Ceritasilat Novel Online

Naga Kemala Putih 4

Eps 4 Naga Kemala Putih - Gu Long

Baca online Naga Kemala Putih - Gu Long

Cersil Naga Kemala Putih - Gu Long.

Buru-buru dia keluar dari kamar dan segera berangkat menuju ke Pesanggrahan Pek-giok-tay dengan langkah cepat.

Ketika hampir tiba, hatinya mulai tenang.

Sebab di depan pintu Pesanggrahan Pek-giok-tay tidak ditemukan sesosok bayangan manusia pun!

Jika mayat Pek Giok-khi ditemukan orang, kabar berita ini pasti akan tersebar dalam waktu singkat.

Di depan pintu gerbang Pesanggrahan Kemala Putih pasti akan dikerumuni orang-orang yang ingin tahu, datang untuk memeriksa apa yang terjadi.

Tapi kini tak seorang pun kelihatan, tandanya kematian Pek Giok-khi belum diketahui orang.

Sungguh kebetulan sekali!

Dengan langkah lebar Tong Hoa masuk ke dalam Pesanggrahan Kemala Putih, tapi ia tertegun, berdiri terperangah di depan pintu.

Bukankah mayat Pek Giok-khi roboh tersungkur di tempat itu?

Tapi sekarang, kecuali bercak darah yang masih menggenangi lantai, mayatnya sudah hilang tak berbekas.

Ia melihat bercak darah itu menggenangi lantai di depan pintu hingga ke ruang dalam, buru-buru dia ikuti bercak darah itu hingga masuk ke dalam kamar Pek Giok-khi, kemudian dia pun menyaksikan sebuah peti yang penuh bercak darah, sebuah peti rahasia.

"Celaka!"

Pekiknya di dalam hati.

Buru-buru dia lari keluar dan menelusuri jalan yang penuh dengan bercak darah, mengikuti terus hingga tiba di depan pintu gerbang Gedung Keluarga Tio.

Sekarang ia sudah tahu apa yang telah terjadi, tampaknya Pek Giok-khi dengan membawa naskah ask telah mendatangi gedung keluarga Tio dan bermaksud menyerahkannya ke tangan Wi Hong-nio.

Tapi perasaan hatinya kini sudah jauh lebih tenang, karena ia sudah menemukan mayat Pek Giok-khi, mayat itu terkapar di depan pintu masuk.

Dia menghampiri mayat itu, membolak-balikkan badannya dan menggeledah seluruh isi saku Pek Giok-khi.

Namun tak ada yang ditemukan.

Ia mulai keheranan, tercengang, kenapa tidak ditemukan sesuatu apa pun?

Sekali lagi digeledahnya seluruh saku mayat itu, tetap tidak dijumpai sesuatu apa pun.

Dia mencoba memeriksa keadaan di sekelilingnya, sama sekali tidak ditemukan tanda-tanda kalau ada orang yang pernah mendatangi tempat itu.

Lalu, apakah artinya dia sudah memusnahkan naskah asli itu sejak awal?

Berarti tujuan kedatangannya adalah untuk mencari Wi Hong-nio dan menuturkan kejadian yang sebenarnya, ataukah mungkin naskah asli itu sudah keburu diambil seseorang?

Untuk beberapa saat Tong Hoa berdiri sangsi, dia tak berani mengambil kesimpulan apa pun.

Menurut perkiraannya, sepertinya Wi Hong-nio belum tahu kalau di depan rumahnya terkapar sesosok mayat.

Bila dia tahu ada kejadian seperti ini, dengan tabiatnya, sudah pasti jenasah tersebut akan segera dikuburnya atau menyuruh orang untuk menggotongnya pergi.

Tak nanti dia membiarkan mayat itu tetap terbaring di sana.

Dalam hal ini dia merasa sangat yakin.

Itu berarti naskah aslinya telah diambil oleh seseorang yang kebetulan lewat tempat itu.

Dia berpendapat perkiraannya paling mendekati kebenaran.

Gedung Keluarga Tio terletak sedikit di luar kota, jarang orang berlalu-lalang di sana.

Selama berapa hari tinggal di situ, belum pernah ia menyaksikan banyak orang yang lewat di sekitar sana.

Satu-satunya yang bisa membuat dia agak tenang adalah hasil perkiraannya.

Tampaknya Pek Giok-khi datang ke sana untuk menuturkan kejadian yang sebenarnya kepada Wi Hong-nio, tapi ketika tiba di depan pintu dia sudah tak sanggup bertahan lebih jauh hingga akhirnya tewas di situ.

Lalu, apa yang terjadi dengan peti rahasia itu?

Ia tak berhasil menemukan sebuah benda berharga pun dari saku Pek Giok-khi, tapi mengapa dia membuka peti rahasianya?

Sengaja mengatur perangkap untuk menipunya?

Pek Giok-khi pasti sudah menduga kalau dirinya bakal balik lagi kesana, dia pun kuatir dirinya belum tentu bisa mencapai gedung keluarga Tio sehingga menggunakan jurus tersebut untuk mengacaukan jalan pikirannya?

Tong Hoa sama sekali tak yakin.

Dengan perasaan was-was dia meloncat ke atas atap rumah lalu memeriksa sekeliling bangunan itu.

Ia menyaksikan cahaya lentera masih bersinar terang di balik kamar Wi Hong-nio, tanda bahwa dia masih ada di dalam.

Setelah memeriksa keliling sejenak, dia lalu melompat turun, menyeret mayat Pek Giok-khi ke balik semak belukar kemudian pergi meninggalkan tempat itu.

Dalam keadaan seperti ini dia hanya bisa pasrah pada nasib.

Kembali ke dalam kamarnya, Tong Hoa menghabiskan sepoci arak.

Bab 16.

Kecerobohan Sepeninggal Bu-ki, Wi Hong-nio hanya duduk sendirian di dalam gardu kebun, dia tidak kembali ke kamarnya.

Sambil duduk ia membayangkan kembali seluruh kenangannya bersama Bu-ki, dia merasa nasib telah mempermainkan mereka berdua.

Hari perkawinan yang sebenarnya merupakan hari paling bahagia tiba-tiba berubah jadi hari kematian ayah Bu-ki, hari terbunuhnya Tio Kian, kejadian yang membuat perkawinan mereka batal dilangsungkan.

Kemudian ketika bersua dalam sekilas pandangan di bukit Kiu-hoa-san, dia nyaris tak bisa mengenali wajah Bu-ki.

Selanjutnya mereka berjumpa di kamar rahasia dalam Benteng Keluarga Tong, perjumpaan sekejap yang diikuti perpisahan, perpisahan yang terasa bagaikan perpisahan antara mati dan hidup.

Dan baru saja, lagi-lagi mereka hanya berjumpa dalam sekejap, jangan lagi bermesraan, untuk mengucapkan sepatah kata pun tak sempat.

Nasib macam apakah kehidupan mereka ini?

Wi Hong-nio terbungkam, dengan termangu-mangu diawasinya langit jauh di atas sana.

Walaupun awan putih telah berlalu, tetap tak ada satu jawaban pun yang bisa menjawab semua kegundahan di hatinya.

Semakin jauh berpikir, tiba-tiba dari hati kecilnya muncul satu pemikiran yang aneh.

Ia berpikir, mungkinkah Bu-ki tiba-tiba berbalik kembali ke sana hanya karena ingin berkumpul lebih lama dengannya, berbagi kehangatan bersamanya?

Terhadap pemikiran semacam ini dia merasa sedikit agak geli, mana mungkin Bu-ki akan berbuat demikian?

Dia seorang pemuda berdarah panas yang mementingkan balas dendam, belum pernah sikap dan pendiriannya berubah hanya karena persoalan cinta kasih.

Walaupun ia merasa jalan pikiran seperti ini amat menggelikan, namun ia tetap berpikir terus bahkan berharap jalan pikirannya itu menjadi kenyataan.

Itulah sebabnya dia duduk terus di gardu, duduk menanti sambil mendengarkan suasana di luar pintu, memperhatikan semua gerakan di situ.

Harapan berlalu sangat lambat, tapi lambat atau tidak, waktu tetap bergulir terus tanpa henti.

Biarpun matahari bergeser sangat lambat, namun akhirnya sampai juga di langit barat, tenggelam di kaki langit dan akhirnya lenyap dari pandangan.

Langit dari warna biru berubah jadi merah, lalu dari merah berubah jadi kelabu, akhirnya dari kelabu berubah jadi hitam, kemudian bintang-bintang bertaburan di angkasa, berkelap-kelip tiada henti.

Di saat Tong Hoa berkunjung sekali lagi ke Pesanggrahan Kemala Putih, tiba-tiba Wi Hong-nio mendengar suara langkah kaki di luar pintu gerbang rumah.

Dia tidak bergerak, ia hanya mendengarkan dengan hatihati, sementara pikirannya bergolak.

Bu-ki kah yang datang?

Apakah dia benar-benar telah balik?

Dia menunggu, menunggu terus dan akhirnya...

"Blaaam!"

Sesuatu jatuh di depan pintu.

Dengan amat terperanjat ia memburu ke luar pintu, tapi begitu pintu gerbang terbuka, lagi-lagi ia dibuat terkesiap.

Ia menjumpai Pek Giok-khi roboh terjerembab di lantai, dalam tangan kanannya tergenggam setumpuk kertas yang cukup tebal.

Ia membungkuk sambil memeriksa napas Pek Giok-khi dengan jari tangannya, namun tak ada tanda-tanda kehidupan, menunjukkan bahwa orang itu sudah mati.

Mengapa ia datang kemari dalam keadaan luka separah itu?

Mau apa dia datang kemari?

Minta pertolongan?

Sambil berpikir Wi Hong-nio mulai membuka jari tangan orang itu dan mengambil tumpukan kertas yang digenggamnya.

Ia membuka lembaran kertas itu dan mulai membacanya, tak lama kemudian ia berdiri tertegun, terkejut bercampur ngeri.

Kenapa isinya sama persis seperti isi buku harian yang dibacanya?

Setelah berpikir sejenak, tiba-tiba ia tersadar kembali, ia tahu apa yang terjadi.

Bersama dengan itu, dia pun paham dan mengerti kejadian apa yang sebenarnya sedang berlangsung.

Dia segera mengingat-ulang semua kejadian yang telah dialaminya selama ini, dimulai dari Tong Hoa berusaha mendekatinya, mengajaknya kabur dari Benteng Keluarga Tong, kembali ke tempat ini, menemukan ruang rahasia dan akhirnya menemukan buku harian...

Dengan cepat gadis ini menemukan banyak kecerobohan yang telah dia lakukan selama ini, kecerobohan yang sama sekali tidak disadarinya.

Kenapa Tong Hoa bisa begitu tergila-gila kepadanya?

Sedemikian tergila-gilanya hingga tak segan mengkhianati Benteng Keluarga Tong dan membawanya melarikan diri?

Ia kelewat bodoh, kelewat tolol, atau mungkin inilah penyakit yang sering diderita kaum gadis muda?

Selalu mengira orang lain sudah tergila-gila kepadanya, menganggap dirinya sangat memukau, sangat memabukkan, walaupun ia belum tentu menyukai orang tersebut.

Inilah kecerobohan pertama yang dia lakukan.

Ketika Tong Hoa mengajaknya melarikan diri dari Benteng Keluarga Tong, kendati dia berkata sangat hapal dengan semua jalur keluarnya, tapi...

mungkinkah sedemikian gampangnya mereka berhasil kabur dari situ?

Apalagi sewaktu menggunakan bahan peledak untuk meledakkan lorong rahasia.

Mungkinkah suara ledakan yang begitu keras tak sampai memancing perhatian para jago Benteng Keluarga Tong?

Kenapa di tempat itu tiba-tiba bisa muncul sebuah lorong rahasia?

Masa ada kejadian yang begitu kebetulan?

Inilah kecerobohannya yang kedua.

Setibanya di gedung keluarga Tio, ternyata Tong Hoa berhasil menemukan tombol rahasia yang membuka ruangan tersembunyi, lalu dia pun berhasil menemukan patung Naga Kemala Putih.

Memangnya pemuda itu luar biasa lihaynya sehingga segala sesuatu berhasil dia pecahkan seorang diri?

Padahal Bu-ki sangat hapal dengan tempat itu, dia pun tidak menemukan apa-apa setibanya di situ, kenapa justru Tong Hoa yang datang belakangan bisa menemukan semua rahasia itu?

Inilah kecerobohannya yang ketiga.

Setelah berhasil menemukan buku harian, dalam waktu singkat ternyata Tong Hoa berhasil juga mendapat tahu kalau Bu-ki dalam perjalanan pulang, bahkan berdalih kurang leluasa bila tetap tinggal di sana, lantas berpamitan.

Bukankah dia pernah bilang kalau dirinya tergila-gila padanya?

Bahkan harus terjun ke lautan api pun dia tak akan menolak?

Kenapa sekarang malah berpamitan hanya untuk alasan kurang leluasa?

Inilah kecerobohannya yang keempat.

Kecerobohan yang luar biasa, kecerobohan yang tak bisa dimaafkan!

Memang begitulah manusia, harus menyaksikan dulu seluruh kenyataan yang ada, baru menyaksikan kelemahan-kelemahan yang telah dilakukannya dulu.

Reaksi pertama yang dilakukan Wi Hong-nio adalah segera pergi mencari Tio Bu-ki.

Ia memperhatikan mayat itu sebentar, satu ingatan segera melintas dalam benaknya.

Orang itu dengan mempertaruhkan nyawa telah berusaha datang ke sini, jelas tujuannya adalah untuk mengungkap kejadian yang sebenarnya, sebagai balas jasa kebaikan itu, bukankah dia berkewajiban untuk menguburkan mayatnya?

Tapi ingatan lain kembali melintas, orang ini diburu seseorang untuk dibunuh, berarti ada orang ingin membungkam mulutnya serta menghilangkan saksi.

Seandainya sang pembunuh menyusul sampai ke sini dan tidak menemukan mayatnya, pembunuh itu masih akan menghubungkan hilangnya sang mayat dengan kehadiran dirinya di situ, atau dengan perkataan lain, pembunuh itu sadar kalau dia telah mengetahui duduk perkara yang sebenarnya.

Dengan begitu pihak Benteng Keluarga Tong pasti akan merubah rencananya, bisa jadi mereka akan menggunakan siasat lain yang lebih keji untuk menghadapi Tio Bu-ki dan paman Siangkoan.

Mana bisa dia membiarkan orang Keluarga Tong tahu bahwa dirinya telah mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya?

Setelah mengambil tumpukan kertas yang yang ada di tangan mayat itu, buru-buru dia kembali ke dalam rumah bahkan sengaja memasang lentera dan duduk di tepi jendela, ia berlagak seakan tidak tahu ada yang telah terjadi di luar sana.

Dia percaya pembunuh itu segera akan tiba di situ, datang dengan mengikuti bercak darah yang berceceran sepanjang jalan.

Ternyata dugaannya tepat sekali, sayang dia tak tahu kalau orang itu adalah Tong Hoa.

Lebih-lebih ia tidak tahu sejak kapan pemuda itu tiba di sana.

Berada di dalam kamarnya, dia tak bisa memperhatikan keadaan di luar, ditambah lagi gerakan tubuh Tong Hoa memang sangat ringan sehingga tidak menimbulkan sedikit pun suara.

Maka Wi Hong-nio hanya bisa menunggu dan menunggu, makin menunggu hatinya makin gelisah bercampur cemas, apakah orang itu sudah datang?

Dia ingin sekali keluar dari kamar untuk memeriksanya, tapi kuatir bertemu dengan orang itu.

Tapi dia pun ingin secepatnya pergi mencari Bu-ki dan menyampaikan berita ini kepadanya, dia tak ingin kekasih hatinya ini termakan oleh rencana busuk Benteng Keluarga Tong.

Menanti dalam suasana gelisah dan tak tenang memang amat menyiksa batin, bukan saja pikirannya bertambah kalut, sang waktu pun seolah berjalan dengan merayap.

ooooOOoooo Akhirnya kentongan kedua tiba juga, Wi Hong-nio memutuskan untuk tidak menunggu lagi, sebab menurut perkiraannya, orang yang seharusnya datang semestinya sudah datang sejak tadi, bisa jadi orang itu jauh lebih tak sabaran ketimbang dirinya.

Tergopoh-gopoh dia keluar dari kamar, menuju ke pintu gerbang dan membukanya.

Kini ia bisa menghembuskan napas lega, ternyata mayat orang itu sudah lenyap.

Hal ini membuktikan kalau dugaannya tepat, orang yang membunuh Pek Giok-khi telah berkunjung ke sini dan menyingkirkan mayat itu.

Tentu saja ia kuatir kalau sampai diketahui jati-dirinya.

Sedikit banyak ia berterima kasih juga kepada orang itu, karena telah membantunya menguburkan mayat orang itu hingga dirinya tak perlu membuang waktu dan tenaga lagi.

Bila punya uang, setan pun bisa diperintah untuk menggiling tepung, apalagi hanya menyewa kereta kuda untuk melakukan perjalanan malam?

Kendati Wi Hong-nio sangat jarang berkelana dalam dunia persilatan, namun dia masih cukup tahu arah benteng Siangkoan-po.

Si kusir kuda adalah pedagang tulen, setelah menerima uang sewa tentu saja ia bekerja keras, kereta kudanya dilarikan kencang, sedemikian kencang membuat gadis itu agak pusing kepalanya.

Tapi demi menyusul Bu-ki, apa artinya pusing kepala?

Dalam hati ia terus menerus berdoa, dia berharap Bu-ki tidak menempuh perjalanan malam, dia berharap saat itu Bu-ki sedang beristirahat, dengan begitu ia baru punya kesempatan untuk menyusulnya, tiba lebih dulu di Benteng Siangkoan-po.

Kentongan ketiga sudah lewat, Tong Hoa masih meneguk arak seorang diri, setiap kali habis meneguk secawan, dalam pikirannya terbayang pula wajah seseorang yang tak diketahui namanya.

Wajah itu sangat buram, wajah yang tak mungkin bisa berubah jadi jernih dan terang, karena yang sedang ia pikirkan adalah orang yang telah mengambil naskah asli dari tangan Pek Giok-khi.

Baru setelah ia menghabiskan cawan yang keduapuluh tujuh, satu ingatan melintas dalam benaknya.

Mungkinkah Wi Hongnio yang telah melarikan naskah asli itu?

Mungkinkah dia yang sedang bermain sandiwara?

Dengan cepat ia melompat bangun, dia menyesal, mengapa selama ini selalu mengesampingkan pemikiran semacam ini.

Dipukulnya batok kepalanya sendiri keras-keras, kemudian menerjang keluar dari kamar dan langsung menuju ke gedung keluarga Tio.

Tiba di depan pintu gerbang dia pun tidak mengetuk pintu, dengan sekali lompat dia melewati pagar pekarangan langsung turun di tengah halaman.

Ia menemui kamar Wi Hong-nio masih seperti tadi, cahaya lentera menerangi seluruh ruangan.

Perlahan-lahan dia menghampiri jendela, dengan jari tangan yang dibasahi ludah dia membuat sebuah lubang kecil di kertas jendela kemudian mengintip ke dalam.

Ternyata Wi Hong-nio tidak ada di situ.

Ia menerjang masuk, membuka pintu dan mendekati pembaringan.

Seprei masih dalam keadaan rapi, tanda perempuan itu tidak pernah membaringkan diri, dia menghampiri lemari dan membukanya.

Ternyata isi lemari kosong, semua pakaian yang semula ada di situ kini hilang lenyap.

Semua ini menunjukkan apa?

Tentu saja tanda kalau Wi Hong-nio sudah meninggalkan tempat itu!

Goblok!

Tolol!

Dogol!

Tak hentinya dia memaki diri sendiri.

Biarpun dalam hati memaki terus, kakinya sama sekali tak berhenti berlari.

Dia keluar dari gedung keluarga Tio kemudian mencari tahu apakah ada seorang gadis yang melakukan perjalanan malam.

Jawaban diterima dalam waktu singkat.

Dia pun mencari seekor kuda lalu melakukan pengejaran dengan cepat.

Ooo)))(((ooo Benteng Siangkoan-po.

Ketika Tong Ou dan Siangkoan Ling-ling tiba di situ, kedatangan mereka disambut dengan sangat meriah.

Di Benteng Siangkoan-po, Tong Ou sengaja tiap hari menemui Sangkoan Jin untuk diajak merundingkan rencana berikut dalam usahanya menyerbu benteng Tayhong-tong, setiap kali berunding dia sengaja pulang larut malam.

Setiap kali selesai berunding sampai larut malam, dia pun sengaja memberitahukan hal ini kepada Siangkoan Ling-ling, agar gadis itu tahu kalau ayahnya amat penat dan menderita.

Tentu saja dia mendesaknya agar menjalankan kewajibannya sebagai seorang putri yang berbakti.

Untuk menunjukkan bakti serta cintanya, tentu saja tak ada cara yang lebih baik daripada membuatkan semangkok jinsom berusia ribuan tahun.

Tentu saja cara ini merupakan cara yang paling berbakti.

Oleh sebab itu setiap hari, setiap kentongan pertama nona ini selalu turun tangan sendiri membuatkan semangkuk kaldu ayam untuk ayahnya.

Menyaksikan cinta dan bakti putrinya, Sangkoan Jin sebagai seorang ayah tentu saja tak pernah menaruh curiga.

Maka setiap kali disuguhi kaldu ayam, dia selalu meneguknya hingga habis.

Tong Ou ikut girang.

Tapi yang membuatnya sangat gembira adalah setiap kali melihat mangkuk berisi kaldu itu diteguk Sangkoan Jin hingga habis, setetes pun tak tersisa.

Dia tahu, rencananya makin lama makin mendekati puncak keberhasilan yang gemilang.

Racun yang digunakan adalah racun bersifat lambat, bila tidak mengerahkan tenaga dalam, siapa pun tak akan menemukan gejala atau tanda-tanda yang mencurigakan.

Bahkan sewaktu mengatur napas pun tak akan dirasakan.

Racun itu baru bekerja bila seseorang sudah mengerahkan tenaga dalamnya hingga mencapai paling puncak.

Saat itulah seluruh kekuatannya akan runtuh, bahkan untuk mengerahkan tiga bagian tenaganya pun tak akan mampu.

Tong Ou percaya, dengan kepandaian silat Tio Bu-ki, bukan masalah bagi pemuda itu untuk bertarung hingga ratusan jurus melawan Sangkoan Jin.

Sebaliknya bagi Sangkoan Jin, pertarungan sebanyak seratus jurus akan banyak menguras tenaganya bahkan kekuatannya akan mengalami goncangan keras.

Keadaan semacam inilah yang dia harapkan karena akan mencipta-kan kesempatan bagi Bu-ki untuk membunuh Sangkoan Jin.

Menanti pemuda itu berhasil menghabisi Sangkoan Jin, Tong Ou baru akan menceritakan kejadian yang sesungguhnya bahwa rencana Naga Kemala Putih adalah hasil rancangannya, rencana yang khusus dia ciptakan untuk menandingi siasat Harimau Kemala Putih.

Dia bisa membayangkan reaksi Tio Bu-ki pada saat itu, dia pasti akan merasakan pukulan batin yang amat berat, seluruh jiwanya pasti akan roboh.

Berpikir sampai di situ Tong Ou tak bisa menahan diri lagi, ia segera tertawa terbahak-bahak.

Jika Tio Bu-ki sudah rontok, jago mana lagi yang bisa diandalkan Tayhong-tong?

Saat itu, bukankah seluruh dunia persilatan akan jatuh ke dalam cengkeramannya?

Dengan penuh rasa bangga dia menenggak arak seorang diri.

Dia yang biasanya kurang begitu suka minum arak, hari ini telah menenggak susu macan hingga setengah mabuk, sedemikian mabuknya hingga dia sendiri pun tak tahu sejak kapan dia sudah tertidur di atas ranjangnya.

Bu-ki tahu dengan jelas kapan dia naik ke ranjang untuk tidur, sebab dia sudah menempuh perjalanan siang malam, jangan lagi makan, air setetes pun belum pernah membasahi kerongkongannya apalagi memejamkan matanya untuk beristirahat.

Tapi berjalan terlalu lama membuatnya benar-benar penat.

Ia tahu dirinya sudah tak memiliki kekuatan cukup untuk menempuh perjalanan, jika tidak dipaksakan untuk beristirahat, jangan harap dia bias mengalahkan Sangkoan Jin.

Maka dia harus mencari tempat untuk beristirahat dan tidur yang nyenyak.

Lebih baik agak terlambat membalas dendam daripada sama sekali tak berkesempatan melakukan pembalasan.

Itu alasannya mengapa dia mencari sebuah rumah penginapan dan tidur dengan nyenyaknya.

Ooo)))(((ooo Tidak demikian dengan pemikiran Wi Hong-nio, yang ia pikirkan waktu itu adalah melakukan perjalanan secepat-cepatnya.

Pada pendapatnya, kereta boleh berjalan terus sementara dia bisa menggunakan kesempatan itu untuk beristirahat dalam kereta.

Dia cukup tahu, tidur sangat penting untuk memulihkan kekuatan, orang yang kurang tidur tubuhnya akan lemah.

Kusir kuda yang dia sewa dua orang, mereka bisa tidur secara bergiliran, karenanya kereta kuda tetap dilarikan kencangkencang.

Goncangan kereta tidak membuat tidur Wi Hong-nio kurang lelap, dia justru tertidur sangat nyenyak, saking nyenyaknya sampai bermimpi.

Entah berapa lama waktu sudah lewat, mendadak ia terbangun dari tidurnya.

Begitu terbangun, hatinya merasa kaget.

Kenapa kereta kuda tidak berlari lagi?

Ini alasan pertama yang membuatnya tercengang.

Buru-buru dia bangkit berdiri, menyingkap tirai kereta dan melongok keluar.

Dua orang kusirnya sudah tak nampak lagi batang hidungnya, yang tersisa hanya dua ekor kuda penghela kereta yang sedang makan rumput.

Dia keluar dari kereta dan celingukan ke empat penjuru, ternyata kereta itu diparkir di bawah sebuah pohon besar yang rindang, tapi karena hari baru saja terang tanah, suasana di sekelilingnya tampak hening dan sepi.

Ke mana perginya kedua orang kusir kereta itu?

Karena lupa menanyakan nama mereka, maka dia pun tak tahu bagaimana harus memanggil orang-orang itu.

Dalam keadaan begini terpaksa dia hanya bisa duduk di luar kereta, mengawasi kuda-kudanya yang merumput dengan termenung.

Sementara itu mendadak ia merasa seakan ada seseorang sedang mengawasinya, dia mengira para kusir kereta telah kembali, maka dia pun mendongakkan kepalanya.

Hampir saja jantungnya berhenti berdetak, apa yang terlihat olehnya hampir-hampir membuatnya mati lantaran kaget.

Ternyata orang yang sedang mengawasinya bukan sang kusir kereta, melainkan Tong Hoa.

Tong Hoa berdiri di bawah pohon dengan senyuman menghiasi wajahnya.

Sambil tersenyum selangkah demi selangkah ia berjalan mendekat.

Untuk sesaat Wi Hong-nio jadi gelagapan, dia tak tahu harus membalas senyuman itu atau jangan, sikapnya amat kalut, tapi akhirnya dia mengulumkan juga senyumannya.

"Nyenyak tidurmu?"

Sapa Tong Hoa sambil berjalan mendekat. Wi Hong-nio tidak menjawab, untuk sesaat dia hanya bisa mengawasi pemuda itu dengan termangu.

"Aku khusus kemari untuk mencarimu,"

Kembali Tong Hoa berkata.

"tapi karena melihat tidurmu amat nyenyak, maka aku menunggu sambil berjalan-jalan di sekitar sini."

Wi Hong-nio celingukan memandang sekeliling tempat itu sekejap, tanyanya.

"Mana kusir kudaku?"

"Mereka sudah kusuruh pergi. Jangan kuatir, aku tak nanti membunuh mereka yang tak bersalah!"

"Ada urusan apa kau datang mencariku?"

Tanya si nona kemudian setelah berhasil menenangkan pikirannya.

"Tidak ada yang penting, aku hanya rindu padamu!"

"Rindu padaku? Kalau begitu, bagaimana kalau kau temani aku melanjutkan perjalanan?"

"Bagus, tentu saja bagus. Jelas merupakan satu kehormatan bagiku!"

Sambil berkata, dia segera naik ke atas kereta dan duduk di kursi kusir, sekali sentak tali les kuda, kereta pun berputar arah.

"Jangan, jangan, jangan ke sana!"

Seru Wi Hong-nio lagi.

"aku mau pergi ke arah sana!"

"Kau keliru,"

Kata Tong Hoa seraya berpaling.

"aku hanya bisa menemanimu untuk balik ke arah sana!"

"Kenapa?"

"Sebab aku tidak berharap kau berjumpa lagi dengan Tio Bu-ki!"

"Tampaknya cemburumu semakin besar saja?"

"Aku justru melihat kemampuan sandiwaramu makin lama makin hebat!"

"Aku bersandiwara? Aku sedang bermain sandiwara? Sandiwara apa?"

Tong Hoa tertawa licik, kembali dia menghentikan lari kudanya sambil berkata.

"Kemarin, kau sudah membohongi aku semalaman suntuk, apakah sekarang kau masih ingin membohongi aku lagi?"

Wi Hong-nio tahu, rupanya pemuda itu sudah mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya, maka segera jawabnya.

"Siapa suruh kau menipuku lebih dulu dengan menggunakan siasat busukmu?"

"Aku hanya melaksanakan perintah,"

Dengan sikap apa boleh buat Tong Hoa mengangkat bahunya.

"Bagaimana sekarang? Menghalangi kepergianku juga merupakan bagian dari perintah itu?"

"Tentu saja bukan, ini kemauanku sendiri."

"Kalau memang begitu, biarkan aku pergi!"

"Tidak bisa."

"Kenapa tidak bisa?"

"Jika kau ke sana berarti rencana Naga Kemala Putih akan terancam gagal total. Itu berarti tugas yang kujalankan telah gagal, atas kegagalan ini aku akan menerima hukuman. Tentunya kau tidak berharap aku memperoleh hukuman bukan?"

"Keliru!"

Teriak Wi Hong-nio lantang.

"aku justru berharap rencana kalian itu bakal gagal total!"

Habis berkata tiba-tiba ia mencabut pedangnya dan langsung ditusukkan ke tubuh Tong Hoa.

Tentu saja Tong Hoa tak akan memandang sebelah mata ilmu silat yang dimiliki gadis ini, dalam anggapannya dia adalah seorang gadis yang memegang pedang pun tak becus.

Karenanya dia menghindar ke samping sekenanya dan sudah lolos dari tusukan tersebut.

Padahal Wi Hong-nio memang sengaja menusuk sekenanya, sebagaimana diketahui ia pernah belajar ilmu pedang dari Siau Tang-lo ketika berada di bukit Kiu-hoa-san, ditambah lagi ia memang memiliki bakat yang bagus maka kepandaiannya dalam menggunakan pedang sudah mencapai satu taraf yang cukup hebat.

Hanya saja gadis ini tak ingin bertindak gegabah, dia sadar kemampuan yang dimilikinya masih bukan tandingan Tong Hoa.

Jika ingin memenangkan orang itu maka dia harus mengunggulinya dengan menggunakan akal dan kecerdasan.

Dengan pikiran itulah maka dia sengaja berlagak tak tahu ilmu silat dan menusuk sekenanya.

Benar saja, perbuatannya itu berhasil mengelabui Tong Hoa, di saat dia berkelit dengan sekenanya itulah mendadak Wi Hong-nio mempercepat gerak serangannya, pedang yang ada di tangannya seakan sekuntum bunga yang sedang mekar, tiba-tiba mengebas ke kiri lalu menyelinap ke kanan, langsung menusuk jalan darah penting di dada lawan.

Tong Hoa jadi gelagapan dibuatnya, untung ilmu silatnya terhitung cukup hebat, kalau tidak mungkin dia sudah tewas di ujung pedang gadis itu.

Kendati begitu, ia keteter juga dibuatnya hingga tersudut dalam kondisi yang berbahaya.

Pakaian yang dikenakan tampak tertusuk di beberapa tempat hingga robek tak karuan.

Sejak belajar ilmu pedang dari Siau Tang-lo, baru pertama kali ini Wi Hong-nio menggunakannya untuk menyerang orang, pada mulanya gerak serangannya masih kelihatan kaku, namun makin lama gerakannya makin lancar dan cepat, pedangnya digerakkan sedemikian rupa hingga membentuk selapis jaring pedang yang luar biasa.

Begitu melepaskan serangannya yang keenam, ujung pedangnya yang tajam berhasil menyambar pergelangan tangan kiri Tong Hoa, darah segar segera menyembur keluar dari luka yang memanjang itu.

Dengan cekatan Tong Hoa menjatuhkan diri ke tanah, kemudian bagaikan gasing dia menggelinding menjauh dan menyelinap ke balik kereta kuda.

Menggunakan kesempatan itu buru-buru dia meloloskan pedangnya dan bersiap-siap menghadapi serangan berikutnya.

Wi Hong-nio memang tak punya pengalaman dalam bertarung, ketika melihat Tong Hoa kabur ke belakang kereta, dia pun tidak berusaha untuk mengejar, sebaliknya gadis itu malah berdiri di atas kereta sambil mengawasi lawannya tanpa berkedip.

Diam-diam gadis itu merasakan jantungnya berdebar keras, bagaimanapun selama hidupnya baru pertama kali ini dia melukai tubuh orang hingga berdarah, untuk beberapa saat lamanya dia hanya berdiri diam tanpa melakukan sesuatu.

Tong Hoa bukan orang dungu, dari perubahan raut muka gadis itu, dia segera dapat menebak apa yang sedang dipikirkan, mendadak dia buang pedangnya ke tanah dan berjalan menghampiri sambil serunya.

"Bunuhlah aku bila kau ingin melakukannya!"

Wi Hong-nio malah dibuat tertegun oleh ucapan tersebut, pedang nya kembali diturunkan, dengan wajah menyesal katanya.

"Biarkan aku pergi!"

"Tidak, jika kau akan pergi, bunuhlah aku lebih dahulu. Toh sekembaliku ke Benteng Keluarga Tong, aku tetap akan diganjar mati, daripada mati tersiksa lebih baik mati saja di ujung pedangmu."

Untuk beberapa saat lamanya Wi Hong-nio terbungkam, ia memandang pedang dalam genggamannya sekejap lalu memandang pula ke arah Tong Hoa, pikiran dan perasaannya amat kalut, untuk sesaat dia tak tahu apa yang harus diperbuat.

Menggunakan kesempatan itu Tong Hoa berjalan mendekat, kembali katanya.

"Ayoh, cepat turun tangan!"

Ketika Wi Hong-nio masih tetap sangsi, Tong Hoa sudah maju mendekat dan merebut pedang di tangannya.

Perempuan itu sama sekali tidak menjadi gusar atau terkesiap, reaksinya tetap tenang, karena baru saja dia mengambil keputusan, apa pun yang bakal terjadi, dia tak ingin tangannya ternoda darah.

Setelah merampas pedang itu, dengan wajah menyesal Tong Hoa berkata lagi.

"Aku terpaksa harus bertindak begini, harap kau jangan marah."

Wi Hong-nio tertawa getir.

"Tidak apa apa, toh aku sudah putuskan, tak akan membunuh siapa pun."

Ketika Tong Hoa menyodorkan kembali pedangnya, Wi Hong-nio segera menggeleng.

"Sudahlah, aku tidak membutuhkan pedang itu lagi, ambil saja buatmu!"

"Apa gunanya aku punya dua bilah pedang? Lebih baik simpan sebilah untuk menjaga diri,"

Ujar Tong Hoa sambil tertawa.

"Tidak, ilmu pedang yang kupelajari adalah ilmu untuk membunuh manusia, bukan untuk melindungi diri, tidak baik bila kusimpan terus pedang itu."

"Bila ingin melindungi diri dari ancaman, tentu saja kau harus berusaha untuk membunuh lawan!"

"Aku tahu, itulah sebabnya kuputuskan tidak akan menggunakan pedang lagi."

"Kalau begitu buang saja, aku harus pergi sekarang!"

"Pergi?"

Paras muka Tong Hoa agak berubah.

"hendak ke mana kau?"

"Pergi mencari Bu-ki!"

Mendadak Tong Hoa mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Hei, apa yang kau tertawakan?"

Tegur nona itu.

"Aku sedang menertawakan kau!"

"Menertawakan apa?"

"Menertawakan dirimu yang kelewat bodoh."

"Aku bodoh? Di mana letak kebodohanku?"

"Kau tidak merasa kalau dirimu bodoh? Sekarang kau sudah tak berpedang, memangnya aku akan membiarkan kau pergi?"

"Kenapa kau melarangku pergi? Bukankah barusan aku telah berhasil mengunggulimu? Aku hanya tak ingin membunuhmu saja, kenapa aku tak boleh pergi?"

Sekali lagi Tong Hoa tertawa tergelak, dia tertawa dengan riangnya.

"Bukankah sudah kukatakan? Jika kau bersikeras akan pergi, bunuhlah aku terlebih dulu!"

"Aku tetap akan pergi dari sini, namun aku pun tak akan membunuhmu!"

"Bagaimana caranya?"

"Caranya? Kau pergi ke tempat yang kau suka, aku pun akan pergi ke tempat yang kupilih, bukankah semua jadi beres?"

"Tidak bisa nona besarku, aku tak akan membiarkan kau pergi ke sana!"

"Bagaimana sih kamu ini? Mengapa terus-terusan ngotot? Sudah kalah masih belum mau mengakui kekalahannya? Kau tetap tidak membiarkan aku pergi?"

"Menang atau kalah bukan persoalan, yang penting dalam masalah ini, justru adalah mati atau hidup, asal kau bunuh aku, kau boleh pergi, bila membiarkan aku tetap hidup maka kau tak boleh ke sana."

"Baiklah! Kalau begitu kembalikan pedangku, akan kubunuh dirimu."

Sekali lagi Tong Hoa tertawa terbahak-bahak.

"Ha ha ha ha... coba lihat, sudah begini masih belum mau mengaku kalau dirimu bodoh? Dalam keadaan seperti ini, memangnya aku akan menyerahkan pedang ini kepadamu? Apalagi kemenangan yang berhasil kau raih tadi hanya kebetulan saja, kau menyerang di saat aku tak siap. Sekarang, biarpun kau berpedang belum tentu sanggup mengungguli aku!"

"Jadi kau memang manusia macam begitu?"

"Bukan, aku bukan manusia begitu!"

"Bagus sekali kalau begitu,"

Seru Wi Hong-nio kemudian.

"aku tahu, kau memang sengaja berkata begitu bukan?"

"Salah besar! Sekalipun aku bukan manusia macam begitu, namun situasi yang mendesak memaksa aku mau tak mau harus berbuat begitu."

"Maksudmu, kau tetap tidak membiarkan aku pergi?"

"Aku terpaksa harus berbuat begitu, maaf."

Wi Hong-nio jadi sewot setengah mati, dengan napas terengah-engah karena menahan luapan emosi, serunya.

"Ternyata aku telah salah menilai dirimu!"

"Aku benar-benar minta maaf."

"Sudahlah, tak usah banyak bicara lagi, aku tetap akan pergi dari sini, tampaknya kali ini tiba giliranmu yang harus membunuh aku."

Selesai berkata, ia segera beranjak pergi dengan langkah lebar. Tong Hoa sama sekali tidak menghalangi, dia hanya mengintil terus di samping Wi Hong-nio, mengikutinya ke mana pun dia pergi.

"Kenapa kau tidak menghalangi aku?"

"Sebab bila melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, kau tak akan mampu menyusul Tio Bu-ki!"

"Lalu kenapa kau masih mengikuti diriku terus?"

"Pertama aku harus melindungi dirimu, kedua, aku harus menghalangi kau menyewa kereta kuda."

"Kau...."

Dengan napas tersengal karena marah, Wi Hongnio menuding hidung Tong Hoa, makinya.

"kau memang manusia yang payah!"

"Aku telah mengemukakan semua maksud dan tujuanku secara jelas, kenapa kau bilang aku payah?"

Wi Hong-nio berpaling sekejap ke arah lain, lalu ujarnya.

"Sudahlah, aku tak ingin berdebat denganmu, toh akhirnya aku yang kalah, Cuma kau harus tahu, apa pun yang terjadi aku tetap akan ke sana, aku pun pasti akan menemukan kembali kusir keretaku untuk melanjutkan perjalanan!"

"Baiklah, kalau kau memang bersikeras terus, biar aku yang menghantar kau menuju ke sana."

Wi Hong-nio seakan tak percaya dengan pendengaran sendiri, ia membelalakkan matanya lebar-lebar, diawasinya wajah Tong Hoa tanpa berkedip. Sungguh? serunya tertahan.

"Tentu saja sungguh, mari, kita segera balik ke kereta!"

Setelah naik ke atas kereta, Wi Hong-nio baru percaya kalau apa yang dikatakan Tong Hoa memang benar.

Tong Hoa duduk di tempat kusir, dia menarik tali les kuda dan kereta pun mulai bergerak meninggalkan tempat itu.

Pada mulanya Wi Hong-nio merasa sangat gembira, karena ternyata Tong Hoa bersedia membantunya, tapi setelah berjalan beberapa saat ia baru sadar bahwa ada sesuatu yang tidak beres, ternyata arah yang ditempuh kereta kuda itu menuju ke tempat yang berlawanan.

"Berhenti!"

Ia segera berteriak. Tong Hoa segera menghentikan keretanya.

"Ada apa?"

Dia bertanya.

"Kau sedang membohongi aku! Bukankah ini jalan balik?"

"Benar, bukankah aku sudah bilang akan mengantarmu pulang?"

"Kau tak usah berlagak pilon, seperti tidak tahu ke mana aku hendak pergi! Apa maumu?"

"Tentu saja aku tahu ke mana kau hendak pergi, tapi dengan keadaan dan kedudukanku sekarang, mana mungkin aku bisa mengantarmu ke sana?"

"Lalu kenapa kau mengatakan akan mengantarku?"

"Apa salahnya kalau kuantar kau pulang ke rumah? Bukankah sejak awal sudah kukatakan, kau hanya bisa melanjutkan perjalanan dengan kereta jika tujuanmu adalah balik ke Gedung Keluarga Tio?"

"Segera hentikan keretamu, aku mau turun sekarang juga!"

Melihat gadis itu bersiap-siap melompat keluar dari keretanya, Tong Hoa menghentakkan tali les kudanya hingga kereta kembali bergerak.

Tindakan sangat mendadak ini menyebabkan Wi Hong-nio hampir jatuh terjerembab.

"Lepaskan aku!"

Teriak perempuan itu lagi. Tong Hoa sama sekali tidak menggubris, dia malah melarikan kudanya makin kencang.

"Jika kau tidak segera menghentikan keretamu, aku akan melompat keluar!"

Kembali Wi Hong-nio mengancam.

Namun Tong Hoa sama sekali tidak menggubris, dia tetap melarikan keretanya kencang-kencang.

Wi Hong-nio menjadi nekad, ia benar-benar melompat dari atas kereta lalu bergulingan di tanah.

Menyaksikan ini Tong Hoa terpaksa menghentikan keretanya dan membangunkan perempuan itu.

"Jangan sentuh aku!"

Teriak perempuan itu penuh amarah.

"Aku tak ingin bertemu lagi denganmu!"

"Buat apa kau mesti marah-marah? Baiklah, kali ini aku putuskan untuk benar-benar menghantarmu."

"Sungguh?"

"Tekadmu sudah begitu bulat, aku tahu tak akan berhasil mengha-langimu. Mari, segeralah naik ke kereta!"

Kali ini Wi Hong-nio menolak untuk masuk ke dalam kereta, ia bersikeras duduk di samping Tong Hoa, katanya.

"Aku akan mengawasimu, jika kau berusaha main gila lagi, aku segera akan lompat turun dari kereta!"

Kali ini Tong Hoa tak berani main gila lagi, ia benar-benar melarikan kudanya ke arah benteng Siangkoan-po, bahkan kudanya dilarikan kencang.

Menyaksikan hal itu Wi Hong-nio menjadi sangat girang.

Sayang kegembiraannya hanya berlangsung satu jam lebih sedikit, setelah itu tiba-tiba Tong Hoa menghentikan keretanya.

Dengan heran Wi Hong-nio segera menegur.

"Kenapa kau hentikan keretamu?"

"Masa kau tidak bisa melihat sendiri?"

"Melihat apa? Wajahmu tetap segar, sama sekali tak nampak penat atau masuk angin, mengapa kau harus menghentikan kereta?"

"Tentu saja aku tidak penat, masa perjalanan sependek ini membuatku kelelahan? Tapi coba kau lihat ke depan!"

Kini Wi Hong-nio baru mendongakkan kepalanya memandang ke depan. Ternyata mereka tiba di depan sebuah persimpangan, bukan hanya bercabang dua tapi tiga! "Oh, jadi kau tidak kenal jalan?"

Tanya si nona.

"Aku tentu saja kenal, tapi kau sendiri bagaimana? Kenal jalan ini tidak?"

"Aku tidak tahu..."

"Nah itu dia!"

"Apa ada yang tak beres? Jalan saja seperti yang kau tahu!"

"Tapi, apakah kau percaya padaku?"

Begitu kata-kata itu diucapkan, langsung Wi Hong-nio terbungkam seribu bahasa.

Apakah ia percaya orang ini?

Bagaimana kalau secara sengaja dia memilih jalan yang salah?

Dia tak tahu, benar-benar tak tahu.

Lantas apa daya?

Wi Hong-nio merasa pikirannya bertambah kalut.

Menyaksikan kebingungan si nona, Tong Hoa kembali tertawa licik, ujarnya.

"Itu sebabnya aku sengaja berhenti di sini, agar kau bisa memilih jalan mana yang harus dilewati. Aku tidak mau disalahkan karena salah memilih jalan!"

"Aku tak akan menyalahkan dirimu, jalankan saja keretamu menuju ke arah benteng Siangkoan-po."

"Lebih baik kau saja yang pilih,"

Tong Hoa bersikeras dengan pendiriannya. Dengan sorot mata tajam Wi Hong-nio mengawasi Tong Hoa tanpa berkedip, kemudian serunya.

"Jadi kau punya tujuan lain? Sejak awal kau sudah tahu bahwa di sini terdapat jalan bercabang tiga kan?"

"Benar,"

Ternyata Tong Hoa mengakui.

"dan aku tak bisa membantumu untuk memilihkan jalan yang harus diambil, lebih baik kau pilihlah sendiri, jadi kalau sampai keliru, kau jangan marah kepadaku!"

Dengan termangu Wi Hong-nio mengawasi tiga persimpangan jalan yang terhampar di depan matanya. Ia sangsi, jalan yang mana yang harus dipilih? Akhirnya, setelah berpikir sebentar.

"Baiklah, aku turuti pilihanmu!"

Tong Hoa mengerling ke arahnya, tiba-tiba ia menghentakkan tali les kudanya dan menjalankan kereta itu menuju ke cabang jalan yang tengah.

"Berhenti!"

Tiba-tiba gadis itu berteriak lagi.

"Ada apa?"

"Jangan memilih jalan yang itu!"

"Lalu harus lewat yang mana?"

"Kau boleh memilih jalan yang lain kecuali jalan itu!"

Dalam pikiran Wi Hong-nio, jalan yang pertama kali dipilih Tong Hoa pastilah jalan yang keliru maka dia sengaja menyuruh pemuda itu memilihnya terlebih dulu, dengan begitu akan tersisa dua pilihan saja.

Tapi persoalannya sekarang adalah Tong Hoa akan memilih jalan yang mana?

Kini pemuda tersebut sudah tahu kalau dia sedang mencoba kejujurannya, apakah dia akan memilih jalan yang benar atau tetap sengaja memilihkan jalan yang salah?

Untuk sesaat Wi Hong-nio jadi sangsi, dia tak tahu bagaimana mesti memutuskan persoalan ini.

Tentu saja Tong Hoa sama sekali tidak memedulikan apa yang sedang dipikir Wi Hong-nio, dia segera mencemplak kudanya dan memilih jalan sebelah kanan.

Sebenarnya Wi Hong-nio ingin menggunakan siasat itu untuk mencoba kejujuran Tong Hoa, tak disangka siasatnya itu sekarang justru mempersulit diri sendiri!

Jalan yang sekarang dipilih Tong Hoa benarkah jalan yang benar?

Dia tahu, sulit sekali baginya untuk membuktikan kejujuran pemuda itu.

Dia mencoba berpaling, mengawasi wajah Tong Hoa dari samping, tapi wajah itu sangat tenang, seolah tak pernah terjadi sesuatu apa.

Dia hanya berkonsentrasi mengemudikan keretanya.

Ketenangan pemuda itu membuat Wi Hong-nio semakin sangsi, dia tak bisa menduga apa yang sedang dipikirkan Tong Hoa saat itu.

"Berhenti!"

Mendadak teriaknya lagi. Tong Hoa sangat penurut, dia benar-benar menghentikan keretanya.

"Ada apa lagi?"

"Benarkah arah yang kau pilih sekarang?"

Sengaja gadis itu bertanya, dia berharap Tong Hoa tanpa sengaja memperlihatkan jawaban yang sebenarnya.

"Tentu saja benar!"

Baru saja Wi Hong-nio merasa gembira, terdengar Tong Hoa berkata lebih jauh.

"Aku telah menuruti pilihanmu, mana bisa keliru?"

"Lihay amat orang ini!"

Pikir Wi Hong-nio yang menjadi amat jengkel.

"Sekarang kita lewat yang mana?"

Terdengar Tong Hoa bertanya lagi.

"Pilih jalan yang sebelah kiri!"

Tong Hoa menurut dan membelokkan keretanya ke kiri.

"Yang ini bukan?"

Sengaja tanyanya. Wi Hong-nio hanya bisa melotot, tapi tak sepatah kata sanggup diucapkannya. Sambil tertawa, kembali Tong Hoa bertanya.

"Kau benarbenar akan menggunakan jalan yang ini?"

Wi Hong-nio berpikir sebentar, akhirnya dia berteriak keras.

"Sudahlah, tak usah ke mana-mana!"

"Tak usah ke mana-mana? Mau menanti di sini saja?"

"Benar!"

"Aku tak punya usul lain!"

"Aku memang tidak membutuhkan usulmu!"

"Aku tahu, kau membutuhkan usul dan pendapat dari orang lain bukan?"

Wi Hong-nio tidak menjawab. Kembali Tong Hoa berkata.

"Terus terang, biar kau menanti sampai besok pagi pun jangan harap bisa bertemu seseorang di tempat ini karena jalan ini sudah lama dilupakan orang! Atau mau tanya arah pada orang lewat? Janganlah mimpi di siang hari bolong!"

Mendengar rahasia terbongkar, merah padam selembar wajah gadis itu. Katanya kemudian.

"Kau tak usah mencampuri urusanku, mau berjumpa dengan orang lewat atau tidak, itu urusanku sendiri. Kalau memang terjadi seperti itu, aku akan terima nasib!"

"Baiklah, kalau begitu akan kutemani kau sampai ketemu orang lewat nanti!"

"Kau tak perlu menemani aku, toh aku tidak butuh dirimu!"

Tong Hoa tidak menggubris sindiran itu, dia hanya tertawa.

"Masa kau tidak merasa, sepanjang perjalanan sampai kemari apakah kau pernah berjumpa dengan seseorang? Sia-sia saja penantianmu itu."

"Siapa tahu akan muncul seseorang dari depan sana!"

Sekali lagi Tong Hoa tertawa, kali ini dia hanya tertawa tanpa menanggapi.

"He, apa yang kau tertawakan?"

Tak tahan Wi Hong-nio menegur.

"Menertawakan kebodohanmu!"

"Kenapa?"

"Coba bayangkan sendiri, orang yang datang dari arah depan sana itu datang dari mana? Seandainya berasal dari benteng Siangkoan-po, berarti dia adalah anggota Keluarga Tong, bila dia adalah anggota Keluarga Tong, memangnya mereka bersedia memberi petunjuk jalan kepadamu?"

"Itu kan belum tentu. Asal saja kau tidak bersuara, mereka pasti akan memberitahu..."

"Apa sangkut-pautnya aku bersuara atau tidak?"

"Tentu saja besar sekali pengaruhnya, jika kau bersuara maka orang akan tahu tujuanku, tentu saja mereka segan memberitahu."

"Baiklah, kalau begitu aku berjanji tak akan membuka suara, bukan saja tidak bicara, aku akan bersembunyi di dalam kereta agar tidak diketahui orang lain, puas?"

Tentu saja Wi Hong-nio sangat puas.

Maka Tong Hoa pun masuk ke dalam kereta, memejamkan matanya dan beristirahat.

Sementara Wi Hong-nio tetap di luar kereta, dengan mata melotot besar dia mengawasi sekeliling tempat itu sambil berharap ada seseorang yang muncul.

Bab 17.

Bertaruh Setelah tidur sangat nyenyak, Tio Bu-ki bersiap untuk mengganjal perutnya yang lapar.

Dia memerintah pelayan untuk mengantar sarapannya ke dalam kamar, sambil makan otaknya berputar terus mencari akal guna menghadapi Sangkoan Jin.

Tentu saja Sangkoan Jin belum tahu kalau dia sudah mengetahui sebab musabab kematian ayahnya.

Ketika ia menemuinya, Sangkoan Jin pasti tidak mempunyai persiapan apa pun.

Berhasil atau tidak mengalahkan Sangkoan Jin, bagi Tio Buki bukan sesuatu yang terlalu dipikirkan, sebab niatnya untuk membalas dendam sudah bulat.

Buat dirinya paling banyak beradu jiwa dengan musuhnya dan kehilangan nyawa.

Yang dia kuatirkan justru bagaimana caranya agar bisa bertemu empat mata dengan Sangkoan Jin, sebab tempat yang akan didatanginya sekarang sudah termasuk wilayah kekuasaan Benteng Keluarga Tong.

Bertemu berdua saja dengan pamannya itu bukan pekerjaan yang mudah.

Bukan hanya itu, seandainya bisa bertemu pun dia tidak tahu jago mana saja yang akan mendampinginya.

Andaikan sebelum berhasil bertarung melawan Sangkoan Jin ia sudah keburu dikepung jago-jago Benteng Keluarga Tong, kejadian ini pasti akan sangat mengenaskan.

Karena itulah dia harus dapat mengajak Sangkoan Jin untuk bertemu satu lawan satu.

Tapi bagaimana caranya?

Sampai selesai bersantap pun Tio Bu-ki belum berhasil menemukan cara yang tepat.

Di akhirnya ia putuskan untuk melanjutkan perjalanan sambil berpikir.

Ketika hampir tiba di Siangkoan-po, akhirnya ia mendapat suatu akal.

Dengan menyamar sebagai seorang pedagang, ia menyusup masuk ke dalam Siangkoan-po dan tinggal rumah penginapan yang terbaik.

Setelah memesan arak dan sayur, seorang diri ia bersantap sambil menikmati air kata-kata.

Pelayanan di sana ternyata sangat baik.

Penyakit lama para pelayan penginapan adalah asal melihat orang kaya selalu akan menunjukkan muka manis.

Ketika Bu-ki memberi kode ke arah mereka, seorang pelayan segera berlari mendekat sambil bertanya.

"Tuan, mau pesan apa lagi?"

"Tidak, aku hanya ingin bertanya apakah di sekitar tempat ini ada rumah judi?"

"Ooh, ada, ada... Setelah keluar pintu gerbang, belok ke kanan, rumah judi itu terletak pada deretan yang ke delapan. Di depan rumah tergantung papan nama yang bertuliskan 'Hap-hinho'!"

"Itu rumah judi?"

"Benar, tapi rumah judi itu kelas atas, tidak sembarang orang dapat memasukinya!"

"Bagus!"

Setelah memberi sekeping perak, dia buru-buru beranjak pergi meninggalkan rumah makan itu.

Tio Bu-ki merasa mustahil baginya untuk masuk gedung kediaman Sangkoan Jin dan bertemu muka dengan pamannya itu, maka dia mengatur rencana lain, dia ingin semua orang yang ada di benteng itu tahu akan kehadirannya.

Bila semua orang tahu akan kehadirannya, jago-jago Keluarga Tong pasti akan mengatur rencana untuk menghadapinya.

Sangkoan Jin pasti akan tahu juga akan kehadirannya dan dalam keadaan begini, dia pasti akan berusaha untuk mengadakan pertemuan empat mata dengannya.

Dan hal inilah yang diharapkan.

Tempat yang paling tepat untuk membuat keributan dan keonaran adalah rumah judi.

Apalagi judi lempar dadu yang menjadi kepandaian andalannya, siapa yang mampu menandinginya?

Ia tahu tempat ini merupakan pusat keramaian dalam benteng Siangkoan-po, bila kabar kehadirannya tersiar, dengan cepat pihak Keluarga Tong akan mengetahui kehadirannya, dengan sendirinya Sangkoan Jin juga akan segera tahu atas kehadirannya.

Dengan penuh keyakinan dan rasa percaya diri dia berangkat ke rumah judi Hap-hin-ho.

Benar seperti yang dikatakan pelayan rumah penginapan tadi, rumah judi Hap-hin-ho merupakan rumah judi kelas atas, hampir semua penjudi adalah orang-orang kaya dengan dandanan yang perlente.

Kalau di rumah judi seumumnya, adalah bandar yang melempar dadu dan pemain tinggal pasang besar atau kecil.

Tetapi di sini baik bandar maupun pemain sama-sama melempar dadu, jumlah mata dadu terbesar atau paling kecil yang menjadi pemenangnya.

Permainan seperti ini yang paling disukai Bu-ki, sebab permainan dengan cara ini paling gampang menimbulkan keributan yang disusul dengan keonaran.

Memang keributan yang menjadi tujuan utamanya!

Untung dalam rumah judi Hap-hin-ho tersedia banyak meja judi, ada meja judi yang banyak dikerumuni orang, ada pula yang sedikit orangnya.

Meja demi meja diperiksa Tio Bu-ki satu per satu.

Tidak seberapa lama kemudian ia segera paham alasan perbedaan yang menyolok mata itu.

Ternyata meja taruhan terkecil, antara sepuluh hingga seratus tahil perak paling banyak dikerumuni orang, seribu tahil hingga sepuluh ribu tahil agak jarang.

Di atas sepuluh ribu tahil perak paling sedikit petaruhnya, waktu itu termasuk bandar hanya ada tiga orang.

Di meja judi itu bandar duduk di tengah, dua petaruh ada di sisi kiri dan kanannya, membiarkan bangku di depan bandar kosong.

Tanpa banyak bicara Bu-ki segera menempatkan diri di situ.

Setelah menganggukkan kepala kepada tiga orang itu, Bu-ki berkata.

"Apa aku boleh melihat dulu cara mainnya?"

"Tentu saja boleh!"

Dalam pertaruhan kali ini petaruh sebelah kiri memasang duaribu tahil sementara petaruh sebelah kanan memasang seribu tahil.

Setelah tiga putaran, ada yang kalah ada pula yang menang.

Ia lalu mengeluarkan berapa lembar uang kertas dan diletakkan ke meja sambil serunya.

"Kali ini aku ikut bertaruh!"

Bandar menghitung uang taruhan, ternyata limaribu tahil.

Maka sebagaimana peraturan yang berlaku di rumah judi Hap-hin-ho ini, bandar melemparkan dulu dadunya, kali ini dia mendapat angka empat.

Petaruh sebelah kiri mendapat angka tiga, berarti kalah.

Kini giliran Bu-ki, pikirnya.

"Agar cepat terjadi keributan, biar aku langsung unjuk kebolehanku!"

Maka dia melemparkan ketiga dadu itu dengan mengerahkan sedikit tenaganya, begitu berhenti ternyata angka lima, maka dia yang menang.

Anak muda ini sama sekali tidak mengambil uang taruhannya, melihat itu sang bandar segera bertanya.

"Kau ingin bertaruh sepuluh ribu tahil?"

Tio Bu-ki mengangguk. Bandar tidak bicara lagi, dia mengambil dadu dan melempar ke meja. Lagi-lagi Bu-ki memenangkan pertaruhan ini. Seperti pertama kali tadi, kali ini pun dia tidak menarik uangnya.

"Mau bertaruh duapuluh ribu tahil?"

Bandar bertanya sambil tertawa, diam-diam ia memaki kebodohan orang.

"Mana ada penjudi yang memasang seluruh uangnya dalam sekali taruhan?"

Kegembiraan bandar tidak berlangsung lama, untuk kesekian kalinya kembali Bu-ki berhasil meraih kemenangan.

Dalam waktu singkat uang taruhan yang dipasang Bu-ki sudah mencapai delapanpuluh ribu tahil perak.

Sekarang peluh sebesar kacang kedele mulai bercucuran membasahi jidat bandar, untuk sesaat dia hanya bisa memegang dadu tanpa berani melemparnya ke meja.

Pada saat itulah mendadak muncul seorang kongcu berbaju perlente, setelah memandang meja judi dan Bu-ki sekejap, katanya kepada bandar.

"Kau boleh mundur dari sini."

Bandar itu menyahut dan buru-buru menyingkir dari situ.

"Aku pemilik rumah judi ini,"

Kongcu itu memperkenalkan diri.

"Bagaimana kalau aku yang melayani permainan tuan sekalian? Tidak keberatan bukan?"

"Tentu saja tidak,"

Sahut Bu-ki sambil tertawa. Dua orang petaruh yang lain buru-buru menarik kembali uang taruhannya seraya berseru.

"Kami akan jadi penonton saja."

"Baiklah, aku she Chee, boleh tahu nama anda?"

Tanyanya kepada Bu-ki.

"Aku she Tio."

"Bagus sekali, masih tetap dengan pasangannya?"

"Benar, pasanganku delapanpuluh ribu tahil perak!"

Chee Kongcu manggut-manggut, diambilnya ketiga biji dadu itu dan seperti gerakan yang dilakukan Bu-ki tadi, ia melempar dadudadu itu ke dalam mangkuk sambil mengerahkan tenaga dalamnya dan...

ia mendapatkan angka enam sebanyak tiga biji.

Sebuah kepandaian melempar dadu yang hebat.

Bu-ki merasa sangat gembira, dia tahu sekaranglah saat yang tepat untuk menunjukkan kebolehannya.

Dia bersama Chee Kongcu masing-masing melempar satu kali dadu dan sama-sama menghasilkan angka enam, maka lemparan dadu kembali diulang.

Sudah enam kali mereka saling melempar dadu, namun angka yang diperoleh tetap sama-sama angka enam.

Kejadian ini menyulut kehebohan, para penjudi lainnya berbondong-bondong mengerubungi meja itu dan ikut menyaksikan pertarungan ini.

Sekarang adalah lemparan yang ketujuh, Bu-ki tahu inilah saatnya untuk beraksi, apalagi ulahnya telah berhasil menarik perhatian orang banyak, maka ketika dua dadu yang dilempar kongcu itu mendapat angka enam, diam-diam ia mengerahkan tenaga dalamnya dan menambahi tenaga pukulan dadu ketiga secara diam-diam.

Dadu itu berputar lebih kencang, ketika akhirnya terhenti ternyata angkanya adalah lima.

Berubah hebat paras muka Chee Kongcu, tapi hanya sejenak kemudian sudah pulih lagi seperti sediakala, hanya saja diam-diam dia mengawasi lawannya dengan lebih seksama.

Ketika tiba giliran Bu-ki yang melempar dadu, tentu saja angka yang diperolehnya adalah tiga angka enam.

Uang sebesar delapanpuluh ribu tahil perak pun berubah jadi seratus enampuluh ribu tahil perak.

Tak lama kemudian uang itu kembali membengkak jadi tigaratus duapuluh ribu tahil perak.

Dalam keadaan begini Chee Kongcu mulai kehilangan ketenangan hatinya, peluh mulai bercucuran membasahi dahinya.

Kini uang taruhan sudah meningkat menjadi enamratus empat-puluh ribu tahil perak.

Ini menunjukkan bahwa bandar lagilagi menderita kekalahan!

Bukan saja peluh telah membasahi jidatnya, bahkan telapak tangannya mulai basah dan gemetar, meskipun sudah memegang dadu namun sampai lama sekali belum berani juga melemparnya.

Bukan saja ia tak berani melemparkan dadu itu sebaliknya malah celingukan ke sana kemari, seperti sedang menunggu kedatangan seseorang untuk membebaskan dirinya dari kesulitan.

Siapa yang ia tunggu?

Dengan cepat jawaban diperoleh karena seorang kakek berambut putih tampak sedang berjalan menghampiri mejanya.

Begitu melihat kemunculan kakek itu, Chee Kongcu kelihatan mulai lega dan segera menghembuskan napas panjang.

Menyaksikan hal ini tanpa terasa Bu-ki turut mengalihkan perhatiannya ke wajah orang tua itu.

"Ayah!"

Chee kongcu segera berseru kegirangan.

Ternyata orang tua ini adalah tauke yang sebenarnya dari rumah judi Hap-hin-ho.

Dalam hati Bu-ki tertawa dingin.

Dia tak bakal takut menghadapi siapa pun, meski saat itu ada tiga batang jarum yang dilontarkan ke arah mangkuk di atas meja judi.

Sebatang demi sebatang datang saling susul, semuanya terarah ke dadu-dadu yang ada dalam mangkuk dan kelihatannya datang dari arah yang berbeda-beda!

Menyusul kemudian tampak Chee Tauke menyambar mangkuk itu, tangan kanan menahan dasar mangkuk sementara tangan kiri disilangkan di depan dada, perlahan ia duduk di bangkunya.

Tampak ketiga batang jarum itu masing-masing menembusi dadu dalam mangkuk sampai tembus ke baliknya.

Tiga batang jarum dengan tiga dentingan, semuanya tembus dari dadu sampai tembus di dasar mangkuk.

Yang lebih mengerikan lagi adalah bahwa ketiga batang jarum itu mampu menembusi dasar mangkuk porselen itu dan memantek tepat di tengah-tengahnya.

Serangan yang tepat, ketajaman mata yang hebat dan tenaga dalam yang sempurna, tak kuasa semua yang hadir bersorak-sorai memuji.

Bukan hanya penonton yang bersorak, bahkan Bu-ki sendiri mau tak mau harus memuji kehebatan kakek itu.

"Sekarang giliranmu,"

Ujar Chee Tauke kemudian sambil menyodorkan mangkuk itu ke depan Bu-ki.

Kini sorot mata semua orang dialihkan kepada anak muda itu, semua orang ingin tahu dengan cara apa Bu-ki akan memenangkan pertaruhan itu.

Sekulum senyuman menghiasi wajah Chee Tauke, memang dia tak mampu lagi membendung kegirangannya, sebab saat ini dia sudah berada dalam posisi tak terkalahkan apalagi dia telah menggunakan jarum panjang menembusi dadu-dadu itu kemudian memanteknya menjadi satu, bagaimana mungkin dadu itu bisa berubah lagi?

Dengan cara apa Bu-ki akan mengatasi tantangan itu?

Semua orang yang hadir di arena mulai menguatirkan nasibnya.

Di saat Chee Tauke sedang melemparkan dadunya, Wi Hong-nio pun sedang menanti dengan perasaan gelisah bercampur cemas.

Sungguh aneh dan mengherankan, sepanjang hari, benar seperti apa yang dikatakan Tong Hoa, tak nampak seorang pun yang melewati tempatku.

Tong Hoa benar-benar menepati janjinya, dia hanya duduk bersemedi di dalam kereta dan sama sekali tidak memedulikan keadaan di luar.

Wi Hong-nio sudah tak sanggup menahan diri lagi, tiba-tiba teriaknya keras.

"He!"

"Ada apa?"

Dengan malas-malasan Tong Hoa menggeliat lalu pelan-pelan bangun duduk.

"Aku tak ingin menunggu lagi!"

"Tidak menunggu lagi? Lantas apa yang akan kau lakukan?"

"Aku mau pergi saja!"

"Pergi? Lewat jalan yang mana?"

"Kau berharap aku lewat jalan yang mana?"

Wi Hong-nio balik bertanya.

"Aku?"

Untuk sesaat Tong Hoa pun tak tahu bagaimana harus menjawab, setelah berpikir sejenak baru sahutnya.

"kalau aku sebenarnya berharap kau memilih jalan yang kiri."

"Kenapa?"

"Kenapa?"

Tong Hoa menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.

"tidak karena apa-apa, aku hanya menyampaikan harapanku saja."

"Baiklah! Kalau begitu kita menuju jalan yang menjadi harapanmu itu!"

Tong Hoa melengak.

Sebenarnya semua ini merupakan satu pertarungan mental, tujuan Wi Hong-nio adalah ingin menyelidiki niat Tong Hoa.

Andaikata pemuda itu memberikan jawaban sekenanya setelah ditanya, hal ini menandakan kalau jalan itu sudah pasti tidak tembus ke Benteng Siangkoan-po.

Tapi nyatanya Tong Hoa baru menjawab setelah mempertimbangkannya beberapa saat, ini menunjukkan kalau dia pun sedang menduga-duga bagaimana reaksi dirinya setelah mendengar jawaban tersebut.

Atau dengan kata lain, bisa jadi jalan tersebut adalah jalan yang benar.

Dia sengaja mengatakan kalau jalan itu adalah jalanan yang dia harapkan, tujuannya jelas untuk mengalihkan pikirannya agar dia mengambil jalan yang lain.

Sayang Wi Hong-nio kalah pengalaman, sekarang ia masuk perangkap, justru dia digiring untuk memilih jalan yang memang menjadi harapan Tong Hoa.

Apakah jalan yang dipilih Tong Hoa adalah jalan yang benar?

Kecuali Tong Hoa sendiri, tak ada yang tahu.

Memandang Tong Hoa yang masih termangu, kembali Wi Hong-nio menegur.

"Bagaimana? Kau batal untuk pergi?"

"Siapa bilang tak mau pergi? Ayoh jalan, kita lanjutkan perjalanan!"

Jawaban dari Tong Hoa membuat perasaan Wi Hong-nio semakin tenang, dia mengira pilihannya sudah tepat.

Dengan lagak seolah-olah berat hati Tong Hoa naik kembali ke posisi kusir dan perlahan-lahan menjalankan lagi kereta kudanya.

"Ada apa? Kenapa begitu lambat?"

Kembali nona itu menegur.

"Suasana gelap gulita, berbahaya sekali nona."

"Berbahaya? Aku lihat kau memang sengaja memperlambat jalanmu, sengaja mengulur waktu bukan?"

"Kenapa aku mesti mengulur waktu?"

"Sebab kau tahu kalau jalan ini menuju ke benteng Siangkoan-po!"

Tong Hoa tidak menjawab, ia membungkam diri dalam seribu bahasa.

"Benar bukan?"

Desak Wi Hong-nio lebih jauh.

"Kalau kau menganggap benar, ya benar. Tapi terus terang, aku berbuat demikian hanya karena memikirkan keselamatanmu!"

"Hmm! Hanya setan yang mau percaya!"

Walaupun di mulut ia tetap ngotot, namun perempuan itu pun tahu kalau perjalanan memang tak bisa dilakukan cepat karena permukaan tanah memang bergelombang.

"Kau merasa gembira sekarang?"

Tanya Tong Hoa kemudian ketika didengarnya gadis itu mulai bersenandung kecil.

"Tentu saja gembira, aku berhasil menebak isi hatimu, tentu saja aku jadi gembira."

"Aku rasa lebih baik kau pergi tidur saja, esok kau akan mengetahui dengan jelas apa yang terjadi."

"Hmm, baiklah, aku akan pergi tidur, tapi ingat, jangan berputar haluan!"

"Memangnya aku manusia kerdil macam begitu?"

"Moga-moga saja memang bukan."

Kereta kuda melanjutkan perjalanan sangat lambat, tapi Wi Hong-nio segera terlelap tidur.

Sewaktu ia bangun dari tidurnya, matahari sudah bersinar terang sementara kereta masih bergerakgerak tiada hentinya.

Baru saja dia melompat bangun, tiba-tiba kereta itu berhenti.

Buru-buru dia melongok keluar, tapi yang terlihat membuatnya kembali tertegun.

Ternyata di hadapannya muncul lagi persimpangan jalan, satu mengarah ke kiri yang lain menuju ke kanan.

Tong Hoa tahu gadis itu sudah mendusin, maka ujarnya sambil tertawa.

"Coba kau berpalinglah dan tengok ke belakang!"

Ketika gadis itu berpaling, lagi-lagi dia terperangah. Ternyata di belakang tubuhnya terbentang pula tiga jalan, tempat mereka berhenti saat itu tepat berada di tengah simpang lima itu.

"Apa yang terjadi?"

Tak tahan ia bertanya.

"Tadi kita berjalan melalui jalanan yang itu,"

Ujar Tong Hoa sambil menuding jalan di belakangnya.

"sementara dua jalan yang lain adalah jalan yang hendak kau pilih kemarin."

"Maksudmu ketiga jalan itu semuanya tembus balik ke sini?"

"Benar."

"Bagaimana sih kamu ini? Kau tahu, perbuatanmu telah membuang banyak waktuku?"

"Tentu saja tahu, sebab memang itu tujuanku!"

"Kau...."

Wi Hong-nio hanya mengucapkan sepatah kata dan segera membungkam diri, dia tahu tak ada gunanya marah-marah pada Tong Hoa pada saat seperti ini, yang paling penting adalah bagaimana caranya agar bisa tiba di Siangkoan-po secepatnya.

"Dari sisa dua jalan yang ada, jalan mana yang betul?"

Tanyanya kemudian.

"Jalan di sebelah kiri."

"Kau tidak menipuku?"

"Aku tak akan menipumu."

"Kenapa?"

"Sebab bila kita menempuh perjalanan tanpa berhenti, paling tidak malam nanti kita baru bisa tiba di Siangkoan-po!"

"Sungguh?"

"Aku berani bersumpah."

"Kalau begitu kita lewat jalan sebelah kiri."

"Aku usulkan lebih baik kita sarapan dulu."

"Tidak... Aku sangat gelisah, lebih baik segera lanjutkan perjalanan!"

"Menurut perhitunganku, biar lebih awal tiba di situ pun tak ada gunanya, paling banyak kau hanya akan mengurus sesosok mayat, kenapa mesti terburu-buru?"

"Kau..."

Kali ini Wi Hong-nio hanya mengucapkan sepatah kata dan tidak dilanjutkan lagi.

Ia cukup memahami watak Bu-ki, setelah tahu kalau Sangkoan Jin adalah pembunuh ayahnya, pemuda itu pasti tak akan menunda sedikit waktu pun untuk pergi mencari musuhnya dan berusaha membunuhnya.

Berpikir sampai di situ, dia mulai merasa bahwa apa yang dikatakan Tong Hoa cukup masuk di akal, buat apa ia terburu-buru tiba di tujuan kalau hanya untuk mengurusi mayat Sangkoan Jin?

Apalagi meski terburu-buru sampai di sana, nasi toh sudah berubah jadi bubur, Bu-ki tetap sudah melakukan kesalahan besar, bila dia mengungkap kejadian yang sebenarnya, bukankah hal ini malah akan membuat pemuda itu merasa menyesal sepanjang masa?

Tentu saja dia tak ingin kekasihnya menderita.

Kalau memang demikian, lalu apa gunanya terburu-buru melanjutkan perjalanan?

Berpikir sampai di situ, akhirnya dia pun mengangguk.

"Baiklah, kita sarapan dulu!"

"Jadi pikiranmu sudah terbuka sekarang?"

Tanya Tong Hoa sambil tertawa puas. Wi Hong-nio mengangguk pelan.

"Padahal, tidak seharusnya kau datang ke Siangkoan-po,"

Kembali Tong Hoa berkata.

"Kenapa?"

"Sebab bila kau bertemu Bu-ki, dia pasti akan bertanya, ada urusan penting apa hingga kau datang menyusulnya."

"Lantas bagaimana?"

"Kehadiranmu menunjukkan kalau kau punya urusan penting yang akan disampaikan kepadanya,"

Ujar Tong Hoa lebih jauh sambil menatap tajam perempuan itu.

"Apakah kau sanggup membuat sebuah karangan cerita untuk membohonginya?"

Wi Hong-nio termenung tanpa bicara, sejujurnya, mampukah dia mengelabui Bu-ki? "Kalau tak mampu mengelabui dia, berarti kau harus menceritakan duduk perkara yang sebenarnya,"

Ujar Tong Hoa lebih jauh.

"padahal ia sudah terlanjur membunuh Sangkoan Jin, apakah pengakuanmu tidak malah membuat hatinya makin tersiksa dan menderita?"

Apa yang diucapkan Tong Hoa benar dan sangat masuk di akal, dia memang tak boleh menjumpai Bu-ki.

Yang benar dia harus balik ke Gedung Keluarga Tio, berlagak seolah-olah tak ada kejadian apa-apa sambil menunggu kedatangan pemuda itu.

Tapi, andaikata Sangkoan Jin berhasil membunuh Bu-ki?

Perasaan Wi Hong-nio sangat kalut, ia bingung, gelisah dan cemas.

"Kau kuatir yang mati adalah Bu-ki?"

Tiba-tiba Tong Hoa bertanya lagi. Wi Hong-nio tidak menjawab, dia tak ingin mengucapkan kata-kata yang bisa mendatangkan sial ke alamat kekasihnya.

"Kalau memang itu kekuatiranmu, baiklah, mari kita berangkat ke sana untuk mengurusi jenasahnya!"

"Tidak! Bu-ki tak bakal mati!"

Teriakannya mendadak bertambah keras, saking kerasnya nyaris membuat dia sendiri kaget.

"Bila kau yakin kalau dia tak bakal mati, seharusnya pulang saja ke rumah dan menunggu kedatangannya di sana."

Wi Hong-nio bertambah sangsi, untuk sesaat dia tak tahu bagaimana harus memutuskan hal ini.

Bab 18.

Waktu.

Mao-si, Tempat.

Bukit Singa Ketika Wi Hong-nio masih sangsi dan tak tahu bagaimana harus mengambil keputusan, Tio Bu-ki telah menerima sepucuk surat rahasia.

Kapan surat rahasia itu dikirim.

Ia sama sekali tak tahu, tatkala bangun dari tidurnya, di celah pintu kamarnya terselip sepucuk surat, surat rahasia itu.

Dia tahu, surat itu tentu diselipkan secara diam-diam di tengah malam buta.

Sesudah dibuka, ternyata surat dari Sangkoan Jin, isinya amat singkat, hanya menerangkan kalau esok pada saat Mao-si (antara pukul 5 s/d 7 pagi) dia ditunggu di Bukit Singa.

Dia mencoba membuka jendela sambil melongok keluar, saat itu waktu sudah menunjukkan lewat pukul 7 pagi, ini berarti Sangkoan Jin mengajaknya berjumpa esok pagi, bukan hari ini.

Tapi Bukit Singa di mana letaknya?

Ia sama sekali tidak risau, asal ditanyakan bukankah segera akan diketahui letaknya?

Mengapa Sangkoan Jin mengajaknya bertemu esok pagi dan bukannya hari ini?

Apakah hari ini dia ada urusan?

Atau hari ini dia tak mampu menghindari pengawasan orang-orang Keluarga Tong?

Semua ini tidak penting, yang paling penting saat ini adalah mencari tahu Bukit Singa itu sebenarnya bukit seperti apa?

Cocokkah digunakan untuk bertempur menggunakan pedang?

Ia memutuskan untuk datang ke Bukit Singa dan memeriksa keadaannya.

Ia memanggil pelayan, menanyakan letak Bukit Singa, memesan sekati daging dan delapan biji mantau untuk menangsal perut.

Dia memang perlu makan agak banyak, sebab semalam ia sudah menghamburkan banyak tenaga untuk bertarung melawan Chee Tauke, pemilik rumah judi.

Jurus yang digunakan Chee Tauke memang sangat lihay, sedemikian hebatnya sampai Bu-ki mau tak mau harus bersorak memuji.

Sebenarnya dia akan mengaku kalah begitu saja karena tujuan kedatangannya bukan mencari keuntungan materi tapi untuk memancing perhatian orang banyak.

Asal mulai menarik perhatian orang, pasti akan ada yang melaporkan kehadirannya kepada pemimpin mereka, dan pemimpin mereka adalah Sangkoan Jin.

Asal Sangkoan Jin tahu, dia pasti akan berusaha menghubunginya.

Tadi ia sempat melihat kalau Chee Tauke membisikkan sesuatu ke telinga seseorang dan orang itu segera meninggalkan rumah judi Hap-hin-ho begitu mendapat kisikan.

Ia yakin orang itu pasti sudah pergi memberi laporan.

Oleh sebab itu menang kalah dalam pertaruhan ini sudah tak ada artinya lagi.

Tapi jurus yang digunakan Chee Tauke membangkitkan rasa herannya, ia jadi ingin tahu dan ingin mengalahkannya.

Yang membuat rasa ingin menangnya muncul adalah tantangan dari lawannya, masa ia tak bisa memenangkan pertaruhan itu?

Dorongan rasa ingin tahu membuat pemuda ini memutar otak mencari akal, cara dia bisa memenangkan taruhan ini.

Dia menyambut sodoran mangkuk dari tangan Chee Tauke, mengawasi tiga batang jarum panjang yang menembusi dadu-dadu itu sambil otaknya mulai berputar.

Dia ingin menemukan cara paling jitu untuk melemparkan tiga angka enam dalam lemparan berikut.

Dengan tangan kiri memegang mangkuk, tangan kanannya mencabuti ketiga batang jarum itu kemudian diserahkan kembal i ke tangan Chee Tauke.

Dengan perasaan puas bercampur bangga orang tua itu mengawasi lawannya.

Tiba-tiba Bu-ki merasa senyuman orang itu amat memuakkan, dia muak melihat tampang lawannya yang seolah sudah yakin kalau kemenangan berada di pihaknya.

Hanya muak saja tak ada gunanya, dia harus menemukan cara untuk mengatasi kesulitan itu, ia mencoba perhatikan sekeliling arena.

Ada sebagian orang sedang memandangnya dengan perasaan simpatik, ada pula yang memandang setengah mengejek, seakan menertawakan kekalahan yang bakal dialaminya.

Ketika berpaling lagi ke arah Chee Tauke, ia melihat senyuman kakek itu semakin melebar, terdengar ia sedang berseru.

"Ayoh, silahkan!"

Bu-ki termenung sejenak, tiba-tiba ia menemukan satu gagasan bagus.

"Kau memang sangat lihay,"

Katanya kemudian.

"Ehmm..."

"Sayang aku mempunyai jurus yang jauh lebih hebat."

"Oh ya?"

Chee Tauke menunjukkan rasa tak percaya.

"Orang muda, tak ada gunanya kalau hanya melulu omong besar, tunjukkan dulu kebolehanmu!"

"Kau tak percaya?"

"Tentu saja tak percaya!"

"Bagus, kalau begitu bagaimana kalau kita lipat duakan uang taruhan?"

Chee Tauke agak tertegun, setelah mengamati lawannya sejenak ia baru menyahut.

"Baik!"

"Tapi kita mesti mengganti cara kita berjudi!"

"Ganti cara? Bagaimana gantinya?"

"Kalau aku bisa mendapat tiga angka enam, bukankah hasilnya seni?"

"Tentu, di sini tak berlaku bandar paling menang!"

"Berati kita tidak bisa menentukan siapa menang siapa kalah."

"Kenapa?"

"Sebab aku tak pernah salah perhitungan!"

"Jadi kau sangat yakin?"

"Tentu saja, kendati kau sudah melubangi setiap dadu sehingga bobotnya berubah, aku tetap punya cara untuk mendapatkan tiga angka enam!"

"Lantas kau ingin menang kalah ditentukan dengan cara apa?"

"Setelah kulempar dadu itu, bukan saja kujamin akan mendapatkan tiga angka enam, bahkan aku pun berani bertaruh jika kau melemparkan dadu itu lagi, kau pun akan peroleh tiga angka enam."

"Omong kosong, memangnya aku mesti pilih angka yang lain?"

"Maksudku, kecuali mendapatkan tiga angka enam, kau tak nanti bisa mendapatkan angka yang lain!"

"Oh ya?"

"Jika kau bisa memperoleh angka selain tiga angka enam, anggap saja aku yang kalah!"

Tampaknya Chee Tauke mulai tertarik, ditatapnya Bu-ki lekat lekat.

"Bila lemparanmu kembali menghasilkan tiga angka enam, berarti akulah yang menang,"

Kembali anak muda itu berkata. Mendadak Chee Tauke mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

"Ha ha ha... anak muda, kali ini kau akan kalah dengan menyedihkan!"

Bu-ki tidak bicara, dia hanya tersenyum.

"Tak ada gunanya kalau cuma tersenyum!"

Chee Tauke segera berpaling ke arah para penonton, kemudian terusnya.

"Bukan begitu saudara sekalian?"

Semua orang segera mengiakan.

"Apakah kalian ingin turut bertaruh?"

Kembali Chee Tauke bertanya.

"Bertaruh apa?"

Ada yang tanya.

"Bertaruh siapa di antara kami berdua yang bakal menang!"

"Tentu saja Chee Tauke yang bakal menang!"

"Ada yang berani pegang aku kalah?"

Tak ada yang menjawab.

"Berarti kalian semua bertaruh kalau Chee Tauke yang bakal menang?"

Sela Bu-ki tiba-tiba.

"Tentu saja!"

Serentak semua orang berseru.

"Kalau begitu kalian boleh pasang taruhan, aku akan bertaruh melawan kalian!"

"Sungguh?"

Kembali semua orang berseru.

"Tentu saja sungguh!"

Maka para penonton pun mulai berbisik-bisik, ada yang mulai mengira-ngira ilmu simpanan apa yang akan digunakan pemuda itu, ada pula yang menilai tindakan orang ini kelewat goblok.

Sebanyak apa pun pendapat dan pandangan orang tapi tindakan yang mereka lakukan ternyata sama dan seragam.

Mereka mengeluarkan seluruh uang yang ada di dalam saku untuk dipertaruhkan.

Meja judi nyaris tak muat untuk menampung semua uang taruhan itu.

Tiba-tiba Chee Tauke mengulapkan tangannya memberi tanda agar semua orang tenang, kemudian kepada pemuda yang ada di hadapannya dia bertanya.

"Memangnya kau sanggup membayar semua taruhan ini?"

Bu-ki tertawa, dari sakunya dia mengeluarkan sekeping goanpo dari emas, sambil diletakkan ke meja tanyanya.

"Cukup tidak emas ini?"

Kembali Chee Tauke menyapu sekejap hancuran uang perak yang berserakan di meja, tanyanya lebih jauh.

"Seandainya tidak cukup?"

"Kalau tidak cukup, kita bagi rata sama uang emas itu,"

Ada yang mengusulkan.

Semua orang berpendapat bahwa pertaruhan ini jelas akan mereka menangkan, ketimbang tak ada yang dibagi, peroleh sedikit keuntungan pun tidak apa-apa, maka serentak semua orang menyatakan setuju.

"Baiklah,"

Kata Bu-ki lagi sambil tertawa.

"kalau toh semua orang berbesar hati, aku pun akan memberi sedikit keuntungan untuk kalian semua, seandainya aku yang menang maka aku hanya akan mengambil sepuluh persen dari uang taruhan kalian!"

Sekali lagi terjadi kegaduhan, malah ada di antaranya yang sudah mengulurkan tangannya untuk menarik kembali uang taruhannya.

Mereka agak grogi juga setelah menyaksikan keyakinan pemuda itu, tak mungkin di dunia ini ada orang yang mau bertaruh jika yakin pasti akan kalah.

Menyaksikan kegaduhan itu, buru-buru Chee Tauke berseru.

"Kalian tak usah kuatir, seandainya kalian kalah, aku bilang seandainya, biarlah aku yang membayar sepuluh persen yang menjadi tanggung jawab kalian semua."

Begitu perkataan tersebut diutarakan, sekali lagi terjadi kegaduhan, siapa yang tak ingin ikut dalam pertaruhan yang jelas tak bakal rugi ini! "Apakah kami masih boleh menambah uang taruhan?"

Ada yang tanya. Sorot mata semua orang dialihkan ke wajah Bu-ki, sambil tersenyum sahut anak muda itu.

"Lebih baik kalian tanyakan saja persoalan ini kepada Chee Tauke."

"Kenapa mesti ditanyakan Chee Tauke?"

"Sebab ketika tiba saatnya untuk membayar, dia yang akan merogoh koceknya, bukan aku!"

Chee Tauke tak kuasa menahan diri lagi, ia segera tertawa terbahak-bahak.

"Ha ha ha ha... silahkan kalau ada yang ingin menambah uang taruhannya, cuma aku lihat sekeping uang emas tak nanti mampu membayar seluruh taruhan yang ada!"

Bu-ki memandang sekejap uang taruhan yang semakin menggunung itu, katanya kemudian.

"Baiklah, akan kutambah lagi dengan semacam barang."

Sambil berkata dari sakunya dia mengeluarkan sebilah pisau yang sangat kecil, di bawah sinar lentera pisau itu memantulkan cahaya kekuning-kuningan yang amat menyilaukan mata.

Sebilah pisau kecil yang terbuat dari emas murni, selain amat tipis, tajamnya luar biasa.

"Pisau yang hebat!"

Tak kuasa Chee Tauke berteriak keras.

"Bernilai?"

"Sangat!"

"Cukup untuk membayar semua taruhan itu?"

"Cukup sekali!"

"Bagus kalau begitu,"

Seru Bu-ki sambil memasukkan kembali pisau emasnya ke dalam saku.

"Kenapa tidak kau letakkan pisau kecil itu ke atas meja taruhan?"

"Aku punya kegunaan lain."

"Kau bermaksud ingkar janji?"

"Keliru besar, maksudku aku akan memanfaatkan pisau kecil ini, bukankah kau boleh menggunakan jarum, tentu saja aku pun boleh memakai pisau bukan?"

"Tentu saja."

"Bagus, sekarang kalian boleh memasang taruhan."

"Baik!"

Serentak para penonton menyahut, mereka ingin melihat apa benar Bu-ki memiliki kemampuan untuk mengalahkan Chee Tauke.

Bu-ki segera menggenggam dadu-dadu itu dan diletakkan dalam genggamannya, kepada semua yang hadir serunya.

"Sekarang aku akan melempar dadu ini!"

Sambil menahan napas semua orang memperhatikan tangan kanannya.

Bu-ki menarik napas panjang, tiba-tiba ia melemparkan ketiga dadu itu ke atas udara, menyusul kemudian secepat kilat dia cabut keluar pisau emasnya dari balik saku.

Dengan gerakan lurus dia melayang ke udara, menerjang ke arah ketiga dadu itu.

Di saat dadu-dadu meluncur ke bawah, pisau emasnya menyambar ke kiri, kanan, atas dan bawah, secara beruntun melepaskan lima tusukan.

Para penonton hanya menyaksikan pisau emas itu secepat sambaran kilat memancarkan limabelas kali kilatan sinar tajam, tahu-tahu Bu-ki yang sudah melayang turun telah memegang mangkuk judi itu dan mengangkatnya ke atas.

Ting, ting, ting, tiga kali dentingan nyaring bergema di angkasa, tahu-tahu ketiga biji dadu itu sudah jatuh kembali di dalam mangkuk.

Untuk berapa saat suasana dalam ruang judi jadi hening, perhatian semua orang dialihkan ke atas mangkuk yang berada di atas kepala Bu-ki.

Anak muda itu sendiri berdiri dengan wajah serius, tiada senyuman yang menghiasi bibirnya, karena apa yang dia lakukan sekarang belum pernah ia lakukan sebelumnya, dia tak tahu apakah berhasil atau tidak.

Perlahan-lahan ia turunkan mangkuk itu dan meletakkannya ke meja.

Suasana mendadak menjadi riuh rendah, seruan tertahan bergema memenuhi seluruh ruangan.

Tiga biji angka enam!

Bukan saja tiga angka enam bahkan dengan sangat jelas terlihat kalau Bu-ki telah memapas angka-angka lainnya di permukaan dadu-dadu itu sehingga ukiran angka-angkanya sama sekali terhapus.

Sebuah gerak serangan yang cepat, tenaga dalam yang sempurna!

Setelah berseru tertahan kini perhatian semua penonton dialihkan ke wajah Chee Tauke, mereka ingin tahu dengan cara apa bandar judi itu akan menghadapi kesulitannya.

Berubah hebat paras muka Chee Tauke, dengan wajah hijau membesi dia mengawasi ketiga dadu itu tanpa berkedip.

Apa yang dikatakan Bu-ki sangat tepat, mulai saat ini, kecuali tiga angka enam, jangan harap Chee Tauke bisa memperoleh angka lain.

Tak dapat disangkal Chee Tauke sudah kalah!

Semua orang tak berani berkata-kata, mereka memang tak tahu harus mengucapkan kata apa.

Dengan senyum dikulum Bu-ki duduk kembali di bangkunya.

Tiba-tiba Chee Tauke mengangkat kembali wajahnya yang hijau membesi, sambil memandang lawannya sekulum senyuman tipis tersungging di ujung bibirnya.

Kenapa dia malah tersenyum?

Bukan hanya Bu-ki yang ingin tahu, para hadirin yang menonton keramaian pun ingin tahu.

Dengan senyuman menghiasi ujung bibirnya kembali Chee Tauke berkata.

"Kali ini kau pasti kalah!"

Bu-ki tidak berbicara, dia hanya putar otak tiada hentinya, dalam keadaan apa ia baru bisa dianggap kalah?

"Aku beri tahu, dalam lemparanku berikut aku akan mendapatkan dua angka enam ditambah satu angka satu, cukup satu perubahan yang akan mengubah kekalahanku jadi kemenangan, ha ha ha Chee Tauke tertawa amat riang seakan kemenangan sudah pasti akan diraihnya, terdengar ia berkata lagi.

"Sekarang letakkan pisau emasmu ke meja taruhan, karena aku akan membayarkan kekalahanmu itu!"

"Tak usah terburu napsu,"

Jengek Bu-ki sambil tertawa dingin.

"hingga detik ini aku belum kalah!"

"Kau segera bakal kalah!"

Sambil berkata ia mengambil ketiga dadu yang tinggal angka enamnya itu dan diletakkan dalam genggamannya.

"Sekarang perhatikan baik-baik!"

Sambil berkata kakek itu melemparkan ketiga biji dadu itu ke tengah udara.

Tak ada yang tahu obat apa yang sedang dijual kakek itu, jelas tinggal angka enam yang tersisa di permukaan dadu itu, mana mungkin dia bisa mengubahnya jadi angka satu?

Sekalipun berpikir begitu namun tak seorang pun berani bersuara, mereka hanya mengawasi semua kejadian dengan seksama.

Ketiga dadu itu sudah mencapai puncak lemparan dan kini mulai meluncur ke bawah.

Pada saat itulah mendadak Chee Tauke mengambil sebatang jarum kemudian disambitkan ke atas, menyongsong datangnya dadu-dadu itu.

Bersamaan dengan tindakan tersebut, Chee Tauke ikut melejit sambil menyongsong arah meluncur jatuhnya jarum.

Tampaknya Bu-ki segera paham akan apa yang hendak dilakukan Chee Tauke, dengan cepat dia mempersiapkan pisau emasnya.

Benar saja, begitu memungut jarum tersebut Chee Tauke membalikkan badan seraya membuat satu tebasan ke permukaan dadu yang sedang meluncur turun.

Kini semua orang mulai paham obat apa yang sedang dijual Chee Tauke, ternyata dia ingin menggunakan jarumnya untuk mengukir angka satu di dadu itu.

Sementara para penonton siap bersorak-sorai, mendadak Bu-ki menyambitkan pisau emasnya ke depan, langsung menyambar ke arah jarum kecil yang dilepas Chee Tauke itu.

"Bagus!"

Mendadak Chee Tauke berseru keras sambil tertawa terbahak-bahak.

Sambaran pisau emas itu sangat tepat, begitu disambit ke udara, jarum itu segera terhajar hingga mencelat ke samping.

Situasi semacam ini jelas sangat tidak menguntungkan kakek itu, mengapa ia justru meneriakkan kata bagus?

Belum habis semua orang tertegun, tangan kiri Chee Tauke kembali diayun ke depan melepaskan sebatang jarum lagi dan kali ini jarumnya tepat menancap di salah satu dadu itu.

Rupanya orang tua itu sudah menduga kalau Bu-ki pasti akan melemparkan pisau emasnya untuk menghalangi.

Di saat ia melambung ke udara tadi, diam-diam tangan kirinya mempersiapkan lagi sebatang jarum, ketika perhatian semua orang tertuju pada tangan kanannya, diam-diam ia menggunakan jarum di tangan kirinya membuat ukiran angka satu di permukaan dadu, kemudian baru menyambitkannya ke atas.

Maka tanpa sempat dicegah oleh Bu-ki lagi, terwujudlah angka 'satu' di dadu itu.

Dua biji dadu yang jatuh duluan tentu saja berangka enam, tapi dadu yang jatuh belakangan ternyata berangka satu.

Apa yang dikatakan Chee Tauke memang tidak keliru, angka satu telah mengubah posisi kalahnya menjadi posisi menang.

Semua orang bersorak-sorai kegirangan, sementara Chee Tauke pun tertawa terbahak-bahak saking senangnya.

Bu-ki sudah kalah, namun ia tidak sedih atau murung lantaran kejadian ini, malah sambil bertepuk tangan pujinya.

"Hebat, hebat, sungguh hebat! Sangat mengagumkan, kali ini aku harus mengakui kekalahan!"

Selesai bicara ia lemparkan pisau emasnya ke meja dan siap beranjak pergi dari situ.

"Tunggu dulu!"

Mendadak Chee Tauke menghalangi.

"Ada urusan lain?"

"Kau tak ingin mengembalikan kerugianmu?"

"Lain hari saja! Aku rasa nasibku hari ini kurang mujur, bila bertaruh terus kekalahanku akan makin besar, bukan begitu?"

"Benar, tampaknya kau sangat memahami kebiasaan orang berjudi, setiap saat akan kunantikan kedatanganmu!"

"Pasti!"

"Boleh tahu namamu?"

"Dalam perjudian hanya ada kata menang atau kalah, peduli amat siapa namamu?"

"Ehmm, masuk di akal, boleh bersahabat denganmu?"

"Dalam arena perjudian tak kenal siapa ayah siapa anak, aku rasa tak perlu,"

Kemudian sambil menjura kembali Bu-ki menambahkan.

"Selamat tinggal!"

Selesai berkata, tanpa berpaling lagi anak muda itu berjalan meninggalkan rumah judi Hap-hin-ho.

Suara pujian dan helaan napas terdengar bergema dari kerumunan orang banyak, mereka kagum atas kebesaran jiwa pemuda itu, terutama keberaniannya mengakui kekalahan.

Tentu saja mereka tak tahu kalau tujuan kehadiran Bu-ki di arena perjudian itu bukan untuk mencari kemenangan melainkan agar Sangkoan Jin tahu akan kehadirannya, sehingga dia sama sekali tidak mempersoalkan menang kalahnya, tak heran kalau sikap dan penampilannya begitu santai dan tenang.

Balik kembali ke rumah penginapan, Bu-ki baru menyadari kalau dia sudah menguras banyak tenaga untuk bertarung di arena perjudian tadi, karena merasa sangat lelah maka begitu merebahkan diri di ranjang, dia pun segera tertidur.

Saking nyenyaknya tidur, dia sampai tak tahu kalau ada orang telah menyisipkan sepucuk surat ke kamarnya.

Untung saja si pendatang tidak bermaksud jahat, coba kalau ia melepaskan bubuk pemabuk atau obat racun lainnya, niscaya saat ini dia sudah mati secara mengenaskan.

Dalam perjalanan menuju ke Bukit Singa, Bu-ki terbayang kembali kejadian yang dialaminya semalam, keteledoran ini membuatnya termangu, berada di wilayah musuh, kenapa ia bisa tidak meningkatkan kewaspadaan sendiri, bahkan berlaku begitu ceroboh?

Tiba di Bukit Singa, ia menjumpai di puncak bukit itu terdapat sebuah tanah datar yang cukup luas.

Dia tahu, di sinilah dia bakal menantang Sangkoan Jin untuk bertarung.

Ia suka tanah lapang yang luas, karena bila dipakai untuk bertarung maka dia tak akan merasa tertekan atau terkekang gerakgeriknya.

Dia tak senang memakai perintang untuk memuluskan serangannya, dia anggap pertarungan semacam ini bukan satu pertarungan yang jujur, tapi cenderung main akal busuk dan tipu muslihat.

Selama hidup ia paling benci menggunakan akal busuk dan tipu muslihat.

Dalam pandangannya, bila ingin bertarung, bertarunglah secara jujur dan terbuka, penggunaan tipu muslihat meninggalkan kesan curang, dia tak ingin melakukan perbuatan yang memalukan seperti itu.

Walaupun ia sadar, kepandaian silatnya masih bukan tandingan Sangkoan Jin!

Bab 19.

Kejadian yang Sebenarnya Ketika Bu-ki sedang melakukan peninjauan di sekitar Bukit Singa, Wi Hong-nio pun sedang mengambil satu keputusan.

Ia putuskan untuk balik ke gedung keluarga Tio.

Dia berpendapat bahwa menyusul ke Siangkoan-po adalah tindakan bodoh, ia tak ingin Bu-ki memikul beban berat, tak ingin pemuda itu merasa menyesal sepanjang hidupnya.

Dia tak tahu, ketidakhadirannya di Siangkoan-po justru merupakan tindakannya yang paling bodoh, tindakan yang membuat Bu-ki harus menanggung sesal sepanjang hidupnya.

Tong Hoa sendiri tidak bermaksud membohonginya, dia berpendapat meski menyusul ke Siangkoan-po pun tak ada gunanya karena waktu itu Bu-ki pasti sudah selesai bertarung melawan Sangkoan Jin, jadi bujukan itu sesungguhnya muncul dari niat baiknya.

Dia sama sekali tidak tahu kalau waktu yang dijanjikan Sangkoan Jin adalah esok, sebab dia selalu berpendapat, Bu-ki pasti akan langsung menyerbu ke benteng Siangkoan-po untuk melakukan pembalasan.

Mimpi pun dia tak menyangka bahwa anak muda itu ternyata lebih memilih beristirahat dulu semalam sebelum bertindak lebih jauh.

Mungkin takdirlah yang telah mengatur semua ini hingga Wi Hong-nio memutuskan untuk tidak berangkat ke Siangkoan-po.

Bila takdir telah berbicara begitu, siapa yang bisa merubahnya?

Bu-ki tak pernah kembali ke rumah penginapan, ia terus berdiam di atas Bukit Singa karena ia telah menemukan sebuah batu besar di tanah datar itu, batu besar yang cukup dipakai untuk berbaring sepanjang hari.

Seharian ia berbaring di atas batu sambil mengawasi mega yang bergerak di angkasa, menikmati waktu senggang sambil mempersiapkan diri menghadapi pertarungan besok.

Dia suka dengan perasaan seperti ini, setiap kali hendak melakukan pertarungan ia memang biasa menenangkan dulu pikirannya, agar dalam pertarungan nanti, dia dapat menggunakan segenap kekuatan yang dimilikinya.

Dalam suasana dan keadaan seperti inilah, tanpa terasa Buki mulai tertidur.

Ketika sadar kembali, bintang telah bertaburan di angkasa, indah sekali.

Agak termangu dia mengamati sejenak bintang di langit, baru kemudian duduk bersila dan mulai mengatur napas.

Ketika terjaga untuk kedua kalinya, fajar telah menyingsing.

Bu-ki segera bangkit berdiri, mengambil pedangnya, melompat turun dari batu cadas dan menuju ke jalan masuk menuju ke Bukit Singa.

Ia berdiri tegak di tengah jalan, mengawasi setiap gerakan di seputar tempat itu.

Entah berapa saat sudah lewat, akhirnya ia menyaksikan sesosok bayangan manusia sedang bergerak mendekat.

Tak salah lagi, orang itu adalah Sangkoan Jin.

Ia segera berlalu, berjalan menuju tanah lapang yang telah dilihatnya kemarin dan memilih posisi bagian tengah sebelah kanan untuk bersiap sedia.

Sangkoan Jin segera menyusul tiba.

Ia berjalan sampai di hadapan pemuda itu dan baru berhenti setelah mencapai jarak satu tombak, tanyanya.

"Apakah kedatanganmu untuk mencari aku?"

Bu-ki mengangguk.

"Ada urusan penting?"

"Ada!"

"Apa urusanmu?"

"Datang membunuhmu!"

Bu-ki sangat tenang, suaranya juga tenang, membuat dia mau tak mau harus memuji ketenangan penampilannya sekarang. Sangkoan Jin sendiri bersikap sangat tenang, dia hanya menyahut.

"Oh ya?"

Kemudian mereka berdua diam, sama-sama membungkam, sama-sama saling memandang. Sampai lama kemudian Sangkoan Jin baru bertanya.

"Kenapa?"

"Karena kau telah membunuh ayahku!"

"Bukankah kau sudah tahu tentang siasat Harimau Kemala Putih?"

"Benar, tapi aku tak tahu kalau di balik rencana tersebut ternyata masih ada rencana lain, Naga Kemala Putih!"

"Naga Kemala Putih?"

"Benar, kau pasti tercengang bukan? Dari mana aku bisa mengetahui tentang rencana ini?"

"Betul, aku memang amat tercengang, rencana apa pula itu?"

"Masa kau tidak tahu?"

"Aku memang tidak tahu."

"Sangkoan Jin, kau tak perlu berlagak pilon lagi!"

Nada suara Bu-ki mulai bergolak, mulai dipengaruhi emosi.

"Kau telah membunuh ayahku secara licik!"

"Aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan..."

"Kau telah meracuni ayahku secara perlahan-lahan, menggunakan racun yang bersifat lambat, itulah sebabnya ayahku menderita penyakit yang tak bisa disembuhkan. Dengan begitu kau baru memperoleh kesempatan untuk menjalankan rencana Harimau Kemala Putih. Padahal sejak awal kau sudah berniat mengkhianati Tayhong-tong, kau sudah berencana untuk bergabung dengan Benteng Keluarga Tong, bukan begitu?"

Sangkoan Jin membelalakkan matanya lebar-lebar, diawasinya wajah pemuda itu sampai lama sekali, kemudian ia baru bertanya lagi.

"Kau punya bukti?"

"Punya!"

"Di mana?"

"Dalam buku harian ayahku!"

"Buku harian ayahmu?"

Sangkoan Jin bertanya keheranan.

"Ayahmu pernah menulis buku harian?"

"Rupanya kau pun tidak tahu soal ini? Betul, persoalan ini merupakan rahasia ayahku, semua kecurigaan dan kesaksiannya telah dia catat dalam buku harian itu."

"Dan kau percaya?"

"Tidak ada alasan bagiku untuk tidak percaya!"

"Maka kau datang untuk membunuhku, membalaskan dendam bagi ayahmu?"

"Benar!"

Jawaban Bu-ki kali ini diucapkan sangat tenang.

"tapi aku akan memberi kesempatan yang sangat adil untukmu, kita bisa bertarung di tempat ini."

Seraya berkata dia mulai menghimpun tenaga dalamnya, bersiap melancarkan serangan.

Sangkoan Jin tertawa, kesedihan dan perasaan apa boleh buat terselip di balik senyuman itu, hanya saja Bu-ki tidak melihat atau merasakannya.

Sangkoan Jin tahu, kejadian ini pasti merupakan rencana busuk Keluarga Tong.

Dia tahu, tak ada gunanya ia menjelaskan persoalan ini kepada anak muda tersebut, tak mungkin Bu-ki mau percaya pada semua omongannya.

Lantas apa daya sekarang?

Menerima tantangan Bu-ki untuk bertarung?

Bertarung mati-matian?

Seandainya dia memperoleh peluang untuk menang, tegakah dia membunuh Bu-ki?

Kalau tidak melakukan perlawanan, apakah dia mandah dibunuh?

Mati terbunuh di tangan Bu-ki sambil membawa kesalahan dan dosa yang sesungguhnya tak pernah ia lakukan?

Untuk beberapa saat Sangkoan Jin merasa bingung, dia tak tahu apa yang mesti dilakukan.

Sewaktu naik ke bukit tadi, dia memang sengaja tidak membawa senjata, bagaimana pun tujuan kedatangannya memang bukan untuk bertarung, namun setelah melihat Bu-ki meloloskan pedangnya, mau tak mau dia mulai mencoba untuk menghimpun tenaga dan bersiap sedia.

Begitu dia coba mengerahkan tenaga, saat itu juga ia menemukan sesuatu yang tak beres, ternyata ia tak mampu lagi menghimpun tenaga dalamnya.

Kenapa bisa begini?

Paras mukanya berubah hebat, ia mulai membayangkan kembali semua kejadian yang dialaminya selama beberapa hari terakhir.

Dia masih ingat, semenjak kedatangan putrinya di benteng Siangkoan-po, dia tak pernah menghimpun tenaga dalamnya lagi, hal ini membuktikan kalau masalah ini muncul pada saat ini, saat setelah kehadiran putrinya.

Mendadak perasaan hatinya tercekat, hawa sedingin salju mendadak muncul dari telapak kakinya dan langsung menerjang ke rongga dada.

Selama ini dia sudah cukup waspada, cukup berhati-hati menjaga kemungkinan niat keluarga Tong untuk meracuninya, satusatunya hal yang tak pernah dia risaukan selama ini adalah kuah jinsom yang dihidangkan putrinya sesaat sebelum ia pergi tidur.

Mungkinkah putrinya yang telah meracuni dia?

Apakah Siangkoan Ling-ling sudah berpihak kepada Keluarga Tong?

Tidak, tidak mungkin, sudah pasti pihak keluarga Tong yang telah mencampuri kuah jinsom itu dengan racun di saat Siangkoan Ling-ling tidak ada.

Mendadak dia seperti memahami semua rencana busuk yang sedang dipersiapkan Benteng Keluarga Tong.

Jelas tujuan Keluarga Tong adalah meminjam tangan Bu-ki untuk menyingkirkan dirinya.

Rencana busuk yang mereka rencanakan merupakan sebuah rencana berantai, mula-mula mereka merekayasa satu cerita agar Bu-ki salah paham dan menyangka dialah pembunuh ayahnya, kemudian meminjam tangan Ling-ling untuk mencampur racun ke dalam kuah jinsom, agar tenaga dalamnya lenyap, dengan keadaan seperti ini Bu-ki pasti dapat mengalahkan dirinya tanpa harus bersusah payah.

Menilik semua tindakan yang dilakukan Keluarga Tong, semua ini membuktikan bahwa sejak awal mereka berencana untuk melenyapkan dirinya dan ingin memperalat Bu-ki untuk mencapai tujuannya.

Mereka tak ingin turun tangan sendiri, kuatir perbuatannya akan berakibat orang lain enggan bergabung dengan mereka.

Begitu memahami apa yang telah terjadi, perasaannya malah semakin lega, ia tak takut menghadapi kematian namun dia tak ingin mati dengan cara begini, dia harus membuat perhitungan dengan Keluarga Tong, atau dengan perkataan lain dia tak ingin mati saat ini.

Berpikir sampai di situ, ia pun berkata.

"Bagaimana kalau pertarungan ini sementara kita tunda dulu?"

"Tidak bisa."

"Biarpun aku meminta sebagai paman Siangkoan?"

"Kau sudah bukan pamanku lagi!"

"Kau tidak takut menyesal?"

"Apa yang perlu kusesalkan?"

"Kau tidak kuaur sudah terjebak rencana keji yang disusun Benteng Keluarga Tong?"

Bu-ki melengak kemudian memandang wajah Sangkoan Jin dengan termangu.

"Pernahkah kau bayangkan,"

Kembali Sangkoan Jin berkata.

"Benteng Keluarga Tong ingin melenyapkan aku tapi tak leluasa untuk turun tangan sendiri, mereka kuatir di kemudian hari tak ada yang mau bergabung lagi, maka mereka merencanakan siasat ini agar kau yang membunuhku?"

"Kemungkinan semacam ini memang selalu ada, hanya saja aku tak percaya."

"Kenapa?"

"Sebab cara ini kelewat bodoh."

"Apa dasarnya kau berkata begitu?"

"Kepandaian silatmu jauh di atas kemampuanku, memperalat aku untuk membunuhmu, apakah tindakan ini tidak kelewat bodoh?"

"Kalau sudah tahu begitu, kenapa kau tetap datang mencariku?"

"Dendam kematian ayahku tak boleh tak dibalas, biar tahu aku bukan tandinganmu tapi aku tetap harus mencoba. Bila seseorang sudah terdesak hingga terpaksa mengadu jiwa, kejadian apa pun bisa terjadi..."

"Itu berarti kau punya kemungkinan bisa membunuhku bukan?"

"Benar!"

"Apa yang bisa kau duga memangnya tak bisa diduga pihak Benteng Keluarga Tong, khususnya oleh Tong Ou?"

"Tentu saja bisa, tapi aku masih belum percaya kalau kejadian ini merupakan bagian dari rencana keji mereka."

"Kalau begitu kuberitahukan padamu, aku pun sudah keracunan, kau percaya?"

"Kau?"

Dengan mata terbelalak Bu-ki mengawasi wajah Sangkoan Jin.

"Benar, baru berapa hari ini aku terkena racun yang bersifat lambat, barusan aku mencoba menghimpun tenaga, tapi segera kujumpai kalau peredaran hawa murniku tersumbat."

"Sungguh?"

"Sungguh, kenapa aku mesti membohongimu? Memangnya kau anggap aku adalah manusia kurcaci yang takut mati?"

"Kenapa bisa begitu kebetulan?"

"Kejadian yang diatur secara teliti dan seksama baru meninggalkan kesan seolah kejadian tesebut adalah kejadian yang kebetulan, bukan begitu?"

"Belum tentu, kau pernah mendengar istilah yang mengatakan. ibarat baju langit yang terjahit rapi?"

"Jadi kau masih belum mempercayai aku?"

"Aku tak punya alasan untuk percaya padamu."

"Berarti kau tetap besikeras hendak menantangku untuk bertarung?"

"Benar, kita tak akan berhenti bertarung sebelum ada yang mati!"

Jawab Bu-ki tandas. Dengan pandangan mata tajam Sangkoan Jin mengawasi anak muda itu, lama kemudian ia baru berkata.

"Baiklah! Karena persoalan sudah berkembang jadi begini rupa, tampaknya sudah saatnya untuk membuka semua kejadian yang sebenarnya, kemarilah, aku akan mengisahkan satu cerita dulu, selesai mendengar kisah itu kau pasti akan percaya kepadaku."

Berbicara sampai di situ dia mengajak Bu-ki menuju ke batu besar di tengah tanah datar dan duduk di situ.

Setelah duduk, Sangkoan Jin mempersilahkan Bu-ki ikut duduk.

Dengan melintangkan pedangnya di depan dada, Bu-ki duduk persis berhadapan dengan pamannya itu.

"Tahukah kau kapan kau dilahirkan?"

Tanya Sangkoan Jin tiba-tiba. Bu-ki agak tertegun, dia tak habis mengerti kenapa Sangkoan Jin mengajukan pertanyaan yang seaneh itu.

"Tentu saja aku tahu,"

Sahutnya.

"Bukankah kau dilahirkan pada tanggal lima bulan sebelas jam Cho-si?"

Tidak aneh jika Sangkoan Jin mengetahui hari kelahirannya, sudah banyak tahun ia berkumpul dengan ayahnya, tentu saja ia ketahui hal ini dari ayahnya.

Hanya herannya, kenapa ia bisa mengingatnya sejelas itu?

Dengan perasaan heran bercampur kaget anak muda itu mengangguk.

"Benar!"

"Di kaki kiri dekat sisi kananmu terdapat sebuah tanda berwarna hijau bukan?"

"Jadi ayahku juga menceritakan soal ini kepadamu?"

Sangkoan Jin tidak menanggapi pertanyaan tersebut, kembali ujarnya sambil tertawa getir.

"Masih ingat ketika terjatuh dari atas pohon pada usia tiga tahun? Jidat kirimu membengkak besar sekali, masih ingat terjatuh dari pohon apa?"

Bu-ki menggeleng.

"Kau terjatuh dari sebuah pohon waru,"

Sangkoan Jin bicara lebih jauh.

"waktu itu kau diajak ibumu bermain di kebun belakang, karena teledor kau tak ditemukan meski sudah dicari ke mana-mana. Ibumu memanggil-manggil namamu tapi tidak kau gubris, ketika ia mulai cemas hingga nyaris menangis tiba-tiba kau memanggil 'ibu!' dari atas pohon, ibumu yang gelisah bercampur gusar kontan mencaci maki, saking kagetnya kau pun terjatuh dari atas dahan."

Ketika bercerita sampai di situ, wajahnya nampak sangat murung, seakan sedang membayangkan kembali kejadian di masa lalu.

Makin didengar Bu-ki semakin tercengang dibuatnya, kejadian masa dulu yang dia sendiri pun sudah lupa, kenapa paman Siangkoan nya malah ingat begitu jelas?

"Kemudian sewaktu kau berusia duabelas tahun, hari itu kau sedang berlatih ilmu pedang dengan ayahmu, karena kurang hatihati, ayahmu sempat melukai lengan kirimu, apakah hingga sekarang masih meninggalkan bekas luka yang dalam?"

Tentu saja Bu-ki masih ingat kejadian ini, tanpa terasa dia lipat bajunya sambil memperhatikan bekas luka yang dimaksud.

"Ini dia, masih membekas sampai sekarang!"

Sekali lagi Sangkoan Jin tertawa getir.

"Sekalipun sudah tertusuk hingga terluka, kau sama sekali tidak mengaduh atau mengeluh, bahkan masih melanjutkan latihanmu, darah segar pun berhamburan ke mana-mana mengikuti gerakan tubuhmu. Menyaksikan kejadian ini, ayahmu merasa sedih bercampur bangga."

"Dari mana kau bisa tahu tentang perasaan ayahku?"

Kembali Sangkoan Jin tertawa getir.

"Dari mana aku bisa tahu perasaan ayahmu? Segala sesuatu mengenai ayahmu, aku mengetahui jauh lebih jelas dari siapa pun!"

"Sudah pasti!"

Seru Bu-ki setelah terkesiap sejenak.

"kau sudah banyak tahun bergaul dengan ayahku, tentu saja apa yang kau ketahui jauh lebih banyak dari siapa pun."

"Tidak, maksudku adalah semua yang kuketahui mungkin sama banyaknya seperti apa yang ayahmu ketahui."

"Kenapa bisa begitu? Apakah setiap urusan ayah selalu bercerita padamu?"

"Mungkinkah begitu?"

"Tentu saja tidak mungkin, tapi... dari mana kau bisa tahu tentang urusan ayahku bahkan sebanyak apa yang ayahku ketahui?"

"Coba pikirlah sendiri, dalam keadaan seperti apa hal ini baru mungkin terjadi?"

Bu-ki termenung sambil berpikir lama sekali, ia tetap menggeleng.

"Tidak terpikir olehku."

"Mana mungkin? Padahal sederhana sekali masalahnya!"

Bu-ki terkesiap, dipandangnya Sangkoan Jin dengan wajah tertegun, kemudian dengan mulut ternganga dan mata melotot besar bisiknya.

"Kecuali..."

"Betul!"

Sangkoan Jin manggut-manggut.

"Kecuali aku adalah ayahmu bukan?"

Benar, perkataan ini memang yang hendak diucapkan Bu-ki. Tapi, mungkinkah itu? Sampai lama sekali Sangkoan Jin saling berpandangan dengan Bu-ki, kemudian ia baru bertanya lagi.

"Kau masih belum paham?"

"Paham soal apa?"

"Akulah ayahmu!"

Tiba-tiba nada suara Sangkoan Jin berubah, sama sekali berbeda dengan logat bicaranya tadi. Belum selesai mendengar perkataan itu, sekujur badan Bu-ki sudah gemetar keras, agak tergagap bisiknya.

"Kau... kau..."

"Aku adalah ayahmu!"

Dengan menggunakan logat bicara yang paling dikenal Bu-ki, Sangkoan Jin berseru.

Seketika itu juga Bu-ki merasakan kepalanya amat pusing, nyaris dia jatuh tak sadarkan diri.

Betul, suara itu memang suara yang sudah didengar selama banyak tahun, suara yang amat dikenalnya semenjak dilahirkan, tapi...

bukankah orang yang berada di hadapannya adalah paman Siangkoan?

Kenapa bisa berubah jadi ayahnya?

Tak kuasa lagi dia mengamati wajah Sangkoan Jin dengan seksama, dia ingin menemukan titik terang dari garis wajah orang itu.

Namun kecuali logat bicaranya, ia tak berhasil menemukan sesuatu yang mencurigakan.

Wajah Sangkoan Jin tidak mirip dengan wajah seseorang yang mengenakan topeng kulit manusia, terlebih dia amat dekat dengan ayahnya, tapi kenapa tidak ditemukan sesuatu pertanda yang mengarah ke situ?

"Kau tak akan menemukan apa-apa dari wajahku,"

Ujar Sangkoan Jin sambil tertawa.

"Tak bisa menemukan apa-apa?"

"Wajahku sudah dirombak, sudah diubah menjadi wajah lain."

"Aku tidak percaya!"

"Aku tahu kau tak bakal percaya, sebab waktu itu bahkan aku sendiri dan paman Siangkoanmu juga tidak percaya, apalagi kau!"

Logat bicara Sangkoan Jin ternyata logat Tio Kian!

Bu-ki membelalakkan matanya semakin lebar, ia benarbenar tak percaya pada yang dikatakan orang ini, biar digebuk sampai mampus pun dia tak akan percaya.

Kembali terdengar Sangkoan Jin berkata.

"Kau pernah mendengar istilah tentang 'wajah suami istri'?"

"Pernah!"

"Dan tahu secara jelas arti dari perkataan itu?"

"Tahu. Jika suami istri sudah hidup bersama terlalu lama maka lambat laun paras muka mereka berdua akan semakin mirip satu sama lainnya."

"Benar. Kecuali suami istri, sahabat yang berkumpul terlalu lama pun akan mengalami kejadian yang sama, tahu soal itu? Aku dan paman Siangkoan sudah duapuluhan tahun berjuang bersamasama, mati hidup bersama, lambat laun paras muka kami berdua mendekati kemiripan, apa kau tidak merasakannya?"

Setelah berhenti sejenak, katanya lebih jauh.

"Tentu saja kau tak akan merasakannya, sebab termasuk kami berdua pun tidak merasakannya, namun ada satu orang yang menemukan kemiripan ini."

"Oya? Siapa?"

"Biau-jiu, si Tangan Sakti Li Thian-hui!"

"Biau-jiu si Tangan Sakti Li Thian-hui?"

"Pernah tahu tentang orang ini?"

"Aku pernah mendengar, tapi bukankah dia hanya salah satu tokoh dalam cerita dongeng?"

"Tidak! Benar-benar ada manusia seperti dia."

"Benar benar ada manusia macam dia? Benarkah dia sehebat seperti yang didengungkan orang selama ini, bisa mengubah paras muka seseorang menjadi paras muka orang lain?"

"Bukankah aku adalah salah satu contoh hidupnya?"

Sekali lagi Bu-ki mengamati wajah Sangkoan Jin sampai lama sekali, tapi akhirnya dia tetap menggeleng.

"Aku masih belum percaya."

"Kenapa kau masih belum mau percaya?"

Kata Sangkoan Jin.

"baiklah, akan kuceritakan sebuah kisah lagi, moga-moga saja kau bersedia mendengarkan."

Bu-ki tidak menjawab, dia hanya mengawasi lekat-lekat.

"Masih ingat apa yang terjadi di musim gugur tiga tahun berselang?"

"Masih ingat,"

Sahut Bu-ki setelah berpikir sejenak.

"kau bersama ayahku lenyap hampir setengah bulan lamanya."

Bicara sampai di situ mendadak ia terperangah, serunya gagap.

"Jadi kau..."

"Benar, kami telah bertemu Li Thian-hui,"

Tukas Sangkoan Jin cepat.

"begitu bertemu kami, ia nampak terperangah dan berulang kali menyatakan aneh."

"Kenapa?"

"Dia bilang kalau wajah suami istri sudah banyak yang dilihatnya, tapi wajah sahabat belum pernah dijumpai, waktu itu kami keheranan dan bertanya apa yang dimaksud wajah sahabat, dia bilang, sama seperti suami istri, jika sahabat berkumpul terlalu lama, raut muka mereka lambat laun akan semakin mirip."

Bicara sampai di sini Sangkoan Jin berhenti sejenak, kemudian sambungnya lagi.

"Maka Li Thian-hui pun mengajukan satu pertanyaan kepada kami."

"Pertanyaan apa?"

"Dia bertanya kepada kami, ingin tidak berganti peran. Mulamula kami kurang begitu paham dengan kemauannya, maka dia pun berkata lagi, katanya dia mampu memindahkan wajahku menjadi wajahnya dan wajahnya menjadi wajahku."

Bu-ki tidak bicara lagi sebab apa yang diungkap Sangkoan Jin kelewat aneh, kelewat tak masuk di akal, membuatnya setengah percaya setengah tidak.

Sangkoan Jin sama sekali tidak menggubris perubahan wajah Bu-ki, secara ringkas dia pun menceritakan apa yang dialaminya tiga tahun berselang.

Ooo)))(((ooo Ternyata Sangkoan Jin dan Tio Kian tertarik sekali setelah mendapat tawaran dari Li Thian-hui, mereka bertekad untuk saling bertukar wajah, sebab mereka berpendapat, dengan berganti posisi dan identitas siapa tahu akan memperoleh hasil yang sama sekali di luar dugaan.

Bagaimanapun juga mereka sudah lama saling mengenal, kedua belah pihak sama-sama memahami persoalan yang dialami rekannya sehingga tidak terlalu sulit untuk menyamar sebagai rekannya.

Maka mereka pun mengajak Li Thian-hui kembali ke rumahnya dan membiarkan ia melakukan perubahan wajah.

Kepandaian ilmu merubah muka yang dimiliki Li Thian-hui sangat hebat, ia melakukan operasi besar dan mengubah wajah kedua orang itu, tentu saja dengan bantuan tusuk jarum hingga mereka tak perlu merasakan penderitaan dan siksaan.

Tiga hari kemudian, ketika mereka mulai bercermin, kedua orang itu benar-benar terperanjat bercampur heran.

Sewaktu mereka saling berjumpa dan saling berpandangan, rasa kaget mereka semakin menjadi.

Untuk meyakinkan kalau perubahan wajah itu tidak meninggalkan bekas yang bisa menimbulkan kecurigaan orang, mereka saling mengamati kembali wajah rekannya, ternyata memang tak ditemukan titik kelemahan sekecil apa pun.

Maka mereka mulai mempelajari dan menirukan kebiasaan hidup rekannya, setelah lewat tiga tahun lagi, gerak-gerik mereka baru benar-benar mencapai puncak kesempurnaan, mereka sudah terbiasa menganggap rekannya sebagai diri sendiri.

Berapa lama kemudian mereka mulai berpikir bahwa kejadian semacam ini sangat melanggar kebiasaan, timbul perasaan menyesal, maka mereka pun bertanya kepada Li Thian-hui apakah ada kemungkinan untuk memulihkan kembali wajah mereka.

Jawaban yang diterima membuat mereka berdua tertegun.

"Hal ini mustahil bisa dilakukan, memangnya kalian anggap perubahan ini hanya sebuah permainan? Mau dirubah lantas dirubah sekehendak hati?"

"Mengapa kau bisa mengubah wajah kami tapi tak dapat memulihkan kembali seperti sedia kala?"

Tanya Tio Kian.

"Karena kulit kalian sudah terluka, sudah ditarik hingga berubah bentuk, tentu saja tak dapat dipulihkan seperti wajah dahulu!"

"Andaikata kami ingin menunjukkan identitas kami yang sebenarnya, lalu apa caranya?"

"Tak ada caranya."

Jawaban itu terasa amat kejam, bagai sebilah pisau tajam yang menghujam ke dada Sangkoan Jin dan Tio Kian, mereka terkejut bercampur sedih.

"Kalian harus berganti peran, selamanya berganti peran!"

Kembali Li Thian-hui berkata. Tio Kian dan Sangkoan Jin saling berpandangan sampai lama sekali, kemudian baru menegaskan.

"Benar-benar tak ada jalan keluar?"

"Sebenarnya masih ada satu cara."

"Bagaimana caranya?"

"Sebuah cara yang amat menderita dan tersiksa."

"Cara yang menyiksa?"

"Benar!"

"Kenapa?"

"Sebab aku harus menguliti seluruh wajah kamu berdua, agar wajah yang sekarang musnah. Kemudian membiarkan kulit wajah kalian tumbuh kembali perlahan-lahan, kulit muka yang tumbuh kemudian akan berwujud wajah kalian yang dulu!"

Tio Kian maupun Sangkoan Jin merasa teramat gusar, mereka tidak menyangka kalau Li Thian-hui menggunakan mereka berdua sebagai kelinci percobaan.

Tanpa banyak bicara lagi serentak mereka berdua mengayunkan telapak tangannya dan dihantamkan ke dada Li Thianhui.

"Dan Li Thian-hui tewas di tangan kalian berdua?"

Tanya Buki setelah selesai mendengarkan kisah tersebut.

"Ilmu merubah wajahnya memang hebat dan tiada tandingan, tapi kepandaian silatnya teramat cetek, mana mungkin tidak mampus?"

"Kalau mendengar kisahmu ini, berarti di dunia saat ini tak akan ditemukan lagi saksi yang bisa membuktikan kebenaran ini?"

"Jadi kau masih tetap tidak percaya kepadaku?"

Tanya Sangkoan Jin sambil menatap anak muda itu tajam. Bu-ki tertawa.

"Bagaimana mungkin aku bisa percaya? Ceritamu terlalu khayal, kelewat tak masuk di akal!"

"Terlalu khayal? Tapi yang kuceritakan adalah kisah yang sebenarnya. Tahukah kau, kadang-kadang kejadian sesungguhnya bisa kedengaran agak khayal?"

"Tapi ceritamu itu..."

"Apa yang mesti kulakukan agar kau percaya kepadaku?"

Tukas Sangkoan Jin tiba-tiba. Bu-ki segera terbungkam, tak mampu menjawab. Dengan wajah yang sangat serius Sangkoan Jin mengawasi pemuda itu, sekejap kemudian ia baru berkata.

"Coba pinjamkan pedangmu kepadaku."

Bu-ki memandang Sangkoan Jin sekejap, dia pun tidak bertanya apa-apa dan menyodorkan pedangnya.

Setelah menerima pedang itu, paras muka Sangkoan Jin berubah makin serius, dia mencabut pedang itu, mengawasi bagiannya yang tajam kemudian perlahan-lahan dia palangkan mata pedang yang tajam itu ke lehernya sendiri.

"Hey, mau apa kau?"

Tegur Bu-ki terkesiap. Sangkoan Jin tertawa sedih.

"Bukankah hanya dengan cara begini kau baru akan mempercayaiku?"

Berubah hebat paras muka Bu-ki.

"Jadi kau hendak merusak wajahmu sendiri?"

Ia bertanya.

"Tidak, aku hanya akan memulihkan kembali wajah asliku,"

Jawab Sangkoan Jin tenang.

Pikiran dan perasaan Bu-ki bergolak keras, untuk sesaat dia tak tahu bagaimana harus menghadapi kejadian ini.

Memang hanya cara ini yang bisa membuatnya dapat melihat wajah orang ini yang sesungguhnya, hanya dengan jalan menyayat kulit wajah yang ada, dia baru bisa membuktikan apakah orang ini ayahnya atau bukan.

Tapi, andaikata dia benar-benar adalah ayahnya?

Bukankah wajahnya akan hancur musnah?

Bukankah wajah itu akan berlumuran darah?

Tapi seandainya bukan?

Mungkinkah tindakan yang ia lakukan hanya bertujuan untuk membohonginya?

Andaikata orang yang berada di hadapannya adalah Sangkoan Jin?

Dia cerdas dan banyak akal, terbukti dia sanggup mencelakai ayahnya, ini berarti bukan urusan yang sulit baginya untuk memulihkan wajah aslinya.

Dia pasti sengaja berbuat begitu karena sudah menduga pemuda itu pasti akan mencegahnya.

Pelik, persoalan ini betul-betul teramat pelik.

Apa daya sekarang?

Memandang mata pedang di tangan Sangkoan Jin yang siap menyayat wajah sendiri, ia bingung dan tak tahu apa yang mesti diperbuat.

Ooo)))(((ooo Berita kehadiran Bu-ki di benteng Siangkoan-po dengan cepat sudah tersiar luas, Tong Ou pun mendengar berita ini.

Dia pun tahu, tujuan Bu-ki mendatangi rumah judi adalah untuk menarik perhatian Sangkoan Jin, maka sejak awal dia sudah mengutus orang untuk mengikuti secara diam-diam dan memperhatikan arah kepergiannya.

Pertarungan antara Sangkoan Jin melawan Tio Bu-ki, tentu saja dia ingin menjadi penonton saja, maka ia berpesan pada orang yang mengawasi gerak-gerik Sangkoan Jin agar segera memberi kabar bila menemui sesuatu yang tidak biasa, dia sudah siap untuk menyusul.

Tapi yang membuat ia tercengangadalah dalam seharian penuh hari kedua, Sangkoan Jin sama sekali tidak melakukan sesuatu.

Kemudian pada hari ketiga, petugas yang mendapat perintah untuk melakukan pengintaian itu baru muncul dengan wajah pucat sambil melaporkan lenyapnya Sangkoan Jin.

Sejak kapan Sangkoan Jin meninggalkan tempat tinggalnya?

Tak seorang pun yang melihat.

Kejadian ini sungguh membuat Tong Ou tercengang dan tak habis mengerti.

Kenapa Sangkoan Jin harus pergi secara rahasia di luar tahu siapa pun?

Apakah di antara dia dan Tio Bu-ki benar-benar ada rahasia yang amat besar?

Dia tidak tahu, tapi ia segera mengutus orang untuk menyelidiki jejak Sangkoan Jin ke empat penjuru dan hasilnya tetap tidak ada yang tahu ke mana dia pergi.

Sementara menurut laporan pelayan rumah penginapan yang didiami Bu-ki, sejak kemarin ia naik ke Bukit Singa, anak muda itu juga tak pernah balik lagi.

Begitu mendapat laporan tersebut, Tong Ou langsung menyambar pedangnya dan berangkat ke Bukit Singa.

Menurut perhitungannya, Sangkoan Jin pasti sudah mengundang Tio Bu-ki untuk berjumpa di Bukit Singa.

Ketika Tong Ou berangkat, waktu sudah mendekati tengah hari.

Perasaan itu timbul karena dia teringat akan satu hal.

Pedangnya!

Sebelum meninggalkan tempat itu Sangkoan Jin sama sekali tidak mengembalikan pedang itu kepadanya.

Dengan langkah cepat dia menerjang ke muka, sembari melesat teriaknya keras.

"Jangan!"

Sayang semua sudah terlambat, segala sesuatunya sudah terjadi.

Tatkala Bu-ki berhasil menyusul, Sangkoan Jin telah menghentikan langkahnya, menanti Bu-ki sepuluh langkah di belakangnya dan tiba-tiba ia membalik tubuhnya.

Bu-ki segera berhenti di hadapan Sangkoan Jin, kini jarak mereka tinggal dua-tiga langkah dan Sangkoan Jin sudah membalikkan seluruh badannya.

Dalam waktu singkat Bu-ki berdiri dengan mata terbelalak lebar dan mulut melongo, darah bercucuran dalam hatinya, dia menjerit.

Kenapa?

Kenapa?

Kenapa?

Yang dia saksikan adalah selembar wajah yang penuh berlepotan darah!

Rupanya setelah beranjak pergi tadi, dalam jarak sepuluh langkah dia berjalan, secara diam-diam ia mulai menyayati kulit wajahnya.

Ia baru berhenti sambil membalikkan badan ketika mendengar Bu-ki menjerit kalap.

Ternyata dia adalah Tio Kian!

Ayah kandung Tio Bu-ki!

"Ayah!"

Jeritan Bu-ki seakan terhenti di tenggorokannya, dia tak sanggup menjerit, tak mampu berteriak.

Sekulum senyuman pedih tersungging di ujung bibir Tio Kian.

Sebuah senyuman yang amat mengenaskan, senyuman yang mengerikan di balik wajahnya yang hancur berantakan.

Sekalipun kelihatan amat menyeramkan, namun pandangannya nampak begitu lembut, begitu ramah dan penuh kasih sayang.

Suatu pernyataan yang membuktikan bahwa ia sama sekali tidak menyalahkan putranya.

Airmata mulai jatuh bercucuran membasahi wajah Bu-ki, ia bertekuk lutut dan menjatuhkan diri menyembah di tanah, bersembah sujud di hadapan Tio Kian.

"Ayah!"

Akhirnya dengan suara yang parau tapi mengenaskan dia memanggil. Tio Kian tcrt awa sedih, sahutnya.

"Kau tak perlu kelewat sedih, aku berbuat begini bukan hanya Bab 20. Sekali Lagi Berpisah Mati Melihat sikap ragu-ragu yang diperlihatkan Tio Bu-ki, tibatiba Sangkoan Jin menghela napas panjang, katanya.

"Aku tahu kau pasti tak akan percaya, kau kuatir terjadi sesuatu yang di luar dugaan bukan?"

Bu-ki tidak menjawab.

"Kurasa begini saja, besok kita bertemu lagi di sini, aku jamin sampai waktunya aku pasti dapat memperlihatkan bukti yang bisa membuat kau percaya, kau percaya kan?"

Bu-ki memandang Sangkoan Jin seketika, kemudian mengangguk.

Memang tak mungkin baginya untuk menolak, sebab jika dia menolak, dapat dipastikan Sangkoan Jin akan segera merusak wajahnya sendiri, dan seandainya setelah wajah itu dirusak dan ternyata wajah ayahnya, apa yang akan dia lakukan?

Tentu saja ia pun berpikir lebih jauh, seandainya besok Sangkoan Jin tidak datang, apa yang akan dia lakukan?

Tampaknya dia mesti bertaruh dalam urusan ini.

Seandainya besok Sangkoan Jin benar-benar tidak muncul, dia tetap saja dapat pergi mencarinya, bedanya ia menjadi tambah repot.

Begitu melihat anak muda itu mengangguk, Sangkoan Jin segera membalikkan badan dan pergi.

Bu-ki hanya berdiri termangumangu, berdiri diam memandang Sangkoan Jin membalikkan badan dan pergi.

Menunggu pamannya itu sudah berada sejauh duapuluh langkah dari tempat semula, mendadak satu perasaan tak tenang muncul di hati kecilnya, dia merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal, kedukaan yang mengenaskan segera akan berlangsung di depannya.

Perasaan itu timbul karena dia teringat akan satu hal.

Pedangnya!

Sebelum meninggalkan tempat itu Sangkoan Jin sama sekali tidak mengembalikan pedang itu kepadanya.

Dengan langkah cepat dia menerjang ke muka, sembari melesat teriaknya keras.

"Jangan!"

Sayang semua sudah terlambat, segala sesuatunya sudah terjadi.

Tatkala Bu-ki berhasil menyusul, Sangkoan Jin telah menghentikan langkahnya, menanti Bu-ki sepuluh langkah di belakangnya dan tiba-tiba ia membalik tubuhnya.

Bu-ki segera berhenti di hadapan Sangkoan Jin, kini jarak mereka tinggal dua-tiga langkah dan Sangkoan Jin sudah membalikkan seluruh badannya.

Dalam waktu singkat Bu-ki berdiri dengan mata terbelalak lebar dan mulut melongo, darah bercucuran dalam hatinya, dia menjerit.

Kenapa?

Kenapa?

Kenapa?

Yang dia saksikan adalah selembar wajah yang penuh berlepotan darah!

Rupanya setelah beranjak pergi tadi, dalam jarak sepuluh langkah dia berjalan, secara diam-diam ia mulai menyayati kulit wajahnya.

Ia baru berhenti sambil membalikkan badan ketika mendengar Bu-ki menjerit kalap.

Ternyata dia adalah Tio Kian!

Ayah kandung Tio Bu-ki!

"Ayah!"

Jeritan Bu-ki seakan terhenti di tenggorokannya, dia tak sanggup menjerit, tak mampu berteriak.

Sekulum senyuman pedih tersungging di ujung bibir Tio Kian.

Sebuah senyuman yang amat mengenaskan, senyuman yang mengerikan di balik wajahnya yang hancur berantakan.

Sekalipun kelihatan amat menyeramkan, namun pandangannya nampak begitu lembut, begitu ramah dan penuh kasih sayang.

Suatu pernyataan yang membuktikan bahwa ia sama sekali tidak menyalahkan putranya.

Airmata mulai jatuh bercucuran membasahi wajah Bu-ki, ia bertekuk lutut dan menjatuhkan diri menyembah di tanah, bersembah sujud di hadapan Tio Kian.

"Ayah!"

Akhirnya dengan suara yang parau tapi mengenaskan dia memanggil. Tio Kian tertawa sedih, sahutnya.

"Kau tak perlu kelewat sedih, aku berbuat begini bukan hanya bermaksud agar kau percaya kepadaku."

Lantas karena apa? Apakah masih ada rahasia lain? Demikian Bu-ki berpikir, namun ia tak mengutarakan keraguannya itu.

"Ayah sengaja berbuat begini, setengahnya karena ingin menebus dosa,"

Kembali Tio Kian menerangkan. Menebus dosa? Menebus dosa apa? "Aku berharap kau mulai mempersiapkan diri, bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan,"

Tio Kian menyodorkan kembali pedang itu ke tangan putranya.

Dengan sorot mata penuh perasaan ragu dan heran Bu-ki mengawasi ayahnya, selama banyak tahun dia selalu mengira ayahnya telah mati, sungguh tak disangka hari ini telah terjadi perubahan yang sama sekali tak terduga olehnya.

ooooOOOoooo Ada banyak persoalan yang ingin dia tanyakan, tapi ia tak pernah bersuara lagi, setelah menyaksikan cara ayahnya merusak wajah sendiri, dia tahu, ayahnya pasti akan memberikan penjelasan secara panjang lebar.

"Kau sangka paman Siangkoanmu telah membunuh aku? Kini kau sudah yakin dengan identitasku, berarti kau pun pasti tahu bahwa orang yang terbunuh itu sesungguhnya adalah paman Siangkoan bukan?"

Bu-ki tidak bersuara, dia hanya mendengarkan dengan seksama.

"Padahal akulah yang merancang siasat Harimau Kemala Putih, tapi semenjak wajahku dan wajah paman Siangkoan dirubah oleh Li Thian-hui, tabiatku pun perlahan-lahan mulai berubah.

"Aku sering berpikir, seandainya suatu hari perkumpulan Tayhong-tong dapat memusnahkan Benteng Keluarga Tong, maka seluruh dunia persilatan akan jatuh ke tangan kita dan saat itu kekuasaan tertinggi harus kubagi sama rata dengan paman Siangkoan serta paman Sugong.

"Tiba-tiba timbul niat serakahku, aku pikir, kenapa kekuasaan harus kubagi rata dengan mereka? Seharusnya aku seorang yang menguasainya!"

Berbicara sampai di sini Tio Kian berhenti sejenak, setelah menghela napas panjang lanjutnya.

"Setelah muncul pikiran semacam ini, aku sering berubah jadi berangasan dan gampang marah, khususnya setiap kali bertemu dengan paman Siangkoanmu, aku pasti berpikir, bila ingin mengangkangi sendiri kekuasaan besar itu, aku harus menyingkirkan dia terlebih dulu."

"Kau tak mempertimbangkan paman Sugong?"

Tak tahan Buki bertanya.

"Paman Sugong-mu bukan orang yang punya ambisi besar, maka aku tak perlu merisaukan dirinya. Berbeda dengan paman Siangkoan, dia sama seperti aku, punya ambisi yang besar dan haus akan kekuasaan, satu-satunya keunggulanku adalah bahwa aku lebih cerdas dan banyak akal."

Sambil berkata Tio Kian berjalan menuju ke batu besar dan duduk di situ, kini darah yang membasahi wajahnya sudah mengering, dari balik mukanya yang remuk lamat-lamat masih terpampang wajah aslinya, itulah wajah Tio Kian.

"Suatu hari,"

Kembali Tio Kian melanjutkan ceritanya.

"akhirnya terpikir olehku untuk menjalankan siasat Harimau Kemala Putih. Selain bisa melenyapkan Sangkoan Jin dari muka bumi, aku pun bisa menggunakan kesempatan ini untuk menyusup ke dalam Benteng Keluarga Tong dan menunggu saat untuk membasminya. Maka di hari perkawinanmu itulah kupanggil Sangkoan Jin masuk ke dalam ruang rahasia, mimpi pun dia tak mengira kalau aku bakal melancarkan serangan untuk membunuhnya, dan cerita selanjutnya tak perlu kuceritakan lagi, karena kau pasti sudah mengetahuinya."

Raut muka Tio Kian menampilkan siksaan batin dan penderitaan yang luar biasa, sesudah tertawa getir lanjutnya.

"Tahukah kau bahwa sebenarnya orang yang paling jahat adalah ayahmu?"

Bu-ki tidak berbicara, dalam hati dia pun merasakan siksaan dan penderitaan yang luar biasa, perasaannya amat kalut.

Dia tak menyangka ayahnya yang paling dihormati dan paling disayang selama ini ternyata adalah pembunuh yang sesungguhnya, seorang pembunuh berdarah dingin yang tak segan menghabisi nyawa sahabat sendiri, seorang sahabat yang telah mendampinginya puluhan tahun Sedangkan tujuannya tak lebih hanya ingin mengangkangi kekuasaan, ingin menguasai perkumpulan Tayhongtong seorang diri, ingin membasmi Benteng Keluarga Tong dan seorang diri menguasai jagad.

Perbuatan semacam ini jelas merupakan tindakan yang biadab, perbuatan yang tak bisa dimaafkan Bu-ki, tapi apa yang bisa dia lakukan?

Apa yang bisa dia perbuat jika si pelakunya ternyata tak lain adalah ayah kandung sendiri!

Bagaimana sekarang?

Dia awasi ayahnya, mengawasi wajah Tio Kian yang telah hancur berantakan, sama seperti perasaan hatinya sekarang, hancur lebur tak karuan.

"Kau tak perlu bersedih hati,"

Terdengar Tio Kian berkata lagi.

"aku sengaja menghancurkan wajahku untuk membuktikan identitasku yang sebenarnya tak lain karena bertujuan untuk menebus dosa, aku tidak seharusnya mencelakai Sangkoan Jin."

"Ayah!"

Bu-ki tak mampu berkata-kata, dia hanya bisa menjerit dengan perasaan hancur lebur.

"Ayah sudah tak berguna."

"Kenapa?"

"Tong Ou si anak jadah itu telah meracuni aku!"

"Mana mungkin?"

"Tong Ou memang seorang musuh yang lihay, aku yakin dia pasti telah memperalat Ling-ling untuk meracuni aku, mencampurkan racun ke dalam kuah jinsom yang tiap pagi dibuat anak itu untukku."

"Jadi kau..."

"Barusan aku mencoba mengerahkan tenaga, ternyata peredaran darahku sudah tak lancar, kekuatan tenaga dalamku sudah lenyap empatpuluh persen, Tong Ou memang anak jadah!"

"Kenapa dia harus berbuat begitu?"

"Dia ingin memperalat kau untuk melenyapkan aku, berbareng dengan itu dia pun bisa menggunakan kesempatan ini untuk memberi pukulan batin yang terberat untukmu. Coba bayangkan saja, dia merekayasa semua kejadian dengan menciptakan siasat Naga Kemala Putih, jika kau termakan siasatnya dan berhasil membunuhku, kemudian dia mengungkap cerita yang sebenarnya, apakah kau tak akan menerima pukulan batin yang sangat parah?"

Bu-ki bisa membayangkan, saat itu saban hari dia pasti akan bermabuk-mabukan, tak punya selera untuk mengurusi persoalan lain, dengan begitu urusan perkumpulan Tayhong-tong pasti akan terbengkalai, tak ada yang memimpin dan tak ada yang mengurus.

Jika kemudian Benteng Keluarga Tong memanfaatkan kesempatan itu untuk melancarkan serangan secara besar-besaran, bagaimana mungkin Tayhong-tong masih bisa menancapkan kakinya di dunia persilatan?

Bisa jadi perkumpulan itu akan lenyap untuk selamanya dari muka bumi!

Kejam benar manusia ini!

Bu-ki mengumpat dalam hatinya.

"Sekarang, kita harus menghadapi siasatnya dengan siasat!"

"Menghadapi siasatnya dengan siasat?"

"Benar, kau pura-pura berhasil membunuhku agar Tong Ou menceritakan kejadian yang sebenarnya kepadamu, lalu kau berpura-pura pikiranmu kalut, batinmu terpukul dan menyerang dia secara mem-babibuta."

"Kau anggap aku sanggup menghadapinya?"

"Sulit untuk dikata, tapi kalau dilihat dari siasat yang dia gunakan terhadapmu, ini membuktikan bahwa dia pun tak yakin bisa mengungguli kemampuanmu. Kalau tidak, buat apa dia susah-susah menggunakan berbagai jurus kembangan untuk menghadapimu?"

"Benar!"

"Oleh sebab itu kau harus berlagak sangat marah, sangat menyesal hingga pikiranmu sangat kalut, agar dia memandang enteng dirimu. Selain itu, begitu mulai menyerang, kau harus berlagak seolah seranganmu kacau, banyak titik kelemahan dan banyak melakukan kesalahan, agar dia beranggapan kau sudah hampir gila."

"Seandainya dia memanfaatkan titik kelemahan itu untuk membekukku, bukankah sama artinya dengan bunuh diri?"

"Tidak mungkin, dengan watak Tong Ou, tak mungkin dia langsung membekukmu, dia pasti akan mempermainkanmu seperti kucing menangkap tikus. Setelah membuat kau mati tak bisa hidup tak dapat, saat itulah dia baru akan membunuhmu."

"Kau tidak berpikir cara ini terlalu berbahaya?"

"Kalau tidak berani nyerempet bahaya, mana mungkin bisa diperoleh hasil yang baik?"

Sahut Tio Kian.

"Soal yang tersisa adalah waktu yang paling cocok untuk pergi mencari Tong Ou."

Setelah berhenti sejenak untuk menarik napas, kembali ia meneruskan.

"Sayang aku telah melakukan satu kesalahan!"

"Kesalahan apa?"

"Aku kuatir kau mencari aku karena ada urusan penting, maka sewaktu menuju kemari, aku telah bertindak sangat rahasia sehingga tak seorang pun anggota Keluarga Tong yang tahu ke mana aku pergi."

"Apakah langkahmu itu keliru?"

"Kalau dipikir sekarang, rasanya memang keliru besar."

"Kenapa?"

"Sebab dengan watak Tong Ou, dia pasti mengutus orang untuk mengawasiku terus menerus, jika dia tahu bahwa aku datang kemari, sudah pasti dia akan segera menyusul kemari. Dia pasti ingin menyaksikan pertarungan kita berdua kemudian mulai mengejek dan mempermainkan dirimu."

"Ayah tak usah kuatir, aku telah melakukan satu perbuatan yang sangat tepat dan benar!"

"Oh ya?"

"Aku sempat bertanya kepada pelayan rumah penginapan, harus lewat jalan mana untuk tiba di sini."

"Bagus, kalau Tong Ou gagal menemukan jejakku, dia pasti akan mengutus orang untuk mencari tahu jejakmu di rumah penginapan. Saat ini dia pasti sudah tahu ke mana kau pergi."

"Soalnya adalah aku tidak mengatakan kalau akan kemari, aku hanya bertanya harus lewat jalan yang mana untuk sampai ke sini."

"Itu sudah lebih dari cukup, Tong Ou tali bakal melepaskan setiap titik terang yang berhasil dia dapatkan."

"Berarti dia segera akan menyusul kemari?"

"Mungkin saja ia sudah mencari jejak kita di sekitar tempat ini."

"Lalu apa yang kita lakukan sekarang?"

"Kita buat pengaturan di tempat ini."

"Pengaturan?"

"Betul! Kita lakukan pengaturan dan perubahan bentuk di sekitar sini, seolah baru saja berlangsung pertarungan yang amat seru, agar Tong Ou menyangka bahwa kita berdua sudah bertarung!"

"Bagaimana dengan ayah?"

"Aku? Gampang sekali, kini wajahku sudah hancur berantakan, jika aku berlagak mati, dia pasti dapat dikelabui."

"Jadi kau akan berlagak mati?"

"Benar, dengan begitu Tong Ou tak akan menyangka kalau kau sedang bermain sandiwara!"

"Tapi..."

"Kenapa? Kau anggap kurang baik jika aku berlagak mati?"

"Bukan, bukan begitu."

"Lalu maksudmu..."

"Janji pertarunganku melawan Tong Ou!"

"Peduli amat dengan segala janji, kau harus memanfaatkan kesempatan yang sangat baik ini untuk menghabisinya, sebab tidak gampang untuk menemukan kesempatan lain...."

"Kau ingin pegang janji? Terhadap manusia semacam ini pun kau ingin pegang janji? Hmm, jangan mimpi! Jadi kau anggap dia pun akan pegang janji?"

"Paling tidak aku ingin menjadi seseorang yang pegang janji."

"Baik, jadilah orang yang pegang janji. Hanya saja aku perlu memberitahumu, setelah bertemu denganmu nanti, dia pasti akan memanas-manasi hatimu, memancing amarahmu agar kau menyerangnya."

"Kalau sampai dia berbuat begitu, artinya bukan aku yang terlebih dulu ingkar janji!"

"Anakku, dunia persilatan itu penuh dengan kelicikan dan kemunafikan, kenapa sih kau harus menjadi seorang lelaki yang pegang janji? Kejujuranmu akan membuat kau kujur!"

"Tapi, bukankah pegang janji merupakan hal yang diutamakan dalam pergaulan dunia persilatan?"

"Cuh!"

Dengan gemas Tio Kian meludah.

"Sudah banyak tahun aku hidup dalam dunia persilatan, selama ini belum pernah kujumpai orang yang pegang janji!"

"Tapi, bukankah ayah selalu mengajariku untuk jadi seorang lelaki yang pegang janji?"

"Ajaran kembali soal ajaran, kenyataan jauh berbeda dengan ajaran, kalau kau tak pandai melihat keadaan, tak pandai menyesuaikan diri dengan keadaan, kaulah yang bakal hancur, mengerti?"

"Aku tidak tahu..."

"Kenapa kau masih berkeras kepala?"

Tukas Tio Kian jengkel.

"Bayangkan saja, bila kita berhasil membasmi Benteng Keluarga Tong maka perkumpulan Tayhong-tong akan menguasai jagad, bayangkan sendiri, sampai waktu itu siapa yang akan memimpin seluruh dunia? Seluruh dunia persilatan akan menjadi milik siapa?"

"Tentu saja menjadi milik ayah!"

"Aku?"

Tio Kian mendengus dingin.

"mungkinkah itu?"

"Kenapa tidak mungkin?"

"Kedokku sudah terbongkar, wajah asliku sudah ketahuan setiap orang, semua anggota Tayhong-tong tahu kalau aku yang telah membunuh Sangkoan Jin. Dalam keadaan begini apakah aku masih pantas, masih berhak untuk memimpin mereka?"

"Lalu..."

Tio Kian tertawa getir.

"Anak selalu menggantikan posisi ayahnya, Tayhong-tong akan menjadi milikmu, tahukah kau?"

"Aku?"

Tio Bu-ki melengak, untuk sesaat dia tak tahu bagaimana harus menanggapi perkataan itu.

"Benar, aku sengaja merusak wajahku selain bertujuan untuk menebus dosa, aku masih mempunyai tujuan lain. Aku ingin mengumumkan bahwa mulai saat ini aku sudah melepaskan segala urusan Tayhong-tong, akan kuserahkan semua tugas dan tanggung jawab ini ke tanganmu!"

Melihat pemuda itu tidak bicara, kembali Tio Kian berkata.

"Oleh karena itu, jika kau ingin memimpin Tayhong-tong dengan baik dan benar, kau mesti paham bahwa menyelesaikan urusan di depan mata adalah paling utama! Soal pegang janji? Hmm, itu tergantung dengan siapa kita berhadapan!"

"Apa yang ayah katakan tidak sesuai dengan watakku!"

"Watak? Jika kau ingin mengikuti watak, lebih baik hiduplah mengasingkan diri di atas gunung atau di dasar jurang! Kalau ingin bergaul dan hidup dalam dunia persilatan, yang diutamakan adalah mencapai tujuan dengan menghalalkan segala cara, jangan bicara soal watak atau segalanya!"

"Ayah, kau sangat berubah, kau berubah sekali..."

"Jika seseorang sudah terlalu lama hidup dalam dunia persilatan, mungkinkah dia tak berubah?"

"Benarkah kehidupan dalam dunia persilatan itu sangat berbahaya?"

"Jauh lebih berbahaya daripada apa yang kau bayangkan selama ini!"

Tiba-tiba Bu-ki menghela napas panjang, kesedihan muncul dalam hatinya.

Mungkinkah baginya untuk hidup terus sebagai manusia dunia persilatan?

Haruskah dia berjuang terus dalam dunia yang penuh kelicikan dan kemunafikan ini?

Pikiran ini hanya melintas sekejap dalam benaknya, karena perkataan Tio Kian telah memotongnya.

"Demi perkumpulan Tayhong-tong, demi melanjutkan perjuangan dan hasil karya yang berhasil kita bentuk selama ini, kau harus pandai menilai tiap suasana dalam dunia persilatan, pandai menghadapi kenyataan dan pandai memilah mana yang benar dan mana yang tidak, dengan begitu kau baru bisa bertahan sekuat batu karang."

Baca Juga: Legenda Kelelawar 7

Baca Juga: Ilmu Golok Keramat 6

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert