Eps 1 Legenda Kematian - Gu Long
Baca online Legenda Kematian - Gu Long
Cersil Legenda Kematian - Gu Long.
Legenda Kematian (Shi Hun Yin)-1961 Karya. Gu Long Kiriman Lavilla Ebook by . &
http.//dewi-kz.info/
Dewi KZ
http.//kangzusi.com/.
DAFTAR ISI .
DAFTAR ISI .
BAB 1 .
Penemuan yang mengejutkan BAB 2 .
Lengan baju hijau dan putih BAB 3 .
Ru Yi Qing Qian BAB 4 .
Asli dan palsu BAB 5 .
Budi dan perasaan, sulit untuk memilih BAB 6 .
Taruhan BAB 7 .
Pesilat tangguh ada di mana-mana BAB 8 .
Tamu aneh yang meminta nyawa BAB 9 .
Bertemu teman perempuan BAB 10 .
Rahasia di bawah kereta BAB 11 .
Orang pintar di puncak gunung BAB 1 .
Penemuan yang mengejutkan Senja yang tampak di langit sangat indah, tapi semakin lama semakin biasa.
Matahari yang akan terbenam sudah menghilang di balik gunung yang hijau.
Bulan mulai muncul di atas langit, muncul dari bawah gunung kemudian naik ke atas pohon.
Angin meniup pepohonan, sehingga tampak bayangan pohon seperti sedang menari-nari, tiba-tiba terdengar seseorang yang sedang membaca puisi.
"Bulan terang bintang sedikit, angin berhembus lembut seperti air mengalir, Aku baru kembali dari tamasya, melihat gunung-gunung dan hamparan tanah yang luas, tapi sekarang melihat keindahan gunung ini, belum tentu Tai Shan tampak lebih aneh, Hua Shan tampak lebih indah dibandingkan dengan gunung itu."
Suara itu terdengar seperti menyusuri hutan kecil itu lalu berhembus keluar dari gunung, tampak seorang pemuda mengenakan baju mewah, tubuhnya tampak agak lemah, di pinggangnya tergantung sebuah pedang panjang berwarna hijau dan terbungkus dengan sarungnya yang terbuat dari kulit ikan hiu.
Di bawah sinar bulan tampak bajunya tertiup angin, berkibar seperti daun-daunan yang ada di pepohonan yang tertiup angin.
Pemuda itu melihat sekelilingnya kemudian berjalan beberapa langkah, terdengar dari hembusan angin ada suara air mengalir, tampak pemuda itu mengerutkan alisnya, kemudian dia mulai membaca lagi dengan pelan.
"Tubuh berjalan ke arah gunung, angin yang berada di sini meniup patah-patah suara air mengalir...."
Tiba-tiba dia membalikkan badannya dan berteriak.
"Nang Er, cepat bawa kuas dan tempat tinta ke sini!"
Dia berkata lagi.
"Kalau kau berjalan begitu lambat, lain kali kalau aku main ke gunung, lebih baik kau tinggal saja dengan Guan Fu menunggu di bawah gunung."
Dari dalam hutan itu muncul seorang remaja, satu tangannya memegang tempat tinta berwarna hijau, sedangkan tangan yang lainnya memegang kuas, masih harus menggendong sebuah tas besar, dengan berlari-lari dia menghampiri pemuda itu.
Nafasnya terengah-engah, lalu dia memberikan kuas itu sambil berkata.
"Tuan Muda, aku sudah mengikuti Anda berjalan dari He Nan ke Jiang Nan supaya pengetahuanku bisa bertambah. Kalau Tuan Muda ingin meninggalkanku bersama dengan A Fu yang bodoh itu, aku akan kesal."
Pemuda berbaju mewah itu tersenyum, diambilnya sehelai kertas dan dia segera menulis.
"Kami berjalan ke dalam gunung, angin musim semi meniup patah-patah suara air mengalir."
Lalu kertas itu dimasukkannya ke dalam tas besar yang dibawa oleh Nang Er. Mata Nang Er yang hitam tampak berputar, sambil tersenyum dia berkata.
"Tuan Muda, hari ini suasana hati Anda sedang bagus, sejak naik gunung sampai sekarang, Anda sudah menulis banyak puisi, semuanya berjumlah 30 baris, lebih banyak dibandingkan sewaktu kita berada di Tai Shan, tapi-"
Dia berhenti sebentar, lalu dia melihat ke sekeliling.
"Lebih baik Tuan Muda membawa Nang Er turun gunung sekarang, karena hari sudah mulai gelap dan di depan sana tampak sepi juga gelap, kalau tiba-tiba muncul binatang buas, binatang itu akan menggigit Nang Er dan Tuan Muda-"
Pemuda berbaju mewah itu berjalan di depan, mendengar perkataan Nang Er dia mengerutkan dahinya lalu melotot, karena takut dengan pelototan tuan mudanya, kata-kata berikutnya tidak diucapkan, dia hanya cemberut lalu mengikuti pemuda berbaju mewah itu dari belakang.
Lalu pemuda itu berkata dengan nada ramah.
"Kau tidak perlu takut bila bersama denganku, walaupun malam ini kita tidak turun gunung, asalkan ada pedang ini, aku tidak akan membiarkanmu dimakan binatang buas."
Nang Er tertawa, tampak lesung pipit di wajahnya, dia menundukkan kepalanya, seperti takut tawanya akan tampak oleh tuan mudanya.
Di depan mereka sejauh beberapa puluh meter terdengar suara air mengalir dengan kencang, pemuda itu melihat ada dua sisi jurang yang terjal seperti yang telah diiris oleh pisau, dan di bawah jurang itu terdapat sebuah sungai dengan lebar kurang lebih 25 meter.
Pemuda itu berlari ke sisi jurang dan melihat ke bawah, jurang itu sangat dalam, mata air mengalir ke bawah sana, air terjun seperti naga yang sedang terbang, air jatuh memercik batu-batuan seperti mutiara yang terjatuh dari atas dan seperti awan yang sedang menari.
Membuat pemandangan di sana tampak sangat indah.
Suara air dan suara pepohonan yang dihembus angin menggetarkan gunung dan menghasilkan irama yang kuat.
Pemuda berbaju mewah itu berdiri di sisi jurang, jalan itu buntu, dan air terus memercik ke tubuhnya, dia terpaku melihat keadaan itu, tiba-tiba dia melihat di sebelah kanan ada sebuah jembatan kecil, dari jurang yang miring di depannya bisa diseberangi lewat jembatan itu.
Di depan jembatan itu, di balik daun-daunan tampak ada sebuah lampu merah tergantung di tempat tinggi.
Lampu itu bergerak-gerak tertiup angin.
Tampak wajah pemuda itu sangat senang, dia membalikkan kepalanya dan tertawa.
"Sekarang kau tidak perlu takut, tempat yang ada lampu biasanya menandakan ada orang yang tinggal, hari ini kita menginap disini, besok kita baru turun gunung, bukankah itu lebih baik?"
Tiba-tiba Nang Er mengerutkan dahinya.
"Tuan, jika ada orang tinggal di gunung yang begini terpencil, pasti orang itu bukan orang baik-baik, mungkin orang itu lebih menakutkan dari pada binatang buas, lebih baik Tuan Muda membawa Nang Er turun gunung sekarang."
Pemuda itu tertawa.
"Bukankah biasanya kau seorang pemberani? Mengapa sekarang menjadi penakut seperti ini? Kita tidak membawa uang juga tidak membawa benda berharga, apakah kau takut bila ada yang merampok kita?"
Pemuda itu memegang pedangnya dan berkata lagi.
"Selama 7 tahun aku sekolah lalu 3 tahun aku belajar ilmu silat, kalau bertemu dengan perampok kacangan-He he! Mungkin pedangku akan menjadi berguna."
Sambil memegang pedang tampak wajahnya menjadi gagah, dengan langkah besar dia melangkahkan kakinya ke jembatan kecil itu, sambil cemberut Nang Er mengikuti tuan mudanya dari belakang, sepertinya dia tahu akan terjadi musibah yang menimpa mereka.
Hutan lebat yang berada di sebuah jurang yang terjal, jembatan kecil itu seakan-akan menggantung di tengah-tengah langit.
Lebar jembatan itu hanya 2 kaki lebarnya dan di bawah jembatan adalah jurang yang dalam.
Begitu dipakai berjalan tubuh terasa terayun-ayun naik turun seperti sedang menaiki seekor kuda yang sedang berlari, kalau dia bukan seorang yang pemberani, bila berdiri di atas jembatan itu pasti akan merasa pusing, apalagi kalau harus menyeberang.
Pemuda berbaju mewah itu berkata.
"Aku menyeberang dulu, kalau kau tidak berani menyeberang kau boleh tinggal di sini."
Dia mulai berjalan menyeberangi jembatan itu.
Walaupun pemuda itu adalah anak orang kaya, tapi sifatnya sangat keras dan tidak mau kalah, dia lebih berani dari orang lain, melihat jembatan kecil yang tampak berbahaya, dia sama sekali tidak merasa takut, dia melihat ke bawah sebentar lalu segera berjalan menyeberangi jembatan itu, langkahnya tampak mantap, memang kelihatan kalau dia menguasai ilmu silat.
Angin gunung berhembus begitu kencang, membuat baju panjangnya berbunyi terus.
Di bawah terdengar suara air mengalir dengan kencang, dia melihat ke bawah, dia berjalan dengan hati-hati, sedikit pun tidak tampak gelisah.
Hanya dalam waktu sekejap dia berhasil menyeberangi jurang itu, tampak di depan jembatan adalah sebuah hutan lebat, ada sebuah rumah kecil di sana, dan di dalamnya ada sebuah lampu yang menyala, lampu itu berwarna merah.
Dia ingin membalikkan kepalanya dan berpesan kepada pelayan yang membawa bukunya, ternyata anak itu pun sudah menyeberangi jembatan dan berada di sisinya.
"Tidak disangka, ternyata kau juga berani menyeberangi jembatan ini."
Dia berkata sambil tertawa.
"Tuannya seorang pemberani, mana mungkin pelayannya penakut? Jika aku seorang penakut pasti akan ditertawakan orang lain."
Pemuda berbaju mewah itu mengangguk dan menepuk-nepuk pundaknya memuji. Terdengar Nang Er berteriak.
"Tuan mudaku tersesat di gunung ini, kami ingin beristirahat di tempat Anda, apakah tuan rumah mengijinkan?"
Terdengar gema suaranya.
"....apakah mengijinkan.... mengijinkan...."
Suara itu datang terus menerus, tapi rumah kecil yang terbuat dari batu itu tidak terdengar ada jawaban.
Tuan muda itu mengerutkan dahi, dia berjalan ke arah rumah itu.
Begitu melihat dengan dekat rumah itu, wajahnya menjadi pucat, dia terus mundur, badannya tampak limbung dan hampir jatuh.
Ternyata di dalam rumah itu, di sisi meja tampak ada 2 sosok mayat yang terbaring, kelihatan mereka adalah laki-laki berbadan tegap tapi kepalanya sudah hancur, bagian mata atau hidung sudah tidak bisa dibedakan lagi, cahaya lampu yang menyorot dari lampu yang ada di meja itu, menyinari kedua mayat, membuat suasana gunung yang sepi dan sunyi itu bertambah seram.
Tiba-tiba ada seekor jengkrik terbang kemudian berbunyi.
Nang Er menjadi gemetar dengan takut dia berkata.
"Tuan Muda, mari kita cepat pergi dari sini."
Pemuda itu mengerutkan dahinya, dia tidak menjawab tapi dia tampak sedang berpikir.
"Sebenarnya dimana letaknya tempat ini? Mengapa mereka disini bisa mati begitu mengenaskan? Lampu di atas meja belum padam, berarti mereka belum lama mati, kemanakah pergi pembunuhnya? Mengapa sewaktu aku naik gunung tidak tampak ada orang yang turun gunung atau apakah setelah orang itu membunuh, dia langsung lari ke tempat lain?"
Tangan kanannya memegang pedang, tapi telapak tangannya sudah berkeringat dingin. Dia berpikir.
"Aku belajar ilmu pedang selama 3 tahun meskipun belum lulus, tapi di ibukota jarang ada pesilat yang bisa menandingiku. Kebanyakan mereka bukan lawanku, sewaktu aku belajar ilmu silat, guruku pernah berkata kepadaku, 'Pendekar-pendekar di dunia persilatan tidak boleh egois, harus siap membantu orang lain memecahkan masalah, juga harus membantu pihak yang lemah, itu baru bisa dikatakan pendekar. Sekarang setelah bertemu dengan hal seperti ini, apakah aku harus lari? paling sedikit aku harus tahu apa penyebab semua ini?"
Terpikir hal ini, pemuda itu menjadi bersemangat, dia melihat di sebelah rumah batu itu terdapat sebuah jalan berundak, jalan ini berliku-liku sampai ke bawah jurang.
Di bawah jurang, percikan air membuat bintang-bintang di langit tampak terang dan bisa dihitung dengan jari.
Bayangan yang terpantul di air itu tampak ada sawah, di belakang sawah tampak rumah dan lampu.
Nang Er sangat ketakutan, dia melihat tuan mudanya, dia berharap mereka segera pergi dari tempat ini, meninggalkan tempat misterius ini.
Tapi pemuda itu malah tampak sedang berpikir, kemudian dia melangkah ke undakan jalan itu, sambil menarik nafas, Nang Er dengan terpaksa mengikuti tuan mudanya dari belakang.
Angin berhembus melewati lembah, gunung ini seperti tertutup oleh rasa dingin yang menyedihkan.
Dengan cepat pemuda itu berjalan melewati sawah, tampak di sebelah kiri terdapat sungai yang lebarnya kira-kira 6 meter, air mengalir sangat deras, di bawah sinar matahari, gunung batu dan hutan itu tampak misterius dan berwarna ungu.
Di kaki gunung sana hanya terdapat sebuah rumah, begitu berjalan mendekat, maka bayangan rumah itu tampak sangat jelas.
Di luar rumah itu terdapat pagar yang tingginya sekitar 3 meter lebih, pintunya dicat dan tampak berkilauan, rumah itu menghadap ke arah selatan, pintunya terbuka, gelang yang terpasang di pintu, di bawah sinar bulan tampak seperti es.
Pemuda itu berdiri di depan pintu, dia mengetuk dengan gelang pintu itu, suaranya menggema yang terdengar terus menerus.
Dari dalam rumah tetap sepi, tidak ada yang menjawab, pemuda itu mengerutkan dahi, baru saja dia bersiap-siap melangkah masuk, di belakangnya terdengar suara GE.
Dia kaget, lalu segera meloncat sejauh 3 kaki kemudian mencabut pedangnya dan memasang kuda-kuda, di bawah sinar bulan, hanya tampak seekor kodok yang meloncat ke sawah.
Nang Er melotot melihat tingkah lakunya, di sekeliling mereka tetap sunyi dan sepi, rasa sepi yang menakutkan.
Pemuda itu menertawakan dirinya sendiri, dia merasa malu kemudian masuk ke dalam rumah itu.
Di balik pintu yang dicat hitam itu, tampak banyak mayat yang bergelimpangan, keadaan mereka sama seperti kondisi 2 orang laki-laki tegap yang mati di rumah batu itu.
Di tubuh mereka tidak tampak ada bekas luka tapi kepala mereka semua hancur, sinar bulan menyinari darah yang tergenang di bawah dan sudah berubah warna menjadi ungu.
Cahaya redup keluar melalui kertas jendela yang tipis, walaupun pemuda itu sangat berani tapi setelah melihat keadaan seperti ini, keringat dingin terus menetes dari dahinya.
Di belakang Nang Er menepuk-nepuk bajunya, dia tidak bisa bicara juga karena ketakutan.
Pemuda itu memegang pedang dan berdiri dengan sikap waspada, angin malam meniup pada tubuhnya, udara terasa semakin dingin, kakinya sudah merasa ingin kembali.
Tapi setelah dia berpikir sejenak dia berkata pada dirinya.
"Guan Ning, Guan Ning, kau sudah berada di sini, walaupun bagimu ini merupakan keberuntungan atau bencana, kau harus siap menghadapinya, biasanya kau paling tidak menyukai cara kerja orang lain. ada kepala tidak ada ekor, apakah kau juga sekarang ingin sama seperti orang lain?"
Segera dia membusungkan dadanya, pedang diangkat, dia melewati pekarangan yang dipenuhi dengan mayat tapi tidak berani melihat keadaan mayat-mayat itu.
Dari pintu gerbang sampai pintu ruangan jaraknya hanya beberapa puluh meter, tapi dalam pikirannya sekarang seperti menempuh jarak ribuan kilometer.
Dengan perlahan dia menaiki tangga, menggunakan ujung pedangnya dia mendorong pintu yang tertutup setengah itu, kemudian dia berteriak.
"Apakah di dalam ada orang? Mohon jawab!"
Dari dalam rumah tidak ada yang menjawab, pintu ruangan pun dibukanya, di dalam tidak tampak ada bayangan seorang pun.
Dia menghembuskan nafas lega, membalikkan kepalanya untuk melihat Nang Er, tampak anak itu masih ketakutan mengikutinya di belakang, tangan kirinya yang membawa tempat tinta tampak bergetar, tinta yang masih memenuhi tempatnya menjadi bercipratan ke bawah.
Dia memegang pundak anak ini, lalu melewati ruangan dan melihat keadaan di dalam ruangan itu, cangkir-cangkir masih tertutup dan tersusun rapi di atas meja.
Dia berpikir.
"Air teh masih ada, di mana orang yang meminum teh ini? Dilihat dari kondisi mayat, mereka seperti para pelayan, orang yang meminum teh ini pasti tuan rumah ini."
Diam-diam dia menghitung cangkir teh yang ada di atas meja, semuanya berjumlah 17. Dia berpikir lagi.
"Tadi di sini pasti ada banyak tamu tapi ke mana tamu-tamu itu sekarang? Di depan hanya ada mayat pelayan, apakah pelayan-pelayan itu dibunuh oleh para tamu?"
Dia mengangguk dan menyetujui kesimpulannya sendiri, dia merasa semua perkiraannya masuk akal tapi dia tidak tahu apa penyebabnya.
Dia melewati ruangan besar itu, kemudian keluar dari pintu samping.
Di luar ada pekarangan yang ditata dengan sangat bagus, di luar pekarangan terdapat sebuah jalan kecil yang disusun dari batu kecil yang bertumpuk, jalan ini menuju pekarangan dalam.
Sambil membawa pedangnya yang panjang, selangkah demi selangkah dia berjalan, dia melihat di sisi jalan itu ada sesosok mayat seorang laki-laki berjanggut dan berbaju mewah, golok yang terselip di pinggangnya baru dicabut separuh, di tubuhnya tidak terdapat luka, tapi kepalanya hancur, darah yang mengalir sudah merembes masuk ke dalam tanah.
Pemuda yang bernama Guan Ning benar-benar terkejut, tapi dia terus berjalan, baru beberapa langkah berjalan, dia melihat ada 2 bilah pedang di jalan itu.
Kedua pedang itu masih mengeluarkan cahaya berkilau.
Langkahnya terhenti menyelidik, di sisi jalan lainnya tampak lagi 2 sosok mayat, tubuh orang yang mati kali ini agak gemuk.
Yang satu tangan kirinya sedang memegang pedang, sedangkan yang lain, tampak tangan kanannya memegang pedang, kedua ujung pedang saling beradu, tapi jarak kedua mayat itu tidak terlalu dekat dan mereka dalam keadaan tertelungkup, luka mereka masih sama seperti mayat-mayat yang dilihat Guan Ning tadi.
Pemuda ini terus melihat mayat-mayat yang bergelimpangan, dia tidak hanya terpana, dia juga merasa pusing dan kaget.
Beberapa langkah dari tempatnya berdiri ada mayat seorang pak tua yang berjanggut panjang, di depan sana ada 3 mayat pendeta berbaju biru, kemudian ada 2 mayat biksu tua, keadaan mereka masih sama seperti itu, tidak ada bekas luka, tapi kepala mereka semua hancur.
Baru saja melewati jalan berbatu ini, walaupun sekarang adalah musim semi yang agak dingin tapi baju panjangnya tampak sudah basah.
Di ujung jalan terdapat sebuah pondokan berbentuk segi enam, tempat itu berdiri di atas batu gunung.
Guan Ning terus berjalan ke pondokan itu, tampak ada darah yang mengalir dari tempat itu, tidak perlu dilihat lagi di dalam pondokan itu pasti banyak mayat dan keadaan mayat-mayat itu pasti sama seperti mayat-mayat yang dilihatnya tadi.
Diam-diam dia berpikir.
"Laki-laki berjanggut, laki-laki gemuk yang memegang pedang, pak tua, pendeta berbaju biru, biksu, semua berjumlah 10 orang, sedangkan cangkir yang ada di ruang depan berjumlah 17, berarti masih ada 7 mayat lagi yang belum kutemukan."
Begitu dia melihat lagi mayat yang pertama, kecuali kaget dan takut, perasaannya bercampur dengan marah dan sedih.
Siapa pun jika melihat kondisi mayat seperti itu, dia pasti akan merasa sedih.
Tapi dia malah merasa mati rasa-karena dia terlalu shok dan juga terlalu marah, di lain pihak dia masih bisa memikirkan tragedi berdarah ini.
Menginjak tangga terakhir, dia melihat, di dalam pondokan itu ada seorang pengemis pincang berbaju compang-camping, keadaannya terbaring di atas tangga, kepala dan rambutnya yang berantakan berada di luar pondokan, darah yang keluar dari kepalanya terus mengalir ke tangga lalu menetes ke bawah.
Seorang, pak tua kurus berbaju hitam berada di sisi pengemis itu, tongkatnya yang berwarna hitam mengkilat menancap sangat dalam, panjang tongkat itu ada setengah meter, papan batu dipukul hancur hingga berantakan, kelihatannya sebelum pengemis yang pincang ini mati dia menancapkan tongkatnya dengan tenaga yang sangat kuat.
Tapi Guan Ning tidak memperhatikan hal ini lagi karena sorot mata tertumbuk pada sosok perempuan cantik berbaju pengantin merah, di sisi mayat perempuan ini ada seorang mayat laki-laki berbaju merah dan berumur setengah baya, di bawah sinar bulan kepala mereka pun hancur, suatu pemandangan yang begitu menyeramkan, tidak tertutup oleh ketampanan dan kecantikan pasangan pengantin ini.
Guan Ning menarik nafas, Nang Er yang ada di belakangnya ikut menarik nafas tapi dia tidak bisa membedakan apa arti tarikan nafas ini?
Apakah karena takut, kaget atau kemarahan yang bercampur menjadi satu?
Pedang yang dipegangnya terarah ke bawah, ujung pedang mengenai papan batu yang ada di bawah dan mengeluarkan suara TANG.
Matanya mengikuti ujung pedang, sorot matanya melihat mayat sepasang laki-laki dan perempuan itu, mereka mengenakan sepasang sepatu yang bertuliskan huruf 'Fu' (rejeki).
Dia hampir tidak berani menggeser pandangan matanya ke atas karena sepasang kaki yang mengenakan sepatu bertuliskan huruf 'Fu' itu berdiri tegak.
"Apakah di sini masih ada seseorang yang hidup?"
Dengan kaku dia melangkah mundur, tapi sorot matanya pelan-pelan melihat ke atas-Seseorang dengan badan kurus tinggi dan berbaju putih, menempel di tiang pondok yang berwarna merah, sepasang telapak tangannya yang kurus, kelima jarinya seperti kaitan mencengkram ke tiang itu, jari-jarinya menancap ke tiang kayu berwarna merah tapi kepalanya tertunduk dengan lemas ke sisi pundaknya.
"Dia juga sudah mati,"
Guan Ning menarik nafas.
"Hanya dia yang tidak jatuh dan roboh ke bawah."
Melihat mayat yang tidak roboh itu, dia bengong dan tidak sadar sepasang sepatunya menginjak genangan darah itu.
Awan menutupi sinar bulan, membuat bumi yang gelap bertambah gelap dan sedih.
Sinar bintang berwarna putih, cahaya bulan putih seperti angin, hanya genangan darah di tanah....
Seharusnya genangan darah berwarna apa?
Tangan Nang Er tetap memegang erat wadah tinta, sorot matanya mengikuti gerakan tuannya, dia bengong melihat mayat yang belum roboh itu, melihat baju putih yang melekat di badannya, di pinggangnya tampak tali pinggang berwarna putih terbuat dari sutra.
"Mungkinkah sebelum orang ini mati dia adalah laki-laki tampan? Sayangnya kepalanya menunduk, sehingga aku tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya."
Guan Ning pun tidak berani mendekati mayat itu untuk melihat dengan jelas seperti apa wajah laki-laki itu. Guan Ning memikirkan masalah lainnya.
".... pendeta berbaju biru, pengemis pincang, pasangan pengantin berbaju merah, ditambah dengan pelajar berbaju putih, semuanya berjumlah 15 orang, sedangkan cangkir yang ada di ruangan itu berjumlah 17.... berarti masih ada dua mayat yang belum kutemukan, apakah kedua orang itu adalah pembunuhnya? Siapakah mereka? Apakah pembunuhnya adalah tuan rumah ini? Ataukah tamu yang bertandang ke sini? Hai-sekarang mereka semua sudah mati, tidak ada seorang pun yang bisa menjawab pertanyaan ini."
Dia melihat lagi keadaan sekeliling dan berpikir.
"Mayat-mayat yang ada di sini pasti jago-jago dunia persilatan, mereka mati tanpa sebab di sini, sekarang orang yang menguburkan mayat mereka saja tidak ada-kelak kalau aku bisa mencari tahu siapa yang telah membunuh mereka dan alasannya membunuh mereka, entah siapa yang benar dan siapa yang salah-orang itu adalah orang yang kejam."
Walaupun semua ini tidak ada hubungannya dengan Guan Ning tapi pemuda jujur ini merasa sangat marah, dia terus memikirkan hal yang tidak ada hubungan dengannya.
Bulan semakin tinggi bayangan pondok itu semakin gelap, angin malam berhembus dari timur dan berhembus ke belakangnya, tiba-tiba-Bersamaan datangnya angin itu terdengar tawa seseorang yang dingin dari tempat gelap, suara tawa ini seperti ujung jarum yang menusuk punggungnya, begitu dingin menusuk tulang, hanya dalam waktu singkat menyerang ke seluruh tubuhnya.
Dia merasa kaget tiba-tiba dia membalikkan badan, dia melihat di luar pondokan di atas tangga tampak ada seorang pak tua pelan-pelan berjalan ke arahnya, pak tua itu sangat kurus seperti tiang bambu, rambutnya disanggul dan ditusuk oleh sebuah tusuk konde, tulang pipinya tinggi, wajahnya cekung ke dalam, sepasang matanya seperti mata burung elang, dia menatap lurus ke arah Guan Ning.
Dalam keadaan seperti itu, sekalipun Guan Ning adalah seorang yang pemberani, di dalam hatinya tetap terasa dingin, tanpa terasa dia mundur beberapa langkah, ujung pedangnya mengenai tanah menimbulkan suara yang tidak enak didengar bercampur dengan sebuah tawa yang seram, benar-benar sangat menusuk telinga.
Pak tua kurus itu berjalan ke arahnya, tapi dari tubuh bagian atas hingga ke bawah tidak tampak ada gerakan, tubuhnya yang kurus berjalan pelan masuk ke dalam pondokan.
Guan Ning berusaha menahan gejolak hatinya, dia membentak.
"Siapa kau? Apakah kau yang telah membunuh mereka semua?"
Sudut mulut pak tua itu tampak sedikit terangkat tampak hawa membunuh dari matanya, dia siap mencengkram ke dada Guan Ning.
Tampak telapak tangannya hitam dan kering, ujung jarinya bengkok, dan kukunya yang panjang tampak menggulung menjadi lingkaran kecil, Guan Ning terkejut, tangannya sedikit terangkat, pedang diletakkan di dadanya.
Pak tua itu tertawa dingin lagi.
Tiba-tiba kuku yang menggulung itu secepat kilat terbuka, kukunya putih seperti giok, dingin seperti besi, juga seperti 5 pedang pendek yang sangat menyeramkan.
Guan Ning kaget, dia mundur beberapa langkah, tampak sepasang tangan itu datang sangat pelan, tapi tangan ini terus mengikutinya walaupun dia berusaha untuk menghindar, ke manapun dia menghindar jari seperti pedang itu terus mengikutinya.
Saat mencekam itu, dia memikirkan semua jurus ilmu silat yang pernah dipelajarinya, tapi tidak terpikir olehnya jurus apa yang bisa menahan jurus telapak yang bergerak lambat itu.
Dalam keadaan bahaya itu, tiba-tiba dia membentak, pedang panjangnya menusuk ke depan kearah pak tua yang kurus kering seperti setan itu.
Tapi begitu pedang Guan Ning baru saja sampai di tengah-tengah, dia merasa badan bergetar, pergelangan tangannya terasa sakit, kemudian pedang yang dipegangnya tanpa sadar telah berpindah tangan.
Pak tua yang kurus kering itu sekarang telah memegang pedangnya, hanya dengan sedikit gerakan pedang itu patah menjadi dua.
Pedang patah itupun dilemparkannya ke atas dan menancap ke tiang kayu pondokan itu, hanya tersisa sedikit bagian pedang dan mengeluarkan cahaya hijau.
Guan Ning selalu iri kepada para pendekar, beberapa tahun yang lalu dengan bersusah payah dia berguru pada seseorang, mempelajari ilmu pedang, dia menganggap ilmu pedangnya sudah lumayan, tapi sekarang di depan pak tua yang kurus kering itu, dia baru tahu apa yang selama ini dipelajarinya hanyalah setitik air yang ada di lautan, tidak ada satu sepersepuluh ribu dari kemampuan pak tua itu.
Tapi sayang, dia terlambat mengetahuinya, sepasang tangan pak tua itu pelan-pelan mencengkramnya, walaupun dia sadar dia tidak akan bisa melawan pak tua itu, tapi dia juga tidak mau menutup mata menunggu kematiannya, karena itu dia berusaha melawan pak tua itu.
Tapi sewaktu dia bersiap-siap mengeluarkan tenaganya, terdengar dari sisinya ada yang membentak, kemudian terdengar kelepak angin yang membawa bayangan seseorang lalu menyerang pak tua yang kurus kering itu.
Pak tua itu tampak mengerutkan alisnya, dia seperti kaget, kemudian bayangan hitam itu disambutnya, benda yang dipegangnya terasa dingin dan basah.
Dia merasa kaget, senjata rahasia jenis apakah ini?
Begitu dia melihatnya, ternyata benda yang disambutnya adalah sebuah tempat tinta, dia marah, di depan mata tampak ada telapak tangan yang menyerangnya, walaupun angin yang dihasilkan telapak tangan tidak begitu kencang tapi jurus yang dikeluarkan sangat aneh, walaupun ilmu silatnya tinggi, serangan tadi tetap harus dihindari.
Perubahan yang terjadi begitu tiba-tiba membuat Guan Ning juga terkejut, begitu melihat lebih jelas, dia lebih terkejut lagi karena orang yang menyerang pak tua itu dengan cepat tidak lain adalah Nang Er, yang biasa membantunya membawa buku.
Begitu pak tua itu menghindar, lengan bajunya tampak melambai, dia berhasil menggetarkan orang yang menyerangnya dan orang ini terpelanting ke atas, begitu melihat orang yang menyerangnya hanya seorang bocah, dia merasa aneh dan terpaku.
Serangan Nang Er sudah tergetar oleh angin dari lengan baju pak tua itu.
Nang Er merasa kaget.
"Ilmu silat pak tua ini benar-benar tinggi."
Karena itu dia mundur beberapa langkah, setelah tubuhnya mantap dia membentak.
"Siapa sebenarnya dirimu! Mengapa kau menyerang tuan mudaku?"
Dia membusungkan dadanya dan berjalan ke depan pak tua itu.
Nang Er tampak melotot, sikapnya yang penakut tadi sekarang sudah tidak tampak lagi.
Guan Ning merasa kaget juga malu, tidak disangka bocah yang ditolongnya dari hujan salju di ibukota beberapa waktu lalu, mempunyai ilmu silat lebih tinggi darinya.
Tapi Nang Er tidak pernah menonjolkan keahliannya, sedangkan dia yang baru belajar beberapa jurus ilmu pedang saja sudah menganggap dirinya seperti seorang pendekar hebat, dia merasa malu dan membuat tidak berani mengangkat kepala.
Sorot mata pak tua itu melihat Guan Ning lalu melihat Nang Er, dia diam tidak bersuara.
Nang Er berkata lagi.
"Tuan mudaku hanya seorang pelajar, tidak ada dendam dengan kalian, mengapa kau harus membunuhnya? Umurmu sudah tua, tapi masih ingin membunuh seorang anak muda, apakah kau tidak merasa malu?"
Pak tua yang kurus kering itu tertawa dingin, dengan suara tajam dia berkata.
"Jurus Long Fei Feng Wu (Naga terbang Phoenix menari) dari mana kau mempelajarinya? Ada hubungan apa antara kau dan Jin Wan Tie Chang Tu Chang?"
Suaranya terdengar tajam seperti teriakan serigala. Wajah Nang Er berubah, segera dia menenangkan dirinya dan menjawab.
"Kau tidak perlu menanyakan asal usul guruku, walaupun kau terus bertanya aku tidak akan mengatakannya kepadamu, yang terpenting tuan mudaku bukan orang persilatan, dia hanya sedang tamasya ke gunung ini dan tidak sengaja datang ke sini, dendam permusuhan di antara kalian tidak ada hubungannya dengan kami. Walaupun kau membunuh semua orang yang ada di sini, kami tidak akan mengatakannya kepada orang lain, kalau hari ini kau melepaskan kami, maka kami akan merasa sangat berterima kasih, kami tidak akan menutup mulut untuk masalah ini."
"Bocah, kau benar-benar sangat lucu, tadinya aku tidak mau melukaimu, tetapi-"
Kata pak tua itu sambil tertawa dingin.
Telapak tangan kirinya melayang, wadah tinta yang tadi disambutnya sekarang secepat kilat meluncur ke arah Nang Er, Nang Er hanya melihat ada bayangan hitam meluncur ke arahnya tapi dia tidak sempat menghindar lagi, wadah tinta itu tepat mengenai wajahnya.
Pak tua yang kurus dan kering itu tanpa ekspresi melihat Nang Er yang berteriak kesakitan lalu pelan-pelan ambruk.
"Kalian telah salah memilih tempat,"
Kata pak tua itu. Pak tua itu melihat ke arah Guan Ning yang sudah berlari ke arah Nang Er.
"Aku harus bertindak lebih sadis lagi,"
Kata pak tua itu.
Pelan-pelan dia mendekati Guan Ning, telapak tangannya yang kurus seperti cakar elang itu mulai terjulur ke depan.
Guan Ning melihat Nang Er yang sedang tumbuh besar, karena dirinya Nang Er kehilangan nyawanya, dia benar-benar merasa sedih, dia berdiri dengan tatapan penuh dengan kebencian dia melihat setan kejam itu.
Kalau orang itu menyerangnya dia akan melawan dengan sekuat tenaga.
Begitu pak tua itu melihatnya, tampak tubuhnya bergetar, wajahnya tampak menyiratkan ketakutan, pundaknya bergoyang, lalu dia meloncat tinggi dan secepat kilat berlalu dari sana, hanya tampak baju yang dipakainya tampak berkibar, tubuhnya yang kurus seperti tiang bambu dengan cepat menghilang di dalam kegelapan malam.
Guan Ning terpaku, dia tidak percaya dengan mata kepalanya sendiri walaupun dia adalah seorang yang pintar, tapi karena dia baru berkelana di dunia persilatan dan baru bertemu dengan hal seperti itu, dia hanya bisa merasa aneh, jangankan dirinya, orang yang berpengalaman di dunia persilatanpun tidak akan mengerti apa yang telah terjadi.
Dia hanya berdiri dengan terpana dan merasa aneh, lalu diapun membalikkan badannya, dia benar-benar kaget, darah yang mengalir di tubuhnya sekarang seperti berhenti mengucur.
Mayat yang tadi sempat dilihatnya berdiri dengan posisi kepala menunduk, sekarang kepalanya terangkat dan telapak tangan yang menancap di tiang pondok itu sekarang secara perlahan terlepas dari tiang itu.
Di dalam kegelapan tampak tulang pipi orang itu sangat tinggi, wajahnya pucat seperti ukiran giok, darah yang keluar dari rambutnya melewati alisnya yang hitam, ke kelopak mata, hidung, dan merembes masuk ke dalam janggutnya.
Wajahnya tampak pucat dan wajah itu seperti diukir, baju sutranya panjang dan putih, dia tampak seperti patung orang suci.
Tapi darah merah yang mengalir itu membuatnya tampak sangat menyedihkan.
Mata Guan Ning membelalak sangat besar, tampak laki-laki setengah baya dan berbaju putih itu dengan perlahan membuka matanya, kemudian dia melihat ke sekelilingnya, akhirnya berhenti di tubuh Guan Ning, lalu dia berjalan menghampiri Guan Ning.
Hati Guan Ning segera menciut, dia sadar kalau dia sudah masuk ke dalam lingkaran masalah yang rumit dan misterius.
Apakah dia beruntung atau rugi?
Walaupun belum tahu jawabannya tapi sudah tampak kalau hal ini tidak menguntungkannya, begitu tersadar dari pikirannya, tampak laki-laki berbaju putih itu sudah berjalan mendekatinya pasti ini tidak menguntungkan baginya, dia hanya bisa berdiri tanpa bergerak menanti apa yang akan menimpa dirinya.
Tapi begitu laki-laki berbaju putih itu hanya tinggal 2 langkah lagi dekatnya, dia berhenti lalu menundukkan kepalanya seperti sedang memikirkan sesuatu.
Guan Ning merasa aneh.
"Siapakah aku? Siapakah aku...."
Terdengar dia berkata pada dirinya sendiri. Dia menjulurkan tangannya lalu memukul kepalanya sendiri sambil terus berkata.
"Siapakah aku? Siapakah aku...."
Suaranya semakin membesar, akhirnya dia berlari keluar dari pondokan itu dan berlari ke tangga, masih terdengar dia terus berteriak.
"Siapakah aku.... siapakah aku...."
Suaranya semakin lama semakin menjauh, akhirnya lenyap ditelan kegelapan.
Guan Ning yang tadinya kebingungan sekarang seperti masuk ke dalam kabut tebal dan hitam, sedikitpun tidak terpikir olehnya semua kejadian ini, dia yang biasanya berpikiran tajam sekarang tidak bisa memikirkan apapun, dia hanya merasa sedih, menyesal, aneh, dan hatinya diliputi oleh banyak pertanyaan, semua seperti merobek perasaannya menjadi berkeping-keping.
Sebenarnya apa yang terjadi di sini tidak ada hubungan dengannya sama sekali tapi sekarang malah mengubah nasibnya, saat dia menyeberangi jembatan kecil itu dia tidak menyangka akan terjadi semua peristiwa ini.
Tiba-tiba-Terdengar rintihan dari sisinya, segera dia membalikkan badan dan mulai mencari sumber suara itu.
Nang Er tadi terjatuh di sisi pasangan suami istri berbaju merah, sekarang dia merintih wajahnya penuh dengan darah, hidungnya yang mancung sekarang berdarah dan hancur.
Dia berusaha membuka matanya untuk melihat keadaan Guan Ning, dia ingin melihat apakah tuan mudanya selamat atau tidak, wajahnya berlumuran darah tapi dia tertawa senang dia merasa senang karena semua pengorbanannya tidak sia-sia.
Perasaan Guan Ning dalam waktu yang singkat berubah menjadi kesedihan yang sangat dalam, dua butir air mata keluar dari sudut matanya-Air mata yang dingin jatuh di wajahnya yang panas dan mengalir ke dalam hatinya yang panas.
Guan Ning membiarkan air matanya terus mengalir.
"Nang Er, kau.... untuk apa kau berbuat begitu baik kepadaku, sekarang bagaimana aku bisa membalas budi kepadamu?"
Tanya Guan Ning sambil menghapus air matanya. Senyum di wajah Nang Er belum menghilang dengan terbata-bata dia berkata.
"Tuan Muda sangat baik terhadap Nang Er.... Walaupun Nang Er mati dan tidak sempat membalas budi, ini.... ini, kalau tidak ada Tuan Muda.... Nang Er dan kakak sudah mati kedinginan dan kelaparan."
Dengan menahan sakit dia memutar badannya, dia merasa hatinya tenang.
"Asalkan Tuan Muda bisa terus hidup, Nang Er matipun tidak apa-apa, hanya saja.... Nang Er mempunyai keinginan yang belum tercapai."
Guan Ning menahan rasa sedihnya dan bertanya.
"Apa yang kau khawatirkan, sekalipun itu adalah hal yang sulit.... tapi Nang Er, kau tidak perlu merasa khawatir, Nang Er tidak akan mati, kau orang baik, kalau kau mati dunia ini benar-benar tidak adil."
Nang Er tertawa dan menutup matanya, kemudian dengan nada sedih dia berkata.
"Kalau Nang Er mati, aku berharap Tuan Muda bisa mengurus kakakku, kakak perempuanku sangat baik, kalau Tuan Muda sudah,menikah suruhlah kakakku.... membantu istri Tuan Muda, kakakku sangat baik, tapi Nang Er sudah tidak bisa melihat kakak lagi, apakah kakak akan sedih?"
Air mata Guan Ning terus menetes. Kesedihan yang sangat membuatnya tidak bisa bicara, Nang Er membuka matanya, dia mengangguk dan tersenyum, lalu dengan suara kecil dia berkata lagi.
"Masih ada satu hal yang ingin Nang Er mohon kepada Tuan Muda, Nang Er berharap Tuan Muda menyetujuinya, Nang Er mempunyai...."
Suaranya berhenti, walaupun tadi dia mengatakannya dengan cepat, tapi baru saja diucapkan separuh dia sudah berhenti.
Mulut Nang Er masih menyunggingkan senyum, walaupun hidupnya pendek tapi begitu bercahaya dan berkilau, walaupun dia hidup sengsara tapi dia mati dengan tenang dan senang, dia tidak berhutang kepada kehidupan ini, melainkan kehidupan ini yang berhutang kepadanya....
Kehidupan.
Bukankah hidup ini sering tidak adil?
Dia menelungkupkan tubuh Nang Er, Guan Ning menangis dengan sedih, apa yang tersimpan di dalam hatinya keluar bersama dengan air matanya, siapa yang mengatakan hanya orang lemah yang menangis?
Orang yang kuat tidak akan meneteskan air mata tapi begitu dia meneteskan air mata, air matanya lebih banyak dari pada orang lemah!
Lama dia menangis, tiba-tiba pundaknya ditepuk oleh seseorang, dia merasa kaget, tampak laki-laki berbaju putih tadi sudah berdiri di belakangnya,, dia masih tampak kebingungan, dia bertanya.
"Siapakah aku? Apakah kau tahu?"
Hatinya terasa kosong, setelah menangis sekarang Guan Ning kebingungan dia hanya menggelengkan kepala.
"Siapa dirimu, aku tidak tahu, siapapun dirimu, apakah ada hubungannya denganku?"
Laki-laki setengah baya yang mengenakan baju putih itu terpaku lalu mengangguk.
"Aku tidak berhutang denganmu, kalau begitu semua ini berhubungan dengan siapa?"
Tanyanya.
"Ada hubungannya dengan siapa? Kau tanya kepadaku, aku pun tidak tahu jawabannya."
Tiba-tiba laki-laki itu mencengkram leher Guan Ning dari bawah dan berteriak.
"Kau tidak tahu, akupun tidak tahu, lalu siapa yang tahu? Di sini hanya ada orang mati, kalau aku tidak bertanya kepadamu apa aku harus bertanya kepada orang-orang mati itu?"
Pundak Guan Ning yang dicengkram terasa sakit menusuk hingga ke tulang, dia memberontak dan melepaskan diri dari cengkrarnan itu, tapi tangan laki-laki berbaju putih itu seperti terbuat dari besi.
Walaupun sudah mengerahkan seluruh kekuatannya tetap saja Guan Ning tidak bisa lepas, dia marah dan membentak.
"Siapa dirimupun, kau tidak tahu, untuk apa kau masih terus hidup di dunia ini? Lebih baik kau mati saja!"
Kedua alis laki-laki berbaju putih itu tampak berkerut, dia menunduk dan berkata.
"Siapa diriku, akupun tidak tahu, untuk apa aku hidup di dunia ini?"
Tiba-tiba dia melepaskan tangannya, Guan Ning didudukkannya di bawah.
"Benar,benar, lebih baik aku mati saja!"
Begitu dia membalikkan badan dia melihat tongkat besi yang menancap di tanah, dia berlari menghampiri tongkat itu lalu dicabutnya dan dia berlari ke depan Guan Ning, diberikannya tongkat itu kepada Guan Ning.
"Mohon Tuan memukulku dengan tongkat ini ke kepalaku hingga aku mati!"
Lalu diberikannya tongkat itu, badannya bergerak secepat setan, Guan Ning merasa sedih mendengar kata-kata laki-laki itu, dia hanya terpaku dan berpikir.
"Apakah orang ini sudah gila? Mengapa di dunia ini ada orang yang tidak tahu siapa dirinya? Kalau dia gila dia tidak akan berkata seperti itu."
Laki-laki setengah baya itu menunggu dengan lama, dia melihat Guan Ning masih menunduk dan sedang berpikir.
"Walaupun tongkat ini sangat berat, tapi kau mempunyai tenaga 2000-3000 kg untuk mengangkatnya, karena itu aku yakin kalau Tuan bisa mengangkatnya, mohon Tuan segera bertindak!"
Dia memberikan tongkat itu dengan kedua tangannya, segera Guan Ning menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak bisa membunuh orang, kalau Tuan benar-benar ingin mati, lebih baik lakukan sendiri!"
Laki-laki itu melotot dan tampak dia sangat marah.
"Kau menyuruhku mati tapi kau sendiri tidak mau membunuhku, apakah aku harus membunuh diriku sendiri? Orang sepertimu begitu plin plan, lebih baik aku yang membunuhmu!"
Guan Ning berpikir.
"Tadi aku hanya memberontak sedikit tapi dia sudah bisa menebak kekuatanku, berarti dia bukan orang gila!"
Dia berpikir lagi.
"Orang ini ingin aku membunuhnya, pasti dia sedang berpura-pura, ilmu silatnya begitu tinggi, mana mungkin dia akan membiarkan ku tanpa alasan membunuhnya?"
Terpikirkan hal ini dengan dingin Guan Ning berkata.
"Kalau Tuan benar-benar ingin mati, aku akan melakukannya untuk Tuan."
Guan Ning merebut tongkat hitam itu dan mengangkat tinggi-tinggi, sewaktu dia bersiap memukul laki-laki itu, dia melihat laki-laki itu memejamkan matanya, seakan-akan menunggu maut menjemputnya, tongkat yang sudah terangkat tidak bisa diturunkan lagi.
Pikiran Guan Ning seperti gelombang air, dia berpikir banyak untuk persoalan ini.
Tongkat hitam masih terangkat tinggi-tinggi, dia berpikir.
"Sewaktu kecil aku pernah membaca sebuah buku rahasia, di dalam buku itu tertulis seorang manusia normal karena shok berat terkadang dia akan melupakan semua peristiwa yang berhubungan dengannya, semua berusaha dilupakannya-"
Dengan pelan dia memperhatikan kepala laki-laki yang tampak terpelajar itu, tampak di kepalanya ada bekas luka, itu adalah bekas luka yang dipukul dengan tenaga besar. Guan Ning berpikir lagi.
"Mungkin karena luka berat itu maka membuatnya melupakan siapa diri yang sebenarnya. Sepertinya dia bukan sengaja mempermainkanku, tapi dia benar-benar ingin mati."
Tampak wajah pelajar itu kebingungan, seperti hidup tidak mau mati pun segan, semua * tidak ada hubungan dengan Guan Ning. Guan Ning menarik nafas dan berpikir.
"Pak tua kurus tadi ilmu silatnya tinggi, buat orang lain tidak akan mempercayainya, saat dia melihat si baju putih dia langsung ketakutan dan melarikan diri, artinya laki-laki setengah baya ini adalah orang penting di dunia persilatan, hidupnya pasti penuh dengan prestasi, semua pasti didapatkan dengan usaha kerasnya-dengan keadaan seperti sekarang apapun tidak akan diingatnya, sampai-sampai namanya sendiripun tidak ingat. Tentunya hal ini sangat menyedihkan untuknya, suatu waktu bila hal ini terjadi padaku, mungkin akupun akan rela membiarkan orang lain memukulku hingga mati."
Terpikir sampai di sana tiba-tiba dia merasa kasihan kepada laki-laki berbaju putih itu, tongkat besi hitam itupun diturunkannya.
Tiba-tiba laki-laki itu membuka matanya dia melihat Guan Ning sedang bengong melihatnya, dia marah dan berteriak.
"Untuk apa kau terus melihatku? Cepat bunuh aku!"
Guan Ning menarik nafas.
"Walaupun nyawa bukan masalah yang penting dan berharga di dunia ini tapi untuk apa menyia-nyiakan nyawamu begitu saja?"
Laki-laki itu menarik nafas.
"Aku sudah bosan dengan hidup, aku hanya ingin mati-"Alisnya berkerut dan dia mulai marah lagi.
"Kau sangat aneh tadi kau menyuruhku mati sekarang kau menyuruhku jangan menyia-nyiakan hidup, apakah hidup dan matiku diatur olehmu?"
Guan Ning berpikir diam-diam.
"Dia masih , ingat dengan kata-kataku tadi, walaupun sekarang pikirannya belum normal tapi belum mencapai tahap yang tidak bisa diobati, ilmu silatnya membuktikan kalau dia bukan orang yang tidak bernama, p banyak orang yang mengenalnya, kalau aku bisa mengetahui masa lalunya, aku bisa membantunya memulihkan ingatannya."
Guan Ning sudah mengambil keputusan, dia akan membantu laki-laki ini, seseorang karena ingin membantu kesulitan orang lain, dia malah bisa melupakan kesulitan dan kesedihannya sendiri.
"Walaupun aku hanya seorang yang sederhana, tapi aku mengerti keadaan Tuan sekarang, kalau Tuan mempercayaiku, dalam waktu satu tahun aku akan membantu Tuan mengembalikan ingatan-"
Laki-laki berbaju putih itu tampak berpikir dan berkata.
"Apakah kau bersungguh-sungguh?"
Guan Ning membusungkan dadanya.
"Walaupun kita belum kenal tidak ada alasan bagiku untuk berbohong, tapi kalau Tuan tidak percaya, apa boleh buat aku tidak akan memaksa, tapi kalau Tuan memaksaku untuk membunuh Tuan, aku tidak sanggup melakukannya."
Tongkat besi yang dipegangnya dilemparkannya jauh-jauh, dia berjalan menghampiri tubuh Nang Er yang sudah mulai membeku, dia tidak peduli kepada laki-laki berbaju putih itu lagi.
Laki-laki berbaju putih itu menundukkan kepalanya, dia terus melihat ke bawah, tidak bergerak sama sekali, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.
Guan Ning menggendong mayat Nang Er.
Setengah hari yang lalu anak ini masih penuh semangat, tapi sekarang sudah menjadi mayat yang dingin.
Guan Ning benar-benar marah juga sedih, dia membalikkan badan menuruni tangga.
Di pekarangan suasana sepi juga menyedihkan, bintang di langit terus berkurang, bulan mulai tenggelam, Guan Ning menarik nafas dengan berat, mayat Nang Er diletakkannya di bawah, dengan bantuan beberapa ranting, Guan Ning mulai menggali lubang, dia ingin menguburkan Nang Er dengan cara sederhana, tanah di sana memang tidak keras tapi ranting-ranting pohon itu sangat rapuh.
Beberapa kali dia mencoba menggali ranting itu selalu patah, terpaksa dia menurunkan sarung pedangnya dan mulai menggali lagi.
Tiba-tiba di belakangnya ada yang berkata.
"Tidakkah caranya terlalu sulit?"
Ternyata laki-laki berbaju putih itu sudah ada di belakangnya.
Dia mengambil sarung pedang yang ada di tangan Guan Ning lalu membantunya menggali, tanah tergali cukup banyak, hanya dalam waktu singkat tanah itu sudah tergali.
Guan Ning diam-diam berpikir.
"Ilmu silat orang ini kemanpuannya benar-benar tidak terukur, tapi siapakah dia? Siapa yang telah memukulnya hingga terluka parah-luka yang ada di puluhan mayat itu semuanya sama. Siapakah yang dalam waktu yang begitu pendek bisa membunuh orang-orang itu? Benar-benar tidak terbayangkan olehku dan orang-orang itu datang kemari dan dalam waktu bersamaan dibunuh, di antara mereka pasti ada hubungannya dengan hal-hal misterius ini. Siapakah dia? Siapakah orang-orang yang telah mati itu? Rumah ini berdiri di tempat yang begitu terpencil, tuan rumahnya pasti bukan orang biasa. Siapakah tuan rumahnya? Apakah dia ada di antara mayat-mayat itu? Apakah tamu-tamu itu memang sengaja diundang oleh tuan rumah dan bersama-sama datang kemari? Ada 17 cangkir teh, sedangkan mayat yang kuhitung hanya ada 15, kemanakah dua orang lagi? Jika aku bisa menemukan dua orang ini, mungkin aku bisa mengetahui apa yang telah terjadi di sini, tapi sekarang aku tidak tahu siapa kedua orang itu? Orang yang ada di sini semua sudah menjadi mayat. Keadaan pelajar berbaju putih ini juga tidak bisa diharapkan. Hai-apakah masalah ini selamanya tidak akan bisa terungkap? Apakah orang-orang yang sudah dibunuh itu hanya akan terkubur begitu saja di dalam tanah?"
Guan Ning terus memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu.
Semakin dipikir semakin kacau, semakin tidak bisa dijelaskan-di sebelah sana tampak pelajar berbaju putih sudah selesai menggali lubang, dengan dingin dia melihat Guan Ning.
Guan Ning menarik nafas lagi.
Mayat Nang Er dikuburkannya, kemudian dia membakar puisi-puisi yang dibuatnya tadi pagi.
Abu kertas berjatuhan di atas jenasah Nang Er.
Tiba-tiba dia merasa sangat benci kepada puisi-puisi yang tersimpan di dalam tas, saat menurunkan tas itu, air matanya mengalir lagi.
Bersujud di undakan tanah yang agak tinggi, dengan sedih dia melihat gundukan tanah itu, diam-diam dia bersumpah kalau dia akan terus mencari pembunuh yang telah membunuh Nang Er dan membalaskan dendamnya.
Walaupun ilmu silatnya berada di bawah pak tua yang kurus kering dan misterius itu, tapi tekadnya sangat kuat dan keras, semua masalah akan menjadi mudah kalau seorang manusia sudah bertekad keras.
Pelajar berbaju putih itu dengan diam berdiri di sisi Guan Ning, wajahnya tampak sedih, begitu Guan Ning berdiri, dengan suara berbisik dia berkata.
"Sekarang kemana kita akan pergi?"
Kaki Guan Ning dengan berat berjalan, dia berjalan keluar dari semak-semak, dia juga tahu maksud laki-laki ini bertanya, yang pasti laki-laki itu akan mengikuti dirinya, mencari tahu pertanyaan-pertanyaan yang sulit dijawab.
Sekarang mereka akan ke mana, dia sendiripun tidak tahu.
Setelah keluar dari semak-semak, di ufuk timur mulai tampak cahaya terang, mengusir kegelapan yang pekat, membuat pekarangan yang gelap itu mulai tampak sedikit terang, angin subuh terasa lebih dingin dan meniup ke tubuhnya.
Di jalanan kecil berwarna putih dan berliku tampak banyak mayat yang bergelimpangan, situasi ini terasa lebih mencekam dan dingin.
Dia hanya diam berdiri, dia ingin membuat otaknya yang kacau itu sedikit sadar dan dia membalikkan kepala bertanya.
"Apakah Tuan mengenali mayat-mayat ini?"
Suara Guan Ning berhenti, dia melihat pelajar berbaju putih itu tampak bingung dan menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak ingat."
"Walau bagaimanapun kita tidak bisa membiarkan mayat-mayat ini terjemur matahari dan terkena hujan, kalau keluarga mereka tahu bagaimana cara mati mereka, tentunya mereka akan sedih, sayangnya, aku tidak tahu nama mereka, kalau tidak aku akan memberitahukan kepada mereka, mereka akan ke sini untuk mengambil mayat-mayat ini,"
Kata Guan Ning sambil menarik nafas. Nada suara Guan Ning terdengar sedih. Pelajar berbaju putih terpaku, dia menundukkan kepala dan bicara kepada dirinya sendiri.
"Siapakah keluargaku? Aku tidak tahu apakah aku masih mempunyai keluarga atau tidak."
Mereka terdiam dan hanya saling memandang, matahari mulai muncul dari ufuk timur.
Guan Ning tampak sedang menggotong mayat-mayat itu, benda-benda yang tertinggal di balik baju mereja dikeluarkannya lalu dibungkus dengan sobekan kain dari baju mereka, walaupun itu hanya barang-barang tidak berharga tapi untuk keluarga mereka tentunya benda-benda ini sangat besar artinya.
Guan Ning berharap suatu hari dia bisa mengantarkan benda-benda ini kepada keluarga mereka.
Karena dia tahu hal kecil seperti ini sangat menghibur keluarga yang ditinggalkan.
Ilmu silat pelajar berbaju putih ternyata betul sangat tinggi, dia membantu Guan Ning menguburkan mayat-mayat itu, sampai tampak matahari mulai tenggelam di barat, menandakan bahwa pekerjaan yang mereka lakukan sangat berat.
Walaupun mereka menguburkan mayat-mayat itu tapi Guan Ning dan pelajar berbaju putih tidak tahu siapa saja nama-nama mereka, dan hal ini sangat menyedihkan.
Mereka diam tanpa berkata-kata karena merasa sangat sedih, tapi hubungan mereka sekarang terasa lebih dekat, walaupun hanya sekedar bertukar pandang tapi mereka mulai saling mengerti.
Persahabatan di antara mereka mulai tumbuh!
Mereka tidak sengaja menginjak genangan darah yang terdapat di jalan kecil itu, mereka kembali ke ruangan besar yang ada di depan Begitu melihat keadaan di sana, hati Guan Ning terasa dingin, karena kaget dia sampai tidak bisa bicara.
Laki-laki berbaju putih itu tampak bingung melihat sorot mata Guan Ning, Guan Ning melihat kursi dan meja sudah tersusun rapi, lukisan terpasang di dinding, pintu ruangan setengah terbuka, kertas jendela berwarna kuning muda, tidak tampak ada keanehan, laki-laki berbaju putih itu merasa aneh melihat Guan Ning hanya diam membeku.
Karena sekarang dia kehilangan ingatan, kalau dia masih ingat dengan peristiwa yang dulu tentunya diapun akan merasa lebih kaget lagi dibandingkan dengan Guan Ning.
Ternyata benda-benda yang ada di atas meja yang,pertama kali dilihat oleh Guan Ning sudah tidak ada, begitu pula dengan 17 cangkir teh.
Hati Guan Ning diliputi olefa banyak pertanyaan, dia hanya berdiri dengan diam dan bengong melihat semua yang terjadi di ruangan itu.
Lalu dia berpikir.
"Siapa yang telah mengambil cangkir-cangkir itu? Mengapa orang itu mengambilnya? Apakah di dalam cangkir teh itu tersimpan rahasia yang tidak boleh diketahui orang lain?"
Pertanyaan itu terus berkutat di otaknya, Guan Ning sadar dengan cara apapun dia berusaha mencari jawabannya, tetap tidak akan mendapatkannya.
Karena itu dia berjalan keluar dari ruangan itu.
Di dalam ruangan itu tampak ada mayat, Guan Ning melihat laki-laki itu dan mereka tertawa kecut, kemudian merekapun memindahkan mayat-mayat itu ke kamar kosong.
Guan Ning berkata dengan suara kecil.
"Apakah di kamar lain ada orangnya?"
"Tadi aku sudah memeriksa kamar-kamar yang ada di sini, selain kita tidak ada orang lain lagi,"
Jawab laki-laki itu.
Harapan Guan Ning pupus lagi.
Keluar dari pintu bercap hitam, Guan Ning melihat ke sekelilingnya.
Tampak padi yang baru ditanam dan keadaannya masih tetap seperti tadi hanya saja orang yang telah menanam padi itu tidak bisa menunggu padinya bertumbuh.
Tiba-tiba terdengar suara jernih mengikuti arah angin, mereka berdua terkejut dan segera menaiki tangga untuk melihat, tampak di seberang jurang berdiri seorang gadis berbaju hijau, tangan kirinya memegang sebuah lonceng sebesar kepalan tangan, dia terus menggoyang-goyangkan lonceng itu, tangan kanannya membereskan rambutnya yang berantakan, matanya terus melihat atap rumah ini.
"Aneh, mengapa lampu-lampu yang telah terbakar masih terpasang di tempat yang sama, bukankah pelayan-pelayan yang ada di sini semua sudah mati?"
Tanya gadis itu penuh dengan kecurigaan.
Di bawah sinar matahari tampak rambut gadis itu panjang, dan kecantikannya seperti bunga, pinggang yang kecil, hanya selebar dua telapak tangan orang dewasa, suaranya merdu seperti kicauan burung nuri, sangat enak didengar.
Melihat keadaan itu, Guan Ning merasa terkejut, dalam waktu satu malam dia selalu menemukan hal misterius, kejam, dan menyedihkan, sekarang dia melihat seorang gadis muncul di gunung terpencil seperti ini, apakah dia harus merasa kaget atau aneh?
Tapi wajah laki-laki berbaju putih itu tampak biasa-biasa saja, setelah mengalami goncangan berat dan kehilangan ingatan, perubahan perasaan yang terjadi pada dirinya tidak sama seperti orang lain.
Segera Guan Ning berlari ke jembatan dan ingin bertanya pada gadis berbaju hijau, dia ingin menanyakan dari mana datangnya gadis itu.
Baru saja dia berjalan, tampak gadis itu mulai menyeberangi jembatan kecil itu, dan dia sudah berada di depan Guan Ning, dia menggoyangkan lonceng emasnya dan berkata.
"Minggir kau!"
Lebar jembatan itu hanya 1 kaki lebih, di bawah jembatan adalah jurang terjal, tidak ada tempat untuk dua orang. Guan Ning terpaku.
"Mengapa gadis ini begitu galak? Aku lebih dulu menyeberang, seharusnya aku yang lewat dulu, mengapa sekarang dia menyuruhku minggir, apakah dia adalah tuan rumah itu?"
Tampak gadis itu mulai marah.
"Apakah kau tuli? Aku menyuruhmu minggir!"
Gadis berbaju hijau itu menunjuk Guan Ning dengan jarinya yang lentik.
"Mundur kembali ke tempatmu tadi-kau sudah dewasa, apakah kau tidak mengerti dengan aturan ini?"
Guan Ning terpaku, dalam hati dia berpikir.
"Gadis ini begitu cantik, tapi sekali bicara sangat galak dan tidak masuk akal."
Guan Ning merasa sangat marah, dia ingin balas membantak, tapi jari gadis itu telah menunjuk hidungnya.
Dia lahir dari keluarga pelajar, seumur hidupnya kecuali keluarganya, belum pernah dia bicara dengan perempuan, sekarang ada gadis di hadapannya, dia mencium bau harum seorang gadis, walaupun dia marah tapi dia berpikir.
"Untuk apa aku ribut dengan perempuan ini?"
Pelan-pelan dia membalikkan badan dan berjalan ke tempatnya tadi, tampak laki-laki berbaju putih itu seperti sedang menertawakan dirinya.
Gadis berbaju hijau itu tersenyum, dari sorot matanya tampak kalau dia merasa senang, satu tangannya menggoyangkan lonceng, lalu dia berkata.
"Apakah orang-orang yang ada di sini tuli semua? Mendengar suara lonceng ini tidak seorangpun yang menyambut Shen Jian Niang Niang (Nyonya berpedang sakti)?"
Guan Ning berpikir.
"Siapa yang disebut Shen Jian Niang Niang? Apakah diapun adalah orang dunia persilatan yang diundang oleh tuan rumah di sini? Mungkin karena terlambat datang ke sini dia bisa terhindar dari bencana ini?"
Dia berpikir lagi.
"Gadis ini pasti tahu mengapa tuan rumah ini mengundang orang-orang dunia persilatan datang ke sini, dan mungkin juga dia tahu siapa laki-laki berbaju putih itu."
Terpikirkan hal ini diapun bertanya kepada gadis itu.
"Yang mana Shen Jian Niang Niang? Apakah aku boleh-"
Ucapan Guan Ning belum selesai, gadis berbaju hijau itu suda menyela.
"Siapa Shen Jian Niang Niang? Kau ternyata tidak tahu-"
Dia menunjuk hidungnya sendiri dan berkata lagi.
"Shen Jian Niang Niang berada di depanmu, aku katakan kepadamu, nona ini adalah Shen Jian Niang Niang."
Guan Ning terpaku, kalau bukan karena banyak urusan mungkin sejak tadi dia sudah tertawa.
Umur gadis itu paling-paling hanya 17-18 tahun, masih tampak polos, tapi dia menamakan dirinya sendiri Shen Jian Niang Niang, benar-benar kurang ajar.
Tapi melihat gadis itu sangat serius, sepertinya namanya memang seperti itu, tangannya terus membunyikan lonceng, dan dia melihat laki-laki berbaju putih itu, lalu melihat Guan Ning.
"Siapa kau? Cepat beritahu nyonya rumahmu, bahwa Shen Jian Niang Niang sudah datang dari Huang Shan, sengaja datang ke sini untuk melakukan kunjungan. Tidak disangka Wisma Si Ming yang sangat terkenal tidak tahu sopan santun, menyuruh seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa menyambut kedatangan tamu."
Guan Ning melihat gadis itu berdiri dengan tegak sambil menatap langit, benar-benar seperti seseorang yang sudah tua, dia ingin tertawa tapi juga ingin memarahi gadis ini, diam-diam dia berpikir lagi.
"Ternyata di sini adalah wisma yang sangat terkenal di dunia persilatan, mungkin karena aku jarang berkenalan dengan orang di dunia persilatan, sampai-sampai tidak tahu ada wisma yang bernama Wisma Si Ming, juga tidak mengenal ketua pemimpin wisma ini--siapakah pemimpin wisma ini?"
"Siapakah nyonya wisma ini?"
Guan Ning bertanya. Dia belum selesai bicara, gadis itu dengan kaget berseru.
"Apa! Kau tidak mengenal suami istri pemimpin Wisma Si Ming yang berbaju merah? Sekarang aku tanya, siapa dirimu yang sebenarnya? Kau harus tahu kalau kau memasuki Wisma Si Ming tanpa ijin, kau harus siap-siap kehilangan nyawamu!"
Mata Guan Ning tampak berputar dan berpikir.
"Ternyata sepasang laki-laki dan perempuan berbaju merah yang cantik dan tampan itu adalah pemimpin Wisma Si Ming-mereka adalah sepasang pendekar yang terkenal, tapi sayangnya mereka berdua sudah meninggal."
Sikap Guan Ning selalu kasihan kepada orang lain, walaupun dia tidak mengenal suami istri pemimpin Wisma Si Ming tapi dia tetap merasa sedih, kemudian dia berpikir.
"Kelihatannya gadis ini dan pemimpin Wisma Si Ming mempunyai hubungan teman, kalau dia tahu mreka mati terbunuh, mungkin dia akan merasa sangat sedih."
Guan Ning menghela nafas panjang.
"Ada keperluan apa Nona mencari nyonya Wisma Si Ming? Apakah Nona dan beliau bersahabat? Tapi-"
Ucapan Guan Ning baru separuh dikatakan, gadis itu sudah marah dan berkata.
"Kau sama sekali tidak mengenal mereka tapi kau malah bertanya kepadaku ada keperluan apa mencari mereka, benar-benar tidak dewasa!"
Guan Ning memandang gadis yang disebut-sebut sebagai Shen Jian Niang Niang, dia ingin marah tapi juga ingin tertawa, dia berpikir.
"Gadis ini menyebut dirinya sebagai Shen Jian Niang Niang, ilmu silatnya pasti sangat tinggi, walaupun begitu tapi dia tetap seorang perempuan, melihat keadaan wisma yang penuh dengan darah dan mayat yang bertumpuk, apalagi kalau dia melihat ke pekarangan, dia akan terkejut melihat keadaan yang begitu menyeramkan."
Karena itu Guan Ning berteriak.
"Nona, jangan pergi dulu!"
Nona berbaju hijau itu berhenti melangkah dan membalikkan badannya, dengan sepasang mata yang bening seperti air, dia menatap Guan Ning, tiba-tiba dia maju beberapa langkah sambil menarik nafas, dia berkata.
"Aku tidak mengenalmu, sejak tadi aku sudah bicara denganmu beberapa kata dan itu sudah cukup, kalau kau ingin terus bicara, awas, aku bisa membunuhmu!"
Maksudnya tidak lain adalah Guan Ning hanya seorang pemuda asing baginya dia tidak mau bicara panjang lebar dengan Guan Ning.
Guan Ning sebagai seorang pemuda pintar dia tahu apa yang dimaksud dengan gadis itu, Guan Ning benar-benar marah dan berpikir.
"Mengapa gadis ini begitu galak? Sama sekali tidak tampak kelembutan seorang perempuan, kalau aku menikah dengan perempuan semacam ini, bisa-bisa hidupku akan tersiksa selamanya."
"Memang kita sama sekali tidak saling kenal, dan akupun tidak bermaksud ingin bicara terus dengan Nona."
Dia melihat gadis itu yang tampak sudah mengangkat alisnya, tampak dia sama sekali tidak menyangka kalau pemuda itu bisa bicara tidak sopan kepadanya.
Guan Ning merasa sangat puas, dia merasa senang karena telah membalas penghinaan nona itu tadi, dengan sikap angkuh kembali dia berkata.
"Nona sudah datang ke sini dengan tujuan untuk mengunjungi suami istri pemimpin Wisma Si Ming, aku akan memberi tahu kepada Nona, Nona datang terlambati" (Oo-dwkz-lav-oO) BAB 2 . Lengan baju hijau dan putih Gadis berbaju hijau itu tadinya sangat marah, sekarang dia tampak berubah, matanya yang bercahaya tampak melotot.
"Kau tadi mengatakan apa?"
Tanyanya dengan aneh.
Tadinya Guan Ning ingin membalas kesombongan gadis dengan sikap yang sama, tapi setelah dipikir-pikir lagi, tidak baik jika kabar kematian dijadikan bahan untuk membalas dendam.
Karena itu dia merasa menyesal mempunyai pikiran seperti tadi.
"Bagaimanapun juga aku adalah seorang laki-laki dan dia hanya seorang perempuan, tidak boleh berpandangan sama dengannya."
Segera Guan Ning menjawab.
"Suami istri Wisma Si Ming sudah meninggal, kalau Nona...."
Kata-katanya belum selesai, gadis yang berdiri di tangga itu sekarang sudah berada di depannya' dan berteriak.
"Apakah benar kata-katamu?"
Guan Ning merasa matanya tidak sempat berkedip tapi dia tidak melihat dengan cara apa gadis itu begitu cepat berjalan ke arahnya, rupanya ilmu meringankan tubuhnya sangat tinggi dan melebihi kemampuan Guan Ning beberapa kali lipat.
Dia merasa malu, dia benar-benar merasa dirinya tidak berguna.
Gadis itu melihat sikap Guan Ning yang tiba-tiba menjadi bengong, dia mendesak lagi.
"Apakah kata-katamu benar? Apakah kau dengar pertanyaanku tadi?"
Guan Ning menenangkan dirinya.
"Walaupun aku bukan orang berbakat, tapi aku tidak akan menjadikan kematian orang lain dijadikan sebagai bahan gurauan,"
Kata Guan Ling dengan alis terangkat.
"Apakah kau melihat sendiri suami istri Wisma Si Ming sudah meninggal?"
"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri suami istri Wisma Si Ming sudah meninggal dan aku sendiri yang menguburkan mereka-"
Dia melihat gadis itu kaget dan terpana kepadanya, alisnya tampak berkerut sepertinya dia sangat sedih. Guan Ning menarik nafas.
"Orang yang sudah mati tidak bisa hidup kembali, jika Nona adalah teman mereka, aku harap Nona bisa menahan kesedihan."
Walaupun Guan Ning bersifat angkuh, tapi sebenarnya dia orang yang baik, dia tidak menyukai sikap gadis yang menamakan dirinya Shen Jiang Niang Niang, tapi dia berusaha untuk menasehati dan menghiburnya.
Terlihat gadis itu menundukkan kepala sambil memainkan bajunya.
Dia bertanya dengan suara kecil.
"Mengapa suami istri Wisma Si Ming bisa mati secara bersamaan? benar-benar peristiwa yang aneh. Apakah kau melihat bagaimana mereka bisa mati?"
"Suami istri Wisma Si Ming mati dengan mengenaskan, mereka dipukul di bagian kepala dan mati di pondokan yang ada di belakang wisma."
Dengan kaget gadis itu bertanya.
"Apakah suami istri Wisma Si Ming secara bersamaan dipukul hingga mati oleh satu orang?"
Guan Ning mengangguk, terlihat mata gadis itu berubah, dengan galak dia berkata.
"Kau tidak kenal dengan pemimpin Wisma Si Ming, tapi sekarang kau sendiri yang mengatakan kalau kau sudah menguburkan mereka dan mengatakan kalau mereka mati karena dipukul dengan telapak tangan seseorang-apa maksudmu? Apakah kau ingin berbohong!"
Tiba-tiba tangan gadis itu memegang sebilah pedang pendek yang tampak berkilau, pedang itu terlihat mengeluarkan hawa dingin. Gadis itu menunjuk Guan Ning dengan pedangnya dan membentak.
"Siapa kau sebenarnya! Apa maksudmu datang kemari? Lebih baik kau ceritakan semuanya kepadaku! Hei-jangan kira aku mudah dibohongi!"
Pedang itu mulai mendekati wajahnya. Rasa dingin pedang itu membuat urat syaraf di wajahnya bergerak-gerak. Tapi Guan Ning tetap membusungkan dadanya dan tidak mundur selangkahpun.
"Kata-kata yang kukatakan tadi semuanya adalah kejadian sebenarnya, aku tidak berbohong kepadamu, jika Nona tidak percaya, aku tidak memaksa, Nona boleh melihatnya sendiri."
Dia membalikkan badan dan bersiap-siap akan pergi.
Tapi gadis itu membentak dan pedangnya yang berkilau sudah terarah ke tenggorokan Guan Ning.
Guan Ning sangat terkejut.
Dia berusaha menghindar ke belakang supaya dia bisa melarikan diri.
Dia belajar ilmu pedang selama 3 tahun, walaupun belajar bukan pada seorang guru yang terkenal, tapi karena pada dasarnya, dia sangat berbakat dengan dasar ilmu silat yang lumayan kuat, begitu dia lari dia bisa mencapai 5 kaki jauhnya.
Guan Ning tadi berlari supaya bisa menghindari serangan pedang gadis itu, sekarang dia tidak bisa lagi mengubah posisi tubuhnya karena dia telah menjadi mati langkah, kilauan pedang tepat mengarah di tenggorokannya, dia merasa cahaya pedang yang berwarna merah membuatnya tidak bisa menghindar lagi.
Laki-laki berbaju putih dari tadi terus berdiri di sana dan tidak bicara sedikitpun, diapun tidak bergerak sama sekali, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun, sepertinya apa yang terjadi di dunia ini sudah tidak ada hubungan dengannya.
Guan Ning merasa kilauan pedang itu datang dengan cepat seperti kilat, diapun sadar hanya dalam satu kedipan mata, dia akan mati tertusuk pedang itu, walaupun sifatnya terbuka, tapi begitu terpikir dia akan mati, di dalam dadanya timbul perasaan sedih yang tidak bisa dikatakan, kilauan pedang yang datang seperti kilat itu, tiba-tiba berhenti di tengah-tengah.
Guan Ning merasa tenggorokan ada hawa dingin.
Dia menarik nafas.
"Maut sudah menjemputku."
Anehnya ujung pedang itu ternyata ditarik kembali, urat Guan Ning yang tadinya kencang sekarang mengendur kembali, dia merasa aneh dan tidak mengerti apa maksud gadis itu.
Terlihat gadis itu dengan satu tangannya memegang pedang, sedangkan tangan yang lain tampak mengepal, kedua tangannya sama-sama berhenti di tengah udara, lama tidak diturunkan, dengan wajah penuh keanehan dia melihat Guan Ning, kemudian pelan-pelan berkata.
"Apakah hanya dengan kemampuan seperti ini, kau berani masuk ke Wisma Si Ming untuk mengacaukan keadaan?"
Dia berhenti bicara tapi matanya terus melihat Guan Ning, dia seperti setengah percaya kepada kata-kata Guan Ning tadi.
Guan Ning menegakkan dadanya, perasaan malu dan kesal semakin mengental di dalam rongga dadanya.
Dari kata-kata gadis itu, dia tahu kalau gadis itu tidak berniat membunuhnya karena dia sudah melihat kemampuan ilmu silat Guan Ning yang lebih rendah darinya, perlakuan seperti ini bagi orang yang bersifat tinggi dan keras merupakan penghinaan besar.
Guan Ning melihat sikap gadis itu, dia kesal, mengapa dia tidak jadi mati di bawah pedang gadis itu.
Sekarang hatinya benar-benar merasa tidak enak, menangispun rasanya sulit.
Pelan-pelan dia berkata.
"Aku bukan orang dunia persilatan, lebih-lebih aku tidak mempunyai dendam dengan pemimpin Wisma Si Ming. Aku bukan orang yang seperti Nona pikirkan, aku tidak bisa dengan sadis membunuh orang. Tadi...."
Gadis itu terus melihatnya, seperti tidak mendengar apa yang dikatakannya sejak tadi. Guan Ning merasa malu dan marah.
"Tadinya aku berniat berteduh dari hujan. Begitu memasuki wisma, aku baru tahu kalau di sini penuh dengan gelimpangan mayat, walaupun aku tidak mengenal mereka, tapi aku tidak tega melihat mayat-mayat itu kehujanan atau terkena angin, maka aku memutuskan untuk mengubur mereka terlebih dulu-"
Dia berhenti sejenak, terlihat gadis itu dengan teliti mendengarkan semua penjelasannya. Guan Ning berkata lagi.
"Aku tidak tahu apakah di antara mayat-mayat itu ada pemimpin wisma ini, akupun tidak tahu siapa pemimpin Wisma Si Ming? Maka pada saat Nona bertanya kepadaku, aku benar-benar tidak tahu."
Sorot mata gadis itu mulai terlihat melembut. Terdengar Guan Ning berkata lagi.
"Kemudian ketika Nona berkata bahwa orang berbaju merah dari Wisma Si Ming, aku baru ingat kalau di antara mayat-mayat itu terdapat orang yang mengenakan baju merah, aku tidak tahu apa alasan Nona mengunjungi mereka, tapi aku menebak kalau Nona pasti mengenal mereka, aku takut setelah mendengar bagaimana cara mereka mati, Nona akan-"
Gadis itu menarik nafas.
"Sebenarnya akupun tidak mengenal suami istri Wisma Si Ming, aku datang kemari hanya untuk mencari mereka dan mengajak mereka bertarung."
Sekarang dia tahu kalau pemuda ini tidak berbohong kepadanya, karena dari pandangan mata pemuda ini dia telah mendapatkan jawaban yang membuatnya percaya, orang yang mempunyai sorot mata jujur jarang bisa membohongi orang lain.
Gadis itu merasa sedikit menyesal karena telah melontarkan kata-kata pedas kepada pemuda ini, sekarang sikapnya berobah mulai membaik dan juga melembut.
Guan Ning ingin mengatakan sesuatu tapi gadis itu sudah berkata sambil menarik nafas.
"Tidak disangka dia mati dengan cara seperti itu. hehh-"
Dia menarik nafas karena merasa sedih dan juga menyayangkan.
"Sampai sekarang orang dunia persilatan hanya tahu kalau di antara pendekar-pendekar perempuan ada yang disebut Hong Fen San Chi (Tiga dewi perempuan). Tapi kesempatanku bertarung dengannya sekarang sudah tidak ada lagi. Aku benar-benar sial, sudah mengelilingi Jiang Nan, tidak satu orangpun yang kutemukan, aku sengaja datang ke Si Ming Shan Zhuang (Wisma Si Ming) berharap mengajaknya bertarung. Ternyata-"
Dia menarik nafas lagi, dia merasa sedih dan menyayangkan, bukan karena kematian nyonya Wisma Si Ming melainkan karena nyonya wisma matinya terlalu cepat, dia merasa sedikit terkejut.
Dalam hidup Guan Ning, dia tidak pernah bertemu dengan seorang perempuan begini aneh.
kelihatan kecuali dirinya, gadis ini tidak pernah memikirkan kepentingan orang lain.
Tampak gadis itu tersenyum.
Dia memasukkan pedang pendek itu ke dalam sarungnya dan berkata kepada Guan Ning.
"Ilmu silatmu terlalu rendah, kau pasti tidak akan mengerti bagaimana perasaanku, perlu kau ketahui-"
Guan Ning merasa marah, dia menyela kata-katanya.
"Aku tahu ilmu silatku tidak bisa menandingi Nona. Kemampuan ilmu silat yang tinggi atau rendah, sama sekali tidak ada hubungannya dengan martabat dan kedudukan seseorang, walaupun ilmu silatku rendah, tapi aku bukan orang yang mudah dihina begitu saja."
Guan Ning berhenti sejenak, gadis itu terkejut, sejak kecil dia selalu dimanja dan disayang, dalam pikirannya hanya ada kepentingan dirinya, tidak ada orang lain, kalau ada orang tidak menghormati dirinya, dia akan menganggap bahwa orang itu telah berdosa besar kepadanya.
Tapi jika giliran dia menghina orang lain, dia menganggap itu memang pantas, belum pernah ada seorangpun yang berani membantahnya.
Maka setelah mendengar kata-kata Guan Ning, dia merasa aneh.
Guan Ning berkata lagi.
"Kata-kataku tadi bukan untuk menjelaskan perasaanku kepada Nona. Nona harus tahu kalau aku tidak suka berbohong, kau boleh percaya boleh tidak kepada kata-kataku tadi, semua terserah Nona."
Suara Guan Ning sangat rendah dan pelan tapi semua kata-katanya berat seperti beribu-ribu kilogram batu.
Nada dan logatnya keras, seumur hidupnya gadis itu belum pernah mendengar perkataan seperti ini, dia menjadi terpaku dan tidak bisa berkata apapun.
Guan Ning baru selesai bicara, tangan yang memegang pedang itu tiba-tiba dibalikkan, dengan posisi horisontal dia siap memotong ke lehernya dirinya.
Gadis berbaju hijau itu merasa kaget dan dia berteriak, dengan kecepatan seperti kilat dia berlari ke arah Guan Ning, walaupun gerakannya sangat cepat tapi sudah terlambat.
Guan Ning akan mati dengan darah memuncrat.
Tapi begitu pedang sedikit lagi mengenai tenggorokannya, tiba-tiba di sisinya terlihat bayangan putih berkelebat kemudian siku tangannya terasa kaku, tangannya menjadi tidak bisa digerakkan lagi, gadis itu datang dan langsung memegang pergelangan tangan Guan Ning.
Pemuda angkuh ini ingin mencuci penghinaan terhadapnya dengan cara mengucurkan darahnya tapi hal itu tidak bisa dilakukannya.
Pedang yang dipegang Guan Ning terjatuh begitu saja, pegangan pedang mengenai batu yang ada di bawah dan mutiara yang terdapat di permukaan pedang itu terjatuh dan menggelinding masuk ke dalam jurang.
Guan Ning membuka matanya, yang pertama-tama dilihatnya adalah mata gadis yang bersinar-sinar, dia memandangnya dengan sorot mata aneh dan tidak mengerti.
Guan Ning merasa siku tangannya kaku, rasa itu menyebar ke semua bagian tangannya, tapi dengan sebentar kemudian menghilang.
Kemudian dia merasa pergelangan tangannya dipegang oleh sebuah tangan yang hangat juga lembut, perasaan ini merambat melewati pergelangan dan-menyebar ke seluruh tubuhnya.
Mereka saling mmandang.
Guan Ning dengan sedih berkata.
"Untuk apa kau menolongku?"
Pemuda yang dalam hidupnya tidak pernah dihina itu, perasaannya benar-benar terpukul, dalam satu hari dia sudah mengalami berbagai macam cobaan....
Takut, bingung, aneh, putus asa, lapar, dan lelah semua membuat harga diri dan kepercayaan dirinya tersiksa dan terpukul.
Begitu gadis itu menghina, hatinya yang lemah sudah tidak bisa menanggung beban beratnya.
Sekarang dia masih bingung di tempatnya, pikirannya buntu dan tidak bisa berpikir jauh.
Dia berusaha memberontak, melepaskan pergelangan tangannya dari pegangan gadis itu tapi dia masih merasa lemas, rasa itu membuatnya malas bergerak.
Gadis itu merasa masih memegang tangan Guan Ning, wajahnya langsung menjadi merah.
Segera dia melepaskan tangan Guan Ning dan dia menurunkan tangannya....
Terdengar suara dingin yang berkata dengan perlahan.
"Mengapa tiba-tiba kau ingin mati? Kau tidak boleh mati karena kau telah berjanji kepadaku, dan janji itu belum terlaksana."
Guan Ning membalikkan kepalanya, dia tahu sikunya kaku karena laki-laki berbaju putih itu telah menotoknya, dia tahu kalau laki-laki berbaju putih itu adalah seorang pesilat berilmu tinggi karena itu Guan Ning tidak merasa aneh.
Sekarang gadis itu baru sadar selain pemuda itu ternyata masih ada orang ketiga di sana, dengan aneh dia bertanya kepada dirinya sendiri.
"Mengapa tadi aku tidak memperhatikannya?"
Karena itu wajah yang tadinya sudah merah sekarang bertambah merah lagi.
Dia merasa sejak pandangan i pertama dan dimulainya pembicaraan dengan pemuda ini, di dalam hatinya timbul perasan aneh.
Perasaan ini belum pernah dia rasakan sebelumnya, karena itu dia merasa sangat terkejut dengan perasaan hatinya.
Dengan segala keangkuhan dan kesadisannya, dia pura-pura menutupi perasaannya tapi sekarang dia tahu kalau semua caranya sudah gagal.
Dengan kesal dia melihat laki-laki berbaju putih itu, dia melihat ada sesuatu yang lebih aneh lagi.
Wajah laki-laki berbaju putih itu seperti ada yang kurang beres, bentuk wajahnya begitu jelas, wajahnya tampan seperti diukir tapi ada suatu .
kekurangan yang membuat wajahnya terlihat dingin dan masa bodoh.
Karena itu sepasang mata gadis yang bercahaya itu terus melihat bajunya kemudian baru dia berteriak.
"Orang ini sama sekali tidak berperasaan sebagai manusia!"
Dia mencabut pedangnya, secepat kilat berlari ke arah Guan Ning. Walaupun jarak antara gadis itu dan Guan Ning sangat dekat, tapi dia tetap terlambat satu langkah dari laki-laki itu.
"Siapa orang itu sebenarnya? Ilmu silatnya begitu tinggi tapi sikapnya seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa."
Gadis itu dengan bingung melihat laki-laki berbaju putih lalu melihat Guan Ning.
Sorot mata Guan Ning melihat ke bawah dengan bengong, di bawah tergeletak pedang panjangnya, sinar matahari menyinari pedang dan mengeluarkan sinar berwarna.
Seharusnya pagi hari adalah dimulainya hari terang dan dilewati dengan bersemangat tapi ketiga orang yang berada di bawah siraman sinar matahari itu seperti 3 patung batu, diam, dan tidak bicara apapun.
Awan putih, langit biru, orang yang terdiam seperti batu.
Tiba-tiba-Terlihat ada dua bayangan orang berwarna abu tua memasuki semak-semak rumah batu itu, kemudian ada senjata yang terbawa angin dengan cepat meluncur menyerang mereka.
Di bawah matahari setiap suara angin membawa titik hitam.
Wajah gadis itu segera berubah, walaupun pikiran kacau tapi dari pengalamannya selama ini, dia langsung mengetahui ada 9 senjata rahasia yang menyerang pada ketujuh titik nadi.
Walaupun sebelumnya dia pernah melihat senjata rahasia ini tapi dari suara angin yang tajam dan menderu, dia tahu kalau senjata rahasia itu berbentuk kecil dan orang yang menembak mempunyai tenaga dalam yang kuat.
Mereka pasti termasuk pesilat tangguh di dunia persilatan.
Pikiran itu baru saja melintas dalam otaknya, dia sudah merasa sangat kaget, segera dia meloncat seperti asap hijau naik ke atas langit.
Senjata rahasia itu menuju ke arah Guan Ning dan lelaki berbaju putih yang masih bengong itu.
Gadis berbaju hijau itu meloncat ke atas.
Dia tahu Guan Ning tidak akan bisa menahan senjata rahasia itu tapi sekarang dia sudah ada di atas, walaupun dia turun dengan kecepatan tinggi rasanya sudah tidak sempat untuk membantu Guan Ning menahan serangan senjata-senjata yang datang seperti hujan.
Dia berteriak....
Tiba-tiba dia melihat Laki-laki berbaju putih itu dengan ujung matanya, tampak dia tertawa dingin, lengan bajunya melambai.
Gadis itu merasa ada angin kencang melewati kakinya dan puluhan macam senjata rahasia itu mengikuti angin kencang ini dan berjatuhan.
Waktu itu, pasir dan batu tampak beterbangan, gadis itu tampak berputar di udara, dia melihat di balik semak-semak rumah batu ada dua bayangan orang yang sedang melayang ke atas seperti 2 ekor bangau berwarna abu-abu, terbang melalui sisi jurang.
Guan Ning masih bingung melihat apa yang terjadi barusan, tampak peristiwa ini seperti tidak ada hubungan sama sekali dengannya, dia sudah tidak peduli dengan hidup dan matinya lagi.
Dalam hati pemuda angkuh ini merasa malu, untuk menghindari senjata rahasia itu saja dia tidak mampu.
Dia menarik nafas putus asa, dari jauh terlihat gadis itu sudah turun, tapi segera meloncat lagi, tampak dia sedang mengejar dua bayangan berwarna abu-abu itu.
Laki-laki berbaju putih itu dengan pandangan kosong melihat ke depan, tampaknya dia tidak melihat ada 2 bayangan abu-abu di balik semak-semak, dia juga tidak perduli dengan gadis yang sedang mengejar 2 bayangan itu.
Begitu gadis itu sudah berada di tempat jauh, wajahnya baru terlihat ada sedikit perubahan.
Tiba-tiba dia melambaikan lengan bajunya, tubuhnya yang kurus seperti panah meluncur ke depan.
Di bawah sinar matahari yang berkilau, bayangan putih seperti asap berlari sejauh 20-30 kilometer.
Hanya dalam waktu singkat 2 bayangan itu sudah menghilang di balik semak-semak.
Begitu melihat bayangan mereka sudah menghilang, Guan Ning terus bertanya kepada dirinya sendiri.
"Guan Ning, Guan Ning, apa yang sudah kau lakukan dalam waktu satu malam? Kau mendapat banyak persoalan yang membingungkanmu juga mendapat penghinaan besar dalam hidupmu. Nang Er yang lucupun demi dirimu sudah kehilangan nyawanya, siapa yang bersalah dalam hal ini?"
Dia menatap langit.
Langit bersih seperti baru saja dicuci, kadang-kadang terlihat awan putih yang melintas tapi dalam waktu singkat sudah menghilang.
Guan Ning berharap kesulitannya juga bisa menghilang secepat awan putih itu, hanya lewat lalu menghilang.
"Tapi semua yang terjadi begitu jelas mengukir di dalam hatiku, mana mungkin aku dengan cepat bisa melupakannya?"
Tarikan nafas yang panjang, mata yang redup melihat sekeliling tempat itu, hutan masih seperti dulu, rumah batu, jurang masih tetap seperti dulu.
Tapi perubahan yang terjadi begitu besar, benar-benar tidak terbayangkan oleh siapapun.
Sampai kemarin malam dia masih tercatat sebagai pelajar yang riang dan tidak tahu apa yang disebut dengan kesedihan.
Dia bertamasya dengan riangnya, begitu keinginan hatinya datang, dia akan membuat puisi-puisi yang indah.
Bertemu dengan penebang kayu, dia akan berhenti dan mengobrol dengan mereka, hatinya selalu merasa tentram.
Tentram dan santai seperti awan dan bangau.
Tapi sekarang hatinya tidak merasa tentram lagi.
Pendekar-pendekar yang mati di Wisma Si Ming sebenarnya tidak ada hubungan dengannya sama sekali tapi sekarang dia sudah masuk ke dalam pusaran ini.
Apalagi dia sudah bertekad akan mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi?
Dan dalam hidupnya selama ini, dia jarang mengubah keputusan yang sudah diambilnya.
Tapi persoalan ini sangat sulit baginya, dia sadar dari segi pengalaman atau ilmu silat, dia sangat kurang, dan keinginannya untuk berkelana di dunia persilatan tentunya akan sulit baginya, apalagi bila sampai dia ingin mencari tahu tentang hal-hal misterius ini, tentunya itu akan lebih sulit lagi, ditambah lagi dengan identitas mayat-mayat itu, dia belum tahu sama sekali.
Masih terngiang tawa penghinaan gadis itu dan sorot matanya yang terus melihatnya.
Kata-kata penghinaan itu membuatnya teringat selalu dan sulit untuk dilupakan.
Karena itu dia menjadi kehilangan arah.
Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang?
Laki-laki berbaju putih yang misterius itu, gadis berbaju hijau yang kelihatan galak ternyata sudah meninggalkannya.
Dia tahu kalau mengejar mereka benar-benar akan sulit, seperti memanjat ke atas langit.
"Apakah aku harus menunggu mereka di sini?"
Karena itu dia membalikkan badannya dan berjalan ke jembatan kecil, lalu dengan hati-hati dia mulai menyeberang. Diam-diam dia berkata pada dirinya.
"Persoalan ini begitu misterius dan rumit, mengandung dendam dan permusuhan dunia persilatan. Bila hanya mengandalkan tenagaku sendiri, selamanya aku tidak akan bisa mengetahui peristiwa yang sebenarnya, apalagi persoalan ini tidak ada hubungannya denganku. Kelak jika ada kesempatan aku baru akan mencari tahu, lebih baik sekarang aku melupakan dulu semua peristiwa ini."
Tapi peristiwa ini seperti sehelai benang laba-laba yang melilit di dalam otaknya.
Walaupun ingin dibuang tapi tetap saja tidak bisa.
Dengan langkah berat dia berjalan kembali ke jalan yang kemarin dia pernah lalui ke Wisma Si Hui.
Dia berpikir.
"Tidak lama lagi aku bisa turun gunung dan aku akan bertemu dengan orang-orang normal lagi, aku bisa melupakan semua peristiwa yang sudah terjadi di sini."
Tapi-Di belokan jalan gunung itu tiba-tiba terdengar suara TUK, TUK, TUK yang sangat aneh, seperti uang logam yang beradu, juga seperti kayu dan batu saling memukul, suara keras itu terdengar di telinganya.
Matahari masih bersinar dengan terang, angin pagi berhembus seperti biasa, langit terang dan awan berwarna putih, mendengar suara itu, Guan Ning segera menghampiri bunyi itu.
Baru saja dia mengangkat kakinya untuk melangkah, dia kaget bukan kepalang, ternyata kakinya tidak bisa diangkat.
Jurang menutupi matahari yang bersinar dan menjadikan tempat itu menjadi teduh, di tempat teduh itu tiba-tiba "muncul seseorang.
Bajunya compang-camping, sepasang kakinya tidak beralas, kaki itu kurus seperti kayu, rambutnya berantakan seperti rumput liar, hanya sepasang matanya tampak tajam seperti kilat, dia melihat Guan Ning, tapi yang membuat Guan Ning terkejut adalah keadaan pengemis ini, tampak kakinya pincang dan dia membawa sebatang tongkat kayu yang diselipkan di ketiaknya.
Dia masih ingat dengan sangat jelas kondisi mayat pengemis yang ada di Wisma Si Ming, dia ingat tongkat besi yang menancap di tanah, dia juga ingat kalau dia sendiri yang menguburkan mereka dan sewaktu memindahkan mayat pengemis itu, diapun pernah melihat wajahnya yang penuh dengan darah dan jelas-jelas dia melihat semuanya.
"Kalau begitu, siapa yang berdiri di depanku sekarang? Apakah dia adalah...."
Dengan kaget dia bertanya kepada dirinya sendiri juga dengan kaget dia berhenti berpikir. Sepasang mata pengemis pincang itu melihat Guan Ning dari atas ke bawah, tiba-tiba dia tertawa dan berkata.
"Dari mana kau datang?"
Suaranya pelan dan rendah seperti titik air yang terjatuh dari tempat sangat tinggi, masuk ke dalam jurang yang sangat dalam, juga seperti suara tambur yang memukul terus ke dalam jantung.
Guan Ning mengangguk dan menunjuk ke belakang.
Suara pengemis pincang itu seperti tenaga yang tidak bisa ditolak, dia tidak ingat mengapa pengemis yang tidak dikenalnya bisa bertanya seperti itu kepadanya.
Pengemis itu tertawa, seperti berkata.
"Baiklah, baiklah."
Terdengar suara tongkatnya. Pengemis itu berjalan melewati sisi Guan Ning. Guan Ning hanya berdiri dan tidak bergerak, dia melihat sesuatu dan berpikir.
"Betul juga, pengemis ini pincang di sebelah kiri, sedangkan yang satu lagi pincang di sebelah kanan."
Karena alasan itu semua kecurigaan dan rasa terkejutnya langsung menghilang. Dia menghembuskan nafasnya, tapi pertanyaan kedua muncul kembali di kepalanya.
"Mengapa dia bisa begitu mirip dengan pengemis yang sudah mati kemarin. Apakah mereka adalah kakak beradik?"
Kemudian dia berpikir lagi.
"Mungkin dia ingin pergi ke Wisma Si Ming, aku harus memberitahukan kabar duka ini kepadanya, kalau benar mereka adalah kakak beradik, aku akan mengembalikan barang peninggalan pengemis yang sudah mati itu kepadanya."
Pemuda ini lupa pada masalahnya sendiri, dia merasa jika bisa membantu orang lain, ini adalah hal yang sangat menyenangkan, karena itu dia segera membalikkan kepalanya dan melihat jalan yang berada di gunung itu, tapi di jalan itu sudah tidak ada seorangpun, suara tongkat yang datang dari belakang gunung di sebelah sana, hanya dalam waktu sekejap pengemis pincang itu sudah berjalan jauh.
Dengan kaget Guan Ning berteriak, dia merasa semua hal yang ditemukannya benar-benar sangat misterius, jika bukan dengan mata sendiri melihat semuanya, diapun tidak akan percaya.
Dia berdiri dengan bengong dan berpikir.
"Apakah aku harus mengejar pengemis itu? Tapi pengemis itu jalannya sangat cepat, mana mungkin aku bisa mengejarnya?"
Dia pun berpikir lagi.
"Di dalam tas pengemis pincang itu, kecuali ada sedikit barang tidak ada barang lainnya, walaupun aku tidak menyerahkan benda-benda ini kepadanya sepertinya tidak akan menjadi masalah, apalagi dia berjalan sangat cepat, mungkin nanti dia akan kembali lagi, jika nanti aku bertemu dengannya lagi, aku akan menyerahkan semua barangnya kepada pengemis itu."
Karena itu dia memutuskan untuk meneruskan perjalanannya, angin gunung meniup bajunya yang melambai-lambai tertiup.
Guan Ning mulai merasa lelah, walaupun dia bukan pelajar yang lemah, tapi seharian ini dia belum makan dan minum, semua terasa menjadi melelahkan, apalagi gejolak-gejolak yang timbul di dalam hatinya tadi cukup membuat seseorang merasa cepat merasa lelah.
Di belokan jalan gunung itu, dia teringat kalau di sana ada sebuah tempat yang sangat indah, air sungai yang jernih dari sebelah kiri mengalir dengan perlahan.
Suara air mengalir dengan kicauan burung ditambah dengan suara daun-daun yang tertiup angin, benar-benar tersusun menjadi sebuah suara musik yang sangat indah.
Pada pagi hari kau bisa melihat bayangan gunung yang berwarna hijau, di bawah pohon kau mendengarkan musik alam ini, malam hari terlihat sinar bulan dan sinar bintang, di sini malam hari mirip seperti yang dilukiskan oleh para penyair.
Jika kau pernah melewati tempat ini satu kali, maka kau akan selalu teringat selama-lamanya.
Walaupun hati Guan Ning sangat kacau, tapi dia tetap ingat pada tempat itu, dia berharap bisa beristirahat di tempat itu juga berharap bisa berpikir dengan tenang, menyimpan pikirannya sementara dan dia bisa beristirahat di sana sambil mencari jalan untuk menentukan ke arah mana dia harus pergi.
Guan Ning masih muda, dia tidak tahu bahwa perubahan besar dalam hidup bukan dia sendiri yang menentukan mengaturnya.
Baru saja dia melewati belokan di sisi jalan gunung, di bawah pohon terlihat banyak laki-laki berbadan tegap dan membawa pedang, kelihatannya mereka sangat santai tapi dari wajah mereka terlihat kalau mereka sedang merasa cemas juga khawatir, apalagi ada dua laki-laki yang pendek dan gendut berdiri di baris depan, mereka tampak mengerutkan dahi, dengan sorot mata cemas mereka terus melihat ke arah jalan, seperti sedang menunggu seseorang yang tidak kunjung datang.
Segera Guan Ning berpikir.
"Apakah mereka masih ada hubungan dengan peristiwa malam yang terjadi di Wisma Si Ming?"
Kedua laki-laki setengah baya itu berjalan ke arah Guan Ning, sikap mereka sangat hormat tapi juga ragu-ragu, membuat sorot mata mereka terlihat bertambah sedih dan cemas. Guan Ning berpikir.
"Dugaanku mungkin benar, orang-orang itu datang untuk menanyakan tentang peristiwa yang terjadi di Wisma Si Ming."
Tapi dia berpikir lagi.
"Orang-orang ini terlihat sangat kasar, kira-kira jenasah yang mana yang mempunyai hubungan dengan mereka?"
Kedua laki-laki itu sudah sampai di depannya, mereka memberi hormat, lalu Guan Ning membalasnya, mata kedua laki-laki ini berhenti di sarung pedangnya yang kosong yang terselip di pinggang Guan Ning.
Mereka bertanya.
"Apakah Tuan dari Wisma Si Ming?"
Guan Ning mengangguk. Laki-laki yang berada di sebelah kanan berkata.
"Aku adalah Yi Juan dan murid ketujuh generasi Luo Fu Shan. Kedua paman guru kami berangkat ke Wisma Si Ming karena mereka diundang oleh pemimpin Wisma Si Ming, tapi kami tidak berani membawa banyak orang pergi ke Wisma Si Ming karena takut akan mengganggu tuan rumah, harap Tuan memaafkan kami."
Guan Ning baru mengerti.
"Ternyata mereka menganggap aku adalah orang dari Wisma Si Ming, karena itu mereka begitu menghormatiku-baju mereka terlihat mewah dan gagah tapi sepertinya mereka sangat takut pada Wisma Si Ming, dari sini terlihat bahwa Si Ming Hong Pao adalah orang yang kuat."
Karena itu Guan Ning sangat menyayangkan kematian pemimpin Wisma Si Ming. Laki-laki ini mengerutkan dahi melihat sikap Guan Ning, dia tidak mengerti lalu bertanya.
"Kemarin kami diperintahkan oleh kedua paman guru untuk menunggu di kaki gunung, tapi kami sudah menunggu cukup lama, kami tidak melihat paman guru turun ke kaki gunung karena itu kami sengaja datang ke sini. Tapi kami tetap tidak berani masuk ke tempat terlarang itu-yaitu Wisma Si Ming. Apakah Tuan datang dari Wisma Si Ming? Tolong sampaikan kepada paman guru...."
Guan Ning menghembus nafas panjang.
"Siapakah nama paman guru kalian? Apakah kalian bisa beritahuku?"
Laki-laki itu melihat Guan Ning, dia seperti aneh mengapa pemuda itu tidak mengenal nama besar paman guru mereka? Dia bertukar pandang dengan laki-laki gemuk yang ada di sampingnya, kemudian berkata.
"Kami datang dari Luo Fu. Paman guru kami dijuluki oleh orang dunia persilatan sebagai Cai Yi Shuang Jian (Sepasang pedang berbaju kembang). Jika Tuan adalah orang Wisma Si Ming, Tuan pasti sudah bertemu dengan mereka berdua!"
Sikap mereka sangat menghormat tapi kelihatannya mereka mulai sedikit curiga.
Guan Ning terus berpikir, tiba-tiba dia teringat ada jenasah yang sedang memegang pedang panjang.
Walaupun orang itu sudah mati tapi kedua pedang itu dalam posisi bersilang.
Dia segera menepuk dahinya.
"Paman guru kalian pasti 2 orang yang berbaju mewah. Tubuhnya agak gemuk dan dia seperti pesilat pedang setengah baya itu."
Kedua laki-laki itu saling memandang, kecurigaan mereka terus bertambah, ternyata Cai Yi Shuang Jian adalah orang yang sangat terkenal di dunia persilatan.
Semua orang tahu di dalam perkumpulan Luo Fu Pai ada dua orang pesilat pedang yang sangat hebat.
Cara Guan Ning bertanya tadi, dapat diketahui kalau Guan Ning tidak pernah mendengar nama besar kedua paman guru mereka.
Jika dia adalah murid Wisma Si Ming, mana mungkin dia sampai tidak kenal dengan nama Luo Fu Cai Yi?
Mereka melihat kelakuan Guan Ning, seperti tidak menghormati paman guru mereka, mereka mulai curiga dengan identitas Guan Ning.
Apakah dia murid seseorang pesilat tangguh?
Mereka tidak tahu kalau Guan Ning sama sekali bukan orang dunia persilatan, sekalipun nama Luo Fu Cai Yi bertambah hebat, Guan Ning tetap tidak pernah mendengarnya.
"Apakah paman guru kalian adalah dua orang itu?"
Laki-laki yang bernama Yi Juan menjawab.
"Betul!"
"Apakah Tuan adalah orang Wisma Si Ming? siapakah nama Tuan? Kalau bisa, tolong sampaikan kepada paman guru kami...."
Guan Ning memotong kata-katanya.
"Aku bukan orang Wisma Si Ming, tapi aku sangat jelas mengetahui keadaan kedua paman guru kalian...."
Guan Ning tiba-tiba merasa kata-katanya tidak menyambung, dia melihat kedua laki-laki yang dengan cermat mendengar kata-katanya. Dia berhenti sebentar, lalu Guan Ning menarik nafas.
"Paman guru kalian.... aku harap setelah mendengar kabar duka ini, kalian jangan merasa sedih...."
Kedua laki-laki itu kaget dan bertanya.
"Apa yang telah terjadi pada kedua paman guru kami?"
"Paman guru kalian telah dibunuh di Wisma Si Ming, sekarang....! Kalian tidak akan bisa bertemu mereka lagi."
Kedua laki-laki ini seperti tersambar geledek, wajah mereka pucat, dan secara bersamaan berkata.
"Apakah betul semua itu?"
Guan Ning mengangguk.
"Aku sendiri yang melihatnya dan.... jenasah kedua paman guru kalian, aku sendiri yang menguburnya."
Sorot mata kedua laki-laki ini mengeluarkan cahaya seram, mereka melihat Guan Ning, lalu secara bersamaan mereka mencabut pedang.
Cahaya pedang berwarna biru dan dingin saling beradu, dapat diketahui bahwa ilmu silat kedua laki-laki ini cukup tinggi, walaupun bukan jago nomor satu tapi setidaknya mereka adalah pesilat tangguh.
Guan Ning mengerutkan dahi dan berteriak.
"Kalian mau apa!"
Yi Juan membentak.
"Kenapa paman guru kami bisa mati? Mereka mati di tangan siapa? Apakah orang-orang Wisma Si Ming mati semua? Kalau paman guruku benar-benar mati, mengapa kau sendiri yang menguburnya? Siapakah Tuan? kalau kau tidak mengatakan semuanya dengan jujur, jangan salahkan aku kalau aku bertindak!"
Guan Ning benar-benar marah, dia merasa dia selalu membantu orang lain tapi yang dia dapatkan malah balasan dari orang semacam mereka, walaupun dia membantu tanpa imbalan tapi sekarang dia malah mendapatkan balasan yang tidak enak, dia merasa ingin marah.
Melihat cahaya pedang yang berkilauan, dia sama sekali tidak merasa takut, dia malah membusungkan dadanya dan berkata.
"Aku dan kalian tidak saling kenal, lebih-lebih tidak ada permusuhan sebelumnya, untuk apa aku membohongi kalian? Kalau kalian tidak percaya, kalian boleh lihat dengan mata kepala sendiri. Aku beritahu kalian, paman guru kalian sudah mati di Wisma Si Ming, tidak ada seorangpun yang masih hidup di sana, walaupun aku bukan orang sibuk tapi aku tidak sanggup menguburkan semua mayat yang ada di sana."
Kesedihannya berganti dengan kemarahan, karena itu kata-kata yang keluar sangat tajam, tidak seperti tadi, bernada sedih dan mengeluh.
Dengan kaget kedua laki-laki itu menurunkan pedang mereka dan bertanya.
"Apa yang kau maksudkan tadi?"
Ada suara yang datang dari belakangnya setengah berteriak.
"Apa yang kau katakan?"
Mendengar suara itu, kedua laki-laki ini merasa kaget, di depan matanya tampak 4 orang pendeta berumur setengah baya dan berbaju biru, mereka mengurung Guan Ning.
Kedelapan sorot mata seperti kilat itu terus menatap Guan Ning dan bertanya.
"Apa yang Tuan katakan tadi?"
Kedua laki-laki itu kembali bersikap dingin. Yi Juan tertawa.
"Ternyata yang datang adalah murid-murid Wu Dang. Baiklah, baiklah, sekarang keempat Tuan pendeta sudah mendengar kalau tamu-tamu yang datang ke Wisma Si Ming sudah mati semua. Haha...."
"E Mei Pai, Si Ming berbaju merah, Zhong Nan berbaju hitam, Wu Dang ada dua orang yang cacat, Tai Xing bersepatu ungu, biksu Shao Lin, Luo Fu berbaju kembang, di tempat dan waktu yang sama mati secara bersamaan. Empat pendekar, apakah kalian mengira ini hanya lelucon besar?"
Dia bicara sambil tertawa, suaranya seperti terpaksa, akhirnya terdengar bergetar.
Walaupun dia mengatakan kalau dia tidak percaya tapi dalam hati dia merasa ragu.
Salah satu pendeta berbadan tinggi berkata.
"Ternyata kalian adalah pendekar Yi Juan dan pendekar Fei Shen. Apakah gurumu juga datang kemari untuk mengikuti rapat di Wisma Si Ming?"
Yi Juan menurunkan pedangnya sampai ke batas siku tangan.
"Untuk rapat kali ini, guruku tidak bisa datang kemari, tapi kedua paman guruku sudah datang kemari dan datang paling awal."
Fei Shen menyambung.
"Sewaktu kami mengantarkan paman guru naik ke gunung, aku melihat kedua biksu Shao Lin, yaitu Tai Hang bersepatu ungu dan Tai Hang Gong Sun Er, yang pincang kaki kanannya. Aku yakin pendeta Wu Dangpun juga berada di sana. Kalau begitu...."
Dia tertawa, dengan sudut matanya dia melihat Guan Ning.
"Menurut tuan ini, Wisma Si Ming sudah tidak ada seorang yang hidup, sepertinya tidak akan ada seorangpun yang percaya."
Guan Ning benar-benar marah.
"Aku tidak memaksa kalian untuk percaya kepada kata-kataku!"
Guan Ning mendengar dengan teliti semua perkataan Fei Shen, dia mencocokan semua nama-nama dengan mayat yang dilihatnya di Wisma Shi Ming, akhirnya dia mengerti dan diam-diam berpikir.
"Yang pertama kutemukan adalah laki-laki berbadan tegap dan laki-laki bercambang, mungkin itu adalah Tai Hang bersepatu ungu. Sedangkan ketiga pendeta berbaju biru adalah orang-orang Wu Dang. Yang mati dengan posisi dua pedang bersilang adalah Luo Fu Cai Yi. Kedua biksu yang kulihat berasal dari Shao Lin. Suami istri berbaju merah adalah pemimpin Wisma Si Ming. Pak tua kurus kering itu adalah Zhong Nan Wu San. Pengemis itu adalah Tuan Gong Sun yang pincang kaki kanan. Sedangkan tadi aku bertemu dengan pengemis yang berbeda, untung dia datang terlambat sehingga bisa terhindar dari bencana ini."
Dia berpikir lagi.
"Lalu siapa yang datang dari Si Zhuan E Mei? Apakah dia adalah pelajar berbaju putih itu?"
Guan Ning sangat pintar, sambil mendengar kata-kata Fei Shen dia terus memikirkan semua.
Begitu Fei Shen selesai bercerita, ada pertanyaan terakhir yang belum dimengerti olehnya.
Kata-kata Fei Shen yang terakhir membuat Guan Ning marah.
Fei Shen berkata lagi.
"Jika tidak percaya, sudahlah...."
Tapi pendeta tinggi itu berkata.
"Kata-kata kalian sangat masuk akal, semua orang penting di dunia persilatan dalam satu malam bersamaan mati, benar-benar membuat orang tidak percaya dan benar-benar menakutkan."
Yi Juan segera tertawa dan berkata.
"Sekalipun Da Mo dan San Feng Chen Ren hidup lagi, belum tentu mereka bisa membuat orang-orang itu mati bersama-sama. Sekarang walaupun ada orang yang ilmu silatnya lebih tinggi dari mereka, contohnya Xi Men...."
Kata Xi Men baru saja keluar dari mulutnya, dia segera berhenti berkata dan urat di wajahnya tampak bergerak-gerak, seperti ada cecak besar yang masuk ke dalam kerahnya lalu merayap ke punggungnya, membuat pedang yang tersimpan di sikunya terus bergetar.
Kemudian dia berkata.
"Walaupun ilmu silatnya tinggi, tapi dia juga tidak mungkin sekaligus membunuh begitu banyak orang."
Dia tertawa untuk menutupi ketakutan yang ada di dalam hatinya tapi dia tetap tidak meneruskan nama Xi Men.... Guan Ning berpikir.
"Mayat-mayat yang bergelimpangan di Wisma Si Ming adalah pesilat-pesilat hebat, tapi Xi Men siapa yang dimaksud? Mengapa dia begitu takut kepada Xi Men?"
Terdengar pendeta tinggi itu pelan-pelan berkata.
"Menurut Pendekar Fei, orang-orang di dunia persilatan tahu...."
Matanya menatap Guan Ning.
"Menurut kata-kata tuan ini, sepertinya dia tidak akan berbohong karena Wisma Si Ming tidak jauh dari sini, jika dia berbohong, bukankah akan segera diketahui, bila Fei Shen dan Yi Juan sudah marah, aku tidak akan mengijinkannya...."
"Orang ini tahu seribu langkah dari Wisma Si Ming adalah tempat terlarang, jika tidak mempunyai ijin masuk, maka siapapun dilarang masuk ke sana, orang yang tidak mendapatkan ijin, telah masuk dan bisa keluar lagi, hampir tidak ada seorangpun yang bisa melakukannya. Apakah kami akan percaya kata-katanya begitu saja lalu mengambil keputusan dan membuat pemimpin Wisma Si Ming marah?"
Tanya Yi Juan. Pendeta tinggi itu tertawa.
"Kalau semua kata-katanya bohong, apa tujuannya?"
"Lebih baik tuan ini menjelaskan semuanya dengan jelas kepada kita, setelah itu Pendekar Fei dan Pendekar Yi bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Ketiga kakak seperguruanku dan paman gurumu, jika mereka benar-benar mati, bukan hanya kau dan aku saja yang akan terkejut, aku kira seluruh dunia persilatan bisa kacau karena alasan ini. Jika semua ini hanya isu semata, nanti akan ada perhitungannya!"
Pendeta itu berkata dengan tenang dan perlahan, juga sangat jelas.
Wajahnya selalu tersenyum, semua tampak seperti tidak ada sangkut paut dengannya.
Semua murid-murid Lao Fu Men merasa tidak tenang dan marah, tapi pendeta berbaju biru itu merupakan salah satu tetua di Wu Dang.
Dia adalah orang yang sangat terkenal dan wibawanya sangat tinggi di dunia persilatan, maka walaupun hati mereka masih panas dan marah, semua orang tetap diam dan mendengarkan semua perkataannya, tidak mengeluarkan sikap yang tidak mendukung.
Sekarang Guan Ning tahu, semalam dia sudah bertemu dengan banyak persoalan yang memusingkannya, yang lebih parah lagi dia sudah masuk ke dalam pusaran yang akan membuat geger dunia persilatan.
Semalam dia masih berjalan-jalan di bawah sinar bulan dan membuat puisi-puisi indah, tidak disangka hanya dalam waktu satu malam dia telah mengalami perubahan yang begitu besar, layaknya seperti menunggang harimau dan sulit untuk turun.
Maka dia hanya bisa menarik nafas, menceritakan apa yang dilihatnya di Wisma Si Ming dan tidak lupa juga menceritakan tentang laki-laki berbaju putih.
Orang-orang yang mendengar merasa terkejut.
Pendeta berbaju biru yang selalu tersenyum juga merasa terkejut, saat itu senyumannya sudah tidak terlihat lagi.
Guan Ning menceritakan tentang 2 orang yang tiba-tiba datang dan tiba-tiba pergi.
Yi Juan bertanya.
"Apakah mereka membawa tas yang terbuat dari kulit cheetah?"
Guan Ning menggelengkan kepala, dia juga menceritakan tentang gadis berbaju hijau yang sifatnya aneh.
"Apakah dia adalah si lengan baju hijau dari Huang Shan?"
Tanya Fei Shen Guan Ning menggelengkan kepala lagi tapi dia tidak menceritakan tentang laki-laki berbaju putih yang hilang ingatan, semua ini karena Guan-Ning merasa kasihan kepada pelajar berbaju putih dan tidak ingin mengatakan musibah yang dialaminya kepada orang lain.
Walaupun dia bercerita dengan singkat dan padat, tapi tetap saja menghabiskan waktu lama, dan sekarang mulutnya terasa kering.
Para pendeta dan laki-laki berbaju mewah terus mendengarkan semua ceritanya dan merasa terkejut, hati mereka diliputi pertanyaan dan perasaan mereka bergejolak, tapi tidak ada seorangpun yang berani memotong kata-katanya.
Terlihat orang-orang yang mendengarnya saling memandang dan tidak berkata sepatah katapun.
Lama dan lama.
Yi Juan menghembuskan nafas panjang, wajahnya melihat pendeta berbaju biru dan berkata.
"Jika semua yang diceritakan benar, itu membuat orang merasa takut. Sekarang aku tidak mempunyai ide lain. Tuan Pendeta lebih berpengalaman dari kami, Tuan pasti sudah mempunyai rencana, dan kami pasti akan menuruti pendapat Tuan."
Pendeta itu tampak berpikir sejenak, dengan perlahan dia berkata lagi.
"Hal ini sangat aneh juga misterius, bukan aku tidak bisa menebak tapi pikiranku masih bingung."
"Kalian berdua biasanya sangat teliti dan kalian adalah orang yang paling dekat dengan ketua Luo Fu Pao, apa maksud Ketua Si Ming mengundang kakakku dan paman gurumu ke sana, kau pasti tahu lebih jelas."
Guan Ning mendengar semuanya dengan teliti.
Guan Ning belum tahu apa sebenarnya yang terjadi di Wisma Si Ming, dia hanya tahu kalau dia sudah masuk ke dalam suatu kemelut.
Diapun tahu perkumpulan-perkumpulan itu pasti tidak akan melepaskan dirinya begitu saja.
Jika belum menceritakan semuanya dengan jelas, sepertinya masih banyak kesialan yang akan terjadi nantinya.
Dia ingin mendapat informasi lebih lengkap berdasarkan dari percakapan mereka, dan dia sangat ingin tahu siapa pelajar berbaju putih itu sebenarnya?
Jika semuanya sudah jelas dan tahu siapa pembunuh sebenarnya, dia akan melunasi janjinnya....
membalas dendam kematian Nang Er.
Karena itu dia mulai menebak-nebak, kedua orang jahat yang kurus kering seperti bambu itu adalah E Mei Bao Nang (Macan buas dari E Mei) Qi Du Shuang Sha (Sepasang pembunuh tujuh racun).
Awan menutupi matahari yang baru terbit, karena itu jalan di pegunungan itu terasa lebih sepi.
Hutan, kicauan burung, suara air mengalir, dan suara angin meniup pepohonan tidak seindah biasanya.
"Ketua Wisma Si Ming mengundang guruku datang, aku tidak tahu terlalu banyak, aku hanya mendengar tentang sebuah pusaka yang ada di dunia persilatan, dan akan ditentukan siapa yang berhak mendapatkan dan masih ada satu masalah besar lagi yang harus dibicarakan, mengenai hal apa, guruku tidak mengatakannya, dan akupun tidak berani bertanya-"
Kata Yi Juan. Pendeta berbaju biru itu mengangguk. Dia berkata.
"Aku merasakan semua ini sangat aneh, karena antara kedua masalah ini tidak pantas dibicarakan dalam rapat umum, tidak ada bukti. Begitu guruku mendapatkan undangan ini, beliau sudah menebak pasti ada rencana busuk menunggu mereka, ternyata tebakan guruku tidak meleset."
Ada 3 murid Wu Dang, tapi mereka hanya berdiam diri karena apa yang ingin mereka sampaikan sudah diwakili oleh pendeta berbaju biru.
Mereka berada di bawah pimpinan Pendekar Fei dan Pendekar Yi, mereka tidak berhak berkata banyak.
"Yang membuatku aneh adalah mengapa dalam rapat Wisma Si Ming tidak terlihat adanya murid Huang Shan Cui Xiu, Kun Lun, dan Dian Zhang. Penjahat-penjahat yang tidak sejalan dengan dunia persilatan juga datang ke sana tapi hanya dia sendiri yang tidak mati,"
Kata Yi Juan. Hati Guan Ning tergerak.
"Apakah yang mereka maksudkan adalah pelajar berbaju putih?"
Kata pendeta berbaju biru.
"Aku kira E Mei Bao Nang patut dicurigai."
Dia melihat Guan Ning lagi dan bertanya.
"Aku mengira yang menyerangnya dengan senjata rahasia di jembatan menuju Wisma Si Ming adalah E Mei Bao Nang, karena dalam tas mereka tersimpan 7 macam senjata beracun. Hanya mereka berdua yang tidak mati dan di pondokan mereka membunuh anak yang mengikuti tuan ini. Kemudian menyerang lagi dengan senjata rahasia mereka. Semua bertujuan untuk membunuh orang dan menutup mulutnya."
"Demi apa mereka melakukan semua ini? Apakah demi.... apakah mereka tidak berpikir lebih jauh? Apakah mereka masih bisa berdiri di dunia persilatan kalau sudah melakukan perbuatan seperti itu?"
Fei Shen menghembuskan nafas.
"Tapi dengan ilmu silat yang mereka miliki, mana mungkin bisa membuat Si Ming si baju merah, Gong Sun kaki kanan, dan Wu Dang tiga bangau, mati di tangan mereka?"
Pendeta berbaju biru menjulurkan tangannya lalu menepuk dahinya dan dengan suara kecil berkata.
"Apakah benar semua ini karena dia?"
Tiba-tiba dia mengangkat kepalanya melihat Guan Ning lalu berkata.
"Tuan dengan sekuat tenaga menguburkan semua mayat itu, aku merasa terharu karenanya. Orang-orang dunia persilatan pasti akan memuji tindakanmu. Tuhan pasti akan memberkatimu."
Guan Ning menjadi bingung mengapa pendeta ini berkata demikian? Apa maksudnya? Guan Ning berkata.
"Betul, memang aku yang menguburkan mereka dan barang-barang yang ada di dalam tas sudah kubawa semua. Aku tidak bermaksud mengambilnya, hanya ingin menyampaikan barang-barang tersebut kepada keluarga mereka, aku bersumpah, jika kalian...."
Pendeta baju biru mengayunkan tangannya, dia segera menghentikan kata-kata Guan Ning. Tiba-tiba mata pendeta berbaju biru itu mengeluarkan cahaya aneh, katanya.
"Tuan jangan salah paham, aku bertanya seperti itu tidak bermaksud apapun. Tuan adalah seorang yang jujur, aku percaya kepadamu, hanya saja...."
Dia tertawa secara aneh dan berkata lagi.
"Apakah Tuan bisa memberitahuku, barang-barang apa saja yang Tuan dapatkan. Hai.... terpaksa aku harus melakukan ini, harap Tuan bisa memahami dan memaklumi perbuatanku!"
Guan Ning berpikir sejenak dan menjawab.
"Jika hal ini menang sangat penting, aku akan mengatakan...."
Yi Juan dan Fei Shen saling memandang. Mata mereka memancarkan cahaya aneh tapi Guan Ning tidak melihatnya. Dia berkata.
"Sebenarnya tidak ada benda yang istimewa. Seuntai mutiara kudapatkan dari tas Tai Hang. Dua piring kudapatkan dari baju biksu Shao Lin, buku suci dari pendeta Wu Dang, dan sepucuk surat dari balik baju pak tua yang memakai baju berwarna biru, hanya itu saja, tidak ada yang lainnya."
Yi Juan, Fei Shen, dan pendeta berbaju biru itu kelihatan sangat kecewa. Guan Ning berpikir sebentar, tiba-tiba dia berkata.
"Di dalam tas Gong Sun ada seuntai mata uang. Uang ini bukan uang yang dipakai sekarang, tapi...."
Kata-katanya belum selesai. Wajah Fei Shen, Yi Juan, dan pendeta itu tampak terkejut. Hampir bersamaan mereka bertanya.
"Dimana sekarang uang itu?"
Mereka saling memandang kemudian secara bersamaan bertanya lagi.
"Apakah uang itu diikat dengan tali berwarna kuning, bentuk uang itu lebih besar dari uang sekarang?"
Guan Ning sedikit terpana, dia tidak menyangka kalau uang berbentuk sederhana itu bisa membuat pendekar-pendekar itu tampak bergejolak perasaannya, yang membuatnya lebih merasa aneh adalah uang biasanya diikat dengan tali berwarna hitam, tapi uang itu diikat dengan tali berwarna kuning.
Pendeta berbaju biru itu belum pernah melihat, mengapa dia bisa tahu?
Guan Ning berpikir lagi.
"Apakah dalam untaian mata uang itu tersimpan sebuah rahasia besar? Apakah rahasia ini ada hubungannya dengan peristiwa kemarin malam? Tapi aku tidak percaya kalau untaian uang itu menyimpan rahasia,"
Karena itu dia mengangguk dan menjawab.
"Betul, uang itu diikat oleh tali berwarna kuning, tapi hanya ada sepuluh ribu keping saja."
Terlihat orang yang berdiri di sana seperti merasa sangat senang, sepertinya uang-uang itu lebih mahal dibandingkan dengan batu berlian dan mutiara.
Tangan pendeta berbaju biru pelan-pelan turun menuju pinggang dan mengarah pada pegangan pedangnya.
Dia terus melihat Guan Ning dan berkata.
"Untaian mata uang itu sangat penting, bila disimpan oleh Tuan begitu saja, ini tidak baik, lebih baik serahkan saja kepadaku."
Yi Juan dan Fei Shen serempak berteriak.
"Nanti dulu."
Mata pendeta berbaju biru itu seakan bertanya.
"Kenapa?"
Tangannya tampak memegang pedang lebih kuat lagi. Pendeta itu juga terlihat tegang. Yi Juan tertawa.
"Tuan Pendeta, menurutku lebih baik uang itu serahkan saja kepada kami."
Tiba-tiba pendeta berbaju biru itu tertawa terbahak-bahak.
"Menurut orang-orang, Yi Juan dan Fei Shen selalu berhati-hati tapi menurutku tidak demikian."
Wajah Yi Juan dan Fei Shen langsung berubah, tangan yang tadinya tersimpan di belakang segera memberi tanda kepada laki-laki yang ada di belakangnya, para laki-laki itu segera bersiap-siap, seperti siap untuk menghadapi pertarungan besar.
Wajah pendeta berbaju biru itu tidak tersenyum lagi.
"Sekarang ini di tempat ini, kalau kau ingin mendapatkan untaian Ri Yi Qing Qian (Mata uang hijau keberuntungan) tampaknya masih terlalu dini. Menurutku lebih baik kalian berdiri jauh-jauh,"
Katanya.
Tadinya wajah itu selalu tersenyum dan kata-kata selalu diucapkan dengan pelan dan penuh dengan sopan santun, sekarang tawanya sangat seram.
Begitu melihat, ternyata wajah itu tidak seperti wajah seorang pendeta lagi.
Logat dan nada bicaranya menusuk perasaan orang lain.
Guan Ning melihat orangnya tidak mirip dengan seorang pendeta lagi malah mirip seorang perampok.
Guan Ning merasa aneh.
Terdengar Yi Juan berkata.
"Belum tentu!"
Pedang panjang yang ada di belakangnya segera dikeluarkan.
Bersamaan waktu itu juga, di sana sini terdengar suara pedang dikeluarkan.
Empat pendeta berbaju biru juga segera mengeluarkan pedang mereka.
Enam pedang mengurung Guan Ning.
Guan Ning berteriak.
"Untuk apa kalian memperebutkan seuntai mata uang itu. Uang itu bukan milik kalian dan aku tidak akan memberikannya kepada siapapun!"
Pemuda jujur ini melihat pendeta-pendeta dan Pendekar Fei Shen dan Pendekar Yi Juan sudah saling bermusuhan, permusuhan mereka begitu besar, tapi dia tidak terpikir bahwa ilmu silat yang dimilikinya sama sekali bukan tandingan mereka.
Jika barang itu direbut dengan paksa juga, dia akan tidak bisa melawan.
Suara Guan Ning sangat keras, tapi orang-orang itu tampaknya tidak mendengar teriakannya, sekalipun mendengar, mereka tidak akan mau peduli.
Terdengar pendeta berbaju biru itu tertawa dingin lagi, sorot matanya seperti kilat terus melihat ke arah Yi Juan dan Fei Shen juga melihat kepada kelima laki-laki yang di belakang mereka.
Dia berkata.
"Aku akan menghitung dari 1 sampai 5, kalau kalian tidak mundur, kalian boleh rasakan akibatnya!" (Oo-dwkz-lav-oO) BAB 3 . Ru Yi Qing Qian Pendeta berbaju biru itu mulai berhitung.
"Satu.... dua...."
Matanya melihat ujung pedang, seperti tidak melihat orang-orang di sana.
Belum selesai dia berhitung, Yi Juan sudah berteriak, pedang yang berkilau biru mulai menebas ke arah pergelangan tangan pendeta yang sedang memegang pedang, gerakannya sangat cepat.
Waktu itu juga, Fei Shen mendekati Guan Ning.
Kelima laki-laki yang ada di belakangnya secara bersamaan mencabut pedang mereka, lima pedang tampak berkilauan, berwarna biru dan menebas ke arah ketiga pendeta itu.
Tujuh orang pesilat pedang datang dari Luo Fu.
Mereka bergerak sangat cepat dengan menggunakan waktu sangat tepat.
Luo Fu Cai Yi bisa terkenal di dunia persilatan bukan asal nama saja.
Walaupun gerakan mereka sangat cepat, tapi keempat pendeta tertinggi yang datang dari Wu Dang mereka bergerak lebih cepat lagi dibandingkan dengan mereka.
Empat cahaya pedang berkilau secara bersamaan, seperti ada sebuah dinding bercahaya.
Guan Ning merasa bingung melihat kilauan pedang dan dinginnya hawa pedang yang terayun, kemudian terdengar suara pedang beradu lalu berhenti.
Empat pedang milik pendeta Wu Dang, hanya dalam waktu singkat tertutup oleh 7 pedang milik Luo Fu Cai Yi.
Guan Ning mundur dari arena pertarungan, dia melihat empat bayangan pendeta Wu Dang yang membelakanginya.
Pedang itu terus digerakkan.
Pedang mengeluarkan cahaya dingin, cahaya pedang seperti sebuah jala terang, cahaya pedang dan dinginnya hawa pedang membuat Guan Ning hanya bisa melihat dengan terpana, sorot matanya tidak bergeser ke tempat lain.
Dalam waktu satu hari ini, dia sebagai seorang laki-laki dengan kemampuan ilmu silat biasa saja, dia tahu di dunia persilatan banyak pesilat tangguh, sekarang ini, pertama kalinya dia melihat ilmu silat begitu hebat.
Dia memang suka ilmu silat, dia tidak akan belajar ilmu pedang jika lingkungannya tidak memaksanya, melihat ilmu silat yang begitu hebat dimainkan di depan matanya, dia seperti seorang anak yang mendapatkan makanan yang sudah lama diidamkannya.
Keempat petinggi Wu Dang itu berdiri dengan formasi sangat rapi, boleh dikatakan setetes airpun sulit menembus formasi ini.
Yi Juan dan Fei Shen merasakan ada 4 kilauan pedang seperti dinding terang yang tidak bisa diserang dari manapun.
Hanya dalam waktu singkat mereka sudah menyerang 10 jurus.
Tiba-tiba pendeta berbaju biru bersiul kemudian menusuk....
Sedangkan ketiga pendeta lainnya segera membalikkan pergelangan tangan mereka, cahaya pedang secara bersamaan keluar.
Selama 10 tahun mereka terus berlatih dan gerakan mereka sekarang sangat kompak.
Mereka menyerang dan bertahan, dari posisi bertahan berubah menyerang, hal itu terus dilakukan.
Jurus-jurus itu adalah jurus ilmu Wu Dang yang telah menggegerkan dunia persilatan yang bernama Jin Gong Lian Huan.
Yi Juan, Fei Shen, dan kelima murid Luo Fu yang tiba-tiba diserang, mereka mundur beberapa langkah.
Mereka sama sekali tidak menyangka kalau ilmu Luo Fu yang terdiri dari 71 jurus, di depan keempat petinggi Wu Dang itu tidak bisa dikeluarkan.
Jika satu lawan satu, belum tentu akan terjadi keadaan seperti itu, karena mereka menyerang dengan berkelompok maka keadaan menjadi tidak sama, keempat petinggi Wu Dang memang terkenal dengan formasi pedangnya yang sempurna.
Sepuluh jurus lebih sudah dikeluarkan, tiba-tiba Yi Juan dan Fei Shen membentak.
"Huang Feng Che (jurus lebah)!"
Mendengar suara bentakan itu, mereka mundur beberapa langkah, tiba-tiba badan mereka berputaran.
Punggungnya menghadap kepada keempat orang Wu Dang, tapi pergelangan membalik menyerang dengan 3 serangan.
Serangan 3 jurus pedang ini bertentangan dengan ilmu silat yang ada dari semua perkumpulan, karena menghadapkan punggung kepada musuh.
Tidak ada orang yang mau memunggungi musuh sambil mengeluarkan serangan.
Wu Dang Si Yan' (Empat walet dari Wu Dang) sangat senang.
Mereka mengira karena lelah kedua orang itu tidak bisa mengendalikan diri lagi, tapi begitu 3 jurus itu menyerang mereka, setiap jurus sangat tajam dan aneh.
Walaupun melihat ada kesempatan menyerang punggung mereka, tapi dengan terpaksa mereka harus menghindari 3 jurus itu.
Tadinya Wu Dang Si Yan merasa mereka pasti akan menang, tapi serangan 3 jurus itu, memaksa mereka mundur, sebelum bisa mengambil napas, Fei Shen dan Yi Juan sudah berteriak lagi.
"Huang Feng Sa (jurus ular)!"
Mereka memutar pergelangan tangan lagi.
Pedang yang dipegang dilepaskan dan merekapun terbang melayang, seperti guntur yang membawa petir dan angin kencang, mereka lalu menyerang Wu Dang Si Yan, tubuh mereka mengikuti kekuatan pergelangan bergerak ke depan.
Mulut seperti ular hijau, jarum lebah adalah racun yang paling ganas.
Ular mematuk, racun menyebar ke seluruh tubuh.
Lebah menyengat, jarum di tubuh lebah akan terputus.
Jarum terputus, lebah akan mati karenanya.
Racun hanya bisa disebarkan satu kali.
Sebetulnya sengatan lebah lebih ganas racunnya dibandingkan dengan patukan ular.
71 jurus pedang Luo Fu terkenal, setiap jurus sangat ganas dan sadis, ini adalah jurus Huang Feng Sa.
Walaupun ganas dan sadis tapi juga seperti lebah, hanya bisa menyengat satu kali.
Begitu jurus dikeluarkan, pedangnya dibuang.
Jika jurus ini tidak berhasil membuat musuh mati, orangnya juga tidak akan bisa selamat, jurus ini begitu dikeluarkan dan orangnya harus bersiap-siap melarikan diri.
Sekalipun dia adalah pesilat tangguh, tapi sesudah menggunakan jurus ini, dia harus bisa menjaga dirinya, tidak mungkin dia bisa menyerang musuhnya lagi.
Yi Juan dan Fei Shen tahu mereka tidak akan mampu mengalahkan Wu Dang Si Yan.
Jika terus bertahan, mereka pasti akan dihina oleh mereka.
Nama Luo Fu sekarang sedang naik daun, mereka tidak akan mau karena mereka membuat orang lain dengan seenaknya menghina Luo Fu Cai Yi, maka mereka sepakat melarikan diri setelah menggunakan jurus itu.
Tadinya Wu Dang Si Yan kaget melihat pedang terlepas dan meluncur ke arah mereka, tapi mereka lebih terkejut lagi, jarak pedang dengan tubuh mereka sangat dekat.
Pedang datang secepat kilat.
Lan Yan (Walet biru) dan Bai Yan (Walet putih) yang berada di depan tidak sempat menahan lajunya pedang yang sedang melayang ke arah mereka....
Tapi....
Dari balik semak-semak terdengar ada seseorang yang membaca kitab suci, kemudian terasa ada angin kencang keluar dari balik semak-semak.
Kemudian terdengar suara keras, dua bilah pedang yang meluncur itu sekarang mengikuti arah angin yang berhembus kencang lalu terjatuh, terdengar lagi suara orang yang membaca kitab suci.
Bayangan seseorang berbaju abu-abu mengikuti suara 'A Mi Ta Ba' tanpa suara keluar dari balik semak-semak.
Jika semua ini dicatat dengan pena pada sebuah buku pasti ada awal dan akhir, tapi sebenarnya semua terjadi dan berakhir secara bersamaan.
Wu Dang Si Yan melihat dijalan gunung yang sepi, dua bayangan orang berbaju kembang sudah menghilang.
Kemudian kelima bayangan lainnyapun ikut menghilang, ketujuh belas murid Luo Fu Cai Yi sudah menghilang dalam sekejap di balik pegunungan.
Yang berdiri di depan sekarang ini adalah Wu Dang Si Yan, biksu tua yang kurus kering seperti bambu.
Guan Ning yang berdiri di belakang Wu Dang Si Yan belum melihat dengan jelas apa yang telah terjadi.
Dia hanya merasa mendengar suara bentakan kemudian ada seseorang yang membaca kitab suci lalu disusul dengan 2 suara keras.
Terlihat orang-orang menjadi kacau kemudian suasanapun menjadi diam, akhirnya Wu Dang Si Yan berdiri dengan bengong.
Seorang biksu tua yang kurus kering, dengan hidung seperti burung betet, dan tulang pipi yang tinggi berdiri sambil tersenyum melihat Wu Dang Si Yan.
Dan di bawah terdapat 2 pedang panjang dan 2 untai tasbih.
Hanya sebentar Wu Dang Si Yan kembali tenang, mereka terus melihat biksu tua ini kemudian saling bertukar pandang seakan bertanya, segera pendeta berbaju biru itu berkata.
"Terima kasih, Guru sudah menggunakan tasbih menolong kami, budi pertolongan Guru pasti akan kami balas."
Kemudian Wu Dang Si Yan membungkukkan badan memberi hormat. Biksu tua itu tertawa. Dia memungut tasbih itu sambil berkata.
"Menurut kitab suci agama Budha, kita adalah manusia, untuk hal seperti ini tidak perlu mengucapkan berterima kasih, aku hanya ingin membantu yang memang harus kulakukan!"
Biksu tua ini suaranya terdengar seperti air yang mengalir di gunung juga seperti lonceng yang berbunyi, suaranya dengan jelas masuk ke dalam telinga, tenaga dalamnya ternyata sangat kuat.
Pendeta berbaju biru itu tampak berterima kasih lagi.
Kemudian dia bertanya.
"Kami hanya orang bodoh, apakah kami boleh bertanya.
"Tenaga dalam Guru begitu tinggi, apakah Anda adalah guru Shao Lin, yaitu Guru Mu Zhu?"
Biksu itu sambil tertawa menjawab.
"Orang lain sering memuji banyak murid-murid Wu Dang yang berbakat, sekarang setelah bertemu dengan murid Wu Dang sepertinya memang benar seperti itu. Begitu melihat, kalian langsung mengenaliku, pantas Wu Dang Pai bisa menjadi perkumpulan besar dan makmur."
Guan Ning melihat Guru Mu Zhu.
Dia sangat kaget, jika bukan melihat dengan mata kepalanya sendiri, dia tidak akan percaya.
Ternyata biksu yang kurus kering dan sudah tua ini dengan tenaga dalam bisa memukul jatuh kedua pedang yang sedang melesat dengan cepat.
Dia tidak tahu bahwa biksu tua ini bukan hanya tetua Shao Lin tapi beliau juga adalah pesilat tangguh yang terkenal.
Pantas orang-orang dunia persilatan sering mengatakan, '7 binatang di Wu Dang, kupu-kupu ungu seperti elang.
Shao Lin mempunyai 3 mutiara.
Mutiara kayu yang keras seperti baja.' Kalimat terakhir menceritakan tentang Guru Mu Zhu.
Sebenarnya dunia persilatan sekarang tampak seakan-akan aman dan tentram, tapi sebenarnya banyak pesilat tangguh yang saling menjatuhkan.
Dan pesilat tangguh yang hanya terdiri dari puluhan orang ini dijuluki dengan Zhong Nan Wu Shan, Huang Shan Cui Xiu, Si Ming Hong Pao, Luo Fu Cai Yi, Tian Di Yi Bai....
Semua julukan ini seperti sebuah lagu juga seperti sebuah puisi.
Tapi semua kalimat itu mewakili pesilat-pesilat tangguh yang ada di dunia persilatan ini.
Ilmu silat Guru Mu Zhu memang sangat tinggi, walaupun dia bukan termasuk pesilat 15 besar, tapi sebetulnya dia lebih kuat dari yang dibayangkan oleh orang selama ini, karena Guan Ning jarang mendengar namanya, maka dia merasa aneh!
"Nama Guru sudah terkenal di dunia persilatan, hampir 40 tahun ini, walaupun ada yang belum pernah bertemu dengan Guru, tapi begitu melihat ada dua untai tasbih, mereka akan tahu dan menghindar untuk bertarung dengan Guru,"
Kata pendeta berbaju biru itu dengan tersenyum.
Dia tahu Guru Mu Zhu jarang berkelana di dunia persilatan.
Dulu dia dijuluki Toiksu setan' yang ditakuti oleh orang-orang dunia persilatan, untung sejak .kecil beliau sudah makan sayur-sayuran dan beliau sangat disayang oleh generasi atas Shao Lin dan secara kebetulan dia menolong gurunya dari bencana.
Jika tidak sudah lama dia diusir dari Shao Lin.
Karena itu pendeta berbaju biru berkata dengan nada sungkan dan berhati-hati, dia takut kalau biksu setan itu akan berbuat tidak baik kepadanya.
Tiba-tiba Biksu Mu Zhu tertawa dan berkata.
"Walaupun tasbih ini sangat kuat untuk mengalahkan orang tapi tetap tidak sebaik Qing Qian Ru Yi. Kali ini aku berkelana lagi ke dunia persilatan apakah kalian tahu apa sebab-sebabnya?"
Wu Dang Si Yan merasa terkejut. Guan Ning mengerutkan dahinya dan tampak berpikir.
"Ternyata biksu ini datang karena seuntai Qing Qian yang ada di dalam tasku."
Pendeta berbaju biru itu dengan terpaksa tertawa dan berkata.
"Guru adalah seorang pesilat tangguh, aku kira Anda datang ke sini pasti bukan hanya untuk hal-hal sepele yang memusingkan kepala!"
Dia sengaja berkata seperti itu dan seperti tidak tahu maksud kedatangan Guru Mu Zhu ke tempat itu, tapi hatinya sekarang ini sudah mulai merasa tidak tenang. Biksu Mu Zhu tertawa.
"Kata-kata Pendeta salah di dunia ini banyak pemandangan indah, jika aku hanya untuk menikmati pemandangan saja, untuk apa aku jauh-jauh dari Shao Lin datang kemari?"
Wajah pendeta berbaju biru tampak berubah tapi dia tetap berpura-pura tidak mengerti, dengan tertawa dia bertanya.
"Kalau begitu, Guru ada perlu apa kemari?"
Senyum Guru Mu Zhu seakan ditarik, sorot matanya berubah menjadi dingin. Dia berkata.
"Pendeta adalah orang pintar, aku tidak perlu banyak bicara. Ru Yi Qing Qian adalah benda langka dan sakti. Semua orang sangat menginginkannya, kalaupun Pendeta sekarang sudah mendapatkannya, aku kira Anda tidak sanggup menyimpannya lama-lama. menurutku, lebih baik aku yang menyimpannya, apalagi...."
"Apalagi murid-murid Luo Fu Cai Yi sudah pergi, tapi mereka menyimpan dendam kepadamu, mana mungkin mereka akan membiarkan Ru Ying Qing Qian jatuh ke tangan kalian? Apabila Pendeta berhasil mendapatkan benda langka ini, bukan rejeki yang didapat tapi nanti malah akan mendapatkan bencana!"
Guan Ning yang berada di sisi menarik nafas.
Dia mengira Biksu Mu Zhu adalah seorang biksu yang ilmuanya tinggi tapi begitu mengeluarkan kata-kata, tidak seperti perkataan seorang biksu.
Guan Ning melihat wajah Wu Dang Si Yan yang sudah berubah warna menjadi hijau dan mereka hanya diam.
Pendeta berbaju hijau tertawa dan berkata.
"Dari segi manapun ilmu Guru lebih tinggi dari kami, jika benar karena benda itu Guru datang kemari, karena tadi kami sudah menerima budi Guru, maka kami tidak berani berebut benda ini dengan Guru-"
Dia membalikkan badannya dan berkata kepada ketiga adik seperguruannya.
"Guru sudah berpesan seperti itu, kita tidak perlu lama-lama lagi di sini. Mari kita pergi!"
Guan Ning merasa aneh.
Dia terpikir Wu Dang Si Yan yang begitu galak dan sombong sekarang begitu mudah mundur dari pertarungan ini.
Dia melihat Guru Mu Zhu, wajahnya tetap dingin dan tidak berekspresi apapun.
Sepertinya Wu Dang Si Yan memang harus melakukan hal seperti itu jadi tidak perlu merasa kaget atau senang.
Dia tahu dengan kedudukannya sekarang ini, Wu Dang Si Yan tidak akan berani melawannya.
Tapi Guan Ning tidak tahu kemampuan Biksu Mu Zhu, tadi dia hanya melihat kemampuan ilmu Wu Dang Si Yan begitu bagus dan tinggi, bagaimanapun 4 lawan satu, seharusnya mereka tidak perlu takut kepada biksu yang kurus dan kering ini.
Wu Dang Si Yan tampak membungkukkan badan memberi hormat kepada Biksu Mu Zhu.
Biksu Mu Zhu tersenyum tapi matanya terus melihat Guan Ning.
Dia sama sekali tidak melihat Wu Dang Si Yan yang sangat terkenal itu.
Wu Dang Si Yan secara bersamaan maju.
Guan Ning berpikir.
"Hal-hal yang terjadi di dunia ini benar-benar membuat orang sulit untuk menebaknya. Wu Dang Si Yan-"
Tapi-Belum habis berpikir, Wu Dang Si Yan sudah membalikkan badan dan mengangkat tangan secara bersama-sama, 4 bilah pedang bersamaan menenas ke tubuh Biksu Mu Zhu.
Perubahan yang terjadi begitu tiba-tiba membuat Guan Ning berteriak, tapi tubuh Biksu Mu Zhu sama sekcili tidak bergerak.
Terlihat pedang Wu Dang Si Yan menebas ke tubuhya.
Biksu Mu Zhu mengerutkan alis putihnya yang panjang.
Lengan bajunya yang kiri sedikit dikibarkan.
Badannya yang kurus dan kering berputar.
Tasbih yang dipegang di tangan kanannya seperti naga sakti terus naik ke atas kemudian dia memutar pergelangannya.
Terlihat bayangan ungu menutupi pandangan mata Wu Dang Si Yan.
Kilauan terus berputar seperti menahan pedang panjang juga seperti menusuk ke dadanya.
Tasbih pendek ini seperti berubah menjadi pecut panjang, membuat pedang Wu Dang Si Yan menebas ke dadanya.
Wu Dang Si Yan merasa kaget.
Mereka segera mundur beberapa langkdah dan jurus pedangpun dihentikan.
Tapi kilauan pedang baru turun, hanya sebentar naik kembali, putih, pendeta berbaju biru dengan badan berputar menyerang lagi.
Di Wu Dang Si Yan, pendeta berbaju biru dan Pendeta berbaju putih adalah yang paling tinggi ilmu silatnya.
Sekarang kedua pedang itu mengeluarkan tenaga yang dasyat.
Tapi baju abu Biksu Mu Zhu tampak berkibar.
Badannya yang kurus mulai berputar.
Dengan mudah dia menghindar 4 kilauan pedang itu.
Walaupun ilmu silat Guan Ning tidak begitu tinggi, tapi karena dia pernah belajar ilmu silat, begitu melihat gerakan biksu kurus itu, dia tahu kalau ilmu silat biksu itu sangat tinggi.
Diam-diam dia berpikir.
"Guru sering berkata kepadaku, di atas gunung ada awan, di atas awan ada langit. Tadinya aku tidak percaya kata-kata ini, sekarang aku baru mengerti. Tadinya melihat ilmu pedang Wu Dang Si Yan, aku menganggap ilmu pedang mereka adalah nomor satu di dunia ini, tapi begitu bertemu dengan biksu yang tua yang kurus dan kering ini, ilmu pedang mereka jadi tidak terpakai sama sekali."
Dengan lengan baju yang sedikit dikibas, Biksu Mu Zhu dengan mudah menghindar beberapa jurus para pendeta itu. Dia membentak.
"Keparat, cepat pergi dari sini! Kalau tidak kalian akan menyesal nanti!"
Tangannya tampak melambai, tasbih terlihat naik ke atas lagi.
Terlihat bayangan abu Biksu Mu Zhu seperti asap melayang dengan ringan.
Dia mengelilingi Wu Dang Si Yan.
Wu Dang Si Yan sadar dengan hanya mengandalkan keempat pedang dan ingin mengalahkan Guru Mu Zhu sepertinya tidak mungkin.
Mereka menyerang pada saat Guru Mu Zhu sedang dalam keadaan tidak siap.
Tadinya mereka mengira kalau mereka akan menang, tapi ternyata keadaan yang terjadi di luar dugaan mereka.
Guru Mu Zhu berilmu silat tinggi, generasi kedua Wu Dang yang sanggup mengalahkannya.
Wu Dang Si Yan merasa mereka dikelilingi oleh baju Biksu Mu Zhu berwarna abu.
Empat pedang panjang dirantai oleh seuntai tasbih milik biksu itu.
Pendeta Lan Yan merasa lebih kaget.
Dia bersiul.
Empat orang berputar keempat arah.
Akhirnya berdiri dengan tegak.
Mereka tidak menyerang lagi, hanya berjaga, tapi kaki mereka mulai bergeser keluar.
Mereka berharap bisa keluar dari kungkungan baju Guru Mu Zhu.
Ilmu pedang Wu Dang terkenal di dunia persilatan, apalagi bila 4 orang bergabung.
Cahaya pedang benar-benar terlihat padat.
Lalatpun sepertinya akan sulit masuk ke dalam formasi ini.
Tapi Guru Mu Zhu tiba-tiba berteriak, kemudian tasbih yang dipegangnya terlempar keluar mengikuti langkah kakinya.
Terdengar suara TANG.
Pedang pendeta putih bergetar.
Walaupun pedang itu tidak melayang, tapi formasi mereka terpecah.
Pendeta putih merasa terkejut.
Dia ingin mengubah langkahnya tapi sewaktu dia sedang berpikir, siku tangannya tiba-tiba mati rasa dan pedang terjatuh begitu saja.
Ternyata Guru Mu Zhu dengan menggunakan cara Sha Men Shi Ba Da menotoknya.
Pendeta biru dan yang lainnya segera berputar dan menyerang Guru Mu Zhu sudah memenangkan satu jurus.
Walaupun 2 buah pedang bergerak sangat cepat tapi tetap tidak bisa mengenai baju Guru Mu Zhu.
Dia hanya mengubah langkah, dia menghindar 3 langkah kaki.
Guan Ning benar-benar merasa tegang.
Tadi sewaktu Wu Dang Si Yan bertarung dengan Luo Fu Cai Yi, dia sudah kebingungan.
Sekarang matanya menatap lurus, dia tidak mengenal kedua pihak yang sedang bertarung karena itu siapa yang menang atau kalah dia tidak peduli.
Begitu Guru Mu Zhu memukul jatuh pedang pendeta putih, dia sadar kalau biksu Shao Lin ini benar-benar berilmu sangat tinggi.
Tapi-Tiba-tiba di jalan yang ada di sisi gunung, di balik semak-semak ada yang tertawa terbahak-bahak.
Dia berkata.
"Kasihan, kasihan! Lucu, lucu!"
Kata-katanya sangat jelas. Setiap kata seperti denting lonceng. Wajah Guru Mu Zhu berubah dan dia membentak.
"Siapa!"
Bajunya yang lebar tampak melambai, seperti bangau berwarna abu terbang ke langit.
Wu Dang Si Yan secara bersamaan menghentikan langkah mereka dan menurunkan pedang, aura pedang segera menghilang.
Begitu Guru Mu Zhu naik ke langit, di bawah pohon yang ada di sisi jalan tampak sesosok bayangan yang sedang berlari ke arah mereka.
Dua bayangan itu saling bertemu.
Mu Zhu sudah membentak.
Tasbih yang dipegang di tangan kanannya menembak dengan miring ke arah bayangan itu.
Jurusnya terlihat sangat indah.
Guan Ning merasa aneh juga memuji jurus itu.
Diam-diam Wu Dang Si Yan pun memuji.
Tapi bayangan orang yang ada di bawah pohon itu seperti memasang sayap.
Dia terbang setinggi 5 kaki lalu turun.
Ini adalah ilmu meringankan tubuh tingkat teratas yaitu ilmu Tke langit menaiki tangga'.
Wu Dang Si Yan berteriak.
Tampak bayangan seseorang yang turun kemudian berteriak.
"Jun Shan Shuang Can!" (Jun Shan=nama gunung, Shuang= sepasang, Can=cacat). See Yari Tjin Djin 97 Jurus pertama milik Guru Mu Zhu gagal, dia merasa kaget. Puluhan tahun dia telah sering bertarung dengan orang lain, belum pernah sekalipun dia gagal. Dia tahu ilmu silat orang itu tidak bisa dipandang remeh, paling sedikit kemampuan ilmu silatnya berada di atas Guru Mu Zhu. Karena itu dia segera turun. Begitu mendengar teriakan Wu Dang Si Yan, wajah tiba-tiba berubah. Terlihat bayangan itu keluar dari bawah pohon. Bajunya tampak compang-camping, rambutnya berantakan, tangan mengepit tongkat besi. Ternyata dia adalah pengemis pincang yang Guan Ning temui tadi. Angin gunung terus berhembus. Terlihat wajah pengemis itu dingin seperti es, matanya merah, ekspresi wajahnya sangat menakutkan tapi dia masih bicara.
"Kasihan! Kasihan! Lucu ya lucu!"
Wajah dingin bercampur dengan tawa seperti orang gila.
Dilihat dan didengar oleh Guan Ning benar-benar membuatnya gemetar.
Udara dingin bertambah dingin lagi.
Walaupun rambutnya berantakan, wajah penuh dengan amarah juga kesedihan, tapi dia malah tertawa terbahak-bahak.
Begitu pengemis pincang itu muncul, Guan Ning merasa kaget.
Wu Dang Si Yan pun merasa kaget dan aneh.
Biksu Mu Zhu yang biasanya selalu tenang, wajahnya yang dingin terlihat berubah beberapa kali.
Wu Dang Si Yan saling pandang, kemudian mereka memanggil.
"Jun Shan Shuang Can!"
Lengan baju mereka yang lebar tampak dikibaskan.
Tasbih yang dipegang dimasukkan ke dalam lengan baju Guru Mu Zhu.
Guan Ning terus melihat pengemis pincang yang masih tertawa sampai saat ini kemudian melihat wajah Biksu Mu Zhu dan Wu Dang Si Yan.
Wajah mereka terlihat kalau mereka sangat takut kepada pengemis pincang ini.
Guan Ning merasa curiga kepada pengemis pincang dan berbaju compang camping ini, mengapa dia bisa membuat Guru Mu Zhu dari Shao Lin dan Wu Dang Si Yan tampak begitu ketakutan?
Segera Guru Mu Zhu membaca ayat kitab suci kemudian berkata.
"Ternyata yang datang adalah Tuan Gong Sun Zuo Zu (Gong Sun kaki kiri)! Kami memberi hormat kepada Anda!"
Guru Mu Zhu sengaja berkata dengan nada panjang supaya setiap perkataannya terdengar jelas. Guan Ning berpikir.
"Apakah dia adalah Ketua Gai Bang (perkumpulan pengemis)?"
Walaupun dia tidak mengetahui tentang hal-hal dunia persilatan, tapi dia tahu selama ratusan tahun Jun Shan Gai Bang sangat terkenal di dunia persilatan.
Bahkan anak-anak dan kaum perempuan semua tahu, apalagi orang-orang dunia persilatan.
Terlihat Ketua Gai Bang, Gong Sun Zuo Zu yang berambut acak-acakan berjalan seiring dengan debaran jantung tapi tongkat yang dipegangnya diam seperti batu gilingan.
"Jun Shan Shuang Can.... Gong Sun Zuo Zu...."
Dengan cepat dia berpikir.
"Apakah pengemis pincang yang kukuburkan kemarin adalah Jun Shan Shuang Can yang satunya lagi? Apelkah dia bernama Gong Sun Zuo Zu? Apakah aku sudah menguburkan seorang ketua Gai Bang?"
Guan Ning adalah orang yang lincah, kalau tidak, mungkin di kehidupan ramai seperti ibu kota, dia bisa mendapatkan julukan sebagai 'orang berbakat'.
Dia merasa aneh tapi juga sedih.
Selama setengah hari ini orang-orang yang telah dikuburkan olehnya ternyata identitas mereka sangat istimewa dan mereka semua adalah pesilat tangguh, tapi mengapa mereka bisa mati secara bersamaan?
Kedua telapak tangan Guru Mu Zhu terkatup.
Dia diam.
Tawa Gong Sun Zuo Zu semakin pelan tapi belum berhenti, mulutnya tetap berkata.
"Malu malu! Kasihan kasihan!"
Dia sangat menghormati juga segan kepada ketua Gai Bang, Shao Lin San Zhu juga bukan orang biasa. Dengan suara berat Guru Mu Zhu berkata.
Baca Juga: Rahasia Hiolo Kumala 10
Baca Juga: Pedang Ular Emas 8