Eps 8 Laron Pengisap Darah - Huang Ying
Baca online Laron Pengisap Darah - Huang Ying
Cersil Laron Pengisap Darah - Huang Ying.
Siau-tho dan Siau-sin segera mengikuti di belakangnya, sementara Nyo Sin dan Liong Giok-po juga tidak mau kalah, mereka turut membuntuti dari belakang, hanya Ko Thian-liok, Yau Kun dan Jui Gi yang berjalan dipaling belakang.
Sepanjang perjalanan Siang Huhoa tidak berkata apa-apa, tapi dia tertawa terus, senyumannya kelihatan aneh dan membingungkan.
Siau-tho dan Siau-sin tidak mau menyerah dengan begitu saja, mereka membuntuti terus sambil merengek, namun kecuali tertawa, Siang Huhoa sama sekali tidak memberi pernyataan apapun.
Setelah keluar dari pintu gerbang perkampungan Ki po cay, Siang Huhoa masih juga tertawa tiada hentinya.
Akhirnya Siau-tho tidak dapat mengendalikan diri, segera tegurnya.
"Sebetulnya apa yang sedang kau tertawakan?"
Siang Huhoa tetap membungkam, namun tertawanya makin menjadi.
"Kalau ada masalah yang menggelikan, kau semestinya mengutarakan keluar, agar kami pun ikut gembira"
Pinta Siautho.
"Betul"
Seru Siau-sin pula.
"masalah apa sih yang tidak boleh kami tahu?"
"Bukan, bukan begitu"
Akhirnya Siang Huhoa berkata seraya menggeleng.
"Lalu persoalan apa yang membuatmu begitu gembira?"
"Siapa bilang aku gembira?"
"Tapi kau tertawa terus"
Siang Huhoa segera menarik kembali senyumannya dan berkata.
"Aku terpaksa hanya tertawa karena aku pun tidak tahu mimik muka macam apa yang mesti kutampilkan sekarang selain tertawa"
Setelah menghela napas panjang, tambahnya.
"Sekarang, kepalaku betul betul pusing sekali"
"Lantaran masuk penjara maka kau pusing?"
Tanya Siausin.
"bukan, masuk penjara sebenarnya merupakan kemauanku sendiri"
"Lantas karena apa?"
"Aku butuh sebuah tempat yang tenang untuk bisa beristirahat dengan tenang"
"Kamipun butuh tempat semacam itu"
"Kenapa kau melarang kami berdua untuk melayanimu?"
Seru Siau-tho pula dari samping.
"Kalau ada kalian berdua, mana mungkin aku bisa tenangkan pikiran"
Jawab Siang Huhoa sambil tertawa.
"Cengcu, apakah kau sudah membenci kami?"
Tiba-tiba sepasang mata Siau-sin memerah, tampaknya sebentar lagi dia bakal menangis.
"Bukan begitu, aku ada tugas lain yang harus kalian kerjakan"
Bisik Siang Huhoa lirih.
"Ooh... rupanya begitu"
Kontan sepasang mata Siau-sin berbinar kembali.
"Cengcu, kenapa tidak kau katakan dari tadi"
Seru Siau-tho pula sambil tersenyum.
"untung kami tidak sampai menangis"
"Aku baru bisa bicara sekarang karena kini baru ada kesempatan untuk berbicara"
Tanpa terasa Siau-tho dan Siau-sin melirik sekejap ke arah belakang. Waktu itu meski Nyo Sin dan Liong Giok-po mengikuti dari belakang, tapi mereka sudah ketinggalan sejauh tujuh depa.
"Sekarang kau bisa bicara bukan?"
Bisik Siau-tho. Siang Huhoa manggut-manggut.
"Jangan sekarang"
Cegah Siau-sin cepat.
"konon ilmu silat yang dimiliki Liong Giok-po sangat lihay, kau tidak kuatir kedengaran dia?"
"Jangan kuatir, sejak terkena bubuk racun Ngo tok san dari Tok tongcu, bukan saja wajahnya hancur berantidakan, ilmu silatnya juga telah punah, ketajaman mata dan pendengarannya sudah tidak seperti dulu"
"Cengcu, kau bisa bicara sekarang"
Sambil mempercepat langkah kakinya bisik Siang Hu-hoa.
"Kalian masih ingat dengan manusia yang bernama Thio Kian-cay?"
"Apakah orang tua yang bekerja sebagai tabib itu?"
Tanya Siau-tho.
"Kau masih punya bayangan tentang orang ini?"
"Kalau tidak salah dia masih punya nama lain yaitu Thio Ittiap"
"Bagus sekali daya ingatmu"
Puji Siang Huhoa sambil manggut-manggut.
"ilmu pertabibannya amat hebat dan sempurna, selama ini memang cukup minum obat satu tiap, segala macam penyakit segera akan lenyap"
"Apakah cengcu menderita suatu penyakit?"
"Kalau manusia macam aku sampai sakit dan penyakit itu baru sembuh bila memanggil Thio Kian-cay, itu menandakan kalau aku sudah hampir mampus, masa masih bisa berbicara dengan kalian?"
"Kenapa secara tiba-tiba cengcu menyinggung soal tabib ini?"
"Tunjukkan sebuah benda kepadanya!"
"Benda apakah itu?"
"Sekuntum bunga!"
"Sekuntum bunga"
Siau-sin maupun Siau-tho membelalakkan matanya bulat-bulat.
"Selain ampuh dalam ilmu pertabiban, Thio Kian-cay lihay juga dalam hal pertanaman, khususnya tentang aneka bunga"
"Apakah dia lebih lihay ketimbang cengcu?"
"Bahkan satu tingkat diatas kemampuanku"
Siang Huhoa menjelaskan.
"dia sudah banyak mengunjungi pelbagai daerah, bahkan banyak tempat yang belum pernah kudengar sebelumnya, pengetahuan nya tentang jenis bunga pun sangat luas"
"Jadi cengcu tidak mengetahui asal usul bunga itu?"
"Benar"
"Dan cengcu suruh kami menyelidiki asal usul bunga itu?"
"Benar"
"Apakah bunga itu berhubungan erat dengan kasus yang sedang kita hadapi sekarang?"
"Bukan cuma berhubungan erat, bahkan bisa jadi merupakan salah satu kunci utama untuk mengungkap misteri kasus ini"
"Masa sedemikian pentingnya bunga itu?"
"Itulah sebabnya kalian harus selidiki hingga jelas"
"Tapi aku masih menguatirkan satu hal"
Bisik Siau-sin.
"Kuatir dia pun tidak kenal dengan asal usul bunga itu?"
"Benar"
Siang Huhoa segera tertawa, ujarnya kemudian.
"Kalau sampai terjadi hal begini yaa sudahlah, apa boleh buat, memangnya kita bisa paksa dia untuk mengenali benda yang tidak dia kenal? Apalagi aku cukup paham dengan wataknya, kalau dia tidak tahu, tidak nanti dia akan memberikan keterangan yang menyesatkan"
"Waah, paling enak berhubungan dengan manusia macam begini"
"Maka dari itu, jika dia tahu asal usulnya maka kalian harus catat semua keterangan yang dia berikan"
"Masalahnya dia masih ingat tidak dengan kami"
Tanya Siau-sin ragu.
"Tidak usah kuatir, daya ingat orang ini jauh lebih bagus ketimbang aku"
Berbicara sampai disitu dia segera mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari dalam sakunya.
Bungkusan itu tidak lain adalah saputangan yang digunakan untuk membungkus bunga berwarna kuning itu, bunga kuning yang tumbuh dibelakang rumah penginapan Hun-lay.
Bunga yang semula berwarna kuning kini sudah luntur warnanya, maklum sudah berhari hari bunga itu berada dalam gembolannya.
Mungkinkah Thio Kian-cay bisa mengenali asal usul sejenis bunga dari kuntum bunga yang sudah kusut macam begini?
Siang Huhoa tidak perlu kuatir, sebab pada malam itu juga dia telah bubuhkan semacam obat diatas kuntum bunga itu.
Kuntum bunga yang telah diberi obat tersebut biasanya warna aslinya bisa bertahan paling tidak sampai setengah hingga satu tahun lamanya.
Baru saja Siau-sin menerima bungkusan kecil itu, dari arah belakang sudah terdengar Nyo Sin membentak nyaring.
"Barang apa itu?"
Dengan kecepatan bagaikan kuda yang terlepas dari ikatan, dia segera memburu maju ke depan.
Jangan dilihat kepala opas ini berkepala ubi, ketajaman matannya benar-benar cukup mengagumkan.
Siau-sin menjengek dingin, dia segera melejit ke udara dan langsung melambung ke atas atap rumah penduduk ditepi jalan.
Siau-tho tidak tinggal diam, dia segera menyusul di belakang rekannya dan melambung pula ke tengah udara.
Nyo Sin tidak melakukan pengejaran, sambil berdiri disamping Siang Huhoa bentidaknya lagi.
"Cepat turun!"
"Huhhh, kenapa aku mesti turun?"
Jawab Siau-sin setengah mengejek.
"Apa yang kau takuti dari aku?"
Tanya Nyo Sin lagi.
"Aku takut kau akan merampas barang milikku"
"Memangnya kalau kalian tidak turun lantas aku tidak bisa mengejarmu?"
Siau-sin tertawa cekikikan.
"Kalau bisa mengejarku, ayoh cepat mengejar, asal bisa menyusulku, tidak usah dirampaspun barang ini akan kuserahkan kepadamu"
Sambil berkata dia tunjukkan bungkusan kecil itu kemudian bersama Siau-tho sekali lagi tubuh mereka melambung ke udara.
Sekalipun berteriak teriak ternyata Nyo Sin tidak melakukan pengejaran, sebab dia tahu ilmu meringankan tubuh yang dia miliki masih belum mencapai tingkatan sehebat itu.
Dia hanya bisa menyaksikan tubuh Siau-tho dan Siau-sin bagaikan kupu kupu yang menari di angkasa, hanya dalam sekejap mata kemudian sudah lenyap dari pandangan mata.
Dalam keadaan begini, saking jengkelnya dia cuma bisa berdiri melongo dengan mata terbelalak dan wajah menghijau.
Tiba-tiba dia berpaling ke arah Siang Hu-hoa, melotot ke arahnya sambil menegur.
"Benda apa yang kau serahkan kepada mereka? Intan permata atau mutu manikam?"
"Jangan kuatir, bukan intan permata"
"Lalu benda apakah itu?"
"Maaf, tidak bisa kukatakan sekarang"
Dalam pada itu Liong Giok-po sudah tiba pula ditempat kejadian, sambil tertawa dingin segera serunya.
"Kalau barang itu memang barang yang tidak melanggar hukum, kenapa takut diucapkan keluar?"
Kini ilmu silatnya sudah buyar, rupanya apa yang dibicarakan Siang Huhoa bertiga tadi sama sekali tidak terdengar olehnya.
Siang Huhoa hanya membungkam dalam seribu basa, dia seakan merasa segan untuk berdebat melawan Liong Giokpo,.
Melihat pihak lawan membungkam, tampaknya Liong Giokpo tidak mau melepaskan dengan begitu saja, kembali jengeknya sambil tertawa dingin.
"Kau merasa tidak mampu untuk berbicara bukan? Baiklah, bagaimana kalau aku saja yang mewakilimu untuk berbicara?"
Siang Huhoa tidak memberikan pernyataan apa pun. Terdengar Liong Giok-po berkata lebih jauh.
"Benda itu kalau bukan intan permata atau mutu manikam, sudah pasti termasuk barang mahal lainnya hasil curianmu, kau takut kena digeledah setelah masuk ke dalam penjara nanti, maka kau suruh ke dua orang komplotanmu untuk membawanya kabur terlebih dulu"
Siang Huhoa tetap membungkam dalam seribu basa.
"Kenapa tidak kau jawab pertanyaanku?"
Kembali Liong Giok-po mendesak. Siang Huhoa melirik sekejap ke arahnya dengan pandangan dingin, akhirnya dia buka suara, sahutnya.
"Karena sekarang aku sudah tahu, ternyata kau adalah seorang manusia bodoh yang tidak mau pakai otak, bicara dengan manusia macam begini hanya bikin lidahku lelah, percuma!"
Tidak terkirakan rasa geram Liong Giok-po mendengar kata umpatan itu, saking jengkelnya, untuk sesaat dia tidak sanggup mengucapkan sepatah katapun.
Kembali Siang Huhoa mengalihkan pandangan matanya ke wajah Nyo Sin, katanya lagi.
"Kalau aku yang melakukan pencurian itu, kalau benda tersebut adalah barang hasil curian, sekarang aku sudah kabur ke ujung langit"
Sesudah tertawa dingin, kembali ujarnya.
"Hanya menghadapi komplotanku pun kalian tidak mampu, seandainya aku yang mau pergi dari sini, memangnya kau sanggup menahanku?"
Merah padam selembar wajah Nyo Sin saking mendongkolnya, tapi dia tidak mau kalah, teriaknya pula dengan suara lantang.
"Aku tidak perduli apa yang hendak kau katakan, setelah konco koncomu kabur, kau si pentolan harus tetap tinggal disini"
"Buat apa kau sewot? Toh aku tidak pernah bilang mau pergi dari sini?"
Jengek Siang Huhoa dingin, sekali lagi dia beranjak pergi dari situ.
"Mau pergi ke mana kau!"
Hardik Nyo Sin, ternyata orang ini jauh lebih tidak punya otak ketimbang Liong Giok-po.
Siang Huhoa betul betul dibuat kewalahan oleh ulah manusia tidak berotak macam begini.
Untunglah pada saat itu terdengar seseorang berseru dari arah belakang sana.
"Saat ini bukankah saudara Siang sedang berjalan menuju ke arah kantor pengadilan? Memangnya kau sudah melupakan hal itu?"
Mendengar teguran tersebut, api kemarahan Nyo Sin kontan padam sebagian. Perlahan Ko Thian-liok jalan menghampiri Siang Huhoa, katanya kemudian.
"Silahkan saudara Siang!"
Siang Huhoa tersenyum dan kembali beranjak diikuti Ko Thian-liok di belakangnya.
........
Benarkah Siang Hu-hoa sama sekali tidak tersangkut dalam kasus hilangnya harta karun itu?
........
Jangan-jangan dugaanku selama ini keliru besar?
Tanpa terasa Nyo Sin mulai berpikir, dia mulai sangsi dengan pendapatnya selama ini.
........
seandainya bukan Siang Huhoa yang melakukan pencurian itu, lalu siapa yang telah melarikan harta karun itu?
........
Jangan-jangan perbuatan setan iblis atau siluman?
Nyo Sin merasa hatinya bergidik, tanpa terasa dia celingukan sendiri ke sana kemari macam orang kebingungan.
Pada saat itulah tiba-tiba dia saksikan sesosok bayangan manusia berkelebat lewat di ujung lorong sebelah depan.
"Siapa?"
Hardiknya keras.
Baru selesai dia membentak, bayangan manusia itu sudah melambung di tengah udara dan langsung menerkam ke arahnya.
Belum lagi bayangan itu menghampirinya, bau busuk darah yang amis dan memuakkan sudah menerjang ke arah tenggorokannya.
"Setan!"
Tanpa sadar Nyo Sin menjerit keras.
Waktu itu Siang Huhoa dan Ko Thian-liok sedang berjalan sambil berbincang, begitu mendengar teriakan aneh dari Nyo Sin, serentak mereka berdiri tertegun.
Bersamaan waktunya itulah Siang Huhoa pun menyaksikan ada sesosok bayangan manusia menerjang datang dari arah mulut lorong.
Dia memang memiliki ketajaman mata dan pendengaran yang luar biasa, gerakan tubuhnya juga terhitung gesit dan cepat, baru saja pedangnya akan dicabut keluar, dia sudah mendengar Nyo Sin meneriakkan kata "setan"
Dia dapat menangkap jeritan dari Nyo Sin itu penuh dicekam perasaan takut dan ngeri yang luar biasa, jeritannya sudah tidak mirip suara manusia, apalagi ditengah malam buta seperti ini, jeritan itu membuat suasana makin terasa menyeramkan.
Kata "setan"
Memang mudah menimbulkan rasa ngeri bagi siapa pun yang mendengar, tidak terkecuali Siang Huhoa. Menanti ia berhasil mengendalikan diri, sang "setan"
Sudah menerjang tiba.
Bau amisnya darah terendus makin tebal, membuat siapa pun merasa muak.
--Bab 38.
Rahasia dibalik surat wasiat.
Untung reaksi dari Siang Huhoa amat cepat, tidak sempat lagi mencabut pedangnya, buru-buru dia dorong tubuh Ko Thian-liok ke samping.
Waktu itu Ko Thian-liok masih berdiri tertegun disamping Siang Huhoa, dorongan tersebut kontan saja membuat tubuhnya mencelat sejauh satu kaki.
Sedikit banyak Ko Thian-liok pernah belajar silat, walaupun dorongan itu membuat badannya mundur terhuyung, paling tidak dia tidak sampai jatuh terjerembab.
Begitu selesai mendorong tubuh Ko Thian-liok tadi, hampir pada saat yang bersamaan Siang Huhoa turut mengigos ke samping.
Pada saat itulah dengan kecepatan luar biasa sang "setan"
Itu menerobos lewat melalui antara tubuh mereka berdua dan langsung menerkam ke arah Nyo Sin yang berada persis di belakang ke dua orang itu. Orang pertama yang melihat kemunculan "setan"
Itu adalah Nyo Sin, orang pertama yang meneriakkan kata "setan"
Juga Nyo Sin, tapi sekarang setelah setan itu menerjang ke arahnya, ternyata dia masih berdiri mematung, apakah dia sudah ketakutan setengah mati hingga tidak sanggup bergerak lagi?
Dalam waktu singkat "setan"
Itu sudah menerkam keatas tubuhnya, dengan sekali sambaran tangan setan itu sudah mencekik lehernya.
Sebuah tangan yang amat dingin dan membeku, sebuah tangan yang seolah tidak punya kehangatan darah bahkan membawa bau busuk yang luar biasa.
Nyo Sin betul betul sudah pecah nyali, saat ini kendatipun dia tidak sampai jatuh pingsan namun seluruh tubuhnya sudah lemas tidak bertenaga, dia cuma bisa duduk terpekur ditanah dengan tubuh amat lemas.
"Setan"
Itu tidak berhenti begitu saja, dia tetap menindih diatas badannya bahkan wajah setannya yang berbau busuk itu nyaris menempel diatas wajah Nyo Sin.
Bau busuk semakin menusuk hidung bahkan membuat perut semakin mual rasanya.
Selang berapa saat kemudian Nyo Sin baru dapat menguasahi diri, sekarang dia sudah dapat melihat jelas wajah setan itu.
"Tu Siau-thian!"
Jeritnya lengking. Sekalipun wajah setan itu sangat menyeramkan, namun dia masih dapat mengenalinya sebagai wajah dari Tu Siau-thian. Ternyata "setan"
Itu tidak lain adalah Tu Siau-thian!
Belum selesai Nyo Sin menjerit kaget, setan Tu Siau-thian sudah melambung lagi dari atas tubuhnya.
Tubuh itu benar benar melambung ke udara, bukan merangkak bangun, apalagi bangkit berdiri.
Nyo Sin semakin ketakutan, sambil menjerit jerit seperti babi yang mau disembelih dia berguling bercampur merangkak berusaha kabur dari situ, tapi beberapa kali baru merangkak setengah jalan, tubuhnya terjerembab lagi ke tanah.
Saat ini seluruh tulang belulangnya nyaris sudah menjadi lemas semua, jangankan merangkak, bau bangkit pun sudah tidak mampu.
Untung saja setelah melambung ke udara, setan itu tidak menerjang lagi ke arahnya.
Sebenarnya setan dari Tu Siau-thian itu bukan melambung sendiri ke udara, tapi tubuhnya dibetot orang dari belakang dan mengangkatnya ke atas.
Kecuali Siang Huhoa, tentu saja tidak ada orang kedua yang mempunyai keberanian sebesar ini.
Ko Thian-liok merasa kagum sekali dengan keberanian orang itu, tanpa terasa pujinya.
"Nyali mu benar benar amat besar"
Siang Huhoa tidak menanggapi pujian itu sebaliknya malah bertanya.
"Coba perhatikan, benarkah tubuh ini adalah mayat dari Tu Siau-thian?"
Ko Thian-liok segera manggut-manggut.
Sekarang mereka sudah dapat melihat dengan lebih jelas lagi, Tu Siau-thian tidak berubah jadi setan, tubuh yang meluncur datang itu tidak lebih hanya mayat dari Tu Siauthian.
Raut muka mayat itu sudah mulai membusuk dan banyak kulit wajahnya mulai mengelupas, tapi mereka semua masih dapat mengenalinya dengan jelas, dia memang Tu Siau-thian.
Sambil gelengkan kepalanya berulang kali kata Ko Thianliok kemudian.
"Tidak kutemukan sebab kematiannya"
"Aku pun tidak menemukan sebab musababnya"
Ujar Siang Huhoa pula sambil mengerutkan hidungnya.
Kondisi mayat Tu Siau-thian memang amat mengenaskan, dari seluruh badannya, hanya kondisi wajahnya yang sedikit lebih mending.
Walaupun dikatakan mending kondisinya, sesungguhnya raut muka itu sudah tidak mirip wajah seorang manusia, bukan saja sudah mulai membusuk, banyak kulit dan dagingnya mulai mengelupas, wajah itupun nampak putih pucat, kelopak matanya cekung ke dalam sementara biji matanya menonjol keluar, lamat lamat dari balik biji matanya yang suram terpancar perasaan benci dan dendam yang luar biasa.
Kecuali raut wajah itu, nyaris seluruh badan Tu Siau-thian sudah tidak memiliki sekerat daging pun yang utuh.
Mengawasi kondisi mayat ini, tanpa terasa Siang Huhoa turut bergidik.
Perlahan lahan dia mengalihkan sorot matanya ke tangan kiri Tu Siau-thian, dia tidak menjumpai darah dibagian tubuh lainnya, tapi tangan kiri itu justru berdarah.
Biarpun cairan darah itu sudah membeku namun masih memancarkan sinar darah yang merah menyala, bahkan terendus bau busuk yang sangat aneh.
Tangan itu berada dalam posisi mengepal, mengepal dengan kencangnya, dia seolah sedang menggenggam sebuah benda.
Terdorong rasa ingin tahu yang sangat kuat, Siang Huhoa segera membuka genggaman tangannya itu.
Ternyata dibalik genggaman tangan kirinya itu terdapat sebuah benda, seekor bangkai laron!
Sayap yang berwarna hijau pupus dengan mata yang merah darah.
Laron Penghisap darah!
Tapi kini kondisi laron itupun dalam keadaan hancur, hancur karena genggaman yang sangat kuat.
Untuk pertama kalinya paras muka Siang Huhoa berubah hebat.
Dalam pada itu Yau Kun sudah menarik tangan Nyo Sin dan membangunkan tubuhnya dari atas tanah.
Tapi begitu mereka saksikan bangkai Laron Penghisap darah yang berada dalam genggaman mayat Tu Siau-thian, paras muka mereka berdua pun berubah hebat, tidak kuasa lagi mereka menjerit keras.
"Laron Penghisap darah!"
"Sekarang aku bisa menduga ke mana hilangnya cairan darah yang berada dalam tubuhnya"
Kata Ko Thian-liok sambil tertawa pedih.
"Apakah kau beranggapan darah itu dihisap semua oleh Laron Penghisap darah?"
"Apakah kau mempunyai penjelasan yang lain?"
"Tidak ada"
Siang Huhoa menggeleng.
"Kawanan Laron Penghisap darah itu pasti mempunyai rahasia yang lain dan rahasia tersebut berhasil dia bongkar, karena ketahuan maka dia pun berubah jadi begini"
"Ehmm benar, aku rasa begitulah kejadiannya"
"Tapi ada berapa hal yang tidak kupahami"
Ujar Ko Thianliok lagi.
"Katakan saja"
"Jelas sudah Tu Siau-thian sudah mati!"
"Bahkan dia sudah mati lama sekali!"
"Kenapa dia bisa muncul dari ujung lorong dan menerjang kemari dengan kecepatan luar biasa?"
"Kalau ada orang memegangi dari punggungnya, tentu saja dia bisa bergerak dengan cepat"
Sahut Siang Huhoa tanpa ragu.
"Jadi maksudmu di ujung lorong sana masih ada orang lain?"
"Aku rasa inilah penjelasan yang paling bisa masuk diakal"
"Ehmm, benar, memang masuk diakal"
Ko Thian-liok manggut manggut, dia segera memberi tanda.
"ayoh kita geledah!"
"Aku rasa tidak perlu digeledah lagi"
Cegah Siang Huhoa sambil menarik lengannya.
"sekalipun analisaku benar seperti kenyataan, aku yakin saat ini dia sudah kabur ke ujung dunia"
"Lantas apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Siang Huhoa berpikir sejenak, kemudian ujarnya.
"Lebih baik kita hantar dulu jenasah Tu Siau-thian agar bisa dilakukan autopsi, aku berharap dengan dilakukan bedah mayat maka bisa kita telusuri sebab kematiannya yang sebenarnya"
"Kemudian kita baru melacak jejak Tu Siau-thian tempo hari?"
Sambung Ko Thian-liok.
"Benar, dan aku harap semua laporan bisa dihantar ke dalam penjara"
Siang Huhoa menambahkan lagi. Selesai berkata dia membaringkan kembali jenasah Tu Siau-thian lalu beranjak dari situ dengan langkah lebar.
"Kau akan masuk penjara sekarang juga?"
Teriak Ko Thianliok. Sekali lagi Siang Huhoa menghela napas.
"Kalau tidak, apa lagi yang harus kutunggu?"
Jawabnya.
Ko Thian-liok ikut menghela napas sambil menyusul dari belakang.
--Matahari sudah berada ditengah udara, kini tengah hari sudah menjelang tiba.
Cahaya matahari menerobos masuk ke dalam langit langit penjara, menyinari persis diwajah Siang Huhoa.
Akhirnya Siang Huhoa membuka matanya dan bangun terduduk, sekarang semangat dan tenaganya telah segar kembali.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang ribut berkumandang datang dari luar penjara, mendengar itu Siang Huhoa segera berjalan menuju ke pintu penjara.
Berbareng dengan berhentinya suara langkah kaki itu, terdengar suara gembokan pintu dibuka orang.
Tidak selang berapa saat kemudian empat orang sudah muncul di depan pintu.
Ko Thian-liok, Nyo Sin, Yau Kun dan Tan Piau!
Mereka berdiri dengan wajah serius.
Begitu bertemu Siang Huhoa, Ko Thian-liok segera menegur.
"Saudara Siang sudah bangun?"
"Darimana kau tahu kalau aku sudah tertidur dalam penjara?"
Sahut Siang Huhoa sambil tertawa.
"Aku hanya menduga"
Meskipun jawaban itu agak santai namun tidak bisa menutupi ketegangan dan keseriusan yang mencekam wajahnya.
"Sudah terjadi peristiwa besar?"
Tanya Siang Huhoa.
"Benar!"
"Peristiwa apa yang telah terjadi?"
"Pembunuhan berdarah!"
"Siapa korbannya?"
Desak Siang Hu-hoa.
"Liong Giok-po!"
"Tewas di mana? Dalam kamar tamu kantor pengadilan?"
"Benar!"
"Cepat bawa aku ke sana!"
Teriak Siang Huhoa lantang.
Begitu selesai berkata, dia sudah menerjang keluar dari pintu penjara.
Betapa pun cepatnya Siang Huhoa memburu ke tempat kejadian, hal itu tidak ada gunanya, meski dia pun mengerti ilmu pertabiban, sayang kepandaiannya terbatas, dia tidak punya kemampuan untuk menghidupkan kembali orang yang telah mati.
Jangankan dia, seandainya tabib sakti Hoa Tuo hidup kembali pun belum tentu dia bisa menghidupkan Liong Giokpo.
Sebab Liong Giok-po sudah seratus persen menjadi mayat, mayat yang sudah membeku sejak berapa jam berselang.
Sebilah pisau belati menancap diatas ulu hatinya, sebilah pisau belati yang amat sederhana dan umum, tidak ada keistimewaan apa pun.
Dengan wajah tertegun Siang Huhoa mengamati pisau belati itu tanpa berkedip, dalam waktu sekejap dia seakan telah berubah menjadi sesosok boneka kayu yang tidak bernyawa.
Suasana hening mencekam seluruh ruangan, entah berapa saat sudah lewat, akhirnya Yau Kun yang pertama kali tidak dapat menahan diri, tegurnya.
"Tuan Siang, apa yang berhasil kau temukan?"
Siang Huhoa tidak menjawab, sebaliknya malah bertanya.
"Petugas autopsi sudah melakukan pemeriksaan atas mayat ini?"
"Sudah!"
"Menurut analisa mereka, dia sudah mati berapa lama?"
"Menurut perkiraan, peristiwa itu terjadi kemarin malam"
"Semalam apakah ada orang yang mendengar suara yang mencurigakan?"
"Tidak ada"
"Memang mudah sekali bila ingin membunuh orang ini"
Ujar Siang Huhoa kemudian, setelah menghela napas panjang, terusnya.
"Semestinya aku harus menduga sampai ke situ"
Ko Thian-liok, Yau Kun, Tan Piau serta Nyo Sin hanya bisa saling berpandangan dengan sorot mata keheranan, mereka tidak habis mengerti apa maksud perkataan itu.
Siang Huhoa tidak menggubris rasa heran orang orang itu, kembali tanyanya.
"Bagaimana hasil autopsi atas mayat Tu Siau-thian? Apakah berhasil menemukan sesuatu?"
"Mereka tidak berhasil menemukan penyebab kematiannya"
Sahut Yau Kun cepat.
"tapi dari balik sepatunya ditemukan selembar daun dan dua kuntun bunga kecil"
"Bawa kemari!"
Dari dalam sakunya Yau Kun mengeluarkan sebuah bungkusan kertas.
Setelah menerima bungkusan tersebut, Siang Huhoa segera membukanya, ternyata benar juga, isi bungkusan itu adalah daun berwarna hijau pupus dengan bunga kecil berwarna kuning.
Dia merasa tidak asing dengan bunga dan daun tersebut, karena daun dan bunga kuning itu pernah dijumpai di halaman belakang rumah penginapan Hun-lay.
Dengan sepasang mata berbinar tanyanya lagi.
"Sudah diketahui jejak yang dilalui Tu Siau-thian tempo hari?"
"Tidak terlalu jelas, hanya diketahui dia pernah lewat di pintu gerbang kota sebelah timur"
"Kota timur!"
Siang Huhoa nyaris melompat ke atas.
"Benar, kota timur!"
"Ada apa dengan kota timur?"
Tidak kuasa Ko Thian-liok turut bertanya. Siang Huhoa tidak menjawab pertanyaan itu, dia hanya berkata.
"Ayoh ikut aku pergi ke suatu tempat dan menjumpai seseorang"
"Ke mana?"
"Perkampungan Ki po cay!"
"Mencari siapa?"
Tanya Ko Thian-liok lagi.
"Jui Gi!"
Selesai bicara dia langsung menerjang keluar dengan kecepatan tinggi, Ko Thian-liok berempat tidak mau ketinggalan, cepat cepat mereka mengikuti di belakangnya.
Baru keluar dari pintu kantor pengadilan, dua ekor kuda yang dilarikan kencang telah menerjang tiba.
Ke dua orang penunggang kuda itu tidak lain adalah Siautho dan Siau-sin.
Begitu melihat kedatangan dua orang gadis itu, Siang Huhoa segera berseru keras.
"Tepat waktu kedatangan kalian berdua"
Sepak terjang dan gerak geriknya saat ini tidak berbeda dengan orang sinting. Sebelum Siau-tho dan Siau-sin mengucapkan sesuatu, kembali Siang Huhoa telah berteriak keras.
"Kalian telah bertemu dengan Thio Kian-cay?"
"Sudah, kami sudah bertemu"
Jawab Siau-sin.
"Dan dia kenal dengan jenis bunga itu?"
Sekali lagi Siau-sin mengangguk.
"Apa yang dia katakan?"
Desak Siang Huhoa lebih jauh.
"Semuanya sudah tertulis dalam surat ini"
Sahut Siau-sin sambil mengambil keluar sepucuk surat dari sakunya.
"Bawa kemari!"
Sambil berseru Siang Huhoa segera merebut surat itu.
"Cengcu, duduklah dulu kemudian baru pelan-pelan dibaca isi surat itu"
Bujuk Siau-sin.
"Tidak, tidak usah, kita sambil berjalan sambil membaca"
Dia langsung merobek sampul surat dan mengeluarkan isinya.
"Cengcu, kita akan ke mana sekarang?"
Buru-buru Siau-sin bertanya.
"Perkampungan Ki po cay!"
Jawab Siang Huhoa tanpa berpaling.
Sementara pembicaraan berlangsung, dia telah selesai membaca isi surat tersebut, sekulum senyuman segera tampil diujung bibirnya.
Apa isi surat itu?
--Bab 39.
Semuanya jadi jelas.
Jui Gi berada di dalam perkampungan Ki po cay.
Waktu itu dia sedang berada di tengah pepohonan di halaman belakang, mimik mukanya kelihatan sangat aneh, seolah ada yang sedang direnungkan.
Ketika seorang pelayan menyusul tiba dan berhenti dihadapannya, dia baru seolah tersentak kaget dan sadar dari lamunan.
"Ada apa?"
Tegurnya.
"Ada orang datang kemari mencari tuan"
"Siapa yang mencari aku?"
"Aku!"
Jawaban nyaring berkumandang dari kejauhan sana.
Ketika Jui Gi menengok ke arah berasalnya suara itu, dia pun segera melihat Siang Huhoa, Siau-sin, Siau-tho, Ko Thianliok, Nyo Sin dan Tan Piau sudah muncul disana.
Berubah hebat paras mukanya setelah melihat kehadiran orang orang itu, sahutnya kemudian.
"Rupanya Siang-ya yang datang mencari aku, ada urusan apa?"
"Ingin mengajukan pertanyaan kepadamu"
"Tanyakan saja"
"Mengapa kau bunuh Liong Giok-po?"
Begitu pertanyaan tersebut diutarakan keluar, semua yang hadir disisinya jadi tertegun karena keheranan. Berubah hebat paras muka Jui Gi, dia tertawa paksa sambil katanya.
"Siang-ya, aku tidak mengerti maksud pertanyaanmu itu"
"Jui Gi, aku berani bicara begini tentu saja karena sudah kuperoleh bukti yang sangat kuat!"
Kini Jui Gi tidak sanggup tertawa lagi, dia terbungkam dalam seribu bahasa. Kembali Siang Huhoa berkata.
"Kemarin malam, bukankah sewaktu ada diluar pintu kau sempat mendengar kabar kalau ilmu silat yang dimiliki Liong Giok-po telah punah?"
Jui Gi tetap membungkam. Melihat orang itu tidak komentar, Siang Huhoa berkata lebih jauh.
"Ketika Ko thayjin mempersilahkan Liong Giok-po menginap di kamar tamu kantor pengadilan, kaupun sempat hadir disitu, hal ini tentu saja amat membantu pelaksanaan rencana busukmu itu"
Akhirnya Jui Gi mengangguk.
"Benar!"
Sahutnya. Dengan jawaban itu sama artinya dengan dia telah mengaku sebagai pembunuh Liong Giok-po.
"Seandainya kau tidak tahu kalau ilmu silatnya telah punah, beranikah kau turun tangan membunuhnya?"
Tanya Siang Huhoa lagi.
"Aku tidak berani"
"Aaai....."
Siang Huhoa menghela napas panjang.
"tidak disangka gara-gara sebuah perkataanku, selembar nyawa manusia telah melayang dengan sia sia!"
"Masih banyak hal yang tidak akan kau duga"
Jengek Jui Gi.
"Kau bersedia memberitahukan kepadaku akan hal hal yang tidak terduga itu?"
"Tidak bersedia"
"Hmm, tidak bersedia pun tetap harus bersedia"
Timbrung Nyo Sin cepat.
"Oya?"
"Sekarang kau sudah tidak punya jalan lain........"
Jengek Nyo Sin lagi.
"Perkataan komandan Nyo keliru besar"
Sela Jui Gi sambil tertawa lebar.
"berada dalam kondisi dan situasi sejelek apa pun, paling tidak bagi kita masih mempunyai sebuah jalan yang bisa ditempuh"
"Hmm, jalan apakah itu?"
Seru Nyo Sin sambil tertawa dingin.
"Jalan kematian!"
Begitu selesai bicara, tubuh Jui Gi sudah roboh terjengkang ke atas tanah.
Entah sejak kapan dalam genggaman tangan kanannya telah bertambah dengan sebilah pisau belati, dan sekarang pisau belati itu sudah dihujamkan ke atas ulu hati sendiri.
Sewaktu Jui Gi mengucapkan kata "mati"
Tadi, sebenarnya Siang Huhoa sudah melambung ke udara dan melayang turun persis disisi tubuh Jui Gi.
Semua gerakan tubuhnya dia lakukan secepat anak panah yang terlepas dari busurnya!
Sayang ketika Jui Gi mengucapkan kata "mati"
Tadi, ujung pisau belatinya sudah dihujamkan menembusi dadanya. Menyaksikan tubuh Jui Gi yang roboh terkapar ditanah, Siang Huhoa hanya bisa gelengkan kepala sambil menghela napas panjang, katanya.
"Sebenarnya kau adalah seorang pembantu yang sangat baik dan setia, sayang kau telah menggunakan kematian untuk membungkam mulutmu sendiri........."
Sementara itu Ko Thian-liok sudah menatap wajah Siang Huhoa sambil bertanya.
"Siang-heng, atas dasar apa kau begitu yakin kalau pembunuh Liong Giok-po adalah dia?"
"Bila orang tidak tahu kalau ilmu silat yang dimiliki Liong Giok-po sudah punah, siapa yang begitu bernyali berani membunuhnya didalam kantor pengadilan?"
Siang Huhoa balik bertanya.
"Aku percaya tidak bakal ada"
"Hingga sekarang, punahnya ilmu silat yang dimiliki Liong Giok-po merupakan satu rahasia yang amat besar"
Kata Siang Huhoa lebih jauh.
"kalau tidak, entah sudah berapa ribu kali dia mati dibantai orang, kalau memang ada yang menginginkan nyawanya, kenapa orang itu tidak turun tangan sebelum kubongkar rahasia besar itu? Padahal ketika kita singgung soal rahasia punahnya ilmu silat Liong Giok-po, selain kalian yang hadir disini, hadir pula Jui Gi. Maka aku segera simpulkan bahwa orang yang paling mencurigakan adalah dia!"
"Betul"
Ko Thian-liok membenarkan juga.
"sewaktu aku usulkan Liong Giok-po menginap di kantor pengadilan, saat itu Jui Gi juga hadir disampingku"
"Nah itulah dia, berdasarkan dua hal ini saja sudah jelas menunjukkan kalau dialah pembunuhnya, betul perbuatannya memang kebangetan, tapi aku rasa pengalamannya kelewat cetek sehingga belum apa apa sudah salah tingkah sendiri"
"Berarti dia bunuh diri lantaran ketakutan?"
"Bagaimana pun juga dia memang tidak pengalaman dalam hal seperti ini, padahal selama dia pungkiri perbuatan itu, kita pun tidak bisa berbuat apa-apa"
"Satu titik terang telah mati gara-gara ketakutan, kita jadi kehilangan jejak lagi...."
Keluh Ko Thian-liok.
"Belum tentu begitu!"
Tukas Siang Huhoa, sambil berkata dia membalikkan tubuhnya dan beranjak pergi dari situ.
"Apa rencanamu sekarang?"
Tanya Ko Thian-liok kemudian.
"Pergi ke tempat kedua, mencari orang kedua!"
"Tempat ke dua itu berada dimana?"
"Penginapan Hun-lay!"
"Siapa yang kau cari kali ini?"
"Si Siang-ho!"
Jawab Siang Huhoa sepatah demi sepatah.
--Tidak selang berapa saat kemudian, rombongan itu sudah tiba didepan rumah penginapan Hun-lay.
Siang Huhoa segera maju ke depan pintu dan mulai mengetuk keras keras.
"Siapa?"
Seseorang menjawab, suaranya aneh dan serak basah, jelas suara dari Si Siang-ho.
"Aku, Siang Huhoa!"
Pintu segera dibuka orang, Si Siang-ho menongolkan kepalanya dari balik pintu.
Bau arak yang sangat kuat segera menerpa wajah Siang Huhoa.
Si Siang-ho muncul dengan tangan kanan memegang sebuah guci arak, lagi-lagi dia meneguk arak.
Siang Huhoa tidak melakukan apa pun, dia hanya menatap wajah orang itu lekat lekat.
Si Siang-ho dengan matanya yang penuh rona merah balas menatap wajah Siang Huhoa, mendadak dia tertawa lebar dan menegur.
"Hahahaha..... rupanya memang Siang tayhiap, apakah datang untuk mengambil bunga itu dan mau dibawa pulang ke perkampungan selaksa bunga?"
"Tidak, aku datang untuk mencari orang!"
Jawab Siang Huhoa sambil menggeleng.
"Mencari siapa?"
"Seorang sahabat lamaku!"
"Tapi disini hanya ada aku seorang"
"Benar, karena orang yang sedang kucari adalah kau"
"Lalu mengapa kau mengatakan aku adalah sahabat lamamu?"
Tanya Si Siang-ho dengan wajah keheranan.
"Sekarang memang sudah bukan sahabatku lagi"
"Berarti dulu aku adalah sahabatmu?"
"Saudara Jui!"
Tegur Siang Huhoa dengan wajah membesi.
"keadaan sudah berkembang jadi begini rupa, apakah kau masih ingin berlagak terus?"
Panggilan "saudara Jui"
Yang meluncur keluar dari mulut Siang Huhoa seketika membuat seluruh jago yang hadir di arena jadi tertegun.
Mimik wajah Si Siang-ho kelihatan berubah jadi aneh sekali, namun dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Sambil menatap tajam wajah orang itu kembali Siang Huhoa berkata.
"Topeng kulit manusia yang kau kenakan itu akan kau lepas sendiri atau aku yang melepaskan untukmu?"
Lama sekali Si Siang-ho menatap wajah lawannya, sesaat kemudian dia baru berseru lantang.
"Siang Huhoa, ternyata kau memang lihay!"
Bersama dengan selesainya perkataan itu, kulit wajah Si Siang-ho mendadak retak jadi berapa bagian kemudian mengelupas selembar demi selembar.
Walaupun berada disiang hari bolong, namun kejadian ini membuat perasaan hati semua orang jadi bergetar keras, tidak terkecuali Siang Huhoa.
Setelah kulit wajah yang lama mengelupas semua, kini muncullah selembar wajah yang lain!
Si Siang-ho segera membersihkan sisa sisa kulit wajah lamanya yang belum mengelupas, ketika semua kotoran sudah bersih maka muncullah raut muka aslinya.
Wajah orang itu sangat dikenal oleh semua yang hadir kecuali Siau-sin dan Siau-tho, tidak heran kalau semua orang berdiri dengan mata terbelalak dan mulut melongo.
Tentu saja Siang Huhoa terkecuali, ketika dia tatap wajah orang itu, mimik mukanya nampak berubah jadi amat kalut, entah dia sedang merasa sedih atau pedih atau marah?
Tidak ada yang bicara, suasana terasa amat hening, amat sepi, seakan akan dengus napas semua orang turut berhenti.
Sampai lama kemudian Ko Thian-liok baru berbisik lirih, suaranya mirip orang merintih.
"Jui Pak-hay!"
Ternyata orang yang menyebut dirinya sebagai Si Siang-ho itu tidak lain adalah penyaruan dari Jui Pak-hay!
Kenyataan ini betul betul membuat siapa pun merasa tidak percaya.
Sambil menatap wajah Jui Pak-hay lekat lekat tanya Nyo Sin lirih.
"Bukankah kau sudah mati?"
Jui Pak-hay sama sekali tidak menggubris Nyo Sin, dia hanya menatap wajah Siang Huhoa tanpa berkedip, mendadak ujarnya sambil tertawa.
"Baru hari ini kau berhasil membongkar penyamaranku?"
"Benar!"
Siang Huhoa sama sekali tidak menyangkal.
"Apakah aku telah memperlihatkan titik kelemahan yang mendatangkan kecurigaanmu?"
"Padahal sejak permulaan kau sudah menunjukkan banyak kelemahan"
"Di mana?"
"Dalam keempat belas gulung lukisan yang menceritakan kisahmu"
"Oya?"
"Apakah kau masih ingat apa warna dari ke empat belas gulung lukisanmu itu?"
"Hijau pupus"
"Benar"
Siang Huhoa segera menambahkan.
"kertas berwarna hijau pupus dengan kedua ujungnya diberi tali kuncir berwarna merah"
"Apa salahnya dengan warna warna itu?"
"Apa warna mata dan sayap dari Laron Penghisap darah?"
"Matanya berwarna merah, sayapnya berwarna hijau"
"Itulah dia, biasanya orang yang takut dengan tikus akan sangat muak menghadapi warna yang mirip dengan tikus. Padahal kau amat membenci Laron Penghisap darah, kaupun takut dengan kawanan Laron Penghisap darah, tapi mengapa kau justru memilih warna yang mirip dengan Laron Penghisap darah untuk gulungan kertas catatanmu itu? Maka dari itu sejak awal aku sudah curiga akan kebenaran dari semua isi catatanmu itu"
"Ehm, pengamatanmu amat teliti"
Gumam Jui Pak-hay.
"Kalau begitu di dunia ini memang benar-benar tidak ada siluman laron bukan?"
Timbrung Nyo Sin tidak tahan.
"Dalam benak kita bisa muncul gambaran dan bayangan tentang siluman laron karena semuanya ini terpengaruh oleh isi catatan yang dia tulis dalam gulungan kertas itu, padahal catatan tersebut merupakan rekayasa dia"
Siang Huhoa menerangkan.
"Oooh......"
"Tidak bisa disangkal dia memang sangat berbakat untuk menulis cerita dongeng, dia pun sangat berbakat membunuh orang"
Lanjut Siang Huhoa.
"dengan sekali timpukan dia telah membunuh lima ekor burung, coba bayangkan, siapa lagi yang bisa menciptakan peluang sehebat dia?"
Setelah menghela napas panjang katanya lagi.
"Sampai seluruh harta karun yang ada dalam ruang rahasia itu hilang tercuri, aku baru mulai curiga bahwa dia sesungguhnya belum mati"
"Apa alasanmu berpikiran demikian?"
Tanya Nyo Sin lagi.
"Kecuali dia, siapa lagi yang bisa mempergunakan alat perangkap dalam ruang rahasia itu sekehendak hati sendiri? Siapa lagi yang bisa mengangkut keluar seluruh harta karun itu selain dia?"
Nyo Sin segera manggut-manggut, tapi sebentar kemudian katanya lagi sambil menggeleng.
"Tadi kau bilang sekali timpuk dapat lima ekor burung, apa maksud perkataan itu? Aku tidak mengerti"
"Semalam, aku harus peras otak semalaman suntuk sebelum berhasil memahami semua persoalan yang telah terjadi, sekarang aku hanya bisa mengutarakan semuanya berdasarkan analisaku, bila keliru tolong bisa diralat"
Jelas perkataan yang terakhir itu ditujukan kepada Jui Pakhay karena sorot matanya telah dialihkan ke wajah orang itu.
Namun Jui Pak-hay tidak memberikan pernyataan apapun.
--Setelah semua orang mengambil tempat duduk, Siang Huhoa baru melanjutkan kembali perkataannya.
"Kisah ini harus dimulai dari kejadian pada tiga tahun berselang, waktu itu kami empat belas orang sahabat karib berhasil merampas harta karun Kim tiau beng dari tangan Liong Giok-po dan komplotannya, sebenarnya kami sudah berjanji sejak awal akan menukar harta karun itu dengan ransum untuk menolong kaum miskin dan rakyat jelata yang tertimpa musibah banjir di sepanjang sungai Huang-ho, siapa tahu begitu aku pergi meninggalkan tempat itu, sahabat karibku ini ternyata mengangkangi sendiri seluruh harta karun itu, secara diam diam dia bawa kabur seluruh mestika itu"
Setelah menghela napas panjang, katanya lagi.
"Persoalan inilah yang menyebabkan hubungan persahabatan kami berdua menjadi retak dan memburuk"
"Bagaimana kemudian?"
Tanya Ko Thian-liok.
"Aku sih tidak apa apa, paling tidak gara-gara kejadian ini aku berhasil mengetahui watak asli dirinya, berbeda dengan Liong Giok-po dan komplotannya, mereka tidak mau menyudahi persoalan tersebut dengan begitu saja, tidak lama kemudian Liong Giok-po berhasil melacak hingga ke tempat tinggalnya"
"Benar"
Jui Pak-hay membenarkan.
"Liong Giok-po saja dapat melacak hingga menemukan titik terang, apalagi bagi manusia cerdas macam kau, mana mungkin kau tidak menyadari akan kejadian ini?"
Ujar Siang Huhoa lebih jauh.
"akhirnya kau mengambil keputusan untuk mendahului turun tangan, diam-diam kau bantai Wan Kiampeng" --Bab 40. Misteri seputar Laron Penghisap darah.
"Benar, akulah yang telah membunuh Wan Kiam-peng!"
Jui Pak-hay tidak berusaha menyangkal. Tapi selama ini kau tidak berani bertindak sesuatu terhadap Liong Giok-po"
"Karena aku cukup mengetahui kondisi dan kemampuanku"
"Kau sadar masih bukan tandingannya bukan?"
Jengek Siang Hu-hoa.
"Benar, kalau bukan karena itu dialah orang pertama yang akan kubunuh!"
"Jadi waktu itu kau kuatir dia datang mencarimu?"
"Aneh kalau aku tidak merasa kuatir"
"Waktu itu, perasaan hatimu masih terganjal lagi oleh satu masalah, masalah yang amat pelik bagimu"
"Kau kira masalah apakah itu?"
"Masalah yang menyangkut hubungan Kwee Bok dan Gi Tiok-kun"
Ujung mata Jui Pak-hay kelihatan bergetar keras.
"Waktu itu kau pasti sudah berhasil menyelidiki kalau kegadisan Gi Tiok-kun sebenarnya sudah direnggut Kwee Bok"
Ujar Siang Huhoa lebih jauh.
"dengan watakmu, sudah pasti kau tidak akan menyudahi persoalan sampai disitu saja "Padahal waktu itu Liong Giok-po mengejar mu semakin dekat, untuk menghadapi musuh setangguh ini cara terbaik yang bisa digunakan adalah berpura-pura mati, dari rencana berpura-pura mati kaupun manfaatkan kesempatan ini untuk menfitnah Kwee Bok dan Gi Tiok-kun, lalu terpikir olehmu untuk membuat surat wasiat, dari surat wasiat kaupun mengatur perangkap untuk mencelakai musuhmu satu per satu termasuk diriku sendiri.....kau memang berkepe-ntingan untuk menghabisi aku sebab terlalu banyak persoalanmu yang kuketahui, tidak bisa disangkal aku adalah duri dalam daging bagimu!"
"Tentu saja aku harus mencabut duri dalam daging ini"
Sela Jui Pak-hay. Siang Huhoa mendengus dingin, lanjutnya.
"Ketika semua rencana sudah siap maka kaupun laksanakan semua rencana tersebut satu demi satu.... mula mula kau ciptakan isu seolah ada sekelompok Laron Penghisap darah yang membuat keonaran, kemudian pada malam bulan purnama yaitu tanggal lima belas, kau ciptakan sesosok mayat untuk menggantikan posisimu......."
"Lalu mayat yang kita temukan itu adalah mayat dari......."
Tukas Nyo Sin.
"Mayat itu sebenarnya mayat dari Si Siang-ho!"
Siang Huhoa segera menambahkan.
"oooh...?"
"Si Siang-ho pasti masih mendendam atas peristiwa yang menimpanya dimasa lampau, dia pasti berusaha mencari kesempatan untuk membalas dendam"
"Kenyataan memang begitu"
Jui Pak-hay membenarkan.
"Kau pasti sudah menduga kalau Si Siang-ho mempunyai niat tersebut, maka kau habisi nyawanya lalu menggunakan mayatnya untuk menggantikan posisimu!"
"Tepat sekali"
"Kau memang sengaja meletakkan mayat itu diatas loteng belakang kamar tidurmu, dengan begitu jika mayat tersebut ditemukan orang, Kwee Bok dan Gi Tiok-kun pasti akan menjadi tersangka dan akhirnya masuk penjara.
"Padahal jauh sebelum kejadian itu, kau sudah menyamar menjadi Kwee Bok untuk melakukan pelbagai persiapan yang dengan sengaja meninggalkan bukti dan saksi dimata orang banyak, agar bila suatu hari diperlukan, kesaksian orang banyak bisa memperberat dosa dari Kwee Bok. Hmmm.... baru berpisah selama tiga tahun, tidak kusangka ilmu menyaru muka mu sudah maju sedemikian pesat"
"Kau terlalu memuji"
Setelah menarik napas panjang, kembali Siang Huhoa berkata.
"Setelah kejadian, kau menyusup masuk ke dalam penjara, membunuh Gi Tiok-kun dan Kwee Bok, meninggalkan bangkai Laron Penghisap darah disana, agar orang lain mengira mereka berdua benar-benar adalah jelmaan dari siluman laron"
Jui Pak-hay hanya membungkam tanpa membantah. Kembali Siang Huhoa berkata.
"Kau bisa masuk ke dalam penjara dengan leluasa, aku percaya keberhasilanmu pasti karena mengandalkan ilmu menyaru muka bukan"
"Selain ilmu menyaru muka, harus ditambah pula dengan bubuk pemabok"
Jui Pak-hay menambahkan.
"Sebenarnya waktu itu kau menyusup masuk ke dalam penjara dengan identitas sebagai siapa?"
"Sebagai Oh Sam-pei!"
"Lalu apa yang telah kau lakukan dengan Kwee Bok dan Gi Tiok-kun?"
"Tentu saja membantai mereka berdua"
"Mayat mereka berdua berada dimana sekarang?"
"Komplek pekuburan terbengkalai di barat kota!"
"Sampai disini, anggap saja permainan babak pertama sudah berakhir"
Kata Siang Huhoa sambil menghela napas panjang.
"selanjutnya giliran permainan babak kedua yaitu aku dan Liong Giok-po yang harus tampil di atas panggung. Liong Giok-po berhasil melacak jejakmu, sudah pasti diapun berhasil melacak diriku, bila secara tiba-tiba harta karun itu lenyap dari ruang rahasia, antara aku dan dia pasti akan terjadi bentrokan hebat, paling tidak pertarungan adu jiwa akan berlangsung diantara kami berdua"
"Aku memang berharap kalian bisa gontok-gontokan sendiri"
Sahut Jui Pak-hay sambil menyeringai seram.
"Sayang pengharapanmu itu tidak akan terwujud, kau mesti menerima kenyataan ini dengan perasaan kecewa, dengan tewasnya Liong Giok-po maka urusan pun berubah jadi makin sederhana dan gampang"
"Apa? Liong Giok-po sudah mati?"
Teriak Jui Pak-hay terperanjat, agaknya dia belum tahu akan kejadian ini.
"Benar, kejadiannya berlangsung pagi hari tadi"
Siang Huhoa menerangkan.
"Siapa yang punya kepandaian sedemikian hebatnya hingga sanggup membunuhnya?"
"JuiGi!"
"Apa? Jui Gi?"
Kontan Jui Pak-hay tertawa terbahak-bahak.
"mana mungkin Jui Gi memiliki kepandaian sehebat itu?"
"Rupanya kau belum tahu kalau Liong Giok-po pernah bertarung sengit melawan Tok tongcu?"
"Aku tahu akan kejadian ini, itulah sebabnya aku sangat kuatir ketika tahu dia sedang mencariku"
"Apakah kau pernah dengar juga kalau dia sudah terkena bubuk lima racun dari Tok tongcu sehingga bukan saja wajahnya hancur berantakan, bahkan seluruh ilmu silatnya telah punah?"
Mendengar perkataan itu Jui Pak-hay segera menghentakkan kakinya berulang kali ke atas tanah sambil menghela napas panjang.
"Kau tidak perlu berkeluh kesah, juga tidak usah menghela napas, begitu Jui Gi mengetahui rahasia ini, semalam dia telah mewakilimu untuk membunuhnya"
Sekali lagi Jui Pak-hay menghela napas panjang.
"Aaaai.... tidak dapat disangkal dia memang seorang pembantuku yang paling setia, tapi dengan berbuat begitu, keuntungan apa yang bisa kuperoleh?"
"Bagimu mungkin tidak bermanfaat, tapi bagiku sangat bermanfaat"
"Aku mengerti, justru karena peristiwa ini, kau semakin yakin kalau aku masih hidup di dunia ini!"
Sambung Jui Pakhay cepat. Siang Huhoa manggut manggut.
"Padahal sejak awal hingga sekarang"
Ujarnya lagi.
"asal kita mau berpikir secara cermat, sebetulnya tidak sulit untuk menemukan beberapa kejanggalan yang patut dicurigai"
Setelah menelan air liurnya, dia melanjutkan.
"Dalam hal ini, berulang kali Tu Siau-thian dan Nyo Sin telah menyinggungnya"
"Sebenarnya kesimpulan dan analisa yang kalian lakukan selama ini sudah benar dan masuk diakal"
Kata Jui Pak-hay.
"tapi lantaran terpengaruh oleh isu seputar kehadiran Laron Penghisap darah, maka kalian tidak yakin dengan analisa tersebut"
"Kenyataan memang begitu"
Siang Huhoa membenarkan.
"sejak awal aku sudah mencurigai gulungan lukisan itu, maka aku selalu beranggapan bahwa analisa pihak pengadilan tentang kasus ini kuranglah tepat, hanya aku merasa segan untuk mengenalkannya.... misalnya saja mereka pernah menganggap kejadian yang berlangsung selama ini merupakan ulah dari siluman laron yang berwujud sebagai Kwee Bok dan Gi Tiok-kun, jelas analisa semacam ini merupakan analisa yang ngawur sekali, kemudian dibilang pikiranmu kalut karena siang malam kau diteror oleh Laron Penghisap darah, padahal menurut dugaanku, mungkin kau malah tidak pernah menjumpai seekor Laron Penghisap darah pun seperti apa yang kau catat dalam gulungan kertas itu"
"Kau bisa berpendapat begitu karena kau selalu menganggap apa yang tercatat dalam gulungan kertas itu hanya sebuah catatan, kenyataannya bagaimana sulit dibuktikan sebab tidak ada barang bukti"
Ujar Jui Pak-hay. Siang Huhoa manggut-manggut seraya menghela napas panjang, kembali ujarnya.
"Akupun tidak bisa menyangkal untuk mengakui dirimu sebagai seseorang yang amat cerdas.... menyamar menjadi Kwee Bok, Si Siang-ho lalu Jui Pak-hay.... satu orang dengan tiga identitas, satu orang seakan berubah jadi tiga orang yang berbeda, sebuah kejadian yang sungguh diluar dugaan siapapun, terutama ketika kau tampil sebagai Kwee Bok yang memelihara ribuan ekor Laron Penghisap darah lalu tampil sebagai seorang korban yang diteror ribuan ekor Laron Penghisap darah, dua karakter yang sesungguhnya bertolak belakang, tapi kenyataannya kau bisa memerankan semua karakter itu secara sempurna"
"Tapi darah dari kawanan Laron Penghisap darah........"
Kembali Nyo Sin menyela.
"Betul, darah itu memang darah dari Laron Penghisap darah"
"Tapi kenapa warna darahnya persis sama seperti darah manusia?"
"Darah tersebut berwarna merah karena terpengaruh oleh sejenis benda"
Siang Huhoa menerangkan, dia segera mengeluarkan bungkusan kecil yang baru saja dikembalikan Siau-sin kepadanya.
"Apa isi bungkusan itu?"
Tanya Nyo Sin sambil menatap tajam bungkusan kecil itu.
Ketika Siang Huhoa membuka bungkusan kecil itu, sekuntum bunga kecil berwarna kuning dan selembar daun kecil berwarna hijau segera terjatuh dari balik bungkusan itu.
"Aaah, bukankah bunga itu adalah bunga kuning yang tumbuh di belakang halaman rumah penginapan Hun-lay?"
Teriak Nyo Sin.
"Tepat sekali!"
Setelah menghembuskan napas panjang kembali Siang Huhoa berkata.
"aku yang banyak mengetahui jenis tumbuhan pun tidak kenal dengan jenis bunga tersebut, kenapa bunga tadi justru banyak tumbuh di pekarangan rumah penginapan? Bukankah kejadian ini sangat aneh? Maka aku pun mengutus Siau-sin dan Siau-tho untuk berangkat ke rumah seorang sahabatku dan minta tolong kepadanya untuk mengenali jenis bunga ini"
"Apakah dia kenali bunga itu?"
"Betul"
Siang Huhoa mengangguk.
"dia telah menulis seluruh yang diketahuinya dalam sepucuk surat dan suruh mereka serahkan kepadaku"
Sambil menatap tajam wajah Jui Pak-hay kembali terusnya.
"Bunga ini disebut siok-hong, aslinya merupakan tumbuhan alam, bunganya berwarna kuning dan berduri, daunnya mirip bulu angsa, ketika putik bunga itu diambil getahnya maka akan muncul cairan merah seperti darah, cairan getah itu disebut air siok-bok, biasanya orang pribumi menggunakan getah itu sebagai bahan pewarna. Lantaran kawanan Laron Penghisap darah itu setiap hari menghisap cairan getah siokbok sebagai minumannya, tidak heran kalau darah ditubuhnya berwarna merah juga seperti darah manusia"
"Apakah temanmu itu bernama Thio Kian-cay?"
Tiba-tiba Jui Pak-hay bertanya.
"Betul. Apakah semua yang dia katakan merupakan kenyataan?"
"Yaa, semuanya memang kenyataan"
"Tidak dapat disangkal dalam hal Laron Penghisap darah tampaknya kau telah membuang waktu keringat dan waktu"
"Jika ingin berhasil dengan suatu rencana besar, kau memang mesti persiapkan dulu senjata andalan"
Siang Huhoa menghela napas panjang, gumamnya kemudian.
"Kadangkala aku berpikir, kau sebenarnya termasuk orang yang amat cerdas atau seorang yang betul-betul sudah gila?"
Jui Pak-hay mendongakkan kepalanya dan tertawa tergelak.
"Hahahaha....... ke dua duanya benar, kalau aku tidak cerdas, tidak nanti bisa kurancang sebuah skenario yang begitu hebat, tapi kalau aku bukan seorang gila, mana mungkin aku bisa menulis catatan harian terlebih dulu sebelum melaksanakan rencana yang penuh kekejian dan maut ini?"
Siang Huhoa gelengkan kepalanya berulang kali sambil tertawa getir.
"Kini Jui Gi berada dimana?"
Tiba-tiba Jui Pak-hay bertanya lagi.
"Dia sudah bunuh diri untuk membungkam diri"
Berapa saat lamanya Jui Pak-hay berdiri termangu, akhirnya dia baru berkata.
"Kalau aku sendiripun tidak menyangka akan berakibat sehebat ini, tentu saja diapun tidak pernah bisa menduganya, terlepas dia masih hidup atau sudah mati, kehadirannya tidak akan mempengaruhi seluruh jalannya skenario ku ini, sebuah akhir tetap merupakan sebuah akhir"
Perlahan-lahan dia bangkit berdiri.
Tan Piau, Yau Kun serentak melompat bangun sambil bersiap siaga, yang satu menghunus rantai baja, yang lain mempersiapkan sepasang tombaknya.
Jui Pak-hay sama sekali tidak menggubris mereka, melirik sekejap pun tidak, kepada Siang Huhoa ujarnya.
"Harta karun itu berada di penjara bawah tanah, bagaimana kalau kau ikut bersamaku untuk melihatnya?"
"Hanya untuk melihat harta karunmu itu?"
Siang Huhoa balik bertanya.
"Tentu saja sekalian menyelesaikan budi dan dendam kita selama ini, penjara bawah tanah merupakan sebuah tempat yang paling tepat untuk menggunakan pedang"
Selesai berkata dia segera beranjak pergi.
Siang Huhoa menghela napas panjang, akhirnya dia bangkit berdiri, menguntn di belakang Jui Pak-hay.
Sebab dia tahu, kejadian semacam ini sudah tidak mungkin bisa dihindari lagi.
Dari sela-sela batu cadas Jui Pak-hay mencabut keluar sebilah pedang.
Jit seng coat mia kiam?
"Mana pedangmu?"
Tanya Jui Pak-hay sambil menatap tajam lawannya. Siang Huhoa menyahut dan segera meloloskan pedangnya.
"Selama banyak tahun, aku selalu bukan tandinganmu"
Kata Jui Pak-hay kemudian.
"sekarang, kecuali muncul suatu kemukjijatan rasanya hasil terakhir pun setali tiga uang"
Kemudian dengan suara yang berat dan dalam, sepatah demi sepatah kata dia melanjutkan.
"Oleh sebab itu aku rela menerima akhir seperti ini!"
Siang Huhoa mengerti apa yang dia katakan.
Mendadak tubuh Jui Pak-hay melambung ke tengah udara, Siang Huhoa tidak ketinggalan, pada saat yang bersamaan dia melambung pula ke tengah udara.
Ditengah kegelapan malam terlihat dua kilatan cahaya membelah bumi.
Mendadak dibawah "sinar rembulan"
Muncul tujuh buah titik bintang.
Bintang yang memancarkan cahaya tajam!
Bagaikan halilintar yang membelah angkasa, dua senjata saling membentur satu dengan lainnya, suara gemerincingan nyaring diikuti rontoknya bintang bagaikan hujan segera memenuhi seluruh ruangan.
Hanya sekali kilatan cahaya berkelebat lewat, tahu tahu bayangan manusia telah meluncur balik ke bawah, hinggap di posisi semula.
Yang berbeda hanya ke tujuh butir bintang yang semula berada di pedang jit seng coat mia kiam milik Jui Pak-hay, kini sudah menempel semua diatas pedang milik Siang Huhoa.
Paras muka Jui Pak-hay pucat keabu-abuan, pucat bagaikan mayat, dengan wajah mendelong dan kecewa dia awasi ke tujuh bintang yang menempel ditubuh pedang Siang Huhoa itu tanpa berkedip, sampai lama kemudian dia baru berteriak keras.
"Bagus, bagus sekali!"
Siang Huhoa tetap membungkam.
Kembali sekilas cahaya pedang melintas di angkasa dan menyambar lewat, pedang dari Jui Pak-hay!
Pedang itu diayunkan dari atas menuju ke bawah, hanya satu kali tebasan, dia nyaris membelah tubuhnya sendiri menjadi dua bagian.
Darah segar segera berhamburan ke mana-mana.
Darah yang berwarna merah segar, tampak jauh lebih menawan, jauh lebih menyilaukan mata dibawah cahaya rembulan.
Suara dengungan keras segera bergema memenuhi seluruh angkasa, kawanan Laron Penghisap darah yang semula beterbangan mengelilingi "sang rembulan", kini bagaikan kesurupan serentak menerjang ke bawah, bagaikan sudah kalap saja menerjang ke tubuh Jui Pak-hay dan menghisap darahnya yang masih berhamburan ke mana mana.
Tidak selang berapa saat kemudian, didalam penjara bawah tanah itu hanya berkumandang semacam suara yang sangat aneh, suara aneh yang selama hidup belum pernah didengar Siang Huhoa!
........
Laron Penghisap darah!
Apakah analisa dan dugaannya selama ini keliru besar?
Apa benar kawanan Laron Penghisap darah itu betul-betul menghisap darah manusia dan melahap daging tubuh manusia?
Siang Huhoa merasakan sekujur tubuhnya bergidik, dia merasa badannya seakan sedang terendam didalam air dingin yang dipenuhi balok es!
--Malam hari didalam penjara bawah tanah ternyata siang hari diluar rumah penginapan, matahari bersinar hangat menerangi seluruh jagad.
Biarpun sudah berada dibawah sang surya yang hangat, Siang Hu-hoa tetap merasakan hatinya sedingin salju.
Dia tidak mengucapkan sepatah kata putu Siau-sin dan Siau-tho mendampinginya di sisi kiri dan kanan, mereka pun tidak berbicara apa-apa, paras muka ke dua orang gadis itu nampak pucat pasi.
Entah berapa jauh mereka telah berjalan, akhirnya Siang Huhoa berpaling dan menengok sekejap ke belakang.
Rumah penginapan Hun-lay sudah tidak terlihat lagi.
Dia merasa dirinya seakan baru sadar dari sebuah impian yang buruk.
Akhirnya mimpi buruk sudah berlalu, hilang dari pikirannya.
Setelah hari ini, apakah dikemudian hari akan muncul lagi mimpi buruk seperti ini?
Siang Huhoa tidak tahu, tidak seorang pun yang tahu.
Tidak ada orang yang mengharapkan mimpi buruk semacam ini, satu impian saja sudah terasa berat apalagi kalau lebih dari satu.
Yaa, siapa sih manusia di dunia ini yang berharap akan mengalami mimpi buruk seperti ini?
TAMAT.
Bandung, 3 Desember 2006 Salam hormat
Baca Juga: Anak Naga Chin Yung
Baca Juga: Bahagia Pendekar Binal 7