Eps 2 Naga Kemala Putih - Gu Long
Baca online Naga Kemala Putih - Gu Long
Cersil Naga Kemala Putih - Gu Long.
Dia makan dengan sangat lambat, setiap utas mie seakan-akan harus dikunyah sampai lumat baru ditelan, oleh karena itu sewaktu ia selesai menghabiskan mienya, tamu-tamu lain sudah bubar.
Di antara tamu yang baru datang, hanya satu yang kebetulan duduk semeja dengannya.
Tamu yang baru datang itu memakai baju berwarna abuabu, wajahnya penuh cambang, tampang yang kasar.
Cara makannya pun kasar sekali, mie semangkok besar dilahapnya sambil mengeluarkan suara berkecipak yang keras.
Sangkoan Jin sudah bangkit berdiri siap membayar rekeningnya ketika melihat cara makan orang berbaju abu-abu itu.
Dia memandang sekejap ke arah tauke warung lalu sambil tertawa menggeleng kepalanya berulangulang baru kemudian ia mengeluarkan uang dan dibayarkan ke pemilik warung.
Tiba-tiba terdengar orang berbaju abu-abu itu berteriak keras.
"Aduh, celaka!"
Tanpa sadar Sangkoan Jin dan pemilik warung berpaling ke arahnya. Tampak orang berbaju abu-abu itu sedang meraba-raba sekujur tubuhnya berulang kali, lalu teriaknya lagi.
"Aduh celaka, aku lupa membawa uang!"
"Tampaknya kau datang dari tempat jauh ya?"
Tegur Sangkoan Jin sambil tertawa.
"Benar!"
Sahut orang berbaju abu-abu itu.
"aku pedagang kain baru datang kemari dan tinggal di penginapan Ya-lay. Tauke, bagaimana kalau aku balik dulu ke rumah penginapan untuk mengambil uang?"
Sebelum pemilik warung bakmi itu menjawab, Sangkoan Jin telah berkata duluan.
"Tidak usah, biar aku saja yang bayarkan!"
Kembali ia mengeluarkan sekeping uang dan diserahkan kepada pemilik warung itu. Kemudian sambil menghampiri orang berbaju abu-abu itu, katanya.
"Aku rasa kau tak usah buru-buru kembali ke rumah penginapan, hari Peh-cun hampir tiba, suasana di kota ramai sekali, ini ambillah uangku untuk digunakan dulu, besok baru kau kembalikan kepadaku, atau kau bisa serahkan uangnya kepada tauke ini, aku sering datang kemari!"
Kembali dia mengambil sekeping goanpo dan dilemparkan ke tangan orang berbaju abu-abu itu, lalu setelah tersenyum kepada pemilik warung, ia pergi meninggalkan tempat itu.
"Orang itu baik sekali,"
Puji orang berbaju abu-abu itu sambil memegang goanpo pemberiannya.
"'tauke, apa dia adalah orang paling kaya di kota ini?"
"Oh bukan,"
Jawab pemilik warung mie.
"dia adalah tamu kehormatan dari Benteng Keluarga Tong, dia punya nama besar yang amat tersohor, lebih baik tak usah kusebutkan daripada nanti setelah mendengar kau jatuh pingsan."
"Baiklah,"
Kata orang berbaju abu-abu itu sambil mengangguk.
"tidak tahu namanya juga tak mengapa, paling banter besok aku ganti mentraktirnya makan."
"Besok belum tentu dia datang kemari."
"Tidak apa-apa, aku akan meninggalkan uang lebih di tempatmu."
"Terserah..."
Sambil menyimpan goanpo pemberian itu, kembali orang berbaju abu-abu itu berkata.
"Tauke, sekarang aku mau mencari pipi licin dulu, sampai ketemu besok, melihat nasibmu yang lagi mujur, besok aku pasti akan kemari lagi untuk makan sampai kenyang."
Habis berkata ia segera meninggalkan warung makan menuju ke keramaian kota.
Ia berjalan lurus ke depan tanpa berpaling, padahal ia tahu ada orang sedang membuntutinya.
Sejak ia duduk di warung sambil makan mie tadi ia sudah merasa ada seseorang mengawasi gerak-geriknya.
Orang-orang Keluarga Tong memang selalu menaruh perhatian khusus terhadap setiap orang asing yang muncul di kota itu.
Sejak awal orang berbaju abu-abu itu sudah mengetahui hal ini, ia justru merasa kuatir jika tidak ada yang mengikuti.
Ia sengaja menuju ke rumah pelacuran yang paling ternama di kota itu, Li-cun-wan, lalu memanggil beberapa orang nona untuk menemaninya minum arak.
Setelah lewat satu jam ia baru balik ke rumah penginapan.
Setelah berada di kamarnya, barulah ia mengeluarkan beberapa keping perak hancur serta berapa biji goanpoo.
Ternyata ia membawa uang!
Dia keluarkan goanpo pemberian Sangkoan Jin tadi, lalu mematahkan goanpo itu pada kedua ujungnya.
Ketika goanpo itu patah menjadi dua bagian, dari dalam patahan itu muncul selembar kertas yang tipis sekali.
Setelah mengeluarkan kertas tipis itu, tanpa diperiksa lagi isinya dia mengeluarkan sebuah peti dari dalam buntalannya dan ketika peti selebar satu kaki itu dibuka, tampaklah sebuah kurungan bambu kecil, kurungan bambu itu berisi tiga ekor burung merpati.
Saat itulah kertas tadi dibukanya, ternyata gulungan kertas itu terbagi jadi tiga bagian yang dilipat jadi satu.
Orang berbaju abu-abu itu tidak melihat isi surat itu, ia membagi surat itu jadi tiga kemudian mengikatkan pada kaki ketiga ekor burung merpati itu.
Itulah tugas orang itu, ia sangat ahli dalam melatih burung merpati yang bisa terbang di waktu malam.
Sejak rencana Harimau Kemala Putih dilaksanakan, ia selalu muncul dengan identitas yang berbeda-beda, sepuluh hari sekali dia muncul di situ.
Tiap kali pasti makan mie disitu sambil menunggu berita dan sekarang ini adalah pertama kali ia menerima berita.
Orang ini she Gi bernama Pek-bin (Seratus Wajah) dan sangat mahir berganti wajah, dia sahabat sehidup semati Sangkoan Jin, sejak awal tahun ia mendapat pesan dari sahabat karibnya itu untuk membawa burung-burung merpati yang bisa terbang langsung ke Boanliong-kok, benteng Hong-po serta benteng Sangkoan Jin ke dalam Benteng Keluarga Tong.
Selesai mengikat ketiga helai kertas itu di kaki masingmasing burung merpati, Gi Pek-bin memasukkan burung-burung itu ke dalam sakunya lalu berjalan keluar dari dalam kamar langsung menuju ke warung mie.
Begitu bertemu dengan pemilik warung mie, Gi Pek-bin menyerahkan uangnya dan kemudian berkata.
"Tolong sampaikan uang ini kepada tuan yang telah membayari aku kemarin."
"Dikembalikan besok juga tidak apa-apa,"
Sahut si penjual mie sambil tertawa lebar.
"kenapa mesti repot-repot kemari sekarang? Besok saja datang lagi!"
"Besok tidak bisa, karena pagi-pagi aku sudah pergi."
"Oh, tidak tinggal beberapa hari lagi?"
Setelah memeriksa uang yang diterimanya, ia berkata lagi.
"Uangmu ini terlalu banyak..."
"Sisanya untukmu, anggap saja sebagai uang lelah!"
Pemilik warung itu gembira setengah mati, serunya.
"Terima kasih banyak atas pemberianmu, bagaimana kalau kau cicipi dulu nasi gorengku? Tanggung kau akan ketagihan!"
"Baiklah!"
Selesai menghabiskan sepiring nasi goreng, Gi Pek-bin meninggalkan warung bakmi itu dengan riang, dia gembira karena ternyata orang yang menguntitnya sudah tidak kelihatan lagi dan ia tahu sebabnya.
Pemilik warung makan itu adalah mata-mata Keluarga Tong yang khusus ditugaskan untuk mengawasi tamu-tamu asing.
Yang tidak diketahuinya adalah dengan cara apa tauke bakmi itu menyampaikan beritanya kepada si penguntit hingga orang itu tidak mengikutinya lagi.
Kalau seorang tamu sudah memutuskan akan pergi dari kota itu esok pagi, memang tak ada alasan untuk menguntitnya lagi.
Apalagi penampilan Gi Pek-bin begitu sempurna, tak ada gerak-gerik yang patut dicurigai.
Dengan langkah santai ia berjalan kembali ke rumah penginapan, sepanjang jalan dia mencoba memeriksa sekelilingnya, apakah masih ada yang menguntitnya atau tidak.
Ketika yakin di sekelilingnya tidak ada orang, dari dalam sakunya segera ia keluarkan ketiga ekor burung merpati itu.
Merpati-merpati itu memang sudah dilatih secara khusus sehingga selama berada dalam sakunya, burung-burung itu sama sekali tak bersuara, bergerak pun tidak.
Tanpa menimbulkan suara sedikit pun ia melepas ketiga ekor burung merpati itu, burungburung itu tak bersuara karena mereka dilemparkan ke tengah udara.
Untuk meyakinkan bahwa burung-burungnya telah pergi, Gi Pek-bin memasang telinga untuk mendengarkan dengan cermat.
Setelah yakin burung-burung itu terbang tinggi, dengan senyuman puas ia meneruskan langkahnya kembali ke rumah penginapan.
Ooo)))(((ooo Tong Ou biasanya selalu berpenampilan tenang, tapi saat ini mulai nampak gelisah, ia berjalan bolak-balik dalam kamarnya tanpa mengerti apa yang harus diperbuatnya, ia benar-benar sangat gelisah.
Dia patut gelisah, karena secara tiba-tiba rencana besarnya mengalami perubahan yang sama sekali di luar dugaan.
Perubahan di luar dugaan ini ditimbulkan oleh Tio Bu-ki.
Sore tadi, menurut laporan mata-mata yang sampai di tangannya, mereka tidak berhasil menemukan jejak Tio Bu-ki di sepanjang perjalanan menuju ke lembah Boanliong-kok.
Waktu menerima laporan itu Tong Ou masih berbesar hati, karena dia beranggapan bahwa kemungkinan besar Tio Bu-ki akan masuk perangkap dengan langsung menuju ke benteng Hong-po.
Tapi sesaat kemudian, laporan dari mata-mata yang lain diterimanya, ternyata sepanjang jalan menuju ke benteng Hong-po pun tidak ditemukan jejak Tio Bu-ki.
Menurut perkiraan Tong Ou, dengan menggunakan Wi Hong-nio sebagai umpan, kemungkinan besar Tio Bu-ki akan terjebak, sebab berita yang disampaikan oleh Wi Hong-nio pada mulanya pasti sulit dipercayai pemuda itu.
Tapi setelah dia mengembangkan perhitungannya, pemuda itu pasti menduga bahwa berdasarkan kelicikan Keluarga Tong, maka jika mereka berkata tak akan menyerang benteng Hong-po, justru sangat mungkin benteng Hong-po lah yang akan diserang paling dulu.
Dengan begitu, pada akhirnya Tio Bu-ki akan berangkat menuju ke benteng Hong-po.
Tapi setelah datangnya laporan dari kedua mata-matanya yang menyampaikan bahwa selain jalan yang menuju benteng Hongpo, di kedua jalan lain mereka tidak menjumpai jejak Bu-ki, dia pun berpendapat bahwa Bu-ki pasti sudah termakan oleh kecerdasannya sendiri hingga dia memilih datang ke benteng Hong-po.
Cara kerja Tong Ou selalu amat berhati-hati dan jauh dari sembrono, ia baru mau melakukan tindakan apabila sudah yakin seratus persen, maka saat ini dia masih harus menunggu lagi, menunggu datangnya laporan dari mata-mata yang dikirim ke benteng Hong.
Akhirnya laporan itu diterimanya, tapi isi laporan itu membuat Tong Ou terkejut dan tidak habis mengerti.
Sepanjang jalan menuju ke benteng Hong-po, ternyata tidak juga dijumpai jejak dari Tio Bu-ki!
Ke mana perginya Bu-ki?
Tong Ou memutar otaknya memikirkan persoalan ini, namun sampai akhirnya pun ia tak berhasil menemukan jawabnya.
Sejak awal ia sudah membuat banyak pengandaian, kalau Tio Bu-ki tidak masuk perangkap dan pindah ke tujuan yang lain, dia percaya dengan bantuan mata-matanya, ia bisa segera mengubah rencananya.
Tapi sekarang semua berita menyatakan Tio Bu-ki tibatiba lenyap tak berbekas.
Ini benar-benar membuatnya pusing tujuh keliling.
Sebenarnya Tong Ou tidak begitu peduli Tio Bu-ki pergi ke arah mana, sebenarnya ia hanya hendak mengetahui tujuan yang dipilih Tio Bu-ki untuk mengukur sejauh mana kesetiaan Sangkoan Jin padanya.
Tong Ou sudah tahu, kalau dia hendak menyerang lembah Boanliong-kok, seandainya Tio Bu-ki langsung menuju ke benteng Hong-po maka dia akan pura-pura menyerang lembah Boanliong-kok, padahal tujuan serangan yang sesungguhnya adalah benteng Sangkoan Jin.
Ia pura-pura menyerang lembah Boanliongkok sekedar ingin tahu sampai di mana kesiapan orang-orang di lembah itu menghadapi serangannya.
Jika persiapan orang-orang Boanliong-kok ternyata sangat kuat, maka Sangkoan Jin tak bisa terlepas dari kecurigaan sebagai orang yang telah membocorkan rencana itu.
Sebaliknya jika lembah itu tak ada persiapan, dia akan langsung merebut Boanliong-kok, sedangkan Sangkoan Jin semakin bisa dipercaya.
Semua itu tentu saja menurut perhitungan Tong Ou!
Di luar dugaan, mimpi pun dia tak menyangka bakal kehilangan jejak Tio Bu-ki secara tiba-tiba.
Tentu saja peran Tio Buki dalam rencana ini sesungguhnya tidak terlalu penting, ia sengaja melepas pemuda itu hanya untuk menambah keasyikannya saja.
Tapi sekarang mereka telah kehilangan jejak Tio Bu-ki, dan urusan ini dirasakan mulai mempengaruhi situasi keseluruhan, paling tidak akan mempengaruhi penilaiannya atas Sangkoan Jin, padahal kesetiaan Sangkoan Jin pada Keluarga Tong suatu masalah yang amat penting.
"Hanya sejenak Tong Ou bimbang, ia segera mengambil keputusan untuk tetap melaksanakan rencananya sesuai semula. Maka ia memerintahkan orang untuk menyiapkan kuda dan menyampaikan kabar kepada orang-orang yang telah disuapnya dari markas Tayhong-tong agar melaksanakan perintah sesuai dengan rencana semula. Tong Ou memang tetap Tong Ou yang ulung, sekalipun ia memutuskan untuk tetap melaksanakan rencana semulanya, namun dia juga melakukan satu tindakan persiapan lainnya, dia ingin sedia payung sebelum hujan. Payung ini disediakan bukan untuk menghadapi perubahan di luar dugaan dalam serangannya terhadap Tayhong-tong, tapi khusus ditujukan untuk menghadapi Sangkoan Jin. Ia segera mengundang datang Tong Hoa dan memerintahkan kepadanya untuk mulai melancarkan aksinya terhadap Wi Hong-nio. Semua kejadian ini berlangsung pada senja hari tanggal dua bulan lima. Bulan lima tanggal tiga, hari sudah senja, matahari tampak surut di langit barat sementara gelap malam turun dari angkasa. Ketika terjaga dari tidurnya Wi Hong-nio menyaksikan pantulan cahaya keemas-emasan yang memancar masuk melalui daun jendela dan rasa riang serta segar timbul menyelimuti hatinya. Begitulah sifat gadis ini, asal bisa tidur dan tidurnya nyenyak, ketika terjaga dari tidurnya dan bisa menyaksikan pemandangan alam yang begitu indah terpampang di luar jendela, ia lalu merasa begitu bahagia dan gembira. Sambil duduk di tepi pembaringan, ia mulai berpikir.
"Suasana senja hari begitu indah, aku seharusnya keluar dari kamar dan menikmatinya!"
Maka ia pun turun dari ranjang dan membuka pintu kamar.
Dengan mendadak Wi Hong-nio tertegun.
Ia menyaksikan munculnya seseorang tepat di hadapannya, orang yang tampaknya sudah dari tadi menunggu di situ dengan senyuman menghias wajahnya.
Orang itu mempunyai mata dan hidung sempurna, wajah yang tampan, hanya sayang ketampanannya cenderung kebancibancian.
Begitu nampak orang ini, Wi Hong-nio segera teringat pada kata-kata Tong Ou, dia segera tahu orang ini.
Dia memang Tong Hoa, tuan muda hidung belang yang gemar menguber pipi licin.
Senyum yang menghias wajah Tong Hoa seakan senyuman yang alami, seakan sejak lahir ia sudah membawa senyum itu.
Ia mengawasi wajah Wi Hong-nio sambil tertawa, katanya.
"Namaku Tong Hoa!"
"Aku tahu!"
Jawab Wi Hong-nio cepat.
Perempuan itu hanya memandangnya sekejap dan hanya menjawab sekecap, kemudian sorot matanya segera dialihkan ke luar, memandang kegelapan senja yang mulai muncul di langit.
Tong Hoa segera menggerakkan kepalanya menghalangi pandangan mata Wi Hong-nio, dia seperti hendak memaksa gadis itu untuk melihat wajahnya saja dan menikmati senyumnya.
"Kegelapan malam tak bagus dilihat!"
Serunya. Wi Hong-nio melengak.
"Suasana senja hari begini indah, kenapa kau bilang tak bagus?"
"Seindah-indahnya senja tak akan seindah wajahmu, wajahmu jauh lebih enak dipandang,"
Sahut Tong Hoa. Merah jengah Wi Hong-nio mendengar pujian itu, pipinya bersemu merah seperti tomat yang segar.
"Coba lihat!"
Kembali Tong Hoa berseru setelah mengawasi pipinya yang merah dengan pandangan tolol.
"kau nampak begitu cantik... begitu menawan hati!"
Paras muka Wi Hong-nio semakin merah, merah padam karena jengah.
Sementara Tong Hoa berdiri mematung, senyum tololnya semakin melebar, ia berdiri termangu-mangu seperti orang yang kehilangan sukma.
Sementara itu warna senja mulai memudar, kegelapan malam pun menyelimuti seluruh jagad.
Tong Hoa bertepuk tangan dua kali, dua orang dayang dengan membawa lampu lampion muncul dari sudut lorong di ujung halaman.
Dengan nada seperti opera, kembali Tong Hoa berkata.
"Malam sudah menjelang, jalan mulai guram dan tak nampak jelas, aku takut kau kurang hati-hati hingga jatuh, maka kusuruh dua orang dayang untuk menuntunmu berjalan."
Wi Hong-nio ingin tertawa, ia merasa orang itu lucu sekali, tapi ia tak sampai tertawa terbuka, katanya.
"Buat apa kau suruh dayang menuntunku berjalan? Siapa bilang aku mau pergi dari sini?"
"Oh, kalau memang tak mau keluar, mari kita masuk ke dalam kamar saja!"
Sahut Tong Hoa sambil berganti gaya. Ia segera berpaling dan serunya kepada salah satu dayang itu.
"Siau-tiap, cepat masuk dan pasang lampu!"
Siau-tiap menyahut dan segera masuk ke dalam kamar.
"Aku paling benci dilayani orang!"
Sentak Wi Hong-nio cepat.
"Waaah tidak bisa!"
Sahut Tong Hoa masih tertawa nyengir.
"Di samping nona cantik kalau tak ada dayangnya, sama seperti jenderal tanpa serdadu, pasti kurang sedap dipandang. Mari kuperkenalkan kepada dua orang dayang itu, yang ini bernama Siau
KANG ZUSI website
http.//cerita-silat.co.cc/ tiap sedang yang satu lagi bernama Siau-oh, Oh-tiap kupu-kupu.
Mereka ditugaskan di sini untuk melayani segala keperluanmu, walaupun tidak terbiasa, kau harus mulai belajar membiasakan diri!"
Tiba-tiba Wi Hong-nio merasa bahwa Tong Hoa ternyata seorang pemuda yang kelewat cerewet, suka banyak bicara seperti yang diucapkannya barusan.
Sebenarnya ia ingin menarik muka dan menunjukkan rasa tak senangnya, tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu, senyum manis segera menghiasi wajahnya.
Dalam pikirannya ia ingin memperalat Tong Hoa, bila ia bias membuat Tong Hoa tergila-gila kepadanya, ia bisa memanfaatkan posisinya di Benteng Keluarga Tong untuk kelak membantunya pergi meninggalkan tempat itu.
Berpikir begini, ia pun menyahut sambil tertawa.
"Baiklah, bagaimanapun satu kebiasaan harus dilakukan secara pelan-pelan..."
"Nah, begitu baru benar!"
Teriak Tong Hoa kegirangan, sambil berteriak ia bertepuk tangan berulang kali.
Sementara itu lampu dalam kamar telah disulut, Siau-tiap sudah keluar dari dalam ruangan dan berdiri di samping Siau-oh.
Kepada kedua orang dayang itu, Tong Hoa segera memerintahkan.
"Sekarang siapkan hidangan malam di dalam kamar!"
Kemudian sambil berpaling ke arah Wi Hong-nio, terusnya.
"Apakah aku bisa mendapat kehormatan untuk makan malam bersamamu?"
"Mungkinkah bagiku untuk menolak?"
Sahut Wi Hong-nio.
Tong Hoa segera tertawa, tertawa lebar dan penuh rasa gembira.
Sambil tertawa ia pun memberi tanda mempersilahkan Wi Hong-nio untuk masuk kembali ke dalam kamar tidurnya.
Malam semakin menyelimuti seluruh jagad, beberapa titik cahaya bintang mulai memancarkan sinar kebiru-biruan dari balik kegelapan awan.
Hidangan malam telah disiapkan, sayurnya terdiri dari beberapa macam masakan Sucoan dengan warna dan rasanya yang khas, serba merah dan serba pedas.
"Kau sudah terbiasa dengan masakan yang pedas?"
Tanya Tong Hoa kemudian.
"Ya, aku memang senang dengan hidangan yang pedas."
"Kalau kebanyakan makan hidangan yang pedas, tenggorokan dan lidah kita gampang mengering, kau tahu arak apa yang paling tepat untuk menemani hidangan-hidangan pedas itu?"
"Arak apa?"
Tanya Hong-nio.
"Arak anggur salju dari Persia! Kau pernah mencicipi?"
"Belum pernah,"
Wi Hong-nio menggeleng.
"malah mendengar pun baru pertama kali ini."
"Kalau begitu segera kau akan mencicipinya!"
Baru selesai dia berkata, Siau-tiap sudah berjalan masuk sambil membawa sebuah baki kayu yang di atasnya ada botol porselen dengan mulut sangat besar, sementara di dalam botol porselen itu masih ada sebuah botol porselen lain yang lebih kecil dan ramping bentuknya.
Tong Hoa segera menjelaskan.
"Botol besar itu berisi butiran es batu, sementara isi dari botol kecil itu adalah arak anggur yang khusus didatangkan dari negeri Persia."
Siau-tiap menuang penuh dua cawan arak di hadapannya.
"Mari, aku menghormati secawan arak untukmu!"
Kata Tong Hoa kemudian sambil mengangkat cawannya. Wi Hong-nio mencoba mencicipi arak itu satu tegukan.
"Bagaimana? Enak bukan?"
Tanya Tong Hoa kemudian.
"Tidak, tidak enak, rasanya manis agak masam, persis seperti manisan kiam-bwee."
"Rasa dingin es tepat untuk menghilangkan rasa pedas dan kering yang kita rasakan di mulut. Kau tahu, minuman ini adalah simpanan Keluarga Tong kami!"
"Oh, artinya satu penghormatan untukku!"
Kata Wi Hong-nio sambil tertawa.
"Asal kau senang, Keluarga Tong kami masih menyimpan banyak sekali barang mestika serta barang langka lainnya, kau boleh menikmatinya setiap saat."
"Sungguh?"
"Tentu saja sungguh! Kau tahu, sudah lama aku kagum dan terpesona padamu!"
Wi Hong-nio tidak menjawab, ia meneruskan santapannya dengan kepala tertunduk, arak membuat pipinya semakin bersemu merah.
Dengan termangu Tong Hoa mengawasi wajahnya, seakan dia sudah dibuat tolol oleh kecantikan wajah gadis itu.
Tidak mendengar pemuda itu melanjutkan perkataannya, Wi Hong-nio kembali angkat wajahnya sambil menengok ke arah pemuda itu.
"Ooh.... kau memang amat cantik,"
Puji Tong Hoa semakin termangu. Wi Hong-nio segera tertawa, wajahnya berbunga-bunga karena gembira. Kembali Tong Hoa berkata.
"Setengah tahun lalu, aku pernah melihatmu secara tidak sengaja di tempat kira-kira tiga li dari Benteng Keluarga Tong. Saat itu aku sudah merasa bahwa kecantikanmu melebihi bidadari dari kahyangan, dalam hati aku selalu berpikir bila suatu ketika aku bisa bertemu lagi dengan kau.... Dan aah, tak kusangka... setelah bertemu sekarang, terbukti kecantikanmu beribu kali lebih memikat ketimbang bayanganku semula!"
Wi Hong-nio agak muak mendengar rayuan gombal seperti itu, namun perasaan ini tidak diungkapkannya karena ia masih punya tujuan lain. Karena itu dengan senyum masih menghias bibirnya ia berbisik.
"Terima kasih banyak atas pujianmu!"
"Aku bukan sedang memuji, aku hanya mengatakan apa yang memang kulihat."
Wi Hong-nio tidak bicara lagi, rasa muak dalam hatinya pelan-pelan ikut lenyap.
Dia belum pernah mendengar ada lelaki yang memuji kecantikan wajahnya dengan cara begini, Tio Bu-ki pun tidak, pujaan hatinya itu hanya mengungkap perasaan hatinya melalui pancaran sinar mata.
Tapi Tong Hoa, lelaki yang berada di hadapannya kini justru berani mengungkap perasaan hatinya secara blak-blakan, katakatanya begitu mendayu-dayu dan sedap didengar, ini membuat Wi Hong-nio mulai terharu dibuatnya, ia mulai menaruh kesan baik pada lelaki ini.
Kembali Tong Hoa berkata.
"Selama setengah tahun lebih, berarti ada duaratusan siang dan malam, aku selalu membayangkan dan merindukan pujaan hatiku itu, sekarang ternyata nasibku baik, aku bahkan bisa bersantap satu meja dengannya, coba bayangkan, betapa gembiranya perasaan hatiku kini! Mari, kita bersulang secawan arak lagi!"
Wi Hong-nio tak dapat mengendalikan perasaan hatinya, tanpa sadar dia angkat cawan dan menghabiskan isinya.
"Sekarang, tentunya kau sudah paham akan perasaan hatiku bukan?"
Tanya Tong Hoa sambil meletakkan kembali cawan araknya.
Wi Hong-nio tidak menjawab, tentu saja dia sangat paham.
Tapi paham kembali paham, jangan lagi perasaan hatinya kini hanya ada Tio Bu-ki, sekalipun tak ada pemuda tersebut, mana mungkin ia bisa menanggapi cinta yang diucapkan seorang lelaki macam Tong Hoa?
Bagaimana pula dia bisa menjawab pertanyaan semacam itu?
Kembali Tong Hoa berjanji.
"Aku bersedia melakukan apa saja demi kau!"
Wi Hong Nio merasa amat gembira, janji tersebut membuat perasaan hatinya lega, sebab dia memang berharap Tong Hoa tersulut emosinya karena luapan rasa cintanya, begitu emosi sehingga tanpa memikirkan apa akibatnya ia bersedia membawanya pergi meninggalkan Benteng Keluarga Tong.
"Melakukan pekerjaan apa pun?"
Wi Hong-nio menegaskan.
"Benar, perbuatan apa pun!"
Jawaban Tong Hoa begitu tegas dan tandas.
"Bagaimana misalnya kusuruh kau pergi mati?"
Tanya Wi Hong-nio dengan nada bergurau. Tong Hoa agak melengak, tapi cepat jawabnya.
"Tentu saja aku tak boleh berbuat begitu!"
"Kenapa? Bukankah kau berjanji akan melakukan perbuatan dan pekerjaan apa pun demi aku?"
"Tentu saja terkecuali pergi mati, karena jika aku mati maka aku tak bisa bertemu kau lagi, aku tak akan melakukan perbuatan yang membuatku tak bisa berjumpa lagi denganmu."
"Berarti janjimu hanya janji gombal, hanya ingin menipuku, membuatku senang?"
"Tidak... bukan begitu, aku harus memperbaiki kata-kataku tadi, aku berjanji akan melakukan pekerjaan dan perbuatan apa pun demi kau, asal aku bisa selalu berkumpul dan bersamamu."
"Sungguh?"
Desak Hong-nio sekali lagi.
"Yaa, sungguh!"
"Seandainya ada orang berusaha menghalangimu untuk bertemu aku atau berusaha mengekang kebebasanku, apa yang akan kau lakukan?"
"Aku akan mengusirnya!"
"Kalau dia ngotot tak mau pergi?"
"Akan kuhabisi nyawanya!"
"Bagaimana kalau orang itu anggota Keluarga Tong?"
Tong Hoa tidak menjawab, dia hanya mengawasi wajah Wi Hong-nio dengan termangu-mangu.
"Jadi kau tidak berani?"
Ejek Wi Hong-nio.
"Tidak ada perbuatan yang tak berani kulakukan!"
"Lalu mengapa kau tidak berani menjawab pertanyaanku?"
"Mengapa aku harus membunuh sanak keluargaku sendiri?"
Tong Hoa balik bertanya.
"Kau sendiri yang berkata akan membunuhnya!"
"Masa ada anggota Keluarga Tong kami yang menghalangi kebebasanmu?"
"Ada."
"Siapa?"
"Tong Ou!"
"Toa-piauko? Mana mungkin?"
"Bukankah dia yang menahanku di Benteng Keluarga Tong?"
"Betul, tapi ia berbuat demikian demi aku!"
"Demi kau?"
"Benar, dia tahu aku sangat menyukaimu maka sengaja menahanmu di sini."
Wi Hong-nio tidak berbicara lagi, sebab dia tahu kenyataannya bukanlah seperti itu.
Bukankah Tong Ou berkata kepadanya bahwa sehabis berjumpa Bu-ki, dia akan mengijinkan satu orang di antara mereka berdua untuk meninggalkan Benteng Keluarga Tong?
Seandainya nanti dia memutuskan dia yang pergi dan bukan Bu-ki, maka kata-kata Tong Hoa jelas bohong besar.
Tetapi ia segera sadar, pasti ada siasat busuk lain di balik semua ini.
Kalau bukan Tong Ou telah membohongi Tong Hoa, berarti Tong Hoa-lah yang sedang berusaha membohongi dirinya.
Walaupun ia berpikir demikian, namun kecurigaannya tak diungkap, malah tanyanya kemudian.
"Sekalipun tujuan Tong Ou menahanku memang demi kau, tapi bagaimana jika aku tetap menganggapnya berusaha menghalangi kebebasanku?"
"Dari sudut mana kau merasa tidak bebas?"
"Bahwa aku tidak boleh meninggalkan Benteng Keluarga Tong!"
"Siapa bilang?"
"Tong Ou!"
"Aaah, tidak mungkin! Begini saja, nanti malam kutanyakan lagi kepadanya."
"Bagaimana kalau dia membohongimu?"
"Tidak mungkin, ke mana pun kau hendak pergi, aku pasti akan mengantarmu!"
"Kalau Tong Ou tidak mengijinkan?"
"Kalau dia benar-benar tidak mengijinkan, kita pergi dari sini secara diam-diam."
"Sungguh?"
"Asal kau ijinkan aku selalu mendampingimu, aku bersedia mengantarmu pergi ke mana saja yang kau suka!"
"Termasuk pergi ke Tayhong-tong?"
"Kau ingin pulang ke Tayhong-tong?"
"Tentu saja! Siapa yang tidak ingin pulang ketempat tinggalnya sejak kecil?"
"Aku tidak berharap kau pergi ke situ..."
"Kenapa? Kau takut?"
"Tidak, aku tidak takut, Tayhong-tong tak pernah kupandang sebelah mata pun!"
"Lalu mengapa kau tidak berharap aku pulang ke sana?"
"Karena di Tayhong-tong ada seseorang."
"Bu-ki yang kau maksud?"
Tong Hoa segera menunjukkan sikap cemburunya dan sambil tertawa getir menyahut.
"Benar, aku tidak berharap kau bisa bertemu lagi dengannya."
"Tapi kalaupun aku pulang belum tentu aku akan bertemu dengannya!"
"Bagaimana seandainya bertemu?"
"Masa kau tak berani bertaruh?"
"Aku tidak pernah mau melakukan tindakan yang aku tidak yakin!"
"Baiklah, kalau begitu kita tak perlu bicara lagi."
Tong Hoa tidak bicara lagi, dia minum arak seorang diri. Sekaligus dia habiskan lima cawan arak anggur sebelum bangkit berdiri dan mohon pamit dari tempat itu.
"Tidurlah, aku akan mohon diri dulu,"
Katanya.
Habis berkata, ia memberi tanda kepada Siau-Ou dan Siautiap, kemudian mereka bertiga meninggalkan tempat itu.
Ooo)))(((ooo Wi Hong-nio amat gelisah, ia duduk seorang diri di depan jendela, memandang kegelapan malam sambil termangu-mangu.
Ia sadar bahwa penampilannya tadi sangat buruk, tidak seharusnya dia mendesak Tong Hoa dengan kata-kata seperti itu.
Seharusnya dia menggunakan bujukan yang lemah-lembut untuk mempengaruhi hatinya dulu, sesudah terpikat dan mabuk cinta, barulah permintaan diajukan sedikit demi sedikit.
Cara semacam itulah yang seharusnya ia lakukan!
Dalam pandangannya, Tong Hoa tak lebih hanya seorang pemuda romantis yang jatuh cinta kepadanya sejak pandangan pertama dan baginya sekedar cinta sepihak.
Wi Hong-nio tidak punya perasaan apa pun padanya bahkan ia tidak menunjukkan perhatian sedikit pun.
Berhadapan dengan gadis yang belum tentu membalas cintanya, mana mungkin pemuda itu mau mengabulkan semua permintaannya dengan begitu saja?
Setelah lama merenung, akhirnya pelan-pelan Wi Hong-nio dapat mengendalikan hatinya.
Ia mulai menemukan jalan yang harus ditempuhnya dan ia lalu memutuskan sikap selanjutnya.
Dia menganggap malam ini akan tidur lebih awal hingga besok bisa tampil dengan wajah yang lebih segar, kemudian dengan mengenakan topeng, pura-pura membalas cinta pemuda itu, dia akan balas merayu Tong Hoa dan menarik simpatinya.
Setelah membuat keputusan ia merasa hatinya lebih lega, maka ia pun bisa tidur dengan nyenyak.
Ooo)))(((ooo Pada malam yang sama, Tio Bu-ki sedang merasa sulit untuk memejamkan matanya.
Dia ingin segera tidur, tapi berbagai pikiran berkecamuk dalam benaknya, membuat dia gelisah dan tak tenang.
Dia tidak tahu apakah Sangkoan Jin telah mengirim kabar ke semua cabang Tayhong-tong agar mereka dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi serangan besar-besaran pihak Benteng Keluarga Tong.
Ia sadar bahwa hal ini merupakan pertaruhan besar, pertaruhan besar yang menyangkut masa depan serta hidup-matinya Tayhong-tong.
Dalam pertaruhan ini, Bu-ki sadar kalau dia harus segera memasang taruhannya.
Sampai sekarang, Tio Bu-ki tetap belum memahami sikap paman Siangkoannya itu, bahkan sikapnya terhadap rencana Harimau Kemala Putih.
Bagaimana mungkin dia bisa memahami tokoh-tokoh lain di Tayhong-tong?
Karena tidak bisa memahami semua itu, pemuda ini merasa amat risau, bingung dan gelisah.
Semula dia mengira bahwa Sangkoan Jin pasti akan berupaya untuk menyampaikan berita itu ke semua cabang Tayhong-tong.
Tapi sekarang, tiba-tiba saja, ia mulai ragu dan bimbang, apa jadinya kalau Sangkoan Jin lebih mementingkan keselamatan dirinya sendiri, atau gagal menemukan orang yang bisa membawa berita tersebut ke semua cabang Tayhong-tong?
Andaikata gara-gara hal ini anggota Tayhong-tong sampai dibuat kalang-kabut oleh datangnya serangan dari Keluarga Tong, atau bahkan banyak yang mati atau tcrluka parah, apakah dia yang harus memikul tanggung-jawab ini?
Ia merasa sudah waktunya untuk mengambil keputusan, dia harus menyampaikan kabar tersebut ke salah satu pos jaga Tayhong-tong, sekalipun jika akhirnya terbukti bukan tempat itu yang diserang Keluarga Tong, paling tidak dia tak akan merasa menyesal karena hanya berpeluk tangan belaka.
Ia sadar, terus bersembunyi di atas bukit adalah keputusan yang salah, tidak seharusnya ia mempertaruhkan keselamatan jiwa para anggota Tayhong-tong dengan menggantungkan diri pada Sangkoan Jin seorang.
Tio Bu-ki menengadah, memandang sejenak kegelapan malam yang telah menyelimuti angkasa, dia sadar, seandainya keputusan yang diambilnya keliru, tak akan ada harapan lagi untuk merubahnya, sebab sudah tidak ada waktu lagi untuk itu.
Pada saat itulah mendadak ia mendengar suara gemersik seperti suara burung yang terbang rendah bergerak menuju ke arahnya.
Dengan satu gerakan cepat ia mematahkan ranting pohon, kemudian langsung ditimpukkan ke arah datangnya suara sambaran itu.
Serangan itu amat cepat dan tepat, sekejap lalu terdengar suara benturan bergema di udara, disusul suara seperti sesuatu menumbuk batang pohon dan jatuh ke tanah.
Bu-ki tidak langsung menghampiri tempat itu, ia memasang telinga dan mencoba mendengarkan keadaan di sekelilingnya.
Ia harus yakin di situ tidak ada orang lain sebelum memunculkan diri dari tempat persembunyiannya.
Suasana amat hening, kecuali hembusan angin malam yang lembut, tak terdengar suara apa pun.
Lama sekali ia berdiri mematung, ia kuatir benda yang menyambar ke arahnya tadi adalah suara sambitan senjata rahasia yang sengaja dilepas seseorang.
Sepeminuman teh lewat tanpa terlihat suatu gerakan apa pun, suasana tetap hening, sepi dan senyap.
Bu-ki mulai menduga, jangan-jangan benda yang ditimpuknya tadi benar-benar hanya seekor burung yang sedang terbang rendah.
Pelan-pelan ia mulai bergerak mendekati tempat itu, kemudian mencoba memungutnya dari tanah.
Di tengah kegelapan malam, ia merasa benda yang dipungutnya benar-benar seekor burung dan ketika diperiksa lebih teliti, ternyata burung itu seekor merpati.
Burung merpati?
Pemuda itu segera teringat pada merpati pos.
Mungkinkah merpati ini adalah merpati pos yang dilepas orang-orang Keluarga Tong untuk menyampaikan berita?
Cepat-cepat diperiksanya kaki burung merpati itu dan benar saja, segulung kertas kecil terikat erat pada kaki burung merpati itu.
Buru-buru dia merogoh ke dalam saku dan mengeluarkan korek api, lalu di bawah terang cahayanya dia membuka lipatan kertas itu dan memeriksa isinya.
Yang kemudian dilihatnya membuat anak muda itu terkesiap seketika.
"Aduh celaka!"
Pekiknya di hati.
Dia segera mengenali isi surat itu, yaitu tanda rahasia yang sering dipakai Tayhong-tong untuk menyampaikan berita.
Di balik lembaran kertas itu tidak ada tulisan apa pun, tapi kertas tersebut dilipat dengan suatu lipatan khusus, yaitu selembar kertas yang ditempeli kertas kecil lain berbentuk hati.
Tanda rahasia ini berarti bahwa seluruh anggota Tayhong-tong harus waspada dan lebih hati-hati.
Lipatan yang kecil menandakan bahwa jangka waktu untuk berhati-hati adalah satu-dua hari kemudian.
Bila delapan sampai sepuluh hari lagi, lipatan kertas itu akan lebih besar lagi.
Dia tahu, merpati ini pasti dilepaskan oleh Sangkoan Jin untuk memperingatkan anggota-anggota Tayhong-tong.
Namun sekarang merpati itu sudah mati tersambit.
Apa yang harus dilakukannya sekarang?
Mungkinkah Sangkoan Jin hanya melepaskan seekor merpati?
Merpati itu sebenarnya dikirim ke mana?
Tio Bu-ki menyesal, mengapa ia tidak lebih berhati-hati?
Mengapa ia tidak menduga kalau burung itu adalah seekor burung merpati pos?
Mengapa dia mengira sebagai sambitan senjata rahasia?
Nasi sudah menjadi bubur, menyesal pun tak ada gunanya, yang penting sekarang adalah bagaimana mengatasi kesalahan ini.
Tapi...
apa yang harus diperbuatnya untuk memperbaiki kesalahan itu?
Ooo)))(((ooo Pada malam yang sama, Sangkoan Jin bisa tidur sangat nyenyak.
Sebelum berangkat tidur, ia pergi menengok sebentar putri tunggalnya.
Dia tidak tahu bahwa sejak terluka karena harus menyelamatkan jiwa ayahnya, gadis itu lalu berubah menjadi lebih pendiam, kelincahan dan keriangannya di masa lalu sama sekali sudah lenyap.
Meskipun luka luar yang dideritanya berangsur sembuh, namun rasa risau dan murung yang menyelimuti perasaannya kian hari kian bertambah dalam.
Sangkoan Jin sama sekali tidak mempertimbangkan hal ini, saat itu pikiran dan perhatiannya, kecuali pada luka-luka putrinya, hampir semuanya terpusat pada penyelidikan atas Benteng Keluarga Tong serta mengawasi segala tindakan yang akan dilakukan oleh Keluarga Tong pada Tayhong-tong.
Jangankan perasaan putrinya, ia bahkan tidak bertanya kepada Tong Ou apakah Tio Bu-ki jadi dibebaskan atau tidak.
Bukannya ia tak mau tahu tentang nasib putra tunggal saudara angkatnya ini tentu saja ia menguatirkan keselamatan jiwanya tapi bila dibandingkan dengan mati-hidupnya Tayhong-tong, ia merasa urusan itu tidak seberapa penting.
Ia harus berusaha sebaik mungkin merahasiakan identitasnya, hanya dengan demikian ia bisa dikatakan berjuang demi Tayhong-tong.
Asal berita berita penting bisa dikirim ke luar, ia sudah merasa tenteram.
Ia percaya bahkan yakin, berita yang dikirimnya pasti dapat diterima anggota Tayhong-tong.
Ooo)))(((ooo Malam bertambah larut, kegelapan semakin dalam menyelimuti angkasa.
Ketika Sangkoan Jin dan Wi Hong-nio sudah tertidur nyenyak, ketika Tio Bu-ki yang berada dalam hutan sedang ragu dan menyesal atas kecerobohan sendiri, saat itu Tong Hoa sedang berunding dengan TongOu.
"Ternyata Wi Hong-nio betul-betul ingin meninggalkan Benteng Keluarga Tong,"
Lapor Tong Hoa.
"Kau yakin bisa mendampinginya ke mana pun dia pergi?"
"Sangat yakin, semalam aku telah menggunakan siasat rayuan maut, aku percaya mulai besok dia pasti akan bersikap lebih baik kepadaku!"
"Kau mesti lebih hati-hati,"
Pesan Tong Ou kemudian.
"sebab langkah berikut kita kemungkinan besar sangat tergantung pada keberhasilanmu."
"Aku tahu."
Tong Ou bangkit dan berjalan ke lemari, mengeluarkan sebuah kotak dari dalamnya. Kotak itu lalu diletakkan di atas meja dan katanya lagi.
"Kuserahkan kotak ini kepadamu, bawalah selalu ke mana pun kau pergi, karena setiap saat kau bakal membutuhkannya."
"Apa isi kotak ini?"
"Bukalah sendiri!"
Tong Hoa membuka penutup kotak itu lalu dengan sangat hati-hati mengeluarkan sebuah benda dari dalamnya.
Benda itu adalah sebuah patung berukir terbuat dari batu kemala putih, sebuah patung berukiran naga sedang mementang cakar tajamnya, Naga Kemala Putih.
"Ukiran naga yang sangat indah!"
Puji Tong Hoa.
"Ya, naga itu diukir di batu kemala, patung itu bernama Naga Kemala Putih!"
Jelas Tong Ou.
Ukiran Naga Kemala Putih itu tidak terlalu besar, ukurannya hanya sedikit lebih besar dari telapak tangan, tapi ukirannya sangat bagus dan sempurna, seperti seekor naga yang siap terbang ke angkasa.
Tong Ou mengambil kembali patung naga itu dari tangan Tong Hoa, lalu sambil menuding ke arah mulut naga itu ia berkata lagi.
"Mulut naga ini memang sengaja dibuat terbuka lebar, di balik mulut ini ada ruang kosong, kau bisa memasukkan kertas ke dalamnya."
"Maksudmu, semua rencana kita akan menggunakan mulut ukiran naga itu?"
"Yang benar kita menggunakan perut naga yang kosong."
"Kenapa kita harus menggunakan Naga Kemala Putih ini?"
"Sebab benda ini hadiah dari Sangkoan Jin, menurut Sangkoan Jin benda ini adalah benda kuno yang paling disayang Tio Kian semasa hidupnya dulu."
"Akan kusimpan dengan sangat hati-hati,"
Janji Tong Hoa. Tong Ou manggut-manggut, lalu katanya lagi.
"Sebelum digunakan, kau harus mendatangi dusun tempat tinggal Tio Kian, di dusun itu ada toko yang menjual alat tulis, pemilik toko itu bernama Pek Giok-ki."
"Aku tahu, taukenya bernama Pek Giok-ki."
"Betul, Pek Giok-ki paling mahir tulis menulis, bukan saja tulisannya sangat indah, dia pun sangat pandai meniru gaya tulisan orang."
"Ya, bagaimanapun juga aku mesti menunggu kabarmu, biarlah sampai waktunya baru kucari dia dan minta dia menulis sesuai dengan rencanamu."
"Benar. Kepadanya kau boleh membeberkan indentitas aslimu."
"Jadi dia termasuk salah seorang yang kita suap untuk mendukung kita?"
"Yaa, tiap tahun kita membayarnya limaribu tahil perak."
"Waah, dengan uang sebanyak itu, berarti dia tidak perlu buka toko lagi!"
"Jika rencana Naga Kemala Putih kita berhasil dijalankan, selanjutnya memang dia tak perlu buka toko lagi."
"Kenapa? Masa kita harus terus membayarnya lagi setelah dia menuliskannya buat kita?"
"Tidak. Ketika ia selesai menulis, kau harus membunuhnya!"
"Membunuhnya untuk melenyapkan bukti?"
"Benar, orang yang bisa kita suap berarti bisa juga disuap pihak lain, untuk ini kita harus waspada dan lebih baik sedia payung sebelum hujan."
"Sangat masuk di akal!"
Puji Tong Hoa. Tong Ou tertawa tergelak.
"Jika tidak masuk di akal, masa Keluarga Tong kita bisa menancapkan kaki begitu lama di dalam dunia persilatan?"
Tong Hoa ikut tertawa, suara tertawanya penuh rasa bangga dan puas.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintu.
Siapa yang berani mengetuk pintu di tengah malam buta begini?
Mungkinkah sudah terjadi sesuatu yang gawat dan penting?
Buru-buru Tong Ou memerintah Tong Hoa untuk menyimpan Naga Kemala Putih itu ke dalam sakunya, kemudian baru membuka pintu.
Orang yang berada di luar pintu adalah Tong Koat, di tangan TongKoat-terlihat seekor burung merpati.
Setelah menutup kembali pintu ruangan, Tong Koat menyerahkan merpati itu ke tangan Tong Ou.
Merpati itu masih hidup, ia meronta-ronta hendak melepaskan diri dari genggaman Tong Ou.
Dengan sangat teliti Tong Ou membentangkan sayap merpati itu dan memeriksanya satu per satu, kemudian berkata.
"Merpati ini bukan burung merpati pos milik kita!"
"Betul,"
Tong Koat mengiakan.
"merpati ini dirontokkan oleh penjaga kita yang bertugas tujuh belas li di luar kota, mereka mengirim balik dengan menggunakan kuda cepat."
"Jadi milik siapa?"
Tanya Tong Ou.
"Belum terlacak, sampai sekarang belum pernah dijumpai burung merpati semacam ini."
"Apa mungkin merpati pos milik Tayhong-tong?"
"Tayhong-tong tidak pernah menggunakan merpati pos semacam ini."
"Apakah sudah diselidiki merpati ini terbang dari mana dan kira-kira akan terbang ke mana?"
"Menurut laporan, merpati ini kemungkinan besar terbang dari Benteng Keluarga Tong, hanya tidak jelas akan terbang ke arah mana."
"Merpati pos yang mampu terbang malam? Suatu cara pengiriman berita yang sangat hebat!"
Puji Tong Ou tanpa terasa.
"Kira-kira jagoan mana dalam dunia persilatan yang mampu melatih burung merpati semacam ini?"
"Belum pernah ada yang tahu,"
Jawab Tong Koat.
"aku sudah mengirim orang untuk minta pendapat Pek Siau-seng, mungkin besok pagi sudah ada beritanya."
"Apakah belakangan ada orang asing yang berkunjung ke Benteng Keluarga Tong?"
"Hari ini tidak ada, tapi tiga hari berselang ada."
"Tiga hari berselang? Berarti orang itu sudah tiga hari tinggal di sini?"
"Dia seorang pedagang kain, waktu mendaftar di losmen menggunakan nama Go Yong, tinggal di penginapan Ya-lay. Baru saja aku mengirim petugas untuk menanyai orang itu."
Sementara pembicaraan masih berlangsung, Tong Ou telah melepaskan kertas yang terikat di kaki burung merpati itu dan memeriksa isinya.
Ia melihat isi surat itu hanya sebuah tanda yang berbentuk hati.
Tong Koat kembali menjelaskan.
"Toako, kertas itu sudah diperiksa, itu adalah kertas tulis yang umum dipakai semua orang, bahan kertas semacam ini bisa didapat di semua tempat."
"Apa arti tanda hati di dalam surat ini? Masa surat pernyataan cinta?"
Tanya Tong Ou.
"Aaah tidak mungkin, mana ada orang yang mau bersusahpayah melatih merpati pos yang bisa terbang malam hanya untuk menyampaikan perasaan cinta?"
"Waah, itu ide yang sangat bagus!"
Timbrung Tong Hoa pula.
"lain kali aku mesti meniru cara ini, rasanya perempuan yang kuburu pasti akan terharu bila dirayu dengan cara begini..."
"Aku yakin tanda hati ini pasti bukan berarti cinta, tentu punya makna lain yang lebih dalam,"
Tandas Tong Ou. Tong Hoa mulai memperhatikan lambang hati itu dengan lebih seksama, tiba-tiba katanya.
"Hati ini tidak terlalu besar dan tidak besar berarti kecil, hati yang kecil melambangkan kehatihatian. Mungkinkah surat itu peringatan agar orang lebih berhatihati?"
"Ehmm, mungkin sekali begitu!"
Selanjutnya, ketiga orang itu pun diam dalam keheningan, yang ada dalam pikiran mereka sekarang sama.
Semua sedang berpikir siapa yang telah melepaskan burung merpati itu dari dalam Benteng Keluarga Tong?
Mungkinkah merpati itu hendak memberi kabar kepada Tayhong-tong agar siap sedia dan lebih berhati-hati?
Mungkinkah merpati itu membawa berita kalau Keluarga Tong akan menyerang mereka?
"Apa mungkin hasil perbuatan Tio Bu-ki?"
Tiba-tiba Tong Koat bertanya.
"Masa dia membawa burung merpati?"
Tong Ou balik bertanya.
"Kalau bukan dia, lantas siapa?"
"Lebih baik kita bicarakan lagi setelah berita dari penginapan Ya-lay kita terima."
Lentera yang menerangi rumah penginapan Ya-lay sudah mulai redup, kecuali sebuah lentera yang masih bersinar di ruang tengah, suasana di sekelilingnya gelap gulita.
Tauke rumah penginapan itu duduk di belakang meja, tampaknya ia sudah tertidur sangat nyenyak.
Dua orang utusan Tong Ou itu sama sekali tidak membangunkan sang tauke, mereka langsung naik ke lantai dua, belok ke kanan dan tiba di muka kamar nomor tiga.
Tanpa mengetuk pintu atau berbasa-basi lagi, salah seorang di antaranya menendang roboh pintu kamar, sementara rekannya menyerbu ke dalam kamar.
Tampaknya'orang itu sangat hapal dengan isi ruangan itu, begitu menyerbu ke dalam, ia langsung menghampiri pembaringan dan menotok.
Kecuali ketika menendang pintu kamar tadi, mereka tidak mengeluarkan suara apa-apa lagi, orang yang sedang tertidur itu pun berhasil ditotok jalan darahnya.
Begitu berhasil menotok jalan darah orang itu, dia langsung mendukung badannya dan diangkut keluar.
Gerakan tubuh kedua orang itu cepat sekali, tak selang berapa saat, mereka telah sampai di Benteng Keluarga Tong.
Tong Koat segera membuka pintu dan begitu masuk, kedua orang itu membaringkan orang yang telah ditotok jalan darahnya itu ke atas meja.
Salah seorang di antara mereka berkata.
"Go Yong telah tertangkap!"
Belum sempat Tong Koat memuji kecepatan kerja kedua orang anak buahnya itu, ia mendadak berdiri tertegun.
Sesaat kemudian Tong Ou, Tong Hoa serta kedua orang itu pun ikut termangu-mangu.
Rupanya mereka menjumpai Go Yong yang baru ditangkap itu telah berubah jadi mayat.
Orang itu sudah mati!
"Apa yang terjadi?"
Teriak Tong Koat dengan tiba-tiba. Orang yang tadi menotok jalan darah Go Yong jadi melengak, untuk sesaat dia hanya berdiri tergugu dan tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.
"Jangan-jangan sudah mampus dari tadi?"
Orang yang menendang pintu itu menimpali. Tong Ou tidak berbicara apa-apa, dia menghampiri mayat Go Yong dan meraba sejenak kening mayat itu, kemudian katanya.
"Benar, paling tidak ia sudah mati satu jam berselang!"
Pada saat itu barulah semua yang hadir melihat adanya warna hitam lebam yang di tubuh mayat itu, warna khas mayat yang sudah mati lebih dari satu jam.
Tong Hoa merentangkan mulut mayat itu dan memeriksa giginya, setelah itu katanya lagi.
"Benar, giginya juga telah menghitam"
"Berarti dia mampus terkena jarum beracun Tawon Harimau kita?"
Seru Tong Koat terkejut.
"Siapa saja dari Keluarga Tong kita yang menggunakan jarum beracun Hau-hong-ciam?"
Dengan suara lirih Tong Koat segera menyebutkan sejumlah nama, tapi Tong Ou gelengkan kepalanya berulang-ulang sambil berkata tak mungkin, karena orang-orang yang disebut namanya itu sedang tidak berada di Benteng Keluarga Tong, mereka sedang bertugas di luar.
Yang tersisa tinggal mereka tiga bersaudara.
Beberapa saat lamanya Tong Ou termangu, bingung dan tidak tahu menemukan jawabnya.
Lama sekali Tong Ou membungkam diri, akhirnya dia baru berkata kepada dua orang anak buahnya.
"Coba kalian pergi lagi ke rumah penginapan Ya-lay dan bawa kemari taukenya!"
Sepeninggal dua orang itu, Tong Ou baru berkata lagi kepada Tong Koat.
"Coba periksa sekali lagi, apakah kita pernah kehilangan jarum Tawon Harimau?"
Dengan cepat Tong Koat sudah muncul kembali sambil membawa beberapa
Jilid buku, setelah membalik beberapa halaman dan meneliti catatan yang tertulis, ia berseru.
"Aaah, pernah!"
"Siapa yang kehilangan jarum beracun?"
"Li Bun-ting!"
"Kapan? Di mana?"
Kembali Tong Ou bertanya.
"Bulan satu tahun ini di Hoolam!"
"Kenapa bisa hilang?"
"Dia melepaskan dua batang jarum Hou-hong-ciam ketika hendak membunuh Gi Pek-bin, tapi serangan tersebut berhasil dipatahkan Gi Pek-bin dengan menggunakan sebuah kantung kain."
"Gi Pek-bin? Raja berganti wajah Gi Pek-bin?"
Tong Ou menegaskan.
"Benar, menurut laporan, ilmu merubah wajah yang dia miliki sangat hebat dan sempurna, tampaknya setiap saat dia selalu membawa ratusan lembar kulit wajah yang bisa digunakannya kapan pun."
"Kenapa kita mesti berusaha membunuh orang itu?"
"Kami mendapat laporan, konon Gi Pek-bin telah disuap pihak Tayhong-tong untuk berpihak kepada mereka. Oleh karena orang ini sangat berbahaya dan menakutkan, kami putuskan lebih baik dibikin mampus saja daripada membiarkannya bekerja untuk Tayhong-tong!"
"Yaa, betul sekali ucapan itu,"
Tong Hoa mengangguk.
"coba bayangkan saja, kalau satu orang memiliki ratusan lembar topeng muka yang bisa digunakan untuk berganti rupa setiap saat, siapa yang bisa menyelidiki identitasnya? Hal semacam ini memang sangat menakutkan."
"Siapa yang mengambil keputusan untuk membunuhnya?"
Kembali Tong Ou bertanya.
"Waktu itu kau tidak ada di tempat, tentu saja aku yang memutuskan,"
Jawab Tong Koat cepat.
"Apa Lo-cocong tahu?"
"Tidak! Bagaimana? Jadi aku salah mengambil keputusan?"
"Betul, seandainya waktu itu kau minta persetujuan dari Lococong, aku yakin dia pasti akan melarang!"
"Kenapa melarang?"
Seru Tong Koat tidak puas.
"Untuk menghadapi manusia macam ini, seharusnya kita justru membujuk atau merajainya agar dia mau berbalik memihak kita. Membunuh adalah pilihan yang salah, sebab bila kau gagal membunuhnya, dia akan semakin berbakti untuk lawan. Aku yakin saat ini dia pasti akan mati-matian bekerja untuk kepentingan Tayhong-tong."
Tong Koat bungkam seribu bahasa, sebab dia merasa ucapan toakonya sangat beralasan dan masuk akal, dia mulai menyadari kekeliruan yang telah dilakukannya.
Sementara itu Tong Ou tidak memedulikan lagi sikap Tong Koat, ia berjalan menghampiri jenasah itu lalu dengan tangan kirinya mengangkat kepala mayat tadi dan tangan kanannya mulai meraba sekeliling wajah, tengkuk dan belakang kepala mayat itu.
Beberapa saat kemudian, tiba-tiba dia mencengkeram tengkuk sebelah kiri mayat tadi, lalu dengan sangat perlahan tapi penuh tenaga dia merobek sesuatu dari wajah mayat itu.
Sementara itu Tong Koat berdua juga sudah melihat bahwa wajah orang mati itu mengenakan selembar topeng kulit manusia.
Satu ingatan segera melintas dalam benaknya, dia teringat akan sebuah nama yang punya hubungan erat dengan mayat itu.
Gi Pek-bin, Gi berwajah seratus.
Tampaknya orang itu dibunuh oleh Gi Pek-bin dan selesai membunuh, ia mengenakan selembar topeng kulit manusia di wajah mayat itu.
Sementara itu Tong Ou sudah melepaskan seluruh topeng kulit manusia yang dikenakan mayat itu, sekarang terlihatlah paras muka orang itu berwarna hitam gelap, tak heran kalau Tong Ou sekalian tidak tahu kalau orang ini sebenarnya telah mati keracunan.
Rupanya wajah orang itu tertutup selembar kulit manusia sehingga warna hitam yang muncul di wajah asli mayat itu sama sekali tak kelihatan.
Di saat Tong Ou bertiga masih berdiri tertegun sambil mengawasi mayat yang telah menghitam itu, dua orang yang diutus menjemput tauke rumah penginapan Ya-lay telah tiba di situ.
Begitu melihat wajah mayat yang membujur kaku itu, paras muka si tauke rumah penginapan segera berubah hebat, dia berdiri mematung tanpa sanggup mengucapkan sepatah kata pun.
"Siapakah orang itu?"
Tong Ou segera menegur.
"Dia... dia... adalah Li Jin-tiong, tapi..."
Jawab tauke itu gelagapan dan gemetar keras.
"Tapi kau melihat dia sudah meninggalkan rumah penginapan sejak tadi, bukan begitu?"
Tong Ou menimpali.
"Dari... dari mana kau bisa tahu?"
Tanya si tauke keheranan. Tong Ou mendengus dingin.
"Hmm, masih belum jelaskah kau? Ketika orang yang mengaku bernama Go Yong itu mendaftar di rumah penginapanmu itu, bukankah dia muncul dengan mengenakan topeng ini?"
Sambil menggoyangkan topeng kulit manusia tersebut kembali Tong Ou berkata.
"Dia adalah Gi Pek-bin, ketika dia selesai bertugas di tempat ini maka dibunuhnya Li Jin-tiong yang menginap di kamar sebelah, kemudian topeng kulit manusia yang semula dipakainya sengaja dia lepaskan dan dikenakan pada wajah orang itu. Dengan begitu semua orang mengira Go Yong telah mati, padahal secara diam-diam dia telah mengenakan topeng wajah yang mirip dengan Li Jin-tiong untuk meninggalkan rumah penginapan Yalay dan kabur dari Benteng Keluarga Tong!"
Pucat pias wajah si tauke sehabis mendengar penjelasan itu, gumamnya dengan nada bergetar.
"Orang ini... orang ini benarbenar menakutkan..."
Tong Ou berpaling ke arah Tong Koat, mendadak tanyanya.
"Go Yong pergi ke mana saja?"
Secara ringkas Tong Koat melaporkan semua yang diketahuinya. Lama sekali Tong Ou berpikir, dia mencoba mengupas masalah demi masalah dengan seksama, kemudian katanya.
"Aku rasa masalahnya timbul kalau bukan di warung bakmi tentu ketika keluar dari rumah pelacuran Li-cun-wan. Aku curiga merpati yang berhasil kita tangkap ini adalah burung merpati yang dilepas olehnya."
Sambil berkata dia menuding bangkai burung merpati yang tergeletak di meja. Waktu itu Tong Koat sedang membolak-balik buku catatan, tiba-tiba teriaknya lantang.
"Aaah, betul, catatan mengenai Gi Pekbin mengatakan bahwa dia sangat suka memelihara burung merpati!"
Tong Ou manggut-manggut, ujarnya.
"Ketika berada di warung bakmi, orang yang pernah berhubungan dengan Gi Pek-bin adalah Sangkoan Jin, sementara ketika berada di rumah pelacuran Li-cun-wan, dia berhubungan dengan..."
"Dia bernama Siau-ping,"
Sela Tong Koat.
"Siau-ping dibesarkan dalam kalangan kita, rasanya tidak cocok untuk dicurigai."
"Jangan-jangan Sangkoan Jin?"
"Mana-mungkin?"
Seru Tong Koat.
"waktu itu dia hanya menyerahkan sekeping goanpo!"
"Siapa tahu di balik goanpo itu terdapat sesuatu yang aneh?"
Kata Tong Hoa.
"Mungkin saja, coba kau panggil..."
Mendadak Tong Ou berhenti berbicara, kemudian menoleh dan memandang sekejap ke arah tauke rumah penginapan Ya-lay serta ke kedua pembunuh gelap itu.
Tong Koat segera mengerti maksud kakaknya, cepat dia berseru.
"Di sini sudah tidak ada urusanmu lagi, kalian boleh pergi!"
Tiga orang itu segera berpamitan dan meninggalkan tempat itu. Setelah ketiga orang itu lenyap dari pandangan, Tong Ou baru berkata lagi.
"Segera panggil Cing-cing kemari."
"Panggil Cing-cing? Buat apa?* "Aku akan menggunakan kecantikan wajahnya untuk menyelidiki Sangkoan Jin, aku ingin tahu masih ada rahasia apa lagi yang tidak kita ketahui."
Setelah berpisah dengan kedua orang pembunuh gelap itu, si tauke rumah penginapan Ya-lay kembali ke ruang kerjanya seorang diri, dia berjalan menuju ke meja tempat tadi ia tidur lalu duduk dan mengeluarkan buku tamu.
Di situ ia menandai dengan lingkaran kecil pada nama Go Yong.
Segera sesudahnya ia keluar meninggalkan rumah penginapan lagi.
Ia bergerak cepat meninggalkan Benteng Keluarga Tong, rupanya ingin pergi dari situ sebelum fajar menyingsing.
Ketika sudah berada di luar wilayah Benteng Keluarga Tong, si tauke baru melakukan hal yang sama seperti yang tadi dilakukan Tong Ou, ia melepas selembar topeng kulit manusia dari wajahnya.
Ia tertawa, tertawa sangat dingin.
Ternyata si tauke ini adalah Gi Pek-bin!
Fajar belum menyingsing, kegelapan malam masih memenuhi langit ketika terlihat sesosok manusia berkerudung menyelinap masuk ke dalam rumah penginapan Ya-lay.
Langsung ia menuju ke meja kasir dan mengeluarkan buku catatan tamu.
Setelah memeriksa sekejap nama Go Yong yang diberi tanda lingkaran itu, kemudian dengan sama cepatnya ia pergi meninggalkan tempat itu.
Ilmu meringankan tubuh orang berkerudung ini amat hebat, dia pun nampaknya hapal betul dengan seluk-beluk kebun bunga Keluarga Tong.
Menyusuri sudut-sudut halaman yang gelap, dengan satu gerakan lincah orang itu sudah menyelinap masuk ke dalam sebuah kamar.
Ketika sudah di dalam kamar dan sedang melepaskan kain kerudung hitam yang menutupi wajahnya, baru kelihatan bahwa orang itu adalah Sangkoan Jin.
Baru saja Sangkoan Jin melepaskan kain kerudung dan meletakkannya di meja, tiba-tiba terdengar pintu kamar diketuk orang.
Mula-mula ia nampak terperanjat sebab saat itu masih tengah malam buta, lagipula baru saja dia kembali dari rumah penginapan Ya-lay.
Mungkinkah jejak serta gerak geriknya sudah ketahuan orang-orang Keluarga Tong?
Dengan gerakan refleks dia mengambil kembali kain kerudung hitamnya.
Belum sempat ia berpikir mau disembunyikan di mana, tiba-tiba satu ingatan melintas di dalam benaknya, janganjangan orang yang mengetuk pintu adalah Cing-cing?
"Siapa?"
Ia segera menegur.
"Aku!"
Ternyata dugaannya tidak salah, itu suara Cing-cing.
Cingcing adalah gadis yang dikenal Sangkoan Jin sejak ia bergabung dalam Benteng Keluarga Tong.
Selama ini hubungan mereka sangat mesra dan Cing-cing sering melayani hasrat syahwatnya, maka kehadirannya di tengah malam buta seperti ini bukan kejadian yang aneh dalam pikirannya.
Sesudah tahu bahwa yang datang adalah Cing-cing, Sangkoan Jin merasa lega.
Ia masukkan kain kerudung hitam itu ke dalam sakunya kemudian membuka pintu.
Baru saja pintu dibuka, Cing-cing sudah menubruk ke dalam pelukannya, kemudian sambil mendesis lirih ia menempelkan wajahnya ke wajah Sangkoaan Jin.
Menghadapi perlakuan seperti ini Sangkoan Jin tertawa, dia balas memeluk erat gadis itu dan kemudian membopongnya ke atas ranjang.
Tak lama kemudian dua tubuh yang telanjang bulat telah saling menempel satu sama lain seperti permen karet...
Ooo)))(((ooo Fajar sudah menyingsing, cahaya terang benderang telah memenuhi langit, namun Tio Bu-ki masih berdiri termangu sambil mengawasi batang pohon di hadapannya.
Dia masih bimbang, masih resah.
Dia menyesal mengapa tindakannya kurang berhati-hati hingga membunuh burung merpati yang justru membawa surat peringatan untuk para anggota Tayhong-tong.
Ia tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki kesalahan yang telah diperbuatnya itu.
Lama sekali dia berpikir, memutar otak dan mencari akal...
Akhirnya dia mengambil satu keputusan.
Untuk mencapai lembah Boanliong-kok dibutuhkan perjalanan satu hari penuh.
Artinya jika berangkat sekarang juga, dia baru akan sampai keesokan harinya dan saat itu sudah tiba hari Peh-cun.
Dapat diduga semua orang tentu sedang mabuk-mabukan atau dengan perkataan lain, penjagaan pasti sangat kendor.
Berpikir sampai di sini Tio Bu-ki terkesiap dan buru-buru melompat turun dari atas pohon, melompat naik ke atas pelana kuda dan melarikannya langsung ke lembah Boanliong-kok.
Pada fajar yang sama.
Tong Ou, Tong Koat maupun Tong Hoa belum tidur barang sekejap pun, mereka bertiga masih di dalam kamar sambil membicarakan masalah merpati pos serta urusan Gi Pek-bin.
Melihat fajar mulai menyingsing di ufuk timur, tiba-tiba Tong Ou berkata kepada Tong Koat.
"Aku bermaksud untuk mengubah rencana penyerbuan."
"Kenapa?"
"Terlalu banyak kejadian di luar dugaan, aku takut terjadi perubahan yang tidak menguntungkan."
"Lalu apa rencanamu?"
"Segera kirim surat perintah lewat merpati pos, perintahkan mereka segera melancarkan serangan dari tiga jurusan!"
Tampaknya dia telah menyiapkan tiga kelompok pasukan yang bersembunyi di sekeliling markas besar Tayhong-tong sambil menunggu perintah dari Keluarga Tong untuk melancarkan serangan.
Semula ia berniat datang bersama Tong Koat ke medan pertempuran dan memimpin sendiri penyerbuan itu.
Tapi sekarang tiba-tiba saja dia berubah pikiran, bukan saja batal ikut serta, ia bahkan mempercepat waktu penyerangan.
Dia memang sengaja membocorkan rahasia penyerbuannya dan waktu penyerangan yang katanya akan dilakukan tepat di hari Peh-cun.
Sebenarnya dia bergerak sangat lambat, ia berniat melancarkan serangan baru dua hari setelah lewat Peh-cun.
Dalam pikirannya, sekalipun ada yang menyampaikan berita sehingga penjagaan diperketat, tetapi jika musuh sudah melakukan penjagaan terus-menerus selama dua hari dua malam dan tidak ada serangan datang, orang akan beranggapan bahwa berita itu salah.
Dengan sendirinya penjagaan akan kendor kembali dan keadaan seperti ini adalah kesempatan terbaik baginya untuk menyerang.
Tapi sekarang ia memutuskan untuk mengubah rencana penyerangannya.
Tiba-tiba saja ia merasakan datangnya satu tekanan yang besar, yaitu lenyapnya Tio Bu-ki dan masih ditambah munculnya Gi Pek-bin.
Itulah sebabnya ia memerintahkan Tong Koat untuk mengirim perintah penyerbuan, agar ketiga pasukan yang telah disiapkan selama ini melancarkan serangan besar.
Ooo)))(((ooo Hubungan yang dilakukan penuh napsu dan penuh luapan cinta membuat Sangkoan Lian letih sekali.
Ia segera jatuh tertidur, tidur sangat nyenyak dan semua kewaspadaannya lenyap.
Tidurnya yang begitu nyenyak membuat Cing-cing mengawasinya berapa kejap.
Dia memang datang dengan tugas, dia khusus melayani Sangkoan Lian atas perintah Tong Koat, dia pun ditugasi untuk mengawasi semua gerak-gerik orang itu, termasuk igauannya sewaktu tidur.
Dia turun dari ranjang dan memungut pakaiannya dari lantai, juga pakaian Sangkoan Jin.
Kemudian dengan hati-hati sekali dia memeriksa saku baju itu.
Dikeluarkannya secarik kain hitam, dia tahu kain itu dipakai untuk menutup wajah.
Sebentar kemudian dia juga mengeluarkan sebuah kantung kain yang sangat kecil.
Kantung itu boleh dibilang terjahit rapi dan menjadi satu dengan pakaian dalamnya, dulu ia tak pernah melihat benda ini, tak disangka hari ini dia menemukannya.
Ketika kantung itu dibuka, tampak isinya adalah selembar kertas yang sangat tipis.
Di atas kertas itu tak ada tulisan apa-apa, yang tampak hanya sebuah lipatan berbentuk hati kecil.
Tentu saja Cing-cing tak tahu apa gunanya lipatan kertas itu, tapi dia yakin benda ini pasti sangat penting.
Mengapa Sangkoan Jin harus menyimpannya di dalam kantung kecil yang dijahit pada pakaian dalamnya?
Buru-buru ia memasukkan kembali kertas itu ke dalam kantung lalu dikembalikan pada asalnya, setelah itu dia baru menuju ke depan cermin dan mulai berdandan.
Selesai berdandan ia tak kuasa untuk tidak balik lagi ke tepi ranjang dan mengawasi wajah Sangkoan Jin dengan termangu.
Mendadak ia menjatuhkan diri ke dada Sangkoan Jin dengan penuh nafsu, lalu dibelainya wajah orang itu dengan penuh kasih sayang.
Sangkoan Jin masih tertidur lelap, biarpun matanya masih terpejam namun tangan kanannya telah bergerak menggenggam tangan kecil Cing-cing yang sedang membelai wajahnya.
Gerakan itu sebenarnya sangat biasa, tetapi sekarang membuat Cing-cing terharu, perasaannya bergejolak keras.
Ia tidak bisa membantah bahwa Sangkoan Jin adalah orang yang bisa mendatangkan kegembiraan baginya.
Dulu, ia sudah sering melakukan tugas semacam ini, tapi tak sekali pun merasakan kegembiraan dan kebahagiaan seperti saat bersama Sangkoan Jin sekarang.
Tampaknya Sangkoan Jin dapat merasakan tubuh Cing-cing yang gemetar keras, mendadak ia membuka sedikit matanya dan menepuk tangannya sambil menegur.
"Ada apa denganmu?"
Cing-cing segera sadar akan kesalahannya, buru-buru ia menarik kembali badannya, berdiri dan menyahut.
"Ah tidak apaapa, aku harus pergi!"
Sangkoan Jin seperti tidak merasakan ada yang tak biasa, ia hanya mengiakan lirih.
Tiap kali Cing-cing datang berkunjung, ia selalu pergi sebelum fajar menyingsing, kali ini pun tak jauh berbeda.
Itu sebabnya ia kembali tidur nyenyak.
Sekali lagi Cing-cing mengawasi wajah Sangkoan Jin, kemudian baru pergi meninggalkan tempat itu.
Sepeninggal dari kamar tidur Sangkoan Jin, dia berjalan sangat lambat karena tempat yang ditujunya sekarang adalah tempat di mana Tong Ou dan Tong Koat sedang menunggu.
Sambil berjalan tiada hentinya ia berpikir, haruskah dia laporkan semua yang telah dilihatnya tadi kepada Tong Ou sekalian?
Haruskah dia melaporkan lipatan kertas yang ia temukan di balik pakaian dalam itu?
Ketika menemukan kain hitam penutup wajah itu sesungguhnya dia sudah tahu apa yang terjadi.
Semalam ia sudah mendatangi kamar Sangkoan Jin sebelumnya, tapi ia tak menemukannya di kamar.
Belum sempat ia mengambil keputusan haruskah melaporkan semua kejadian tersebut kepada Tong Ou, dirinya telah sampai di depan pintu.
Sekarang ia tak bisa berpikir lagi sebab sudah tak ada waktu untuk bersangsi lagi.
Ketika tiba di depan pintu, pasti ada orang yang akan muncul dari dalam kamar.
Dalam keadaan begini, jika dia ragu dan tidak mengetuk pintu, orang yang ada di dalam kamar pasti akan curiga.
Maka tanpa menghentikan langkahnya dia menuju ke kamar dan segera mengetuk pintu.
"Masuk!"
Terdengar Tong Koat berseru.
Cing-cing mendorong pintu berjalan masuk, pertentangan batin masih berkecamuk dalam hatinya.
Terlepas apa pun keputusan yang bakal diambil, dia tak pernah menghentikan langkahnya, ia tahu begitu masuk ke dalam kamar, Tong Ou pasti akan mengajukan banyak pertanyaan.
Bab 9.
Wajah Asli Gi Pek-bin Kabut tebal menyelimuti bumi di fajar yang baru menyingsing.
Begitu tebal kabut yang melayang di atas permukaan itu, membuat segala sesuatu yang berjarak lima kaki sudah tak terlihat jelas.
Tidak mudah melakukan perjalanan dalam cuaca seperti ini dan pasti akan banyak makan tenaga serta sangat berbahaya.
Apalagi berjalan di bukit yang curam.
Tapi Gi Pek-bin tak sependapat, dia justeru merasa jauh lebih ringan dan aman melakukan perjalanan dalam cuaca seperti ini.
Ia memang berniat meninggalkan wilayah kekuasaan Benteng Keluarga Tong secara diam-diam dan penuh rahasia, semakin sedikit orang yang melihatnya semakin baik bagi dirinya.
Apalagi dengan mengandalkan kungfu yang dimilikinya, berjalan dalam suasana begini merupakan perjalanan yang paling aman.
Dengan santai dia menelusuri jalanan bukit dan menuruni tebing perbukitan, sampai-sampai dia tak peduli langkah kakinya meninggalkan suara yang jelas.
Dia malah sama sekali tak tahu kalau ada delapan buah mata sedang mengawasi gerak-geriknya lima kaki jauhnya dari tempat ia berada.
Delapan mata milik empat orang yang semuanya mengenakan pakaian ketat berwarna hitam dan siap melancarkan serangan maut.
Hampir setiap malam hingga pagi, mereka berempat selalu berjaga-jaga di situ dengan penuh kewaspadaan.
Selama lima tahun belum pernah mereka berempat mangkir satu hari pun.
Mereka adalah pasukan inti Keluarga Tong, usianya rata-rata di atas Tong Ou.
Mereka sudah banyak mendirikan jasa sejak masih menjadi bawahan ayah Tong Ou, oleh karena itu mereka tidak perlu mendengar perintah dari Tong Ou, semua perintah langsung diperoleh dari Lo-cocong.
Selama lima tahun terakhir, secara sukarela mereka mengajukan diri untuk berjaga di situ, karena pada saat itu, keempat penjaga yang bertugas di situ mati dibunuh orang dan tak ada seorang pun yang mau ditugaskan di tempat itu.
Tempat itu merupakan jalan gunung yang amat penting, tiap orang yang meninggalkan Benteng Keluarga Tong harus melalui jalan tersebut.
Inilah jurus ampuh yang diusulkan ayah Tong Ou untuk menjaga keamanan bentengnya.
Tempat ini tak perlu dijaga di siang hari, tapi perlu diwaspadai dari tengah malam hingga menjelang fajar, karena orang-orang yang meninggalkan Benteng Keluarga Tong di tengah malam, akan tiba di situ pagi harinya.
Kecuali petugas yang mengemban tugas penting atau tugas rahasia, biasanya hanya orang-orang yang ingin kabur secara diamdiam yang meninggalkan Benteng Keluarga Tong di tengah malam buta.
Siapa saja yang ingin meninggalkan Benteng Keluarga Tong di tengah malam buta?
Kalau bukan pengkhianat, tentulah para agen rahasia atau mata-mata yang menyamar sebagai pedagang untuk mencari berita di situ.
Dan orang semacam itu pantas dilenyapkan untuk selamalamanya dari Benteng Keluarga Tong.
Oleh karena itulah harus ada jago tangguh yang bertugas menjaga di jalan ini.
Bila ada orang meninggalkan Benteng Keluarga Tong secara diam-diam atau orang yang patut dicurigai, pihak benteng akan melepaskan mercon berwarna merah.
Bila para penjaga melihat mercon merah dilepaskan, itulah tanda bahwa mereka harus meningkatkan kewaspadaan.
Semalam Tong Koat telah melepaskan sebuah mercon dengan cahaya merah.
Begitu melihat pancaran mercon merah itu, keempat jago tangguh itu segera meningkatkan kewaspadaannya dan bersiap-siap melakukan penghadangan.
Keempat orang ini adalah anak yatim piatu yang dibawa ayah Tong Ou dari daerah Sucoan dan sejak kecil sudah belajar silat di bawah bimbingan ayah Tong Ou.
Mereka diberi nama Tong Hong, Tong Bwee, Tong Bian dan Tong Sang.
Usia Tong Hong paling tua, senjata yang digunakannya adalah sebilah pedang.
Senjata rahasianya Hong-ko (Buah Waru), yaitu buah waru yang bentuknya bulat dan berduri, bila menghajar tubuh orang maka durinya akan menancap tembus hingga ke tulang.
Sebaliknya bila ditangkis dengan senjata, buah itu akan meledak dan menyemburkan cairan beracun.
Senjata Tong Bwee adalah sebilah golok bweehoa-to, di atas golok ini terdapat lima buah gelang baja yang apabila ditekan kuatkuat kelima gelang itu akan melesat ke empat penjuru.
Dari balik tiap gelang akan menyembur keluar lima buah senjata rahasia beracun yang berbentuk bunga bwee, keampuhannya luar biasa.
Senjata andalan Tong Bian adalah sepasang telapak tangan kosong, tapi dia juga secara khusus membuat sepasang sarung tangan yang terbuat dari kapas.
Jika berhadapan dengan orang biasa, dia bertarung dengan mengandalkan tangan kosong, tapi bila berhadapan dengan musuh tangguh, dia akan mengenakan sarung tangan kapasnya, di balik setiap jari sarungnya tersembunyi jarum beracun yang amat berbahaya.
Dengan menggunakan tenaga dalamnya ia bisa memancarkan jarum itu untuk melukai lawannya.
Senjata yang digunakan Tong Sang adalah tongkat Longgeepang (Tongkat Gigi Srigala) tapi di balik tiap giginya disisipkan jarum beracun.
Orang yang tak berpengalaman, bukan saja akan terluka oleh gigi senjatanya, tetapi juga terhajar jarum beracun rahasia itu.
Sudah lima tahun Tong Hong berempat bertugas di situ, entah sudah berapa banyak orang yang tewas di tangan mereka.
Pengetahuan mereka tentang daerah ini sudah amat dalam, mereka pun sudah terbiasa untuk mengamati sasarannya dari jarak sepuluh kaki jauhnya.
Tak heran kalau kemunculan Gi Pek-bin sudah sejak awal segera mereka ketahui.
Dengan cepat mereka berempat serentak bersembunyi di kedua belah sisi jalan, Tong Hong dan Tong Bian bersembunyi di sebelah kiri sementara Tong Bwee dan Tong Sang bersembunyi di sebelah kanan.
Tong Hong dan Tong Bwee berada di depan sedang Tong Bian dan Tong Sang berada di belakangnya.
Dalam pada itu Gi Pekbin masih mengikuti jalan setapak dengan santai, sama sekali dia tak menyangka kalau dari balik belukar ada empat pasang mata sedang mengawasi gerak-geriknya.
Menanti sampai Gi Pek-bin sudah berada satu kaki melewati tempat persembunyian Tong Hong berdua, saat itulah Tong Bian dan Tong Sang melompat keluar secara tiba-tiba.
Dengan sangat terkcjult Gi Pck-bin bcrbalik ke belakang dan terus maju, tapi dengan cepat dia menghentikan gerakan tubuhnya, karena ternyata Tong Hong berdua sudah muncul pula dari balik persembunyian, menghadang jalan mundurnya.
Tanpa banyak bicara dia mencabut keluar goloknya, lalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun melancarkan serangan kilat ke sisi kiri jalan.
Dia memang sengaja menyerang ke sebelah kiri karena dilihatnya Tong Sang hanya bersenjata sebuah tongkat Longgeepang, sementara Tong Bian hanya bertangan kosong.
Begitu tiba di sisi Tong Bian, golok lemasnya langsung diayunkan menyambar pinggang lawan.
Tong Bian tidak melayani serangan itu, dia mengegos ke samping lalu mundur dua langkah.
Tepat di saat Tong Bian bergerak mundur, Tong Sang mendesak dua langkah ke depan, senjata Longgee-pangnya bergerak dari kiri menuju ke kanan menghadang jalan pergi Gi Pekbin.
Menghadapi ancaman tersebut, buru-buru Gi Pek-bin melompat mundur.
Tong Hong masih belum bergerak, dia hanya berjaga-jaga tepat di tengah jalan.
Memang beginilah perjanjian mereka, bila keadaan tidak mendesak mereka tak akan main kerubut, bila musuh menggunakan golok maka yang memakai senjata golok yang bertugas menghadapi.
Ooo)))(((ooo Setiap orang yang menguasai ilmu silat, hampir semuanya memiliki keyakinan yang besar atas kemampuan kungfu sendiri.
Tentu saja Tong Bwee tidak terkecuali, malah ia memberikan sebuah nama yang istimewa bagi ilmu golok andalannya.
Tong Bwee memang tidak suka alat musik, tapi ia memberi nama ilmu goloknya mirip dengan sebuah lagu kenamaan, hanya saja lantaran di balik golok bweehoa-to nya tersimpan senjata rahasia beracun maka ia sebut ilmunya adalah Bwee-hoa-sam-ping (Tiga Petikan Bunga Bwee).
Bacokan golok yang dilancarkan Tong Bwee tadi tak lain adalah jurus kedua dari Bwee-hoa-sam-ping yang disebut Bwee-kayji-tok (Bunga Bwee Mekar Kedua Kalinya), mata golok membabat pinggang Gi Pek-bin dengan sangat cepat.
Jika musuh belum terpengaruh akan disusul dengan bacokan kedua yang jauh lebih cepat, sebelum sambaran pertama selesai.
Gi Pek-bin memiliki ilmu menyamarkan wajah nomor wahid di kolong langit, itu bukan berarti ilmu goloknya lemah.
Ketika melihat datangnya ancaman itu, dengan cepat dia menggeser golok lemasnya ke bawah, lalu dengan kecepatan tinggi membendung datangnya serangan gelombang pertama.
Tong Bwee mencabut mundur goloknya dengan segera, kembali dia membabat pinggang lawan.
Gi Pek-bin tertawa dingin, dengan gerakan yang sama-sekali tak berubah, sekali lagi ia membendung bacokan itu.
"Tranggg!"
Percikan bunga api memancar ke empat penjuru, kedua belah pihak sama-sama mundur satu langkah.
Biarpun baru bentrok satu gebrakan, siapa menang siapa kalah segera sudah ketahuan.
Tong Bwee mengerti, dia masih kalah cepat dari musuhnya, maka untuk kedua kalinya kembali ia menyerang dengan jurus "Dat-soat-Sim-bwee" (Menginjak Salju Mencari Bunga Bwee).
Menginjak salju adalah satu perbuatan yang memerlukan perhitungan matang, bila menginjakkan kaki terlalu berat, bisa jadi kaki akan terperosok.
Sebaliknya bila diinjak terlalu ringan, kita bisa tergelincir dan jatuh terpelanting, maka kapan harus memakai tenaga dan kapan tidak merupakan kunci keberhasilan melangkah.
Setengah jurus pertama dari Tong Bwee adalah Dat-soat atau Menginjak Salju, itu berarti gerak serangan goloknya harus digunakan dengan tenaga yang tepat dan ringan.
Bukan saja setiap saat harus mengintai kelemahan musuh, begitu ada kesempatan bacokannya harus mematikan.
Sedangkan setengah jurus terakhir adalah Mencari Bunga Bwee atau Sim-bwee, bunga bwee sama artinya dengan senjata rahasia, itu berarti begitu ada peluang maka dia akan merobohkan musuh dengan jarum beracunnya.
Jurus serangan dari Tong Bwee ini sangat hebat dan belum pernah gagal.
Sayang kali ini dia tak berhasil mewujudkan impiannya.
Walaupun ia telah berupaya mengurung musuhnya dengan ketat, namun golok lemas dari Gi Pek-bin seolah-olah telah menyelubungi sekujur badannya hingga tak setitik kelemahan pun yang tampak.
Dalam keadaan begini, mau tak mau Tong Bwee harus menggunakan senjata rahasianya.
Ia menyalurkan tenaga dalamnya dan dua buah gelang di atas goloknya segera terbang, disusul dengan semburan senjata rahasia beracun bweehoa-ciam ikut menyembur ke seluruh angkasa.
Dalam perkiraannya, dengan serangan yang begitu dekat dan rapat, akan sulit bagi musuhnya untuk meloloskan diri.
Siapa tahu, entah sejak kapan, tahu-tahu dalam genggaman Gi Pek-bin telah bertambah dengan sebuah kain karung goni.
Dengan sekali ayunan tangan kirinya yang cepat, seluruh jarum beracun yang menyembur itu tiba-tiba telah tergulung ke dalam karungnya.
Sadar keadaan tidak menguntungkan, Tong Hong segera membentak nyaring sambil mengayunkan tangan kirinya.
Sebutir senjata rahasia hong-ko (buah waru) melesat ke udara, langsung mengancam dada kanan Gi Pek-bin.
Dia memang sengaja menyerang dada kanan Gi Pek-bin, sebab dia tahu tangan kiri lawannya mencekal karung goni, sementara tangan kanannya memegang golok.
Orang dalam keadaan seperti ini, tanpa sadar ia akan menggunakan goloknya untuk menghadang kedatangan serangan senjata rahasia itu.
Inilah yang ditunggu-tunggu Tong Hong, sebab bila senjata rahasianya ditangkis, benda itu segera akan meledak dan menyemburkan cairan beracun.
Ternyata perhitungan Tong Hong sangat tepat, Gi Pek-bin menggunakan goloknya untuk menangkis datangnya serangan senjata rahasia itu.
Melihat ujung golok musuh segera akan membentur senjata rahasianya, tanpa sadar Tong Hong berempat kegirangan, bahkan sekulum senyuman girang sempat terlintas di wajah Tong Bwee.
Begitu melihat senyuman itu, Gi Pek-bin segera sadar bahwa keadaan tidak menguntungkan baginya, buru-buru dia getarkan goloknya ke samping lalu ditariknya dengan mendadak.
Setelah itu sambil mengerahkan hawa murninya ia membuat satu gerakan setengah busur, dia memaksa senjata rahasia itu memperlambat gerak luncurnya dan kemudian rontok ke tanah.
Pada saat itulah Gi Pek-bin mengayunkan karung goninya dan menyambar senjata rahasia hong-ko itu.
Paras Tong Bwee dan Tong Hong berubah hebat, sementara Tong Bian dan Tong Siang yang berdiri di belakang Gi Pek-bin segera sadar kalau serangan saudaranya gagal total.
Dengan segera mereka menerjang ke depan sambil mengancam.
Tong Bian secara beruntun melepaskan empat buah pukulan berantai, angin serangan yang menderu-deru memekakkan telinga dan perbawanya benar-benar luar biasa.
Sementara Tong Siang dengan senjata tongkat gigi srigalanya membacok tengkuk lawan.
Pedang Tong Hong dan golok Tong Bwee tidak tinggal diam, mereka ikut meluruk ke depan sambil menyerang tubuh Gi Pek-bin.
Dalam keadaan begini mereka berempat sudah tidak peduli dengan aturan dunia persilatan, yang terpikir hanya bagaimana merobohkan musuh secepat mungkin.
Bila satu orang tak sanggup maka dua orang akan maju, bila dua orang tak sanggup, mereka berempat akan maju bersama.
Bisa dibayangkan betapa dahsyat dan gencarnya serangan keempat orang itu.
Dalam keadaan seperti ini, Gi Pek-bin hanya mampu menangkis sambil mempertahankan diri.
Lebih kurang seminuman teh kemudian, tiba-tiba Gi Pek-bin membentak nyaring.
"Berhenti!"
Keempat orang jago itu segera menghentikan serangan, tapi mereka tetap mengawasi Gi Pek-bin dengan penuh kewaspadaan.
Gi Pek-bin sadar, kemampuannya belum sanggup untuk mengalahkan mereka berempat, maka sambil menurunkan goloknya dia menegur ke arah Tong Hong.
"Sebenarnya apa maumu?"
"Kami minta kau segera balik ke Benteng Keluarga Tong!"
"Kenapa?"
"Tidak ada apa-apa, kami hanya ditugaskan untuk menahan siapa saja yang meninggalkan Benteng Keluarga Tong di tengah malam buta dan membawanya balik ke markas."
"Untuk diinterogasi?"
"Kalau soal itu sih tergantung tingkat kerjasamamu!"
Tong Hong tertawa.
Gi Pek-bin tidak bicara lagi, dia selipkan kembali goloknya di pinggang lalu sambil memberi tanda dengan tangan kirinya dia bergegas meninggalkan tempat itu.
Tong Hong berempat segera menyingkir ke samping memberi jalan, tapi begitu Gi Pek-bin berlalu, mereka berempat pun segera mengintil dari belakang.
Ooo)))(((ooo Ketika Gi Pek-bin digelandang balik ke Benteng Keluarga T( >ng, waktu itu Cing-cing sedang membuka pintu sambil berjalan masuk ke dalam ruangan.
Begitu melihat kemunculan perempuan itu, Tong Koat segera menegur.
"Kau berhasil menemukan sesuatu?"
"Tidak!"
Cing-cing menggeleng.
"Apakah kemampuan Sangkoan Jin memang hebat?"
Sela Tong Hoa tiba-tiba.
"Yaa, dia kuat sekali, tak beda dengan anak muda..."
Sekulum senyuman sesat segera tersungging di ujung bibir Tong Hoa dan Tong Koat, sebaliknya paras muka Tong Ou sama sekali tak berubah.
"Kalau begitu pergilah beristirahat,"
Perintah Tong Koat sambil mengulapkan tangannya.
"bila menemukan sesuatu segera lapor kemari."
Cing-cing mengiakan sambil berlalu.
Dia berjalan sangat lamban, ketika membuka pintu ia nampak agak sangsi sejenak tapi kemudian berlalu tanpa berpaling lagi.
Dia memang tak tega mengkhianati Sangkoan Jin, sebab ia sadar bila apa yang ia temukan dilaporkan kepada Tong Koat, Sangkoan Jin bakal mengalami nasib yang mengerikan.
Bagi ia sendiri, ini sama artinya dengan kehilangan kesempatan untuk bertemu, bergaul dan menikmati kegembiraan bersama Sangkoan Jin.
Bagaimanapun dia masih merasa berat untuk kehilangan kenikmatan hidup seperti ini, maka ia terpaksa harus membohongi Tong Koat.
Tapi ada satu hal yang dia tak ketahui, ia tidak tahu kalau Gi Pek-bin telah tertangkap dan sedang digelandang ke markas.
Seandainya Gi Pek-bin sampai buka suara dan mengakui semua tujuan kedatangannya ke Benteng Keluarga Tong, maka Cing-cing pun akan terancam hukuman mati karena kebohongannya.
Tentu saja semua itu baru akan terjadi bila Gi Pek-bin mengambil keputusan yang salah sewaktu bertemu dengan Tong Ou nanti.
Ooo)))(((ooo Cing-cing memang tidak mengetahui rahasia ini, namun Tong Ou sekalian sedang merasa amat gembira karena orang yang berada di hadapan mereka sekarang tak lain adalah Gi Pek-bin yang berhasil digelandang balik.
Paras muka Gi Pek-bin sangat hambar nyaris tanpa perasaan, sikap hambar semacam ini segera menimbulkan kecurigaan Tong Ou, jangan-jangan wajah yang berada di hadapannya kini juga wajah palsu?
Tapi ia merasa persoalan itu tidak penting, yang paling penting saat ini adalah mencari tahu apa maksud dan tujuan kedatangannya ke Benteng Keluarga Tong.
Belum sempat Tong Ou buka suara, Gi Pek-bin sudah bicara lebih duluan, ujarnya.
"Tentunya kalian ingin tahu kenapa aku datang ke Benteng Keluarga Tong bukan?"
"Pintar amat orang ini,"
Batin Tong Ou.
"kelihatannya aku tak perlu membuang banyak waktu untuk menanyainya, hanya saja yang menjadi masalah sekarang adalah jujurkah setiap jawabannya?"
Melihat orang-orang itu mengangguk, Gi Pek-bin bicara lebih lanjut.
"Bila kujawab kedatanganku hanya untuk berniaga, tentunya kalian tak bakal percaya bukan?"
Tentu saja! Semua orang kembali manggut-manggut.
"Lantas apa yang kalian harapkan? Kalian berharap apa yang sedang kulakukan di sini?"
Kembali Gi Pek-bin bertanya.
"Lihay amat orang ini,"
Pikir Tong Ou. Dia tidak menjawab, sinar matanya dialihkan ke wajah Tong Koat. Begitu bertemu dengan sinar mata toakonya, Tong Koat segera mengerti maksud Tong Ou, maka ujarnya.
"Tentu saja kami berharap kedatanganmu benar-benar untuk berniaga, tapi kau tidak bukan?"
"Tepat sekali!"
"Jadi kau datang mencari seseorang?"
"Benar!"
"Siapa?"
"Sangkoan Jin!"
Seketika suasana berubah jadi serius dan berat.
Memang inilah jawaban yang diharapkan Tong Ou sekalian, tapi mereka tak menyangka diutarakan secepat itu dari mulut Gi Pek-bin, kenyataan ini mengagetkan mereka.
Tong Koat mulai merangkum semua keterangan yang telah diperolehnya hingga kini.
Kalau memang kedatangan Gi Pek-bin untuk mencari Sangkoan Jin, kenapa tidak berusaha untuk berbohong?
Kenapa Cihg-cing bisa tak mengetahui persoalan ini?
Apakah karena kelihayan Sangkoan Jin menyembunyikan semua jalan pikiran dan tingkah-lakunya?
Atau justru Cing-cing yang telah mengelabuhi mereka?
Kalau benar perempuan itu berbohong, kenapa ia mesti membohongi mereka?
Tong Koat tidak berpikir lebih lanjut, karena Tong Ou telah menegur lebih dulu.
"Kenapa kau datang mencarinya?"
"Karena ada urusan."
"Urusan apa?"
"Urusan pribadi."
"Urusan pribadi?"
"Benar!"
"Aku rasa belum tentu begitu,"
Tukas Tong Koat tiba-tiba.
"menurut hasil penyelidikanku, sejak datang kemari kau tak pernah berbicara sepatahkata pun dengan Sangkoan Jin."
"Tanpa bicara pun kami dapat berhubungan."
"Ooh, tentu saja bisa,"
Tong Koat mengangguk.
"tapi biasanya, hubungan itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi!"
"Benar, memang itulah rahasia kami. Masa kalian ingin tahu rahasia itu? "Benar, kami ingin tahu,"kata Tong Ou.
"Kalau aku tak ingin bicara?"
"Terserah,"
Kata Tong Koat.
"cuma aku perlu memperingatkan lebih dulu, kami dari Keluarga Tong memiliki sejumlah obat beracun yang dapat membuat orang lemas, kegatalan dan kehilangan kekuatan."
Gi Pek-bin hanya mengawasi Tong Koat tanpa bicara, tampaknya ia sedang memikirkan sesuatu, namun pada wajahnya sama sekali tak nampak ada perubahan.
Kini Tong Ou sudah yakin, Gi Pek-bin pasti telah mengenakan selembar kulit manusia untuk menutupi wajah aslinya.
Seperti apakah wajah aslinya?
Tong Ou tidak ingin tahu, yang ingin diketahui olehnya saat ini hanya tujuan sebenarnya atas kedatangannya mencari Sangkoan Jin.
Lama sekali Gi Pek-bin mengawasi wajah Tong Koat tanpa berkedip, sepeminuman teh kemudian barulah ia membuka suara, katanya.
"Padahal... bicara terus-terang pun tak masalah, aku hanya merasa bersalah kepada Sangkoan Jin."
"Merasa bersalah kepada seseorang? Itu sih cuma perasaan!"
Jengek Tong Koat sambil tertawa dingin.
"kalau sampai kena dicekoki racun hingga sekujur badan kesemutan dan gatalgatal, itu baru siksaan yang sesungguhnya. Apalagi kalau sampai nyawa berada di ujung tanduk, salah kepada orang jadi masalah yang sama sekali tak berarti!"
Ancaman itu jelas disampaikan untuk menakut-nakutinya, tapi tak seorang pun dapat melihat apakah Gi Pek-bin berhasil dibikin ketakutan atau tidak.
Wajahnya tetap dingin, hambar dan tidak menunjukkan perubahan sedikit pun.
"Manusia punya nama, pohon punya bayangan, aku memang tahu senjata rahasia beracun dari Benteng Keluarga Tong merupakan kepandaian nomor wahid di kolong langit,"
Kata Gi Pekbin kemudian. Tong Koat mendengus.
"Hmm, kalau sudah tahu, aku pun tak usah menjabarkan lebih jauh..."
"Ya, aku bukan hanya pernah mendengar, aku bahkan pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri."
"Oh ya?"
Paras muka Gi Pek-bin berkerut kencang, mungkin dia sedang tertawa.
Lalu dia mengulurkan tangannya ke belakang tengkuk, kemudian menariknya kuat-kuat, selembar kulit manusia segera terlepas dari wajahnya.
Tong Ou, Tong Koat maupun Tong Hoa segera berseru tertahan, mereka kaget sekali, mereka menatap wajah asli Gi Pek-bin dengan mata melotot dan mulut melongo.
Wajah yang tampil di hadapan mereka sekarang adalah selembar wajah penuh bekas luka bakar, nyaris tak ada daging yang tersisa di situ.
Semuanya bergumpal menjadi kulit yang penuh kerutan.
Begitu buruk dan jeleknya muka itu, tak heran kalau membuat siapa saja yang melihatnya jadi terperanjat.
Tapi bukan wajah jelek itu yang membuat mereka terperanjat, walaupun muka itu penuh bekas luka bakar, penuh kerutan dan parutan yang memuakkan, namun dalam sekilas pandang saja mereka segera mengenali orang itu.
Dia adalah Tong Sip-jit.
Ya, dia adalah Tong Sip-jit dari Benteng Keluarga Tong yang dikabarkan telah tewas secara mengenaskan.
Tewas dalam sebuah kebakaran hebat yang terjadi pada tujuh tahun berselang.
Dalam kebakaran dahsyat itu, entah pihak Tayhong po berhasil menyuap siapa, nyatanya mereka berhasil mendapat tahu bahwa orang-orang benteng Tayhong-po yang berhasil disuap Benteng Keluarga Tong sedang berpesta-pora malam itu.
Arak yang dihidangkan mereka campuri obat pemabuk, kemudian melepaskan api untuk membakar semua yang ada di situ...
Walapun tujuh tahun telah berlalu, namun luka yang sangat mendalam ini masih membekas dalam hati setiap tokoh, setiap pentolan Benteng Keluarga Tong.
Dalam peristiwa itu pihak Keluarga Tong telah kehilangan tigapuluh delapan orang.
Bahkan hingga kini mereka masih belum tahu, dengan cara apa pihak Tayhong-po bisa tahu kalau mereka sedang berpesta-pora malam itu.
Mereka juga tidak tahu siapa yang berhasil disuap benteng Tayhong-po dan membocorkan rahasia itu.
Dan sekarang, Tong Sip-jit yang dikira sudah tewas pada tujuh tahun berselang ternyata muncul kembali dalam keadaan hidup, bagaimana mungkin Tong Ou tidak terbelalak dibuatnya?
Lama sekali Tong Koat mengawasi wajah orang itu, kemudian dengan nada setengah percaya ia menegur.
"Tong Sipjit?"
Orang itu mengangguk.
"Kau belum mati?"
Kembali tegurnya.
Mana ada orang mati bisa berdiri di situ?
Tentu saja mustahil.
Tapi kemunculan Tong Sip-jit sama sekali di luar dugaan, sedemikian di luar dugaannya sehingga Tong Koat sekalian tak berani mempercayai dengan begitu saja.
Akan tetapi, kenyataan tetap kenyataan.
Tong Ou tidak berkata apa-apa, dia menghampiri Tong Sipjit lalu mulai meraba seluruh muka yang penuh keriput itu.
Ternyata kerutan itu asli, kulit wajah asli, bukan topeng kulit manusia.
Setiap guratan, setiap kerutan, semuanya asli.
Dari perubahan mimik muka Tong Ou, Tong Hoa segera tahu kalau orang yang berada di hadapannya memang Tong Sip-jit yang sesungguhnya, maka tak tahan ia bertanya.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi?"
Dengan pedih Tong Sip-jit tertawa dingin.
"Panjang ceritanya..."
Dia mulai mengisahkan pengalaman hebat yang dialaminya tujuh tahun berselang itu.
Karena minum arak yang telah dicampuri obat pemabuk, begitu kebakaran terjadi dia tersentak hingga jatuh tak sadarkan diri.
Sebelum j atuh pingsan, ia sempat melihat keadaan rekan-rekannya yang hampir serupa, sama sekali tak mampu berkutik.
Ia sadar bahwa rekan-rekan yang lain pun mengalami nasib yang sama.
Ketika ia sadar kembali dari pingsannya, ia mengira dirinya telah berada dalam neraka.
Tapi begitu membuka mata, ia mendapatkan bahwa di sekelilingnya ada bangku yang terbuat dari bambu, jendela bambu dan pintu bambu.
Baru ia sadar, dirinya masih hidup di alam nyata.
Kemudian dia pun mulai merasakan kulit wajahnya yang sakit sekali, sedemikian sakitnya sampai ia merintih kesakitan.
Tibatiba dia mendengar pintu bambu didorong orang dan tampak seorang nenek berjalan menghampirinya.
Sebelum nenek itu berjalan mendekat, ia sudah jatuh tak sadarkan diri kembali saking kesakitannya.
Seingatnya, ia kadang pingsan kadang sadar berkali-kali.
Setiap sadar kembali dia akan merintih penuh penderitaan, tiap kali dia merintih pasti ada orang yang muncul di ruangan itu untuk menjenguknya.
Anehnya, orang yang muncul ke dalam ruangan itu selalu orang yang berbeda, dari si bongkok sampai si bisulan, dari pemuda ganteng sampai nenek peyot, dari gadis cantik yang menawan bagai bidadari hingga kakek tua yang penuh keriput.
Ia tidak ingat jelas sudah berapa kali dirinya jatuh pingsan, dia pun tak tahu sudah berapa banyak orang yang dijumpainya.
Tatkala kesadarannya benar-benar telah pulih kembali, orang yang dijumpai adalah seorang lelaki setengah umur.
Ketika melihat ia sadar kembali, sambil tersenyum pria setengah umur itu berkata.
"Jangan kuatir, kondisimu saat ini sudah tidak berbeda dengan orang waras lainnya!"
Ia tahu lelaki setengah umur inilah yang telah menolong dia, atau paling tidak, keluarga orang inilah yang telah menyelamatkan jiwanya.
Ingin sekali ia bangkit berdiri untuk menyatakan rasa terima kasihnya, sayang tak sedikit pun tenaga dimilikinya.
Biarpun mulutnya terbuka, namun tak sepotong suara yang keluar.
Lelaki setengah umur itu segera menahan bahunya agar dia tidak bangkit, kemudian meneruskan.
"Kau perlu beristirahat tiga hari lagi sebelum punya tenaga untuk berbicara. Sekarang berbaringlah dulu untuk istirahat, dalam tiga hari ini kau tetap akan sadar sepenuhnya, namun badanmu belum dapat bergerak. Ya, memang akan terasa sedikit menyiksa!"
Habis berkata, lelaki setengah umur itu pun berlalu dari situ.
Tiga hari berikut, kecuali sedang tertidur, benar saja ia sadar seratus persen.
Ia dapat melihat, mendengar dan merasakan segala sesuatu, namun tak sedikit pun tenaga bisa digunakan.
Ia sempat menjumpai seorang gadis yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan datang merawatnya, menyuapi bubur untuknya.
Ia pun melihat ada seorang lelaki setengah umur yang berdandan pelayan datang menggantikan pakaiannya dan membersihkan seluruh tubuhnya dengan kain basah.
Ia berjumpa dengan setiap orang yang pernah dijumpainya sewaktu masih setengah sadar tempo hari.
Anehnya orang-orang itu selalu muncul seorang diri, tidak pernah mereka muncul berduaan.
Bahkan munculnya juga selalu bergiliran.
Pada pagi hari ketiga, ketika ia membuka matanya kembali, sadarlah dia bahwa selembar nyawanya berhasil diselamatkan dari pintu neraka.
Ia dapat merasakan seluruh kekuatan tubuhnya telah pulih kembali dan ia mencoba bangkit untuk memeriksa tangan dan kakinya.
Seketika perasaan heran menyelimuti hatinya.
Aneh, kenapa tak setitik luka pun yang dijumpai baik di lengan maupun di kakinya?
Ia mencoba untuk meraba wajahnya sendiri, sebab sesaat sebelum pingsan sewaktu terjadi kebakaran itu, yang sempat dirasakannya adalah wajah yang terbakar kobaran api.
Begitu meraba, dia amat terperanjat, ternyata tangannya tidak menyentuh kulit yang tebal dan kasar, melainkan selembar kulit muka yang halus sekali.
Ia duduk terkesima dan menjerit tertahan saking kaget dan ngerinya.
Saat itulah pintu kembali terbuka, lelaki setengah umur yang dijumpai tiga hari berselang muncul kembali sambil menghibur.
"Kau tak usah takut, biarpun wajahmu terluka bakar, namun setelah bertemu dengan aku, Jian-jiu-sin-ih (Tabib Sakti Bertangan Seribu), kulit wajahmu yang terbakar itu pasti akan sembuh seperti sedia kala. Tentu saja setelah kulit yang baru tumbuh kembali, akan ada bekas-bekas kerutan yang membuat permukaan kulitmu tidak rata. Memang sedikit jelek, tapi apa salahnya? Bukankah selembar nyawamu jauh lebih penting daripada tampang yang jelek?"
Tong Sip-jit segera melompat turun dari pembaringan dan menjatuhkan diri berlutut serta menyembah berulangkali sambil berseru.
"Terima kasih atas pertolongan ini..."
"Bagus, bagus sekali."
Tabib Sakti Bertangan Seribu tersenyum sambil manggut-manggut, kemudian tak berbicara apaapa lagi.
"Bolehkah aku tahu nama In-jin (tuan penolong)?"
Kembali Tong Sip-jit bertanya.
"Tabib Sakti Bertangan Seribu Yo Si-heng!"
"Ooh, rupanya Yo-injin!"
Seru Tong Sip-jit, sementara dalam hatinya ia berpikir.
"Aneh benar, ilmu tabib yang dimiliki Tabib Sakti Bertangan Seribu ini sangat tinggi, kenapa aku tidak pernah mendengar nama besar-nya? "Kenapa?"
Tegur tabib sakti tiba-tiba.
"kau heran bukan? Mengapa sebelumnya tak pernah mendengar nama julukanku ini?"
"Tidak berani, tidak berani..."
"Bangun dan duduk kembali di ranjangmu,"
Kembali Yo Siheng berkata sambil tertawa.
"sekarang kondisi tubuhmu belum pulih kembali, masih butuh banyak istirahat!"
Setelah mengucapkan terima kasih, Tong Sip-jit kembali ke atas pembaringannya. Setelah termenung sesaat dan menatap wajah Tong Sip-jit berapa saat, Yo Si-heng baru berkata lagi.
"Selama ini aku hidup mengasingkan diri, jauh dari keramaian dunia, jauh dari nama dan keuntungan pribadi. Aku selalu berusaha menyelamatkan mereka yang nyaris terbunuh di tangan musuh besarnya. Tahukah kau kenapa aku berbuat begini?"
Tong Sip-jit tidak menjawab, dia hanya mengawasi tabib sakti itu sambil menggeleng.
"Karena ayahku telah memilihkan nama yang sangat baik untukku, yakni 'Si-heng'. Tinggalkan segala kebencian di dalam dunia. Ketika aku berhasil menyelamatkan orang dari kematian, tahukah kau apa yang tersisa dalam hati dan pikiran orang-orang itu? Dalam hati mereka pasti timbul 'si-heng', sisa-sisa kebencian. Mereka pasti ingin mencari musuh besarnya dan berusaha membalas dendam..."
Tong Sip-jit tidak berkata apa-apa, rasa heran makin mencekam hatinya.
"Aneh, mana ada orang yang bertujuan menyisakan rasa kebencian di saat selamatkan orang lain?"
Demikian ia berpikir. Menyaksikan perubahan mimik muka Tong Sip-jit, sambil tertawa Yo Si -heng kembali berkata.
"Kau jangan salah mengartikan maksudku, bukankah sudah kukatakan. Tinggalkan sisa kebencian di dunia ini?"
Tong Sip-jit manggut-manggut. Kembali Yo Si-heng berkata.
"Setelah kuselamatkan dirimu dari amukan api di gedung Tayhong-tong, tentu saja kau masih menaruh perasaan dendam terhadap orang-orang Tayhong-tong bukan?"
Sekali lagi Tong Sip-jit mengangguk.
"Kau tahu apa artinya tinggalkan segala kebencian di alam dunia?"
Desak Yo Si-heng lebih jauh sambil tertawa.
"Tidak terlalu jelas, karena aku memang tak banyak membaca buku."
"Kalau begitu kujelaskan sekarang, aku meminta kau untuk meninggalkan semua kebencianmu di alam dunia ini saja. Lepaskan niatmu untuk membalas dendam."
Kali ini Tong Sip-jit bukan tercengang, tetapi amat terperanjat, dia masih agak bingung oleh perkataan Yo Si-heng.
"Setiap kali berhasil menyelamatkan seseorang,"
Kembali Yo Si-heng berkata.
"kecuali kuselamatkan nyawanya, aku pun akan berusaha menyelamatkan jiwanya. Aku ingin menghilangkan semua benci dan dendam yang berkecamuk dalam perasaannya."
Kata-kata terakhir Yo Si-heng ini diucapkan amat lambat, sepatah demi sepatah. Kemudian dia menambahkan.
"Termasuk juga dirimu!"
Sekarang Tong Sip-jit baru memahami maksud orang itu.
Rupanya selain menyelamatkan nyawanya, Yo Si-heng juga ingin memusnahkan segala perasaan benci, sakit hati dan dendamnya terhadap pihak Tayhong-tong.
Tapi mungkinkah?
Orang-orang Tayhong-tong telah membakarnya hingga begitu rupa, membuat tubuhnya menderita, membuat wajahnya jelek.
Bisakah dia menghilangkan semua rasa benci dan dendamnya?
Dalam pada itu Yo Si-heng masih mengawasi terus wajahnya tanpa berkedip, agaknya ia dapat memahami apa yang sedang dipikirkannya.
Belum sempat Tong Sip-jit mengucapkan sesuatu, si Tabib Sakti sudah melanjutkan.
"Jika aku tidak menolongmu sekarang kau sudah mati, mungkinkah masih ada rasa benci dan dendam di hatimu? Sebab itu kau seharusnya menganggap dirimu sebagai seorang bayi yang baru lahir, mulai belajar segala sesuatunya dari awal. Apalagi jika kau hidup di tengah gunung yang berkawan pepohonan dan mega, tidak ada tempat bagi dendam atau benci di tempat ini. Maka cobalah belajar menjadi seorang manusia baru, manusia baru yang tak punya rasa benci, sakit hati serta dendam kesumat!"
Dengan mata terbelalak lebar Tong Sip-jit mengawasi orang aneh itu, untuk sesaat dia tak tahu apa yang mesti dikatakannya.
Selesai mengucapkan pesannya, Yo Si-heng segera bangkit berdiri dan tambahnya kepada Tong Sip-jit.
"Coba kau pertimbangkan baik-baik kata-kataku itu."
Lalu ia pergi meninggalkan tempat itu.
Tong Sip-jit berdiri terbelalak sampai setengah harian lamanya sebelum pulih kembali kesadarannya.
Sesudah sadar ia buru-buru lari ke pintu bambu, membukanya dan melongok ke luar.
Namun di luar sana tak nampak sesosok bayangan manusia pun, yang terlihat hanya pohon bambu yang berjajar rapi.
Di antara goyangan daun bambu yang gemulai tampak sebuah jalan kecil yang meliuk-liuk menembus kaki langit.
Tong Sip-jit ragu sesaat sebelum akhirnya dia menelusuri jalan kecil itu.
Tapi baru dua langkah, seorang gadis telah muncul menyongsong kedatangannya.
Tong Sip-jit mengenali gadis itu sebagai nona cantik yang merawat dirinya.
Buru-buru dia maju menghampiri.
Belum lagi kata terima kasih meluncur keluar, nona cantik itu dengan wajah cemberut telah menukas lebih dulu.
"Kembalilah ke kamarmu dan pertimbangkan kembali nasehat tadi!"
Habis berkata dia membalikkan badan dan berlalu.
Sekali lagi Tong Sip-jit berdiri terbelalak dengan wajah bingung, dia tak tahu apa yang harus diperbuat.
Yo Si-heng memintanya untuk mempertimbangkan, jelas yang dia maksud adalah melupakan semua dendam dan sakit hati.
Tapi apa pula yang diminta si nona ini sekarang?
Apakah dia pun memintanya untuk mempertimbangkan agar melupakan semua dendam dan sakit hatinya?
Mengapa mereka semua mendesaknya agar mempertimbangkan kembali masalah tersebut?
Padahal semuanya sudah jelas, apa lagi yang perlu dipertimbangkan?
Masalah dendam dan sakit hati adalah masalah besar, mungkinkah dihapus dengan begitu saja?
Setelah berdiri termangu berapa saat lamanya, kembali Tong Sip jit melanjutkan perjalanannya ke depan.
Baru berapa langkah, lagi-lagi muncul seorang nenek berambut putih yang menghadang jalannya.
Kejadian aneh kembali berlangsung.
Sementara dia menyongsong kedatangan si nenek dengan berbagai pertanyaan, seperti halnya dengan gadis cantik itu, si nenek pun berkata kepadanya dengan wajah tanpa perasaan.
"Baliklah ke kamarmu dan pertimbangkan dulu masak-masak sebelum pergi dari sini."
Kali ini Tong Sip-jit termangu lebih lama lagi.
Dia betul-betul dibikin kebingungan, dia tak tahu permainan apa yang sebenarnya yang sedang dipersiapkan Tabib Sakti Bertangan Seribu ini.
Ia memutuskan untuk tidak berjalan lebih jauh dan balik ke dalam kamarnya.
Sekembalinya ke ruangan, dia duduk termenung di jendela sambil mengawasi hembusan angin yang menggoyang ranting bambu.
Pikirnya.
"Bila kondisi badanku betul-betul sudah sehat, benarkah aku mesti melupakan semua dendam dan sakit hati? Perlukah aku datang ke Tayhong-tong untuk membuat perhitungan?"
Hari makin larut malam, dia masih duduk mematung di depan jendela sambil masih memikirkan persoalan yang sama.
Ketika seorang pembantu setengah umur datang menghantar hidangan malam, orang itu sama sekali tidak menyapanya.
Setelah meletakkan hidangan di meja, ia berlalu begitu saja.
Selesai bersantap, dia merasa sangat lelah maka tak lama kemudian sudah jatuh tidur sangat nyenyak.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, si Tabib Sakti Bertangan Seribu telah muncul di kamarnya dan menegurnya sambil tertawa.
"Apakah kau sudah mulai memikirkan masalah balas dendam?"
Tong Sip-jit membenarkan.
"Bagus sekali,"
Kata si tabib.
"daripada duduk melamun sementara lukamu butuh waktu berapa bulan lagi untuk sembuh sepenuhnya, lebih baik kau belajar sedikit kepandaian dariku."
Tawaran ini tentu saja disambut Tong Sip-jit dengan suka cita. Dia mengira Yo Si-heng akan mengajarkan ilmu ketabiban kepadanya. Di luar dugaannya, ternyata yang diajarkan adalah ilmu merubah wajah.
"Kau tidak menyangka bukan?"
Kata Yo Si-heng kemudian setelah melihat Sip jit tercengang.
"Selama ini kau pasti tak habis mengerti mengapa dengan ilmu ketabibanku yang begitu hebat, tak seorang pun di dunia persilatan yang mengenal aku? Ha ha ha... sebenarnya hal ini bukan hal yang aneh, aku tidak dikenal orang karena aku mengandalkan ilmu merubah wajah. Tiap kali menyelamatkan jiwa seseorang, aku selalu tampil berbeda, wajah dan penampilan yang berbeda. Selain itu semua harus menjanjikan satu hal padaku, yaitu tidak akan membuka rahasiaku dalam dunia persilatan. Tidak terkecuali kau! Tentunya kau tidak keberatan bukan?"
Tong Sip-jit tak punya alasan untuk menampik permintaan itu.
Sejak itu dia mempelajari ilmu menyaru wajah dari Yo Si-heng.
Kadang dia berjalan menelusuri jalan setapak untuk menghirup udara segar, tapi setiap kali tak pernah bisa melampaui tiga ratus langkah.
Setiap kali mendekati tempat itu ia pasti akan bertemu seseorang, entah seorang gadis atau nenek dan pertanyaan yang diajukan tak pernah berbeda.
'Apakah pikiranmu sudah terbuka?' Setiap kali mendapat pertanyaan itu, ia selalu kembali berbalik ke dalam rumah karena pikirannya memang belum terbuka.
Tetap saja tidak ada alasan baginya untuk memaafkan perbuatan biadab orang-orang Tayhong-tong itu.
Hari berlalu tanpa terasa, sudah seratus hari lebih ia berdiam di daerah perbukitan itu.
Tibatiba saja, pada suatu hari, pikirannya benar-benar terbuka.
Yang membuat jalan pikirannya terbuka bukanlah urusan balas dendam atau sakit hati.
Dia sadar bahwa andaikan dirinya masih berada di Tayhong-tong, mungkinkah baginya untuk lolos dari situ dengan selamat?
Maka ketika ia berjalan santai sepanjang jalan setapak dan bertemu dengan gadis yang bertanya kepadanya.
"Apakah pikiranmu sudah terbuka?"
Dia pun segera menjawab.
"Ya, pikiranku sudah terbuka!"
Untuk pertama kalinya ia menyaksikan sekulum senyuman manis menghiasi ujung bibir gadis itu, sebuah senyum yang sangat indah.
Ketika gadis itu memberi tanda padanya agar ia segera balik ke dalam rumah, dengan sangat penurut dia berjalan balik.
Tidak seperti biasanya, kali ini si nona mengikuti di belakangnya.
Sampai ke kamar, si nona kembali bertanya.
"Pernahkah kau merasa heran atas semua kejadian di sini?"
"Tentu saja,"
Jawab Tong Sip-jit.
"kenapa kau selalu menghalangi perjalananku setiap kali aku tiba di jalan setapak itu?"
"Hanya masalah itu saja?"
Si nona balik bertanya sambil tertawa.
"Memangnya masih ada yang lain?"
Tong Sip-jit balik bertanya.
"Tentu saja masih ada."
"Oh ya?"
Tong Sip-jit mencoba untuk mengingat. Tapi kembali dia menggeleng.
"Tak terpikir olehku masalah apa lagi yang aneh di tempat ini..."
"Benar-benar tak terpikir? Kau tidak merasa bahwa orang yang kau jumpai selama ini kecuali Yo sianseng, tidak ada orang lain yang pernah menjengukmu? Benarkah kau tidak merasa aneh?"
"Ah benar, benar, benar sekali!"
Seakan baru sadar Tong Sip-jit berseru.
"Hal ini memang aneh sekali. Seperti si nenek, misalnya, dia hanya pernah mengunjungi aku satu kali yaitu ketika aku setengah sadar. Setelah itu dia tidak pernah menampilkan diri lagi, kenapa bisa begitu?"
"Tidak ada apa-apa. Tiap kali kami datang menjengukmu, kau tak pernah merasakan kehadiran kami."
Jawaban ini langsung membuat sekujur badan Tong Sip-jit merinding.
Ilmu silat yang dia miliki cukup tangguh, kenapa sewaktu tertidur dia sama sekali tidak sadar akan kehadiran orang lain?
Apalagi dari nada bicara gadis itu, tampaknya mereka sering datang menjenguk.
Kejadian seperti ini jelas merupakan sesuatu yang sangat menakutkan!
"Kau merasa takut?"
Pertanyaan si nona ini terdengar menyeramkan meski disampaikan dengan nada yang lembut dan halus.
Tak bisa ditahan, sekali lagi Tong Sip-jit merasakan bulu kuduknya pada tegak.
Melihat wajahnya itu, si nona tak kuasa lagi menahan diri.
Ia mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak, suaranya keras, nyaring dan penuh tenaga, sama sekali tidak mirip suara seorang nona, bahkan jauh lebih mirip suara kasar seorang lelaki.
"Sama sekali tidak ada yang aneh atau menakutkan,"
Kembali si nona berkata setelah tergelak berapa saat.
"Semua memang tidak kau rasakan, tapi sebenarnya semua kau saksikan jelas-jelas!"
Tong Sip-jit menjadi tertegun. Apa maksud kata-kata nona itu? Tapi tak lama kemudian ia segera menyadari yang dimaksudkan, ia sadar dan berteriak keras-keras.
"Aku tahu, satu saat pikiranmu pasti akan terbuka,"
Kata si nona sambil menarik sesuatu dari belakang kepalanya.
Selembar kulit manusia segera terlepas dari wajahnya.
Kini yang muncul di hadapan Tong Sip-jit adalah seorang nenek tua.
Ketika si nenek kembali melakukan hal yang sama, melepas selembar kulit manusia dari wajahnya,ia berubah menjadi seorang pelayan setengah umur.
Ketika selembar lagi kulit manusia dikelupas, barulah tampil wajah Yo Si-heng yang sebenarnya.
Dengan sendirinya timbul rasa hormat Tong Sip-jit terhadap Yo Si-heng, sebab ketika ia menyaru sebagai seorang nona, orang itu pernah merawat dan mengurus seluruh keperluan sehari-harinya, terlebih ketika ia sedang dalam keadaan tak sadar.
Selain rasa hormat, dia pun merasa amat kagum, sebab tidak setiap orang bisa mengenakan tiga lembar topeng kulit manusia sekaligus tanpa ketahuan ada celanya.
Namun di luar semua itu, dia pun merasa amat bersyukur karena mendapat kesempatan untuk mempelajari ilmu maha sakti ini.
Setelah menatap Tong Sip-jit sejenak, ujar Yo Si-heng.
"Aku sangat gembira karena kau bisa berpikir lebih terbuka, memahami bahwa balas dendam tak ada gunanya. Dengan saling membenci, kapan urusan baru bisa selesai? Andaikan kau bisa membalas sakit hatimu, apakah orang lain tidak bisa mencarimu untuk membalas? Saling balas bisa berlangsung turun temurun tak ada habisnya, daripada urusan berlarut-larut sampai entah berapa keturunan, kenapa tidak diputus saja mata rantainya sekarang?"
Tong Sip-jit tidak mengucap apa pun, dia hanya mendengarkan nasehat itu dengan seksama. Kembali Yo Si-heng berkata.
"Kini pikiranmu sudah terbuka, aku merasa bersyukur berbareng gembira!"
Ia meletakkan semua kulit manusia yang dilepas dari wajahnya tadi ke atas meja, lalu dari sakunya mengeluarkan lagi setumpuk kulit manusia yang jumlahnya puluhan.
Kemudian sambil mendorong semua itu ke hadapan Tong Sip-jit, ia berkata lebih jauh.
"Kuserahkan semua ini padamu, pelajarilah pelan-pelan, asal teliti dan rajin belajar, tak akan sulit bagimu untuk menguasai semua rahasianya. Aku menguasai duapuluh tujuh macam ilmu dan kau adalah orang ke tigapuluh tujuh yang kutolong, setelah ini aku tak bakal lagi turun gunung untuk menolong orang. Aku juga tak akan menurunkan ilmuku kepada siapa pun lagi."
Setelah berhenti sejenak, ia melanjutkan.
"Setelah keluar dari tempat ini, kuharap kau bisa membuang jauh-jauh ingatan untuk membenci umat manusia. Jauhkan dirimu dari segala pertikaian dunia. Bila semuanya aman dan damai, bukankah semuanya akan hidup tenteram?"
Setelah menghela napas panjang, ia bangkit berdiri dan keluar meninggalkan kamar itu.
Tong Sip-jit segera mengejar keluar tapi bayangan tubuhnya saja sudah tidak dapat ditemukan lagi.
Karena penasaran, kembali Tong Sip-jit mencoba menelusuri keliling bukit itu.
Bukan saja ia tak berhasil menemukan bayangan tubuh Yo Si-heng, bahkan bangunan rumah lain pun tak dijumpainya.
Suasana di sekitar perbukitan itu hening dan sepi, kecuali hembusan angin semilir tidak ada apa-apa lagi.
Tong Sip-jit merasa bahwa hidupnya selama berapa hari ini seperti mimpi saja.
Sekarang ia sudah terjaga dari alam mimpi, namun tuan penolong dalam impiannya itu tak diketahui lagi ke mana perginya.
Ia seakan lenyap begitu saja bagai segumpal asap.
Yang lebih mengharukan Tong Sip-jit adalah kenyataan bahwa ia sudah terlanjur merasa dekat sekali pada Yo Si-heng.
Setelah mencari-cari sampai sepuluh hari lamanya tanpa hasil, akhirnya Tong Sip-jit memutuskan untuk turun gunung dan pergi ke tempat terjadinya kebakaran dahulu hari.
Setiba di situ dia hanya menjumpai reruntuhan bangunan yang telah hitam hangus dan berantakan tak karuan, di sinilah berpuluh orang saudaranya kehilangan nyawa.
Lama sekali Tong Sip-jit berdiri termenung sambil mengingat kembali wajah dan suara rekan-rekannya.
Walaupun ia sudah berusaha keras melupakan kejadian itu, dendam masih tetap membekas di hatinya.
Ia tidak bisa menghapus seluruh dendamnya.
Maka dia lalu menyamar sebagai seorang lelaki setengah umur yang mengaku bernama Gi Pek-bin untuk sekali lagi menyusup ke Tayhong-tong.
Kali ini ia tidak melaporkan perbuatannya ke pihak Benteng Keluarga Tong karena dia menganggap dengan begitu akan jauh lebih aman baginya, di samping lebih mudah baginya untuk mempersiapkan tugas melancarkan pukulan telak nanti.
Setelah berusaha hampir lima tahun, akhirnya dia berhasil mendekati tokoh utama Tayhong-tong, ia ditugasi mengikuti Sangkoan Jin.
Kembali satu tahun lewat, akhirnya ia memperoleh kepercayaan dari Sangkoan Jin untuk ikut dalam banyak gerakan rahasia serta perencanaan besar.
Dia sudah menjadi orang kepercayaan Sangkoan Jin.
Di suatu malam yang sepi dan gelap, Sangkoan Jin mengundangnya ke kamar rahasia untuk berunding.
Sangkoan Jin dengan menggunakan berbagai cara masih berusaha menyelidiki kesetiaannya.
Akhirnya Sangkoan Jin menyampaikan bahwa dia punya rencana untuk berkhianat dan bertanya kepadanya apakah bersedia ikut bersamanya.
Tentu saja Tong Sip-jit tidak menolak tawaran tersebut.
Pertama karena dia memang sebenarnya bekerja untuk Keluarga Tong, dan kedua, bila tidak ikut, bukankah dia segera akan dibantai?
Bukan saja Sangkoan Jin membeberkan seluruh rencananya, bahkan ia pun memintanya untuk tetap tinggal di Tayhong-tong agar setelah ia menyeberang ke pihak Keluarga Tong, ia masih bisa mengirim berita-berita tentang perkembangan di markas Tayhongtong.
Selain itu Sangkoan Jin juga berjanji, bila saatnya telah tiba, dia pasti akan mengajaknya untuk menyeberang ke Benteng Keluarga Tong.
Begitulah, selama ini dengan identitas sebagai Gi Pek-bin, ia bolak-balik antara Benteng Keluarga Tong dan Tayhong-tong.
Sudah banyak berita dari Tayhong-tong yang dibawa masuk dan disampaikan kepada Sangkoan Jin.
Ooo)))(((ooo Selesai mendengarkan pengalaman Tong Sip-jit, Tong Koat lalu mengajukan pertanyaan dengan nada curiga.
"Kalau memang selama ini kau mengirim banyak berita kepada Sangkoan Jin, kenapa selama ini tak sepatah kata pun pernah kau sampaikan kepadaku?"
Ternyata jawaban dari Tong Sip-jit sangat diplomatis.
"Seringkah tidak banyak bicara justru jauh lebih baik ketimbang banyak bicara."
"Begitu hebatkah kesepakatan kalian berdua?"
"Sebetulnya tidak juga, misalnya kedatanganku kali ini, karena tak ada berita baru yang perlu kusampaikan maka aku hanya menyapa sekedarnya di kedai. Memang cara-cara seperti ini sudah kami sepakati sejak awal."
"Apakah kedatanganmu kali ini adalah kali pertama?"
Tanya Tong Koat.
"Tidak! Sudah berulang kali. Hanya kali ini jejakku berhasil kalian kuntit dengan ketat."
"Lalu kenapa kau melepaskan merpati pos untuk mengirim berita?"
Kembali Tong Koat bertanya.
"Tentu saja aku harus berbuat begitu! Jangan lupa bahwa aku adalah anggota Tayhong-tong yang sedang menyusup untuk mencari berita, tentu saja aku harus mengirim balik berita yang kuperoleh di sini."
"Berapa ekor merpati pos yang kau lepas?"
"Tiga ekor."
"Semuanya diikat dengan kertas yang sama?"
"Ya."
"Apa maksud lipatan berbentuk hati yang ada dalam ikatan kaki merpati-merpati itu?"
"Masa kau tidak mengerti?"
Mendadak Tong Sip-jit balik bertanya. Tong Koat melengak, ditatapnya orang itu seketika, kemudian baru menggeleng.
"Kalau aku tahu artinya, buat apa mesti ditanyakan lagi kepadamu?"
Serunya.
"Itu berarti punya niat tapi tak ada tenaga, pasti selalu gagal menemukan apa pun."
Jawaban Tong Sip-jit ini amat tepat karena kertas dengan lipatan hati memang tidak bisa diartikan apa-apa.
Rupanya Tong Koat percaya dengan penjelasan itu, sekali lagi dia melirik ke arah kakaknya.
Tong Ou pelan-pelan berjalan menghampiri Tong Sip-jit, kemudian tanyanya.
"Mengapa selama ini kau tidak langsung menghubungi kami? Bukankah akan jauh lebih leluasa?"
"Aku kuatir ada mata-mata yang menyusup di sini, jika penyamaranku sampai bocor, bukankah aku mesti mengalami sekali lagi peristiwa yang terjadi tujuh tahun berselang?"
Alasan ini pun sangat tepat dan akurat. Kembali Tong Ou bertanya.
"Kalau memang begitu, mengapa kau buka rahasia penyamaranmu sekarang?"
"Kalau aku tidak buka kartu saat ini, mungkin kalian tak akan memberi kesempatan bicara lagi kepadaku!"
Waktu itu Tong Ou berdiri, sementara Tong Sip-jit duduk.
Sewaktu pembicaraan berlangsung, Tong Ou mengawasi terus sekitar tengkuk Tong Sip-jit, khususnya ketika orang itu sedang menjawab pertanyaannya.
Saat itulah mendadak ia tertawa mengejek.
"Kau kira kami akan percaya begitu saja dengan semua perkataanmu?"
"Aku toh sudah bicara sejujurnya, kenapa kalian tidak percaya?"
Tong Ou tidak menanggapi ucapan tersebut, ia berpaling ke arah Tong Koat dan Tong Hoa.
"Kalian percaya pada ucapannya?"
"Percaya!"
Sahut Tong Koat berdua serentak.
"Kalau begitu dugaan kalian keliru besar!"
Sambil berkata, tiba-tiba Tong Ou melancarkan serangan kilat ke tubuh Tong Sip-jit.
Begitu mendengar kata-kata Tong Ou, paras Tong Sip-jit berubah hebat.
Baru saja ia akan melompat dari bangkunya, tangan Tong Ou secepat sambaran kilat telah disodokkan ke pinggangnya.
Tong Sip-jit merasakan pinggangnya kesemutan dan kaku, seluruh kekuatan badannya lenyap tak berbekas.
Sebenarnya Tong Sip-jit sedang bersiap melompat bangun untuk melarikan diri, sayang pinggangnya sudah tersodok serangan Tong Ou sehingga kaku tak mampu bergerak.
Dia pun lalu menggunakan tangannya untuk menyerang.
Baru saja ia menggerakkan tangan kanannya, secepat kilat Tong Ou sudah melepaskan berapa serangan untuk menotok berapa jalan darahnya.
Tanpa ampun lagi Tong Sip-jit diam tak mampu berkutik.
Saat itu tangan kanan Tong Sip-jit yang sedang dipentang seperti cakar garuda terhenti di tengah jalan maka nampak lucu sekali.
Sayang dalam keadaan seperti ini tak seorang pun ingin tertawa.
Biarpun badannya tidak bisa bergerak, jalan darah bisu Tong Sip-jit tidak tertotok, maka dengan penuh amarah ia berteriak.
"Hei! Kalian ini mau apa?"
"Tidak apa-apa, kami hanya ingin tahu wajahmu yang sebenarnya,"
Jawab Tong Ou dengan tenang.
"Aku sudah bilang, akulah Tong Sip-jit, masa kalian tidak percaya?"
"Jangankan percaya penuh, sedikit pun tidak!"
"Kenapa?"
"Sebab dalam ceritamu tadi, kau banyak melakukan kesalahan."
"Oh ya?"
"Kau bilang, sewaktu Yo Si-heng menyamar menjadi nenek tua, gadis cantik maupun pelayan setengah umur, kau tidak mampu mengenalinya sama sekali. Ini membuktikan bahwa ilmu menyalin muka yang kau pelajari benar-benar hebat..."
Tong Sip-jit tidak berkata apa-apa, dia hanya mengawasi Tong Ou tanpa berkedip.
"Ketika datang kemari, wajahmu kaku tanpa perubahan ekspresi dan ternyata kau mengenakan topeng kulit manusia. Topeng semacam ini terlalu kasar dan jauh dari sempurna, sama sekali ti dak mirip ajaran seorang jago sehebat Yo Si-heng."
"Lalu kenapa?"
"Artinya topeng yang kau kenakan sekarang bukanlah topeng kulit manusia yang sesungguhnya!"
Begitu selesai berkata, Tong Ou menyambar ke tengkuk Tong Sip-jit lalu menariknya kuatkuat.
Betul juga, selembar kulit manusia segera terlepas dari wajah Tong Sip-jit.
Menyaksikan semua ini, Tong Koat dan Tong Hoa jadi terlongong-longong seperti orang tolol.
Yang membuat mereka kaget bukan hanya tindakan Tong Ou yang luar biasa itu, mereka pun dibuat tercengang karena di balik topeng kulit manusia yang berwajah Tong Sip-jit ternyata terdapat lagi wajah Tong Sip-jit yang lain.
Hanya bedanya wajah Tong Sip-jit yang tampil sekarang ini halus, mulus dan sama sekali tidak terlihat bekas luka bakar yang menjijikkan.
Kejadian ini membuat Tong Ou turut tertegun.
Agak lama kemudian baru sekali lagi ia memeriksa tengkuk Tong Sip-jit.
Ia baru berhenti setelah yakin bahwa wajah yang tampil di hadapannya adalah wajah yang asli.
"Benar-benar kau sangat hebat!"
Puji Tong Sip-jit kemudian.
"Tidak terlalu hebat. Aku cuma punya mata yang tajam dan kemampuan perhitungan yang jauh melebihi orang lain..."
"Bagaimana mungkin kau bisa mengetahui samaranku? Bukankah kau sudah meraba wajahku tadi?"
"Sewaktu meraba wajahmu aku tidak terlalu menaruh perhatian, tapi setelah mendengarkan ceritamu aku mulai berpikir. Sebagai murid Yo Si-heng yang hebat, tak mungkin penyamaranmu begitu kasar dan penuh cacat. Maka aku mulai memperhatikan tengkukmu dan kutemukan bahwa ketika kau bicara, dagu dan tenggorokanmu sama sekali tidak bergerak, beda sekali dengan orang biasa, jadi aku menyimpulkan masih ada selembar topeng lagi yang kau kenakan!"
Setelah tertawa lebar dan berhenti sejenak, ia menambahkan.
"Ternyata dugaanku tidak salah!"
"Tapi... bagaimanapun aku tetap Tong Sip-jit!"
Bisiknya lirih.
"Jelas beda sekali! Tong Sip-jit yang wajahnya terbakar hingga rusak tentu beda sekali dengan Tong Sip-jit yang wajahnya sama sekali tak pernah terbakar."
"Seberapa besar?"
"Sedemikian besar hingga aku bisa memecahkan rahasia yang menyelimuti peristiwa tujuh tahun berselang!"
Berubah hebat paras Tong Sip-jit begitu mendengar katakata ini. Kembali Tong Ou berkata sambil tertawa.
"Hingga kini kami masih belum bisa mengungkap siapa yang membocorkan rahasia tujuh tahun yang lalu itu, tapi dengan kemunculanmu, ditambah lagi wajahmu yang sama sekali bersih tanpa bekas luka bakar, bukankah semua jawaban muncul dengan sendirinya, jelas dan gamblang?"
Wajah Tong Sip-jit berubah hebat, tapi ia tetap membungkam. Sesudah tertawa bangga, kembali Tong Ou melanjutkan.
"Sungguh tidak dinyana, dari tubuhmu seorang, aku berhasil membongkar dua kasus yang amat misterius. Yang pertama tidak begitu mengherankan, tapi kasus yang kedua inilah yang kuanggap peristiwa luar biasa!"
Dalam keadaan seperti ini Tong Sip-jit hanya bisa tertawa getir, dia memang sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi.
Kembali Tong Ou melancarkan beberapa tepukan ke tubuh Tong Sip-jit, semua jalan darah yang semula tertotok telah dibebaskan kembali.
"Nah, apa maumu sekarang?"
Tanya Tong Ou kemudian.
"akan kau selesaikan sendiri dirimu atau kami yang harus melakukannya untukmu?"
Tong Sip-jit memandang Tong Ou sekejap lalu tertawa pedih.
Semua rahasianya sudah terbongkar, ia sadar bahwa ia tidak mungkin hidup lagi.
Mendadak ia menggertak sesuatu di balik giginya dan tak lama kemudian terlihat darah segar meleleh keluar dari ujung bibirnya lalu mulutnya berubah jadi hitam pekat.
Perlahan-lahan tubuhnya roboh terjungkal ke tanah.
Tong Ou segera memerintah orang untuk menyeret keluar mayat Tong Sip-jit dan menguburkannya.
Ia berpesan wanti-wanti agar semuanya dilakukan sangat hati-hati, jangan sampai Sangkoan Jin tahu.
Sesudah itu berkata kepada Tong Koat dan Tong Hoa.
"Sungguh tak disangka kita memperoleh hasil yang luar biasa!"
"Ya, semuanya bagaikan orang bermain catur, setiap perubahan sukar diramalkan sebelumnya,"
Sahut Tong Koat.
"Aku kuatir bakal terjadi perubahan lain,"
Kata Tong Hoa.
"Perubahan apa?"
"Seandainya Tong Sip-jit benar-benar orang kepercayaan Sangkoan Jin dan Sangkoan Jin belum tahu kalau dia menghadapi kejadian di luar dugaan, padahal dia sedang menggunakan kesempatan ini untuk membuat kita percaya bahwa dia dan Sangkoan Jin satu komplotan, bukankah kita malah termakan oleh siasat adu dombanya?"
"Ehm, masuk di akal juga kata-kata itu,"
Tong Ou manggutmanggut.
"lalu menurutmu apa yang harus kita lakukan?"
"Soal ini memang agak susah diputuskan,"
Kata Tong Koat pula.
"aku rasa ada baiknya kita menunggu dulu sampai hasil penyerbuan kita ke markas Tayhong-tong ketahuan hasilnya, baru kita mengambil keputusan jika menemui hal-hal yang mencurigakan."
"Aku usulkan lebih baik segera kita laksanakan rencana Naga Kemala Putih!"
Ucap Tong Hoa.
"Kenapa?"
"Sebab pertama, jika Sangkoan Jin benar-benar seorang pengkhianat, kita bisa menggunakan rencana Naga Kemala Putih untuk menyingkirkannya."
"Kalau dia bukan pengkhianat?"
"Kalau bukan, kita gunakan rencana kedua. Kita bisa melenyapkan dia setelah habis memperalatnya, kita bunuh saja dia daripada meninggalkan bibit bencana di kemudian hari."
"Jika kita benar-benar bertindak seperti itu, siapa lagi orang persilatan yang mau dan bersedia bekerja untuk kita Keluarga Tong? Orang akan menuduh kita tidak bisa dipercaya, habis manis sepah dibuang!"
"Tidak mungkin orang lain punya pandangan begitu terhadap kita. Sebab orang yang membunuh Sangkoan Jin bukan kita!"
"Eeh, masuk akal,"
Tong Ou manggut-manggut.
"Kalau begitu kita putuskan begitu saja, kau segera laksanakan rencana itu dan tak usah ikut memikirkan hal lain!"
"Baik,"
Tong Hoa mengangguk. Tong Ou segera berpaling ke arah Tong Koat dan bertanya.
"Apakah kau punya usul atau pendapat lain?"
"Tidak ada."
"Kalau begitu mari kita undang Sangkoan Jin untuk sarapan bersama, sekalian kita lihat bagaimana pandangannya terhadap keputusan yang kita ambil dalam perubahan rencana penyerbuan ke markas Tayhong-tong."
"Aku percaya ini pasti akan menjadi menarik sekali."
"Kalau permainan yang begini asyik pun tidak menarik, permainan apa lagi yang menarik hati?"
Kedua orang itu mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
Bab 10.
Sedih Terharu memang suatu perasaan yang aneh dan menarik.
Ada orang yang terharu karena menyaksikan keindahan musim semi, ada orang terharu mengawasi daun berguguran di musim gugur.
Bahkan ada orang terharu melihat air hujan turun rintik-rintik.
Perasaan terharu seperti ini belum pernah singgah dalam kehidupan Bu-ki, sepanjang hidupnya ia tak pernah merasa terharu, apalagi sedih hati.
Ketika menikah dengan Hong-nio dan dia harus segera pergi meninggalkannya, ketika berpisah, dia sama sekali tidak merasa terharu atau duka, sebaliknya dia merasa begitu ringan, begitu lepas.
Ini bukan karena rasa cinta terhadap istrinya terlalu tipis, dia menganggap semua kejadian itu hanya bagian dari perjalanan hidup seseorang, jadi tak berguna untuk terharu, apalagi sedih.
Ketika ayahnya terbunuh, dia pun tidak merasa sedih, yang ada hanya sakit hati.
Semua pekerjaan atau peristiwa pasti ada pertama kalinya, begitu juga soal sedih dan terharu, Tio Bu-ki pun tak bisa menghindar dari hal ini Dihadapkan dengan mayat bergelimpangan di mana-mana, menyaksikan dinding benteng yang hancur berantakan, melihat ceceran darah kering yang menodai setiap sudut ruangan, mau tak mau Tio Bu-ki harus merasa terharu, merasa amat sedih, sebab mayat yang bergelimpangan di mana-mana itu tak lain adalah mayat saudara-saudaranya, anggota Tayhong-tong.
Siapa yang tidak sedih menyaksikan rumahnya, markasnya, negerinya, hancur berantakan karena perbuatan musuh besarnya?
Mungkin ada manusia yang tak mudah sedih, seorang pertapa yang telah meninggalkan urusan duniawi.
Sayang Tio Bu-ki bukan pertapa, bukan pendeta.
Boanliongkok adalah rumahnya, negerinya, semua yang ada di situ adalah sahabatnya, saudaranya.
Ya.
Siapa yang tidak terharu?
Siapa yang tidak duka menyaksikan semua itu?
Ooo)))(((ooo Bulan lima tanggal empat, besok adalah hari Peh-cun, saat menikmati bakcang.
Sayang saudara-saudara dari lembah Boanliongkok tak sempat lagi mencicipi lezatnya hidangan itu.
Melangkah masuk ke dalam benteng, rasa sedih Tio Bu-ki bertambah tebal dan berat.
Ia dapat menyaksikan rumput hijau di depan rumah telah berubah menjadi merah darah, daun-daun bambu yang tergantung di sisi rumah, daun yang telah disiapkan untuk membuat bakcang, kini ternoda pula oleh percikan darah.
Tio Bu-ki nyaris tak bisa menahan diri untuk muntah, tapi ia berusaha mengendalikan diri.
Dia memaksa isi perutnya yang sudah hampir keluar dari tenggorokan untuk ditelan kembali.
Ia tak sanggup lagi menyaksikan pemandangan menyedihkan yang terbentang di depan matanya.
Sambil memutar badan ia lari secepat-cepatnya, lari meninggalkan tempat itu.
Dia berlari, lari terus hingga napasnya tersengal-sengal, hingga napasnya sesak dan hampir tak mampu bernapas.
Sambil berpegangan pada sebuah pohon besar, ia berdiri dengan napas tersengal-sengal, isi perutnya terasa bergolak makin keras.
Kali ini ia tak sanggup lagi menahan diri, seluruh isi perutnya tumpah keluar.
Kemudian dia berlari lagi, lari di bawah sinar matahari senja yang berwarna merah, semerah darah yang berceceran di seluruh permukaan bumi.
Rasa sedih yang luar biasa berubah menjadi sakit hati dan marah.
Dia ingin sekali berteriak sekeras-kerasnya, namun tak sepatah pun suara yang keluar.
"Tong Ou, wahai Tong Ou.... mengapa kau membohongiku? Mengapa kau bilang penyerbuan baru dilakukan di hari Peh-cun?"
Hawa amarah yang menggelora dalam dadanya membuat dia hampir tak bisa mengendalikan diri, dia ingin sekali kembali ke Benteng Keluarga Tong, mencari Tong Ou dan membuat perhitungan berdarah dengannya.
Tapi ia tidak berbuat begitu, dia tahu tindakan gegabah semacam ini bisa berakhir fatal.
Dia mencoba menenangkan diri, mencoba berpikir lebih jernih.
Akhirnya setelah termenung beberapa waktu lamanya, ia berjalan kembali ke lembah Boanliong-kok, masuk ke rumah dan mengambil pacul serta sekop.
Di bawah sinar rembulan ia mulai menggali liang kubur di atas bukit, satu paculan demi satu paculan...
Entah berapa lama waktu sudah berjalan, entah seberapa dalam dia sudah menggali, seluruh tubuhnya telah basah kuyup, sepasang tangannya mulai linu dan sakit, otot-ototnya terasa mengejang keras.
Tapi ia tidak memperdulikan itu semua, ia seakan tak tahu waktu, tak tahu lelah, galian demi galian dikerjakan terus tanpa henti.
Kemudian sesosok demi sesosok semua mayat itu diturunkan ke dalam liang, lalu dia menimbunnya dengan tanah hingga rata.
Ketika semua pekerjaan telah selesai, baru ia memotong sebatang pohon, menjadikannya selembar papan dan dengan menggunakan sebilah pisau diukirnya beberapa huruf sebagai nisan.
"Di sinilah saudara-saudaraku dari Tayhong-tong beristirahat."
Setelah lama mengamati kuburan itu, dia baru membalikkan badan, melompat naik ke atas kuda dan melarikannya kencangkencang meninggalkan tempat itu.
Tio Bu-ki tak ingin beristirahat, yang berkecamuk dalam benaknya kini hanya bagaimana caranya tiba di markas besar Tayhong-po secepat mungkin.
Dia boleh saja melupakan lelah, namun kuda ada saatnya untuk lelah juga.
Mau tak mau Tio Bu-ki harus beristirahat mengikuti kuda tunggangannya, ketika sang kuda minum, dia ikut minum, ketika sang kuda merumput, dia juga menangsal perut dengan rangsum keringnya.
Tengah hari kedua, akhirnya dengan wajah penuh debu tibalah dia di markas besar Tayhong-po.
Untuk kedua kalinya perasaan sedih harus bergolak kembali dalam dadanya.
Pemandangan menyedihkan yang serupa sekali lagi terpampang di depan matanya.
Mengawasi semua ini dia hanya bisa duduk terpaku di atas pelana, sama sekali tak bergerak.
Lama kemudian ia baru melompat turun dari kudanya, tanpa sadar tangannya meraih cangkul dan sekop yang ada di atas pelana.
Dia tak mengira bahwa alat yang dibawa tanpa sengaja itu sekarang harus digunakan lagi untuk membereskan kejadian yang sama.
Dia tak mengira kehadirannya kali ini hanya menjadi tukang kubur, khusus untuk mengubur mayat saudara-saudaranya.
Tak terasa pikirannya mulai melayang ke Benteng Siangkoan, benteng tempat tinggal Sangkoan Jin.
Apakah keadaan di sana juga tidak berbeda dengan pemandangan di sini?
Tong Ou berkata akan menyerang satu di antara ketiga tempat itu, nyatanya sekarang dia telah menyerang ketiga tempat itu sekaligus.
"Hebat betul bangsat ini,"
Tio Bu-ki mulai berpikir dengan kepala lebih dingin.
"Entah apa lagi langkah berikut Tong Ou? Sebelum melaksanakan pertarungan melawanku, mungkinkah dia akan menyerang markas-markas lain Tayhong-tong?"
Sambil masih berpikir, dia sudah masuk pintu gerbang benteng Tayhong-po.
Setelah mengambil cangkul dan sekop dia kembali mulai menggali untuk mempersiapkan liang kubur bersama.
Sambil menggali, dia mulai berpikir, apa yang harus dilakukan selanjutnya?
Menuju ke benteng Siangkoan atau langsung pulang ke rumahnya?
Membayangkan rumahnya sendiri, rasa sedih dan pedih segera berkecamuk dalam hatinya.
Selesai mengubur mayat rekan-rekannya, ia menuju ke gudang arak, mengambil satu guci dan meneguknya dengan lahap.
Habis satu guci, dia membuka guci yang lain dan meneguk lagi dengan lahap, dia menenggak terus arak dalam guci hingga kelopak matanya terasa berat, tak mampu dipentang lagi dan akhirnya roboh tertidur.
Hidangan lezat, arak wangi, perjamuan pesta yang diselenggarakan dalam Benteng Keluarga Tong malam itu sangat meriah dan penuh kegembiraan.
Di sekeliling meja hanya duduk empat orang.
Tong Ou, Tong Koat, Lo-cocong dan Sangkoan Jin.
Wajah keempat orang itu penuh dengan senyum, mereka saling memberi selamat, saling mengangkat cawan dan menenggak habis isinya.
Tentu saja ada alasan kuat bagi mereka untuk bergembira.
Sebab sekarang adalah malam tanggal empat bulan lima, merpati pos pertama telah kembali dari lembah Boanliong-kok membawa kabar gembira.
Dengan pandangan mata yang sangat teliti Tong Ou memperhatikan senyuman yang menghiasi wajah Sangkoan Jin.
Dia berharap bisa membedakan senyuman itu adalah senyum kegembiraan yang benar-benar muncul dari lubuk hatinya atau senyum kegembiraan yang dibuat-buat.
Sayang ia tak berhasil menemukan perbedaan itu.
Dengan sendirinya dia pun tak yakin apakah Tong Sip-jit memang satu komplotan dengan Sangkoan Jin, atau dia memang sengaja memfitnah menjelang kematiannya.
Sangkoan Jin sendiri meski belum tahu kalau Tong Sip-jit telah mati, tetapi dia mempertaruhkan rasa percaya dirinya yang besar dan bakat serta kemampuannya bersandiwara.
Dia percaya semua orang yang hadir tertipu oleh senyumannya, mengira dia benar-benar merasa sangat gembira.
Padahal di hati kecilnya yang paling dalam ia merasa amat sedih, amat sakit hati.
Latihannya selama bertahun-tahun, pergaulannya yang panjang dengan berbagai jenis manusia membuat dia mahir bersandiwara.
Dia bisa menampilkan sisi yang berbeda, antara tampilan wajah dengan apa yang sedang dipikirkannya.
Maka ketika merpati pos kedua datang memberitakan tentang hancurnya markas besar Tayhong-tong, Sangkoan Jin justru tertawa makin keras, tertawa makin gembira.
Dia seolah-olah sudah menjadi bagian dari Benteng Keluarga Tong, ikut bergembira karena keberhasilannya menghancurkan Tayhong-tong.
Bukan cuma tertawa gembira, dia bahkan bisa menjilat pantat dengan berkata kepada Tong Ou.
"Tong toa-kongcu memang hebat mengatur strategi perang, bisa memilih saat menjelang Pehcun untuk melan carkan serangannya. Mana mungkin orang-orang Tayhong-tong bisa menduga sampai ke situ? Ha ha ha ha... aku percaya berita gembira tentang runtuhnya benteng Siangkoan segera akan kita terima!"
Tong Ou tertawa terbahak-bahak.
"Ha ha ha ha... Siangkoan-sianseng kelewat memuji. Padahal dalam satu hal aku merasa bersalah kepadamu."
"Mengenai apa?"
"Bukankah aku sempat berunding denganmu tentang akan melancarkan serangan pada hari Peh-cun?"
"Ah, itu bukanlah langkah yang keliru, aku percaya Tong toa-kongcu punya pandangan yang jauh ke depan. Siapa tahu bila penyerangan dilakukan besok, kerugian pihak kita akan lebih banyak!"
"Ya, aku pun berpendapat begitu, maka serangan kulancarkan lebih awal. Maaf kalau tidak kurundingkan dahulu dengan Siangkoan-sianseng!"
"Kau terlalu memujiku, dalam hal semacam ini aku justru harus banyak mendengar petunjuk dan perintahmu."
Baca Juga: Pedang Langit Dan Golok Naga 5
Baca Juga: Hina Kelana Balada Kaum Kelana Jin Yong