puncak bukit kecil di mana terdapat tanaman bunga mawar hutan yang amat lebat, ia melihat Sin-kai Lo Sian itu sedang berlutut dan di depannya menggeletak tubuh Ang I Niocu yang berlumur darah dan tubuhnya penuh luka-luka!
"Ie-ie, Im Giok...!"
Jeritan Lili ini terdengar amat nyaring dan sambil tersedu-sedu gadis ini menubruk Ang I Niotu dan mengangkat kepala wanita itu yang terus dipangkunya.
Ang I Niocu ternyata masih belum mati dan ketika ia memandang kepada Lili, ia tersenyum!
Karena cahaya bulan hanya suram-suram, maka kini wajah Ang I Niocu nampak cantik luar biasa dan senyumnya manis sekali, memlbuat hati Lili menjadi makin terharu.
"Ie-ie Im Giok, mengapa kau sampai menjadi begini? Suhu, apakah yang terjadi dengan Ie-ie Im Giok??"
Tanyanya kepada Ang I Niocu dan juga kepada Sin-kai Lo Sian.
"Lili anak manis... tenanglah dan biarkan Sin-kai menceritakan tentang... suamiku..."
Ang I Niocu sukar sekali mengeluarkan kata-kata karena lehernya telah mendapat luka hebat pula.
Kemudian wanita itu memandang kepada Lo Sian memberi tanda supaya Lo Sian menceritakan pengalamannya dahulu.
Karena maklum bahwa nyawa Ang I Niocu takkan tertolong lagi, maka Lo Sian lalu menuturkan dengan singkat pengalamannya dahulu di tempat ini bersama Lie Kong Sian, peristiwa yang telah lama dilupakannya akan tetapi yang sekarang tiba-tiba saja telah kembali dalam ingatannya.
"Aku ingat betul..."
Ia mulai dengan wajah pucat.
"Lie Kong Sian Tai-hiap mengejar Bouw Hun Ti murid Ban Sai Cinjin di kuil itu karena Lie Kong Sian Tai-hiap hendak membalas dendam kepada Bouw Hun Ti yang telah menculik Lili dan telah membunuh Yo-lo-enghiong (Yousuf). Akan tetapi di kuil, ia dihadapi oleh Wi Kong Siansu. Pertempuran itu hebat sekali dan agaknya Lie Kong Sian Tal-hiap tidak akan kalah kalau saja pada saat itu Ban Sai Cinjin tidak berlaku curang. Dengan amat licik kakek mewah itu menyerang dengan huncwe mautnya, dan Bouw Hun Ti menyerang pula dengan tiga batang panah tangan beracun. Akhirnya Lie Kong Sian Tai-hiap terkena pukulan huncwe maut dari Ban Sai Cinjin dan tewaslah dia!"
Lo Sian berhenti sebentar dan Ang I Niocu yang mendengarkan nampak gemas sekali dan mengerutkan giginya sehingga berbunyi.
"Kemudian dengan sedikit akal, yaitu menakut-nakuti murid Ban Sai Cinjin si hwesio kecil kepala gundul Hok Ti Hwesio yang hendak membelek dada Lie-taihiap dan hendak mengambil jantungnya, aku dapat merampas jenazahnya dan menguburkannya di tempat ini."
Demikianlah, Lo Sian lalu menuturkan pengalamannya sebagaimana telah dituturkan dengan jelas di dalam buku terdahulu dari cerita ini.
Berkali-kali Ang I Niocu mengertak gigi saking gemasnya, kemudian ia berkata.
"Bangsat terkutuk Ban Sai Cinjin! Sayang aku tidak mendapat kesempatan lagi untuk menghancurkan batok kepalanya! Akan tetapi, sedikitnya aku telah membalaskan dendam suamiku dan aku puas telah dapat membunuh Hok Ti Hwesio dan menghancurkan kuil itu."
Setelah mengeluarkan ucapan ini dengan penuh kegemasan, kembali napasnya menjadi berat dan keadaannya payah sekali.
"Suhu, mengapa tidak merawat Ie-ie lebih dulu? Keadaannya demikian hebat...."
Lo Sian menggeleng kepalanya, dan terdengar Ang I Niocu berkata lagi dengan kepala masih di pangkuan Lili.
"Percuma, Lili... percuma... luka-lukaku amat berat... aku tak kuat lagi...!"
"Ie-ie Im Giok! Jangan berkata begitu, Ie-ie!"
Lill menangis!
"Anak baik, setelah suamiku meninggal dan aku...
aku telah mendapatkan makamnya...
apakah yang lebih baik selain...
menyusulnya?
Kuburkanlah jenazahku nanti di dekatnya, Hong Li, dan kau...
sekali lagi kutanya...
apakah kau membenci Siong-ji...?"
Bukan main terharunya hati Lili.
Ia tidak kuasa menjawab dengan mulut, hanya menggelengkan kepalanya saja.
Ia sendirl tak pernah dapat menjawab pertanyaan dalam hatinya sendiri apakah ia sesungguhnya membenci Lie Siong.
Memang kadang-kadang timbul rasa gemasnya terhadap pemuda itu, akan tetapi kegemasan ini adalah karena ia teringat akan hubungan pemuda itu dengan...
Lilani!
Lebih tepat disebut cemburu daripada gemas.
"Kalau begitu... Hong Li, berjanjilah bahwa kau... kau akan suka menjadi isterinya! Aku... aku akan merasa girang sekali, dan juga ayahnya akan... puas melihat kau sebagai... mantunya! Sukakah kau, Hong Li...!"
Lili tentu saja tidak dapat menjawab pertanyaan ini, sungguhpun ia dapat menjawab pertanyaan ini, sungguhpun ia dapat mengerti bahwa pertanyaan ini keluar dari mulut seorang yang sudah mendekati maut dan yang harus dijawab.
"Ie-ie Im Giok, mengapa kautanyakan hal ini kepadaku? Bagaimana aku harus menjawab, Ie-ie? Urusan pernikahan tentu saja aku hanya menurut kehendak orang tuaku."
"Cin Hai dan Lin Lin tentu akan setuju..."
Kemudian dengan napas makin berat, Ang I Niocu berkata kepada Lo Sian.
"Lo-enghiong, kau... kuserahi kekuasaan untuk... menjadi wakilku... untuk menjadi wali dari Siong-ji... kaulah yang akan mengajukan lamaran kepada Pendekar Bodoh..."
"Tentu, Ang I Niocu, tentu aku suka sekali. Aku merasa amat terhormat untuk mewakilimu dalam hal ini,"
Jawab Lo Sian dengan terharu.
Keadaan Ang I Niocu makin lemah dan setelah memanggil-manggil nama Lie Kong Sian dan menyebut nama Lie Siong, akhirnya wanita pendekar yang gagah perkasa, yang namanya pernah menggemparkan dunia persilatan ini, menghembuskan napas terakhir di dalam pangkuan Lili, diantar oleh tangis dara itu.
Setelah menangisi kematian Ang I Niocu sampai malam terganti pagi, Lili dan Lo Sian lalu menguburkan jenazah Ang I Niocu di sebelah kiri makam Lie Kong Sian.
Kemudian mereka duduk menghadapi makam dan dalam kesempatan ini, Lo Sian lalu menuturkan keadaan dan pengalaman Ang I Niocu seperti yang ia dengar dari penuturan Ang I Niocu sendiri sebelum Lili datang.
Seperti telah dituturkan di bagian depan, Ang I Niocu dengan hati marah sekali pergi mencari pembunuh suaminya dan menyusul puteranya, setelah berkumpul sebentar dengan Lili.
Dari gadis inilah pertama kali ia mendengar bahwa suaminya telah terbunuh orang, dan bahwa Lie Siong telah mulai melakukan penyelidikan untuk mencari pembunuh itu.
Sampai beberapa lama ia merantau ke selatan, dan akhirnya pergilah ia ke Tong-sin-bun, karena dari Lili ia mendengar Lie Siong pernah ke sana.
Juga ia ingin sekali bertemu dan memberi hajar kepada Ban Sai Cinjin, juga ingin mendapatkan Bouw Hun Ti yang sudah berani menculik Lili di waktu kecil.
Ketika ia tiba di luar dusun Tong-sin -bun, tiba-tiba ia melihat seorang pengemis yang berpakaian tambal-tambalan akan tetapi bersih sekali, tengah duduk di pinggir jalan dan memandang kepadanya dengan mata penuh perhatian.
Melihat keadaan pengemis tua ini, Ang I Niocu berpikir-pikir sebentar, dan teringatlah ia bahwa yang berada di depannya ini tentulah Sin-kai Lo Sian, Si Pengemis Sakti yang menurut penuturan Lili menjadi guru gadis itu dan juga telah diculik oleh puteranya!
Akan tetapi, sebelum ia sempat menegurnya, Sin-kai Lo Sian telah mendahuluinya menegur sambil berdiri dan memberi hormat.
"Bukankah Siauwte berhadapan dengan Ang I Niocu yang terhormat?"
"Sin-kai Lo-enghiong, kau mempunyai pandangan mata yang tajam,"
Jawab Ang I Niocu.
"Di manakah puteraku?"
"Siauwte tidak tahu, Niocu, semenjak kami berpisah di Alkata-san, kami tak saling bertemu lagi."
Ang I Niocu mengerutkan keningnya, kemudian ia lalu menghampiri Lo Sian dan berkata.
"Menurut penuturan Hong Li, katanya puteraku telah berlaku kurang ajar dan menculik Lo-enghiong, sebetulnya apakah kehendaknya? Apakah benar kau mengetahui siapa pembunuh suamiku?"
Lo Sian mengangguk.
"Tak salah lagi, Niocu. Yang membunuh Lie Kong Sian Tai-hiap adalah Ban Sai Cinjin."
Kemudian Pengemis Sakti ini lalu menuturkan pengalamannya, ketika ia dan Lie Siong tertangkap oleh Ban Sai Cinjin dan betapa kakek mewah itu mengaku telah membunuh Lie Kong Sian.
"Jadi kau sendiri tidak ingat lagi bagaimana suamiku dibunuhnya dan di mana pula dikubur?"
Ang I Niocu menahan gelora hatinya yang kembali diserang oleh gelombang kedukaan dan kemarahan. Lo Sian menggeleng kepalanya dengan sedih.
"Itulah, Niocu, sampai sekarang pun aku belum dapat kembali ingatanku. Aku sengaja datang ke sini untuk menyegarkan ingatanku dan siapa tahu kalau-kalau aku akan teringat kembali. Akan tetapi, kalau kau datang hendak menuntut balas..."
"Tentu saja aku hendak menuntut balas! Di mana adanya bangsat besar Ban Sai Cinjin?"
Ang I Niocu memotong dengan tak sabar lagi.
"Nanti dulu, Niocu, kau harus berlaku hati-hati di tempat ini, karena Ban Sai Cinjin bukan seorang diri saja. Dia sendiri mempunyai kepandaian yang luar biasa dan biarpun aku percaya penuh bahwa kau tentu akan dapat mengalahkannya, akan tetapi di dalam rumah atau kuilnya berkumpul orang-orang yang pandai. Di sana ada Wi Kong Siansu yang menjadi suhengnya dan yang memiliki kepandaian lebih tinggi daripada Ban Sai Cinjin sendiri. Ada pula Hok Ti Hwesio yang biarpun hanya menjadi muridnya, akan tetapi hwesio ini memiliki hoatsut (ilmu sihir) yang mengerikan. Bahkan di situ sekarang telah berkumpul pula Hailun Thai-lek Sam-kui atas undangan Wi Kong Siansu, dan masih ada beberapa orang tokoh kang-ouw lagi yang tidak kukenal namanya. Oleh karena itu, kalau toh Niocu hendak menyerbu ke sana, harap suka berlaku hati-hati."
"Lekas katakan, di mana letak rumahnya dan di mana pula kuilnya? Aku hendak mencari Ban Sai Cinjin!"
Bentak Ang I Niocu dengan muka merah karena ia sudah menjadi marah sekali dan sekian nama-nama besar tadi sama sekali tidak masuk ke dalam telinganya.
Lo Sian menjadi heran sekali dan melihat kemarahan orang ia tidak berani membantah lagi.
Ia telah cukup banyak mendengar tentang watak Ang I Niocu yang luar biasa dan keras, dan kalau dia sampai membuat Ang I Niocu jengkel, salah-salah dia bisa dipukul roboh, maka ia lalu cepat-cepat memberi petunjuk di mana adanya rumah gedung Ban Sai Cinjin dan di mana pula letak kuil di dalam hutan dekat dusun Tong-sin-bun itu.
Setelah mendapat keterangan yang jelas dari Lo Sian, Ang I Niocu tanpa mengucapkan terima kasih lalu menggerakkan tubuhnya dan lenyap dari depan Lo Sian.
Pengemis Sakti ini mengerutkan keningnya.
Ia percaya penuh akan kelihaian Ang I Niocu yang sudah disaksikan pula kesempurnaan gin-kangnya sehingga dapat melenyapkan diri sedemikian cepatnya, akan tetapi tetap saja ia merasa sangsi apakah pendekar wanita itu dapat mengalahkan Ban Sai Cinjin dan kawan-kawannya yang benar-benar merupakan lawan yang tidak mudah dikalahkan.
Sedangkan Lie Kong Sian, suami pendekar wanita itu yang memiliki kepandaian lebih tinggi daripada Ang I Niocu, juga roboh oleh Ban Sai Cinjin, apalagi Ang I Niocu!
Maka dengan hati gelisah ia lalu mengejar ke dalam dusun itu.
Ternyata oleh Ang I Niocu bahwa di dalam gedung yang mewah itu tidak terdapat Ban Sai Cinjin atau tokoh-tokoh lain, kecuali beberapa belas orang anak buah dan murid-murid baru, juga beberapa orang wanita muda yang menjadi selirnya.
Di dalam kemarahan dan kebenciannya, Ang I Niocu membunuh semua orang di dalam rumah ini dan kemudian membakar gedung mewah itu!
Kini kebakaran lebih hebat daripada perbuatan Lie Siong setahun yang lalu, karena sekarang yang terbakar adalah seluruh gedung sehingga tempat yang tadinya mewah itu kini menjadi tumpukan puing!
Hal ini terjadi karena Ang I Niocu membakar gedung itu lalu menjaganya di depan, melarang orang-orang yang hendak memadamkannya.
Kemudian pendekar wanita yang marah ini lalu menuju ke kuil di dalam hutan!
Hari telah menjadi gelap dan ketika ia tiba di dekat kuil, di dalam rumah kelenteng itu telah dipasang api yang terang.
Adapun Lo Sian dengan hati merasa ngeri melihat sepak terjang pendekar wanita ini dari jauh, melihat betapa rumah gedung itu dimakan api dan tak seorang pun penghuninya dapat berlari keluar!
Diam-diam ia menarik napas panjang menyesali perbuatan Ban Sai Cinjin yang mengakibatkan kekejaman yang demikian luar biasa dari pendekar wanita yang murka itu.
Kemudian, setelah melihat bayangan merah itu berlari cepat sekali menuju ke hutan, ia pun lalu menggunakan kepandaiannya berlari cepat menyusul.
Lo Sian maklum bahwa menghadapi Ang I Niocu, ia sama sekati tidak berdaya.
Hendak menolong, tentu takkan diterima, pula kepandaiannya sendiri dibandingkan dengan Ang I Niocu, masih kalah jauh sekali.
Maka ia hanya menonton saja dari jauh, siap untuk menolongnya apabila perlu dan tenaganya mengijinkan.
Sebagaimana telah dikuatirkan oleh Lo Sian, benar saja kedatangan Ang I Niocu ini sudah diduga lebih dulu oleh Ban Sai Cinjin, dan ketika pendekar wanita itu tiba di depan kuil yang terang sekali karena di situ dipasang banyak penerangan, dari dalam muncullah Ban Sai Cinjin, Wi Kong Siansu, Hailun Thai-lek Sam-kui, Coa-ong Lojin ketua dari Coa-tung Kaipang, kedua saudara Can jago-jago dari Shan-tung yakni Can Po Gan dan Can Po Tin, dan masih ada tiga orang hwesio gundul pula yang bukan lain adalah tiga orang tokoh dari Bu-tong-san!
Melihat asap hitam yang mengepul dari huncwe Ban Sai Cinjin, maklumlah Lo Sian bahwa kakek mewah itu telah bersiap sedia untuk bertempur dan ini membuktikan bahwa ia sudah menanti kedatangan Ang I Niocu!
Akan tetapi Ang I Niocu seujung rambut pun tidak merasa takut bahkan lalu menudingkan pedang yang bersinar-sinar ke arah dada Ban Sai Cinjin.
"Apakah kau yang bernama Ban Sai Cinjin, orang yang telah membunuh suamiku Lie Kong Sian?"
Mendengar pertanyaan yang langsung ini, Ban Sai Cinjin tersenyum mengejek untuk menghilangkan kegelisahannya melihat wanita yang hebat ini.
"Ang I Niocu, suamimu tewas ketika mengadakan pibu dengan kami, mengapa kau penasaran? Sebaliknya kaulah yang telah melakukan perbuatan keterlaluan sekali, membakar gedungku dan membunuh keluargaku. Patutkah itu dilakukan oleh seorang gagah?"
"Bangsat terkutuk! Mana suamiku bisa kalah olehmu kalau benar-benar bertemur dalam pibu yang adil? Kau tentu telah melakukan kecurangan seperti biasa kau lakukan. Kaukira aku belum mendengar namamu yang buruk dan kotor? Majulah kau, hendak kulihat bagaimana kau sampai bisa mengalahkan suamiku!"
Sambil berkata demikian dengan mata menyala-nyala Ang I Niocu lalu melompat mundur dan melambaikan pedangnya pada Ban Sai Cinjin dengan sikap menantang sekali.
Melihat pedang Liong-cu-kiam, yakni pedang ke dua dari sepasang pedang Liong-cu-siang-kiam yang dahulu ditemukan oleh Cin Hai dan Ang I Niocu (baca cerita Pendekar Bodoh), hati Ban Sai Cinjin menjadi gentar juga.
Pedang itu mencorong dan mengeluarkan cahaya putih menyilaukan.
Cahaya lampu yang banyak itu membuat pedang itu makin berkilauan lagi.
Oleh karena itu, ia merasa ragu-ragu untuk melayani tantangan Ang I Niocu.
Tiba-tiba terdengar suara ketawa, ternyata yang ketawa itu adalah Hok Ti Hwesio yang baru keluar dari kuil diikuti oleh beberapa orang hwesio muda yang menjadi kawan-kawannya.
Memang akhir-akhlr ini di kuil itu telah berkumpul beberapa belas orang hwesio muda yang diaku menjadi murid Hok Ti Hwesio, akan tetapi yang sesungguhnya merupakan sekumpulan penjahat cabul yang berkedok kepala gundul dan jubah pendeta!
"Lihat, orang macam itu hendak melawan Suhu!"
Kata Hok Ti Hwesio kepada kawan-kawan atau boleh juga disebut murid-muridnya yang juga pada tertawa menyeringai.
Melihat rombongan hwesio muda ini, teringatlah Ang I Niocu akan cerita Lo Sian tentang seorang hwesio yang menjadi murid Ban Sai Cinjin, maka dengan suara dingin sekali ia bertanya sambil memandang ke arah mereka.
"Aku pernah mendengar nama Hok Ti Hwesio, entah yang manakah di antara kalian bernama begitu?"
Hok Ti Hwesio memperkeras suara ketawanya, lalu berkata.
"Ang I Niocu, kau disohorkan orang sebagai seorang pendekar wanita baju merah yang cantik seperti bidadari. Sekarang kau datang menanyakan Hok Ti Hwesio, apakah kau jatuh hati kepadaku? Hemm, akulah yang tidak mau, Niocu, karena biarpun bajumu masih merah, akan tetapi mukamu sudah amat tua, terlalu tua..."
Belum sempat Hok Ti Hwesio menutup mulutnya, berkelebat bayangan merah yang didahului oleh sinar putih menyambar ke arah Hok Ti Hwesio.
"Awas...!"
Teriak Wi Kong Siansu dan Ban Sai Cinjin berbareng dan dengan kaget sekali Hok Ti Hwesio masih sempat menjatuhkan diri ke belakang, sehigga terhindar dari sambaran pedang Liong-cu-kiam di tangan Ang I Niocu.
Dengan gerak tipu Trenggiling Menggelinding dari Puncak, Hok Ti Hwesio bergulingan menjauhkan diri, akan tetapi tanpa dapat mengeluarkan kata-kata saking marahnya, Ang I Niocu terus mengejarnya!
Dua orang hwesio murid Hok Ti Hwesio mencoba menghadang, akan tetapi begitu Liong-cu-kiam menyambar, terbabat putuslah leher kedua orang hwesio sial ini!
Hwesio-hwesio muda yang lain menjadi ngeri dan mundur, adapun Hok Ti Hwesio telah melompat berdiri.
Hwesio ini telah memiliki kepandaian tinggi, maka ia tidak takut, ia mencabut pisau terbangnya dan begitu Ang I Niocu menyerang, ia lalu menyambut dengan pisaunya yang lihai.
Akan tetapi terdengar suara nyaring dan pisaunya telah terbabat putus!
Hok Ti Hwesio membaca mantera dan matanya terbelalak lebar memandang wajah Ang I Niocu lalu membentak sambil mendorong dengan kedua tangannya ke arah dada Ang I Niocu.
Inilah ilmu hoat-sut (ilmu sihir) yang dipergunakan untuk mendorong roboh lawan.
Ang I Niocu merasa tenaga yang mujijat nyambarnya dari depan.
Cepamt ia menggerakkan lengan kirinya dan mengepullah uap putih menolak pengaruh jahat itu ketika ia mengerahkan Ilmu Silat Pek-in-hoatsut yang ia pelajari dari Bu Pun Su.
"Suhu... tolong...!"
Akhirnya Hok Ti Hwesio berseru minta tolong karena ia telah benar-benar terdesak hebat.
Memang semenjak tadi Ban Sai Cinjin sudah hendak menolongnya dan kini hwesio mewah ini lalu mengayun huncwe menghantam kepala Ang I Niocu dari belakang!
Ang I Niocu yang sudah menjadi marah kali lalu mengayun pedangnya ke belakang kepala tanpa menengok lagi sambil mengirim pukulan Pek-in-hoatsut dengan tangan kirinya ke arah Hok Ti Hwesio.
Sungguh gerakan yang luar biasa sekali, karena sambil menangkis serangan dari belakang tanpa menengok ia masih dapat mengirim pukulan maut ke depan.
Kalau orang tidak mempunyai tubuh yang lemas lincah serta tidak memiliki Ilmu Silat Sianli-utauw yang mahir, tidak mungkin dapat melakukan gerakan ini.
"Traaang!"
Ujung huncwe itu, yakni bagian kepalanya yang mengeluarkan asap hitam, terbabat rompal oleh pedang Liong-cu-kiam sehingga Ban Sai Cinjin melompat ke belakang dengan kaget.
Adapun Hok Ti Hwesio yang mengandalkan ilmu kebalnya yang lihai, hanya miringkan tubuhnya sambil membalas menyerang dengan pukulan tangan kiri.
Akan tetapi bukan main kagetnya ketika ia merasa betapa dadanya yang sudah miring itu tetap terdorong oleh tenaga raksasa dari pukulan lawan ini.
Ia tak dapat mempertahankan kedua kakinya lagi dan terlemparlah ia ke belakang!
Akan tetapi, dengan heran dan makin marah Ang I Niocu melihat betapa hwesio muda itu sama sekali tidak kelihatan sakit dan sudah berdiri kembali.
Akan tetapi Ang I Niocu tidak mau memberi kesempatan lagi kepadanya dan cepat pedangnya digerakkan secara luar biasa sekali ke arah tubuh hwesio itu.
Hok Ti Hwesio masih berusaha mengelak dan melompat, akan tetapi sinar pedang itu mengurungnya dari segenap penjuru sehingga tidak ada jalan keluar lagi baginya.
Setelah tiga kali ia berhasil mengelak, ke empat kalinya Liong-cu-kiam menembus pahanya sehingga ia roboh terguling mandi darah dan berkaok-kaok seperti babi disembelih!
Akan tetapi sekejap kemudian, mulutnya tak dapat mengeluarkan suara lagi karena pedang Liong-cu-kiam secepat kilat telah menembus jantungnya!
Bukan main marahnya Ban Sai Cinjin melihat muridnya yang tersayang telah binasa di tangan Ang I Niocu, maka sambil berseru seperti guntur, ia menyerang lagi dengan huncwenya yang ujungnya telah gempal.
Adapun Wi Kong Siansu juga merasa penasaran melihat sepak terjang Ang I Niocu yang tidak mengenal ampun.
"Ang I Niocu, sepak terjangmu bukan seperti seorang gagah, lebih pantas seperti iblis wanita!"
Seru Wi Kong Siansu sambil melompat maju karena ia maklum bahwa sutenya, Ban Sai Cinjin, agaknya bukan lawan wanita gagah ini.
"Wi Kongo, tua bangka tak tahu malu! Kau juga telah mengotorkan tanganmu dan membantu sutemu membunuh suamiku. Majulah kau, tua bangka untuk menerima hukuman dari Ang I Niocu!"
Seru Ang I Niocu dengan marah sekali.
Wi Kong Siansu menjadi merah mukanya dan ia cepat mencabut pedangnya Hek-kwi-kiam (Pedang Setan Hitam) dan sebentar saja Ang I Niocu telah dikeroyok dua oleh Ban Sai Cinjin dan Wi Kong Siansu.
Tingkat kepandaian Wi Kong Siansu memang lebih tinggi daripada Ban Sai Cinjin dan hal ini diketahui dengan cepat oleh Ang I Niocu.
Gerakan pedang di tangan Wi Kong Siansu selain amat cepat dan berbahaya, juga tenaga lwee-kang dari tosu ini pun jauh lebih kuat daripada Ban Sai Cinjin.
Akan tetapi, kalau saja Ang I Niocu hanya menghadapi Wi Kong Siansu seorang, ia takkan kalah dan agaknya sukarlah bagi tosu itu untuk dapat mengimbangi permainan pedang yang luar biasa hebatnya dari pendekar wanita baju merah itu.
Namun, dengan adanya Ban Sai Cinjin yang mainkan huncwenya secara hebat pula, Ang I Niocu menghadapi lawan yang amat tangguh.
Betapapun juga, Ang I Niocu pun tidak memperlihatkan jerih, bahkan karena ia sedang marah dan sakit hati sekali, maka gerakan pedangnya adalah gerakan dari orang yang nekat dan hendak mengadu jiwa, maka masih kelihatan betapa Wi Kong Siansu dan Ban Sai Cinjin yang masih sayangi jiwa sendiri itu selalu terdesak mundur!
Tentu saja hal ini mengagetkan orang-orang gagah yang berada di situ.
Orang yang masih dapat mendesak mundur Wi Kong Siansu dan Ban Sai Cinjin, sukar dicari keduanya di dunia ini!
Diam-diam Hailun Thai-lek Sam-kui menjadi amat gembira.
Tangan mereka sudah merasa gatal-gatal karena makin tangguh lawan, makin besar keinginan mereka untuk mencoba kepandaiannya.
Akhirnya, tiga orang kakek ini tak dapat menahan keinginannya lagi dan sambil berseru keras mereka lalu menyerbu ke dalam kalangan pertempuran, sehingga kini Ang I Niocu dikeroyok lima!
Melihat hal ini, Lo Sian menjadi bingung sekali.
Kalau ia maju membantu Ang I Niocu, hal itu takkan ada artinya sama sekali.
Ia maklum bahwa kepandaiannya masih kalah jauh dan bantuannya tidak akan menolong Ang I Niocu, bahkan jangan-jangan malah akan menghancurkan daya tahan dari pendekar wanita baju merah itu.
Akhirnya ia mendapat akal dan larilah Pengemis Sakti ini ke belakang kuil itu.
Karena semua orang telah lari ke depan, maka keadaan di belakang kuil sunyi sekali.
Dengan enaknya Lo Sian lalu menurunkan lampu dan menggunakah minyak dan api untuk membakar kuil.
Ia membakar bagian yang terisi banyak kertas maka sebentar saja kuil itu menjadi lautan api yang mengamuk dari bagian belakang!
Ketika itu, Ang I Niocu sudah mulai terdesak hebat, sungguhpun pedang Liong-cu-kiam telah membabat putus rantai besar dari Lak Mau Couwsu dan telah melukai pundak Bouw Ki sehingga orang ke tiga dan ke dua dari Hailun Thai-lek Sam-kui tak dapat mengeroyok lagi.
Sebagai gantinya, kedua saudara Can kini telah maju mengeroyok.
Ang I Niocu mengertak gigi dan memutar pedangnya lebih hebat lagi.
Karena ia tidak mudah merobahkan para pengeroyoknya, kini ia mulai mengincar hwesio-hwesio yang menjadi murid Hok Ti Hwesio dan yang masih merubung mayat Hok Ti Hwesio dengan muka pucat.
Begitu ia mendapat kesempatan, Ang I Niocu melompat keluar dari kepungan lima orang pengeroyoknya dan menerjang kawanan hwesio itu yang menjadi geger.
Kembali tiga orang hwesio telah roboh mandi darah dalam keadaan mati!
"Ang I Niocu manusia kejam!"
Wi Kong Siansu membentak marah akan tetapi pada saat itu Ang I Niocu telah mengejar dua orang hwesio lain yang dibabatnya sehingga kedua orang ini putus tubuhnya menjadi dua!
Diam-diam kelima orang pengeroyok ini menjadi ngeri juga menyaksikan keganasan Ang I Niocu yang benar-benar seperti telah berubah menjadi kejam itu.
Dengan sepenuh tenaga, mereka mengerahkan kepandaian mereka untuk merobohkan Ang I Niocu.
Para Pengeroyok Ang I Niocu adalah tokoh-tokoh dunia persilatan yang menduduki tingkat atas.
Wi Kong Siansu mendapat julukan Toat-beng Lo-mo (Iblis Tua Pehcabut Nyawa), seorang tokoh dari Hek-kwi-san yang selain memegang pedang Hek-kwi-kiam, juga mainkan ilmu pedang Hek-kwi-kiam-hoat.
Ilmu pedangnya sudah mencapai tingkat yang tidak kalah oleh Ang I Niocu sendiri.
Juga Ban Sai Cinjin tadinya sudah amat lihai, dan akhir-akhir ini ia memperdalam ilmu silatnya sehingga ia memperoleh kemajuan besar.
Ilmu tongkatnya yang dimainkan dengan sebatang huncwe itu benar-benar merupakan tangan maut yang menjangkau nyawa lawan.
Pengeroyok ke tiga adalah Thian-he Te-it Siansu, orang pertama dari Tiga Iblis Geledek dari Hailun.
Baru julukannya saja sudah Thian-he Te-it Siansu (Manusia Dewa Nomor Satu di Kolong Langit), maka sudah dapat dibayangkan betapa lihainya payung yang dimainkannya!
Pengeroyok ke empat dan ke lima adalah Can Po Gan dan Can Po Tin kakak beradik jago dari Shan-tung yang memiliki kepandaian tinggi pula.
Maka tentu saja setelah dapat mempertahankan diri sampai seratus jurus lebih, akhirnya Ang I Niocu menjadi repot dan terdesak hebat sekali.
Beberapa kali ia telah menderita luka-luka hebat, akan tetapi berkat latihan-latihan dan pengalaman-pengalamannya, maka pendekar wanita ini masih dapat mempertahankan diri dan pada saat ia menerima sambaran senjata lawan yang mengenai dekat lehernya, ia telah dapat menancapkan pedangnya di lambung Can Po Tin sehingga orang ini menjerit keras lalu roboh tak bernyawa pula!
Ang I Niocu terhuyung-huyung akan tetapi ia masih dapat melawan dengan nekat.
Ketika Can Po Gan yang menjadi marah menerjangnya, pendekar wanita ini kembali menerima pukulan pada pundaknya, akan tetapi sekali tangan kirinya melancarkan pukulan Pek-in-hoat-sut ke arah dada Can Po Gan, orang ini memekik dan terlempar ke belakang dengan dada pecah!
Pada saat itu, nampak cahaya api dan kagetlah para pengeroyok Ang I Niocu ketika melihat betapa kuil itu telah menjadi lautan api!
Ban Sai Cinjin adalah orang pertama yang merasa paling kaget dan marah.
Ia sudah mendengar betapa rumah gedungnya di Tong-sin-bun telah menjadi abu, dan sekarang kembali kuinya yang indah mentereng ini hendak dimakan api!
Maka ia lalu melompat meniggalkan Ang I Niocu untuk mengusahakan pemadaman api yang membakar kuil.
Akan tetapi sia-sia belaka karena api telah menjalar dan nyalanya telah terlampau besar untuk dapat dipadamkan lagi.
Sementara itu, Ang I Niocu yang merasa betapa kepungannya kini agak longgar, lalu melompat ke belakang.
Ia sudah terlalu letih dan merasa bahwa ia tidak kuat untuk melawan lagi.
Ia melarikan diri ke belakang, dikejar oleh Wi Kong Siansu dan Thian-he Te-it Siansu, dua orang yang memiliki kepandaian paling tinggi.
Kedua orang tosu ini hendak menangkap Ang I Niocu yang dianggapnya terlalu ganas dan kejam itu.
Biarpun Ang I Niocu memiliki gin-kang yang luar biasa dan kalau sekiranya ia tidak terluka, kedua orang tokoh besar ini pun belum tentu dapat mengejarnya, akan tetapi pada saat itu pendekar wanita ini telah terluka hebat dan tubuhnya telah mandi darah yang mengucur dari luka-lukanya.
Ia mencoba untuk menguatkan tubuhnya, berdiri menanti kedatangan dua orang pengejarnya untuk dilawan mati-matian, akan tetapi tiba-tiba sepasang matanya menjadi gelap, kepalanya pening dan robohlah ia tak sadarkan diri lagi!
Dari balik pohon melompat keluar Lo Sian yang cepat memondong tubuh Ang I Niocu, dibawa lari ke dalam hutan.
Melihat hal ini, Wi Kong Siansu dan Thian-he Te-it Siansu menjadi marah sekali dan mengejar makin cepat.
Sin-kai Lo Sian menjadi sibuk sekali karena bagaimana ia dapat melepaskan diri dari kejaran dua orang yang memiliki kepandaian berlari cepat jauh lebih tinggi daripada kepandaiannya?
Dalam gugupnya, Lo Sian lalu lari sejadi-jadinya sehingga ia menubruk rumpun berduri dan terus saja jatuh bangun dan bergulingan sambil memondong tubuh Ang I Niocu!
Betapapun juga, tetap saja ia mendengar suara dua orang pengejarnya yang lihai.
Ketika Wi Kong Siansu dan Thian-he Te-it Siansu sudah hampir dapat menyusul Lo Siang, tiba-tiba dari sebuah tikungan jalan di dalam hutan itu muncul seorang kakek kate yang memegangi sebuah guci arak dan sebentar-sebentar menenggak ciu-ouw itu sambil melenggang dan kemudian bernyanyi-nyanyi riang!
Kakek kate ini berjalan di tengah lorong menghadang kedua orang tosu yang mengejar Lo Sian dan ketika mereka berhadapan, kakek kate itu dengan suara masih dinyanyikan lalu menegur.
"Dua orang tua bangka mengejar-ngejar orang dengan senjata di tangan dan hawa maut terbayang di mata, sungguh mengerikan!"
Wi Kong Siansu dan Thian-he Te-it Siansu cepat memandang dan bukan main kaget hati mereka ketika melihat bahwa yang menghadang di depan mereka itu adalah Im-yang Giok-cu, tokoh besar di Pegunungan Kun-lun-san yang jarang sekali memperlihatkan diri di dunia ramai!
Sebagaimana pembaca tentu masih ingat Im-yang Giok-cu Si Dewa Arak ini dahulu bersama Sin Kong Tianglo yang berjuluk Yok-ong (Si Raja Obat) pernah menjadi guru dari Goat Lan.
Pada waktu itu, Im-yang Giok-cu di dalam perantauannya mendengar bahwa kitab obat Thian-te Ban-yo Pit-kip peninggalan sahabatnya, Sin Kong Tianglo yang dahulu oleh dia sendiri diberikan kepada Goat Lan, telah dicuri oleh Ban Sai Cinjin, maka malam harl ini ia memang sengaja hendak mencari Ban Sai Cinjin untuk urusan itu.
Kebetulan sekali di dalam hutan ini melihat Wi Kong Siansu dan Thian-te Te-it Siansu sedang mengejar-ngejar seorang pengemis yang membawa lari tubuh seorang nenek tua.
Ia tidak mengenal Lo Sian, juga tidak tahu bahwa nenek tua yang dibawa lari oleh Lo Sian itu adalah Ang I Niocu, akan tetapi ia cukup tahu akan Wi Kong Siansu dan Thian-he Te-it Siansu yang kabarnya memusuhi muridnya, Goat Lan!
Oleh karena inilah maka Im-yang Giok-cu sengaja menghadang mereka untuk menolong orang yang dikejar itu.
Wi Kong Siansu cepat mengangkat dua tangan memberi hormat lalu berkata.
"Kalau tidak salah kami berhadapan dengan sahabat dari Kun-lun-san Im-yang Giok-cu. Tidak tahu malam-malam begini hendak pergi ke manakah, Toyu (sebutan untuk kawan seagama To)?"
Karena Im-yang Giok-cu tidak mengenal Lo Sian dan mengerti bahwa kini yang yang dikejar itu sudah lari jauh dan di dalam gelap ini tak mungkin dapat disusul lagi, ia pun tidak mau mencampuri urusan orang, hanya berkata.
"Wi Kong Siansu, aku hendak mencari sutemu yang kabarnya telah mencuri kitab Thian-te Ban-yo Pit-kip dari mendiang Sin Kong Tianglo sahabat baikku. Sutemu harus mengembalikan kitab itu dengan baik-baik kepadaku untuk kukembalikan kepada muridku Kwee Goat Lan. Harap sutemu suka memandang mukaku dan jangan main-main dengan seorang anak-anak seperti muridku itu."
Setelah berkata demikian, Si Kate ini lalu menenggak guci araknya.
Thian-he Te-it Siansu yang memang suka sekali berkelahi dan sekarang sedang marah sekali karena dua orang sutenya telah dikalahkan oleh Ang I Niocu.
Dengan sikap menantang, kakek yang sama katenya dengan Im-yang Giok-cu ini lalu melompat maju sambil menggerak-gerakkan payungnya dan berkata.
"Im-yang Giok-cu, kau minggirlah dulu agar aku dapat menangkap setan wanita tadi! Ada urusan boleh diurus nanti."
Akan tetapi Im-yang Giok-cu juga menggerak-gerakkan guci araknya dan berkata.
"Tidak bisa, tidak bisa! Urusanku lebih penting lagi, urusanmu mengejar-ngejar dan mengeroyok orang yang sudah berlari sungguh tidak patut dan dapat dihabiskan saja!"
Thian-he Te-it Siansu marah sekali dan cepat payungnya bergerak menyambar dada Im-yang Giok-cu, akan tetapi Si Dewa Arak ini menggerakkan guci araknya menangkis. Terdengar suara "krak!"
Dan patahlah ujung payung orang pertama dari Hailun Thai-lek Sam-kui, sedangkan beberapa tetes arak melompat keluar dari guci itu dan tepat sekali dua tetes diantaranya menyambar ke arah kedua mata Thian-he Te-it Siansu!
Terkejut sekali orang cebol ini dan cepat ia melompat mundur.
Wi Kong Siansu yang cerdik segera melerai.
Ia lebih maklum bahwa tokoh besar dari Pegunungan Kun-lun ini adalah suhu dari Kwee Goat Lan dan tentu saja boleh disebut berpihak kepada Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya, dan ia maklum pula akan kelihaian kakek ini, maka ia lalu berkata.
"Im-yang Giok-cu, kau tidak tahu bahwa kuil suteku telah terbakar, maka marilah kita bersama ke sana dan tentang kitab obat itu boleh kautanyakan kepada suteku. Di antara kita sendiri, mengapa saling serang?"
Im-yang Giok-cu tertawa bergelak, lalu menjawab.
"Bagus, inilah baru ucapan seorang cerdik! Urusan harus diselesaikan dulu, untuk pibu..."
Ia melirik Thian-he Te-it Siansu.
"puncak Thai-san masih cukup luas dan musim chun memang menimbulkan kegembiraan pada semua orang untuk main-main!"
Mendengar sindiran ini, Wi Kong Siansu maklumlah sudah bahwa kakek kate yang lihai ini sudah mendengar pula tentang tantangan pibu antara dia melawan Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya, maka diam-diam ia mengeluh.
Akan tetapi ketika mereka bertiga mendapatkan Ban Sai Cinjin di depan kuil, ternyata bahwa kuil itu semua telah dimakan api.
Tak sepotong pun barang dapat diselamatkan, termasuk kitab Thian-te Ban-yo Pit-kip juga ikut musnah terbakar.
Untuk membuktikan bahwa kitab itu betul-betul terbakar, Ban Sai Cinjin lalu minta kepada Im-yang Giok-cu untuk menanti sampai api padam betul, kemudian ia membongkar tempat di mana kitab itu tadinya disimpang yaitu dalam sebuah peti.
Peti itu telah menjadi abu dan ketika dibongkar, benar saja didalamnya terdapat abu sebuah kitab yang samar-samar masih dapat dilihat tulisannya!
Im-yang Giok-cu menarik napas panjang dan berkata.
"Kitab ini telah menyusul pemilik dan penulisnya. Sudahlah, aku tak dapat berkata apa-apa lagi!"
Ia lalu melenggang pergi sambil menenggak araknya, tak seorang pun berani mencegah atau mengganggunya.
Adapun Lo Sian yang dapat melarikan diri sambil memondong tubuh Ang I Niocu yang berlumur darah, tanpa disengaja telah lari ke atas bukit di tengah hutan di mana dahulu ia mengubur jenazah Lie Kong Sian!
Bagaikan ada dewa yang menuntunnya, di dalam kebingungannya melarikan diri dari kedua orang pengejarnya, Lo Sian naik terus dan di antara pohon-pohon pek itu ia melihat serumpun bunga mawar hutan yang sedang berkembang.
Maka saking lelahnya, ia lalu meletakkan tubuh Ang I Niocu di atas rumput.
Kemudian, pemandangan di sekitarnya dan keharuan hatinya melihat keadaan Ang I Niocu yang sudah tak mungkin dapat ditolong lagi itu, membuka matanya dan teringatlah ia akan pengalamannya dahulu.
Melihat rumpun bunga mawar hutan itu, Lo Sian tiba-tiba lalu menubruk ke arah rumpun itu dan dibuka-bukanya rumpun itu seperti orang mencari sesuatu, dan nampaklah olehnya gundukan tanah di bawah rumpun itu.
Lo Sian mengeluh dan menangis karena sekarang ia teringat bahwa inilah kuburan Lie Kong Sian!
Teringat pula ia ketika dahulu ia melarikan diri membawa jenazah Lie Kong Sian seperti yang dilakukannya dengan membawa tubuh Ang I Niocu tadi, dan betapa ia mengubur jenazah Lie Kong Sian di tempat itu.
Dan pada saat Lo Sian menangisi nasib Ang I Niocu dan suaminya itulah, Lili mendengar suaranya dan datang di tempat itu.
Dan sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Lo Sian dan Lili akhirnya mengubur jenazah Ang I Niocu, pendekar wanita yang gagah itu, di sebelah makam suaminya yang telah meninggal dunia lebih dulu beberapa tahun yang lalu.
Ban Sai Cinjin beberapa kali membanting-banting kakinya dan wajahnya menjadi sebentar pucat sebentar merah.
Ia merasa marah dan sakit hati betul.
Telah berkali-kali ia menerima penghinaan dan kekalahan hebat dari pihak Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya, dan kali ini ia menerima hinaan yang paling hebat.
Gedungnya habis, kuilnya musnah, semua barang-barangnya menjadi abu, muridnya yang terkasih, Hok Ti Hwesio tewas bersama beberapa orang hwesio lain dan juga kedua saudara Can dari Shan-tung itu tewas dalam membelanya.
Bagaimana ia tidak menjadi sakit hati dan marah?
Juga Wi Kong Siansu menjadi marah dan penasaran sekali.
Ia telah mendengar dari sutenya bahwa muridnya, yaitu Song Kam Seng, juga telah tewas dalam tangan Pendekar Bodoh!
Tentu saja ia tidak tahu bahwa Kam Seng terbunuh oleh Ban Sai Cinjin sendiri yang dengan pandainya telah rnemutarbalik duduknya perkara dan menyatakan bahwa Kam Seng terbunuh oleh Pendekar Bodoh ketika membantu orang-orang Mongol di utara!
Kini melihat sepak terjang Ang I Niocu, Wi Kong Siansu menjadi makin marah karena menurut anggapannya, Ang I Niocu telah berlaku kejam dan ganas sekali.
"Orang yang membawa lari Ang I Niocu tentu pengemis hina dina itu,"
Kata Wi Kong Siansu.
"dan tentu Lo Sian pula yang membakar kuil ini!"
"Sayang dahulu tidak kuhancurkan kepalanya!"
Ban Sai Cinjin berkata gemas.
"Akan tetapi, sambil membawa orang luka, dia pasti tidak dapat lari jauh dan tak mungkin keluar dari hutan sambil membawa-bawa Ang I Niocu. Mari kita mencari dia!"
Demikianlah, dengan hati penuh geram, Ban Sai Cinjin, Wi Kong Siansu, diikuti oleh ketiga Hailun Thai-lek Sam-kui yang juga merasa penasaran, pada pagi hari itu juga melakukan pengejaran.
Maka, dapat dibayangkan betapa kaget dan gelisahnya hati Lo Sian ketika tiba-tiba lima orang kakek yang tangguh itu tahu-tahu telah berdiri di depannya di dekat makam Ang I Niocu dan Lie Kong Sian!
"Ha-ha-ha, pengemis jembel, apa kau kira akan dapat melarikan diri dari sini?"
Ban Sai Cinjin tertawa bergelak karena girang dapat menemukan orang yang dibencinya.
Apalagi ia melihat Lili berada di situ dan melihat gadis musuh besarnya ini, timbullah harapannya untuk membalas penghinaan yang telah ia derita dari Pendekar Bodoh.
"Di mana Ang I Niocu siluman wanita?"
"Ban Sai Cinjin, harap kausuka mengingat akan perikemanusiaan. Kau telah membunuh Lie Kong Sian, dan sekarang kau telah menewaskan Ang I Niocu pula. Masih belum puaskah kau? Mereka telah tewas dan telah kukubur baik-baik, harap kau jangan mencari urusan lagi,"
Kata Lo Sian yang merasa kuatir kalau-kalau lima orang kakek yang tangguh ini akan mengganggu Lili. Akan tetapi Ban Sai Cinjin berseru marah.
"Pengemis bangsat! Kaukira aku tidak tahu bahwa kau yang membakar kuilku? Kau enak saja bicara untuk membujukku agar jangan mengganggumu dan mengganggu setan perempuan ini. Kau kira aku akan melepaskan anak Pendekar Bodoh begitu saja tanpa membalas penghinaan-penghinaannya?"
Sambil berkata demikian Ban Sai Cinjin melangkah maju dan menggenggam huncwenya lebih erat lagi.
Akan tetapi Lili sama sekali tidak merasa jerih, bahkan kini sepasang matanya yang bening itu mengeluarkan cahaya berapi dan wajahnya yang cantik itu kini menjadi merah sekali.
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 16
Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 12