Ceritasilat Novel Online

Naga Kemala Putih 1

Eps 1 Naga Kemala Putih - Gu Long

Baca online Naga Kemala Putih - Gu Long

Cersil Naga Kemala Putih - Gu Long.

Karya.

Gu Long Judul .

Naga Kemala Putih Judul Asli .

Bai Yu Diao Long Judul Barat .

White-Jade Carved Dragon Tahun Terbit .

1981 Saduran.

Tjan I.D Lanjutan dari HARIMAU KEMALA PUTIH Bab 1.

Kebetulan atau Penyelidikan?

Bulan lima tanggal satu.

Malam yang sangat gelap, malam tanpa rembulan.

Ketika angin berhembus lewat, awan mulai bergerak menuju ke sudut langit, pelan-pelan cahaya bintang mulai tampak di angkasa, menyebar meliputi seluruh langit.

Siapa pun tahu, malam seperti ini adalah tanda akan turunnya hujan yang lebat.

Siapa yang mau berada di luar rumah?

Siapa yang tak mau berkumpul dengan anak isteri dan keluarga dalam rumah?

Ada!

Di cuaca seperti ini ternyata masih ada orang yang tidak berada dalam rumah, bukan saja tidak di dalam rumah, bahkan sedang mendekam di wuwungan rumah.

Orang ini berpakaian hitam ketat, kepalanya dibungkus kain hitam, mulutnya juga tertutup kain hitam.

Yang tampak hanya sepasang lubang hidung serta sepasang mata yang lebih tajam dari mata kucing.

Mata yang sangat tajam itu sedang mengawasi sesuatu, mengawasi seseorang yang sedang duduk termangu-mangu di dalam kamar.

Walaupun orang yang duduk itu memandang ke luar jendela, bahkan pandangan matanya tepat terarah ke tempat sembunyi si baju hitam itu, nampaknya ia sama sekali tidak merasakan atau menyadarinya.

Karena dia sedang termenung, karena segenap pikiran dan perasaannya sedang tenggelam dalam lamunannya.

Mengingat suatu kejadian yang amat menggetarkan hati.

Peristiwa yang amat menggetarkan hati itu terjadi pada malam itu juga, kira-kira tiga jam sebelumnya.

Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba ini membuat dia terpana, mimpi pun dia tak pernah menyangka akan mengalami kejadian seperti itu.

Sasaran yang diburu dan dicarinya dengan susah payah selama ini, tiba-tiba saja menguap dan lenyap tanpa bekas setelah terjadinya perubahan itu!

Bahkan kenyataan yang didapatnya justru memutarbalikkan segala sesuatu yang telah didapatnya selama ini.

Segala sesuatu terjadi begitu mendadak, tak heran kalau sedari senja sampai sekarang dia masih duduk termangu di situ.

Begitu terpananya ia hingga ketika orang datang menyalakan lampu baginya saja tak terasakan olehnya.

Kini ia sedang berada dalam sebuah kamar, kamar itu ada di dalam Benteng Keluarga Tong.

Dengan susah payah ia mendatangi Benteng Keluarga Tong, tujuannya adalah untuk membunuh musuh besar yang telah membinasakan ayahnya.

Tapi perubahan di luar dugaan yang terjadi tiga jam sebelumnya membuat ia menemukan satu rahasia kecil, sehingga bukan saja ia tidak bisa membunuh musuh besar yang telah membantai ayahnya itu, malah sebaliknya ia harus menggunakan semua kekuatan dan pikiran yang dimilikinya untuk melindungi orangku!

Kejadian ini benar-benar membuat hatinya tergoncang.

Sejak mengetahui rahasia itu sampai ia kembali ke kamar itu, ia hanya duduk tercenung di situ.

Siapakah yang telah menyalakan lampu baginya?

Ia tak tahu.

Ia hanya duduk termangu-mangu sambil memandang keluar, ke taman.

Segenap pikiran dan perasaannya tenggelam dalam perenungan yang menekan, menyedihkan dan sangat menyakitkan.

Kenapa urusan bisa berubah sampai jadi seperti ini?

Ia terus merenung, ia mulai menulah rangkaian peristiwa, membayangkan kembali semua kejadian itu satu bagian demi satu bagian....

Tak seorang pun di dunia peralatan yang tidak mengenal Tayhong-tong, Perkumpulan Angin Topan.

Tayhong-tong bukan partai atau perkumpulan biasa, kelompok ini adalah sangat besar dan sangat rahasia.

Pengaruhnya meliputi wilayah yang sangat luas.

Tujuan dan semboyan Tayhong-tong sangat sederhana.

"Menolong Kaum Lemah, Menentang Golongan Kuat"

Karena itu tidak saja Tayhong-tong amat disegani orang, kaum persilatan pun menaruh hormat kepada mereka.

Ada tiga orang yang bertanggung jawab atas segala sepak terjang Tayhongtong, yaitu Tio Kian, Sugong Siau-hong serta Sangkoan Jin.

Dan pemuda ini, Tio Bu-ki, tak lain adalah putera tunggal Tio Kian.

Hari itu, hari terjadinya peristiwa itu, adalah tepat hari pernikahannya.

Dia akan menikah dengan seorang gadis yang cantik, jadi hari itu adalah hari kegembiraan keluarga besar Tio.

Hampir semua anggota keluarga Tio, dari tertua sampai termuda, tampil dengan wajah berseri-seri dan senyum riang.

Wajah Tio Bu-ki juga dipenuhi senyum riang karena ia segera akan menikah, mengawini Wi Hong-nio, seorang gadis rupawan yang termasyhur akan kecerdasan serta kecantikan wajahnya.

Sayang, senyum yang menghiasi wajah Tio Bu-ki tidak dapat bertahan hingga saat upacara pernikahan akan dilangsungkan.

Ketika itu, di gedung utama tempat akan berlangsungnya upacara pernikahan, ketika ia melihat ayahnya belum hadir, dengan senyum masih menghias wajahnya, ia menyusul ke kamar baca.

Ketika di situ ayahnya tak ditemukan, senyumnya masih menghias wajahnya, sebab hari Itu dia benar-benar sangat gembira.

Ketika lemari buku di dinding sebelah kiri mulai bergeser ke samping, ketika ia masuk ke dalam ruang rahasia dan menemukan tubuh ayahnya, senyum di wajahnya baru lenyap tak berbekas.

Karena tubuh yang ditemukannya adalah tubuh tanpa kepala.

Hanya empat orang yang mengetahui ruang rahasia ini.

Selain Tio Bu-ki, mereka adalah Tio Kian, Sugong Siau-hong serta Sangkoan Jin.

Ruang rahasia ini adalah ruang yang paling rahasia dalam gedung Tayhong-tong, tempat diadakannya rapat-rapat penting.

Itu berarti pembunuhnya hanya mungkin dua orang.

Kalau bukan Sangkoan Jin, pasti Sugong Siau-hong.

Tapi mungkinkah Itu?

Sangkoan Jin, Sugong Siau-hong dan Tio Kian adalah tiga saudara angkat yang sangat erat hubungannya.

Mungkinkah mereka berbuat sekejam ini terhadap saudara angkat sendiri?

Tapi kecuali Sangkoan Jin dan Sugong Siau-hong, siapa lagi yang bisa melakukun pembunuhan itu?

Dari dua orang ini, Sangkoan Jin lebih mencurigakan, sebab sore itu hanya Sangkoan Jin yang berada bersama Tio Kian.

Yang lebih mencurigakan lagi, sejak itu Sangkoan Jin ikut lenyap tak berbekas.

Setelah dilakukan penyelidikan, ternyata memang Sangkoan Jin yang telah membunuh Tio Kian.

Bahkan dengan menggunakan batok kepala yang dipenggalnya sebagai hadiah, ia telah bergabung dengan Keluarga Tong di Sucoan.

Keluarga Tong dan Sucoan adalah musuh besar Tayhongtong.

Maka tanpa berpikir panjang, Tio Bu-ki segera berangkat meninggalkan Gedung Tio dan pergi menuju Benteng Keluarga Tong di Sucoan untuk membalas dendam atas kematian ayahnya.

Ia tinggalkan isterinya yang belum resmi dikawini, meninggalkan juga adik kesayangannya Tio Cian-cian, tanpa mengindahkan tentangan anggota-anggota yang lain.

Ketika ia pergi meninggalkan rumah, yang terpikir olehnya saat itu hanya dua kata.

"Balas Dendam!"

Tapi ada satu hal yang ia pahami benar-benar.

Jika ilmu silatmu tak mampu menandingi lawan, tak usah berharap dendam itu bisa terbalas!

Maka dengan menggunakan segenap kemampuan yang dimilikinya, ia pergi belajar ilmu pedang tanpa mengenal lelah.

Siang malam ia belajar dan belajar terus, sampai Wi Hong-nio yang pergi mencarinya pun tak mengenalinya sewaktu berjumpa dengan pemuda ini, karena dari pemuda tampan yang gagah dan kekar, kini ia telah berubah menjadi lelaki kurus kering yang wajahnya dipenuhi cambang.

Ia berhasil menguasai ilmu pedang maha sakti dan dengan menyamar sebagai seorang pembunuh bayaran pengembara, ia berhasil menyusup masuk ke dalam Benteng Keluarga Tong.

Menyusup masuk ke dalam Benteng Keluarga Tong bukanlah suatu pekerjaan yang mudah.

Mula-mula ia harus membunuh Tong Giok lebih dulu, kemudian dengan menggunakan berbagai taktik, siasat dan akal muslihat, dengan susah payah ia mendekati Tong Koat, sebelum akhirnya diterima oleh Tong Koat sebagai anggota perkumpulannya.

Dia mengaku bernama Li Giok-t ong, berasal dari Cisi Satu hal yang membuatnya tak habis mengerti adalah walaupun hasil penyelidikan yang dilakukan orang-orang Benteng Keluarga Tong memastikan bahwa Li Giok-tong dari Cisi jelas seorang gadungan, kenapa orang semacam itu tetap bisa ada di situ?

Ia tidak berusaha untuk meneliti urusan ini sampai leta, sebab ia beranggapan bahwa sekalipun pihak Benteng Keluarga Tong sengaja ingin rnembohoginya atau malah mungkin sejak awal sudah mengetahui identitas dirinya yang sebenarnya, dia beranggapan semua itu tidak penting.

Yang terpenting baginya saat ini adalah menemukan Sangkoan Jin.

Bukan saja ia berhasil berjumpa dengan Sangkoan Jin, bahkan dia pun memperoleh kesempatan untuk membunuh orangku.

Pada saat yang paling menentukan itu, entah disengaja atau tidak, putri Sangkoan Jin, Siangkoan Ling-ling, menggunakan tubuhnya untuk menahan datangnya tusukan pedang yang ia lancarkan untuk menembus jantung musuhnya itu.

Saat itulah tiba-tiba Tio Bu-ki teringat sesuatu, suatu masalah penting yang seharusnya sudah diingatnya sejak awal.

Sugong Siau-hong pernah menyerahkan Harimau Kemala Putih kepadanya dan berpesan.

"Sebelum kau bunuh Sangkoan Jin, rahasia Harimau Kemala Putih harus sudah berhasil kau pecahkan dan kau pahami dulu."

Ternyata ia telah melupakan pesan ini, rasa benci dan dendam telah mengaburkan pikirannya, melupakan masalah yang sangat penting itu.

Seandainya Siangkoan Ling-ling tidak menghalangi tusukan mautnya, mungkin ia sudah membunuh Sangkoan Jin dan membalaskan dendam atas kematian ayahnya.

Tapi seandainya ia benar-benar berbuat demikian, lalu bagaimana pertanggungjawabannya nanti kepada almarhum ayahnya?

Ternyata rahasia Harimau Kemala Putih adalah bahwa Tio Kian sebenarnya mengidap suatu penyakit yang tak mungkin bisa disembuhkan.

Sekalipun diobati, paling banyak ia hanya bisa hidup setengah tahun lagi.

Maka mereka bertiga, Tio Kian, Sangkoan Jin dan Sugong Siau-hong merencanakan sebuah siasat, suatu siasat yang sangat hebat untuk memusnahkan musuh-musuhnya.

Musuh besar paling tangguh perkumpulan Tayhong-tong adalah Keluarga Tong.

Keluarga Tong tak mungkin bisa dimusnahkan memakai kekerasan, keluarga itu hanya bisa diatasi dengan akal muslihat.

Kalau saja mereka bisa mengirim seseorang masuk ke dalam Keluarga Tong sebagai musuh dalam selimut dan berhasil mempengaruhi anggota-anggota Keluarga Tong hingga menerimanya dalam kedudukan yang penting, maka semua rahasia pasti akan terkuasai.

Untuk menemukan orang seperti ini harus dicari seorang pengkhianat, seseorang yang punya peran dan kedudukan sangat penting dalam Tayhong-tong sehingga ketika orang itu mengkhianati Tay-hong-tong lalu bergabung dengan Keluarga Tong, orang-orang Benteng Keluarga Tong pasti akan memandang tinggi orang itu, sebab orang itu banyak mengetahui rahasia Tayhong-tong.

Seandainya orang itu datang bergabung sambil membawa batok kepala Tio Kian sebagai persembahan, pihak Benteng Keluarga Tong tak mungkin akan menaruh curiga pada orang itu.

Kalau pada akhirnya Tio Kian harus mati dan kematian itu sudah diketahui akan terjadi paling lama setengah tahun kemudian, mengapa ia tidak mati dengan lebih bermakna?

Mati sebagai pembela kaumnya?

Seorang pahlawan?

Jadi mereka lalu memutuskan akan menjalankan rencana besar itu tepat saat keluarga itu sedang menyelenggarakan pesta perkawinan puteranya.

Rencana ini mereka namakan Harimau Kemala Putih.

Rencana ini mereka laksanakan di luar sepengetahuan Tio Bu-ki, satu keputusan yang sangat cerdas.

Ketika Tio Bu-ki mengetahui bahwa ayahnya dibunuh Sangkoan Jin, ia pasti tergoncang kesadarannya, pikiran dan perasaannya pasti akan terbakar oleh rasa dendam, ia pasti akan berusaha mencari Sangkoan Jin dan berusaha mati-matian untuk menuntut balas.

Asal saja Tio Bu-ki memperlihatkan reaksi tersebut, berita itu dengan cepat akan diketahui oleh orang-orang Benteng Keluarga Tong, dan pihak Keluarga Tong tentu akan semakin mempercayai Sangkoan Jin.

Memang ini akan menyengsarakan Tio Bu-ki.

Tapi demi kejayaan Tayhong-tong, pengorbanan ini rasanya masih cukup berharga untuk dilaksanakan.

Ternyata terjadi sesuatu yang sama sekali di luar dugaan Sangkoan Jin bertiga.

Mereka selalu menganggap bahwa Benteng Keluarga Tong adalah perkumpulan yang amat ketat dan kuat penjagaannya.

Sekalipun Tio Bu-ki ingin membalas dendam, mustahil bagi pemuda itu akan bisa masuk Benteng Keluarga Tong dengan gampang.

Di luar dugaan, ternyata Tio Bu-ki berhasil menyusup ke dalam Benteng Keluarga Tong, malahan ia berhasil jadi congkoan (kepala pengurus rumah tangga), congkoan dari Keluarga Tong!

Dengan adanya perubahan di luar dugaan ini, seluruh rencana Harimau Kemala Putih terancam gagal total.

Sejak berhasil masuk Benteng Keluarga Tong, meskipun Sangkoan Jin telah berhasil mendapat kepercayaan besar Keluarga Tong, ia belum berhasil menyelidiki dengan jelas semua rahasia Benteng Keluarga Tong.

Sampai saat itu, Sangkoan Jin belum pernah bertemu dengan tokoh utama Keluarga Tong, tokoh yang menjadi otak semua sepakterjang Keluarga Tong selama ini, Tong Ou.

Bukan karena Tong Ou segan bertemu dengannya, namun ketika Sangkoan Jin datang untuk bergabung sambil membawa batok kepala Tio Kian, Tong Ou sudah pergi dari situ.

Kabarnya ia sedang berkeliling ke pelbagai wilayah untuk menghimpun dukungan serta menyempurnakan rencana besarnya untuk menggempur markas Tayhong-tong!

Kini Tio Bu-ki sudah berhasil menyusup masuk.

Sekalipun pihak Keluarga Tong telah berulang kali melakukan penyelidikan dan pemeriksaan, Sangkoan Jin selalu berhasil mengelabui orang-orang Keluarga Tong.

Hanya saja kenyataan sebenarnya tetap saja belum jelas.

Apakah orang-orang Keluarga Tong sesungguhnya sudah mengetahui identitas asli Bu-ki dan pura-pura tidak tahu, atau memang benar-benar tidak tahu?

Mengapa Tong Koat mengangkat Bu-ki menjadi congkoan?

Mungkinkah di balik pengangkatan itu terselip suatu rencana keji lain?

Jika Keluarga Tong memang sengaja mengatur demikian, sudah tentu secara rahasia mereka akan menugaskan orang untuk mengawasinya secara diam-diam Apabila memang Bu-ki mencari Sangkoan Jin untuk membalas dendam, maka mereka akan segera tahu bahwa orang yang mengaku bernama Li Giok-tong ini sebenarnya adalah Tio Bu-ki dari Tayhong-tong.

Sebaliknya jika setelah Bu-ki melakukan pembalasan dendamnya terhadap Sangkoan Jin lalu Tio Bu-ki menemukan bahwa tak ada orang dari pihak Keluarga Tong yang mengawasi mereka, maka ini menunjukkan bahwa pihak Keluarga Tong sama sekali tidak tahu bahwa kedatangan pemuda itu sebenarnya adalah untuk membalas dendam pada Sangkoan Jin.

Tapi kalau pihak Keluarga Tong memang sudah tahu pasti identitas Bu-ki yang sesungguhnya dan kini apakah mereka sengaja menggunakannya untuk menguji Sangkoan Jin?

Sekarang apa yang harus dilakukan Bu-ki?

Tindakan apa yang sebaiknya harus ia lakukan agar tidak melakukan kesalahan fatal?

Seandainya keselamatan jiwa Sangkoan Jin terancam, apakah ia harus berusaha melindunginya dengan mati-matian ataukah lebih baik ia berpeluk-tangan saja?

Setelah urusan berkembang sejauh ini, apakah dia masih perlu membunuh Sangkoan Jin?

Bagaimanapun juga, sudah jelas bahwa Sangkoan Jin memang orang yang telah membunuh ayahnya.

Apabila dilihat bahwa hubungan mereka bertiga begitu akrab, sekalipun gagasan siasat Harimau Kemala Putih muncul dari benak ayahnya, tetap saja tidak seharusnya Sangkoan Jin bertindak begitu tega terhadap saudara angkat sendiri.

Mana yang lebih penting, urusan Tayhong-tong atau hubungan persaudaraan?

Urusan perkumpulan menyangkut jangka waktu yang panjang sedangkan tali persaudaraan hanya berlangsung dalam waktu singkat.

Juga jika ditinjau dari sudut pandang lain lagi, sebenarnya apakah tujuan Sangkoan Jin hingga dia rela memikul dosa sebagai seorang pengkhianat yang dicaci orang banyak karena begitu tega membunuh saudara angkat sendiri?

Apakah ia harus memuji tindakan Sangkoan Jin itu, ataukah mencerca dan mengutuknya?

Dia tak tahu.

Setelah menghela napas panjang ia bangkit berdiri lalu menengadahkan kepalanya memandang kegelapan malam yang mencekam jagad.

Ketika Bu-ki menengadahkan kepalanya, semestinya orang berbaju hitam yang bersembunyi di atas wuwungan rumah itu berusaha menyembunyikan diri dari pandangannya.

Tapi ternyata orang itu tidak berbuat demikian, mungkinkah dia punya andalan yang kuat sehingga tak perlu merasa takut?

Atau dia beranggapan suasana terlalu gelap sehingga gerak-geriknya tak akan terlihat oleh Bu-ki?

Atau mungkin dia memang sengaja berbuat begitu agar ketahuan oleh Bu-ki?

Bu-ki tidak menyadari kehadirannya, karena meskipun ia mendongakkan kepalanya, namun sorot matanya kosong.

Entah apa yang sedang direnungkan olehnya waktu itu?

Tepat saat itulah tiba-tiba orang berbaju hitam itu melesat ke depan lalu melayang turun ke serumpun bunga di sisi kanan Buki, kembali sebuah tindakan yang amat mengherankan!

Mengapa ia justru melompat turun pada saat itu, sewaktu Bu-ki sedang menengadahkan kepalanya memandang ke atas?

Sisi kanan dan rumpun bunga itu adalah jalan menuju ke kamar tidur Sangkoan Jin.

Bukan saja orang berbaju hitam itu muncul di saat itu, bahkan dia seperti sengaja mematahkan sebatang ranting pohon sehingga menimbulkan suara keras.

Saat itu, bila Tio Bu-ki masih belum mendengar juga, dia bukanlah Tio Bu-ki yang masih hidup tapi seseorang yang entah sudah mati berapa kali.

Dengan cepat pemuda itu bereaksi, mencabut pedang, memadamkan lampu lalu berdiri di tepi dinding dan memeriksa keadaan di luar jendela.

Tampaknya sasaran orang berbaju hitam itu adalah Sangkoan Jin, bukan Tio Bu-ki.

Begitu sampai di muka tanah, kembali ia melejit dan langsung menerobos ke dalam kamar tidur Sangkoan Jin melalui jendela sebelah kanan.

Selincah seekor kelinci Tio Bu-ki meluncur ke belakang orang berbaju hitam itu, jarak mereka berdua sebenarnya tidak terlalu dekat, tapi gerakan tubuh orang berbaju hitam itu jauh lebih lambat dibandingkan dengan gerak tubuh Bu-ki Karenanya sewaktu orang berbaju hitam itu bersiap melompat ke dalam kamar, tusukan pedang Bu-ki telah mengancam punggungnya.

Kembali satu peristiwa aneh terjadi...

Orang berbaju hitam itu dengan cepat membalikkan pedangnya menangkis tusukan itu dan dengan meminjam tenaga tusukan Bu-ki, ia melesat ke sisi kiri kemudian dengan sekali menjejak pagar taman, tubuhnya sudah naik lagi ke atas wuwungan rumah.

Tanpa menunggu Bu-ki berhasil berdiri tegak, bayangan tubuh orang berbaju hitam itu sudah lenyap tak berbekas.

Pada saat itulah mendadak terdengar Sangkoan Jin membentak gusar sambil menerobos keluar dari kamarnya.

"Siapa di situ?"

Menyusul kemudian tubuhnya menerobos keluar dari dalam kamar lewat daun jendela sebelah kiri.

Diam-diam Tio Bu-ki merasa kagum dan memuji dalam hati, sebab kalau dilihat dari rambut serta pakaiannya yang acak-acakan, jelas Sangkoan Jin sudah tertidur tadi.

Setelah mengalami peristiwa yang luar biasa tegangnya beberapa jam yang lalu, kemudian juga harus merawat luka yang diderita puterinya, mestinya Sangkoan Jin tentu sudah sangat lelah.

Tapi dalam keadaan seperti itu pun ternyata ia masih mampu bereaksi begitu cepat, bahkan bisa memperhitungkan secara tepat dari mana dia harus keluar.

Ini membuktikan bahwa pengalaman serta nama besarnya memang bukan nama kosong belaka.

Begitu keluar dari kamar dan bertemu Bu-ki, Sangkoan Jin segera bertanya.

"Siapa?"

"Entah!"

Bu-ki menggeleng.

"seseorang berbaju hitam yang mengenakan kerudung hitam, lihay sekali ilmu meringankan tubuhnya!"

"Ayo, masuk dulu baru bicara,"

Ajak Sangkoan Jin. Setelah menyalakan lampu dan mengenakan mantel luarnya. Sangkoan Jin duduk di hadapan Bu-ki.

"Hebat sekali ilmu meringankan tubuh orang itu!"

Kata Bu-ki setelah termenung sebentar. Sangkoan Jin tidak menjawab.

"Dia tidak seharusnya mengeluarkan suara begitu berisik,"

Kembali Bu-ki berkata.

"Suara berisik apa?"

"Sewaktu melayang turun ke tanah, tidak seharusnya ia menyentuh ranting pohon hingga mengeluarkan suara berisik. Tampaknya dia sengaja berbuat begitu untuk memancing perhatianku."

"Kenapa? Bukankah dia hendak membokongku?"

"Keliru, walaupun dia melakukan gerakan seolah-olah hendak menerobos masuk ke dalam kamarmu, tapi ketika kulancarkan tusukan tadi, ia justru menangkisnya dengan cepat lalu dengan meminjam daya pantul seranganku, ia kabur dari sini. Memang betul tujuannya seolah-olah hendak membokongmu, tapi aku merasa, tampaknya ia sedang menyelidiki reaksiku."

"Siapa yang melakukan hal itu?"

Kata Sangkoan Jin.

"Jangan-jangan masih ada orang dari Keluarga Tong yang menaruh curiga kepada kita berdua?"

"Aku memang berpendapat begitu."

"Apa alasanmu?"

"Aku masih ingat perkataan Tong Koat, dia bilang bahwa masuk ke Benteng Keluarga Tong tidak susah, tapi kalau ingin ke dalam 'taman bunga', barulah susah sekali!"

"Di sinilah taman bunga!"

"Benar! Hanya tamu terhormat yang bisa sampai di sini Aku sendiri pun harus melalui pemeriksaan yang amat ketat, kemudian setelah mendapat ijin dari nenek Tong Koat, yaitu Lo-cocong, Si Nenek Moyang dan diangkat menjadi congkoan, baru aku diijinkan masuk kemari. Dari sini bisa disimpulkan bahwa orang yang baru datang itu pasti berasal dari Keluarga Tong!"

"Seharusnya pihak Keluarga Tong tak mungkin menaruh curiga lagi kepadamu maupun aku, sebab segala sesuatu yang menyangkut asal-usulmu sudah kututupi dengan menyuap orang yang diutus ke Cisi untuk menyelidiki asal-usulmu. Mestinya sekarang mereka sudah tidak mencurigai lagi asal-usulmu!"

"Tapi orang yang tadi menyusup itu jelas bertujuan untuk melakukan penyelidikan, tapi apa yang sedang dia selidiki? Bila mereka mencurigai aku sebagai Tio Bu-ki, maka seharusnya mereka juga tahu kalau tujuan kedatanganku kemari adalah untuk membunuhmu."

"Jika orang yang datang tadi adalah utusan yang dikirim pihak Keluarga Tong untuk melakukan penyelidikan, mungkin dia ingin tahu, seandainya ia membokong aku apakah kau akan turun tangan menolongku, jika kau berpangku tangan saja berarti kau adalah Bu-ki, sebaliknya bila kau datang menolong, berarti kau tak ingin melihat aku mati, maka..."

"Berarti aku benar-benar adalah Li Giok-tong, bukan Tip Buki!"

Potong Bu-ki cepat.

Sangkoan Jin tertawa, tapi di balik senyuman itu masih tersembunyi sedikit rasa kuatir.

Sayang Tio Bu-ki tidak melihatnya.

Apa yang masih dikuatirkan Sangkoan Jin?

Bab 2.

Pembicaraan antara Tong Koat dan Neneknya "Lapor Lo-cocong!"

Kata Tong Koat.

"aku menemukan dua persoalan!"

"Dua persoalan?"

Tanya si nenek.

"Pertama, sejak masuk ke dalam kebun bunga, tiba-tiba Li Giok-tong nampak banyak pikiran, dia melamun terus."

"Kemudian?"

"Dia benar-benar telah turun tangan menolong Sangkoan Jin!"

"Oh ya?"

"Jadi sekarang asal-usulnya tak perlu dicurigai lagi bukan?"

"Kau yakin?"

"Tentu saja, kalau dia tak ingin Sangkoan Jin mati, berarti dia bukan Tio Bu-ki!"

"Hanya karena dia tak ingin Sangkoan Jin mati, lalu kau menyimpulkan dia pasti bukan Tio Bu-ki?"

Tanya Lo-cocong.

"Masa masih ada dugaan lain?"

"Tentu saja masih ada!"

"Aku tidak mengerti,"

Seru Tong Koat.

"Siapa tahu dia memang tak ingin melihat Sangkoan Jin mati di tangan orang lain?"

"Selain itu?"

"Mungkin dia tak ingin Sangkoan Jin mati begitu cepat dan begitu gampang."

"Nenek Moyang, kau memang hebat!"

Puji Tong Koat cepat.

"Kau tak perlu jilat pantat, aku lihat kau masih belum terlalu percaya dengan perkataanku!"

"Aku... Nenek Moyang, bukankah kita telah mengutus orang untuk melakukan penyelidikan di Cisi? Bukankah sudah terbukti bahwa Li Giok-tong memang dia?"

"Siapa yang mengatakan begitu?"

Tanya si nenek.

"Kami telah mengutus Wan Sam untuk membuktikan hal ini."

"Kau tahu berapa banyak anggota Tayhong-tong yang telah kita beli?"

"Empatpuluh tujuh orang!"

"Kita bisa membeli anggota Tayhong-tong, memangnya pihak Tayhong-tong tidak bisa membeli orang-orang kita?"

"Maksud nenek, Wan Sam telah menerima suap dan memberikan keterangan palsu?"

"Aku tidak berkata begitu!"

"Lalu..."

"Aku hanya mengatakan kemungkinan seperti ini bukannya tidak mungkin terjadi,"

Si nenek menjelaskan.

"Tapi tak ada orang yang tahu kalaukita mengutus Wan Sam!"

"Ada!"

"Siapa?"

"Sangkoan Jin!"

"Dia? Mana mungkin dia? Mana mungkin dia membantu Tio Bu-ki untuk merahasiakan identitasnya?"

"Jalan pikiran kita terlalu sederhana dan hanya tertuju satu hal, bagaimana kalau seandainya dia bukan Tio Bu-ki?"

"Lo-cocong, kau membuat aku makin lama semakin bingung,"

Keluh Tong Koat dengan perasaan tak habis mengerti.

"Menurut laporan yang kita terima dari mata-mata, Tio Bu-ki benar-benar hendak membunuh Sangkoan Jin untuk membalaskan dendam sakit hati ayahnya, bukan begitu?"

"Benar!"

"Mengapa Sangkoan Jin bergabung dengan kita?"

"Karena dia beranggapan perkumpulan Tayhong-tong cepat atau lambat akhirnya akan dimusnahkan oleh kita, maka dia membunuh Tio Kian untuk menunjukkan kesetiaannya bergabung dengan kita!"

"Moga-moga saja dia memang bermaksud begitu..."

Kata si nenek pelan.

"Masa dia hanya berpura-pura?"

"Dalam menghadapi persoalan apa pun, tak ada salahnya kalau kita bertindak lebih hati-hati."

"Lantas baru saja kau mengatakan..."

"Aku kuatir Sangkoan Jin punya rencana dan tujuan lain, siapa tahu Li Giok-tong memang khusus menyusup kemari untuk bisa bergabung dengannya?"

"Mana mungkin bisa begitu? Kita sendiri yang mengangkat Li Giok-tong menjadi congkoannya Sangkoan Jin."

"Itulah yang aku katakan tadi."

Sela si nenek cepat.

"jalan pikiran kita selalu tertuju ke satu arah saja. Selama ini kita hanya menduga dia adalah Tio Bu-ki, maka dari itu kita sengaja mengirim dia untuk melayani Sangkoan Jin sambil mengawasi reaksinya, jika seandainya dia bukan Tio Bu-ki dan tujuannya kemari hanya ingin menyusup jadi mata-mata, bukankah perkiraan kita jadi keliru besar?"

"Aku tidak percaya kalau kedatangan Sangkoan Jin hanya untuk menjadi mata-mata,"

Seru Tong Koat.

"Sebetulnya aku sendiri juga tidak percaya,"

Si nenek menyambung.

"tapi yang baru saja terjadi itu menimbulkan kembali rasa curigaku!"

"Kejadian apa?"

"Wan Sam telah hilang, suratnya dikirim balik melaku burung merpati, tapi orangnya hingga hari ini belum juga kembali."

"Oh ya?"

"Oleh sebab itu aku mulai menaruh curiga lagi terhadap Sangkoan Jin dan Li Giok-tong."

"Betul, jika Wan Sam sampai terbunuh maka orang yang paling dicurigai adalah Sangkoan Jin."

Lo-cocong mengangguk.

"Tidak salah, cuma... Wan Sam adalah seorang penjudi, bisa saja dia sedang kecanduan main judi hingga pulangnya tertunda."

"Terus..."

"Oleh sebab itu aku putuskan untuk menunggu satu hari lagi. Besok pasti ada berita tentang dia, entah berita itu dibawa cha sendiri atau berita tentang kematiannya karena dibunuh orang!"

"Berarti nenek sudah mengutus orang untuk melakukan penyelidikan?"

"Besok, besok baru akan kukirim!"

"Lantas apa yang harus kita lakukan terhadap Li Giok-t ong?"

"Apa pun tidak kita lakukan, tunggu."

"Tunggu? Menunggu apa?"

"Tunggu seseorang!"

"Seseorang? Siapa?"

Tanya Tong Koat keheranan.

"Tong Ou!"

"Kenapa harus menunggu toako?"

"Sebab selama ini perhitungannya tak pernah meleset!"

"Perhitunganku juga tak pernah meleset, kenapa kau lebih membela dia? Apakah nenek menganggap aku tak mampu bekerja?"

"Sudah, pergilah tidur..."

Tukas si nenek.

Bab 3.

Catatan Harian Wi Hong-nio Perjalanan hidup manusia memang aneh, Wi Hong-nio adalah seorang gadis berhati luhur dan rupawan.

Ia tak pernah mengharapkan kekayaan, tak pernah mengharapkan kemuliaan, ia hanya berharap bisa mpnikah dengan seorang pemuda yang mencintainya, walaupun harus hidup sederhana dan jauh dan keramaian dunia ia akan merasa sangat puas.

Tapi justru gadis polos seperti ini harus mengalami kejadian hebat yang amat memilukan hati, belum sempat upacara pernikahan dilangsungkan ayah Bu-ki sudah ditemukan mati terbantai.

Walaupun Bu-ki telah pergi meninggalkan rumah untuk mencari balas, bahkan sewaktu pergi meninggalkan dirinya, jangan lagi mengucap sepatah kata, memandang ke arahnya sekejap pun tidak, tapi Wi Hong-nio tahu, Bu-ki sangat mencintainya karena hanya orang yang benar-benar mencintainya yang mampu melakukan tindakan seperti itu.

Ia tahu mengapa Bu-ki tidak mau memandang ke arahnya, jaga tahu mengapa ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, Bu-ki pasti khawatir ia akan mengucapkan kata-kata yang bernada menahan kepergian pemuda itu dan jika dia memohonnya, Bu-ki pasti tak tega dan akhirnya urung pergi membalas dendam.

Sebenarnya dugaan Bu-ki keliru besar, apa pun yang akan dilakukan pemuda itu Wi Hong-nio pasti akan mendukungnya.

Tapi ia sama sekali tak menyalahkan Bu-ki, bahkan ia juga tak punya pikiran untuk mengeluh kepada Thian atas ketidak-adilan yang menimpanya, sebab dia tahu kebahagiaan hanya bisa diperoleh bila ia mau memperjuangkannya.

Menyalahkan orang lain tak ada gunanya, kebahagiaan tak mungkin diperoleh hanya dengan menyalahkan orang lain.

Karena itu, dia bersama Cian-cian, adik perempuan Bu-ki, berangkat untuk mencarinya.

Biarpun kebahagiaan hanya bisa diperoleh melalui suatu perjuangan, bukan berarti bahwa dengan melakukan suatu perjuangan lalu kebahagiaan akan didapat.

Begitu juga dengan Wi Hong-nio.

Mimpi pun dia tak mengira bahwa perjalanan hidupnya harus mengalami banyak siksaan dan penderitaan.

Mengikuti petunjuk-petunjuk yang diperolehnya, bersamasama Cian-cian ia berhasil mencapaj bukit Kiu-hoa-san.

Ketika tiba di bukit Kiu-hoa-san, ia berpisah dari Tio Cian-cian tapi bertemu dengan Siau Tang-lo.

Siau Tang-lo boleh dibilang seorang cacad, karena tubuhnya harus ditopang sebatang tongkat untuk bisa berdiri tegak, biarpun begitu, dia masih nampak gagah dan penuh wibawa sehingga orang tidak berani memandang enteng dirinya.

Ketika Wi Hong-nio bertemu dengannya, pada waktu itu Buki telah belajar ilmu pedang.

Tapi ia tidak memberitahukan hal ini kepada Hong-nio, ia hanya berpesan kepada gadis ini bahwa asal dia mau menunggu di situ, cepat atau lambat pasti dapat berjumpa dengan Bu-ki.

Mungkin penampilan serta cara berbicara Siau Tang-lo sangat meyakinkan sehingga Hong-nio sangat mempercayai katakatanya itu, maka tinggallah nona itu di bukit Kiu-hoa-san.

Hong-nio memangg seorang perempuan seperti ini, dengan tenang dan tabah ia tinggal di bukit Kiu-hoa-san, tak ada apa-apa lagi yang ia pertanyakan.

Kadang-kadang ia sangat merindukan masakan dari desanya dan asal ia membuka suara menyatakan keinginannya itu, pada makan malam berikutnya masakanyang ia inginkan itu sudah terhidang.

Ia tahu Siau Tang-lo pasti bukan orang sembarangan, sebab ia tinggal dalam sebuah gua tapi kelengkapannya tak kalah dibandingkan istana kaisar.

Semua arak simpanannya adalah arak pilihan semua pembantunya rata-rata memiliki ilmu silat tinggi, terutama yang bernama Toat-beng-keng-hu (Pemukul Kentongan Pencabut Nyawa) Liu Sam keng, biarpun matanya buta tapi kelihayannya beberapa ratus kali lipat daripada orang biasa.

Di dasar hatinya ia punya banyak pertanyaan dan prasangka atas penghuni serta keadaan gua itu, tapi ia tak pernah bertanya, urusan ini hanya dipendamnya di hati, dicatat di buku hariannya.

Menulis catatan harian adalah pekerjaan yang dilakukan olehnya setiap hari.

Bulan lima tanggal satu.

Sudah banyak hari tinggal bersama Siau Tang-lo di bukit Kiu-hoa-san.

Selama ini perasaanku belum juga tenang.

Hari itu, Siau Tang-lo mengajakku masuk kebagian gua paling dalam untuk menengok seseorang.

Orang itu kurus kering, rambutnya kusut tidak karuan, ia begitu mabuk dengan ilmu pedangnya sehingga tak menyadari kehadiranku disana.

Dia adalah Bu-ki yang kuimpikan siang dan malam.

Selama banyak hari hatiku selalu terusik pemandangan itu, hanya saja hari ini, setelah pindah kerumab penginapan ini, tiba-tiba saja muncul perasaan menyesalku.

Mengapa saat itu aku tidak memanggilnya.

"Bu-Ki!"

Aku ingin tahu bagaimana tangsppansertaperasaannya.

Ai!

Bu-ki, seandainya orang itu benar kau, aku benar-benar telah melewatkan kesempatan yang sangat untuk berkumpul kembali dengan dirimu!

Satu-satunya yang bisa menghibur hatiku hanyalah katakata Siau Tang-lo bahwa asal Bu-ki berhasil mempelajari ilmu pedangnya, dia pasti akan menjumpaiku lagi.

Kalau memang kegitu, apakah orang ituBu-ki atau bukan, kemunculanku bisa-bisa hanya akan mengacaukan pikiran serta konsentrasinya Ai!

Kenapa ingatan yang selalu muncul di dalam benakku belakangan ini selalu hanyalah rasa kangenku kepada Bu-ki?

Mengapa rasa kangenku teihadapnya kian hari kian mendalam?

Aku tahu sikap Siau Tang-lo sangat baik terhadapku, tapi seharusnya dia juga tahu kalau hati dan perasaanku hanya milik Buki seorang.

Beberapa hari belakangan aku selalu berada di samping Siau Tang-lo, apa yang akan dipikir Bu-ki seandainya ia menyaksikan hal ini?

Aku tidak tahu, aku hanya merasa hatiku sangat tenteram sekarang Lebih baik aku menulis apa yang terjadikan ini!

Tempat yang kukunjungi hari ini sangat menarik, kami menaiki semacam Kendaraan yang disebut "bambu luncur', yaitu dua batang bambu yang diikatkan melintang pada sebuah bangku sehingga orang dapat duduk di situ sementara dua pemikul menyangga bambu itu dari sisi kiri dan kanannya.

Jalanan perbukitan sangat sulit dilalui tapi pemikul "bambu luncur' dapat berjalan seperti ditempat yang rata saja, sungguh luar biasa!

Aku tahu 'bambu luncur' adalah kendaraan yang biasa digunakan orang Sucoan untuk bepergian.

Ini berarti kami telah memasuki wilayah Sucoan selatan, namun mau apa kami masuk ke wilayah ini?Aku tidak tahu.

Yang kuketabui hanya bahwa Keluarga Tong tinggal di Sucoan, paman Siangkoan berada disitu dan aku juga tahu, bila Bu-ki telah berhasil mempelajari ilmu pedangnya, ia pasti akan mendatangi Keluarga Tong untuk rnembuat perhitungan.

Mungkinkah Siau Tang-lo sedang menuju ke Benteng Keluarga Tong?

Kalau ditmjau dari cara hidupnya yang mewah bagai hidup dalam istana, tidak seharusnya ia mendatangi Keluarga Tong.

Tapi ketika tiba disebuah losmen, aku mendenga rLiu Samkeng berbicara dengan seseorang yang amat sangat gemuk.

"Kami telah datang lagi!"

Kata Liu Sam-keng.

"Apa yang kalian bawa kali ini?"

Tanya sigemuk.

"Seseorang!"

"Orang? Kami tidak mau!"

"Kami tidak mungkin memberikan orang ini kepadamu, kami hanya ingin menunjukkan orang ini kepada kalian!'' "Ohya?"

"Bukankah kalian sedang menyelidiki asal-usul seseorang? Orang yang kami bawa sangat cocok untuk membantu penyelidikan ini, asalkan ia muncul, maka asal-usul yang kalian selidiki segera akan ketahuan."

"Siapa orang itu?"

"Dia she Wi."

"Bagus sekali, barang kami akan segera dihantar malam nanti!" 'Tidak usah, Tee-Ciang Pouwsat bilang barang baru diambil setelah urusan selesai."

"Bagus, bagus sekali, ha ha ha..."

Siapakah yang dimakud Liu Sam-keng sebagai orang she Wi?

Mungkinkah aku yang dimaksud?

Aah, mustahil, aku bisa bantu penyelidikan apa?

Tentu saja Wi Hong-nio tak tahu kalau orang yang gemuk sekali itu adalah Tong Koat.

Kedatangan Siau Tang-lo ke sana adalah untuk mengambil obat pemunah racun karena sejak ia terbokong musuh, setiap tahun ia harus datang ke sana untuk mengambil obat.

Obat pemunah racun dari Keluarga Tong itu bukan untuk dirinya tetapi diberikan kepada si 'Mayat Hidup'.

'Mayat Hidup' sebenarnya juga orang, seseorang yang terkena bokongan senjata rahasia beracun, hanya saja berhubung tenaga dalam yang ia miliki sangat tinggi dan hebat, racun yang bersarang di tubuhnya berhasil dihimpun jadi satu.

Tapi setiap tahun dia masih perlu menelan obat pemunah racun dari Keluarga Tong.

'Mayat Hidup' memiliki kepandaian istimewa, ia mampu menotok setiap jalan darah besar maupun kecil di tubuh seseorang dalam waktu yang amat singkat.

Kebetulan tiap tahun Siau Tang-lo perlu melancarkan seluruh jalan darahnya satu kali, maka setiap tahun dia harus pergi ke Sucoan untuk mengambil obat penawar racun dari Keluarga Tong lalu menemui si 'Mayat Hidup' dan bertukar barang.

Tiap kali mendatangi Keluarga Tong, Siau Tang-lo selalu membawa aneka macam mestika dan barang langka untuk ditukarkan dengan obat pemunah.

Tapi kali ini, karena ia mendengar Keluarga Tong sedang menyelidiki asal-usul seseorang dan orang itu dicurigai sebagai Tio Bu-ki, maka ia pun mengajak Wi Hong-nio berkunjung ke situ.

Siapa lagi selain Wi Hong-nio yang bisa lebih jelas untuk memastikan identitas Tio Bu-ki yang sebenarnya?

Tentu saja Wi Hong-nio sendiri pun tahu dengan jelas sekali.

Karenanya ia meneruskan pekerjaannya mencatat semua kejadian itu dalam buku hariannya...

Malam ini makan malam dirundung suasana murung dan menekan, entah mengapa, Siau Tang-lo selalu menampilkan wajahnya yang murung dan banyak pikiran.

Setelah menelan suapan nasi yang terakhir dengan susah payah, Siau Tang-lo baru meletakkan kembali sumpitnya dan memandang wajahku dengan pandangan yang sangat aneh.

Sampai lama sekali ia termenung kemudian baru ujarnya.

"Bu-ki telah berhasil mempelajari ilmu pedang!"

Begitu mendengarnama Bu-ki', jantungku berdebar makin cepat, aku merasa darah yang mengalir dalam tubuhku bergolak keras, aku ingin sekali bertanya kepadanya dari mana ia bisa tahu Bu-ki saat ini berada?

Tapi aku juga tahu, bila aku bertanya, mungkin dia malah tak akan menjawab, sebab dia orang yang suka jual mahal tapi juga suka jual tampang maka aku berusaha mengendalikan perasaanku, aku tak bertanya apa-apa, aku hanya memandangnya tanpa berkedip.

Kurasa mungkin dia telah melihat harapanku yang tak sengaja terbersit dari balik sorot mataku.

Aku dapat menangkap rasa tak senang yang muncul dalam hatinya, tapi perasaan tak senang itu hanya berlangsung sekejap, karena perasaan tadi segera disembunyikannya lagi.

Sesudah itu ia barulah bertanya lagi kepadaku.

"Kenapa kau tidak bertanya kepadaku, dari mana aku bisa tahu?"

Untuk menjawab pertanyaan ini, aku sempat termerumg dan memutar otak sejenak, sejenak baru kujawab.

"Aku bertanya atau tidak, kau toh tetap akan memberitahukannya kepadaku!"

"Bagus sekali bila kau bisamemahamiperasaankul,"

Kata Siau Tang-lo kemudian sambil tertawa. Aku tak berani mengucapkan sepatok kata pun, aku hanya memandangnya lekat-leka. Dengan cepat ia segera menyambung.

"Sebab dia sudah lama meninggalkan bukit Kiu-hoa-san!"

Baru aku membuka mulutku setengah, dia sudah tahu apa yang ingin kutanyakan, maka lanjutnya.

"Betul, orang yang kau jumpai ketika berada di gua waktu itu memang dia! Ia datang ke Kiu-hoa-san mencari aku untuk belajar ilmu pedang karena dia tahu hanya dengan menguasai ilmu pedang yang maha sakti, ia baru bisa membalaskan dendam sakit hati atas kematimayahnya, maka dia berlatih terus tanpa memikirkan makan, minum maupun istirahat . Kau sudah melakukan tindakan yang benar ketika tidak menyapanya, kalau tidak ia sudah runtuh sejak itu, atau bahkan bisa mengalami cau-hwee-jip-mo (jalan api menuju neraka) dan akan cacad seumur hidup!"

Aku benar-benar sangat kaget, untung saja aku berhasil menahan gejolak perasaanku waktu itu dan tidak memanggil Bu-ki, kalau tidak, sungguh tak terbayang akibat yang harus dideritanya.

Sekarang aku baru sadar, ternyata Siau Tang-lo adalah seseorang yang sangat lihay dan luar biasa.

Dia menyukai aku, tapi sengaja bersikap seakan-akan tak akan menggunakan paksaan untuk membuat aku menyukainya.

Ia tahu bahwa dalam hati aku hanya mencintai Tio Bu-ki seorang, karena itu dia mencoba menggunakan cara itu untuk mencelakai Buki Aku mulai membencinya!

Tampaknya kembali ia berhasil menebak jalan pikiranku, katanya kemudian.

"Untuk mendapatkan cinta seseorang, untuk mendapatkan seseorang, kadang-kadang kita harus menggunakan sedikit siasat dan langkah. Apalagi waktu itu Bu-ki begitu tergila-gila pada ilmu pedangnya, dalam pandanganku ketika itu, dia tak ada bedanya dengan seorang cacad!"

Apayang dia katakan memang benar, tapi...

menggunakan cara selicik itu untuk menyingkirkan orang yang sangat kucintai?

Bagaimanapun juga, aku tak bisa memaafkan dirinya!

Tentu saja aku tidak mengutarakan jalan pikiranku, aku hanya memandangnya dengan termangu-mangu dan mulut bungkam.

Sebentar kemudian dia berkata lagi kepadaku.

"Aku benarbenar tak mengira kalau Bu-ki memiliki bakat setinggi itu, tak lama setelah kita tinggalkan bukit Kiu-hoa-san, dia ikut meninggalkan bukit itu. Dia berbasil dua bulan lebih awal dari perkiraanku semula!'' Mendengar sampai di sini aku tak bisa menahan diri lagi, semua kecurigaan dan keraguan yang membelit hatiku selama ini kulontarkan keluar, aku bertanya kepadanya.

"Jadi kau sengaja mengajakku pergi meninggalkan bukit Kiu-hoa-san? Jadi kau takut kami saling bertemu setelah ia berhasil mempelajari pedangnya?"

Siau Tanglo segera tertawa.

"Kau jangan memandangku kelewat rendah. Mana mungkin aku manusia serendah itu? Sebelum berangkat pun aku sudah berkata kepadamu bahwa aku tak ingin memaksamu untuk pergi bersamaku!"

Setelah tertawa getir, kembali ia melanjutkan.

"Kau juga tahu, semua urat-uratku harus dilancarkan kembali peredaran darahnya setahun satu kali, kalau tidak berbuat demikian, aku bisa mati karena peredaran darah yang tersumbat"

Aku menjawab bahwa aku tidak tahu. Dia berkata lagi.

"Dalam dunia persilatan saat ini hanya orang yang bernama Mayat Hidup yang mempunyai kemampuan untuk melancarkan peredaran darah di sekujur badanku dalam waktu singkat. Kebetulan sekali tiap tahun diapun butuh sebutir pil pemunah racun untuk membebaskan pengaruh racun dalam tubuhnya dan penawar racun itu hanya dimiliki Keluarga Tongdi Sucoan!"

"Tapi kita toh tidak perlu meninggalkan bukit Kiu-hoa-san sedini itu!"

Tak tahan aku berseru.

"Kenapa kita mesti berputar sejauh itu sebelum balik kembali ke sini?"

"Kau kira aku memang ingin berputar dulu sejauh itu? Kau kira setelah tiba disini lalu tanpa syarat apapun pibak Benteng Keluarga Tong akan menyerahkan obat penawar racun itu kepadaku? Aku berputar sejauh itu tak lain karena aku harus mencari beberapa jenis barang berharga atau barang langka untuk ditukar dengan obat itu."

Aku bertanya, apakah barang yang dicarinya sudah ditemukan?

Ia menjawah bahwa ia sudah mencari lama sekali tapi tak berhasil menemukan barang yangcocok, akhirnya ia mendengar Benteng Keluarga Tong kedatangan seorang asing dan pihak Keluarga Tong sedang kesulitan untuk mengetahui asal-usul orang asing itu, sebab mereka curiga apakah orang ini Tio Bu-ki atau bukan.

Ia berkata kepadaku.

"Tahukah kau, dengan cara apa mereka dapat segera membuktikan orang itu Bu-ki atau bukan?"

Akupun menjawab.

"Suruh paman Siangkoan mengenali orang itu, bukankah dia segera akan memberikan jawaban yang pasti?' Katanya cara ini memang merupakan cara yang sangat baik, tapi seandainya karena sesuatu alasan, Sangkoan Jin enggan memberikan keterangan yang sejujumya? Dalam hal ini aku tidak paham,apa alasan paman Siangkoan tak mau memberi keterangm yang sejujurnya. Mungkinkah dia masih teringat hubungan persaudaraan mereka di masa lalu? Tapi aku tidak bertanya soal ini, aku hanya bertanya.

"Cara apalagi yang bisa digunakan?"

"Kau!"

Aku yang dia tunjuk!

Aku benar-benar sangat terkejut, tapi setelah kupikir sejenak aku langsung paham dengan tujuannya.

Betul, sekalipun Bu-ki bisa berlagak pilon setelah berjumpa denganku, tapi bila aku dapat bertemu dengannya, wajahku pasti, terkejut dan perasaanku pasti, tak terbendung lagi.

Berpikir akan bal tersebut, aku semakin merasa betapa licik dan munafiknya SiauTang-lo, sungguh tak nyana dia bisa menemukan akal seperti ini Tapi dengan cepat aku berpikir lagi, seandainya dia memang seorang licik yang munafik, semestinya dia tak perlu mengungkap rahasia ini dihadapanku, dia bisa langsung mengajak aku ke sana dan menjalankan rencananya.

Mengapa dia harus menjelaskannya dulu kepadaku?

Aku tak tahan, segera tegurku.

"Mengapa kau beritahukan masalah ini padaku?"

Kembali Siau Tang-lo tertawa getir, tampaknya ia memang gemar tertawa getir, sahutnya.

"Aku kuatir kau akan sangat membenciku!"

Setelah menatapku sampai lama sekali, kembali dia berkata.

"Ketika pertama kali aku berpikir menggunakan cara ini untuk ditukar dengan obat, aku hanya rnemikirkan keselamatan jiwaku sendiri. Tapi semakin dekat dengan Benteng Keluarga Tong perasaanku semakin tak tenang..."

"Kenapa?"

Aku bertanya.

"Karena ini sama saja dengan memperalat dirimu! Mana bisa aku memperalat kau?Bagairnana mungkin aku, Siau Tang-lo, bisa memperalat seorang wanita untuk kepentingan pribadi?"

"Apa kau sudah tak membutuhkan obat itu?"

Tanyaku.

"Tentu saja aku sangat butuh"

"Berarti kau tetap akan memperalat aku?"

"Karena itu aku harus menjelaskan dulu masalah ini kepadamu agar kau bisa bersiap-siap. Tentu saja aku tak berani memastikan orang itu pasti Tio Bu-ki, kalau memang benar tentu saja paling baik, seandainya memang dia, kuharap kau bisa rnengendalikan gejolak perasaan dan emosimu di dalam hati saja."

Apa mungkin aku bisa mengendalikan gejolak perasaan itu?

Sudah begitu lama kami tak bertemu, pikiran dan perasaanku kini sudah bergolak bagai gulungan ombak di samudera luas bagaimana caranya rnengendalikannya?

Tampaknya dia dapat melihat pikiran dan perasaanku waktu itu, maka katanya lagi.

"Kau boleh menolak untuk pergi kesana!"

"Bila aku tidak pergi, bukankah kau akan gagal mendapatkan obat itu?"

Ternyata dia cukup jujur, sahutnya.

"Tentu saja aku paling berharap kau bisa pergi, bahkan sangat berharap kau dapat mengendalikan gejolak perasaan hatimu, kau bisa bersandiwara di hadapan mereka.

"Aku bertanya kepadanya, bukankah hal ini sama artinya dengan membohongi orang orang Keluarga Tong? Ia menjawab.

"Tak mungkin kita mengharapkan segalas esuatu bisa berhasil dengan sempurna, kadangkala urusan bisa gagal bila kita tidak mau menggunakan sedikit akal dan pikiran. Tapi demi ketenteraman hatiku, untuk memastikan agar setelah kejadian ini kau tidak membenciku, aku harus mengulangisekali lagi perkataanku ini, kau boleh menolak untuk pergi!"

"Tidak, aku tetap pergi!"jawabku bersikukuh. Aku tak tahu kenapa pada waktu itu aku begitu bersikukuh untuk pergi, apakah hal ini disebabkan ia terlalu baik kepadaku? Mungkinkah aku berbuat begini karena ingin membalas budi kebaikannya? Atau mungkin karena alasan lain? Aku tak tahu, aku benar-benar tak tahu. Mungkin inilah yang disebut takdir kehidupan! Mungkinkah garis takdirku menyuruh aku untuk mengenali orang itu betul Bu-ki atau bukan? Dan garis takdir orang itu segera akan diputuskan oleh keputusan yang kuambil? Ohh, takdir! Kenapa kau tak adil? Kenapa kau harus mengaturku untuk berbuat seperti ini? Hari mulai terang sekarang aku baru teringat, aku lupa bertanya kepada Siau Tang-lo, kapan kami akan pergi bertemu dengan orang itu. Seandainya orang itu betul-betul adalah Bu-ki, apa yang harus kuperbuat? Aku sendiri pun tak tahu, biarlah takdir yang mengaturkan bagiku! Bab 4. Pilihan Tong Ou yang Tepat Bulan lima tanggal dua. Sejak fajar tadi, suasana di dalam Benteng Keluarga Tong sudah sangat ramai, sebelum hari menjadi terang, Lo-cocong si nenek moyang telah berpesan kepada bawahannya untuk tetap menghangatkan sarapan, karena dia ingin sarapan bersama Tong Ou. Lo-cocong tidak menyangka secepat itu Tong Ou tiba di rumah, dia mengira paling cepat orang itu baru tiba di Benteng Keluarga Tong pagi harinya. Ternyata masih ada satu hal yang tidak disangka olehnya, dia tidak mengira sebelum sarapan siap dihidangkan, Tong Ou sudah tiba di rumah. Yang dimaksud tiba di rumah adalah sampai di pintu gerbang Benteng Keluarga Tong. Selama ini Keluarga Tong bisa menancapkan kakinya dengan kokoh dalam percaturan dunia persilatan tentu saja mereka memiliki kelebihan yang tak dipunyai orang lain, contohnya urusan kecil ini saja sudah bisa disaksikan betapa hebatnya Keluarga Tong. Ketika Tong Ou baru saja melangkah masuk ke pintu gerbang Benteng Keluarga Tong, berita ini sudah tiba di telinga Lococong, sebab Lo-cocong membuat satu peraturan yang sangat ketat, yaitu peristiwa apa pun yang terjadi di dalam benteng, apa pun yang dilakukan orang itu, harus segera dilaporkan kepadanya. Lo-cocong adalah orang pertama yang dibangunkan dari tidurnya. Begitu Lo-cocong bangun dari tidurnya, petugas dapur langsung menjadi amat sibuk, buru-buru mereka siapkan hidangan sarapan pagi. Ketika Tong Ou melangkah masuk ke taman bunga Keluarga Tong, sarapan telah disiapkan, sewaktu memasuki gardu Bo-tanteng (Gardu Bunga Botan), ia sudah melihat senyuman Lo-cocong yang menunggu kedatangannya. Sesudah mengucapkan selamat pagi ia duduk di hadapan Lo-cocong, waktu itu bubur dengan cakwee panas telah dihidangkan di atas meja. Setelah memperhatikan sejenak wajah Tong Ou, Lo-cocong hanya mengucapkan dua patah kata.

"Makan dulu!"

Tong Ou tidak banyak bicara, ia cukup memahami watak Lococong, kalau dia ingin kau sarapan dulu lebih baik kau kenyangkan dulu perutmu sebelum berbicara lagi, kalau tidak nenek itu akan tak suka hati.

Maka dia pun mulai menyumpit cakwee yang dicelupkan ke dalam buburnya dan mulai bersantap, dalam waktu singkat dia habiskan delapan biji cakwee ditambah daging masak angsio hingga peluh jatuh bercucuran karena kepanasan, tapi dengan begitu semua rasa letihnya lenyap, yang tertinggal hanya sinar tajam yang memancar dari wajahnya.

Saat itu barulah Lo-cocong berkata.

"Bila semangat orang mulai luntur, jalan pikirannya tentu gampang kacau!"

"Aku tahu!"

Tong Ou manggut-manggut.

"Tentunya kau sudah tahu masalah tentang Sangkoan Jin bukan?"

"Benar, karena itu siang malam aku melakukan perjalanan untuk segera pulang ke rumah."

"Oh! Kau menemukan suatu rahasia besar?"

"Benar, secara garis besar aku telah mengetahui keadaan perkumpulan Tayhong-tong, di luar sana aku telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan sempurna, rencananya pada perayaan Peh-cun nanti serangan gelombang pertama dilakukan."

"Apa hubungannya dengan perjalananmu siang malam menuju ke rumah? Sampai di rumah besok pun sama saja..."

"Hari ini sudah tanggal dua, bila dapat pulang lebih awal berarti aku bisa lebih awal melakukan penyelidikan melalui Sangkoan Jin. Aku ingin tahu apakah masih ada hal lain dalam perkumpulan Tayhong-tong yang belum kita ketahui."

"Lebih awal melakukan persiapan memang benar, tapi sewaktu mencari keterangan dari Sangkoan Jin, kau mesti lebih berhati-hati."

"Oh ya? Kenapa? Apakah Lo-cocong masih belum percaya kepadanya?"

"Sebenarnya aku sudah menaruh kepercayaan kepadanya, sebab dia datang dengan membawa batok kepala Tio Kian, ini membuktikan kesungguhan hatinya untuk bergabung dengan kita, tapi dalam berapa hari terakhir ini telah terjadi sedikit masalah."

"Masalah apa?"

Lo-cocong segera menceritakan dengan jelas semua ikhwal kedatangan Tio Bu-ki dalam Benteng Keluarga Tong hingga apa yang telah dilakukannya. Selesai mendengar penuturan itu, Tong Ou segera bertanya.

"Apakah sudah ada kabar dari Wan Sam?"

"Hingga kini belum ada, tapi orang yang kutugaskan melakukan penyelidikan paling lambat tengah hari nanti sudah pulang kemari."

"Kalau begitu aku baru akan menemui Sangkoan Jin nanti malam!"

"Benar, makin hati-hati makin baik, kali ini kita harus berhasil menumpas seluruh kekuatan yang dimiliki Tayhong-tong, dengan demikian Keluarga Tong kita baru bisa merajai seluruh dunia persilatan!"

"Kau tak usah kuatir Lo-cocong,"

Hibur Tong Ou.

"aku pasti dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik."

"Aku percaya kemampuanmu. Oh ya, kebetulan kemarin Tong Koat melaporkan kedatangan Siau Tang-lo."

"Dia datang untuk mengambil obat? Aku rasa lebih baik kali ini kita serahkan semua obat penawar racun itu kepadanya, buat apa kita mesti kemaruk dengan barang-barang langka miliknya?"

"Sebenarnya tujuan utamaku bukan lantaran kemaruk dengan barang-barang langka miliknya, kau toh tahu juga, awalnya kita minta barang-barang langka darinya hanya karena ingin obat kita bisa dijual dengan harga tinggi karena dengan memperoleh banyak uang berarti kita bisa memelihara lebih banyak orang dan menambah kekuatan kita. Tapi kemudian tiba-tiba aku punya satu pikiran aneh, dan sekarang telah menjadi kenyataan."

"Pikiran apa?"

"Siau Tang-lo itu manusia aneh, tentunya kau masih ingat kedudukan serta asal-usulnya yang begitu tinggi bagai seorang kaisar, orang aneh semacam dia seringkali bisa membawa barangbarang yang aneh juga."

"Kali ini dia membawa barang aneh juga?"

"Benar!"

"Barang apa itu?"

"Satu orang!"

"Orang? Siapa dia?"

"Wi Hong-nio!"

"Bakal istri Tio Bu-ki yang belum sempat dikawini secara resmi itu?"

"Betul!"

"Apa tujuannya membawa Wi Hong-nio datang kemari?"

"Ia mendengar kita sedang menyelidiki seseorang apa benar Tio Bu-ki atau bukan, lalu ia mengajak Wi Hong-nio datang kemari."

"Ehmm, cara ini memang jitu!"

"Tepat sekali! Kau mau bertemu Siau Tang-lo?"

"Baik, tengah hari nanti akan kuundang dia makan siang di loteng Ie-hiang-lo, dia sendiri saja."

"Hanya dia sendiri? Tidak mengundang Wi Hong-nio?"

Tanya Lo-cocong dengan heran.

"Ya, hanya dia sendiri. Aku punya rencana lain."

"Baiklah, kalau begitu segala sesuatu kuserahkan padamu. Masih ada urusan lain yang harus dikerjakan? Kalau tak ada, lebih baik pergilah beristirahat dulu."

"Aku ingin mengundang Cu-sianseng untuk membuat lukisan wajah Li Giok-tong, suruh dia selesaikan lukisan itu sebelum tengah hari!"

Cu-sianseng adalah Cu Cu-tan, seorang pelukis dari Benteng Keluarga Tong, dia sangat mahir dalam melukis wajah orang.

Semua orang penting di Benteng Keluarga Tong dibuatkan sebuah lukisan wajah olehnya dan lukisan itu digantung di sebuah ruangan dalam Benteng Keluarga Tong yang dinamakan 'Ruang Lukisan'.

Hanya orang penting yang dilukis wajahnya oleh Cusianseng.

Lo-cocong semakin tercengang setelah mendengar permintaan itu, tak tahan lagi tanyanya.

"Kenapa kau ingin membuat lukisan wajahnya? Kenapa tidak menunggu setelah dia bertemu dengan Wi Hong-nio saja nanti?"

"Lo-cocong!"

Ujar Tong Ou sambil tersenyum.

"bolehkah aku sedikit jual mahal dengan melaporkan urusan ini malam nanti?"

Lo-cocong seperti juga nenek-nenek lain di kolong langit, walaupun sedikit bernada menegur tapi sahutnya juga dengan gembira.

"Menghadapi urusan sepenting ini masih jual mahal? Tapi... baiklah, aku percaya kau pasti sudah punya rencana yang matang, akan kutunggu laporanmu malam nanti!"

"Nenek, kau memang sangat memahami perasaanku!"

Tong Ou tertawa.

"Tak usah merayuku lagi, sana, pergi istirahat!"

Ketika terjaga dari tidurnya, tengah hari sudah hampir tiba, dengan semangat dan tubuh yang segar Tong Ou berangkat menuju ke loteng Ie-hiang-lo.

Belum lama dia duduk, Siau Tang-lo dengan dipapah dua orang telah tiba juga di situ.

Selesai bertukar kata sopan-santun biasanya, mereka mulai bersantap.

Selama makan siang itu mereka hanya membicarakan masalah-masalah yang berhubungan dengan dunia persilatan.

Ketika air teh mulai dihidangkan, Tong Ou baru mengeluarkan sebuah botol yang diserahkannya kepada Siau Tang

KANG ZUSI website

http.//cerita-silat.co.cc/ lo sambil berkata.

"Obat yang ada dalam botol ini cukup untuk digunakan selama enampuluh enam tahuni."

Siau Tang-lo tahu, isi botol itu adalah obat pemunah racun yang akan dia berikan kepada si "Mayat Hidup".

Mendengar bahwa obat yang diberikan Tong Ou kepadanya kali ini cukup untuk digunakan selama enampuluh enam tahun, ia jadi sangat girang, dia percaya inilah berkah yang diperolehnya lantaran mengajak Wi Hong-nio ke sini.

Karena itu segera bertanya.

"Kapan kau akan bertemu dengan Wi Hong-nio?"

"Aku tidak berencana untuk menjumpainya."

"Tidak menjumpainya? Lalu siapa yang akan menemuinya?"

Tanya Siau Tang-lo tercengang.

"Tak ada seorang pun dari Benteng Keluarga Tong kami akan bertemu dengannya."

Siau Tang-lo semakin melengak, dia betul-betul tak habis mengerti.

"Siapa pun tak akan menemuinya? Mengapa?"

"Aku rasa itu tidak perlu."

"Apakah kalian telah berhasil membuktikan orang itu bukan Tio Bu-Ki?"

"Belum!"

"Lantas..."

"Aku hanya tak ingin membuktikan sesuatu dengan mempercayai omongan seorang wanita."

Begitu mendengar perkataan tersebut, Siau Tang-lo segera menyentilkan jari tengahnya ke depan, botol berisi obat penawar racun itu segera bergeser kembali ke hadapan Tong Ou, kemudian ia baru berkata.

"Kalau begitu, aku pun tidak bisa menerima pemberianmu ini."

Tong Ou tertegun, ia mengawasi Siau Tang-lo tanpa bicara. Setelah tertawa, kembali Siau Tang-lo berkata.

"Aku sangat berterima kasih atas niat baikmu itu, tapi selama hidup aku tak pernah mau menerima pemberian orang secara cuma-cuma."

Tong Ou agak gelagapan juga menghadapi sikap lawannya, untung dia adalah seorang tokoh utama yang mengatur seluruh sepak-terjang Benteng Keluarga Tong dan dalam bingungnya, dia masih sempat memutar otak mencari jalan lain.

Suatu rencana segera diperolehnya.

Ia segera berkata kepada Siau Tang-lo.

"Aku sangat berharap kau mau menerimanya!"

Kemudian ia dorong kembali botol berisi obat itu ke hadapan Siau Tang-lo. Kali ini Siau Tang-lo tidak bicara lagi, hanya sepasang matanya menatap lekat Tong Ou.

"Baiklah!"

Kata Tong Ou kemudian.

"kalau toh kau baru mau menerima niat baikku jika kami pun mau menerima niat baikmu, begini saja, malam nanti aku akan mengatur agar orang itu bertemu dengan Wi Hong-nio!"

Siau Tang-lo segera tersenyum, ia menerima botol berisi obat itu dan berkata.

"Kalau begitu kuucapkan banyak terima kasih!"

"Seharusnya akulah yang berterima kasih kepadamu,"

Balas Tong Ou sambil tersenyum.

Bab 5.

Teka-Teki di Balik Lukisan Wajah Sewaktu Bu-ki melihat Tong Koat dan Cu Cu-tan masuk ke dalam ruangan menghampirinya, ia melihat paras muka Tong Koat sangat jelek dan tak enak dipandang, seolah-olah ada orang yang baru saja merampas pengantin perempuannya.

Hal ini bisa dimaklumi karena ketika bangun pagi tadi, Tong Koat mengira Lo-cocong pasti akan mengundangnya untuk sarapan bersama sekalian mendengarkan penuturan kakaknya tentang hasil yang diperoleh sepanjang perjalanan, paling tidak saat itu dia pun bisa memberikan sedikit saran dan tanggapan.

Siapa tahu Lo-cocong sama sekali tidak mengundangnya, memanggil pun tidak.

Sepagian Tong Koat sudah dibuat sangat marah bercampur dongkol hingga sarapan pun segan dimakan, yang lebih bikin jengkel hatinya adalah ketika menjelang tengah hari, dia melihat koki kembali sibuk menyiapkan hidangan dan ia tak tahan untuk bertanya buat siapa hidangan itu disiapkan.

Ketika tahu orang yang dijamu adalah Siau Tang-lo dan hidangan cuma disiapkan untuk dua orang, ini membuktikan bahwa kakaknya, Tong Ou, sama sekali tak berniat mengundangnya untuk turut serta dalam perjamuan ini, ia jadi makin jengkel dan marah hingga paras mukanya berubah jadi merah padam seperti hati babi.

Rasa dongkolnya semakin menjadi-jadi ketika Lo-cocong memerintahkan ia bersama Cu Cu-tan untuk pergi membuat lukisan wajah Li Giok-tong, apa artinya ini?

Ini membuktikan bahwa kakaknya, Tong Ou, telah berhasil membuktikan Li Giok-tong bukan Tio Bu-ki, karena dengan terlukisnya wajah orang itu, berarti secara resmi orang itu telah diterima menjadi anggota Keluarga Tong.

Mengapa Tong Ou tidak mengajaknya berunding dulu sebelum menerima Li Giok-tong menjadi anggota Keluarga Tong?

Oleh sebab itu ketika Bu-ki dengan perasaan ingin tahu bertanya kepada Tong Koat, mengapa ia harus dibuat lukisan wajahnya, Tong Koat sama sekali tidak mempedulikan pertanyaan itu, dia hanya berteriak dengan penuh kejengkelan.

"Pokoknya biar dia lukis wajahmu, titik. Orang Keluarga Tong paling benci kalau ditanya ke sana kemari. Melihat sikap dan nada suaranya, Bu-ki tahu kalau orang itu sedang dongkol dan marah karena sesuatu, tapi jawaban tersebut tidak membuat Bu-ki jadi marah, pikirnya.

"Mau dilukis atau diapakan, terserah, cepat atau lambat toh jawabnya segera akan kuketahui."

Selesai dilukis, ia segera pergi mencari Sangkoan Jin dan menceritakan kejadian itu kepadanya.

Mendengar penuturan tersebut, Sangkoan Jin sangat gembira, ia berseru sambil menepuknepuk bahu pemuda itu.

"Selamat! Selamat! Kionghi, kionghi!"

"Kenapa mesti kionghi kepadaku? Memangnya Benteng Keluarga Tong hendak menggunakan lukisan wajahku untuk mencarikan jodoh bagiku?"

"Tentu saja bukan begitu!"

"Lantas, apa yang mesti dibikin gembira?"

"Dalam Keluarga Tong ada satu kebiasaan, mereka akan membuat lukisan wajah bagi setiap orang yang dianggap penting dalam kelompoknya, lukisan itu akan digantung dalam sebuah ruangan agar setiap orang bisa melihat serta mengenali wajahnya."

"Oh, jadi paman Siangkoan juga telah dilukis wajahnya?"

"Betul, ini menandakan mereka telah mempercayai identitas palsumu, bahkan sangat menghargai kemampuanmu!"

Bu-ki betul-betul sangat gembira, dari penuturan Sangkoan Jin tadi, dia menjadi tahu bahwa pihak Keluarga Tong sangat menghargai kemampuannya dan akan memandang penting peranannya, bahkan dia semakin gembira lagi ketika Tong Ou ternyata mengundangnya untuk bertemu.

Sekalipun dalam hati kecilnya ia merasa amat gembira, namun perasaan tersebut tidak sampai kelewat ditampilkan ke wajahnya, sebab selama berapa waktu belakangan ini ia sudah belajar bagaimana mengendalikan emosi serta tidak menampilkan setiap perubahan perasaan hatinya, apalagi ketika sedang berhadapan dengan musuh, ia harus bisa mempertahankan ketenangan serta kesigapannya untuk menghadapi setiap perubahan.

Maka sewaktu dia berjalan masuk ke ruangan tempat Tong Ou ingin berjumpa dengannya, pemuda itu telah berhasil menenangkan perasaan hatinya, dia telah mengubah dirinya bagai anak panah yang sudah dipentang di busurnya, setiap waktu dan setiap saat dia bisa menggunakan seluruh tenaga dan kemampuannya untuk melindungi diri.

Ketika melangkah masuk ke dalam ruangan, ia segera dapat melihat wajah Tong Ou, diam-diam ia bersorak memuji dalam hatinya.

Ditilik dari penampilannya, Tong Ou berusia sekitar tigapuluh tahunan, wajahnya nampak gagah dan tampan, sorot mata yang terpancar keluar seakan-akan mengandung rasa percaya diri yang sangat kuat.

Begitu melihat kehadiran Bu-ki, Tong Ou segera menegur.

"LiGiok-tong?"

"Betul!"

Sahut Bu-ki sambil bersojah.

"aku adalah Li Gioktong dariCisi!"

"Selamat datang di Benteng Keluarga Tong!"

"Aku merasa amat bangga dan gembira atas sambutan ini."

"Mari, kita bicara di dalam saja,"

Ajak Tong Ou kemudian.

"Di dalam?"

"Benar, di kamar sebelah sana."

Tong Ou menggerakkan tangannya memberi tanda mempersi-lahkan, Tio Bu-ki pun tanpa berpikir panjang segera melangkah masuk ke dalam ruangan.

Tong Ou menunggu sampai Bu-ki sudah melangkah dua tindak, baru bertepuk tangan memberi isyarat, seseorang segera muncul di tengah ruangan.

Kepada orang itu Tong Ou berkata.

"Segera undang Cusianseng untuk masuk!"

Bu-ki berhenti di depan pintu, menanti Tong Ou sudah membukakan pintu, baru dia melangkah masuk.

Ternyata ruangan itu penuh dengan lukisan wajah yang tergantung di seluruh dinding.

Sambil menuding ke atas lukisan lukisan wajah itu, Tong Ou berkata.

"Semua wajah yang terlukis dalam ruangan ini adalah jagojago pilihan dari Benteng Keluarga Tong kami."

Bu-ki melihat wajah Sangkoan Jin ikut terpampang di situ, lukisan wajahnya tergantung pada dinding sebelah kiri.

"Lukisan wajahmu ada di meja!"

Kembali Tong Ou berkata.

Bu-ki sudah melihat lukisan itu ketika Cu Cu-tan selesai melukis tadi, karena itu walaupun ia melihat di atas meja ada sebuah lukisan, namun ia tidak berniat untuk menghampiri dan melihatnya lagi.

"Silahkan duduk!"

Kembali Tong Ou berkata sambil menunjuk bangku di sisi meja.

Bu-ki pun duduk, karena berada di tepi meja, maka tanpa sadar ia pun melirik sekejap ke lukisan wajah yang berada di sisinya.

Wajah dalam lukisan itu nampak sangat kurus dan penuh cambang, ketampanan wajahnya di masa lampau sudah sama sekali tak terlihat.

"Bagaimana hasil lukisan Cu-sianseng, hebat bukan?"

Ucap Tong Ou kemudian setelah ikut duduk di hadapannya.

"Betul, hebat dan kelas satu!"

"Sesuai dengan peraturan Keluarga Tong kami, asalkan dia orang yang pandai, hebat dan bisa diandalkan, kami pasti akan buatkan lukisan wajahnya dan digantungkan dalam ruangan ini."

Bu-ki hanya memandang lukisan wajahnya tanpa menjawab.

"Hanya saja,"

Kembali Tong Ou berkata.

"tujuan kami untuk membuat lukisan wajahmu kali ini, belum tentu dimaksudkan untuk digantung di sini."

"Oh ya?"

Dalam hati kecilnya Bu-ki mulai merasa kecewa bercampur curiga.

Kenapa belum tentu digantung dalam ruangan ini?

Sekalipun begitu, dia sama sekali tidak menampilkan perasaan heran bercampur curiganya di wajahnya.

"Inilah untuk pertama kalinya kami Benteng Keluarga Tong membuatkan lukisan wajah orang luar."

"Berarti merupakan satu kehormatan dan kebanggaan tersendiri bagiku?"

"Mungkin, kau ingin tahu kenapa?"

"Kau bersedia memberitahukan kepadaku?"

"Tentu saja bersedia."

Sementara itu, Cu Cu-tan sudah berjalan ke dalam ruangan, di tangannya ia masih membawa beberapa gulung lukisan wajah.

"Mari kita ke sana sambil melihat-lihat dan beromongomong,"

Ajak Tong Ou sambil menuding ke arah sebuah meja besar dekat dinding ruangan.

Tiba di depan meja besar itu, Cu Cu-tan mulai membentangkan semua lukisan yang dibawanya, selembar demi selembar dipaparkan di atas meja, semuanya berjumlah lima lembar lukisan.

Lembaran lukisan yang paling ujung adalah seseorang berwajah kurus, semakin ke kanan wajah itu kelihatan semakin bertambah gemuk.

Bu-ki segera kenali dua lembar lukisan yang paling kanan adalah lukisan wajah dari Tong Koat, orang paling gemuk di dalam Benteng Keluarga Tong, sedang tiga lembar lukisan di sisi kirinya memiliki raut muka yang mirip dengan Tong Koat, namun Bu-ki tak berani memastikan kalau lukisan tersebut adalah lukisan wajahnya.

"Kelima lembar lukisan ini semuanya adalah lukisan wajah adikku, Tong Koat, yang berada di paling kiri adalah lukisan wajahnya kira-kira sepuluh tahun yang lalu waktu dia masih sangat kurus, sedang luk isan yang berada di paling kanan adalah lukisan wajahnya pada setahun silam, dia sudah berubah jadi begitu gemuk!"

Bu-ki tidak tahu apa sebab serta tujuan Tong Ou memperlihatkan lukisan-lukisan itu padanya, tapi dia yakin, pada akhirnya Tong Ou pasti akan memberikan penjelasan atas semua teka teki tersebut, oleh sebab itu dia sama sekali tidak gelisah bahkan mulutnya tetap membungkam seribu bahasa.

Menanti Cu Cu-tan selesai menggulung kembali kelima lembar lukisan itu, Tong Ou baru berjalan balik ke meja pertama dan mengambil lukisan wajah Bu-ki yang lalu dibentangkannya di atas meja besar, sementara Cu Cu-tan sudah mempersiapkan alat tulis serta selembar kertas baru.

Setelah meletakkan peralatan gambarnya di atas meja, Cu Cu-tan mulai mengambil selembar kertas kosong dari tumpukan kertas yang dibawanya, kemudian membentangkan kertas baru itu tepat di atas lukisan wajah Tio Bu-ki.

"Kertas ini sangat tipis,"

Tong Ou menjelaskan.

"sedemikian tipisnya sehingga lukisan yang berada di bawahnya dapat terlihat dengan jelas."

Kembali Cu Cu-tan mengambil dua lembar kertas kosong dan diletakkan di atas serta di bawah kertas kosong pertama, lalu setelah mengambil alat gambarnya, ia memandang ke arah Tong Ou menunggu perintah.

Terdengar Tong Ou berkata lagi kepada Bu-ki.

"Cu-sianseng sangat mahir dalam melukis wajah manusia, maka pengamatannya terhadap raut wajah seseorang sangat teliti dan cermat, dan sekarang, berdasarkan pengalaman yang dimilikinya selama ini, dia akan melukis raut wajahmu ketika kau bertambah gemuk nanti."

Bu-ki sangat kaget, pikirnya.

"Mau melukis wajahku ketika gemuk? Jika lukisannya tepat, bukankah Tong Ou segera akan tahu kalau aku adalah Tio Bu-ki? Tapi... mungkinkah dia dapat melukis wajahku yang sebenarnya dengan tepat?"

Tampak Cu Cu-tan mulai menggerakkan alat tulisnya membuat coretan-coretan pada kertas baru itu, tak selang berapa saat kemudian, raut wajah seorang pemuda yang tampan dan gagah segera tampil di atas lembaran kertas lukisan itu.

Kali ini Bu-ki betulbetul sangat terperanjat, sebab raut wajah yang tertera pada lukisan itu mirip sekali dengan wajahnya setahun lalu, sekalipun tidak tepat secara keseluruhan, paling tidak kemiripannya mencapai tujuhdelapan bagian.

"Mirip bukan?"

Tegur Tong Ou kemudian, sambil memandang wajah Bu-ki.

"Dari mana aku bisa tahu?"

Jawab Bu-ki.

"Kenapa kau tidak tahu?"

"Sejak kecil aku sudah sekurus ini, dari mana aku bisa tahu bagaimana raut wajahku bila menjadi gemuk?"

"Sungguh?"

"Menurut kau, setampan itukah wajahku?"

"Ehmm, aku rasa mirip sekali."

"Oh ya?"

"Coba ikut aku."

Tong Ou mengambil kertas tambahan itu dan membawa lukisan yang baru selesai dilukis itu ke ruang tamu.

Mereka tiba di sisi kiri ruang tamu, di situ ia mendorong sebuah pintu dan masuk ke dalam sebuah ruangan yang di dalamnya penuh dengan rak yang dipenuhi lukisan wajah manusia.

Sambil melangkah masuk, kembali Tong Ou menjelaskan.

"Isi rak yang ada di dalam ruangan ini juga lukisan wajah manusia, hanya bedanya lukisan yang berada di sini adalah lukisan wajahwajah musuh besar Benteng Keluarga Tong."

Bu-ki tidak berbicara lagi, dalam hatinya ia sudah paham apa yang bakal terjadi, lukisan wajah Tio Bu-ki dari Perkumpulan Tayhong-tong pasti berada di situ juga.

Ketika melangkah ke dalam ruangan, ia segera dapat melihat tulisan-tulisan yang ditempelkan pada rak-rak lukisan itu, ada lukisan dari Hui-hong-pang, Sin-liongpang...

dan tentu saja dari Tayhong-tong.

Benar juga, Tong Ou langsung menuju ke rak lukisan yang dicantumi label Tayhong-tong, ia membuka laci keempat dari rak tersebut dan mengeluarkan segulung lukisan wajah, kemudian katanya kepada Bu-ki.

"Inilah lukisan wajah Tio Bu-ki dari perkumpulan Tayhong-tong."

Bu-ki masih tetap menjaga ketenangan hati dan penampilannya, padahal di hati kecilnya ia sudah merasakan ketegangan yang luar biasa hingga tanpa sadar peluh dingin membasahi telapak tangannya.

Sementara itu Tong Ou sudah melepaskan tali merah yang mengikat gulungan lukisan itu, kemudian dengan tangan kiri memegang lukisan tersebut, tangan kanannya memegang lukisan hasil karya Cu Cu-tan.

Dia mengamati kedua lukisan itu bergantian, lalu memandang juga ke wajah Bu-ki, seakan-akan dia ingin melihat bagaimana perubahan wajah pemuda itu.

Paras muka Bu-ki sama sekali tidak berubah, dia bersikap seakan-akan sedang ikut menikmati dua lukisan wajah yang sama sekali tak ada hubungan dan sangkut pautnya dengan dirinya.

Tiba-tiba terdengar Cu Cu-tan yang berdiri di belakang Bu-ki menjerit kaget.

"Aaah, mirip, mirip sekali, kau adalah Tio Bu-ki!"

Tio Bu-ki segera tertawa keras.

"Kau masih bisa tertawa?"

Seru Tong Ou.

"Apa kau tidak merasa kejadian ini sungguh menggelikan? Kau tidak menganggap peristiwa ini sebagai sesuatu yang konyol dan ngawur?"

"Tidak, aku sama sekali tidak merasakan."

Sambil menuding ke arah Cu Cu-tan, kembali Bu-ki berkata.

"Bukankah lukisan wajah Tio Bu-ki dari Tayhong-tong dilukis juga olehnya?"

"Benar!"

"Itulah dia,"

Kata Bu-ki.

"selama ini kalian menaruh curiga bahwa aku adalah Tio Bu-ki, maka sewaktu dia menambah lukisan tadi, pikirannya sudah terpengaruh oleh bayangan wajah Tio Bu-ki, tidak aneh jika hasil lukisannya mirip sekali dengan Tio Bu-ki. Coba kalau kalian mencurigai aku sebagi Oh Tun dari Hui-hong-pang, aku yakin hasil lukisan yang dibuatnya pasti sangat mirip dengan Oh Tun, percaya tidak?"

"Aku percaya, cuma dalam satu hal kau keliru."

"Dalam hal apa?"

"Cu-sianseng sama sekali tidak tahu urusan tentang Tio Buki, kami hanya beritahu kepadanya bahwa kau adalah Li Giok-tong, kemudian menyuruhnya berdasarkan pengalaman yang dimilikinya, untuk melukiskan wajah Li Giok-tong seandainya menjadi gemuk nanti."

Bu-ki tidak bicara lagi, kalau urusan telah berkembang jadi begini, apa lagi yang bisa dia katakan? "Sekarang kau sudah mengaku bukan bahwa dirimu adalah Tio Bu-Ki?"

Tegas Tong Ou. Bu-ki tidak menjawab pertanyaannya itu, ia balik bertanya.

"Kalau toh sedari awal kau sudah menduga seperti itu mengapa tidak kau bunuh saja diriku sekarang?"

"Ada dua alasan aku tidak membunuhmu, pertama karena sejak kau masuk kemari, aku sudah merasakan hawa pembunuhan yang sangat tebal memancar dari tubuhmu, aku tak yakin bisa mengalahkan dirimu dalam satu kali serangan, sekalipun pada akhirnya aku berhasil mengalahkan kau, jika kau merasa tak mungkin bisa mundur dari sini dengan selamat, aku yakin kau akan mengajakku untuk mengadu jiwa, jelas aku Tong Ou tak sudi berbuat demikian."

"Oh? Lantas apa alasanmu yang kedua?"

"Alasan kedua inilah yang merupakan alasan yang sesungguhnya."

Setelah berhenti sejenak, ia kembali meneruskan.

"Aku paling tak suka melakukan serangan bokongan, bila ingin membunuh seseorang, aku akan menantangnya bertempur secara jantan."

"Kalau begitu kau ingin menantangku untuk berduel?"

"Benar!"

"Kau sudah sangat yakin kalau aku adalah Tio Bu-ki?"

"Aku tak ambil peduli kau Tio Bu-ki atau bukan, aku tetap akan menantangmu untuk bertarung!"

"Kenapa?"

"Kesenanganku yang paling utama adalah mengadu pedang dengan semua jago yang ada di kolong langit."

"Apakah aku pantas untuk menerima tantanganmu itu?"

"Tentu saja sangat pantas, cukup melihat keberanianmu, aku rasa sudah lebih dari pantas."

"Kau terlalu memandang tinggi kemampuanku,"

Seru Bu-ki.

"Jadi kau sudah menerima tantanganku untuk berduel?"

"Masih mungkin bagiku untuk menolak?"

"Baiklah, kalau begitu kita putuskan begini saja. Tengah hari tanggal tujuh bulan tujuh di puncak gunung Thay-san!"

"Baik, aku akan menepati janji!"

"Jika kau sudah berjanji akan menepati janji kita, lebih baik jagalah dirimu baik-baik!"

"Aku tak mengerti dengan perkataanmu itu!"

"Kenapa tidak mengerti?"

"Kenapa kau suruh aku baik-baik menjaga diri? Kalau tak terjadi suatu peristiwa yang mendadak, siapa pun pasti akan berusaha untuk menjaga diri."

"Tepat sekali perkataanmu itu,"

Tong Ou manggut-manggut.

"Justru karena aku tahu kalau kau bakal menghadapi suatu peristiwa yang hebat, maka sengaja kuingatkan agar kau bisa menjaga diri baik-baik."

"Peristiwa hebat apa?"

Tanya Bu-ki tak habis mengerti.

"Ada beberapa kejadian yang akan kau alami secara beruntun, kejadian pertama adalah malam nanti. Aku akan mengajakmu menjumpai seseorang."

"Menjumpai seseorang? Haruskah aku menjumpai orang itu?"

"Aku telah berjanji kepada orang itu agar kau pergi menjumpainya."

"Bila aku menolak untuk bertemu?"

"Menolak juga tak apa apa, paling-paling aku akan membuat kecewa orang itu dan tidak menepati janjinya. Tapi aku percaya kau pasti ingin sekali bertemu dengan orang itu."

Bu-ki tidak bertanya siapakah orang itu, sebab dia tahu bertanya pun tak ada gunanya, Tong Ou pasti akan jual mahal dengan tidak menyebut siapa orang itu, maka katanya kemudian.

"Baik, aku akan menjumpai orang itu!"

"Terima kasih banyak. Kejadian kedua adalah setelah bertemu orang itu, maka kau harus segera meninggalkan Benteng Keluarga Tong, pergi seorang diri."

"Maksudmu Benteng Keluarga Tong sudah tak suka menerima kehadiranku di tempat ini?"

"Tidak, kami sangat gembira bisa menerima kau sebagai tamu kami, justru aku yang kuatir kau tak ingin tinggal lebih lama lagi di sini."

"Kenapa?"

"Sebab aku masih akan memberitahukan satu kejadian lagi kepadamu dan aku yakin, setelah kau mendengar kata-kataku nanti, kau pasti akan gelisah seperti semut di atas kuali panas!"

"Gelisah juga tak ada gunanya, toh aku telah berjanji kepadamu akan menjumpai orang itu nanti malam dan aku akan pergi setelah bertemu dengannya, pergi dari sini seorang diri."

Tong Ou tertawa tergelak.

"Kau memang sangat cerdas, satu kejadian yang sangat menyenangkan bila aku dapat berduel melawan orang semacam kau."

"Kini, segala sesuatunya sudah berada dalam cengkeramanmu, aku tidak gembira."

"Maka dari itu aku harus membuat segala sesuatunya nampak sangat adil, dengan begitu pertarungan kita baru sah di mata orang banyak."

Bu-ki tidak berkata apa-apa lagi, dalam hatinya ia mulai berpikir.

"Selama ini Benteng Keluarga Tong tersohor dalam dunia persilatan karena kemahirannya menggunakan senjata rahasia, obat racun serta rencana licik, mana mungkin bisa muncul seorang yang gagah dan sangat adil seperti Tong Ou? Jangan-jangan di balik semua ini masih tersimpan rencana busuk lainnya?"

Sementara dia masih memikirkan persoalan ini, kata-kata yang diucapkan Tong Ou berikutnya membuatnya selain lebih terkejut, juga penuh rasa curiga, sebenarnya Tong Ou ini tokoh utama Benteng Keluarga Tong atau bukan?

"Dalam berapa hari ini, kemungkinan besar kami akan menyerang markas besar Tayhong-tong secara besar-besaran, apakah kau tak ingin buru-buru pulang ke rumah untuk membuat persiapan?"

Kata Tong Ou sambil tertawa.

Mengapa Tong Ou harus membeberkan rahasia besar ini kepadanya, bahkan rahasia itu baru disampaikan setelah dia yakin kalau dirinya adalah Tio Bu-ki?

Mungkinkah dia memang menginginkan suatu pertarungan yang adil?

Bu-ki tidak tahu, untuk membuktikan hal ini memang dibutuhkan waktu yang cukup lama.

Setelah keadaan berkembang menjadi begini, Bu-ki sadar sudah tak ada gunanya lagi merahasiakan identitas dirinya sebab seperti yang dikatakan Tong Au, setelah mengetahui Benteng Keluarga Tong akan menyerang Tayhong-tong secara besar-besaran, dia memang harus segera berangkat pulang, dia harus pulang untuk mendampingi saudara-saudara seperguruannya untuk bersamasama menyambut serangan musuh dan bertarung hingga titik darah penghabisan.

Bila hal ini sampai terjadi, siapa pun tentu akan tahu kalau dia adalah Tio Bu-ki.

Lagipula benar atau tidaknya dia sebagai Tio Bu-ki sudah menjadi urusan yang tak penting bagi Tong Ou, karena Tong Ou sudah menyuruhnya pergi dari Benteng Keluarga Tong.

Jika seseorang sudah tidak tinggal di dalam Benteng Keluarga Tong, maka tidak peduli siapa pun orang itu, dia tak akan mendatangkan ancaman lagi bagi Keluarga Tong.

Itulah sebabnya Bu-ki telah bersiap-siap untuk pergi dari situ.

"Nanti dulu, nanti dulu, jangan terburu-buru,"

Cegah Tong Ou sambil merentangkan tangannya menghalangi kepergian pemuda itu.

"agar adil, setelah aku memberitahukan banyak persoalan kepadamu, sudah sepantasnya bila kau pun menjawab satu pertanyaanku."

"Tanya saja!"

"Kenapa kau belum juga turun tangan membunuh Sangkoan Jin?"

"Tampaknya kau sudah tahu tentang semua kejadian di sini walaupun kau tidak ada di Benteng Keluarga Tong!"

"Kau kira nama besar Benteng Keluarga Tong yang selama ini tersohor dalam dunia persilatan sekedar nama kosong belaka?"

"Baik, kalau begitu akan kujawab pertanyaanmu itu. Aku belum menemukan kesempatan yang baik untuk turun tangan, percaya tidak?"

"Tentu saja aku percaya, Sangkoan Jin bukan manusia sembarangan, tentu saja dia tak akan semudah itu membuka peluang padamu untuk turun tangan."

"Karena itu aku pun perlu memberitahumu bahwa aku masih akan terus mencari kesempatan untuk datang kemari dan membalas dendam."

"Aku harap kau bisa menyatukan dulu seluruh pikiran dan perhatianmu untuk menghadapi pertarungan besar yang akan segera berlangsung. Aku tidak berharap seranganku untuk menghancurkan markas besar Tayhong-tong bisa berlangsung dengan gampang dan empuk seperti memotong tahu."

"Kenapa?"

"Bila sesuatu bisa diperoleh dengan mudah, permainan jadi tidak menarik, urusan yang terlalu gampang hanya menandakan ketidakmampuan mu untuk mengolah pasukan yang kau miliki. Bila aku mesti membunuh ayam menggunakan golok penjagal sapi, bukankah perbuatanku jadi terlalu bodoh dan tak bermutu?"

"Karena itu kau sengaja melepaskan aku pulang ke markas besar Tayhong-tong?"

"Benar!"

"Tampaknya kau sangat yakin bisa memenangkan pertarungan ini!"

"Bertindak setelah membuat perencanaan matang, meraih pahala setelah melakukan tindakan, itulah prinsip kerjaku, orang she Tong!"

"Bagus sekali! Aku suka sekali manusia macam dirimu!"

"Yaa, sayang sekali kita tak bisa jadi teman."

"Banyak sekali urusan di dunia ini berjalan jauh dari keinginan orang. Bisa berhadapan denganmu sebagai musuh sudah merupakan kejadian yang luar biasa!"

"Betul, seringkah ingin menjadi musuh seseorang pun bukan pekerjaan yang mudah!"

"Tapi aku pasti akan selalu mengingat dan merindukan musuh semacam kau!"

"Apa maksudmu berkata begitu?"

Tanya Tong Ou cepat.

"Itu menandakan bahwa aku pun sama seperti kau, mempunyai keyakinan yang besar untuk memenangkan pertempuran ini. Bila aku berhasil mengalahkan mu, yang tersisa hanyalah kenangan serta rinduku kepadamu."

Tong Ou segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Ha ha ha... bagus, bagus sekali!"

Serunya.

"sekarang, bersediakah kau ikut aku pergi ke suatu tempat?"

"Ke mana?"

"Sebenarnya aku berencana akan mengajakmu menjumpai dia pada malam nanti, tapi sekarang tiba-tiba aku berubah pikiran, kuharap kau bisa berangkat sekarang juga."

"Kau ingin aku pergi menjumpai orang yang kau maksudkan itu sekarang juga?"

"Tidak, lebih baik bertemu malam nanti saja."

"Lalu, kenapa harus berangkat sekarang juga?"

"Sebab aku ingin kau menunggunya di sana."

"Ooh, jadi kau ingin menahan dan mengurungku lebih dulu?"

"Kau tidak berani?"

"Kenapa tak berani? Aku hanya menduga, rupanya kau takut aku akan melakukan suatu perbuatan selama waktu penantian ini?"

"Benar, aku kuatir kau secara tiba-tiba mendapatkan kesempatan yang baik untuk membunuh Sangkoan Jin dan bila peristiwa seperti itu sampai terjadi, bukankah hal ini akan menjadi kerugian yang teramat besar bagi Benteng Keluarga Tong?"

"Kalau begitu mari kita berangkat sekarang juga!"

Bab 6.

Tong Ou dan Sangkoan Jin Perasaan Tong Ou saat ini gembira sekali, ya, urusan apa yang lebih menggembirakan daripada keberhasilannya membongkar identitas orang.

Dia sama sekali tidak kuatir bahwa tindakannya melepaskan Tio Bu-ki akan mempengaruhi pertempuran yang akan dilakukannya, dia sangat percaya dengan perhitungan serta pengamatannya, dia lebih yakin lagi dengan kemampuan yang dimilikinya.

Sampai hari ini sudah ada empatpuluh tujuh orang anggota Tayhong-tong yang telah berhasil dibeli olehnya, bila terjadi serbuan besar nanti, dia yakin mereka semua akan melakukan kerjasama yang erat dengan melakukan serangan dari dalam.

Selain ku, ditambah pula dengan pengetahuan Sangkoan Jin tentang seluk beluk Tayhong-tong yang sempurna, dia yakin pertempuran kali ini sudah dimenangkan olehnya sejak awal.

Yang dilakukannya sekarang seperti kucing yang mempermainkan seekor tikus, membebaskan Bu-ki tak lebih daripada hanya ingin menambah keasyikan serta unsur hiburan dalam pertempuran yang akan dilakukannya nanti.

Selain itu, dia pun berjanji di dalam hatinya untuk tidak membunuh Tio Bu-ki dalam pertempuran nanti, sebab Tio Bu-ki telah mempelajari ilmu pedang dan Siau Tang-lo, bagaimana pun juga dia ingin Tio Bu-ki tetap hidup agar bisa diajak bertarung satu lawan satu dengan dia sendiri.

Tong Ou bisa membayangkan betapa kalut dan gugupnya pikiran serta perasaan Bu-ki saat ini, terutama setelah berjumpa dengan orang itu nanti malam.

Pikiran maupun perasaannya pasti akan semakin kalut dan gelagapan, apalagi jika Tong Ou sengaja menahan orang itu di Benteng Keluarga Tong, dia yakin pikiran dan perasaan Tio Bu-ki pasti sedemikian bingung dan kacaunya hingga tak akan tahu apa yang harus dilakukannya.

Perhatian yang terpecah merupakan pantangan paling besar dalam ilmu kemiliteran.

Dengan berbekal perasaan riang gembira seperti inilah Tong Ou berjalan menuju ke tempat yang ia janjikan untuk bertemu dengan Sangkoan Jin.

Satu belokan lagi ia akan tiba di tempat tujuan, tiba-tiba ia menghentikan langkahnya.

Satu masalah tiba-tiba melintas dalam benaknya.

Sekarang terbukti sudah kalau Li Giok-tong adalah Tio Bu-ki, tetapi mengapa Sangkoan Jin tidak melaporkan penemuan tersebut sejak dulu-dulu?

Dia tak percaya Sangkoan Jin tak berhasil mengetahui kalau Li Gioktong adalah penyamaran dari Tio Bu-ki.

Dengan munculnya masalah ini, masalah lain segera muncul pula di dalam benaknya.

Siapa yang telah menyuap Wan Sam?

Atau siapa yang telah membunuh Wan Sam kemudian membawa berita palsu itu kembali ke Benteng Keluarga Tong?

Menurut penuturan Lo-cocong, hanya tiga orang yang tahu kalau mereka mengutus Wan Sam pergi melakukan penyelidikan, ketiga orang itu adalah Lo-cocong, Tong Koat serta Sangkoan Jin.

Mungkinkah Sangkoan Jin yang melakukan?

Mengapa dia harus berbuat begitu?

Tong Ou memutuskan akan menyelidiki persoalan ini hingga tuntas dan jelas.

Ia pun berdiam sejenak untuk mengatur kembali semua jalan pikiran serta rencananya, kemudian sambil mengulum senyumnya kembali di wajahnya, ia melanjutkan ayunan kakinya berbelok pada tikungan terakhir menuju ke tempat yang dijanjikan.

Sangkoan Jin sudah duduk menanti di situ, setelah berbasabasi sebentar, Tong Ou langsung mengajukan masalah yang dicurigainya secara terang-terangan.

"Aku telah berhasil mengetahui identitas Li Giok-tong yang sesungguhnya,"

Kata Tong Ou kemudian.

"Oh ya?"

Seru Sangkoan Jin dengan perasaan terkejut.

"Ya, ternyata dia adalah Tio Bu-ki dari Tayhong-tong!"

Hanya sekejap rasa terkejut melintas di wajah Sangkoan Jin, dengan cepat ia berhasil menguasai gejolak hatinya dan dengan sikap yang sangat tenang balik bertanya.

"Dia sudah mengaku?"

"Sudah, dia sudah mengaku!"

"Berarti kau pasti ingin bertanya kepadaku, kenapa aku tidak mengenalinya sejak awal?"

Sambung Sangkoan Jin cepat.

"Ya, masalah itu adalah salah satu pertanyaan yang mengganjal di hatiku."

"Sebenarnya alasannya sederhana sekali. Ada dua alasan, pertama aku ingin membuktikan sejauh mana kemampuan dan kehebatan orang-orang Benteng Keluarga Tong dalam menyelidiki identitas seseorang, aku ingin tahu apakah kalian betul-betul mampu membongkar identitas dia yang sebenarnya."

"Terima kasih kau telah memberikan kesempatan itu kepada kami!"

"Kedua adalah alasan pribadiku sendiri, aku ingin tahu sejauh mana kemampuan yang dimiliki Tio Bu-ki, sehingga dia berani menyerempet bahaya dengan jauh memasuki sarang harimau."

"Hasilnya bagaimana? Kau berhasil menemukan sesuatu?"

Tanya Tong Ou.

"Yaa, aku menjumpai banyak perubahan telah terjadi pada diri Tio Bu-ki, dia sudah bertindak lebih hati-hati, serius dan tidak ceroboh, dia lebih pandai mengendalikan emosi bahkan sewaktu bertemu dengan aku pun dia bisa berlagak pura-pura tidak kenal, aku tahu, ia sedang mencari kesempatan untuk turun tangan, ia selalu mengincarku untuk balas dendam. Tentu saja aku tak sudi memberikan kesempatan ini kepadanya."

"Aku telah berjanji untuk membiarkan dia pergi dari sini, menurut pendapatmu, betul tidak tindakanku ini?"

"Kau pasti sudah mempunyai keyakinan untuk bisa memenangkan pertempuran kali ini, hingga berani melepaskan dia pergi dari sini."

"Tentu saja, aku selalu percaya diri dan yakin dengan kemampuan yang kumiliki!"

"Sekalipun punya keyakinan dan percaya diri, yang lebih penting lagi adalah perencanaan yang lebih teliti dan matang."

"Itulah sebabnya aku datang mencarimu, aku ingin mengajakmu untuk berunding dan meneliti kembali semua rencana yang telah kubuat dalam serbuan besar kita untuk menghancurkan markas besar Tayhong-tong."

"Meskipun markas besar Tayhong-tong sangat banyak, namun kekuatan utama yang sesungguhnya cuma ada empat, selain benteng-benteng milikku, Tio Kian dan Sugong Siau-hong, yang keempat adalah lembah Boanliong-kok (lembah naga melingkar). Sasaran pertamamu akan menyerang yang mana?"

"Lembah Boanliong-kok!"

"Kenapa kau pilih lembah Boanliong-kok?"

"Pertama, letak lembah Boanliong-kok paling dekat dengan lingkaran pengaruh Benteng Keluarga Tong kita, kemungkinan terjadinya bentrokan besar juga sangat besar, maka bila kita berhasil memusnakan Boanliong-kok lebih dahulu, berarti radius duaratus li di seputarnya akan menjadi milik kita sehingga bagi pihak kita keadaan itu akan sangat menguntungkan. Jika harus maju terus, kita akan langsung mencapai titik pusat markas besar Tayhong-tong, jika mesti mundur kita langsung tiba di wilayah kekuasaan sendiri, dengan begitu selain punya daya serbu yang besar, kita juga bisa menekan angka pengorbanan serendah mungkin."

"Ehm, sangat masuk di akal, lalu rencanamu kapan kita mulai bergerak?"

"Bulan lima tanggal lima, tepat hari peh-cun, ketika orangorang dalam lembah Boanliong-kok sedang merayakannya, kita serang mereka secara tiba-tiba!"

"Bagus sekali!"

Teriak Sangkoan Jin memuji. Tong Ou tertawa bangga, katanya kemudian.

"Untuk itulah aku ingin mengetahui lebih jelas seluk-beluk lembah Boanliong-kok!"

Maka Sangkoan Jin pun segera menjelaskan semua keadaan dan keletakan tentang Boanliong-kok secara terperinci.

Tong Ou manggut-manggut berulang-ulang dengan perasaan puas, sebab ia telah berhasil menyuap tujuh orang dari Boanliong-kok dan laporan yang diberikan ketujuh orang itu ternyata sesuai dengan uraian yang diberikan Sangkoan Jin.

Lebih dari itu, uraian yang diberikan Sangkoan Jin jauh lebih luas dan lebih terperinci.

Kini Tong Ou semakin percaya bahwa Sangkoan Jin memang sungguh-sungguh ingin bergabung dengan perkumpulannya, karena itu persoalan tentang Wan Sam yang semestinya hendak ia utarakan, akhirnya ia batalkan sebab kecurigaannya telah lenyap.

Sangkoan Jin sendiri juga sangat paham dengan situasi yang sedang dihadapinya, dia tahu Tong Ou sengaja menggunakan urusan ini untuk mencoba sejauh mana kesetiaannya terhadap mereka.

Tentu saja ia harus memberikan uraian panjang lebar serinci dan selengkap mungkin.

Selain itu, sekarang ia sudah memegang sebuah kartu as, dia tahu Benteng Keluarga Tong akan menyerang lembah Boanliongkok pada bulan lima tanggal lima nanti.

Asalkan sebelum serangan dilancarkan ia bisa menyampaikan berita ini ke Boanliong-kok hingga mereka bisa mempersiapkan diri sebaik-baiknya, belum tentu Keluarga Tong bisa meraih kemenangan secara mudah.

Yang menjadi masalah sekarang adalah bagaimana caranya ia menyampaikan berita ini ke Boanliong-kok?

Pemimpin Boanliong-kok adalah Si Kiong, dia sahabat karib Sangkoan Jin selama banyak tahun, hanya saja Si Kiong tidak tahu tentang rencana Harimau Kemala Putih.

Kalau Si Kiong tahu bahwa berita tentang serangan ini berasal dari Sangkoan Jin, dia pasti tak akan percaya, bahkan mungkin akan mengira pemberitahuan itu sebagai bagian dari suatu rencana kejinya.

Selain itu Si Kiong terkenal karena tabiatnya yang berangasan dan gampang naik darah, bila ia memberitahukan rahasia tentang rencana penyerbuan Keluarga Tong kepadanya, Si Kiong pasti tak bisa mengendalikan diri dan pasti akan memberitahu semua orang tentang berita ini.

Bila hal ini sampai terjadi, maka orang-orang yang telah disuap Keluarga Tong pasti akan ikut mendengar dan melaporkan kejadian ini ke pihak Keluarga Tong, akibatnya Tong Ou pasti akan mencurigainya.

Jelas soal ini sangat sulit dan tak gampang diselesaikan.

Namun sesulit apa pun masalahnya, Sangkoan Jin merasa perlu untuk menyampaikan berita ini ke tangan pihak Boanliong-kok, dia percaya bahwa dengan kekuatan serta kemampuan yang ada di Boanliong-kok, asalkan ada persiapan yang matang sebelumnya, pihak Benteng Keluarga Tong tak akan berhasil meruntuhkan mereka dengan mudah.

Malah andaikan mereka punya rencana untuk melancarkan serangan balik pun rasanya tak sulit untuk dilakukan.

Tapi...

bagaimana peringatan dini ini harus disampaikan ke pihak Boanliong-kok tanpa diketahui oleh orang-orang yang telah disuap Keluarga Tong bahwa si penyampai berita adalah dirinya?

Berpikir sampai di situ, tak dapat tidak Sangkoan Jin mengerutkan dahinya sambil termenung.

Walaupun perubahan sikap itu hanya berlangsung amat singkat, rupanya Tong Ou telah mengetahuinya.

Ia segera menegur.

"Tuan Siangkoan, ada masalah apa yang membuatmu risau? Apa kau masih menganggap perencanaan kita kali ini masih kurang sempurna atau kurang meyakinkan?'' Reaksi yang ditunjukkan Sangkoan Jin pun tak kalah cepatnya.

"Oh tidak, aku hanya sedikit berkuatir tentang Tio Bu-ki!"

"Kenapa harus menguatirkan dia?"

"Kau telah memberitahunya tentang rencana penyerbuan kita ke markas besar Tayhong-tong, padahal kau pun membiarkan dia pergi dari sini, jika kemudian secara kebetulan dia menuju ke Boanliong-kok lebih dulu, bukankah pihak lembah Boanliong-kok akan melakukan persiapan lebih dini?"

"Kekuatiran tuan Siangkoan memang sangat tepat dan beralasan, hanya saja..."

Berbicara sampai di sini, di ujung bibir Tong Ou segera tersungging senyuman bangga. Melihat senyum di wajah Tong Ou, Sangkoan Jin kembali menyela.

"Atau mungkin kau sudah mempunyai cara yang jitu untuk mengatasi soal ini?"

"Tepat sekali, malam nanti aku akan memberi sedikit permainan untuk Tio Bu-ki, agar sekeluarnya dari sini, tak mungkin ia akan langsung menuju Boanliong-kok."

"Oh ya? Begitu yakin kau dengan rencanamu?"

"Bila kita tahu kekuatan musuh dan tahu kekuatan sendiri, maka tiap pertempuran pasti akan kita menangkan. Aku mempunyai keyakinan seratus persen akan rencana yang akan kulaksanakan."

"Kalau begitu, tak ada salahnya kalau kita minum dulu secawan arak kegembiraan!"

Kata Sangkoan Jin.

"Tepat sekali! Aku percaya kau pasti belum pernah berkunjung ke loteng Pek-hoa-lo (Loteng Seratus Bunga) dari Benteng Keluarga Tong bukan?"

"Ya, belum pernah!"

"Kalau begitu, malam nanti aku akan mengundang tuan Siangkoan untuk minum secawan arak di loteng Pek-hoa-lo"

"Baik!"

Tong Ou segera berpamitan, sewaktu pergi dari situ, tibatiba sekilas senyum amat licik terlintas di wajahnya.

Senyuman itu kebetulan diperlihatkan ketika ia berdiri membelakangi Sangkoan Jin sehingga Sangkoan Jin sama sekali tidak mengetahuinya.

Saat ini pikiran dan perhatian Sangkoan Jin sedang tertumpu pada satu persoalan, yaitu bagaimana caranya menyampaikan peringatan dini ke Boanliong-kok.

Baru saja dia menjawab pertanyaan Tong Ou dengan mengatakan kekuatirannya atas Bu-ki, dia pun segera berpikir, mengapa tidak menggunakan Bu-ki sebagai tamengnya dengan memberitahukan berita tentang penyerbuan Keluarga Tong ke Boanliong-kok sebagai ulah Bu-ki?

Tapi kata-kata selanjutnya dari Tong Ou segera memadamkan niatnya itu.

Dia percaya sebelum Bu-ki pergi meninggalkan tempat itu, tak mungkin dia punya kesempatan untuk bertemu sekali lagi dengannya.

Lalu, apa yang harus dilakukannya sekarang?

Ia berjalan mendekati jendela lalu melemparkan pandangan matanya ke tengah aneka warna bunga yang tumbuh subur di taman, pikiran dan perasaannya saat ini betul-betul sangat kalut.

Bab 7.

Penantian Menanti adalah pekerjaan yang paling membosankan, waktu selalu terasa begitu lambat berlalu, apalagi tempat Bu-ki menanti adalah ruang batu yang keempat penjurunya tertutup rapat.

Ketika Tong Ou mengajak Bu-ki ke tempat itu, sesaat setelah berada dalam sebuah lorong yang panjang, sempit dan gelap, ia berkata kepada pemuda itu.

"Tempat ini mirip sekali dengan kamar tahanan, kau berani menanti di tempat semacam ini?"

Bagi Tio Bu-ki tak ada urusan yang tak berani dia lakukan, dengan pertaruhkan nyawa menyelinap masuk ke dalam Benteng Keluarga Tong saja sudah merupakan satu perbuatan yang sangat berani, kenapa dia mesti takut untuk memasuki sebuah ruang batu yang kecil?

Tio Bu-ki segera mendengus, sahutnya sambil tertawa.

"Rasanya tak ada yang perlu kutakuti!"

"Kau tidak kuatir aku akan mengurungmu di sini?"

Kembali Tong Ou bertanya.

"Sekarang kau sudah berhasil mengetahui identitasku yang sebenarnya, aku rasa bukan satu perkara yang gampang bila aku ingin meninggalkan Benteng Keluarga Tong, sedang kau pun sudah berjanji akan membiarkan aku pergi dari sini, jika sekarang kau benar-benar akan mengurungku di tempat ini, tampaknya aku pun harus menerima kenyataan ini!"

"Bagus sekali! Kalau begitu aku perlu memberitahumu bahwa tempat ini adalah tempat rahasia yang biasa dipakai Keluarga Tong untuk merundingkan masalah-masalah penting atau urusanurusan sangat rahasia, dinding kelilingnya terbuat dari bebatuan cadas yang tebal lagi kuat, tak akan ada orang yang bisa mencuri dengar semua pembicaraan yang sedang berlangsung di tempat ini."

Tong Ou mengajak Bu-ki masuk ke dalam ruang batu itu, di dalamnya terdapat sebuah meja batu dengan enam buah bangku yang juga terbuat dari batu, di atasnya tersedia sebuah teko berisi air teh panas.

"Nanti ada orang yang akan mengantar makan malam,"

Kata Tong Ou lagi.

"kira-kira selepas makan malam, orang itu akan muncul di sini untuk bertemu dengan kau. Asal pintu ini kau tutup maka tak ada orang lain yang bisa mengganggu kalian lagi, setelah berjumpa nanti, berapa lama pun kalian ingin berbicara silahkan. Hanya ada satu hal yang harus kau ingat, ketika pergi dari sini, kau hanya boleh pergi seorang diri."

"Bagaimana kalau kami pergi berdua?"

"Aku telah menurunkan perintah ke seluruh penjuru Benteng Keluarga Tong, selama kau pergi seorang diri, tak seorang pun dari Keluarga Tong akan menghalangi kepergianmu, tapi jika kau pergi berdua maka mereka akan berusaha membunuh kalian berdua dengan cara apa pun."

"Sebetulnya kau ingin menahan siapa?"

"Segera kau akan tahu sendiri!"

Sekarang, air teh telah habis diminum, sayur, nasi dan arak baru saja dihidangkan, namun Bu-ki merasa seolah-olah telah berada di situ selama tiga hari tiga malam.

Dalam penantian itu ia terus berusaha mengendalikan diri untuk tidak menduga-duga siapa yang akan dijumpainya nanti, dia berusaha menyatukan pikiran serta perhatiannya untuk mencari jalan menghadapi rencana keji Tong Ou.

Tong Ou sudah berkata terang-terangan kalau mereka akan menyerbu markas besar Tayhong-tong, tapi markas mana yang akan mereka serang duluan?

Dengan cara apa mereka akan melancarkan serangannya?

Bu-ki sudah memikirkan berbagai cara untuk melakukan perlawanan atas datangnya serbuan, dia juga membayangkan berbagai cara berbeda-beda di tempat yang berbeda-beda pula untuk menghadapi serbuan, tapi kemudian ia menyadari bahwa hal terpenting yang harus dia pikirkan bukanlah cara menanggulangi datangnya serbuan, melainkan markas mana yang akan diserang Tong Ou lebih dahulu?

Besok sekeluarnya dari Benteng Keluarga Tong, Bu-ki bisa langsung tiba di lembah Boanliong-kok yang jaraknya paling dekat, tapi dia juga bisa berputar sedikit dan dalam setengah hari ia akan tiba di benteng yang dulu dijaga Sangkoan Jin.

Ia sadar, waktu setengah hari itu bisa menjadi waktu kunci yang bisa mengubah sejarah.

Jika ia pergi ke Boanliong-kok lebih dulu, sedangkan Tong Ou ternyata menyerang benteng Sangkoan Jin, sedangkan pemimpin benteng Sangkoan Jin itu saat ini adalah Kwik Koan-kun, yang jelas tak akan punya persiapan apa-apa, maka datangnya serangan tiba-tiba itu bisa membuat mereka gelagapan dan kalang kabut.

Akibatnya benteng Sangkoan Jin kemungkinan besar akan terjatuh ke tangan musuh dengan mudah.

Sebaliknya bila Bu-ki pergi ke benteng Sangkoan Jin dulu, sedang Tong Ou ternyata menyerang lembah Boanliong-kok lebih dulu, bukankah akibatnya sama runyamnya?

Selain soal itu, masih ada satu hal lagi yang tak kalah pentingnya, yaitu adakah kesempatan bagi Sangkoan Jin untuk mengirimkan peringatan dini ke tempat yang bakal diserang Tong Ou lebih dulu itu?

Bukan hanya itu, masih ada satu soal lagi yang menguatirkan Bu-ki saat ini.

Ia takut jika orang yang akan dijumpainya malam ini adalah Sangkoan Jin!

Dia kuatir Tong Ou telah berhasil mengetahui tujuan sesungguhnya Sangkoan Jin bergabung dengan Benteng Keluarga Tong dan karena itu dia sengaja menyuruh Sangkoan Jin bertemu dengannya di sini.

Sesudah itu Tong Ou membiarkan hanya dia pergi seorang diri, sedang Sangkoan Jin tetap ditahan di sini.

Kecuali dia, Bu-ki tidak berhasil menemukan orang lain yang cukup berharga bagi Tong Ou untuk tetap ditahan dalam Benteng Keluarga Tong.

Pikiran dan perasaan Bu-ki sangat kalut, dia curiga, mungkinkah dia sedang dijadikan permainan Tong Ou, mungkinkah ia cuma salah satu pion permainan orang itu dalam menjalankan rencana besarnya?

Mendadak timbul perasaan menyesal dalam hatinya, ia menyesal kenapa dulu terlalu suka bermain hingga tidak rajin berlatih, dia pun menyesal kenapa tidak sejak dulu mempelajari ilmu siasat perang yang ternyata amat berguna di saat-saat seperti ini.

Seperti saat ini, Tong Ou membiarkan ia pergi dari situ dengan bebas padahal sudah memberitahunya bahwa mereka akan menyerbu markas besar Tayhong-tong, sikap percaya diri seperti ini menunjukkan bahwa tahu atau tidaknya Bu-ki dalam rencana ini seperti tak ada pengaruhnya.

Ini saja sudah cukup membuktikan bahwa ilmu siasat perang Tong Ou jauh di atas kemampuannya.

Benteng Keluarga Tong betul-betul merupakan sebuah tempat yang sangat menakutkan, tidak gampang-gampang dihadapi seperti yang disangkanya semula, saat itu barulah ia merasakan betapa hebat dan luar biasa rencana ayahnya yang rela mati demi siasat Harimau Kemala Putih untuk menyusupkan orang ke tubuh lawan.

Di lain pihak dia pun merasa bahwa pengorbanan ayahnya tidak cukup berharga, sebab Tong Ou terbukti seorang tokoh persilatan yang benar-benar luar biasa, seandainya ia berhasil membongkar tujuan Sangkoan Jin yang sesungguhnya, atau pun jika dia mulai curiga dan tidak mempercayai Sangkoan Jin, bukankah semua pengorbanan serta perencanaan yang cermat itu j adi sia-sia belaka?

Daripada berkorban dalam keadaan yang terjepit, bukankah jauh lebih berharga mati dalam pertempuran yang gagah berani hingga titik darah penghabisan?

Berpikir sampai di situ, tiba-tiba saja timbul rasa duka yang mendalam di dasar hati Bu-ki.

Pada saat itulah ia mendengar ada suara langkah kaki manusia yang sangat ringan berjalan mendekat, dia tahu, orang yang harus dijumpainya akhirnya muncul juga.

Walaupun dia hanya menunggu tidak sampai dua jam, namun bagi Bu-ki dua jam itu adalah waktu yang amat panjang.

Sepanjang apapun penantian Bu-ki tidak sepanjang yang dirasakan Wi Hong-nio, perempuan itu merasa seakan-akan dunia berhenti berputar, waktu seakan akan merangkak lambat-lambat...

Perasaan kalut dan gelisah yang dirasakan Wi Hong-nio tercatat semua dalam buku hariannya.

Bulan lima tanggal dua.

Kemarin, meskipun aku baru tertidur menjelang datangnya fajar, namun anehnya hingga sekarang aku tidak merasa mengantuk, ketika kupaksakan untuk tidur sejenak, itupun hanya tidur-tidur ayam.

Dari kejauhan suara kokok ayam jago mulai terdengar, dalam pendengaranku suara itu sangat memuakkan karena kokok ayam merupakan tanda dimulainya satu hari yang baru, padahal hatiku amat gelisah, aku gelisah dan ingin segera bertemu dengan orang itu.

Aku tahu, kemungkinan besar orang itu adalah Bu-ki.

Setelah ayam jago berkokok berulang kali, kuputuskan untuk tidak melanjutkan tidurku, aku bangkit dari pembaringan, menuju ke depan meja rias dan mulai bercermin.

Aku mulai mencoba berlagak, seandainya orang yang akan kujumpai itu benar-benar Tio Bu-ki, apakah reaksi yang tampil pada wajahku saat itu, aku ingin mengetahui ekspresi mukaku dari balik cermin.

Aku berusaha mengendalikan gejolak perasaanku, wajah yang tampil dari balik cermin itu ternyata biasa saja, tidak terlihat ada perubahan apapun.

Aku berlatih dan berlatih terus sampai kuanggap ekspresi wajahku tak akan berubah walaupun orang yang kujumpai nanti benar-benar adalah Bu-ki, aku baru berhenti berlatih setelah penampilanku benar-benar memperlihatkan ekspresi wajah yang sangat tenang seakan-akan baru saja bertemu dengan orang asing.

Ketika Siau Tang-lo mengutus orang untuk mengundangku sarapan, aku tidak menyahut, aku pura-pura masih tidur karena aku masih merasa segan untuk keluar dari kamarku.

Tapi sesaat kemudian hatiku mulai menyesal, bagaimana seandainya orang itu muncul disaat sarapan tadi?

Buru-buru aku keluar dari kamar dan berlari-lari menuju ke tempat tinggal Siau Tang-lo.

Baru saja pintu kuketuk, Siau Tang-lo sudah tahu aku yang datang dan segera menyuruhku masuk.

Aku segera bertanya kepadanya, kapan akan mengajakku bertemu dengan orangku?"

Dengan nada mengejek Siau Tang-lo segera menjawab.

"Coba kau lihat wajahmu, sepertinya kau yakin kalau orang yang akan kau jumpai betul-betul Tio Bu-ki "

Aku tidak menggubris ejekan itu, aku mendesaknya terus, aku ingin tahu kapan aku akan bertemu dengan orangku. JawabSiau Tang-lo.

"Barusan Tong Ou telah mengutus orang memberi kabar, dia mengundangku makan siang, tapi hanya mengundangaku seorang."

Aku segera bertanya kenapa begitu, tapi dia sendiripun tidak tahu.

Aku meminta dia membuat janji dengan Tong Ou nanti di waktu bertemu makan siang dan dia berkata pasti akan membuat janjiku.

Kemudian ia bertanya apakah semalam aku tidur nyenyak, aku menjawabya, dia minta aku tidur cukup agar kesehatan badan terjaga.

Terus terang, mana mungkin aku bisa tidur nyenyak dalam suasana seperti ini?

Satu siang itu aku hanya duduk di muka jendela, mengenang kembali saat-saat manis ketika masih berkumpul dengan Bu-ki, kadang aku melatih kembali raut wajahku, agar nanti aku tidak menunjukkan perasaan kaget dan terharu.

Aku dapat merasakan debaran jantungku yang begitu kencang, aku sadar ternyata aku diliputi ketegangan luar biasa, aku mulai kuatir tak mampu mengendalikan diri kuatir aku tak bisa menahan rasa haruku ketika berjumpa dengannya nanti.

Aku tak berselera untuk makan siang.

Dengan penuh kegelisahan aku menunggu berita dari Siau Tang-lo.

Waktu berjalan begku lambat, sepertisiput merangkak, untung saja sepanjang apapun penantian, akhirnya akan tiba juga ujungnya.

Siau Tang-lo mengutus orang untuk memberi kabar bahwa Tong Ou menyuruh aku bertemu dengan orang itu malam nanti.

Mengapa harus menunggu sampai jam tujuh malam nanti?

Kenapa aku harus menunggu lagi?

Penantian benar-benar pengalaman yang menyiksa batin.

Menunggu tibanya sore hari ternyata jauh lebih lambat daripada menunggu datangnya tengah hari tadi Mulai terbayang kembali sore hari disaat aku akan melakukan upacara pernikahan dengan Bu-ki, sore yang sangat panjang dan amat menakutkan.

Mengenang kembali kisah tragis disaat akan melakukan upacara pemikahan dulu, aku mulai kuatir, mulai cemas lagi, apakah penantian yang kulakukan hari ini akan berakhir lagi dengan kisah tragis seperti dulu?

Aku betul-betul sangat gelisah, gelisah setengah mati.

Dengan susah payah akhirnya senja menjelang juga.

Ketika Keluarga Tong mengutus orang untuk mengundangku, hatiku mulai terasa tegang dan berdebar-debar.

Pelayanku mengantarku ke sebuah kamar dan menyuruh aku menunggu disitu.

Lagi-lagi menunggu!

Ada orang datang!

Semula kukira orang yang ingin kujumpai telah datang, ternyata orang yang tadi muncul kembali, dia masuk sambil membawa nasi dan hidangan.

Ketika kuperiksa, ternyata hanya sebuah mangkok dengan sepasang sumpit.

Kenapa hanya satu mangkok?

Segera kutanyakan hal ini kepada pelayan itu, tapi dia menjawab tidak tahu, majikannya hanya seperti itu dan menyuruhaku bersantap dalam ruangan.

Apa yang akan dilakukan setelah bersantap nanti?Apakah akan mengajakku menjumpai orangitu?

Kembali pelayan menjawab tidak tahu.

Hatiku jengkel sekali, mendongkol bercampur perasaan cemas, bayangkan saja, mana aku punya selera untuk bersantap dalam keadaan begini?

Tapi aku tidak menyuruh pelayan itu membawa pergi nasi dan hidangan, bagaimanapun orang itu hanya seorang pelayan, seorang petugas yang menjalankan perintah majikannya, aku tahu tak ada gunanya marah-marah terhadap orang seperti itu, karenanya aku hanya mengucapkan terimakasih dengan nada selembut mungkin.

Sayur yang dihidangkan bercorak Sucoan yang harum baunya, saying selera makanku benar-benar telah habis.

Dalam ruangan aku hanya bisa berjalan bolak-balik dengan gelisah.

Tibatiba aku mendengar suara orang bertengkar dari ruangan sebelah.

Suara ribut itu mengundang perhatianku, akupun bangku berdiri dan keluar dari ruangan, mendekati ruang sebelah.

Tiba didepan jendela, aku mendengar dua orang sedang bertengkar, yang satu, suara yang belum pernah kudengar sebelumnya, sedangkan yang lain pernah kudengar.

Mula-mula tak terpikir olehku suara siapakah dia, tapi sejenak kemudian aku mulai ingat, itu suaranya sigendut yang mengaku bernama Tong Koat.

Akupun dengan jelas menangkap inti masalah yang sedang diributkan kedua orang itu.

Terdengar Tong Koat berkata.

"Aku usul, kita serang perkampungan keluarga Tio lebih dulu!"

"Kenapa?"

Tanya orang kedua.

"Sebab Tio Kian sudah mampus sedang Tio Bu-ki juga tak ketahuan kabar beritanya, saat ini suasana didalam perkampungan keluarga Tio pasti sangat kalut, jika kita serang perkampungan itu lebih dulu, sudah pasti serangan kita akan berhasil. Jika pertempuran pertama berhasil kita menangi secara gampang, hal ini akan meningkatkan semangat tempur rekan-rekan yang lain."

"Kau anggap kita tak sanggup meraih kemenangan jika menyerang tempat lain? Kau terlalu memandang enteng kekuatan kita."

"Tidak, aku tidak bermaksud begitu.

"sahut Tong Koat.

"Kalau begitu, aku perlu beritahukan satu hal padamu, tak ada gunanya kita serang perkampungan keluarga Tio!"

"Kenapa tidak berguna?"

"Perkampungan keluarga Tio merupakan kekuatan yang berada pada garis belakang Tayhong-tong, jika kita serang garis belakang mereka dulu maka akan memberi peluang bagi pos-pos penjagaan mereka yang berada lebih depan untuk membuat persiapan, apalagi perjaknan kita akan semakin jauh, pasukan kita bakal kelelahan sebelum melancarkan serangan."

"Lalu kau akan menyerang mana dulu?"

"Kita serang dulu pos jaga yang dipimpin Sugong Siau-hong, pertama karena jaraknya dekat, kedua kita paling banyak menyuap orang-orang di sana. Dengan bantuan orang dalam, kita semakin mudah mengalahkan mereka ketimbang harus menyeran gperkampungan keluarga Tio."

Tanya jawab mereka selanjutnya tidak kucatat lagi karena apa yang mereka ributkan hanya tempat mana yang akan diserang dulu.

Kemanapun mereka akan menyerang, bagiku merupakan masalah yang penting karena semua tempat yang mereka sebut berada di bawah kekuasaan Tayhong-tong.

Ketika pertikaian itu mencapai puncaknya, dengan suara jengkel bercampur dongkol Tong Koat berseru.

"Baik, baiklah, kau adalah kakak, aku akan menuruti perkataanmu!"

Saat itulah aku baru tahu, ternyata orang yang diajak bertikai itu adalah Tong Ou.

Sasaran yang hendak diserbu Tong Ou adalah benteng yang dijaga Sugong Siau-hong, waktunya adalah bulan lima tanggal lima.

Sekarang aku sudah mengetahui rahasia mereka, buru-buru aku balik ke kamarku dan Mengambil sumpit pura-pura sedang makan, padahal hatiku berdebaran sangat keras.

Untung saja tak ada yang muncul, kalau tidak, wajahku saat itu pasti akan membongkar rahasia bahwa aku mencuri dengar perdebatan mereka.

Secara garis besar aku mulai membuat perhitungan, hari ini baru tanggal dua, untuk mencapai wilayah Tayhong-tong dibutuhkan dua hari perjalanan, berarti kalau besok pagi mereka sudah berangkat maka malam tanggal empat sudah tiba di tujuan, berarti tanggal lima sudah dapat mulai melancarkan serangan.

Dengan cara apa aku harus menyampaikan peringatan ini kepada paman Sugong?

Aku jadi teringat dengan Siau Tang-lo,hanya dia yang bisa dimintai tolong, aku harus segera mencarinya dipenginapan, aku akan minta tolong dia untuk menyampaikan pesan ini kepada paman Sugong.

Tapi, maukah Siau Tang-lo mengabulkan permintaanku?Aku rasa pasti mau, asal aku memintanya secara halus dan lembut, dia pasti akan menurut.

Buru-buru kuletakkan kembali sumpitku dan siap keluar dari ruangan, tapi sebelum kubuka pintu kamar itu, seseorang telah membuka pintu itu lebih dulu.

Aku benar-benar sangat terperanjat, saking kagetnya aku sampai berseru tertahan.

Orang yang membuka pintu itu segera minta maaf padaku, dia mengatakan seharusnya ia mengetuk pintu lebih dulu sebelum masuk Kucoba mengamati wajahnya, dia adalah seorang lelaki kekar dan tinggi besar, wajahnya amat tampan, garis-gark kegagahan tampak diantara kerutan matanya.

Ia memperkenalkan diri sebagai Tong Ou.

Sebelum aku membuka suara untuk memperkenalkan diriku, ia sudah berkata dulu, dia tahu bahwa aku adalah istri Tio Bu-ki yang belum dinikahi resmi, WiHong-nio.

Dia juga menjelaskan bahwa ia mengundangku kemari bukan karena keinginannya sendiri, tapi atas permintaan Siau Tang-lo.

Aku benar-benar berterimakasih kepada Siau Tang-lo, tapi perkataan Tong Ou selanjutnya membuat aku tertegun dan untuk beberapa saat tak tahu apa yang mesti kuucapkan.

Dia bilang, sebenarnya Siau Tang-lo ingin memintaku untuk mengenali seseorang, ada seseorang yang tidak jelas identitasnya.

Tidak diketahui apakah dia TioBu-ki atau bukan, tapi dia mengatakan bahwa sekarang sudah tak perlu, sebab orang itu sudah mengaku kalau dia adalah Tio Bu-ki.

Dengan perasaan gelisah akupun bertanya kepadanya, apa yang telah dia lakukan terhadap Bu-ki?

Sambil tertawa ia menjawab bahwa ia tidak berbuat apa-apa, malah akan mengijinkan aku untuk bertemu dengannya.

Ai, ucapan itu sungguh mengharukan hatiku, hanya selanjutnya aku berpikir lagi, kenapa ia memberi kesempatan kepadaku untuk bertemu dengan Bu-ki?

Apakah ada rencana busuk di balik semua itu?

Tong Ou bertanya kepadaku apakah aku mau bertemu dengan Bu-ki?

Tentu saja kujawab mau, kemudian aku bertanya kepadanya, apakah dia mempunyai maksud tertentu dengan membiarkan aku berjumpa Bu-ki?

Ternyata ia sangat jujur, dia jawab memang ada tujuannya, dia punya syarat Aku tanya, apa syaratnya?

Dia jawab selesai pertemuan nanti, dia hanya membiarkan satu diantara kami berdua yang boleh pergi meninggalkan Benteng Keluarga Tong, mengenai siapa yang tinggal dan siapa yang pergi, kami bisa memutuskan sendiri.

Aku segera memahami maksudnya, ia sedang mencari alasan untuk membunuh Bu-ki.

Dia tentu mengirasetiap orang pasti akan menyayangi nyawa sendiri, kalau satu diantara kami berdua boleh pergi dan keputusan boleh kuputuskan sendiri, siapapun pasti akan memilih diri sendiri.

Tapi aku...

aku justru tidak!

Bila Bu-ki mati dan Tayhong-tong berhasil dibasmi Benteng Keluarga Tong, apa lagi makna kehidupanku selanjutnya?

Aku rela mati asal Bu-ki bisa hidup bahagia, melihat Bu-ki senang, akupun akan tenteram, apalagi baru saja aku telah mencuri dengar rencana penyerbuan mereka.

Asal aku dapat bertemu dengan Bu-ki rahasia yang kudengar pasti akan kusampaikan kepadanya, kalau dia segera pulang ke Tayhong-tong dan berdampingan dengan paman Sugong melakukan perlawanan, serbuan dari Keluarga Tong pasti bias mereka patahkan.

Kalau terbukti bahwa kepergian Bu-ki bisa menuai banyak keuntungan dan kebaikan, kenapa aku tidak memilih dia saja yang pergi dari sini?

Maka kepada Tong Ou aku menjawab.

Aku yang tetap tinggal di sini!

Tong Ou masih mengulang kembali pertanyaan itu beberapa kali apakah aku rela tetap tinggal di sini?Apakah aku rela dengan keputusan itu?

Aku jawab, ya, aku rela!

Selanjutnya dia berkata akan mengajakku berjumpa dengan Bu-ki.

Dia mengajakku keluar dari kamar, belok ke kanan, berjalan duapuluh lima langkah menyusuri lorong, lalu belok ke kiri dan berjalan lagi tujuh belas langkah untuk akhirnya berhenti di depan sebuah gardu peristirahatan ditengah taman bunga.

Ia mendekati gardu itu lalu memutar sebuah bangku batu ke kanan dan dari bawah meja batu pelan-pelan muncul sebuah lorong bawah tanah.

Dia masuk ke lubang bawah tanah itu lebih dulu, aku mengikutinya di belakang, kami menuruni enam belas buah anak tangga sebelum belok ke kanan, kemudian menyusuri sebuah lorong batu yang panjang sekali, dua belas batang obor menerangi lorong panjangitu.

Aku bertanya kepadanya, apakah dia mengurung Bu-ki di tempat ini?

Sambil tertawa dia menjawab tidak.

Bu-ki sendiri yang rela menunggu di situ, dia menambahkan bahwa tempat ini bukan penjara, melainkan tempat rahasia yang biasa digunakan Keluarga Tong untuk mengadakan rapat rahasia, iapun menjelaskan, ia sengaja memilih tempat semacam ini sebagai tempat pertemuan kami lantaran dia tak ingin pembicaraan mesra kami berdua didengar orang lain.

Pembicaraan mesra?

Kata-kata yang sangat memalukan!

Pipiku merona jengah mendengar kata-kata itu.

Tong Ou mengajakku berjalan sampai ke ujung lorong itu kemudian belok lagi ke kiri, kembali dua belas batang obor menerangi lorong yang panjang itu, hanya kali ini di ujung lorong terlihat pintu yang sedikit terbuka.

Sambil menunjuk ke ruangan di balik pintu itu Tong Ou berkata.

"Bu-ki ada di dalam, aku tak enak mengganggu kalian lagi."

Selesai berkata ia memandangku sambil tertawa, kemudian membalik badan dan berlalu dari situ.

Aku berdiri mematung memandang pintu ruangan itu, jantungku terasa berdebar semakin kencang, setiap kuayun langkahku, jantungku berdebar makin keras.

Ooh Bu-ki!

Sebentar lagi aku akan bertemu denganmu!

Akhirnya sampai juga aku di muka pintu batu, kudorong pintu itu kuat-kuat, ketika mendorong pintu, tiba-tiba suatu ingatan melintas di benakku, setelah aku masuk nanti, apakahTong Ou akan segera menutup rapat pintu ruangan dan mengurungku bersama Buki untuk selama-lamanya di situ?

Pikiran itu hanya sekilas melintas, sebab aku segera memberitahu diriku sendiri, alangkah bahagianya bila aku bersama Bu-ki terkurung untuk selamanya di tempat ini.

Akhirya pintu terbuka lebar, semula aku pikir aku akan pingsan karena terkejut, tapi kenyataannya aku masiht etap tenang, tenang sekali perasaanku.

Aku telah melihat Bu-ki, mula-mula aku melihat sepasang matanya, aku pun dapat menangkap ia tampak tertegun sewaktu pandangan pertama melihat kemunculanku, menyusul kemudian sinar kegembiraan memancar dari wajahnya, ini menandakan kalau dia tak tahu kalau akulah yang akan muncul disitu.

Mengapa Tong Ou tidak memberitahunya?

Apakah dia ingin membuat kejutan baginya?

Aku tidak berpikir lebih lanjut, sebab kulihat Bu-ki telah bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menghampiriku, dia menjulurkan tangannya, akupun mengulurkan tanganku.

Ketika akhirnya tangan kami saling bersentuhan, aku merasakan tubuhku menggigil keras, menggigil saking gembiranya.

Ooh, aku merasa betapa bahagia saat itu!

Bu-ki menggenggam tanganku erat-erat, ia menarikku hingga menempel dengan tubuhnya, lalu mengawasi wajahku tanpa berkedip, tatapan itu membuat wajahku semakin merah jengah.

Setelah itu dia baru berkata.

"Kau tambah kurus!"

"Kau juga,"

Kataku.

Ia tertawa ringan dan menggandengku untuk duduk di bangku, kemudian ia duduk di hadapanku dan menuangkan secawan arak untukku.

Sambil mengangkat cawan, dia memandangi terus wajahku tanpa berkedip.

Akupun mengangkat cawan itu dan mereguknya dalam satu tegukan, andai saja arak ini arak pertukaran dalam upacara perkawinan, oh, alangkah senangnya hatiku!

Bu-ki masih mengawasi terus wajahku seperti orang bodoh, sampai lama kemudian ia baru bertanya kepadaku.

"Mengapa kau datang ke Benteng Keluarga Tong?"

Dengan ringkas aku menceritakan perjalananku, kemudian ia juga mengisahkan apa yang di alaminya selama ini.

Saat itulah aku baru teringat akan urusan yang lebih penting, aku segera menceritakan kalau aku telah mencuri dengar pertikaian antara Tong Koat dengan Tong Ou, aku juga bercerita bahwa Tong Ou berpesan kepadaku, hanya satu di antara kita berdua yang boleh meninggalkan BentengKeluarga Tong.

Bu-ki tampak termenung dan berpikir cukup lama setelah mendengar penuturanku itu, aku tahu sedang terjadi perang batin dalam hatinya, ia pasti amat sedih dan menderita.

Aku mencoba menghiburnya, kubilang aku tak akan apa-apa dalam Benteng Keluarga Tong, dengan nama besar serta reputasi Keluarga Tong dalam dunia persilatan selama ini, mustahil mereka akan menganiaya seorang gadis lemah macam aku.

Bu-ki berkata bahwa apa yang kuucapkan memang masuk di akal, tapi ia tetap berkuatir.

Kutanya, apa yang dia kuatirkan?

Dia berkata ia takut pihak Keluarga Tong akan menggunakan aku sebagai sandera, seandainyapihak Tayhongtongberhasil mengalahkan Keluarga Tong, mereka bisa menggunakan kau untuk menekan mereka agar menyerah.

Dengan tegas aku berjanji kepada Bu-ki.

"Kau tidak usah kuatir, bila mereka benar-benar memakai aku sebagai sandera untuk memaksakan kehendaknya, mintalah kepada mereka untuk bertemu lebih dulu denganku, kemudian aku baru akan mengambil keputusan."

Bu-ki bertanya, mengapa begitu? Jawabku.

"Bila tiba saatnya, demi Tayhong-tong dan demi kau, aku rela mengorbankan diriku sendiri, aku tak akan membiarkan orang Keluarga Tong meraih keuntungan dariku sehingga dengan begitu, kau bisa memusatkan seluruh pikiran dan perhatianmu untuk menang dalam pertempuran. Kau tak perlu menguatirkan diriku lagi!"

Bu-ki tidak berbicara lagi, tapi aku dapat menangkap sinar kepedihan dan kedukaan yang terpancar dari matanya, i meneguk araknya secawan demi secawan....

Aku tidak berusaha menghalanginya, hanya ketika ia menghabiskan cawan arak yang ketiga, barulah aku berkata.

"Jangan lupa, kau masih perlu menyampaikan peringatan dini kepada paman Sugong!"

Dia segera meletakkan kembali cawan araknya dan sinar mata penuh rasa terima kasih.

Aku tertawa kepadanya, aku percaya tertawaku saat itu pasti mengandung kegetiran yang mendalam.

Tak tertahan, akupun menyambar cawan arakku dan meneguk habis isinya, tiba-tiba aku ingat, mungkin malam ini akan menjadi malam terakhirku berkumpul bersama Bu-ki.

Tampaknya Bu-ki juga terbawa perasaanku, kembali dia meraih teko arak dan memenuhi cawannya.

Aku sadar, aku tak boleh terus memperlihatkan duka dan penderitaanku, aku harus menggunakan sikap tegar dan teguh menghadapi Bu-ki, agar ia tenang, agar dia tak usah menguatirkan aku.

Baru dengan begitu ia bisa memusatkan seluruh pikiran dan perhatiannya untuk melawan serbuan Benteng Keluarga Tong.

Maka aku segera tertawa, aku berusaha mengingatkan kenangan lama saat kita sedang bergembira dahulu untuk mengajaknya bicara.

Mula-mula dia agak tertegun, tapi tak lama kemudian diapun seperti aku, hanyut dalam kenangan lama yang penuh keceriaan dan kegembiraan.

Sayang, betapapun riang dan gembiranya suasana, pada akhirnya harus disudahi juga.

Apalagi saat itu, ketika selesai membicarakan kenangan gembira, duka dan sedih muncul kembali.

Sungguh, begitu kami berhenti berbicara, suasana diruangan itu langsung tenggelam kembali dalam suasana duka yang mendalam.

Aku sudah tak tahu lagi yang harus kuperbuat, aku juga tak tahu bagaimana harus bersikap agar Bu-ki tetap gembira dan bersemangat.

Aku mencoba mengamati wajah Bu-ki, tampaknya diapun punya pikiran dan perasaan yang sama seperti aku, dia seperti ingin mencari bahan pembicaraan yang menggembirakan untuk menghibur hatiku.

Pada saat itulah api yang menerangi ruangan tiba-tiba padam, suasana dalam ruangan jadi gelap-gulita, padamnya api obor melipatgandakan sendu dan duka dalam hati kami berdua.

Aku berbisik pada Bu-ki.

"Api telah padam, berarti fajar segera akan menyingsing, hari yang baru segera akan muncul"

Bu-ki tidak berkata-kata, dia hanya mengangguk, mengiakan. Aku tak tahan untuk tidak meninggikan nada suaraku, kataku kepada Bu-ki.

"Apa kau tak menyadari ini menandakan apa?"

Bu-ki memandangku bingung agaknya dia belum memahami maksudku.

"Artinya kau harus mempercepat langkahmu untuk segera kembali ke Tayhong-tong, mengerti?"

Bu-ki segera bangkit berdiri, tapi sesaat kemudian ia duduk kembali, bisiknya.

"Ini berarti kita harus berpisah!"

A irmataku nyaris meleleh keluar, tapi aku berusaha sekuatnya agar tidak menetes, dengan nada menghibur aku berkata.

"Asal ada jodoh, aku percaya kita pasti akan berkumpul kembali "

Aku tahu, nada suaraku saat itu pasti tak lancar, aku tak tahu bagaimana perasaan Bu-ki saat itu, sebab dia sudah bangkit berdiri dan berkata kepadaku sambil membelakangi tubuhku.

"Kau harus baik-baik menjaga diri."

Tanpa berpaling lagi ia melangkah mendekati pintu ruangan, langkah kakinya begitu kuat dan mantap.

Begitulah, dengan langkah tegap dan tak pemah menoleh lagi dia berjalan keluar, keluar dari pandanganku.

Dalam hati aku menjerit, hampir-hampir saja keluar dari tenggorokanku, tapi aku tahu aku tak boleh berteriak, sekali aku bersuara dia pasti akan berpaling dan bila ia berpaling raut wajahku yang teramats edih tentu akan terlihat olehnya, akibat selanjutnya aku tak berani membayangkannya....

Tapi...

apakah dia akan pergi begitu saja?

Apakah dia akan berjalan keluar dari hidupku untuk seterusnya?

Sesuatu yang panas tiba-tiba menggumpal dalam hatiku, sesuatu yang menyakitkan.

Air mataku tak terbendung lagi, kucuran air mata segera membasahi seluruh wajahku.

Aku tengkurap di atas meja dan menangis tersedu-sedu...

entah berapa lama aku menangis, sewaktu membuka kembali mataku, aku melihat ada sepasang kaki berdiri tak jauh dari hadapanku.

Mula-mula aku merasa kegirangan, ooh, Bu-ki, ternyata kau tak rela meninggalkan aku, tapi hanyas ebentar, rasa girang itu segera lenyap kembali, sebab aku berpendapat Bu-ki tak mungkin balik lagi, tak mungkin ia mengorbankan kepentingan Tayhong-tong hanya karena urusan cinta.

Sewaktu aku menengadah, untunglah...

ternyata dia bukan Bu-ki, dia TongOu!

Tong Ou berdiri dengan wajah kikuk, dia seperti ingin tertawa padaku, tapi melihat raut mukaku saat itu, mana mungkin ia bisa tertawa?

Kalau tidak tertawapun rasanya salah, karena kurang menunjukkans antun, maka raut mukanya waktu itu lucu sekali.

Akhirnya dengan nada rikuh dia berkata.

"Ayoh, kuantarkau pulang."

Aku mengerti, yang dimaksud pulang adalah balik ke rumah penginapan, bukan meninggalkan Benteng Keluarga Tong, dia memang merasa perlu untuk menahanku, agar di kemudian hari ia bisa memperalat aku untuk kepentingannya.

Aku mengikut di belakangnya keluar dari ruang batu itu, ketika muncul di atas gardu taman, aku barut ahu, ternyata hari sudah terang.

Ketika hampir tiba di rumah penginapan, tiba-tiba aku teringat pada Siau Tang-lo.

Dengan ilmu silat yang dimiliki Siau Tang-lo, mungkinkah baginya untuk mengungguli Tong Ou?Aku percaya seandainya Siau Tang-lo tidak mengandalkan tongkat penyangga untuk berdiri, ia pasti dapat mengalahkan Tong Ou.

Tapi sekarang ia butuh tongkat penyangga untuk menopang tubuhnya, aku tak yakin dia bisa menang.

Bagiku, menang atau kalah bukan persoalan, yang kubutuhkan hanya membawaku keluar dari sini dengan selamat.

Berpikir sampai di situ, tanpa terasa muncul harapan baru di hatiku, rasa sedihku segera banyak berkurang, bahkan sedikit rasa gembira mulai muncul dalam hatiku.

Tong Ou berhenti didepan pintu setelah membukakan pintu kamar, katanya kemudian.

"Cepat kau benahi semua barangbarangmu."

Aku bertanya buat apa? Dia menjawab.

"Siau Tang-lo sudah pergi, kami akan menyediakan kamar yang lebih besar dan lebih nyaman untuk kau tinggali "

Aku berdiri termangu-mangu seperti orang bodoh, lama sekali aku diam, ternyata Siau Tang-lo telah pergi.

Kini semua harapanku musnah sudah,tak ada setitikpun harapan lagi bagiku untuk pergi meninggalkant empat ini.

Dengan perasaan tertahan aku bertanya kepada Tong Ou, kapankah Siau Tang-lo pergi?

Kata Tong Ou, dia sudah pergi sebelum fajar menyingsing, katanya mau mencari siMayat Hidup untuk membantunya melancarkan peredaran jalan darahnya.

Mengapa ia pergi tanpa pamit?

Menurut Tong Ou karena ia tak berhasil menemukan aku.

Kenapa bisa tak berhasil menemukan aku?

Kata Tong Ou.

"Sebab aku memberitahunya, kau sudah pergi meninggalkan BentengKeluarga Tong bersama Bu-ki "

Dengan murka aku menegurnya.

"Kenapa kau membohonginya?"

Jawab Tong Ou.

"Bukankah lebih bagus begini? Agar dia bisa mematikan perasaannya. Memangnya kau rela mengikut dia?"

Aku tidak berkata-kata lagi, semua yang dikatakan Tong Ou memang benar, buat apa aku harus menyiksa perasaan Siau Tanglo?

Perasaan dan tubuhku hanya kuberikan untuk Bu-ki seorang, kenapa aku harus terus memperrnainkan perasaan Siau Tang-lo?

Tiba-tiba saja perasaan tersinggung, dengan nada garang aku berkata.

"Aku suka ada orang mendampingiku, apa tidak boleh?"

Tong Ou segera tertawa bergelak mendengar ucapanku itu, sahutannya ternyata sama sekali di luar dugaanku, dia bilang.

"Bagus sekali kalau begitu, aku malah kuatir kau tak senang bila ada yang mendampingimu!"

Dengan bingung dan tak habis mengerti aku menengok ke arahnya, kembali dia berkata.

"Sejujumya, bukan aku yang meminta kau pindah ke dalam taman."

Lalu keinginan siapa? Keinginan Lo-cocong si Nenek Moyang? Kata TongOu.

"Bukan sepenuhnya keinginan Lo-cocong, Tong Hoa yang memohon kepada Lo-cocong untuk ini "

Tong Hoa? Siapa Tong Hoa? "Tong Hoa adalah adik misanku,"

Kata Tong Ou.

"karena dia suka main perempuan di sana-sini maka ia jarang sekali berkelana di dunia persilatan, jadi kau pasti belum pernah mendengar namanya. Beberapa hari yang lalu secara tak sengaja, ia melihat lukisan wajahmu. Ia terpesona kecantikanmu dan sejak itu dia selalu merecoki kami untuk menemukanmu. Kebetulan kau berkunjung kemari sehingga begitu tahu, ia segera memohon kepada Lo-oocong untuk menahanmu."

Sekarang aku baru tahu mengapa mereka memaksa menahanku disini.

Aku paham, aku betul-betul sangat paham, kenapa aku selalu sial?

Tanpa banyak bicara aku segera mengemasi seluruh barang bawaanku dan ikut Tong Ou menuju ke taman bunga, kali ini dia mengajak aku masuk ke dalam sebuah kamar tidur yang sangat indah dengan perabot yang mewah.

Dia menyuruh aku beristirahat, katanya sebentar lagi Tong Hoa akan datang menjumpaiku.

Menggunakan kesempatan ini buruburu kucatat semua kejadian yang kualami ke dalam buku harian, siapa tahu sebentar lagi akan terjadi banyak peristiwa lagi?

Bab 8.

Menentukan Pilihan Tiap manusia pada suatu saat akan menghadapi perasaan bimbang.

Sebenarnya bimbang bukan sesuatu yang menakutkan, yang paling menakutkan justru tidak menentukan pilihan di saat bimbang, sebab sekali kau telah mengambil keputusan, perasaan bimbang akan lenyap dengan sendirinya, tinggal kau laksanakan apa yang telah kau putuskan itu Bu-ki juga manusia, tentu ada saat baginya untuk merasa bimbang, apalagi berada di depan simpang tiga, perasaan bimbang semakin mencekam perasaan hatinya.

Jalan mana yang harus ia pilih?

Kalau belok ke kiri, dia akan tiba di Benteng Sangkoan Jin yang saat ini dijaga oleh Kwik Koan-kun.

Jika belok ke kanan, dia akan sampai di lembah Boanliongkok yang dijaga oleh Si Kiong.

Sebaliknya jika ia berjalan lurus akan tiba di benteng yang dijaga Sugong Siau-hong.

Kalau menurut aturan, seharusnya Bu-ki berjalan lurus, tapi yang dimaksud menurut aturan itu aturan siapa?

Apakah aturan yang dibuat lantaran Wi Hong-nio sempat mencuri dengar perdebatan dua bersaudara Tong?

Tepatkah berita hasil mencuri dengar itu?

Tidak mungkinkah hanya sebuah jebakan?

Yang harus ditebak Bu-ki saat itu sebenarnya adalah masalah Tong Ou mau menyerang mana?

Kalau berdasarkan jarak, maka lembah Boanliong-kok adalah tempat terdekat, menurut aturan mestinya Tong Ou menyerang lembah itu lebih dulu, apalagi Bu-ki sudah meninggalkan Benteng Keluarga Tong dan Keluarga Tong tampaknya sama sekali belum melakukan persiapan untuk melancarkan serangan.

Jika Tong Ou ingin menyerang tempat yang lebih jauh mestinya mereka sudah berangkat jauh sebelum keberangkatan Bu-ki.

Tentu saja bisa jadi Tong Ou sudah melakukan persiapan jauh hari sebelumnya atau mungkin Keluarga Tong tak usah mengirim pasukannya karena di luar sudah ada banyak pasukan yang siap melakukan penyerangan.

Sebenarnya Bu-ki sama sekali tidak percaya pada Tong Ou.

Mustahil ada orang yang mau melepaskan musuhnya baru kemudian melancarkan serangan, apalagi ada kejadian yang begitu kebetulan ketika Wi Hong-nio sempat mencuri dengar berita penyerangan terhadap Tayhong-tong.

Mana mungkin merundingkan masalah serahasia itu secara begitu gegabah hingga kedengaran orang luar?

Kemungkinan besar berita penyerangan itu hanya berita palsu, berita itu hanya umpan agar Bu-ki masuk perangkap.

Bu-ki mengambil keputusan untuk tidak pergi ke benteng Tayhong-tong.

Haruskah dia pergi ke lembah Boanliong-kok?

Ia merasa tempat ini yang paling mungkin diserang lebih dulu.

Bu-ki sudah menarik tali kudanya untuk belok ke kanan, tapi baru berjalan berapa langkah tiba-tiba ia berhenti, ia ingat akan Sangkoan Jin.

Ke arah mana pun Tong Ou melancarkan serangan, Sangkoan Jin pasti akan mendampinginya, dia pasti berusaha untuk mengirim kabar tempat yang akan diserang supaya pihak Tayhongtong bersiap-siap, betapapun sulitnya, dia percaya Sangkoan Jin pasti akan berusaha mengirim peringatan.

Selain itu masih ada satu hal yang perlu mendapat perhatian, yaitu seandainya Sangkoan Jin berhasil mengirim peringatan dini hingga serangan yang dilancarkan Tong Ou mendapat perlawanan sengit atau bahkan gagal total, sudah pasti Tong Ou akan mencurigai Sangkoan Jin sebagai pembocor berita karena tidak ada orang lain lagi yang tahu sasaran penyerangannya.

Atau seandainya berita itu diketahui orang-orang Tayhong-tong yang telah disuap Tong Ou, mereka pasti akan melaporkan kejadian itu sehingga Tong Ou tahu bahwa Sangkoan Jin yang membocorkan rahasia.

Sesudah dipikir pikir lagi, akhirnya Bu-ki memutuskan untuk tidak pergi ke mana pun, dia memilih untuk melenyapkan diri saja agar orang-orang Keluarga Tong tidak tahu ke mana perginya, dengan demikian seandainya berita serbuan itu bocor, Tong Ou akan mencurigai dia sebagai pembocor rahasia itu.

Tong Ou pasti akan menduga dialah yang menyampaikan peringatan dini itu hingga pihak Tayhong-tong sempat melakukan persiapan.

Jika dirinya yang dicurigai, dengan sendirinya Sangkoan Jin akan terhindar dari kecurigaan.

Tapi...

bagaimana seandainya Sangkoan Jin tidak mengirim peringatan dini?

Bu-ki tidak menguatirkan hal ini, sebab dia tahu pertempuran ini adalah pertempuran besar yang akan menentukan mati hidupnya Tayhong-tong dan Keluarga Tong, tak mungkin Sangkoan Jin hanya berpeluk tangan belaka.

Diputuskannya untuk tidak pergi ke mana pun, ia memeriksa bekalnya dan tahu ia masih bisa bertahan lima hari, maka ia pun turun dari kudanya, lalu sambil menuntun kudanya ia menuju ke atas bukit.

Ooo)))(((ooo Bagi Sangkoan Jin, ada saatnya juga ia merasa bimbang bercampur kuatir, tapi perasaan itu hanya sebentar saja, dengan kecerdasan serta pengalamannya selama ini, dengan cepat ia dapat mengendalikan diri serta segera mengambil keputusan.

Tadinya ia merasa bimbang, haruskah ia mengirim peringatan dini kepada Si Kiong yang berada di Boanliong-kok?

Hanya sejenak dan ia mengambil keputusan.

Sewaktu berbicara dengan Tong Ou tadi, waktu sudah menunjukkan menjelang sore hari dan pembicaraan baru selesai setelah jatuhnya senja.

Waktu itu matahari sudah condong ke langit barat ketika ia meninggalkan tempat tinggalnya menuju ke tengah kota.

Tiba di sebuah warung makan, ia pun segera mengambil tempat duduk.

Di warung itu ada enam buah meja dan saat itu tepat waktu makan malam, tak heran kalau semua meja sudah ditempati orang.

Tempat duduknya pun baru saja dipakai orang.

Ia memesan semangkok mie dan daging sapi, angsio daging sapi yang pedas sekali hingga saking pedasnya, sambil makan tak hentinya ia mengusap keringat yang jatuh bercucuran.

Baca Juga: Ilmu Ulat Sutera 2

Baca Juga: Rahasia Ciok Kwan Im 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert