Ceritasilat Novel Online

Naga Kemala Putih 3

Eps 3 Naga Kemala Putih - Gu Long

Baca online Naga Kemala Putih - Gu Long

Cersil Naga Kemala Putih - Gu Long.

Kedua orang itu saling bertukar pandangan sekejap, kemudian mendongakkan kepala dan tertawa tergelak-gelak.

Di hati kecilnya Tong Ou merasa amat bangga, merasa sangat puas dengan apa yang telah dilakukannya.

Setelah menenggak satu cawan arak, ia kembali melanjutkan.

"Bila berita tentang runtuhnya Benteng Siangkoan tiba nanti, tahukah Siangkoan-sianseng, apa yang akan kulakukan?"

"Apakah itu?"

"Akan kuhadiahkan Benteng Siangkoan untukmu!"

"Aaah? Sungguh?"

"Tentu saja sungguh-sungguh!"

"Mengapa?"

Sangkoan Jin kelihatan sedikit keras, bukan merasa gembira tetapi karena luapan amarah.

"Aku baru keluar dari tempat itu, mengapa sekarang harus balik lagi ke sana?"

"Siangkoan-sianseng jangan salah paham, kedudukanmu di Benteng Siangkoan-po pada masa Tayhong-tong sudah pasti amat berbeda Siangkoan-po di masa Keluarga Tong yang berkuasa..."

Sangkoan Jin tidak bertanya apa-apa lagi, dia hanya mengawasi wajah Tong Ou tanpa berkedip, menunggu ia menyelesaikan perkataannya.

"Aku menitikberatkan pertarungan di Benteng Siangkoan-po, karena itu aku mohon Siangkoan-sianseng mau ke sana untuk memegang komando sambil mengatur semua persiapan dan strategi dalam menghadapi pertarungan akbar ini!"

Sangkoan Jin tertawa, tertawa begitu riang, begitu gembira. Sambil mengangkat cawan katanya kepada Tong Ou.

"Mari aku menghaturkan secawan arak untukmu! Sejak bergabung dengan Benteng Keluarga Tong, hari seperti inilah yang selalu aku nantikan, aku memang berharap bisa langsung terlibat dalam kegiatan pembasmian Tayhong-tong!"

"Mengapa kau begitu membenci Tayhong-tong?"

Sela Lococong tiba-tiba.

"Sejak bergabung dengan kami aku belum pernah menanyakan hal ini padamu."

"Mengapa?"

Sangkoan Jin mendengus keras-keras.

"Bayangkan saja, ketika membangun Tayhong-tong, jasa siapakah yang paling besar? Kau tahu itu?"

Sorot matanya dialihkan ke wajah Tong Koat.

"Tentu saja jasa Siangkoan-sianseng!"

Jawab Tong Koat cepat.

"Betul,"

Ujar Sangkoan Jin lebih jauh.

"tapi kenyataannya, kenapa kedudukanku hanya seimbang dengan posisi Tio Kian dan Sugong Siau-hong? Dalam berbagai pertempuran besar maupun kecil, hanya aku dan para tongcu yang melakukannya, sementara Tio Kian dan Sugong Siau-hong hanya duduk-duduk di benteng menjaga keamanan. Atas dasar apa mereka justru duduk berimbang denganku?"

"Ya, itu tidak adil namanya!"

Seru Tong Koat menimpali.

"Sudah terlalu lama aku harus menahan diri, menerima semua ketidakadilan ini!"

Semakin berbicara Sangkoan Jin semakin bersemangat dan nada suaranya makin keras.

Kembali seorang pengawal masuk membawa selembar kertas yang dibawa pulang merpati pos, surat itu lalu diserahkan kepada Tong Ou.

Selesai membaca surat itu Tong Ou, menyerahkannya kepada Lo-cocong.

Sambil tertawa Lo-cocong membaca isi surat itu, kemudian ia menyerahkan surat tadi ke tangan Sangkoan Jin sembari berkata.

"Kuucapkan selamat untukmu, akhirnya apa yang kau impikan terwujud juga!"

Sangkoan Jin ikut tertawa, ia tidak membaca isi surat tersebut karena sudah menduga kalau isinya hanya pemberitahuan bahwa Benteng Siangkoan-po telah jatuh.

Dia tertawa dengan penuh kegembiraan, namun di hati kecilnya ia amat menderita, amat tersiksa, merasa teramat sedih.

Dari sekian banyak orang yang berada dalam Benteng Keluarga Tong, hanya satu orang yang secara terang-terangan mengutarakan perasaan sedihnya atas berita gembira itu.

Dia tak lain adalah Wi Hong-nio.

Ooo)))(((ooo Tong Hoa adalah orang yang mendapat perintah untuk melaksanakan rencana Naga Kemala Putih.

Langkah pertama yang harus dijalankan dalam rencana besar itu adalah memperoleh kepercayaan Wi Hong-nio.

Oleh karena itu sejak sore hari dia sudah berada bersama Wi Hong-nio dan tentu saja menemaninya juga makan malam.

Berita tentang keberhasilan mereka menghancurkan semua benteng pertahanan Tayhong-tong tersiar keluar setelah disampaikan ke tangan Lo-cocong.

Hampir semua anggota Benteng Keluarga Tong mendengar dan mengetahui kabar itu.

Sewaktu berada di dapur itulah Siau-tiap mendengar kabar berita itu, tak heran kalau dia pun menyampaikan kabar itu sewaktu menghidangkan makan malam.

Tong Hoa yang mendengar berita itu tentu merasa gembira sekali, namun ketika dilihatnya paras muka Wi Hong-nio menampakkan perasaan sedih yang mendalam, dia serta merta ikut menampilkan perasaan sedih dan duka juga.

"Kau seharusnya gembira mendengar berita ini,"

Tegur Wi Hong-nio tanpa sadar.

"Aku tahu."

"Lalu, kenapa kau ikut bermuram durja?"

"Karena melihat wajahmu, aku dapat merasakan pula perasaan hatimu."

Wi Hong-nio jadi sangat terharu setelah mendengar perkataan itu, untuk sesaat dia tak tahu apa yang harus diucapkannya.

"Hei, kenapa kau?"

Kembali Tong Hoa menegur. Setelah termenung beberapa saat barulah Wi Hong-nio menyahut.

"Ternyata kau seorang yang sangat baik..."

Tong Hoa tersenyum.

"Aku memang orang baik, bahkan aku punya kabar yang lebih baik lagi untukmu..."

"Apakah itu?"

"Mengajakmu pergi meninggalkan tempat ini!"

"Sungguh?"

"Sungguh!"

"Kau tidak takut menyerempet bahaya?"

"Apa pun tidak kutakuti!"

Wi Hong-nio benar-benar terharu, ditatapnya wajah Tong Hoa sesaat dengan penuh arti.

"Malam ini juga akan kuajak kau pergi meninggalkan tempat ini,"

Ujar Tong Hoa lagi sambil tersenyum.

"Malam ini juga? Apa tidak terlalu tergesa-gesa?"

"Tidak, tidak mungkin."

"Kenapa?"

"Sebab aku telah mempersiapkan rencana ini seharian penuh."

"Oh ya?"

"Sejak tadi malam sampai sekarang, aku terus menerus memikirkan persoalanmu. Kupikir, untuk menyatakan kedalaman cintaku kepadamu, aku mesti melakukan sesuatu dan kuambil satu keputusan yang cepat."

Saking terharunya hampir saja air mata jatuh bercucuran membasahi wajah Wi Hong-nio.

Melihat sikap gadis itu, Tong Hoa sadar kalau perkataannya telah membuat perempuan itu terharu.

Dia semakin sadar, dengan watak Wi Hong-nio seperti itu, tidak sulit baginya untuk melaksanakan rencana Naga Kemala Putih.

Maka katanya lebih jauh.

"Oleh sebab itu telah kuputuskan untuk membawamu kabur dari sini. Kau mesti tahu, membawamu kabur dari sini adalah kesalahan dengan dosa yang amat besar bagiku."

"Aku mengerti."

"Seandainya usaha kita untuk kabur mengalami kegagalan, itu artinya aku harus menghadapi kematian."

"Aku mengerti, seandainya mereka tidak membunuhku, aku pasti akan mengingatmu sepanjang hidupku."

"Sebaliknya jika usaha kita melarikan diri berhasil, selama hidup pun aku akan hidup dalam penderitaan, karena orang-orang Keluarga Tong akan mencap diriku sebagai pengkhianat, sebagai buronan yang wajib ditangkap dan dibunuh."

"Kau sudah berpikir sampai ke sana?"

"Sudah. Seluruh anggota Keluarga Tong dari atas hingga ke bawah hampir semuanya tahu bahwa aku tergila-gila kepadamu. Jika kau pergi dari sini, mana mungkin aku tidak tahu?"

"Jadi kau lelap akan mengajakku pergi dari sini?"

"Benar!"

"Tapi aku tidak bisa menjamin di kemudian hari akan tetap bersikap baik kepadamu."

"Aku tahu. Aku memang orang yang gampang puas bila diberi sedikit kebaikan. Selama aku diberi kesempatan untuk selalu bisa melihat wajahmu, aku tidak mengharapkan yang lain."

Kini perasaan terharu sudah lenyap dari hati Wi Hong-nio, sebagai gantinya ia merasa kasihan, iba pada pemuda itu.

Tiba-tiba dari hati kecilnya muncul pula perasaan sedih, bukan sedih karena kehancuran Tayhong-tong, tapi sedih karena mendadak ia teringat pada Tio Bu-ki.

Perasaannya saat itu tepat sama seperti perasaan Tong Hoa, asal bisa bersama Bu-ki setiap saat, dia pun tidak mempunyai permintaan lainnya.

Tapi, banyak kejadian di dunia ini memang sukar terpenuhi sesuai dengan kehendak hati.

Jangankan selalu bisa bersama, mau bertemu saja susahnya setengah mati!

Melihat perasaan pedih yang menyelimuti wajah Wi Hongnio, tanpa terasa Tong Hoa menegur lagi.

"Kau kenapa?"

Wi Hong-nio tertawa getir, jawabnya terus terang.

"Tiba-tiba saja aku teringat pada Bu-ki!"

Tong Hoa tak berkata apa-apa, namun dalam hati kecilnya timbul rasa hormat yang tinggi kepada perempuan ini.

Diam-diam muncul perasaan sedih dan menyesal yang tak terhingga karena dia harus menipu seorang wanita polos yang baik hati dan berbudi luhur seperti ini.

Namun perasaan menyesal itu hanya melintas sekilas, dengan cepat ia tampil kembali dengan wajah dinginnya, wajah kaku ciri khas orang-orang Keluarga Tong.

"Huss, jangan sembarangan bicara!"

Serunya.

"Cepat bersantap dan istirahat secukupnya, karena malam nanti kita akan berangkat,"

"Berangkat jam berapa?"

"Lewat tengah malam."

"Kenapa harus waktu itu?"

"Karena saat itu adalah waktu orang tertidur nyenyak, waktu orang merasa paling mengantuk. Selewatnya orang akan merasa segar kembali dan dengan sendirinya kewaspadaan mereka pun meningkat kembali."

"Apakah orang-orang Benteng Keluarga Tong selalu seperti itu?"

"Benar."

Maka Wi Hong-nio segera menghabiskan nasinya dengan lahap, malah dia makan agak banyak karena dia tahu ia harus makan cukup kenyang agar ia mendapatkan kondisi tubuh yang segar dan tenaga yang kuat untuk melarikan diri.

Selesai bersantap, sebelum meninggalkan tempat itu Tong Hoa berpesan lagi.

"Tengah malam nanti aku akan datang membangunkanmu."

"Baik."

Bab 11.

Melarikan Diri Tengah malam.

Awan gelap menyelimuti sepenuh angkasa, tampaknya hujan deras akan turun setiap saat.

Tong Hoa mengenakan pakaian ketat berwarna hitam dengan sebilah pedang tersoren di punggungnya.

Dia membawakan satu perangkat baju hitam juga untuk Wi Hong-nio agar dikenakannya.

Dengan berpakaian seperti itu akan lebih mudah untuk menyelinap keluar dari tempat itu.

Wi Hong-nio menurut dan mengenakan baju hitam itu, kemudian dia pun menyandang sebilah pedang di punggungnya.

"Bukankah kau tidak mengerti ilmu silat?"

Tegur Tong Hoa ketika melihat dandanannya itu.

"Dulu memang tidak bisa, tapi belakangan aku mulai belajar sedikit ilmu pedang."

Mendengar jawaban tersebut, tanpa terasa Tong Hoa berpikir.

"Belajar golok butuh lima tahun, belajar pedang butuh sepuluh tahun, kalau baru belajar sebentar sudah berani memanggul pedang, apa tidak merasa sedikit tak tahu diri?"

Tentu saja ingatan tersebut tidak sampai diutarakan keluar, hanya ucapnya.

"Tapi membawa pedang akan sangat melelahkan..."

"Tidak apa-apa,"

Sahut Wi Hong-nio.

"dengan membawa pedang, aku merasa sedikit lebih tenang dan aman."

Kembali Tong Hoa berpikir.

"Ah... sudahlah, toh yang disebut melarikan diri hanya sandiwara belaka, mau berjalan lebih lambat juga tidak jadi masalah..."

Maka dia tidak membujuk lebih jauh, hanya pesannya.

"Andaikata nanti terjadi sesuatu, cepatlah menyingkir ke samping dan jangan mengeluarkan suara."

"Aku tahu."

"Baik, mari kita segera berangkat."

Mereka berjalan sangat lambat, berjalan sangat hati-hati, setiap kali tiba di sebuah tikungan jalan, Tong Hoa selalu menyelinap maju lebih dulu untuk mengintai apakah ada penjaga yang berjaga di situ.

Tingkah lakunya sangat sungguh-sungguh, seolah-olah dia memang sedang melarikan diri.

Setelah meninggalkan jantung wilayah Keluarga Tong...

kebun tempat tinggal, mereka berdua bergerak menuju ke kebun luas di luar tempat tinggal.

Tempat itu merupakan hutan yang luas, di hutan itu pula Tio Bu-ki nyaris menemui ajalnya andaikata tidak diselamatkan orang-orang Bilek-tong tempo hari.

Wi Hong-nio tidak tahu akan hal ini, juga dia tidak tahu bahwa di balik hutan itu penuh dengan penjaga dan jebakan.

Jangankan berilmu cetek, biarpun memiliki ilmu silat yang lebih hebat pun jangan harap bisa melewati tempat itu dengan mudah.

Dia hanya merasa hutan itu menyeramkan, mendatangkan perasaan bergidik, apalagi di tengah malam buta dengan angin yang berhembus kencang, suasana terasa lebih mengerikan dan mencekam perasaan.

Saat ini Wi Hong-nio merasakan satu-satunya perasaan aman datang dari genggaman tangan Tong Hoa, genggaman yang hangat dan kencang.

Sepanjang perjalanan Tong Hoa selalu mengajaknya menelusuri jalan yang gelap sambil menggandeng tangannya.

Tangan Tong Hoa bukannya menjadi dingin dan kaku lantaran tegang, sebaliknya justru terasa hangat yang luar biasa, kehangatan yang membuat Wi Hong-nio memperoleh kembali rasa percaya dirinya.

Mereka berjalan dengan menyusur di sepanjang tepi pepohonan.

Kurang lebih tigapuluh kaki kemudian, ketika mereka baru saja meninggalkan sisi sebatang pohon, mendadak dari atas pohon meloncat turun dua sosok manusia berbaju hitam.

"Siapa di situ?"

Hardik orang berbaju hitam itu lantang. Buru-buru Tong Hoa menarik tangan Wi Hong-nio agar menempel tubuhnya lebih dekat, lalu sambil memeluk bahu kiri perempuan itu sahutnya.

"Aku, Tong Hoa!"

"Sudah larut malam, mau apa kalian kemari?"

"Malam ini sangat indah dan tenang, bukankah saat paling tepat untuk berjalan santai sambil berbincang-bincang?"

Sahut Tong Hoa sambil menggerakkan tangan kanannya yang mendadak dihantamkan ke dada kanan orang itu.

Bersamaan dengan dilepaskannya pukulan, dia dorong tubuh Wi Hong-nio ke samping sambil bentaknya nyaring.

"Menyingkir!"

Dengan cepat pukulan itu meluncur ke depan dan menghajar dada orang itu dengan telak.

Tanpa sempat menjerit kesakitan, orang itu memuntahkan darah segar kemudian roboh terkapar ke belakang.

Melihat itu, orang berbaju hitam yang ada di sebelah kiri segera menggetarkan pedangnya, langsung menusuk tubuh Tong Hoa.

Meminjam sisa tenaga pantulan dari pukulan yang dilepaskan tadi Tong Hoa mundur selangkah, tusukan pedang yang datang dari sisi kiri pun mengenai tempat kosong.

Begitu mundur Tong Hoa segera menjejakkan sepasang kakinya dan melambung ke udara, dia terkam orang berpedang itu sambil melepaskan sebuah pukulan lagi, langsung dihantamkan ke dada kiri orangku.

Orang itu segera menggeser tubuhnya dua langkah ke kanan, sesudah lolos dari serangan, pedangnya secepat kilat membentuk garis lingkaran kecil untuk mengurung serangan Tong Hoa, lalu dengan mengubah babatan jadi tusukan, dia mengancam kening.

Dengan gesit Tong Hoa menghindar ke samping, berkelit dari tusukan itu.

Tapi gerak serangan itu mendadak berubah dari tusukan menjadi bacokan.

"wesss"

Langsung membabat baju bagian kiri yang dia kenakan. Tong Hoa mendengus dingin, di saat pedang lawan membabat ujung bajunya, secepat kilat telapak tangan kanannya membabat keluar.

"ploook!"

Sebuah bacokan telak menghajar dada kiri orang itu. Tak ampun lelaki berbaju hitam itu muntah darah segar dan...

"blaaam!"

Tubuhnya roboh terkapar ke belakang. Buru-buru Wi Hong-nio memburu ke depan sambil menegur penuh rasa kuatir.

"Kau terluka?"

Tong Hoa tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya segera berseru.

"Ayo cepat, kita segera tinggalkan tempat ini!"

Ia menarik tangan perempuan itu dan kabur dengan menelusuri tepi pepohonan yang lebat. Setelah tiba di ujung hutan, Tong Hoa baru menghentikan larinya sambil menarik napas panjang.

"Kau terluka?"

Kembali Wi Hong-nio bertanya dengan nada kuatir.

Saat itulah Tong Hoa baru menundukkan kepalanya untuk memeriksa.

Wi Hong-nio turut mendekat sambil memeriksa, tapi ia segera menjerit kaget.

Ternyata baju sebelah kiri Tong Hoa telah basah oleh noda darah, bahkan darah masih mengalir keluar dengan derasnya, jelas luka yang dideritanya tidak ringan.

"Ah, tidak apa-apa, kau tak perlu kuatir,"

Sahut Tong Hoa kemudian sambil tertawa.

"Tidak apa-apa?"

Seru Wi Hong-nio.

"Begitu banyak darah yang mengalir keluar, mana mungkin tidak apa-apa?"

"Tidak sakit, sama sekali tidak sakit, paling hanya sedikit luka lecet,"

Ujar Tong Hoa lagi sambil berusaha menekan mulut lukanya yang berdarah.

Tentu saja dia tidak merasa sakit karena segala sesuatunya hanya pura-pura, semuanya palsu, termasuk darah yang berceceran pun bukan darah asli.

Satu-satunya yang benar dan asli hanya pakaiannya yang robek karena sambaran pedang tadi.

Sudah barang tentu Wi Hong-nio tidak tahu rahasia di balik sandiwara itu, dia beranggapan semua kejadian tadi sungguhsungguh, maka dengan nada sangat cemas kembali ia berseru.

"Bagaimana sekarang? Ayoh kita cari tempat untuk merawat dulu lukamu itu!"

Tong Hoa merobek bajunya yang tersayat itu kemudian dililitkan ke atas lengannya yang terluka, setelah membuat ikatan, dia baru menjawab.

"Tidak apa-apa, yang penting kita harus segera pergi meninggalkan tempat ini!"

"Benar tidak apa-apa?"

"Benar!"

Sahut Tong Hoa, setelah berhenti sejenak tambahnya.

"andaikata lukaku amat parah, bagaimana dengan kau?"

"Kita pun tak usah pergi meninggalkan tempat ini, kita rawat dulu lukamu baru kemudian membuat rencana lain."

Mendengar jawaban tersebut Tong Hoa tertawa, tertawa penuh kepuasan. Dia merasa telah berhasil memancing rasa simpati Wi Hong-nio terhadap dirinya.

"Ai... sejujurnya aku pun merasa kasihan menipu perempuan polos seperti ini,"

Demikian Tong Hoa berpikir sambil menghela napas. Tapi dalam hati kecilnya.

"Apa mau dikata, ia justru jatuh ke tangan kami orang-orang Keluarga Tong!"

Walau berpikir begitu, di luarnya kembali ia bertanya.

"Seandainya kita balik dan ketahuan?"

"Lemparkan saja semua tanggung jawab kepadaku!"

Jawab Wi Hong-nio tanpa berpikir panjang.

"Kau anggap orang-orang Keluarga Tong percaya pada pengakuanmu?"

Seru Tong Hoa tertawa.

Seketika itu juga Wi Hong-nio bungkam.

Sebab dia hanya tahu berpikir menuruti suara hati sendiri, tentu saja dia tak bisa membayangkan apa yang dipikirkan orang lain.

Menyaksikan hal ini, Tong Hoa kembali berkata.

"Sudah, jangan bodoh, aku sudah berjanji akan membawamu pergi, apa pun yang terjadi aku akan tetap berusaha hingga berhasil, mari kita segera lanjutkan perjalanan kita!"

Habis berkata, dia menarik tangan perempuan itu dan melanjutkan kembali perjalanannya.

Tiba di ujung hutan tampaklah pintu gerbang Benteng Keluarga Tong terpampang di depan mata, saat itu pintu dalam keadaan tertutup rapat, dua orang penjaga sedang berjaga di depan benteng.

Dengan suara lirih Tong Hoa berbisik.

"Waktu aku meledakkan Peklek-tong dengan bahan peledak nanti, harap kau bersembunyi agak jauh. Begitu meledak, kau segera lari menghampiri aku karena waktu itu aku akan membukakan pintu untukmu. Ingat! Segala sesuatunya harus dilakukan dengan cepat!"

Wi Hong-nio manggut-manggut tanda mengerti, maka dengan berlagak amat tegang perlahan-lahan Tong Hoa berjalan mendekati pintu gerbang.

Melihat ada orang berjalan mendekat, dua orang penjaga pintu itu segera menghardik.

"Siapa di situ?"

"Aku, Tong Hoa!"

Sambil menjawab Tong Hoa mempercepat langkahnya menerobos lewat dari pintu.

Tampaknya kedua orang penjaga itu seperti ingin menanyakan sesuatu, baru saja mereka membuka mulutnya, obat peledak di tangan Tong Hoa sudah dilemparkan ke depan.

"Blaaam!"

Ledakan keras menggelegar di angkasa, debu dan pasir segera memenuhi pandangan, membuat Wi Hong-nio tak bisa melihat apa-apa.

Biar begitu, dia menuruti pesan Tong Hoa tadi, begitu pintu gerbang terbuka, dia segera berlari menerobos pintu gerbang.

Di tengah gulungan asap yang tebal, dalam waktu singkat ia sudah tiba di depan pintu gerbang, ia melihat Tong Hoa sedang menggapai ke arahnya.

Mempercepat larinya, ia lari ke samping Tong Hoa untuk kemudian bersama-sama kabur keluar dari pintu benteng.

Menanti Tong Hoa menutup kembali pintu gerbang benteng, dengan napas tersengal, barulah ia berkata lagi kepada Wi Hong-nio.

"Kembali kita berhasil meloloskan diri dari satu pos rintangan!"

Sebetulnya Wi Hong-nio mengira setelah berhasil kabur dari pintu kota, berarti mereka sudah selamat.

Tetapi begitu mendengar Tong Hoa berkata kalau mereka kembali lolos dari satu pos penting, artinya masih ada rintangan berikut yang mesti dilewati, tak kuasa lagi ia bertanya.

"Jadi kita belum aman?"

"Kita baru aman setelah melewati sebuah rintangan lagi!"

"Apakah lebih gampang untuk melewati rintangan itu?"

"Lebih gampang? Lebih susah malah!"

Bagai diguyur sebaskom air dingin di kepalanya, untuk sesaat Wi Hong-nio berdiri tertegun.

Baginya, pengalaman yang baru saja ia alami sudah sangat menyeramkan, seperti mengalami mimpi buruk.

Ketika mendengar harus menghadapi rintangan lain yang lebih berat, jantungnya berdetak keras, ototnya pada mengejang lantaran tegang.

Dengan susah payah baru saja ia berhasil kabur dari pintu benteng dan sebentar lagi harus bersiap menghadapi ancaman baru, tak heran jika ia merasa amat gugup.

Menyaksikan perubahan wajah perempuan itu, Tong Hoa segera menghibur.

"Kau tak perlu gugup, siapa tahu rintangan berikut dapat kita lewati dengan lebih mudah."

"Kenapa?"

Tanya Wi Hong-nio keheranan.

"Sampai di tempat ini, boleh dibilang aku hapal sekali dengan keadaan dan lingkungannya. Tapi pada rintangan berikut kita mesti menghadapi empat orang, untunglah keempat orang penjaga itu sahabat karibku, siapa tahu dengan bujuk rayu dan sedikit berbohong, mereka mau percaya alasanku dan membiarkan kita lewat tanpa susah payah!"

"Kau yakin kita akan bertemu dengan mereka berempat?"

"Sangat yakin!"

"Kenapa? Memangnya tak ada jalan lain kecuali jalan itu?"

"Tidak ada, untuk meninggalkan Benteng Keluarga Tong, siapa pun harus melewati jalan ini. Kecuali jalan ini, tempat ini dikelilingi tebing curam dan jurang yang sangat dalam."

Tak terasa kembali Wi Hong-nio memperlihatkan perasaan waswas dan kuatirnya yang sangat mendalam. Buru-buru Tong Hoa menghibur.

"Kau tak perlu kuatir, kelihatannya perubahan cuaca yang akan terjadi hari ini akan menguntungkan kita!"

"Apa hubungannya dengan perubahan cuaca?"

"Besar sekali,"

Tong Hoa menerangkan.

"keempat orang itu bukan atas kemauan sendiri berjaga di jalan tembus itu, mereka sedang menjalankan perintah."

"Menjalankan perintah? Perintah siapa?"

"Tentu saja perintah dari Keluarga Tong. Menurut peraturan yang berlaku di sini, bila mereka menemukan ada orang yang patut dicurigai meninggalkan benteng, maka mereka segera akan melepaskan kembang api sebagai tanda bahaya, warna kembang api balasan yang dilepas dari dalam benteng merupakan jawaban yang harus mereka lakukan, warna tertentu pertanda orang itu hanya cukup dihalau dan warna lain menandakan orang itu harus dibunuh!"

"Kungfu mereka sangat tangguh?"

"Tangguh sekali!"

"Kau sanggup mengalahkan mereka?"

"Tidak!"

"Kalau begitu lebih baik kita balik saja, buat apa mesti menyerempet bahaya?"

"Tidak, kita harus mencoba untuk mengadu untung."

"Mengadu untung?"

"Benar, cuaca hari ini amat jelek, tidak cocok untuk melepaskan kembang api. Bahkan kalau mereka paksakan untuk meluncurkan kembang api pun belum tentu bunga apinya terlihat dari dalam benteng dan selama pihak Keluarga Tong tidak melihat ada tanda kembang api, berarti besar kesempatan kita untuk berhasil!"

"Sungguh?"

"Sungguh! Coba lihat,"

Tong Hoa segera merentangkan telapak tangannya.

"Coba lihat, apa yang ada di telapak tanganku ini?"

Wi Hong-nio bukan hanya dapat menyaksikan, dia malah ikut merasakan.

Air hujan.

Ternyata hujan mulai turun.

Dalam keadaan demikian, sebodoh apa pun Wi Hong-nio juga mengerti apa yang akan terjadi.

Begitu hujan turun, apalagi hujan lebat, mustahillah kembang api bisa meledak di udara.

Jelas saat ini merupakan kesempatan yang sangat baik bagi mereka.

Tiba-tiba ia saksikan wajah murung dan sedih menyelimuti wajah Tong Hoa.

Melihat itu Wi Hong-nio segera menegur.

"Ada apa lagi? Kenapa kau mendadak sedih dan murung? Bukankah kesempatan telah tiba?"

"Aku kuatir, kalau hujan turun semakin deras, kita mau berteduh di mana?"

Tak kuasa lagi Wi Hong-nio tertawa cekikikan.

"Apa perlunya berteduh dari air hujan? Bukankah melarikan diri jauh lebih penting?"

"Tidak, berteduh dari hujan lebih penting!"

"Kenapa? Biar kehujanan pun belum tentu kita akan jatuh sakit."

"Aku bukannya takut sakit."

"Lalu apa yang kau takuti?"

"Aku kuatir keempat penjaga di depan curiga pada tingkah laku kita berdua! "Apa yang mereka curigai?"

"Adakah orang keluar kota di tengah malam yang sedang hujan lebat?"

"Rasanya memang tidak ada!"

Wi Hong-nio tahu, tubuh mereka tidak boleh berbekas hujan, akibatnya tidak jauh berbeda dengan melepaskan kembang api di tengah malam buta. Itulah sebabnya ia segera bertanya.

"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?"

Tetesan air huj an sudah makin membesar, kalau dilihat keadaannya, kemungkinan besar hujan akan turun semakin deras.

Pembicaraan ini mereka lakukan sambil tetap menelusuri jalan perbukitan, kini permukaan jalan mulai berlumpur dan semakin licin, untuk berjalan orang harus berjalan sangat hati-hati.

Tiba-tiba Tong Hoa berhenti, bisiknya.

"Mari kita berjalan menuju ke atas sana!"

Ia menuding ke arah jalan setapak yang tidak terlalu kentara di sisi kiri jalan. Jalan itu dipenuhi rumput ilalang dan semak berduri, walau begitu, jelas pernah ada orang yang melewati tempat itu.

"Apakah di atas sana ada tempat untuk berteduh?"

"Mestinya ada. Kalau aku tidak salah ingat, di atas itu terdapat sebuah kuil Dewa Gunung yang sudah bobrok."

"Berarti kau pernah datang kemari?"

Tanya Wi Hong-nio lebih jauh sambil berpegangan pada bahu Tong Hoa.

"Belum, belum pernah!"

Setelah berjalan kira-kira sepembakaran sebatang hio, air hujan yang sangat deras telah membuat mereka berdua basah kuyup.

"Ah, ternyata benar, lihat ke sana!"

Mendadak Tong Hoa berseru.

Tanpa berteriak pun Wi Hong-nio juga telah melihat sebuah bangunan kayu yang gelap gulita berdiri lebih kurang sepuluh tombak di depan.

Mereka mempercepat langkahnya ke sana, ketika Tong Hoa mendorong pintu dengan sekuat tenaga, pintu kuil pun segera terbuka.

Kedua orang itu langsung masuk ke dalam ruangan dan Tong Hoa membuat api unggun.

Ruangan kuil luas tapi kering, biarpun sudah bobrok, tapi tidak nampak ada bagian ruangan yang bocor.

Bukan saja tidak basah, di sudut ruangan ada setumpuk kayu bakar.

Tong Hoa berteriak kegirangan, ia segera memburu ke sana, memindahkan papan kayu ke tengah, lalu dengan pedangnya dia memotongmotong kayu itu menjadi kecil-kecil, setelah itu baru menyulut api untuk membuat api unggun.

Tak lama kemudian api unggun telah menyala.

Mereka duduk di sisi api, menggunakan tangannya untuk membesut air dan mengeringkan pakaian mereka yang basah kuyup.

Lebih kurang setengah jam kemudian, pakaian yang mereka kenakan mulai mengering, Tong Hoa segera bangkit lagi untuk mengambil kayu, membelahnya jadi kecil-kecil dan menambahkan ke dalam onggokan api unggun.

"Kemarilah, duduklah dekat dinding,"

Katanya kepada Wi Hong-nio.

"Kenapa?"

"Kau bisa duduk lebih dekat di sini."

Wi Hong-nio sangat terharu menyaksikan perhatian yang ditunjukkan pemuda itu, ia tersenyum dan segera bergeser duduk di sisi dinding.

Sementara itu hujan semakin deras diikuti suara guntur yang menggelegar, hembusan angin yang kencang dan kilatan petir membuat suasana amat menakutkan.

Tiba tiba Wi Hong-nio bangkit berdiri.

"Kenapa kau? Takut dengan guntur?"

Tong Hoa segera menegur.

"Tidak, tiba-tiba saja aku ingat sesuatu,"

Sahut perempuan itu.

"Urusan apa?"

"Kita harus segera meninggalkan tempat ini!"

"Kenapa?"

"Saat ini hujan turun sangat deras disertai guntur dan petir, bukankah keadaan ini merupakan kesempatan yang paling baik untuk melarikan diri?"

"Dari mana kau bisa berpendapat begitu?"

"Bukankah kau pernah berkata bahwa ada empat orang yang menjaga jalan tembus ini? Dalam cuaca seperti ini, masa mereka tidak mencari tempat untuk berteduh dari hujan?"

"Tidak mungkin."

Jawaban Tong Hoa tegas dan meyakinkan.

"Kenapa?"

"Sebab tugas ini adalah tanggung jawab mereka berempat."

"Tanggung jawab bisa dimengerti, tetapi dalam cuaca seperti ini, masa mereka akan bertahan basah kuyup dan membiarkan badannya tertimpa air hujan serta resiko disambar petir?"

"Kalau sampai tersambar petir, itu sudah resiko mereka!"

"Benarkah begitu?"

"Kalau orang lain mungkin aku tidak berani menjamin, tapi aku tahu pasti mengenai mereka berempat, dugaanku tak bakal salah!"

"Jadi menurutmu, mereka tetap akan berdiri di alam terbuka meski dalam keadaan hujan badai?"

"Ya!"

"Dari mana kau bisa tahu?"

"Tak usah dipikir lebih jauh pun segalanya sudah jelas. Cuaca seperti ini merupakan kesempatan emas bagi mereka yang ingin melarikan diri, siapa pun orangnya, mereka pasti akan memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Keempat penjaga itu bukan orang bodoh, sudah tentu makin buruk cuacanya, makin tinggi mereka tingkatkan kewaspadaan dan penjagaannya!"

"Oh ya?"

"Semua ini adalah aturan rumah tangga yang ditetapkan Keluarga Tong. Tentu saja tidak semua anggota Keluarga Tong pada generasi sekarang akan taat pada peraturan itu, tapi bagi mereka dari generasi lalu akan tetap berpegang teguh pada peraturan."

"Jadi keempat orang itu termasuk orang dari generasi lampau?"

"Betul, mereka adalah pengikut ayah Tong Ou, kesetiaannya pada Keluarga Tong tak perlu diragukan lagi. Mereka amat taat dan setia kepada tugas dan tanggung jawabnya."

"Siapakah mereka itu?"

"Mereka adalah anak yatim piatu yang dibesarkan oleh Keluarga Tong, sejak kecil mereka sudah dididik ilmu silat oleh ayah Tong Ou. Mereka diberi nama Tong Hong, Tong Bwee, Tong Sang dan Tong Bian."

Secara ringkas dia menceritakan asal-usul keempat orang itu beserta kehebatan ilmu silatnya.

Ia juga menceritakan bahwa pada malam sebelumnya mereka berhasil menangkap Tong Sip-jit.

Selesai mendengar penuturan itu, sambil menjulurkan lidahnya, Wi Hong-nio bergumam.

"Wah, tak kusangka mereka sehebat itu! Apakah kita sanggup menghindari mereka berempat?"

"Sulit, sulit sekali!"

Rasa sedih melintas di wajah Tong Hoa.

"Biarpun begitu, kita harus tetap mencobanya."

"Kurasa kita tak punya harapan,"

Bisik Wi Hong-nio sambil menggeleng.

"Apa dasarnya kau berpendapat begitu?"

"Bukankah kita sudah membunuh beberapa orang sewaktu keluar dari benteng? Bayangkan saja, peristiwa itu pasti sudah membuat geger seisi Benteng Keluarga Tong! Mereka pasti sudah mengirim peringatan kepada Tong Hong sekalian."

"Perkataanmu memang benar. Hanya saja tak seorang pun tahu bahwa mereka dibunuh kita berdua!"

"Artinya kita masih punya harapan?"

Ingin sekali Tong Hoa memberitahunya bahwa harapan terbuka lebar.

Untung saja ucapan tersebut segera ditelannya kembali karena mendadak ia teringat bahwa Wi Hong-nio cerdas dan perasa.

Ia tak ingin membongkar rahasia sendiri melalui kata-kata yang tak terkendali.

Kalau saja perempuan itu sampai menaruh curiga, pelaksanaan rencana Naga Kemala Putih akan mengalami banyak hambatan dan kesulitan.

Saat itu segulung angin kencang berhembus masuk melalui celah dinding yang berlubang, hembusan angin membuat daun jendela bergoncang keras dan menimbulkan suara nyaring.

Tong Hoa bangkit menghampiri jendela untuk menutup jendela itu lebih kencang, tapi hasilnya sebaliknya, daun jendela malah terlepas dan jatuh ke lantai.

Dengan perasaan jengah bercampur malu dia melemparkan sekulum senyuman ke arah perempuan itu.

Kini jendela sudah terlepas, angin dan hujan yang berhembus masuk pun makin kencang, ini menandakan di luar badai sedang mengamuk.

Di seberang jendela adalah meja altar, di atas dinding belakang meja altar tergantung selembar lukisan dewa.

Angin kencang tiba-tiba menghempaskan lukisan di dinding itu, membuatnya menghantam dinding berulang kali dengan menimbulkan suara nyaring.

Menyusul kemudian hembusan angin yang lebih kencang membuat lukisan itu rontok ke lantai.

Waktu itu Tong Hoa baru saja berhasil menutup kembali daun jendela yang rusak, hembusan angin pun seketika terbendung.

Ketika ia berpaling ke arah lukisan yang jatuh ke lantai itu, mendadak dia berseru tertahan.

Sebetulnya Wi Hong-nio pun sudah menaruh perhatian pada dinding bekas tempat lukisan itu tergantung.

Seruan tertahan Tong Hoa membuat perempuan ini memperhatikan dengan lebih seksama.

Ia segera bangkit berdiri dan menghampiri kawannya.

Rupanya di dinding bekas menggantung lukisan itu ada tempelan tanah liat yang jelas kelihatan belum lama ditempelkan ke situ.

Dengan pedangnya Tong Hoa mencoba mengetuk dinding itu, seketika bergema suara pantulan yang nyaring.

Tong Hoa melirik Wi Hong-nio sekejap, lalu dengan sekuat tenaga digempurnya tempelan tanah liat itu, segera saja tempelan tanah itu berguguran dan muncul sebuah lubang.

Ketika ia menggali lebih ke dalam maka tampaklah sebuah lubang besar yang cukup untuk dilalui oleh tubuh orang dewasa.

Cepat-cepat dia mengambil sebatang kayu dari onggokan api unggun sebagai penerangan, kemudian sekali lagi menengok ke balik gua itu.

Seketika mereka berdua dibuat tertegun, kaget bercampur keheranan.

Lubang gua itu jelas buatan orang, selain rata dan teratur, permukaan tanahnya menjorok jauh ke bawah sana.

"Apakah kita perlu memeriksanya?"

Tanya Tong Hoa kemudian.

"Tentu saja,"

Wi Hong-nio mengangguk.

"siapa tahu Thian memberi petunjuk kepada kita dan lorong ini merupakan jalan rahasia yang berhubungan dengan dunia luar."

Padahal sejak awal Tong Hoa sudah tahu bahwa lorong rahasia itu menuju ke mana.

Dia langsung menerobos masuk terlebih dulu, disusul Wi Hong-nio di belakangnya.

Setelah merangkak kira-kira tigapuluh kaki, tibalah mereka di dasar lorong.

Ternyata ruangan itu jauh lebih lebar, cukup digunakan seseorang untuk berdiri, maka mereka berdua pun bangkit berdiri sambil memeriksa sekelilingnya.

Menyaksikan gua itu merupakan sebuah gua alam yang besar, Wi Hong-nio sangat girang, serunya lagi.

"Entah lorong gua ini tembus sampai ke mana?"

"Aku tahu,"

Sahut Tong Hoa seakan baru teringat akan sesuatu.

"Apa yang kau ketahui?"

"Aku tahu gua ini menembus ke mana. Sewaktu masih kecil dulu pernah kudengar orang bercerita bahwa dalam Benteng Keluarga Tong ada sebuah lorong rahasia, tapi kemudian demi keamanan, lorong rahasia itu ditutup."

"Kenapa harus ditutup?"

"Sebab bila semakin banyak yang tahu, suatu ketika rahasia ini pasti akan bocor. Jika kemudian dimanfaatkan musuh, bukankah urusan jadi berabe?"

"Kenapa tidak mengirim saja berapa orang jago untuk menjaganya?"

"Menggunakan penjaga banyak kelemahannya, pertama kau harus mempunyai jagoan yang bisa dipercaya. Kedua, kungfu yang orang itu harus tinggi, tapi yang paling menakutkan justru bila orang itu berkhianat atau dibeli pihak lawan, akibatnya bisa sangat mengerikan!"

Mereka berbicara sambil menelusuri lorong rahasia itu.

Setelah berbelok beberapa tikungan, lorong itu berubah menjadi lurus dan menjorok ke bawah.

Dengan sangat hati-hati mereka menuruni lorong itu, sekitar setengah jam kemudian terlihat cahaya terang muncul di ujung sana.

Mereka segera mempercepat langkahnya menuju ke arah sumber cahaya itu, dan benar saja, cahaya fajar lamat-lamat tampak memancar masuk ke dalam lorong rahasia itu.

Tak lama kemudian mereka menemui semak belukar yang sangat rapat dan tebal.

Jelas di balik semak itu adalah jalan keluar dari lorong.

Tong Hoa segera meloloskan pedangnya, sembari menyibak semak yang tebal, dia berjalan di depan.

Waktu itu hujan telah berhenti, suasana remang keabuabuan meliputi seluruh langit.

Setelah keluar dari gua rahasia itu, Wi Hong-nio baru menyadari bahwa mereka sudah berada di belakang bukit.

Ketika berpaling ke belakang, ia mendapatkan tebing yang tegak lurus dan amat curam menjulang.

"Tebing ini adalah tebing penghalang yang kumaksudkan tadi,"

Tong Hoa menjelaskan.

"Berarti kita sudah turun gunung?"

Seru Wi Hong-nio kegirangan.

"Betul,"

Pemuda itu mengangguk.

"kita sudah berada di bawah gunung, bahkan tak usah melalui penjagaan keempat jago itu!"

"Bagus sekali!"

Pekik Wi Hong-nio sambil bertepuk tangan.

Tong Hoa ikut tertawa.

Dia tertawa bukan karena berhasil lolos dari Benteng Keluarga Tong, ia mentertawakan kebodohan Wi Hong-nio, tertawa karena berhasil membohongi perempuan itu.

Sayang Wi Hong-nio sama sekali tidak menyadarinya.

Sementara itu Tong Hoa telah berkata lagi setelah memeriksa sekeliling tempat itu sebentar.

"Aku rasa tidak sulit untuk menuruni bukit ini. Setibanya di kaki bukit dan berjalan satu-dua jam lagi, kita akan tiba di sebuah kota kecil, kita bisa beristirahat di sana."

Wi Hong-nio sama sekali tidak memperhatikan perkataan itu, sebab dia sedang sibuk menghapalkan keadaan daerah sekitarnya.

Ia berencana, bila bertemu lagi dengan Bu-ki nanti, rahasia lorong ini akan diberitahukan kepadanya...

Berpikir sampai di situ, tanpa terasa perasaan sedih kembali menyelimuti hatinya.

Sebagian lantaran dia teringat akan Bu-ki, sebagian lagi karena dia harus memperalat Tong Hoa untuk melarikan diri dari Benteng Keluarga Tong.

Hal yang dulu-dulu tak nanti dia sudi perbuat!

Tapi sekarang, dia telah melakukannya bahkan tanpa sengaja mendapat tahu tentang rahasia besar di balik lorong itu, dia merasa sedih karena rahasia tersebut terpaksa akan diberitahukan ke pihak Tayhong-tong agar bisa dipergunakan untuk kepentingan mereka.

Kenyataan memang selalu kejam, tak heran jika dia merasa amat sedih.

Begitulah, dengan membawa rasa sedih dia mengintil di belakang Tong Hoa menuruni bukit itu.

Tong Hoa tampaknya menangkap perasaan sedih perempuan itu, namun tak sepatah kata pun yang dia ucapkan.

Ketika tiba di kota kecil, waktu sudah menunjukkan tengah hari, mereka pun segera menangsal perutnya yang lapar.

"Sekarang, pergilah tidur sebentar,"

Ujar Tong Hoa.

"kita lanjutkan perjalanan kita menjelang malam nanti."

Wi Hong-nio manggut-manggut.

"Tapi kita harus kabur ke mana? Sampai di mana kita baru aman dari pengejaran?"

"Kini, Benteng Keluarga Tong telah berhasil merampas tiga markas besar Tayhong-tong, pengaruh serta kekuatan mereka kian kuat dan kian bertambah luas, aku rasa kita butuh menempuh perjalanan selama empat-lima hari lagi sebelum benar-benar mencapai tempat yang aman."

"Maksudmu lolos dari lingkaran pengaruh Tayhong-tong?"

"Betul, kalau tidak, setiap saat kemungkinan besar kita bisa tertangkap lagi!"

Wi Hong-nio tidak berbicara lagi, dia tahu cemas atau panik tak akan menyelesaikan masalah, dalam keadaan seperti ini, apa yang bisa dilakukan adalah menjalaninya setapak demi setapak.

Bab 12.

Tayhong-tong yang Tenggelam Tio Bu-ki telah mengambil keputusan.

Dia akan mencari Sugong Siau-hong untuk merundingkan persiapan serangan balik dengan tujuan merebut kembali markas besar mereka yang sudah jatuh ke tangan lawan.

Dia pun mengambil keputusan, tiap hari harus menempuh perjalanan berbekal tenaga yang paling segar dan pikiran yang paling jernih.

Perjalanan kali ini harus melewati banyak sekali wilayah di bawah pengaruh Benteng Keluarga Tong, wilayah yang sebelumnya milik Tayhong-tong.

Ia tidak tahu perubahan yang telah terjadi di bekas wilayah kekuasaannya itu, ia tidak ingin terjebak karena kurang waspada.

Semua pergerakannya harus dilakukan dengan sangat berhati-hati.

Untung saja perjalanan yang ditempuhnya dengan susah payah beberapa hari terakhir ini membuat janggutnya tumbuh lebat dan liar.

Tampangnya menjadi agak berubah, tidak gampang bagi orang lain untuk mengenalinya lagi sebagai Tio Bu-ki.

Kota kecil itu mempunyai nama yang enak didengar, Gin-sin, karena dulu di tengah-tengah kota itu tumbuh sebatang pohon yang amat besar.

Ketika masuk kota itu Tio Bu-ki mulai berpikir, kota ini hanya berjarak dua puluh li dari markas besar Tayhong-po, dulu termasuk wilayah kekuasaannya.

Tapi sekarang?

Bu-ki tidak tahu, tapi bila dilihat suasananya yang begitu tenang, sepertinya tak pernah terjadi perubahan apa pun di situ.

Sinar matahari tengah hari terasa begitu terik, sedikit sekali orang yang berlalu lalang, mungkin kebanyakan sedang bersantap siang di rumah masing-masing.

Seumumnya suasana kota terasa tenang dan damai.

Tio Bu-ki menuju sebuah warung penjual mie dan seorang pelayan segera menyambut kedatangannya sambil menyapa.

"Silahkan masuk tuan!"

Setelah duduk, pelayan menghidangkan sepoci air teh sambil bertanya lagi.

"Tuan ingin memesan hidangan apa?"

"Terserah,"

Jawab Bu-ki sambil menghirup air teh.

"Terserah yang besar, atau terserah yang kecil?"

Bu-ki tertegun sambil duduk seperti orang tolol. Sepanjang hidup baru pertama kali ini ia mendengar orang bertanya seperti itu. Ditatapnya pelayan itu sebentar, kemudian bertanya.

"Apa maksudmu dengan terserah besar dan terserah kecil?"

"Terserah besar berarti akan kusediakan satu mangkuk mie babi kecap, kalau terserah kecil akan kusediakan semangkuk bubur sambal tahu..."

"Sejak kapan kalian menjual bubur sambal tahu?"

"Baru kemarin mulai menjualnya."

"Kemarin?"

"Benar, biasanya kami tidak sedia hidangan semacam itu, tapi sejak kemarin banyak tamu yang datang minta bubur sambal tahu, jadi mau tak mau kami harus menyediakan hidangan istimewa itu."

"Dengan mendadakan begitu, apa kalian bisa membuatnya?"

"Tidak bisa. Tapi ada orang yang datang membantu kami."

"Orang-orang Benteng Keluarga Tong?"

"Tuan, dari mana kau bisa tahu? Benar, orang-orang Benteng Keluarga Tong memang pandai sekali mencari duit!"

Mendengar jawaban itu, diam-diam si anak muda mengeluh.

Dia tahu rumah makan ini dulu di bawah kekuasaan Tayhong-tong, tapi sekarang?

Tampaknya dengan ringan saja mereka rela bekerja untuk pihak musuh.

Dia ingin sekali menggunakan kesempatan ini untuk mengumpulkan berita, namun untuk sesaat dia tidak tahu harus mulai dari mana.

Melihat tamunya bungkam, kembali pelayan itu menegur.

"Tuan, bagaimana kalau kau coba semangkuk dulu?"

"Baiklah!"

Tak lama kemudian pelayan itu muncul lagi dengan membawa semangkuk bubur, lalu ia menyingkir ke samping menyaksikan tamunya dahar. Baru dua tiga suapan, kembali pelayan itu bertanya.

"Bagaimana? Enak bukan?"

"Ehm!"

"Tuan suka?"

Kembali pelayan itu bertanya. Untuk sesaat Bu-ki tidak menjawab, sebab dari balik pertanyaan itu ia menangkap sesuatu yang tidak beres. Setelah berpikir sejenak ia balik tanyanya.

"Bagaimana menurutmu?"

"Aku amat suka, dan kau?"

"Kurasa hidangan ini memang enak, tapi aku tidak suka."

"Kenapa?"

"Sebab aku tidak terbiasa makan hidangan yang pedas."

"Tidak biasa?"

Mendadak pelayan itu menarik wajahnya.

"Tidak biasa pun harus dibiasakan!"

Selesai bicara, tiba-tiba dia menggerakkan tangannya mencengkeram dada lawan.

Untung Tio Bu-ki sudah membuat persiapan sejak tadi, dari perubahan matanya yang aneh dia sudah tahu kalau gelagat tidak beres.

Oleh karena itu sejak awal sudak mempersiapkan diri sebaikbaiknya.

Begitu melihat wajahnya berubah menjadi gelap, dia segera menghimpun tenaga dalamnya sambil bersedia menghadapi segala kemungkinan.

Melihat serangan lawan datang menyambar, Bu-ki segera menjejakkan sepasang kakinya untuk melompat mundur dua langkah, kemudian sambil menyilangkan tangan kanannya dia siap melancarkan serangan balasan.

"Kenapa kau membokongku?"

Tegurnya.

"Karena kau bukan anggota Benteng Keluarga Tong!"

"Dari mana kau bisa tahu?"

"Dari mana bisa tahu? Hm, siapa pun tahu, tak ada anggota Benteng Keluarga Tong yang makan bubur pedas selambat caramu bersantap!"

"Sekalipun aku bukan anggota Benteng Keluarga Tong, tidak seharusnya kau membunuhku!"

"Tetap harus dibunuh!"

"Kenapa?"

"Penguasa kota berpesan agar kami membasmi semua sisa kekuatan lama yang masih ada. Dulu tempat ini termasuk wilayah kekuasaan Tayhong-tong."

Kembali Tio Bu-ki merasakan hatinya amat sakit, menurut penuturan pelayan itu, nampaknya sebagian besar anggota Tayhong-tong telah mati dibantai bahkan kemungkinan besar seluruh penghuni kota sudah habis dimusnahkan.

Sungguh sebuah tindakan yang amat keji!

"Jadi kalian telah membunuh seluruh penghuni kota?"

Tak tahan lagi dia bertanya.

"Asal bersedia takluk tentu saja tidak, tapi kalau berani membangkang, bantai!"

"Hm, sungguh keji perbuatan Benteng Keluarga Tong, apakah Tong Ou yang suruh kalian melakukannya?"

"Tong Ou? Tak nanti Tong Ou menitahkan kami untuk melakukan perbuatan ini, dia kelewat baik hatinya!"

"Lalu atas perintah siapa?"

"Tentu saja orang yang jauh lebih berkuasa daripada Tong Ou! Kalau tidak, mana mungkin kami berani menyebut nama Tong Ou secara terbuka?"

Bayangan seorang nenek yang angkuh segera terlintas dalam benak Tio Bu-ki, serunya tanpa terasa.

"Berarti Lo-cocong yang suruh?"

"Kau juga tahu tentang nenek moyang?"

Tanya pelayan itu kaget.

"Bukan cuma tahu, bahkan pernah bertemu!"

"Oh... jadi kau anggota Benteng Keluarga Tong?"

"Bukan, aku anggota Tayhong-tong!"

Begitu perkataan itu berkumandang, Tio Bu-ki telah mengayunkan telapak tangannya melancarkan sebuah pukulan kuat ke depan, berbarengan dengan itu tubuhnya melejit ke udara dan menerjang maju.

"Plak!"

Hantaman itu bersarang telak di dada si pelayan.

Tak ampun orang itu memuntahkan darah segar, dengan mata terbelalak lebar dia mengawasi pemuda itu dengan ketakutan.

Setelah mendengus dingin, kembali Tio Bu-ki berkata.

"Kau bisa membokong aku, tentu saja aku pun bisa melakukan hal yang sama, bahkan baru pertama kali ini kubokong orang lain. Aku benarbenar tidak tahan melihat ulah kalian, kau anggap nama Tong Ou boleh disebut seenaknya?"

Pelayan itu hanya bisa terbelalak dengan mulut melongo, tak sepatah suara pun yang bisa diucapkan, sebentar kemudian tubuhnya roboh terjungkal ke lantai.

Bersamaan dengan robohnya tubuh pelayan itu, Tio Bu-ki segera membungkukkan badannya untuk menyusup ke bawah kolong meja.

Saat itu terdengar suara desingan angin tajam bergema dari arah delapan penjuru, berpuluh-puluh batang senjata rahasia berhamburan tiba.

Begitu cepat serangan itu menyambar tiba, sehingga sebagian dari senjata rahasia itu menghajar tubuh pelayan tadi.

Tio Bu-ki yang bersembunyi di kolong meja tidak tinggal diam, dia mengangkat sepasang kaki meja itu, kemudian diobatabitkan ke kiri dan kanan.

Rupanya serangan senjata rahasia gelombang kedua kembali mengarah tubuhnya.

"Tring, trang, tring, trang!"

Seluruh senjata rahasia itu menghajar permukaan meja.

Di saat memutar meja untuk melindungi dirinya, sekilas Tio Bu-ki dapat melihat kalau ada sekitar delapan orang berdiri di sekitar dirinya.

Dengan sekuat tenaga dia melemparkan meja itu ke arah salah satu di antara kawanan jago itu, kemudian dia menerjang ke arah yang berlawanan.

Sementara tubuhnya masih melayang di udara, pedangnya sudah diloloskan dari sarung.

Tanpa membuang waktu lagi, pedangnya diayun berulangulang.

"Sreet, sreeet!"

Dua bacokan kilat membuat pakaian dua orang pengepungnya robek panjang.

Menyusul kemudian ia menerjang ke sisi kalangan, lagi-lagi dua bacokan yang dilontarkannya memaksa dua orang pengepungnya yang lain mundur ketakutan.

Sungguh cepat semua gerak serangan yang dia jalankan.

Ketika dia selesai membereskan keempat orang lawannya, meja yang dilempar ke depan tadi baru saja menghantam tubuh lawannya!

Dengan gerakan secepat kilat pemuda ini berbalik menerjang ke arah meja itu meluncur.

Sekali lagi pedangnya bergerak cepat menusuk dada orang yang berada di samping meja.

Sisanya yang dua orang jadi ketakutan setengah mati setelah melihat kejadian ini.

Sadar kalau gelagat tidak menguntungkan, buru-buru mereka balik badan lari terbirit-birit.

Saat itu hawa amarah dan rasa dendam yang menyelimuti hati Tio Bu-ki sudah mencapai puncaknya.

Tentu saja dia tak ingin membiarkan musuhnya kabur dengan begitu saja.

Sambil menjejakkan kaki kanannya ke tanah, bagaikan seekor burung rajawali raksasa dia menyambar ke depan, pedangnya menusuk berulang kali, tahu-tahu punggung kedua orang musuhnya yang sedang kabur itu sudah tersambar telak.

"Blaaam, blaaam!"

Diiringi dua kali benturan keras, kedua orang itu roboh terkapar bermandikan darah.

Robohnya kedua orang musuh tidak membuat amarah pemuda ini mereda, justru sebaliknya rasa benci dan dendamnya semakin memuncak.

Ia menilai tindakan dan perbuatan orang-orang Benteng Keluarga Tong sudak melewati batas, dia merasa sangat tersinggung dan tidak bisa menerima perlakuan mereka.

Khususnya tindakan keji yang mereka lakukan terhadap para pengikut setia Tayhong-tong.

Semakin diingat semakin makan kati, tiba-tiba pemuda itu berjalan menuju ke samping sebuah tiang penyangga rumah.

Sambil menghimpun tenaga dalam dihajarnya tiang penyangga itu, sesudah itu ia menghampiri lagi ketiga tiang penyangga lainnya masing

KANG ZUSI website

http.//cerita-silat.co.cc/ masing dihajarnya sepenuh tenaga.

Ketika tiang terakhir sudah dihajar hingga patah, ia baru beranjak keluar dari rumah makan itu.

Baru saja tiba di tepi jalan, rumah makan itu sudah ambruk ke tanah, suara gemuruh yang ditimbulkan memancing kedatangan orang banyak ke sana.

Tio Bu-ki menunggu sampai suara gemuruh itu mereda baru kemudian berseru di hadapan mereka.

"Apakah kalian anggota Benteng Keluarga Tong?"

Tak seorang pun menyahut, banyak di antaranya bahkan buru-buru mundur dengan wajah ketakutan, tampaknya bersiap untuk melarikan diri.

Menyaksikan hal ini, Bu-ki segera melintangkan pedangnya sambil menghardik.

"Siapa berani kabur dari sini?"

Seketika semua orang menghentikan langkahnya dan tak berani berkutik.

"Aku Tio Bu-ki dari Tayhong-tong! Aku tidak senang ada yang berani menghina dan memandang rendah Tayhong-tong! Huh, suatu ketika nanti, nasib Benteng Keluarga Tong akan sama dengan nasib bangunan itu!"

Ia menuding rumah makan yang sudah roboh berantakan itu.

Suasana di sekeliling tempat itu sekali lagi dicekam keheningan yang luar biasa, tak ada seorang manusia pun berani berbicara apalagi bercakap keras-keras.

Malahan ada di antaranya yang menundukkan kepala rendah-rendah, ada pula yang menunjukkan harapan agar Tio Bu-ki melanjutkan perbuatannya lebih jauh.

Tapi ada juga yang menampilkan wajah sinis dan menghina, seolah sedang berkata.

"Tayhong-tong dengan anggota yang begitu banyak pun sudah dibikin keok oleh Benteng Keluarga Tong, hanya mengandalkan kau Tio Bu-ki seorang, apa yang bisa kau perbuat?"

Ketika amarah mulai mereda, Tio Bu-ki juga mulai berpikir dengan kepala dingin.

Menyaksikan berbagai wajah yang diperlihatkan orang-orang itu, mendadak perasaan sedih dan kecewa muncul dari dasar hatinya.

Bicara sejujurnya, kawanan manusia itu hanya kaum saudagar, orang yang mencari duit dengan mengandalkan terjaminnya keamanan.

Kalau mereka lalu lebih condong pada kekuatan yang berkuasa, ini kejadian yang lumrah, sebab jika keamanan tidak terjamin, siapa yang berani berdagang?

Selain itu saat ini dia hanya seorang diri, dengan kekuatan begini kecil, apa yang bisa dia perbuat?

Bisa saja dia mengusir orang-orang Benteng Keluarga Tong yang ada saat ini, tapi apa yang akan terjadi setelah ia meninggalkan kota itu?

Lalu apa yang bisa dia perbuat jika pihak Benteng Keluarga Tong mengirim bala bantuan?

Untuk mewujudkan cita-cita dibutuhkan kekuatan nyata, tidak ada kecuali untuk itu.

Dalam keadaan seperti ini satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah secepatnya bertemu Sugong Siauhong, menyusun strategi, menghimpun kembali kekuatan baru kemudian merebut kembali satu per satu wilayah itu dari tangan Benteng Keluarga Tong.

Begitu sadar akan kecerobohannya, sambil tertawa getir pemuda itu berkata lagi.

"Kalian tak usah kuatir, Tayhong-tong pasti akan bangkit kembali dan membebaskan wilayah ini dari penjajahan, aku berharap kalian bisa menjaga diri baik-baik!"

Selesai bicara dia menyimpan kembali pedangnya dan perlahan-lahan beranjak pergi dari situ.

Berjalan hingga menjelang senja, tibalah anak muda itu di sebuah kota kecil lain, dia tak taku nama kota itu karena tiada ciri khas di kota tersebut, juga tak ditemukan papan petunjuk.

Dia hanya mengetahui satu hal, satu persoalan yang tak ingin dia selidiki bagaimana akibatnya.

Kota ini terlihat cukup besar, mungkin lebih dari duaratus orang penduduknya, namun sekilas pandang suasana terasa lengang dan sepi.

Biasanya senja merupakan saat yang pakng ramai orang berlalu lalang.

Tapi kini?

Kota itu sepi dicekam ketakutan.

Ia mencoba menyusuri jalan di tengah kota, semua pintu tertutup rapat.

Ia mencoba menelusuri lebih jauh sampai akhirnya menemukan satu bangunan rumah yang retak hampir roboh.

Padahal bangunan yang tampak hampir roboh itu masih kelihatan baru, kayu-kayunya kuat dan kokoh, tidak seharusnya dengan bahan yang begitu kokoh bisa roboh.

Tapi apa yang terjadi?

Kenapa bangunan rumah itu seakan hendak roboh?

Ia menghampiri bangunan itu dan segera menemukan bahwa retaknya bangunan itu akibat ulah manusia.

Ada seseorang yang sengaja merobohkan rumah itu.

Dalam bangunan tak ada lentera dan tentu saja tidak ada penghuninya.

Dia tak ingin mengamati lebih jauh, maka kembali ia mengikuti jalan yang berbelok ke kanan lalu belok lagi ke kiri sampai di depan sebuah warung di tepi jalan.

Warung itu menjual bakmi, sebuah lentera kecil tergantung di sisi warung, seorang kakek duduk di belakang tungku, tak nampak ada tamu yang bersantap.

Ketika melihat kemunculan Tio Bu-ki, dengan ramah kakek itu segera menyapa.

Tio Bu-ki mengambil tempat duduk dan memesan semangkuk bakmi daging sapi.

Bakmi itu sangat pedas namun sedap rasanya, sangat berbeda dengan bubur tahu pedas yang ia makan siang tadi.

"Bakmi daging sapi yang kau jual ini dulu tentu tidak pedas bukan?"

Tak tahan tanya anak muda itu.

"Tuan pernah makan di sini?"

Tanya kakek itu sambil duduk di sisi pemuda itu.

"Tidak pernah, baru pertama kali ini aku datang kemari."

"Oh, hebat sekali, baru dicicipi segera sudah tahu!"

"Warungmu nampak sudah lama, tandanya kau sudah lama sekali berjualan di sini, tapi rasa pedasmu tidak harum, jika kau tetap masak dengan bumbu seperti ini, aku yakin tak sampai tiga bulan kau harus menutup usahamu!"

"Ucapan tuan memang tepat sekali, tapi, haaai..."

Kakek itu menghela napas panjang dan tidak melanjutkan kata-katanya.

"Apa kesulitanmu, kenapa tak kau teruskan?"

"Sebetulnya bukan suatu rahasia yang tak boleh diungkap, kalau memang kau datang dari luar daerah, biarlah kuceritakan padamu."

Bu-ki segera meletakkan sumpitnya dan mendengarkan cerita kakek itu dengan seksama.

"Begini ceritanya,"

Kata kakek itu kemudian.

"Dulu kota ini adalah wilayah kekuasaan Tayhong-tong, selama itu semuanya aman dan tenteram, dagangan ramai dan gampang cari duit. Tapi sejak beberapa hari yang lalu, Tayhong-tong dikalahkan Benteng Keluarga Tong sehingga daerah ini jatuh ke tangan mereka. Sejak itulah usahaku menjadi sepi, susah cari duit dan hidup pun jadi tidak tenteram."

Setelah berhenti sejenak untuk menarik napas, kakek itu melanjutkan.

"Kau lihat bangunan rumah di ujung jalan sana?"

Tio Bu-ki mengangguk.

"Dengan terang-terangan mereka menentang dan melawan Benteng Keluarga Tong, akibatnya rumah mereka dijebol orang, sementara penghuninya ditangkap semua. Akibat peristiwa ini, banyak orang yang pura-pura tunduk pada Benteng Keluarga Tong, tapi ada juga sebagian yang lain melarikan diri dari sini."

Selesai mendengar penuturan itu, Tio Bu-ki semakin yakin kalau dugaannya tidak salah, segala sesuatu terjadi karena kekuatan Tay-kong-tong semakin mundur sementara pengaruh Benteng Keluarga Tong semakin berjaya.

"Masa orang-orang Benteng Keluarga Tong begitu galak?"

Tanya pemudaku.

"Malah ada yang lebih galak lagi!"

"Ook, apa yang terjadi?"

"Di ujung jalan sana ada seorang kakek penjual kelontong, dia she Thio dan mempunyai seorang anak gadis, tahun ini baru berusia tujuh belas tahun, wajahnya cantik dan menawan. Sudah banyak anak muda yang berminat dan mengajukan lamaran, tapi semuanya ditolak bapaknya."

"Kenapa?"

"Menurut kakek Thio, putrinya sejak kecil sudah dijodohkan dengan putra seorang Tongcu Tayhong-tong, namanya..."

Kakek itu berpikir sejenak sambil menggaruk-garuk kepalanya, sesaat kemudian baru berseru.

"Ah, betul, dia bernama Li Hong-hui!"

"Li Hong-hui?"

"Tuan kenal dengannya?"

"Tidak, tapi pernah mendengar nama itu!"

Padahal Bu-ki kenal Li Hong-hui, hanya saja dia tak ingin mengungkap dirinya. Kembali tanyanya.

"Bagaimana selanjutnya?"

"Kemudian semua orang mengurungkan niatnya untuk meminang. Tapi belakangan, setelah orang-orang Benteng Keluarga Tong muncul di sini, satu di antara mereka, konon seorang Tancu yang bernama Si Po-yong tertarik pada gadis itu, dia memaksa hendak meminangnya."

"Lalu apa yang dilakukan kakek Thio?"

"Apa lagi? Dia bisa berbuat apa? Aaai..."

Dia menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya berulang-ulang.

Tio Bu-ki tidak bertanya lebih lanjut, sebab dia tahu di kala seseorang sedang bersedih, lebih baik jangan mengusik atau mengganggunya, beri kesempatan lebik dulu kepadanya untuk melampiaskan kesedihannya.

Setelah menghela napas panjang, kakek penjual mie itu meneruskan.

"Besok pagi, Si Po-yong akan datang memboyong pergi gadis itu!"

"Kenapa keluarga Thio tidak berusaha untuk melarikan diri?"

"Melarikan diri? Bagaimana mungkin?"

"Kaki toh tumbuh di badan mereka, apa susahnya kabur dari sini?"

"Kalau ada delapan orang lelaki bengis yang siang malam menjaga di depan dan belakang pintu rumah mereka, bagaimana caranya untuk kabur?"

Tio Bu-ki tidak bicara lagi sebab dia cukup paham dengan keadaan di lingkungan itu.

"Padahal pengaruh Tayhong-tong sudah runtuh dan lenyap, apa salahnya kakek Thio menjodohkan putrinya dengan penguasa baru? Bukankah kejadian ini malah menguntungkannya?"

"Ucapan tuan benar, tapi tiap orang punya pendapat yang berbeda-beda, ada sementara orang berjiwa tempe dan berpikiran bunglon, tapi ada pula yang berjiwa ksatria, setia dengan Tayhongtong dan tidak mau takluk pada orang lain!"

Mendengar sampai di situ, diam-diam Tio Bu-ki mengambil keputusan akan membantu keluarga Tkio.

Dia lalu bertanya letak rumah keluargaku.

Selesai membayar, dia berangkat menuju ke arah yang ditunjuk.

Waktu itu kegelapan malam sudah menyelimuti seluruh kota kecil itu.

Lentera yang menerangi warung itu sangat redup, membuat Bu-ki susah untuk melihat perubahan wajah kakek penjual mie itu.

Seraut wajah yang menyeramkan, wajah pembunuh yang membuat bulu kuduk berdiri!

Ooo)))(((ooo Tio Bu-ki berjalan lambat-lambat, dandanannya tetap sama seperti penampilannya tadi, menggantungkan pedangnya di belakang baku.

Kini cahaya lampu telah menyinari seluruh jalan, walaupun tidak terlalu ramai namun sudah menyerupai keramaian di sebuah kota kecil.

Tengah berjalan, mendadak ia berubah pikiran, ia memutuskan untuk menunda dulu kunjungannya ke kakek Thio.

Ia ingin mencari tempat untuk beristirahat dulu.

Keputusan ini menjadi keputusan yang mematikan.

Keputusan yang jauh lebih menakutkan ketimbang senyuman si kakek penjual mie yang menakutkan tadi.

Keputusan ini telah memberi waktu yang cukup bagi kakek penjual mie itu untuk menjalankan rencana busuknya yang mengerikan dan mematikan.

Ooo)))(((ooo Pembaringan kayu keras dan dingin, sama sekali tidak nyaman untuk ditiduri.

Tapi Tio Bu-ki justru suka tidur di pembaringan semacam ini, karena pembaringan kayu membuat pinggangnya lebih lurus, keadaan yang dibutuhkan seorang pesilat.

Berbaring di pembaringan kayu itu, pikirannya melayang kembali ke suasana dalam gedung keluarga Tio di Tayhong-tong.

Terbayang kembali pembaringan kayu yang biasa ditidurinya hampir belasan tahun.

Membayangkan pembaringan kayu, tentu saja dia lalu teringat pembaringan yang lain, sebuah pembaringan baru, pembaringan yang nyaman dan merangsang.

Ranjang pengantin!

Ranjang pengantinnya bersama Wi Hong-nio.

Karena terdorong rasa ingin tahu, dia pernah pergi menengoknya.

Sayang tak ada kesempatan untuk menggunakannya, walau hanya semalam!

Bila dalam dunia persilatan tak ada perkumpulan yang bernama Benteng Keluarga Tong, ayaknya tak akan mengorbankan jiwa dengan percuma.

Upacara perkawinannya pasti akan berlangsung meriah dan malam harinya dia pasti akan menikmati empuknya ranjang pengantin!

Ya, andaikata dalam dunia persilatan tak ada perkumpulan yang bernama Benteng Keluarga Tong!

Ia tak menghela napas, karena tiba-tiba ia berpikir, mungkin saja orang-orang dari Benteng Keluarga Tong juga ada yang sedang berpikir, andaikata dalam dunia persilatan tidak ada perkumpulan yang bernama Tayhong-tong...

Jadi pada dasarnya masalah bukanlak ada atau tidaknya Benteng Keluarga Tong.

Mungkin saja Keluarga Tong tidak ada, namun tidak menutup kemungkinan akan muncul Benteng Keluarga Tan atau Benteng Keluarga Li.

Jadi pokok persoalan adalah kekuatan dan daya pengaruh.

Dia harus memperbesar pengaruh dan kekuatan yang dimilikinya, dengan begitu semua persoalan baru bisa diatasi.

Itu sebabnya ia memutuskan untuk pergi menolong kakek Thio dan putrinya, ia ingin tetap menanamkan pengaruh Tayhongtong di tempat itu, bahkan ingin semua orang taku bahwa Tayhongtong tidak selemah seperti yang dibayangkan orang!

Ia berencana pada kentongan pertama nanti, dengan purapura sebagai keluarga kakek Thio, ia akan menyusup masuk ke dalam rumah.

Kemudian bersama kakek Thio menghabisi para penjaga dan membawanya kabur, dia ingin mengajak keluarga itu untuk mengungsi ke tempat Sugong Siau-hong, baru kemudian mencari Li Hong-hui agar bisa menikahi kekasihnya.

Bagaimanapun juga dia harus berusaha sekuat mungkin, sebab tidak gampang menemukan orang yang begitu setia terkadap Tayhong-tong!

Kentongan pertama.

Setelah mempersiapkan diri, dengan penuh semangat Tio Bu-ki berangkat menuju ke rumah kakek Thio.

Dari jauk ia sudah melihat dua lentera gantung di depan pintu rumah, lentera berwarna merah yang memancarkan cahaya terang.

Betul juga, di depan rumah tampak ada dua orang lelaki kekar bersenjata golok sedang melakukan penjagaan.

Ketika ia berjalan mendekat, salak seorang dari dua lelaki itu segera menghadang jalannya seraya menegur dengan suara garang.

"Mau cari siapa?"

"Tuan rumah,"

Sahut pemuda itu sambil menuding ke dalam gedung.

"Mau apa mencarinya?"

"Memberi ucapan selamat, katanya besok putrinya akan menikah. Aku keluarga jauhnya yang datang untuk memberi selamat."

Dengan sorot mata tajam lelaki itu mengamati Tio Bu-ki beberapa saat, baru katanya.

"Masuk!"

Pintu dalam keadaan terbuka.

Tio Bu-ki segera mengetuk pintu gerbang kuat-kuat, tiga kali ketukan keras ditambak dua kali ketukan perlahan.

Itulak ketukan rahasia Tayhong-tong, tanda bahwa yang datang satu aliran dengan mereka.

Pintu segera dibuka.

Seorang lelaki setengah umur yang berperawakan tinggi besar melongokkan kepalanya memperhatikan pemuda itu sekejap.

Lelaki itu mengenakan topi dari kulit yang dipasang amat rendah sampai menutup hampir seluruh telinganya, menutupi juga keningnya yang menonjol tinggi.

Setelah mengamati Bu-ki beberapa saat, lelaki setengah umur itu baru bertanya.

"Kau..."

"Aku datang mencari kakek Thio!"

"Kakek Thio?"

"Benar!"

"Aku she Thio, tapi bukan kakek Thio."

"Apakah kau punya anak perempuan yang akan dinikahkan besok?"

"Benar!"

"Kalau begitu kaulah yang sedang kucari, sebab ada orang memanggilmu kakek Thio maka aku..."

"Tahun ini aku berusia limapulub tahun, mungkin lantaran belajar silat maka tampangku nampak jauh lebih muda!"

Orang itu berkata sambil tertawa.

"Ayoh silahkan masuk!"

Dia mengajak Bu-ki melewati kalaman depan yang luas dan masuk ke ruang tengah. Suasana di situ amat sepi, tak nampak sesosok bayangan manusia pun.

"Kenapa tak nampak satu orang pun?"

Tanya Bu-ki kemudian.

"Sudah pada kabur!"

"Kenapa?"

"Pada takut mati!"

Bu-ki tidak bicara lagi.

Siapa sih yang tidak takut mati?

Takut mati memang kelemahan orang, apalagi menghadapi keadaan seperti ini, kabur karena takut adalah sebuah urusan yang biasa.

Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya, dengan keheranan kembali ia bertanya.

"Apakah penjaga di luar mengijinkan mereka untuk pergi?"

Kakek Thio sedikit melengak, tapi cepat-cepat sahutnya.

"Tentu saja!"

"Kenapa kau tidak menyamar jadi pelayan untuk kabur juga dari sini?"

"Mungkinkah bagiku?"

Kakek Thio tertawa getir, sambil menuding perawakan tubuhnya.

"Aku tinggi besar, siapa saja bisa mengenalku dalam sekilas pandang, apa mungkin aku bisa kabur?"

"Berarti kau membiarkan putrimu dikawin orang?"

"Mau apa lagi? Mau melawan juga tak mungkin bisa mengalahkan mereka!"

"Bertarung saja belum, bagaimana kau bisa tahu kalau tidak sanggup mengalahkan mereka?"

Sekali lagi kakek Thio melengak.

"Apa perlu kita melakukan perlawanan?"

"Tentu saja!"

"Kenapa?"

"Sewaktu masuk, aku sempat memperhatikan dua penjaga di luar itu, kelihatannya kungfu mereka tak seberapa tinggi."

"Sungguk?"

Tak nampak rasa girang di wajah orang itu. Sayang Bu-ki tidak memperhatikan perubahan itu, kembali ia bertanya.

"Mana putrimu?"

"Di dalam kamar."

"Suruh dia kemari, akan kuajak kalian pergi meninggalkan tempat ini."

"Kau? Siapa kau?"

"Aku Tio Bu-ki."

"Kau Tio Bu-ki?"

"Kenapa? Tidak mirip?"

"Oh tidak, tidak, aku terlalu gembira,"

Sahut kakek Thio itu lagi.

Meskipun dia mengatakan gembira namun paras mukanya sama sekali tidak memperlihatkan perasaan gembira.

Berbicara sampai di situ, kakek Thio lalu masuk ke ruangan dalam.

Sambil berjalan, katanya lagi.

"Aku akan segera memanggil putriku!"

"Tunggu dulu!"

Cegah Bu-ki. Kakek Thio menghentikan langkahnya dan berpaling.

"Lebik baik sekalian berbenah, kita segera pergi meninggalkan tempat ini."

Kakek Thio manggut dan berjalan masuk.

Tak lama kemudian kakek Thio sudah muncul bersama seorang gadis, di tangan mereka tampak bungkusan kain.

Sepertinya itulak bekal yang akan mereka bawa.

Bu-ki tampak agak kaget, dia tak menyangka secepat itu mereka berdua telah muncul kembak.

Seolah-olah buntalan itu sudah mereka persiapkan dari tadi.

Gadis itu berusia kira-kira tujuk atau delapanbelas takun, wajahnya cantik tapi kelihatan jauk lebih matang dan dewasa dari usianya.

Ini sekali lagi membuat anak muda itu keren.

"Cepat panggil Tio kongcu!"

Kata kakek Thio sambil menepuk bahu gadis.

"Tio kongcu!"

Seru si nona dengan suara yang merdu, sementara sepasang matanya yang besar menatap wajak anak muda itu tanpa berkedip, membuat Bu-ki menjadi risih sendiri.

"Mari kita segera berangkat!"

Ajaknya kemudian.

"Baik,"

Sahut kakek Tkio sambil menarik putrinya mengikut di belakang pemuda itu.

Baru saja Bu-ki membuka pintu, dua orang lelaki bergolok itu sudah menghadang jalan perginya.

Tanpa bicara lagi pemuda itu melolos pedangnya dan beruntun melancarkan tiga buah serangan.

Belum sempat kedua orang lelaki itu menggerakkan goloknya untuk menangkis, tahu-tahu dada mereka sudah terbabat hingga robek tiga buah garis panjang.

Kedua lelaki itu menunduk, memeriksa dada mereka.

Melihat pakaian mereka terbabat robek, mereka berdua lalu saling bertukar pandang.

Sekejap kemudian keduanya lari terbirit-birit.

Suara tepuk tangan bergema dari belakang tubuhnya, ternyata gadis itu bertepuk tangan sambil bersorak memuji.

"Tenang amat gadis ini,"

Pikir Bu-ki.

Dia tidak curiga mengapa gadis yang lemah lembut bisa bersikap begitu tenang menyaksikan suatu pertarungan.

Setelah menyarungkan kembali pedangnya, ia berpaling kepada kakek Thio berdua seraya serunya.

"Ayo segera berangkat!"

Gadis itu tersenyum manis, sambil menyusul ke samping Buki, pujinya.

"Hebat betul ilmu silatmu, aku ingin jalan bersamamu!"

Sambil bicara ia sudah menggenggam tangan pemuda itu erat-erat.

Jari tangannya terasa lembut dan halus, Bu-ki dapat merasakan kehangatan yang terpancar keluar dari tangan itu.

Ini membuatnya sangat tak leluasa dan ingin melepaskannya.

Sayang apa yang dipikirkannya sudah terlambat.

Jari-jari tangan yang semula halus dan lembut itu tiba-tiba berubah menjadi kaku dan keras bagaikan baja.

Bukan hanya itu, kelima jari tangannya segera mencengkeram tangan pemuda itu dan menekan jalan darah di pergelangannya.

Tanpa ampun separuh badan Bu-ki sebelah kanan lemas seketika, seluruh kekuatannya hilang lenyap tak berbekas.

Dengan kaget bercampur heran ia berpaling.

Sambil tertawa gadis itu berseru.

"Kau sudah masuk perangkap!"

Buru-buru anak muda itu mengebaskan tangannya berusaha melepaskan diri dari cengkeraman, sayang langkah ini pun sudah terlambat.

Ketika ia menggerakkan badannya hendak meronta, kakek Thio yang ada di sampingnya turun tangan.

Tangan kanannya secepat kilat menangkap bahu Bu-ki dan mencengkeramnya kuatkuat.

Sungguh dahsyat cengkeraman itu.

Bagai dijepit sebuah cakar baja, bahunya sama sekali tak mampu bergerak lagi, membuat separuh badan Bu-ki yang sebelah kiri ikut lemas tak bertenaga.

Senyum si nona yang semula lembut tiba-tiba saja berubah jadi senyuman licik dan jahat.

"Siapa kalian berdua?"

Tegurnya tanpa terasa.

"Kami?"

Senyum gadis itu semakin jalang.

"Tentu saja kami adalah orang yang khusus kemari untuk menangkap dirimu!"

"Jadi anggota Benteng Keluarga Tong selalu hanya mampu menangkap orang dengan cara yang licik dan tak tahu malu?"

"Belum tentu!"

Kembali gadis itu tertawa jalang.

"Untuk menghadapi kau, kami masih punya cara lain yang jauh lebih hebat!"

Tio Bu-ki tidak bersuara lagi.

Tiba-tiba ia sadar kalau perbuatannya selama ini kurang hati-hati.

Sejak pintu gerbang keluarga Thio hingga masuk ke dalam gedung, ia sudah menjumpai banyak kejadian yang mencurigakan, tapi ia mengabaikan semua itu, yang dipikirkan hanya bagaimana secepatnya menolong mereka berdua.

Ia memang kelewat bodoh, sedemikian bodoh hingga tidak membayangkan bagaimana mungkin Benteng Keluarga Tong hanya mengirim dua orang untuk menjaga pintu gerbang rumah seorang pengikut setia Tayhong-tong.

Selain itu, jika mereka memang berasal dari keluarga baikbaik, mengapa si gadis bisa menampilkan senyuman cabul?

Di samping itu, malam sudah demikian gelap, mengapa kakek Thio masih mengenakan topinya, bahkan sengaja merendahkan topinya hingga menutupi kedua tay-yang-hiatnya?

Bukankah tujuannya jelas untuk mengelabui penampilannya, agar dia tak melihat kalau kungfunya sangat hebat.

Kini segalanya sudah menjadi jelas.

Tapi apa gunanya?

Semuanya sudah terlambat!

Bu-ki amat sakit hati, benci kepada diri sendiri, benci pula kepada Tong Ou.

Mengapa dia sengaja membebaskan dirinya untuk kemudian mengirim orang untuk menangkapnya kembali?

"Apakah Tong Ou yang memerintah kau untuk membekukku?"

"Aku tidak tahu,"

Jawab gadis itu sambil tersenyum.

"tanyakan saja kepada suamiku."

"Suamimu?"

"Benar, akulah suaminya!"

Sahut kakek Thio.

"Kau?"

Dengan terperangah Bu-ki berpaling dan mengawasi wajah kakek Thio. Kakek Thio membuka mulutnya lebar-lebar, tertawa dan manggut-manggut. Mendadak Bu-ki seperti teringat sesuatu, segera serunya.

"Aku tahu sekarang, kau adalah Thio Toa-cui, Si Mulut Besar!"

Sekali lagi Thio Toa-cui Si Mulut Besar tertawa terkekehkekeh, mulutnya dipentang semakin lebar, sahutnya.

"Tepat sekali! Akulah Si Mulut Besar Thio Toa-cui, dia adalah biniku, Li Bu-yan!"

Sambil berkata, ia menunjuk gadis di depannya.

"Berarti kakek penjual mie di sana adalah Oh Pan?"

"Tepat sekali! Sayang baru sekarang kau menyadarinya, semuanya sudah terlambat!"

Cerita yang tersiar di dunia persilatan, Oh Pan, Thio Toa-cui dan Li Bu-yan adalah tiga orang tokoh perkumpulan pembunuh gelap.

Asal kau bersedia mengeluarkan uang, mereka bersedia melakukan pekerjaan apa pun bagimu.

Mereka hanya kenal uang, tidak kenal sanak saudara.

Konon istri Oh Pan dan Thio Toa-cui adalah orang yang sama, yaitu Li Bu-yan.

"Tak kusangka Benteng Keluarga Tong telah menyewa kalian untuk menghadapiku!"

Kata Bu-ki kemudian.

"Ha ha ha... kau keliru besar!"

Tkio Toa-cui kembali membuka mulutnya lebar-lebar dan tertawa tergelak.

"Yang mengeluarkan uang untuk menghadapi dirimu bukanlah Benteng Keluarga Tong!"

"Benar!"

Sambung Li Bu-yan.

"Kami sedang mencari jalan rejeki buat diri sendiri. Bila berhasil membekukmu berarti kami akan mendapat banyak uang dari Benteng Keluarga Tong."

"Kenapa?"

"Kenapa?"

Kembak Li Bu-yan tertawa cekikikan.

"Saat ini Benteng Keluarga Tong sedang menabuh genderang peperangan pada Tayhong-tong. Sedang kau adalah tokoh penting dari perkumpulan itu, dengan membekukmu berarti kami telah membuat jasa besar. Coba kau bayangkan sendiri, berapa banyak uang yang bakal kami terima dari Benteng Keluarga Tong?"

Setiap kali menyinggung soal duit, Li Bu-yan dan Thio Toaciu saling berpandangan sambil tertawa tergelak, seakan-akan sudah ada setumpuk uang yang disodorkan ke hadapan mereka.

"Kalau mau menyalahkan, salahkan dirimu sendiri!"

Ujar Thio Toa-cui lagi.

"Siapa suruh kau berlagak sok jagoan dengan mengundurkan dirimu di depan umum? Kalau tidak, kami pun tak bakal mengatur siasat untuk menjebakmu!"

"Hanya saja,"

Sambung Li Bu-yan cepat.

"hanya orang segoblok kau yang bisa tertipu oleh siasat kami!"

Bu-ki tidak bicara lagi, dia hanya mengawasi mereka berdua dengan pandangan dingin, sikapnya menghina dan sama sekali tidak menghargai orang-orang itu.

"Bagaimana?"

Kembali Li Bu-yan bertanya.

"Kau pandang hina cara kerja kami?"

"Bukan begitu, siapa pun yang berhasil membekuk lawannya, dia pasti akan menggunakan cara yang paling hebat, hanya saja..."

"Hanya saja kenapa?"

Tanya Si Mulut Besar Thio Toa-cui.

"Kalian bakal bekerja sia-sia!"

"Kerja sia-sia? Kenapa?"

"Sebab kalian tak bakal mendapat uang sekeping pun!"

"Oh ya?"

Seseorang berseru dari kejauhan. Menyusul seruan itu Oh Pan si tukang bakmi sudah muncul. Dia langsung berjalan menuju ke depan Bu-ki, lalu katanya lebih jauh.

"Tentu saja kami tak akan perolek sekeping uang, sebab uang yang akan kami terima banyak sekali jumlahnya!"

"Tak mungkin, kalian tak bakal memperolek apa-apa!"

"Kenapa?"

Li Bu-yan bertanya agak penasaran.

"Memangnya sekarang kau masih bisa kabur dari cengkeraman kami?"

"Aku tak perlu kabur, bawa saja aku ke Benteng Keluarga Tong. Kujamin kalian hanya akan membuang tenaga percuma, membuang pikiran percuma, membuang waktu percuma, membuang ransum percuma. Kecuak menelan angin kosong, kalian tak bakal mendapat apa-apa!"

"Kau kira kami akan percaya kata-katamu?"

"Mau percaya atau tidak terserah, sampai waktunya jangan bilang aku tidak memberitahumu!"

"Apa alasanmu sehingga dapat membuat kami percaya?"

Tanya Li Bu-yan kemudian.

"Aku baru saja keluar dari Benteng Keluarga Tong!"

"Sungguh?"

Teriak Li Bu-yan.

"Bagaimana kau bisa keluar dari sana.!"

Sebelum Bu-ki sempat menjawab pertanyaan itu, Ok Pan sudak berebut untuk bicara duluan.

"Tidak, kau seharusnya menjelaskan dulu bagaimana bisa memasuki Benteng Keluarga Tong!"

"Bagaimana caraku bisa masuk ke sana sesungguhnya tidak penting bagi kalian,"

Sakut Bu-ki tenang.

"Yang penting buat kalian justru bagaimana aku bisa keluar dari sana!"

"Baik, coba katakan, dengan cara apa kau bisa keluar dari sana?"

Potong Thio Toa-cui cepat.

"Tong Ou yang membebaskan diriku!"

Ketiga orang itu saling bertukar pandang dengan mata terbelalak lebar. Dengan wajah tak percaya mereka mengawasi wajah anak muda itu.

"Kini kalian menangkap aku dan mengkantar balik ke situ, bukankah perbuatan kalian percuma saja?"

Ujar Bu-ki lebik jauh. Lama sekali tiga pasang mata itu terbelalak lebar, akhirnya Thio Toa-cui tertawa terbahak-bahak, katanya.

"Ha ha ha... kau anggap ceritamu dapat membohongi kami semua? Ha ha ha... sungguh bikin orang mati geli!"

"Bikin orang mati geli? Kenapa kau tidak segera mati saja?"

Thio Toa-cui kontan menghentikan tawanya setelah mendengar perkataan itu. Amarah mulai menyelimuti wajaknya, cengkeraman tangan kanannya di tulang bahu Bu-ki segera diperkuat.

"Justru kau yang bakal mampus!"

Teriaknya. Paras muka Bu-ki sama sekali tak berubah, penampilannya saat ini sangat wajar, seakan cengkeraman dari Thio Toa-cui itu sama sekali tidak membuatnya kesakitan.

"Bila kalian tidak percaya pada perkataanku,"

Kembali Bu-ki berkata.

"Yang bakal mampus bukan aku, sebab kalian masih butuh aku dalam keadaan hidup."

"Sudahlah,"

Tukas Ok Pan kemudian.

"kita tak usah membuang banyak waktu hanya beradu mulut dengan bocah ini. Hei, bocah monyet, kami tak bakal percaya omonganmu, jadi tak usah banyak bicara lagi!"

Habis berkata ia menghampri anak muda itu dan menotok beberapa jalan darahnya, kemudian katanya lagi.

"Sekarang, kecuali sepasang kakimu yang bisa dipakai untuk berjalan, tenagamu tak akan bisa kau gunakan lagi. Ayoh jalan, ikuti kami!"

Li Bu-yan dan Thio Toa-cui melepaskan genggamannya, mereka segera pergi meninggalkan tempat itu.

Diam-diam Bu-ki mencoba untuk menghimpun tenaga dalamnya.

Betul juga, tenaga murninya hilang lenyap sama sekali.

Dalam keadaan begini, terpaksa dia harus mengikut di belakang tiga orang itu untuk berjalan.

Dia tahu, jika tidak menuruti kemauan mereka, dia bakal menderita siksaan hidup-hidup!

Bab 13.

Naga Kemala Putih Tong Hoa dan Wi Hong-nio melakukan perjalanan setiap malam menjelang tiba dan sesudah melewati sepuluh hari, tibalah mereka di tempat tujuan.

Tempat tinggal Wi Hong-nio sesungguhnya adalah gedung keluarga Tio, meskipun ia belum resmi menikah dengan Tio Bu-ki, namun ia beranggapan sudah menjadi menantu keluarga Tio, maka rumahnya adalah gedung keluarga Tio.

Sejak Tio Kian ditemukan tewas, kemudian Tio Bu-ki dan adiknya hilang tanpa kabar, semua pembantu yang bekerja di keluarga Tio boleh dibilang sudah bubar dan pulang ke rumah masing-masing.

Tio Cian-cian memang pernah pulang, tetapi setelah menyaksikan bangunan rumahnya dipenuhi sarang laba-laba dan debu, tanpa berhenti sejenak pun ia langsung berlalu.

Tak heran ketika Tong Hoa dan Wi Hong-nio tiba di sana, gedung keluarga Tio sudah berubah menjadi sebuah bangunan yang terbengkalai.

Tong Hoa bekerja keras membersikkan debu dan sarang laba-laba dari setiap sudut rumah, sementara Wi Hong-nio membenahi kamar tidur.

Ketika gedung keluarga Tio sudah bersih dan pulih kemegahannya, senja sudah menjelang tiba.

Tong Hoa bertanya kepada Wi Hong-nio apakah akan keluar rumah untuk mencari makan dan ketika perempuan itu menjawab belum lapar, Tong Hoa berkata.

"Kalau begitu aku akan keluar sebentar, nanti kubelikan beberapa macam hidangan untuk mengisi perut."

"Baiklah, kau tak perlu terburu-buru,"

Sahut Hong-nio sambil mengawasi cahaya senja yang menyinari halaman rumah dengan termangu-mangu, tampaknya ia sedang membayangkan kembali saat-saat gembira di masa lalu.

Tanpa mengucapkan sepatah kata, Tong Hoa berlalu.

Dengan cepat ia berhasil menemukan Pesanggrahan Kemala Putih dan menemui pemiliknya, Pek Giok-khi.

Tong Hoa mengeluarkan selembar kertas yang dibawanya dari Benteng Keluarga Tong lalu menyerahkannya kepada Pek Giokkhi.

Kertas itu adalah surat yang ditulis Tio Kian.

Kepada orang itu ia berkata.

"Kau bisa meniru gaya tulisan orang ini?"

Pek Giok-khi memperhatikan tulisan itu beberapa saat, kemudian mengangguk.

"Kecuali aku, rasanya di kolong langit dewasa ini tak akan ada orang ketiga yang bisa mengenali gaya tulisan itu sebagai gaya tulisanku!"

"Tidak mungkin! Aku tahu ada orang ketiga yang bisa mengenalinya."

Pek Giok-khi membelalakkan matanya lebar-lebar, dengan agak sangsi ia berkata.

"Menulis saja belum, dari mana kau bisa begitu yakin kalau pasti ada orang yang mengenalinya?"

"Sebab ada orang yang menyuruh aku datang kemari, memangnya orang yang menyuruh aku kemari tidak tahu?"

Pek Giok-khi tertawa, hatinya langsung jadi lega.

"Siapa orang itu?"

"Tong Ou!"

"Oh, kalau begitu kau adalah..."

"Aku Tong Hoa."

"Ah, maaf, maaf..."

"Tak usah sungkan, aku datang melaksanakan perintah Tong Ou. Dia tidak meminta kau menyalin isi surat ini, tapi membuat sebuah buku harian dengan meniru gaya tulisan itu."

"Buku harian?"

"Benar, karenanya kau harus mencari kertas yang sudah agak menguning, agar jangan mendatangkan curiga orang. Jangan sampai orang tahu bahwa kertas itu baru, semakin tua semakin baik."

"Aku mengerti, apa yang harus kutulis?"

Tong Hoa menjelaskan maksudnya panjang lebar, baru ia bertanya.

"Kapan kau bisa menyelesaikan tugas ini?"

"Buru-buru?"

"Makin cepat makin baik!"

"Besok pagi!"

"Besok pagi? Secepat itu?"

"Masa kau belum tahu julukanku?"

"Apa julukanmu?"

"Si Tangan Kilat Sepanjang Malam."

"Baik! Besok pagi aku akan datang mengambilnya, ukuran kertasnya jangan terlalu besar, lebih baik lagi jika dapat disisipkan dalam tabung."

Ia menerangkan ukuran lubang rahasia yang terpasang di patung Naga Kemala Putih itu.

"Baik, segalanya akan kukerjakan. Datang saja besok pagi, kujamin semuanya pasti sesuai dengan keinginanmu!"

Keesokan harinya Tong Hoa mengambil buku harian palsu itu dan kembali ke gedung keluarga Tio dengan riang gembira.

Baru setengah jalan, tiba-tiba dari arah belakang terdengar derap kaki kuda yang dilarikan kencang.

Ia merasa agak heran bercampur curiga, tanpa berpaling lagi, tubuhnya segera menyingkir ke sisi jalan.

Tapi kuda itu nampaknya memang diarahkan kepadanya, sebab suara kaki kuda ikut bergeser tetap di belakang tubuhnya.

Dengan satu gerakan cepat ia membalik badan, memasang kuda-kuda dan mengawasi datangnya kuda itu dengan sorot mata tajam.

Tampaknya si penunggang kuda itu mahir menunggang kuda jempolan, ketika kuda sudah berada tiga kaki di depan Tong Hoa, mendadak ia menarik tali les kudanya yang seketika berhenti bergerak.

Si penunggang langsung melompat turun.

Tong Hoa mengira orang itu akan menyergapnya, dengan satu gerakan sigap dia merentangkan telapak tangan kanannya ke depan, sementara tangan yang lain siap melancarkan serangan susulan.

Begitu tiba di hadapan Tong Hoa, tiba-tiba orang itu menjatuhkan diri berlutut dan memberi hormat.

Dari caranya memberi hormat, Tong Hoa tahu kalau orang sendiri yang datang, maka tegurnya.

"Ada urusan penting?"

"Benar."

"Katakan!"

"Tong Kongcu minta rencana pelaksanaan Naga Kemala Putih diundur dua hari."

"Kenapa?"

"Sebab ada beberapa orang yang tak tahu diri telah menangkap Tio Bu-ki dan menggelandangnya balik ke Benteng Keluarga Tong. Mereka ingin minta uang jasa."

"Lantas?"

"Tong Kongcu menganggap ketiga orang itu telah menyebabkan tertundanya rencana kita, maka ia membunuh mereka semua dan sekali lagi membebaskan Tio Bu-ki!"

"Lalu mengapa pelaksanaan rencana harus ditunda?"

"Hamba menyusul kemari berjalan siang malam, sebaliknya Tio Bu-ki melakukan perjalanan sangat lambat. Tong Kongcu kuatir bila pelaksanaan rencana terlalu awal, bisa jadi perempuan she Wi itu tak sabar menunggu kedatangan Tio Bu-ki dan menceritakannya kepada anggota Tayhong-tong yang lain. Jika sampai begitu, urusan bisa berabe."

"Aku mengerti. Menurut perhitungan, kira-kira kapan Tio Buki baru sampai di sini?"

"Seharusnya pada senja hari kedua ia sudah sampai di sini."

"Baik, kalau begitu akan kulaksanakan rencana itu dua hari kemudian! Sampaikan kepada mereka semua, tak usah kuatir!"

"Baik!"

Setibanya di gedung keluarga Tio, pertama-tama Tong Hoa memasukkan dulu catatan harian palsu itu ke dalam lubang rahasia di patung Naga Kemala Putih, kemudian diam-diam ia masuk ke kamar baca Tio Kian dan membuka kamar rahasia.

Tentu saja dia bisa tahu ruang rahasia itu karena Sangkoan Jin telah memberitahukannya kepada Tong Koat.

Sangkoan Jin berpendapat, tak ada salahnya membiarkan mereka tahu bahwa dia membunuh Tio Kian di tempat itu, agar mereka lebih percaya kalau dia telah melaksanakan tugasnya dengan sempurna.

Apalagi sesudah kematian Tio Kian, ruang rahasia itu pun tidak perlu dirahasiakan lagi.

Tentu saja mimpi pun dia tak menyangka kalau Benteng Keluarga Tong ternyata memanfaatkan ruang rahasia itu untuk melaksanakan rencana besar lain, yang bakal mendatangkan pukulan mematikan bagi Tayhong-tong.

Sewaktu semuanya sudah siap, Tong Hoa tinggal menunggu saat yang paling tepat untuk melaksanakan rencana besar itu.

Ia menggunakan waktu dua hari itu untuk dengan sengaja mengajak Wi Hong-nio berjalan-jalan menelusuri semua ruangan dalam gedung keluarga Tio.

Di sore hari yang diperkirakan Tio Bu-ki sudah akan tiba, selesai bersantap siang ia mengajak Wi Hong-nio berjalan-jalan ke ruang baca Tio Kian.

Di situ dia dengan sengaja meraba dan menyentuh setiap benda yang ditemuinya, lagaknya seakan terdorong rasa ingin tahu.

Tiba-tiba tangannya menyentuh tombol rahasia pembuka ruangan rahasia.

Begitu tombol tersentuh, pintu rahasia pun pelanpelan terbuka.

Sesudah itu ia sengaja menjerit pelan, seperti merasa kaget sekali.

Wi Hong-nio yang segera berpaling, ikut berseru tertahan.

Sebenarnya tempat itu berupa rak buku, begitu tombol rahasia tersentuh, rak buku itu perlahan-lahan bergeser ke samping dan muncullah dinding kecil yang agak cekung ke bawah.

Di dinding yang cekung ke bawah itulah tampak sebuah patung berukir yang sangat indah, sebuah patung naga yang terbuat dari batu kemala putih.

Tong Hoa mengambil patung itu untuk kemudian diserahkan kepada Wi Hong-nio.

Dengan penuh rasa kagum Wi Hong-nio mengamat-amati ukiran patung itu, katanya kemudian.

"Ukiran Naga Kemala Putih ini sungguh indah, tak heran kalau tersimpan di dalam bilik rahasia!"

"Benar,"

Kata Tong Hoa.

"Patung ini memang sangat indah. Tetapi anehnya kenapa hanya patung naga itu yang disembunyikan di ruang rahasia? Padahal di sini banyak terdapat benda-benda indah lainnya.

"Ya, mengapa begitu? Jangan-jangan ada rahasianya?"

"Mungkin saja,"

Sambung Tong Hoa.

"Coba kuperiksa."

Dia sengaja meraba sekujur badan patung naga itu, sesaat kemudian ia baru menyentuh tombol rahasia di patung itu.

"Plak!"

Diiringi suara lirih, sebuah batu kemala kecil meloncat keluar dari balik perut patung naga itu.

Ia segera merogoh ke lubang rahasia itu dan menarik keluar buku harian palsu yang terselip di situ.

Sengaja ia membuka lipatan buku itu, baru kemudian diserahkan kepada Wi Hong-nio.

"Aku tak mau melihatnya,"

Seru Wi Hong-nio sambil menggeleng, ia mendorong balik buku harian itu ke Tong Hoa.

"Kenapa?"

"Lebih baik aku tidak membaca barang-barang yang disimpan dalam ruang rahasia ini."

"Kurasa lebih baik diperiksa dulu apa isinya, siapa tahu benda yang tersimpan secara rahasia itu juga menyimpan hal-hal yang rahasia. Mana bisa tak dilihat?"

Wi Hong-nio kelihatan agak sangsi, setelah berpikir sejenak katanya.

"Kau saja yang melihatnya."

"Aku?"

"Benar, kau yang lihat atau aku yang lihat kan sama saja?"

"Baiklah kalau begitu,"

Sahut Tong Hoa kemudian sambil tertawa.

Ia mulai membuka buku harian itu, tapi karena kertas itu bekas dilipat-lipat maka agak susah juga untuk membuka halamanhalamannya.

Untuk membuka halaman buku itu, setiap kali Tong Hoa mesti membasahi jari tangannya, dengan demikian ia baru bisa membuka halaman buku harian itu dengan lancar.

Ia sudah tahu jelas isi buku harian itu, tapi ia sengaja berlagak amat tegang, membaca dengan amat hati-hati...

Dengan susah payah, akhirnya ia selesai juga membaca isi buku harian itu.

Wajahnya sungguh-sungguh bercampur tegang ketika ia kemudian menatap wajah Wi Hong-nio.

"Kenapa kau?"

Tegur perempuan itu keheranan.

"Sungguh menakutkan, sungguh mengerikan. Lebih baik kau baca sendiri saja,"

Ujar Tong Hoa setengah berbisik.

Wi Hong-nio membaca isi buku harian itu, paras mukanya seketika berubah sangat hebat.

Ternyata isi buku harian itu adalah catatan harian Tio Kian sejak sebulan terakhir sebelum terjadinya peristiwa berdarah.

Yang paling penting adalah catatannya selama berapa hari terakhir.

Bab 14.

Buku Harian Palsu Tio Kian Makin lama aku merasa badanku semakin lemah.

Kuputuskan untuk mengorbankan diriku guna terwujudnya kejayaan Tayhong-tong.

Tapi pengorbanan bagaimana baru berharga?

Nekad menyerbu ke Benteng Keluarga Tong dan membantai mereka sekeluarga?

Atau masih ada cara yang lain?

Aku mengundang Sugong dan Siangkoan dan setelah berunding cukup lama akhirnya Sangkoan Jin mengusulkan rencana penyusupan.

Menurutnya, kalau toh aku bakal mati, lebih baik kita mencari seorang jago dari Taybong-tong untuk dengan membawa batok kepalaku pergi bergabung ke Benteng Keluarga Tong.

Katakan saja bahwa dia bergabung karena telah membunuh aku, pihak Benteng Keluarga Tong pasti akan percaya alasan ini.

Kami bertiga setuju sekali dengan rencana ini Tapi siapa yang akan diutus menjadi pengkhianat dan melaksanakan tugasi ini?

Bukan pekerjaan yang gampang untuk mengbabisi nyawaku, kecuali orang itu sangat dekat dan sangat akrab hubungannya denganku.

Hanya orang kepercayaanku yang mempunyai kesempatan itu.

Kami berunding setengah harian lamanya, akhirnya aku berkata kepada mereka bahwa hanya salah satu diantara kalian berdua yang bisa melaksanakan tugas ini.

Sugong segera menggeleng sambil menolak keras, ia bilang tak bakal mau melaksanakan tugas ini.

Dalam keadaan terdesak, akhirnya Siangkoan menerima tugas ini kendati dengan perasaan berat.

Ooo)))(((ooo Kesehatanku makin lama makin buruk.

Berulang kali kudesak Siangkoan untuk segera melaksanakan rencana ini.

Kami menamakan rencana besar ini Rencana Harimau Kemala Putih dan menjelaskan segala sesuatunya diselembar kertas yang tersimpan dalam patung Hanmau Kemala Putih itu.

Tujuannya adalah untuk mengembalikan nama baik Siangkoan di kemudian hari Segala sesuatunya sudah siap, namun Siangkoan belum juga turun tangan.

Aku benar-benar kuatir, aku takut orang lain mengetahui penyakitku, bila hal ini sampai tersiar ke pihak Benteng Keluarga Tong, jelas akan berpengaruh besar pada kelancaran Rencana Harimau Kemala Putih.

Tapi Siangkoan berdalih, lebih baik rencana itu dilaksanakan setelah terselenggaranya pesta perkawinan Bu-ki.

Tentu saja aku sangat setuju dengan usul ini, dapat melihat Bu-ki naik pelaminan, merupakan harapankuyangterakhir.

Dalam berapa hari terakhir ini aku selalu memikirkan bagaimana caranya agar pelaksanaan Rencana HarimauKemala Putih bisa berlangsung sehebat dan segempar mungkin.

Setiap orang didunia persilatan harus mengetahui kejadian ini, karena hal ini akan semakin menguatkan kepercayaan Benteng Keluarga Tong sewaktu menerima penggabungan Siangkoan.

Tiba-tiba terpikir olehku, mengapa tidak kulaksanakan rencana ini tepat dihari perkawinan Bu-ki?

Bila di saat seperti itu aku terbunuh, beritanya pasti akan menggemparkan seluruh dunia persilatan!

Aku merasa cara ini sangat bagus, namun tindakanku ini akan membuat Bu-ki menderita.

Aku juga tak akan menyaksikan keramaian di rumahku saat berlangsungnya perkawinan itu.

Bagaimanapun Bu-ki akhimya telah berkeluarga, meski aku harus mati pun rasanya tak perlu disesali lagi.

Satu-satunya yang membuat aku amat tersiksa adalah tak dapat menceritakan rencana ini kepada Bu-ki, agar dia mempunyai persiapan batin jauh sebelumnya.

Tapi, apa boleh buat.

Kuputuskan pembunuhan akan terjadi pada hari itu.

Siangkoan menyetujuinya.

Besok adalah hari pernikahan Bu-ki, juga saat kematianku.

Menghadapi kematian yang menjelang tiba, aku sama sekali tidak merasa takut atau sedih.

Aku hanya mengeluh kepada Thian, kalau memang meimberi kehidupan kepadaku, mengapa pula harus memberi siksaan penyakit kepadaku?

Membayangkan semua ini, tanpa terasa aku berjalan sampai ke kamar Siangkoan.

Kudorong pintu dan masuk ke dalam, tapi tak kujumpai Siangkoan disitu.

Ketika aku akan meninggalkan kamar itu, tiba-tiba kutemukan sebungkus obat terletak diatas meja.

Kuambil bungkusan itu dan memeriksanya, benar saja, isinya memang bubuk obat.

Aku mencoba untuk membauinya.

Aneh sekali, bau obat itu sudah sangat kukenal.

Segera kuambil secawan teh dan mencampurkan sedikit bubuk obat itu ke dalamnya.

Bubuk obat itu seketika larut dan menyatu dengan air.

Kucoba untuk mencicipinya.

Tak salah lagi, bau ini memang sudah sangat kukenal, bau yang kukenal setiap hari.

Mendadak perasaan ngeri bercampur takut menyergap hatiku Kuambil lagi sedikit bubuk obat itu dan membawanya ke seorang tabib kenamaan di kota.

Hasil pemeriksaan tabib itu menyatakan bahwa bubuk obat itu adalah racun yang bekerjanya sangat lambat.

Racun itu menyebabkan orang merasakan tubuhnya lemas tak bertenaga,panas tinggi...

Aku tak sanggup untuk mendengarkan lebih jauh, sebab semuanya sangat mirip dengan gejala penyakitku.

Penyakit yang membuatku putus asa karena beranggapan tak mungkin bisa disembuhkan lagi.

Berbagai pikiran dan kecurigaan segera berkecamuk dalam benakku.

Mengapa Siangkoan memiliki racun ini?

Mengapa setelah minum obat itu aku merasakan gejala penyakit seperti yang kualami?

Jangan jangan Siangkoan, dia....

Aku tak berani berpikir lebih jauh.

Siangkoan adalah saudara angkatku, saudara yang sudah banyak tahun berjuang mati hidup bersamaku, mengapa ia berlaku begitu keji terhadapku?

Mengapa harus terjadi?

Mengapa ia mencelakaiku?

Demi nama?

Namanya dalam perkumpulan Tayhong-tong sudah sangat tinggi.

Demi uang?

Selama hidup ia tak pernah kekurangan, apapun yang diinginkan selalu tersedia.

Lalu mengapa?

Aku tak berhasil menemukan alasan yang tepat, apa sebabnya dia ingin mencelakaiaku.

Tapi semua bukti dan kenyataan ada di depan mata.

Apalagi dia yang akan membawa batok kepalaku untuk bergabung dengan pihak musuh.

Rencana inipun pemikiran dan usul yang diajukannya...

Oh Thian!

Mengapa urusan jadi begini?

Aku ingin menemui Sugong untuk membahas persoalan ini, tapi ia baru besok pagi tiba disini.

Aku ingin mencari Bu-ki, tapi ke manapun tak kutemukan jejaknya.

Apa yang bisa kulakukan sekarang?

Apakah aku harus bertindak lebih hati-hati, besok pagi?Atau harus kutemukan obat penawar racunnya?

Menurut tabib, jika seseorang menelan obat ini melebihi setengah tahun lamanya, jangankan manusia, dewapun tak akan mampu menyelamatkan nyawamu!

Mati!

Tampaknya aku pasti akan mati Tapi, jika Siangkoan benar-benar menggunakan batok kepalaku sebagai jaminannya untuk bergabung dengan Benteng Keluarga Tong, aku sangat tidak rela.

Sekarang waktu sudah tak banyak lagi, keadaan badanku juga terasa makin lemah.

Jelas aku bukan lagi tandingan Siangkoan.

Apa yang harus kulakukan sekarang?

Semalam suntuk aku memutar otak mencari akal Akhirnya hanya bisa kusembunyikan buku harianku ini ke dalam patung Naga Kemala Putih, seandainya aku benar-benar mati, aku berharap suatu hari nanti Bu-ki datang ke kamar-bacaku, menemukan rahasia ini dan membalaskan dendam atas kematianku.

Selain ini, apa lagi yang bisa kuperbuat?

Aku tak berani menitipkan buku harian ini kepada orang lain, apalagi kepada para pelayan.

Kalau mereka sudah disuap Siangkoan dan mengkhianati aku, bukankah rahasia buku harianku bakal terbongkar?

Satu-satunya yang bisa kuperbuat sekerang adalah berdoa dan mohon kepada Thian.

Semoga Bu-ki bisa secepatnya menemukan buku harianku ini, jangan sampai tertipu oleh siasat Harimau KemalaPutih.

Dia harus tahu wajah asli Siangkoan, kalau tidak, Tayhong-tong bakal musnah untuk selamanya!

Tayhong-tong benar-benar sudah musnah!

Itulah perasaan pertama yang dirasa Wi Hong-nio seusai membaca buku harian itu.

Ia merapatkan kembali buku harian itu, perasaan dan pikirannya amat kalut.

Bagaimana sekarang?

Ke mana harus menemukan Bu-ki?

Ia harus menyampaikan kabar ini kepada Bu-ki, makin cepat makin baik.

Kalau tidak, Tayhong-tong benar-benar akan musnah.

Perubahan wajahnya telah mencerminkan seluruh kepanikan dan kegelisahan dalam hatinya.

Tong Hoa dapat melihat semua itu dan tertawa terbahak-bahak dalam hatinya.

Bagaimanapun, rencana Naga Kemala Putih sudah menunjukkan hasilnya dan mulai mendekati puncak keberhasilan.

Tentu saja perasaan girang itu tidak ditampilkan keluar, sebaliknya dengan lagak murung bercampur kuatir ia berkata kepada Wi Hong-nio.

"Kau pasti sedang berpikir, ke mana harus menemukan Tio Bu-ki bukan?"

Dengan pandangan penuh rasa terima kasih Wi Hong-nio menatap wajah pemuda itu, katanya.

"Aku tahu, kau pasti punya akal, kau pasti dapat membantuku bukan?"

"Permintaanmu yang mana yang tak pernah kulaksanakan?"

Sahut Tong Hoa tertawa.

Tentu saja tak ada yang tidak dilaksanakan.

Balikan dia tahu kalau Bu-ki sedang dalam perjalanan menuju ke sana.

Untuk menemukan dia, pada dasarnya jauh lebih gampang ketimbang meraba ujung hidung sendiri!

"Sungguh?"

Seru Wi Hong-nio kegirangan.

"Tentu saja, asal aku keluar sebentar untuk menyerap kabar, segera akan kubawakan kabar baik untukmu!"

Bab 15. Masuk Perangkap Tentu saja Tong Hoa memahami rasa panik dan cemas Wi Hong-nio, maka setelah berputar satu lingkaran di seputar gedung itu, ia sudah balik kembali dan berkata.

"Nasibmu memang lagi mujur, menurut berita yang kudapat, katanya Tio Bu-ki sedang dalam perjalanan menuju kemari, bahkan kemungkinan besar besok pagi sudah tiba di sini!"

Tentu saja Wi Hong-nio sangat gembira, tapi sebagai wanita cerdik, satu ingatan segera melintas dalam benaknya, tegurnya tibatiba.

"Dari mana kau bisa tahu?"

"Ah gampang saja, bukankah tempat ini salah satu markas besar Tayhong-tong? Di mana ada markas besar, di situ pasti ada anggota Benteng Keluarga Tong yang menyusup. Gampang kan?"

Wi Hong-nio tidak bicara lagi, karena yang dikatakannya memang tepat sekali.

"Asal aku bertanya kepada seorang penyusup, segala sesuatunya menjadi jelas. Setiap hari mereka pasti melakukan kontak dengan Benteng Keluarga Tong. Padahal Tio Bu-ki adalah target utama kami, mana mungkin pihak Benteng Keluarga Tong tidak menyebar orang di mana-mana untuk melacak dan mengikuti gerak-geriknya?"

Kata-katanya pun sangat masuk di akal.

Tapi...

bukankah Tong Hoa telah mengkhianati Benteng Keluarga Tong, berkhianat dengan mengajaknya kabur?

Masa para penyusup dari Benteng Keluarga Tong belum tahu tentang kejadian ini?

Wi Hong-nio segera mengemukakan kecurigaannya itu kepada Tong Hoa.

Namun jawaban Tong Hoa pun sangat masuk di akal, ujarnya.

"Selama hidup aku belum pernah datang kemari, orang yang menyusup di sini pun belum pernah bertemu aku. Mereka hanya kenal dengan kode rahasia untuk berhubungan, tak pernah mengenali siapa lawannya."

Sekarang Wi Hong-nio dapat berlega hati.

Satu-satunya yang bisa dia lakukan sekarang adalah menunggu, menunggu datangnya fajar di esok hari.

Lalu menyampaikan berita yang menggemparkan ini kepada Bu-ki, agar dia mencari Sangkoan Jin dan membuat perhitungan atas dendam berdarah ini.

Tong Hoa diam-diam mengawasi perubahan raut wajahnya, dia pun dapat melihat sikap penantian perempuan itu dengan perasaan gelisah, panik, karena harus menunggu kedatangan Tio Bu-ki.

Oleh sebab itu ketika Wi Hong-nio dengan sorot mata penuh rasa terima kasih memandang ke arahnya, tanpa menanti sampai dia buka suara, ujarnya lebih dulu.

"Kau tak usah berterima kasih kepadaku, aku melakukan semua ini dengan rela dan ikhlas..."

Hampir saja air mata meleleh keluar dari mata Wi Hong-nio saking terharu dan terima kasihnya. Kembali Tong Hoa berkata.

"Aku tahu, setelah Tio Bu-ki datang kemari, kehadiranku pasti akan membuat kau kurang leluasa, maka..."

"Kau hendak pergi?"

Tanya Wi Hong-nio.

"Benar."

"Kenapa?"

"Bukankah sudah kukatakan, kehadiranku di sini akan membuatmu sangat tidak leluasa."

"Mana mungkin? Kau adalah orang yang menyelamatkan aku bahkan sudah banyak membantuku, Bu-ki pasti amat berterima kasih kepadamu!"

Tong Hoa memperlihatkan senyuman yang amat getir, sahutnya.

"Aku tidak berharap rasa terima kasihmu kepadaku, aku hanya minta..."

"Tak mungkin aku bisa memberikan yang satu itu untukmu,"

Tukas Wi Hong-nio cepat.

"sebab di hatiku hanya ada Bu-ki seorang. Bukankah sejak awal sudah kukatakan kepadamu?"

"Aku tak akan memaksakan kehendak, aku pun tidak mengharapkan hal yang berlebihan, asal di hatimu selalu ingat padaku, sudah lebih dari cukup!"

"Aku pasti akan selalu ingat dirimu, budi kebaikanmu tak pernah akan kulupakan!"

"Apakah kau hanya akan teringat dengan budi kebaikanku saja?"

Kembali Tong Hoa memperlihatkan senyum getirnya. Wi Hon g-nio segera terbungkam, dia tak tahu harus berkata apa, dia tak tahu kata-kata yang cocok untuk menghibur pemuda itu.

"Sudahlah,"

Ujar Tong Hoa kemudian.

"toh aku harus segera pergi dari sini, segala sesuatunya sudah tidak berarti lagi..."

Wi Hon g-nio hanya bisa menatapnya tanpa berkedip, sampai lama, lama sekali dia baru bertanya.

"Kapan kau akan pergi?"

"Sekarang."

"Sekarang?"

"Kalau mesti menunggu lagi, aku bisa gila..."

Sekali lagi Wi Hong-nio termenung.

"Jaga dirimu baik baik."

Nada suara Tong Hoa terdengar menggetar, seolah dia sedang menahan agar air matanya tidak mengalir keluar.

Wi Hon g-nio tak kuasa menahan diri lagi, airmatanya jatuh bercucuran membasahi pipinya.

Tanpa berpaling lagi Tong Hoa pergi dari situ dengan langkah lebar, keluar dari gedung keluarga Tio.

Kemampuan bersandiwaranya memang hebat, selain hidup, segala sesuatunya dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Buku harian palsu dari Tio Kian pun sangat mirip, sedemikian miripnya hingga nyaris tak berbeda dari yang asli.

Kemampuan dan kekuatan Benteng Keluarga Tong memang luar biasa, tak heran kalau Wi Hong-nio masuk perangkap tanpa disadarinya sama sekali.

Ooo)))(((ooo Setelah menerima kabar dari Tong Hoa melalui merpati pos, Tong Ou benar-benar gembira setengah mati.

Segala sesuatunya berjalan sesuai rencana, kelancaran yang di luar dugaan ini membuatnya kegirangan.

Semenjak berhasil menarik Sangkoan Jin bergabung dengan kelompoknya, sampai meracuni Tio Kian hingga mati, dan sekarang menjebak Tio Bu-ki untuk melenyapkan Sangkoan Jin, pada hakekatnya semua persoalan sudah ada dalam genggamannya, bagaimana mungkin dia tidak merasa girang?

Sekarang tinggal satu persoalan yang membuatnya kuatir, mampukah Tio Bu-ki menandingi Sangkoan Jin?

Mengenai persoalan ini, tentu saja dia juga mempunyai penyelesaian yang hebat, dan sekarang dia mulai menjalankan langkah berikutnya.

Tidak terlalu sulit baginya untuk menjalankan rencana berikut, asal ia berhasil menemukan seseorang, maka semuanya akan beres.

Orang ini adalah seorang wanita, putri Sangkoan Jin, Siangkoan Ling-ling.

Dia mengenal Siangkoan Ling-ling sewaktu sedang membicarakan masalah pengkhianatan Sangkoan Jin terhadap perkumpulan Tay-hong-tong.

Terhadap gadis ini, boleh dibilang ia sudah menyukainya sejak pertemuan pertama, tapi sikap Siangkoan Ling-ling terhadapnya justru acuh tak acuh, hal ini membuatnya agak ragu dan tak bisa meraba apa yang sebenarnya dikehendaki nona itu.

Tapi dalam hal ini dia tak ingin terburu-buru, sebab masalah perkawinan baginya merupakan masalah yang kesekian.

Ia selalu mengedepankan masalah penting lainnya ketimbang urusan pribadi.

Asal perkumpulan Tayhong-tong bisa dilenyapkan, itulah saatnya ia menguasai dunia.

Oleh sebab itu terhadap Siangkoan Ling-ling dia selalu bersikap melindungi dan menyayangi, dia tidak berharap gadis itu menunjukkan rasa cintanya dalam waktu singkat.

Ia menyukai perasaan cinta yang mengalir bagai arus air, lembut, tak berisik, ia tak suka cinta yang meledak-ledak, mula-mula panas membara kemudian menyusut dan dingin kembali.

Yang paling penting lagi adalah Sangkoan Jin pernah berjanji kepadanya, selesai membangun usaha besar dan menguasai dunia, dia pasti akan menyerahkan putrinya untuk menjadi istrinya.

Sekalipun tidak terburu-buru, dia pun tidak mengijinkan Siangkoan Ling-ling jatuh hati kepada orang lain.

Apa mau dikata, ternyata Siangkoan Ling-ling telah jatuh hati kepada orang lain, dan orang itu justru merupakan musuh bebuyutannya.

Tentu saja orang itu adalah Tio Bu-ki.

Tak heran jika Tong Ou sangat membenci Tio Bu-ki, rasa bencinya adalah rasa benci yang sangat menakutkan, bukan sembarangan rasa benci.

Sedemikian besarnya rasa benci itu hingga memungkinkan dia membunuh lawannya setiap saat.

Tapi Tong Ou tidak berharap Tio Bu-ki mati secara utuh, mati secara cepat.

Dia ingin menyiksanya perlahan-lahan, agar dia menyesal, agar dia melewatkan sisa hidupnya dalam kebencian dan penyesalan.

Sebab itulah dia sengaja membebaskan Tio Bu-ki dari Benteng Keluarga Tong, kemudian sengaja mengatur rencana Naga Kemala Putih, agar Tio Bu-ki datang untuk membunuh Sangkoan Jin.

Dia punya cara untuk membuat Tio Bu-ki tahu kalau rencana keji yang mengaturnya membunuh Sangkoan Jin adalah rencana keji dari Benteng Keluarga Tong, agar dia menyesal sepanjang masa.

Jika seseorang berada dalam kondisi menyesal, kepandaian silatnya pasti akan merosot tajam, itulah sebabnya dia mengatur pertarungan satu lawan satu dengan pemuda itu di saat setelah rencana Naga Kemala Putih terlaksana.

Dalam keadaan sedih dan menyesal, Tio Bu-ki pasti tak dapat berkonsentrasi secara baik.

Saat itulah dia akan mengalahkan anak muda itu, agar semangat dan cita-citanya hancur berantakan.

Semua ini tentu saja membutuhkan perencanaan.

Tapi, mungkinkah semua yang dirancang akan terlaksana sesuai dengan harapan?

Tak seorang pun yang tahu, tentu saja, kecuali Thian.

Tapi ia tetap percaya diri, ia yakin kemenangan tetap berpihak kepadanya.

Kini, dengan penuh percaya diri dia berjalan menuju ke kamar tidur Siangkoan Ling-ling.

Sejak Siangkoan Ling-ling menderita luka tusukan Bu-ki di tenggorokannya gara-gara ingin menyelamatkan nyawa ayahnya, dia selalu berbaring di ranjangnya, sedemikian lemah kondisi tubuhnya membuat ia sama sekali tak mampu bergerak.

Waktu itu Sangkoan Jin sedang pergi untuk menerima serah terima benteng Siangkoan-po, sebenarnya gadis ini ingin ikut, namun setelah dibujuk Tong Ou akhirnya dia urung pergi.

Tong Ou berjanji akan mengantarnya sendiri ke sana setelah beristirahat beberapa hari.

Bila nanti Sangkoan Jin setuju dengan usul ini, tentu saja Siangkoan Ling-ling tak bisa membangkang lagi.

Padahal keputusan ini yang diharapkan Tong Ou, karena lagi-lagi mereka sudah terjebak dalam siasatnya.

Tong Ou memang sengaja berharap Siangkoan Ling-ling tidak turut serta dalam perjalanan itu, agar ia bisa melaksanakan rencana berikut.

Kendati cintanya terhadap Siangkoan Ling-ling bertepuk sebelah tangan, namun dia sangat memahami watak serta tabiat gadis ini.

Dalam melaksanakan rencana berikutnya, dia justru hendak memanfaatkan rasa bakti dan sifat lembut dari Siangkoan Ling-ling itu.

Setelah mengetuk pintu dua kali, ia membuka pintu dan berjalan masuk.

Siangkoan Ling-ling bersandar di pembaringan, seorang dayang sedang menyuapinya makan nasi.

Ketika Tong Ou masuk ke dalam ruangan, baru saja gadis itu menyelesaikan makannya.

Ia berpaling sambil melemparkan sekulum senyuman kepada Tong Ou.

Setiap kali Tong Ou datang berkunjung, dia memang selalu menampilkan wajah yang sama.

Menanti dayang sudah berlalu sambil membawa sisa mangkuk dan piring, Siangkoan Ling-ling baru berkata.

"Silahkan duduk!"

Tong Ou mengambil tempat duduk di kursi yang semula ditempati si dayang. Ia menyodorkan sebuah kotak kepada gadis itu.

"Apa isi kotak ini?"

Tanya Siangkoan Ling-ling sambil menerimanya.

"Buka saja sendiri!"

Siangkoan Ling-ling segera membuka kotak itu, tapi ia segera berseru tertahan.

"Jinsom berusia seribu tahun?"

"Benar! Kebetulan ada orang yang membawanya dari wilayah Timurlaut dan kubeli. Aku tahu kondisi badanmu amat lemah, perlu jinsom semacam ini untuk memulihkan kembali kekuatan tubuhmu."

"Benda ini mahal harganya, aku tak pantas untuk menerimanya..."

"Kenapa tak boleh? Biar kusuruh orang memasaknya dengan ayam tim, pasti baik untuk tubuhmu!"

"Jangan!"

"Kenapa jangan? Aku yang menghadiahkan untukmu, aku berharap kesehatan badanmu bisa segera pulih seperti sedia kala."

"Sekarang aku sudah sehat sekali, biar kusimpan saja kedua biji jinsom itu!"

"Menyimpannya?"

Tong Ou pura-pura bertanya.

Padahal ia sangat paham, dengan watak seperti gadis ini, dia pasti akan menyimpan benda yang sangat berharga itu untuk ayahnya.

Dan inilah titik kelemahan yang digunakan Tong Ou, titik kelemahan yang digunakan untuk melaksanakan rencana berikutnya.

Dalam kedua potong jinsom itu sudah dibubuhi racun yang sangat ganas, racun yang sangat mematikan.

"Boleh aku menyimpannya?"

Kembali Siangkoan Ling-ling bertanya.

"Tentu saja boleh,"

Jawab Tong Ou.

"benda ini sudah kuberikan kepadamu, terserah apa yang hendak kau perbuat!"

"Terima kasih banyak!"

Seru Siangkoan Ling-ling kegirangan.

"Antara kita berdua masa masih diperlukan kata terima kasih?"

Ujar Tong Ou sambil makin mendekat. Siangkoan Ling-ling tertawa manis, perlahan kepalanya digeser sedikit ke samping.

"Padahal seharusnya kau yang makan kedua jinsom itu!"

Kembali Tong Ou berkata.

"Kenapa?"

"Agar kau cepat sembuh sehingga dapat secepatnya mendampingi ayahmu lagi!"

"Aku sudah sehat, coba lihat..."

Sambil berkata ia bangkit dari tidurnya. Buru-buru Tong Ou memayangnya, tapi segera ditampik gadis itu. Ia turun dari ranjang, berjalan dua langkah ke depan dan serunya lagi.

"Coba lihat, bukankah aku telah sehat kembali?"

"Benar, coba berjalanlah lagi berapa langkah!"

Padahal Tong Ou memang berharap Siangkoan Ling-ling bisa sehat lebih awal sehingga dapat segera berangkat ke benteng Siangkoan-po dan membujuk Sangkoan Jin minum jinsom beracun itu.

Bila tenaga dalamnya mengalami pukulan besar, Tio Bu-ki akan mendapat kesempatan untuk membuat perhitungan dan cukup tangguh untuk menghajarnya.

Tentu saja Siangkoan Ling-ling tidak menyangka sejauh itu, kembali ia berjalan berapa langkah sambil ujarnya.

"Bukankah aku dapat berjalan dengan baik? Bagaimana kalau besok juga aku berangkat mencari ayahku?"

"Jika kau memang ingin sekali, tentu saja aku akan menemanimu."

"Sungguh?"

"Kapan aku pernah membohongimu?"

Siangkoan Ling-ling kegirangan setengah mati, saking gembiranya hampir saja ia jatuh terjerembab.

Untung Tong Ou segera memeluknya dan sekalian menarik gadis itu ke dalam rangkulannya.

Dengan wajah tersipu-sipu Siangkoan Ling-ling menyandarkan kepalanya di atas dadanya, tak sepatah kata pun sanggup diucapkan, sementara jantungnya berdebar keras.

Ooo)))(((ooo Karena besok akan meninggalkan Benteng Keluarga Tong, tentu saja Tong Ou harus melaporkan segala lebih dahulu kepada Lo-cocong, si Nenek Moyang.

Lo-cocong memang amat menyayangi Tong Ou, semua keputusan yang diambilnya, boleh dibilang tak satu pun yang tidak ia setujui, biasanya ia malah menunjang segala rencananya.

Tetapi untuk cara Tong Ou menghadapi Tio Bu-ki, Lo-cocong mengajukan sedikit usul, katanya.

"Aku dapat memahami perasaan hatimu, aku pun tahu betapa benci dan dendammu terhadap Tio Buki, tapi kau harus ingat, sekarang adalah pertarungan antara dua perkumpulan besar, jangan sekali-kali karena urusan pribadi, kau membuat masalah besar jadi terbengkalai!"

"Tak mungkin sampai begitu, Lo-cocong!"

Jawab Tong Ou.

"Tidak mungkin? Seandainya setelah tiba di Siangkoan-po ternyata Ling-ling tidak segera menyerahkan jinsom itu kepada Sangkoan Jin, apa jadinya?"

"Akan kugunakan bujuk rayu untuk mempengaruhi jalan pikirannya, aku yakin dia pasti akan melakukannya."

"Kau yakin akan berhasil?"

"Tentu saja, aku sudah sangat memahami tabiatnya, semua tingkah lakunya sudah kuketahui bagai melihat jari tangan sendiri."

"Bila Sangkoan Jin menemukan gejala kurang beres hingga menaruh curiga?."

"Mana mungkin? Racun buatan Benteng Keluarga Tong adalah racun yang hebat, siapa yang bisa merasakannya?"

"Seandainya dia mengetahui rahasia ini? Aku bilang seandainya..."

"Seandainya ketahuan pun aku tidak takut!"

"Kenapa?"

"Sebab racun yang kugunakan kali ini adalah racun hasil olahan baru, baru pertama kali ini keluarga Tong mencoba menggunakan resep ini. Jadi seandainya ketahuan, aku dapat menyangkal kalau racun itu bukan berasal dari keluarga Tong!"

"Dia akan mempercayainya?"

"Pasti percaya. Pertama, dia tak punya alasan untuk mencurigai kita yang meracuninya. Kedua, aku malah akan menunjukkan daftar resep racun keluarga Tong kepadanya. Tidak mungkin dia bakal menemukan kaitan antara resep baru itu dengan resep lama. Dan yang paling penting, kurasa dia tak nanti akan merasakannya!"

"Kau tidak kelewat percaya diri?"

"Aku mewarisi tabiat ini dari leluhur, Lo-cocong!"

"Ha ha ha ha... bagus, bagus sekali!"

Lo-cocong tertawa tergelak.

"Aku ingin berandai-andai lagi, seandainya racun itu gagal meracuni Sangkoan Jin, apa yang akan kau lakukan?"

"Maka yang bakal mati adalah Tio Bu-ki! Kita semua tak bakal rugi apa-apa, kecuali tentu saja aku sendiri yang akan merasa menyesal sekali."

"Kau dapat berpikir sejauh itu, hal ini menunjukkan kalau kau memang sudah matang, dapat memimpin semua persoalan yang ada,"

Dengan perasaan gembira Lo-cocong berkata.

"Bukan saja kau telah memimpin Benteng Keluarga Tong, bahkan dapat pula memimpin dunia yang lebih luas, tentu saja setelah berhasil memusnahkan Tay-hong-tong!"

"Lo-cocong, aku tak akan membuatmu kecewa, berdasarkan semua kemungkinan yang bakal terjadi, kau percaya bukan kalau aku tak akan melupakan kepentingan umum demi kepentingan pribadi?"

"Aku percaya, tentu saja aku percaya!"

Lo-cocong benar-benar gembira, ia mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

Tong Ou dapat menangkap rasa gembira yang meliputi perasaan neneknya, dia ikut tertawa.

Selesai tergelak, tanyanya lagi.

"Kapan Tong Hoa tiba di sini?"

"Aku perintahkan dia untuk berdiam sementara waktu di dekat Gedung Keluarga Tio. Dia harus mengawasi terus gerak-gerik Wi Hong-nio, dia baru kuijinkan pulang setelah yakin rencana Naga Kemala Putih telah selesai dilaksanakan."

"Tepat sekali keputusan ini, cuma dia masih harus melakukan satu pekerjaan lagi."

"Oh ya? Pekerjaan apa?"

"Bunuh Pek Giok-khi, pemilik Pesanggrahan Kemala Putih!"

Tong Ou agak tertegun, sesaat kemudian ia baru bertanya.

"Kenapa?"

"Kau anggap Pek Giok-khi masih ada nilainya untuk tetap dipertahankan?"

Tong Ou tidak segera menjawab, ia berpikir sejenak kemudian baru berkata.

"Siapa tahu di kemudian hari kita masih butuh kemampuannya."

"Aku rasa tak akan pernah. Coba bayangkan saja, dia sudah kita beli semenjak belasan tahun berselang, tapi baru hari ini kita pakai jasanya satu kali, bahkan sebenarnya dalam urusan kali ini, kita juga tidak harus menggunakan jasanya, bukan begitu?"

Tentu saja benar.

Perkataan Lo-cocong ini segera menyadarkan Tong Ou bahwa jalan pikiran serta kemampuan Lococong dalam menganalisa dan mengambil kesimpulan masih sangat hebat.

Kemampuannya sama sekali tidak menunjukkan gejala mundur hanya karena usia.

Maka segera jawabnya.

"Segera akan kukirim surat perintah, agar Tong Hoa segera melaksanakan tugas ini!"

"Bagus sekali! Dengan tindakan ini maka rencana Naga Kemala Putihmu dijamin tak bakal meleset, mengerti?"

Tong Ou mengiakan dan segera berpamitan, dengan menulis sepucuk surat rahasia, ia perintahkan orang untuk mengirimnya melalui merpati pos.

Ooo)))(((ooo Matahari tengah hari panasnya bukan kepalang, sedemikian teriknya, membuat sekujur tubuh Bu-ki bermandikan peluh.

Sepanjang jalan, beberapa kali ia ingin berhenti untuk beristirahat, menunggu sampai matahari condong ke langit barat, baru melanjutkan kembali perjalanannya.

Tapi setiap kali teringat kalau tempat itu sudah tak jauh dari rumah kediamannya, dia lalu tidak memperdulikan betapa teriknya matahari untuk tetap melanjutkan perjalanan.

Sepanjang perjalanan, dari cerita orang-orang, ia sudah mengetahui kabar tentang kalahnya Tayhong-tong oleh Benteng Keluarga Tong.

Ia juga tahu kalau Sangkoan Jin telah menguasai Siangkoan-po dan berada di garis paling depan untuk menghadapi Tayhong-tong.

Ia sempat berpikir, cara yang akan digunakan Sangkoan Jin untuk menghadapi serangan Benteng Keluarga Tong yang begitu hebat serta memunahkan ancaman bahaya terhadap Tayhong-tong.

Dia juga pernah berpikir, dengan hanya mengandalkan kekuatan Sugong Siau-hong seorang, mampukah dia mempertahankan keutuhan Tayhong-tong?

Dia tidak tahu dan tidak mampu menjawab.

Sekalipun ia cerdas dan terlatih baik, tetap saja ia gagal mengambil kesimpulan.

Dalam keadaan begini, dia hanya bisa menghadapinya selangkah demi selangkah.

Rumah sudah muncul di hadapannya.

Yang membuatnya tercengang adalah mengapa bangunan itu tak nampak terbengkalai.

Mengapa semuanya teratur rapi dan bersih?

Siapa yang masih berdiam dalam Gedung Keluarga Tio?

Dia percaya tak akan ada orang di situ, lalu siapa yang telah membenahi bangunan itu?

Dia mendorong pintu dan masuk.

Jawaban pun segera muncul di depan mata.

Wi Hong-nio sedang duduk di gardu, ketika melihat Bu-ki datang, ia segera melompat bangun dan berlarian menghampiri pemuda itu.

Sesuatu perasaan aneh yang membuatnya tercengang sekilas melintas di benak Tio Bu-ki.

Ooo)))(((ooo Berjumpa dengannya, mengapa Hong-nio tidak menampakkan rasa girang atau gembira?

Bagaimana caranya ia bisa meninggalkan Benteng Keluarga Tong?

Dia ikut berlari menyongsong kedatangan gadis itu.

Ia menggenggam tangan Hong-nio erat-erat, dengan perasaan girang yang meluap-luap memanggil namanya, lalu bertanya.

"Bagaimana caranya kau meninggalkan Benteng Keluarga Tong?"

Wi Hong-nio balas menggenggam tangan Bu-ki erat-erat, sahutnya.

"Kita tak usah membicarakan dulu soal itu. Cepat ikut aku, akan kuperlihatkan sesuatu padamu!"

Ia segera mengajak Bu-ki menuju ke ruang rahasia yang biasa digunakan ayahnya semasa masih hidup dulu.

Mereka masuk, membuka ruang rahasia, mengeluarkan buku harian dan menyerahkannya ke tangan si pemuda.

Bu-ki tahu benda ini pasti sesuatu yang sangat penting, maka ia segera membuka dan membacanya.

Tulisan yang muncul di hadapannya adalah tulisan yang amat dikenalnya.

Tak heran kalau rasa haru dan sedih seketika menyergap hatinya.

Semakin dibaca, perasaannya semakin bergolak, akhirnya dia naik pitam, gusar sekali.

Dengan wajah penuh amarah dia mendongakkan kepalanya dan memandang perempuan itu.

Dengan penuh pengertian Wi Hong-nio menganggukkan kepalanya, ia berkata.

"Pergilah untuk menyelesaikan persoalan ini, aku akan menanti disini, segala sesuatunya kita bicarakan lagi sekembalimu kemari!"

Bu-ki mengangguk dan segera beranjak pergi dari situ, perasaannya saat itu ibarat sebaskom api yang sedang membara.

Dengan nafsu meluap dan amarah yang tak terkendali ia segera berangkat menuju ke benteng Siangkoan-po.

Rasa benci dan dendam telah menutup kesadarannya, dia seakan sudah melupakan segala sesuatu.

Lupa untuk menanyakan persoalan yang seharusnya ditanyakan dulu.

--Bagaimana caranya Wi Hong-nio bisa keluar dari Benteng Keluarga Tong?

--Dari mana buku harian itu diperoleh?

Bagaimana bisa ditemukan secara tiba-tiba?

Seandainya ia tetap berkepala dingin dan memikirkan segala sesuatu dengan lebih cermat, seharusnya tak sulit untuk menemukan banyak hal yang aneh dan mencurigakan dari kata-kata Wi Hong-nio.

Dia pasti segera akan bersangsi dan menaruh curiga atas keaslian buku harian itu.

Tampaknya Tong Ou sudah memperhitungkan sampai di situ.

Ia memperkirakan kejiwaan lawannya, setelah membaca buku harian itu, ia tahu dalam keadaan gusar dan penuh diliputi perasaan dendam, Bu-ki pasti akan segera meninggalkan tempat itu.

Ketika amarahnya mulai mereda, mungkin dia sudah tiba di benteng Siangkoan-po dan saat itu, biarpun ingin ditanyakan, segala sesuatunya sudah terlambat!

Seperti inilah hidup manusia di dunia.

Banyak kejadian memang berlangsung dalam keadaan seperti ini.

Dalam kobaran dendam dan benci, orang gampang terlena, lupa untuk menyelidiki dulu persoalan yang sebenarnya, lupa untuk menelitinya secara mendalam.

Ketika peristiwa sudah terjadi, menyesal tak ada gunanya, karena bila nasi sudah jadi bubur, tak mungkin semuanya dipulihkan kembali seperti sedia kala.

Mungkin inilah yang disebut manusia dipermainkan nasib.

Hanya saja, kadang-kadang cara manusia dipermainkan nasib bukan hanya itu.

Ooo)))(((ooo Senja, matahari sore sudah hampir tenggelam di ujung langit.

Seperti di hari-hari biasa, Pek Giok-khi mulai memasang lampu lentera dan menggantungkannya di depan pintu.

Pesanggrahan 'Pek-giok-tay', tiga huruf yang besar nampak memantulkan cahaya yang terang ketika tertimpa cahaya lentera.

Dengan bangga dia mengawasi sebentar papan nama sendiri yang berwarna emas itu.

Baru kemudian balik ke dalam rumah, duduk di depan meja dan mulai mengerjakan pekerjaan malamnya, menulis huruf indah...

Kepandaiannya menulis adalah yang terhebat di wilayah itu.

Dengan hanya menjual beberapa lembar tulisannya, ia sudah bisa hidup cukup.

Namun ia tak pernah merasa puas akan hasil itu, dia selalu ingin memperoleh uang lebih banyak lagi.

Dia memang butuh uang banyak, karena ia perlu membiayai semua kesenangannya, kesenangan yang memerlukan uang seperti koleksi barang antik, menikmati wanita cantik, membeli pakaian mewah...

Oleh sebab itu mau tak mau dia harus mengkhianati Tayhong-tong, diam-diam bekerja sebagai mata-mata Benteng Keluarga Tong.

Membuat buku harian palsu untuk Benteng Keluarga Tong, Tong Hoa telah menghadiahkan uang sebanyak seratus tahil perak.

Dia harus pergi merayakannya, pergi menikmatinya.

Dan dia memang berniat begitu, hanya saja karena malam belum menjelang tiba maka ia belum berangkat.

Ia senang akan malam yang sepi dengan cahaya lentera yang benderang, meneguk secawan arak, menikmati dua tiga macam hidangan didampingi satu dua orang gadis cantik.

Hal semacam inilah merupakan kesenangannya yang paling utama dalam hidupnya.

Malam ini, dia pun berencana untuk menikmati hiburan semacam itu.

Untuk menunggu datangnya waktu, ia mulai menulis berapa huruf.

Sedang asyik menulis, mendadak ia menghentikan pitnya, mendongakkan kepala dan menjerit kaget.

Ternyata Tong Hoa sudah berdiri di hadapannya, mengawasi wajahnya dengan sekulum senyuman.

Sejak kapan Tong Hoa muncul di situ?

Ia sama sekali tidak merasa apa-apa.

Kejadian semacam ini belum pernah dialaminya sejak dulu.

Biasanya, asal ada langkah kaki mendekat pintu gerbang, ia pasti akan mendengarnya, sekalipun perhatiannya sedang terpusat untuk menulis huruf, ia tetap akan menghentikan gerakan pitnya, bangkit berdiri dan menyambut kedatangan tamunya.

Kunci sukses bagi seorang penjual jasa adalah keramahtamahan dan sikap yang hormat, dia tak ingin tamunya menunggu terlalu lama.

Tapi hari ini, ternyata ia tidak mendengar suara langkah kaki Tong Hoa, mungkinkah lantaran dia kelewat gembira, kelewat bangga?

Buru-buru dia bangkit berdiri, ujarnya kepada Tong Hoa sambil tertawa.

"Tong-kongcu, ada keperluan?"

"Benar!"

Tong Hoa manggut berulang kali.

"Apa yang harus kulakukan?"

"Sederhana sekali, aku percaya setiap orang dapat melakukannya."

"Oh ya? Apa maksud Tong-kongcu? Aku tidak paham..."

"Jelasnya, aku hanya ingin kau melakukan tiga kata saja."

"Tiga kata? Menulis buku harian? Lagi-lagi menulis buku harian?"

"Bukan!"

"Lalu..."

"Segera pergilah mati!"

"Segera pergilah mati?"

Pek Giok-khi seakan tidak paham dengan kata-kata itu. Dia mengulang sekali lagi kata-kata itu dengan nada yang lebih berat.

"Aku ingin kau segera pergi mampus!"

Dengan sangat terperanjat, Pek Giok-khi mundur selangkah, matanya terbelalak lebar, diawasinya wajah Tong Hoa tanpa berkedip.

"Apa kau bilang?"

"Mampus! Aku menyuruh kau segera mampus, belum mengerti?"

Paras muka Pek Giok-khi berubah hebat, badannya gemetar keras, terbata-bata ia bertanya.

"Kenapa?"

"Alasan tua semacam ini pun tidak kau pahami? Tentu saja untuk melenyapkan saksi dan membungkam mulutmu untuk selamanya!"

"Melenyapkan saksi dan membungkam mulutku? Sudah sekian tahun aku bekerja untuk kalian, pernahkah kubocorkan rahasia penting kalian?"

"Belum pernah."

"Mengapa mulutku harus dibungkam?"

"Sebab kejadian apa pun pasti ada yang pertama kali, kami tak bisa menduga atau meramalkan semua persoalan yang ada. Ini namanya sedia payung sebelum hujan!"

"Aku..."

"Kau tak usah banyak bicara lagi. Aku amat menyukaimu, tapi aku harus melaksanakan perintah yang kuterima. Sekarang, kau akan menghabisi nyawamu sendiri, atau..."

Mendadak Pek Giok-khi menyambar pit yang ada di meja dan melemparkannya ke arah Tong Hoa.

Pada waktu yang sama tubuhnya berputar cepat ke belakang, kemudian kabur secepatcepatnya meninggalkan tempat itu.

Tampaknya Tong Hoa sudah menduga sampai ke situ, ia segera bergerak cepat melintangkan tubuhnya ke samping, begitu lolos dari sambitan pena, secepat anak panah yang terlepas dari busurnya ia menerkam ke muka, pedangnya disodokkan ke depan lalu ditarik ke belakang...

Semburan darah segar segera memancar keluar dari punggung Pek Giok-khi, tanpa bersuara tubuhnya roboh tersungkur di atas tanah.

Tong Hoa membalikkan badan, mengambil selembar kertas dari atas meja, membersihkan noda darah yang membasahi ujung pedangnya, lalu sambil menyarungkan kembali senjatanya, ia berjalan keluar meninggalkan Pesanggrahan Kemala Putih.

Ooo)))(((ooo Nasib selalu mempermainkan manusia, kata ini memang aneh tapi begitulah kenyataannya.

Mimpi pun Tong Hoa tidak menyangka kalau perhitungan dan perkiraannya kali ini meleset jauh.

Dia tak mengira telah melakukan kesalahan besar.

Dalam anggapannya, tusukan maut yang dilancarkannya pasti telah merenggut nyawa Pek Giok-khi.

Dia keliru besar!

Tapi kalau mesti berbicara jujur, kesalahan ini tak bisa dibebankan ke pundaknya seorang.

Manusia semacam Pek Giok-khi adalah manusia langka, belum tentu dalam sepuluh ribu orang terdapat satu orang seperti dia.

Orang biasa jantungnya terletak di sebelah kiri, maka tusukan yang dilancarkan Tong Hoa tadi, seperti pada umumnya, dihunjamkan ke dada kiri Pek Giok-khi.

Sayang dia tak menyangka, kalau Pek Giok-khi punya kelainan, letak jantungnya tidak di sebelah kiri tapi lebih bergeser ke arah kanan.

Oleh sebab itu tusukan tersebut sama sekali tidak membuatnya tewas seketika.

Pek Giok-khi pun terhitung manusia cerdik, begitu kena tusukan pedang, tubuhnya langsung tersungkur ke tanah dan purapura mati.

Menanti berapa saat kemudian, setelah yakin Tong Hoa telah pergi jauh, dia baru berusaha merangkak bangun.

Dia tahu sudah kehilangan banyak darah, walaupun tusukan tersebut tidak membuatnya tewas seketika, namun dengan kondisi luka seperti ini, biarpun tabib Hoa To hidup kembali belum tentu nyawanya bisa diselamatkan.

Maka dengan langkah sempoyongan dia merangkak masuk ke dalam kamar tidurnya, membuka peti rahasianya dan mengambil keluar buku asli yang diserahkan Tong Hoa kepadanya.

Memang begitulah kebiasaan yang dia lakukan selama ini, setiap kali selesai melaksanakan satu tugas, ia selalu menyimpan bahan aslinya ke dalam peti rahasia.

Baginya, menyimpan sedikit bukti akan lebih menguntungkan, siapa tahu suatu ketika akan diperlukan, seperti halnya sekarang, kalau toh pihak Benteng Keluarga Tong bersikap keji terlebih dulu, tentu saja dia akan menghadapi pengkhianatan ini dengan tindakan tidak setia kawan.

Setelah mengambil keluar buku asli, tanpa sempat lagi membalut lukanya, dengan menahan rasa sakit yang merasuk hingga ke tulang, ia berjalan keluar meninggalkan pesanggrahan Pek-giok-tay.

Dia berjalan dan berjalan terus hingga tiba di gedung keluarga Tio, setiap kali jatuh terjerembab, dia merangkak bangun dan berjalan lagi.

Akhirnya ketika tiba lebih kurang satu kaki dari pintu gerbang gedung keluarga Tio, dia tak sanggup menahan diri lagi.

"blaaam!"

Tubuhnya roboh terjengkang ke tanah.

Tapi ia berusaha meronta terus, seinci demi seinci dia merangkak terus, tangannya sudah meraih ujung pintu gerbang, tapi sayang tenaganya sudah lenyap tak berbekas, kelima jarinya mengendor dan akhirnya terjatuh ke tanah bagaikan segenggam pasir.

Meskipun begitu, tangan kirinya masih tetap menggenggam kitab asli itu, memegangnya erat-erat.

Tong Hoa telah kembali ke tempat penginapannya, memesan sayur dan arak dan menikmatinya seorang diri, dia harus merayakan kemenangan dan keberhasilan yang telah diraihnya.

Selama berada di Benteng Keluarga Tong, dia selalu ingin untuk meraih posisi yang lebih tinggi.

Dia tahu, tidak mungkin baginya untuk menempati posisi yang diduduki Tong Ou saat ini, sebab tampaknya Lo-cocong amat menyayangi Tong Ou.

Di samping itu, Tong Ou memang berbakat menjadi seorang pemimpin, memiliki kecerdasan dan kemampuan yang luar biasa.

Tapi bagaimana dengan Tong Koat?

Dia berpendapat, kemampuannya sendiri masih jauh melebihi kemampuan orang itu, jadi sepantasnya bila posisinya berada jauh di atas posisi Tong Koat.

Setelah berhasil menjalankan siasat Naga Kemala Putih ini, sekembalinya ke benteng nanti ia berencana untuk memamerkan jasa di hadapan Lo-cocong.

Siapa tahu si nenek moyang jadi senang dan mengutusnya untuk menjalankan tugas penting lainnya.

Bila hal ini terjadi, sudah pasti dia akan semakin terpandang.

Terhadap kemampuannya, ia selalu merasa bangga dan percaya diri.

Maka cawan pun diisinya penuh-penuh, kemudian sekali teguk dia habiskan seluruh isi cawannya.

Ketika meletakkan kembali cawannya ke meja, mendadak suatu perasaan tak tenang melintas dalam hatinya.

Mengapa perasaannya tak tenang?

Ia tidak tahu pasti, sambil menggenggam cawan araknya dia mulai berpikir dengan seksama.

Ia mulai membayangkan kembali semua tingkah lakunya selama ini, dimulai dari melaksanakan siasat Naga Kemala Putih.

Setiap langkah yang telah diperbuat kembali diingat dan dibayangkan secara cermat.

Dia ingin tahu adakah kesalahan yang telah dilakukannya.

Lebih penting lagi adalah mencari tahu persoalan apa yang tiba-tiba membuat perasaannya tak tenang.

Tapi, perasaan tak tenang tetap berkecamuk dalam benaknya.

Mengapa bisa begitu?

Tiba-tiba ia melompat bangun.

Ah benar!

Dalam hal ini tidak boleh ada kesalahan yang dia lakukan.

Sekarang dia teringat, ternyata ada satu hal dia telah lakukan secara ceroboh.

Setelah menghabisi nyawa Pek Giok-khi, seharusnya ia menggeledah tubuh mayat itu serta seluruh bangunan rumahnya.

Ia tak boleh membiarkan naskah asli Rencana Naga Kemala Putih terjatuh ke tangan orang lain, apalagi kalau sampai jatuh ke tangan orang Tay-hong-tong.

Kematian Pek Giok-khi pasti akan menimbulkan kegemparan, orang-orang Tayhong-tong pasti akan menggeledah seluruh isi rumah, mencari barang-barang peninggalannya untuk mencari tahu sebab musabab terjadinya pembunuhan ini.

Andaikata Pek Giok-khi belum memusnahkan naskah asli tersebut, bukankah siasat Naga Kemala Putih terancam gagal dan berantakan?

Benar!

Ternyata di sinilah letak kecerobohan yang membuat perasaannya tidak tenang.

Baca Juga: Tugas Rahasia 3

Baca Juga: Rahasia Ciok Kwan Im 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert