Eps 12 Pendekar Pemanah Rajawali - Jin Yong
Baca online Pendekar Pemanah Rajawali - Jin Yong
Cersil Pendekar Pemanah Rajawali - Jin Yong.
Ketika ia membuka lemari, ia dapat cium bau busuk.
Ia menyuluhi, maka terlihatlah tujuh atau delapan mangkok hijau yang sudah sombeng di sana sini.
Di sininya ada belasan bangkai cecurut….
Kwee Ceng membantui mengambil mangkok.
"Pergi kau cuci bersih sekalian ambil beberapa batang cabang pohon untuk dipakai sebagai sumpit,"
Berkata Oey Yong.
Si anak muda menurut, ia berlalu dengan mangkok kotornya itu.
Oey Yong menjumput mangkok yang terakhir ketika ia merasakan mangkok itu dingin seperti es, beda dari mangkok biasa.
Ia mengangkatnya, tapi mangkok itu diam di tempatnya seperti terpaku.
Ia menjadi terlebih heran.
Ia tidak berani memaksa mengambil, khawatir mangkok itu pecah.
Ia hanya mencoba lagi tetapi kembali gagal.
"Mustahilkah karena dibiarkan lama di sini, mangkok ini penuh debu dan jadi nempel lengket karenanya?"
Ia berpikir. Maka itu ia mengawasi terus, sampai ia lihat mangkok itu karatan, sebab mangkok itu ternyata terbuat dari besi. Sendirinya nona itu tertawa geli.
"Mangkok emas, mangkok perak, mangkok kumala, semuanya aku pernah lihat,"
Katanya di dalam hati.
"Tetapi belum pernah aku dengar ada mangkok besi."
Ia mencoba menarik dengan menggunai sedikit tenaga, tetap mangkok itu tak bergeming.
Ia heran bukan main.
Mestinya mangkok itu dapat terangkat berikut papannya.
Maka ia mau menduga papannya itu pun besi.
Ia lantas menyentil.
Ia mendengar suara nyaring.
Benarlah dugaannya.
Oey Yong pegang mangkok itu, ia memutar ke kiri.
Mangkok diam saja.
Ia mencoba memutar ke kanan, mangkok itu bergerak sedikit.
Ia memutar terus.
Tiba-tiba ia mendengar suara keras, sebagian tembok memutar ke kanan, mangkok itu bergerak sedikit.
Ia memutar terus.
Tiba-tiba ia mendengar suara keras, sebagian tembol dapur itu terbelah dua, memperlihatkan suatu lobang yang gelap.
Dari situ lantas menghembus bau busuk, sampai si nona mau muntah, lekas-lekas ia lompat ke samping.
Kwee Ceng bersama Ciu Pek Thong mendengar suara si nona, mereka lantas datang melihat.
"Jangan-jangan inilah rumah makan gelap,"
Berkata Oey Yong, yang menjadi curiga.
"Mungkin Sa Kouw berpura-pura tolol."
Tiba-tiba ia berlompat ke samping nona tolol itu, yang berada di ruang dapur itu, kedua tangannya diulur untuk menangkap lengan orang.
Ruang itu gelap tetapi Sa Kouw mendengar suara angin, ia menarik tangannya dengan jurus "Melepas jubah menyerahkan kedudukan,"
Setelah bebas, ia membalas menyerang, ke arah pundak orang.
Oey Yong menduga orang mungkin tidak bermaksud jahat hanya ia tidak menyangka nona itu demikian gesit dan serangannya pun ganas, ia menjadi kaget.
Dengan tangan kiri ia menangkis, terus membangkol dengan tangan kanan ia menyerang dua kali beruntun.
Setelah menyakinkan Ie-kin Toan-kut-pian, ia menjadi sebat sekali dan tenaganya bertambah, maka itu Sa Kouw lantas saja menjerit kesakitan karena lengannya kena terpukul, meski begitu, ia melawan terus.
Sungguh Oey Yong tidak menyangka, di dusun sepi itu ada rumah makan gelap, bahkan pelayan seorang nona jorok itu, bahkan dia cukup gagah karena dia dapat bertahan sampai tujuh atau delapan jurus.
Kwee Ceng dan Pek Thong turut menjadi heran.
Kemudian Pek Thong dengar suara anginnya Oey Yong berubah hebat, lanats ia berteriak.
"Eh, nona Oey, jangan kau ambil jiwanya!"
Selagi begitu, Kwee Ceng berjaga-jaga di sisinya Ang Cit Kong, ia khawatir ada penghuni jahat lainnya, yang bisa membokong gurunya itu.
Lagi beberapa jurus, Oey Yong menghajar lengan orang hingga lengan itu dikasih turun, tak dapat digeraki lagi.
Kalau mau, ia dapat membinasakan, tetapi ia merasa kasihan.
"Berlutut!"
Ia menitah.
"Akan aku beri ampun padamu!"
"Aku tidak sudi!"
Menjawab nona itu, yang mendadak menyerang pula dengan tangan kanannya, bahkan jurusnya ada jurus "Lok Eng Ciang-hoat"
Ajarannya Oey Yok Su. Oey Yong kaget dan heran. Sambil menangkis, ia menanya.
"Darimana kau pelajarkan ini jurus Lok Eng Ciang-hoat? Siapakah gurumu?"
Nona tolol itu tertawa.
"Aku tidak suka menjawab. Habis kau mau apa?"
Ia menantang.
Melihat suara orang tak lagi seperti orang tolol, Oey Yong mengulang serangannya, kedua tangannya bergerak saling susul dua kali, kemudian itu disusul sama serangan yang kelima, untuk menggertak, sebab berbareng dengan itu, kakinya bekerja.
"Bruk!"
Demikian Sa Kouw roboh terguling.
"Ah, kau memakai akal!"
Serunya.
"Mari kita bertempur pula!"
Ia terus merayap bangun. Oey Yong tidak sudi memberi ketika, ia menubruk dan menindih, lalu ia merobek baju orang untuk dipakai mengikat tangannya dia itu.
"Bukankah Lok Eng Ciang-hoatku lebih baik daripada kepunyaanmu?"
Ia bilang.
"Kau menggunai akal, aku tidak terima!"
Nona itu membelar.
Dan ia mengulanginya perkataannya itu.
Melihat si tolol sudah kena dibikin tidak berdaya, Kwee Ceng lari keluar, untuk terus melompat naik ke atas wuwungan, untuk mengawasi sekelilingnya.
Ia tidak melihat apa juga.
Tapi ia turun ke bawah, ia jalan mengitari rumah makan itu.
Rumah itu mencil sendirian dan pintunya pun cuma satu.
Dengan merasa lega, ia masuk pula ke dalam.
Oey Yong tengah mengancam Sa Kouw dengan pisaunya diarahkan ke mata orang.
"Siapa yang mengajari kau ilmu silat?"
Demikian tanyanya.
"Lekas bilang! Kalau kau tidak suka bicara, aku nanti tikam mampus padamu!"
Bab 47.
Tempat rahasia Sa Kouw tidak menjadi takut, bahkan ia tertawa haha-hihi.
Dia seperti tidak kenal bahaya, dia rupanya menyangka nona tetamunya tengah main-main dengannya.
Oey Yong penasaran, ia ulangi pertanyaannya.
"Aku tidak mempunya guru,"
Sahut si tolol akhirnya.
"Siapa yang membilang ada orang yang mengajar aku?"
"Budak ini tidak suka bicara, mari kita masuk ke dalam lobang ini untuk memeriksa,"
Berkata Oey Yong kemudian.
"Ciu Toako, tolong kau lindungi guruku serta menjagai budak ini. Engko Ceng, mari kau bersama aku…"
"Tidak, tidak!"
Pek Thong menggoyangi tangannya.
"Aku pergi bersama kau!"
Si nona mengkerutkan keningnya.
"Tidak, aku tidak mau pergi bersama kau!"
Ia menolak. Pek Thong lihay, usianya pun tinggi, entah kenapa, terhadap si nona tak berani ia membantah, bahkan sebaliknya, ia lantas memohon.
"Nona yang baik, lain kali aku tidak berani pula…"
Katanya.
Oey Yong lantas saja tertawa untuk kejenakan orang tua itu.
Ia mengangguk.
Pek Thong jadi sangat girang, lekas ia mencari dua cabang cemara, untuk disulut menyala, untuk dipakai ia menyuluhi ke dalam gua, yang ia asapkan sekian lama.
Oey Yong sendiri malah melemparkan sebatang cemara yang apinya menyala ke dalam lobang itu, setelah itu ia mendengar suara bentroknya batang itu dengan dinding.
Maka teranglah tempat rahasia itu tidak dalam.
Dengan memimjam penerangan obor kayu cemara itu orang memandang ke dalam gua.
Tidak ada bayangan orang di dalam situ, tidak ada suara apa-apa.
Maka itu tanpa bersangsi lagi, Ciu Pek Thong lantas lantas bertindak masuk.
Dia disusul oleh Oey Yong.
Setelah memperhatikan seketika, nyata gua itu ada sebuah kamar kecil.
"Kita terjebak, kita terjebak!"
Pek Thong berseru-seru.
"Tak bagus!"
Oey Yong sebaliknya mengeluarkan suara kaget.
Dia melihat ke bawah dan ia menampak tulang belulang seorang manusia, yang rebah celentang.
Pakaiannya sudah rusak, hingga tak dapat dikenali, semasa hidupnya dia orang macam apa.
Di pojok timur pun ada tulang-belulang serupa, terletak di atas sebuah peti besi.
Sebatang golok tajam panjang satu kaki tengah menancap di punggung di atas tutup peti besi itu.
Pek Thong mendapatkan ruang kecil dan kotor dan seram dengan adanya tulang-belulang itu, tidak ada apa-apa yang luar biasa, tetapi karena Oey Yong masih memperhatikan segala apa, ia berlaku sabar untuk menemani, hanya kemudian, ia tak dapat menahan sabar pula.
"Nona yang baik,"
Katanya.
"Hendak aku pergi keluar, bolehkah?"
"Baiklah,"
Menjawab si nona.
"Pergi kau menggantikan engko Ceng, supaya ia datang ke mari."
Pek Thong girang bukan main, ia keluar seperti burung terbang, akan dilain saat Kwee Ceng datang masuk.
Oey Yong mengangkat obor kayu cemaranya, untuk menyuluhi, supaya Kwee Ceng dapat melihat segala apa terutama itu tulang-belulang manusia, kemudian ia menanya bagaimana atau apa yang menyebabkan kematiannya dua orang itu.
"Dia ini tentu lagi hendak membuka besi itu, lantas ada orang yang hendak membokong dari belakang,"
Kata Kwee Ceng seraya menunjuk tulang-tulang di atas peti besi.
"Yang di tanah itu, karena tulang-tulangnya pada patah, mestinya diserang dengan tangan kosong."
"Aku juga menduga demikian, hanya duduknya hal-hal disini membuatnya aku tidak mengerti,"
Menyatakan si nona.
"Apa yang kau maksudkan?"
"Umpama Sa Kouw,"
Sahut si nona.
"Dia mengerti ilmu silat Lok Eng Ciang-hoat, benar ia menyakininya belum sempurna tetapi itu ada pelajaran yang sejati. Darimana ia dapatkan itu? Dua orang ini mati disini, ada hubungan apakah di antara mereka dan Sa Kouw? Sebelum ketahui jelas semua ini, tak tentram hatiku…"
"Baiklah kita tanya pula nona itu,"
Kwee Ceng mengusulkan. Ia tidak mau menyebutnya nona itu nona tolol, karena ia sendiri sering dikatakan tolol.
"Menurut penglihatanku, dia memang benar-benar tolol,"
Kata Oey Yong.
"Dia tidak suka bicara, percuma kita menanya pula padanya. Mari kita memeriksa pula dengan seksama, barangkali saja kita mendapati sesuatu."
Maka ia angkat obornya, menyuluhi pula dua perangkat tulang-belulang manusia itu.
Ketika ia menyuluhi ke peti besi, di kaki itu ada suatu benda yang bergemerlap.
Ia lanta jumput itu, ialah sebuah pay emas dan di tengahnya ditabur dengan sebutir batu permata sebesar jempot tangan.
Ia membalik pay itu, maka ia menampak sebaris ukiran huruf-huruf, bunyinya.
"Cio Gan Keng, panglima kota Tiongciu, gelar Bu Kong Tayhu".
"Pay ini kepunyaannya ini setan mati, pangkatnya bukan kecil,"
Kata si nona.
"Seorang berpangkat tinggi terbinasa di sini, sungguh aneh,"
Kwee Ceng mengutarakan keherannnya.
Oey Yong memeriksa pula tulang-tulang di tanah, ia tidak dapatkan apa, hanya tulang punggung itu rada munjul, maka ia mengoreknya dengan ujung cabang cemara, tempo debunya sudah berkisar, di bawah itu ada selembar besi.
Ia kaget hingga ia berseru, cepat sekali ia sambar besi lempangan itu.
Kwee Ceng pun berseru saking heran kapan ia telah melihat benda itu.
"Kau kenal ini?"
Oey Yong tanya.
"Ya. Inilah patkwa besi kepunyaannya Liok Chungcu di Kwie-in-chung."
"Tapi belum tentu kepunyaannya Liok Suheng sendiri."
"Mungkin. Melihat rusaknya pakaian, mayat ini mestinya sudah berada di sini sepuluh tahun."
Oey Yong berdiam akan tetapi otaknya bekerja.
Habis itu ia sambar golok di atas peti besi itu, ia bawa itu ke depan matanya, untuk melihat dengan teliti.
Ia mendapatkan ukiran sebuah huruf "Kiok".
Atas itu dengan kaget ia berseru.
"Yang rebah di tanah ini adalah kakak seperguruanku!"
Kembali Kwee Ceng memperdengarkan suara heran.
"Menurut Liok Suheng, Kiok Suheng masih hidup, siapa tahu dia telah terbinasa di sini,"
Berkata Oey Yong kemudian.
"Engko Ceng, coba kau lihat ini tulang kakinya."
Kwee Ceng berdongko.
"Kedua tulang pahanya patah,"
Ia berkata.
"Ah, ia telah dihajar patah oelh ayahmu…"
Si nona mengangguk.
"Kakak seperguruan ini bernama Liok Leng Hong,"
Ia memberi keterangan.
"Pernah ayah menerangkan, di antara enam muridnya, Kiok Suheng ini paling pandai dan ia pun paling disayangi…"
Belum habis ia berkata, Oey Yong sudah lompat untuk lari ke luar dari ruang rahasia itu. Kwee Ceng, yang merasa heran lari mengikuti. Oey Yong lari kepada Sa Kouw.
"Kau she Kiok, bukankah?"
Ia menanya. Sa Kouw tidak menyahuti, ia hanya tertawa geli.
"Nona, apakah shemu?"
Kwee Ceng menanya, sabar.
"Aku tidak tahu,"
Menyahut nona itu menggeleng kepala. Selagi dua orang itu hendak menanyakan terlebih jauh, Pek Thong menjerit-jerit;
"Aku sudah lapar! Aku sudah lapar! Aku bisa mati kelaparan!"
"Benar,"
Berkata Oey Yong.
"Mari kita bersantap dulu."
Ia membukai ikatannya Sa Kouw, ia ajak nona itu bersantap bersama.
Sa Kouw tidak menampik, ia tertawa, ia angkat mangkoknya dan dahar.
Sembari bersantap Oey Yong tuturkan Cit Kong apa yang ia dapatkan di dalam kamar rahasia itu.
Pak Kay pun heran.
"Rupanya orang she Cio itu menghajar mati suhengmu itu, lantas ia hendak membuka peti besi itu,"
Katanya, mengutarkan dugaannya.
"Tidak tahunya suhengmu itu belum mati dan ia menimpuk dengan golok itu."
"Melihat keletakannya, mungkin begitu kejadiannya,"
Oey Yong membenarkan. Ia lantas memperlihatkan golok lancip itu serta patkwa besi pada si nona tolol. Ia menanya.
"Apakah kau tahu siapa punya ini?"
Melihat itu, wajahnya Sa Kouw berubah.
Ia berpaling, agaknya ia berpikir, tapi ia tidak dapat mengingat apa-apa.
Akhirnya ia menggeleng kepalanya, hanya tangannya memegangi golok itu, tak mau dilepaskan.
"Rupanya pernah ia melihat golok ini, sekarang dia tidak ingat,"
Bilang Oey Yong.
Habis bersantap, sesudah memernahkan Ang Cit Kong, yang merebahkan diri untuk tidur, Oey Yong ajak Kwee Ceng pergi pula ke kamar gelap itu, untuk memeriksa terlebih jauh.
Sekarang perhatian mereka ditujukan kepada peti besi itu, yang entah apa isinya.
Semua tulang di atas tutup peti disingkirkan.
Gampang sekali mengangkatnya, sebab peti tidak dikunci.
Peti itu menyinarkan cahaya bergemerlapan, sebab isinya adalah pelbagai macam batu permata.
Kwee Ceng hanya merasa aneh, tetapi Oey Yong ketahui itulah harta besar sekali.
Ayahnya biasa mengumpulkan permata tetapi tak sebanyak ini.
Nona Oey meraup permata itu, lalu ia melepaskan pula.
Batu-batu itu mengasih dengar suara nyaring.
"Semua permata ini mestinya ada riwayatnya,"
Kata si nona kemudian.
"Kalau ayahku ada disini, ia tentu mengetahuinya."
Lalu ia menjelaskan kepada Kwee Ceng namanya setiap batu permata itu.
Kwee Ceng gelap untuk semua permata itu, belum pernah ia melihatnya, belum pernah ia mendengarnya.
Oey Yong meraup pula, sampai dalam.
Tangannya membentur dasarnya peti besi.
Ia merasakan lantai yang keras.
Ia jadi menduga peti besi itu ada lapisannya.
Ia lantas meneliti pinggirannya peti itu.
Sekarang ia melihat gelang kecil di kira dan di kanan, yang tadinya kealingan batu-batu permata.
Ia menggunai kedua tangannya memegang sepasang gelang itu, lalu ia mengangkat.
Untuk herannya, ia mendapatkan di dasar peti itu sejumlah barang kuno dari perunggung dan lainnya dan mestinya pun dari pelbagai jaman yang telah lampau.
Jadi inilah benda-benda yang lebih berharga daripada batu-batu permata itu.
Masih ada lagi lain lapisan peti itu.
Ketika lapisan ini pun diangkat, di dalam situ terlihat pelbagai gambar lukisan dan tulisan huruf segulung demi segulung.
"Mari bantui aku,"
Si nona minta pada Kwee Ceng, untuk membeber gambar-gambar itu.
Kesudahannya, ia menjadi heran dan kagum.
Sebab ia melihat lukisan-lukisan dari Gouw Too Cu, Co Pa, Kie Jian dan Lie Houw-cu kaisar dari dinasti Tong Selatan, dan lainnya lagi, jumlahnya duapuluh lembar lebih.
Dan semua itu pun barang-barang yang harganya luar biasa.
Saking kagum, Oey Yong tidak mau melihat lebig lama, semua itu ia masuki ke dalam peti itu, lalu ditutup dengan rapi, kemudian sambil memeluk dengkul, ia duduk bercokol di atasnya.
Ia berpikir keras.
"Ayahku pengumpul semua permata dan barang kuno, tetapi apa yang ia peroleh tidak ada satu sepersepuluh dari harta karun ini,"
Pikirnya.
"Kenapa Kiok Suheng ada demikian lihay hingga ia dapat memeproleh semua ini?"
Tidak sempat nona ini berpikir terus, ia mendengar suara nyaring Ciu Pek Thong.
"He, keluar kamu semua! Mari kita pergi ke rumahnya kaisar untuk dahar Wanyoh Ngo-tin-kwee!"
"Kita pergi malam ini?"
Tanya Kwee Ceng.
"Lebih cepat satu hari lebih baik,"
Berkata Cit Kong.
"Kalau kita berlambat, aku khawatir aku tak dapat bertahan lebih lama pula…"
"Suhu,"
Berkata Oey Yong.
"Paling cepat juga baru besok pagi kita dapat masuk ke dalam kota. Suhu jangan dengarkan ocehannya Loo Boan Tong!"
"Ya, sudah, sudahlah!"
Berkata Ciu Pek Thong.
"Memang sagalanya aku yang salah!"
Terus ia menutup mulutnya.
Besoknya pagi, Oey Yong berdua dengan Kwee Ceng mematangi nasi, lalu mereka sarapan bersama-sama Sa Kouw.
Oey Yong memikirkan tempat yang aman untuk menyimpan harta karun itu.
"Sudah, mari kita lekas pergi!"
Pek Thong mengajaki.
"Itu toh bukannya bendamu! Perlu apa kau capaikan hati?"
Si nona memikir, memang tempat itu adalah tempat yang paling aman.
Bukankah harta karun itu sudah berdiam di dalam kamar rahasia itu untuk belasan tahun?
Maka ia lantas bekerja, menutup rapat pula pintu rahasia dan benahkan segala apa yang seperti bermula mereka datang.
Selama itu Sa Kouw tidak memperdulikan perbuatan orang, ia tidak tahu menahu, ia hanya lebih suka membuat main golok tajam itu.
Ketika mau pergi, Oey Yong memberikan uang perak dua potong.
Sa Kouw menerimanya untuk terus dilempar secara sembarangan ke atas meja.
"Jikalau kau lapar, pakailah uang ini untuk membeli beras dan daging,"
Pesan Oey Yong.
Nona itu acuh tak acuh, ia cuma tertawa saja.
Oey Yong berduka sangat, ia mengasihi nona tolol itu ini.
Ia mau percaya dia ada hubungannya sama Kiok Leng Hong, mungkin sanak atau muridnya suheng itu.
Ia pun tidak mengerti, orang tolol semenjak kecil atau hanya baru belakangan saja karena sesuatu serangan otak.
Tadinya ia hendak mencari keterangan di kampung itu tetapi Ciu Pek Thong mendesak tak hentinya, terpaksa ia turut juga.
Maka berempat mereka pergi menuju ke kota.
Cit Kong tetap naik kereta.
Kota Lim-an ialah kota Hangciu yang tersohor indah, kota ini dijadikan kota raja oleh karena pemerintahan Song berpindah ke Selatan.
Oey Yong berempat memasuki pintu kota timur, Cit Kong mendesak untuk pergi ke istana kaisar, dari itu mereka menuju ke pintu Lee-ceng-mui.
Pek Thong bertiga memandang istana, yang indah, yang berukir dan bergambar dan juga dicat merah dan air emas.
Wuwungannya ditutup dengan genteng kuningan yang berkilauan, yang pun diukir dengan naga-nagaan dan burung hong.
"Bagus!"
Pek Thong berseru, kagum.
"Mari kita masuk!"
Di muka istana ada serdadu-serdadu pengawal, mereka mendengar suara berisik itu, mereka melihat seorang tua dan sepasang muda-mudi mengiringi kereta keledai, empat diantaranya lantas maju mendekati untuk menangkap.
Mereka semua bergenggaman kampak.
Pek Thong si berandalan gembira sekali, tidak perduli orang bertibih kekar dan romannya garang, ia hendak maju melayani mereka itu.
"Jangan!"
Mencegah Oey Yong.
"Mari kita lekas pergi!"
"Takut apa?!"
Mata Pek Thong mencelik.
"Masa mereka dapat gegares aku?"
"Jikalau kau tidak mau dengar aku, lain kali aku tidak mau memperdulikan pula padamu!"
Kata Oey Yong yang terus mencambuk kedelai hingga keretanya menggelinding cepat ke arah barat.
Kwee Ceng lantas menyusul.
Pek Thong takut juga nanti ditinggal pergi hingga ia tidak dapat turut pesiar, ia turut pula berlalu dengan meninggalkan keempat pengawal pintu itu.
Mereka ini tidak mengejar, hanya mereka menertawai.
Mereka menduga itulah rombongan orang desa….
Oey Yong larikan keretanya ke tempat sepi di mana tidak ada lain orang, di situ ia berhenti.
"Kenapa tidak menerjang masuk ke istana?"
Kata Pek Thong.
"Itu segala kantung nasi, mana mereka bisa mencegah kita?"
"Menerjang masuk memang tidak sukar,"
Menyahut Oey Yong.
"Tetapi kita datang ke mari untuk bertarung atau untuk pergi ke dapur raja untuk mencari barang makanan? Dengan menerjang masuk, kau membuatnya gaduh, dengan begitu, mana bisa kau mendapatkan Wanyon Ngo-tin-kwee untuk guruku?"
Pek Thong berdiam, tak dapat ia menjawab.
"Baiklah, kembali aku yang salah!"
Katanya kemudian.
"Dasarnya salah!"
Kata Oey Yong.
"Ya, sudahlah!"
Kata pula si tua berandalan itu. Ia terus perbaling kepada Kwee Ceng untuk mengatakan.
"Wanita di kolong langit semuanya galak-galak, maka itu juga Loo Boan Tong tidak sudi menikah seumur hidupnya…"
Oey Yong tertawa.
"Engko Ceng orang baik, orang tidak nanti menggalaki dia!"
Katanya.
"Kalau begitu, apakah aku bukannya orang baik?"
"Habis apa kau sebenarnya orang baik? Coba bilang, kau yang tidak hendak menikah atau si nona yang tak sudi menikah denganmu?"
Pek Thong miringkan kepalanya, ia tidak menjawab.
"Mari kita mencari penginapan dulu,"
Kwee Ceng datang sama tengah.
"Sebentar malam baru kita memasuki istana."
"Benar,"
Kata Oey Yong.
"Setelah suhu berdiam di hotel, nanti aku masak unntuk kamu dahar."
"Bagus, bagus!"
Cit Kong memuji.
Ia girang sekali.
Mereka lantas menuju ke Jalan Gie-gay, untuk menyewa kamar di penginapan Kim Hoa.
Oey Yong benar saja lantas pergi ke dapur itu untuk memasak tiga rupa barang hidangan, yang baunya lantas tersiar, hingga orang-orang di penginapan itu menanyakan pelayan, koki kesohor yang mana yang pandai masak itu.
Diwaktu bersantap, Pek Thong tidak turut.
Ia mendongkol dikatakan tak ada wanita yang sudi menikah dengannya.
Tapi dia dibiarkan saja ngambek….!
Habis bersantap, Cit Kong masuk untuk tidur, Kwee Ceng mengajak Pek Thong jalan-jalan, Loo boan Tong tetap ngambek.
"Kalau begitu, baik-baiklah kau temani guruku,"
Kata Oey Yong tertawa.
"Sebentar aku belikan kau beberapa rupa barang bagus untuk kau buat main."
Mendengar itu, bangkit kegembiraan si berandalan tua itu.
"Apakah kau tidak mendustakan aku?"
Tanyanya.
"Pasti tidak!"
Si nona memberikan perkataannya.
Ketika Oey Yong berlalu dari rumahnya di musim semi, pernah ia pergi ke kota Hangciu ini, yang letaknya dekat dengan Tho Hoa To, hanya karena khawatir dapat disusul ayahnya, ia tidak berani berdiam lama-lama di situ, sekarang ia luang tempo, dia mengajak Kwee Ceng pesiar ke telaga See Ouw yang tersohor itu.
Biar bagaimana, Kwee Ceng nampak tidak terlalu gembira.
Oey Yong melihat itu, ia menduga itulah disebabkan si pemuda memikirkan sakitnya Cit Kong.
Maka ia berkata.
"Suhu bilang ada serupa barang yang dapat menyembuhkan penyakitnya, hanya itu sangat sukar didapatkannya, bahkan ia melarang kita menanya barang apa itu. Biar bagaimana, aku hendak berdaya untuk mendapatkannya, buat mengobati dia hingga sembuh!"
"Yong-jie, itulah paling bagus!"
Kata Kwee Ceng girang.
"Apakah kau merasa pasti akan bisa mendapatkannya itu?"
"Aku tengah memikirkan jalannya. Tadi sebelum bersantap, pernah aku menanyakan keterangan suhu. Disaat suhu hendak memberitahu, tiba-tiba ia sadar, lantas ia bungkam. Tapi aku akan berdaya mengorek keterangannya."
Kwee Ceng tahu kekasihnya cerdik, hatinya menjadi lega.
Sembari berbicara, mereka tiba di Toan-kio, jembatan buntung di tepi telaga.
Inilah salah satu tempat yang kesohor di See Ouw, dimana orang bisa mendapat lihat sisa salju, cuma karena sekarangt musim panas, yang terlihat ialah pohon-pohon teratai dengan bunganya yang tumbuh di kolong jembatan itu.
"Mari kita minum di sana sambil memandangi bunga teratai,"
Oey Yong mengajak.
Di tepian itu ia melihat sebuah rumah makan kecil yang nampaknya resik.
Kwee Ceng akur, maka berdua mereka pergi ke rumah makan itu.
Mereka meminta arak dan beberapa rupa barang santapan yang rasanya lezat.
Sembari minum, Oey Yong memandang ke sekitarnya.
Ia mendapatkan di jendela timur ada sebuah kesokol, yang ditutupi dengan kain indah.
Ia lantas mendekati itu.
Nyata di bawahnya itu ada tulisan yang berupa syair.
"Syairnya indah juga,"
Katanya.
"Apakah artinya itu?"
Tanya Kwee Ceng. Oey Yong memberi penjelasan, tetapi anak muda itu tak ketarik hatinya. Ia kata;
"Di sini kota raja, segala menteri luang temponya, mereka main minum arak dan pesiar saja. Rupanya urusan negara mereka kesampingkan…."
"Benar begitu,"
Sahut Oey Yong.
"Maka itu ayahku paling jemu semua orang semacam mereka. Umpama ayah dapat membaca syair ini, mungkin ia cari penulisnya untuk menebas tubuhnya menjadi dua potong…."
Tiba-tiba di belakang mereka ada orang tertawa dingin yang berkata.
"Jiwi tahu apa maka kamu bicara semabarangan di sini?"
Kwee Ceng berdua menoleh dengan cepat.
Mereka melihat seorang dengan dandanan sebagai sastrawan, umurnya kurang lebih empatpuluh tahun, yang masih saja tertawa dingin.
Kwee Ceng lantas memberi hormat dan berkata.
"Aku yang rendah tidak mengerti, tolong tuan menjelaskannya."
"Kau tahu inilah buah kalam istimewa dari Thayhaksu Jie Kok Po dari tahun Sun-hie,"
Kata orang itu.
"Ketika itu Kaisar Hauw Cong datang ke mari untuk minum arak, dia dapat melihat syair itu, dia puji tinggi, lalu di itu hari juga ia memberikan pangkat kepada Jie Kok Po karena karyanya itu. Itulah untuk bagus dari seorang sastrawan. Maka kenapa jiwi bicara sembarangan saja?"
"Jadi kesokol ini pernah dilihat kaisar maka tuan rumah menutupinya?"
Tanya Oey Yong.
"Bukan itu saja!"
Kata orang itu, tetap tertawa dingin.
"Coba lihat itu bagian kata-kata 'Besok datang kembali dengan sisa mabuk'. Bukankah pada itu ada dua tanda hurufnya yang diubah?"
Oey Yong berdua Kwee Ceng mengawasi. Benar mereka mendapatkan dua huruf perubahan itu.
"Sebenarnya Jie Kok Po menulis, 'Besok datang pula dengan membawa sisa arak,' tetapi kaisar cela itu, katanya pandangannya cupat, lalu ia mengubahnya yaitu huruf 'bawa' ditukar dengan huruf 'mendukung' dan huruf ' arak' ditukar dengan huruf 'mabok'. Sebenarnya Jie Kok Po menulis, 'Besok datang pula dengan membawa sisa arak'. Kalau kaisar tidak pintar, mana dapat ia mengubah itu?"
Habis berkata orang itu menggeleng kepala dan menghela napas.
"Ha, satu kaisar begitu gila arak!"
Seru Kwee Ceng dengan gusar, dan ia dupak terbalik kekosol itu, hingga rusak.
Sejak masih kecil Kwee Ceng telah mendengar keterangan ibunya perihal kekejaman bangsa Kim, ia menyangka itu hanya disebabkan kelemahannya kerajaan Song, maka ia mengharap, sepindahnya ke Selatan, raja nanti bergiat memajukan negera, untuk menuntut balas, siapa tahu, raja gila pelesiran.
Maka dalam gusarnya, ia hajar sekosol ini, terus ia jambak si sastrawan, untuk dijoroki, hingga ia roboh masuk ke jambangan arak.
Kepala di bawah, kaki di atas!
"Bagus!"
Oey Yong berseru.
Ia sambar kedua kaki meja dan patahkan itu, lalu dengan sepasang kaki meja itu, ia menghajar kalang-kabutan.
Pemilik rumah makan dan tetamu lainnya, yang tidak tahu telah terjadi apa, lari keluar dengan ketakutan.
Kwee Ceng lantas mengamuk seperti Oey Yong, akhirnya ia hajar sebuah tiang hingga tiang itu patah dan rumah makan itu ambruk.
Setelah itu keduanya tertawa, sambil berpegangan tangan, mereka ngeloyor ke Utara.
Tidak ada orang yang berani menyusul mereka.
"Puas juga sekarang!"
Kata Kwee Ceng di tengah jalan. Ia tertawa pula.
"Ya, apa yang kita lihat dan tak menyenangi, mari kita hajar!"
Oey Yong membenarkan.
"Bagus begitu!"
Jalan lebih jauh di sepanjang jalan itu mereka nampak banyak syair, di batu, di pohon, di tembok. Melihat itu, Kwee Ceng menghela napas.
"Kalau begini, tak bisa kita menghajar semua,"
Ia bilang.
"Kau cerdik, Yong-jie, kau ada punya daya apa?"
"Aku lihat ada syairnya yang baik,"
Sahut si nona.
"Ah, peduli apa!"
Selagi bicara, mereka tiba di puncak Hui Lay Hong.
Di tengah itu ada paseban Cui Bie Teng tulisannya Jenderal Han See Tiong.
Girang Kwee Ceng melihat itu, sebab Han See Tong ialah panglima tersohor yang menentang bangsa Kim.
Ia bertindak masuk ke dalam paseban itu.
Di dalam itu ada sebuah syair tulisan Han See Tiong.
"Bagus syair ini!"
Kwee Ceng memuji.
"Sebenarnya itulah syairnya Bu Bok Ong Gak Hui,"
Kata Oey Yong.
"Eh, mengapa kau ketahui itu?"
"Ayah pernah menuturkan itu padaku. Tempo tahun Ciauw-hin ke 11 di musim dingin, Gak Bu Bok difitnah dan dihukum mati oleh Cin Kwee, lalu di lain tahunnya di musim semi, Han See Tiong membangun paseban ini sebagai tanda peringatan dan ia menuliskan syairnya Bu Bok itu, yang terus diukir."
Kwee Ceng mengagumi panglima kenamaan itu, lama ia berdiri diam mengawasi syairnya, yang pun ia usap-usap.
Sedang begitu, mendadak Oey Yong mendak seraya menarik ujung bajunya, hingga ia mesti mengikuti, masuk ke dalam gombolan pohon bunga.
Di situ pundaknya di tekan, hingga ia berjongkok seperti si nona.
Hampir di itu waktu, mereka mendengar tindakan kaki memasuki paseban itu.
"Han See Tiong itu memang seorang enghiong,"
Berkata seorang.
"Tetapi istrinya pun gagah meski istri itu asal bunga raja. Bukankah ia telah turut maju di medan perang dan telah memukul tambur untuk mengajurkan suaminya memperoleh kemenangan?"
Kwee Ceng mengenali suara itu tetapi tak ingat ia suara siapa itu.
"Gak Hui dan See Tiong memang enghiong tetapi mereka kalah dengan kaisar,"
Kata seorang lain.
"Bukankah kaisar menghendaki kematiannya dan semua kekuasaannya atas angkatan perang telah ditarik pulang? Mereka gagah tetapi mereka mesti menerima nasib. Demikian pengaruh kaisar, yang tak dapat ditentang!"
Sekarang Kwee Ceng ingat suaranya Yo Kang.
Ia heran.
Ia menduga-duga, mengapa pemuda ini berada di tempat ini.
Justru itu terdengar satu suara lain, yang seperti cecer pecah, hingga ia bertambah heran dan kaget.
Itulah suaranya See Tok Auwyang Hong si Bisa dari Barat.
Kata Auwyang Hong.
"Benar! Asal kaisar gelap pikiran yang bertahta dan segala dorna memegang kekuasaan atas pemerintahan tak peduli satu enghiong terbesar, ia tak ada gunanya!"
"Maka kalau raja bijaksana,"
Berkata orang yang pertama.
"Pastilah orang-orang seperti Auwyang Sianseng bakal dapat memperlihatkan kegagahan dan kepandaiannya!"
Kwee Ceng mengenali suara orang ini, ialah Wanyen Lieh, putra keenam dari negara Kim atau musuh yang membunuh ayahnya.
Tadi, dalam tempo pebdek, ia tak segera mendapat ingat.
Mereka berdiam tidak lama di dalam paseban, habis bicara dan tertawa, mereka berlalu pula.
"Coba duga,"
Kata Kwee Ceng pada Oey Yong setelah mereka itu pergi jauh.
"Apa maksud mereka datang ke Lim-an ini? Dan adik Kang, kenapa ia ada bersama mereka itu?"
"Memang sudah lama aku melihatnya adikmu itu bukan orang baik-baik, kau tetap membilang ia turunan orang gagah,"
Menyahut si nona.
"Baru sekarang kau mengerti! Kalau ia benar orang baik, kenapa dia bergaul sama See Tok dan pangeran musuh itu?"
"Aku juga tidak mengerti,"
Kata Kwee Ceng. Oey Yong lantas menyebut hal yang ia dengar di ranggon Hoa Cui Kok di istana Chao Wang baru-baru ini. Ia menambahkan.
"Wanyen Lieh telah mengumpulkan Pheng Lian Houw dan kambrat-kambratnya, maksudnya untuk mencari surat wasiat Gak Bu Bok, maka mau aku menduga surat wasiat itu mesti berada di dalam kota Lim-an ini. Sungguh celaka rakyat Song kita apabila surat wasiat itu benar-benar terjatuh di tangan mereka itu!"
Tergetar hatinya Kwee Ceng. Memang itulah hebat.
"Yong-jie,"
Katanya.
"Kita mesti mencegah mereka berhasil mencuri surat wasiat itu!"
"Hanya sulitnya mereka itu ada bersama si Bisa dari Barat itu…"
"Apakah kau jeri?"
"Apakah kau sendiri tidak takut?"
"Memang aku takut terhadap See Tok, tetapi urusan ada begini besar, karenanya tak dapat kita main takut saja."
Oey Yong tertawa.
"Kau tidak takut, aku juga tidak takut!"
Katanya.
"Bagus! Sekarang mari kita susul mereka!"
Mereka berlalu dari paseban itu, tetapi mereka tak dapat menyandak Wanyen Lieh bertiga, dan sia-sia saja mereka ubak-ubakan di dalam kota.
Hangciu kota besar, dalam tempo yang singkat, kota itu tak dapat diputari seluruhnya.
Maka itu setelah setengah harian dan sang sore mendatangi, mereka pergi ke taman Bu Lim Wan di Tiong-wa-cu.
Oey Yong melihat sebuah toko yang menjual pelbagai macam topeng, yang lukisannya bagus dan hidup, ia menjadi ketarik hatinya.
Ia ingat janjinya kepada Ciu Pek Thong, yang ia hendah membelikan sesuatu, maka ia masuk ke dalam toko itu, dengan mengeluarkan lima chie, ia dapat membeli belasan topeng, seperti dari Ciong Hiok si raja setan, hakim neraka, toapekkong dapur, malaikat tani, serdadu langitdan hantu lainnya.
Semua itu dibungkus jadi satu.
"Entah rumah makan apa itu?"
Kata Oey Yong. Ia mendapat cium bau makanan lezat dari restoran di sebelah toko topeng itu.
"Rupanya jiwi bukan orang sini maka jiwi tidak ketahui,"
Berkata pelayan toko tertawa.
"Itulah restoran Sam Goan Lauw, yang kesohor nomor satu di kota kita. Jangan jiwi melewatkan kesempatanmu ini!"
Oey Yong ketarik hatinya, ia menyambuti topengnya, lantas ia tarik tangan Kwee Ceng untuk diajak pergi.
Rumah makan itu dipajang indah, catnya pun bagus.
Diatas lauwtengnya ada dipanjar banyak tengloleng.
Di pekarangannya dalam ada pohon-pohon bunga dan lainnya.
Setibanya mereka di lauwteng, pelayan menyambut mereka dengan manis, menunjuki mereka tempat duduk.
Kemudian, setelah dapat pesanan makanan, pelayan itu mengundurkan diri.
Dari terangnya api, Kwee Ceng melihat beberapa puluh bunga raja dengan pakaiannya yang mewah berkumpul di samping lorong.
Ia heran.
Ia hendak menanyakan pelayan atau mendadak ia tunda maksudnya itu, sebab kupingnya segera mendapat dengar satu suara dari balik tembok.
"Baik juga! Coba suruh mereka bernyanyi menemani kita minum arak!"
Itulah suaranya Wanyen Lieh. Kwee Ceng dan Oey Yong saling merilik. Di dalam hatinya mereka kata.
"Bagus!"
Mereka telah mencari berputaran, tak tahunya orang ada disini.
Lalu terdengar suara memanggil dari pelayan, atas mana satu nona bunga raja menyahuti lantas datang menghampirkan.
Dia bertindak elok dan tangannya memegang kecrek.
Tidak lama kemudian, sudah terdengar suara bernyanyi yang merdu, nyanyian yang memujikan sungai Cian-tong dan kotanya yang indah.
"Bagus!"
Demikian terdengar pujiannya Wanyen Lieh dan Yo Kang diakhirnya lagu itu.
Habis itu terdengar ucapan terima kasih dari si tukang nyanyi, yang lantas mengundurkan diri dengan gembira, rupanya ia mendapat persenan besar.
"Anak,"
Kemudian terdengar suara Wanyen Lieh.
"Kau tahu tidak, syairnya Liu Eng itu ada hubungannya sama negara Kim yang besar?"
"Anak tidak tahu, coba ayah menjelaskannya,"
Terdengar jawabannya Yo Kang.
Mendengar orang saling memanggil anak dan ayah, Kwee Ceng dan Oey Yong saling melirik.
Kwee Ceng berdongkol berbareng masgul.
Kalau bisa, ingin ia menjambak Yo Kang, untuk paksa ia memberi keterangan.
Yang dibilang syairnya Liu Eng itu ialah syair "Bong Hay Tiauw"
Atau "Memandang gelombang"
Yang tadi dinyanyikan si nona tukang nyanyi itu. Lantas terdengar penjelasan Wanyen Lieh.
"Di dalam tahun Ceng-liong dari negara Kim yang agung. Junjungan kita Liang telah melihat syairnya Liu Eng itu yang memuji telaga See Ouw. Karena ini, ketika dikirim utusan ke Selatan, sekalian dikirim juga seorang pelukis, buat dia menggambar panorama kota Lim-an dalam mana dilukiskan juga Junjungan kita lagi berdiri bersama kudanya di puncak bukit Gouw San, kemudian Junjungan sendiri yang menulis syair di dalam gambar itu, syair yang menguraikan ia membawa angkatan perang ke See Ouw dan ia berdiri di puncak ke satu dari bukit Gouw San itu."
"Sungguh bagus!"
Yo Kang memuji. Kwee Ceng meremas tangannya sendiri saking mendongkolnya. Lalu terdengar Wanyen Lieh menghela napas yang berkata dengan menyesal.
"Sayang tak tercapai cita-cita Junjungan Lian membawa angkatan perang ke Selatan untuk mendaki puncak Gouw San itu, meski begitu, cita-cita itu sekarang akan ditelad oleh anak cucunya. Cita-cita luhur dari Junjungan itu terbukti dengan syair yang ia tulis pada sebuah kipas, bunyinya, 'Kalau gagang kipas ada di tangan, maka angin sejuk akan memenuhi kolong langit'."
Di waktu mengucap begitu, pastilah semangat Wanyen Lieh tengah tersengsam. Setelah itu terdengar tertawa nyaring dari Auwyang Hong, yang berkata.
"Kalau di lain hari ongya yang memegang kekuasaan besar pastilah akan tercapai itu cita-cita berdiri di puncak gunung Gouw Wan!"
"Semoga terjadi apa yang sianseng katakan,"
Kata Wanyen Lieh perlahan.
"Di sini ada banyak mata dan kuping, mari kita minum saja."
Sampai di situ, bertukarlah pokok pembicaraan mereka itu bertiga. Mereka berbicara tentang keindahan tempat dan adat kebiasaan penduduknya.
"Mereka minum dengan gembira sekali, aku justru akan membikin mereka tidak gembira!"
Oey Yong berbisik di telinga Kwee Ceng, yang ia terus ajak pergi ke taman belakang.
Di sini si nona menyulut api, untuk membakar gudang kayu di empat penjuru, maka di lain saat, berkobarlah api itu merupakan satu kebakaran!
Dalam sekejap berisiklah suara orang yang berteriak-teriak dari berlari-larian.
"Kebakaran! Kebakaran! Tolong! Padamkan api!"
"Mari lekas ke depan!"
Si nona membisiki lawannya.
"Nanti mereka keburu lenyap lagi!"
"Malam ini mesti aku berhasil menikam mampus Wanyen Lieh!"
Kata Kwee Ceng sengit.
"Tapi kita mesti temani suhu masuk dulu ke istana,"
Kata Oey Yong.
"Kemudian kita minta Ciu Toako layani See Tok, supaya kita leluasa menghadap itu sepasang manusia celaka!"
"Benar!"
Kata Kwee Ceng setuju.
Mereka lantas turut berdesakan pergi ke depan dimana justru Wanyen Lieh bersama Yo Kang dan Auwyang Hong terlihat lagi keluar dari rumah makan.
Mereka menguntit dari kejauhan, melintasi sejumlah jalan dan gang, sampai di penginapan Siang Hong di See-sie-tiang.
Sekian lama mereka menantikan, tidak juga Wanyen Lieh keluar, maka mereka menduga tentulah tiga orang itu mondok di hotel itu.
"Mari kita pulang, setelah mengajak Ciu Toako, baru kita satroni pula mereka!"
Kata Oey Yong.
Kwee Ceng menurut.
Mereka pulang ke penginapan Kim Hoa.
Baru sampai di depan penginapan, mereka sudah dengar suara berisik dari Ciu Pek Thong, Kwee Ceng kaget, ia khawatirkan luka gurunya.
Ia lari masuk.
Tiba di pekarangan, hatinya lega.
Di sana Pek Thong lagi berselisih sama beberapa anak-anak.
Nyata dia kalah bertaruh dan hendak menganglap dan anak-anak itu tidak mau mengerti.
Melihat Oey Yong, karena takut ditegur, Pek Thong lantas ngeloyor masuk.
Oey Yong berdua Kwee Ceng mengikuti, sesampainya di dalam, si nona mengeluarkan macam-macam topeng yang ia beli itu, ia perlihatkan pada si orang tua.
Pek Thong gembira, ia pakai itu satu demi satu, hingga sebentar ia jadi hakim neraka, sebentar ia jadi hantu.
Oey Yong lantas bicara.
Ia minta sebentar si tua itu membantu ia untuk menghadapi Auwyang Hong.
"Baik!"
Pek Thong menjawab.
"Sebentar aku lawan dia dengan kedua tanganku, dengan dua macam ilmu silat juga!"
Oey Yong khawatir si tua ini nanti berlaku seperti di Tho Hoa To, sebab menghukum diri disebabkan menggunai ilmu silat Kiu Im Cin-keng, dia sudah ikat kedua tangannya untuk bertempur sama ayahnya.
Maka itu ia lantas berkata.
"See Tok itu manusia sangat busuk, kalau kau gunai Kiu Im Cin-keng untuk menghajar dia, kau tentu tidak melanggar larangan kakak seperguruanmu!"
"Ah, itu tidak dapat!"
Menampik Ciu Pek Thong sambil membuka lebar matanya.
"Aku toh sudah menyakinkan ilmu silat baru tanpa menggunai Kim Im Cin-keng itu."
Oey Yong tidak mau memaksa.
Ia khawatir si tua itu nanti ngambek.
Siang hari itu, hatinya Ciu Pek Thong sudah seperti berada di dalam dapur istana.
Maka begitu tiba jam dua, Kwee Ceng lantas menggendong gurunya, dengan sambil jalan diatas genteng, berempat mereka pergi ke istana, menuju langsung ke dapur, yang berada di belakang bukit Liok Pouw San dan dekat dengan pendopo istana Kee-beng-thian.
Pendopo ini ialah tempat menyiapkan barang hidangan untuk raja.
Istana terjaga kuat tapi di tengah malam seperti itu, dapur sepi, cuma apinya yang terang menderang.
Beberapa orang kebiri menjaga di situ tapi mereka ini sudah keburu tidur pulas.
Kwee Ceng mendudukkan Ang Cit Kong di atas penglari.
Oey Yong bersama Ciu Pek Thong menggerataki almari untuk mencari barang hidangan seadanya, maka dilain saat, berempat mereka sudah menggoyang janggut.
"Ah, pengemis bangkotan, barang makanan di sini mana lebih lezat daripada masakannya Nona Oey,"
Kata Pek Tong menggeleng kepala.
"Jauh-jauh kau datang kemari, habisnya tak menggembirakan…."
"Sebenarnya aku ingin dahar Wanyon Ngo-tin-kwee, sayang kokinya entah pergi kemana,"
Sahut Ang Cit Kong.
"Yang ada di sini ialah barang makanan biasa, ini memang kurang lezat. Baik besok kita bekuk itu koki dan suruh ia memasaki."
"Aku tidak percaya dia dapat menangkan masakan Nona Oey!"
Kata pula Pek Thong. Oey Yong tertawa. Ia tahu dia dipuji, sebab Pek Thong bersyukur sudah dibelikan topeng.
"Aku mau berdiam di sini menantikan koki itu,"
Kata Cit Kong.
"Kalau kau tidak gembira, pergilah kau bersama anak Ceng, biar anak Yong menemani aku. Besok malam baru kau datang menyambut aku."
Pek Thong membekal topengnya, ia pakai topeng malaikat kota.
"Tidak, aku akan ebrdiam di sini menemani kau!"
Katanya tertawa.
"Besok aku akan pakai topeng ini untuk menemui raja! Saudara Kwee dan nona Oey, kamu awasi See Tok jangan sampai ia berhasil mencuri surat wasiatnya Gak Bu Bok."
"Loo Boan Tong benar, maka pergilah kamu lekas,"
Kata Ang Cit Kong.
"Asal kamu waspada."
Muda-mudi iru menyahuti bahwa mereka akan taati pesan itu.
"Malam itu jangan tempur si tua bangkotan yang berbisa, tunggu saja besok, lihar aku!"
Pek Thong memesan pula.
"Meskipun kita tidak menang, kita mesti tempur dia,"
Oey Yong bilang.
Lalu bersama Kwee Ceng ia berlalu, maksudnya pergi ke penginapan Siang Hong untuk mengintai Wanyen Lieh bertiga.
Dua pendopo istana telah dilewati ketika si nona merasakan hawa dingin serta kupingnya mendengar suara air.
Angin halus pun membawa datang harumnya bunga.
Oey Yong memang paling menggemari bunga, mendapat cium bau semerbak itu, ia lantas berpikir di istana ini, di dekatnya, bunga-bunga di istana mestinya beraneka warna, maka itu, mesti ia melihatnya.
Karena ini ia tarik tangannya Kwee Ceng, buat ajak si anak muda pergi mencari pohon bunga itu.
Tidak gampang untuk muda-mudi ini sampai di tempat tujuannya, mereka hanya merasai hawa semakin dingin dan suara air makin keras dan berisik.
Mereka jalan terus sampai melewati dua lorong panjang dan menikung, lalu sampai di satu tempat di mana ada ditaman rapi banyak pohon cemara dan pohon bambu, hingga suasana di situ menjadi teduh ayem.
Oey Yong bergembira.
Ia dapatkan jalanan di dalam istana ini kalah dengan jalanan di Tho Hoa To, pulaunya itu, tetapi pepohonannya tidak usah menyerah.
Ketika ia jalan beberapa tindak, di hadapannya ia melihat air tumpah turun dari gunung putih bagaikan rantai perak, jatuhnya ke sebuah pengempang lebar.
Di dalam empang itu kedapatan banyak pohon teratai dengan bunganya yang merah dan putih.
Di depan empang ada sebuah paseban indah dengan merknya Cui Han Tong.
Tanpa sangsi-sangsi, Oey Yong bertindak masuk ke dalam paseban itu di mana di bagian depannya terlihat banyak macam bunga musim panas, seperti melati, giokkui dan ang-ciauw yang harum, dan di sebelah belakangnya ada di pasang hio wangi dan dupa, yang menambah harumnya pesaben itu.
Di atas meja pun tersajikan banyak macam buah, seperti obi teratai, semangka, tho dan lainnya.
Di atas kursi ada beberapa buah kipas.
Mungkin tempat raja berangin sebelum raja itu masuk tidur.
"Sungguh raja berbahagia!"
Kwee Ceng mengeluh.
"Nah, kau pun mencobai menjadi raja barang satu kali!"
Kata Oey Yong tertawa seraya ia tarik tangan si anak muda itu, untuk orang bercokol di atas pembaringan, kemudian ia ambil beberapa rupa buah, ia menyuguhinya sambil berlutut dan berkata.
"Silahkan Sri baginda bahar bebuahan!"
Kwee Ceng tertawa, sambil tangannya mengambil buah piepee, ia berkata.
"Silahkan bangun!"
"Salah!"
Berkata Oey Yong.
"Raja tidak pernah mengatakan silahkan bangun, itu terlalu sungkan!"
Kwee Ceng tertawa pula, begitu pun si nona. Selagi mereka gembira itu, hingga mereka seperti lupa daratan, dari kejauhan terdengar bentakan.
"Siapa di sana?!"
Keduanya menjadi kaget, serentak mereka berlompat, untuk terus sembunyi di belakang gunung-gunungan.
Teguran itu disusul sama tindakan cepat dan berat dari dua orang, mendengar tindakan mana lega hatinya si pemuda dan pemudi itu.
"Jangan pedulikan mereka!"
Oey Yong berbisik.
"Dua kantong nasi itu tidak bakal menemui kita!"
Itu waktu lantas terlihat dua orang, yang tubuhnya besar, tiba di paseban, tangan mereka masing-masing mencekal sebatang golok. Mereka itu lantas celingukan. Cuma sebentar, yang satu lantas tertawa.
"Ah. Lao Su, kau melihat setan!"
Katanya.
"Ya, dalam beberapa hari ini mataku seperti lamur!"
Sahut kawannya yang dipanggil Lao Su itu, artinya Su si tua.
Kemudian dua orang itu mengundurkan diri.
Oey Yong tertawa di dalam hatinya, lalu ia menarik tangan Kwee Ceng niatnya untuk diajak keluar, tetapi belum lagi mereka muncul dari tempat persembunyiannya mereka itu, kuping mereka mendapat dengar seruan tertahan dari dua centeng istana itu, benar suara itu perlahan akan tetapi si noa dan si pemuda mengerti, itulah suara dari orang yang kena ditotok jalan darahnya.
Mereka lantas berpikir.
"Tentu Ciu Toako tak sabaran, dia pun lantas keluar pesiar!"
"Itu paseban di samping air tumpah ialah Cui Han Tong!"
Tiba-tiba Oey Yong dan Kwee Ceng mendnegar suara orang, perlahan.
"Mari kita pergi ke sana."
Muda-mudi ini terperanjat.
Mereka mengenali suaranya Wanyen Lieh.
keduanya saling menjabat tangan erat-erat, terus mereka menyembunyikan diri mereka.
Tubuh mereka tidak berkutik, tetpai mata mereka dipasang, diincarkan ke depan.
Di antara sinar bintang-bintang terlihat beberapa tubuh orang, bahkan lantas dikenali, kecuali Wanyen Lieh dan Auwyang Hong, ada Pheng Lian Houw, See Thong Thian, Leng Tie Siangjin dan Nio Cu Ong.
"Heran, mau apa mereka datang ke istana…"
Pikir muda mudi ini.
"Tak mungkin mereka pun hendak mencuri barangan makanan raja…"
"Siauw-ong telah meneliti surat yang ditinggalkan Gak Bu Bok,"
Terdengar suaranya Wanyen Lieh.
"Juga siauw-ong telah periksa surat-surat dua kaisar Kho Cong dan Hauw Cong, mak aitu berani siauw-ong memastikan surat wasiat Gak Bu Bok itu mestinya disimpan di sini, lima belas tindak di Timur Cui Han Tong ini."
Sembari berkata pangeran Kim itu menunjuk dengan tangannya, maka semua kawannya memandang ke arah tempat yang di tunjuk itu. Di sana adalah air tumpah, tidak ada benda lainnya.
"Di dalam air tumpah mana bisa di simpan barang?"
Berkata Wanyen Lieh heran.
"Toh bukti-bukti memastikan demikian…"
See Thong Thian pandai berenang, julukannya pun Kwie-bun Liong Ong, si Raja Naga Pintu Setan, maka ia lantas berkata.
"Nanti aku terjun akan memeriksa air tumpah ini."
Cepat ia bersiap, atau ia sudah terjun ke dalam air. Tidak lama, ia sudah timbul pula dan terus mendarat. Semua kawannya menghampirkan padanya.
"Ongya benar pandai!"
Kata orang she See ini.
"Di belakang air tumpah ini ada sebuah gua dengan pintunya besi yang terkunci."
Wanyen Lieh menjadi sangat girang.
"Surat wasiat Gak Bu Bok mesti di simpan di dalam gua itu!"
Katanya nyaring.
"Sekarang siauw-ongya minta tuan-tuan suka pergi membuka pintu besi itu."
Titah ini tak usah diulangi atau orang sudah lantas berlompat maju untuk memasuki air tumpah itu, kecuali Auwyang Hong yang dengan tertawa dingin berdiam terus di sisinya si pangeran Kim itu.
Ia merasa derajatnya lain, tak sudi ia berbuat seperti kawan-kawan itu.
See Thong Thian maju paling dulu.
Begitu ia melewati air tumpah, mendadak ada angin menyambar padanya.
Dia lihay tetapi dia tidak menyangka jelek, maka itu hendak ia berkelit, atau segera tangan kirinya kena orang cekal terus ditolak dengan keras, hingga ia terpental balik menubruk Nio Cu Ong!
Syukur, dua-dua mereka lihay, keduanya tidak terluka, mereka melainkan terhuyung mundur.
Semua orang heran, tetapi sementara itu, untuk kedua kalinya, See Thong Thian sudah menyerbu pula air tumpah itu.
Ia penasaran dan kali ini ia berseiap sedia.
Ia melindungi mukanya.
Benar saja, baru ia lewati air, atau sebuah kepalan sudah meninju kepadanya.
Karena ia sudah bersedia, ia menangkis dengan tangan kirinya seraya kepalan tangan kanan dipakai membarengi menyerang membalas.
Ketika itu Nio Cu Ong pun menyerbu air tumpah itu, hanya untuk kagetnya, ia dipapaki tongkat.
Ia kaget, ia tidak sempat menangkis, maka itu ia berkelit dengan melenggakan tubuhnya.
Tentu sekali, karenanya, ia roboh ke air dan kena ditarik.
Celaka untuknya, kakinya kena tergaet.
Dasar lihay, ia masih sempat lompat keluar dari air tumpah.
Berbareng dengan itu, See Thong Thian pun mesti keluar lagi karena ia kena didesak tinju yang dahsyat.
Hauw Thong Hay telah menyaksikan semua itu.
Ia sembrono, maka itu ia tidak ingat bahwa ilmu silat ia kalah dari See Thong Thian, sang kakak seperguruan, ia lantas maju.
Ia mau mengandalkan kepandaiannya bisa berenang dan di dalam air bisa membuka matanya.
Pheng Lian Houw menginsyafi bahaya yang mengancam bahaya yang mengancam kawan ini, hendak ia memberikan bantuannya, tapi belum sempat ia maju, atau suatu benda besar dan hitam sudah mental keluar dari air tumpah itu, jatuh ke tanah dengan suara gedebuk nyaring, yang mana disusl sama jeritannya Hauw Thong Hay, sebab dialah yang melayang dan roboh itu.
Lian Houw lantas lompat menghampirkan.
"Perlahan, saudara Hauw!"
Ia memperingati, berbisik.
"Kau kenapa?"
"Celaka, kempolanku kena terhajar!"
Sahut Sam-tauw-kauw Si Ular Naga Kepala Tiga. Lian Houw kaget dan heran dan merasa lucu juga.
"Sebenarnya telah terjadi apa?"
Ia menegasi. Ia meraba kempolan orang, di situ ia tidak merasa ada yang luar biasa. Ia teliti, tentu ia tidak mau sembarang menyerbu air tumpah itu. Maka ia menanya pula.
"Ada orang di dalam? Siapakah dia?"
"Mana aku tahu?"
Sahut Thong Hay ketus. Ia kesakitan dan mendongkol.
"Begitu aku masuk begitu aku terhajar keluar!"
Lian Houw tercengang.
Justru itu Leng Tie Siangjin, dengan jubahnya berkibaran, memasuki air tumpah itu, atau dilain saat dia perdengarkan suaranya dalam bahasa Tibet, dia berbicara sambil berseru-seru dan terdengar juga suara pertarungannya.
Maka teranglah ia pun dapat sambutan dan jadi berkelahi.
Wanyen Lieh semua saling mengawasi, mereka terbenam dalam keheranan.
Tidak tahu mereka, ada musuh siapa di dalam air tumpah itu.
Menurut See Thong Thian dan Nio Cu Ong, mereka samar-samar melihat sepasang pemuda-pemudi, si pemuda dengan tangan kosong, si pemudi dengan tongkat.
Kembali terdengar teriakan Leng Tie Siangjin, teriakan kemurkaan.
Rupanya dia pun "menderita"… "Kenapa Siangjin juga begini tidak tahu selatan?"
Kata Wanyen Lieh sambil mengerutkan kening.
"Dia membikin banyak berisik, bagaimana kalau pahlawan-pahlawan raja dapat mendengarnya? Dengan begitu masih bisakah kita mencuri wasiat?"
Baru berhenti suaranya pangeran ini atau mereka melihat air tumpah membawa serupa benda merah, yang segera juga dikenali jubah suci dari Leng Tie Siangjin, menyusul mana, dengan diberikuti suara air, dua cecernya orang suci ini terlempar keluar dari dalam air tumpah itu.
Hauw Thong Hay khawatir cecer itu jatuh dengan menerbitkan suara berisik, ia lomat untuk menangkapinya.
Dari dalam air tumpah lagi sekali terdengar dampratan Leng Tie Siangjin, hanya kali ini disusul sama mencelatnya tubuhnya yang besar, akan tetapi karena ia lihay, ketika ia tiba di luar, ia dapat berdiri dengan tegar.
"Itulah bocah dan budak yang kita ketemukan di perahu!"
Leng Tie kata dengan sengit.
Bab 48.
Apa yang nampak dari tempat sembunyi Kwee Ceng dan Oey Yong, yang bersembunyi di belakang gunung, mendengar nyata pembicaraannya Wanyen Lieh beramai.
Karena mereka itu hendak mencuri surat wasiat Gak Hui, mereka takut sekali surat wasiat itu kena didapatkan pangeran itu.
Inilah hebat.
Dengan menggunai siasatnya Gak Hui itu, pasti bangsa Kim bakal berhasil menyerbu negara Song.
Bagaimana itu bisa dicegah?
Diantara orang-orangnya Wanyen Lieh pun ada Auwyang Hong yang lihay.
Oey Yong mencoba mencari akal, untuk membikin mereka itu kaget dan nanti lari kabur.
Kwee Ceng sebaliknya tidak sabaran, karena tidak ada tempo lagi untuk berpikir lama-lama atau mengatur tipu.
Akhirnya pemudi ini menarik tangan si pemuda, untuk diajak pergi ke belakang air tumpah.
Mereka sampai di sana tanpa ada yang lihat dan tanpa ada yang dengar, sebab tumpahnya air sangat berisik.
Muda-mudi ini telah siap sedia ketika See Thong Hay mencoba memasuki air tumpah itu, dengan gampang dia dihajar kembali.
Hasilnya penolakan ini membikin mereka berdua jadi heran dan kagum, girang sekali.
Itulah buahnya pernyakinan mereka atas ilmu Ie-kin Toan-kut Pian.
Demikian mereka menghajar Hauw Thong Hay dan akhirnya Leng Tie Siangjin hingga pendeta Tibet ini mencaci kalang kabutan.
"Engko Ceng, mari lekas!"
Oey Yong mengajak.
"Mari kita keluar dan berteriak-teriak, biar kawanan pahlawan pada datang kemari, dengan begitu mereka ini tentulah tak dapat bekerja terlebih jauh melakukan pencurian!"
Oey Yong berkata berpikir demikian sebab ia percaya, habis Leng Tie Siangjin, Auwyang Hong bakal turun tangan, kalau See Tok yang maju, pasti mereka tidak berdaya lagi.
"Pergi kau keluar dan berteriak-teriak, aku sendiri akan berjaga di sini!"
"Tapi ingat, jangan tempur si bangkotan yang berbisa itu!"
Oey Yong memesan.
"Aku mengerti! Nah, keluarlah! Keluarlah lekas!"
Baru Oey Yong mau keluar atau mendadak mereka merasakan tolakan angin keras sekali.
Mereka kaget tetapi mereka tidak mau menangkis, hanya dengan berbareng keduanya lompat ke samping masing-masing.
Hebat tolakan itu, yang ada Kap-mo-kang, pukulam Kuntauw Kodok dari Auwyang Hong.
Karena tidak memperoleh perlawanan, serangan itu mengenai tepat pintu besai dari gua, maka itu terdengarlah satu suara nyaring sedang air muncrat ke segala penjuru.
Oey Yong melompat tetapi ia kalah sebat, punggungnya kena tersampok angin.
Dalam sekejap itu ia merasakan sulit bernapas, kepalanya pusing, matanya berkunang-kunang, akan tetapi ia masih ingat tugasnya, hanya berdiam sejenak, untuk memusatkan pikiran, segera ia melompat keluar, akan berteriak-teriak sekeras-kerasnya.
"Ada pembunuh gelap! Ada pembunuh gelap! Tangkap! Tangkap!"
Dan sembari berteriak-teriak, ia kabur ke depan. Wanyen Lieh semua kaget.
"Marilah kita hajar mampus dulu budak ini!"
Pheng Lian Houw berseru bahna mendongkolnya.
Ia gusar dan penasaran.
Segera ia melompat, untuk mengejar.
Suaranya Oey Yong mendengung dalam malam yang sunyai itu, suara itu dapat didengar rombongan-rombongan Siewie atau pahlawan kaisar di empat penjuru istana.
Paling dulu terdengar seruan mereka berulang-ulang, untuk saling memberi tanda, habis itu mereka lantas bergerak.
Oey Yong berlompat naik ke atas genting, ia mencabuti genting dengan apa ia menimpuk kalang-kabutan.
Perbuatannya ini pun menambah suara berisik.
Pheng Lian Houw, disusul Nio Cu Ong, merangsak, untuk mendekati si nona.
Dalam keadaan seperti itu, Wanyen Lieh masih dapat bersikap tenang.
Ia menoleh ke sisinya, kepada seorang yang mengenakan pakaian hitam dan bertopeng hitam juga.
"Anak Kang, pergilah kau bersama Auwyang Sianseng masuk ke air tumpah untuk mengambil surat wasiat itu!"
Katanya.
Pangeran itu masih belum mau melepaskan ikhtiarnya mencuri surat yang dia sangat harapkan itu.
Orang dismapingnya itu, yang memakai topeng, memang Yo Kang adanya, putra pungutnya .
Auwyang Hong sendiri sudah lantas nongkrong di tanah, untuk mengerahkan tenaganya, guna menggunai Kuntauw Kodok menyerang pula ke arah air tumpah, maka itu, begitu ia menyerang, terdengar pula suara berisik seperti tadi.
Bahkan kali ini kedua daun pintu gua tertolak mundur ke dalam.
Setelah berhasil dengan serangannya itu, Auwyang Hong mau berlompat maju guna masuk ke dalam air tumpah, guna memasuki gua dan mengambil surat wasiat yang diarah itu.
Justru ia bertindak, matanya melihat bayangan orang yang berkelebat dari samping, dan belum lagi bayangan itu tiba, angin serangannya sudah mendahului.
Ia mengenali, itulah pukulan Hui Liong Thay-thian, Naga Terbang ke Langit.
"Hm!"
Pikir See Tok sambil ia berkelit.
"Memang aku hendak tanyakan dia keterangan kitab Kiu Im Cin-keng, kebetulan sekali, sekarang baik aku sekalian membekuk dia…!"
Karena ini, sambil berkelit ke samping, sebelah tangannya diulur, guna menjambak penyerang itu.
Si penyerang benar Kwee Ceng adanya.
Anak muda ini sudah nekat.
Ia bertekad membelai surat wasiatnya Gak Hui, maka itu, ia tidak peduli musuh lihay dan Oey Yong telah melarang ia menempur See Tok.
Ia harap, dalam tempo yang pendek, kawanan siewie akan sudah tiba di situ.
Ketika ia menampak gerakannya Auwyang Hong, ia menduga orang tidak niat berbuat telengas, ia hanya hendak ditangkap.
Ia sebenarnya heran.
Tapi tak ada ketika untuk menduga-duga maksud orang.
Dengan tangan kirinya ia menangkis, dengan tangan kanan ia menyerang ke pundak.
Ia menggunai satu jurus dari Khong-beng-kun, yaitu Pukulan Kosong.
Kwee Ceng menggunai ilmu silatnya ajaran Ciu Pek Thong, yaitu sepasang tangan saling berkelahi sendiri dan jurus yang ia pakai ialah jurus Khong-beng-kun, meskipun itu tak sehebat Hang Liong Sip-pat Ciang, toh tak dapat dipandang enteng.
Tidak heran kalau Auwyang Hong terkejut.
"Bagus!"
Berseru See Tok yang lihay.
Ia mendak dengan pundaknya, sebelah tangannya dilonjorkan, guna menangkap lengannya si penyerang.
Biar bagaimana, ia berkelahi dengan waspada, sebab ia dapat kenyataan, tiap hari kepandaiannya pemuda ini bertambah terus.
Auwyang Hong penasaran yang ia belum berhasil menyakinkan Kiu Im Cin-keng, ia ingin mengerti jelas kitab itu, keinginannya bertambah ketika ia dengar ocehan Ang Cit Kong di atas getek.
Ia hanya tak insyaf bahwa ia tengah dipermainkan bocah she Kwee itu, sebab kitab Kiu Im Cin-keng yang berada di tangannya ialah kitab yang tidak karuan macam, yang Kwee Ceng kacaukan urutan huruf-hurufnya, hingga tak dapat diartikan lagi.
Sementara itu di empat penjuru Cui Han Tong sudah terlihat obor api terang bagaikan siang.
Pelbagai siewie muncul dalam satu-satu rombangan, mereka itu lari ke arah darimana terdengar teriakan-teriakan, ialah teriakannya Oey Yong.
Wanyen Lieh melihat terangnya obor, ia menjadi bingung juga.
Sejak masuknya Auwyang Hong dan Yo Kang ke dalam air tumpah, mereka tidak kelihatan muncul kembali.
Syukur untuknya, semua siewie lari ke arah Oey Yong, siapa sedang menungkuli dua-dua Pheng Lian Houw dan Nio Cu Ong yang terus mengejar padanya.
Untuk sementara, wilayah air tumpah itu masih selamat.
Walapun begitu, pangeran ini membanting-banting kakinya, tangannya menggapai-gapai tak hentinya.
"Lekas! Lekas!"
Ia memanggil Leng Tie Siangjin dan putranya.
"Jangan sibuk, ongya!"
Berkata Leng Tie.
"Nanti siauwceng masuk pula!"
Pendeta Tibet ini lantas masuk ke air tumpah, dimana ia melihat Auwyang Hong sedang menempur Kwee Ceng, sedang Yo Kang yang hendak menerobos masuk, tidak mendapatkan ketikanya.
Leng Tie Siangjin tidak puas mengawasi pertempuran itu.
Bukankah tempo mereka sudah sangat mendesak?
Kenapa Auwyang Hong bersikap seperti sedang berlatih?
"Auwyang Sianseng, mari aku bantu kau!"
Ia berseru.
"Minggir jauh-jauh!"
Auwyang Hong membentak. Leng Tie menjadi tidak puas. Di dalam hatinya ia kata.
"Disaat seperti ini mana dapat kau masih bertingkah seperti satu enghiong? Jangan kau masih bawa lagakmu sebagai guru besar!"
Lantas ia maju ke samping, ke arah Kwee Ceng, sebelah tangannya melayang ke tempilingan kiri si bocah.
Menampak demikian, Auwyang Hong menjadi gusar sekali.
Ia maju sambil menjambil pundaknya pendeta Tibet itu, terus ia mengangkatnya, terus ia melemparkannya!
Tepat serangannya See Tok ini.
leng ie Siangjin itu lihay dan tangannya pun ada racunnya, maka untuk melayani dia, anggota tubuhnya yang tak berbahayayang mesti dihadapi.
Bukan main murkanya pendeta Tibet itu, tidak memperdulikan pula orang lihay dan dipandang Wanyen Lieh, ia mencaci kalang-kabutan, cuma ia memakai bahasa Tibet, Auwyang Hong tidak mengerti.
Ia pun tak bisa mencaci lama-lama atau segera ia tak dapat bersuara lagi, sebab mulutnya lantas kemasukan air.
Karena oleh Auwyang Hong ia dilemparkan ke air tumpah, hingga mulutnya tersumpal air!
Wanyen Lieh terkejut akan melihat tubuh Leng Tie Siangjin terlempar keluar air tumpah.
Justru itu kupingnya juga mendengar suara berisik dari arah Cui Han Tong di mana ternyata, pot kembang yang besar di depan paseban itu telah jatuh hancur.
Menyusul itu, ia menampak munculnya sejumlah siwi.
"Celaka!"
Ia mengeluh dalam hati.
Tidak ayal lagi, dengan menjinjing jubahnya, dia berlompat ke air tumpah, untuk masuk ke situ, guna menyembunyikan diri.
Ia mengerti ilmu silat, tetapi di tempat begitu, kepandaiannya masih belum berarti, begitu kakinya menginjak tanah, begitu ia terpeleset jatuh.
Syukur untuknya, Yo Kang dapat melihatnya dan putra ini segera lompat menyambar, menolongi padanya.
Dengan melongo pangeran Kim itu melihat ke sekitarnya.
"Auwyang Sianseng, apakah bocah ini dapat kau usir?"
Ia tanya See Tok. Pertanyaan ini menandakan Wanyen Lieh seorang besar. Ia bukan memerintah, ia hanya menanya. Pertanyaannya itu membangkitkan hawa amarah orang. Hatinya Auwyang Hong menjadi panas.
"Kenapa tidak bisa?"
Menjawab Auwyang Hong, yang terus berjongkok seraya mulutnya mengasih dengar suara seperti kerak-keroknya kodok.
Dengan begitu ia bersiap dengan Kuntauw Kodoknya, lalu terus kedua tangannya dimajukan ke depan.
Si Bisa dari Barat ini telah mengerahkan tenaganya, umpama di situ ada Ang Cit Kong atau Tong Shia Oey Yok Su, tidak nanti mereka berani melawannya dari depan, apa pula seorang seperti Kwee Ceng.
Sebenarnya juga, Auwyang Hong melayani Kwee Ceng sebagai lagi berlatih, tidak heran Leng Tie Siangjin melihatnya menjadi muak.
Ada sebabnya kenapa See Tok berbuat demikian.
Itulah disebabkan Kwee Ceng menggunai Khong-beng-kun.
Maka See Tok melayani, untuk menanti sampai anak muda itu habis menjalankan semua jurus dari ilmu silatnya itu, habis itu baru ia hendak turun tangan, mencekuk si pemuda.
Sayang maksudnya tak segera kesampaian.
Mendadak Wanyen Lieh masuk ke air tumpah itu dan ia mesti dengarb itu pertanyaan yang seperti serupa ejekan, hingga hatinya menjadi panas.
Ia lantas bertindak.
Meski begitu, ia tidak mau membinasakan Kwee Ceng, sebab si bocah masih dibutuhkan olehnya.
Dilain pihak, ia tidak menginsyafi bocah yang polos dan jujur itu, yang taat dengan tugasnya.
Kwee Ceng tidak mau mundur, sekalipun ia mesti mati terbinasa.
Hendak ia melindungi surat wasiatnya Gak Bu Bok.
Begitu ia menyingkir, pasti Auwyang Hong akan mendapatkan surat wasiat itu, di situ ada banyak pahlawan raja tetapi menghadapi Auwyang Hong, pastilah mereka tidak berdaya.
Di dalam keadaan seperti itu, selagi bahaya mengancam -sebab ia tahu ia tidak sanggup menangkis-ia mengenjot kedua kakinya, akan mengapungi diri tinggi empat kaki.
Secara begitu, ia bebas dari serangan.
Ketika turun pula, ia tetap berada di muka gua di mana ia menghadang seperti semula.
"Bagus!"
Berseru Auwyang Hong kagum.
Segera ia menarik pulang kedua tangannya.
See Tok ada sangat hebat.
Kalau serangannya bertenaga beberapa ratus kati, tarikan pulang tangannya pun masih bertenaga besar, ada tenaga menariknya.
Kwee Ceng terkejut akan merasakan angin menolak punggungnya.
Ia mengerti ancaman bahaya.
Ia memutar balik tangannya, untuk membela diri.
Kali ini ia menggunai jurus "Sin liong pa bwee"
Atau "Naga sakti menggoyang ekor"
Tentu saja itulah gerakan keras lawan keras.
Seharusnya ia mencoba berkelit, sebaliknya, ia menangkis.
Siapa kalah tenaga dalam, dialah yang bakal bercelaka.
Wanyen Lieh berdiri menjublak menonton cara orang berkelahi itu, yang mengherankan ia.
Kenapa Auwyang Hong berdiam saja sebagai patung, cuma kedua tangannya yang ditolakkan ke depan dan ditarik pulang?
Kenapa Kwee Ceng main berlompatan dan hanya mengawasi See Tok?
Kenapa See Tok menarik pulang tangannya dan si bocah menangkis ke belakang, hingga keduanya berdiam bagaikan patung?
Kedua pihak sebenarnya tengah mengadu tenaga dalam, Auwyang Hong tetap menarik, Kwee Ceng tetap mempertahankan diri.
Lekas juga bocah ini bermandikan keringat.
Ia telah mesti mengeluarkan seluruh tenaganya untuk dapat bertahan itu.
Kembali Auwyang Hong menjadi kagum.
Ia tahu benar, lagi sejenak Kwee Ceng bakal terluka parah.
Ia membutuhkan bocah itu, tidak dapat ia mencelakainya.
Maka ia memikir untuk mengalah.
Lantas mengurangi tenaga manriknya itu.
Tapi berbareng sama dikuranginya tenaganya, ia merasakan tolakan keras pada dadanya.
Ia terkejut.
Syukur tenaga dalamnya mahir, kalau tidak tentulah ia roboh terguling.
Benar-benar ia tidak menyangka, begitu muda Kwee Ceng, tenaganya besar sekali.
Segera ia menahan napas, tangannya menolak.
Dengan begitu, lenyaplah tenaga mendorong tadi.
Kalau Auwyang Hong terus menyerang, robohlah Kwee Ceng.
Tapi ini tidak dilakukan See Tok.
Dia masih mengharap habisnya tenaga si bocah, untuk menangkap hidup padanya, guna menggorek keterangan hal Kiu Im Cin-keng dari mulut orang….
Sesaat kemudian mulailah terlihat tenaganya dua orang itu, yang satu berlebihan, yang lainnya berkurang.
Tapi Wanyen Lieh dan Yo Kang, yang tetap menonton, tidak mendapat tahu kapan akan selesainya pertempuran macam itu, karenanya mereka menjadi cemas sendirinya.
Mereka bingung mendengar suara berisik, satu tanda rombongan siwi tengah bekerja keras mencari si orang jahat… Sekonyong-konyong dari dalam air tumpah terlihat dua siwi menerjang keluar.
Yo Kang berlaku sangat sebat, sebelum kedua siwi itu tahu apa-apa, mereka sudah diterjang pangeran muda ini, yang kedua tangannya menyambar ke masing-masing ulu hati mereka, hingga menancap, dengan begitu robohlah mereka denagn jiwa mereka melayang.
Yo Kang dengan bengis sudah menggunai cengkeraman Kiu Im Pek-kut Jiauw.
Setelah itu Yo Kang menghunus pisau belatinya, lalu dengan menggenjot diri, ia lompat kepada Kwee Ceng, untuk menikam pinggangnya si anak muda.
Dalam keadaan seperti itu, Kwee Ceng tidak dapat berkelit.
Kalau ia mencoba menyingkirkan tubuhnya, segera ia bakal terbinasa pukulan Kodok dari Auwyaang Hong.
Maka itu dalam sekejap saja ia merasakan sakit pada pinggangnya, hingga ia berbareng merasa juga pernapasannya berhenti berjalan.
Maka lupalah ia segala apa, tanpa merasa ia menghajar lengannya si penyerangnya itu, si pembokong.
Yo Kang merasakan sakit sekali.
Ia bukan lagi tandingannya Kwee Ceng, walaupun ia mencoba menarik pulang tangannya, lengannya menjadi korban pula.
Tapi itu waktu separuh pisaunya sudah masuk ke pinggang si anak muda.
Karena bergeraknya itu, tenaga Kwee Ceng menjadi semakin berkurang, dari itu, ia lantas terkena dorongan tenaganya Auwyang hong.
Tanpa bisa menjerit lagi ia roboh terkulai.
"Sayang!"
Berseru Auwyang Hong, yanga akhirnya toh juga melukai bocah lawannya itu.
"Ia bakal mampus, baiklah aku tak usah pedulikan lagi padanya. Paling üerlu aku lekas mencari surat wasiatnya Gak Bu Bok…."
Maka tanpa bersangsi lagi, ia berlompat ke dalam air tumpah.
Wanyen Lieh bersama-sama Yo Kang, lantas mengintil di belakang See Tok.
Auwyang Hong sudah lantas dirintangi sejumlah siwi, tetapi ia seperti tidak menghiraukan mereka itu, siapa datang dekat, ia sambar dan lempar, setelah mana, siwi lainnya tak dapat maju terlebih jauh, hingga tak lagi ada yang bisa mendekati pintu gua.
Yo Kang turut masuk ke dalam gua.
Ia menyalakan api untuk dipakai menyuluhi.
Di tanah ada banyak tanda debu, suatu tanda tak pernah ada orang yang datang ke situ.
Di tengah-tengah gua ada sebuah meja batu, di atas mana ada satu kotak batu persegi dua kaki, kotak mana tersegel.
Lainnya barang tak nampak di situ.
Dengan membawa apinya, Yo Kang menyuluhi hingga dekat.
Di segelan ada suratnya tetapi, rupanya karena sudah terlalu tua, huruf-hurufnya tak dapat terbaca lagi.
"Surat wasiat itu ada di dalam kotak ini,"
Berkata Wanyen Lieh.
Yo Kang menjadi sangat girang, ia ulur tangannya akan mengambil peti itu.
Melihat gerakan orang, Auwyang Hong menggeraki tangan kirinya ke pundak orang, atas mana tidak tetaplah berdirinya Yo Kang, tubuhnya terhuyung berberapa tindak.
Pemuda ini tak mengerti, ia melongo mengawasi orang.
Auwyang Hong sebaliknya sudah lantas mengempit kotak itu.
"Kita sudah berhasil, mari kita lekas mengundurkan diri!"
Kata Wanyen Lieh nyaring.
Auwyang Hong bertindak di depan, diikuti oleh Wanyen Lieh dan Yo Kang.
Selagi lewat di dekat Kwee Ceng, Yo Kang melihat tubuh orang mandi darah dan rebah tak bergeming di antara siwi korbannya See Tok, ia lantas menghela napas.
"Dasar kau tidak tahu selatan, suka kau usilan,"
Katanya perlahan.
"Maka itu janganlah kau sesalkan aku…"
Sebelum jalan terus, Yo Kang ingat pisau belatinya masih nancap di pinggang mangsanya, maka ingin ia mencabut senjatanya itu.
Selagi ia membungkuk, untuk mengambil pisau itu, di air tumpah itu terlihat satu bayangan berkelebat di susul sama pertanyaan ini.
"Engko Ceng, kau di mana?"
Yo Kang terkejut.
Ia mengenali suaranya Oey Yong.
Lupa pada pisau belatinya, ia lompat melewati tubuhnya Kwee Ceng, terus lari keluar air tumpah, akan menyusul Auwyang hong dan Wanyen Lieh.
Oey Yong mencari Kwee Ceng setelah ia permainkan Nio Cu Ong, yang ia tinggalkan begitu lekas terlihat siwi muncul disana-sini.
Sebaliknya, Pheng Lian Houw berdua tidak berani mengejar terus sebab takut keperogok kawanan siwi.
Mereka kembali ke dekat air tumpah, akan menggabungkan diri dengan See Thong Thian dan lainnya.
Di sini mereka bertempur sama beberapa siwi sampai Auwyang Hong muncul, maka beramai-ramai mereka mengangkat kaki.
Oey Yong sia-sia mencari Kwee Ceng, ia lantas masuk ke dalam air tumpah.
Ia menyalakan api, dari itu ia segera melihat tubuh Kwee Ceng yang mandi darah rebah di antara beberapa siwi.
Ia kaget sekali -rebahnya si pemuda tepat di sampingnya.
Saking kagetnya, tubuhnya gemetaran, sampai api terlepas jatuh dari tangannya.
Di itu waktu di luar gua terdengar riuh suaranya kawanan siwi yang berteriak-teriak.
"Tangkap orang jahat! Tangkap orang jahat!"
Tapi mereka itu cuma berteriak-teriak, tidak ada satu pun yang berani maju akan merintangi Auwyang Hong beramai.
Sebabnya ialah, lebih dulu dari itu, beberapa kawannya sudah menjadi korban See Tok hingga mereka menjadi kecil hatinya, terpaksa mereka mementang bacot saja.
Oey Yong sadar dengan cepat.
Ia membungkuk akan memeluk tubuhnya Kwee ceng.
Ia merasakan tubuh itu hangat.
Ia memanggil beberapa kali, ia tidak memperoleh jawaban.
Ia menjadi bingung sekali.
Maka itu ia lantas panggul tubuh engko itu, untuk dibawa menyingkir ke belakang gunung-gunungan.
Di Cui Han Tong sendiri telah berkumpul banyak orang, sebab ada datang juga siwi dari lain-lain bagian istana.
Obor di situ terang bagaikan siang hari.
Maka ketika Oey Yong berkelebat -tak peduli ia sangat gesit -ada siwi yang melihatnya.
Siwi itu lantas berteriak, terus ia memburu diikuti beberapa kawannya.
Dalam mendongkolnya, Oey Yong mencaci dalam hatinya.
"Ah, kawanan kantung nasi! Sungguh, kamu tidak punya guna! Kenapa kau bukan pergi mengejar orang jahat hanya orang baik-baik?"
Ia menggertak gigi, tapi ia lari terus.
Ada beberapa siwi yang lihay, yang larinya cepat, mereka sudah lantas datang dekat.
Oey Yong menjadi bertambah mendongkol, ia meraup jarum rahasianya, ia menimpuk ke belakang, ke arah pengejar-pengejar itu.
"Aduh!"
Demikian terdengar etriakan, saling susul.
Itulah tanda robohnya beberapa siwi, karena mana yang lainnya tidak berani mengejar terlebih jauh.
Maka si nona bersama engko Cengnya terus lari keluar dari tembok istana.
Keributan itu membikin istana menjadi kacau balau.
Orang pun bingung, sebab tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Ada huru-hara di dalam untuk merampas tahta kerajaan atau ada menteri yang berontak guna merampas pemerintahan?
Toh setelah itu, orang berisik sendirinya.
Tidak ada kejadian lainnya lagi.
Di situ telah berkumpul semua siwi, semua serdadu Gie-lim-kun.
Dari tengah malam itu, hingga pagi, orang bergelisah tidak karuan.
Sedatangnya fajar, tentara penunggang kuda di kirim ke pelbagai jurusan, untuk mencari si orang jahat, antaranya dengan melakukan penggeledahan secara besar-besaran.
Tentu saja di itu waktu Wanyen Lieh semua telah kabur keluar kota, bahkan Oey Yong bersama Kwee Ceng telah tiba di dusun kemarinnya mereka mondok.
Sebenarnya Oey Yong kabur tanpa pilih arah, baru setelah melihat tidak ada yang mengejar, ia tidak lari keras seperti semula.Lebih dulu ia sembunyi di dalam sebuah gang kecil.
Di sini ia pegang hidungnya Kwee Ceng.
Ia merasakan hembusan napas.
Di situ tidak ada api, tak jelas ia melihat muka si anak muda.
Ia mengerti diwaktu siang tidak dapat ia berkeliaran di dalam kota dengan membawa-bawa orang terluka, karena ini, ia terus lari ke tembok kota, untuk melompatinya.
Maka dilain saat tibalah ia ditempatnya Sa Kouw, si nona tolol.
Walaupun ia kuat, setelah berlari-lari setengah malaman, mana hatinya pun berkhawatir dan bingung.
Oey Yong toh tersengal-sengal.
Ia lantas menjatuhkan diri akan berduduk, guna meluruskan jalan napasnya itu.
Dengan begitu, dengan perasaannya pulih hatinya pun menjadi terang.
Sekarang ia lantas menyalakan sebatang kayu cemara dengan apa ia menyuluhi mukanya Kwee Ceng.
Apa yang ia lihat membikin ia kaget, melebihi kagetnya di dalam gua tadi.
Kwee Ceng rebah tak bergeming, kedua matanya tertutup rapat, mukanya sangat pucat.
Taklah ia ketahui apakah ia masih hidup atau sudah mati.
Inilah pukulan sangat hebat untuk Oey Yong, hingga hatinya goncang keras.
Ia berdiri bengong dengan tangannya memegangi obor kayunya itu.
Ia merasakan ketika ada orang datang mendekati padanya, ia baru sadar tempo obor kayunya itu ada yang sambar.
Segera ia menoleh, akan mengenali Sa Kouw.
Si tolol muncul karena ia dengar suara tak seperti biasanya.
Sa Kouw pun cemas menyaksikan keadaan Kwee Ceng itu.
Ia lari ke dapur, untuk mengambil air dingin.
Oey Yong mengerti apa yang harus ia kerjakan.
Ia keluarkan sapu tangannya, ia celupkan itu ke dalam air, untuk dilain saat mulut menyusut muka yang keciprutan darah dari si anak muda.
Dari lubang hidung ia merasakan hembusan napas yang semakin lemah.
Setelah itu ia hendak memeriksa luka, atau matanya bentrok sama sinar berkilauan warna kuning emas dari pinggangnya Kwee Ceng.
Karena ini sekarang ia melihat sebuah pisau belati nacap di pinggang!
Baru sekarang Oey Yong dapat menyabarkan diri.
Dengan hati-hati ia membukai baju dalam dari si anak muda, dengan begitu ia melihat jelas nancapnya pisau itu.
Darah disitu sudah mulai bergumpal.
Kelihatannya pisau masuk kira tiga dim dalamnya.
Nona ini menjadi bersangsi.
Ia tidak berani lantas mencabut pisau itu, khawatir nanti Kwee Ceng lantas menghembuskan napasnya yang terakhir.
Kalau ia tidak mencabut, sebaliknya ia memperlambat tempo.
Ini pun membahayakan untuk si anak muda.
Ia berpikir keras.
Akhirnya ia menggertak gigi, tangannya diulurkan.
Ingin ia mencabut, mendadak ia menarik pulang tangannya itu.
Tiba-tiba saja ia bimbang sendirinya.
Kesangsian si nona berjalan terus, maka beberapa kali ia hendak mencobanya mencabut pisau belati itu, saban-saban ia gagal pula.
Sa Kouw menyaksikan kesangsian orang, ia menjadi tidak sabaran.
Tiba-tiba saja ia mengulurkan tangannya dengan sebat ia mencabut pisau itu.
Kwee Ceng menjerit, begitu pun Oey Yong.
Si pemuda bahna sakit, si pemudi saking kaget.
Si tolol sebaliknya girang sekali, ia tertawa tebahak-bahak.
Ia masih tertawa ketika Oey Yong kaget melihat darah mengalir keluar dari lukanya engkonya itu.
Saking berkhawatir dan mendongkol, ia sampok si tolol itu hingga dia terguling, setelah mana ia menggunai sapu tangannya menyumpat luka Kwee Ceng, untuk mencegah keluarnya terus darah itu.
Dengan jatuhnya Sa Kouw, obor cemara di tangannya pun padam.
Si tolol menjadi gusar, ketika ia berlompat bangun, ia menendang.
Oey Yong tidak menangkis, ia membiarkan pahanya kena ditendang.
Sa Kouw khawatir si nona nanti membalas, ia memutar tubuhnya untuk berlalri.
Tidak lama ia mendengar nona Oey menangis.
Ia menjadi heran, maka ia kembali.
Ia menyalakan lagi obor cemaranya.
"Apakah kau kena tertendang sakit?"
Ia menanya Oey Yong. Nona itu tidak menyahut, ia hanya berlutut mendampingi Kwee Ceng. Pemuda itu pingsan karena rasa nyerinya, sesaat kemudian ia baru mendusin.
"Apakah surat wasiatnya Gak Bu Bok kena mereka curi?"
Kwee Ceng menanya. Itulah hal yang ia ingat paling dulu. Oey Yong girang mendengar orang dapat bicara, meskipun suaranya lemah.
"Jangan khawatir, penjahat itu tak dapat turun tangan…"
Ia menyahut.
Ia tentu saja berdusta, karena ia tidak ingin orang menjadi kaget dan bersusaah hati.
Sebenarnya ia ingin menanyakan lukanya si anak muda, ketika ia merasakan tangannya hangat-hangat, disebabkan darah yang baru keluar dari pinggang Kwee Ceng itu.
"Eh, Yong-jie, kenapa kau menangis?"
Menanya Kwee Ceng yang baru sekarang melihat si nona berlinang-linang air matanya.
"Aku tidak menangis,"
Kata Oey Yong, yang paksakan diri untuk tertawa.
"Dia menangis tadi!"
Sa Kouw campur mulut.
"Kau hendak menyangkal? Apakah kau tidak malu? Lihat, mukamu masih ada air matanya!"
"Yong-jie, jangan takut,"
Kwee Ceng menghibur.
"Di dalam Kiu Im Cin-keng ada terdapat cara-cara untuk mengobati luka, aku tidak bakalan mati."
Mendengar itu, Oey Yong merasakan di dalam kegelapannya ia memperoleh pelita.
ia girang.
Tadinya ia mau minta penjelasan tentang obat itu, niat ini ia batalkan, khawatir si anak muda nanti menjadi letih.
Maka ia ambil obor dari tangannya si tolol.
"Enci, tadi aku kena serang kau, apakah kau sakit?"
Ia menanya sambil tertawa.
"Ah, kau menangis, tidak dapat kau menyangkal!"
Kata si tolol yang tidak memperdulikan pertanyaan orang. Ia hanya mengingat penyangkalan nona ini.
"Ya, benar, aku menangis,"
Kata Oey Yong tersenyum.
"Kau sendiri tidak menangis, kau baik sekali."
Mendengar dirinya di puji, Sa Kouw menjadi sangat girang. Kwee Ceng sendiri repot meluruskan pernapasannya, dengan begitu rasa sakitnya berkurang.
"Coba kau memakai jarum emasmu menusuk beberapa kali jalan darahku ceng-ciok dan siauw-yauw,"
Katanya perlahan pada Oey Yong.
"Ah, aku menjadi bodoh!"
Kata si nona, terperanjat.
Dengan lekas ia mengeluarkan sebatang jarumnya dan terus bekerja.
Tiga kali ia menusuk di pinggang kiri di mana ada dua jalan darah yang disebutkan itu.
Tusukan ini membantu memperlambat mengalirnya darah dan pun mengurangi rasa nyeri.
"Luka di pinggangku ini, Yong-jie, meskipun dalam, tetapi tidak berbahaya,"
Kwee Ceng kata pula, suaranya tetap perlahan.
"Yang hebat ialah serangan Kap-mo-kang dari si Bisa bangkotan, syukurlah ia tidak menggunai sepenuhnya tenaganya, dengan begitu aku masih dapat ditolong, cumalah dengan begitu kau bakal menderita merawati aku tujuh hari tujuh malam…"
"Biarnya aku bersengsara tujuhpulh tahun, untukmu aku senang,"
Menyahut si nona, cepat. Kwee Ceng terharu sekali, hatinya menggetar hampir ia pingsan pula. Ia berdiam akan menenangkan diri.
"Sayang suhu pun terluka,"
Katanya kemudian.
"Sudahlah, kau jangan terlalu banyak pikir,"
Mencegah Oey Yong sekalian menghibur.
"Sekarang ini kau mesti berdaya mengobati lukamu sendiri, supaya orang lega hatinya…."
"Sekarang perlu kita mendapatkan dulu tempat yang tenang,"
Berkata Kwee Ceng.
"Disana aku nanti mengobati diriku dengan bantuanmu. Menurut ajaran kitab, kita mesti mengadu tenaga bergantian dengan sama-sama mengendalikan napas. Dengan jalan begitu kau membantu aku dengan tenaga dalammu. Seperti aku bilang tdai, sulitnya ialah tempo yang mesti digunakan mesti tujuh hari tujuh malam, selama mana tak boleh kedua tangan kita berpisahan. Pikiran kita berdua bersatu padu, dapat kita berbicara tetapi tidak boleh ada orang yang ketiga yang menyelak menyampur bicara. Pula tidak dapat kita bangun atau berjalan sekalipun setengah tindak. Jikalau ada orang yang mengganggu kita, maka…."
Oey Yong mengerti cara pengobatan itu, yang sama dengan orang semadhi, ialah sebelumnya berhasil tidak boleh ada gangguan, gangguan menggagalkan dan bisa mendatangkan bahaya juga.
Ini sebabnya, siapa tengah bersemadhi, ia membutuhkan kawan yang menjaga di sampingnya, guna mencegah gangguan yang tidak diinginkan itu.
Ia jadi berpikir.
"Aku perlu membantu dia, di sini tidak ada orang lain, siapa yang dapat melindungi? Sa Kouw tidak dapat diandalkan, dia terlalu tolol, malah mungkin dialah yang nanti merecoki. Juga di mana bisa didapatkan tempat sunyi di dalam waktu sesingkat ini? Umpama kata Ciu Toako datang kemari masih belum tentu ia sanggup menjagai kita selama tujuh hari tujuh malam…Bagaimana baiknya sekarang?"
Kembali ia berpikir keras, matanya memandang tajam ke sekelilingnya. Mendadak ia melihat tempat menyimpan mangkok dan lainnya.
"Ada!"
Pikirnya sejenak.
"Kenapa aku tidak mau sembunyi di dalam kamar rahasia itu? Dulu hari Bwee Tiauw Hong tidak mempunyai pembela, dia sembunyi di dalam gua…"
Ketika itu sang pagi mulai terang dan Sa Kouw pergi ke dapur untuk masak bubur.
"Engko Ceng, kau boleh beristirahat,"
Berkata Oey Yong.
"Aku hendak pergi sebentar untuk membeli barang makanan, sekembalinya aku, kita mulai berlatih sambil menyembunyikan diri."
Kwee Ceng menurut, ia membiarkan kekasihnya itu pergi.
Oey Yong pergi ke kampung.
Sembari jalan ia pikirkan apa yang ia mesti beli.
Tidak sembarang barang dapat disimpan selama tujuh hari tujuh malam, atau barang itu bakal rusak dan bau dan tidak dapat dimakan lagi.
Ia tidak usah berpikir lama atau menjadi bingung karenanya.
Ia lantas membeli dua pikul semangka, yang ia minta tukang jualnya pikul ke rumah Sa Kouw.
Setelah menerima uang, si tukang semangka berkata.
"Nona, inilah semangka Gu-kee-cun, manis dan lezat rasanya, bila kau sudah mencobainya, baru kau tahu!"
Terperanjat Oey Yong akan mendengar nama desa ini, ialah Gu-kee-cun.
"Kalau begitu, inilah kampung halamannya engko Ceng,"
Pikirnya.
Ia menjadi berkhawatir pemuda itu terganggu pikirannya apabila dia ketahui ini kampungnya, maka ia lantas menyahuti sembarangan saja asal si tukang semangka lekas pergi.
kemudian lekas-lekas ia masuk ke dalam.
Ia mendapatkan Kwee Ceng lagi tidur dan darah dari lukanya sudah berhenti mengalir.
Sedangnya pemuda itu tidur, ia lantas bekerja.
Ia membuka pintu dapur, terus ia putar pesawat rahasianya, akan masuk ke dalam kamar rahasia.
Ke dalam situ ia angkut masuk semua semangkanya.
Kepada Sa Kouw ia memesan wanta-wanti agar si tolol jangan beritahukan siapa juga yang mereka berdua berada di dalam kamar rahasia itu, dan meski ada peristiwa bagaimana hebat, si nona dilarang menerbitkan suara berisik.
Sa Kouw tidak mengerti maksud orang akan tetapi ia menginsyafi, karena ia menampak bicara dan gerak-gerik tamunya ini sangat sungguh-sungguh.
"Baik,"
Katanya mengangguk.
"Kamu hendak makan semangka sambil menyembunyikan diri di kamar ini, kamu hendak memakan habis dulu semua semangka, baru kamu akan keluar lagi. Baiklah, sekarang tidak akan bicara!"
"Memang, Sa Kouw tidak akan bicara!"
Kata Oey Yong, sengaja mengangkat.
"Sa Kouw memang anak baik, kalau Sa Kouw bicara, dia anak buruk…!"
"Sa Kouw tidak akan bicara, Sa Kouw anak baik!"
Si tolol mengulangi.
Tidak lama Kwee Ceng sadar, ia diberikan bubur satu mangkok besar.
Oey Yong pun memakannya semangkok.
Habis dahar, nona ini mendukung pemuda itu masuk ke dalam kamar rahasia.
Ketika ia menoleh keluar pintu, ia lihat Sa Kouw mengawasi mereka sambil tertawa si tolo berkata.
"Sa Kouw tidak akan bicara!"
Mendapatkan orang demikian tolol, Oey Yong menjadi berkhawatir.
"Dia begini tolol, ada kemungkinan dia nanti sembarangan bicara sama siapa saja. Bagaimana kalau dia membilangnya, 'Mereka sembunyi di dalam sini memakan semangka, Sa Kouw tidak akan bicara'? Kelihatannya cuma dengan dibunuhnya baru lenyap ancaman untuk kita…"
Biarnya ia jujur dan polos Oey Yong tidak menghiraukan tentang wales asih atau kepantasan, sesat atau sadar, maka itu ia pun tidak pernah mau pikir, ada hubungan apa di antara Sa Kouw dan Kiok Leng Hong.
Sekarang ia melainkan pikirkan keselamatannya Kwee Ceng, yang mesti ditolongi dan dilindungi.
Untuk Kwee Ceng, ia bersedia umpama kata mesti membunuh Sa Kouw.
Maka ia lantas ambil pisau belatinya si anak muda.
Disaat ia hendak pergi keluar, matanya bentrok sama sinar mata si pemuda itu, sinar kaget atau luar biasa.
Ia memikir.
"Mungkinkah dia dapat melihat sinar pembunuhan pada wajahku?"
Lantas ia ingat.
"Tidak apa aku membunuh Sa Kouw, hanya bagaimana nantinya, engko Ceng sembuh? Bagaimana aku harus membilangnya apabila ia menanyakan? Mesti dia bakal membikin banyak berisik………"
Nona ini menjadi ragu-ragu.
"Engko Ceng baik dan halus budi pekertinya,"
Ia berpikir lebih jauh.
"Ada kemungkinan dia bakal tak menyebut-nyebut Sa Kouw, tetapi siapa tahu apabila ia terus-menerus membenci aku? Ah, sudahlah, biarlah kita mencoba menempuh bahaya…….!"
Oey Yong lantas mengunci pintu.
Kemudian ia meneliti seluruh ruang itu.
Di ujung barat ada sebuah lobang angin atau dari mana masuk sinar terang, maka di siang hari, sinar terang itu dapat menerangi ruang.
Di tembok ada sebuah lobang angin kecil, yang ketutupan debu, lalu debu itu disingkirkan.
Kwee Ceng duduk menyender di tembok.
Ia bersenyum.
"Tidak ada tempat yang baik untuk beristirahat daraipada ini,"
Katanya.
"Kau bakal menemani dua mayat, apakah kau tidak takut?"
Oey Yong tertawa meskipun sebenarnya ia risi juga.
"Yang satu kakak seperguruanku, tidak nanti ia mengganggu aku,"
Sahutnya.
"Yang satu lagi perwira kantung nasi, hidupnya aku tidak takuti, apapula sesudah dia mati!"
Sembari berkata, ia mendupaki jerangkong itu ke pojok Utara, kemudian ia menghampasr rumput kering.
Kemudian lagi ia geser semua semangka, untuk didekati kepada mereka berdua, supaya gampang diambil dengan mengulur tangan saja.
"Bagus tidak begini?"
Ia tanya Kwee Ceng akhirnya.
"Bagus!"
Menjawab orang yang ditanya.
"Sekarang mari kita mulai berlatih!"
Oey Yong membantui pemuda itu mengambil tempat duduk di atas rumput, ia sendiri lantas duduk besila di depannya, sedikit di sebelah kiri, darimana, dengan berpaling, ia bisa mengintai ke lobang angin di tembok itu.
Untuk girangnya, ia mendapatkan sebuah kaca rasa di sana, dengan perantaraan kaca itu, ia bisa melihat ke luar.
Maka itu, ia memuji si pembangun kamar rahasia, yang demikian teliti dengan pembuatan kamarnya itu.
Orang sembunyi tapi berbareng orang pun bisa melihat ke luar.
So Kouw duduk seorang diri di tanah sambil tangannya menggapai kaca ular sutera, mulutnya bergantian ditutup dan dibuka, suaranya perlahan.
Oey Yong memasang kupingnya, mendengari, maka tahulah ia, si tolol lagi menyanyikan lagu meninabobokan anak kecil supaya tiudr.
Mulanya ia merasa lucu tetapi kemudian ia merasakan suara itu halus dan mengharukan.
Tanpa merasa ia berpikir;
"Adakah ini nyanyian ibunya dulu hari untuk ia mendengarinya? Kalau ibuku tidak telah menutup mata, ibupun akan menyanyikan aku begini rupa…."
"Yong-jie, kau memikirkan apa?"
Tanya Kwee Ceng mendapatkan orang berdiam saja.
"Lukaku tidak berbahaya, kau jangan bersusah hati."
Oey Yong mengusap-usap matanya, ia tertawa.
"Sekarang lekas kau ajari aku caranya menyembuhkan lukamu,"
Ia berkata.
Kwee Ceng menurut, dengan perlahan ia membaca di luar kepala kitab Kiu Im Cin-keng bagian pengobatan luka-luka.
Isinya pasal ini menjelaskan luka disebabkan serangan tenaga dalam, bagaimana ia harus dilawan untuk memulihkan kesehatan.
Cuma mendengar satu kali saja, Oey Yong telah dapat menghapalkan itu.
Cuma beberapa bagian yang kurang jelas, dengan menyakinkan bersama, ia pun akan dapat mengerti.
Maka itu, dilain saat, mereka sudah mulai berkatih.
Dua orang ini cocok satu sama lain, sebab si pemuda berbakat baik, si pemudi cerdas sekali.
Mereka berlatih dengan Oey Yong mengeluarkan tangan kanannya, yang mana ditahan oleh Kwee Ceng dengan telapakan tangan kirinya, kemudian mereka saling menolak dengan menukar tangan.
Latihan ini dilakukan dua jam sekali maka itu, diwaktu beristirahat dengan tangan kirinya Oey Yong memotong semangka, yang separuh untuk Kwee Ceng, yang separuh lagi untuknya sendiri.
Selagi makan buah itu, tangan mereka yang sebelah ditempelkan terus satu pada lain.
Sesudah berlatih hingga jam bie-sie, satu atau dua lohor, Kwee Ceng merasakan dadanya sedikit lega, tak pepat seperti semula.
Terang itu tanda telah berjalannya hawa hangat dari tangann Oey Yong, yang masuk ke dalam tubuhnya sendiri.
Dengan begitu, rasa nyeri di pinggangnya turut berkurang juga.
Hal ini membuatnya girang, hingga ia jadi berlatih semakin bersungguh-sungguh.
Ketika tiba pada istirahat yang ketiga kali, dari lobang di atas terlihat masuknya sinar matahari yang lemah.
Itulah tanda dari telah datangnya sang sore.
Cuaca jadi semakin guram.
Denga berlalunya sang tempo, Kwee Ceng merasa semakin lega pernapasannya, dan Oey Yong pun bertambah segar.
Dengan begitu, mereka bisa melewati tempo beristirahat itu dengan memasang omong.
Tidak lama keduanya hendak mulai latihannya terlebih jauh, kuping mereka mendapat dengar suara berlari-lari keras ke arah rumah makan dan berhenti di depan pondokan.
Setelah itu terdengar masuknya beberapa orang, sebagaimana itu ternyata dari tindakan kaki mereka yang ramai.
"Lekas sediakan nasi dan lauk pauknya!"
Begitu terdengar satu suara keras dan kasar.
"Tuan-tuan besarmu sudah kelaparan hingga mau mati…."
Kwee Ceng dan Oey Yong saling mengawasi.
Mereka mengenali suaranya Sam tauw-kauw Hauw Thong Hay.
Si nona lantas mengintai dari liang kecil di tembok di sisinya.
Sekarang ia mendapat kepastian itulah rombangan musuh mereka sebab mereka adalah Wanyen Lieh bersama Yo Kang, Auwyang Hong, Pheng Lian Houw, Nio Cu Ong dan See Thong Thian.
Sa Kouw tidak kelihatan, setahu mana perginya si tolol itu.
Hauw Thong Hay menghajar meja kalang kabutan, masih tidak ada suara penyahutan untuknya.
Pheng Lian Houw dan Nio Cu Ong memperhatikan rumah itu, lalu mereka mengerutkan kening mereka.
"Tidak ada orang di sini…"
Kata Cu Ong.
"Kalau begitu, biarlah pada pergi ke kampung untuk membeli makanan!"
Kata Thong Hay, ia mendongkol tetapi ia sudi gawe. Pheng Lian Houw tertawa, dia kata.
"Hebat kawanan Gie-lim-kun itu, mereka ada kawanan kantung nasi tetapi mereka bisa telasap-telusup di segela tempat, mereka membuatnya arwah-arwah pun tak man, hingga sekarang kitalah yang untuk satu hari lamanya tak dapat gegares! Ongya adalah orang Utara tetapi ongya ketahui di sini ada ini dusun sunyi senyap. Hebat!"
Wanyen Lieh tahu orang mengangkat-angkat padanya tetapi ia tidak jadi kegirangan hingga terkentarakan pada air mukanya, sebaliknya, ia nampak masgul.
"Pada sembilanbelas tahun yang lalu, pernah aku datang ke mari,"
Katanya sambil menghela napas.
Orang melihat wajah pangeran ini, yang agaknya berduka, mereka heran.
tentu sekali mereka tidak tahu, pada sembilanbelas tahun yang lampau itu, di situ Pauw Sek Yok telah menolongi jiwanya dari ancaman bahaya maut.
Mereka ini tidak usah menanti lama atau Hauw Thong Thay telah kembali bersama arak dan barang makanan, maka Pheng Lian Houw segera menuangi arak untuk mereka masing-masing, kemudian ia berkata pada si pangeran.
"Hari ini ongya mendapatkan surat wasiat, itulah bukti yang Negara Kim yang terbesar bakal menggentarkan pengaruhnya di kolong langit, dari itu kami semua hendak memberi selamat kepada ongya! Saudara-saudara mari minum!"
Ia pun mengangkat cawanya, untuk cegluk kering isinya. Nyaringnya suara Pheng Lian Houw ini, Kwee Ceng dari tempatnya sembunyi dapat mendengar itu. Pemuda ini menjadi terkejut.
"Kalau begitu berhasillah mereka mencuri surat wasiat Gak Ongya!"
Pikirnya.
Begitu ia berpikir demikian begitu ia merasakan napasnya sesak.
Oey Yong terkejut.
Kagetnya si pemuda ia dapat merasakan pada tangannya, yang terus menempel sama tangannya si pemuda itu.
Ia mengerti sebabnya gangguan itu.
Itulah berbahaya untuk si anak muda.
Maka lekas-lekas ia geser kepalanya, untuk mendekati kuping orang untuk berbisik.
"Ingat kesehatanmu! Mereka dapat mencuri pulang! Asal gurumu yang kedua turun tangan, lagi sepuluh surat wasiat pun ia dapat curi!"
Kwee Ceng anggap kata-kata itu benar.
Ia mengetahui baik kepandaiannya gurunya yang nomor dua itu ialah Biauw Ciu Sie-seng Cu Cong si Mahasiswa Tangan Lihay.
Maka itu ia berdaya untuk menentramkan diri, tak suka ia mendengari lebih jauh pembicaraan mereka itu.
Ia meramkan kedua matanya.
Oey Yong mengintai pula, justru Wanyen Lieh mengangkat cawan araknya.
Habis mencegluk, pangeran ini kata dengan gembira.
"Semuanya siauw-ong mengandal kepada tuan-tuan. Jasa Auwyang Sianseng ialah yang nomor satu! Jikalau tidak sianseng mengusir bocah she Kwee itu pastilah kita mesti bekerja lebih sulit lagi."
Auwyang Hong tertawa kering, suaranya bagaikan cecer pecah. Kwee Ceng berdenyut hatinya mendengar tertawanya orang itu. Oey Yong pun bingung, hingga ia berkata seorang diri.
"Berterima kasih kepada langit dan bumi, biarlah ini makhluk berbisa tua bangka jangan ngoceh lebih lama di sini, bisa-bisa engko Ceng nanti bercelaka karenanya…"
"Tempat ini sangat mencil dan sunyi,"
Berkata Auwyang Hong.
"Tidak nanti tentara Song dapat menyusul kita sampai di sini. Sebenarnya apa itu surat wasiat Gak Bu Bok, baiklah kita sama melihatnya, untuk menambah pemandangan kita."
Sembari berkata, ia merogoh sakunya untuk mengeluarkan itu kotak batu, yang mana ia letaki di atas meja.
Di mulut See Tok mengatakan demikian, di dalam hatinya ia sudah mengambil kepastian apabila ia mendapatkan surat wasiat itu berfaedah, hendak ia merampasnya untuk menjadi miliknya sendiri, kalau itu hanya ilmu perang biasa, yang baginya tak ada pentingnya, suka ia mengalah dan menyerahkannya kepada Wanyen Lieh, dengan begitu ia menjadi berbuat jasa untuk pangeran itu…….
Sejenak itu, semua mata diarhkan kepada kotak batu itu., Oey Yong melihat semua itu, segera otaknya bekerja.
"Cara apa aku mesti ambil untuk dapat memusnahkan surat wasiat itu?"
Demikian pikirnya.
"Kemusnahan adalah yang terlebih baik daripada surat wasiat itu jatuh ke dalam tangannya ini manusi-manusia jahat dan berbahaya….!"
Lalu terdengar suaranya Wanyen Lieh.
"Ketika siauw-ong memeriksa surat peninggalannya Gak Hui itu, yang bunyinya seperti teka-teki, lalu itu dihubungi sama catatan hikayat beberapa kaisar di dalam istananya kaisar she Tio itu, maka tahulah siauw-ong surat wasiat ini disimpan di Cui Han Tong, di simpan di dalam kotak batu yang berada limabelas tindak di arah Timurnya. Buktinya sekarang, duagaanku itu tidak salah. Aku mau percaya, tak ada orang yang ketahui kenapa telah terjadi pengacauan kita di dalam istana semalam…….."
Kelihatannya pangeran ini sangat puas, lebih-lebih setelah kembali orang memuji padanya. Wanyen Lieh mengurut kumisnya.
"Anak Kang, kau bukalah kotak itu!"
Ia memerintah.
Yo Kang menurut perintah.
Ia maju, menghampirkan.
Lebih dulu ia menyingkirkan segelannya kotak, habis itu ia membuka tutupnya.
Maka ke dalam situ menyorotlah sinar matanya semua orang.
Apa yang dilihat membuatnya semua hadiran menjadi tercengang bahna herannya, sehingga untuk sesaat itu tak ada seorang jua yang dapat membuka suaranya.
Semua mata diarahkan tajam ke dalam kotak batu, yang diharap isinya istimewa, siapa tahu kotak itu ternyata kosong melompong, tidak ada serupa benda juga di dalam situ, jangan kata surat wasiat tentang siasat perang, sehelai kertas kosong pun tidak kedapatan.
Oey Yong tidak dapat turut melihat isinya kotak, tetapi ia melihat tegas wajah semua orang, maka maulah ia menduga untuk kosongnya kotak itu.
Diam-diam ia bersyukur.
Wanyen Lieh menjadi sangat lesu, ia duduk dengan memegangi meja, sebelah tangannya menunjang janggut.
Ia berpikir keras sekali.
Di dalam hatinya ia kata.
"Aku telah memikir matang, aku menduga surat wasiat itu berada di dalam kotak ini, kenapa surat itu tak ada sekalipun bayangannya?"
Begitu ia memikir demikian, begitu ia mendapat pikiran, wajahnya pun menjadi bercahaya saking gembiranya.
Ia sambar kotak itu, terus ia bertindak ke cimchee, di sini dengan tiba-tiba ia banting kotak ke lanti batu!
Dibarengi suara nyaring, kotak itu pecah menjadi beberapa keping.
Oey Yong cerdas, kupingnya lihay, dari suara pecahnya kotak itu, ia mendapat tahu kotak sebenarnya terdiri dari dua lapis, artinya ada lapisan dalamnya.
"Ah, siapa sangka kotak ini ada lapisannya?"
Katanya di dalam hati.
Ia dapat menduga demikian, tetapi bukannya ia girang karena dugaannya itu tepat, ia justru menjadi masgul.
Percuma menduga dengan berhasil, ia sendiri tidak bisa muncul untuk mendapatkan kepastian.
Tapi ia tak usah bergelisah lama-lama, atau Wanyen Lieh tertampak sudah kembali ke mejanya seraya berkata.
"Aku sangka kotak itu ada lapisan dalamnya, tak tahunya isinya tidak…"
Ia lesu sekali. Lian Houw semua heran, mereka ramai membicarakan kotak itu.
"Ah, siapa sangka!"
Pikir Oey Yong, hatinya lega, hingga di dalam hatinya ia tertawai mereka itu.
Ia berbisik pada Kwee Ceng, akan memberitahukan Wanyen Lieh belum berhasil memdapatkan surat wasiatnya Gak Hui.
Kwee Ceng pun lega hatinya mendengar keterangan itu.
"Aku lihat kawanan penjahat ini belum mati hatinya, meski mereka bakal pergi pula ke istana,"
Oey Yong mengutarakan dugaannya.
Karena ini ia menjadi berkhawatir untuk gurunya, yang masih berada di dapur istana.
Ada kemungkinan guru itu bakal diperogoki.
Benar di sana ada Ciu Pek Thong yang melindungi tetapi Pek Thong bangsa berandalan, yang edan-edanan.
Jitu juga dugaanya nona Oey ini.
Segera terdengar suaranya Auwyang Hong.
"Keggagalan kita ini tak berarti banyak, sebentar malam kita pergi pula ke istana, untuk mencari terlebih jauh!"
"Malam ini tak dapat,"
Wanyen Lieh mencegah.
"Tadi malam keadaan kacau sekali, tentu karenanya penjagaan diperkeras."
"Memang penjagaan tetap dilakukan, itu pun tidak berarti,"
Berkata Auwyang Hong.
"Ongya bersama sie-cu malam ini tak usah turut, baiklah ongya berdua beristirahat di sini bersama keponakanku."
"Dengan begitu kembali siauw-ong membikin sianseng bercapai lelah,"
Kata pangeran Kim itu sambil memberi hormat.
"Baiklah siauw-ong menanti kabar baik saja."
Pembicaraan mereka berhenti sampai di situ.
Habis bersantap Wanyen Lieh merebahkan diri di hamparan rumput, ditemani putra angkatnya dan Auwyang Kongcu, dan Auwyang Hong bersama yang lainnya lantas pergi memasuki kota, untuk menyerbu ke istana.
Wanyen Lieh tak dapat tidur, ia golek-golek saja.
Ia memikirkan surat wasiat dan kepergian sekalian pahlawannya itu.
Ia merasa tidak enak waktu kupingnya mendengar seekor anjing kampung membaung dan mengulun, suaranya sangat menyedihkan, tak sedap masuk ke kupingnya.
Ia menjadi tak tentram dan masgul.
Belum lama pada pintu terdengar suara.
Rupanya daun pintu ada yang tolak, sebab segera terlihat masuknya satu orang.
Ia menggeraki tubuhnya, buat bangun berduduk, tangannya memegang gagang pedang.
Yo Kang telah berlompat ke belakang pintu, menyembunyikan diri, bersiap sedia.
Yang datang itu satu nona dengan rambut riap-riapan, mulutnya memperdengarkan nyanyian perlahan.
Ia menolak pintu untuk masuk terus.
Dialah Sa Kouw, yang tadi pergi bermain di rima dekat rumahnya dan sekarang baru kembali.
Ia melihat ada orang asing di rumahnya itu, ia tidak mengambil mumat, langsung ia pergi ke tumpukan rumput tempat ia bisa tidur.
Begitu ia merebahkan dirim segera terdengar suara napasnya menggeros.
Melihat bahwa orang ada seorang nona dusun yang tolol, Yo Kang tertawa sendirinya dan terus ia tidur pula.
Wanyen Lieh tetap berpikir, masih ia tak dapat pulas.
Maka kemudian ia bangun, untuk nyalakan sebatang lilin, yang ia letaki di atas meja.
Ia mengeluarkan se
Jilid buku, untuk dibaca, dibolak-balik lembarannya.
Selama itu, Oey Yong terus menginta dari lubang temboknya.
Kebetulan ia menampak seekor selaru terbang memutari api, lalu menyerbu, maka terbakarlah sayapnya dan robohlah tubuhnya di atas meja.
Wanyen Lieh jumput selaru itu.
"Jikalau Pauw-sie hujinku ada di sini, pastilah kau bakal ditolong diobati,"
Berkata ia dengan perlahan.
Ia pun lantas mengeluarkan sebuah piasu kecil serta satu ples kecil berisi obat, ia pegang itu di kedua tangannya, untuk dibuat main.
Ia nampaknya sangat berduka.
Oey Yong menepuk perlahan pundaknya Kwee Ceng, ia memberi isyarat supaya pemuda itu melihat kelakuan si pangeran .
Kwee Ceng lantas mengintai, akan dilain saat ia menjadi gusar sekali.
Samar-samar ia ingat, piasu dan obat itu kepunyaan Pauw Sek Yok, ibunya Yo Kang.
Semasa di dalam istana Chao Wang, Sek Yok pernah menggunai itu mengobati lukanya seekor kelinci.
Selagi ia mengawasi terus, ia dengar pangeran itu berkata seorangd iri dengan perlahan.
"Pada sembilanbelas tahun dulu di kampung ini yang buat pertama kali aku bertemu denganmu…. Ah, aku tidak tahu, sekarang entah bagaimana dengan rumahmu yang dulu itu?"
Habis berkata pangeran itu berbangkit, ia ambil lilinnya, terus ia jalan keluar pintu. Kwee Ceng berdiam.
"Mustahilkah kampung ini kampung Gu-kee-cun, kampung halamannya ayah dan ibuku?"
Ia menanya dirinya sendiri.
Ia lantas pasang mulutnya di kuping Oey Yong, untuk menanyakan.
Oey Yong mengangguk.
Tiba-tiba Kwee Ceng merasakan dadanya goncang, darahnya berjalan keras, hingga tubuhnya bergerak-gerak karenanya.
Tangan kanan Oey Yong menempel sama tangan kiri anak muda itu, ia merasakan goncangan keras dari hatinya si anak muda, ia menjadi berkhawatir.
Goncangan itu bisa mencelakai anak muda ini.
Lekas-lekas ia ulur tangan kanannya, akan ditempel dengan tangan kiri orang, terus ia mengerahkan tenaganya menekan.
Kwee Ceng pun turut menekan, ini justru ada baiknya.
Dengan begitu, perhatiannya terpusatkan pula, tak terbagi dengan perasaan yang menggoncangakan hati itu.
Perlahan-lahan hatinya menjadi tenang kembali.
Tidak lama tertampak sinar api, lalu Wanyen Lieh bertindak masuk sambil menghela napas panjang.
Kwee Ceng mengawasi dengan tenang.
Sekarang ia dapat menguasai dirinya.
Oey Yong dapat merasai ketenangan hati kawannya ini, ia membiarkan si kawan terus mengintai, cuma sebelah tangan dia itu tetap ia tempel sama tangannya sendiri.
Sekarang ini tangan Wanyen Lieh memegang sebuah senjata berwarna hitam.
Itulah bukannya golok, bukannya kampak.
Dengan bengong si pangeran mengawasi senjata itu di samping api lilin.
Sekian lama, ia mengasih dengar pula suaranya yang perlahan.
"Rumah keluarga Yo rusak hingga tak ketinggalan sepotong genteng juga. Keluarga Kwee masih meninggalkan tombak pendek yang dulu hari dipakai Kwee Siauw Thian…."
Hati Kwee Ceng tercekat mendengar nama ayahnya disebut oleh musuh yang telah membunuh ayahnya itu. Lantas saja ia berpikir.
"Jahanam ini terpisah dari aku tak ada sepuluh tindak, dengan sebuah pisau belati dapat aku menimpuk mampus padanya…."
Terus dengan tangan kanannya ia menanya.
"Yong-jie, dengan sebelah tanganmu dapat kau memutar membuka daun pintu?"
"Jangan!"
Mencegah si nona, yang dapat menerka maksud orang.
"Gampang untuk membunuh dia tetapi dengan begitu orang menjadi mendapat tahu tempat sembunyi kita ini….."
"Dia…dia memegangan senjatanya ayah aku…"
Kata Kwee Ceng, suaranya menggetar.
Seumurnya Kwee Ceng belum pernah melihat wajah ayahnya, ia cuma mengetahuinya sebagian dari penuturan dan lukisan ibunya, yang lain berkat kekhawatiran hatinya memikir ayahnya itu, yang ia bayangi.
Ia memuja sangat ayahnya itu.
Maka itu melihat ujung tombak ayahnya, hatinya goncang keras kerana kebencian dan kemarahannya yang hebat.
Oey Yong mengalami kesulitan.
Memang susah untuk membujuki pemuda ini.
Tapi ia mencoba.
Ia berbisik pula ke telinga si anak muda.
"Ibumu dan Yong-jie menghendaki hidupmu…"
Kata-kata ini besar pengaruhnya.
Kwee Ceng terkejut, terus ia menyimpan pula pisau belatinya di pinggangnya.
Ia kembali mengintai.
Wanyen Lieh telah merebahkan kepalanya di meja.
Pemuda itu menghela napas.
Bukankah ia tak dapat membalas sakit hati ayahnya?
Karena lesu, ia lalu bersemadhi lebih jauh.
Tapi, belum lagi ia menyingkirkan matanya dari lubang angin, ia melihat seorang duduk di tumpukan rumput.
Di dalam kaca, tak terlihat mukanya dia itu yang terkurung sinar api.
Hanya setelah ia berbangkit berdiri dan mendekati Wanyen Lieh, akan emngambil peles obat dan pisau kecil tadi, selagi memutar tubuh, dia dapat dikenali sebagai Yo Kang.
Untuk sesaat Yo Kang memandangi bengong kepada peles obat dan pisau kecil itu, kemudian dari sakunya ia mengeluarkan sebuah tombak.
Ia pun mengawasi tombak itu.
Tidak lama ia berdiam, berbareng sama berubahnya air mukanya, ia menjumput tombak pendek yang terletak di tanah, dengan itu ia menikam ke arah punggungnya Wanyen Lieh.
Kwee Ceng melihat itu, girang hatinya.
Ia mengerti, Yo Kang tentu mengingat ayah dan ibunya dan sekarang hendak menuntut balas.
Asal tombak itu dikasih turun habis sudahlah jiwa pangeran Kim itu.
Tapi, tangan Yo Kang terangkat naik terus berdiam, tidak terus dikasih turun, untuk menikam.
Lewat beberapa saat, tangan itu pun diturunkan tanpa tikaman.
"Bunuh, bunuhlah!"
Kwee Ceng berseru-seru di dalam hatinya.
"Sekarang kalau kau tidak turun tangan, kau hendak menunggu sampai kapan lagi?"
Lalu ia menambahkan.
"Jikalau kau menikam, kau tetap saudaraku yang baik, urusanmu di dalam istana sudah menikam aku, akan aku bikin habis saja."
Tangan Yo Kang gemetaran, tangan itu dikasih turun perlahan sekali, maka kemudian, tombak itu menggeletak pula di tanah… "Anak haram!"
Kwee Ceng mendamprat di dalam hatinya.
Ia menyesal dan mendongkol sekali.
Yo Kang meloloskan bajunya yang panjang, ia pakai itu untuk menutupi tubuhnya Wanyen Lieh, rupanya ia takut ayah angkat itu masuk angin.
Kwee Ceng lantas melengos.
Tak sudi ia mengawasi terlebih lama lagi.
Ia sungguh tak mengerti sikapnya Yo Kang ini.
"Jangan bergelisah tidak karuan,"
Oey Yong menghibur.
"Jangan keburu nafsu. Setelah kau sembuh, meski jahanam ini lari ke ujung langit, kita akan kejar padanya!"
Kwee Ceng mengangguk, setelah mana ia berlatih terus.
Ketika sang fajar datnag, beberapa ekor ayam jago kampung mengasih dengar keruyuk mereka saling sahut, dilain pihak muda-mudi itu sudah berlatih tujuh rintasan hingga mereka merasakan tubuh mereka segar sekali.
Oey Yong menunjuki telunjuknya.
"Telah lewat satu hari!"
Katanya sambil tertawa. Ia puas dengan selesainya latihan hari pertama itu. Bab 49. Pertempuran di dalam rumah makan "Sungguh berbahaya!"
Kata Kwee Ceng perlahan.
"Jikalau tidak ada kau, tidak dapat aku mengendalikan diri, dan itu artinya bahaya……."
"Masih ada enam hari dan enam malam, kau mesti janji akan dengar kata aku,"
Kata si nona.
"Kapannya pernah aku tidak dengar kau?"
Kwee Ceng menanya sambil tertawa. Oey Yong tersenyum, lalu ia miringkan kepalanya.
"Nanti aku berpikir,"
Katanya.
Dari atas mulai bersorot sinar matahari, maka terlihatlah muka Oey Yong yang merah dadu, yang cantik manis, sedang dilain pihak, Kwee Ceng tengah memegangi tangan orang yang halus lemas, tanpa merasa, dadanya memukul.
Maka lekas-lekas ia menenangi diri, walaupun begitu, mukanya merah.
Ia jengah sendirinya.
Sejak mereka bertemu dan bergaul, belum pernah Kwee Ceng memikir seperti sekali ini terhadap si nona, dari itu ia menyesal sendirinya dan menyesali dirinya juga.
"Eh, engko Ceng, kau kenapa?"
Tanya Oey Yong. Ia heran menampak perubahan mukanya si anak muda.
"Aku bersalah, mendadak saja aku memikir…..aku memikir…."
Pemuda itu tunduk, perkataannya berhenti sampai di situ.
"Kau memikirkan apa sebenarnya?"
Si nona menanya pula.
"Tetapi sekarang aku sudah tidak memikir pula."
"Tadinya kau memikir apa?"
Kwee Ceng terdesak.
"Aku memikir untuk merangkulmu, menciummu.."
Karena terpaksa ia mengaku.
Sebagai seorang jujur, tak dapat ia berdusta.
Mukanya si nona bersemu merah.
Ia berdiam.
Justru itu ia nampak semakin menggiurkan.
Melihat orang diam saja dan bertunduk, Kwee Ceng menjadi tak enak hati.
"Yong-jie, kau gusarkah?"
Ia menanya.
"Dengan memikir demikian, aku jadi buruk seperti Auwyang Kongcu……"
Tiba-tiba si nona tertawa.
"Tidak, aku tidak gusar!"
Sahutnya.
"Aku hanya memikir, di belakang hari, kau akhirnya bakal merangkul aku, mencium aku, bahwa aku bakal jadi istrimu!"
Mendapat jawaban itu, lega hatinya Kwee Ceng.
"Engko Ceng,"
Kemudian si nona tanya.
"Kau memikir untuk mencium aku, adakah hebat pikiranmu itu?"
Kwee Ceng hendak memberikan jawabannya ketika ia menundanya. Tiba-tiba terdengar tindakan kaki cepat dari dua orang, yang terus masuk ke dalam rumah makann disusuli suara nyaring dari Hauw Thong Hay.
"Aku telah bilang, di dunia ini ada setan, kau tidak percaya!"
"Apakah itu setan atau bukan setan?"
Terdengar suaranya See Thong Thian.
"Aku bilang padamu, kita sebenarnya bertemu dengan seorang pandai!"
Oey Yong lantas saja mengintai, maka ia melihat muka Huaw Thong Hay berbelepotan darah dan bajunya See Thong Thian robek tidak karuan.
Melihat dua saudara seperguruan itu rudin demikian, Wanyen Lieh dan Yo Kang menjadi heran.
Mereka lantas menanyakan sebabnya.
"Nasib kita buruk,"
Menyahut Hauw Thong Hay.
"Tadi malam di dalam istana kita bertemu hantu, sepasang kuping aku si Lao Hauw telah kena ditabasnya kutung…"
Wanyen Lieh melihat kupingnya Thong Hay itu, benar lenyap dua-duanya. Ia menjadi heran sekali.
"Masih ngoceh saja!"
See Thong Thian menegur.
"Apakah kita telah tidak cukup memalukan?!"
Thong Hay takut kepada kakak seperguruannya itu, tetapi ia melawan.
"Aku melihat tegas sekali,"
Katanya, membela.
"Satu setan hakim yang mukanya biru kumisnya merah seperti cusee sudah berpekik seraya menubruk aku, begitu aku menoleh, sepasang kupingku tahu-tahu sudah lenyap. Hakim itu mirip benar dengan patung hakim di dalam kuil, kenapa dia bukannya hakim neraka tulen?"
See Thong Thian pun menerangkan, ia cuma bertempur tiga jurus dengan hamkin neraka itu lantas pakaiannya kena disobek rubat-rubit seperti itu.
Mereka itu menjadi heran tanpa pemecahan, dari itu mereka cuma dapat menduga-duga.
See Thong Thian percaya ia berhadapan sama satu jago Rimba Persilatan yang lihay, maka itu ia menyangsikan hantu, tetapi ia pun tidak bisa membuktikan kesangsiannya itu.
Ketika Auwyang Kongcu ditanya, mungkin ia ketahui sesuatu, ia pun menggeleng kepala.
Tengah mereka ini berdiam dengan terbenam dalam keheranan itu, terlihat baliknya Leng Tie Siangjin bersama Pheng Lian Houw dan Nio Cu Ong bertiga.
Mereka datang saling susul, keadaan mereka juga tidak karuan.
Leng Tie Siangjin dengan kedua tangannya tertelikung ke belakang dengan rantai besi.
Pheng Lian Houw dengan muka bengkak dan matang biru mungkin bekas digaploki pulang pergi.
io Cu Ong lebih lucu lagi, ialah kepalanya sudah dicukur licin mirip dengan kepalanya seorang paderi!
Mereka ini, katanya, begitu lekas mereka memasuki istana, akan mencari surat wasiatnya Gak Hui, telah bertemu hantu.
Masing-masing bertemu sama hantu sendiri, ialah satu hantu Bu Siang Kwie, satu malaikat Oey Leng Koan, dan satu lagi toapekkong tanah.
Nio Cu Ong pulang dengan mulutnya memaki kalang-kabutan seraya tangannya mengusap-usap kepalanya yang gundul licin itu.
Pheng Lian Houw dapat menguasi diri, ia berdiam saja.
Leng Tie Siangjin tertelikung hebat sekali, rantai melibat keras kulit dan dagingnya.
Pheng Lian Houw mesti mesti bekerja sekuat tenaganya, baru rantai itu dapat diloloskan, karena itu lengan orang suci dari Tibet itu jadi berdarah.
Mereka ini saling mengawasi saja.
Mereka percaya sudah bertemu sama musuh lihay, maka itu terpaksa mereka menutup mulut.
"Kenapa Auwyang Sianseng masih belum kembali?"
Tanya Wanyen Lieh sesudah mereka itu membungkam sekian lama.
"Setahu dia pun bertemu hantu atau tidak…"
"Auwyang Sianseng sangat lihay, umpama kata ia juga bertemu hantu, tidak nanti ia dapat dikalahkan,"
Berkata Yo Kang. Mendengar jawaban Yo Kang ini, Pheng Lian Houw jengah sendirinya. Oey Yong melihat dan mendengar semua pembicaraan mereka, ia puas sekali.
"Aku telah membelikan topeng pada Ciu Toako, siapa tahu sekarang ia telah perlihatkan pengaruhnya,"
Katanya dalam hati.
"Inilah diluar sangkaanku. Hanya entahlah si tua bangka yang berbisa itu bertemu dengannya atau tidak…"
Nona ini menoleh kepada Kwee Ceng, ia dapatkan si anak muda lagi berlatih terus, maka ia pun menemani.
Pheng Lian Houw semua sudah lapar sekali, dari itu repotlah mereka membelah kayu untuk menyalakan api, untuk membeli beras dan memasak nasi.
Hauw Thong Hay pergi mencari mangkok, di dapur ia melihat itu mangkok besi, ketika ia angkat itu, tidak bergerak, Ia heran hingga ia berseru.
Lagi sekali ia menarik dengan mengerahkan tenaganya, tetap ia tak berhasil.
Oey Yong yang berada di dalam kamar dapat mendengar suara Thong Hay itu.
Ia terkejut.
Ia tahu ancaman bahaya apabila kamar itu ketahuan orang-orang di luar itu, justru merekalah rombongan musuh.
Tidak saja mereka berjumlah besar dan semuanya lihay, Kwee Ceng sendiri tak dapat menggeraki tubuhnya.
Maka itu ia cemas hati, ia menjadi bingung.
See Thong Thian mendengar suara Thong Hay, ia mengatakan adik seperguruannya itu berisik saja.
Adik ini penasaran.
"Kalau begitu, kaulah yang mengambilnya!"
Katanya sengit. Thong Thian menghampirkan, ia mencoba mengangkat.
"Ah…!"
Serunya heran. Ia pun tak berdaya. Berisiknya mereka ini membikin Pheng Lian Houw datang mendekati. Ia mengawasi mangkok itu.
"Pasti ini ada rahasianya,"
Bilangnya kemudian.
"See Toako, coba kau memutarnya ke kiri atau ke kanan."
Oey Yong kaget bukan main.
Ia serahkan pisau belatinya kepada kwee Ceng, ia sendiri memegangi tongkatnya Ang Cit Kong.
Justru itu ia melihat tulang-belulang di pojokan, tiba-tiba ia mendapat pikiran.
Ia lantas mabil kedua buah tengkorak, ia belesaki itu ke dalam buah semangka.
See Thong Thian di luar kamar sudah bekerja, diputarnya mangkok besi itu membuat pintu rahasia terbuka.
Melihat itu, Oey Yong lantas bekerja.
Ia riap-riapakan rambutnya hingga terurai tidak karuan dimukanya, tangannya memegang semangka bertengkorak itu, ia ajukan ke depan, mulutnya memperdengarkan suara meniru hantu.
Hauw Thong Hay yang pertama melihat setan "berkepala dua"
Itu, ia kaget bukan main.
Bukankah mereka itu baru saja diganggu hantu?
Maka itu ia menjerit keras dan lari ngiprit.
Perbuatannya ini dituruti yang lainnya, yang hatinya menjadi ciut.
Hingga disitu tinggal Auwyang Kongcu seorang, yang rebah di atas rumput tanpa bergerak.
Oey Yong tertawa lebar, lalu ia menghela napas lega.
Lekas-lekas ia menutup pula pintu rahasianya.
Sekarang ia mesti berpikir keras, untuk mencari lain jalan guna menyelamatkan diri.
Sebagai orang-orang kangouw lihay, mesti Thong Hay beramai bakal datang pulang.
Selagi si nona berpikir, ia mendengar suara pintu depan dibuka, lalu satu orang bertindak masuk.
Ia menjadi berkhawatir sekali.
Ia lantas mencekal tempulingnya dan tongkatnya diletaki di sampingnya.
Begitu lekas pintu dibuka dan orang terlihat, hendak ia mendahului menimpuk dengan tempuling itu.
Tidak lama terdengarlah suara halus tapi nyaring memanggil-manggil tuan rumah.
Oey Yong menjadi heran.
Itulah suara wanita.
Lekas-lekas ia mengintai.
Tidak keliru pendengarannya itu.
Orang yang baru datang itu benar seorang wanita, yang terus berduduk di sebuah kursi.
Dia berdandan indah seperti seorang nona hartawan.
Karena ia menghadapi kaca, mukanya tidak kelihatan.
Selang sesaat, kembali nona itu memanggil-manggil tuan rumah, yang jawabannya tak juga kunjung tiba.
Oey Yong menjadi heran.
Ia ingat sekarang suara nona itu.
"Dia toh Nona Thia dari Poo-ceng?"
Katanya dalam hati.
Kebetulan itu waktu si nona berpaling.
Maka heran dan giranglah Nona Oey ini.
Tidak salah, nona itu ialah Thia Yauw Kee.
Maka ia menduga-duga sekarang, kenapa nona itu bisa berada di tempat ini.
Sementara itu Sa Kouw, yang tidur layap-layap, bangun juga atas panggilan si nona.
Ia menghampirkan.
"Tolong bikinkan aku barang makanan,"
Nona Thia minta.
Si tolol menggeleng kepala, tandanya tak ada barang makanan, tetapi justru itu, hidungnya mencium bau nasi baru matang, sambil menoleh, ia lari ke dapur.
Untuk herannya ia menampak nasih putih di dalam tempulo.
Itulah nasi Wanyen Lieh beramai.
Ia menjadi girang sekali.
Tanpa cari tahu darimana datangnya nasi itu, ia menyendoki satu mangkok untuk nona tetamunya, ia sendiri turut dahar pula.
Tidak biasa, nona Thia dahar tanpa lauk pauknya, nasi itu pun nasi keras, maka itu baru beberapa suap, ia sudah meletaki mangkok serta sumpitnya.
Sa Kouw sendiri memakan habis tiga mangkok, setelah mana ia menepuk-nepuk perutnya, romannya menandakan ia sangat puas.
"Nona aku numpang tanya,"
Nona Thia menanya.
"Tahukah kau dusun Gu-kee-cun dari sini berapa jauh lagi?"
"Gu-kee-cun?"
Menyahut si tolol.
"Ini justru Gu-kee-cun. Hanya aku tak tahu berapa jauh terpisahnya.."
Nona Thia itu agaknya likat, mukanya menjadi bersemu dadu, kepalanya terus ditunduki dan tangannya membuat main ujung bajunya.
"Oh, kiranya inilah Gu-kee-cun!"
Katanya kemudian.
"Sekarang aku hendak tanyakan kau tentang satu orang, apakah kau tahu….kau tahu….."
Sa Kauw tidak menanti hingga orang mengucapakan habis pertanyaannya, ia menggoyang-goyang kepalanya, terus ia berlari keluar. Oey Yong sendiri, yang mendengar pertanyaan nona Thia jadi berpikir.
"Ah, siapakah yang ia cari di sini? Ya, ia muridnya Sun Put Jie, mungkin ia dititahkan guru atau paman gurunya mencari Yo Kang yang ada muridnya Khu Cie Kee…"
Sambil berpikir, nona Oey mengawasi nona Thia itu.
Dia duduk dengan toapan, pakaiannya indah dan rapi, tangannya mengusap-usap bunga di samping kupingnya.
Mukanya pun bersemu merah.
Entah apa yang ia lagi pikirkan.
Oey Yong mengawasi terus.
Itu waktu terdengar pula tindakan kaki di luar rumah maka, lalu satu orang muncul sambil memanggil-manggil tuan rumah.
"Sungguh kebetulan!"
Berkata Oey Yong di dalam hatinya.
"Kenapa orang-orang yang kukenal di kolong langit ini justru pada berkumpul di Gu-kee-cun ini?"
Orang baru itu ialah Liok Koan Eng, tuan muda dari Kwie-in-chung.
Ia berdiri di muka pintu.
Heran ia melihat nona Thia.
Ia tidak menegur, hanya kembali ia memanggil tuan rumah.
Nona Thia melihat seorang muda, ia malu dan likat, ia lantas menoleh ke arah lain.
Koan Eng pun heran, hingga ia tanya dirinya sendiri.
"Kenapa ada nona cantik di sini dan dia sendirian saja?"
Ia bertindak masuk, terus ke dapur. Ia tidak menemukan siapa juga, maka agaknya ia bernafsu kapan ia mendapat lihat nasi di tempulo.
"Aku lapar, hendak aku minta beberapa mangkok untukku, bolehkah bukan nona?"
Ia tanya nona Thia. Yauw Kee menganggap lucu orang minta nasi yang bukan kepunyaannya sendiri, ia tertawa.
"Nasi itu bukan kepunyaanku, kau makanlah!"
Katanya tertawa. Tanpa banyak bicara, Koan Eng lantas berdahar. Ia makan dua mangkok.
"Terima kasih,"
Katanya kemudian seraya memberi hormat kepada nona Thia.
"Sekarang aku mohon menanya, adakah nona ketahui dusun Gu-kee-cun berapa jauh terpisahnya dari sini?"
Nona Oey menjadi bertambah heran, nona Thia pun tak terkecuali.
"Kiranya dia juga mencari dusun Gu-ke-cun,"
Pikir nona Oey.
"Tempat ini justru desa Gu-ke-cun,"
Menyahut Yauw Kee sambil ia membalas hormatnya si anak muda. Koan Eng menjadi girang.
"Bagus!"
Katanya.
"Sekarang aku minta tanya nona tentang satu orang…"
Yauw Kee memikir untuk memberitahukan bahwa ia bukannya penduduk Gu-kee-cun itu, atau ia ingat baiklah ia dengar dulu, siapa yang dicari pemuda ini. Maka itu ia menanti.
"Ada seorang muda she Kee nama Ceng, entah dia tinggal di rumah yang mana di sini?"
Koan Eng tanya.
"Apakah ia berada di rumahnya?"
Yauw Kee heran, lebih-lebih Oey Yong.
"Mau apa dia mencari engko Ceng?"
Putrinya Tong Shia tanya dirinya sendiri.
Yauw Kee tidak menyahut, ia hanya likat hingga mukanya jadi merah, lekas-lekas ia menunduk.
Oey Yong mendapat lihat wajah dan kelakuan orang itu, saking cerdiknya ia dapat menerka hari orang.
"Ah, kiranya!"
Pikirnya.
"Engko Ceng telah menolongi dia di Poo-eng, rupanya ia lantas mencintainya secara diam-diam…"
Oey Yong polos dan jujur, ia tidak kenal iri atau cemburu, maka itu mengetahui ada orang yang mencintai Kwee Ceng, justru ia menjadi girang sekali.
Memang tidak keliru dugaan putrinya Oey Yok Su ini.
Yauw Kee ingat budinya Kwee Ceng.
Ia memang dibantu oleh Lee Seng dan lainnya dari Kay Pang, Partai Pengemis, tetapi mereka bukannya tandingannya Auwyang Kongcu, tanpa ada pemuda itu, pastilah ia bakal terhina.
Melihat Kwee Ceng muda, romannya tampan, dan orang pun jujur, mulia hatinya dan gagah, lantas ia menjadi ketarik dan jatuh hati, maka seperginya pemuda itu, ia ingat dan memikirkannya tak hentinya.
Lama-lama tak dapat ia menguasai dirinya lagi, setelah memikir pergi pulang, pada suatu malam ia pergi secara diam-diam dari rumahnya.
Ia mengerti ilmu silat tetapi belum pernah ia melakukan perjalanan seorang diri dan jauh, dia asing dengan segala apa kaum kangouw.
Tetapi ia memberanikan diri.
Ia mencari dusun Gu-kee-cun sebab Kwee ceng membilang ia berasal dari dusun itu dengan kotanya Lim-an.
Untung nona Thia, karena dandannya indah, di tengah jalan tidak ada orang yang mengganggunya, sampai ia tiba di Gu-kee-cun, hanya ia belum tahu itulah desa yang ia cari itu.
Maka itu, ia minta keterangan dari Sa Kouw.
Begitu ia mendapat jawaban, ia menjadi likat sendirinya, pikirannya pun kacau.
Dari tempat jauh ia datang, setelah tiba, ia mengharap-harap Kwee Ceng tak ada di rumah…kata ia di dalam hatinya.
"Sebentar aku mencuri datang ke rumahnya, setelah melihat dia, aku akan lantas berangkat pulang lagi. Aku tidak boleh membikin dia ketahui datangku ini. Kalau dia melihat aku, aku malu sekali…"
Diluar dugaan Yauw Kee, Koan Eng datang ke situ, dan pemuda ini menanyakan Kwee Ceng.
Ia kaget dan heran.
Bukankah ia tengah "bersalah"?
Ia mau menduga si anak muda telah pecahkan rahasia hatinya, ia menjadi malu sendirinya.
Setelah berdiam sekian lama, ia bangun berdiri, dengan niat mengangkat kaki.
Tapi ia belum sempat ia mewujudkan itu, sebab mendadak dari sebelah luar mongol satu kepala orang yang romannya jelek.
Cepat sekali, kepala itu diperengkatkan.
Ia terkejut hingga ia bertindak mundur.
Lekas sekali, kepala dengan muka jelek itu nongol pula, bahkan sekarang ia mengasih dengar suaranya.
"Hantu kepala dua, kalau kau berani, marilah muncul di terangnya matahari! Sam-tauw-kauw Hauw Looya bersedia untuk melayani kau bertempur!"
Dua-dua Liok Koan Eng dan Thia Yauw Kee menjadi heran. Adakah mereka yang ditantang? Kalau benar, kenapakah? "Hm!"
Oey Yong menagsih dengar suara perlahan.
"Dia toh datang pula!"
Tapi nona ini menjadi berkhawatir untuk keselamatan Yauw Kee dan Koan Eng itu.
Terang mereka ini bukan tandingannya rombongan Thong Hay ini.
Maka ia pikir baiklah mereka berdua itu lekas mengangkat kaki dari situ.
Daya apa dia ada punya?
Memang Thong Hay muncul cepat sekali.
Tadi ialah yang kabur lebih dulu, hingga kawan-kawannya turut lari.
Kawan-kawan itu menyangka munculnya pula si hantu istana, mereka lari jauh.
Ia lari belum jauh, lantas ia berhenti, dengan begitu ia jadi ditinggalkan semua kawannya.
Ia bertabiat keras, hatinya menjadi panas.
"Hantu itu tak dapat berbuat apa-apa di siang hari bolong!"
Demikian ia dapat berpikir.
"Tidak, aku si Lao Hauw tidaak takut, biar aku balik pula untuk singkirkan hantu itu! Biar mereka itu melihat aku!"
Dengan tindakan lebar, ia kembali ke rumah makan. Meski begitu, hatinya toh kebat-kebit. Ia heran apabila ia mengintai dan ia dapat melihat Koan Eng dan Yauw Kee. Pikirnya.
"Celaka betul, sekarang hantu kepala dua itu mencipta diri jadi setan pria dan setan wanita! Oh, Lao Huaw, kau mesti waspada!"
Begitulah ia menantang.
Koan Eng dan Yauw Kee berdiam sesaat, lantas mereka tidak memperdulikannya.
Mereka menduga lagi berhadapan sama orang yang otaknya tak beres.
Thong Hay menantang dengan sia-sia.
Si setan pria dan wanita tidak muncul menyambut tantangannya itu.
Ia jadi lebih percaya bahwa setan tidak munculkan diri diwaktu siang.
Karena itu, hatinya menjadi semakin besar.
Untuk menyerbu, ia ragu-ragu.
Kemudian ia ingat pembilangan bahwa hantu takut sama kotoran manusia atau air kencing.
"Kenapa aku tidak hendak mencoba?"
Pikirnya Ia pun lantas mengambil keputusan, maka ia pergi akan mencari kakus.
Tidak sulit untuk mencari tempat kotoran itu.
Di samping rumah makan ada sebuah.
Saking penasaran, ia melupakan segala apa.
Untuk membungkus najis itu, ia pakai bajunya ia loloskan.
Dengan membawa kotoran itu, ia kembali ke rumah makan.
Ketika ia sampai, ia lihat kedua setan muda mudi itu lagi berduduk diam.
Ia menjadi gusar sekali.
"Hantu yang bernyali besar!"
Ia lantas membenatk.
"Kau lihat Hauw Looya kamu akan membikin segera memeprlihatkan diri asalmu!"
Lantas ia bertindak masuk, tangan kirinya mencekal senjatanya bercagak tiga, tangan kanannya membelak bungkusan najis. Koan Eng dan Yauw Kee terperanjat melihat "si edan"
Kembali, mereka melengak. Mereka mengawasi dengan menjublak. Di sebelah itu, hidung mereka lantas mencium bau busuk yang santar. Hauw Thong Hay sendiri sudah berpikir.
"Aku dengar orang bilang, setan pria kalah jahat dengan setan wanita, sekarang baik aki hajar dulu yang wanita!"
Maka itu, ia menimpuk ke arah Yauw Kee.
Nona Thia ini kaget hingga ia berteriak, ketika ia hendak berkelit, Koan Eng mendahului, menolong ia menangkis serangan dengan sebuah bangku.
Hanya hebat tangkisan itu.
Bungkusan terhajar jatuh ke lantai, baunya berhamburan, siapa mendapat cium, ia pasti muak.
Thong Hay sendiri sudah lantas berkoak.
"Hantu kepala dua sudah pulang ke asalnya!"
Dan koakannya ini disusul sama serangannya menikam kepada nona Thia!
Dia semberono tetapi ilmu silatnya cukup baik.
Maka itu hebatlah tikamannya ini.
Koan Eng dan Yauw Kee bertambah heran.
Mereka sekarang percaya, orang bukan orang edan hanya seorang gagah dari Rima Persilatan.
Tidak ayal lagi, Koan Eng menggunai bangku untuk menangkis pula tikaman itu.
"Kau siapa tuan?"
Ia menanya.
Ia tidak mau berlaku tak tahu aturan.
Hauw Thong Hay tidak memperdulikan pertanyaan itu, ia hanya menuruti saja kehendak hatinya.
Begitulah ia menyerang beruntun hingga lagi tiga kali.
Dengan terpaksa Koan Eng membela diri, sambil menangkis berulang-ulang, ia masih menanyakan nama orang.
Thong Hay bertempur dengan hati lega.
Ia melihat orang mengerti ilmu silat tetapi tidak selihay musuh tadi malam.
Karena ini, sekarang ia suka bicara.
Ia menyahuti.
"Hantu, kau ingin mengetahui namaku supaya kau bisa menggunai jampemu yang berbahaya? Tidak, tuan besarmu justru tidak hendak memberitahukan namanya!"
Ia menggeraki cagaknya, ia membikin gelangnya bersuara nyaring, lalu ia mengulangi serangannya secara hebat.
Koan Enng segera juga keteter dan terdesak ke tembok.
Ia memang kalah gagah dan senjata bangku juga tidak cocok untuknya.
Tidak ada ketika untuknya mencabut golok di pinggangnya.
Ia terdesak ke tembok di betulan lobang tempat Oey Yong mengintai.
Teranglah Hauw Thong Hay telah melihat ketikanya yang baik dengan hebat ia mengirimkan tusukannya.
Masih sempat Koan Eng berkelit, maka itu, ujung senjata musuh menikam ke tembok di samping lobang.
Koan Eng berlaku sebat, belum lagi musuh mencabut senjatanya, ia mendahulukan menghajar dengan bangkunya.
Tapi Thong Hay lihay, matanya awas, gesit gerakannya, sebelah kakinya terangkat naik, mendahului menendang lengan lawannya itu, yang mengenai tepat, sedang dengan tangan kirinya ia membarengi menyerang.
Koan Eng terkejut.
Bangkunya terlepas dari tangannya.
Justru itu ia pun mesti berkelit dari serangan tangan kiri.
Tengah ia mendak, Thong Hay sudah mencabut senjatanya yang nancap di tembok itu.
Thia Yauw Kee, yang melihat bahaya, lompat kepada Koan Eng, untuk menolongsi si anak muda menghunus goloknya, untuk diserahkan kepada anak muda itu.
"Terima kasih!"
Kata Koan Eng seraya menyambuti golok dari tangan si nona.
Ia kagum untuk kelincahan si nona itu, yang dalam saat genting seperti itu dapat membantu padanya.
Sebab gerakannya Thong Hay, ia sudah menyerang pula.
Disaat senjata lawan hampir sampai didadanya, Koan Eng menangkis dengan keras, maka keras juga bentrokan kedua senjata, hingga muncratlah lelatu apinya.
Thong Hay merasakan telapakan tangannya sakit.
Pertempuran berlanjut terus, kaki keduanya telah menginjak kotoran.
Selama itu Thong Hay bergelisah.
Nyatanya lawannya itu tangguh.
"Perlihatkan diri asalmu!"
Ia membentak sambil menikam ke arah perut. Itulah pukulan "Menolak peragu menuruti aliran air". Menampak ilmu silat itu, Koan Eng lompat mundur tiga tindak.
"Tahan dulu!"
Ia berseru.
"Kau pernah apakah dengan Kwie-bun Liong Ong?"
Thong Hay melirik dengan tajam.
"Ha, hantu, kau kenal juga nama sukoku!"
Katanya dingin.
Koan Eng menduga kepada orang gila, yang menyerang ia kalng-kabutan, atau orang salah menyangka, tetapi sekarang, mendengar orang menyebut siri sebagai adik seperguruan dari See Thong Thian, tahulah ia bahwa orang ini datang menuntut balas untuk Hong Ho Su Koay, Empat Siluman dari sungai Hoang Hoo.
Ia jadi hendak membalaskan sakitnya Toat-pek-pian Ma Ceng Hiong.
Karena ini, ia lantas berkelahi semakin hebat.
Tidak lama, kembali Koan Eng kena terdesak, tidak peduli ia berlaku mati-matian.
Yauw Kee dapat melihat si pemuda terancam bahaya.
Mulanya ia berdiam saja di pojokan menyaksikan pertempuran itu, ia pun takut pada kotoran, tetapi sekarang menampak ancaman bahaya itu, tidak dapat ia berdiam terus-terusan.
Ia mencabut pedangnya sambil mengajukan diri.
"Jangan takut, akan aku bantu kau!"
Ia berkata.
Ia bahkan segera menikam punggung lawan.
Ia murid kepala dari Ceng Ceng Sanjin Sun Put Jie, dari itu ia adalah orang dari kaum Coan Cin Pay.
Majunya nona ini ada dalam dugaan Hauw Thong Hay.
Tidak demikian dengan Koan Eng.
Maka pemuda ini menjadi heran berbareng girang, hingga terbangun semangatnya, kalau tadi ia repot membela diri, hingga ia tidak dapat melakukkan penyerangan balasan, sekarang ia dapat melakukan itu.
Mulanya Thong Hay jeri juga, ia khawatir si nona lihay, tetapi selang beberapa jurus, legalah hatinya.
Dia mendapat kenyataan nona ini kurang latihannya.
Maka kemudian, walaupun dikepung berdua, ialah yang dapat lebih banyak menyerang.
Oey Yong dari dalam kamar mengikuti terus pertempuran itu.
Ia menjadi berkhawatir.
Ia mengetahui dengan baik, lama-lama muda-mudi itu bisa becelaka di tangan musuh yang telengas ini.
Ia berkhawatir sebab ada keinginannya untuk membantui tetapi keinginan itu tidak dapat diwujudkan.
Mana bisa ia tinggalkan Kwee Ceng?
"Nona kau pergilah!"
Berkata Koan Eng kemudian.
"Urusan di sini bukan urusanmu!"
Yauw Kee tak mau mundur.
Ia tahu pemuda itu mengkhawatirkan keselamatanya.
Untuk kebaikan hati itu, ia merasa sangat bersyukur.
Tentu sekali, tidak dapat ia mengangkat kaki membiarkan kawan itu menghadapi bahaya maut.
Maka itu ia menggeleng kepalanya.
"Kita bermusuh, maka itu kau carilah aku sendiri si orang she Liok!"
Koan serukan Thong Hay.
"Lekas kau membuka jalan untuk nona ini mengundurkan diri!"
Thong Hay tertawa lebar.
Sekarang ia telah memperoleh kepastian muda-mudi ini bukannya hantu atau iblis, hatinya menjadi besar.
Ia pun sudah menang di atas angin!
Bukankah si nona pun cantik manis?
"Hantu pria aku hendak tangkap, iblis wanita aku hendak bekuk juga!"
Katanya dingin. Ia mengulangi serangannya yang hebat, hanya terhadap Thia Yauw Kee, ia tidak menggunai tenaga sepenuhnya. Koan Eng menjadi bertambah khawatir.
"Nona lekas kau menyingkir!"
Ia serukan nona itu.
"Aku berterima kasih padamu!"
"Kau she Liok?"
Tanya si nona perlahan tanpa menghiraukan anjuran orang untuk mengangkat kaki.
"Benar,"
Menyahut Koan Eng.
"Nona sendiri she apa dan murid siapakah?"
"Guruku she Sun, orang menyebutnya Ceng Ceng Sanjin,"
Sahut nona Thia.
"Aku sendiri…aku…"
Ia hendak menyebut namanya tetapi ia malu.
"Nona,"
Berkata Koan Eng.
"Akan aku tahan dia, kau pergilah menyingkir! Asal aku dapat menolong jiwaku, nanti aku susul padamu!"
Mukanya Yauw Kee merah. Ia tidak menjawab itu anak muda, hanya ia membentaki lawannya.
"Eh, siluman, jangan kau lukakan dia! Katahui olehmu, guruku ialah Sun Cinjin dari Coan CinPay dan dia segera bakal datnag kemrai!"
Nama Coan Cin Pay sangat terkenal, maka mendengar disebutnya partai itu, hati Thong Hay tercekat.
Bukankah Thie-kak-sian Giok Yang Cu Ong Cie It pernah memperlihatkan kepandaiannya di dalam istana Chao Wang?
Meski begitu, ia tidak sudi mengasih lihat kelemahannya.
Maka itu ia sengaja berseru.
"Biarnya tujuh siluman Coan Cit Cit Cu datang kemari, hendak aku membinasakan semuanya!"
"Orang bosan hidup, kau ngaco belo!"
Mendadak terdengar seruan dari arah luar.
Kaget ketiga orang itu, dengan sendirinya mereka pada lompat mundur.
Koan Eng khawatir Thong Hay main gila, ia tarik Yauw Kee ke belakangnya, ia lantas berdiri di depan si nona seraya ia bersiap dengan goloknya.
Semua mata mengawasi ke luar.
Di ambang pintu berdiri seorang tojin atau imam usia muda, romannya tampan, tangannya mencekal kebutan atau hudtim.
Ia bersenyum dingin ketika ia menegaskan pula.
"Siapakah yang membilang hendak membinasakan Coan Cin Cit Cu?"
"Itulah aku Hauw Looya yang membilangnya!"
Sahut Thong Hay takabur.
"Kau mau apa?!"
"Baiklah! Sekarang kau cobalah membunuhnya!"
Menantang si imam muda.
Kata-kata ini disusul sama gerakan tubuhnya seraya kebutannya mengebut kemuka si Ular Naga Kepala Tiga.
Ketika itu selesailah Kwee Ceng dengan latihannya, tempo kupingnya dapat mendengar suara berisik di luar kamar itu, ia lantas mengintai.
"Mungkinkah benar imam muda ini anggota Coan Cin Cit Cu?"
Oey Yong tanya.
Kwee Ceng segera mengenali imam muda itu, ialah In Cie Peng muridnya Tiang Cun Cu Khu Cie Kee.
Dialah yang dua tahun lampau pergi ke Mongolia menyampaikan surat gurunya kepada Kanglam Liok Koay dan dalam pibu, pertandingan itu, ia kena dikalahkan dia itu.
Maka itu, ia beritahukan si nona Oey siapa imam itu.
"Dia pun tak dapat melawan Hauw Thong Hay,"
Berkata Oey Yong sambil menggeleng-geleng kepala.
Setelah lewat dua tahun, kepandaiannya In Cie Peng telah bertambah, walaupun demikian, berkelahi sama-sama Liok Koan Eng mengepung Hauw Thong Hay mereka cuma berimbang saja.
Yauw Kee menonton dengan bengong.
Ia terkejut katika ia dipegang oleh Koan Eng dan ditarik ke belakang si anak muda, habis mana anak muda itu menyerang Thong Hay yang menyambuti serangannya In Cie Peng.
ia tengah mengusut-usut tangannya itu tatkala ia mendengar suara Koan Eng.
"Nona, awas!"
Itulah Hauw Thong Hay, yang menggunai kesempatannya akan membokongi si nona, yang ia tikam pundaknya.
Ia tidak menyangka akan serangan itu, atas pemberian ingat si anak muda, ia lantas berkelit, setelah mana dalam murkanya ia maju menyerang.
Dengan begitu, Thong Hay jadi dikerubuti bertiga.
Walaupun ia gagah, sekarang Thong Hay bingung juga.
Memang nona Thia ini tidak lihay, akan tetapi dikepung berdua, mereka sudah berimbang, dengan bertambah satu tenaga lagi, ia merasa berat.
Ia menjadi cemas sendirinya, hendak ia meloloskan diri, tetapi kepungan rapat.
In Cie Peng mempermainkan kebutannya di muka lawannya itu, lama-lama Thong Hay menjadi seperti kabur matanya, maka satu kali ia alpa, gerakannya kurang sebat, ia merasakan pahanya sakit, sebab goloknya Koan Eng mampir di pahanya itu.
Ia menjadi murka sekali, ia mendamprat leluhur lawannya.
Masih si Ular Naga Kepala Tiga membuat perlawanan.
Karena luka dikakinya itu, kelincahannya menjadi berkurang.
Masih ia diganggu kebutan Cie Peng, yang membikin ia kewalahan.
Kapan tiba saatnya ia mencoba menikam, Cie Peng libat gaetannya itu, hingga keduanya jadi saling tarik.
Biar bagaimana, Thong Hay menang tenaga, kesudahannya saling tarik itu, kebutannya Cie Peng kena tertarik hingga terlepas.
Tapi menang disini, Thong Hay kalah dilain pihak.
Dengan mengadu tenaga sama Cie Peng, ia menjadi lengah, maka juga ujung pedangnya Yauw Kee menusuk pundak kanannya, atas mana terlepaslah tempulingnya yang bercagak tiga!
In Cie Peng lepas kebutannya itu, ia tidak menjadi kaget atau bingung, bahkan ia memperlihatkan kegesitannya, ialah justru lawannya kena tertikam, ia maju untuk menotok.
Tepat ia mengenakan jalan darah hian-kie, atas mana, Sam-tauw-kauw roboh seketika.
Koan Eng tidak berlaku ayal, ia berlompat untuk menubruk, lalu dengan menggunai ikat pinggang lawan, ia ringkus lawannya itu, kedua tangan siapa ditelikung.
"Lihat, muridnya Coan Cin Cit Cu saja kau tidak sanggup lawan!"
Kata In Cie Peng mengejek.
"Masihkah kau hendak membinasakan semua Coan Cin Cit Cu?"
Thong Hay gusar, ia memaki kalang kabutan.
Ia kata ia toh dikepung bertiga.
Cie Peng tidak sabaran, ia sobek ujung baju orang dan pakai itu untuk menyumbat mulut orang yang kotor itu, maka sekarang, si Ular Naga Tiga Kepala melainkan bisa mendelik mata dan mukanya merah, mulutnya tak bersuara lagi.
"Suci,"
Berkata Cie Peng kepada Yauw Kee sambil ia memberi hormatnya.
"Kau adalah murid dari Sun Susiok, maka terimalah hormatnya suteemu."
Yauw Kee membalas hormat sambil merendahkan diri.
"Entah suheng murid paman guru yang mana?"
Ia bertanya.
"Siauwtee ialah In Cie Peng, muridnya Tiang Cun Cu,"
Menyahut saudara asal seperguruan ini.
Yauw Kee tidak pernah keluar pintu, ia tidak kenal keenam saudara gurunya tetapi ia pernah mendengar dari gurunya tentang mereka itu, maka tahulah ia siapa Tiang Cun Cu itu.
"Kalau begitu, In Suheng, kaulah suhengku,"
Katanya perlahan.
"Adikmu ini she Thia, kau panggil saja sumoy padaku."
In Cie Peng bersenyum melihat sumoy itu, adaik seperguruannya, tetapi meski begitu, ia melayani berbicara, setelah mana ia belajar kenal dengan Liok Koan Eng.
Orang she Liok itu memberitahukan she dan namanya tetapi ia tak menyebutkan nama dan gelaran ayahnya dan menyebut juga pekerjaannya sebagai kepala perampok di telaga Thay Ouw, ia cuma menerangkan, ia bermusuh dengan Hauw Thong Hay sebab ia telah membunuh Ma Ceng Hiong.
"Orang edan ini kosen, dia tidak dapat dimerdekakan!"
Berkata nona Thia.
"Biarlah aku lantas binasakan dia!"
Berkata Liok Koan Eng.
"Ah, jangan!"
Mencegah nona Thia, yang hatinya pemurah.
"Tidak apalah dia tidak dibikin mampus!"
Kata Cie Peng tertawa.
"Sumoy, sudah berapa lama kau berada disini?"
"Baru saja,"
Sahut si nona dengan wajahnya merah jengah. Cie Peng mengawasi muda-mudi ini, pikirannya bekerja.
"Mereka rupanya pasangan, jangan aku berdiam lama di sini membuat mereka muak saja…"
Pikirnya. Maka ia lantas berkata.
"Aku sedang menjalankan tuga yang diberikan suhu. Aku diperintah pergi ke dusun Gu-kee-cun guna menyampaikan berita kepada satu orang. Nah, sampai di sini saja, harap kita bisa bertemu pula!"
Yauw Kee masih likat.
"In Suheng, kau sedang mencari siapa?"
Tanyanya perlahan. Cie Peng agaknya bersangsi, tetapi sejenak kemudian, ia pikir.
"Thia sumoy orang sendiri, dia berjalan sama anak muda ini, dia pun bukan orang lain, tidak ada halangannya untuk aku bicara."
Maka ia menjawab bahwa ia lagi mencari seorang kenalan she Kwee.
Keterangan ini membuatnya beberapa orang terkesiap hatinya.
Mereka yang berada di dalam kamar rahasia, begitu pun Liok Koan Eng, bahkan pemuda she Liok ini lantas bertanya.
"Adakah ia yang bernama Ceng?"
"Benar,"
Sahut Cie Peng memberikan kepastian.
"Saudara Liok kenal sahabat she Kwee itu?"
"Siauwtee justru hendak mencari Kwee Susiok itu,"
Menyahut Koan Eng.
"Eh, kau memanggil dia susiok?"
Tanya Cie Peng dan Yauw Kee berbareng. Nona ini pun heran waktu pertama mendengar Cie Peng menyebut "sahabat she Kwee"
"Ayahku setingkat derajatnya dengannya, maka itu siauwtee memanggil susiok,"
Koan Eng menjelaskan.
(Susiok artinya paman guru) Tingkat Liok Seng Hong sederajat dengan Oey Yong, dengan sendirinya Koan Eng mesti memanggil paman guru kepada Kwee Ceng.
Mengenai Kwee Ceng itu, Yauw Kee tidak membilang suatu apa akan tetapi perhatiannya tertarik.
"Apakah kau telah bertemu padanya. Ada di mana dia sekarang?"
Cie Peng menanya dengan cepat.
"Siauwtee pun baru tiba di sini, selagi siauwtee hendak mencari keterangan, kita bertemu ini orang edan, tidak karuan dia menyerang kita,"
Menerangkan Koan Eng.
"Kalau begitu, mari kita sama-sama pergi mencarinya,"
Kata Cie Peng kemudia. Oey Yong dan Kwee Ceng saling mengawasi. Mereka telah mendapat dengar semua pembicaraannya ketiga orang itu.
"Mereka pasti bakal kembali,"
Kata Kwee Ceng.
"Yongjie, kau bukalah pintu."
"Mana dapat?"
Si nona berkata.
"Mereka mencari kamu tentu untuk urusan penting. Kau lagi beristirahat, mana dapat kau memecah pikiranmu?"
"Tetapi urusannya mesti sangat penting,"
Si anak muda bilang.
"Biarnya langit ambruk, tidak nanti aku membuka pintu,"
Si nona kata pasti.
Hati Kwee Ceng tidak tenang, tetapi Oey Yong benar.
Ia pun khawatir si nona menjadi berduka.
Maka terpaksa ia berdiam saja, melanjuti istirahatnya itu.
Benar saja, selang tidak lama, Koan Eng bertiga kembali ke rumah makannya Sa Kouw.
Kaon Eng berduka, katanya.
"Di kampung halamannya sendiri susiok tidak dapat dicari. Bagaimana sekarang?"
"Urusan penting apakah itu antara kamu berdua, saudara Liok?"
Cie Peng tanya Koan Eng.
"Bolehkah aku ketahui itu?"
Sebenarnya Koan Eng tidak suka memberitahu, tetapi ketika ia menampak wajah nona Thia, ia mengubah pikirannya dalam sekejap.
"Omonganku panjang,"
Ia menyahut.
"Biarlah aku bersihkan dulu kotoran di sini, nanti baru kita bicara."
Di rumahnya Sa Kouw ini, sapu pun tidak ada, maka itu Koan Eng dan Cie Peng menggunai rumput untuk menyapu kotoran.
Setelah itu ketiganya duduk menghadapi meja.
Koan Eng hendak mulai bicara ketika Yauw Kee mencegah.
"Tunggu dulu!"
Katanya seraya ia berbangkit bertindak mendekati Hauw Thong Hay. Ia memotong sejuwir ujung baju orang tawanan itu, yang mana ia pakai menyumpal kedua kupingnya dia itu.
"Biar dia jangan mendapat dengar!"
Ia menambahkan dengan tertawa.
"Kau teliti, nona!"
Koan Eng memuji. Ia pun tersenyum. Oey Yong dalam tempat persembunyiannya tertawa di dalam hatinya. Pikirnya.
"Kau masih bicara tentang teliti! Sudah kami berdua, sukar untuk mengetahuinya, di sana pun ada rebah Auwyang Kongcu, kau masih belum ketahui juga……"
Thia Yauw Kee masih hijau, inilah tidak heran.
In Cie Peng biasa mengikuti gurunya tetapi ia dasarnya semberono.
Sedang Koan Eng, yang biasa memerintah, kurang waspada.
Demikian mereka berbicara, bertindak, tanpa memeriksa dulu tempat di sekitarnya.
Nona Thia mendapatkan kuping Thong Hay telah terpapas, ia tercengang, tetapi hanya sejenak.
"Sekarang kau boleh bicara!"
Katanya tertawa pada Koan Eng habis ia menyumbat. Untuk sesaat, agaknya pemuda she Liok itu bersangsi.
"Ah, darimana aku harus mulai?"
Katanya.
"Sekarang aku lagi mencari Kwee susiok. Sebenarnya tidak seharusnya aku pergi mencari tetapi tanpa mencari, tak dapat…."
"Inilah aneh!"
Berkata Cie Peng.
"Memang. Aku mencari Kwee Susiok bukan untuk urusannya sendiri hanya untuk keenam gurunya."
"Ah, Kanglam Liok Koay?"
Cie Peng tanya seraya menepuk meja.
"Mungkin kita ada bersamaan tujuan. Sekarang mari kita masing-masing menulis di tanah, lalu minta Thia sumoy yang melihatnya, cocok atau tidak."
Belum lagi Koan Eng menyahuti, sambil tertawa Yauw Kee mendahului.
"Bagus! Nah putarlah tubuhmu dan menulislah!"
In Cie Peng dan Liok Koan Eng memegang masing-masing sebatang puntung, sambil belakang-membelakangi, mereka sudah lantas mencoret-coret di tanah.
"Thia Sumoy!"
Kemudian kata Cie Peng tertawa.
"Kau lihat tulisan kita sama atau tidak?"
Yauw Kee melihat coretan mereka itu.
"In Suheng, kau menduga keliru,"
Katanya perlahan.
"Tulisan kamu tidak sama."
"Ah!"
Seru Cie Peng sambil berbangkit. Yauw Kee tertawa dan menambahkan.
"Kau menulis 'Oey Yok Su' dan dia menggambar sebatang bunga tho."
Oey Yong heran.
"Mereka mencari engko Ceng, mengapa toh ada sangkutannya sama ayahku?"
Ia menduga-duga. Lalu terdengar suara Koan Eng perlahan.
"Apa yang ditulis In Suheng adalah nama dari kakek guruku, dan siauwtee tidak berani menulisnya langsung…"
"Oh, kakek gurumu?"
Kata Cie Peng terperanjat.
"Kalau begitu, pikiran kita sama saja. Bukankah Oey Yok Su itu tocu dari pulau Tho Hoa TO?"
Yauw Kee heran.
"Oh, kiranya begitu!"
Katanya.
"Karena saudara Liok ada orang kaum Tho Hoa To,"
Berkata In Cie Peng.
"Dengan begitu dengan mencari Kanglam Liok Koay, kau tentunya bermaksud tak baik untuk mereka itu…"
"Sebaliknya, suheng…"
Cie Peng tidak puas orang omong sangsi-sangsi.
"Oleh karena saudara Liok tidak mengangap aku sebagai sahabat, sudahlah, tak ada gunanya untuk kita bicara banyak-banyak,"
Katanya.
"Ijinkanlah aku meminta diri."
Ia lantas berbangkit dan memutar tubuh, untuk berlalu.
"Tunggu, In Suheng!"
Mencegah Koan Eng.
"Aku hendak menutur sesuatu, aku pun hendak memohon bantuanmu."
Adalah tabiat Cie Peng yang ia paling senang kalau orang memnita apa-apa padanya, dari itu ia lantas menjadi girang.
"Baiklah!"
Katanya.
"Sekarang kau boleh bicara!"
"In Suheng,"
Berkata Koan Eng menerangkan.
"Kau adalah orang Coan Cin Pay, maka itu bukankah ada semacam tugas dari kamu umpama kata kau mendengar sesuatu tentang lain orang, kau akan lantas memberitahukan atau mengisikinya supaya orang itu berhati-hati dan berjaga-jaga? Sekarang, andaikata, ada salah seorang dari pihak seatasan kau hendak mencelakai seseorang, dan kau mengetahuinya itu, pantas atau tidak kalau kau mengisiki orang itu untuk lari menyingkirkan diri?"
In Cie Peng seperti dapat menduga maksud orang. Ia menepuk pahanya.
"Aku mengerti sekarang,"
Katanya.
"Teranglah di antara kamu pihak Tho oa To ada orang yang tengah menghadapi kesulitan. Nah, kau bicaralah!"
"Di dalam perkara ini,"
Berkata Koan Eng.
"Jikalau aku memeluk tangan menonton saja, aku jadi berbuat tak selayaknya, sebaliknya, apabila aku mencampurnya tahu, aku jadi menentang kaumku sendiri. Maka itu, In Suheng, walaupun aku ingin memohon bantuanmu, tak dapat aku membuka mulutku…"
Cie Peng mau menduga, akan tetapi karena orang tidak menjelaskannya, ia pun tidak dapat mengambil putusan, maka itu ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Ia nampaknya likat sendiri.
Yauw Kee memandang kedua orang itu, ia mendapat jalan.
"In Suheng,"
Katanya.
"Kau tanyalah Liok Toako. Kalau ia mengangguk, itulah soalnya, kalau ia menggeleng kepalanya, itulah bukannya. Asal Liok Toako tidak mengatakannya sendiri, itu berarti ia tidak melanggar aturan kaumnya."
"Bagus dayamu ini, Thia Sumoy!"
Kata Cie Peng girang.
"Saudara Liok, mari dengar aku bicara dulu tentang urusanku. Guruku yaitu Tiang Cun Cu Khu Cinjin, diluar keinginannya, telah mendapat suatu kabar penting, ialah kabar halnya Tocu Tho Hoa To karena membenci Kanglam Liok Koay, berniat membunuh jago-jago dari Kanglam itu, hendak membinasakan mereka serumah tangga. Karena itu guruku lantas mendahulukan pergi untuk memberi kisikan. Nyatanya Liok Koay tidak ada dirumahnya, mereka telah pergi pesiar. Atas itu guruku lantas menitahkan semua anggota keluarga Liok Koay itu pergi menyingkirkan diri masing-masing. Maka ketika Oey Yok Su sampai ke Kee-hin, ia tidak menemukan seorang juga. Ia menjadi sangat gusar dan mendongkol, tetapi ia cuma dapat menungkuli diri, dengan gondok ia berangkat ke Utara. Setelah itu taklah lagi bagaimana kejadiannya peristiwa. Dan kau, tahukah kau tentang itu?"
Koan Eng mengangguk. In Cie Peng berdiam sebentar habis itu ia berkata pula.
"Turut rasaku dia terus mencari kanglam Liok Koay. Sebenarnya di antara guruku dan Liok Koay ada suatu perselisihan, tetapi perselisihan itu sudah dapat disudahi sedang mengenai urusannya, kesalahan berada di pihak Oey Yok Su maka itu kebetulan Coan Cin Cit Cu berkumpul di Kanglam, mereka lantas memisah diri mencari Liok Koay untuk menasehati mereka untuk berhati-hati menjaga diri, bahkan paling betul mereka menyingkir jauh-jauh, supaya mereka tak dapat dicari kakek gurumu itu. Coba kau pikir, tindakan itu tepat atau tidak?"
Koan Eng mengangguk pula. Mendengar sampai di situ, Oey Yong berpikir.
"Engko Ceng sudah tiba di Tho Hoa To memenuhi janji, kenapa ayah hendak pergi mencari pula Liok Koay?"
Ia tidak tahu ayahnya telah kena dijual Leng Tie Siangjin dan mempercayai yang ia telah mati kelelap di laut hingga dia menjadi sangat berduka dan gusar dan karenanya hendak menumpahkan amarahnya kepada Kanglam Liok Koay.
Kembali terdengar suaranya In Cie Peng.
"Oleh karena tidak dapat mencari Liok Koay, guruku ingat Kwee Ceng yang menjadi murid Liok Koay itu. Kwee Ceng itu ada orang asal dusun Gu-kee-cun di Lim-an dan dipercaya betul ia telah kembali ke kampung halamannya, dari itu aku dititahkan datang kemari mencari dia di sini. Guruku percaya pastilah Kwee Ceng mengetahui di mana adanya semua gurunya itu. Kau telah datang ke mari, saudara Liok, bukankah itu untuk urusan yang sama?"
Lagi-lagi Koan Eng mengangguk.
"Sekarang telah ternyata Kwee Ceng belum kembali ke kampung halamannya ini,"
Berkata Cie Peng pula.
"Meskipun begitu guruku telah melakukan kewajibannya terhadap Liok Koay itu, maka itu walaupun dia tidak dapat mencari mereka itu, itulah disebabkan habis daya. Melihat yang mereka dukar dicari, aku percaya, Oey Yok Su juga tentu tak akan dapat mencari mereka. Nah, saudara Liok, kau hendak memohon bantuanku, bukankah itu urusan mengenai urusan ini juga?"
Untuk kesekian kalinya, Liok Koan Eng kembali mengangguk. Bab 50. Menikah! "Kau hendak menitahkan apa padaku, saudara Liok, silahkan kau mengatakannya,"
Kata Cie Peng.
"Di mana yang aku bisa, pasti aku akan memberikan bantuanku padamu."
Atas ini, Liok Koan Eng membungkam. Yauw Kee tertawa.
"In Suheng, kau lupa,"
Katanya mengingati.
"Saudara Liok tak dapat membuka mulutnya!"
Cie Peng sadar, ia pun tertawa.
"Benar!"
Ujarnya.
"Bukankah saudara Liok hendak memohon aku berdiam terus disini untuk menanti sampai pulangnya sahabat Kwee Ceng itu?"
Koan Eng menggeleng kepala.
"Apakah kau menghendaki aku lekas pergi ke segala tempat untuk mencari Kanglam Liok Koay dan sahabat she Kwee itu?"
Cie Peng tanya pula. Kembali Koan Eng menggeleng kepala.
"Ah, aku mengerti sekarang!"
Kata Cie Peng.
"Kau menghendaki aku menyampaikan kabar pada sahabat-sahabat di Kanglam, mereka terkenal, mereka pasti ada punya sahabat-sahabat kekal, yang nantinya akan mengisikinya mereka terlebih jauh. Benarkah begitu?"
Lagi-lagi Koan Eng menggeleng kepalanya.
Cie Peng mengutarakan pula beberapa dugaan akan tetapi Koan Eng tidak membenarkan, Yauw Kee turur dua kali menanya, ia pun dijawab dengan gelengan kepala.
Maka itu, Oey Yong yang curi dengar turut menjadi bingung juga.
Sekian lama mereka bertiga berdiam saja.
"Thia Sumoy,"
Akhirnya In Cie Peng berkata.
"Perlahan saja kau bicara sama saudara Liok ini, aku tidak dapat main teka-teki terus-terusan, hendak aku keluar sebentar. Lagi satu jam, aku akan kembali."
Habis berkata, benar-benar Cie Peng bertindak keluar.
Maka itu di dalam ruangan, kecuali Hauw Thong Hay, tinggal Liok Koan Eng berdua dengan Thia Yauw Kee.
Si nona bertunduk, ia berpikir.
Ia tetap mendapati Koan Eng berdiam saja, diam-diam ia melirik, justru itu, Koan Eng pun memandang padanya, maka sinar mata mereka jadi saling bentrok.
Ia jengah sendirinya, dengan muka merah, ia lekas-lekas melengos, terus ia tunduk, kedua tangannya membuat main runce gagang pedangnya.
Setelah itu Koan Eng berbangkit dengan perlahan, untuk menghampirkan perapian.
Di muka dapur itu ada gambarnya malaikat dapur, kepada malaikat itu ia berkata.
"Touw Ongya, hambamu mempunyai satu urusan, yang sulit untukku memberitahukannya kepada lain orang, maka itu baiklah hambamu menjelaskannya pada ongya saja, dan hambamu mengharap semoga ongya suka memayunginya."
Mendengar itu girang hatinya Yauw Kee.
"Orang yang pintar!"
Ia memuji di dalam hatinya. Ia lantas mengangkat kepalanya untuk mendengar terlebih jauh.
"Hambamu she Liok bernama Koan Eng,"
Berkata pula si anak muda.
"Hambamu ialah anak dari Chungcu Liok Seng Hong dari dusun Kwie-in-chung di tepi telaga Thay Ouw. Ayahku itu telah mengangkat Tocu Oey Yok Su dari Tho Hoa To sebagai gurunya. Beberapa hari yang lalu guru ayahku itu, ialah kakek guruku datang ke Kwie-in-chung, ia mengatakan ia hendak membinasakan semua keluarga Kanglam Liok Koay, maka itu ia menitahkan ayahku dan supee Bwee Tiauw Hong turut mencari Kanglam Liok Koay. Bwee supee bermusuhan dengan Kanglam Liok Koay, inilah hal yang sangat menggirangkan hatinya. Tidak demikian dengan ayahku, yang mengagumi kemuliaan Kanglam Liok Koay. Ayahku menganggap tidaklah pantas membinasakan orang-orang gagah seperti mereka itu. Karena itu, ayahku menjadi berduka. Ayah berniat menitahkan aku mengisiki Kanglam Liok Koay, untuk Liok Koay menyingkir, tetapi ayah tidak berani berbuat demikian sebab itu berarti mendurhaka kepada kakek guru. Maka juga pada suatu malam ayah menghadapi gambar yang dilukis Sukouw Oey Yong, yang menjadi putrinya kakek guru, untuk mengutarakan kesulitannya itu. Hambamu ini telah mendapat dengar pengutaraan ayahku itu, karenanya hamba segera berangkat mencari Kanglam Liok Koay, guna menyampaikan berita dari ancaman bahaya itu…."
Mendengar itu, Yauw Kee dan Oey Yong kata dalam hatinya.
"Dia cerdik juga, dengan kata-katanya ini dia ingin lain orang dapat mendengarnya. Dengan caranya ini, dia menjadi tidak berdurhaka kepada partainya."
Lalu terdengar suara Koan Eng lebih lanjut.
"Karena hambamu tidak dapat mencari Kanglam Liok Koay, hambamu lantas berangkat kemari. Hambamu ingat kepada muridnya mereka ialah Kwee Susiok. Siapa tahu, Kwee Susiok pun tak ketahuan dimana adanya, Kwee Susiok itu ialah menantu dari kakek guruku…"
Yauw Kee menaruh hati kepada Kwee Ceng.
Ia menaruh hati sendirinya.
Maka ia terkesiap juga mendengar bahwa Kwee Ceng menantunya Oey Yok Su.
Cuma sebentar perasaannya itu, lantas ia dapat melegakan hati.
Bukankah sekarang perhatiannya telah ditumpleki kepada Liok Koan Eng, pemuda di hadapannya ini, yang lebih tampan daripada pemuda she Kwee itu?
Koan Eng masih bicara seorang diri.
"Asal hambamu dapat mencari Kwee Susiok, maka ia dapat bersama Oey Sukouw meminta kakek guru membatalkan niatannya itu. Kakek guru boleh keras hatinya tetapi tidak nanti ia dapat menolak permintaan anak mantunya. Hanya, dari suaranya ayahku, mungkin Kwee Susiok dan Oey Sukouw telah menampak suatu bencana… Di dalam hal ini, tidak dapat hambamu menanyakan keterangan ayah."
Mendengar kata-kata ini, Oey Yong tanya dalam hatinya.
"Mustahilkah ayah sudah ketahui engko Ceng telah terluka parah? Tidak, tidak nanti ia ketahui itu. Mungkinkah ayah ketahui yang kita terlunta-lunta di pulau kosong…?"
"In Suheng ialah seorang yang sungguh-sungguh hati dan nona Thia cerdas dan lemah-lembut,"
Terdengar suaranya Koan Eng, terlebih lanjut. Mendengar pujian ini Yauw Kee girang berbareng mukanya merah.
"Meski demikian, mereka tidak dapat menebak apa yang aku pikir. Sulit adalah Kanglam Liok Koay. Mereka adalah orang-orang gagah yang kenamaan, benar mereka bukan tandingan kakek guru, akan tetapi untuk meminta mereka menyingkir jauh-jauh, itulah rasanya tidak mungkin. Menyingkir bagi mereka berarti merusak nama baik mereka, itu tandanya mereka jeri. Pastilah mereka tidak akan melakukan itu. Bahkan hambamu percaya, kalau mereka mendengar kabar yang mereka lagi dicari, mungkin mereka justru akan berbalik menncari kakek guru!"
Diam-diam Oey Yong memuji Koan Eng, yang tidak kecewa menjadi kepala perampok di Thay Ouw, sebab nyata ia berpandangan jauh.
"Maka sekarang aku memikir lain,"
Koan Eng masih berkata-kata terus.
"Coan Cin Cit Cu gagah dan mulia hatinya, nama mereka kesohor, ilmu silat mereka mahir, jikalau In Suheng dan nona Thia yang memohon bantuan guru mereka, suka mengajukan diri sebagai juru pendamai, mungkin kakek guruku sudi mendengar suara mereka. Tidak mungkin ada permusuhan hebat di antara kakek guru dan Kanglam Liok Koay, dan biarpun Kanglam Liok Koay umpama kata benar bersalah terhadapnya, jikalau ada orang kenamaan yang mendamaikan, hambamu percaya perdamaian bakal didapatkan. Touw Ongya, inilah kesulitan hambamu. Sia-sia belaka hambamu mempunya pikiran ini tetapi tidak dapat ia mengutarakannya kepada lain orang. Dari itu hambamu mohon sudi apakah ongya dapat mengaturnya…"
Yauw Kee tahu pembicaraan orang akan berakhir, maka tidak nanti sampai Koan Eng berhenti bocara, ia sudah memutar tubuhnya bertindak keluar untuk mencari Cie Peng, guna menyampaikannya,hanya baru ia tiba di ambang pintu, kembali ia mendengar lagi suaranya pemuda she Liok ini.
Kata dia ini.
"Touw Ongya, jikalau Coan Cin Cit Cu suka membantu mendamaikan, sungguh ini suatu perbuatan sangat besar dan bagus, hanya hambamu berharap dengan sangat, kapan nanti Coan Cin Cit Cu bicara sama kakek guru, biarlah mereka tidak menyentuh hingga kakek guru merasa tersinggung. Kalau tidak, satu ombak belum sirap, lain gelombang datang menyusul, itulah artinya celaka. Ongya, sampai disinilah kata-kata hambamu, tidak ada lagi…"
Mendengar itu Yauw Kee tertawa. Di dalam hatinya ia kata.
"Kau sudah bicara habis, sekarang akulah yang akan bekerja untukmu!"
Ia berjalan keluar untuk mencari In Cie Peng, tetapi telah ia memutari sekitar rumah makan, tidak ia melihat bayangan si kakak seperguruan itu.
Terpaksa ia berjalan kembali.
Atau tiba-tiba ia mendengar suaranya Cie Peng, perlahan sekali.
"Thia Sumoy…"
"Oh, kau di sini!"
Kata si nona girang. Cie Peng memberi tanda dengan tangannya agar si nona yang berisik. I apun segera menunjuk ke arah Barat, sambil berkata pula, tetap dengan perlahan sekali.
"Di sana ada orang, tindakannya sebagai setan. Dia membawa senjata di tubuhnya…"
"Mungkinkah dia orang yang tengah lewat di sini?"
Kata Yauw Kee, menghampirkan kakak seperguruannya itu. Ia mengatakan demikian karena perhatiannya terpengaruh kata-kata Koan Eng. In Cie Peng sebaliknya bersikap sungguh-sungguh. Katanya pula.
"Di sana ada beberapa orang, lincah tubuh mereka, mestinya mereka lihay."
Orang-orang yang ia lihat itu adalah rombongannya Pheng Lian Houw.
Mereka itu menanti Thong Hay, yang lama tak kembali, mereka menjadi menduga kawan itu mendapat kecelakaan, tetapi walaupun demikian, karena mereka sangat mementingkan diri sendiri, mereka tidak berani pergi untuk mencari dan menolongi.
Mereka jeri terhadap itu orang yang menyamar hantu di istana, yang sangat lihay….."
In Cie Peng menanti sekian lama, setelah tidak dapat melihat bayangan orang, iabertindak menghampirkan ke tempat mereka itu tadi.
Nyata mereka sudah tidak nampak lagi.
Sampai di situ, Yauw Kee menuturkan ocehannya Koan Eng tadi kepada malaikat dapur.
"Begitu rupanya yang ia pikir, mana dapat orang menerkanya,"
Berkata Cie Peng.
"Sekarang begini, sumoy. Pergi kau bicara sama Sun Susiok, aku sendiri akan minta bantuan guruku. Asal Coan Cin Cit Cu suka membantu, di kolong langit ini tak ada urusan yang tak dapat diselesaikan."
"Hanya kita harus waspada agar urusan tidak berubah menjadi keonaran,"
Kata nona Thia itu, yang menyampaikan kata-kata terakhir dari Koan Eng tadi.
"Hm!"
Kata Cie Peng.
"Oey Yok Su itu makhluk macam apa, mustahil dia dapat melebihkan Coan Cin Cit Cu?"
Ia tertawa dingin. Yauw Kee ingin minta orang jangan takabur, tetapi melihat wajah orang muram, ia membatalkan niatnya itu. Bersama-sama mereka lantas kembali ke rumah makan.
"Aku hendak meminta diri,"
Kata Koan Eng kepada dua orang itu.
"Lain hari, kalau kamu lewat di Thay Ouw, harap kamu berdua sudi mampir di Kwie-in-chung untuk singgah buat beberapa hari."
Yauw Kee tercengang. Berat rasanya untuk segera berpisah dengan pemuda itu. In Cie Peng sendiri memutar tubuh menghadapi malaikat dapur, untuk berkata.
"Touw Ongya, Coan Cin Cit Cu paling gemar mendamaikan segala persengketaan. Urusan tak adil bagaimana juga dalam kalangan kangouw, asal murid-murid Coan Cin mengetahuinya, pasti mereka tak nanti berpeluk tangan saja tak mengurusnya!"
Koan Eng mengerti kata-kata itu ditujukan kepadanya, maka ia pun berkata.
"Touw Ongya, semoga ongya dapat membereskan urusan ini dengan baik, dan hambamu sangat bersyukur kepada sekalian budiman untuk kebaikannya sudi mengeluarkan tenaganya."
In Cie Peng pun berkata pula.
"Touw Ongya, silahkan legakan hati. Coan Cin Cit Cu tersohor di kolong langit ini, asal mereka suka turun tangan, tidak ada urusan yang tidak dapat diselesaikan."
Koan Eng melengak. Di dalam hatinya ia kata.
"Kalau Coan Cin Cit Cu memaksakan perdamainan, mana kakek guruku puas?"
Maka lekas-lekas ia berkata pula.
"Touw Ongya, ongya mengetahui sendiri kakek guru biasa bawa maunya sendirinya, dia tidak suka memperdulikan orang lain, kalau lain orang sudi bersahabat dengannya, dia suka mendengarnya, tetapi bila orang bicara dari hal kepantasan, itulah yang ia paling sebal."
Cie Peng lantas mengasih dengar pula suaranya.
"Haha, Touw Ongya! Coan Cin Cit Cu mana pernah jerih terhadap lain orang? Urusan ini memang tidak ada sangkutannya sama pihak kami, guruku pun cuma menyuruh aku mengasih kabar saja kepada orang lain, tetapi kalau orang berani main gila terhadap Coan Cin Cit Cu, hm, biar dia Oey Yok Su atak Hek Yok Su, nanti Coan Cin Kauw memperlihatkan dia apa yang bagus!"
Kata-kata Oey Yok Su dan Hek Yok Su itu berarti ejekan, karena disini "Oey"
Itu bukan diartikan she, hanya "oey -kuning"
Dan "hek -hitam"
Mendengar itu, Liok Koan Eng menjadi tidak senang. Maka ia pun lantas berkata.
"Touw Ongya, apa yang barusan hambamu telah mengatakannya, harap dipandang saja sebagai kata-kata ngelindur. Umpama kata ada orang tak melihat mata kepada kami, pasti kami tak sudi menerimanya!"
Mereka itu masing-masing bicara kepada malaikat dapur, diluar dugaan, kata-kata mereka menjadikan bentrokan satu pada lain.
Yauw Kee menjadi serba salah, mau ia datang sama tengah tetapi mereka itu sama-sama muda dan darahnya panas.
Begitulah In Cie Peng telah berkata pula.
"Touw Ongya, ilmu silat Coan Cin Pay adalah ilimu silat sejati di kolong langit ini, ilmunya orang lain kaum yang sesat, biar bagaimana luar biasa juga, tidak nanti dapat dibandingkannya!"
"Touw Ongya,"
Berkata Koan Eng.
"Hambamu juga telah lama mendengar tentang ilmu silat Coan Cin Pay itu, bahwa banyak orangnya yang lihay, akan tetapi di antaranya tak mustahil tak ada si tukang ngobrol belaka!"
Bukan main gusarnya Cie Peng, tangannya segera menyampok. Maka gempurlah sebelah kepalanya patung malaikat dapur itu. Dia berseru.
"Binatang yang baik, kau berani mendamprat orang?!"
Koan Eng pun menyampok membikin gempur sebelah yang lain dari kepala malaikat dapur itu, sambil ia berseru.
"Mana aku berani mendamprat kau? Aku hanya mencaci manusia tak tahu diri, yang tak melihat orang!"
In Cie Peng telah menyaksikan kepandaian orang, ia berada di sebelah atas, ia menjadi tidak takut, maka ia tertawa dingin dan berkata.
"Baiklah, mari kita main-main, untuk melihat siapa sebenarnya yang tidak memandang orang!"
Koan Eng menginsyafi bahwa ia kalah kosen tetapi ia tidak senang yang pihaknya dpandang enteng, ia menjadi tengah menunggang harimau hingga tak dapat turun, maka dengan tangan kanan menghunus golok, dengan tangan kirinya ia memberi hormat.
Ia berkata.
"Baiklah, siauwtee suka sekali menerima jurus-jurus yang lihay dari Coan Cin Pay!"
Yauw Kee bertambah bingung.
Beberapa kali ia hendak mencegah, saban-saban ia batal sendirinya, hingga cuma air matanya yang berlinang-linang.
Ia tidak mempunyai keberanian untuk maju di tengah antara mereka itu.
Cie Peng sudah lantas mengebut hudtimnya, ia bertindak maju.
Mereka berdua sudah lantas bertempur.
Koan Eng tidak mengharapi kemenangan, ia lebih mengutamakan pembelaan diri.
Ia mainkan sungguh-sungguh ilmu golok warisan Kouw Bok Taysu, ilmu golok Lo Han Too-hoat.
In Cie Peng memandnag enteng kepada lawannya, ia lancang maju, maka kagetlah ia ketika hampir saja lengan kirinya kena terbacok.
Karena ini barulah ia berkaku waspada, kemudian barulah ia menang di angin.
Oey Yong dari tempat sembunyinya mendengar dan menyaksikan itu semua.
Ia terus menonton.
Ia mendongkol juga kepada In Cie Peng, yang berani mengatai ayahnya yang dikatakan berilmu sesat.
"Kalau bukan engko Ceng lagi sakit, akan aku kasih rasa padanya!"
Katanya dalam hati. Tiba-tiba saja, ia menjerit.
"Ah, celaka!"
Koan Eng membacok begitu hebat hingga ia kehilangan sasarannya.
Golok itu terpancing hudtim Cie Peng, setelah mana orang she In ini menbalas menotok, dengan jitu, hingga golok lawan terlepas dan jatuh, setelah mana dia mengebut terus ke muka orang seraya berkata jumawa.
"Ingat baik-baik, inilah jurus lihay dari Coan Cin Pay!"
Diantara bulu hudtim itu ada tercampur kawat halus, kalau muka Koan Eng kena terkebut, pasti wajahnya yang tampan bakal penuh baret dan berlumuran darah.
Koan Eng melihat bahaya, ia berkelit sambil tunduk.
Cie tak mau sudah, ia menyusul dengan kebutannya itu.
"In Suko!"
Yauw Kee berseru. Kali ini si nona berlompat maju seraya menangkis dengan piasunya. Ketika ini dipakai oleh Koan Eng untuk memungut goloknya.
"Bagus!"
Berseru Cie Peng, tertawa dingin.
"Kau telah membantu orang luar, Thia Sumoy! Nah, kamu berdua, majulah bersama!"
"Apa katamu!"
Menegur Yauw Kee murka.
Cie Peng tidak menyahuti, ia hanya menyerang beruntun tiga kali, membuatnya si nona repot menangkis.
Koan Eng mendongkol, ia maju pula.
Dengan begitu Cie Peng benar-benar dikerubuti berdua.
Tapi Yauw Kee tidak mau bertempur dengan kakak seperguruannya itu, ia lantas lompat mundur.
"Mari maju!"
Cie Peng menantang adik seperguruannya itu.
"Dia sendiri tidak dapat melawan aku. Dengan kau maju, tak usahlah sebentar kau membantui padanya!"
Oey Yong merasa lucu menyaksikan tiga orang itu, dari kawan, menjadi lawan, malah mereak jadi bertempur.
Ia memikir, bagaimana urusan mereka itu dapat diselesaikan.
Justru itu ia mendengar satu suara di pintu dari terbukanya daun pintu, setelah mana terlihatlah masuknya rombongan Pheng Lian Houw yang mengiringi Wanyen Lieh dan Yo Kang.
Mereka ini menanti sekian lama tanpa mendengar sesuatu, See Thong Thian jadi berkhawatir untuk saudara seperguruannya, dengan membesarkan nyali, ia masuk untuk membuat penyeledikan, diwaktu mengintai, ia melihat Cie Peng tengah bertempur sama Koan Eng.
Seorang diri ia tidak berani lancang masuk, maka ia kembali untuk mengajak kawan-kawannya.
Demikian mereka masuk dengan tiba-tiba.
In Cie Peng dan Koan Eng melihat datangnya banyak orang itu dengan sendirinya, mereka berhenti berkelahi, dengan lantas keduanya berlompat mundur.
Belum sempat mereka menjauhkan diri, sebat luar biasa, See tHong Thian menubruk mereka, akan menyambar masing-masing tangan mereka itu, Sedang Pheng Lian Houw dengan cepat pergi menolongi Hauw Thony Hay dengan melepaskan belunggunya dan membebaskna totokannya.
Thong Hay susah bernapas, maka itu, tanpa menanti mengeluarkan sumbatannya itu, sambil mencoba berseru, ia menyerang Yauw Kee, tangannya menyerbu ke muka si nona.
Nona Thia melihat serangan, ia dapat berkelit mendak.
Thong Hay mendongkol bukan main, mukanya merah.
Kembali ia maju, kali ini dengan dua kepalan berbareng.
"Tahan!"
Pheng Lian Houw berseru.
"Mari kita menanya dulu!"
Thong Hay tidak dapat mendengar cegahan itu, karena kedua kupingnya pun disumpal.
Koan Eng dicekal keras oleh Thong Thian, separuh tubuhnya sampai tak bisa digeraki, akan tetapi menampak Thong Hay menyerang Yauw Kee seperti kesetanan, entah darimana datangnya, ia berontak hingga terlepas, terus ia lompat kepada si orang she Hauw.
Akan tetapi Lian Houw awas dan sebat, kakinya melayang, karena mana, pemuda itu roboh terbanting, hingga batang lehernya kena dicekuk.
"Kau siapa?!"
Lian Houw membentak.
"Kemana perginya itu manusia yang menyaru jadi hantu?!"
Baru Lian ouw menutup mulutnya, atau mana daun pintu terdengar bersuara, terbuka dengan perlahan.
Semua orang menoleh dengan lantas, akan tetapi mereka tak melihat orang masuk.
Tanpa merasa, hati mereka ciut sendirinya.
Hanya sejenak, di ambang pintu tertampak seorang wnaita muda dengan rambut kusut awut-awutan, mulanya kepalanya yang nongol.
Nio Cu Ong bersama Leng Tie Siangjin lompat mencelat.
"Celaka, iblis wanita!"
Mereka berseru, kaget. Tapi Pheng Lian Houw bermata jeli, ia melihatnya orang bukan setan.
"Masuk!"
Ia memanggil. Sa Kouw, demikian wanita itu, bertindak masuk sambil tertawa haha-hihi.
"Oh, begini banyak orang!"
Katanya seraya mengulur lidahnya. Nio Cu Ong yang menjeritkan iblis, menjadi gusar sekali.
"Kau siapa?!"
Ia membentak sambil lompat maju, tangannya menyambar lengan orang.
Ia menganggap orang adalah gadis desa yang tolol.
Tapi ia ketemu batunya!
Sa Kouw tidak sudi tangannya dicekuk, ia kelit seraya berbalik membalas menyerang, maka "plok!"
Tanganna Cu Ong kena dihajar keraas, hingga ia merasakan sakit. Tentu sekali, dia jadi gusar sekali.
"Ha, kau berlagak tolol!"
Ia berseru. Dia maju denagn dua tinjunya berbareng.
"Hahahaha!"
Mendadak si tolol tertawa seraya menuding kepala orang yang gundul licin.
Semua orang heran mendengar tertawa itu, Cu Ong tidak menjadi terkecuali, tapi mereka melengak tidak lama, atau si orang she Nio sudah mengirim satu tinjunya -tinju yang kanan.
Sa Kouw menangkis, ia berhasil, akan tetapi tubuhnya terhuyung.
Mengertilah ia yang ia bukan tandingannya lawan itu, maka tak ayal lagi, ia memutar tubuhnya untuk lari pergi.
Cu Ong berlaku sebat, dengan satu loncatan ia sudah menghadang di depan si tolol itu, sikutnya dikerjakan, maka hidung si nona menjadi sasaran, hingga ia kesakitan, dan matanya kabur.
Lantas ia berteriak-teriak.
"Adik yang makan semangka, lekas kau kelluar menolongi aku! Ada orang memukul aku!"
Oey Yong terkejut.
"Jikalau anak tolol ini tidak dibinasakan, dia bakal menjadi bahaya untuk kami,"
Pikirnya. Tapi belum lagi ia mengambil keputusan atau tindakan, mendadak ia mendengar satu suara "Hm!"
Perlahan, yang ia kenali dengan baik sekali.
"Ah, ayah datang!"
Katanya dalam hatinya, sedang hatinya berdebaran.
Ia segera mengintai pula.
Benar-benar oey Yok Su muncul di situ dengan jubahnya yang panjang dan hujai warnanya, mukanya ditutup dengan topeng kulit manusia.
Dia berdiri di ambang pintu!
Tidak ada orang yang mengetahui kapan tibanya ini orang baru, tidak ada yang melihat datangnya, tidak ada yang mendengarnya, hingga mungkin ia baru tiba, mungkin juga ia masuk lebih dulu ke dalam situ.
Dia berdiri tak bergerak.
Benar mukanya tidak bercaling atau bengis, tetapi kulitnya bukan kulit orang hidup, hanya kulit mayat, maka siapa yang memandangnya, lekas-lekas ia melengos, tidak berani ia mengawasi terus.
"Nona, kau siapa?"
Oey Yok Su kemudian menanya. Ia heran melihat gerak-gerik si nona, ia tahu orang bersilat dengan ilmu silatnya sendiri.
"Siapa gurumu? Mana gurumu?"
Sa Kouw menggeleng kepala.
Ketika ia mengawasi mukanya Oey Yok Su, ia menjublak.
Tapi cuma sebentar, lantas ia tertawa berkakakan dan menepuk-nepuk tangan.
Oey Yok Su mengerutkan keningnya, ia berpikir sejenak, lantas ia mengambil putusan nona ini pasti ada cucu muridnya, hanya entah dari muridnya yang mana.
Ia memang paling sayang sama muridnya, tidak sudi ia orang menghinakan muridnya itu.
Buktinya Bwee Tiauw Hong, muridnya yang murtad tetapi tempo murid itu dikalahkan oleh Kwee Ceng masih ia hendak melindungi.
Apa pula Sa Kouw nona yang tolol dan polos ini.
"Eh, anak!"
Tegurnya.
"Orang telah serang kau, mengapa kau tidak membalas menghajarnya?"
Ketika baru-baru ini Oey Yok Su pergi naik ke perahu mencari putrinya, ia tidak mengenakan topeng, tetapi kali ini lain, orang tidak segera mengenalinya, kali ini setelah ia membuka mulutnya, lantaslah Wanyen Lieh bertiga Yo Kang dan Pheng Lian Houw lantas menjadi ciut nyalinya.
Bahkan ia menduga-duga, jangan-jangan adalah Oey Yok Su yang menyamar jadi hantu di dalam istana.
Maka ia lantas memikir untuk tidak bertempur, hanya mencari ketika untuk mengulur langkah seribu.
Untuk ia, jiwanya paling penting, nama wangi dan malu adalah urusan lain… "Aku tidak dapat menghajar dia,"
Sa Kouw menjawab.
"Siapa bilang kau tidak dapat menghajar dia?!"
Bentak Oey Yok Su.
"Kau hajar cecongornya seperti tadi ia memukul hidungmu! Dia memukul kau satu kali, kau membalas dia tiga kali lipat ganda!"
Sa Kouw tertawa.
"Bagus!"
Katanya. Dan ia menghampirkan Nio Cu Ong, tanpa memikir pula ia bukan tandingan jago itu. Ia kata.
"Kau memukul hidungku satu kali, akan aku hajar hiudngmu tiga kali!"
Dan ia mengangkat kepalannya, meninju hidung orang!
Nio Cu Ong tidak sudi mandah dihajar, ia angkat tangannya, untuk menangkis, atau tiba-tiba ia merasakan jalan darah kiok-tie-hiat di lengannya menjadi mati sendirinya, hingga ia tak sanggup sekalipun untuk melonjorkan lengannya itu.
Maka itu.
"Buk!"
Kenalah hidungnya dihajar si nona tolol itu, hingga ia kaget bahna sakitnya.
"Yang kedua!"
Berseru sa kouw tanpa mengasih hati.
Nio Cu Ong memasang kuda-kudanya, tangan kirinya digeraki.
Ia hendak menggunai tipu silat Kim-na-hoat, Menangkap untuk membikin lengan orang terlepas dari sambungannya.
Tidak sudi ia terus-terusan kena dihajar.
Hanya, belum lagi tangannya itu bentrok tangan si nona, ia merasakan jalan darahnya pek-jie-hoat lemas sendirinya, hingga habislah tenagany, Dilain pihak.
"Buk!"
Kembali hidungnya kena dihajar untuk kedua kalinya, bahkan kali ini hajarannya jauh lebih hebat, sampai tubuhnya melengak ke belakang.
Selagi Nio Cu Ong kaget dan kesakitan dan heran, semua hadirin lainnya tak kurang herannya, kecuali Pheng Lian Houw seorang ahli senjata rahasia.
Ia mendengarnya, setiap kali Nio Cu Ong menggeraki tangan, untuk menangkis atau membalas, saban-saban ada suara halus berkesiar, maka itu ia menduga, tentulah Oey Yok Su sudah menggunakan semcama senjata rahasia, mungkin sebangsa jarum, ia hanya tak dapat melihatnya, tak tahu kapannya senjata rahasia itu dipakai menyerang.
Tentu sekali ia tidak tahu Oey Yok Su sudah melepaskan jarum rahasia dari dalam tangan bajunya, jarum mana dapat menembusi tangan baju itu, untuk meleset kepada sasarannya.
Siapa dapat berkelit dari serangan semcam itu?"
"Yang ketiga!"
Terdengar suara pula Sa Kouw, nyaring.
Nio Cu Ong terkejut.
Oleh karena tangannya tidak sudi mendengar kata, sedang ia tidak ingin merasakan pula bogem netah, lekas-lekas ia bertindak mundur, untuk menghindarkan diri.
Tapi, baru ia mengangkat kakinya itu, kaki kana atau betisnya, bagian jalan darah pek-hay-hiat, mati sendirinya.
Ia kget tak terkira.
Itu artinya ia tak dapat berkelit.
Ia menjadi sangat menyesal, maka tiba-tiba saja matanya menjadi merah, air matanya mengembang, untuk meluncur keluar.
Kalau sampai ia menangis, habis sudah nama besarnya, maka ia hendak menyusutnya.
Celaka untuknya, tidak dapat ia menangangkat tangannya.
Dari itu, akhirnya bercucuranlah air matanya itu!
Sa Kouw tolol akan tetapi hatinya pemurah dan lemah, kapan ia melihat orang menangis, batal ia meninju, bahkan ia berkata nyaring.
"Sudah, jangan kau menangis! Tidak, aku tidak akan menghajar pula padamu…"
Hiburan ini tapinya begitu hebat daripada tinjuan yang ketiga itu.
Nio Cu Ong menjadi terasa terlebih terhina pula.
Begitu hebat mendongkolnya, mendadak ia muntahkan darah hidup!
Tapi ia segera mengangkat kepalanya, memandang Oey Yok Su.
"Tuan siapakah kau?"
Ia menanya.
"Secara gelap kau melukai orang, apakah itu perbuatan satu enghiong, seorang gagah?"
Oey Yok Su tertawa dingin.
"Tepatkah orang semacam kau menanyakan namaku?"
Katanya dengan dingin mengejek, lalu dengan suara nyaring, ia memerintah.
"Semua kamu menggelinding pergi dari sini!"
Semua orang itu menjadi kaget berbareng lega hati.
Mereka telah menyaksikan segala apa, walaupun mereka gagah, hati mereka toh ciut, jeri mereka terhadap orang lihay tak dikenal ini.
Untuk menyerang, mereka tak berani, untuk mengangkat kaki mereka malu, dari itu mereka diam saja, sampai tiba-tiba datang seruan orang.
Pheng Lian Houw si licik adalah yang bergerak paling dulu, hendak ia berlalu.
Baru dua tindak ia berjalan, atau mendadak orang menghadang di depan pintu!
Terpaksa ia menghentikan langkahnya, berdiri menjublak si situ.
"Setan alas!"
Berseru Oey Yok Su.
"Telah aku melepaskan kamu, untuk kamu pergi, kenapa kamu berdiam saja? Apakah kamu ingin aku membunuh mampus pada kamu semua?!"
Pheng Lian ouw ketakutan, ia mengerti bahaya.
"Locianpwee ini menitahkan kita pergi, marilah kita keluar!"
Ia mengajak kawan-kawannya. Tidak berani ia ngeloyor sendirian. See Thong Thian panas hatinya. Ia menyingkirkan sumbatan kepada mulutnya.
"Minggir untukku!"
Ia berseru mendongkol. Ia pun maju ke depan Oey Yok Su, matanya bersinar merah saking gusarnya. Oey Yok Su tidak mengambil mumat suara orang yang bengis itu. Bahkan dengan tawar ia berkata.
"Tidak dapat kau meminta aku membuka jalan! Siapa yang menyayangi jiwanya, lekas ia molos dari selangkanganku!"
Thong Thian semua saling mengawasi, muka mereka merah saking mendongkol. Saking gusar, mereka menjadi nekat. Mereka pun berpikir.
"Walaupun kau sangat lihay, dapatkah kau melawan kami?"
Maka itu Hauw Thong Hay sudah lantas berseru sambil berlompat maju, menubruk itu perintang jalan yang jumawa.
"Hm!"
Terdengar suaranya Oey Yok Su, yang tahu-tahu tangannya sudah mencekuk si orang she Hauw itu, tubuh siapa diangkat tinggi-tinggi, terus dengan mendadak, tangannya menyambar lengan kiri Thong Thay, untuk ditarik, menyusul mana, orang galak ini menjerit keras, sebab sebelah tangannya itu kena dipatahkan.
Habis itu, tubuh korban ini lantas dilemparkan, dia sendirinya terus dongak memandang langit, sikapnya acuh tak acuh……..
Thong Hay roboh setengah mati, sakitnya bukan main.
Tangannya yang patah itu mengucurkan darah tak hentinya.
Semua orang kaget, hati mereka ciut.
Kemudian Oey Yok Su menggeraki kepalanya, dengan matanya perlahan-lahan ia menyapu muka semua orang.
See Thong Thian dan Pheng Lian Houw semua, semua sebangsa iblis, merasakan tubuh mereka menggigil sendirinya.
Bukan main kerennya sinar mata orang ini!
Bulu roma mereka pada bangun ssendiri.
"Kamu mao molos atau tidak?"
Tanya Oey Yok Su bengis karena orang pada tetap diam saja.
Tidak ada seorang juga yang berani banyak mulut, tidak ada yang ebrani menerjang atau membangkang, bahkan Pheng Lian Houw, dengan kepala tunduk, sudah lantas molos mendahului yang lain-lain!
See Thong Thian melepaskan In Cie Peng dan Liok Koan Eng, dengan menolong adik seperguruannya, ia molos menyusul Pheng Lian Houw, diturut oleh Wanyen Lieh bersama Yo Kang.
Yang paling belakang molos adalah Nio Cu Ong bersama Leng Tie Siangjin.
Sekeluarnya dari pintu rumah makan, mereka melekaskan tindakan mereka, bahkan tidak berani mereka menoleh ke belakang.
Oey Yok Su tertawa sambil melengak.
"Koan Eng dan kau nona, diam kamu!"
Ia berkata.
Koan segera mengenali kakek gurunya itu, akan tetapi akan orang mengenakan topeng dan menduga kakek guru ini sengaja tidak hendak memperlihatkan diri, ia tidak berani memanggil, ia cuma bertekuk lutut mengasih hormat dengan mengangguk empat kali.
Menyaksikan orang demikian lihay, In Cie Peng mennduga orang ini bukan sembarang orang, ia lantas memberikan hormatnya seraya memperkenalkan diri sambil menyebut nama gurunya, Tiang Cun Cu dari Coan Cin Kauw.
"Semua orang telah mengangkat kaki!"
Berkata Oey Yok Su nyaring.
"Aku pun tidak menahan kau, perlu apa kau masih berdiam di sini? Apakah kau sudah bosan hidup?"
Cie Peng melengak. Inilah perlakuan yang ia tidak menyangkanya.
"Teecu ialah muridnya Coan Cin Kauw, bukannya orang jahat,"
Ia memberi keterangan.
"Habis kalau Coan Cin Kauw, bagaimana?!"
Tanya Oey Yok Su sambil tangannya diulur ke meja di mana ada sepotong kayu, yang mana ia ayunkan ke arah Cie Peng.
Nampaknya enteng potongan kayu itu dan melayang.
In Cie Peng mengangkat kebutannya untuk menangkis.
Akan tetapi, ketika keduanya bentrok, muridnya Khu Cie Kee ini terkejut.
Ia merasakan serangan yang keras luar biasa, kebutannya itu kena tertolak sampai ujungnya mengenai mulutnya hingga ia merasakan sakit sekali dan mulutnya itu seperti tambah entah barang apa.
Ketika ia telah memuntahkannya, nyatalah ada beberapa buah giginya yang copot serentak.
Ia menjadi kaget dan bungkam.
Sungguh hebat!
"Akulah Oey Yok Su atah Hek Yok Su!"
Kata Tong Shia dingin.
"Kamu kaum Coan Cin Kauw, kamu hendak memandang bagaimana kepadaku?"
Mendengar itu, In Cie Peng kaget bukan main, hatinya berdebaran.
Yauw Kee semenjak tadi diam saja menyaksikan tingkah pola orang, turut terkejut, hatinya kebat-kebit.
Koan Eng turut berkhawatir, di dalam hatinya ia kata.
"Tentulah kakek guruku ini dengar pembicaraanku dengan ini tosu muda. Kalau dia pun mendengar kata-kataku kepada malaikat dapur barusan, entah dia bakal menghukum bagaimana kepadaku…"
In Cie Peng memegang pipinya.
"Kaulah pemimpin suatu partai persilatan, mengapa perbuatanmu begini cupat?"
Kemudian Cie Peng menegur si Sesat dari Timur itu.
"Kanglam Liok Koay adalah orang-orang gagah yang berhati mulia, mengapa kau mendesak mereka demikian rupa? Mengapakah? Jikalau bukan guruku yang memberikan kabar, bukankah mereka semua bakal bercelaka di tanganmu?"
Oey Yok Su menjadi gusar.
"Pantas tak ketemu aku cari mereka di mana-mana, kiranya ada orang bangsa campuran yang emngadu biru di antara kita!"
Katanya nyaring. Cie Peng menjadi berani, ia berjingkrak.
"Jikalau kau hendak membunuh aku, bunuhlah!"
Ia menantang.
"Aku tidak takut!"
Oey Yok Su tertawa dingin.
"Bukankah kau telah mencaci aku dibelakangku?"
Katanya. Imam muda itu menjadi nekat.
"Di depanmu pun aku berani mencaci kau!"
Katanya sengit.
"Kaulah si setan alas, si siluman!"
Koan Eng berkecil hati mendengar keberanian Cie Peng itu.
Semenjak ia menjadi jago, Oey Yok Su ditakuti semua orang, dari kalangan Hitam dan Putih, tidak pernah ada orang yang berani berlaku kurang ajar terhadapnya, maka Cie Peng ini adalah orang yang pertama.
"Hebat! Ini imam cilik bakal tak ketolongan jiwanya…"
Ia mengeluh.
Tetapi anehnya, bukannya marah, Oey Yok Su justru tertawa.
Nyata si Sesat dari Timur ini menghargai dan menyayangi hati besar bocah ini.
Ia ingat pada masa mudanya, yang juga tidak kenal takut.
"Jikalau kau berani, kau makilah pula padaku!"
Katanya bengis sambil ia bertindak menghampirkan.
"Aku tidak takut, hendak aku memaki pula padamu!"
Jawab Cie Peng.
"Kau iblis, kau siluman!"
"Hai, binatang bernyali besar, kau berani menghina kakek guruku!"
Membentak Koan Eng, yang lantas membacok.
Tapi ia bukan hendak mencelakai, sebaliknya, untuk melindungi.
Karena ia mengerti baik sekali, kalau kakek gurunya yang turun tangan, celakalah imam muda ini.
Ia pikir, bacokannya sendiri, ke arah alis, tidak meminta jiwa orang.
Ia harap perbuatannya ini nanti merendahkan kegusarannya kakek guru itu.
Cie Peng berkelit yang berlompat mundur dua tindak.
Ia mendelik, kembali ia pentang mulutnya lebar-lebar.
"Imam kamu yang muda ini hari ini dia tak menghendaki hidup lebih lama pula!"
Katanya nyaring dan sengit.
"Hendak aku mencaci kau!"
Koan Eng hendak membacok orang roboh, untuk menolongi jiwanya, maka tanpa membilang suatu apa, ia menyerang pula.
"Traang!"
Demikian satu suara nyaring. Sebab yauw Kee menalangi Cie Peng menangkis. Nona ini pun segera berkata nyaring.
"Aku pun orang Coan Cin Kauw! Jikalau kau hendak membunuhnya, nah bunuhlah kami berdua saudara seperguruan!"
Perbuatan nona Thia ini membuatnya Cie Peng terkejut dan kagum.
"Bagus, Thia Sumoy!"
Serunya.
Berdua mereka berdiri berendang, mata mereka memandang tajam kepada Oey Yok Su.
Sikap mereka ini membuatnya Koan Eng menghentikan sepak terjangnya.
Oey Yok Su mengawasi sepasang muda-mudi ini, ia tertawa terbahak.
"Bagus, kamu bersemangat!"
Katanya memuji.
"Memang aku Oey Lao Shia, aku ada dari bangsa sesat, maka tepatlah kau memaki aku! Gurumu masih terhitung orang di bawahan tingkat derajatku, dari itu, mana bisa aku melayani kamu bangsa sebawahanku? Nah, kau pergilah!"
Sambil berkata begitu, Oey Yok Su mengulurkan sebelah tangannya menjambak dada si imam muda, terus tangannya itu dikibaskan.
Cie Peng kena terjambak tanpa ia berdaya dan tahu-tahu tubuhnya sudaha melayang, terlempar ke luar.
Ia kaget bukan main.
Ia percaya bahwa ia bakal jatuh terbanting keras.
Kesudahannya ada diluar dugaannya.
Ia jatuh dengan berdiri dengan kedua kakinya, ia seperti juga dipegangi Oey Yok Su dan diksaih turun dengan perlahan-lahan!
Muridnya Tiang Cun Cu ini berdiri menjublak.
"Sungguh berbahaya.."
Katanya dalam hatinya.
Sekarang ini biar nyalinya lebih besar pula, tidak nanti ia berani mencaci pula si Sesat dari Timur itu, kepandaian siapa benar-benar luar biasa.
Kemudian dengan pegangi pipinya yang bengkak-bengkak, ia memutar tubuhnya untuk ngeloyor pergi… Yauw Kee memasuki pedangnya ke dalam sarungnya, ia pun membalik tubuhnya untuk berlalu.
"Perlahan dulu!"
Mencegah Oey Yok Su seraya ia mengangkat tangannya ke mukanya, untuk menyingkirkan topengnya.
"Bukankah kau suka menikah dengannya untuk menjadi istrinya? Benarkah?"
Ia menanya seraya menunjuk ke Koan Eng.
Kaget nona Thia.
Inilah ia tak sangka.
Dengan sendirinya mukanya menjadi pucat dan kemudian berubah menjadi bersemu merah dadu… "Imam cilik yang menjadi kakak seperguruanmu itu, memang tetap caciannya padaku,"
Berkata pula Oey Yok Su.
"Bukankah ia mengatakan aku iblis dan siluman? Memang tocu dari Tho Hoa To, Tong Shia Oey Yok Su, siapakah orang kangouw yang tidak mengetahuinya? Seumurnya aku Oey Lao Shia, yang aku paling jemukan ialah segala hal wales asih dan pribadi, segala peradatan dan aturan, dan yang paling aku bencikan yakni segala nabi atau rasul, segala kehormatan atau kesucian diri! Semua itu adalah daya belaka untuk memperdayakan suami-istri tolol, dan manusia di kolong langit ini, turun menurun telah dibelesaki ke dalam situ tanpa mereka sadari! Tidakkah itu sangat menyedihakn, sangat harus dikasihani dan lucu juga? Oey Yok Su tidak percaya semua itu! Orang mengatakan Oey Yok Su sesat! Hm! Sebenarnya hatiku ada terlebih baik daripada segala nabi yang dipuja di dalam kuil!"
Yauw Kee berdiam, tapi hatinya berdenyutan. Hebat kata-katanya Oey Yok Su ini. Ia tidak tahu, apa yang si sesat ini hendak perbuat atas dirinya….
"Kau omonglah terus terang kepadaku,"
Berkata pula Oey Yok Su.
"Benar bukan kau hendak menikah sama cucu muridku ini? aku paling sukai bocah yang bersemangat dan polos dan jujur! kau lihat imam cilik tadi, ia mencaci aku dibelakangku. Coba di depanku dia takut mencaci lebih jauh, coba dia justru bertekuk lutut memohon ampun, kau lihat, aku bunuh padanya atau tidak! Hm! Di saat yang sangat berbahaya kau membantu imam cilik itu, kau bersemangat, maka itu tepatlah kau dipasangi sama cucu muridkun ini! Nah, kau jawablah!"
Yauw Kee girang bukan kepalang.
Memang sangat ingin ia menikah sama Koan Eng.
Akan tetapi cara bagaimana ia dapat membuka mulut dalam urusan yang mesti direcoki orang tua mereka?
Kepada ayah ibunya sendiri ia malu untuk menjelaskannya, apa pula kepada orang asing ini, yang ia baru pertama kali menemuinya?
Pula di situ Koan Eng ada beserta!
Maka ia tetap berdiri diam, wajahnya tetap merah dadu… Oey Yok Su mengawasi Liok Koan Eng.
Juga pemuda itu, cucu muridnya, berdiam sambil tunduk.
Tiba-tiba ia ingat pada putrinya.
Maka ia menghela napas.
"Jikalau dihendaki kamu berdua, suka aku merecoki jodoh kamu,"
Katanya perlahan.
"Memang di dalam hal perjodohan, orang tua juga tiak dapat memaksanya…."
Si Sesat dari Timur ini ingat kejadian kepada putrinya.
Coba ia meluluskan anak darahnya itu menikah dengan Kwee Ceng, tidak nanti anak itu mati mengenaskan di dasar laut.
Karena ini, ia menjadi uring-uringan.
"Koan Eng!"
Katanya tiba-tiba nyaring.
"Kau jawablah terus terang, sebenarnya kau menghendaki atau tidak dia ini menjadi istrimu?!"
Pemuda she Liok itu kaget hingga ia mencelat.
"Cauwsuya,"
Sahutnya cepat, gugup.
"Aku hanya khawatir aku tidak setimpal dengan ini…"
"Tepat, cocok!"
Berseru Oey Yok Su.
"Kaulah cuci muridku, sekalipun putri raja, tentu dia tepat, dia setimpal denganmu!"
"Ya, cucu muridmu suka,"
Koan Eng menjawab dengan cepat.
Ia mengerti kalau ia tidak omong polos dan terus terang, ia bisa celaka di tangan kakek guru yang tabiatnya aneh ini.
Kalau tadi ia beroman beringis, sekarang Oey Yok Su tersenyum.
"Bagus!"
Serunya.
"Sekarang kau, nona?"
Ia terus tanya nona Thia. Bukan main girangnya yauw Kee, manis ia mendengar suaranya Koan Eng. Akan tetapi ia masih menunduki kepala.
"Tentang hal ini haruslah ayahku yang memutuskannya…"
Sahutnya sesaat kemudian.
"Ha, apakah itu segala titah orang tua, segala perkataan comblang?"
Kata Oey Yok Su keras.
"Segala itu ialah angin busuknya anjing! Sekarang ini akulah yang hendak mengambil keputusan! Jikalau ayahmu tidak mupakat, suruh dia berurusan denganku!"
Yauw Kee berdiam.
"Kalau begitu, terang kau tidak suka!"
Berkata Oey Yok Su.
"Kau ada merdeka! Kita harus omong terus terang, aku Oey Lao Shia, aku larang orang menyesal kemudian!"
Yauw Kee tersenyum.
"Ayahku cuma pandai berhitung dan menulis, dia tidak mengerti ilmu silat,"
Katanya, menjelaskan. Oey Yok Su heran, melengak.
"Biarlah mengadu menghitung dan menulis pun boleh!"
Katanya kemudian.
"Lekas kau bilang, kau suka atau tidak menikah dengan cucu muridku ini?"
Nona Thia melirik Koan Eng, roman siapa gelisah. Di dalam hatinya ia kata.
"Ayahku paling sayang padaku, asal kau minta orang datang melamar aku, dia tentu akan menerimanya. Kenapa kau begini bergelisah?"
Oey Yok Su mengawasi cucu muridnya.
"Koan Eng, mari turut aku mencari Kanglam Liok Koay!"
Katanya nyaring.
"Lain kali kalau kau dan nona ini bicara pula, sepatah kata saja, akan aku kuntungi lidah kamu!"
Koan Eng kaget bukan main. Ia tahu benar, perkataannya si kakek guru tentu bakal diwujudkan. Maka lekas-lekas ia menghampirkan Yauw Kee, kepada siapa ia menjura seraya berkata.
"Nona Thia, aku Liok Koan Eng, kepandaian ilmu silatku rendah sekali, aku pun tidak terpelajar, sebenarnya tidak setimpal aku denganmu, akan tetapi hari ini kita telah bertemu, itu tandanya kita berjodoh…"
"Jangan terlalu merendah, kongcu,"
Sahut Yauw Kee perlahan.
"Aku…aku bukannya…."
Koan Eng lekas memotong. Ia jadi ingat tadi si nona bicara dari hal mengangguk kepala untuk menggantikan jawaban.
"Nona,"
Demikian katanya.
"Jikalau kau mencela aku si orang she Liok, kau goyanglah kepalamu…"
Di mulut Koan Eng mengatakan demikian, hatinya sebenarnya goncang keras.
Ia menatap si nona, ia khawatir nona itu benar-benar menggeleng kepala… Sekian lama, Yauw Kee berdiam saja.
Di atas dari kepalanya, di bawah sampai kakinya, dia tidak bergerak sedikit juga.
Bukan main girangnya Koan Eng.
"Nona!"
Ia berseru.
"Kalau kau setuju, kau menerima baik, sukalah kau mengangguk!"
Baca Juga: Pedang Kiri Pedang Kanan 1
Baca Juga: Pendekar Bego 5