Ceritasilat Novel Online

Rumah Judi Pancing Perak 2

Eps 2 Rumah Judi Pancing Perak - Khu Lung

Baca online Rumah Judi Pancing Perak - Khu Lung

Cersil Rumah Judi Pancing Perak - Khu Lung.

"Ai, jika begitu leluhurmu tentu banyak berbuat hal-hal yang mulia, makanya segala mara bahaya yang menimpamu segera sirna dan berubah menjadi selamat. Kemana pun kau pergi selalu dilindungi setan dan malaikat!"

"Memang betul, sembilan langit sepuluh bumi, para jin dan malaikat selalu melindungi diriku secara diam-diam,"

Kata Siau-hong.

"Jika benar malaikat selalu melindungimu, maka aku pun tidak perlu takut lagi, marilah kita ...."

Dan tangan Ting-hiang-ih pun mulai beraksi.

"He, setelah kejadian tadi. masakah, masih ada hasratmu untuk ..."

Siau-hong memandangnya dengan tercengang.

Tapi Ting-hiang-ih hanya tersenyum genit, dia menjawabnya dengan gerakan nyata.

Pada saat itulah lampu mendadak padam, keadaan menjadi gelap gulita.

Di dalam kamar yang gelap gulita, segala apa tentu dapat terjadi.

Siau-hong bukan nabi, juga si dia.

Maka apa yang mereka lakukan tidak perlu dijelaskan lagi.

Pada waktu Siau-hong mendusin, dirasakannya di atas bantal masih ada sisa bau harum, namun si dia sudah tidak kelihatan lagi.

Siau-hong terbelalak memandang langit-langit kamar dengan kesima, sampai sekian lamanya barulah ia bergumam.

"Dia menguntitku sepanjang jalan, memangnya cuma ingin……"

Dia tidak mau memikirkannya lagi, sudah sejak lama ia telah bersumpah takkan sok anggap dirinya paling romantis, paling disukai orang perempuan.

Sementara itu sang surya sudah terbit, cuaca cerah.

Dalam keadaan cuaca cerah biasanya hati Siau-hong juga sangat riang.

Akan tetapi begitu dia membuka daun jendela, segera dilihatnya lima hal yang membuatnya tidak gembira.

Sebab yang dilihatnya adalah lima buah peti mati.

Lima buah peti mati digotong oleh sepuluh orang, melintasi halaman di luar terus menuju keluar hotel.

Yang berbaring di dalam peti mati tentunya kelima orang lelaki yang menunggang kuda tinggi besar dan ikut menguntit di belakangnya itu.

Sesungguhnya siapakah mereka?

Mengapa mereka membuntuti dia dan ingin membunuhnya?

Semua ini tidak dimengerti oleh Liok Siau-hong.

Ia cuma tahu kelima orang ini pasti mati di tangan ketiga 'Pak guru' yang tampak berdiri di serambi seberang sana.

Ia pun tahu sesungguhnya yang dibelanya bukanlah dia.

Hanya saja dia diperlukan mencari kembali batu kemala mestika milik Makau itu.

"Jika ada orang di dunia ini yang dapat menemukan kembali Lo-sat-pai itu bagi kalian, maka orang itu ialah Liok Siau-hong!"

Demikian pernah si Jenggot Biru berkata kepada mereka.

Ketiga 'Pak guru' yang berdiri di seberang sana juga sedang mengawasi dia.

Semuanya memandangnya dengan sinar mata yang tajam seakan-akan sedang memperingatkan Liok Siau-hong.

"Apabila Lo-sat-pai tidak dapat kau temukan kembali, setiap saat juga kami dapat membinasakan dirimu f"

Siau-hong merapatkan jendelanya, habis itu baru diketahuinya senjata rahasia yang rontok di lantai kamar semalam sudah menghilang, yang terletak di situ hanya beberapa biji batu kerikil saja.

Dalam pada itu Ting-hiang-ih muncul lagi.

Dia datang dengan membawa semangkuk kuah yang masih mengepulkan asap panas.

Melihat Liok Siau-hong seketika wajahnya menampilkan senyuman manis, ucapnya dengan suara lembut.

"Sudah kuduga engkau pasti telah mendusin, maka sengaja kuolah semangkuk kuah ayam. Lekas kau minum mumpung masih panas."

Siau-hong tidak memberi reaksi apa-apa. Sampai sekian lamanya Ting-hiang-ih menatapnya, katanya pula dengan tertawa.

"Tampaknya engkau terkejut melihat diriku, apakah kau anggap seharusnya aku sudah pergi dari sini?"

Siau-hong tidak menyangkal. Ting-hiang-ih lantas berduduk, senyumnya tambah manis, ditatapnya Siau-hong, katanya.

"Akan tetapi aku tidak ingin pergi, lalu bagaimana menurut pendapatmu?"

Senyumnya tampak sangat aneh, sangat misterius.

Tiba-tiba Siau-hong teringat pada sementara urusan yang kalau sudah selesai diharuskan membayar.

Dalam hal yang sama, setelah selesai tugas si perempuan juga berhak menunggu pembayaran dari orang lain.

Sudah dua hari Ting-hiang-ih menguntit Siau-hong.

bisa jadi lantaran sebelumnya sudah diketahuinya tangan Siau-hong sangat terbuka, berani bayar banyak, maka dia sengaja hendak 'menggorok' sakunya.

Diam-diam Siau-hong bersyukur dirinya tidak lagi sok mengira si dia tergila gila padanya, merasa puas atas jalan pikiran sendiri yang telah bertambah malang.

Seorang kalau merasa puas terhadap dirinya sendiri, biasanya akan lebih bermurah hati kepada orang lain, apalagi Liok Siau-hong memang bukan seorang yang pelit.

Dia merasa dalam sakunya masih ada beberapa lembar Gin-bio yang terdiri dari ribuan tahil perak, waktu ia merabanya baru diketahuinya cuma tinggal dua lembar saja.

Tapi dilolosnya juga sehelai dan disodorkan kepada Ting-hiang-ih.

Si nona memandang Ginbio itu sekejap, dipandangnya pula Liok Siau-hong, lalu bertanya.

"Kau berikan padaku?"

Siau-hong mengangguk, dan Ting-hiang-ih tertawa, tertawa yang aneh.

"Memangnya kurang banyak?"

Siau-hong merasa sangsi, segera dikeluarkan pula sehelai Ginbio yang lain.

Kedua lembar Ginbio ini merupakan seluruh kekayaannya sekarang, bila dihabiskan, lalu bagaimana selanjutnya, hakikatnya tidak sempat diperkirakannya.

Kembali Ting-hiang-ih memandang Ginbio baru ini dan memandang Siau-hong pula, mendadak ia pun mengeluarkan segebung Ginbio, nilai nominal setiap lembarnya rata-rata juga seribu tahil perak, sedikitnya ada 40 atau 50 lembar.

"Maksudmu hendak kau berikan padaku?"

Tanya Siau-hong.

"Ya, untukmu semuanya!"

Kata si nona.

Siau-hong jadi melengak, mimik mukanya serupa orang yang lagi menguap ngantuk dan mendadak sebuah apel jatuh dari udara dan masuk ke mulutnya.

Selama hidupnya entah betapa banyak kejadian berbahaya dan misterius yang dialaminya, tapi belum penuh terkejut seperti sekarang ini.

Tiba-tiba Ting-hiang-ih bertanya.

"Eh apakah kau tahu arti istilah 'makan nasi lunak?"

Siauhong menggeleng.

"Perempuan yang mencari uang dengan cara demikian biasanya disebut sundel!"

"Dan lelaki yang mencari uang dengar cara ini disebut 'makan nasi lunak', begitu bukan?" ' tukas Siau-hong.

"Hah. memang kutahu engkau ini orang pintar, diberitahu satu segera mengerti dua,"

Ujar Ting-hiang-ih dengan tertawa.

"Muka Siau-hong ternyata bisa merah juga, merah jengah, dan setengah menyengir seperti monyet makan terasi. Ting-hiang-ih memandangnya dengan tertawa.

"Meski wajahku tidak cantik, tapi tidak pernah kutombaki anak muda cakap yang meniduri diriku."

Muka Siau-hong bertambah merah, nyengirnya bertambah lebar.

"Apalagi, biarpun kau pandang diriku sebagai pelacur, kutahu engkau pasti bukan lelaki yang suka 'makan nasi lunak'. Siau-hong menghela napas, dalam hati seperti sangat berterima kasih. '"

Kelima laksa tahil perak ini bukan pemberianku sendiri,"

Kata si nona pula.

"Habis siapa yang memberinya padaku?"

Tanya Siau-hong cepat.

"Piauciku!"

Jawab Ting-hiang-ih, Heran sekali Siau-hong. ia merasa tidak kenal Piauci atau kakak misan si nona, mengapa orang memberi sejumlah uang itu kepadanya.

"Siapa Piaucimu?"

Tanya Siau-hong.

"Piauciku ialah bininya si Jenggot Biru, adik perempuan Pui Giok-hui!"

"Pui Giok-hiang maksudmu?"

Siau-hong menegas.

"Ya, dia mempunyai suatu nama lain, yakni Hiang-hiang!"

Si nona menambahkan dengan tertawa. Siau-hong jadi melenggong.

"Piauci tahu hidupmu sangat royal, dia khawatir engkau kehabisan sangu di tengah jalan, khawatir pula tidurmu kurang nyenyak, maka ... maka ....."

Dia menggigil bibir dan melirik Siau-hong. Sekejap, lalu menyambung.

"maka dia menyuruh kutemani dirimu"

Tiba-tiba Siau-hong mendengus.

"Hm, apa tidak lebih tepat dikatakan dia menyuruhmu mengawasi diriku?"

Ting-hiang-ih menghela napas, ucapnya.

"Memang sudah kuduga engkau pasti akan salah paham padanya, meski lahirnya Piauci kelihatan dingin, padahal dia sebenarnya seorang yang simpatik, lebih-lebih terhadapmu..."

"Bagaimana terhadapku?"

Potong Siau-hong. Kembali Ting-hiang-ih tertawa, sangat misterius tertawanya.

"Kalian pernah berduaan setengah malaman di dalam sebuah kereta yang gelap, cara bagaimana dia terhadapmu tentu kau tahu sendiri, masakah perlu tanya padaku?"

Masam muka Siau-hong dan tertawa dingin, tapi entah mengapa, dalam hati terasa manis juga, terasa senang.

Rasa manis demikian biasanya sudah cukup membuat lelaki rela memasukkan lehernya ke jiratan yang dipasang orang.

Sebab itulah pada waktu Siau-hong meninggalkan Thian-hokkeh-can, pada sakunya juga telah bertambah dengan lima helai Ginbio ribuan tahil perak.

Penguntit di belakangnya sebaliknya berkurang enam orang.

Yang lima sudah masuk peti mati, yang satu masuk ke dalam pelukannya.

Meski kedua hal ini bukan hasil perbuatannya yang sengaja, tapi ia pun tidak berdaya untuk menghindarinya.

Serupa kebanyakan orang di dunia ini, urusan yang sekiranya menguntungkannya, biasanya dia tidak suka berusaha menghindarinya.

Apalagi setelah SiauRumah Judi Pancing Perak > Gan K.L.

> 35 hong mengetahui sembilan orang penguntitnya kini tinggal tiga orang saja, dengan sendirinya perasaannya terasa sangat lega.

Bab 6 ...

Cuma saja, rasa lega demikian tidak bertahan lama.

Pada esok paginya, diketahuinya orang yang menguntitnya dari tiga orang telah berubah lagi menjadi sepuluh orang.

Agar malamnya bisa tidur nyenyak, sedapatlah Siau-hong tidak menoleh, sebisanya ia berlagak tidak tahu.

Sebaliknya Ting-hiang-ih justru terus menerus berpaling dan mengintip ke belakang melalui jendela kecil di belakang kereta.

"Akhirnya ia tidak lahan dan bertanya.

"Orang-orang di belakang itu kembali hendak membuntuti jejakmu?"

Dengan ogah-ogahan Siau-hong mengangguk.

"Agaknyu sejak kemarin malam mereka mulai mengintai dirimu."

"Oo?"

Heran juga Siau-hong.

"Apakah kau tahu siapakah mereka?"

"Tidak!"

Siau-hong memang benar tidak tahu.

Ting-hiang-ih lantas menutup jendela kecil itu dan menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Siau-hong, tubuhnya yang hangat menempel rapat di dada Liok Siau-hong yang bidang, tapi kedua tangannya terasa sedingin es.

''Aku takut!"

Desis si nona sambil merangkul Siau-hong erat-erat.

"Takut apa?"

Tanya Siau-hong.

"Di antara ketujuh orang penguntit itu ada seorang yang 'kurang separoh' bentuknya sangat menakutkan!""

Apa artinya 'kurang separoh'?'' Ternyata yang dimaksudkan 'kurang separoh' adalah mata buta sebelah, telinga hilang satu, tangan kiri juga buntung dan kaki kiri diganti dengan kaki palsu dari kayu, yang hilang itu semuanya sebelah kiri.

"Tapi yang paling menakutkan justru separoh bagian yang tidak berkurang itu,"

Kata Tinghiang-ih pula. Ternyata mata kanan, hidung dan mulut orang itu, semuanya merot, miring, berubah bentuk. Tanpa sadar Ting-hiang-ih menggenggam tangan Siau-hong erat-erat, ucapnya.

"Orang ini tampaknya serupa boneka kain yang mengerut terkena air, lalu disobek orang separoh bagian kirinya."

"Boneka kain?"

Siau-hong merasa bingung.

"Usianya belum begitu lanjut, perawakannya juga kecil, mukanya semula tentu bundar serupa boneka, tapi sekarang....."

Ting-hiang-ih tidak melanjutkan, dilihatnya sinar mata Siau-hong memancarkan rasa mual, maka cepat ia berganti nada dan bertanya.

"Apakah kau tahu siapa dia?"

Siau-hong hanya menggeleng saja. Dia seperti tidak suka membicarakan orang ini, serupa dia tidak suka menginjak seekor ular berbisa. Akan tetapi Ting-hiang-ih justru bertanya lagi.

"Namun kau pasti tahu siapa dia bukan?"

Ada sementara orang perempuan memang suka bertanya dan bertanya lagi, apabila dia ingin tahu sesuatu dan tidak kau beritahukan padanya, bisa jadi dia akan bertanya tiga hari tiga malam terus menerus tanpa bosan.

Akhirnya Siau-hong menghela napas dan berkata.

"Semula orang ini bernama Im-yangtongcu (si anak Im dan Yang, maksudnya banci), setelah bertemu dengan Sukong Ti-sing, lalu berganti nama."

"Berganti nama apa?"

Tanya pula Ting-hiang-ih.

"Im-tong-cu!"

Tutur Siau-hong. Ting-hiang-ih tertawa.

"Semula dia bernama Im-yang-tongcu, tentu lantaran dia memang seorang banci!"

"Ehmm,"

Siau-hong bersuara singkat.

"Akan tetapi Sukong Ti-sing telah memusnahkan separo badannya yang lelaki, maka dia terpaksa berganti nama menjadi Im-tong-cu!"

Kata Ting-hiang-ih lebih lanjut.

"Ehmm,"

Siau-hong mengangguk.

"Mengapa Sukong Ti-sing tidak membunuhnya saja sekalian?"

"Sebab biasanya Sukong Ti-sing sangat jarang membunuh orang!"

"Apakah juga disebabkan Sukong Ti-sing menganggap separuh tubuhnya yang perempuan itu tidak berbuat kejahatan apa-apa?"

Tanya pula Ting-hiang-ih. Kembali Siau-hong hanya bersuara "ehmm"

Saja. Tiba-tiba Ting-hiang-ih berkata.

"Sungguh aku ingin mencari seorang banci, ingin kulihat sebenarnya bagaimana bentuk kelainan tubuh mereka?1' "

Ada juga sesuatu yang aku tidak mengerti!"

Kata Siau-hong.

"Hal apa?"

"Mengapa mukamu tidak pernah merah bilamana membicarakan hal-hal demikian."

OooOOOooo Sekarang muka Ting-hiang-ih kelihatan sangat merah, bukan lantaran dia merasa malu, tapi karena dia baru habis mandi air panas.

Hotel ini bernama Kiat-siang-keh-can atau hotel Selamat.

Sewa kamarnya juga tiga tahil perak semalam dengan servis air mandi panas tersedia siang dan malam.

Dengan sebelah tangan memegang gelung rambut dan tangan lain memegang handuk, Tinghiang-ih keluar dari kamar mandi, dengan pantatnya yang padat ia mendorong pintu kamar, serunya sambil tertawa ngikik.

"Ai, kamar di sini terlalu mahal, tamu sangat sedikit, di luar tidak ada seorang pun. seharusnya kau mandi bersamaku."

Siau-hong tidak menghiraukan, sebab ia sedang tekun mempelajari sebuah peti kayu cendana.

Peti ini terletak di atas meja di depannya, terukir dengan sangat indah, bagian ujung peti dilapisi emas, serupa jenis peti yang biasanya digunakan menyimpan barang berharga di keluarga hartawan.

Ketika Ting-hiang-ih membalik tubuh dan melihat peti itu, ia lantas bertanya.

"Darimana datangnya peti ini?"

"Pelayan yang mengantarnya kemari,"

Tutur Siau-hong.

"Siapa yang menyuruhnya?"

"Entah!"

"Apa isi peti ini?"

Siau-hong juga tidak tahu. Ting-hiang-ih mendekatinya dan berkata pula.

"Kenapa tidak kau buka saja, memangnya kau takut akan menerobos keluar seekor ular berbisa?"

"Kutakut nanti menerobos keluar seorang perempuan serupa dirimu,"

Kata Siau-hong. Setelah melototi Siau-hong sekejap, dengan tertawa Ting-hiang-ih berucap pula.

"Aku justru berharap akan menerobos keluar seorang lelaki, sebaiknya semacam dirimu!"

Tanpa disuruh ia lantas membuka peti itu, tapi wajahnya yang tertawa seketika membeku, ia melongo kaget.

Isi peti ternyata ada ratusan biji gigi putih dan lima utas ikat pinggang hitam, ikat pinggang yang berlepotan darah.

Gigi Ting-hiang-ih gemertuk, setelah menggigil barulah ia dapat bersuara.

"Ini ... ini gigi manusia?"

Siau-hong mengangguk, air mukanya juga kelihatan rada pucat.

"Lalu apa artinya pula kelima utas ikat pinggang hitam ini?"

"Tidak tahu,"

Sahut Siau-hong. 'Tampaknya segala apa kau bilang tidak tahu."

Omel Ting-hiang-ih.

"Aku cuma tahu sesuatu,"

Ujar Siau-hong.

"Coba katakan!"

"Urusan orang lelaki sebaiknya orang perempuan jangan ikut campur, juga jangan bertanya."

Sekali ini Ting-hiang-ih ternyata sangat penurut benar-benar berduduk dan tutup mulut. Hal ini disebabkan dia lemas ketakutan, setelah tenaga agak pulih, segera ia bersuara pula.

"Ketujuh orang yang menguntit dirimu tadi, tampaknya juga mengenakan ikat pinggang hitam."

Siau-hong hanya menarik muka tanpa menjawab.

Diam-diam ia pun merasa kagum atas kecermatan si nona.

Pembawaan orang perempuan memang lebih cermat daripada orang lelaki, terutama jenis perempuan yang suka mengusut dan bertanya urusan tetek bengek.

"Ketujuh orang penguntit baru ini apakah sekomplotan dengan kelima orang yang terbunuh semalam itu?"

Tanya Ting-hiang-ih pula. Siau-hong memandangnya tanpa menjawab, sejenak kemudian barulah ia berkata.

"Jadi sengaja kau ingin ikut campur urusanku?"

Ting-hiang-ih tersenyum.

"Seharusnya kau tahu, sedikitnya kita bukan lagi orang luar!"

Siau-hong berkala pula.

"Jika begitu kau mesti melakukan sesuatu bagiku."

"Urusan apa?"

Tanya Ting-hiang-ih.

"Antarkan peti ini ke seberang sana!"

"Apa katamu?"

Teriak si nona.

"Kuminta padamu antarkan peti ini ke kamar seberang, sebab pembunuh kelima orang ini yang sesungguhnya tinggal di sana."

Ting-hiang-ih memandangnya dengan tercengang, air mukanya berubah pucat lagi.

"Jika urusan kecil begini saja tidak berani kau kerjakan, berdasarkan apa kau berani ikut campur urusan orang lain!"

Jengek Siau-hong. Ting-hiang-ih mengertak gigi, setelah menggentakkan kakinya.

"blang" , ia tutup peti itu dan diangkatnya terus menerobos keluar tanpa berpaling. Siau-hong sengaja tidak memandangnya, tiba-tiba ia merasa hati sendiri jauh lebih keras daripada dahulu, bagi seorang petualang seperti dia, hal ini jelas semacam perbuatan yang baik. Cuma sayang, hatinya tetap merasa tidak enak. Betapapun terasa kejam menyuruh seorang anak perempuan membawa sebuah peti yang berisi gigi orang mati dan diantarkan kepada tiga orang pembunuh.

"Tapi harus kuberitahukan mereka akan persoalan ini,"

Ia coba menghibur diri sendiri.

"Harus kusuruh dia ke sana. mengingat harga diri ketiga makhluk tua aneh itu, tentunya mereka takkan membikin susah seorang anak perempuan."

Setelah perasaannya agak tenteram, barulah ia mulai memikirkan hal-hal yang seharusnya dipikirkannya sejak tadi-tadi.

Ia tidak mengerti sesungguhnya ada permusuhan apa antara orang-orang itu dengan dirinya.

Mengapa mereka menguntitnya sejauh ini dan ingin membinasakannya?

Mengapa mereka sama memakai ikat pinggang hitam?

Sesungguhnya mereka berasal dari organisasi atau sindikat apa?"

Tali hitam, ikat pinggang hitam.

Siau-hong menunduk, ia ingin melihat ikat pinggang sendiri berwarna apa?

Tapi lebih dulu terlihat kaos kaki sendiri yang berwarna putih.

Seketika teringat olehnya akan sindikat 'Sepatu Merah' dan 'Jing-ih-lau' atau gedung baju hijau.

Cuma peristiwa yang mendebarkan tempo hari itu bilamana direnungkan lagi rasanya menjadi tidak seberapa lagi.

Kini yang paling menakutkan adalah Hek-tai-cu atau tali hitam.

Jika orang semacam Im-tong-cu juga menjadi anggota komplotan ini, maka dapat dibayangkan sindikat mereka ini pasti sangat rahasia, ketat dan menakutkan.

Selagi Siau-hong berusaha merenungkan apa yang masih teringat olehnya untuk menemukan asal-usul sindikat tali hitam ini, dilihatnya Ting-hiang-ih telah kembali, kembali dengan bertangan kosong.

"Sudah kau antar ke sana peti tadi?"

Tanya Siau-hong.

"Ehmm."

Ting-hiang-ih mengangguk.

"Apa yang mereka katakan?"

"Tidak berkata apa-apa!"

Muka Ting-hiang-ih masih cemberut.

"Sebab mereka tidak berada di tempat, maka kuserahkan peti itu kepada kacung mereka."

"Kacung itu juga tidak tahu dimana mereka berada?"

Tanya Siau-hong pula. Ting-hiang-ih menggeleng, tiba-tiba ia mendengus.

"Hm, tidak peduli kau kirim peti itu kemana pun tetap orang banci itu akan mencari dirimu."

"Tidak nanti dia mencari diriku!"

"Kenapa?"

Tanya Ting-hiang-ih.

"Sebab sekarang juga hendak kupergi mencari dia!"

Jawab Siau-hong. Ting-hiang-ih terkejut, meski dia berlagak hendak marah, tapi sorot matanya menunjukkan rasa prihatin, tanyanya.

"Apakah kau tahu mereka berjumlah berapa orang?"

"Tujuh!"

"Tentunya kau tahu tujuh orang berarti ada 14 tangan?"

"Aku dapat menghitung!"

"Tapi tanganmu hanya sepasang!"

Siau-hong tertawa.

"Coba jawab, lebih berharga mana emas satu tahil atau besi satu kati?"

"Tentu saja emas satu tahil !"

"Nah, makanya terkadang sepasang tangan jauh lebih berguna daripada 14 tangan!"

Ting-hiang-ih memandangi Siau-hong melangkah keluar, setiba di ambang pintu, mendadak ia bertanya.

"Kau yakin akan pulang dengan hidup?"

Siau-hong tertawa tanpa menjawab.

"Ada berapa bagian keyakinanmu?"

Mau tak mau Siau-hong menoleh dan berkata.

"Untuk apa kau tanya sejelas ini?"

Ting-hiang-ih menarik muka. jengeknya.

"Jika setengah keyakinan saja tidak ada, akan lebih baik kau tinggalkan Ginbio dalam bajumu, umpama aku harus menjadi janda, biarlah jadi janda kaya."

Siau-hong memandangnya hingga lama. perlahan ia mengeluarkan segebung Ginbio tadi dan ditaruh di atas mejav tiba-tiba ia tertawa dan berkata.

"Jangan khawatir, selama hidupmu ini tidak nanti menjadi janda."

"Sebab apa?"

Tanya Ting-hiang-ih.

"Sebab berani kujamin di dunia ini pasti tidak ada lelaki yang berani mengambil dirimu sebagai isteri."

Bab 7 ...

Liok Siau-hong sudah berangkat, dia berangkat seperti mau berjalan-jalan mencari angin.

Leher baju saja tidak dikancingkan dengan baik.

Akan tetapi mengapa dia meninggalkan semua Ginbio itu, apakah lantaran dia tidak yakin benar akan dapat kembali dengan hidup?

Sesungguhnya betapa menakutkan orang macam Im-tong-cu itu?

Ting-hiang-ih memandangi Ginbio yang terletak di atas meja, mendadak ia menghela napas dan bergumam.

"Ah jika kau tidak pulang, meski aku takkan menjadi janda, tapi ada orang yang akan menjadi duda."

OooOOOooo Halaman Kiat-siang-keh-can meliputi empat kompleks, rombongan Im-tong-cu agaknya tinggal di deretan halaman keempat, seluruh kompleks diborongnya.

Baru saja Siau-hong seperti mendengar di sana ada suara gurau orang perempuan dan suara orang bernyanyi, tapi sekarang tidak terdengar lagi.

Ia mengitar ke sana lewat pintu samping belakang, tiada seorang pun dilihatnya, agaknya hotel ini memang kurang laris.

Meski di dalam rumah masih ada cahaya lampu, tapi tidak terdengar suara apapun.

Apakah semua penghuninya tidak berada di tempat.

Sekali melompat Siau-hong naik ke atas pagar tembok yang pendek itu, cahaya lampu menerangi jendela, tapi tetap tiada nampak bayangan orang.

Di situ rasanya masih ada sisa bau harum bedak orang perempuan dan bau sedap arak dan santapan, hanya sejenak sebelum ini di sini baru saja ada pesta.

Ada sementara orang bila melakukan sesuatu tidak pernah ketinggalan arak dan perempuan.

Akan tetapi sekarang dimana mereka?"

Angin meniup, mendadak Siau-hong berkerut kening, di tengah tiupan angin itu selain membawa bau harum bedak dan arak serta daging, rasanya juga ada semacam bau yang sangat khas.

Semacam bau yang biasanya cuma dapat tercium di rumah jagal.

Dia sengaja menerbitkan sedikit suara, tapi di dalam rumah tetap tidak ada sesuatu reaksi Selagi dia merasa sangsi apakah harus menerjang kc dalam atau tidak, mendadak didengarnya suara jeritan ngeri.

Suaranya melengking tajam, kedengarannya hampir tidak menyerupai suara manusia.

Jika dikatakan suara ini suara manusia, maka orang ini pasti makhluk aneh yang cacat.

Seketika Siau-hong teringat kepada manusia yang kurang separoh itu.

Apakah mungkin Swe-han-sam-yu lebih cepat satu langkah lagi daripada dia?

Ia melayang lewat wuwungan rumah, didengarnya suara itu berkumandang dari belakang, cahaya lampu dalam rumah bagian belakang terlebih redup daripada yang di depan, dua sayap daun jendela dan daun pintu tampak cuma setengah dirapatkan.

Bau anyir darah tambah keras.

Cepat Siau-hong melompat turun di depan pintu, perlahan ia mendorong pintu dengan dua jari.

Segera di dalam ada suara orang mendengus.

"Hm, ternyata benar kau datang. Memang sudah kuduga begitu peti diantar ke sana tentu pula kau akan datang kemari. Silakan masuk, lekas!"

Tapi Siau-hong tidak masuk ke situ.

Bukannya tidak berani masuk melainkan tidak tega masuk.

Sebab keadaan di dalam rumah jauh lebih mengerikan daripada di tempat pemotongan hewan, jauh lebih memualkan.

Tertampak tiga anak gadis yang belum lagi akil balig tergantung miring telanjang bulat seperti domba yang baru dipotong di tepi tempat tidur, tubuhnya yang polos kelihatan mengucurkan darah dan menetes ke lantai melalui kedua kakinya yang halus.

Seorang yang kurang separoh menongkrong di ujung tempat tidur serupa iblis jahat dengan belati terhunus, ujung belati juga masih meneteskan darah.

"Masuk!"

Teriaknya, suaranya tajam serupa burung hantu.

"Kusuruh kau masuk, maka harus lekas kau masuk, kalau tidak, biarlah kusembelih dulu ketiga budak busuk ini hingga menjadi delapan potong."

Sekuatnya Siau-hong mengertak gigi untuk menahan rasa mualnya, tumpah biasanya bisa membikin orang lemas. Im-tong-cu, si manusia kurang separoh, terlihat menyeringai dan berkata pula.

"Meski ketiga perempuan busuk ini tidak ada sangkut paut apa pun denganmu, namun sayang, kau terkenal seorang penyayang wanita, tentunya tidak lega kau saksikan mereka mati di depan hidungmu."

Makhluk aneh yang jahat ini benar-benar dapat memegang titik kelemahan Liok Siau-hong.

Hati Siau-hong menjadi tertekan.

Dia memang benar tidak sampai hati Ternyata hati Siau-hong tidak sekeras sebagaimana dugaannya sendiri, biarpun jelas diketahuinya cepat atau lambat ketiga anak perempuan itu tetap sukar terhindar dari kematian, tapi dia tetap tidak tega menyaksikan mereka mati di depannya.

Terpaksa ia melangkah masuk ke situ.

Im-tong-cu terbahak.

"Haha, mestinya kami tak ingin membunuhmu, tapi seharusnya tidak boleh kau ..."

Suara tertawanya mendadak berhenti, tiga titik sinar tajam menerobos masuk membobol jendela, sekali titik terang berkelebat, tahu-tahu ketiga titik perak itu menancap di tenggorokan ketiga anak perempuan telanjang tadi.

Im-tong-cu meraung murka terus menubruk ke sana, bukan menubruk ke arah Liok Siauhong, tapi hendak mengejar orang yang menyambitkan senjata rahasia di luar jendela itu.

Akan tetapi Liok Siau-hong tidak tinggal diam Ketiga anak perempuan itu sudah mati, ia tidak mempunyai resiko lagi, tidak dibiarkannya Im-tong-cu angkat kaki begitu saja.

Im-tong-cu mengapung di udara, kaitan besi tangan kiri menggantol pada belandar, tubuhnya lantas berputar seperti gasingan, sebelah kakinya yang palsu menerbitkan suara menderu keras, nyata kaki palsu itu pun terbuat dari besi.

Sekali dia mengeluarkan gerakan yang aneh ini, siapa pun sukar mendekatinya.

Liok Siauhong juga tidak dapat mendekat, terpaksa ia menyaksikan orang berputar tiada hentinya.

Sekonyong-konyong kaitannya mengendur dan tubuh Im-tong-cu terus terlempar keluar jendela secepat panah.

Nyata dia tidak menginginkan keunggulan, yang diharapkan hanya meloloskan diri.

Rupanya dia cukup tahu diri bahwa dia pasti bukan tandingan Liok Siauhong.

Cuma sayang, din tetap agak menilai rendah Liok Siau-hong.

Baru saja dia hendak meluncur keluar, tangan Liok Siau-hong mendadak terangkat, kedua jarinya menutuk perlahan.

Segera terdengar suara "trang".

Im-tong-cu terbanting di luar jendela kaki besi membentur lantai dan memercikkan lelatu api.

Siau-hong tidak ingin membunuhnya, hanya dengan gerak cepat ia menutuk Hiat-to lawan.

Selagi dia hendak menyusul keluar untuk mengusut asal-usulnya dan maksud tujuan kedatangannya.

Mendadak cahaya tajam berkelebat pula di halaman luar, tenggorokan Imtong-cu juga tertancap oleh sesuatu senjata rahasia.

"Siapa itu?"

Bentak Siau-hong. Malam sangat kelam, bintang bulan suram, mana ada bayangan orang yang kelihatan, karena tidak terlihat apa-apa, dengan sendirinya tidak dapat mengejar.

"Ai, untung mereka datang bertujuh, masih sisa enam yang hidup,"

Gumam Siau-hong dengan gegetun. Belum lenyap suaranya, tiba-tiba ada orang menjengek di belakangnya.

"Hm. tapi sayang, sekarang setengah orang hidup saja tidak tersisa lagi."

Yang bicara cuma satu orang, tapi bayangan yang tercetak di tanah ada tiga orang, tersorot oleh cahaya lampu dari balik jendela sehingga tertarik memanjang.

Swe-han-sam-yu.

tiga sekawan orang tua dari Kun-lun-san.

Perlahan Siau-hong membalik tubuh, katanya kemudian.

"Apakah keenam orang lainnya bukan orang hidup lagi?"

Salah seorang kakek itu mendengus.

"Jika mereka masih hidup, tadi tentu takkan mudah bagimu untuk keluar dari rumah ini."

Rupanya keenam orang yang dimaksudkan bersembunyi di sekitar tempat ini dan menantikan Liok Siau-hong masuk perangkap, di luar dugaan mereka, tanpa sesuatu suara, jiwa mereka sudah melayang dalam kegelapan.

Tidak perlu diragukan keenam orang itu pasti jago kelas tinggi seluruhnya, untuk membunuh mereka mungkin tidak sulit, tapi hendak membunuh mereka sekaligus tanpa menerbitkan suara, hal inilah yang tidak gampang.

Maka dapatlah dibayangkan betapa tinggi ilmu silat ketiga kakek ini serta betapa keji dan jitu serangannya.

Siau-hong menghela napas dan diam-diam memperingatkan dirinya sendiri agar apa pun juga jangan sembarangan merecoki mereka.

Pada tangan seorang tua ini kelihatan memegang cawan arak dan masih ada sisa araknya, kecuali Koh-siong Siansing dari Swe-han-sam-yu.

siapa lagi di dunia ini yang mampu membunuh orang dalam sekejap mata hanya dengan sebelah tangan saja?

Koh-siong Siansing menghirup araknya seceguk, lalu mendengus.

"Mestinya kami ingin menyisakan setengah orang hidup ini, cuma sayang, meski ada kepandaianmu untuk membunuh orang, tapi tidak punya kepandaian menyelamatkan orang."

"Masa tadi bukan kalian yang turun tangan?"

Tanya Siau-hong.

"Hm, benda sebangsa rongsokan besi begini, sudah belasan tahun tidak pernah kujamah,"

Ujar Koh-siong Siansing dengan angkuh.

Senjata rahasia yang bersarang di tenggorokan Im-tong-cu itu adalah sebatang paku segitiga yang terbuat dengan sangat indah.

Ketiga gadis cilik tadi juga mati di bawah paku serupa.

Hanya sebentar saja wajah mereka sudah berubah hitam, tubuh juga mulai mengerut, nyata pada paku itu terdapat racun yang sangat ganas.

Maka Siau-hong percaya senjata rahasia itu pasti bukan milik Swe-han-sam-yu.

Bilamana seorang sudah memiliki tenaga dalam maha tinggi.

Bisa menggetar rontok bunga dari jarak ratusan langkah, dapat memetik daun untuk melukai musuh, maka sekenanya digunakan beberapa biji batu kerikil juga lebih daripada cukup untuk menyerang musuh dan tidak perlu menggunakan senjata rahasia berbisa keji semacam ini.

Tapi mau lak mau ia harus bertanya, sebab dia tidak mengerti siapakah yang turun tangan sekeji ini.

Koh-siong Siansing memandang Siau-hong dengan dingin Katanya.

"Sudah lama kudengar kau ini tokoh angkatan muda yang paling lihai, tapi tidak kulihat sedikit pun tanda demikian atas dirimu."

Tiba-tiba Siau-hong tertawa, jawabnya.

"Terkadang bila aku bercermin, aku pun selalu merasa kecewa alas diriku sendiri."

"Sepanjang jalan ini hendaknya hati-hati dan lebih waspada,"

Pesan Koh-siong.

"Ya, tentu, sebelum kutemukan kembali Lo-sat-pai kalian, mana boleh kumati,"

Ujar Siauhong.

Koh-siong Siansing mendengus lagi sekali, mendadak ia mengebaskan lengan bajunya, di tengah deru angin dan goyang ranting pohon, dengan cepat bayangan ketiga kakek itu lantas menghilang.

Sungguh Ginkang yang maha sakti, sungguh watak yang sukar dilayani, barang siapa mempunyai tiga lawan semacam ini, pasti hatinya tak bisa terlalu gembira.

Dengan dua jari Siau-hong menjepit sehelai daun rontok dan diperiksa, lalu dibuang lagi, gumamnya.

"Daun sudah kering, bila dua hari lagi lebih ke utara, tentu salju akan turun, orang yang tidak takut dingin boleh silakan terus mengintil padaku."

Bab 8 ...

Di dalam rumah masih ada cahaya lampu.

Pada waktu dia berangkat tadi, cahaya lampu mestinya sangat terang, tapi sekarang sudah jauh lebih guram.

Pintu masih tetap selengah tertutup seperti waktu dia berangkat tadi, tiba-tiba timbul suatu pertanyaan yang selama ini belum pernah terpikir olehnya.

"Apakah dia sedang menunggu diriku?"

Tadinya dia berharap semoga Ting-hiang-ih lekas pergi, makin jauh makin baik, tapi sekarang jika si dia benar-benar pergi, perasaannya pasti tidak enak.

Apapun juga, bilamana kau tahu ada seorang sedang menantikan kedatanganmu di rumahmu, hatimu pasli akan timbul semacam perasaan hangat.

Perasaan ini serupa seorang pemburu yang menyendiri ketika pulang ke rumah pada hari yang dingin, tiba-tiba diketahuinya di rumah sudah ada orang yang menyediakan perapian sehingga tidak lagi dirasakan kesepian dan dingin.

Hanya petualang semacam Liok Siau-hong yang dapat memahami betapa berharganya perasaan semacam ini.

Sebab itulah ketika dia mendorong pintu, agak tegang juga perasaannya.

Pada saat ini dan adanya perasaan demikian sungguh dia tidak menghendaki seorang diri masuk ke sebuah rumah yang kosong dan dingin.

Ternyata di dalam rumah masih ada orang.

Si dia belum lagi pergi.

Dia duduk membelakangi pintu di bawah cahaya lampu yang agak guram, rambutnya yang panjang gompyok semampir di atas pundak dan sedang disisir perlahan dengan sebuah sisir kayu hitam.

Pada umumnya wanita memang suka menyisir rambut sebagai pengisi waktu pada saat merasa kesepian.

Melihat si dia, tiba-tiba Siau-hong merasa cahaya lampu itu seakan-akan banyak terlebih terang.

Apa pun juga, ditemani seorang akan terlebih baik daripada tinggal sendirian.

Tiba-tiba ia merasakan semakin menanjak usianya, semakin tidak tahan hidup menyendiri.

Akan tetapi dia tidak memperlihatkan perasaannya itu, ia cuma bicara dengan singkat dan hambar.

"Akhirnya aku kembali juga dengan hidup!"

"Ehmm,"

Si dia tidak menoleh.

"Aku tidak mati, kau pun tidak pergi, tampaknya kita berdua belum tiba pada waktunya untuk berpisah."

Si dia tetap tidak berpaling, ucapnya perlahan.

"Apakah kau harapkan selamanya aku tidak berpisah denganmu?"

Siau-hong tidak menjawab.

Sebab tiba-tiba diketahuinya perempuan yang duduk di sini dan sedang menyisir rambut ini bukanlah Ting-hiang-ih.

Si dia seperti lagi tertawa dingin, tangan yang memegang sisir kelihatan putih mulus, kukunya sangat panjang.

Dia masih terus menyisir, bahkan semakin keras cara menyisirnya seakanakan hendaK melampiaskan dongkolnya terhadap rambutnya sendiri.

"He, kau?"

Seru Siauhong dengan terbelalak.

"Ya, tak kau sangka bukan?"

Jengek si dia.

"Ya. memang tak kusangka,"

Siau-hong mengaku.

"Aku pun tidak mengira dirimu ini ternyata seorang perayu, ada satu suka satu, ada dua suka dua."

Akhirnya si dia berpaling, mukanya kelihatan pucat dengan hidungnya yang mancung, sinar matanya serupa kerlip bintang di langit. Siau-hong menghela napas, ucapnya.

"Sekali ini aku tidak bermaksud mendaki gunung es, memangnya gunung es malah hendak mendaki diriku?"

Jika Pui Giok-hiang benar sebuah gunung es, maka gunung es juga ada kalanya bisa bermuka merah.

Muka Pui Giok-hiang sekarang sudah merah, ia lagi melototi Liok Siau-hong dengan pandangan yang gemas dan berucap dengan gemas.

"Apakah selamanya engkau tidak dapat bicara secara manusia?"

"Terkadang juga bicara, tapi hanya bertemu dengan manusia baru kubicara,"

Jawab Siau-hong dengan tertawa. Memangnya aku bukan manusia? Dengan sendirinya ucapan ini tak dapat dilontarkan si dia. Hanya matanya saja yang semakin besar melotot. Kembali Siau-hong tertawa.

"Dua hari yang lalu kudengar orang berkata bahwa wujudmu kelihatan galak, tapi sebenarnya seorang sangat simpatik. Cuma sayang, cara bagaimanapun kupandang sekarang tetap tidak kulihat akan kebenaran hal itu."

"Ada orang bilang aku sangat simpatik?"

Pui Giok-hiang menegas.

"Ehmm,"

Siau-hong mengangguk.

"Siapa yang bilang begitu?"

"Tentunya kau tahu siapa yang omong begitu."

"Hm, apa adik misanku yang romantis itu, si Bunga Ceng-keh?"

Jengek Giokhiang. Perlahan Siau-hong berdehem dua kali sebagai jawaban, tiba-tiba ia merasa muka sendiri menjadi rada merah. Pui Giok-hiang memandangnya dengan dingin, lalu bertanya pula.

"Selama dua hari ini tentunya dia selalu berada bersamamu."

Terpaksa Siau-hong mengaku.

"Dan sekarang dimana dia?"

Tanya Pui Giok-hiang. Siau-hong jadi melengak.

"Kau pun tidak tahu kemana dia pergi?"

"Aku baru datang, cara bagaimana bisa tahu?"

Jawab Giok-hiang.

"Ai. bisa jadi dia khawatir bilamana kupulang akan berubah menjadi makhluk ajaib yang berhidung separuh dan bermata satu, mungkin dia tidak sampai hati melihat keadaanku itu, maka dia telah pergi lebih dulu."

"Hm, dia memang seorang perempuan yang berhati lemah, pada waktu membunuh orang saja mata selalu terpejam,"

Jengek Pui Giok-hiang. Pada saal itulah tiba-tiba di luar seorang tertawa ngikik dan menanggapi.

"Hihi, betapa pun hanya Piauci yang memahami pribadiku. Tempo hari, lantaran kubunuh orang dengan mata terpejam, makanya bajuku penuh berlepotan darah."

Di tengah suara tertawa nyaring.

Ting-hiang-ih telah melompat masuk serupa seekor burung walet yang gesit.

Meski suara tertawanya kedengarannya manis, tapi keadaannya tampak agak kedodoran, baju robek dan rambut kusut, tampaknya serupa burung walet yang baru terbidik ekornya, oleh ketapel anak nakal.

Sebaliknya Pui Giok-hiang lantas menarik muka dan menegur.

"Hm, tak tersangka bisa juga kau kembali ke sini?"

"Kutahu Piauci berada di sini, dengan sendirinya aku harus kembali ke sini,"

Jawab Tinghiang-ih dengan tertawa. Giok-hiang juga tertawa, manis sekali tertawanya.

"Terkadang aku suka marah padamu, tapi aku pun tahu, apa pun juga engkau tetap Piaumoayku yang baik, engkau selalu sangat baik padaku."

"Cuma sayang, kesempatan bertemu muka kita tidak banyak, engkau lebih suka tinggal bersama Piauko dan selalu meninggalkan diriku dalam keadaan kesepian,"

Sahut Ting-hiangih. Semakin manis tertawa Giok-hiang, katanya.

"Ah, bicaramu saja enak didengar, padahal aku pun tahu, sudah lama kau lupakan diri kami."

"Siapa bilang?"

Jawab Ting-hiang-ih. Giok-hiang melirik Siau-hong sekejap.

"Bilamana kalian sedang bermesraan, memangnya kau ingat kepada kami?"

Maka keduanya tertawa lagi dengan sangat manis dan enak didengar, lapi bagi pandangan Liok Siau-hong rasanya tambah lama tambah tidak beres.

Di tengah suara tertawa haha-hihi itulah sekonyong-konyong terdengar "krek"

Sekali, sisir yang dipegang Giok-hiang mendadak berubah menjadi serentetan anak panah, jeruji sisir yang berjumlah 40 atau 50 itu mendadak berubah serupa barisan anak panah yang menyambar ke arah Ting-hiang-ih.

Pada saat yang sama dari tangan Ting hiang-ih juga terbidik tujuh titik sinar perak, yang di arah adalah tujuh Hiat-to maut di bagian dada Pui Giok-hiang.

Sekali menyerang keduanya sama-sama mengincar bagian yang mematikan, semuanya bermaksud membinasakan lawan dalam sekejap itu.

Kedua perempuan itu tidak memejamkan mata, tapi Siau-hong yang memejamkan mata, ia tidak tega menyaksikan apa yang terjadi.

Waktu ia membuka mata, dilihatnya dinding depan sana menancap tujuh titik sinar perak, sedangkan Pui Giok-hiang telah rebah di tempat tidur dan Ting-hiang-ih sudah melayang pergi.

Terdengar suaranya berkumandang dari kejauhan yang gelap, suaranya penuh rasa benci dan dendam.

"Ingat, tidak nanti kuampuni jiwamu!!"

Baru habis ucapannya, mendadak suaranya berubah menjadi jeritan kaget, lalu jeritan kaget itu pun terputus secara mendadak, kemudian tidak terdengar suara apa pun.

Suasana lantas sunyi senyap.

Pui Giok-hiang masih menggeletak di tempat tidur tanpa bergerak, sampai suara napasnya saja tidak terdengar.

Siau-hong duduk di tepi ranjang dan mengawasinya memandang, dadanya.

Dada yang montok dan menegak.

Tiba tiba Siau-hong tertawa.

"Kutahu kau belum mati."

Dada orang mati tidak sedemikian memikat seperti Pui Giok-hiang sekarang, tetapi dia masih tetap diam saja seperti orang mau tanpa reaksi apa pun.

Sampai sekian lamanya Siau-hong memandangnya, mendadak ia berbangkit terus berbaring sekalian di samping Giok-hiang.

Maka dia juga seakan-akan berubah orang mati.

Sebaliknya orang mati yang lain lantas hidup kembali.

Tangannya mulai bergerak, kakinya juga bergerak.

Sebaliknya Siau-hong tidak bergerak.

Tiba-tiba Pui Giok-hiang mengikik.

"Hihi, kutahu kau pun tidak mati."

Akhirnya Siau-hong memberi reaksi, ia pegang tangan yang putih halus dan sedang beraksi itu.

"Kau takut apa? Aku bukan isteri kawin sah si Jenggot Biru, kau pun bukan sahabatnya,"

Lalu Giok-hiang tertawa dan menyambung pula.

"memangnya kau takut kepada Ting-hiang-ih? Tapi berani kujamin sekali ini, dia pasti takkan kembali lagi ke sini."

Siau-hong menghela napas, ia tahu bilamana sekali ini Ting-hiang-ih masih dapat kembali, mustahil kalau tidak berubah menjadi makhluk aneh yang hilang hidung dan buta mata sebelah.

Namun ia pun tidak terlalu risau, sebab sudah dilihatnya ke tujuh titik perak yang menancap di dinding itu adalah Sam-ling-tau-kut-ting, sejenis paku segitiga.

"Dia menguntit diriku, apakah engkau yang menyuruhnya?"

Tanya Siau-hong tiba-tiba.

"Selamanya kita tidak ada permusuhan, untuk apa kubikin celaka dirimu?"

Jawab Giok-hiang.

"Bikin celaka diriku?"

Siau-hong merasa tidak mengerti.

"Sekarang dia serupa sebuah gunung api yang setiap saat bisa meletus, siapa yang dikuntitnya, setiap saat orang itu bisa terbinasa olehnya."

"Wah, jika begitu, tampaknya nasibku masih mujur juga,"

Ujar Siau-hong sambil tersenyum getir.

"Dua orang perempuan yang kutemui, yang seorang gunung es, yang lain gunung api."

"Gunung api terlebih bahaya daripada gunung es, lebih-lebih gunung api berupa 30 laksa tahil emas yang berada padanya,"

Tukas Giok-hiang.

"30 laksa tahil emas? Darimana datangnya emas sebanyak itu?"

Tanya Siau-hong.

"Hasil mencuri!"

Jawab Giok-hiang.

"Dimana ada emas sebanyak itu untuk dicurinya?"

"Di gudang kekayaan Hek-hou-tong (gedung harimau hitam)."

Baru sekarang Siau-hong tahu duduk perkaranya, ia menghela napas dan bergumam.

"Hekhou-tong. Hek-lai-cu ...."

"Betul, para gembong pimpinan Hek-hou-tong sama memakai tali ikat pinggang berwarna hitam."

Meski Hek-hou-tong adalah sebuah sindikat uang yang baru muncul di dunia Kangouw, tapi ketatnya organisasi dan besarnya pengaruh konon sudah jauh melampaui Jing-ih-lau pada masa lampau.

Juga kekuatan dan dananya tidak dapat ditandingi oleh Kay-pang dan Tiamjong-pay.

Kay-pang terkenal sebagai organisasi kaum jembel terbesar di dunia Kangouw, sedangkan anak murid Tiam-jong-pay hampir seluruhnya keluarga hartawan, di pegunungan Tiam-jong juga ada tambang emas, maka kedua aliran ini terkenal kaya raya.

Akan tetapi Hek-hou-tong terlebih kaya.

Dan uang biasanya serba bisa, setan saja doyan duit.

Inilah pangkal utama sebabnya Hek-hou-tong dapat menonjol dalam waktu secepat ini.

"Konon sebabnya Hek-hou-tong ditakuti adalah karena duitnya terlalu banyak, dengan sendirinya gudang uang mereka adalah bagian yang terpenting, penjagaannya tentu sangat ketat,"

Kata Siau-hong.

"Kukira memang begitu,"

Kata Giok-hiang.

"Selama dua hari ini juga dapat kulihat jago kelas tinggi yang bekerja bagi Hek-hou-tong jauh lebih banyak daripada apa yang pernah kubayangkan Dengan kemampuan apa Ting-hiang-ih dapat menguras gudang kekayaan mereka?"

"Mungkin dia hanya mempunyai sedikit kemampuan saja, tapi dengan setitik kemampuan ini sudah cukup baginya."

"Oo?"

Siau-hong merasa sangsi.

"Kau tahu siapakah Tongcu (kepala) Hek-hou-tong?"

Tanya Giok-hiang.

"Hui-thian-giok-hou (harimau kemala terbang)!"

Sahut Siau-hong.

"Nah, dia sendiri isteri Hui-thian-giok-hou."

Siau-hong melenggong.

"Konon akhir-akhir ini Hui-thian-giok-hou sering tidak di rumah, maka kesempatan ini digunakan Ting hiang-ih untuk membawa lari isi gudang kekayaan Hek-hou-tong. dia minggat bersama seorang kacung Hui-thian-giok-hou."

Setelah tertawa, lalu Giok-hiang menyambung.

"Sebenarnya kau pun tidak perlu heran, perempuan yang kabur bersama gendaknya dengan membawa harta simpanan sang suami, jelas dia bukan orang pertama, juga pasti bukan orang terakhir."

Akhirnya Siau-hong menghela napas gegetun.

"Ai, tampaknya si Muka Pulih (anak muda yang suka jual tampang untuk memelet perempuan) ini tidak rendah kepandaiannya sehingga sanggup menyuruhnya minggat dengan menyerempet bahaya besar."

"Apa engkau merasa cemburu?"

Tanya Giok-hiang dengan tertawa. Siau-hong menarik muka, jengeknya.

"Aku cuma ingin tahu sesungguhnya orang macam apakah dia itu?"

"Tapi sayang sekarang tidak dapat kau lihat dia lagi."

Kata Giok-hiang.

"Sebab apa?"

Tanya Siau-hong "Sebab dia sudah dipotong jadi delapan bagian oleh Liau-si-ngo-hiong dan dimasukkan ke dalam peti, kini sudah dikirim kembali ke Hek-hou-tong."

Liau-si-ngo-hiong atau lima jago keluarga Liau yang dimaksud tentunya kelima orang yang menguntit di belakang sejak permulaan perjalanan Liok Siau-hong itu.

Baru sekarang juga diketahui Siau-hong bahwa sebenarnya yang dibuntuti bukanlah dirinya melainkan Ting-hiang-ih.

"Sesudah si Muka Pulih mati barulah Ting-hiang-ih mengetahui orang Hek-hou-tong menguntit jejaknya, maka dia menjadi takut, maka....."

"Maka akulah yang dicarinya,"

Tukas Siau-hong.

"Setiap orang Kangouw kan tahu, Liok Siauhong yang beralis empat itu tidak boleh sembarangan direcoki, sampai maha raja juga ada hubungan baik dengan dia, bahkan Pek-in-sengcu dan Giam Tok-ho juga terjungkal di bawah tangannya. Bila Ting-hiang-ih mendapatkan pengawal sehebat ini, tentu saja Hek-hou-tong tidak berani sembarangan bertindak."

"Tapi mereka pasti tidak menyangka masih ada lagi tiga pengawal yang jauh lebih lihai selalu melindungi diriku secara diam-diam."

"Ya, makanya di antara 13 orang mereka yang datang telah mati 12 orang."

"Siapa lagi sisa yang seorang itu?"

"Hui-thian-giok-hou sendiri."

"Dia juga datang?"

Siau-hong terkejut.

"Dimana dia sekarang?"

"Tadi sepertinya masih berada di luar, sekarang tentunya sudah pulang."

"Sebab apa dia pulang?"

Tanya Siau-hong.

"Sebab orang yang hendak dicarinya pasti sudah ditemukannya,"

Tutur Giok-biang.

"Cara bekerjanya biasanya tegas dan tuntas. Ia pun tahu engkau tidak lebih hanya boneka yang diperalat saja oleh Ting-hiang-ih, tidak nanti dia mencari dirimu."

"Maka dapatlah aku merasa lega,"

Ucap Siau-hong dengan dingin.

"sebab kungfu Hui-thiangiok-hou terlalu tinggi, jika dia mencari diriku, pasti mati aku."

"Sudah tentu kutahu engkau tidak gentar padanya,"

Kata Giok-hiang.

"Cuma kesulitan demikian kalau dapat dihindarkan kan lebih baik."

Siau-hong berpaling dan menatapnya tajam, tiba-tiba ia bertanya.

"Tampaknya pengetahuanmu mengenai Hek-hou-tong jauh lebih jelas daripada Ting-hiang-ih."

Giok-hiang menghela napas.

"Bicara terus terang, akulah yang memperkenalkan Ting-hiangih kepada Hui-thian-giok-hou sebab itulah aku pun ikut malu atas perbuatannya yang rendah ini."

"Juga lantaran dia tidak jadi menikahimu, tapi mengawini Ting-hiang-ih, karena gemasnya maka engkau lantas berjudi mati-matian dan akhirnya kawin dengan si Jenggot Biru."

Giok-hiang mengangguk, ucapnya perlahan.

"Ya makanya antara diriku dengan si Jenggot Biru boleh dikata tidak ada keakraban bathin, sungguh aku sangat menyesal, mengapa kukawin dengan orang yang membuka rumah judi."

Umumnya, baik lelaki maupun perempuan, apabila mengalami patah cinta, kebanyakan akan mencari penyaluran, kalau tidak mabuk-mabukan, bisa jadi berjudi hingga lupa daratan, kemudian sekenanya mencari pasangan, tapi setelah sadar kembali, biasanya lantas timbul penyesalan yang tak terhingga, tapi beras sudah menjadi nasi, terpaksa tidak dapat berbuat apa-apa lagi.

Tentu saja kisah tragis demikian ini, juga kisah yang umum.

Biasanya kaum lelaki terlalu sibuk bekerja, si perempuan tidak tahan kesepian lalu akan main pat gulipat dengan lelaki lain, bahkan minggat bersama gendaknya.

Kejadian ini pun sangat jamak.

Rupanya Ting-hiang-ih khawatir Siau-hong takkan menggubris padanya lagi bila mengetahui seluk-beluknya, maka dia tidak memberi kesempatan bicara kepada Im-tong-cu.

Ia harus turun tangan lebih dulu dan membunuhnya.

Ketika diketahuinya Pui Giok-hiang menyusul tiba.

mestinya Ting-hiang-ih bermaksud angkat kaki.

tapi begitu dia keluar, segera diketahuinya penguntitan Hui-thian-giok-hou.

Terpaksa ia balik lagi, tak tersangka ia lantas dipaksa keluar pula oleh Pui Giok hiang.

Semua persoalan itu sudah ada penjelasan yang cukup beralasan.

Akan tetapi Liok Siau-hong belum merasa puas.

entah mengapa ia merasa di dalam urusan ini pasti ada lagi intrik dan rahasia lain yang belum diketahuinya.

"Konon Hui-thian-giok-hou adalah seorang yang sangat misterius, selamanya jarang ada orang yang melihat wajah aslinya,"

Kata Siau-hong. Maklumlah, gembong sesuatu sindikat rahasia yang di zaman ini dikenal sebagai 'Godfather' tentu harus selalu menjaga kemisteriusannya agar dapat hidup terlebih panjang.

"Namun kau tentunya harus dikecualikan."

Demikian Siau-hong menyambung pula.

"Kau pasti pernah melihat dia?"

"Ya, sangat sering kulihat dia,"

Giok-hiang mengaku.

"Sesungguhnya dia orang macam apa?"

Tanya Siau-hong.

"Akhir-akhir ini banyak orang berpendapat ada dua tokoh Kangouw yang paling misterius dan paling menakutkan, kedua orang ini adalah Se-pak-siang-giok."

Se-pak-siang-giok, dua Giok (kemala) dari barat dan utara, maksudnya Hui-thian-giok-hou dari utara dan Giok Lo-sat dari barat.

"Jika namanya dapat disejajarkan dengan Giok Lo-sat, maka dia pastilah seorang yang lihai dan berhati keji."

"Bagaimana bentuknya?"

Tanya Siau-hong.

"Meski usianya sudah lebih 40, tapi tampaknya cuma antara 35-an, perawakannya pendek kecil, kedua matanya jelilatan seperti mata kokok beluk."

"Dia she apa dan siapa namanya?"

"Entah,"

Jawab Giok-hiang.

"Masa kau pun tidak tahu'"

Desak Siau-hong.

"Agaknya dia juga mempunyai kisah hidup yang memilukan hati, sebab itulah tidak pernah dia menyebut nama dan asal-usulnya sendiri di depan orang lain, aku pun tidak dikecualikan."

Tiba-tiba tangan Giok-hiang mulai beraksi lagi. Siau-hong sendiri diam saja.

"Sekarang semuanya sudah kau ketahui, apa pula yang kau takuti?"

Ucap Giok-hiang dengan suara lembut. Siau-hong tidak menjawab "Sudah jauh malam begini, angin pun meniup kencang di luar masa kau tega mengusir pergi diriku?"

Suaranya genit menggiurkan, tangannya juga bekerja terlebih aktif. Akhirnya Siau-hong menghela napas.

"Dengan sendirinya takkan kuusir dirimu, namun ...."

"Namun apa?"

Desak Giok-hiang. Siau-hong memegang lagi tangan si dia yang terlalu aktif ucapnya.

"Aku hanya ingin membikin terang sesuatu urusan lebih dulu."

"Urusan apa?"

Tanya Giok-hiang.

"Kedatangan Ting-hiang-ih ke sini jelas adalah karena ingin menggunakan diriku sebagai tameng, dan bagaimana dengan kedatanganmu ini?"

"Memangnya kau pun menganggap hendak kuperalat dirimu?"

"Kuharap kedatanganmu ini adalah karena jatuh hati padaku, cuma sayang, jalan pikiran demikian ini sukar untuk dipercaya biar pun kuhabis menenggak 30 kati arak."

Giok-hiang menghela napas.

"Jika kau minta kubicara sejujurnya, baiklah akan kukatakan, kedatanganku ini adalah karena ingin membicarakan sesuatu bisnis denganmu."

"Bisnis apa?"

Tanya Siau-hong.

"Dengan diriku akan kutukar Lo-sat-pai yang akan kau temukan nanti,"

Tutur Giok-hiang.

"Diriku sudah kukirim franko ke sini sekarang, akan kuserahkan lebih dulu kepadamu, nanti kalau Lo-sat-pai sudah kau dapatkan, harus juga kau serahkannya kepadaku."

Dia tertawa, lalu menyambung.

"Aku kan isteri si Jenggot Biru, jika kau serahkan Lo-sat-pai kepadaku berarti sudah menunaikan tugas, maka tidak merugikan sedikit pun padamu."

"Tapi bagaimana kalau ... kalau tidak dapat kutemukan Lo-sat-pai ?"

"Ya. anggap saja nasibku yang kurang mujur, kan aku yang mengajukan tawaran ini secara sukarela tidak nanti kusesalkan dirimu."

Suara Giok-hiang bertambah genit.

"Malam sudah selarut ini, angin pun sedemikian kencang, aku jadi semakin tidak berani ke luar."

Siau-hong juga menghela napas.

"Kau sudah kukatakan, tidak nanti kuusir dirimu, tapi kan dapat kuusir diriku sendiri?"

Dia benar-benar berbangkit, tanpa menoleh ia melangkah ke luar.

Mendadak terdengar suara gemuruh, tempat tidur yang kukuh dan kuat itu mendadak runtuh berantakan.

Maka tertawalah Siau-hong.

Didengarnya suara caci maki Pui Giok-hiang, maka tertawa Siau-hong bertambah riang, serunya.

"Kau kacau tidurku, aku pun membikin engkau tidak dapat tidur."

Dia bukan nabi, juga bukan kuncu (gentleman).

Untung dia adalah Liok Siau-hong, satusatunya Liok Siau-hong dan tidak ada yang kedua.

Tidak ada yang dapat membayangkan malam ini dia tidur di mana?

Ternyata dia tidur di atap rumah, maka pada waktu mendusin esok paginya, mukanya hampir kering tertiup angin.

Dia menggelengkan kepala sampai sekian lamanya barulah ia dapat melemaskan tangan dan kakinya.

Untung Pui Giok-hiang sudah pergi, maklum, siapa pun pasti tidak dapat tidur di tempat tidur yang sudah berantakan.

Tentunya si dia juga tidak dapat melampiaskan gemasnya alas diri Siau-hong yang tidur di atap rumah, maka rasa dongkolnya lantas dilampiaskan atas pakaiannya.

Pada waktu Siau-hong ingin ganti baju barulah diketahui segenap pakaiannya telah moratmarit dan compang-camping, semuanya robek.

Satu-satunya baju panjang yang masih utuh juga telah bertambah beberapa baris huruf yang berbunyi.

"Liok Siau-hong. hatimu sungguh lebih kecil daripada Siau-keh (ayam kecil), daripada bernama Hong cilik kenapa namamu tidak diganti saja menjadi Liok Siau-keh?"

Ayam juga tidak jelek, paling tidak daging ayam kan cukup lezat.

Maka kecuali ayam goreng, di atas meja Siau-hong masih terdapat satu porsi sosis, satu porsi telur dadar dan satu porsi as inan.

Sedikitnya Liok Siau-hong telah menghabiskan empat mangkuk bubur panas itu.

Kini badannya masih terasa pegal, tapi bhathinnya sangat gembira.

Cuma sayang, kegembiraannya tidak berlangsung lama ketika dia hendak menambah bubur lagi, sekonyong-konyong seorang mengantarkan sepucuk surat untuknya.

Kertas surat kelihatan sangat indah, tulisannya juga bagus, bunyi surat itu.

"Rase garang itu sudah pergi belum? Aku tidak berani mencari dirimu, kau berani mencari diriku tidak? Kalau tidak berani berarti cucu kura-kura" . Siau hong kenal yang membawakan surat itu adalah si pelayan, dari nada tulisannya dengan sendirinya ia pun tahu penulis surat itu ialah Ting-hiang-ih. Masakah dia belum lagi mati? "Siapa yang menyuruhmu mengantarkan surat ini kepadaku?"

"Seorang nona, yaitu nona Ting yang kemarin datang bersama tuan tamu,"

Tutur si pelayan. Dia ternyata benar-benar tidak mati. Seketika Siau-hong melupakan sakit pegal badannya, serentak ia melonjak bangun dan berseru.

"Dimana dia? Lekas antar ke sana!"

Waktu tiba di tempat tujuan, terlihat pintu setengah dirapatkan.

Setelah pintu didorong, segera tercium bau harum semerbak.

Di dalam rumah tidak ada bunga, tapi ada satu orang yang berbaring di tempat tidur.

Bukan untuk pertama kalinya Siau-hong mencium bau harum demikian, jelas inilah bau harum tubuh Ting-hiang-ih.

Dan yang berbaring di tempat tidur itu ialah perempuan yang berbau harum ini.

Cahaya matahari menyinari jendela, suasana dalam rumah adem ayem penuh rasa hangat dan menyenangkan.

Si dia berbaring di sebuah tempat tidur yang sangat longgar dan empuk, berlapis selimut yang tersulam sepasang merpati.

Selimut yang berwarna merah mencorong dengan burung merpati hijau kelabu, air mukanya kemerah-merahan, rambutnya hitam gilap, jelas baru saja disisir.

Wajahnya kelihatan tersenyum, agaknya sedang menantikan kedatangannya.

Tiba-tiba timbul lagi perasaan hangat Liok Siau-hong, tapi ia sengaja menarik muka dan berkata.

"Untuk apa kau minta kudatang kemari? Apakah ingin mengembalikan 50 laksa tahil perak itu kepadaku?"

Ting-hiang-ih juga sengaja memejamkan mata dan tak menghiraukannya.

"Hm, seorang kalau sudah mempunyai 30 laksa tahil emas, untuk apalagi 50 laksa tahil perak?"

Jengek Siau-hong.

Ting-hiang-ih tetap tidak menghiraukannya, akan tetapi matanya yang terpejam itu tiba-tiba mengucurkan dua baris air mata.

Butiran air mata perlahan mengalir ke pipinya yang merah, serupa butiran embun di atas kelopak bunga mawar.

Hati Siau-hong menjadi lunak lagi, perlahan ia mendekat ke sana dan ingin mengucapkan beberapa kata lembut.

Tetapi tidak sempat dia bicara, sebab tiba-tiba diketahuinya sesuatu yang aneh.

Perempuan yang jelita itu tampaknya seperti menyurut lebih pendek bagian bawah selimut tampaknya seperti kosong, Aneh, mengapa bisa begini?

Sungguh Siau-hong tidak berani memikirkannya, mendadak ia singkap selimut bersulam indah itu, seketika ia seperti tercebur ke dalam air dingin, sekujur badan seperti beku.

Ting-hiang-ih masih tetap harum, tetap sangat cantik, dadanya masih tetap montok menegak, pinggangnya masih ramping, akan tetapi kedua tangannya dan kedua kakinya, semuanya sudah lenyap.

Siau-hong memejamkan mata, dia seperti melihat sebuah wajah yang kurus kecil dengan matanya yang jalang serupa mata bu rung tentu penuh mengandung rasa keji dan benci sedang menyeringai terhadap Ting-hiangih.

"Kubuntungi kedua tangannya coba kau berani lagi mencuri emasku atau tidak? Kubuntungi kedua kakimu, coba kemana lagi akan kau lari?"

Siau-hong mengepal kedua tinjunya erat-erat.

Setiap lelaki memang berhak membekuk kembali isterinya yang minggat, untuk ini dia tidak sirik kepada Hui-thian-giok-hou, ketika diketahui Ting-hiang-ih ditangkap pulang, paling-paling cuma timbul perasaan kecut dan bimbang saja.

Tapi sekarang keadaannya menjadi lain.

Siapa pun tak berhak menganiaya sekejam ini kepada orang lain.

Ia benci kepada kekerasan yang melampaui balas.

Seperti halnya pak tani benci kepada wereng.

Waktu dia membuka mata, diketahuinya Ting-hiang-ih juga sedang memandangnya, sudah memandangnya sekian lama.

Sorot matanya tidak ada tanda marah, hanya ada rasa duka.

tiba-tiba ia berucap perlahan.

"Lekas pergi!"

Semula dia menghendaki kedatangan Siau-hong, setelah bertemu mengapa malah menyuruhnya lekas pergi?

Apakah tidak menginginkan Siau-hong melihat keadaannya yang mengenaskan ini?

Atau khawatir Hui-thian-giok-hou akan muncul mendadak?

Bisa jadi surat yang ringkas itu ditulisnya atas paksaan Hui-thian-giok-hou, mungkin di sinilah suatu perangkap ?

Perlahan Siau-hong melepaskan selimut, ia pindahkan kursi ke depan tempat tidur dan berduduk, meski tidak bicara satu kata pun, tapi tidak ada ubahnya seperti telah memberi jawaban tegas.

"Aku takkan pergi !"

Apa pun alasannya dia minta Siau-hong pergi, sekarang Siau-hong sudah bertekad akan tinggal di sini untuk menemaninya.

Sebab ia tahu sekarang dia sangat memerlukan seorang teman, pada waktu Siau-hong sendiri kesepian, bukankah si dia juga pernah menemaninya?

Siau-hong pasti bukan orang yang berjiwa sempit, biar pun orang lain pernah berbuat sesuatu kesalahan padanya, dengan cepul juga akan dilupakannya.

Selamanya dia cuma mengingat kepada kebaikan orang lain.

Dengan sendirinya Ting-hiang-ih juga paham maksudnya, kecuali merasa berduka, sorot matanya bertambah lagi rasa terima kasih yang tak tcrkatakan.

"Sekarang tentunya kau tahu urusanku,"

Suara Ting-hiang-ih sangat lirih, seolah-olah khawatir didengar orang lain.

"Ke-30 laksa tahil emas itu tentu saja tidak dapat kubawa kian kemari. Demi memaksa kuserahkan kembali emas itu, dia telah menyiksa diriku sedemikian rupa."

Siau-hong pikir sekarang tentu saja tak dapat kau kembalikan emas itu kepadanya, mengapa baru akan kau serahkan kembali setelah dia menyiksa dirimu?

Emas itu kan miliknya, memang seharusnya kau kembalikan kepadanya.

Dengan sendirinya pikiran ini tidak diucapkan oleh Siau-hong, betapapun ia tidak tega menusuk lagi perasaannya.

Angin mendesir di luar, daun rontok bertaburan.

Apa yang mesti diucapkan Liok Siau-hong?

Menghiburnya tidak diperlukan lagi.

sebab betapapun ia menghiburnya tetap Lak dapat memperbaiki keadaan yang sudah terjadi.

Cukup lama keduanya bungkam.

Mendadak Ting-hiang-ih bertanya.

"Apakah kau tahu sebab apa pula kucuri ke-30 laksa tahil emas itu?"

Siau-hong menggeleng, terpaksa ia pura-pura tidak tahu. Tapi penjelasan Ting-hiang-ih ternyata sangat di luar dugaannya.

"Juga lantaran Lo-sat-pai itu."

Alasan ini tidak baik, sebab itulah juga tidak terasa sebagai dusta.

"Kutahu Li He membawa lari Lo-sat-pai, juga mengetahui dia sudah pulang ke Lau-ok,"

Kata Ting-hiang-ih pula.

"Lau-ok?"

Siau-hong tidak mengerti.

"Lau-ok sama dengan Rahasu,"

Tutur Tmg-hiang.

"Rahasu adalah bahasa daerah setempat, artinya Lau-ok (rumah tua),"

Demikian Ting-hiang-ih menjelaskan pula.

"Kau kenal Li He?"

Tanya Siau-hong. Ting-hiang-ih mengangguk, tiba-tiba Wajahnva menampilkan Semacam perasaan yang aneh, setelah ragu sejenak, akhirnya berkata pula dengan perlahan.

"Dia sebenarnya ibu tiriku."

Jawaban ini lebih-lebih di luar dugaan Siau-hong. Malahan Ting-hiang-ih lantas menjelaskan lagi.

"Sebelum Li He kawin dengan si Jenggot Biru, sebenarnya dia ikut ayahku."

"Ayahmu ...?"

Siau-hong merasa bingung.

"Sekarang beliau sudah wafat,"

Tutur Ting-hiang.

"Aku dan Li He selama ini masih terus ada kontak."

Li He adalah ibu tiri Ting-hiang-ih, sedang Pui Giok-hiang adalah Piauci atau kakak misannya, dan kakak misan ternyata merampas suami ibu tirinya, suami Ting-hiang-ih sendiri dulunya diperkenalkan kepadanya oleh sang Piauci.

Tiba-tiba Siau-hong merasa hubungan di antara ketiga perempuan itu sungguh terlalu ruwet, biar pun sudah dijelaskan oleh Ting-hiang-ih tetap membuatnya bingung.

Rupanya Ting-hiang-ih dapat melihat jalan pikiran Siau-hong, ucapnya dengan pedih.

"Perempuan adalah kaum lemah, banyak pengalaman kaum wanita yang malang, mereka sering dipaksa melakukan hal-hal yang mestinya tidak suka diperbuatnya. Tapi kaum lelaki sedikit pun tak memahami mereka, sebaliknya menghinanya malah."

Siau-hong menghela napas, ucapnya.

"Aku ... aku mengerti."

"Perbuatan Li He sekali ini meski tidak benar, tapi aku bersimpatik kepadanya,"

Kata Tinghiang-ih pula.

Dia mencuri Lo-sat-pai suaminya, dan kau nyolong emas suamimu, perbuatan kalian memang setali tiga uang alias sama, dengan sendirinya kau bersimpatik padanya.

Dengan sendirinya pikiran ini tidak diucapkan Siau-hong, tapi Ting-hiang-ih dapat melihatnya.

"Kubilang perbuatannya tidak benar, maksudku bukan lantaran dia mencuri Lo-sat-pai,"

Untuk pertama kalinya Ting-hiang-ih memperlihatkan rasa duka dan marah.

"Seorang perempuan kalau disia-siakan suaminya, cara bagaimana pun dia membalasnya adalah pantas."

Ini adalah jalan pikiran kaum wanila, kebanyakan perempuan sama mempunyai pendirian semacam ini. Ting-hiang-ih adalah orang perempuan. Sebab itulah Siau-hong menyatakan sependapat.

"Kukatakan dia berbuat salah adalah karena dia mestinya tidak boleh berjanji akan menjual Lo-sat-pai kepada Kah Lok-san,"

Kata Ting-hiang-ih pula.

"Kah Lok-san dari Kanglam?"

Melengak juga Siau-hong, sebab ia tahu orang yang disebut ini.

Kah Lok-san adalah hartawan maha kaya yang terkenal di daerah Kanglam (selain sungai Tiang-kang atau Yangce), juga seorang dermawan terkenal, hanya sedikit orang yang mengetahui bahwa dahulunya dia adalah bajak laut besar yang malang melintang di samudra raya, sampai-sampai suku Ainu dari kepulauan lautan timur (penduduk asli Jepang di kepulauan Okinawa dan sekitarnya) juga sebagian besar berada di bawah kekuasaannya.

Suku Ainu itu terkenal ganas, kejam, tangkas, dan tidak takut mati, hidupnya kebanyakan menjadi bajak laut, sifatnya pagi satu sore dua, tidak dapat dipercaya.

Tapi Kah Lok-san justru dapat mengatasi mereka sehingga takluk benar-benar, dari sini dapat dibayangkan, betapa lihainya tokoh Kah Lok-san ini.

"Kutahu Li He telah mengadakan perundingan rahasia dengan utusan Kah Lok-san yang sengaja dikirim ke daerah Tionggoan,"

Tutur Ting-hiang-ih pula.

"Bahkan mengenai harganya juga sudah diputuskan, lelah disepakati untuk bertemu lagi di Rahasu, di sana akan dilakukan pembayaran dan penyerahan barang."

"Jika mereka berunding di daerah Tionggoan, mengapa mesti berjanji pula untuk bertemu lagi di kota kecil yang terpencil jauh di utara sana?"

Tanya Siau-hong.

"Ini pun salah satu syarat yang diminta Li He,"

Tutur Ting-hiang-ih.

"Ia tahu kekejian dan keganasan Kah Lok-san, ia khawatir dicaplok mentah-mentah, sebab itulah ia berkeras akan menyerahkan barangnya di Lau-ok."

"Sebab apa?"

"Sebab di sanalah kediaman asal ayahku,"

Tutur Ting-hiang-ih.

"Dia juga belasan tahun tinggal di sana. Baik tempat maupun orang di sana sudah cukup apal baginya, beradadi sana, betapa pun besar kekuatan Kah Lok-san juga tidak dapat berbuat sewenang-wenang kepadanya.

"Jika demikian, tampaknya dia juga seorang perempuan yang sangat cerdik dan lihai,"

Ujar Siau-hong. Ting-hiang-ih menghela napas.

"Maklum, mau tidak mau dia harus berundak agak cerdik, sebab dia sudah terlalu sering ditipu kaum lelaki." 'Tapi dia toh memberitahukan rahasia ini kepadamu,"

Ujar Siau-hong.

"Ya, sebab setelah dia membawa lari Lo-sat-pai. orang pertama yang dicarinya ialah diriku."

"Oo?"

Tak terduga juga oleh Siau-hong.

"Dia juga berjanji padaku, asalkan pada akhir tahun aku dapat mengumpulkan 20 laksa tahil emas, maka ia akan menjual Lo-sat-pai kepadaku."

"Untuk apa kau incar Lo-sat-pai?"

"Sebab aku pun ingin menuntut balas,"

Dengan menggreget Ting-hiang-ih menyambung pula.

"Sudah lama kutahu Hui-thian-giok-hou mempunyai simpanan perempuan lain, aku dianggapnya duri di dalam daging, gendaknya itu lebih-lebih benci padaku, sebab selama aku masih hidup, tentu sukar baginya untuk menjadi permaisuri Hek-hou-tong secara resmi."

"Masa mereka bermaksud membunuhmu?"

"Jika aku kurang cerdik, mungkin sudah lama kumati di tangan mereka. Akan tetapi, bilamana Lo-sat-pai sudah kupegang, mereka pasti tidak berani lagi merecoki diriku."

Jika seorang perempuan berani membeli sesuatu barang dengan 20 laksa tahil emas, tentu alasannya cukup kuat.

"Sebab apa?"

Tanya Siau-hong "Sebab dengan memegang Lo-sat-pai, maka jadilah aku Kau-cu ketua agama) Lo-sat-kau atau Ma-kau yang dikenal orang.

Bahkan Hui-thian-giok-hou sendiri juga jeri terhadap pemimpin agama dari barat ini."

Matanya yang kelihatan sayu itu mendadak terbeliak, dia mencernakan pula sesuatu rahasia yang Sangat mengejutkan orang.

Kabarnya Giok lo-sat dari barat itu sudah mati, mati secara mendadak pada saat putranya mulai masuk ke daerah Tionggoan.

Ketua Ma-kau itu meninggalkan pesan.

"Bila aku mati, Lo-sat-pai kuberikan kepada siapa yang memegangnya, dia itulah yang akan menjadi Kaucu penerus, jika ada yang berani membangkang, hukumannya dicincang, mati pun masuk neraka dan takkan menitis untuk selamanya."

Giok Lo-sat dari benua barat tentu saja seorang yang sangat cerdik dan maha lihai, dia khawatir sesudah dirinya mati, untuk memperebutkan kedudukan, anak muridnya mungkin akan saling membunuh dan menghancurkan agama yang telah dipupuknya dan dibesarkannya seperti sekarang ini.

Sebab itulah dia sengaja meninggalkan pesan yang merupakan hukum yang tak dapat dibantah itu.

Lantaran itu juga, makanya lebih dulu Lo-sat-pai itu sudah diwariskannya kepada putranya sendiri.

Cuma sayang, Giok Thian-po juga serupa anak badung dari keluarga hartawan umumnya, anak yang kelewat dimanja orang tua, akhirnya jadi rusak.

"Jika di alam baka Giok Lo-sat mengetahui putra kesayangannya itu menggadaikan Lo-sat-pai di rumah judi, kuyakin dia akan murka sehingga tumpah darah,"

Kata Ting-hiang-ih pula. Siau-hong menghela napas panjang, akhirnya ia tahu duduknya perkara mengapa ada orang sebanyak itu ingin merebut Lo-sat-pai dengan cara apa pun.

"Demi memperingati wafatnya Giok Lo-sat dan juga untuk mengangkat Kaucu baru. para Hou-hoat-tianglo dan anak murid yang berkuasa telah memutuskan akan mengumpulkan segenap anak murid yang penting untuk bertemu di puncak Kun-lun-san pada tanggal tujuh bulan satu nanti."

Dan apabila pada hari tersebut engkau dapat hadir dengan membawa Lo-sat-pai, maka engkau yang akan diangkat menjadi Kaucu baru Ma-kau, selanjutnya juga tidak ada orang lagi yang berani bertindak kasar padamu,"

Tukas Siau-hong.

Pengaruh Ma-kau sudah berakar cukup mendalam dan merata di seluruh dunia, barang siapa dapat menjabat Kaucu, seketika akan berubah menjadi orang yang paling berpengaruh di dunia Kangouw, seorang kalau sudah berkuasa, maka keuntungan moril dan material juga akan diperolehnya dengan mudah.

Daya pikat ini jelas sukar dilawan oleh siapa pun.

Pantas Ting-hiang-ih berusaha mendapatkan Lo-sat-pai tanpa memikirkan resiko apa pun.

Siau-hong menghela napas, tiba-tiba ia merasakan urusan ini jadi semakin ruwet, tugasnya juga semakin berat dan sulit.

Cuma ada satu hal yang membuatnya tidak mengerti maka tanyanya.

"Mengapa Li He sendiri tidak membawa Lo-sat-pai ke Kun-lun-san?"

"Sebab dia khawatir sebelum mencapai Kun lun-San akan mati dulu di tengah jalan,"

Kata Ting-hiang.

"Dia lebih takut kalau-kalau hidupnya tak bisa bertahan sampai tanggal tujuh bulan satu tahun depan."

Maklumlah, sebelum tiba hari yang ditentukan itu, berada di tangan siapa pun, Lo-sat-pai itu lebih mirip bom yang dapat meledak setiap waktu dan menghancur leburkan si pemegang.

"Biasanya dia sangat cerdik, ia tahu jalan yang paling selamat adalah menjual Lo-sat pai kepada orang lain,"

Setelah menghela napas menyesal, Ting-hiang-ih melanjutkan.

"seorang perempuan sebaya dia, jika hidupnya tidak punya sandaran dan jiwanya juga tidak tenteram, biasanya lantas mencari duit mati-matian, maka...."

"Maka meski hubungannya denganmu lain daripada yang lain, dia tetap minta kau beli Lo-satpai dengan 20 laksa tahil emas."

Tukas Siau-hong.

"Ya, sayang sekarang aku lebih mengenaskan daripada dia,"

Ucap Ting-hiang-ih dengan pedih, ''akulah yang benar-benar tidak punya apa-apa lagi."

"Sedikitnya kau masih mempunyai seorang sahabat."

Sambung Siau-hong dengan tersenyum ewa.

"Engkau?"

Ting-hiang-ih menegas. Siau-hong mengangguk, tiba tiba timbul semacam perasaan yang sukar dijelaskan."

Mestinya mereka bukan 'sahabat', hubungan mereka justru jauh lebih akrab daripada sahabat.

Akan tetapi sekarang ....

Ting-hiang-ih memandangnya, sorot matanya menampilkan semacam perasaan yang sukar dijelaskan, entah berduka?

Bersyukur?

Atau berterima kasih?

Selang agak lama, tiba-tiba ia bertanya.

"Dapatkah kau sanggupi suatu permintaanku?'" 'Katakan saja,"

Sahut Siau-hong.

"Bagiku sekarang, biar pun Lo-sai-pai juga tidak berguna lagi,"

Kata Ting-hiang-ih.

"Tapi tetap kuharapkan akan dapat melihatnya, sebab ... sebab aku telah berkorban segalanya baginya. Jika melihatnya saja tidak pernah, mati pun aku penasaran."

"Kau harapkan setelah kutemukan barang itu, akan kubawa ke sini untuk diperlihatkan padamu?"

Ting-hiang-ih mengangguk, lalu ia pandang Siau-hong lekat-lekat.

"Engkau mau berjanji?"

Mana bisa Siau-hong menolak, ''Cuma hal ini paling cepat baru dapat terlaksana sebulan lagi, tatkala mana engkau masih berada di sini?"

"Aku akan berada di sini,"

Jawab Ting-hiang-ih dengan sedih.

"sekarang aku sudah seorang cacat, mati atau hidup takkan diperhatikan lagi oleh mereka."

Matanya menjadi merah, air matanya menetes pula.

"Apalagi orang semacam diriku ini kemanakah dapat kupergi?"

Rembulan mulai tinggi di tengah langit, suasana bertambah sunyi.

Perlahan Siau-hong mengusap air mata Ting-hiang-ih dengan lengan bajunya, ia duduk lagi.

Sampai sekian lama barulah Ting-hiang-ih menghela napas, lalu berkata,"Sudah waktunya kau pergi."

"Kau minta kupergi?"

Tanya Siau-hong Ting-hiang-ih tersenyum, 'Tentunya engkau tidak dapat berduduk menemani diriku selamanya."

Meski tersenyum, namun wajahnya jauh lebih pedih daripada waktu menangis tadi. Siau-hong ingin bicara tapi urung.

"Apakah engkau ingin bertanya sesuatu kepadaku?"

Tanya Ting-hiang. Siau-hong mengangguk. Memang ada sesuatu yang mestinya tidak pantas ditanyakannya, ia tidak ingin menyinggung perasaan nya, tapi mau tidak mau ia harus bertanya.

"Hui-thiangiok-hou sebenarnya orang macam apa?"

Jawaban Ting-hiang-ih juga serupa Pui Giok-hiang.

ternyata dia juga tidak tahu asal-usul dan nama asli Hui-thian-giok-hou.

Keterangan yang dapat diberitahukannya hanya asal-usulnya sangat misterius, gerak-geriknya sukar diraba, perawakannya kurus kecil, sorot matanya setajam elang, tidak menaruh kepercayaan kepada siapa pun, sekalipun istrinya juga tidak terkecuali.

Akan tetapi ilmu silatnya sangat tinggi, selama ini belum pernah menemukan tandingan.

Siau-hong bertanya.

"Sesungguhnya tempat macam apakah Rahasu itu?"

"Tempat itu pun serupa pribadi Hui-thian-giok-hou, misterius dan menakutkan, penduduk di sana sama berjiwa sempit, berpikiran picik, selalu bersikap memusuhi setiap pendatang baru kecuali dua orang, apa yang dikatakan orang di sana sebaiknya jangan dipercaya."

"Dua orang macam apakah yang bicaranya boleh dipercaya?"

Tanya Siau-hong.

"Yang seorang berjuluk Kambing Tua, dia adalah bekas pegawai ayahku, seorang lagi bernama Tan Cing-cing. sejak kecil dibesarkan bersamaku, jika mereka tahu engkau adalah sahabatku, tentunya mereka akan membantumu sepenuh tenaga."

Siau-hong mengingat-ingat kedua nama itu dengan baik.

"Selewatnya Tiongciu (pertengahan bulan kedelapan), cuaca di sana lantas mulai dingin, belum lagi bulan kesepuluh, air sungai sudah membeku,"

Tutur Ting-hiang-ih. Liok Siau-hong juga pernah mendengar bilamana Siang-hoa-kang sudah membeku, maka sungai berubah menjadi sebuah jalan raya yang lengang.

"Orang yang tidak pernah berkunjung ke sana selamanya sukar membayangkan betapa dingin tempat itu,"

Tutur Ting-hiang-ih pula.

"Pada waktu hawa paling dingin, begini ingus keluar dan hidung segera akan beku menjadi es, sampai hawa napas yang terembus keluar juga akan beku menjadi biji es."

Siau-hong menghela napas, tanpa terasa ia meninggikan leher bajunya.

"Kutahu selama ini engkau cuma berada di daerah Kanglam, tentu takut dingin,"

Kata Tinghiang.

"sebab itulah engkau harus lekas berangkat ke sana mumpung hawa belum terlalu dingin, di tengah jalan sebaiknya engkau membeli beberapa potong baju kulit penahan dingin."

Tiba-tiba Siau-hong merasa hangat lagi, apa pun juga, Ting-hiang-ih jelas tetap memperhatikannya.

Seorang kalau mengetahui di dunia ini ternyata ada orang yang memperhatikan dirinya, tentu hatinya akan merasa senang.

Cuma masih ada juga sesuatu urusan perlu ditanyakan lagi dengan jelas.

Setelah termenung sejenak, lalu Siau-hong berkata.

"Kematian Giok Lo-sat tentu akan menimbulkan keruwetan di dalam agamanya, demi menghindari kemungkinan menangkap ikan di air keruh oleh anasir tertentu, maka kematiannya sampai saat ini masih dirahasiakan."

"Ya. memang tidak banyak orang yang mengetahui rahasia ini,"

Ujar Ting-hiang-ih.

"Dan darimana kau tahu?"

Tanya Siau-hong.

"Kau tahu, di bawah Hek-hou (harimau hitam) terbagi lagi menjadi Pek-kap (merpati putih), Hwe-long (serigala kelabu) dan wi-kian (anjing kuning), ketiga seksi ini mempunyai lugas sendiri-sendiri. Wi-kian bertugas melacak, Hwe-long bertugas membunuh dan kewajiban Pekkap adalah mencari info dan menyampaikan berita di segenap penjuru."

"Bahwa Hek-hou-tong dapat menonjol secepat ini, sebagian adalah jasa ketiga seksi ini yang dapat bekerja cepat dan efektif. Hampir setiap tokoh dunia persilatan yang terkenal, baik mengenai asal-USUlnya bentuk wajahnya dan ciri ilmu silatnya serta segala sesuatu kekhususannya, pada seksi merpati putih itu pasti terdapat dokumentasi yang lengkap. Sebab itulah sebelum kulihat dirimu lebih dulu sudah kuketahui engkau ini orang macam apa."

Dan apakah dia juga mengetahui kelemahan Siau-hong terlelak pada orang perempuan, makanya timbul niatnya akan menggunakan Siau-hong sebagai tameng?

Siau-hong tidak memikirkan hal ini, apa yang diperbuat orang lain terhadapnya biasanya tidak suka dipikirkannya, sebab itulah hatinya bisa selalu riang gembira.

Tiba-tiba Ting hiang-ih tertawa, tertawa pedih dan kecut.

"Sebenarnya aku menjabat dua kedudukan di dalam Hek-hou-tong."

"Oo?"

Heran juga Siau-hong.

"Selain menjadi alat pelampias pemimpin umum Hek-hou-tong, aku pun merangkap menjadi kepala seksi merpati....."

Bab 9 ...

Akhirnya Siau-hong berangkat juga.

Ucapan Ting-hiang-ih memang tidak salah, dengan sendirinya ia tidak dapat menemaninya selama hidup.

Cuaca cukup cerah, sinar sang surya tetap gilang gemilang, tapi rencana Siau-hong tidak riang lagi seperti tadi.

Bila teringat kepada persoalan yang ruwet dan penukaran yang akan dihadapi sungguh ia ingin terjun ke sungai saja dan habis perkara.

Daun rontok memenuhi halaman, dilihatnya seorang anak perempuan berumur belasan berdiri sendirian di bawah pohon yang sudah kering, tangan anak perempuan itu memegang sepucuk surat, dengan pandangan sangsi dan heran ia sedang mengawasi Liok Siau-hong.

Siau-hong mendekatinya, tiba-tiba ia menegurnya dengan tertawa.

"Bukankah aku yang sedang kau tunggu?"

Anak perempuan itu terkejut, jawabnya tergagap.

"Apakah ... apakah engkau ini Liok Siauhong yang beralis empat itu?"

"Betul, aku ini Liok Siau-hong. Dan kau?"

"Namaku Jiu Peng"

"Hui-thian-giok-hou yang menyuruhmu ke sini, bukan?"

Jiu Peng mengangguk.

Kembali Jiu Peng mengangguk sambil mengangsurkan sepucuk surat.

Baik sampul maupun kertas suratnya, semuanya dari bahan kertas pilihan, tulisannya juga sangat rajin.

Surat itu berbunyi.

Tuan Siau-hong yang terhormat.

Anda pendekar besar masa kini, lelaki ajaib zaman ini, sudah lama kukagumi nama Anda, cuma sayang selama ini tidak dapat bertemu.

Ada pun istriku.

Hiang-ih, jika Anda menyukainya, terpaksa kupersembahkan dia bagimu sekedar sebagai tanda kagumku kepada Anda.

Semoga diterima dengan senang hati.

Kelak bilamana sempat, tentu akan kusiapkan arak untuk diminum bersama dengan Anda.

Mengenai biaya makan minum di sini sudah kubayar sampai akhir bulan, terlampir adalah kuitansi dari hotel yang bersangkutan, mohon diterima dengan betul.

Terlampir pula surat perceraian istriku agar segala urusan menjadi beres.

Mohon diterima sekalian.

Tanda tangan di bawah ternyata betul Hui-thian-giok-hou adanya.

Dengan sabar Siau-hong membaca surat ini, tiba-tiba ia merasa kesabaran sendiri sudah ada kemajuan, ternyata surat ini tidak sampai dirobeknya.

Dilihatnya si gadis Jiu Peng masih berdiri di situ dan memandangi Siau-hong dengan mata terbelalak, agaknya dia juga sangat tertarik oleh lelaki cakap yang beralis empat ini.

"Kau tunggu jawahanku?"

Tanya Siau-hong dengan tertawa. Jiu Peng mengangguk. Dengan sendirinya Hui-thian-giok-hou sangat ingin tahu bagaimana reaksi Siau-hong setelah membaca suratnya.

"Jika begitu pulang dan katakan kepadanya bahwa aku sangat berterima kasih atas hadiahnya, sebab itulah aku pun akan menghadiahkan sesuatu kepadanya."

"Apakah perlu kubawa pulang ke sana?"

Tanya Jiu Peng.

"Barang ini tak dapat kau bawa, harus diambil sendiri ke sini,"

Kata Siau-hong. Tiba-tiba Jiu Peng memperlihatkan rasa takut.

"Namun ...."

"Namun ingin kuberitahukan padamu lebih dulu,"

Sela Siau-hong, Hadiah apakah yang akan kuberikan padanya, supaya dapat kau berikan pertanggungan jawab kepadanya?"

Jiu Peng tampak merasa lega. tanyanya.

"Hadiah apa yang akan kau berikan kepadanya' "Bogem mentah!"

Jawab Siau-hong. Jiu Peng tampak melenggong karena tidak paham apa yang dimaksudkannya, ia pun tidak berani berunya, ingin tertawa juga tidak berani. Siau-hong tidak tertawa, ia coba menjelaskan.

"Bogem mentah akan kuberikan tepat pada hidungnya. ooo000ooo Sekeluarnya dari hotel. Liok Siau-hong terus menuju ke depan melalui jalan yang berdebu. Belum ada satu li jauhnya, tiba-tiba diketahuinya dua hal yang sangat tidak menyenangkannya. Jalan ini ternyata sangat sepi, kecuali dia sendiri dan Hwe-han-sam-yu. hampir tidak terlihat ada penguntit yang lain. Dalam saku Siau-hong kini selain tersisa sedikit uang receh, dia tidak punya bekal lain lagi. Dia suka keramaian, suka melihat macam ragam orang berkeliling di sekitarnya, biarpun diketahuinya ada sementara orang tidak bermaksud baik kepadanya |uga tidak dihiraukannya. Satu-satunya urusan yang dapat merisaukan dia hanya kesepian. Jika di dunia ini masih ada urusan yang dapat membuatnya takut, maka utusan ini juga cuma kesepian. 'Miskin' bukankah juga sejenisnya kesepian? Bukankah datangnya kesepian selalu berikutan dengan datangnya kemiskinan? Pada waktu ada uang, kesepian akan mudah dihalau. Bilamana kantongmu kosong barulah akan kau rasakan kesepian serupa kantongmu, biarpun dicambuk juga tak mau pergi. Siau-hong menghela napas, untuk pertama kalinya ia merasa angin yang meniup dari depan itu sungguh sangat dingin. Pada waktu lohor Siau-hong hanya mengisi perut dengan sepiring nasi campur. Sedangkan ketiga kakek yang masih terus menguntitnya itu telah menghabiskan empat kati daging rebus, empat lima macam santapan pilihan dan menghabiskan pula beberapa poci arak. Saking mendongkolnya hampir saja Liok Siau-hong mendekati mereka dan memberitahukan bahwa orang yang berusia lanjut sebaiknya jangan terlalu banyak makan barang berminyak, arak juga perlu dikurangi, kalau tidak, akan mudah terserang penyakit darah tinggi, sakit jantung dan kencing manis. Jelas makan siang ini berlangsung dengan tidak memuaskan, mestinya dia tidak perlu memberi tip atau persen kepada pelayan, tapi sayang, seorang kalau biasa menjadi tuan besar, biar pun sudah rudin, sifat tuan besar itu tetap sukar berubah. Sebab itulah setelah tutup rekening, isi saku Siau-hong tambah kurus. Padahal Rahasu masih jauh di sana, tanpa bekal cara bagai mana dia akan melanjutkan perjalanan? Dia tidak dapat merampok atau mencuri, tidak dapat menipu, apalagi mengemis. Bila orang lain, terang perjalanan ini tentu akan dibatalkan? Untung Liok Siau-hong bukan orang lain, Liok Siau-hong tetap Liok Siau-hong, menghadapi kesulitan macam apa pun dia tetap optimis, selalu ada akalnya untuk memecahkan setiap kesulitan. Menjelang magrib, angin meniup terlebih dingin orang berlalu lalang di jalan hampir tidak kelihatan lagi. Liok Siau-hong justru lagi berjalan-jalan dengan santai seperti halnya orang yang habis makan kenyang dan lagi melancong di daerah pertokoan yang paling ramai di kotaraja. Padahal satu piring nasi campur yang dimakannya sudah sejak tadi tercerna habis, namun di dalam hati dia lagi tertawa, sebab betapa pun dia berjalan, kemana dia pergi, ketiga kakek sialan itu harus mengikut di belakangnya. Siapa pun tahu Liok Siau-hong lebih licin daripada belut lebih cerdik daripada setan, sedikit lengah saja bisa jadi bayangannya akan menghilang dan sukar dicari lagi. Maka selama Siauhong tidak berhenti untuk makan malam, ketiga kakek itu juga tidak berani berhenti. Sudah barang tentu, bukan pekerjaan enak bila perut kosong harus makan debu dan minum angin di tengah perjalanan jauh ini. Selama hidup belum pernah Hwe-han-sam-yu tersiksa seperti sekarang. Akhirnya Koh-siong Siansing tidak tahan, sekali lengan bajunya mengebas. seperti burung saja dia melayang ke sana dan hinggap di depan Liok Siau-hong. Siau-hong tersenyum, tegurnya.

"Mengapa kau cegat jalanku? Apakah kau anggap cara berjalanku kurang cepat?"

Dengan muka masam Koh-siong Siansing berkata.

"Aku cuma ingin bertanya sesuatu padamu."

Kakek ini memangnya bukan orang yang punya rasa humor, apalagi yang tensi di dalam perutnya sekarang hanya api amarah belaka, kontan ia bertanya.

"Ingin kutanya padamu, kau tahu waktu tidak?"

Siau-hong berkedip-kedip, katanya.

"Ya. rasanya sekarang sudah tiba waktunya makan."

"Jika tahu, mengapa tidak lekas kau cari suatu tempat untuk makan?"

Kata Koh-siong Siansing.

"Sebab aku belum mau."

Jawab Siau-hong.

"Mau atau tidak mau tetap harus makan,"

Teriak Koh-siong Sian-sing. Siau-hong menghela napas.

"Memaksa orang berjudi atau memaksa orang berzina sudah sering kudengar, tapi belum pernah kudengar ada orang memaksa orang lain untuk makan."

"Dan sekarang kau sudah kau dengar pula,"

Kata Koh-siong Siansing.

"Soalnya aku mau makan atau tidak, lalu ada sangkut-paut apa denganmu?"

Tanya Siau-hong tiba-tiba.

"Setiap manusia kan harus makan nasi, coba katakan, kau manusia atau bukan?"

"Benar, setiap manusia pasti makan nasi, tapi ada sejenis manusia yang tidak dapat makan."

"Jenis manusia apa?"

Tanya Koh-siong "Orang yang tidak gablek duit!"

Akhirnya Koh-siong baru tahu duduknya perkara, sorot matanya menampilkan senyuman geli, katanya segera.

"Bagaimana jika ada orang mau mentraktirmu?"

"Itu pun perlu melibat keadaan."

Sahut Siau-hong dengan tak acuh.

"Melihat keadaan bagaimana?"

"Perlu kulihat dulu apakah dia mentraktirku dengan sesungguh hati dan sejujurnya atau tidak,"

Sahut Siau-hong.

"Jika kutraktir dirimu dengan sesungguhnya hati, kau pergi tidak?"

Siau-hong tersenyum.

"Jika benar-benar hendak kau traktir diriku, dengan sendirinya tidak enak kutolak."

Koh-siong menatapnya.

"Engkau tidak punya uang untuk makan, ingin ditraktir orang, tapi kau justru tidak mau buka mulut, malah perlu kubuka suara lebih dulu untuk minta persetujuanmu."

"Sebab sudah kuperhitungkan dengan baik engkau pasti akan mencari diriku,"

Ujar Siau-hong dengan tak acuh.

"Sekarang setelah kau datang, bukan saja soal makan, urusan tempat tinggal juga harus kau tanggung."

Sampai sekian lama Koh-siong menatapnya pula, akhirnya ia menghela napas panjang dan berkata.

"Ai. berita yang tersiar di dunia Kangouw ternyata tidak bohong, untuk bergaul dengan Liok Siau-hong memang betul tidak mudah."

Ooo000ooo Akhirnya santapan enak dan arak sedap harus disuguhkan, tidak terkecuali pula teh kelas tinggi.

"Kau minum arak?"

Tanya Koh-siong Siansing.

"Kalau sedikit tidak minum,"

Jawab Siau-hong.

"Oo. maksudmu, bila mau minum harus minum sepuasnya?"

"Ya, supaya puas. harus minum banyak dan cepat."

Segera Siau-hong menuang satu mangkuk penuh, menengadah dan arak itu dituang kedalam mulut, sekaligus ia tenggak habis semangkuk arak itu.

Caranya minum arak bukan dengan 'minum' melainkan 'dituangkan' ke dalam mulut.

Di dunia mi tidak sedikit orang yang kuat minum arak, tapi menuang arak ke dalam mulut serupa Liok Siau-hong tidaklah banyak.

Koh-siong memandangnya dengan terkesima, untuk pertama kalinya ia tersenyum, ia pun menuang satu mangkuk arak dan ditenggaknya.

Caranya menenggak arak ternyata juga bergaya "tuang".

Dalam hati Siau-hong bersorak.

"Si tua ini ternyata juga boleh!"

Koh-siong tampak bangga, katanya.

"Minum arak selain cepat, juga harus puas. Boleh minum tiga atau lima mangkuk, betapa cepat cara minumnya tidak menjadi soal."

"Kau sanggup minum berapa banyak?"

Tanva Siau-hong.

"Berapa banyak minumnya juga tidak soal, baru terhitung hebat apabila tidak dapat mabuk biar pun minum sebanyakbanyaknya."

Kakek yang dingin dan suka menyendiri ternyata lantas berubah menjadi seorang lain bilamana bicara tentang minum arak. Siau-hong tersenyum dan berkata.

"Kau sanggup minum berapa berapa banyak dan tidak sampai mabuk ?"

"Entah, belum pernah kucoba."

"Memangnya engkau tidak pernah mabuk?"

Koh-siong Siansing tidak menyangkal, ia balas bertanya.

"Engkau sendiri sanggup minum berapa banyak dan tidak mabuk?"

"Cukup secawan kuminum sudah terasa rada mabuk, seribu cawan yang kuminum juga tetap begini."

Untuk ketiga kalinya sorot mata Koh-siong menampilkan senyuman, ucapnya.

"Makanya engkau tidak pernah mabuk benar-benar?"

Baca Juga: Pedang Berkarat Pena Beraksara 6

Baca Juga: Pedang Langit Dan Golok Naga 18

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert