Ceritasilat Novel Online

Rahasia Ciok Kwan Im 3

Eps 3 Rahasia Ciok Kwan Im - Gu Long

Baca online Rahasia Ciok Kwan Im - Gu Long

Cersil Rahasia Ciok Kwan Im - Gu Long.

"Kalian dijuluki sebagai pendekar, kenapa.......kenapa melihat harta lantas lupa harga diri?"

"Pendekar? Berapa sih harganya pendekar?"

Go Ceng-thian tertawa tergelak-gelak.

"Kau sudah menjelang ajal, biar kuberi peringatan padamu, manusia yang bisa dibeli dengan uang, dia bukanlah pendekar. Orang yang dapat kau beli, orang lainpun berani membeli dengan harga lebih tinggi."

"Kalau demikian, memang mata Siao-ong yang picak."

"Memang matamu picak, bicara terus terang, kabar yang kau katakan tadi kurang tepat, kali ini kami bukan empat orang tapi enam orang."

"Ma.....masih empat lagi yang lain? dimana?"

"Sudah tentu mereka sudah tiba semua, coba kau terka siapa yang membawa mereka?"

Pipop-kongcu tiba-tiba menimbrung .

"Apakah Toa Hoan?"

"Benar,"

Ujar Go Ceng-thian.

"kau memang lebih cerdik dari bapakmu, aku jadi merasa tak tega membunuhmu."

Go Pek-han mengerutkan alis, katanya .

"Waktu amat mendesak, kau ngobrol apa? Kalau ada orang kemari, apakah kau mau pahalanya direbut orang lain?"

Benar, aku hampir lupa memberi tahu kepadamu, kepalamu ini berharga lima ratus tail.

Dimana ia gentakkan tangan, ujung pedangnya segera memenggal kepala Kui-je-ong.

Coh Liu-hiang belum mau turun tangan, hatinya cukup tetap dan tenang, ia tahu tak perlu dirinya ikut campur, batok kepala Kui-je-ong takkan terpenggal.

Benar juga terdengar "Ting", pedang panjang Go Ceng-thian tahu-tahu tersampok miring, hampir saja terlepas dari tangannya.

Entah kapan, tahu-tahu Pipop-kongcu sudah memegang rebabnya itu, katanya dingin .

"Hanya mengandalkan kau, ingin mengambil kepala ayah baginda, orang-orang yang mendahului kau sudah sejak dulu berhasil."

Tersirap darah Go Pek-hun, katanya .

"Kepandaian budak ini tidak lemah, rombongan orang-orang yang mendahului kita mungkin sudah terjungkal ditangannya."

Go Ceng-thian kertak gigi, bentaknya .

"Kau tetap jaga pintu, seorang diri aku cukup menghadapi dia."

Sinar pedangnya berkelebat, kembali ia menubruk maju.

"Apa kau cukup mampu menghadapi aku?"

Cemooh Pipop-kongcu.

Rebabnya tak pernah bergerak, tapi belum habis kata-katanya, dari ujung rebabnya itu tiba-tiba menyembur keluar setabir jarum-jarum perak, begitu banyak jarum-jarum itu, seperti hujan menyambar, entah berapa banyak jumlahnya.

Saking terkejutnya, lekas Go Ceng-thian putar pedangnya sekencang mungkin untuk melindungi badan.

Yu-liong-kiam-hoat yang punya enam puluh empat jurus itu memang terkenal kelincahan dan kehebatannya untuk mempertahankan diri, tapi betapapun rapat permainan pedangnya, jarumKoleksi

KANG ZUSI jarum perak itu menyambar lebih rapat lagi.

Terdengar jeritan yang menyayatkan hati, pedang melesat naik ke udara, Go Ceng-thian dekap mukanya dengan kedua tangannya, darah segar meleleh dari sela-sela jari tangannya, mulutnya melolong kesakitan dengan pilu .

"Senjata rahasia teramat jahat!"

Belum selesai kata-katanya badannya sudah roboh terjerembab. Pipop-kongcu menghela napas, katanya .

"Senjata rahasia beracun yang jahat, memang khusus digunakan untuk menghadapi manusia-manusia jahat seperti kalian."

Sementara itu dengan mata melotot marah, Go Pek-hun sudah menubruk maju dengan menarik sebuah kasur duduk sebagai tameng ditangan kiri, pedang ditangan kanan menusuk tujuh jurus dengan tipu-tipu mematikan.

Kelihatannya Pipop-kongcu tak kuasa bertahan, dia terdesak mundur berulang-ulang.

"Gadis busuk,"

Maki Go Pek-hun penuh kebencian.

"Masih punya cara keji apa kau? Kenapa tidak kau gunakan?"

Pipop-kongcu mundur terdesak mepet cagak kemah dan tak mungkin mundur lagi, tetapi roman mukanya tetap mengulum senyuman manis, sedikitpun tidak kelihatan gugup.

Sementara Kui-je-ong sudah mengkeret dipojokan sana, teriaknya .

"Lekas, lekas turun tangan! Nyalimu besar, nyali bapakmu kecil!"

Tawa Pipop-kongcu semerdu kelintingan, serunya .

"Aku hanya ingin berkenalan dengan Yu-liong-kiam mereka, kau orang tua minta aku turun tangan, baiklah aku mulai! "Dengan kedua tangan ia mengangkat rebabnya memapak keatas.

"Reng"

Kembang api berpercikan, pedang panjang kembali terpental. Go Pek-hun menyeringai buas, serunya .

"Keparat, ternyata rebab besi!"

Rebab memang dibuat dari besi murni, beratnya luar biasa, meski orang yang punya tenaga besar, sukar memainkan seenteng pedang, terpaksa Pipop-kongcu harus menggunakan kedua tangannya untuk mengangkatnya.

Go Pek-hun cukup maklum permainan orang takkan lincah dan gesit, maka sedikitpun ia tidak gentar, pedang dimainkan lebih gencar, kembali ia menubruk maju, cuma kali ini dia tak berani mengadu kekerasan.

Tampaknya dengan rebabnya Pipop-kongcu tetap melayaninya dengan mantap dan tenang, jurus-jurus permainan rebabnya amat aneh dan lain, malah cukup cepat juga.

Karena rebab ini terlalu besar, sedikit tangannya bergerak, perubahan rebab menjadi tak menentu banyaknya dan yang aneh, setiap jurus permainannya tetap bertahan dengan rapat.

Dengan kedua tangan memegangi rebab, untuk melukai musuh tentulah sulit, meski sudah banyak pengalaman Coh Liu-hiang, namun belum pernah terpikir olehnya, dengan kedua tangan memegang satu senjata, untuk melawan musuh dengan sama kuat, terutama jurus-jurus permainan seaneh ini belum pernah dilihatnya.

Dia sendiri seolah-olah sudah mengikat mati kedua tangannya, meski amat rapat dan kuat pertahanannya, terang dirinya takkan bisa mencapai kemenangan.

Go Pek-hun juga merasa heran, setelah beberapa jurus berlalu, nyalinya bertambah besar, serangannya lebih gencar, belakangan dia malah berani mendesak musuh, pikirnya harus berani nyerempet bahaya untuk memperoleh kemenangan.

Siapa tahu, tepat pada waktu itu, tiba-tiba tampak sinar perak berkelebat.

Tahu-tahu kedua tangan Pipop-kongcu terkembang dikedua sampingnya, bagian lekuk dari rebab itu tahu-tahu melesat keluar sebuah belati yang berkilauan dan tiba-tiba menusuk amblas ke dalam perut Go Pek-hun.

Pedang Go Pek-hun terlempar lepas, dengan sempoyongan badannya roboh terkapar, matanya menyorotkan penasaran, sampai mati dia masih belum paham cara bagaimana kena dibunuh oleh lawannya.

Menghadapi badan orang yang roboh pelan-pelan, Pipop-kongcu berkata pelan-pelan .

"Senjataku ini memang teramat aneh, ganas dan keji, kenapa kau justru mendesak aku menggunakannya?"

Diam-diam Coh Liu-hiang tertawa getir ditempat persembunyiannya, Lwekang Pipop-kongcu kelihatannya tidak begitu tinggi, permainan jurus silatnya yang dipelajaripun tak banyak, setiap jurusnya masih kelihatan kaku sederhana, kejam, telengas dan bermanfaat.

Sungguh tak habis pikir otak Coh Liu-hiang, entah darimana orang mempelajari kepandaian seaneh itu, seorang gadis kecil mempelajari ilmu silat begitu lucu, bukan suatu hal yang patut dibuat senang.

Kui-je-ong sudah berdiri, sambil mencari arak dan berteriak .

"Lekas! Lekas suruh orang menggotong kedua mayat ini, aku takut melihat orang mati."

"Setelah membunuh orang, kaki tanganku jadi lemas,"

Ujar Pipop-kongcu.

Badannya masih menempel kain kemah, tepat pada saat itulah sekonyongkonyong dua tangan orang tiba-tiba melesat masuk melalui kain kemah secepat kilat dan berhasil menelikung kedua tangan Pipop-kongcu.

Saking terkejutnya, cangkir ditangan Kui-je-ong yang baru dipegangnya seketika mencelat jatuh pula.

Terdengar blak bluk dua kali, dua orang tahu-tahu sudah merobek kemah dan menerjang masuk.

Kedua orang ini bermuka pucat pias, pakaiannya serba hitam.

Orang di sebelah kanan adalah Sat-jiu-bu-ceng Toh Hoan, tangan kirinya dengan kencang mencengkeram lengan Pipop-kongcu, sementara tangan kanan diperban dan digantung oleh kain panjang dari lehernya.

Orang di sebelah kiri berbadan kurus kering, sebaliknya kepalanya seperti melesak masuk ke dalam lehernya, tapi sepasang matanya justru berkilat terang sebuas mata orang hutan yang kelaparan.

Kedua lengan Pipop-kongcu seperti terjepit oleh dua jepitan besi, saking kesakitan hampir saja matanya melelehkan air mata, tapi dia kertak gigi, mengeluhpun tidak.

Bergetar suara Kui-je-ong .

"Ka.....kalian ingin memenggal kepala Siao-ong boleh kuberikan tapi lekas lepaskan putriku."

Toh Hoan terloroh-loroh katanya .

"Masa kau belum pernah dengar nama burukku? Jikalau tuanmu bisa membunuh dua orang, takkan satu yang ketinggalan hidup."

Laki-laki kurus seperti kera itu mengerutkan kening, katanya .

"Mau bunuh lekas bunuh, cerewet apalagi!"

Agaknya Toh Hoan rada jeri terhadap orang ini, katanya tertawa kering .

"Sun-heng hendak turun tangan? Atau Siaute yang turun tangan?"

"Kalau hobimu memang membunuh orang biar kau saja yang turun tangan!"

"Terima kasih, terima kasih............."

Toh Hoan tertawa besar . Sekonyong-konyong terdengar seseorang berkata perlahan-lahan .

"Kedua orang ini mana boleh kalian bunuh."

Ditengah kumandang suaranya, sesosok bayangan orang melayang turun dari langit-langit kemah, kelihatannya tidak menggunakangaya apa-apa, tapi waktu melayang turun sekujur badannya seringan kapas melayang ditengah udara, sedikitpun tak mengeluarkan suara waktu kakinya menyentuh tanah.

Kecuali Coh Liu-hiang si Maling Romantis, siapa pula yang memiliki ilmu Ginkang setinggi itu?

Laki-laki baju hitam itu, semula bersikap takabur dan congkak, mimiknya seolah-olah tiada orang lain dihadapannya, tapi setelah melihat bayangan orang, seketika ia terkejut melongo, jari-jari tangannya yang terkepal kencang tadi mengendor sama sekali.

Dengan mengawasi orang Coh Liu-hiang tersenyum simpul, katanya .

"Sunkausu masih kau kenal padaku?"

Kiranya laki-laki baju hitam ini adalah ahli waris tunggal dari Tiang-pekkau-cun "Rombongan kera dari Tiang-pek-san", seorang yang amat keras dan tangan telengas diantara sekian banyak gembong-gembong persilatan yang lalim dan kejam, sampaipun Tiang-pek-kiam-pay merasa pusing menghadapi Hek-kau Sun Khong ini, Si Kera Hitam.

Kalau biasanya dia bikin orang pusing kepala, tapi sekarang dia sendiri yang merasa kepalanya puyeng, sekian lama dia menjublek tanpa kuasa bersuara.

Semula Toh Hoan masih unjuk wibawa, namun melihat sikapnya ini seketika terkancing mulutnya.

Berkata Coh Liu-hiang tertawa.

"Manusia seperti tampangmu ini berani juga kemari menjadi pembunuh bayaran, memangnya kau tidak merasa malu?"

Hek-kau, Sikera Hitam Sun Khong tiba-tiba membanting kaki, katanya dengan suara sumbang .

"Kalau aku tahu kau berada di sini, meski leherku digorok juga, aku takkan kemari."

"Terhitung kau masih punya nurani."

Puji Coh Lu-hiang. Setelah melongo sesaat lagi, akhirnya Hek-kau menghela napas, tanpa banyak cincong segera ia berlalu. Sat-jiu-bu-ceng Toh Hoan, sitangan keji tak kenal kasihan, segera berseru .

"Kau hendak pergi begini saja?"

Sun Khong mendadak membalikan badan, jengeknya sinis .

"Memangnya aku tak boleh pergi?"

"Siapakah bocah ini?"

Tanya Toh Hoan aseran.

"Kenapa Sun-heng begitu takut padanya?"

Sun Khong memelototi matanya, katanya menyeringai sadis .

"Kau berani menganggapnya sebagai bocah? Mengandal apa kau berani tanya dia? Hem!"

Berbareng dengan gerengannya, sebuah tangan hitam laksana kaitan besi tahu-tahu berkelebat laksana kilat, sebelum Toh Hoan sadar dan hendak berkelit, mulutnya sudah menjerit keras dan sempoyongan.

Tahutahu dadanya sudah berlobang besar dan menyemburkan darah.

Sun Khong membersihkan jari-jari tangannya yang berlepotan darah dengan bajunya, sekali tendang ia bikin badan orang terbang jauh keluar kemah, seperti tak terjadi apa-apa, kedua tangannya digosok-gosok, katanya tertawa pada Coh Liu-hiang.

"aku tahu kau tak pernah membunuh orang, tapi kutinggalkan dia di sini juga membawa kesulitan, terpaksa kubunuh saja dia."

Belum habis kata-katanya, tanpa menoleh dia tinggal pergi.

Semula Kui-je-ong masih hendak meringkusnya, tapi mukanya sudah pucat ketakutan, setelah musuh berlalu barulah Kui-je-ong memuntahkan isi perutnya, serunya sambil pejamkan mata .

"Lekas, bersihkan semua mayatmayat itu!"

Sekonyong-konyong Sun Khong melongokkan kepalanya pula dari luar, katanya .

"Hampir aku lupa memberitahumu, karena aku berhutang budi padamu, begitu melihat mukamu segera aku berlalu. Tapi masih ada sepuluh kali lebih hebat dari aku akan kemari secepat mungkin, kau harus hatihati."

"Selamanya aku amat hati-hati, cuma siapa pula tokoh yang lihai itu?"

Ujar Coh Liu-hiang tertawa. Sun Khong tertawa meringis, sahutnya .

"Begitu aku menyebut namanya, kepalaku pusing tujuh keliling, lebih baik tak kukatakan, sayang segera aku harus berlalu, kalau tidak bisa melihat pertarungan kalian, wah, tentu amat hebat dan menarik."

Kali ini dia berlalu lebih cepat, kata-kata terakhir diucapkan sepuluhan tombak jauhnya. Mendadak Pipop-kongcu memburu kedepan Coh Liu-hiang, teriaknya sambil menarik tangannya .

"Siapakah sebetulnya kau ini? Sampaipun aku, kau tidak mau memberitahu?"

Coh Liu-hiang lepaskan tangannya dari cekalan orang, sahutnya tertawa .

"Aku bukan siapa-siapa, aku ini bukan lain adalah ulat busuk!"

Pada saat itu juga dari luar kumandang gemboran Oh Thi-hoa .

"Ulat busuk, tiada kejadian apa-apa di tempatmu?"

Pipop-kongcu masih merengek-rengek, katanya tertawa kepada Coh Liuhiang.

"Benar, aku memang ingin tanya kau, kenapa dia selalu panggil kau ulat busuk!"

Sungguh tak enak bagi Coh Liu-hiang bicara berhadapan dengan gadis sambil merengut, tapi sekarang terpaksa dia harus menarik muka, kalau tidak dia merasa bersalah terhadap Oh Thi-hoa. Katanya .

"Julukan ini diberikan oleh calon suamimu, kenapa tidak kau tanya padanya?"

Pipop-kongcu seperti tertegun sebentar, kebetulan Oh Thi-hoa bersama Ki Ping-yan melangkah masuk, sekali menyapu pandang, Ki Ping-yan lantas tersenyum, katanya .

"Bagaimana? Baik tidak sandiwaranya?"

Coh Liu-hiang geleng-geleng kepala, ujarnya .

"Kalian kelihatannya ademadem saja mengejar maling diluar, tapi kau biarkan maling lari masuk kemari.............."

Belum habis kata-katanya, Oh Thi-hoa sudah tergelak-gelak. Berkerut alis Maling Kampium, katanya .

"Kau merasa geli."

"Kali ini memang kau kena ditipu oleh Jago Mampus."

"Tertipu?"

Maling kampium tertegun.

"Kau kira kami tidak melihat kedua orang itu?"

"Kalau melihat kenapa kau biarkan mereka masuk kemari?"

"Jago Mampus ejekan buat Ki Ping-yan, sudah kenal Sun-khong, dia tahu selama hidupnya kera hitam itu paling kagum terhadapmu, kuatir kau terlalu menganggur di sini, maka dia dibiarkan supaya kau bereskan sendiri, waktu aku hendak melabraknya, malah kena dirintangi."

Tak tahan Coh Liu-hiang tertawa lebar, katanya geleng-geleng .

"Memang aku sudah heran, meski ginkang Sun-kaucu "Kera she sun"

Tidak lemah, mana mungkin dia bisa lolos dari pandangan kalian, siapa tahu memang kalian hendak mempersulit diriku saja."

Ki Ping-yan tertawa tawar, ujarnya .

"Tapi kalau kera hitam itu tidak bisa dipandang sebagai tokoh yang boleh diampuni, aku takkan membiarkan dia berhadapan dengan kau.........jikalau kubiarkan setan pemabokan ini melabrak kera hitam itu, coba pikir apakah kera hitam itu bisa lolos?"

Kalau semua orang gempar, ribut dan berjuang mati-matian mengadu jiwa, mengalirkan darah, saking tegang bahkan napaspun memburu, ketiga orang ini justru bersikap adem-ayem seperti biasa seolah tak pernah terjadi apa-apa, seperti sedang makan sayur belaka.

Baru sekarang Kui-je-ong bisa menenangkan hati, tiba-tiba ia memburu maju, katanya .

"Mereka...........mereka semua datang enam orang, mana pula yang dua?"

"Ongya ingin melihat mereka?"

Tanya Ki Ping-yan tawar. Kui-je-ong terperanjat, lekas ia goyang-goyang tangan, sahutnya .

"Tidak..........tidak mau."

Coh liu-hiang menghela napas, katanya .

"Tak beruntung kedua orang itu kebentur oleh mereka berdua, mungkin selamanya takkan bisa kemari."

Pipop-kongcu menatapnya, tanyanya .

"Kalau kebentur oleh kau?"

Maling kampium pura-pura tidak dengar, ia tidak perdulikan pertanyaan orang. Oh Thi-hoa malah yang menjelaskan dengan tertawa .

"Siapa saja yang kebentur oleh dia, terhitung baik nasibnya, Dulu kera hitam pernah tiga kali kebentur di tangannya, tiga kali juga dilepaskannya. Oleh karena itu setiap kali berhadapan dengan dia, kentutpun Sun-kaucu tak berani, lantas tinggal pergi."

Lalu ia menambahkan dengan sungguh-sungguh.

"Bahwasanya kepandaian kelima orang itu dilipat-gandakanpun bukan tandingan Sunkaucu seorang."

Seketika Kui-je-ong menjadi tegang pula, katanya .

"Tapi Sun-kaucu tadi bilang, masih ada seseorang yang sepuluh kali lebih lihay dari dia hendak kemari."

"Oh, apa ya?"

Tanya Ki Ping-yan mengerutkan alisnya.

"Tokoh yang sepuluh kali lebih lihay dari Sun-kaucu, hanya ada beberapa orang saja dalam dunia ini, tapi bukan mustahil kera hitam itu sedang mainmain dengan kita."

"Sun-kaucu selamanya tak pernah berbohong."

"Kalau begitu, coba kau pikir siapa yang dia maksudkan?"

"Perduli siapa dia, tunggu saja kedatangannya, jikalau kalian tak punya kebiasaan tidur, biar aku seorang diri pergi tidur saja,"

Tanpa menunggu reaksi orang banyak Ki Ping-yan tinggal pergi.

Biji mata Oh Thi-hoa berputar-putar, lagaknya seperti ingin minum, tibatiba ia melihat roman muka Pipop-kongcu berubah begitu jelek, seketika lenyap selera minumnya, sambil menyengir dan mengusap mulut dengan lengan bajunya, lekas ia tinggal pergi meronda keluar.

Sudah tentu Coh Liu-hiang tidak ingin tinggal lama-lama disini, setelah bersoja segera ia hendak mengundurkan diri.

Tak nyana Pipop-kongcu tibatiba menahannya .

"Tunggu sebentar?"

"Harap tunggu!"

Kui-je-ong menahannya. Betapapun keras teriakan Pipop-kongcu boleh dianggap tak mendengar, tapi seruan Kui-je-ong tak bisa tidak ditanggapi, apa boleh buat Coh Liuhiang putar badan, tanyanya .

"Ongya masih ada pesan apa?"

Jilid 18 Sekian lama Kui-je-ong terlongong, katanya kemudian menyengir tertawa .

"Menurut pendapatmu kapan baiknya hari pernikahan putriku dengan temanmu dilangsungkan?"

"Maksud Ongya......."

"Lebih cepat lebih baik"

Sebelum Kui-je-ong bicara Pipop-kongcu sudah menyela bicara.

Tak sedikit Co Liu-hiang pernah lihat perempuan bernyali besar dan bermuka tebal, tapi seperti putri raja yang ingin lekas-lekas menikah seperti Pipop-kongcu ini belum pernah dilihatnya, katanya dengan menyengir kejut .

"Kalau perjodohan ini sudah disetujui oleh kedua belah pihak, kapan saja pernikahan dilangsungkan tak menjadi soal."

Kalau begitu besok saja dilangsungkan, kata Pipop-kongcu dengan mata bersinar. Dengan langkah lebar Coh Liu-hiang kembali ke perkemahannya, hatinya jengkel dan geli pula mulutnya menggumam .

"Sungguh belum pernah kulihat calon pengantin yang begini terburu-buru untuk kawin."

Baru saja kakinya melangkah ke dalam perkemahan, dilihatnya Oh Thi-hoa sedang memeluk guci menuang arak ke dalam mulutnya sekaligus ia habiskan setengah guci arak, katanya tertawa .

"Tadi hampir saja bikin aku mati kutu dengan mendelong melihati kau dan dia sepuasnya."

"Bukankah kau biasanya bermuka tebal?"

Olok Ki Ping-yan.

Orang lain mengolok dan menggoda aku, tidak menjadi soal, tapi dia.......diapun menggoda aku, coba katakan malu tidak aku ini?

"Kalau sekarang kau sudah takut kepadanya, celakalah hidupmu dikelak kemudian."

"Ya, hidup baru, besok harus kau mulai, pengantin perempuan terburuburu ingin kawin, dia desak aku supaya tentukan pernikahan besok pagi."

"Apa besok pagi?"

Oh Thi-hoa menjerit sambil mencelat bangun.

"Ya, besok pagi!"

Coh Liu-hiang menegaskan. Sekali raih Oh Thi-hoa renggut baju di depan dada Coh Liu-hiang .

"Kau........kau lantas menyanggupi?"

"Sebagai calon menantu raja, cepat atau lambat kau akan menikah, apa bedanya cepat sehari atau lambat seminggu?"

Oh Thi-hoa jumpalitan jatuh keatas ranjang, mulutnya berkaok-kaok .

"Celaka dua belas, sedikitpun aku tidak mempersiapkan diri apa tidak menyulitkan aku?"

"Jadi pengantin harus siap apa? Jikalau kau tidak bisa, aku dan Maling Romantis cukup mampu mengajarkan pada kau."

Goda Ki Ping-yan tertawa. Oh Thi-hoa lempar sebuah bantal ke arah orang, dengan kaki telanjang dia mondar-mandir kesana-kemari mencari arak, dan mulutnya muring-muring .

"Mana araknya? Arak yang harus mampus ternyata sudah habis? Kalau tidak tenggak dua cangkir lagi untuk menekannya, serasa hampir melonjak keluar jantungku saking tegang."

Coh Liu-hiang mengawasi Ki Ping-yan, katanya .

"Coba kau pikir, kenapa mereka begitu terburu nafsu hendak melangsungkan pernikahan besok pagi?"

"Setelah kejadian malam ini, Kui-je-ong seperti burung yang ketakutan dikejar panah, kepada siapapun dia tidak percaya lagi, terpaksa harus lekas mencari menantu untuk menjadi pelindungnya, kalau tidak............"

Mendadak Oh Thi-hoa menjerit kaget, serunya .

"Lekas kalian kemari, coba lihat apa ini?"

Karena mengobrak abrik kesana kemari, tiba-tiba didapatnya secarik kertas di bawah tindihan botol arak.

Di atas kertas putih itu bertuliskan huruf huruf yang indah berseni.

Tuan-tuan datang dari jauh, jiwa sendiri belum tentu selamat, kenapa turut campur urusan orang lain?

Mumpung hari belum terang tanah, lekas tinggalkan tempat ini, itulah jalan paling tepat, kalau tidak menyesalpun sudah terlambat.

Jikalau kalian sudi mendengar nasehatku, kesempatan lain akan kubuatkan hidangan lezat untuk menjamu kalian panjang umur.

Tertanda Orang di ruang pemujaan Tak terasa Coh Liu-hiang terlongong mengawasi kertas di tangannya.

"Dua kali meninggalkan surat dengan tulisan yang sama, naga-naganya komplotan Ciok-kwan-im memang sudah sejak lama menyelundup disekitar Kui-je-ong......."

Ki Ping-yan utarakan dugaannya.

"Menurut dugaanmu siapa-siapa saja komplotannya?"

Tanya Oh Thi-hoa. Siapapun mungkin saja, mungkin para busu, mungkin permaisuri atau gundik-gundiknya, bukan mustahil mereka ayah beranak juga,"

Komentar Ki Ping-yan. Kesima mata Oh Thi-hoa, katanya kemudian menyengir kecut .

"Jangan kalian menjadi gelisah lantaran aku tidak jadi menantu raja, bagi aku tidak jadi soal, memang kemungkinan adalah mereka ayah beranak sendiri."

Coh Liu-hiang tersenyum katanya .

"Jikalau hanya huruf hitam diatas kertas ini cukup mampu mengusir kita, seumpama kita tetap bisa hidup, menjadi manusiapun tak ada artinya lagi."

Bercahaya biji mata Oh Thi-hoa, katanya sambil menggosok-gosok tapak tangan.

"Nah, kata-kata ini baru mirip ucapan si maling kampium, apapun yang akan terjadi kita harus adu jiwa dengan dia."

"Sekarang,"

Kata Coh liu-hiang dengan prihatin.

"Kalau dia sudah pasti hendak mencari kita, maka kita tak perlu tergesa-gesa, biarlah kita tunggu kedatangannya saja disini, besok kau tetap melangsungkan pernikahanmu, tiga hari kemudian tetap kita bekerja menurut rencana Kui-je-ong untuk menukar Ki-loh-ci-sing itu dengan barang-barang yang sudah disiapkan."

Menurut hematmu apa dia betul hendak menukarnya? "Sudah tentu dia takkan menukarnya."

Oh Thi-hoa menibrung bertanya .

"Kalau dia tak mau tukar, kenapa kita harus melakukannya?"

Secara royal Kui-je-ong berikan permata kucing itu pada kau, sebaliknya Ki-loh-ci-sing dipandangnya lebih berharga dari jiwanya sendiri, jelas Kiloh-ci-sing membekal suatu rahasia yang amat tinggi nilainya, benar tidak?

"Ya, mungkin!"

Sahut Oh Thi-hoa. Bahwa Ciok-koan-im mau bertindak demikian tidak lebih karena ingin tahu sampai dimana nilai dari rahasia Ki-loh-ci-sing itu? Ki Ping-yan tiba-tiba nimbrung .

"Kalau Kui-je-ong memandang Ki-loh-cising begitu berharga, kenapa dia tidak ragu menyerahkan kepada Pengkeh-chit-hou untuk membawanya pergi?"

Coh Liu-hiang berpikir sebentar baru menjawab .

"Mungkin bukan dibawa pergi, tapi titip kepada Peng-keh-chit-hou untuk membawanya kemari."

Ki Ping-yan mengerutkan keningnya.

"Jadi Ki-loh-ci-sing itu semula tak berada ditangan Kui-je-ong? Tapi berada ditangan seseorang yang menetap di Tionggoan? Sekarang Kui-je-ong amat memerlukan barang ini lalu suruh orang untuk mengantarnya kemari?"

Sudah tentu itupun suatu kemungkinan, benar tidak?

"Kalau demikian, urusan tidak besar, barang begitu berharga mana Kui-jeong sudi titipkan pada orang lain?

Kalau toh orang itu sudah menyimpan mestika semahal itu, mana sudi memberikan kepada orang lain pula?"

Ki Ping-yan utarakan kesangsiannya.

"Dalam hal ini sudah tentu mengandung suatu rahasia yang tak mungkin diketahui orang luar."

Coh Liu-hiang coba menganalisa.

"Mungkin hanya Kuije-ong seorang yang tahu rahasia ini, kita tak perlu menebak-nebak, cuma kupikir,"

Ia tertawa lalu menyambung.

"Bila keadaan memaksa, mungkin Kui-je-ong akan memberitahu sendiri."

Setelah mengalami ketegangan dan keributan semalam suntuk, meski hati masih diganjal urusan-urusan penting, tapi begitu memejamkan mata, tanpa terasa siapapun akan terlelap dalam impian.

Entah berapa lama mereka tertidur, sekonyong-konyong terdengar lambaian pakaian yang terhembus angin, sesosok bayangan orang bagai terbang menerjang masuk kedalam perkemahan, ternyata dia bukan lain rampok budiman dari Tionggoan Sutou Liu-che.

Orang-orang sebangsa Coh Liu-hiang seolah olah selamanya tak pernah tidur sungguh-sungguh.

Ki Ping-yan segera menyambut kedatangan orang dengan jengekan dingin.

"Tuan pergi tanpa pamit, kini datang tanpa memberitahu lagi, apa tingkah lakumu tidak terlalu aneh?"

Sambil menyeka keringat Sutou Liu-che unjuk tawa dibuat-buat, katanya.

"Cayhe ada urusan perlu kuberitahukan, harap kalian suka maafkan keteledoranku ini."

Lama Ki Ping-yan menatapnya, lambat laun sikapnya mulai lunak. Oh Thi-hoa malah tertawa, katanya .

"Kau punya urusan penting apa, duduklah dan bicara perlahan-lahan."

"Semalam Cayhe pergi tanpa pamit, karena secara diam-diam aku menguntit jejak Sat-jiu-bu-ceng Toh Hoan, sejak pertama kali Cayhe merasa orang ini terlalu licik dan mengandung maksud tertentu, pastilah ada latar belakangnya."

"Tidak malu kau sebagai kawakan Kangouw, pandanganmu memang tepat,"

Puji Oh Thi-hoa.

"Gerak-geriknya seperti amat tergopoh-gopoh dan gelisah sepanjang jalan, aku menguntitnya secara diam-diam, untunglah tidak konangan olehnya, dia terus menuju keutara kira-kira setengah jam perjalanan, terlihat di depan sana terdapat sebuah bukit pasir, dibalik bukit pasir inilah berdiri sebuah perkemahan."

Mencorong pandangan mata Ki Ping-yan, katanya tertawa dingin .

"Siapa saja orang-orang yang berada didalam perkemahan itu aku tidak tahu tapi cuma dengan si kera hitam Su-khong seorang, kalau tuan seorang diri hendak main selidik dan mencuri dengar rahasia mereka belum tentu kau bisa pulang dengan nyawa hidup."

Sutou Liu-che menyengir tertawa, ujarnya .

"Sudah tentu cayhe tahu dalam perkemahan itu pasti ada jago-jago kosen, masa aku berani sembrono, setelah kulihat Toh Hoan memasuki perkemahan itu, baru saja aku kebingungan apa yang harus aku lakukan, tiba-tiba nampak seekor kuda mencongklang pesat menuju ke arah perkemahan itu, di atas kuda penunggangnya membidikkan sebatang panah melesat masuk ke dalam perkemahan, kuda tak berhenti terus membedal ke arah yang lain dan menghilang."

"Betapa tajam pendengaran Sun-kaucu, sejauh ratusan tombak waktu kuda itu lari mendekati kupingnya pasti sudah mendengarnya, mana mungkin kuda itu bisa mendekat dalam jarak panah dengan perkemahan? Mana dia orang membidikkan panahnya lagi?"

Demikian jengek Ki Ping-yan lagi.

"Kuda itu agaknya memang keturunan naga, agaknya kakinya terbungkus rapat sehingga tidak menimbulkan suara di atas pasir, tentunya kecepatan lari dan keringanan langkahnya tidak lebih asor dari seorang tokoh kosen yang punya ginkang tinggi."

Sekilas Oh Thi-hoa melirik kepada Coh Liu-hiang, ujarnya tertawa .

"Kuda itu mungkin setanding dengan kuda yang kau pinjam dari mutiara hitam."

"Ditengah gurun pasir memang tidak sedikit kuda-kuda jempolan... silahkan tuan lanjutkan ceritanya,"

Kata Coh Liu-hiang.

"Baru saja kuda itu melesat pergi, tiga sosok bayangan orang segera melesat secepat panah keluar dari kemah, mengejar dengan kencang, Cayhe tahu inilah kesempatan terbaik untuk aku bertindak dan menyerempet bahaya, kalau ayal tentu sia-sia kedatanganku."

"Tidak kecil ya nyali tuan,"

Olok Ki Ping-yan sinis.

"Secara diam-diam Cayhe berputar kebelakang perlahan, soalnya di belakang ada beberapa kuda yang terlindungi lingkaran tali, ringkik kuda bisa melenyapkan gerak langkahku."

"Memang tidak malu kau dipandang rampok budiman dari Tionggoan, tindakanmu memang serba perhitungan,"

Kembali Oh Thi-hoa memuji. Merah muka Sutou Liu-che, katanya pula .

"Cayhe mendekam di atas pasir, pelan-pelan aku singkap sedikit ujung kemah dan mengintip ke dalam, tampak kecuali Toh Hoan masih ada dua orang berpakaian sutra emas, bertopi kebesaran dari negeri Kui-je dan seorang Han yang bermuka bengis dan licik."

Ki Ping-yan melirik kepada Coh Liu-hiang, bertaut alis Coh Liu-hiang, katanya.

"Apakah pemberontakan yang terjadi dinegeri Kui-je ini ada orang Han yang ikut menjadi kaki tangannya?"

"Ketiga orang ini mencabut panah dari atas meja, diujung panah terdapat lempitan secarik kertas. Orang Kui-je itu membacanya sebentar, mungkin dia tidak bisa baca bahasa Han maka kertas itu dia angsurkan kepada lakilaki tua bermuka bengis kejam itu, minta orang membaca huruf-huruf yang ada di atas kertas."

"Jadi kau tahu juga apa yang tertulis di atas kertas itu, nasibmu cukup baik,"

Timbrung Oh Thi-hoa.

"Cayhe dengar laki-laki tua itu membaca cukup keras. Ki-loh-ci-sing sudah berada di tanganku, kalau kalian ingin mendapatkan benda ini, sediakan lima ribu tail emas, lima ratus butir mutiara, lima puluh pasang gelang pualam, menuju ke barat daya lima puluh li untuk menukarnya, kalau kalian tidak berminat, benda ini akan menjadi milik Kui-je-ong. Belum selesai Sutou Liu-che membacakan, Coh Liu-hiang bertiga sudah berjingkat berdiri, seru Oh Thi-hoa.

"Bocah keparat, sekaligus menawarkan dagangan kepada dua pembeli, apakah Ki-loh-ci-sing ada sangkut pautnya dengan negeri Kui-je........"

Ki Ping-yan segera menukas, katanya .

"Bagaimana reaksi kedua orang Kuije, setelah mendengar surat yang dibaca itu?"

"Roman muka mereka seketika berubah, pada saat itu pula tiga orang yang mengejar keluar keburu pulang, bukan saja orang-orang dalam kemah tidak menyinggung soal surat itu, secara diam-diam kertas surat itupun disimpannya."

Bagaimana hasilnya dengan pengejaran mereka, tanya Oh Thi-hoa.

"Tidak terkejar, satu diantara ketiga orang itu yang bertubuh kurus seperti kera, mulutnya mengumpat caci, katanya kuda itu pasti kuda setan, kalau tidak meski memejamkan mata pasti diapun bisa menyandaknya."

"Sun-kaucu memang mengagulkan ginkangnya tiada bandingan, kali ini dia terjungkal oleh seekor kuda, sudah tentu hampir edan saking marah,"

Kata Oh Thi-hoa geli.

"Aku tahu orang ini tentu seorang jagoan kosen, disaat hatiku gelisah kuatir jejakku ketahuan, untunglah setelah mereka berunding, Sun-kausu itu membawa tiga temannya termasuk Toh Hoan meluruk kemari!"

Tutur Sutou Liu-che.

"Kalau tuan tahu mereka kemari membunuh orang, kenapa tidak lekas kau pulang memberi kabar?"

Desak Ki Ping-yan.

"Cayhe tahu ada kalian bertiga disini, meski jumlah mereka ditambah sepuluh kali lipat jangan harap bisa berhasil, maka aku ingin bertahan sebentar lagi, ingin aku tahu sampai dimana nilainya Ki-loh-ci-sing itu?"

Sutou Liu-che melanjutkan ceritanya.

"Setelah ke empat orang ini pergi, kedua orang Kui-je dan seorang Han itu mulai berdebat, seorang bilang harus lekas mempersiapkan barang-barang yang diperlukan untuk menukarnya, pihak lain imbalannya terlalu besar, belum tentu Ki-loh-ci-sing punya nilai begitu tinggi, harus waspada dan bertindak melihat gelagat."

Coh Liu-hiang beradu pandang dengan Ki Ping-yan, mereka tahu bahwa ketiga orang itu terang belum tahu rahasia dari Ki-loh-ci-sing itu, maka mereka curiga dan bimbang kuatir tertipu, kalau tidak ditukar kuatir pula benda mustika itu jatuh ke tangan Kui-je-ong.

Berkata Sutou Liu-che lebih lanjut .

"Aku sedang heran, kenapa orangorang ini begitu besar perhatiannya pada sebutir permata saja, siapa tahu tiba-tiba ada orang menepuk pundakku....,"

Sampai di sini rona mukanya mengunjuk rasa jeri dan heran, agaknya belum hilang rasa takutnya, cepat ia menyeka keringatnya pula, katanya dengan menghela napas .

"Cayhe sejak kecil sudah mengembara, ilmu silatku belum termasuk kelas tinggi, bagi seorang pekerja dalam bidangku ini, mata kuping harus tajam luar biasa, siapa tahu orang itu sudah berada di belakangku, bayangannyapun tak kulihat."

Kesima mata Coh Liu-hiang, katanya .

"Tak nyana kecuali Sun-khong, masih ada orang kosen berada di sini."

"Waktu itu sungguh bukan kepalang rasa kagetku, waktu aku berpaling bayangan orang itu sudah sepuluh tombak jauhnya, orang sedang melambaikan tangan kepadaku, aku tahu jejakku sudah konangan, terpaksa aku mengeraskan kepala menghampiri......."

Keringat dingin di kepalanya berketel-ketel, katanya menyambung dengan tertawa getir .

"Setelah aku berhadapan dan melihat tegas muka orang ini, baru aku tahu bahwa jiwaku berhasil kurenggut kembali."

"Apa maksudmu?"

Tanya Ki Ping-yan.

"Untunglah dulu aku pernah bertemu dengan orang ini sekali, kalau tidak sekarang aku takkan bisa pulang bertemu dengan kalian,"

Tutur Sutou Liuche menghela napas.

"Jadi dia membebaskan kau demikian saja?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Terus terang, dua tahun yang lalu waktu aku sedang bekerja, secara tak terduga kebentrok dengan orang ini, untung tujuanku waktu itu hendak menolong keluarga seorang janda, maka dia melepaskanku. Watak orang ini amat aneh, asal dia mengampuni kau sekali, meski kau selanjutnya berbuat salah padanya, dia pasti takkan melukai seujung rambutmu."

"Laki-laki benar bocah itu,"

Seru Oh Thi-hoa.

"Apakah orang ini juga diundang oleh kaum pemberontak itu untuk membunuh Kui-je-ong?"

Kata Ki Ping-yan mengerut kening.

"Ya, begitulah menurut dugaanku."

Sahut Sutou Liu-che.

"Siapakah dia sebenarnya?"

Tanya Ki Ping-yan.

"Cayhe pernah bersumpah berat, matipun takkan menyebut namanya, cuma aku bisa memberitahu, ilmu orang ini amat tinggi dan tak terukur tingkatannya, kalian harus lebih hati-hati."

Tiba-tiba Ki Ping-yan menarik muka, desisnya bengis .

"Kalau dia menanam budi kepadamu, kenapa kau kemari memberikan kabar kepada kami?"

"Setahun yang lalu, secara tak sengaja kakakku mendapatkan harta terpendam yang tak ternilai jumlahnya, menurut rencana kami kakak beradik hendak mundur dan mengasingkan diri dari percaturan dunia persilatan, siapa tahu hasil yang amat rahasia ini ternyata diketahui oleh Kaypang Pangcu Lamkiong Ling, bukan saja harta karun yang kami temukan itu dirampas semuanya, kakakkupun menemui ajal dengan badan terbacok hancur, Cayhe tahu siapa pembunuhnya, tapi........tapi......,"

Ia kucek-kucek matanya yang berkaca-kaca, katanya tawar .

"Tapi ilmu silat Cayhe terang bukan tandingan Lamkiong, jikalau peristiwa ini sampai bocor, didalam Kaypang Lamkiong Ling laksana sang surya yang sedang bercokol di puncak cakrawala, siapa orang-orang Kangouw yang mau percaya akan omonganku."

"Benar!"

Ujar Coh Liu-hiang.

"Waktu itu Lamkiong Ling memang membutuhkan dana yang tak terhitung jumlahnya, jikalau harta karun milik siapapun asal dapat direbut, dengan cara kejam atau telengas apapun bisa saja dia lakukan."

Sutou Liu-che menghela napas, ujarnya .

"Dendam kesumat sedalam lautan ini, terang aku tiada harapan untuk membalasnya, siapa tahu dengan tenaga seorang diri Coh Liu-hiang si Maling kampium ternyata berhasil membongkar rahasia dan muslihat kejam Lamkiong Ling, secara tidak langsung mewakili aku menuntut balas, dan peristiwa ini cukup menggetarkan dunia, tiada kaum persilatan yang tak tahu, sungguh Cayhe amat berterima kasih dan hutang budi kepada Maling kampium, sayang Coh Liu-hiang selincah naga sakti. Selama ini Cayhe tak berhasil menemukan jejaknya dan menyampaikan sembah salam dan terima kasihku."

Mendadak ia angkat kepala dengan nanar ia awasi Coh Liu-hiang, katanya dengan hormat .

"Cayhe tahu Maling kampium suka kelana dan tamasya kemana saja tidak menunjukkan asal usul dan muka aslinya kepada orang lain, tapi Cayhe yakin kedua mataku ini belum lamur, aku masih bisa membedakan orang yang tulen!"

Sembari bicara segera ia berlutut dan menyembah berulang-ulang. Lekas Coh Liu-hiang mengangkatnya bangun.

"Apakah benar aku ini Coh Liu-hiang adanya, Cayhepun amat haru dan terima kasih akan maksud baikmu."

"Kejadian hari ini, kedua pihak sama-sama tuan penolongku, sungguh Cayhe tiada muka tinggal lama-lama disini, semoga kalian bisa merasakan kegetiran hati Cayhe,"

Kembali ia menjura serta menambahkan.

"Cayhe sekarang mohon diri, semoga kelak berjumpa pula.........."

Habis kata-katanya lekas ia putar badan lantas berlalu dengan cepat. Lama sekali baru Oh Thi-hoa menghela napas dan membuka kesunyian.

"Kalau orang lama hidup keluntungan di Kangouw sepuluh tahun, musuhnya sudah tersebar di seluruh penjuru, tapi Coh Liu-hiang justru menanam budi kepada setiap orang yang ditolongnya, kalau demikian betapapun jarang membunuh sesama manusia lebih baik."

Ki Ping-yan malah mengerutkan kening, katanya.

"Kalau Sutou Liu-che sudah tahu kalau kau adalah Maling Kampium, tapi dia minta kau waspada menghadapinya, maka dalam pandangannya ilmu silat orang ini tidak lebih asor dari Coh Liu-hiang."

"Benar,"

Timbrung Oh Thi-hoa.

"Sekian banyak tahun, yang bisa bertanding dengan Coh Liu-hiang belum pernah kita saksikan, jikalau dia benar-benar datang hari ini, ingin juga aku bermain-main melawannya."

Coh Liu-hiang tertawa geli, katanya.

"Jangan kau lupa, hari ini adalah hari pernikahanmu, perduli berapa banyak musuh yang datang, biar aku dan Ki Ping-yan yang menghadapinya, boleh kau masuk dan tidur senikmatnya dalam kamar pengantinmu!"

Oh Thi-hoa mengelus hidung, katanya tertawa.

"Jikalau musuh datang terlalu banyak, seharusnya kalian beri kesempatan kepadaku untuk melemaskan tulang-tulangku."

Ki Ping-yan menyengir, katanya.

"Kau kan punya istri yang dapat melayanimu sepuasnya, memangnya kau belum merasa letih?"

Baru saja Oh Thi-hoa merenggut sebuah bantal hendak dilempar kesana, tahu-tahu enam-lima orang laki-laki yang membawa baki berisi topi, pakaian dan segala perlengkapannya masuk ke dalam kemah, dengan membungkuk dan salah seorang berkata dengan berseri tawa.

"Upacara pernikahan sudah siap, diharap Huma "calon mantu"

Lekas ganti pakaian siap melangsungkan upacara nikah."

"Cepat benar kerja kaki tangan kalian,"

Puji Coh Liu-hiang terpingkelpingkel. Oh Thi-hoa melotot mengawasi topi yang berhias tinggi itu, mendadak ia angkat kedua tangannya ke atas, badanpun roboh rebah di atas ranjang, teriaknya.

"Jikalau kalian suruh aku mengenakan topi segede itu, lebih baik kalian persen sekali bacokan saja kepadaku."

Akan tetapi mengenakan topi macam apapun, sudah tentu lebih enak daripada badan ditusuk pisau.

Akhirnya Oh Thi-hoa kenakan juga topi kebesaran dan mengenakan pakaian pengantin.

Waktu ia coba bercermin tiba-tiba terasa olehnya bahwa tampangnya sebetulnya tidak seburuk seperti yang pernah dibayangkannya sendiri.

Demikian pula mempelai perempuan mengenakan pakaian serba baru, dengan perhiasan serba mewah, secarik kain merah sutra menutupi raut wajahnya.

Mengawasi kain merah sutra itu diam-diam bersorak hati Oh Thi-hoa batinnya .

"Hari ini betapapun kau takkan bisa menggodaku lagi."

Kemah yang semula sudah begitu molek dan megah kini kelihatan lebih mewah dan semarak.

Selebar muka Kui-je-ong merah bercahaya terang, tapi selama ini permaisurinya tak pernah unjukkan dirinya.

Mungkin karena tiada kehadiran permaisuri maka dalam perkemahan itu tiada tampak bayangan seorang perempuan jua.

Setelah mempelai berdua melakukan sembahyang dan sekedar tata tertib pernikahan, segera mereka di usung masuk kedalam kamar pengantin.

Ternyata memang begitulah adat perkawinan dari negeri Kui-je, sederhana dan meriah.

Kalau peristiwa ini terjadi dalam negeri mereka, tamu-tamu perempuanpun tak boleh unjuk diri di hadapan umum dan lagi setelah mempelai masuk ke dalam kamar pengantin, mempelai laki-laki harus berjaga-jaga diluar pintu, menunggu para tamu yang berpamitan pulang menghaturkan secangkir arak, memang malam hari di gurun pasir teramat dingin, semua gembala selalu membekal sebotol atau secukupnya arak untuk memanaskan badan.

Di sana setiap laki-laki mempunyai hobby minum, semakin banyak arak yang ditenggak mempelai laki-laki, lebih semarak dan terpandanglah jamuan pernikahan ini, maka sampai akhirnya diantara sepuluh mempelai laki-laki, sepuluh orang semuanya digotong masuk ke dalam kamar pengantin.

Tapi kebiasaan adat pernikahan seperti ini justru mencocoki selera Oh Thi-hoa, kehabisan arak merupakan suatu yang paling dia takuti selama hidupnya, kalau ada yang mencekoki arak padanya, kebetulan malah bagi dirinya.

Tampak empat laki-laki yang telanjang bagian atas badannya menggotong seekor unta panggang masuk ke dalam perkemahan, mencekal sebuah pisau perak, Kui-je-ong mulai bekerja mengiris perut unta panggang ini.

Didalam perut unta ternyata berisi seekor kambing panggang, didalam panggang kambing ini kiranya berisi seekor ayam pula.

Inilah perjamuan besar paling mewah dan semarak dalam lingkungan kerabat istana raja yang jarang terjadi di padang pasir, dengan pisau peraknya Kui-je-ong membelek perut ayam panggang, dengan ujung pisaunya dia menyodok keluar sebutir telur ayam yang berlepotan minyak, serunya dengan mengelus jenggot.

"Telur ini bisa membawa rejeki, selama ini menurut tradisi hanya tamu-tamu agung saja yang setimpal mencicipinya, hari ini perjamuan pernikahan, keadaan lain dari yang lain, tamu agung siapa saja yang memakan telur yang bisa membawa rejeki ini, bukan saja bakal mendapat berkah dan wahyu, malah yang bakal menjadi pengantin adalah dia pula."

Coh Liu-hiang amat heran dan ketarik akan adat istiadat dan cara-cara yang aneh, dilihatnya Kui-je-ong sedang menghampiri ke arahnya, telur yang membawa rejeki yang tersunduk di ujung pisaunya dia taruh didalam piring Coh Liu-hiang, lalu serunya lantang sambil mengangkat kedua tangan.

"Ayolah kita beramai-ramai sama menghaturkan secangkir arak kepada tamu agung kita."

Seruan Kui-je-ong seketika mendapat tepuk tangan yang gegap gempita, semua hadirin bersorak sorai sambil bertepuk tangan, dengan tertawa Coh Liu-hiang mengambil telur di atas piringnya, tiba-tiba dilihatnya ujung pisau perak ditangan Kui-je-ong kelihatan bersemu hitam disinari cahaya api.

Tersirap darahnya, namun lahirnya dia berlaku tenang dan wajar, dimana tangannya terayun, berbareng mulutnya terpentang lalu terkatup lagi, orang lain cuma menyangka telur itu sudah terlelap masuk ke dalam perutnya, sebetulnya telur itu sudah menggelundung masuk ke dalam lengan bajunya.

Terdengar Ki Ping-yan berkata dengan menghela napas.

"Kejadian dalam dunia ini memang serba aneh, kenyataan Siau Oh hari ini menjadi menantu raja, apakah sebelum ini pernah terpikir olehmu?"

"Kuda liar itu terhitung sudah terbelenggu,"

Ujar Coh Liu-hiang tertawa.

"Seharusnya kita ikut gembira, cuma.......malam ini kau harus dua belas kali lebih hati-hati dan waspada, sekali-kali jangan minum sampai mabuk."

Ki Ping-yan mendadak menyengir lebar, katanya .

"Coba kau lihat apakah ini?"

Secara diam-diam ia sisipkan segulung kertas yang sudah basah oleh minyak, sehingga tulisannya rada burem, tapi masih jelas dan bisa dibaca dimana tertulis.

"Hari ini adalah hari bahagia pernikahan putrimu, biarlah besok kepalamu kutitipkan sehari lagi di atas badanmu, besok waktu masih mendatangi, biar kupenggal kepalamu, semoga kau memeliharanya secara baik-baik jangan sampai mengecewakan hatiku."

Tanpa terasa Coh Liu-hiang menjublek mengawasi lembaran kertas di tangannya. Kata Ki Ping-yan yang tertawa getir.

"Tutur kata orang ini meski tidak sehalus dan sesopan tulisanmu tapi nada dan pembawaannya amat mirip benar dengan kebiasaanmu, cuma dia menginginkan batok kepala orang lain, boleh dikata rada kejam dari kau."

"Darimana kau dapatkan kertas peringatan ini?"

Tanya Coh Liu-hiang prihatin.

"Tertancap dibuntut unta panggang itu tadi waktu aku keluar kebetulan kulihat, maka ditengah jalan kusambar lebih dulu,"

Enak saja ia berujar bahwasanya kalau tidak teliti dan seksama terhadap barang sesuatu, mana mungkin didalam keadaan semeriah ini dapat memperhatikan urusan kecil ini.

Masakah mungkin bisa diketemukan secara kebetulan?

Untuk kepergok olehmu, jikalau terjatuh ke tangan Ongya, mungkin seketika dia jatuh semaput, bukankah perjamuan ramai ini bakal jadi kacau dan bubar.

"Beruntung Siau Oh melangsungkan pernikahan hari ini, jikalau aku dan kau tak bisa beri peluang kepadanya supaya bisa tenang dan senang serta puas masuk ke kamar pengantinnya, lebih baik cari saja seutas tali gantung diri."

"Seumpama orang itu tidak datang, bahaya yang harus kita hadapi hari ini cukup besar juga, jangan dipandang persoalan ini terlalu sepele, hidangan dan arak hantaran orang lain sekali-kali kita jangan mencicipinya."

Berkilat mata Ki ping-yan, sekian lama ia tatap mata orang, katanya kemudian dengan mengerut kening .

"Apakah telur rejeki itu mengandung racun?"

Belum sempat Coh Liu-hiang menjawab, tujuh delapan orang berbondongbondong mendatangi hendak menghatur arak kepada mereka. Berkata Ki Ping-yan dengan suara berat .

"Lebih baik aku berjaga-jaga di luar, bila kau bisa bebaskan dirimu boleh kau keluar temui aku."

Setetes arakpun ia tidak cicipi, terus melangkah dengan langkah tergopoh-gopoh.

Sebaliknya Oh Thi-hoa sedang tenggak sebanyak-banyaknya sampai selebar mukanya merah gelap.

Bersahabat dengan kawan seperti Coh Liuhiang dan Ki Ping-yan, sungguh merupakan suatu keberuntungan bagi nasibnya, bila seseorang mempunyai nasib dan rejeki seperti dirinya, kapan atau saat apapun tak menjadi soal minum sedikit banyak.

Malam semakin larut, bau daging panggang semerbak, gelak tawa dan senda gurau orang-orang masih tetap ramai, namun suasana tegang yang diliputi hawa pembunuhan masih mencekam sanubari orang-orang tertentu ditengah gurun pasir ini.

Badan Ki Ping-yan terbungkus didalam selimut beludru yang tebal, duduk di bawah bayang pohon di pinggir kolam, kepalanya menengadah mengawasi bintang-bintang yang lebat bertebaran ditengah cakrawala, lambat laun sinar bintangpun mulai pudar.

Begitu duduk tanpa bergerak, seolah hendak duduk terus sampai kiamat, orang seperti dia memang agaknya tak pernah merasakan kesepian dan letih.

Sekonyong-konyong sebuah botol terlempar datang, terang botol itu hampir memukul kepalanya, seolah-olah tak pernah bergerak, namun botol itu tahu-tahu sudah berada di tangannya.

Dengan langkah perlahan Coh Liu-hiang datang menghampiri, katanya sambil menghela napas .

"Hawa dingin di sini aneh benar............"

Tiba-tiba ia melihat rambut Ki Ping-yan sudah membeku jadi es, katanya pula sambil mengerutkan kening .

"Kalau kau tak minum arak, tak mau berdiri jalan mondar-mandir, hanya duduk begini saja, apa kau tak kuatir mati kedinginan?"

"Hawa dingin takkan membekukan aku sampai mati,"

Sahut Ki Ping-yan dingin. Akhirnya dia membuka tutup botol dan menenggak dua kali, katanya perlahan-lahan .

"Hanya dengan duduk tenang tak bergerak di sini, baru aku bisa melihat apakah ada orang luar yang datang, jikalau aku mondarmandir kian kemari, tak bisa aku kendalikan keadaan keseluruhannya."

"Dalam kolong langit ini, siapa pula yang dapat tahu bahwa kaupun bisa juga rela kedinginan menahan lapar demi sahabat tercinta."

"Aku hanya melakukan urusan yang aku suka, persetan bagaimana pandangan orang lain, apa pula sangkut pautnya dengan diriku?"

Coh Liu-hiang tertawa-tawa, ia tak bicara lagi, ia tahu bila Ki Ping-yan menarik muka dan bicara aseran, perduli apapun yang kau katakan padanya, kau takkan diberi tanggapan.

Sesaat kemudian, Ki Ping-yan sendiri malah yang buka suara .

"Bagaimana Siau Oh?"

"Sudah masuk kamar pengantin."

"Digotong masuk?"

"Seperti panggang unta tadi, bedanya cuma perutnya tak ada kambing panggangnya."

Ki Ping-yan tertawa geli, mulutnya menggumam .

"Orang yang sembarangan waktu bisa jatuh mabuk memang kadangkala membawa rejeki nomplok."

Coh Liu-hiang rebut botol arak itu, lalu ditenggaknya sekali, katanya .

"Adakah sesuatu gerak-gerik yang mencurigakan dibagian luar?"

"Orang yang meninggalkan surat peringatan mungkin sudah berlalu, bahwa orang bisa menancapkan secarik kertas di atas unta panggang di hadapan sekian banyak hadirin, kepandaiannya tentu tidak rendah, ingin aku menghadapinya."

"Kapan kaupun bisa terburu nafsu? Jarang terjadi."

"Memangnya kau kira aku ini mayat hidup!"

"Bagaimana juga orang itu menjadi bagianku, kalian tak boleh bergebrak sama dia."

"Jadi kau takut aku bakal terbunuh oleh dia?"

"Akupun kuatir kau membunuhnya, jikalau orang macam itu sampai mati rasanya sangat disayangkan."

"Hm!"

Ki Ping-yan menggeram-geram, Botol arak direbutnya balik lalu ditenggak pula dua kali, tiba-tiba ia bertanya .

"Mana telur itu?"

Coh Liu-hiang menggerakkan lengan bajunya, tahu-tahu telur itu sudah berada ditapak tangannya, begitu terhembus angin seketika menjadi beku sekeras batu, kata Coh Liu-hiang .

"Pisau perak itu sudah menusuk amblas sedalam setengah dim, tapi hanya ujung pisau sebesar beras saja yang kelihatan menjadi kehitaman, diri sini dapatlah kita bayangkan mungkin telur putihnya tak beracun, racunnya hanya ada ditelur kuning."

Ki Ping-yan sambuti telur itu serta diamat-amatinya dengan seksama, lalu iapun keluarkan sebilah pisau perak kecil, selapis demi selapis ia kikis permukaan telur, lama kelamaan dia dapati sebatang jarum kecil lembut laksana rambut didalam kuning telur.

Dengan ujung pisau peraknya, perlahan-lahan ia menjungkitnya keluar, seluruh batang pisau perak itu seketika berubah hitam.

Coh Liu-hiang menghela napas panjang, katanya tertawa .

"Perut unta berisi kambing, perut kambing berisi ayam, telur berada didalam perut ayam, didalam putih telur barulah kuning telur, bahwa dia bisa menaruh racun didalam kuning telurnya saja, sungguh buah karya yang lihay."

Ki Ping-yan tertawa, katanya .

"Dia menaruh racun ditempat begini rupa, namun bisa ketahuan oleh kau, bukankah kau lebih lihay?"

Mendadak roman mukanya kelam, sambungnya .

"Kui-je-ong sendiri yang menjungkit telur ini dan diberikan kepadamu?"

"Benar!"

Kecuali dia sendiri, sebelum ini mungkin tiada siapapun yang tahu kepada siapa telur ini hendak dia berikan, jadi orang yang menaruh racun.......apakah Kui-je-ong sendiri?

Kalau Kui-je-ong sendiri yang menaruh racun, waktu dia menjungkit telur kenapa harus pakai pisau perak?

sebentar ia termenung lalu menambahkan.

"Kalau bicara soal kesempatan untuk menaruh racun didalam telur, hanya koki atau tukang masak saja yang mungkin melakukan."

"Terang bukan koki itu."

"Kau sudah menyelidikinya?"

"Ya!"

Sahut Ki Ping-yan pendek.

"Masa kau tahu bila ia tidak berbohong?"

"Aku cukup tahu,"

Cepat jawaban Ki Ping-yan tapi meyakinkan.

Coh Liu-hiang tidak bertanya lebih lanjut, jikalau Ki Ping-yan sudah begitu yakin, sia-sia ia membuang ludah.

Kalau jawabannya begitu sederhana, tentulah pertanyaan yang dia ajukan kepada koki teramat jelas dan teliti dan lagi tentu menggunakan suatu cara yang menyudutkan orang yang ditanya, sehingga mau tidak mau harus menjawab dengan jujur.

Sudah tentu Coh Liu-hiang cukup tahu akan watak Ki Ping-yan.

Rada lama kemudian Ki Ping-yan bersuara lagi.

"Untuk menaruh racun didalam telur seperti ini, belum tentu harus dilakukan oleh seorang koki saja, siapapun bisa turun tangan dikala orang lain tidak waspada, jarum racun dia sambitkan masuk ke dalam telur cuma.......orang itu pasti amat dekat dengan Kui-je-ong dan lagi dia sudah perhitungkan bahwa telur itu bakal diberikan padamu."

Matanya melotot kepada Coh Liu-hiang berpikir siapakah orang itu? Lama Coh Liu-hiang berpikir-pikir, katanya tertawa.

"Yang terang sekarang takkan bisa disimpulkan, lekaslah kau pergi tidur saja."

"Kau...."

"Kau sudah berjaga setengah malam, sisa setengah malam menjadi giliranku,"

Kata Coh Liu-hiang.

Lewat setengah malam hawa semakin dingin, Coh Liu-hiang pun sudah duduk cukup lama, bergemingpun tidak, kalau Ki Ping-yan bisa duduk seperti itu, tak perlu dibuat heran, bahwa Coh Liu-hiang bisa duduk begitu lama tanpa bergerak, sungguh siapapun takkan pernah menduganya.

Tempat itu amat gelap, api lilin didalam perkemahan kelihatannya seperti berjarak amat jauh, tiada orang yang melihatnya, namun dengan jelas Coh Liu-hiang bisa mengamati setiap orang.

Kini suasana dalam perkemahanpun mulai reda, dua tiga orang saling payang dan papah bergoyang gontai keluar, ada yang nyanyi-nyanyi kecil, ada yang menggerundel.

Suara nyanyian akhirnya berhenti dan sirap, deru angin yang berhembus di gurun pasir berubah laksana nyanyian duka cita yang memilukan hati, membuat orang bergidik seram dan hambar!

Tabir malam yang tak berujung pangkal, bintang-bintang bertebaran mulai lenyap, ditengah gurun pasir seluas ini tinggal Coh Liu-hiang seorang saja yang masih segar dan sadar.

Lambat laun sanubarinya memikirkan banyak kejadian, urusan dan banyak orang.

Soh Yong-yong, Song Thiam-ji dan Li Ang-siu dimanakah mereka kini?

Sampai detik ini Coh Liu-hiang masih belum berhasil menemukan jejak atau mendapat kabar mereka!

Tapi musuh yang berada di sekelilingnya justru semakin banyak, Ciok-koan-im yang misterius dan menakutkan itu, jejaknya tak menentu, gerak-geriknya serba tersembunyi, pembunuh yang tak terukur kepandaian silatnya.........apakah dirinya harus terbenam di tengah gurun pasir yang tak kenal kasihan ini?

Coh Liu-hiang tenggak lagi araknya, teringat akan Oh Thi-hoa, serta merta tersungging senyuman kecil di ujung bibirnya.

"Bocah itu, sungguh bahagia dan besar rejekinya."

Tiba-tiba ia mendapati seseorang sedang datang ke arahnya, badannya terbungkus oleh selembar kemul besar yang terbuat dari bulu angsa, selintas pandang seperti sebuah kemah kecil sedang bergerak berjalan.

"Siapa?"

Tegur Coh Liu-hiang.

Tidak menjawab malah terdengar suara cekikikan tawanya.

Ternyata pendatang ini adalah Pipop-kongcu, mempelai perempuan membolos keluar dari kamar pengantin.

Senyuman yang tersungging di bibir Coh Liu-hiang seketika membeku, serunya perlahan .

"Untuk apa kau kemari?"

Sambil menyeret kemul bulu angsa yang besar itu, Pipop-kongcu melangkah mendatangi, tawanya semakin riang, sahutnya .

"Kau boleh datang kemari, memang aku tidak?"

"Tidak pantas kau datang ke tempat ini!"

"Kenapa?"

Berkedip-kedip biji mata Pipop-kongcu. Coh Liu-hiang menarik muka, katanya kandas .

"Jikalau tak segera kembali ke kamar pengantinmu, biarku........."

Kata-katanya terputus oleh tawa cekikikan Pipop-kongcu semerdu kelintingan. Katanya dengan tertawa riang .

"Kau.......kau ingin pergi.........untuk apa masuk ke kamar pengantin?"

Ke kamar pengantin sudah tentu untuk.......untuk........suara Coh Liu-hiang yang sirap seketika, sungguh tak tega ia melanjutkan kata-katanya di depan seorang gadis, terpaksa ia gosok-gosok hidung sendiri.

Kata Pipop-kongcu sambil mengerling penuh daya tarik .

"Katakanlah, sudah tentu melakukan apa?"

Sungguh Coh Liu-hiang tidak tahu apa yang harus dikatakan, selama hidup boleh dikata belum pernah ia berhadapan dengan gadis secentil dan seberani ini, Pipop-kongcu malah semakin riang melihat sikap kikuk dan malu-malunya, katanya lincah .

"Kalau aku masuk kedalam kamar pengantin, jangan kau heran kalau aku dilabrak oleh mempelai perempuan!"

Coh Liu-hiang benar-benar menjublek, katanya tersendat.

"Mempelai perempuan?"....memangnya bukan kau?"

"Siapa bilang aku mempelai perempuan?"

"Ta..........tapi jelas sekali.........."

"Putri raja kan bukan hanya aku saja dalam negeri Kui-je kita, yang menikah dengan Oh Thi-hoa adalah kakakku! Orang pikun............

"Kakakmu.......kenapa tidak sejak semula kau jelaskan?"

Bersinar cemerlang bintang kejora biji mata Pipop-kongcu, katanya sambil gigit bibir.

"Kenapa harus ku jelaskan, memang sengaja hendak kubuat kau marah-marah, supaya kau gelisah,"

Karena tawa cekikikannya badannya bergetar, dari dalam kemulnya juga terdengar suara berdering yang ramai, waktu dia julurkan sebelah lengannya dari dalam kemul yang membungkus badannya, ternyata tangannya menjinjing dua botol arak.

Dengan mengacungkan kedua botol arak ini, dia tertawa riang, serunya .

"Pikun kau lekas sambut kedua botol arak ini, jangan sibuk mainkan hidung saja, nanti copot dari mukamu!"

Mengawasi orang perlahan-lahan Coh Liu-hiang berkata.

"Kau memang setan kecil yang nakal, lincah dan cerewet, sembari bicara pelan-pelan ia bangkit berdiri seraya ulur sebelah tangannya.

"Kau.........apa yang kau inginkan?"

"Coba kau terka?"

"Aku tidak takut, aku tidak takut padamu, aku tidak............"

Seperti hendak mundur tapi tidak bergerak, tiba-tiba mulutnya menjerit lirih, tahu-tahu sebelah tangannya dicekal oleh Coh Liu-hiang, tak kuasa badannya tersungkur masuk ke dalam pelukan Coh Liu-hiang.

Kemul bulu angsa di atas badannya seperti hampir melorot kebawah, pelan-pelan kelihatan pundaknya tampak jelas, kulit badannya yang halus putih merah selicin kain sutera, lambat-lambat pasti kemul itu melorot turun lagi, kembali tampak sepasang bukit tandus yang menjulang, montok dan kenyal.

Ternyata badannya telanjang bulat, tak terbungkus selembar benangpun, kemul itu terus melorot ke bawah .

Kembali Coh Liu-hiang terkesima dan mematung di tempatnya, tangannyapun tak bergerak lagi.

Terdengar suara Pipop-kongcu bergetar.

"Pikun, kau hendak bikin aku kaku kedinginan?"

Kedua tangannya terpentang mengembangkan kemul bulu angsa itu.

Tampak oleh Coh Liu-hiang bentuk badan polos seorang gadis yang masih perawan dan belum terjamah oleh tangan siapapun jua, begitu sempurna dengan lekak-lekuk yang jelas, sepasang dada yang putih dan menantang, kaki atau sepasang paha yang mempesonakan, lambat laun pandangan Coh Liu-hiang menjadi gelap dan tak terlihat apa-apa lagi.

Seluruh badannya tahu-tahu sudah terbungkus masuk ke dalam kemul bulu angsa yang lebar dan besar.

Kedua orang itu sama-sama roboh bergelundungan jatuh di atas selimut tempat duduknya tadi, kemul bulu angsa yang merah menyolok itu kini benar-benar sesuai menjadi fungsinya sebagai kemah mini yang terkecil diseluruh dunia.

Sesuatu sedang bergerak-gerak didalam kemah mini itu, lalu segalanya berhenti.

Cekikikan Pipop-kongcu kembali terdengar dari dalam .

"Aku tidak takut padamu, masakan kau malah takut kepadaku?"

Agaknya Coh Liu-hiang menghela napas,, katanya .

"Kau memang binal!"

"Pernahkah kau melihat si binal yang begitu cantik dalam dunia ini?"

"Belum pernah."

"Akupun belum pernah melihat si pikun yang gagah mungil dalam dunia ini.......si pikun......pikun..."

Suaranya semakin lirih dan akhirnya tak terdengar lagi.

Tak lama kemudian sebuah botol melayang keluar dari dalam kemah mini, disusul sebuah botol lainnya yang masih berisi setengah arak.

Sesaat kemudian sebuah kaki putih yang halus mulus dan indah terjulur keluar dari dalam kemah dengan gemetar, tapi cepat-cepat menyurut lagi, perlahan-lahan dan pasti terdengar suara napas mulai menderu, semakin cepat dan cepat lagi.

Apakah mereka kedinginan?

Kenapa seluruh kemah mini itu serasa bergetar?

Sang surya akhirnya merambat naik perlahan-lahan.

Sinar surya yang baru saja terbit serasa lembut san hangat seperti dengus napas seorang bayi.

Terdengar suara lagi dari dalam kemah mini.

Itulah suara Coh Liu-hiang .

"Agaknya hari sudah terang tanah."

"Belum, belum......umpama sudah terang tanah juga tidak menjadi soal, semua orang disini semalam sudah rebah semua karena terlalu banyak minum arak, mana mereka bisa bangun begini cepat?"

Kata Pipop-kongcu, suaranya kedengarannya seperti merintih penuh kenikmatan.

Coh Liu-hiang tidak bicara lagi, agaknya dia setuju orang tetap mengeram didalam kemah mini itu.

Tiba-tiba Pipop-kongcu bersuara lagi.

"Aku berbuat begini baik kepadamu, tahukah kau apa maksudku?"

"Meskipun aku ini bukan laki-laki yang suka iseng, tapi sungguh tak habis aku mengerti kecuali si gadis mencintai laki-laki itu sampai dia rela menyerahkan dirinya, memangnya masih ada sebab lainnya?"

"sudah tentu aku menyukai kau, tapi jikalau tiada lain tujuan, akupun takkan.....takkan demikian."

"Masih lantaran apa kau?"

Sesaat Pipop-kongcu termenung, lalu menjawab pelan-pelan .

"Karena aku takkan menikah sama kau."

"O?"

Coh Liu-hiang bersuara heran.

"Bukan saja aku tidak bakal menikah dengan kau, malah kelak......pertemuan kita kelakpun mungkin amat terbatas."

"O?"

"O, o, o,.....,"

Mendadak Pipop-kongcu berteriak sengit .

"Memangnya kau bisu dan hanya bisa menjawab "O"

Saja, memangnya kau tidak punya komentar?"

"Komentar apa yang harus kuberikan?"

"Kau, kau, sedikitnya kau harus tanya kepadaku, kenapa aku tak bisa menikah dengan kau?"

"Kalau kutanyakan, apakah kau sudi menjawab!"

Agaknya Pipop-kongcu tertegun, lama juga berdiam diri, katanya kemudian sambil menghela napas .

"Aku takkan jelaskan."

"Justru aku tahu kau takkan menjelaskan maka aku tidak bertanya."

"Kau.......masakan sedikitpun tidak sedih atau mendelu? Seumpama hatimu tidak perih pantasnya kau berujar beberapa kata."

Sejak semula sudah kuberitahu kau, aku selamanya tak pernah berbohong.

"Kau..........kau bergajul, benar-benar tidak merasa rawan?"

"Bicara terus terang, seumpama kau pasti harus menikah sama aku, apakah aku bakal mempersunting kau, bagi aku masih merupakan tanda tanya?"

"Plak,"

Sekonyong-konyong terdengar suara gamparan keras, sesosok badan orang menerobos keluar dari kemah itu, dari pakaian kelihatannya seperti Coh Liu-hiang.............Eh!

Coh Liu-hiang mana bisa memelihara rambut sepanjang itu?

Apakah dia Pipop-kongcu yang mengenakan pakaian Coh Liu-hiang?

Bagai terbang kakinya melangkah terbirit-birit, mulutnya masih mencaci maki kalang kabut .

"Kau dasar bergajul, laki-laki hidung belang, kau......kau ulat busuk, seumpama seluruh laki-laki dalam dunia ini pada mampus, aku tidak sudi menikah sama kau !"

Suasana masih hening gelap, memang belum ada seorangpun yang bangun.

Dengan tangan terbungkus kemul bulu angsa merah itu, dengan merundukrunduk Coh Liu-hiang lekas berlari masuk ke dalam kemahnya seperti pencuri yang sedang beroperasi, untung Ki Ping-yan masih tertidur lelap.

Dari kepala sampai kekaki seluruh badannya mengkeret ke dalam selimut, sampai bernapaspun kelihatannya amat susah, lekas Coh Liu-hiang mencari pakaian dan mengenakannya, tapi orang tetap tidur nyenyak tanpa bergerak setengah mati.

Coh Liu-hiang tiba-tiba tertawa, katanya .

"Aku tahu sejak tadi kau sudah siuman, tak perlu kau pura-pura tidur, memangnya apa yang barusan kulakukan tidak perlu main sembunyi di depan matamu, toh soal mau sama mau bukan suatu yang memalukan."

Ki Ping-yan tetap memeluk lutut, tanpa memberi reaksi, tidak bergerak!

"Seorang laki-laki yang normal, berhadapan dengan gadis yang ketagihan, ditengah malam buta yang dingin dan sepi ini, coba kau katakan, apa pula salahnya?"

Coh Liu-hiang sendiri jadi bingung, apakah dia sedang memberi penjelasan kepada orang lain atau penjelasan untuk membela perbuatan diri sendiri.

Yang terang Ki Ping-yan tetap tidak pedulikan ocehannya.

Coh Liu-hiang membetulkan letak pakaiannya, sambil menghela napas, ujarnya .

"Dihitung-hitung, Siau Oh lah yang serba menderita, boleh dikata suatu penipuan perkawinan, calon istrinya itu, ternyata dari kepala sampai ujung kakinya tak pernah berani mengunjukkan diri, aku akan keheranan kalau istrinya itu bukan perempuan jelek."

Mendadak dilihatnya seseorang menerobos masuk, kiranya Oh Thi-hoa.

Coh Liu-hiang kira mendengar kata-katanya ini, seumpama tidak berjingkrak marah marah tentulah raut muka Oh Thi-hoa membesi buruk, siapa tahu Oh Thi-hoa justru melangkah maju dengan berseri tawa puas dan terhibur, bukan saja tidak marah, malah kelihatan amat riang.

Coh Liu-hiang sendiri yang melongo marah.

Dilihatnya Oh Thi-hoa tertawa cengar-cengir duduk dihadapannya, cengar-cengir mengawasi dirinya, seperti baru saja dia mendapatkan sekeping uang emas besar dari tanah.

Coh Liu-hiang mendengus hidung, tanyanya memancing .

"Kau.........apa kau baik-baik?"

"Baik sekali!"

"Kau.........sudahkah kau melihat mempelai perempuan!"

"Memangnya kau kira aku menantu pikun? Tanpa melihat istrinya lantas membolos keluar dari kamar pengantin?"

"Jadi kau....kau.......kau tidak marah?"

"Kenapa aku harus marah? Boleh dikata selama hidupku belum pernah hatiku seriang ini."

Apa kau sudah sadar dari mabuk? "Selamanya belum pernah aku sesadar sekarang ini."

Coh Liu-hiang malah menjublek.

"Tentunya kau sudah tahu bahwa istri baruku itu bukan Pipop-kongcu."

"Em!"

"Maka kau pikir, kalau calon istriku semula tak berani unjuk muka didepan umum, tentulah dia bermuka burik, bertampang jelek seperti setan, kalau tidak kenapa dia tak berani unjuk muka......benar tidak?"

Coh Liu-hiang bersungut-sungut.

"Ya, mungkin tidak terlalu jelek, cuma...."

"Tak perlu kau ikut prihatin bagi aku, tak perlu membujuk dan menghiburku. Ketahuilah bukan saja istriku tidak jelek, malah berani kukatakan kecantikannya sepuluh kali lipat lebih elok, rupawan dan jelita dari Pipop-kongcu."

Kini Coh Liu-hiang benar-benar melongo, kalau tuan putri yang tua itu begitu cantik, kenapa sebelum ini tidak berani berhadapan muka dengan orang lain? sungguh ia kurang percaya.

"Apa kau tidak percaya?"

Teriak Oh Thi-hoa keras. Coh Liu-hiang mengelus hidung, sahutnya tertawa geli.

"Ini, mungkin....!"

Oh Thi-hoa berjingkrak berdiri, serunya .

"Baik! Kau tidak percaya, mari kuajak kau menemuinya."

Belum Coh Liu-hiang sempat buka suara, Oh Thihoa sudah menyeretnya. Keadaan di luar masih sunyi senyap, bayangan seorangpun tak kelihatan.

"Sepagi ini, kau lantas menyeretku membuat geger di kamar pengantin, apa tidak lucu?"

Kata Coh Liu-hiang.

"Ah, saudara sendiri, memangnya ada persoalan apa?"

Seumpama kau sendiri merasa tiada apa-apa tapi istrimu?

"Ketahuilah bukan saja istriku itu teramat cantik, malah wataknya baik, sikapnya lemah lembut penuh kasih sayang, pandai meladeni dan.............dan..........sungguh aku tak bisa bilang apa yang harus kupujikan padanya."

Mendengar kata-kata orang, mau tidak mau Coh Liu-hiang ikut girang, katanya tertawa.

"Agaknya orang bodoh mempunyai rejekinya sendiri yang lain dan jauh artinya.

"belum habis kata-katanya Oh Thi-hoa sudah menariknya menerobos masuk ke dalam kamar pengantin. Kamar pengantin yang dimaksud adalah sebuah kemah tersendiri yang baru saja dibangun, keadaan didalam tak ubahnya seperti sebuah istana raja, segala sesuatunya serba baru, mewah dan megah, mungkin baru saja mengalami perjuangan atau kerja berat sampai mempelai perempuan malas bangun, kelihatan masih rebah di atas ranjang, hanya rambutnya saja yang kelihatan terurai di luar kemul yang tebal itu. Begitu berada didalam kamar Oh Thi-hoa lantas berkaok-kaok.

"Ada tamu datang lekaslah bangun! Inilah sahabatku yang paling akrab, seumpama saudara sepupuku, tidak perlu kau malu-malu kucing dihadapannya."

Orang lain setelah menikah tiga bulan, suami istri setiap beradu muka sang istri masih sering menunjukkan rasa malu, tapi Oh Thi-hoa menikah belum setengah hari, tingkah dan sikapnya sudah seperti suami istri lanjut usia.

Sudah tentu Coh Liu-hiang hampir terloroh-loroh geli namun iapun ikut senang bagi perkawinan Oh Thi-hoa kali ini, jikalau mempelai perempuan tidak mencocoki seleranya mana mungkin orang bersikap begitu wajar dan terbuka.

Tapi mempelai perempuan tetap meringkuk dalam kemul, malah tidak bergerak.

Dengan langkah lebar Oh Thi-hoa memburu maju, katanya sambil tertawa .

"Cepat atau lambat kau toh pasti akan menemui dia, kenapa........"

Kata-katanya mendadak berhenti seperti mulutnya tiba-tiba disumbat sesuatu benda, rona mukanyapun seketika berubah kaku kering.

Darah!

Kemul beludru yang masih baru itu tampak berlepotan darah.

Dengan tangan gemetar Oh Thi-hoa menyingkap kemul itu dengan sekali hentakan.

Jelas kelihatan perempuan yang meringkuk didalam kemul itu ternyata sudah mati.

Serasa terguling jatuh dari atas loteng tinggi, seketika lemas lunglai sekujur badan Oh Thi-hoa.

Lekas Coh Liu-hiang memburu maju, memayang badannya .

"Kapan kau meninggalkan kamar ini?"

"Aku.........aku..........baru saja keluar mencari kau..........."

"Dalam waktu sesingkat itu ada orang lain masuk dan menurunkan tangan jahat! Siapakah dia? Ada dendam atau permusuhan apa kau dengan dia? Kenapa setengah hari setelah pernikahan dia membunuh........"

Tiba-tiba Oh Thi-hoa berjingkrak berdiri, teriaknya .

"Kau kira dia inikah mempelai perempuannya?"

"Memangnya bukan dia?"

Coh Liu-hiang kaget.

"Sudah tentu bukan, siapa perempuan ini seumur hidup aku tak pernah melihatnya."

"Jadi........jadi, dimana mempelai perempuan yang tulen?"

"Iya! Dimanakah dia? Terang tadi dia masih rebah didalam selimut."

Sembari berteriak-teriak ia sibuk mencari kian kemari dan melongok kolong ranjangnya.

Siapa perempuan ini?

Bagaimana bisa berada di kamar pengantin ini?

Siapa pula pembunuhnya?

Kemana sebenarnya mempelai perempuan yang tulen?

Oh Thi-hoa hanya keluar sebentar saja tapi kenyataannya pembunuhan sudah terjadi begitu cepat dan besar didalam kamar pengantinnya!

Sungguh seumur hidup Coh Liu-hiangpun belum pernah mengalami peristiwa seaneh ini.

Tampak mayat perempuan ini dibagian mukanya sudah melembung besar, dapatlah dibayangkan diwaktu masih hidup raut mukanya tentu teramat jelek, kini di dadanya yang telanjang itu ternyata telah berlubang oleh jari-jari yang kuat, sungguh bukan buatan ngeri dan seram keadaannya.

Sebetulnya apakah yang telah terjadi?

gerutu Oh Thi-hoa membanting kaki.

Perempuan ini kenapa bisa rebah telanjang bulat di atas ranjangku?

Kapan dia masuk kemari?

Masakah istriku itu tidak mengetahuinya?

"Yang terang perempuan ini tentu bukan masuk kemari sendiri,"

Kata Coh Liu-hiang dengan suara berat.

"Dari mana kau bisa tahu?"

Walau darah berlepotan di atas kemul, sedikitpun kasur dan seprai tidak kotor, dari sini dapat kita simpulkan bahwa perempuan ini dibunuh lebih dulu, baru dipindahkan ke atas ranjang.

"Kalau begitu lebih aneh lagi, setelah orang itu membunuhnya, kenapa harus dipindahkan lagi ke atas ranjang?"

Jilid 19

"Waktu kau keluar tadi apakah benar istrimu masih rebah di atas ranjang?"

"Tidak salah, jelas sekali dia mendengkur nyenyak, kini kenapa menghilang?"

Coh Liu-hiang mengerut kening, sungguh diapun bingung dan belum bisa mengambil gambaran dari kejadian misterius ini, apa pula latar belakang didalam kejadian serba aneh dan rahasia ini.

Oh Thi-hoa berlari dan berkaok-kaok .

"Tolong! Tolong!Ada orang mati didalam kamarku, lekas kalian kemari, periksalah siapa dia?"

Orang yang memburu datang pertama kali adalah Pipop-kongcu, disusul Kui-je-ong yang kelihatan masih ngantuk, dengan mata sepat berlari terhuyung-huyung.

Begitu mereka melihat mayat di atas ranjang, seketika berdiri menjublek berubah hebat air mukanya.

Seru Oh Thi-hoa .

"Siapa perempuan ini?, kalian..."

Belum habis kata-katanya Kui-je-ong tahu-tahu merenggut bajunya, serunya menggembor .

"Kenapa kau membunuhnya?"

"Aku membunuhnya?"

Seru Oh Thi-hoa naik pitam.

"Apa kau melihat setan? Selamanya aku tak kenal dia, kenapa harus membunuhnya?"

"Meskipun tampangnya rada jelek, jelek-jelek dia sudah menjadi istrimu, kenapa kau turun tangan begitu keji? kau, kau bukan manusia, kau binatang!"

Oh Thi-hoa berjingkrak kaget, serunya.

"Apa katamu? Perempuan ini......adalah.........adalah istriku?"

Merah padam biji mata Kui-je-ong, serasa hampir gila, dia mendamprat.

"Seandainya dia bermuka rada jelek, betapapun dia putri raja yang masih suci bersih, memangnya dia tidak setimpal menjadi istri bajingan seperti tampangmu? Kau......umpama kau tidak sudi mengawini, tidak seharusnya......."

Sekali ayun tangannya Oh Thi-hoa dorong orang jatuh duduk di atas tanah, serunya terbelalak kaget.

"Orang ini gila, orang ini sudah gila!"

Kaulah yang gila! damprat Kui-je-ong. Heran, bingung dan curiga menyelimuti sanubari Coh Liu-hiang, lekas ia bantu memayang Kui-je-ong berdiri, katanya berat .

"Siapa sebenarnya perempuan diatas ranjang ini? Apa Ongya mengenalnya?"

Putriku sendiri, kenapa aku tidak mengenalnya? "Jadi yang kawin dengan Oh Thi-hoa semalam adalah nona ini?"

"Sudah tentu putriku ini."

Oh Thi-hoa menyelutuk hampir berteriak.

"Bukan dia, pasti bukan dia, aku melihat jelas sekali dengan mata kepalaku sendiri, calon istriku itu adalah gadis rupawan yang cantik jelita, terang bukan si buruk rupa ini!"

"Aku sendiri yang kawinkan putriku kepadamu, memangnya aku tidak tahu!"

Mempelai laki-laki bilang si korban pasti bukan istrinya, sebaliknya sang mertua secara kukuh mengakui si korban sebagai putrinya.

Kejadian seaneh ini sungguh jarang terjadi di dunia ini, Coh Liu-hiang seperti tergencet ditengah-tengah, ia jadi sukar berketetapan pihak mana yang harus ia percayai omongannya?

Oh Thi-hoa membanting kaki, serunya .

"Kalau perempuan jelek ini adalah mempelai perempuan, lalu siapa perempuan cantik yang bergaul sama aku semalam? Memangnya ada orang lain yang memalsu calon istriku ini?"

"Kau sudah membunuhnya, kini kau mengarang cerita bohong untuk mendustai orang lain?"

"Kenapa aku harus menipu kau? Memangnya semalam aku bertemu dengan setan?"

"Coba kutanya,"

Tiba-tiba Pipop-kongcu menyela bicara.

"Kalau kau katakan dia bukan istrimu, memangnya kemana perempuan yang semalam bergaul dengan kau? Asal kau bisa menyeretnya keluar, kita akan percaya padamu."

"Aku.........aku.........."

Bahwasanya dia memang tidak tahu kemana perempuan cantik yang dia anggap sebagai istrinya dan gaul sama dirinya semalam, dia hanya keluar sebentar, kenyataan istri cantik bak bidadari itu tahu-tahu hilang tak karuan rimbanya.

Pipop-kongcu tertawa dingin, katanya .

"Seumpama semalam perempuan yang kau hadapi bukan kakakku, kenapa kakakku tahu-tahu sudah ajal di atas ranjangmu? Kalau bukan kau yang membunuhnya, siapa pembunuhnya?"

Tentu kalian sengaja mengganti yang tulen dengan yang palsu, tapi akulah yang menjadi korban dan difitnah semena-mena.

"Kentut!"

Maki Kui-je-ong, masakah aku tega membunuh putri kandungku sendiri?"

Bukti dan kenyataan, Oh Thi-hoa sendiri menyadari apa yang dia katakan bahwasannya sukar bisa membuat orang lain percaya, terpaksa dia memburu kedepan Coh Liu-hiang, serunya gugup .

"Kau,............kenapa kau tidak bantu aku bicara? Memangnya kaupun tidak percaya padaku?"

Coh Liu-hiang menghela napas, ujarnya .

"Apa yang harus kukatakan?"

"Baik! Kalian sama tak percaya kepadaku, sampai kaupun bantu orang lain memfitnah aku, sungguh penasaran! Seumpama memang aku yang membunuhnya, mau apa? Siapa suruh kalian menipuku untuk mempersunting perempuan jelek ini?"

"Kau sudah membunuh jiwa orang, harus menebus dengan jiwamu pula."

Damprat Pipop-kongcu.

ditengah gerungannya, kesepuluh kuku jarinya tahu-tahu mencengkeram ke leher Oh Thi-hoa.

Gerak serangannya ini sungguh cepat dan gesit.

Tapi orang macam apa Oh Thi-hoa, masakan gampang kecundang?

Sudah tentu ia tidak pandang sebelah mata ilmu silat lawan.

Bentaknya gusar.

"Minggir! Aku belum ingin melukai kau, tapi jangan kau ganggu dan membuatku gusar!"

Cukup ia gerakkan sebelah tangan tahu-tahu badan Pipop-kongcu tertolak mundur seperti diterjang angin badai.

"Kau.........kau hendak lari?"

Seru Kui-je-ong. Oh Thi-hoa tertawa terloroh-loroh.

"Mau pergi kenapa? Siapa yang mampu merintangi aku?"

"Kau takkan lolos!"

Teriak Kui-je-ong.

Ditengah gerungan kemurkaannya, tujuh delapan tombak gantolan tahu-tahu menusuk kedalam dari luar kemah.

Melirikpun tidak, tahu-tahu sebelah tangan Oh Thi-hoa menyambar dua ujung tombak gantolan diantaranya, tahu-tahu sudah terenggut olehnya, sedikit sendal dan tarik kedepan, dua orang tahu-tahu terseret maju tersungkur ke dalam kemah.

Serempak beberapa busu yang lain menghardik murka, delapan tombak terbagi ke berbagai sasaran kembali menusuk datang lagi.

Gerakan Oh Thi-hoa laksana angin puyuh, maka terdengar jeritan kesakitan saling susul, delapan busu sama terjungkal roboh diiringi senjata masing-masing yang jatuh kerontangan tiada satupun yang utuh.

Kui-je-ong belum pernah saksikan kegagahan yang luar biasa seperti ini, seketika ia terkesima mematung di tempatnya.

Tampak dengan langkah lebar Oh Thi-hoa beranjak keluar sambil angkat dada, serunya bengis.

"Siapa pula yang berani maju, biar kugencet batok kepalanya sampai hancur luluh."

Serombongan busu yang bersenjata lengkap di luar sana sama berdiri melongo, tiada seorangpun yang berani maju.

Sekonyong-konyong sesosok bayangan orang berkelebat, tahu-tahu seseorang menghadang di depan Oh Thi-hoa.

Berubah muka Oh Thi-hoa, tiba-tiba ia terkial-kial.

"Bagus! Kaupun turut mencegatku! Biarlah hari ini kita menentukan siapa yang lebih unggul di sini."

Coh Liu-hiang menarik napas dengan geleng kepala, ujarnya .

"Masakah aku mau bergebrak dengan kau?"

"Kalau demikian, marilah kita pergi bersama."

"Kau tidak boleh pergi."

"Kenapa?"

"Kalau kau tinggal pergi begitu saja, penasaranmu takkan tercuci bersih."

"Memangnya kenapa kalau tidak bisa mencuci penasaranku? Yang terang dalam hatiku, aku tak pernah berbuat kejahatan seperti ini, persetan apa yang dikatakan orang lain, biar ku anggap kentut melulu."

"Persoalan lain tak menjadi soal, tapi peristiwa ini harus dibikin jelas!"

"Aku sudah tahu kau memang berat untuk meninggalkan tempat ini, baiklah! kau tidak mau, biar aku pergi sendiri.

"belum habis kata-katanya kembali Coh Liu-hiang merintangi.

"Kau berhak menghalangiku?"

"Kemana kau hendak pergi?"

"Ke tempat mana aku bisa pergi?"

"Gurun pasir jangan kau anggap Tionggoan, seorang diri kemanapun kau tidak bisa pergi."

"Kalau kau tidak mau ikut, walau aku mampus tak perlu kau kuatirkan diriku."

"Tahukah kau, si pembunuh memang sengaja menyudutkan kau sehingga kau pergi demikian saja, kalau kau pergi berarti terlaksana keinginan dan maksud-maksud jahat selanjutnya."

"Memangnya apa kehendakmu?"

"Kau harus tetap di sini, dalam tiga hari pasti aku bantu kau menemukan si pembunuh, jikalau sekarang kau berkeras mau tinggal pergi, meski harus adu jiwa aku akan berusaha merintangimu."

"Jikalau orang lain bicara begini rupa terhadapku, jangan heran kalau aku melabrakmu, tapi kau ..kau ulat busuk ini, menghadapimu sungguh aku kehilangan akal."

Mendadak Oh Thi-hoa membanting kaki, serunya.

"Baik! Kuterima usulmu, tinggal di sini, kalau toh kau ingin batok kepalaku, terpaksa secara sukarela biar kugorok dan persembahkan kepadamu dengan kedua tanganku."

Dari kejauhan Kui-je-ong mendengar percakapan mereka, timbul pula nyalinya, bentaknya.

"Mana orangku! Lekas ringkus dia!"

Para busu bertombak itu bangkit pula keberaniannya, beramai-ramai mereka menerjang maju pula.

Maka terdengarlah suara jeritan gemerantang dan gedebukan, puluhan batang tombak entah bagaimana, tahu-tahu sudah berada ditangan Coh Liu-hiang, enteng sekali kedua tangannya bekerja sekaligus terdengar pula suara peletak-peletok batang-batang pedang itu sama-sama kutung dan tercecer di tanah.

Berubah roman muka Kui-je-ong, serunya.

"Kau........kenapa kau?"

Kata Coh Liu-hiang .

"Kalau dia bilang mau tinggal di sini, pasti takkan pergi, dalam tiga hari lagi aku pasti dapat meringkus pembunuhnya, tapi jangan sekali kali diantara kalian ada yang berani mengganggu seujung rambutnya."

"Dia....jikalau dia lari?"

"Kalau dia pergi, aku yang menebus jiwa putrimu."

"Kalau kau tidak berhasil membekuk si pembunuh dalam tiga hari?"

"Dalam tiga hari kalau dia tak berhasil meringkus pembunuhnya, biar akupun menebus jiwa putrimu,"

Sela Oh Thi-hoa aseran.

Kedua orang ini sama menyerahkan jiwa sendiri sebagai pertanggungan kepada orang lain, sahabat macam ini memang jarang diketemukan dalam dunia ini.

Lama Kui-je-ong melongo, katanya kemudian .

"Baik, aku percaya padamu."

Coh Liu-hiang tarik Oh Thi-hoa masuk ke dalam kemahnya sendiri. Pipop-kongcu menghirup hawa, katanya menggumam .

"Kedua orang ini jelas bisa tinggal pergi dengan mudah, namun mereka justru tak mau pergi, malah bersumpah segala, untuk apakah mereka sebenarnya? Apakah benar kakakku bukan mereka yang membunuhnya?"

Kui-je-ong berkata .

"Bukan dia, siapa yang membunuh? Masakah benarbenar terjadi dalam dunia ini ada perempuan yang memalsu istri orang lain? Oh Thi-hoa sedang menggumam .

"Bicara terus terang aku sendiripun tidak berkukuh hendak pergi, sebelum peristiwa ini dibikin terang sungguh penasaran benar hatiku. Kalau yang mati itu benar putri Kui-je-ong, lalu siapakah perempuan yang kuhadapi semalam? Kenapa dia memalsu mempelai perempuan? Adakah manfaatnya bagi dia?"

"Masakah kau tidak mengerti?"

"Memang aku tak habis mengerti."

"Pertama kau harus percaya, nona yang mati itu memang putri Kui-je-ong, atau istrimu!"

"Kenapa aku harus percaya?"

Sentak Oh Thi-hoa. Coh Liu-hiang tertawa getir, ujarnya .

"Lantaran putrinya yang satu ini buruk rupa, maka Kui-je-ong selalu kelabui kau, kalau tidak mana Pipopkongcu berani main trobosan kian kemari, kenapa dia selalu menyembunyikan diri?"

Oh Thi-hoa menarik napas, mulutnya terkancing. Kau harus tahu pula, bukan pagi hari ini dia dibunuh, barusan kuperiksa sedikitnya dia sudah mati empat lima jam sebelumnya.

"Empat lima jam? Jadi sebelum aku masuk ke kamar pengantin, dia sudah dibunuh?"

"Ya, begitulah kejadiannya."

"Tapi mayatnya........."

"Dikolong ranjang ada noda-noda darah, setelah membunuhnya, tentu mayatnya disembunyikan di bawah ranjang, lalu dia sendiri menyaru sebagai mempelai perempuan tidur di atas ranjang."

"Maksudmu......waktu semalam kami gaul di atas ranjang, ada mayat dikolong ranjang?"

"Tidak akan salah."

Bergidik dan merinding Oh Thi-hoa dibuatnya.

"Dia.......dia tahu bahwa dikolong ranjang ada mayat, masih begitu asyik main dengan aku........bergaul sama aku di atas......!"

Serasa hampir saja muntah-muntah, sampai kata-katanyapun tenggelam dalam tenggorokan.

"Tadi waktu kau keluar mencariku, segera ia pindah mayat di bawah itu ke atas ranjang, tujuannya adalah untuk menjebak kau, supaya Kui-je-ong menuduh kaulah pembunuhnya."

"Kenapa dia berbuat demikian?"

"Karena jikalau kita berserikat dengan Kui-je-ong, terang tidak menguntungkan bagi gerakannya, perbuatannya ini ditujukan untuk mengadu domba hubungan kita dengan Kui-je-ong, diapun sudah perhitungkan apapun yang kau katakan pasti tak dipercaya oleh mereka, kalau murka kau tinggal pergi, mungkin dia hendak bikin kau mampus ditengah gurun pasir."

Oh Thi-hoa menyeka keringat dingin di atas jidatnya, katanya .

"Masakah dia itu.......adalah..........adalah"

"Orang yang menyamar mempelai perempuan kemungkinan adalah Ciokkwan-im sendiri."

Tutur Coh Liu-hiang. Gemetar dingin sekujur badan Oh Thi-hoa.

"Konon khabarnya Ciok-kwan-im adalah perempuan cantik yang jarang terlihat di kalangan Kangouw, meski usianya rada lanjut, tapi tentulah dia pandai merawat badan, disamping dia pandai merias diri, apalagi ditengah malam kaupun sedang mabok."

Oh Thi-hoa tutup mukanya, teriaknya keras .

"Oh Thian!"

Badannya roboh terlentang menggeletak di atas ranjang, tapi Ki Ping-yan yang tidur di atas ranjang masih meringkel nyenyak, seperti tidak merasa ada orang menindih ke atas badannya.

Sedikit berubah air muka Coh Liu-hiang, sekali raih ia tarik badan Oh Thihoa, mulutnya memonyong ke atas ranjang, begitu beradu pandangan, terasa dingin hati mereka.

Biasanya Ki Ping-yan cukup cerdik, cekatan dan waspada, seumpama dirumah sendiri diapun takkan tidur begini lelap, jikalau diapun mengalami sesuatu...

Oh Thi-hoa tiba-tiba mengerung, terus menubruk ke arah ranjang, sekali sentak ia tarik kemul beludru itu.

Orang yang meringkel didalam selimut ternyata bukan Ki Ping-yan, tapi seorang busu Kui-je, pakaian yang dia kenakan masih seragam untuk pesta pora semalam, sampaipun sepatunya tidak dicopot.

Oh Thi-hoa cengkeram rambut orang, terus dijinjingnya dari atas ranjang, bentaknya bengis.

"Bagaimana kau bisa tidur di atas ranjang ini? Katakan! Lekas katakan!"

Busu itu seperti tidak bertulang badannya, lemas lunglai tergantung oleh jinjingan tangan Oh Thi-hoa yang kokoh kuat. Coh Liu-hiang mengerut alis, katanya.

"Orang ini tertotok jalan darahnya."

Belum habis kata-katanya Oh Thi-hoa sudah bergerak secepat angin membuka totokan Hiat-to orang, baru saja dia hendak ulang pertanyaan tadi.

Tak nyana baru saja busu ini membuka mata, dia sudah menjerit terlebih dahulu, serunya.

"Lho, aku kok berada di sini? Apakah yang telah terjadi?"

"Apa yang telah terjadi, memang aku hendak tanya kau,"

Damprat Oh Thihoa.

Sekeras-kerasnya si Busu gelengkan kepalanya, kiranya mabuknya belum hilang, kepala masih pening, dengan kedua tangan ia ketuk kepala sendiri berulang kali, mendadak ia berseru keras .

"Sudah kuingat, semalam aku minum terlalu banyak, aku keluar mau kencing, waktu aku membalikkan badan entah bagaimana tahu-tahu aku direnggut dan diseret ke dalam sini, selanjutnya apapun aku tidak tahu."

"Siapa yang menyeretmu kemari?"

Tanya Oh Thi-hoa.

"Cepat sekali gerakan orang itu, aku........seumpama aku dalam keadaan sadar juga takkan bisa melihatnya."

"Biar kuhajar kau, nanti kau akan bisa melihatnya."

Begitu membalik punggung, tangannya melayang hendak menggampar muka orang, untuk Coh Liu-hiang lekas menariknya, selanya .

"Lepaskan dia pergi!"

Sudah tentu Oh Thi-hoa kurang senang, baru saja jarinya terlepas, Busu itu lantas berlari keluar dengan langkah sempoyongan. Oh Thi-hoa membanting kaki .

"Keparat ini tentu komplotannya, entah kemana............"

Dia hendak katakan poyokan Jago Mampus, tapi setiba di ujung mulut, terasa diwaktu seperti ini tidak enak dia bicara soal mampus, segera ia ganti haluan .

"Lo-ki juga tentu terjatuh ke tangan mereka, keparat ini yang disuruh........"

"Begitu Hiat-to orang ini terbuka, dia lantas siuman, ilmu totokan yang tidak melukai badan dan menghilangkan daya ingatan seperti ini memang ilmu tunggal Lo-ki, tak mungkin orang lain menirunya."

"Maksudmu keparat ini tertotok dan dibekuk kemari oleh Lo-ki?"

"Tentu begitulah kejadiannya."

"Kenapa Jago Mampus harus menggunakan permainan ini? Saat ini ditempat ini masih punya hati dia main guyon-guyon dengan kita, kemana pula dia pergi seorang diri?"

Begitu bernapsu bicara, tanpa sadar ia gunakan juga poyokan Jago Mampus. Coh Liu-hiang menghela napas, katanya tertawa getir.

"Orang lain sering menyangka Lo-ki seorang yang tahan uji dan sabar, bahwasannya dia dingin dimuka panas didalam, seperti pula kau dan aku, semalam aku bilang supaya musuh tangguh itu serahkan kepadaku saja, mulutnya diam saja, hatinya tentu kurang senang, maka menurut rekaanku, ia sekarang pergi cari musuh tangguh itu untuk bertanding."

"Darimana ia bisa tahu dimana musuh tangguh itu berada?"

"Sutou Liu-che sudah menunjukkan arah dimana kemah mereka, masakah Lo-ki takkan bisa mencarinya?"

Oh Thi-hoa berpikir sebentar, mendadak ia lari menerjang keluar. Lekas Coh Liu-hiang menahannya, tanyanya .

"Apa yang hendak kau lakukan?"

"Belum tentu Lo-ki menjadi tandingan orang itu, sudah tentu aku harus susul dia memberi bantuan."

"Kau sudah lupa akan sumpah janjimu kepada mereka?"

Saking gugup Oh Thi-hoa membanting kaki serunya.

"Lalu bagaimana baiknya?"

Kau tinggal disini, biar aku pergi mencarinya! "Kini kita bertiga harus berpencar, Ciok....Ciok-kwan-im itu bila..."

Semalam jadi suami istri dikenang seratus hari, masakah dia tega melukai kau. Merah muka Oh Thi-hoa, lehernya seperti melepuh besar, serunya menggerung .

"Ulat busuk, sekali lagi kau mengolok dan mencemooh diriku, kulabrak kau."

Aku hanya ingin mengatakan bahwa Ciok-kwan-im sudah terlanjur berbuat demikian untuk mengadu domba hubungan kita dengan Kui-je-ong, terang untuk sementara dia tidak akan mau unjuk diri berhadapan langsung dengan kita, sudah tentu diapun tahu bahwa kita tidak boleh dibuat mainmain.

"Hm!"

Oh Thi-hoa mendengus geram. Coh Liu-hiang menepuk pundaknya, katanya .

"Duduklah dan minum dua cawan arak untuk menghilangkan kerisauan hatimu, aku tidak akan lama pergi."

Belum lama Coh Liu-hiang keluar, laki-laki raksasa itu melangkah masuk ke dalam kemah, kontan Oh Thi-hoa mendelik kepadanya, tanyanya aseran .

"Untuk apa kau kemari?"

Dengan kedua lengannya yang berotot kekar, Ganial memeluk dada, diapun balas melotot tanpa buka suara.

"Jadi kau hendak mengawasiku?"

"Hm!"

Ganial mengejek. Oh Thi-hoa tiba-tiba tertawa besar, serunya .

"tuan besarmu bilang tak pergi, ya tidak akan minggat, jikalau tuan besarmu mau pergi, memangnya kau kepala dogol ini bisa merintangi aku?"

Mulut bicara tiba-tiba kepalannya menjotos.

Ganial ulurkan tapak tangannya yang segede kipas, pundak kiri Oh Thi-hoa menjadi sasaran cengkeraman jarinya.

Tak nyana pergelangan tangan Oh Thi-hoa berputar dengan enteng dan lincah, dengan nakal ia gelitikkan ketiak orang.

Laki-laki raksasa ini memang berbadan kekar laksana baja dan berotot kawat, ternyata paling takut digelitik, begitu jari-jari Oh Thi-hoa menyontek ketiaknya, seketika dia terbahak-bahak geli, saking geli sampai terpingkal-pingkal memeluk perut.

Sedikit memiringkan badan, badan Oh Thi-hoa menerjang dengan pundaknya, badan Ganial yang kokoh besar seberat dua ratus kati lebih itu, seketika keterjang terbang terguling-guling.

Dengan menepuk-nepuk tapak tangan, mulut Oh Thi-hoa berkaok-kaok .

"Bawa arak kemari, kalian hendak menahan tuan besarmu disini, kalian harus sediakan makan minum tuan besarmu."

Rasa gemas dan kedongkolan hatinya dia lampiaskan kepada orang-orang rendahan ini.

Kalau lahirnya Coh Liu-hiang bersikap tenang dan kelakar, bahwasanya hatinya amat prihatin.

Memang untuk kesekian kalinya dia membongkar muslihat Ciok-kwan-im, tapi dia tak kuasa memberikan bukti-bukti di hadapan Kui-je-ong, walau dia memperhitungkan bahwa Ciok-kwan-im berada di sekeliling tempat itu, namun sulit juga dia meraba dimana tempat persembunyian Ciok-kwan-im.

Apalagi sekali gagal, pasti Ciok-kwanim akan mengatur perangkap lain, musuh ditempat gelap, pihaknya ditempat terang, betapapun serangan gelap musuh susah dijaga.

Kini Siau-phoa sudah gugur, Ciok Tho tak keruan rimbanya, Oh Thi-hoa terfitnah dan susah mencuci bersih tuduhan, Ki Ping-yanpun sedang menghadapi mara bahaya, lima orang yang berangkat bersama kegurun pasir, kini sudah berantakan dan bercerai-berai, jejak Soh Yong-yong, Li Ang-siu dan Song Thiam-ji masih belum diketemukan.

Keadaan dan situasi yang begini tidak menguntungkan, betapa hati Coh Liu-hiang tidak akan gundah dan was-was.

Apalagi sekarang dia harus melindungi orang-orang ini, terpaksa harus melindungi Kui-je-ong ayah beranak, betapapun ia tidak akan membiarkan kedua ayah beranak ini mengalami kekejian tangan kejam musuh.

Tapi kenapa semalam Pipop-kongcu mencari dirinya?

Apakah perbuatannya mengandung suatu muslihat?

Bukankah hendak menahan dan mengelabui mata dan pendengarannya, sehingga tak sempat hiraukan urusan lain?

Coh Liu-hiang menghela napas dengan geleng-geleng.

Ia berkeputusan takkan pikirkan persoalan ini lagi, lebih penting temukan dulu Ki Ping-yan.

Apa yang pernah dikatakan sikera hitam Sun Khong dan Sutou Liu-che kalau tak terlalu dibesar-besarkan, maka Ki Ping-yan sekarang sedang menghadapi situasi gawat dan genting, dinilai dari kecerdikan, ketabahan dan keberanian, serta banyak akal muslihat nya dalam menghadapi segala perubahan, tiada orang lain yang sebanding dengan Ki Ping-yan.

Tapi kalau dinilai kepandaian silatnya yang sejati, belum tentu Ki Ping-yan bisa mengungguli Oh Thi-hoa.

Tapi gurun pasir seluas ini, selayang pandang ribuan li tanpa kelihatan jejak manusia, ditempat seluas seperti ini, asal sedikit selisih perjalanan saja bakal kesasar dan terpaut ribuan li jauhnya.

Untunglah sang surya baru saja terbit, sinar cahayanya yang terik dan kekuatannya belum unjuk gigi, belum begitu panas namun hawa dingin semalam mulai menguap dan menghilang, saat inilah waktu ternyaman di padang pasir didalam bilangan sehari.

Dengan mengembangkan Ginkang tinggi yang tiada bandingan di seluruh kolong langit, Coh Liu-hiang berlari-lari sekaligus beberapa puluh li sudah dicapainya, kakinya masih belum kelihatan kendor, pandangan matanya yang tajam laksana burung elang tidak menyia-nyiakan setiap benda yang dilihatnya, meski itu hanya sebatang pohon atau selembar daun.

Sekonyong-konyong didengarnya suara gemuruh yang ramai, bergulunggulung ikut terhembus angin ke arahnya, baru saja hati Coh liu-hiang kaget, matanya sudah melihat jelas, itulah sebuah wajan besar dari besi.

Tapi di gurun pasir yang tak kelihatan jejak manusia, darimana datangnya wajan gede ini?

Tampak wajan besar itu terguling-guling dihembus angin puyuh, cepat sekali menggelinding datang, sekali melesat Coh Liu-hiang setombak lebih, dengan ringan ujung kakinya menutul dan menjungkit, sebat sekali ia raih di tangannya, setelah diawasi sekian lamanya, tahu-tahu badannya melambung tinggi melesat ke arah datangnya angin dari mana wajan itu menggelundung datang.

Kali ini matanya dipasang lebih tajam, kira-kira setanakan nasi, di depan dilihatnya pula batu cadas yang sudah kering berubah bentuknya lantaran hembusan angin berpasir, beberapa pucuk pohon Sian-jin-ciang.

Memang Coh liu-hiang belum pernah kelana di padang rumput, tapi setelah mengalami penderitaan dan pahit getirnya kebesaran gurun pasir, tempat ini adalah daerah yang paling baik untuk bercokol dan membuat perkemahan.

Apakah para menteri yang berontak di negeri Kui-je dan pembunuhpembunuh itu semalam berkemah ditempat ini?

Selepas pandang matanya tak kelihatan adanya perkemahan.

Sebentar Coh Liu-hiang menerawang, lalu ia berjongkok seperti anjing pemburu yang mengendus-endus jejak buruannya, mendadak ia kerahkan jari-jarinya sekeras baja dan mengeduk serta menggali pasir.

Meskipun bertangan kosong, tetapi dengan kekuatan Lwekangnya, kesepuluh jarinya laksana sepuluh batang garuk besi, beberapa kali galian saja dari tumpukan pasir berhasil dikeduknya kayu-kayu hangus bekas terbakar.

Terang disinilah letak perkemahan atau pos sementara dari para pemberontak negeri Kui-je, mungkin tahu bahwa jejak mereka sudah konangan, maka malam-malam itu juga mereka mengundurkan diri.

Begitu cermat dan hati-hati benar gerak-gerik orang-orang ini, setelah perkemahan dicopot dan mengundurkan diri tanpa meninggalkan jejak yang mencurigakan.

Cepat sekali otak Coh Liu-hiang bekerja, ia duga diantara rombongan pemberontak itu pasti terdapat satu dua orang cerdik pandai yang banyak akal muslihatnya sebagai penasehat atau perancang segala langkah-langkah mereka.

Tapi apakah Ki Ping-yan sudah berhasil menemukan tempat ini ataukah sudah menemui orang-orang ini?

Jikalau sampai bentrok, pihak lawan banyak, apakah dia sudah mengalami bencana oleh kekejian musuh?

Semakin gundah hati Coh Liu-hiang, dengan cermat matanya menjelajah keadaan sekelilingnya, tiba-tiba dilihatnya di atas permukaan batu cadas itu, bekas-bekas tapak kaki manusia yang ditinggalkan, melesak setengah dim ke dalam batu.

Di gurun pasir, tapak kaki yang ditinggalkan manusia sebentar saja sudah tidak membekas dihembus angin, sebaliknya kedua tapak kaki ini membekas dalam permukaan batu, kalau dikata batu cadas di padang pasir sudah terlalu kering dan keropos menjadi lunak, tapi kalau tidak mengerahkan Lwekang di ujung kaki, tidak mungkin kaki manusia bisa melesak masuk setengah dim, dari sini dapat disimpulkan bahwa tapak kaki ini memang sengaja ditinggalkan di sini.

Diam-diam Coh Liu-hiang menerawang, mungkin Ki Ping-yan sengaja meninggalkan bekas tapak kakinya?

Dia sudah tiba di sini dan sembunyi di belakang batu ini mengintip gerak gerik musuh, sungguh di luar dugaannya pihak musuhpun ada seorang yang kosen, jejaknya konangan, maka tokoh kosen dari rombongan pembunuh itu lantas turun tangan melabraknya, baru sekarang dia menyadari kekerdilan tenaganya seorang diri, maka sengaja meninggalkan bekas tapak kakinya di ermukaan batu ini, supaya aku tahu kemana jejaknya.

Karena rekaannya ini, seenteng burung walet, badannya melambung naik ke atas batu cadas, maka segera didapatkannya pula dua bekas tapak kaki lainnya, kedua tapak kaki ini tak begitu dalam ujung kakinya, tertuju ke arah barat.

Coh Liu-hiang membatin pula .

"Kedua tapak kaki ini tentu peninggalan Ki Ping-yan, sebelum berlalu dengan tergesa-gesa, saat itu ia bergebrakan antara mati dan hidup dengan tokoh kosen dari rombongan pembunuh itu. Tak urung hatinya jadi gugup dan tegang, maka bekas tapak kakinya tak begitu dalam, dilihat dari jurusan yang tertuju oleh tapak kakinya, jelas bahwa tujuan mereka adalah tepat ke barat. Karena kesimpulan ini, tanpa banyak sangsi Coh Liu-hiang segera kembangkan Ginkangnya pula, berlari menuju ke barat. Tapi baru lari puluhan tombak tiba-tiba ia hentikan langkahnya pula seraya membatin .

"Tidak benar!"

Biasanya kalau Ki Ping-yan sudah mengumbar adatnya, dableknya melebihi Oh Thi-hoa.

Jikalau dia sudah kukuh bertanding sampai ajal dengan pembunuh itu, pasti melarang orang lain mencampuri urusannya.

Oleh karena itu dia ringkus busu itu untuk mengelabui pandangan orang lain, tujuannya ialah tak suka Coh Liu-hiang mencampuri urusannya dan kemana arah tujuannya, masa mungkin dia mau meninggalkan tapak kakinya, hingga Coh Liu-hiang lebih gampang menemukan jejaknya?

Coh Liu-hiang menghela napas, sebat sekali ia sudah melesat kembali ke atas batu cadas itu.

Kedua kaki tepat berdiri di atas bekas tapak kaki itu, muka menghadap ke barat sementara otaknya sedang diperas untuk berpikir.

Ki Ping-yan tahu cepat atau lambat aku pasti dapat mencarinya sampai di sini, maka sengaja dia meninggalkan bekas tapak kaki ini, supaya aku tahu bahwa dia benar-benar sudah pernah berada di sini tapi ia tidak suka aku mencampuri urusannya, maka sengaja hendak mengaburkan pandangan dan menyesatkan kesimpulanku, lalu ke jurusan mana ia pergi bersama tokoh kosen dari rombongan pembunuh itu?

Jurusan selatan jelas ia takkan kesana karena dari arah sana tadi Coh Liu-hiang datang, kalau toh barat juga tidak, jadi tinggal timur dan utara.

disaat Coh Liu-hiang bimbang dan kusut pikirannya tiba-tiba terlintas pikirannya.

Sejak kecil Ki ping-yan paling benci sorot matahari yang menyilaukan mata, bila dirumah sering ia tidur sampai lewat lohor baru mau bangun, sebelum hari terang tanah ia takkan tidur.

Karena kebiasaan ini, sudah terang Ki Ping-yan tak akan menuju kearah timur menyongsong matahari yang baru terbit, jadi kesimpulan akhirnya bahwa ia menuju ke utara, meski hal ini tak bisa diputuskan dengan meyakinkan terpaksa harus dicoba dan mengadu untung.

Maka Coh Liu-hiang segera merubah arah berlari ke arah utara.

Selama pengalaman beberapa hari ditengah gurun pasir ini, sedikit banyak Coh Liuhiang sudah menyadari bahwa air merupakan mustika yang lebih berharga dari permata, maka tak luput iapun membawa kantong air yang terbuat dari kulit kambing.

Setelah menenggak beberapa tegukan air, sekaligus ia berlari-lari dua li, tampak tidak jauh di depan sana dilihatnya beberapa pucuk Sian-jin-ciang, tapi seluruhnya sudah gundul terbabat kutung.

Coh Liu-hiang hentikan larinya, dari atas pasir ia jemput setengah potong dahan Sian-jin-ciang, dengan cermat ia awasi bekas papasan dari bagian yang kutung.

Jikalau ada orang lain melihat tingkah lakunya ini, tentu orang merasa heran, entah apa sih yang menarik perhatian dari potongan dahan pohon itu, memangnya kutungan dahan pohon itu bisa tumbuh kembang?

Sekian saat Coh Liu-hiang membolak balik dengan teliti, semakin lama alisnya berkerut semakin dalam, mulutnyapun menggumam seorang diri.

"Tebasan pedang yang teramat cepat! Ilmu pedang yang bagus sekali."

Jadi dari bekas kutungan dahan pohon itu dia dapat menilai betapa tinggi tingkat kepandaian ilmu pedang orang yang menebas dahan Sian-jin-ciang ini.

Senjata Ki Ping-yan bukanlah pedang, melihat pedang yang dipakai lawannya sedemikian tajam dan ganas, mau tak mau kuatir juga hati Coh Liu-hiang, demi keselamatan Ki Ping-yan kembali ia mondar mandir di sekelilingnya mencari-cari dan menemukan setengah potongan dahan Sianjin-ciam.

Bekas kutungan Sian-jin-ciang yang ini terang tidak selicin dan serata yang diambilnya semula, terang seperti dipukul kutung dengan semacam senjata berat yang tumpul, justru senjata Ki Ping-yan adalah Boan-koanpit, Potlot Baja.

Coh Liu-hiang mengamatinya lagi sekian lama, kedua alisnya yang berkerut lambat-lambat mengembang, gumamnya.

"Berkutet melawan musuh tangguh ini setengah harian, tenaganya sedikitpun tidak kelihatan menjadi lemah, tak nyana selama beberapa tahun belakangan ini ilmu silatnya ternyata maju begini pesat."

Semula ia menyangka karena kehidupan yang foya-foya dan berlebihan itu, tenggelam dalam pelukan perempuan ayu dan kebanyakan air kata-kata, tentu Lwekang dan kepandaian silatnya sudah terlantar, begitupun tenaganya tentu jauh berkurang, baru sekarang setelah dia memeriksa bekas kutungan dahan itu baru lega hatinya.

Tapi kedua orang itu sedang berkelahi dengan sengitnya, tanpa sebab masakah memukul dan menebas kutung dahan-dahan Sian-jin-ciang ini, apa sih maksudnya?

Kesimpulannya adalah lantaran didalam pohon Sian-jinciang ini mengandung air, setelah bertanding setengah hari, sedikit banyak mereka sudah menguras tenaga sehingga tenggorokan kering dan bibir gatal, jadi mereka berhenti sebentar untuk mengisap air secukupnya, mereka lalu melanjutkan pertempuran.

Dari kesimpulan dan kenyataan yang dilihatnya, terang jurusan yang ditempuh Coh Liu-hiang tidak salah.

Lekas diapun meneguk setegak air, setelah menentramkan hati dan mengatur pernapasan, bukan lantaran dia terlalu letih dalam perjalanan adalah dia memperhitungkan dengan tepat bila dia berhasil menemukan jejak mereka, kemungkinan dia sendiripun harus mengalami suatu pertempuran sengit, maka dia perlu menghimpun semangat dan mengumpulkan tenaga, siap sedia.

Setelah beranjak beberapa kejap lagi tampak di depan menghalang segundukan pasir tinggi, kira-kira puluhan tombak!

Perubahan alam di gurun pasir memang aneh dan cepat sekali, semalam mungkin tempat ini masih merupakan tanah datar, pagi ini sudah berubah menjadi gundukan bukit pasir yang menjulang ke atas.

Sudah tentu gundukan pasir ini tidak kokoh, meski kebanyakan orang juga bisa memanjat naik ke atas, asal sedikit lengah, bila pasir gugur mungkin manusia bisa terkubur hidup-hidup di bawah pasir yang ribuan kati beratnya.

Coh Liu-hiang menghirup napas panjang, sekali tutul badannya melambung tinggi seenteng kapas seperti daun melayang terhembus angin, dengan ringan ia tancapkan kaki di puncak bukit pasir.

Selepas mata memandang tampak beberapa li sekitarnya cuma gundukan-gundukan pasir melulu yang tersebar dimana-mana, malah terdapat batu-batu cadas dan rumpun semak-semak pohon berduri.

Memang tumbuhan ada pula yang bisa tumbuh di padang pasir, memang sementara tumbuhan ada yang tidak memerlukan air untuk pertumbuhan, namun bisa tetap subur, cuma selamanya tidak bisa tumbuh tinggi.

Sekonyong-konyong terdengar suara Trang!

selarik sinar pedang laksana lembayung berkelebat ditengah angkasa, berkelebat di belakang gundukangundukan pasir dikejauhan sana, cepat sekali tahu-tahu sudah menghilang, betapa cepat dan hebat sambaran kilat pedang itu, sungguh luar biasa.

Bagai burung camar, cepat Coh Liu-hiang meluncur ke bawah, laksana burung walet badannya melesat ke depan.

Dia tak berani bersuara atau memanggil, soalnya pertempuran tokoh-tokoh silat kelas tinggi paling pantang perhatiannya terpecah, kalau Ki Ping-yan mendengar suaranya, sedikit banyak konsentrasinya tentu terganggu, kemungkinan bisa mengalami bencana.

Tapi waktu Coh Liu-hiang melesat tiba di gundukan pasir tadi, bayangan manusiapun tidak terlihat olehnya, semak-semak berduri di pinggir batu cadas memang terbabat runtuh oleh tebasan pedang tajam.

Dari kenyataan yang dihadapinya ini Coh Liu-hiang beranggapan dan semakin tebal keyakinannya bahwa ilmu pedang orang itu teramat ganas dan telengas, sungguh mengejutkan.

Jadi apa yang diuraikan oleh si kera hitam Sun Khong dan Sutou Liu-che mengenai kehebatan orang memang bukan bualan belaka.

"Sreng"

Sekonyong-konyong terdengar pula suara benturan senjata keras yang nyaring.

Bagai terbang Coh Liu-hiang memburu ke arah datangnya suara, lagi-lagi ia menubruk tempat kosong.

Tapi batu cadas di sini banyak yang runtuh menjadi bubuk lembut bertaburan kemana-mana.

Terang reruntuhan batu cadas ini lantaran disapu hancur oleh potlot baja Ki Ping-yan, karena pukulan keras seperti ini tak mungkin dilakukan dengan pedang.

Dari sini dapatlah dibayangkan bahwa kekuatan Ki Ping-yan masih cukup hebat, masih kuat bertahan untuk adu jiwa.

Coh Liu-hiang menghirup napas panjang, sampai detik ini, meski dia belum menyaksikan secara langsung pertempuran kedua orang yang sedang berhantam sengit ini, tapi betapa dahsyat dan hebat pertandingan adu kekuatan kedua orang ini, dapatlah dibayangkan.

Dari tempat beberapa li kedua orang bertempur terus sambil jalan dan bergeser kedudukan sampai sini, dari pagi sampai sore menjelang malam, dari malam sampai pagi adu kekuatan seperti ini sungguh jarang terjadi.

Walau kelihatannya kedua orang sampai sekarang masih setanding alias seri, Coh Liu-hiang pun tak perlu gelisah lagi karena gelisahpun tak berguna, didalam situasi seperti ini untuk segera menemukan mereka sungguh betapa sulitnya.

Apalagi jikalau Ki Ping-yan tahu dirinya sudah datang kuatir dirinya turut campur, mungkin orang sengaja hendak main petak umpet dan membuat dirinya kecele.

Oleh karena itu terpaksa Coh Liu-hiang menahan sabar dan menekan gejolak perasaannya dengan cermat ia pasang kuping, sesaat kemudian betul juga, terdengar pula suara benturan senjata keras yang nyaring, kali ini kumandang dari arah kiri sana.

Tapi kali ini Coh Liu-hiang tidak langsung menubruk ke tempat itu, namun dari arah kiri dia berputar setengah lingkaran, pikirnya hendak berputar mendahului mereka kesebelah depan memapak dan menghalangi mereka.

Lagi-lagi dia tetap menubruk tempat kosong, kedua orang itu kiranya bertempur ke arah lain yang berlawanan.

Coh Liu-hiang hanya gelenggeleng kepala dengan tertawa getir, tapi sekonyong-konyong rona mukanya berubah hebat.

Di atas pasir kuning yang merata didepan sana tampak beberapa tetes noda darah yang masih segar.

Kalau Oh Thi-hoa yang melihat noda darah ini, mungkin dia tidak akan gugup karena dia sangka noda darah ini menetes keluar dari luka-luka badan musuh.

Tapi Coh Liu-hiang cukup tahu bila mana potlot baja Ki Ping-yan sampai berhasil menutuk lawannya, pasti musuh sudah menggeletak dan tak berkutik, bukan saja takkan mengeluarkan darah, pertempuranpun takkan dilanjutkan pula.

Semakin gelisah hatinya, dia semakin tak bersuara, kini Ki Ping-yan sudah terluka bukan mustahil luka-lukanya tidak ringan, jikalau konsentrasinya sampai pecah bukankah badannya bakal menjadi sasaran empuk lawannya dan terbanglah jiwanya.

Maklumlah meski sepak terjang Coh Liu-hiang amat gagah perwira dan tidak kenal kesopanan tapi demi keselamatan sahabat baiknya, tindakan dan gerak geriknya ternyata jauh lebih cermat dan hati-hati dari kaum hawa.

Tak jauh dari noda-noda darah itu terdapat juga sebongkah batu cadas, sekali enjot badan Coh Liu-hiang lompat ke atasnya, dari sini ia hendak menunggu suara benturan senjata keras dan berkelebatnya sinar pedang yang mungkin terlihat diantara semak-semak pohon dan sela batu.

Tak nyana pada saat itu juga dari balik gundukan pasir di depan sana tibatiba muncul dua orang, senjata ditangan kedua orang ini dimainkan kencang, seumpama hujan badaipun takkan tembus membasahi badan mereka, sekencang itu mereka mainkan senjatanya, tapi tak terdengar suara benturan senjata, mungkin setelah berhantam setengah hari ini, masing-masing sudah apal dan tahu jelas seluk beluk permainan silat lawannya, sebelum suatu jurus serangan dilancarkan ditengah jalan sudah berubah pula dengan tipu serangan yang lain.

Cara tempur seperti ini, sudah tentu kedua pihak harus bergerak teramat cepat, ganas dan keji, sedikit meleng atau serangannya meleset setengah mili umpamanya, senjata lawan pasti akan segera menerjang masuk ke dalam titik kelemahan ini.

Akan tetapi cara serang menyerang mereka memang cukup seru dan menarik, namun keadaan mereka sudah runyam benar.

Baju yang dipakai kedua orang ini sudah sama tak karuan, sekujur badan, kepala, rambut dan alis penuh pasir, laksana dua setan gentayangan yang baru nongol keluar dari liang pasir.

Untunglah Coh Liu-hiang tahu benar senjata yang digunakan Ki Ping-yan, kalau tidak sungguh sukar dia membedakan yang mana Ki Ping-yan dari kedua orang berpasir ini.

Tampak pundak kiri Ki Ping-yan dibalut kencang dengan sobekan kain baju, darah masih kelihatan merembes keluar, terang bahwa pundaknya cidera oleh tusukan pedang.

Tapi kedua orang sedang bertempur begitu sengit, cara bagaimana dia sempat membalut luka-lukanya dulu?

Memangnya setelah lawan melukainya, lantas memberi peluang dan menunggu dia membalut luka-lukanya baru melanjutkan pertempuran pula.

Mereka sudah berkelahi sekian lamanya, memangnya masing-masing sudah timbul rasa simpatik terhadap musuh sendiri, maka setelah salah seorang terluka, seorang yang lain tidak merangsak terus memanfaatkan kesempatan yang ada.

Tapi jurus-jurus permainan mereka terang merupakan serangan ganas yang mematikan, perkelahian adu jiwa, seolaholah tiada maksud membiarkan musuhnya hidup, serangannya tak mengenal kasihan.

Sungguh heran dan tak habis mengerti Coh Liu-hiang menghadapi tontonan pertempuran yang lucu ini, ia tahu sementara Ki Ping-yan masih kuat bertahan, ia sadar bila dirinya ikut turun tangan, Ki Ping-yan pasti akan marah.

Tapi setelah menyaksikan sekian lamanya, terasa pula oleh Coh Liu-hiang bahwa jurus permainan pedang lawan Ki Ping-yan itu seperti sudah dikenalnya.

Gerak pedang orang ini laksana putaran angin, betapa cepat jurus serangannya, sungguh sukar dibayangkan, tapi lengan bagian sikut ke atas sedikitpun tidak bergeming, jadi setiap jurus tipu serangannya dilancarkan hanya dengan kekuatan pergelangan tangan saja.

Orang yang mampu memainkan ilmu pedang semacam ini setahu Coh Liuhiang cuma satu saja dikolong langit ini, yaitu Tionggoan It-tiam-ang.

Tapi ilmu pedang yang disaksikan sekarang sedikit banyak rada berbeda dengan kepandaian It-tiam-ang.

Secara keseluruhannya ilmu pedang ini lebih mantap, tenang dan rapat, tapi tidak seganas dan sekeji tusukan pedang It-tiam-ang yang telak mengincar tenggorokan musuh.

Hati Coh Liu-hiang sedang menimang-nimang, entah apa hubungan orang ini dengan It-tiam-ang, Setitik Merah dari Tionggoan itu, agaknya kalau bukan saudara seperguruan, tentu keduanya punya sangkut paut yang dekat dan erat.

Kebetulan sekilas terlihat oleh Coh Liu-hiang pancaran sorot mata orang ini.

Itulah sepasang biji mata yang dingin seperti es, buas laksana serigala, memutih merah seperti salju di puncak gunung, teguh kukuh laksana gunung.

Mata seperti itu kecuali Setitik Merah dari Tionggoan tiada orang lain lagi.

Sungguh kaget, girang pula hati Coh Liu-hiang, tak tertahan hampir saja dia bersorak memanggil.

Tiba-tiba dilihatnya pedang panjang It-tiam-ang menusuk lurus mengarah dada, lekas kedua tangan Ki Ping-yan ditekan turun, sepasang potlot bajanya bersilang menyongsong serangan lawan, inilah jurus Cap-ci-bong-bun atau palang melintang menutup pintu.

Cuma biasanya kalau orang lain meluncurkan jurus ini tujuannya khusus hanya bertahan dan melindungi badan, lain dengan Ki Ping-yan, disamping bertahan rapat, diapun bisa balas menyerang, laksana gunting tajam, kedua potlot menggunting senjata lawan.

Kombinasi permainan antara menjaga diri sekaligus menyerang ini sungguh amat hebat dan menakjubkan.

Tapi begitu Coh Liu-hiang melihat dia melancarkan jurus ini, seketika mencelos dingin hati dan sekujur badannya.

Ternyata Setitik Merah memang sengaja pancing dirinya menggunakan jurus ini, soalnya permainan pedangnya jauh berlainan dengan semua perguruan ilmu pedang dari aliran manapun, pedang menyerang mengandalkan kekuatan pergelangan, sudah tentu gerak perubahan dan variasinya jauh lebih banyak dan cepat.

Sebaliknya jurus Ki Ping-yan ini disamping menyerang mengandung pertahanan, sudah tentu kekuatan pertahanannya sedikit banyak terganggu, bila menghadapi musuh lain serangan lawan akan kehabisan tenaga dan berhenti sampai titik yang tertentu saja, maka dengan mudah bisa saja dia mengunci senjata lawan dengan kedua potlotnya.

Tapi lengan Setitik Merah masih mengandung kekuatan yang tak terukur besarnya, kalau tenaga pergelangan terkuras habis, gampang saja ia kerahkan kekuatan lengannya untuk melandasi serangan itu lebih lanjut, begitu pedangnya menyendal disurung maju, sebelum Ki Ping-yan berhasil mengunci pedangnya, ujung pedangnya tentu sudah menusuk tenggorokan Ki Ping-yan.

Hebat memang Setitik Merah dari Tionggoan, tadi berulang kali dia sudah menyaksikan Ki Ping-yan menggunakan jurus ini, dalam hati sudah berhasil mencapai suatu pikiran cara memecahkannya, kini kembali dia pancing lawan menggunakan jurus ini lagi.

Sebagai penonton yang lebih jelas, paham dan tahu benar jalan liku-liku permainan pedang Setitik Merah, sudah tentu Coh Liu-hiang paling jelas.

Meskipun hatinya melonjak kaget, tapi dia tak mampu berbuat apa-apa.

Serangan pedang It-tiam-ang laksana terjangan angin puyuh, dalam kolong langit ini siapa mampu menghadapinya?

Siapa tahu tepat pada saat itu juga pedang panjang Setitik Merah tiba-tiba menggores sebuah lingkaran membundar, tahu-tahu berputar diantara batang potlot Ki Ping-yan.

"Sret"

Entah bagaimana pedang ini menukik turun mengiris ke paha Ki Ping-yan malah.

Terang tusukan pedangnya itu bakal berhasil, kenapa berubah ditengah jalan?

Meski hati Coh Liu-hiang bersorak girang, tapi terkejut pula.

Selamanya Setitik Merah takkan menyia-nyiakan kesempatan setiap lubang, kenapa kali ini berubah begitu bodoh?

Tujuan Ki Ping-yan melulu hanya melukai atau membekuk musuh, tak pernah terpikir persoalan lain dalam benaknya, sehingga ia sendiri tak menyadari keanehan perubahan yang dilakukan lawannya, kalau musuh menggunakan cara sebodoh ini, justru kesempatan paling baik bagi dirinya.

Begitu kedua potlotnya terkembang, dengan jurus Tok-coa-jut-hiat "

Ular racun keluar liang"

Maka terdengar dua kali suara "

Trap, trap,"

Jiah-kinhiat dikedua pundak Setitik Merah tertutuk telak, kontan badannya terjengkang roboh.

Setelah berjuang sekian lama menghabiskan segala kemampuan dan tenaganya, baru sekarang Ki Ping-yan berhasil merobohkan lawan, saking senangnya dia terloroh-loroh.

Tapi sepasang biji mata orang yang dingin membeku itu masih menatap mukanya dengan kaku, sedikitpun tidak kentara rasa penyesalan atau mengakui kekalahan ini, dari sorot matanya sikapnya malah tetap angkuh dan jumawa.

Ki Ping-yan tertawa, ujarnya .

"Ilmu pedangmu memang jarang bandingannya dikolong langit, tapi jurus tadi kau lancarkan dengan gerakan yang salah, siapapun bila dia melancarkan jurus serangan seperti itu dia harus mengaku kalah, kau...."

Mendadak kata-katanya seperti tersumbat didalam tenggorokannya, rona mukanyapun berubah seketika.

Tiba-tiba dilihatnya di ujung pedang lawan yang runcing tipis itu, tertancap seekor kalajengking.

Ditengah gurun pasir dan berhawa panas, Kalajengking begitu besar dan beracun jahat, siapapun bila sampai tersengat sekali saja mungkin jiwanya takkan tertolong lagi, jadi tadi Setitik Merah melihat seekor Kalajengking merambat di pahanya, barulah ditengah jalan dia merubah gerakan pedangnya, gerakan bodoh permainan Setitik Merah ini ternyata telah berhasil menolong jiwanya.

Pucat pias lalu merah padam muka Ki Ping-yan, mulutnya terkancing.

Sudah tentu Coh Liu-hiangpun sudah melihat hal ini, tanpa terasa mencelos pula hatinya.

Setitik Merah memang tidak malu sebagai laki-laki sejati, ksatria yang patut dipuji akan kebesaran jiwa dan keluhuran hatinya, tapi memangnya Ki Ping-yan tidak begitu?

Apakah lantaran kekalahan yang memalukan ini dia lantas hendak bunuh Setitik Merah untuk menutup mulutnya?

Ingin Coh Liu-hiang menyaksikan lebih lanjut kejadian seterusnya, apa yang akan dilakukan oleh Ki Ping-yan, maka diam-diam ia meremas beberapa batu kerikil, jikalau Ki Ping-yan hendak bertindak keji terhadap Setitik Merah, diapun takkan berpeluk tangan menonton saja.

Setelah melongo sekian saat, terdengar Ki Ping-yan berkata pelan-pelan.

"Kenapa kau berbuat demikian, memangnya kau tak ingin membunuhku?"

Badan Setitik Merah tak bisa bergerak, namun mulutnya masih bebas bicara, katanya dingin .

"Aku hendak membunuhmu, maka jiwamu takkan kubiarkan mampus dimulut kalajengking."

Ki Ping-yan menengadah dan terloroh-loroh panjang, serunya.

"Bagus! Bagus! Bagus!"

Beruntun dia mengucapkan "

Bagus!"

Tujuh delapan kali, mendadak ia cungkil pedang lawan terus diraihnya, sekali ayun ia tebaskan pedang itu ke arah pahanya.

Secara keras kepala dia tak sudi menerima kemurahan ini, secara langsung dia hendak tebas paha sendiri untuk dikembalikan kepada Setitik Merah.

Begitu besar tekadnya, sehingga sorot mata Setitik Merah yang membeku dingin itu menyorotkan cahaya aneh, tak tahan mulutpun menjerit kaget.

"Gila kau!"

"Trang!"

Ditengah jeritannya, segulung angin yang keras menerpa datang dengan telak memukul jatuh pedang ditangan Ki Ping-yan.

Kembang api muncrat kemana-mana, pedang ditangan Ki Ping-yan terpental lepas dari cekalannya.

Dengan muka berubah, lekas Ki Ping-yan menyurut mundur delapan kaki, kedua batang potlotnya yang dia rangkap dalam cekalan pada tangan kiri, segera dibagi ke kanan kiri pula, mulut segera membentak beringas.

"Siapa itu?"

Terdengar seseorang berkata dengan kalem.

"Watak dan adat kalian berdua memang terlalu aseran."

Ditengah kumandangnya gelak tawa, sesosok bayangan orang melambung ke angkasa meluncur datang, sigap sekali.

Sekali raih ia jemput pedang panjang itu sekaligus membuka totokan jalan darah Setitik Merah.

Kontan Ki Ping-yan membanting kaki serta berseru penuh kegusaran.

"Akhirnya kau datang juga!"

Ternyata Setitik Merahpun berseru keras .

"Akhirnya kau datang juga!"

Kedua orang mengucapkan kata-kata yang sama, cuma kalau Ki Ping-yan mengucapkan kata-kata ini adalah jamak, karena sejak semula dia sudah menduga cepat atau lambat Coh Liu-hiang pasti akan menyusul datang, gegetun dan gemas pula lantaran kedatangan Coh Liu-hiang begini kebetulan.

Namun kenapa Setitik Merah juga mengucapkan kata-kata yang sama?

Memangnya dia juga tahu bahwa Coh Liu-hiang sudah berada disekitar daerah pertempuran?

Masakah diapun sudah memperhitungkan bahwa Coh Liu-hiang pasti akan menyusul tiba?

Disaat Coh Liu-hiang merasa heran, Ki ping-yan sudah berseru tertahan.

Kau kenal orang ini?

hampir pada waktu yang sama Setitik Merahpun berteriak.

"Kau kenal orang ini?"

Coh Liu-hiang tertawa, ujarnya.

"Kalian berdua aku kenal semuanya, malah masing-masing adalah sahabat baikku, maka kaupun tak perlu bersedih hati karena merasa berhutang budi kepadanya, yang terang kelak masih banyak kesempatan jiwanya bakal digorok oleh orang lain, bolehlah kau berusaha menolong jiwanya saja."

Sudah tentu kata-katanya ini ditujukan pada Ki Ping-yan. Lama juga Ki Ping-yan berdiam diri memikirkan kata-kata ini, akhirnya mendengus .

"Tapi cara bagaimana pula kau bisa sampai ditempat ini?"

Tanya Coh Liuhiang, kata-kata ini dia tujukan kepada Setitik Merah. Tak nyana mendengar pertanyaan ini Setitik Merah malah semakin keheranan, serunya tak mengerti.

"Kenapa kemari? Bukankah kau yang mencari dan mengundangku?"

Balasan pertanyaan ini lebih mengejutkan Coh Liu-hiang dan Ki Ping-yan. Setelah mengelus hidung berkata Coh Liu-hiang .

"Aku yang mencari dan mengundang kau kemari? Untuk apa aku undang kau kemari?"

"Sudah tentu kau mengundangku untuk membunuh Kui-je-ong itu."

Sahut Setitik Merah.

Mendengar kata-kata ini, kembali Coh Liu-hiang merasa prihatin dan urusan semakin ganjil, karena dia merasakan kejadian ini bukan hanya merupakan salah paham, dibalik persoalan ini tentu ada latar belakang dan muslihat keji.

Segera ia menghampiri sebuah batu cadas lalu duduk, katanya.

"Persoalan ini mempunyai seluk beluk dan liku-liku, marilah silahkan kalian duduk saja, mari kita bicarakan kejadian ini perlahan-lahan."

Dengan tertawa menunggu reaksi orang ia menambahkan .

"Aku tahu kau tidak suka bicara, biarlah aku yang bertanya padamu."

Muka Setitik Merah yang kaku dingin itu sudah berubah, katanya.

"Likaliku? Menanyai aku?........memangnya aku............"

"Tahan dulu gejolak hatimu, coba kutanya siapa yang mencarimu, dikatakan bahwa aku mengundangmu untuk membunuh Kui-je-ong itu?"

"Setelah aku berpisah dengan kau hari itu?"

Demikian Setitik Merah yang biasanya tak suka banyak bicara mulai dengan pengalamannya.

"Terasa bahwa Tionggoan sudah tiada arti dan tiada sesuatu yang kubuat kenangan abadi, memang sejak lama aku sudah dengar betapa luas dan kebesaran alam yang menyenangkan kehidupan di padang pasir ini, maka aku berkeputusan menempuh perjalanan keluar dari perbatasan."

Coh Liu-hiang tahu orang ini berhati tinggi dan jumawa, setelah dua kali dikalahkan dalam adu pedang, tak urung menjadi kecewa dan dingin hati, maka terpikir olehnya kelana keluar perbatasan untuk mengecap kehidupan baru.

Walau hati berpikir demikian, mulutnya malah berkata .

"Kalau begitu, jadi kau lebih dulu menempuh perjalanan keluar perbatasan ini daripada aku?"

"Tapi beberapa lama kemudian, ditengah jalan kudapati seseorang yang selalu memperhatikan gerak-gerik dan jejakku, kemanapun aku pergi dia selalu menguntit di belakangku.

"Jikalau orang mengincar sesuatu atas dirimu, anggap saja orang pasti ketiban pulung, mungkin matanya picak, entah orang macam apakah dia?"

Perlu dimaklumi keahlian dan kebolehan Coh Liu-hiang adalah betapapun persoalan yang dihadapi amat sulit dan berbahaya, dia masih bisa berlaku tenang, mantap dan wajar.

Tapi ia tahu orang lain belum tentu bisa berlaku seperti dirinya, maka begitu melihat roman muka Setitik Merah semakin tegang, maka sengaja dia ucapkan kata-katanya tadi supaya rasa tegang yang merasuki hati Setitik Merah menjadi kendur, menyusul dia lantas mengajukan pertanyaan yang pertama.

Betul juga tanpa merasa Setitik Merah tertawa geli, katanya.

"Orang itu memang bukan manusia biasa, sedikitpun tidak menunjukkan gejala-gejala yang luar biasa, seumpama kau pernah melihatnya berulang kali, belum tentu kau bisa mengingatnya selalu, karena orang macam demikian dimana dan kapan saja kaupun bisa melihatnya."

Coh Liu-hiang menghela napas, ujarnya.

"Semakin biasa raut muka seseorang, semakin leluasa dia melakukan kejahatan, bila mana aku hendak mencari pion-pion untuk melaksanakan tipu dayaku, akupun bisa mencari orang-orang seperti ini."

"Waktu itu sebetulnya aku tidak mau terlibat banyak urusan, tapi dua hari setelah dia menguntit aku, akhirnya aku tak tahan lagi, baru saja aku hendak menghadapinya dan tanya apa maksudnya menguntit aku, siapa tahu dia malah mencariku lebih dulu."

"Oh!"

Dia bertanya kepadaku.

"Apakah tuan ini adalah Setitik Merah dari Tionggoan?"

Dalam waktu dekat aku belum bisa menangkap apa maksud tujuannya, terpaksa hanya manggut-manggut saja, maka dia lantas memperkenalkan diri sebagai teman baikmu, sengaja memburu kemari untuk mencari aku."

Coh Liu-hiang tertawa, katanya.

"dia lantas mengatakan bahwa aku minta kau kemari untuk membunuh Kui-je-ong?"

Benar, katanya.

"Kui-je-ong mengganas menindas rakyat, sudah lama Coh Liu-hiang bermaksud melenyapkan dia, tapi dalam waktu dekat ini dia tak dapat meluangkan waktu, maka dia ingin mohon bantuanmu!"

"Kau lantas percaya begitu saja?"

"Sebetulnya akupun tidak segera percaya akan obrolannya, tapi dia ada mengucapkan beberapa patah kata-kata yang mau tidak mau aku harus percaya kepadanya."

"Apa yang dia katakan?"

Sebentar Setitik Merah berpikir, lalu katanya perlahan.

"Katanya Si Maling Sakti pandang tuan sebagai sahabat karibnya, kalau tidak diapun takkan minta bantuanmu, apalagi seorang laki-laki sejati harus bisa membedakan antara dendam dan budi, masakah tuan lupa budi kebaikannya yang tidak membunuh jiwamu?"

Coh Liu-hiang tertawa getir, katanya.

"Kau pikir benarkah aku bisa dan sampai hati mengucapkan kata-kata seperti itu?"

Jilid 20

"Justru aku tahu kau takkan mungkin membeber kejadian macam itu kepada khalayak ramai, maka aku berpendapat bahwa kata-kata itu mungkin saja kau yang mengucapkan, kalau tidak darimana orang ini bisa tahu?"

"Benar."

Kata Coh Liu-hiang dengan hati mendelu.

"Dalam kolong langit ini, cuma beberapa orang saja yang tahu akan kejadian itu, juga tiada orang tahu tanpa berkelahi, kau dan aku takkan berkenalan dan bersahabat dan kini sudah jadi kawan baik."

"Sampai akupun tidak tahu,"

Timbrung Ki Ping-yan dingin.

"Apalagi pekerjaanku memang membunuh orang, jikalau dia ingin supaya aku membunuh orang, sebetulnya bisa saja membayarku dengan uang mas atau perak, kecuali dia sudah tahu bila aku sudah ganti obyek, tapi........"

Tapi dalam kolong langit ini cuma beberapa orang saja yang tahu bahwa kau kini sudah ganti obyek.

"Begitulah!"

Coh Liu-hiang menghela napas, ujarnya.

"Jikalau aku menjadi kau, mungkin akupun akan percaya omongan itu."

Tiba-tiba KiPing -yan menyentak.

"Sebetulnya ada berapa orang yang tahu akan hubungan kalian?"

"Hitung-hitung hanya Lamkiong Ling, Bu Hoa, Yong-ji dan Mutiara Hitam."

"Tapi Lamkiong Ling dan Bu Hoa sudah mati, Yong-ji tak mungkin melakukan hal ini, maka..........."

Kata-katanya terhenti, dengan nanar ia awasi Coh Liu-hiang. Coh Liu-hiang menghirup napas panjang, katanya.

"Kemudian hanya Mutiara hitam, ia kah yang menjadi biang keladi di belakang layar yang kendalikan pemberontakan dinegeri Kui-je?"

Berkata Ki Ping-yan kalem.

"Kitakan sudah tahu didalam pemberontakan negeri Kui-je itu ada orang bangsa Han yang ikut bekerja, tapi betapa gampang seorang Han untuk dapat melakukan pekerjaan besar ini di negeri orang, kecuali jika orang Han ini memang sudah memiliki kekuasaan besar di sana, kalau tidak seumpama dia berhasil baik dengan aksi pemberontakannya itu, sekali-kali dia takkan bisa bercokol di negeri ini."

Sampai di sini kembali ia berhenti, karena siapakah orang ini, tanpa dia katakan orang lainpun bisa menduganya.

Hanya putra rajapadang pasir saja yang mampu mengerahkan suatu pemberontakan besar-besaran seperti ini, hal ini jelas dan dapat dimengerti, sampaipun Setitik Merahpun sudah bisa menduganya.

Sesaat Coh Liu-hiang merenung, katanya kemudian.

"Dimana orang itu sekarang?"

"Setelah orang itu menemani aku sampai di luar perbatasan lalu berpisah dengan aku,"

Tutur Setitik Merah lebih lanjut,"

Katanya hendak berputar mencari kau, tapi sepanjang jalan aku lantas disambut dan diantar oleh utusan Kui-je sampai di sini."

"Disini siapa pula yang pernah kau temui?"

Tanya Coh Liu-hiang.

"Aku bertemu dua orang pembesar tinggi dari Kui-je, agaknya kedudukan mereka amat tinggi dan berkuasa, sejak Kui-je-ong terusir dari negerinya, kedua orang inilah yang pegang tampuk pimpinan tertinggi negeri ini."

"Tapi masih ada seorang bangsa Han, bukan?"

"Benar, tapi yang terang orang itu pasti bukan Mutiara hitam."

"Siapa dia? bagaimana bentuk dan tampang mukanya?"

"Orang itu bernama Gi-kiok-han, konon adalah seorang tokoh kenamaan yang pandai ilmu silat dan satria, malah otaknya cerdik dan banyak akalnya, di depan pandanganku tidak lebih hanya musang berbulu ayam, sikap dan polahnya tengik dan menyebalkan."

Coh Liu-hiang menghela napas, ujarnya.

"Justru lantaran dia tak suka orang lain mendekati dirinya, maka sengaja dia bertingkah seperti itu, supaya orang tidak membongkar kedoknya, maka polah dan tingkahnya yang menyebalkan itu malah sebagai kedoknya yang utama."

"Benar,"

Timbrung Ki Ping-yan pula.

"Jikalau orang lain marah dan tak sudi melihat tampangnya, sudah tentu orang sukar melihat apakah dirinya samaran atau tulen."

"Perkemahan mereka semalam sudah pindah ke lain tempat bukan?"

Kini Setitik Merah dan Ki Ping-yan menjawab bersama.

"Benar!"

"Mereka pindah kemana?"

Tanya Coh Liu-hiang.

"Konon tidak jauh dari sini, ada sebuah penginapan ditengah padang pasir, disanalah hotel gelap yang didirikan oleh begal besar di gurun pasir, Panthian-hong, agaknya mereka ada sekongkol dengan Pan-thian-hong ini, kini mereka menuju kesana."

Coh Liu-hiang merenung sebentar, katanya.

"Dalam dua tiga hari ini, kukira mereka takkan meninggalkan tempat itu, ya bukan?"

"Benar, sekarang kita bisa luruk kesana dan gorok leher mereka,"

Kata Setitik Merah.

"Bunuh mereka sih gampang,"

Sela Ki Ping-yan.

"Tapi jikalau ketiga orang itu bukan pentolannya, bunuh mereka bukankah malah membabat rumput mengejutkan ular."

"Apalagi mereka jelas sudah tahu, begitu kau bertemu dengan aku maka urusan bakal dibuat terang, tapi mereka masih melegakan hati meluruk kemari. Itulah karena mereka mempunyai pegangan dan latar belakang yang cukup membuat kita gentar."

"Maksudmu mereka punya pegangan sesuatu untuk mengancam atau menggertak kita!"

"Benar, karena aku masih ada tiga teman yang kini terjatuh ke tangan mereka,"

Kata Coh Liu-hiang tertawa getir, lalu menyambung.

"Kedatanganku kali ini adalah untuk mencari ketiga temanku itu, tak nyana secara serampangan di sini aku mendapat berita tentang jejak mereka, tapi lebih baik kalau aku tak tahu akan hal ini, setelah tahu gerak-gerikku mau tak mau harus hati-hati."

Ki Ping-yan berkata dingin.

"Bukan mustahil orang itu mengundang saudara ini kemari tujuannya untuk memberi tahu kepadamu secara tidak langsung mengenai persoalan ini, sekaligus memberi peringatan kepada kau, dengan sendirinya mau tak mau harus bertindak ragu-ragu dan kuatir itu, berarti mereka lebih leluasa dan berani bertindak."

Kata Coh Liu-hiang.

"Kalau mereka hendak memperingati aku, kenapa tidak suruh Yong-ji menulis surat kepadaku, kenapa harus memeras keringat dan menguras tenaga yang tiada gunanya ini?"

Lama Ki Ping-yan termenung, sahutnya.

"Omonganmu memang tidak salah, sungguh akupun tidak mengerti, kenapa mereka harus berbuat demikian, mereka toh sudah tahu bila kalian berdua beradu muka, bualannya tentu terbongkar, bukankah sia-sia belaka usaha mereka."

Mungkin karena mereka tidak menduga aku bakal melindungi Kui-je-ong, dua tiga hari yang lalu kita sendiripun takkan pernah berpikir hendak melindungi Kui-je-ong bukan?"

Coh Liu-hiang utarakan pikirannya. Ki Ping-yan berpikir-pikir, mulutnya tak bersuara lagi. Berkata Coh Liu-hiang lebih lanjut.

"Pepatah ada bilang, naga sakti takkan ungkulan melawan ular setempat. Jikalau musuh mendapatkan keuntungan mengenai cuaca, keadaan bumi dan berbagai syarat yang lebih baik, tapi kitapun memiliki keunggulan yang tak mereka dapatkan, yaitu....."

Tak tahan Ki ping-yan menukas.

"Yaitu mereka tidak kenal siapa kita, sebaliknya kita tahu betul seluk beluk mereka."

"Tepat"

Ujar Coh Liu-hiang.

"Justru mereka tidak tahu siapa kita, maka mereka salah sangka. Kini kita bisa menggunakan titik kelemahan mereka ini, jikalau harus menunggu kedatangan Mutiara hitam tentu sudah terlambat!"

"Jadi maksudmu sebelum Mutiara hitam tiba, kita pergi ke penginapan ditengahpadang pasir itu untuk menyelidiki dan mencari berita?"

"Ya, begitulah maksudku."

Berkilauan biji mata Setitik Merah, katanya.

"Sekarang juga berangkat?"

"Tempo berjalan amat cepat, kalau mau berangkat tentunya lebih cepat lebih baik, cuma...."

Coh Liu-hiang geleng-geleng sambil menghela napas, katanya lebih lanjut.

"Kini bukan saja kita harus menghadapi mereka, kitapun harus melawan Ciok-kwan-im, berarti kita menghadapi musuh dari dua muka, jikalau sedikit lalai, kita bisa tergencet dari dua sasaran, jikalau sampai terjebak dan kalah tentu konyol."

Sebagai sahabat lamanya, jalan pikiran Ki Ping-yan juga sama, mendengar kata-katanya ini ia manggut-manggut, Setitik Merah sebaliknya mengajukan pertanyaan.

"Maksudmu....."

Walau mereka tidak kenal siapa kami, tapi mendadak dua orang asing tibatiba berkunjung ke tempat pangkalan mereka, mau tak mau harus lebih hati-hati, bukan mustahil kita bakal dihadapi sebagai kambing gemuk, tapi jikalau kedua orang itu adalah...."

Tak sabar Setitik Merah menukas pula.

"Jikalau kedua orang itu adalah temanku, masakah mereka berani turun tangan?"

"Tapi sepak terjang Setitik Merah dari Tionggoan selama ini tetap sendiri, hal ini diketahui siapapun, memangnya ditengah gurun pasir yang tak pernah dihuni orang mendadak bersua dengan kedua sahabat baiknya?"

Lama Setitik Merah berpikir, katanya.

"Seumpama dimanapun tempat keramaian yang penuh sesak, akupun takkan bisa kebetulan bersua dengan setengah temanku.

"tawar dan dingin ucapannya, seolah-olah ia hendak melimpahkan kesunyian sanubarinya. Sekilas Ki Ping-yan melirik padanya, katanya tiba-tiba.

"Semakin sedikit punya teman semakin baik, seumpama tiada punya teman juga tak perlu dibuat sedih!"

Setitik Merah balas melirik kepadanya, sorot matanya menampilkan senyuman hatinya. Berkata Coh Liu-hiang sambil bertepuk tangan.

"Tapi kalian sama-sama punya watak yang aneh, cepat atau lambat harus mengikat persahabatan, laripun takkan berpisah lagi.

"ia pegang pundak kedua orang serta menambahkan dengan suara prihatin.

"Kini kami tidak bisa kesana secara terang-terangan, juga tak mungkin menyamar sebagai teman karib, cara yang paling sempurna hanya....."

Suaranya semakin lirih dan akhirnya tak terdengar.

Lohor!

Seluas mayapada tersorot di bawah pancaran sinar matahari yang terik.

Di bawah terik matahari yang membakar kulit ini, tampak serombongan unta sedang berjalan pelan-pelan.

Unta yang biasanya dijuluki kapal pasir ini, kinipun sudah keletihan dan hampir tak kuasa berjalan lagi, orang-orang yang bercokol di punggung unta lebih-lebih mengenaskan lagi, mereka sudah kempas kempis menunggu saatnya untuk mangkat menghadap raja akhirat.

Tampak bibir orang-orang ini sudah sama pecah, biji matanya diliputi genangan darah, badannya seperti sudah kejang dan pikiranpun sudah setengah sadar, dalam benak mereka hanya terpikir satu huruf saja "Air......air............air........"

Tiba-tiba tampak dikejauhan perpaduan langit dan pasir di depansana , asap api mengepul ke angkasa, roman muka orang-orang ini seketika mengunjuk rasa kegirangan yang luar biasa.

Baca Juga: Bajak Laut Kertapati 2

Baca Juga: Pedang Angin Berbisik 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert