Ceritasilat Novel Online

Pendekar Pemanah Rajawali 13

Eps 13 Pendekar Pemanah Rajawali - Jin Yong

Baca online Pendekar Pemanah Rajawali - Jin Yong

Cersil Pendekar Pemanah Rajawali - Jin Yong.

Tapi, nona Thia itu tetap tidak bergerak. menampak itu, Koan Eng bergelisah bukan main. Oey Yok Sun sendiri menjadi tidak sabaran.

"Menggeleng kepala tidak, mengangguk pun tidak, habis bagaimana?!"

Katanya. Yauw Kee tunduk, ia bersenyum ketika ia berkata.

"Tidak menggeleng kepala itu berarti mengangguk…"

Mau tidak mau, Oey Yok Su tertawa berkakakan.

"Hebat Ong Tiong Yang, dia menerima ini macam cucu murid! Sungguh lucu!"

Serunya.

"Bagus, bagus! Sekarang juga aku akan menikahkan kamu!"

Koan Eng dan Yauw Kee terkejut. Keduanya lantas mengawasi orang tua ini, mulut mereka bungkam.

"Mana itu nona tolol?"

Kemudian Oey Yok Su menanya.

"Hendak aku tanya dia, siapakah gurunya."

Ketiganya menoleh ke sekitarnya, Sa Kouw tidak ada di antara mereka. Entah kapannya si tolol menghilang selagi orang berbicara.

"Sudah, tidak usah repot mencari dia,"

Kata Oey Yok Su kemudian.

"Koan Eng, sekarang hayolah kau dan nona Thia sama-sama menghormati langit dan bumi, untuk menglangsungkan pernikahan kamu."

"Cauwsuya,"

Berkata Koan Eng.

"Kau menyayang cucu muridmu ini, untuk itu walaupun tubuhku hancur lebur, sukar aku membalas budimu, akan tetapi dengan aku menikah di sini, nampaknya ini terlalu tergesa-gesa…"

"Hus!"

Membentak Tong Shia.

"Kamu murid Tho Hoa To, apakah kau juga hendak mengukuhi segala aturan umum? Mari, mari, berdirilah berendeng dan memberi hormatlah ke luar kepada langit!"

Berpengaruh sekali suaranya pemilik dari pulau Tho Hoa To ini. Sampai di situ, Yauw Kee dan Koan Eng bertindak satu pada lain, untuk berdiri berendeng, untuk terus menjalankan kehormatan.

"Sekarang menghadap ke dalam, menghormati bumi!"

Oey Yok Su berkata pula.

"Nah, kau menghormatilah couwsu kamu! Bagus, bagus, sungguh aku girang! Sekarang suami istri saling memberi hormat!"

Demikian KoanEng dan Yuaw Kee seperti main sandiwara di bawah pimpinan Tong Shia, selama mana Oey Yong bersama Kwee Ceng terus mengikuti dari kamar rahasia.

Mereka heran dan lucu atas sepak terjangnya orang tua ini.

"Bagus!"

Terdengar pula suaranya Oey Yok Su.

"Sekarang hendak aku menghadiahkan serupa barang kepada kamu suami-istri muda. Kamu lihat!"

Seketika itu juga, di dalam ruangan ini terdengar suara angin menderu-deru, seumpama kata, tembok bergoyang-goyang… Oey Yong tidak mengintai tetapi ia tahu, ayahnya tengah menjalankan ilmu silat yang dinamakan Kong-piauw-kun atau Angin Ngamuk.

Sekira semakanan the, angin berhenti menderu.

"Kamu lihat, sekarang kamu turuti, untuk berlatih,"

Berkata Oey Yok Su.

"Mungkin kamu tidak dapat menangkap seluruh sarinya ilmu silat ini akan tetapi setelah menyakinkannya, meskipun cuma kulitnya saja, bila kemudian kamu bertemu pula orang sebangsa si orang she Hauw tadi, tak usah kau takut lagi. Koan Eng, pergi kau cari sepasang lilin, malam ini kamu boleh merayakan pernikahan kamu!"

Koan Eng melengak.

"Cauwsu,"

Katanya tertahan.

"Apa? Habis menghormati langit-bumi, apakah bukannya merayakan pernikahan di antara lilin di dalam kamar?"

Tanya kakek guru ini.

"Kamu berdua ada orang-orang yang menyakinkan ilmu silat, mustahilkah untuk kamu masih dibutuhkan segala kamar yang dirias indah dan gubuk reot tak cukup?"

Koan Eng terdesak.

Tetapi diam-diam ia bergirang.

Ia lantas pergi untuk membeli lilin sekalian membeli juga arak putih dan seekor ayam, bersama-sama Yauw Kee ia pergi ke dapur untuk mematangi itu, setelah mana mereka melayani sang kakek guru bersantap.

Sejak itu Oey Yok Su tidak banyak omong lagi, bahkan ia melihat ke langit, otaknya memikirkan anak daranya.

Oey Yong bersusah hati, beberapa kali hendak ia memanggil ayahnya itu, saban-saban ia membatalkannya.

Ia khawatir ia nanti mengganggu lukanya Kwee Ceng.

Pernah ia mengulur tangan ke pintu, lekas ia menariknya pulang.

Yuaw Kee dan Koan Eng beberapa kali melirik Tong Shia, lalu mereka saling mengawasi.

Mereka juga membungkam, tidak ada yang berani membuka mulut.

Auwyang Kongcu rebah di atas rumput, ia merasa sangat lapar, tetapi ia menguati hatinya, untuk tak bersuara, tak bergerak.

Maka itu ketika itu, di dalam tiga kamar, keenam orang itu sama-sama rapat mulutnya.

Demikian cuca gelap.

Dengan mulai gelapnya sang jagat, hati Yauw Kee berdebaran.

"Ah, kenapa si tolol itu masih belum kembali?"

Berkata Oey Yok Su.

"Kawanan jahanam itu tentulah tak berani mengganggu dia."

Ia menoleh pada Koan Eng. Ia menanya.

"Malam ini malam pengantin, mengapa kau tidak memasang lilin?"

"Ya,"

Menyahut Koan Eng cepat dan ia menyalakan api menyulut lilin.

Maka itu di antar terangnya api ia dapat melihat wajahnya nona Thia dengan rambutnya yang bagus dan pipinya yang putih.

Di luar rumah terdengar suara angin perlahan, dari memainnya daun-daun bambu.

Oey Yok Su menngangkat sebuah bangku, ia lintai itu di depan pintu, lants di situ ia rebahkan dirinya.

Tidak lama, dari hidungnya mulai terdengar suara menggeros perlahan, suatu tanda ia sudah tidur pulas.

Yuaw Kee dan Koan Eng masih duduk tak bergeming.

Sang tempo berjalan terus sampai sepasang lilin padam, habis manjadi cair beku dan sumbunya menjadi abu, hingga ruangan menadi gelap petang.

Setelah ini mereka berbicara, seperti berbisik-bisik hingga Oey Yong yang memasang kuping, tidak dapat menangkap pembicaraan mereka itu.

Nona Oey berhenti memasang kuping tatkala merasakan tubuh Kwee Ceng bergerak secara tiba-tiba, napasnya seperti memburu.

Ia mengerti, itulah saat genting dari latihan mereka.

Maka ia memusatkan perhatiannya, ia mengempos tenaga dalamnya, untuk menunjang kawan itu.

Ia menanti sampai si anak muda tenang pula, baru ia mengintai keluar.

Sekarang ini mulai tertampak sinar rembulan, yang molos masuk dari jendela butut.

Dengan begitu kelihatan juga Koan Eng dan nona Thia duduk berbareng.

Mereka duduk diatas sebuah bangku.

"Tahukah kau hari ini hari apa?"

Kemudian terdengar si nona Thia, suaranya perlahan.

"Inilah hari baik dari kita berdua,"

Menyahut Koan Eng.

"Itulah tak usah disebutkan lagi,"

Kata si nona.

"Hari ini bulan tujuh tanggal dua -hari ini ialah hari lahir aku."

Koan girang.

"Oh, sungguh kebetulan!"

Katanya.

"Tidak ada hari sebaik hari ini!"

Yauw Kee mengulur tangannya menutup mulut orang.

"Sst, perlahan,"

Ia memberi ingat.

"Kau lupa daratan, eh?"

Hampir Oey Yong tertawa mendengar pembicaraan mereka itu. Justru itu ia pun bagaikan sadar.

"Hari ini tanggal dua, dan engko Ceng baru sembuh tanggal tujuh,"

Demikian ia ingat.

"Rapat partai Pengemis di kota Gakyang bakal dilakukan tanggal limabelas. Dalam tempo delapan hari, mana dapat kita sampai di sana?"

Nona ini tengah berpikir ketika kupingnya mendengar siulan panjang di luar rumah makan, disusul tertawa nyaring yang seperti menggetarkan genteng rumah makan itu. Ia mengenali suaranya Ciu Pek Thong.

"Hai, tua bangka berbisa bangkotan!"

Terdengar pula suaranya si orang tua berandalan itu.

"Dari Lim-an kau mengubar ke Kee-hin, dari Kee-hin kau mengejar balik ke Lim-an, sudah satu hari satu malam kau mengejarnya, sampai diakhirnya, kau masih tak dapat menyandak Loo Boan Tong! Sekarang ini sudah ada keputusannya tentang kepandaian kita berdua, apalagi hendak kau bilang?"

Oey Yong terkejut.

"Dari Lim-an ke Kee-hin toh perjalanan limaratus lie lebih?"

Pikirnya.

"Ah, bagaimana cepat larinya mereka berdua?"

Itu waktu terdengar suaranya Auwyang Hong.

"Meski juga kau lari ke ujung langit, akan aku kejar kau sampai di sana!"

Ciu Pek Thong tertawa terbahak.

"Kalau begitu, biarlah kita jangan gegares jangan tidur!"

Dia berkata nyaring.

"Biar kita terus kejar-kejaran untuk mendapat tahu, siapa yang larinya paling kencang, siapa yang paling ulet. Kau berani atau tidak?!"

"Baik!"

Menyambut Auwyang Hong.

"Mari kita lihat siapa yang akan lebih dulu mampus kecapaian!"

Bab 51.

Ajalnya Auwyang Kongcu Sebenta saja terdengar perkataan dan tertawanya Auwyang Hong dan Ciu Pek Thong berdua, atau sejenak kemudian, suara mereka terdengar sudah jauh mungkin di luar belasan tombak.

Koan Eng dan Yauw Kee duduk menjublak.

Tak tahu mereka siapa kedua orang itu, mereka heran.

Apa perlunya dua orang itu muncul di tengah malam buta rata?

Saking ingin tahu, mereka bangun berdiri, terus sambil berpegangan tangan mereka bertindak ke pintu.

Oey Yong sendiri berpikir.

"Mereka berdua hendak menguji kekuatan kaki mereka, mestinya ayah menyaksikan mereka itu."

Benar saja, segeralah terdengar suaranya Koan Eng.

"Ah, aneh! Mana Couwcu?"

"Lihat di sana!"

Berkata Yauw Kee.

"Bukankah di sana ada bayangan tiga orang? Bayangan yang paling belakang itu mirip sama bayangan couwsu."

"Ya, benar!"

Berkata Koan Eng.

"Kenapa dalam sekejap saja mereka itu sudah pergi begitu jauh? Siapakah itu dua orang yang lain? Mereka lihay sekali! Sang kita tidak dapat melihat mereka…"

Kata Oey Yong dalam hatinya.

"Tidak peduli kamu melihat si bisa bangkotan atau si bocah tua bangkotan berandalan, untuk kamu berdua tidak ada faedahnya…"

Habis itu, dua-dua Koan Eng dan Yauw Kee lega hatinya.

Dengan kepergian Oey Yok Su sang kakek guru, mereka menganggap berdua saja di rumah makan itu.

Bukankah Sa Kouw pun pergi tidak karuan paran?

Koan Eng lantas merangkul pinggang langsing dari istrinya si pengantin baru.

"Adikku, apakah namamu?"

Ia menanya perlahan. Nona Thia tertawa.

"Aku tidak hendak membilangi kamu. Kamu terkalah!"

Koan Eng pun tertawa.

"Kalau bukannya kucing kecil tentulah anjing cilik, !"

Katanya.

"Semaunya bukan!"

Kata si nona, kembali tertawa.

"Itulah si biang kutu gede!"

Koan Eng tertawa pula. Dengan "biang kutu gede"

Dimaksudkan harimau.

"Oh, kalau begitu tak dapat aku menangkapnya!"

Katanya.

Nona Thia berontak, ia melompat ke meja.

Koan Eng mengejar sambil tertawa-tawa.

Demikian mereka main kejar-kejaran, berputar-putaran, suara tertawa mereka ramai.

Samar-samar Oey Yong menanmpak bayangan mereka di antara sinar bintang-bintang, ia terus mengawasi, mulutnya tersenyum sendiri.

"Eh, Yong-jie, coba kau terka, dapatkah dia menyandak nona Thia atau tidak?"

Tiba-tiba Kwee Ceng menanya.

"Dia bakal pasti tercandak!"

Jawab si nona.

"Kalau sudah kena ditangkap, bagaimana?"

Kwee Ceng menanya pula.

Oey Yong tidak dapat menjawab.

Pertanyaan itu menggeraki hatinya.

Justru itu terdengar suaranya Koan Eng, tandanya ia telah berhasil menyandak dan membekuk Yauw Kee, lalu keduanya saling merrangkul, kembali ke bangku mereka.

Mereka bicara dan tertawa dengan perlahan.

Bukan main gembiaranya mereka itu.

Tangan kanan Oey Yong tetap beradu sama tangan kiri Kwee Ceng, ia merasakan telapakan tangannya si anak muda makin lama makin panas, tubuhnya pun bergoyang ke kiri dan ke kanan, bergoyangnya makin lama makin keras.

Ia menjadi terkejut.

"Engko Ceng, kau kenapa?"

Ia menanya.

Kwee Ceng masih belum sembuh totol, bersenda guraunya Koan Eng dan Yuaw Kee mengganggu pemusatan pikirannya, lebih-lebih ia berada berduaan saja sama Oey Yong.

Sulit untuk dia menguasai dirinya, maka itu tanganya menjadi panas, tubuhnya bergoyang.

Ia tidak jawab si nona, hanya ia ulur tangan kanannya akan memegang pundak si nona.

Oey Yong bertambah khawatir.

Pemuda itu bernapas memburu keras, hawanya pun bertambah panas.

"Engko Ceng, hati-hati!"

Ia memperingati.

"Kau tenangkan dirimu, kau tetapkan hatimu!"

"Aku gagal, Yong-jie,"

Menyahut Kwee Ceng, yang hatinya goncang.

"Aku…aku.."

Habis berkata, ia mencoba bangun untuk berdiri.

"Jangan bergerak!"

Oey Yong berteriak saking bingungnya. Ia gugup. Kwee Ceng duduk pula, ia mainkan pernapasannya. Ia merasakan hatinya ruwet, dan dadanya pun seperti hendak meledak.

"Yong-jie, kau tolongi aku, tolongi…"

Raratpnya. Kembali ia hendak berbangkit bangun.

"Jangan bergerak!"

Oey Yong melarang pula.

"Begitu kau gerak, akan aku totoki padamu!"

"Benar, lekaslah kau totok!"

Kata Kwee Ceng.

"Aku tidak dapat menguasai diriku lagi…"

Oey Yong menjadi sangat bingung.

Ia tahu, kalau ia menotok, habis sudah latihan ,mereka berdua, yang telah dilakoni dengan susah payah, dikemudian hari mereka harus berlatih dari baru pula.

Tapi Kwee Ceng menghadapi bahaya, asal ia berdiri, maka terancamlah jiwanya.

Tapi ia tak dapat bersangsi, ia tidak boleh berayal lagi.

Dengan menggertak gigi, ia geraki tangan kirinya, dengan tipu "Lan-hoat Hut-huat-ciu" , ia menotoki jalan darah ciang-bun di tulang rusuk ke sebelas dari dada kiri si pemuda itu.

Tenaga dalam dari Kwee Ceng telah terlatih sempurnya sekali, ia dapat menggunai itu secara wajar, maka tempo jari si nona hampir sampai pada sasarannya, ia berkelit sendirinya.

Dua kali Oey Yong menotok, dua-dua kalinya gagal.

Ketika ia hendak mengulangi untuk ketiga kalinya, mendadak lengan kirinya tercekal keras, lengan itu kena ditangkap Kwee Ceng.

Cuaca ketika itu sudah mulai terang.

Oey Yong berpaling, mengawasi si anak muda.

Ia mendapatkan sepasang mata orang merah bagaikan api.

Ia terkejut.

Ia pun merasa tangannya ditarik.

Mulut Kwee Ceng mengasih dengar suara tak tegas, terang ia kacau otaknya.

Terpaksa ia menggeraki pundaknya, membentur tangan orang.

Dengan begitu duri dari baju lapisnya mengenai daging si anak muda.

Kwee Ceng kaget kesakitan, ia tertegun.

Justru itu waktu, kupingnya dapat menangkap keruyuknya ayam jago.

Mendadak saja, otaknya menjadi terang dan sadar.

Dengan perlahan ia lepaskan cekalannya, ia mengasih turun tangannya.

Ia pun malu hingga ia jengah sendirinya.

Oey Yong mengawasi.

Di jidat anak muda terlihat keringat mengetel.

Kulit muka orang pun lesu dan pucat sekali.

Tapi, meskipun itu semua, ancaman bahaya sudah lenyap.

Maka legalah hatinya, ia menjadi girang.

"Engko Ceng, kita sudah melewati dua hari!"

Katanya.

"Plok!"

Demikian satu suara nyaring. Nyata Kwee Ceng telah menggaplok mukanya sendiri.

"Sungguh berbahaya!"

Katanya. Ia maish hendak menggaplok lagi atau si nona mencegah.

"Jangan, itulah tak ada artinya!"

Kata Oey Yong tertawa.

"Kau ketahui lihaynya Loo Boan Tong, dia masih tak sanggup mempertahankan dri dari suara seruling ayahku, apapula kau tengah terluka parah?"

Tanpa merasa, karena ancaman bahaya itu, Kwee Ceng dan Oey Yong sudah memasang omong.

Mereka lupa keadaan mereka, mereka tidak ingat lagi untuk main berbisik saja.

Koan Eng dan Yauw Kee tengah kelelep asmara, mereka tidak mendapat dengar, tetapi tidak demikian dengan Auwyang Kongcu di ruang dalam.

Pemuda ini memasang kupingnya, hingga ia mengenali suaranya Oey Yong.

Ia kaget berbareng heran.

Ia masih mendengar lagi tapi suara lantas sirap.

Ia menjadi sangat menyesal karena kedua kakinya luka parah hingga ia tak mampu berjalan.

Tetapi ia ingin berjalan pula, maka terpaksa ia menggunai kedua tangannya, yang dijadikan seperti kaki, hingga tubuhnya terangkat ke atas, kakinya naik tinggi sedangakan kepalanya berada di bawah!

Koan Eng bersama pengantinya berdiri berendeng, tangan kirinya merangkul leher istrinya itu, terletak di pundak istrinya.

Ia terkejut ketika kupingnya dapat mendengar suara berkerisiknya rumput, segera ia menoleh.

Maka terlihatlah olehnya seorang berjalan dengan kedua tangan di jadikan kaki.

Ia segera berbangkit seraya mencabut goloknya.

Auwyang Kongcu telah terluka parah, ia pun sudah kelaparan, tubuhnya menjadi sangat lemah, ketika ia lihat berkelebatnya sinar golok, kagetnya tak kepalang, tidak ampu lagi ia roboh pingsan.

Koan Eng melihat orang tengah sakit, ia lompat maju untuk mengasih bangun, buat dikasih duduk di atas bangku, tubuhnya disenderkan pada meja.

Selahi suaminya menolongi orang, Thia Yauw Kee menjerit kaget.

Ia tidak uash mengawasi lama akan mengenali orang adalah Auwyang Kongcu, yang di Poo-ceng telah menangkap padanya.

Koan Eng menoleh dengan lantas karena jeritan istrinya itu.

Ia terkejut akan mendapatkan muka si istri, yang seperti orang ketakutan sangat.

"Jangan takut,"

Ia menghibur.

"Dia telah patah kakinya."

Tapi istrinya menyahut lain.

"Dia orang jahat, aku kenali dia!"

Demikian sahutnya.

"Oh!"

Seru Koan Eng tertahan. Auwyang Kongcu mendusin sendirinya.

"Bagi aku nasi, aku lapar sekali,"

Ia memohon.

Yauw Kee mengawasi.

Ia melihat orang bermata coleng dan beroman sangat kucel, timbul rasa kasihannya.

Ia memang berperangai halus dan pemurah hati, ia menjadi tidak tega.

Ia menghampirkan kuali untuk mengisikan satu mangkok nasi, yang mana ia angsurkan pada pemuda yang bercelaka itu.

Auwyang Kongcu menyammbuti, terus ia makan.

Habis satu mangkok, ia minta pula, maka habislah tiga mangkok, setelah mana ia merasa tenaganya pulih.

Ia mengawasi Yauw Kee.

Mendadak timbul pula pikiran yang buruk.

"Mana nona Oey,"

Ia tanya.

"Nona Oey yang mana?"

Oey Yong balik menanya.

"Nona Oey putrinya Oey Yok Su dari Tho Hoa To,"

Auwyang Hong menjawab.

"Oh, kau kenal nona Oey?"

Kata Koan Eng.

"Kabarnya dia sudah menutup mata…"

Pemuda itu tertawa.

"Ah, kau hendak memperdayakan aku?"

Katanya.

"Terus-terang aku telah mendengar suaranya barusan!"

Terus dengan mendadak ia menekan meja dengan tangan kirinya, atas mana tubuhnya melesat, hingga dilain saat ia sudah berdiri pula dengan kedua tangannya.

Ia berputaran di ruang itu, untuk mencari Oey Yong.

Sia-sia ia mencari, maka ia memasang mata sambil memasang kupingnya.

Ia mengawasi ke arah darimana datangnya suara Oey Yong datang, ialah arah timur.

Tapi di situ ada tembok, tidak ada pintu.

Ia sangat cerdas, tak usah berpikir lama, ia lantas mencurigai lemari.

"Mesti ada rahasianya di situ,"

Demikian pikirnya.

Maka ia lantas menarik meja, dibawa ke depan lemari itu, habis mana ia naik ke atas meja itu, untuk segera membuka daun lemari.

Ia menyangka ada pintu rahasia di situ, tapi ia kecele.

Ia melihat bagian dalam lemari yang hitam dan kotor.

Ia berputus asa akan tetapi pikirannya bekerja terus juga.

Maka terlihatlah olehnya mangkok besi, bahkan di situ ia mendapatkan beberapa tapak jari tangan, yang masih baru.

Mendadak hatinya tergerak.

Segera ia mengulur tangannya, meraih mangkok itu.

Ia menarik tetapi mangkok tidak bergeming.

Ia tidak mau sudah, sekarang ia memutar.

Mangkok itu terus bergerak, ia memutar terus.

Maka segeralah terdengar suara apa-apa, disusul sama bergeraknya pintu rahasia hingga di sana terlihat Oey Yong dan Kwee Ceng lagi duduk di dalam kamar rahasia itu.

Bukan main girangnya kongcu ini melihat si nona, hanya menampak Kwee Ceng ada beserta nona itu, ia berbalik menjadi kaget berbareng iri dan cemburunya lantas timbul, iri hatinya menyusul.

"Adikku, apakah kau tengah berlatih?"

Ia menanya.

Ia melihat dua orang itu berdiam saja.

Semenjak tadi Oey Yong merasa pasti rahasianya bakal ketahuan.

Ia telah mengawasi setiap gerak-geriknya Auwyang Kongcu itu, ketika orang membuka lemari, ia lantas berpikir.

"Jangan bergerak,"

Ia bisiki Kwee Ceng.

"Aku akan pancing dia datang dekat, lalu kau hajar dia dengan ang Liong Sip-pat Ciang, untuk menghabiskan padanya."

"Tetapi aku tidak dapat menggunai tenaga di tanganku,"

Kwee Ceng membilang, berbisik juga. Oey Yong masih hendak berbicara pula atau pintu sudah terbuka dan Auwyang Kongcu muncul di depan mereka, maka lekas-lekas ia mengasah otaknya.

"Dengan cara bagaimana aku dapat menghalau dia hingga dia suka pergi jauh-jauh, supaya aku bisa melewatkan terus lima hari lima malam dengan tenang? Kalau aku membuka mulut, bisa celaka engko Ceng…Bagaimana sekarang?"

Auwyang Kongcu jeri terhadap Kwee Ceng, melihat orang berdiam saja, ia mengawasi dengan tajam hingga ia dapat melihat roman yang lesu, mukanya pucat.

Dia lantas ingat pembilangan pamannya bahwa Kwee Ceng itu pernah dihajar dengan Kuntauw Kodok di dalam istana, kalau tidak lantas mati, si anak muda mestinya terluka parah.

Maka sekarang, ia melihat keadaannya Kwee Ceng dan menyaksikan sikapnya mereka berdua, sebagai orang cerdik, ia lantas dapat menduga duduknya hal.

Untuk mendapat kepastian, ia hendak mencoba.

"Adik, kau keluarlah,"

Ia berkata.

"Buat apa berdiam di dalam kamar ini, cuma-cuma pikiran menjadi pepat…"

Sembari berkata, ia mengulur sebelah tangannya, berniat menarik ujung baju si nona.

Oey Yong tidak menyahuti, hanya ia angkat tongkatnya dengan apa ia menghajar kepala orang.

Auwyang Kongcu kaget, dengan lekas ia berkelit.

Hebat serangan itu, sebagaimana anginnya pun berkesiur keras.

Ia lompat jumpalitan, akan trun dari meja.

Oey Yong menjadi sangat menyesal.

Kalau dapat ia bergerak, ia bisa menyusuli dengan serangan yang kedua, yang pasti tidak bakal gagal.

Sekarang ia cuma bisa numprah terus, jengkelnya bukan kepalang.

Sementara itu Koan Eng dan Yauw Kee heran bukan main mendapatkan kamar rahasia itu serta di dalamnya ada orangnya, mereka sampai diam menjublak saja.

Ketika kemudian mereka mengenali Oey Yong dan Kwee Ceng, itu waktu si nona Oey sudah menyerang Auwyang Kongcu, tetapi serangannya gagal.

Setelah itu, pemuda itu naik pula ke meja, untuk beraksi.

Ia jadi berani karena ia melihat Oey Yong tidak bergerak untuk menyusul padanya, dugaannya menjadi satu kepastian.

Begitulah ia menyerang si nona, tangan siapa ia hendak tangkap untuk ditarik.

Kalau Oey Yong menghajar dia dengan tongkat, ia senantiasa main berkelit.

Kalau ada ketikanya, ia menotok.

Oey Yong kewalahan, tidak peduli ilmu tongkatnya lihay.

Ia tidak berani bangun, untuk meninggalkan Kwee Ceng.

Karena ini, lama-lama ialah yang kena terdesak.

Koan Eng dan istrinya melihat keadaan buruk untuk nona Oey itu, dengan serentak mereka maju untuk membantui.

Mereka masing-masing menggunai golok dan pedang.

Auwyang Kongcu melihat majunya suami-istri itu, ia tertawa lebar dan panjang, sambil tertawa tubuhnya bergerak, sebelah tangannya menyambar ke arah Kwee Ceng.

Pemuda itu melihat bahaya mengancam, akan tetapi ia tidak dapat menangkis atau berkelit, terpaksa ia tutup rapat kedua matanya untuk menantikan maut datang.

Oey Yong kaget bukan main, ia segera menyerang.

Auwyang Kongcu sudah bersiap, begitu tongkat tiba, ia menanggapi, ia mencekal, lalu ia menarik keras.

Dalam tenaga, tentu saja nona Oey kalah, sedang sebelah tangannya tidak dapat ia gunakan.

Bahkan ia khawatir sekali tangannya itu lepas dari tangan Kwee Ceng.

Sekalipun tubuhnya terhuyung, ia berdaya untuk mempertahankan diri.

Tidak ada jalan lain, terpaksa ia lepaskan tongkatnya, untuk tangannya itu dipakai merogoh ke dalam sakunya, untuk meraup jarumnya, dengan apa ia menyerang ke arah musuh yang licik itu.

Auwyang Kongcu terkejut.

Jarak di antara mereka cukup dekat, ketika ia melihat barang berkeliauan, ia lantas menjatuhkan diiri rebah di atas meja.

Tanpa berkelit secara demikian, pastilah ia celaka.

Justru itu, Koan Eng datang dengan bacokannya.

Kembali Kongcu itu kaget, terpaksa ia menggulingkan diri ke kanan.

Golok Koan Eng mengenai meja, sebab sasarannya lenyap.

Tengah Koan Eng membacok, jarumnya Oey Yong tiba, menggenai punggungnya.

Ia kaget sebab dengan segera ia merasakan separuh tubuhnya tak dapat digeraki.

Maka ketika Auwyang Hong menyambar, ia kena dicekuk tanpa berdaya.

Sebat luar biasa, keponakannya Auwyang Hong mencekal tangan orang.

"Bagus!"

Katanya.

Itu waktu Yauw Kee pun menyerang.

Si nona kaget dan hendak menolongi suaminya.

Tapi Auwyang Kongcu ada terlalu lihay untuknya.

Pemuda itu berkelit, sambil berkelit, sebelah tangannya menyambar ke dada orang.

Ia kaget bukan main.

Celaka kalau dadanya itu kena dipegang pemuda ceriwis itu.

Lekas-lekas ia mambacok.

Auwyang Kongcu menarik pulang tangannya itu, tetapi dia telah berhasil menjambret baju orang, yang kena dia robek.

Saking kaget, hampir Yauw Kee membikin pedangnya terlepas, mukanya pucat.

Karena ini, ia tidak dapat maju pula.

Auwyang Kongcu duduk numprah di atas meja.

Ketika itu, pintu lemari, atau lebih benar pintu rahasia, sudah tertutup pula.

Ia bergidik sendirinya kapan ia ingat serangan jarum berbisa dari si nona tadi.

"Budak ini benar-benar lihay,"

Pikirnya.

"Tapi biarlah dia, sekarang aku permainkan saja nona Thia, aku tanggung mereka berdua bakal jadi kacau pikirannya, rusak semadhinya. Sampai itu waktu, aku tentu sudah mempunyai daya untuk menguasai mereka…"

Mengingat itu, bukan main girangnya pemuda itu.

"Eh, nona Thia,"

Ia berkata kepada Yauw Kee.

"Kamu menghendaki dia mati atau hidup?"

Ia maksudkan Koan Eng, yang sudah tidak berdaya itu.

Ia sudah pikir, nona Thia tidak dapat dilawan dengan keras, mesti dengan halus, supaya ia suka menyerah sendirinya.

Jalan itu ialah Koan Eng harus dipakai sebagai alat.

Yauw Kee bingung bukan main.

Ia lihat suaminya menutup kedua matanya, tubuhnya tak bergeming.

"Auwyang Kongcu,"

Katanya terpaksa.

"Dia dengan kau tidak ada bermusuhan, aku minta sukalah kau merdekakan dia…"

"Haha!"

Tertawa si anak muda.

"Kiranya kamu kaum Coan Cin Pay juga ada harinya kamu minta-minta kepada lain orang!"

"Dia…dialah murid dari Thoa hoa Ta, jangan kau celakai dia…"

Kata pula si nona.

"Siapa suruh dia membacok aku?"

Kata si anak muda tetap tertawa.

"Jikalau bukannya aku berkelit dengan cepat, apakah batok kepalaku masih ada di batang leherku? Jangan kau gertak aku dengan nama Tho Hoa To! Oey Yok Su itu ialah mertuaku!"

Yauw Kee tidak tahu orang bicara benar atau mendusta.

"Kalau begitulah kau yang terlebih tua, kau merdekakanlah dia,"

Kata pula ia.

"Biarlah dia menghanturkan maaf padamu."

"Mana bisa gitu gampang, he?"

Auwyang Kongcu pula.

"Jikalau kau menghendaki juga aku melepaskan dia, kau mesti menerima baik permintaanku."

Yauw Kee mengawasi paras orang, ia mendapat duga orang bermaksud tidak baik, maka itu ia lantas tunduk, ia tidak menyahuti.

"Kau lihat!"

Berkata Auwyang Kongcu, tiba-tiba. Ia mengangkat tangannya menghajar ujung meja hingga ujung meja itu semplak seperti bekas dibacok. Yauw Kee terkejut.

"Suhu juga tidak selihay dia ini,"

Pikirnya. Auwyang Kongcu mewariskan kepandaiannya Auwyang Hong, sang paman, maka itu, dia menang banyak daripada Sun Put Jie. Ia senang mendapatkan si nona berkhawatir.

"Begini permintaanku,"

Kata dia.

"Inilah apa yang aku titahkan kau lakukan, kau mesti lakukan, jikalau kau tidak menurut, kau mesti lakukan, jikalau kau tidak menurut, maka leher dia akan aku bikin macam begini!"

Dia mengasih contoh dengan ancaman tangannya, seperti tadi ia membacok meja, tetapi kali ini ia tujukan kepada batang leher Koan Eng. Nona Thia kaget hingga ia menjerit.

"Kau menurut atau tidak?"

Auwyang Kongcu tanya. Dengan terpaksa Yauw Kee mengangguk.

"Bagus!"

Seru keponakannya Auwyang Hong.

"Begini barulah anak manis! Nah, pergilah kau menutup pintu!"

Yauw Kee berdiri diam.

"Kau dengar tidak kataku?"

Auwyang Kongcu membentak. Takut Yauw Kee, maka dengan terpaksa, dengan hati berdebaran, ia menutup pintu.

"Bagus!"

Anak muda itu tertawa grang.

"Tadi malam kamu berdua menikah, aku mendengarnya dengan nyata, cuma anehnya, di dalam kamar pengantin, kamu tidak membuka pakaian. Di kolong langit ini tidak ada suami-istri seperti kamu! Sekarang kau loloskanlah semua pakaianmu, sepotong juga tak boleh ketinggalan. Jikalau kau tidak menurut, segera aku kirim suamimu ke alam baka, hingga kau lantas menjadi janda muda!"

Koan Eng tidak dapat menggeraki kaki tangannya, tetapi kupingnya mendengar segala apa dengan nyata dan matanya melihat segala sesuatu, maka itu ia murka bukan main, hingga matanya seperti mau melompat keluar, hatinya seperti mau meledak.

Ia hendak meneriaki istrinya buat jangan menuruti permintaan itu, supaya istri itu pun melarikan diri, apa celaka, ia tidak dapat membuka mulutnya.

Sementara itu Oey Yong di dalam kamarnya telah siap sedia.

Ialah yang mengunci pula pintu rahasia selagi Auwyang Kongcu merobohkan Liok Koan Eng.

Ia mencekal pisaunya kalau-kalau si anak muda menyerang untuk kedua kalinya.

Maka ia kaget, mendongkol berbareng gusar mendengar Auwyang Kongcu menitah Yauw Kee melepaskan pakaiannya untuk bertelanjang bulat.

Dilain pihak, dasar sifatnya kekanak-kanakan, ia ingin melihat Yauw Kee akan meluluskan atau tidak permintaan kongcu Auwyang itu….

Maka itu masih menantikan….

"Mengapa sulit untuk meloloskan pakaian?"

Berkata pula Auwyang Kongcu.

"Ketika kau dilahirkan dari dalam perut ibumu, apakah kau pun berpakaian? kau bilang, kau hendak melindungi mukamu atau jiwanya dia?"

Kembali ia menuding kepada Koan Eng. Nona Thia berdiam, otaknya bekerja keras.

"Nah, kau bunuhlah dia!"

Kata dia akhirnya, suaranya dalam.ä Auwyang Kongcu melengak.

Sungguh dia tidak menyangka si nona dapat memberikan jawaban itu.

Itu menjadi terlebih kaget ketika ia melihat nona itu mengayun pedangnya ke arah lehernya sendiri.

Dengan lantas ia menimpuk dengan sebatang jarumnya, jarum Touw-kut-ciam, maka jatuhlah pedang di tangannya nona itu.

Yauw Kee membungkuk, untuk menjumput pula pedangnya itu.

Atau tiba-tiba.

"Pengurus hotel! Pengurus hotel!"

Itulah suaranya seorang wanita, yang memanggil pemilik hotel.

Yauw Kee menjadi dapat harapan.

Setelah mencekal pedangnya, ia lompat ke pintu, untuk segera membukai itu.

Maka ia melihat seorang wanita muda, yang pakaiannya putih, berdiri di muka pintu, rambutnya dibungkus dengan kain putih juga dan dipinggangnya tersoren sebatang golok.

Dia beroman kucel tetapi itu tidak menutupi kecantikannya.

Ia tidak kenal nona itu tetapi dia mau anggap orang adalah penolongnya.

"Silahkan masuk, nona!"

Katanya lekas. Nona itu berdiri bengong melihat "pemilik"

Rumah berpakaian mewah tetapi tangan mencekal pedang. Ia mengawasi sekian lama, baru ia berkata.

"Di luar ada dua peti mati, bolehkah itu dibawa ke dalam?"

Kalau di dalam rumah orang biasa, pasti sekali jenazah orang tidak dapat dibawa masuk, lain adalah dengan rumah penginapan, bahkan kali ini dalam suasana luar biasa itu.

Untuk Yauw Kee, jangan kata baru dua buah, seratus pun ia akan mengijinkannya dibawa masuk.

"Baik, baik!"

Sahutnya cepat.

"Silahkan!"

Nona itu heran mendapatkan pelayanan istimewa dari "pemilik"

Rumah penginapan ini akan tetapi ia lantas menoleh keluar, untuk menggapaikan.

Maka lantas juga masuk delapan orang yang menggotong dua buah peti mati, di bawa ke ruang dalam.

Ketika ia berpaling ke arah Auwyang Konngcu, ia kaget sekali, dengan segera ia menghunus golok dipinggangnya.

Auwyang Kongcu sudah lantas tertawa lebar.

"Inilah dia jodoh yang telah ditakdirkan Thian!"

Katanya nyaring.

"Dari jodoh telah tertakdir itu, orang tidak dapat meloloskan diri! Inilah peruntungan baik yang diantarkan sendiri! Jikalau peruntungan ini tidak diterima, sungguh durhaka!"

Nona itu bukan lain daripada Bok Liam Cu, yang pernah ia tawan.

Sesudah bentrok hebat sama Yo Kang di Poo-eng, ludas sudah pengharapan nona Bok ini, hatinya menjadi tawar, cuma tinggal satu hal yang ia berati, maka itu ia lantas ke Tiong-touw (Peking) dimana ia ambil jenazah ayah dan ibunya untuk dibawa pulang ke dusun Gu-kee-cun di Lim-an, untuk dikubur di kampung halamannya itu.

Hebat untuknya, seorang wanita, membawa-bawa peti mati orang tuanya disaat negara demikian kacau.

Ketika itu tentara Mongolia tengah menyerang negara Kim.

Ia pun, ketika ia meninggalkan kampung halamannya, usianya baru baru lima tahun, maka ia tidak ingat lagi kampung halamannya itu.

Maka juga setibanya, begitu melihat pondokannya Sa Kouw, lantas ia memikir untuk singgah terlebih dahulu, sambil singgah, ia mencari keterangan.

Maka adalah diluar sangkaannya, disini ia justru bertemu pula sama keponakannya Auwyang Hong itu.

Tentu sekali ia tidak tahu nona itu dengan pakaian mewah itu tengah diperhina si anak muda.

Ia belum pernah bertemu dangan nona Thia dan sekarang ia menyangka nona Thia itu ialah gula-gulanya pemuda itu.

Dengan menghunus goloknya, ia lantas membacok si anak muda, habis mana ia berlompat untuk lari keluar.

Atau ia merasakan angin menyambar, dari orang yang lompat lewat diatasan kepalanya.

Ia lantas membacok ke atasan kepalanya itu.

Auwyang Kongcu lihay sekali.

Dengan tangan kanannya, dengan dua jeriji, dia menekan belakang golok, dengan tangan kiri, ia menangkap lengan si nona, maka sedetik itu juga, terlepaslah goloknya Liam Cu, hingga berbareng mereka jatuh ke atas sebuah peti mati.

Keempat tukang gotong kaget hingga mereka berteriak, mereka roboh, peti matinya jatuh, mereka babak belur mukanya sebab terkena pikulan dan saling tubruk.

Dengan tangan kanan merangkul nona Bok, dengan tangan kanan Auwyang Kongcu menghajar tukang-tukang gotong itu hingga mereka ini menjerit-jerit dan terus merayap, untuk lari keluar, diturut oleh empat tukang gotong lainnya, hingga mereka tidak memikir untuk meminta upah pula.

Selama kejadian itu, Yauw Kee lompat kepada Koan Eng, yang rebah di lantai, untuk dikasih bangun.

Ia bingung sekali, tidak tahu ia bagaimana harus menyingkirkan diri mereka.

Auwyang Kongcu melihat sikapnya Yauw Kee, dengan sebelah tangan menekan peti mati, sambil terus merangkul Liam Cu, ia lompat kepada nona Thia itu, yang mana ia terus peluk dengan tangan kanannya, setelah mana ia duduk di atas kursi.

Sambil tertawa lebar, ia berkata.

"Adik Oey, kau juga datang ke mari!"

Sedangnya pemuda ini kegirangan, mendadak ada bayangan yang berlompat dari luar, masuk ke dalam, maka dilain saat ketahuanlah dia adalah Yo Kang!

Yo Kang ini, sehabisnya dihinakan Oey Yok Su, tidak meninggalkan Gu-kee-cun.

ia bersakit hati dan ingin sangat dapat melampiaskannya.

Karena kerasnya hati, ia dengan perkenan Wanyen Lieh, ia memisahkan diri.

Di luar Gu-kee-cun, dia berdiam di dalam pepohonan yang lebat.

Diwaktu malam, ia melihat Oey Yok Su, Auwyang Hong dan Ciu Pek Thong bertiga mondar-mandir, tentu sekali terhadap mereka ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Lantas paginya ia melihat Bok Liam Cu membawa jenazah orang tuanya.

Diam-diam ia menguntit nona ini sampai di rumahnya Sa Kouw.

Baru nona ini masuk ke dalam atau lantas tukang-tukang gotong peti itu lari serabutan.

Ia menjadi heran, maka lantas ia memburu ke dalam.

Di pintu ia mengintai, ia tidak melihat Oey Yok Su, sebaliknya ia mendapatkan Auwyang Kongcu duduk di kursi dengan air muka terang, dirangkulannya kiri kanan ada kedua nona cantik, ialah Bok Liam Cu dan Thia Yauw Kee, yang lagi dipermainkan.

Tidak ayal lagi, ia melompat masuk.

"Oh, siauw-ongya, kau telah kembali!"

Menegur Auwyang Kongcu kapan ia melihat pangeran itu. Yo Kang mengangguk. Auwyang Kongcu melihat muka orang muram, ia lantas menghibur.

"Jangan kecil hati, jangan berduka, siauw-ongya,"

Katanya.

"Juga di jaman dulu Han Si pernah menerima penghinaan merangkak di bawah selangkangan orang. Seorang laki-laki dia harus dapat berlaku keras dan lunak. Itulah tidak ada artinya. Kau sabar saja, kau tunggu sampai kembalinya pamanku nanti kau boleh melampiaskan sakit hatimu ini!"

Ia menduga pangeran ini berduka karena bekas diperhina. Yo Kang mengangguk pula, tetapi matanya mengawasi Liam Cu. Auwyang Kongcu tertawa.

"Siauw-ongya,"

Katanya.

"Tidakkah kedua si cantik kepunyaanku ini tak ada kecelaannya?"

Kembali pangeran ini mengangguk.

Auwyang Kongcu tidak tahu ada hubungan apa di antara si pangeran dengan Liam Cu itu sebab tempo mereka itu berdua mengadu kepandaian di jalan besar di Tong-touw, ia tidak hadir bersama.

Mulanya Yo Kang tidak memperhatikan si nona, sampai si nona itu mencintai dia dengan sungguh-sungguh hati, hingga ada janji untuk menikah, maka itu sekarang, melihat nona itu dalam rangkulan Auwyang Kongcu, hatinya panas.

Ia dapat mengendalikan diri, dari itu ia tidak mengentarakan suatu apa.

Lagi-lagi Auwyang Kongcu tertawa dan berkata.

"Semalam ada orang menikah di sini, maka itu di dalam almari ada arak dan daging ayam! Siauw-ong tolong kau ambilkan itu, mari kita minum bersama. Nanti aku menyuruh kedua si cantik ini meloloskan semua pakaiannya, supaya mereka menari untuk menggembirakan kau minum arak!"

"Itulah bagus!"

Sahut Yo Kang tertawa.

Bukan main panasnya hati Liam Cu melihat sikapnya Yo Kang ini, karenanya hatinya menjadi dingin, ingin ia membunuh diri di depan kekasihnya itu, supaya ia bebas dari penderitaan ini.

Segera juga ia melihat Yo Kang mengambil arak dan ayam dan kemudian duduk minum dan dahar bersama Auwyang Kongcu.

Auwyang Kongcu mengisikan dua cawan arak, ia bawa itu ke depan mulutnya nona itu, sembari tertawa ia kata.

"Mari minum arak dulu, baru kamu menari!"

Kedua nona ini gusarnya bukan main, hampir mereka pingsan.

Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa juga.

Tubuh mereka sudah di totok pemuda itu.

Ketika cawan arak ditempelkan ke mulut mereka, masih mereka tidak berdaya.

Maka diakhirnya, mereka mesti menenggak air kata-kata itu.

"Auwyang Sianseng,"

Berkata Yo Kang.

"Sungguh aku mengagumi kepandaian kau! Mari aku beri selamat padamu dengan secawan arak, habis itu baru kita menonton tarian!"

Auwyang Kongcu tertawa bergelak, ia menyambuti araknya itu, untuk dihirup kering.

Habis itu ia menotok bebas Yauw Kee dan Liam Cu, cuma kedua tangannya masih menekann jalan darah mereka yang dinamakan sintong-hiat, yang adanya dipunggung.

Ia kata.

"Baik-baik saja kamu mendengar perkataanku, dengan begitu kamu tidak bakal menderita, sebaliknya, kamu akan mendapat kesenangan!"

Liam Cu menunjuk kepada kedua peti mati itu.

"Yo Kang!"

Katanya, bengis.

"Kau lihat, jenazah siapakah itu?!"

Pangeran itu memandang ke peti mati yang ditunjuk itu. Yang pertama ia tampak ialah tulisan tinta merah yang berbunyi.

"Tay Song Gie-su Yo Tiat Sim Sim cie-leng". Artinya.

"Jenazah dari Yo Tiat Sim, orang gagah dari jaman ahala Song" . Sebenarnya hatinya terkesiap, tetapi ia menguatkan diri, ia menunjuki sikap acuh tak acuh. Bahkan ia kata kepada Auwyang Kongcu.

"Auwyang Sianseng, kau pegangi kedua nona manis ini, hendak aku meraba-raba kaki mereka, untuk membuktikan siapakah yang kakinya terlebih mngil…"

Auwyang Kongcu tertawa.

"Siauw-ongya sungguh jenaka!"

Katanya.

"Aku lihat tentulah kaki dia ini yang terlebih mungil!"

Dan ia meraba kakinya Thia Yauw Kee.

"Ah, belum tentu!"

Berkata Yo Kang, yang terus saja membungkuk hingga ke kolonng meja.

Dua-dua Liam Cu dan Yauw Kee sudah mengambil putusan, begitu mereka diraba, mereka hendak menendang tempilingan pangeran itu.

Yo Kang, tidak segera meraba, hanya ia tertawa.

"Auwyang Sianseng, kau minum lagi satu cawan!"

Katanya.

"Habis minum nanti aku beritahu, dugaanmu cocok atau tidak…."

"Bagus!"

Sahut Auwyang Kongcu, seraya ia mengangkat cawannya.

Yo Kang sambil membungkuk melirik di saat pemuda itu dongak untuk minum, kemudian ia mengeluarkan tombak buntung dari sakunya, dengan itu dengan sekuat tenaga -sambil ia mengertak gigi -ia menikam ke arah perut orang, hingga tombak itu nancap dalam lima atau enam dim, menyusul mana, ia membaliki meja!

Kejadian ini mendadak sekali dan luar biasa juga, maka itu Oey Yong dan Kwee Ceng, juga Bok Liam Cu, Liok Koan Eng dan Thia Yauw Kee menjadi kaget dan heran sekali.

Auwyang Kongcu menggeraki kedua tangannya, ia membuatnya Liam Cu dan Yauw Kee terbalik dari kursinya, sedang cawan arak di tangannya ditimpuki ke arah Yo Kang!

Pangeran ini berkelit sambil mendak, maka jatuhlah cawan itu ke lantai, pecah hancur dengan mengasih dengar suara nyaring.

Yo Kang berkelit dengan terus menjatuhkan diri, untuk bergulingan, maksudnya buat lari ke pintu, apa mau ia terhalang peti mati.

Terpaksa ia berlompat bangun dan memutar tubuhnya, mengawasi Auwyang Kongcu.

Hatinya menjadi ciut kapan ia melihat pemuda itu berdiri dengan tubuh doyong ke depan, kedua tangannya berpegangan pada kursi, sepasang matanya mendelik, wajahnya seperti tertawa dan bukannya tertawa.

Ia menggigil sendirinya.

Sebenarnya ia berniat lari menyingkir tetapi itu sepasang mata tajam dan bengis membuatnya kakinya seperti terpaku.

Auwyang Kongcu melengak dan tertawa.

"Aku si orang she Auwyang telah malang melintang seumur hidupku, aku tidak menyangka bahwa hari ini aku mesti mati di tangan kau, binatang!"

Katanya bengis.

"Cuma satu hal yang aku tidak mengerti! Siauw-ongya, mengapa kau mencoba membunuh aku?"

Yo Kang tidak menjawab, hanya dengan menenjot diri, ia hendak berlompat ke pintu, guna melarikan diri.

Ia telah pikir, setelah berada di luar pintu, baru ia hendak memberikan keterangannya.

Selagi tubuhnya melayang, mendadak ia merasakan belakang lehernya kena dicengkram keras sekali, bagaikan terbangkol gaetan besi, hingga ia tak mampu berlompat lebih jauh, bahkan sebaliknya, ia jatuh ke atas peti mati -jatuh bersama-sama tubuhnya Auwyang Kongcu -yang telah melompat menyambar padanya.

"Kau tidak mau bicara, apakah kau hendak membikin aku mati tak meram?!"

Kata Auwyang Kongcu sembari tertawa. Nyata ia masih kuat sekali. Yo Kang tahu ia ada bagian mati, hatinya menjadi besar. Ia tertawa dingin.

"Baiklah, nanti aku memberi keterangan padamu!"

Sahutnya.

"Tahukah kau, siapa dia?"

Ia menunjuk kepada nona Bok.

Auwyang Kongcu memandang Liam Cu.

Nona ini memegang golok di tangan, siap untuk menerjang, guna menolongi si pangeran, cuma ia masih bersangsi sebab ia khawatir nanti melukai kekasihnya.

"Dia…dia.."

Kata Auwyang Kongcu, yang terus terbatuk-batuk.

"Dialah tunanganku!"

Yo Kang meneruskan.

"Dua kali kau menghina dia, mana aku dapat membiarkannya?"

"Benar,"

Kata Auwyang Kongcu. Dia masih tertawa.

"Mari kita sama-sama pergi ke neraka…!"

Dia mengangkat kepalannya, untuk di kasih turun ke batok kepalanya si pangeran…….

Liam Cu kaget hingga ia berteriak, hendak ia menolong tetapi sudah tidak keburu.

Yo Kang memeramkan kedua matanya, ia menantikan kebinasaannya.

Tapi ia menanti sekian lama, ia tidak merasakan hajaran kepada batok kepalanya.

Saking herannnya, ia membuka matanya.

Auwyanng Kongcu mengasih lihat senyumannya, tapi tangannya yang mencekuk leher sudah terlepas, maka tempo si pangeran berontak, ia lantas jatuh menimpa peti mati.

Sebab ia sudah putus jiwa……..

Yo Kang melengak, Liam Cu melongo.

Hanya sejenak, lantas keduanya lari saling menghampirkan, untuk terus saling berpegangan tangan.

Dalam keadaan seperti itu banyak kata-kata yang hendak dikeluarkan tetapi tak sepatah yang dapat diucapkan.

ketika mereka memandang mayat Auwyang Kongcu, lantas terbayang apa yang barusan terjadi, sendirinya mereka bergidik.

Yauw Kee sendiri mengasih bangun pada Koan Eng, yang totokannya ia bebaskan.

Koan Eng ketahui Yo Kang adalah pangeran Kim tetapi orang telah membinasakan Auwyang Kongcu, itu artinya orang telah menolongi padanya, mak aitu ia lantas memberi hormat sambil menjura, habis mana dengan membungkam, ia tuntun tangannya istrinya untuk diajak berlalu dari situ.

Sebagai laki-laki, yang mengenal budi, taidak sudi ia menyerang pangeran itu untuk membunuhnya.

Senang hatinya Oey Yong menyaksikan Yo Kang dan Liam Cu bertemu pula satu dengan lain dan bertemunya dengan itu cara luar biasa.

Kwee Ceng pun mengharap-harap Yo Kang itu nanti mengubah kelakuannya.

Dengan Oey Yong ia saling memandang, lalu keduanya tersenyum.

Itu waktu terdengar suara Liam Cu.

"Jenazah ayah dan ibumu telah aku bawa pulang,"

Katanya kepada Yo Kang.

"Sebenarnya itulah kewajibanku, maka aku hanya membuat kau bercapai lelah, adikku,"

Yo Kang bilang. Liam Cu tidak mau menimbulkan soal lama, ia lalu menanya bagaimana penguburan harus dilakukan. Yo Kang mencabut tombaknya dari perut Auwyang Kongcu.

"Paling dulu, kita kubur mayat dia ini,"

Katanya.

"Kalau kejadian ini diketahui pamannya, walaupun dunia ini lebar, bai kita tak ada tempat untuk menyembunyikan diri…"

Liam Cu menurut, dari itu keduanya lantas bekerja.

Mayat Auwyang Kongcu dikubur begitu saja di dalam pekerangan rumah penginapan Sa Kouw itu.

Sesudah beres, mereka pergi ke kampung, untuk meminta bantuan sejumlah penduduk guna menggotong dan mengubur jenazah itu dibelakang rumah.

Di sini Yo Kang seperti tidak punya kenalan lagi, tidak ada orang yang yang menanyakan dia ini dan itu.

Setelah penguburan, hari pun sudah malam.

Untuk tidur, Liam Cu menumpang pada seorang penduduk sedang Yo kang mengambil tempat di pondokan.

Besoknya pagi si nona pergi menyamperi ke rumah penginapan, ia mendapat Yo Kang justru lagi membanting-banting kaki dan menyesalkan diri tak hentinya.

"Kau kenapa?"

Tanya si nona.

"Aku menyesal yang kemaren kita tidak sekalian membinasakan itu dua orang,"

Yo Kang menyahuti. Ia maksudkan Yauw Kee dan Koan Eng.

"Aku tolol, aku dibikin bingung tidak karuan. Mereka sudah pergi, ke mana mereka harus di cari?"

Nona Bok heran.

"Perlu apa kita membinasakan mereka?"

Tanyannya.

"Sebab aku telah membunuh Auwyang Kongcu. Kalau mereka membuka rahasia, kita terancam bahaya…."

Liam Cu berpikir lain. Ia mengerutkan alisnya.

"Seorang laki-laki, dia mesti berani berbuat berani juga bertanggung jawab!"

Katanya.

"Jikalau kau takut kemarin tak seharusnya kau membinaskan dia!"

Yo Kang menutup mulutnya, akan tetapi hatinya memikirkan bagaimana ia harus mencari Koan Eng dan Yauw Kee itu, untuk membinasakan mereka.

"Pamannya Auwyang Kongcu benar lihay,"

Kata lagi Liam Cu.

"Tetapi jikalau kita menyningkir jauh, musthail dia dapat mencari kita?"

"Adikku, aku memikir lain,"

Berkata Yo Kang.

"Pamannya itu lihay sekali, aku hendak mengangkat dia menjadi guruku."

"Oh, begitu!"

Kata si nona heran.

"Sebenarnya sudah lama aku kandung niatku ini,"

Yo Kang menerangkan.

"Hanya di pihak Auwyang Kongcu itu ada aturannya yang ditaati turun-temurun, ialah warisan saban-saban cuma diturunkan kepada satu orang. Sekarang Auwyang Kongcu telah mati, maka pasti pamannya itu suka menerima aku sebagai muridnya!"

Pangeran ini berbicara dengan bangga sekali, tandanya ia sangat girang. Liam Cu berdiam, hatinya tawar.

"Jadinya kau membunuh dia bukannya untuk menolongi aku?"

Tanyanya.

"Kau jadinya ada maksudmu sendiri!"

"Adikku, kau terlalu bercuriga!"

Kata Yo Kang tertawa.

"Untukmu aku rela tubuhku hancur lebur!"

"Tentang itu baiklah kita bicarakan di belakang hari saja,"

Berkata si nona kemudian.

"Sekarang apa yang kau pikir. kau suka menjadi rakyat yang bersetia dari kerajaan Song yang maha agung atau karena keserakahanmu untuk kedudukan mulia, kau tetap mengakui musuh sebagai ayahmu?"

Yo Kang mengawasi nona itu, wajah yang cantik dan potongan tubuhnya yang bagus sangat menggiurkan hatinya. Hanya kata-kata yang tajam itu membuatnya tidak senang.

"Kedudukan yang mulia?"

Katanya.

"Kedudukan mulia apakah itu? Sekarang ini kota Tiong-touw dari kerajaan Kim telah diserang bangsa Mongolia! Setiap diserang, setiap kali bangsa Kim itu kalah! Di depan mataku sekarang ini ada bayangan dari kemusnahan negara Kim itu!"

Tapi Liam Cu tidak senang mendengar urusan itu.

"Negara Kim kalah, itulah yang paling kita harapkan!"

Katanya nyaring.

"kau sebaliknya membuatnya sayang…."

"Adikku, untuk apa kau menimbulkan urusan ini?"

Yo Kang membujuk.

"Kau tahu, semenjak kau pergi, hatiku bersengsara memikirkanmu…"

Dengan tindakan perlahan ia mendekati si nona untuk mencekal tangnnya.

Mendengar suara orang yang lemah, hatinya Liam Cu menjadi lemah juga, maka itu ia membiarkan tangannya dicekal, digenggam perlahan.

Cuma karena itu, kulit mukanya menjadi merah.

Yo Kang hendak merangkul nona itu dengan tangannya yang hendak ketika tiba-tiba kupingnya mendengar beberapa kali suara burung yang lagi terbang, suaranya sangat nyaring.

Ia lantas mengangkat kepala, dongak.

Maka ia melihat dua ekor rajawali putih yang besar terbang berputaran.

Ketika dulu hari Wanyen Lieh mengejar Tuli, Yo Kang melihat dua ekor rajawali itu, yang kemudian dibawa pergi ke oleh Oey Yong.

Maka itu ia jadi berpikir dan menanya dalam hatinya.

"Kenapa burung ini sekarang berada disini?"

Dengan mencekal terus tangan Liam Cu, ia pergi keluar.

Ia melihat burung itu terbang berputaran di atasan mereka.

Di dekat pohon yang besar sebaliknya terlihat seorang nona, yang duduk di atas seekor kuda bagus, lagi memandang ke tempat yang jauh.

Nona itu memakai sepatu kulit, tangannya mencekal cambuk, dia dandan sebagai wanita Mongolia.

Sesudah terbang berputaran, kedua burung itu terbang ke arah jalan besar, hanya tak lama mereka kembali.

Tidak lama dari jalan besar itu terdengar riuh rendah tindakan kaki kuda, yang dikasih lari.

"Rupanya burung itu memanggil orang,"

Yo Kang pikir.

"Supaya mereka itu berkumpul sama ini nona Mongolia…"

Segera juga terlihat debu mengepul naik, disusul sama mendatanginya tiga penunggang kuda.

Selagi mereka itu mendatangi dekat, terdengarlah suara melesetnya sebatang anak panah, yang dilepaskan ke arah rumah penginapan.

Si nona muda mengeluarkan busur dan anak panahnya, ia terus memanah.

Kapan ketiga penunggang kuda itu mendengar suara panah tersebut, mereka berseru kegirangan, kudanya lantas dikasih lari lebih keras lagi.

Si nona pun melarikan kudanya untuk memapaki.

Kedua pihak sudah datang dekat sekira tiga tombak, kedua-duanya berseru berbareng, tubuh mereka mencelat turun dari kuda masing-masing, belum lagi tubuh mereka tiba di tanah, tangan mereka itu sudah saling menyambar, maka itu, akhirnya mereka turun di tanah berbareng.

Menyaksikan kegesitan mereka itu, Yo Kang kaget dan kagum.

"Bangsa Mongolia demikian pandai menunggang kuda dan menggunai panah, pantaslah kalau bangsa Kim kalah!"

Katanya dalam hati.

Oey Yong dan Kwee Ceng di dalam kamar juga dapat mendengar suara burung dan kuda berlari-larian.

Mereka tetap memasang kuping.

Tidak lama dari bitu, mereka mendengar orang mendatangi rumah penginapan sambil berbicara.

Kwee Ceng terperanjat bukan main.

"Ah, kenapakah mereka datang ke mari?"

Katanya.

Ia kenal baik suara mereka itu.

Si nona Mongolia adalah putri Gochin Baki, yang oleh Jengiz Khan ditunangkan kepadanya, dan tiga lainnya ialah Tuli, Jebe dan Borchu.

Putri itu berbicara samvil tertawa dengan kakaknya, Oey Yong tidak mengerti sepatah kata juga apa yang dibicarakan itu, sebab mereka menggunai bahasa Mongolia.

Kwee Ceng sebaliknya, hingga kulit mukanya pucat dan ,erah bergantian.

Di dalam hatinya pemuda ini berkata.

"Di dalam hatiku sudah ada Yongjie, pasti aku tidak dapat menikah dengannya, tetapi sekarang ia menyusul aku sampai di sini… Mana dapat aku merusak kepercayaannya. Bagaimana sekarang?"

"Engko Ceng, siapakah itu nona?"

Oey Yong tanya berbisik.

"Apakah itu yang mereka bicarakan? Kenapa kelihatannya kau tidak tenang?"

Kwee Ceng polos dan jujur, sudah beberapa kali ia hendak mengasih keterangan pada Oey Yong, setiap kali ia hendak membuka mulutnya, ia gagal selalu, dengan sendirinya ia menarik pulang apa yang ia pikir untuk diucapkan itu, tetapi sekarang ia ditanya, mana dapat ia berdusta?

"Dialah putrinya Jenghiz Khan, Kha Khan dari Mongolia,"

Menyahut dia.

"Dialah tunanganku…."

Oey Yong tercengang, lalu air matanya keluar mengucur.

"Kenapa kau tidak pernah memberitahukan hal ini padaku?"

Ia menanya kemudian.

"Pernah aku memikir untuk memberitahukan kau, tetapi selalu batal, sebab aku berkhawatir kau tidak senang,"

Kwee Ceng menyahut.

"Pula ada waktunya aku tidak ingat urusan itu."

"Dialah tunanganmu, kenapa kau boleh tidak ingat?"

Oey Yong tanya.

"Aku pun tidak tahu jelas. Aku hanya memikir dia sebagai saudara kandungku….Sebenarnya aku tidak ingin menikah dengannya."

Oey Yong heran.

"kenapa begitu?"

Ia menanya.

"Karena pertunangan kami itu ditetapkan oleh Kha Khan sendiri. Ketika itu perasaanku tidak ketentuan, ada kalanya aku senang, ada kalanya tidak. Aku melainkan pikir bahwa perkataannya Kha Khan itu tidak salah. Sekarang ini Yong-jie, mana dapat aku menyia-nyiakan kau untuk menikah dengan orang lain?"

"Nah, habis bagaimana?"

"Aku juga tidak tahu…"

Oey Yong berdiam, lalu ia menghela napas.

"Asal didalam hatimu kau selalu perlakukan baik padaku, biarnya kau menikah dengannya, aku tidak ambil peduli…"

Katanya sesaat kemudian. Ia berhenti pula sejenak, untuk lantas menambahkan;

"Hanya aku pikir, lebih baik kau tidak menikah dengannya. Aku tidak bergembira melihat lain wanita setiap hari mengintil saja padamu, hingga aku khawatir nanti satu waktu darahku naik hingga aku membuatnya lubang pedang di dalam dada dia! Kalau sampai itu terjadi, tentulah kau bakal mencaci aku…Coba dengar, apa saja yang mereka itu bicarakan?"

Di luar kamar rahasia itu, keempat orang Mongolia itu memang asyik bicara terus.

Putri Mongolia itu lagi bicara tentang perpisahan mereka sama saudara-saudara itu.

Sebenarnya, setelah Kwee Ceng dan Oey Yong lenyap di hutan, kedua burung itu sia-sia mencari mereka, sebab di tengah laut itu tak ada tempat untuk menclok, akhirnya mereka terbang ke darat, karena mereka ingat majikan mereka yang lama, terus mereka terbang pulang ke Utara.

Gochin Baki heran melihat pulangnya kedua burung itu.

Ia melihat ada potongan kain diikat di kaki burung.

Itulah robekan kain layar.

Dirobekan kain itu ada tulisan hurunf Tionghoa.

Ia tidak mengerti bahasa Tionghoa, ia lantas bawa itu kepada ibunya Kwee Ceng, Nyonya Kwee atau Lie Peng.

Huruf-huruf itu bunyinya "Yoe Lan"

Artinya "Mendapat bahaya".

Tentu saja sang putri menjadi berkhawatir, maka ia lantas berangkat ke Selatan.

Itu waktu Jenghiz Khan lagi memimpin angkatan perangnya menyerang bangsa Kim dan pertempuran lagi berlangsung di luar dan di dalam Tembok Besar, maka itu, ke mana si putri mau pergi, tidak ada orang yang melarangnya.

Kedua burung rajawali itu mengerti maksud nona majikannya itu, mereka membawa si nona ke Selatan, untuk mencari Kwee Ceng.

Di dalam satu hari, mereka bisa terbang jauhnya beberapa ratus lie, siang mereka terbang pergi, malam mereka terbang kembali.

Diakhirnya tibalah mereka di Liam-an.

Di sini Gochin Baki tidak dapat menemui Kwee Ceng, sebaliknya ia bertemu dengan kakak ketiganya.

Tuli ini lagi menerima tugas dari ayahnya.

ia di utus ke Lim-an untuk berserikat sama kerajaan Song untuk sama-sama menyerang bangsa Kim.

Raja Song -Song Selatan -merasa kedudukannya aman, ia pun jeri terhadap bangsa Kim, dari itu ia menyambutnya ajakan Tuli dengan tawar.

Dia pernahkan Tuli di gedung tetamu, dia berlaku acuh tak acuh terhadap utusan Mongolia itu.

Selama itu datang kabar baik yang pihak Mongolia menang terus-terusan, sampai pun kota Tiong-tpuw telah kena dipukul jatuh, itu waktu lantas berubahlah sikapnya menteri-menteri Song itu, lantas saja mereka berlaku manis kepada Tuli, pangeran Mongolia itu.

Tuli tidak puas sekali, akan tetapi karena malang sama tugasnya, untuk berserikat sama negara Song, terpaksa ia melayani mereka itu.

Demikian perserikatan dilangsungkan.

Karena ini berangkatlah ia kembali ke Utara.

Di luar kota Lim-an, kebetulan ia melihat burung rajawali adiknya, ia menyangka kepada Kwee Ceng, tidak tahunya ia bertemu sama adiknya itu.

Karena ia ada bersama Jebe dan Borchu, mereka jadi ada berempat.

Mereka terus singgah di tempatnya Sa Kouw itu.

"Apakah kau bertemu sama anda Kwee Ceng?"

Sang adik menanya kakaknya.

Tuli baru mau menjawab atau di luar terdengar suara berisik dari satu pasukan tentara, yang kemudian ternyata adalah satu barisan tentara Song yang ditugaskan mengantar pasukan Mongolia itu.

Yo Kang melihat benderanya pasukan Song itu di mana dituliskan.

"Dengan segala kehormatan mengantarkan Utusan Mongolia pulang ke Utara" . Melihat itu hanya menjadi bimbang. Baru beberapa puluh hari yang lalu, dia pun pangeran yang menjadi utusan rajanya atau sekarang dia sebatang kara. Dapatkah ia menyia-nyiakan kedudukan yang mulia itu? Bab 52. Barisan bintang Liam Cu mengawasi pemuda itu dengan tingkahnya yang tidak wajar, ia mengerti yang orang tidak dapat melupakan kedudukan mulia atau penghidupan yang mewah, ia menjadi berduka. Ketika itu punggawa perang yang mengepalai pasukan pengiring pihak Song itu masuk ke dalam rumah penginapan, dengan hormat sekali ia menghadap Tuli, dengan siapa ia berbicara. Tuli pun mengatakan sesuatu. Habis itu ia memutar tubuhnya, untuk dengan membentak memberikan titahnya.

"Pergi kamu menanyakan setiap rumah di kampung ini, apa di rumah mereka ada Kwee Ceng Kwee Koanjin! Jikalau tidak ada, kamu pergi mencari ke lain tempat!"

Titah itu diterima oleh pasukannya, setelah menyahuti, tentaranya itu bubar.

Tidak lama setelah itu terdengarlah suara ayam ribut beterbangan atau anjing berlarian serta juga jeritan-jeritan dari laki-laki serta tangisan dari orang-orang perempuan.

Teranglah sudah kawanan serdadu itu telah menggunai ketikanya yang baik untuk melakukan perampasan.

Mendengar suara berisik itu, Yo Kang mendapat pikiran.

"Kenapa aku tidak mau menggunai ketika ini untuk bersahabat dengan pangeran-pangeran Mongolia ini?"

Demikian pikirnya.

"Dalam tempo beberapa hari pastilah dapat aku membinasakan mereka itu. Kalau Kha Khan dari Mongolia mengetahui itu, pasti ia menyangka itulah perbuatannya pihak Song, dengan begitu dengan sendirinya perserikatan mereka bakal bubar. Dan itulah apsti menguntungkan pihak Kim…."

Dengan cepat Yo Kang mengambil keputusan.

"Adikku, kau tunggu sebentar,"

Ia berkata kepada Liam Cu.

Terus ia pergi menghampirkan si punggawa Song, ketika ia membentak, tangannya digeraki, dengan tangan kirinya ia membikin punggawa itu terguling jatuh celentang, hingga untuk sesaat dia tidak dapat merayap bangun.

Tuli dan Gochin Baki menyaksikan itu, mereka heran.

Yo Kang melihat keheranan orang itu, ia lantas bertindak ke ruang tengah.

Di sini ia keluarkan tombak buntungnya, ia angkat itu tinggi melewati kepalanya untuk terus diletaki di atas meja.

Lalu, setelah menekuk kedua lututnya, mendadak ia menangis menggerung-gerung.

Ia segera mengeluh.

"Oh, saudara Kwee Ceng, kau mati secara menyedihkan sekali…..Pasti aku membalas dendam untukmu! Oh, saudara Kwee Ceng……"

Tuli dan saudaranya beramai tidak mengerti bahasa Tionghoa, tetapi mereka mendengar nama Kwee Ceng disebut-sebut, mereka menjadi heran, maka itu selagi punggawa merayap bangun, mereka menitahkan punggawa ini memberikan keterangan.

Dengan suara terputus-putus Yo Kang kata.

"Aku ialah saudara angkatnya Kwee Ceng. Saudara Kwee Ceng telah orang bunuh mati dengan ditikam dengan ujung tombak, aku hendak pergi mencari musuhnya guna membalaskan sakit hatinya itu."

Kapan Tuli dan saudaranya dikasih mengerti, mereka berdiri menjublak.

Jebe dan Borchu sebaliknya, mereka menangis sambil menumbuki dada.

Mereka ini ingat benar persahabatannya dengan Kwee Ceng itu.

Yo Kang mengarang cerita terlebih jauh dengan menuturkan halnya ia menghajar mundur bangsa Kim di Poo-eng.

Cerita ini dpercayai Tuli beramai, bahkan mereka menanyakan penjelasan dan kebinasaannya Kwee Ceng itu.

Yo Kang pandai sekali mengatur ceritanya, seperti juga itulah peristiwa benar.

Kwee Ceng di dalam kamar rahasia mendengar ocehan itu, ia pun terbengong.

Sebaliknya Gochin Baki, si putri Mongolia, mendadak ia menghunus golok di pinggangnya, untuk membunuh diri.

Hanya ketika golok itu hampir mengenai lehernya, tiba-tiba ia memikir sesuatu, goloknya itu terus ia bacoki kepada meja sambil ia bersumpah.

"Jikalau aku tidak membalaskan sakit hatinya anda Kwee Ceng, aku sumpah tidak sudi menjadi manusia!"

Yo Kang senang sekali.

Nyata akalnya sudah termakan.

Ia terus tunduk, ia menangis pula.

Karena ia tunduk, tiba-tiba matanya melihat tongkatnya Oey Yong, yang dirampas Auwyang Kongcu.

Itulah tongkat yang bersinar hijau bagus.

Ia ketarik hatinya, maka ia jumput tongkat itu.

Oey Yong melihat tongkatnya diambil pemuda itu, ia mengeluh.

Tentu sekali ia tidak bisa keluar untuk merampasnya.

Tidak lama tentara datang dengan barang hidangan, Gochin Baki semua tak ada nafsunya untuk menangsal perut mereka.

Bahkan mereka lantas minta Yo Kang mengantarkan mereka untuk mencari pembunuhnya Kwee Ceng.

"Marilah!"

Jawab Yo Kang. Ia membawa tongkat Oey Yong serta terus bertindak ke pintu, diikuti rombongan orang Mongolia itu.

"Siapakah yang Yo kang bakal cari?"

Kwee Ceng berbisik pada Oey Yong. Si nona menggeleng kepala.

"Aku tidak tahu,"

Sahutnya.

"Bukankah dia sendiri yang membacok padamu? Dia sangat licik, di dalam halnya kelicikan, aku kalah…"

Justru itu di luar rumah terdengar suara orang bersenandung dengan nada tinggi, katanya.

"Malang-melintang dengan mereka, tanpa ikatan, jikalau hati tidak kemaruk akan kemulian, diri sendiri taklah terhina…! Eh, nona Bok, kenapa kau ada di sini?"

Itulah suaranya Tiang Cun Cu Khu Cie Kee.

Dia menanya Bok Liam Cu selagi si nona baru muncul di ambang pintu.

Belum lagi si nona menyahuti, Yo Kang pun bertindak keluar.

Kaget ia melihat gurunya itu, hatinya berdenyutan.

Tentu sekali ia tidak dapat ketika untuk menyingkirkan diri, maka dengan terpaksa dia menghampirkan guru itu, di depan siapa dia memberi hormat sambil berlutut dan mengangguk.

Khu Cie Kee tidak sendirian, di sampingnya ada Tan Yang Cu Ma Giok, Giok Yang Cu Ong Cie It, Ceng Ceng Sanjin Sun Put Jie serta In Cie Peng, muridnya.

Kedatangan Khu Cie Kee kali ini pun untuk urusan muridnya ini.

Ketika itu hari In Cie Peng kena dihajar Oey Yok Su hingga giginya copot, ia mengadu kepada gurunya.

Kebetulan Khu Cie Kee berada di Lim-an.

Dia kaget dan gusar, maka mau lantas ia mencari Oey Yok Su.

Ma Giok sabar, ia mencegah.

"Oey Lao Shia itu dulu harinya sama kesohornya dengan almarhum guru kita,"

Kata Cie Kee.

"Di antara kita bertujuh, cuma Ong Sutee yang pernah bertemu dengannya selama rapat di gunung Hoa San. Siauwtee mengagumi dia, memang siauwtee ingin bertemu dengannya, maka inilah ketikanya yang baik. Siauwtee tidak memikir untuk menempur dia, kenapa suheng mencegah?"

Ma Giok tertawa dan berkata.

"Aku dengar Oey Lao Shia itu aneh tabiatnya, sedang kau, berangasan, maka jikalau kamu bertemu muka, kebanyakan bisa terbit onar. Bahwa ia telah memberi ampun pada Cie Peng, itu tandanya ia menaruh muka…"

Cie Kee tidak dapat dibujuk, dia mau juga pergi, maka itu Ma Giok lantas mengundang saudara-saudaranya untuk pergi ke Gu-kee-cun.

Mereka sudah berkumpul tetapi Ma Giok mengusulkan untuk mereka berlima yang pergi terlebih dulu.

Tam Cie Toan, Lauw Cie Hian dan Cek Tay Thong menantikan di luar kampung itu, bersiap membantu kalau ada perlunya.

Diluar sangkaan mereka, bukan mereka bertemu Oey Yok Su, mereka melihat Bok Liam Cu.

Khu Cie Kee mengenali nona itu, maka itu selagi bersandung, ia menegur lebih dulu.

Melihat muridnya itu, Khu Cie Kee mengasih dengar suara di hidung.

"Hm!"

Dia tidak memperdulikan.

"Suhu,"

Cie Peng berkata.

"Tocu dari Tho Hoa To menghina teecu justru di dalam ini rumah penginapan."

Cie Peng sebenarnya menyebut Oey Yok Su dengan nama Oey Lao Shia, yang berarti si Oey tua yang tersesat atau si Sesat bangkotan, tetapi ia ditegur oleh Ma Giok, maka ia mengubah sebutannya.

Khu Cie Kee segera menghadapi rumah penginapan itu, dengan nyaring ia berkata.

"Murid-murid Coan Cin Kay ialah Ma Giok beramai, datang menghadap kepada Oey Tocu dari Tho Hoa To!"

"Di dalam tidak ada orang,"

Yo Kang memberitahukan.

"Sayang, sayang,"

Kata Cie Kee yang membanting-banting kaki. Tapi ia lantas tanya muridnya.

"Kau di sini, apa kau bikin?"

Hati Yo Kang sudah goncang karena melihat guru dan sekalian paman gurunya itu, maka atas pertanyaan itu, ia tidak lantas dapat memberikan jawabannya.

Sementara itu Gochin Baki mengawasi Ma Giok, lalu ia lari menghampirkan, terus ia berseru.

"Oh, kaulah itu imam yang membantu aku menangkapi rajawali putih. Lihatlah, sekarang itu sepasang rajawali telah menjadi besar sekali!"

Putri Mongolia ini menunjuk pada burungnya sambil bersiul, atas mana kedua ekor burungnya itu lantas turun, menclok di kedua belah pundaknya. Ma Giok tersenyum, ia mengangguk.

"Apakah dia pun datang ke Selatan ini untuk pesiar?"

Ia menanya. Putri ini tahu siapa yang dimaksudkan dengan "dia"

Itu, lantas saja ia menangis.

"Anda Kwee Ceng telah dibikin celaka orang hingga mati!"

Katanya sengit.

"Totiang, tolong kau balaskan sakit hatinya!"

Ma Giok terkejut hingga ia mencelat.

Dengan bahasa Tionghoa ia lalu memberi keterangan kepada saudara-saudaranya perkataan putri itu.

Khu Cie Kee dan Ong Cie It pun heran, dengan berbareng mereka lantas menanyakan apa sebenarnya telah terjadi.

Putrinya Jenghiz Khan segera menunjuk kepada Yo Kang.

"Dialah yang membawa berita, katanya ia melihatnya sendiri,"

Bilangnya.

"Coba kau tanyakan dia sendiri!"

Melihat si nona kenal paman gurunya yang tertua, Yo Kang berkhawatir, maka itu ia lantas kata kepada Tuli dan si nona itu.

"Kamu tunggu dulu di sebelah depan sana, aku hendak bicara sama beberapa imam ini. Sebentar aku susul kamu."

Perkataan ini disalin oleh si punggawa. Mendengar itu Tuli mengangguk, lantas ia ajak adik dan kawannya pergi ke depan, ke utara kampung itu.

"Siapa yang membunuh Kwee Ceng?!"

Cie Kee menanya, bengis.

"Lekas bicara!"

Dalam takutnya Yo Kang berpikir.

"Kwee Ceng itu aku sendiri yang membunuhnya sendiri, sekarang aku mesti menimpakan kesalahan kepada siapa…? Baiklah aku menyebut seorang lihay, supaya suhu mencari dia, supaya dia mengantarkan jiwanya sendiri, dengan begitu untuk selamanya aku bebas dari mara bahaya…"

Maka dengan lagu suara sangat membenci, ia menjawab.

"Dialah tocu dari Tho Hoa To!"

Menyusuli jawabannya Yo Kang ini, dari kejauhan terdengar tertawa lebar yang samar-samar, disusul sama suara nyaring seperti bentroknya cecer rombeng, lalu disusul lagi sama suara yang perlahan sekali, tetapi meskipun perlahan, terdengarnya toh tegas.

Suara itu seperti berputaran di luar kampung lantas pergi jauh……… Akan tetapi Khu Cie Kee kaget berbareng girang.

"Itulah tertawanya Ciu Susiok,"

Katanya.

"Ketiga Suheng pergi menyusul!"

Kata Sun Put Jie.

"Rupanya suara cecer pecah dan suara memanggil tadi seperti lagi menyusul susiok,"

Kata Ong Cie It. Ma Giok nampaknya berduka.

"Kelihatannya dua orang itu berkepandaian tidak ada di bawahan Ciu Susiok,"

Katanya.

"Entah mereka itu orang pandai darimana? Ciu Susiok bersendirian melawan dua musuh, aku khawatir…"

Ia lantas menggoyang-goyangi kepalanya. Khu Cie Kee dan tiga saudaranya mendengari pula, sekarang suara itu lenyap, rupanya orang telah pergi jauh beberapa lie hingga sulit disusul lagi.

"Ada Tam Suko bertiga, kita tidak usah mengkhawatirkan susiok,"

Kata Sun Put Jie kemudian.

"Aku khawatir mereka tidak dapat menyandak,"

Bilang Cie Kee.

"Coba Ciu Susiok mendapat tahu kita berada di sini dan dia datang ke mari…"

Oey Yong dapat mendengar semua pembicaraan mereka itu, ia tertawa sendirinya.

"Ayahku bersama si bisa bangkotan dan tua bangka berandalan tengah mengadu kepandaian lari!"

Katanya di dalam hatinya.

"Mereka itu bukannya lagi berkelahui. Umpama kata mereka benar lagi berkelahi, kamu beberapa imam hendak membantu, mana kamu dapat melawan ayahku serta si bisa bangkotan itu?"

Ma Giok yang sabar lalu mengibas tangannya, maka semua orang lantas masuk ke dalam rumah penginapan untuk pada berduduk.

"Eh, mari aku tanya kau!"

Kata Cie Kee pada muridnya.

"Aku mau tahu, sekarang ini kau dipanggil Wanyen Kang atau Yo Kang?"

Yo Kang takut sekali. Mata gurunya itu sangat tajam memandang padanya. Kalau ia salah menjawab, jiwanya terancam bahaya. Maka lekas-lekas ia menjawab.

"Jikalau bukannya suhu serta Ma Supee dan Ong Susiok yang memberi petunjuk, sampai sekarang tentu juga teecu masih dalam kegelapan, masih teecu tetap mengaku musuh sebagai ayahku. Sekarang ini tentu sekali teecu she Yo. Baru saja tadi malam berdua bersama adik Bok ini teecu mengubur jenazah ayah bundaku."

Senang Khu Cie Kee mendengar jawaban itu, ia mengangguk-angguk, air mukanya pun berubah tak bermuram lagi seperti tadi.

Sebagai imam jujur, ia mempercayai orang.

Juga Ong Cie It tidak lagi mendongkol melihat sekarang Yo Kang ada bersama Liam Cu, yang tadinya dia gusar karena keponakan murid itu menyangkal perjodohannya dengan nona Bok.

Kebetulan Khu Cie Kee melihat ke lantai tatkala sinar matanya bentrok sama tombak buntung.

Ia kenali itu sebagai senjatanya Kwee Siauw Thian.

Ia lantas memungutnya, untuk diusap-usap.

Nyata ia berduka.

"Pada sembilanbelas tahun yang lampau,"

Katanya perlahan.

"Di sini aku telah berkenalan dengan ayahmu serta pamanmu she Kwee, sekarang sesudah belasan tahun lewat, aku melihat ini peninggalan tombaknya, sedang sahabatku itu telah pulang ke alam baka….."

Kwee Ceng mendengar perkataan itu, ia berduka bukan main. Katanya dalam hatinya.

"Khu Totiang menyebutnya ialah sahabatnya ayahku, tetapi aku sendiri tidak pernah melihat wajah ayahku itu…."

Kemudian Khu Cie Kee tanya muridnya bagaimana caranya Oey Yok Su membunuh Kwee Ceng.

Sudah terlanjur, Yo Kang lantas mengarang cerita.

Ketiga imam itu menghela napas, mereka berduka sekali.

Mereka pun mengenal baik itu pemuda she Kwee.

Selama itu hatinya Yo Kang tidak tenang.

Ia pun telah berjanji kepada Tuli dan Gochin Baki.

"Apakah kamu berdua sudah menikah?"

Kemudian Ong Cie It tanya keponakan murid itu, yang ia awasi.

"Belum,"

Sahut Yo Kang. Kali ini ia tidak berani berdusta.

"Lebih baik kalian lekas menikah!"

Ong Cie It bilang.

"Khu Suko, baiklah hari ini kau merecoki jodoh mereka, supaya mereka lantas menikah."

Oey Yong dan Kwee Ceng saling mengawasi, dalam hatinya, mereka kata.

"Benarkah malam ini kembali kita akan menonton sepasang pengantin?"

Yo Kang sementara itu telah berkata dengan cepat.

"Terserah kepada suhu!"

Tapi Bok Liam Cu berkata.

"Mesti dipenuhkan dulu satu permintaanku, yang menjadi syaratku, kalau tidak biarnya mati, aku tidak sudi menikah!"

Nona ini telah lama mengikuti ayahnya merantau maka itu ia beda daripada Yauw Kee. Khu Cie Kee tersenyum.

"Baiklah!"

Bilangnya.

"Apakah itu, nona, kau bilanglah!"

"Ayah angkatku telah dibikin mati oleh Wanyen Lieh, musuh negaraku,"

Menyahut nona Bok.

"Maka itu dia mesti membalaskan dulu sakit hati ayahku itu!"

"Bagus!"

Berseru Cie Kee bertepuk tangan.

"Nona, pikiranmu cocok sama pikirannya si imam tua! Nah, anak Kang, bagaimana dengan kau? Kau setujukah?"

Syarat itu hebat sekali, tentu saja Yo Kang menjadi ragu-ragu.

Selagi ia berpikir, bagaimana ia harus menjawab, di luar penginapan terdengar suara orang bernyanyi, suaranya serak, dan nyanyiannya ialah lagu "Lian Hoa Lok", nyanyiannya bangsa pengemis.

Nyanyian itu lantas disusul sama satu suara halus dan tajam, katanya.

"Tuan-tuan besar sukalah berlaku murah hati, mengamal untuk satu bun saja…!"

Mendengar suara itu, Bok Liam Cu lantas berpaling, ia mengenali suara itu.

Di ambang pintu terlihat dua orang pengemis, yang satu bertubuh jangkung dan gemuk, yang lainnya kate dan kurus, dan si jangkung gemuk itu umpama kata sebesar empak kali tubuhnya si kate kurus itu.

Maka itu sangat luar biasa perbedaaan di antara mereka berdua.

Sang tempo telah berselang banyak tahun tetapi nona Bok masih ingat peristiwa ketika usianya tigab elas tahun dulu, ketika lukanya dibalut oleh pengemis itu, sedang Ang Cit Kong, yang menyukai si nona, telah mengajari dia ilmu silat selama tiga hri.

Liam Cu hendak menghampirkan kedua pengemis itu tetapi ia bersangsi tempo ia melihat kedua pengemis itu lantas mengawasi tongkat di tangannya Yo Kang, lalu setelah mereka saling melirik, terus mereka menghampirkan pemuda itu.

Dengan menyilangkan kedua tangan mereka, mereka memberi hormat.

Ma Giok semua mengawasi kedua pengemis itu, dengan hanya melihat tindakan orang dan gerakan tubuhnya, mereka mendapat tahu dua orang ini mesti lihay ilmu silatnya.

Mereka juga melihat di punggung orang ada tergendol delapan buah kantung goni, yang mana adalah tanda tingkatan tinggi dari kaum Kay Pang.

Hanya mereka tidak mengerti kenapa keduanya demikian menghormat terhadap Yo kang.

Si pengemis kurus lantas berkata.

"Saudara yang baik, beruntung sekali yang di dalam kota Lim-an ini kau telah menemukan tongkat pangcu kami. Sebenarnya kami telah mencarinya berputaran! Saudara, entahlah dimana tahu kemanakah perginya pangcu kami meminta amal?"

Yo Kang heran diperlakukan demikian.

Ia memegangi tongkat tetapi ia tidak tahu hal ikhwalnya tongkat itu.

Tentu sekali tidak tahu ia bagaimana harus menjawabnya.

Adalah aturan kaum Kay Pang, melihat tongkat adalah sama seperti mereka menghadap pangcu mereka sendiri, dari itu terhadap Yo Kang mereka berlaku sangat menghormat, tetapi sekarang Yo Kang seperti tidak memperdulikan mereka, agaknya mereka bergelisah, lekas-lekas mereka menunjuki sikap lebih hormat pula.

Si pengemis gumuk turut berkata, katanya.

"Pertemuan di Gak-ciu sudah mendesak harinya, untuk itu Kan Tianglo dari timur sudha bergerak ke barat."

Yo Kang menjadi semakin tidak mengerti. Tadi ia mengasih dengar.

"Hm!"

Sekarang ia mengasih dengar pula suaranya itu. Pengemis kurus pun berkata pula.

"Oleh karena teecu mencari tongkatnya pangcu, tempo kami telah tersia-siakan beberapa hari, maka sekarang setelah kita bertemu, seharusnya kita lantas berangkat! Maka itu baiklah sekarang teecu beramai menemani padamu!"

Biar bagaimana Yo Kang dapat menggunakan otaknya. Memang ia ingin lekas-lekas menyingkir dari depan guru dan paman-paman gurunya itu. Maka ia lantas berlutut kepada mereka, katanya.

"Teecu ada mempunyai urusan penting, tidak dapat teecu menemani kepada suhu beramai, dari itu, harap teecu dimaafkan!"

Khu Cie Kee beramai percaya muridnya ini ada mempunyai urusan penting dengan Kay Pang, mereka pun tahu, Ang Cit Kong kenal baik dengan Ong Tiong Yang, almarhum guru mereka, karena itu mereka tidak berani menahan Yo Kang.

Malah sebaliknya, mereka berlaku hormat kepada kedua pengemis itu, yang sikapnya demikian halus.

Bok Liam Cu pun suka turut.

Bukankah ia ada kenal dengan dua pengemis itu?

Maka ia juga memberi hormat pada Khu Cie Kee berempat, untuk pamitan.

Begitulah, berempat mereka berangkat.

Khu Cie Kee berempat bermalam di rumah penginapan itu untuk menantikan Tam Cie Toan bertiga.

Baru besoknya tengah malam, mereka mendengar suara siulan panjang di luar kampung itu.

Sun Put Jie lantas berkata.

"Cek Suheng pulang!"

Ketika itu Khu Cie Kee berempat lagi bersemadhi tatkala mereka mendengar isyarat dari Kong Leng Cu Cek Tay Thong, atas mana Ma Giok lantas memberikan jawabannya perlahan tetapi terang.

Cuma sebentar saja, lantas satu bayangan berkelebat dan Cek Tay Thong bertindak masuk.

Oey Yong belum pernah melihat imam itu, ia lantas mengintai.

Malam itu malam tanggal lima bulan tujuh, rembulan masih kecil, akan tetapi si situ si nona dapat melihat dengan tegas.

Maka ia tampak seorang yang bertubuh gemuk dan tinggi besar, romannya seperti seorang pembesar negeri, tangan baju dari jubahnya ada separuh, cuma sampai sebatas sikut.

adi pakaian dia ini berbeda sekali dengan jubahnya Ma Giok beramai.

Cek Tay Thong ini, semasa belum menjadi imam, adalah seorang hartawan di Lenghay, Shoatang, dia pun terpelajar tinggi, baru kemudian dia mengangkat Ong Tiong Yang menjadi guru.

Ketika ia menerima muridnya ini, Ong Tiong Yang meloloskan jubah yang ia pakai, kedua ujung bajunya ia kutungi, jubahnya itu dikasihkan muridnya pakai.

Ia pun kata.

"Tidak ada bahaya, tidak ada tangan baju, maka kamulah yang harus merampungkan sendiri."

Huruf "tangan baju"

Ada sama suaranya dengan huruf "menerimakan".

Dengan itu mau diartikan, meskipun guru ini tidak memberikan banyak pengajaran kepada satu muridnya, dengan peryakinan sendiri, si murid akan memperolah kemajuan.

Cek Toy Thong mengingat baik-baik perkataan gurunya itu, maka selanjutnya ia tetap mengenakan jubah tangan buntung itu.

"Bagaimana dengan Cui Susiok?"

Tanya Khu Cie Kee yang tidak sabaran.

"Sebenarnya ia lagi bergurau atau benar-benar bertempur?"

Cek Toy Thong menggeleng kepala.

"Kepandaianku masih rendah sekali, setelah menyusul tujuh atau delapan lie, aku lantas kehilangan Cui Susiok itu,"

Ia menyahut.

"Tam Suko bersama Lauw Suko berada di sebelah depanku."

"Kau letih, Cek Sutee, kau beristirahatlah,"

Katany. Cek Tay Thong lantas duduk bersila, untuk menjalankan pernapasannya.

"Diwaktu tadi aku berjalan pulang,"

Kemudian ia berkata pula.

"Di Ciu Ong Bio aku melihat enam orang, melihat roman mereka, mereka mestinya Kanglam Liok Koay yang Khu Suheng cari. Lantas aku menghampirkan mereka, nyata penglihatanku tidak keliru."

"Bagus!"

Kata Cie Kee girang.

"Sekarang di mana adanya mereka itu?"

"Sebenarnya mereka itu baru kembali dari Tho Hoa To,"

Tay Thong memberi keterangan pula. Cie Kee terkejut.

"Sungguh mereka bernyali besar berani pergi ke Tho Hoa To!"

Katanya.

"Pantas kita tidak dapat mencari mereka."

"Menurut keterangannya Thay-hiap Kwa Tin Ok, ketua dari Liok Koay, mereka telah membuat perjanjian dengan Oey Yok Su untuk pergi ke Tho Hoa To, hanya setibanya mereka di pulau itu, Oey Yok Su tidak ada. Mendengar kita berada di sini, mereka itu membilang bahwa dalam satu dua hari ini mereka hendak datang berkunjung."

Kwee Ceng mendengar pembicaraan itu, mengetagui semua gurunya tidak kurang suatu apa, ia girang sekali.

Sementara itu, setelah lewat lima hari lima malam, kesehatannya pun sudah pulih separuhnya.

Di hari keenam lohor kira jam tiga atau empat, dari luar kampung sebelah timur terdengar suara siulan, atas itu Khu Cie Kee berkata.

"Lauw Sutee kembali bersama seorang yang lihay, entah siapakah dia…"

Berlima mereka lantas berbangkit, untuk pergi keluar untuk menyambuti.

In Cie Peng jalan di belakang.

Lantas mereka melihat Cie Hian bersama seorang tua yang rambut kumisnya sudah putih semua, bajunya pendek, sepatunya sepatu goni, sebelah tangannya memegang sebuah kipas besar, sembari berjalan ia berbicara sambil tertawa-tawa.

Ketika dia sampai di muka penginapan, kepada lima anggota Coan Cin Pay yang menyambutnya, dia cuma mengangguk sedikit, agaknya dia tidak melihat mata kepada mereka itu.

Tapi Lauw Cie Hian segera mengajarnya kenal.

"Inilah Tiat-ciang Cui-siang-piauw Kiu Locianpwee yang namanya kesohor di seluruh negera. Hari ini kami bertemu dengannya, sungguh beruntung!"

Mendengar namanya imam she Lauw itu, Oey Yong tersenyum, dengan sikutnya ia membentur tubuh Kwee Ceng, siapa lantas tersenyum juga. Berdua mereka berpikir.

"Marilah kita menyaksikan ini tua bangka penipu besar mempermainkan ini orang-orang Coan Cin Kauw!"

Lalu terdengarlah suaranya Ma Giok berlima, yang bicara sama orang she Kiu ini dengan sikap menghormat, sedang Kiu Cian Jin lantas mengasih dengar ocehannya.

Kemudian Khu Cie Kee menanya apa "locianpwee"

Itu bertemu sama Ciu Pek Thong, paman gurunya itu.

"Loo Boan Tong?"

Menegaskan orang she Kiu itu.

"Dia telah dibinasakan oleh Oey Yok Su!"

Semua orang Coan Cin Kauw itu menjadi kaget sekali.

"Ah, tidak bisa jadi!"

Kata Cie Hian selang sesaat.

"Baru saja boanpwee melihat Cui Susiok, karena larinya sangat keras, boanpwee tidak dapat menyandak padanya."

Kiu Cian Jin tertawa, ia tidak membilang suatu apa. Ia rupanya lagi berpikir bagaimana harus menelurkan kedustaannya.

"Lauw Sutee,"

Tanya Cie Kee.

"Apakah kau melihat tegas romannya itu dua orang yang mengejar Ciu Susiok?"

"Yang satu mengenakan jubah putih, yang lainnya jubah hijau panjang. Mereka itu sangat kencang larinya. Samar-samar aku melihat wajahnya yang berjubah hijau itu luar biasa sekali, mirip dengan mayat" . Kiu Cian Jin telah melihat Oey Yok Su di Kwie-in-chung, segera berkata.

"Benar! pembunuhnya Ciu Pek Thong si baju hijau itu ialah Oey Yok Su! Lain orang mana bisa? Aku hendak mencegah sayang terlambat…!"

Namanya Tiat-ciang Sui-siang-piauw Kiu Cian Jin sangat kesohor, enam imam Cona Cin Kauw ini tidak menyangka bahwa orang tengah membohong, mendengar hal dibunuhnya Ciu Pek Thong, paman guru mereka itu, mereka sangat berduka berbareng gusar.

"Tam Suko dapat lari lebih keras daripada aku, mungkin dia mendapat kesempatan melihat bagaimana caranya susiok dibunuh,"

Kata Cie Hian.

"Aku khawatir Tam Suko pun nampak bahaya…"

Kata Sun Put Jie yang berkhawatir. Ia berhenti tiba-tiba dan mukanya pucat. Khu Cie Kee lantas menghunus pedangnya.

"Mari kita menyusul!"

Serunya.

"Kita mesti menolongi dan membalaskan sakit hati!"

"Jangan!"

Berteriak Kiu Cian Jin, yang khawatir mereka ini dapat mencari Ciu Pek Thong.

"Oey Yok Su ketahui kamu berada di sini, segera juga dia bakal datang ke mari. Oey Lao Shia itu ada sangat jahat, aku si orang tua tidak dapat membiarkan dia! Aku juga tidak membutuhkan bantuannya lain orang, maka biarlah kamu berdiam saja di sini menantikan kabar baik dari aku!"

Khu Cie Kee semua sangat percaya dan menghormati orang tua ini, mereka tidak membantah.

Pula, kalau mereka mengejar, mereka khawatir nanti mengambil jalan salah hingga jadi tidak dapat bertemu sama Oey Yok Su, dari situ, suka mereka menanti saja.

Maka mereka berjalan keluar mengantarkan kepergiannya orang tua itu, mereka sikapnya sangat menghormat.

Setelah keluar dari ambang pintu, Kiu Cian Jin memutar tubuhnya seraya mengibaskan tangan serta mulutnya berkata.

"Tidak usah kau mengantar sampai jauh! Meskipun Oey Lao Shia lihay sekali, ako toh mempunyai jalan untuk mengalahkan dia! Kamu lihat!"

Ia tidak lantas berjalan terus hanya menghunus sebatang pedang dari pinggangnya, dengan itu ia menikam perutnya, hingga mereka menjadi kaget.

Tiga dim dari pedang itu telah tertancap separuhnya!

Akan tetapi si orang tua tertawa dan kata.

"Di kolong langit ini, senjata tajam apa juga tidak dapat melukakan aku, maka janganlah tuan-tuan kaget dan takut! Jikalau aku menyusul tetapi tidak bertemu dan sebaliknya Oey Lao Shia itu datang ke mari, jangan tuan-tuan melayani dia bertempur, khawatir nanti kamu terluka, kamu tunggu saja kembaliku!"

"Sakit hati paman guru, yang menjadi keponakan muridnya, tak dapat kami tidak membalasnya!"

Berkata Khu Cie Kee. Mendengar itu, Kiu Cian Jin menghela napas.

"Kalau begitu, terserah!"

Katanya, berduka.

"Ini dia takdir! Jikalau kamu hendak membalas sakit hati, satu hal kamu mesti ingat!"

"Tolong locianpwee memberikan petunjuk,"

Ma Giok minta. Kiu Cian Jin lantas mengasih lihat roman sungguh-sungguh.

"Begitu kamu melihat Oey Lao Shia, kamu metsi lantas mengepung dengan sungguh-sungguh!"

Katanya.

"Jangan kau bicara kendari sepatah kata juga! Kalau tidak, sukarlah sakit hati kamu terbalaskan! Ingat baik-baik!"

Habis berkata, ia memutar tubuhnya, untuk terus berlalu, pedangnya masih nancap terus diperutnya itu…… Khu Cie Kee semua saling mengawasi dengan berdiri menjublak.

Mereka ada orang-orang dengan pengetahuan dan pemandangan yang luas tetapi belum pernah mereka menyaksikan orang menublas perut demikian rupa, dapat bicara, tertawa dan berjalan dengan tenang!

maka itu maulah mereka menduga bahwa kepandaian orang tua itu sangat luar biasa.

Sama sekali mereka tidak pernah menyangka bahwa mereka telah dijual Kiu Cian Jin.

Pedang itu bertekuk tiga, kalau tekukan yang pertama membentur sesuatu, yang dua lagi segera ngelepot masuk, jadi ujung pedang cuma mengenai ikat pinggang dan nancap, hanya nampaknya betul seperti terpendam di dalam perut.

Dia telah menerima undangan Wanyen Lieh, dia bertugas mulutnya menyebar racun kata-kata untuk membuatnya orang-orang gagah di jamannya itu bentrok satu dengan lain, agar bangsa Kim (kin atau Chin) mendapat ketika menyerbu ke Selatan, guna menumpas alaha Song.

Seperginya orang tua itu, Khu Cie Kee berenam tak tenang hatinya, sampai mereka tidak bernafsu dahar dan minum.

Mereka terus menanti.

Ketika tiba sang tengah malam dari tanggal tujuh, mendadak mereka mendengar sama-samar suara orang di arah utara, seperti dua orang saling susul, atau sebentar kemudian, tibalah dua orang itu di depan rumah penginapan.

Enam orang Coan Cin Kauw ini duduk bersemadhi di atas tumpukan rumput, dengan itu jalan mereka memelihar diri smabil berlaku sabar sebisanya, cuma In Cie Peng, yang latihannya masih lebih rendah, sudah tidur pulas.

Mendengar suara itu, mereka lantas berlompat bangun.

"Musuh mengejar Tam Sutee,"

Berkata Ma Giok.

"Berhati-hatilah semua!"

Untuk Kwee Ceng, malam itu pun malam terakhir, guna memenuhkan waktu istirahat tujuh hari tujuh malam.

Tindakan mereka itu besar faedahnya.

Bukan saja Kwee Ceng sendiri sembuh lukanya di dalam, juga rapat lukanya di luar, pula tenaga dalam mereka mendapat kemajuan besar.

Tempo beberapa jam lagi adalah tempo yang terpenting.

Tapi Oey Yong berduka dan berkhawatir kapan ia mendengar perkataannya Ma Giok itu.

"Kalau yang datang benar ayah, inilah hebat,"

Pikirnya.

"Coan Cin Cit Cu tentu bakal lantas menyerang dan mengerebuti….Aku tak dapat keluar, untuk mencegah guna mengasih penjelasan. Bagaimana? Aku khawatir sangat mereka ini bakal bercelaka di tangan ayah. Kematian mereka itu tidak ada sangkutnya dengan aku sendiri, tidak demikian dengan engko Ceng. Engko Ceng ada sangkutannya dengan mereka itu. Pasti engko Ceng akan bertindak……Tidakkah itu bakal meludaskan usaha kita berhari-hari dan bemalam-malam ini, sedang ini adalah detik-detik terakhir? Aku khawatir, tidak cuma ilmu silatnya juga jiwanya akan terancam bahaya…"

Maka ia lantas berbisik di kuping lawannya itu.

"Engko Ceng, kamu mesti berjanji padaku, tidak peduli bakal terjadi apa juga yang besar dan penting, kau tidak boleh keluar dari sini!"

Kwee Ceng mengangguk dengan lantas. Segera juga siulan terdengar di luar pintu penginapan.

"Tam Sutee, lekas mengatur barisan Thian Kong Pak Tauw!"

Khu Cie Kee berseru.

Mendengar nama barisan itu, Kwee Ceng jadi sangat ketarik hatinya.

Di dalam kitab Kiu Im Cin-keng ada disebut-sebut nama bintang-bintang itu, sebagai pokok untuk pernyakinan kemahiran, penjelasan lainnya tidak ada, maka itu, ia ingin ketahui kepandaiannya Coan Cin Cit Cu.

Segera ia mengintai.

Justru pemuda ini mengintai, justru pintu tergabrukan terbuka dan seorang imam melompat masuk, hanya disaat jubahnya berkibar dan kaki kirinya baru melewati ambang pintu, mendadak ia terhuyung dan mundur pula keluar.

Inilah sebab musuhnya telah tiba dan sudah menyerang padanya.

Khu Cie Kee bersama Ong Cie It berlompat ke pintu, dimana mereka berdiri berendeng, kedua tangan mereka diajukan ke depan, maka tenaga mereka bentrok sama tenaga dari luar.

Sebagai kesudahan dari itu, kedua imam ini mundur dua tindak, lawannya mundur dua tindak juga.

Ketika ini digunai Tam Cie Toan untuk berlompat masuk.

Di bawah sinar rembulan terlihat tegas orang di luar itu awut-awutan rambutnya, mukanya ada dua goresan darahnya, pedang di tangan kanannya tinggal sepotong, entah bekas dikutungi dengan senjata apa.

Setiba di dalam, tanpa mengucap sepatah kata, Tam Cie Toan lantas duduk bersila, untuk bersemadhi, sikapnya itu diturut oleh keenam saudaranya.

Di luar pintu lantas terdengar suara yang keras dan seram.

"Imam tua she Tam, jikalau bukan nyonya besarmu memandang kepada Ma Giok yang menjadi kakak seperguruanmu, pasti siang-siang aku telah mengantarkan jiwamu! Perlu apa kau memancing nyonya besarmu datang ke mari? Siapa itu barusan yang membantu padamu? Kau terangkanlah kepada Mayat Besi dari Hek Hong Siang Sat!"

Di tengah malam buta itu, suaranya Bwee Tiuw Hong ini membuatnya tubuh orang menggigil sendirinya.

Setelah itu, kembali sunyi senyap.

Apa yang dapat terdengar melainkan suara kutu.

Hanya sebentar kemudian, terdengar suara seperti mereteknya tulang-tulang dan otot-otot.

Kwee Ceng tahu itulah tanda Bwee Tiauw Hong, yang rupanya hendak menyerbu ke dalam.

Habis itu terdengar.

"Sekali tertinggal sampai pula beberapa puluh tahun…"

Itulah senandungnya Ma Giok, suaranya halus dan sabar. Lalu Tam Cie Toan menyambungi.

"Dengan rambut kusut jalan sepanjang hari bagaikan edan."

Suara itu besar dan kasar, hingga Kwee Ceng mengawasi anggota Coan Cin Cit Cu yang kedua ini, muka siapa berdaging dan berotot, alisnya gompiok, matanya besar, tubuhnya besar dan kekar.

Sebelum menyucikan diri, ialah asal tukang besi di Shoatang, tabiatnya jujur dan polos, dari itu, gelarannya ialah Tiang Cin Cu.

Orang yang ketiga bertubuh kate dan kurus, mukanya seperti kera.

Dialah Tiang Seng Cu Lauw Cie Hian, yang turut bersenandung.

"Di bawah pesaben haytong menanam bibit."

Dia bertubuh kecil tetapi suaranya nyaring sekali. Tiang Cun Cu Khu Cie Kee pun menyambuti.

"Di dalam perahu di antara daun teratai ada dewa Thay It Sian."

Ia lantas disambungi Giok Yang Cu Ong Cie It "Tak ada beda maka boleh keluar dari batok kosong."

Kong Leng Cu Cek Tay Thong turut bersenandung juga.

"Ada orang yang dapat sadar sebelum dilahirkan."

Ia dituruti oleh Ceng Ceng Sanjin Sun Put Jie, katanya.

"Pergi keluar sambil tertawa dan merdeka bebas."

Sebagai penutup bersenandunglah Tan Yang Cu Ma Giok.

"Mega di telaga See Ouw, rembulan di langit!"

Bwee Tiauw Hong terkejut mendengar suara mereka itu, suara yang menandakan tenaga dalam yang mahir. Maka berpikirlah dia.

"Mustahilkah Coan Cin Cit Cu berkumpul di sini semua? Ah, tidak bisa jadi! Kecuali Ma Giok, suara mereka itu lain…."

Selama di jurang di padang pasir Mongolia, Bwee Tiauw Hong pernah mendengar suara Ma Giok serta Kanglam Liok Koay yang menyamar sebagai Coan Cin Cit Cu, dengan kupingnya ynag jeli sekali, ia bisa ingat dan membedakan suara orang.

Ia tidak mempunyai mata, maka itu ia mengandal pada kupingnya.

Sekarang ia mendengar suara yang lain sekali kecuali suara Tan Yang Cu Ma Giok.

Sampai sekarang ia masih belum tahu bahwa dulu hari ia telah diperdayakan Ma Giok.

"Ma Totiang!"

Ia lantas menanya.

"Semenjak kita berpisah, bukankah kau baik-baik saja?"

Ia masih ingat imam itu, yang dulu hari itu berlaku baik terhadapnya, dari itu, mengenai perbuatannya Tam Cie Toan, ia masih memandang ketua Coan Cin Cit Cu itu.

Sebenarnya, ketika Cie Tong gagal menyusuk Ciu Pek Thong, di tengah jalan ia melihat salah satu Hek Hong Sang Sat ini, yang lagi berlatih.

Ia tahu Tiauw Hong sangat jahat, ia memikir untuk menyingkirkan si jahat ini dari dalam dunia.

Ia berhati mulia, tak tega ia menyaksikan Tiuw Hong berlatih dengan sasaran orang hidup.

Maka ia lantas menyerang.

Diluar dugaannya, ia dikalahkan.

Tiauw Hong mengenali orang ada iman dari Coan Cin Kauw, ia ingat Ma Giok, maka ia cuma melukainya, tidak mau ia merampas jiwanya, meski begitu, ia mengejar terus sampai di rumah penginapan itu.

"Terimas kasih, terima kasih!"

Menyahut Ma Giok.

"Tho Hoa To dengan Coan Cin Kauw tidak mendendam tidak bermusuh, apakah benar gurumu bakal segera datang kemari?"

Bwee Tiauw Hong melengak.

"Untuk apa kamu menanyakan guruku?"

Ia menanya. Tapi Khu Cie Kee bertabiat keras. Ia membentak.

"Perempuan siluman! Lkeas kau suruh gurumu datang ke mari, supaya dia belajar kenal dengan kepandaiannya Coan Cin Cit Cu!"

"Kau siapa?!"

Tanya Tiauw Hong gusar.

"Khu Cie Kee! pernahkah kau mendengar namaku?"

Tiauw Hong mengasih dengar suaranya yang aneh, tubuhnya mencelat.

Ia menyerang ke arah darimana suara jawaban itu datang, tangan kirinya menutup diri, tangan kanannya menjambak, mencengkeram ke kepala!

Kwee Ceng mengetahu lihaynya Bwee Tiauw Hong, bahwa serangannya itu sangat hebat, biar Cie Kee lihay, tak dapat ia melawan keras dengan keras.

Akan tetapi dia melihat si imam tetap duduk bersila, tidak mau menangkis, tidak mau berkelit, ia menjadi kaget.

"Celaka!"

Katanya dalam hatinya.

"Kenapa Khu Totiang bernyali begini besar?"

Bwee Tiauw Hong mengarah batok kepalanya Khu Cie Kee, selagi ia menjambak itu, mendadak datang serangan angin dari kiri dan kanannya.

Itulah serangan berbareng dari Lauw Cie Hian berdua Ong Cit It.

Ia mau melanjutkan serangannya itu, maka tangan kirinya dikibaskan, guna menangkis.

Di luar dugaannya, hebat serangan angin itu, tidak dapat ia menghalaunya, maka terpaksa ia berlompat mumdur sambil jumpalitan.

Cie Hian dan Cie It, dengan tenaga dalam im dan yang, telah menggabungkan diri.

Ia menjadi kaget dan heran.

Ia menyangsikan itulah serangan orang Coan Cin Kauw.

Maka ia lantas berseru dengan pertanyaannya.

"Apakah Ang Cit Kong dan Toan Hongya ada di sini?"

"Kitalah Coan Cin Cit Cu!"

Berkata Khu Cie Kee tertawa.

"Di sini mana ada Ang Cit Kong dan Toan Hongya?"

Tiauw Hong bertambah heran.

"Si imam tua she Tam bukan tandinganku, kenapa di antara saudara-saudaranya ada yang begini lihay?"

Pikirnya.

"Apa mungkin kepandaian mereka berlainan tanpa memperdulikan tingkatan mereka tua atau muda?"

Kwee Ceng pun heran seperti Tiauw Hong melihat Khu Cie Kee terbebaskan oleh Lauw Cie ian dan Ong Cie It itu.

Hebat Tiauw Hong kena dibikin terpental mundur.

Ia menduga kedua imam itu berimbang sama si Mayat Besi.

Memang cuma Ang Cit Kong, Ciu Pek Thong, Oey Yok Su dan Auwyang Hong yang mempunyai tenaga demikian besar.

Kalau Caon Cin Cit Cu, inilah aneh… Tiauw Hong beradat keras, kepalanya besar.

Kecuali gurunya, ia tidak takut siapa juga.

Makin ia terhajar, makin ia penasaran.

Demikian kali ini.

Setelah berdiam sebentar, tangannya meraba ke pinggangnya.

Ia mengsaih keluar cambuk lemasnya, Tok-liong Gin-pian, cambuk perak si Naga Beracun.

"Ma Totiong, maafkan, hari ini terpaksa berlaku kurang ajar!"

Katanya.

"Kata-kata yang baik!"

Ma Giok menjawab.

"Aku hendak menggunia senjata, maka itu, kamu hunuslah senjata kamu!"

Kata si buta.

"Kami bertujuh, kau sendirian,"

Berkata Ong Cie It.

"Kau pun tidak bisa melihat apa-apa! Maka itu, biar bagaimana kami tidak dapat menggunakan senjata. Kami akan tetap duduk bersila, kau majulah!"

Tiauw Hong bersuara dingin.

"Jadi kamu hendak melayani cambuk perakku dengan duduk diam saja?"

Tanyanya.

"Ah, perempuan siluman!"

Cie Kee membentak.

"Malam ini malam ajalmu tiba, buat apa kau masih banyak omong lagi?"

"Hm!"

Tiauw Hong berseru di hidungnya, sedang tangannya lantas diayun, hingga cambuknya terus meluncur ke arah Sun Put Jie.

Cambuk panjang yang banyak gaetannya itu bergerak perlahan bagaikan seekor ular besar berlegot.

Oey Yong memasang kuping mendengarkan kedua pihak mengadu mulut, ia tahu cambuknya Tiauw Hong lihay sekali, maka heran Coan Cin Cit Cu mau melayani tanpa senjata dan tanpa bergerak juga dari tempatnya bercokol masing-masing.

Ia menjadi ingin melihat.

Ia menarik Kwee Ceng, agar kawan itu menyingkir.

Buat ia menggantikan mengintai.

Begitu ia menyaksikan caranya tujuh imam itu berduduk, ia menjadi heran.

"Itulah keletakan bintang-bintang Pak Tauw,"

Pikirnya.

"Ah, tidak salah, barusan Khu Totiang menyebutkan tentang Thian kong Pak Tauw. Inilah rupanya barisan itu."

Oey Yok Su mengerti ilmu alam, ketika Oey Yong masih kecil, suka ia membawanya berangin waktu malam, maka sambil mengasih anak itu duduk di pangkuannya, sering ia menunjuk ke langit dan membritahukan kepada si anak tentang bintang-bintang.

Oey Yong ingat benar petunjuk ayahnya itu, maka sekarang, dengan sekali lihat, ia ketahui Coan Cin Cit Cu ini telah menempatkan diri sebagai tujuh bintang Pak Tauw itu, bintang-bintang Utara.

Di antara tjuh imam itu, Ma Giok yang mengambil kedudukan thian-kie, Tam Cie Toan thian-soan, Lauw Cie Hian thian-khie, dan Khu Cie Kee thian-koan, sedang Ong Cie It giok-heng, Cek Thay Thong kay-yang, dan Sun Put Jie yauw-kong.

Kedudukan thian-koan paling penting, dia yang menghubungi yang tiga dengan yang tiga lagi, dari itu kedudukan ini ditempati Khu Cie Kee yang ilmu kepandaiannya paling lihay.

Yang kedua yang penting ilaha giok-heng, maka itu diambil Ong Cie It.

Oey Yong sangat cerdas, selagi Kwee ceng mengwasi sekian lama tapi tak mengerti suatu apa, ia hanya menampak sekelebatan, lantas ia mengerti.

Tujuh imam itu menggabungkan diri dengan tangan kiri mereka menyambung sama tangan kanan.

Sambungan tangan itu mirip dengan tangan dia dan Kwee Ceng, guna membantu pemuda ini mengobati diri.

Cambuknya Tiauw Hong bergerak perlahan ke arah kepala Sun Put Jie.

Kelihatannya saja perlahan, ancamnannya sebenarnya hebat.

Imam wanita itu tetap tidak bergerak.

Selagi mengawasi, Oey Yong melihat jubah orang, di situ ia mendapatkan sulaman sebuah tengkorak.

Ia heran, hingga ia berpikir.

"Coan Cin Kauw ada dari kalangan murni, kenapa jubahnya sama dengan jubah Tiauw Hong dari kalangan sesat?"

Ia pasti tidak tahu, tempo Ong Tiong Yang menerima muridnya ini, dia telah menghadiahkan gambar tengkorak dan murid ini, yang ingat budi gurunya, lantas menyulamkan itu pada jubahnya.

Disaat cambuk hampir mengenai sasarannya, ialah bagian gigi dari tengkorak di jubah Sun Put Jie itu, tiba-tiba cambuk itu berbalik sendirinya, berbalik dengan kaget bagaikan kepala ular kena dibacok, bagaikan anak panah melesat, menyambar kepada pemiliknya!

Tiauw Hong kaget, tidak sempat ia menggerakkan tangannya, sebab tangannya itu bergetar, terpaksa ia kelit kepalanya, hingga ujung cambuk lewat di atas rambutnya.

"Sungguh berbahaya.."

Ia kata dalam hatinya.

Sesudah itu baru ia dapat menguasai pula cambuknya itu.

Ia lalu menyerang ke arah Ma Giok dan Khu Cie Kee.

Dua-dua imam itu duduk diam adalah Tam Cie Toan dan Ong Cie It yang menyerang dan membuatnya cambuk mental.

Oey Yong memasang mata, ia dapat melihatnya.

Kalau satu imam menangkis, ia menggunai sebelah tangannya dan tangan yang lain diletaki di pundak seorang saudaranya.

Ia lantas mengerti.

Cara mereka itu sama dengan caranya sendiri mengobati Kwee Ceng.

Itu artinya, tujuh orang menggabung tenaganya melawan Bwee Tiauw Hong satu orang.

Apa yang dinamakan barisan bintang Thian Kong Pak Tauw ini adalah semacam ilmu kepandaian paling mahir dari kaum Coan Cin Kauw.

Itulah karya ciptaannya Ong Tiong Yang, sesudah imam itu memutar otaknya melatih diri dengan bersusah payah dan mengambil tempo lama.

Untuk melayani lawan, tak usah orang diserang sendiri yang menangkis atau berkelit, hanya kawan di sampingnya yang membalas menyerang, kalau kawan ini menyerang, tenaganya jadi berlipat ganda kuatnya, sebab ia dibantu oleh yang lain-lainnya.

Tiauw Hong mencoba kagi beberapa kali, habis itu, berbareng heran, ia menjadi berkhawatir.

Lama-lama ia merasa, kalau ia menyerang, bukan lagi cambuknya dibikin terpental seperti semula hanya seperti ditarik, meski ia masih dapat menggunai itu, kalangan bergeraknya cambuk seperti diperciut.

Sia-sia ia mencoba untuk menariknya, guna mengulurnya.

Ia merasa dirinya terancam tetapi ia masih penasaran.

Tak mau ia membiarkan cambuknya dirampas oleh musuh-musuh yang melawannya sambil duduk bercokol saja.

Tapi karena ia penasaran an bersangsi, ia melenyapkan saatnya yang baik.

Coba ia melepaskan cekalannya dan lompat mundur, tentu ia selamat…… Kalau barisan bintang-bintang utara itu bergerak, kecuali oleh pemegang pusat thian-koan, gerakannya tidak dapat dihentikan.

Bahkan ketujuh imam itu bergeraknya semakin cepat.

Bwee Tiauw Hong menggertak gigi.

Ia tahu, kalau ia terus melawan, ia bakal celaka.

Maka itu, dengan berat, ia terpaksa melepaskan juga cambuknya.

Tetapi sekarang sudah kasep.

Lauw Cie Hian sudah lantas menarik dengan kares.

Dengan menerbitkan suara, cambuk menghajar dinding tembok, hingga rumah penginapa itu bergetar, genting-gentingnya pada berbunyi, debu meluruk jatuh.

Menyusul itu tubuhnya Tiauw Hong terbetot satu tindak ke depan.

Tindakan cuma satu tetapi itulah tindakan yang memutuskan.

Kalau tadi ia melepaskan cambuknya dan lompat, lalu lompat pula mundur, ia bisa memutar tubuhnya untuk lari ke luar.

Mungkin ia bakal disusul tetapi tidak nanti ia tercandak.

Di dalam saat berbahaya ini, ia masih mencoba membela diri.

Ia menjambak ke kiri dan kanan.

Ia segera kebentrok tangannya Sun Put Jie dan Ong Cie It.

Menyusul itu, Ma Giok dan Cek Tay Thong pun menyerang dari belakang.

Ia majukan kaki kirinya setengah tindak, sambil berseru nyaring, ia menerbangkan kaki kanannya.

Dengan begitu dengan saling susul ia menendang lengannya kedua imam yang belakangan itu, di jalan darah gwa-kwan dan hwee-cong.

"Bagus!"

Khu Cie Kee dan Lauw Cie Hian memuji.

Dengan saling susul, mereka ini menolong dua saudaranya dari bahaya itu.

Kaki kanan Tiauw Hong belum lagi menginjak tanah, kaki kirinya sudah bergerak pula.

Dengan begitu ia menyingkir dari serangannya Cie Kee dan Cie It.

Ketika kaki kanan itu diturunkan, ia maju lagi satu tindak.

Dengan begini berarti ia telah masuk semakin dalam ke dalam barisannya ketujuh imam.

Itu artinya, kecuali ia dapat merobohkan salah satu musuh, ia tidak mempunyai jalan lagi untuk nerobos keluar dari dalam barisan itu.

Oey Yong heran dan terkejut.

Di antara sinar rembulan ia menyaksikan Tiauw Hong dengan rambut panjang ynag awut-awutan itu, berlompatan pergi datang dan tangan dan kakinya menjambak dan menendang tak hentinya.

Hebat setiap jambakan dan tendangannya itu mengasih dengar suara angin.

Tidak peduli segala gerakannya itu, yang hebat, maka Coan Cin Cit Cu tetap bercokol tak bergeming, cuma tangan mereka yang ekerja, saling sambut dengan rapi, tetap mereka mengurung si Mayat Besi.

Bwee Tiauw Hong telah berkelahi dengan menggunai dua macam ilmu silatnya, yaitu pelbagai jambakan Kiu Im Pek-kut Jiauw dan hajaran Cwie-sim-ciang yang dahsyat, ia terus mencoba untuk menerjang keluar tetapi selalu ia gagal, saban-saban ia tertolak mundur.

Saking gusarnya, ia sampai berkoak-koak secara aneh.

Sekarang ini, kalau Coan Cin Cit Cu menghendaki nyawa orang, cukup mereka melakukan satu penyerangan, akan tetapi mereka atau salah satu diantaranya, tidak mau menurunkan tangan yang terakhir.

Mulanya Oey Yong heran, atau sebentar kemudian ia sabar.

"Ah, aku mengerti sekarang!"

Katanya dalam hatinya.

"Terang mereka ini meminjam Bwee Suci untuk melatih barisan bintang mereka ini! Memang sukar dicari orang yang sekosen suci, yang dapat dipakai menguji barisannya ini. Rupanya mereka hendak membikin lawannya letih hingga mati sendirinya baru mereka mau berhenti…….."

Dugaan nona Oey ini cocok separuhnya.

Memang benar Ma Giok beramai memakai Tiauw Hong sebagai kawan berlatih, tetapi untuk membinasakan, itulah mereka tak pikir.

Tidak gampang mereka melakukan pembunuhan.

Sampai di situ, Oey Yong tidak mau menonton lebih lama pula.

Ia tidak berkesan baik terhadap Bwee Tiauw Hong, si suci, kakak seperguruan, toh ia tak tega mengawasi lebih jauh.

Maka itu, ia berikan tempat mengintainya kepada Kwee Ceng.

Maka sekarang ia cuma mendengar, angin serangan sebentar keras sebentar kendor, tandanya pertempuran masih berlanjut terus.

Kwee Ceng menonton tetapi ia tetap tidak mengerti akan cara berkelahinya ke tujuh imam itu.

"Mereka menggunai kedudukan bintang Pak Tauw,"

Oey Yong membisiki.

"Apakah belum pernah melihatnya?"

Baru sekarang pemuda ini mendusin.

Ia ingat bunyinya kitab kedua dari Kiu Im Cin-keng.

Sekarang ia mengerti sendirinya.

Karena itu ia menjadi tertarik hingga tanpa merasa ia berlompat bangun.

Oey Yong kaget, segera ia menahan.

Kwee Ceng pun sadar, lekas-lekas ia berdiam.

Tapi ia masih mengintai pula.

Sekarang ia mengerti betul kegunannya barisan Thian Kong Pak Tuaw itu.

Ketika di Tho Hoa To menyaksikan Ang Cit Kong menempur Auwyang Hong ia memperoleh kemajuan besar, kali ini ia mendapatkan kemajuan serupa, dengan begitu, pengetahuannya menjadi bertambah.

Lama-lama maka letihlah Bwee Tiauw Hong, ia hampir tak dapat bertahan pula.

Dilain pihak, juga tenaganya Coan Cin Cit Cu agaknya berkurang, mereka mulai kendor.

Justru itu di pintu terdengar suara orang.

"Saudara Yok, kau maju lebih dulu atau kau suka mengalah untuk aku mencoba-coba?"

Demikian suara itu.

Kwee Ceng terkejut.

Ia mengenali baik suaranya Auwyang Hong.

Entah kapan datangnya See Tok, si Bisa dari Barat itu.

Juga Coan Cin Cit Cu kaget semuanya, dengan serentak mereka melirik ke arah pintu.

Di samping pintu itu berdiri berendeng dua orang, yang satu bajunya hijau yang lainnya putih.

Mereka mengetahui akan adanya musuh-musuh yang tangguh, dengan berbareng mereka berseru, dan dengan berbareng mereka menghentikan pertempuran untuk berbangkit berdiri.

"Bagus betul"

Berkata Oey Yok Su.

"Tujuh rupa bulu campur aduk ini mengepung satu muridku! Saudara Hong, jikalau aku memberi pengajaran kepada mereka, bisakah kau membilangnya aku menghina kepada yang muda?"

Auwyang Hong tertawa, ia menyahuti.

"Mereka yang terlebih dulu tidak menghormati kau! Jikalau kau masih tidak mengasih lihat sedikit dari ilmu kepandaianmu, pasti ini kawanan anak muda tidak mengetahui lihaynya pemilik dari Tho Hoa To!"

Ong Cie It pernah melihat Tong Shia dan See Tok di Hoa San, heran ia mendapatkan orang muncul berbareng dengan tiba-tiba, hendak ia maju untuk memberi hormat, atau Oey Yok Su sudah maju dengan sebelah tangan terayun.

Ia hendak menangkis tapi sudah tidak keburu, maka dengan satu suara "Plok!"

Pipinya kena digaplok, tubuhnya lantas terhuyung, hampir ia menubruk lantai. Khu Cie Kee kaget sekali.

"Lekas kembali ke tempat masing-masing!"

Ia berseru.

Akan tetapi belum sempat saudara-saudaranya itu menaati seruannya atau plak-plok tak hentinya, dengan bergantian mukanya Tam Cie Toan, Lauw Cie Hian, Cek Tay Thong dan Sun Put Jie telah tergaplok seperti muka Ong Cie It.

Setelah itu bayangan pun berkelebat ke mukanya Tiang Cun Cu sendiri, demikian rupa, hingga tak tahu ia bagaimana harus menangkisnya, maka tidak ayal lagi, ia mengibas tangannya, mengarah dadanya Oey Yok Su!

Bab 53.

Ajalnya Bwee Tiauw Hong Khu Cie Kee adalah yang terpandai dari Cit Cu, Oey Yok Su memandang ia terlalu enteng, maka dadanya itu kena terkibas hingga ia merasakan sakit.

Dengan sebat ia menutup diri, lalu dengan tangan kirinya menyambar tangan baju si penyerang, tangan kanannya mencari biji mata lawan itu.

Khu Cie Kee meronta sekuatnya, ujung bajunya itu robek.

Itu waktu Ma Giok maju bersama Ong Cie It, akan tetapi Oey Yok Su sudah berlompat ke belakang Cek Tay Thong, ketika kakinya dilayangkan, Kong Leng Cu roboh jungkir balik!

Di dalam kamar rahasia, Kwee Ceng menyerahkan lubang intaian kepada Oey Yong, maka giranglah nona ini menyaksikan ayahnya menunjuki kepandaiannya itu, coba ia tidak ingat kawannya mesti menanti lagi satu dua jam untuk nsembuh betul, tentulah ia sudah menepuk tangan bersorak-sorai.

Adalah Auwyang Hong yang berdiri di pintu sambil tertawa berkakakan, dengan mulutnya dibuka lebar-lebar.

"Yang Ong Tiong Yang terima adalah ini segerombolan kantung nasi!"

Cie Kee penasaran sekali. Semenjak belajar silat, belum pernah ia dikalahkan begini rupa.

"Berdiri rapi di tempat masing-masing!"

Ia berteriak pula.

Akan tetapi Oey Yok Su tidak sudi memberikan kesempatan.

Ia bergeraak ke timur dan barat, ia menyerang kalang-kabutan hingga semua lawannya itu menjadi kelabakan, barisannya tidak dapat diatur pula.

Bahkan pedangnya Ma Giok dan Tam Cie Toan telah dipatahkan Tong Shia dan dilemparkan ke lantai.

Khu Cie Kee bersama Ong Cie It lantas merangsak dengan pedang di tangan masing-masing.

Itulah jurus yang istimewa dari ilmu pedang Coan Cin Pay.

Oey Yok Su tidak berani memandang enteng lagi, ia berkelahi dengan hati-hati.

Ma Giok cerdik, diam-diam ia menggunai ketika akan lompat ke dudukan thian-kie dan terus saja ia memegang pimpinan.

Tam Cie Toan dan Lauw Cie Hian lantas menyusul mengambil kedudukan mereka.

Perbuatan mereka ini lantas diikuti oleh yang lain-lainnya.

Sebentar saja, barisan Thian Kong Pak Tauw lantas teratur rapi.

Dengan begitu, jalannya pertempuran juga berubah menjadi lain.

Thian Koan bersama giok-heng lantas menhadapi lawan di depan, thian-kie dan kay-yang yang terus menyerang dari samping, sedang yauw-kong dan thian-soan di belakang turut merangsak.

Cie Kee maju di bantu Cie Peng.

Oey Yok Su meseti melayani musuh di empat penjurunya.

"Saudara Hong!"

Katanya tertawa.

"Ong Tiong Yang toh dapat meninggalkan ini macam ilmu kepandaian!"

Tong Shia bicara sambil tertawa, meski begitu, ia merasakan lawan menjadi beda, tenaga mereka itu menjadi besar sekali.

Maka sekarang ia bersilat dengan Lok Eng Ciang-huat, ia berputaran di dalam Thian Kong Pak Tauw itu, hingga tubuhnya seperti melayang-layang dan tangannya beterbangan… Oey Yong mengenali ilmu silat ayahnya itu.

"Ketika ayah mengajari ilmu silat ini, aku menyangka hanya ilmu kosong dan satu berisi atau tujuh berisi dan satu kosong,"

Katanya di dalam hati.

"Tidak tahunya setelah dipakai bertempur benar-benar, semua lima kosong dan tujuh berisi itu dapat diubah pergi pulang."

Pertempuran ini besa sekali dengan perlawanan Tiauw Hong tadi.

Si nona menonton sambil menahan napas.

Bahkan Auwyang Hong yang lihay pun turut ketarik sampai ia menjadi kagum sekali.

Selagi orang bertaruh seru itu, tiba-tiba terdengar satu suara jeritan.

"Aduh!"

Disusul mana tubuh jatuh terguling.

Nyata korban itu ialah In Cie Peng.

Dia tidak sanggup melayani Oey Yok Su berputaran, matanya kabur, kepalanya pusing, dunia dirasakan bagai berputar, di depan matanya entah ada berapa banyak musuhnya itu, diakhirnya, setelah penglihatannya gelao, tidak ampun lagi ia roboh sendirinya!

Coan Cin Cit Cu memusatkan pikiran mereka.

Mereka tahu, asal ada satu saja yang hatinya goncang, mereka tidak bakal ketolongan lagi, atau Coan Cin Pay bakal runtuh dan musnah.

Oey Yok Su pun gelisah.

Ia sudah kepalang, ia bersangsi untuk bertempur terus atau berhenti.

Perlawanan hebat dari Khu Cie Kee beramai itu membuat kedua pihak sama unggulnya.

Sementara itu ayam-ayam sudah berkokok dan sinar matahari mulai mengintai di arah timur.

Dengan lewatnya sang waktu itu, selesai sudah batas tempo istirahatnya Kwee Ceng.

Ia telah sembuh dan memperoleh kembali kesehatannya seperti sediakala.

Di luar kamarnya orang bertempur umpama kata langit terbalik dan bumi ambruk tetapi ia sendirinya tetap tenang, ia duduk diam.

Baru sesaat kemudian, ia mengintai ke luar kamar rahasianya, atau ia menjadi terkejut.

Oey Yok Su bertindak dengan perlahan, kakinya mengikuti garis patkwa, atau segi delapan, setiap gerakan tangannya berlahan juga.

Ketika Oey Yong menggantikan Kwee Ceng mengintai, ia tahu betul ayahnya lagi menggunakan ilmu silatnya yang tak sembarang dipakai.

Segera juga bakal datang saat yang memutuskan.

Coan Cin Cit Cu berkelahi dengan seantero tenaganya.

Mereka pun menginsyafi bahaya yang tengah mengancam mereka.

Berkali-kali mereka mengasih dengara suara satu sama lain, untuk mengasih isyarat, guna menambah semangat masing-masing.

Di batok kepala mereka mulai terlihat hawa panas mengkedus, sedang jubah mereka telah basah kuyup.

Hilanglah ketenangan mereka sebagaimana tadi mereka melayani Bwee Taiuw Hong.

Auwyang Hong terus menonton sambil ia memperhatikan barisannya imam-imam dari Coan Cin Kauw itu.

Ia mengharap-harap Oey Yok Su nanti mengurus semua tenaganya hingga ia mendapat luka di dalam.

Dengan begitu, kapan kembali di adakan rapat besar di Hoan San, rapat yang kedua, untuknya akan kurang satu lawan yang tangguh.

Akan tetapi Tong Shia benar-benar lihay, meski Khu Cie Kee semua bekerja sekerasnya, mereka itu masih tidak dapat merampas kemenangan.

Menyaksikan pertempuran yang sangat memakan tempo itu, Auwyang Hong menjadi tidak sabar.

Dasarnya ia berbisa, setelah berpikir sekian lama, ia mendapat satu akal licik.

Pertempuran itu berjalan semakin perlahan, tapi itu tandanya bahwa bahaya semakin dekat.

Oey Yok Su bekerja terus, nyata sekali terlihat ia menyerang dengan kedua tangannya kepada Sun Put Jie dan Tam Cie Toan.

Kedua imam itu mengangkat tangan mereka untuk menangkis.

Mereka segera dibantu Lauw Cie Ian dan Ma Giok.

Justru itu, mendadak See Tok bersiul panjang dan terus berseru.

"Saudara Yok, aku bantu kau!"

Menyusul suaranya itu ia berjongkok, segera dengan kedua tangannya ia menolak ke arah Tam Cie Toan!

Tiang Ci Cu tengah memusatkan perhatiannya terhdapa Oey Yok Su, ia telah mengerah tenaganya untuk menangkis serangan Tong Shia, ketika mendadak ia merasakan benturan keras di belakangnya, jangan kata untuk menangkis, berkelit saja sudah tidak keburu, maka itu dengan menerbitkan suara, ia roboh tengkurap.

Oey Yok Su menjadi gusar sekali.

"Siapa menghendaki bantuanmu!"

Ia menegur See Tok.

Ketika itu Khu Cie Kee dan Ong Cie It menyerang dengan berbareng.

Tong Shia mengibas untuk menangkis atau tangannya yang kanan bentrok sama perlawanannya Ma Giok dan Cek Tay Thong, yang pun menyerang kepadanya.

Auwyang ong tertawa.

"Kalau begitu, biarlah aku bantui mereka!"

Seruanya.

Sambil berkata begitu, dengan kedua tangannya benar-benar ia menyerang si Sesat dari Timur itu.

Kalau tadi ia menyerang Tam Cie Toan dengan menggunai tenaga tiga bagian, sekarang ia menggerahkan tenaganya dengan sepenuhnya.

Itu pun saat Oey Yok Su tengah menghadapi empat lawannya.

Ia mengharap hajaran ini, satu kali saja, akan menamatkan riwayatnya pemilik dari pulau Tho Hoa To itu.

Akal yang ia bertelurkan dari batok kepalanya ialah lebih dulu menjatuhkan salah satu Coan Cn Cit Cu, baru ia membokong Oey Yok Su.

Ia sudah memikir matang, setelah Thian Kong Pak Tauw Tin pecah, dengan Oey Yok Su sudah mati, walaupun imam-imam dari Coan Cin Kauw itu murka, ia tidak usah takuti mereka.

Oey Yok Su kaget sekali.

Ia tidak menyangka Auwyang Hong dapat berlaku demikian.

Ia menghadapi kesulitan.

Tidak bisa ia meninggalkan empat musuhnya di depannya itu, umpama kata ia memutar tubuhnya, untuk melayani Auwyang Hong, ia bisa celaka.

Maka itu tidak ada jalan lain, ia mencoba menutup diri seraya mengerahkan tenaga di punggungnya, guna terpaksa menerima serangan Kap-mo-kang, ilmu silat Kodok, dari si Bisa dari Barat yang licin itu.

Auwyang Hong girang sekali melihat Tong Shia mau mempertahankan diri dari serangannya yang dahsyat itu.

Itu pun artinya akal busuknya berhasil.

Tapi justru ia lagi bergirang itu, mendadak ia melihat berkelebatnya satu bayangan hitam, yang mencelat dari samping, bayangan mana berlompat ke belakangnya Oey Yok Su, untuk mewakilkan Tong Shia menyambuti serangannya itu!

Segera setelah serangan Auwyang Hong itu ada yang tangkis, dua-dua Oey Yok Su dan keempat imam lawannya menghentikan pertempuran mereka sambil lompat minggir, untuk memisahkan diri.

Kapan mereka telah melihat tegas, nyata orang yang berkorban untuk Tong Shia ialah Bwee Tiauw Hong!

Oey Yok Su menoleh kepada See Tok, ia tertawa dingin.

"Benar-benar si Bisa Bangkotan ternama tak mengecewakan,"

Katanya mengejek. Auwyang Hong sendiri berulang-ulang menyatakan.

"Sayang, sayang!"

Di dalam hatinya.

Ia menyesal bukan main yang serangannya itu gagal, sebab lain orang yang menjadi korban.

Dasar licik, ia mengerti bahaya.

Ia tidak mau melayani Oey Yok Su.

Ia mengerti baik sekali, kalai Oey Yok Su bergabung dengan semua imam itu, itu berarti ia menghadapi bencana jiwa.

Maka juga ia tertawa nyaring dan panjang, sembari tertawa itu ia memutar tubuh untuk berlompat keluar, buat terus menangkat langkah seribu!

Ma Giok lantas menghampirkan Tam Cie Toan, ia membungkuk untuk mengangkatnya.

Segera juga ia menjadi kaget.

Tubuh adik seperguruannya itu lemas sekali dan kepalanya pun teklok.

Auwyang Hong telah menghajar orang hingga tulang-tulang iga serta punggungnya patah.

Kakak ini lantas mengucurkan air mata, sebab ia merasa pasti, adik seperguruannya itu tidak bakal dapat ditolong lagi.

Khu Cie Kee yang bertabiat keras berlompat keluar dengan membawa pedangnya, ia mau menyusul See Tok, untuk menyerang si bisa yang jahat itu, tetapi dari tempat yang jauh ia cuma mendengar suara orang.

"Oey Lao Shia, telah aku membantu kau memecahkan barisan istimewa warisannya Ong Tiong Yang, aku pun sudah mewakilkan kau menghukum mati murid Tho Hoa To yang murtad, maka itu, sisanya enam imam campur aduk, kau sendiri pun dapat melayaninya. Sampai ketemu pula!"

Oey Yok Su mengeluarkan suara di hidung.

Ia tahu, kata-kata terakhir dari See Tok ini ada untuk membakar hatinya dan kawanan Coan Cin Kauw itu, supaya mereka murka dan menumpleki kemurkaannya terhadapnya.

Tapi ia pun besar kepala, tidak sudi ia memberi keterangan kepada Ma Giok semua.

Ia hanya menghampirkan mayatnya Bwee Tiauw Hong, ia mengangkatnya dengan perlahan-lahan.

Murid itu telah memuntahlan darah hidup, kelihatannya ia tidak bisa hidup lebih lama lagi.

Khu Cie Kee mengubar sampai beberapa puluh tembok, Auwyang Hong entah telah kabur kemana.

Ketika itu, Ma Giok berulang-ulang memanggil ia pulang, maka ia kembali dengan tindakan lebar.

Ia masih gusar sekali, kedua matanya terbuka besar dan bersinar merah.

Segera ia menuding Oey Yok Su.

"Coan Cin Kauw kami denganmu ada bermusuhan apa?!"

Ia menegur dengan bengis.

"Oh, iblis tersesat yang jahat sekali! Mulanya kau membinasakan Ciu Susiok kami, sekarang kau mencelakai Tam Sutee kami ini. Apakah artinya perbuatanmu, hai manusia sesat?"

Ditegur begitu, Oey Yok Su melengak.

"Kau maksudkan Ciu Pek Thong?"

Akhirnya ia menanya.

"Kau bilang aku membinasakan dia?"

"Apakah kau masih mau menyangkal?"

Cie Kee mendesak.

Oey Yok Su tahu di sini ada salah mengerti, tetapi ia membungkam, ia cuma tertawa dingin.

Sebenarnya bersama-sama Ciu Pek Thong dan Auwyang Hong, ia lagi mengadu lari, sesudah beberapa ratus lie dilalui, mereka masih seri.

Niat mereka semula adalah mengagu terus sampai ada keputusan siapa yang menang, tetapi mendadak, Ciu Pek Thong menghentikannya setengah jalan.

Inilah disebabkan Loo Boan Tong tiba-tiba ingat Ang Cit Kong, ynag ditinggalkan seorang diri di dalam istana kaisar.

Berbahaya kalau kangzusi.com Pengemis dari Utara itu sampai kena dipergoki penghuni istana.

Bukankah ia telah habis ilmu silatnya?

Maka itu ia kata kepada kedua lawannya.

"Loo Boan Tong ada mempunyai urusan, kita berhenti saja, kita jangan mengadu lari lebih jauh!"

Kata-kata ini ialah kepastian, Oey Yok Su dan Auwyang Hong tidak dapat memaksakan, untuk itu, ia dibiarkan lari.

Oey Yok Su berniat menanyakan Ciu Pek Thong tentang putrinya, karena kepergian si orang tua berandalan dan jenaka itu, ia menjadi batal menanyakan.

Ketika itu sia-sia belaka Tam Cie Toan menyusul mereka itu bertiga, ia tidak dapat melihat sekalipun bayangan orang, sebaliknya Oey Yok Su semua mengetahui dan melihat ia jelas sekali, maka itu seberlalunya Loo Boan Tong, Oey Yok Su dan Auwyang Hong lantas kembali ke Gu-kee-cun.

Kebetulan sekali, sesampainya mereka di rumah penginapan, mereka dapat menyaksikan Coan Cin Cit Cu lagi menempur Bwee Tiauw Hong.

Biar bagaimana, Tong Shia tidak bisa membiarkan muridnya bercelaka, maka itu, diakhirnya ia yang turun tangan sendiri.

Di luar segela dugaan, kesudahannya ada demikian hebat.

Selagi Khu Cie Kee kalap itu, Sun Put Jie menangiskan Tam Cie Toan.

Yang lain-lain pun gusar sekali, hingga mereka semua mau mengadu jiwa.

Tiba-tiba Tam Cie Toan membuka matanya dan berkata.

"Aku mau pergi…"

Khu Cie Kee semua lantas menghampirkan, mereka mengerubungi saudara seperguruan itu.

Tam Cie Toan bersenandung lemah, lalu ia menarik napasnya yang penghabisan, matanya meram.

Keenam Cu bertunduk, untuk memujikan arwahnya saudara itu.

Habis itu Ma Giok memondong tubuh suteenya, buat dibawa pergi.

Khu Cie Kee semua mengikuti tanpa bersuara, tanpa berpaling lagi ke belakang, mereka keluar dari rumah penginapan itu dan pergi.

Oey Yok Su heran sekali, ia tidak tahu permusuhan apa di antara ia dan Coan Cin Kauw, tetapi ketika ia melihat Bwee Tiauw Hong bernapas empas-empis, ia menjadi berduka.

Biar bagaimana Tiauw Hong adalah muridnya, mereka telah hidup bersama buat beberapa puluh tahun.

Murid itu pun telah berkorban untuknya.

Pada dasarnya, ialah seorang yang jujur, maka itu, dalam kedukaannya itu, ia menangis menggerung-gerung.

Bwee Tiauw Hong dapat mendengar tangis gurunya itu, ia mengerti, lantas ia tersenyum.

Ia tidak mengatakan apa, hanya dengan mengerahkan tenaga terakhir, dengan tangan kanannya ia mematahkan lengannya yang kiri, setelah mana dengan tangan kanan itu ia menghajar batu itu hancur dan lengannya pun patah pula.

Menyaksikan perbuatan muridnya itu, Oey Yok Su tercengang.

"Suhu,"

Berkata sang murid.

"Ketika di Kwei-in-chung suhu menitahkan muridmu melakukan tiga macam perbuatan, dua yang lain muridmu tak keburu melakukannya….."

Oey Yok Su lantas ingat akan tiga macam titahnya itu, ialah pertama mencari pulang kitab Kiu Im Cin-keng yang telah hilang, kedua mencari Liok Leng Hong serta dua muridnya yang lainnya, dan yang ketiga, yaitu yang terkahir, muridnya ini dimestikan membayar pulang ilmu silat yang didapat dari Kiu Im Cin-keng itu.

Sekarang dengan mematahkan kedua tangannya itu, Bwee Tiauw Hong menepati perintah gurunya, sebab dengan tangannya patah maka musnahlah juga kepandaiannya Kiu Im Pek-kut Jiauw seri Cwie-sim-ciang.

Lantas sang guru tertawa terbahak.

"Bagus, bagus!"

Katanya.

"Dua yang lain itu sudah tidak ada artinya lagi! Sekarang mari aku terima pula kau menjadi murid dari Tho Hoa To!"

Tiauw Hong menginsyafi ia telah tersesat, maka itu mendengar gurunya memberi ampun dan suka menerima ia kembali, ia girang bukan main, dengan memaksakan diri ia merayap bangun, untuk memberi hormat kepada guru itu sambil paykui beberapa kali, ketika ia mengangguk untuk ketiga kalinya, tubuhnya rebah tak bangun pula.

OeyY ong dari kamar rahasia telah menyaksikan itu semua, ia disandingkan pelbagai perasaan.

Hebat apa yang ia telah saksikan itu, semuanya mengagetkan dan mengharukan.

Dilain pihak, ia mengharap-harap ayahnya itu nanti berdiam sedikit lama pula, supaya ia bersama Kwee Ceng dapat keluar untuk menemuinya.

Kwee Ceng itu tinggal menanti berkumpulnya hawa di pusarnya.

Oey Yok Su sudah lantas mengangkat tubuhnya Bwee Tiauw Hong, untuk dipondong.

Hampir di itu waktu, di luar rumah terdengar suara meringkiknya kuda.

Oey Yong mengenali, itulah kuda merah yang kecil kepunyaan Kwee Ceng.

Menyusuli suaranya Sa Kouw, yang berkata.

"Inilah dusun Gu-kee-cun! Mana aku tahu di sini ada orang she Kwee atau tidak………?"

Lalu terdengar suaranya seorang yang lain.

"Di sini toh cuma ada beberapa buah rumah! Mustahil kau tidak kenal semuanya penduduk sini?"

Agaknya orang itu tidak sabaran, karena ia lantas saja menolak pintu dan bertindak masuk.

Oey Yok Su menempatkan diri di belakang pintu, ketika ia melihat orang yang masuk itu, air mukanya berubah.

Orang adalah Kanglam Liok Koay yang telah ia cari dengan susah payah.

Kanglam Liok Koay sudah pergi ke Tho Hoa To, lantas mereka berputar-putar, tidak juga mereka berhasil mencari rumahnya pemilik pulau Bunga Tho itu, baru kemudian mereka bertemu sama satu bujang yang gagu dari siapa mereka ketahui majikannya pulau itu tengah bepergian.

Kemudian lagi Kanglam Liok Koay melihat kuda merah dari Kwee Ceng terlepas merdeka di dalam rimba, mereka lalu membawanya sampai di dusun Gu-kee-cun ini, dimana mereka bertemu sama Sa Kouw, si nona tolol.

Kwa Tin Ok sangat jeli kupingnya, begitu masuk di pintu, ia mendapat dengar suara orang bernapas di belakang pintu itu, maka segera ia memutar tubuhnya, dituruti oleh lima saudaranya.

Dengan lantas mereka melihat Oey Yok Su menhadang di ambang pintu seraya tangannya memodong Bwee Tiauw Hong.

Oey Yok Su rupanya mau mencegah keenam orang luar biasa dari Kanglam itu melarikan diri…..

"Oey Tocu baik?"

Cu Cong lantas menanya.

"Sudah lama kita tidak bertemu! Kami berenam telah memenuhi janji untuk bertemu di Tho Hoa To, sayang tocu tidak ada di rumah, tetapi hari ini kebetulan bertemu di sini, kami merasa sangat beruntung!"

Habis berkata begitu, si Mahasiswa Tangan Lihay lantas menjura dalam. Oey Yok Su berniat membunuh Liok Koay, sekarang ia menampak pula muka pucat pasi dari Tiauw Hong, ia berpikir.

"Liok Koay ini musuh besar dari Tiauw Hong, siapa nyana sekarang Tiauw Hong mendahului mereka mati, meski begitu, sekarang aku mesti membuatnya ia membinasakan musuhnya dengan tangannya sendiri, supaya ia mati dengan meram….."

Maka itu tangan kanan tetap memondong tubuh muridnya, dengan tangan kiri ia mengangkat tangan yang patah dari muridnya itu, tangan yang hanya tersambung dengan kulit daging, sembari berbuat begitu ia melompat ke sampingnya Han Po Kie, untuk dengan cepat sekali, dengan tangannya Tiauw Hong itu, menghajar bahu kanan si Malaikat Raja Kuda.

Han Po Kie kaget bukan main, sampai dia tidak sempat berkelit atau menangkis.

Hebat ia kena dihajar, benar lengannya tidak sampai patah tetapi sesaat itu dia tidak dapat menggeraki tangannya itu.

Liok Koay kaget dan gusar karena sikapnya Oey Yok Su ini, yang menyerang tanpa bicara lagi, maka itu mereka pun lantas balik menyerang.

Han Po Kie turut maju setelah ia merasa tangannya lebih ringan.

Mereka berseru-seru sambil mereka menghunus senjatanya masing-masing.

Mereka mengurung dengan rapi.

Oey Yok Su mengangkat tinggi tubuhnya Bwee Tiauw Hong, ia seperti tidak menghiraukan pelbagai alat senjata yang aneh dari enam jago dari Kanglam itu.

Han Siauw Eng adalah orang pertama yang diserang pemilik Tho Hoa To itu.

Ia kaget ketika ia melihat mukanya Bwee Tiauw Hong, yang matanya mendelik, rambutnya riap-riapan, mulutnya penuh darah.

Itulah roman mayat yang sangat menyeramkan.

Tangan Tiauw Hong pun diangkat tinggi-tinggi, mengancam batok kepalanya.

Tanpa merasa ia menjadi lemas kaki dan tangannya.

Lam Hie Jin dan Coan Kim Hoat menyaksikan saudara angkat mereka terancam, dengan berbareng mereka menyerang tangannya Tiauw Hong itu.

Mereka menggunai pikulan serta bandulan besi dacin mereka.

Oey Yok Su sebat luar biasa, dengan cepat ia menarik pulang tangan kanan Tiauw Hong itu, untuk dengan tangan kirinya menghajar terus Siauw Eng.

Ahli pedang Gadis Wat itu tengah tidak berdaya, maka pinggangnya menjadi sasaran, ia kesakitan hingga tubuhnya melengkung jongkok.

Han Po Kie maju dari samping, untuk menyerang dengan cambuknya, Kim-liong-pian, atau cambuk Naga Emas.

Oey Yok Su mengangkat kaki kirinya, ia bergerak sebat, tetapi toh kaki itu toh kena kelibat.

Hanya Han Po Kie, meski ia mengeluarkan seluruh tenaganya, tidak sanggup ia menarik kuda-kudanya Tong Shia.

Dilain pihak, tangan berkuku dari Bwee Tiauw Hong telah menyambar ke mukanya.

Ia kaget sekali, ia melepaskan libatan cambuknya, ia berkelit sambil berlenggak terus menjatuhkan diri bergulingan.

Meski begitu, ia merasakan mukanya panas dan sakit, ketika ia meraba ke mukanya itu, tangannya penuh darah.

Sebab lima kukunya Tiauw Hong berhasil menyambar mukanya.

Syukur untuknya, Tiauw Hong sudah menjadi mayat dan jambakannya itu bukannya jambakan Kiu Im Pek-kut Jiauw.

Setelah beberapa jurus, Liok Koay lantas jatuh di bawah angin.

Coba tidak Oey Yok Su menghendaki membinasakan musuh dengan tangannya Tiauw Hong sendiri, mungkin mereka sudah bercelaka.

Sekarang mereka hanya terancam bahaya.

Kwee Ceng di dalam kamar rahasia menjadi bergelisah.

Ia mendengar nyata suara napas menggorong dari keenam gurunya itu, tanda dari keaadan berbahaya dari mereka.

Ia menjadi cemas hati sebab ia sendiri tidak bisa lekas-lekas keluar, untuk mencegah bencana.

Ia masih memerlukan waktu untuk memperkuat hawa di pusarnya itu.

Tapi dapatkah ia main ayal-ayalan?

Budi guru-gurunya itu sama dengan budi orang tuanya!

Maka diakhirnya, ia menahan napas, ia meluncurkan sebelah tangannya untuk menghajar daun pintu, hingga pintu itu gempur.

Oey Yonng kaget bukan main.

"Engko Ceng, jangan!"

Ia mencegah.

Ia tahu kawan itu mesti beristirahat.

Kwee Ceng pun merasakan akibat serangannya itu, ialah hawa naik ke atas, ke jantungnya, maka lekas-lekas ia memeramkan mata menarik pulang hawanya itu kembali ke pusar.

Tetapi sekarang pintu rahasia telah tergempur pecah dan terbuka.

Oey Yok Su dan Kanglam Liok Koay kaget sekali, apa pula mereka lantas melihat muda-mudi itu.

Dengan sendirinya mereka pada lompat mundur menghentikan pertempuran mereka.

Oey Yok Su heran dan girang, hingga ia mengucak-ucak matanya.

"Anak Yong, benarkah kau?"

Ia menanya.

ia hampir tak mempercayai matanya sendiri.

Ia merasa bagaikan lagi bermimpi.

Oey Yong dengan sebelah tangannya memegang tangan Kwee Ceng, mengangguk sambil tersenyum.

Ia tidak membuka mulutnya untuk menjawab ayahnya itu.

Mengawasi sikap anak gadisnya itu, Oey Yok Su lantas mengerti.

Untuknya, diketemuinya anak itu ada seperti juga si anak sudah mati tetapi hidup pula.

Itulah putri satu-satunya dan juga yang ia sayangi seperti jiwanya sendiri.

Ia lantas meletaki tubuh Tiauw Hong di atas bangku, ia terus menghampirkan Kwee Ceng, di sisi siapa ia duduk bersila, tangannya diulur untuk mencekal tangan anak muda itu.

Kwee Ceng merasakan hawa di dalam tubuhnya panas bergolak, sangat sukar ia melawan itu.

Beberapa kali ia hendak berkoakan atau berlompatan.

Tapi, begitu lekas tangannya di tempelkan Oey Yok Su itu, lantas hawa panasnya berkurang, dapat ia berlaku tenang.

Dengan lain tangannya, Oey Yok Su pun menguruti sekejur tubuhnya pemuda itu.

Boleh di bilang hanya sekejap kemudian, lantas Kwee Ceng dapat menenangi diri betul-betul.

Itu artinya bukan saja ia telah terhindar dari bahaya, bahkan ia sudah sembuh betul, otot dan tulang-tulangnya menjadi bertambah kuat.

Maka itu, ia lantas bangun, untuk paykui kepada pemilik dari Tho Hoa To itu, akan kemudian ia pun menghampirkan keenam gurunya, untuk memberi hormatnya kepada muridnya.

Selagi pemuda itu berbicara sama semua gurunya, menuturkan segala hal semenjak mereka berpisah, Oey Yok Su pun asyik pasang omong dengan putrinya, tangan siapa ia tuntun.

Mereka gembira sekali, saban-saban mereka tertawa gila.

Mengetahui tentang nona Oey, Liok Koay heran dan ketarik hati.

Mereka pun ketarik denagn suara halus dari nona itu.

Maka itu, diam-diam mereka bertindak mendekati, akan mendengari lebih jauh suara si nona, yang terus berbicara dengan ayahnya.

Sebab banyak yang anak ini tuturkan.

Tiba pada saatnya pertempuran Oey Yok Su dengan Liok Koay, nona itu berkata sambil tertawa.

"Sudahlah, tak usah aku bercerita terus!"

Segera setelah itu Oey Yok Su berkata.

"Aku hendak membinasakan empat orang, ialah Auwyang Hong, Leng Tie Siangjin, Kiu Cian Jin dan Yo Kang, maka anak yang baik, mari kau turut aku menyaksikan keramaian itu!"

Tapi ia melirik kepada Liok Koay, agaknya ia jengah, tetapi dasar angkuh, ia terus tidak sudi mengaku salah, cuma seperti untuk menghibur diri, ia kata.

"Anggaplah sang peruntungan masih tidak terlalu buruk hingga aku tidak sampai mencelakai orang baik-baik!"

"Ayah,"

Kata Oey Yong tertawa.

"Baiklah kau minta maaf kepada beberapa suhu ini…"

"Hm,"

Jawab ayah itu, yang lalu menyimpanginya.

"Aku hendak mencari See Tok, eh, anak Ceng, kau turut atau tidak?"

Belum lagi Kwee Ceng menyahuti, Oey Yong sudah memegat. Kata anak ini.

"Ayah, baiklah kau pergi dulu ke istana untuk memapak suhu!"

Kwee Ceng tidak sempat menjawab Oey Yok Su, ia terus bercerita terus sampai Oey Yok Su memberi perkenan untuk ia menikah dengan Oey Yong serta Ang Cit Kong mengambil ia sebagai murid.

Mengenai ini, ia minta keputusan guru-gurunya itu.

Kwa Tin Ok menjadi sangat girang.

"Kau sungguh beruntung!"

Katanya.

"Dengan kau mendapati Kiu Cie Sin Kay sebagai guru dan Tocu dari Tho Hoa To sebagai mertua, kami girang bukan kepalang! Masa dapat kami tidak memberikan perkenan kami? Cumalah halnya Kha Khan dari Mongolia?"

Tin Ok hendak menyebutkan urusan putrinya Jenghiz Khan, bahwa halnya murid ini adalah calon Kim-too Huma, tetapi ia tidak dapat lantas membuka mulutnya.

Mendadak sekali, pintu, yang tadi tertutup pula, sekarang ada yang pentang dan Sa Kouw muncul di antara mereka, tangannya memegang monyet-monyetan dari kertas.

Ia menghampirkan Oey Yong dan menanya sambil tertawa.

"Adik, apakah semangkamu telah habis dimakan? Seorang tua telah menyuruhnya aku menyerahkan kunyuk-kunyukan ini kepadamu, katanya dibuat main…"

Oey Yong menyangka orang lagi kumat ketololannya, ia menyambuti kena kerta itu acuh tak acuh. Sa Kouw berkata pula.

"Orang tua itu, yang rambutnya ubanan, memesan juga supaya kamu jangan gusar, katanya pasti ia bakal menolongi kau mencari gurumu."

Mendengar itu, Oey Yong menduga kepada Ciu Pek Thong, maka ia lantas meneliti kertas itu. Benarlah di situ ada tulisan alamatnya, maka ia lantas membukanya, hingga ia dapat membaca.

"Si pengemis tua tak dapat ditemukan, karenanya Loo Boan Tong menjadi tidak gembira."

Si nona menjadi heran dan kaget.

"Ah, kenapa suhu lenyap?"

Serunya. Oey Yok Su berdiam, lalu ia kata.

"Loo Boan Tong edan-edanan tetapi ia lihay sekali, maka asal Ang Cit Kong tidak mati, pasti ia dapat menolonginya. Hanya sekarang ini Kay Pang lagi menghadapi satu urusan besar…"

"Bagaimana, ayah?"

Oey Yong menanya terkejut.

"Tongkatnya si pengemis tua yang telah diberikan padamu sudah dibawa pergi oleh Yo Kang si binatang cilik itu! Binatang itu tidak lihay ilmu silatnya tetapi lihay otaknya, kalau tidak bagaimana dapat orang sebangsa Auwyang Kongcu terbinasa di tangannya? Dia telah mendapati tongkat keramat kaum pengemis itu, pastilah dia bakal menerbitkan gelombang kekacauan, yang dapat membahayakan Kay Pang. Mari kita lekas mencari dia, untuk merampas pulang tongkat itu, kalau tidak, pasti celakalah murid-murid dan cucu-cucu muridnya si pengemis bangkotan itu!"

Mendengar itu Liok Koay menganggukkan kepala.

"Sayang suhu sudah pergi beberapa hari, mungkin di sukar dicandak,"

Kata Kwee Ceng.

"Di sini ada kuda merahmu, kau boleh coba menyusul,"

Kata Po Kie.

Kwee Ceng lantas ingat kuda merahnya itu, ia menjadi girang sekali, lantas ia lari keluar seraya bersiul.

Kuda itu mendengar suara majikannya, dia berjingkrak lari menghampirkan, dia mengelus-elus majikannya itu seraya meringkik perlahan tak hentinya.

Menampak demikian Oey Yok Su berkata.

"Anak Yong, pergilah kau bersama Kwee Ceng untuk merampas pulang tongkat itu. Kuda kecil itu keras larinya, mungkin kamu dapat menyandak."

Selagi berkata begitu, Oey Yok Su melihat Sa Kouw di samping mereka, nona itu tertawa dengan ketololannya.

Ia melihat wajah dan gerak-gerik orang, ia ingat itulah mirip dengan sifat muridnya, Kiok Leng Hong.

"Apakah kau she Kiok?"

Ia tanya nona itu. Sa Kouw menggeleng kepala secara lucu.

"Aku tidak tahu,"

Sahutnya.

"Ayah, mari kau lihat!"

Berkata Oey Yong, mengajak ayahnya, yang ia tuntun ke dalam kamar rahasia.

Begitu melihat pengaturan ruangan itu, Oey Yok Su ketarik hatinya.

Itulah pengaturan seperti caranya sendiri.

Maka ia mau menduga, mesti itu diatur oleh Kiok Leng Hong, muridnya itu.

"Ayah, coba lihat benda di dalam peti besi itu,"

Oey Yong berkata pula.

Oey Yok Su tidak lantas membuka peti hanya tubuhnya mencelat tinggi sambil tangannya diulur ke pojok tembok barat daya, menyambar ke arah wuwungan, ke temboknya, ketika ia menarik, tembok itu lantas terbuka merupakan sebuah lubang.

Dengan tangan kanannya memegang kertas, ia lantas menggelantungkan diri, lalu dengan tangan kirinya, ia meragoh ke dalam lubang itu.

Dari situ ia menarik keluar segulungan kertas.

Belum lagi ia lompat turun, tangan kanannya sudah menekan tembok, maka dengan itu, ia berlompat terus keluar kamar.

Oey Yong dengan sebat lompat mengikuti ayahnya itu.

Ia melihat gulungan kertas yang penuh debu setelah dibeber, kertas itu memuat tulisan yang huruf-hurufnya tidak karuan macam, bunyinya.

"Surat ini dihanturkan kepada guruku yang berbudi di pulau Tho Hoa To. Dari istana kaisar muridmu telah berhasil mendapatkan sejumlah tulisan dan gambar lainnya, yang semua hendak dihanturkan kepada suhu, maka tidak beruntung sekali, selama di dalam istana aku telah dikepung sekawanan siwi. Aku telah meninggalkan seorang anak perempuan……."

Sampai habis di situ, habis sudah surat itu, yang terlihat tinggal titik-titik yang terang adalah titik-titik darah.

Melihat surat itu, Oey Yong menjadi terharu hatinya.

Ia mengingat nasib celaka murid-murid ayahnya itu, yang semuanya lihay tetapi mereka telah diusir ayahnya itu gara-gara Bwee Tiauw Hong berdua.

Sekarang beginilah nasib Kiok Leng Hong, salah satu murid yang tetap setia itu.

Oey Yok Su mengerti, Leng Hong ini tentulah ingin kembali ke Tho Hoa To, maka setelah diusir dia berdaya mencari rupa-rupa barang yang menjadi kesukaan gurunya, ia membesarkan hati pergi mencuri ke istana, maka apa celaka, ia menemui saat naas, disaat berhasilnya, ia kepergrok dan dikepung pahlawan-pahlawan istana.

Melihat nasibnya Liok Seng Hong, ia sudah menyesal, maka sekarang ia menjadi lebih menyesal lagi.

Sa Kouw tidak tahu apa-apa, ia berdiri di samping sambil terus tertawa haha-hhihi.

"Apakah ilmu silatmu diajari ayahmu?"

Oey Yok Su menegur si nona, suaranya bengis.

Sa Kouw menggeleng kepala lantas dia lari keluar pintu besar, daun pintu itu ia tutup rapat, setelah ia mengintai ke dalam, terus ia bersilat.

Dia mengintai pula, lalu kembali ia bersilat lagi.

"Ayah,"

Berkata Oey Yong.

"Dia belajar silat dengan mencuri pelajaran Kiok Suko."

Ayah itu mengangguk.

"Ya,"

Katanya.

"Aku pun tidak percaya, setelah di usir, Leng Hong bernyali besar berani mewariskan ilmu kepandaiannya kepada lain orang… Eh, anak Yong, coba kau serang dia dibagian bawah, kau gaet dia roboh!"

Kata-kata yang belakangan ini dikeluarkan secara mendadak. Oey Yong heran, tidak tahu ia maksud ayahnya, tetapi ia menghampirkan Sa Kouw, sembari tertawa haha-hihi, ia kata kepada nona tolol itu.

"Sa Kouw, mari aku berlatih bersama-sama denganmu. Kau berhati-hatilah!"

Ia lantas menggerak dengan tangan kiri, disusul sama tendangan kaki kiri dan kanan degan sebat sekali.

Sa Kouw melengak, sebelum ia sempat berdaya, kempelonnya yang kanan telah kena ditendang.

Ia lantas lompat mundur.

Tetapi di sini ia telah ditunggu, begitu ia digaet, lantas ia jatuh terguling.

Ia lompat bangun dengan segera.

"Kau menggunai akal!"

Serunya.

"Adik kecil, mari kita mulai lagi!"

"Hus!"

Membentak Oey Yok Su.

"Apa adik kecil! Kau mestinya memanggil kouw-kouw!"

"Kouw-kouw!"

Sa Kouw lantas memanggil, tanpa ia mengetahui apa bedanya "adik kecil"

Dengan "kouw-kouw"

Atau bibi.

Baru sekarang Oey Yong mengerti bahwa ayahnya hendak mencoba bagian bawah dari si tolol itu sebab Kiok Leng Hong hilang kedua kakinya, kalau Leng Hong bersilat seorang diri, kuda-kudanya tidak nampak, kalau ia mengajari dengan mulut, mestinya nona itu sempurna bagian atas, tengah dan bawahnya.

Dengan terus menyebut "kouw-kouw"

Itu sama dengan artinya Oey Yok Su menerima si nona sebagai muridnya.

"Kenapa kau tolol?"

Ia tanya pula.

"Aku ialah Sa Kouw,"

Sahut si nona tertawa.

"Tolol"

Ialah "Sa"

"Mana ibumu?"

Tanya Oey Yok Su, alisnya mengkerut. Nona itu meringis.

"Ia sudah pulang…"

Sahutnya.

Masih Oey Yok Su menanya beberapa kali, jawaban si nona tidak karuan, maka ia menghela napas panjang.

Ia tidak tahu orang tolol semenjak dilahirkan atau karena suatu penderitaan yang mengagetkan.

Kecuali Leng Hong hidup pula, tidak nanti ada lai orang yang mengetahui sebab-musabab itu.

Dengan mendelong, tocu dari Tho Hoa To ini mengawasi mayatnya Tiauw Hong.

"Anak Yong,"

Katanya selang sesaat.

"Mari kita lihat barang-barang Kiok Sukomu itu."

Oey Yong menurut, maka ayah dan anak itu masuk pula ke dalam kamar rahasia. Mengawasi tulang-belulang Kiok Leng Hong, Oey Yok Su berdiri mendelong, kemudian air matanya mengucur turun.

"Anak Yong,"

Katanya.

"Diantara semua muridku, Leng Hong yang paling pandai, maka kalau bukan kakinya buntung, seratus siwi pun tidak nanti sanggup menawan dia!"

"Itulah wajar!"

Sahut putri itu.

"Ayah, apakah kau mau menerima Sa Kouw sebagai muridmu?"

"Ya,"

Ayahnya itu menyahut.

"Aku akan ajarkan dia ilmu silat, bersyair dan -menabuh khim, juga ilmu Kie-bun Ngo-heng. Apa yang dulu sukomu niat pelajarkan, tetapi belum kesampian, semua akan aku ajarkan kepada anaknya ini!"

Oey Yong mengulur lidahnya.

"Hebat penderitaan ayah,"

Pikirnya. Oey Yok Su membuka peti besi, ia memeriksa isinya. Melihat semua itu, ia menjadi semakin berduka. Ketika ia membeber sebuah gambar, ia menhela napas.

"Gambar bunga dan burung Kaisar Hwie Cong ini indah dilukisannya,"

Katanya.

"Maka sayang sekali, negara yang indah pun ia hanturkan kepada bangsa Kim…."

Selagi ia menggulung pula gambar itu, mendadak Oey Yok Su berseru.

"Ih!"

"Ada apa ayah?"

Tanya Oey Yong.

"Kau lihat!"

Sahut ayah itu, tangannya menunjuk kepada sebuah gambar san-sui, lukisan pemandangan alam, gunung dan air.

Oey Yong mengawasi, ia melihat gambarnya sebuah gunung tinggi dengan puncak lancip menjulang ke langit, masuk ke dalam mega, di bawah mana ada jurang yang berair, di sini lembah pula ada sekumpulan pohon cemara, yang penuh salju, yang semuanya doyong ke Selatan, seperti bekas diserang angin Utara yang hebat, di puncaknya, di sebelah Barat, sebaliknya ada sebuah pohon cemara yang berdiri tegak, di bawah pohon itu, dengan tinta merah, ada dilukisan seorang jenderal perang lagi bersilat dengan pedang.

Mukanya jenderal itu tak nampak jelas, tetapi dandannnya membuat siapa yang melihat, mesti menaruh hormat.

Seluruh gambar memakai tinta hitam, kecuali manusianya ini, yang merah merong, hingga kelihatan mencolok mata.

Gambar itu pun tidak ada tanda-tanda pelukisnya, cuma ada syairnya seperti berikut.

"Setelah bertahun-tahun maka baju perang penuh debu dan tanah, Maka itu sengaja aku mencari bau harum di paseban Cui Bie, Gunung yang indah, sungai yang permai, belum dipandang cukup. Tindakan kuda mendesak hingga malam terang bulan pergi pulang."

Oey Yong memperhatikannya, lalu ia ingat. Beberapa hari yang lalu, di paseban Cui Bie Teng di puncak Hui Lang Hong, ia pernah melihat syair itu yang ada tulisannya Jenderal Han See Tiong yang kesohor.

"Ayah,"

Katanya.

"Inilah tulisan Tiong Bu Han Kie Ong, sedang syairnya ialah buah kalamnya Gak Bu Bok."

"Benar,"

Berkata ayahnya itu.

"Gak Bu Bok menulis syairnya ini melukiskan gunung Cui Bie San di Kota Tie-ciu, hanya gunung yang dilukisan begini berbahaya keadaannya bukan gunung Cui Bie San itu sendiri. Latar belakang lukisan ini bagus tetapi pelukisnya bukannya seorang pelukis jempolan."

Oey Yong ingat itu hari di Hui Lay Hong, Kwee Ceng sangat ketarik sama syairnya yang ditulis Han See Tiong itu, yang ia ukir di batu dengan jeriji tangannya, dan si pemuda seperti tidak hendak meninggalkannya.

Maka itu ia kata kepada ayahnya.

"Adaa baikkah gambar ini diberikan kepada menantumu!"

Oey Yok Su tertawa dan berkata.

"Memang anak perempuan berpihak ke luar, maka itu, apa aku hendak bilang lagi?"

Ia pun memilih serenceng mutiara seraya berkata pula.

"Mutiara yang dulu hari si Bisa bangkotan seragkan kepadamu, aku telah ambil dari Tho Hoa To dan membayar pulang kepadanya, maka itu sekarang kau ambillah ini."

Oey Yong tahu ayah itu sangat membenci Auwyang Hong, ia mengangguk, ia menyambuti mutiara itu seraya terus mengalungi di lehernya.

Ia sedang berbuat begitu tempo kupingnya mendengar suara burung rajawali putih berbunyi keras beberapa kali di udara, suaranya nyaring dan kesusu.

Ia sebenarnya sangat menyukai burung rajawali itu tetapi mengingat burung telah diambil oleh putri Gochin Baki, ia menjadi tidak senang, meski begitu, ia toh lari keluar, masih ingin ia membuat main burung itu.

Tiba di luar, ia melihat Kwee Ceng berada di bawah sebuah pohon liu yang besar, seekor rajawali memacuk bajunya di pundak dan menarik-narik, yang satunya lagi berputaran memutari seraya ia berbunyi tak hentinya.

Sa Kouw kegirangan, ia berlari-lari memutarai Kwee Ceng, ia bertepuk-tepuk tangan sambil tertawa dan bersorak.

"Yong-jie, mereka mendapat susah!"

Kata Kwee Ceng melihat si nona muncul.

"Mari kita pergi menolongi!"

"Siapa mereka?"

Oey Yong menanya.

"Kedua saudara angkatku, yang pria dan wanita!"

Nona itu memonyongkan mulutnya.

"Aku tidak mau pergi!"

Katanya. Kwee Ceng melengak, ia tidak mengerti tapi lekas ia berkata pula.

"Ah, Yong-jie, jangan seperti bocah! Mari kita lekas pergi!"

Habis berkata, ia menarik kudanya, ia lompat naik ke punggungnya.

"Habis, kau menghendaki aku atau tidak?"

Oey Yong tanya. Pemuda itu menjadi bingung.

"Kenapa aku tidak menghendaki kau?"

Ia balik menanya. Dengan tangan kiri ia menahan kudanya, tangan kanannya diansurkan untuk menyambuti si nona. Oey Yong tertawa, lalu ia berpaling ke arah ayahnya, sambil berkata nyaring.

"Ayah, kita hendak pergi menolongi orang! Kau bersama keenam suhu baik turut juga!"

Ia terus menjejak tanah dengan kedua kakinya, dengan begitu tubuhnya mencelat tinggi, tangan kirinya diluncurkan, akan menyambuti tangan kanan Kwee Ceng, untuk ditarik, maka itu, tubuhnya lantas melayang naik ke atas kuda hingga ia duduk di sebelah depan!

Kwee Ceng memberi hormat dari atas kuda kepada gurunya, setelah mana, ia melarikan kudanya itu, yang lantas lari kabaur.

Kedua burung rajawali pun terus terbang, sambil berbunyi mereka terbang cepat di sebelah depan, untuk menunjuki jalan.

Kuda mereka itu girang sekali bisa bertemu pula sama majikannya, dia lari keras dengan gembira, kalau burung bukannya burung rajawali, mungkin keduanya ketinggalan di belakang.

Kedua burung itu terbang ke sebuah rimba lebat di sebalah depan, terus turun.

Kuda itu sangat mengerti, tanpa titah majikannya, ia lari terus ke arah rimba itu.

Setibanya Kwee Ceng di luar rimba, dari dalam situ ia mendengar suara nyaring bagaikan cecer pecah, katanya.

"Saudara Cian Jin, telah lama aku mendengar Tangan Besimu yang lihay, aku sangat mengangguminya, maka itu sekarang baiklah aku menggunai dulu kepandaianku yang tidak berarti ini mengambil nyawa yang satu ini, setelah itu aku minta kau menggunai tanganmu yang lihay itu terhadap yang lainnya. Setujukah kau, saudara?"

Menyusuli itu maka terdengarlah suara gemuruh diikuti jeritan yang h menyayatkan hati.

Sebuah pohon kelihatan bergerak bagian atasnya, lalu jatuh roboh.

Kwee Ceng kaget, ia lompat turun dari kudanya, ia lari ke dalam rimba.

Oey Yong lompat turun, ia menepuk-nepuk kepala si kuda merah seraya berkata.

"Pergi lekas menyambuti ayahku!"

Kemudian ia menunjuk ke jalan dari mana mereka datang. Kuda merah itu mengerti, dia berbalik dan lari pergi.

"Semoga ayah lekas datang…"

Kata nona Oey ini dalam hatinya.

"Kalau tidak, kita bisa susah di tangannya si Bisa bangkotan!"

Lalu ia lari ke dalam rimba tetapi dengan cara sembunyi.

Begitu ia melihat ke depan, Oey Yong menjadi kaget sekali, hingga ia tercengang.

Di sana Tuli, Gochin Baki, Jebe dan Borchu berempat sedang tertawan, masing-masing ditambat di atas sebuah pohon kayu.

Di bawah pohon, Auwyang Hong berdiri bersama-sama Kiu Cian Jin.

Di sebuah pohon lain, ialah pohon yang sudah roboh, ada tertambat seorang lain, yang seragamnya mewah, sebab ialah si punggawa perang Song yang mengantarkan keempat orang Mongolia itu pulang ke negerinya.

Hanya perwira itu sudah mati, sebab pohonnya telah dihajar roboh oleh See Tok.

Di situ tidak ada pasukan serdadu mereka, rupanya tentara itu telah diusir ini dua jago tua.

Kiu Cian Jin tidak berani mengadu tenaga tangan dengan Auwyang Hong, tapi pun ia tidak mau omong terus terang, sebab ia hendak memegang derajatnya, selagi ia hendak menggunai alasan, guna menutup diri, tiba-tiba ia melihat munculny Kwee Ceng.

Ia lantas jadi terperanjat bahna girang.

Ia segera mendapat pikiran.

"Kenapa aku tidak mau pinjam tangannya See Tok akan menyingkirkan bocah ini?"

Demikian pikirnya. Auwyang Hong pun heran. Nyata Kwee Ceng tidak mati terkena pukulan ilmu Kodoknya. Itu waktu putri Gochin Baki berseru.

"Engko Ceng, lekas tolongi aku!"

Melihat suasana itu, Oey Yong sudah lantas mengasah otaknya.

"Sang tempo mesti diperlambat, sampai ayah datang!"

Demikian ia peroleh akal. Kwee Ceng sendiri telah menjadi gusar, hingga ia jadi tak kenal takut.

"Bangsat tua, apa kamu bikin di sini?!"

Ia mendamprat.

"Kembali kamu mencelakai orang, ya?!"

Auwyang Hong hendak menguji kepandaian Kiu Cian Jin, meski diperlakukan kurang ajar, ia bahkan bersenyum. Tidak demikian dengan si orang she Kiu itu.

"Ha, binatang cilik yang baik!"

Dia membentak.

"Di sini ada Auwyang Sianseng, mengapa kau tidak berlutut memberi hormat? Apakah kau sudah bosan hidup?!"

Kwee Ceng sangat membenci orang ini, yang di rumah penginapan sudah ngaco belo, memfitnah dan mengadu gurunya dengan Oey Yok Su, dengan di sini kembali dia mencelakai orang, maka itu tanpa membilang suatu apa, ia menghampirkan, terus ia menyerang dadanya.

Pemuda ini menyerang dengan Hang Liong Sip-pat Ciang, yang sekarang talh maju jauh sekali.

Ia menggunakan tenaga menyerang enam bagian dan tenaga menarik empat bagian, dari itu, habis menyerang, tinjunya cepat ditarik pulang.

Kiu Cian Jin berkelit, tetapi ia kena ditarik anginnya tinju itu, tubuhnya mundur hanya diluar keinginannya, dia ditarik ke depan, terus jatuh terjerunuk!

"Hm!"

Kwee Ceng mengejek seraya tangannya yang kiri dilayangkan, guna menyambut muka muka orang, hendak ia menhajar hingga gigi rontok dan lidah terkancing putus, supaya jago tua ini tidak dapat mengacau lagi menerbitkan gelombang yang tidak-tidak.

"Tahan!"

Berseru Oey Yong tiba-tiba seraya ia lompat keluar dari tempat persembunyiannya.

Kwee Ceng heran, hingga ia batal menggaplok, tetapi karena ia sebat, ia ubah gerakan tangannya itu, segera ia menyambar ke arah leher, untuk mencekuk, setelah mana, ia mengangkat tubuh orang.

"Yong-jie, bagaimana?"

Ia menanya seraya ia berpaling. Oey Yong khawatir Kwee Ceng mencelakai orang tua itu, kalau itu sampai terjadi, pasti Auwyang Hong turun tangan. Inilah ia mau cegah, untuk ia menjalankan akalnya.

"Lekas lepaskan!"

Ia berkata.

"Orang tua ini mempunyai semacam kepandaian yang lihay pada kulit mukanya, kalau pipinya dihajar, tenaganya berbalik bekerja, kau pasti terluka di dalam!"

"Ah, mustahil?"

Kata Kwee Ceng yang tidak percaya.

"Aku tidak tahu, asal ia mementang mulut dan meniup, seekor kerbau pun dapat terkelupas kulitnya!"

Kata pula si nona.

"Masih kau tidak lekas mengundurkan dirimu!"

Pemuda ini masih tetap tidak percaya, akan tetapi ia menduga kekasihnya itu ada maksudnya, maka ia menurut, ia melepaskan cekukannya.

"Syukur nona ini mengetahui bahaya,"

Kiu Cian Jin berkata.

"Kita berdua tidak bermusuhan, maka selagi Thian murah hati, masa aku ambil sikap yang tua menindih yang muda dan sembarang melukakan kau?"

Oey Yong tertawa.

"Itu benar!"

Ia bilang.

"Kepandaian kau yang lihay, loosiansseng, aku sangat mengagumi, karena itu, hari ini aku mau minta pengajaran dari kau, untuk beberapa jurus saja, tetapi aku harap janganlah kau melukakan aku…"

Habis berkata si nona lantas memasang kuda-kudanya, tangan kirinya dikibaskan ke atas, tangan kanannya ditarik ke dalam, terus di bawa ke mulutnya, untuk mengasih dengar siulannya beberapa kali.

Ia tertawa pula dan berkata.

"Sambutlah ini! Inilah jurusku yang dinamakan silat Meniup Terompet Keong!"

"Ah, nona kecil, sungguh besar nyalimu!"

Berkata Kiu Cian Jin.

"Auwyang Sianseng kesohor namanya di seluruh negara, mana dapat ia membiarkan kau tertawa mengejek dia..?"

Oey Yong tidak meladeni kata-kata itu, tangan kanannya melayang ke kuping orang, hingga terdengarlah suara mengelepok yang nyaring. Ia lantas tertawa dan berkata.

"Dan ini namanya Pukulan Berbalik ke arah Kulit Tebal!"

Berbareng dengan itu, dari luar rimba terdengar suara orang tertawa yang disusul dengan pujian.

"Bagus! Sekalian saja kau menggaplok lagi satu kali!"

Mendengar suara itu, Oey Yong girang bukan kepalang.

Ia mengenali suara ayahnya.

Dengan begitu, hatinya menjadi mantap.

Sembari menyahuti, tangannya melayangp pulang.

Kembali tangann yang kanan.

Kiu Cian Jin buru-buru menunduki kepala untuk berkelit.

Tapi gaplokan itu gaplokan gertakan belaka, sedang yang benar adalah susulan tangan kiri.

Ia melihat itu, lekas-lekas ia berkelit pula.

Atas ini, tangannya si nona melayang pergi pulang, hingga ia menjadi repot berkelit tak hentinya.

Di akhirnya, kuping kanannya tergaplok pula!

Kiu Cian Jin kaget.

Ia mengerti, kalau terus-terusan begitu hebat untuknya.

Maka ia lantas membalas menyerang.

Dengan dua kepalannya, ia memaksa si nona mundur, setelah mana, ia lompat ke samping.

"Tahan!"

Ia berseru.

"Apa?"

Oey Yong tertawa.

"Apakah sudah cukup?"

Kiu Cian Jin mengasih lihat roman sungguh-sungguh.

"Nona, kau telah dapat luka di dalam!"

Ia berkata.

"Lekas kau pulang untuk bersemadhi di kamar rahasia lamanya tujuh kali tujuh menjadi empatpuluh sembilan hari! Jangan kena angin atau jiwamu yang muda tidak bakal ketolongan!"

Melihat roman orang sungguh-sungguh untuk sejenak Oey Yong tercengang, tetapi lekas juga ia tertawa pula.

Ia tertawa terkekeh, kepalanya memain.

Ketika itu Oey Yok Su yang tadi cuma terdengar suarnya saja, telah tiba bersama-sama Kanglam Liok Koay.

Mereka heran melihat Tuli beramai menjadi orang tawanan.

Auwyang Hong sendiri lagi keheran-heranan.

Ia heran untuk Kiu Cian Jin.

Ia tahu betul, orang she Kiu ini lihay sekali, dulu hari pernah dengan tangannya yang seperti besi itu ia menghajar mati dan luka pada jago-jago dari Heng San Pay, sampai partai itu roboh dan tak dapat bangun lagi, maka itu kenapa sekarang ia kena digaplok Kwee Ceng, kena dicekuk pula, dan melayani Oey Yong nampak tak berdaya?

Ia menjadi mau menduga-duga, apakah benar orang mempunyai kepandaian di kulit muka?

Itulah kepandaian yang ia belum pernah dengar, itu mirip khayal…… Selagi si Bisa dari Barat itu beragu-ragu, matanya menjurus kepada Oey Yok Su, hingga ia melihat di pundak pemilik pulau Tho Hoa To itu tergantung sebuah kantung sulam buatan Su-coan, yang sulamannya sutera putih adalah seekor unta.

Ia mengenali baik sekali, itulah kantung keponakannya.

Ia menjadi kaget.

Habis membinasakan Tam Cie Toan dan Bwee Tiauw Hong, ia pergi, tapi sekarang ia kembali, niatnya untuk menampak keponakannya itu.

"Mungkinkah Oey Yok Su telah membunuh keponakanku itu untuk membalas sakit hati muridnya?"

Ia berpikir. Maka ia lantas menanya dengan suaranya menggetar.

"Bagaimana dengan keponakanku?"

Oey Yok Su menjawab dingin.

"Bagaimana dengan Bwee Tiauw Hong muridku itu, demikian juga dengan keponakanmu!"

Auwyang Hong merasakan tubuhnya beku separuh.

Auwyang Kongcu itu namanya saja keponakannya akan tetapi nyatanya ialah anaknya sendiri sebab dia didapatkan dari perhubungan gelap diantara dia dan istri kakaknya.

Jadi paman dan ipar telah main gila dan terlahirlah "Keponakan"

Yang dimanjakan itu.

Ia sangat kejam, jahat sebagai bisa, tetapi terhadap anaknya itu, ia sangat menyayangi, menyayangi melebihkan jiwanya sendiri.

Ia tidak menyangka keponakannya itu bakal terbinasa, sebab dengan kedua kakinya rusak, ia percaya Oey Yok Su dan Coan Cin Cit Cu, yang ada orang-orang kenamaan, tidak nanti menurunkan tangan mengambil nyawa sang keponakan, siapa tahu, kesudahannya, keponakan itu toh menerima nasibnya.

Oey Yok Su berdiri dengan waspada terhadap See Tok.

Ia mengerti kalau si Bisa dari Barat kalap, ia mesti bekerja banyak untuk membela diri.

"Siapa yang membunuh keponakanku itu?"

Akhirnya Auwyang Hong menanya, suaranya serak.

"Muridmu atau muridnya Coan Cin Cit Cu?"

See Tok masih tidak percaya pemilik Tho Hoa To nanti membinasakan orang yang kakinya telah buntung dua-duanya. Itulah perbuatan memalukan. Dengan tetap dingin, Oey Yok Su menjawab pula.

"Dia pernah mempelajari ilmu silat Coan Cin Pay serta juga pernah mempelajari sedikit silat dari Tho Hoa To. Pergilah kau cari dia!"

Pemilik Tho Hoa To itu menyebutnya Yo Kang akan tetapi Auwyang Hong menduga Kwee Ceng. Bukan main panasnya hatinya, tetapi di dalam keadaan seperti itu, ia masih dapat menguasai dri.

"Nah, apa perlunya kau membawa-bawa kantungnya keponakanku itu?"

Ia tanya.

"Peta Tho Hoa To berada pada dia, aku mesti mengambilnya pulang,"

Menyahut Oey Yok Su.

"Tidak dapat aku menanti sampai dia masuk ke dalam tanah…."

"Kata-kata yang bagu!"

Ujar Auwyang Hong.

Ia terus menahan sabar.

Ia tahu baik sekali, kalau ia menempur Tong Shia, mereka mesti berkelahi sampai satu -atau duaribu jurus tanpa ada ketentuan siapa menang siapa kalah, bahkan ada kemungkinan ia tak berada di atas angin.

Ia ingat Kui Im Cin-keng telah didapatkan, dari itu, soal membalas sakit hatinya bolehkah ditaruh di belakang.

Tapi di sini ada Kiu Cian Jin.

"Dia ada di sini, dia dapat membantu aku,"

Pikirnya.

"Kalau dia dapat mengalahkan Kanglam Liok Koay beserta Kwee Ceng dan Oey Yong, lantas dia dapat membantui aku! Tidakkah dengan begini aku bisa mengambil jiwanya Oey Yok Su?"

Karena berpikir begini, harapannya lantas timbul. Lantas ia menoleh kepada si orang she Kiu.

"Saudara Cian Jin, pergi kau membinasakan delapan orang ini, aku sendiri melayani Oey Lao Shia!"

Katanya. Kiu Cian Jin mengibaskan kipasnya yang besar, ia tertawa.

"Begitu pun bagus!"

Sahutnya.

"Setelah membinasakan mereka berdelapan, nanti aku membantui kau!"

"Benar begitu!"

Menjawab Auwyang Hong, yang lantas menghadapi Oey Yok Su, terus ia berjongkok perlahan-lahan.

Oey Yok Su sudah lantas bersedia.

Ia memasang kuda-kudanya yang disebut "put teng put pat", ia mengambil apa yang dinamakan kedudukan "tong hong it bok".

Ia memasang mata jeli.

Oey Yong sementara itu berkata kepada Kiu Cian Jin.

"Baiklah kau bunuh aku dulu!"

Bilangnya tertawa. Orang tua itu menggeleng-geleng kepala.

"Ah, sebenarnya aku tidak tega…"

Katanya.

"Aduh, aduh, celaka!"

Ia terus menjerit.

"Sungguh tidak kebetulan…!"

Ia lantas memegangi perutnya, tubuhnya membungkuk.

"Kau kenapa?"

Oey Yong tanya. Kiu Cian Jin meringis.

"Kau tunggu sebentar, aku hendak membuang air…"

"Cis!"

Si nona meludah.

"Aduh!"

Kiu Cian Jin berkoak pula, lalu ia memegangi pinggiran celananya, terus ia lari ke pinggiran.

Melihat romannya, dia benar-benar perutnya sakit dan kebelet ingin membuang air besar.

Oey Yong mengawasi tanpa berani mengejar.

Ia sangsi orang benar-benar sakit perut atau lagi menggunai akal bulus.

Tiba di pinggiran, Kiu Cian Jin berjongkok.

"Nah, ini kertas untukmu!"

Berkata Cu Cong, yang lari kepada orang she Kiu itu, pundak siapa ia tepuk, sedang tangannya menyerahkan kertas yang ia keluarkan dari kantungnya. Terima kasih!"

Mengucap Cian Jin. Ia lantas pergi ke gompolan rumput di mana ia berjongkok.

"Pergi jauhan sedikit!"

Kata Oey Yong yang memungut sepotong batu kecil, dengan apa ia menimpuk orang tua itu. Bab 54. Segitiga........ Batu itu melayang bagaikan terbang tetapi Kiu Cian Jin menyambutinya.

"Nona takut bau busuk?"

Katanya tertawa.

"Baiklah, aku akan menyingkir sedikit lebih jauh. Kau orang delapan mesti menunggu, aku larang kamu pada melarikan diri…..!"

Dengan masih memegangi celananya, Cian Jin pergi sampai belasan tombak, di situ ia baru jongkok, hingga ia tak terlihat lagi.

"Jie suhu, jangan-jangan bangsat tua itu mau melarikan diri!"

Berkata Oey Yong. Cu Cong tertawa.

"Mungkin dia mau lari tetapi dia tidak bisa,"

Sahutnya guru yang nomor dua itu.

"Kau ambillah dua rupa barang ini untuk kau buat main…."

Oey Yong melihat sebatang pedang dan sebuah sarung tangan dari besi di tangan gurunya itu, maka tahulah dia tadinya selagi menepuk pundak Kiu Cian Jin, gurunya itu sudah memindahkan barang orang.

Ia periksa pedang itu, lantas ia tertawa geli.

Selama di dalam kamar rahasia tadi ia melihat Kiu Cian Jin mempermainkan Coan Cin Cut Cu dengan menikam perutnya dengan pedang itu, tidak tahunya itulah pedang rahasia, yang dapat dibikin melesat atau ngelepot tiga kali.

Maka ia lantas menghampirkan Auwyang Hong.

"Auwyang Sianseng, aku tidak mau hidup lagi!"

Katanya sambil tertawa, tangan kanannya terus diayunkan ke perutnya, yang ia tumblas dengan pedangnya Kiu Cian Jin itu, hingga pedang itu melesak masuk.

Auwyang Hong dan Oey Yok Su yang bersiap untuk bertempur menjadi kaget, tetapi Oey Yong sudah lantas mencabut pedangnya itu, yang menjadi pendek, sembari memperlihatkan itu kepada ayahnya, ia menuturkan rahasianya pedang tukang sulap itu.

Auwyang Hong menjadi melengak dan berpikir.

"Apa mungkin tua bangka itu main gila seumurnya sedang sebenarnya dia tidak mempunyai guna?"

Oey Yok Su terus mengawasi si Bisa dari Barat itu, ketika ia melihat tubuh orang mulai tak jongkok lagi, ia dapat menerka hati orang.

Ia lantas menyambuti sarung tangan besi dari anaknya, untuk meneliti itu.

Ia melihat ukiran huruf "Ki"

Di telapakan tangan, di sebelah belakangnya ada ukiran seekor ular kecil serta seekor kelabang kecil, yang berguling menjadi satu.

Ia ingat itulah lengpay atau tertanda dari Tiat-ciang Sui-siang-piauw Kiu Cian Jin.

Pada duapuluh tahun yang lalu, lengpay itu sangat berpengaruh di dalam dunia kangouw, siapa yang membawa-bawa itu, dia dapat lewat dengan merdeka di selatang dan si utara sungai Tiang Kang atau di hulu dan hilir sungai Hong Hoo, bahkan golongan Hitam dan Putih sangat jeri terhadapnya.

Maka itu heran, mungkinkah pemiliknya lengpay itu ada ini orang yang besar mulutnya saja?

Sembari berpikir, Oey Yok Su kembalikan sarung tangan itu kepada putrinya.

Auwyang Hong juga berpikir keras, ia turut merasa heran.

Oey Yong tertawa.

"Ayah, sarung tangan ini bagus untuk dibuat main, aku menyukainya, hanya ini alat peranti menipu orang aku tidak membutuhkannya! Nah ini, kau sambutlah!"

Ia mengayaun tangannya, hendak menimpukkan pedang-pedangan itu.

Atau mendadak, ia membatalkannya.

Jaraknya dengan Kiu Cian Jin jauh juga, ia khawatir tidak dapat ia menimpuk sampai di sana.

Maka pedang itu ia serahkan kepada ayahnya seraya membilangnya sambil tertawa.

"Ayah, kau saja yang menimpukkannya!"

Oey Yok Su memang tengah bersangsi, ia menjadi ingin mencobai Kiu Cian Jin, maka ia menyambutinya pedang itu, yang ia taruh di telapakan tangannya yang kiri, ujungnya yang lancip di arahkan ke luar, lalu dengan jari tangan dari tangan kanan, ia menyentil.

Sekejap saja pedang itu meleset bagaikan terbang!

"Bagus!"

Berseru Oey Yong dan Kwee Ceng sambil bertepuk tangan.

"Tiat Cie Sin-kang yang hebat!"

Auwyang Hong memuji di dalam hatinya.

Ia kaget sendirinya untuk lihaynya Tong Shia si Sesat dari Timur ini.

Semua mata diarahkan kepada pedang itu serta Kiu Cian Jin.

Di situ ia tampak jongkok tak bergeming walaupun bebokongnya mau dijadikan sasaran pedangnya itu.

Maka cepat sekali, pedang telah mengenai dan nancap.

Serang Oey Yok Su sangat hebat, jangan kata itu pedang besi, walaupun pedang kayu, kalau sasarannya keba terhajar, korbannya mesti bercelaka.

Kwee Ceng lantas berlompat lari ke arah Kiu Cian Jin.

Ketika ia sampai di tempat orang berjongkok itu, mendadak ia berseru.

"Celaka betul!"

Tangannya pun lantas mengangkat sepotong baju, untuk diulap-ulapkan. Ia berseru pula.

"Orangnya sudah kabur!"

Kiu Cian Jin telah meloloskan bajunya, yang ia sangkutkan dengan rapi hingga ia tampak seperti terus berjongkok membuang air besar, dengan nyeludup di pepohonan lebat, ia sendiri diam-diam mengangkat kaki, menyingkir dari tempat berbahaya itu.

Dengan kecerdikannya ini ia terlah berhasil menjual Tong Shia dan See tok yang berpenglamanan dan lihay itu, hingga dua orang itu melengak dan saling mengawasi, lalu keduanya tertawa lebar.

Auwyang Hong kenal baik Tong Shia, yang tak sejujur Ang Cit Kong, yang sukar untuk dibokong, sekarang melihat orang tengah tertawa, ia menganggap inilah ketikanya untuk turun tangan.

Dengan mendadak ia berhenti tertawa, terus ia menjura dalam sekali.

Oey Yok Su terus tertawa hanya sambil tertawa itu, tangan kirinya dilonjorkan, tangan kanannya ditekuk, sebagai juga ia membalas hormat.

Sesaat itu tubuh mereka bergoyang sebentar, setelah mana, Auwyang Hong mundur tiga tindak.

Ia telah membokong dengan tidak berhasil.

Lantas ia kata.

"Baiklah, kita berdua nanti bertemu pula di belakang hari!"

Sembari berkata begitu, ia mengibaskan tangan bajunya, ia memutar tubuhnya, untuk berlalu.

Air mukanya Oey Yok Su berubah.

Dengan lekas ia mengulur tangan kirinya ke depan anak gadisnya.

Kwee Ceng pun telah melihat, selagi memutar tubuh, Auwyang Hong menyerang secara rahasia, menyerang Oey Yong dengan "Pek-hong-ciang", yaitu ilmu silat tangan kosong yang memerlukan anginnya saja.

Ia hanya kalah jeli dengan Oey Yok Su.

Tapi ia berseru, dengan kedua tangannya ia lantas menyerang See Tok, untuk memaksa orang membatalkan serangannya itu.

Auwyang Hong melihat ia ditangkis Oey Yok Su, yang melindungi putrinya, ia lantas menarik pulang serangannya itu, hanya bukan untuk dibatalkan, tetapi untuk diteruskan, dipakai menyerang Kwee Ceng, selagi si anak muda menyerang padanya, hingga serangan mereka bakal bentrok, keras sama keras.

Kwee Ceng tahu diri, ia tidak mau melayani, maka itu dengan sebat ia membuang diri, bergulingan, untuk terus berlompat berdiri.

Ia kaget hingga mukanya pucat sekali.

"Ha, anak yang baik!"

Berseru Auwyang Hong.

"Baru beberapa hari kau tidak terlihat, kepandaianmu telah maju pesat sekali!"

Memang adalah di luar dugaan, si anak muda lolos dari bokongannya itu.

Melihat orang telah turun tangan, Kanglam Liok Koay segera memernahkan diri di belakangnya Auwyang Hong, untuk memegat.

Auwyang Hong maju terus, ia mendekati Coan Kim Hoat dan Han Siauw Eng.

Mereka ini tidak berani turun tangan, maka itu, merdeka See Tok berjalan melewati mereka, keluar dari dalam rimba.

Oey Yok Su pun berdiam saja.

Sebenarnya kalau ia mau turun tangan, dengan dibantu Liok Koay, See Tok bisa dapat celaka, tetapi ia berkepala besar, tidak mau ia mengepung si Bisa dari Barat itu, ia khawatir nanti orang tertawakan.

Ia memikir, lain kali saja, kalau ada ketikanya, mereka bertempur satu sama satu.

Ia tertawa dingin mengawasi punggung orang.

Ketika itu Kwee Ceng telah lepaskan Gochin Baki berempat dari tambatan mereka.

Putrinya Jenghiz Khan ini girang sekali melihat si anak muda tidak mati, maka itu dengan sengit ia menamprat Yo Kang yang dikatakan sudah menjual cerita untuk mendustakan orang.

Tuli menambahkan dengan berkata.

"Orang she Yo itu membilang ia mempunyai urusan mesti lekas pergi ke Gak-ciu, kami menyangka dia orang baik-baik, maka kecewa sekali kami memberikan dia tiga ekor kuda pilihan…"

"Anda,"

Kwee Ceng tanya.

"Bagaimana caranya maka kamu jadi bertemu sama itu dua siluman tua?"

Putri Mongolia itu, dalam kegembiraannya, mendahului memberikan keterangan.

Mereka ini sangat berduka mendengar dari Yo Kang bahwa Kwee Ceng telah meninggal dunia, dilain pihak, senang hati mereka mendengar Yo Kang berniat mencari balas.

Mereka menaruh kepercayaan besar, senang mereka bergaul dengan orang she Yo itu.

Itu malam mereka menginap bersama di sebuah dusun.

Yo Kang beberapa kali mencoba membokong Tuli, saban-saban ia gagal disebabkan penjagaan yang keras dari kedua pengemis kurus dan gemuk terhadapnya, kalau tidak si gemuk, tentulah si kurus yang meronda smabil memegang tongkat keramatnya.

Kecewa ia karena kegagalannya, dari itu, terpaksa besoknya pagi ia minta saja tiga ekor kuda, dengan itu bersama kedua pengemis itu ia berangkat ke barat.

Tuli berempat menuju ke utara, sedang kedua burung rajawali terbang ke selatan, sampai lama, keduanya tidak kembali.

Ia tahu pada itu mesti ada sebabnya.

Karena mereka tidak membikin perjalanan cepat, mereka menantikan di rumah penginapan, sampai dua hari.

Baru di hari ketiga, kedua ekor burung rajawali itu kembali, keduanya menclok di pundak Gochin Baki seraya berbunyi tak mau berhenti.

"Mari kita ikuti mereka,"

Berkata Tuli, yang merasa heran.

Mereka kembali ke selatan dengan kedua rajawali itu menjadi petunjuk jalan, hanya apa lacur, di rimba itu mereka bertemu Auwyang Hong dan Kiu Cian Jin.

Tuli, Jebe dan Borchu gagah tetapi menghadapi Auwyang Hong, mereka tidak berdaya, dari itu bersama si opsir pengiringnya, dengan gampang mereka kena ditawan dan dibelenggu.

Malang si opsir, dia menjadi korban paling dulu.

Kiu Cian In mendapat tugas dari negara Kim untuk mengacau orang-orang kosen di Kanglam.

Supaya mereka bentrk satu dengan lain, untuk menggampangi usaha bangsa Kim itu menyerang ke Selatan.

Bersama Auwyang Hong ia berada di rimba itu, kapan ia melihat Tuli berlima, ia lantas menganjurkan Auwyang Hong turun tangan.

Syukur kedua burung rajawali telah bisa mencari bantuan dan rombangannya Kwee Ceng ini datang tepat.

Gochin Baki sangat gembira, sembari menutur ia pegangi tangan Kwee Ceng, ia tertawa tak hentinya.

Oey Yong mengawasi tingkah lakunya putri itu, ia merasa tak puas.

Ia jadi lebih tak senang karena si putri bicara dalam bahasa Mongolia, yang ia tidak mengerti.

Ia menjadi tidak sabaran.

Oey Yok Su melihat roman anak gadisnya itu, ia heran.

"Yong-jie, siapakah ini perempuan asing?"

Ia tanya.

"Dialah istrinya engko Ceng yang masih belum dinikah!"

Sahut sang gadis. Ayah itu heran hingga ia hampir tidak mempercayai kupingnya sendiri.

"Apa?!"

Ia menanya, mengulangi.

"Ayah, kau pergi tanya dia sendiri,"

Sahut si anak perlahan.

ia malu untuk menjelaskannya.

Cu Cong mendapat dengar pembicaraan di antara ayah dan anak itu, ia mengerti keadaan berbahaya untuk Kwee Ceng, karena ia tahu baik hal ikhwal putrinya Jenghiz Khan itu dengan muridnya, ia lantas campur bicara, ia menuturkan duduknya hal itu.

Tentu saja ia menyebutkan, jodoh itu didesaki oleh Khan tersebut.

Oey Yok Su memangnya tidak penuju Kwee Ceng, kalau toh ia menjodohkan juga putrinya, itulah saking terpaksa.

Sekarang ia mendengar ini soal yang baru untuknya, ia menjadi tidak puas.

Ialah kepala suatu partai, ia sangat menyayangi putrinya itu bagaikan mutiara mustika, dari itu mana dapat putrinya ini menjadi istri kedua, artinya menjadi gundik?

"Yong-jie!"

Ia lantas kata kepada putrinya, suaranya keras.

"Ayahmu hendak melakukan sesuatu, kau tidak boleh mencegah!"

Anak itu kaget.

"Apakah itu, ayah?"

Ia tanya.

"Anak busuk itu, perempuan hina itu, dua-duanya mesti dibunuh!"

Sahut sang ayah. Oey Yong kaget, ia lompat menubruk tangan ayahnya itu.

"Tetapi, ayah, engko Ceng bilang dia sungguh mencintai aku!"

Katanya. Oey Yok Su tidak meronta, tetapi ia membentak kepada Kwee Ceng.

"Eh, bocah, kau bunuhlah perempuan asing itu, untuk membuktikan hatimu sendiri!"

Kwee Ceng berdiri menjublak. Belum pernah ia menghadapi soal sesulit ini. Ia memang kurang cerdas, dari itu, ia ayal mengambil keputusannya.

""Lebih dulu kau sudah bertunangan, kenapa kau melamar juga putriku?!"

Tanya Oey Yok Su bengis.

"Apakah artinya perbuatanmu ini?!"

Kanglam Liok Koay memasang mata waspada.

Sikapnya Tong Shia luar biasa sekali.

Sembarang waktu si Sesat dari Timur ini dapat menurunkan tangan dahsyat, muka orang merah padam.

Hati mereka goncang sebab pemilik Tho Hoa To ini sangat lihay.

Kwee Ceng tidak pernah mendusta, maka ia menyahuti.

"Pengharapanku ialah dalam seumur hidup aku bisa berkumpul bersama Yong-jie saja, lainnya hal tidak ada di hatiku."

"Baik kalau begitu,"

Kata Oey Yok Su, yang hawa amarahnya sedikit mereda.

"Sekarang begini saja. Tidak apa kau tidak suka membinasakan perempuan itu, tetapi kau, semenjak hari ini, aku larang kau bertemu pula dengannya!"

Kwee Ceng berdiam, pikirannya bekerja.

"Bukankah kau pasti akan bertemu pula dengannya?"

Oey Yong bertanya.

"Di dalam hatiku, dialah mirip adik kandungku,"

Sahut Kwee Ceng.

"Kalau aku tidak bertemu dengannya, aku suka mengingat padanya."

Mendengar itu Oey Yong tertawa.

"Kau suka melihat siapa, kau boleh melihatnya!"

Katanya.

"Tentang itu aku tidak memperdulikannya!"

"Baik, begini saja!"

Berkata Oey Yok Su.

"Saudaranya-saudaranya perempuan asing itu ada di sini, aku ada di sini, dan keenam gurumu berada di sini juga, maka hayolah kau membilangnya jelas-jelas bahwa yang kau bakal nikahi adalah putriku ini, bukan perempuan asing itu!"

Dengan bicara begitu, Oey Yok Su sudah menentang hatinya sendiri, untuk keberuntungan gadisnya, ia suka mengalah.

Kwee Ceng berpikir sambil tunduk, maka ia lantas melihat golok Kim-too hadiah dari Jenghiz Khan serta pisau belati pengasihnya Khi Cie Kee.

Ia menjadi bingung sekali.

Ia berpikir.

"Menurut pesan ayahku, dengan Yo Kang aku mesti menjadi saudara sehidup semati, akan tetapi Yo Kang itu bersifat lain, kelihatannya persaudaraanku dengannya tidak dapat dilundungi lagi. Pula menurut pesan paman Yo, aku harus menikah sama adik Liam Cu. Bagaimana sekarang? Seharusnya pesan orang tua mesti dijalankan. Dengan begitu, perangkapan jodohku dengan putri Gochin Baki pun ada atas kehendak Jenghiz Khan, seorang tua! Bolehkah karena kata-kata orang tua itu lantas aku mesti berpisah dengan Yong-jie?"

Setelah memikir paling belakang itu, pemuda ini lantas mengambil keputusan.

Ia mengangkat kepalanya.

Sementara itu Tuli telah menanyakan Cu Cong tentang pembicaraan di antara Kwee Ceng dengan Oey Yok Su itu, setelah mengetahui duduknya hal dan menampak kesangsian si anak muda, ia menjadi tidak puas.

Ia gusar mengetahui orang tidak mencintai adiknya.

Maka dari kantung panahnya, ia menarik keluar sebatang anak panah bulu burung tiauw, sambil memegang itu di tangannya, ia kata dengan nyaring.

"Anda Kwee Ceng, seorang laki-laki yang mau malang melintang di dalam dunia, dia mesti berbuat hanya dengan satu kata-katanya yang apsti! Oleh karena kau tidak mencintai adikku, mana bisa putri yang gagah dari Jenghiz Khan memohon-mohon meminta kepadamu? Oleh karena itu, mulai hari ini, putus sudha persaudaraan di antara kita! Di masa mudamu, kau pernah menolongi aku, kau juga telah menolongi ayahku, budi itu, kami ingat baik-baik, dari itu, ibumu yang sekarang berada di Utara, akan aku mengirim orang untuk mengantarkannya, tidak nanti aku membikin dia kurang suatu apa! Kata-katanya seorang kesatria ada mirip gunung kekarnya, karenanya kau boleh bertetap hati!"

Habis berkata begitu, ia patahkan anak panah itu dan melemparkannya di depan kudanya.

Hati Kwee Ceng tergerak.

Ia lantas ingat masa mudanya di gurun pasir, bagaimana kekalnya pergaulannya sama Tuli.

Ia jadi berpikir.

"Memang, perkataannya seorang kesatria mirip sebuah gunung. Jodohnya adik Gochin Baki telah aku menerima dengan mulutku sendiri, bagaimana sekarang aku boleh tidak memegang kepercayaanku? Tanpa kepercayaan, dapatkah aku menjadi manusia? Biarlah Oey Tocu membunuh aku, biarlah Yong-jie membenci aku seumur hidup, aku tidak dapat berbuat lain!"

Maka itu ia mengangkat kepalanya dan berkata dengan tegas.

"Oey Tocu, keenam guruku, anda Tuli, kedua guruku Jebe dan Borchu, aku Kwee Ceng, aku bukannya seorang yang tidak mempunyai kepercayaan, maka itu, mesti aku menikah sama adik Gochin!"

Kwee Ceng bicara dalam bahasa Tionghoa, lalu ia salin itu ke dalam bahasa Mongolia, hingga kedua belah pihak mengerti.

Kata-kata ini membikin mereka itu menjadi heran sekali.

Itulah diluar dugaan.

Tuli dan Gochin Baki heran berbareng girang.

Kanglam Liok Koay memuji muridnya sebagai laki-laki sejati!

Adalah Oey Yok Su, yang tertawa dingin.

Oey Yong sangat kaget dan berduka, hingga ia terbengong sekian lama.

Ia maju beberapa tindak, untuk memandangi si putri Mongolia, tubuh siapa kekar, alisnya lancip, matanya besar dan bagus, air mukanya gagah dan agung.

Tanpa merasa, ia menghela napas.

Ia berkata kepada Kwee Ceng.

"Engko Ceng, aku mengerti kau. Dia dan kau benarlah orang dari satu kalangan, kamu berdua ialah sepasang rajawali putih dari gurun pasir, kau sebaliknya, aku hanya seekor burung walet di bawah cabang yangliu di Kanglam…."

Kwee Ceng maju satu tindak, ia mencekal tangan si nona. Ia kata.

"Yong-jie, aku tidak tahu perkataan kau tepat atau benar, tetapi di dalam hatiku cuma ada kau satu orang! Kau mengerti aku, maka kalau aku dicincang selaksa golok, tubuhku dibakar menjadi abu, dalam hatiku tetap ada cuma kau sendiri!"

Air mata si nona mengembang.

"Habis kenapa kau hendak menikahi dia?"

Ia tanya.

"Aku seorang tolol, segala apa aku tidak mengerti,"

Sahut si pemuda.

"Aku cuma tahu, apa yang telah dijanjikan tidak dapat dibuat menyesal. Aku tidak suka omong dusta, tidak peduli bagaimana, dalam hatiku cuma ada kau seorang!"

Oey Yong bingung. Ia girang tetapi juga bersusah hati.

"Engko Ceng, aku sudah tahu,"

Katanya, tertawa tawar.

"Kalau dari atas pulau Beng Hoo To kita tidak kembali, bukankah itu terlebih bagus?"

"Inilah gampang!"

Memotong Oey Yok Su sambil alisnya berdiri, sebelah tangannya diayunkan ke arah putri Gochin Baki.

Oey Yong telah melihat roman ayahnya, maka juga ia mendahulukan lompat untuk menyambar tangannya putri dari Mongolia itu, ditarik turun dari kudanya.

Oey Yok Su khawatir mencelekai gadisnya, gerakannya terlambat, sesudah putri itu ditarik turun, baru tangannya menghajar pelana kuda.

Mulanya tak apa-apa, hanya sleang sesaat kemudian, kuda itu tunduk kepalanya, lemas empat kakinya, lalu mendeprok sendirinya, jiwanya melayang.

Kuda itu kuda Mongolia pilihan, besar dan kuat, tetapi dengan sekali hajar, dia mampus, kejadian itu membuatnya Tuli semua kaget bukan main.

Kalau Gochin Baki kena terhajar, tidakkah tubuhnya ringsek?

Oey Yok Su melengak.

Ia tidak menyangka gadisnya mau menolongi nona Mongolia itu.

Tapinya ia cerdik, sejenak kemudian, ia mengerti sebabnya itu.

Kalau putri itu terbinasa, tentu Kwee Ceng bakal murka, kalau Kwee Ceng murka, mana bisa dia akur lagi dengan gadisnya?

Ia lantas berpikir keras.

Sama sekali ia tidak takut bocah itu.

Kapan ia memandang kepada gadisnya, yang romannya lesu dan berduka sangat, hatinya menjadi dingin.

Paras si nona itu waktu sungguh mirip sama paras istrinya, ialah ibunya Oey Yong, selagi si istri mau menghembuskan napasnya yang terakhir.

Oey Yong dan ibunya sangat mirip satu dengan lain dan Oey Yok Su sangat mencintai istrinya itu, meninggalnya siapa membuatnya seperti gila.

Sudah lewat limabelas tahun tetapi wajah istrinya itu masih masih saban-saban terbayang di depan matanya.

Sekarang ia melihat roman gadisnya itu, maka tahulah ia bagaimana sangat anak itu mencintai Kwee Ceng.

Akhirnya ia mengela napas, lalu bersenandung.

Oey Yong pun berdiri diam, air matanya turun mengucur…..

Han Po Kie menarik tangannya Cu Cong.

"Dia kata apakah?"

Ia berbisik.

"Ia mengulangi tulisannya seorang she Kee di jaman Ahala Gan,"

Cu Cong jawab.

"Itu artinya, manusia di dalam dunia beserta segala bendanya adalah seperti penderitaan yang dibakar di dalam sebuah perapian besar."

"Dia demikian lihay, apalagi penderitaannya?"

Po Kie tanya pula. Cu Cong tersenyum, ia tidak menjawab.

"Yong-jie, mari kita pulang…"

Akhirnya terdengar suaranya Oey Yok Su halus.

"Untuk selanjutnya, untuk selamanya jangan kita melihat pula bocah ini…"

"Tidak, ayah,"

Sahut si anak menggeleng kepala.

"Aku mesti pergi ke Gak-ciu. Suhu menitahkan aku untuk menjadi pangcu, ketua dari Kay Pang."

Ayah itu tersenyum.

"Apakah enaknya menjadi ketua Partai Pengemis?"

Ia menanya.

"Aku telah memberikan janjiku pada suhu, ayah!"

Ayah itu berpikir.

"Baiklah,"

Katanya kemudian.

"Kau coba-cobalah untuk beberapa hari. Umpama kata kau menganggap terlalu jorok, kau wariskan saja kepada orang lain. Bagaimana di belakang hari, kau masih mau menemui bocah ini atau tidak?"

Oey Yong melirik kepada Kwee Ceng, siapa terus mengawasi kepadanya, sinar matanya sangat lesu, romannya sangat berduka. Ia berpaling kepada ayahnya, ia menyahuti.

"Ayah, dia mau menikah sama lain orang maka aku pun akan menikah dengan lain orang juga. Di dalam hati dia cuma ada aku satu orang, maka di dalam hatiku cuma ada dia seorang juga…"

"Ha!"

Berkata orang tua itu.

"Anak perempuan dari Tho Hoa To tidak dapat dihina orang, itulah bagus. Habis bagaimana kalau orang orang dengan siapa kau menikah nanti melarang kau menemui dia?"

"Hm, siapa yang berani melarang aku!"

Kata nona itu keren.

"Aku toh anakmu!"

"Ah, budak tolol!"

Berkata ayah itu.

"Lewat beberapa tahun lagi aku bakal meninggalkan dunia ini…"

"Tetapi ayah,"

Kata si nona yang pun berduka.

"Begini rupa dia memperlakukan aku, apakah kau mengira aku bakal dapat hidup lama pula?"

Kanglam Liok Koay dijuluki manusia-manusia aneh tetapi mendengari pembicaraan ayah dengan anak itu, mereka menjublak.

Di jaman Song itu, masih keras orang menghormati adat-istiadat, ada sopan santun.

Oey Yok Su bukannya Seng Tong dan Bu Ong, bukannya Ciu Kong atau Khong Cu, tetapi ialah seorang yang aneh, maka julukannya pun Tong Shia, si Sesat dari Timur.

Apa yang ia lakukan biasanya sebaliknya daripada yang umum, sedang Oey Yong itu, semenjak kecilnya, ia sudah dididik ayahnya yang aneh ini, yang terpelajar tinggi dan luas pengetahuannya, maka ia mengerti, suami istri tinggal suami istri tetapi cinta itulah lain.

Kwee Ceng pun mendengari pembicaraan itu dengan hatinya terluka.

Ia sangat berduka.

Ia mau menghiburi Oey Yong tetapi apa ia hendak bilang?

Maka ia pun berdiam saja.

Oey Yok Su memandang putrinya, lalu ia mengawasi Kwee Ceng, kemudian lagi ia dongak memandang langit dan mengasih dengar suaranya yang lama dan keras, yang seumpama kata menggetarkan rimba, suaranya itu berkumandang di lembah-lembah.

Burung-burung kucica kaget hingga pada beterbangan mengitari pepohonan.

"Burung kucica, burung kucica!"

Berkata Oey Yong.

"Malam ini Gu Long bakal bertemu sama Cit Lie, kenapa kau tidak lekas-lekas membuat jembatanmu?"

Tapi Oey Yok Su sengit, ia menjumpat seraup pasir, ia menimpuk, maka itu belasan burung jatuh dan mati, setelah mana dia membalik tubuh, untuk berjalan pergi tanpa menoleh lagi….

Tuli tidak mengerti pembicaraan orang, karena tahu Kwee Ceng tidak akan menyalahi janji, ia girang sekali.

Ia pegang golok Kim-too dari ayahnya, dia cium itu di mulutnya, lalu ia membawanya kepda Kwee Ceng, untuk diserahkan.

"Anda,"

Katanya.

"Aku harap usahamu yang besar lekas selesai, supaya kau bisa pulang ke Utara di mana kita nanti dapat bertemu pula!"

"Burung kita ini kau boleh bawa,"

Berkata Gochin Baki.

"Aku harap kau lekas pulang!"

Kwee Ceng mengangguk. Dari sakunya ia mengeluarkan sepotong tombak pendek, sambil menunjuki itu, ia kata pada putri Mongolia itu.

"Kau bilangi ibuku, pasti aku akan pakai senjata ayahku ini untuk membinasakan musuh kami!"

Jebe dan Borchu pun turut mengambil selamat berpisah. Oey Yong mengawasi empat orang Mongolia itu berlalu, Kwee Ceng masih berdiri saja. Ia melihat kedukaan orang.

"Engko Ceng, kau pergilah, aku tidak sesalkan kau,"

Katanya.

"Yong-jie,"

Menyahut si anak muda itu, yang bicara dari lain hal.

"Tongkat Kay Pang dibawa Yo Kang, dan ayahmu membilang, mengenai Kay Pang mungkin terjadi sesuatu, maka itu malam ini mari kita mencari suhu, besok aku nanti terus pergi bersama kau."

Si nona menggeleng kepala.

"Pergi kau sendiri mencari suhu,"

Katanya.

Ia mengasih keluar pisau belata Kwee Ceng, yang ia selipkan di pinggangnya, ia letaki itu di tanah.

Ia juga menurunkan dan membuka pauwhok yang digendol di punggungnya, darimana ia mengeluarkan segulung gambar.

Ia kata.

"Inilah pemberian ayah untukmu."

Masih ia mengeluarkan lakonnya yang beraneka warna, yang mana ia pisahkan separuh. Ia kata pula.

"Inilah barang yang kita kumpulkan di pulau, aku bagi separuh untukmu…"

Ia mengawasi bungkusannya itu, di situ cuma ada baju pemberian Kwee Ceng serta sejumlah uang serta beberapa potong pakaiannya untuk salin tiap hari, maka ia tertawa dan berkata pula.

"Aku tidak mempunyai barang lainnya lagi untuk diberikan padamu."

Lalu dengan perlahan ia membungkus rapi, ia menggendol itu, habis mana ia memutar tubuhnya, untuk berjalan pergi. Kwee Ceng tercengang, dengan menuntun kuda merah, ia menyusul.

"Baik kau menunggang kuda,"

Katanya. Oey Yong menoleh, ia tertawa, tetapi ia jalan terus. Kwee Ceng masih menyusul beberapa tindak, lantas ia berhenti. Ia masih bengong mengawasi orang pergi hingga nampak seperti bayangan.

"Anak Ceng, bagaimana sekarang?"

Han Siauw Eng menegur. Anak muda itu masih menjublak.

"Aku hendak pergi ke istana mencari suhu,"

Sahutnya.

"Itu benar,"

Berkata Kwa Tin Ok.

"Oey Lao Shia pernah mengacau di rumah kita, mungkin orang di rumah bingung, maka sekarang kita mau pulang. Kalau kau berhasil mencari gurumu itu, kau undang dia datang ke rumah kami untuk sekalian beristirahat."

Kwee Ceng menurut, maka itu, ia mengambil selamat berpisah dari keenam gurunya ini.

Kemudian ia sendiri, setelah menyimpan pisau belati dan lakonnya, terus menuju ke Lim-an.

Malam itu Kwee Ceng memasuki istana, mencari gurunya, hasilnya sia-sia belaka.

Ang Cit Kong tidak ada, Ciu Pek Thong entah ke mana.

Di malam kedua ia mencari pula, hasilnya sama.

"Tidak ada jalan lain, lebih baik aku pergi menyusul Yong-jie,"

Pikir anak muda ini kemudian.

"Baik aku membantu dulu padanya mengurus Kay Pang, kemudian bersama-sama kita kembali mencari terus pada suhu."

Itu hari tanggal sembilan bulan tujuh, tinggal enam hari untuk pembukaan rapat Kay Pang di Gak-ciu.

Kwee Ceng tidak takut ketinggalan.

Ia menunggang kudanya yang jempol.

Dalam satu hari saja ia sudah tiba di batas jalan barat dari Kanglam.

Sementara itu suasana sudah berubah.

Separuh dari Tiongkok sudah diduduki bangsa Kim.

Batas di timur adalah Hoay-sui, dan di barat kota San-kwan.

Untuk kerajaan Lam Sang -Song Selatan -tinggal apa yang disebutkan limabelas "jalan"

Ialah dua propinsi Ciatkang dan Kangsouw, Liang Hoay (yaitu daerah di antara kedua sungai Hong Hoo dan Yang Cu Kang di Anhui dan Kangsouw), dua jalan timur dan barat dari Kanglam, dua jalan di selatan dan utara dari Kheng-ouw, empat jalan di Su-coan Barat, Hokkien, Kwietang dan Kwiesay.

Maka itu, negara menjadi lemah sekali.

Kwee Ceng berjalan dengan saban-saban melepaskan dua ekor burung rajawalinya, guna membantu mencari Oey Yong.

Ia sendiri mencari dengan sia-sia.

Ketika pada suatu hari ia tiba di kecamatan Bu-leng, di kota Liong-hin, dekat dengan kota Gak-ciu, ia berjalan dengan perlahan.

Diwaktu sore, ia menghadapi sebuah rimba lebat, yang kelihatan menyeramkan.

Di belakang rimba itu ada satu bukit yang panjang.

Tentu sukar untuk melintasi rimba itu dan gunung sesudah cuaca gelap, maka ia mau mencari pondokan.

Di samping rimba itu ia melihat pagar bambu.

"Ada pagar tentu ada rumah,"

Pikirnya girang.

Ia bertindak.

Ia melihat sebaris pohon.

Di situ ia lantas melihat sebuah rumah dengan tiga undak.

Ia mendekati rumah itu.

Belum ia datang dekat, kupingnya sudah mendengar tangisan seorang wanita.

Ia menjadi heran.

"Orang lagi berduka, tidak dapat aku mengganggu,"

Pikirnya.

Ia hendak mengundurkan diri.

Orang di dalam rumah tapinya sudah mendengar suara kuda.

Dengan kaget bukan daun pintu di pentang.

Di situ muncul seorang tua dengan rambut ubanan, yang tubuhnya sudah melengkung, tangannya memegang cagak besi yang panjang.

Dia berdiri di depan pintu sambil berseru.

"Pembesar anjing! Ular tidak ada, cucu perempuanku juga tidak ada. Yang ada hanya selembar jiwa tuaku ini!"

Kwee Ceng heran. Ia tahu orang salah mengerti.

"Tuan, aku hanya seorang pelancongan!"

Katanya lantas sambil ia memberi hormat.

"Aku kena bikin lewat tempat mondok, maka niatku datang ke mari untuk menumpang bermalam. Satu malam saja. Kalau kau lagi ada urusan, tidak apa, aku nanti pergi ke lain rumah."

Orang tua itu lantas mengawasi, habis itu lekas-lekas ia meletaki cagaknya, untuk membalas hormat.

"Maafkan aku, tuan, aku lagi ngaco,"

Katanya.

"Jikalau kau tidak jijik, silahkan masuk dan minum the."

Kwee Ceng mengucap terima kasih.

Lantas ia memberikan sejumlah uang, untuk dicarikan rumput guna makan kudanya, setelah itu baru ia masuk ke dalam.

Nyata rumah itu bersih sekali.

Ia menjadi heran.

Ia baru duduk atau kupingnya mendengar suara berisik dari kuda.

Ia menduga ada tiga penunggang kuda datang ke situ.

Ia pun lantas mendengar suara bengis.

"Orang tua she Cin, kau menyerahkan ular atau cucu perempuanmu?!"

Lalu terdengar suara seorang lain.

"Kami dapat mengasih ampun kepada kamu, tetapi looya kami tidak dapat memberi ampun kepada kami! Maka itu lekas kau keluar!"

Suara itu disusul sama sambaran cambuk kepada atap rumah, hingga atap itu, yang terbuat dari rumput rusak.

Si orang tua tidak menyahuti suara dari luar itu, ia hanya masuk ke dalam kamar, untuk berkata.

"Anak Kim, pergi kau lari ke belakang, ke dalam rimba. Malam ini kau sembunyi terus. Besok pagi-pagi, kau boleh pulang sendiri ke Kwietang….."

Segera terdengar tangisan wanita tadi.

"Engkong, mari kita mati bersama…."

Kata orang perempuan itu.

"Lekas lari, lekas!"

Berkata si orang tua, membantung kaki.

"Nanti terlambat!"

Dari dalam kamar lantas keluar seorang nona dengan baju hijau, ia menubruk si orang tua, siapa sebaliknya menolak tubuh orang, untuk disuruh lari ke belakang.

Berbareng dengan itu, pintu terdengar tertembrak hingga terbuka, tiga orang terus nerobos masuk.

Orang yang maju paling depan lantas menjambak pundaknya si orang tua she Cin itu, sedang tangannya yang lain menyambar si wanita muda, untuk dipeluki.

Nona itu ketakutan hingga ia membungkam.

Kwee Ceng mengawasi tiga orang itu.

Dari dandannya, yang di depan itu seorang polisi, yang dua lagi serdadu.

Si orang polisi, yang memeluki si nona, berkata sambil tertawa.

"Empeh Cin, kami datang atas titahnya tuan camat kami, maka jangan kau sesalkan kami! Malam ini kau mengantarkan duapuluh ekor ular, ini nona akan kita kembalikan, kalau kau menunggu sampai besok, nanti sudah tidak keburu!"

Ia terus tertawa lebar, sambil bertindak pergi, ia bawa si nona bersama.

Orang tua she Cin itu menjerit keras, dengan membawa cagaknya, ia memburu, terus ia menikam.

Si orang polisi berkelit, sambil berkelit ia mencabut golok di pinggangnya dengan apa ia mengetok cagak itu.

Si empeh tidak dapat mempertahankan diri, cagaknya terlepas dan jatuh di tanah.

Menyusul itu, orang polisi itu menendang, hingga ia roboh seketika.

"Eh, tua bangka, jangan kau banyak tingkah!"

Dia membentak.

"Awas, jangan kau nanti sesalkan golokku tidak ada matanya!"

Empeh itu seperti kalap, lupa pada dirinya, ia menubruk kaki kanan orang itu, terus ia menggigit.

Opas itu kesakitan dan berontak-berontak, dalam sengitnya ia hajar kepala si empeh dengan belakang goloknya, maka pecahlah jidat orang dan darahnya menyiram ke mukanya.

Tapi empeh itu sudah nekat, ia tidak menghiraukan luka dan sakitnya, ia menggigit terus, tidak mau ia melepaskannya.

Dua serdadu itu maju menolongi si opas, yang satu menendang, yang lainnya menarik, sedang si opas menghajar lagi beberapa kali dengan gagang goloknya.

Sampai di situ, Kwee Ceng tidak dapat menonton lebih lama.

Tadi ia baru gusar saja.

Seperti biasanya, ia pun bergerak ayal.

Tapi sekarang, ia lompat maju.

Lebih dulu ia jambak punggungnya kedua serdadu itu, ia melemparkan mereka.

Si opas lagi membacok ketika Kwee Ceng menahan belakang goloknya, untuk ditolak keras hingga golok itu berbalik dan tepat membacok jidatnya.

Dengan tangan kanannya, Kwee Ceng menyambar tubuh si nona sambil kakinya menendang, dari itu, tidak ampun lagi, tubuh opas itu kena terlempar.

Tapi empeh Cin menggigit dan memeluki erat sekali, tubuhnya turut terlempar bersama.

Menampak begitu, Kwee Ceng kaget sekali.

Ia khawatir, karena jatuh terbanting, empeh itu nanti mati karenanya.

Lupa melepaskan tubuh si nona, ia lompat menyusul seraya tangannya menyambar leher si opas, sedang kepada si empeh ia berseru.

"Empeh, ampunkanlah dia!"

Benar-benar si empeh kalap, ia seperti tidak mendengar suara orang, sampai si nona muda berteriak memanggil dia.

"Engkong! Engkong!"

Baru ia melepaskan gigitannya, dengan mulut berkelepotan darah, ia mengangkat kepalanya.

Itu waktu Kwee Ceng telah melemparkan pula tubuh si opas, yang jatuh terbanting hingga terus ia tidak mau bangun lagi, karena ia khawatir nanti dihajar lebih jauh.

Kedua opas itu nyalinya kecil, mereka tidak berani melawan, setelah melihat si anak muda tidak menyerang lebih jauh, mereka menghampirkan si opas kawannya itu, untuk dikasih bangun, buat lantas diajak pergi dengan kaki si opas dingkluk-dingkluk.

Saking takut, mereka tidak berani menaiki kuda mereka.

Sampai di situ, baru Kwee Ceng melepaskan tubuh si nona, lekas-lekas ia mengasih bangun si orang tua.

Nona itu mengawasi tuan penolongnya, nampaknya ia sangat bersyukur, tetapi karena malu, ia tidak dapat membuka mulutnya.

Maka ia cuma mengeluarkan sapu tangannya, dengan apa ia menyusuti darah di muka kakeknya itu.

Tidak enteng luka si empeh, akan tetapi melihat si nona tidak dibawa pergi si opas dan serdadu, ia menjadi bersemangat, dengan cepat ia berlutut di depan Kwee Ceng, guna memberi hormat sambil menghanturkan terima kasihnya berulang-ulang.

Si nona turut berlutut juga.

"Sudah, lootiang,"

Kata Kwee Ceng seraya mengasih bangun.

"Tidak dapat aku menerima hormatmu ini."

Orang tua itu lantas mengundang tetamunya masuk pula, dan si nona segera menyuguhkan the.

"Injin, silahkan minum,"

Katanya perlahan. Ia lantas memanggil "injin" -tuan penolong.

"Terima kasih,"

Sahut Kwee Ceng sambil berbangkit. Empeh Cin lantas menanyakan she dan nama tetamunya dan Kwee Ceng memperkenalkan dirinya.

"Sebenarnya, empeh, urusan apakah ini?"

Kwee Ceng tanya.

Empeh itu suka mengasihkan ceritanya.

Ia asal propinsi Kwietang, karena gangguan seorang hartawan di kampung halamannya, ia mengajak keluarganya pindah ke propinsi Kang-see ini.

Di sini ia melihat tanah kosong, ia lantas membuat rumah dan berusaha di situ.

Bersama ia turut kedua anak lelakinya.

Baca Juga: Sepasang Rajah Naga Kho Ping Hoo

Baca Juga: Pedang Kayu Harum Kho Ping Hoo

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert