Ceritasilat Novel Online

Pedang Ular Emas 8

Eps 8 Pedang Ular Emas - Yin Yong

Baca online Pedang Ular Emas - Yin Yong

Cersil Pedang Ular Emas - Yin Yong.

Dengan seorang menolongi satu, Tjeng Tiok dan Thian Kong pimpin bangun kedua jago itu, sedang jongos lantas diperintah untuk segera bebenah.

Sin Tjie rogoh sakunya, akan serahkan dua-puluh tail perak pada kuasa hotel.

"Ini ada untuk ganti semua kerusakan,"

Katanya.

"Semua tetamu itu belum dahar cukup, silakan sajikan makanan untuk mereka, pembayarannya dimasuki atas namaku."

Tuan rumah menjadi girang, ia terima uang seraya mengucap terima kasih, kemudian ia perintah sekalian jongos bersihkan segala apa dan bebenah, untuk lekas sajikan barang hidangan baru untuk semua tetamunya.

Belum terlalu lama, dua-dua si imam dan si kurus telah dapat pulang tenaga mereka, maka keduanya hampirkan Sin Tjie, untuk menghaturkan terima kasih, sebab si anak muda telah tolongi mereka.

Sin Tjie tertawa.

"Tak usah, djiewie,"

Katanya.

"Aku mohon tanya she dan nama djiewie. Dengan kepandaian yang liehay, djiewie mesti ada orang-orang ternama."

"Aku adalah Gie Seng tetapi orang umumnya panggil aku Thie Lo Han,"

Sahut si tauwtoo.

"Aku ada Ouw Koei Lam,"

Jawab si kurus.

"Aku mohon tanya she dan nama kau tuan, begitupun nama djiewie."

Ia maksudkan Thian Kong dan Tjeng Tiok. Belum keburu Sin Tjie perkenalkan diri, atau See Thian Kong dului ia.

"Kiranya tuan ada Seng-tjhioe Sin-touw Ouw Toako!"

Katanya.

Ia tahu julukan orang itu dan menyebutkannya.

Seng-tjhioe Sin-touw berarti "Malaikat Copet".

Nampaknya Ouw Koei Lam puas orang kenal dia, tapi ia lekas-lekas merendahkan diri.

Lantas ia ulangi tanya nama See Thian Kong.

Thia Tjeng Tiok jemput kipasnya orang she See itu dan sambil dibuka ia tunjuki kepada Koei Lam, hingga dia ini lihat lukisan tengkorak yang menyeramkan.

"Oh, kiranya Im-yang-sie See Tjeetjoe!"

Kata Koei Lam.

"Memang sudah lama aku dengar nama tjeetjoe. Girang aku dengan pertemuan ini."

Sementara itu dengan matanya yang membelalak Koei Lam telah lihat juga tjeng-tiok atau tongkat bambu orang yang disenderkan di samping meja, sebagai orang yang luas pengalamannya, ia tahu artinya senjata itu, malah ia kenal baik ruas atau bukunya tongkat itu, yang ada tiga-belas, tanda kedudukan paling tinggi.

Maka lekas-lekas ia menjura kepada Tjeng Tiok.

"Maafkan aku untuk mataku yang kurang terang,"

Katanya.

"Tuan toh Thia Loo-pangtjoe?"

Thia Tjeng Tiok tertawa.

"Benar-benar liehay matanya Seng-tjhioe Sin-touw!"

Katanya.

"Djiewie tidak kenal satu sama lain apabila djiewie tidak bentrok, maka sekarang, mari kita minum bersama-sama!"

Semua orang lantas duduk. Gie Seng dan Koei Lam lantas saling memberi selamat dengan arak, satu sama lain mereka akui kesemberonoan mereka. Gie Seng kemudian tertawa ketika ia kata.

"Sungguh aneh, entah dari mana dia curinya pispot itu!"

Mendengar ini, semua orang tertawa.

Koei Lam berlaku sopan-santun, tidak saja ia tahu ia berhadapan sama dua jago dari Hoopak dan Shoatang, di situ pun Sin Tjie yang agaknya dipandang tinggi kedua jago itu, hingga ia menduga, pemuda ini bukan orang sembarangan.

Ia pun telah saksikan keliehayannya selagi si anak muda pisahkan mereka.

"Untuk maksud apa djiewie sampai di sini?"

Tjeng Tiok tanya kemudian.

"Kau sendiri, Ouw Lauwtee, apakah kau lihat dan penujui salah satu hartawan di sini hingga kau berniat perlihatkan ilmu kepandaianmu?"

"Di dalam wilayah Thia lootjianpwee mana berani aku main gila?"

Sahut Koei Lam sambil tertawa.

"Aku hendak pergi memberi selamat kepada Loo-ya-tjoe Beng Pek Hoei."

"Hei, mengapa kau tak menyebutkannya maksudmu itu siang-siang?"

Menegur Gie Seng sambil tepuk meja.

"Aku juga berniat pergi memberi selamat! Coba aku ketahui maksudmu, mana kita bentrok..."

"Tapi inilah bagus!"

Tertawa Tjeng Tiok.

"Kita sama-sama hendak memberi selamat pada Beng Loo-yatjoe, mari besok kita berangkat bersama-sama. Rupanya djiewie kenal baik Beng Looyatjoe itu?"

"Beng Toako itu adalah sahabatku sejak dua-puluh tahun yang lampau!"

Jawab Thie Lo Han.

"Selama yang belakangan ini aku lebih banyak berdiam di Kwietang Hokkian, jarang aku pergi ke utara. Sudah kira-kira delapan atau sembilan tahun kami tak pernah bertemu satu dengan lain."

"Kalau demikian Lo Han Toako, tolong kau perkenalkan aku dengannya,"

Kata Ouw Koei Lam. Tauwtoo itu menjadi heran.

"Apa?"

Katanya.

"Apakah kau tak kenal Beng Toako? Habis kenapa kau hendak pergi kasih selamat padanya?"

"Aku adalah seorang yang sejak lama kagumi Beng Toako, sayang belum ada jodonya aku bertemu dengannya,"

Koei Lam akui.

"Belum lama ini aku telah dapatkan serupa barang berharha, aku pikir, untuk berkenalan sama orang kang-ouw kenamaan ini, aku boleh berikan bendaku itu."

"Begitu!"

Kata si tauwtoo.

"Mengenai Beng Toako, jangan kata orang yang membekal barang antaran, sekalipun yang tidak, dia bakal sambut dengan manis-budi. Beng Toako sangat ramah-tamah. Kalau tidak, mengapa orang bandingi dia dengan Beng Siang Koen?"

Mendengar orang menyebut dapat benda berharga, hatinya Thia Tjeng Tiok tertarik.

"Ouw Lauwtee, benda apa itu yang kau dapatkan?"

Tanyanya. Apa boleh kau bantu membukan pandanganku dengan kau perlihatkan benda itu?"

"Seng-tjhioe Sin-touw telah curi banyak barangm yang tidak berharga mana dia pandang mata?"

Kata See Thian Kong sambil tertawa.

"Pasti itu adalah barang yang harganya sama besarnya dengan sebuah kota...."

Nampaknya Ouw Koei Lam girang sekali.

"Barang itu sekarang berada padaku,"

Ia beritahukan. Ia lantas merogo ke dalam sakunya, akan keluarkan sebuah lopa-lopa terbuat dari emas yang indah dan tertabur batu pualam dan mutiara.

"Di sini ada banyak mata, mari kita pergi ke dalam kamar,"

Kata dia kemudian.

Semua orang ingin lihat isinya lopa-lopa indah itu, semua lantas bertindak ke dalam kamar.

Begitu lekas ia telah rapatkan pintu, Ouw Koei Lam buka lopa-lopanya di dalam mana terdapat dua ekor kodok pek-tjiam-sie yang sudah menjadi bangkai, tubuhnya putih bagaikan salju seluruhnya, biji matanya merah bagaikan darah hidup.

Memang, nampaknya dua ekor kodok itu menarik hati untuk dipandang, akan tetapi semua orang tidak lihat faedahnya.

Tjeng Tiok dan Thian Kong sendiri, yang berpengalaman luas, masih tak mengerti juga.

Ouw Koei Lam awasi Gie Seng, ia tertawa.

"Tadi berdua kita adu tenaga,"

Katanya.

"umpama kata kita terbinasa karenanya, itu dia yang dinamakan takdir, tidak ada pertolongan lagi, akan tetapi andaikata kita cuma terluka parah, aku mempunyai daya-upaya untuk tolong mengobatinya hingga kita terbebas dari ancaman malapetaka."

Dia lantas tunjuk sepasang kodok putih itu.

"Inilah kodok Tjoetjeng peng-tjiam yang hidupnya di Soat San, Gunung Salju di See-hek, perbatasan barat. Tidak perduli luka bagaimana hebat, di luar, atau terkena racun, asal orang tidak mati seketika, dia dapat ditolong setelah dia makan kodok ini, kodok es. Kemujarabannya obat ini tidak ada tandingannya."

"Dari mana kau dapatkannya ini?"

Tjeng Tiok tanya.

"Dari satu imam tua,"

Sahut Koei Lam.

"Pada bulan yang lalu aku berada di Hoolam, selagi singgah di hotel aku bertemu sama imam itu yang sedang sakit berat sampai hampir mati. Aku kasihan terhadapnya, aku berikan ia uang sepuluh tail, untuk ia panggil tabib dan berobat, aku sendiri layani dia selama sakitnya itu. Dasar umurnya sudah sampai, obat dan rawatanku tidak menolong, akhirnya tak dapat ia hidup lebih lama pula. Imam itu ingat budi, di saat hendak menghembuskan napasnya yang terakhir, dia kasikan kodoknya ini kepadaku, untuk membalas kebaikanku."

"Mengapa lopa-lopanya demikia indah?"

Thie Lo Han tanya.

"Pada mulanya, si imam tempatkan ini dalam sebuah lopa-lopa kaleng,"

Menerangkan Koei Lam.

"Sekarang aku hendak haturkan kodok es ini kepada Beng Looyatjoe, maka aku tukar tempatnya, supaya setimpal dilihatnya."

See Thian Kong tertawa.

"Maka lantas kau, dengan tangan kosong, kunjungi suatu hartawan, untuk dapatkan lopalopa emas dan indah ini?"

Katanya.

"See Tjeetjoe pandai menerka,"

Tertawa Koei Lam.

"Lopa-lopa emas ini kepunyaan nona besar dari satu hartawan she Lauw di kota Kay-hong..."

Semua orang tertawa. Koei Lam tak malu ditertawai, ia pun tertawa juga.

"Tadi,"

Katanya, melanjuti.

"jikalau tidak tuan ini menolongi, kita berdua mesti rubuh dengan luka-luka parah, andaikata aku terluput dari kematian, pasti aku akan makan satu kodok es ini dan berikan dia yang lainnya. Kita berdua tidak bermusuhan, mustahil aku mesti bikin dia celaka?"

"Dengan begitu aku jadi bakal terima budimu!"

Tertawa Thie Lo Han. Maka lagi-lagi semua orang tertawa.

"Dan sekarang, kedua kodok ini tetap bukanlah kepunyaanku,"

Kata pula Koei Lam. Lalu dengan kedua tangannya, dia angsurkan kodok itu kepada Sin Tjie.

"Tak berani aku menyebut membalas budi tetapi ini melainkan ada tanda hati dari aku."

Sin Tjie heran hingga ia melengak.

"Mana dapat!"

Katanya kemudian.

"Kodok ini kau toh kau hendak berikan kepada Beng Loo-yatjoe..."

"Jikalau siangkong tidak berkorban untuk tolongi kami, pasti aku sudah mati,"

Kata Koei Lam.

"maka itu, nyata sepasang kodok es ini bukan jodonya Beng Loo-yatjoe. Untuk hadiah, bukannya aku tekebur, sembarang waktu aku bisa dapatkan gantinya, maka tak usah siangkong buat pikiran."

Masih Sin Tjie menampik, karena mana, Koei Lam agaknya kurang puas.

"Siangkong tidak mau perkenalkan she dan nama, sekarang siangkong juga tidak sudi terima barangku, apa mungkin siangkong sangka kodok es ini aku dapatinya dari mencuri?"

Katanya.

"Apa mungkin siangkong anggap ini barang kotor?"

"Maaf, saudara Ouw,"

Kata Sin Tjie dengan cepat.

"Tak sempat tadi aku perkenalkan diriku. Aku ada Wan Sin Tjie."

"Aha!"

Berseru Thie Lo Han dan Koei Lam juga.

"Jadinya siangkong ada Wan Toaya yang menjadi bengtjoe dari tujuh propinsi! Pantas toaya liehay sekali."

Keduanya lantas unjuk sikap sangat menghormati.

"Ouw Toako memaksa hendak memberikannya, jelek untuk aku menampik, baik aku terima,"

Kata Sin Tjie kemudian.

"Banyak-banyak terima kasih!"

Ia sambuti kodok es itu, untuk disimpan dalam sakunya.

Bukan main girangnya Koei Lam, wajahnya berseri-seri.

Sin Tjie pergi ke kamarnya akan kembali bersama sepohon batu bunga-karang merahdadu yang terang bercahaya, indah dan tak ada cacatnya, tak ada sebutir jua pasir tercampur di dalamnya, kapan ia letaki itu di atas meja, ruangan jadi tambah terang luar biasa.

Jadi itu adalah mustika bunga-karang.

Koei Lam tercengang, walaupun ia pernah lihat banyak barang permata.

"Belum pernah aku lihat mustika ini,"

Katanya.

"Mungkin dalam istana kaisar Baru kedapatan ini macam mustika. Apakah ini pusaka turunan, Wan Toaya? Dengan ini mataku telah terbuka."

Sin Tjie tertawa.

"Ini melainkan suatu benda permainan,"

Bilangnya.

"Meskipun barang ini indah, kefaedahannya masih kalah dengan kodok es itu, yang bisa menolongi jiwa orang. Secara kebetulan saja aku peroleh ini. Aku harap saudara Ouw suka menerimanya, untuk ganti barang antaranmu."

"Tapi ini terlalu berharga,"

Koei Lam kata.

"Tidak apa, saudara Ouw. Kau terimalah."

Karena terdesak, Koei Lam terima juga.

Ia mengucap terima kasih.

Tjeng Tiok semua kagum untuk sifat Sin Tjie ini.

Sampai di situ, mereka beristirahat, untuk besoknya pagi, mereka melanjuti perjalanan, maka sorenya, sampailah mereka di Po-teng.

Mereka singgah dulu di hotel, lalu besokannya pagi-pagi, mereka sudah bikin kunjungan kepada Beng Pek Hoei, jago Utara itu.

Kapan tuan rumah lihat tiga nama -Wan Sin Tjie, Thia Tjeng Tiok dan See Thian Kong -ia sendiri yang keluar menyambut, akan tetapi kapan ia telah saksikan Sin Tjie hanya seorang muda, ia menjadi sedikit melengak.

Inilah ia tak sangka, dengan sendirinya ia menjadi tak puas.

"Kenapa orang-orang gagah dari tujuh propinsi jadi begini angot,"

Pikirnya.

"Kenapa mereka pilih bocah semacam ini menjadi bengtjoe?"

Sebagai seorang yang gemar bergaul, biar bagaimana, Beng Pek Hoei layani juga tetamutetamunya itu; ia dibantu oleh kedua anaknya, Beng Tjeng dan Beng Sioe.

Ia menghaturkan terima kasih, ia utarakan penghargaannya kepada semua tetamu itu, lantas ia undang mereka masuk, untuk duduk.

Sin Tjie lihat tuan rumah bertubuh kekar, rambut dan kumis-jenggotnya telah putih semua, tindakannya masih tetap, suatu tanda bahwa dia mengerti baik ilmu silat, sementara kedua puteranya sedang mudanya dan romannya gagah.

Kapan kemudian kedua pihak telah bicara lama juga, segera ternyata Beng Pek Hoei kurang setuju dengan rapat besar di Tay San, selagi Thia Tjeng Tiok dan See Thian Kong omongkan itu, dia seperti tak memperhatikan, dia tidak campur bicara atau menanyakannya.

Selang tidak lama, datang lain tetamu, dengan memohon maaf, Pek Hoei tinggalkan rombongan Sin Tjie, untuk sambut tetamu Baru itu.

"Dia dijuluki Kay Beng Siang,mengapa dia layani tetamunya begini adem?"

Pikir Tjeng Tjeng.

"Mestinya dia kesohor namanya saja...."

Habis minum teh, Beng Sioe temani rombongan Sin Tjie ini pergi ke ruang belakang, untuk saksikan pelbagai barang antaran atau tanda mata dari sekalian tetamu.

Di sana mengitari sebuah meja berada Pek Hoei bersama sejumlah tetamu lainnya.

Rata-rata tetamu itu memberikan pujiannya.

Melihat pada Sin Tjie beramai, Pek Hoei lekas-lekas menghampirkan.

"Saudara Wan, tak sanggup aku terima budi kebaikanmu ini!"

Katanya.

"Sumbangan saudara berharga sangat besar..."

"Untuk hari ulang tahun lootjianpwee, barang itu tidak berharga,"

Sahut Sin Tjie.

Thian Kong beramai dekati meja, hingga mereka bisa lihat banyaknya barang tanda mata, yang indah-indah, sedang tanda mata dari Sin Tjie ada dua-puluh empat butir mutiara serta kuda-kudaan kumala, dan sumbangan Tjeng Tjeng ada semangka-semangkaan dari batu hoeitjoei.

Mencolok adalah tanda mata dari Ouw Koei Lam, itu batu bunga-karang.

Beng Pek Hoei tidak puas Sin Tjie yang muda diangkat sebagai bengtjoe, tapi sekarang menyaksikan sikap sopan santun dan manis budi pemuda itu, dia dipanggil dengan sebutan lootjianpwee serta barang sumbangannya demikian indah dan mahal, berubahlah perasaannya, dia mulai menjadi suka.

Dia pun heran untuk kelakuan hormat dan halus dari anak muda ini.

Kapan kemudian telah selesai orang memberi selamat kepada tuan rumah, pada malamnya tuan rumah undang semua tetamu untuk dijamu.

Itulah suatu pesta besar sekali.

Telah hadir lebih daripada tiga-ribu tetamu, sebab Pek Hoei adalah orang paling kenamaan di Po-teng, dia kaya raya dan sangat gemar bergaul.

Di dalam pesta, tuan rumah ini berlaku sangat ramah-tamah, ia saban-saban menghaturkan terima kasih.

Di thia telah diatur kira-kira delapan-puluh meja, untuk semua tetamu yang ternama, dan untuk tetamu lainnya, mereka berpesta di ruang belakang.

Sin Tjie bertiga Thia Tjeng Tiok dan See Thian Kong diundang duduk di meja pertama, Beng Pek Hoei sendiri yang menemani.

Di sini ada duduk juga -malah di kursi pertama -Wan-yho-tan Thio Djiak Kok, seorang umur tujuh-puluh-delapan tahun, yang tersohor gagah.

Pek Hoei perkenalkan dia ini pada Sin Tjie bertiga.

Thio Djiak Kok juga heran mengapa rapat di Tay San pilih satu bengtjoe seorang muda dan tak beroman luar biasa sebagai pemuda ini, dari heran, ia merasa lucu, tetapi ia tidak bilang suatu apa.

Duduk bersama di meja pertama itu ada satu orang she Phang bekas tjongpeng, yang masih dipanngil Phang Tjongpeng, begitupun Tang Kay San, piauwsoe kepala dari Eng Seng Piauw Kiok, serta beberapa orang kenamaan lain.

Habis beri selamat pula dengan secawan arak pada tuan rumah, sekalian tetamu ini lantas dahar dan minum dengan gembira, dengan main bade-badean tangan juga.

Selagi pesta berjalan, satu tjhungteng datang masuk dengan tangannya membawa satu barang hadiah, dia dekati Beng Tjeng, untuk bicara di kupingnya majikan muda ini dengan pelahan, atas mana dia ini berbangkit, akan hampirkan ayahnya.

"Ayah, sungguh terang muka ayah,"

Katanya.

"Sin-koen Boe-tek Kwie Sin Sie suami-isteri serta murid-muridnya telah datang untuk memberi selamat!"

Tapi Pek Hoei heran, hingga ia melengak.

"Sebenarnya aku tak punya hubungan dengan mereka,"

Katanya.

Kapan dos barang antaran dibuka, di situ kedapatan selembar kertas merah yang memuat huruf-huruf besar menyebutkan nama Kwie Sin Sie suami isteri serta murid-muridnya, yang memberi selamat, serta di bawahan itu, dengan huruf kecil, ada tambahan mohon suka diterima sumbangan uang emas sepuluh tail, uang emas mana, dalam rupa sepotong goanpo kecil, terletak di dalam dos itu.

"Lekas menyambur!"

Kata tuan rumah, yang lantas bilang pada Thio Djiak Kok beramai.

"Maaf."

Bersama dua anaknya, segera ia pergi keluar.

Tapi lekas juga ia telah kembali, dengan air muka riang-gembira, bersama dia ada Kwie Sin Sie suami-isteri bersama Bwee Kiam Hoo, Lauw Pwee Seng dan Soen Tiong Koen.

Sin Tjie sudah lantas berbangkit untuk berdiri di pinggiran, terus ia menjura seraya berkata.

"Djie soeko, djie-soeso, baik?"

Kwie Sin Sie manggut.

"Oh, kau pun ada di sini...."

Sahut soeko yang kedua itu.

"Ehm,"

Terdengar Kwie Djie-nio, yang tak perdulikan soetee itu.

"Silakan duduk di atas, soeko,"

Kata Sin Tjie pula.

"Aku nanti duduk bersama Kiam Hoo beramai."

Mendengar bahwa mereka adalah soeheng dan soetee, Beng Pek Hoei tertawa.

"Bagus, bagus!"

Katanya.

"Ada soeko yang begini terkenal yang menjadi tulang punggung, jangan kata Baru menjadi bengtjoe dari tujuh propinsi, walaupun dari empatbelas propinsi masih tepat!"

Dengan kata-katanya itu, Pek Hoei beranggapan Sin Tjie menjadi bengtjoe karena andalan soehengnya itu. Sin Tjie dengar itu, ia melainkan bersenyum, ia tak bilang suatu apa.

"Kau omong tentang bengtjoe, apa itu?"

Tanya Sin Sie dengan heran.

"Ah, aku bicara seenaknya saja, harap Kwie Djieko tak buat pikiran,"

Sahut tuan rumah, yang terus silakan tetamunya ini duduk bersama Thio Djiak Kok beramai, karena mana, Sin Tjie pindah akan duduk bersama Kiam Hoo.

Di dalam pesta ini, wanita dan pria duduk bersama, tidak ada pemisahan.

Kwie Sin Sie dan nyonya bersama tuan rumah lantas saling memberi selamat, yang satu untuk selamat panjang umur, yang lain untuk kedatangannya tetamu, kepada siapa pun dihaturkan terima kasih buat antaran barang tanda matanya.

Habis minum tiga edaran, Tang Kay San berbangkit, untuk mohon undurkan diri, katanya tak kuat ia minum banyak, ingin ia beristirahat.

Beng Pek Hoei tidak mencegah, malah ia suruh satu tjhungteng untuk antar tetamu ini ke balai istirahat.

Tiba-tiba Kwie Sin Sie kata dengan tawar.

"Kami telah pergi kemana-mana untuk cari Tang Piauwsoe, kami tidak berhasil, maka kami sangka, piauwtauw mesti ada di sini, buktinya sekarang benar dugaan kami itu!"

Tang Kay San berubah wajahnya, dia likat agaknya.

"Aku dengan Kwie djie-ya tidak punya dendaman atau permusuhan, dahulu tidak, sekarang pun tidak,"

Katanya.

"Maka kenapa Kwie Djie-ya bergitu mendesak mencari aku?"

Orang banyak heran, hingga mereka menunda cawan arak mereka. Semua orang mengawasi kedua tetamu ini. Beng Pek Hoei tertawa.

"Di antara djiewie ada sangkutan apa?"

Tanyanya.

"Aku minta djiewie suka memandang aku, biarlah aku dapat mendamaikannya."

"Sudah lama aku kagumi nama Kwie Djie-ya,"

Berkata Tang Kay San.

"Dengan dia aku belum pernah berkenalan, maka aku pun tidak mengerti kenapa Kwie Djie-ya cari aku kemana-mana...."

Mendengar ini, Pek Hoei lantas saja mengerti. Di dalam hatinya, ia kata.

"Bagus benar! Kamu berdua jadi bukan dengan setulus-tulusnya hati datang untuk memberi selamat kepada aku! Yang satu adalah untuk menyingkirkan diri, yang lain untuk menyusul! Si orang she Tang ini menghargai aku, dia telah memasuki rumahku, biar bagaimana, tak dapat aku ijinkan dia mendapat susah."

Karena memikir begini, ia terus kata kepada tetamunya yang baru.

"Kwie Djie-ya, apabila kau ada punya urusan, baik kita bicarakan itu selewatnya hari ini. Kita semua ada sahabat-sahabat baik, urusan apa juga dapat didamaikan."

Kwie Sin Sie tak pandai bicara, maka isterinya yang wakilkan dia.

"Ini adalah anak tunggal dari Djie-ya,"

Berkata nyonya ini sambil ia tunjuk puteranya, yang senantiasa berada dalam empoannya.

"Anak ini telah mendapat sakit berat, dia tinggal matinya saja, karena itu kami hendak mohon Tang Piauwtauw berbuat kebaikan kepada kami dengan berikan beberapa butir obat pulungnya kepada kami, untuk tolongi jiwanya anak kami ini. Tentu saja itu ada satu budi yang besar sekali."

"Itu adalah hal yang selayaknya,"

Kata Beng Pek Hoei, yang terus berpaling kepada piauwsoe she Tang itu, akan kata.

"Tuan Tang, menolongi satu jiwa manusia ada lebih berjasa daripada mendirikan sebuah menara tujuh tingkat, maka itu, tolong kau berikan obat kepada anak ini. Inilah permintaan dari Kwie Djie-ya, satu enghiong yang kenamaan."

"Coba hok-leng dan ho-sioe-ouw itu ada kepunyaanku sendiri, tidak usah Kwie Djie-ya capaikan hati akan cari aku, pasti siang-siang aku sudah menghaturkannya dengan kedua tanganku,"

Sahut Tang Kay San.

"Akan tetapi obat itu ada kepunyaan Ma Taydjin, tjongtok dari Hongyang -itu ada upeti untuk kotaraja, maka itu, bagaimana dapat aku menyerahkannya? Barang telah diserahkan dalam pertanggungan-jawab dari Eng Seng Piauw Kiok, apabila aku membuat gagal, di belakang hari, cara bagaimana kami dapat hidup di dalam kalangan kang-ouw ini?"

Tang Piauwsoe telah memberikan alasan kuat, orang menjadi serba salah. Phang Tjongpeng dengar halnya barang upeti, lantas saja dia campur bicara.

"Barang upeti berarti barangnya Sri Baginda, siapa bernyali besar berani ganggu itu?"

Katanya dengan nyaring.

"Hm!"

Kwie Djie-nio menyambuti.

"Walaupun itu ada barangnya Giok Hong Tay Tee, mesti aku mengambilnya!"

Phang Tjongpeng jadi gusar, hingga dia keluarkan lagak pembesarnya.

"Bagus!"

Serunya.

"Orang perempuan, kau hendak berontak?"

Kwie Djie-nio jadi tambah murka.

Dengan sumpitnya dia jemput sepotong bakso, selagi si tjongpeng belum sempat tutup rapat mulutnya, dia menimpuk, tepat masuk ke dalam mulut, sedangkan si tjongpeng lagi kaget, lain-lain potongan bakso beruntun menyambar mulutnya jadi penuh, hingga dia jadi kelabakan.

Jago tua Thio Djiak Kok menjadi tidak senang.

"Ini hari ada hari ulang tahun Beng Toaya, mengapa kau mengacau?"

Pikirnya. Lantas dia jumput para-para sumpit mirip goanpo, ia menepuk dengan keras, hingga parapara itu nancap di atas meja.

"Kau pertontonkan tenaga lweekang, siapa jeri padamu?"

Kata Sin Sie dalam hatinya.

Lantas dia letaki tangannya di atas menja, diam-diam ia kerahkan tenaganya, di mata orang kebanyakan, dia tidak berbuat suatu apa, akan tetapi tahu-tahu para-para sumpit itu meletik sendirinya, seperti tercabut dengan ilmu dewa.

Mukanya Thio Djiak Kok menjadi merah, dia jengah sendirinya.

Lagi dia keprak meja, lantas dia menoleh kepada tuan rumah, akan kata.

"Beng Lauwtee, saudaramu telah mendapat malu di rumahmu ini...."

Lantas dia bertindak keluar, tindakannya lebar.

"Jangan kesusu, Thio Looyatjoe,"

Kata dua pelayan, sambil menyusul.

"Silakan looyatjoe minum teh di ruang belakang...."

Djiak Kok tidak perdulikan cegahan itu, malah dengan buka kedua tangannya, ia bikin kedua pelayan sempoyongan dan jatuh terpental.

Ia jalan terus.

Beng Pek Hoei menjadi tidak senang.

Ia anggap pestanya yang berjalan dengan gembira itu telah dikacau oleh Kwie Sin Sie suami-isteri.

Tapi, belum sampai dia bicara, Phang Tjongpeng sudah berteriak kelabakan.

Dia ini bisa keluarkan semua bakso dari mulutnya, kecuali sepotong yang pertama, yang nyerobot terus lewat tenggorokannya, masuk ke dalam perutnya!

"Berontak!

Berontak!"

Demikian suaranya yang nyaring.

"Apakah masih ada undang

KANG ZUSI -

http.//cerita-silat.co.cc/ undang raja? Mari!"

Dia memanggil orangnya. Lantas dua pengikutnya muncul. Mereka ini menantikan di luar, mereka tidak tahu apa-apa, mereka masuk sambil berlari-lari.

"Lekas gotong Tay-Kwan-too-ku!"

Kata Phang Tjongpeng itu, yang bersenjatakan Taykwan-too itu -golok Kwan Kong.

Ketika ia peroleh pangkat, Phang Tjongpeng dapati itu karena andalkan pengaruh isterinya, boegeenya masih rendah, akan tetapi dia aksi, dia perintah tukang besi bikin golok Kwan Kong yang besar tapi di dalamnya, besinya dikosongkan.

Kalau dia tunggang kuda, dia cekal goloknya itu, sengaja dia perlihatkan sebagai dia lagi pegang senjata berat, hingga orang kagumi dia karena tenaganya yang besar.

Goloknya itu pun mesti selalu digotong dua pengiringnya.

Sekarang dia gusar dengan mendadak, kumat penyakit tekeburnya, sampai dia lupa dirinya lagi berada di tempat apa, dia beraksi.

Tentu saja dua pengiringnya jadi melengak.

Mereka datang ke pesta, mereka tak bawa-bawa gegaman berat itu.

Karena itu, satu pengiring loloskan saja golok di pinggangnya, dan angsurkan itu kepada majikannya.

Beng Pek Hoei kenal bekas tjongpeng ini, menampak aksinya dia geli berbareng mendelu.

"Jangan!"

Tuan rumah ini segera menyela.

Tapi Phang tjongpeng biasa anggap jiwa manusia bagaikan rumput saja, goloknya telah menyambar ke arah Kwie Djie-nio!

Nyonya Kwie Sin Sie empo anaknya, dengan tangan kanan, maka itu, atas serangan, dia ulur tangannya yang kiri; dengan dua jari telunjuk dan tengahnya, ia sambuti, menjapit golok yang dipakai membacok dia.

"Toalooya, kau hendak apa?"

Dia menegur.

Tjongpeng pensiunan itu tarik goloknya, ia tidak berhasil.

Bagaikan dijepit dengan sepit besi, demikian golok itu diam di antara jepitan kedua jarinya si nyonya, tak sanggup ia untuk membuat bergeming saja, hingga ia jadi penasaran.

Lantas ia cekal gagang golok dengan kedua tangannya, ia menarik dengan sekuat tenaganya!

Dengan tiba-tiba saja Kwie Djie-nio lepaskan jepitannya, maka tidak ampun lagi, bekas tjongpeng itu rubuh terjengkang ke belakang tanpa dia bisa pertahankan tubuhnya, dia rubuh terbanting, belakang golok jatuh menimpa jidatnya, hingga bengkak-benjutlah jidat itu sebesar telur ayam!

Kedua pengiring lekas menghampirkan majikannya, untuk dibangunkan.

Malu bekas tjongpeng ini, tanpa bilang suatu apa lagi, bersama dua pengiringnya itu dia ngeloyor pergi, meninggalkan ruang pesta, selagi lewati pintu, dia damprat dua pengiring itu, yang dikatakan sudah tak gotong golok besarnya....

Dalam waktu kalut itu, Tang Kay San memikir untuk menyingkir, tapi Kwie Sin Sie bisa terka maksudnya.

"Tang Piauwsoe, tinggalkan obatmu!"

Kata jago ini.

"Aku tidak akan bikin susah padamu...."

Kay San jadi sangat terdesak, maka ia berdiri diam di tengah ruangan.

"Aku tahu aku Tang Kay San bukan tandingan kau, Sin-koen Boe-tek,"

Kata dia.

"Jiwaku ada di sini, jikalau kau hendak ambil, nah, ambillah!"

"Siapa inginkan jiwamu?"

Kata Kwie Djie-nio.

"Kau keluarkan obatmu!"

Beng Tjeng, putera sulung dari Beng Pek Hoei, menjadi habis sabar. Ia maju ke depan Tang Piauwsoe.

"Orang she Kwie,"

Berkata dia.

"hari ini ada hari ulang tahun ayahku, jikalau ada urusan di antara kamu, silakan urus itu di luar!"

"Baik!"

Sahut Kwie Sin Sie.

"Tang Piauwtauw, mari kita pergi keluar!"

Tapi piauwsoe itu tak sudi ikuti orang.

Kwie Sin Sie menjadi habis sabar, ia ulur sebelah tangannya, untuk menjambak.

Tang Kay San mundur setindak untuk tidak mengenai tangan itu.

Sin Sie telah ulur tangannya, tak pernah itu ditarik pualng dengan tangan kosong.

Tang Kay San ada piauwsoe kepala dari satu piauw-kiok kesohor.

Boegeenya pun bukan boegee sembarangan, akan tetapi tangan Sin Sie cepat luar biasa, tak perduli dia undurkan diri, bajunya kena juga terjambak hingga robek!

Kembali Beng Tjeng menghalangi diri.

"Tang Piauwsoe ada tetamu, yang sengaja datang untuk memberi selamat kepada ayahku, kami tidak dapat ijinkan dia diperhina orang di tempat kami,"

Katanya.

"Habis apa kau kehendaki?"

Tanya Kwie Djie-nio.

"Kau dengan sendiri bukankah suamiku telah perintah dia pergi keluar?"

"Kamu mempunyai urusan penting dengan Tang Piauwsoe, apakah tak dapat kamu pergi cari dia di Eng Seng Piauwkiok?"

Tanya Beng Tjeng.

"Kenapa kamu justeru datang mengacau di sini?"

Dalam sengitnya, anak muda ini jadi tak sungkan-sungkan lagi bicaranya.

"Kami mengacau, habis bagaimana?"

Berseru Kwie Djie-nio. Mukanya Beng Pek Hoei jadi guram-suram. Dia lantas berbangkit.

"Baiklah!"

Katanya.

"Jikalau Kwie Djie-ya memandang aku, aku si orang tua suka terima pengajaran daripadamu."

Saking habis sabar, jago tua ini terpaksa menantang.

"Ayah, hari ini ada hari ulang tahunmu, biarkan anakmu saja,"

Beng Tjeng bilang. Tuan rumah yang muda ini lantas panggil orang-orangnya untuk mereka singkirkan kursimeja, untuk memberi satu ruangan terbuka, hingga karenanya, pesta jadi terganggu.

"Jikalau benar kau hendak mengacau, mari maju!"

Kemudian Beng Tjeng menantang.

"Jikalau benar kau hendak turun tangan terhadap suamiku, baik kau belajar silat lagi dua puluh tahun!"

Peringati Kwie Djie-nio dengan tekebur.

"Sekalipun begitu, aku sangsikan kau bakal berhasil!..."

Beng Tjeng telah dapat warisan banyak dari ilmu silat ayahnya, dia pun sedang muda dan gagahnya, sampai sebegitu jauh, belum pernah ia menemui tandingan, maka meskipun ia pernah dengar nama kesohor dari Kwie Sin Sie suami-isteri, dalam kejadian seperti ini, tak dapat ia menahan sabar lebih jauh.

"Kwie Loo-djie, kau mahluk apa maka kau berani mengacau di sini?"

Ia berseru.

"Jikalau Beng Siauwya kalah daripadamu, nanti aku antap apa kau suka perbuat terhadap Tang Piauwtauw, selanjutnya kami keluarga Beng tak akan campur tahu pula. Umpama kata aku yang menang, bagaimana denganmu?"

Kwie Sin Sie tak suka omong banyak, maka dengan pelahan, dia jawab.

"Asal kau sanggup sambut tiga jurus dari aku, aku nanti menjura terhadapmu!"

Orang banyak tidak dapat dengar suara itu, mereka saling tanya satu pada lain. Beng Tjeng tertawa besar.

"Tuan-tuan dengar, dia jumawa atau tidak?"

Kata dia kepada sekalian tetamunya.

"Dia bilang, asal aku sanggup sambut tiga jurus serangannya, dia bakal menjura kepadaku! Benarkah begitu, Kwie Loo-djie?"

"Tidak salah!"

Sahut Kwie Sin Sie.

"Kau sambutlah!"

Dengan sekonyong-konyong saja kepalan kanan jago ini menyambar, dengan gerakannya "Tay San ap teng"

Atau "Gunung Tay San menindih batok kepala".

"Lihat, soekomu telah menelad contohmu!"

Kata Tjeng Tjeng pada Sin Tjie.

"Kau maksudkan apa?"

Sin Tjie tegasi.

"Ketika kau layani murid soekomu itu, bukankah kau pun menyebutkan seranganmu berapa jurus?"

Si nona balik tanya.

"Orang she Beng ini tidak tahu selatan, dia mana tahu liehaynya soeko,"

Kata Sin Tjie, yang tidak jawab si nona.

Beng Tjeng lihat serangan datang, ia hendak lawan keras dengan keras, ia menangkis dengan tangan kanan, tangan kirinya dibarengi dipakai menyerang.

Maka kedua lengannya bergerak dengan berbareng.

"Dia jumawa, dia rupanya punya kepandaian yang berarti,"

Pikir Sin Sie, yang lihat sikap pemuda itu dan merasakan juga bentroknya kedua tangan.

Tapi ia tidak mau memberi hati.

Justeru ia diserang dengan tangan kiri, tangan kirinya mendahului, menyambar lengan atas orang, diteruskan disampok.

Beng Tjeng telah wariskan ilmu "Koay wah Sam-sip-tjiang"

Dari ayahnya, ilmu silat itu sangat utamakan beh-sie, atau kuda-kuda maka kedudukannya jadi kuat sekali, dia tak kena disempar lawannya.

"Celaka!"

Kata Sin Tjie dengan pelahan.

"Pukulan pertama ini tak membuat dia bergeming..."

Kwie Sin Sie sudah lantas ulangi serangannya.

Beng Tjeng dapat ketika, karena ia tahu lawannya tangguh, ia menyambut dengan dua-dua tangannya, tapi tanpa ia menduga suatu apa, tahu-tahu ia rasakan dorongan keras sekali, otaknya menjadi butek, pusing sekejab saja dia rubuh terjengkang, dengan tak sadar akan dirinya.

Semua orang menjadi kaget.

Beng Pek Hoei dan Beng Sioe lompat, akan kasi bangun itu anak atau saudara.

Beng Tjeng cepat sadar, walaupun dengan pelahan-lahan, akan tetapi begitu ia buka mulutnya, ia semburkan darah yang telah berwarna hitam, sebab ternyata ia telah terluka di dalam.

Kwie Sin Sie tak dapat sampok orang hingga terpelanting, ia mau percaya, pemuda ini benar-benar liehay, maka kapan ia menyerang pula, ia gunai tenaga penuh.

Kali ini Beng Tjeng tak dapat pertahankan diri, ia rubuh dengan segera.

Melihat demikian, Sin Sie jadi menyesal, ia kuatir orang nanti mati karena lukanya itu.

Teng-kah-sin Teng Yoe dan Beng Sioe menjadi meluap hawa amarahnya, tanpa berdamai lagi, keduanya loncat maju, untuk menyerang.

Beng Pek Hoei sendiri lantas uruti puteranya, sambil menolongi, ia lihat tarikan napas pelahan sekali dari puteranya itu, tanpa merasa, air matanya berlinang dan turun mengucur.

Tiba-tiba saja dia berbangkit untuk menyerang tetamunya yang dianggap pengacau pesta itu.

Itu waktu Kwie Sin Sie lihat Tang Kay San hendak menyingkir, maka tempo Teng Yoe dan Beng Tjeng serang dia, dia berkelit dengan nyelundup di bawah, berbareng dengan mana, ia berhasil dekati si piauwsoe, iga siapa terus ia totok.

Piauwsoe itu tak berdaya, hingga dia lantas jadi berdiri diam, hanya lucunya, justeru dengan sikap sebelah kaki di depan, sebelah kaki di belakang seperti orang lagi berlari...

Beng Pek Hoei sendiri sudah bertempur dengan Kwie Djie-nio sebab nyonya ini telah majukan diri, akan lindungi suaminya dari bokongan.

Jago tua itu seperti kalap, di sebelah itu, Kwie Djie-nio sedang empo anaknya, maka ini nyonya lekas juga kena terdesak, beberapa kali dia terancam bahaya.

Soen Tiong Koen bersama Bwee Kiam Hoo dan Lauw Pwee Seng juga turun tangan, telah bentrok dengan beberapa murid-muridnya Beng Pek Hoei, hingga medan pesta menjadi ramai dengan pelbagai rombongan pertempuran.

Thia Tjeng Tiok dan See Thian Kong menjadi sibuk sendirinya.

"Wan Siangkong, mari kita lekas memisahkan!"

Mereka mengajak.

"Aku kuatir perkara bisa menjadi terlebih hebat!"

"Soeko dan soeso mendendam terhadapku, apabila aku turun tangan, perkara justeru bakal menjadi lebih hebat lagi,"

Kata Sin Tjie.

"Coba kita lihat dulu sebentar..."

Ketika itu Kwie Sin Sie telah bantui isterinya, maka Kwie Djie-nio jadi bisa bernapas lega, sedang sebaliknya, Beng Pek Hoei segera kena terdesak, sebab orang she Kwie ini terlalu liehay untuknya.

Malah lagi sesaat, jago tua itu telah kena ditotok hingga dia tidak berdaya lagi.

Habis itu, bagaikan kupu-kupu di antara bunga-bunga, Kwie Sin Sie nyerbu di antara murid-murid atau orang-orangnya Pek Hoei, setiap ia lonjorkan tangannya, tentu ada orang-orang yang berhenti berkelahi dengan sikapnya masing-masing sendiri, ada yang lagi menjotos, ada yang lagi menendang, ada yang lagi berkelit atau berpaling, semua tubuh mereka tak bergeming, melainkan mata mereka yang bercilakan.

Di antara hadirin ada banyak orang-orang gagah akan tetapi menyaksikan liehaynya Kwie Sin Sie, tidak ada satu diantaranya yang berani majukan diri, untuk memisahkan, hingga karenanya, pertempuran berhenti sendirinya sesudah Sin Sie rubuhkan semua lawannya.

"Geledah si orang she Tang!"

Kwie Djie-nio titahkan Kiam Hoo.

Murid itu buka bungkusan yang tergendol di bebokong Tang Kay San, akan tetapi di situ tidak kedapatan pel hok-leng dan ho-sioe-ouw yang dicari.

Kwie Sin Sie lantas totok piauwsoe itu, untuk hidupkan jalan darahnya.

"Mana itu obat pulung?"

Dia tanya.

"Hm, kau ingin dapatkan obat itu?"

Kay San bilang.

"Kenapa kau ikuti aku sampai di sini? Kecewa kau menjadi orang kangouw yang ulung, sampai kau tidak menginsafi akal tonggeret meloloskan sarung-raganya!..."

Gusar Kwie Djie-nio mendengar jengekan itu.

"Apa?"

Tegaskan nyonya yang keras perangainya ini.

"Obat itu sudah dikirim langsung ke kota raja dan mungkin sudah sampai sekian lama!"

Jawab Kay San.

"Apakah benar?"

Tegaskan nyonya Kwie. Dia kaget berbareng mendongkol sekali.

"Aku sangat hargakan Beng loo-ya-tjoe sebagai sahabat baik, karenanya sengaja aku datang kemari untuk memberi selamat padanya,"

Tang Piauwsoe terangkan.

"Mustahil, karena tahu kamu inginkan obat itu, lantas aku bawa kemari hingga karenanya aku bisa rembet-rembet looyatjoe?"

Mendengar keterangan itu, Ouw Koei Lam si Malaikat Copet, dekati Sin Tjie untuk berbisik.

"Wan Siangkong, piauwsoe ini bermuka tebal, dia mendusta."

Katanya. Sin Tjie heran.

"Kenapa begitu?"

Sin Tjie tegaskan.

"Sebab aku tahu di mana dia sembunyikan obat itu,"

Jawab Koei Lam. Dan ia terus menunjuk ke arah sioe-toh, ialah kue yang merupakan buah toh, tanda dari panjang umur, yang terbuat dari tepung beras. Sioe-toh itu terletak di bawah tiok huruf "Sioe"

Yang besar.

"Mengapa kau bisa ketahui itu?"

Tanya ia pula.

"Akal biasa di kalangan kaum kangouw ini tak bisa lolos dari mataku!"

Jawab Koei Lam sambil tertawa. Tjeng Tjeng berada di samping mereka, ia dengar pembicaraan itu lantas saja ia tertawa.

"Ouw Toaya toh ada satu ahli!"

Ia turut bicara.

"Orang she Tang ini sangat licin,"

Kata Koei Lam, sambil tertawa.

"Dia rupanya telah duga Kwie Djie-ya bakal susul padanya, dia umpetkan obat itu, supaya kalau sebentar Kwie Djieya pergi, dia bisa ambil pula."

Sin Tjie manggut, lantas ia muncul ke tengah ruangan, akan hampirkan Beng Pek Hoei. Dengan hanyak sekali tepak dan totok pada kedua jalan darah "soan-kie"

Dan "sin-teng", ia telah bikin sadar tuan rumah itu.

"Apa?"

Berseru Kwie Djie-nio, yang lihat perbuatannya soetee itu.

"Apakah kembali kau usilan?"

Dalam panasnya hati, ia serahkan anaknya kepada Soen Tiong Koen, kemudian ia ulur tangannya terhadap Sin Tjie.

Ia tahu soetee ini liehay, untuk tidak membahayakan anaknya itu, untuk bikin ia leluasa bergerak, ia singkirkan anaknya lebih dahulu.

Sin Tjie berkelit ke kiri.

"Soeso, dengar dahulu aku!"

Kata dia.

Ketika itu Beng Pek Hoei sudah gerak-geraki kedua tangannya, kedua kaki dan tubuhnya juga, dengan begitu dengan lekas ia dapat pulang kesegarannya.

Rupanya ia penasaran, maka dengan berbareng ia serang Kwie Djie-nio dengan tangannya kiri dan kanan, masing-masing dengan tipu-silat "Seng siok hoet sie"

Dan "Hoei tim tjeng tan,"

Atau "Di musim panas mengebut kipas"

Dan "Mengebut debu untuk pasang omong."

Inilah dua tipu-silat dari ilmu silat "Koay-wah Sam-sip-tjiang"

Yang menjadi keahliannya.

Jago tua dari Utara ini sebanding dengan Kwie Djie-nio, maka itu, seperti bermula, mereka berkutat dalam keadaan berimbang, sampai belasan jurus, tidak ada yang menang atau kalah, hingga Kwie Sin Sie jadi hilang sabar.

"Kau mundur!"

Kata ia kepada isterinya.

Nyonya itu menurut, ia lantas mundur, sedang suaminya pegat Beng Pek Hoei, untuk diserang, maka seperti tadi Baru beberapa jurus, tuan rumah itu sudah kena tertotok pula hingga kembali ia berdiri diam saja.

Selama orang bertempur, terpaksa Sin Tjie berdiam diri, ia serba salah.

Begitu lekas pertempuran berhenti, Kwie Djie-nio lantas perdengarkan suaranya yang keras dan keren.

Dia sangat gelisah karena penyakit anaknya itu, yang hari demi hari jadi bertambah lemah, hingga ia kuatir, apabila terlambat lagi sekian hari, anak itu bakal tidak ketolongan lagi.

Memangnya dia beradat aseran.

"Orang she Tang, apabila kau tidak keluarkan obatmu itu, aku nanti patahkan kedua lenganmu!"

Demikian suaranya, yang sangat mengancam.

Dengan tangan kiri ia jambret sebelah tangannya si piauwsoe, tangan kanannya diangkat naik.

Asal tangan itu dikasi turun, pasti bercacatlah piauwsoe kepala dari Eng Seng Piauw Kiok.

Tang Kay San kertak giginya atas dan bawah, yang ia bikin rapat.

"Obat tidak ada di sini, sia-sia saja kau patahkan lenganku!"

Kata dia dengan nekat.

Di antara hadirin, ada dua orang yang tak bisa lihati saja kejadian hebat itu, mereka maju untuk memisahkan, akan tetapi mereka dipegat Kiam Hoo dan Pwee Seng, hingga dia orang jadi bentrok.

Sin Tjie lihat onar jadi hebat sekali, maka ia anggap, perlu ia mesti turun tangan juga, kalau tidak, tidak ada orang yang dapat mencegah huru-hara di medan pesta ini.

Dengan sekonyong-konyong saja dia mencelat kepada Soen Tiong Koen, dengan ulur kedua jari tangannya, dalam gerakan "Siang liong tjhio tjoe"

Atau "Sepasang naga perebuti mutiara", ia ancam kedua matanya murid perempuan dari soekonya itu.

Nona Soen menjadi kaget, ia angkat tangan kanannya, untuk menangkis.

Tapi ia tidak bisa kenai jeriji tangannya soesiok atau paman-cilik itu karena Sin Tjie pun menggunai tipudaya.

Selagi si nona sibuk, tahu-tahu tangan kanannya telah menolak dengan pelahan pundak si nona, sampai dia ini mesti mundur tiga tindak.

Justru itu, sebat luar biasa, puteranya Kwie Djie-nio telah pindah ke dalam pelukannya pemuda ini, yang ancam Tiong Koen melulu untuk rampas bocah itu.

"Soehoe! Soenio!"

Soen Tiong Koen menjerit-jerit, bahna kaget dan takutnya.

"Lekas! Lekas!...."

Selagi Sin Sie dan isterinya berpaling, Sin Tjie sudah lompat naik atas sebuah meja.

"Adik Tjeng, pedang!"

Berseru si anak muda. Cepat sekali, Tjeng Tjeng lemparkan pedang kepada kawannya itu. Sin Tjie sambuti pedang dan terus saja berseru.

"Kalian berhenti bertempur! Mari dengar aku dahulu."

Merah kedua matanya Kwie Djie-nio, sinarnya berapi.

"Anak gila, kau berani ganggu anakku?"

Dia mendamprat.

"Nanti aku adu jiwaku dengan jiwamu!"

Nyonya ini menjejak lantai, dengan niat lompat maju.

"Sabar,"

Sin Sie membujuk seraya ia tarik tangan isterinya itu.

"Ingat, anak kita ada di tangan dia...."

Djie-nio dapat dibujuk, dia diam, tapi terus dia awasi pemuda itu.

"Djie-soeko, tolong kau merdekakan dulu jalan darahnya Beng Looyatjoe!"

Sin Tjie lantas minta kepada kandanya seperguruan.

"Hm...."

Bersuara Sin Sie, yang luluskan permintaan itu, maka di lain saat, Beng Looyatjoe sudah dapat pulang kemerdekaannya.

"Semua tjianpwee, sekalian sahabat, sukalah kalian dengar aku sebentar,"

Berkata Sin Tjie seraya pandang semua hadirin.

"Anaknya soeko dan soeso ini mendapat sakit berat, untuk tolong anaknya itu, mereka hendak pinjam obat pel yang menjadi barang upeti dari Tjongtok Ma Soe Eng yang kemaruk dan merkis, obat mana diserahkan ke dalam tanggung-jawabnya ini Tang Piauwsoe, Piauwsoe ini telah kesudian menjual jiwanya kepada tjongtok busuk itu, maka itu soeko dan soeso jadi cari dan saterukan dia! Sementara itu Beng Looyatjoe adalah sahabat yang baik, tidak seharusnya, di saat pesta hari ulang tahunnya ini, kita ganggu padanya."

Semua hadirin heran mendengar suaranya anak muda ini.

Bukankah soeheng dan soetee ini berada dalam kedudukan bermusuh?

Kenapa sekarang sang soetee bicara untuk kebaikannya sang soeheng?

Kwie Sin Sie sendiri dan isterinya turut merasa aneh juga.

Maka itu, semua orang mengawasi, menantikan.

Sin Tjie tidak perdulikan sikap orang banyak itu, dia berpaling kepada tuan rumah.

"Beng Looyatjoe, tolong kau buka kue sioe-toh itu,"

Katanya kemudian kepada jago dari utara itu.

"Ada apa-apa yang luar biasa di dalam kue panjang umur itu."

Mendengar ini, mukanya Tang Kay San menjadi pucat.

Beng Pek Hoei tidak mengerti, tetapi walaupun dia bingung, dia iringi kehendaknya si anak muda.

Dia hampirkan sioe-toh, untuk buka belah kue itu, hingga di dalamnya, ia tampak beberapa biji lah-wan putih.

Masih ia tidak mengerti, karenanya, ia jadi berdiri tercengang.

Sin Tjie lihat lah-wan itu, lalu ia berkata pula.

"Coba Tang Piauwsoe ini mempunyai kepandaian berarti, tidak apa ia jual jiwanya kepada pemerintah, akan tetapi nyata dia berhati rendah dan busuk, dia telah mencoba untuk adu-dombakan kita, supaya kita kaum kang-ouw bentrok satu dengan lain! Beng Looyatjoe, adakah sioe-toh itu dan lainnya antaran Tang Piauwsoe ini?"

Beng Pek Hoei manggut.

"Sengaja piauwsoe she Tang ini umpetkan lah-wan itu di dalam sioe-toh,"

Sin Tjie beber orang punya rahasia.

"Dia ketahui dengan baik, sioe-toh tidak bakal dimakan, maka obat itu dia sembunyikan di dalamnya. Dia sudah pikir, kalau nanti pesta telah ditutup, dengan diam-diam dia bisa ambil pulang obat itu. Dalam hal ini, dia tidak perdulikan Kwie Soeko nanti bentrok dengan Beng Looyatjoe! Dengan dia berhasil dengan tipunya yang keji ini, tidakkah ia bakal berjasa terhadap pemerintah?"

Sin Tjie lantas turun dari meja, untuk hampirkan sioe-toh.

Tjeng Tjeng segera maju, untuk bantui kawannya itu.

Maka sedetik saja, lah-wan itu telah dikasi keluar.

Baru sekarang Kwie Sin Sie dan Beng Pek Hoei sadar bahwa mereka telah kena orang pedayakan.

Sin Tjie belah sebiji lah-wan, lantas bau obat yang harum menyerang hidungnya.

Di dalam lilin bundar itu ada sebutir obat pulung sebesar lengkeng, warnanya merah dadu.

"Coba tolong ambilkan air dingin,"

Sin Tjie minta pada Tjeng Tjeng.

Nona ini menurut, malah obat pulung itu segera ia aduk rata dengan air itu, sesudah mana, itu obat lantas dicekoki kedalam mulutnya si bocah, yang keadaannya sudah jadi lemah sekali, napasnya jalan dengan pelahan, dia tidak menangis.

Dengan pelahan-lahan anak itu telan air obat.

Kwie Djie-nio mengawasi saja, air matanya berlinang-linang, saking terharu dan bersyukur.

Berbareng ia pun malu sendirinya.

Didalam hatinya, dia kata.

"Coba tidak ada soetee cilik ini, yang membuka rahasia, onar hari ini mestinya hebat tak terkira. Sudah anakku tidak bakal ketolongan, aku pun telah berdosa terhadap kaum kang-ouw, sehingga juga kehormatan suamiku jadi ternoda..."

Setelah anak itu habis makan obat, dengan kedua tangannya, Sin Tjie mengangsurkannya kepada Kwie Djie-nio, siapa menyambuti sambil kata dengan pelahan.

"Wan Soetee, tak habisnya syukur kami suami-isteri...."

Sin Sie, yang tak pandai bicara, cuma kata.

"Soetee, kau baik, kau baik...."

Tjeng Tjeng jumput semua obat, untuk serahkan itu pada si nyonya aseran.

Kwie Djie-nio sedang sangat girang dan bersyukur, dia sambuti obat itu tanpa bilang suatu apa.

Kwie Sin Sie sendiri segera totok sadar semua kurbannya.

Beng Pek Hoei diam saja, di dalam hatinya, dia kata.

"Anakmu telah ketolongan, adalah anakku telah dapatkan kebinasaannya.... Aku tak dapat membalas sakit hati... Biarlah, lain kali saja aku mohon bantuan orang pandai akan mencari balas...."

Sin Tjie lihat orang gotong Beng Tjeng, hendak dibawa ke dalam. Dia lihat orang terluka parah, hampir mati.

"Tunggu dulu!"

Ia segera memanggil.

"Kandaku tinggal matinya, apakah kau mau?"

Bentak Beng Sioe. Pikirannya sedang gelap, dia menyangka jelek terhadap tetamunya yang muda itu.

"Sabar,"

Sin Tjie bilang. Ia tidak gusar.

"Soekoku hargai Beng Looyatjoe, untuk bersahabat dia masih belum dapat ketikanya, bagaimana dia bisa bikin celaka Beng Toako? Memang benar dia telah serang Beng Toako sedikit hebat akan tetapi itu tak akan membahayakan jiwa, kalian baik jangan berkuatir."

"Siapakah yang kamu hendak dustakan?"

Pikir mereka. Mereka juga sudah tidak mempunyai harapan untuk Beng Tjeng. Sin Tjie bisa duga orang kurang percaya dia, maka dia berkata pula.

"Tidak ada niat dari soekoku akan bikin celaka Beng Toako, maka asal Beng Toako dikasi obat dan dapat beristirahat, dia bakal tak kurang suatu apa."

Tidak tunggu apa nanti orang bilang, Sin Tjie rogoh sakunya akan kasi keluar sebuah lopalopa, ialah tempat dimana kodok esnya disimpan.

Dia jumput satu di antaranya, terus ia pencet hancur, untuk diaduk rata dengan arak, kemudian ia sendiri yang cekoki Beng Tjeng.

Ruangan yang luas itu, dimana tadi keadaan ada sangat kacau, terbenam dalam kesunyian.

Semua mata mengawasi tindak-tanduknya Sin Tjie, semua pandang Beng Tjeng, untuk ketahui bagaimana kesudahannya.

Belum berselang lama, mukanya Beng Tjeng telah mulai berubah, dari pucat-pias menjadi bersemu dadu, sesudah mana, menyusul suara rintihan, teraduh-aduh yang pelahan.

Menampak itu, bukan kepalang girangnya Beng Pek Hoei, hingga dia lantas menjura kepada bengtjoe dari tujuh propinsi itu.

"Wan Siangkong, Wan Bengtjoe, kau benar-benar ada penolong puteraku!"

Katanya selagi ia menjura dalam. Sin Tjie repot membalas hormat.

"Tidak apa,"

Kata dia, yang merendahkan diri.

Kemudian ia suruh Beng Sioe gotong kakaknya ke dalam, untuk dirawat dengan baik.

Segera juga, Beng Pek Hoei kerahkan orang-orangnya, untuk atur pula kursi-meja, guna sajikan barang hidangan baru, untuk mulai pula pesta yang yang terhalang itu, hingga di lain saat, suasana riang-gembira telah pulih.

"Beng Looyatjoe, kami sangat sembrono, harap kau memaafkannya,"

Kwie Djie-nio kata pada tuan rumah kepada siapa ia menjura.

Iapun tarik tangan suaminya dan ketiga muridnya, untuk mereka juga beri hormat pada jago tua itu.

Beng Pek Hoei bisa tertawa sekarang, ia tertawa besar.

"Anakku menghadapi kematian, siapa tak gelisah?"

Katanya.

"Tidak, aku tidak persalahkan kamu suami-isteri."

Djie-nio mengucapkan terima kasih, kemudian ia dan rombongannya turut duduk berpesta.

Beng Pek Hoei masih berhati kurang tenang, satu kali ia ambil ketika akan masuk ke dalam akan tengok puteranya.

Sesampainya di dalam, hatinya jadi bertambah lega.

Beng Tjeng sedang tidur nyenyak, napasnya berjalan dengan rapi, wajahnya nampak tenang dan wajar.

Itulah tanda-tanda dari kesembuhan.

Sekeluarnya kembali, tuan rumah segera layani dengan ramah-tamah pada semua tetamunya.

Ia telah minta dua cawan yang besar, ia isi penuh dua-duanya, kemudian ia bawa itu ke depan Sin Tjie.

"Wan Bengtjoe,"

Katanya.

"ketika dalam rapat di Tay San orang pilih kau, bilang terusterang, aku kurang puas, akan tetapi sekarang, melihat sepak-terjangmu ini, aku bukan melainkan sangat berterima kasih, aku pun kagum dan takluk padamu. Mari, bengtjoe, tolong kau keringi cawan ini, tanda hormat dari aku!"

Dia angkat cawan yang satunya, ia lantas cegluk itu hingga habis.

Sin Tjie tak pandai minum arak, akan tetapi melihat kesungguhan hati orang, ia pun minum kering cawannya, atas mana, semua hadirin bertepuk tangan dan berseru.

"Bagus!"

"Wan Bengtjoe,"

Kata pula Beng Pek Hoei kemudian.

"sejak hari ini dan selanjutnya, apabila ada urusan sesuatu, aku bersedia untuk mengabdi kepada kau! Kau membutuhkan uang? Buat delapan atau sepuluh laksa tail perak, rasanya aku sanggup menyediakannya! Kau perlu orang? Kecuali kami ayah dan anak, yang tak nanti menampik untuk serbu api, sanggup aku mengumpulkan tiga atau empat ratus orang untuk membantu padamu! Aku rasa masih aku mempunyai muka terang akan mengumpulkan jumlah itu...."

Sin Tjie bersenyum.

Ia merasa sangat puas dengan kesudahannya urusan, terutama karena itu, ganjelan soeko dan soesonya itu terhadapnya, jadi dapat dibikin hilang.

Tapi malam itu, di waktunya orang bubaran setelah puas berpesta, Tang Piauwsoe lenyap dari antara mereka, entah kemana sembunyinya dia.

Di lain harinya, selagi tetamu-tetamu bergantian pamitan pulang, Beng Pek Hoei tahan rombongannya Sin Tjie.

Beberapa kali si anak muda niat pergi, ia saban-saban mesti urungkan itu sampai di hari ketujuh, Baru tuan rumah tak dapat menahan terlebih lama lagi.

Pek Hoei segera siapkan meja perjamuan, untuk memberi selamat jalan.

Itu waktu, Sin Sie serta isteri dan murid-muridnya pun masih belum berangkat, mereka dijamu bersama.

"Beng Lauwko,"

Berkata Thia Tjeng Tiok.

"si orang she Tang dari Eng Seng Piauw Kiok bukannya satu mahluk baik, dia kehilangan upeti berharga itu, tak nanti dia mau sudah saja, andaikata dia tak berhasil mencari Kwie Djie-ko, mesti dia bakal cari lauwko, dari itu, baik kau waspada."

"Terima kasih, saudara Thia,"

Mengucap Pek Hoei.

"Umpama kata benar-benar mahluk itu berani main gila terhadapku, aku tidak akan berlaku sungkan lagi terhadapnya!"

"Beng Lauwko, adalah kami yang menyebabkan onar ini,"

Kata Kwie Djie-nio.

"maka itu, apabila kau benar menghadapi kesulitan, kami minta segeralah kau memberi kabar kepada kami!"

"Baik, Djie-nio!"

Jawab tuan rumah.

"Sebenarnya aku sendiri tak takut!"

"Kita harus jaga kalau-kalau dia bersekongkol sama pembesar negeri,"

See Thian Kong turut memberi ingat. Beng Pek Hoei tertawa besar.

"Apabila itu sampai terjadi,"

Katanya.

"Thia Lauwtee, aku nanti mencontoh teladanmu, aku akan duduki bukit untuk menjadi raja!"

Semua orang tertawa mendengar pengutaraan itu.

Sampai di situ, orang pada naik kuda, untuk berpisahan.

Djie-nio empo anaknya, dan bersama suaminya dan tiga orang muridnya, ia menuju pulang ke selatan, sedang rombongan Sin Tjie berikut Thie Lo Han dan Ouw Koei Lam, melanjuti perjalanan mereka mengangkut harta besar menuju ke utara.

Pada suatu hari sampailah Sin Tjie beramai di Kho-pay-tiam, karena hari sudah magrib dan barang bawaan mereka banyak dan berat, mereka singgah di hotel "Yan Tiauw Kie"

Di sebelah barat dusun itu.

Habis bersantap, mereka lantas masuk tidur, untuk beristirahat.

Tapi belum lagi mereka pulas, mereka telah terganggu suara berisik di luar hotel, antaranya riuh suara orang bicara.

Cuma A Pa si empeh gagu, yang tak dengar suatu apa.

Suara bicara berisik terdengar semakin nyata apabila ternyata diaorang itu telah memasuki hotel, suara mereka pun tak dimengerti, karena bahasa mereka ada luar biasa.

Sin Tjie keluar dari kamarnya, maka itu ia bisa lihat beberapa puluh serdadu asing, yang duduk atau berdiri, masing-masing menyekal senapan.

Merekalah yang menerbitkan suara berisik itu.

Ia heran sebab belum pernah ia tampak orang-orang dengan mata kelabu dan hidung mancung-mancung itu, hingga ia mengawasi.

Segera terdengar suara seorang bicara dengan keras dengan kuasa hotel, dia minta segera disediakan beberapa kamar.

"Maaf, taydjin, kamar di sini cuma ada beberapa buah dan semua sudah penuh,"

Kata kuasa hotel, yang memohon dengan sangat. Orang yang dipanggil taydjin itu rupanya gusar, sebab segera dia tampar si kuasa hotel, hingga banyak mata diarahkan kepada mereka.

"Kau.... kau...."

Kata kuasa hotel itu, yang menjadi gusar.

"Jikalau kau tidak sediakan kamar, aku nanti bakar hotelmu ini!"

Seru si taydjin itu. Kuasa hotel itu menjadi ketakutan, terpaksa ia pergi pada Seng Hay, sambil menjura berulang-ulang ia mohon tetamu-tetamunya ini suka mengalah.

"Bagus betul!"

Seru See Thian Kong.

"Orang toh ada yang datang terlebih dulu dan belakangan! Dia itu mahluk apa?"

Kuasa itu ketakutan, mukanya pucat.

"Aku minta, tuan, supaya kau tidak berpandangan sebagai dia itu yang makan nasi asing,"

Kata dia, yang maksudkan si taydjin.

"Hebat kesudahannya kalau kita berbuat salah terhadapnya..."

"Dia gegares nasi asing apa?"

Tanya Thian Kong.

"Apakah makan nasi asing lantas mesti bertingkah?"

Masih kuasa hotel itu ketakutan.

"Mereka ini, tuan, adalah tentara asing yang datang ke kota raja untuk angkut meriam besar,"

Menerangkan dia, dengan suara sangat pelahan.

"Dan dia itu, yang bisa omong bahasa asing, dijadikan juru-bahasanya."

Baru sekarang Sin Tjie beramai ketahui. Jadinya si taydjin itu adalah kacung asing yang banyak lagaknya.

"Nanti aku ajar adat pada bocah itu!"

Kata See Thian Kong, yang hatinya panas.

"Sabar,"

Sin Tjie mencegah. Dan ia ajak semua kawannya masuk ke dalam kamar.

"Ketika dulu marhum ayahku belai Liauw-tong, di waktu ia peroleh kemenangan besar dalam peperangan di Leng-wan, ia peroleh bantuan besar dari meriam-meriam buatan asing semacam ini. Begitulah Nuerhacha, leluhur kaisar Boan, telah terbinasa karena tembakan meriam. Sekarang ini bangsa Boan sedang garangnya, dan ini tentara asing lagi angkut meriamnya untuk membantu padanya, baiklah kita mengalah."

"Habis kita mesti antapkan binatang itu banyak tingkah?"

Tanya Thian Kong.

"Kenapa kita mesti bersatu pandangan dengan manusia rendah itu?"

Sin Tjie baliki.

Melihat bengtjoe ini bersikap demikian, orang lantas mengalah, maka kesudahannya mereka serahkan dua kamar.

Si jurubahasa itu, yang kemudian ketahuan bernama Tjian Tong Soe, masih mendumal saja, akan tetapi setelah ia dapat dua buah kamar, tidak lagi ia persulit lebih jauh kepada kuasa hotel.

Dia pergi untuk sementara, kapan ia kembali lagi, ia ada bersama dua opsir asing.

Satu opsir berumur empat-puluh lebih, yang lainnya Baru dua-puluh lebih.

Dua-dua mereka ini beroman cakap dan gagah.

Yang tuaan itu pergi sebentar, baliknya ia ajak satu wanita asing yang cantik, yang umurnya kurang lebih dua-puluh tahun, rambutnya hitam, kulitnya putih, barang perhiasannya adalah mutiara-mutiara yang bergemerlapan di antara cahaya api, pakaiannya reboh.

Belum pernah Sin Tjie melihat orang asing, makanya ia awasi nona itu.

Menampak sikapnya si anak muda, Tjeng Tjeng tidak puas.

"Engko, apakah orang itu manis dipandangnya?"

Dia tanya.

"Beginilah memang dandanannya orang asing,"

Sin Tjie jawab.

"Hm!"

Bersuara Tjeng Tjeng, yang terus bungkam.

Besoknya pagi, orang dahar dan duduk berkumpul di ruang besar, kedua opsir asing itu duduk bersama si nona asing.

Tjian Tong Soe melayani dengan telaten sekali, nyata sekali sikapnya menjilat-jilat, sebab kapan dia butuhkan apa-apa, terhadap kuasa hotel dan jongos, segera dia main sentak, tangannya pun enteng.

Sangat tak puas Thia Tjeng Tiok menyaksikan orang punya lagak tengik itu.

"Saudara See, coba lihat siauwtee main sulap!"

Kata dia, ketika ia putar tubuhnya.

Lalu tanpa memutar lagi, dia ayun sebelah tangannya ke belakang, hingga sepasang sumpitnya menyambar ke arah mulutnya Tjian Tong Soe, mengenai dua baris giginya atas dan bawah.

Juru bahasa itu berteriak kesakitan, dia gelagapan menutup mulutnya, masih dia berkaokkaok, teraduh-aduh!

Inilah kepandaian mainkan senjata rahasia dari Thia Tjeng Tiok, kalau lain orang gunai piauw atau panah-tangan, dialah potongan-potongan bambu pendek dan halus bagaikan lidi, tapi kali ini, dia pakai sumpit saja.

Dengan lidi itu dia bisa timpuk jalan darah.

Dia masih taati pesan Sin Tjie, maka ia tidak arah kedua mata orang itu.

Tak tahu Tong Soe dari mana datangnya serangan , kedua opsir itu pun heran.

Si nona manis, yang pun merasa aneh, sebaliknya tertawa, mungkin dia anggap kejadian itu lucu....

Kedua opsir itu melirik kepada rombongan Sin Tjie, rupanya dia mau menyangka, Tong Soe telah jadi korban mereka ini.

Opsir yang lebih tua letaki dua buah pistol di atas meja, lalu ia lemparkan dua buah cangkir ke tinggi, habis itu dengan sebat dia menembak dengan kedua tangannya, hingga cangkir-cangkir itu kena tertembak dan hancur.

Heran dan kagum Sin Tjie beramai untuk kepandaiannya orang itu, dan hebatnya senjata api itu.

Opsir yang lebih tua itu nampaknya puas dan bangga, ia lantas isikan pula pistolnya.

"Peter, kau hendak coba-coba?"

Kata dia kepada kawannya.

"Kepandaianku menembak mana bisa menangi tukang tembak nomor satu dari negara kami Portugal!"

Kata opsir yang muda itu. Si manis tertawa.

"Ah, kalau begitu Raymond ada tukang tembak nomor satu?"

Katanya.

"Jikalau bukan nomor satu untuk dunia, sedikitnya untuk Eropa,"

Kata si Peter ini.

"Nomor satu untuk Eropa apa bukan sama artinya dengan dunia?"

Tegaskan Raymond.

"Inilah tak berani aku bilang,"

Sahut Peter.

"Orang-orang timur ada bangsa aneh, di antara mereka ada yang punya kepandaian jauh lebih berbahaya daripada kita. Tidakkah demikian, Catherine?"

"Aku rasa kau benar,"

Sahut si cantik sambil bersenyum. Tak puas Raymond melihat Catherine nampaknya lebih manis kepada Peter.

"Orang-orang Timur aneh?"

Katanya.

Dan tiba-tiba saja ia menembak pula, satu kali, segera disusul dengan yang kedua.

Ketika pistol itu memperlihatkan sinar api, tahu-tahu Tjeng Tjeng terkejut bukan main.

Di luar tahunya, kopiahnya kena ketembak hingga terjatuh ke atas meja hingga karenanya, kelihatanlah rambutnya yang hitam dan gompiok, rambutnya seorang perempuan.

Sin Tjie dan yang lainnya turut kaget dan heran.

Raymond serta beberapa serdadu asing lainnya tertawa berkakakan, rupanya mereka anggap pemandangan itu lucu.

Tjeng Tjeng murka, di alompat bangun pedangnya segera dihunus.

"Jangan!"

Sin Tjie mencegah.

Pemuda ini insyaf bahayanya kalau mereka layani orang-orang asing itu.

Ia pun mengerti, pemerintah Beng bakal pakai tenaga asing itu untuk memerangi bangsa Boan.

Maka ia anggap, lebih baik bersabar.

"Sudah, adik Tjeng,"

Kata ia seraya ambil pedang orang. Tjeng Tjeng mendelik mengawasi tiga orang asing itu, ia dengar kata terhadap Sin Tjie.

"Kiranya dia satu nona, pantas dia eilok,"

Kata Catheirne sambil tertawa.

"Bagus, ya,"

Kata Raymond.

"kiranya kau perhatikan keeilokan orang...."

"Dia menyekal pedang, agaknya dia hendak menantang kita,"

Kata Peter.

"Kalau dia benar menantang, siapa yang sambuti, Peter?"

Tanya Raymond.

"Di anatra kita berdua, siapa lebih tangguh?"

"Aku harap tak ada yang tahu untuk selamanya,"

Peter jawab.

"Eh, kenapa begitu?"

"Ah, sudah jangan ribut!"

Catherine menyela. Ia bersenyum.

"Orang Timur aneh, aku kuatir, dua-dua kamu tak nanti bisa lawan nona itu..."

"Tong Soe, mari!"

Sekonyong-konyong Raymond panggil juru-bahasanya. Orang she Tjian itu menghampirkan dengan cepat.

"Ada apa, kolonel?"

Tanyanya.

"Coba tanya nona itu, apa dia mau adu pedang denganku. Lekas!"

"Baik, baik, kolonel!"

Raymond rogoh sakunya, akan kasih keluar belasan uang logam asing, yang ia lemparkan ke atas meja. Sambil tertawa, dia kata.

"Jikalau dia benar hendak adu kepandaian, suruh dia kemari, asal dia menang, dia boleh ambil ini semua uang emas, tapi kalau dia kalah, aku mesti cium dia satu kali! Nah, lekas kasi tahu, lekas!"

Dengan tindakan berlenggang, Tong Soe hampirkan Tjeng Tjeng, untuk sampaikan permintaan Raymond, si nona mau duel atau tidak, tapi di saat ia ulangi kata-kata "cium satu kali" , mendadak tangan si nona melayang, mampir di pipi juru-bahasa ini hingga dia berkaok dan berjengit, pipi kanannya bertapak tangan berwarna merah.

Celakanya, empat buah giginya copot, darahnya mengucur pula, hingga dia mesti tekapi mulutnya.

Raymond tertawa berkakakan.

"Nona itu benar kuat!"

Katanya. Ia lantas cabut pedangnya, ia bertindak ke tengah ruangan, pedangnya itu disabatkan ke atas hingga menerbitkan suara angin.

"Mari, mari, mari!"

Katanya. Tjeng Tjeng tidak mengerti omongan orang, akan tetapi melihat dari sikapnya, dia tahu dia ditantang, maka ia pun hunus pula pedangnya, ia bertindak menghampiri.

"Ini orang kurang ajar, boleh juga dia diajar adat, asal jangan dilukai,"

Pikir Sin Tjie, yang lantas panggil kawannya.

"Adik Tjeng, mari!"

"Tidak!"

Sahut Tjeng Tjeng yang cuma berpaling. Ia menyangka sahabat itu hendak cegah padanya.

"Mari, aku hendak ajari kau bagaimana mengalahkan dia,"

Kata Sin Tjie. Tjeng Tjeng menghampiri, ia girang. Ia memang belum tahu ilmu silat pedang bangsa asing.

"Kita belum tahu ilmu pedang orang asing, tapi melihat caranya barusan dia hunus pedangnya dan kibaskan itu, terang dia gesit sekali,"

Bilang Sin Tjie.

"Kau mesti waspada untuk tikamannya, jangan kuatirkan tabasan!"

"Kalau begitu aku boleh berdaya akan gempur pedangnya itu?"

Tanya si nona.

"Benar!"

Sahut Sin Tjie.

"Tapi ingat, jangan lukai dia."

Raymond lihat orang bicara saja, dia tidak sabaran.

"Mari, mari lekas!"

Dia menantang pula.

Tjeng Tjeng sambut tantangan itu, kali ini dia tidak bertindak dengan pelahan sebagai tadi, hanya dengan mendadak dia berlompat, hingga tahu-tahu ia sudah berada dekat si orang asing.

Terus saja ia membabat ke arah pundak.

Raymond kaget, inilah ia tidak sangka.

Ia pun tidak nyana, si nona demikian gesit.

Tapi ia masih sempat berkelit seraya jatuhkan diri dan pedangnya dipakai menangkis, hingga kedua senjata beradu keras dan nyaring, lelatu apinya muncrat.

Ketika ia bangun pula, ia keluarkan keringat dingin.

"Bagus!"

Catherine bertepuk tangan.

Segera setelah orang bangkit pula, Tjeng Tjeng menyerang lagi, maka sekarang mereka mulai bertempur.

Keduanya bergerak sama gesitnya, bergantian mereka saling tikam dan tangkis.

Sin Tjie memasang mata, ia mesti akui kesebatan orang asing itu.

Kapan Tjeng Tjeng merasa ia tak bisa lantas rebut kemenangan, ia ubah caranya berkelahi.

Sekarang ia lebih banyak menggertak, habis mengancam, lekas-lekas ia tarik pulang pedangnya.

Ia bersilat dengan ilmu pedang Tjio Liang Pay "Loei Tjin Kiam-hoat"

Atau "Gempuran Geledek", yang punyakan tiga-puluh enam gertakan.

Repot juga Ryamond melayani cara berkelahi itu, matanya lantas saja mulai kabur, sebab ia cuma lihat pelbagai ujung pedang hendak menikam padanya, tapi saban kali ia menangkis, ia tangkis angin.

Dia tahu, ilmu pedangnya pun mengenal gertakan, tapi cuma beberapa kali, tidak banyak seperti ilmu si nona ini.

Tadinya ia niat tegur si nona, atau mendadak nona itu sampok pedangnya, begitu keras, sampai ia rasakan tangannya menggetar dan sesemutan, tak dapat dicegah lagi, pedang itu terlepas dan terpental.

Menyusul itu, Tjeng Tjeng menyusuli dengan tudingannya ke arah dada lawan!

Di pihak lain, See Thian Kong berlompat akan sambar pedangnya opsir asing itu, lalu dengan dibantu tangan kiri, ia tekuk itu pedang hingga jadi patah dua!

Dan kedua batang itu ia lempar ke tanah!

Tjeng Tjeng tertawa, dia tarik pulang pedangnya, untuk dia kembali ke kursinya.

Raymond malu bukan kepalang, mukanya merah-padam.

Tidak ia sangka, sebagai ahli pedang di Eropa, sekarang di Tiongkok dia dipecundangi satu nona.

Catherine tertawa riang, dia jumput uang di atas meja, ia bawa itu kepada Tjeng Tjeng, untuk diserahkan.

Nona kita menampik, ia memang tak harapi uang taruhan itu, tapi nona asing itu mendesak, mulutnya mengatakan apa-apa yang tak dimengerti nona Hee.

Akhirnya Tjeng Tjeng menyambut, ia kepal uang itu dengan kedua tangannya, lantas ia menggenggam dengan keras sekali, kemudian uang itu ia sodorkan pula pada si nona asing.

Catherine heran, ia menyanggapi, setelah mana, dia tercengang.

Semua uang itu nempel menjadi satu, ia coba pisahkan, tetapi tidak berhasil, maka dengan mata dipentang lebar, ia awasi nona kita, mulutnya mengucap.

"Benar-benar, orang Timur aneh!...."

Lekas-lekas ia kembali pada Ryamond dan Peter, akan tunjuki uang itu.

"Dia punyakan ilmu sihir!"

Katanya.

"Jangan kita layani dia! Mari kita pergi!"

Mengajak Peter.

Dua opsir itu berbangkit, Catherine mengikuti.

Peter lantas memberi titah.

Sebentar saja semua serdadu lari keluar, akan berkumpul sama kawan-kawannya, menyusul mana, lantas mereka berangkat bersama-sama meriam-meriam mereka.

Raymond dan Peter berbareng bertindak keluar dari hotel.

Ketika Catherine lewat di samping Tjeng Tjeng, dia mengawasi sambil tertawa, hingga angin wangi berkesiur daripadanya.

Sedetik saja, ruang hotel itu jadi sunyi.

"Bagaimana macamnya meriam asing itu, belum pernah aku lihat,"

Kata Thie Lo Han.

"Mari kita lihat!"

Ouw Koei Lam mengajak. Tiba-tiba See Thian Kong tertawa.

"Saudara Ouw,"

Katanya kepada malaikat copet itu.

"andai kata kau bisa unjuk kepandaianmu, dengan curi sebuah meriam, aku bakal kagumi kau tak habisnya...."

"Sebenarnya belum pernah aku curi meriam besar, yang demikian berat,"

Kata Koei Lam, yang pun tertawa.

"Kita bertaruh atau tidak?"

"Meriam itu ada untuk menghajar bangsa Boan, jadi tak tepat untuk dicuri,"

Thian Kong bilang.

"kalau tidak, aku suka bertaruh."

Sambil tertawa, mereka bertindak keluar, malah dengan jalan cepat, mereka bisa lewati lerotan meriam dan barisan serdadunya itu.

Semua meriam ada sepuluh buah, saking beratnya, setiap meriam diseret delapan ekor kuda, sudah begitu, di belakangnya masih ada orang-orang yang bantu mendorongnya.

Bekas-bekas roda-roda menggelinding meninggalkan lobang yang dalam bagaikan selokan.

"Jikalau ada ini sepuluh jendral perang menjaga San-hay-kwan, tak perduli bagaimana garangnya pula tentara Boan, pasti mereka tak dapat menerjang dengan berhasil,"

Kata Sin Tjie sambil tertawa.

Orang telah berjalan terus, sampai selang dua-puluh lie lebih, rombongan Sin Tjie dengar berisiknya suara kelenengan di sebelah depan, lalu tertampak belasan penunggang kuda sedang mendatangi, kapan mereka itu sudah datang lebih dektam kelihatan sesuatu penunggang kuda bekal senjata dan panah di bebokong, di atas kudanya tergendol kelinci dan lainnya binatang hutan, suatu tanda mereka adalah serombongan pemburu.

Semua mereka mengenakan dandanan perlente, sepatunya pun tebruat dari kulit, sedang yang diiring adalah satu nona.

Kapan si nona telah datang dekat sekali pada rombongannya Sin Tjie, lantas dia keprak kudanya untuk menghampirkan sambil berseru-seru.

"Soehoe! Soehoe!"

Thia Tjeng Tiok , orang yang dipanggil soehoe (guru), lantas tertawa.

"Bagus, kau telah datang!"

Dia pun berseru dengan sambutannya.

Nona itu adalah sang murid, Nona A Kioe, hanya sekarang dia dandan dengan reboh, pada kedua kupingnya nempel mutiara sebesar jempol tangan, pada ujung bajunya tertabur batu permata merah.

Melihat Sin Tjie, nona itu tertawa.

"Oh, kau ada bersama soehoe!"

Dia menegor. Sin Tjie bersenyum, dia manggut. A Kioe kemudian pandang See Thian Kong, kembali dia tertawa dan kata.

"Tanpa bertempur, kita tak akan bersahabat!"

Tjeng Tiok panggil muridnya itu, untuk diajar kenal terutama dengan Thie Lo Han dan Ouw Koei Lam.

"Kau hendak pergi kemana?"

Kemudian sang guru tanya.

"Aku pergi berburu,"

Jawab si nona.

"Kami lagi menuju ke Pakkhia, baik kau turut kami,"

Tjeng Tiok kata.

"Baik, soehoe,"

Jawab A Kioe, yang terus dampingi gurunya itu.

Sin Tjie dan Tjeng Tjeng heran juga menampak Nona A Kioe, sebab meskipun begitu muda nona ini punyakan sikap yang beda daripada nona-nona sepantarannya.

Di waktu tengah hari, selagi singgah untuk beristirahat, orang duduk dahar menghadapi dua buah meja, dan A Kioe serta gurunya duduk bersama Sin Tjie beramai.

Pada mulanya, Sin Tjie duga nona itu ada cucu perempuan dari Thia Tjeng Tiok, tidak tahunya dia itu adalah muridnya.

Ia percaya si nona adalah gadisnya satu hartawan yang telah dimanja-manjai, jikalau tidak, dandanannya, gerak-geriknya, tidak sedemikian rupa, malah untuk berburu, si nona bawa demikian banyak pengiring.

Ia tidak mengerti, bagaimana caranya maka si nona berguru kepada ketua Tjeng Tiok Pay itu dan bisa bergaul di dalam golongan.

Habis bersantap, perjalanan dilanjuti, sorenya, mereka singgah di sebuah hotel di Im-matjip.

Selama itu, Sin Tjie dan Tjeng Tjeng senantiasa perhatikan dengan diam-diam kepada A Kioe dan sekalian pengiringnya itu itu.

Mereka mau percaya, sekalian pengiring itu bukan cuma kacung atau bujang belaka, mungkin mereka ada pegawai-pegawai negeri, karenanya, mereka jadi semakin heran.

(Bersambung bab ke 17) Sore itu, selagi duduk berkumpul dan pasang omong, Tjeng Tjeng tanya A Kioe.

"Adik Kioe, ketika itu hari kami hajar tentara negeri, hingga kami merasa sangat puas, kemudian ternyata kau menghilang. Sebenarnya kemana kau pergi?"

"Ah!...."

Bersuara si nona, yang mukanya menjadi merah dengan tiba-tiba. Kemudian, dengan menyimpang, dia bilang.

"Entjie Tjeng, coba kau dandan, kau pasti baru ternyata eilok benar!"

Tjeng Tjeng heran, kapan ia lihat nona muda ini suka tengok kiri dan kanan.

Tadinya ia hendak menanyakan lebih jauh tapi ia batal kapan ia tampak Tjeng Tiok, yang duduk di depannya, kedipi mata.

Maka akhirnya, sambil tertawa, ia jawab nona itu.

"Kita sedang bikin perjalanan, kepala dan muka kita biasa penuh debu, habis kita berdandan, kepada siapa hendak dikasi lihatnya?"

A Kioe bersenyum. Tidak lama setelah itu, orang bubaran, untuk masuk tidur. Selagi Sin Tjie hendak naik ke pembaringannya, Thia Tjeng Tiok datang padanya.

"Wan Siangkong, aku hendak bicara denganmu untuk satu urusan,"

Kata ketua Tjeng Tiok Pay, yang datangnya secara tiba-tiba. Sin Tjie menyambut dengan gembira.

"Baik!"

Sahutnya.

"Silakan duduk."

"Lebih baik kita pergi keluar, ke tempat terbuka dan sepi,"

Tjeng Tiok bilang hampir berbisik.

Sin Tjie merasa pasti, urusan ada penting, maka ia pakai pula bajunya, lalu keduanya keluar, akan terus berlari-lari ke bukit malah mendaki puncak, akan duduk atas sebuah batu besar.

Ketua Tjeng Tiok Pay melihat ke sekitarnya, yang sunyi.

"Wan Siangkong,"

Kata dia kemudian.

"aku hendak omong tentang A Kioe, muridku itu. Dia ada satu anak dengan asal-usul istimewa. Ketika dia mulai angkat aku sebagai guru, aku pernah berjanji untuk tidak buka rahasia tentang dirinya."

"Aku pun lihat dia bukannya orang sembarangan,"

Sin Tjie bilang.

"Karena kau telah beri janjimu, tak usah kau menerangkannya kepadaku."

"Sekalian pengiringnya ada orang-orang negeri, maka itu, tentang maksud bekerja kita ini, mereka tak boleh mendapat tahu,"

Kata pula Tjeng Tiok. Mau atau tidak, Sin Tjie toh tercengang.

"Jadi benar mereka ada hamba-hamba negeri?"

Tegaskannya. Tjeng Tiok manggut-manggut.

"Aku mau percaya, muridku ini tidak bakal jual kita,"

Kata ia kemudian.

"akan tetapi dia masih berusia sangat muda, tak dapat diduga yang pikirannya bisa tidak berubah."

"Kalau begitu, di depan A Kioe baik kita waspada,"

Sin Tjie bilang.

Tjeng Tiok manggut.

Sampai di situ, urusan telah selesai, maka keduanya segera berangkat pulang.

Sesampainya di muka hotel, Sin Tjie lihat seorang lewat di jalan besar, datangnya dari arah timur, dia itu menenteng sebuah lentera, dalam sekelebatan saja, dia itu terus masuk ke dalam hotel.

Dengan matanya yang tajam, Sin Tjie rasa kenali orang itu, melainkan tak segera ia ingat dimana mereka pernah bertemu.

Maka selagi rebah di atas pembaringannya, pemuda kita terus mengingat-ingat hingga ia mengingat mundur sampai rapat di gunung Tay San, pelbagai kejadian di Lamkhia dan Tjio-liang.

Juga di dalam barisan Giam Ong, tak ingat dia pernah bertemu sama orang itu.

Tetapi ia tak bisa lupa romannya orang itu.

"Di mana aku pernah lihat atau bertemu dengannya?"

Taya ia berulang-ulang di dalam hatinya. Tiba-tiba ia dengar ketokan perlahan pada pintu kamarnya. Segera ia pakai bajunya dan turun dari pembaringan, akan nyalakan api.

"Apakah kau tidak niat dahar sesuatu?"

Begitu pertanyaan dari luar, disusul dengan suara tertawa dari Tjeng Tjeng, si juita nakal.

Dengan lekas pemuda kita membukakan pintu.

Tjeng Tjeng membawa sebuah nenampan di atas mana ada dua mangkok, dalam setiap mangkoknya ada tiga butir telur ayam.

Rupanya Baru saja dia habis dari dapur dimana dia matangi telur itu.

"Terima kasih,"

Kata Sin Tjie.

"Kenapa kau masih belum tidur?"

"Aku pikirkan si A Kioe, dia aneh, dia membuat aku tak dapat tidur,"

Sahut si nona.

"Aku kira kau pun sedang memikirkan dia itu hingga kau pun belum tidur...."

Ia bicara dengan pelahan sekali.

"Aku pikirkan dia? Untuk apa?"

Sin Tjie tanya.

"Memikirkan dia karena dia sangat cantik! Coba bilang, bukankah dia cantik sekali?"

Kembali si nona tertawa.

Sin Tjie tahu baik perangai nona Hee ini.

Apabila ia menjawab A Kioe cantik, Tjeng Tjeng tentu tak puas; kalau ia menyangkal, itulah jawaban yang tak tepat dengan buktikenyataannya.

Maka ia jumput sendoknya, akan sendok sebutir telur, untuk dimasuki ke dalam mulutnya.

Baru ia menggigit sekali atau dengan sekonyong-konyong ia lemparkan sendoknya.

"Ya dia! Ya dia!"

Ia pun berseru tertahan. Tjeng Tjeng terperanjat.

"Apa dia-dia?"

Tanyanya kemudian.

"Apakah telur itu busuk?"

Sin Tjie tertawa.

"Kita jangan dahar dulu! Mari kau turut aku!"

Kata si anak muda. Tak puas Tjeng Tjeng melihat orang tak dahar telurnya. Tidakkah ia telah sengaja rebus itu untuk kawan ini? "Kita pergi kemana?"

Ia tanya. Masih Sin Tjie tidak menjawab, sebaliknya, dari dampingnya Ang Seng Hay, ia jumput pedangnya orang itu.

"Kau pegang ini!"

Katanya.

Tjeng Tjeng menyambuti.

Baru sekarang ia mengerti, orang hendak menghadapi musuh rupanya.

Selagi Sin Tjie menggigit telur, dengan tiba-tiba saja ia ingat suatu kejadian dimana ia masih kecil, ketika ia menumpang di rumah An Toa-nio, di waktu ada orang jahat mencoba culik Siauw Hoei, hingga dengan nekat ia bela nona itu, sukur tepatlah datangnya An Toanio, yang menolongi terlebih jauh.

Dengan tiga butir telur, nyonya An itu sudah serang Ouw Loo Sam, si culik, hingga Loo Sam kabur.

Dan tadi, orang yang ia lihat, yang ia rasa kenali tapi tak ingat benar, adalah si Ouw Loo Sam itu!

Dia coba ingat, apakah yang dikehendaki dan dikerjakan oleh Ouw Loo Sam.

Sekarang, setelah ingat, pemuda ini hendak mencari tahu.

Maka dia ajak Tjeng Tjeng pergi bersama.

Dengan berindap-indap, dengan hati-hati, keduanya pergi keluar, akan hampirkan sesuatu kamar, di setiap jendela, mereka mendekam, untuk pasang kuping, akan dengari suara orang bicara, guna cari Ouw Loo Sam.

Lalu di sebuah kamar yang besar, mereka dengar pembicaraan dari tujuh atau delapan orang, yang bicara dengan lagu-suaranya orang kang-ouw.

"Bagaimana dapat kita berlalu dari sini?"

Kata satu orang.

"Apabila ada terjadi onar, apakah kita masih punyakan jiwa kita?"

"Di pihaknya An Taydjin, inilah urusan penting sekali,"

Kata satu suara lain.

"Orang yang dikirim dari kota raja itu, mana dia keburu sampai? Di depan kita telah menantikan satu jasa istimewa, apabila kita lewatkan itu, tidakkah sangat sayang?"

Orang itu berdiam sekian lama.

"Begini saja!"

Terdengar satu suara yang berat.

"Kita pecah dua rombongan kita ini, ialah yang separuh berdiam di sini, yang separuh lagi pergi pada An Taydjin, untuk terima titahnya. Jikalau nanti kita berhasil jasanya kita cicipi bersama-sama!"

Orang yang pertama rupanya telah tepuk pahanya, karena telah terdengar satu suara nyaring, disusul sama suaranya yang keras.

"Bagus! Memang, suka dan duka, kita mesti terima bersama! Umpama terjadi onar, kita sama-sama menanggungnya!"

"Marilah kita mengadakan undian!"

Seorangusulkan.

"Undianlah yang menetapkan, siapa pergi dan siapa berdiam, supaya jangan ada yang mengiri."

"Akur!"

Menyatakan banyak suara.

"Urusan besar apakah itu yang menyebabkan mereka tak dapat pergi dari sini?"

Sin Tjie tanya dirinya sendiri.

"Apa soalnya An Taydjin itu dan itu jasa istimewa? Aneh juga...."

Selagi mendengari lebih jauh, dari dalam terdengar golok dan pedang saling beradu, suatu tanda bahwa orang telah selesai mengadakan undian, dan mereka telah bersiap untuk keluar.

Segera si anak muda bisiki Tjeng Tjeng.

"Pergi bisiki See Thian Kong beramai untuk siapsedia untuk sesuatu, aku sendiri hendak kuntit mereka, untuk lihat apa yang mereka hendak lakukan."

Si nona manggut.

"Tapi kau harus waspada,"

Ia pesan.

Itu waktu terdengar suara pintu dibuka, cahaya api lilin lantas menyorot keluar.

Sin Tjie dan Tjeng Tjeng sudah mendahului umpetkan diri di tempat yang gelap.

Orang yang pertama muncul adalah Ouw Loo Sam, di belakang ia turut delapan orang lainnya dengan gegaman mereka masing-masing di tangan.

Karena terangnya api lilin, mereka itu ternyata ada orang-orang atau pengiring-pengiringnya A Kioe.

Setelah mereka keluar dan sudah meloncati tembok pekarangan, pintu kamar ditutup pula.

"Itulah orang-orangnya!"

Kata Tjeng Tjeng, dengan pelahan.

"Memang aku sangsikan nona itu bukannya orang sembarangan...."

Sin Tjie pun merasa heran sekali.

Sampai di situ, pemuda dan pemudi ini berpisahan, si pemuda segera susul sembilan orang itu, untuk dikuntit.

Sin Tjie dapat kemerdekaan untuk membayangi itu sembilan orang karena ilmu entengi tubuh warisan gurunya telah sempurna, sedang ajaran Bhok Siang Toodjin ialah "Pek pian kwie eng"

Atau "Seratus kali berubah bajangan iblis"

Dia telah yakinkan tujuh atau delapan bahagian sempurna.

Ia mengintil terus hingga keluar dari dusun, masih mereka itu berjalan satu lie jauhnya, akan akhirnya menuju ke sebuah rumah besar.

Ouw Loo Sam adalah yang mengetok daun pintu yang dicat hitam, apabila daun pintu telah dipentang, kesembilan orang itu diijinkan masuk.

Sin Tjie lekas-lekas jalan mutar ke belakang, untuk meloncati tembok, untuk bisa masuk ke dalam, sesampainya di dalam, ia cari tempat di mana ada cahaya api, ialah dari sebuah jendela, sesudah itu, ia lompat naik ke atas genteng.

Di sini ia mendekam, dengan hati-hati ia buka selembar genteng, untuk melongok ke bawah, ke dalam kamar.

Di tengah-tengah kamar kelihatan duduk seorang umur hampir lima-puluh tahun, yang tubuhnya kekar sekali.

Ouw Loo Sam serta delapan pengiringnya A Kioe masuk ke dalam kamar ini, mereka semua memberi hormat, agaknya orang ini ada pembesar mereka.

"Tadi di dalam dusun hamba dapat lihat Ong Hoe-tjiehoei,"

Berkata Ouw Loo Sam.

"Hamba dapat kenyataan mereka sedang singgah, maka itu hamba segera ajak ini sejumlah kawan pembantu."

"Bagus, bagus!"

Kata orang itu.

"Apakah katanya Ong Hoe-tjiehoei?"

"Ong Hoe-tjiehoei bilang, apabila An Taydjin ada urusan, dia bersedia membantu,"

Jawab Loo Sam.

"Terang pangkatnya ida ini tidak kecil,"

Pikir Sin Tjie.

"Apakah dia hendak perbuat di waktu malam buta-rata ini?"

"Jikalau kita berhasil, jasa kita bukan main besarnya!"

Terdengar pula suara si An Taydjin itu, terus dia tertawa.

"Ha-ha-ha-haha!"

"Kami semua mengandalkan atas bantuan taydjin!"

Kata Loo Sam beramai.

"Kita beramai bakal terpecah menjadi lwee-teng sie-wie dan kim-ie-wie,"

Kata An Taydjin itu.

"Kita semua akan keluarkan tenaga untuk Sri Baginda!"

"Benar, Taydjin!"

Menyambut sembilan orang itu.

"Kami bersedia akan dengar sesuatu titah dari Taydjin!"

"Bagus! Sekarang berangkatlah!"

Kaget Sin Tjie akan ketahui rombongan itu ada pahlawan-pahlawan dari istana kaisar, apapula mengenai rombongan pahlawan kim-ie-wie, yang ia dengar biasa pergi kemanamana untuk celakai orang, siapa kena ditawan katanya bisa kejadian "Kakinya dikutungi, kulitnya dikeset,"

Kejamnya bukan main.

"Entah mereka hendak pergi kemana untuk siksa orang lagi?"

Pikir pemuda ini.

"Dia bertemu denganku, tak dapat tidak aku harus campur-tahu!"

Sebentar kemudian An Taydjin itu keluar bersama orang-orangnya, Sin Tjie hitung jumlahnya ada enam-belas dan di antara mereka ada enam orangnya si taydjin sendiri.

Ia tunggu sampai orang sudah jalan jauh juga, lantas ia kuntit mereka itu.

Jalanan yang diambil adalah tempat tegalan, yang makin lama makin sunyi, sekira tujuh atau delapan lie, mereka itu lantas bicara kasak-kusuk, setelah mana, mereka pencarkan diri, akan tetapi tujuan mereka adalah sebuah rumah yang mencil sendirian di tempat itu.

Mereka ambil sikap mengurung, di depan dan belakang, di kiri dan kanan.

Mereka maju dengan hati-hati, sambil berindap-indap, tanpa menerbitkan suara apa juga.

Sin Tjie melad contoh, akan terus bayangi mereka itu, hingga ia pun turut datang dekat kepada rumah yang lagi diarah itu.

Mungkin ada orang lihat padanya sebagai bajangan tetapi mungkin juga ia dianggap kawan, hingga ia tidak dicurigai.

Taydjin itu lantas dapat kenyataan, pengurungannya sudah selesai, dengan satu tanda ulapan tangan, ia titahkan semua orangnya mendekam, sesudah itu, ia hampirkan pintu, untuk mengetok.

"Siapa?"

Demikian pertanyaan dari dalam, dari suaranya seorang perempuan. An Taydjin tidak segera menjawab, ia diam sebentar.

"Kau siapa?"

Ia balik tanya.

"Oh, kau! Tengah malam buta."

Demikian suaranya si orang perempuan pula. An Taydjin tertawa berkakakan.

"Ini dia yang dibilang, bukannya musuh akan berkumpul pula!"

Sahutnya.

"Kiranya kau ada di sini. Lekas kau buka pintu!"

"Aku sudah bilang, tak sudi aku menemui pula padamu!"

Kata wanita itu.

"Kenapa kau datang pula?"

An Taydjin kembali tertawa.

"Kau tidak sudi menemui aku, aku justeru kangen dengan nyonyaku!"

Jawabnya.

"Siapakah nyonyamu?"

Bentak si wanita, agaknya dia murka.

"Satu bacokan golok toh telah membelah kami menjadi dua? Jikalau kau tak bisa lepaskan aku, pergi kau lepas api bakar rumahku ini! Aku lebih suka terbinasa daripada melihat pula kau, orang yang kalap karena sakit jiwa! Kau temahai harta dan pangkat hingga ludas rasa pri-kemanusiaanmu!"

Perhatian Sin Tjie luar biasa tertarik mendengar suaranya wanita itu, hingga akhirnya ia terperanjat sendirinya.

"Itu toh An Toa-nio!"

Katanya di dalam hati.

"Jadi An Taydjin ini ada suaminya -ayah Siauw Hoei?"

An Taydjin cekikikan.

"Bagaimana sengsara aku mencari kau..."

Katanya.

"Bagaimana aku tega membakarmu? Marilah kita hidupkan pula kasih kita yang lama!..."

Walaupun dia mengucap demikian, tapi dengan kakinya An Taydjin mendupak pintu, sampai dua kali.

Dari suara dupakan itu, Sin Tjie bisa duga-duga liehaynya ini taydjin.

Karena dupakan yang keras, daun pintu terbuka terpentang, menyusul mana An Toa-nio lompat keluar dengan pedangnya berkelebat menyambar!

An Taydjin lompat mundur.

"Bagus, kau hendak bunuh suamimu!"

Ia berseru.

Dia kuatir di dalam rumah masih ada orang lain, tak mau ia menerjang masuk, hanya di situ, dengan tangan kosong, ia melayani si nyonya.

Sin Tjie merayap maju, untuk bisa menyaksikan dari dekat.

An Taydjin itu benar liehay, dengan tangan kosong, ia bisa berkelahi dengan tenang, malah sambil kadang-kadang tertawa.

Senantiasa ia berkelit dari sesuatu bacokan atau tikaman, tubuhnya gesit dan lincah, hingga dia membuat An Toa-nio, dalam murkanya, jadi bertambah sengit, hingga sambil menyerang terus berulang-ulang, nyonya ini pun mencaci, mendamprat.

An Taydjin tetap tidak perdulikan kemurkaan orang yang ia sebut isterinya itu.

"Setan alas!"

Menjerit si nyonya, yang membarengi membacok dengan hebat.

An Taydjin berkelit sambil majukan sebelah kakinya, dengan begitu, ia jadi dekati si nyonya, tangan siapa dia lantas sambar, untuk dicekal dan ditekuk, maka di lain saat pedangnya nyonya itu terlepas jatuh, kedua tangannya kena ditelikung, sedang kedua kakinya pun dijepit oleh kedua kakinya si taydjin ini.

Secara demikian, matilah kutunya si nyonya.

"Kelihatannya tidak nanti orang she An ini lantas celakai An Toa-nio,"

Sin Tjie berpikir.

"Baik aku melihat terlebih jauh sebelumnya aku turun tangan akan menolongi!..."

An Taydjin tertawa bergelak-gelak karena kemenangannya itu, sampai ia meleng beberapa kali, sedang An Toa-nio, dalam murkanya, memaki kalang-kabutan.

Justru itu, sebat luar biasa, Sin Tjie menyusup ke pojok pintu, dengan tempel tubuh kepada tembok, terus saja ia gunai gerakannya "Pek-houw yoe-tjhong,"

Atau "Cecak memain di tembok" , akan melesat naik ke atas, hingga ia bisa sampaikan penglari dimana ia tempatkan dirinya.

"Ouw Loo Sam, nyalakan api!"

Teriak An Taydjin.

Rupanya lilin di dalam kamar padam sendirinya selagi si nyonya berkutatan.

Ouw Loo Sam dengar titah itu, dengan api di tangan, ia hampirkan pintu, selagi melongok ke dalam, ia letaki goloknya di depannya, untuk lindungi diri, kemudian ia jumput sepotong batu, untuk menimpuk ke dalam, habis itu ia diam, ia pasang kuping, akan dengar gerak-gerik dari dalam.

Sekian lama, kamar menjadi sunyi saja.

Maka sekarang orang she Ouw ini berani bertindak masuk.

Paling dulu ia nyalakan lilin di atas meja.

An Taydjin monyongi mulutnya ke arah Loo Sam, atas mana dia ini keluarkan tambang, yang terus dipakai membelenggu tangan dan kaki An Toa-nio.

Kembali An Taydjin tertawa.

"Kau bilang tak sudi kau menemui aku pula!"

Katanya.

"Kau lihat, apakah sekarang aku tidak bertemu pula denganmu? Kau lihat, dengan berapa lembar uban rambutku bertambah!"

An Toa-nio tutup rapat kedua matanya, ia tutup juga mulutnya.

Dari atas penglari, Sin Tjie mengawasi An Taydjin itu, hingga ia dapati seorang dengan usia pertengahan tetapi wajahnya tetap cakap dan keren.

Rupanya di waktu muda dia cakap sekali sembabat dengan An Toa-nio yang eilok.

An Taydjin usap-usap mukanya An Toa-nio.

"Bagus!"

Katanya sambil tertawa.

"Sudah sepuluh tahun kita tidak bertemu, mukamu masih putih bagaikan salju dan halus...."

Tiba-tiba pembesar ini berpaling kepada Ouw Loo Sam.

"Pergi kau!"

Dia mengusir. Loo Sam tertawa, ia ulurkan lidahnya, lantas ia berlalu, dengan rapati pintu di belakangnya. Taydjin itu berdiam sekian lama, lalu ia menghela napas.

"Mana Siauw Hoei?"

Katanya.

"Selama tahun-tahun yang belakangan ini, setiap hari aku pikirkan saja padanya...."

Tetap An Toa-nio tidak perdulikan orang ini.

"Dahulu kita masih sama-sama muda, kita menikah dan suka berselisih saja menuruti perangai masing-masing,"

Kata An Taydjin kemudian.

"sekarang sesudah ada umur, setelah berpisahan banyak tahun, selayaknya kita ubah adat kita dan hidup pula dengan rukun seperti sediakala...."

Dengan tiba-tiba An Toa-nio membentak.

"Kau tahu bagaimana binasanya ayah dan kandaku!"

Taydjin itu menghela napas.

"Ayah dan kandamu dibinasakan oleh kim-ie-wie, itulah benar,"

Saaut dia.

"akan tetapi tak dapat dengan sebatang gala kejen kau sapu habis orang-orang dalam satu perahu. Di dalam kim-ie-wie juga ada orang-orang yang baik dan busuk. Aku berkerja untuk Sri Baginda Raja, untuk kemuliaan leluhur kita..."

"Foei! Foei! Foei!"

An Toa-nio meludah berulang-ulang sebelum orang sempat tutup mulutnya. An Taydjin berdiam, sampai sekian lama, Baru ia bicara pula.

"Aku selalu ingat Siauw Hoei,"

Katanya.

"Aku telah kirim orang untuk sambut dia, mengapa kau menyingkir sana dan menyingkir sini, teurs kau tidak ijinkan dia bertemu denganku?"

An Toa-nio sangat jemu tapi ia menjawab juga.

"Aku telah beritahukan kepadanya bahwa ayahnya sudah lama menutup mata,"

Jawabnya.

"Aku bilang bahwa ayahnya ada gagah sekali dan bersemangat tetapi sayang dia pendek umurnya, mati muda-muda!"

"Ah, mengapa kau dustakan dia?"

Tanya An Taydjin, suaranya duka.

"Mengapa kau sumpahi aku?"

"Ayahnya dahulu adalah satu pemuda yang bersemangat dan baik,"

Kata An Toa-nio.

"Keluargaku larang aku menikah dengannya, akan tetapi atas mauku sendiri, dengan diam-diam aku ikuti padanya, siapa tahu...."

Nyonya ini tak dapat bicara terus, ia menangis sesenggukan.

An Taydjin keluarkan sapu tangannya, akan susuti air mata isterinya, sembari menghiburi, ia dekati mukanya kepada muka si nyonya, atau mendadak dia menjerit seraya berjingkrak, mukanya mengucurkan darah, sebab An Toa-nio telah gigit padanya!

Sin Tjie menyaksikan, diam-diam ia tertawa dalam hatinya.

An Taydjin susut mukanya, ia menjadi gusar.

"Kenapa kau gigit aku?"

Dia menegur.

"Kau telah binasakan suamiku yang baik, kenapa aku tidak boleh gigit padamu?"

Jawab si nyonya, yang masih sengit.

"Aku menyesal aku tak dapat bunuh padamu!"

"Ah, heran!...."

Kata An Taydjin.

"Akulah suamimu, cara bagaimana aku bisa bikin celaka suamimu itu?"

"Suamiku adalah satu laki-laki yang bersemangat!"

Kata An Toa-nio tetap sengit.

"Entah kenapa kemudian dia kena kepincuk oleh harta-dunia dan kebesaran, dia tak kehendaki pula isterinya, dia tak perdulikan pula puterinya, dia cuma ingin pegang pangkat besar, ingin punya harta bertumpuk!... Suamiku dulu itu, yang baik hatinya, sudah mati, sudah mati, tak dapat aku lihat pula kepadanya...."

Sin Tjie jadi sangat terharu. Beginilah kiranya lelakon hidup dari nyonya janda yang baik hati itu. Ia pun mau percaya, hati An Taydjin ini tentu tergerak. An Toa-nio melanjuti kata-katanya.

"Suamiku itu bernama An Kiam Tjeng. Bukankah ia telah dibinasakan oleh kau, An Taydjin? Suamiku itu mempunyai guru silat yang berbudi, ialah Lookoensoe Tjiok Toa Too, akan tetapi ia kena dibinasakan oleh An Taydjin yang telah terpincuk pangkat dan harta. Dan isteri dan anak perempuan Tjiok Lookoensoe itu juga mati karena dipaksa oleh An Taydjin..."

"Berhenti!"

An Taydjin membentak.

"Aku larang kau sebut-sebut itu pula!"

"tapi manusia berhati serigala, berpeparu anjing, kau pikir saja sendiri!"

An Toa-nio pun membentak.

"Pembesar negeri panggil Tjiok Toa Too untuk ditanyai keterangannya,"

Berkata An Taydjin ini.

"belum pasti dia bakal dibikin celaka, maka kenapa ia gunai goloknya hendak membinasakan aku? Kalau isteri dan anak daranya bunuh diri sendiri, siapa yang mesti dipersalahkan?"

"Memang, memang Tjiok Toa Too matanya buta!"

Seru An Toa-nio.

"Kenapa dia didik satu murid yang demikian jempol? Murid itu telah kedinginan, ia kelaparan, ia tinggal mampusnya saja, akan tetapi Tjiok Toa Too dengan sungguh-sungguh telah ajarkan ia ilmu silat, telah rawat ia hingga umur dewasa, malah kemudian ia telah dinikahkan..."

An Toa-nio jadi semakin sengit, hingga An Taydjin keprak meja.

"Hari ini kita suami-isteri bisa bertemu pula, mengapa kau timbulkan soal-soal lama?"

Tegurnya.

"Jikalau kau hendak bunuh aku, bunuhlah!"

An Toa-nio menantang.

"Aku hendak sebutsebut pula semua kejadian dulu itu, habis apa kau mau?"

Sin Tjie berpikir.

Menurut An Toa-nio ini, jadinya An Kiam Tjeng telah ditolong gurunya dari bahaya kedinginan dan kelaparan, lalu dididik, tapi setelah ia dapat berdiri sendiri, ia kemaruk harta dunia dan gila pangkat, hingga untuk itu, dia sampai binasakan gurunya sendiri, sampai keluarganya sang guru turut binasa semua karenanya.

Maka itu, pantas An Toa-nio jadi gusar dan putuskan perhubungan suami-isteri dengannya.

Dahulu An Toa-nio tinggal menyendiri, sampai Ouw Loo Sam mencoba culik Siauw Hoei, lantas dia menyingkir sana dan menyingkir sini, rupanya dia mau menyingkir dari suaminya ini, satu manusia buruk.

"Dia ini harus menjadi bagian mati..."

Pikir Sin Tjie terlebih jauh.

"Ketika dahulu dia celakai gurunya sekeluarga, keadaan pasti sangat menyedihkan. Sayang tak dapat aku segera hajar dia mampus sekarang juga. Entah bagaimana pikiran yang sebenarnya dari An Toanio, maka tak dapat aku berlaku semberono...."

Karena ini, ia berdiam terus di atas penglari, akan pasang mata dan kupingnya lebih jauh.

Untuk sementara, suami-isteri itu berdiam masing-masing.

Selagi kamar ada sunyi, tiba-tiba samar-samar terdengar suara tindakan kaki kuda, atas itu An Kiam Tjeng geser tjiaktay ke jendela, terus dia cabut goloknya, kemudian dengan pelahan dia mengancam.

"Kalau sebentar orang datang, kau berani bersuara memberi tanda, untuk minta pertolongan, aku bakal tak perdulikan lagi perhubungan kita sebagai suami-isteri!"

An Toa-nio tidak jawab suaminya itu.

An Taydjin ketahui baik tabeat isterinya ini, maka ia potong sejuir kelambu, dengan itu ia sumpel mulut orang.

Ketika suara tindakan kuda datang semakin dekat, Kiam Tjeng angkat tubuh isterinya, untuk dipindahkan ke pembaringan, habis itu, kelambunya dia turunkan.

Ia sendiri lantas saja sembunyikan diri di belakang pembaringan.

Sin Tjie saksikan semua kejadian di depan matanya itu.

Ia tahun An Kiam Tjeng bersedia untuk bokong orang yang bakal datang ke dalam rumahnya An Toa-nio ini.

Belum tahu siapa orang itu, tetapi pemuda kita menduga, dia mesti ada penolong si nyonya.

Maka ia pun siap sedia akan tolongi An Toa-nio serta penolongnya nyonya ini.

Anak muda kita lantas kumpuli debu di penglari, lalu ia ludahi itu dan aduk-aduk hingga rata, hingga debu itu merupakan sepotong tanah lempung, kemudian tanpa bersangsi lagi, ia menimpuk ke arah lilin, hingga apinya padam seketika, hingga kamar jadi gelap-petang.

Di dalam hatinya, An Taydjin mengutuk Dalam gelap-gulita itu, Sin Tjie loncat turun dari atas penglari.

Tak mau ia tunggu sampai si taydjin menyulut api pula.

Ia bertindak ke pintu, untuk pergi ke luar, tanpa ada orang yang lihat padanya.

Dengan mutar sedikit, ia sampai di ujung rumah dimana ada satu pahlawan kim-ie-wie sedang mendekam dengan golok di tangan, matanya terus-menerus diarahkan ke pintu rumah.

Dengan hati-hati, Sin Tjie merayap mendekati.

"Ada orang!"

Kata ia dengan pelahan.

"Oh!..."

Pahlawan itu gugup.

"Mendekam!"

Ia peringati kawan-kawannya.

Sementara itu, Sin Tjie telah ulur tangannya, untuk menotok, maka di lain saat, pahlawan itu tak mampu bergerak lagi.

Dengan cepat pemuda ini buka baju seragamnya orang itu, untuk ia pakai.

Guna menutupi mukanya, ia robek bajunya orang itu.

Ia menutup muka dengan kedua mata dibikin bisa melihat.

Kemudian, dengan pondong tubuh si pahlawan, ia merayap ke samping pintu.

Di dalam gelap-gulita, suara derapnya kuda terdengar semakin nyata.

Sebentar kemudian, lima ekor kuda telah sampai di depan rumah, lalu tujuh orang berlompat turun.

Segera terdengar tepukan tangan tiga kali, suaranya pelahan, datangnya dari luar rumah.

Dari dalam, An Taydjin menyambut dengan tiga kali tepukan tangan juga.

Habis itu, dia nyalakan lilin, ia sendiri segera sembunyi di belakang pintu.

Dibarengi dengan suara menjeblak daun pintu lantas terpentang sedikit, menyusul mana, satu kepala orang melongok ke dalam rumah.

Dengan sebat An Taydjin membacok, kepala orang itu kutung, darahnya menyembur dari lehernya, tapi kapan di antara cahaya api si taydjin mengawasi, ia terkejut bukan main.

Ternyata orang yang ia bunuh ada orangnya sendiri, satu pahlawan kim-ie-wie.

Karena ini, ia hendak menjerit, akan kaoki sekalian kawannya.

Tiba-tiba, sebelum An Taydjin keburu buka mulut, satu orang berlompat masuk.

Dia tutup mukanya dengan topeng.

Cepat luar biasa, dia ulur tangannya ke tubuh si taydjin, hingga taydjin ini kena tertotok tanpa berdaya.

Menyusul itu, dengan satu sampokan dengan tangannya yang lain, Sin Tjie totok jalan darah "tay-twie-hiat"

Hingga An Taydjin berdiri tanpa bergeming.

Lalu, bekerja lebih jauh dengan tidak kurang sebatnya, pemuda ini sambuti golok orang itu, untuk diletaki di lantai.

An Kiam Tjeng pandai boegee, ia terima pendidikan untuk belasan tahun dari Tjiok Toa Too, guru silat yang kesohor, kemudian setelah pangku jabatan, belum pernah ia alpa akan terus melatih diri, karena ia memikir untuk naik pangkat dan naik pangkat, ambekannya besar.

Tapi, menghadapi Sin Tjie, justru ia lagi kaget, ia tak dapat berdaya sama sekali, maka dengan gampang ia rubuh sebagai korban.

Setelah itu, Sin Tjie lompat ke pembaringan, untuk kasi bangun pada An Toa-nio.

Denga keluarkan sedikit tenaga, pemuda ini putuskan tambang belengguan di kaki dan tangan.

"Encim An, aku datang menolongi kau!"

Ia kata dengan pelahan kepada si nyonya, supaya nyonya itu ketahui dan tak kaget atau curiga.

An Toa-nio kaget berbareng girang.

Ia kenali suaranya anak muda itu.

Hanya ia terkejut akan saksikan orang punya seragam kim-ie-wie, sedang mukanya ditutupi topeng.

"Kau siapa, tuan?"

Tanyanya, ragu-ragu.

Baru nyonya itu menanya demikian, mendadakan ada dua bajangan yang melompat menerjang masuk ke dalam, bajangan itu masing-masing mempunyai dua tangan yang berbulu, sedang mulutnya perdengarkan pekik.

Terus saja mereka tubruk Sin Tjie.

Anak muda ini terkejut, ia berbalik, untuk menangkis, akan tetapi kapan ia tampak kedua banjangan itu adalah orang-orang hutan, ia menjejak dengan kedua kakinya, akan mencelat naik ke penglari.

Di belakang kedua orang hutan itu menyusul lima orang, satu di antaranya, yang masuk paling dulu, sudah panggil An Toa-nio.

Si nyonya menyahuti.

Tapi orang itu lantas juga berdiri tercengang.

Sin Tjie sendiri segera kenali, kedua binatang liar itu adalah dua orang hutannya yang ia pelihara di atas gunung Hoa San, hingga ia jadi sangat girang.

"Tay Wie! Siauw Koay!"

Ia segera memanggil.

Kedua binatang itu telah dapat cium bau majikannya, maka itu keduanya mendahului menerjang masuk ke dalam, mereka tubruk si anak muda, bukan untuk diserang, tapi majikannya lompat naik ke penglari, atas panggilan itu, mereka pun turut menyusul ke atas penglari, keduanya peluki majikan itu.

Orang-orang yang menyerbu masuk itu heran melihat ada mayat pahlawan di dalam rumah itu, mereka juga tak mengerti sikapnya kedua orang hutan itu, maka juga, mereka tercengang.

Di luar, kawanan pahlawan kim-ie-wie lihat orang datang, mereka kuatirkan keselamatan An Taydjin, yang berada sendirian di dalam, maka itu, dua diantaranya lari ke pintu, untuk menerjang masuk.

"Hajar!"

Berseru Sin Tjie.

Ini ada seruan yang biasa si anak muda perdengarkan di waktu dia latih dua binatang piaraannya itu.

Sudah lama kedua orang hutan itu tidak pernah dengar suara majikannya ini, toh mereka masih ingat dengan baik, maka keduanya lantas loncat turun, tepat di atasannya dua pahlawan, kedua kakinya merangkul, kedua tangannya menyambar ke lehernya masing-masing pahlawan itu.

Maka itu, kapan terdengar suara meretek, patahlah leher hamba-hamba istana itu, tubuhnya dilepaskan dan jatuh.

Menyusul kedua pahlawan itu, menerobos masuk kawan-kawan mereka.

Sekarang Sin Tjie sudah lompat turun, dia sambar sesuatu orang untuk dilemparkan kembali ke luar.

Ada beberapa pahlawan, yang bisa melawan beberapa jurus, mereka pun akhirnya kena dilemparkan, ada yang kena ditoyor, ada yang kena ditendang.

Maka di lain saat, semua pahlawan itu menjadi pusing kepala dan mata kabur, terpaksa mereka berbangkit bangun, untuk kabur.

Selama kejadian itu, lima orang yang tadi nerobos masuk diam saja menyaksikan juga kedua orang hutan.

Sin Tjie robek bajunya satu pahlawan, ia pakai itu untuk belenggu An Kiam Tjeng, untuk tutup mata dan kupingnya, agar dia tak melihat suatu apa, tak dengar apa juga, kemudian Baru ia singkirkan topengnya dan baju seragam, akan hadapi lima orang itu sambil bersenyum.

"Lie Tjiangkoen, banyak baik?"

Menegur dia sambil tertawa kepada salah satu orang.

"Apakah Giam Ong pun ada banyak baik?"

Orang yang ditanya itu tercengang, ia mengawasi, akhirnya dia tertawa berkakakan, tangannya menyambar tangan si anak muda, untuk digoyang-goyang.

Lie Tjiangkoen itu ada Lie Gam, orang sebawahannya Giam Ong.

Maka pertemuan itu sangat menggirangkan mereka semua.

"Encim An, apakah encim masih kenali aku?"

Tanya Sin Tjie kemudian sambil berbalik, akan pandang nyonya An.

Sebelas tahun telah berselang sejak Sin Tjie menumpang pada An Toa-nio, maka sekarang, setelah ia jadi satu pemuda yang cakap dan gagah, Toa-nio tidak bisa lantas kenali dia, hingga ia mesti asah otaknya.

Sin Tjie rogoh sakunya, akan keluarkan gelang emas pemberian nyonya itu, sambil tunjuki itu kepada si nyonya, ia kata.

"Setiap hari aku bawa-bawa ini di tubuhku, maka untuk selama-lamanya tak aku lupakan encim!"

Baru sekarang nyonya itu ingat betul, ia tarik tangan orang itu akan bawa muka si anak muda ke dekat lilin, hingga ia tampak samar-samar luka bekas golok di ujung alis sebelah kiri dari si anak muda.

"Ah, anak!"

Seru dia, kaget dan girang.

"Kau telah jadi begini besar, ilmu silatmu liehay sekali?..."

"Aku pernah ketemu adik Siauw!"

Sin Tjie bilang.

"Ya, tanpa merasa, anak-anak telah jadi besar,"

Kata si nyonya, seperti pada dirinya sendiri.

"Sungguh cepat lewatnya sang waktu!...."

Kemudian nyonya ini pandang suaminya, yang rebah di lantai, ia menghela napas.

"Tidak kusangka, anak, kaulah yang tolongi aku,"

Kata dia pula. Lie Gam tak tahu hubungan di antara si nyonya dan si anak muda, mendengar nyonya itu berulang-ulang menyebut "anak, anak", dia sangka mereka ada sanak dekat satu dengan lain.

"Kejadian ini sungguh berbahaya!"

Kata dia kemudian sambil tertawa. Lalu dia tambahkan pada Sin Tjie.

"Atas titahnya Giam Ong, aku datang ke Hoopak untuk bikin pertemuan dengan beberapa kawan. Entah bagaimana, liehay kupingnya kawanan kim-ie-wie, mereka dengar tentang kami, lantas mereka siap-sedia di sini untuk bokong kami."

"Apakah sahabat-sahabat itu telah pada datang?"

Sin Tjie tanya. Itu waktu, sebelum Lie Gam menjawab, terdengar suara berlari-larinya beberapa ekor kuda.

"Nah, itulah mereka!"

Kata jendral ini.

Beberapa pengiring Lie Tjiangkoen pergi keluar, tidak lama mereka bersama tiga orang, yang masing-masing ada orang she Lee, Hoan dan Hauw, semua jago dari Hoopak, dan dengan mereka itu, Sin Tjie pernah bertemu di rumah Beng Pek Hoei.

Sesudah beri hormat pada Lie Gam, ketiga orang itu hampirkan Sin Tjie, secara menghormat sekali, mereka menjalankan kehormatan kepada pemuda ini.

"Bengtjoe! Adakah bengtjoe banyak baik?"

Kata mereka. Heran Lie Gam menyaksikan itu.

"Kamu telah kenal satu pada lain?"

Tanya dia.

"Wan Bengtjoe adalah ketua pusat dari tujuh propinsi, kami semua mendengar titahtitahnya,"

Sahut si orang she Hauw.

"Oh, begitu?"

Kata jendral itu.

"Untuk membantu Giam Ong, aku senantiasa sangat repot di Shoasay, sampai segala kabaran dari Timur seperti terputus bagiku. Aku tidak sangka telah terjadi musyawarah besar itu. Inilah menggirangkan, kamu harus diberi selamat!"

"Itu adalah kejadian Baru satu bulan yang lampau,"

Terangkan Sin Tjie.

"Sekalian sahabat baik telah memandang mata padaku, mereka telah berikan aku itu macam panggilan. Sebenarnya aku masih terlalu muda, tak sanggup aku menerimanya...."

"Ilmu silat Wan Bengtjoe liehay dan ia cerdik dan cerdas juga,"

Berkata si orang she Hoan.

"Umpama kita tidak menyebutkannya tiga sifat itu, kemurahan hati dan pribudi tinggi bengtjoe siapakah di dalam dunia Rimba Persilatan yang tidak menghargainya?"

"Itulah bagus, bagus!"

Kata Lie Gam dengan girang.

Kemudian dia utarakan titahnya Giam Ong.

Nyata Giam Ong telah melihat suasana, ia percaya bahwa telah datang saatnya untuk maju ke kota raja, maka ia merencanakan tanggal-bulannya untuk menyerang Tongkwan, dari itu, ia utus Lie Gam memasuki Hoopak secara rahasia, untuk menghubungi pelbagai kawan seperjuangan, supaya mereka itu nanti membarengi menyambut di waktu ia mulai angkat senjata.

"Nah, bagaimana bengtjoe niat bertindak?"

Tanya si orang she Lee.

"Gerakan Giam Ong ada gerakan mulia, orang-orang gagah di seluruh negeri harus menyambutnya,"

Sahut Sin Tjie.

"Aku akan segera menyampaikan pelbagai berita ke segala penjuru. Ini adalah saatnya untuk semua enghiong di tujuh propinsi mendirikan jasa!"

Mereka menjadi girang sekali, begitupun Lie Gam, maka itu, mereka lantas pasang omong lebih jauh dengan gembira.

"Tentara Beng telah jadi buruk sekali,"

Menyatakan Lie Gam.

"Aku percaya begitu lekas tentara kemerdekaan sampai, mereka bakal jadi seperti rumput-rumput kering yang dicabuti, usaha kita akan sama gampangnya seperti membelah bambu. Cuma sekarang muncul satu soal Baru, yang sulit...."

"Apakah itu, Tjiangkoen?"

Tanya Sin Tjie.

"Baru saja aku terima laporan penting,"

Jawab Lie Gam.

"Aku dengar bahwa sepuluh buah meriam besar buatan asing hendak diangkat ke Tong-kwan, untuk diberikan kepada Soen Toan Teng. Orang she Soen itu memang pandai mengatur bala tentara, tapi dia masih kalah terhadap Giam Ong, yang berbahaya adalah itu sepuluh buah meriam yang hebat sekali..."

Terkejut Sin Tjie mendengar keterangan itu.

"Siauwtee sendiri pernah lihat itu sepuluh buah meriam besar di tengah perjalanan,"

Berkata dia.

"Memang, dilihat dari macamnya, meriam-meriam itu mesti liehay sekali. Jadi itu bukan untuk dikirim ke Sanhay-kwan buat hajar bangsa Boan?"

Dari tempat jauh ribuan lie, meriam-meriam itu diangkut kemari, memang tujuan asalnya adalah Sanhay-kwan,"

Sahut Lie Gam.

"Akan tetapi tentang pergerakan Giam Ong, Kaisar Tjong Tjeng telah mendengar kabar, bahwa mereka rupanya telah ubah haluan. Menurut warta yang aku Baru terima, semua meriam itu hendak dibawa ke Tongkwan."

Sin Tjie kerutkan alis.

"Memang adalah kebiasaan raja-raja Beng, mereka menjaga gerakan rakyatnya lebih hebat daripada mereka menjaga serangan-serangan bangsa asing,"

Ia kata.

"Kalau tidak demikian, tidak nanti ayahku terbinasa karenanya. Lie Tjiangkoen, bagaimana sekarang kau hendak bertindak?"

"Jikalau kita tunggu sampai meriam-meriam itu telah diangkut sampai di Tongkwan,"

Mengutarakan Lie Gam.

"penyerangan kita di sana adalah sama dengan darah-daging dipakai menggempur besi-baja, meski umpama kata kita tidak bakal kalah, sudah terang pengorbanan mesti besar sekali...."

"Kalau begitu, perlu kita mendahului, untuk merebutnya di tengah jalan!"

Sin Tjie bilang. Lie Gam tepuk tangan saking girang.

"Saudara Wan,"

Katanya.

"dalam hal ini aku mengandal kepadamu untuk kau dirikan jasa istimewa!"

Tapi Sin Tjie berdiam, ia berpikir keras.

"Senjata api dari bangsa asing itu sangat liehay, untuk rampas meriam-meriam besar itu, perlu kita menggunakan tipu-daya,"

Katanya.

"Sulit juga untuk ditetapkan dari sekarang apa ikhtiar kita bakal berhasil atau tidak.... Tapi ini adalah urusan sangat penting, aku nanti mencoba sebisa-bisanya. Semoga dengan mengandali rejeki Giam Ong, aku akan berhasil. Itu pun ada untuk kebahagiaan rakyat!"

Sampai di situ, mereka lalu bicara tentang gerakan tentara mereka, akan kemudian Lie Gam suruh salah satu pengiringnya keluarkan sebilah pedang dari dalam pauwhok mereka.

Itulah Kim-tjoa-kiam.

Dengan kedua tangannya sendiri, Lie Gam serahkan pedang itu kepada Sin Tjie.

"Saudara Wan,"

Berkata dia.

"sejak pertemuan kita di Siamsay, walaupun kita tak berkesempatan untuk bicara banyak, aku toh telah ketahui, kau adalah satu pemuda yang berarti, maka ketika kau titipkan pedangmu ini kepadaku, tidak pernah aku pisahkan diri dari senjata ini. Sebenarnya ketika itu aku rada-rada sangsi, aku berkuatir untuk usiamu yang masih muda sekali, sebab kau kurang pengalaman. Jikalau kau berkelana dengan bawa-bawa pedang yang luar biasa ini serta dua binatang piaraanmu, aku kuatir kau menjadi terlalu menyolok mata, kau bisa diperdayakan atau dicelakai orang. Akan tetapi sekarang buktinya lain. Kau masih muda sekali tapi toh kau telah berhasil secara luar biasa! Maka sekarang pedang ini dan kedua orang-hutan aku kembalikan kepada tuannya!"

Dengan hormat, Sin Tjie sambuti pedangnya itu, ia pun mengucap terima kasih.

"Isteriku telah dengar tentang kau, saudara Wan, ia menyesal tak dapat menemui kau,"

Lie Gam kata pula kemudian.

"Ketika itu isteriku tidak berada di Siamsay, akulah yang memberitahukan dia."

"Satu kali pasti aku akan membuat kunjungan,"

Sin Tjie bilang.

"Isteri dari Lie Tjiangkoen adalah orang gagah dalam kalangan wanita,"

An Toa-nio campur bicara.

"Orang kangouw beri ia julukan Ang Nio Tjoe. Dia tidak melainkan cantik, ilmu silatnya pun sempurna. Eh, anak, sudahkan ada orang yang menjadi cita-cita kawan hidupmu?"

Tiba-tiba saja Sin Tjie ingat Tjeng Tjeng, wajahnya menjadi berubah merah. Ia tidak menjawab, ia cuma bersenyum.

"Entah nona siapa yang mempunyai rejeki untuk mendampingimu, anak,"

Kata pula si nyonya sambil menghela napas.

"Kau begini cakap dan gagah. Ah...."

Toa-nio lantas ingat gadisnya, hingga ia berpikir.

"Siauw Hoei dan dia hidup sama-sama semasa kecil, berdua mereka pun telah sama-sama mengalami ancaman bencana, coba dia menjadi baba-mantuku, pasti hidupnya Siauw Hoei telah ada jaminannya. Sayang Siauw Hoei, dia justru mencintai Tjoei Hie Bin yang tolol-tololan! Dasar peruntungan masing-masing....."

Melihat orang bicara urusan pribadi, Hoan, Lee dan Hauw tak ingin campur omong, maka mereka lantas berbangkit, untuk pamitan.

"Wan Bengtjoe,"

Kata si Hoan.

"besok pagi kami bertiga akan siapkan saudara-saudara kami untuk menantikan segala titahmu."

"Baik, samwie!"

Sahut Sin Tjie.

Seberlalunya tiga orang itu, Sin Tjie melanjuti pasang omong dengan Lie Gam, mengenai usaha mereka, mengenai sesama orang gagah, hingga persahabatan mereka jadi tambah kekal, hingga agaknya mereka menyesal tak bertemu terlebih siang daripada itu.

Mereka bicara dengan asyik, sampai sang fajar datang, hingga ayam-ayam jago telah berkokok saling-sahutan.

Satu kali kedua orang ini menoleh kepada An Toa-nio, kelihatan nyonya itu, sambil bertopang dagu, lagi mengawasi dengan bengong kepada suaminya....

"An Toa-nio!"

Lie Gam lalu memanggil, dengan pelahan. Nyonya itu angkat kepalanya.

"Bagaimana hendak diperbuat terhadap orang ini?"

Lie Gam tanya. Nyonya itu masih kacau pikirannya, ia menggeleng kepala, tak dapat ia menjawab. Lie Gam tahu orang sedang bingung, ia tidak mendesak menanya.

"Saudara Wan, sudah waktunya kita berpisah,"

Kata ia kepada Sin Tjie.

"Aku nanti antarkan tjiangkoen,"

Sin Tjie bilang.

Mereka manggut kepada An Toa-nio, lalu dengan bergandengan tangan, sambil berendeng, mereka bertindak keluar.

Pengiring-pengiringnya Lie Gam, serta kedua orang hutan, lantas mengikuti.

Di sepanjang jalan, masih saja kedua orang ini pasang omong, hingga mereka telah melalui tujuh atau delapan lie.

"Mengantar sampai seribu lie juga, akhirnya orang toh mesti berpisah,"

Kata Lie Gam.

"maka, saudara, silakan kau kembali."

Wan Sin Tjie bersangsi, agak berat rasanya untuk ia pisahkan diri. Mendadak, Lie Gam berkata.

"Kita ada sahabat-sahabat Baru tetapi mirip dengan sahabatsahabat kekal, maka jikalau kau tidak menampik, sukakah kau untuk kita angkat saudara?"

Sin Tjie setuju, ia malah girang sekali.

"Akur!"

Ia menyatakan.

Di situ juga, di tepi jalan, mereka berdua lantas menjalankan upacara angkat saudara, sebagai gantinya hio, mereka memakai tanah lempung.

Sin Tjie panggil koko atau kanda kepada jendral itu.

Habis itu, masih mereka bicara seketika lama sebelum mereka berpisahan, keduanya sangat terharu hingga mata mereka mengembeng air mata...

Sin Tjie awasi saudara itu dan pengiring-pengiringnya naik kuda, dan pergi, Baru ia ajak Tau Wie dan Siauw Koay berjalan pulang ke hotel, begitu ia sampai, di sana Hoan, Lee dan Hauw telah menantikan dia, bersama mereka bertiga ada beberapa puluh kawannya yang semua kelihatannya bersemangat.

Karena itu, ruang besar dan perkarang hotel jadi seperti penuh dengan mereka itu.

Sebaliknya Tjeng Tjeng, A Pa, Ang Seng Hay dan lainnya, tak tertampak di dalam hotel itu.

Berbareng dengan itu Sin Tjie dapat kenyataan semua pengiringnya A Kioe berkumpul di dalam kamar mereka, mereka tidak kasi kentara apa-apa, tidak pernah ada yang keluar dari kamar.

Rupanya mereka ambil sikap ini karena mereka tampak demikian banyak orang.

Sin Tjie tahu, orang-orangnya si nona adalah pelbagai sie-wie atau pahlawan istana, ia pun tak perdulikan mereka.

"Hoan toako,"

Kemudian ia kata kepada si orang she Hoan, yang bernama Hoei Boen.

"tolong kau ajak beberapa saudara pergi ke selatan akan cari tahu, orang-orang asing itu serta semua meriamnya menuju ke utara atau ke selatan. Harap kau lekas pergi dan lekas kembali!"

Hoan Hoei Boen terima tugas itu, ia lantas pilih tiga kawan, yang ia ajak pergi keluar, lalu dengan menunggang kuda, mereka pergi menjalankan tugasnya.

Baru Hoei Boen pergi, atau See Thian Kong muncul bersama Thia Tjeng Tiok.

Girang mereka lihat si anak muda, yang tak kurang suatu apa.

"Oh, Wan Siangkong, kau telah kembali!"

Kata mereka.

Belum lagi Sin Tjie sempat menyahuti, atau di situ muncul Tjeng Tjeng bersama A Pa, rambutnya si nona kusut bekas tertiup angin, mukanya bersemu merah.

Nona itu tampaknya girang, akan tetapi lekas juga, dia kerutkan alisnya.

"Kenapa kau Baru kembali?"

Tanya dia, agaknya menyesali.

Sekarang Sin Tjie tahu kemana perginya kawan-kawan itu, nyata mereka kuatiri ia dan pergi mencari.

Ia terharu untuk Tjeng Tjeng, yang romannya kusut.

Maka ia lantas ajak nona itu ke kamarnya dimana ia tuturkan pengalamannya tadi malam.

Tjeng Tjeng tunduk, tak sepatah kata ia ucapkan.

Si anak muda lihat sikap orang itu.

"Aku telah membuat kau berkuatir,"

Katanya dengan pelahan. Masih Tjeng Tjeng diam, dia malah melengos. Sin Tjie tahu orang marah tapi ia tak tahu sebabnya.

"Baru saja aku angkat saudara sama satu enghiong besar,"

Katanya kemudian.

"Adik Tjeng, kau dapat tambah satu koko...."

Karena kebiasaan, masih Sin Tjie memanggil "adik" -adik lelaki -kepada si nona Hee. Panggilan ini agaknya menyukai Tjeng Tjeng.

"Satu koko sudah tidak punya liangsim, buat apa tambah koko lagi...."

Katanya.

"Aku bikin kau berkuatir, adik Tjeng, baiklah, aku janji, lain kali aku tidak akan membuatnya pula,"

Sin Tjie bilang.

"Lain kali adalah lain orang yang akan kuatirkan dirimu!"

Kata si nona.

"Kenapa aku mesti kuatirkan kau?...."

"Eh, siapakah dia itu?"

Sin Tjie tanya. Tjeng Tjeng tidak menyahut.

"Itu wanita asing!"

Sahut Tjeng Tjeng dan bangkit untuk banting kakinya, terus ia pergi ke kamarnya sendiri.

Sampai tengah-hari, dia tidak keluar lagi, malah dia tidak dahar juga.

Sin Tjie perintah jongos bawakan barang makanan.

Ia menduga-duga, kenapa nona itu agaknya gusar, ia mau menemui pula, untuk minta maaf kalau perlu.

Ia percaya, si nona bermaksud baik sudah berkuatir atas dirinya.

Tapi jongos kembali dengan barang makanan masih utuh.

"Si nona tidak ada di dalam kamarnya,"

Kata jongos itu. Sin Tjie terkejut.

"Inilah hebat,"

Pikirnya. Maka ia letaki sumpitnya, ia lair ke kamar Tjeng Tjeng. Benarbenar ia dapati sebuah kamar kosong, kosong juga dari pauwhok dan senjatanya si nona.

"Ha, kemana dia pergi?"

Dalam bingungnya, anak muda ini berpikir keras.

"Dia ngambek. Kemana dia pergi? Dia pandai silat, tetapi dia gampang menghadapi bahaya.... Aku lagi bertugas, bagaimana aku bisa susul dia?"

Akhirnya terpaksa pemuda ini keluar, akan minta tolong Ang Seng Hay pergi mencari.

Dia pesan pengikut ini untuk Baru kembali setelah mengetahui jelas di mana adanya si nona.

Seng Hay terima tugasnya, dia lantas berlalu.

Mendekati magrib, Hoan Hoei Boen pulang.

Begitu memasuki pintu, dia kata dengan kesusu.

"Benar-benar barisan meriam asing itu memutar ke selatan! Mari kita susul mereka!"

Sin Tjie lompat bangun.

"Mari!"

Katanya.

Ia cuma tinggalkan A Pa dan kedua orang-hutan, akan menunggui kamar, lantas ia ajak semua kawannya pergi menyusul.

Thia Tjeng Tiok, See Thian Kong, Ouw Koei Lam dan Thie Lo Han turut bersama.

Mereka kaburkan kuda mereka di malam yang gelap, terus-terusan.

Mereka percaya, karena lerotan meriam jalannya ayal, mereka bakal dapat menyandak.

Kemudian seterusnya di waktu malam, mereka singgah, untuk bersantap dan tidur, atau pagi-pagi sekali, mereka sudah berangkat pula.

Di hari ketiga, pagi-pagi, setelah lewati sebuah dusun kecil, Sin Tjie beramai lihat sepuluh buah meriam besar sedang ditunda di depannya satu rumah makan, setiap meriamnya dijaga oleh enam serdadu dengan senapan di tangan.

"Sudah lapar, aku sudah lapar!"

Kata Thie Lo Han berulang-ulang.

"Baiklah, sebentar saja kita ketemukan dua opsir asing itu,"

Jawab Sin Tjie.

Berdelapan mereka hampirkan rumah makan, untuk terus naik ke loteng.

Thie Lo Han adalah yang jalan di muka, tetapi begitu lekas dia muncul di atas loteng itu, dia keluarkan seruan tertahan.

Tjeng Tjeng berada di situ, beberapa serdadu asing sedang ancam dia dengan senapan mereka, jeriji tangan mereka mengenakan pelatuk, yang tinggal ditarik saja.

Duduk di kursi ada Peter dan Raymond serta si juwita asing, Catherine.

Menampak datangnya beberapa orang itu, Raymond mengucapkan kata-kata yang tak dimengerti Sin Tjie beramai, atas mana beberapa serdadu lain yang tujukan senapan mereka kepada orang-orang yang Baru datang ini.

"Angkat tangan!"

Demikian kira-kira titah serdadu-serdadu itu, yang berseru.

Sin Tjie sudah lantas bertindak, ia sambar sebuah meja, dengan apa ia terjang serdaduserdadu itu, lalu ia menyusuli dengan meja yang kedua, setelah mana, ia lompat kepada Tjeng Tjeng, sambil tekan kepala si nona, ia mendek jongkok.

Perbuatannya ini diturut si nona demikianjuga kawan lainnya.

Tembakan segera terdengar dar-der-dor, tetapi peluru semua lewat di atasan kepala, asapnya mengepul, antaranya ada juga yang mengenai meja.

"Turun!"

Teriak Sin Tjie, sambil ia sendiri tarik Tjeng Tjeng, untuk diajak lompat ke tangga, untuk segera loncat turun, perbuatan mana diturut kawan-kawannya, yang pada loncat keluar dari jendela.

Raymond gusar, dia keluarkan pistolnya dengan apa dia menembak.

"Aduh!"

Teriak Thie Lo Han, yang tertembak kempolannya.

Saking sakit, dia rubuh.

Tapi See Thian Kong sambar ini kawan, untuk dibawa lari terus keluar, akan dilain saat mereka sudah kabur bersama kuda mereka.

Pada masa itu, senapan masih senapan model kuno, setelah dipakai menembak satu kali, tak bisa diulangi dengan cepat, selama serdadu-serdadu itu mengisi pula orang telah lari jauh, benar mereka bisa menembak pula tetapi tidak ada hasilnya.

Sin Tjie duduk di atas seekor kuda bersama Tjeng Tjeng.

"Kenapa kau bentrok dengan mereka itu?"

Tanya pemuda ini.

"Siapa tahu....?"

Sahut si pemudi, yang romannya jengah.

Sin Tjie bisa duga orang malu, dia bersenyum, dia tidak menanya lagi, hanya dia larikan kudanya keras-keras, diikuti oleh semua kawan-kawannya.

Sesudah lari jauhnya dua-puluh lie lebih, semua orang tahan kuda mereka, untuk berhenti, akan beristirahat.

Ouw Koei Lam segera gunai pisau kecil, untuk tolong Thie Lo Han keluarkan peluru yang masuk ke dalam daging kempolannya, hingga dia ini berkaok-kaok dan mengumpat-caci kalang-kabutan, saking menahan sakit.

Terharu Tjeng Tjeng menampak "tersiksanya"

Kawan itu. Sebab ialah yang menjadikan gara-gara. Ia tarik Sin Tjie ke samping, untuk kata dengan pelahan sekali kepada anak muda ini.

"Siapa suruh dia dandan bagaikan siluman, bahunya dipertontonkan sekalian! Tak tahu malu...."

Sin Tjie heran, tak mengerti dia.

"Kau maksudkan siapa?"

Tanyanya.

"Itu wanita asing!"

Sahut Tjeng Tjeng.

"Oh!"

Si anak muda heran.

"Apakah halangannya dia denganmu?"

"Tak sedap aku pandang dia! Maka dengan dua potong uang, aku hajar rusak antingantingnya!"

Jawab si nona. Sin Tjie tertawa geli.

"Ah, kau benar-benar jail!"

Katanya.

"Habis?"

Tjeng Tjeng tertawa.

"Opsir asing pecundangku itu segera kenali aku, dia lantas titahkan serdadu-serdadunya ancam aku dengan senapan mereka. Tak mengerti aku apa katanya opsir itu, aku menyangka dia hendak tantang aku untuk adu pedang pula. Tentu saja, aku bersedia untuk sambut tantangan itu. Adalah waktu itu, kamu semua muncul!"

"Apa sebabnya kau keluar sendirian?"

Sin Tjie tanya. Wajah nona Hee bersenyum, atau sedetik kemudian, wajah itu berubah menjadi keren.

"Hm, kau masih tanya aku?"

Baliki dia.

"Apakah kau tak insyaf perbuatanmu sendiri?"

Tentu saja pemuda ini tak mengerti.

"Aku tidak mengerti,"

Katanya.

"Apakah yang aku telah perbuat?"

Tjeng Tjeng melengos, ia tak menjawab.

Sin Tjie kenal tabeat orang, percuma ia menanya terus, tidak nanti nona ini ladeni dia.

Ia anggap baiklah ia bersikap tak memperdulikannya terlebih jauh.

Ia percaya, lama-lama si nona bakal timbulkan itu sendirinya.

Maka ia menukar lain soal.

"Adik Tjeng, senjata api asing itu demikian liehay, coba kau pikir, cara apa kita harus gunai untuk rampas meriam-meriam besar mereka itu?"

"Siapa bicara tentang ini?"

Tanya si nona, agaknya mendongkol.

"Baiklah, kalau begitu, aku nanti bicara sama See Thian Kong beramai saja,"

Kata Sin Tjie, yang terus putar tubuhnya. Tjeng Tjeng tarik ujung baju orang.

"Aku larang kau pergi!"

Katanya.

"Kita belum bicara habis...."

Sin Tjie tertawa, ia duduk. Tjeng Tjeng berdiam sekian lama, Baru ia buka mulutnya.

"Bagaimana dengan adik Siauw Hoeimu?"

Tanya dia.

"Sejak itu hari kita berpisah, aku tak bertemu lagi dengannya,"

Jawab Sin Tjie.

"Siapa tahu dia berada di mana sekarang?"

"Kau berdiam bersama ibunya, satu malam kamu bicara asyik sekali, seperti tak hendak berpisahan, tentu kamu bicarakan tentang dia...."

Kata nona dengan tabeat koekoay ini. Mendengar ini, Baru sekarang Sin Tjie sadar. Jadi nona Hee ini curigai dia.

"Ah, adik Tjeng,"

Katanya dengan sungguh-sungguh.

"Apa mungkin kau masih belum mengerti sikapku kepadamu?"

Mukanya si nona bersemu merah, ia melengos pula.

"Sejak sekarang dan selanjutnya, tak nanti aku berpisah dari kau! Apakah sekarang hatimu tenang?"

Kata si pemuda.

"Habis, kenapa sih kau baik sekali dengan Siauw Hoei itu?"

Si pemudi tegasi, dengan pelahan sekali.

"Kenapa tidak?"

Jawab si pemuda.

"Di waktu kecil, kita tinggal bersama. Selama itu, ibunya perlakukan aku baik sekali, ia pandang aku bagaikan puteranya sendiri. Tentu sekali, aku berterima kasih sangat kepada itu ibu dan anaknya. Lain dari itu, tidakkah kau lihat bagaimana rapatnya perhubungan di antara Siauw Hoei dengan muridkeponakanku?"

"Pemuda itu?"

Kata Tjeng Tjeng, yang memainkan bibirnya.

"Orang demikian tolol dan tak ada kepandaiannya! Kenapa sih dia sukai ia itu?...."

Sin Tjie tertawa.

"Tidakkah kwatjay dan lobak disukai sesuatu orang?"

Kata dia.

"Aku sendiri begini tolol dan tak punya guna, mengapa kau suka sekali kepadaku?"

Dengan tiba-tiba Tjeng Tjeng tertawa geli.

"Foei! Cis!"

Katanya.

"Tak tahu malu! Siapa sih sukai kau?"

Sin Tjie tidak menjawab, dia hanya bersenyum.

Habis itu, siraplah gelombang kecil, lalu keduanya jadi akur pula.

Malah kali ini, makin rapatlah perasaan mereka satu pada lain.

Sin Tjie kemudian tarik tangannya Tjeng Tjeng.

"Mari kita dahar!"

Ia mengajak.

"Tunggu dulu,"

Tjeng Tjeng menahan.

"Masih ada satu pertanyaan. Coba bilang, Nona A Kioe itu, cantik atau tidak?"

"Eh, apa sih hubungannya dia dengan aku?"

Si pemuda baliki.

"Di mataku, dia ada seorang dengan kelakuan aneh. Aku pikir baiklah kita berhati-hati terhadapnya."

Tjeng Tjeng agaknya puas dengan jawaban ini, ia manggut-manggut. Segera mereka kembali ke hotel, untuk berdamai sama See Thian Kong dan Thia Tjeng Tiok beramai soal merampas meriam asing.

"Biar sebentar malam aku pergi membuat penyelidikan,"

Ouw Koei Lam mengusulkan.

"Kalau ada ketikanya, aku nanti curi beberapa buah senapannya. Atau dengan pelahanlahan, aku nanti mencurinya semuanya, supaya selanjutnya tak usah kami jeri lagi terhadap mereka."

"Usul ini baik,"

Sin Tjie menyatakan akur.

"Sebentar malam aku nanti temani kau."

"Buat apa kau keluar sendiri, bengtjoe?"

Kata See Thian Kong.

"Baik siauwtee saja yang temani saudara Koei Lam."

"Aku berniat menyelidiki cara digunainya alat-alat asing itu,"

Sin Tjie bilang.

"Ini ada baiknya untuk kita, supaya setelah kita curi semua senapan mereka, kita lantas dapat menggunakannya. Tidakkah dengan demikian kita jadi bisa balik pakai senjata itu terhadap mereka sendiri?"

Semua orang setuju dengan pikirannya ketua ini. Tjeng Tjeng tertawa, ketika ia kata.

"Dia hendak lihat pula itu wanita asing yang cantik!"

Mendengar itu, semua orang tertawa.

Sin Tjie bersenyum, dia antapkan orang goda padanya.

Lohor itu, Sin Tjie berdua Ouw Koei Lam naik kuda mereka, untuk kuntit barisan meriam asing itu dari kejauhan, sampai mereka itu singgah di sebuah hotel.

Lalu malamnya, kira-kira jam tiga, mereka datangi hotel, untuk segera loncat naik ke atas genteng.

Ouw Koei Lam kalah dari Sin Tjie dalam hal ilmu entengkan tubuh akan tetapi ia pun punyakan tubuh enteng bagaikan burung walet, tubuhnya lincah, gerakannya sebat.

Segera juga mereka dengar suara bentroknya senjata tajam, yang keluar dari sebuah kamar.

Maka segera mereka hampirkan jendelanya kamar itu, untuk mengintai ke dalamnya.

Hingga mereka dapat saksikan kedua opsir asing, Peter dan Raymond, sedang bertempur dengan hebat sekali.

Sin Tjie heran akan dapatkan dua kawan itu bertempur satu pada lain.

Ia pun berbareng perhatikan jalannya pertempuran.

Raymond hebat, desakannya keras sekali.

Di sebelah dia, Peter sangat tenang, benar dia ini lebih banyak mundur, akan tetapi satu kali dia balas menyerang, tusukannya berbahaya sekali.

Maka dengan lantas pemuda kita bisa duga, lagi sedikit waktu, Raymond bakal kena dikalahkan.

Pertarungan berjalan terus, sampai di saat sangat serunya, mendadak ujung pedang Peter menusuk ke kiri, selagi Raymond berkelit, pedang diteruskan ke arah tengah.

Sibuk Raymond, sambil menarik pulang pedangnya, ia egos tubuhnya sambil miring.

Tapi Peter gunai ketika ini, akan menyampok pedang lawan sampai pedang itu terlepas dari cekalan dan jatuh ke lantai, untuk dia injak dengan kakinya, sedang ujung pedangnya sendiri diancamkan ke dada lawan.

Dia pun lantas ucapkan beberapa kata-kata, yang tak dimengerti Sin Tjie dan Koei Lam.

Tubuhnya Raymond menggetar, terang dia sangat panas hati hingga dia keluarkan kutukan.

Karena orang diam saja, Peter jumput pedang lawannya, untuk diletaki di atas meja, lalu ia memutar tubuh, akan membuka pintu, buat pergi keluar.

Raymond masih sangat mendongkol, ketika ia sambar pedangnya, ia bulang-balingkan itu di dalam kamarnya.

Tapi tidka l;ama, mendadak ia berhenti bermurang-maring.

Rupanya dengan tiba-tiba saja ia dapat akal.

Ia segera pergi keluar, akan kembali bersama sebatang sekop dengan apa ia lantas menggali satu lobang di lantai.

Sin Tjie dan Ouw Koei Lam berniat undurkan diri ketika mereka saksikan perbuatan aneh itu, hingga mereka lantas berdiam terus, untuk mengawasi terlebih jauh.

Mereka mendugaduga, barang apa yang di simpan di dalam tanah itu.

Raymond menggali terus, tanah galian dikumpulkan di kolong pembaringan.

Dia membuat lobang dua kaki persegi, dalamnya kira-kira dua kaki juga.

Kemudian dia ampar selimut tebal di atas lobang, untuk tutup lobang itu, di atas selimut, dia menguruki dengan tanah tipis-tipis, untuk selimutkan lobang rahasia itu.

Di akhirnya, setelah tertawa mengejek beberapa kali, dia buka pintu, akan pergi keluar.

Sin Tjie dan Koei Lam heran, tak dapat mereka lantas menduga maksud orang.

Tidak lama, Raymond telah kembali, di belakang ia, Peter mengikuti.

Segera Raymond mengucapkan kata-kata nyaring, atas mana, Peter main menggeleng kepala.

Sekonyong-konyong sebelah tangan Raymond melayang, menyambar ke samping muka Peter hingga menerbitkan suara keras.

Barulah karena ini penghinaan, Peter menjadi gusar, hingga ia cabut pedangnya.

Tidak tempo lagi, keduanya kembali bertarung.

Beda daripada tadi, kali ini Raymond tidak berlaku ganas, sebaliknya, dia main mundurmundur ke arah lobang yang ia gali.

Baru sekarang Sin Tjie insyaf kelicikan orang, untuk berlaku curang.

Jadinya Peter hendak dijebak.

Sebenarnya ia tidak benci dua opsir asing itu, akan tetapi kelicinan Raymond membangkitkan sifat kejantanannya, maka ia lantas bersiap-sedia.

Selama itu, beberapa kali Raymond mencoba mendesak, tapi habis mendesak, ia lekas mundur, ada kalanya sampai dua tindak.

Tak pernah ia berhasil dengan tikamannya.

Peter selalu bisa menangkis, habis menangkis, segera ia membalas.

Tidak pernah Peter menduga atas kecurangan lawan, ia maju setiap kali orang mundur, sampai mendadak, kaki depannya kena injak lobang jebakan, hingga tak dapat dicegah lagi, dia kejeblos, tubuhnya ngusruk ke depan.

Dan membarengi itu, Raymond, yang lompat ke samping, segera tikam bebokongnya!

Berbareng dengan itu juga Sin Tjie telah berlompat masuk sambil menolak jendela, ujung pedang Kim Tjoa Kiam dipakai menggaet pedang Raymond, untuk terus ditarik, hingga opsir ini gagal dengan bokongannya itu, tubuhnya turut tertarik juga sedikit!

Peter lolos dari bahaya, dia lantas berlompat.

Oleh karena usahanya dibikin gagal, Raymond jadi sangat gusar, tanpa bilang suatu apa, ia tusuk Sin Tjie.

"Hm!"

Pemud akita kasih dengar suaranya, seraya menangkis, hingga ujung pedang opsir itu kena dipapas kutung, apabila ia melakukan pembalasan, dengan menyabet bolak-balik, hingga Raymond sibuk menangkis, saban-saban ujung pedangnya opsir ini kena dibikin putus pula, hingga akhirnya, pedangnya yang panjang telah menjadi pendek!

Baru sekarang Raymond berhenti beraksi, dia berdiri bengong Sin Tjie tidak berhenti sampai disitu, selagi orang tercengang, ia maju sambar sebelah lengannya opsir curang itu, untuk angkat tubuhnya, buat dilemparkannya ke dalam lobang buatannya sendiri, kepalanya di bawah, kakinya di atas, menyusul mana, dia lompat keluar jendela, untuk angkat kaki.' Ouw Koei Lam sambut kawannya itu, ia tertawa.

Ia terus mengikuti.

"Wan Siangkong, kau lihat!"

Kata dia. Sin Tjie dapatkan sang kawan menyekal tiga buah pistol.

"Dari mana kau peroleh ini?"

Tanyanya. Si malaikat pencuri menunjuk ke arah jendela. Nyatalah tadi, selagi si anak muda lompat masuk, dia mengikuti, dengan sebat dia sambar senjata-senjata api itu.

"Tidak kecewa julukan Seng-tjhioe Sin-tauw!"

Sin Tjie memuji.

Tidak ayal lagi, mereka lari pulang.

Di rumah penginapan, See Thian Kong semua asyik menunggui, mereka girang melihat pulangnya dua orang ini, kemudian semua orang bergirang mendengar keterangan mereka berdua.

Tjeng Tjeng sambuti sebuah pistol, nampaknya ia sangat ketarik, ia lihat itu sambil dibulak-balik, sampai di luar tahunya, dia kena tarik pelatuknya.

"Dar!"

Demikian satu suara nyaring, disusul sama mengepulnya asap.

See Thian Kong duduk di depan nona ini, dia terkejut, cepat-cepat dia berkelit, tetapi tidak urung, ikat kepalanya kena juga kesambar peluru hingga berlobang dan hangus.

Tjeng Tjeng kaget tak terkira.

"Maaf!"

Ia memohon. See Thian Kong ulur lidahnya.

"Sungguh liehay!"

Katanya. Karena ini, orang periksa dua batang pistol lainnya, yang masih terisi patronnya.

"Obat pasang adalah bangsa kita yang mendapatkannya,"

Berkata Sin Tjie.

"Kita pakai itu untuk membuat petasan atau memburu binatang liar, akan tetapi bangsa asing gunai untuk membunuh sesamanya! Barisan asing itu terdiri dari seratus serdadu, itu artinya seratus buah senapan mereka tidak boleh dipandang enteng."

Karena ini, semua orang lantas berpikir.

"Wan Siangkong, aku mempunyai satu pikiran, etah dapat dipakai atau tidak,"

Berkata Ouw Koei Lam.

"Inilah ada semacam akal iblis...."

"Memang kau tak dapat pikirkan hal yang wajar!"

Tertawa Thie Lo Han.

"Coba utarakan itu, Ouw Toako, nanti kita pikir bersama,"

Kata Sin Tjie. Ouw Koei Lam tidak berayal untuk beber tipunya, mendengar mana Tjeng Tjeng adalah yang paling dulu bertepuk tangan dan memujinya.

"Benar-benar bagus!"

Puji Thian Kong dan yang lainnya juga.

Sin Tjie pikirkan daya yang diusulkan itu, akhirnya ia nyatakan setuju.

Akal itu berbahaya tetapi ada harganya.

Maka itu, ia lantas mengatur orang, untuk mewujudkannya.

Ketika itu di hotel dimana tertara asing singgah, permusuhan di anatara Raymond dan Peter telah dihentikan.

Gara-gara adalah disebabkan kedua opsir itu perebuti Catherine.

Sebenarnya Peter dan Catherine menyinta satu pada lain, lalu Raymond menyelak.

Karena Raymond ada sepnya, Peter mengalah, selanjutnya dia jaga diri baik-baik saja.

Besoknya pagi, perjalanan dilanjuti, sampai di dusun Ban-kong-tjoen dimana penduduknya terdiri dari dua sampai tiga-ratus rumah.

Mereka mondok di rumah abu keluarga Ban.

Karena mereka singgah sesudah magrib, tidak lama kemudian, semua lantas masuk tidur.

Tepat pada tengah malam, mendadak terdengar suara berisik, lalu serdadu jaga melaporkan bahwa ada bencana api di dalam kampung.

Peter dan Raymond segera bangun, mereka lantas lihat, api berkobar, mendatangi dekat ke arah pondok mereka.

"Lekas!"

Kedua opsir itu menitah, untuk serdadu-serdadunya angkut mesiu keluar rumah abu, buat dikumpulkan di tanah kosong.

Banyak orang kampung datang bersama tahang air dan lainnya, untuk padamkan api, sedang beberapa puluh di antaranya lantas membanjuri rumah abu itu.

Raymond membentak, untuk mencegah.

Dia tanya, kenapa orang sirami rumah abu itu.

Beberapa puluh orang itu memberi keterangan kepada Tjia Thong Soe, si juru bahasa, atas mana, dia ini kata kepada opsir itu.

"Rumah ini ada rumah abu keluarga mereka, katanya perlu rumah ini dibanjur guna mencegah api nanti merembet kemari."

Alasan itu pantas. Raymond tidak melarang lebih jauh. Akan tetapi orang kampung yang menyiram itu tidak teratur, mereka siram sana dan siram sini, mereka siram juga mesiu.

"Jangan!"

Berseru beberapa serdadu asing, yang mencegah, malah sampai mereka gunai gagang senapan, untuk kemplang orang-orang kampung itu, akan tetapi, pergi yang satu, datang yang lain, saban-saban mesiu disiram, malah ada serdadu asing juga yang disiram sehingga keadaan jadi kalut sekali.

Tidak antara lama, tidak melainkan mesiu, juga semua senapan dan meriam kebasahan anteronya, sebab cara menolong itu, dan api pun dapat dibikin padam.

Sampai terang tanah, setelah kekacauan itu, Raymond dan Peter jadi tidak tenteram hatinya.

Mereka merasa, tempat itu tak aman untuk mereka, sehingga mereka memikir lebih baik mereka lekas berlalu dari situ.

Di saat mereka hendak memberi titah, datanglah laporan oleh satu opsir sebawahan bahwa binatang penarik kereta, entah kenapa, telah kabur semuanya, mungkin kaburnya sejak tadi malam.

"Celaka!"

Menjerit Raymond, yang dalam murkanya, telah cambuki orang sebawahannya itu, yang pun ia caci.

"Coba cari dan kumpuli,"

Kemudian Raymond titahkan Tjian Thong Soe, si jurubahasa.

Thong Soe ajak beberapa serdadu asing masuk ke kampung, untuk mencari, maksudnya ini sia-sia belaka, bukan saja binatang mereka sendiri, kuda dan keledai orang kampung pun tak ada barang seekor jua.

Rupanya binatang piaraan orang kampung itu telah diumpetkan.

Dalam mendongkol dan habis akal, Raymond titahkan Peter bersama Thong Soe dan empat serdadu pergi ke kota, untuk beli binatang penarik meriam itu.

Peter pergi dengan ajak Catherine, sehingga ia membuat sepnya itu tambah mendongkol.

Seberlalunya Peter, Raymond perintah serdadu-serdadunya bekerja, untuk keluarkan semua mesiu, untuk dijemur di tegalan, dengan diampar di atas tikar.

Matahari hari itu bagus, setelah sore, semua mesiu sudah kering.

Semua meriam dan senapan pun telah disusuti habis airnya.

Maka itu, datang saatnya untuk simpan rapi pula semua mesiu itu.

Benar di saat semua serdadu hendak bekerja, mendadak datang menyambar beberapa puluh batang panah api, yang datangnya dari rumah-rumah penduduk yang berdekatan.

Kalau mesiu bertemu api, gampang diramalkan apa kesudahannya.

Sekejab saja, nyalalah mesiu itu, sehingga di antara suara berisik, asap pun mengepulngepul, sehingga semua serdadu jadi kaget.

Tapi di bawah pimpinan keras dari Raymond, mereka mencoba menolong sebisa-bisanya.

Raymond juga perintahkan menembak ke arah rumah-rumah penduduk itu, dari mana lantas kabur beberapa puluh orang, yang menghilang di antara pepohonan lebat.

Kapan kemudian Raymond bikin pemeriksaan, delapan bahagian mesiunya telah musnah terbakar, sehingga ia jadi sangat mendongkol dan bersusah hati.

Karena ini, ia atur penjagaan kuat.

Selang tiga hari, Peter dan Tjian Thong Soe balik bersama beberapa puluh ekor keledai dan kuda, yang mereka dapati di kota, lantas dengan itu, Raymond lanjuti perjalanannya.

Kepada Peter sep ini tuturkan serbuan panah api oleh orang-orang yang tidak dikenal, sehingga mereka nampak kerugian besar.

Perjalanan dilakukan terus menerus untuk empat atau lima hari, sampai mereka mesti melalui satu jalanan sukar, jalanan pegunungan yang sempit dan sangat tak rata.

Jalanan pun menurun.

Raymond dan Peter mesti bekerja keras.

Setiap meriam diikat keras, sepuluh serdadu diperintah pegangi ujung dadung, untuk dipakai menahan, supaya meriam-meriam menggelinding turun dengan pelahan-lahan.

Kalau tidak, semua meriam bakal langsir ke bawah dan ringsek.

Selagi semua serdadu asing itu bekerja keras, tiba-tiba datanglah serbuan anak panah, yang datangnya dari kiri dan kanan, dari tempat-tempat sembunyi.

Sebentar saja, beberapa serdadu rubuh sebagai korban.

Yang hebat adalah waktu anak-anak panah mengenai keledai dan kuda, saking kesakitan, semua binatang itu kabur, mereka menarik dengan kaget semua meriam, tanpa serdadu-serdadu yang menahan dapat mencegahnya.

Maka di lain saat, semua meriam jatuh ke lembah, bertumpuk dan rusak, bercampur sama bangkai sejumlah keledai dan kuda, berikut mayatnya sejumlah serdadu juga.

Maka dalam sekejab, habislah semua sepuluh buah meriam besar itu.

Raymond dan Peter kaget bukan kepalang.

Saking kaget dan takut, Catherine jatuh pingsan.

Tapi masih kedua opsir ini bisa memberi perintah untuk sisa serdadunya bikin perlawanan.

Musuh tidak dikenal itu sembunyi rapi, tidak ada peluru yang bisa mengenai mereka, tidak demikian semua serdadu, yang cuma pada mendekam atau tengkurap, sehingga mereka merupakan sasaran dari anak-anak panah musuh.

Selama dua jam, masih tak dapat tentara asing itu melepaskan diri dari kepungan.

"Mesiu kita tinggal sedikit, kita mesti menerjang!"

Akhirnya Raymond kata.

"Baik, suruh Tjian Thong Soe tanyakan, apa maunya orang-orang jahat itu,"

Peter usulkan.

"Bikin pembicaraan sama bandit?"

Raymond membentak.

"Apakah artinya itu? Jikalau kau tidak berani, nanti aku yang maju!"

"Bandit menggunai panah, buat apa unjuk kegagahan tak ada perlunya?"

Kata Peter. Raymond mendelu bukan main. Ia menoleh pada Catherine, lalu ia berludah.

"Cis! Pengecut, pengecut!"

Katanya. Mukanya Peter menjadi pucat-pias.

"Baik, sekarang aku tak sudi layani kau,"

Katanya dengan pelahan.

"Kalau nanti banditbandit sudah dipukul mundur, kau lihat apa adanya pembayaranku untuk hinaan ini!...."

Raymond lantas lompat maju.

"Siapa yang berani, hayo turut aku!"

Ia berseru.

"Hai, kolonel, apakah kau cari mampusmu?"

Peter berseru.

Ia kaget, ia ingin mencegah.

Tidak ada satu serdadu juga, yang hendak telad pemimpin itu, yang telah jadi nekat.

Raymond maju sambil cekal pistolnya, ia jalan Baru beberapa tindak, lantas ia rubuh, jiwanya putus, karena sebatang anak panah tepat mengenai dadanya, nancap dalam.

Peter dan tentaranya melakukan perlawanan sambil umpetkan diri, mereka bisa cegah pihak penyerang datang dekat kepada mereka.

Sudah satu hari dan satu malam mereka bertempur, dari pihak negeri, tidak ada datang bala-bantuan.

Di waktu itu memang ada sangat sukar untuk minta bantuan dari pemerintah Beng, yang sudah buruk keadaannya.

Untuk surat-menyurat saja, dibutuhkan tempo berhari-hari.

Maka di hari kedua, magrib, setelah semua serdadu kelaparan, kepala mereka pusing, mata mereka berkunang-kunang, dengan terpaksa mereka kerek naik bendera putih, untuk menyerah.

"Kami menyerah! Menyerah!"

Thong Soe berteriak berulang-ulang.

"Letaki senjata api semua!"

Ada syaratnya penyerbu.

"Kami tak dapat lakukan itu!"

Sahut Peter.

Pihak penyerang lantas berdiam, mereka juga tidak menyerang lagi.

Setelah sirap sekian lama, di waktu angin mendesir, angin itu ada membawa bau makanan wangi dan lezat menyerang hidungnya semua serdadu asing itu, selagi mereka ini sangat lelah, ngantuk dan lapar.

Tanpa perkenan dari Peter lagi, semua serdadu lemparkan senapan mereka, semua lari keluar dari tempat sembunyi.

Peter jadi habis daya, terpaksa ia keluarkan perintah penyerahan.

Semua serdadu tumpuk senapan mereka, habis itu mereka berteriak-teriak minta makanan.

Menyusul itu terdengar suara terompet nyaring dari pihak penyerbu, dari kedua lamping bukit muncul beberapa ratus orang yang romannya keren, dengan panah siap untuk dilepaskan, semua panah diarahkan kepada tentara asing itu.

Delapan atau sembilan pemimpin mereka ini, dengan pelahan, bertindak ke arah musuh.

Peter lihat orang yang pertama maju adalah seorang dengan baju panjang, siapa ia kenali adalah orang yang di dalam hotel tolongi ia dari bokongannya Raymond.

Di samping pemuda ini ada satu pemuda lain, ialah si nona yang menyamar sebagai seorang pria, yang kopiahnya pernah ditembak Raymond.

"Hai, itu kawanan tukang sulap!"

Catherine berseru.

Peter lantas cabut pedangnya, ia maju beberapa tindak, dengan kedua tangannya, ia lintangi pedangnya itu.

Itu adalah tanda menyerah.

Dan tak malu ia akan menyerah terhadap seorang sebagai Sin Tjie -demikian si anak muda.

Mulanya Sin Tjie tercengang, tapi segera ia insyaf tanda menyerah orang.

Lantas ia goyangi tangan, ia kata pada Tjian Thong Soe.

"Bilang padanya, jikalau pihak asing datang dengan meriam-meriam untuk bantu Tiongkok membela tanah-daerah, untuk lawan penyerangan pihak asing, kami akan bersyukur, kami akan pandang mereka sebagai sahabat. Thong Soe salin pengutaraan itu kepada Peter. Opsir asing ini angguk-angguk kepala, kemudian ia ulur tangannya, untuk jabat tangannya Sin Tjie.

"Tetapi jikalau kamu pergi ke Tong-kwan, untuk bantu kaisar membunuh rakyat, pasti aku tidak mengijinkannya!"

Sin Tjie kata pula. Thong Soe salin pula kata-kata ini.

"Apakah kami hendak dipakai untuk serang rakyat Tiongkok? Inilah aku tidak ketahui,"

Peter bilang. Sin Tjie lihat orang beroman sungguh-sungguh, maka ia percaya keterangan itu dan ia menambahkan.

"Sekarang ini rakyat Tiongkok bersengsara sampai mereka tidak punya nasi untuk didahar, mereka mengharap-harap ada orang yang pimpin mereka, untuk merubuhkan raja, untuk menyingkir dari kesengsaraan ini. Raja ketahui ini, dia ketakutan, dari itu, dia telah perintah kamu gunai meriam-meriammu untuk labrak rakyat."

Kelihatannya Peter tertarik simpatinya.

"Aku juga asal orang melarat, aku tahu apa artinya kemiskinan,"

Ia bilang.

"Sekarang aku telah mengerti duduknya hal, aku akan segera berangkat pulang ke negeriku."

"Bagus! Sekarang pergi bawa tentaramu!"

Sin Tjie bilang.

Peter lantas keluarkan perintah, akan kumpul tentaranya.

Sin Tjie pun titahkan pihaknya menghidangkan barang makanan dan arak untuk tentara asing itu, sampai mereka telah dahar puas.

Peter angkat tangannya, untuk kasih hormat pada Sin Tjie, habis itu, ia beri titah untuk tentaranya mulai berangkat.

"Kenapa kamu tidak bawa senjatamu?"

Sin Tjie tanya. Thong Soe salin kata-kata itu. Peter menjawab.

"Itulah hasil kemenanganmu. Kamu telah merdekakan kami, untuk itu kamu tidak minta uang tebusan, itu saja telah membuat kami bersyukur untuk kebaikan hatimu."

Sin Tjie tertawa.

"Kamu telah kehilangan meriam, apabila kamu pulang tanpa senapan, mungkin kamu ditegur seatasanmu,"

Katanya.

"Pergilah kamu bawa!"

"Apakah kamu tidak takut kami nanti pakai senapan itu untuk tembak kamu?"

Peter tanya. Sin Tjie tertawa berkakakan.

"Kalau satu laki-laki telah mengucapkan suatu kata-kata itu tidak dapat dicandak empat ekor kuda!"

Ia bilang.

"Kami putera-putera Tiongkok ada bangsa laki-laki, maka setelah kami percaya kamu, mustahil kami balik mencurigai?"

Peter jadi kagum dan terharu.

"Baiklah,"

Kata ia, yang terus perintah barisannya ambil senapan mereka, sesudah mana, ia ajak mereka berlalu. Di sepanjang jalan mendaki, Peter terus kagumi anak muda kita. Jalan belum jauh, tiba

KANG ZUSI -

http.//cerita-silat.co.cc/ tiba ia perintah barisannya berhenti, ia sendiri ajak Thong Soe kembali pada Sin Tjie. Ia keluarkan satu bungkusan dari sakunya.

"Kau ada baik sekali, aku mempunyai serupa barang untuk dihaturkan kepadamu!"

Kata dia, untuk mana, dia minta Thong Soe salin kata-katanya.

Sin Tjie sambuti bungkusan itu, untuk dibuka.

Itu adalah selembar kertas tebal.

Ia buka itu, untuk dibeber, hingga ia tampak peta bumi, peta dari sebuah pulau.

Karena di sana-sini ada tanda-tanda dalam huruf asing, ia tak mengerti.

"Inilah satu pulau besar di laut selatan,"

Peter bilang.

"terpisahnya seribu lie lebih dari darat. Hawa udara di atas pulau hangat, polowijonya subur. Aku sendiri pernah pergi ke sana."

"Apakah maksudmu memberikan peta ini kepadaku?"

Sin Tjie tanya.

"Daripada kamu berperang di sini dengan bersusah-payah, lebih baik kau ajak rakyat yang bersengsara, yang tak punya makanan, pergi ke pulau itu,"

Peter jawab. Mendengar ini, Sin Tjie tertawa dalam hatinya.

"Sebagai orang asing, hatimu baik,"

Pikir dia.

"tetapi kau tidak tahu, negara kita berapa luasnya, rakyat kita berapa juta banyaknya, maka tidak perduli berapa besarnya pulau itu, tidaklah itu cukup besar untuk tampung kami semua!"

Tapi ia tanya.

"Apakah pulau itu tidak ada penduduknya?"

"Ada waktunya bajak-bajak bangsa Spanyol berdiam di sana, ada waktunya kosong sama sekali.

"Peter terangkan.

"Aku percaya kamu tidak akan jeri terhadap bajak-bajak Spanyol itu."

Melihat orang benar bermaksud baik, Sin Tjie haturkan terima kasihnya.

Ia terima peta itu, untuk disimpan.

Kemudian dia ambil selamat berpisah dari Peter.

Tjian Thong Soe hendak ikut opsir asing itu, selagi ia putar tubuhnya, Tjeng Tjeng sambar kuping orang itu; nona ini kata.

"Jikalau lain kali aku ketemukan kau banyak tingkah dan berani menghina pula sesama bangsa kita, hati-hatilah jiwa anjingmu!"

Thong Soe menahan sakit.

"Lain kali aku tidak berani pula...."

Jawabnya.

Sin Tjie lantas ajak kawannya pergi turun ke lembah, untuk periksa meriam-meriam besar itu, yang rusak tak keruan, maka sekalian ia suruh pendam itu.

Kemenangan ini menggirangkan Sin Tjie semua, maka itu hari bersama Hoan Hoei Boen beramai, ia mengadakan pesta besar, kemudian, besoknya, Baru ia berkumpul bersama A Pa, Ang Seng Hay, untuk lanjuti perjalanan mereka ke Utara, ke Pakkhia.

Kali ini Ouw Koei Lam adalah yang berjasa, karena semua itu ada atas buah pikirannya, hingga orang puji dia dan tak lagi ada yang pandang enteng kepadanya, yang asal pencuri...

(Bersambung bab ke 18) Selama dalam perjalanan orang tidak nampak rintangan sesuatu, apabila rombongan Sin Tjie pada suatu hari sampai di kota raja, waktu itu sudah di akhir musim rontok dan musim dingin telah datang menggantikannya.

Segera Sin Tjie bekali sejumlah uang kepada Ang Seng Hay, akan minta pengikut ini pegri beli rumah besar di gang Tjeng-tiauw-tjoe yang berada dekat dengan Tjie Kim Shia, Kota Terlarang.

Rumah-tangga yang besar dan mewah dibutuhkan untuk bisa bergaul sama orang-orang ternama atau berpangkat besar di kota raja itu.

Adalah harapan mereka agar dapat dipakai oleh Giam Ong.

Tjeng Tjeng repot bukan main ketika itu hari ia kepalai orang membersihkan dan mengatur gedung mereka, supaya bisa terkapur bersih dan terhias menyenangkan mata.

Sin Tjie sendiri gunai tempo akan pesiar di dalam kota, di jalan-jalan utama, untuk saksikan keadaan dan suasana.

Demikian ia tampak penjagaan yang keras, terutama barisan dari Hoe-pouw, kementerian keuangan dan penduduk.

Kemudian ia dengar orang omong, penjagaan itu berhubungan dengan kedatangannya angkutan uang negara dari Selatan.

Karena ini, ia menaruh perhatian lebih jauh, ia berdiri di tempat kejauhan, untuk memasang mata.

Sekonyong-konyong terlihat dua bajangan loncat dari genteng Gudang Negara, cepat sekali gerakannya, keduanya berlari-lari ke ujung timur-utara gedung itu, lalu lenyap.

Pemuda ini heran mengapa di siang hari bolong orang berani manjat Gedung Negara.

Segera ia menerka kepada orang jahat.

Ia lantas ingin ketahui, siapa adanya dua bajangan itu.

Ia menduga kepada orang-orang kosen.

Tapi ketika ia menyusul ke ujung timur-utara itu, ia tidak lihat siapa juga kecuali sebuah jalanan dan jalanan ini sepi.

Ia lantas lari, untuk coba menyusul.

Malah ia lari keras menggunai ilmu entengkan tubuh pengajarannya Bhok Siang Toodjin.

Berlari-lari belum lama, Sin Tjie lihat dua orang berlari-lari di sebelah depan.

Karena ini, ia entengi tindakannya, supaya orang tidak dapat dengar dan nanti menoleh, untuk curigai dia.

Selagi datang mendekati, Sin Tjie dapatkan dua orang itu bertubuh kecil dan kate, pakaiannya serba merah, kepala mereka masing-masing berkuncir.

Dilihat dari belakang, mestinya mereka ada bocah-bocah umur tiga-atau empat belas tahun.

Pundak mereka itu masing-masing menggendol sebuah bungkusan yang nampaknya berat, sebab tindakan kaki mereka yang antap.

"Mesti mereka telah curi uang negara,"

Menyangka Sin Tjie.

Ia kagumi keberanian dan kegesitan luar biasa dua anak-anak itu.

Di pihak lain, ia tertawa untuk ketololannya beberapa serdadu penjaga pintu kota itu.

Baca Juga: Pusaka Pulau Es Kho Ping Hoo

Baca Juga: Pedang Darah Bunga Iblis 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert