Eps 3 Pengelana Rimba Persilatan - Huang Yi
Baca online Pengelana Rimba Persilatan - Huang Yi
Cersil Pengelana Rimba Persilatan - Huang Yi.
Sebuah bayangan hitam muncul di pekarangan, seluruh tubuhnya hitam, hitamnya membuat hati orang menjadi dingin, berdiri di sana seperti roh yang mendadak muncul.
"Tuan, di sebelah utara kota ada tempat peristirahatan, Hitam Jahat (Hei-sha) Shang-fei menunggu anda."
Bayangan hitam itu berkata pada pintu kamar Fu Ke-wei yang tidak tertutup rapat dengan menggunakan suara melengking.
"jika anda takut dan menolaknya, anda harus segera meninggalkan tempat ini, pergi ketempat lain, setelah pergi jangan kembali lagi. Jika tidak, seluruh jagoan Xiang-yang akan menggunakan seluruh kekuatan menghadapi anda, baik secara terang-terangan maupun secara gelap, anda selangkah pun akan sulit bergerak, setiap langkah pasti ada bahaya menunggu, minum seteguk air saja mungkin terjadi hal yang tidak diduga. Aku pergi dulu, datang atau tidaknya terserah anda."
Habis bicara, orangnya seperti elang terbang, langsung naik ke atas, seperti terbang keluar pekarangan, di tengah jalan membelok tajam naik ke atas genteng, sepertinya bukan seorang manusia, tapi seekor burung besar yang dapat terbang bebas, ilmu meringankan tubuhnya, sungguh menakutkan orang.
Fu Ke-wei membuka lebar pintu kamar, menggendong tangan melangkah keluar kamar.
"Jurus Naga Terbang Sembilan Besar yang hebat."
Sambil bicara sambil melangkah.
"cara demonstrasi begini sangat menakutkan orang, kelihatannya jika aku tidak diam-diam kabur ketempat jauh, mungkin akan mampus... baik!"
Sebuah bayangan abu-abu yang tipis, dari bawah tembok seperti setan menerjang datang, cepat laksana kilat, sepasang tangannya mendekati punggung Fu Ke-wei.
Tiba-tiba Fu Ke-wei berjongkok kebawah, sepertinya di belakang dia punya mata, sepasang tangan lawan yang hampir mengenai tubuhnya, tiba-tiba tidak mengenai sasarannya.
Tinggi tubuh tidak sampai dua chi, jurus Kaki Ekor Macan Fu Ke-wei menyerang dengan dahsyat, tidak ringan tidak keras mengenai lutut bayangan abu-abu di belakangnya, lalu mendorong, bayangan abu-abu itu pun terjatuh kebawah.
Dia membalikan tubuh menerkam seperti macan, berteriak keras sekali, kaki kanannya ditekukan dulu, seperti godam besar ribuan jin, buuk...
terdengar satu suara, sebuah lutut mengenai dadanya bayangan abu-abu, tubuhnya mengikuti membungkuk kedepan, satu telapak dipukulkan di telinga kanan bayangan abu-abu.
Dalam sekejap ini, senjata gelap berter-bangan.
Bayangan orang bergerak cepat tiba-tiba terdiam, senjata gelap menembak tembok seperti hujan mengenai daun teratai, kembang api bertebaran.
Bayangan abu-abu diam tergeletak di lantai, tapi Fu Ke-wei telah menghilang.
Di atas atap rumah dan di kegelapan pekarangan, ada lima bayangan hitam menerjang keluar mengikuti senjata gelapnya, siapa pun tidak mengetahui bagaimana menghilangnya Fu Ke-wei.
Hei-sha Shang-fei, salah satu dari Enam Jahat Xiang-yang, setelah naik ke atas atap rumah dengan ilmu meringankan tubuhnya yang luar biasa itu, segera menggunakan ilmu terbang di atap jalan di dinding, menggunakan atap rumah berjalan pergi ke selatan, dengan cepat sekali sampai di ujung jalan utara kota, baru meloncat ke bawah.
Di utara kota ada sepuluh lebih bayangan hitam menunggu, setelah orangnya datang, segera menyelusuri jalan ke utara dengan cepat sekali.
Di luar satu li, di sebelah kanan jalan ada bangunan peristirahatan, dan di malam hari ada tersedia air teh.
Di pintu bangunan berdiri satu bayangan hitam.
Sepuluh lebih bayangan hitam seperti terbang telah sampai.
"Berpencar dan sembunyi disekeliling."
Bayangan paling depan berteriak pelan.
"Tidak perlu lagi, apa kalian baru datang?"
Bayangan yang berdiri di pintu bangunan peristirahatan berteriak.
"ha ha ha ha! Tamu datang lebih dulu dari pada tuan rumah, saudara Hei-sha, Shang-fei, kalian sungguh kurang sopan, aku marga Fu sudah lama menunggu. Jangan tergesa-gesa, baik-baik istirahat dulu, supaya bisa menambah semangat, betul tidak?"
Empat belas orang, berbaris di tengah jalan, semua tampak tertegun, mereka hampir tidak percaya Fu Ke-wei bisa sampai terlebih dulu dari mereka.
"Saat aku menyampaikan pesan, apa kau benar ada di dalam kamar?"
Tanya Shang-fei terkejut.
"anda da......datang dari mana?"
"Omong kosong! Jika aku tidak di dalam kamar, bagaimana tahu tempat pertemuannya?"
Kata Fu Ke-wei dingin.
"di penginapan masih ada enam orang bangsat bisa jadi saksi, mereka diam-diam menyerang dengan senjata gelap."
"Mereka......"
"Demi undangan anda, aku tidak apa-apakan mereka. Tapi, bangsat yang tiarap di bawah tembok yang diam-diam menyerangku dengan keji, dia menyerang dari belakang menggunakan Cakar Setan Dingin, sangat menyebalkan sekali. Apakah dia itu Setan Jahat Sun-ren? Dia sedikit pun tidak ada rasa kasihan, hawa racun negatif Cakar Setan, dapat melukai orang dari jarak tiga chi lebih, telah digunakan secara diam-diam menyerang orang sangat jitu sekali, perbuatannya ini tidak salah kalau di bunuh."
"Kau apakan dia......"
"Dia tidak akan mati, tapi di bandingkan dengan Ba-fang-du-ti Jin-ba-dou, dia mungkin lebih parah sedikit, ada beberapa tulang iga yang patah harus diobati."
Empat belas orang itu melihatnya, jelas terkejut oleh perkataannya, juga sepertinya rada sedikit tidak percaya.
"Kelihatannya, kau ini adalah pesilat tinggi misterius yang berilmu hebat."
Kata Shang-fei menggigit gigi.
"bertarung adil denganmu, orang yang dapat mengalahkanmu tidak ada seberapa orang."
"Bagus, bagus."
Dengan waspada dia melihat pada empat belas orang yang mengepung-nya.
"di luar orang masih ada orang, di luar langit masih ada langit, ilmuku belum terhitung hebat. Anda mengundangku datang kesini, betulkah berniat menggunakan keahlian silat mengusir aku meninggalkan tempat ini?"
"Kau sedang mendesak kami melakukan hal yang luar biasa."
"Tidak berniat lagi bertarung dengan adil?"
Dia bertanya dengan nada dalam.
"Ini juga kau yang memaksa kami."
"Empat belas lawan satu?"
"Mungkin."
Kata Shang-fei.
"kau terlalu hebat, tidak bisa salahkan kami."
"Kalian melakukan ini, apakah pernah memikirkan akibatnya?"
"Kami sudah datang, sudah datang ya tergantung nasib. Tenang saja, kami tidak akan mendakwamu membunuh orang pada pemerintah. Aku percaya kau mungkin bisa membunuh beberapa dari kami, tapi kami percaya kau akan membayarnya dengan nyawamu."
"Ooo...! Orang penting kalian, sepertinya belum datang."
"Yang kau maksud saudara Li? Dia pergi mencari Huo-bao-ing dan Bu-fei-khe untuk mencari penyelesaian, tidak sempat datang kesini. Empat belas di banding satu, kau masih merasa kurang?"
"Sebaliknya, aku merasa harus waspada. Orang banyak lebih kuat, masing-masing perbedaan silatnya tidak beda seberapa, lebih banyak satu orang pasti lebih dapat peluang. Makanya, aku tidak berniat menempuh bahaya bertarung dengan kalian empat belas orang, selamat jalan......"
Tapi, dia sudah terlambat satu detik, di saat dia mengatakan tidak berniat menempuh bahaya, empat orang yang paling dekat telah maju melakukan penyerangan.
Lawannya menyerang menggunakan telapak dan tinju, dia sedikit merasa di luar dugaan, di saat ragu-ragu inilah, dia sudah terlambat untuk mundur, dengan reflek dia mengerahkan tenaga dalam menahannya.
Begitu sepasang tangannya di buka, dia tahu dia akan celaka Dia pertama kali melihat empat orang menyerang, tidak menyangka sepuluh orang lainnya mendadak mengulurkan telapak tangan pada temannya, dengan kuda-kuda, tangan sepuluh orang itu masing masing di tempelkan pada bahu empat temannya itu.
Melihat keadaan begini, dia tahu habislah sudah.
Buuk...
paak...
beberapa suara keras terdengar, dia merasa seperti sepuluh ribu jin tenaga mengenai tubuhnya, sepasang lengannya seperti terkena geledek, tenaga dalam tertahan, tenaga dahsyat membalik.
Ilmu menyatukan tenaga dalam, adalah ilmu hebat yang jarang ada, ilmu ini harus di gunakan oleh orang yang telah berlatih tenaga dalam, jika salah seorang tenaga dalamnya kurang kuat, orang ini bukan saja akan celaka, tenaga yang terkumpul juga akan buyar.
"Mmm......"
Dia teriak dengan suara terbekam, tubuhnya terbang kebelakang oleh tenaga yang dahsyat, menuju ke arah bangunan peristirahatan yang berada dua zhang lebih dibelakang, seperti layang-layang putus tali, tangan dan kaki meronta-ronta terbang.
Di atas bangunan peristirahatan di tiang palang, turun satu bayangan hitam, tubuh itu turun dari atas kebawah sambil membentak, sepasang telapak tangannya memukul, menimbulkan angin pukulan yang kuat.
Buum...
terdengar suara keras, arah tubuh Fu Ke-wei yang jatuh berbelok setelah terkena serangan angin pukulan itu, roboh ke lantai di tengah bangunan.
Orang yang diam-diam menyerang tubuh Fu Ke-wei naik miring, sepasang kaki turun ke bawah, dengan kekuatan penuh menginjakan kakinya pada Fu Ke-wei.
Di saat hidup atau mati, orang yang semangat hidupnya kuat, bisa mendadak mengeluarkan tenaga tersembunyi yang sulit di bayangkan, seluruh tubuhnya timbul satu perubahan aneh.
Sekejap setelah dia jatuh, dia mengeluarkan satu siulan panjang yang bernada marah, tubuhnya berguling, tangan dan kakinya mendadak mengeluarkan tenaga kuat meloncat ke atas, tubuhnya seperti anak panah terlepas dari busurnya, dari bawah palang pembatas bangunan menerobos keluar, sejauh tiga zhang lebih, sekali loncat tiga zhang lebih, dua tiga loncatan telah menghilang di kegelapan malam, seperti bayangan setan yang menghilang.
Orang yang mengejar di belakang, hanya mengejar seratus langkah lebih, sesudah itu tidak terlihat bayangannya lagi.
Hari kedua, hari ketiga, pelayan penginapan Fu-tai tidak pernah melihat dia kembali kepenginapan.
Sore hari di hari ketiga, di utara kota Fan sekitar lima-enam li di Ji-li-dian-guan.
Satu li sebelah barat Ji-li, ada satu sungai kecil yang mengalir ke selatan, pantainya tumbuh subur rumput alang-alang yang cukup tinggi.
Ada seorang anak kampung sedang mencari anak kambing yang hilang, ketika mendekati pantai, tiba-tiba dia melihat di depan rumput alang alang, duduk seorang pemuda dengan wajahnya yang pucat, sepasang mata tertutup rapat, sepertinya sedang tidur.
Bajunya yang robek-robek sudah tidak bisa menutup tubuhnya lagi, otot dan dagingnya tampak merah seperti darah, berbeda sekali dengan wajahnya yang pucat putih.
"Aduh! Kau.. .kau ini manusia.. .atau setan"
Anak kampung itu berteriak terkejut, sempoyongan melangkah mundur.
"Aku manusia."
Kata si pemuda, pelan-pelan dia membuka sepasang mata yang tampak kelelahan.
"aku punya satu balok perak, tolong belikan aku makanan, paling bagus ada satu teko arak. Dan juga, kecuali orang di rumahmu, jangan sekali-sekali katakan aku ada disini. Jangan takut, kemarilah, saudara kecil!"
Anak kampung itu sudah tidak takut lagi, dengan wajah penuh pertanyaan pelan-pelan mendekat.
"Di rumahku ada arak, masakan juga bisa beli di Ji-li-dian-guan."
Anak kampung berkata.
"kau...kau tampaknya seluruh tubuhnya berlumuran darah..."
"Bukan, aku di lukai oleh perampok."
Dia menyodorkan sepuluh liang perak.
"paling baik suruh orang tuamu sediakan masakannya, jangan beli di Ji-li-dian-guan."
"Baiklah."
Anak kampung menerima perak.
"rumahku di depan tidak jauh, aku bawa kau kesana, baik tidak?"
"Aku telah mendapat luka yang parah, seluruh tubuh terasa lemas, tidak bisa berjalan."
"Ka......kalau begitu biar ayahku menggendongmu......"
"Tidak perlu, begitu bergerak tubuhku jadi sakit."
"Ha......hari hampir gelap......"
"Aku akan duduk disini sampai hari terang. Cepatlah pergi, terima kasih adik kecil."
Anak kampung menganggukan kepala, dengan cepat berlari pergi.
Hari keempat, pemilik penginapan Fu-tai, siap melapor pada kantor pemerintah mengenai tamunya yang hilang.
Hal ini sangat repot, tapi tidak melapor lebih repot lagi, siapa tahu telah terjadi perkara pembunuhan, kecuali mayatnya tamu selamanya tidak diketemukan.
Masalah keluarga Li menyelidik saksi, masih tetap di lakukan, tidak memperdulikan masalah Fu Ke-wei lagi.
Di dalam hati orang orangnya keluarga Li berpikir, si marga Fu tentu sudah tidak ada di dunia lagi!
Jin-ba-dou dan Setan Jahat Sun-ren telah menjadi orang tidak berguna, saluran yang dikunci tidak ada orang yang bisa membukanya.
Jika si marga Fu benar-benar telah mati, dua orang ini juga hilang harapannya?
Bagusnya tuan besar Li punya uang, juga dengan Wu-dang ada hubungan yang baik, dia telah mengutus orang membawa uang yang banyak pergi ke Wu-dang, mengundang para senior Wu-dang untuk datang menolong, dalam dua hari ini seharusnya sudah datang, harapan dia besar sekali.
Hari ini setelah lewat tengah hari, kabar dari Xu-zhou telah sampai di perumahan Han-bei.
Setelah hari gelap, restoran Xing-yuan yang tidak jauh di sebelah kiri dari gedung Dong-dao, adalah restoran yang ternama di kota ini, tamu yang keluar masuk adalah tuan besar yang ternama di kota ini, seratus langkah sebelah timur jalan, adalah rumahnya Hei-sha Shang-fei.
Hei-sha Shang-fei sering mengundang orang di restoran Xing-yuan.
Ruang makan di tingkat dua tampak luas sekali, ada tiga ruang berdampingan, ruang vip terpisah menggunakan penghalang, juga ada empat kamar vip kecil, untuk tamu yang datang membawa istrinya.
Di sekeliling ruangan digantung sepuluh lebih lentera, terang seperti siang hari.
Di sebelah timur ruang vip, wajah tuan rumah Hei-sha sudah tersenyum.
Tamu utama Tuan besar Li juga berseri-seri, sepertinya seluruh tubuhnya penuh kegembiraan.
Ada enam orang tamu pendamping, di-antaranya ada juga Luo Wen-jing.
Tamu restoran memenuhi ruangan, suaranya sangat ramai, orang didalam ruang vip jika bicara harus dengan suara keras.
"Saudara Shang, berita dari Xu-zhou telah sampai tadi sore."
Suara Tuan besar Li meninggi.
"berita yang di dapat dari perusahaan angkutan, memastikan orang itu marga Fu, namanya Xian, adalah bocah kecil yang pantas mati itu. Sedangkan surat yang datang dari kantor Nan-yang, mengatakan orang itu marga Wu namanya Ming, mereka harus mendapatkan dia untuk menjadi saksi, semua membuat aku bingung."
"Saudara Li, sebenarnya masalah ini tidak ribet."
Hei-sha dengan lagak sok berkata.
"bocah itu tentu saja tidak mau memperkarakan, mungkin dia telah melapor pada pemerintah, makanya dia menulis dengan nama palsu Wu-ming, buru-buru meninggalkan daerah Nan-yang, supaya tidak terlibat perkara, tinggal disini jadi saksi bukanlah hal yang menyenangkan. Beberapa hari lalu di gunung Xian, dia menitip surat pada putra anda, jelas ingin memeras saudara Li, dia sungguh pantas mati."
"Aku khawatir dia belum mati."
Kata Tuan besar Li dengan tidak tenang.
"jika dia kembali ke Nan-yang menjadi saksi, ini..."
"Saudara Li tenang saja! Setelah terkena serangan tenaga empat belas orang yang bergabung, putra anda juga tepat waktunya menggunakan jurus Telapak Menggoyang Gunung melakukan serangan maut, walau dia punya sembilan nyawa, juga tidak akan lolos dari maut."
"Tapi dia mati tidak terlihat mayatnya."
Nada bicara Tuan besar Li tetap tidak mantap.
"seharusnya, dia segera mati di tempat, kenyataannya dia masih bisa menghilang."
"Itu karena hari terlalu gelap, kami juga sedang kehabisan tenaga, tidak dapat segera mengejarnya, makanya dia dapat lari sampai di pinggir sungai, terjun ke sungai dan mati, jejak dan nasibnya sudah jelas. Bicara soal ilmunya, tidak mati di tempat bukanlah hal aneh. Saudara Li, tidak perlu khawatir lagi, tidak akan ada orang yang mengganggumu lagi! Ooo! Saudara Li, pendeta dao Qing-xi kapan bisa datang?"
"Besok pasti datang."
Kata Tuan besar Li.
"tadi siang aku menjenguk saudara Sun, luka patah tulangnya sudah bisa di sembuhkan, tapi mungkin dalam waktu singkat tidak bisa menggunakan cara mengurut membuka salurannya, aku berharap obat Wu-dang, Jiu-huan-dan dari pendeta dao Qing-xi, bisa menolong saudara Sun dan Jin."
"Seharusnya tidak akan ada masalah."
Suara Shang-fei dengan sangat percaya diri.
"pendeta dao Qing-xi adalah salah satu dari Sembilan Tetua Wu-dang, dulu pernah memegang jabatan Tujuh Insan Danau Pelepas Pedang, ilmu silatnya sudah sampai taraf dewa, pasti bisa menguraikan jurus anehnya bocah Fu itu."
"Itulah yang diharapkan."
"Di pihak Nan-yang tidak ada beritanya."
Shuang-jie-shu-sheng Luo Wen-jing mengalihkan pembicaraan.
"Dua orang tua itu telah meninggalkan kota Fan, sepertinya mereka tidak berani lagi mengacau. Aku dengan nona Duan-mu berniat pamit, besok akan pergi ke Wu-dang."
"Saudara Luo, mainlah beberapa hari lagi."
Tuan besar Li dengan tulus minta tamunya tinggal.
"Pendeta dao Qing-xi sudah dua puluh tahun tidak pernah meninggalkan Wu-dang, dia menyanggupi datang kesini, kau bisa mendekati dia, aku percaya pasti akan mendapat banyak manfaat."
"Benar!"
Kata Shang-fei ikut mendukung kata-kata Tuan besar Li.
"pendeta dao Qing-xi di dunia persilatan bukan saja senior dan terhormat, namanya juga termasyur, di hati orang sampai ribuan li, juga adalah dewa hidup yang semua orang tahu, ada kesempatan mendapat petunjuk dari dia, sungguh itu adalah satu kehormatan bagi kami ini, saudara kecil jangan melewatkan kesempatan ini."
Shuang-jie-shu-sheng tidak ada masalah dengan Wu-dang, tapi dia ada kesulitan lain.
Beberapa hari belakang ini, dia menyadari perbuatan Li Yong-kang tidak cocok dengan hatinya, semua orang yang berhubungan dengannya tampak misterius, di luar mengatakan telah mendapat bantuan dari para pendekar kebenaran, untuk menghadapi tantangan Nan-yang-ba-jie.
tapi di dalam hati dia sudah merasakan, dia telah diperalat oleh Tuan besar Li.
Tentu saja dia tidak mau membantu orang begini tapi dia tidak mau dianggap setia kawan.
Dan sekarang Nan-yang-ba-jie telah menarik orang yang diutus untuk menanyakan masalah, musuh berat si marga Fu itu juga telah dibunuh oleh kelompok Enam Jahat, masalahnya telah selesai, dia harus cepat-cepat meninggalkan tempat yang kacau ini.
Dia tidak begitu setuju dengan tingkah laku Tuan besar Li, juga tidak tahu kejadian sebenar-nya, lebih-lebih tidak menduga peristiwa berdarah di kabupaten Ye benar-benar melibatkan orang-orang yang tidak berdosa, dia mengira ini hanyalah masalah permusuhan antara Tuan besar Li dengan Nan-yang-ba-jie, penguasa dua daerah, saling terjadi perselisihan itu adalah hal yang biasa, cara yang digunakan kedua belah pihak masing-masing ada kekurangannya, itu tidak bisa terlalu disalahkan.
Tapi, Tuan besar Li bersatu dengan Enam Jahat diam-diam menyerang marga Fu, dia tidak mengatakannya di mulut, tapi didalam hati sangat tidak senang, saat ini jika tidak meninggalkan, tunggu kapan lagi?
Dia sudah tidak ada keperluan tinggal untuk melerai perselisihan teman-teman dunia persilatan, sehingga, dia melepas kesempatan bertemu dengan tetua Wu-dang, dia bersikeras menyatakan besok meninggalkan Xiang-yang pergi keselatan.
0-0-0 Pesta makannya hingga larut malam, setelah puas baru bubar.
Di kota Tuan besar Li punya rumah lainnya, tempatnya di Tong-ti-fang, sebuah pekarangan yang luas, hanya beberapa keponakan keluarga Li yang tinggal di sana, biasanya di gunakan untuk menjamu para tamu penting.
Beberapahari ini, Shuang-jie-shu-sheng dan Duan-mu Xiu Yin, telah pindah dari Kebun Li di luar kota ke pekarangan besar di dalam kota, di dalam pekarangan masih tinggal sepuluh lebih teman baik yang datang siap untuk membantu menghadapi Nan-yang-ba-jie, melakukan sesuatu di sini lebih leluasa dibanding di Kebun Li, pergi juga lebih mudah dan cepat.
Jika di dalam kota ini tidak ada rumah tinggal, maka malam hari dia tidak akan muncul di restoran, di malam hari lalu lintas dalam kota dan luar kota terputus sama sekali.
Pasar malam telah lenggang, orang di jalanan juga semakin sedikit.
Kebanyakan toko telah tutup, lampu pintu rumah bersinar merah gelap.
Lentera besar yang tertulis merk toko, bergoyang-goyang ditiup angin sungai, bayangan orang yang berjalan juga jadi bergoyang-goyang, pandangan mudah menjadi keliru.
Tapi bagi pesilat tinggi dunia persilatan ini, pandangannya tidak mudah keliru.
Tuan besar Li berjalan di tengah, Shuang-jie-shu-sheng di sebelah kanan.
Seorang lagi yang julukannya Angin Putar Qin Bao-yuan berjalan di sebelah kiri, Qin adalah teman baiknya Tuan besar Li.
Tiga orang berjalan berdampingan, masing masing dalam keadaan setengah mabuk, sambil berbincang berjalan menuju Tong Ti-fang.
Bayangan orang memanjang, panjang sekali diatas jalan yang lebar.
0-0-0 Bab 8 Bandit Tai Qiao-zhuang yang setia, menyamar jadi seorang pengelana miskin, dia mengikuti dari belakang dua puluh langkah lebih, tubuhnya yang tinggi besar tampak sedikit terbungkuk lesu.
Seorang yang berdandan pelayan keluarga kaya, berjalan cepat sambil menundukan kepala, dia berpapasan dengan Tuan besar Li bertiga, sepertinya ada urusan penting yang harus diurus, hingga dijalan tidak memperdulikan orang lain.
Tiga orang pesilat tinggi dunia persilatan tidak melihat jelas wajah pelayan ini, bagaimana pun begitu melirik, sudah tahu bukan orang asing yang dikenal oleh dirinya, jadi tidak perlu di perhatikan.
Di jalanan orang yang ingin cepat-cepat pulang kerumah tidak sedikit, bagaimana bisa memperhatikan gerak-gerik setiap orang?
Pelayan itu jalannya terburu-buru, sesaat setelah berpapasan dengan Tai Qiao-zhuang, Bandit Tai juga tidak memperhatikan wajah orang tersebut.
Perhatiannya Bandit Tai, terpusatkan pada Shuang-jie-shu-sheng yang berada di depan.
Mendadak...
matanya sedikit bergerak, dia seperti merasa ada gejala yang tidak normal.
Tiga orang di depan juga merasa muncul gejala yang mencurigakan, Angin Berputar Qin Bao-yuan yang berjalan di sebelah kiri, tiba-tiba tubuhnya sempoyongan, kakinya jadi kacau, bayangannya bergoyang di sinari lampu.
Pelayan tadi berpapasan dengan Angin Putar Qin Bao-yuan.
Tiga orang yang setengah mabuk, jalannya tetap normal.
Di dalam hati Bandit Tai timbul rasa was was, begitu terasa gejala yang tidak enak, dengan waspada dia melihat kebelakang, ingin melihat pelayan yang baru saja lewat.
Tapi dia sudah terlambat, setiap orang yang mengetahui belakangan pasti akan mengalami nasib sial, kepalanya mendadak jadi kaku, tidak dapat bergerak, kepalanya telah dikunci oleh sebuah jari tangan besar.
Satu tenaga besar, tanpa dapat dilawan, menarik kepala dia kebelakang.
Jika meronta, kepalanya mungkin akan seperti telur dipecahkan, bagaimana dia berani meronta?
"Tahu diri sedikit Bandit Tai, jika ingin melawan atau menyerang, yang pertama harus kau pikirkan adalah kepalamu dulu."
Orang yang mengunci dia berkata dengan galak di sisi telinganya.
"sampaikan pesan ku pada Shuang-jie-shu-sheng, suruh dia dengan nona Duan-mu cepat-cepat meninggalkan Xiang-yang, jangan membantu lagi si marga Li, supaya nama baik dia tidak rusak, aku sedikit menyukai orang semacam dia. Ini adalah peringatan terakhir, tindakan selanjutnya akan menjadi serangan mematikan."
Dia merasakan tekanan di kepala tiba-tiba menghilang, cepat dia membalikan tubuh.
Aneh, di belakang tidak terlihat ada orang, jalan yang sepi, dalam jarak seratus langkah satu bayangan setan pun tidak ada.
"Iii...! Orang ini bisa bergerak lebih cepat dari gerak mataku? Apa mungkin?"
Bulu kuduk-nya jadi berdiri, dia berkata pada diri sendiri, sepertinya merasakan hawa setan, hawa kematian.
Dia mulai kehilangan percaya dirinya, dia curiga pada diri sendiri apakah telah kehilangan kemampuan dan reflek.
Dia mengusap kepalanya, masih dirasakan sedikit sakit, tidak di ragukan lagi kepalanya pernah di tangkap orang, orang ini benar-benar dalam waktu sekejap sudah seperti setan menghilang.
Dia tahu, jika lawan berniat mengambil nyawanya, dia pasti telah masuk ke alam akhirat!
Bersamaan itu, dia juga sudah tahu siapa orang ini.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Shuang-jie-shu-sheng dengan Duan-mu Xiu-yin telah naik ke perahu penumpang yang menuju ke bawah.
Di lanjutkan dengan teman-teman yang di undang Tuan besar Li untuk membantunya, juga berturut-turut meninggalkan Xiang-yang.
Xiang-yang kembali jadi tenang, badai akhirnya berlalu.
Nan-yang-ba-jie telah menyatakan, tidak akan membuat masalah di tempat Tuan Li lagi, tapi jika orang-orang keluarga Li berani masuk ke He-nan, pasti akan dibunuh tidak ada ampun.
Sehingga, orang-orang yang membantu keluarga Li tidak ada alasan untuk tinggal lebih lama.
Pendeta dao Qing-xi dari Wu-dang tiba di hari ketiga setelah Shuang-jie-shu-sheng pergi, telat dua hari dari hari yang di perkirakan, dia ditemani oleh dua orang pendeta dao.
Perumahan Han-bei segera menjadi sibuk, tiga orang pendeta dao tua mendapat sambutan meriah dari para ular setempat.
Tapi, kemeriahan yang menggembirakan hanya berlangsung dua jam.
Dewa hidup yang latihannya telah mencapai puncaknya, mengatakan Jin-ba-dou telah terkena satu kuncian saluran yang aneh untuk mencegah racun, mungkin adalah ilmu Memindahkan jalan darah dan menguncinya, di dunia ini belum pernah dengar ada orang yang bisa membukanya, walau pun ketua Wu-dang sendiri yang datang kesini, juga tidak akan sanggup.
Jika memaksakan diri merasa mampu membukanya, sangat mungkin akan mengorbankan nyawa Jin-ba-dou, hanya seorang pesilat tinggi yang mempunyai ilmu ini yang berani membukanya.
Kunci saluran yang dialami oleh Setan Jahat Sun-ren juga sama, yang beda adalah Setan Jahat lebih parah, karena dia mengalami patah tiga tulang iganya.
Pendeta dao Qing-xi sangat royal, dia memberikan tiga butir Jiu-huan-dan, obat pusaka dari Wu-dang, dan menjamin dalam waktu sepuluh hari atau setengah bulan tulang iga yang patah akan sembuh seperti semula.
Kecuali menggunakan obat untuk mempertahankan hawa murni kedua orang itu, tiga orang pendeta dao tua dari Wu-dang ini tidak bisa berbuat apa-apa.
Tiga orang pendeta dao tua menyanggupi untuk tinggal selama tiga atau lima hari, mengawasi perubahan kedua orang sakit itu, sambil berharap dapat menemukan cara untuk membuka kuncian salurannya, jika diperlukan akan mencoba dipraktekkan, mengobati kuda mati sebagai kuda hidup, bagaimana pun dua orang ini telah menjadi barang tidak berguna, dapat memperpanjang sampai kapan, siapa pun tidak dapat menduganya.
Orang yang menguncinya telah mati, mau mencari kemana orang yang punya kemampuan membuka kuncian ini?
Sebenarnya apakah di kunci oleh ilmu Memindahkan jalan darah, pendeta dao Qing-xi sendiri juga tidak berani memastikannya, tidak bisa mengatakan penyebabnya.
Di hari ketiga malam, Shang-fei membawa dua orang pengawal pribadinya, melangkah keluar dari gerbang besar perumahan, dia berjalan menuju utara, dia ingin pergi ke rumah Shi yang berada di sebelah barat gerbang utara kota baru, disana ada perumahan milik Dingin Jahat Shi Lin-jun salah satu dari Enam Jahat.
Perumahan Shi Ling-jun berdekatan dengan tempat peristirahatan Han-guang, terhitung sebuah rumah yang berpengaruh.
Menuju ke gerbang kecil utara, harus melalui sebuah jalan kecil.
Jalan kecil ini tidak ada pasar malam, tidak lama setelah hari gelap maka orang yang berjalan sudah jarang, lampu pintu juga sedikit yang menyala, jalannya juga berliku-liku, orang yang berjalan disana, kadang juga harus menyediakan lentera sendiri untuk penerangan jalan.
Tiga orang pesilat tinggi dunia persilatan itu biasa berjalan di malam hari tidak pernah membawa lentera.
Ketika sedang berjalan di mulut sebuah gang kecil di depan sekitar sepuluh langkah lebih, muncul satu lentera dengan sinarnya yang lemah, orang yang membawa lentera memakai mantel panjang, wajahnya samar-samar, sulit di lihat dengan jelas.
Aneh!
Kenapa lenteranya tiba-tiba tertancap di dinding depan mulut gang?
Tiga orang itu masih tidak merasa ada yang aneh, sambil berjalan mereka berbincang pelan, sampai dekat dengan lentera itu.
Orang itu berdiri di depan mulut gang, lentera itu tergantung jauh satu zhang lebih.
Di lentera tertulis empat huruf merah.
Gao-ping-qun-huan.
Karena lentera bergoyang dan berputar di tiup angin, bayangan gelap huruf merah pun bergerak terus pada wajah orang itu membentuk bayangan yang aneh, tampak menyeramkan.
Karena wajah orang itu sangat pucat.
Shang-fei yang jalan di depan jadi berhenti dalam jarak empat lima langkah karena terkejut, dia sampai mengeluarkan suara "Ih...!"
Dua orang pengawalnya juga mendadak ikut berhenti, orang yang di sebelah kanan maju dua langkah, sepasang tangannya di angkat bersiaga.
Orang itu berdiri di tengah mulut gang kecil, sinar lentera yang lemah menyorot miring, dia berdiri di tengah jalan menatap pada orang-orang itu, dapat dilihat wajah anehnya ada dalam bayangan, sepasang matanya yang bersinar aneh, sungguh mirip dengan mata setan di dalam cerita dongeng.
Bajunya hitam, tangannya di gendong di belakang, bayangan di belakangnya juga hitam, hingga jika diperhatikan di tengah jalan besar itu, hanya dapat melihat wajah anehnya dengan mata setan yang menakutkan.
Orang itu tidak bergerak juga tidak bicara, mata setannya tidak berkedip menatap pada tiga orang yang berdiri di hadapannya, jarak kedua belah pihak kira-kira dua zhang, berhadapan miring.
"Siapa?"
Tanya Shen-piao yang maju ke depan dengan siaga dan suara dalam.
Orang itu tidak ada gerakan, malah sepasang matanya juga tidak berkedip.
Shang-fei adalah orang yang paling berani di antara Enam Jahat, saat ini dia malah merasa hawa dingin dari bawah mulai naik keatas, bulu kuduknya berdiri.
Satu suara siulan naga terdengar, dua orang pengawal itu dengan waspada mencabut pedang.
"Setan!"
Tiba-tiba Shang-fei berteriak terkejut.
Api lentera sekali meloncat, lalu mendadak padam.
Terdengar satu siulan setan yang membuat telinga tuli, angin dingin mendadak timbul, wajah setan yang menyeramkan itu mendadak hilang, di sekeliling tempat itu menjadi gelap gulita.
"Traang!"
Suara pedang jatuh ketanah.
Hei-zhong meloncat tiga zhang, sekuat tenaga menghindar dari benda yang mendekat, baru saja sebelah kakinya menyentuh tanah, dia segera akan mengerahkan tenaga meloncat lagi.
Tapi, dia merasakan sepasang kaki sudah tidak bisa di kendalikan, terdengar "Buug...!"
Satu suara keras, bersamaan tubuhnya jatuh berguling ke depan, sesaat diam sudah tidak sadarkan diri.
Lama, dua orang ronda malam yang sedang bertugas menemukan Shang-fei bertiga, dengan seluruh tubuhnya lemas tidak dapat bergerak, juga tidak dapat bicara, hanya sepasang matanya bisa membuka, menutup, berputar.
Peronda malam tentu saja kenal Shang-fei, segera mereka mengetuk pintu satu toko kecil, minta tolong disampaikan pada rumah Shang untuk membawa orang menggotongnya pulang.
Hari masih belum terang, di dalam rumah Jahat Dingin Shi Ling-jun juga terjadi mala petaka, dua orang pelayan yang pagi-pagi menemani majikan berlatih silat, menemukan majikan tidak pernah keluar kamar, di dalam hati timbul rasa curiga, buru-buru membangunkan pengurus dan pelayan ruangan dalam untuk memeriksanya.
Hasilnya, pintu kamar harus di buka dengan mendobraknya, beberapa orang pelayan yang masuk ke dalam, menemukan majikan tua Shi Ling-jun telah menjadi mayat hidup, istri kedua yang menemani tidur sedang tertidur lelap, dengan cara apa pun membangunkannya juga tidak bisa bangun, tapi setelah hari terang malah bangun sendiri, terhadap kejadian di dalam kamar kemarin malam, dia sama sekali tidak tahu.
Pagi harinya, Tuan besar Li mendapat kabar yang disampaikan oleh keluarga Shang, lalu orang keluarga Shi melaporkan berita buruk lagi.
Dalam waktu satu jam, dia mendapat berita buruk dari lima keluarga, kecuali Setan Jahat, lima Jahat lainnya dalam satu malam semua mengalami nasib buruk, keadaannya persis sama dengan yang di alami oleh Jin-ba-dou dan Setan Jahat Sun-ren.
Mengenai dua pengawal Hitam Jahat, keduanya hanya di pukul pingsan, pergelangan tangan kanan yang memegang pedang patah terkena pukulan orang, di kemudian hari dia hanya bisa menggunakan tangan kiri untuk memegang senjata.
Hitam Jahat tidak bisa bicara, tapi dua pengawalnya menceritakan dengan jelas kejadiannya.
Pokoknya, mereka bertemu dengan mahluk aneh, bagaimana caranya di pukul sampai pingsan, mereka tidak bisa menjelaskannya, tapi yang bisa di pastikan adalah, mahluk aneh itu tidak pernah menyentuh tubuhnya, hanya begitu saja terbaring, ceritanya hanya itu.
Tapi di dalam hati semua orang mengerti, orang yang di lumpuhkan bukan bertemu dengan mahluk aneh, tapi di lumpuhkan oleh si marga Fu, ternyata si marga Fu belum mati, dia datang membalas dendam dengan menyamar sebagai makhluk aneh.
Lima Jahat dalam waktu satu malam di lumpuhkan semuanya.
Tuan besar Li sangat terkejut dan ketakutan, dia segera menyeberang sungai tinggal di perumahan Han-bei.
Di sini orang-orangnya banyak, semua anak buahnya tukang pukul, pengawal dan ular setempat yang berguna semua mendapat perintah datang ke perumahan menunggu perintah, melakukan penjagaan yang ketat, berkumpul untuk berlindung.
Pendeta dao Qing-xi dengan dua keponakan seperguruannya jadi tidak dapat meninggalkan itu, jadi tidak leluasa pergi!
Siang hari gerbang perumahan di jaga oleh para murid, jika malam tiba, penjaganya ditambah dua orang lagi, semua membawa senjata dan senjata rahasia berikut kentongan, seperti akan menghadapi musuh yang besar saja.
Tengah malam hari itu, satu bayangan hitam telah mendekati kebun Li yang dijaga ketat.
Karena majikan ada di perumahan Han-bei, penjagaan Kebun Li malah lebih ketat, pos penjagaan disekeliling Kebun Li, semua ditemani dengan seekor anjing pemburu yang galak.
Dua orang penjaga pintu gerbang berdiri di antara pintu gerbang, seekor anjing pemburu tiarap di bawah kaki penjaga yang sebelah kanan.
Malam ini tiba-tiba anjing pemburu berdiri, tenggorokannya mengeluarkan suara yang aneh!
Penjaga dengan sigap menjongkok, mengulurkan tangan mengusap-usap kepala anjing.
Tidak salah, anjing pemburu telah menemukan sesuatu, dari leher sampai punggungnya, bulunya sudah berdiri, didalam kegelapan asalkan mengulurkan tangan mengusapnya, maka akan tahu tubuh anjing itu sudah ada perubahan, penjaga perlahan menepuk-nepuk punggung anjing pemburu, suara aneh yang keluar dari anjing pemburu itu segera berhenti.
"Ada orang mendekat."
Penjaga itu berkata pelan pada temannya, mereka mencabut pedang bersiap-siap.
Anjing pemburu yang bagus, bisa mencium bau dengan melawan arah angin dan mendengar gerakan di luar seratus langkah, dengan melihat bulunya berdiri, bisa di duga kira-kira jarak buruannya.
Setelah bulu di bawah pinggangnya berdiri, dia menampakan taringnya, itu artinya buruannya telah dekat, harus segera memerintah, anjing buruan yang bagus tidak akan menggonggong mengejutkan buruannya.
Penjaga itu akhirnya mengeluarkan satu teriakan pelan, anjing buruan seperti gila meloncat ke depan, lari dengan cepat menelusuri jalan menuju gang kecil.
Dua orang penjaga itu tidak mengikutinya, mereka membiarkan anjing pemburu mengusir orang yang mendekat.
Anjing pemburu berlari lebih dari tiga puluh langkah, tiba-tiba menyusup ke dalam hutan di sebelah kanan jalan, lalu tidak ada gerakan lagi, sepertinya hilang begitu saja.
"Iii...! Kenapa tidak terdengar serangan anjing pemburu?"
Kata seorang penjaga merasa aneh.
Didepan hutan sebelah kanan ada bayangan hitam berkelibat, dalam sekejap sudah berada dalam sepuluh langkah.
Orang yang bisa menjadi penjaga kebun Li, walau bukan pesilat tinggi dunia persilatan, paling sedikit juga orang yang berguna, yang pemberani.
Penjaga yang di sebelah kanan refleknya sangat cepat, melihat ada bayangan hitam, dengan sendirinya dia menyabetkan pedang melindungi dirinya, seharusnya bisa mendesak mundur bayangan hitam.
Siapa tahu bayangan hitam menghentikan tubuh, sekali pedang lewat, masih belum sempat berpikir, bayangan hitam dari celah pedang yang lewat menerjang masuk, satu suara telapak mengenai tubuh terdengar.
Telinga kiri penjaga itu terkena pukulan, roboh ke sebelah kanan.
"Iii......"
Penjaga di sebelah kiri hanya melihat bayangan orang berkelebat, terasa keningnya sudah terkena satu sabetan ranting pohon, sabetan ranting pohon datangnya melintang, tenaganya tepat, sehingga dia terpukul jatuh terlentang, setelah mengeluarkan suara ketakutan, dia langsung jatuh pingsan.
Tidak lama, orang yang mengaplus telah datang, mereka tidak saja mendapatkan dua orang yang pingsan, juga diatas pura gerbang yang ada tulisan kebun Li, menemukan pedangnya penjaga, di pegangan tergantung satu sampul surat.
Diatas surat tertulis empat baris huruf yang seserhana.
Kebaikan dibalas kebaikan, keburukan di balas keburukan, jika belum di balas, berarti waktunya belum tiba.
Bangkai anjing pemburu di ketemukan keesokan harinya, anjing itu mati di cekik oleh tali pengikat digantung di ranting pohon.
Kebun Li menjadi ribut, dan beritanya segera sampai di perumahan Han-bei.
Keesokan harinya, orang-orang perumahan Han-bei datang ke kebun Li membantu penjagaan, kekuatannya menjadi semakin kuat.
Malam itu, perumahan Han-bei dimasuki seorang berbaju hitam, dan tanpa diketahui telah memukul pingsan lima orang penjaganya.
Berturut-turut tiga malam, bermacam-macam usaha tuan besar Li, tapi selalu diserang orang, ada orangnya dipukul pingsan, ruangan toko dihancurkan.
Pabrik gula yang berada di pantai barat danau Xiang-yang, peralatannya dihancurkan semua.
Ini adalah satu-satunya usaha tuan besar Li yang bukan usaha di dunia persilatan.
Tuan besar Li terkejut dan marah, dia segera mengirim surat mengumpulkan teman baiknya, mengerahkan semua anak buahnya, menggeledah dan mencari si marga Fu, hingga membuat seluruh kota jadi gempar.
Berlanjut tiga hari lagi, setiap malam ada saja orang yang sial, orang yang mendapat serangan lukanya semakin parah, ada orang yang kaki tangannya jika bukan tulangnya patah pasti ototnya putus.
Desas-desus yang menyeramkan, seperti wabah penyakit menyebar di kelompok ular setempat, kebetulan peristiwa tabrakan kereta di kabupaten Ye juga akhirnya terungkap.
Kota Xiang-yang yang begitu besar, kemana mencari seorangyang tidak berakar?
Sembilan puluh sembilan persen orang tidak pernah melihat wajah asli marga Fu itu, orang-orang yang mendapat serangan semua memastikan ini adalah ulahnya setan, ada sedikit orang hanya melihat ada bayangan hitam yang aneh sekelebat.
Ketakutan adalah racun yang menular dan bersifat merusak yang sangat kuat.
Ada beberapa orang pintar mencari alasan untuk lari menghindar, ada beberapa orang tiap hari merasa ketakutan, hari-harinya tidak tenang, setiap saat berpikir suatu saat bencana akan menimpa dirinya, ada beberapa mulai sembahyang menghormati dewa, setan, angin bertiup, rumput bergerak juga dapat membuat takut sampai mengeluarkan keringat.
Ada beberapa orang jadi was-was, semangatnya tambah hancur.
Enam Jahat Xiang-yang dan Jin-ba-dou, tetap saja tidak ada kemajuan, setiap hari harus disuapkan makanan cair, orangnya sudah kurus tidak berbentuk, tapi tidak mati.
Usaha pencarian sudah dilakukan, di dalam tegang di luar pun tegang, semangat yang tadinya menggebu-gebu semakin hari semakin berkurang, akhirnya hanya tinggal beberapa orang saja yang berani berkata akan mati-matian membela keluarga Li.
Tuan besar Li sudah merasakan keadaannya semakin memburuk, juga merasakan mala petaka yang lebih besar segera akan tiba, siasat musuh untuk membuat dia tidak punya teman sudah berhasil, sudah saatnya melakukan serangan mematikan pada dirinya.
Ibarat anjing yang terdesak bisa meloncati tembok, dia terpikir melakukan tindakan nekad.
Sore hari ini, di dalam ruang vip restoran Xing-yuan.
Tuan besar Li membawa dua orang teman mengundang kepala polisi setempat, Mistar Pengukur Langit Lie Chao-zhong yang ternama.
Setelah minum-minum, dari dalam dadanya Mistar Pengukur Langit mengeluarkan sebuah surat dari kantor pemerintah.
"Tuan besar Li, ini adalah copyan surat rahasia yang diserahkan pada kantor kepolisian, setelah melihatnya, tuan besar dapat memutuskan apakah memerlukan tenagaku."
Wajah Mistar Pengukur Langit sedikit pun tidak tertawa, dia menyodorkan surat itu.
"tuan besar tentu tahu, kepolisian dimana pun bisa menutup mata sebelah terhadap sebuah perkara, tapi terhadap organisasi Perkumpulan Er-le sama sekali tidak bisa. Pelapor rahasia menunjukan ketua cabang Hu-guang organisasi pemberontak Er-le telah menyusup ke dalam kota, anggotanya dari seluruh daerah datang berkumpul, jadi akan terjadi satu perubahan besar. Dalam surat rahasia itu walau tidak menyebut nama ketua cabang itu, tapi semuanya menunjuk ke arah tuan besar, orang-orang yang keluar masuk di perumahan Han-bei anda, semuanya telah di awas; oleh mata-mata kantor kami. Bapak Bupati sudah menerima perintah dari atas, agar dengan ketat menjaga jangan sampai para pemberontak masuk ke daerahnya dan melakukan penangkapan terhadap anggota pemberontak. Jika tuan besar ingin aku membantu, ada seratus kerugian tidak satu keuntungan pun, kepalaku ini, mungkin juga akan digantung di tiang gerbang kota untuk peringatan."
"Surat laporan rahasia ini......"
Tangan Tuan besar Li menerima surat itu dengan tidak mantap.
"Copyan surat pemerintah semacam ini datangnya sangat cepat sekali."
Mistar Pengukur Langit tertawa pahit.
"tidak perduli kantor kami atau kantor di luar kami, semua pengirimannya menggunakan surat bulu yang berarti surat kilat. Kantor Nan-yang kemarin sore menerima surat rahasia, hari ini pagi-pagi sekali sudah masuk ke ruang terima dengan tanda tangan di kantor kami. Tuan besar Li, kau telah bertemu dengan musuh yang paling menakutkan, seorang musuh yang berpengalaman luas, tahu seluk beluk kebiasaan pemerintahan. Dia telah melakukan satu langkah, langkah selanjutnya......aku sungguh tidak berani memikirkannya."
Yang disebut surat bulu, biasanya berupa surat bulu ayam, adalah pengiriman kilat surat pemerintah, di luar sampul surat disegel dan ditambahkan satu bulu ayam.
Di kantong tukang pos jika ada surat yang begini, bel ditubuhnya pasti akan berbunyi sangat cepat, orang dan kereta yang ada dijalan harus cepat menghindar, jika tidak pasti akan mendapat kerepotan yang maha besar, sampai pejabat di setiap tempat juga tidak berani menahannya.
"Kantor Nan-yang kemarin menerima surat lagi."
Polisi Lie menggelengkan kepala.
"isinya mengatakan, telah mengetahui pelakunya dalam peristiwa tergulingnya kereta di kabupaten Ye, yang sengaja melukai kuda penarik, sehingga menimbulkan kecelakaan yang mengerikan, juga model kereta ringan yang digunakan, supaya kantor kami membantu menyelidiknya, beberapa hari dekat ini, setiap kabupaten akan melaporkan jalur jalan dan waktunya kereta itu, cepat atau lambat pasti akan bisa menyelidiknya, keluarga kaya yang menggunakan kereta ringan mewah seperti itu tidaklah banyak. Tuan besar Li, di rumah anda sepertinya ada kereta semacam ini, apakah disimpan di perumahan Han-bei?"
"Ini......"
"Tuan besar Li adalah orang ternama setempat, orang hebat dunia persilatan, tentu tidak akan terlibat dalam peristiwa berdarah ini."
Mistar Pengukur Langit tertawa tawar.
"mengenai hal tuan besar Li mempersilahkan aku menyeli-diki seorang penjahat dunia persilatan yang dicurigai, walau menempuh bahaya besar, aku juga masih sanggup, bisakah menjelaskan asal usul orang itu?"
"Sudah tidak perlu."
Kata Tuan besar Li, akhirnya dia tidak bodoh.
"Saudara Li sibuk, aku tidak berani merepotkan, masalah ini tidak perlu dibicarakan lagi."
Dalam makan-makan ini tadinya Tuan besar Li yang mengundang, tapi dalam perasaan-nya, malah dia sedang makan pesta pemaksaan lawan.
Dia terpaksa menempuh bahaya, ingin menggunakan pemerintah melawan Fu Ke-wei, tapi dia malah melihat jalan ini tidak bisa digunakan, lawan telah lebih dulu melangkah memotong jalannya, dan juga telah menyiapkan jaring menunggu dia, memaksa dia berjalan ke arah kematian.
Jika dia menghubungi teman-temannya lagi, itu sama saja dengan memberi tanda menjual kepala, perhatian pemerintah menyelidiki organisasi pemberontak Er-le, tidak diragukan lagi pasti akan tertuju pada dirinya, Mistar Pengukur Langit pasti tidak akan berani menempuh bahaya membela dia, siapa tahu dia malah bisa mendapatkan hukuman penggal seluruh keluarga.
Di dalam hati dia sangat paham, Mistar Pengukur Langit polisi Lie sudah menekan dirinya, asalkan bapak Bupati lebih pintar sedikit, polisi sudah akan membawa orang pergi kerumahnya mencari kereta.
Situasinya berbahaya, sekarang dia harus mengandalkan kekuatannya sendiri menghadapi badai yang segera akan melanda.
Penginapan Fu Tai pada setengah bulan yang lalu, sudah melapor pada kantor polisi setempat, bersama dengan pejabat setempat, menyegel barang-barang tertinggal tamu yang hilang.
Didalam bungkusan ada uang perak seratus tiga puluh liang, beberapa stel pakaian mewah yang baru, rencananya setelah setengah bulan jika tamunya masih belum juga kembali ke penginapan, maka akan mengurus laporan pada kepolisian kabupaten.
Tapi pagi hari ini, Fu Ke-wei muncul di ruang penginapan.
Yang aneh adalah kepala polisi daerah polisi Zhang dengan tiga anak buahnya tiba bersamaan waktunya.
Fu Ke-wei dengan cepat menyelesaikan prosedur pengambilan kembali bungkusannya, dan membatalkan laporan orang hilang.
Para polisi yang biasanya arogan itu, terhadap tamu yang hilang ini, tidak diduga bersikap sangat ramah, malah sedikit merendah, kenapa bisa demikian, tidak ada orang yang tahu, semua membuat tamu penginapan lainnya merasa aneh dan tidak mengerti.
Ketika hampir tengah hari, seorang berdandan pelayan datang ke perumahan Han-bei mengantar surat, setelah menyerahkan suratnya pada penjaga pintu, tidak menerima tanda terima juga tidak menunggu jawaban, dia buru-buru pergi.
Itu adalah surat dari Fu Ke-wei untuk tuan besar Li, yang isinya minta bertemu, dengan nama pengirim Fu Li.
Diatas surat ditulis singkat, tepat tengah hari tiga hari dari sekarang, menyelesaikan masalahnya di Guan-qiu sebelah utara jembatan Bao-tai.
Guan-qiu hanyalah satu dataran panjang di pinggir sungai, dalam radius dua li hanyalah tanah liar yang penuh dengan tumbuhan liar.
Nan-yang-ba-jie dengan orang keluarga Li bertemu pertama kali disini, sesudah kalah terus melarikan diri.
Huo-bao-ing dan Bu-fei-khe juga menunjuk tempat pertemuan mereka dengan keluarga Li di Guan-qiu, tapi kedua belah pihak tidak ada yang hadir.
Fu Ke-wei kembali menulis surat menunjuk Guan-qiu sebagai tempat pertemuan dengan keluarga Li, jadi ini terhitung ketiga kalinya.
Di dalam surat yang ditegaskan adalah.
Bertemu tepat tengah hari, lewat waktu tidak akan ditunggu.
Jam lima sore, Fu Ke-wei memakai baju mantel panjang berwarna hijau langit, dia menjadi seorang pemuda tampan, di tangan memegang satu kipas tilap bambu, dia melangkah keluar penginapan.
Dua laki-laki besar yang bertugas mengawasinya, melotot menghadang di jalan, sedikit pun tidak ada niat memberi jalan.
"Siapa yang merasa hidupnya terlalu nyaman dan ingin mendapat sedikit kesusahan, aku pasti akan mengabulkannya."
Katanya perlahan sambil mengipaskan kipas, dia tertawa dingin pada dua laki-laki besar.
"seperti yang sudah-sudah, akan di lumpuhkan, supaya dia seumur hidup terbaring diatas ranjang menjadi mayat hidup, tidak akan diberi ampun. Hey! Apa kalian berdua ingin jadi mayat hidup?"
Dua laki-laki besar itu bergidik, dengan ketakutan lalu memberi jalan.
Sampai di restoran Xu Lao-ren, Fu Ke-wei memesan makanan dan arak, dengan santainya makan minum sendiri.
Dia sedang menunggu, umpan telah dilepas, asal sedikit menggunakan akal, cepat atau lambat akan ada ikan yang memakan umpannya, ikan besar atau ikan kecil tidak bisa tahan akan daya tarik umpan.
Yang pertama mencium umpan adalah dua ekor ikan kecil, ikan kecil yang tidak di kehendaki.
Huo-bao-ing dan Bu-fei-khe, tetap dengan dandanan semula yang buruk, setelah masuk ke restoran dengan tidak sungkannya menarik kursi duduk di sebelah kiri dan kanan dia.
"Kalian berdua pasti tulang tuanya merasa gatal, dan tampangnya ingin dipukul."
Fu Ke-wei mengejek dua orang dunia persilatan yang aneh dan hebat.
"mungkin kalian berdua beberapa hari ini telah mendapatkan guru yang hebat, menghadapi pertempuran yang akan terjadi segera berlatih beberapa jurus hebat untuk menghadapi Tuan besar Li, betul tidak?"
"Kek kek kek! Tentu saja kami dua orang tua sudah lemah, tidak sehebat kau orang muda."
Huo-bao-ing tidak memperdulikan ejekannya, sambil tertawa dia memberi isyarat tangan pada Xu Lao-ren, untuk menambah gelas dan sumpit.
"jangan katakan aku orang tua yang tidak tahu berterima kasih, pertama-tama memang kami harus mengucapkan terima kasih, waktu itu saudara kecil telah menolong."
"Bagus, bagus. Sebenarnya, waktu itu aku bukan khusus datang menolong kalian berdua."
"Aku tetap berterima kasih, Tuan besar Li sekarang sedang sibuk mengurus dirinya, tidak sempat mengurus kami berdua lagi, makanya......"
"Makanya kalian berdua tidak lagi bersembunyi kesana-kemari, jadi berani terang-terangan muncul didepannya!"
"Semua itu tentu saja berkat anda."
Bu-fei-khe melanjutkan.
"Tuan besar Li memang hebat, ada beberapa kali hampir saja menemukan kami."
"Jika Jin-ba-dou tidak terbaring, kalian berdua mungkin sudah ditemukan. Ah... sepertinya kalian telah lama mencari aku, ada apa?"
"Hanya penasaran saja."
Huo-bao-ing berkata.
"di Jiu Jiang, orang yang di dunia persilatan paling misterius, paling sulit ditebak yaitu Xie-jian-xiu-luo telah menghancurkan pusat perkumpulan Qing-lian, salah satu dari tiga perkumpulan besar pembunuh bayaran, ketua perkumpulan itu Zhan Fan-chen mendapat luka parah tidak tahu keberadaannya. Menurut Pedang Setan yaitu temannya saudara Hong menceritakan, Xie-jian-xiu-luo bermarga Fu namanya Ke-wei. Wajah dan usianya mirip denganmu, kau juga bermarga Fu, mengganti nama tidak mengganti marga, dan penguasa setempat ini, Tuan besar Li, juga hampir menjadi gila oleh ulahmu. Saudara kecil, apakah ini bisa dianggap kebetulan?"
"Mungkin, kau sendiri saja yang menebak."
Fu Ke-wei tidak mengaku juga tidak membantah.
"masalahnya harus jelas, kali ini sebabnya aku mengusik Tuan besar Li, karena aku juga salah satu korban, satu-satunya korban yang selamat dalam perkara pembunuhan tergulingnya kereta di kabupaten Ye, aku punya hak menuntut balas untuk para korban penumpang itu."
"Aku tidak mempertanyakan perkara pembunuhan tergulingnya kereta, hanya penasaran pada Xie-jian-xiu-luo. Apakah kau ini adalah dia?"
"Kau kira aku ini bodoh?"
Kata dia dengan satu kata dua arti.
"memang Xie-jian-xiu-luo namanya 'bagus', banyak sekali orang yang ingin membunuh dia, aku ini tidaklah bodoh, apa untungnya menanggung beban dia?"
"Sayang yaa...! Sayang!"
Huo-bao-ing mengeluh sambil menggoyangkan kepala.
"Sayang kenapa?"
"Dalam satu kesempatan tidak sengaja aku mendapat kabar dari seorang teman persilatan, satu masalah yang Xie-jian-xiu-luo sangat ingin mengetahuinya, aku ingin tanpa syarat menyampaikan pada dia......"
"Masalah apa?"
Tanya Fu Ke-wei acuh.
"Berita mengenai jejaknya ketua benteng Tian-long, Pedang Naga Langit Lu-zhao."
Huo-bao-ing seperti tertawa tapi tidak melihat dia.
"Pedang Naga Langit menyewa Perkumpulan Qing-lian diam-diam ingin membunuh Xie-jian-xiu-luo, tapi mengalami kegagalan, masalah ini telah tersebar di dunia persilatan. Katanya si Pedang Naga Langit kekayaannya sangat hebat, sulit bisa menjamin dia tidak menyewa perkumpulan pembunuh bayaran lainnya untuk membunuh Xie-jian-xiu-luo. Walau Xie-jian-xiu-luo ilmu silatnya sudah sampai taraf paling tinggi, juga tidak mungkin bisa siang malam mengawasi ada orang diam-diam ingin membunuhnya, jika tidak menghabisi Pedang Naga Langit, selanjutnya mana ada hari tenang? Sehingga, aku kira dia pasti ingin cepat-cepat menemukan Pedang Naga Langit, supaya dapat menghabisi sumber mala petaka ini. Saudara kecil, apakah kau ingin tahu jejaknya Lu-zhao?"
"Menurutmu bagaimana?"
Katanya menyerahkan keputusan.
"tunggulah setelah menyelesaikan masalah tuan besar Li baru dibicarakan lagi!"
"Bagus juga, saudara kecil, kami berdua kembali memberi usul terlebih dulu......"
"Tidak boleh. Kalian berdua banyak pengalamannya, tapi tidak bisa melihat bahaya, mengira Tuan besar Li sedang repot dengan urusannya, jadi kalian boleh tenang-tenang. Hm! Apakah kalian mengerti arti saat terdesak bisa balik menggigit?"
"Ini......"
"Keluarga Li masih ada beberapa teman dekatnya, jika mereka berniat lebih baik hancur sebagai giok, menggunakan kalian berdua sebagai pengganjal peti mati, apakah kalian terpikir akibatnya? Cepat bersembunyilah, masih keburu. Lihat! Ada orang datang...."
Ada dua orang setengah baya memakai baju ringkas, sedang pelan-pelan mendatangi.
"Mereka adalah Tamu Awan Shi bersaudara."
Teriak Bu-fei-khe, wajahnya berubah.
"dua orang ini sangat keji, pemarah, kami tidak bisa melawannya. Saudara Du, kita keluar lewat pintu belakang."
Setelah berkata pergi dia langsung pergi dari belakang bangunan rumah makan, lari menyelamatkan diri.
Tamu Awan Shi bersaudara tidak masuk ke tempat makan, tapi melangkah masuk ke jalan Fan Hou dan menghilang.
Beberapa saat, angin wangi menerpa hidung, Li Jian-jian yang berpakaian rok hijau hitam, tiba-tiba muncul di depan pintu rumah makan, matanya yang terang tampak sedikit gelisah, sorot matanya tertuju pada Fu Ke-wei, dengan sedikit ragu, akhirnya melangkah masuk mendekat.
Wajah Fu Ke-wei tenang-tenang saja, dengan sorot mata menyambut wanita cantik Xiang-yang ini.
Satu ikan lagi yang terumpan, satu ikan yang tidak besar juga tidak kecil.
"Tuan Fu, bolehkah aku bicara denganmu?"
Tanya Li Jian-jian dengan gelisah.
"Dengan senang hati."
Dia dengan ramah menunjuk kursi sebelah kanan mempersilahkan.
"nona Li silahkan duduk."
"Terima kasih."
Li Jian-jian duduk sambil menatapnya.
"tuan Fu, masak kacang bakar pengki... kenapa? Ayah ku......"
"Nona Li, maaf aku menyela."
Wajah senyumnya telah hilang.
"nona seharusnya tahu, ini bukan masalah masak kacang bakar pengki, tapi masalah tujuh nyawa yang tidak berdosa. Di pihak Nan-yang-ba-jie walau telah mati tujuh orang, tapi mereka adalah pesilat dunia persilatan, orang yang biasa bermain dengan nyawa, salah sendiri belajar silatnya kurang tekun, jadi mati pun tidak pun menyesal, juga bisa di katakan pantas mati. Semua orang yang memegang aturan kebenaran dunia persilatan, pasti tidak akan membunuh orang biasa."
"Tuan Fu, itu adalah kecelakaan......"
"Apa...? Kau masih bisa berkata demikian?"
Kata Fu Ke-wei dengan tidak senang.
"aku adalah salah satu penumpang di kereta itu, dengan mata kepala sendiri menyaksikan seluruh kejadiannya. Nona Li, kau datang apakah untuk membicarakan pembantahan ini?"
"Tuan Fu anda di gunung Xian menyamar sebagai seorang pelajar dan menyampaikan sebuah surat, syarat yang ada di dalamnya."
Wajah Li Jian-jian dengan telinganya menjadi merah, menjawab yang bukan di tanyakan.
"masalah ganti rugi, ayahku tidak menolaknya. Mengenai syarat kakakku menyerahkan diri pada polisi, apa bisa dirubah?"
"Tidak bisa."
Fu Ke-wei dengan tegas menolak.
"seorang laki-laki sejati berani bertindak harus berani bertanggung jawab, kakakmu harus bertanggung jawab atas apa yang telah dia perbuat. Aku menginginkan dia menyerahkan diri pada polisi, sama dengan memberi dia satu jalan untuk hidup, seharusnya dia menyerahkan diri sebelum kepolisian menyelidiki siapa pelakunya, menurut aturan, itu bisa mengurangi hukumannya. Menunggu kepolisian menemukan pelakunya, itu sudah tidak bisa dianggap menyerahkan diri, membunuh orang harus mengganti nyawa, dia akan sulit menghindar dari kematian."
"Sekarang sudah demikian lama, mungkin kepolisian sudah menyelidik pelakunya adalah kakakmu, saat ini menyerahkan diri rasanya sudah terlambat. Nona hari ini membicarakan syaratnya dengan aku sudah tidak ada gunanya, sia-sia saja."
"Ini......tuan Fu, ini......ini bukankah mendesak ayahku naik ke gunung Liang?"
Kata Li Jian-jian wajahnya berubah gelisah.
"Ayah anda sekeluarga bisa berkelana di dunia persilatan, menjadi seorang jagoan di aliran hitam, atau menjadi perampok besar menguasai gunung."
Kata dia dengan dingin.
"Ini......"
"Jangan bicara syarat lagi denganku."
Katanya dengan serius.
"cepat pulang beritahu ayahmu, sebelum surat kepolisian dari kabupaten Ye tiba di Xiang-yang, lebih baik kakakmu menyerahkan diri pada kepolisian, mungkin masih ada harapan hidup, kalau waktunya terus diulur, akibatnya kalian silahkan pikir sendiri, harap jangan sampai melakukan kesalahan terus-menerus, pergilah!"
"Tuan Fu, aku ingin menukar syarat itu dengan syarat apa pun......"
"Nona Li, aku sudah menyatakannya cukup jelas."
"Orang mati tidak bisa hidup kembali, tidak seharusnya pada orang yang masih hidup..."
"Kau salah, nona Li."
Dia dengan nada dalam berkata.
"aku bukanlah penegak hukum, lebih-lebih bukan hakim raja akhirat, aku hanya tahu setiap orang mempunyai hak untuk hidup, setiap nyawa juga sangat berharga, siapa pun tidak berhak menentukan hidup matinya orang lain."
Dia sejenak menghentikan bicaranya, dengan nada dingin serius berkata lagi.
"kakakmu membunuh orang lain, tidak perduli dia itu sengaja atau tidak, harus menerima pengadilan yang adil dan hukuman. Jika mengira yang kuat hidup yang lemah mati adalah aturan umum, aku dari dulu sudah melakukan pembunuhan, aku tidak perlu mendesak kakakmu menyerahkan diri pada polisi."
"Kau telah melumpuhkan Tuan kedelapan Jin dan Enam Jahat, itu juga tidak mengikuti aturan umum."
Li Jian-jian akhirnya dapat mengorek kesalahan Fu Ke-wei.
"Mereka membantu melakukan kejahatan, harus mendapat hukuman."
Dia tertawa tawar.
"hukuman yang ringan ini buat mereka, mungkin saja seperti orang miskin kehilangan kuda, siapa yang tahu akan ketidak beruntungan ini? Setiap orang ini akan lumpuh selama satu bulan, supaya mereka insaf. Setelah satu bulan, titik nadi yang di kunci akan terbuka dengan sendirinya. Nona, paling baik beritahu pada tiga orang pendeta dao itu, jangan sembarangan memberi obat atau mencoba melancarkan jalan darahnya, jika terjadi kesalahan mungkin malah akan merengut nyawa mereka, kalau itu terjadi, jangan menyalahkan pada diriku."
"Tuan Fu, apakah tidak bisa dibicarakan agi?"
"Segera suruh kakakmu menyerahkan diri pada polisi setempat, menunggu surat pemerintah dari kabupaten Ye tiba, maka sudah tidak keburu lagi."
Li Jian-jian mengeluh panjang, dengan putus asa pamit pergi meninggalkan rumah makan.
Sesudah waktunya menyalakan lampu, Fu Ke-wei dengan setengah mabuk, melangkah keluar dari rumah makan menuju tengah kota.
Dari jalan Fan Hou keluar dua orang, yang langkahnya cepat.
Di mulut gang, di depan ada bayangan orang, dalam kegelapan malam sulit melihat dengan jelas wajahnya.
Fu Ke-wei perlahan melangkah maju, di ujung timur jalan ini, orang yang berjalan di malam hari tidak banyak, lampu di pintu rumah sedikit sekali yang menyala, kegelapan terasa sangat tidak enak.
Dua orang yang mengikuti dari belakang semakin mendekat, sedikit pun tidak terdengar suara langkahnya.
Fu Ke-wei mendehem sekali, mendadak berhenti.
Satu teriakan dalam terdengar, bayangan orang itu bergerak, dua orang yang mengikuti dari belakang telah menerkam dia, saat dia menghentikan langkahnya, teriakan dalam itu adalah keluar dari mulut dia..
Buug...paak...
terdengar dua suara keras, hawa kuat bergelombang menyebar, bayangan yang bersatu seperti kilat berpisah, suara suitan dari gelombang udara sangat mengejutkan orang.
Fu Ke-wei berada di tempatnya dengan sikap berjaga-jaga, kipas lipatnya diulurkan miring, telapak kiri tegak di depan dada, wajahnya serius.
Dua orang yang menyerang dia, melayang mundur kearah pinggir sejauh dua zhang lebih.
"Shi bersaudara."
Katanya dengan suara dalam.
"jangan membuat aku marah, Telapak Penghancur Hati kalian berdua bukan kepandaian hebat, jika ingin memecahkan hawa pelindungku, kalian berdua masih harus berlatih keras sepuluh tahun lagi."
Orang bermarga Shi yang disebelah kanan membalikan tubuh pergi, berjalan selangkah-selangkah dengan susah, pinggangnya sudah tidak bisa tegak lagi.
Orang yang ada di sebelah kiri lebih mending sedikit, tapi tampak langkahnya mengambang.
Pelan-pelan Fu Ke-wei membalikan tubuh, sepasang mata macannya bersinar menatap ke arah mulut gang sebelah kanan jalan yang berada sepuluh langkah lebih.
"Telapak Besi Pedang Dewa (Tie-zhang-shen-jian) Li Hoa-xin, kau pernah menggunakan Telapak Besi menyerangku."
Dia membuka kipas lipat.
"sekarang, sekarang kau boleh menggunakan pedang melakukan serangan terhebatmu, kedahsyatan tiga jurus Bulan Turun Bintang Tenggelam milikmu, sulit ditemukan tandingannya di dunia, kipas lipat aku ini mungkin tidak dapat menahannya! Malam itu dibangunan peristirahatan sebelah utara kota, kau bersembunyi di palang atap bangunan, melakukan serangan maut, hampir saja menghancurkan isi perutku, pedangmu tentu lebih lihay di bandingkan dengan telapakmu. Majulah, aku menunggumu."
Tie-zhang-shen-jian, Li Hoa-xin menampakkan diri, pelan-pelan maju ke tengah jalan menghadang, dengan satu siulan naga, pedang panjang telah keluar dari sarungnya.
"Tuan, kau sungguh tidak bisa melepaskannya?"
Tanya Li Hoa-xin menggigit gigi.
"Aku tidak melakukan hal yang ada kepala tidak ada ekornya."
Katanya dengan nada dalam.
"Lima ribu liang perak, menukar syarat adikku menyerahkan diri pada polisi."
"Maaf, aku tidak bisa terima."
"Sebenarnya kau mau apa?"
Tanya Li Hoa-xin nadanya menjadi keras.
"Meminta keadilan."
"Tidak ada jalan perdamaian?"
"Betul, tidak bisa ditawar lagi."
Katanya dengan tegas.
"Kau mendesak keluarga Li melakukan hal yang terpaksa harus dilakukan."
"Apakah keluarga Li tidak bisa menerimanya?"
"Hm! Anda terlalu mendesak orang, keluarga Li akan menghadapimu sampai titik darah terakhir."
Kata Li Hoa-xin menggigit gigi.
"tuan, kau tidak akan bisa meninggalkan Xiang-yang hidup-hidup."
Pedang telah diulurkan, siulan naga samar-samar terdengar.
Angin sungai telah membuyarkan hawa panas yang keluar dari tanah, hawa pembunuhan yang pekat sepertinya menimbulkan rasa dingin.
Di ujung jalan sebelah sana, beberapa orang pejalan kaki buru-buru menghindar.
Dalam sekejap, disekitar menjadi hening menakutkan orang, tadinya di beberapa rumah ada sinar yang keluar dari pintu, tapi saat ini semua pintu dan jendela telah di tutup, jalan raya menjadi gelap gulita.
Dua orang berjarak sepuluh langkah lebih, satu pedang satu kipas berhadapan dari jauh.
Fu Ke-wei memperhatikan keadaan sekelilingnya, di dalam hati timbul rasa curiga.
Menurut keadaan, ilmu silatnya Li Hoa-xin masih belum termasuk pesilat tinggi di dalam pesilat tinggi dunia persilatan, lebih lemah sedikit dari pada Shuang-jie-shu-sheng, setara dengan Tamu Awan Shi (Ke Yun-shi) bersaudara yang tadi mundur karena terluka, mana mungkin berani bertarung satu lawan satu?
Dia telah mencium bahaya, dia sedikit tidak tenang, tubuhnya terasa sedikit dingin, satu tekanan yang tidak nampak yang hanya bisa dirasakan oleh perasaan, seperti gelombang menghantam dia.
Beberapa bulan ini, dia menyembunyikan diri untuk mengejar ketua Benteng Naga Langit Lu-zhao, dia bukan saja menyimpan pedangnya, juga telah menyembunyikan pisau Xiu-luo, supaya tidak menimbulkan perhatian orang, dan mengetahui siapa dirinya.
Saat ini, dia telah mencium bahaya, sayang dirinya tidak ada senjata dan senjata rahasia yang bisa dipergunakan.
Buug...
tiba-tiba terdengar satu suara, satu pukulan yang keras mengenai punggungnya.
Baru saja timbul kewaspadaan, dan baru saja tenaga dalam dikumpulkan, di saat sekejap tenaga dalam terkumpul akan digunakan, sebuah pukulan dahsyat yang keras sekali mengenai tubuhnya, hampir saja membuyarkan tenaga dalamnya.
Tubuhnya tergoyahkan, tubuh atasnya membungkuk kedepan.
Dalam sekejap ini, di dalam hati satu pikiran seperti kilat muncul, begitu pikiran muncul langsung dia bergerak, mengikuti gerakannya, dia menerkam kedepan, sepasang tangan menyentuh tanah, tubuh digulungkan, dengan kecepatan seperti kilat, dengan indahnya berguling kedepan, sampai di bawah kaki Li Hoa-xin.
Sebutir bola baja sebesar telur merpati setelah mengenai punggungnya, jatuh ketanah, berguling kesisinya.
Empat butir bola baja yang sama, mengenai kedua sisi tempat dia menerkam ke depan, masuk ke dalam tanah yang keras, meninggalkan lubang yang dalam sekali.
Jika dia setelah menyentuh tanah berguling kekiri atau kanan, pasti akan terkena bola baja yang ditembakan kemudian.
Saat bola baja ketiga masuk kedalam tanah, baru terdengar suara tali busur yang seperti suara angin kencang.
Dalam sekejap ini, terdengar suara teriakan dalam seperti suara guntur di dalam goa.
Muncul empat bayangan orang dari tempat gelap dari kedua sisi kaki tembok, dua batang tongkat tembaga dan dua bilah pedang bersamaan waktunya bersatu, dua panjang dua pendek dahsyatnya seperti geledek.
Pedang Li Hoa-xin juga mendadak menyerang.
Tenaga yang seperti sebesar gunung mengenai tubuhnya, suara letusan yang terbekam menggetarkan hati orang.
Tubuhnya yang digulung mendadak berhenti, lalu berguling lagi ke depan.
Dua buah tongkat tembaga mental tinggi sekali, dua bilah pedang panjang ada satu yang patah, yang satu lagi masuk kedalam tanah satu chi lebih.
Pedang Li Hoa-xin mental ke atas, orangnya pun meloncat keatas, membiarkan Fu Ke-wei berguling di bawah kakinya, lalu dengan keras dia mencoba menginjaknya ke bawah.
Dalam sekejap ini, kipas tilap menyabet keluar dari gerakan gulingannya.
Perubahan yang terjadi cepat sekali, perubahan yang berturut-turut tampak panjang diceritakan, sebenarnya berlangsung dalam waktu sekejap terjadinya.
Setelah punggung Fu Ke-wei terkena bola baja, sampai dalam bergulingnya menyabetkan kipas tilap, walau pun di siang hari, orang yang menonton di pinggir juga sulit melihat jelas perubahannya, reaksinya semua terjadi secara reflek, semua ini adalah gerakan terbaik dari kumpulan pengalamannya, ketepatannya sungguh membuat orang kagum.
Fu Ke-wei yang diserang hingga mempercepat bergulingnya, seluruh gulingannya ada enam kali, terakhir tangan dan kakinya dilemaskan, dia berguling lagi ke pinggir dua kali, sepertinya seluruh tulang tubuhnya telah terlepas.
Dia berguling-guling sampai di pinggir jalan, tanpa sadar kipasnya telah hilang.
"Aduh......? Tubuh Li Hoa-xin yang masih di udara berteriak terkejut, saat menyentuh tanah kaki kanannya menjadi lemas, tiba-tiba roboh, segumpal daging di kaki kanan bawahnya telah tersabet oleh kipas lipat. Robohnya Li Hoa-xin, telah mengganggu empat orang yang baru saja sadar dari terkejutnya. Sebenarnya empat orang ini juga sudah tidak ada tenaga untuk mengejar, dua tongkat tembaga sementara tidak bisa dikendalikan lagi, sebilah pedang terputus, pedang lainnya masuk kedalam tanah dan belum tercabut keluar. Di pinggir jalan kebetulan ada satu gang kecil untuk mencegah bahaya kebakaran, di dalam gang kecil yang gelap meloncat keluar satu bayangan orang, dia menangkap krah baju Fu Ke-wei menariknya ke dalam, satu suara pelan yang jelas masuk ketelinganya.
"jangan meronta, aku bawa kau pergi."
Fu Ke-wei melemaskan seluruh tubuhnya, membiarkan bayangan itu seperti menarik anjing mati dengan cepat membawanya masuk ke dalam gang kecil itu.
0-0-0 Hari sudah terang, di dalam rumput alang-alang di sisi sungai.
Mantel panjang di tubuh Fu Ke-wei telah menjadi mantel yang robek di sana sini, dengan posisi duduk menengadah dia melakukan pernafasan, wajahnya pucat seperti wajah mayat, di mulut dan telinganya ada bekas darah yang mengering.
Sekitar sepuluh langkah lebih, Huo-bao-ing, Bu-fei-khe dan seorang wanita berbaju warna putih bulan bersembunyi didalam rumput alang-alang, dari balik rumput mengawasi keadaan sekelilingnya.
Di belakang adalah sungai Han yang sedikit keruh.
Setengah li di sebelah kiri, adalah pelabuhan penyeberangan kota Fan, di jalan raya orang berlalu lalang, samar-samar dapat mendengar suara ribut dari pelabuhan.
Tidak ada orang yang memperhatikan pantai kotor di sisi pelabuhan itu, matahari telah terbit, di pelabuhan masih ramai seperti biasa, Fu Ke-wei yang berada di dalam rumput alang-alang baru saja kembali dari pintu akhirat.
Dia seperti baru kembali dari keheningan abadi ke dunia nyata, sambil menghela nafas panjang, dia sedikit menggerakan kaki dan tangannya, alang-alang di sisi tubuhnya mengeluarkan suara gesekan.
Suara gesekan itu menimbulkan perhatian Bu-fei-khe, seperti kucing mendekati dia.
"Di kantong serba ada milikmu itu."
Kata Bu-fei-khe sambil berjongkok di sampingnya, dia berkata lagi pelan.
"orang dunia persilatan biasanya sedikit banyak membawa obat-obatan penolong nyawa, obat yang cocok dengan kondisi tubuhnya, dengan pengalamanku, aku hanya dapat mencium bau obat yang berguna untuk melindungi hawa murni, dengan beraninya aku menyuapkan sedikit padamu, kau pingsan tidak sadarkan diri, jadi terpaksa aku menempuh bahaya menyuapkan obat itu padamu, tampak obatnya sangat manjur, terima kasih langit!"
"Terima kasih padamu, Tetua, tidak ada sangkut pautnya dengan langit."
Mata dia yang terlihat kelelahan menatap pada Bu-fei-khe, wajah putih pucat yang menyeramkan ini, sekarang kelihatannya bukan saja tidak menyeramkan, malah menjadi ramah dan dekat.
"Lima orang menyerang, punggungku terkena satu bola baja, tiga pedang, dua tongkat melakukan penyerangan bersamaan dengan dahsyatnya, mereka sungguh keji, sungguh tidak tahu malu."
"Sekarang kau baru tahu mereka keji dan tidak tahu malu?"
Kata Bu-fei-khe dengan sinis.
"Kau kira tuan besar Li bisa mempunyai kedudukan penguasa di satu tempat sampai hari ini, dengan jalan lurus, usaha yang bersih dan ketekunan? Bayangkan aku dan saudara Du, walau tekun delapan generasi, juga tidak akan mendapat untung sepuluh hektar sawah untuk menghidupi keluarga!"
"Wajah penguasa setempat aku telah banyak melihat."
Dia mengeluh panjang.
"dengan siasat mengambil, dengan kekuasaan merampas, memeras masyarakat, mengumpulkan teman mendirikan perkumpulan, dengan kekuasaannya menghina yang lemah, semua hal ini tidak terhindarkan. Tuan besar Li orang yang mempunyai kedudukan dan nama di dunia persilatan, malah berulang-ulang mengumpulkan anak buahnya, diam-diam menyerang, terang-terangan melakukannya di keramaian kota, semua itu hal yang sangat jarang terjadi."
"Demi mencapai tujuan tidak perdulikan caranya, itu adalah kata mutiara bagi para penguasa setempat. Di dalam dunia persilatan penguasa yang semakin punya kedudukan tinggi, semakin melakukan perbuatan yang keji, itu tidak ada yang aneh."
"Ahli ketepel itu, menyerang diam-diam di bawah atap rumah sejauh dua puluh langkah lebih, kekuatan tenaganya, sungguh sangat jarang sekali, dalam jarak seratus langkah cukup bisa menghancurkan tameng menembus tembok, orang ini adalah......"
"Dia Dewa Ketepel Pengejar Arwah Seratus Langkah Gui Yuan-zhong,"
Kata Bu-fei-khe tertawa.
"kemarin malam selain Li Hoa-xin, di penginapan Fu-tai orang-orangnya menggunakan senjata gelap menjaga di barisan kedua, jumlahnya sebanyak empat belas orang, semuanya adalah penjahat top dari aliran hitam. Karena tuan besar Li terdesak, jadi minta tolong pada penjahat aliran hitam, sebab teman-teman dari aliran pendekar sudah tidak mau diperalat dia, Shuang-jie-shu-sheng dan Angin Awan adalah wakil dari aliran pendekar yang dapat melihat kesempatan menghindarkan diri, sudah tidak mau ikut campur membicarakan masalah ini. Sekarang kita bicarakan yang akan datang."
"Yang akan datang?"
"Benar! Melihat keadaan kau yang tidak karuan ini, sepertinya jeroanmu telah berpindah tempat, tulang di seluruh tubuhmu telah buyar, jika tidak diobati ratusan hari jangan harap bisa bergerak dengan bebas. Sekarang ini seluruh penjahat aliran hitam bersembunyi dimana-mana sedang mencari keberadaanmu, sangat berbahaya sekali. Jika tidak pergi ketempat jauh, apa kau disini mau menunggu ajal? Berapa lama kau dapat bersembunyi?"
"Aku tidak akan pergi."
Kata dia dengan tegas.
"Kau......"
"Ooo! Aku telah berjanji dengan tuan besar Li menyelesaikan urusan di Guan-qiu besok lusa pada tepat tengah hari, jika sampai waktunya aku tidak datang, selanjutnya aku tidak bisa lagi mencari dia, aku adalah orang yang memegang aturan dunia persilatan."
"Tapi, Kau......kau merayap pun tidak bisa. Malam ini aku dengan saudara Du akan pergi mencuri perahu, perahu yang ringan khusus untuk air deras, malam ini kita berlayar kebawah ke Wu-chang, meloloskan diri dahulu, selanjutnya......"
"Tidak ada selanjutnya, masalah ini harus cepat-cepat diselesaikan."
Fu Ke-wei dengan marah tertawa keji.
"anda tenang saja, beberapa pukulan dahsyat ini tidak akan merengut nyawaku. Aku berani bertaruh denganmu, sekarang aku sudah dapat berdiri."
Baru saja akan menjulurkan kaki, Bu-fei-khe telah menekan dia.
"Sudahlah, jangan sok jago."
Bu-fei-khe tawa pahit.
"mungkin kau benar adalah manusia super yang terbuat dari besi, dan mempunyai ilmu silat yang sulit dibayangkan, tapi bagaimana pun lebih banyak istirahat akan lebih baik. Kau sembunyilah baik-baik, saudara Du kemarin malam telah mencuri banyak makanan, aku ambilkan untuk kau makan, harap kau jangan sampai menggoyangkan rumput alang-alang, supaya tidak menimbulkan perhatian orang yang jalan mendekat."
"Sekarang aku masih belum lapar. Oh betul, kemarin malam bukankah kalian telah pergi melarikan diri, kenapa bisa kebetulan menolong aku?"
"Kami mendapat berita dari seorang teman lamamu, mengetahui Tuan besar Li telah memanggil para penjahat aliran hitam bersembunyi dijalan raya membuat jebakan, takut kau lengah termakan jebakan, maka bersama dengan kenalan lamamu, kami menyusup kembali untuk memperingatkan kau, tidak diduga tetap saja telat satu langkah......"
"Kenalan lamaku?"
"Benar, kenalan lamamu dari Wu-hu."
"Kenapa aku tidak ingat ada kenalan lama dari Wu-hu......"
"Dia sedang bertugas melakukan pengawasan, aku sekarang pergi memanggil dia kesini, setelah kalian bertemu bukankah bisa jadi tahu.'"
Bu-fei-khe dengan hati-hati sekali bergerak meninggalkan tempat itu. Tidak lama, terdengar suara gesekan yang pelan, bayangan berbaju putih bulan muncul.
"Kau? Kau kenapa bisa datang kesini......"
"Aku mendapat berita di Nan-yang, baru mencari ke sini."
Kata wanita berbaju putih bulan.
"sebulan yang lalu, dari seorang teman yang dalam perjalanan kembali aku mengetahui jejaknya ketua benteng Naga Langit Lu-zhao, aku berkeliling ke seluruh Shan-dong, He-nan dan yang lainnya, ingin melaporkan padamu, aku sampai kepayahan mencari kau......tuan Fu, lukamu......"
"Terima kasih, nona Ouw. Aku sudah tidak apa-apa."
Katanya dengan nada yang tulus.
"kau tidak mengingat dendam lama, jauh-jauh datang memberi kabar, perhatian yang besar ini, akan selalu aku ingat."
Wanita ini ternyata adalah mantan pembunuh bayaran wanita perkumpulan Qing-lian, Ratu Lebah Ouw Yu-zhen.
"Tuan Fu sungguh sungkan sekali, aku masih punya hutang budi satu nyawa! Hal sekecil ini, tidaklah seberapa."
Kata Ouw Yu-zhen dengan lembut, penampilan sebagai pembunuh bayaran wanita telah menghilang.
"Nona Ouw, jangan bicarakan masalah permusuhan atau budi yang dulu, bolehkan? Kau sekarang apakah masih......"
"Perkumpulan Qing-lian setelah menutup kantor pusatnya, seluruh anggotanya telah bubar, saat ini aku sedang tidak ada pekerjaan."
Nada bicara Ouw Yu-zhen ada humornya, lagaknya seperti sedikit tidak bisa berbuat apa-apa. Fu Ke-wei terdiam sejenak.
"Apa rencanamu selanjutnya?"
"Bagaimana aku masih punya rencana apa? Aku hanya bisa melewatkan sehari demi sehari, aku juga tidak ingin bekerja seperti dulu lagi."
"Maafkan aku tidak sopan, di rumah nona masih ada siapa saja?"
Tanya Fu Ke-wei dengan tulus.
"Sejak kecil aku telah ditinggalkan ayah dan ibu, hanya ada seorang adik kecil yang buta......itulah sebabnya aku bekerja dalam bidang ini, semuanya juga demi dia......"
"sekarang aku mengerti, nona sangat sayang pada adik, tapi pekerjaan ini melawan hukum alam, pasti akan mendapat hukuman dari alam, nona bisa segera cuci tangan, itu adalah satu keberuntungan, di kemudian hari..."
"Aku tidak ada harapan di kemudian hari, wanita seperti aku yang pernah jadi seorang pembunuh bayaran, kecuali menikah dengan berandalan, putra keluarga baik-baik siapa yang mau menerima aku? Makanya, aku ada satu permintaan......"
"Silahkan katakan."
Kata Fu Ke-wei tertegun "Dalam usia empat belas tahun aku sudah keluar gunung, berkelana di dunia persilatan sudah delapan tahun, sudah terbiasa dengan kehidupan dunia persilatan, jika sekarang kembali hidup sebagai orang biasa, buatku, pasti sementara belum bisa membiasakan diri......"
"Tentu, hal ini tidak bisa dihindarkan."
Fu Ke-wei mengangguk menyetujui perkataannya.
"Karenanya, aku pikir aku perlu waktu menyesuaikan diri untuk bisa kembali ke kehidupan biasa."
Fu Ke-wei menatap, tidak melanjutkan perkataannya.
"Kau adalah seseorang yang dapat di percaya, aku tidak berani mengatakan apa itu balas budi, aku minta dengan kedudukan sebagai pelayan bisa tinggal di sisimu untuk beberapa waktu, aku akan tahu diri, pasti tidak akan menambah kesulitan apa pun buatmu."
Ouw Yu-zhen melanjutkan perkataannya.
"sampai saatnya jika kau merasa tidak memerlukan aku lagi, asal kau mengatakan sekali saja, aku segera akan pergi."
"Ini......ini mana bisa, sejak dulu aku sudah terbiasa sendirian berkelana."
Dia tidak menduga Ouw Yu-zhen bisa mengajukan permintaan ini.
"jika ada seseorang di sisiku, itu akan mengganggu kebebasanku, apa lagi kau adalah seorang yang ternama di dunia persilatan Wa......"
"Tuan Fu, kau dengarkan aku dulu."
Ouw Yu-zhen menyela kata-katanya.
"seorang diri berkelana memang bisa bergerak dengan bebas, tapi juga sering ada kekurangan di suatu bidang. Mengenai ilmu silat, kau memang telah berlatih mencapai taraf yang tertinggi, di dunia ini mungkin sulit mencari orang yang dapat menandingimu. Tapi, kau tetap kekurangan seorang teman untuk membantu, coba pikirkan, dalam peristiwa berdarah tabrakan kereta kali ini, dan kau telah dua kali mendapat serangan secara diam-diam dari orang yang ilmu silatnya tidak setara denganmu, itu bukti yang paling bagus. Jika ada aku di sisimu, aku bisa setiap saat memperingatkanmu, hingga akan membuat persentasi mengalami serangan diam-diam sampai ketitik terendah. Mengenai julukanku dulu, walau yang mengetahuinya banyak, tapi orang yang pernah melihat wajah asliku sangat sedikit sekali, asal kau tidak mengatakan, siapa yang tahu aku dulu adalah anggota perkumpulan pembunuh bayaran Qing-lian?"
"Ini......? "Kecuali kau memandang rendah asal-usul ku yang tidak bagus......"
"Tindak-tandukku juga tidak begitu bagus, aliran hitam dan putih dunia persilatan yang ingin menguliti daging dan mencabut ototku, bisa dikatakan tidak terhitung banyaknya.'' "
Kalau begitu apa lagi yang kau khawatirkan? Aku ada wanita yang tahu diri, aku akan memerankan peran pembantu dengan baik."
Kata Ouw Yu-zhen pelan.
"kalian kaum lelaki kebanyakan bertindak kasar, tidak seperti wanita yang teliti, jika ada aku di sampingmu, aku akan memperhatikan keadaan di sekeliling dan keadaan yang tidak terduga di sekelilingmu, supaya kau tidak perlu repot memperhatikan, atau khawatir keadaan selanjutnya."
Fu Ke-wei berpikir sejenak, baru berkata.
"Masalah ini kita bicarakan di kemudian hari saja, kau dan aku adalah teman, jangan sebut apa pelayan atau majikan, sekarang aku benar-benar sudah merasa lapar, tolong kau beritahu dua orang tua aneh itu, antarkan makanan untuk mengisi perut."
"Ya, tuan."
Nadanya Ouw Yu-zhen sungguh persis seperti seorang pelayan wanita.
0-0-0 Fu Ke-wei dengan tegapnya melangkah berjalan ke utara, di bawah terik matahari, tubuh dia yang berpakaian biru sangat mencolok mata, dalam jarak beberapa li juga bisa terlihat dengan jelas.
Di belakang pepohonan di kanan jalan, seperti elang terbang muncul empat orang dengan wajah menyeramkan berusia sekitar setengah baya, dua batang tongkat tembaga bersinar-sinar, dua bilah pedang panjang sinarnya menyilaukan mata.
"Bocah, kau masih penasaran?'' empunya Tongkat tembaga yang menghadang jalan sambil tertawa keji.
"jalan ini buntu, aku Dewa Tenaga Sakti An Yung-kang akan mencabut nyawamu."
Dua tongkat itu, satu di depan satu di belakang, sedang kedua pedang, satu di kiri dan satu di kanan, hawa pembunuhan seperti gelombang besar mengurung Fu Ke-wei, situasinya yang mencekam, sungguh menakutkan hati orang.
"Kalian sedang mencari mati!"
Dia berkata satu kata persatu kata, mata macannya bersinar dingin.
"Aku telah dua kali di bokong, karena salah perhitungan, dua kali terluka terkena serangan berkelompok, tapi kali ini aku tidak akan tertipu lagi, gigi dibalas gigi, segera pembalasannya datang, 'bunuh!'"
Perkataan 'bunuh' seperti geledek menyambar, setelah bersuara itu dia bukannya maju malah mundur, tubuhnya bergerak seperti kilat, punggungnya bergerak di sisi tongkat tembaga Wen-yi yang dijulurkan di belakang, begitu dia menerjang masuk, sikut kirinya dengan tenaga yang amat dahsyat mengenai dada kiri orang yang memegang tongkat itu.
"Hmm......"
Orang yang memegang tongkat yang berada di belakang tubuhnya, mimpi juga tidak menduga lawan bisa menggunakan punggungnya menabrak, tongkatnya tidak keburu bergerak, tulang iganya telah patah, dia ditabrak mundur delapan chi dan jatuh terlentang, mulutnya menyemburkan darah segar.
Dalam sekejap tangan kanan yang memegang tongkat telah dirampas lawannya, lalu dengan cepat tongkat itu diayunkan menerjang maju kedepan, tongkat tembaga seberat tujuh puluh jin lebih dengan lurus terbang ke depan, kecepatannya sampai sulit dilihat, hanya terlihat sinar kuning berkilat, tongkat itu tanpa ampun menusuk masuk ke dalam bahu kanan Dewa Tenaga Sakti yang berada dua zhang lebih, yang sedang melintangkan tongkat siap menyerang.
Tongkatnya sebesar telur bebek, sekali masuk ke dalam bahu mana bisa ditahan?
Boom..satu suara keras terdengar, Dewa Tenaga Sakti seperti gunung runtuh roboh ketanah.
Dua orang yang berdiri di kiri kanan yang akan menyerang dengan pedangnya, kepalanya menjadi pusing, mereka tidak tahu telah terjadi perubahan apa, hanya tahu dalam sekejap, dua teman yang bertenaga besar semuanya telah roboh, mereka jadi ketakutan sekali, bulu kuduknya berdiri, bersamaan itu mereka meloncat keluar, melarikan diri dengan masuk kedalam hutan disisi jalan.
Tidak lama, dengan menarik terbalik dua tongkat tembaga, Fu Ke-wei melangkah pergi ke utara.
Dua batang tongkat tembaga yang beratnya ada seratus empat puluh jin, hanya dengan satu tangan dia menariknya, sepertinya benda itu tidak mempunyai berat.
Keadaan ini sungguh seperti ada tenaga setan yang menakutkan, dengan jelas menyatakan nasib pemilik tongkat tembaga itu.
Orang yang kemampuannya lebih rendah dari pada pemilik tongkat tembaga itu, paling baik tahu diri, jangan sok pahlawan dan muncul mengantarkan nyawa.
Berjalan sejauh satu li lebih, benar saja tidak ada lagi orang yang keluar menghadang, mungkin para pesilat aliran hitam yang bersembunyi semuanya orang-orang pintar, juga semuanya setan penakut.
Jembatan Bao-shi sudah terlihat, di tengah jalan raya, tiba-tiba bayangan orang berbaju biru itu menghilang.
0-0-0 Bab 9 Di pinggir seratus langkah dari jembatan ada satu pohon besar, duduk diatas batang yang melintang Fu Ke-wei bisa melihat dengan jelas keadaan di atas jembatan dan seratus langkah jalan raya di selatannya.
Seorang yang berpakaian ringkas berwarna hijau muda, mengapit sebuah busur indah sepanjang enam chi, di kantong busur ada tiga buah bola tembaga, begitu melihat Fu Ke-wei tahu dia adalah seorang pakar busur bola, kepandaiannya pasti sudah sangat tinggi.
Busur peluru berbeda dengan busur panah, busur peluru harus ada ruang gerak yang lebih luas, makanya tempat persembunyiannya harus di pilih dengan hati-hati.
Orang ini segera bersembunyi dengan baik, matanya yang tajam menembus pada daun yang berada di bawah, mengamati setiap orang yang berlalu lalang diatas jembatan, dia ingin mencari orang yang ditunggunya, duduknya sangat mantap, tangan kirinya menegakan busur, tangan kanan siap di kantong peluru, dia bersiap-siap melepas-kan tembakannya.
Karena semua perhatiannya tertuju pada jembatan, dia jadi lengah terhadap keadaan di belakang tubuhnya.
"Gui Yuan-zhong!"
Di bawah belakang tubuhnya tiba-tiba terdengar teriakan.
"balikan tubuhmu!"
Dewa Ketepel Pengejar Arwah Seratus Langkah Gui Yuan-zhong dengan sendirinya membalikan tubuh melihat ke bawah, tapi celaka!
Terlihat satu bayangan orang berbaju biru di belakangnya, dan busur dirinya terhalang oleh batang pohon, tidak ada tempat leluasa untuk menembakan peluru.
Satu sinar pelangi terbang ke atas, seperti kilat langsung menghilang, dia tidak bisa melihat dengan jelas benda apa itu, tidak ada tempat untuk menghindar, juga tidak ada kesempatan untuk menghindar, hanya merasa seluruh tubuhnya bergetar, ada sebuah benda yang masuk ke dalam bawah dadanya, seperti terkena guntur, kaki tangan bergetar, tubuhnya tidak bisa dikendalikan lagi, seperti burung terkena panah, dia jatuh terjun ke tanah, busurnya telah terlepas dari tangannya, tiga butir peluru bajanya juga jatuh dari kantongnya.
Ada sebilah belati sepanjang satu chi, yang bisa dibeli dengan mengeluarkan uang perak dua liang, masuk miring dari dada bawah kiri, masuk sedalam enam cun lebih.
0-0-0 Fu Ke-wei muncul di jalan kecil jembatan yang menuju Guan-qiu, tangan kirinya menarik dua tongkat tembaga, tangan kanan memegang busur.
Puncaknya bukit Guan-qiu tidak tumbuh apa-apa, itu adalah tempat bermain anak-anak, tanahnya sering terinjak-injak sehingga tidak bisa tumbuh apa-apa, tanah yang kecoklatan sangat keras.
Tuan besar Li berserta putranya bertiga, ditambah Li Jian-jian, masih ada empat orang teman keluarga Li, dan tiga orang pendeta dao dari Wu-dang, semua berdiri menunggu di bawah teriknya matahari.
Fu Ke-wei dengan langkah besar mendaki ke bukit, sambil membuang tongkat dan busur ke bawah.
"Masih kurang beberapa saat pada tengah hari tepat."
Dia menengadah melihat matahari, nadanya tenang sekali.
"kalian mungkin sudah menunggu lama? Maaf maaf!"
Setelah melihat tongkat tembaga dan busur itu, kecuali tiga pendeta dao tua, wajah semua orang telah berubah warnanya.
"Siapakah dirimu sebenarnya?"
Tanya tuan besar Li memberanikan diri dan keras.
"Fu Xian korban selamat di peristiwa tergulingnya kereta di kabupaten Ye."
Dia dengan keras berkata.
"Tuan besar Li, aku......"
"Yang aku tanyakan adalah tingkatan mu di dunia persilatan."
Tuan besar Li menyela kata-kata dia.
"siapa saksi yang mengatakan kau adalah korban selamat peristiwa berdarah tergulingnya kereta di kabupaten Ye? Siapa saksinya yang bisa menunjukan pelaku kejahatan terbaliknya kereta? berdasarkan apa kau mengharuskan aku mengembalikan keadilan padamu? Jawab!"
"Aku tahu kau akan melakukan ini."
Dia tertawa tawar.
"tuan, apakah kau tahu saat aku kembali ke penginapan, kenapa para pejabat pemerintah dan kepala polisi Lie begitu hormat padaku marga Fu? Itu karena aku telah melaporkan dengan jelas kejadiannya peristiwa tergulingnya kereta pada Bupati Xiang-yang."
"Apa? Kau......"
"Satu jam yang lalu, mungkin tentara telah berada di perumahan Han-bei, dan berhasil menggeladah kereta ringan yang digunakan putramu melakukan kejahatan di kabupaten Ye. Surat pemerintah Nan-yang yang meminta kantor Xiang-yang menangkap pelaku kejahatan, sudah tiba satu hari sebelum aku kembali ke penginapan, malam hari aku masuk ke kantor Bupati, pada Bupati minta diundur tiga hari, hari ini adalah tepat waktunya surat perintah penangkapan itu berlaku."
Dia memungut satu tongkat tembaga.
"sekarang, kita selesaikan dahulu perkara kau berulang-ulang melakukan kejahatan, perkara di pengadilan kita lanjutkan di kemudian hari."
Tangan pendeta dao Qing-xi mengusap janggut, melangkah maju dengan dingin berkata.
"Perbuatan dermawan Fu ini, bukankah sedikit tidak menurut aturan dunia persilatan, tuan datang dengan amarah, bisakah dengan tenang menyelesaikan masalahnya?"
"Tolong tanya, apakah pendeta dao tahu duduk persoalannya?"
Fu Ke-wei balik bertanya.
"Aku tahu beberapa keadaannya."
"Pasti dengan apa yang aku katakan ada perbedaannya."
"Aku kira, apa yang dikatakan dermawan Li mungkin hanya kata-kata sepihak, dan tuan juga mungkin tidak dapat membantahnya dengan bukti yang kuat."
"Pendeta dao jika mengira kata-kata si marga Li mungkin adalah kata-kata sepihak, maka dia tidak akan berdiri disini membicarakannya."
Katanya dengan tidak sungkan.
"Kata-kata dermawan sungguh tajam sekali."
"Pendeta dao kau juga tidak berdiri diatas kebenaran."
"Berani sekali!"
Pendeta dao lainnya berteriak dengan nada dalam.
"Jika tidak berani maka tidak akan datang."
Katanya dingin.
"kalian para pendeta dao apa datang untuk menegakan keadilan? Atau datang untuk membela keluarga Li? Aku masih muda, kesabarannya terbatas, jika kalian belum mengetahui keadaan sebenarnya, paling baik jangan sok membela, katakan apa tujuan kalian, ingin jadi penengah menegakan keadilan, kalau begitu tunggulah di pengadilan, coba lihat apakah kalian pantas tidak. Jika mau membantu tidak perlu bersilat lidah, buang saja kata-kata kebenaran, siapa yang kuat itu yang benar. Kalian para pendeta dao, sayangilah nama baik Wu-dang! Jika melibatkan diri pada masalah ini, akan berakibat nama Wu-dang akan menjadi buruk, siapa tahu malah bisa mendatangkan mala petaka tidak habisnya bagi perguruan anda, itu dosanya besar sekali."
"Kau mengancam aku?"
Pendeta dao Qing-xi dari malu jadi marah.
"Tidak bisa dikatakan mengancam, yang aku katakan adalah kenyataan, jika masalahnya adalah perselisihan pribadi di dunia persilatan, aku pasti akan menghormati kedudukan dan prinsip pendeta dao, melibatkan masyarakat biasa di peristiwa berdarah, itu bukanlah masalah yang harus kalian urus, kalian di pihak luar tidak usah turut campur urusan ini, kalian ini berebut apa?"
Kata-katanya keras dan tajam, sangat menekan orang.
Kedudukan pendeta dao Qing-xi sangat tinggi dan terhormat, tapi masih belum terlatih sampai tingkat suci tanpa emosi, maka darahnya jadi bergolak, pikirannya jadi tidak jernih, dengan emosi melakukan kuda-kuda, telapak kiri di dirikan di depan dada.
Fu Ke-wei yang berulang-ulang menerima serangan menggelap, sudah sejak tadi sangat waspada, melihat pendeta dao tua melakukan kuda-kuda, dia mengira pendeta dao tua akan menyerang karena marahnya, maka dia segera bergerak lebih dulu, tongkat tembaga diangkat, siap maju menyerang.
Pendeta dao Qing-xi juga mengira dia mau menyerang, dia menjadi semakin marah, tangan kiri dengan cepat diulurkan, menangkap tongkat tembaga yang baru saja diangkat.
Sekali sentuhan segera bergerak, kedua belah pihak tidak sungkan lagi, Fu Ke-wei sekali bersuara "Hm...!"
Dingin, tangan kanan memegang erat tongkat, tangan kiri melawan tangan kiri, dengan adil bertarung tenaga dalam.
Kedua belah pihak beradu tenaga dalam, saling dorong, tarik, pelintir, lempar, masing-masing mengeluarkan kemampuannya, kuda-kudanya semakin rendah, tongkat tembaga pelan-pelan turun.
Tongkat tembaga sebesar telur bebek, bisa menahan tekanan seberat sepuluh ribu jin, siapa yang tenaganya kurang, pasti tangan kirinya akan hancur ditolak tenaga lawannya, malah tenaga dalamnya akan hancur.
Sesaat, tiba-tiba tongkat tembaga terlihat membengkok, dua orang itu semuanya tampak serius, setiap otot di tubuhnya mengerut, menegang, nafas sepertinya berhenti.
Sesaat lagi, kaki depan pendeta dao Qing-xi goyah, tangan kanan dengan sendirinya di ulurkan menangkap tongkat.
Fu Ke-wei juga mengulurkan tangan kanan, menggenggam tongkat tembaga, mendadak sekali dia berteriak keras, memutar tubuh merendahkan lutut kiri mengangkat tangan kanan, tenaga sebesar gunung dikerahkan, dengan dahsyatnya mengangkat.
Pendeta dao Qing-xi mendadak mengeluarkan suara "Mmm!" , sepasang kakinya meninggalkan tanah tubuhnya mendadak naik keatas, terangkat meninggalkan tanah di lempar keatas, di tengah jalan dia melepaskan genggaman tongkat, kaki dan tangan bergerak-gerak, mantel dao nya berkibar-kibar, dia melayang tiga zhang lebih lalu turun dengan berat, hampir saja terjatuh.
Tongkat tembaga menjadi bengkok sedikit, tenaga yang di terimanya sungguh menakutkan orang.
Dalam sekejap ini, Tuan besar Li mencabut pedang maju dua langkah, sepertinya ingin mengambil kesempatan menyerang.
Fu Ke-wei membuang tongkat tembaga yang telah bengkok, sekali bersuara "Hm!"
Dingin, tangan kanannya mengeluarkan sebilah belati dari dalam dadanya, di dalam mata macannya tampak sinar aneh, belati berubah jadi segaris semut putih terbang membelah udara, sepasang tangannya yang diulurkan setengah lurus setengah bengkok, bergerak dengan anehnya.
"Ssst sst sst!"
Tuan besar Li mengayunkan pedang memukul belati yang terbang datang, kecepatan belati tidaklah cepat, sangat mudah dipukul oleh seorang pesilat tinggi.
Semua orang jadi terkejut?
Hal aneh telah terjadi, belati yang melayang itu sama sekali tidak takut sabetan pedang, saat terkena benturan arahnya hanya berubah sedikit, pisau itu seperti benda hidup.
Tuan besar Li sangat ketakutan setengah mati melihat hal ini, setiap sekali mengayunkan pedang dia malah seperti didorong mundur dua langkah, dan dia selalu tidak bisa memukul jatuh belatinya, lebih-lebih tidak bisa menghindar dari kejaran belati itu.
"Dermawan Li cepat buang pedangnya!"
Teriak pendeta dao Qing-xi yang masih berdiri gemetar.
"ilmu hawa mengendalikan pedang!"
Tuan besar Li seperti terhipnotis, dengan ketakutan membuang pedang, berdiri kaku gemetaran.
Belati terbang melewati telinga kiri Tuan besar Li, mendadak naik keatas, membentuk satu lengkungan sinar yang indah, naik keatas tiga zhang belok melayang ke bawah, tepat jatuh di tangan kanan Fu Ke-wei yang diulurkan keluar, sinarnya segera menghilang.
"Li Hoa-rong, tegakan dada pergilah ke polisi menyerahkan diri."
Kata Fu Ke-wei sambil menyimpan belatinya, satu kata satu kata itu diucapkan.
"bunuh orang ganti dengan nyawa, hutang uang bayar dengan uang, jangan buat malu teman-teman dunia persilatan, kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu, aku beri kau satu kesempatan lagi."
Habis bicara, dia membalikan tubuh dengan langkah besar pergi meninggalkan tempat itu.
Semua orang terbengong-bengong melihat Fu Ke-wei pergi, menghilang kedalam hutan yang ada didepan.
Wajah Yu-mien-el-lang Li Hoa-rong tampak pucat, seluruh tubuhnya gemetaran.
"Ayah, ananda pergi menyerahkan diri."
Yu-mien-el-lang sambil melepas pedang sambil berkata.
"masalah ganti rugi pada korban mati, harap ayah yang urus."
Huo-bao-ing, Bu-fei-khe dan Ouw Yu-zhen menunggu kedatangan Fu Ke-wei, mereka sangat gembira sekali.
"Saudara kecil, apa sudah selesai?"
Tanya Huo-bao-ing dengan gembira.
"Mungkin sudah selesai, asalkan Yu-mien-el-lang pergi menyerahkan diri."
Katanya menganggukkan kepala.
"Karena terhalang oleh dua hutan, kami tidak dapat melihat keadaan di sana."
Bu-fei-khe berkata.
"Di atas udara arah itu seperti ada pelangi putih menari-nari, hawa pedang berterbangan, apa yang terjadi?"
"Tidak ada apa-apa."
Fu Ke-wei tertawa.
"Pendeta dao tua dari Wu-dang sedang bersembahyang mengusir setan, begitulah kejadiannya. Ayo jalan! Mari kembali kekota, aku traktir tetua minum."
Empat orang itu berjalan berdampingan, sambil berkata-kata mereka berjalan kembali ke kota Fan.
0-0-0 Kampung Lu-an di Shan-xi, bersebelahan dengan Tai-yuan dan termasuk He-shuo, adalah bahunya dunia, kota terbesar nomor satu ini di lereng barat gunung Tai-hang, taman senangnya .para penjelajah, ranjang hangat para pelaku kejahatan.
Kampung di sekitar sini, hampir semua perumahan dan benteng membangun tembok benteng pertahanan, memiliki pertahanan pesilat yang sangat kuat.
Dari jalan raya di depan istana, Fei Long pergi ke selatan, tidak jauh ada persimpangan jalan yang ramai dengan orang yang berlalu lalang, dari pagi hingga malam, kereta kuda keluar masuk tidak berhentinya.
Belok ke sebelah timur, ada jalan di depan kantor pemerintah, ke sebelah barat, keluar ke Xi-guan.
Di sudut belokan barat, ada satu rumah makan Tai-an yang sudah ternama ratusan tahun.
Rumah makan Tai-an terkenal karena masakan dan anggurnya yang enak, sehingga termasuk salah satu empat rumah makan besar di kota ini, tamu makan yang keluar masuk disini, sedikit banyak berkedudukan khusus.
Keadaan hidup disini, tentu saja berbeda jauh sekali dibandingkan dengan di Jiang-nan, tapi harga barangnya murah, perbedaan antara si miskin dan si kaya tidak terlalu jauh, sehingga, orang yang punya kedudukan khusus, tidaklah terlalu elegan.
Sore hari itu, Fu Ke-wei dengan Ouw Yu-zhen naik ke loteng duduk di tempat vip.
Dia memakai baju panjang berwarna hijau langit, menjadikan dia seorang pemuda yang tampan, seperti putra bangsawan, Ouw Yu-zhen memakai baju berwarna putih bulan, berwajah halus pipi kemerahan, sepasang matanya yang genit, sungguh menarik dan bisa mengait arwah orang.
"Tersedia beberapa macam masakan sebagai teman minum arak, lima stel mangkok dan sumpit, sepuluh teko arak Fen."
Ouw Yu-zhen memesan pada pelayan yang sambil tersenyum menyodorkan teh memegang kain lap.
"pelayan sebentar lagi temanku akan datang, arak dan masakannya harus yang paling bagus."
"Aku mengerti."
Pelayan dengan sopan berkata.
"arak dan masakannya siap, setelah teman tuan datang baru......"
"Tidak, setelah siap segera saja keluarkan, tidak perlu menunggu."
"Baik, mungkin tuan belum janji waktu sebelumnya."
"Belum, tapi mereka akan datang."
Fu Ke-wei sambil tersenyum menyela.
"karena kemarin malam aku telah mengirim pesan pada mereka, dan pagi-pagi sekali sudah ada orang datang ke penginapan mengawasi gerak-gerikku. Lihat, dua orang yang baru saja naik ke loteng, merekalah orang yang mengawasiku, mereka bekerja sangat bertanggungjawab."
Pelayan telah melihat dengan jelas dua laki-laki besar yang baru saja naik, wajahnya jadi berubah, dengan buru-buru dia turun ke bawah loteng menyambut.
Pelayan lainnya dengan wajah tersenyum, mempersilahkan dua laki-laki besar duduk di meja dekat jendela, dengan sopan berkata.
"Tuan kedua Ban (Ban-el-ye). Tuan kelima Wan (Wan-wu-ye), mau minum a......"
"Pergi sana."
Ban El Ye yang berkepala macan, mata bulat wajah galak mengibaskan tangan mengusir orang, sorot matanya tertuju ke arah Fu Ke-wei.
"teman itu sepertinya sedang siap mentraktir orang, apa dia telah mengundang orang."
"Betul!"
Sahut Fu Ke-wei yang tidak jauh sambil tersenyum.
"memang akan mentraktir orang, mungkin tamunya segera datang, apa anda berdua punya ide?"
Dua orang laki-laki besar itu tidak sembunyi-sembunyi lagi, Ban-el-ye pertama-tama yang mendekati meja makan Fu Ke-wei, menarik satu kursi duduk di sebelah kiri Fu Ke-wei.
Wan-wu-ye juga duduk melintang, memisahkan Fu Ke-wei dengan Ouw Yu-zhen, mengapit dia di tengah-tengah.
"Sahabat, siapa marga dan apa namamu?"
Tanya Ban-el-ye tertawa culas.
"kemarin malam, surat yang ditinggalkan di atas kusen pintu, hanya ditulis nama dan tidak ditanda tangani, siapa yang tahu kau adalah Budha besar dari kuil mana? Kelihatannya tubuhmu, untuk menyembelih ayam juga tidak ada tenaga, mana dapat menyusup empat lapis penjagaan tanpa di ketahui, sungguh tidak mudah. Aku percaya pasti sahabatmu yang melakukan aksi yang mengejutkan ini."
"Malah sebaliknya, temanku tiga hari lalu telah pergi, sebelum kejadian dia telah minta tolong temannya untuk menyelidiki terlebih dahulu, setelah siap maka dipersilahkan teman ini pergi, ini adalah prinsip aku melakukan sesuatu pekerjaan, aku sudah tinggal tujuh hari di daerahmu."
Fu Ke-wei menggulung lengan baju, gerakan ini jadi tidak cocok dengan penampilan dia sebagai putra bangsawan.
"kemarin malam yang mengirim surat itu adalah aku sendiri, jika saudara tidak percaya, aku tidak akan banyak bicara lagi. Mengenai nama! Tunggu saja sampai Huang-jit-ye (Tuan Ketujuh), Huang Yung-sheng datang, bagaimana?"
"Sobat, aku sungguh tidak percaya orang yang mengirim surat kemarin malam adalah dirimu."
Ban-el-ye tiba-tiba mengulurkan tangan kanan, ingin mengunci pergelangan tangan kiri Fu Ke-wei yang ditaruh diatas meja, untuk ditekannya di atas meja.
Tiba-tiba meja makan itu mengeluarkan suara aneh, sepertinya lantai lotengjuga bergetar.
"Kau ini sungguh nekad, jika tidak sampai di sungai Huang tidak putus harapan."
Fu Ke-wei membiarkan lawan mengerahkan tenaga, tingkahnya tetap santai.
"he he he! Aku berani datang mengacau, tentu saja punya sedikit kemampuan."
Wan-wu-ye melihat ada gelagat yang tidak menguntungkan, mengambil kesempatan itu dia bergerak menyerang, sebelah telapaknya melayang miring, dipukulkan ke arah sepasang mata Fu Ke-wei.
Ouw Yu-zhen menjulurkan tangan kirinya, dengan tepat sekali menangkap telapaknya Wan-wu-ye, lima jarinya mencengkeram, lalu membanting kesamping.
"Aduh......"
Wan-wu-ye berteriak sambil melayang keluar, merobohkan kursi dan meja, merobohkan satu meja disebelah kiri.
Ruangan makan jadi kacau, sepuluh lebih tamu makan berlarian menghindar, para pelayan berteriak ketakutan, suasana menjadi ribut sekali.
Fu Ke-wei duduk dengan tenang seperti semula, pergelangan tangan kirinya masih dikunci dan ditekan ke atas meja oleh Ban-el-ye.
Tapi anehnya malah seluruh tubuh Ban-el-ye tampak gemetaran, keningnya mengucurkan keringat sebesar kacang, mulutnya tidak bisa bersuara, tampangnya kesakitan sekali.
Lalu Fu Ke-wei membalikan tangan kirinya dengan perlahan, akibatnya tubuh Ban-el-ye seperti terbang, terbangnya lebih jauh dari pada Wan-wu-ye, terbang sampai di mulut tangga, dan buug...
jatuh ketanah.
Fu berdua tetap duduk dengan tenang, sepertinya barusan tidak terjadi peristiwa apa-apa.
Ban dan Wan berdua berusaha bangkit setelah setengah harian baru mereka dapat berdiri, seorang memeluk lengan kanannya, seorang lagi menekan tangan kanan, kakinya juga belum leluasa melangkah, tampak jelas, tubuh bagian bawah kedua orang sudah mati rasa, tidak bisa dikendalikan lagi, wajahnya pucat seperti wajah mayat, sambil merintih!
Mereka berusaha turun dari loteng, melarikan diri.
"Kalian berdua baik-baiklah dijalan."
Fu Ke-wei dengan keras berteriak.
Dua orang ini mana bisa baik-baik dijalan?
Pelayan itu sudah tahu kerepotan akan datang, para tamu makan juga telah pergi menyelamatkan diri.
Masakan dan arak telah di antar, seluruh ruang makan loteng hanya tinggal Fu Ke-wei dan Ouw Yu-zhen yang menjadi tamu makan, pelayannya juga hanya ada dua orang.
Beberapa saat kemudian, tangga loteng berbunyi keras, datanglah tujuh laki-laki besar yang tinggi dan yang pendek.
Orang yang memimpinnya, adalah orang keluarga Huang di perbatasan utara sungai Shi-zi Huang-jit-ye, Huang Yung-sheng, berusia lima puluh tahun lebih, tubuhnya besar seperti beruang, dipinggangnya ada satu Kail Kepala Macan.
Fu Ke-wei berdiri sambil tersenyum, mengangguk, menyapa.
"He he! Inikah Huang-jit-ye?"
Lagak Fu Ke-wei santai tapi ada sedikit angkuh.
"aku tadi mengira Huang-jit-ye hanya membawa dua saudara saja, tidak di duga datang sampai tujuh orang. Pelayan, cepat satukan meja dan tambahkan sumpit dan mangkuknya."
Setelah meja disatukan, Ouw Yu-zhen bangkit berdiri di samping kiri Fu Ke-wei.
Lima orang itu duduk, dua orang lagi berdiri dibelakangnya Fu Ke-wei, berdiri di sebelah kiri dan kanan.
Wajah Huang-jit-ye penuh amarah, dia duduk di seberangnya, sepasang matanya yang aneh seperti api membara, menatap tajam pada Fu Ke-wei yang duduk dengan tenangnya sambil tersenyum.
"Aku Huang Yung-sheng."
Suara Huang Yung-sheng seperti guntur.
"kemarin malam betulkah anda yang datang ke rumahku meninggalkan surat memanggil aku?"
"Betul."
"Anda mengundang aku kesini ingin membicarakan apa? Aku tidak kenal kau..."
"Kau tidak kenal aku, tapi aku kenal kau. Kau adalah Dewa Kail Cakar Elang Huang Yung-sheng, Huang-jit-ye."
"Jangan banyak omong kosong! Kau ingin bicarakan apa? Jika mungkin, aku akan mengabulkannya."
"Aku mengundang kau datang, ibarat pesta tidak ada pesta yang baik, pertemuan tidak ada pertemuan yang baik."
"Puuh! Aku berjuang di dunia persilatan sudah dua puluh tahun lebih, gelombang sebesar apa yang belum pernah aku alami? Walau pestamu ini adalah pesta penguasa, aku juga akan datang, bukankah sekarang sudah datang?"
"Terima kasih atas kemurahan hatimu, aku merasa sangat terhormat."
"Aku menunggu kau mengatakannya."
"Baik, aku lebih baik menurut dari pada menghormat. Anda belajar silat di perguruan Biksu Kepala Besi di Liu An-zhou, marga Biksu Kepala Besi adalah Bai, dia punya seorang keponakan bernama Bai Ru-lian, juga adalah adik seperguruanmu. Beberapa tahun lalu Biksu Kepala Besi mendadak mati di kuil Bai-yun di kota Jia-yu, tahun lalu adik seperguruanmu bersama dengan Sepasang Hebat Jiang-nan malam-malam merampok sembilan keluarga kaya di Jiang-ning dan berhasil merampok puluhan ribu liang perak, kemudian menghilang, di dunia persilatan tidak menampakan lagi jejaknya Tiga Wanita Iblis. Adik seperguruanmu berjuluk Yun-sang-nie (Wanita Baju Awan), menurut kabar dia pintar menyamar, dia dengan kau......"
"Tutup mulut! Aku tidak mau dengar omong kosongmu."
Huang-jit-ye menepuk meja berteriak marah.
"Kenapa kau begini terburu-buru? Aku tidak akan membicarakan masalah kotor kalian, asal kau beritahu aku di mana dia berada, kita baik-baik saja......"
"Kau ini makhluk apa?"
Huang-jit-ye berteriak marah, dan bangkit berdiri. Tujuh orang sebelumnya seperti sudah direncanakan, berdiri mengepung.
"Anda tidak ingin membicarakannya dengan baik-baik, kalau begitu tidak ada yang bisa dibicarakan lagi."
Fu Ke-wei juga bangkit berdiri, wajahnya ditekan.
"di tempat umum tidak baik membuat keonaran, besok tepat tengah hari, aku tunggu kau di depan kuil Tai-hang, di lereng selatan gunung Bo-gu, jika lewat waktu tidak akan ditunggu."
Habis bicara, dia dengan langkah pelan jalan ke tangga, Ouw Yu-zhen mengikuti di belakang sebelah kiri.
Di depan ada seorang laki-laki besar setengah baya menghadang jalannya, sepasang tangannya pelan-pelan diangkat.
"Lebih baik tenagamu digunakan besok."
Wajah Fu Ke-wei sangat dingin sekali.
"jika perlu, aku tidak akan takut menggemparkan khalayak ramai, di keramaian membunuh orang, minggir!"
Bentakan suara minggir tidaklah keras, tapi ada kekuatannya menakutkan orang, pria besar itu mendadak gemetar dingin, dengan terkejut dia memberi jalan.
Fu Ke-wei dan Ouw Yu-zhen dengan kepala terangkat melewatinya.
Seorang laki-laki setengah baya berwajah kuning yang berada di belakang Huang-jit-ye, diam-diam mengayunkan tangan kanannya ke-depan, seberkas sinar hijau terbang melayang menuju punggungnya Fu Ke-wei.
Fu Ke-wei sepertinya tidak merasakan, dia tetap melangkah dengan tenang.
Ouw Yu-zhen yang berjalan di sebelah kiri belakang dia, melangkah setengah langkah ke kanan, lengan bajunya dengan enteng dikibaskan, sinar hijau itu mendadak menghilang.
Kedua orang itu tidak memalingkan kepalanya, juga tidak berhenti, dengan santai turun kebawah.
Laki-laki setengah baya yang berwajah kuning tertegun, akhirnya menghirup hawa dingin berkata.
"Mungkinkah? Seranganku bisa gagal?"
"Adik ketiga, bukan saja kau gagal, Jara Pelebur Darah mu juga diambil wanita itu."
Kata Huang-jit-ye, wajahnya sangat tidak tenang.
"jika kita tidak bisa segera mengetahui asal usulnya juga tidak tahu ada berapa banyak pembantu dia, mungkin kita akan kalah. Ayo jalan! Mari kita pergi ke taman Tai-hang merundingkannya, bila perlu......"
Tanggal tiga di awal musim panas, di pekarangan timur penginapan tua Shang-dang yang terletak di sebelah timur rumah putra raja Shen.
Karena dekat dengan rumah putra raja, keamanannya sangat terjaga, penduduk disekitar-nya juga jadi aman, tidak ada orang yang berani membuat onar disekitar ini.
Sehingga, penginapan tua Shang-dang menjadi salah satu penginapan mewah di daerah ini.
Pekarangan timur di penginapan itu luas sekali, selain dihiasi oleh beberapa pot bunga, di tanam juga dua pohon tua Mei, ada beberapa kursi meja dari batu untuk istirahat tamu, di depan dan di belakang dua jalan dinyalakan dua buah lentera.
Fu Ke-wei dan Ouw Yu-zhen adalah satu satunya tamu penginapan yang belum tidur.
Kedua orang itu sambil mendinginkan tubuh sambil mengobrol.
Di atas meja batu ada satu teko teh dengan dua buah cangkir teh, di sisinya ditaruh satu kipas tilap yang terbuka, diatas kipas ada gambar tiruan Tang He-hu.
Tentu saja bukan gambar asli Tang Be-hu, Tang Be-hu sudah mati dua ratus tahun lebih.
Kipas seperti ini dibuat di daerah Su-hang, di Jiang-nan, adalah kipas bambu yang sangat biasa, dengan uang sepuluh sen lebih bisa membeli satu kipas, di Shan-xi tentu saja tidak seharga itu.
Angin kecil bertiup, dua bayangan hitam terbang dari atas tembok benteng, mendadak muncul disisi meja mereka.
Dua orang ini tetap duduk tenang seperti semula, terhadap dua bayangan orang yang terbang datang dengan ganasnya, sedikit pun tidak memperdulikan, sedikit pun tidak ada gerakan untuk mempertahankan diri.
Dua bayangan hitam itu memakai baju malam, di punggungnya ada pedang panjang, dua pasang matanya bersinar aneh, tidak seperti mata manusia malah seperti mata hewan yang dapat melihat di kegelapan, sangat menakutkan orang.
"Duduklah!"
Fu Ke-wei menunjuk pada dua kursi lainnya.
"kalian datang kesini kan bukan untuk berdiri saja.
"Siapa nama dan marga anda?"
Kata Fu Ke-wei dengan nada dalam.
"Aku Hou-yen, dia adalah temanku, marga Tang, namanya Nan."
"Ooo! Ternyata adalah kepala ruang Zhong-yi dari perkampungan Tian-wang, Kera Tangan Besi, saudara Hou dan Tie-fo (Budha besi) komandan Tang, maaf-maaf. Aku marga Fu, namaku di urutan ketiga, karena namaku diambil dari urutan angka, anda berdua panggil saja aku Fu-shan, he he he! Silahkan duduk."
"Kalau nona ini siapa...? Katanya jurus Tangan Gadis Memetik Bintang dia sangat hebat, pastinya dia adalah Gadis Giok nona Ling yang ternama di dunia persilatan itu!"
"Kau salah lihat, tuan!"
Ouw Yu-zhen tertawa.
"Aku hanyalah seorang pelayan wanita, budak yang mengikuti marga tuannya, kau panggil saja aku Fu-zhen!"
"Aku datang kemari tidak untuk berkelakar."
Wajah Hou-yen tampak tidak senang.
"anggap saja kalian ini marga Fu. Fu-shan, kau sengaja .datang ke Lu-an ini, apa ingin pamer?"
"Iii...! Kata-katamu ini aneh."
Wajah Ouw Yu-zhen yang elok tampak menonjol.
"kalau kami datang ke Lu-an untuk pamer, apa hubungannya dengan perkampungan Tian-wang anda? Apakah Lu-an adalah daerah rampokan kalian? Apakah aku lewat Lu-an akan merampok? Disini apa yang pantas untuk dipamerkan?"
"Kau......"
Hou-yen tidak bisa menjawab.
"Aku berani bertaruh jika perkampungan anda pasti ada hubungannya dengan Huang Yung-sheng, jika tidak, maka aku akan membawa kalian kerumah putra raja, menjelaskan pada pengawal, aku jamin bisa mendapatkan hadiah uang dua atau tiga ratus liang perak, kau percaya tidak?"
Hou-yen tidak bisa bicara, kemarahannya tambah memuncak.
"Rumah putra raja dekat sekali, jika anda merasa tidak repot......"
Hou-yen tidak bisa menahan amarahnya lagi, dengan menggigit gigi dia mengulurkan tangan mencengkram.
Tapi dia malah celaka sendiri!
Tangan yang sekeras besi itu sebaliknya ditangkap Fu Ke-wei dan ditekan ke atas meja batu, di lanjutkan dengan suara tamparan keras pada kepalanya, kecepatan pukulannya seperti kilat, Hou-yen bukan saja tidak bisa meronta, mengeluarkan suara jeritan juga tidak keburu.
Tie-fo (Budha Besi) Tang-nan sangat terkejut, segera dia mencoba mencabut pedangnya.
Pedang dia biasa selipkan dipunggungnya, memang tidak begitu mudah mencabutnya, keuntungannya adalah tidak mengganggu gerakan, tapi kerugiannya buat lengan yang kurang panjang, tidak gampang mencabutnya, tidak semudah dan tidak selincah jika diselipkan di pinggang.
Sehingga baru saja tangannya mengenai gagang pedang "Paak!"
Tiba-tiba sebuah teko teh pecah di atas bahu kanan Tang-nan, air teh panas segera membasahi wajahnya, sungguh sangat sakit sekali, lengan kanannya terasa mati rasa, kehilangan tenaga untuk mencabut pedang.
Fu Ke-wei melepaskan Hou-yen, dia meloncat melewati meja batu, tangan dan kakinya menyerang, pukulannya seperti angin ribut, sepasang kakinya menendang dada dan perut lawan, telapak dan tinju mendarat di dasar leher, sepasang bahu dan telinga jadi naik turun, suara daging terkena pukulan tidak terhitung banyaknya.
Begitu sepasang kaki Fu Ke-wei menyentuh tanah, Tang-nan sudah roboh.
"Aku tidak percaya kau benar Budha yang terbuat dari besi."
Fu Ke-wei menepuk-nepuk tangannya.
"Hawa murnimu masih belum mencapai tingkat keenam, mana bisa disebut Tie-fo? Berdirilah, aku ingin memberi beberapa pukulan lagi untuk melemaskan otot dan tulangmu, coba lihat apa tenaga dalammu sudah berhasil dilatih belum."
Tang-nan merintih dan meronta, ingin berdiri tapi tenaganya tidak bisa dikerahkan, beberapa kali dia mencoba mengangkat tubuhnya ke atas, tapi kembali jatuh, langit seperti berputar tanah terasa gelap, dia meronta sulit berdiri.
Hou-yen yang ilmu silatnya lebih tinggi, sudah lebih dulu terkapar pingsan diatas meja batu.
Akhirnya Tang-nan dengan susah payah bisa berdiri, meski masih bergoyang-goyang.
"Kau...kau bagus...bagus pukulannya......"
Tang-nan berkata dengan kacau, lidahnya seperti membesar satu kali lipat, suaranya tidak jelas.
"Aku sedang berpikir, apakah akan mengantarkan kalian ke rumah raja Shen."
Fu Ke-wei menepuk kipas lipat di tangan berkata pada diri sendiri.
"terhadap kalian kepala perampok, para pengawal pasti akan senang sekali, dijamin pasti akan mendapatkan hadiah dua tiga ratus liang perak, uang ini paling sedikit bisa dipakai hidup senang selama duatahun tanpa bekerja..."
Tang-nan mengeluarkan teriakan seperti binatang marah, dengan jurus Naga Awan Menampakan Cakar dia menyerang.
"Paak paak paak......"
Kipas tilap malah menerjang seperti kilat, Tang-nan terkena lagi enam kali pukulan.
Buum...
terdengar satu suara keras, untuk kedua kalinya dia roboh lagi, Fu Ke-wei dengan santai menyelipkan kipas lipat ke pinggangnya.
"Aku ingin mencabut satu persatu dua ratus lebih tulang di seluruh tubuhmu, karena kau tidak tahu diri."
Fu Ke-wei dengan nada dalam berkata.
"berdiri, kali aku akan menghancurkan tulangmu."
"Tuan awas......"
Ouw Yu-zhen yang di samping mengawasi, berteriak cepat.
Sebuah bayangan hitam seperti kilat datang mendekat, dalam sekejap sudah mendekat kurang dari satu zhang, seperti bayangan setan saja, kehebatan ilmu meringankan tubuhnya sangat menakutkan, angin yang membawa bau harum menerpa hidung.
Kedua belah pihak tanpa pikir saling menyerang, mendekatnya sangat cepat.
"Buug paak paak......"
Suara beradu pukulan terdengar, kedua belah pihak masing-masing menyerang, setelah lewat lima-enam jurus, hanya terlihat berseliweran kepalan dan telapak, suara suitan angin kencang terdengar bertubi-tubi, tubuh dengan cepat berputar, berpindah tempat, membuat pertarungan berjalan seimbang.
Terdengar satu teriakan dingin, Fu Ke-wei sudah tidak sabar, dia menambah tenaganya, sebelah telapaknya mengenai bawah iga lawannya, bayangan kedua orang itu pun segera berpisah.
Bayangan hitam melayang satu zhang lebih, sepasang kaki menyentuh tanah lalu mundur lagi tiga langkah baru bisa berdiri tetap.
"Iii! Hebat sekali jurus telapakmu."
Kata lawannya, nadanya terasa tidak mantap, tapi sangat merdu.
"kau ini......"
Ternyata yang berkata adalah seorang gadis muda berbaju ringkas, tangan kanannya tadi menekan iga kanannya, dengan pelan mengurutnya, pukulan tadi mungkin tidak ringan.
"Ih...! Kau bukan Yun-sang-nie (Wanita Baju Awan), kau terlalu muda."
Fu Ke-wei juga merasa terkejut.
"kaulah orang pertama yang bisa memukulku satu kali, dalam delapan belas jurus Telapak Hujan Memukul Teratai, yang bisa selamat mengundurkan diri."
"Kau juga bukan penjahat yang melarikan diri itu."
Kata gadis itu dengan menatap tidak mengerti.
"Penjahat apa? Aku adalah tamu yang menginap disini."
"Tapi, penjahat itu benar melarikan diri kesini lalu menghilang, aku telah melihat dengan jelas wajahnya. Tapi, kenapa kau menyerang begitu cepat?"
"Ooo! Nona, bukankah kau yang lebih dulu menyerang? Aku sudah berkelana di dunia persilatan bertahun-tahun, baru pertama kali bertemu dengan nona yang punya ilmu meringankan tubuh yang begitu hebat. Kelihatannya, kita telah salah paham, maaf!"
Si nona yang dipuji, wajahnya menjadi merah, dia menunjuk pada Tang-nan yang sedang susah berdiri.
"Dua orang ini kenapa? Apa kalian sedang bertarung?"
"Mereka dua orang perampok dari gunung Tai Thang-shan, aku sedang menghukum mereka."
Tang-nan berdiri sambil bergoyang-goyang, ingin maju menyerang lagi.
"Saudara ini namanya Tang-nan, julukannya Tie-fo. ilmu baju besinya dinamakan Tie-fo (Budha Besi), dia mengira telah berhasil melatih Budha Besi pelindung badan, makanya aku akan menghancurkan ilmunya, jika beberapa kali lagi dipukul tentu ilmunya akan pecah."
Fu ke-wei sambil bicara, sambil mendesak kearah Tany, nun "Antar saja mereka ke kantor polisi."
Kata si nona.
"berani sekali mereka membuat onar di perumahan pemerintah, jangan dibiarkan."
Tang-nan gemetar tidak kedinginan, tidak sadar dia melangkah mundur.
"Aku tidak......tidak mau urus lagi masalah kau dengan Huang-jit-ye."
Tang-nan akhirnya mengaku kalah.
"aku belajar silat kurang rajin, aku tidak menyalahkanmu."
"Bagus sekali. Tolong bawa pergi juga Hou yen, beritahu dia, di kemudian hari jangan mendekati aku, supaya tidak merepotkanku mematahkan lengan besinya."
Tang-nan tidak berani banyak bicara lagi, dia menggendong Hou-yen, lari terbirit-birit.
"Saudara sangat berbesar hati."
Si gadis tersenyum pada Fu Ke-wei, di pipi kirinya tampak satu legok tawa yang dalam.
"aku dengar para perampok gunung Tai-hang galak-galak, Tang-nan berani mengaku kalah, jarang bisa terjadi ini!"
"Dia cukup pintar."
Katanya.
"bila benar-benar dia diantarkan kekantor polisi dia akan dihukum penggal, bagaimana pun itu bukanlah hal yang menggembirakan. Nona masalah kau mengejar orang bagaimana kejadiannya?"
"Biarlah, hanya seorang perampok. Aku lewat di Ze-zhou ketika bertemu dengan seorang perampok sedang merampok kereta, dan membunuh dua orang, dia sudah dua hari dikejar olehku. Malam ini aku pastikan dia akan lari masuk kekota dan bersembunyi, aku menunggu di atas benteng gerbang selatan, benar saja dapat melihat dia, sayang jaraknya ada sejauh seratus langkah lebih, sehingga dia bisa lari sampai kemari dan lolos."
"Siapa orang itu?"
"Tidak tahu, mana dia berani memberi tahu namanya!"
"Ilmu meringankan tubuh nona sangat hebat, dia masih bisa meloloskan diri, orang ini pasti bukan orang yang tidak punya nama. Nona menginap dimana?"
"Penginapan Zhang-zhi di gerbang selatan."
"Siapa nama nona? Aku marga Fu."
"Margaku Peng. Saudara Fu dengan temanmu apa bukan orang sini?"
Si gadis sambil bicara sambil melirik pada Ouw Yu-zhen.
"Bukan, aku dengan temanku pengelana, orang yang menganggap dunia adalah rumah. Ooo! Nona tadi terbang meloncat tembok pekarangan dan kaki tidak menyentuh tembok, setelah sebelah kaki menyentuh tanah segera meloncat ke atas, tubuhnya mengecil mengurangi tekanan angin, satu loncatan bisa sejauh tiga zhang lebih, gerakan ini aku sangat hafal......"
Kata Ouw Yu-zhen.
"Tuan, itulah gerakan Meteor Meluncur di Langit, nona ini mungkin ada hubungan dengan keluarga Jie di Zhong-zhou, Tian-wai-liu-xing (Meteor Luar Angkasa) pendekar besar Jie."
"Tian-wai-liu-xing adalah suami bibiku, kakak ini sungguh tajam matanya, tolong tanya..."
"Aku juga marga Fu, pelayannya."
Kata Ouw Yu-zhen tertawa.
"Betul, ilmu meringankan tubuh nona begitu hebat, ternyata ada hubungannya dengan pendekar besar Jie......"
Kata Fu Ke-wei tertawa.
"Saudara Fu kenal dengan suami bibiku?"
"Aku sudah lama mengaguminya, sayang belum pernah bertemu."
Kata Fu Ke-wei.
"jujur saja, antara aku dengan suami bibimu ada perbedaan pendapat, tapi aku menghormati dia."
"Beda pendapat, kenapa?"
"Pendekar besar Jie orangnya polos, kecuali terpaksa, tidak mau terlibat dalam masalah, setelah usianya setengah baya, dia jarang keluar rumah, dan menempuh hidup tenang. Di daerahnya menjadi seorang yang baik, hanya mendamaikan masalah yang kecil-kecil saja."
Wajah Fu Ke-wei tampak sedikit tenang.
"dan aku yang muda, bersifat bebas tidak terkendali, tidak memperdulikan masalah kecil, arak, wanita, harta, tidak merusak kehormatan, berkelana di dunia persilatan demi masyarakat, mencegah orang melanggar aturan dunia persilatan, selama banyak tahun lebih banyak merusak dari pada mengharumkan nama, sampai aku sendiri juga tidak tahu apa. yang telah kulakukan, entah benar menurut hukum alam, hukum negara, hubungan manusia. Makanya... menurut pendapat, pendekar besar Jie tidak akan suka pada orang sepertiku."
"Aduh! Kalau begitu aku sudah tahu siapa kau ini."
Nona Peng teriak gembira.
"kau adalah orang yang di dunia persilatan paling misterius..."
"Aku apa pun bukan, aku adalah Fu Shan, hanyalah seorang pengangguran pengelana Dunia persilatan."
Fu Ke-wei memotong pembicaraan dia.
"Nona Peng, kau datang dari Zhong-zhou? Apa datang seorang diri?"
"Ini......"
"Mmm! Diam-diam keluar rumah, berkelana di dunia persilatan, betulkan? Ha ha! Hati-hati suami bibimu memukul patah kakimu."
"Sembarangan ngomong!"
Kata nona Peng genit, dia melihat sekali dengan mata putihnya, tingkahnya sangat menarik hati.
"aku sedang mengejar kakak Pei, dia dengan pendeta wanita Fou Yun berkunjung ke gunung Wu Tai."
"Ooo! Walet Gelombang Awan Pei Pei-yin? Kau membanggakan dia betul tidak? Dia turun gunung sudah lima tahun, namanya termasuk dalam tujuh wanita hebat di dunia persilatan, hatimu tentu tergerak. Terus terang saja, jika kau juga turun gunung, pasti tidak akan kalah olehnya, masalahnya kau harus bisa menghadapi bahaya yang tidak kecil, perbandingan sukses tidaknya adalah satu banding seratus, apakah kau ingin tanya pendapatku?"
"Menurutmu?"
"Cepat pulang."
Katanya dengan pasti.
"Kau......"
"Dunia persilatan adalah tempat setan, sulit untuk sukses, apalagi kalau kalah, sangat menyedihkan, buat apa? Ini adalah nasihatku. Malam sudah larut, nona sudah harus kembali ke penginapan beristirahat. Pendeta wanita Fou-yun dan Walet Gelombang Awan sudah lewat empat hari lalu, mungkin sudah bersembahyang di gunung Wu-tai! Sudah tidak dapat terkejar, selamat malam, nona." 'Hmm..! Orang ini memang aneh.' Kata nona Peng seperti berbicara sendiri, dia melihat Fu Ke-wei dan Ouw Yu-zhen berjalan menuju ke kamar. Kuil gunung Tai-hang hanyalah sebuah kuil kecil yang tidak ada orang mengurus tempatnya, kampung terdekatnya ada sejauh lima li, satu bangunan kecil, ruangannya tidak dapat menampung Sepuluh orang, tapi di depan kuil tumbuh lima pohon besar cemara putih, seperti lima raksasa berdiri di puncak bukit, dalam jarak lima enam li sudah bisa terlihat. Mengenai cerita setan, di sini banyak dan seram sekali, walau di siang hari, tetap bisa membuat orang ngeri dan tubuh terasa tidak enak, malam hari lebih-lebih bisa memukul mati orang, tidak ada orang yang berani mendekat, malah binatang liarnya banyak sekali. Masuk tengah hari, Fu Ke-wei seorang diri muncul di depan kuil, dia berbaju ringkas biru, dengan pedang diselipkan di pinggang. Dia seperti telah berganti orang, penampilan dulu yang tampan, santai, seperti pohon anggrek sudah menghilang tidak berbekas, berganti dengan penampilan yang pemberani, anggun, lapang dada, mata bersinar, sorot mata dingin, seluruh tubuhnya mengeluarkan hawa berbahaya, seperti seekor harimau yang mencium bau mangsanya. Sorot matanya yang tajam, dengan waspada meneliti setiap tempat yang dapat menyembunyikan orang, rimba, kumpulan rumput, lereng bukit, tanah liar......setiap sudut tempat diawasi dengan teliti, meneliti gejala-gejala yang mencurigakan. Dia mengawasi dengan pelan, rumput yang bergoyang di tiup angin juga tidak akan lolos dari pengawasannya, dengan waspada dan pengalaman nya, dia tidak perlu mendatangi setiap sudut, dia sudah tahu tempat mana yang harus diawasi, tempat mana mungkin bisa mendapat serangan menggelap atau pengeroyokkan, tempat mana saja bisa maju atau mundur dengan mudah, tempat mana adalah sudut mati. Paling akhir, di dalam radius tiga ratus langkah, dengan santai dia berjalan satu keliling, di atas tanah keadaan aneh sekecil apa pun tidak akan lolos dari pengamatannya. Dia kembali ke depan kuil, dia meloncat ke atas atap kuil dan duduk, mencabut pedangnya lalu beberapa saat memeriksanya, mengangkat kepala melihat keadaan cuaca. Matahari terik tepat di atas kepala, langit tidak berawan sejauh puluhan ribu li, bukit mengelilingi, rumputnya tinggi rimbanya lebat, kecuali burung yang terbang dan kadang kelinci, anjing liar yang menyusup keluar, tidak ada seorang pun di sana.
"Taar!"
Sebuah suara diikuti suara siulan panjang yang keras, membuat burung yang sedang istirahat terkejut terbang, kelinci terkejut berlarian.
Tik tak tik tak...
suara derap kuda semakin mendekat, sekelompok kuda telah tiba.
Kelompok pertama empat kuda tiba di bawah bukit, semuanya kuda Ce-jin yang besar dan tinggi, penunggang kuda dari jarak seratus langkah lebih menghentikan kudanya dan turun dari kudanya, mengangkat kepala melihat ke atas, tapi tidak berjalan mendekat.
Tidak lama, kelompok kedua dengan enam ekor kuda menyusul, meninggalkan satu orang untuk menjaga kuda, sebelas orang pria wanita di pimpin oleh Huang-jit-ye, Huang Yung-sheng berjalan menuju kuil.
Fu Ke-wei mengembalikan pedangnya ke dalam sarung, lalu meloncat turun kebawah.
Kedua belah pihak berhadapan di lapangan rumput depan kuil.
Satu banding sebelas.
0-0-0 Bab 10
"Huang-jit-ye sungguh tepat waktu."
Fu Ke-wei mengepalkan tangan menghormat.
"aku merasa bangga, bisa dikatakan telah memberi muka padaku."
"Bagus, bagus."
Huang-jit-ye membalas hormat.
"aku telah menyelidik dengan teliti, anda sepertinya benar hanya seorang diri datang kesini, di mana teman wanita anda?"
"Masalahnya tidak ada sangkutan dengan dia, makanya dia tidak datang. Huang-jit-ye tenang saja, jika aku mati di tempat ini, tidak akan ada orang yang akan mengucurkan air mata, juga tidak akan ada orang yang membalaskan dendamku pada anda."
"Bagus kalau kau tahu itu. Tuan, kau mencari adik seperguruanku ada keperluan apa?"
"Ingin dia buktikan satu hal."
"Hal apa?"
"Itu masalah dia."
"Aku ingin tahu masalahnya dengan jelas."
"Harus menunggu setelah bertemu dengan adik seperguruanmu, baru bisa membicarakannya."
"Jika anda tidak mengatakannya......"
"Orang-orang yang dibawamu akan menguburkan aku disini."
"Bagus kalau kau mengerti."
"Menurut pendapatku, jika anda tidak memberitahukan keberadaan adik seperguruanmu, aku juga sama tidak akan berhenti memaksa. Kelihatannya kau dan aku sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, harus ada yang kalah baru bisa menyelesaikan masalah."
"Jika kau berpendapat demikian, aku terpaksa menyanggupinya."
Kata Huang-jit-ye dengan dingin, tangannya diangkat dan dilayangkan.
Sebelas orang itu secara bersamaan bergerak, sebentar saja sudah mengepungnya, membentuk satu lingkaran sepuluh zhang.
Di mata Fu Ke-wei masih ada perasaan curiga, melihat keadaan, lawan sepertinya tidak ada niat untuk bertarung beramai-ramai!
Lingkaran besar ini sama sekali tidak bisa menyerang bersama-sama.
Dalam sekejap, tiba-tiba dia menyadari situasi dirinya sangat berbahaya, pengalaman memberitahu, dia tengah menghadapi keadaan buntu.
Lawan sama sekali tidak berniat menghadapi dirinya dengan pertarungan adil, tapi akan menggunakan strategi senjata rahasia yang menakutkan menghadapi dia.
Tidak perduli dia mendobrak kearah mana, pasti akan mendapatkan serangan mendadak dari tiga arah, lawan sama sekali tidak akan peduli melukai teman sendiri.
Sebelas orang itu semuanya tidak mengeluarkan senjata, sepasang tangannya menempel di tubuh dengan santai dijulurkan ke bawah, sebelas pasang mata aneh semua dengan dingin menatap dia, hawa pembunuhan yang begitu dahsyat, dan tekanan yang menekan hati orang seperti ombak menghantam dia, kematian yang menyeramkan tanpa kasihan menyerang dia.
Jika hatinya timbul ketakutan, pasti dia akan hancur oleh tekanan ini, dengan mudah mereka akan memperlakukan dia hingga mati.
Tapi dia bukan orang yang mudah hancur.
Sebaliknya, dia konsentrasi mengumpulkan tenaga dalamnya, menghirup nafas, tenaga dalam disalurkan ke seluruh tubuh, seluruh orangnya seperti seekor macan tutul siap menerkam mangsanya, seperti macan ganas yang akan mengeluarkan kekuatannya, dia harus menempuh bahaya menaklukan musuhnya.
Pedangnya pelan-pelan dicabut, sekarang orang dengan pedang sudah menjadi satu.
Sepertinya, di sekeliling tubuhnya telah ada unsur yang tidak terlihat, tapi dapat dirasakan, semacam penampilan aneh yang membuat lawan takut, sepertinya matahari terik telah kehilangan panasnya, aliran angin dingin yang tidak hentinya telah menutupi daerah ini.
Dia berhadapan dengan Huang-jit-ye, walau Huang-jit-ye berdiri lima zhang jauhnya, tapi tetap terpengaruh oleh situasi yang aneh ini, wajahnya pelan-pelan berubah, seluruh tubuhnya keluar bintik-bintik dingin, bulu kuduknya berdiri.
Kedua belah pihak tidak berniat menyerang lebih dulu, muncul situasi aneh yang tidak normal, sepertinya sedang bertarung siapa yang bisa bertahan lebih lama, siapa dalam situasi begini lebih dulu hancur.
Lama, matahari diatas kepala semakin condong ke barat, waktu tidak terasa telah lewat, situasinya semakin dingin, membuat orang lebih sulit bernafas.
Di sebelah kanan di atas satu pohon cemara putih, tiba-tiba terdengar satu teriakan dalam.
"inilah ilmu mempengaruhi semangat, cepat bergerak, supaya tidak terpengaruh!"
Huang-jit-ye terkejut, semangatnya bergetar, sekarang dia baru merasakan dia telah berkeringat dingin, tubuhnya merasa dingin, perasaan sulit bernafas semakin bertambah.
Lima pohon cemara putih besar, sepuluh orang itu semuanya dengan cepat meloncat keatas.
"Buum!"
Seorang teman yang berada di sebelah kanan Huang-jit-ye, tiba-tiba dengan tegak jatuh ke depan, semangatnya telah hancur.
Sebuah suara yang keluar dari mulunya Fu Ke-wei membuat hati orang ketakutan, membuat kepala orang seperti terkena pukulan, dia menjelma menjadi kilat, tubuh dan pedangnya menjadi satu menerjang maju dari sisi kiri Huang-jit-ye, sekelebat lewat.
Laki-laki besar yang menghadang jalannya, persis sebelumnya, dalam sekejap jatuh ke bawah.
Suara siulan itu mendadak menghilang, bayangan tubuhnya Fu Ke-wei juga telah menghilang ke dalam rimbunan pohon pendek yang berada dalam jarak sepuluh zhang lebih, seperti setan menghilang.
Dan dua orang pria besar yang bersembunyi di depan pohon, begitu kepalanya terpukul langsung jatuh pingsan.
"Gila! Bo......bocah ini se......sebenarnya manusia atau setan?"
Teriak Huang-jit-ye dengan gemetar dan ketakutan sekali.
Seorang pria setengah baya yang berdandan dao meloncat turun dari atas pohon, pedang disembunyikan di belakang tangannya dengan bersuara yang masih ketakutan berkata.
"dermawan Huang, mala petaka segera akan menimpa, masuklah ke gunung Tai-hang untuk menghindar! Berharap masih sempat."
Huang-jit-ye bergidik, menggunakan lengan bajunya dia mengelap keringat dingin di wajahnya, sambil ketakutan bertanya.
"Apakah begitu serius? Pendeta dao Qing Chen, maksudmu adalah......"
"Sangat serius."
Pendeta dao Qing-chen dengan wajah serius.
"Menurut kabar, ilmu mempengaruhi semangat, dengan ilmu Penangkap Semangat, dan ilmu Pembingung Semangat disebut tiga ilmu rahasia aliran sesat. Orang yang ilmunya tinggi, malah bisa mengendalikan ribuan tentara. Dermawan Huang, melawan orang semacam ini, akibatnya sangat mengerikan."
"Katamu... dia... dia... adalah... anggota.. perk umpulan te......teratai putih......"
"Dia bukan termasuk dari Perkumpulan Teratai Putih, tapi dari jurus hebat Mempengaruhi Semangat aliran istana, orang yang pertahanan tubuhnya kurang kuat, mungkin akan jadi idiot selamanya. Untung kalian berada jauh lima zhang lebih, makanya dapat bertahan beberapa saat, dan ilmu dia masih belum mencapai tingkat tertinggi. Dermawan Huang, apa kau tidak merasakan hawa pedangnya yang sangat dingin menusuk tulang, tubuh pedang pelan-pelan membesar, mendekat, mendesak?"
"I......ya betul......"
"Kecuali hawa pedang dan bayangan pedang yang datang mendesak menakutkan, yaitu kaki dan tangan tidak bisa digerakan?"
"I......ya betul......"
"Kalau begitu benar. Dermawan Huang, dia tidak berniat membunuh kalian, dia juga tidak akan melepaskan yang dia ingin kerjakan, malam-malam dia akan masuk kerumah anda, jika tidak tercapai tujuannya, dia tidak akan berhenti. Malam ini......dermawan Huang, hindarilah dia!"
"Pendeta dao tidak dapat menaklukan dia?"
"Tidak dapat."
Kata pendeta dao Qing-chen pasti.
"Hanya ada dua macam kepandaian yang dapat melawan dia, satu adalah ilmu Yoga dari Wu-tai, satu lagi adalah Ilmu Kepompong dari aliran sesat. Kepandaianku yang begini, tidak dapat berbuat apa-apa. Maaf, aku tidak dapat membantu, pamit."
Pendeta dao tua dengan menyesal menganggukan kepala, membalikan tubuh lalu pergi.
Tidak lama, Fu Ke-wei muncul di depan kuil yang telah kosong, dia melihat jauh ke arah kota ditempat dimana ada debu yang berterbangan, itu adalah debu di injak oleh kawanan kuda kelompok Huang-jit-ye.
Wajahnya tampak tersenyum dingin, dan mengeluarkan suara "Hm...!"
Malam telah tiba, rumah keluarga Huang sepi seperti kota mati.
Di awal tengah malam, dua bayangan hitam masuk meloncati tembok benteng pekarangan sebelah kanan, gerakannya seperti roh melayang, tempat yang di lewati tidak ada debu yang terbang.
Di satu sudut rumah sembunyi dua orang penjaga, mereka melihat bayangan hitam yang melayang datang, mereka secara bersamaan menerjang, satu golok satu pedang menyerang bersama-sama dengan sangat cepat sekali.
Kecepatan dua bayangan hitam mendadak bertambah sepuluh kali, sekelebat melewati golok dan pedang saat sekejap akan menyerang.
"Aww......"
Dua penjaga itu berteriak, lalu jatuh meronta ditanah.
Sekejap terdengar beberapa kali teriakan, setiap kali menandakan ada satu kelompok penjaga di pukul roboh.
Akhirnya, dua bayangan hitam langsung menuju kepusat, muncul di depan tangga ruangan besar.
Pintu tengah dibuka, sinar lampu bersinar keluar, seorang bermantel hijau muncul diatas tangga, tidak membawa senjata, wajahnya tenang sekali.
"Anda datang terlambat!"
Orang bermantel hijau berkata.
"Huang-jit-ye telah pergi ke Tai-hang-shan, sia-sia kedatangan anda."
"Biksunya bisa lari, kuilnya tidak bisa lari."
Kata Fu Ke-wei dingin.
"dia bisa pergi tidak perdulikan rumah, buat apa aku jadi orang baik? Akan kubakar rumahnya, apakah anda akan melawan?"
"Tentu saja melawan......"
"Apakah anda ada kemampuan melawan?"
"Saudara kecil."
Nada orang bermantel hijau melemah.
"anda melakukan ini, tidak cocok dengan aturan dunia persilatan, betul?"
"Huang-jit-ye siang hari bolong menyiapkan pasukan panah, malam hari belum bertanggung-jawab sudah pergi, apakah ini sesuai aturan dunia persilatan? kau tidak bisa bertindak menurut aturan dunia persilatan, kenapa aku harus menurut? Kecuali kau mampu menghalangi, jika tidak jangan sebut-sebut aturan dunia persilatan untuk menakut-nakuti aku."
"Saudara kecil......"
"Turun."
Teriak Fu Ke-wei menunjuk.
"aku datang bukan untuk membicarakan aturan, kalian tidak pernah membicarakan aturan pada orang lain, diam-diam berhubungan dengan para perampok gunung Tai-hang, di dalam aturan sudah tidak bisa dibenarkan, satu-satunya yang dapat anda lakukan, keluarkan seluruh kemampuan kalian, coba usir aku dari sini."
Orang mantel hijau sedikit ragu, lalu turun dari tangga.
Fu Ke-wei memberi isyarat tangan, Ouw Yu-zhen meloncat berdiri di sudut tembok.
Dia pelan-pelan mundur, menunggu di tempat lapangan yang kosong.
"Saudara kecil kau terlalu mendesak orang."
Orang bermantel hijau dengan nada dalam berkata.
"tanpa sebab datang memaksa orang, ini keterlaluan, anda marga Fu, siapa namanya."
"Kau, kau panggil saja aku Fu-shan."
Kata Fu Ke-wei dengan tenang.
"bukan aku mendesak orang, tapi karena ingin membuktikan satu hal jadi terpaksa datang kesini, jangan gunakan hukum alam, hukum negara, hubungan manusia menghadapi aku. Kau tidak tahu aku, aku pun tidak tahu kau, masing-masing keluarkan kemampuannya untuk membedakan siapa yang kuat siapa yang lemah, setelah selesai baru bicarakan yang lainnya. Tuan, senjata, tinju, kaki, senjata gelap, silahkan gunakan sekehendakmu, aku akan hadapi semuanya, silahkan!"
"Saudara kecil, apa tidak bisa dibicarakan lagi?"
"Tidak bisa dibicarakan lagi."
Dia mengatakannya dengan tegas.
"aku sendiri juga tahu kedatanganku kurang menurut aturan, makanya sampai detik ini, masih belum melakukan pembunuhan. Sekarang hari terlalu gelap, bertarung mungkin saja tidak terkontrol, tidak terhindarkan terluka atau terbunuh, harap anda jangan salahkan. Jika anda menang, masalah aku anggap selesai."
"Tentu saja, aku akan bertarung dengan tangan dan kaki, silahkan."
Orang mantel hijau mengangkat kain mantelnya di selipkan di pinggang, sepasang tangan dibuka, bersiap-siap bertarung.
Dengan sebuah teriakan dingin, Fu Ke-wei menyerang dengan dahsyat, begitu suara terdengar orangnya pun sampai, tangan kiri dengan jurus Naga Awan Menampakan Cakar, merogoh ke dalam.
Buug...
satu suara terbekam terdengar, angin kuat bergetar ke sekeliling, orang bermantel hijau berkelit menghindar, telapaknya memukul pergelangan Fu Ke-wei, cepat seperti kilat.
Kedua belah pihak adalah pesilat bertenaga dalam tinggi, setelah beradu tenaga, sama-sama terdorong mundur ke samping, memasang kuda-kuda kembali menyerang, dalam layangan pukulan dan telapak, masing-masing menyerang dan menangkis, setiap pukulannya menggunakan tenaga dalam, suara pukulan atau telapak beradu menimbulkan suara keras.
Dalam sesaat, sepertinya seimbang, maju mundur berputar sama-sama cepat dan lincah, siapa pun tidak bisa merebut posisi diatas angin, hari terlalu gelap, jurus lincah tidak ada gunanya, sekali serangan dilancarkan langsung bentrok, ruang geraknya sempit, seperti bertarung jarak dekat saja, siapa yang tidak dapat menahan pukulan, dia yang kalah.
Dalam kegelapan, tiba-tiba terdengar satu siulan aneh, satu bayangan orang dengan rambut kacau melayang turun dari atap rumah, turun tepat diatas kepala Fu Ke-wei.
Fu Ke-wei mengeluarkan suara "Hm....!"
Tubuhnya berkelebat, kecepatannya bertambah satu kali lipat, datang ke sebelah kanan orang bermantel hijau, telapak tangannya dilayangkan miring, serangkum angin kuat tiba-tiba muncul.
Orang mantel hijau dengan sendirinya memutar tubuh menangkis, paak...
satu suara terdengar karena beradunya pukulan, tapi kali ini tenaga yang menyerangnya seperti bertambah beberapa kali lipat, sambil berteriak terkejut, dia terlontar sejauh satu zhang lebih, hampir saja terjatuh.
Hampir bersamaan waktunya, Fu Ke-wei sudah barada di sisi bayangan hitam yang melayang turun, dia menangkap tongkat lawannya, sekali berteriak keras, dengan keras dia menarik ke belakang.
"Paak!"
Tongkat itu tiba-tiba patah, seperti meletus hancur berterbangan, tongkat bambu isi itu telah hancur berleping-keping.
Dengan sebuah teriakan dingin, Fu Ke-wei maju menyerang, sebelah tangannya dipukulkan seperti kilat.
"Buug.. paak.. paak!"
Orang yang rambutnya acak-acakan dapat menangkis tiga pukulan tangannya, tapi mundur sepuluh langkah lebih, walau dapat menangkis tiga pukulan, tapi tidak bisa menahan seluruhnya.
Orang bermantel hijau telah tiba, tangan kanannya menyerang pinggang dan punggung kanan Fu Ke-wei.
Fu Ke-wei memutar tubuhnya, tidak saja dengan tepat menghindar pukulan yang keras itu, dan juga balas memukul bahu kiri orang mantel hijau, kecepatannya sulit di bayangkan, buuk...
satu suara telapak telah mengenai dasar leher orang mantel hijau, seperti kapak yang amat besar.
"Mmm..!"
Teriak orang bermantel hijau itu kaget dan roboh terguling. Fu Ke-wei seperti seekor harimau ganas, dia lalu membelok menerjang orang yang tongkat nya telah hancur itu.
"Berhenti!"
Teriak orang yang rambutnya acak-acakan itu.
Saat ini, tempat dua orang berdiri tepat di bawah sinar lampu pintu, sisi kedua orang itu disinari dengan jelas sekali.
Pukulan telapak besi Fu Ke-wei, berjarak kurang tiga cun dari jantungnya lawan, tapi dia malah bisa menghentikannya, dan ditarik setengah chi.
"Kau, Tian-ya-koay (Pengemis Aneh Dunia), Jie Ling-feng."
Fu Ke-wei tertawa dingin.
"Malah jadi tamu aliran hitam Huang Yung-sheng, sungguh tidak di sangka perbuatan seorang manusia, namamu sebagai pendekar sekarang sudah boleh pensiun! Jika bukan hari ini melihat dengan mata kepala sendiri, aku sungguh tidak berani percaya anda adalah pendekar palsu."
"Sembarangan bicara."
Teriak Tian-ya-koay.
"Aku datang untuk mencari Lang-ye (Serigala Malam) Hong-hao, dia melarikan diri dari He-nan ke Shan Xi, di tempat ini jejaknya menghilang, aku sengaja datang memeriksanya, dan akhirnya bertemu dengan kalian yang sedang bertarung, sesaat timbul gatal tanganku jadi menampakan diri......"
"Oh! Begitu, jadi aku telah salah menduga."
Kata Fu Ke-wei.
"Hm! Bocah, tenaga dalammu sangat menakutkan sekali, telah menghancurkan tongkat pemukul anjingku......"
"Tetua turun dari atas, telah melanggar larangan dulu."
"Hm...! Mmm... orang yang bisa dengan satu pukulan telapak menjatuhkan Sastrawan Neraka, di dunia persilatan sekarang, hanya ada beberapa, coba kupikir, siapa kau sebenarnya."
"Jangan urus aku siapa. Tetua paling bagus jangan ikut campur."
Orang bermantel hijau yang bernama Sastrawan Neraka, saat ini dengan susah payah meronta berdiri, tapi tetap tidak bisa berdiri mantap, tubuhnya bergoyang-goyang tidak bisa berdiri dengan tegak.
"Uuu! Kau masih muda, di dalam sepuluh tahun terakhir ini angkatan muda di dunia persilatan sekarang, ada beberapa orang yang hebat. Apa marga kau?"
"Tetua Jie, apa kau tidak mau melepaskan keterlibatan ini?"
Fu Ke-wei mencoba menghindar pertanyaan.
"Uuu! Aku Tian-ya-koay termasuk dalam Delapan Hebat Dunia Persilatan, Sastrawan Neraka menduduki urutan pertama dari tiga penjahat dunia persilatan, tapi semua tidak di pandang olehmu, tidak sulit menerka siapa kau sebenarnya..."
"Dia marga Fu, menyebut dirinya Fu-shan. Seorang teman wanitanya dipanggil Fu-zhen."
Sastrawan Neraka dengan lesu memotong.
"dia datang mencari Huang-jit-ye untuk meminta kabar keberadaan Yun-sang-nie."
"Ooo! Aku tahu siapa kau."
Tian-ya-koay sadar.
"kau adalah orang yang paling misterius di dunia persilatan......bukan, salah, menurut kabar orang itu datang dan perginya sendirian, kenapa sekarang bersama seorang teman wanita."
"Kau tidak perlu sembarangan menebak, aku bukanlah orang yang kau pikirkan."
Fu Ke-wei membelokan pembicaraan.
"tetua Jie, untung bukan tamu Huang Yung-sheng, jika tidak......"
Mendadak wajah Sastrawan Neraka berubah, seperti tikus cepat-cepat melarikan diri.
"Aku hanya mencari Lang-ye, bangsat itu melakukan kejahatan berdarah di He-nan dan melarikan diri ke Shan-xi, di sepanjang jalan dia masih melakukan kejahatan, sangat mungkin bersembunyi di rumah Huang Yung-sheng. Dia adalah mantan kekasihnya Yun-sang-nie, dengan Huang Yung-sheng di dunia persilatan sering melakukan......"
"Tunggu! katamu Lang-ye adalah mantan kekasihnya Yun-sang-nie?"
Fu Ke-wei menyela kata-kata Tian-ya-koay.
"berita kau ini apa bisa dipercaya?"
"Tentu saja bisa dipercaya, aku tidak pernah sembarang bicara."
Tian-ya-koay menyunggingkan mulut.
"masih banyak berita rahasia yang aku tahu! Iii... aneh! Rumah setan ini sepertinya selain beberapa penjaga, seluruhnya tidak lebih dari sembilan orang, kemana perginya teman-teman Huang-jit-ye?"
"Mungkin telah naik kegunung."
Kata Fu Ke-wei.
"aku akan menunggu dia, menunggu sampai jam lima pagi baru membakarnya."
"Membakar? Kau......"
"Jangan terkejut, aku melakukan sesuatu pekerjaan tergantung perasaan hatiku, jika tidak mencapai tujuan tidak akan berhenti. Aku tidak percaya tuan Huang sudah naik ke gunung, dia masih belum tahu jelas asal-usulku, mana sudi melarikan diri jauh-jauh?"
Fu Ke-wei masuk ke dalam ruangan yang amat besar, menyalakan empat lampu, lalu duduk di atas kursi besar.
Tiba-tiba tercium bau wangi, Ouw Yu-zhen mendadak muncul diruangan.
Dia berbisik disisi telinga Fu Ke-wei, Fu Ke-wei menganggukan kepala, mulutnya tersenyum dingin!
Tian-ya-koay dengan mata penuh pertanyaan menatap pada Ouw Yu-zhen.
"Nona ini temanmu?"
Tanya Tian-ya-koay.
"Orang tua, kau salah."
Ouw Yu-zhen tertawa.
"aku hanyalah pelayannya."
Tian-ya-koay menatap pada belati mewah yang bergantung di pinggangnya Ouw Yu-zhen, berkata.
"belati Salju Hijau kau ini aku pernah dengar, siapa marga nona?"
"Belati ini adalah pemberian dari tuan untukku menjaga diri, apakah belati Salju Hijau, aku tidak tahu."
Ouw Yu-zhen asal bicara.
"aku marga Fu, dipanggil Fu-zhen, orang tua sebenarnya apa yang ingin kau ketahui?"
Tian-ya-koay menggeleng-gelengkan kepala, mengelilingi ruangan sekali, menghilang di ujung sudut timur.
"Apa kau telah mendapatkan jejak?"
Tanya Fu Ke-wei.
"Benar, tepat menurut perkiraan tuan, semua bersembunyi di ruang rahasia bawah tanah."
Kata Ouw Yu-zhen pelan. Pada saat itu Tian-ya-koay tepat kembali dari luar ruangan, lalu kedua orang berhenti bicara.
"Aneh! Sepertinya keluarganya juga menghilang."
Kata Tian-ya-koay duduk di hadapan Fu Ke-wei dengan tidak mengerti.
"saudara kecil, mungkin Huang-jit-ye dan teman penjahatnya benar-benar telah naik ke gunung menjadi perampok."
"Lorong rahasia di bawah tanah untuk menghindar musuh banyak sekali, tersedia makanan dan air, sembunyi tiga-lima puluh hari juga tidak akan kekurangan makanan. Dia tidak ada alasan lari ke atas gunung."
Kata Fu Ke-wei dingin.
"jika mengatakan dia dengan perampok gunung Tai-hang ada hubungan, tentu tidak salah, mau menuduh dia bersembunyi disana, itu terlalu di paksakan. Jika dia benar-benar naik kegunung, dan ditemukan oleh mata-mata yang diutus permerintah, apa dia masih bisa tinggal di kota? Dia adalah seorang yang pintar, harusnya tahu untung ruginya naik ke gunung, makanya, dia tidak naik kegunung."
"Mmm! Masuk akal......ada orang yang datang."
Pintu belakang ruangan terbuka, keluarlah seorang nyonya setengah baya berbaju rok dengan delapan tilapan warna hijau, dituntun oleh seorang pelayan dengan wajah penuh ketakutan.
"Kau......kau adalah tuan Fu?"
Tanya Nyonya setengah baya Jia-yong.
"Tidak salah, Sastrawan Neraka telah memberitahukan, nyonya adalah......"
"Tuan Fu, kau adalah orang ternama di dunia persilatan, tidak bisa tidak menurut aturan, menyerang ke rumah......"
"Nyonya, aku bukan orang ternama di dunia persilatan, juga bukan orang yang tidak mengindahkan aturan, masalahnya adalah apakah lawan menurut aturan tidak."
Dia memotong perkataannya.
"di siang hari bolong di tempat pertemuan di depan kuil, Huang-jit-ye mengerahkan tiga puluh orang lebih, di antaranya setengah lebih adalah perampok, sisanya lagi juga adalah orang-orang pelarian aliran hitam, dia sama sekali tidak menurut aturan menjumpai aku, nyonya mengatakan tidak menurut aturan, menyalahkan aku, apakah itu adil?"
"Kau......"
"Jam lima seperempat, aku pasti membakar, nyonya harus bersiap-siap."
Katanya dengan nada dalam.
"Kecuali aku tahu keberadaan Yun-sang-nie, jika tidak, aku tidak akan meninggalkan perumahan Lu An."
"Aku pengemis tua juga ingin tahu keberadaannya Lang-ye, ini yang disebut dalam kesempatan kebakaran merampok, ha ha ha......"
Tian-ya-koay juga mendukung disamping.
"Lang-ye sudah mengetahui ada orang yang mengancam dia, kemarin malam sudah pergi dari sini."
Nyonya setengah baya menyerah.
"Yun-sang-nie setahun lalu masih berada di perumahan Qing-yun, jaraknya beberapa ribu li, mengirim surat padanya juga tidak mudah, sekarang tidak tahu apakah masih di perumahan Qing-yun atau tidak."
Wajah Fu Ke-wei berubah. Tian-ya-koay juga tertegun, mengerutkan alis berpikir.
"Nyonya, kata-katamu, satu pun aku tidak ada yang percaya."
Kata Fu Ke-wei dengan keras.
"perumahan Qing-yun adalah satu diantara tiga perumahan di dunia persilatan, ketua perumahan yang sekarang adalah Satu Pedang Utara Chen Rou-yi, dijuluki yang terhebat dari Sembilan Jago Pedang terbesar, dia adalah orang aliran putih yang ternama. Yun-sang-nie adalah seorang wanita cabul di dunia persilatan, wanita bejad di dunia persilatan, mana bisa tinggal di perumahan Qing-yun?"
"Yang aku katakan adalah kenyataan, jika tidak percaya kenapa tidak pergi ke perumahan Qing-yun membuktikannya?"
Nyonya setengah baya cepat-cepat membela diri.
"Kau ingin supaya aku cepat-cepat pergi, tidak semudah itu."
"Aku bisa saja sembarangan mengatakan satu tempat, supaya kau tidak bisa menemukannya, juga bisa mengatakan dia ada di perkampungan Cheng-huang di Shi-chuan-feng-du, sedang berlatih silat bersama Manusia Iblis salah satu dari empat iblis besar, karena kau juga tidak berani pergi ke perkampungan Cheng-huang mengantar nyawa."
"Jika benar kau mengatakan dia ada di perkampungan Cheng-huang, aku tetap akan pergi memeriksanya, Pendeta dao, Manusia Iblis walau orang mendengar namanya sudah ketakutan, tapi aku bukan orang yang mudah dibuat takut."
Fu Ke-wei mendorong kursi bangkit berdiri.
"jika terbukti kata-katamu ini bohong semua, lain kali, Hm! Tempat ini mungkin akan jadi rongsokan. Ingat peringatan aku, harap saja aku tidak kembali lagi ke sini mengacau."
Dia dengan langkah besar berjalan keluar ruangan, Tian-ya-koay berjalan berdampingan dengannya, Ouw Yu-zhen berjalan di belakang sebelah kiri dia, sungguh persis seperti pelayan yang setia.
"Saudara kecil Fu, masalah ini mungkin sangat sulit."
Tian-ya-koay tampak sedikit gelisah.
"orang-orangnya keluarga Chen tidak mudah diajak bicara, jika kau tanpa persiapan mendatangi rumahnya meminta orang, apakah kau tahu akibatnya?"
"Tahu, tentu akan menimbulkan amarah para pendekar aliran putih."
"Kalau begitu kau......"
"Aku tetap harus pergi tidak bisa tidak."
"Saudara kecil, sebenarnya Yun-sang-nie telah melakukan kejahatan apa, sehingga kau jauh-jauh mengejar dia?"
"Itu rahasiaku."
"Kalian berdua pergi melabrak perumahan Qing-yun, mungkin......"
"Pergi menyelidik, bukan melabrak."
Kata Fu Ke-wei dengan tenang.
"jika hasilnya benar, membuktikan wanita setan itu benar berada di perumahan Qing-yun......"
"Maka akan melabraknya?"
"Betul! dilabrak."
Nada Fu Ke-wei tegas, tidak mengizinkan lawan salah mengerti.
"jika perumahan Qing-yun adalah tempat persembunyian penjahat, aku ada hak membongkarnya, kecuali aku mati, tidak ada orang yang bisa menahan aku menantang perumahan Qing-yun. Tetua Jie, apakah kau melepas begitu saja masalah Lang-ye?"
"Itu hal yang tidak dapat berbuat apa-apa, aku terpaksa mencari jalan lain."
"Sekarang kau kembali kesana, sangat mungkin bisa bertemu dengan pejahat itu."
"Apa? Kau kata......"
"Di ruangan dalam, pasti tidak salah."
Fu Ke-wei seperti tidak terjadi apa-apa melangkah masuk kedalam pintu pekarangan besar yang terbuka.
"di ruang dalam ada satu pintu masuk terowongan, menuju ke ruang rahasia bawah tanah di pinggir sungai Shi-zi, terowongan di bawah tanah seperti sarang laba-laba, masuk ke dalam mencari orang terlalu bahaya, Huang-jit-ye dengan tamunya bersembunyi di ruang rahasia bawah tanah itu, sekali kita pergi, mereka seharusnya sudah naik keatas... Jangan membalikan kepala, ada orang menguntit, jalanlah lebih-jauh sedikit baru kembali, aku ingin dari mulutnya Huang-jit-ye mendapatkan berita yang pasti." 0-0-0 Di ruang dalam rumah Huang ada satu lampu menyala kecil sekali, sepuluh lebih pesilat tinggi dunia persilatan berturut-turut muncul, Huang-jit-ye duduk di kursi besar dengan wajah penuh amarah.
"Si anjing Fu yang harus mati!"
Huang-jit-ye menggigit gigi memaki.
"aku Huang Yung-sheng tidak ada permusuhan tidak ada dendam dengan dia, dia malah mendatangi rumah, menghina orang, sungguh keterlaluan, jika tidak membunuh dia sulit meredakan amarahku."
"Jika bocah ini benar adalah Xie-jian-xiu-luo yang di dunia persilatan keluar masuknya sulit ditebak, jejaknya juga membingungkan kadang di utara kadang di selatan, ingin membunuh dia tidaklah mudah?"
Sastrawan Neraka yang wajahnya masih belum pulih seperti semula.
"Saudara Huang, jika tidak berhasil, tempat ini mungkin sudah tidak bisa ditinggali."
"Aku akan menyewa pembunuh bayaran diam-diam membunuh dia."
"Empat bulan yang lalu, perkumpulan Qing-lian menerima pesanan diam-diam membunuh Xie-jian-xiu-luo, bukan saja tidak berhasil, malah dia sendiri datang ke markas pusatnya dan menghancurkan perkumpulan itu. Siapa lagi yang masih berani menerima pesananmu? Jangan terlalu berharap, saudara."
Sastrawan Neraka menasihati dengan tujuan baik.
"berurusan dengan gelandangan seperti ini, tidak akan mendapat keuntungan sedikit pun. Ooo! Di pihak adik seperguruanmu......"
"Lang-ye sudah menawarkan diri pergi, sekarang sudah berangkat."
"Ooo! Lang-ye orangnya tidak berperasaan, sedikit pun tidak bisa dipercaya, kenapa bisa begitu semangat?"
Kata Sastrawan Neraka mengerutkan alis.
"Aku juga merasa aneh."
Huang-jit-ye tidak mengerti.
"Sejak dia mendengar marga Fu mencari adik seperguruanku, dia sudah tidak tenang, terhadap Tian-ya-koay dan nona aneh yang sedang mengejarnya, malah sedikit pun tidak ada perhatikan, tidak tahu apa sebabnya."
"Mungkin dia dengan adik seperguruan anda masih belum putus cinta lamanya!"
"Tidak tahu, katanya siang malam dia akan mengejar waktu pergi ke perumahan Qing-yun memberitahu kabar......Iii!"
Jendela sebelah kanan tanpa suara membuka sendiri, diluar jendela tampak wajah Fu Ke-wei dan Tian-ya-koay.
"Pergi ke perumahan Qing-yun di Shan-dong ada dua jalan, satu timur satu selatan."
Tian-ya-koay berkata.
"jalan selatan lebih jauh, Lang-ye pasti ambil jalan timur gunung Lin-lu keluar dari Peng-de. Dia adalah Lang-ye yang tidak biasa melihat matahari, jalan malam tentu harus begitu, dia pasti belum jauh."
Jendela sebelah kiri juga ada yang membukanya, nona Peng muncul di luar jendela, berkata.
"Ternyata penjahat itu namanya Hong-hao, aku tidak percaya dia larinya bisa lebih cepat dari pada serigala."
Sepuluh orang lebih jadi terkejut, semua menyembunyikan diri.
Tapi bayangan orang yang diluar jendela telah menghilang, Huang-jit-ye juga sembunyi di kamar dalam, di ruangan jadi kosong kembali.
0-0-0 Hari belum terang Fu Ke-wei dan Ouw Yu-zhen sudah meninggalkan penginapan, menggendong bungkusan baju malam-malam pergi menyeberang sungai kota.
Jalan lewat arah timur sungguh jelek sekali, melalui jalur dalam selatan gunung Tai-hang, jalannya jalan setapak, tempat beraksi para perampok, tidak ada penginapan, juga sedikit sekali kampung, dalam jarak ratusan li binatang liar keluar masuk, puluhan li tidak bertemu dengan manusia.
Di ujung barat, di Hu-guan ada markas tentara, sebelah tenggara, di Yu-xia baru ada pasukan keamanan, di tengah-tengah, orang sekali masuk, mati hidup hanya tergantung nasib.
Pegunungan Tai-hang bersambung ribuan li, di jalur selatan daerah ini yang paling liar, di hutan yang lebat gunung yang tinggi ini, setiap saat bisa terjadi hal yang tidak terduga.
Demi memudahkan perjalanan, Ouw Yu-zhen menyamar jadi seorang pemuda, Fu Ke-wei tetap bermantel hijau, memakai mantel berjalan di pegunungan, sunguh-sungguh dia bisa tahan.
Hari sudah terang, dua orang telah jalan sampai dibawah gunung Fu-kou, masuk ke Fu-kou membeli alat-alat yang diperlukan untuk berjalan di gunung dan makanan kering, menanyakan dengan jelas arah jalan, cepat-cepat melanjutkan perjalanan.
Mereka harus bisa mendahului Lang-ye, harus sampai lebih dulu di Shan-dong.
Jalan kecil keluar dari timur sebenarnya ada beberapa jalan, hanya jalan Fu Kou ini jalannya lebih bagus, karena jalan ini sering dipatroli oleh pasukan keamanan, makanya kelompok-kelompok orang bepergian menganggap jalan ini adalah jalan besar, dan memang juga adalah jalan besar menuju ke kota Zhang-de di He-nan, tidak akan sampai tersasar didalam hutan.
Orang yang bepergian keluar kota sudah pergi di bagi menjadi 3 kelompok, di jalan sering terlihat orang-orang yang kampungnya dekat berlalu lalang.
Diwaktu hampir tengah hari dua orang itu sudah menyusul kelompok pertama dari ratusan orang yang bepergian, mereka terus berjalan lagi, hingga tinggal mereka berdua saja!
Tepat untuk mempercepat langkahnya, tidak perlu takut bisa mengejutkan masyarakat.
Menurut perkiraan Fu Ke-wei, Lang-ye seharusnya sudah berada di belakang mereka.
Penjahat itu walau belum pernah bertemu, sebutannya asing, tapi mendengar nada bicara Tian-ya-koay, penjahat itu tidak akan berjalan di siang hari, sangat mungkin bersembunyi dulu di sekitar Fu-kou menunggu hari gelap.
Dia memutuskan jika perlu siang malam berjalan terus mengejar waktu, Lang-ye pasti tidak bisa lebih cepat sampai di Shan-dong memberi kabar.
Setelah lari beberapa saat, mengeliling bukit sekitar dua puluh li lebih, keadaannya semakin menanjak, tumbuhan sudah tidak seperti tadi yang subur, sudah terlihat bukit yang gundul dari kejauhan, Fu Ke-wei tahu, jika berjalan ke depan lagi, maka mereka akan masuk ke daerah yang berbahaya.
Di depan terlihat ada tiga pejalan kaki, dua orang menggendong bungkusan baju, seorang menuntun seekor keledai dengan bawaan di punggungnya, ketiga orang itu semuanya membawa senj ata untuk pertahanan diri.
Fu Ke-wei dengan Ouw Yu-zhen memperlambat langkahnya, berjalan dengan santai.
Sesudah dekat, orang yang menuntun keledai secara tidak sengaja melirik kebelakang, melihat dia.
"Hey! Sobat, kalian berani berjalan hanya berdua saja?"
Sapa orang yang menuntun keledai sambil tersenyum kepada mereka.
"didaerah ini kemarin dulu ada terjadi perampokan, jalan bersama lebih berarti banyak dari pada dua pedang kalian, paling sedikit bisa menakuti perampok kecil, bagaimana?"
"Aku tidak banyak membawa uang, perampok kecil juga tidak akan mau merampok kami."
Fu Ke-wei sambil bicara dengan Ouw Yu-zhen berjalan dengan langkah besar melewati mereka.
"bila benar membawa terlalu banyak uang, lebih banyak tiga atau lima pedang juga tidak bisa menghadang para perampok yang ingin kaya mendadak. Lagi pula, lebih banyak sepasang kaki, jalannya akan lebih lambat."
"Ha ha! Teman, kalian berdua berjalan terburu-buru, tidak akan bertahan lama."
Kata seorang pejalan yang membawa golok.
"berjalan di pegunungan harus berjalan dengan santai dan mantap, ingin cepat malah tidak akan tercapai."
"Terima kasih atas kebaikan hati saudara."
Mereka berdua sudah berada di depan.
"kami masih muda, lari sebentar tidak akan apa-apa."
Setelah menjauh dua li lebih, sudah tidak terlihat tiga pejalan kaki tadi.
Turun dari satu kaki gunung, jalan kecil di depan jalan memecah menjadi dua, di tengah pertigaan ada satu papan penunjuk jalan, di kiri tertulis.
ke Lu-cheng.
Dikanan tertulis.
Baca Juga: Seruling Gading 2
Baca Juga: Bagus Sajiwo 7