Eps 9 Pedang Ular Emas - Yin Yong
Baca online Pedang Ular Emas - Yin Yong
Cersil Pedang Ular Emas - Yin Yong.
Tujuh atau delapan lie dari pintu kota, adalah sawah dan tegalan belaka.
Di sini kedua bajangan itu menghampirkan sebuah rumah besar, begitu sampai, mereka melompati tembok dan lenyap di sebelah dalam gedung.
Sin Tjie mendekati, untuk lihat tembok pekarangan yang hitam gelap, tingginya kira-kira dua tumbak, tidak ada pintunya.
Ia coba jalan mutar tapi masih ia tidak lihat pintu, untuk masuk atau keluar.
Aneh!
Gedung apa itu?
Didorong perasaanya ingin tahu, Sin Tjie loncat naik ke tembok.
Tidak sembarang orang bisa lompat naik atas tembok itu.
Di dalam pekarangan ada lagi selapis tembok, yang temboknya putih terang.
Tapi kembali, tembok ini tidak mempunyai pintu.
Oleh karena penasaran, Sin Tjie lompat, untuk lintasi tembok putih ini.
Tembok ini ada lebih tinggi kira-kira tiga kaki.
Tak sembarang orang dapat melompatinya.
Sesampainya di dalam, keheranan Sin Tjie bertambah.
Nyata di hadapannya ada sebuah tembok lagi, yang terlebih tinggi pula, yang warnanya biru.
Kemudian keheranannya memuncak apabila lagi-lagi ia dapatkan dua lapis tembok, masing-masing kuning dan merah, setiap kalinya, tembok ada lebih tinggi tiga kaki.
Maka sama sekali, lima lapis tembok itu sudah jadi tiga tumbak lima kaki tingginya.
Maka, untuk bisa panjat tembok yang kelima ini, Sin Tjie mesti gunai ilmunya "Pek-houw yoe tjhong kong"
Atau "Cicak merayap di tembok", tubuhnya nempel di tembok, kedua kaki dan tangannya bekerja.
"Pasti kedua bocah itu tidak punyakan kepandaian melompati tembok ini apapula dengan bawa buntalan berat,"
Pikir pemuda ini.
"Mesti ada pintu rahasia di sini. Aku tidak kenal tuan rumah, tidak leluasa untuk aku masuk terus. Baik aku cari saja pintu rahasia itu...."
Maka itu, ia bercokol di atas tembok, akan memasang mata.
Di dalam pekarangan terdalam itu ada sebuah rumah besar dengan tingkat tiga, yang depan terbagi dalam lima ruang.
Walau rumah ada besar, kesunyian berkuasa di situ.
Setelah berdiam sekian lama, Sin Tjie perdengarkan suaranya.
"Aku yang muda telah lancang masuk kemari, niatku adalah untuk berkunjung kepada tuan rumah yang bijaksana. Sukakah aku ditemuinya?"
Tidak ada jawaban kecuali kumandang.
Sin Tjie tunggu sampai sekian lama, ia lantas berkata-kata pula.
Kali ini dijawab oleh gonggongan riuh dari belasan ekor anjing yang tinggi dan besar, yang berlari-lari keluar dari rumah tingkat ketiga, agaknya galak sekali semua anjing itu, yang meronjang-ronjang ke tembok, mulutnya dipentang lebar, kukunya diulur semua.
Melihat kawanan anjing itu, Sin Tjie percaya orang tak sudi menemui ia, atau tuan rumah membenci tetamu, maka ia tak buang tempo lagi akan berlompatan keluar dari gedung berlapis-lapis tembok itu, untuk terus pulang ke rumahnya yang baru.
Masih saja Tjeng Tjeng repot mengatur dan menghias rumahnya, antaranya ia tukar lantai papan, ia beli kembang segar, melihat mana, girang Sin Tjie, sebab dia telah dapatkan satu "pembantu dalam"
Yang pandai... Dulu di atas perahu di Tjiatkang, Tjeng Tjeng merupakan satu "pemuda"
Yang ganas, tapi sekarang, belum cukup setengah tahun, ia telah ubah diri menjadi satu pemudi yang lain sekali sifatnya.
Oleh karena rumah besar dan banyak kamarnya, setiap orang mendapati sebuah kamar sendiri-sendiri, malah Tay Wie dan Siauw Koay juga peroleh kamar di dalam taman.
Habis bersantap malam, Sin Tjie duduk berkumpul bersama semua kawannya, ia lantas tuturkan mereka tentang sesuatu yang ia tampak, terutama mengenai itu dua bocah serba merah serta gedung besarnya yang luar biasa.
"Benar-benar heran!"
Menyatakan beberapa suara.
Mereka semua tak sanggup menerka, gedung apa adanya itu.
Setelah pasang omong, semua orang pergi beristirahat.
Sin Tjie tidak lantas tidur, ia pikirkan rencana untuk bekerja di kota raja ini.
Tugasnya yang pertama adalah bantu Giam Ong membikin terjungkal kerajaan Beng, untuk bebaskan rakyat dari penderitaan, supaya mereka merdeka.
Tugas yang kedua adalah membunuh kaisar Tjong Tjeng sendiri, untuk mewujudkan pembalasan sakit hati ayahnya.
Ia percaya, dengan kepandaian yang ia punyakan, tidak terlalu sulit untuk menyerbu ke istana, ke dalam keraton.
Tapi ia ingat kata-kata gurunya, bahwa satu kali raja terbinasa, kawanan dorna bakal menggantikan menguasai pemerintahan, bahwa bangsa asing bakal gunai ketika baik itu untuk datang menyerbu.
Maka itu ia perlu bersabar sampai Giam Ong dan angkatan perangnya sudah datang ke kota raja, Baru ia turun tangan.
Maka ia anggap usahanya yang utama adalah lihat bahagian dalam dari pemerintah, untuk membuka jalan guna serbuannya Giam Ong nanti.
Setelah dapat ketetapan, Baru Sin Tjie bisa tidur.
Malah untuk sesaat itu, ia bisa lupai itu dua bocah serba merah pencuri harta negara serta gedungnya yang bertembok berlapislapis yang aneh.
Di hari kedua, orang bangun pagi-pagi, lantas mereka berkumpul di ruang hoa-thia, untuk bersantap.
Di paseban, di latar, salju melulahan tebal.
Tadi tengah malam, salju itu turun secara lebat sekali.
Sebaliknya dua pohon bunga bwee telah menyiarkan baunya yang harum-halus.
Selagi orang berkumpul, satu kee-teng, atau bukang pelayan, datang masuk dari luar dengan tindakan cepat.
"Siocia, ada orang datang mengantar barang!"
Katanya kepada Tjeng Tjeng. Satu kee-teng lagi membawa barang antaran ialah sebuah tok-pan, pot bunga, dari porselen, dan sebuah pin-hong atau sekosol mungil dengan lukisan gambar oleh Sim Sek Thian.
"Inilah barang kuno,"
Kata Sin Tjie.
"Siapakah yang mengantarnya?"
Pada sumbangan itu tidak berikuti karcis nama si pengirim. Tjeng Tjeng bungkusi tiga tail perak.
"Ini presen untuk si pembawa barang,"
Kata ia pada bujangnya.
"Kau tanya tegas, siapa yang kirim sumbangan ini."
Kee-teng itu berlalu akan sebentar kemudian balik lagi.
"Orang itu sudah pergi, aku susul tidak kesusul,"
Katanya. Semua orang tertawa.
"Aneh,"
Menyatakan mereka. Tak keruan-ruan menerima hadiah! "Nama Wan siangkong kesohor, ini tentu ada tanda mata dari salah satu orang yang mengaguminya,"
Kata Seng Hay kemudian.
Dugaan ini dapat kesetujuan semua orang.
Pada tengah-hari, selagi orang hendak duduk berkumpul untuk bersantap, datang pula antaran barang-barang hidangan buatan rumah makan "Tjoan Tjip Hin"
Yang paling kesohor di kota raja.
Ketika koki, yang mengantari ditanya, hidangan itu kiriman siapa, dia cuma bilang seorang yang tidak dikenal yang memesannya yang menyuruh antarkan ke gedung ini.
Mau atau tidak, orang jadi curiga.
Semua barang makanan itu dipisahkan, dikasih pada anjing, akan tetapi anjing yang memakannya selamat, tidak kurang suatu apa.
Lalu lohornya bergantianlah datang orang-orang dengan barang-barang hadiah lainnya, seperti kursi-meja, para-para bunga dan lainnya, yang surup untuk gedung mereka, tapi kapan ditanya, semua pengangkut barang itu tak bisa menyebutkan, siapa pengirimnya.
"Coba kalau ada sebuah lampu besar!"
Kata Tjeng Tjeng sambil memain.
Memang orang heran tetapi berbareng pun lucu...
Belum selang setengah jam dari kepergiannya kuli-kuli, datang yang lain bersama sebuah lampu gantung yang besar dan indah, yang kemudian disusul sama antaran sutera, kain wol, sepatu, kopiah dan saputangan beraneka warna, sedang untuk nona Hee ada pupur dan yantjie pilihan!
Untuk Thie Lo Han Gie Seng seperangkat jubah suci kah-see!
Saking heran, hingga tak dapat ia mengatasi diri lagi, Thie Lo Han cekuk satu kuli.
"Kenapa kau tahu di sini ada satu tauwtoo?"
Tegurnya.
"Kenapa kau kirimkan aku baju suci?"
Kuli itu, seorang pegawai toko, jadi kaget.
"Tak tahu aku,"
Sahutnya.
"Tadi pagi datang satu pembelanja ke toko kami, dia beli ini semua, dia minta semua dikerjakan lekas, untuk sekarang dibawa kemari...."
Semua orang tak habis heran, mereka pusing menduga-duga. Tjeng Tjeng cerdik, lalu ia kata seorang diri.
"Jikalau pengirim itu benar ketahui isi hatiku, dia tentu bakal kirimkan aku serenceng mutiara...."
Kemudian, selagi orang ngeloyor pergi, ia minta Seng Hay pergi menguntit, akan lihat orang pergi kemana.
Setelah berselang sekian lama, kuli tadi balik kembali.
Seng Hay sebaliknya kembali sesudah lewat kira-kira satu jam sedatangnya kuli ini.
Boleh dibilang Baru saja Seng Hay melangkah di pintu atau orangnya toko barang-barang permata telah datang bersama dua renceng mutiara yang besar-besar.
Tjeng Tjeng sambuti mutiara itu, terus ia masuk ke dalam.
Sin Tjie ikuti si nona demikian juga Seng Hay.
Sesampainya di dalam, pengikut she Ang ini berikan laporannya.
"Kuli tadi telah ketemui satu pengemis yang telah lanjut usianya, ia bicara sebentar, lantas dia kembali,"
Demikian Seng Hay.
"Aku sendiri lantas kuntit pengemis tua itu."
Sepasang alisnya Tjeng Tjeng bangun.
"Pengemis itu dan kuli ini bukan orang baik-baik!"
Katanya dengan gusar.
"Sebentar aku nanti kasih rasa kepada mereka!"
"Nona menduga benar,"
Seng Hay bilang.
"Orang tua itu jalan melalui beberapa jalan umum, lantas ia disambut oleh satu opas kuku garuda, sesudah berdua mereka bicara sebentar, pengemis itu lantas jalan kembali."
"Apakah kau kuntit itu kuku garuda?"
Tjeng Tjeng tanya. Seng Hay manggut.
"Kuku garuda itu tidak kembali ke kantor, dia hanya pergi ke sebuah gang dimana ada satu rumah besar,"
Ia melanjuti.
"Di luar gedung ini, keadaannya sunyi, sebab aku tidak bisa masuk dari pintu, aku naik ke genteng. Di dalam ada belasan opas serta seorang tua yang matanya picak sebelah. Orang panggil dia Sian Loosoe, rupanya dia jadi kepala. Aku kuatir aku nanti kepergok, maka itu, aku lantas keluar pula dan pulang."
"Luar biasa! Bagaimana tajam mata mereka, bagaimana terang kuping mereka!"
Kata Tjeng Tjeng.
"Baru kita datang ke Pakkhia ini, lantas mereka sudah dapat tahu! Aku kuatir sulit juga untuk nanti kita turun tangan...."
"Yang aneh adalah kiriman barang-barang mereka,"
Sin Tjie bilang. Pemuda ini tetap tenang.
"Bukankah itu ada perbuatan disengaja supaya kita dapat tahu bahwa kita telah dipergoki? Rombongan kuku garuda di kota raja mestinya cerdik semua, tidak nanti mereka lakukan tindakan gelo. Apa maksud mereka yang sebenarnya?"
Lantas pemuda ini perintah Seng Hay panggil Tjeng Tiok, Thian Kong, Koei Lam dan yang lain-lain, untuk mereka berunding.
Sebentar saja, orang telah berkumpul dan berunding, Tjeng Tjeng lantas terangkan keterangannya si kuli dan laporan Seng Hay.
Lalu orang berbicara.
Akan tetapi, kesudahannya, tidak ada seorang jua yang dapat menduga pasti apa artinya semua barang antaran itu.
"Semua ini ada barang tidak halal, aku tak menginginkannya!"
Kata Tjeng Tjeng akhirnya.
Maka malam itu si nona, dengan dibantu A Pa, Thie Lo Han, Ouw Koei Lam dan Ang Seng Hay, angkut semua barang ke rumah itu yang ditunjuki Seng Hay.
Rupanya penghuni rumah itu dengar suara berisik, mungkin mereka dapat menerka-nerka, akan tetapi mereka tidak nampakkan diri.
Paginya Tjeng Tjeng lepaskan si kuli, yang kemarinnya ia tahan, sama sekali ia tidak ganggu kuli ini.
Si kuli sendiri terima uang upah dengan cara hormat, ia manggut beberapa kali, ketika ia berlalu, tidak kelihatan ia berkuatir atau tak senang hati.
Habis itu, Sin Tjie beramai berlaku waspada, untuk saksikan apa akan terjadi lebih jauh sebagai akibat putusannya itu.
Hari itu tidak terjadi suatu apa, terus sampai malam.
Malam itu salju turun pula dengan lebat.
Besoknya pagi Seng Hay beramai masuk menemui Tjeng Tjeng beramai, romannya terbenam dalam keheranan.
Ia lantas kata.
"Semalam turun salju, mestinya salju bertumpuk di pekarangan muka rumah kita, akan tetapi entah siapa yang menyapui, sekarang salju itu telah bersih semua. Tidakkah ini aneh?"
"Terang sudah, kawanan kuku garuda itu lagi ambil hati kita,"
Nyatakan Sin Tjie.
"Sengaja rupanya mereka bekerja secara diam-diam."
Tjeng Tjeng tertawa.
"Aku tahu sekarang!"
Katanya.
"Apakah itu?"
Tanya beberapa suara. Kembali si nona tertawa.
"Mereka itu kuatir kita nanti bekerja secara besar-besaran di kota raja ini, hal itu pasti membuat mereka celaka, maka itu sengaja mereka mendahului mengambil-ambil hati kita, untuk ikat persahabatan...."
"Dugaan ini cocok juga,"
Thian Kong bilang. Ia tertawa.
"Tetapi, bukan sedikit tahun aku telah bekerja, belum pernah aku nampak kejadian serupa ini...."
"Ah, aku ingat sekarang!"
Tiba-tiba Tjeng Tiok ikut bicara.
"Itu kuku garuda yang matanya sebelah ada Tok-gan Sin-liong Siang Tiat Seng si Naga Sakti Mata Satu, cuma sebab sudah lama ia undurkan diri, aku sampai tak ingat padanya."
Sampai di situ pembicaraan mereka, mereka tetap tidak ambil tindakan apa kecuali berlaku waspada.
Beberapa hari telah lewat, terus tidak ada orang yang mengantar barang lagi, tidak ada kejadian apa juga, maka pelahan-lahan rombongannya Sin Tjie ini mulai tak memperhatikannya pula.
Kemudian datanglah satu hari, sedangnya orang berkumpul di dalam rumah menghadapi arak, Ketika itu ada di musim dingin, arak adalah penghangat tubuh.
Satu bujang masuk dengan selembar karcis nama yang lebar dimana tertulis kata-kata.
"Hormatnya Boanseng Sian Tiat Seng" . Bersama itu diberikuti delapan rupa barang antaran. Semua orang antap orang tua itu pergi. Itu hari, di waktu lohor, turun hujan salju yang halus sekali, maka Sin Tjie ajaki Tjeng Tjeng menunggang kuda pesiar ke luar kota, ke telaga, untuk minum arak sambil "menggadangi"
Hujan salju itu yang meriangkan mata.
Sudah sekian lama tak pernah mereka pesiar berduaan saja, inilah ketikanya yang baik akan mengicipi lagi suasana yang riang-gembira.
Sekitarnya telaga penuh dengan pepohonan gelagah dan alang-alang.
Tjeng Tjeng bekal sebuah naya dengan isi arak dan sayuran, maka itu leluasalah mereka duduk dahar dan minum sambil pentang mata ke sekitar mereka, memandang panorama yang menarik hati mereka.
Mereka minum dan dahar dengan pelahan-lahan, sambil seling itu dengan omongan.
Yang lebih memuaskan pasangan ini adalah, selagi salju turun semakin membesar, di telaga itu tidak ada lain orang lagi, sehingga mengecap lagi suasana yang riang-gembira.
Sin Tjie lantas gunai ketikanya, akan tanya, bungkusan apa itu yang si nona kembalikan pada Sian Tiat Seng.
Tadi pagi, bungkusan itu tak sempat dibuka, dibeber di muka ornag banyak.
"Aku telah main-main dengan dia,"
Kata Tjeng Tjeng, yang sembari tertawa tuturkan apa yang ia kerjakan tadi malam, sehingga tidaklah heran kalau kepala opas itu menjadi kelabakan. Sin Tjie tertawa.
"Sungguh kau cerdik!"
Ia memuji.
"Sebenarnya Baru saja aku puji kau sebab kau telah merobah tabiatmu, siapa tahu, kau masih tetap nakal!...."
"Eh, kapan kau puji aku?"
Tjeng Tjeng tanya.
"Aku puji kau di dalam hatiku saja,"
Jawab si anak muda.
"Tentu saja, kau tak ketahui itu...."
Tjeng Tjeng tertawa, nyata sekali ia gembira.
"Habis siapa suruh dia tak mau perlihatkan diri, dia berlaku bagaikan iblis saja?"
Katanya. Ia maksudkan Sian Tiat Seng.
"Entah dalam urusan apa dia hendak mohon bantuan kita,"
Kemudian Sin Tjie ubah pembicaraannya. Lebih dahulu daripada itu, ia pun bersenyum.
"Orang semacam dia!"
Kata si pemudi.
"Aku pikir, tidak perduli apa permintaannya, lebih baik kita jangan meladeninya!"
Sin Tjie tidak bilang suatu apa.
Mereka minum terus, sampai mereka timbulkan kenang-kenangan sewaktu di Kie-tjioe, di Tjio-liang, dimana mereka minum arak di waktu malam sambil menontoni bunga-bunga yang indah dan harum.
Tjeng Tjeng teringat kepada ibunya, tanpa merasa, ia menjadi berduka, hampir ia menangis.
"Sudahlah,"
Kata Sin Tjie, yang kembali ubah pembicaraan, maka di lain saat, dapat pula mereka kegembiraan mereka.
Kapan terlihat sang magrib sudah mendatangi, Tjeng Tjeng benahkan nayanya, bersamasama mereka meninggalkan tepian telaga, untuk berjalan pulang.
Selagi mereka lewati sebuah paseban di tepian telaga itu, di dalam paseban itu mereka lihat satu pengemis tua sedang rebah di atas selembar tikar, tubuhnya cuma terbungkus sepotong celana.
"Kasihan!"
Kata Tjeng Tjeng. Ia rogoh sepotong perak dari sakunya, ia hampirkan pengemis itu, akan letaki uangnya di atas tikar.
"Pergi kau beli pakaian, supaya kau tidak sampai kedinginan,"
Katanya. Sin Tjie ikuti si nona masuk ke dalam paseban itu. Ketika mereka Baru melangkah keluar dari paseban, mereka dengar suara seperti gerutuan dari si pengemis, yang ngoceh seorang diri.
"Untuk apa memberikan uang kepadaku? Biar hawa lebih dingin daripada ini, aku si tua tidak nanti mampus beku! Kau punya arak tetapi tidak ajaki orang turut minum, itulah tandanya bukan sahabat!"
Tjeng Tjeng jadi tidak senang, hendak ia menoleh, untuk mendamprat, akan tetapi Sin Tjie segera tarik tangannya.
"Orang ini aneh, mari kita intai!"
Si pemuda berbisik.
Sin Tjie heran melihat orang seperti telanjang bulat sedang hawa udara dingin, salju masih terus turun, maka gerutuan itu membuat ia lebih heran, hingga bercurigalah ia.Kemudian ia menoleh, akan sahuti gerutuan itu.
"Arak masih ada, cuma tinggal arak dan sayur sisa, yang sudah dingin. Aku anggap adalah tidak hormat akan undang kau minum dan dahar barang bekas, itu sebabnya kenapa kita tidak undang padamu...."
Orang itu geraki tubuhnya, untuk duduk numprah.
"Aku adalah si pengemis bangkotan, untukku arak dingin ada paling tepat!"
Sin Tjie lantas keluarkan poci arak dari dalam naya, ia serahkan itu.
Pengemis itu menyambutinya, terus ia bawa mulut poci ke dalam mulutnya, hingga segeralah terdengar suara geruyukan di dalam tenggorokannya, karena dengan rakus dia tenggak sisa air kata-kata itu.
Dua-dua Tjeng Tjeng dan Sin Tjie lihat pengemis itu berumur kurang lebih empat-puluh tahun, mukanya berewokan, kedua lengannya seperti belang dengan cacat bekas lukaluka.
"Arak yang sedap!"
Memuji si pengemis, sesudah dia minum.
"Ini ada arak Lie-djie Angtin-siauw simpanan dua-puluh tahun!..."
Tjeng Tjeng terkejut.
"Kiranya pengemis ini kenal barang baik,"
Pikirnya. Lantas dia kata.
"Kau benar, sekali minum saja, kau tahu arak jempolan."
"Sayang araknya sedikit, tak cukup untukku...."
Kata si pengemis, yang tak gubris pujian orang.
"Besok aku nanti datang pula membawa arak untukmu,"
Sin Tjie bilang.
"Bagaimana jikalau aku undang tuan minum sampai sinting?"
"Bagus!"
Seru si pengemis.
"Siangkong, kau baik sekali! Satu mahasiswa mempunyai tabeat begini mulia, sungguh jarang didapati!"
Sin Tjie dan Tjeng Tjeng tertawa.
Mereka anggap si pengemis bukannya sembarang pengemis.
Lantas mereka keluar dari paseban dan berlalu.
Baru beberapa tindak, Tjeng Tjeng telah menoleh.
Dengan tiba-tiba, ia merandak, karena ia saksikan satu pemandangan yang mengherankan padanya.
Ia dapatkan si pengemis sedang membungkuk, mengawasi ke sebelah kirinya dimana entah ada barang apa.
"Lihat, dia sedang awasi apa?"
Kata dia pada kawannya, tangan siapa ia tarik. Sin Tjie pun berdiam dan menoleh.
"Entah kutu apa,"
Sahutnya.
Pengemis itu, yang diawasi terlebih jauh, mengunjuki sikap sangat tegang, ia agaknya hendak lompat menubruk.
Karena ingin tahu, pemuda dan pemudi ini berbalik, untuk mendekati.
Si pengemis lihat orang kembali, berulang0ulang ia menggoyangi tangan, parasnya pun bertambah-tambah tegang.
Menampak demikian, dua anak muda ini merandak, tetapi mata mereka menjurus ke arah benda yang diawasi si pengemis.
Maka sekarang mereka bisa lihat, benda itu adalah seekor ular kecil panjang cuma setengah kaki, tubuhnya berwarna kuning emas, di antara salju yang putih meletak, warna itu jadi mencorong bercahaya.
Dengan pelahan sekali, ular kecil itu jalan berlerot di atas salju, dan si pengemis, dengan pelahan juga, mengikuti dia.
Dengan tiba-tiba saja Tjeng Tjeng menunjuk ke satu arah belasan tumbak dari tempat ular itu.
"Lihat, itulah aneh!"
Katanya separuh berbisik kepada Sin Tjie.
Anak muda ini berpaling, akan memandang ke arah yang ditunjuk itu.
Di situ, di antara salju, ada lobang sebesar mulut jambangan kecil, lobang itu tidak ada saljunya walaupun di sekitarnya, salju bertumpuk seperti di seputar situ, dan kapan kembang salju jatuh di betulan lobang, segera salju itu lumer menjadi hawa yang naik ke udara, seperti juga di dalam lobang itu ada hawa panas dari api.
Ular kecil itu menggeleser terus ke arah lobang itu, setelah sampai, dia tidak masuk ke dalamnya, dia hanya jalan memutar sampai beberapa putaran.
Si pengemis, yang masih saja mengikuti ular itu, menggoyang-goyang tangan kepada Sin Tjie dan Tjeng Tjeng, untuk mencegah orang datang dekat kepada lobang atau ular itu.
Rupa tegang dari si pengemis masih belum juga lenyap.
Maka dua anak muda ini berdiri di samping dari mana mereka terus mengawasi, untuk mengetahui, bagaimana kesudahannya pemandangan yang luar biasa ini.
Sekarang ular kecil itu berhenti berputaran, dia menghadapi ke arah lobang, dia seperti menghembuskan napas.
Tiba-tiba terdengar satu suara pelahan dari lobang dalam salju itu, atas mana, ular kecil itu mundur dengan tiba-tiba, sebaliknya dari dalam lobang lantas muncul seekor ular besar.
Terkejut Tjeng Tjeng menampak ular itu, sampai ia keluarkan seruan tertahan.
Pengemis itu memandang dengan mata melotot, tandanya ia gusar, mungkin jika keadaannya sendiri tak sedang tegang atau bergelisah, tentu ia telah tegur nona kita.
Ular besar itu panjang setumbak lebih, tubuhnya besar bagaikan lengan, kulitnya berwarna lima macam, kepalanya berpesegi tiga, besarnya sedikit melebihkan kepalan tangan.
Sin Tjie pernah dengar Bhok Siang Toodjin omong, kalau imam itu sedang mencari bahan obat-obatan di gunung, sering dia menemui ular-ular berbisa, katanya ular dengan kepala segi tiga adalah yang paling liehay racunnya.
Maka itu, ular ini pastilah ada ular berbisa, yang jarang ada.
Pun biasanya, selama musim dingin, ular semacam ini lebih suka mengeram di dalam liangnya, sangat jarang keluarnya.
Kali ini, rupanya, ular besar itu muncul karena terpengaruh si ular kecil itu.
Nyata sekali roman menakuti dari ular besar itu, sebab ketika dia pentang mulutnya, dari situ keluar lidah yang besar panjangnya setengah kaki, warnaya merah darah, lalu lidah itu dikeluar-masukkan berulang-ulang.
Ular kecil itu lantas lari, akan tetapi dia lari berputaran saja.
Di belakang dia, mengikuti si ular besar, yang besarnya berlipat tiga puluh kali.
Ular besar ini pun turut berputaran melulu, matanya terus mengawasi dengan tajam.
Entah kenapa, dia agaknya jeri untuk segera menerkam si ular kecil, walaupun dia sudah angkat tinggi kepalanya.
Dia mengikuti dengan tubuh melingkar.
Ular kecil itu lari semakin keras, si ular besar mengikuti semakin cepat.
Tjeng Tjeng mengawasi terus, sekarang ia tak jeri lagi seperti tadi.
Sebaliknya, ia sangat ketarik hati, ia ingin ketahui bagaimana akhirnya.
Si pengemis, yang terus mengawasi kedua binatang merayap itu, sekarang nampaknya menjadi repot, sebagaimana dia selalu geraki kedua kaki dan kedua tangannya, tak hentinya ia keluarkan dari dalam kantongnya serupa barang berwarna kuning, dikeluarkannya sepotong dengan sepotong, tiap sepotongnya ia kasih masuk ke dalam mulutnya, untuk digayem, dimamah, dan setiap habis memamah, ia keluarkan itu, untuk dipulung mnejadi seperti benang, terus diletaki di tanah, di atas salju, dengan dilingkari hingga menjadi lingkaran kuning.
"Eh, dia bikin apakah itu?"
Tanya Tjeng Tjeng pada kawannya.
"Mungkin pengemis ini hendak tangkap ular itu,"
Sahut Sin Tjie.
Itu waktu mendadak sang ular kecil berhenti berlari, untuk hadapi si ular besar, lalu dengan gesit dia berlompat, menubruk ke arah si ular besar itu.
Ular besar itu tidak lari atau berkelit, sambil tetap diam melingkar, dengan kepalanya tetap diangkat, dia semburkan uap merah ke arah penyerangnya, atas mana ular kecil itu jumpalitan, jatuh ke tanah, untuk terus merayap.
Rupanya uap merah dari si ular besar itu, hebat bisanya, dan si ular kecil tak sanggup melawannya.
Dengan tiba-tiba saja Sin Tjie ingat kitab "Kim Tjoa Pit Kipnya"
Warisan dari Kim Tjoa Long-koen, di situ antaranya ada satu ilmu silat seperti "Pat Kwa Yoe-sin-tjiang"
Atau "Tangan Pat kwa"
Tetapi gerak-gerakannya lebih sulit.
Ia telah yakinkan ilmu silat itu tetapi belum sempurna, karena kurang perhatiannya.
Sekarang, ia saksikan pertempurannya kedua ular itu, mendadak ia ingat ilmu silat itu, yang mirip gerak-gerakannya.
"Apa mungkin Kim Tjoa Long-koen ciptakan ilmu silatnya itu dengan dia menelad gerakgeriknya ular-ular berkelahi?"
Pikir dia.
Karena ini, ia mengawasi dengan perhatian penuh.
Ia dapat kenyataan, lukisan gerakan Kim Tjoa Long-koen masih kalah gesit dengan gerakan si ular kecil ini.
Si ular besar sebaliknya tetap tenang, dia bersiaga saja, hingga daya pembelaannya menjadi tangguh sekali.
"Dia mirip sebagai bocah,"
Pikir Sin Tjie mengenai sikapnya si ular besar.
Si pengemis masih belum berhenti mengunyah benda kuning itu, saban-saban ia tambah kurungannya, yang jadi berlapis, jaraknya lapisan satu dengan lain sekira satu kaki.
Adalah setelah merasa cukup membuat kurungan istimewa itu, Baru ia bersenyum berseriseri.
Sekarang ia mengawasi kedua ular sambil ia membungkuk tubuhnya.
Beberapa kali ular kecil tubruk lawannya, setiap kalinya ia dipukul mundur teratur oleh semburannya uap merah dari si ular besar, ular mana sebegitu jauh tidak melakukan serangan membalas.
Sin Tjie terus memasang mata, selalu ia dapatkan, cara menubruknya si ular kecil berbedaan, sedang semburan uap merah dari si ular besar, makin lama makin tipis.
"Jikalau terus mereka berkelahi sebagai ini, ular besar bakal kalah,"
Pemuda ini pikir.
Adalah itu waktu, Baru si ular besar lakukan penyerangan pembalasannya, hebat adalah sikapnya dan cara menerkam -mulutnya dibuka lebar-lebar, di situ kelihatan giginya yang kasar-kasar.
Setiap kali disantok, si ular kecil melejit, sambil berlompat atau berkelit, tak mau dia kasih dirinya kena disambar, beberapa kali dia mengalami saat-saat bahaya, ketika tubuhnya terpisah hanya sedikit jauh dari mulut lebar dari lawannya.
Sesudah menerkam beberapa kali tanpa hasil, si ular besar seperti telah menginsyafi siasat berkelahi lawannya, lantas ia pun menggunai siasat.
Satu kali ia mengancam ke arah kiri, selagi si ular kecil berlompat, ia teursi berlompat juga, akan sambar ekornya.
Liehay adalah si ular kecil, sambil egos ekornya itu, ia tekuk tubuhnya, kepalanya menyambar ke bawah, menubruk mata kiri si ular besar!
"Bagus!"
Berseru Sin Tjie, bahna kagum.
Itulah pemandangan yang ia belum pernah nampak.
Ular besar itu rupanya telah terluka, ia geraki tubuhnya dengan cepat, bukan untuk balas menyerang dengan sengit, hanya untuk menggeleser lari ke dalam liangnya, hingga sekejab saja, tubuhnya lenyap tak kelihatan lagi.
Si ular kecil memburu sampai di mulut lobang, di situ ia berhenti, agaknya tak sudi ia masuk ke dalamnya, hanya di mulut liang, ia menghembus napas dan menyedotnya berulang-ulang.
Mendadak Tjeng Tjeng rasai kepalanya pusing.
"Eh, eh!"
Serunya, lekas-lekas ia sambar lengannya Sin Tjie, untuk pegangan.
Sin Tjie terperanjat, tapi segera ia mengerti, si nona tentulah telah terkena uap ular berbisa itu, sebba tadi dia berdiri terlaku dekat.
Ingat ia kepada Tjoe-tjeng Peng-siam, kodok es pemberian Ouw Koei Lam, yang ia selalu bawa dalam sakunya, maka lekas-lekas ia keluarkan itu, untuk dekati itu ke mulut si nona.
"Sedot ini!"
Katanya.
Tjeng Tjeng menyedot napas berulang-ulang, setelah mana dengan lekas ia merasai hawa yang nyaman, terus sampai ke dalam dadanya, maka sebentar kemudian, lenyaplah rasa pusingnya.
Pengemis itu lihat kodok es, ia mengawasi dengan mendelong, wajahnya menjadi terang, nampaknya ia mengilar sekali.
Sin Tjie sambuti mustikanya, untuk disimpan, kemudian ia tarik tangan si nona, untuk diajak mundur beberapa tindak.
Ia lihat lagaknya si pengemis, di dalam hatinya, ia kata.
"Aku tidak sangka kau, tukang tangkap ular, matamu tajam sekali, kau kenali mustika ini. Setiap hari kau berdekatan dengan binatang berbisa, memang mestika ini sangat berharga untuk lindungi dirimu dari bahaya."
Ketika itu dari dalam liang mengepul uap merah.
Rupanya ular besar itu tak sanggup menangkis saja serangan uap musuhnya, mau dia keluar pula untuk bikin perlawanan lebih jauh.
Tatkala satu kali semburkan uapnya yang tebal, mendadak ia nongol di mulut liang, terus dia menerjang.
Tapi ia sekarang bermata satu, ia tak gesit seperti tadi.
Ular kecil membuat perlawanan seperti tadi, ia unjuk kegesitan dan kelincahannya, sampai ia kena hajar mata kanan si ular besar yang terus jadi buta seperti mata kiri tadi.
Mungkin karena kesakitan, ular besar lari kembali ke liangnya, mulutnya dipentang.
Ular kecil menjaga lobang, ia tidak mau menyingkir, sampai tiba-tiba disambar musuhnya, sampai dicaplok, terus ditelan!
Sin Tjie dan Tjeng Tjeng kaget.
Mereka sayangi, sesudah menang, sekarang si ular kecil kena dikalahkan, malah dia kena dicaplok!
Habis menelan, mendadak ular besar itu gelisah, ia bergulingan, agaknya ia kesakitan, satu kali dia banting diri dengan keras, berbareng dengan mana si ular kecil lompat keluar dari perutnya si ular besar, yang telah berlobang.
Maka nyatalah, selagi ditelan, musuh cilik ini gigit perutnya, hingga musuh jadi kesakitan, dia menggigit terus, sampai perut itu tembus dan ia molos keluar dengan tak kurang suatu apa.
Sekarang ular kecil itu angkat tubuhnya, untuk berdiri sebatas buntutnya, lalu tak berhentinya ia menarik, menyedot napas, hingga ia sedot sisa uap merah yang berada di sekitarnya, kemudian dia menyerang si ular besar, akan akhirnya catok lidahnya musuh yang sudah jadi bangkai itu, untuk ditarik, dibawa masuk ke dalam lobang.
Dia bertubuh sangat kecil tetapi dia kuat seret tubuh yang besar luar biasa itu, entah dari mana datangnya tenaga raksasa.
Berdua Sin Tjie dan Tjeng Tjeng berdiri bengong saking heran dan kagum.
Sebentar kemudian, ular kecil itu merayap keluar dari lobang.
Menyusul ini, sikapnya si pengemis jadi tegang pula, ia terus pasang mata terhadap si merayap yang liehay itu.
Kapan ular kecil itu telah menggeleser sampai di dekat kurungan kuning, mendadak dia jumpalitan, lalu ia merayap balik ke tengah-tengah kalangan.
"Apakah adanya benda kuning itu?"
Tanya Tjeng Tjeng. Ia heran.
"Mungkin, obat itu ada sebangsa hiong-hong, obat-obatan untuk menaklukkan ular berbisa,"
Sahut Sin Tjie.
Ular kecil itu melingkar di tengah kalangan, lantas ia jalan berputaran, akan dengan sekonyong-konyong dia berlompat, ekornya menolak keras, hingga ia berhasil melompati lingkungan kuning yang pertama, hingga ia jadi berada dalam lingkungan yang kedua.
Nampaknya si pengemis kaget, ia menjadi gelisah.
Di dalam lingkaran yang kedua ini, ular kecil berwarna kuning emas itu berjalan pula dengan keras, mengitari kurungan, sesudah mana, kembali ia berlompat, hingga ia berada di dalam lingkaran yang ketiga.
Dalam gelisahnya, si pengemis lantas saja berkelemak-kelemik, agaknya ia membaca mantera, setelah mana, ia taruh kedua tangannya, dengan telapakannya, di tanah, lalu ia angkat naik tubuhnya, kedua kakinya di atas.
Dan begitu lekas si ular kecil jalan mutari kurungan itu, ia pun berjalan dengan kedua tangannya itu sebagai kaki, untuk mengikuti.
Dengan matanya, ia terus awasi binatang merayap itu.
Pemandangan itu sangat lucu hingga Tjeng Tjeng tertawa sendirinya.
Tidak lama setelah berjalan dengan tangan, si pengemis mulai mengucurkan keringat, yang turun mengetel ke atas salju, setetes dengan setetes.
Melihat ini, tanpa ia merasa, si nona berhenti tertawa, ia menjadi tercengang.
"Kenapa si tua-bangka ini menelad saja si ular kecil?"
Demikian pikirnya.
"Pengemis ini mempunyai ilmu silat yang sempurna,"
Sin Tjie berbisik di kuping kawannya.
"Sedikitnya dia berimbang dengan See Thian Kong dan Thia Tjeng Tiok."
"Aku lihat tidak ada yang luar biasa dalam gerak-gerakannya...."
Kata si nona.
"Kau lihat dadanya,"
Sin Tjie kata.
"Dada itu tidak bergerak sama sekali, napasnya seperti tidak berjalan, toh dia dapat bertahan begini lama...."
"Aku tahu kenapa dia berbuat demikian,"
Tjeng Tjeng bilang.
"Dia jeri untuk bisa yang berbahaya dari si ular, maka sebisa-bisa ia menahan napas."
Ular dan orang merayap dan berjalan dengan semakin cepat, akhirnya dengan mendadak saja, ular itu mencelat, untuk melompati lingkaran yang mengurung dia.
Justru itu, si pengemis meniup dengan keras ke arah binatang itu, menyusul mana, dengan menerbitkan suara, sang ular jatuh ke tanah, gagal dia lompat menyeberang.
Sesudah gagal dengan percobaannya yang pertama, ular kuning itu kembali jalan berputaran, dari pelahan menjadi cepat seperti bermula, akan selanjutnya melesat pula.
Tapi untuk kedua kalinya, ia digagalkan si pengemis, yang meniup pula kepadanya.
Lalu, sampai tiga kali, masih ular ini gagal dengan percobaan-percobaannya, tiupan si pengemis terlalu liehay baginya.
Benar-benar ular itu cerdik, untuk mencoba terlebih jauh, ia jalan berputaran bergantian, sebentar ke kiri, sebentar ke kanan.
Secara begini ia membuat si pengemis selalu ikuti ia, ia bikin orang jadi repot dan sibuk.
Lalu di akhirnya, ia lompat pula!
Dan kali ini, ia berhasil!
"Hebat!"
Seru Sin Tjie dan Tjeng Tjeng.
Pemuda itu kagum untuk kecerdikannya.
Sampai di situ, si pengemis turunkan kedua kakinya, ia angkat kedua tangannya, dengan begitu ia jadi berdiri seperti biasa, berdiri menghadapi binatang itu.
Sang ular pun bersikap aneh, sesudah lolos dari lingkaran, bukannya dia terus kabur, dia justru berdiam dia angkat kepalanya, dia berdiri menghadapi si pengemis.
Nyata dia bersikap hendak melakukan penyerangan!
Si pengemis jadi sangat tegang, dia jadi bergelisah, nyata dia berkuatir.
Agaknya, menyingkir ia tidak mau, menyerang ia tak ungkulan.
Sin Tjie segera siapkan tiga butir biji caturnya, ia hendak menolongi di saat pengemis itu menghadapi bencana.
Segera juga penyerangan dimulai, ular cilik itu berlompat, mulutnya menyantok.
Pengemis itu, dalam gelisahnya, berkelit menyingkir.
Ular itu membalik diri, tak mau ia lari, kembali ia menyerang.
Lagi-lagi, pengemis itu geser kakinya, egos tubuhnya.
Ia cukup gesit untuk halau diri dari sesuatu penyerangan.
Masih si ular ulangi serangannya, sampai beberapa kali, senantiasa ia gagal.
Sin Tjie lantas siap, ia kuatir si pengemis lelah dan kena ditubruk dan digigit binatang jahat itu.
Justru itu, si pengemis pun dapat pikiran.
Benar ketika ia diserang pula, ia tidak menyingkir, dia justru sodorkan jempolnya yang kiri hingga sekejab saja, jempol itu kena dicatok sang ular!
Tapi berbareng dengan itu, ia geraki tangannya yang kanan, dengan dua jarinya, ia jepit batang leher ular itu yang lagi gigit jarinya itu, ketika ia menjepit dengan keras, binatang itu buka mulutnya, rupanya disebabkan kesakitan, maka terlepaslah catokannya.
Cepat luar biasa, pengemis itu keluarkan sebuah bumbung besi dari sakunya, ia masuki ular itu ke dalam bumbung, yang tutupnya ia segera tutup rapat, sesudah mana, ia lempar bumbung itu ke tanah, lantas ia hadapi pemuda kita.
"Lekas keluarkan kodok es itu, tolongi aku!"
Mintanya. Tjeng Tjeng mendongkol untuk sikap kasar orang itu.
"Buat apa tolongi kau?"
Katanya.
Sin Tjie berpandangan lain dari kawan wanitanya ini.
Ia suka pada si pengemis, yang pasti mempunyai ilmu silat sempurna.
Ia pun merasa kasihan, karena jempol kirinya pengemis itu lantas saja menjadi matangbiru dan bengkak, suatu tanda racunnya sang ular sudah lantas bekerja.
Pasti sekali, racun itu bakal lekas merajalela, ke bahu, ke tubuh seluruhnya.
Maka tak ayal lagi, ia keluarkan mustikanya, akan diserahkan pada si pengemis.
Bukan main girangnya pengemis itu, dia sambar mustika itu, terus dia tempeli pada lukanya.
Dalam sesaat saja, darah hitam lantas mengalir keluar dari luka itu, tetes demi tetes, jatuh ke salju yang putih, hingga salju menjadi hitam, kemudian bengkaknya mulai kempes.
Lagi sesaat kemudian, habislah darah hitam, jempol itu jadi merah dadu seperti biasa lagi.
Si pengemis lantas tertawa berkakakan.
Dia robek ujung celananya, akan pakai robekan itu untuk membalut lukanya, sedang mustika kodok es itu bukan ia kembalikan kepada pemiliknya, sebaliknya, dia masuki ke dalam kantongnya!
"Mari mustikaku!"
Tjeng Tjeng minta sambil membentak. Sepasang alisnya si pengemis berdiri dengan tiba-tiba, wajahnya menjadi bengis dengan tiba-tiba juga.
"Apa?"
Katanya. Dia pun membentak. Untuk sedetik, Tjeng Tjeng melengak, matanya mendelong ke depan. Lalu ia menunjuk ke belakang pengemis itu.
"Hai, ada lagi ular kecil!"
Dia berseru, romannya kaget.
Pengemis itu terperanjat, dia lantas menoleh ke belakang.
Membarengi itu, Tjeng Tjeng geraki tubuhnya, sambil membungkuk, dia sambar bumbung besi yang berisikan ular berbisa itu, dengan cepat dia menodong ke bebokongnya.
"Aku akan cabut sumpelnya bumbung ini!"
Katanya dengan nyaring.
Pengemis itu kaget, ia menjadi lesu.
Ia tidak lihat ular di belakangnya, mengertilah ia bahwa ia telah kena diperdayakan.
Ia insyaf, asal sumpel dibuka, bebokongnya bakal kena dipagut ular berbisa itu dan itu berarti, dia bakal mampus keracunan.
Tubunya bagian ataspun sedang telanjang.
Tapi ia bernyali besar, lantas ia tertawa berkakakan, terus ia rogoh keluar kodok es dari kantongnya, akan sodorkan itu kepada Sin Tjie.
"Aku main-main saja dengan kamu!"
Katanya sambil tertawa pula.
"Ini nona sangat cerdik!"
Tjeng Tjeng tunggu sampai Sin Tjie sudah sambuti mustikanya, Baru ia kembalikan bumbung orang.
Tadi Sin Tjie sayangi si pengemis, keras niatnya untuk ikat tali persahabatan dengan dia itu, akan tetapi pengalamannya barusan membikin hatinya beurbah.
Nyata pengemis ini bermartabat rendah.
Sudah ditolong, orang hendak mentung!
"Sampai ketemu pula!"
Katanya. Ia memberi hormat, lantas ia tarik Tjeng Tjeng, untuk diajak pergi. Pengemis itu mengawasi, kedua matanya bersinar jahat.
"Hai, tunggu dulu!"
Dia membentak.
"Kau mau apa?"
Tanya Tjeng Tjeng, yang kembali jadi mendongkol.
"Tinggalkan kodok es itu di sini, Baru aku kasih kamu pergi!"
Kata si pengemis, yang jadi garang luar biasa.
"Apakah kamu sangka aku dapat dibuat permainan?"
Belum pernah Tjeng Tjeng menemui orang demikian tak berbudi dan kurang ajar. Ia mau menyahuti, tapi Sin Tjie telah dului ia.
"Kau siapa, tuan?"
Tanya ini anak muda, yang mempunyai kesabaran luar biasa.
Masih matanya si pengemis bersorot bengis, bukannya ia jawab pertanyaan yang halus itu, dia justru geraki kedua tangannya, agaknya ia hendak menerjang.
"Pengemis ini hendak cari penyakit sendiri,"
Pikir pemuda kita.
Benar di saat pengemis ini hendak menyerang, atau tak jauh dari situ, kuping mereka dengar senjata beradu keras, disusul bentakan saling susul, kemudian di antara tanah yang bersalju kelihatan dua bocah berbaju merah semua sedang berlari-lari mendatangi, pundak mereka menggendol bungkusan, di belakang mereka mengejar lima opas, di antara siapa ada Tok-gan Sin-liong Sian Tiat Seng si Naga Sakti mata satu, yang tangannya menyekal tietjio, ruyung besi pendek yang gagangnya bercagak pelindung tangan.
Sembari berlari-lari, mereka itu sembari bertempur.
Sampai di situ, kedua bocah itu lari ke arah si pengemis.
"Tjee Soe-siok! Tjee Soe-siok!"
Kedua bocah itu berteriak-teriak.
Terang mereka memanggil si pengemis ini, yang mereka bahasakan soe-siok (paman).
Kemudian, setelah datang lebih dekat, bungkusan mereka masing-masing mereka lemparkan ke arah pengemis ini.
Sang pengemis tanggapi kedua bungkusan itu, lantas dia letaki di tanah.
Setelah bebas dari gendolan bungkusannya, kedua bocah serba merah itu jadi lincah pula gerak-gerakannya, hingga mereka sanggup layani Sian Tiat Seng dan sebawahannya itu.
Sulitnya bagi itu kepala opas, kawan-kawannya tidak punya ilmu silat yang berarti.
Pengemis itu awasi orang-orang yang berkelahi cuma sebentaran saja, kembali ia menoleh kepada Sin Tjie, terus ia lompat menubruk anak muda kita, pundak siapa ia sambar dengan kedua tangannya.
Sin Tjie masih tetap sabar, dia pun tidak niat sembarang tonjolkan ilmu silatnya, ketika orang berlompat, ia pun berlompat mundur, terus ia lari ke sebelah belakang Sian Tiat Seng.
Tiat Seng telah lantas lihat Sin Tjie dan Tjeng Tjeng berdiri bersama si pengemis, mulanya ia heran, akan tetapi setelah tampak si anak muda diserang pengemis itu dan anak muda itu lari, semangatnya bangkit, segera ia perhebat serangannya.
"Aduh!"
Tiba-tiba bocah yang satu menjerit, karena pundaknya kena ditotok thietjio kiri dari kepala opas itu.
Dia rubuh.
Bocah yang lain terkejut mendengar jeritan itu.
Justru itu, kakinya Tiat Seng terangkat, maka ia lantas saja terdupak rubuh terpental.
Si pengemis tidak kejar Sin Tjie, dia hanya berdiri dengan tegak menghadapi Sian Tiat Seng.
"Aku sangka siapa, kiranya Sian Loosoe!"
Kata dia dengan suaranya yang keras dan kaku.
"Tuan, apakah she dan namamu yang besar?"
Sian Tiat Seng balik menanya, suaranya tenang.
"Dengan besarkan nyali aku mohon sukalah kau berikan kami sesuap nasi kami!"
"Aku satu pengemis, mana aku punyakan she dan nama?"
Sahut pengemis itu.
Dia lantas hampirkan bocah yang rubuh, yang kena ditotok jalan darahnya, untuk ditotok pula, hingga di lain saat, bocah itu dapat bergerak pula seperti biasa.
Itu waktu dua opas maju, untuk pungut kedua bungkusan.
Itu pengemis lihat perbuatan itu, ia perdengarkan suara suitan, menyusul mana kedua bocah serba merah lompat kepada kedua opas itu, dengan berbareng mereka menyerang, hingga itu dua opas rubuh terguling, sesudah mana, mereka ini sambar dua bungkusan itu masing-masing, untuk terus dibawa lari!
Sian Tiat Seng kaget, ia lompat menguber.
"Bandit-bandit cilik bernyali besar, lepaskan bungkusan itu!"
Dia membentak.
Kedua bocah itu tidak memperdulikannya, mereka kabur terus.
Sian Tiat Seng mengejar hampir kena, ia lantas serang bocah yang berada paling dekat dengannya.
Berbareng dengan itu, ia rasakan sambaran angin di sampingnya.
Nyatalah si pengemis telah susul ia dan ulur tangan untuk sambar thietjionya itu.
Ia punyakan mata satu tetapi ia awas luar biasa, maka itu, ia batal serang si bocah, ia putar tubuhnya, dengan senjatanya, ia hajar lengan orang di betulan buku tangan.
Pengemis itu tarik pulang tangannya, untuk terus dipakai menyerang ke bebokong kepala opas itu, siapa pun terus berbalik, untuk menangkis.
Sengaja ia gunai tenaganya, untuk ukur tenaga dengan si tukang minta-minta itu.
Dengan mendadak, dengan sebat, pengemis itu tarik pulang tangannya, setelah berbuat begitu, ia lompat jumpalitan untuk jauhkan diri, sampai setumbak lebih, kemudian ia susul kedua bocah baju merah itu, untuk angkat kaki....
Sian Tiat Seng heran untuk kegesitan luar biasa itu, ia tidak mengejar, karena berbareng ia insyaf, sendirian saja, ia tidak bakal mampu berbuat banyak.
Orang-orangnya tak dapat bantu dia, sedang Sin Tjie beruda juga diam saja.
Maka ia lantas hampirkan Sin Tjie dan Tjeng Tjeng, untuk memberi hormat sambil menjura dalam.
"Maafkan aku, maafkan aku,"
Kata dia. Dua anak muda itu membalas hormat, akan tetapi mereka heran atas sikapnya kepala opas itu.
"Jangan seedjie, Sian Loosoe,"
Kata Sin Tjie.
"Pengemis itu ada dari kalangan apa?"
"Mari kita pergi ke paseban sana, djiewie, sambil duduk nanti aku berikan keteranganku,"
Kata orang tua itu.
Sin Tjie ingin tahu hal si pengemis, ia terima baik undangan itu, ia ajak kawannya kembali ke paseban.
Setelah kedua anak muda itu duduk, Sian Tiat Seng lantas mulai dengan keterangannya.
Sejak bulan yang lalu, gudang negara telah tiga kali kecurian, jumlahnya semua beberapa ribu tail perak.
Untuk negara, jumlah itu tidak seberapa, tetapi yang penting itu adalah uang negara, hartanya kaisar, dan itu kejahatan diperbuat di "kakinya kaisar".
Maka pencurian itu dengan sendirinya telah menggemparkan kota raja.
Apa yang hebat, kuping kaisar pun terang, Baru lewat dua hari sejak pencurian pertama, junjungan itu telah mendapat tahu.
Hok Siangsie, menteri yang bertanggung jawab atas isi gudang ngeara, dan Tjioe Tjiangkoen, Kioe-boen Teetok atau pembesar militer yang menjamin keamanan kota raja, tentu saja telah dapat teguran keras.
Malah kaisar bilang, apabila dalam tempo satu bulan, pencurian itu belum dapat dibikin terang, semua pembesar yang bertanggung jawab itu bakal dipecat dan perkaranya akan diperiksa.
Hebat ada nasib kawanan opas, yang tidak berdaya untuk tangkap si pencuri, lebih dahulu merekalah yang dimestikan bertanggung jawab, sampai anak-isteri mereka, semua anggauta keluarga ditangkap dan ditahan.
Dalm putus asa, semua hamba wet itu, mereka dapat satu pikiran, lalu dengan memohon kepada seatasannya, mereka berhasil mengundang Sian Tiat Seng, bekas kepala opas yang telah lama undurkan diri.
Begitulah telah terjadi, Tok-gan Sin-lion si Naga Sakti Mata Satu itu telah turun tangan pula.
Juga Sian Tiat Seng telah menghadapi kesulitan.
Menurut penyelidikannya, pencuri bukannya pencuri biasa, mestinya itu ada perbuatan satu atau lebih orang dari kalangan Rimba Persilatan, hanya sampai sebegitu jauh, belum pernah ia berhasil memergoki si penjahat.
Ia kenal baik keadaan di kota raja, tak ada orang yang ia dapat curigai, tapi juga ia tidak berani menuduh.
"Hm, jadi kamu sangka kami!"
Kata Tjeng Tjeng, yang hatinya panas. Ia potong keterangan orang.
"Maaf, memang demikianlah dugaanku semula,"
Tiat Seng akui.
"Kemudian aku membuat penyelidikan lebih jauh, hingga aku dapat tahu Wan Siangkong selama di Kim-leng sudah menolongi Tiat-pwee Kim-go Tjiauw Kong Lee dan di Shoatang telah bersahabat sama See Thian Kong dan Thia Tjeng Tiok, sampai akhirnya siangkong dipilih dan diangkat menjadi bengtjoe dari tujuh propinsi. Nyata siangkong ada seorang gagah yang dipuja..."
Senang juga Tjeng Tjeng mendengar Sin Tjie dipuji, wajahnya lantas berubah menjadi lebih sabar.
"Walaupun aku telah ketahui tentang Wan Siangkong, apa mau mataku seperti buta, aku tak dapat lantas sambut siangkong,"
Sian Tiat Seng lanjuti keterangannya itu.
"Sebenarnya aku tak tahu bagaimana harus berkenalan sama siangkong...."
Tjeng Tjeng tertawa sendirinya. Ia awasi hamba wet tua itu, yang matanya tinggal sebelah, mata yang lebih banyak putihnya daripada hitamnya.
"Karena itu setiap hari aku perlukan datang mengunjuk hormat pada siangkong,"
Tiat Seng tambahkan kemudian. Tjeng Tjeng tertawa.
"Kau tidak menjelaskannya, siapa tahu isi hatimu?"
Katanya.
"Justru sulit untuk menerangkannya,"
Kata Sian Tiat Seng.
"Aku hanya harap Wan Siangkong tidak gusar, aku harap-harap siangkong sudi kembalikan semua uang yang dicuri, untuk bisa tolong jiwanya semua opas dan keluarganya. Di luar dugaanku, siangkong telah kembalikan semua barang antaran kita, malah siangkong dapat tahu nama dan gelaranku, hingga kesudahannya siangkong ganggu aku dengan sebarkan karcis namaku. Siangkong telah tegur aku, aku terima itu...."
Tjeng Tjeng berdiam, ia seperti tak dengar perkataan orang tua ini, parasnya pun tidak berubah.
"Dalam putus asa, tadi aku telah atur penjagaan,"
Sian Tiat Seng melanjuti.
"Aku tak tahu mesti bersikap bagaimana, aku cuma pikir, biar aku lawan keras. Sama sekali di luar sangkaanku, yang muncul tadi adalah dua bocah serba merah barusan, mereka sangat licin, sia-sia saja kami kepung dia sampai di sini. Kembali di luar sangkaanku, di sini aku bertemu sama pengemis yang liehay itu. Aku pun tidak sangka, siangkong, disini aku bisa bertemu sama siangkong berdua. Sekarang, Wan Siangkong, aku mohon dengan sangat, sukalah kau beri petunjuk kepadaku...."
Orang tua itu bicara dengan sungguh-sungguh, terus ia berlutut dan manggut-manggut. Sin Tjie repot, untuk memimpin bangun, sedang hatinya terus berpikir.
"Pengemis itu dan kedua bocah terang bukan orang baik-baik,"
Demikian pikirnya.
"Karena mereka itu seterukan pembesar negeri. Buat apa aku campur tahu urusan mereka ini? Tidak ada perlunya buat aku bantui segala opas kotor?..."
"Kami pun tidak kenal pengemis itu,"
Sin Tjie lalu terangkan.
Ia ceritakan sedang ia dan Tjeng Tjeng pesiar, di situ mereka bertemu sama si pengemis penangkap ular berbisa, bagaimana ia telah tolong si pengemis tapi mustikanya hendak dirampas.
"Walaupun demikian, siangkong, aku mohon kau suka bantu aku,"
Sian Tiat Seng ulangi permintaannya. Sin Tjie tertawa.
"Sulit, loosoe,"
Katanya.
"Menawan penjahat adalah pekerjaan hamba-hamba wet. Aku tidak punya guna, aku pun tidak bisa lakukan pekerjaan polisi sebagai kamu!"
Mendengar lagu-bicara orang, Sian Tiat Seng tidak berani banyak omong pula, ia menjura, lantas ia ajak orang-orangnya ngeloyor pulang.
"Mari kita pulang,"
Sin Tjie pun mengajak kawannya. Sepanjang jalan, Tjeng Tjeng caci si pengemis tidak berbudi.
"Kalau lain kali dia bertemu pula denganku, aku nanti kasi rasa!"
Katanya dengan sengit.
Tidak jauh, mereka berpapasan sama sejumlah serdadu dari kantor Kim-ie-wie, mereka itu sedang giring serombongan orang tawanan, di antara siapa ada kakek-kakek yang ubanan rambut dan kumisnya, ada ibu-ibu yang sedang empo bayi, tapi yang kebanyakan adalah orang-orang tua dan perempuan lemah.
Serdadu-serdadu itu berlaku bengis, saban-saban terdengar dampratannya.
"Kasihani kita tjongya,"
Begitu Tjeng Tjeng dengar satu nenek-nenek.
"Biar bagaimana, kita toh sama-sama makan gaji negara dan bekerja untuk umum.... Kita sama sekali tidak bersalah-dosa, cuma karena di kota raja ini muncul penjahat besar, kita jadi terembetrembet mengalami kecelakaan ini...."
Satu serdadu pegang si nenek.
"Tidak karena penjahat itu, mana kita berjodo bisa bertemu seperti sekarang ini?"
Katanya.
Ia tertawa.
Panas hatinya Sin Tjie dan Tjeng Tjeng akan dengar omongan itu, buat saksikan keceriwisan orang.
Mereka tahu, orang-orang tawanan itu adalah keluarganya hambahamba wet.
Opas-opas suka ganggu rakyat jelata, pantas kalau sekarang mereka merasai kesengsaraan sebab gangguan penjahat liehay itu, akan tetapi anak-istri mereka, orang tua mereka mesti menderita begini, dua anak muda ini toh tak tega juga.
Sembari jalan terus, serdadu-serdadu itu lantas berteriak-teriak.
"Penjahat-penjahat telah ditangkap! Penjahat-penjahat telah ditangkap!"
Demikian suara mereka, sambil mereka gusur orang-orang tawanan itu, yang mereka rantai dan gandeng.
Banyak penduduk menyaksikan di pinggiran, rata-rata mereka menggeleng kepala dan menghela napas.
Mereka tahu kawanan serdadu itu mendusta, mereka tahu orang-orang tawanan itu ada penduduk biasa, yang ditangkap untuk menambal tugas mereka, yang tak dapat mereka jalankan, maka rakyat mesti jadi korban.
Menyaksikan itu semua, hati Sin Tjie dan Tjeng Tjeng jadi panas.
Kapan di akhirnya kedua anak muda ini sampai di rumah mereka, mereka lihat Ang Seng Hay sedang langak-longok, romannya gelisah, kapan dia lihat mereka, lantas dia jadi sangat girang.
"Bagus, sudah pulang!"
Seru dia. Sin Tjie heran.
"Ada kejadian apakah?"
Ia tanya.
"Thia Loo-hoetjoe telah kena orang lukai, siangkong sedang diharap-harap untuk tolongi padanya!"
Sahut pengiring itu.
Ia girang akan tetapi kegelisahannya tak lantas lenyap semua.
Sin Tjie kaget.
Ia tahu Thia Tjeng Tiok liehay, maka cara bagaimana jago tua itu dapat orang bikin terluka?
Lekas-lekas ia turut pengikutnya itu masuk ke dalam, Tjeng Tjeng ikuti dia.
Di dalam kamar, Tjeng Tiok nampak sedang rebah di atas pembaringan, mukanya berdebu dan hitam.
See Thian Kong bersama Ouw Koei Lam dan Thie Lo Han semua duduk mendampingi jago tua itu, roman mereka kucel, tandanya bersusah hati dan berkuatir.
Tetapi setelah mereka tampak Sin Tjie, wajah mereka bersinar sebentar, tandanya mereka peroleh pengharapan.
Sin Tjie lihat Tjeng Tiok rapati kedua mata, napasnya jalan dengan pelahan.
"Dimana lukanya Thia Loo-hoetjoe?"
Tanyanya.
See Thian Kong angkat tubuh Tjeng Tiok pelahan-lahan, ia singkap bajunya, untuk kasi lihat bagian yang luka.
Menampak luka itu, Sin Tjie kaget bukan main.
Luka itu, di pundak kanan, telah bengkak dan matang biru, warna hitamnya mulai merembet ke muka, sedang ke bawah, warna hitam itu sudah sampai di pinggang.
Di tempat yang warnanya paling hitam di pundak, ada bertapak lima jari.
"Inilah luka bisa!"
Kata Sin Tjie.
"Bisa apakah?"
"Thia Loo-hoetjoe pulang dengan sudah terluka, agaknya ia dapat pulang dengan paksakan diri,"
Sahut Thian Kong.
"Sesampainya ia di rumah, ia sudah tidak bisa bicara lagi, dari itu tak tahu kita luka itu disebabkan racun apa...."
"Syukur kita ada punya mustika kodok es,"
Kata Sin Tjie kemudian.
Lekas-lekas ia keluarkan mustikanya itu, untuk ditempel di tempat yang luka.
Mustika itu benar liehay, dia lantas mulai sedot warna hitam itu.
Hanya kali ini, badannya yang putih meletak bagai salju lantas berubah menjadi abu-abu, menjadi hitam.
"Rendam dia di arak hangat, racunnya akan keluar,"
Berkata Ouw Koei Lam.
Sin Tjie lekas tuang arak ke dalam cawan, ia angkat mustika itu, untuk direndam.
Benar seperti katanya Ouw Koei Lam, racun dalam tubuh mustika itu lantas keluar, hingga arak pun menjadi berubah hitam, sepetelah tubuh mustika menjadi putih pula, kembali lantas ditempelkan di lukanya Tjeng Tiok.
Pengobatan cara begini dilakukan sampai belasan kali, Barulah darah hitam dari tubuhnya Tjeng Tiok dapat disedot keluar semuanya, setelah itu Barulah Sin Tjie uruti tubuhnya jago tua itu, untuk bikin darahnya jalan pula seperti sediakala.
Pertolongan ini memberi hasil baik, muka Tjeng Tiok lekas jadi bersemu dadu pula.
Karena ini, hati semua orang menjadi lega.
Malam itu Tjeng Tiok bisa tidur dengan nyenyak, kapan besoknya pagi-pagi Sin Tjie tengok dia, dia telah bisa bangkit dari pembaringan dan duduk.
Ia lantas mengucap terima kasih.
"Jangan bicara dulu,"
Sin Tjie mencegah seraya ulapkan tangan.
Ia menyuruh orang bernapas dengan beraturan, untuk perbaiki jalan darahnya.
Kemudian ia perintah orang untuk pergi panggil tabib yang pandai, untuk berikan obat guna bersihkan sisa-sisa racun.
Maka itu, di hari keempat, Tjeng Tiok sudah sembuh betul, hingga ia bisa menuturkan sebab-musababnya ia mendapati luka yang berbahaya itu.
"Magrib itu aku lewat di depan pintu kota Tjie-kim-shia, tiba-tiba aku dengar suara berisik, seperti orang lagi berkelahi,"
Demikian ketua Tjeng Tiok Pay mulai dengan penuturannya.
"Aku pergi mendekati, untuk melihat. Aku dapatkan kembang tauwhoe berserakan di tanah dan seorang, yang tubuhnya besar, sedang jambak satu anak tanggung, siapa dipukuli berulang-ulang. Atas pertanyaanku pada seorang, yang turut menyaksikan, dapat aku ketahui, bocah itu adalah si tukang tauwhoe. Di luar kehendaknya, dia kena bentur orang itu hingga bajunya orang itu menjadi kotor, maka ia dihajar. Kasihan aku melihat itu bocah, aku lantas mendekati, untuk memisahkan. Aku bicara dengan sabar, aku memberi alasan yang pantas tapi orang itu tidak mau mengerti, ia memaksa minta dikasih penggantian uang kerugian. Aku tanya, berapa ia minta ganti, ia sebutkan satu tail perak. Aku suka tolongi bocah itu, aku lantas rogoh sakuku, untuk ambil uang. Siapa tahu, karena aku iseng, aku telah kena diperdayakan, aku terjebak ke dalam tipu-daya orang jahat. Aku merogoh dengan tangan kanan, Baru tanganku masuk ke dalam saku, mendadak dua orang itu, ialah si kacung dan orang yang aniaya dia menyamber lenganku, untuk ditarik ke kiri dan kanan..."
Mendengar sampai di situ, Tjeng Tjeng berseru dengan tak dapat ia mengatasi dirinya.
"Segera aku insyaf bahwa orang sedang permainkan aku,"
Tjeng Tiok melanjuti.
"Aku lantas geraki kedua tanganku, untuk loloskan diri. Masih aku hendak tanyakan sebabnya kenapa mereka perlakukan aku demikian rupa, tetapi sebelum aku sempat berontak, tahutahu aku merasakan sakit sekali di pundakku yang kanan, sakitnya sampai meresap ke tulang-tulang. Itulah serangan yang aku tak sangka-sangka. Masih dapat aku berontak, aku terus sambar lengannya orang yang bertubuh besar itu, aku mundur satu tindak. Ada aku pakai dia untuk hajar si bocah. Berbareng dengan itu, aku lompat ke depan, untuk segera menoleh ke belakang. Maka sekarang aku dapat lihat, orang yang membokong aku adalah pengemis wanita tua yang berbaju hitam. Belum pernah seumurku melihat wanita sejelek dia. Seluruh mukanya penuh dengan lobang-lobang dan daging munjul, tapaktapak luka, sepasang matanya menjuling naik. Ia awasi aku sambil tertawa secara dingin, kemudian dia angkat kedua tangannya, yang jeriji-jerijinya berkuku tajam, untuk menerkam aku...."
Di waktu mengucap demikian, wajahnya Tjeng Tiok sedikit berubah, nyata ia merasa ngerti atau gelisah, rupanya ia berbayang dengan pengalamannya yang hebat itu.
Tjeng Tjeng kembali perdengarkan seruan, seruan tertahan, tak terkecuali See Thian Kong, Ouw Koei Lam dan yang lainnya.
Mereka ini seperti juga merasakan hebatnya bokongan dan serangan kuku-kuku tajam itu.
Thia Tjeng Tiok teruskan keterangannya.
"Ketika itu aku kaget berbareng gusar. Atas terjangan itu, aku terus angkat tubuhnya, adalah keinginanku, untuk balas menyerang. Apa mau, tangan kananku tak dapat digeraki, tangan itu seperti membantah kehendakku. Wanita tua itu tertawa aneh, terdengarnya seram, terus ia mendesak. Dalam keadaan seperti itu, aku dapat akal. Mendadak aku membungkuk, dengan tangan kiri aku sambar tahang kembang tauwhoe, dengan itu aku menimpuk ke arah muka wanita itu, sampai dia kelabakan, dengan kedua tangannya, dia susuti mukanya. Aku gunai ketika itu akan keluarkan dua batang tjeng-tiok-piauw, aku hajar dadanya. Dengan begitu, aku bikin dia dapat pengajaran. Tapi itu waktu, aku merasakan sakit tak terikira, rasanya aku tak sanggup bertahan lagi, maka aku lantas saja lari pulang sekeras mungkin, sesampainya di rumah, lantas aku tak tahu apa-apa lagi.
"Apakah kau mempunyai sangkutan dengan wanita tua itu?"
See Thian Kong tanya.
"Belum pernah aku bertemu atau lihat dia,"
Sahut Thia Tjeng Tiok.
"Kami dari pihak Tjeng Tiok Pay tidak punya hubungan suatu apa dengan rombongan pengemis dari Kanglam dan Kangpak, kita ada seperti air sungai yang tidak saling ganggu dengan air sumur."
"Apa mungkin dia salah lihat?"
Tjeng Tjeng pun tanya.
"Aku rasa inilah bukan kekeliruan,"
Sahut Tjeng Tiok pula.
"Setelah dia bohongi aku, aku telah menoleh ke arah dia, waktu itu dia telah melihat tegas padaku, tetapi dia masih terus menyerang secara bengis."
"Entah racun apa yang ada pada kukunya itu maka akibatnya ada berbahaya sekali,"
Nyatakan Ouw Koei Lam.
"Mestinya dia pakai sarung jari tangan,"
Kata See Thian Kong.
"Kalau dia rendam kukunya dengan bisa, tak nanti dia sendiri sanggup bertahan."
Tidak ada orang yang dapat duga duduknya hal, orang pun heran atas hebatnya bisa itu, dan orang juga tak tahu asal-usulnya pengemis wanita tua itu.
Thia Tjeng Tiok masih mendongkol, sampai ia tak dapat atasi dirinya tanpa ia mencaci musuh curang dan gelap itu.
"Saudara Thia, kau sabari diri, baik kau beristirahat,"
Kemudian kata See Thian Kong.
"Nanti aku keluar, untuk mencoba melakukan penyelidikan. Aku harap aku nanti berhasil, agar di lain hari kau bisa lampiaskan kemendongkolanmu ini."
Tjeng Tiok suka terima nasehat itu.
Maka itu, mulai hari itu, See Thian Kong bersama Ouw Koei Lam, Thie Lo Han dan Ang Seng Hay, pergi keluar, sambil pesiar mereka melakukan penyelidikan.
Mereka telah putari empat penjuru kota Pakkhia.
Akan tetapi, selama tiga hari beruntun, mereka tidak peroleh suatu apa, malah bajangan si pengemis nenek-nenek juga tak pernah mereka lihat.
Di lain harinya, pagi-pagi, Tok-gan Sin-liong Sian Tiat Seng datang berkunjung.
Sin Tjie tak sudi menemui tetamu itu, maka itu, yang keluar untuk melayani bicara adalah See Thian Kong.
Kepala polisi ini memperlihatkan wajah bermuram-durja, dia sangat bersusah hati.
Dia memberitahukan bahwa kas negara kembali kecurian tiga-ribu tail perak, hingga ia jadi tidak berdaya.
Dia tanya, bagaimana baiknya dia bertindak...
Urusan itu bukan urusan yang mengenai pihaknya, dari itu See Thian Kong menyahuti dengan sembarangan saja, kemudian tuan rumah itu belokkan pembicaraan mengenai si wanita tua, pengemis yang jelek dan aneh itu.
Sian Tiat Seng tidak omong banyak tentang ini pengemis wanita, akan tetapi dia agaknya sangat memperhatikan.
Begitulah di hari besoknya, kembali pagi-pagi, dia datang secara tersipu-sipu.
"Tuan See, tentang pengemis wanita titu, ttelah aku dapatkan endusannya,"
Berkata dia pada Thian Kong, yang muncul untuk layani pula orang polisi ini.
"Aku anggap baiklah Wan Siangkong diundang keluar agar kita bisa mendamaikannya bersama."
See Thian Kong setuju, ia masuk ke dalam.
"Hm, pasti dia hendak jual lagak, dia hendak baiki kita, supaya dia bisa menggencet kita!"
Kata Tjeng Tjeng, yang sudah lantas menduga jelek.
"Mungkin dua-duanya dugaan benar,"
Bilang Sin Tjie.
"Tidak apa, aku nanti ketemui dia."
Karena ini, semua orang keluar berbareng, akan ketemui Tok-gan Sin-liong, si Naga Sakti Mata Satu.
"Karena aku dengar wanita tua itu terkena senjata rahasia Tjeng-tiok-piauw dari Tuan See,"
Berkata si tetamu,"
Lantas aku duga pasti dia membutuhkan bahan-bahan obat seperti tee-koet-pie, tjoan-ouw-gan, tjoa-tjhong-tjoe dan leng-hie-kah, untuk obati lukanya itu.
Karena ini aku segera kirim orang-orangku ke pelbagai rumah obat, untuk melakukan penjagaan kepada setiap pembeli obat.
Aku pesan, siapa saja yang beli obat-obatan semacam itu, dia mesti dikuntit.
Nyata aku berhasil memperoleh endusan.
Ya, urusan benar-benar aneh!"
"Aneh bagaimana?"
Tanya See Thian Kong.
"Tahu saudara-saudara, dimana bersembunyinya perempuan tua itu?"
Tanya Tok-gan Sinliong.
"Dia telah ambil tempat di balai istirahat Pangeran Seng Ong! Seng Ong adalah saudara Sri Baginda Raja. Kenapa dia boleh punyakan hubungan sama wanita kang-ouw? Inilah yang mengherankan aku!..."
Itu hal benar aneh, maka benar-benar, semua orang merasa heran.
"Sekarang mari antar aku ke balai istirahat itu, untuk melihat-lihat!"
Kata Sin Tjie, yang perhatiannya pun tertarik.
"Mari,"
Sian Tiat Seng mengajak.
Karena yang lain-lain juga ingin pergi melihatnya, mereka pergi dalam satu rombongan.
Si kepala opas jalan di sebelah depan.
Balai istirahat dari Pangeran Seng Ong berada di luar kota jauhnya tujuh atau delapan lie, dari jauh-jauh sudah nampak nyata temboknya yang hitam, yang mengurung balai istirahat itu.
"Nah, itu dianya!"
Kata Sian Tiat Seng. Sin Tjie menjadi heran.
"Itu toh gedung kemana kedua bocah serba merah telah pergi sehabis mereka curi uang negara?"
Kata pemuda ini dalam hatinya.
"Apakah tidak bisa jadi Sian Tiat Seng sengaja ajak aku datang kemari supaya kita terpaksa bantu dia mencari pencuri-pencuri uang negara itu? Jikalau ini ada balai istirahat dari satu pangeran, kenapa dia buatnya satu gedung secara begini luar biasa?"
Pemuda ini tarik lengannya Thia Tjeng Tiok, ia sengaja perlahankan tindakannya, hingga mereka berdua jadi ketinggalan di belakang beberapa tindak.
"Kalau sebentar kita bertemu sama si wanita tua, jangan kau bergusar,"
Sin Tjie berbisik kepada ketua Tjeng Tiok Pay itu.
"Didalam segala hal, kau mesti bertindak dengan melihat isyarat dari aku."
Nampak wajah Tjeng Tiok tak tenang. Ia tidak bilang suatu apa atas pesan itu, hanya mendadak, dia kata.
"Wan Siangkong, aku...aku...rasai tubuhku kurang sehat, aku ingin lantas pulang untuk beristirahat...."
Heran Sin Tjie mendapati sikapnya kawan ini.
"Dia toh ketua dari Tjeng Tiok Pay,"
Pikirnya.
"Dia toh orang Rimba Persilatan kenamaan untuk di utara? Kenapa sekarang dia jadi kecil hatinya? Kenapa dia jadi jeri?"
Walaupun dia menduga demikian, pemuda ini tidak bilang suatu apa.
"Baiklah,"
Katanya, yang terus suruh Seng Hay mengantari pulang.
Sin Tjie jadi berpikir untuk berhati-hati, sebab selama beberapa hari ini, beruntun ia saksikan kejadian-kejadian langka.
See Thian Kong juga lantas ingat keterangan Sin Tjie perihal sebuah gedung besar di luar kota, gedung yang tak ada pintunya.
"Gedung ini tidak ada pintunya, habis bagaimana orang bisa masuk ke dalamnya?"
Dia tanya Sian Tiat Seng.
"Mesti ada pintu rahasianya,"
Jawab orang polisi itu.
"Oleh karena ini ada balai istirahat dari Pangeran Seng Ong, tidak ada orang yang berani menanyakannya."
Sin Tjie telah ambil sikap untuk menunggu, dari itu, ia tidak campur bicara.
Dia ingin saksikan tingkah-polahnya Sian Tiat Seng.
Dia malah dongak, akan awasi mega putih di atas langit.
Belum lama mereka berdiam di situ, tiba-tiba terdengar suara ayam berkokok kelabakan, terdengar juga suara berisik dari sayapnya, yang dipakai terbang, habis itu tertampak dua ekor ayam jago terbang keluar dari gedung hitam yang luar biasa itu, di belakangnya menyusul berlompat keluar dua kacung dengan pakaian biru, gerakan mereka sangat gesit, cuma dengan beberapa kali tubrukan, mereka berhasil menangkap kedua ayam jago itu.
Mereka ini pandang Sin Tjie beramai, lalu mereka lompat pula, masuk ke dalam gedung.
"Jarang untuk menemui ayam-ayam jago sebesar itu,"
Kata Tjeng Tjeng, yang kagumi kedua ayam itu.
"Sedikitnya setiap ekor beratnya delapan atau sembilan kati...."
"Dan dua bocah itu, ilmu silatnya ada dasarnya,"
Bilang See Thian Kong, yang perhatiannya tertarik ke lain jurusan.
"Aku anggap gedung ini bukan gedung sembarangan...."
Thian Kong belum tutup mulutnya, atau mereka dengar satu suara menjeblak yang nyaring, lalu segera nampak di antara tembok gedung terbukanya suatu pintu rahasia mirip lobang gua, dari situ lantas muncul satu orang yang pakaiannya aneh...
Pakaian itu terbuat dari sutra biru yang mentereng, akan tetapi pada bajunya sengaja ditambalkan beberapa tambalan dari cita-cita yang berlainan warnanya, hingga mirip dengan pakaian pengemis di atas panggung sandiwara.
Ketika orang itu telah datang dekat kepada rombongan Sin Tjie, Sin Tjie bersama Tjeng Tjeng dan Sian Tiat Seng terperanjat sendirinya.
Orang dengan dandanan aneh itu adalah si pengemis tak berbudi yang mereka ketemui baru-baru ini!
Itu pengemis tukang tangkap ular berbisa!
Orang itu menjulang matanya, ia menghadapi pemuda kita.
"Itu hari siangkong berikan aku arak jempolan,"
Katanya.
"sekarang kebetulan siangkong berkunjung kemari, mari silakan masuk! Bagaimana jikalau aku jadi tuan rumah?"
"Bagus, bagus!"
Sahut Sin Tjie.
"Baiklah, asal kami tidak mengganggu pada kau!"
Hampir tanpa berpikir lagi, Sin Tjie terima baik undangan itu.
"Silahkan!"
Kata si pengemis, yang mempersilahkan dengan tangan kirinya.
Sin Tjie jalan di muka, untuk masuk ke dalam pintu istimewa itu.
Ia dapat kenyataan temboknya tebal sekali, batunya batu-batu hijau, sedang pintunya, yang terbuat dari besi, beberapa dim tebalnya.
Tembok di dalam ditabur hitam seperti di luar, semua rata, pantas pintunya sampai sukar dikenali.
Setiap kali mereka melewati satu tembok, yang merupakan kurungan, di belakang mereka, daun pintu besi menggabruk dengan keras.
Sebab semua pintu adalah serupa.
Sesudah orang memasuki pintu dari tembok merah, pengemis tukang tangkap ular itu undang semua tetamunya duduk di hoa-thia, ruang tetamu, habis itu dia menepuk tangan dengan pelahan ,beberapa kali, lantas muncul bujang dengan barang makanan dan arak.
Orang semua lihat, barang-barang makanan agaknya istimewa, cuma mereka tidak dapat duga, dari daging apa itu terbuatnya, nampaknya seperti ada sebangsa ular dan kalajengking, warnanya merah dan hijau, tegas sekali.
Tidak ada orang yang berani geraki sumpitnya.
Tuan rumah itu lihat tingkah-laku para tetamunya, ia tertawa terbahak-bahak.
"Silahkan, silahkan!"
Mengundangnya.
Lantas saja ia kerahkan sumpitnya, untuk jepit sepotong barang hidangan, kapan ia telah angkat itu, orang lihat itu adalah seekor binatang dengan kepala merah dan tubuh hitam.
Itulah seekor kelabang!
(Bersambung bab ke 19) Semua orang terperanjat, akan tetapi sedangnya begitu, pengemis itu bawa sumpitnya ke mulutnya, atau tahu-tahu kelabang itu telah tercaplok masuk ke dalam mulutnya, terus saja dikunyah, dimakan secara sangat bernapsu, hingga semua orang jadi celangap, melainkan Tjeng Tjeng yang merasa enek, hampir saja dia muntah!
Dia melengos ke samping, tak sudi dia melihatnya.
Tentu saja, karena pemandangan itu, semakin tidak ada orang yang berani gunai sumpitnya.
Tuan rumah lihat orang jeri, nampaknya dia sangat puas.
Lantas saja dia hadapi Sian Tiat Seng, yang ia awasi dengan tajam.
"Kau adalah kuku garuda dari kantor negeri!"
Berkata dia dengan tidak sungkan-sungkan lagi.
"Rupanya kau datang kemari untuk mendapatkan uang kas negara! Hm! Kau tahu, siapa aku ini?"
Sian Tiat Seng berlaku sabar, ia merendah.
"Maaf, aku tak dapat kenali kau, tuan,"
Sahutnya.
"Aku mohon tanya tuan punya she yang mulia dan nama yang besar...."
Ornag itu kembali tertawa, berkakakan. Ia tenggak araknya, ia jepit pula sepotong daging, entah binatang apa, yang ia caplok dan kunyah dengan bernapsu seperti tadi. Kemudian ia tertawa pula.
"Aku yang rendah adalah orang she Tjee nama In Go,"
Katanya kemudian.
"Aku adalah satu boe-beng siauw-tjoe, orang yang tidak ternama, maka juga, saudara, mana kau kenal aku!"
Tapi Sian Tiat Seng terkejut, lekas-lekas ia berbangkit.
"Oh, tuan jadinya ada Kim-ie Tok Kya!"
Katanya.
"Sudah lama aku yang rendah telah dengar nama besarmu itu...."
Sin Tjie sendiri belum pernah dengar nama julukan Kim-ie Tok Kay itu, atau "Pengemis Berbisa Berbaju Sulam" , akan tetapi melihat sikapnya Sian Tiat Seng, mungkin dia seorang kenamaan, hanya ketika kemarin ini ia saksikan orang tempur ular berbisa, ia tidak lihat si pengemis punyakan kepandaian luar biasa.
Maka ia heran kenapa kepala opas ini nampaknya jeri sekali.
Kembali Sian Tiat Seng berkata.
"Agama tuan biasa disebarkan hanya di dua propinsi Kwiesay dan Kwietang serta juga Inlam dan Kwie-tjioe, itulah karenanya maka aku tak dapat ketika untuk mengunjunginya...."
"Memang!"
Jawabnya Tjee In Go itu.
"Kami datang ke kota raja ini pun Baru beberapa bulan."
"Sebenarnya sudah lama aku tidak dahar lagi nasi negara,"
Berkata pula Sian Tiat Seng.
"karena itu aku jadi tidak dapat tahu, Tjee Enghiong, tentang kunjungan rombonganmu ini, hingga karenanya, pihak kami sudah tak sempurna melakukan penyambutan terhadap kamu, hingga kami telah lakukan hal yang tidak selayaknya. Maka itu sekarang, Tjee enghiong, aku datang untuk haturkan maaf kita."
Kata ini disusul dengan pemberian hormat menjura yang dalam dan berulang-ulang. Tjee In Go terlalu repot dengan arak dan barang hidangannya yang "lezat"
Sekali itu, ia tidak balas pemberian hormat itu, tidak perduli itu adalah cara menghormat yang sangat hormat sekali. Tjeng Tjeng saksikan kelakuan Sian Tiat Seng, di dalam hatinya, dia berkata.
"Biasanya kalau orang-orang polisi berurusan dengan rakyat jelata, mereka bengis dan garang bagaikan srigala dan harimau, sebaliknya apabila mereka berhadapan sama pihak tangguh, mereka jadi lemah dan rendah sekali, sekarang aku dapatkan buktinya. Aku hendak lihat, bagaimana lanjutnya urusan ini...."
"Saudara-saudaraku semua tolol sekali,"
Demikian Sian Tiat Seng berkata-kata pula.
"tanpa merasa mereka sudah lakukan kesalahan terhadap Tjee Enghiong beramai. Sekarang ini, Tjee Enghiong, apa pun yang kau titahkan kami lakukan, asal itu ada dalam kesanggupan kami, kami bersedia untuk melakukannya."
Baru sekarang pengemis she Tjee itu berhenti makan.
"Sampai pada batas hari ini,"
Katanya dengan tetap secara tekebur,"
Sama sekali kita telah ambil uang negara sejumlah sembilan-ribu lima-ratus tail perak! Itu jumlah sangat kecil, sangat kecil. Aku pikir kalau nanti kita sudah ambil cukup!"
Nyata sekali Tiat Seng terperanjat akan dengar jumlah itu, akan tetapi tetap dia bawa sikap merendah. Katanya.
"Jikalau Hok Taydjin dari Kas Negara serta Tjioe Taytjiangkoen yang menjabat Kioe-boen Teetok ketahui tentang Tjee Enghiong beramai, pasti sekali mereka bakal menghadap Pangeran Seng Ong untuk menghaturkan maaf, dari itu mengenai kami, yang menjadi orang sebawahan, kami cuma hendak mohon supaya Tjee Enghiong sudilah memberi kita sesuap nasi..."
Kim-ie Tok Kay tidak bilang suatu apa atas pengutaraan kepala opas iti, hanya dengan mata terputar, dia kata dengan keras.
"Kau sekarang telah ketahui, semua uang negara itu telah berada di dalam balai istirahat Pangeran Seng Ong ini, maka apakah kau masih memikir untuk keluar dari gedung ini dengan masih berjiwa?"
Sikap itu, suara itu, bengis sekali.
Maka ruang perjamuan itu menjadi sangat tegang, dengan sendirinya rata-rata tetamu bergelisah.
Tjeng Tjeng tidak mengerti, ia pun panas hatinya, tetapi di saat ia hendak membuka mulut, mendadak terdengar satu suara tajam dan luar biasa, yang datang dari lain bagian gedung itu.
Suara itu menggiriskan dan berulang kali, beruntun, hingga tanpa merasa, sesuatu orang menjadi bergidik sendirinya.
"Apakah itu?"
Tanya Tjeng Tjeng, yang pun terkejut, hingga ia cekal keras tangan Sin Tjie.
Si anak muda berbalik memegang keras juga tangan si nona, ia tidak bilang suatu apa.
Tjee In Go sendiri sudah lantas berbangkit.
"Kauw-tjoe mulai bersidang!"
Katanya dengan nyaring.
"Kamu semua boleh pergi mendengarkan putusan! Tentang nasib kamu, lihat saja peruntungan kamu masingmasing!"
Sian Tiat Seng kaget tidak kepalang.
"Jadi Kauw-tjoe pun telah datang ke Pakkhia?"
Tanyanya.
"Kauw-tjoe"
Ada kepala atau raja agama. Tjee In Go tidak menjawab, dia cuma tertawa menyengir, sikapnya jumawa dan dingin. Lantas saja ia bertindak ke dalam.
"Suasana hebat sekali, mari lekas kita berlalu!"
Kata Sian Tiat Seng, uang ketakutan tak terhingga.
"Jikalau benar raja agama dari Ngo Tok Kauw telah datang sendiri, jikalau kita mati, tulang-tulang kita pun tidak bakal ketinggalan sepotong jua!"
Ngo Tok Kauw adalah Agama Lima Racun.
Sin Tjie ingin lihat perkembangan terlebih jauh, akan tetapi ia merasakan tangan Tjeng Tjeng gemetar, sedang suasana benar-benar tegang sekali, dari itu, ia urungkan niatnya.
"Baik, marilah kita keluar dahulu!"
Katanya.
"Nanti diluar Baru kita pikir pula...."
Baru orang banyak itu putar tubuh mereka, untuk berlalu, mendadak ruang kamar menjadi gelap-petang, sampai lima jari mereka tidak dapat mereka lihat.
Suara menggabruk yang nyaring hebat pun segera terdengar di sebeblah belakang mereka, entah itu suara jatuhnya lempengan besi atau batu besar.
Mau tidak mau, semua orang menjadi kaget, apapula kapan suara hebat itu disusul sama suara yang seram aneh seperti bermula tadi.
Itulah suara yang mirip dengan riuhnya burung-burung hantu atau pekiknya pelbagai kutu berbisa.
Selagi orang berada dalam kekuatiran dan terbenam dalam kegelapan itu, sekonyongkonyong bekelebat cahaya terang sekali, yang menyilaukan mata, lalu di antara sinar terang itu nampak dua kacung yang mengenakan pakaian serba hitam.
Mereka ini menghampirkan, lantas mereka menjura.
"Kauw-tjoe memanggil kamu untuk menghadap si singgasana!"
Katanya.
"Entah mahluk aneh macam apa adanya Kauwtjoe itu..."
Pikir Sin Tjie.
"Baik aku pergi ke istana, untuk tengok cecongornya...."
Maka ia tarik tangan Tjeng Tjeng, untuk diajak pergi ke singgasana, Semua kawannya ikuti ia.
Maka mereka semua jadi mengintil di belakangnya dua kacung serba hitam itu.
Dari ruang makan itu, mereka melalui satu lorong yang panjang, lalu membelok, beberapa kali, akhirnya sampailah mereka di sebuah pendopo, yang si kacung sebutkan istana atau singgasana.
Di tengah-tengah ruangan itu ada sebuah kursi besar, yang dikerebongi sutra sulam warna merah, di kedua samping kursi itu berdiri masing-masing dua tongtjoe atau kacung.
Kedua kacung serba hitam itu ajak sekalian tetamunya sampai di singgasana ini, lantas mereka sendiri memisahkan diri ke kedua sisi dimana pada setiap sisinya, lima kacung dengan pakaiannya masing-masing serba merah, kuning, biru, putih dan hitam.
Dan yang serba merah itu Sin Tjie kenali adalah dua kacung pencuri uang negara yang kemarin ini dikepung-kepung Sian Tiat Seng.
Hanya sekarang ini, mereka berdua berdiri dengan tegak dengan kepala dikasih tunduk, sama sekali mereka tidak perdulikan tetamu-tetamu yang dipimpin masuk dalam ruangan itu.
Segera juga terdengar suara lonceng berulang-ulang dari arah belakang singgasana itu, suara mana disusul sama munculnya sambil berlerot rapi sejumlah orang, lelaki dan perempuan, yang tubuhnya tinggi dan kate tidak ketentuan.
Sesampai di dekat kursi kebesaran itu, mereka ini memecah diri dalam dua rombongan kiri dan kanan, di setiap sisinya, delapan orang, maka itu ketahuanlah mereka semua berjumlah enam-belas orang.
Kim-ie Tok Kay Tjee In Go ada di dalam rombongan ini, dia berdiri di barisan kiri, sebagai yang nomor lima.
Di barisan kanan, sebagai yang nomor dua, ada seorang perempuan dengan hidung bengkung dan mata celong, kulit mukanya pucat-pias bagaikan kulit mayat, daging pada mukanya itu tidak rata, ada yang muncul, ada yang ceglok.
Melihat dandanannya, dia adalah satu pengemis wanita tua-bangkotan.
"Dia pasti ada si pengemis yang telah melukai Thia Loo-hoetjoe,"
Sin Tjie menduga setelah ia pandang pengemis wanita itu yang romannya jelek dan menyeramkan.
"Apa yang mereka lagi bikin?"
Sin Tjie kemudian berbisik pada Sian Tiat Seng. Mukanya kepala opas ini sangat pucat.
"Mereka ini adalah rombongan Ngo Tok Kauw asal dari propinsi Inlam,"
Ia menjawab, suaranya pelahan dan menggetar.
"Kali ini matilah kita semua!...."
"Ngo Tok Kauw itu sebenarnya apa?"
Tanya Sin Tjie.
"Oh, Wan Siangkong...."
Kata kepala opas itu, suaranya masih tak tenang.
"Ngo Tok Kauw adalah semacam kumpulan agama yang sesat, yang tak jeri membunuh sesama manusia secara sangat telengas dan kejam. Yang menjadi kauwtjoe, kepala agamanya, ada Ho Tiat Tjhio. Apakah siangkong tidak kenal mereka?"
Sin Tjie goyang kepala.
"Justru kepala agamanya belum keluar, mari kita berdaya untuk menyingkir dari sini....."
Sian Tiat Seng berbisik.
"Kita lihat dulu!"
Kata Sin Tjie, yang tetap tenang. Tapi nampaknya Tok-gan Sin-liong takut bukan kepalang, rupanya telah bulat tekadnya untuk angkat kaki.
"Kalau begitu, maafkan aku!"
Katanya.
Belum sempat dia tutup rapat mulutnya, tubuhnya sudah bergerak, dia lari ke arah tembok.
Teranglah sudah, dia berniat melompati tembok itu, untuk menyingkirkan diri.
Menyusul bergeraknya kepala polisi ini, dari barisan kiri dari rombongan Ngo Tok Kauw itu, orang yang nomor dua telah lompat maju, gerakannya sangat gesit, sambil berlompat, dia sambar kaki kiri dari Sian Tiat Seng, yang tercengkeram sebatas mata kaki.
Sian Tiat Seng juga bukan sembarang orang, dia mengerti ilmus ilat dengan baik, walaupun dia sedang ketakutan, pikirannya tidak kacau, maka itu selagi kakinya disambar, ia geraki tubuhnya, untuk membungkuk, berbareng dengan mana, ia ayun tangannya yang kanan, akan hajar kepalanya si penyerang.
Orang nomor dua itu, yang tubuhnya tinggi besar, gunai sebelah tangannya, akan tangkis serangan kepada batok kepalanya itu, hingga kedua tangan jadi bentrok, menyusul mana, berdua mereka jatuh ke tanah.
Sebab selagi mereka saling serang, tubuh mereka sedang berlompat ke arah tembok.
Habis itu, orang nomor dua itu tidak bertindak lebih jauh, hanya sambil tertawa dingin, dia kembali ke dalam barisannya.
Keadaan ada lain lagi dengan Sian Tiat Seng.
Si Naga Sakti Mata Satu ini telah terluka pada kaki kirinya, pada telapakan tangannya yang kanan, yang tadi dipakai menyerang musuh.
Luka-luka itu seperti luka terkena senjata tajam, sakitnya bukan main, terasa sampai di hati.
Ketika ia angkat tangannya, untuk diperiksa, ia tampak lima luka lobang kecil dari mana mengucur keluar darah hitam, yang masih terus mengucur saja, hingga ia kaget tidak terkira.
Dan ketika ia periksa kakinya, kagetnya bertambah-tambah, sebab luka di kakinya itu pun berupa lima lobang kecil yang sama rupanya.
Kepala opas ini demikian kaget dan takut, hingga lantas saja dia rubuh terguling di tanah.
Nyatalah orang nomor dua itu, pada sepuluh jari dari kedua tangannya, ada kuku-kuku yang memakai sarung yang lancip-tajam, yang semua ada bisanya, tidak heran kalau Sian Tiat Seng telah terluka dan luka itu lantas mengeluarkan darah hitam, sebab racun bekerja dengan segera.
Pantas kalau si kepala opas jadi ketakutan bukan main, hingga ia jadi putus asa.
Sin Tjie segera hampiri Tok-gan Sin-liong, untuk dipimpin bangun.
Selagi ia berbuat begitu, sepuluh kacung keluarkan dari masing-masing kantongnya sebuah suitan yang luar biasa macamnya, yang mereka lantas tiup nyaring beberapa kali, menyusul mana, semua dua-puluh lebih orang Ngo Tok Kauw di dalam ruangan itu pada jatuhkan diri untuk mendekam!
Segera setelah itu, dari belakang singgasana bertindak keluar dua orang perempuan yang cantik.
Dalam anggapan Sin Tjie dan rombongannya, karena orang-orang Ngo Tok Kauw itu semua beroman tidak keruan dan aneh, kauwtjoe mereka atau kepala agama pun mestinya lebih-lebih tak keruan lagi, maka itu, tercenganglah mereka kapan mereka saksikan dua wanita yang eilok ini.
Setelah mendekati kursi, di samping mana mereka berdiri, dua nona ini lantas berseru dengan suaranya yang nyaring tapi halus.
"Kauwtjoe naik di singgasana!"
Segeralah terhembus bau yang harum, yang keluar dari belakang singgasana itu, bau harum mana diiringi satu wanita dengan pakaiannya serba dadu dan mentereng.
Dia ini mempunyai sepasang mata yang bagus, yang dikatakan "mata burung hong" , yang sinarnya menakjubkan, sepasang alisnya panjang, wajahnya tersungging senyuman manis dan menggairahkan.
Dia berumur kurang lebih tiga puluh tahun, dan parasnya cantik sekali.
Tapi, walaupun cantik dan pakaiannya indah, dan dari tubuhnya tersiar bau harum, kedua kakinya telanjang, dia tidak memakai sepatu, dan pada setiap kakinya, dan kedua tangannya juga, ada terselubung masing-masing dua buah gelang emas, hingga berbareng sama tindakannya, gelang-gelang itu perdengarkan suara beradu berkontrangan....
Kulitnya pun putih dan halus, seperti kumala saja, sedang rambutnya yang bagus, terurai turun ke pundaknya, bongkotnya tergelung dengan satu gelang emas juga.
Nona manis ini menghampiri kursi kebesaran, untuk duduk di atasnya.
Di belakang nona ini mengikuti dua nona lain, yang masih muda sekali, yang membawa kipas dari bulu burung.
Nona ini tertawa sebelumnya dia buka mulutnya.
"Aha, ada begini banyak tetamu!"
Katanya.
"Lekas siapkan kursi. Silahkan duduk!"
Beberapa kacung segera lari ke dalam, untuk balik lagi bersama beberapa buah kursi, yang mereka bawa kepada Sin Tjie beramai, yang mereka undang duduk.
Sin Tjie beramai telah terbenam dalam teka-teki, hingga mereka memikir tak sudahnya.
Apakah si cantik ini yang disebutkan Ho Tiat Tjhioe, kepala dari Ngo Tok Kauw, yang Sian Tiat Seng jerikan bagaikan serigala atau harimau?
Apa mungkin kepala agama ini masih begini muda dan cantik sekali rupanya?
"Aku mohon tanya she dan nama besar dari sekalian tetamuku,"
Kemudian berkata si juwita itu, dengan suaranya yang halus dan merdu, sedang matanya mengawasi dengan tajam.
"Aku adalah she Wan dan ini semua adalah sahabat-sahabatku,"
Sin Tjie menjawab.
"Apa aku boleh tanya she nona yang mulia?"
"Aku she Ho,"
Sahut si nona. Bercekat hatinya pemuda kita.
"Benarlah dia kauwtjoe dari Ngo Tok Kauw,"
Pikirnya. Kemudian si nona menanya.
"Apakah tuan datang untuk urusan uang negara?"
"Untuk aku sendiri, bukan,"
Jawab Sin Tjie. Ia terus tunjuk Sian Tiat Seng, sambil menambahkan.
"Ini sahabatku she Sian makan gaji negara, kami sebagai rakyat jelata, kami Baru saja berkenalan dengannya. Mengenai urusan negara, kami tidak berani campur tahu...."
"Bagus!"
Kata si nona.
"Tapi kamu telah datang kemari, apa kehendakmu?"
"Aku ada punya satu sahabat she Thia,"
Sahut Sin Tjie.
"Aku tidak tahu, dalam hal apa dia telah berbuat salah kepada pihakmu, dia telah mendapat luka yang hebat. Karena itu aku datang kemari, untuk minta keterangan. Andai kata ini ada urusan salah mengerti dengan satu dua patah kata saja, urusan bisa dibikin habis."
"Oh, kiranya kamu ada sahabat-sahabatnya Loo-hoetjoe Thia Tjeng Tiok!"
Kata si nona.
"Inilah lain. Tadinya aku menyangka Wan Siangkong termasuk dalam rombongan kukukuku garuda! Mana orang-orang. Suguhkan air teh!"
Beberapa kacung bergerak pula, untuk gotong meja kecil, buat menyediakan teh.
Sin Tjie beramai lihat air teh bersemu hijau guram, entah teh apa itu, walaupun baunya wangi, mereka tidak berani lancang meminumnya.
"Menurut katanya Tjee Soeheng,"
Si nona berkata pula.
"Wan Siangkong ada seorang yang manis budi dan gemar bersahabat, dan siangkong pun mempunyai mustika kodok es, maka dari bermula aku telah menduga, siangkong pasti bukannya bangsa kuku garuda..."
Heran juga Sin Tjie.
Nona ini menjadi kauwtjoe, kenapa dia bahasakan soeheng, kakak seperguruan kepada Tjee In Go?
Bukankah, melihat kenyataan, orang she Tjee ini adalah anggota, orang sebawahan?
"Mustika kodok dari Wan Siangkong mukjizat sekali,"
Kata pula si nona.
"Apakah siangkong sudi akan perlihatkan itu kepadaku agar mataku jadi terbuka?"
Tak sudi Sin Tjie serahkan mustikanya itu kepada nona ini, ia kuatir orang tidak nanti mengembalikan, seperti perbuatannya Tjee In Go, maka itu, ketika ia keluarkan itu, lantas saja ia tempelkan di lukanya Sian Tiat Seng, siapa memang membutuhkan pertolongannya.
Semua orang Ngo Tok Kauw itu segera saksikan bekerjanya mustika, darah beracun dari lukanya si kepala opas sudah lantas disedot keluar, maka itu, semua mereka nampaknya sangat ketarik hati.
"Sungguh dahsyat!"
Seru si nona.
"Aku cuma kuatir, kalau bisa yang paling beracun, dia tak dapat memunahkannya..."
Sin Tjie heran juga. Kenapa si nona masih sangsikan mustikanya itu? Tapi ia cerdik.
"Itulah mungkin,"
Katanya.
"Di kolong langit ini, benda atau mahluk yang berbisa ada sangat banyak macamnya. Mustika sekecil ini, mana dia dapat berbuat demikian banyak?"
Akan tetapi Tjeng Tjeng berpikir lain, ia tak puas. Maka ia campur bicara.
"Itulah tidak bisa jadi!"
Demikian katanya. Si nona puas dan girang mendengar perkataannya Sin Tjie, tetapi kapan ia dengar suaranya Tjeng Tjeng, ia perdengarkan suara di hidung.
"Hm!"
Lalu ia tambahkan.
"Ambil Ngo-seng!"
"Ngo-seng"
Itu berarti "lima nabi".
Lima kacung segera keluar dari barisannya, untuk pergi ke dalam, kemudian mereka keluar pula dengan membawa lima peti besi, sedang lima kacung lainnya menggotong sebuah meja, yang mereka letaki di tengah-tengah singgasana.
Habis itu, semua sepuluh kacung itu berdiri mengitari meja.
Menarik perhatian adalah kelima bocah itu, mereka masing-masing memegang peti besi yang warna catnya sama dengan warna pakaian mereka.
merah-merah, kuning-kuning, demikian seterusnya.
"Nampaknya gerak-gerik mereka ini mirip dengan cara siluman,"
Pikir Sin Tjie.
"tetapi mereka mengatur diri menurut ngoheng, mereka tak bertindak sembarangan..."
Setelah itu muncullah satu orang dari barisan kiri, yang nomor dua, yang dandan sebagai suku bangsa Ie.
Dia bertubuh kekar.
Dia menghampiri meja, untuk berdiri di pinggiran, kemudian dari sakunya, dia keluarkan sehelai bendera hijau.
Dengan pelahan, dia kibarkan itu.
Atas ini, kelima bocah buka tutupnya masing-masing peti besi mereka.
Kapan Tjeng Tjeng telah lihat apa isinya semua itu, tanpa merasa, dia keluarkan seruan tertahan.
Dari dalam sesuatu peti itu mencelat keluar masing-masing seekor binatang berbisa, ialah ular hijau, kelabang, kalajengking, kawa-kawa dan kodok dingdang.
Kembali si orang she Ie kibaskan benderanya.
Menyusul ini, semua sepuluh kacung undurkan diri dari samping meja.
Sebaliknya, sebagai gantinya, dari dalam kedua barisan , keluar empat orang, yang hampirkan meja, untuk berdiri di sekitarnya, untuk lantas beraksi sendiri-sendiri, ada yang membaca mantera, ada yang jalan dengan tangan sebagai kaki.
Sin Tjie menyaksikan sambil pikirannya bekerja.
"Jikalau pertempuran sampai mesti terjadi, mungkin pihakku tidak bakal kalah, akan tetapi tindak-tanduk mereka ini luar biasa, maka tak dapat aku berlaku semberono. Tak dapat mereka dipandang enteng..."
Di atas meja, ular hijau panjangnya satu kaki lebih, tidak ada bagiannya yang istimewa, sedang empat binatang lainnya, semua biasa saja, cuma sedikit lebih panjang atau besar dari umumnya.
Lima macam binatang itu lantas bergerak-gerak, jalan memutari muka meja; lantas mereka perlihatkan sikap seperti hendak saling serang, untuk terkam, terutama hawa-hawa beracun itu, tak henti-hentinya dia muntahkan jaringnya, untuk ia membuat bentengan di satu pojokan.
Sang kala adalah yang paling tak tahan sabar, dialah yang paling dulu serang bentengnya sang kawa-kawa.
Satu kali saja dia menerjang, dia telah putuskan beberapa tali jaring, lantas dia mundur pula.
Sang kawa-kawa awasi sang kala, lalu ia muntahkan pula galagasinya, untuk perbaiki jaringnya yang dirusak itu.
Kembali sang kalajengking menerjang, lalu itu diulangi sampai beberapa kali, karena itu, tubuhnya lantas ketempelan galagasi, hingga dengan sendirinya, gerakannya menjadi lebih lambat.
Ada beberapa kakinya yang terlibat sampai tak dapat dibebaskan.
Adalah setelah itu, sang kawa-kawa mulai dengan serangan pembalasannya, saban kali dia menerjang, dia muntah, hingga kesudahannya, tubuh sang kala terlibat jaringnya itu.
Baru setelah itu, sang kawa-kawa merayap ke depan musuhnya ini, untuk diawasi dengan tajam.
Satu kali sang kawa-kawa ulur sebuah kakinya kepada musuh, sang kala geraki ekornya, untuk mengantup, tetapi begitu dia menyambar, penyerangnya segera tarik pulang kakinya, sambil mundur pula.
Sang kala gesit, sang kawa-kawa lebih gesit pula.
Serangan sang kawa-kawa itu, yang merupakan gangguan, diulang beberapa kali, hingga sang kala jadi sangat gusar, satu kali dia kerahkan antero tenaganya, dia lompat menerkam.
Sang kawa-kawa berkelit, dia luput dari bahaya.
Tapi sang kala, dia telah berlompat keras, tak dapat dia pertahankan diri lagi, dia terjatuh ke dalam jaring musuh dimana dia ngamuk kelabakan, untuk loloskan diri.
Sang kawa-kawa lihat jaringnya ada yang putus, lekas-lekas ia menambalnya, untuk memperbaiki, hingga sang musuh tetap masih terkurung.
Sesudah berontak-rontak sekian lama, sang kala jadi kendor dengan perlawanannya, rupanya mulai habislah tenaganya.
Maka menggunai ketikanya yang baik, sang kawa-kawa menubruk, terus dia menggigit.
Sedang sang kawa-kawa hendak binasakan korbannya, mendadak sang kodok datang menerjang.
Binatang ini semburkan bisanya, dia dobolkan jaring musuh, lantas dia ulur lidahnya, untuk sambar tubuh sang kala, untuk ditarik keluar dari jaring.
Cuma dengan satu kali caplok, dia telah telan sang kala masuk ke dalam perutnya!
Sang kawa-kawa menjadi gusar, dia terjang musuh baru ini.
Sang kodok bersiap-sedia, begitu serangan datang, dia ulur lidahnya, akan sambar kawakawa itu, untuk dibetot masuk ke dalam perutnya.
Tapi sang kawa-kawa pentang mulutnya, dia sambar dan gigit lidah musuh.
Sang kodok pun liehay, cepat-cepat dia tarik pulang lidahnya.
Setelah itu, sang kawa-kawa merayap ke kirinya sang kodok, tidak perduli sang kodok ini waspada, dia muntahkan benangnya, terus dia berlompat ke atas bebokong sang kodok, untuk melewatinya, benangnya diulur sekalian, sembari lompat lewat, dia gigit bebokong musuh.
"Binatang ini cerdik,"
Kata Tjeng Tjeng, yang menjadi kagum.
Ketika sang kodok egos tubuhnya, sang kawa-kawa sudah lompat lewati dia, di lain pihak, bisanya sang kawa-kawa sudah lantas bekerja, maka di lain saat, tergulinglah sang kodok ini, dia rebah celentang, terus dia mati!
Di pihak lain, sang ular hijau sedang dikejar oleh sang kelabang, agaknya dia ketakutan sekali, hingga dia lari di samping tubuh sang kodok, sembari lewat, mendadak dia pentang mulutnya, dia sambar sang kawa-kawa, untuk dicaplok masuk ke dalam perutnya!
Kemudian dengan satu caplokan lain, dia sambar juga tubuh sang kodok.
Melihat demikian, sang kelabang lalu sambar bangkai kodok itu, hingga sekarang mereka jadi berkutatan, saling tarik.
Rupanya sang kelabang tahu, apabila berhasil sang ular makan tiga kurbannya, musuh ini bakal jadi terlalu tangguh untuknya, sebab tiga macam racun, empat dengan kepunyaannya sendiri, sang ular pasti sukar untuk dikalahkan.
Dalam pertempuran tenaga itu, sang ular kalah ulet, dengan pelahan, dia kena terbetot sang kelabang, dan sang kelabang sudah mulai gigit tubuhnya sang kodok.
Bingung sang ular, ingin dia lepaskan tubuh sang kodok, untuk pergi lari, agaknya dia sangsi.
Pun sulit untuk dia muntahkan tubuh sang kodok itu, karena biasanya dia punya gigi, bagaikan gaetan, menyantel barang, dan biasanya dia cuma menelan, tak bisa melepehkan.
Benar saja, sebentar kemudian sang ular telah jadi kurbannya sang kelabang.
Setelah menjadi juara, dengan perut pun kenyang, kelabang itu jalan putari meja, dia angkat kepalanya, agaknya dia sangat puas dan bangga.
Sin Tjie lihat kelabang itu, dengan perutnya gendut, tidak kendor gerak-geriknya, ia menjadi heran.
"Binatang ini kuat makannya,"
Kata dia pada Tjeng Tjeng.
"Dia telah makan empat macam bisa, dia sekarang menjadi Tay-seng, nabi terbesar,"
Ho Tiat Tjhioe, kepala dari Ngo Tok Kauw, nyeletuk terhadap Sin Tjie.
"Dia sekarang jadi bertambah tangguh, hingga dia sanggup telan lagi beberapa ekor lainnya!"
Sin Tjie agaknya tidak percaya keterangan itu, melihat demikian, kauwtjoe dari Ngo Tok Kauw perintah kacungnya.
"Pergi ambil Tjeng-djie!"
Seorang kacung pergi ke dalam, untuk muncul bersama tujuh ekor ular hijau, ialah yang si kepala agama namakan "Tjeng-djie", si "hijau".
Semua ular itu dilepas di atas meja, yang kelung itu.
Melihat ada musuh baru, sang kelabang lantas lompat maju, untuk menerkam.
Tujuh ekor ular itu kumpulkan diri menjadi satu lingkaran, masing-masing keluarkan kepalanya, untuk tangkis serbuan.
Dengan begitu, pertempuran sudah lantas berlangsung.
Beberapa kali sang kelabang menerjang, akhirnya dia dapat gigit lehernya seekor musuh, yang terus dia betot keluar dari dalam rombongannya.
Setelah berhasil, sang kelabang tidak lantas makan daging musuh, ia hanya letaki itu di belakang, ia sendiri mulai lagi dengan penyerangannya terlebih jauh kepada musuhmusuhnya, hingga pertarungan jadi berlangsung pula.
Dalam saat itu, mendadak Kim-ie Tok Kay keluar dari dalam barisannya, dia hampirkan Ho Tiat Tjhioe di depan siapa ia berlutut dengan kaki sebelah.
"Kauw-tjoe, Kim-djie bergerak tak hentinya,"
Katanya.
"Kelihatannya tak dapat tidak, dia mesti dikasih keluar..."
Wanita cantik itu kerutkan alisnya.
"Ah, dia usil!"
Katanya.
"Baiklah!"
Tjee In Go rogoh sakunya, untuk keluarkan satu bumbung atau pipa besi, terus ia buka sumpelnya, untuk keluarkan isinya, ialah itu ular kecil warna kuning emas yang ia tangkap beberapa hari yang lalu sehabisnya si ular kecil tempur si ular besar.
Begitu keluar dari lobang bumbung, ular kuning itu lantas saja unjuk kegagahannya.
Dia berlompat ke atas meja, dia segera maju ke depan enam ekor ular hijau, untuk menghalang.
Melihat ular kuning ini, sang kelabang mundur dengan segera.
Enam ular hijau berkumpul jadi satu, mereka ringkaskan tubuh mereka.
Mereka berlaku begini begitu lekas tampak ular kuning emas itu, yang dipanggil si "Kim-djie", si "emas".
Ular kuning itu, tak perduli tubuhnya kecil sekali, sudah lantas serang sang kelabang.
Sin Tjie dan Tjeng Tjeng sudah saksikan kegagahannya, mereka tahu pasti, sang kelabang tidak punya pengharapan.
Benar saja, belum lama, sang kelabang kena digigit hingga dia mati seketika.
Lantas keenam ular hijau rubungi ular kuning emas itu, ada yang menjilat-jilat dengan lidahnya, rupanya untuk hunjuki rasa syukur.
"Tidak disangka, dalam kalangan ular pun ada pendekarnya!"
Kata Sin Tjie sambil tertawa. Dengan tiba-tiba saja timbul keinginannya si Nona Hee, rupanya dia ingat suatu apa.
"Aku inginkan ular kuning emas itu!"
Katanya. Ia berbisik di kuping pemuda kita.
"Omongan bocah cilik!"
Sin Tjie bilang.
"Mana orang sudi memberikannya?"
"Kau ingat tidak?"
Tjeng Tjeng berbisik pula.
"Apakah julukannya ayahku?"
Sin Tjie tergetar hatinya.
"Apa mungkin Kim Tjoa Long-koen ada hubungannya sama ular kuning emas ini?"
Katanya.
Ular kuning emas adalah "Kim-tjoa".
Sementara itu si uwah awasi Tjeng Tjeng tak hentinya, rupanya dia dengar perkataannya Sin Tjie, mendadak dia berlompat dari dalam rombongannya, dia berlompat kepada si Nona Hee seraya ulur kedua tangannya ke arah pundak nona itu.
"Kau pernah apa dengan Kim Tjoa Long-koen?"
Tanya dia. Aneh luar biasa! Begitu jelek romannya uwah ini, suaranya nyaring-halus bagaikan suara burung kenari, sedap didengarnya. Tjeng Tjeng kaget, dia lompat mundur.
"Apa kau mau?"
Dia menegur. Hampir berbareng dengan itu, dua orang yang mendampingi kiri dan kanannya Ho Kauwtjoe telah berlompat ke kedua sampingnya si uwah. Dengan berbareng mereka pun menegur.
"Dimana adanya sekarang si orang she Hee itu?"
Sin Tjie telah saksikan cara berlompat musuh yang gesit sekali, dia mengerti kedua orang itu bukannya orang-orang sembarangan, maka ia mengawasi dengan waspada.
Ia tampak mereka bertubuh tinggi kurus dan sedang, dan yang tubuhnya sedang itu bermuka hitam, romannya sebagai petani.
Rata-rata mereka berumur kurang-lebih lima-puluh tahun.
Dulu Tjeng Tjeng belum tahu asal-usul dirinya, dia merasa malu sendirinya, akan tetapi setelah dia dengar keterangan ibunya, dia jadi beruba sikap, dia malah sangat bangga terhadap ayahnya, kebanggaan itu tak pernah kunjung padam.
Maka itu, atas teguran kedua orang ini, dia angkat kepalanya.
"Kim Tjoa Long-koen itu ayahku,"
Dia jawab.
"Apa perlunya kau tanya tentang ayahku itu?"
Si wanita tua tertawa dengan sekonyong-konyong, suara tertawanya panjang, lagunya membuat orang jadi gentar hati.
"Jadinya dia belum mampus dan dia telah tinggalkan kau sebagai turunan celaka!"
Bentaknya.
"Ada dimana dia sekarang?"
Si jangkung-kurus menegur. Tjeng Tjeng angkat kepalanya.
"Perlu apa aku jawab kamu?"
Katanya secara menantang.
Sepasang alisnya si uwah terbangun, kedua tangannya menyambar muka Tjeng Tjeng.
Inilah hebat untuk nona Hee, yang tak keburu berkelit, sedang sepuluh jarinya wanita tua itu berkuku tajam semua.
Coba kuku beracun itu mengenai muka yang putih-bersih dan halus itu?
Sin Tjie ada di dekat Tjeng Tjeng, segera ia ayun tangan kanannya, yang ujung bajunya panjang, ia sampok kedua lengannya si penyerang, ia teruskan putar naik tangannya, untuk libat kedua lengan orang, setelah mana, dia mendorong.
Tidak ampun lagi, uwah itu terpelanting, dia jumpalitan, maka ketika tubuhnya mengenai tanah, dia jadi duduk numprah.
Kejadian itu membuat kaget semua anggauta Ngo Tok Kauw, sebab si wanita tua itu, Ho Ang Yo namanya, si Bunga Merah, adalah salah satu jago mereka, malah derajatnya lebih tinggi setingkat daripada kauwtjoe mereka.
Apa tidak aneh sekarang, jago itu rubuh di tangannya seorang anak muda yang tidak dikenal?
Dan jatuhnya pun secara demikian gampang?
Segera si jangkung-kurus, yang bernama Phoa Sioe Tat, dan si orang tani, yang bernama Thia Kie Soe, yang dalam rombongannya berkedudukan sebagai Tjo-yoe Hoe-hoat, atau pelindung kiri dan kanan dari ketua Ngo Tok Kauw, saling berpaling dan manggut, kemudian Sioe Tat kata secara menantang.
"Biarkan aku yang terima pengajaran!"
Dan ia terus maju.
"Wan Siangkong, biar aku yang sambut dia,"
Kata See Thian Kong pada Sin Tjie. Anak muda kita percaya, orang she See ini tentu bukan tandingan musuh itu, akan tetapi tidak leluasa untuk ia mencegah, maka ia pesan.
"Saudara See, gunai kipasmu! Jeriji tangan bersarung lancip, itulah senjata dia!"
See Thian Kong menurut, ia lantas keluarkan kipasnya, kipas Im-yang-sie, maka di lain saat, ia sudah bertempur sama musuh itu.
Di sebelah ini, seperti yang berjanji, Thia Kie Soe majukan diri dan disambut A Pa, si empeh gagah, malah berdua mereka lantas saja bertempur dengan seru sekali.
Pertempuran kalut menyusul dua rombongan yang pertama ini.
Orang-orang Ngo Tok Kauw mulai lebih dahulu, maka itu Ouw Koei Lam bersama Thie Lo Han dan Tjeng Tjeng terpaksa hunus senjata, untuk layani mereka, jikalau tidak, pasti See Thian Kong dan A Pa akan kena dikeroyok.
Adalah si uwah jelek, Ho Ang Yo, yang sebagai orang kalap lompat ke arah Tjeng Tjeng, agaknya dia sangat musuhkan si Nona Hee.
Sin Tjie percaya pengemis wanita tua itu mengandung kebencian hebat terhadap Tjeng Tjeng, entah ada dendaman apa, ia cuma duga, mestinya itu ada hubungannya dengan Kim Tjoa Long-koen, jikalau tidak, tidak nanti karena dengar disebutnya nama jago she Hee itu, uwah ini segera unjuk kemurkaan luar biasa.
Ia pun insyaf, tidak dapat uwah itu diijinkan turun tangan jahat terhadap Tjeng Tjeng, yang pasti bukan tandingannya.
Maka itu, begitu lekas orang telah datang dekat, selagi si uwah hendak serang Nona Hee, dengan sebat dia lompat ke sampingnya, akan jambak bebokong orang itu, akan terus diangkat tubuhnya dan dilemparkan!
Ho Thiat Tjhioe saksikan kejadian itu, air mukanya lantas berubah menjadi padam, segera ia bawa telunjuk kanannya ke mulutnya, untuk perdengarkan suitan, beberapa kali beruntun.
Kalau tadi orang-orang Ngo Tok Kauw maju dengan cepat sekali, untuk terjang musuh, maka sekarang, atas bunyinya suitan itu, mereka mundur dengan tak kurang sebatnya, semua lantas berkumpul di sebelah belakang kauwtjoe mereka, berdiri rapi dalam dua barisan.
Setelah itu, ratu agama itu perlihatkan senyumannya.
"Wan Siangkong,"
Katanya dengan sabar dan manis.
"nampaknya kau begini lemahlembut, tidak disangka-sangka, ilmu kepandaianmu liehay sekali. Wan Siangkong, biarlah aku yang main-main barang beberapa jurus denganmu..."
Sin Tjie tidak lantas terima tantangan itu.
"Satu hal membuat aku tidak mengerti,"
Katanya.
"Sahabat-sahabatku ini semua tidak kenal-mengenal dengan rombonganmu, tak tahu kami, di bahagian mana kami telah bersalah terhadap kamu. Walaupun demikian, aku yang rendah bersedia untuk menghaturkan maaf."
Wajahnya Ho Tiat Tjhioe merah karena pertanyaan itu yang berupa teguran.
"Sebenarnya, kami cuma berurusan dengan pihak pembesar negeri,"
Kata dia dengan pelahan, suaranya halus.
"Pasti sekali Wan Siangkong tidak mengerti duduknya hal. Tapi ini biarlah. Barusan ada disebut-sebut nama Kim Tjoa Long-koen, hal menjadi lain. Sekarang siauw-moay mohon tanya, Kim Tjoa Long-koen itu ada di mana?"
Sin Tjie berlaku hormat dan merendah, ratu agama itu pun bersikap manis, hingga ia membahasakan diri siauw-moay, adik yang kecil. Tjeng Tjeng tarik tangannya Sin Tjie.
"Jangan beri tahu,"
Dia kisiki itu pemuda.
"Apakah kauw-tjoe memang kenal Kim Tjoa Long-koen?"
Sin Tjie balik menanya.
"Dengan kaumku, dia punya hubungan yang sangat erat,"
Sahut kepala agama dari Ngo Tok Kauw itu.
"Ayahku telah meninggal dunia karena dia. Karenanya, dari dua puluh ribu anggauta Ngo Tok Kauw kami, tidak ada satu anggauta yang tidak berniat mencari padanya!"
Diam-diam Sin Tjie terperanjat, juga Tjeng Tjeng.
Itulah hebat!
Apakah urusan itu?
Sayang mereka belum pernah ketemu sama Kim Tjoa Long-koen, hingga mereka tidak dapat tanyakan sebabnya urusan itu.
Mereka heran, kenapa Kim Tjoa Long-koen telah tanam permusuhan dengan rombongan agama yang memuja bisa ini?
Terang sekali kebencian sangat dari pihak Ngo Tok Kauw itu.
"Kim Tjoa Long-koen berada di satu tempat yang terpisah laksaan lie dari sini,"
Sahut Sin Tjie.
"Aku kuatir tuan-tuan tak akan dapat cari dia sekalipun untuk selama-lamanya...."
"Jikalau begitu, tinggalkanlah puteranya ini di sini, untuk kami pakai dia sebagai kurban sembahyang roh ayahku!"
Kata Ho Tiat Tjhioe.
Kauw-tjoe ini percaya Nona Hee ada satu putera, sebab Tjeng Tjeng dandan sebagai satu pemuda.
Ia pun mempunyai gerak-gerik yang luar biasa sekali.
Ia gampang bersenyum, lagaknya mirip dengan nona-nona remaja yang kebanyakan, suaranya pun lembut, akan tetapi satu waktu, dia bisa unjuk keangkaran dan suaranya jadi keren.
Demikian kali ini.
Sin Tjie tetap berlaku tenang dan sabar.
"Adalah pembilangan sejak jaman purbakala, siapa melakukan sesuatu, dia sendiri yang harus bertanggung-jawab,"
Katanya.
"Kamu mempunyai sangkutan dengan Kim Tjoa Long-koen, baiklah kamu pergi cari dia itu sendiri."
Ho Tiat Tjhioe pun menjadi sabar pula ketika ia berkata lagi.
"Ketika dahulu ayahku almarhum menutup mata, siauw-moay Baru berusia tiga tahun,"
Katanya.
"Sudah dua-puluh tahun kami cari lootjianpwee she Hee itu, tidak juga siauwmoay berhasil. Itulah sebabnya kenapa siauw-moay ingin tahan puteranya ini. Kalau lootjianpwee itu ketahui puteranya berada di sini, pasti dia bakal datang mencari. Asal dia datang kemari maka urusan kita yang telah tertangguh lama itu segera akan menajdi beres."
Tjeng Tjeng jadi sangat gusar. Dia hendak ditahan, untuk dijadikan "manusia tanggungan". Itulah hebat. Maka tak dapat dia kendalikan diri lagi.
"Hm, bagus pikiranmu!"
Dia menjengeki.
"Aku nanti beritahu ayahku tentang tingkah tengik kamu ini, supaya dia bunuh mampus kamu semua!"
Ho Tiat Tjhioe tidak ladeni nona ini. Dia menoleh pada Ho Ang Yo.
"Adakah dia ini mirip dengan ayahnya?"
Tanya dia.
"Romannya mirip benar satu dengan lain, dan tabeatnya pun hampir sama!"
Jawab si uwah. Kauwtjoe itu segera hadapi Sin Tjie.
"Wan Siangkong, aku persilakan kamu semua pergi pulang,"
Kata dia.
"Kami cuma hendak menahan ini satu Hee Kongtjoe."
Dan ia geraki tangannya, sebagai tanda untuk mempersilahkan tetamu-tetamunya berangkat pergi. Sin Tjie berpikir dengan cepat.
"Dia cuma inginkan Tjeng Tjeng satu orang, karena keadaan di sini berbahaya, baik aku dului antar dia keluar. Yang lain-lain umpama kata mereka tidak dapat lolos, mereka tentu tidak terancam bahaya hebat..."
Maka lantas saja dia menjura kepada kepala agama itu.
"Nah, sampai ketemu pula!"
Katanya.
Berbareng dengan ucapannya itu, Sin Tjie sambar pinggang Tjeng Tjeng dengan tangan kiri, sambil pondong si nona, ia lompat ke arah tembok yang tinggi, tetapi ia tidak perdulikan itu.
Lagi sekali dia lompat, untuk enjot kedua kaki, pondongannya diangkat ke tinggi, untuk dilemparkan ke atas, untuk mana, tangan kanannya membantu menolak dengan keras.
"Hati-hati, adik Tjeng!"
Dia pesan.
Orang-orang Ngo Tok Kauw saksikan kejadian itu, mereka jadi sangat murka, untuk merintangi, beberapa di antaranya segera menyerang dengan senjata rahasianya masingmasing.
Sin Tjie kibaskan pulang-pergi tangannya, yang bertangan baju panjang, dengan itu ia halau sesuatu senjata rahasia musuh itu, yang pada jatuh ke tanah.
Tjeng Tjeng telah membarengi berlompat ketika ia diapungi Sin Tjie, ia jambret tembok, untuk naik keatasnya.
Justru itu, Ho Tiat Tjhioe lompat dari kursinya, dia serang Sin Tjie dengan tangan kirinya.
Anak muda ini terkesiap karena penyerangan kauw-tjoe itu.
Tangan yang menyerang belum sampai, anginnya sudah menyambar hidungnya.
Sejak dia turun gunung, belum pernah dia ketemu musuh yang liehay sekali, kecuali dia punya Djie-soeko Kwie Sin Sie.
Makanya, di sebelah terkejut, dia pun kagumi kepala agama Ngo Tok Kauw ini.
"Bagus!"
Dia berseru seraya egos tubuhnya, sambil berbuat mana, matanya segera tampak, tangan yang dipakai menyerang dia merupakan gaetan lancip dan tajam, warnanya hitam, hingga kembali ia jadi kaget.
Selagi menyerang Sin Tjie, tangan kanannya Ho Tiat Tjhioe terayun ke tinggi, ke arah Tjeng Tjeng, menyusul mana sebelah gelang emasnya melesat naik ke tembok.
"Kau turun!"
Dia berseru, suaranya nyaring tapi tetap halus.
Tjeng Tjeng merasakan sangat sakit pada kaki kirinya, tak dapat ia pertahankan itu, kedua tangannya pada tembok terlepas, ia rubuh ke kaki tembok.
Ho Ang Yo perdengarkan suara tertawanya yang panjang dan menyeramkan, dia berlompat kepada puterinya Kim Tjoa Long-koen, sepuluh jarinya yang tajam dan liehay, yang beracun, diarahkan kepada nona dalam penyamaran itu.
Sementara itu, Sin Tjie telah mesti layani Ho Tiat Tjhioe, yang habis serang Tjeng Tjeng dengan senjata rahasianya terus terjang pula anak muda ini, Tadi tidak sangka nona ini bisa membarengi menyerang Tjeng Tjeng, kalau tidak, tentu ia sudah menghalanginya.
Sekarang ia mesti layani serangan sangat hebat dari ini kepala agama.
Meski begitu, ia masih sempat perhatikan Tjeng Tjeng, maka tempo ia tampak serangan berbahaya dari Ho Ang Yo, dengan sebat ia serang uwah itu dengan beberapa butir biji caturnya, hingga semua sepuluh sarung kukunya si wanita tua jadi copot dari jeriji-jerijinya dan jatuh ke tanah, hingga Tjeng Tjeng jadi lolos dari ancaman malapetaka.
"Bagus!"
Ho Tiat Tjhioe puji lawannya, yang ia kagumkan kepandaiannya menggunai senjata rahasia itu, berbareng dengan mana, tangan kirinya tetap mendesak dua kali beruntun, karena tak pernah ia hambat serangannya.
Sin Tjie pun heran akan saksikan kedua tangannya lwan wanita ini, kedua tangan yang ia telah lihat dengan tegas.
Tangan kanan si nona putih dan halus, bagaikan es atau salju, lima jarinya lurus dan lentik, kelima kukunya dipakaikan cat kuku terbuat dari sarinya bunga hongsian, kapan tangan kanan itu dipakai menyerang, berbareng sama keliehayannya, pun ada menyiarkan bau harum.
Akan tetapi tangan kirinya, entah kenapa, seperti telah dikutungi sebatas telapakan tangan, sebagai gantinya dipasangi gaetan terbuat dari besi yang tajam sekali, gaetan mana bisa dikasi bekerja sama liehaynya dengan tangan biasa.
"Saudara See, lekas kamu cari jalan keluar!"
Seru Sin Tjie sambil terus layani si nona.
See Thian Kong beramai sebaliknya sudah dikurung rapat oleh orang-orang Ngo Tok Kauw itu, mereka berjumlah jauh lebih kecil, sulit untuk mereka menoblos kurungan.
Dalam melayani musuh, Sin Tjie pergunakan "Hok-houw-tjiang", ilmu silat "Menaklukkan Harimau".
Ia sebenarnya harus berlaku telengas, akan tetapi ia dapati lawannya desak ia dengan hebat tapi tanpa serangan-serangan yang membahayakan, orang seperti memandang-mandang kepadanya, ia pun jadi berlaku tenang.
Rupanya, kalau bisa, si nona hendak dapat rabah tubuh si anak muda, untuk ditangkap tanpa berdaya...
Selama pertempuran berlangsung itu, Tjeng Tjeng numprah saja di tanah, tak dapat ia bangun berdiri.
Sin Tjie lihat keadaan kawannya itu, ia niat menolong, maka ia lantas desa Ho Tiat Tjhioe, lalu selagi si nona mundur, mendadak dia lompat pada Nona Hee, untuk dikasi bangun.
Hampir berbareng dengan itu, Sin Tjie dengar suara beradu keras.
Itulah Thie Lo Han, yang bentrok hebat dengan Thia Kie Soe.
Atas bentrokan itu, tauwtoo ini berseru, lalu ia menyerang lagi, dengan hebat, hanya kali ini, Baru beberapa jurus, ia telah rasai tangannya sakit dan berat.
Sebab tangan itu menjadi bengkak dengan lekas sekali, hingga berbareng sangat mendongkol, dia pun sibuk.
"Tangan musuh ada racunnya semua, awas!"
Dia teriaki kawan-kawannya, untuk diberi peringatan.
Mendengar seruan dari kawan itu, mendadak Sin Tjie ingat, semua musuh dari Ngo Tok Kauw itu telah pahamkan Tok-see-tjiang, ilmu "Tangan Pasir Beracun"
Yang liehay, asal orang kena terserang, mesti dia jadi kurbannya racun.
Karena ini ia anggap, benar-benar pihaknya sedang terancam bahaya hebat, bila tidak lekas-lekas mereka loloskan diri, mereka akan hadapi malapetaka, semua bakal terkubur di sarang penjahat itu.
Ho Tiat Tjhioe berlaku gesit, menampak lawannya tolongi puterinya Kim Tjoa Long-koen, dia mendesak pula.
"Ho Kauw-tjoe!"
Sin Tjie berkata.
"kita berdua tidak kenal satu dengan lain, kita tidak pernah bermusuhan, kenapa kau desak kami begini rupa? Jikalau kau tidak ijinkan kami berlalu dari sini, jangan nanti kau sesalkan aku keterlaluan!"
Nona she Ho itu, kepala dari Ngo Tok Kauw, tertawa manis, hingga kelihatanlah sepasang sujennya.
"Kami cuma menghendaki supaya Hee Kongtjoe ditinggal di sini,"
Katanya.
"Untuk yang lain-lain, silahkan pergi!"
Tentu saja tak sudi Sin Tjie tinggal Tjeng Tjeng.
Maka ia sambut jawaban itu dengan sapuan kaki kiri sambil berbareng tangan kanannya menyambar ke muka si nona.
Ho Tiat Tjhioe tolong diri sambil berlompat seraya tangannya yang sebelah dipakai menangkis, untuk papaki tangan kanan lawannya itu.
Akan tetapi sebelum kedua tangan bentrok, cepat-cepat dia egos tangannya itu, ia baliki untuk pakai jarinya menotok lawan punya jalan darah kiok-tie-hiat.
Sebat luar biasa perubahan gerakan tangannya ini.
"Bagus!"
Sin Tjie memuji dengan suaranya pelahan seraya ia elakkan tangannya itu dari totokan, sedang dengan tangan kirinya, ia membabat batang leher lawan itu.
Ia telah dapat kenyataan, walaupun si nona bertangan beracun, dia toh jeri untuk seranganserangannya.
Habis ini, ia mengubah serangan dengan "Poh-giok-koen" , ilmu silat "Memecahkan batu kumala" , ilmu pukulan mana Lauw Pwee Seng tidak sanggup melayaninya selama lima jurus meskipun Pwee Seng dijuluki "Sin-koen Thay-Po".
"pahlawan kepala" . Ho Tiat Tjhioe liehay, akan tetapi didesak dengan ini ilmu pukulan yang Baru, dia repot juga, tidak berani dia sembarang menangkis, kalau tadinya ia sering bersenyum, sekarang romannya jadi sungguh-sungguh, tandanya ia tidak berani memandang enteng lagi. Ia segera perlihatkan keentengan tubuhnya, kelincahannya, untuk bisa melayani terus. Tapi, selagi ia berlaku cepat, gerakannya Sin Tjie lebih gesit pula. Kemudian, sedangnya si nona mundur karena terdesak, hingga mereka datang dekat kepada Kim-ie Tok Kay Tjee In Go, dengan mendadak pemuda kita serang si pengemis tak berbudi itu -dengan kepalan tangan.
"Bagus!"
Berseru Tjee In Go, yang lihat serangan itu sambil menangkis dengan tangannya yang kiri, untuk bentur tangan lawan.
Sin Tjie mendak, tangan kanannya ditarik pulang, sebaliknya, tangan kirinya dipakai menyambar ujung baju lawannya itu, untuk dipegang, berbareng dengan mana, kaki kanannya dimajukan, untuk dipakai menggaet kedua kaki lawan itu, sedang kaki kirinya, sebat sekali, ia pakai menjejak dengkul kanan lawan tepat bahagian batok dengkul itu.
Tjee In Go tidak berdaya untuk pelbagai serangan berbareng itu, tak sempat ia singkirkan kakinya itu, malah tak bisa ia berbuat demikian, karena kaki kanan musuhnya sudah mendahului melibat.
Dengan hebat ia kena terjejak, sampai batok dengkulnya seperti mau copot, hingga ia merasakan sakit bukan kepalang.
Tidak ampun lagi, ia rubuh mendeprok!
Ouw Koei Lam adalah yang lawan Kim-ie Tok Kay, melihat sang lawan rubuh, dia lantas meninggalkannya, untuk pergi hampirkan tiga musuh yang sedang kerubuti See Thian Kong.
"Mundur ke tembok!"
Teriak Sin Tjie.
"Aku nanti yang menolongi!"
Mendengar itu, Koei Lam batal membantui Thian Kong, sebaliknya ia dekati Tjeng Tjeng, untuk bawa dia ini ke tepi tembok, kemudian ia pun kumpuli Thie Lo Han dan Sian Tiat Seng yang pada terluka.
Sin Tjie sendiri segera perhatikan lain-lain kawannya.
Ia lihat bagaimana See Thian Kong dan A Pa masing-masing melayani tiga musuh yang sedang kepung mereka itu.
Tidak tempo lagi, ia bergerak untuk berikan pertolongannya.
Untuk ini, ia tendang bergantian dua orang Ngo Tok Kauw, yang menerjang kepadanya, setelah mereka ini rubuh, ia lompat kearah See Thian Kong.
Tiga penyerangnya orang she See itu pun telah mendapatkan luka-luka tak berarti, masih mereka mengepung terus.
Sin Tjie lantas serang mereka itu, tapi ia tidak ingin mencelakai terlalu banyak orang, iapun segar bentur tangan-tangan Tok-see-tjiang, maka ia berkelahi dengan ilmu silatnya "Hoen-kin Tjo-koet-tjhioe", saban-saban ia bikin orang rubuh pingsan atau tak mampu bergerak lagi.
Sebentar saja, See Thian Kong telah dapat dibebaskan dari kepungan, maka itu, pemuda ini lantas hampirkan A Pa, si empeh gagu.
Dia ini dikepung bertiga, tidak bisa dia kalahkan musuh-musuhnya tetapi ia sendiri masih cukup gagah, leluasa ia melayaninya, sebab ia telah wariskan cukup baik ilmu silat Hoa San Pay.
Ho Tiat Tjhioe tampak keadaan merugikan pihaknya, ia perdengarkan pula suitannya, maka sekarang orang-orang Ngo Tok Kauw meluruk pada Sin Tjie dan si empeh gagu.
Melihat demikian, Sin Tjie unjuk kegesitannya, dengan cepat ia rubuhkan satu lawan dan lukai lengannya yang lain, sedang A Pa dapat kesempatan toyor musuhnya yang ketiga selagi dia ini terkesiap mendapatkan dua kawannya kena dikalahkan.
A Pa telah jadi sangat sengit, ingin ia susuli musuhnya yang telah mengeluarkan kecap dari hidungnya, akan tetapi Sin Tjie tarik ia kekaki tembok dimana kawan-kawan mereka sudah berkumpul menjadi satu, sedang dilain pihak, orang-orang Ngo Tok Kauw pun sudah berkumpul, untuk taati titah kepala agamanya, akan serbu musuh.
Rombongan Ngo Tok Kauw ini menjagoi diwilayah Inlam, sesuatu orang kang-ouw, atau Sungai Telaga, mendengar nama mereka saja sudah kerutkan alis dan menggeleng kepala, semua jeri, karena tidak saja mereka liehay ilmu silatnya, yang sangat dimalui adalah kuku-kuku mereka yang berbisa, siapa terkena kuku itu, asal lecet saja, tentu bakal terbinasa.
Akan tetapi, siapa nyana, di Utara ini, Baru mereka datang, mereka telah menghadapi musuh yang liehay, maka disebelahnya kaget dan heran, mereka pun mendongkol dan gusar sekali.
Begitu Ho Tiat Tjhioe, dengan suitannya, ia telah beri tanda untuk orang-orangnya meluruk kepada musuh mereka.
"Kamu semua lekas menyingkir, aku nanti pegat mereka!"
Seru Sin Tjie pada kawannya.
Ouw Koei Lam, yang kepandaiannya entengi tubuh cukup liehay, taati seruannya pemuda itu, yang berbareng jadi beng-tjoe, ketua ikatan, dari tujuh propinsi.
Dengan kepandaiannya "Pek-houw yoe tjhong kong,"
Atau "Cecak memain ditembok,"
Dia merayap ditembok, untuk naik keatasnya, lalu dengan dibantu A Pa dan Thian Kong, ia sambut kawannya yang terluka.
Si empeh gagu dan Thian Kong adalah yang naik paling belakang.
Sin Tjie sementara itu sudah tangkis serbuan musuh-musuhnya, dengan cepat ia telah rubuhkan belasan orang, sesudah mana, dengan angkat kedua tangannya, ia beri hormat pada kauwtjoe dari Ngo Tok Kauw.
"Nona Kauw-tjoe, sampai ketemu pula, sampai ketemu pula!"
Katanya, kemudian dengan bebokongnya ditempel pada tembok, hingga dilain saat, ia sudah nyerosot naik ditembok itu.
Sebentar saja, ia pasti akan sudah sampai diatas.
Ho Ang Yo si wanita tua menjerit melihat orang hendak kabur, ia enjot kedua kakinya, untuk apungi diri, akan sambar musuh itu, sedang lima jari tangannya mendahului, menyerang ke jurusan tubuh sang lawan.
Ia percaya, selagi nyerosot naik, musuh itu tidak bakal sanggup menangkis atau mengelakkan serangannya itu.
Sin Tjie memang berada dalam keadaan keponggok, tak bisa ia berkelit, akan tetapi kedua tangannya ada merdeka, begitu diserang, ia kibaskan tangan kirinya, yang ujung bajunya panjang, hingga tangannya si uwah jelek jadi kena tersampok, sampai tangan dengan kuku-kuku yang liehay itu berbalik menyerang ke arah dirinya sendiri.
Kaget sekali wanita tua-bangkotan ini.
"Apakah kau ada muridnya Kim Tjoa Long-koen?"
Tegur dia. Heran Sin Tjie mendengar ini.
"Mesti ada hubungannya di antara dia dan Kim Tjoa Longkoen,"
Pikirnya.
Karena uwah ini kenali diapunya ilmu pukulan menghalau serangan kuku yang berbahaya itu.
Walaupun ia heran, Sin Tjie toh tidak berhentikan gerakan tubuhnya, malah belum sempat dia menjawab, dia sudah sampai di atas tembok, akan terus lompat kesebelah luar, untuk susul kawan-kawannya.
A Pa beramai telah lindungi Tjeng Tjeng sampai ditembok yang keempat, justru itu, mereka dengar satu suara berkeresek yang nyaring menyusul mana pada tembok terbukalah satu lowongan beberapa kaki lebarnya.
Sin Tjie tahu, itulah pintu rahasia, maka untuk lindungi A Pa semua, ia lompat melesat kearah pintu rahasia itu, tanpa berayal lagi ia menyerang dengan kedua tangannya dengan tipu-silatnya "Pay san to hay"
Atau "Mendorong gunung untuk menguruk lautan."
Berbareng sama terpentangnya pintu rahasia, serombongan orang Ngo Tok Kauw tertampak meluruk datang, untuk keluar dari situ, tetapi dua yang maju paling depan telah jadi kurban serangannya anak muda kita, tanpa ampun mereka rubuh jumpalitan beberapa kali, kembali kesebelah dalam, karena mana kawan-kawannya jadi merandak, tak berani mereka lancang maju.
Phoa Sioe Tat licik, dia lantas berikan tanda titahnya, atas mana empat anggauta Ngo Tok Kauw segera angkat bumbung mereka, yang merupakan sumpitan, untuk menyemburkan barang cair kearah Sin Tjie.
Itu adalah air racun mereka.
Sin Tjie kaget sekali, belum ia sampai kena tersemprot, hawa busuk telah bikin kepalanya rada pusing, syukur ia dapat berlompat mundur dengan cepat, ia jadi lolos dari bahaya.
Dengan menyingkir jauh-jauh, semprotan air racun tidak sampai kepadanya, air racun itu jadi menyiram melulahan disebelah depan dia.
Air racun itu bersemu hitam dan baunya keras.
Tembok di belakang Sin Tjie ada tembok kuning, yang jauh lebih kate daripada temboktembok lainnya disebelah dalam, maka itu di sini ia tidak gunai ilmu merayapnya "Cecak main ditembok,"
Ia hanya enjot tubuhnya, untuk berlompat, hingga dilain saat, ia sudah sampai kebahagian atas tembok.
Dari sini ia lompat keluar dengan tidak memutar tubuh lagi, hanya sambil lompat jumpalitan, secara begini ia jadi tidak mensiasiakan tempo.
Ho Tiat Tjhioe dapat lihat cara berlompat itu.
"Bagus!"
Serunya tanpa dia merasa.
Sin Tjie susul kawannya terus sampai ditembok terakhir, yang warnanya hitam.
Ia tidak lihat orang mengejar akan tetapi tak mau ia membuang-buang tempo.
Malah untuk bisa lari lebih cepat lagi, ia sambar Tjeng Tjeng, untuk dipanggul dibelakangnya, bersama semua kawannya itu, ia kabur terus.
Benar disaat mereka mendatangi dekat rumah mereka, Sin Tjie merasakan gatal-gatal pada pundaknya, ada hawa panas yang menghembusnya, apabila ia menoleh ke belakang, Tjeng Tjeng tertawai ia, si nona cekikikan pelahan.
Maka legalah hatinya, sebab itu ada suatu tanda kawan ini tidak terluka parah.
Segera setelah sampai didalam rumah, Sin Tjie lantas keluarkan mustikanya, untuk tolongi Thie Lo Han dan Sian Tiat Seng, kemudian Baru ia periksa lukanya Tjeng Tjeng, yang menjadi kurban senjata rahasia yang berupa gelang dari kepala agama Ngo Tok Kauw.
Kakinya si nona, yang terkena gelang, yang tadinya putih-bersih, sekarang telah menjadi berwarna hitam dan bengkak juga, suatu tanda liehaynya serangan dari Ho Tiat Tjhioe.
Sin Tjie lantas mengobatinya.
Adalah kemudian, selagi semua orang beristirahat, Sin Tjie minta keterangan pada Sian Tiat Seng tentang Ngo Tok Kauw, itu pengemis yang memuja ular berbisa.
"Ngo Tok Kauw itu biasanya tidak pernah melintas keluar dari wilayah mereka, keempat propinsi Inlam, Kwietjioo, Kwiesay dan Kwietang, sama sekali belum pernah mereka datang ke Utara,"
Sahut Tokgan Sin-Liong dengan keterangannya.
"meskipun demikian, umum ketahui baik keliehayan mereka. Sekalipun dalam kalangan Rimba Persilatan, asal orang omong tentang Ngo Tok Kauw, wajah muka orang pasti berubah karena gelisah sendirinya. Sebegitu jauh yang aku ketahui, tak pernah ada orang yang berani main gila terhadap rombongan pengemis itu."
Thia Tjeng Tiok diam saja sedari tadi, ia telah kerutkan alis ketika ia dengar hal pertempuran di gedung Pangeran Seng Ong itu, akan tetapi, seperti orang yang ingat suatu apa, sehabis katanya Sian Tiat Seng, ia campur bicara.
"Wan Siangkong,"
Katanya.
"orang bilang Oey Bok Toodjin dari Boe Tong Pay telah terbinasa ditangannya kawanan Ngo Tok Kauw itu..."
"Bagaimana cara kematiannya itu? Siapakah yang telah menyaksikannja?"
Sin Tjie tanya.
"Jikalau ada yang telah menyaksikan, mestinya saksi itu sendiri tidak akan luput dari tangannya orang-orang Ngo Tok Kauw,"
Sahut Tjeng Tiok.
"Menurut kalangan orang kangouw, kebinasaannya Oey Bok Toodjin itu ada dalam cara sangat hebat dan menyedihkan. Pernah orang-orang Boe Tong Pay meluruk ke Inlam, untuk mencari balas, akan tetapi tidak ada hasilnya. Ngo Tok Kauw itu adalah satu rahasia untuk umum..."
Tiba-tiba See Thian Kong perdengarkan suara tak nyata, kemudian dia tegasi Tjeng Tiok.
"Saudara, Thia, apa benar-benar kau tidak kenal pengemis wanita tua itu?"
Ditanya begitu, Thia Tjeng Tiok perlihatkan roman duka.
"Aku percaya saudara-saudara merasa heran, sebenarnya aku mempunyai kesulitan, yang sukar untuk aku menjelaskannya,"
Kata dia kemudian. See Thian Kong tertawa.
"Aku pernah tempur kau, aku tahu, makin tua kau makin gagah!"
Katanya.
"Siapa juga tidak nanti bilang bahwa kau takut mati!" _ "Aku telah terima pesan orang, untuk itu aku telah beri kata-kataku dengan sumpah berat,"
Kata pula Thia Tjeng Tiok.
"maka itu, tak dapat aku bicara. Itu juga sebabnya kenapa aku tak ingin datang kebalai istirahat dari Pangeran Seng Ong itu."
Orang tahu, sebagai ketua dari Tjeng Tiok Pay, Tjeng Tiok tidak nanti bicara dusta, karenanya, orang tidak desak dia untuk menjelaskan kesulitannya itu.
Tapi karena itu, untuk sesaat, semua orang berdiam, mereka pada tunduk kepala, hingga gedung menjadi sunyi-senyap.
Dalam suasana terbenam itu, mendadak satu bujang datang masuk.
"Ada satu Nona Tjiauw mohon ketemu sama Wan Siangkong l"
Katanya. Tjeng Tjeng kerutkan alis dengan tiba-tiba.
"Dia datang, apakah dia mau?"
Katanya.
"Undang dia masuk !"
Sin Tjie perintah bujangnja.
Bujang itu menyahuti, lantas ia keluar.
Tidak lama ia sudah kembali bersama Tjiauw Wan Djie.
Begitu lekas ia berhadapan sama Sin Tjie, Nona Tjiauw segera berlutut, ia memberi hormat sambil menangis menggerung-serung.
Sin Tjie lihat orang pakai pakaian berkabung, hatinya sudah bercekat, tetapi karena si nona berlutut, ia lekas-lekas berlutut juga untuk membalas hormat.
"Silahkan bangun, Nona Tjiauw,"
Katanya kemudian, mempersilahkan.
"Apakah ayahmu baik?"
Masih nona itu menangis.
"Ayah, ayah telah dibunuh si orang she Bin..."
Katanya dengan tak lancar. Sin Tjie terperanjat, sampai ia berjingkrak.
"Bagainianakah duduknya hal?"
Tanya dia dengan bernapsu.
Wan Djie sudah berbangkit, ia lolosi satu bungkusannya, untuk diletaki diatas meja, terus ia buka.
Isinya itu sebatang pisau belati yang tajam mengkilap dimana antaranya ada sisa tanda-tanda darah terotolan.
Sin Tjie jumput senjata itu, untuk diperiksa.
Maka melihatlah ia ukiran huruf-huruf pada gagangnya, yang dikelam dengan emas, bunyinya "Bin Tjoe Hoa, murid Boe Tong Pay golongan huruf Tjoe".
Itu adalah senjata warisan atau tanda mata kepada setiap murid Boe Tong Pay, yang biasa diberikan kepada setiap murid yang telah rampungkan pelajarannja dan diijinkan turun gunung, keluar dari rumah perguruan.
"Ketika itu hari ayah pulang habis menghadirkan rapat besar di gunung Tay San,"
Tjiauw Wan Djie segera menerangkan.
"kami telah mampir di Tjietjioe untuk bermalam didalam sebuah rumah penginapan. Dihari besoknya, sampai siang ayah masih belum keluar dari kamar, maka aku pergi kekamarnya, untuk mengasi bangun. Akan tetapi ayah kedapatan sedang rebah dengan sudah tidak bernapas, didadanya tertancap sebatang pisau belati ini... Wan Siangkong, aku mohon sukalah kau pikirkan jalan untuk aku..."
Kembali Wan Djie menangis menggerung-gerung.
Mulanya Tjeng Tjeng heran atas kedatangan Nona Tjiauw itu, timbullah kecurigaannya, akan tetapi sekarang, melihat kesulitan orang itu dan menyaksikan keadaannya yang menyedihkan, timbullah rasa simpati dan kasihannya, lantas saja ia menghampirinya, untuk pegang tangannya Nona Tjiauw, akan susuti air matanya nona yang bernasib malang itu.
"Toako,"
Kata Tjeng Tjeng dilain pihak kepada Sin Tjie.
"orang she Bin itu sudah berjanji untuk bikin habis persengketaan, kenapa sekarang dia lakukan perbuatan hina-dina ini, membunuh secara menggelap? Tak dapat kita sudahi perkaranya ini!"
Sin Tjie tidak lantas menyahuti, hanya dia berdiam. Dia berpikir.
"Nona Tjiauw,"
Tanyanja kemudian.
"apakah setelah itu kau pernah bertemu sama orang she Bin ini?"
"Dua kali aku pernah bertemu padanya,"
Sahut Wan Djie dengan masih menangis sesenggukan.
"maka kami telah susul dia. Baru kemarin kami sampai di sini..."
"Bagus!"
Seru Tjeng Tjeng.
"Dia ada di Pakkhia, mari kita cari padanya! Adikku, kau sabar, kau tenangkan diri, pasti aku nanti membalas dendam untukmu!"
Thia Tjeng Tiok, See Thian Kong dan yang lain-lain berdiam saja.
Tjeng Tjeng tahu, itulah tentu disebabkan mereka tak ketahui duduknya hal.
Maka nona Hee lantas ceritakan pengalamannya Sin Tjie di Kim-leng dimana pemuda itu telah pecahkan ilmu silat "Liang Gie Kiam-hoat"
Untuk mengakurkan perselisihan diantara Tjiauw Kong Lee dan Bin Tjoe Hoa.
Mendengar ini, Tjeng Tiok semua menjadi tidak puas.
Teranglah Bin Tjoe Hoa sudah langgar kehormatan kaum kang-ouw, perbuatannya itu ada sangat busuk.
"Mahluk apa Bin Tjoe Hoa itu?"
Tanya See Thian Kong dalam sengitnya.
"Ingin aku si tuabangka she See mencoba menempur dia!"
Tjiauw Wan Djie lantas menjura kepada Thian Kong beramai.
"Aku mohon semua paman untuk membelakan pri-keadilan,"
Minta dia. Thia Tjeng Tiok pun sengit sekali, hingga dia keprak meja.
"Dimana adanya Bin Tjoe Hoa sekarang?"
Dia tanya.
"Tidak perduli Boe Tong Pay banyak anggautanya dan berpengaruh, aku si orang she Thia tak gentar terhadap mereka!"
"Setelah kebinasaan ayah,"
Kemudian Tjiauw Wan Djie menerangkan lebih jauh.
"bersama beberapa soeko aku rawat jenasahnya, tetapi sekarang ini jenasah itu masih dititipkan dirumahnja In Piauwsoe dari Kong Boe Piauw Kiok di Tjietjioe. Segera setelah itu, aku mencoba mengundang sejumlah sesama orang kang-ouw, untuk mereka tolong cari tahu dimana beradanya Bin Tjoe Hoa. Aku bersyukur kepada roh ayahku, selang beberapa hari telah datang kabar dari sahabat-sahabat di Hoolam, ada diantara mereka yang dapat lihat orang she Bin itu sedang dalam perjalanan dari Hoolam ke Pakkhia. Atas warta itu, pihak kami sudah lantas bekerja. Pelbagai hiotjoe dalam dan luar dari Kim Liong Pang bersama semua totjoe dari semua pelabuhan darat dan air telah berpencar diri, untuk mencari dan memegat, dua kali telah dilakukan pertempuran, saban-saban dia bisa loloskan dirinya. Tidak beruntung adalah aku, karena aku tidak punya guna, pernah satu kali,aku kena dilukai dia..."
Sin Tjie lihat, pundak kiri dari si nona masih dibalut.
Ia merasa kasihan berbareng kagum.
Pasti nona ini, meskipun kalah tangguh dari Bin Tjoe Hoa, untuk membalas sakit hati ayahnya, sudah berlaku nekat, dia tempur mati-matian musuh besarnya itu.
Tentu sekali dia ini bukannya tandingan Bin Tjoe Hoa.
"Sampai kemarin kami terus kuntit orang she Bin itu,"
Wan Djie melanjuti keterangannya.
"Sekarang kami telah ketahui dimana dia telah pernahkan diri."
"Dimana?"
Tanya Tjeng Tjeng dengan bernapsu.
"Mari lekas kita satroni dia, supaya dia jangan keburu mabur lagi!"
"Dia bertempat di gang Hoe Kee Hootong di dalam sebuah rumah,"
Sahut Wan Djie.
"Seratus lebih orangku sudah memasang mata disekitar rumah itu."
Diam-diam Sin Tjie manggut-manggut.
"Meskipun nona ini masih muda tapi ia cerdik dan pandai bekerja,"
Memuji ia dalam hatinya.
"Kaum Kim Liong Pang telah keluar dalam rombongan seluruhnya, pasti sekali sebelum mereka dapat binasakan Bin Tjoe Hoa, belum mereka mau sudah..."
"Barusan saja ditengah jalan aku telah bertemu sama satu sahabat yang juga Baru kembali dari rapat di Tay San,"
Menambahkan Nona Tjiauw itu.
"dari dia itu aku dapat tahu bahwa kau justru berada di sini, Wan Siangkong..."
See Thian Kong tunjuki jempolnja, dia bersenyum puas.
"Nona Tjiauw, sempurna sekali tindakan kau ini!"
Dia memuji.
"Menurut kau, sudah terang Bin Tjoe Hoa itu telah berada didalam genggamanmu, tetapi kau toh masih datang kemari untuk minta keadilan dari bengtjoe kita, supaja kaum kang-ouw nanti mengutuk Bin Tjoe Hoa yang harus dibikin binasa itu! Bagus, bagus!"
"Kapan kamu hendak turun tangan?"
Kemudian Sin Tjie tanya.
"Sebentar malam jam dua,"
Jawab Wan Djie, yang terus bungkus rapi pula pisau belati yang meminta jiwa ayahnja itu.
"Ya, simpan senjata ini, adik,"
Kata Tjeng Tjeng.
"Sebentar kau gunakan ini untuk tikam mampus musuhmu itu !"
Nona Hee pun sengit seperti yang lain-lainnya, hingga lenyap kecurigaan atau cemburuannya.....
Wan Djie manggut terhadap nona ini.
Diam-diam Sin Tjie menghela napas.
Ia berkasihan terhadap Tjiauw Kong Lee, ia sayangi ketua Kim Liong Pang itu.
Ia tahu jago ini berbudi, siapa sangka dia mesti binasa ditangan jahat.
Di sebelah itu, ia menyesal sekali, iapun berkuatir.
Permusuhan ini akan menghebat dendaman diantara Boe Tong Pay dan Kim Liong Pang.
Apabila orang saling dendam tak putusnya, sampai kapan itu dihabiskannya?
Untuk selanjutnja, pasti bahaya akan saling menimpa satu pada lain...
Pemuda kita lantas tahan Wan Djie bersama, untuk si nona beristirahat, untuk diajak bersantap sama-sama kapan sang sore telah sampai, sesudah mana, ia bersiap.
Tjeng Tjeng dan Thie Lo Han tak dapat turut karena mereka sedang terluka.
Juga Sian Tiat Seng tidak ikut, karena kepala opas itu telah diantar pulang ke rumahnya.
Maka itu cuma Thia Tjeng Tiok, See Thian Kong, A Pa, Ouw Koei Lam dan Ang Seng Hay yang bisa memberikan bantuannya.
Begitu sang malam sampai, berenam mereka berangkat dengan Tjiauw Wan Djie jalan di muka untuk jadi petunjuk jalan ke gang Hoe Kee Hootong.
Tjeng Tjeng menyesal yang ia tidak dapat turut, saking masgul dan mendongkol, ia lantas kutuki Ho Tiat Tjhioe yang telah lukai padanya.
Kapan Sin Tjie beramai sampai didekat gang, beberapa muridnya Kong Lee, yang sedang memasang mata, papak mereka.
Lantas saja mereka kisiki bahwa Bin Tjoe Hoa masih ada di dalam rumah bersama Tong Hian Toodjin, soehengnya dia itu.
Mereka pun girang sekali menampak Sin Tjie telah dapat diundang.
Semua orang telah ketahui baik keliehayannya anak muda ini.
"Wan Siangkong, apa boleh kita turun tangan sekarang juga?"
Wan Djie tanya pemuda kita. Nona ini cerdik dan bisa memikir panjang, tak mau ia mendahului beng-tjoe itu.
"Sabar dulu,"
Sin Tjie bilang. ..Sekarang minta semua orang berjaga-jaga seperti biasa, mari kita sendiri pergi mengintai dulu."
"Baik,"
Jawab nona itu, yang terus kisiki kawan-kawannya.
Maka mereka itu lantas undurkan diri.
Sin Tjie ajak semua kawannya mendekati rumah, lantas mereka saling susul lompati tembok, untuk masuk kedalam.
Seng Hay masih belum sempurna ilmunya entengkan tubuh, diwaktu ia lompat turun ketanah, ia menerbitkan suara, benar suaranya enteng sekali, akan tetapi didalam rumah, didalam kamar, api padam seketika.
Sampai waktu itu Tjiauw Wan Djie tak dapat kendalikan lagi hatinya.
Ia pun rupanja kuatir musuh nanti lolos pula.
Maka ia lantas perdengarkan suara suitannya.
Suara itu pelahan, akan tetapi menyambut itu, di empat penjuru rumah, di pojok tembok, segera muncul pelbagai kepala orang -ialah orangnya yang mengurung rumah itu.
Habis itu, Wan Djie perdengarkan suaranya yang keren.
"Orang she Bin, lekas kau keluar! Kau lihat, siapa telah datang kemaril"
Sunyi rumah itu, tidak ada suara jawaban.
"Nyalakan api!"
Wan Djie berseru.
"Semua nyerbu kedalam!"
Orang-orang Kim Liong Pang, dan sahabat-sahabat mereka, yang datang membantu, taati seruan itu.
Mereka memang telah siapkan obor.
Maka sebentar saja, teranglah cahaya api.
Empat anggauta, yang memegang obor, maju di depan, golok mereka dipakai melindungi diri.
Dengan tiba-tiba saja terdengar beberapa kali suara beruntun, menyusul itu, tiga batang obor padam apinya, hingga tinggal yang satu, kemudian menyusul itu, dua bajangan kelihatan lompat mencelat lari arah rumah itu.
Dengan serentak, orang-orang Kim Liong Pang lompat menerjang, hingga selanjutnja, riuhlah suara pelbagai senjata beradu satu pada lain.
Kembali terdengar suara suitan, kali ini itu disusul sama merangsaknya orang-orang di empat penjuru, sedang api obor pun jadi bertambah, sehingga pekarangan disitu jadi terang sekali, bagaikan siang saja.
Tong Hian Toodjin dan Bin Tjoe Hoa telah lakukan perlawanan dengan membaliki belakang satu sama lain, dengan jalan ini mereka hendak cegah mereka nanti terbokong.
Mereka perlihatkan ilmu pedang mereka, sebab rupanya mereka insyaf, saat ini adalah saat mati atau hidup mereka.
Tidak heran, karena cara berkelahi mereka, sebentar saja sudah ada tujuh atau delapan orang Kim Liong Pang yang kena dilukai.
Akan tetapi, delapan orang mundur, serombongan yang lain maju menggantikannya, sebab diaorang ini sangat gusar, mereka setia kepada kawan, sehingga mereka tak takut mati.
Repot juga Bin Tjoe Hoa dan soehengnya itu menghadapi demikian banyak musuh, yang nekat semua.
Benar mereka bisa lukai beberapa orang lagi, tetapi mereka sendiri pun tak bebas dari serangan-serangan musuh-musuh yang seperti kalap itu.
Begitulah Tong Hian terluka pada bahu kirinya, sehingga ia mesti geser pedangnya ke tangan kanan.
Kedua orang Boe Tong Pay ini berkelahi menurut ilmu silat Liang Gie Kiam-hoat, Tong Hian mencekal pedang ditangan kiri, Bin Tjoe Hoa ditangan kanan, dengan itu, mereka bisa bergerak dengan leluasa.
Sekarang dua-dua pedang berada ditangan kanan, perlawanan mereka menjadi kipa, gerakan mereka jadi kendor sendirinya.
Lagi beberapa saat, Tong Hian terluka pula dan Tjoe Hoa pun tak terluput, dalam keadaan seperti itu, mereka juga tidak sempat menyingkirkan diri, saking hebat dan rapatnya kepungan.
Tidak semua musuh liehay tapi mereka nekat, mereka tak dapat dipandang ringan.
Sin Tjie lihat kedua orang sudah dapat beberapa luka, ia anggap tak boleh ia menonton lebih lama pula.
Ia juga beranggapan, satu jiwa mesti diganti dengan satu jiwa, cukuplah kalau Bin Tjoe Hoa sendiri yang dibikin binasa, tak usah Tong Hian Toodjin kawani soeteenya itu pergi menghadap Raja Akherat.
Maka itu, disaat dua jago Boe Tong itu tinggal rubuh binasa, mendadak ia loncat keantara mereka, pedang Kim Tjoa Kiam ia babatkan ditengah-tengah.
Sekejab saja, kedua pedangnya Tong Hian Toodjin dan Bin Tjoe Hoa sapat terkutung, begitu juga beberapa ujung pedangnya orang-orang Kim Liong Pang yang sedang mengepung hebat.
"Tahan!"
Sin Tjie berseru.
Gerakan ini membuat kedua pihak tercengang, tapi ia sendiri pun melengak sesaat, saking kagum sendirinya.
Ini adalah untuk pertama kali ia gunai pedang Ular Emas itu, diluar dugaannya, pedang itu sangat tajam.
Sebenarnja dia hendak halau semua senjata tidak tahunya, semua senjata yang bentur Kim Tjoa Kiam telah kutung sendirinya.
Bin Tjoe Hoa telah mandi darah, kaget ia menampak Sin Tjie.
Dalam saat itu juga, habislah pengharapannya.
Melayani musuh-musuh Kim Liong Pang saja sudah berat, bagaimana dapat ia tempur jago muda itu, yang sekarang malah bersenjatakan pedang mustika?
Tong Hian Toodjin juga putus asa, sehingga ia lantas lemparkan pedangnya yang sudah buntung Tapi ia tertawa menyengir.
"Tak tahu aku, dalam hal apa kami dua saudara, telah berbuat salah terhadap kau, tuan, maka kau telah desak kami begini rupa?"
Tanya imam itu.
Dimulutnya, Tong Hian mengucap demikian, diam-diam ia rogo keluar pisau belati dipinggangnya, pisau mana ia terus pakai menikam dadanya.
Rupanya dalam berputus asa, ia jadi berpikiran pendek juga.
Sin Tjie lihat kenekatan itu, ia ulur kedua tangannya, secara sangat sebat.
Dengan tangan kiri ia menolak dada orang itu, dengan tangan kanan ia menyambar ke lengan si imam, maka dilain saat, ia telah dapat rampas pisau belati itu yang tajam berkilauan.
Malah dalam sekelebatan itu, Sin Tjie bisa lihat huruf-huruf ukiran pada gagangnya belati yang berbunyi.
"Tong Hian Toodjin murid Boe Tong Pay golongan huruf Tjoe,"
Dan pisau belati itu mirip benar macamnya dengan pisau belati Bin Tjoe Hoa yang dipakai membunuh Tjiauw Kong Lee. Mukanya Tong Hian Toodjin jadi merah-padam, lalu pucat-pias.
"Satu laki-laki boleh dibunuh tetapi tak dapat diperhina!"
Dia berseru.
"Aku tahu ilmu silatku belum sempurna, aku bukannya tandingan kau. Maka biarlah aku binasa dengan kau tonton! Lekas kembalikan pisauku itu kepadaku!"
Imam ini nyata bernyali besar, keras hatinya. Sin Tjie kuatir orang bunuh diri, tidak saja ia tidak kembalikan pisau itu, ia malah selipkan dipinggangnya.
"Mari kita bicara dulu sampai terang, Baru nanti aku kembalikan kepadamu."
Katanya, dengan sungguh-sungguh. Tapi Tong Hian Toodjin sedang gusar, dia jadi bertambah murka.
"Jikalau kau hendak bunuh aku, bunuhlah!"
Menjerit dia."
Tak dapat kau terlalu menghina!"
Jeritan ini disusul sama satu sampokan tangan ke muka si anak muda. Sin Tjie kelit dengan mundur satu tindak.
"Kapannya aku hinakan kau?"
Dia tanya. Benar-benar ia heran. Tong Hian masih sengit, dia hunjuk roman bengis.
"Pisauku itu ada pisau hadiah dari Tjouwsoe kami dari Boe Tong Pay!"
Kata dia dengan nyaring.
"Maka pisau itu biarnya aku mesti hilang jiwa, tak dapat dibiarkan jatuh ditangan lain orang l"
Kembali Sin Tjie heran hingga is tercengang. Berbareng dengan itu kecurigaannya jadi semakin besar.
"Kalau pisau ini dipandang begini suci, kenapa Bin Tjoe Hoa tinggalkan ditubuh Tjiauw Kong Lee sehabis dia bokong ketua Kim Liong Pang itu?"
Demikian dia berpikir. Ia keluarkan pisau itu, untuk dikasi pulang kepada pemiliknya.
"Tootiang, ada satu hal untuk mana aku mohon keterangan kau,"
Kata ia, dengan sikapnya yang sabar. Imam dari Boe Tong Pay itu sambuti pisaunya, karena ia dengar orang punya suara menghormat, iapun tidak bersikap keras lagi.
"Silahkan,"
Sahut dia dengan ringkas. Sin Tjie berpaling kepada Tjiauw Wan Djie.
"Nona Tjiauw, mari bungkusan kau, kasikan padaku!"
Dia minta Wan Djie menghampirkan, akan serahkan bungkusannya yang berisikan pisau belati Bin Tjoe Hoa.
Ia belum tahu tindakan Sin Tjie.
Lebih jauh, ia pun tak hendak menanyakannja, akan tetapi ia cekal keras sepasang goloknya.
Ia awasi dengan bengis pada Bin Tjoe Hoa, siapa sebaliknya berdiri diam didampingnya Tong Hian Toodjin.
Dengan sabar Sin Tjie buka bungkusan itu, hingga kelihatanlah isinya, menampak mana, Tong Hian Toodjin dan Bin Tjoe Hoa perdengarkan seruan tertahan dari mereka, lebihlebih Bin Tjoe Hoa sendiri yang kenali pisaunya itu.
Dipihak lain, orang-orang Kim Liong Pang yang melihat bukti senjata pembunuhan ketua mereka, lantas ingat kebinasaan hebat dan menyedihkan dari ketua mereka itu, berbareng sedih, kemurkaan mereka pun timbul pula secara tiba-tiba, hingga dengan roman sangat bengis, mereka bertindak maju.
"Ini... ini... adalah senjataku!"
Seru Bin Tjoe Hoa.
"Darimana kamu dapatkan ini?"
Tanya dia, sambil ulur tangannya, untuk ambil pulang pisau belati itu.
Sin Tjie tarik pulang tangannya, tetapi disebelah dia, Tjiauw Wan Djie membacok dengan goloknya, kepada lengan orang, hingga Bin Tjoe Hoa mesti dengan sebat tarik pulang tangannya.
Panas Wan Djie, maka ia maju, untuk membacok pula.
"Sabar,"
Kata Sin Tjie, yang lintangi tangannya, untuk mencegah.
"Mari kita tanya jelas dulu."
Karena tak dapat ia menyerang lebih jauh, Wan Djie menangis, air matanya bercucuran dengan deras. Bin Tjoe Hoa agaknya tidak mengerti, dia berseru .
"Ketika dulu kita bikin pertemuan di Lamkhia, urusan telah dibereskan, persengketaan kedua pihak telah didamaikan dan dibikin habis, kenapa orang-orang Kim Liong Pang tidak pegang kepercayaan dan kehormatannya? Kenapa kamu berulang-ulang kali dengan cara gelap hendak bikin celaka padaku? Sekarang kamu suruhlah Tjiauw Kong Lee keluar, mari kita berpadu diri, untuk bicara biar jelas! Jikalau benar aku siorang she Bin yang bersalah, dihadapan kamu aki nanti bereskan diriku sendiri, tidak nanti aku menyangkal!"
Belum sempat Bin Tjoe Hoa tutup mulutnya, beberapa orang Kim Liong Pang telah bentak dia.
"Ketua kami telah kau bunuh, sekarang kau masih berpura-pura, kau hendak mencoba bersihkan dirimu, manusia hina-dina dan busuk!"
Bin Tjoe Hoa, begitu juga Tong Hian Toodjin, melengak. Mereka kaget dan heran bukan main.
"Apa?"
Tanya mereka.
"Tjiauw Kong Lee telah terbinasa?"
Sin Tjie tampak wajah orang itu sungguh-sungguh, ia mau percaya mereka itu bukannya sedang bersandiwara.
"Ah, benar-benar mesti ada halnya dalam urusan ini,"
Pikir ia. Maka ia lantas tegasi.
"Apakah benar-benar kamu tidak ketahui bahwa ketua Kim Liong Pang telah terbinasa?"
"Tidak!"
Sahut Bin Tjoe Hoa.
"Sejak itu hari aku kalah dan aku serahkan rumahku, aku tak punya muka lagi akan hidup dalam dunia kangouw, aku lantas pergi ke Kayhong kepada toa-soehengku Tjoei In Tootiang yang mewariskan guru kami menjadi ketua, untuk memberi penjelasan kepadanya, untuk kami berdamai, sayang itu waktu aku tak dapat bertemu sama soehengku itu. Adalah sekembalinya dari Kayhong, dengan tak aku ketahui apa sebab musababnya ditengah jalan, dua kali aku dipegat orang-orang Kim Liong Pang hingga kita mesti bertempur hebat. Aku tidak mengerti kenapa Tjiauw Kong Lee terbinasa?"
Tjiauw Wan Djie ada seorang yang pintar, mendengar perkataannya orang she Bin ini, melihat wajah orang itu, dia mulai bercuriga. Tiba-tiba saja ia menangis pula, dengan sesenggukan.
"Ayahku.... ada....ada orang bunuh secara menggelap dengan pisau belati ini!"
Katanya dengan susah-payah.
"Umpama kata benar bukannya kau yang lakukan pembunuhan itu, mestinya dia adalah sahabatmu!"
Bin Tjoe Hoa terkejut.
"Ah, ah, inilah..."
"Inilah apa?"
Bentak Tjiauw Wan Djie.
Bin Tjoe Hoa bungkam, agaknya ia hendak bicara tetapi batal, nampaknya ia merasakan suatu kesulitan.
Orang-orang Kim Liong Pang menjadi panas pula, sedang tadinya mereka pun sudah melengak, mereka mau percaya, benar-benar musuh ini berdusta, maka lantas mereka maju pula.
Tong Hian Toodjin ambil pedang buntung dari tangannya Bin Tjoe Hoa, dia lempar itu ke tanah sebagaimana pedangnya sendiri tadi, kemudian ia angkat dadanya.
"Jikalau tuan-tuan lebih suka sakit hatinya Tjiauw Loopangtjoe tak terbalas untuk selamanya-lamanya dan kamu kehendaki supaya si penjahat diam-diam tertawai kamu dari samping, baiklah, kami berdua saudara suka serahkan jiwa kami! Sama sekali kami tidak takut mati!"
Demikian katanya.
"Menampak keberanian orang itu, orang-orang Kim Liong Pang merandek, sangsi mereka untuk serbu imam itu. Sin I'jie lantas berkata pula.
"Jikalau begini, kelihatannya Tjiauw Loopangtjoe bukanlah kau yang bunuh, saudara Bin?"
Tanya dia.
"Aku mengaku aku si orang she Bin tidak punyakan kepandaian cukup,"
Jawab Bin Tjoe Hoa.
"akan tetapi aku mengerti benar hidupnya seorang didalam dunia mengandali kepercayaan, kehormatannya! Aku telah kalah di tangan kamu, selagi sekarang ada orang jahat yang mainkan perannya secara diam-diam, bagaimana aku bisa datang pula ke Lamkhia untuk melanjuti permusuhan?"
"Tetapi Tjiauw Loopangtjoe bukannya terbunuh di Lamkhia,"
Sin Tjie terangkan. Bin Tjoe Hoa heran.
"Dimanakah itu terjadinya?"
Dia tanya.
"Di Tjie-tjioe."
"Inilah terlebih aneh pula!"
Kata Tong Hian Toodjin.
"Kami dua saudara, sudah lebih daripada sepuluh tahun belum pernah injak pula kota Tjie-tjioe! Kecuali kami mempunyai pedang-terbang, tidak nanti kami bisa rampas jiwa orang di tempat jauhnya ribuan lie!"
"Apakah ini benar?"
Sin Tjie tegaskan. Tong Hian tepuk batang lehernya.
"Kepalaku ada di sini!"
Ia jawab.
"Habis, dari mana datangnya pisau belati ini?"
Tanya Wan Djie.
"Jikalau sekarang aku berikan keteranganku, aku kuatir kamu tidak dapat mempercayai aku!"
Sahut Tong Hian.
"Sekarang mari aku ajak kamu beramai kesuatu tempat, di sana kamu nanti Baru ketahui duduknya hal."
"Soeheng, jangan!"
Mencegah Bin Tjoe Hoa, yang agaknya jadi sangat gelisah.
"Wan Siangkong dan Nona Tjiauw ada sahabat-sahabat baik, sama sekali tidak ada halangannya" , bilang Tong Hian. Bin Tjoe Hoa bungkam.
"Kemana kita pergi?"
Wan Djie tanya.
Tong Hian Toodjin tidak segera menjawab, hanya ia kata "Aku cuma hendak ajak Wan Siangkong berdua dengan kau saja, Nona Wan.
Lebih banyak lagi, tak dapat!
" (Bersambung bab ke 20) Orang-orang Kim Liong Pang lantas berseru-seru.
"Dia hendak gunai tipu-daya keji, jangan percaya dia! Jaga supaya jangan sampai dia kabur!"
Wan Djie tidak mau lantas dengar orang-orangnya itu.
"Bagaimana kau pikir, Wan Siangkong?"
Dia tanya Sin Tjie. Dia lebih percaya anak muda ini. Sin Tjie berpikir.
"Mestinya dua orang ini ada punya rahasia, baik kami ikut mereka, untuk mengetahui duduknya hal yang sebenarnya. Apa mungkin mereka hendak gunai tipu-daya? Bisakah mereka nanti loloskan diri dari tanganku?"
Lalu ia menjawab.
"Mari kita pergi, untuk memperoleh penjelasan!"
Tjiauw Wan Djie segera menoleh kepada semua kawannya, untuk kata.
"Aku beserta Wan Siangkong, aku percaya mereka tidak nanti berani main gila!"
Sejak meninggalnya Tjiauw Kong Lee, semua orang Kim Liong Pang telah pandang Nona Tjiauw sebagai gantinya ketua mereka.
Mereka percaya nona ini, yang mereka pun hormati, karena Wan Djie pintar dan bisa bawa diri.
Mereka telah saksikan sendiri bagaimana pandai si nona pimpin mereka untuk kepung-kepung musuh ini.
Mereka juga percaya Sin Tjie, yang kegagahannya dan kemuliaan hatinya mereka sudah buktikan sendiri.
Maka itu, mereka tidak bersangsi pula.
"Baiklah,"
Kata mereka.
"Mari kita pergi sekarang!"
Kata Tong Hian kemudian.
Dengan bertangan kosong, imam ini ajak soeteenya jalan di sebelah depan, di belakang mereka, Sin Tjie mengikuti bersama Tjiauw Wan Djie.
Mereka keluar dengan melompati tembok.
Lebih dahulu daripada itu, Sin Tjie minta See Thiam Komg berempat pulang lebih dahulu kehotel mereka, sedang orangnya Kim Liong Pang undurkan diri di bawah pim-pinannya Gouw Peng, murid kepala dari Tjiauw Kong Lee.
Sin Tjie dan Wan Djie ikuti Tong Hian dan Tjoe Hoa menuju kearah utara, mereka jalan sambil berlari-lari, menghampirkan tembok kota.
Di sini imam itu keluarkan bandringan gaetan, untuk membangkol tembok kota, dengan itu Wan Djie merayap naik paling dulu, Baru Tjoe Hoa dan Sin Tjie.
Paling akhir adalah si imam sendiri.
Dari atas tembok, mereka lompat turun kelain sebelah, untuk melanjutkan perjalanan mereka ke utara.
Ketika itu sudah tengah malam, rembulan bersinar sedang terangnya, cahayanya putihbersih dan permai.
Perjalanan disini, makin jauh makin sukar.
Setelah melalui empat-lima lie, Tong Hian dan Tjoe Hoa mulai menindak naik ke sebuah tanjakan.
Heran juga Sin Tjie dan Wan Djie.
Entah kemana mereka hendak diajak pergi.
Mereka pun pikir-pikir, sebenarnya mereka hendak diperlihatkan apa.
Tapi mereka tak jeri, mereka mengikuti terus.
Mereka mendaki tanjakan untuk dua-tiga lie.
Di sini tidak ada jalanan, dan tanahnya penuh batu.
Maka itu untuk bisa maju, mereka berlari-lari dengan ilmu entengi tubuh.
Saban-saban mereka injak batu besar, untuk dari situ lompat kelain batu besar lagi, demikian seterusnya.
Belum sampai dipuncak tanjakan, Wan Djie sudah, bernapas sengal-sengal.
Inilah pengalaman hebat untuknya.
Maka itu Sin Tjie cekal lengan orang.
"Mari aku bantu padamu!"
Kata pemuda ini.
Wan Djie tidak malu-malu palsu, ia kasi dirinya dibantui.
Seperti tanpa merasa, ia lantas bisa maju terlebih jauh.
Kalau tadi mereka telah ketinggalan Tong Hian dan Tjoe Hoa, sebentar saja mereka mendahului sampai dipuncak bukit.
Di sini keadaan tempat ada lebih berbahaya daripada ditengah jalan tadi dan suasana pun menyeramkan, sebab di sana-sini kelihatan batu-batu besar yang berdiri bagaikan hantu atau binatang buas, ada yang kecil-kurus mirip pedang atau tumbak...
Sebentar kemudian, Tong Hian Toodjin dan Bin Tjoe Hoa dapat menyusul mereka sampai dipuncak, Tong Hian mendahului menuju kebelakang setumpukan batu besar.
Di sini dia menjumput sepotong batu, yang ia ketoki ke sebuah batu besar sampai tiga kali.
Ia berhenti sedetik, lalu ia menyambungi, dua kali.
Habis ini, ia mengulang mengetok lagi tiga kali.
Setelah mengetok-ngetok tumpukan batu secara demikian, Tong Hian lantas bekerja, ialah dengan kedua tangannya, ia angkat sesuatu batu yang menjadikan tumpukan itu, ketika ia sudah singkirkan enam-tujuh potong, dibawah tumpukan itu tertampak sebuah peti mati yang besar.
Wan Djie terkejut akan menampak peti mati itu, inilah tidak pernah ia sangka-sangka.
Suasana disitu memang sudah sangat menyeramkan.
Tong Hian bekerja lebih jauh, tanpa bantuan Bin Tjoe Hoa, yang berdiri diam saja mengawasi dia.
Dengan kedua tangannya, ia pegang tutup peti, lalu ia kerahkan tenaganya, untuk angkat itu, hingga terdengarlah satu suara menjeblak yang keras.
Begitu lekas tutup peti terangkat ke belakang, menyusul suara menjeblak itu, didalam peti bergerak satu tubuh, yang bangun untuk berduduk!
Wan Djie keluarkan seruan saking kagetnya.
"Hai, kamu ajak orang luar?"
Tiba-tiba si "mayat hidup"
Bertanya.
"Inilah dua sahabat baik,"
Sahut Tong Hian dengan tenang.
"Ini ada Wan Siangkong, muridnya Kim Tjoa Long-koen, dan ini ada Nona Tjiauw, puterinja Soehoe Tjiauw Kong Lee."
"Mayat hidup"
Itu lantas awasi kedua orang yang diperkenalkan itu.
"Maaf, djiewie,"
Katanya.
"Pintoo sedang terluka, tak dapat aku berbangkit...."
Ia memberi hormat. Belum Sin Tjie bilang suatu apa, Tong Hian sudah mendahului.
"Inilah Toasoeheng kami Tjoei In Toodjin, yang mewariskan kedudukan ketua Boe Tong Pay,"
Demikian katanya.
"Untuk menyingkir dari musuh, buat sekalian memelihara diri toasoeheng sengaja berdiam di sini..."
Mengetahui orang bukannya "mayat hidup,"
Sin Tjie dan Wan Djie membalas hormat.
Imam itu manggut, untuk membalas.
Sin Tjie dan Wan Djie dapatkan wajah Tjoei In Toodjin pucat sekali, bagaikan kertas putih saja, tanda luka kedapatan dari batas jidatnya sampai kebatang hidungnya.
Luka itu adalah luka belum terlalu lama.
Tapak luka itu membuat romannya si imam jadi jelek dan menyeramkan.
Sambil mengawasi, dua anak muda ini pun pikiri, kenapa untuk merawat diri dan menyingkir dari musuh, imam ini sampai sembunyikan diri secara demikian macam.
Baca Juga: Pedang Langit Dan Golok Naga 7
Baca Juga: Rajawali Emas Kho Ping Hoo