Ceritasilat Novel Online

Pendekar Pemanah Rajawali 14

Eps 14 Pendekar Pemanah Rajawali - Jin Yong

Baca online Pendekar Pemanah Rajawali - Jin Yong

Cersil Pendekar Pemanah Rajawali - Jin Yong.

Di rimba ini ada banyak ularnya, apa celaka, dua anak itu serta seorang nyonya mantunya, bergantian mati dipagut ular, hingga seterusnya ia tinggal berduaan saja bersama cucu perempuannya itu, yang diberi nama Lam Kim.

Si empeh bersakit hati, ia pulang ke Kwietang, untuk mempelajari ilmu menangkap ular, sesudah mana ia kembali.

Ia membalas sakit hati dengan membinasakan setiap binatang berbisa itu.

Dasar malang nasibnya dan ia pun lemah, tanah yang ia telah buka dirampas seorang hartawan galak di dalam kota.

Saking terpaksa, ia lantas hidup sebagai penangkap ular.

Di dalam usahanya ini, syukur ia tidak mendapat saingan.

Untuk sembilan tahun, mereka berdua hidup tentram, sampai datang Kiauw Lay, camat yang baru.

Kebetulan ia doyan ular, untuk itu ia berani keluar uang untuk membeli.

Empeh Cin tidak kuat membayar pajak, ia diwajibkan setiap bulan menyerahkan duapuluh ekor ular berbisa.

Dengan terpaksa empeh Cin menunaikan tugasnya itu, untuk mana ia dibantu oleh cucunya.

Tapi tahun ini, di musim semi, entah kenapa, ular menjadi berkurang.

Susah sekali mencarinya.

Sampailah itu waktu, di bulan ke enam, mereka tidak bisa mendapatkan ular.

Sudah begitu, lantas datang gangguan lain.

Kiauw Thayya mendapat tahu Lam Kim cantik, ia minta nona itu.

Beberapa kali ia mengirim comblang, si empeh senantiasa menampik.

Lalu datanglah hari ini, Kiauw Thayya menggunakan kekerasan, ia mengirim opasnya dan dua serdadu untuk minta ular atau orang.

Sebab empeh tidak bisa menyerahkan ular, maka cucunya dipaksa dibawa pergi.

Kebetulan sekali, di situ ada Kwee Ceng.

Mendengar cerita itu, Kwee Ceng menghela napas.

Habis bersantap malam, empeh mempersilahkan tetamunya tidur.

Lam Kim yang mengantarkan ke kamar sambil ia membawa pelita, katanya dengan perlahan.

"Di sini hutan, segala apa kotor, harap injin maklum…"

"Nona panggil saja aku engko Kwee,"

Kwee Ceng memberitahu.

"Mana aku berani, injin,"

Kata si nona. Tiba-tiba ia terkejut. Dil luar terdengar suara nyaring dan luar biasa dari seekor burung hutan. Hampir ia membikin pelitanya terlepas.

"Nona, burung apakah itu?"

Tanya Kwee Ceng. Ia heran, sudah suara burung itu aneh, ia pun meraskan tubuhnya gatal tidak karuan dan dadanya penuh seperti mau tumpah-tumpah.

"Itulah burung keramat tukang makan ular,"

Sahut si nona perlahan.

"Burung pemakan ular?"

Si anak muda menegaskan.

"Benar. Semua ular di rimba sini habis dimakan dia, maka itu engkong jadi sengsara…"

"Kenapa tidak didayakan menyingkirkan burung itu…?"

"Perlahan injin…"

Kata si nona, romannya ketakutan. Ia lantas menutup jendela.

"Burung itu sakti, kalau ia dengar suara injin, bisa celaka…!"

"Apa? Burung itu bisa mendengar suara kita?"

Lam Kim hendak memberikan jawabannya, ketika terdengar suara si empeh di luar kamar.

"Diwaktu malam tak leluasa untuk bicara banyak, besok siang saja nanti aku yang menjelaskan."

Kwee Ceng heran tetapi ia menurut, sedang si empeh lantas saja ajak cucunya pergi ke kamar mereka.

Melihat roman ketakutan dari tuan dan nona rumah itu, Kwee Ceng bertambah heran hingga ia tidak dapat tidur nyenyak.

Ia pun memikirkan Oey Yong, yang entah ada dimana adanya.

Ia gulak-galik sampai tengah malam ketika ia mendapat dengar pula suara si burung pemakan ular, yang berbunyi tiga kali.

"Aku tidak dapat tidur, baik aku lihat burung itu,"

Pikirnya. Ia turun dari pembaringan, ia membuka jendela untuk lompat ke luar. Di saat ia mau menuju ke arah darimana suara burung itu terdengar, ia mendengar teguran perlahan di belekangnya.

"Injin, aku turun kau…"

Ia lantas menoleh.

Maka ia nampak Lam Kim berdiri di bawah sinar rembulan, rambutanya riap-riapan mirip dengan rambutnya Bwee Tiauw Hong.

Nona ini berkulit putih, romannya cantik.

Kedua tangannya memegang entah barang apa yang hitam.

Dengan perlahan ia menghampirkan si anak muda, untuk berkata pula.

"Injin mau melihat burung keramat itu?"

"Ah, jangan kau memanggil injin padaku,"

Kwee Ceng mencegah. Nona itu likat.

"Engko!"

Ia memanggil. Kwee Ceng mengasih lihat panahnya.

"Aku hendak memanah mampus burung itu, supaya ia jangan lagi mengganggu engkongmu,"

Katanya.

"Perlahan!"

Si nona kata. Ia pun mengangkat tangannya.

"Pakai ini di kepala, untuk berjaga-jaga."

Suara si nona itu bergetar. Kwee Ceng melihat sebuah kuali besi, ia menjadi heran. Lam Kim memegang kuali besi di tangan kirinya, ia berkata pula.

"Burung itu dapat datang dan pergi bagaikan angin, ia biasa mematuk mata orang, hebat sekali. Kupingnya juga tajam, begitu mendengar suara orang, dia bisa lantas datang. Engko, kau mesti hati-hati."

Kwee Ceng tidak takut.

Bukankah ia pernah menghadapi burung rajawali raksasa itu.

Lantas ia jalan di depan.

Belum mereka sampai di tepi rimba, burung ular itu berbunyi lagi, tiga kali.

Justru itu di situ terdengar suara berisik.

Lam Kim terkejut.

"Ah, aneh! Kenapa di sini ada begini banyak ular?"

Katanya.

Kwee Ceng memasang kuping.

Ia lantas mendengar suara beberapa orang yang bersuit dan menggebah-gebah.

Ia kenali itulah suaranya budak-budak pengiring ular dari Pek To San.

Ia menjadi lebih heran sebab agaknya mereka itu dalam kekhawatiran, sebagai juga kawanan ularnya tidak menurut perintah.

Ia lantas berpikir.

"Mari!"

Ia mengajak Lam Kim, untuk lari masuk ke dalam rimba.

Di sini ia celingukan, mencari tempat yang lebat.

Tanpa membilang apa ia sambar pinggang si nona, buat dibawa lompat naik ke sebuah pohon, dimana mereka memernahkan diri di satu cabang besar.

Baru mereka duduk rapi, burung tadi telah berbunyi pula tiga kali.

Sekarang jarak mereka lebih dekat, suara burung itu tajam terdengar, seperti menusuk telinga.

Tidak lama, sampailah rombongan ular itu, yang berjumlah ribuan.

Kwee Ceng kenal binatang itu, ia tidak kaget, tidak demikian dengan Lam Kim, yang ketakutan hingga hatinya guncang, dengan erat ia pegangi ujung baju si pemuda.

Begitu masuk ke dalam rimba, kawanan ular itu berlari-lari ke delapan penjuru.

Mereka seperti terkena hawa panas, hingga mereka tidak dapat diam, tubuh mereka berlompatan.

Di bawah sinar rembulan, nyata terlihat lagak mereka itu.

Tujuh atau delapan budak pengiring ular itu, dengan pakaiannya yang putih, lari ke dalam rimba.

Mereka menggunai galah mereka, bentaka mereka berisik, tapi kawanan ular itu tidak mau mendengar perintah untuk berbaris rapi seperti biasa.

Kwee Ceng membenci Auwyang Hong, melihat ular itu kacau, ia senang.

"Sayang Yong-jie tidak ada di sini, hingga ia tidak dapat menyaksikan ini,"

Pikirnya.

Lam Kim heran ketika ia melirik mendapatkan Kwee Ceng gembira.

Diam-diam ia memuji hati besar anak muda ini.

Tiba-tiba ia kaget sekali.

Itulah sebab ia mendengar si burung keramat bersuara nyaring luar biasa, atas mana semua ular pada berhenti bergerak, semua mendekam dengan tidak berkutit.

Budak-budak mengayun berulang-ulang galah mereka, mulut mereka membentak tak hentinya, tetapi semua ularnya diam mendekam.

Sesudah kewalahan, mereka ini lantas mengambil sikap.

Seorang lantas berdiri tegak, kepala mereka diangkat.

Yang lainnya berdiri diam dengan galah mereka dipasang berdiri.

Yang satu lantas berkata dengan nyaring.

"Kami ada orang-orangnya Auwyang Sianseng dari Pek To San, kami tengah berlewat di sini, tetapi kami tidak mengenal gunung Tay San, kami tidak datang membuat perkunjungan. Maka itu, dengan memandang Auwyang Siangseng, harap kami diberi maaf."

Kwee Ceng mengawasi, ia merasa lucu.

Suara orang itu tidak ada yang layani.

Berselang sekian lama, ia mengucapkan pula kata-katanya itu.

Sekarang suaranya lebih keras, tandanya ia tidak senang, dia agaknya menggertak.

Ia pun memandang ke sekitarnya, ke tanah di dekatnya.

Dia berpura-pura tidak melihat, dia memutar tubuh akan membelakangi pohon, yang ada pohon hoay, dia pun membungkuk seperti orang lagi menjura.

Adalah ketika itu, mendadak ia membalik pula tubuhnya, sambil bangun ia mengayunkan kedua tangannya ke arah pohon.

Maka empat buah gin-so, torak perak, menyambar kepada Kwee Ceng berdua.

Dia telah membokong!

Kalau lain orang yang diserang secara menggelap itu, celakalah dia.

Tidak demikian dengan Kwee Ceng.

Ia melihat gerakan orang, yang ia terus awasi.

Ia melihat berkelebatnya barang berkilau.

Lekas-lekas ia turunkan kuali besinya, untuk dipakai menyambuti, maka dengan suara "trang!"

Empat kali, keempat torak itu masuk ke dalam kuali. Kaget dan heran orang itu karena bebokongannya gagal.

"Di atas pohon itu orang gagah darimana? Silahkan memberikan she dan namamu!"

Ia minta.

Suaranya tak seangker tadi.

Kwee Ceng tidak menyahuti, hanya ia menipuk balik torak itu.

Orang itu menjadi kaget.

Galah di tangannya itu kena terhajar toraknya itu, tangannya sakit dan gemetaran, galahnya pun terpatah lima.

Dia mengerti, orang berlaku murah, kalau tubuhnya yang dihajar, pasti dia tidak akan selamat.

Dia menjadi bingung sekali.

Kalau ia menyerah dan minta ampun, dia menurunkan derajat Auwyang Hong, dia pun bakal tidak diberi ampun.

Kalau ular itu tidak dibawa pergi, dia juga bakal disiksa majikannya yang bengis itu.

Selagi orang ini masih bingung terus, tiba-tiba di situ tercium bau harum, dada rasanya menjadi lapang, lantas semua ular menggeraki kepalanya, dongak ke langit.

Orang itu menyangka Kwee Ceng, yang ia tidak kenal itu, pandai menggendalikan ularnya, lantas ia meniup suitannya, untuk menitahkan ularnya pergi.

Tapi ular itu tetap diam.

Hanya bau hatum menjadi semakin keras.

Terang bau itu datangnya dari atas.

Maka dia dongak.

Tiba-tiba terlihat menyambar turunnya cahaya teras sebagai segumpal api, luar biasa cepatnya, turun di sisinya.

Dengan tiba-tiba, ia menjadi kaget.

Dia mendapat kenyataan, gumpalan api itu hanyalah seekor burung yang tubuhnya merah marong.

tubuhnya itu lebih besar dari gagak, bacotnya panjang kira setengah kaki.

Berdiri di tanah, burung aneh itu lantas melihat ke sekelilingnya, nampaknya keren.

Bau harum itu datang dari tubuhnya.

Kwee Ceng menjadi merasa suka melihat burung itu, yang tak ada bulunya yang kecampuran, kedua matanya tajam, sinarnya merah juga.

"Kalau Yong-jie melihat burung ini, tentu dia suka sekali,"

Pikirnya.

Maka ia lantas ingin menangkap hidup burung itu.

Mulanya semua ular kaget dan takut, sekarang semua berbalik menjadi jinak, tidak ada yang bergeming.

Ketika burung itu berbunyi satu kali, empat ekor ular yang besar nyelosor menghampirkan, di depan burung itu, mereka menggulingkan diri, perutnya menghadap keatas.

Kapan burung itu mematuk, maka pecahlah perut mereka.

Dengan empat patukan saja, isi perut mereka masuk ke dalam perut burung itu.

Semua pengiring ular itu menjadi heran sekali, kaget dan gusar.

Yang menjadi kepala tadi mengayun tangannya, sebuah torak melayang ke burung itu.

Kwee Ceng kaget, ia khawatir burung itu celaka karenanya.

Dengan sabet sekali ia mematahkan secabang pohon kecil, yang terus ia timpuki ke depan burung itu guna melindunginya.

Bab 55.

Pertarungan sang kodok Cepat melayangnya cabang itu tibanya di depan burung itu lebih dulu dari tibanya torak, maka torak dan cabang beradu, bersama-sama jatuuh ke tanah.

Burung itu cerdas sekali.

Dia heran, lantas dia berpaling ke arah darimana datangnya cabang pohon dan torak itu.

Dia lantas mengetahuinya ada orang yang membokong dia dan ada yang menolonginya, terus ia mengangguk ke arah Kwee Ceng dan Lam Kim, habis mana, dengan sinar merahnya bergerak, dia terbang ke arah penyerangnya.

Penggiring ular itu kaget tetapi dia menyerang pula.

Dia menggunai empat buah ginso, yang menyambar saling susul.

Kwee Ceng kaget, untuk menolongi sudah tidak keburu, maka ia mengeluh.

"Sayang…!"

Sementara itu sang burung merah tukang makan ular itu menyambar terus.

Dia melihat menyambarnya dua buah torak perak, dia menyampok ke bawah dengan sayapnya, maka jatuhlah torak itu.

Sambil menyampok, dia berkelit, lalu dengan lain sayapnya dia menyampok pula, maka lagi dua torak lolos, terpental naik ke udara!

"Bagus!"

Kwee Ceng berseru saking gembira.

Burung itu bergerak sebagai seorang ahli silat.

Belum berhenti suaranya Kwee Ceng ini, atau si budak pengiring ular itu sudah menjerit keras, kedua tangannya dipakai menutupi mukanya, dia lari ke depan dimana dia membentur sebuah pohon besar, maka sambil menjerit, dia berjongkok di situ.

Nyatalah kedua biji matanya telah dipatuk burung itu.

Tujuh budak lainnya menjadi kaget, semua lantas menyerang dengan senjata rahasia mereka.

Di terangnya rembulan itu, torak-torak perak terbang berkeredepan.

Burung itu benar-benar lihay.

Dia beterbangan, untuk mengelit diri atau menyampok, ia mundur dan maju, lalu dua orang lagi berkoak, sebab mereka pun kena dipatuk biji matanya.

Ketika itu mendadak ada menyambar satu sinar biru terang, menyambar ke burung pemakan ular itu.

Kwee Ceng mengenali api belerang.

Serangan ini lebih hebat dari ginso.

Tapi burung itu berbunyi nyaring, dia terbang memapaki api itu, yang berupa anak panah, terus dia mencengkeram dengan kukunya.

Dia tidak menghiraukan belerang menyala.

Setelah meletaki anak panah itu di tanah, burung itu mencari rumput, ditaruh di atas api itu hingga rumput terbakar!

"Sayang!

Sayang!"

Kwee Ceng berseru berulang-ulang.

"Sayang apa, engko?"

Lam Kim menanya heran.

"Inilah permainan bagus, sayang Yong-jie tidak melihatnya!"

Sahut si anak muda.

"Yong-jie?"

Tanya Lam Kim.

"Siapakah dia?"

"Ya, Yong-jie…"

Lam Kim mau menanya pula ketika kupingnya mendengar suara helaan napas, seperti suara wanita, di belakangnya.

Ia lantas menoleh, tetapi dia tidak melihat siapa juga.

Tanpa merasa, bulu romannya bangun berdiri.

Ia menduga kepada setan, maka ia memegang keras lengan Kwee Ceng, tubuhnya disenderkan rapat-rapat.

Ia pun menanya.

"Engko, siapakah yang menghela napas itu?"

Perhatian Kwee Ceng dipusatkan kepada burung merah, ia tidak mendengar suara helaan napas itu, ia tidak dapat mendengar juga perkataan si nona yang sangat perlahan, bahkan ia seperti tidak merasakan tubuh yang halus dari si nona Cin menyambar di dadanya.

Burung itu bergulingan di api yang dia nyalakan itu, ketika api mulai berkurang, ia mengambil pula daun dan cabang kering, hingga api menjadi kobar lagi.

Ia membuat main bulunya di dalam api itu, ia tidak terbakar, tidak kepanasan.

Ia malah mematuki bulunya menyisili, seperti biasanya burung mandi.

Selagi Kwee Ceng mengawasi dengan heran, bau harum terasa makin keras.

Kapan kawanan ular mendapat cium bau itu, mereka seperti tidak dapat menguasai diri, semua lantas bergerak, berlompatan, lalu saling menggigit, hingga suaranya menjadi berisik.

Ada ular yang kesakitan digigit telah menggigit ekornya sendiri!

Maka kacaulah ribuan ular itu.

Lam Kim merasa kepalanya pusing dan matanya kabur, hampir dia jatuh dari atas pohon, maka lekas-lekas ia memegangi erat-erat tubuh Kwee Ceng, yang ia peluki.

Sisa budak-budak itutu kaget dan ketakutan, lantas mereka lari keluar dari rimba.

Si burung menganggap mereka itu sebagai musuh, dia terbang mengubar.

Mereka itu ketakutan, mereka menutup muka dengan tangan, tapi tangannya itu dipatok, ketika mereka melepaskan tutupan kepada muka mereka saking sakitnya, lantas mata mereka dipatok.

Tidak lama, maka mereka semua menjadi si orang-orang buta.

Habis itu, burung itu terbang kembali ke rimba, ke api, tetapi api sudah padam.

Dia lantas mengibas-ngipas dengan kedua belah sayapnya, untuk menyalakan api itu pula.

Tentu saja abunya menjadi beterbangan.

Kwee Ceng menepuk pundak Lam Kim.

"Kau diam di sini, kau pegangi pohon,"

Katanya perlahan seraya menyingkirkan tangan yang merangkulnya.

Habis itu ia lompat turun, bertindak dengan perlahan ke arah si burung aneh itu.

Sang burung melihat ada orang datang.

Dia seperti mengenali penolongnya tadi, dia diam mengawasi.

Burung itu mengangkat kepalanya, dia tidak menghampirkan.

Selagi turun dari pohon, Kwee Ceng memperhatikan semua ular, dari itu ia bertindak dengan perlahan, tetapi sekarang ia mendapat kenyataan, semua ular itu, yang sudah berkelahi sendiri, seperti membuka jalan untuknya.

Rupanya binatang berbisa itu takut kepadanya, yang pernah minum darah ular.

Dengan berani, ia maju terus, tindakannya lebar.

Setelah datang dekat kepada burung aneh itu, ia mengulur tangannya.

Burung itu lihay, dia gesit sekali.

Sambaran Kwee Ceng cepat tetapi dia dapat berkelit, setelah itu, tidak menanti sampai disambar pula, ia membalas menyerang, hendak mematuk matanya si anak muda.

"Engko Kwee, hati-hati!"

Lam Kim berseru, memberi ingat. Kwee Ceng menungkrap dengan kuali besinya. Burung itu benar lihay, dia berkelit, dia lolos.

"Bagus!"

Berseru Kwee Ceng, seraya ia melompat, kualinya menungkrap pula.

Sang burung terbang ke atas, terpisahnya kira satu kaki.

Dia melihat tangan kiri Kwee Ceng menyusul, di atasan kepalanya, dia kaget, terus dia terbang ke bawah lewat selangkangan si anak muda.

Habis itu dia terbang naik kembali, dia hendak mematuk mata.

Kwee Ceng gembira, hingga timbul sifat kekanak-kanakannya.

"Di tanganku ada senjata, kalau aku tidak dapat menangkap kau, aku bukan satu laki-laki,"

Katanya.

"Baiklah, mari kita bertempur dengan tangan kosong!"

Maka ia melemparkan kualinya, lantas dia menyambar.

Dia takut melukai, maka ia memakai tenaga cuma satu bagian.

Burung itu kena dipapaki, dia tidak keburu kelit, karena kebentur, dia roboh.

Kwee Ceng mengulur lebih jauh tangannya, untuk mencekuk, atau burung itu telah terbang pula.

Dia rupanya tahu lawannya lihay, bukan seperti pengiring-pengiring ular itu tadi, maka dia mau terbang pergi.

Kwee Ceng menyambar, tangannya diputar.

Dia menggunai jurus dari Hang Liong Sip-pat Ciang, jurus "Enam naga berputaran".

Burung itu kena terpegat di sana-sini, lalu kebentur jatuh hingga ia jumpalitan.

Justru itu Kwee Ceng mencekuk padanya.

"Nona, dia telah kena aku tangkap!"

Kwee Ceng serukan Lam Kim.

Nona itu girang sekali, ia lekas mengeluarkan obatnya pemunah racun, yang ia masuk ke dalam mulutnya, setelah itu, ia turun dari pohon, lari menghampirkan si anak muda.

Sebutir obatnya ia mau serahkan kepada si anak muda.

Burung itu pingsan, dengan begitu, lenyaplah pengaruhnya, maka itu waktu, semua ular yang ketakutan, lantas lari serabutan menyingkir dari rimba itu.

Kwee Ceng merasai burung itu tidak bergerak, ia khawatir mati, ia memegang dengan perlahan.

Ia memegang dengan kedua tangannya.

Ia membawanya ke tempat di mana ada tembusan sinar rembulan.

Ketika Lam Kim telah datang dekat, ia mengangsurkan obatnya.

"Engko Kwee, obat ini bisa melawan racun ular,"

Katanya.

Kwee Ceng tahu ia tidak membutuhkan itu, akan tetapi untuk tidak menyampik kebaikan hati si nona, ia menyambutinya.

Karena menyambuti, tangannya yang memegang burung tinggal sebelah.

Justru itu, burung itu berotntak dan terbang lolos!

"Ah, sayang, sayang!"

Anak muda ini membanting-bantingkan kaki.

"Burung itu cerdik, mungkin dia tidak berani datang pula,"

Berkata si nona.

"Maka itu aku mengatakan sayang,"

Kata si anak muda.

"Kenapa engko?"

"Aku berniat menangkap dia untuk diberikan kepada Yong-jie…."

Lagi-lagi nama Yong-jie disebut. Lam Kim heran. Suara memanggil itu pun halus sekali.

"Apakah Yong-jie itu anakmu?"

Ia menanya. Ia mengartikan Yong-jie seperti anak yang bernama Yong. Ditanya begitu, pemuda itu melengak.

"Bukan!"

Sahutnya dengan cepat.

"Dialah satu anak perempuan, yang dibanding denga kau, usianya lebih muda satu dua tahun."

"Ah, dia tentu cantik sekali, bukankah?"

"Tentu saja! Dia bukannya cuma cantik, juga pintar dan baik hatinya….."

Selama beberapa bulan Kwee Ceng selalu mengingat-ingat Oey Yong cantik dan pintar, hanya karena pendidikan ayahnya, ia termanjakan, tabiatnya rada keras, dia biasa membawa sukanya sendiri, cuma dimata Kwee Ceng, dia tidak ada celaannya.

Terhadap Kwee Ceng, Yong-jie suka mengalah.

Lam Kim duduk bersama Kwee Ceng di atas sebongkol pohon yang roboh melintang di tanah, ia mendengar si pemuda memuji si nona, tanpa merasa, ia merasakan sesautu yang berbeda daripada biasanya.

Lekas juga si pemuda sadar.

"Kau lihat!"

Katanya tertawa.

"Tengah malam buta kita memasang omong di sini! Mari kita pulang. Kalau sebentar kakekmu bangun dan ia tidak melihat kau, ia tentunya berkhawatir."

"Tidak,"

Menyahut si nona.

"Aku suka sekali mendengar ceritamu."

Ia berhenti sebentar, lalu ia menanya.

"Nona Oey itu pergi ke mana? Kenapa kau tidak ikuti dia?"

Pertanyaan itu mengenakan telak kepada Kwee Ceng.

Ia tidak dapat lantas menjawab.

Bukankah ia bakal menikah dengan Gochin Baki?

Bukankah sulit untuknya nanti bertemu pula sama Oey Yong?

Mengingat semua itu itu, ia menjadi berduka.

Mendadak saja ia menangis.

Lam Kim terkejut.

Ia menyangka ia telah salah omong.

Ia menjadi menyesal dan berduka.

Ia malah menjadi bingung bagaimana harus menghiburi anak muda ini.

Dengan sendirinya tangannya merogoh ke dalam sakunya, mengasih keluar sehelai saputangan.

Ia sodorkan itu kepada si anak muda.

Kwee Ceng menyambutinya, ia menyusuti matanya.

Ia tidak ingin menangis, tetapi ia tidak sanggup menahan kesedihannya.

Maka ia menangis pula.

Tiba-tiba di belakang mereka terdengar satu suara tertawa geli.

"Yong-jie!"

Berseru Kwee Ceng, sambil ia melompat bangun, akan tetapi ketika ia menoleh ia tidak melihat siapa juga, tidak ada bayangan orang meski juga cuma separuhnya………..

"Ah, engko Kwee!"

Berkata Lam Kim.

"Kau senantiasa memikirkan nona Oey. Mari kita pulang!"

"Mari!"

Sahut si anak muda.

Bersama-sama mereka keluar dari hutan itu.

Baru mereka jalan beberapa puluh tombak, di depan mereka, mereka melihat tujuh atau depalan orang dengan pakaian putih berbaris, tangan kirinya bertongkat sebatang galah panjang.

Mereka jalan setindak demi setindak.

Merekalah budak-budaknya Auwyang Hong, yang matanya buta di patok burung merah itu.

Mengawasi mereka itu, Kwee Ceng merasa kasihan.

Maka ia menghela napas.

Tapi ia tidak mau mendekati atau menegur mereka itu, bersama nona Cin ia terus menuju ke rumah si nona, untuk terus tidur.

Besok pagi, ketika Kwee Ceng mendusin, ia mendengar empeh Cin lagi sesalkan Lam Kim, yang katanya tidak seharusnya mengajak tetamunya pergi menangkap burung aneh itu sebab berbahaya.

"Memangnya aku yang mengajak?"

Si nona kata tertawa.

"Dia sendiri yang gemar bermain!"

"Kau gila! Dia toh penolong kita, dia bukannya bocah lagi! Cara bagaimana kau bilang dia gemar bermain sendiri?"

"Kalau yaya tidak percaya, masa bodoh!"

Kata cucu itu tertawa.

"Masih kau tidak mau kalah! Kalau tuan penolong kita kena dilukai burung keramat itu, habis bagaimana?"

"Dia kosen sekali, mana dapat dia dilukakan?"

Si cuca masih melawan. Kakek itu menghela napas.

"Sudah, sudah…."

Ia mengalah.

"Mari kita berbenah……. Tidak dapat tidak, kita mesti berlalu dari sini…."

"Bagaimana engkong?"

Tanya si nona heran.

"Kita pulang ke Kwietang. Bangsat polisi itu kena dihajar, mana dia puas? Mana dapat kita tinggal lebih lama di sini? Kalau sebentar tuan penolong kita pergi, jikalau kita berlambat, bahaya tentu bakal menimpa kita…."

Cucu itu bengong.

"Habis engkong, bagaimana dengan ini rumah, meja dan kursi kita?"

Ia menanya.

"Anak tolol!"

Mengelak orang tua itu.

"Jiwa kita sendiri masih belum ketentuan, apa perduli segala rumah dan meja kursi? Anak, dasar nasib kita yang buruk, maka janganlah kau bersusah hati….."

Kwee Ceng telah mendengari semua pembicaraan itu, maka ia lantas mengambil putusan, menolong orang tidak boleh kepalang tanggung. Ia turun dari pembaringannya untuk terus menemui itu kakek dan cucu.

"Lootiang, kau jangan berkhawatir,"

Katanya menghibur.

"Nanti aku pergi ke kantor camat untuk membereskan urusanmu ini."

"Oh, injin, jangan kau pergi ke kantor camat!"

Cegahnya lekas.

"Kantor itu adalah laksana gua harimau atau serigala!"

"Aku tidak takut!"

Berkata Kwee Ceng.

Empeh Cin masih hendak mencegah tetapi Kwee Ceng sudah lantas pergi keluar, untuk menuntun kudanya, maka dilain saat ia sudah kabur dengan kuda merahnya.

Dalam tempo sedaharan nasi, ia sudah sampai di dalam kota.

Tengah ia memikir untuk menanya dimana letaknya kantor camat, mendadak ia menampak api berkobar di depannya dan banyak orang berlari-lari berteriak-teriak.

"Kantor camat kebakaran! Oh, Thian, ada matanya!"

"Begini kebetulan?"

Kata Kwee Ceng di dalam hatinya.

"Masa begini tepat kantor camat kebakaran?"

Ia lantas mengasih kudanya lari di depan kantor, belum ia datang dekat, ia sudah diserang hawa panas dari api itu hingga ia mesti mundur pula.

Herannya tak ada orang yang mau menolongi memadamkan api.

Orang banyak berdiri jauh-jauh, roman mereka bukan kaget atau takut, sebaliknya semua bermuka terang, tandanya riang hati mereka.

Kwee Ceng lompat turun dari kudanya.

Ia sekarang melihat di tanah ada rebah belasan orang polisi, ada yang sudah terbakar, ada yang masih hidup tetapi romannya tidak karuan dimakan api, ada yang dapat membuka matanya, tetapi mata itu tidak berkutik.

Ia heran, ia menghampirkan, terus ia mengangkat seorang opas.

Baru sekarang ia ketahui orang adalah korban totokan.

Ia lantas menotok pinggang dia itu.

"Mana camat?"

Ia tanya.

"Dia di dalam kantor, tuan,"

Sahut opas itu, tangannya menunjuk.

"Kebanyakan dia sudah mati tertambus…."

"Kenapa terbit kebakaran?"

Tanya pula Kwee Ceng.

"Siapa yang merobohkan kau?"

"Maaf tua, aku tidak jelas,"

Sahut pula si opas.

"Tadi pagi-pagi sebelum aku bangun tidur, aku dengar koan-thayya membikin banyak berisik, rupanya ia mencaci orang dan berkelahi, lalu api berkorbar. Aku hendak lari, tiba-tiba aku merasakan tubuhku kaku dan lemas, tahu-tahu aku sudah roboh…."

"Koan-thayya kamu bertempur sama orang, apakah dia pandai silat?"

Kwee Ceng heran. Ia tidak menyangka seorang camat pandai silat dan menngerti juga Tok-see-ciang, tangan Pasir Beracun. Lantas ia ingat camat ini gemar dengan ular.

"Ah, tentulah ia pakai ular itu untuk melatih diri,"

Terkanya. Ia lantas menanyakan itu kepada opas.

"Aku tidak tahu, tuan"

"Rupanya, ada orang kangouw yang mencari camat itu,"

Akhirnya Kwee Ceng pikir.

"Ini ada baiknya, aku jadi tak usah capai hati…"

Oleh karena pikirannya sudah lega, Kwee Ceng tidak menggubris lagi si opas atau camat, ia berniat pulang ke rumah empeh Cin, untuk menyampaikan kabar gembira, tetapi waktu ia berpaling kepada kudanya, ia terkejut.

Kudanya itu tak ada.

Ia bersiul, memanggil.

Kuda itu tidak muncul.

Ketika ia mengulangi beberapa kali, tetap kuda merah itu tak nampak.

Ia menjadi heran sedang ia tahu betul kuda itu cerdik dan sangat mengerti dan mengenali tuannya.

Lantas ia pergi mencari, ia seperti memutari seluruh kota, tetapi ia tidak berhasil mencari kudanya.

"Benar heran!"

Pikirnya, bingung dan masgul. Akhirnya ia berjalan balik ke rumah empeh Cin, hatinya berpikir.

"Nanti aku bawa burung wajawali untuk mencari, mustahil tidak ketemu…"

Ia berjalan pulang sambil berlari-lari.

Empeh Cin dan cucunya heran mendengar gedung camat kebakaran, mereka girang mendapat tahu camat sendiri mati tertambus.

Mereka bersyukur bukan main.

Habis memberi keterangan, Kwee Ceng bersiul, memanggil burungnya.

Tapi aneh, burung itu juga tak nampak dan tak muncul.

Ia heran bukan main dan ia jadi semakin bingung.

Saking berduka, ia tak nafsu dahar minum.

Malam itu ia diam terus di rumah empeh Cin.

Ia mengambil keputusan, besok ia mau pergi mencari kuda dan burung itu…….

Ketika itu musim panas, hawa udara sangat mengendus.

Empeh Cin menggotong bale-bale serta dua buah kursi ke luar rumah, ditaruh di bawah para-para pohon kacang.

Ia pun masak air dan menyeduh the.

Di bawah pohon ia mengajak Kwee Ceng dan cucunya berangin.

Ia melewatkan waktu dengan bercerita tentang sifatnya pelbagai ular berbisa.

Hati Kwee Ceng terhibur juga.

Cerita si empeh menarik hati.

Mereka berangin sampai tengah malam, sampai mereka merasa tubuh mereka adem.

Empeh itu beberapa kali mengajaki tetamu dan cucunya masuk tidur, sang cucu menolak.

"Dasar bocah!"

Kata sang engkong tertawa.

"Anak ini hidup sendirian, setaip hari ia menemani aku si tua bangka, di sini sulit mendapat tetamu, maka sekarang dia jadi gembira luar biasa…."

"Kalau besok engko Kwee pergi, kita kembali tinggal berdua…"

Kata Lam Kim. Ia nampak masgul, suaranya pun tak gembira. Kwee Ceng berdiam.

"Engko Kwee, pergilah tidur,"

Kata si nona kemudian.

"Aku sendiri, aku masih hendak memandangi sang bintang…."

"Anak tolol! Apakah bagusnya bintang !"

Kata sang kakek.

"Tetapi aku suka memandanginya."

Kata si cucu. Orang tua itu memandang ke langit, dimana ada mega hitam.

"Lihat, langit bakal lekas berubah, bintang pun bakal lenyap…"

Katanya. Ketika itu mendadak Kwee Ceng mendengar suara kuda berlari mendatangi.

"Kuda merahku!"

Ia berseru.

Segera ia menoleh dan mengawasi.

Jauh di sana, seekor kuda merah lagi mendatangi.

Lekas juga ternyata, dialah si bulu merah kudanya sendiri, seperti ia telah membilangnya.

Di atas kuda itu ada penunggangnya, yang bajunya berkibaran, bahkan dialah Oey Yong.

"Yong-jie! Aku di sini!"

Kwee Ceng berseru kegirangan.

Mendengar disebutkannya Yong-jie, hati Lam Kim terkesiap.

Lekas sekali kuda merah itu telah tiba kepada tiga orang itu.

Bersama Oey Yong ada kedua burung rajawali yang putih.

"Ah, sungguh aku tolol!"

Kwee Ceng sesalkan dirinya sendiri.

"Memang kecuali Oey Yong, siapakah yang dapat menguasai kuda dan burungku ini?"

Oey Yong lompat turun dari kudanya sedang Kwee Ceng maju memburu padanya. Ia girang bukan kepalang.

"Aku berlatih tetapi keliru, kedua tanganku tak dapat digerak,"

Berkata si nona.

"Ah!"

Kwee Ceng berseru.

"Mari lekas salurkan napasmu!"

Keduanya lantas lompat naik ke bale-bale, untuk duduk bersila.

Kwee Ceng meletaki kedua tangannya di punggung si nona, guna menyalurkan hawanya ke tubuh si nona itu.

Justru itu langit benar-benar berubah.

Perlahan-lahan terdengar suara guntur, yang diikuti bergeraknya sang awan, hingga langit menjadi gelap.

Kira setengah jam kemudian, pernapasannya Oey Yong mulai lurus, hawa dari perutnya naik ke dadanya.

Karena itu, tubuhnya seperti terdorong ke kiri dan ke kanan.

Selama itu Lam Kim mengawasi nona Oey, yang duduk sambil menutup mata dan merapati mulutnya, hanya mulutnya itu nampak tersenyum.

Dia berkulit putih bersih, pada itu nampak cahaya dadu, maka terlihat tegaslah kecantikannya.

Di lehernya ada tergantung kalung mutiara, yang bersinar menambah menterengnya kecantikannya itu.

"Dia mirip dewi, tak heran engko Kwee jatuh hati kepadanya,"

Lam kIm berpikir.

"Hanya, entahlah apa yang mereka lagi lakukan sekarang…."

Dia tengah berpikir begitu ketika mendadak matanya seperti gelap. Karena segumpal mega hitam lewat menutupi sang putri malam. Dan menyusul itu, seluruh langit mulai menjadi gelap juga.

"Kwee Toako,"

Ia berkata kepada Kwee Ceng.

"Baiklah, kau masuk ke dalam bersama ini nona, lekas akan turun hujan."

Boleh dibilang ia baru menutup mulutnya, ketika ia merasai muka dan lehernya dingin, karena sang air hujan sudah lantas mulai turun beberapa tetes!

Hujan di musim panas benar luar biasa.

Begitu dibilang, hujan lantas turun.

Dan Lam Kim lantas juga berkoak.

Sebab dengan lantas hujan turun dalam jumlah besar, seperti dituang-tuang!

Kwee Ceng dan Oey Yong lagi menyalurkan napas mereka, tidak menghiraukan hujan itu.

Nona Cin menjadi heran sekali, hingga ia mau menduga orang kena pengaruh sesat.

Ia menghampirkan si anak muda, yang pundaknya ia tolak.

Ia tidak menggunai tenaga besar, ketika ia menolak, ia tertolak mundur satu tindak.

Ia menjadi terlebih heran.

Ia maju pula, ia menolak dengan terlebih keras.

Ia menanya.

"Engko Kwee, kau kenapa?"

Atau mendadak, untuk kagetnya, ia terolak mundur hingga ia terguling di tanah, jatuh duduk di air hujan!

Empeh Cin sudah masuk tidur, ia mendengar suara hujan diselengi guntur, maka ia memanggil Lam Kim.

Beberapa kali ia memanggil tanpa ada penyahutan, ia lantas pergi ke luar, tepat ia menyaksikan cucunya itu lagi merayap bangun dari lumpur, rambutnya kusut, basah dengan air hujan, romannya bingung.

Tengah ia kaget, ia mendengar suara nyaring cucunya itu.

"Engkong, tuan penolong kita kena pengaruh jahat, lekas tolongi dia!"

Empeh itu pun kaget.

Ia pun sangat bersyukur kepada anak muda itu.

Maka tanpa pikir lagi, ia hampirkan Kwee Ceng, yang ia pegang tangannya, untuk ditarik masuk.

Atau ia menjadi kaget.

Tubuh si anak muda tidak bergeming.

Ketika ia menarik dengan kuat, ia sendirinya yang terpental jatuh, maka ketika ia sudah merayap bnagun, ia berdiri bengong seperti cucunya itu.

Lam Kim lekas sadar, ia lari masuk untuk mengambil payung, ia memegang itu untuk dipakai memayungi Kwee Ceng berdua.

Ia juga berkata.

"Engkong, lekas menyulut kertas kuning, kau asapi hidung mereka!"

Empeh Cin lari masuk, tindakannya limbung.

Apa mau, ia kena membentur pelita hingga terbalik.

Lam Kim sendiri lantas nyata perubahan hatinya.

Biarnya ia mengagumi Oey Yong, hatinya ada pada Kwee Ceng, maka payungnya itu mulai bergeser, menutupi si anak muda sendiri, hingga si nona itu lantas ketimpa hujan pula.

Tidak lama empeh Cin muncul dengan kertas kuningnya, yang ia telah sulut.

Dengan dijagai ujung bajunya, kertas itu ia bawa kepada Kwee Ceng, yang hidungnya lantas ia asapi.

Hebat kesudahannya ini untuk si anak muda, yang lagi menyalurkan napasnya itu.

Ia lantas merasa napasnya sesak.

Ia menjadi kaget sekali, dengan lantas ia menahan napasnya itu.

Tapi ia cuma bisa menahan sebentar, atau asapnya si empeh masuk pula.

Beberapa kali ia terbatuk-batuk.

Celaka untuknya, di dalam keadaan seperti itu, ia tidak dapat membuka mulutnya.

Empeh Cin tetap bingung.

Melihat asap tidak menolong, ia menekan jintiong, ialah hidungnya si anak muda.

Siapa pingsan karena teriknya panas matahari, kalau ia ditotok di jintiong itu, ia dapat sadar.

Tidak demikian dengan Kwee Ceng.

Ia bahkan jadi semakin seperti disiksa.

Sudah ia tidak dapat membuka mulutnya, ia juga tidak dapat menolak mundur si empeh yang mau menjadi penolong tetapi sebaliknya menjadi seperti mencelakainya.

Sang hujan turun terus, guntur pun masih berbunyi.

Satu kali kilat menyambar, guntur berbunyi keras.

Nyata satu pohon kena ditimpa hingga menyala dan terbakar.

Lam Kim kaget dan ketakutan, tetapi ia tidak berkisar dari tempatnya berdiri, masih ia memayungi tuan penolongnya.

Hanya matanya menjadi tidak karuan, sebab ia melihat kilat, melihat api, dan melihat air hujan juga.

Kapan ia memandang Kwee Ceng, ia mendapati pemuda itu duduk tenang seperti biasa, begitu juga dengan si nona Oey, bahkan nona ini nampak tersenyum manis, romannya sangat cantik.

Empeh Cin berdiri tercengang, ketika ia memandangi cucunya, ia mendapati muka cucunya itu sangat pucat.

Dalam keadaan seperti itu, mendadak kilat berkelebat, cahayanya terang sekali.

lalu sauara geledek, menyusul demikian hebat, sampai saking kagetnya, dua-dua empeh Cin dan Lam Kim roboh karenanya.

Guntur berbunyi di samping Kwee Ceng, tidak heran kalau itu kakek dan cucunya roboh dengan pingsan.

Hanya sehabisnya guntur, segera Kwee Ceng merasakan pernapasannya berjalan dengan baik seperti biasa.

Maka sekarang ia dapat bergerak.

Juga Oey Yong dapat bergerak seperti dia.

Lagi-lagi guntur menggelegar dekat si nona, maka Kwee Ceng lantas mendekam di tubuh si nona, untuk melindungi.

Berselang sekian lama barulah guntur berkurang dan hujan pun mulai berhenti.

Dan setelah lewat pula sekian waktu, maka langit menjadi bersih, si putri malam muncul pula dengan segala kepermaiannya.

Oey Yong merasakan tubuhnya sehat sekali.

Dengan perlahan ia mengangkat tubuhnya.

"Engko Ceng,"

Katanya berbisik.

"Benar-benarkah kau mencintai aku?"

Kwee Ceng merangkul, girangnya bukan buatan, sampai ia tidak bisa membuka mulutnya.

"Lihat itu,"

Kata Oey Yong kemudian, tangannya menunjuk ke pohon yang tadi ditimpa geledek dan terbakar.

Di sana, di antara api, si burung darah, hiat-niauw, lagi bergulingan dan berlompatan, rupanya gembira sekali ia memain api.

"Mari kita tangkap padanya,"

Kata si nona berbisik.

Kwee Ceng mengangguk, ia lantas berbangkit.

Ketika itu ia melihat empeh Cin, yang sadar sendirinya lagi menolongi cucunya, untuk dikasih duduk di kursi.

Oey Yong sendiri bertindak menghampirkan hiat-niauw.

Burung itu telah mempunyai pengalaman, ia tidak berani berkelahi, ia lantas terbang pergi, sia-sia si nona berlompat menubruk padanya.

Karena ini Oey Yong bersiul, memanggil burung rajawalinya.

"Tangkap burung itu tetapi jangan lukai dia!"

Ia memerintah.

Kedua burung rajawali itu mengerti, keduanya lantas menyambar hiat-niauw.

Mereka bertindak dengan memegat jalan terbang orang.

Hiat-niuaw kecil sekali, seluruhnya ia cuma sebesar kepala rajawali, tetapi ia sangat gesit, maka itu ia dapat molos, lantas ia terbang cepat dan jauh, ketika sudah beberapa lie, ia mendapatkan ia masih disusul, lantas ia terbang balik, untuk mencoba melawan.

Hebat perlawanannya itu.

Kalau ia kena dicengkeram atau dipacuk, pastilah ia celaka, tetapi karena gesitnya, ia selalu bisa membebaskan diri.

Bahkan dialah yang beberapa kali berhasil mematuk bulu lawan hingga rontok.

Coba si rajawali bukan berdua, mungkin mereka kalah.

Selagi bertempur terlebih jauh, rajawali yang jantang kena dipatuk lehernya, ia merasakan sakit, saking sengit, ia menyampok dengan sayapnya.

Hiat-niauw berkelit, tapi justru ia kena disampok sayap burung betina, sampai ia roboh.

Tapi ketika ia ditubruk ia sempat berkelit pula, terus ia terbang cepat dan jauh, dari itu, tempo kedua rajawali terus menyusul terus, mereka pergi jauh ke belakang gunung.

Kwee Ceng berpaling kepada Oey Yong, untuk berkata dengan perlahan.

"Yong-jie, kau maju pesat sekali. Guntur berbunyi di sampingmu, kau tidak tahu."

"Kau pun sama!"

Kata si nona tertawa. Kwee Ceng lantas ingat perbuatannya empeh Cin tadi.

"Sungguh berbahaya,"

Katanya dalam hatinya.

"Kalau aktu tidak dapat bertahan, aku mesti menyia-nyiakan tempo lagi tujuh hari dan tujuh malam untuk memulihkan diri. Lantas ia ajar kenal Oey Yong dengan tuan rumah, itu kakek dan cucu.

"Yong-jie, kau melepas api di kantor camat, bukankah?"

Kamudian Kwee Ceng tanya si nona.

"Kalau bukan aku, siapa lagi?"

Si nona membaliki, tertawa. Empeh Cin dan cucunya terkejut. Tidak mereka sangka, nona ini demikian besar nyalinya dan pandai juga. Kemudian Oey Yong melirik Lam Kim, ia bersenyum.

"Engko Ceng,"

Katanya.

"Kau selalu memuji aku, apa kau tidak takut enci ini nanti menertawainya?"

"Oh!"

Katanya Kwee Ceng.

"Kau telah bersembunyi di dalam rimba?"

Kembali Oey Yong tertawa.

"Jikalau kau tidak membilang kau hendak menangkap burung itu untukku, aku lebih suka tanganku bercacad, tidak nanti aku kembali padamu!"

Katanya.

"Kemudian kau menangis! Apakah kau tidak malu?"

Kwee Ceng tunduk, ia menyahut perlahan.

"Aku merasa aku memperlakukan kau tidak bagus, dan aku khawatir sekali untuk selamanya nanti tidak dapat melihat padamu pula…."

Oey Yong mengulur tangannya, untuk membereskan rambut orang.

"Sebenarnya aku berpikir untuk tidak menemui pula padamu tetapi aku tidak dapat,"

Ia berkata.

"Tapi sudahlah, sekarang kita jangan pikirkan hal-hal di belakang hari, untuk kita, dapat satu hari selebih banyak kita berkumpul, itu artinya kita dapat tambah satu hari kegirangan!"

Lam Kim berdiri bengong melihat dan mendengar orang berbicara demikian asyik.

Berempat mereka bagaikan baru sadar ketika kuping mereka mendengar suara burung rajawali di tengah udara, kapan mereka mengangkat kepala, terlihat hiat-niauw masih dikepung-kepung kedua rajawali itu, terbangnya sangat pesat.

Menampak demikian, Oey Yong lantas mendapat akal.

Ia bersiul satu kali.

Atas itu rajawali yang betina terbang turun, untuk menclok di pundaknya.

Maka tinggallah yang jantan, yang mengejar terus-terusan.

Ia menunggu sudah lewat lama juga, ia memanggil burung jantannya seraya melepaskan yang betina guna menggantikan mengejar hiat-niauw itu.

Siasat ini digunakan terus-menerus, maka akhirnya lelah juga burung api itu, yang tak dapat mengaso sama sekali.

Setelah terbangnya menjadi perlahan dan kegesitannya pun berkurang, satu kali ia kena disampok sayap rajawali, lantas ia tidak dapat terbang lebih jauh, maka ia kena disambar, dibawa kepada Oey Yong.

Nona Oey menyambuti burung api itu, ia memegangnya, hatinya sangat girang.

Hiat-niauw sangat letih, dia mengawasi si nona, sinar matanya seperti minta dikasihani.

"Baik-baik kau turut aku, aku tidak bunuh padamu,"

Berkata Oey Yong sambil tertawa. Empeh Cin sangat girang sekali melihat burung itu kena ditangkap.

"Bagus!"

Serunya.

"Nona telah berhasil menangkap burung ini, maka aku dan cucuku bakal dapat makan pula! Nanti aku membuatnya kurungan buat menempati dia."

Lam Kim tahu burung itu suka makan nyali ular, ia mengambil arak nyali ular mengasih burung itu minum, setelah habis setengah peles, hiat-niauw itu lantas pulih kesegarannya.

Ia benar-benar menjadi jinak sekali.

"Aku hendak memelihara dia hingga dia mendengar kata!"

Kata Oey Yong.

"Aku mau mengajari dia bagaimana harus mematuk mata orang!"

Tapi sementara itu, orang letih dan kantuk, maka mereka lantas pergi mengasokan diri.

Lam Kim mengalah mengasihkan pembaringannya untuk Oey Yong, siapa sebaliknya minta empeh Cin lekas membikini ia kurungan untuk burungnya itu.

Besoknya pagi, ketika matahari merah menyorotkan sinarnya masuk ke jendela, Oey Yong mendusin untuk lantas menjadi kaget.

Di meja, kurungannya rusak, tetapi burungnya berdiri diam di meja, ia tidak lari meski orang menghampirkan padanya.

Kaget dan girang, Oey Yong menggapai.

"Mari!"

Ia memanggil. Hiat-niauw terbang, menclok di telapakan tangan si nona.

"Dia takluk padaku, dia takluk padaku!"

Kata Oey Yong kegirangan. Ketika ia melihat kurungan, kurungan itu rusak dan patah. Ia pikir, tentulah itu burung mau membilang.

"Aku merdeka, kalau aku tidak mau pergi, tidak apa, tetapi kalau aku mau, apa artinya kurungan macam begini?"

Sedangkan si nona bergirang, kupingnya lantas mendengar keluhan Kwee Ceng di lain kamar. Ia heran, ia lari menghampirkan.

"Engko Ceng, kenapa?"

Ia menanya. Kwee Ceng menyeringai, tangannya memegangi gambar pemberian dari Oey Yok Su. Nyata karena kehujanan, gambar itu terkena air.

"Ah, benar sayang!"

Si nona mengeluh.

Ia menyambuti gambar itu, yang telah pecah.

Ia merasa, tidak ada jalan untuk dapat memperbaiki itu.

Ketika ia hendak meletakinya di meja, mendadak ia melihat di pinggiran syairnya Han See Tiong ada tambahan beberapa baris huruf halus.

Ia lantas mendekati, untuk melihat terlebih tegas.

Surat itu berlapis, kalau tidak karena basah, tidak nanti dapat terlihat.

Sekarang pun sangat sukar untuk membacanya.

Oey Yong mementang matanya, ia mencoba membaca.

"…..Surat wasiat….Bok…Tiat Ciang…tengah…puncak…….."

Huruf-huruf lainnya lagi tak dapat dibaca. Kwee Ceng juga turut membaca, lantas berkata.

"Inilah diartikan surat Wasiat Gak Bu Bok…."

"Tidak salah,"

Berkata Oey Yong.

"Wanyen Lieh si jahanam menyangka surat wasiat ini berada di dalam peti batu di dalam istana, tetapi meskipun petinya telah didapatkan, surat wasiatnya tidak ada. Sekarang kita mendapatkan gambar ini. Bunyinya kata-kata ini mungkinlah rahasia surat rahasia itu. Tiat Ciang, tengah, puncak…"

Ia lantas memikir keras.

"Tiat Ciang"

Itu ialah "Tangan Besi". Kemudian ia menanya Kwee Ceng.

"Engko Ceng, apakah keenam gurumu pernah menyebut tentang Tiat Ciang Pang?"

"Tiat Ciang Pang?"

Kata Kwee Ceng berpikir.

"Tidak. Aku hanya ketahui si tua bangka she Kiu, si penipu besar itu, dipanggil Tiat Ciang Sui-siang-piauw."

"Tidak, tidak bisa jadi tua bangka celaka itu ada hubungannya dengan ini!"

Berkata Oey Yong, memandang enteng.

"Hanya ada juga kemaren ketika aku membakar kantor camat, di sana aku mendengar si camat she Kiauw berbicara sama siapa, tahu menyebut-nyebut entah bagaimana dengan 'Tiat Ciang Pang kami'. Ia menyebut pula perlu lekas dicari banyak ular untuk dipersembahkan kepa Toa Hiocu. Ketika kemudian aku bertempur dengannya, ternyata ilmu silatnya tidak rendah, dia mengerti juga Tiat-ciang, yaitu Tangan Pasir Besi."

"Anggota dari suatu perkumpulan kaum kangouw menjadi camat, inilah benar aneh!"

Kata Kwee Ceng.

Tiat Ciang Pang itu ialah Partai Tangan Besi.

Lantas keduanya memikir kata-kata di gambar itu, masih mereka tidak dapat menangkap maksudnya, maka Oey Yong lantas membenahkan gambar rusak itu, disimpan di dalam sakunya.

"Biarlah perlahan-lahan kita memikirkannya pula."

Katanya.

Sampai di sini, sepasang muda-mudi ini lantas pamitan dari empeh Cin dan cucunya, dengan menaiki kuda merah mereka, mereka berangkat pergi.

Tuan rumah dan cucunya merasa berat tetapi mereka tidak dapat menahan.

Pada suatu hari tibalah Kwee Ceng dan Oey Yong di dalam wilayah kota Gakciu.

Oey Yong mengingat-ingat hari.

Itulah hari Cit-gwee Capsie -tanggal empatbelas bulan tujuh -jadi besok ialah hari rapatnya Kay Pang, Partai Pengemis.

"Kita tidak mempunyai urusan sekarang, kita pesiar perlahan-lahan saja,"

Katanya Kwee Ceng.

"Baiklah,"

Si nona menyahuti.

Mereka lompat turun dari kuda mereka, dengan berpegangan tangan mereka bertindak, dengan perlahan-lahan.

Mata mereka memandang jauh ke depan di mana tampak hanya air dan sawah-sawah di mana pohon padi sudah tumbuh tinggi dan telah berbuah, maka diduga tahun ini, panen bakal memberi hasil baik.

Kata Oey Yong.

"Dahulu ayah pernah membilangi aku, kalau Ouw Kong matang, seluruh negara cukup, maka itu kelihatannya tahun ini rakyat bakal bebas dari bahaya kelaparan."

Ouw Kong ialah empar propinsi Ouwlam dan Ouwpak serta Kwietang dan Kwiesay, sedang dengan "matang"

Diartikan "masak"

Atau musim panen. Kemudian si nona menunjuk ke sebuah pohon besar di mana seekor tonggeret lagi berbunyi, ia kata pula.

"Binatang itu berbunyi tak hentinya, entah apa yang dia katakan. Suaranya itu membuat aku ingat satu orang…"

"Siapakah dia?"

Kwee Ceng tanya.

"Dialah Kiu Looyacu yang pandai meniup kulit kerbau…"

Sahut si nona tertawa.

"Oh!"

Seru Kwee Ceng.

Ia juga tertawa.

Ketika itu matahari sedang teriknya, petani semua lagi bermandikan peluh tapi mereka bekerja terus mengompa air.

Demikian di bawah sebuah pohon yangliu, seorang nyonya lagi bekerja bersama satu bocah berumur tujuh atau delapan tahun, berat gerakan kaki mereka.

Pakaian mereka telah basah kuyup, sedang muka si bocah merah seluruhnya.

Oey Yong menghentikan tindakannya, ia mengawasi mereka itu, ia merasa kasihan.

Si bocah melihat ada orang yang mengawasi mereka, ia menoleh.

I akgum menyaksikan keelokan si nona.

"Ibu,"

Katanya.

"Lihat, enci itu lagi mengawasi kita!"

Dari suaranya, ternyata ia bergembira meski dia bekerja capai.

Si nyonya menoleh, ia tersenyum dan mengangguk kepada pasangan muda-mudi itu.

Oey Yong merogoh ke dalam sakunya, berniat mengambil sedikit uang utuk mengasih persen kepada bocah itu untuk ia membelikan kembang gula tatkala kupingnya mendengar suara samar-samar dari guruh di kejauhan, lantas saja ia menjadi girang.

Ia kata kepada itu ibu dan anaknya.

"Sudah, tak usah kamu mengompa air lagi, hujan bakal turun!"

Si nyonya memasang kupingnya, mendadak romannya menjadi pucat, suatu tanda dia takut. Si bocah lompat turun dari pompa airnya sambil berkata.

"Ibu, raja kodok mau datang makan kodok hijau lagi!"

Si nyonya mengangguk.

Oey Yong tidak mengerti, ia mau minta keterangan, atau segera ia mendengar riuhnya gembereng yang dipalu breng-breng keras sekali, yang memalunya ialah seorang laki-laki yang mengenakan tudung rumput yang lebar serta tubuhnya tidak memakai baju.

Dia menabuh sambil berlari-lari ke barat.

Belum lama lantas datanglah sambutan gembreng riuh dari segala penjuru, menyusul mana semua orang, pria dan wanita, yang lagi mengompa air, pada lari meninggalkan pompa mereka, semua lari ke arah barat itu.

Oey Yong mendapat si bocah dan ibunya turut lari juga.

"Engko Ceng, mari kita lihat, keramaian apa itu!"

Katanya saking tertarik hatinya.

Kwee Ceng menurut, maka mereka lari menyusul orang banyak itu.

Ketika mereka sudah melewati sebuah tikungan gunung, mereka lantas melihat sawah-sawah yang luas yang penuh air, sedang semua orang tani itu berkumpul di sebuah tanjakan tinggi semacam bukit, dengan roman tegang, mata mereka memandang ke depan.

Di situ memalu seratus lebib gembreng kuningan, hingga suaranya berisik menulikan telinga.

Dengan begitu tak terdengar lagi suara orang bicara.

Di samping bukit kecil itu ada tumbuh sebuah pohon yang besar dan tinggi, Kwee Ceng menarik tangan Oey Yong, diajak ke sana, untuk mereka terus melompat naik ke atasnya, dengan begitu mereka berdua jadi dapat memandang jelas ke arah mana semua mata ditujukan.

Di sana terlihat langit biru seperti luatan, di sana tidak apa-apa yang mencurigakan mereka.

Tapi mereka tetap mengawasi.

Tidak lama kemudian, kuping mereka dapat menangkap samar-samar suatu suara yang keras, yang tidak dapat dilawan berisiknya gembreng.

Mulanya Oey Yong menyangka kepada guruh, hanya sebentar kemudian, ia melihat benda-benda kuning yang membikin ia menjadi heran sekali.

Semua benda itu mendatangi dengan berlompatan.

"Hai, begitu banyak kodok!"

Akhirnya si nona berseru.

Memang di sana terlihat ribuan atau laksaan kodok, yang lagi mendatangi itu, dan suara berisik tadi mirip guruh ialah suara kerak-keroknya mereka!

Begitu melihat sang kodok, berhentilah semua petani memalu gembreng mereka.

Sekarang terlihat tegas air muka mereka yang lesu dan masgul.

Kapan kawanan kodok itu tiba di tepi sawah di depan bukit kecil itu, semua lekas berhenti, berbaris dengan rapi.

Di belakang mereka terlihat beberapa ratus kodok yang besar-besar, yang mengerumuni seekor kodok yang badannya besar istimewa -lebih besar enam atau tujuh lipat dari kodok yang umum.

Itulah dia yang rupanya si bocah sebut sebagai raja kodok.

Dia lantas mengasih dengar suara berkerok satu kali, lantas dia disambut rakyatnya hingga riuh pulalah suara mereka yang mirip guruh itu.

Ketika raja kodok itu berbunyi pula, maka siraplah suara semua rakyatnya.

"Nah, ini pun membikin aku ingat satu orang!"

Berkata Oey Yong. Kali ini Kwee Ceng tidak menanya siapa, ia hanya tertawa dan berkata dengan cepat.

"Auwyang Hong!"

"Jempol!"

Berseru Oey Yong sambil menunjuki jempolnya.

Ia menganggap pemuda itu cerdas dapat menerka dengan jitu.

Kawanan kodok itu menaati titah rajanya.

Setelah tiga kali berbunyi, mereka berdiam pula, hingga suasana di situ menjadi sangat sepi.

Hanya sekarang lantas terdengar gantinya, ialah suara perlahan tetapi terang dari seekor kodok hijau yang kecil, yang berlompat keluar dari belakangnya sebuah batu besar di arah timur.

Kapan orang-orang tani ini melihat kodok hijau itu, dengan serentak gembreng mereka dipalu pula, sambil memalu, mereka berseru-seru keras sekali.

Mereka bersorai-sorai, tanda dari kegirangan.

Terang mereka membantu menggembirakan atau menganjurkan kodok kecil itu.

Kwee Ceng dan Oey Yong heran.

Tak tahu mereka apa akan dilakukan si kodok hijau yang kecil itu.

Selagi mereka mengawasi dengan perhatian, kuping mereka mendengar tindakan kaki yang berisik, ketika mereka berpaling, terlihat dari empat penjuru datang pula beberapa ratus petani.

Mata si nona sangat jeli, ia mendapatkan di dalam rombongan itu ada sejumlah orang yang pakaiannya berneda.

Ia lantas menarik tangan baju Kwee Ceng seraya mulutnya dimonyongi ke arah orang-orang itu, yang jumlahnya empat atau limapuluh orang.

Mereka itu mengenakan baju hitam dan tangan mereka memegangi korang bambu yang besar.

Terang sekali mereka pun menyembunyikan alat senjata.

Dilihat dari romannya, yang bengis, mestinya mereka bukan sembarang petani.

Di tepi bukit, mereka itu berkumpul menjadi satu, terpisah beberapa puluh tombak dari petani lainnya.

Kodok hijau yang kecil itu berlompatan hingga terpisah lagi tiga kaki dari tepian sawah, di situ ia berhenti, lalu berbunyi beberapa kali.

Dari dalam rombongan kodok yang berjumlah besar sekali itu muncul seekor kodok kuning yang besar, ia meloncati galangan, sampai di depan si kodok hijau.

Di situ ia mementang mulutnya dan bersuara, suaranya keras bagaikan suara kerbau.

Si kodk kecil tak takut, ia juga membuka suaranya, maka terjadilah mereka saling sahut, makin lama makin cepat.

Dari situ, kelihatan si kodok kecil bernapas lurus dan rapi.

Si kodok besar agaknya kesusu, rupanya ia ingin lekas-lekas menang.

Sesaat berselang, suara kodok besar itu menjadi serak, dan perutnya yang putih pun kembung makin besar, setelah itu, suaranya berubah menjadi dalam, sedang kedua matanya seperti mencelos keluar, perutnya itu menjadi bundar bagaikan bola.

Mendadak saja, perut kembung itu meledak, nyaring suaranya, lalu ia rebah binasa.

Petani semua bersorak riuh.

Beda ada rombongan orang baju hitam itu, kelihatannya mereka gusar.

Maka sekarang terlihat tegas, petani berpihak pada kodok hijau, mereka ini kepada kodok yang banyak itu.

Kodk hijau itu menang, dia bersuara tiga kali, lantas dia memutar tubuhnya, rupanya dia mau pergi, atau mendadak terlihat enam kodok besar berlompat maju, untuk mengejar.

"Tidak tahu malu!"

Membentak pihak orang petani banyak.

"Tidak punya guna! Apa ini? Malu! Baik mati saja!"

Enam kodok besar itu berpecha menjadi dua, sikapnya mengurung.

Si kodok kecil berlompat, untuk menyingkir.

Dia lantas dikejar.

Kira tiga tombak, maka di sebelah belakang enam kodok itu terdengar suaranya kodok lainnya.

Lantas mereka berhenti mengejar, berniat kembali, tetapi mereka terlambat.

Mereka segera dipegat kira-kira tigapuluh kodok hijau yang besar yang muncul dari gili-gili.

Kali ini kedua pihak tidak lagi mengadu suara, hanya mereka lantas saling terjang, saling menggigit.

Karena kalah jumlah, enam kodok besar itu lantas saja mati.

Banyak kawannya, tetapi tidak ada yang maju menolongi.

Oey Yong menjadi heran, ia berpaling kelilingan.

Ketika matanya terarahkan ke pinggir sawah di mana ada sebuah kali kecil, maka di situ ia melihat segala apa hijau, sebab di situ pun ada berkumpul ribuan atau laksaan kodok hijau, hanya mereka ini semua tidak bergerak.

Mungkin ini yang menyebabkan kodok besar itu tidak berani sembarangan melintasi tapal batas.

Si raja kodok berbunyi kerok dua kali, maka seratus di pihaknya lantas maju melintasi batas.

Mereka lantas disambut sebarisan kodok hijau yang muncul dari tempatnya mendekam.

Maka bertempurlah mereka.

Belum lama, kodok besar itu lari ke arah selatan.

Kodok hijau mengubar setombak lebih, lantas berhenti.

Melihat demikian, kodok besar berbalik akan menyerang pula.

Benar saja, di selatan itu, di mana ada batu besar, terlihat munculnya barisan tersembunyi kodok besar itu dan mereka lantas maju, membantui kawannya.

Karena ini, dari tepi kali pun datang bantuan kodok hijau.

Kedua pihak lantas bertempur dengan berisik.

Dalam tempo dekat, puluhan ekor kodok roboh sebagai bangkai.

Kerugian terdapat dikedua pihak.

Mereka yang terluka merayap ke pinggiran, lalu ada yang kawannya yang menolongi mengajak kembali ke dalam barisannya.

Kelihatan si raja kodok tidak puas melihat belum ada keputusan, ia berbunyi lagi dua kali.

Kali ini lantas ada satu pasukan besar yang menyebrang, buat membantui.

Sekarang kodok hijau, yang tak sempat mundur, terancam terkurung.

Mereka mengatur barisan bundar, ekor ke dalam, mulut keluar.

Dengan begitu, mereka tidak takut nanti diserang dari belakang.

Kodok besar berjumlah besar tetapi mereka tidak dapat menyerbu semua.

Sejumlah petani berteriak-teriak mengajuri kodok hijau mengirim bala bantuan, anjuran itu tak ada hasilnya.

Nampaknya kodok hijau bersikap tenang.

Dari barisan kodok besar itu ada beberapa yang berlompat, hendak maju, tetapi saban kali ada satu yang menerjang, segera dia dipapaki diterjang satu kodok hijau, hingga keduanya sama-sama jatuh.

Dengan begitu, kodok besar tidak dapat menerjang ke dalam barisan lawan.

"Celaka!"

Mendadak Oey Yong berseru.

Ia melihat di empat penjuru kurungan kodok besar itu, sejumlah kodok besar itu mendekam, kawannya naik ke atasnya dan mendekam pula, hingga mereka merupakan gundukan tinggi tiga kaki, kemudian di paling atas, sejumlah kodok berlompat ke arah kodok hijau.

Hebat serangan itu.

Kodok hijau jadi terbokong, banyak yang mati.

"Sayang…"

Kata Oey Yong.

"Lihat!"

Terdengar suara Kwee Ceng yang tangannya terus menunjuk.

Di arah timur laut sejumlah kodok besar hijau bergerak, menuju ke belakang kodok besar, untuk menyerang dari belakang.

Raja kodok mendapat tahu bokongan musuh, dia mengirim barisannya, untuk memegat.

tapi kodok hijau itu tidak menghiraukan, di sebelah yang bertempur, yang lain maju terus ke belakang pasukan musuh.

Kodok besar jadi kacau tetapi mereka tetap berkelahi.

Raja kodok melihat barisannya tak dapat maju, ia berbunyi nyaring sekali, lantas ia sendiri maju, untuk memegang pimpinan penyerbuan.

Ia mengepalai barisannya sendiri, yang semua besar-besar dan romannya bengis.

Kodok besar ini bisa dengan sekali menggigit, menggigit mampus musuhnya.

Sebentar saja seekor kodok besar itu bisa mematikan belasan musuhnya.

Karena ini, kodok hijau terpaksa berkelahi sambil mundur.

Kawanan kodok besar itu maju merangsak.

Raja kodok berlompat, sekali lompat jauhnya setengah tombak, tapi segara ia dikepung kodok hijau.

Tapi hanya sejenak, dia lantas dibantui barisannya.

Karena bergesernya tempat bertempur, orang pun menggeser, untuk melihatnya lebih tegas.

Oey Yong dan Kwee Ceng lompat turun, mereka nelusup di antara orang-orang tani itu.

Kelihatan semua orang tani berduka, mereka pada menghela napas.

Oey Yong heran, ia ingin mengetahui duduknya hal, maka ia tanya seorang tua, kenapa kedua macam kodok itu saling bertempur.

Sebelum menjawab, orang itu mengawasi dulu hingga ia mengenali orang adalah asing untuk desanya itu.

"Katak itu ada yang piara,"

Ia menerangkan.

"Dan dipelihara istimewa untuk menangkap kodok hijau."

Oey Yong heran.

"Ah!"

Suaranya tertahan.

"Kami orang tani, kami mengharapkan bantuannya kodok-kodok hijau itu untuk merawat tanaman padi kami,"

Orang itu berkata pula.

"Sekarang nampaknya kodok hijau bakal kalah, maka di tempat sekitar sini, luasnya beberapa puluh lie, panen kami tahun ini bakal gagal….."

"Kalau begitu, nanti aku bantu kamu,"

Kata Oey Yong.

"Nanti aku hajar semua kodok itu."

Ia merogoh ke sakunya, meraup jarumnya.

"Jangan, nona,"

Berkata si orang tua perlahan, tanganya menarik ujung baju orang.

"Telah aku bilang, katak itu ada yang pelihara."

Ia menunjuk kepada rombongan orang pakaian hitam yang bengis-bengis itu.

"Merekalah si pemelihara katak itu. Kalau kau ganggu katak mereka, buntutnya bakal hebat sekali. Nona cantik bagaikan bunga, maka menurut aku, baiklah nona jangan berdiam lama-lama di sini, baik kau lekas pergi!"

Oey Yong tersenyum.

"Jumlah kita banyak, takut apa?"

Kwee Ceng pun berkata. Orang tua itu menghela napas.

"Karena urusan kodok itu, tahun lalu kita pernah bertempur sampai banyak yang terluka,"

Katanya.

"Perkara telah jatuh ke tangan pembesar negeri. Kesudahannya camat memutuskan, untuk selanjutnya biarlah katak bertempur sama katak, di antara binatang, kita dilarang campur tahu, siapa berani melanggar putusan itu, dia bakal di hukum berat."

"Ah, pembesar anjing!"

Mendamprat Kwee Ceng.

"Bukankah itu terang-terang membantu kawanan manusia jahat itu?"

"Memang. Tapi camat dan mereka adalah sekawan. Camat cuma tahu menangkap kodok hijau untuk dipakai memelihara ular, dia tidak menggubris rakyat mati atau hidup!"

Mendengar itu keterangan hal menangkap kodok untuk memelihara ular, Kwee Ceng dan Oey Yong heran betul.

Ketika mereka mau menanya lagi, justru kaum petani itu lagi berseru-seru girang.

Nyata pertarungan katak itu membawa perubahan.

Kawanan katak besar mengumpul diri di empang besar, mereka terdesak.

Sejumlah kodok hijau terjun ke air, mereka berenang ke belakang musuh, membantu menyerang dari samping dan belakang.

Katak hijau itu pandai sekali berenang.

Sedang katak besar itu tidak pandai memain di permukaan air.

Mereka berdesakan, tak dapat mereka bergerak dengan merdeka, banyak yang kecebur ke empang.

Di dalam air, mereka tidak bisa bertempur dengan hebat seperti di darat.

Maka mereka jatuh di bawah angin, banyak yang mati, bangkainya mengambang dengan perut putihnya di atas.

Barisan kodok besar itu menjadi kalut.

Rajanya, bersama barisan pengawalnya, menerjang kalang kabutan tanpa ada hasilnya.

Maka orang-orang tani itu pada bersorak, ada yang berseru.

"Panen kita tahun ini ketolongan!"

Kwee Ceng dan Oey Yong mengawasi semua sambil memperhatikan rombongan orang baju hitam itu.

Muka mereka menyatakan kegusaran mereka.

Tiba-tiba di antara mereka ada yang berseru, lalu belasan di antaranya membuka tutupnya korang mereka.

Bab 56.

Kejadian di lauwteng Gak Yang Lauw Begitu lekas korang-korang dibuka tutupnya, maka keluarlah ratusan ekor ular berbisa kecil dan besar, semua merayap ke medan pertempuran katak itu, maka di dalam tempo yang pendek, mereka telah dapat menelan banyak kodok hijau.

Kodok hijau itu memanglah makanan mereka.

Lantas kodok itu pada lari atau merengkat saking takutnya.

Kawanan petani menjadi kaget dan gusar, mereka mengasih dengar suara berisik.

Seorang, yang tubuhnya tinggi besar di antara orang-orang berpakaian hitam itu, maju ke depan orang-orang tani, dia mengasih dengar suara bentakannya.

"Camat telah memaklumkan, katak berkelahi di antara bangsannya adalah adat kebiasaannya, maka itu, selagi mereka tidak membikin hubungannya sama kita manusia, perlu apa kamu membikin banyak berisik?!"

Orang-orang tani itu berteriak-teriak.

"Kodok besar itu serta ular berbisa ini adalah kamu yang pelihara! Kodok hijau mana bisa melawan ular! Tidak tahu malu! Kami melarat tahun ketemu tahun, panen kami bakal gagal, daripada kami mati kelaparan, mari semua mengadu jiwa!"

Orang tinggi besar itu mengangkat tangan kanannya, maka di situ terlihat goloknya yang berkeredepan.

Dia lantas diturut kawan-kawannya, yang semua pada mengeluarkan senjatanya masing-masing.

Dengan berbaris rapi, mereka maju mendekati.

"Kamu mau apa?"

Tanya si orang tinggi besar pada kaum tani itu.

"Apakah kamu tidak mau dengar perintah camat? Apakah kamu mau berontak?!"

Orang banyak itu pada mencaci, ada juga yang menimpuk dengan lumpur dan batu.

Orang tinggi besar itu mengibasi tangannya, lantas di antara mereka muncul dua orang yang dandan sebagai hamba polisi, yang satu memegang golok, yang lainnya membawa rantai borgolan.

Mereka ini lantas memaklumkan, siapa yang cari gara-gara dan berkelahi, dia akan dihukum sebagai pemberontak!

Orang-orang tani itu berdiam, mereka saling mengawasi.

Beberapa diantaranya kata.

"Mereka inilah masing-masing kepala polisi berkuda dan berjalan kaki."

Oleh karena pihak sana dapat bantuan pembesar negeri, maka celakalah kawanan kodok hijau itu, oleh katak besar dan ular mereka digiring masuk ke dalam korang.

"Yong-jie, apakah kita turun tangan sekarang?"

Kwee Ceng berbisik.

"Coba tunggu sebentar lagi,"

Menyahut sang nona.

Ketika itu tujuh atau delapan bocah maju sambil berteriak-teriak, mereka menggunai batu menimpuki rombangan ular itu, hingga ada beberapa ular yang lantas mati.

Orang-orang berpakaian hitam itu menjadi murka, beberapa diantaranya maju untuk menyerang nocah-bocah itu.

Satu bocah kena dirobohkan, yang lainnya lari kabur.

Bocah yang roboh itu kena dicekuk.

"Bagus, ya, kau berani membikin mati ular yang kita rawat susah payah!"

Katanya bengis.

"Kau mesti dikasih rasa!"

Seorang tani wanita lantas lari menghampirkan.

"Tolong tuan, tolong,"

Ia memohon.

"Tolong lepaskan anakku ini…"

Kwee Ceng dan Oey Yong mengenali, itulah ibu dan anak yang mereka ajak bicara.

Sambil dengan tangannya yang satu memegangi terus si bocah, dengan tangan yang lain laki-laki itu menyambar lehernya si nyonya, terus ia melemparnya balik hingga tubuh si nyonya itu terpelanting ke dalam rombongannya, di mana dia menimpa dua orang hingga mereka roboh bersama.

Lantas laki-laki bengis itu mengibasi tangannya, atas mana kawan-kawannya maju dengan senjata siap sedia.

Kawanan orang tani itu mundur.

Mereka kebanyakan ada orang tua dan wanita.

Mereka lebii takut lagi ketika orang mengayun goloknya untuk membacok, lekas-lekas mereka mundur pula.

Nyata itulah ancaman belaka.

Adalah si bocah yang tertangkap yang malang.

Dia digaplok, bajunya disobek, setiap kali digaplok, setiap kali disobek, hingga itu terulang belasan kali, hingga dia menjadi bengkak matang biru mukanya dan tubuhnya pun telanjang.

Ibunya menangis menjerit-jerit.

Lupa segala apa, nyonya itu merangsak maju untuk menolongi anaknya.

Segera dia dipegangi dua orangn laki-laki.

Laki-laki kejam tadi mengsaih dengar siulan nyaring, atas itu beberapa ratus ular berbisa itu mengangkat kepalanya dan mengulur lidahnya, semua mengawasi tubuh telanjang bulat dari si bocah.

Maka kagetlah semua orang tani, pucat muka mereka.

Si bocah juga ketakutan bukan main, matanya mendelong mengawasi ibunya.

"Ibu…!"

Kemudian ia menjerit.

"Bangsat cilik, kalau kau bisa, kau larilah!"

Kata si laki-laki bengis.

Ia menampar, maka robohlah si bocah.

Bocah itu lari kepada ibunya.

Tapi di sini dia dipapaki sabetan golok beberapa orang, maka ia lari balik ke tempat kosong.

Si laki-laki bengis, yang rupanya menjadi kepala, bersiul pula, maka sekarang semua ular tadi, yang sudah sipa, lantas lari mengubar bocah itu.

Bukan main kaget dan takutnya si bocah ketika ia menoleh karena mendengar suara sa-sus riuh dari kawanan ular itu, yang semua mementang mulutnya, mengsaih lihat ancaman lidahnya yang bergerak-gerak, dalam takutnya ia lari sekeras-kerasnya.

Tapi kawanan ular dapat lari lebih keras, ia lantas hampir kena disusul.

"Anakku!"

Menjerit si nyonya, yang lantas pingsan dan roboh.

Kawanan tani itu menjadi kaget dan gusar, mereka mau maju menyerang ular, tetapi mereka dihalang-halangi kawanan orang yang berpakaian hitam itu, yang membolang-balingkan goloknya dihadapan mereka.

Menampak kejadian itu, Oey Yong sudah lantas bersiap dengan seraup jarumnya, hendak ia segera menyerang.

Sekonyang-konyang bocah itu tersandung, tubuhnya terjatuh, maka itu ia lantas kena dicandak.

Oey Yong kaget hingga ia berseru, tubuhnya berlompat.

Tepat ia hendak mengayun tangannya atau dari antara rombongan orang tani terlihat dua orang melompat maju menghalang di depan si bocah, tangan mereka diayunkan, menerbangkan empat bungkusan bubuk warna kuning, yang terus menggaris di tanah, sedang hidung orang lantas membaui bau belerang.

Segera setelah itu, semua ular pada mundur sendirinya.

Kapan Oey Yong mengangkat kepalanya, ia mengenali dua orang itu, ialah Lee Seng dan Ie Tiauw Hin dari Kay Pang, Partai Pengemis, yang pernah ditemui di Poo-eng.

Melihat merintangnya dua orang itu, laki-laki baju hitam itu lantas berkata.

"Kami dari Tiat Ciang Pang dengan pihak Kay Pang adalah seumpama air kali tidak bertemu air sumur, oleh karena itu kenapa tuan-tuan sekarang memaksa maju sendiri membelai lain orang?"

Lee Seng memberi hormat.

"Bocah ini belum tahu apa-apa, maka itu aku si pengemis tua memohon muka, sudilah dia diberi ampun,"

Sahutnya. Si hitam itu melihat Lee Seng menggondol delapan kantung goni, ia tahu orang ada dari angkatan tinggi, tetapi ia tertawa dingin dan lantas menanya.

"Jikalau kau tidak memberi ampun, habis tuan mau bikin apa?"

Ie Tiauw Hin masih muda, ia tidak sabaran. Dia berseru.

"Kamu berbuat jahat dan kejam, kami telah mempergokinya, mana pula kami tidak campur tahu?!"

Si hitam tertawa menghina pula. Dia kata.

"Aku mendengar kabar kamu kaum Kay Pang, besok kamu bakal mengadakan rapat besar di Gak Yang Lauw, di mana akan hadir semua pemimpin dari partaimu dari pelbagai penjuru, apakah kau pengemis cilik mau menghina orang dengan mengandali jumlahmu yang banyak? Hm! Aku khawatir tidak gampang-gampang kamu dapat berbuat demikian! Kamu katanya www.kangzusi.com kaum yang pandai menangkap ular, coba aku lihat, apa kamu pandai menangkap ular kami ini?"

Ie Tiauw Hin panas hatinya.

Ia lantas berlompat maju, kedua tangannya menyambar masing-masing seekor ular.

Ia memegang ekor ular, segera digentak kaget.

Tulang ular bersambung bagaikan rantai, karena dihentak kaget, tulang-tulang itu jadi seperti terlepas, maka itu, meski tidak segera mati, kedua ular itu lantas tidak mampu menggeraki tubuh mereka.

Itulah ilmu kepandaian menangkap ular dari bangsa pengemis.

Si hitam menjadi murka luar biasa, lantas ia bersiul keras, maka itu ribuan ularnya lantas melesat maju, untuk menerjang.

Ie Tiauw Hin boleh pandai menangkap ular tetapi menghadapi ular demikian banyak, ia kewalahan, maka itu, ia lompat ke garisan bubuk belerangnya.

Lee Seng lantas berteriak, menanya she dan nama besar si hitam.

Dia ini sendiri tidak menyahutinya, dia cuma tertawa dingin.

Setelah ia melihat ularnya tidak berani maju, lagi sekali ia bersiul.

Kali ini terjadilah pemandangan yang luar biasa.

Seekor ular menggigit ekor kawannya, kawan digigit pula ekornya oleh kawannya yang lain, demikian seterusnya, hingga mereka merupakan beberapa puluh potong rantai yang panjang, habis itu, ketika si hitam berteriak, mereka berlompat ke arah kedua pengemis itu, yang mereka terus kurung, hingga si bocah terkurung bersama.

"Pengemis busuk, tangkaplah ular itu!"

Kata si hitam menantang.

"Kenapa kau diam saja?!"

Semua ular itu dongak mengawasi, siap untuk menerjang. Muka Lee Seng dan Tiauw Hin pucat. Mereka rupanya menginsyafi ancaman bahaya. Si hitam lantas berkata dengan jumawa.

"Kami kaum Tiat Ciang Pang tidak suka mencelakai orang tanpa sebab, maka itu asal kamu berjanji untuk selama-lamanya tidak akan menangkap ular kami pula, asal kamu memberikan buktinya -hm! Kami tentu suka memberi ampun!"

Lee Seng tahu bukti apa yang diminta Tiat Ciang Pang.

Ialah mereka harus merusak tangan mereka sendiri.

Tentu sekali, mereka tidak suka menyerah, tidak peduli keadaan ada sangat berbahaya.

Mereka berdiri tegak dan gagah.

Si hitam mementang kedua tangannya.

Ia kata.

"Asal aku merangkap kedua tanganku ini maka di tubuh kamu masing-masing bakal tambah beberapa ratus gigi yang beracun! Apa kamu masih tidak mau bertekuk lutut untuk memohon ampun?"

"Susiok, jangan kita mendatangkan malu!"

Kata Tiauw Hin. Lee Seng tertawa.

"Untuk apa mengatakan itu pula?"

Sahutnya. Ia lantas perkeras suaranya, berbicara kepada orang Tiat Ciang Pang itu.

"Terima kasih banyak saudara hendak mengantar kami pulang ke Langit Barat, hanya aku masih belum mengetahui nama saudara yang besar!"

"Benarlah kamu, sampai mati kamu tidak mau memeramkan mata!"

Kata si hitam itu.

"Aku murid ketiga dari Kiu Tiat Ciang, yang orang menyebutnya Hian-pwee-bong Kiauw Thay si Ular Naga Abu-abu!"

Belum berhenti suara jumawa si hitam ini, lantas terdengar suara tertawa halus nyaring disusuli ini kata-kata terang halus.

"Aha! Aku mengira siapa, tak tahunya segala murid dan cucu muridnya si tua bangka she Kiu!"

Suara itu segera disusul oleh orangnya, maka semua orang melihat seorang nona cantik manis yang rambutnya dijepit dengan gelang emas.

Dialah Oey Yong kita.

Maka heranlah Kiauw Thay.

Oey Yong tidak menanti orang sadar dari herannya, ia kata pula.

"Tiat Ciang Sui-siang-piauw she Kiu yang tua itu memanggil aku kouw-nay-nay, maka itu kenapa kau tidak segera memanggil aku couw kouw-nay-nay?"

Dia minta dirinya dipanggil bibi dan bibi tua.

"Hai, bocah kau ngaco belo!"

Membentak si hitam. Di dalam hatinya, tapinya ia heran sekali kenapa bocah ini mengetahui nama besar gurunya. Oey Yong tertawa dan berkata pula.

"Anak-anak menerbitkan onar di luaran, inilah aku kouw-nay-nay kamu paling tidak senang melihatnya! Bukankah kamu pun ada kawannya itu anak yang memangku pangkat camat di Bu-leng? Beberapa hari yang lalu, sambil lewat di mana, kouw-nay-nay telah membereskan dia! Nah, apa katamu?"

Camat she Kiauw di Bu-leng itu memang ada saudaranya Kiauw Thay ini, dia menerima kabar halnya kantor camat dibakar dan camatnya mati baru tadi pagi, maka itu ia lantas melirik si nona dengan hati sangat panas.

Dia berduka berbareng gusar tetapi dia bersangsi apa nona ini benar membunuh saudaranya itu yang ia tahu gagah.

Ia lantas memberi tanda, maka ratusan ularnya mengurung si nona.

"Siapakah yang membinasakan camat Bu-leng?"

Kiauw Thay membentak.

"Lekas bilang!"

Oey Yong tertawa manis.

"Dengan sebenarnya akulah yang membinasakan dia!"

Dia menyahuti, berani.

"Dia melawan aku dengan menggunai Tok see-ciang, tangan beracunnya itu! Siapakah tidak mengenalnya jurusnya, seperti jurus 'Jarum tawan' dan 'Mengangkat obor membakar langit'"

Ketika aku menotok jalan darahnya, jalan darah kiok-tie-hiat, pecahlah kepandaiannya itu, maka setelah aku menotok pula kedua jalan darahnya, kie-bun dan kin-ceng, aku menyuruh dia duduk di kursinya, duduk tak bergeming lagi, mirip lagaknya diwaktu hari-hari biasa dia dengan bengis memeriksa rakyat negeri.

Kemudian ketika aku membakar gedung camat dan kantornya sampai ludas menjadi abu, entah kena, dia tetap tidak keluar lagi dari kantornya itu!"

Kiauw Thay tetap heran.

Kenapa orang begitu berani bicara seperti lagi mendongeng saja, demikian tenang, lancar dan rapi?

Meski dia masih bersangsi, dia toh memikir untuk membekuknya, guna mendengar keterangan orang terlebih jauh.

Maka ia lantas berseru.

"Loo Sam, Loo Su, bekuklah budak ini!"

Dua orang lantas maju, dengan goloknya mereka menyingkirkan ular-ular yang mengurung itu, setelah datang dekat dengan empat tangan, mereka menjambret pundaknya si nona.

Oey Yong tertawa melihat lagak orang.

"Loo Sam, Loo Su, kau rebahlah!"

Ia kata.

Sebat luar biasa, ia mendak, lalu tubuhnya melesat ke belakang orang.

Belum dua orang itu tahu apa-apa, punggung mereka sudah dicekal, lalu dtitolak keras satu sama lain, maka di antara suara beradu keras, kepala mereka bentrok hingga tubuh mereka terhuyung, lalu roboh di tanah!

Orang-orang tani itu sebenarnya lagi ketakutan akan tetapi menyaksikan robohnya dua jago itu, mereka heran dan kagum hingga mereka tertawa.

Kiauw Thay murka bukan main, ia lantas mengangkat tangan kanannya dan memasuki dua jerijinya ke dalam mulutnya.

Ia hendak bersuit, guna mengasih perintah kepada ularnya untuk menyerbu.

Atau dia didahuli dengan suara kuk-kuk-kuk tiga kali, lalu di tangannya Oey Yong terlihat seekor burung merah, sebab burung apinya itu ia telah masuki ke dalam tangan bajunya.

Dengan mengasih dengar suaranya, burung api itu pun lantas mengasih keluar bau harumnya, yang segera seperti memenuhi ladang itu, kapan semua ular dapat mencium bau itu, semuanya menjadi bergerak dengan kacau, akan akhirnya pada rebah diam saja, sejumlah di antaranya lantas terlentang, mengasihkan perutnya untuknya untuk di patuk!

Hiat-niauw pun tidak sungkan-sungkan, dia berlompat maju, dia mematuk setiap perut, hingga sebentar saja dia sudah makan nyalinya tujuh ekor ular.

Dia sudah kenyang tetapi dia masih mematuki perut ular lainnya!

Kiauw Thay kaget dan gusar, habislah sabarnya.

Ia mengeluarkan tiga batang kong-piauw, dua batang ia timpuki kepada burung api itu dan satunya kepada si nona!

Oey Yong memakai baju lapisnya, ia tidak memperdulikan datangnya senjata rahasia itu ke tubuhnya, sedang hiat-niauw, melihat datangnya serangan itu, berlompat untuk menyampok hingga kedua kong-paiuw jatuh di tanah, kemudian ia terbang gesit menyampok jatuh piauw yang mengarah si nona.

Bukan main girangnya Oey Yong mendapatkan burungnya itu mengerti dan dapat membela majikan.

Ia lantas menuding si hitam itu serta kawan-kawannya, ia berkata.

"Mereka itu orang-orang jahat, patuklah biji mata mereka!"

Burung api itu terbang meleset, tubuhnya yang merah berkelebat mirip api, atau segera satu orang menjerit kesakitan, lantas diturut oleh beberapa orang yang lain.

Sebab seperti tanpa merasa lagi, mata mereka telah kena dipatuk burung itu!

Saking takutnya, semua orang itu lari serabutan, sedang yang matanya terpatuk pada menjatuhkan diri, untuk merayap atau bergulingan, guna melarikan diri.

Hingga dilain saat, habislah mereka, tinggal kodok dan ular mereka, maka kedua binatang itu lantas diserbu ramai-ramai oleh kawanan orang tani itu.

Ketika kemudian mereka hendak menghanturkan terima kasih kepada Oey Yong dan Kwee Ceng, muda-mudi itu dengan tidak banyak omong telah pergi jauh.

Juga Lee Seng dan Ie Tiauw Hin hendak menemui sepasang anak muda itu tetapi mereka telah ditinggal kabur kuda merah yang larinya pesat.

Oey Yong girang bukan main atas kesudahannya perbuatannya itu, maka itu malam, selagi singgah, ia menyalakan api, ia membiarkan hiat-niauw mandi dengan gembira.

Besoknya pagi, tibalah mereka di Gakciu.

Mereka berjalan kaki, kuda mereka dituntun.

Langsung mereka menuju ke lauwteng Gak Yang Lauw.

Mereka memandangi keindahan telaga Tong Teng Ouw di tepi mana lauwteng itu dibnagun.

Luas tenaga itu, jernih airnya.

Di sekitarnya adalah rentetan gunung, keindahan dan keangkeran telaga itu beda lagi dengan keindahan dan keangkeran telaga See Ouw.

Masakan Ouwlam kurang cocok bagi lidah mereka, sudah rasanya pedas, juga mangkoknya lebih besar dan sumpitnya lebih panjan..

Di empat penjuru tembok mereka melihat banyak tulisan orang-orang pandai, yang pernah naik di lauwteng ini untuk bersantap atau minum.

Di antaranya ada syairnya Hoan Tiong Am tentang kedukaan dan kegirangan, yang datangnya duluan dan belakangan.

Mereka lantas membicarakan Hoan Tiong Am itu, yang pintar dan gagah, yang pernah menjagoi di See Hee, tetapi semasa kecilnya dia miskin, ayahnya mati muda, hingga ibunya menikah lagi pula, hidupnya sengsara, maka setelah hidup berpangkat dan berbahagia, dia tetap memperhatikan nasib rakyat jelata.

Itu pula sebabnya mengapa ia menulis syairnya itu lebih dulu menderita, lalu bergembira.

"Demikian juga dengan bangsa orang gagah!"

Kata Kwee Ceng kemudian seraya menenggak araknya.

"Dia memang orang baik,"

Kata Oey Yong tertawa.

"Cumalah di dalam dunia ini, kedukaan lebih banyak, daripada kegembiraan. Aku tidak mau hidup seperti dia!"

Kwee Ceng tersenyum, dia diam saja.

"Engko Ceng, aku tidak pedulikan kedukaan atau kesenangan itu!"

Kata si nona kemudian.

"Hanya kalau kau tidak gembira, hatiku pun tidak senang…"

Kata-kata ini dikeluarkan perlahan, alisnya pun mengkerut.

Kwee Ceng ingat nona itu tentulah mengingat hubungan di antara mereka, maka dia pun masgul, dia tidak dapat menghibur, dia tunduk dan berdiam saja.

Tiba-tiba si nona mengangkat kepalanya dan tertawa.

"Sudahlah, engko Ceng!"

Katanya.

"Eh, ya, tahukah kau syair Hoan Tiong Am yang berjudul 'Mencukil lampu perak'?"

"Aku tidak tahu. Cobalah kau membacakannya untuk aku dengar?"

Oey Yong membacakan bagian bawah syair itu.

"Orang hidup tidak seratus tahun, maka jangan tolol, kalau tua, lantas layu. Hanya di bagian usia pertengahan, itu sedikit tahun, harus dapat menahan hati. Kedudukan tinggi, banyak uang dan rambut putih, bagaimana itu dapat dihalaunya?"

"Kalau begitu,"

Kata Kwee Ceng nyaring.

"Itulah nasehatnya supaya orang jangan menyia-nyiakan waktu, jangan cuma mengejar nama besar, kenaikan pangkat dan harta!"

Oey Yong pun berkata pula, perlahan.

"Arak masuk ke dalam usus berduka, berubah menjadi air mata kenangan…."

"Apakah itu pun syair Hoan Tiong Am?"

Tanya Kwee Ceng, mengawasi si nona.

"Ya. Orang besar dan orang gagah bukannya tidak mempunyai perasaan,"

Kata si nona, yang terus tertawa. Ia menanya.

"Engko Ceng, bagaimana kau lihat caranya aku menghadapi murid-murid jahat dari Tiat Ciang Pang itu? Tidakkah itu memuaskan?"

"Memang!"

Jawab Kwee Ceng bertepuk tangan.

Demikian mereka bersantap, minum dan bicara dengan asyik dan merdeka, seperti di situ tidak ada lainnya orang lagi.

Kemudian Oey Yong menyapu kelilingnya.

Ia melihat di arah timur ada tiga orang tua dengan dandanan sebagai pengemis, bajunya banyak tambalannya tetapi berseih.

Tentulah mereka orang penting dari Kay Pang, yang hendak menghadari rapat besar kaumnya.

Yang lainnya ialah orang dagang atau orang biasa saja.

"Sebenarnya Tiat Ciang Pang itu kumpulan apa?"

Kemudian kata si nona perlahan.

"Kenapa mereka itu sama dengan See Tok paman dan keponakan, mereka memelihara ular?"

"Entahlah,"

Sahut Kwee Ceng.

"Kalau mereka semua sama dengan Kiu Cian Jin si tua bangka, mereka tentu tidak bisa membangun apa-apa yang besar…"

Kata-kata itu belum habis dikeluarkan ketika si atasan kepala mereka terdengar suara orang tertawa terbahak sambil berkata dengan suara angker.

"Sungguh mulut besar! Sampai pun 'Tiat Ciang Sui-siang-piauw, si orang she Kiu tua', tidak dilihat mata!"

Oey Yong terkejut, ia lompat mundur beberapa tindak, baru dia dongak.

Di atas penglari ada duduk nagkring seorang pengemis tua yang kulitnya hitam legam, bajunya sangat butut, tetapi dia mengaawasi dengan tertawa haha-hihi.

Kwee Ceng telah menduga kepada orang Tiat Ciang Pang, setelah melihat ia berhadapan sama pengemis, hatinya menjadi sedikit lega, apapula orang nampaknya tidak mengandung maksud jahat.

Ia lantas memberi hormat seraya berkata.

"Locianpwee, silahkan turun untuk minum barang tiga gelas arak? Sudikah?"

"Baik!"

Menyahut pengemis itu, yang lantas menjatuhkan diri, hingga ia mendeprok di papan lauwteng yang debunya mengepul.

Setelah menepuk-nepuk kempolannya ia merayap bangun.

Kwee Ceng dan Oey Yong heran bukan main.

Orang bisa ada di atas mereka tanpa bersuara, mereka menduga orang berkepandaian tinggi, tetapi orang jatuh terbanting begitu rupa, agaknya sangat berat tubuh orang, itulah bukan tandanya orang lihay.

"Silahkan minum!"

Oey Yong mengundang. Ia menyuruhnya pelayan menambahkan cangkir arak, mangkok dan sumpit. Ia pun mengisikan cangkir.

"Pengemis tua tak tepat duduk di kursi,"

Kata pengemis itu, yang lantas duduk mendeprok di lantai, sedang dari kantungnya ia mengeluarkan sebuah mangkok jonges serta sepasang sumpit bambu. Ia pun kata.

"Sisa arak dan sayur yang kamu telah makan, kasihlah itu padaku!"

"Itulah perbuatan tak hormat dari kami, locianpwee,"

Berkata Kwee Ceng.

"Apa yang locianpwee hendak dahar, bilang saja, suruh pelayan menambahkan!"

"Pengemis ada macamnya si pengemis,"

Kata orang tua itu.

"Kalau pengemis cuma nama tapi tak tepat sama artinya, cuma berpura-pura saja, buat apa dia menjadi pengemis? Jikalau kamu sudi mengamal, nah, kasihlah, jikalau tidak, aku bisa pergi mengemis ke lain tempat…"

Dua-dua muda-mudi itu heran tetapi Oey Yong melirik kawannya, lalu ia berkata sambil tertawa.

"Locianpwee benar!"

Maka ia lantas sisihkan sisa sayur mereka, ia menuangnya ke mangkok butut itu.

Si pengemis merogoh ke dalam sakunya, untuk mengeluarkan nasi dingin, yang mana ia campur sama sisa sayur, terus ia dahar, nampaknya ia bernafsu sekali.

Oey Yong yang cerdik diam-diam menghitung kantung di punggug orang, semuanya susun tiga, setiap susunnya terdiri dari tiga buah, maka itu ada sembilan kantung.

Ketika ia berpaling kepada ketiga pengemis lain, mereka pun mempunyai masing-masing sembilan kantung.

Yang beda ialah mereka itu bertiga di depannya tersajikan banyak macam sayur pilihan.

Mereka itu agaknya tidak memperdulikan pengemis yang satu ini, mereka tidak sudi berpaling atau melirik, cuma pada paras mereka tampak samar-samar roman tak puas.

Tengah si pengemis bersantap dengan bernafsu, di tangga lauwteng terdengar tindakan kaki.

Kwee Ceng lantas berpaling.

Maka terlihat olehnya naiknya dua pengemis, ialah pengemis kurus dan gemuk yang di Gu-kee-cun, Lim-an menemani Yo Kang.

Bahkan di belakang mereka terlihat Yo Kang sendiri.

Hanya dia itu, begitu dia melihat si orang she Kwee, dia melongo, lekas dia turun pula.

Entah dia berbicara apa sama si pengemis gemuk, maka di gemuk itu ikut dia turun.

Si pengemis kurus maju terus, ia menghampirkan pengemis yang tiga itu yang makannya royal, dia bicara berbisik-bisik.

Atas itu, ketiga pengemis itu berbangkit, mereka membayar uang makan, lantas mereka berlalu bersama si kurus itu.

Si pengemis yang dahar sambil duduk mendeprok dan makan sisa, terus tidak menghiraukan sepak terjang beberapa rekannya itu.

Oey Yong berjalan ke jendela, untuk melongok ke bawah.

Ia melihat belasan pengemis mengikuti Yo Kang ke barat.

Jalan belum jauh, pemuda she Yo itu menoleh ke belakang.

Maka tepat sinar matanya bentrok sama sinar matanya Oey Yong.

Dia agaknya terkejut, segera ia mempercepat tindakannya, selanjutnya dia tidak berpaling lagi.

Pengemis tua itu lantas dahar habis.

Ia menjilati mangkoknya san sumpitnya disusuti kepada bajunya, semua itu lantas dimasuki ke dalam kantungnya.

Diam-diam Oey Yong mengawasi.

Ia melihat sinar kedukaan pada kulit muka orang yang berkeriputan.

Aneh adalah tangannya, yang jauh lebih besar daripada tangan kebanyakan orang lain, sedang belakang tangannya penuh dengan otot-otot besar, suatu tanda dari penghidupan besart.

"Cianpwee, silahkan duduk!"

Berkata Kwee Ceng seraya memberi hormat.

"Dengan berduduk, leluasalah kita berbicara."

Pengemis itu tertawa.

"Aku tidak biasa duduk di bangku!"

Katanya.

"Kamu berdua ada murid-muridnya Ang Pangcu, meskipun usia kamu lebih muda, kita adalah sama derajatnya, cuma aku lebih tua beberapa puluh tahun, kau panggilah aku toako. Aku she Lou, namaku Yoe Kiak."

Oey Yong tertawa.

"Toako, namamu menarik hati!"

Katanya. Yoe Kiak itu berarti "ada kaki"

Pengemis itu berkata.

"Orang biasa membilang, orang miskin hidup tanpa tongkat dia diperhina anjing, tetapi aku tidak mempunyai pentung, aku mempunyai sepasang kakiku yang bau ini, kalau anjing berani menghina aku, akan aku mendupak dia pada kepalanya, supaya dia terkuwing-kuwing dan kabur sambil menggoyang-goyang ekornya."

Oey Yong bertepuk tangan.

"Bagus, bagus!"

Serunya.

"Kalau anjing mengetahui namamu, tentulah siang-siang dia sudah lari jauh-jauh!"

"Tadi pagi aku telah bertemu sama saudara Lee Seng,"

Berkata Yoe Kiak, yang lantas bicara secara sungguh-sungguh.

"Dari dia aku mendapat ketahui perbuatan kamu di Poo-eng dan Gakciu. Maka benarlah orang bilang, kalau ada semangat, bukan cuma karena usia tinggi, siapa tanpa semangat, percuma usianya lanjut!"

Kwee Ceng berbangkit untuk merendahkan diri untuk mengucapkan terima kasih atas pujian itu.

"Barusan kamu bicara tentang Tiat Ciang Pang,"

Berkata Lou Yoe Kiak.

"Agaknya mengenai mereka itu, kamu belum mengetahui jelas."

"Benar. Justru itu, aku mohon petunjuk,"

Sahut Oey Yong.

"Tiat Ciang Pang itu, untuk Ouwlam dan Ouwpak dan Sucoan, pengaruhnya sangat besar,"

Menerangkan si pengemis tua.

"Anggota-anggotanya suka membunuh orang dan merampok, tak ada kejahatan yang tak dilakukan mereka. Mulanya mereka cuma bersekongkol sama pembesar negeri setempat, kemudian mereka jadi semakin berani, kecuali bersekongkol mereka pun menempel pembesar berpangkat tinggi dan main sogok hingga ada diantaranya yang memangku pangkat. Yang paling menyebalkan ialah mereka bersekongkol sama negeri Kim, mereka melakukan perbuatan hina sebagai pengkhianat. Maka tepatlah hajaran kamu kepada mereka itu."

"Kabarnya kepala Tiat Ciang Pang ialah Kiu Cian Jin,"

Berkata Oey Yong.

"Tua bangka itu paling pandai memperdayakan orang. Kenapa dia jadi demikian berpengaruh?"

"Kiu Cian Jin itu sangat lihay, nona,"

Berkata Yoe Kiak.

"Aku harap kau tidak memandang enteng kepadanya."

Oey Yong tertawa.

"Apakah kau pernah bertemu dengannya?"

Dia menanya "Bertemu, itulah belum.

Aku mendapat kabar dia tinggal bersembunyi di atas gunung, di mana dia meyakinkan tangan beracun yang dinamakan Ngo-tok Sin-ciang.

Sudah sepuluh tahun lamanya dia tidak turun gunung…."

"Kau terpedayakan!"

Kata Oey Yong tertawa.

"Aku telah bertemu dengannya beberapa kali, bahkan kita pernah bertempur juga. Kau bilang ia meyakinkan Ngo-tok Sin-ciang? Ha ha ha…!"

Dan dia tertawa geli mengingat ngacirnya Kiu Cian Jin, sambil tertawa ia mengawasi Kwee Ceng.

"Apakah yang disandiwarakan itu Kiu Cian Jin itu,"

Kata pula Yoe Kiak, tetap sungguh-sungguh.

"Aku tidak tahu, tetapi benar sekali selama beberapa tahun kemarinkan Tiat Ciang pang maju sangat pesat, dia tidak dapat dipandang enteng."

"Lou Toako benar,"

Kata Kwee Ceng. Yang khawatir pengemis itu menjadi tidak senang.

"Memang Yong-jie gemar bergurau…"

"Ah, kapannya aku bergurau?"

Berkata si nona tertawa.

"Aduh, aduh! Perutku sakit…!"

Dan dia beraksi mirip dengan tingkah lakunya Kiu Cian Jin baru-baru ini, ketika ia berpura-pura sakit perut untuk lari membuang air besar tetapi akhirnya kabur dengan tipu tonggeret meloloskan kulit.

Mau tidak mau, Kwee Ceng tertawa menyaksikan nona itu menekan-nekan perutnya.

Melihat kawannya tertawa, Oey Yong berhenti tertawa.

Ia pun mengubah sikap.

"Loa Toako,"

Tanyanya.

"Apakah kau kenal ketiga tuan tadi yang bersantap di meja itu?"

Ditanya begitu, Yoe Kiak menghela napas.

"Kamu bukan orang luar, hendak aku bicara dengan sebenar-benarnya,"

Sahutnya kemudian.

"Pernahkah kamu mendengar keterangan Ang Pangcu bahwa partai kita terbagi dalam dua cabang, ialah cabang Pakaian Bersih dan Pakaian Dekil?"

"Belum, belum pernah kita mendengar keterangan itu,"

Sahut kedua muda-mudi itu.

"Suatu partai terpecah dalam dua cabang, itulah sebenarnya tidak bagus,"

Kata pula Yoe Kiak.

"Mengenai itu, Pangcu tidak puas, akan tetapi dia telah berdaya sekuatnya untuk mempersatukan, dia tidak berhasil juga. Kay Pang dibawah Ang Pangcu mempunyai empat tiangloo."

"Ya, tentang itu pernah aku mendengarnya. Suhu pernah bercerita."

Meski masih muda, karena Ang Cit Kong masih hidup, Oey Yong tidak segera menjelaskan bahwa ia telah ditugaskan Pak Kay untuk menjadi pangcu. Lou Yoe Kiak mengangguk perlahan.

"Akulah tiangloo yang kedua,"

Dia berkata.

"Tiga orang tadi juga berkedudukan sebagai tiangloo."

"Aku mengerti,"

Kata Oey Yong lekas.

"Kau dari cabang Pakaian Dekil, mereka dari Pakaian Bersih."

"Eh, mengapa kau ketahui itu?"

"Lihat saja pakaianmu, Lou Toako! Pakaianmu kotor tetapi pakaian mereka bersih sekali. Lou Toako, hendak aku omong terus terang, bajunya cabang Pakaian Dekil itu hitam dan bau, pasti tidak menyenangkan, maka kalau kau mencuci bersih pakaianmu, bukankah kedua cabang lantas menjadi satu?"

"Kaulah anaknya orang hartawan, pasti kau jemu terhadap pengemis,"

Kata Yoe Kiak sambil ia berjingkrak bangun berdiri. Kwee Ceng hendak menghanturkan maaf tetapi orang lantas ngeloyor pergi, kelihatannya ia mendongkol sekali. Oey Yong mengulur lidahnya.

"Engko Ceng, jangan kau menegur aku,"

Katanya. Kwee Ceng tertawa.

"Sebenarnya aku berkhawatir,"

Kata Oey Yong.

"Kenapa?"

Pemuda itu tanya.

"Aku berkhawatir Lou Yoe Kiak nanti mendupak padamu."

"Tidak karu-karuan dia mendupak aku, kenapa?"

Si nona memainkan mulutnya, ia tertawa, ia tidak menjawab. Kwee Ceng menjadi berpikir. Ia benar tidak mengerti. Oey Yong menghela napas.

"Ah, engko tolol,"

Katanya.

"Kenapa kau tidak hendak memikirkan namanya itu?"

Sekarang Kwee Ceng sadar.

"Bagus ya!"

Katanya.

"Dengan memutar kau memaki aku bagaikan anjing!"

Ia lantas berbangkit, tangannya diulur, untuk mengitik, atas mana, Oey Yong tertawa dan berkelit.

Tengah muda-mudi ini bergurau, di tangga lauwteng terdengar pula suara tindakan kaki.

Segera terlihat munculnya ketiga tiangloo yang tadi pergi mengikuti Yo Kang.

Mereka menghampirkan untuk terus memberi hormat.

Tiangloo yang ditengah, yang mukanya putih dan tubuhnya gemuk, yang kumisnya gompiok, sudah lantas tertawa sebelum ia berbicara.

Coba ia tidak berpakaian banyak tambalannya, tentulah orang menyangka dia itu seorang hartawan.

Dengan manis ia berkata.

"Jiewi, si pengemis tua she Lou tadi telah dengan diam-diam menurunkan tangan jahat. Kami tidak senang melihat kelakuannya itu maka datang untuk memberikan pertolongan kami."

Kwee Ceng dan Oey Yong terkejut.

"Bagaimana itu?"

Mereka tanya.

"Bukankah dia tidak sudi dahar bersama jiewi tadi?"

"Ya! Apakah dia telah meracuni kami?"

Pengemis itu menghela napas.

"Inilah gara-garanya partai kami lagi malang,"

Ia berkata, romannya berduka.

"Di luar keinginan kami, di antara kami boleh ada banyak orang buruk semacam dia. Dia itu lihay, asal tangannya menyentil, racun yang disimpan di kuku tangannya bisa tanpa diketahui lagi masuk nyampur ke dalam barang makanan atau arak. Jiewi telah terkena racun itu dan hebat, tidak lewat sampai setengah jam, maka jiewi sukar ditolongi lagi……."

Oey Yong terkejut tetapi ia bersangsi.

"Kami tidak bermusuh dengannya, kenapa dia boleh menurunkan tangan jahat?"

Tanyannya.

"Jiewi telah keracunan berbahaya sekali, baik jiewi lekas makan obat ini, baru jiewi bisa dapat ditolong!"

Kata si pengemis tanpa menyahuti dulu pertanyaan orang. Ia lantas mengeluarkan satu bungkusan obat bubuk warna kuning, obat itu ia masuki ke dalam dua cangkir arak.

"Lekas minum, jiewi!"

Katanya pula. Oey Yong melihat tadi Yo Kang, ia curiga, maka itu, mana mau ia minum arak itu. Maka ia berkata.

"Tadi tuan Yo itu kenal kami, tolong samwie ajak dia datang menemui kami."

"Memang jiewi harus bertemu dengannya,"

Berkata si pengemis.

"Tetapi racun jahanam itu berbahaya sekali, baik jiewi minum dulu obat ini. Kalau ayal-ayalan, nanti susah buat diobatinya."

"Samwie baik sekali, terima kasih,"

Berkata Oey Yong.

"Nah, marilah duduk untuk kita minum bersama! Sebenarnya kami kagum sekali kepada Kay Pang sebab kami ingat tahun dulu itu pangcu dari genarai yang kesebelas, di Pak Kouw San dia seorang diri telah melayani banyak lawan yang gagah dengan sepasang tongkatnya, dengan sepasang tangannya, dia telah membinasakan lima jago dari Lok-yang! Sungguh gagah!"

Tiga pengemis itu nampak heran sebab mendadak mendengar orang bicara perihal partainya, maka mereka lantas saling melirik. Heran mereka, kenapa nona begini muda ketahui peristiwa dulu hari itu.

"Ang Pangcu itu lihay sekali ilmu silatnya yang bernama Hang Liong Sip-pat Ciang,"

Berkata pula Oey Yong.

"Kepandaiannya itu tak ada bandingannya di kolong langit ini, maka entahlah samwie telah dapat memperlajari beberapa jurus dari ilmu silat itu?"

Mendengar ini, tiga pengemis itu lantas menduga tentulah orang curiga dan tak sudi minum arak campur obat itu. Maka yang beroman mirip hartawan itu berkata sambil tertawa.

"Kalau nona bercuriga, tentu sekali kami tidak berani memaksa, tetapi marilah nona melihat suatu bukti nanti nona percaya. Sekarang jiewi lihat dimataku ada apa yang luar biasa?"

Kwee Ceng dan Oey Yong mengawasi, mereka mendapatkan mata orang bercahaya tajam sekali.

Oey Yong melihat tidak ada apa-apa yang aneh, maka ia memikirnya itulah tak lebih tak kurang sepasang mata babi……… Tetapi si pengemis itu sudah berkata pula.

"Jiewi awasi mataku, jangan sekali jiewi memecah perhatianmu. Lihatlah, sekarang jiewi mulai merasa kulit matamu berat dan kepala pusing, seluruh tubuh jiewi tidak ada tenaganya. Nah, itulah alamat terkena racun. Lekas jiewi menutup mata dan tidur!"

Kata-kata itu menarik dan berpengaruh. Kwee Ceng dan Oey Yong benar-benar lantas merasa matanya ingin dirapatkan dan lesu, benar-benar seluruh tenaganya habis.

"Tempat ini menghadap telaga besar,"

Berkata pula si pengemis.

"Hawanya pun adem sekali, maka itu jiewi silahkan kamu berangin dan tidur di sini! Tidur, tiudrlah!"

Makin lama kata-kata itu terdengar makin perlahan, kata-kata itu sangat manis dan menarik hati, maka tanpa merasa sepasang muda-mudi itu menguap, lalu tidur pulas dengan mendekam di meja.

Beberapa lama sang tempo telah lewat, inilah mereka tak tahu, hanya mereka merasa ada hawa sejuk yang menyampok muka mereka, samar-samar pun kuping mereka mendengar suara gelombang.

Mereka lantas membuka mata mereka.

Maka tampaklah di antara mega munculnya sang rembulan, yang baru mulai naik di gunung timur.

Mereka terkejut.

Tadi toh mereka tengah bersantap dan minum arak di Gak Yang Lauw, kenapa sekarang sudah malam?

Mereka mau berbangkit, atau mereka merasakan kaki dan tangan mereka telah diringkus.

Mereka mau berseru, ataupun mereka merasakan mulut mereka telah disumpal biji bebuahan, hingga mereka merasakan mulut mereka sakit.

Sebagai seorang cerdik Oey Yong lantas mengerti bahwa ia telah kena dipermainkan di pengemis gemuk itu, hanya ia belum bisa menerka, orang menggunai ilmu apa membuat dia dan Kwee Ceng menjadi mengantuk dan lemas dan akhirnya tidur lupa daratan.

Ia mengerti, maka ia tidak mau banyak berpikir.

Ia segera melihat ke sekitarnya.

Ia nampak Kwee Ceng di sisinya, kelihatannya kawan itu lagi mau meronta, maka hatinya lega sebagian.

Kwee Ceng pun mendusin karena ia merasakan sampokan hawa dingin.

Ia kaget untuk belungguan yang kuat sekali, hingga ia tidak mampu berontak untuk memutuskannya.

Kiranya itulah tambang yang dipakai mengikatnya ialah tali kulit kerbau campur kawat.

Ketika ia hendak mencoba buat berontak lagi, tiba-tiba ia merasa dingin di pipinya, dua kali pipinya disampok pedang.

Ketika ia mengawasi, ia dapatkan empat pengemis muda menjagai dia dengan senjata di tangan.

Oey Yong lantas berpikir terus.

Satu hal yang membuatnya kaget.

Ia mendapat kenyataan mereka berada di atas sebuah puncak, di sekitarnya telaga dengan airnya yang jernih.

Di antara sinar rembulan, ai sekarang melihat tegas ke sekitarnya itu.

Ia menjadi heran sekali kenapa ia tidak merasa orang telah mengangkutnya ke atas puncak itu, ialah puncak dari gunung Kun San di tengah telaga Tong Teng itu.

Di depan ia terlihat sebuah panggung tinggi belasan tombak.

Di sekitarnya itu duduk beberapa ratus pengemis.

Semua duduk dengan diam.

Itulah sebabnya kepana mereka mulanya tak nampak, tak ketahuan.

Segera setelah ia ingat, hatinya girang.

Pikirnya.

"Benarlah! Hari ini Cit gwee Capgouw, hari Rapat Besar Kaum Kay Pang! Biarlah aku bersabar, sebentar aku memperdengarkan titah suhu, mustahil mereka tidak akan menaati…."

Lewat sekian lama, segala apa masih diam saja.

Nona ini mulai habis sabarnya.

Karena tak dapat bergerak, ia merasakan kaki tangannya baal.

Sang waktu pun berjalan terus.

Kemudian sinar rembulan menjojoh pinggiran panggung di mana ada tiga huruf besar.

"Hian Wan Tay" , artinya panggung "Kaisar Hian Wan" . Maka ingatlah Oey Yong akan cerita dongeng, katanya dulu hari Oey Tee, ialah Kaisar Hian Wan itu, telah membuat perapian kaki tiga di sini, setelah perapian itu rampung, dia menunggang naga naik ke langit. Jadi inilah panggung yang berhikayat itu. Lagi sekian lama, di waktu sinar rembulan telah memenuhi seluruh panggung, maka terdengarlah suara yang tiga-tiga kali, suara itu sebentar cepat dan sebentar perlahan, sebentar tinggi, sebentar rendah, ada iramanya. Kemudian ternyata semua pengemis memegang tongkat kecil, dengan itu mereka mengetuk batu hingga berlagu. Oey Yong menghitung, setelah terdengar sampai delapanpuluh satu kali, suara itu berhenti serentak. Lalu kelihatan berbangkitnya empat pengemis yang usianya tinggi, ialah keempat tiangloo, Lou Yoe Kiak serta tiga tiangloo lainnya yang Oey Yong mengenalinya dengan baik. Mereka itu berdiri di empat penjuru panggung. Semua pengemis pada berbangkit, dengan membawa tongkat ke depan dadanya, mereka memberi hormat sambil menjura. Si tiangloo putih dan terokmok setelah menanti semua pengemis berduduk pula, lantas berkata dengan nyaring.

"Saudara-saudara, Thian telah melimpahkan bahaya untuk Kay Pang kita, ialah Ang Pangcu kami telah berpulang ke langit di Lim-an!"

Mendengar warta itu, semua pengemis berdiam, hanya seorang yang kemudian berteriak keras, terus ia roboh ke tanah, setelah mana semua pengemis pada menumbuki dadanya, semua menangis sedih, ada yang menggerung-gerung, ada yang mambanting-banting kaki.

Tangisan mereka itu berkumandang jauh.

Kwee Ceng kaget sekali.

"Aku tidak dapat mencari suhu, kiranya ia telah menutup mata…"

Pikirnya. Ia pun menangis, hanya tidak dapat bersuara sebab mulutnya tersumbat. Oey Yong bercuriga. Ia pikir.

"Kami tidak dapat mencari suhu, musathil mereka bisa! Mungkin kawanan manusia jahat ini lagi mengelabui orang banyak…"

Tengah orang sangat bersedih itu, Lou Yoe Kiak bertanya.

"Pheng Tiangloo, ketika Pangcu berpulang ke dunia baka, adakah tiangloo melihatnya sendiri?"

Si tiangloo putih dan gemuk itu menyahuti.

"Lou Tiangloo, jikalau Pangcu masih hidup, siapa yang berani makan nyali macam tutul dan hati harimau untuk menjumpai padanya? Orang yang melihat sendiri Pangcu meninggal dunia berada di sini. Yo Siangkong, silahkan kau memberi keterangan kepada orang banyak!"

Seorang lantas muncul di antara orang banyak.

Dialah Yo Kang.

Dengan memegang tongkat bambu, ia naik ke panggung.

Semua pengemis berdiam, untuk memasang kuping.

Yo Kang berbatuk satu kali, baru ia mulai bicara.

Ia kata.

"Kejadian ialah baru satu bulan yang lalu. Kejadiannya di kota Lim-an. pangcu telah berkelahi dan orang kesalahan memukul ia hingga ia mati."

Mendengar itu, suara orang banyak menjadi riuh.

"Siapakah musuh itu?!"

Tanya mereka. Nyata mereka murka.

"Lekas bilang, lekas! Pangcu demikian lihay, mungkinkah dia jatuh? Pastilah Pangcu telah dikepung ramai-ramai maka ia roboh!"

Kwee Ceng mendongkol mendengar keterangan Yo Kang itu.

"Pada satu bulan yang lalu, suhu ada bersama aku! Ha, kiranya dia lagi main lagi!"

Yo Kang mengangkat kedua tangannya, ia menunggu sampai suara orang reda, baru ia berkata pula.

"Orang yang mencelakai hingga Pangcu mati ialah Tong Shia Oey Yok Su, pemilik dari Pulau Tho Hoa To, bersama tujuh imam bangsat dari Coan Cin Pay!"

Oey Yok Su sudah lama tidak meninggalkan pulaunya, antara kaum pengemis ini, dalam sepuluh, sembilan tidak ada yang mengenal dia, hanya Coan Cin Cit Cu sangat kesohor maka mereka mengenalnya.

Mereka mau percaya ketua mereka kalah karena dikeroyok, maka itu mereka mencaci dan mengutuk, ada yang mau lantas pergi untuk menuntut balas.

Tentu sekali mereka tidak tahu bahwa mereka lagi dipermainkan Yo Kang, yang mau mengadu mereka dengan Tong Shia dan Coan Cin Cit Cu.

Tentang Kanlamg Liok Koay, ia tidak takut.

Yo Kang bertindak begini karena Ang Cit Kong terluka parah hajaran Kuntauw Kodok dari Auwyang Hong sedang Kwee Ceng, ia menyangka telah mati tertikam olehnya di dalam istana, siapa tahu kemarin ia menemui Kwee Ceng dan Oey Yong di Gak Yang Lauw, karena itu sudah kepalang, ia minta Pheng Tiangloo membekuk kedua orang itu dengan tipu, dengan liap-sim-hoat, yang mirip dengan ilmu sihir.

Ia mengharap Tong Shia, Coan Cin Kauw dan Kay Pang nanti ludas bersama kerana bentroknya mereka bertiga…….

Bab 57.

Tiat Ciang Sin-kang Kiu Cian Jin Selagi suara orang berisik itu maka bangkitlah salah satu dari tiga tiangloo itu, ialah Kan Tiangloo.

"Saudara-saudara, mari dengar perkataanku!"

Ia kata. Ia telah putih kumis dan alisnya, tubuhnya tegar, di dalam partainya dia disegani. Maka semua orang lantas berdiam.

"Sekarang ini kita lagi menghadapi dua urusan sangat penting,"

Ia berkata.

"Kesatu untuk menuruti pesan Pangcu, yaitu untuk memilih pangcu generasi kesembilanbelas. Kedua guna berdaya mencari balas untuk pangcu kita itu."

"Benar!"

Menyahut semua pengemis.

"Tapi kita mesti bersembahyang dulu untuk pangcu,"

Berkata Lou Yoe Kiak.

Ia menjumput lumpur, yang ia lalu bikin menjadi patung, mirip dengan patung Ang Cit Kong, ia meletaki itu di atas panggung, terus ia mendekam di tanah dan menangis sedih.

Semua pengemis turut menangis pula.

Oey Yong sendiri berpikir.

"Hm, kamu gila! Suhu toh baik-baik saja, dia tidak mati, kenapa kamu tangisi? Kamu gila sudah mengikat aku dan engko Ceng, sampai kita tidak bisa bicara! Inilah kamu yang cari penyakit sendiri, sia-sia belaka kamu bersedih….."

Setelah orang menangis sekian lama, Kan Tiangloo menepuk tangannya tiga kali. Lantas semua orang berhenti menangis. Tiangloo ini berkata.

"Kita sekarang berapat di sini, kita sebenarnya harus mengangkat pangcu baru menurut petunjuk Ang Pangcu, karena Ang Pangcu telah menutup nmata, kita harus menuruti pesannya saja, dan kalau pesannya tak ada, kita harus menaati pemilihan oleh keempat tiangloo. Inilah aturan kita turun-temurun. Benar begitu, saudara-saudara?"

Semua pengemis menyahuti membenarkan. Kang Tiangloo lantas berkata pula.

"Yo Siangkong, silahkan kau menyampaikan pesan dari Ang Pangcu itu!"

Dalam Kay Pang, pengangkatan pangcu baru adalah urusan paling besar dan penting.

Pada itu tergantung makmur dan runtuhnya partai.

Maka pangcu adalah yang memegang peranan paling penting.

Pernah terjadi pangcu mereka yang ketujuhbelas, yaitu Cian Pangcu, meski dia gagah, dia lemah, pimpinannya tidak tepat, maka terjadilah bentrokan di antara kedua golongan Pakaian Bersih dan Pakaian Dekil hingga partai menjadi lemah.

Ang Pangcu kemudian menguasai keadaan, dia melarang bentrokan.

Dengan begitu, Kay Pang maju pula.

Maka itu sekarang, selagi menaruh perhatian besar, orang berdiam menanti perkembangan.

Yo Kang memegang Lek-tiok-thung dengan kedua tangannya, ia angkat itu tinggi di atasan kepalanya, lalu ia berkata.

"Ang Pangcu kena dikeroyok oleh orang jahat, dia mendapat luka parah hingga jiwanya terancam bahaya. Kebetulan itu waktu aku yang rendah lewat di tempat kejadian, cepat-cepat aku menyembunyikan dia di rumahku, setelah dapat menipu musuh-musuh itu pergi, aku lantas mengundang tabib. Sayang, karena parahnya luka, pangcu tidak dapat ditolongi lagi……."

Mendengar itu, terdengar banyak keluhan. Yo Kang berhenti sebentar, baru ia melanjuti.

"Ketika Ang Pangcu hendak menghembuskan napasnya yang terakhir, ia menyerahkan tongkat suci ini kepadaku dan dia menugaskan aku yang rendah untuk menerima tanggung jawab yang berat sebagai pangcu yang kesembilanbelas…"

Orang banyak menjadi heran.

Tidak disangka, pangcu yang baru adalah ini pemuda yang mirip seorang sastrawan.

Yo Kang itu cerdik sekali.

Setelah mendapatkan tongkat Lek-tiong-thung di rumahnya Sa Kouw di Gu-kee-cun, ia mendapat kenyataan kedua pengemis gemuk dan kurus itu sangat menghormat padanya, segera ia mendapat pikiran.

Lantas di sepanjang jalan ia menanya ini dan itu kepada mereka tentang tongkat itu.

Kedua pengemis itu melihat orang memegang tongkat partainya, mereka menjawab segala pertanyaan.

Dengan begitu tahulah Yo Kang tentang tongkat itu serta pengaruhnya.

Maka ia pikir, selagi Kay Pang sangat besar dan berpengaruh, kenapa dia tidak mau mengangkanginya?

Bukankah Ang Pangcu telah mati dan tentang kematiannya itu tidak ada saksinya?

Bagaimana besar faedahnya kalau ia yang menggantikan memegang pimpinan?

Ia lantas mengambil keputusan, maka itu dengan mempengaruhi ketiga tiangloo, hendak ia mewujudkan cita-citanya menjadi pangcu dari Kay Pang.

Kan Tiangloo, Pheng Tiangloo dan Nio Tiangloo percaya obrolannya Yo Kang itu.

Ini pun kebetulan sekali untuk mereka.

Sebenarnya mereka ingin sekali diangkat menjadi pangcu, cuma di dalam hal ini, mereka malang sama Lou Tiangloo.

Di bawah pimpinan Ang Pangcu, mereka menerima keadaan.

Ang Pangcu dapat bertindak bijaksana, dia bisa mengimbangi keadaan, dia bersedia mengenakan baju bersih dan baju kotor bergantian.

Hanya diantara keempat tiangloo, dia sebenarnya menghargai Lou Yoe Kiak, cuma Yoe Kiak ini, cacatnya ialah tabiatnya keras dan terburu nafsu, beberapa kali pernah ia hampir menerbitkan onar, kalau tidak, pasti siang-siang ia sudah diangkat menjadi pangcu.

Untuk rapat besar di Gakciu ini, pihak Pakaian Bersih sebenarnya berkhawatir Lou Yoe Kiak yang nanti kepilih, ketiga tiangloo itu pernah memikir daya untuk mencegahnya, tetapi karena takut kepada Ang Cit Kong, mereka tidak berani bergerak.

Maka mereka tidak sangka, sekarang muncul Yo Kang dengan tongkat suci mereka dan katanya Ang Pangcu telah terbinasa.

Mereka berduka tetapi mereka tak melupakan urusan besar mereka.

Mereka berlaku sangat hormat kepada Yo Kang.

Mereka heran Yo Kang tidak mau menerangkan pesan pangcu mereka.

Mereka tidak tahu pemuda ini sangat licin.

Baru tiba disaat rapat ini, Yo Kang menyebutkan pesan itu -pesan karangan otaknya sendiri.

Mereka menyesal, yang mereka tidak terpilih, akan tetapi mereka dapat menghiburkan diri, sebab Yoe Kiak tidak terpilih juga.

Maka, sambil memikir, mungkin di belakang hari mereka dapat mempengaruhi Yo Kang ini, mereka mengangguk tandanya mereka suka menerima si anak muda sebagai ketua mereka yang baru.

Kan Tiangloo lantas berkata.

"Tongkat yang di pegang Yo Siangkong ialah tongkat sejati dari partai kita, tetapi kalau ada saudara yang menyangsikan, silahkan maju untuk memeriksa. Lou Yoe Kiak melirik Yo Kang. Ia sangsi pemuda ini dapat memimpin Kay Pang. Maka ia maju, akan memeriksa tongkat suci itu. Ia mendapat kenyataan kesejatian nya tongkat itu. Maka berpikirlah ia.

"Tentulah Pangcu mengingat budi maka pangcu mewariskan tongkat suci ini kepadanya. Karena pangcu telah memesannya, mana dapat aku membantahnya?"

Karena itu ia pun mempercayainya. Ia angkat tongkat ke atas kepalanya, dengan hormat ia menyerahkan kembali kepada Kan Tiangloo, yang tadi menyambuti itu dari tangan Yo Kang. Ia kata.

"Kami menurut kepada pesan Ang Pangcu, kami menjunjung Yo Siangkong sebagai pangcu kami yang kesembilanbelas!"

Mendengar ini semua pengemis berseru memperdengarkan persetujuan mereka. Kwee Ceng dan Oey Yong tidak bisa bicara, juga mereka tidak bisa bergerak, bukan main mendongkol dan masgulnya mereka.

"Benar dugaannya Yong-jie, Yo Kang ini bernyali besar, berani dia main gila seperti ini,"

Pikir si anak muda.

"Dia tentunya bakal mendatangkan onar besar."

Oey Yong sebaliknya lagi memikirkan, tindakan apa yang Yo Kang bakal mengambil terhadap mereka berdua, sebab tentulah mereka tidak bakal dilepaskan dengan begitu saja.

Yo Kang mengasih dengar suaranya.

"Aku yang rendah, muda usiaku dan cupat pengetahuanku, tidak berani aku menerimanya ini tugas yang berat."

"Pesan Ang Pangcu demikian rupa, janganlah Yo Siangkong merendahkan diri,"

Kata Pheng Tiangloo.

"Benar!"

Berkata Lou Yoe Kiak, yang lantas batuk satu kali, lalu ia berteriak dan meludah ke muka si anak muda.

Yo Kang tidak menyangka, tidak dapat ia berkelit, reak si pengemis tua nemplok di pipi kanannya.

Ia menjadi kaget.

Baru ia mau menanyakan ketiga tiangloo lainnya atau mereka itu pun bergantian telah lantas meludah kepadanya, setelah mana keempat tiangloo itu, dengan menyilang tangan, mereka lantas memberi hormat sambil berlutut dan mendekam.

Yo Kang masih tidak mengerti, ia tetap berdiri tercengang.

Perbuatannya keempat tiangloo ini disusul oleh semua pengemis lainnya, dengan mengikuti runtunannya, mereka itu menghampirkan untuk menludahkan, saban habis berludah, baru memberi hormat.

"Adalah ini cara meludah tanda hormat kepadaku?"

Yo Kang tanya dirinya sendiri.

Ia tidak tahu, demikianlah aturan yang dihormati Kay Pang, setiap pangcu baru mesti diperhina, sebab pengemis, mereka mesti bersedia menerima penghinaan khalayak ramai.

Ia tidak tahu itulah semacam latihan kebathinan.

Selang sekian lama barulah semua pengemis memberi hormatnya, lalu ramailah suara mereka.

"Yo Pangcu, silahkan naik ke panggung Hian Wan Tay!"

Yo Kang melihat panggung tidak terlalu tinggi, hendak ia membanggakan kepandaiannya.

Lantas ia menjejak kedua kakinya, untuk mengapungi diri, berlompat naik.

Bagus caranya ia berlompat naik itu, karena ia mempunyai ilmu ringan tubuh yang baik.

Hanya di matanya keempat tiangloo, terlihatlah kepandaiannya itu masih rendah, tetapi mengingat usianya yang muda, ia tidak dapat dicela.

Keempat tiangloo itu percaya ialah murid seorang yang pandai.

Begitu lekas berada di atas panggung, Yo Kang mengasih dengar suaranya yang nyaring.

"Penjahat yang mencelakai Ang Pancu masih belum dapat dibinasakan tetapi dua pembantunya telah aku berhasil membekuknya!"

Mendengar itu, berisiklah semua pengemis itu, segera terdengar teriakan mereka.

"Di mana? Di mana? Lekas cincang padanya! Jangan lantas dihukum mati, hukum picis dulu padanya biar dia tahu rasa!"

Kwee Ceng tidak menduga jelek, maka ia kata di dalam hatinya.

"Aku hendak lihat siapa pembantunya pembunuh itu…."

Yo kang lantas berseru.

"Bawa mereka ke depan panggung!"

Pheng Tiangloo lantas bertindak cepat kepada Kwee Ceng dan Oey Yong, dengan masing-masing sebelah tangannya, ia memegang dan mengangkat tubuh orang, buat dibawa ke depan panggung di mana ia menggabruki dua muda-mudi itu.

Sekarang baru Kwee Ceng mendusin.

"Ha, binatang, kiranya kau maksudkan kami!"

Ia mendamprat di dalam hatinya. Lou Yoe Kiak terperanjat kapan ia melihat Kwee Ceng dan Oey Yong, yang ia kenali, maka ia lantas mengingat kepada keterangannya Lee Seng. Ia lantas berkata.

"Pangcu, dua orang ini ialah murid-muridnya Ang Pangcu! Cara bagaimana mereka dapat mencelakai guru mereka?"

"Justru itulah sebabnya, yang membuat orang semakin gemas!"

Berkata Yo Kang. Pheng Tiangloo pun berkata.

"Pangcu melihatnya sendiri, mana bisa salah?"

Lee Seng dan Ie Tiauw Hian hadir di dalam rapat ini, keduanya lantas maju dan berkata.

"Harap pangcu ketahui, dua orang itu adalah orang-orang gagah, untuk mereka, kami berdua bersedia menanggungnya dengan jiwa kami. Pasti sekali kebinasaan Ang Pangcu tidak ada hubungannya sama mereka ini!"

"Kalau bicara, biarlah tiangloo kamu yang bicara!"

Nio Tiangloo membentak.

"Apa di sini dapat kamu campur mulut?!"

Kedua pengemis ini ada dari golongan Pakaian Kotor dan berada di bawah pimpinan Lou Yoe Kiak, derajat mereka pun rendah, tidak berani mereka berbicara lebih lanjut pula.

Mereka mengundurkan diri dengan sangat penasaran.

"Di dalam hal ini bukannya aku yang rendah tidak mempercayai Pangcu,"

Berkata Lou Yoe Kiak kemudian.

"Akan tetapi mengingat urusan membalas sakit hati ialah urusan sangat besar, aku mohon Pangcu nanti memeriksanya denagn seksama."

Yo Kang memang telah memikir, maka lantas ia menyahuti.

"Baiklah, nanti aku periksa."

Kemudian ia mengawasi Kwee Ceng dan Oey Yong serta berkata.

"Aku hendak menanya kamu, tidak usah kamu membuka mulutmu. Jikalau apa yang aku katakan benar, kamu mengangguk, kalau tidak, kamu menggoyang kepala. Jikalau kamu mendusta, sedikit saja, ingat golok dan pedang tidak mengenal kasihan!"

Pangcu ini mengibaskan tangannya, maka Pheng Tiangloo dan Nio Tiangloo lantas menghunus senjata mereka, dipasang di punggung Kwee Ceng dan Oey Yong.

Pheng Tiangloo memegang pedang, dan Nio Tiangloo mencekal golok.

Oey Yong gusar sekali hingga mukanya menjadi pucat.

Ia lantas mengingat peristiwa di Gu-kee-cun, tempo dari lain kamar ia mendengari Liok Koan Eng berbicara sama Thia Yauw Kee, bicara hal lamaran sambil main mengangguk-angguk.

Ia tidak menyangka, sekarang ia mesti mengalami kejadian itu.

Yo Kang tahu Kwee Ceng jujur dan polos dan dapat dipermainkan, maka ia memegang tubuh orang, untuk diangkat ke samping.

Segera ia menanya dengan suaranya yang bengis.

"Bukankah anak perempuan ini anak kandung dari Oey Yok Su?"

Kwee Ceng menutup matanya, ia tidak mengambil mumat pertanyaan itu. Nio Tiangloo menekan dengan ujung goloknya.

"Benar atau tidak!"

Dia menanya.

"Mengangguk atau menggoyang kepala?"

Kwee Ceng sebenarnya tidak niat membuka mulutnya, ketika ia berpikir, biarnya ia tidak dapat membuka, toh perkara akan menjadi terang juga.

Maka ia lantas mengangguk.

Begitu melihat orang mengangguk, banyak pengemis lantas berteriak-teriak.

"Buat apa ditanyakan terlebih jauh! Lekas bunuh! Lekas bunuh padanya!"

Mereka itu mau percaya benarlah pangcu mereka telah terbinasa di tangan Oey Yok Su. Ada pula yang berteriak.

"Lekas bunuh dia! Mari kita cari si tua bangka pembunuh itu!"

"Saudara-saudara, jangan berisik!"

Yo Kang berkata.

"Tunggu sampai aku sudah menanyakan dia terlebih jauh!"

Mendengar begitu, rapat menjadi sunyi pula.

"Oey Yok Su telah tunangkan gadisnya kepada kau, benarkah?"

Yo Kang menanya pula.

Ia telah memikir matang runtun pertanyaannya itu.

Kwee Ceng anggap itu benar, ia mengangguk pula.

Yo Kang meraba pinggang orang, dari situ ia menarik keluar pisau belati yang tajam sekali.

"Inilah pisau yang dikasihkan kepadamu oleh Khu Cie Kee, salah seorang dari Coan Cin Pay, dan imam tua she Khu itu mengukir namamu di sini, benar?"

Yo Kang tanya. Kwee Ceng mengangguk.

"Ma Giok dan Coan Cin Cit Cu telah mengajari kau ilmu silat dan Ong Cie It, salah satu anggota lain dari Coan Cin Pay itu pernah menolongi jiwamu! Bukankah kau tidak dapat menyangkal itu?"

"Perlu apa aku menyangkal?"

Pikir si anak pemuda yang polos itu. Dan ia mengangguk.

"Pangcu Ang Cit Kong menganggap kamu berdua orang baik-baik dan dia pernah mengajari ilmu silatnya yang istimewa kepada kamu, benar tidak?"

Kwee Ceng mengangguk.

"Ang Cit Kong telah dibokong musuhnya hingga dia terluka parah. Kamu berdua berada di samping orang tua itu, benarkah?"

Untuk sekian kalinya, Kwee Ceng mengangguk.

Semua pengemis menyaksikan dan mendengari pemeriksaan itu, selagi suaranya Yo Kang semakin bengis, Kwee Ceng terus mengangguk saja, dari itu mereka menyangka Kwee Ceng itu mengakui kesalahannya, mereka tidak memikir bahwa semua pertanyaan itu tidak ada hubungannya sama urusan Ang Cit Kong.

Yo Kang tengah memainkan peranannya yang teratur.

Mendengar itu, Lou Yoe Kiak pun kena terpengaruhi hingga ia menjadi sangat membenci Kwee Ceng dan Oey Yong itu.

Ia bertindak mendekati dan menendang Kwee Ceng beberapa kali.

Yo Kang tidak mencegah, ia berkata pula.

"Saudara-saudara! Nyata dua bangsat ini berlaku terus terang, maka itu baiklah mereka dibebaskan dari siksaan terlebih jauh. Pheng Tiangloo, Nio Tiangloo, silahkan kamu turun tangan!"

Mendengar begitu, Kwee Ceng dan Oey Yong saling mengawasi sambil tersenyum sedih, hanya kemudian Oey Yong mendadak tertawa. Sebab ia ingat.

"Aku yang mati bersama-sama engko Ceng, bukannya putri Gochin Baki itu!"

Kwee Ceng lantas memandang ke langit, ia ingat ibunya yang berada jauh di gurun pasir.

Ia mengawasi ke langit di mana tampak bintang-bintang bersinar.

Maka ingatlah ia akan pertempuran hebat di antara Coan Cin Cit Cu dan Bwee Tiauw Hong dan Oey Yok Su.

Siapa bakal mati, pikirannya menjadi jernih, demikian Kwee Ceng, ia menjadi ingat jelas barisan Thian Kong Pak Tuaw Tin dari Coan Cin Cit Cu itu.

Sedang begitu, kedua tiangloo sudah siap untuk bekerja, Kwee Ceng pun telah dihampirkan.

"Tunggu dulu!"

Mendadak terdengar cegahannya Lou Yoe Kiak. Ia lantas mendekati Kwee Ceng, dari mulut siapa ia keluarkan biji yang menyumpal mulut anak muda itu. Ia lantas menanya.

"Bagaimana caranya pangcu kami telah orang bikin celaka, kau tuturkanlah biar jelas!"

"Tak usah tanya, aku tahu semua!"

Berkata Yo Kang yang terkejut untuk perbuatan Tiangloo itu.

"Pangcu,"

Berkata Yoe Kiak.

"Lebih jelas kita menanya dia lebih baik. Di dalam hal yang mengenai pangcu kita itu, siapa pun tidak dapat dilepaskan!"

Yo Kang berdiam.

Permintaan Yoe Kiak ini pantas, tidak dapat ia melarangnya.

Kwee Ceng telah dibebaskan dari sumbatannya, ia masih tidak mau bicara, ia terus mengawasi langit di utara itu.

Ia menjublak, hingga beberapa kali Yoe Kiak mengulangi pertanyaannya, ia seperti tidak mendengarnya.

Karena sekarang ia lagi memahamkan keletakan bintang-bintang itu, tujuh bintang Pak-tauw, yang tepat sama barisannya rahasianya Coan Cin Cit Cu.

Ia tengah memperoleh kemajuan, maka ia tidak memperdulikan si tiangloo.

Oey Yong dan Yo Kang melihat orang tidak hendak menggunakan kesempatan yang baik itu untuk membela diri, yang satu berduka, yang lainnya bergirang.

Tapi Yo kang tidak sudi menyia-nyiakan kesempatannya lagi, maka itu, ia mengibasi tangannya, memberi tanda kepada kedua tiangloo Pheng dan Nio untuk tidak menunda pula dijalankannya hukuman mati itu.

Tepat ketika kedua tiangloo itu hendak mengayunkan senjatanya masing-masing, di situ terdengar satu suara yang diikuti berkelebatnya sinar merah tua melintas di permukaan telaga.

Kedua tiangloo itu heran, mereka mengawasi.

Lalu terlihat pula dua sinar biru meluncur ke udara, berpisah dari Kun San jauhnya beberapa lie.

Terang sinar itu muncul dari tengah telaga.

Kan Tiangloo lantas berkata.

"Pangcu, ada tetamu agung!"

Yo Kang terperanjat.

"Siapakah?"

Tanya dia.

"Pangcu dari Tiat Ciang Pang!"

Sahut Kan Tiangloo.

"Tiat Ciang Pang?"

Yo Kang menegasi. Ia tidak tahu halnya partai Tangan Besi itu.

"Itulah sebuah partai besar di sekitar Su-coan dan Ouwlam,"

Kan Tiangloo menerangkan.

"Pangcu mereka telah datang, dia harus disambut dengan hormat. Maka dua jahanam ini, baik sebentar kita menghukumnya."

"Baiklah,"

Sahut Yo Kang.

"Silahkan tiangloo menyambut tetamu terhormat itu."

Kan Tiangloo lantas memberikan titahnya.

Maka di atas sebuah gunung Kun San terlihat meluncurnya tiga buah panah api, yang warnanya merah.

Tidak lama dari itu terlihatlah datangnya perahu, yang terus mendekati tepian.

Pihak Kay Pang memasang obor, mereka menyambut.

Panggung Hian Wan Tay ada di atas puncak Kun San, dari kaki gunung ke puncak, perjalanannya cukup jauh, maka itu meski tetamu lihay ilmunya ringan tubuh, masih diperlukan waktu untuk mendakinya.

Kwee Ceng dan Oey Yong telah dibawa ke dalam rombongan orang banyak, mereka dijagai murid-murid Pheng Tiangloo.

Oey Yong mengawasi Kwee Ceng, ia heran sekali.

Pemuda itu, seperti orang tolol, masih berdiam saja, dari mulutnya terdengar suara sangat perlahan, entah apa yang dikatakannya.

Tengah nona ini heran, ia melihatnya tetamu telah tiba.

Obor ada sangat terang, maka terlihatlah tegas-tegas tetamu itu, yang diiringi beberapa puluh orang dengan pakaian hitam.

Dia mengenakan baju kuning yang pendek, tangannya membawa kipas.

Siapakah dia kalau bukannya Khiu Cian Jin?

Kan Tiangloo maju menyambut, ia bicara dengan ramah tamah, sikapnya sangat menghormati.

Setelah itu ia memperkenalkannya kepada Yo Kang.

Ia kata.

"Inilah Tiat Ciang Sui-siang-piauw Khiu Pangcu, yang kepalan saktinya tak ada tandingan, yang namanya menggetarkan dunia."

Yo Kang tidak memandang mata kepada tetamunya ini.

Selama di Kwie-in-chung, Thay Ouw, ia telah menyaksikan orang turun merek.

Ia tidak menyangka orang adalah pangcu dari suatu partai besar.

Tapi karena orang telah datang berkunjung dan ia tuan rumah, ia berpura-pura pilon.

"Sungguh aku girang dengan pertemuan kita ini!"

Katanya, tertawa. Dengan mengulur tangannya untuk berjabatan tangan. Ia lantas mengerahkan tenaganya berniat membikin orang kesakitan dan menjerit karenanya. Di dalam hatinya ia kata.

"Semua orang percaya kau lihay tetapi di sini hendak aku merobohkanmu! Inilah ketika yang baik sekali! Tua bangka, hendak aku meminjam kau untuk aku memamerkan kepandaianku di antara semua pengemis ini!"

Begitu lekas Yo Kang menggunakan tenaganya, begitu lekas ia merasa telapakan tangannya panas, seperti terkena bara, maka lekas-lekas ia menarik pulang tangannya, akan tetapi tangannya itu seperti kena kecantol, tak dapat dilepaskan, sedang hawa panasnya jadi semakin hebat.

Tanpa merasa ia menjerit.

"Aduh! Mati aku!"

Mukanya lantas menjadi pucat, air matanya mengucur, saking sakitnya, pinggangnya menjadi lengkung, hampir dia pingsan.

Keempat tiangloo kaget, semua berlompat maju.

Kan Tiangloo sebagai tertua di antaranya, dengan tongkat baja di tangannya menggetok batu gunung, hingga terdengar suara nyaring dan lelatu apinya muncrat, lalu ia menanya.

"Khiu Pangcu, Yo Pangcu kami masih sangat muda sekali, mengapa kau menguji kepandaiannya?"

Pangcu she Khiu ini menyahuti dengan dingin.

"Aku berjabat tangan dengan baik-baik dengannya, adalah pangcu kamu yang telah mencoba aku. Yo Pangcu telah berminat meremas hancur beberapa tulangku yang tua!"

Sambil mulut mengatakan demikian, Khiu Pangcu tidak melepaskan tangannya, maka itu Yo Kang terus berteriak teraduh-aduh, suaranya makin perlahan.

Rupanya ia tidak dapat bertahan lebih lama pula, lantas dia pingsan.

Baru sekarang Khiu Cian Jin melepaskan tangannya, dengan disemperkan, maka Yo Kang yang sudah tak sadarkan diri, lantas terguling tubuhnya.

Syukur Lou Yoe Kiak keburu lompat untuk memegangi.

Kan Tiangloo menjadi gusar.

"Khiu Pangcu apakah artinya ini?"

Ia menegur.

"Hm!"

Ketua Tiat Ciang Pang itu mengasih dengar suaranya sedang tangan kirinya menyambar kemuka orang.

Kan Tiangloo mengangkat tongkatnya, untuk menangkis atau -dengan kesebatannya yang luar biasa -Khiu Cian Jin telah dapat menangkap tongkat orang, hanya belum sempat ia merampasnya, Kan Tiangloo sudah menarik keras sekali.

Karena itu ia lantas mengayunkan tangan kanannya ke kiri, tepat mengenai tongkat itu.

Kali ini Kan Tiangloo merasakan tangannya sakit, bahkan telapakan tangannya itu pecah dan mengucurkan darah, hingga dia tidak dapat memegang lebih lama pula dan senjatanya itu kena juga dirampas.

Bahkan dengan tongkatnya itu, tetamu ini lantas berhasil menangkis golok dan pedang Pheng Tiangloo dan Nio Tiangloo, yang telah segera menyerang sebab mereka ini menyaksikan rekan mereka sudah bertempur.

Khiu Pangcu lihay sekali hampir berbareng dengan itu, ia juga menyikut mukanya Lou Yoe Kiak, hingga dia ini mesti mundur juga.

Semua pengemis menjadi kaget, semua lantas menghunus senjata mereka, bersiap untuk menyerbu asal ada titah dari ketua mereka.

Khiu Cian Jin mencekal tongkat dengan tangan kiri dan tangan kanannya, ia tertawa lebar dan panjang, sambil berbuat begitu ia mengerahkan tenaganya, sembari berteriak ia hendak membikin patah tongkat itu, tetapi ia tidak berhasil, karena tongkat itu terbuat dari baja pilihan, maka itu sesudah terus ia mengerahkan tenaganya, ia cuma bisa menekuk melengkung bundar beberapa lipat.

Baru sekarang ia mengendorkan tenaganya, ia melemparkan tongkat dengan tangan kirinya, hingga tongkat terlempat mengenai batu gunung, keras suaranya, batu gunung itu pada meletik lelatunya, ujungnya tongkat nancap.

Menyaksikan semua itu, kaum Kay Pang jagi kaget dan kagum.

Yang lebih kaget dan heran adalah Oey Yong.

Nona ini kata dalam hatinya.

"Tua bangka ini terang satu penipu besar yang tidak mempunyai guna, sekarang kenapa dia menjadi begini lihay? Sungguh aneh!"

Rembulan sedang bersinar terang sekali.

Oey Yong memandang tajam kepada orang tua itu.

Tidak salah, dialah Khiu Cian Jin si penipu yang dula kali ia ketemukan di Kwie-in-chung dan Gu-kee-cun.

Maka ia jadi mau berpikir, apakah juga penipuan belaka ilmu kepandaiannya orang ini?

Kemudian si nona menoleh pula kepada Kwee Ceng, ia mendapat kenyataan pemuda itu masih saja mengawasi bintang-bintang di langit, hingga ia menjadi bingung.

Ia tidak tahu, apa yang sebenarnya lagi dikerjakan kawannya itu.

Khiu Cian Jin dengan suaranya yang dingin, terdengar berkata.

"Tiat Ciang Pang serta partai tuan-tuan tidak ada hubungannya satu dengan lain, karena aku mendengar hari ini ada harian Rapat Besar kamu, aku sengaja datang berkunjung, karena itu kenapakah pangcu kamu dengan tidak karu-karuan hendak merobohkan aku?"

Kan Tiangloo telah menjadi jeri, sekarang mendengar suara orang bukannya suara bermusuh, maka ia lantas memberikan penyahutannya. Ia kata.

"Khiu Pangcu salah paham! Pangcu kesohor di empat penjuru negeri, kami biasa sangat menhargainya, maka dengan kunjungan pangcu ini, bagi kami itulah suatu kehormatan besar."

Khiu Cian Jin mengangkat kepalanya, ia tidak menyahuti, sikapnya jumawa. Hanya sejenak kemudian, baru ia membuka pula mulutnya. Ia kata.

"Aku mendengar kabar Ang Pangcu telah berpulang ke dunia baka, maka dengan begitu di kolong langit ini berkurang pula satu orang gagah, sungguh sayang! Sekarang partai kamu mengangkat satu pangcu yang baru seperti ini, ini pun sayang, sayang!"

Ketika itu Yo Kang sudah mendusin, ia mendengar suara yang sangat menghina itu, akan tetapi ia tidak berani membuka mulutnya.

Ia masih merasakan tangannya sakit, tangan itu bengkak berikut lima jejarinya.

Keempat tiangloo juga tidak tahu meski mengucap apa, maka terdengarlah Khiu Cian Jin berkata pula.

"Aku yang rendah hari ini datang berkunjung, ada dua maksudku untuk mana aku ingin memohon sesuatu. Untuk itu aku pun hendak menghadiahkan apa-apa."

"Tolong Khiu Pangcu memberi petunjuk,"

Kata Kan Tiangloo yang belum tahu orang menghendaki apa.

Khiu Cian Jin tidak langsung menjawab, ia hanya menyapu dengan matanya kepada semua hadirin di seputarnya itu.

Ketika ia telah melihat Kwee Ceng dan Oey Yong, lantas sinar matanya menjadi tajam sekali.

Oey Yong tidak takut, ia membalas mengawasi dengan tajam juga.

Bahkan ia mengasih lihat senyuman memandang enteng.

Ia telah pikir.

"Buat kau beraksi bagaimana juga, aku tentu menganggapmu satu penipu besar!"

Khiu Cian Jin berpaling kepada Kan Tiangloo.

"Nona kecil itu serta kawannya si bocah telah mencelakai beberapa muridku,"

Katanya.

"Maka itu dengan membesarkan nyali aku hendak minta mereka untuk aku menghukumnya."

Kan Tiangloo tidak berani mengambil keputusan.

"Yo Pangcu, bagaimana?"

Ia menanya ketuanya itu.

"Dua orang ini sebenarnya ada musuh-musuh besar partai kami,"

Berkata Yo Kang.

"Maka aku tidak menyangka, mereka juga telah berdosa terhadap Khiu Pangcu. Kalau begitu mari kita menghukumnya bersama-sama!"

Khiu Cian Jin mengangguk.

"Itu boleh!"

Katanya.

"Sekarang permintaan yang keduanya. Kemarin ini ada beberapa muridku yang lagi bekerja atas titahku, entah kenapa mereka itu menyebabkan kemurkaannya dua anggota dari partai kamu, mata mereka telah dibikin buta!"

Dia lantas menuding Kwee Ceng berdua dan menambahkan.

"Kabarnya kedua bangsat itu telah membantui menurunkan tangan. Orang-orangku itu tidak punya guna, aku tidak bisa membilang suatu apa, hanya kalau kejadian ini sampai tersebar, tentulah kami Tiat Ciang Pang menjadi hilang mukanya, maka itu, aku si orang tua menjadi tidak kenal gelagat, aku ingin sekali belajar kenal dengan kepandaiannya kedua sahabat itu!"

Yo Kang tidak mencintai orang-orang Kay Pang, tidak ada niatnya untuk melindungi mereka, maka itu mana ia mau berbuat salah lagi hanya untuk dua orang? Maka ia lantas menanya.

"Siapakah sudah lancang menerbitkan onar, yang telah bentrok dengan sahabat-sahabat dari Tiat Pangcu? Lekas kamu keluar untuk memohon maaf dari Khiu Pangcu ini!"

Kay Pang itu semenjak dipimpin Ang Cit Kong belum pernah hilang muka, maka itu bukan main mendongkolnya semua anggotanya mendengar ini pangcu baru bersikap demikian lemah.

Lee Seng dan Ie Tiauw Hin lantas maju ke depan.

Lee Seng kata dengan nyaring.

"Harap dimaklumi pangcu. Peraturan partai kami yang nomor empat berbunyi menganjurkan kami berlaku mulia, kami mesti bisa menolong sesamanya yang berkesusahan. Kemarin ini kebetulan saja kami menyaksikan sahabat-sahabat dari Tiat Ciang Pang membikin celaka rakyat jelata dengan mereka mengumbar ular mereka, sebab kami tidak dapat menahan sabar lagi, kami lantas mencegah perbuatan mereka itu. Kebetulan di situ ada ini dua sahabat kecil, jikalau tidak ada mereka yang membantu, pastilah kami berdua pun terbinasa oleh ular-ular berbisa itu!"

"Tidak peduli bagaimana, kamu mesti menghanturkan maaf kepada Khiu Pangcu!"

Berkata Yo Kang bengis.

Lee Seng dan Ie Tiauw Hin saling mengawasi.

Mereka menghadapi kesukaran, hati mereka panas sekali.

Kalau mereka tidak menghanturkan maaf, mereka menentang titah pangcu; kalau mereka menurut, mereka sangat penasaran.

Tapi tak lama Lee Seng bersangsi, ia lantas berseru kepada semua anggota partainya.

"Saudara-saudara, jikalau Ang Pangcu masih hidup, tidak nanti kami dibiarkan hilang muka, maka itu sekarang, Siauwtee sekarang lebih suka terbinasa, tidak nanti Siauwtee menerima penghinaan!"

Sembari berkata begitu, Lee Seng mencabut pisau belati dari betisnya, dengan itu ia lantas menikam dadanya, ulu hatinya, maka di situ juga ia roboh dengan jiwanya melayang.

Menampak demikian, Ie Tiauw Hin menubruk saudaranya itu, untuk merampas pisau belatinya, dengan apa ia pun menikam dirinya, maka ia juga roboh dengan jiwanya melayang.

Semua pengemis terbangun semangatnya.

Kejadian ini sangat hebat untuk mereka.

Tapi mereka masih berdiam, tanpa ada titah pangcu, mereka tidak berani lancang.

Setelah menyaksikan semua itu, Khiu Cian Jin tertawa tawar.

"Permintaanku yang kedua ini sudah beres,"

Katanya.

"Maka sekarang kami hendak menghanturkan bingkisan kepada partai tuan-tuan!"

Habis berkata, ia memberi tanda dengan tangan kirinya.

Maka beberapa puluh orang bertubuh besar yang mengenakan pakaian hitam lantas maju bersama kopor mereka yang besar, yang lantas dibuka tutupnya, dari situ mereka mengambil masing-masing sebuah tetampan untuk diletaki di samping Yo Kang.

Itulah uang emas dan perak dan permata yang sinarnya berkeredepan!

Semua pengemis heran melihat orang mengeluarkan harta sebesar itu.

"Tiat Ciang Pang kami,"

Berkata Khiu Cian Jin.

"Meski kami masih dapat makan, tidak nanti kami sanggup mengeluarkan bingkisan begini berharga, maka itu baiklah tuan-tuan ketahui, ini adalah hadiah dari Chao Wang dari negera Kim, yang meminta kami tolong menyampaikannya."

Mendengar keterangan ini, Yo Kang heran dan girang.

"Di mana adanya Chao Wang?"

Ia menanya lekas.

"Aku ingin bertemu dengannya!"

"Inilah kejadian pada beberapa bulan yang lalu,"

Menyahut Khiu Cian Jin, menyahuti apa yang tidak ditanya. Karena ia memberikan keterangannya.

"Itu waktu Chao Wang telah mengirimkan utusannya kepadaku membawa bingkisannya ini dan dia minta partaiku yang tolong menyampaikannya."

Mendengar itu, Yo Kang tahu bahwa hal itu terjadi sebelum ayahnya -ilaga Chao Wang -berangkat ke Selatan.

Hanya ia belum tahu maksudnya mengapa Kay Pang dikirimkan harta sebesar ini.

Khiu Cian Jin masih meneruskan keterangannya.

"Chao Wang mengagumi partai tuan-tuan, maka itu ia memerintahkan istimewa untuk aku sendiri yang menyampaikan bingkisan ini."

"Jikalau begitu kami membuat capai saja kepada pangcu!"

Berkata Yo Kang girang. Khiu Cian Jin tertawa.

"Yo Pangcu muda tetapi nyata kau luas pandangannya, kamu menang jauh daripada Ang Pangcu!"

Ia memuji. Yo Kang masih belum tahu maksud ayahnya berhubungan sama Kay Pang, maka ia menanya pula.

"Entah ada titah apakah dari Chao Wang untuk perkumpulan kami? Tolong pangcu menitahkannya saja!"

"Menitahkan, itulah tak dapat disebutkan,"

Berkata Khiu Cian Jin.

"Hanya Chao Wang memesan untuk memberitahukan bahwa wilayah utara ini tanahnya miskin dan rakyatnya melarat, jadi sukar untuk….."

Yo Kang cerdas, segera ia dapat menduga.

"Jadinya Chao Wang menghendaki kami pergi ke Selatan?"

Katanya.

"Sungguh Yo Pangcu cerdas sekali!"

Berkata Khiu Cian Jin, memuji.

"Maaf untuk sikapku tadi. Chao Wang membilang bahwa propinsi-propinsi Kwietang dan Kwiesay serta Hokkien, tanahnya subur, rakyatnya makmur, maka itu ia bertanya kenapa saudara-saudara dari Kay Pang tidak mau pergi ke Selatan untuk menaruh kaki di sana? Wilayah Selatan jauh lebih menang daripada wilayah Utara ini."

"Terima kasih untuk petunjuk Chao Wang serta pangcu sendiri,"

Berkata Yo Kang tertawa.

"Percayalah, aku yang rendah pasti bakal menurutinya."

Khiu Cian Jin heran orang dengan gampang saja menerima hadiah itu, tetapi karena ia khawatir Kay Pang nanti menyesal, ia lantas berkata.

"Kata-katanya seorang laki-laki cukup dengan sepatah kata! Dengan semua saudara dari Kay Pang berangkat ke Selatan, bukankah itu berarti bahwa kamu tidak bakal kembali ke Utara ini?"

Yo Kang hendak memberikan jawabannya ketika Lou Yoe Kiak memotong.

"Harap pangcu mengetahuinya! Kami semua hidup dari mengemis, maka itu, apa perlunya kami dengan uang emas dan barang permata? Laginya partai kita berada di seluruh negeri, kami merdeka, maka kapannya kami pernah dipengaruhi lain orang? Oleh karena itu aku memohon pangcu memikirkan dengan seksama!"

Sekarang ini Yo Kang telah dapat menerka maksudnya Wanyen Lieh.

Di Kangpak ini, yaitu utara Sungai Besar, Kay Pang menjadi musuh bangsa Kim, sering terjadi, kalau pihak Kim jauh ke utara, Kay Pang suka mengganggu mengacau bagian belakang, baik dengan membunuh punggawa perangnya maupun dengan membakar rangsum, maka kalau Kay Pang dipindah ke Selatan, jadi gampanglah usaha bangsa Kim itu.

Maka itu atas cegahannya Lou Yoe Kiak, ia berkata.

"Ini adalah maksud baik dari Khiu Pangcu, jikalau kita tidak menerima, itu tandanya kita berlaku tidak hormat. Uang emas dan perak dan permata ini, aku sendiri tidak membutuhkannya, maka itu Suwie Tiangloo, sebentar sebubarnya rapat, silahkan kamu membagi-bagikannya kepada semua saudara!"

Tapi Yoe Kiak tidak memperdulikan perkataannya ini pangcu baru. Ia berkata pula.

"Ang Pangcu kami yang tua dikenal sebagai Pak Kay, maka itu usaha kita di Utara ini mana dapat gampang-gampang ditinggalkan secara begini? Laginya partai kita bercita-cita bersetia dan membela negera sedang dengan bangsa Kim, kita adalah musuh turunan, dari itu tidak dapat bingkisannya ini diterima! maka itu tidak dapat kita pindah ke Kanglam!"

Yo Kang menjadi tidak senang, air mukanya menunjuki itu. Tapi belum lagi ia membuka mulutnya, Pheng Tiangloo sambil tertawa mendahului padanya. Kata ini Tiangloo;

"Lou Tiangloo, urusan besar dari partai kita diputuskan oleh pangcu, bukan diputuskan kau seorang diri, bukankah?"

Yoe Kiak tetapi tetap sama sikapnya. Ia kata keras.

"Jikalau mesti melupakan kesetiaan dan kejujuran, biarnya mati, aku tidak suka menurut!"

"Ketiga tiangloo Kan, Pheng dan Nio, bagaimana pikiran kalian?"

Yo Kang tanya ketiga tetua itu.

"Kami bersedia untuk titah pangcu!"

Menyahut ketiga tiangloo itu serentak.

"Bagus!"

Berseru Yo Kang.

"Mulai tanggal satu bulan delapan, kita pergi menyeberangi Sungai Besar!"

Atas perkataan itu, sebagian besar orang Kay Pang menjadi gaduh.

Di dalam Kay Pang ini, perbedaan di antara golongan Pakaian Bersih dan Pakaian Kotor nyata sekali.

Golongan Pakaian Bersih, meski pakaian mereka banyak tambalannya, tetapi pakaian itu bersih seperti pakaian orang kebanyakan dan cara hidupnya sama dengan khalayak ramai, tidak demikian dengan golongan Pakaian Kotor yang teguh sama cita-citanya, sudah pakaiannya butut dan dekil, mereka tidak menggunakan uang untuk membeli barang, bahkan mereka tidak duduk bersantap bersama-sama dengan lain orang, mereka tidak nanti bertempur bersama orang yang tidak mengerti ilmu silat.

Benar di antara empat Tiangloo, tiga ada dari golongan Pakaian Bersih, walaupun demikian, jumlah pengemis Pakaian Kotor terlebih banyak.

Mereka inilah yang sekarang memberi suara setuju kepada Lou Yoe Kiak.

Melihat sikapnya sebagaian pengemis itu, Yo Kang menjadi bingung juga.

Ketiga tiangloo she Kan, Pheng dan Nio lantas mengasih dengar suara nyaring mereka, untuk meminta orang jangan gaduh, suaranya itu tidak diambil mumat.

Kan Tiangloo menjadi habis sabar, maka ia memandang Lou Yoe Kiak.

"Lou Tiangloo, adakah kau hendak memberontak kepada pangcu?"

Dia tanya bengis.

"Biarnya aku dihukum picis, tidak nanti aku berani melawan yang tua!"

Menyahut Yoe Kiak keren.

"Apapula untuk memberontak terhadap pangcu, pasti aku lebih-lebih tak berani. Akan tetapi anjing Kim itu adalah musuh besar dari Kerajaan Song kita! Apakah katanya Ang Pangcu kepada kita?"

Kan Tiangloo bertiga kena terdesak, mereka lantas tunduk.

Mereka mulai menyesal.

Khiu Cian Jin melihat suasana itu, maka ia pikir usahanya bakal gagal kalau Lou Yoe Kiak tidak dipengaruhi, maka itu dengan tertawa dingin, ia berkata kepada Yo Kang.

"Yo Pangcu, hebat Lou Tiangloo ini!"

Lalu menyusuli penutup perkataannya itu, dengan kedua tangannya diulur ke arah pundak si tiangloo.

Ketika mendengar orang tertawa dingin, Lou Yoe Kiak sudah bercuriga, ia telah siap sedia, maka itu, ketika ia diserang, dengan cepat ia berkelit sambil menunduk untuk nelusup masuk ke selangkangan orang.

Sebab ia mengerti dengan baik, tidak bisa ia melawan dengan kekerasan.

Sembari nelusup itu, tanpa menanti lempangnya pinggangnya, kakinya sudah menendang ke kempolan pangcu dari Tiat Ciang Pang.

Dia bernama Lou Yoe Kiak, Lou si Mempunyai Kaki, dari itu bisa dimengerti ilmu dupakan itu.

Khiu Cian Jin heran untuk caranya orang berkelit itu, Guna melindungi diri, ia lantas mengayun tangannya ke belakang, guna menghajar kakinya si pengemis.

Yoe Kiak tahu tangan lawan itu hebat, ia menarik pulang dupakannya ketiga.

Ia khawatir kakinya nanti terluka.

Sambil lompat ke samping, ia meludah kepada lawannya itu!

Khiu Cian Jin boleh gagah dan luas pengalamannya, akan tetapi serangan semacam itu ia tidak menyangka sama sekali, maka itu, belum sempat ia berkelit, mukanya sudah kena diludahi.

Ludah itu tidak mendatangkan rasa sakit atau gatal, toh itu membuatnya tercengang.

"Lou Tiangloo, jangan kurang ajar kepada tetamu agung!"

Yo Kang membentak.

Yoe Kiak masih taat kepada ketuanya, tetapi justru ia hendak merubah sikapnya, Khiu Cian Jin yang gusar sudah lantas menyerang padanya, kedua tangannya yang kuat seperti kepit sudah menyambar ke arah tenggorakan.

Ia kaget, maka ia berlompat jumpalitan untuk menghindarkan diri dari bahaya.

Tapi ia terlambat, selagi kupingnya mendengar ejekan.

"Hm!"

Kedua tangannya kena disambar lawan itu.

Dalam kagetnya ia berontak, tetapi sia-sia saja.

Ia sudah banyak pengalamannya, ia tidak menjadi bingung atau ketakutan, maka ia berdaya pula.

Dengan tiba-tiba ia menyeruduk dengan kepalanya!

Semenjak masih kecil, Yoe Kiak sudah melatih kepalanya itu, maka itu, serudukannya dapat menggempur tembok hingga bolong.

Pernah ia bertaruh sama saudara-saudara separtai dengan ia melawan banteng, mengadu kepala, kepalanya sendiri tidak kurang suatu apa, si kerbau sendiri roboh kelenger.

Hanya kali ini, ketika kepalanya mengenai perut, ia merasa membentur benda lunak seperti kapas.

Ia kaget, ia mengerti bahaya, dengan lekas ia menarik pulang kepalanya itu.

Untuk kagetnya lagi, perut orang itu mengikuti kepalanya itu.

Ia lantas mengerahkan tenaganya, untuk membebaskan kepalanya itu.

Sebagai kesudahan dari pergulatannya itu, ia merasa kepalanya mulai panas sedang kedua tangannya yang terus dicekal menjadi panas sekali, seperti tangan itu dimasuki ke dalam perapian marong….

"Kau takluk atau tidak?!"

Tanya Khiu Cian Jin membentak.

"Bangsat busuk, takluk apa!"

Menjawab Yoe Kiak membentak juga. Khiu Cian Jin mengerahkan tangan kirinya, maka lima jari Lou Tiangloo mengasih dengar suara meretak, kelima jarinya kena dipencet patah.

"Kau takluk atau tidak?!"

Tanya pula ketua Tiat Ciang Pang itu.

"Bangsat busuk, takluk apa!"

Yoe Kiak membandel.

Khiu Cian Jin memencet pula, maka sekarang kelima jari kiri dari Lou Yoe Kiak yang pada patah.

Ia merasakan sakit bukan main, ia sampai menjadi waswas, tetapi ia bernyali besar dan besar kepala, ia terus masih mencaci.

"Jikalau aku menggeraki perutku, kepalamu pun bakal remuk!"

Khiu Cian in mengancam.

"Aku mau lihat, kau masih dapat mencaci atau tidak….."

Disaat Lou Yoe Kiak menghadapi waktu kematiannya itu, dari antara rombongan pengemis mendadak terlihat seorang berlompat maju -seorang yang tubuhnya tinggi dan dadanya lebar.

Dialah si bocah Kwee Ceng!

Dengan tindakan lebar, Kwee Ceng ini segera menghampirkan Lou Yoe Kiak, terus ia mengangkat tangannya yang kanan, dengan itu tiga kali beruntun ia menghajar kempolan si pengemis.

Dia menghajar Yoe Kiak akan tetapi tenaganya itu tersalur, dari kempolan terus ke kepala, terus juga ke perutnya ketua Tiat Ciang pang itu, hingga tiga kali Khiu Cian Jin merasakan benturan yang kuat, hingga sekejap itu juga, buyarlah kekuatannya menempel dan menyedot.

Begitu lekas ia merasakan kepalanya merdeka, Yoe Kiak lantas mengangkat bangun tubuhnya, hanya kedua tangannya, yang masih belum dilepaskan.

"Kau bukannya lawan dari Khiu Cianpwee, kau minggir!"

Berkata Kwee Ceng, yang sembari berkata telah menggenjot tubuhnya untuk berlompat, maka juga sebelah kakinya bisa mendupak pundak si pengemis.

Tendangan ini sama pengaruhnya seperti hajaran pada kempolan tadi.

Tenaga si anak muda tersalurkan ke kedua tangannya Khiu Cian Jin, tidak peduli tadi tangannya panas, ia ini merasakan sakit pada telapakan tangannya itu, maka tanpa merasa, cekalannya menajdi kendor dan terlepas sendirinya.

Loe You Kiak pun merasakan ia tak terpegang keras lagi, ia lantas menggunakan tenaganya membarengi berontak sambil berlompat mundur.

Tapi karena ia telah tercekal keras dan kepalanya masih terasakan pusing, kedua kakinya seperti tidak bertenaga, ia roboh sendirinya.

Khiu Cian Jin terperanjat menyaksikan kepandaian Kwee Ceng itu.

Ia mengetahui ilmu yang disebutkan "Kek san ta gu", atau "

Memukul kerbau diantara gunung".

Ilmu itu ia cuma mendapat dengar, sekarang ia membuktikannya sendiri.

Ia pun heran akan melihat seorang bocah, yang ia tidak kenal.

Karena ini ia menyiapkan tenaga di kedua tangannya, ia mengawasi pemuda itu.

ia tidak berani sembarang menyerang meski sebenarnya ia mendongkol.

Sementara itu kegaduhan terbit di antara kaum pengemis.

Mereka itu tidak tahu apa yang terjadi dengan Lou Yoe Kiak, mereka menyangka Kwee Ceng menyerang orang hingga roboh, pingsan atau terbinasa, maka itu dengan suara riuh mereka maju dengan niatan menyerang si anak muda.

Mereka juga heran yang anak muda itu yang teringkus sekian lama, mendadak dapat membebaskan diri.

Semenjak ia melihat bintang Pak Tauw, Kwee Ceng telah mengumpul semangatnya.

Ia memperhatikan gerak-geriknya rahasia dari Coan Cin Cit Cu, ia gabung dengan sarinya Kiu Im Cin-keng, yang ia telah paham betul, maka itu, ia tidak memperdulikan segala apa yang terjadi di sekitarnya.

Ia tidak mengambil mumat Oey Yong, ia tidak menggubris segala pembicaraan terutama diantara Loe Yoe Kiak dan Khiu Cian Jin.

Hebat ia memusatkan pikirannya itu.

Selagi Yoe Kiak terancam bahaya, ia sendiri lagi memecahkan suatu ilmu dari Kitab Bawah dari Kiu Im Cin-keng itu, bagian ilmu "Menyimpan otot dan meringkaskan tulang".

Siapa yang paham ini, ia bisa membikin tubuhnya ciut menjadi kecil.

Di dalam hal ini, ia memperoleh banyak sekali bantuan dari ilmu yang diwariskan Ang Cit Kong kepadanya, ialah "Ie Kin Toan Kut Pian", atau ilmu "Menukar otot dan melatih tulang".

Dengan mempunyai dasar itu, ia berhasil dengan lekas sekali.

Demikian tanpa ia merasa, ia dapat pulang tenaganya dan tubuhnya mengkerat kecil hingga ia lolos dari belungguannya.

Sebab Yoe Kiak terancam bahaya, ia segera menghampirkan tiangloo itu, untuk memberikan pertolongannya.

Pheng Tiangloo yang ditugaskan menjaga Kwee Ceng pun heran dan kaget ketika mendadak ia mendapatkan bocah itu bebas.

Ia menjambret, ia gagal, ia cuma bisa menyambar tambang ringkasannya itu.

Ia sadar dengan lekas, hendak ia menyusul si anak muda, tapi ia terlambat, Kwee Ceng sudah mendahului melemahkan tenaga dalam dari Khiu Cian Jin hingga Lou Yoe Kiak dapat ditolong.

Tapi ia licik.

Begitu melihat suasana, ia berteriak.

"Tangkap penjahat licik itu!"

Ia sendiri tidak bergerak dari tempatnya berdiri, karena ia merasa, majunya toh bakal sia-sia belaka.

Kwee Ceng menyesal menyaksikan aksinya kaum pengemis itu, tetapi karena ia justru ingin mencoba lebih jauh hasil latihannya barusan, ia kata dalam hatinya.

"Kalau hari ini aku tidak memberi ajaran adat kepada kamu, kemendongkolanku tidak dapat dilampiaskan...."

Maka ia mementang kedua tangannya sambil kakinya memasang kuda-kuda "Thian Koan".

Bab 58.

Nona manis menjadi raja pengemis Tujuh pengemis maju paling dulu, dari depan dan belakang, dari kedua samping.

Kwee Ceng membiarkan mereka maju, dengan kuda-kuda tidak begeming, ia menyambut mereka dengan kedua tangannya.

Di belakang mereka itu, ada lagi beberapa lagi pengemis yang merapatkan diri.

Mereka pun disambut serupa, dengan tangkisan atau sikut, kalau perlu barulah dengan dupakan.

Maka saling susul mereka itu berteriak kesakitan, saling susul juga mereka roboh terguling.

Dengan cara ini Kwee Ceng pun mengundurkan yang lainnya lagi.

Kemudian ia memikir untuk menerkam Yo Kang, atau ia melihat dua pengemis berlompat ke arah Oey Yong.

Jarak diantara mereka cukup jauh, sulit untuk berlompat menolongi nona itu.

Tidak ada jalan lain, ia lantas menarik copot kedua sepatunya, dengan itu ia menimpuk ke arah kedua penyerang itu.

Dua pengemis itu adalah orang-orang yang kukuh, mereka hendak membunuh si nona, ke satu untuk membikin si nona tidak keburu lolos, kedua untuk membalaskan sakit hati ketua mereka.

Nyata ilmu silat mereka sudah cukup sempurna, mereka mendengar ada angin menyambar di belakang mereka, hanya ketika yang satu segeran menoleh untuk melihat dan menangkis, tahu-tahu sepatu sudah menghajar dadanya sedang yang lain kena terhajar punggungnya.

Sebenarnya sepatu itu barang lembek tetapi ditimpuki Kwee Ceng, tenaganya besar luar biasa.

Sambil menjerit, mereka itu roboh terjengkang dan tengkurap, dan untuk sementara mereka tak dapat merayap bangun.

Pheng Tiangloo berada dekat dua pengemis itu, ia kaget menyaksikan lihaynya Kwee Ceng itu.

Kwee Ceng sendiri, habis menimpuk, lantas mementang sayapnya, menghalang beberapa pengemis yang merangsak pula, terus ia berlompat menghampirkan Oey Yong, untuk membuka belunggu si nona.

Selama itu, kawanan pengemis menyerbu pula.

Mereka tidak menjadi takut melihat sejumlah kawannya kena dirobohkan dengan gampang.

Sekarang Kwee Ceng tidak melayani seperti tadi.

Dengan lantas menjatuhkan diri, untuk duduk mendeprok di tanah, lalu sambil berduduk, ia meniru gerak-geriknya Khu Cie Kee dan Ong Cie It beramai ketika Coan Cin Cit Cu menggeraki tangan kanannya, sebab tangan kirinya dipakai membuka ikatannya Oey Yong, sedang tubuh si nona ia pangku di atas kedua pahanya.

Ia dapat berbuat demikian karena sekarang ia menggunakan tipu ajarannya Ciu Pek Thong.

Ialah ilmu memecah pemusatan perhatian, kedua tangan bisa dipakai berkelahi satu sama lain.

Rombongan pengepung pengemis itu jadi semakin banyak.

Tetapi Kwee Ceng membela diri dengan tangan kanannya, tetap tangan kirinya membuka belungguan si nona.

Ketika kemudian ia berhasil membuka semua ikatan, ia lantas mengeluarkan biji sumbatan dari mulut nona itu, sambil berbuat demikian, ia tanya.

"Yong-jie, apakah kau terluka?"

"Tidak, cuma aku merasa sekujur tubuhku kesemutan,"

Menyahut si nona, yang terus merebahkan diri.

"Bagus!"

Berkata si anak muda.

"Kau boleh beristirahat, kau lihat bagaimana aku melampiaskan kemendongkolan kita!"

Oey Yong menurut, ia beristirahat. Kuat sekali kepercayaannya kepada Kwee Ceng. Ia cuma memesan sambil tertawa.

"Kau hajarlah mereka, asal mereka jangan sampai terluka parah!"

"Aku mengerti,"

Menyahut si anak muda.

"Kau lihat!"

Dengan tangan kirinya, Kwee Ceng mengusap-usap rambut yang bagus dari si nona, dengan tangan kanannya ia mengibas.

Kontan tiga orang pengemis kena dibikin terlempar, habis mana menyusul empat pengemis lainnya, semuanya ialah yang merangsak rapat.

Pertempuran kacau itu menyebabkan terdengar satu suara nyaring.

"Saudara-saudara, lekas mundur! Biarlah saudara dari generasi delapan yang melayani dua bangsat cilik ini!"

Suara itu ialah suaranya Kan Tiangloo.

Suara itu ditaati, maka lekas juga semua pengemis itu mengundurkan diri, hingga tinggal delapan pengemis, yang masing-masing punggungnya menggendol delapan buah kantung goni.

Karena ada dari generasi ke delapan, kedudukan mereka ini cuma ada di sebawahan keempat tiangloo.

Di antara mereka itu ada si kurus dan si gemuk yang menyambut Yo Kang.

Sebenarnya jumlah mereka semua sembilan orang akan tetapi dengan Lee Seng membunuh diri, mereka tinggal delapan.

Kwee Ceng tahu ia bakal melayani delapan musuh tangguh, sebenarnya ia hendak bangun berdiri tetapi Oey Yong berbisik kepadanya.

"Kau duduk saja! Layani mereka dengan sabar!"

Kwee Ceng suka menurut, akan tetapi ia segera berpikir.

"Baiklah aku lantas merobohkan beberapa di antaranya supaya hati mereka kecil!"

Maka sambil mata mengawasi delapan pengemis itu, tangannya memegang tambang yang dipakai mengikat si nona, Ia memperhatikan si gemuk dan si kurus itu, segera ia menyerang mereka dengan tambangnya itu.

Ia menggunakan satu jurus dari Kim Liong Pian-hoat, atau ilmu silat cambuk Naga Emas, pengajarannya Ma Ong Sin Han Po Kie.

Tambang itu lemas tetapi di tangannya pemuda ini lantas menjadi kaku.

Melihat datangnya serangan, kedua pengemis itu berlompat untuk berkelit, setelah itu mereka maju merapatkan diri.

Enam saudara mereka tapinya terpegat oleh ujung tambang, hingga mereka tak dapat lantas maju karena tertahan.

"Jangan menyerang!"

Kan Tiangloo mencegah, tetapi sia-sia saja cegahannya ini, si kurus dan si gemuk yang penasaran, sudah maju terus.

Mereka ingin sekali bisa merobohkan si bocah.

Maka mereka disambut Kwee Ceng.

Sia-sia mereka menangkis, pundak mereka kena dihajar bergantian.

Saking kerasnya hajaran itu, tubuh mereka terpental mundur, hanya ada perbedaannya, ialah si gemuk terpendal lebih dekat, si kurus terlebih jauh.

Bagusnya untuk mereka, tubuh mereka kena membentur orang-orangnya Khiu Cian Jin.

Mulanya ketua dari Tiat Ciang Pang tidak memperdulikan orang terpental, hanya setelah terjadi benturan, baru ia kaget, lagi-lagi Kwee Ceng menggunakan tipu silatnya "Kek san ta gu"

Itu.

Ia kaget karena ia menginsyafi hebatnya hajaran semacam itu.

Untuk menolongi orangnya, Khiu Cian in lantas berlompat, tetapi ia terlambat, kedua pengemis itu sudah berlompat bangun tanpa mereka terluka.

Adalah dua orang Tiat Ciang Pang, yang dibentur mereka yang menjadi korban, malah mereka ini pada putus ototnya dan patah tulangnya, hingga mereka mesti rebah terus di tanah.

Ketika si ketua kaget, ia terkejut pula karena kupingnya mendengar angin menyambar.

Segera ia menoleh, maka segera ia melihat terlemparnya tubuh dua pengemis lain!

Itulah hebat!

Lagi-lagi orangnya yang bakal menjadi korban.

Tidak ayal lagi, ia lompat maju.

Pengemis yang satu ia sampok, membikin ia terlempar ke tempat kosong, dan pengemis yang kedua, ia hajar punggungnya.

Syukur untuk pengemis yang kedua ini, tenaga Khiu Cian Jin berimbang sama tenaga Kwee Ceng, dai tidak terluka, dia jatuh dengan perlahan, lantas ia lari pula ke arah si anak muda.

Empat tiangloo dan Oey Yong heran.

Keempat pengemis ini tidak mengerti kenapa bocah itu demikian lihay dapat bertahan terhadap ketua Tiat Ciang Pang yang sangat lihay itu.

Oey Yong heran, ia berpikir.

"Penipu besar ini biasa saja kepandaiannya, mengapa ia dapat menandingi engko Ceng? Inilah aneh!"

Sampai di situ, Khiu Cian Jin mengipas tangannya, memberi tanda untuk orang-orangnya jangan bergerak.

Ia menginsyafinya, kekuatannya berimbang sama kekuatan si anak muda, jadi percuma orang-orangnya menerjang.

Ia tahu mereka itu bergusar karena robohnya dua saudaranya.

Ia berdiri diam saja menonton.

Empat pengemis generasi ke delapan itu heran untuk ketangguhan si anak muda, tetapi mereka melawan terus.

Mereka dibantu oleh saudaranya, yang tadi dihajar punggungnya oleh Khiun Cian Jin.

Berlima mereka mengepung, tapi hasilnya tak ada.

Coba Kwee Ceng tidak berlaku murah, siang-siang tentulah mereka sudah mendapat hajaran.

Kemudian Kwee Ceng merobohkan lagi dua orang lawan.

Baru sekarang tiga yang lainnya jeri dan mau mundur, tetapi mereka terlambat.

Dengan menggunakan tambangnya, Kwee Ceng menyambar dan melilit kakinya dua pengemis, terus ia menariknya orang ke sisinya, terus ia meringkus mereka.

Oey Yong gembira sekali menyaksikan kemenangan dari engko Cengnya itu.

Ia lantas ingat kepada Pheng Tiangloo, si pengemis yang wajahnya berseri-seri, yang menangkap dia berdua dengan Kwee Ceng dengan caranya yang aneh itu.

Ia sekarang ingat akan halnya ayahnya pernah bicara tentang Liam-sim-hoat, semacam ilmu sihir dengan apa orang dapat dengan tiba-tiba dibikin tidur dan dipermainkan tanpa berdaya.

Maka ia lantas tanya Kwee Ceng apa di dalam Kiu Im Cin-keng ada disebut tentang itu macam ilmu gaib.

Ia percaya betul Pheng Tiangloo telah menggunakan ilmu itu.

"Tidak,"

Kwee Ceng menyahut. Mendapat jawaban ini, si nona menyesal. Tapi segera ia memberi peringatan.

"Hati-hati dengan pengemis jahat yang gemar berseri-seri itu, jangan mengadu sinar mata dengannya!"

Kwee Ceng mengangguk.

"Aku justru hendak memberi hajaran kepadanya,"

Katanya perlahan.

Karena sekarang pertempuran sudah berhenti, ia memegang punggung si nona, untuk dikasih bangun, ia sendiri berbareng berbangkit.

Lalu dengan mengawasi Yo Kang, ia bertindak kepada si anak muda.

Yo Kang sendiri telah berdebaran hatinya semenjak tadi.

Ia jeri untuk lihaynya si anak muda, maka ia mengharap-harapkan kemenangan pihaknya sendiri, ialah pihak pengemis.

Maka kesudahannya itu membuatnya takut, lebih-lebih ia melihat anak muda itu mendatangi ke arahnya dengan matanya tajam.

"Su-wie Tiangloo!"

Ia lantas berteriak.

"Kita di sini ada mempunyai banyak orang gagah, apakah dapat bangsat kecil ini dibiarkan banyak bertingkah?!"

Ia berteriak tetapi ia mundur ke belakangnya Kan Tiangloo.

"Tabahkan hati, Pangcu,"

Kata Kan Tioangloo dengan perlahan.

"Biarnya bangsat kecil itu gagah, dia tidak nanti sanggup melawan kita yang berjumlah besar. Mari kita lawan dia dengan bergantian!"

Dan lantas dia berteriak.

"Murid-murid kantong delapan aturlah Barisan Tembok!"

Titah itu ditaati, dengan lantas muncul seorang pengemis dengan kantung delapan.

Majunya dia ini diturut oleh belasan pengemis lain, yang mengatur diri dengan rapi, ialah mereka yang bergandengan tangan, jumlah semua enam atau tujuhbelas orang.

Mereka lantas maju untuk menerjang Kwee Ceng, majunya sambil berseru nyaring.

Oey Yong berseru heran, ia berkelit ke kiri, sedang Kwee Ceng ke kanan.

Segera di arah kiri dan kanan itu, atau timur dan barat, muncul masing-masing satu barisan seperti yang pertama itu, yang menyerang dengan hebat.

Menampak cara penyerangan yang aneh dan teratur itu, Kwee Ceng tidak berkelit lagi, ia mencoba mengajukan kedua tangannya, guna menahan mereka.

Segera ternyata, barisan itu berat sekali, mereka itu dapat ditolak mundur.

Sebaliknya, selagi mereka ditolak, dua barisan yang lain lantas maju pula.

Karena terlambat sedikit, si anak muda kena dibikin terhuyung.

Terpaksa ia berlompat tinggi, melewati kepala mereka itu.

Baru ia menaruh kaki di tanah atau telah datang pula pasukan yang keempat.

Lagi-lagi ia berlompat pergi.

Lagi-lagi ia diserang barisan yang serupa.

Maka, ke mana ia menyingkir, di sana ia dipegat dan diserbu apa yang dinamakan Barisan Tembok itu.

Juga Oey Yong mengalami serbuan yang serupa.

Ia lebih gesit daripada Kwee Ceng tetapi ia kewalahan.

Akhirnya ia lompat kepada si anak muda, untuk mempersatukan diri.

Karena ini, bersama-sama mereka kena didesak mundur.

Mereka mundur terus hingga di pojok batu gunung.

"Engko Ceng, mundur ke jurang!"

Oey Yong berkata.

Kwee Ceng belum bisa menerka maksud si nona tetapi ia menurut, ia mundur ke arah jurang seperti si nona.

Ketika mereka akan sampai di tepian, lagi lima atau enam kaki, mendadak pihak penyerang menghentikan desakannya.

Ia lantas berpaling ke belakang.

Baru sekarang ia mengerti.

Ia kata dalam hatinya.

"Di sini ada jurang, kalau mereka mendesak tanpa sanggup mempertahankan kakinya, tentu mereka bakal terjerunuk ke dalam jurang!"

Pemuda ini lantas memandang ke Oey Yong, hendak ia memuji ke cerdikan orang, atau ia tak jadi memuji.

Roma bergembira dari si nona lekas berubah menjadi guram.

Ia menoleh lagi ke arah musuh.

Sekarang ia mendapatkan musuh maju dengan perlahan-lahan, musuh itu berlapis-lapis.

Inilah benar-benar berbahaya.

Berdua mereka bisa dipaksa jatuh sendiri ke dalam jurang, sedang untuk berlompat di atasan kepala dari selapis dari seratus orang, itulah tak dapat.

Selama di gurun pasir, Kwee Ceng pernah mengikuti Ma Giok berlari-lari di tepian jurang, maka itu, ia lantas memperhatikan jurang itu.

Ia mendapat kenyataan keadaan jurang kalah daripada jurang di gurun pasir itu.

Maka ia lantas mendapat pikiran.

"Yong-jie!"

Ia berkata.

"Lekas kau naik ke punggungku. Mari kita pergi!"

"Tidak dapat!"

Kata si nona menghela napas.

"Mereka bisa menyerang kita dengan batu…!"

Kwee Ceng pikir itulah benar juga. Ia menjadi bingung. Tapi justru itu, ia ingat suatu bagian dari Kiu Im Cin-keng.

"Yong-jie,"

Ia berkata.

"Aku ingat di dalam Kiu Im Cin-keng, ada ilmu yang disebut Ilmu memindah Arwah, mungkin itu sama dengan ilmu Liam-sim-hoat yang kau tanyakan tadi. Baik, mari kita mencoba-coba…."

Tetapi si nona masih berduka.

"Mereka semua ada murid yang dicintai suhu, apa gunanya untuk membinasakan mereka apa pula di dalam jumlah yang banyak?"

Tetapi Kwee Ceng tidak memperdulikan lagi si nona. Mendadak ia memeluk tubuh orang sambil ia berbisik.

"Lekas lari!"

Menyusul itu, ia mencium pipi si nona yang nempel sama hidungnya itu selagi ia berbisik, lalu dengan mengerahkan tenaganya, ia melemparkan nona itu ke atas panggung Hian Wan Tay!

Oey Yong telah membikin tubuhnya enteng, maka tubuhnya itu melayang ke arah punggung.

Ia mengerti maksudnya Kwee Ceng itu, yang mau melawan sendiri kepada semua lawannya, agar ia menyingkir terlebih dahulu.

Ketika ia sampai di panggung, dengan enteng ia menaruh kakinya.

Sesaat itu, ia menjadi tidak karuan rasanya.

Tapi ia segera melihat Yo Kang di satu pojok panggung itu, dengan tangan memegang Lek-tiok-thung, orang she Yo itu lagi memegang pimpinan pada barisan pengemis itu.

Ia lantas mendapat pikiran.

Terus ia menjejak lantai, akan berlompat kepada anak muda itu, tangannya diulur untuk menyambar tongkat suci kaum Kay Pang itu.

Yo Kang terkejut melihat tahu-tahu si nona berada di atas panggung itu, ketika tubuh orang hampir sampai, ia hendak menghajarnya dengan tongkatnya, atau tangan kanan si nona, dengan dua jari terbuka, meluncur ke arah kedua matanya.

Juga kaki kiri si nona dipakai menjejak tongkatnya itu.

Dalam kagetnya, saking takutnya, Yo Kang melepaskan tongkatnya dan ia sendiri lompat turun dari panggung.

Meski begitu, ia masih kalah sebat oleh si nona, matanya toh kebentur juga jari si nona itu, hingga ia merasakan sangat sakit, kedua matanya menjadi gelap.

Oey Yong telah mengeluarkan jurus "Dari mulut anjing galak merampas tongkat".

Itulah salah satu jurus terlihai dari ilmu tongkat "Ta Kauw Pang-hoat"

Jangan kata baru orang dengan ilmu silat seperti Yo Kang itu, biar yang terlebih pandai, sukar untuk dia meloloskan diri. Oey Yong segera mengangkat tinggi tongkat sucinya itu, ia berseru."

Saudara-saudara Kay Pang, lekas kamu menghentikan pertempuran! Ketahuilah oleh kamu, Ang Pangcu masih belum meninggal dunia! Semua-semua adalah bisanya ini manusia jahat!"

Suara itu terang terdengar, semua pengemis menjadi heran.

Dengan serempak, mereka menghentikan aksi mereka.

Semua orang lantas mengawasi ke arah panggung, hati mereka ragu-ragu.

Benarkah kabar girang itu -artinya pangcu mereka yang she Ang itu belum menutup mata?

"Saudara-saudara, mari!"

Oey Yong memanggil.

"Mari dengar aku bicara dari hal Ang Pangcu!"

Yo Kang mendengar suara nona itu, tetapi ia tidak dapat membuka matanya. Maka dari bawah panggung, ia berteriak.

"Akulah pangcu! Saudara-saudara dengar perintahku! Lebih dulu dorong itu bangsat laki-laki jatuh ke dalam jurang, baru bekuk ini bangsat perempuan yang ngaco-belo!"

Titahnya Yo Kang ini besar pengaruhnya. Walaupun di daam ragu-ragu, bangsa pengemis itu tetap taat kepada ketuanya. Maka itu mereka maju sambil berseru-seru.

"Saudara-saudara, dengarlah!"

Oey Yong berteriak pula.

"Tongkat Kay Pang ada di tanganku, akulah pangcu dari Kay Pang kamu!"

Semua pengemis itu melengak, tindakan kaki mereka berhenti sendirinya. Memang belum pernah mereka mengalami peristiwa tongkat suci mereka kena dirampas orang. Oey Yong berkata pula.

"Kay Pang kita telah malang melintang di kolong langit ini tetapi hari ini kita telah diperhina, dibuat permainan oleh orang luar, bahkan dua saudara Lee Seng dan Ie Tiauw Hin dipaksa membuang jiwanya dengan cuma-cuma! Dan Lou Tiangloo pun telah terluka parah! Kenapakah itu? Apakah sebabnya itu?"

Kata-kata itu berpengaruh juga, maka ada separuh dari orang Kay Pang itu suka mengawasi si nona untuk mendengar pembicaraan terlebih jauh.

"Sebabnya ialah karena itu manusia licin she Yo telah bersekongkol sama pihak Tiat Ciang Pang!"

Berkata pula Oey Yong nyaring.

"Orang she Yo itu telah menyiarkan cerita burung bahwa Ang Apngcu telah meninggal dunia! Tahukah saudara-saudara siapakah orang she Yo ini?"

"Siapakah dia? Siapakah dia?"

Banyak suara bertanya.

"Lekas bilang, lekas!"

Tapi ada juga yang berseru.

"Jangan dengar ocehannya bangsat perempuan ini, dia lagi mengacau pikiran kita!"

Maka itu, suara mereka itu menjadi berisik. Oey Yong tidak menghiraukannya. Ia berkata pula.

"Dia bukan orang she Yo, dia sebenarnya she Wanyen! Dialah putra dari Pangeran Chao Wang dari negara Kim! Dia tengah beraksi untuk merumpas Kerajaan Song kita!"

Kawanan pengemis itu melengak tetapi mereka tidak berani lantas mempercayai.

Oey Yong berpikir cepat.

Ia pun mengerti, sukar untuk lantas merebut kepercayaan orang banyak itu.

Maka ia membutuhkan bukti.

Ia lantas merogoh ke dalam sakunya.

Ia merasa syukur yang barang-barangnya tidak terampas semua.

Di situ masih ada tangan besi yang Cu Cong curi dari tubuhnya Khiu Cian Jin.

Dia lantas mengangkatnya tinggi-tinggi.

Ia lantas berkata nyaring.

"Lihatlah kamu, barang ini barang apa! Baru saja aku merampas ini dari tangannya si orang she Yo itu! Lihatlah, semua saudara!"

Semua orang merangsak maju. Mereka terpisah cukup jauh dari panggung. Mereka ingin melihat tegas, barang apa itu. Lantas juga di antaranya ada yang berseru.

"Itulah tangan besi! Kenapa barang itu ada padanya?"

"Nah, inilah dianya!"

Berseru Oey Yong.

"Dialah mata-mata dari Tiat Ciang Pang! Tentu saja dia membawa-bawa barang pertandaan dari partainya!"

Yo Kang kaget dan takut sekali.

Segera ia mengayunkan sebelah tangannya, maka dua biji pusutnya menyambar ke arah si nona.

Ia tidak bisa melihat tetapi ia bisa menduga orang berada di mana dengan mendengar suaranya saja.

ia pun terpisah paling dekat dengan nona itu.

Oey Yong mendapat lihat menyambarnya senjata rahasia, yang mengeluarkan sinar berkeredepan, ia membiarkan saja.

Adalah diantara pengemis ada yang berteriak-teriak.

"Senjata rahasia! Awas!"

Ada pula yang menjerit.

"Celaka!"

Dua batang senjata rahasia itu mengenai tubuh Oey Yong, terdengar suaranya yang nyaring, lekas keduanya jatuh ke panggung, si nona tidak kurang suatu apa.

"Eh, orang she Yo!"

Oey Yong menegur.

"Jikalau kau bukannya orang jahat, kenapa kau membokong aku dengan senjata rahasiamu!"

Orang Kay Pang itu menjadi heran, mereka jadi sangat bersangsi.

Rata-rata mereka bertanya, siapa nona itu, dan apa benar perkataannya.

Ada juga yang menanya, apa pangcu mereka -Ang Pangcu -belum mati.

Maka itu, banyak mata lantas ditujukan kepada keempat tiangloo mereka.

Agaknya mereka ingin minta keempat tertua itu mengeluarkan pikirannya.

Karena kejadian ini, Barisan Tembok dari kaum Kay Pang itu pecah sendirinya, dengan begitu ketika Kwee Ceng pergi ke pinggiran panggung, tidak ada orang yang mengambil peduli.

Ketika itu Lou Yoe Kiak sudah mendusin, maka keempat tiangloo lantas berbicara.

"Sekarang ini belum bisa didapat kepastian,"

Berkata Yoe Kiak.

"Maka itu baiklah kedua pihak itu ditanya jelas-jelas. Yang paling penting ialah mencari tahu dulu benar atau tidak Ang Pangcu telah meninggal dunia…."

"Tetapi kita sudah mengangkat pangcu baru, mana dapat kita mengubahnya dengan sembarangan?"

Kata Kan Tiangloo bertiga.

"Aturan kita turun-temurun, titah pangcu tidak dapat dibantah!"

Maka itu, keempat tiangloo itu pun menjadi terpecah dua. Kemudian ketiga tiangloo golongan Pakaian Bersih saling mengasih isyarat, terus mereka mendekati Yo Kang, terus Kan Tiangloo berseru.

"Kami cuma mempercayai perkataannya Yo Pangcu! Entah darimana datangnya ini dukun perempuan, dia mengacau pikiran orang! Jangan dengarkan dia! Saudara-saudara bekuk dia! Bawa dia turun untuk dihajar!"

Tapi Kwee Ceng di bawah panggung berseru dengan bengis.

"Siapa berani turun tangan?!"

Melihat orang bersikap garang, tidak ada pengemis yang berani naik ke panggung.

Sementara itu Khiu Cian Jin bersama orang-orangnya semua berdiri diam di samping, jauh dari mereka itu.

Ia senang menyaksikan peristiwa itu.

Bukankah orang seperti lagi saling membunuh?

Oey Yong berkata pula.

"Sekarang ini Ang Pangcu masih hidup, ia berada dengan tidak kurang suatu apa di dalam istana di Lim-an! Pangcu kelewat gemar dahar barang santapan raja, ia tidak dapat membagi tempo untuk datang ke mari, maka itu ia mewakilkan aku. Kalau nanti Ang Pangcu sudah cukup dahar, ia pasti akan datang menemui saudara-saudara!"

Keempat tiangloo serta kedelapan pengemis kantung delapan itu tahu kegemarannya pangcu mereka akan bersantap, keterangannya Oey Yong ini dapat juga menarik kepercayaan mereka itu, maka pikiran mereka guncang pula.

Kembali Oey Yong berkata.

"Orang she Yo ini sudah bersekongkol sama Tiat Ciang Pang, dia sengaja hendak mencelakai aku. Dia telah mencuri tongkatnya Pangcu untuk mengakali orang. Kenapa kamu tidak dapat membedakan apa yang benar dan apa yang salah dan kamu main percaya saja? Keempat tiangloo dari partai kita adalah orang-orang yang banyak penglihatannya dan luas pengetahuannya, mengapa kamu tidak dapat melihat ini suatu akal yang kecil sekali?"

Mendengar itu, semua mata lantas diarahkan kepada keempat tiangloo. Banyak mata yang bersinar ragu-ragu. Yo Kang telah buntu jalan, dia norek.

"Kau bilang Ang Pangcu masih hidup, habis kenapa dia menugaskan kau menjadi pangcu?"

Ia menanya.

"Dia menghendaki kau menjadi pangcu, kau mempunyai bukti apa?"

Oey Yong membalingkan tongkatnya.

"Inilah tongkat Tah-kauw-pang dari Pangcu! Mustahilkah ini bukannya bukti?"

Berkata ia. Yo Kang tertawa lebar.

"Haha! Toh itu tongkat suciku, yang barusan kau merampasnya dari tanganku?"

Katanya.

"Siapakah tidak menyaksikan itu barusan?"

"Jikalau Ang Pangcu menghendaki kau menjadi pangcu, mengapa dia tidak mengajari ilmu silat Tah Kauw Pang-hoat?"

Oey Yong tanya.

"Kalau benar dia mengajarinya, kenapa kau membiarkannya aku merampasnya?"

Mendengar orang menyebut ilmu silat Tah Kauw Pang-hoat, yaitu ilmu silat tongkat peranti mengemplang anjing.

Yo Kang menyangka Oey Yong memandang hina tongkat itu, maka ia hendak membalikinya.

Ia berteriak.

"Inilah tongkat suci dari Pangcu kami, kenapa kau menyebut-nyebut tongkat peranti mengemplang anjing? Ha, kau mengaco belo, ya! Sungguh berani kau menghinakan tongkat suci dari partai kami!"

Yo Kang bangga sekali.

Ia menganggap dengan begitu ia telah menghormati tongkatnya itu.

Ia mau percaya, tentulah orang-orang Kay Pang senang dengannya.

Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa selama di sepanjang jalan, si pengemis gemuk dan kurus sebenarnya tidak berani menyebut Ta Kuaw Pang kepada tongkat suci itu, hingga dengan begitu, ia sendiri jadi tidak tahu nama tongkat itu.

Mendengar perkataannya itu, semua pengemis saling mengawasi, wajah mereka muram, suatu tanda mereka tidak senang hati.

Yo Kang telah dapat melihat sikap orang itu, ia mengerti bahwa ia tentu telah omong kurang tepat, hanya ia tak tahu di mana letak kesalahannya.

Tidak pernah ia menyangka, tongkat suci yang dipandang keramat Kay Pang itu, namanya sebenarnya ialah Tah Kauw Pang alias tongkat peranti pengemplang anjing!

Oey Yong tersenyum.

"Ha, buat apa banyak-banyak omong tentang tongkat suci ini!"

Katanya.

"Jikalau kau menghendakinya, kau ambillah!"

Dan ia mengulurkan tangannya, menyodorkan tongkat itu. Yo Kang menjadi girang sekali, meski begitu, ia tidak berani lantas naik ke panggung, ia jeri untuk Kwee Ceng.

"Pangcu, kita nanti menjagai kau,"

Pheng Tiangloo berbisik.

"Lebih dulu ambillah tongkat itu, baru kita bicara pula."

Habis berkata begitu, tiangloo ini mendahului berlompat naik.

Melihat demikian, Yo Kang yang sekarang telah dapat melihat pula, turut naik dengan diiringi Kan Tiangloo dan Nio Tiangloo.

Yo Kang dengan bersangsi, dia curiga orang nanti menggunakan akal, ia tidak langsung menyambuti, lebih dulu ia bersiaga dengan tangan kiri, baru tangan kanannya diulur.

Oey Yong melepaskan cekalannya.

Ia tertawa.

"Apakah kau telah memegangnya erat-erat?"

Ia menanya.

"Kenapa?"

Tanya Yo Kang gusar, sedang tangannya memegang keras tengah tongkat.

Oey Yong tidak menjawab, hanya dengan tangan kirinya bergerak, kaki kanannya terbang, menyusul mana, tangan kanannya dilonjorkan, Dengan gerakannya itu pas berbareng cepat, tongkat suci kembali pindah ke tangannya tanpa Yo Kang mampu berdaya untuk melindunginya.

Kedua tiangloo she Pheng dan Nio kaget bukan main, mereka heran sekali.

Cuma sekejap, tongkat telah berpindah tangan pula.

Kan Tiangloo juga tidak kurang herannya.

Bukankah mereka bertiga melindungi pangcu mereka yang muda itu?

Yo Kang bersangsi.

Kang Tiangloo menggeraki cambuknya sebat sekali, cuma sedetik, tongkat itu kena disambar, dililit dan ditarik, lalu dipegang tangannya.

Menyaksikan itu, semua orang Kay Pang bersorak dengan pujian mereka.

Kemudian tongkat dapat diserahkan kepada Yo Kang.

"Ketika Ang Pangcu menyerahkan tongkat ini kepadamu, mustahil ia tidak mengajari kau untuk kau memegangnya dengan erat?"

Tanya Oey Yong tertawa pada si anak muda.

"Bukankah ia telah mengajarinya supaya kamu dapat melindunginya hingga tidak gampang-gampang kena orang rampas?"

Tepat selagi ia tertawa, kedua kaki si nona menjejaki lantai, lalu tubuhnya melesat di antara Kan Tiangloo dan Nio Tiangloo, terus tiba di depannya Yo Kang.

Kan Tiangloo menyambar dengan tangan kirinya, guna menangkap si nona, tetapi tangkapannya gagal.

Sebab nona itu tepat menggunakan jurus "Burung waket terbang berpasangan"

Ajaran Ang Cit Kong, tubuhnya lincah dan licin.

Bukan main heran dan kagetnya tiangloo itu, yang mengenal baik kepandaiannya sendiri.

Hatinya tercekat.

Justru itu mereka mendengar sambaran angin, hingga terpaksa mereka itu melompat mudur.

"Ini jurus yang dinamakan Tongkat mengemplang anjing sepasang,"

Berkata si nona, yang tubuhnya melesat sedang barusan, dengan gerakan tongkatnya, ia sengaja membikin kedua tiangloo itu membuka jalan untuknya.

Maka ia telah sampai di pojok timur dari panggung itu, tongkat Tah-kauw-pang tercekal di tangannya, cahayanya menyorot hijau di antara sinar rembulan.

Demikian sebat si nona, tak ada orang yang melihat gerakannya itu.

Kwee Ceng lantas berseru.

"Lihatlah! Kepada siapa Ang Pangcu telah menyerahkan tongkat Tah-kauw-pang? Apakah masih belum cukup terang?"

Orang-orang Kay Pang menjadi kagum, heran dan bercuriga.

Mereka telah menyaksikan jelas bagaimana caranya si nona merampas pulang tongkat itu dari tangan Yo Kang, sedang anak muda mereka itu -si pangcu baru -pun pandai ilmu silat dan dia juga dilindungi ketiga tiangloo.

Lantas mereka ramai membicarakan itu.

Lou Yoe Kiak lantas berkata.

"Saudara-saudara, apa yang diperlihatkan nona ini benar-benar ada ilmu silatnya Ang Pangcu!"

Kan Tiangloo saling mengawasi dengan Pheng Tiangloo dan Nio Tiangloo, lalu ia berkata.

"Dialah muridnya Ang Pangcu, sudah tentu dia mendapat warisan pelajaran ilmu silatnya! Apakah yang aneh!"

"Semenjak jaman dahulu, Tah Kauw Pang-hoat tidak diwariskan kecuali kepada orang yang menjadi pangcu,"

Berkata Lou Yoe Kiak.

"Mustahilkah Kan Tiangloo tidak ketahui aturan itu?"

Kan Tiangloo tertawa dingin.

"Nona ini mengerti beberapa jurus ilmu silat tangan kosong merampas senjata, belum tentu itulah Tah Kauw Pang-hoat!"

Ia berkata. Yoe Kiak menjadi bersangsi, tetapi ia berkata kepada Oey Yong.

"Nona, silahkan kau menjalankan ilmu silat Tah Kauw Pang-hoat. Kalau benar kau mewariskan ilmu silat itu, pasti pengemis di seluruh negeri bakal takluk kepadamu."

"Tetapi,"

Berkata Kan Tiangloo yang licik.

"Ilmu silat itu kita cuma baru mendengar namanya saja, belum pernah ada yang melihatnya, maka itu siapa berani memastikan itu tulen atau palsu?"

"Habis itu kau menghendaki apa?"

Lou Tiangloo tanya. Kan Tiangloo menepuk kedua tangannya satu dengan lain, ia kata dengan nyaring.

"Jikalau nona ini dengan ilmu silat tongkat itu dapat mengalahkan sepasang tanganku yang kosong ini, maka aku si orang she Kan barulah takluk benar-benar dan akan menjunjungnya sebagai pangcu kita! Umpama kata aku mengandung dua hati, biarlah laksana panah menancap di tubuhku dan ribuan golok menghukum picis mayatku!"

"Hm!"

Yoe Kiak berkata.

"Berapa tinggikah usianya si nona ini? Meskipun dia pandai dengan ilmu silat tongkatnya, maka sanggup dia melayani kau yang sudah belajar silat beberapa puluh tahun lamanya?"

Selagi dua tiangloo ini berebut bicara, Nio Tiangloo si tabiat keras sudah habis sabarnya, dengan mendadak dia berlompat kepada Oey Yong sambil membacok dengan goloknya. Sembari menyerang, dia kata.

"Tulen atau tidaknya ilmu silat Tah Kauw Pang-hoat itu akan terbukti setelah diuji! Maka lihatlah golok!"

Penyerangan itu hebat.

Itulah penyerangan berantai tiga kali, sedang dilakukannya dengan cara seperti membokong.

Oey Yong dapat melihat serangan itu, dengan cepat ia menyoren tongkat di pinggangnya, dengan sebat ia berkelit, dan ia berkelit terus tiga kali, hingga ia bebas dari serangannya.

Ia pun berkelit tanpa memindahkan kaki, cuma main mengegos tubuh.

"Apakah untuk melayani kau tepat aku menggunakan ilmu silat Tah Kauw Pang-hoat?"

Ia kata sambil tertawa.

Kata-kata ini disusuli gerakan tangannya kiri dan kanan -tangan kiri menyerang, tangan kanan mencoba merampas golok!

Nio Tiangloo berkenamaan, ia menjadi gusar sekali, yang satu bocah cilik berani memandang dia sebelah mata, maka itu habis menyingkirkan goloknya itu, ia lantas menyerang pula.

Tentu sekali, ia berlaku bengis.

Sekarang Kan Tiangloo tidak lagi memandang enteng kepada si nona itu, ia mau percaya, mengenai si nona, mesti ada apa-apa yang masih tersembunyi, dari itu, karena khawatir kawannya berlaku semberono, ia meneriaki.

"Nio Tiangloo, jangan kau berlaku telengas!"

Tapi Oey Yong sebaliknya memandang enteng.

"Jangan sungkan-sungkan!"

Katanya tertawa.

Sembari berkata dan tertawa itu, ia melayani si tiangloo.

Karena orang bersenjata golok dan menyerang bengis, ia melawan dengan lebih banyak berkelit, setiap ada ketikanya, ia membalas, meninju atau menendang, atau ia menyikut atau memengal.

Dalam tempo yang pendek, ia mengasih lihat belasan macam jurus yang luar biada.

Semua pengemis menjadi seperti kabur matanya.

Mereka heran dan kagum, apapula delapan pengemis kantung delapan itu.

"Ah, itulah Lian Hoa Kun!"

Yang satu berseru.

"Eh, itu toh pukulan gembolan kuningan?"

Kata si gemuk, yang turut menjadi kagum. Hanya belum ia menutup rapat mulutnya, Oey Yong sudah menukar lagi ilmu silatnya, hingga seorang pengemis lain berseru.

"Ah, itulah ilmu silat Kun-thiang-kang dari Ang Pangcu!"

Ang Cit Kong itu adalah seoarang yang wajar, ia tidak suka menerima murid, kalau ada anggota yang berjasa, ia cuma mengajari satu atau dua jurus sebagai persen.

Lee Seng bukannya seorang lemah, ia cuma diajarkan satu jurus dari satu jurus dari Hang Liong Sip-pat Ciang, ialah jurus "Naga sakti menggoyang ekor".

Sudah begitu ada lagi satu tabiat aneh dari pangcu itu, ialah satu jurus yang diajarkan kepada satu orang, ia tidak suka mewariskan lagi kepada yang lain, maka juga, pelajaran yang didapat anggota-anggota Kay Pang, semua berlainan.

Cuma Oey Yong yang menjadi murid yang istimewa, sebab ia pandai masak, dia dapat memincuk pangcu itu dengan pelbagai masakannya yang lezat, setiap kali ia masak, setiap kali ia memperoleh satu pelajaran.

Maka juga selama di Kiang Bio-tin, dia memperoleh puluhan macam jurus.

Sekarang, di depan Kay Pang, ia sengaja pertontonkan ilmu silatnya itu, membikin orang kagum, heran dan tunduk.

Maka setiap anggota Kay Pang, yang pernah memperoleh warisan dari Ang Cit Kong lantas memuji kalau ia melihat si nona menjalankan jurusnya itu.

Maka itu, ramailah suara pujian, yang keluar saling susul.

Nio Tiangloo melihat itu semua, ia juga menjadi heran dan kagum, matanya pun seperti kabur, oleh karena itu, ia tidak mau berlaku sembrono lagi, tidak mau ia menyerang, ia selalu membela diri dengan menutup dirinya rapat-rapat.

Lagi beberapa jurus telah dilewatkan atau mendadak si nona berhenti bersilat, dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, ia tertawa menanya.

"Apa kau suka menyerah kalah?"

Nio Tiangloo belum mengeluarkan seantero kepandaiannya, mana sudi ia menyerah kalah, bahkan kerena panas hatinya, ia lantas menyerang. Bacokannya ini hebat sekali. Kan Tiangloo dan Lou Yoe Kiak kaget.

"Tahan!"

Mereka berseru.

Pula banyak pengemis lainnya yang berteriak saking kagetnya.

Selagi orang kaget dan berkhawatir itu, Oey Yong sendiri tidak menghiraukan datangnya bacokan yang diarahkan ke pundaknya yang kiri.

Nio Tiangloo sendiri pun menyesal, tetapi ia tidak dapat menarik pulang bacokannya itu, maka tepat sekarang si nona kena dibacok, sebab ia nampak tidak berkelit atau menangkis.

Baru Nio Tiangloo menyesal atau mendadak tangannya dirasai lenyap tenaganya, goloknya itu terlepas dari cekalan, jatuh dengan mengasih dengar suara nyaring di lantai panggung.

Ia tentu tidak tahu yang nona lawannya itu mengenakan pakaian dalam joan-wie-kah, jangan kata golok biasa, golonk mustika pun tak nanti memakan.

Berbareng dengan menyesalnya itu, sikutnya telah ditotok si nona menggunakai ilmu totok warisan ayahnya ialah "Lan-hoa-hoet-hiat-ciu", ilmu menotok jalan darah Bungan Anggrek.

Dengan lantas Oey Yong mengulurkan kakinya, untuk menginjak goloknya si pengemis tertua itu, kepalanya dimiringkan, sembari tertawa, ia menanya.

"Bagaimana?"

Nio Tiangloo tercengang, lalu tanpa membilang apa-apa, ia lompat mundur. Adalah itu waktu Khiu Cian Jin dari tempatnya menonton mengasih dengar suaranya yang nyata sekali.

"Orang memakai mustika dari Tho Hoa To, atau tidak membacok kepalanya, mana bisa kau melukai dia?"

Kan Tiangloo tunduk, ia berpikir.

"Bagaimana, kau percaya aku tidak?"

Tanya Oey Yong tertawa.

Lou Yoe Kiak mengedipi mata kepada si nona, untuk dia menyudahi saja.

Ia tahu, dalam ilmu silat, nona ini kalah jauh dari Nio Tiangloo, maka kemenangannya itu mesti karena suatu tipu daya.

Atau sedikitnya, akan sama tangguhnya.

Dilain pihak, Kan Tiangloo jauh lebih lihay daripada Nio Tiangloo itu.

Maka ia bergelisah melihat si nona tidak menggubris isyaratnya itu.

Hanya celaka untuknya, untuk turun tangan, ia tidak sanggup, tangannya, yang diremas Kiu Cian Jin, masih terasa sakit sekali, bahkan semakin sakit, hingga ia mengeluarkan keringat dingin di sekujur badannya, hingga tak bisa ia membuka mulutnya.

Akhir-akhirnya Kan Tiangloo mengangkat kepalanya.

"Nona marilah aku belajar kenal denganmu!"

Ia berkata.

Kwee Ceng melihat tegas tiangloo itu, ia percaya Oey Yong tak sanggup melawannya, maka itu, ia hendak menggantikan nona itu.

Maka ia lantas menjumput tambang kulit yang dipakai meringkus dirinya, dengan satu gerakan tangan, ia membikin ujung tambang menyambar tongkatnya Kan Tiangloo yang tadi oleh Kiu Cian Jin dibikin nancap di batu gunung, sambil membentak, ia menarik dengan kaget.

Maka tongkat itu tercabut, terlempar ke arah si tiangloo.

Disaat itu ia berlompat ke depan Kan Tiangloo, ia menyambar dengan sambarannya "Menunggang enam naga" , suatu jurus dari Hang Liong Sip-pat Ciang, setelah itu, dengan tangan kiri memegang kepala tongkat dan tangan kanan mencekal bututnya, yaitu ujungnya, ia membikin gerakan memutar.

Maka itu dilain saat, tongkat yang telah melilit melengkung ia lantas menjadi pulih keadaannya, lempang seperti biasa.

Segera setelah itu, ia menyerukan.

"Sambutlah!"

Dan tongkat itu ia lemparkan kepada pemiliknya.

Kan Tiangloo terkejut.

Ia tahu, kalau ia menyambut, tangannya bisa terluka.

Maka dengan lantas ia berkelit, sambil berbuat begitu, ia berseru kepada orang-orangnya dibawah panggung, menitahkan mereka itu lekas menyingkir.

Kalau tidak, mereka atau beberapa di antaranya bisa terhajar tongkat itu.

Akan tetapi tongkat itu tidak sampai mendatangkan bencana.

Oey Yong dengan sebat sekali, dengan cara pandai, telah mengulurkan Lek-tiok-thung di tangannya itu, menyambar bagian tengah dari tongkatnya Kan Tiangloo, lalu dengan gerakan menarik sambil memutar, ia membuatnya tongkat tertahan dan kena tertekan hingga turun di lantai.

Gerakannya nona Oey ini adalah jurus "Menindih punggung anjing" , dari ilmu silat Tah Kauw Pang-hoat, tepat bekerjanya, setelah mana si nona sambil tertawa berkata kepada tiangloo itu yang barusan menantang padanya.

"Silahkan kau menggunakan tongkat baja, aku hendak menggunakan tongkat bambu ini! Marilah berdua kita main-main beberapa jurus…."

Kan Tiangloo sangat bersangsi.

Sekarang ia mengambil sikap, kalau kalah, baiklah ia menyerah.

Ia lantas membungkuk, untuk memungut tongkat bajanya itu -kepala tongkat diturunkan ke bawah, buntut tongkat naik ke atas, lalu sambil memberi hormat dengan membungkuk, ia berkata.

"Aku mohon belas kasihan nona."

Dengan cara menghormatnya itu, ialah kepala tongkat diturunkan, tiangloo ini mengambil sikap menurut aturan Kaum Rimba Persilatan, kehormatan di antara yang muda dengan yang tua, tanda dari tidak berani menganggap diri seimbang derajat.

Itulah untuk mohon petunjuk.

Oey Yong meluncurkan tongkatnya, dengan gerakan "Anjing dongak ke langit" , ia menyontek ujung tongkat ujung tongkat si pengemis tertua, hingga tongkat itu naik ke atas, sambil berbuat begitu, ia mengatakan sambil tertawa.

"Tak usah memakai banyak adat peradatan! Aku khawatir yang kepandaianku tidak dapat melawan kepandai kau.."

Tongkat baja dari Kan Tiangloo adalah tongkatnya yang berat yang ia telah pakai untuk beberapa puluh tahun lamanya, sekarang tongkat itu, dengan satu sontekan perlahan, kena dibikin terangkat naik oleh si nona, bahkan ujungnya terangkat sampai hampir mengenakan jidatnya, ia menjadi terkejut.

Syukur ia lekas menggunakan tenaganya, untuk menahan, ia kembali membawa sikapnya si muda terhadap seatasannya.

Ia menyerang dengan jurus "Raja Cin menghajar batu" , suatu jurus dari Hong Mo Thung-hoat, ilmu silat Hantu Edan dari Lou Tie Cim, salah seorang anggota gagah dari pahlawan-pahlawan Liang San.

Menampak gerakan si tiangloo, Oey Yong tidak berani berlaku alpa.

Ia tahu, meskipun memakai baju lapis, serangan tongkat itu bisa melukai ia di dalam tubuh.

Maka dengan lincah ia berkelit.

Ia bukannya mundur, hanya berkelit sambil merangsak.

Ia terus menggunakan jurus-jurus dari Tah Kauw Pang-hoat.

Demikian keduanya bertempur.

Beratnya tongkat baja tigapuluh kati lebih tetapi menghadapi tongkat bambu yang enteng itu, tongkat itu tidak dapat berbuat banyak.

Mulanya Kan Tiangloo masih mengandung rasa khawatir nanti kena merusak tongkat suci itu, serangannya hebat tetapi diperbataskan, ialah kalau rasanya ia bakal menghajar Lek-tiok-thung, segera ia membatalkannya, ia selalu mencegah bentrokan, akan tetapi sesudah beberapa jurus itu, ia mengubah caranya berkelahi, ia bahkan jadi bersungguh-sungguh.

Ia mendapat kenyataan, tongkat si nona lihay sekali, tikamannya juga dapat merupakan totokan kepada jalan darah.

Dengan lantas untuk membela diri, ia menjadi repot.

Kwee Ceng menjadi sangat kagum.

"Benar lihay ilmu silatnya suhu,"

Ia berkata di dalam hatinya, memuji Ang Cit Kong.

Tengah bertempur itu, mendadak Oey Yong membuat satu perubahan.

Ialah tongkatnya bukan ia cekal gagangnya, hanya bagian tengahnya, dan bukannya ia menyerang, ia terus putar itu dengan asyik, hingga tongkatnya nampaknya bulat.

Tentu sekali itulah bukan cara bertarung, itulah bagaikan orang tengah main-main.

Mulanya Kan Tiangloo heran hingga ia tercengang, habis itu ia menyerang si nona, untuk mencegah kurungan.

Ia mengarah pundaknya si nona.

Oey Yong melihat datangnya serangan, ia bukannya menangkis, ia hanya menjaga.

Tapi ia tidak membuat kedua tongkat bentrok, ia cuma mendekatkan, lalu bagaikan memancing, ia menarik.

Kan Tiangloo terkejut.

Ia menyerang tetapi ia merasa tongkatnya seperti tertarik dengan keras.

Jadi terang si nona telah meminjam tenaga lawan.

Dalam kagetnya, ia lantas menarik.

Kembali ia terkejut.

Tongkatnya itu seperti nempel sama tongkat lawan, tertarik atau menarik.

Ia kaget sebab ia tahu, di dalam halnya tenaga dalam, ia mesti menang daripada si nona, tetapi sekarang ialah yang kena dipengaruhkan.

Tujuh atau delapan kali sudah ia menarik, sia-sia belaka, tongkatnya itu tidak bisa dia membebaskannya.

Tah Kauw pang-hoat ada delapan pokoknya, dan sekarang Oey Yong lagi menggunakan pokok "melibat"

Maka juga tongkatnya itu seperti ada talinya yang mengikat tongkatnya si tiangloo.

Kan Tiangloo penasaran, ia mengerahkan tenaganya dan memainkan Tay-lek Kim-kong Thung-hoat, yaitu ilmu tongkat Arhat Tangguh, dengan begitu hebat ia membuatnya ujung tongkatnya bergerak keempat penjuru.

Tetapi aneh tongkat si nona, kemana ujung tongkat baja menuju, ke sana tongkat bambu mengikuti.

Nampaknya seperti si tiangloo yang berkuasa, sebenarnya dia seperti lagi dikendalikan.

Atau diumpamakan kuda binal, kuda itu lagi diumbar oleh penunggangnya yang lihay.

Akhir-akhirnya Pheng Tiangloo yang menonton dengan kekaguman dan keheranan, tertawa dan berkata.

"Pangcu kau telah lelah, kau istirahatlah!"

Suara itu perlahan dan halus, sedap didengar telinga.

Oey Yong benar-benar lantas merasa tubuhnya lebih.

Ia pun memikir, setelah bertempur sekian lama, sudah waktunya ia beristirahat.

Begitu ia merasa, begitu ia menjadi letih dan lesu, matanya pun menjadi mata orang kantuk.

Tapi sekarang pandangannya Kan Tiangloo sudah berubah, mau ia percaya si nona adalah pangcunya yang tulen, hendak ia melindungi si nona, maka mengetahui Pheng Tiangloo lagi menggunakan Liam-sin-hoat, ilmu sihirnya itu, ia lantas membentak.

"Eh, Pheng Tiangloo, kau hendak berbuat apa kepada pangcu?!"

Pheng Tiangloo tidak memperdulikannya, ia tertawa perlahan dan berkata pula.

"Pangcu hendak beristirahat, ia telah sangat letih, kau jangan ganggu padanya….."

Oey Yong mengerti ia terancam bahaya akan tetapi ia merasakan tubuhnya lemas dan matanya mau meram saja, ia merasa bahwa ia mesti beristirahat.

Hanya disaat ia separuh was-was dan separuh sadar itu, mendadak ia ingat perkatannya Kwee Ceng tadi.

Bagaikan tersadar, ia lantas tanya kawannya itu.

"Engko Ceng, bukankah kau membilang tadinya bahwa di dalam kitab ada disebut hal ilmu memindahkan arwah?"

Kwee Ceng mengerti pertanyaan itu.

Ia memang telah bercuriga terhadap Pheng Tiangloo, kecurigaannya bertambah menyaksikan Oey Yong berubah sikap, pertempurannya berhenti sendirinya secara demikian aneh dan romannya si nona pun sangat lesu.

Ia sudah memikir untuk menghajar tiangloo itu kalau ia main gila, maka mendengar pertanyaan itu, ia segera mendekati Oey Yong dan membisiki padanya bunyinya ilmu memindah arwah itu.

Dua-dua ilmunya si tiangloo dan yang termuat di dalam Kiu Im Cin-keng ada serupa intinya, itulah ilmu sihir belaka, maka ilmu itu harus dilawan dengan kekuatan hati, diri sendiri harus dapat dikendalikan.

Maka Kwee Ceng telah membisiki si nona untuk menguatkan hati, atas mana, Oey Yong yang masih sadar, lantas menuruti nasehat si pemuda.

Ia lantas meramkan matanya, pemikirannya dipusatkan.

Ia mengempos semangatnya, ia membikin bathinnya kuat.

Selang tidak lama, lantas lenyap rasa lesu dan kantuknya.

Ketika ia membuka matanya, ia sadar seperti biasa.

Pheng Tiangloo girang sekali.

Ia percaya si nona meram karena terkena pengaruh ilmunya.

Ia udah lantas memikirkan daya lainnya, untuk membikin nona itu membuka matanya, ia terus diawasi sambil tersenyum!

Ia tahu mesti ada terjadi keanehan, ia lekas-lekas balas bersenyum.

Ia hendak menggunakan ilmunya untuk mempengaruhi si nona itu.

Tapi sekarang ia gagal, dari tersenyum, tanpa merasa ia tertawa sendirinya.

Oey Yong melihat perubahan kepada tiangloo itu, ia mengerti yang ilmu dari Kiu Im Cin-keng telah bekerja dan memenangi si tiangloo, maka itu ia bukan cuma tersenyum, ia lantas tertawa lebar.

Pheng Tiangloo kaget.

Ia masih ingat akan dirinya, ia coba mengendalikan diri.

Tapi ia sudah kena dibikin kaget, tidak dapat ia menguasai dirinya.

Bahkan dari berdiri diam, ia lantas berjingkrak, terus ia tertawa terbahak-bahak sambil ia memegangi perutnya!

Ia tertawa haha-hihi, ia berteriak, makin lama suaranya makin keras.

Semua pengemis menjadi heran, semua dibikin bingung karenanya.

"Eh, Pheng Tiangloo, kau bikin apa?"

Kan Tiangloo menegur.

"Kenapa kau begini kurang ajar terhadap pangcu?"

Pheng Tiangloo tidak memperdulikan teguran itu, ia terus tertawa terpingkal-pingkal.

Ia menunjuk kepada hidungnya.

Kan Tiangloo mengira ada apa-apa yang aneh pada hidungnya itu, ia mengusap.

Tapi ini membuatnya rekannya itu tertawa lebih hebat.

Akhirnya Pheng Tiangloo lompat turun ke bawah panggung di mana ia terus tertawa sambil bergulingan!

Baru sekarang semua pengemis menjadi bercuriga.

Dua muridnya Pheng Tiangloo lantas lari kepada gurunya itu, untuk mengasih bangun, akan tetapi mereka ditolak, guru itu tertawa tak hentinya.

Karena ini mukanya lantas menjadi merah tua.

Kalau orang biasa terkena ilmunya Oey Yong itu, paling juga dia merasa lelah dan ingin tidur, tidak demikian dengan Pheng Tiangloo, yang sendirinya tukang sihir.

Karena ia melawan, kesudahannya, ialah akibatnya menjadi hebat.

Ia menyerang, sekarang dia kena dibalas diserang, serangan itu dahsyat untuknya.

Kan Tiangloo menjadi tak enak hati.

Ia khawatir Pheng Tiangloo mati karenanya.

Maka ia lantas menjura pada Oey Yong dan berkata.

"Pangcu, Pheng Tiangloo berlaku kurang ajar, dia harus dihukum berat, tetapi aku mohon dengan kemurahan hati pangcu, sukalah ia diberi ampun."

Baca Juga: Pedang Kiri Pedang Kanan 6

Baca Juga: Satria Gunung Kidul 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert